<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Cerita sex porno ngentot mesum perek ayam kampus &#187; Paruh baya</title>
	<atom:link href="http://www.ceritasex.cn/category/paruh-baya/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.ceritasex.cn</link>
	<description>Kumpulan cerita sex, foto bugil, dan film porno</description>
	<lastBuildDate>Mon, 26 Jul 2010 07:13:35 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0</generator>
		<item>
		<title>Anita, di Setubuhi Ayah Tiri</title>
		<link>http://www.ceritasex.cn/anita-di-setubuhi-ayah-tiri/</link>
		<comments>http://www.ceritasex.cn/anita-di-setubuhi-ayah-tiri/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 26 Jul 2010 07:13:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cerita Sex</dc:creator>
				<category><![CDATA[Daun Muda]]></category>
		<category><![CDATA[Paruh baya]]></category>
		<category><![CDATA[Pemerkosaan]]></category>
		<category><![CDATA[kisah nyata]]></category>
		<category><![CDATA[anak sekolah]]></category>
		<category><![CDATA[ayah tiri]]></category>
		<category><![CDATA[cuki]]></category>
		<category><![CDATA[isep kontol]]></category>
		<category><![CDATA[ngentot]]></category>
		<category><![CDATA[nita]]></category>
		<category><![CDATA[orgasme]]></category>
		<category><![CDATA[perkosa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ceritasex.cn/?p=1503</guid>
		<description><![CDATA[Aku adalah anak tunggal. Ibuku adalah seorang wanita yang disiplin dan agak keras sedangkan ayahku kebalikannya bahkan bisa dikatakan bahwa ayah di bawah bendera ibu. Bisa dikatakan ibulah yang lebih mengatur segala-galanya dalam keluarga. Namun, walaupun ibu keras, di luar rumah aku termasuk cewek bandel dan sering tukar-tukar pacar, tentunya tanpa sepengetahuan ibuku. Tapi suatu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Aku adalah anak tunggal. Ibuku adalah seorang wanita yang disiplin dan agak keras sedangkan ayahku kebalikannya bahkan bisa dikatakan bahwa ayah di bawah bendera ibu. Bisa dikatakan ibulah yang lebih mengatur segala-galanya dalam keluarga. Namun, walaupun ibu keras, di luar rumah aku termasuk cewek bandel dan sering tukar-tukar pacar, tentunya tanpa sepengetahuan ibuku. Tapi suatu saat, pada saat aku duduk di kelas 2 SMA, ibuku pergi mengunjungi nenek yang sakit di kampung. Dia akan tinggal di sana selama 2 minggu. Hatiku bersorak. Aku akan bisa bebas di rumah. Tak akan ada yang memaksa-maksa untuk belajar. Aku juga bebas pulang sore. Kalau Ayah, yah.. dia selalu kerja sampai hampir malam.</p>
<p style="text-align: justify;">Pulang sekolah, aku mengajak pacarku, Anton, ke rumah. Aku sudah beberapa kali mengadakan hubungan kelamin dengannya. Tetapi hubungan tersebut tidak pernah betul-betul nikmat. Selalu dilakukan buru-buru sehingga aku tidak pernah orgasme. Aku penasaran, bagaimana sih nikmatnya orgasme?</p>
<p style="text-align: justify;">Singkat cerita, aku dan Anton sudah berada di ruang tengah. Kami merasa bebas. Jam masih menunjukkan angka 3:00 sedangkan ayah selalu pulang pukul enam lewat. So, cukup waktu untuk memuaskan berahi. Kami duduk di sofa. Anton dengan segera melumat bibirku. Kurasakan hangatnya bibirnya. &#8220;Ah..&#8221; kurangkul tanganku ke lehernya. Ciumannya semakin dalam. Kini lidahnya yang mempermainkan lidahku. Tangannya pun mulai bermain di kedua bukitku. Aku benar-benar terangsang. Aku sudah bisa merasakan bahwa vaginaku sudah mulai basah. Segera kujulurkan tanganku ke perut bawahnya. Aku merasakan bahwa daerah itu sudah bengkak dan keras. Kucoba membuka reitsleting celananya tapi agak susah. Dengan segera Anton membukakannya untukku. Bagai tak ingin membuang waktu, secara bersamaan, aku pun membuka kemeja sekolahku sekaligus BH-ku tapi tanpa mengalihkan perhatianku pada Anton. Kulihat segera sesudah CD Anton lepas, senjatanya sudah tegang, siap berperang.</p>
<p style="text-align: justify;">Kami berpelukan lagi. Kali ini, tanganku bebas memegang burungnya. Tidak begitu besar, tapi cukup keras dan berdiri dengan tegangnya. Kuelus-elus sejenak. Kedua telurnya yang dibungkus kulit yang sangat lembut, sungguh menimbulkan sensasi tersendiri saat kuraba dengan lembut. Penisnya kemerah-merahan, dengan kepala seperti topi baja. Di ujungnya berlubang. Kukuakkan lubang kecil itu, lalu kujulurkan ujung lidahku ke dalam. Anton melenguh. Expresi wajahnya membuatku semakin bergairah. &#8220;Ah..&#8221; kumasukkan saja batang itu ke mulutku. Anton melepaskan celana dalamku lalu mempermainkan vaginaku dengan jarinya. Terasa sentuhan jarinya diantara kedua bibir kemaluanku. Dikilik-kiliknya klitorisku. Aku makin bernafsu. Kuhisap batangnya. Kujilati kepala penisnya, sambil tanganku mempermainkan telurnya dengan lembut. Kadang kugigit kulit telurnya dengan lembut.<br />
<span id="more-1503"></span><br />
&#8220;Nit, pindah di lantai saja yuk, lebih bebas!&#8221;<br />
Tanpa menunggu jawabanku, dia sudah menggendongku dan membaringkanku di lantai berkarpet tebal dan bersih. Dibukanya rok abu-abuku, yang tinggal satu-satunya melekat di tubuhku, demikian juga kemejanya. Sekarang aku dan dia betul-betul bugil. Aku makin menyukai suasana ini. Kutunggu, apa yang akan dilakukannya selanjutnya. Ternyata Anton naik ke atas tubuhku dengan posisi terbalik, 69. Dikangkangkannya pahaku. Selanjutnya yang kurasakan adalah jilatan-jilatan lidahnya yang panas di permukaan vaginaku. Bukan itu saja, klitorisku dihisapnya, sesekali lidahnya ditenggelamkannya ke lubangku. Sementara batangnya tetap kuhisap. Aku sudah tidak tahan lagi.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Ton, ayo masukin saja.&#8221;<br />
&#8220;Sebentar lagi Nitt.&#8221;<br />
&#8220;Ah.. aku nggak tahan lagi, aku mau batangmu, please!&#8221;<br />
Anton memutar haluan. Digosok-gosokannya kepala penisnya sebentar lalu.. &#8220;Bless..&#8221; batang itu masuk dengan mantap. Tak perlu diolesi ludah untuk memperlancar, vaginaku sudah banjir. Amboy, nikmat sekali. Disodok-sodok, maju mundur.. maju mundur. Aku tidak tinggal diam. Kugoyang-goyang juga pantatku. Kadang kakiku kulingkarkan ke pinggangnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Tiba-tiba, &#8220;Ah.. aku keluar..&#8221; Dicabutnya penisnya dan spermanya berceceran di atas perutku.<br />
&#8220;Shit! Sama saja, aku belum puas, dia sudah muntah,&#8221; rungutku dalam hati.<br />
Tapi aku berpikir, &#8220;Ah, tak mengapa, babak kedua pasti ada.&#8221;<br />
Dugaanku meleset. Anton berpakaian.<br />
&#8220;Nit, sorry yah.. aku baru ingat. Hari ini rupanya aku harus latihan band, udah agak telat nih,&#8221; dia berpakaian dengan buru-buru. Aku betul-betul kecewa.<br />
&#8220;Kurang ajar anak ini. Dasar egois, emangnya aku lonte, cuman memuaskan kamu saja.&#8221;<br />
Aku betul-betul kecewa dan berjanji dalam hati tak akan mau main lagi dengannya. Karena kesal, kubiarkan dia pergi. Aku berbaring saja di sofa, tanpa mempedulikan kepergiannya, bahkan aku berbaring dengan membelakanginya, wajahku kuarahkan ke sandaran sofa.</p>
<p style="text-align: justify;">Kemudian aku mendengar suara langkah mendekat.<br />
&#8220;Ngapain lagi si kurang ajar ini kembali,&#8221; pikirku. Tapi aku memasang gaya cuek. Kurasakan pundakku dicolek. Aku tetap cuek.<br />
&#8220;Nita!&#8221;<br />
Oh.. ini bukan suara Anton. Aku bagai disambar petir. Aku masih telanjang bulat.<br />
&#8220;Ayah!&#8221; aku sungguh-sungguh ketakutan, malu, cemas, pokoknya hampir mati.<br />
&#8220;Dasar bedebah, rupanya kamu sudah biasa main begituan yah. Jangan membantah. Ayah lihat kamu bersetubuh dengan lelaki itu. Biar kamu tahu, ini harus dilaporkan sama ibumu.&#8221;<br />
Aku makin ketakutan, kupeluk lutut ayahku, &#8220;Yah.. jangan Yah, aku mau dihukum apa saja, asal jangan diberitahu sama orang lain terutama Mama,&#8221; aku menangis memohon.</p>
<p style="text-align: justify;">Tiba-tiba, ayah mengangkatku ke sofa. Kulihat wajahnya makin melembut.<br />
&#8220;Nit, Ayah tahu kamu tidak puas barusan. Waktu Ayah masuk, Ayah dengar suara-suara desahan aneh, jadi Ayah jalan pelan-pelan saja, dan Ayah lihat dari balik pintu, kamu sedang dientoti lelaki itu, jadi Ayah intip aja sampai siap mainnya.&#8221;<br />
Aku diam aja tak menyahut.<br />
&#8220;Nit, kalau kamu mau Ayah puasin, maka rahasiamu tak akan terbongkar.&#8221;<br />
&#8220;Sungguh?&#8221;<br />
Ayah tak menjawab, tapi mulutnya sudah mencium susuku. Dijilatinya permukaan payudaraku, digigitnya pelan-pelan putingku. Sementara tangannya sudah menjelajahi bagian bawahku yang masih basah. Ayah segera membuka bajunya. Langsung seluruhnya. Aku terkejut. Kulihat penis ayahku jauh lebih besar, jauh lebih panjang dari penis si Anton. Tak tahu aku berapa ukurannya, yang jelas panjang, besar, mendongak, keras, hitam, berurat, berbulu lebat. Bahkan antara pusat dan kemaluannya juga berbulu halus. Beda benar dengan Anton. Melihat ini saja aku sudah bergetar.</p>
<p style="text-align: justify;">Kemudian Aku didudukkannya di sofa. Pahaku dibukanya lebar-lebar. Dia berlutut di hadapanku lalu kepalanya berada diantara kedua pangkal pahaku. Tiba-tiba lidah hangat sudah menggesek ke dalam vaginaku. Aduh, lidah ayahku menjilati vaginaku. Dia menjilat lebih lihai, lebih lembut. Jilatannya dari bawah ke atas berulang-ulang. Kadang hanya klitorisku saja yang dijilatinya. Dihisapinya, bahkan digigit-gigit kecil. Dijilati lagi. Dijilati lagi. &#8220;Oh.. oh.. enak, Yah di situ Yah, enak, nikmat Yah,&#8221; tanpa sadar, aku tidak malu lagi mendesah jorok begitu di hadapan ayahku. Ayah &#8220;memakan&#8221; vaginaku cukup lama. Tiba-tiba, aku merasakan nikmat yang sangat dahsyat, yang tak pernah kumiliki sebelumnya.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Oh.. begini rupanya orgasme, nikmatnya,&#8221; aku tiba-tiba merasa lemas. Ayah mungkin tahu kalau aku sudah orgasme, maka dihentikannya menjilat lubang kewanitaanku. Kini dia berdiri, tepat di hadapan hidungku, penisnya yang besar itu menengadah. Dengan posisi, ayah berdiri dan aku duduk di sofa, kumasukkan batang ayahku ke mulutku. Kuhisap, kujilat dan kugigit pelan. Kusedot dan kuhisap lagi. Begitu kulakukan berulang-ulang. Ayah ikut menggoyangkan pantatnya, sehingga batangnya terkadang masuk terlalu dalam, sehingga bisa kurasakan kepala penisnya menyentuh kerongkonganku. Aku kembali sangat bergairah merasakan keras dan besarnya batang itu di dalam mulutku. Aku ingin segera ayah memasuki lubangku, tapi aku malu memintanya. Lubangku sudah betul-betul ingin &#8220;menelan&#8221; batang yang besar dan panjang.</p>
<p style="text-align: justify;">Tiba-tiba ayah menyeruhku berdiri.<br />
&#8220;Mau main berdiri ini,&#8221; pikirku.<br />
Rupanya tidak. Ayah berbaring di sofa dan mengangkatku ke atasnya.<br />
&#8220;Masukkan Nit!&#8221; ujar Ayah.<br />
Kuraih batang itu lalu kuarahkan ke vaginaku. Ah.. sedikit sakit dan agak susah masuknya, tapi ayah menyodokkan pantatnya ke depan.<br />
&#8220;Aduh pelan-pelan, Ayah.&#8221;<br />
Lalu berhenti sejenak, tapi batang itu sudah tenggelam setengah akibat sodokan ayah tadi. Kugoyang perlahan. Dengan perlahan pula batang itu semakin masuk dan semakin masuk. Ajaibnya semakin masuk, semakin nikmat. Lubang vaginaku betul-betul terasa penuh. Nikmat rasanya. Karena dikuasai nafsu, rasa maluku sudah hilang. Kusetubuhi ayahku dengan rakus. Ekspresi ayahku makin menambah nafsuku. Remasan tangan ayahku di kedua payudaraku semakin menimbulkan rasa nikmat. Kogoyang pantatku dengan irama keras dan cepat.</p>
<p style="text-align: justify;">Tiba-tiba, aku mau orgasme, tapi ayah berkata, &#8220;Stop! Kita ganti posisi. Kamu nungging dulu.&#8221;<br />
&#8220;Mau apa ini?&#8221; pikirku.<br />
Tiba-tiba kurasakan gesekan kepala penis di permukaan lubangku kemudian.. &#8220;Bless..&#8221; batang itu masuk ke lubangku. Yang begini belum pernah kurasakan. Anton tak pernah memperlakukanku begini, begitu juga Muklis, lelaki yang mengambil perawanku. Tapi yang begini ini rasanya selangit. Tak terkatakan nikmatnya. Hujaman-hujaman batang itu terasa menggesek seluruh liang kewanitaanku, bahkan hantaman kepala penis itupun terasa membentur dasar vaginaku, yang membuatku merasa semakin nikmat. Kurasakan sodokan ayah makin keras dan makin cepat. Perasaan yang kudapat pun makin lama makin nikmat. Makin nikmat, makin nikmat, dan makin nikmat.</p>
<p style="text-align: justify;">Tiba-tiba, &#8220;Auh..oh.. oh..!&#8221; kenikmatan itu meladak. Aku orgasme untuk yang kedua kalinya. Hentakan ayah makin cepat saja, tiba-tiba kudengar desahan panjangnya. Seiring dengan itu dicabutnya penisnya dari lubang vaginaku. Dengan gerakan cepat, ayah sudah berada di depanku. Disodorkannya batangnya ke mulutku. Dengan cepat kutangkap, kukulum dan kumaju-mundurkan mulutku dengan cepat. Tiba-tiba kurasakan semburan sperma panas di dalam mulutku. Aku tak peduli. Terus kuhisap dan kuhisap. Sebagian sperma tertelan olehku, sebagian lagi kukeluarkan, lalu jatuh dan meleleh memenuhi daguku. Ayah memelukku dan menciumku, &#8220;Nit, kapan-kapan, kalau nggak ada Mama, kita main lagi yah.&#8221; Aku tak menjawab. Sebagai jawaban, aku menggelayut dalam pelukan ayahku. Yang jelas aku pasti mau. Dengan pacarku aku tak pernah merasakan orgasme. Dengan ayah, sekali main orgasme dua kali. Siapa yang mau menolak?</p>
<p style="text-align: justify;">Sesudah itu asal ada kesempatan, kami melakukannya lagi. Sementara mama masih sering marah, dengan nada tinggi, berusaha mengajarkan disiplin. Biasanya aku diam saja, pura-pura patuh. Padahal suaminya, yang menjadi ayahku itu, sering kugeluti dan kunikmati. Beginilah kisah permainanku dengan ayahku yang pendiam, tetapi sangat pintar di atas ranjang.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ceritasex.cn/anita-di-setubuhi-ayah-tiri/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Akibat Gejolak Birahi Guru SD</title>
