<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Cerita sex porno ngentot mesum perek ayam kampus &#187; anal seks</title>
	<atom:link href="http://www.ceritasex.cn/category/anal-seks/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.ceritasex.cn</link>
	<description>Kumpulan cerita sex, foto bugil, dan film porno</description>
	<lastBuildDate>Wed, 04 Aug 2010 10:59:17 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0.1</generator>
		<item>
		<title>Pernikahan Yang Ternoda</title>
		<link>http://www.ceritasex.cn/pernikahan-yang-ternoda/</link>
		<comments>http://www.ceritasex.cn/pernikahan-yang-ternoda/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 25 Jun 2010 18:43:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cerita Sex</dc:creator>
				<category><![CDATA[Paruh baya]]></category>
		<category><![CDATA[Pemerkosaan]]></category>
		<category><![CDATA[anal seks]]></category>
		<category><![CDATA[anal]]></category>
		<category><![CDATA[anus]]></category>
		<category><![CDATA[enak]]></category>
		<category><![CDATA[ngentot]]></category>
		<category><![CDATA[perkosa]]></category>
		<category><![CDATA[seks]]></category>
		<category><![CDATA[ternoda]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ceritasex.cn/?p=1462</guid>
		<description><![CDATA[Di dalam ruangan itu terlihat sunyi beberapa dari mereka tidak sanggup melihat dua orang suami istri terbujur kaku, sedangkan di sampingnya terdapat anak yang masih berusia 11 tahun yang sedang menangisi ke dua orang tuanya, karena merasa kasihan aku meminta izin suamiku untuk menemuinya, setelah mendapat izin aku lalu menghampiri anak tersebut berharap dapat menenangkan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Di dalam ruangan itu terlihat sunyi beberapa dari mereka tidak sanggup melihat dua orang suami istri terbujur kaku, sedangkan di sampingnya terdapat anak yang masih berusia 11 tahun yang sedang menangisi ke dua orang tuanya, karena merasa kasihan aku meminta izin suamiku untuk menemuinya, setelah mendapat izin aku lalu menghampiri anak tersebut berharap dapat menenangkan hati anak tersebut, “Al..” panggilku pelan sambil duduk di sampingnya, “sudah jangan nagis lagi, biarkan kedua orang tuamu beristirahat”</p>
<p style="text-align: justify;">Anak itu tetap menangis, beberapa detik dia memandangku dan tidak lama kemudian dia langsung memelukku dengan air mata yang bergelinang, “tante, hiks…hiks… Aldi ga mau sendirian, Aldi mau mama, papa…” dengan penuh rasa kasih sayang aku mengelus punggungnya berharap dapat meringankan bebannya, “tante… bangunin mama,”katanya sambil memukul pundakku, aku semakin tak kuasa mendengar tangisnya, sehingga air matakupun ikut jatuh, “Aldi, jangan sedih lagi ya? Hhmm… kan masih ada tante sama om,” aku melihat ke belakang ke arah suamiku sambil memberikan kode, suami ku mengangguk bertanda dia setuju dengan usulku, “mulai sekarang Aldi boleh tinggal bersama tante dan om, gi mana?” tawarku sambil memeluk erat kepalahnya,</p>
<p style="text-align: justify;">Sebelum lebih jauh mohon izinkan aku untuk memperkenalkan diri, namaku Lisa usia 25 tahun aku menikah di usia muda karena kedua orang tuaku yang menginginkannya, kehidupan keluargaku sangaatlah baik, baik itu dari segi ekonomi maupun dari segi hubungan intim, tetapi seperti pepata yang mengatakan tidak ada gading yang tak retak, begitu juga dengan hidupku walaupun aku memiliki suami yang sangat mencintaiku tetapi selama 4 tahun kami menikah kami belum juga dikaruniai seorang anak sehingga kehidupan keluarga kami terasa ada yang kurang, tetapi untungnya aku memiki seorang suami yang tidak perna mengeluh karena tidak bisanya aku memberikan anak untuknya untuk membalas budi baik kakakku, aku dan suamiku memutuskan untuk merawat anaknya Aldi karena kami pikir apa salah menganggap Aldi sebagai anak sendiri dari pada aku dan suamiku harus mengangkat anak dari orang lain,</p>
<p style="text-align: justify;">Sudah satu minggu Aldi tinggal bersama kami, perlahan ia mulai terbiasa dengan kehidupannya yang baru, aku dan suamiku juga meresa sangat senang sekali karena semenjak kehadirannya kehidupan kami menjadi lebih berwarna, suamiku semakin bersemangat saat bekerja dan sedangkan aku kini memiliki kesibukan baru yaitu merawat Aldi, “Bi…. tolong ambilin tasnya Aldi dong di kamar saya,” kataku memanggil bi Mar</p>
<p style="text-align: justify;">Hari ini adalah hari pertama Aldi bersekolah sehingga aku sangat bersemangat sekali, setelah semuanya sudah beres aku meminta pak Rojak untuk mengantarkan Aldi ke sekolahnya yang baru, beberapa saat Aldi terseyum ke arahku sebelum dia berangkat ke sekolah. Seperti pada umumnya ibu rumah tangga, aku berencana menyiapkan makanan yang special untuk Aldi sehingga aku memutuskan untuk memasak sesuatu di dapur, tetapi saat aku melangkah ke dapur tiba-tiba kakiku terasa kaku saat melihat kehadiran pak Isa yang sedang melakukan hubungan intim dengan mba Ani, mereka yang tidak menyadari kehadiranku masih asyik dengan permainan mereka, “Hmm… APA-APAAN INI?” bentakku ke pada mereka, mendengar suaraku mereka terlihat tanpak kaget melihat ke hadiranku, “kalian benar-benar tidak bermoral, memalukan sekali!”</p>
<p style="text-align: justify;">Mereka tanpak terdiam sambil merapikan kembali pakaian mereka masing-masing, beberapa saat aku melihat penis pak Isa yang terlihat masih sangat tegang, sebenarnya aku sangat terkejut melihat ukuran penis pak Isa yang besar dan berurat, berbeda sekali dengan suamiku, “maafin kami Bu,” kini Ani membuka mulutnya, sedangkan pak Isa masih terdiam, “Maaf… kamu benar-benar wanita murahan, kamu tahu kan pak Isa itu sudah punya istri kenapa kamu masih juga menggoda pak Isa, kamu itu cantik kenapa tidak mencari yang sebaya denganmu?” emosiku semakin memuncak saat mengingat bi Mar istri dari pak Isa, “saya tidak menyangka ternyata anda yang sangat saya hormati ternyata tidak lebih dari binatang, betapa teganya anda menghianati istri anda sendiri,” beberapa kali aku menggelengkan kepalahku, sambil menunjuk ke arahnya,</p>
<p style="text-align: justify;">“maaf Bu ini semua salah saya, jangan salahkan Ani” kata pak Mar yang membela Ani, “mulai sekarang kalian saya PECAT, dan jangan perna menyentuh ataupun menginjak rumah ini, KELUAR KALIAN SEMUA!!” bentakku<br />
<span id="more-1462"></span><br />
Mendengar perkataanku Ani terlihat pucat tidak menyangkah kalau kelakuan bisa membuatnya kehilangan pekerjaan, sedangkan pak Isa terlihat tenang-tenang saja malahan pak Isa tanpak terseyum sinis, “he..he… Ibu yakin dengan keputusan Ibu,” pak Isa tertawa mendengar perkataanku, perlahan pak Isa mendekatiku, “jangan perna main-main dengan saya Bu,” ancamnya dengan sangat sigap pak Isa menangkap kedua tanganku, “apa-apaan ini lepaskan saya, atau saya akan berteriak,” aku mencoba mengancam balik mereka yang sedang mencoba mengikat kedua tanganku,“teriak saja Bu, tidak akan ada orang yang mendengar,” timpal Ani sambil membantu pak Isa mengikat kedua tanganku, Apa yang di katakan Ani ada benarnya juga, tetapi walaupun begitu aku tidak mau menyerah begitu saja dengan susah paya aku berusaha melepaskan diri tapi sayangnya tenagaku kalah besar dari mereka berdua, tanpa bisa berbuat apa-apa aku hanya dapat mengikuti mereka saat membawaku ke dalam kamar pak Isa. Sesampai di kamar aku di tidurkan di atas kasur yang tipis, sedangkan Ani mengambil sebuah Hp dan ternyata Hp itu di gunakan untuk merekamku, sehingga kehawatiranku semakin menjadi-jadi.</p>
<p style="text-align: justify;">“kalian biadab, tidak tau terimakasih anjing kalian!” air mataku tidak dapat kubendung lagi saat jari-jemari pak Isa mulai merabahi pahaku yang putih,</p>
<p style="text-align: justify;">“ja-jangan, mau apa kalian lepaskan saya ku mohon jangan ganggu saya,” kataku di sela-sela isak tangis, “siapa suruh ikut campur urusan saya, he…he… maaf bu ternyata hari ini adalah hari keberuntungan saya, dan hari yang sil bagi Ibu,” semakin lama aku merasa tangannya semakin dalam memasuki dasterku,</p>
<p style="text-align: justify;">“tidak di sangkah impian saya akhirnya terkabul juga,”” sambungnya sambil meremasi paha bagian dalamku, “makanya Bu jangan suka ikut campur urusan orang,” kini giliran Ani yang menceramahiku, “ya, saya ngaku salah tolong lepasin saya,” kini aku hanya dapat memohon agar mereka sedikit iba melihatku, tetapi sayangnya apa yang kuharapkan tidak terjadi, pak Isa tanpa semakin buas memainkan diriku</p>
<p style="text-align: justify;">Aku hanya dapat melihat pasrah saat dasterku terlepas dari tubuhku, kedua payudaraku yang memang sudah tidak tertutupi apa-apa lagi dapat dia nikmati, jari-jarinya yang kasar mulai memainkan selangkanganku, “sslluupss…sslluuppss… hhmm…. ayo Bu puaskan saya?” pinta pak Isa, sambil mengulum payudaraku beberapa kali lidahnya menyapu putting susuku yang mulai mengeras,</p>
<p style="text-align: justify;">“ko’ memiawnya basah bu, he…he…” memang harus diakui, tubuhku tidak dapat membohonginya walaupun bibirku berkata tidak, “wa…wa… Ibukan sudah punya suami ko’ masih juga menggoda laki orang lain, ga malu ya Bu,” Ani melotottiku seolah-olah ingin membalas perkataanku tadi, “dasar wanita munafik, sekarang Ibu tau kan kenapa saya menyukai pak Isa,”bentak Ani kepadaku, sehingga membuat hatiku terasa amat sakit mendengarnya, “aahhkk… pak, hhmm…. pak sudah jangan di terusin…” kataku dengan kaki yang tidak dapat diam saat jarinya menyelusup kedalam vaginaku yang sudah banjir, perlahan kurasakan jari telunjuknya menyelusuri belahan vaginaku,</p>
<p style="text-align: justify;">“oo… enak ya? he…he…” pa Isa tertawa melihatku yang sudah semakin terangsang, leherku terasa basah saat lidah pak Isa menjilati leherku yang jenjang, Dengan sangat kasarnya pak Isa menarik celana dalamku, sehingga vaginaku yang tidak di tumbuhi rambut sehelaipun terlihat olehnya, aku memang sangat rajin mencukur rambut vaginaku agar terlihat lebih bersi dan seksi.</p>
<p style="text-align: justify;">Ani berjongkok di sela-sela kakiku, kamera Hp di arahkan persis di depan vaginaku yang kini sudah tidak ditutupi oleh sehelai kain, tanpa memikirkan perasaanku pak Isa membuka bibir vaginaku sehingga bagian dalam vaginaku dapat di rekam jelas oleh Ani, beberapa kali jari telunjuk pak Isa menggesek clitorisku, “ohk pak plisss.. jangan…? saya malu…” aku merasa sangat malu sekali di perlakukan seperti itu, baru kali ini aku bertelanjang di depan orang lain bukan suamiku sendiri, Ha…ha… malu kenapa Bu? anjing aja tidak malu ga pake baju masa ibu malu si…” katanya yang semakin merendahkan derajatku, setelah puas mempertontonkan vaginaku di depan kamera, pak Isa bertukar posisi dengan Ani untuk memegangi kakiku sedangkan pak Isa berjongkok tepat di bawa vaginaku,</p>
<p style="text-align: justify;">Dengan sangat lembut pak Isa menciumi pahaku kiri dan kanan secara bergantian, semakin lama jilatannya semakin ke atas menyentuh pinggiran vaginaku, “aahkk… sudah pak, rasanya sangat geli hhmm…” aku berusaha sekuat tenaga mengatupkan kedua kakiku tetapi usahaku sia-sia saja, dengan sangat rakus pak Isa menjilati vaginaku yang berwarna pink, sedangkan Ani tanpa puas melihat ke adaanku yang tak berdaya, “nikmatin aja Bu, he..he.. saya dulu sama seperti ibu selalu menolak tapi ujung-ujungnya malah ketagihan” kata Ani tanpa melepaskan pegangannya terhadap kakiku,</p>
<p style="text-align: justify;">Semakin lama aku semakin tidak tahan, tiba-tiba aku merasa tubuhku seperti di aliri listrik dengan tegangan yang tinggi, kalau seandainya Ani tidak memegang kakiku dengan sangat erat mungkin saat ini wajah pak Isa sudah menerima tendanganku, mataku terbelalak saat orgasme melandah tubuhku dengan sangat hebat, cairan vaginaku meleleh keluar dari dalam vaginaku, sehingga tubuhku terasa lemas, “ha…ha… bagaimana Bu, mau yang lebih enak….” pak Isa tertawa puas, aku hanya dapat menggelengkan kepalaku karena aku sudah tidak mampu lagi untuk mengeluarkan suara dari mulutku, perlahan pak Isa berdiri sambil memposisikan penisnya tepat di depan vaginaku, “aahkk… sakit…” aku memikik saat kepala penisnya menerobos liang vaginaku, “uuhk… hhmm… pelan-pelan pak…” pintaku sambil menarik napas menahan rasa sakit yang amat sangat di vaginaku karena ukuran penis pak Isa jauh lebih besar dari penis suamiku,</p>
<p style="text-align: justify;">“tahan Bu, bentar lagi juga enak ko’ “ kata Ani yang kini melepaskan ikatan di tanganku, setelah ikatanku terlepas Ani kembali merekam adegan panas yang kulakukan,</p>
<p style="text-align: justify;">Dengan sangat cepat pak Isa menyodok vaginaku sehingga terdengar suara “plokkss….ploskkss…” saat penisnya mentok ke dalam vaginaku yang mungil, “aahhkk… aahhkk… aaahh… oooo…”semakin cepat sodokannya suaraku semakin lantang terdengar, “oh yeeaa… enak Bu, hhmm… ternyata memiaw Ibu masih sempit sekali walaupun sudah perna menikah,” katanya memujiku, tetapi mendengar pujiannya aku tidak merasa bangga melainkan aku meresa jijik terhadap diriku sendiri, Aku merasa vaginaku seperti di masuki benda yang sangat besar yang mencoba mengorek isi dalam vaginaku, rasanya memang sangat sakit sekali tetapi di sisi lain aku merasa sangat menikamati perkosaan rehadap diriku, selama ini aku belum perna merasakan hal seperti ini dari suamiku sendiri, “ayo sayang, bilang kalau tongkol saya enak…” dengan sangat kasar pak Isa meremasi kedua payudaraku,</p>
<p style="text-align: justify;">“ti-tidak…. ahk… hhmm…” aku di buat merem melek olehnya, “ha..ha.. kamu mau jujur atau tidak, kalau tidak hhmm… saya akan adukan semua ini kepada suamimu, ha…ha…” katanya mengancamku dengan tawa yang sangat menjijikan, “ja-jangan pak,” aku memohon ke padanya, karena takut dengan ancamannya akhirnya aku menyerah juga “iya, aahhkk… aku suka…” kataku dengan suara yang hampir tidak terdengar, “APA… SAYA TIDAAK MENDENGAR?” pak Isa berteriak dengan sangat kencang sehingga gendang telingaku terasa mau pecah mendengar teriakannya, “IYA PAK, ENAK SEKALI SAYA SUKA SAMA tongkol BAPAK….aahhk…uuhhkk!!” dengan sekuat tenaga aku berusaha tegar dan berharap semuanya cepat berlalu, Setelah berapa menit kemudian tubuhku kembali merasa tersengat oleh aliran listrik saat aku kembali mengalami orgasme yang ke dua kalinya,</p>
<p style="text-align: justify;">Dengan sangat kasarnya pak Isa menarik tubuhku sehingga aku berposisi menungging, pantatku yang bulat dan padat menghadap dirinya, “hhmm… indah sekali pantatmu sayang” katanya sambil meremasi bongkahan pantatku, “pak, saya mohon cepat lakukan,” “ha..ha.. kenapa Bu, sudah ga tahan” berkali-kali pantatku menerima pukulan darinya, sebenarnya aku tidak menyangka dengan kata-kataku tadi bisa membuatku semakin renda di mata mereka, sebenarnya aku hanya bermaksud agar semua permainan ini segera berakhir tapi sayangnya pak Isa tidak menginginkan itu,</p>
<p style="text-align: justify;">“tenang Bu, santai saja dulu?” Pak Isa sangat pintar memainkan tubuhku, dengan sangat lembut jari kasarnya menyelusuri belahan pantatku dari atas hingga ke bawah belahan vagianaku, gerakan itu di lakukan berkali-kali sehingga pantatku semakin terlihat membusung ke belakang, “ohhkk… pak, hhhmm….” ku pejamkan mataku saat jarinya mulai menerobos lubang anusku, dengan gerakan yang sangat lembut jarinya keluar masuk dari dalam anusku, “ahhkk….ooo… ssstt…uuuuu… pak” ternyata rintihanku membuat pak Isa semakin mempercepat gerakan jarinya,pak Isa dengan rakusnya kembali menjilati vaginaku dari belakang sedangkan jari-jarinya masih aktif mengocok anusku. Pada saat aku sangat terangsang tiba-tiba kami mendengar suara ketukan yang kuyakini itu adalah pak Rojak yang baru pulang dari mengantar Aldi, “Pak Rojak tolongin saya…” kataku berharap ia bisa membantuku untuk lepas dari pelecehan yang ku alami, dengan santainya Ani membukakan pintu tanpa rasa takut kalau pak Rojak mengadukan kejadian ini ke pada suamiku, pak Rojak tanpak kaget saat melihat keadaanku yang sedang di gagahi oleh pak Isa,</p>
<p style="text-align: justify;">“pak, tolong ku mohon,” kataku memelas, “Wa…wa…. apa-apaan ini, “ beberapa kali pak Rojak menggelengkan kepalahnya dengan mata yang tak henti-hentinya memandangi tubuh mulusku, “Udah pak, jangan sok mau jadi pahlawan kalau bapak mau embat aja, dia sudah menjadi budaknya saya,” pak Isa mulai membujuk pak Rojak dan aku hanya bisa berharap pak Rojak tidak memperdulikan tawaran pak Isa, “kenapa bengong? sini ikutan!” ajaknya lagi “jangan pak saya mohon tolongin saya,” aku mengiba ke pada pak Rojak, tetapi pak Isa tidak mau kalah kedua jarinya membuka bibir vaginaku, “bapak liat ni, memiawnya sudah basa banget… wanita ini munafik” pak Rojak terdiam seperti ada yang sedang di piirkannya,</p>
<p style="text-align: justify;">“memiawnya masih sempit lo, apa lagi anusnya kayaknya masih perawan,” bujuk pak Isa berharap pak Rojak mau bergabung dengannya untuk menikmati tubuhku, Akhirnya pak Rojak tidak tahan melihat vaginaku yang becek terpampang di depannya, “hhmm… oke lah tapi boolnya buat saya ya, ” tubuhku semakin terasa lemas, kini aku sudah tidak tau harus meminta tolong ke pada siapa lagi, perlahan pak Rojak mendekatiku, “sekarang Ibu dudukin tongkol saya, cepat…” perintah pa Isa sambil tidur telentang dengan penis yang mengancung ke atas, dengan sangat pelan aku menuduki penis pak Isa, “eennnggkk…. “ aku menggigit bibir bawahku saat kepala penis pak Isa kembali menembus vaginaku, perlahan penis itu amblas ke dalam vaginaku, dengan sangat erat pak Isa memeluk pinggangku agar tidak dapat bergerak, Setelah melepas semua pakaian yang ada di tubuhnya, pak Rojak mendekatiku dengan penis berada di depan anusku beberapa kali pak rojak menamparkan penisnya ke pantatku,</p>
<p style="text-align: justify;">“pak sakit… aahhkk… aahkk… ja-jangan pak saya belum pernah” aku berusaha melepaskan diri saat pak Rojak mulai berusaha memasuki anusku, sempat beberapa kali ia gagal meembus anusku yang memang masih perawan, “ha…ha… ayo dong Pak, masak kalah sama cewek si…” kata pak Isa mmemanas-manasi pak Rojak agar segera membobol anusku, pak rojak yang mendengar perkataan pak Isa menjadi lebih beringas dari sebelumnya, “AAAAAA….” aku berteriak sekencang-kencangnya saat penis pa Rojak berhasil menerobos anusku, tanpa memberikan aku nafas ia menekan penisnya semakin dalam, “aahkk…. oohhkk… pak, hhmm…” aku merintih ke sakitan saat pak Rojak mulai memaju mundurkan penisnya di dalam anusku, “gi mana pak? Enak kan?” tanya pak Isa yang kini ikutan memaju mundurkan penisnya di dalam vaginaku, “eehhkknngg… mantab pak, enak banget he….he… hhmm….” semakin lama kedua pria tersebut semakin mempercepat tempo permainan kami, Sudah beberapa menit berlalu kedua orang pria ini belum juga menunjukan kalau mereka ingin ejakulasi, sedangkan diriku sedah beberapa kali mengalami orgasme yang hebat sehingga tubuhku terasa terguncang oleh orgasmeku sendiri.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah beberapa menit aku mengalami orgasme tiba-tiba pak Isa menunjukan bahwa dia juga ingin mencapai klimaks. Dengan sekuat tenaga pak Isa semakin menenggelamkan penisnya ke dalam vaginaku dalam hitungan beberapa detik kurasakan cairan hangat membasahi rahimku, “aahkk… enak…. hhmm…” gumamnya saat menyemburkan sperma terakhirnya, setelah puas menodaiku pak Isa melepas penisnya di dalam vaginaku begitu juga dengan pak Rojak yang melepaskan penisnya di dalam anusku, “buka mulutmu cepetan,” perintah pak Rojak sambil menarik wajahku agar menghadap ke arah penisnya yang terlihat berdeyut-deyut, aku sangat kaget sekali saat pak Rojak memuntahkan spermanya ke arah wajahku, sehingga wajahku ternodai oleh sperma pak Rojak, Kini aku benar-benar sudah tidak memiliki tenaga sedikitpun, untuk mengangkat tubuhku saja terasa sangat berat sekali, sedangkan mereka tanpa puas memandangku yang sedang berpose mengangkang di depan mereka karena kedua kakiku kembali dipegangi Ani, sperma yang tadi di muntahkan pak Isa terasa mengalir keluar dari dalam vaginaku,</p>
<p style="text-align: justify;">Aku duduk di atas sofa sambil melihat anak angkatku Aldi yang sedang di temani suamiku belajar, wajah mereka terlihat sangat cerah sekali bertanda bahwa mereka sangat bahagia, entah kenapa tiba-tiba di pikiranku terlintas kembali apa yang terjadi tadi pagi yang menimpa diriku, semakin aku berusaha melupakannya rasanya ingatan itu semakin menghantuiku, aku tidak bisa membayangkan kalau sampai suamiku mengetahui kalau aku di perkosa oleh ketiga pembantuku sendiri, “hhmm… gi mana Aldi sudah negerti belom” kataku sambil mengucek rambutnya yang sedang sibuk menghitung soal yang di berikan suamiku, “ya sudah kalau begitu mama bikinin minuman dulu ya, buat kalian,” kataku yang di sambut dengan teriakan mereka berdua, Baru satu langkah aku keluar dari kamar tiba-tiba pergelangan tanganku terasa sakit saat pak Rojak menarik tanganku, “bapak apaan sih!?” bentakku dengan suara yang sangat pelan, “ssstt… jangan berisik…” kata pak Rojak dengan jari telunjuk di bibirnya, “nanti suami dan anak mu dengar, hhmm… bapak cuman mau ini Bu,” katanya lagi sambil mencubit payudaraku, dengan sigap aku mundur ke belakang,</p>
<p style="text-align: justify;">“jangan main-main pak,” beberapa kali aku memandang pintu kamarku yang tidak tertutup rapat, tetapi pak Rojak tidak kehabisan akal dia balik mengancamku dengan mengatakan akan membongkar semua rahasiaku ke pada suamiku, sehingga nyaliku menjadi ciut, “oke, hhmm… kalau begitu bapak ikut saya” kataku dengan suara yang bergetar, karena sudah tidak tahu lagi harus melakukan apa, dia terseyum puas melihatku tak berdaya dengan permintaanya, “maaf Bu, saya inginnya di sini bukan di tempat lain,” katanya dengan suara yang cukup jelas, setelah berkata seperti itu pak Rojak langsung memelukku dengan erat sehingga aku sulit bernafas, “hhmm… bauh tubuh ibu benar-benar menggoda saya,” perlahanku rasakan lidahnya menjulur ke leherku “pak ku mohon, jangan di sini” pintaku ke padanya, Pak Rojak yang mengerti kekhawatiranku langsung membalik tubuhku menghadap daun pintu kamarku yang sedikit terbuka,</p>
<p style="text-align: justify;">“Ibu bisa bayangkan kalau sampai orang yang sedang di dalam kamar Ibu mengetahui apa yang sedang Ibu lakukan,” ancamnya sambil menarik rambutku sehingga aku harus menutup mulutku dengan telapak tanganku agar suara terikanku tidak terdengar oleh suami dan anakku, “Pak ku mohon jangan di sini,” aku hanya bisa menurut saja saat pak Rojak menyuruhku untuk menungging dengan tangan yang menyentuh lantai, sedangkan wajahku menghadap ke celah pintu kamarku yang terbuka, “tahan ya Bu,” katanya sambil menyingkap dasterku, sehingga celana dalamku yang berwarna hitam terpampang di depan matanya, dengan sangat kasar pak Rojak meremas kedua buah pantatku yang padat sehingga aku tak tahan untuk tidak mendesah, “aahkk.. pak hhmm.. ja-jangan di sini pak,” pak Rojak diam saja tidak mendengar kata-kataku melainkan pak Rojak semakin membuatku terangsang dengan mengelus belahan vaginaku dari belakang, “kalau kamu tidak mau ketahuan jangan bicara,” bentak pak Rojak sambil memukul pantatku “ta-tapi pak, oohhkk… aku ga kuat,” kataku dengan suara yang sangat pelan, “ku mohon pak mengertilah,”</p>
<p style="text-align: justify;">Pak Rojak seolah-olah tidak mau tahu, kini dengan rakusnya pak Rojak menjilati vaginaku yang masih tertutup celana dalamku, sehingga aku merasa celana dalamku tampak semakin basah oleh air liurnya. Setelah puas menciumi vaginaku pak Rojak memintaku untuk membuka celana dalamku sendiri masih dengan posisi menungging. Sangat sulit bagiku untuk melepaskan celana dalamku dengan posisi menungging belum lagi aku harus bekonsentrasi agar suaraku tidak keluar dengan keras walaupun pada akhirnya aku berhasil menurunkan celana dalamku sampai ke lutut, “hhuuu… mantab….” katanya sambil merabahi vaginaku dari belakang, “kamu mau tahukan gimana rasanya ngent*t di depan suamimu sendiri,” katanya lagi sambil menunjuk ke arah suamiku yang sedang mengajari anaku Aldi, “pak, ja-jangan…” aku sangat takut sekali kalau suamiku melihat ke arahku, tiba-tiba aku di kejutkan dengan jari telunjuk pak Rojak yang langsung memasuki vaginaku sehingga aku terpekik cukup keras, “sayang… ada apa?” kata suamiku dari dalam, saat mendengar suaraku.</p>
<p style="text-align: justify;">“aahkk… tidak pa, cuman hhmm.. tadi ada tikus lewat,” jawabku asal-asalan agar suamiku tidak curiga ke padaku, tetapi untungnya suamiku tidak melihat ke arahku, dalam ke adaan terjepit seperti ini pak Rojak masih asyik mempermainkan vaginaku dari belakang, “ada tikus??” katanya lagi seolah-olah tidak percaya, “apa perlu papa yang usir,” mendengar tawarannya nafasku teras berhenti tetapi untungnya aku masih banyak akal, “aahhgg… ga usah hhmm.. pa…” kataku terputus-putus menahan rasa nikmat yang di berikan pak Rojak kepadaku, untungnya suamiku tidak curiga dengan suaraku, “asyikan Bu, ngobrol dengan suami sambil di mainin memiawnya,” aku memandangnya dengan wajah yang memerah karena nafsuku sudah di puncak, “ko’ diam cepat ajak suami Ibu ngobrol,” mendengar perkataanya aku langsung melotot ke arahnya, “Ibu mau kalau suami Ibu tau apa yang sekarang Ibu lakuin,” mendengar ancamannya aku kembali terdiam, Dengan sangat terpaksa aku kembali mengajak suamiku mengobrol, walaupun di dalam hati aku merasa was-was takut kalau suamiku menyadari suaraku yang berubah menjadi desahan,</p>
<p style="text-align: justify;">“paaa… ma-mau minum apa?” tanyaku yang kini sedang diperkosa oleh pak Rojak, tanpa kusadari pak Rojak sudah memposisikan penisnya di depan ibir vaginaku sehingga beberapa kali aku terpanjat saat pak rojak menghantamkan penisnya dengan sangat keras ke dalam vaginaku, “terserah mama saja… papa sama Aldi ikut aja,” “iya ma, apa aja asalkan enak,” sambung Aldi, Waktu demi waktu telah berlalu sehingga sampai akhirnya sikapku berubah menjadi sedikit liar dan mulai menyukai cara pak Rojak memperkosaku walaupun pada awalnya hatiku terasa miris sekali di perlakukan seperti ini, “aahk…. pak hhmm.. enak,” aku melenggu panjang saat orgasme melandahku, kini perkosaan yang ku alami berganti dengan perselingkuhanku dengan pembantuku, “ohhk… memiaw istri majikan ternyata enak sekali, ahhkk…” katanya yang terus-terusan menggoyang penisnya di dalam vaginaku, “pak… aahhkk… eehkk… aku, hhmm… ingin keluarrr, uuhhkk…” kali ini suaraku terdengar sangat manja Beberapa menit kemudian kami mengerang bersamaan saat kenikmatan melanda kami berdua, setelah merasa puas aku dan pak Rojak kembali merapikan pakaian kami masing-masing, sebelum pak Rojak pergi meninggalkanku sempat terlihat seyumannya yang tersungging di bibirnya. Setelah membuatkan minuman aku kembali ke kamarku menemui anak dan suamiku, mereka terlihat tanpak senang sekali melihatku hadir dengan membawa minuman dan makanan kecil,</p>
<p style="text-align: justify;">“ini di minum dulu, nanti baru di lanjutin lagi,” kataku sambil meletakan cangkir dan piring di atas meja kecil yang di gunakan Aldi untuk belajar, “makasi mama…” kata Aldi yang langsung saja menyambar minuman yang baru ku bikin, entah kenapa setiap kali melihat Aldi hatiku terasa menjadi damai, dan semua masalah seperti terlupakan, Aku merasa sedikit aneh, saat suamiku memandangku dengan tatapan mencurigakan sehingga aku memberanikan diri untuk bertanya ke padanya, “ada pa, ko memandang mama seperti itu” kataku sambil mengupas jeruk untuk Aldi yang sedang menulis, suamiku mendekatkan mulutnya ke telingaku, “hhmm.. sayang ko’ kamu bau hhmm… gitulah…” mendengar pertanyaannya jantungku terasa berhenti, “bau, bau apa pa?” tanyaku untuk memastikan apa maksud dari pertanyaan suamiku, “kamu tadi ko’ lama ma,” kami terdiam beberapa saat, “mama abis dari kamar mandi ya, hhmmm… papa jadi curiga ni,” katanya sambil tertawa memandangku, mendengar perkataanya aku menjadi sedikit lega, “Iya ni pa, abis kangen si…” kataku manja sambil mencubit penis suamiku, Setelah yakin Aldi tertidur pulas, suamiku mengjakku untuk melayaninya semalaman suntuk. Tubuhku memang terasa lelah karena seharian harus mengalami orgasme, tetapi di sisi lain aku sangat senang karena suamiku tidak mencurigai aku karena bau tubuhku seperti bau orang yang habis bercinta.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ceritasex.cn/pernikahan-yang-ternoda/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Paini, Pembantu Pemuas Nafsu</title>
		<link>http://www.ceritasex.cn/paini-pembantu-pemuas-nafsu/</link>
		<comments>http://www.ceritasex.cn/paini-pembantu-pemuas-nafsu/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 01 Apr 2010 22:26:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cerita Sex</dc:creator>
				<category><![CDATA[Paruh baya]]></category>
		<category><![CDATA[anal seks]]></category>
		<category><![CDATA[kisah nyata]]></category>
		<category><![CDATA[budak seks]]></category>
		<category><![CDATA[emut kontol]]></category>
		<category><![CDATA[ngentot]]></category>
		<category><![CDATA[paini]]></category>
		<category><![CDATA[pembantu]]></category>
		<category><![CDATA[pemuas nafsu]]></category>
		<category><![CDATA[susu]]></category>
		<category><![CDATA[toket gede]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ceritasex.cn/?p=1334</guid>
		<description><![CDATA[Nama saya Andi, seorang karyawan di sebuah bank terkemuka di indonesia .Saya akan menceritakan kisah saya yang terjadi pada saat saya masih 3 SMU. pada saat tinggi saya 175 cm berat 55 Kg. dan saya berotot pada saat itu karena sering angkat barbel yang 3 kiloan dan sit-up setelah bangun tidur setiap hari. ya cukup [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Nama saya Andi, seorang karyawan di sebuah bank terkemuka di indonesia .Saya akan menceritakan kisah saya yang terjadi pada saat saya masih 3 SMU. pada saat tinggi saya 175 cm berat 55 Kg. dan saya berotot pada saat itu karena sering angkat barbel yang 3 kiloan dan sit-up setelah bangun tidur setiap hari. ya cukup menarik perempuan saat itu sehingga saya dapat seorang wanita cantik di SMU. Tetapi saya tidak akan menceritakan saya tidur dengan pacar saya karena saya tidak pernah ngesex denganya dan tentu saja cerita hubungan pacar atau pasutri itu tidak menarik. Saya akan menceritakan tidur dengan pembantu saya, Paini, Seorang wanita desa yang Ndeso dan lugu. Dia hanya lulusan SD dan pengetahuan sexnya sangat rendah. Masa artinya perawan saja tidak tahu, dia mengira perawan itu susunya kencang dan pantatnya kencang, dan yang tidak perawan itu susuny6a kendor dan pantatnya gantung. masih ada aja yang percaya begituan di era globalisasi. Umurnya masih 19 tahun, masa keemasan. Tingginya hanya 160-an cm dan beratnya sekitar 45 kg.</p>
<p style="text-align: justify;">Kulitnya putih dan halus seperti wanita jawa lainya. wajahnya pun bisa dibilang lumayankarena putih mulus tak berjerwat. Toketnya ukuran jumbonya itu membuat pria didesanya sering menggodanya. sayapun tertarik dengan ukuran besarnya. ukuran yang bisa dibilang kebesaran, 36B, itu adalah nomor yang saya dapatkan ketika mengobok-obok lemarinya ketika dia ke pasar. BH murahan itu kadang saya cium dan hisap aromanya. oh wanginya BH ini dan kadang-kadang saya juga mencium CD nya dan sesekali menumpahkan mani saya di celananya yang kemudian langsung saya bersihkan agar tidak ketahuan. dan kalau anda melihatnya naik sepeda ontelnya dan melewati jalan berbatu atau polisi tidur, toketnya goyang dengan indah. pria mana yang tidak ngaceng melihat pemandangan ini. dan apabila mandi, saya sering melihatanya dengan one way mirror yang saya taruh di kmar mandinya. melihat dia dengan rambut basah atau penuh busa serta melihat dia menyabuni payudaranya dan vaginanya yang dipenuhi bulu tipis yang dicukur membuat saya berfantasi tidur denganya.</p>
<p style="text-align: justify;">sesekali saya juga melihat dia menykur jembutnya atau mencukur bulu kakinya di kamar mandi juga membuat junior saya tegang. atau melihatnya menyuci mobil, oh alangkah seksinya dia ketika saya melihatnya dengan baju yang ngeplat BH dan putingnya karena basah dan tentunya saya lanjutkan dengan choli atau ngocok. Tidur denganya?, tidak saya tidak berani karena takut hamil. tetapi karena saya perkembangan teknologi yang memungkinkan tidak bisa hamil maka niat saya tidur denganya hidup lagi. Suatu hari, Orang tuaku beserta adikku pergi ke luar kota untuk mengahadiri resepsi pernikahan. Sedangkan saya tidak ikut karena saya ada ulangan di sekolah. tetapi ibu saya ingin saya ikut dengan minta ujian susulan. tapi saya menolak dengan pelbagai alasan karena kalau ujian susulan nggak bisa nyontek. akhirnya ortuku beserta adikku meninggalkanku. Kemudian saya belajar(lebih tepatnya membuat contekan buat besok) dan langsung tidur. kemudian saya menegrjakan ulangan dengan contekan dan setelah pulang sekolah saya langsung pulang ke rumah.</p>
<p style="text-align: justify;">setelah itu saya main PS2 sampai malam bersama teman saya dan setelah selesai teman saya langsung pulang. tidak terasa sudah malam. saya meminta Paini untuk masak. &#8220;Paini&#8230;Paini&#8230;&#8221; saya teriak memanggil paini. mungin karena terlalu keras dia lari terbirit-birit dari ruang tv ke hadapan saya. pada saat lari. susunya bergoyang kemana-mana di balik baju kekecilanya otomatis membuat saya ngaceng. kemian saya langsung mengambil koran dan menutup penis saya dibalik celana pendek yang saya pakai. &#8220;paini, sudah masak nasi belum?&#8221; &#8220;waduh saya lupa&#8221; &#8220;masak nasi tuh kan lama, bisa setengah jam, gimana sih kamu?&#8221; &#8220;Maaf mas andi, saya lupa&#8221; &#8220;makanya dikurangin nonton sinetronya&#8221; &#8220;sekali lagi maaf mas&#8230;&#8221; &#8220;ya udah, gapapa kok, lauknya apa&#8221; &#8220;terserah mas&#8221; &#8220;kalo gitu, nugget aja yang di kulkas&#8221; &#8220;oke mas&#8221; &#8220;kalau gitu saya mandi dulu, nanti kalo udah selesai saya dipanggil ya&#8221; &#8220;nggih mas&#8221; itu adalah percakapan pendek saya dengan paini. kemudian saya mandi denganbersih dan menggunakan baju sepak bola dan celana pendek.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;mas, makananya sudah selesai&#8221;, itu suara paini memanggil saya. kemudian saya langsung makan. &#8220;mbak makannya sudah selesai&#8221; suaraku dengan lantang. kemudian dia datang dan membersihkan meja dan menyuci piring dan saya ke ruang keluarga dan sekilas melihat tv yang sudah hidup yang ditonton oleh nya. ternyata sebuah sinetron, ah,mengapa orang suka menonton junk ini. kemudian saya gonta ganti channel, ternyata semuanya sinetron karena lagi &#8220;prime timenya&#8221; &#8220;mas, kok diganti sih?&#8221; katanya yang saya tidak ketahui sudah duduk dibawah &#8220;mbak masih nonton yang tadi?, itu kan jelek&#8221; &#8220;bagus lo mas, itu episode terakhir lo mas&#8221; &#8220;plis mas&#8221; kata itu diulang berkali kali &#8220;ya udah deh&#8221; kemudian saya mengembalikan ke channel semula dan saya mengambil majalah olahraga karena saya anti-sinetron. dan kami sering bincang-bincang ringan. ya seputar kehidupan saya di sekolah dan cerita dia. kemudian beberapa menik kemudian sinetron itu di ending dan sepasang manusia berciuman yang tentunya disensor seperti hanya keliatan punggungya.<span id="more-1334"></span></p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;yah, kok cuma punggungnya sih?&#8221; &#8220;namanya juga di indonesia, nggak boleh diliatin&#8221; &#8220;iya mas, sinetron lain juga begitu&#8221; kemudian saya melenceng dari topik &#8220;emang mbak nggak tau ciuman&#8221; &#8220;nggak pernah mas, takut hamil&#8221; &#8220;duh ini orang goblog banget ciuman kok hamil&#8221; kataku dalam hati &#8220;mbak, ciuman itu nggak bikin hamil&#8221; &#8220;emang mas pernah nyium mbak dina ya?&#8221; pertanyaanya malah balik ke saya. dina adalah pacarsaya &#8220;nggak pernah, dina kan solehah&#8221;, kataku. pacarku memang solehah, sayapun kalau berpacaran selalu disuruh membawa adikku. pas nembak diapun setengah mati, dia setuju, tetapi kedua orang tua juga harus setuju. itu permintaan. tapi saking cintanya. maka saya menurutinya. &#8220;Ooooo&#8221; katanya &#8220;masak mbak nggak pernah?&#8221; &#8220;betulan nih nggak pernah sama mas jay&#8221;. jay adalah mantan pacarnya di desa. saya mendapatkan informasi ini dari mengorek HPnya &#8220;nggak, saya cuma dicium pipi sama mas jay&#8221; &#8220;oooo, mbak pijatin dong&#8221; kemudian saya telungkup di sofa dan paini memijat saya. &#8220;paini, kamu kok nggak punya pacar sih&#8221; &#8220;nggak tau mas&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;loh, kok nggak tau sih&#8221; &#8220;iya nih&#8221; &#8220;padahal kamu itu cantik&#8221;, rayuan gombalku keluar &#8220;ah mas bisa aja&#8221; &#8220;kok kamu putus sih sama mas jay&#8221; &#8220;dulu mas jay ngajak begituan, tapi saya malu kemudian kami putut&#8221; &#8220;loh kok malu&#8221; &#8220;mmmm&#8221;, dia bergumam &#8220;jawab dong&#8221; &#8220;saya malu buka baju&#8221; &#8220;loh kok buka baju takut?, mbak ini aneh&#8221; &#8220;mmmm&#8221; dia bergumam lagi, lama sekali &#8220;mbak, jawab dong, budek ya&#8221; &#8220;mmmm&#8221; &#8220;oi jawab dong&#8221;, kataku kesal &#8220;anu mas, saya mau jawab tapi jangan bilang sapa-sapa ya&#8221;, ucapanya lirih &#8220;oke deh&#8221; &#8220;janji ya mas&#8221; &#8220;IYA!&#8221;, ucapan saya dengan nada menekan &#8220;saya malu dengan susu saya&#8221; ucapan ini membuat saya ngaceng plus rangsangan darinya merijat pada dalamku. otomatis penis saya tertekan &#8220;aduh&#8221; &#8220;kenapa mas?&#8221; saya bingung haru menjawab apa &#8220;di situ sakitnya, dipijitnya disitu terus aja&#8221; berarti aku menambah kesakitan penisku kemudian saya melanjutkan pembicaraan yang tadi terputus &#8220;kenapa?&#8221; &#8220;kata teman saya, kegedean, terus saya juga risih kalau naik sepeda sering diliat orang mas, aku isin mas&#8221; &#8220;kataku payudaramu bagus kok&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;ah mas ini bisa aja. coba ada opersi negecilin susu&#8221; &#8220;ada tapi harganya selangit, kamu kuat?, nanti operasi di luar negeri&#8221; &#8220;saya nggak kuat mas kalo segitu&#8221; &#8220;bagus kok susumu paini, wanita2 itu pada ingin dibesarin kok kamu dikecilin&#8221; kataku memuji &#8220;terus susu kamu bikin tambah kamu jadi sexy loo&#8221;, kataku memuji lagi &#8220;ah mas ini&#8221;, mukanya merah tersipu malu-malu &#8220;terus muka kamu kan cantik&#8221;, pujianku menjadi-jadi &#8220;tapi kan aku tetep gadis desa mas, kampungan, ndeso&#8221;, katanya merendahkan diri &#8220;kamu bisa kok jadi gadis kota, gadis yang ada di sinetron-sinetron itu&#8221; &#8220;ah yang bener mas, gimana caranya?&#8221;, katanya &#8220;ya dari baju sikap dll&#8221; &#8220;baju, kayak gimana mas?&#8221; &#8220;kalo ini kamu harus percaya diri, kamu pake tanktop atau rok mini&#8221; &#8220;malu mas&#8221; &#8220;udah, kamu coba dulu, saya beliin deh&#8221; &#8220;duh, nggak enak mas&#8221; &#8220;udah, gak papa kok&#8221; kemudian dia ke kamarnya dan mengambil uang &#8220;nggak papa nih mas, masak saya nyuruh majikan beliin baju&#8221; &#8220;oh nggak papa kok, ini kan demi kamu juga, lagipula saya juga ingin keluar&#8221; &#8220;makasih ya mas, jadi nggak enak nih&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;udah tenang saja kok&#8221; kemudian saya keluar dengan naik sepeda motor saya dan pergi ke toko pakaian yang terkemuka. mumpung lagi sale. saya memilih tang top pink, rok jeans mini dan sebuah G-string. tapi masalahnya saya risih membawa pakaian perempuan. apalagi membawa g-string. oleh karena itu, saya mencuri pakaian daripada diketawain sama kasirnya. saya memasukan barang tsb di balik jaket saya yang seharusnya tadi dititipkan penitipan barang, tapi, karena orangnya nggak ada, saya nyelonong aja. dengan perasaan santai saya keluar dan langsung mengendarai motor ke rumah &#8220;kemudian agar keliatan beli, saya diam-diam ke dapur dan mengambil kantong kresek yang ada logo sebuah toko baju &#8220;ini paini bajunya&#8221; &#8220;waduh, makasih banget mas, saya harus ganti brapa?&#8221; &#8220;nggak usah ganti, gratis kok&#8221; tetapi wajh senang itu 360 derajat menjadi malu setelah melihat pakaian yang ada di dalam kantong tersebut&#8221; &#8220;mas, nggak salah nih?&#8221; &#8220;betul kok, kamu pasti seksi dan cantik pake itu&#8221; &#8220;kamu mandi dulu, terus baru pake itu, biar tambah cantik&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;tapi mas, nanti paha sama belahan susu saya kelihatan lo mas&#8221; &#8220;nggak papa kok, kan susu kamu gede terus kulit kamukan putih jadi cantik kok&#8221; &#8220;tapi kan saya jadi malu&#8221; &#8220;tenang, kan cuma ada saya dan kamu doang, jadi nggak usah malu&#8221; &#8220;iya deh mas, tapi cuma semalam saja ya&#8221; &#8220;iya, tapi nanti kamu jangan pake beha&#8221; &#8220;loh mas, kok nggak pake beha?&#8221; &#8220;kamu tahu nggak kalo pake beha bisa bikin kanker payudara nanti matinya cepat kayak artis yang diinfotaiment itu&#8221;, kataku menakutinya &#8220;saya jadi takut mas&#8221; &#8220;makanya kamu nggak usah pake beha aja terus, buang aja behamu, terus kamu pake CD yang saya beliin,&#8221; &#8220;iya mas&#8221; &#8220;Sabunanya yang banyak ya&#8221; kemudian saya menunggu beberapa menit dan akhirnya keluar juga. waduh, cantik bener, terlihat paini dengan tanktop V-neck sehinggaputingnya ngeplat dan belahan dadanya yang besar serta terlihat kakinya dan pahanya mulus yang ingin aku raba-raba. betul-betul membuat saya ngaceng sampai sakit yang kemudian menyembul dibalik celanaku, dengan cepat aku duduk dan langsung mengambil bantal yang kemudian saya taruh diatas paha</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;gimana mas andi&#8221; katanya berusaha menutupi bagian dadanya &#8220;waduh paini kamu seksi dan cantik banget&#8221; &#8220;makasih mas andi&#8221; &#8220;mas jay pasti nyesel mutusin kamu kalo liat kamu kayak begini&#8221; &#8220;ah mas andi bisa aja deh&#8221; &#8220;kamu itu aslinya cantik dan seksi lo paini&#8221; &#8220;mas tapi ada yang nyelip&#8221; &#8220;nyelip?&#8221; &#8220;iya mas&#8221; &#8220;apaan?&#8221; Dengan malu dia berkata&#8221; anu mas, kolor tali yang mas beliin&#8221; &#8220;oh nggak papa kok, ayo duduk disofa&#8221; kemudian dia duduk di hadapan saya &#8220;gimana, enak nggak?&#8221; &#8220;nggak enak mas, yang bawah nyelip, terus yang atas ngetat mas, nggak pake beha lagi mas, puting saya kelihatan ya mas?,saya malu sekali mas, ternyata jadi gadis kota itu susah&#8221; &#8220;puting kamu keliatan bikin kamu jadi tambah seksi kamu kayak di film-film lo, kamu jadi model aja paini&#8221; &#8220;ah, mas ini bisa aja, nanti kalau paini jadi model, nanti yang ngurus mas siapa?&#8221; &#8220;udah paini, nggak usah ditutup-tutupin susumu, santai aja, kan yang liat cuma aku, kalo kamu kecilin susumu, mungkin kamu nggak jadi seksi lagi lo&#8221; &#8220;tenang, cuma saya dan aku, aku nggak gigit kok, aku jaga rahasia kita berdua&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;hihihi&#8221; akhirnya senyumnya mengembang juga &#8220;mas, aku boleh salin ndak?&#8221; &#8220;jangan ganti, nanti saya ajarin biar tambah seksi dan naughty&#8221; &#8220;mas andi, kok kayak lagunya tata yang&#8221; &#8220;nanti biar kamu seksi kaya tata young&#8221; kemudian saya memutar VCD tata young, kemudian lagu sexy, naughty &amp; bitchy keluar keluarlah keluar tata young yang seksi itu &#8220;tata young aja berani diliatin didunia malah, kok kamu dihadapan saya aja kok malu&#8221; &#8220;tata young kan cantik, kalo saya apanya cantik&#8221; &#8220;udah, sekarang kamu menutup mata, bayangkan kamu tata young&#8221; &#8220;iya mas&#8221; kemudian dia meniru gerakan tata young sambil nyanyi, meskipun englishnya kagok, tapi gerakanya sangat sensual. kedua tanganya meraba pahanya, pyudaranya dan tentu saja membuat saya ngaceng. setelah bernyanyi, Paini menjadi percaya diri, dia tidak menutupi tubuhnya lagi. tanpa saya sadari, rupanya dia terangsang, terlihat dari putingnya sudah berkembang. Saya menganggap ini kesempatan emas untuk ML denganya &#8220;mbak, kalo udah nyanyi ayo duduk disini&#8221; &#8220;iya mas&#8221; paini langsung duduk di sampingku</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;mbak haus kan, saya juga haus&#8221; &#8220;kok tau sih mas andi ini, saya ambil jus jeruk di kulkas ya&#8221; &#8220;udah, bia saya yang ambil, mbak kan capek abis joget&#8221; kemudian saya langsung mengambil jus jeruk dikulkas dan mengambil gelas di dapur. Kemudian diam-diam saya mengambil obat perangsang milik kedua orang tua saya di kotak obat. kemudian saya menelan 2 obat perangsang sekaligus dan 1 obat saya tumbuk menjadi bubuk dan saya masukan ke dalam jeruknya. kemudian saya langsung ke ruang keluarga, saya pun juga ngaceng terus, dan tidak saya tutupi yang mungkin bisa menambah rangsangan dia juga &#8220;ini mbak jus jeruknya&#8221; &#8220;slruupp&#8221; jus jeruk itu langsung diminum sampai habis kemudian efek obat itu bekerja. terlihat paini mengipas-ipas tubuhnya dan puting susunya membengkak kemudian kami mulai ngobrol lagi &#8220;mbak, masa sama mas jay cuman cium pipi?&#8221; &#8220;iya, mas&#8221; &#8220;mbak, pengin tau nggak rasanya mulut mbak dicium? kayak disinetron?&#8221; &#8220;mau, kayaknya enak&#8221; &#8220;kalo saya ajarin cium mulut orang mau nggak?&#8221; &#8220;saya takut mas&#8221; &#8220;katanya tadi mau, kok sekarang takut sih?&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;mmmm&#8221; dia bergumam lagi &#8220;udah, gini aja, kamu saya cium, kalo nggak enak nggak usah dilanjutin&#8221; kemudian saya suruh menutup mata, kemuadian saya mendekatkan bibir saya dan kami saling berciuman sekitar 10 detik &#8220;gimana mbak, enak?&#8221; &#8220;enak ya mas&#8221; &#8220;ini ada satu ciuman lagi tapi kamu harus juga aktif, nanti lidah kamu ke lidahmu dan lidahku ke lidahkmu kemudian kepalaku sedikit di miringkan dan kami melakukan french kiss cukup lama sekali. kemudian bibirku berpindah kekupingnya dan kucium kupingnya dan aku julurkan lidahku ke lubang telinganya &#8220;uhh.. geli mas&#8221; kemudian saya cium lehernya yang wangi &#8220;enak mas enak lagi mas ohh..&#8221; dan kuberikan tanda merah di lehernya. kemudian saya turunkan tali tank topnya &#8220;jangan mas, malu&#8221; tetapi kuteruskan saja dan kemudian saya melihat kedua bukit kembar yang yang putingnya sudah menonjol keras, kemudian saya remas-remas kedua bukitnya &#8220;mas, pelan saja&#8221; kemudian kuturunkan temponya dan ku cubit-cubit kecil payudaranya . setelah itu saya pilin-pilin putingnya. dia mendesah menggelinjang &#8220;ohh&#8230;ahh&#8230; geli mas&#8221; sungguh indah pemandangan ini.</p>
<p style="text-align: justify;">kemudian saya emut-emut payudaranya kananya dia teriak-teriak &#8220;ohh yea yess ahhh&#8221; dan tanganya meremas payudara kiri. setelah beberapa menit saya pindah dan beberapa menit kemudian saya menjulurkan lidah saya ke pusarnya yang bersih itu dan kedua tangan saya aktif meremas kedua payudaranya. posisi ini susah karena perut paini bergoyang terus saking nikmat yang kuberikan untuknya. kemudian kedua tangan saya turun ke roknya dan pelorotkan roknya.&#8221;mas jangan mas ahh jangan mas malu ohh&#8221; pada saat ini masih sempet-sempetnya dia untuk bilang tidak. kemudian munculah G-string biru muda, warna kesukaanku kemudian kuraba, rupanya sudah basah. kemudian aku raba bibir vaginaya yang sudah merah merekah.&#8221;ahh enak&#8221; kemudian aku pelorotkan juga g stringnya sehingga sudah terlihat paini si toket gede bugil denganpayudata yang mingkin sudah bertambah bear 25% dengan puting mengeras dan vagina basah yang sudah merekah siap untuk ditidur kemudian saya menyuruh paini untuk membuka bajuku. setelah itu dia memelorotkan celanaku sehinnga terlihatlah CD ku yang menyembul.</p>
<p style="text-align: justify;">kemudian saya berkata &#8220;paini, kamu sudah siap ntuk melihat penis saya sayang?&#8221;, &#8220;sudah siap mas&#8221; kemudian dia melorot kan celanaku dan &#8220;toing&#8221; penis ku menyembul keluar, penis dengan jembut keriting dan penis kokoh sekitar 18 cm dengan diameter 3 cm. &#8220;emut donk say&#8230;&#8221; &#8220;diemut?!&#8221; &#8220;iya diemut, dijilat&#8221; &#8220;nggak brani ya say?&#8221; &#8220;iya mas&#8230;&#8221; rupanya dia rada ngeri dengan penisku, kemudian saya kk dapur dan mengambil susu kental manis dan mengambil ceres. kemudian saya oleskan susu kental manis coklat itu sampai memenuhi penis ku dan dan kuberi ceres warna-warni di penisku &#8220;biar mbak nggak takut, ini saya beri coklat bia enak oralnya, emut sam pai habis&#8221; &#8220;iya mas&#8221; &#8220;jangan lupa, jangan sampe burung mas kena gigi, nanti lecet&#8221; kemudian dia mulai menjilat penis saya, awalnya menjilat tapi kelama-lamaan mengemut &#8220;ah enak sekali paini terus ahh yess&#8221; yang lama kelamaan sampai mulutnya penuh dan saya menjambak rambutnya. hisapanya seperti orang yang sudah sering nyepong. dia menjalankan perintah. beberapa menit kemudian &#8220;croot-croot&#8221; saya melepaskan mani saya pertama dimulutnya.</p>
<p style="text-align: justify;">anehnya penis saya tidak mengkerut, mungkin ini efek dari obat tersebut.&#8221;mas kok buang pejunya di mulut mabak sih?&#8221;, &#8220;kamu tau nggak mani itu mempunyai protein yang banyak?,telan aja&#8221; kemudian dia menurut dan cairan putih kental itu dia telan sampai habis, kemudian giliran saya menjilat vaginanya. kuraba vaginanya dan kucari clitorisnya. dia mendesah &#8220;ahh enak mass lanjut mass&#8221; dan kemudian keluar juga dan kubersihkan dari mulutku dan sekarang mungkin saatnya penis saya menerobos vaginanya. &#8220;mbak, mungkin ini rada sakit, tapi setelah itu nikmatnya keluar&#8221;, dan saya sudah bersiap memasukanya. kemudian tangan saya dipegang, &#8220;mas, nanti kalo hamil gimana mas?&#8221;,&#8221;kalo kamu hamil aku tanggung jawab&#8221;. kemudian sayaberusaha memasukan penis perlahan-lahan rupanya ketika kepala penisku pengenai dinding vaginanya, &#8220;uhh, perih mas&#8221; kemudian saya memasukan penis 1 cm dan keluar lagi, kemudian saya masukan penis 2 cm dan keluar lagi dan terus-terus menerus danakhirnya aku merasakan ada dinding &#8220;duh mas perih sekali, &#8220;udah kamu siap-siap ya say&#8221;.</p>
<p style="text-align: justify;">kemudian saya menekan dengan keras &#8220;Aaaaa&#8230;&#8221; paini teriak dengan keras. kemudian aku mulai gerakan maju-mundur dengan posisi missionaris dan sesekali saya minta agar penis saya dijepit diantapa penisnya. &#8220;ah-ah-ah-ah&#8221; muka kesakitan paini berubah menjadi muka penuh kenikamatan &#8220;oh oh oh lebih cepat mas&#8221; kemudian saya mempercepat gerakan penis saya &#8220;nikmat mas terus mas uhhh ahhh yes yess&#8221; desahan paini yang membuatku bersemangat. setelah itu kami berganti posisi favorit (katanya) doggy style. saya menyuruh marni membentuk seperti ****** dan kemudian saya mulai menyodok vagina paini. &#8220;ah ah mas terus mas ah ah&#8221; sedankan saya memukul pantanya sampai merah dan setelah itu saya jambak rambutnya seperti cowgirl . tetapi rasa sakit itu sepertinya ditutupi oleh sodokan maut penis ku. dan beberapa menit kemudian paini &#8220;mass mau pipis ahh&#8221;,&#8221;udah keluarin aja&#8221;. dan kemudian dia menegluarkan cairan kental dan beberapa menit kemudian &#8220;croot&#8230;croot&#8230;&#8221; saya juga mengeluarkan cairan hangat yang kental di vaginanya. setelah itu kami french kiss dan tidur bersama di kamar tidur ortuku sambil bugil.</p>
<p style="text-align: justify;">kemudian tidak terasa sudah pagi rupanya. paini masih teridu pulas dan saya membanguninya. &#8220;Mbak, bangun mbak udah jam 9 pagi mbak&#8221; kemudian dia bangun dengan tubuh lemas &#8221; loh, kok sudah jam 9 pagi&#8221; &#8220;laper mbak&#8221; &#8220;mas andi mau makan apa&#8221; &#8220;roti selai aja deh, gimana mbak permainan semalam?, enak nggak?&#8221; &#8220;enak banget mas, besok-besok lagi ya mas&#8221; &#8220;iya&#8221; &#8220;mas, tapi nanti kalo aku hamil gimana mas&#8221; &#8220;udah tenang aja, nanti beli pil anti hamil aja&#8221; &#8220;mas nakal deh&#8221; katanya mencubit putingku &#8220;kamu nakal juga deh&#8221; kemudian aku mencubit payudaranya &#8220;kamu jangan pake baju dulu yach&#8221; pintaku &#8220;iya, tapi mas juga&#8221; kemudian paini pergi ke dapur dan aku pergi ke kamarku untuk mengambil CD BF pinjeman temanku untuk memberikan pendidikan macam posisi ngeseks. kemudian terdengar suara dari dapur &#8220;mas andi, selainya rasa apa?, stroberi,coklat,nanas apa kacang?&#8221; kemudian muncul lagi pikiran ngeresku untuk menidurinya &#8220;bawa aja semua selainya. sekalian bawa ceres sama madu sayank&#8221; &#8220;buat apa?&#8221; &#8220;liat aja nanti deh&#8221; kemudian kami berkumpul lagi di ruang keluarga.</p>
<p style="text-align: justify;">saya menyetel film biru kualitas DVD. terlihat dari kover disknya dengan judul hardcore xxx yang kata teman saya katanya ngeseks di bermacam posisi dan di berbagai tempat seperti di kantor,rumah sakit, hutan, lapangan, air terjun dll dan orangya bermacam seperti chinesse,arabian,india dan lokal ,dll. sedangkan paini sudah menaruh roti dan barang yang saya inginkan. kemudian kami menonton film tersebut bersama paini sabil makan roti. wah rupanya film ini berdurasi 45 menit. Ternyata benar kata sohibku ini film ini memberi pengetahuan posisi macam-macam dan tempat settingannya keren. baru menonton adegan buka baju penis saya bengkak lagi. sedangakan paini masih santai-santai saja. para model yang digunakan betul-betul pro dan cakep-cakep dan cantik-cantik. dan saya paling suka melihat salah satu adegan 1 tante-tante girang yang luar biasa cantiknya serta tubuh yang sangat sempurna dientot 3 orang. saya juga suka melihat orang india yang mukanya seperti aiswarya rai yang toketnya ukuran jumbo, saya taksir 39c ditiduri oleh pria india perkasa. dan kemudian film itu selesai.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;mas andi, minta jatah lagi dong, saya melihat paini yang waow payudaranya betul-betul membengkak, tidak seperti kemarin. putingnya pun lebih besar. kemudian saya menumpahkan semua sirup dan selai saya oleskan ke tubuh saya dan tidak lupa untuk memberikan ceres ke tubuh saya kemudian saya menyuruh membersihkan tubuhku dengan lidah. kemudian dia menjilat tubuhku dengan ganas dan terakhir mengemut penis saya. mungkin karena kelewat nafsu yang membara. Paini menngemut dengan sangat pintar dan kemampuan sedotanya kayak mesin pompa betul betul enak sekali tidak kaya kemarin. sedotanya mungkin bisa membuat penis saya panjang,&#8221;uh-ah alamak enaknya terus ah sedot trus yess ahhh uhhh&#8221; desahanku sambil menjambak rambutnya&#8221; beberapa meni kemudian saya menumpahkan mani di mulutnya dan dia langsung mengemutnya, tapi kali ini penis saya mengekrut. &#8220;loh mas, kok ini mengkerut sih nggak kayak kemarin?&#8221; &#8220;kan ini nggak pake obat sayang kayak kemarin&#8221; &#8220;kalo ukuranya segini gimana masukinya dong?&#8221; &#8220;semua laki-laki tuh kayak gini kalo abis keluarin peju, kamu harus bikin saya rangsangan biar ngaceng lagi&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;rangsangan apaan?&#8221; &#8220;pokoknya sesuatu yang bikin aku ngaceng seperti menari bugil atau laninya&#8221; oh kamu tiru ini aja, lebih gila juga boleh&#8221; sebetulnya penis saya dipijit-pijit juga udah ngaceng tapiu saya mencari cara untuk mengulur waktu kemudian aku ke kamarku mengambil DVD porno lagi yang ceritanya seorang wanita super eksibisionis membuat pria horny. kemudian aku menyetelnya untuk paini. sedangkan aku kamar tidur untuk merenggangkan otot.<br />
setelah selesai saya melihat paini masih menonton film itu dan beberapa menit kemudian film itu selesai.</p>
<p style="text-align: justify;">kemudian paini menggunakan bajunya lagi. &#8220;loh kok pake baju lagi&#8221;,tanyaku. &#8220;buat pertunjukan, nanti juga copot lagi&#8221;. dia menyuruhku untuk duduk di sofa agar saya bisa menikmatinya. rupanya dia ingin meniru yang ada di film barusan. setelah selesai pakai baju dia bilang action maka akting nya di mulai. Dia berjalan berjalan seperti peragawati dan matanya selalu menlirik padaku dengan kedipan nakal. kemudian dia stop di depanku. kemudian dia jong kok dengan paha terbukan lebar memamerkan vaginaya karena tidak menggunakan kolornya kehadapanku kemudian berdiri lagi. kemudian dia mengambil botol air mineral dan menumpahkan di rambut bajunya seperti tidak sengaja. kemudian terlihatlah kedua putingnya yang menambah keseksianya. kemudian dia kelihatan seperti megusap bajunya. yang kemudian kedua tangan itu mengusap dadanya yang basah karena air itu. kemudian dia dia seperti ketagihan mengusap payudaranya dan memegang pyudaranya. Spontan burungku sudah berdiri tapi belum maksima. kemudian dia memilin-milin putingnya yang rupanya terangsang sendiri.</p>
<p style="text-align: justify;">dia memuntir muntir putingnya dan tentu desahanya &#8220;ah-uh ohhh&#8221; yang membuat saya horny maksimal. kemudian setelah memuntir dia kemudian dia duduk berhadapan di kursi. dia terlihat membuka pahanya yang spontan sudah membuat jatah. tapi rupanya belum berakhir. paini kemudian mengusap-usap pahanya dan mulai meraba-raba bibir vaginanya. kemudian diamulai memasukan 3 jari sekaligus ke dalam vaginanya. kemudian dia mulai mengocok jarinya di vaginaya. pertunjukan panas ini sangat mendebarkan yang dimana ini kejadian &#8220;live show&#8221; yang sangat panas. eranganya ketikan memaskuan jarinya &#8220;ah-uh ahhh&#8221; membuat pria manapun ngaceng. kemudian setelah berselang berapa menit, paini meng akhiri mastur basinya. cairan kental sudah ada di jarinya. kemudian saya tepuk tangan dan sebuat ciuman jdat. &#8220;Wah rupanya paini pinta berakting&#8221; &#8220;ah bisa aja mas andi, saya kan cuma meniru yang ada di tv&#8221; &#8220;karena kamu berhasil membuat saya ngaceng ayo kita bertanding&#8221; &#8220;paini, boleh nggak saya anal sex?&#8221; &#8220;Anal sex, apaan tuh?&#8221; &#8220;Anu,ngesex tapi di pantatmu&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;MMMM&#8221; paini &#8220;plis, munkin rada perih, tapi saya ingin coba&#8221; &#8220;boleh mas&#8221; kemudian paini telungkup dan saya beri bantal di pantanya serta penis saya sudah pas ke panatatnya &#8220;saya masukin ya, sakitnya ditahan ya&#8221; kemudian saya memasukan penis saya, setiap saya masukin, paini mendesis kesakita. saya suruh untuk masturbasi. kemuadian saya menaikan temponya. ternyata benar. dijepit pantan itu enak rupanya. &#8220;ahh&#8230;.uhh&#8230;.&#8221; semakin lama semakin cepat &#8220;ahh&#8230;uhhh&#8230;&#8221; eranaganku. &#8220;ahh nikmat sekali dijepit pantatmu paini !&#8221;. dan beberapa menit kemudian saya menghentikan aksi ini. saya kasihan paini merasa kesakitan. kemudian saya suruh untuk berbalik badan. rupanya dia sudah berlinagan air mata. kemudian saya mengecup matanya. &#8220;sudah paini&#8221; &#8220;loh mas kok nggak sampai puncak&#8221; &#8220;saya kasihan sama kamu paini&#8221; &#8220;ah nggak papa kok mas sapai selesai, yang penting mas andi senang&#8221; &#8220;udah nggak saya terusin analnya, sekarang gini aja, kamu diata saya dibawah, kamu pasti senang&#8221; kemudian kita bertanding dengan posisi woman on top atau wanita diatas. dengan posisi ini saya melihat wajah paini berubah 360 derajat.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;ahhhh&#8230;uhhhh&#8230;..&#8221;desahan ini selalu keluat apabila paini memasukan penisku. semakin lama desahanya semakin jadi &#8220;wow, yess ah yess&#8221;, semakin lama temponya semakin cepat. dan akhirnya &#8220;mas, paini mau keluar&#8221; &#8220;mas andi juga keluar, kita keluar sama-sama yuk&#8221; &#8220;kita hitung ya 3&#8230;&#8221; &#8220;dua&#8230;&#8221; &#8220;satu&#8230;&#8221; &#8220;croot&#8221; akhirnya kami langsudn lemas bersama &#8220;ayo paini, kita bikin penutupan&#8221; &#8220;iya mas&#8221; &#8220;sekarang kamu pijit-pijit penis saya biar berdiri lagi&#8221; kemudian paini memijit batang kemluanku dan akhirnya ngaceng lagi&#8221; &#8220;sekarang kita bertanding di kamar mandi sambil mandi biar bersih&#8221; &#8220;mau di kamar mandi, di dapur siapa takut!&#8221; saya heran dengan ini cewek kok nggak capek ngesex ya, mungkin gara-gara pengalaman pertama) kemudian saya gotong dia ke kamar mandi dan saya setel air hangat kemudian kami saling menyabuni dan membilas satu dengan lainya. setelah itu kami sikat gigi dengan cara unik. saya sikat gigi dengan odol yang banyak sekali. kemudian saya sikat sehinngga busanya bertumpahan. kemudian busa itu saya tranfer lewat french kiss yang lama dan saya begitu juga kumur kumur tapi airnya air bersih maksudnya air yang dari keran saya masukan ke mulut saya langsung saya beri ke paini jadi tidak saya gunakan kumur dahulu.</p>