		<link>http://www.ceritasex.cn/akibat-gejolak-birahi-guru-sd/</link>
		<comments>http://www.ceritasex.cn/akibat-gejolak-birahi-guru-sd/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 26 Jul 2010 07:09:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cerita Sex</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ekshibionis]]></category>
		<category><![CDATA[Gangbang Rame Rame]]></category>
		<category><![CDATA[Paruh baya]]></category>
		<category><![CDATA[Pemerkosaan]]></category>
		<category><![CDATA[Seks Umum]]></category>
		<category><![CDATA[dona]]></category>
		<category><![CDATA[gairah]]></category>
		<category><![CDATA[guru]]></category>
		<category><![CDATA[guru muda]]></category>
		<category><![CDATA[masturbasi]]></category>
		<category><![CDATA[nafsu]]></category>
		<category><![CDATA[ngentot]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ceritasex.cn/?p=1501</guid>
		<description><![CDATA[Aku meraba klitorisku dengan jari jariku, terasa nikmat sekali, beberapa saat kututup mataku. Cepat sekali vaginaku sudah licin, basah sekali, sentuhan jari jariku semakin menebarkan rasa nikmat. Sesekali aku tekan lebih keras, tubuhku rasanya tidak sanggup menopang tubuhku, lututku bergetar lemas tidak kuat menopang tubuhku. Oh ya, keasikan neh, perkenalkan namaku dona, 26 tahun, masih [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Aku meraba klitorisku dengan jari jariku, terasa nikmat sekali, beberapa saat kututup mataku. Cepat sekali vaginaku sudah licin, basah sekali, sentuhan jari jariku semakin menebarkan rasa nikmat. Sesekali aku tekan lebih keras, tubuhku rasanya tidak sanggup menopang tubuhku, lututku bergetar lemas tidak kuat menopang tubuhku.</p>
<p style="text-align: justify;">Oh ya, keasikan neh, perkenalkan namaku dona, 26 tahun, masih single, aku bekerja sebagai seorang guru SD di Jakarta. Hobiku adalah masturbasi sambil menghayalkan pria pujaanku, fantasi-fantasi liar sering kali tidak dapat kubendung, apalagi semenjak aku jomblo hampir setahun ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Dan beginilah, belakangan ini jika sedang horny aku tidak kenal tempat untuk memuaskan gejolak birahiku. Balik ke cerita tadi&#8230;</p>
<p style="text-align: justify;">Sangkin nikmatnya masturbasi di toilet sekolah, aku sampai tidak menyadari kalau pintu toilet meski kututup tapi tidak kukunci. Aku semakin tidak peduli, yang kutahu aku harus memuaskan birahiku yang sedang terbakar, kucoba menahan desahanku, meski terkadang terlepas juga desisan desisan kecil dari bibir tipisku.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;sshh..emhhh&#8221;, desisan kecil sesekali kelaur dari bibir tipisku.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku membayangkan bercinta dengan pak Oki, guru olah raga baru disekolah tempatku bekerja, pak Oki sungguh tampan dan tubuhnya yang sangat kekar, tadi siang aku memperhatikannya yang sedang memberi petunjuk cara meregangkan otot kepada murid kelas 6 SD. ototnya begitu keakar, belum lagi ada tonjolan yang menggelembung di antara pahanya. Terus terbayang-bayang, aku jadi ga kaut lagi menahan birahiku sampai akhirnya berujung di toilet sekolah ini ketika jam pelajaran berakhir dan sekolah sudah sepi. Aku membayangkan bercinta dengan pak Oki di toilet ini, dia memompa kontolnya yang besar di vaginaku dari arah belakang, tubuhnya mendorong tubuhku sehingga aku terpaksa menahan tubuhku di tembok toilet dan sedikit menungging.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku mempraktekkannya seolah-olah semuanya nyata, satu tanganku bertopang di dinding dan yang lain membelai klitorisku dari depan.<br />
&#8216;uuuh pak oki&#8217;, desisku pelan. aku terus mengejar kenikmatan, keringatku mulai keluar dari atas keningku. Tidak lama aku merasa hampir tiba di ujung kenikmatan itu, namun tiba-tiba,</p>
<p style="text-align: justify;">&#8216;braaak&#8217;, pintu toilet tiba tiba terbuka.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8216;bu dona&#8217;, kata orang yang berdiri di depan pintu toilet dengan mata yang tidak berkedip sedikitpun melihatku. Aku tersentak kaget,</p>
<p style="text-align: justify;">&#8216;pak parman ehhhh&#8230;&#8217;, kataku kaget ketika melihat pak parman, cleaning service sekolah yang umurnya sekitar 40 tahun. Sangkin kagetnya dan tidak tau berbuat apa aku jongkok merapatkan kakiku sangkin kagetnya, namun tanganku masih berada diantara selangkanganku, aku begitu kaget sampai luapa menarik tanganku.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8216;pak parmaan keluar&#8217;, kataku dengan suara pelan. Wajahku pucat sangkin takut dan malunya. Kurang ajar benar dia, bukannya keluar tapi malah cepat-cepat masuk dan menutup pintu kamar toilet dan menguncinya.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8216;ngapain pak&#8230; keluar,&#8217; perintahku dengan tetap berjongkok sambil merapikan rok ku ke bawah yang tadinya tersingkap sampai ke pinggul.<br />
&#8216;Bu dona&#8217;, kata parman sambil mendekatiku dan mendekap tubuhku. Aku bertambah kaget, tapi aku tdak berani berteriak, aku takut ada orang yang mengetahui kalau aku masturbasi di toilet sekolah.<br />
<span id="more-1501"></span><br />
&#8216;jangaan pak&#8217;, kataku berusaha melepaskan dekapannya, kugeser tubuhku untuk melepaskan diri dari dekapannya, namun dia tetap mendekapku sampai aku menabrak dinding.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8216;jangan paak&#8217;, kataku takut, dia tidak mendengarkanku, bahkan dia mendekatkan wajahnya dan menciumi leherku,<br />
&#8216;jangaaan&#8217;, kataku lagi.</p>
<p style="text-align: justify;">Melihat parman yang begitu beringas dengan nafas mendengus dengaus menciumi leherku dan tangannya mulai meraba raba buah dadaku. Aku menyadari kalau aku terjebak, aku berusaha melawan, dengan sekuat tenaga aku dorong tubuhnya, berhasil, dia terjatuh di lantai toilet.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku langsung mengambil kesempatan, berdiri ke arah pintu, namun ketika aku mencoba membuka grendel pintu toilet. Tanganku tertahan oleh tangan parman yang kekar,</p>
<p style="text-align: justify;">&#8216;lepaskan&#8217;, kataku, namun parman yang sudah kesetanan itu tidak mendengarkanku, dia malah memutar tangan kananku ke belakang tubuhku dengan paksa, tangannya yang lain menahan tangan kiriku didinding. Aku terjebak, tenaganya kuat sekali, tubuhku seperti terkunci dan tidak bisa bergerak,</p>
<p style="text-align: justify;">&#8216;pak parmman jangan&#8230;sakit..lepaskan&#8217;, kataku memohon dengan suara memelas.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8216;bu dona&#8230; biarkan aku&#8230;&#8217;, katanya didekat telingaku, dengusan nafasnya sampai terasa menerpa telingaku.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;ahhh lepaskan&#8217;, aku memohon lagi begitu mengetahui tubuh kekarnya menekan tubuhku kedinding. Aku sangat takut, ketika merasa ada benda yang keras kenyal menabrak bokongku.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8216;ahh kontolnya udah tegang, dia akan memperkosaku&#8217;, jerit batinku</p>
<p style="text-align: justify;">Aku semakin memberontak berusaha melepaskan kuncian tangannya yang menahan kedua tanganku.<br />
&#8216;sebaiknya bu dona jangan berisik, nanti ada orang yag dengar, biarlah saya dipukuli orang tetapi saya akan cerita ke semua orang kalau ibu dona masturbasi di kamar mandi&#8217;, katanya mengancam, aku mengurangi perlawananku, ancamannya begitu mengena. Apalagi di sekolah aku dikenal sebagai wanita anggun yang berkarisma. Aku menghentikan perlawananku&#8230;berpikir sejenak.</p>
<p style="text-align: justify;">Kesempatan itu tidak disia siakannya, tangan kananku diletakkan keatas merapat didinding bersatu dengan tangan kiriku, dengan tangan kirinya dia menahan kedua tanganku.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8216;jangan paak, kumohhhon jangaan&#8217;, aku memelas kepadanya. Tapi sia-sia, tangan kanannya sudah bebas meraba raba buah dadaku, dia memeras buah dadaku keras sekali. Ingin rasanya menangis tetapi aku takut malah ada yang dengar.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;aahh bu dona..toked bu dona gede banget emmhh&#8217;, kata-kata kotor yang memuji keindahan tubuhku keluar dari mulutnya.Kurang puas meraba buah dadaku yang masih ditutupi kemeja, dia menarik kemejaku keatas melepaskan dari dalam rokku. Tangannya yang kasar mulai terasa meraba raba perutku,</p>
<p style="text-align: justify;">&#8216;ammpuun pak lepaskan&#8217;, kucoba lagi memohon ketika dia mulai memeras buah dadaku.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8216;emmh bu dona, gede banget toket bu dona&#8221;, katanya lagi dengan berbisik dari belakang, dengusan nafasnya yang berderu menandakan dia sangat bernafsu. Dan aku bisa merasakan penisnya sudah sangat keras sekali menabrak nabrak pantatku. Ini semua menandakan dia benar benar sudah sangat ingin menyetubuhiku.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8216;Bu dona ijinkan saya ngentotin bu dona&#8217;, bisiknya pelan sambil menarik rokku keatas. Aku kaget mendengarnya, tetapi tenagaku tidak cukup kuat melepaskan kuncian tangannya.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8216;Pak..jangan jangan kasihani aku&#8217;, kataku memelas. Sepertinya apapun yang kukatakan tidak dapat membendung nafsu setannya, sejenak tidak kurasakan tangan kanannya meraba raba tubuhku.</p>
<p style="text-align: justify;">Penasaran apa yang dilakukannya. aku menoleh ke belakang dan alangkah kagetnya..<br />
&#8216;oooh jangan pak&#8217;, aku panik ketika melihat ke belakang dia mengeluarkan kontolnya, meski tidak begitu jelas aku bisa melihat penisnya yang besar dan hitam legam sudah keluar dari sarangnya. Belum hilang rasa kagetku, Parman menekan tubuhku merapat kedinding, aku merasakan benda kenyal dan keras mengesek dan menabrak pantatku.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8216;Aduuh pantat bu dona montok banget&#8217;, katanya meremas remas pantatku. Aku terkaget, aku baru teringat jika ketika masturbasi tadi aku melepas celana dalamku dan celana dalamku masih tergantung di pintu toilet.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8216;Gawat neh&#8217;, pekikku dalam hati mengetahui bokongku tidak dibaluti kain sedikitpun. Pasti dia dengan mudah mencari sasaran tembaknya apa lagi vaginaku udah mengeluarkan cairan karena masturbasi tadi, aku menjadi panik kembali, aku takut membayangkannya. Kucoba lagi memberontak, tapi tetap sia sia.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku pasrah, rasanya tidak mungkin lepas, kurasakan ada benda kenyal sedang menggesek gesek belahan vaginaku yang licin seperti mencari cari sasaran. Akhirnya benda itu berhenti tepat di mulut lubang vaginaku setelah mendapatkan sasaran tembak, kontol parman sudah berada tepat di depan mulut vaginaku, aku sungguh tidak berdaya.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8216;Pak parman ampun pak&#8217;, kataku memohon lagi menyadari dalam hitungan detik kontolnya akan segera masuk kedalam tubuhku.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8216;Bu dona udah lama saya pengen giniin bu dona, bu dona seksi banget&#8217;, katanya, dan tiba tiba kurasakan kontolnya mulai masuk, aku panik mencoba melawan sengan sisa sisa harapanku, bukannya terlepas tapi malah karena gerakan tubuhku kontol itu malah terbenam masuk ke dalam lubang vaginaku,</p>
<p style="text-align: justify;">&#8216;aaaah tidaaak&#8217;, pekikku dalam hati ketika kurasakan kontolnya terasa terbenam memenuhi vaginaku. Aku menarik nafas, ingin rasanya menangis.</p>
<p style="text-align: justify;">Sungguh sial, vaginaku yang sudah basah ketika aku masturbasi tadi malah memudahkan batang itu masuk, tetapi kupikir itu lebih baik, jika tidak mungkin vaginaku bisa lecet karena ada benda yang memaksa masuk, tapi berkat cairan yang sebelumnya memang udah membanjiri vaginaku membuat kontol parman yang besar itu pun masuk perlahan menggesek dinding lubang vaginaku perlahan.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8216;emmmh bu dona, vagina bu dona enak banget, ooohhh&#8217;, desahnya didekat telingaku ketika kontolnya dibenamkan sedalam dalam mungkin dan terasa menyentuh rahimku,</p>
<p style="text-align: justify;">&#8216;Ya ampuuun panjang banget kontol laki laki ini, ampuuun&#8217;, pekikku dalam hati. Aku berharap kontol itu udah mentok karena terasa sangat keras menabrak rahimku dan terasa sedikit perih karena jujur aja belum pernah ada benda sebesar itu masuk ke vaginaku. Ketika batangan itu amblas, aku terdiam, antara bingung, takut, takjub, nikmat dan kaget. Semuanya berkecamuk dikepalaku&#8230; aku benar benar terdiam, tidak bergerak.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku pasrah, tidak mengeluarkan sepatah katapun, tidak kusangka khyalanku bercinta di toilet sekolah, dan disetubuhi dari belakang kesampean juga, tetapi bedanya bukan dengan pak oki dan aku tidak menginginkan ini terjadi. Tapi kenyataannya, laki laki yang sedang mendesah desah dibelakangku, yang sedang membenamkan batangannya di lubang surgaku yang berharga adalah pegawai kebersihan alias cleaning service di sekolah kami.</p>