<p style="text-align: justify;">setealah itu kita ngesex posisi standing yaitu paini saya senderkan di tembok kemudian kinya ditekuk ke atas dan saya menembus vaginanya. rupanya posisi ini membuat saya menguras banyak energi dan bikin capek tetapi tertutupi oleh kenikmatan duniawi dan setelah beberapa menit saya menegeluarkan mani terakhir saya di vaginanya dan kami saling mengeringkan badan dan memakai baju kembali dan setelah ini paini merapihkan rumah. Sejak peristiwa ini kami sering melakukan hubungan sumai istri apabila dirumah hanya kami berdua. dan karena sex ini mendongkrak nilai raport saya lebih bagus. dan kalau ulangan nilai saya menjadi lebih bagus dan tanpa menyontek. bahakan nilai UAN saya 100 besar sejawa timur bahkan saya bisa masuk universitas terkemuka di bandung. meskipun jauh dengan kampung halaman sesekali kami masih berhubungan badan apabila saya pulang kampung. dan apabila saya dibandung, saya selalu menyuruh paini untuk merawat payudaranya dan meminum jamu perapet vaginanya. tetapi sayang, ketika saya sudah semester II, dia mengundurkan diri dengan alasan ingin menikah. Tapi rupanya dia ke surabaya kata ibunya. kata ibunya juga dia mengubah nama menjadi Aini, mungkin ingin menghilangkan image kedesaannya. kata ibunya dia kesana menjadi perawat katanya tetapi saya kurang percaya keran dia tidak bersekolah keperawatan. entah tidak tahu kenapa dia ke surabaya mungkin mendapatkan pekerjaan baru disana apa jual diri di lokalisasi Dolly. selamat tinggal paini si toket gede.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ceritasex.cn/paini-pembantu-pemuas-nafsu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jeng Yati (Another Story)</title>
		<link>http://www.ceritasex.cn/jeng-yati-another-story/</link>
		<comments>http://www.ceritasex.cn/jeng-yati-another-story/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 24 Jan 2010 12:34:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cerita Sex</dc:creator>
				<category><![CDATA[Paruh baya]]></category>
		<category><![CDATA[Pemerkosaan]]></category>
		<category><![CDATA[Seks Umum]]></category>
		<category><![CDATA[Tante Girang]]></category>
		<category><![CDATA[anal seks]]></category>
		<category><![CDATA[selingkuh]]></category>
		<category><![CDATA[asu]]></category>
		<category><![CDATA[cuki]]></category>
		<category><![CDATA[istri muda]]></category>
		<category><![CDATA[jeng yato]]></category>
		<category><![CDATA[ngentot]]></category>
		<category><![CDATA[pepek]]></category>
		<category><![CDATA[satpam]]></category>
		<category><![CDATA[vagina]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ceritasex.cn/?p=1227</guid>
		<description><![CDATA[Karena seringnya pencuri masuk ke perumahan yang kami tempati, maka warga perumahanku secara aklamasi menyewa penjaga malam dan warga boleh boleh saja membantu mereka malam hari. Memang kebetulan rumah yang kutempati di tengah perumahan itu tapi dua rumah di sebelahku belum dihuni sehingga sering kali keempat rumah itu dibuat sebagai tempat persembunyian. Malam itu aku [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Karena seringnya pencuri masuk ke perumahan yang kami tempati, maka warga perumahanku secara aklamasi menyewa penjaga malam dan warga boleh boleh saja membantu mereka malam hari. Memang kebetulan rumah yang kutempati di tengah perumahan itu tapi dua rumah di sebelahku belum dihuni sehingga sering kali keempat rumah itu dibuat sebagai tempat persembunyian.</p>
<p style="text-align: justify;">Malam itu aku terkena influenza berat karena kehujanan sepanjang siang.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Aku masih menyiapkan makanan untuk penjaga malam, mas&#8230;.!!&#8221;, kata istriku yang berpostur tubuh mungil dengan tinggi 155 cm, berwajah menarik seperti bintang Film Mandarin, meskipun kulitnya agak sawo matang dengan rambut pendek, sehingga tampak lebih muda dari usianya yang menginjak 40 tahun.</p>
<p style="text-align: justify;">Malam itu udara sangat panas sehingga dia hanya memakai daster yang lumayan tipis, sehingga memperlihatkan bentuk tubuhnya, utamanya pantat bahenol nya yang empuk itu yang bergoyang saat berjalan, walaupun perutnya tidak ramping lagi, karena sudah dua kali mengandung dan model dasternya berkancing di depan sehingga payudara biarpun tidak besar, tapi padat berisi, yang berukuran 34C agak tersembul dan kedua puting susu nya tampak menonjol dari balik dasternya karena memang dia kalau dirumah hanya memakai camisole tipis saja.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Sudah pukul sepuluh kok belum datang, ya ..!&#8221;, dia bergumam sendiri karena mengira aku sudah tertidur. Beberapa saat kemudian kudengar dua orang bercakap-cakap di luar dan mengetuk pintu rumah pelan. Istriku yang rebahan di sampingkupun bangkit dan entah tersadar atau tidak istriku membetulkan rambutnya dan memoles bibirnya sehingga bibirnya semakin merah.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Lho ????&#8221;, gumannya pelan ketika tersadar dia memoles bibirnya, tapi karena penjaga malam itu terus mengetuk pintu, dia pun tak jadi membersihkan bibirnya yang merah merangsang itu.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Malam, Bu Yati&#8230;!&#8221;, terdengar suara seseorang dan aku mengerti kalau suara itu adalah Pak Diran dan istriku sudah dikenal oleh dua orang petugas jaga tersebut karena sering istriku pulang malam seusai mengajar di kampusnya.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Masuk dulu Pak Diran..!&#8221;, terdengar istriku mempersilahkan penjaga malam itu masuk, sementara kudengar bunyi halilintar yang cukup keras dan hujan tiba-tiba turun dengan derasnya.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Wah hujan ? saya sama Pak Towadi, Bu Yati..!&#8221; katanya. &#8220;Nggak apa-apa,&#8230; masuk saja &#8230; lagian hujan deras, pak&#8230;.!&#8221; kata istriku. &#8220;Selamat malam, Bu Yati..!&#8221; kudengar Pak Towadi memberi salam pada istriku. &#8220;Sebentar tak buatkan kopi ..!&#8221; kata istriku, kemudian kudengar istriku berjalan menuju dapur di belakang rumah.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Di, lihat kamu ngga?!&#8221; terdengar suara bisikan Pak Diran, &#8220;Kamu kacau, Ran?!&#8221; balasan suara bisikan Pak Towadi., &#8220;Kamu lihat, enggak..?&#8221; suara Pak Diran lagi, &#8220;Iya, Ran muncul&#8230;., kayak penghapus ?&#8221; kata Pak Towadi, Rupanya mereka berbisik-bisik mengenai puting susu istriku yang menonjol di balik dasternya, karena malam itu istriku hanya mengenakan camisole di balik dasternya.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Pantatnya bahenol, lagi&#8230;.,&#8221; lanjut bisikan Pak Diran, &#8220;Hus istri orang itu, Ran..!&#8221; kata Pak Towadi, &#8220;Eeh, ini malam Jum&#8217;at, kan..? Pas kuat-kuatnya ilmuku hi hi?!!!&#8221; kudengar Pak Diran tertawa ditahan pelan, &#8220;Dicoba aja.., yok&#8230;, siapa tahu Bu Yati mau&#8230;!&#8221; kata Pak Diran.</p>
<p style="text-align: justify;">Kuingat Pak Towadi orangnya hitam agak tinggi dengan badan kekar dan Pak Diran orangnya tambun pendek, keduanya berumur 50 tahunan lebih, aku bergidik juga mendengar perkataan mereka mengenai istriku tadi, mereka penduduk asli daerah itu, terkenal sangat doyan dengan perempuan, bahkan mereka pernah bercerita saat aku jaga malam, kalau pernah membuat pedagang jamu yang bertubuh bahenol, yang sering keliling dua minggu sekali di daerah tempat tinggalku, pernah dibuat hampir tak dapat berjalan karena digilir mereka berdua, dimana saat itu pedagang jamu itu masih perawan dan sampai saat bercerita malam itu, pedagang jamu itu masih sering meminta kepada mereka berdua untuk menggilirnya, biarpun sekarang sudah bersuami, katanya tak pernah puas dengan suaminya yang masih muda, bahkan pedagang jamu itu pernah meminta mereka berdua datang ke rumahnya.<br />
<span id="more-1227"></span><br />
&#8220;Kalau sudah kena punya kami, pak, &#8230;. Waahhh&#8230;perempuan pasti malas dengan suaminya dan?..suaminya tak berkutik kalau kami ada, dan membiarkan kami tidur bersama istrinya dalam satu kamar bersama suaminya&#8221;, kata Pak Diran terkekeh kekeh malam itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Kemudian kudengar suara bisikan mereka lagi&#8230;.. &#8220;Kamu jangan ngaco, Ran. Sudah nanti kelewatan?!&#8221; kata Pak Towadi &#8220;Keris pusakaku.. ku bawa.. Di&#8230;. Ini ..he he he ?!&#8221; kata Pak Diran, &#8220;kamu jangan, gitu Ran&#8230;, orangnya lagian baik&#8230;, kasihan suaminya nanti, pinginnya sama kamu aja nanti .. !!&#8221; suara Pak Kardi lagi. Karena perasaanku nggak enak akhirnya kuputuskan untuk keluar dan mereka berdua terlihat kaget melihatku, tapi Pak Diran yang membawa keris langsung mencabut kerisnya dan langsung mengarahkan kerisnya padaku dan tiba-tiba gelap menyelimutiku.</p>
<p style="text-align: justify;">Kemudian aku terjaga dan kudapati diriku di tempat tidur kembali, kutoleh pintu kamarku dan kusen kamar dan lantai pintu kulihat seperti membara.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Eeeecch ?&#8230;.eeeeccchhh. &#8230;eeeeecccchhhh &#8230;..!!!! &#8221; kudengar desis istriku dan akupun turun, tubuhku terasa lemas sehingga aku merangkak mendekati pintu kamar dan&#8230;&#8230; seperti terkena listrik beribu ribu volt saat tanganku memegang kunci kamarku hingga aku tersengkur makin lemas seperti karung bersimpuh di depan pintu kamar yang sedikit terbuka itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku tak percaya melihat di ruang tamu dari pintu kamar yang terbuka sedikit itu, kulihat istriku berdiri di depan Pak Diran yang membawa selongsong keris sebesar batang kemaluan orang dewasa lebih besar dari lampu TL 40 watt yang ujungnya di arahkan kepada istriku yang berdiri, sedangkan tangan yang satunya seolah memelintir di ujung lainnya yang berbentuk huruf U memanjang itu. Kedua tangan Pak Diran kini memegang pangkal keris yang melengkung itu dan kedua jarinya memelintir ujung nya dan kulihat istriku yang berdiri, tubuhnya bergetas dan kembali mendesis</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Heeeggghhh ?..oooooohhhhhhh. &#8230;&#8230;ooooooohhh hhhhh&#8230;. ..!!!!!&#8221; Pak Diran bukan lagi seperti memelintir tapi menarik narik kedua ujung keris berbentuk U itu dan terlihat istriku membusungkan dadanya seperti kedua puting susu nya tertarik ke depan. &#8220;Mmm heeeggggh ?..aaaaaaa&#8230; .aaaaduuuuuhhhhh h&#8230;&#8230;!! !!!&#8221; istriku mendesis panjang dan Pak Diran langsung mengulum salah satu ujung U itu dan &#8230;. &#8220;Paaak ?.paaakkkk&#8230; .jaa&#8230;jaaangaaa annnnn ?.paaakkkkk.. &#8230;.!!!!! &#8221; suara desis istriku memelas dan tangan kanan istriku secara refleks memegang payudara kanannya, istriku mendesis-desis kembali&#8230;.. &#8220;Ummmppff?. Paakkkk&#8230;.. jaaa&#8230;.jaaaaang aaaannnn ? paaaakkkk ?..!!!!&#8221; istriku mendesis. Tangan kanan Pak Diran memelintir ujung satunya dan istriku pun memegang kedua payudaranya kembali yang masih terbungkus daster dan camisole nya itu.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;EEecccchhhhhhhgggg hhhhh ??!!!!!!!&#8221; istriku mendesah lagi saat Pak Diran memutar selongsong kerisnya sehingga pangkal keris berbentuk U itu berdiri, sementara jari-jari tangan kanannya mengelus-elus pinggiran lubang keris itu dan kulihat pantat bahenol istriku pun bergetar dengan hebat. Pak Diran semakin cepat mengelus dan bahkan menggosok lubang keris itu dan istriku pun mengerang-erang &#8230;..</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Paaakk ? paaakkk&#8230;.suuu. ..suuuuddaaaaahh ? paaakkk ?jangaaan diteruuuuskaaaaan ?.eeeecchghghghghghg h ??.!!!!!&#8221;, sementara pantatnya pun bergetar hebat dan kedua tangan istriku memegang pantat bahenol nya yang bergetar hebat saat Pak Diran menjilati lubang keris itu dan pantat bahenol istriku meliuk liuk tak karuan, kedua tangannya meramas pantat bahenol nya sendiri yang mulai maju mundur saat Pak Diran menyedot nyedot lubang keris itu dan bahkan lidah Pak Diran menjilati lubang itu dan&#8230;.. &#8220;Mmmppfffhhh hghghghgghghg ?.&#8221; istriku semakin keras mendesis desis, selangkangan nya terangkat angkat dan mendekati ujung selongsong keris ysng tengah disedot sedot dan dijilati lubangnya oleh Pak Diran.</p>
<p style="text-align: justify;">`Paaaak ? sudddaaaah ngngngngngngng hhhheeeghghghghgh??!!!&#8221; istriku mendesis kedua matanya tertutup dan selangkangan nya tertarik ke depan hingga selangkangan nya kini mengesek ngesek sarung keris itu.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Suudddaaaaah paaaak jangaaaaan sudaaah eeeeechghghghg ?.!!!!&#8221; istriku terus mendesis desis. Kemudian Pak Diran menghentikan aksinya. &#8220;Diii&#8230; , elus lubang kerisku ?!!!&#8221; kata Pak Diran kepada Pak Towadi yang dari tadi bengong, sementara di pangkal selangkangan nya sudah menggelembung menunjukkan batang kemaluan nya sudah berdiri tegang. Pak Towadi langsung mengelus lubang keris Pak Diran dan kembali&#8230;. &#8220;Eeeeee&#8230;.. eeeeee&#8230; .eeeeehhhhh. &#8230;.eeeecccchhhg hghghg?..! !!!!&#8221; istriku mendesis.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Enak Bu Yati&#8230;.?&#8221; tanya Pak Diran yang berdiri dihadapannya dan selangkangan istriku masih menempel di sarung keris itu. Istriku ngga menjawab, diam saja&#8230;&#8230; &#8220;Ooooo.. kurang enak rupanya?!!!&#8221; kata Pak Diran kemudian&#8230;. .. &#8220;Jaaa&#8230;.jaaaangaaa nnnn&#8230;.. , paaakkkk&#8230;. ..!!!!&#8221; rintih istriku memelas,</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Singkap dastermu, Buuuu&#8230;&#8230;! !!!&#8221; perintahnya. &#8220;Paaak &#8230;..oooohhhhhh. &#8230;jaaa.. ..jaaangaaannn &#8230;.paakkkk. &#8230;..!!!! &#8221; istriku menghiba. &#8220;Ayooo .. nggak usah malu Buuu&#8230;. atau biar dia yang mencari jalannya sendiri?!&#8221; kata Pak Diran. Seperti diperintah sarung keris itupun menempel di selangkangan istriku saat Pak Diran melepasnya dan&#8230;.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Paak &#8230;.jaaa&#8230;jaaangaa nnnn&#8230;paaaakkkk ?.!!!!&#8221; desis istriku saat sarung itu mulai menggosok selangkangannya kembali, sehingga pantatnya pun bergetar kembali. &#8220;Dii ?malam ini kita nonton dulu ? biar Mbah Gandul yang nyebokin Bu Yati, malam ini punya dia?lihat Dii ? Bu Yati menaikkan dasternya ? rupanya dia sudah kebelet&#8230;.&#8221; Kulihat istriku mendesis-desis dan mengelinjang, sementara kedua tangannya memegang pantat nya sendiri dan menarik ke atas dasternya pelan-pelan, sehingga mulai tersingkap paha mulusnya. Semakin lama pantatnya semakin bergetar cepat dan selangkangannya maju mundur oleh gosokan sarung keris yang di sebut Pak Diran, Mbah Gandul itu. Begitu dasternya tersingkap sampai pangkal pahanya, Mbah Gandul langsung menyusup ke selangkangan istriku dan &#8230;.. &#8220;Mmmmmmpppfff ..eeecchhhh ?..bessaaaar ??oooooohhhhhh. &#8230;.!!!&#8221; desis panjang istriku.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Sudah, Di , kita keluar biar Bu Yati malam ini milik Mbah Gandul?!!!&#8221; kata Pa Diran. &#8220;Bu Yati, titip Mbah Gandul yaa, selamat menikmati, besok baru kami,&#8230; Oh&#8230; ya&#8230;., besok kan ibu pulang malam?.nggak usah pake BH dan celana dalam ya kalau pulang, nanti dibungkus dan serahkan ke saya di pos kalau pulang? biar lebih enak ?he he he&#8230;.!!! &#8221; kata Pak Diran sambil meremas payudara istriku yang berdiri tak berkutik dengan kedua kakinya yang terkangkang. Merekapun keluar meninggalkan istriku yang terbengong.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Mmmpppff &#8230;.oooohhhhh. &#8230;beee.. ..besaaar ?aaamaaatttt. &#8230;!!!!&#8221; rintihnya saat kedua orang itu telah pergi. Istriku pun berusaha duduk di kursi panjang dan rupanya dia berusaha menarik sarung keris itu keluar tapi&#8230;.. &#8220;Mbaaaah uummppfff oooooohhh&#8230; aaammmmpuuunnn. ..mmmbaaaahhh. &#8230;. ?..!!!&#8221; istriku mendesis keras. &#8220;ooocch masuukkk ke daalaaam eeeccchh gilaaa uummpppfff heeecchhh gilaaa ?uuuccch geliiii aaaccch koook giniiii rasanyaaaaa uumppppccchh ennnnaaaaakkkkckccc hhhh??!!!&#8221; dan kulihat istriku mencengkeram erat sandaran kursi dan pantat nya bergetar keras maju mundur di tempat duduknya dan goyangan pantatnya semakin kencang, sementara keringatnya memebanjir dan nafasnya terengah engah</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Eccchhhghghghg mbaaaaah Gaaanduuull ?. akuuuu keluaaaaar ?.!!!&#8221; istriku mengerang saat mencapai orgasme malam itu. Tubuhnya tersungkur miring di kursi panjang dan beberapa saat kemudian kaki nya terkangkang lebar dan tubuhnya bertumpu di kedua tangannya melihat selangkangan nya yang digarap Mbah Gandul kembali itu. Kembali pantatnya bergoyang sementara mulutnya mendesis-desis kenikmatan dan nafasnya memburu keras dan&#8230;. ]</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Mbaaah&#8230;mmmbbaahh hhh&#8230;&#8230; ..aaaa&#8230; aaaakkuuuuu. .keee&#8230;keeeelua aaar lagiiiii ?.!!!!&#8221; dia mengerang saat mencapai orgasme keduanya dan pantat nya tersentak-sentak. Kemudian dia duduk kembali dan berusaha berdiri dan berjalan menuju kamar, akupun cepat-cepat rebahan di tempat tidur&#8230;.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Mas&#8230;maaasss. &#8230; bangun,&#8230;.mass. &#8230;!!!!&#8221; panggil istriku &#8220;Kamu kelihatanya kok kumal dik, tadi&#8230; ku dengar ribut-ribut diluar&#8230;..! !!&#8221; &#8220;Maas ?!!!!!&#8221; kata istriku tersipu-sipu, sambil memelukku..</p>
<p style="text-align: justify;">Selang seminggu kemudian, kembali Pak Diran dan Pak Towari mendapat giliran tugas jaga Dan seperti kebiasaan yang lalu-lalu, mereka pasti akan mampir kerumahku dengan alasan untuk minum kopi. Sudah sejak jam 7 malam aku masuk kekamar, dengan pura-pura badan merasa ngga enak. Begitulah kira-kira jam 9 malam, terdengar ketukan pada pintu depan dan terdengar istriku yang masih nonton TV diruang tamu membuka pintu depan dan terdengar suara Pa Towari dan Pak Diran&#8230; &#8220;Selamat bu Yati&#8230;. apa bapak masih bangun&#8230;?&#8221; &#8220;Ohh&#8230;bapak ngga enak badan dan sudah masuk tidur sejak jam 7 tadi&#8230;!!!&#8221; terdengar sahutan istriku&#8230;..&#8221;Oooo&#8230;maaf mengganggu, tapi saya hanya mampir sebentar untuk mengambil kopi saja&#8230;!!&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Kalau begitu silakan duduk dulu, saya akan menyediakan kopi didapur&#8230;!&#8221; sahut istriku lagi, sambil berjalan masuk kedalam.</p>
<p style="text-align: justify;">Sesaat kemudian kudengar suara langkah kaki menyusul istriku kedapur dan&#8230; &#8220;Bu Yati, nggak bilang suami ibu kan mengenai kejadian yang lalu&#8230;. ?..!!!&#8221; terdengar suara Pak Towadi. Tak terdengar suara jawaban dari istriku. Tak selang kemudian terdengar suara ribut-ribut tertahan dari arah dapur dan&#8230;&#8230;. &#8220;Ooooohhhh.. ..jangan. &#8230;Jangaan paak ?!!!!!&#8221; terdengar suara menghiba &#8220;Kenapa, Bu Yati&#8230;? diam saja bu&#8230;.ntar juga pasti enak kok&#8230;.!!!&#8221; suara Pa Towari kembali. &#8220;Jangan pak, ampuun paaak ?.!!!&#8221; istriku semakin menghiba, kayaknya Pak Towadi semakin mendesaknya, kemudian dengan mengendap-edapa aku turun dari tempat tidur dan mengintip dari celah-celah pintu kamar&#8230;. dan&#8230;.terlihat dengan cepat Pak Towadi melompat dan berdiri diantara kedua kaki istriku yang terkangkang lebar, saat istriku akan mengatupkan kedua kakinya. &#8220;Tutup selambunya, Ran&#8230;!!!&#8221; kata nya ke Pak Diran, dan Pak Diran langsung menutup selambu dan pintu rumah.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Ayo?emut kontolku Bu Yati..&#8221; kata Pak Towadi tiba-tiba sambil mengeluarkan penisnya yang agak kecil lemas tapi panjang berbintil-bintil seperti buah pace mendekati mulut istriku. &#8220;Jaaa&#8230;.jaaangaann nn paaak?.aaampun paaak ??!!!!&#8221; istriku terisak sambil memegang pergelangan tangan Pak Towadi yang menyambak rambutnya dan pantat Pak Towadi maju dan batang kemaluannya yang panjang berbintil-bintil semakin dekat dengan mulut istriku. &#8220;Lepas rambut saya paaak&#8230;!!!&#8221; isak istriku dan Pak Towadi melepas jambakannya dan istriku membuka mulutnya yang sudah dekat dengan penis Pak Towadi dan istriku mengulum penis berbintil Pak Towadi. &#8220;Sedot Bu Yati ?.wwwuhhh Raan Bu Yati pinter nyedot kontolku ?!!!&#8221; kata Pak Towadi ke Pak Diran yang juga mendekati istriku dan &#8220;Sudaaah nanti biar Bu Yati sendiri&#8230;!! !&#8221; katanya, aku tak mengerti maksud kata-kata Pak Diran, kemudian Pak Towadi mencabut penis berbintilnya dari mulut istriku dan mendorong istriku untuk duduk dibangku panjang yang ada di dapur, sementara dia duduk di kiri istriku, sedang Pak Diran dikanan istriku.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Bu Yati? gosok punyakmu sendiri ?!!&#8221; kata Pak Diran sambil memegang tangan kanan istriku ke selangkangan nya sendiri. &#8220;Ayooo ?.!!!&#8221; kata Pak Diran lirihdan mulailah istriku masturbasi menggosok dan mengocok bibir vaginanya sendiri sampai akhirnya bunyi kecepak terdengar dari selangkangannya. .. &#8220;Itilmu Bu Yati&#8230;!!!&#8221; kata Pak Diran dan istriku mengerang sendiri saat memepermainkan kelentiitnya. &#8220;Paaak ?!!!!&#8217; istriku mendesis &#8220;Kenapa, Bu Yati&#8230;?&#8221; tanya Pak Towadi &#8220;Paaaak ?.!&#8217; istriku hanya mendesis &#8220;Ran Bu Yati mulai naik niih&#8230;. ,!!!&#8221; kata Pak Towadi dan Pak Diran pun berdiri dan menuju pintu dan membukanya dan masuk kembali memegang tali dan betapa terkejutnya aku saat Pak Diran menarik Tarzan, kontol herdernya yang setia, yang selalu menemani mereka jaga. Istrikupun terkejut sepertiku dan Pak Diran mengunci pintu kembali dan Pak Towadi memegang istriku yang akan lari. &#8220;Diaam ?&#8221; bentak Pak Towadi &#8220;Jangaan paaak ?..&#8221; istriku akan mengatupkan kakinya tapi Pak Diran sudah berdiri di depan istriku dan menahan kaki istriku dan Tarzan, langsung menyusup di antara kaki Pak Diran yang menahan kaki istriku dan&#8230;&#8230;</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Aaaaaauuuuwwwwwww. &#8230;&#8230;Paaaak ?..!!!!&#8221; suara istriku mengerang saat selangkangan nya yang gundul dijilati Tarzan. Rupanya si Tarzan sudah terlatih merangsang wanita karena istriku memegang pinggang Pak Diran yang berdiri di depan istriku menahan agar kaki istriku tetap terkangkang lebar &#8220;Eeeccch eeh eeeeeecchchh ?..wwwuuucccggghhh paaaaak aaaahhcchhchchc ?&#8221; istriku mengerang ddan mendesis keras karena jilatan Tarzan di selangkangan nya. &#8220;Gimana Bu Yati? Enak Bu Yati?&#8221; kata Pak Diran terkekeh kekeh &#8220;Paaak ampuuunn adduuuuuuccch aaduuucchh mmmppfsss paaaakkkkzzzzz ? eeh eeh eeeh eh eh?.paakk akuuu wwwwwwuucccch ngngngngngng? ..&#8217; istriku mengerang keras dan memegang erat pinggang Pak Diran sedangkan pantat bahenol terangakt angkat saat orgasme ketiganya malam itu meledak dan Tarzan dengan ganasnya terus merangsang kelentit, bibir vagina istriku dan hanya terpaut beberapa menit istriku mengerang kembali saat mencapai orgasmenya yang ke empat dan tubuh istriku pun terjatuh di kursi nafasnya mendengus dengus keringatnya mengalir deras.</p>
<p style="text-align: justify;">tetapi Tarzan, si kontol herder itu terus merangsang istriku dengan jilatan jilatan mautnya di bibir vagina istriku dan kelentit istriku dan istriku pun mengejang dan mengerang kembali saat oergasmenya ke lima meledak. Tubuh istriku benar benar lunglai dan Pak Diran membalikkan tubuh istriku yang terkapar di kursi panjang dan menarik kedua kaki istriku yang tertelungkup di lantai dan bertumpu di kedua lututnya sehingga istriku menungging dan Tarzan rupanya sudah siap dan batang kemaluannnya yang merah sudah membesar dan menegang langsung melompat di punggung istriku dan Pak Towadi mengarahkan batang kemaluan Tarzan ke liang vagina istriku dan &#8220;MMmmppppfffh paaak jangaaaaan akuuu mnmmmn nn nggaaak mauuu mmmmppfffff .uuuucccch ucccchhh ?!!!!!&#8221; istriku mengerang saat batang kemaluan Tarzan menerobos masuk ke liang vagina istriku dan kulihat begitu cepatnya Tarzan mengenjotkan pantatnya sehingga istriku tak lagi dapat mengerang hanya mendesis &#8220;wwwhhh wwwwhhhhhw wwhwhhhwhw ?..!!!!&#8221; dan bunyi kecepak-kecepak di selangkangan istriku semakin keras &#8220;&#8221;wwwwhhhhcchh wwwccchhhh ngngngngng ?.!!!&#8221; istriku mengejan saat orgasme dan terus entah sampai orgasme yang keberapa hingga tampaknya istriku hampir pingsan.</p>
<p style="text-align: justify;">Seminggu sejak kejadian itu, istriku minta pindah dari kompleks perumahan itu dan dengan usahaku akhirnya kami dapat pindah di linkungan baru yang tak tahu mengenai kejadian itu.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ceritasex.cn/jeng-yati-another-story/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pesta Seks di Malang</title>
		<link>http://www.ceritasex.cn/pesta-seks-di-malang/</link>
		<comments>http://www.ceritasex.cn/pesta-seks-di-malang/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 30 Dec 2009 02:19:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cerita Sex</dc:creator>
				<category><![CDATA[Daun Muda]]></category>
		<category><![CDATA[Seks Umum]]></category>
		<category><![CDATA[Tante Girang]]></category>
		<category><![CDATA[anal seks]]></category>
		<category><![CDATA[kisah nyata]]></category>
		<category><![CDATA[selingkuh]]></category>
		<category><![CDATA[abg]]></category>
		<category><![CDATA[anal]]></category>
		<category><![CDATA[anus]]></category>
		<category><![CDATA[lonte]]></category>
		<category><![CDATA[memek]]></category>
		<category><![CDATA[ngentot]]></category>
		<category><![CDATA[seks]]></category>
		<category><![CDATA[tante]]></category>
		<category><![CDATA[toked]]></category>
		<category><![CDATA[vagina]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ceritasex.cn/?p=1146</guid>
		<description><![CDATA[Di suatu pagi di puncak villa di daerah Batu Malang, sebuah rumah besar bergaya Eropa dengan tamannya yang sangat indah. Di garasi terdapat 7 buah mobil, 1 diantaranya sebuah &#8220;Limosin&#8221;. Dengan dinding tembok yang tinggi dan kokoh mengelilingi rumah yang luasnya hampir 1/3 luas pulau Bali. Di halaman belakang rumah terdapat kolam renang dengan airnya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Di suatu pagi di puncak villa di daerah Batu Malang, sebuah rumah besar bergaya Eropa dengan tamannya yang sangat indah. Di garasi terdapat 7 buah mobil, 1 diantaranya sebuah &#8220;Limosin&#8221;. Dengan dinding tembok yang tinggi dan kokoh mengelilingi rumah yang luasnya hampir 1/3 luas pulau Bali. Di halaman belakang rumah terdapat kolam renang dengan airnya yang jernih. Ada lapangan tenis, lapangan basket, lapangan bola. Di situ terdapat 50 pembantu yang semuanya wanita.</p>
<p style="text-align: justify;">Rumah yang memiliki 100 buah kamar, 1 diantaranya adalah kamar utamanya yang berisi segala macam &#8220;ada&#8221;. Mulai dari TV 100 inchi sampai AC yang membuat kamar sesejuk di &#8220;Kutub Utara&#8221;. Di sebuah sudut kamar terdapat tempat tidur yang ukurannya 3 kali tempat tidur biasa. Di situ terlihatlah pemandangan yang membuat darah kita naik. Apa itu adik-adik? jangan kemana-mana saya kembali setelah yang berikut ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Di situ tergolek sepasang manusia di mabuk asmara, mereka berdua tergolek telanjang dengan posisi saling berangkulan. Oh, begitu indahnya. Si cowok bernama Sony dan si cewek bernama Rini. Sony adalah lelaki sejati dengan tubuh tinggi kekar 180 cm dengan berat 78 kg menjadikan dia &#8220;the real man&#8221;. Ditambah dengan ukuran batang kemaluannya yang lumayan panjang sekitar 17 cm dengan diameter 12 cm. Dan ceweknya Rini dengan tubuh seksi dan kulitnya seputih salju, tinggi 175 cm dengan berat 60 kg. Terus ditambah wajahnya secantik Marimar, rambutnya yang panjang dan indah tergerai, hidungnya semancung cewek bule, bibirnya sensual, lehernya yang jenjang, susunya yang montok dan mancung itu kira-kira 36C, perutnya yang datar dan kencang, pinggangnya yang langsing, pantatnya yang semok, terusss&#8230; ohh&#8230; kemaluannya terlihatlah daging vagina yang memerah segar dengan bibirnya yang sempit dikelilingi oleh bulu kemaluan yang halus rapi membentuk segitiga. Daging kemaluannya empuk dan terpelihara baik, bersih dan tidak ada bau apa-apa. Pahanya yang putih mulus dengan ditumbuhi bulu-bulu halus dan seterusnya pokoknya &#8220;uendaaang&#8221; dech.</p>
<p style="text-align: justify;">Lalu 5 menit kemudian terdengarlah bunyi weker dengan nyaringnya. Sony mendadak terbangun dari tidurnya, dia melihat Rini tertidur pulas di sebelahnya. Dia mengamati wajah pacarnya itu dengan seksama, lalu dia mencium kening pacarnya terus bibirnya yang sensual itu. Rini terbangun juga dari tidurnya terus kaget melihat Sony memandangnya penuh arti. Lalu&#8230;<br />
&#8220;Sony sayang, kenapa memandangku seperti itu?&#8221; tanyanya penasaran sambil tangannya memilin puting susu Sony.<br />
&#8220;Tidak kok Sayang, aku cuma kagum dengan kecantikanmu yang tiada duanya ini&#8230;&#8221; jawab Sony sambil mencium mesra bibir Rini.<br />
&#8220;Oh.. Sony Sayang, aku tercipta memang untuk kamu seorang, aku milikmu seutuhnya Sony,&#8221; jawabnya sambil memeluk tubuh Sony.<br />
&#8220;Oh.. Rini sayang kau memang bidadariku, ohh&#8230; I love you so much honey, ohhh&#8230; my baby.. my darling.. ohhh?&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Mereka berdua saling dekap, peluk, peluk dan peluk lagi, oh sungguh indahnya. Tapi beberapa menit kemudian telepon berbunyi, mereka berdua sempat tersentak karena sedang asyik bertempur, eh.. telpon berbunyi. Telepon diangkat Rini, lalu&#8230;<br />
&#8220;Hallo..&#8221;<br />
&#8220;Hallo bisa bicara dengan Sony!&#8221;<br />
&#8220;Ini dari siapa ya..?&#8221;<br />
&#8220;Saya tantenya Sony, Tante Nadya di Surabaya.&#8221;<br />
&#8220;Tunggu sebentar..!&#8221;<br />
Lalu&#8230;<br />
&#8220;Sayang, ada telepon dari tantemu.. di Surabaya.&#8221;<br />
&#8220;Tante siapa sayang..?&#8221;<br />
&#8220;Katanya sih Tante Nadya.&#8221;<br />
&#8220;Oh.. baiklah biar kuterima, sayang&#8230;&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Lalu&#8230;<br />
&#8220;Hallo, Sony disini&#8230;&#8221;<br />
&#8220;Hallo Sony keponakanku sayang, bagaimana kabarmu sekarang dan tadi itu tadi siapa? Nah ketahuan ya, pasti cewekmu ya. Tante bisa menebak pasti kalian berdua sekarang dalam keadaan bugil.. hayo&#8230; ngaku.. iya apa iya&#8230;?&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Aduh Tante gimana sih, masa pagi-pagi sudah ngomong jorok. Sony baik-baik aja kok.. dan terus terang cewek tadi itu memang cewek Sony.&#8221;<br />
&#8220;Gimana Son, memeknya tentu lebih enak dari punya Tante iya khan..? Tante senang keponakan Tante tersayang sekarang telah berbahagia.. ohhh.. endannngg&#8230;&#8221;<br />
&#8220;Tante please, jangan ungkit masa lalu.. OK. Oh ya, Tante ada perlu apa dengan Sony?&#8221;<br />
&#8220;Oh.. ya lupa aku sorry Son.. Tante kelepasan. Gini Son, Tante mau minta tolong sama kamu. Tante mau pinjam tempat tinggal, sehari aja. Boleh khan?&#8221;<br />
&#8220;Untuk apa Tante, Sony jadi bingung..?&#8221;<br />
&#8220;Gini Son, Tante dengan teman-teman Tante ingin mengadakan pesta sesama anggota &#8216;LESBIAN&#8217;, boleh khan..?&#8221;<br />
&#8220;Apa&#8230;? E.. tidak&#8230; Tante, Sony tidak mengijinkan Tante mengadakan pesta itu. Tante tahu khan sekarang Sony sudah tidak sendirian lagi, gimana dong dengan Rini, dia akan merasa kecewa dan bisa-bisa kami berdua akan berpisah selamanya. Padahal Sony sangat mencintai Rini.&#8221;<br />
<span id="more-1146"></span><br />
&#8220;Sony ingat kejadian sewaktu kita berdua masih tinggal seatap dulu, kalau kamu tidak mau maka Tante akan menyerahkan kaset video tentang kita sama Oom kamu dan tentunya nanti akan sampai ke tangan ibu dan ayah kamu. Bagaiman Sony kamu milih kehormatan atau mengijinkan usul Tante tadi..?&#8221;<br />
&#8220;Jaaa.dddiii ohhh my God, Tante tidak adil sama Sony. Tante curang saya melakukannya khan Tante yang mulai. Tapi.. ok&#8230; ok.. ok.. dech, Tante menang kali ini. Sony akan pikirkan dulu, nanti Sony akan telpon lagi.&#8221;<br />
&#8220;Ingat Sony besok kamu harus telepon Tante, soalnya acaranya akan dilaksanakan hari Minggu besok lusa dan tentunya kamu harus ikut dalam pesta itu.&#8221;<br />
&#8220;Ya.. ya Tante, nanti Sony akan telpon, OK Tante Byee..&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Lalu tubuh Sony jadi lunglai, dia melihat Rini dengan tubuh bugilnya tertidur lagi. Sony lalu duduk di tepi tempat tidurnya. Pikirannya melayang tentang kejadian saat dia dan tantenya melakukan hubungan yang tidak seharusnya. Sony menyesal akan kejadian itu dan tanpa dia sadari Rini bangun dari tidurnya terus mendekap tubuh Sony dari belakang dengan penuh kelembutan, terus berkata, &#8220;Sony sayang ada apa kok kelihatannya sedih?&#8221; Rini memeluk dengan mesra sambil mencium pundak Sony dengan mesra.<br />
&#8220;Rini sayang, boleh aku berterus terang sama kamu. Tapi aku mohon kamu jangan marah. Ingat cinta kita berdua, OK sayang&#8230;&#8221; katanya sambil mencium tangan Rini.<br />
&#8220;Ya.. tentu dong sayang, aku akan terima apapun yang akan kau katakan,&#8221; jawab Rini seraya menghibur Sony.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Eeehhmm.. tadi itu Tante Nadya istrinya Oomku, kakak ibuku. Aku dulu sewaktu masih kuliah tinggal dengan Oom dan Tanteku itu. Kamu tahu kan aku dulu itu bagaimana kalau melihat body cewek seksi sedikit saja aku pasti tertarik, walaupun dia sudah kepala 4 sekalian.&#8221;<br />
&#8220;Teruss&#8230;&#8221;<br />
&#8220;Stop sayang, aku kayaknya sudah tahu apa yang terjadi selanjutnya. Kalau saya tidak salah tebak kamu pasti ada &#8216;main&#8217; sama Tante kamu ya khan?&#8221;<br />
&#8220;Oh.. my.. God.. Rini bagaimana kau bisa menebak jalan pikiranku. Aku menyesal sekali karena perbuatanku itu. Rini sayang apakah kamu masih mau jadi kekasihku?&#8221;<br />
&#8220;Sony sayang aku sudah menyerahkan &#8216;mahkota&#8217;-ku padamu, tentu karena aku sangat mencintai kamu dan Rini ingin selamanya ada di samping kamu sayang&#8230;&#8221; jawab Rini sambil berdiri di depan Sony.<br />
Sony merasa menyesal, lalu dia memeluk tubuh Rini pas di pinggangnya. Dia menyesal akan perbuatannya. Rini mengelus-elus rambut Sony.<br />
&#8220;Sudah dong sayang! Rini tidak akan meninggalkan kamu.&#8221;<br />
&#8220;Ohh.. Rini sayang sungguh mulia hatimu sayang.&#8221;<br />
Sony menitikkan air matanya untuk kedua kalinya.</p>
<p style="text-align: justify;">Lalu&#8230;<br />
&#8220;Tapi, Rini sayang masih ada lagi persoalan yang lebih rumit dari ini.&#8221;<br />
&#8220;Sony sayang, kan Rini udah bilang apapun persoalan tidak sulit bagi Rini. Ayo katakan saja sayang mungkin Rini bisa membantu!&#8221; jawabnya tegas.<br />
&#8220;Eee.. begini sayang, tadi Tante Nadya minta ijin untuk mengadakan pesta di tempat kita&#8230;&#8221;<br />
&#8220;Sony sayang, khan cuma pesta biasa, biarin aja khan tidak apa-apa, masa sama tantenya sendiri kok gitu..?&#8221;<br />
&#8220;Rini sayang, itu bukan pesta biasa tapi pesta seks sesama anggota &#8216;LESBIAN&#8217; yang mewajibkan semua orang yang ikut harus telanjang dan lagi nanti aku akan jadi barang mainan bagi mereka, jadi saya harus melayani semua teman-teman Tante sekitar 7 orang termasuk dia sendiri. Terus tadi sebetulnya sudah saya tolak permintaannya tapi dia mengancam akan memberikan kaset video tentang hubungan kami dulu ke Oom-ku, aduhhh.. mati aku..!&#8221;<br />
&#8220;Sony sayang, benarkah kaset itu ada?&#8221;<br />
&#8220;Benar sekali sayang, Tante orangnya memang agak licik, aduh gimana dong sayang&#8230; besok saya harus mengambil keputusan.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Sony sayang, mungkin inilah ujian bagi Rini. Kita berdua tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Tante kamu memang lihai, benar juga khan nasehat ibu kamu, semakin cantik seorang wanita maka wanita itu semakin licik dan kejam.&#8221;<br />
&#8220;Terus&#8230; kita harus bagaimana ini sayang..?&#8221; Sony memeluk tubuh Rini.<br />
&#8220;Kalau begitu, Rini terpaksa memberi ijin sama kamu. Rini tidak mau kamu putus hubungan dengan orang tua kamu dan juga Rini tidak ingin kehilangan kamu sayang.&#8221;<br />
&#8220;Ohhh.. sayang betapa mulianya cintamu, aku sangat bahagia punya pacar seperti kamu.&#8221;<br />
&#8220;Tapi dengan syarat, Rini harus ikut juga, karena Rini nanti akan merekam semua yang terjadi, jadi nanti bila terjadi apa-apa kita siap dengan pembelaan kita.&#8221;<br />
&#8220;Eee&#8230; sayang kamu licik juga rupanya, tapi boleh juga usulmu. Jadi kamu rela punyaku diobok-obok mereka..&#8221; kata Sony sambil mengecup bibir Rini.<br />
&#8220;Sony sayang, Rini rela asalkan Sony bahagia,&#8221; ucap Rini manja terus memeluk Sony dengan mesranya.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Terus bagaimana dengan pembantu-pembantu kita sayang?&#8221;<br />
&#8220;Besok kita suruh saja mereka untuk pergi membersihkan rumah kita yang ada di Malang biar mereka sibuk di sana dan tidak mengganggu kita, OK..!&#8221;<br />
&#8220;Wah.. Rini sayang aku sungguh bahagia sekali punya pacar seperti kamu, kamu cerdas dan uhuuiii&#8230;&#8221; kata Sony sambil mengecup puting susu Rini yang memang mancung itu.<br />
&#8220;Ahhh&#8230; kamu nakal ya, awas aku gigit kontolmu nanti..&#8221; ancam Rini.<br />
&#8220;Gigit aja.. siapa takut&#8230;&#8221; tantang Sony sambil terus menjilati puting yang mancung itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Lalu, secepat &#8220;pelor M-16&#8243; Rini pegang batang kemaluan Sony yang sudah tegang itu lalu digigitnya kepala kemaluan yang besar itu.<br />
&#8220;Auwww&#8230; sakit sayang&#8230;&#8221;<br />
&#8220;Katanya tadi mau digigit, apa mau lagi ayo&#8230;&#8221;<br />
&#8220;Kamu tega ya.. aku nangis nih&#8230; oooeekkk&#8230; ooeeekkk&#8230;&#8221;<br />
&#8220;Aduh sayang.. cup.. cuup.. cupp.. jangan nangis ini minum &#8216;cucu&#8217; dulu&#8230;&#8221; kata Rini sambil merapatkan kepala Sony ke susunya yang montok itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Lalu, dengan lidahnya Sony yang sudah menjulur keluar bagai ular menjilati ujung puting sensitif itu.<br />
&#8220;Uuuhhh&#8230; ooohhh&#8230;&#8221; Rini mulai mendesah-desah sambil menggerinjal-gerinjal.<br />
Sementara mulut Sony melumat puting susunya yang sebelah kiri, tangannya memilin-milin puting susunya yang satu lagi. Tubuh Rini itu semakin menggeliat-geliat merasakan nikmat yang tak terhingga. Tak ayal lagi, puting susu Rini langsung tertelan mulut Sony dan juga langsung digelitiki dengan buasnya oleh lidahnya, membuat mata Rini mendelik-delik kenikmatan. Dengan kecupan dan sedotan yang bertubi-tubi, seluruh bagian ujung susu itu menjadi basah kuyup akibat lumatan mulut dan jilatan lidah Sony. Mulai dari puting susu yang kiri sampai puting susu yang sebelahnya lagi.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Soonn&#8230; auuhhh&#8230;&#8221; Rini mendesah dan menjerit keenakan tak terkendali.<br />
Sementara tubuhnya yang tengah dilanda hawa nafsu menggeliat-geliat tak tentu arah. Sony pun tidak mau kalah. Dia jilati lembah di antara kedua bukit membusung di dada Rini. Sementara itu, jari-jemari kedua tangannya memainkan kedua puting susu di puncak bukit-bukit tersebut.Ah! Betapa mengasyikkan sekali peristiwa seperti itu. Susu Rini begitu tinggi, mencuat, lagi pula cepat sekali mengeras.</p>
<p style="text-align: justify;">Puting susu Rini yang tinggi dan runcing kembali menjadi santapan yang lezat mulut Sony. Bunyi kecepak-kecepak dan seruput-seruput terdengar dari mulut Sony yang terus-menerus asyik melumat dan menghisap-hisap puting susu Rini kekasihnya itu. Tubuh Rini pun dibuatnya melengkung ke atas, membuat payudaranya semakin mencuat ke atas, yang tentunya semakin membuat gairah birahinya membulak-bulak. Sedotan-sedotan Sony pada puting susu payudara Rini pun semakin menjadi-jadi. Seakan-akan Sony tidak mau melepaskan benda antik yang begitu menggairahkan ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Tak beberapa lama kemudian, Sony beralih ke bagian bawah tubuh Rini. Langsung saja Sony merasakan bau kewanitaan yang harum dan segar. Rini selalu merawat kemaluannya dengan telaten. Sony mendekatkan mulutnya pada bibir kemaluan Rini. Ah! Bau khas kemaluan wanita dengan aromanya yang tersendiri semakin menambah nafsu seksual Sony yang memang sudah nge-&#8221;JOZZ&#8221; dari tadi. Dengan lembut dan penuh kasih sayang Sony menciumi permukaan selangkangan Rini itu yang ditumbuhi bulu-bulu halus kehitaman yang mengelilingi bibir liang kenikmatannya. Kemudian dengan menjulurkan lidah dan dicucukkan sedikit ke lubang kemaluan Rini, sudah cukup membuat Rini mengeluarkan sebuah jeritan kecil. Sony tersenyum mendengarkannya. Terus dicucukkan lidahnya sekali lagi. Rini pun menjerit sekali. Jeritan kecil Rini berubah menjadi jeritan panjang saat ujung lidah Sony menyentuh daging kecil kemerahan, klitorisnya. Dan semakin bertambah panjang lagi, sewaktu lidahnya menjilati daging kecil yang sudah mulai membengkak tersebut. Sekalipun jeritan Rini ini cukup membuat sakit telinga Sony, namun dia tidak menghiraukannya. Berkali-kali Sony jilati dan gelitiki klitoris Rini dengan garangnya tanpa ampun.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Ooouuu&#8230; Sooonnn&#8230;!&#8221; Rini menjerit-jerit dan menjerit lagi.<br />
&#8220;Crut&#8230; Sruput&#8230; Clrrppuut&#8230;&#8221;<br />
Mulut Sony mulai melumat klitoris kemerahan yang semakin bertambah bengkak. Sekali-kali diseruputnya daging kecil nan sensitif itu seperti sedang menyeruput es lilin. Gerinjalan-gerinjal tubuh Rini makin menjadi-jadi. &#8220;Aaauuuwww&#8230;!&#8221; Rini menjerit sambil menjambak rambut Sony cukup keras. Sony meringis kesakitan. Tetapi ini tidak menghalangi usahanya untuk memasukkan lidahnya sedalam-dalamnya ke dalam kemaluan Rini. Sony merasakan rasa asin dan agak aneh memang ketika menjilati seluruh permukaan dinding lubang kenikmatan milik kekasihnya itu. Pemilik lubang itu terus meraung-raung dengan bebasnya. Sony pun semakin tambah bernafsu. Petualangan lidahnya di dalam kemaluan Rini bertambah membabi buta. Boleh dibilang, tak ada secuil bagianpun dari dinding kemaluan Rini yang luput dari jilatan lidahnya yang memang panjang dan runcing. Bahkan, dinding liang kemaluannya yang licin dan sudah dibanjiri oleh cairan bening kenikmatan berulang-ulang menjadi korban rambahan lidahnya yang tak kenal ampun itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Tubuh Rini terus terlonjak-lonjak kesana-kesini saat dihujam-hujamkan lidah Sony yang lancip itu masuk-keluar lubang kemaluannya. Sementara mulutnya terus mengeluarkan desahan-desahan dan tak jarang dibarengi dengan jeritan-jeritan kecil. Mata Rini terpejam, dan akhirnya&#8230;<br />
&#8220;Aaahhh&#8230; crot.. crit.. cret&#8230;&#8221;<br />
Rini telah memperoleh puncak kepuasannya. Air laharnya muncrat di mulut Sony.</p>
<p style="text-align: justify;">Lalu&#8230;<br />
&#8220;Rini sayang, sekarang giliranmu berlutut di ubin dan aku duduk di ranjang, terus&#8230;&#8221;<br />
Kemudian Rini berlutut di lantai, sedangkan Sony duduk di hadapannya di atas kasur, sehingga selangkangannya tepat berada di depan kepalanya.<br />
&#8220;Ayo dong, sayang, dimulai&#8230;!&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Rini meraih batang kemaluan Sony, lalu perlahan-lahan Rini langsung mengelus-elus batang kemaluan Sony serta menciumi dengan lihai. Sony jadi tambah tidak sabar, langsung saja dia jejalkan batang kemaluannya kemulut Rini. Ternyata Rini menyambutnya dan dengan canggih sekali Rini mulai memainkan batang kemaluan itu di mulutnya. Sony benar-benar mengakui kalau permainan mulut Rini memang super hebat. Rini demikian ahli mengombinasikan antara hisapan, gigitan serta jilatan.</p>
<p style="text-align: justify;">Sony merasakan sangat kenikmatan yang luar biasa. Dan Rini tampaknya semakin bersemangat ketika Sony juga merespon dengan menggenjot batang kemaluannya di mulutnya. Bahkan ketika Sony mencoba untuk mencabutnya, Rini berusaha mencegahnya, sehingga batang kemaluannya tidak bisa lepas dari mulutnya. Bukan hanya batang kemaluan saja yang dimainkan. Biji kemaluannya pun kadang-kadang dikulum-kulum sambil sesekali digigit-gigit. Sambil jari telunjuknya ditusukkan ke anus Sony. &#8220;Oohhh.. enakk&#8230;&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Akh, sangat luar biasa sekali. Sambil menggigit biji batang kemaluan, batang kemaluan Sony dielus-elus serta diremas-remas. Dan ketika Sony sudah tidak tahan lagi, tampaknya Rini tahu, dan langsung batang kemaluan Sony kembali dimasukkan ke mulutnya dan memperhebat kuluman serta sedotannya.</p>
<p style="text-align: justify;">Akhirnya Sony benar-benar tidak tahan, dan bermaksud mencabut dari mulutnya. Tapi rupanya Rini tidak rela batang kemaluan itu keluar dari mulutnya, sehingga &#8220;lahar&#8221; Sony keluar di mulutnya. &#8220;Ahhh&#8230;&#8221; benar-benar Sony merasakan nikmat ketika &#8220;lahar&#8221;-nya tertumpah keluar. Rini tampak gembira sekali dengan keluarnya &#8220;lahar&#8221; Sony. Rini sedot semua &#8220;lahar&#8221; Sony seakan-akan tidak rela &#8220;lahar&#8221; kekasihnya itu tumpah dengan percuma. Namun karena Sony mengeluarkan &#8220;lahar&#8221; cukup banyak sehingga sebagian keluar menetes di mulutnya. Rini mengusap &#8220;lahar&#8221; Sony yang keluar dari mulutnya dengan tangannya, kemudian menjilati tangannya yang belepotan air &#8220;lahar&#8221; itu. &#8220;Ah&#8230; Sony sayang punyamu enak sekali.&#8221; Sambil mengecup kepala batang kemaluan yang sudah menyusut itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Lalu Rini mulai segera beraksi lagi, didorongnya Sony di kasur agar kembali terlentang. Kemudian Rini ikut naik ke atas ranjang, tubuhnya yang &#8220;uhui&#8221; itu menindih tubuh Sony. Terus Rini menyodorkan susunya yang besar dan menantang itu dengan indahnya dari atas. Sony pun segera mencambut susu itu dengan riangnya. Sony mulai menjilati puting susu Rini yang masih tetap tinggi dan mengeras seperti tadi. Rini mengeram kecil sewaktu Sony gigit-gigit kecil puting susu yang menggiurkan itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah itu Rini turun lebih ke bawah. Kini Rini menindih perut Sony. Rini mulai mengepit kedua belah susu yang montok itu dengan lengannya. Lalu Rini menjepit batang kemaluan Sony dengan belahan di antara susunya itu. Kemudian Rini menggeser-geserkan batang kemaluan Sony di lembah tersebut. Gesekan-gesekan yang terjadi antara batang kemaluan itu dengan lereng-lereng dua buah bukit menjulang yang mengapit lembah tersebut ternyata memang ampuh, batang kemaluan Sony kini mulai bangkit lagi. Melihat usahanya mulai menunjukkan hasil, Rini semakin menambah cepat gerakannya. Dan benar saja. Tak lama kemudian, batang kemaluan Sony telah kembali &#8220;siap tempur&#8221; seperti semula.</p>
<p style="text-align: justify;">Tanpa mau membuang kesempatan emas, Rini langsung mengangkangi selangkangan Sony. Setelah mengarahkan batang kemaluan Sony tepat di bawah lubang kemaluannya, Rini mulai beraksi. Bertepatan dengan anjloknya tubuhnya ke bawah, batang kemaluan Sony pun langsung tertelan seluruhnya dalam liang kemaluannya. Mereka berdua sama-sama melenguh cukup keras. Sony tidak mau berdiam diri saja. Segera diputar-putar batang kemaluannya di dalam lubang kemaluan Rini. Sementara itu Rini ikut mengimbangi dengan menaik-turunkan sembari memutar-mutar pantatnya yang semok itu. Mereka berdua semakin lama semakin mempercepat tempo gerakannya. Tangan Sony pun ikut ambil bagian, meremas-remas susu Rini dengan gemasnya. Sony menjepit kedua puting susunya yang mengeras, sehingga tak ayal lagi, kedua puting susu itu melejit dengan indahnya di antara jepitan jari-jari Sony.</p>
<p style="text-align: justify;">Seiring dengan gerakan persetubuhan mereka yang makin menggila, nafsu birahi mereka berdua pun semakin menjadi-jadi. Dan dengan nafsu yang semakin membulak-bulak ini, mereka pun juga makin memperganas persetubuhan mereka. Tak terasa secara keseluruhan sudah hampir satu jam lamanya Sony dan Rini memulai permainan cinta mereka.</p>
<p style="text-align: justify;">Beberapa menit kemudian, bersamaan dengan mendekatnya waktu satu jam itu, Sony dan Rini mengalami orgasme berbarengan. Batang kemaluan Sony memuntahkan air &#8220;lahar&#8221; masuk ke dalam lubang kemaluan kekasihnya itu semuanya. Sebagian malah ada yang berlelehan keluar akibat tidak mampunya lubang kemaluannya menampung cairan kenikmatan Sony itu yang kali ini jauh lebih banyak daripada orgasme yang pertama tadi.</p>
<p style="text-align: justify;">Akhirnya dengan tubuh bermandikan keringat yang mengalir deras, Sony dan Rini jatuh tertidur berdampingan di ranjang yang nyaman itu. Batang kemaluan Sony masih menancap di dalam lubang kemaluan kekasihnya itu, sedangkan tangan Sony masih menungkupi salah satu susunya yang ranum.Singkat cerita, pada keesokan hari Sony menelepon tantenya di Surabaya untuk memberitahu kalau mereka berdua setuju saja bila tantenya ingin mengadakan pesta tapi dengan syarat Rini ikut dalam pesta itu. Tantenya tidak keberatan bahkan malah senang Rini ikut.</p>
<p style="text-align: justify;">Hari Minggu, seperti yang dijanjikan telah tiba. Rumah Sony telah sepi tinggal mereka berdua karena seluruh pembantunya telah pergi ke Malang kota untuk membersihkan rumah Sony yang ada di situ. Sony dan Rini sedang santai menonton TV di ruang keluarga. Lima menit kemudian terdengar bel pintu di depan berbunyi. Sony menduga pasti ini rombongan tante dengan teman-temannya. Dia melangkah keluar dan memang benar rombongan tantenya telah datang. Tante Nadya naik mobil Kijang dengan teman-temannya. Mereka semuanya sekitar 7 orang turun dari mobil itu. Tante Nadya turun dari mobil, kakinya yang seksi dan putih itu terlihat aduhai. Sementara 6 temannya yang lain juga sama mereka semua memiliki kaki yang seksi turun dari mobil.</p>
<p style="text-align: justify;">Lalu,<br />
&#8220;Sony sayang, Tante datang, ehmmm&#8230; ahhh.. kamu tambah cakep aja dan oh&#8230; itu anu kamu tambah besar aja,&#8221; ucap tantenya sambil diciumnya pipi Sony dengan tangannya memegang selangkangan Sony.<br />
&#8220;Tante, jangan ah.. ada Rini tuuh&#8230; Oh ya kenalkan ini Rini, Tante?&#8221;<br />
&#8220;Saya Rini Tante, selamat datang di rumah kami,&#8221; ucap Rini sambil menjabat tangan Tante.<br />
&#8220;Oh&#8230; ini yang namanya Rini.. wuih boleh juga Sony, kamu pintar pilih pacar. Ehh.. Rini gimana keponakan Tante OK tidak &#8216;anu&#8217;-nya, ayo jangan malu-malu, jujur aja sama Tante&#8230;?&#8221;<br />
&#8220;Ahh.. Tante ada-ada saja, Rini jadi malu&#8230;&#8221; ucapnya agak kaget sedikit.<br />
&#8220;Alaaa&#8230; gitu aja pakai malu segala, terbuka aja udah&#8230; toh nanti kita semua khan main buka-bukaan&#8230;&#8221; ucapnya lagi.<br />
&#8220;Udahlah.. soal itu jangan dibahas, Rini jadi salah tingkah tuu.. Tante ini gimana sih,&#8221; bela Sony.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Sony, ini semua teman-teman Tante, cantik-cantik bukan? Oh ya, mereka semua belum punya anak lho.. jadi kamu jangan kuatir pasti memek mereka ditanggung sempit dan &#8216;endanng&#8217;. Oh.. ya teman-teman, ini lho keponakanku yang pernah aku ceritakan kemarin. Pokoknya ditanggung &#8216;OK&#8217; dech, ayo kenalan dong&#8230; dan itu pacar Sony, Rini namanya, OK juga khan..?&#8221;"Oh.. ini yang namanya Sony. Wuih &#8216;JOZZ&#8217; sekali, udah tinggi, gagah, ganteng lagi dan itu ohh.. benar-benar &#8216;wuih&#8217;, meskipun hanya kelihatan menyembul dari balik celana. Sony! saya Sari umur 30 tahun, susuku 36C dan &#8216;terowongan&#8217;-ku masih OK lho Son&#8230;&#8221; ucapnya sambil mengecup bibir Sony.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Sony! saya Ratih umur 30 tahun, susuku kamu bisa lihat sendiri&#8230; bagaimana OK kan dan memekku juga masih rapet dan legit lho Son&#8230;&#8221; ucapnya sambil mengecup bibirnya.<br />
&#8220;Sony! saya Tiara umur 31 tahun, susuku juga gede dan putingnya panjang lho, dan memekku masih OK lho Son&#8230;&#8221; ucapnya sambil mengecup bibirnya juga.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Sony! saya Irene umur 30 tahun, susuku gede juga lho dan &#8216;terowongan&#8217;-ku juga masih OK lho Son&#8230;&#8221; ucapnya sambil mengecup bibirnya juga.<br />
&#8220;Sony! saya Nita umur 30 tahun, susuku 36C dan memekku juga masih OK lho Son&#8230;&#8221; ucapnya sambil mengecup bibirnya.<br />
&#8220;Sony! saya Dini umur 32 tahun, susuku juga 36C dan memekku juga masih OK lho Son&#8230;&#8221; ucapnya sambil mengecup bibir Sony.</p>
<p style="text-align: justify;">Sony mempersilakan semua tamunya untuk masuk rumah. Setelah semuanya masuk, betapa kagetnya Sony dan Rini semua tante-tante itu langsung membuka seluruh pakaian mereka satu-persatu hingga polos. Cewek-cewek itu semuanya tidak mempunyai bulu kemaluan di kemaluannya jadi kelihatan &#8220;garis&#8221; kemaluannya yang memang kelihatan masih &#8220;OK&#8221;. Setelah itu mereka semua menuju ke kolam renang. Tante Nadya juga sudah dalam keadaan bugil. Terus,<br />
&#8220;Sony ayo cepat buka bajumu dan Rini juga ayo sini Tante bantu lepasin bajumu..!&#8221; katanya sambil membantu membuka baju Rini.<br />
Seketika itu juga Rini ikut telanjang juga.<br />
&#8220;Wow&#8230; susumu jauh lebih besar dari kita semua dan memekmu yang indah itu wuih.. Sony memang hebat. Ayo Rini kita ke kolam renang&#8230;&#8221; katanya sambil mengajak lari Rini menuju ke kolam renang.</p>
<p style="text-align: justify;">Sementara itu Sony memandangi tubuh Tante dan Rini pacarnya yang telanjang berlari menuju kolam. Setelah itu dia buka baju dan celananya, terus dia menuju ke kamar sebentar untuk mengambil &#8220;Obat Perkasa&#8221; dari negeri China yang konon ceritanya, dipakai oleh kaisar China sebelum bersetubuh dengan selirnya yang berjumlah puluhan orang. Dioleskannya obat itu pada batang kemaluannya, 1 menit kemudian batang kemaluan itu membesar, membesar dan membesar. Jadi kini batang kemaluan Sony yang tadinya tidur sekarang bangun dan keras sekali persis &#8220;tiang listrik&#8221;.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah itu, Sony turun dan langsung berjalan dengan santai menuju kolam, batang kemaluannya tetap mengacung ke depan dengan telur kembarnya saling goyang sana, goyang sini. Dia melihat cewek-cewek itu sedang asyik dengan kegiatannya masing-masing. Dia mencari dimana Rini berada. Oh&#8230; di situ rupanya. Rini sedang asyik menjilati kemaluan tantenya dengan keadaan menungging, sementara dari belakang Tante Sari menjilati kemaluan Rini. Mereka menjerit dan menjerit keenakan. Sementara itu Tante Nadya asyik menjilati kemaluan Tante Ratih yang berada di atas mulutnya. Tante Ratih merintih, &#8220;Ohhh&#8230;&#8221; Mereka semua tidak tahu akan kedatangan Sony.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Hai&#8230; cewek! Siapa yang mau batang kemaluan? ayo ke sini&#8230;!&#8221; teriak Sony sambil memegangi batang kemaluannya yang berdiri dengan kokoh.<br />
Lalu semua mata tertuju ke batang kemaluan Sony yang memang luar biasa. Terus mereka menghentikan kegiatan mereka, lalu berlarian ke arah Sony. Rupanya mereka ingin merasakan batang kemaluan itu. Kekasihnya sendiri pun si Rini sampai tidak percaya bagaimana batang kemaluan Sony &#8220;Yayang&#8221;-nya bisa 2 kali lipat besarnya dari biasanya, padahal dengan ukuran biasa saja Rini dibikin &#8220;KO&#8221;, apalagi sekarang. Lalu dia berjalan menghampiri Sony yang sedang dikeroyok oleh banyak cewek itu.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;OK.. OK.. semuanya nanti akan dapat, ayo sekarang Tante-Tante berbaris sejajar dengan posisi nungging, OK&#8230;&#8221; teriaknya.<br />
&#8220;Sony sayang! kamu makai obat ya&#8230; kontolmu jadi besar 2 kali lipat dari biasanya,&#8221; bisik Rini.<br />
&#8220;Rini sayang, kamu ikut baris ya.. nanti kamu dapat giliran pertama. Eee.. Rini sayang, kamu harus tahan ya sakitnya.. OK!&#8221; bisik Sony sambil dikecupnya bibir pacarnya itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Jadi begitulah mereka semua baris sejajar dengan posisi nungging dengan yang paling ujung Rini disusul Tante Nadya dan seterusnya. Dengan perlahan Sony menghampiri Rini.<br />
&#8220;Ma’af Tante-Tante, Sony mulai dari pacar Sony sendiri.. OK&#8230;&#8221; ucapnya.<br />
&#8220;Huuu.. huu&#8230; KKN&#8230; nich yeee&#8230;&#8221; teriak mereka semua.<br />