<p style="text-align: justify;">Kenyataan yang harus kuterima, parman sedang menikmati vaginaku, menikmati memompa penisnya keluar masuk di lubang kemaluanku.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8216;oooh bu dona&#8230;ohhh enaknya&#8217;, desah parman ga karuan berkali kali</p>
<p style="text-align: justify;">&#8216;emmmh&#8217;, aku mendesis kecil, meski aku tidak suka tapi tiba-tiba aku merasakan rasa nikmat meski tersamar oleh rasa takutku. Parman terus mengocok kontolnya tanpa henti, begitu dalam melesak masuk di lubang vaginaku. Kedua tanganku masih ditahan oleh tangannya yang kekar di dinding toilet.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8216;oooh ya ampppuuun kontolnya teraasa banget&#8217;, teriakku dalam hati. Ketika aku mulai tenang, aku menyadari kalau kontol parman memang besar dan keras sekali, gesekan dan tusukan kontolnya begitu mantap memenuhi lubang vaginaku. Terasa banget ada benda yang mengganjal selangkangku, mulai menebarkan rasa nikmat yang menjalar diseluruh tubuhku.</p>
<p style="text-align: justify;">Diam diam aku mulai menikmati diperkosa pria ini, tiap kali dia menggerakkan batang kontolnya, darahku berdesir, sungguh luar biasa nikmat yang kudapat. Ketika dia menancapkan penisnya kembali ke dalam liangku, aku mendesis pelan, kucoba tidak mengeluarkan suara, aku terlalu sombong untuk mengakui kalau batangan itu sungguh memberikan kenikmatan padaku, tetapi tetap saja desisan kecil keluar dari bibirku.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8216;mmmh mmmmh&#8217;, desisku pelan.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8216;enakkan bu?, katanya tiba tiba.</p>
<p style="text-align: justify;">Ternyata dia mengetahui kalau aku mulai menikmati tusukan kontolnya. Aku terdiam malu, tidak berani berkomentar, kalau kubilang tidak atau memaki makinya, dia pasti tahu aku bohong karena vaginaku sudah mengeluarkan banyak cairan yang menandakan aku juga terangsang dan menikmati enjotan kontolnya. Aku menundukkan kepalaku dan mencoba menghindari ciuman bibirnya yang mengecup pipi kananku.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8216;Tunggingin dikit bu dona&#8217;, katanya sambil menarik pantatku keatas.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8216;Kurang ajaaar&#8230; berani beraninya dia malah menyuruhku menungging&#8217;, umpatku dalam hati.</p>
<p style="text-align: justify;">Tapi aku tidak punya pilihan selain menuntaskan birahinya secepat mungkin, dan berharap agar semuanya secepat mungkin berakhir. Aku ikuti saja kemauannya dengan menunggingkan sedikit pantatku.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8216;emmh pantat bo dona memang montok banget, ga salah apa yang aku khayalin selama ini&#8217;, katanya sambil meremas remas bokongku gemas.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8216;Gila, ternyata aku sudah lama jadi fantasi laki laki ini&#8217;, pikirku dalam hati.</p>
<p style="text-align: justify;">Merasa posisiku sudah siap, sambil tangan kirinya menahan pinggulku, dia kembali menggerakkan kontolnya kembali.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8216;emmh pak pelan&#8217;, kataku ketika kurasakan penetrasi kontolnya terasa lebih dalam dari sebelumnya,mungkin karena aku menunggingkan pantatku sehingga posisi vaginaku benar-benar bebas hambatan.</p>
<p style="text-align: justify;">Parman tidak memperlambat kocokannya, dia malah mempercepat, aku mulai mendesah-desah pelan masih menjaga sikapku,</p>
<p style="text-align: justify;">&#8216;emmh emmmh&#8217;, desisku pelan merasakan gesekan batangannya di lubang vaginaku.</p>
<p style="text-align: justify;">Melihat tubuhku yang terdorong dorong kedepan, parman sepertinya sengaja melepaskan kedua tanganku sehingga aku dapat menahan tekanan tubuhnya, dengan kedua tanganku bertopang pada tembok.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8216;emmmh gila seret banget&#8217;, erangnya. Kini kedua-tangannya meremas remas bokongku yang bulat padat sambil tidak berhenti mengocok kontolnya.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8216;ooh bu oooh&#8217;, parman semakin keras mendesah, aku jadi takut kalau-kalau ada orang yang mendengar desahannya itu.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;pak parman..ja..jangan berisik pak..&#8221;, kataku memohon takut desahannya didengar orang.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8216;I..i..iya bu emhh abis enak banget&#8217;, katanya pelan dengan nafas menderu.</p>
<p style="text-align: justify;">Kocokan kontolnya terasa semakin cepat. Kurang puas meremas-remas bokongku, dia menguakkan belahan pantatku. dan kurasakan satu jarinya membelai anusku. Kontan aja aku menggeliat, pantatku bergoyang ke kanan ke kiri karena kegelian.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8216;oooh pak parman..oooh&#8217;, aku bukan lagi mendesis tetapi desahan mulai keluar dari bibirku, rasa nikmat yang tercipta dari kocokan kontol parman ditambai gesekan jarinya yang membelai anusku seperti racikan yang pas membuat aku lupa diri, dan membuatku tidak dapat membendung desahanku. Hebat sekali, rasanya aku mulai benar benar menikmati semua ini, tubuhku terasa sangat geli, kenikmatan rasanya menyebar diseluruh tubuhku.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8216;oooh ahhh&#8217;, aku semankin menggila desahanku bertambah keras saja, parman bukan saja hanya membelai anusku dengan jarinya tetapi memasukkan satu jarinya ke anusku dan menusuk nusuk jarinya ke anusku, refleks pantatku semakin kutungingin, tiap kali dia menarik kontolnya dia membalasnya dengan menusukkan jarinya ke anusku. Jujur saja terlintas dibenakku untuk melakukan anal sex dengan pak parman, seperti yang dulu pernah kulakuan dengan pacarku.</p>
<p style="text-align: justify;">Parman semakin mengerang tak karuan, tidak kuhiraukan lagi apa yang dikatakan parman, rasanya aku sudah mau orgasme.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8216;saya mau keluar..ahh bu dona&#8217;, kudengar samar samar erangannya, namun tidak kupedulikan karena aku juga merasa sudah mau orgasme.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8216;ooh emmmh oooh&#8217; desahku lebih keras, kurapatkan tubuhku kedinding, parman mengikuti tubuhku dan menekan keras keras kontolnya kedalam vaginaku, bahkan dia menusuk jarinya sampai amblas didalam anusku</p>
<p style="text-align: justify;">&#8216;ahhhh setaaan kau parmaaaaan&#8217;, lirihku panjang, aku orgasme, aku tidak dapat menahannya, sungguh luar biasa aku bisa orgasme ketika diperkosa.</p>
<p style="text-align: justify;">Kutelan air liurku menikmati sisa kenikmatan, masih kurasakan penis parman memenuhi liangku, tetapi tidak kurasakan lagi jari parman di anusku, kedua tangannya memegang pantatku dan memompa kontolnya dengan ganas.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8216;oooh bu dona oooh&#8217;, tiba tiba parman mengerang keras dan menekan tubuhku keras, aku kaget menyadari dia mau orgasme, tapi terlambat, diringi erangannya, kontol parman sudah menyemburkan sperma hangat menyirahi rahimku. Berkali kali dia mengehentakkan penisnya dalam-dalam membuat tubuhku terdorong ke tembok.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8216;ooooh emmmh&#8217;, entah kenapa aku ikut menikmati sensasi ketika parman orgasme di liangku, denyutan-denyutan kecil batang kontolnya terasa di sinding lubang vaginaku ketika cairan hangat spermanya berhamburan keluar menyirami lubangku.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8216;Ahhh apa yang kulakukan? Parman orgasme di vaginaku&#8217;, pekikku dalam hati. Aku tersadar kembali, kurapatkan tubuhku kedinding dan menarik nafasku, aku teringat kalau aku memang sudah mau haid, aku hanya bisa berharap spermanya tidak membuahi telur dirahimku.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8216;ahh bu dona emmh&#8217;, dia mencoba mencium pipiku tapi kudorong dengan mata melotot. Melihatku protes, dia segera merapikan pakaiannya tanpa membersihkan kontolnya yang masih dilumuri cairan vaginaku.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8216;Cepat keluar pak&#8217;, kataku dengan suara lantang sambil merapikan posisi rokku. Parman tanpa berkata apa apa langsung keluar dan kukunci pintu toilet. Aku langsung membersihkan kemaluanku dari cairanku sendiri dan sperma parman yang mengalir keluar,</p>
<p style="text-align: justify;">&#8216;gila..banyak banget spermanya&#8217;, umpatku dalam hati.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku mengenakan celana dalam dan merapikan baju yang kukenakan. Aku mengendap endap keluar toilet dengan hati berdebar, takut ada orang yang mengetahui apa yang terjadi tadi di toilet. Suasana sekitar sekolah sepi, memang saat itu sudah hampir jam 4 sore. Dengan hati berdebar aku memasuki ruangan guru, kulihat kepala sekolah dan 2 orang guru belum pulang mereka lagi sibuk dengan urusan masing masing. Aku sedikit bernafas lega meski perasaan kotor masih ada dipikiranku. Dan sore itu aku pulang kerumah dengan perasaan yang tidak menentu antara malu, takjub dan takut.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku tidak tahu apa yang akan terjadi dihari-hari esok pada diriku&#8230;ahh hidup&#8230; ﻿</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ceritasex.cn/akibat-gejolak-birahi-guru-sd/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Istriku Threesome</title>
		<link>http://www.ceritasex.cn/istriku-threesome/</link>
		<comments>http://www.ceritasex.cn/istriku-threesome/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 23 Jul 2010 21:31:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cerita Sex</dc:creator>
				<category><![CDATA[Gangbang Rame Rame]]></category>
		<category><![CDATA[Paruh baya]]></category>
		<category><![CDATA[Seks Umum]]></category>
		<category><![CDATA[Tante Girang]]></category>
		<category><![CDATA[cuki]]></category>
		<category><![CDATA[entot]]></category>
		<category><![CDATA[istri]]></category>
		<category><![CDATA[kontol]]></category>
		<category><![CDATA[memek]]></category>
		<category><![CDATA[ngentot]]></category>
		<category><![CDATA[pepek]]></category>
		<category><![CDATA[threesome]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ceritasex.cn/?p=1491</guid>
		<description><![CDATA[Aku seorang suami umur 39 tahun dan istriku berumur 40 tahun. Kami mempunyai anak 2 orang, 1 perempuan dan satu laki-laki. Walaupun kami sudah berumur tapi kehidupan sex kami sangat memuaskan. Kami selalu berhubungan sex. Istrku memang berumur 40 tahun tapi bodynya tanggung sexy dan terawat masih kelihatan seperti umur 30 tahun. Aku berpikir untuk [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Aku seorang suami umur 39 tahun dan istriku berumur 40 tahun. Kami mempunyai anak 2 orang, 1 perempuan dan satu laki-laki. Walaupun kami sudah berumur tapi kehidupan sex kami sangat memuaskan.</p>
<p style="text-align: justify;">Kami selalu berhubungan sex. Istrku memang berumur 40 tahun tapi bodynya tanggung sexy dan terawat masih kelihatan seperti umur 30 tahun.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku berpikir untuk memberikan sesuatu yang lain kepada istriku, yaitu aku ingin kami bercinta dengan satu orang lain, bertiga. Dan ini aku sampaikan kepada istriku sebut saja namanya Rina. Namaku sendiri Ricky. Pertama-tama Rina tidak setuju, tetapi setelah ku bujuk-bujuk kukatakan.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Mah, ini kita lakukan untuk happy kita saja sayang&#8221;.<br />
&#8220;Yah, pah tapikan saya malu bercinta dengan orang yang belum pernah saya kenal&#8221;.<br />
&#8220;OK, sayang lupakan semua, yang penting saat itu kita mencapai kepuasan. Bagaimana sayang?&#8221;, setelah kubujuk akhirnya Rina setuju.<br />
&#8220;Terserah papah ajalah.&#8221;<br />
Aku lalu mencium istrku, dan malam itu kami bercinta dan kami melakukannya sampai pagi.</p>
<p style="text-align: justify;">Waktu berjalan terus, sementara aku terus mencari orang yang cocok untuk kami aja bergabung. Suatu hari aku berkenalan dengan seorang guru instruktur senam di kota kami. Namanya Herman. Orangnya ganteng umurnya masih 26 tahun badanya pun sangat atletis. Beberapa kali pertemuan aku menyampaikan apa rencana kami kepada Herman, dan kulihat dia tidak terkejut.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Biasa Mas, aku pernah melakukan ini dengan pasangan lain,&#8221; cerita herman. Oh aku sangat senag sekali, ternyata Herman sangat berpengalaman. Maka kami ataur rencana, Ini akan kami lakukan disalah satu hotel terkenal dikota kami.</p>
<p style="text-align: justify;">Hari Sabtu siang Rina dan aku ngobrol berdua diruang tamu.<br />
&#8220;Mah, aku kok rasanya kepengen kita tidur dihotel berdua saja malam ini&#8221;, Rina menyambut dengan hangat.<br />
&#8220;Boleh juga tuh Mas, hitung-hitung bulan madu,&#8221; katanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Kami sepakat memilih Hotel &#8220;S&#8221; untuk menginap nanti malam. Sesampai dihotel setelah menyelesaikan administrasi hotel, lalu kami masuk kamar hotel. Rina langsung rebahan diatas tempat tidur yang cukup besar. Sedangkan aku masuk kedalam kamar mandi untuk menelpon Herman, dan kami beri tahu nomor kamar dan jam berapa dia harus datang.</p>
<p style="text-align: justify;">Didalam kamar aku dan Rina ngobrol dan sekali sekali kami berciuman, Aku meremas payudara Rina dari balik bajunya sambil terus menciumi leher jenjangnya. Rina mendesah, &#8220;aaahh&#8230; mas&#8230;..&#8221; sambil berciuman tanganku masuk kebalik baju yang dipakainya.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Mas?&#8230;&#8230; aku mau Mas&#8230;!&#8221; Rok yaand dipakai Rina sudah naik sampai memperlihatkan paha Rina yan mulus dan putih, Dan tanganku mengelus-elus lembut memek Rina dari balik celana dalamnya dan aku merasakan cairan kemaluan istriku sudah mulai keluar&#8230; yah&#8230; oh&#8230;. terus Mas&#8230;.. yahhh&#8230; atatasnya sayang&#8230;&#8221;<br />