Tapi tak digubris oleh Sony. Pada saat Sony mulai beraksi Rini tidak menolah, lalu tiba-tiba dia merasakan batang kemaluan Sony dipukul-pukulkan pada pantatnya yang membuat dia kegelian. Lalu, diserudukkan batang kemaluannya ke liang kemaluannya tapi sulit sekali, dia coba lagi dan gagal. &#8220;Aaaah&#8230; seret sekali ya kayak perawan,&#8221; kata Sony. Rini menjerit, &#8220;Auwww&#8230;&#8221; terus Rini berbalik membantu Sony dengan mengelomohi batang kemaluannya dengan air ludahnya tapi masih juga tidak berhasil menembus liang kemaluannya. Rini melihat Sony berusaha lagi, dan perlahan masuk pada lubang kemaluan Rini yang kecil, Rini merasakan agak sedikit pedih.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Sony sayang, udah ah&#8230; batang kemaluan kamu tidak bisa masuk lho, terlalu besar sih,&#8221; pinta Rini.<br />
&#8220;Sebentar sayang, tahan dulu ya&#8230; ini udah masuk kepalanya, tahan ya sayang&#8230;&#8221; jawabnya sambil didesaknya lubang kemaluan Rini dengan batang kemaluannya itu dan&#8230;<br />
&#8220;Sreeet&#8230; sret&#8230; sreettt&#8230;&#8221;"Aauuww&#8230;&#8221;<br />
Rini menjerit merasakan batang kemaluan Sony terasa tembus di kerongkongannya, digerak-gerakkan pantatnya Rini kegelian. Meskipun hanya setengah yang masuk tapi akhirnya banjir juga liang kemaluannya dan dia merasakan kenikmatan saat batang kemaluan Sony maju mundur di lubang kemaluannya. Sesekali pantat Rini ditepuknya untuk menambah semangatnya menggenjot batang kemaluannya, susu Rini dibiarkan bergelantungan bergerak bebas sementara tangan Sony sibuk memegang pinggul Rini memaju-mundurkan pantatnya. Saat batang kemaluan masuk badan, Rini terasa tertusuk geli tak karuan. Sesekali juga Sony menciumi punggung Rini yang ditumbuhi bulu-bulu halus, sambil batang kemaluannya terus bergerak keluar masuk di lubang kemaluannya. Rini juga berusaha dengan menggerakkan pantatnya kiri-kanan dan batang kemaluan Sony yang cuma setengah masuk itu seakan terjepit kuat.</p>
<p style="text-align: justify;">Sony semakin cepat memaju-mundurkan batang kemaluannya, dan&#8230;<br />
&#8220;Ohhh.. ooohh&#8230; Rini.. udah mau keluar nih&#8230; ohh&#8230; Sonnn&#8230; sshh&#8230; aaahh&#8230;&#8221;<br />
Goyangannya sekarang sudah tidak beraturan.<br />
&#8220;Ohh.. Sonnn.. kau sungguh perkasa&#8230; aahhh&#8230;&#8221;<br />
Sony mempercepat goyangan.<br />
&#8220;Aahhh&#8230; Rini.. keluar sayang&#8230; ooohhh&#8230;&#8221;<br />
Rini menggelinjang dengan hebat, Sony merasakan cairan hangat keluar membasahi pahanya.<br />
Sony hanya butuh 10 menit untuk meng-&#8221;KO&#8221; Rini, padahal biasanya sampai berjam-jam.</p>
<p style="text-align: justify;">Kemudian giliran Tante Nadya. Tampak oleh Sony kemaluan tantenya dengan bibir kenyal yang sudah agak menggelambir itu demikian basah dan mulai membengkak. Lalu Sony mendorong sedikit tubuh tantenya ke depan sehingga pantatnya agak naik ke atas, yang lebih memudahkan batang kemaluannya untuk melakukan tusukan ke dalam lubang kemaluannya. Setelah itu langsung disodoknya batang kemaluannya ke lubang kemaluan yang menganga itu. Tubuh Tante Nadya terhenyak hingga hampir terjungkal ke depan akibat kerasnya sodokan Sony, sementara mulutnya menjerit kecil. Dalam sekejap, batang kemaluan Sony yang besar itu masuk seluruhnya ditelan oleh lubang kemaluan itu yang langsung menjepitnya. Jepitan lubang kemaluan tantenya yang berdenyut-denyut menambah gairah birahinya yang memang sudah menggelora.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Ahhh&#8230; Son&#8230; kamu lebih perkasa dari dulu&#8230; ohhh.. yaa.. teruskan&#8230; ohh&#8230;&#8221; rintihnya.<br />
Dengan cepat, Sony menarik batang kemaluannya sampai hampir keluar dari dalam kemaluan tantenya. Lalu ditusukkannya kembali dengan cepat. Kemudian ditarik dan disodokkan lagi, seterusnya berulang-ulang tanpa henti. Dorongan yang keras ditambah dengan sensasi kenikmatan yang luar biasa membuat tantenya itu beberapa kali nyaris terjerembab. Rini yang tadi terkapar-pun tidak mau ketinggalan beraksi. Sony melihatnya duduk mengangkang di hadapan tantenya, memamerkan lubang kemaluannya yang telah kembali basah. Tante Nadya langsung saja menyambar lubang kemaluan yang mulai berdenyut-denyut keras itu.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Iiihh.. Tante&#8230; aaahhh&#8230;&#8221; Rini menjerit sekeras-kerasnya.<br />
Tante Nadya mencucukkan lidahnya masuk ke dalam lubang kemaluan Rini yang bertambah banjir saja. Semakin lama semakin dalam merambah seluruh dinding lorong kenikmatan yang begitu licin. Setiap sentuhan lidahnya pada permukaan dinding yang basah dan mengkilap itu ibarat tegangan listrik jutaan volt yang menyetrum Rini. Seketika itu juga, tubuh Rini mengejang ke belakang. Susu montok yang menggantung kencang di dadanya kelihatan semakin membusung. Tangan Sony yang menggapai-gapai untuk memegang kedua bukit kembar yang menggairahkan itu tidak berhasil mencapainya. Jaraknya terlalu jauh, sementara Sony masih dengan kegiatan menyetubuhi Tante Nadya. Dengan sedikit mengejang Sony menggenjot batang kemaluannya kembali ke dalam lubang kemaluan tantenya sekuat-kuatnya. Tantenya pun makin memperganas &#8220;serangan&#8221; lidah dan mulutnya pada kemaluan Rini, kekasihnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Akhirnya, dalam waktu lima menit, perjuangan Sony membuahkan hasil. Tantenya melenguh panjang itu tandanya bahwa ia sudah mencapai klimaksnya. Bersamaan itu juga Rini juga telah mencapai klimaksnya, lalu dia kembali terkapar. Cairan tantenya yang agak bening dari Rini itu muncrat ke pahanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Wuihh.. benar-benar hebat Sony, sudah 2 orang korbannya yang terkapar. Sekarang giliran Tante Sari yang sudah nungging, dan tampak jelas sekali lubang kemaluannya, juga lubang anusnya, Sony tidak langsung memasukkan batang kemaluannya yang dari tadi masih berdiri tegak itu, tapi mempermainkan lidahnya di sekitar kemaluan dan kedua pantatnya, samar-samar terdengar desahan suara Tante Sari, segera batang kemaluannya ditempelkan di permukaan lubang kemaluannya. Terdengar desahan Tante Sari, dan Sony mulai menggerakkan batang kemaluannya maju mundur, nikmat sekali meskipun tidak bisa masuk semua karena batang kemaluan Sony terlalu panjang dan Tante Sari tampak menikmati dengan menggerakkan pinggulnya ke kanan dan ke kiri. Kurang lebih 10 menit Tante Sari menjerit dan&#8230; &#8220;Crot.. crit.. cret&#8230;&#8221; lendir hangat kembali membasahi batang kemaluan Sony. Lalu pelan-pelan Sony kembali menggerakkan batang kemaluannya maju mundur, Sony iseng melihat lubang dubur Tante Sari yang agak mencuat keluar, lalu dicobanya memasukkan jari telunjuknya ke dalam duburnya yang basah itu, terdengar sedikit rintihan, &#8220;Ssstt&#8230; ah Son pelan-pelan dong!&#8221; rintihan yang membuat Sony semakin nafsu. Tiba tiba Sony ingin sekali mencoba untuk menikmati lubang duburnya yang kelihatannya masih &#8220;perawan&#8221; itu. Ditariknya pelan batang kemaluannya yang masih basah dan licin itu akibat lendir dari lubang kemaluan Tante Sari. Ditempelkannya kepala batang kemaluannya yang mengeras di permukaan duburnya, dipegangnya batang kemaluannya sehingga kepalanya mengeras, lalu Sony mencoba menekan batang kemaluannya, karena licin oleh cairan tadi maka kepala kemaluanku segera melesak ke dalam, dia pun mengeluh, &#8220;Akhhh.. aduh Sonnn.. sstt ohh..&#8221; Sony berhenti sesaat, dan dia bertanya, &#8220;Kok dimasukin di situ Son&#8230; sakit?&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Lalu ditariknya batang kemaluannya dari lubang dubur itu. Sony beralih ke Tante Ratih dan tampaklah pantat dan kemaluannya terlihat merekah dan basah. Sebelum Sony memasukkan batang kemaluannya, dia jilat dulu kemaluannya dan lubang pantatnya. Cairan dari lubang kemaluannya mulai membasahi bibir kemaluannya ditambah dengan ludah Sony.</p>
<p style="text-align: justify;">Diarahkannya batang kemaluannya ke lubang kemaluannya dan menekan ke dalam dengan pelan-pelan, sambil merasakan gesekan daging mereka berdua. Suara becek terdengar dari batang kemaluan dan lubang kemaluan dan cukup lama Sony memompanya. Lalu 5 menit kemudian, &#8220;Ohhh.. Sonn.. aku&#8230; keluuaarr.. ahhh&#8230; yeess&#8230;&#8221; muncratlah cairan membasahi paha Sony untuk ke-4 kalinya. &#8220;Oh.. Sony kau sungguh hebat&#8230; aduhh&#8230; nikmatnya&#8230;&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Sampai saat ini Sony masih tetap perkasa, lalu dia menghampiri Tante Tiara yang lebih &#8220;semok&#8221; karena gumpalan pantatnya itu yang begitu montok. Langsung diremas-remas pantat Tante Tiara itu dengan bersemangat. &#8220;Auuh&#8230;&#8221; Tante Tiara mendesah kecil dibuatnya. Kemudian kaki Tante Tiara direnggangkannya sedikit, sampai terlihat lubang kemaluannya dari bawah. Lalu Sony langsung saja menusukkan dua jarinya sekaligus ke dalam lubang kemaluannya itu. Semua jarinya itu dapat dengan mudah masuk begitu saja ke dalam kemaluan itu. Pada usia sekarang, kemaluan Tante Tiara memang sudah agak lebar dibandingkan dulu, tetapi tetap masih cukup sempit dan masih lentur. Dipermainkannya jari-jarinya itu di dalam lubang kemaluannya.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Iiih&#8230; Sony&#8230; uuhhh&#8230;&#8221; jerit Tante Tiara yang liar.<br />
Apalagi setelah Sony mulai menjilati kemaluannya dengan lidahnya.<br />
&#8220;Aaahh&#8230; Soonnyyy&#8230;&#8221; Tante Tiara menjerit panjang.<br />
Sony menyodokkan batang kemaluannya ke dalam lubang kemaluannya. Sementara itu tangannya mulai berpetualang di susunya. Diremas-remas susu yang kenyal itu, terasa pas di tangan. Sony jadi ingat saat dia sedang main bola volly, bolanya pas di tangannya. Tak ketinggalan pula puting susunya yang begitu cepat menegang turut menjadi korban keganasan tangannya.</p>
<p style="text-align: justify;">Sony terus memompa batang kemaluannya masuk-keluar di dalam lubang kemaluan Tante Tiara dengan cepat. Makin lama makin cepat lagi. Sampai-sampai bunyi kecipak-kecipak akibat selangkangannya yang berbenturan cukup keras dengan pantatnya terdengar jelas. Tiba-tiba dirasakan lubang kemaluannya menjepit batang kemaluan Sony dengan sangat kuat. Tubuh Tante Tiara mulai menggelinjang, nafasnya mulai tak karuan, dan tangannya meremas-remas payudaranya sendiri.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Ohhh&#8230; ooohh&#8230; Tante udah mau keluar nih&#8230; sshh&#8230; aaahh&#8230;&#8221;<br />
&#8220;Aahhh&#8230; &#8216;jancuk tenan&#8230;&#8217; Tante keluar Sonnn&#8230; ooohhh&#8230;&#8221;<br />
Dia menggelinjang dengan hebat, dirasakan cairan hangat keluar membasahi paha Sony. Dia langsung terkapar dengan lubang kemaluannya yang kelihatan masih mengeluarkan cairan terus.</p>
<p style="text-align: justify;">Sony berpindah ke Tante Dini yang sudah dalam menungging pasrah. Dari belakang Tante Dini merasakan Sony mulai menggila menjilati kemaluannya yang kelihatan merekah. Sony menjauh dan Tante Dini merasakan desahan nafasnya membesar. Tante Dini terkejut lubang kemaluannya digeser-geser oleh batang kemaluan Sony yang besar itu. Tante Dini mengarahkan pantatnya ke belakang dan Sony menjauhkan batang kemaluannya dari lubang kemaluannya, Sony menggoda dan Tante Dini jadi penasaran ingin merasakan batang kemaluannya lagi.</p>
<p style="text-align: justify;">Tante Dini merasakan batang kemaluan Sony kini mulai mendesak liang kemaluannya lagi dan terpeleset, dia merasakan Sony kesulitan mengepas batang kemaluannya di lubang kemaluannya. Kini ujung batang kemaluan itu telah tepat pada lubang kemaluannya, perlahan dan pasti gerakan Sony maju sedikit demi sedikit menuju dinding kemaluannya. Tante Dini menunggu dan merasakan gesekan perlahan itu menimbulkan sensasi yang hebat pada tubuhnya. Saat batang kemaluan Sony sudah seluruhnya mengisi liang kemaluannya. Sony diam sesaat sambil membelai-belai pinggangnya yang bulat. Tante Dini merasakan semuanya, dicengekeramnya pinggangnya kuat-kuat dan Sony mulai bergerak maju mundur membelah kemaluannya. Tante Dini mengimbangi dengan memutar-mutar pantatnya seperti penari perut, Sony mengimbangi dengan sodokan-sodokan gilanya. Pinggulnya dipakainya sebagai setir, jika ingin gerakan lambat, ditariknya pinggulnya kuat-kuat sehingga Tante Dini tidak bisa bergerak, demikian pula sebaliknya. Tante Dini merasakan telur batang kemaluan Sony menghantam pantatnya sebelah bawah saat batang kemaluannya masuk total pada kemaluannya. Pantat Tante Dini terus bergerak dan batang kemaluan Sony tidak tinggal diam, semua tenaga telah dikerahkan oleh Tante Dini untuk memperolah kepuasan maksimum, tapi 5 menit kemudian&#8230;<br />
&#8220;Ahhh&#8230; Sonn&#8230;&#8221;<br />
&#8220;Crot.. cret&#8230;&#8221;<br />
Muntahlah cairan Sony membasahi batang kemaluannya dan paha Sony.</p>
<p style="text-align: justify;">Sony masih perkasa, terus dia menghampiri Tante Irene yang menunggingkan pantatnya dan minta ditusuk, Sony mulai mengarahkan batang kemaluannya ke lubang kemaluan Tante Irene yang tampak menganga berwarna merah jambu. Sony terus memegang pinggul Tante Irene dan mengayun pinggulnya dengan irama yang teratur. Sesekali Sony pindahkan tangannya untuk meremas susu yang montok. Beberapa lama kemudian nafas Tante Irene mulai memburu dan makin menderu seirama dengan makin kerasnya hentakan dari Sony. Kemudian Tante Irene mulai mengerang,<br />
&#8220;Oohhh&#8230; aku.. ohhh&#8230; keluarrr&#8230; ahhh&#8230;&#8221;<br />
&#8220;Crot.. crit&#8230; cret&#8230;&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Sony langsung menuju ke korban terakhir, Tante Nita yang juga sedang menungging. Lubang kemaluannya yang berwarna merah muda agak merekah. Sony pelan-pelan menusukkan batang kemaluannya, masuk sepertiga. Tangan kiri Sony sambil meremas-remas susunya yang mulai mengeras itu. Tante Nita menekankan badannya ke belakang sehingga batang kemaluan Sony amblas masuk ke dalam lubang kemaluannya. Sony mulai melakukan aksi tarik dorong. Nafasnya mulai tak teratur dan cengkeraman tangannya di tangan Sony semakin kuat.<br />
&#8220;Hhh&#8230; Son aku mau keluar ahhs&#8230;&#8221;<br />
Muncratlah semua cairan Tante Nita.</p>
<p style="text-align: justify;">Demikianlah kisahku tentang pesta seks yang berlangsung beberapa hari tsb&#8230; Sungguh menyenangkan.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ceritasex.cn/pesta-seks-di-malang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Dewi Maniak Seks &#8211; Pesta Ulang Tahun Anaknya Bagian 7 (tamat)</title>
		<link>http://www.ceritasex.cn/dewi-maniak-seks-pesta-ulang-tahun-anaknya-bagian-7-tamat/</link>
		<comments>http://www.ceritasex.cn/dewi-maniak-seks-pesta-ulang-tahun-anaknya-bagian-7-tamat/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 26 Nov 2009 02:45:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cerita Sex</dc:creator>
				<category><![CDATA[Gangbang Rame Rame]]></category>
		<category><![CDATA[Paruh baya]]></category>
		<category><![CDATA[Pemerkosaan]]></category>
		<category><![CDATA[Seks Umum]]></category>
		<category><![CDATA[Tante Girang]]></category>
		<category><![CDATA[anal seks]]></category>
		<category><![CDATA[anus]]></category>
		<category><![CDATA[birahi]]></category>
		<category><![CDATA[dewi]]></category>
		<category><![CDATA[hani]]></category>
		<category><![CDATA[kontol]]></category>
		<category><![CDATA[memek]]></category>
		<category><![CDATA[ngentot]]></category>
		<category><![CDATA[nita]]></category>
		<category><![CDATA[pantat]]></category>
		<category><![CDATA[pesta seks]]></category>
		<category><![CDATA[siska]]></category>
		<category><![CDATA[theesome]]></category>
		<category><![CDATA[toket]]></category>
		<category><![CDATA[vagina]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ceritasex.cn/?p=1087</guid>
		<description><![CDATA[Gerakan Doni yang sedang menyodok-nyodokkan batang kemaluannya didalam lubang pantat Nita semakin bertambah gencar, akibatnya tubuh Nitapun maju mundur dengan cepat, kontol Roni yang sedalam cengkraman memek Nitapun ikut keluar masuk dengan cepat, sementara batang kemaluan Parmin dengan sendirinya keluar masuk mulut Nita seirama dengan gerakan maju mundur tubuh Nita, kedua payudara Nita berguncang maju [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Gerakan Doni yang sedang menyodok-nyodokkan batang kemaluannya didalam lubang pantat Nita semakin bertambah gencar, akibatnya tubuh Nitapun maju mundur dengan cepat, kontol Roni yang sedalam cengkraman memek Nitapun ikut keluar masuk dengan cepat, sementara batang kemaluan Parmin dengan sendirinya keluar masuk mulut Nita seirama dengan gerakan maju mundur tubuh Nita, kedua payudara Nita berguncang maju mundur menerpa wajah Roni, Roni menyambut dengan mulutnya dan menghisap-hisap payudara Nita bergantian.</p>
<p style="text-align: justify;">“Hhhmmmpp….sssllrrppp…hmmmppp…ssslrrppp…sssshhh…hh mmppp..aaaahh..sslrrpp… aahh …hhmmpp..ssslrrpp…ssshhh….hhmmmppp…sslrrppp…,”deng usan Nita terdengar disela-sela kesibukannya menyepong batang kemaluan Parmin.</p>
<p style="text-align: justify;">“Uughhh…nikmat terus emot kontolku…aaahh…uuggghh….aahhh..,”Parmin melenguh menikmati sepongan Nita.</p>
<p style="text-align: justify;">“Hhhhmmpp.ssslrrppp…hhmm…ssslrpp…ooohhh..ssslrrpp. .hhmmpp…aaahhh…hhhmmpp,”Roni menggumam sambil terus menghisap-hisap tetek Nita.</p>
<p style="text-align: justify;">“Ooohh..tante….enak betul anus tante…aaahh… nikmat….ooohh…,”Doni mengerang keenakan sambil terus mempercepat gerakannya.</p>
<p style="text-align: justify;">“Ooohh…terus…entot…akuuu…oohh…sshhhh…hmmmppp….aaah h…enakk…nikmat…. ooohhh ….yang dalam…yang kuat…hhmmppp sslrppp….terus puaskan aku….ooohh..hhmmppp..ssllrpp …sshhh..aahh…hhmmpp..sslrrpp…,”desahan Nita terus terdengar disela-sela kesibukannya menyepong kontol Parmin.</p>
<p style="text-align: justify;">Selang tak lama tubuh mereka berempat bergetar dengan hebat, tubuh mereka meregang, puncak kenikmatan yang dinanti-nantikan oleh mereka akhirnya datang juga, tubuh mereka kelojotan, gerakan tubuh mereka semakin tidak beraturan, hampir secara bersamaan mereka mengerang, kemaluan merekapun hampir berbarengan memuntahkan lahar kenikmatan mereka.</p>
<p style="text-align: justify;">Ccreeeettt..c.creeettt…ccreeett..ssrrr…sssrrr..ccr eeettt..creettt..creett..ssrrr..ssrrr… ketiga lubang Nita dipenuhi oleh pejuh yang menyembur keluar dari batang-batang kemaluan Doni, Roni dan Parmin, Roni merasakan hangatnya lahar kenikmatan Nita menyirami batang kemaluannya, Roni merasakan denyutan kuat dinding vagina Nita seolah meremas-remas batang kemaluannya, lubang pantat Nitapun ikut mengempot kuat saat Nita mencapai klimaksnya itu, Doni merasakan batang kemaluannya seolah dipijat-pijat oleh lubang pantat Nita, sementara Parmin menikmati sedotan kuat dibatang kemaluannya karena saat Nita sedang merengkuh puncak kenikmatannya itu Nita menyedot kuat-kuat batang kemaluan Parmin.</p>
<p style="text-align: justify;">“Uuggghhh….gillaa..sedotannya…aaaku aaahhh…nikmat sekali…,”Parmin mendengus saat merasakan batang kemaluannya yang saat itu sedang memuntahkan cairan sperma disedot kuat-kuat oleh Nita, air pejuhnya langsung masuk dan ditelan oleh Nita.</p>
<p style="text-align: justify;">“Akku keluar..ooohh…nikmat betul….enak..Tante..enak…ooohh…pantatmu…ini oohh…,”Doni mengerang keenakan merasakan empotan lubang pantat Nita.</p>
<p style="text-align: justify;">“Akku juga..ooh…batang kontolku seperti diremas-remas…aahh..oohh..,”Roni melenguh matanya merem melek menikmati pijatan-pijatan dinding vagina Nita di batang kemaluannya.<br />
<span id="more-1087"></span><br />
“Hhhmmpp…glleekk..ssllrrppp…gleeekk…ssllrrppp…aaah h…nikmat…sslrrpp..gleekk…oohh…. aku keluar…puas aku…ssslrrpp..gleekkk…ssslrrppp..gleekk..aahh…kontol-kontol kalian betul… betul hebat..ooohh…nikmat sekali…,”Nita merintih keenakan ditengah kesibukannya menghisap pejuh Parmin.
</p>
<p style="text-align: justify;">Suara erangan dan rintihan mereka berempat hampir bersamaan dengan erangan Gito yang baru saja mencapai puncak kenikmatannya juga, saat Gito terkapar kelelahan dan sedang menikmati sisa-sisa kenikmatan yang baru saja dicapainya, keempat orang ini juga sama-sama menikmati sisa-sisa kenikmatan yang baru saja mereka rengkuh.</p>
<p style="text-align: justify;">“Uuughh…aaahhh…ssshhh..hhhmmpp…ssslrpp…hhhmmppp..s sslrrpp..aahh..sshh..oouuhh…. hhmmppp..sslrrppp..hhhmmpp..sslllrppp..aaahhh…enak …terus entot aku..buat aku puas…. Oohh …hhmmpp..sslrppp…sshhh…,”Hani merintih-rintih keenakan sambil mulutnya sibuk mengulum-ngulum batang kemaluan Udin.</p>
<p style="text-align: justify;">“Uugghh…kalian betul-betul jantan…oohh..ini yang aku butuhkan selama ini…ssshhh..aahhh… hmmmppp..ssslrppp…aaahh…hmmmpp…slllrppp…nikmatnya… enak sekalliii…hmmpp..sllrpppp …aaaahh…ssshhh….hmmppp…slrrrppp…,” tak hentinya Hani merintih-rintih keenakan menikmati genjotan batang-batang kemaluan Dedi dan Anto.</p>
<p style="text-align: justify;">Dedi dan Anto bekerja sama dengan baik saat mereka mengeluar masukkan batang kemaluan mereka, saat mereka mendorong maju batang mereka, merekapun menekannya dalam-dalam, sehingga dinding rahim Hani tersentuh oleh ujung kepala kontol Anto.</p>
<p style="text-align: justify;">Sementara itu Udin yang sedang menikmati permainan mulut Hanipun merem melek menikmati sedotan-sedotan kuat Hani, pipi Hani menjadi kempot saat ia menyedot kuat-kuat itu, tubuh Udin menggigil keenakan dibuatnya.</p>
<p style="text-align: justify;">“Uughh..gila sedotannya….enak..aahhh…terus sedot Bu, terus…buat aku muncrat…ooohh…. Aaahhh….nikmat betul ….,” Udin mengerang keenakan.</p>
<p style="text-align: justify;">“Lubang pantatnya sempit banget bih…ooohhh….enak betul…ooohh….Tantteee…enak..betul.. kontol anusmu …. Aaahhh…sedaapp…,”Dedi mengerang juga.</p>
<p style="text-align: justify;">“Tanteee…memekmu..aaahh…hhmppp…sslrppp…tetekmu…mas ih mengkal…oouughh…sslrpp. Sempit bener memekmu…,”Antopun ikut mengerang merasakan jepitan yang ketat dibatang kemaluannya.</p>
<p style="text-align: justify;">“Ooohhh….hhmmmppp…slrrppp..gleekk…ssslllrppp..sssh hh…aaaghhh…oouughh…kon***-***tol kalian juga enaaaaakk….besaaarr…puaskan aku…ooohh…hhmmpp…sllrppp….entot aku….yang kuat hhmppp…ssslrrrppp…ssshhh..aaahhh…tekan yang dalam….ooohh..hmmmpp…sslrrppp… enak…,”Hani semakin merintih-rintih.</p>
<p style="text-align: justify;">“Tambah cepat sodokan kaliaan…ooughh…hmmpp..sslrpp…hmmppp…slrrppp…sshhaa ahhh… aku tidak tahan lagi…ooohh…sssshhhaaahhh…hhmmmppp…aaku mau kelluaar…ooohhh….yang cepat…oooghh…yang dalam….uuughh…sshhh…aaahh…entot..terus.. aakkuu…oooghh…enaakk…hhmppp…sslrrrpp…ssshh…sslrppp …sssshh..,” rintihan Hani semakin menjadi-jadi.</p>
<p style="text-align: justify;">Dedi dan Anto menambah cepat gerakan keluar masuk batang-batang kemaluan mereka sesuai dengan permintaan Hani, dan mereka juga merasakan hal yang sama dengan Hani, puncak kenikmatan mereka sudah diambang pintu, Udinpun merasakan hal yang sama, dengan penuh nafsu Udin mulai mencecar mulut Hani dengan cepat, kedua tangannya memegangi kepala Hani, Hani dibuat gelagapan oleh jejalan batang kemaluan Udin dimulutnya, batang kemaluan Udin semakin dalam masuk dimulutnya, setiap Udin mendorong maju batang kemaluannya anak tekak dan tenggorokan Hani tersentuh oleh batang kemaluan Udin.</p>
<p style="text-align: justify;">Dan hampir bersamaan lahar kenikmatan mereka menyembur dengan kuat, creeeettt….creeettt… ssrrrrr…ccreettt..ccreett…crettt..sssrrr….sssrrr…c creeettt..ccrreeettt…</p>
<p style="text-align: justify;">“Oooohhh…aaaku keluaarr…,”pekik mereka berempat kompak, hampir bersamaan dengan pekikan Gito dan Doni cs, yang sama-sama berhasil merengkuh puncak kenikmatan mereka.</p>
<p style="text-align: justify;">Anto, Dedi dan Udin menekan dalam-dalam batang kemaluan mereka di lubang-lubang senggama Hani, tubuh mereka meregang dan mengejut-ngejut seirama dengan berdenyutnya batang kemaluan mereka saat menyemprotkan lahar kenikmatannya, Hani menggelepar menyambut puncak kenikmatan yang berhasil ia raih, pantatnya mengejut-ngejut, vaginanya berdenyut-denyut kuat sambil memuntahkan lahar kenikmatannya dan membasahi lubang memek dan batang kemaluan Anto.</p>
<p style="text-align: justify;">“Uuuugghhh..uuhuukk…gleeek….uuughhh..uuhuukk…gleee kk…hhmmppp…sslrrppp…ggleekk … ssslrppp…hhmmmppp…aaahh…oooohhh….,” Hani tersedak saat kemaluan Udin menyemprotkan air pejuhnya, pejuh Udin langsung masuk tenggorokan, Hani menelan pejuh Udin yang menerobos ditenggorokannya.</p>
<p style="text-align: justify;">Akhirnya mereka berempat juga terkapar kecapaian menyusul Gito dan Doni cs yang baru saja terkapar juga, wajah puas terukir diwajah mereka.</p>
<p style="text-align: justify;">Vagina Siska yang semakin basah mempermudah keluar masuk batang kemaluan Hilman, Hilman dengan bertubi-tubi menyodokkan penisnya dimemek Siska, Siska mendesah-desah keenakan, Siska melenguh tubuhnya melenting matanya terbelalak saat ujung kepala penis Hilman menyentuh dinding rahimnya.</p>
<p style="text-align: justify;">“Ouugghh…sshhh..aaahh…ssshhh…aahhh..hhmm..aaahh..s sshh…enak..terus…yang dalam..yang kuat…ooohh…puaskan aku…yang cepat…aah..sshhaaahh….,”rintihan Siska keluar terus menerus dari mulutnya saat menerima sodokan-sodokan penis Hilman.</p>
<p style="text-align: justify;">“Memekmu juga enaaak…Tante…uuugghhh..aaahh….nikmatnya kontol Tante…aaaghhh,” Hilman mengerang sambil terus mengeluar masukkan batang kemaluannya.</p>
<p style="text-align: justify;">Rintihan Siska yang terus menerus disahuti oleh rintihan Rina yang sedang dipompa oleh Feri dan Nanang,</p>
<p style="text-align: justify;">“Ouughh…enaknya….terus pompa aku…..entot aku..puaskan..aku lagii…aagghh..ssshhh..aahhh ….kalian hebat nikmatnya dientot seperti ini…..tambah cepat…tambah dalaamm…hmmm..ahhh.. sshhh..aagghh…oooghh….,” rintih Rina.</p>
<p style="text-align: justify;">Tubuh Rina terlihat naik turun, kedua batang kemaluan kepunyaan Nanang dan Feri keluar masuk dengan cepat, tangan Feri menahan beban tubuh Rina dipantat sementara tangan Nanang menahannya dipinggang Rina, kerja sama Feri dan Nanang saat mengangkat dan menurunkan tubuh Rina betul-betul kompak.</p>
<p style="text-align: justify;">Dewi pun tidak mau kalah dengan kedua temannya yang merintih-rintih keenakan akibat sodokan penis dilubang mereka, Dewi yang saat itu sedang menerima sodokan-sodokan Hendra di vaginanya dan Edwin di lubang pantatnya ikutan merintih meramaikan suasana yang semakin menghangat, suara rintihan Dewi sedikit berbeda dengan kedua temannya itu karena mulutnya sedang asyik menyepong penis Acep,</p>
<p style="text-align: justify;">“Hhhmmppp..sslrrppp…aaahh…sshhh…aahhh…hmmppp..ssll lrrppp…ssslrppp..hhhmppp..oohhh entot…aku..tekan…aaaahh..yang dalam…hhmmpp..sslrppp…teruss….hhmpp…aahh..sshhh…. yang kuat…uuhuukk…uuhuukk..hhmmpp..slrppp…sshhh..aahh…, ” suara rintihan Dewi bercampur dengan suara sedotan-sedotannya dipenis Acep kadang-kadang suara tersedaknya terdengar saat penis Acep masuk terlalu dalam didalam mulutnya sehingga menyentuh anak tekaknya dan dinding tenggorokkannya.</p>
<p style="text-align: justify;">Saat ketiga grup ini sedang asyiknya memacu birahi mereka untuk segera mencapai puncaknya, ketiga grup ini mendengar pekikan nikmat dari Gito, kemudian disambung oleh suara jeritan puas dari kelompok Doni dan kelompok Dedi, nampaknya Gito, Doni dan kelompoknya serta Dedi dan grupnya telah berhasil terlebih dahulu mencapai titik puncak pendakian kenikmatan mereka.</p>
<p style="text-align: justify;">Ketiga grup yang masih asyik dengan pergulatan mereka ini semakin mempercepat gerakan-gerakan mereka, mereka berlomba untuk mencapai puncak kenikmatannya masing-masing, nafas mereka semakin memburu, birahi mereka semakin menggelegak, keringat mereka semakin deras keluar dari tubuh mereka, desahan dan rintihan mereka terus menerus terdengar.</p>
<p style="text-align: justify;">Hilman semakin menggebu menggenjot penisnya keluar masuk dimemek Siska, Siska mengimbangi dengan putaran-putaran erotis pantatnya, Hilman menekan Siska memutar keatas, Hilman menarik Siska memutar kebawah, Hilman merasakan batang penisnya seperti dipilin-pilin, Hilmanpun melenguh keenakan bersahutan dengan rintihan nikmat Siska,</p>
<p style="text-align: justify;">“Uuggghh…penisku..seperti.dipilin-pilin..ooohh..terus..Tante..enak..sekali…nikmat…go yangan pantatmu…persis goyangan Inul…oouughh..terus..tante…terus..putar..goyang…aa hhhh,” Hilman melenguh.</p>
<p style="text-align: justify;">“Kooontoolmmu…jugaa…oooghhh….enaak…terus..tekan yang dalam…yang kuaat..agghh… enak….nikmaaat…yang cepat….puaskkaan. aku…,”Siska merintih-rintih keenakan.</p>
<p style="text-align: justify;">Feri dan Nanangpun mempercepat gerakan tangan mereka yang menaik turunkan tubuh Rina, gerakan penis mereka semakin cepat keluar masuk dilubang vagina dan pantat Rina, secepat gerakan naik turun tubuh Rina, Rina mendesah-desah menikmati sodokan-sodokan dua batang penis, Feri dan Nanangpun melenguh keenakan merasakan jepitan kuat di penis mereka.</p>
<p style="text-align: justify;">“Oohhhh…enaakk…aaghh..terus..terus…yang cepat…yang dalam…terus..ooohh..enak sekali dientot kaliann…oooghh…aaagghh…kkooontooll..kaliann nikmaat..aaghh…sshhh..aaahhh… oohhh…,”Rina mendesah keenakan.</p>
<p style="text-align: justify;">“Ooohh….Tante …memekmu jugaaa..enakk….oohhh…,”Feri melenguh.</p>
<p style="text-align: justify;">“Iyaah..Bu…pantatmu juga sempit sekalii…ooohh…nikmat…,”Nanang melenguh.</p>
<p style="text-align: justify;">“Aaaaghhh….terusssss…tekaaann…hmmppp..sslrrppp…kko ontooll..kkaaaliann..hhmmpp..sslrrpp<br />
aaaaghh..sshhh…hhmmppp…yang dalam..uuhuukk…uuhuukkk..nikmat….aaghh..ssshh..ooh h… hmmmmppp…sllrppp…,”Dewipun ikut mengerang-erang keenakan sambil tersedak-sedak saat penis Acep menyentuh anak tekak dan tenggorokannya.