<span id="more-1491"></span><br />
Tiba2 pintu diketuk dari luar. Kami buru2 merapihkan pakain kami, biasa Rina sambil ngomel,&#8221;siapa sih, ngegangu aja?&#8221; Aku membuka pintu, Herman sudah didepan pintu dengan kaos ktetnya memperlihatkan tubuhnya yang atletis.<br />
&#8220;Siappa pah?&#8221; tanya istrku dari dalam.<br />
&#8220;Ini kenalkan teman papah, tadi telpon kebetulan dia ada di hotel ini, jadi papah suruh mampir saja.&#8221;<br />
&#8220;Ini Rina istriku,&#8221;<br />
&#8220;Aku Herman mbak,&#8221; sambil menyalami istriku.</p>
<p style="text-align: justify;">Istriku banyak diam, mungkin kesel karena nanggung tadi. Sambil memeluk Rina aku berkata kepada Rina. &#8220;Mah, Herman ini yang akan bergabung dengan kita untuk bercinta. Rina sedikit kaget, tapi setelah kutenangkan dia dapat menerimanya. Sambil ngobrol sekali-kali aku mencium Rina, pertama-tama Rina sanagt risih, tapi lama lama aku dapat merasakan Rina mulai terbiasa, malah membalas ciuman aku.</p>
<p style="text-align: justify;">Herman tersenyum melihat kami berciuman. Aku melihat istriku melirik Herman pada saat kami berciuman. Hernan masih duduk disofa sementara kami duduk dipinggir tempat tidur berpelukan menghadap kesofa dimana Herman duduk. Samil berciuman aku meraba-raba paha mulus istriku. Dan Rina melebarkan kakinya sehingga Herman dapat dengan jelas melihat paha bagian dalam Istriku dan celana dalam Rina. Herman berdiri menghampiri kami dan jongkok didepan kami. Sementara aku dan Rina terus berciuman dan pelan aku membuka satu persatu kancing kemeja Rina, dan terbukalah dadanya dengan BRa warna hitamnya. Tiba-tiba Rina tersentak, Rupanya Herman menciumi paha istriku, Rina menegang jilatan Herman terus merambat keatas menyentuh celana dalam istriku.</p>
<p style="text-align: justify;">Sementara aku sudah melepas beha Rina dan menciumi sambil menjilati puting teteknya. &#8220;ooooohhh&#8230;.. yahhhhhh&#8230; enak enak Her&#8230;&#8230;jilati memek mbak Her&#8230;???&#8221; MUlut istriku terus merengek-rengek meminta Herman untuk menjilat memeknya. Aku merebahkan Rina ditempat tidur sementara kakinya masih menjuntai kebawah dan Herman terus menjilat dan menciumi selangkangan istriku. Rina melebarkan kakinya dan meminta Herman untuk membuka celana dalamnya.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Iyah&#8230;. terus Her&#8230;. buka celana dalam Mbak&#8230;. jilati memek mbak oooohh&#8230;. Mbak mau kontol mu&#8230;&#8230;.&#8221; Herman lalu membuka celana dalam Rina&#8230;.. dan kelihatanlah memek istriku dengan bulu yang rapih terawat dan berkilat, menandakan Rina sudah sangat terangsang.</p>
<p style="text-align: justify;">Istriku sekarang sudah telanjang didepan dua laki-laki yang siap untu memberikan kepuasan kepadanya. Rina tergolek pasrah sementara kakinya tetap menapak di lantai sehingga memeknya menjadi lebih kelihat menonjol keatas. Herman berdiri lalu membuka kaosnya, kelihatan dadanya yang bidang ditumbuhi bulu, Istriku memeandang nanar, Herman juga membuka celana panjangnya. Otomatis Herman hanya memakai celana dalam saja, dan kontolnya yang belum tegang menonjol dan kelihatan jelas dimata istriku. Dan Rina terus melihat kebawah. Sambil berkata &#8220;Her&#8230;?Mbak mau kontol kamu! Puaskan Mbak Her&#8230;&#8230;..&#8221; Rina Bangkit dari tempat tidur lalu jongkok didepan Herman.</p>
<p style="text-align: justify;">Istriku menciumi kontol Herman dengan bernapsu&#8230;.. lalu Rina menurunkan celana dalam Herman, maka kelihatanlah kontol Herman begitu dekatnya denga muka Istriku. Rina menjilati kontol Herman mulai dari pangkal sampai ujungnya. Terus berulang-ulang.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;ohhhhh&#8230;. enak Mbak &#8230;. enak sekali lidah kamu Mbak..&#8221; erang Herman. Istriku memasukan kontol Herman kedalam mulutnya berulang kali. &#8220;Ahhhhh enak&#8230;.. sekali Mbak&#8221; sambil tangan Rina mengocok-ngocok kontol Herman. Lalu Herman menngajak Rina berdiri. Lalu mereka berciuman sambil berdiri shhhhh&#8230;suara ciuman mereka sampai kekupingku aku terpancing, lalu menghampiri mereka. sambil jongkok dibelakang Rina, aku menciumi pantat rina sambil tanggan ku meraba-raba memek sitriku yang sudah basah&#8230;. merekaterus berpelukan sambil berciumana sementara aku menciumu pantat istriku&#8230;&#8230;&#8230;.</p>
<p style="text-align: justify;">Tiba-tiba rina istriku menungging mengapai kembali kontol Herman dan dimasukannya kedalam mulut &#8220;acchhhhhh, Herman mengerang&#8230;. sementara aku menjilati memek Rina dari belaakng, sekali jari-jariku keluar masukan kedalam memek RIna.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;yahhhhh&#8230; terus Mas&#8230; masukkan jarinya Mas&#8230; Rin&#8230; ga tahan&#8230;&#8230; terus&#8230; yang dalam&#8230;&#8230;&#8230; Entot saya&#8230;. her&#8230;.. Mbak Mau kontolmu&#8230; masukkan kontol kamu kedalam memek MBak&#8230;.. aaaccchhh&#8230; ssssssssshhhh..&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Kami berganti posisi. Aku rebahan di kasur sementara istriku menungging sambil menjilati kontol ku&#8230;.. dari belakang Herman sudah siap-siap memasukan kontolnya yang sudah tegang kedalam memek istriku. Heramn mengosok-gosokan kontolnya kebelahan memek istriku.<br />
&#8220;yahhh&#8230;. masukan Her&#8230; Mbak sudah ga kuat&#8230;&#8230;. entot Mbak Her&#8230; Puaskan Mbak&#8230;..&#8221; pelan kepala kontol Herman mulai masuk kedalam memek Rina &#8230;.,</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;sssshhhh&#8230;&#8221; Rina menegang ketika kontol Herman yang sudah tegang pelan-pelan masuk kedalam memeknya istriku. Herman berhenti sebentar, lalu pelan kembali menekan kontolnya masuk kedalam memek Rina kembali .Tubuh istriku bergetar&#8230;. ssshhhhh&#8230;.. ohhhhhh&#8230; enak sekali her&#8230;.. masukan terus yang dalam oooohhhhh hangat&#8230;. kontolmu hangat sekali Her&#8230;&#8230;..&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;yahhh&#8230;Mbak ?&#8230;memekmupun berdenyut Mbakk&#8230;..&#8221; herman pelan menarik keluar kontolnya dan memasukannya kembali. &#8220;Accchhhhh&#8230;.. terus Her&#8230; yang kuat terus&#8230;.. entot Mbak&#8230;&#8230; siram rahim Mbak dengan mani kamu&#8230;..&#8221; Herman semakin memaju kontolnya dan semakain cepat&#8230;&#8230; mbakkk&#8230;. mau keluar Her&#8230;&#8230;&#8230; oh&#8230; mBak ga tahan&#8230;. Mbak ga tahan&#8230;&#8230;.&#8221; istriku menggelepar-gelepar.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Oohhhh&#8230; acccchhhh&#8230;.. saya keluar&#8230;. saya keluar&#8230;.. ahhhhhhhhhhhhhh&#8230;&#8230;&#8230;&#8221; istriku menegang, sementara Herman terus memaju kontolnya keluar masuk memek istriku. Istriku RIna tengkurap ditempaat tidur nafasnya memburu, sementara Herman tetap diatas tubuh Rina dan membiarkan kontolnya tetp tertancap didalam memek istriku sambil merasakan denyutan memek Rina meremas remas kontolnya. Lalu pelan pelan Herman mencabut kontolnya dan kembali memasukannya. Rina tersentak, &#8220;ohhh&#8230;. enak sekali kontolmu Her&#8230; ohhhh&#8230; terus&#8230; Her&#8230;. Mbak mau Lagi&#8230;&#8230; Mbak mau kontol mu lagi&#8230;&#8230;&#8230;.. Mbak mau di entot berdiri&#8230;.. Ayo&#8230;.. Mas entot saya&#8230;. puaskan saya&#8230;&#8230;&#8230; Rina mau kontol kalian berdua&#8230;.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Rina berdiri di peluk Herman dari belakang sementara aku jongkok menjilati memek Istriku yang sudah sanagt basah, sambil menjilati memek nya jariku masukan kedalam. &#8220;Yaahhhh enak Mas&#8230; terus jilati memek Rin&#8230;&#8230;&#8221; Herman dan Rina berciuman&#8230;. sementara aku terus menjilati memek Rina. Kontolku semakin menegang aku sudah ga tahan, lalu aku melebarkan kaki Rina sambil berdiri aku memasukkan kontolku kedalam memeknya. Berdiri adalah posisi favorit istriku. Aku memutar-mutar pantataku sehingga jembutku bergesekan dengan itil bagi atas istriku.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Oohhhh yyahhhhh&#8230;. kena mas&#8230; gesek-gesek terus&#8230; oohhhhh enak mas&#8230;.. kontolnya&#8230;.. ayoh Mas kita keluarkan sama-sama&#8230;&#8230;. rina hampir&#8230;. achhhhh&#8230;&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Rina terus mengoyang-goyangkan pantatnya sambil berciuman dengan Herman sementara aku terus memacu kontolku semakin cepat. Herman terus meremas-remas tetek Istriku.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Aachhhhhh&#8230;. oohhh.. aku keluar mas&#8230;&#8230;. mbak keluar lagi Her&#8230;&#8230; ohh enakks&#8230;&#8221; Seeerrrr. Aku ikut menegang dan Crottttt&#8230;&#8230;&#8230; kami berdua keluar bersama-sama. &#8220;Ohhhhhh&#8230;.&#8221; istriku terkulai dipelukan Herman. &#8220;Achhhh.. ohhh..&#8221; aku mencabut kontolku dari memek Rina, sementara Rina masih terkulai dipelukan Herman. Kedua tangan Rina merangkul lehar Herman. kontol Herman masih sangat tegang karena memang dia belum keluar, &#8220;Sambil berbisik&#8230; Mbak aku mau entot mbak&#8230; aku belum keluar&#8230; ahhh. Apa masih kuat mbak&#8230;?&#8221; tetap merangkul Herman lalu istriku mencium bibir Herman, sambil bergayut dia melingkarkan kakinya kepinggang Herman.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Blessssss&#8230;.&#8221; masuklah kembali kontol Herman kedalam memek Istriku, sambil berdiri mereka berpacu mencapai puncak kenikmatan. &#8220;Yahhhhh&#8230;. enak kontolmu Her&#8230;.. terus masukan yang dalam&#8230; kontolmu hangat&#8230;&#8230; puaskan mbak&#8221; mereka berpacu semakin cepat. &#8220;Her mbak gak kuat mau keluar lagi&#8230;.. achhhhhh&#8230;&#8230;&#8221; &#8220;Iyah mbak aku juga mau oooohohhhh&#8230; achhhhhh&#8230; terus&#8230; mbak keluar&#8230;.. ohhhhhhh crooottttachhhhhhh&#8221;.<br />
Kedua tubuh itu menegang dan berpelukan sangat eratnya.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ceritasex.cn/istriku-threesome/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Inah, Pembantu Kakak Iparku</title>
		<link>http://www.ceritasex.cn/inah-pembantu-kakak-iparku/</link>
		<comments>http://www.ceritasex.cn/inah-pembantu-kakak-iparku/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 13 Jul 2010 07:35:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cerita Sex</dc:creator>
				<category><![CDATA[Gangbang Rame Rame]]></category>
		<category><![CDATA[Paruh baya]]></category>
		<category><![CDATA[Seks Umum]]></category>
		<category><![CDATA[Tante Girang]]></category>
		<category><![CDATA[kisah nyata]]></category>
		<category><![CDATA[birahi]]></category>
		<category><![CDATA[Hasrat]]></category>
		<category><![CDATA[inah]]></category>
		<category><![CDATA[kontol]]></category>
		<category><![CDATA[memek]]></category>
		<category><![CDATA[ngentot]]></category>
		<category><![CDATA[orgasme]]></category>
		<category><![CDATA[pembantu]]></category>
		<category><![CDATA[seks]]></category>
		<category><![CDATA[senam seks]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ceritasex.cn/?p=1481</guid>
		<description><![CDATA[Para pembaca mungkin masih ingat mengenai kisahku dengan kakak ipar yang dulu membenciku, namun secara tak terduga akhirnya kami saling berbagi kenikmatan yang ternyata sebelumnya sudah sama-sama kami angankan. Hubungan kami berlanjut hingga beberapa lama. Kalau timbul hasratku (kontolku sudah ngaceng) maka aku mengirim SMS kepadanya agar diupayakan waktu untuk bertemu dan berbagi kenikmatan, demikian [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Para pembaca mungkin masih ingat mengenai kisahku dengan kakak ipar yang dulu membenciku, namun secara tak terduga akhirnya kami saling berbagi kenikmatan yang ternyata sebelumnya sudah sama-sama kami angankan. Hubungan kami berlanjut hingga beberapa lama. Kalau timbul hasratku (kontolku sudah ngaceng) maka aku mengirim SMS kepadanya agar diupayakan waktu untuk bertemu dan berbagi kenikmatan, demikian pula sebaliknya, kalau memek dia sudah sangat ingin ditembus oleh kontolku maka dialah yang mengirim SMS kepadaku; dan pada kenyataannya dialah yang lebih sering meminta aku agar memuaskan hasrat ngewenya yang masih menggebu-gebu. Dan sejak itu dia makin rajin melakukan senam seks untuk lebih menambah kenikmatan ngewe yang biasa kami lakukan. Oh ya, perlu pembaca ketahui bahwa kadang-kadang kami melakukan persetubuhan di rumahku dan kadang-kadang di rumahnya, tergantung situasi dan kondisi&#8211;kebetulan jarak antara rumahku dengan rumahnya cukup jauh&#8211;, atau di tempat-tempat lain yang kami rasa memungkinkan.</p>
<p style="text-align: justify;">Pada suatu hari aku pergi ke rumahnya karena sebelumnya aku menerima SMS agar aku datang ke rumahnya pada hari itu karena memeknya sudah sangat ingin diewe oleh kontolku. Akupun dengan senang hati menyetujuinya karena kontolku pun sudah ingin dimasukkan ke dalam lubang memek sementara istriku semakin dingin saja. Seperti biasa aku melakukan olah raga dahulu agar badanku fit karena akan menghadapi pertempuran sengit; kontolku aku elus-elus karena dia merupakan unjung tombak yang siap menembus dan melobangi musuh, tapi musuh yang nikmaaaaaat.</p>
<p style="text-align: justify;">Sesampai di rumah kakak iparku tersebut aku langsung masuk karena biasanya kalau sudah janjian seperti itu pintunya tidak pernah dikunci, malah kadang-kadang aku langsung masuk ke dalam kamarnya dan di sana ia sudah menunggu dengan tak sabar maka kalau begitu kami pun langsung melakukan pertempuran, pergumulan, dan per-ewe-an. Namun kali itu suasana sepi, kakak iparku tidak terlihat, di dalam kamarnya pun tidak ada. Aku cari di dapur tidak ada, kamar mandi pun kosong. Aku merasa agak kesal padahal nafsuku sudah menggelora dan kontolku sudah ngaceng dan berdenyut-denyut, haruskah kontolku kutenangkan kembali? Namun bagaimanakah caranya?</p>
<p style="text-align: justify;">Naaah ……! Naaah……! Aku pun memanggil si Inah (Inah adalah pembantu rumah tangga kakakku yang sudah lama bekerja di sana, umurnya kira-kira 26 tahun, tapi sudah 4 tahun menjadi janda). Ya Maaas ….. ! Si Inah menjawab sambil menghampiriku. Sejenak aku terkesima, aku merasa pangling. Tidak seperti biasanya, kali ini si Inah berdandan dengan rapi dan seksi. Ia mengenakan celana panjang yang ketat sehingga segitiga memeknya tercetak dengan jelas, di bagian atasnya ia memakai kaos tanpa lengan dengan bagian dada yang terbuka sehingga terlihat pangkal teteknya yang putih mulus sangat menggairahkan dan ketiaknya dengan sedikit bulunya yang tersembul sehingga menyebabkan kontolku yang tadi sudah mulai lemas menjadi ngaceng kembali. Badannya harum oleh parfum. Aku baru sadar bahwa ternyata si Inah itu cantik dan seksi, tubuhnya bahenol, tidak kalah dengan gadis-gadis kota, hanya saja selama ini ia tidak pernah berdandan karena sibuk dengan pekerjaan di rumah.</p>
<p style="text-align: justify;">“Ibu ke mana Nah?” tanyaku. “Ke kampung Mas bersama Bapak, tadi pagi ada telepon dari kampung yang menyuruh Ibu dan Bapak ke kampung, katanya sih ada urusan penting”, kata si Inah. “Kapan pulangnya?” tanyaku selanjutnya. “Katanya sih nanti sore”, jawab si Inah. “Ada pesan dari Ibu? tanyaku; si Inah menjawab ragu-ragu “Ada Mas, anu ……. anu ……..” “Anu anu apa Nah, kalau ngomong yang jelas dong!” kataku; “Anu Mas, kata Ibu mentimunnya diberikan saja kepada saya”, kata si Inah. “Mentimun, mentimun apa?” tanyaku heran. Si Inah semakin kelihatan gugup “anu mas mentimun yang dibawa oleh Mas”. Aku semakin bingung “Mentimun apa? Aku tidak pernah membawa mentimun”, kataku. “Anu Mas …….. mentimun Mas …… yang biasa dikulum oleh Ibu dan dimasukkan ke memeknya” kata si Inah. Aku merasa kaget, ternyata yang selama ini kulakukan dengan diam-diam dengan kakak iparku telah diketahui oleh si Inah. Aku kebingungan, apa yang harus kulakukan? Si Inah berkata lagi, “Ya tidak apa-apa Mas kalau Mas keberatan mah, tapi perbuatan Mas yang suka mengewe Ibu akan saya ceriterakan kepada Bapak”.</p>
<p style="text-align: justify;">Mendengar permintaan serta ancamannya, ditambah lagi sebenarnya dari tadi aku sangat terangsang melihat kemolekan tubuh si Inah maka segera kuraih tubuh Inah ke pangkuanku (aku sedang duduk di kursi), aku cium bibirnya sambil tanganku bergerilya masuk ke dalam kausnya untuk menggarap teteknya. Si Inah mengerang dan merintih, ngngngnghhhhhh ……. ssssshhhhhh ….., kemudian ciumanku turun ke lehernya yang jenjang sementara tanganku berusaha melepaskan kaos yang membungkus tubuhnya. Ciumanku terus turun ke buah dadanya yang sudah tidak ditutupi oleh apa-apa, dan ternyata dia tidak memakai BH, aku hisap dan aku permainkan pentilnya dengan lidahku. Diperlakukan demikian si Inah menggelinjang-gelinjang keenakan sambil mulutnya tidak henti-hentinya mengeluarkan erangan dan jeritan lirih, aaaaaahhhhh …….. sssssssss …….. Mas nikmaaaaaat, terus Maaaaaaas ……… hisap terusssss …… Maassss.<br />
<span id="more-1481"></span><br />
Mulut si Inah terus meracau …… Maaaasssss ……. teruuusssss ……. Aku tidak tahaaaaannnnn …….. garap memekku Maassssss …….. aku ingin segera merasakan kontolmu Maaaassss…….. Tanganku segera kuluncurkan ke bawah untuk membuka ritsleting celananya, namun karena sambil duduk maka aku mengalami kesulitan. Maka kugendong si Inah menuju kamar tidur yang biasa aku pergunakan untuk ngewe dengan kakak iparku. Dia kubaringkan di tempat tidur dengan kakinya menjuntai ke bawah sehingga memeknya semakin tercetak menonjol pada celana ketatnya. Segera kulucuti celana panjangnya dan ternyata dia tidak memakai cd, sehingga terlihat jelas kemaluannya yang berwarna hitam kemerah-merahan dengan ditumbuhi bulu yang tipis, begitu sensual, begitu menantang. Melihat hal itu aku segera mendaratkan bibirku di pusat kenikmatan wanita tersebut, menjilati itilnya dan memasukkan lidahku ke dalam lubang kenikmatannya. Diperlakukan demikian si Inah menggelinjang dengan hebat sambil mulutnya tidak henti-hentinya mengeluarkan erangan serta rintihan yang menandakan bahwa dia merasakan kenikmatan yang sangat, aaaaahhhh ……… Maaaassssss ……….. sssssshhhhhhsssshhhhh …….. nikmaaaatttt …….. sssssudddddaaaahhh …….. Massssssss ………. Cepet masukkan kontolmu Massssss ………… aku sudah tidaakkkkkk sabar ingin merasakan kontolmu Masssssssss…….. Terasa olehku ada cairan hangat yang keluar dari lubang memeknya, aku hisap cairan tersebut sssrrrrrp ……&#8230; Tubuh si Inah pun mengejang sambil berteriak histeris kontooooooooollllllllllllll …….. kontooooooooooolllllll. Kakinya yang menggelantung di pundakku menggelepar-gelepar. Tangannya menggapai-gapai mencari kontolku yang sudah sangat tegang. Aku menghentikan hisapanku pada memeknya dan sekarang bibirku menjelajah naik, mulai dari perutnya, pusarnya, kemudian ke arah teteknya. Kuhisap serta kupermainkan pentilnya dengan lidahku. Seiring dengan itu sodorkan kontolku agar bisa dipegang oleh tangannya, dan ia segera meremas-remas kontolku dengan gemas sambil berteriak histeris, kontooooooll ……… aku ingin segera merasakan diewe olehmu kontooooooollll ……..</p>
<p style="text-align: justify;">Melihat hal itu aku segera mengarahkan kontolku ke lubang memeknya. Pada mulanya aku agak kesulitan memasukkan kontolku ke dalam memeknya karena memeknya sempit, maklum sudah empat tahun ia menjanda dan tidak pernah mengeluarkan anak. Bahkan perkawinannya pun hanya bertahan beberapa minggu sehingga bisa kuperkirakan bahwa memeknya itu baru beberapa kali ditembus oleh ******. Namun karena memeknya sudah sangat basah akhirnya kontolku berhasil juga menembus memeknya. Kumajumundurkan dulu kontolku setengahnya sampai terasa lancar jalan masuknya; kemudian sekaligus kuhunjamkan semua kontolku sehingga batangnya tertelan semua oleh memek si Inah. Si Inah menjerit histeris merasakan sensasi yang sudah sangat lama tidak ia rasakan, aaaaaaaaaaaawwwwwwwww ………., disertai dengan desahan yang menggairahkan dan keluarnya perkataan-perkataan jorok dalam bahasa daerah sebagai ungkapan terlampiaskannya nafsunya, ssssshhhhhhhhh ……… ssssshhhhhhh ………. aduuuuuuhhhhhh …….. kontooooooollllll ……… ewwwwweeeeeeeeee…….. aaaahhhhhhhh ……….. sing jerooooooooooooo ……… belekooooooooook ……..</p>
<p style="text-align: justify;">Mendengar teriakan-teriakan histerisnya aku semakin bernafsu, maka kupercepat genjotanku, sementara kulihat si Ina matanya merem melek, sambil tangannya mencengkeram erat punggungku, dan mulutnya terus mengeluarkan desahan serta rintihan yang sangat merangsang, ssssssshhhhhhhhh ………… ssssshhhhhhh ………….. ssssshhhhhhh ………… eeeemmmmmmhhhhhhh ……….. Kemudian aku berguling sambil memeluk tubuh si Inah dan kontolku tidak lepas dari memeknya, sehingga sekarang tubuh si Inah berada di atas tubuhku. Sengaja aku melakukan itu untuk memberi kesempatan kepada si Inah agar dia bisa lebih aktif menentukan irama permainan. Benar saja begitu ia berada di atas tubuhku segera ia menaikturunkan tubuhnya sehingga terasa benar bahwa kontolku semakin dalam menghunjam ke dalam memeknya. Aku pun tidak tinggal diam kunaikturunkan pula pantatku seiring dengan naikturunnya pantat si Inah sambil mulutku tetap menghisap teteknya. Ketika pantat si Inah dinaikkan maka pantatku aku kebawahkan, dan ketika pantat si Inah diturunkan aku sodokkan kontolku sekeras-kerasnya. Kami saling menekan, si Inah menekan ke bawah sedangkan aku menekan ke atas. Ketika terjadi sodokan itulah terjadi sensasi yang hebat. Aku dan si Inah sama-sama mengerang dan mendesah, Naaaahhhhhhh ……… memekmu nikmaaaaattttt, aku merasa melayang di awaaaannnn…, Maaaaaasssss …… kontolmu juga nikmaaaaaatttt, heunceutku tidak akan melepaskan kontolmu hingga aku merasa puasssssssss …….. betul, ayo Mas pantatnya di-geol-kan berlawanan arah dengan geolan pantatku. Aku pun melakukan permintannya, dan ternyata ruaaarrrrrr biasa.</p>
<p style="text-align: justify;">Ketika sedang seru-serunya kami bertempur terdengar deringan bunyi telepon di ruang tengah. Aku menyuruh si Inah mengangkat telepon kalau-kalau penting, namun si Inah tidak mau melepaskan kontolku, ia mau mengangkat telepon tersebut dengan syarat agar aku tetap menancapkan kontolku di memeknya, sementara itu suara telepon terus berdering. “Naaaaahhhh ….. angkat teleponnya doooong kalau-kalau ada yang penting”, kataku. “Boleeeehhhh …… Maaasssss asalkan kontolmu tidak lepas dari memekku, kalau tidak lebih baik telepon itu tidak kuangkaaaaat”. “Baiklah Nah sekarang kita main belakang supaya kamu lebih leluasa nanti mengangkat teleponnya”. Maka kucabut kontolku dan si Inah sudah mengerti bahwa ia harus menungging. Ketika kumasukkan kontolku dari belakang lagi-lagi si Inah memekik tertahan, aaahhhhh……… ssssshhhhhh.</p>
<p style="text-align: justify;">Kami pun berjalan ke ruang tengah sambil tidak melepaskan ****** dari memek si Inah. Si Inah berjalan di depanku sambil kupeluk, kuremas buah dadanya dan kupermainkan pentilnya, bibirku menciumi tengkuk serta bagian belakang telinganya. Kontolku kuusahakan agar tidak lepas dari memeknya walaupun sambil tetap berjalan. Sesampai di tempat telepon si Inah pun mengangkat telepon sambil membungkukkan badannya, maka kontolku yang hampir terlepas dari memeknya masuk kembali sambil kutekan mundur maju sehingga si Inah mendesah-desah seperti orang yang sedang makan sambal pedas, sssssshhhhhh ……… sssssssshhhhhh …….. aaaaahhhhhhh. Ternyata yang menelpon tersebut adalah kakak iparku dari kampung yang memberitahukan bahwa ia tidak bisa pulang hari itu karena urusannya belum selesai jadi harus menginap. “Nah, mengapa kamu lama sekali mengangkat teleponnya”, kata kakak iparku. “Anu, sedang di dapur Buuuuu, sssshhh”, si Inah menjawab sambil mendesah ditahan. Mendengar desahan si Inah kakak iparku bertanya, “Mengapa kamu Nah mendesah begitu, sedang makan sambal ya?” “Iya Bu, sssshhhhhh …… ini saya makan sambal sssshhhhh dengan mentimun ssshhhhhhh ….. nikmat sekali bu, aaaawwwwwww”. “Ah kamu ada-ada saja sampai menjerit segala, silahkan nikmati mentimunmu sepuas-puasnya, aku tidak pulang hari ini karena masih ada keperluan, mungkin besok sore baru pulang, hati-hati yan di rumah, selamat menikmati mentimun” kata kakak iparku, dikiranya si Inah sedang memakan mentimun sungguhan, padahal yang dimakan adalah mentimun hitam yang pangkalnya berbulu, dan yang memakannya pun bukan mulut atas tapi mulut bawah alias heunceueueueueuetttt ………….. Si Inah menjawab, “Iya Buuu, aaaaahhhh …… sssshhhhhhh ……. Terima kasih Bu atas mentimunnya”, aaaaawwww….. Maaaas ………. Terusssss keluarmasukkan kontolnya ……… hhmmmmmhhhhhsssssshhh.</p>
<p style="text-align: justify;">Kami pun melanjutkan permainan nikmat itu di ruang tengah, rasanya lebih leluasa karena ruangannya lebih luas. Kami berguling-guling, walaupun agak sakit di badan dan di dengkul tapi rasa sakit itu terkalahkan oleh rasa nikmat. Tubuh kami sudah basah kuyup dengan keringat, sampai akhirnya kami menyudahi permainan ini dengan pekikan histeris secara bersamaan, sssssshhhhh …… aaaaaawwwwwww ……….. aduuuuuuuuuuuh……. Maaaasssss aku keluaaaaaar. Nafas kami tersengal-sengal, air maniku muncrat di dalam memek si Inah, si Inah memelukku erat-erat, tubuhnya ambruk ke atas tubuhku. Kami terus saling berpelukan sampai tertidur, sementara kontolku masih menancap di memeknya seolah-olah tidak mau lepas.</p>
<p style="text-align: justify;">Karena kakak iparku tidak pulang maka aku memutuskan untuk bermalam menemani si Inah sambil terus menerus mengulangi persetubuhan kami dengan mencoba berbagai posisi seperti yang terdapat di dalam vcd porno yang kami tonton berdua, sementara tubuh kami sengaja dibiarkan telanjang sehingga kapan pun aku mau dan kontolku ngaceng tinggal aku masukkan ke dalam memek si Inah di mana pun atau sedang apa pun dia, di dapur, di tengah rumah, di kamar mandi, bahkan ketika ia mengepel lantai sambil nungging pun aku tidak ragu-ragu untuk menikam memeknya dengan kontolku dari belakang. Celakanya diperlakukan bagaimanapun si Inah tidak pernah menolak, bahkan sesekali justru dialah yang mengambil inisiatif. Seperti pernah terjadi ketika aku sedang tidur lelap karena kecapaian aku merasa ada sesuatu yang nikmat dan geli di kontolku; ketika kubuka mataku ternyata si Inah sedang mengulum kontolku dan ketika kontolku sudah ngaceng ia memasukkan kontolku itu ke memeknya sambil pantatnya tidak berhenti melakukan goyang-Inul. Mulutnya tidak henti-hentinya mengerang eeeemmmmmhhhh ……. Emmmmhhhhh. Aku pura-pura tidur, sampai ketika merasa sudah tidak tahan aku bangun dan mengimbangi goyang-Inulnya dengan sodokan ala Tyson dipadukan dengan goyangan ala Ricky Martin.</p>
<p style="text-align: justify;">Malam harinya ketika sedang menggenjot memek si Inah, entah untuk yang keberapa kalinya, aku menerima SMS dari kakak iparku yang intinya meminta maaf bahwa tidak menepati janji karena secara mendadak harus pergi ke kampung. Ia menulis: “Dik, aku minta maaf karena tidak dapat menyediakan memekku untuk kontolmu yang perkasa, nanti kalau sudah pulang kita rapelkan saja ya, jaga kontolmu baik-baik untuk pertarungan nanti, salam dari memekku untuk kontolmu!”. Dia tidak tahu bahwa saat itu kontolku sedang menancap di dalam memek pembantunya yang secara jujur kuakui bahwa memeknya lebih enak karena lebih sempit sehingga jepitannya lebih kuat dan empotannya lebih menghisap.</p>