</p>
<p style="text-align: justify;">“Tante….Ooohhh..ssedot punyakuuu..aaahhh..nikmat sekali seponganmu…Tante…hebat..aahhh ….terus Tantee.,..terusss..sedot yang kuattt…hhmm..aahhh…,”Acep mengerang-erang keenakan.</p>
<p style="text-align: justify;">Hendra sambil menikmati penisnya yang sedang keluar masuk di memek Dewi sibuk dengan kedua payudara Dewi yang berguncang dihadapan matanya, mulutnya bergiliran menghisap dan menjilati kedua putingnya bergiliran kiri dan kanan, tangannya aktif meremas-remas kedua payudara itu, membuat kenikmatan Dewi semakin bertambah, Edwin dengan gencarnya menyodok-nyodokkan penisnya dilubang pantat Dewi, kedua tangannya ikut membantu gerakan maju mundurnya dengan berpegangan pada pinggang Dewi, saat ia menekan masuk penisnya tangannya menarik kuat pinggang Dewi sehingga penisnya melesak masuk lebih dalam lagi dilubang pantat Dewi, bukan hanya penisnya saja yang masuk lebih dalam tetapi penis Hendrapun menyeruak masuk lebih dalam sampai ujung kepala penis Hendra menyentuh dinding rahim Dewi dengan kuat, tatkala Edwin menarik mundur penisnya tangannya mendorong maju tubuh Dewi, begitu seterusnya lama-lama gerakannya semakin bertambah cepat.</p>
<p style="text-align: justify;">Gerakan tubuh Hilman semakin tidak beraturan, tubuhnya dan tubuh Siska mulai bergetar, kaki Siska mulai mengait dibelakang pinggang Hilman, terlihat kaki Siska mulai meregang, pantatnya terangkat, tubuhnya melenting, matanya terpejam, dari mulutnya terdengar desahan-desahan, dan</p>
<p style="text-align: justify;">Sssssrrrr…ssrrrr…ssrrr… vagina Siska menyemburkan lahar kenikmatannya membasahi penis Hilman.</p>
<p style="text-align: justify;">“Ooogghhh…akuu..keluarr….nikmatt..ooghh..ssshh..aa hhh..enaak….koontollmu…betuul..betull… maaanttapp…aaghh..sshhh..aahh…oooohhh….tekan yang ddaaalllaammm….,”Siska mengerang menyambut puncak birahinya yang berhasil ia rengkuh.</p>
<p style="text-align: justify;">Hilman semakin mempercepat gerakannya, dan kemudian Hilman menekan penisnya dalam-dalam dilubang memek Siska, penisnya mengejut-ngejut menyemburkan spermanya di lubang senggama Siska,</p>
<p style="text-align: justify;">Creettt…creett..creett… Siska merasakan dinding rahimnya hangat oleh semprotan sperma Hilman.</p>
<p style="text-align: justify;">“Aaahhh…Tantee..aku juga keluar…memekmmu betull enak..aaaghhh…,”Hilman mengerang.</p>
<p style="text-align: justify;">Saat Siska dan Hilman saling menyemburkan lahar kenikmatan mereka, Rina melenguh panjang,</p>
<p style="text-align: justify;">“Oouughhh….aaaku…keluuaaarr….aaaachhh..nikmatnya…d ieentoot..kaliann…aaahhh..sshhh… ooohhh…aaaaaahhhh…,” Rina melenguh, puncak kenikmatannya berhasil ia raih, tubuhnya bergetar hebat, pahanya terlihat mengejang, pantatnya mengejut-ngejut saat vaginanya menyemburkan lahar kenikmatannya.</p>
<p style="text-align: justify;">Sssssrrrr…..ssrrrr…..ssssrrr….vaginanya semakin bertambah basah akibat semburan cairan kepuasan Rina.</p>
<p style="text-align: justify;">Hampir bersamaan Feri dan Nanangpun mencapai puncak birahi mereka, mereka menurunkan tubuh Rina kebawah menyambut sodokan penis mereka, sehingga penis mereka menghujam dalam-dalam dilubang memek dan pantat Rina, penis mereka berbarengan mengejut-ngejut mengeluarkan pejuhnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Creeettt..ccreeettt…creettt…Rina merasakan hangatnya pejuh mereka berdua menyirami kedua lubangnya.</p>
<p style="text-align: justify;">“Ooohhh…aaku juga keluar ….Tante…eenaakkk…nikmatnya…memekmu inii…,”erang Feri.</p>
<p style="text-align: justify;">“Akku juga kkeeluar…aaaghh…aaahhh…oohhh…Bu….ooohhh..,”Nanang mengerang hampir bersamaan dengan erangan Feri.</p>
<p style="text-align: justify;">Mendengar erangan kepuasan kedua temannya membuat Dewi semakin ingin cepat-cepat menuntaskan hasrat birahinya, tubuhnya dimaju mundurkan lebih cepat, sedotan-sedotannya semakin menggila dipenis Acep, Acep yang mendapat serangan itu menjadi kelabakan, penisnya mulai mengejut-ngejut..dan creettt..creett..creett..</p>
<p style="text-align: justify;">“Tanteee..aku keluuaar..oohh…gila sepongan Tante…aaahh..enak..betull…,” Acep mengerang, tubuhnya bergetar hebat, pantatnya ia tekan kedepan, penisnya melesak lebih dalam di mulut Dewi.</p>
<p style="text-align: justify;">“Uuhuukk…uuhuukk….gleeekk…uuhuukk..uuhukk..gleekk… .sssslrpp..uuhuukk…hmmppp…gleek…sslrrpp..hhmmpp…ss lrrpp…,” Dewi tersedak-sedak akibat lesakan penis Acep yang menyentuh dinding tenggorokannya dan terjangan sperma Acep ditenggorokannya yang langsung masuk mengalir kedalam perutnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Gerakan Dewi terhenti sebentar saat ia sedang tersedak itu, tapi gerakan Edwin dan Hendra tidak berhenti, malahan mereka semakin meningkatkan akselarasi penis mereka dilubang memek dan pantat Dewi.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah penis Acep tuntas meneteskan tetes terakhir spermanya, Dewi kembali mengikuti gerakan Edwin dan Hendra dengan memaju-mundurkan tubuhnya menyambut sodokan penis-penis mereka.</p>
<p style="text-align: justify;">Tubuh mereka mulai bergetar dengan hebat, gerakan tubuh mereka mulai tidak beraturan, dan tiba-tiba dengan satu kali sentakan kuat Edwin menarik pantat Dewi kebelakang dan Edwin sendiri mendorong maju pantatnya, penisnya dan penis Hendra terbenam lebih dalam di lubang memek dan pantat Dewi.</p>
<p style="text-align: justify;">Ccreeettt…ccreeettt…ccreeett…sssrrr…sssrrr…sssrrr… ccrreeettt..cccreett…ccreett….hampir bersamaan ketiga kemaluan mereka mengeluarkan lahar kenikmatannya.</p>
<p style="text-align: justify;">Tubuh mereka mengejang dan meregang, mereka bertiga menggelepar menyambut kedatangan puncak kenikmatan mereka, suara erangan mereka bersahutan.</p>
<p style="text-align: justify;">“Ohhh….Tantee..aku keluaar…nikmaatttnya..pantatmu ini..aaahh..ooohh..,”Edwin mengerang.</p>
<p style="text-align: justify;">“Akuu juga Tanteee..aakuu…keluarr…aaahhh..meemekmu..enaak…Tan tee…,”Hendra mengerang juga.</p>
<p style="text-align: justify;">“Shhh….aaaghh…ooohhhh…koontolll..kaliann…betulll hebatt…aaku ppuaass..sekali.dientott…. oleh…kaliaan…aaaghh…ssshhh..aahhh….ssshhh..aaahh…. ,”Dewipun merintih-rintih menikmati terjangan lahar kenikmatannya yang sedang muncrat.</p>
<p style="text-align: justify;">Pesta Ulang Tahun anaknya Doni berhasil Dewi rubah menjadi pesta seks yang tidak akan pernah dilupakan oleh dia ataupun teman-temannya, dan tentu juga yang pastinya tidak akan dilupakan oleh Doni beserta teman-temannya, dan sudah jelas pesta ini tidak akan dilupakan oleh Gito cs.</p>
<p style="text-align: justify;">Pesta seks ini terus berlanjut sampai matahari bersinar dengan teriknya dan mereka semua telah kehabisan tenaga serta nafsu birahi mereka semua betul-betul telah terlampiaskan, entah berapa kali mereka semua mendapatkan puncak kenikmatan dari persetubuhan itu, tapi yang jelas para lelaki yang ada dipesta ini merasakan tubuh kelima wanita itu.</p>
<p style="text-align: justify;">TAMAT.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ceritasex.cn/dewi-maniak-seks-pesta-ulang-tahun-anaknya-bagian-7-tamat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Dewi Maniak Seks &#8211; Pesta Ulang Tahun Anaknya Bagian 4</title>
		<link>http://www.ceritasex.cn/dewi-maniak-seks-pesta-ulang-tahun-anaknya-bagian-4/</link>
		<comments>http://www.ceritasex.cn/dewi-maniak-seks-pesta-ulang-tahun-anaknya-bagian-4/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 26 Nov 2009 02:24:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cerita Sex</dc:creator>
				<category><![CDATA[Gangbang Rame Rame]]></category>
		<category><![CDATA[Paruh baya]]></category>
		<category><![CDATA[Pemerkosaan]]></category>
		<category><![CDATA[Tante Girang]]></category>
		<category><![CDATA[anal seks]]></category>
		<category><![CDATA[anal]]></category>
		<category><![CDATA[cuki]]></category>
		<category><![CDATA[dewi]]></category>
		<category><![CDATA[gangbang]]></category>
		<category><![CDATA[hani]]></category>
		<category><![CDATA[lonte]]></category>
		<category><![CDATA[ngentot]]></category>
		<category><![CDATA[nita]]></category>
		<category><![CDATA[pelacur]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ceritasex.cn/?p=1072</guid>
		<description><![CDATA[Saat Hani sedang sibuk mengulum-ngulum kontol Dedi dan Anto, Nita juga melakukan hal yang sama terhadap batang kemaluan Roni dan Doni, kontol Roni dan Doni bergiliran keluar masuk di mulut Nita, batang kemaluan mereka semakin menegang dan mengeras. Tak lama berselang Doni berjongkok dibelakang Nita yang sedang asyik mengulum-ngulum kontol Roni, dipeluknya Nita dari belakang, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Saat Hani sedang sibuk mengulum-ngulum kontol Dedi dan Anto, Nita juga melakukan hal yang sama terhadap batang kemaluan Roni dan Doni, kontol Roni dan Doni bergiliran keluar masuk di mulut Nita, batang kemaluan mereka semakin menegang dan mengeras.</p>
<p style="text-align: justify;">Tak lama berselang Doni berjongkok dibelakang Nita yang sedang asyik mengulum-ngulum kontol Roni, dipeluknya Nita dari belakang, kedua tangan Doni meraih dan mulai meremas kedua payudara Nita yang ranum, kadang-kadang diselingi dengan pilinan-pilinan di kedua putingnya, sementara batang kemaluannya ia selipkan kebawah dan digesek-gesekkannya kebibir vagina Nita yang mulai membasah oleh cairan pelicinnya, tidak hanya itu saja yang dilakukan oleh Doni, ia juga mulai menciumi dan menjilati tengkuk dan punggung Nita, Nita mendesah lirih mendapat serangan dari Doni ini, nafsu birahinya semakin memuncak meminta untuk dituntaskan, selomotannya dikontol Roni semakin bertambah cepat diselingi dengan hisapan-hisapan kuat sehingga membuat Roni mengerang keenakan diperlakukan seperti itu oleh Nita.</p>
<p style="text-align: justify;">Doni yang merasakan vagina Nita yang sudah semakin basah, kemudian ia merebahkan dirinya lalu perlahan-lahan ia menggeserkan tubuhnya kebawah tubuh Nita yang sedang berjongkok, Nita yang merasakan gesekan paha Doni di kedua kakinya mengarahkan tangannya untuk menggapai kontol Doni, setelah posisi kontol Doni tepat dibawah lubang vaginanya, Nita mulai mengoles-oleskan kepala kontol Doni di kelentitnya, lalu Nita mulai menyelipkan kepala kontol Doni dilubang memeknya, ssleeeppp…..kepala kontol Doni mulai terjepit oleh vagina Nita, sambil tidak melepaskan permainan mulutnya di kontol Roni, Nita mulai menurunkan pantatnya perlahan-lahan, Nita merasakan kontol Doni mulai menerobos masuk kedalam lubang senggamanya, kedutan batang kemaluan Doni dapat dirasakan oleh dinding lubang vaginanya, matanya terbeliak saat kontol Doni mulai menyeruak masuk dilubang vaginanya, mulutnya menggumam tidak jelas karena tersumpal oleh kontol Roni.</p>
<p style="text-align: justify;">Doni merasakan memek Nita betul-betul sempit, batang kemaluannya terjepit dengan erat oleh dinding vagina Nita, Doni merasakan hangatnya lubang senggama Nita dan ia juga merasakan dinding vagina Nita berdenyut-denyut seolah-olah sedang meremas-remas kontolnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Blleeess…..bleeeesss….bleessss…kontol Doni sedikit demi sedikit mulai tertelan didalam lubang senggama Nita, sambil menikmati eratnya jepitan memek Nita, Doni mengelus-elus punggung dan pantat Nita, sambil mulutnya mengeluarkan suara lenguhan saat merasakan kontolnya yang semakin lama semakin dalam menerobos memek Nita, bleesss…bleesss…akhirnya kontol Doni terbenam seluruhnya didalam rongga memek Nita, setelah mendiamkan sesaat Nita mulai menaik turunkan pantatnya perlahan-lahan, Nita merasakan batang kemaluan Doni yang besar sedang menggeser-geser dinding vaginanya dengan ketat sekali, rasanya berbeda dengan yang ia rasakan saat dientot oleh suaminya ataupun Nanang, Doni tidak dapat melihat mimik muka Nita yang sedang keenakan itu, karena posisi Nita yang membelakanginya, Roni yang melihat raut wajah Nita yang sedang merasakan keenakan itumenjadi bertambah nafsu, sambil tangan kirinya memegangi bagian belakang kepala Nita, tangan kanannya mulai beraksi meremas-remas payudara Nita dan memilin-milin putingnya, Nita semakin keenakan dibuatnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Lenguhan dan desahan Nita sering terdengar, hampir bersahutan dengan lenguhan dan desahan Hani yang saat itu juga sedang menikmati sodokan Dedi dan Anto, kedua wanita itu betul-betul menikmati persetubuhan mereka ini.</p>
<p style="text-align: justify;">“Ooougghh…hhhmmmppp…sssllrppp…eeenak…hhmmpp..slrrp p…kontol kalian…besar…hhmm ..ssllrppp…,”desah Nita sambil tetap mengulum-ngulum kontol Roni.</p>
<p style="text-align: justify;">Doni membantu gerakan naik turun Nita dengan memegangi pinggang Nita, lalu mendorong naik dan menarik turun tubuh Nita, semakin lama semakin cepat gerakan tangan Doni, dan kedua bukit kembar Nita terombang-ambing naik turun, menambah gemas ingin meremas bagi yang melihatnya.</p>
<p style="text-align: justify;">“Shhh…ooohh…hhmmpp…sllrppp…sssshh…ooohhhh…eenak…te russ…ooohh..hhmmm..sllrpp.. makin cepat..oohh…sshhh..aahhh…hhhmmmppp..sslrrpp…,”Nita merintih keenakan.</p>
<p style="text-align: justify;">“Remas ….oohh….hhmm..tetekku…ssllrrpp…hhmm..ssshh…aahhh…y ang kuat…pilin..sslrrpp… sshh..aaahh…putingnya..oohh…yah..gitu..ssllrrpp…oo ohh..enak…nikmat…,”Nita merintih lagi.<br />
<span id="more-1072"></span><br />
Roni meremas-remas kedua payudara Nita bergantian kiri dan kanan sambil diselingi dengan pilinan-pilinan di kedua putingnya yang semakin mencuat, selang tak lama Roni kemudian berlutut dan mulai menciumi bibir Nita dengan bernafsu, lidahnya menjulur masuk kedalam rongga mulut Nita mencari lidah Nita, kedua lidah mereka mulai menari bersama didalam rongga mulut Nita, saling bertautan, saling bersentuhan, nafas mereka berdua semakin memburu penuh nafsu, tangan Roni perlahan-lahan merayap turun kebawah mengarah keselangkangan Nita, yang dituju oleh Roni adalah kelentit Nita, jari tangannya mulai menyentuh kelentit Nita, dengan lembut kelentit Nita mulai digesek-geseknya, kemudian kelentit Nita dijepit oleh kedua jari tangannya, setelah kelentit Nita terjepit oleh kedua ttangannya, Roni mulai menggerakkan jari-jari tangannya dengan lembut, kelentit Nita semakin menyembul keluar akibat perlakuan jari tangan Roni, terlihat tubuh Nita bergetar hebat menikmati sensasi permainan tangan Roni dipadu dengan sodokan-sodokan kontol Doni, pantatnya kadang-kadang mengejut-ngejut, erangan dan desahannya semakin sering terdengar dari mulutnya, apalagi mulut Roni mulai menghisap-hisap kedua puting susunya kiri dan kanan bergantian, matanya merem melek menikmati terpaan gelombang birahinya yang semakin membesar.
</p>
<p style="text-align: justify;">“Oooohhh….ssshhh…aaahh…ooohhh…sshhh..aahhh…enak…te rus….enak…nikmat…sshh.. ahhh…yang kuat …ssshh…aaahhh..yang dalam…ooohh…,”Nita melenguh keenakan.</p>
<p style="text-align: justify;">“hisap tetekku…ooohh..sssh…enakk…yang kuat…hhhmmm…sshh…aahhh…,”kembali Nita melenguh.</p>
<p style="text-align: justify;">Selang tak lama, seiring dengan menekan pantatnya kebawah sekali Nitapun memeluk tubuh Roni dengan erat, tubuhnya mengejang, pantatnya mengejut-ngejut, kakinya yang tadi sedang dalam posisi jongkok sekarang bersimpuh tidak kuat menahan serangan gelombang birahinya yang telah mencapai titik klimaksnya, terlihat kedua kakinya bergetar dengan hebat, dan ssssrrrrrr……sssssrrr……ssssssrrrr….. lahar kenikmatannya menyembur dengan kuat membasahi kontol Doni, pelukannya ditubuh Roni semakin erat, dari mulutnya keluar lenguhan panjang, matanya terpejam.</p>
<p style="text-align: justify;">“Oooogghhhh..aku keluar…enak sekali…ooohhh…aahhh..ssshhh..aaahhh…,”lenguh Nita.</p>
<p style="text-align: justify;">Doni merasakan dinding vagina Nita berdenyut kencang seirama dengan semburan-semburan lahar kenikmatannya yang memyirami kontolnya, Roni yang merasakan pelukan Nita ditubuhnya semakin erat, semakin mempercepat gerakan-gerakan jari tangannya di kelentit Nita.</p>
<p style="text-align: justify;">“Ooohh..nikmat sekali …ooohh…enak sekali …ooohh…aku betul-betul puas…ooohh,”Nita mendesah menikmati puncak klimaksnya yang baru saja ia raih.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah pelukan Nita ditubuhnya mulai mengendur Roni mulai menciumi bibir Nita dengan lembut, mereka berpagutan dengan lembut, tangan Ronipun beralih kepunggung Nita dan mengusap-usap lembut punggung Nita, sementara Doni menimpali dengan meremas-remas kedua bongkah pantat Nita dengan lembut.</p>
<p style="text-align: justify;">Sementara itu saat Nita berhasil merengkuh puncak kenikmatannya, Hanipun berhasil mencapai puncak klimaksnya, jerit kenikmatan mereka terdengar hampir bersamaan, dan ini adalah yang untuk ketiga kalinya mereka berhasil meraih puncak kenikmatan mereka, hal yang belum pernah mereka alami selama ini, untuk satu kali saja mereka berhasil meraih puncak kepuasannya hampir tidak pernah mereka alami, apalagi sampai tiga kali seperti sekarang ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Keempat anak muda ini memberikan kesempatan kepada Hani dan Nita untuk menikmati sisa-sisa kenikmatan yang baru saja mereka raih, hanya Roni dan Anto saja yang menciumi bibir Hani dan Nita dengan lembut, untuk sekedar menambah sensasi kenikmatan yang baru saja Hani dan Nita raih.</p>
<p style="text-align: justify;">Nafas Hani dan Nita mulai terdengar normal kembali, vagina mereka sudah berhenti berkedut, lahar kenikmatan merekapun sudah berhenti menyembur. Mereka berenam terlihat mulai merubah posisi mereka, nampaknya mereka akan memulai babak baru persetubuhan mereka.</p>
<p style="text-align: justify;">Tanpa melakukan oral seks lagi, mereka langsung melakukan babak persetubuhan itu, Anto dan Roni segera merebahkan tubuh mereka diatas karpet, Hani dan Nita menaiki tubuh mereka dan meraih batang-batang kemaluan mereka, kemudian menyelipkan batang-batang kemaluan tersebut dilubang vagina mereka, sssleeeppp….ssleeppp … kontol Anto terjepit vagina Hani dan kontol Roni terjepit vagina Nita, dengan waktu hampir bersamaan Hani dan Nita mulai menurunkan pantat mereka, bbleeess…..bleeesss….bbleessss…. perlahan-lahan kontol Anto dan Roni mulai menerobos masuk sedikit demi sedikit dilubang senggama Hani dan Nita, akhirnya batang kemaluan Anto dan Roni tidak terlihat lagi, seluruh batang kemaluan mereka tertelan didalam gelapnya lubang senggama Hani dan Nita.</p>
<p style="text-align: justify;">Dedi dan Doni yang sedang berjongkok dibelakang Hani dan Nita melihat semua proses penerobosan batang kemaluan Anto dan Roni, mulai bergerak setelah melihat kedua kontol teman mereka itu tenggelam dilubang kehangatan Hani dan Nita, mereka berbarengan mengarahkan pedang wasiat mereka kelubang pantat Hani dan Nita, diselipkan kepala kemaluan mereka dilubang pantat Hani dan Nita, sslleeeppp….ssleeeeppp… Hani dan Nita terpekik saat kepala kontol mereka mulai menerobos lubang pantat itu, karena kepala kontol yang barusan menerobos masuk itu lebih besar dari kepunyaan Parmin, rasa perih mereka alami lagi tapi tidak seperih saat pertama kali lubang mereka diterobos oleh Parmin, bblleeeess….bbleeesss…. bleesss… bleeess… Dedi dan Doni hampir berbarengan mendorong masuk batang-batang mereka kedalam lubang pantat Hani dan Nita.</p>
<p style="text-align: justify;">Tiba-tiba tangan Doni dan Dedi yang sedang memegangi pinggang Nita dan Hani, menarik kuat-kuat pinggang Hani dan Nita, akibatnya batang-batang kemaluan mereka terbenam seluruhnya didalam lubang pantat Nita dan Hani.</p>
<p style="text-align: justify;">“Aiiii…ooougghh…..pelan…,”Hani dan Nita menjerit bersamaan.</p>
<p style="text-align: justify;">Sssrrrtttt…bbleeess….sssrtttt…bleesss….. kontol keempat anak muda itu mulai keluar masuk didalam lubang-lubang Hani dan Nita seirama dengan gerakan tangan Doni dan Dedi yang mendorong dan menarik tubuh kedua wanita itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Tubuh Hani dan Nita bergerak maju mundur, kedua payudara merekapun bergoyang maju mundur, Anto dan Roni yang melihat ini mulai mengangkat kepala mereka, kedua tangan mereka mulai memegangi payudara yang sedang berguncang itu, sambil meremas-remas payudara itu mereka mulai menjilati puting-puting payudara tersebut dan kadang-kadang dihisap-hisap puting-puting tersebut. Suara decakan dan hisapan terdengar dari mulut Anto dan Roni, bersahutan dengan suara rintihan keenakan Hani dan Nita, menambah suasana menjadi ramai, nafsu birahi Gito cs yang menyaksikan aksi mereka dari tadi semakin bertambah, batang-batang kemaluan mereka berempat sudah menegang lagi, secara bersamaan mereka berempat beranjak menghampiri mereka berenam yang sedang asyik masyuk bersenggama.</p>
<p style="text-align: justify;">Parmin dan Gito berlutut disamping kiri dan kanan Nita, sementara Nanang dan Udin berlutut disamping kiri dan kanan Hani, batang-batang kemaluan mereka yang tegak berdiri disodorkan kepada kedua wanita itu, Hani dan Nita segera meraih batang-batang kemaluan itu, secara bergiliran Hani dan Nita mulai meng-oral batang-batang kemaluan tersebut, saat sedang meng-oral batang kemaluan yang satu yang satunya mereka kocok-kocok dengan tangan mereka, Gito cs dibuat melenguh-lenguh menikmati permainan mulut dan tangan kedua wanita itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Dewi terlihat sedang duduk diruangan tamu, ia sudah tidak sibuk lagi dengan teleponnya, nampaknya ia sedang menunggu kedatangan orang.</p>
<p style="text-align: justify;">Saat Hani dan Nita sedang sibuk melayani nafsu birahi kedelapan lelaki itu, sebuah mobil masuk kepekarangan rumah Dewi, Dewi yang melihat sinar lampu mobil tersebut segera beranjak kepintu rumahnya lalu ia membuka pintu rumahnya, Dewi hanya menjulurkan kepalanya untuk melihat siapa yang datang, karena saat itu Dewi tidak mengenakan sehelai benangpun, Dewi melihat 7 anak muda turun dari mobil tersebut, senyum simpul tersungging di wajahnya, tenaga baru sudah datang batinnya berkata.</p>
<p style="text-align: justify;">Yang datang memang teman-temannya Doni yang tadi Dewi teleponin, ke 7 anak muda itu terperanjat saat mereka melangkah masuk kedalam rumah, mereka melihat pemandangan yang tidak pernah mereka bayangkan sebelumnya, mereka melihat tubuh Dewi yang tidak tertutupi oleh sehelai benangpun. Tidak pernah terlintas dalam pikiran mereka akan menyaksikan mamihnya Doni telanjat bulat, apalagi mereka tidak menyangka mamihnya Doni masih muda dan sexy, mereka memang untuk pertama kalinya datang bertandang kerumah Doni, berbeda dengan Roni, Dedi dan Anto yang sering bermain kerumah Doni, pendulum mereka mulai bergerak naik, darah muda mereka berdesir melihat kedua payudara Dewi yang ranum, turun kebawah mereka melihat gundukan semak hitam diselangkangan Dewi, wajah Dewi yang cantik, tubuh yang sexy dan senyum simpul yang tersungging membuat gairah birahi ke 7 anak muda itu bergelora, saat ke 7 anak muda itu sedang terpesona oleh tubuh Dewi, sebuah mobil kembali masuk kedalam pekarangan rumah, dari mobil itu turun 2 wanita sexy dan cantik, usia mereka seumuran dengan Dewi dan kedua teman Dewi yang saat ini sedang menikmati persetubuhan.</p>
<p style="text-align: justify;">Kedua wanita itupun melangkahkan kakinya kearah pintu depan, saat kaki mereka melangkah kedalam rumah merekapun sama terperanjatnya dengan ke 7 anak muda tadi, Ke 7 anak muda itu tidak menyadari kehadiran 2 wanita ini, mereka masih terperangah melihat pemandangan didepan mata mereka.</p>
<p style="text-align: justify;">Kedua wanita itu adalah teman Dewi bernama Siska dan Rina, umur mereka memang hampir seumuran dengan Dewi, mereka sama cantiknya dengan Dewi ataupun Hani dan Nita, mereka berdua juga mempunyai tubuh yang sama-sama sexy seperti tubuh Dewi, Hani dan Nita, yang membedakan mereka adalah keduanya tidak mempunyai suami, mereka berdua adalah wanita simpanan entah pejabat entah orang kaya.</p>
<p style="text-align: justify;">Persamaan yang paling nyata dari kelima wanita ini adalah mereka membutuhkan kontol-kontol perkasa yang dapat memuaskan libido seks mereka yang tidak pernah mereka dapatkan dari pasangan mereka masing-masing.</p>
<p style="text-align: justify;">Ke 9 orang ini masih terkejut dengan apa yang dilihat oleh mereka saat ini, tapi Dewi yang menjadi pusat perhatian ini nampaknya tidak memperdulikan kekagetan mereka, setelah mengunci pintu rumahnya, Dewi mengajak mereka semua keruangan keluarga dimana saat itu Hani dan Nita sedang dikeroyok.</p>
<p style="text-align: justify;">Mata ke 9 orang yang baru datang ini semakin terbelalak melihat pemandangan diruangan keluarga, batang-batang kemaluan ke 7 anak muda yang baru datang itu semakin mengeras, celana mereka semakin menggembung, Dewi yang dari tadi selalu memperhatikan celana ke 7 anak muda itu menjadi tersenyum, sementara Siska dan Rina juga mulai terangsang melihat pemandangan itu dan mendengar suara desahan dan lenguhan Hani dan Nita yang sedang keenakan menerima sodokan-sodokan kontol.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ceritasex.cn/dewi-maniak-seks-pesta-ulang-tahun-anaknya-bagian-4/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Dewi Maniak Seks &#8211; Pesta Ulang Tahun Anaknya Bagian 3</title>
		<link>http://www.ceritasex.cn/dewi-maniak-seks-pesta-ulang-tahun-anaknya-bagian-3/</link>
		<comments>http://www.ceritasex.cn/dewi-maniak-seks-pesta-ulang-tahun-anaknya-bagian-3/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 26 Nov 2009 02:21:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cerita Sex</dc:creator>
				<category><![CDATA[Paruh baya]]></category>
		<category><![CDATA[Pemerkosaan]]></category>
		<category><![CDATA[Tante Girang]]></category>
		<category><![CDATA[anal seks]]></category>
		<category><![CDATA[anus]]></category>
		<category><![CDATA[dewi]]></category>
		<category><![CDATA[gangbang]]></category>
		<category><![CDATA[ngentot]]></category>
		<category><![CDATA[pesta seks]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ceritasex.cn/?p=1070</guid>
		<description><![CDATA[Setelah badai nafsunya mereda Dewi beranjak menuju kamar mandi untuk membersihkan Vaginanya dari sisa-sisa sperma Udin, melihat Dewi beranjak Hani dan Nita mengikutinya, dikamar mandi sambil membersihkan tubuh dan vaginanya masing-masing mereka merencanakan untuk melakukan persetubuhan dengan mereka lagi, nampaknya mereka betul-betul ketagihan merasakan sodokan-sodokan batang kemaluan para lelaki itu, selesai mereka membersihkan diri, Hani [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Setelah badai nafsunya mereda Dewi beranjak menuju kamar mandi untuk membersihkan Vaginanya dari sisa-sisa sperma Udin, melihat Dewi beranjak Hani dan Nita mengikutinya, dikamar mandi sambil membersihkan tubuh dan vaginanya masing-masing mereka merencanakan untuk melakukan persetubuhan dengan mereka lagi, nampaknya mereka betul-betul ketagihan merasakan sodokan-sodokan batang kemaluan para lelaki itu, selesai mereka membersihkan diri, Hani dan Nita kembali keruang keluarga sementara Dewi menuju ke dapur untuk membuat minuman, Hani dan Nita menyuruh para lelaki itu untuk membersihkan batang kemaluan mereka sebelum mereka memulai ronde selanjutnya, dengan gesit para lelaki itu menuju kekamar mandi bersamaan.</p>
<p style="text-align: justify;">Di dapur Dewi yang sedang membuat minuman tidak menyadari, bahwa saat itu anaknya Doni sudah berada di garasi bersama dengan 3 temannya, mereka memasukkan mobil kedalam garasi saat Dewi sedang berada didalam kamar mandi, sementara para lelaki tidak mendengar suara mobil datang karena suara musik di ruangan keluarga agak lumayan keras sehingga menutupi suara mobil Doni. Nampaknya Doni merencanakan sesuatu dengan ketiga temannya, karena kepulangan Doni lebih awal dari yang ia bilang ke Dewi. Doni mengetahui bahwa Dewi pernah melakukan seks dengan ketiga temannya yang saat sekarang ini bersama dia, dan dia mendengar cerita mereka saat mereka menyetubuhi Dewi, Doni tertarik untuk melakukan ramai-ramai bersama temannya sebelum pesta ulang tahunnya besok dimulai.</p>
<p style="text-align: justify;">Tapi Doni tidak mengetahui bahwa saat itu Dewi baru saja selesai pesta seks, ketika Doni membuka pintu garasi yang menghubungkan dengan dapur, Doni terkejut dengan pemandang yang ada dihadapannya, ia melihat tubuh Dewi yang tidak mengenakan sehelai kainpun sedang menyiapkan minuman, Doni tidak mau banyak berpikir kenapa Dewi bertelanjang bulat dan suara musik terdengar mengalun dari ruangan keluarga, yang saat ini ada dalam pikiran Doni dan ketiga temannya yang menyaksikan pemandangan itu adalah ‘Pucuk Dicinta Ulam Tiba’, keinginan mereka bakalan terwujudkan malam ini yaitu menyetubuhi Dewi beramai-ramai.</p>
<p style="text-align: justify;">“Ehhh…apa-apaan ini, siapa?…,”Dewi berkata setengah terkejut saat Doni memeluknya dari belakang.</p>
<p style="text-align: justify;">“Ssttt…Mih, Ini Doni..,”jawab Doni, sambil melanjutkan dengan menciumi tengkuk Dewi dan kedua tangannya meremas-remas kedua bukit kembar Dewi.</p>
<p style="text-align: justify;">“Ooohh…Don, kukira siapa, oooohhh….jangan disini, kita didalam saja,”Dewi mendesah mendapat serangan Doni, dan ia melepaskan tangan Doni dari kedua bukit kembarnya, Dewipun membalikkan badannya berhadapan dengan Doni.</p>
<p style="text-align: justify;">Dewi tambah terkejut saat tubuhnya berhadapan dengan Doni, karena bukan hanya Doni yang datang tapi ada ketiga temannya Doni yang pernah melakukan seks dengan dia, dengan sedikit salah tingkah Dewi mencoba menutupi kedua payudaranya dan selangkangannya, tapi hal itu dicegah oleh Doni, kedua tangan Dewi dipegang oleh Doni sambil Doni membisikkan sesuatu ketelinga Dewi, mendengar itu muka Dewi menjadi merah, tapi otaknya berpikir dengan cepat, pesta malam ini akan menjadi tambah seru karena kedatangan tenaga baru dan muda, dengan cepat diajaknya ke 4 anak muda ini kedalam sambil tidak lupa untuk menyuruh mereka membawa minuman yang sudah dibuatnya tadi.</p>
<p style="text-align: justify;">Doni dan ketiga temannya terperanjat saat sampai diruangan keluarga begitu pula dengan Gito cs, yang menyambut kedatangan mereka dengan penuh gembira hanyalah Nita &amp; Hani, jalan pikiran mereka hampir sama dengan Dewi, yaitu kedatangan tenaga baru yang masih muda.</p>
<p style="text-align: justify;">Hani dan Nita langsung menyambut keempat anak muda itu, dengan gesit mereka melucuti baju mereka satu persatu sehingga keempatnya sekarang sama-sama telanjang bulat, Nita dan Hani berdecak kagum melihat keempat batang kemaluan mereka yang sudah berdiri tegak dan ukurannya hampir sama, tapi yang jelas kepunyaan keempat anak muda ini lebih besar dan panjang daripada kepunyaan Gito cs, dengan bernafsu Hani dan Nita mulai menyerbu keempat batang kemaluan itu, Hani memegang 2 batang begitu juga dengan Nita, lalu mereka mulai menyelomoti kontol-kontol tersebut, yang satu diselomoti dan dikulum-kulum yang satunya dikocok-kocok dan diremas-remas lembut oleh tangan Hani dan Nita.<br />
<span id="more-1070"></span><br />
Gito cs asyik menonton ‘live show’ yang dilakukan oleh Hani dan Nita serta keempat anak muda itu, sementara itu Dewi berpikir tentang mengundang sisa teman-teman Doni untuk datang malam ini, ia mempunyai rencana untuk membuat pesta ulang tahun Doni dirayakan tepat jam 12 malam, lalu ia membisikkan sesuatu ketelinga Doni, dijawab oleh Doni dengan anggukan, kemudian Doni membisikkan sesuatu ketelinga Dewi, Dewi mengangguk dan langsung mengambil HP Doni, Dewi beranjak meninggalkan ruangan menuju ke dapur, di dapur terlihat Dewi sibuk berbicara di HP Doni.