<p style="text-align: justify;">Dari obrolan si Inah aku mengetahui bahwa sebenarnya si Inah sudah lama mengetahui perselingkuhanku dengan majikannya. Ceriteranya begini: pada suatu hari, ketika ia sedang menyapu lantai di depan kamar kakak iparku ia mendengar suara kakak iparku itu menjerit tertahan dan mengerang-erang sambil merintih-rintih. Secara kebetulan pintu kamar tersebut sedikit terbuka, sehingga ia bisa mengintip ke dalam. Di dalam kamar ia melihat tubuh majikannya sedang menggelepar-gelepar di bawah tubuhku sambil merintih-rintih. Yang paling membuatnya berdesir adalah ketika ia melihat kontolku dengan lincahnya sedang memompa memek majikannya sambil mengeluarkan suara berdecak-decak seperti kaki yang berjalan di tanah yang becek. Tubuh si Inah pun bergetar, dan secara refleks tangannya yang satu mempermainkan itilnya sementara tangan yang satu lagi mempermainkan puting susunya. Sejak saat itu bila ada aku si Inah selalu berusaha mengintip ke dalam kamar melalui lubang kunci, dan seringkali ia melihat variasi permainan kami termasuk kegemaran kakak iparku mengulum kontolku sebelum memasukkannya ke dalam memeknya, atau aku menjilati itilnya sebelum kutembus dengan kontolku. Sejak saat itu pulalah si Inah, menurut pengakuannya, selalu membayangkan bagaimana nikmatnya bila memeknya ditembus oleh kontolku. Tidak jarang ia menghayal sambil melakukan onani dengan memasukkan mentimun ke dalam memeknya, tapi mentimun tetaplah mentimun; dingin, kulitnya keras, dan tidak hidup. Oleh karena itulah ia selalu berusaha mencari jalan agar dapat ngewe denganku.</p>
<p style="text-align: justify;">Keesokan harinya ketika aku mau pulang kulihat si Inah sedang masak di dapur dengan posisi menungging. Kulihat dia memakai rok pendek tanpa tidak memakai cd sehingga terlihat ujung memeknya yang merah mereka dengan dihiasi bulu yang pendek. Melihat pemandangan tersebut tanpa dapat ditawar-tawar lagi kontolku ngaceng. Aku pun melepas celanaku dan dengan mengendap-endap menghampiri si Inah dari belakang, dan karena sedang asyik mengiris bumbu si Inah tidak menyadari kalau aku menghampirinya. Seketika aku peluk dia dan kontolku aku gesek-gesekkan ke memeknya. Si Inah terpekik kaget campur senang, tangannya segera memegang kontolku yang memang belum kumasukkan ke dalam memeknya. Dia tidak sadar bahwa tangannya tersebut baru saja dipergunakan untuk memegang cabe yang diiris, kontan saja kontolku merasa panas. “Aduuuuuh, gimana sih Nah, kontolku panas niiih”, kataku. Si Inah merasa kaget, “Ooooh maaf Mas, saya tidak sadar, untuk meredamnya segera saja masukkan kontolmu ke dalam memekku supaya menjadi agak dingin, kuhisap nanti dengan memekku”. Memang itu yang ingin aku lakukan, maka segera saja kumasukkan kontolku yang sedang kepanasan ke dalam memek si Inah. Pada saat itulah aku merasakan pengalaman yang baru, kontolku merasakan suatu perasaan yang sangat fantastis, rasa panas yang menyelimuti kontolku menambah nikmatnya ngewe. Si Inah mendesah, ssssshhhhhh …… Maaaasss, kok rasanya sangat enaaaaakkk ya? Iya Naaaah, memekmu terasa lebih enaaaak dari biasanya ….. aaaaaaahhhhh……. Ssssssshhhhhh, Naaaahhh ……. Hisapan memekmu juga terasa lebih kuat, empot-empotan. Iyaaa Maaaassss ****** Mas juga terasa lebih hangaaaaatttttt……. Enaaaaaaakkkkkk ……. Sssshhhhhh. Sambil terus menggenjot kontolku tidak lupa tanganku mendarat pada tetek si Inah menambah sensasi kenikmatan yang tiada tara, sampai akhirnya kami mengakhiri permainan ini setelah mencapai orgasme secara berasama-sama. Sebagaimana biasanya si Inah pun berteriak histeris, aaaawwwww………. Kontoooool …. Sssshhh.</p>
<p style="text-align: justify;">Hubunganku dengan kakak iparku masih terus berlanjut karena ia menginginkan hal itu, namun bagi diriku sekarang lebih bervariasi karena ditambah dengan sekaligus mengewe pembantunya. Bila aku dan kakak iparku janjian di rumahnya maka si Inah dan aku selalu berusaha untuk mencari jalan agar dapat memasukkan kontolku ke dalam memeknya walaupun waktunya agak tergesa-gesa; mungkin ketika kakak iparku sedang mandi, atau sedang melayani tamu, atau sedang keluar sebentar; pokoknya kalau ada kesempatan walaupun sebentar kontolku harus menancap di memek si Inah. Namun sekarang aku mempunyai cara agar dapat menancapkan kontolku lebih lama ke dalam memek si Inah, yaitu aku datang ke rumah kakak iparku lebih pagi, ketika kakak iparku sedang senam. Tapi aku tetap tidak mau menggangu pekerjaan si Inah, sehingga kami mengewe sambil si Inah bekerja, misalnya masak di dapur, mencuci, dlsb. terutama pekerjaan-pekerjaan yang dilakukan sambil menungging dan aku memasukkan kontolku lewat belakang, yang penting kami merasa puas.</p>
<p style="text-align: justify;">Oh Inah …., oh kakak iparku ….., aku selalu merindukan memek kalian berdua. Kini aku masih berangan-angan bagaimana caranya agar aku dapat ngewe bertiga bersama-sama. Secara fisik dan secara teknik aku yakin bahwa aku mampu memuaskan keduanya secara bersamaan dan berkali-kali, namun entah bagaimana caranya?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ceritasex.cn/inah-pembantu-kakak-iparku/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hakim Cabul</title>
		<link>http://www.ceritasex.cn/hakim-cabul/</link>
		<comments>http://www.ceritasex.cn/hakim-cabul/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 13 Jul 2010 06:24:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cerita Sex</dc:creator>
				<category><![CDATA[Paruh baya]]></category>
		<category><![CDATA[Pemerkosaan]]></category>
		<category><![CDATA[bambang]]></category>
		<category><![CDATA[cabul]]></category>
		<category><![CDATA[hakim]]></category>
		<category><![CDATA[ngentot]]></category>
		<category><![CDATA[nia]]></category>
		<category><![CDATA[sex]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ceritasex.cn/?p=1479</guid>
		<description><![CDATA[&#8220;Sidang diskors sampai besok!&#8221; Dan, Bambang mengetok palu tanda sidang ditunda. Sidang rencananya akan dilanjutkan besok untuk mendengarkan saksi-saksi lainnya. Sidang ini membahas dakwaan terhadap Irsan, seorang pengusaha yang terbukti melakukan tindakan suap untuk mendapatkan proyek triliunan rupiah yang tentu saja merugikan negara puluhan miliaran rupiah. Meskipun termasuk kasus besar yang sedang menjadi cover story [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">&#8220;Sidang diskors sampai besok!&#8221; Dan, Bambang mengetok palu tanda sidang ditunda. Sidang rencananya akan dilanjutkan besok untuk mendengarkan saksi-saksi lainnya. Sidang ini membahas dakwaan terhadap Irsan, seorang pengusaha yang terbukti melakukan tindakan suap untuk mendapatkan proyek triliunan rupiah yang tentu saja merugikan negara puluhan miliaran rupiah. Meskipun termasuk kasus besar yang sedang menjadi cover story di media tanah air, dari sidang ke sidang rasanya Bambang semakin tidak bisa mengalihkan matanya dari sosok wanita berumur 40-an tahun. Terlihat sangat cantik dan dibalut dengan keanggunan dan kemewahan penampilannya. Dari informasi anak buahnya, Bambang mengetahui nyonya cantik itu adalah isteri Irsan. Nyonya Nia, namanya. Di samping Nyonya Nia, adalah Tyas puteri sulungnya yang beranjak dewasa. Sama-sama cantik dan mempesona.</p>
<p style="text-align: justify;">Sebagai Hakim, Bambang dengan mudah mendapatkan informasi tentang keluarga Irsan ini. Nyonya Nia, mantan seorang fotomodel yang cukup terkenal di zamannya. Pantas dia memiliki semua kecantikan itu. Si pemilik kulit putih ini menyukai olahraga senam yoga. Beberapa kali Bambang malah sudah mengintip Nyonya Nia saat latihan. Sangat menggairahkan ketika melihat tubuhnya yang masih langsing basah oleh peluh. Pakaian senamnya memperlihatkan lekuk tubuhnya yang sangat sempurna.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Beruntung sekali Si Irsan ini,&#8221;Gumam Bambang dalam hati. Hampir seminggu ini, Hakim ini tidak mampu melupakan setiap lekuk tubuh Nyonya Nia. Tinggi semampai 175 cm, dengan tonjolan buah dada 34 D yang membuat gairah Sang Hakim begitu menggelora. Dan, aku harus bisa merasakan nikmatnya tubuh Nia ini, kata Bambang dalam hati sambil masuk ke ruang kerjanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Dan waktunya tiba. Besok isterinya dan anak-anaknya akan berangkat ke Yogya untuk mengunjungi rumah mertuanya, sambil liburan sekolah. Artinya, ada waktu seharian untuk merancang semuanya&#8230;..</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam perjalanan pulang dari airport usai mengantar keluarganya, Bambang menelpon Nyonya Nia lewat no hp baru yang sengaja dia siapkan untuk operasi ini.&#8221;Selamat siang Nyonya Nia. Saya Bambang, Anda pasti kenal. Saya punya cara untuk menyelamatkan Irsan Maulana,suami nyonya. Kalau nyonya tertarik datang ke Mall Taman Anggrek sekarang. Datang di depan lobi masuk. Jangan cerita siapa-siapa,termasuk keluarga Nyonya. Kejahatan suami ibu berat. Polisi pasti sedang membuntuti Nyonya sekarang. Nanti Nyonya saya kalau sudah sampai sana.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Terlihat dari nada suara Nyonya Nia yang kaget karena tidak menyangka peristiwa ini. Bambang sengaja tidak memperpanjang percakapan. Dan perhitungan Bambang tidak meleset, selang beberapa lama kemudian, terlihat Nyonya Nia sudah di lobi, sendirian.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Sekarang, naik taksi nyonya. Jalan sampai ke tempat yang saya perintahkan. Nanti Nyonya akan saya jemput.&#8221; Perintah Bambang lagi. Dan, Nyonya Nia pun menurut. Hehehehe, isteri yang baik, tapi akan ku rusak kesucianmu sebentar lagi, kata Bambang dalam hati.<br />
<span id="more-1479"></span><br />
Sesampai di sebuah taman kecil yang cuma berjarak 15 menit dari perumahan miliknya. Nyonya Nia diperintahkan lagi untuk turun dari taksi. Selang 10 menit kemudian, Bambang pun menghampiri dengan BMW kesayangannya.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Saya hakim Bambang yang menangani kasus suami Nyonya. Maaf membuat Anda bingung,Nyonya. Tapi ini demi keamanan Nyonya, saya dan suami Nyonya sendiri.&#8221; Kata Bambang berakting begitu sang mangsa sudah duduk di sampingnya.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Apa yang mau Pak Hakim katakan? Bagaimana cara menyelamatkan suami saya?&#8221; Tanya Nyonya Nia.</p>
<p style="text-align: justify;">Amboi&#8230;.bibir milik Nyonya ini sungguh seksi. Pikiran Bambang membayangkan betapa nikmatnya tongkolnya dikulum oleh bibir yang seksi ini. Tapi buru-buru Bambang mengendalikan dirinya. &#8220;Sabar Nyonya. Anda harus sabar. Kita harus ke tempat yang aman dulu. Siapa tahu ada polisi yang menguntit Nyonya.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Dengan hati tak sabar menahan semua keinginannya selama ini, Bambang pun melarikan mobilnya ke rumah mewah miliknya. Setelah mangsanya sudah berada di ruang tamunya, Bambang sudah tidak mampu mengendalikan tongkolnya yang sudah mulai menegang karena terbakar hasrat.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Mengapa rumah Anda sepi,Pak Hakim? Apa yang mau Bapak katakan?&#8221; Sang Nyonya mulai tampak begitu tidak sabaran.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Kasus suami Anda berat Nyonya. Hukumannya paling ringan adalah penjara 20 tahun dan bisa sampai seumur hidup. Tapi saya punya kuncinya. Dalam map ini ada semua data yang bisa melepaskan suami Nyonya&#8230;.&#8221; Kata Bambang mempermainkan emosi Sang Nyonya.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Baik, cepatlah. Berapa saya harus bayar Pak Hakim?&#8221;Tangan Nyonya Nia berusaha meraih map itu.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Sabar sedikit,Nyonya. Uangnya tidak banyak, tapi harus cash. Satu miliar rupiah. Dan itu jumlah kecil bukan? Suami Anda dapat seratus kali lebih banyak&#8230;.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Ok, saya bayar besok. Tapi apa solusi untuk suami saya&#8230;.&#8221; Sang Nyonya ini terlihat nampak sangat cantik ketika sedang panik seperti ini, batin Bambang.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Nyonya, saya tidak cuma meminta uang yang tidak seberapa itu sebagai imbalannya&#8230;.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Lalu apa lagi&#8230;.mobil&#8230;rumah&#8230;Pak Hakim tinggal sebutkan saja.&#8221;Kata Nyonya Nia lagi.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Saya inginkan tubuh seksi Nyonya malam ini!!!!&#8221; Kata Bambang sambil menyeringai penuh kemenangan.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Anda gila. Anda pikir wanita macam apa saya. Tidak. Saya bisa cari pengacara mahal untuk membebaskan suami saya&#8230;.&#8221;Bentak Nyonya Nia dengan wajah memerah sambil membalikkan badan.</p>
<p style="text-align: justify;">Hmmm&#8230;ternyata tidak gampang digertak. Berarti saatnya skenario berikutnya. Ga bisa baik-baik, ya diperkosa saja,pikir Bambang. Secepat kilat tangan Bambang meraih pinggul Nyonya Nia. Dan membantingnya ke sofa ruang tamunya.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Apa-apaan ini&#8230;&#8221;Belum sempat ucapan Nyonya Nia habis. Bibir tebal Sang Hakim melumat bibir seksi Sang Nyonya.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Terpaksa saya main kasar,Nyonya&#8230;&#8221;Teriak Bambang dengan nafas terengah menahan rontaan Sang Nyonya. Tangannya dengan kasar menarik pakaian Sang Nyonya. Kain sutera tipis itu pun robek dalam sekali sentakan, memperlihatkan BH hitam yang kontras dengan kulit putih bersih Sang Nyonya.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Kurang ajar kam&#8230;..&#8221;Sebelum tangan Nyonya mencakar wajah Bambang. Dengan sigap Bambang menangkap tangan mungil itu dengan tangan kiri. Tangan kanan Bambang mengayun menampar pipi kiri Sang Nyonya hingga memerah dan bibirnya meneteskan setetes darah.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Diam,atau ku bunuh kamu. Percuma teriak. Rumah ini terlalu sepi.&#8221;Ancam Bambang yang tidak menyurutkan perjuangan Sang Nyonya untuk melawan.</p>
<p style="text-align: justify;">Sambil memegang kedua tangan Nyonya Nia ke atas, tangan kanan Bambang menarik BH yang melekat di dada montok mangsanya sambil melempar sisa sobekan baju yang masih melekat ke lantai. Bibir Bambang dengan rakus menjilati puting Sang Nyonya yang membusung dengan indahnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Kepala Nyonya Nia menoleh ke kiri kanan sambil terlihat tetesan air mata mulai menggenangi kedua matanya. Badan, Pinggul dan Kakinya terus meronta melawan, dan membuat Bambang semakin kewalahan. Maklum Sang Nyonya rajin berolahraga sehingga punya daya perlawanan yang luar biasa.</p>
<p style="text-align: justify;">Harus segera diakhiri,Pikir Bambang. Sambil tak tahan menahan gelora birahinya lagi, tangan Bambang meraih celana dalam Sang Nyonya ke bawah lutut. Sebelum sempat Nyonya Nia menutup rapat kedua kakinya, Bambang menubruk tubuh Nyonya Lia sambil meletakkan badannya di antara kedua paha mulus mangsanya.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Hentikan&#8230;Pak Hakim,tolong hentikan&#8230;.&#8221;Pinta Nyonya Nia sambil berurai air mata. Namun, Bambang sama sekali tidak menggubris. tongkolnya yang hitam besar dengan urat-urat menonjol di sekelilingnya lebih penting untuk disalurkan ketimbang mendengar rengekan itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Dengan tetap memegang kedua tangan Nyonya Nia dengan tangan kirinya. Jemari tangan Bambang mengusap-usap klitoris vagina Nyonya Nia yang masih belum terangsang maksimal. Isteri yang setia ini masih terus meronta dengan sisa-sisa perlawanan terakhirnya. Namun justru lenggokan tubuh Nyonya Nia bagaikan tarian erotis yang semakin membakar birahi Bambang. Dan membuat Hakim cabul ini semakin tidak sabar untuk mengakhiri perlawanan mangsanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Lewat gerakan kasarnya, sambil menggigit puting Sang Nyonya, Bambang mengarahkan kepala tongkolnya tepat di bibir vagina Nyonya Nia. Gerakan yang membuat Nyonya Nia semakin histeris,menyadari kesuciannya tinggal sedikit lagi terenggut oleh jahanam yang sedang di atas tubuhnya ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Bambang menghujamkan tongkolnya dengan segenap kekuatannya. Vagina yang belum sempurna terangsang ini tidak siap dengan serangan kasar dari tongkol berukuran ekstra. Membuat Nyonya Nia berteriak kesakitan.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Aaaaaaaach&#8230;ampun,Pak.Sakiiiiiiiit.&#8221; Gerakan Nyonya Nia terhenti karena sakit dari gerakan penetrasi Sang Hakim. 1/3 dari tongkol Bambang sudah terbenam di dalam vagina Nia.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Gila&#8230;.kamu seperti masih perawan,sayang&#8230;&#8221;Geram Bambang sambil meneruskan dorongannya.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Papa&#8230;.maafkan aku.&#8221;Terdengar isak lirih Nia saat batang tongkol Bambang hampir separohnya tertancap.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Kamu akan lupakan Irsan,Nia. Koruptor itu tak sebanding dengan nikmatnya tongkolku&#8230;.Ggggrrrrgghh&#8230;aaaachh..hh&#8221; Ucapan Bambang terhenti karena sensasi luar biasa yang diterima tongkolnya dari vagina Nia yang masih terasa sempit ini. Seluruh tongkol Bambang saat ini sudah tertanam dengan sempurna.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah menikmati 10 detik merasakan denyutan hangat vagina Nia. Bambang mulai menggerakkan pinggulnya dengan gerakan memutar untuk memancing rangsangan pada vagina Nia. Teriakan dan rontaan Nia semakin melemah, selain lelah juga karena semakin tidak kuasa menahan gerakan-gerakan tongkol Bambang keluar masuk vaginanya.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Kamu suka,sayang&#8230;&#8221;Sebuah pertanyaan yang tidak memerlukan lagi jawaban bagi Bambang. Bibirnya kemudian sibuk menjilati leher menawan Nia. Tangan kirinya tidak lagi menahan dua tangan Nia, melainkan ikut dengan lembut meremas dan memainkan puting Nyonya Nia. Air mata Nyonya Nia terus menetes, seiring tetesan peluh keduanya yang sedang bersenggama.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah 10 menit menggent*t Nia, vagina Nia mulai banjir dengan cairan vagina, membuat gerakan Bambang semakin lancar naik turun tubuh langsing yang lama diidamkannya ini. Meskipun hatinya masih konsisten dengan penolakannya, tubuh Nia tidak kuasa menghadapi penaklukan Sang Hakim. Secara alamiah, akhirnya tubuh Nia memberikan reaksi menerima. Apalagi Bambang ternyata sangat tahan lama, dan genjotan bertenaganya juga disertai gerakan-gerakan memutar,menyodok seakan mengaduk-aduk vagina Nia.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;oooooh..&#8221;Tak terasa Nyonya Nia pun mengeluarkan rintihan terangsang setelah menerima sodokan Bambang yang kesekian ratus kalinya.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Kamu enjoy bukan,Nia-ku.&#8221;Kata Bambang dengan senyum kemenangan. Masuk setengah jam bersetubuh, hentakan-hentakan Bambang akhirnya membuat seluruh tubuh Nia tidak kuasa menahan kenikmatan yang luar biasa, dan tidak pernah didapatkannya dari Irsan suaminya setelah 18 tahun menikah ini. Tubuh Nyonya Nia pun menunjukkan tanda-tanda menuju orgasme.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Tahan,sayang. Kita nyampe bareng yah.&#8221;Geram Bambang sambil mempercepat gerakan pinggulnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Plok&#8230;plok&#8230;plok&#8230;.suara antara kulit dan kulit dua insan ini terdengar semakin kencang. Secara refleks, tangan Nia memeluk punggung Bambang dengan kuku-kukunya yang terawat.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Aaaaaaaaach&#8230;&#8221;Pertahanan Bambang jebol seiring lenguhan panjang Nia. Cairan sperma Hakim Cabul ini muncrat deras seperti berebut mendapatkan dinding rahim Nia. Dan, tubuh Bambang ambruk di atas tubuh Nia. Kedua-duanya dengan peluh yang masih mengalir deras, menyisakan basah pada sofa ruang tamu Sang Hakim. Air mata Nia pun kembali mengalir deras dengan penuh penyesalan dirinya.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Suamimu akan bebas,sayang. Pengorbananmu tidak akan sia-sia. Asal, kamu memuaskanku lagi malam ini. Tidak dengan perlawanan konyol itu. Aku mau kamu melayaniku dengan mesra. Semesra kamu melayani Irsan.&#8221; &#8220;Kata Bambang sambil bangkit duduk di sofanya. Matanya tidak berkedip menyaksikan lekuk tubuh Nia yang masih menawan di usianya. Membangkitkan kembali seluruh birahinya kembali.</p>
<p style="text-align: justify;">Tentu saja dengan senyum kemenangan atas penaklukan sensasionalnya malam ini&#8230;.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ceritasex.cn/hakim-cabul/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pernikahan Yang Ternoda</title>
		<link>http://www.ceritasex.cn/pernikahan-yang-ternoda/</link>
		<comments>http://www.ceritasex.cn/pernikahan-yang-ternoda/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 25 Jun 2010 18:43:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cerita Sex</dc:creator>
				<category><![CDATA[Paruh baya]]></category>
		<category><![CDATA[Pemerkosaan]]></category>
		<category><![CDATA[anal seks]]></category>
		<category><![CDATA[anal]]></category>
		<category><![CDATA[anus]]></category>
		<category><![CDATA[enak]]></category>
		<category><![CDATA[ngentot]]></category>
		<category><![CDATA[perkosa]]></category>
		<category><![CDATA[seks]]></category>
		<category><![CDATA[ternoda]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ceritasex.cn/?p=1462</guid>
		<description><![CDATA[Di dalam ruangan itu terlihat sunyi beberapa dari mereka tidak sanggup melihat dua orang suami istri terbujur kaku, sedangkan di sampingnya terdapat anak yang masih berusia 11 tahun yang sedang menangisi ke dua orang tuanya, karena merasa kasihan aku meminta izin suamiku untuk menemuinya, setelah mendapat izin aku lalu menghampiri anak tersebut berharap dapat menenangkan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Di dalam ruangan itu terlihat sunyi beberapa dari mereka tidak sanggup melihat dua orang suami istri terbujur kaku, sedangkan di sampingnya terdapat anak yang masih berusia 11 tahun yang sedang menangisi ke dua orang tuanya, karena merasa kasihan aku meminta izin suamiku untuk menemuinya, setelah mendapat izin aku lalu menghampiri anak tersebut berharap dapat menenangkan hati anak tersebut, “Al..” panggilku pelan sambil duduk di sampingnya, “sudah jangan nagis lagi, biarkan kedua orang tuamu beristirahat”</p>
<p style="text-align: justify;">Anak itu tetap menangis, beberapa detik dia memandangku dan tidak lama kemudian dia langsung memelukku dengan air mata yang bergelinang, “tante, hiks…hiks… Aldi ga mau sendirian, Aldi mau mama, papa…” dengan penuh rasa kasih sayang aku mengelus punggungnya berharap dapat meringankan bebannya, “tante… bangunin mama,”katanya sambil memukul pundakku, aku semakin tak kuasa mendengar tangisnya, sehingga air matakupun ikut jatuh, “Aldi, jangan sedih lagi ya? Hhmm… kan masih ada tante sama om,” aku melihat ke belakang ke arah suamiku sambil memberikan kode, suami ku mengangguk bertanda dia setuju dengan usulku, “mulai sekarang Aldi boleh tinggal bersama tante dan om, gi mana?” tawarku sambil memeluk erat kepalahnya,</p>
<p style="text-align: justify;">Sebelum lebih jauh mohon izinkan aku untuk memperkenalkan diri, namaku Lisa usia 25 tahun aku menikah di usia muda karena kedua orang tuaku yang menginginkannya, kehidupan keluargaku sangaatlah baik, baik itu dari segi ekonomi maupun dari segi hubungan intim, tetapi seperti pepata yang mengatakan tidak ada gading yang tak retak, begitu juga dengan hidupku walaupun aku memiliki suami yang sangat mencintaiku tetapi selama 4 tahun kami menikah kami belum juga dikaruniai seorang anak sehingga kehidupan keluarga kami terasa ada yang kurang, tetapi untungnya aku memiki seorang suami yang tidak perna mengeluh karena tidak bisanya aku memberikan anak untuknya untuk membalas budi baik kakakku, aku dan suamiku memutuskan untuk merawat anaknya Aldi karena kami pikir apa salah menganggap Aldi sebagai anak sendiri dari pada aku dan suamiku harus mengangkat anak dari orang lain,</p>
<p style="text-align: justify;">Sudah satu minggu Aldi tinggal bersama kami, perlahan ia mulai terbiasa dengan kehidupannya yang baru, aku dan suamiku juga meresa sangat senang sekali karena semenjak kehadirannya kehidupan kami menjadi lebih berwarna, suamiku semakin bersemangat saat bekerja dan sedangkan aku kini memiliki kesibukan baru yaitu merawat Aldi, “Bi…. tolong ambilin tasnya Aldi dong di kamar saya,” kataku memanggil bi Mar</p>
<p style="text-align: justify;">Hari ini adalah hari pertama Aldi bersekolah sehingga aku sangat bersemangat sekali, setelah semuanya sudah beres aku meminta pak Rojak untuk mengantarkan Aldi ke sekolahnya yang baru, beberapa saat Aldi terseyum ke arahku sebelum dia berangkat ke sekolah. Seperti pada umumnya ibu rumah tangga, aku berencana menyiapkan makanan yang special untuk Aldi sehingga aku memutuskan untuk memasak sesuatu di dapur, tetapi saat aku melangkah ke dapur tiba-tiba kakiku terasa kaku saat melihat kehadiran pak Isa yang sedang melakukan hubungan intim dengan mba Ani, mereka yang tidak menyadari kehadiranku masih asyik dengan permainan mereka, “Hmm… APA-APAAN INI?” bentakku ke pada mereka, mendengar suaraku mereka terlihat tanpak kaget melihat ke hadiranku, “kalian benar-benar tidak bermoral, memalukan sekali!”</p>
<p style="text-align: justify;">Mereka tanpak terdiam sambil merapikan kembali pakaian mereka masing-masing, beberapa saat aku melihat penis pak Isa yang terlihat masih sangat tegang, sebenarnya aku sangat terkejut melihat ukuran penis pak Isa yang besar dan berurat, berbeda sekali dengan suamiku, “maafin kami Bu,” kini Ani membuka mulutnya, sedangkan pak Isa masih terdiam, “Maaf… kamu benar-benar wanita murahan, kamu tahu kan pak Isa itu sudah punya istri kenapa kamu masih juga menggoda pak Isa, kamu itu cantik kenapa tidak mencari yang sebaya denganmu?” emosiku semakin memuncak saat mengingat bi Mar istri dari pak Isa, “saya tidak menyangka ternyata anda yang sangat saya hormati ternyata tidak lebih dari binatang, betapa teganya anda menghianati istri anda sendiri,” beberapa kali aku menggelengkan kepalahku, sambil menunjuk ke arahnya,</p>
<p style="text-align: justify;">“maaf Bu ini semua salah saya, jangan salahkan Ani” kata pak Mar yang membela Ani, “mulai sekarang kalian saya PECAT, dan jangan perna menyentuh ataupun menginjak rumah ini, KELUAR KALIAN SEMUA!!” bentakku<br />
<span id="more-1462"></span><br />