</p>
<p style="text-align: justify;">Anto dan Dedi yang saat itu sedang menikmati permainan tangan dan mulut Hani mengimbangi permainan Hani dengan meremas-remas payudara Hani dan memilin-milin puting susunya Hani, Hani menikmati remasan-remasan tangan mereka di kedua payudaranya serta pilinan-pilinan di kedua putingnya, membuat ia semakin bernafsu mengulum-ngulum kedua batang kemaluan Anto dan Dedi, kedua batang kemaluan Anto dan Dedi bergantian dikulum-kulum oleh Hani, saat Hani mengulum dan menyelomoti serta menjilati kontol Anto tangannya sibuk meremas dan mengocok-ngocok kontol Dedi, begitu juga sebaliknya saat mulut Hani sibuk dengan kontol Dedi tangannya sibuk mempermainkan kontol Anto, Anto dan Dedi betul-betul menikmati permainan Hani, batang kemaluan mereka semakin menegang dan mengeras, nafsu Anto dan Dedi tidak dapat dibendung lagi dengan bersamaan mereka mengangkat tubuh Hani untuk berdiri, lalu kedua anak muda ini mulai menyerang Hani, Anto diatas dan Dedi dibawah, Anto dengan bernafsu mulai menciumi, menjilati, menghisap-hisap kedua payudara Hani bergantian antara kiri dan kanan, sementara Dedi berjongkok sibuk menjilati kelentit Hani dan menghisap-hisapnya, serangan mereka membuat Hani mendesah keenakan, tubuhnya gemetar menahan laju nikmat yang sangat luar biasa.</p>
<p style="text-align: justify;">“Ooohh…hisap tetekku…ooohh itilku juga hisap yang kuat….aaahhh…enak,”desah Hani.</p>
<p style="text-align: justify;">“remas-remas tetekku…yaahh..terus…oohh..hisapp…remas…ooohh,”Han i mendesah lagi.</p>
<p style="text-align: justify;">“Ooohhh…hisap itilku…yaahh..enakk..terus..kocok memekku dengan jari..yah …hhmmm..aaahh.. terus…puaskan aku…hhhmm..aahhh…,”lagi-lagi Hani mendesah-desah keenakan.</p>
<p style="text-align: justify;">Kemaluan Hani semakin basah akibat perlakuan kedua anak muda itu, cairan pelicinnya semakin banyak keluar, membasahi jari-jari Dedi yang sedang keluar masuk di lubang memek Hani, gerakan jari tangan Dedi semakin cepat keluar masuk dilubang memek Hani, tubuh Hani meliuk-liuk menahan arus nikmat yang luar biasa, pantatnya terlihat mengejut-ngejut saat Dedi menghisap kelentitnya serta mengocok lubang vaginanya, desahan-desahan nikmat keluar tanpa henti dari mulut Hani, kepalanya mendongak dengan mata terpejam.</p>
<p style="text-align: justify;">Anto dan Dedi merasakan batang kemaluannya semaklin mengeras saja mendengar desahan Hani, mereka kemudian menghentikan aksinya, kemudian mereka menyuruh Hani merangkak, Anto lalu berlutut tepat dihadapan Hani dan segera menyodorkan kontolnya kemulut Hani yang langsung disambut oleh Hani dengan penuh nafsu, sambil tangannya memegangi kepala Hani, Anto menekankan dan menarik kepala Hani sehingga kontolnya keluar masuk mulut Hani, bibir Hani menjepit kuat batang kemaluan Anto, kadang-kadang karena terlalu menekan kebawah kepala kontolnya menyentuh anak tekak Hani, sehingga membuat Hani tersedak, sementara Anto mulai beraksi di mulut Hani, Dedi berjongkok dibelakang Hani dan mengarahkan kepala kontolnya kearah lubang vagina Hani, ssleeeppp…diselipkannya kepala kontolnya tepat dilubang memek Hani.</p>
<p style="text-align: justify;">Dedi mulai mendorong masuk kontolnya perlahan-lahan kedalam lubang memek Hani, bleess….. bleesss….bleesss… sedikit demi sedikit batang kemaluannya mulai terbenam didalam lubang senggama Hani, Dedi merasakan memek Hani sangat menjepit erat kontolnya, Hani sendiri merasakan memeknya menjadi penuh sesak oleh kontol Dedi, Dedi mendiamkan sebentar kontolnya yang baru masuk setengahnya, ia merasakan memek Hani seperti meremas-remas kontolnya, nampaknya otot dinding vagina Hani sedang bekerja hendak menyesuaikan dengan ukuran batang kemaluan Dedi.</p>
<p style="text-align: justify;">“Terus jangan berhenti…tekan lebih dalam lagi kontolmu..Ooohhh..enak sekali … kontolmu… hhhmmmm…..ssllrppp….oouughhhh,” Hani merintih sambil melahap kontol Antol lagi.</p>
<p style="text-align: justify;">Mendengar itu Dedi lalu mendorong lagi kontolnya untuk masuk lebih dalam bleesss….blesss….blesss…perlahan-lahan batang kemaluan Dedi akhirnya masuk semua kedalam lubang senggama Hani.</p>
<p style="text-align: justify;">“Uugghhh…gila To, memeknya sempit sekali, kayanya jarang dipake nih ama lakinya….,”Dedi berkata kepada Anto.</p>
<p style="text-align: justify;">“Tar giliran, gw masih asyik dengan sepongannya…gila ..ahli banget dia nyepong kontol nich,” Anto menjawab.</p>
<p style="text-align: justify;">Tangan Anto kemudian beralih meremas-remas payudara Hani yang mulai bergoyang kedepan dan kebelakang seirama dengan sodokan-sodokan Dedi yang mulai mengeluar masukkan kontolnya dilubang memek Hani.</p>
<p style="text-align: justify;">Hani dibuat merem melek oleh mereka berdua, desahan dan rintihan keenakan semakin sering keluar dari mulutnya yang sibuk menyepong kontol Anto, tubuhnya gemetar menahan arus kenikmatan yang menerjang dengan kuat, Hani merasakan lubang vaginanya berdenyut semakin cepat secepat sodokan-sodokan kontol Dedi, tubuhnya mulai bergetar hebat, paha dan pantatnya mulai mengejut-ngejut, menyambut datangnya puncak kenikmatannya, tak lama berselang Hani melenguh panjang, vaginanya berdenyut-denyut menyemburkan lahar kenikmatannya.</p>
<p style="text-align: justify;">Sssssrrr…..ssssrrrrr….sssssrrrrr….sssrrr….vagina Hani menyemburkan lahar kenikmatannya menyirami batang kemaluan Dedi.</p>
<p style="text-align: justify;">“Ooooohhh…..aaakku..keluaar…eenak..sekali…aaahhh…. ssshhh..ooohh…hhmmm..aahh,” lenguh Hani.</p>
<p style="text-align: justify;">Tubuh Hani bergetar dengan hebat, terlihat pantatnya mengejut-ngejut seirama dengan keluarnya cairan kenikmatannya, kepalanya mendongak matanya terpejam, tangannya mencengkram paha Anto dengan kuat.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ceritasex.cn/dewi-maniak-seks-pesta-ulang-tahun-anaknya-bagian-3/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Dewi Maniak Seks &#8211; Pesta Ulang Tahun Anaknya Bagian 2</title>
		<link>http://www.ceritasex.cn/dewi-maniak-seks-pesta-ulang-tahun-anaknya-bagian-2/</link>
		<comments>http://www.ceritasex.cn/dewi-maniak-seks-pesta-ulang-tahun-anaknya-bagian-2/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 26 Nov 2009 02:17:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cerita Sex</dc:creator>
				<category><![CDATA[Paruh baya]]></category>
		<category><![CDATA[Seks Umum]]></category>
		<category><![CDATA[Tante Girang]]></category>
		<category><![CDATA[anal seks]]></category>
		<category><![CDATA[anal]]></category>
		<category><![CDATA[anus seks]]></category>
		<category><![CDATA[cuki]]></category>
		<category><![CDATA[dewi]]></category>
		<category><![CDATA[lonte]]></category>
		<category><![CDATA[maniak seks]]></category>
		<category><![CDATA[ml]]></category>
		<category><![CDATA[ngentot]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ceritasex.cn/?p=1068</guid>
		<description><![CDATA[Parmin mencabut batang kemaluannya dari jepitan lubang pantat Hani, sementara Gito mulai memompa kontolnya keluar masuk vagina Hani dengan perlahan-lahan, Hani yang sedang merasakan sisa-sisa kenikmatan itu melenguh dibuatnya. “Oooohhhh….,”Hani melenguh. Sambil memompa Gito menciumi Hani dengan penuh nafsu, dilumatnya bibir Hani, lidahnya menyelusup masuk kedalam mulut Hani mencari-cari lidah Hani, kedua lidah mereka menari [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Parmin mencabut batang kemaluannya dari jepitan lubang pantat Hani, sementara Gito mulai memompa kontolnya keluar masuk vagina Hani dengan perlahan-lahan, Hani yang sedang merasakan sisa-sisa kenikmatan itu melenguh dibuatnya.</p>
<p style="text-align: justify;">“Oooohhhh….,”Hani melenguh.</p>
<p style="text-align: justify;">Sambil memompa Gito menciumi Hani dengan penuh nafsu, dilumatnya bibir Hani, lidahnya menyelusup masuk kedalam mulut Hani mencari-cari lidah Hani, kedua lidah mereka menari dirongga mulut Hani, saling bertautan, Gito mulai menaikkan ritme sodokan-sodokan kontolnya di lubang vagina Hani.</p>
<p style="text-align: justify;">Sementara itu Parmin beranjak kearah Nita, yang saat itu sedang menikmati sisa-sisa kenikmatannya, Parmin lalu menyuruh Nanang untuk mulai mengentot Nita sambil duduk dengan posisi WOT, Parmin membantu Nanang dengan menggendong tubuh Nita dan mengangkangkannya diatas tubuh Nanang, sementara Nanang mengarahkan kepala kontolnya kelubang vagina Nita, diselipkannya kepala kontolnya divagina Nita, ssleeppp…kepala kontolnya terjepit oleh lubang vagina Nita, Nita melenguh saat merasakan kepala kontol Nanang mulai menerobos lubang vaginanya, dengan perlahan-lahan Parmin mulai menurunkan pantat Nita, bbleesss….bleessss…bbleesss….kontol Nanang perlahan-lahan menerobos masuk kedalam lubang memek Nita, dan bbbleeesss…..dengan sekali hentak Parmin menekan pantat Nita kebawah, kontol Nanangpun terbenam seluruhnya didalam lubang nikmat Nita, Nita melenguh keras saat Parmin menghentakkan pantatnya itu.</p>
<p style="text-align: justify;">“Uughhh….kontolmu besar dan panjang…kurasa ujung kepala kontolmu menyentuh dinding rahimku…Aaaarrgghh…,”lenguh Nita.</p>
<p style="text-align: justify;">Parmin lalu mendorong punggung Nita, sehingga tubuh Nita tengkurap diatas tubuh Nanang, lalu ia mulai menyelipkan kontolnya kedalam lubang pantat Nita, Nita menjerit saat merasakan kepala kontol Parmin mulai menyeruak lubang pantatnya, Nita merasakan sakit dilubang pantatnya, tapi ia tidak bisa meronta karena saat itu Nanang sedang memeluknya dengan erat, dengan terpaksa Nita hanya dapat menerima perlakuan Parmin di lubang pantatnya, sambil menahan sakit ia menggigit pundak Nanang, Nanang mendiamkan gigitan Nita karena saat itu ia sedang merasakan kenikmatan yang belum pernah ia alami sebelumnya, kontolnya sedang terjepit dengan erat oleh memek Nita, ditambah dengan aksi Parmin yang sedang meneroboskan kontolnya dilubang pantat Nita sehingga membuat lubang vagina Nita semakin sempit dirasakan oleh Nanang.</p>
<p style="text-align: justify;">“Terus, Min, dorong terus, gila memeknya jadi tambah sempit, berkedut-kedut terus lagi, kontol gw kaya dipijat-pijat,”teriak Nanang yang sedang keenakan merasakan jepitan memek Nita.</p>
<p style="text-align: justify;">“Heeh, ini pantatnya juga sempit, masih perawan, hehehe…empot ayam juga, tenang Bu, nanti juga enak, tanya aja ama bu Hani tuch, ya nggak bu Han,”kata Parmin terkekeh-kekeh.<br />
<span id="more-1068"></span><br />
“Heeh…beetul…Nit, tar juga enak..Ooohhh terus Git, sodok lebih dalam lagi, iyaaahh…,”jawab Hani membetulkan sambil menikmati sodokan-sodokan kontol Gito.
</p>
<p style="text-align: justify;">“Tuch, apa saya bilang Bu,”Parmin berkata lagi, sambil terus menekankan kontolnya lagi, bbleess ….blleess…bbleeesss…perlahan tapi pasti kontol Parmin mulai menyeruak masuk lebih dalam dilubang pantat Nita.</p>
<p style="text-align: justify;">“Hhhmmm….hhhmmmm…,”Nita hanya bisa bergumam merasakan kesakitan saat kontol Parmin menerobos makin dalam dilubang pantatnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Dan….Bbbleeesss….dengan sekali sentakan kuat Parmin mendorong kontolnya, Nita menjerit akibat sentakan Parmin itu,</p>
<p style="text-align: justify;">“Arrgghhhh….sakiiittt….ccabut..kontolmu itu…Uughhh,”jerit Nita.</p>
<p style="text-align: justify;">Parmin yang sedang menikmati jepitan erat lubang pantat Nita di batang kemaluannya itu tidak mau mendengarkan permintaan Nita, tapi dengan kedua tangannya memegangi pinggang Nita Parmin mulai dengan perlahan-lahan memaju mundurkan tubuh Nita, sehingga kontolnya dan kontol Nanang mulai keluar masuk dengan sendirinya dilubang-lubang Nita.</p>
<p style="text-align: justify;">“Min , uenak tenan, nich…ngentot cara begini, betul-betul mantab…kayanya memeknya tambah sempit aja..oooohh…, sedapp…nikmat….,”kata Nanang saat ia mulai merasakan kontolnya keluar masuk memek Nita dengan seretnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Sssrtttt….bbleess…..sssrtttt….bbleess….sssrrrtt….b bblleess…sssrrttt..bbleeess….. kedua kontol mereka keluar masuk perlahan-lahan di kedua lubang Nita.</p>
<p style="text-align: justify;">Lama kelamaan rasa sakit yang dirasakan oleh Nita berangsur menghilang berganti dengan rasa nikmat, Nita sekarang mulai bisa merasakan enaknya pergeseran kedua kontol itu didalam lubang memek dan pantatnya, ia merasakan kedua lubangnya penuh sesak oleh kontol-kontol besar Parmin dan Nanang, sensasi nikmat yang ia rasakan sekarang belum ia alami sebelumnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Sementara itu Udin mulai memposisikan tubuh Dewi untuk menungging, Dewi menuruti kemauan Udin yang ingin kontol* dia dari belakang, pantatnya ia angkat sementara dada dan wajahnya menempel keatas karpet, dengan tidak sabar lagi Udin mulai menyelipkan kepala kontolnya dilubang memek Dewi, setelah dirasakan kepala kontolnya tepat dilubang senggama Dewi, dengan sekali sentakan kuat Udin mendorong maju kontolnya menerobos vagina Dewi.<br />
Bleeessssss……Batang kemaluan Udin menyeruak masuk kedalam vagina Dewi.
</p>
<p style="text-align: justify;">“Aaaggghhh…pelaann..Din, robek punyaku nanti…kontolmu besar sekali..,”jerit Dewi saat lubang vaginanya diterobos dengan kuat oleh kontol Udin.</p>
<p style="text-align: justify;">“heeh..tenang bu, gak akan robek, tapi yang ada nanti merem-melek sama batangku ini,”jawab Udin.</p>
<p style="text-align: justify;">Udin merasakan jepitan kuat dibatang kontolnya, dan ia merasakan dinding vagina Dewi berkedut-kedut, seolah-olah meremas-remas batang kontolnya, Udin merasakan nikmatnya memek Dewi itu, yang belum pernah dirasakan olehnya tatkala ia menyetubuhi istrinya yang sudah punya 3 anak.</p>
<p style="text-align: justify;">Tak lama berselang Udin mulai memaju-mundurkan kontolnya didalam lubang vagina Dewi sssrttt….blesss…srrrttt…blesss…sssrtttt…bleess….</p>
<p style="text-align: justify;">“Oohh…enak Din, terus…tekan yang dalam..yach…yang kuat..oohh…enak kontolmu Din…,”desah Dewi, yang merasakan nikmatnya sodokan kontol Udin divaginanya.</p>
<p style="text-align: justify;">“Teruss….oohh…lebih cepat..yach…hhhmmm..aaghhh…nikmat…,”kembali Dewi mendesah.</p>
<p style="text-align: justify;">“Uughhh…yach..tekan yang kuat…aaahhh…enak…nikmat…kontolmu,”rintih Hani yang sedang menikmati enjotan Gito.</p>
<p style="text-align: justify;">“Terus..Git, lebih cepat…oohhh…puaskan aku…yachh…aaaghhh…nikmat sekali,”kembali Hani merintih keenakan.</p>
<p style="text-align: justify;">“Uugghh…hhmmmm…sslllrrppp…memek ibu sempit sekali…hhmmm…sslrrrppp,”gumam Gito sambil mulutnya asyik menghisap-hisap payudara Hani bergantian kiri &amp; kanan.</p>
<p style="text-align: justify;">Sementara itu Nita juga sedang merasakan kenikmatan yang luar biasa, dari mulutnya tidak hentinya terdengar erangan-erangan keenakan,</p>
<p style="text-align: justify;">“Ooohhh…enak..sekali…terus enjot kontol kalian…yang dalam tekannya…yaahhh..begitu…lebih cepat…naahh…nikmat sekali…terus…terus…,”erang Nita keenakan dienjot oleh Nanang dan Parmin.</p>
<p style="text-align: justify;">Kedua payudara Nita juga tidak luput dari aksi Nanang, remasan-remasan tangan Nanang dikedua payudara Nita dan ditingkahi dengan hisapan-hisapan serta jilatan-jilatan pada kedua putingnya membuat Nita semakin mengerang kenikmatan.</p>
<p style="text-align: justify;">“Ooohhh…Nang, hisap…terus…hisap…tetekku…yach…yang kuat..oohh..geli enak..,”Nita mengerang lagi.</p>
<p style="text-align: justify;">“hhhmmm… ssslrrppp… hhmmm… ssslllrppp…memek ibu… juga… enak… sekali… sempit… ssllrrppp … hhhmmm,”desah Nanang.</p>
<p style="text-align: justify;">“Ooohh…enak…ooohh…nikmat…,”Parmin merintih keenakan, sambil terus menggenjot kontolnya keluar masuk dalam lubang pantat Nita.</p>
<p style="text-align: justify;">Rintihan, erangan, dan desahan terdengar tanpa henti dari mulut mereka, keringat mereka sudah membanjiri tubuh mereka dan bercampur aduk, bunyi suara ceplakan saat tubuh mereka beradu menambah ramai suasana persetubuhan mereka.</p>
<p style="text-align: justify;">Cairan pelicin semakin banyak keluar dari kemaluan mereka, mempermudah keluar masuk batang kemaluan para lelaki didalam lubang-lubang para wanita, gerakan keluar masuk batang kemaluan para lelaki semakin bertambah cepat, akibatnya membuat para wanita semakin mengerang keenakan.</p>
<p style="text-align: justify;">Mendapat sodokan-sodokan yang bertubi-tubi dari batang kemaluan para lelaki itu membuat para wanita itu mulai goyah, tubuh mereka mulai mengejang dan mengejut-ngejut, puncak kenikmatan para wanita sudah diambang pintu, sementara para lelaki mengalami hal yang sama, puncak kenikmatan mereka hampir mereka rengkuh juga, gerakan para lelaki itu sudah mulai tidak beraturan.</p>
<p style="text-align: justify;">“Ooohh…aaku tidak tahan lagi… aku mau keluar..aahhh..nikmat…enak…,”Hani, Nita dan Dewi mengerang bersamaan, puncak kenikmatan untuk yang kedua kalinya akan mereka raih.</p>
<p style="text-align: justify;">“Oooohhh…aku keluar…Oohh…tekan yang dalaammm….yang kuaat…,’kembali Hani, Nita dan Dewi mengerang bersamaan dan, sssrrrr….ssrrr….sssrr….sssrrr….vagina mereka menyemburkan lahar kenikmatan mereka membasahi batang kemaluan lelaki yang sedang berada dalam lubang mereka.</p>
<p style="text-align: justify;">“Uughhh…hhmmm…aku keluar jugaa….aaagghh…enaaakk..uughh,”Ke empat lelaki itu mengerang secara bersamaan dan menekan dalam-dalam kontol mereka kedalam lubang para wanita itu, dan cccrreeeett….creeettt…ccreeett….ccreeett….kontol mereka memuntahkan lahar kenikmatan didalam lubang para wanita itu hampir berbarengan dengan semburan lahar kenikmatan dari vagina para wanita itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Tubuh mereka semua terlihat mengejut-ngejut seirama dengan muntahnya lahar kenikmatan mereka, nafas mereka terdengar memburu, pancaran puas terbias di wajah mereka. Selang tak lama setelah tetes terakhir lahar kenikmatan mereka menetes dari kemaluan masing-masing, mereka semua akhirnya tergolek kelelahan diatas karpet.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ceritasex.cn/dewi-maniak-seks-pesta-ulang-tahun-anaknya-bagian-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Dewi Maniak Seks &#8211; Pesta Ulang Tahun Anaknya Bagian 1</title>
		<link>http://www.ceritasex.cn/dewi-maniak-seks-pesta-ulang-tahun-anaknya-bagian-1/</link>
		<comments>http://www.ceritasex.cn/dewi-maniak-seks-pesta-ulang-tahun-anaknya-bagian-1/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 26 Nov 2009 02:13:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cerita Sex</dc:creator>
				<category><![CDATA[Paruh baya]]></category>
		<category><![CDATA[Pemerkosaan]]></category>
		<category><![CDATA[Seks Umum]]></category>
		<category><![CDATA[Tante Girang]]></category>
		<category><![CDATA[anal seks]]></category>
		<category><![CDATA[anus]]></category>
		<category><![CDATA[cuki]]></category>
		<category><![CDATA[dewi]]></category>
		<category><![CDATA[hani]]></category>
		<category><![CDATA[lonte]]></category>
		<category><![CDATA[lonte cina]]></category>
		<category><![CDATA[maniak seks]]></category>
		<category><![CDATA[ngentot]]></category>
		<category><![CDATA[nita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ceritasex.cn/?p=1066</guid>
		<description><![CDATA[Siang itu Dewi sedang kedatangan dua temannya, Nita dan Hani, ada kesamaan pada mereka bertiga, yaitu mempunyai suami yang jauh lebih tua dari umur mereka dan mereka bertiga lahir ditahun yang sama. Yang membuat perbedaan diantara mereka adalah anak tiri, dimana anak tiri Nita dan Hani tidak ikut dengan mereka tetapi anak tiri mereka ikut [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Siang itu Dewi sedang kedatangan dua temannya, Nita dan Hani, ada kesamaan pada mereka bertiga, yaitu mempunyai suami yang jauh lebih tua dari umur mereka dan mereka bertiga lahir ditahun yang sama. Yang membuat perbedaan diantara mereka adalah anak tiri, dimana anak tiri Nita dan Hani tidak ikut dengan mereka tetapi anak tiri mereka ikut dengan ibunya masing-masing, selain itu Dewi menikah dengan seorang Duda, sementara kedua temannya menikah dengan suami orang, dan suami mereka sekarang telah menceraikan istri-istri tuanya. Nita dan Hani hampir mempunyai sifat yang sama yaitu tipe wanita yang tidak mau sengsara, yang mereka pedulikan hanyalah harta kekayaan dari suami-suami mereka, mereka menikah juga tidak didasari dengan cinta.</p>
<p style="text-align: justify;">Sudah dari dulu Nita dan Hani selalu mengajak Dewi untuk pergi bersama, mencari batang-batang kemaluan yang besar dan panjang untuk memuaskan birahi mereka dan Dewi selalu menolak ajakan itu. Tapi itu dulu, semenjak Dewi sudah beberapa kali merasakan kenikmatan atas sodokan-sodokan dari batang kemaluan lelaki yang panjang dan besar, Dewi selalu merindukan batang-batang kemaluan lelaki yang besar dan panjang.</p>
<p style="text-align: justify;">Topik pembicaraan mereka siang ini tidak jauh berbeda dari dulu, yaitu tidak jauh dari selangkangan lelaki, hanya sekarang Dewi juga ikut aktif, dulu Dewi hanya sekedar pendengar setia sambil tersenyum simpul, kalau sekarang Dewi aktif bercerita tentang pengalaman-pengalaman seksnya, membuat kedua temannya ini melongo mendengar cerita Dewi itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Tak satupun kejadian yang telah dialami oleh Dewi yang disembunyikan termasuk ketika Dewi menikmati permainan seks dengan Doni-anak tirinya dan juga ketika bersetubuh dengan ketiga teman Doni, Nita dan Hani hanya dapat menelan ludah mendengar cerita Dewi itu, birahi mereka mulai bangkit mendengar cerita Dewi, apalagi ketika Dewi menceritakan melakukan seks dengan tiga lelaki sekaligus, yang belum pernah mereka alami selama ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Tak terasa waktu berlalu, jam di dinding telah menunjukkan pukul 12 siang, perut mereka mulai meronta minta diisi, Dewi berinisiatip hendak menyediakan makanan untuk kedua temannya ini, Nita dan Hani mengikuti langkah Dewi kedapur, obrolan kembali berlanjut sambil sibuk menyiapkan makanan.</p>
<p style="text-align: justify;">Tak lama kemudian makan siangpun tersaji, obrolanpun mereka lanjutkan di meja makan sambil menikmati makan siang mereka, penasaran dengan cerita Dewi, Hani dan Nita mengusulkan ke Dewi agar mereka bisa untuk ikut menikmati batang-batang kemaluan lelaki yang panjang dan besar, mereka berdiskusi tentang bagaimana caranya untuk membuat hal itu terjadi, sedang asyiknya mereka menyusun rencana, mereka mendengar suara kunci yang terbuka dari arah pintu depan, Dewi tahu bahwa yang pulang itu adalah Doni anak tirinya, dan tebakan Dewi betul adanya, selang tak lama wajah Doni terlihat oleh mereka, Donipun memanggutkan kepala dan tersenyum kepada Hani dan Nita, lalu ia menghampiri Dewi.<br />
<span id="more-1066"></span><br />
“Mih, sabtu ini kan aku Ulang Tahun, boleh tidak aku undang teman-temanku kesini untuk merayakannya,” tanya Doni sesampainya dihadapan Dewi.
</p>
<p style="text-align: justify;">“Oh, iyah, hampir Mamih lupa, berapa orang, terus apa saja yang harus Mamih sediakan,” Dewi bertanya balik ke Doni.</p>
<p style="text-align: justify;">“Ah, gak banyak kok Mih, paling sepuluh orang termasuk aku sebelas jadinya, kayanya gak usah repot-repot dech, beli makanan jadi aja Mih,” jawab Doni.</p>
<p style="text-align: justify;">“Yach klo cuman sebanyak itu sich, Mamih siapin sendiri aja, gak usah beli, paling kita beli kue ulang tahunnya dan minumannya saja,” balas Dewi.</p>
<p style="text-align: justify;">“Ah kebetulan Sabtu ini, suamiku gak ada, dia pergi keluar kota, jadi aku bantuin kamu aja, Wi,” sahut Nita.</p>
<p style="text-align: justify;">“Iyah, aku juga bantuin kamu dech, Wi, mumpung lakiku juga belon pulang,” Hani ikut nimbrung juga.</p>
<p style="text-align: justify;">“Oh, iyach, Don, kenalin ini teman Mamih, ini tante Nita dan yang itu tante Hani, “ kata Dewi.</p>
<p style="text-align: justify;">“Serius kalian mo bantuin, yach klo gitu sich, aku seneng-seneng aja ada yang bantuin,” lanjut Dewi.</p>
<p style="text-align: justify;">“Doni,” kata Doni menyebutkan namanya sambil menjabat tangan Hani dan Nita.</p>
<p style="text-align: justify;">“Waduh, makasih banyak, Mih, dan tante makasih juga yach udah mau bantuin mamih,” Doni berkata kepada mereka.</p>
<p style="text-align: justify;">“Doni, kekamar yach, mo istirahat,” lanjut Doni dan Donipun beranjak meninggalkan mereka.</p>
<p style="text-align: justify;">Sepeninggal Doni, mereka bertiga tersenyum genit, dan mereka mulai merencanakan acara tersebut, dalam benak mereka berharap mudah-mudahan yang diundang Doni adalah teman laki-lakinya semua, kalau yang datang semuanya adalah lelaki maka pesta yang akan mereka adakan itu pasti akan lebih meriah, dan mereka merencanakan akan membuat pesta ulang tahun itu menjadi pesta seks, tapi kemudian Dewi tersadar bahwa kemungkinan besar rencana itu tidak dapat dilaksanakan karena suaminya sedang berada di Jakarta, kembali ketiganya memutar otak untuk dapat melaksanakan niat mereka itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Sorenya Nita dan Hani berpamitan sambil membawa PR kerumah masing-masing tentang bagaimana caranya membuat pesta itu terjadi sesuai dengan harapan mereka dan menyingkirkan suami Dewi untuk sementara waktu, mereka bertiga berjanji untuk saling memberi kabar jika salah satu dari mereka telah menemukan akal untuk hal tersebut.</p>
<p style="text-align: justify;">Sampai 2 hari menjelang hari H, mereka bertiga belum menemukan jalan untuk menyingkirkan suaminya Dewi, tapi nampaknya dewi seks berpihak pada mereka bertiga, nampaknya dewi seks memberikan jalan kepada mereka untuk melakukan acara pesta seks yang sudah mereka rencanakan itu, karena saat suaminya pulang kerumah ia memberitahu Dewi bahwa besok dirinya harus berangkat dengan pak Erwin untuk meninjau lokasi proyek mereka. Mendengar berita ini Dewi bersorak girang dalam hatinya, tak sabar ia ingin segera memberitahukan kabar ini kepada kedua temannya.</p>
<p style="text-align: justify;">Keesokan harinya sepeninggal suaminya, Dewi menghubungi kedua temannya dan memberitahukan berita gembira ini, kedua temannya yang mendengar berita ini bersorak kegirangan dan mereka berjanji untuk datang kerumah Dewi hari ini dan mereka merencanakan akan bermalam dirumah Dewi sampai hari Minggu.</p>
<p style="text-align: justify;">Siangnya setelah Hani dan Nita tiba dirumah Dewi, mereka bertiga pergi berbelanja untuk keperluan acara besok, selesai belanja mereka langsung pulang, setibanya dirumah mereka melihat Doni sedang nonton TV.</p>
<p style="text-align: justify;">“Don, Mamih ada yang lupa nich,” kata Dewi.</p>
<p style="text-align: justify;">“Apa yang mamih lupa?” Doni bertanya.</p>
<p style="text-align: justify;">“Kamu undang teman-temanmu itu jam berapa?” tanya Dewi.</p>
<p style="text-align: justify;">“Oh, jam 12 siang, soalnya biar pas waktunya dengan waktu makan siang,”jawab Doni.</p>
<p style="text-align: justify;">“Terus, berapa orang laki-laki dan berapa orang perempuan,”Dewi kembali bertanya.</p>
<p style="text-align: justify;">“Oh, klo itu sich, yang Doni suruh dating semuanya teman laki-laki Doni,”Doni menjawab kembali.</p>
<p style="text-align: justify;">“Memangnya kamu tidak punya teman perempuan, makanya tidak ada teman perempuanmu yang diundang?,” kembali Dewi bertanya</p>
<p style="text-align: justify;">“Ada sich, Mih. Cuman gak asyik aja klo ada teman perempuanku, gak rame, gak heboh,”jawab Doni.</p>
<p style="text-align: justify;">“Eh, Mamih juga perempuan, berarti kehadiran mamih tidak diinginkan juga dong?” canda Dewi.</p>
<p style="text-align: justify;">“Yach, itu sich lain mih,”jawab Doni.</p>
<p style="text-align: justify;">“Och, yach mih, aku mau pergi dulu kerumah temanku, pulangku pasti malam, gak usah mamih tungguin yach,” lanjut Doni, yang segera beranjak setelah di iyakan oleh Dewi.</p>
<p style="text-align: justify;">Sepeninggal Doni, mereka bertiga sibuk didapur menyiapkan bahan-bahan untuk besok, sambil asyik merencanakan tindakan apa yang harus mereka lakukan besok, karena sibuk dan asyik dengan rencana-rencana mereka.</p>
<p style="text-align: justify;">Jam di dinding menunjukkan pukul 6 sore saat mereka mendengar suara bel pintu, Dewi beranjak kedepan untuk melihat siapa yang datang bertamu, saat pintu dibuka, ternyata yang datang adalah Parmin.</p>
<p style="text-align: justify;">“Ada apa pak Parmin?” tanya Dewi.</p>
<p style="text-align: justify;">“Ini Bu, saya mau mengembalikan pinjaman saya yang kemarin,”jawab Parmin.</p>
<p style="text-align: justify;">“Oh, memang pak Parmin sudah ada uangnya,” tanya Dewi lagi, sambil berpikir untuk mengundang Parmin agar datang nanti malam dan mengajak Sugito, Dewi berpikir pasti teman2nya ingin merasakan sodokan-sodokan satpam ini.</p>
<p style="text-align: justify;">“Sudah Bu, sudah soalnya hari ini saya dapat rejeki,” jawab Parmin.</p>
<p style="text-align: justify;">“Oh ya sudah, ngomong-ngomong Pak Parmin nanti malam tugas tidak,”tanya Dewi.</p>
<p style="text-align: justify;">“Memang kenapa Bu?”Parmin balik bertanya.</p>
<p style="text-align: justify;">“Klo tidak tugas bagaimana klo pak Parmin nanti malam datang yach sekitar jam 8an gitu, sambil ajak pak Gito,”jawab Dewi genit.</p>
<p style="text-align: justify;">“Oh bisa, bisa Bu, nanti malam saya akan datang sama pak Gito, hanya kita berdua aja Bu,”Parmin mengiyakan sambil bertanya.</p>
<p style="text-align: justify;">“Memang ada siapa lagi,”tanya Dewi</p>
<p style="text-align: justify;">“Klo yang tidak tugas nanti malam sich ada 2 orang lagi, Nanang dan Udin,”jawab Parmin.</p>
<p style="text-align: justify;">“Yach, udah sekalian mereka juga suruh datang,”sahut Dewi cepat.</p>
<p style="text-align: justify;">“Klo gitu saya permisi dulu Bu, saya mau kasih tahu mereka,”pamit Parmin.</p>
<p style="text-align: justify;">Dewi bergegas masuk sepeninggal Parmin, lalu ia ceritakan hal tersebut kepada teman-temannya, Hani dan Nita menyambut gembira hal tersebut, lalu mereka cepat-cepat membenahi dapur dan menyiapkan makanan kecil dan minuman untuk pesta kecil mereka nanti malam, selesai itu mereka betiga membersihkan diri mereka dan bersiap-siap untuk menyambut tamu-tamu yang akan memberikan mereka kepuasan.</p>
<p style="text-align: justify;">Jam berdentang 7 kali saat bel pintu dirumah Dewi berbunyi, Dewi bergegas menuju kepintu depan, pintu dibuka Dewi melihat 4 sosok lelaki dihadapannya, Dewi tersenyum melihat yang siapa yang datang ini, lalu ia mempersilahkan ke 4nya untuk masuk dan langsung diajaknya keruangan keluarga dimana Hani dan Nita sedang menunggu kehadiran mereka juga.</p>
<p style="text-align: justify;">Dewi memperkenalkan mereka kepada Hani dan Nita, yang disambut dengan genit oleh Hani dan Nita, merekapun terlibat pembicaraan sambil menikmati makanan dan minuman, sambil diselingi dengan rabaan dan remasan-remasan genit ketiga wanita ini kepada para lelaki, ke 4 lelaki ini tidak pernah membayangkan dalam hidupnya mereka akan mengalami hal ini, 3 wanita yang jelas-jelas lebih cantik dan seksi daripada istri mereka dirumah bertingkah laku genit kepada mereka, dan tangan mereka meraba-raba serta meremas-remas batang kemaluan mereka dari balik celana yang mereka pakai, aksi ke 3 wanita ini telah membuat birahi mereka mendidih.</p>
<p style="text-align: justify;">Gito yang sedang menikmati remasan dan rabaan tangan Hani, mulai melakukan aksi balik, tangannya mulai meremas-remas payudara Hani, mulutnya mulai melumat bibir Hani, aksi balas Gito membuat Hani mendesah, Parmin melakukan hal yang sama kepada Nita, mulutnya melumat bibir Nita dengan penuh nafsu, kedua tangannya beraksi melucuti pakaian atas Nita yang dilanjut dengan membuka Branya, terlihat kedua payudara Nita yang masih mengkal menggantung dengan indahnya, kedua putingnya yang berwarna merah muda sedikit mencuat, dengan tidak sabar Parmin memnyerbu kedua payudara itu, remasan-remasan penuh nafsu dilakukannya kebukit kembar Nita diselingi dengan pilinan-pilinan dikedua putingnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Nanang dan Udin yang sedang menikmati tangan lembut Dewi, menyaksikan kedua temannya sudah beraksi dan saat mereka melihat Parmin melucuti pakaian dan bra Nita, kemudian terpampang dengan jelas dikedua mata mereka bukit kembar Nita, mereka menjadi penasaran ingin segera melihat bukitm kembar Dewi. Keduanya bekerja sama melucuti pakaian Dewi termasuk dengan bra dan celana dalam Dewi, akhirnya Dewi dibuat telanjang bulat oleh mereka, setelah selesai dengan melucuti pakaian Dewi, mereka melepaskan pakaian mereka dengan tergesa-gesa, dengan keadaan telanjang bulat mereka mulai menyerbu Dewi, Nanang menerkam bagian atas Dewi dengan penuh nafsu, dia melumat bibir Dewi yang disambut dengan penuh nafsu oleh Dewi, sementara tangan Nanang beraksi dikedua payudara Dewi, remasan-remasan tangan Nanang dan pilinan-pilinan dikedua putingnya membuat Dewi mendesah apalagi Udin juga mulai beraksi dibagian bawah tubuhnya, Udin dengan penuh nafsu menjilati vagina Dewi dan menghisap-hisap kelentit Dewi.</p>
<p style="text-align: justify;">Gito menghentikan serangannya, ia mulai melucuti pakaian yang dikenakan oleh Hani sehingga tubuh mulus dan putih Hani terpampang dengan jelas dikedua mata Gito, Hani juga membalas dengan melucuti semau pakaian Gito, saat celana dalam Gito terlepas, Hani melihat batang kemaluan Gito yang sudah berdirti tegak dengan gagahnya, dibandingkan dengan kepunyaan suaminya memang sangat berbeda, Gito kemudian merebahkan tubuhnya diatas karpet, Hani dengan posisi merangkak mulai menyerbu batang kemaluan Gito, dikulum-kulum dan dijilatinya barang pusaka Gito itu dengan penuh nafsu, sambil menikmati selomotan dan jilatan Hani dikontolnya, tangan Gito tidak tinggal diam, kedua tangannya mulai menyerang payudara dan vagina Hani, tangan kirinya asyik meremas-remas payudara Hani bergantian sambil ditingkahi dengan pilinan-pilinan dikedua putingnya, tangan kanannya dengan lembut menggesek-gesek vagina dan kelentit Hani, kadang-kadang jari tengahnya menerobos kedalam lubang vagina Hani lalu dikocok-kocokkan keluar masuk dilubang vagina Dewi.</p>
<p style="text-align: justify;">Parminpun tidak mau kalah oleh teman-temannya, ia segera melucuti pakaian Nita dan pakaiannya sendiri, setelah tubuh Nita tidak tertutupi oleh sehelai kainpun begitu pula dengan tubuhnya yang sudah polos, Parmin segera merangkak keatas tubuh Nita, ia mulai menjilati vagina dan kelentit Nita, Nita juga mulai membalas aksi Parmin dengan penuh nafsu batang kemaluan Parmin diselomoti dan dijilatinya, Parmin melenguh menikmati sedotan-sedotan mulut Nita dibatang kemaluannya, iapun mengimbanginya dengan melesakkan kedua jarinya kedalam lubang vagina Nita, dan mengocok-ngocokannya keluar masuk lubang vagina Nita, dari mulut Nita yang sedang penuh oleh jejalan batang kemaluan Parmin terdengar erangan dan lenguhan, Nita betul-betul menikmati sensasi permainan mulut dan tangan Parmin divaginanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Saat itu Dewi dengan penuh nafsu sedang menikmati batang kemaluan Nanang, mulutnya mengulum-ngulum kontol Nanang, tangan kirinya mengelus-ngelus biji pelernya, sementara tangan kanannya meremas-remas rambut Udin yang masih asyik bermain dengan vaginanya, kadang-kadang terlihat pantat Dewi terangkat menyambut hisapan mulut Udin serta sodokan jari tangan Udin divaginanya, lenguhan dan erangan terdengar keluar dari mulut Dewi, Nanang merasakan kenikmatan yang tiada duanya, ia betul-betul menikmati selomotan dan jilatan Dewi dikontolnya, tangan kirinya memegang kepala Dewi, kadang-kadang mendorong kepala Dewi akibatnya kontolnya hampir masuk semuanya didalam mulut Dewi dan membuat Dewi tersedak, sementara tangan kanannya meremas-remas kedua payudara Dewi bergantian kiri dan kanan, dan ditingkahi dengan memilin-milin kedua putingnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Kemaluan Hani semakin basah mendapatkan serangan Gito yang bertubi-tubi, Hani sudah tidak sabar lagi ingin merasakan sodokan-sodokan kontol Gito dilubang senggamanya, dengan segera Hani merangkak diatas tubuh Gito dan mulai mengarahkan kontol Gito yang sudah semakin tegang itu kelubang senggamanya, dioles-oleskannya kepala kontol Gito dengan kelentitnya, kemudian Hani menyelipkan kepala kontol Gito di lubang vaginanya, sleepp….dengan perlahan-lahan Hani mulai menurunkan pantatnya, batang kemaluan Gito mulai menerobos lubang senggama Hani, bleesss…sedikit-demi sedikit kontol Gito mulai menyeruak masuk, bleeess…Hani menurunkan pantatnya lagi, Hani merasakan memeknya agak sedikit sakit akibat kontol Gito yang lebih besar daripada kepunyaan suaminya, bleess….kembali Hani menurunkan pantatnya, Gito merasakan memek Hani begitu erat menjepit batang kemaluannya, dan bleessss…dengan sekali hentakan kuat Hani menekan pantatnya kebawah, batang kemaluan Gito melesak lebih dalam lagi dirongga vagina Hani, Gito merasakan ujung kepala kontoknya bersentuhan dengan dinding rahim Hani begitu pula Hani merasakan dinding rahimya tersentuh agak kuat oleh kepala kontol Gito, keduanya melenguh….Uuuughhhh…</p>
<p style="text-align: justify;">Hani mendiamkan sebentar gerakannya, ia merebahkan tubuhnya ketubuh Gito sementara mulutnya mulai menciumi mulut Gito, dibalas oleh Gito dengan penuh nafsu, Gito meneroboskan lidahnya kedalam mulut Hani mencari lidah Hani, lidah mereka bertautan dirongga mulut Hani, tangan Gito mengelus-ngelus punggung Hani dan kedua bongkah pantat Hani, kadang-kadang tangannya meremas-remas kedua bongkah pantat Hani, tingkah mereka tidak luput dari pandangan Parmin yang sedang asyik menjilati kemaluan Nita, karena posisi mereka tepat berhadapan dengan kepala Parmin, Parmin melihat jelas sekali tahap demi tahap saat kontol Gito menerobos masuk kedalam lubang vagina Hani, lalu saat ia melihat tangan Gito meremas-remas pantat Hani, Parmin melihat lubang pantat Hani, ia ingat pengalamannya sewaktu mengentot lubang pantat Dewi, dan sekarang ia juga ingin memerawani lubang pantat Hani, Parmin segera menghentikan aksinya, ia beranjak dari posisinya kemudian Parmin berlutut dibelakang Hani, dibasahinya batang kemaluannya dengan air ludahnya, lalu ia selipkan kepala kontolnya dilubang pantat Hani, ssleepp … kepala kontol Parmin mulai terselip dilubang pantat Hani, Hani menjerit merasakan sakit saat lubang pantatnya mulai diterobos oleh kepala kontol Parmin, Hanipun meronta agar kepala kontol Parmin terlepas dari lubang pantatnya tapi percuma karena Gito yang melihat Parmin mendekati Hani dari belakang sudah mengetahui apa yang hendak dilakukan oleh Parmin, kedua tangannya memeluk erat Hani sehingga Hani tidak dapat bergerak.</p>
<p style="text-align: justify;">“Saakit….aaargghh….cabut kontolmu dari lubang pantatku…Ooogghh,”jerit Hani.</p>
<p style="text-align: justify;">“ssssttt..tenang Bu, sekarang sakit tapi lama-lama pasti ibu akan keenakan,” kata Parmin sambil mulai melesakkan batang kemaluannya dilubang pantat Hani perlahan-lahan, bleeesss…bleesss…blessss…bleessss.</p>
<p style="text-align: justify;">“Sakkiiittt….Ugghhh….sakiitt…..sudah aku tidak kuat…sakit sekali..”jeritan Hani terdengar kembali saat batang kemaluan Parmin semakin masuk kedalam lubang pantatnya.</p>
<p style="text-align: justify;">“Uughh…tenang Bu, nanti pasti juga ibu ketagihan,”kata Parmin lalu dengan sekali hentakan ia dorong batang kemaluannya, bbleesssss…..seluruh batang kemaluannya tertelan di lubang pantat Hani, “Uuughhh,…gila…sempit sekali nich lubang pantatnya, Bu, belom pernah dientot lubang pantatnya yach,”Parmin mengerang sambil bertanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Hani tidak dapat menjawab karena menahan sakit yang luar biasa, Gito merasa kasihan melihat Hani, dengan lembut ia menciumi Hani, dengan berpegangan pada pinggang Hani, Parmin mulai menggerakkan tubuh Hani kedepan dan kebelakang perlahan-lahan, sehingga membuat batang kemaluannya keluar masuk dengan sendirinya dilubang pantat Hani, tapi bukan batang kemaluannya saja yang secara otomatis keluar masuk, kontol Gitopun dengan sendirinya keluar masuk dilubang vagina Hani.</p>
<p style="text-align: justify;">Lama-lama isak tangis Hani berganti menjadi erangan dan desahan, rasa sakit perlahan-lahan berganti menjadi rasa nikmat yang luar biasa, dari yang tadinya hanya diam saja sekarang Hani mulai membantu gerakan Parmin yang memaju-mundurkan tubuhnya, kedua payudaranya yang bergelantungan didepan wajah Gito bergoyang seiring dengan gerakan tubuhnya yang maju mundur, dengan penuh nafsu Gito menjilati dan mengulum-ngulum kedua payudara Hani bergantian kiri-kanan, dan ditingkahi dengan hisapan-hisapan kuat dikedua putingnya, menambah sensasi kenikmatan Hani.</p>
<p style="text-align: justify;">“Ooohhh..enak sekali…aaaghh…terus…hisap tetekku…yach…tekan lebih dalam…,”Hani mengerang-ngerang kenikmatan, tubuhnya ia mundurkan lebih kuat membuat kedua kontol Gito dan Parmin melesak lebih dalam.</p>
<p style="text-align: justify;">“Enak betul memek ibu, gak kalah enak ama punya bu Dewi, aaghh kontolku seperti diremas-remas,” Gito mengerang merasakan keenakan saat dinding vagina Dewi mencengkram erat batang kemaluannya dan berdenyut-denyut.</p>
<p style="text-align: justify;">“Iyach lubang pantatnya sama-sama masih perawan sama seperti punya bu Dewi, enak kurasa…kontolku juga kaya diremas-remas nich,”erang Parmin bersamaan dengan erangan Gito, Parmin merasakan ketatnya lubang pantat Hani menjepit kontolnya, juga dinding lubang pantatnya yang berdenyut-denyut.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;</p>
<p style="text-align: justify;">Saat Parmin mulai melesakkan kontolnya kelubang pantat Hani, Nita yang ditinggal begitu saja segera menghampiri Nanang, didorongnya tubuh Nanang hingga bersandar di sofa, lalu ia berdiri mengangkangi kepala Nanang yang tergolek diatas sandaran sofa, kaki kanannya ia angkat keatas dan dipijakkannya diatas sandaran sofa, kedua tangannya menguakkan lubang vaginanya, terpampang di mata Nanang pemandangan yang menakjubkan yang belum pernah ia lihat selama ini, kelentit Nita terlihat oleh Nanang dengan jelas sementara vagina Nita yang berwarna merah muda terlihat jelas oleh Nanang, tanpa membuang waktu lagi dan Nanang tahu bahwa Nita ingin vagina dan kelentinya dijilati dan dihisap, Nanang mulai menjulurkan lidahnya dan mulai menjilati vagina Nita sambil ditingkahi dengan hisapan-hisapan dikelentitnya, tangan Nanang mulai beraksi juga, kedua jari tengah dan jari manis tangan kanannya mulai menerobos masuk kedalam lubang vagina Nita, tangan kirinya mulai mengelus-ngelus lubang pantat Nita, Nita melenguh menerima serangan ini, pantatnya ia maju mundurkan perlahan-lahan, Nanang menekan bagian dalam vagina Nita tepat dibelakang kelentitnya saat ia menghisap-hisap kelentitnya, kadang-kadang kedua jarinya mengocok vagina Nita.</p>
<p style="text-align: justify;">“Oohhh…terus…hisap itilku..yang kuaat…aaaghh…enak…terus…tekan…yach..kocok lagi…ochh enak sekali…,”Nita mengerang merasakan sensasi kenikmatan permainan tangan dan mulut Nanang.</p>
<p style="text-align: justify;">“Hhhmm…ssslllrrppp…memek ibu wangi dan cairannya ini gurih…ssslrrpppp…,”gumam Nanang sambil asyik menghisap-hisap kelentit Nita dan menelan cairan-cairan pelicin yang keluar dair vagina Nita.</p>
<p style="text-align: justify;">Kocokan-kocokan tangannya semakin dipercepat keluar masuk dalam lubang vagina Nita yang semakin basah oleh cairan pelicinnya, kadang-kadang ia tekan bagian belakang kelentitnya saat ia menghisap kuat-kuat kelentitnya, tubuh Nita gemetar dibuatnya, lenguhannya semakin sering terdengar, matanya merem-melek menikmati permainan Nanang, kedua tangan Nita mulai meremasi kedua payudaranya sendiri.</p>
<p style="text-align: justify;">kontol</p>
<p style="text-align: justify;">Dewi sendiri yang ditinggalkan oleh Nanang juga mulai meremasi kedua payudaranya dengan kedua tangannya sambil menikmati permainan Udin dilubang vaginanya, tubuhnya kadang-kadang melenting menikmati serangan Udin, kedua kakinya yang menopang saat tubuhnya melenting terlihat gemetar, Dewi merasakan nikmat yang luar biasa dengan permainan Udin, kedua jari tangan Udin keluar masuk dengan cepat, kadang-kadang Udin memutar-mutar jari tangannya yang sedang berada didalam vagina Dewi kekiri-kekanan, atau kadang-kadang Udin menekan keatas-kebawah kedua jari tangan saat kedua jari tangannya berada didalam vagina Dewi, sementara hisapan dan jilatannya dikelentit Dewi tidak berhenti saat Udin melakukan aksi tangannya itu, Dewi dibuat merem melek oleh Udin, lenguhan dan desahannya sering terdengar, bersahutan dengan suara Nita dan Hani yang sama-sama sedang menikmati serangan-serangan dilubang senggama mereka.</p>
<p style="text-align: justify;">“Oohh…terus Din, enak betul..hisap terus kelentitku…Ooohh…yach…kocok memekku yach…,”lenguh Dewi.</p>
<p style="text-align: justify;">“Hhhhmmm…ssllrppp..memek ibu..enak..wangi…,”Udin bergumam, sambil mulutnya tetap menghisap kelentit Dewi.</p>
<p style="text-align: justify;">Aksi Udin semakin menggila, jempol kirinya ia masukkan kedalam lubang pantat Dewi dan saat jempolnya sudah masuk semuanya didalam lubang pantat Dewi, ia gerakkan jempolnya keatas-kebawah, aksinya ini menambah sensasi kenikmatan buat Dewi, tangan kanan Dewi menekan belakang kepala Udin, pantatnya terangkat, kaki dan tubuhnya terlihat gemetar merasakan kenikmatan permainan Udin.</p>
<p style="text-align: justify;">“Oooohh..Din, terus..terus…enak…yach…,”terdengar Dewi mengerang lagi.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;</p>
<p style="text-align: justify;">Sementara Hani yang sedang dikeroyok berdua mulai mendekati titik kenikmatannya, puncak kenikmatannya sudah diambang pintu, erangannya semakin sering terdengar, tubuhnya mengejang-ngejang, keringatnya sudah membanjir menjadi satu dengan keringat Gito dan Parmin.</p>
<p style="text-align: justify;">“Ooohhh…teruss…sodok memekku dengan kontol kalian, lebih kuat dan lebih dalam, yach…oohh kalian betul-betul enak, aku tidak kuat lagi, Ooohh…aku mau keluar …tekan lebih dalam….aarrghh yach…begitu..teruss..lebih cepat lebih dalam…aaagghh..aku keluar,” Hani mengerang keenakan, tubuhnya mengejang-ngejang dan gemetar, saat meraih puncak kenikmatannya…ssssrrrrrr….sssrrrrrr..lubang vaginanya menyemprotkan lahar kenikmatannya menyirami kontol Gito yang berada didalam lubang vaginanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Hani memeluk Gito erat, tubuhnya meregang menikmati peraihan puncak kenikmatannya, matanya terbeliak keatas sehingga hanya bola putihnya saja yang terlihat, mulutnya ternganga sementara kepalanya mendongak keatas.</p>
<p style="text-align: justify;">kontol</p>
<p style="text-align: justify;">Saat Hani sedang meregang menyambut puncak kenikmatannya, Nita juga hendak meraih puncak kenikmatannya, tubuhnya mulai agak limbung, kedua kakinya gemetar, tangan kanannya meraih belakang kepala Nanang, tangan kirinya memegang erat sandaran kepala sofa, tubuhnya mengejang, pantatnya menekan kebawah lalu mengejut-ngejut, ssssrrrr…..sssrrr…sssrrr…cairan kenikmatannya menyembur keluar menyiram mulut dan muka Nanang, merasakan itu Nanang semakin kuat menghisap kelentit Nita, sementara jari tangannya ia dorong lebih dalam dan digerakkan keatas-kebawah, bagian depan dan belakang jari tangannya bergantian bersentuhan dengan dinding vagina Nita.</p>
<p style="text-align: justify;">“Oouuhh…aku keluar….oooh…enak…hisap kuat-kuat itilku….yaaachhh…,”Nita mengerang, puncak kenikmatannya berhasil ia rengkuh, tubuhnya mengejang, pantatnya mengejut-ngejut saat vaginanya menyemburkan cairan kenikmatan, matanya terpejam merasakan sensasi kenikmatan yang berhasil ia capai, kepalanya terdongak kebelakang.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;</p>
<p style="text-align: justify;">Saat kedua temannya sedang meregang keenakan, Dewi juga merasakan hal yang sama, tubuhnya saat itu juga sedang meregang menyambut puncak kenikmatan yang berhasil ia rengkuh, pantatnya semakin terangkat keatas, kedua kakinya gemetaran, kedua tangannya menjambak rambut Udin, sementara tubuhnya melenting ditopang oleh kepala dan kedua kakinya, mulutnya melenguh kuat saat vaginanya mulai menyemburkan lahar kenikmatannya, pantatnya mengejut-ngejut seirama dengan semburan lahar kenikmatan dari lubang vaginanya, ssrrrrr…..ssssrrrr….ssssrrrrrr….</p>
<p style="text-align: justify;">“Din, aaku keluaar…ooohhh…enak….sekali..hisap yang kuat Din, yach aaarggg…,”Dewi melenguh menyambut puncak kenikmatannya.</p>
<p style="text-align: justify;">Dari wajah ketiga wanita itu terlihat senyum kepuasan, pipi mereka merona merah, nafas mereka terdengar memburu, tubuh mereka masih gemetar, terlihat pantat mereka masih mengejut-ngejut lemah seirama dengan semburan lahar kenikmatan dari lubang vagina mereka yang mulai mereda.</p>
<p style="text-align: justify;">Keempat lelaki itu mendiamkan sejenak aksi mereka, mereka merasakan kedutan-kedutan dilubang vagina mereka yang perlahan mulai mereda. Mereka berempat saling bertukar pandangan dan dimulut mereka tersungging senyuman, mereka berempat berpikir bahwa ini baru awal dari permainan seks selanjutnya dan mereka akan merasakan satu demi satu tubuh para wanita ini.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ceritasex.cn/dewi-maniak-seks-pesta-ulang-tahun-anaknya-bagian-1/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Amateur Anal Surprise</title>
		<link>http://www.ceritasex.cn/amateur-anal-surprise/</link>
		<comments>http://www.ceritasex.cn/amateur-anal-surprise/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 02 Nov 2009 18:25:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cerita Sex</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bokep Download]]></category>
		<category><![CDATA[Bokep Online]]></category>
		<category><![CDATA[Daun Muda]]></category>
		<category><![CDATA[anal seks]]></category>
		<category><![CDATA[anal]]></category>
		<category><![CDATA[hardcore]]></category>
		<category><![CDATA[seks]]></category>
		<category><![CDATA[video]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ceritasex.cn/?p=1044</guid>
		<description><![CDATA[Bagus nih videonya anal seks pertama ceweknya nggak mau eh sudah masuk malah teriak² enak hehehe emang cewek dimana mana sama saja munafik semua sudah kena kontol aja langsung gatel xixixixi&#8230; Download Videonya]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><object classid="clsid:d27cdb6e-ae6d-11cf-96b8-444553540000" width="450" height="337" codebase="http://download.macromedia.com/pub/shockwave/cabs/flash/swflash.cab#version=6,0,40,0"><param name="allowFullScreen" value="true" /><param name="src" value="http://www.megaporn.com/e/BNJ2LKD9a92290a20f0582362c1c4b90feee0541" /><param name="allowfullscreen" value="true" /><embed type="application/x-shockwave-flash" width="450" height="337" src="http://www.megaporn.com/e/BNJ2LKD9a92290a20f0582362c1c4b90feee0541" allowfullscreen="true"></embed></object></p>
<p style="text-align: justify;">Bagus nih videonya anal seks pertama ceweknya nggak mau eh sudah masuk malah teriak² enak hehehe emang cewek dimana mana sama saja munafik semua sudah kena kontol aja langsung gatel xixixixi&#8230; <a href="http://www.ceritasex.cn/member-vip/amatir.anal.surprise.avi" target="_self">Download Videonya</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ceritasex.cn/amateur-anal-surprise/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
<enclosure url="http://www.ceritasex.cn/member-vip/amatir.anal.surprise.avi" length="42505771" type="video/x-msvideo" />
		</item>
	</channel>
</rss>