Mendengar perkataanku Ani terlihat pucat tidak menyangkah kalau kelakuan bisa membuatnya kehilangan pekerjaan, sedangkan pak Isa terlihat tenang-tenang saja malahan pak Isa tanpak terseyum sinis, “he..he… Ibu yakin dengan keputusan Ibu,” pak Isa tertawa mendengar perkataanku, perlahan pak Isa mendekatiku, “jangan perna main-main dengan saya Bu,” ancamnya dengan sangat sigap pak Isa menangkap kedua tanganku, “apa-apaan ini lepaskan saya, atau saya akan berteriak,” aku mencoba mengancam balik mereka yang sedang mencoba mengikat kedua tanganku,“teriak saja Bu, tidak akan ada orang yang mendengar,” timpal Ani sambil membantu pak Isa mengikat kedua tanganku, Apa yang di katakan Ani ada benarnya juga, tetapi walaupun begitu aku tidak mau menyerah begitu saja dengan susah paya aku berusaha melepaskan diri tapi sayangnya tenagaku kalah besar dari mereka berdua, tanpa bisa berbuat apa-apa aku hanya dapat mengikuti mereka saat membawaku ke dalam kamar pak Isa. Sesampai di kamar aku di tidurkan di atas kasur yang tipis, sedangkan Ani mengambil sebuah Hp dan ternyata Hp itu di gunakan untuk merekamku, sehingga kehawatiranku semakin menjadi-jadi.</p>
<p style="text-align: justify;">“kalian biadab, tidak tau terimakasih anjing kalian!” air mataku tidak dapat kubendung lagi saat jari-jemari pak Isa mulai merabahi pahaku yang putih,</p>
<p style="text-align: justify;">“ja-jangan, mau apa kalian lepaskan saya ku mohon jangan ganggu saya,” kataku di sela-sela isak tangis, “siapa suruh ikut campur urusan saya, he…he… maaf bu ternyata hari ini adalah hari keberuntungan saya, dan hari yang sil bagi Ibu,” semakin lama aku merasa tangannya semakin dalam memasuki dasterku,</p>
<p style="text-align: justify;">“tidak di sangkah impian saya akhirnya terkabul juga,”” sambungnya sambil meremasi paha bagian dalamku, “makanya Bu jangan suka ikut campur urusan orang,” kini giliran Ani yang menceramahiku, “ya, saya ngaku salah tolong lepasin saya,” kini aku hanya dapat memohon agar mereka sedikit iba melihatku, tetapi sayangnya apa yang kuharapkan tidak terjadi, pak Isa tanpa semakin buas memainkan diriku</p>
<p style="text-align: justify;">Aku hanya dapat melihat pasrah saat dasterku terlepas dari tubuhku, kedua payudaraku yang memang sudah tidak tertutupi apa-apa lagi dapat dia nikmati, jari-jarinya yang kasar mulai memainkan selangkanganku, “sslluupss…sslluuppss… hhmm…. ayo Bu puaskan saya?” pinta pak Isa, sambil mengulum payudaraku beberapa kali lidahnya menyapu putting susuku yang mulai mengeras,</p>
<p style="text-align: justify;">“ko’ memiawnya basah bu, he…he…” memang harus diakui, tubuhku tidak dapat membohonginya walaupun bibirku berkata tidak, “wa…wa… Ibukan sudah punya suami ko’ masih juga menggoda laki orang lain, ga malu ya Bu,” Ani melotottiku seolah-olah ingin membalas perkataanku tadi, “dasar wanita munafik, sekarang Ibu tau kan kenapa saya menyukai pak Isa,”bentak Ani kepadaku, sehingga membuat hatiku terasa amat sakit mendengarnya, “aahhkk… pak, hhmm…. pak sudah jangan di terusin…” kataku dengan kaki yang tidak dapat diam saat jarinya menyelusup kedalam vaginaku yang sudah banjir, perlahan kurasakan jari telunjuknya menyelusuri belahan vaginaku,</p>
<p style="text-align: justify;">“oo… enak ya? he…he…” pa Isa tertawa melihatku yang sudah semakin terangsang, leherku terasa basah saat lidah pak Isa menjilati leherku yang jenjang, Dengan sangat kasarnya pak Isa menarik celana dalamku, sehingga vaginaku yang tidak di tumbuhi rambut sehelaipun terlihat olehnya, aku memang sangat rajin mencukur rambut vaginaku agar terlihat lebih bersi dan seksi.</p>
<p style="text-align: justify;">Ani berjongkok di sela-sela kakiku, kamera Hp di arahkan persis di depan vaginaku yang kini sudah tidak ditutupi oleh sehelai kain, tanpa memikirkan perasaanku pak Isa membuka bibir vaginaku sehingga bagian dalam vaginaku dapat di rekam jelas oleh Ani, beberapa kali jari telunjuk pak Isa menggesek clitorisku, “ohk pak plisss.. jangan…? saya malu…” aku merasa sangat malu sekali di perlakukan seperti itu, baru kali ini aku bertelanjang di depan orang lain bukan suamiku sendiri, Ha…ha… malu kenapa Bu? anjing aja tidak malu ga pake baju masa ibu malu si…” katanya yang semakin merendahkan derajatku, setelah puas mempertontonkan vaginaku di depan kamera, pak Isa bertukar posisi dengan Ani untuk memegangi kakiku sedangkan pak Isa berjongkok tepat di bawa vaginaku,</p>
<p style="text-align: justify;">Dengan sangat lembut pak Isa menciumi pahaku kiri dan kanan secara bergantian, semakin lama jilatannya semakin ke atas menyentuh pinggiran vaginaku, “aahkk… sudah pak, rasanya sangat geli hhmm…” aku berusaha sekuat tenaga mengatupkan kedua kakiku tetapi usahaku sia-sia saja, dengan sangat rakus pak Isa menjilati vaginaku yang berwarna pink, sedangkan Ani tanpa puas melihat ke adaanku yang tak berdaya, “nikmatin aja Bu, he..he.. saya dulu sama seperti ibu selalu menolak tapi ujung-ujungnya malah ketagihan” kata Ani tanpa melepaskan pegangannya terhadap kakiku,</p>
<p style="text-align: justify;">Semakin lama aku semakin tidak tahan, tiba-tiba aku merasa tubuhku seperti di aliri listrik dengan tegangan yang tinggi, kalau seandainya Ani tidak memegang kakiku dengan sangat erat mungkin saat ini wajah pak Isa sudah menerima tendanganku, mataku terbelalak saat orgasme melandah tubuhku dengan sangat hebat, cairan vaginaku meleleh keluar dari dalam vaginaku, sehingga tubuhku terasa lemas, “ha…ha… bagaimana Bu, mau yang lebih enak….” pak Isa tertawa puas, aku hanya dapat menggelengkan kepalaku karena aku sudah tidak mampu lagi untuk mengeluarkan suara dari mulutku, perlahan pak Isa berdiri sambil memposisikan penisnya tepat di depan vaginaku, “aahkk… sakit…” aku memikik saat kepala penisnya menerobos liang vaginaku, “uuhk… hhmm… pelan-pelan pak…” pintaku sambil menarik napas menahan rasa sakit yang amat sangat di vaginaku karena ukuran penis pak Isa jauh lebih besar dari penis suamiku,</p>
<p style="text-align: justify;">“tahan Bu, bentar lagi juga enak ko’ “ kata Ani yang kini melepaskan ikatan di tanganku, setelah ikatanku terlepas Ani kembali merekam adegan panas yang kulakukan,</p>
<p style="text-align: justify;">Dengan sangat cepat pak Isa menyodok vaginaku sehingga terdengar suara “plokkss….ploskkss…” saat penisnya mentok ke dalam vaginaku yang mungil, “aahhkk… aahhkk… aaahh… oooo…”semakin cepat sodokannya suaraku semakin lantang terdengar, “oh yeeaa… enak Bu, hhmm… ternyata memiaw Ibu masih sempit sekali walaupun sudah perna menikah,” katanya memujiku, tetapi mendengar pujiannya aku tidak merasa bangga melainkan aku meresa jijik terhadap diriku sendiri, Aku merasa vaginaku seperti di masuki benda yang sangat besar yang mencoba mengorek isi dalam vaginaku, rasanya memang sangat sakit sekali tetapi di sisi lain aku merasa sangat menikamati perkosaan rehadap diriku, selama ini aku belum perna merasakan hal seperti ini dari suamiku sendiri, “ayo sayang, bilang kalau tongkol saya enak…” dengan sangat kasar pak Isa meremasi kedua payudaraku,</p>
<p style="text-align: justify;">“ti-tidak…. ahk… hhmm…” aku di buat merem melek olehnya, “ha..ha.. kamu mau jujur atau tidak, kalau tidak hhmm… saya akan adukan semua ini kepada suamimu, ha…ha…” katanya mengancamku dengan tawa yang sangat menjijikan, “ja-jangan pak,” aku memohon ke padanya, karena takut dengan ancamannya akhirnya aku menyerah juga “iya, aahhkk… aku suka…” kataku dengan suara yang hampir tidak terdengar, “APA… SAYA TIDAAK MENDENGAR?” pak Isa berteriak dengan sangat kencang sehingga gendang telingaku terasa mau pecah mendengar teriakannya, “IYA PAK, ENAK SEKALI SAYA SUKA SAMA tongkol BAPAK….aahhk…uuhhkk!!” dengan sekuat tenaga aku berusaha tegar dan berharap semuanya cepat berlalu, Setelah berapa menit kemudian tubuhku kembali merasa tersengat oleh aliran listrik saat aku kembali mengalami orgasme yang ke dua kalinya,</p>
<p style="text-align: justify;">Dengan sangat kasarnya pak Isa menarik tubuhku sehingga aku berposisi menungging, pantatku yang bulat dan padat menghadap dirinya, “hhmm… indah sekali pantatmu sayang” katanya sambil meremasi bongkahan pantatku, “pak, saya mohon cepat lakukan,” “ha..ha.. kenapa Bu, sudah ga tahan” berkali-kali pantatku menerima pukulan darinya, sebenarnya aku tidak menyangka dengan kata-kataku tadi bisa membuatku semakin renda di mata mereka, sebenarnya aku hanya bermaksud agar semua permainan ini segera berakhir tapi sayangnya pak Isa tidak menginginkan itu,</p>
<p style="text-align: justify;">“tenang Bu, santai saja dulu?” Pak Isa sangat pintar memainkan tubuhku, dengan sangat lembut jari kasarnya menyelusuri belahan pantatku dari atas hingga ke bawah belahan vagianaku, gerakan itu di lakukan berkali-kali sehingga pantatku semakin terlihat membusung ke belakang, “ohhkk… pak, hhhmm….” ku pejamkan mataku saat jarinya mulai menerobos lubang anusku, dengan gerakan yang sangat lembut jarinya keluar masuk dari dalam anusku, “ahhkk….ooo… ssstt…uuuuu… pak” ternyata rintihanku membuat pak Isa semakin mempercepat gerakan jarinya,pak Isa dengan rakusnya kembali menjilati vaginaku dari belakang sedangkan jari-jarinya masih aktif mengocok anusku. Pada saat aku sangat terangsang tiba-tiba kami mendengar suara ketukan yang kuyakini itu adalah pak Rojak yang baru pulang dari mengantar Aldi, “Pak Rojak tolongin saya…” kataku berharap ia bisa membantuku untuk lepas dari pelecehan yang ku alami, dengan santainya Ani membukakan pintu tanpa rasa takut kalau pak Rojak mengadukan kejadian ini ke pada suamiku, pak Rojak tanpak kaget saat melihat keadaanku yang sedang di gagahi oleh pak Isa,</p>
<p style="text-align: justify;">“pak, tolong ku mohon,” kataku memelas, “Wa…wa…. apa-apaan ini, “ beberapa kali pak Rojak menggelengkan kepalahnya dengan mata yang tak henti-hentinya memandangi tubuh mulusku, “Udah pak, jangan sok mau jadi pahlawan kalau bapak mau embat aja, dia sudah menjadi budaknya saya,” pak Isa mulai membujuk pak Rojak dan aku hanya bisa berharap pak Rojak tidak memperdulikan tawaran pak Isa, “kenapa bengong? sini ikutan!” ajaknya lagi “jangan pak saya mohon tolongin saya,” aku mengiba ke pada pak Rojak, tetapi pak Isa tidak mau kalah kedua jarinya membuka bibir vaginaku, “bapak liat ni, memiawnya sudah basa banget… wanita ini munafik” pak Rojak terdiam seperti ada yang sedang di piirkannya,</p>
<p style="text-align: justify;">“memiawnya masih sempit lo, apa lagi anusnya kayaknya masih perawan,” bujuk pak Isa berharap pak Rojak mau bergabung dengannya untuk menikmati tubuhku, Akhirnya pak Rojak tidak tahan melihat vaginaku yang becek terpampang di depannya, “hhmm… oke lah tapi boolnya buat saya ya, ” tubuhku semakin terasa lemas, kini aku sudah tidak tau harus meminta tolong ke pada siapa lagi, perlahan pak Rojak mendekatiku, “sekarang Ibu dudukin tongkol saya, cepat…” perintah pa Isa sambil tidur telentang dengan penis yang mengancung ke atas, dengan sangat pelan aku menuduki penis pak Isa, “eennnggkk…. “ aku menggigit bibir bawahku saat kepala penis pak Isa kembali menembus vaginaku, perlahan penis itu amblas ke dalam vaginaku, dengan sangat erat pak Isa memeluk pinggangku agar tidak dapat bergerak, Setelah melepas semua pakaian yang ada di tubuhnya, pak Rojak mendekatiku dengan penis berada di depan anusku beberapa kali pak rojak menamparkan penisnya ke pantatku,</p>
<p style="text-align: justify;">“pak sakit… aahhkk… aahkk… ja-jangan pak saya belum pernah” aku berusaha melepaskan diri saat pak Rojak mulai berusaha memasuki anusku, sempat beberapa kali ia gagal meembus anusku yang memang masih perawan, “ha…ha… ayo dong Pak, masak kalah sama cewek si…” kata pak Isa mmemanas-manasi pak Rojak agar segera membobol anusku, pak rojak yang mendengar perkataan pak Isa menjadi lebih beringas dari sebelumnya, “AAAAAA….” aku berteriak sekencang-kencangnya saat penis pa Rojak berhasil menerobos anusku, tanpa memberikan aku nafas ia menekan penisnya semakin dalam, “aahkk…. oohhkk… pak, hhmm…” aku merintih ke sakitan saat pak Rojak mulai memaju mundurkan penisnya di dalam anusku, “gi mana pak? Enak kan?” tanya pak Isa yang kini ikutan memaju mundurkan penisnya di dalam vaginaku, “eehhkknngg… mantab pak, enak banget he….he… hhmm….” semakin lama kedua pria tersebut semakin mempercepat tempo permainan kami, Sudah beberapa menit berlalu kedua orang pria ini belum juga menunjukan kalau mereka ingin ejakulasi, sedangkan diriku sedah beberapa kali mengalami orgasme yang hebat sehingga tubuhku terasa terguncang oleh orgasmeku sendiri.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah beberapa menit aku mengalami orgasme tiba-tiba pak Isa menunjukan bahwa dia juga ingin mencapai klimaks. Dengan sekuat tenaga pak Isa semakin menenggelamkan penisnya ke dalam vaginaku dalam hitungan beberapa detik kurasakan cairan hangat membasahi rahimku, “aahkk… enak…. hhmm…” gumamnya saat menyemburkan sperma terakhirnya, setelah puas menodaiku pak Isa melepas penisnya di dalam vaginaku begitu juga dengan pak Rojak yang melepaskan penisnya di dalam anusku, “buka mulutmu cepetan,” perintah pak Rojak sambil menarik wajahku agar menghadap ke arah penisnya yang terlihat berdeyut-deyut, aku sangat kaget sekali saat pak Rojak memuntahkan spermanya ke arah wajahku, sehingga wajahku ternodai oleh sperma pak Rojak, Kini aku benar-benar sudah tidak memiliki tenaga sedikitpun, untuk mengangkat tubuhku saja terasa sangat berat sekali, sedangkan mereka tanpa puas memandangku yang sedang berpose mengangkang di depan mereka karena kedua kakiku kembali dipegangi Ani, sperma yang tadi di muntahkan pak Isa terasa mengalir keluar dari dalam vaginaku,</p>
<p style="text-align: justify;">Aku duduk di atas sofa sambil melihat anak angkatku Aldi yang sedang di temani suamiku belajar, wajah mereka terlihat sangat cerah sekali bertanda bahwa mereka sangat bahagia, entah kenapa tiba-tiba di pikiranku terlintas kembali apa yang terjadi tadi pagi yang menimpa diriku, semakin aku berusaha melupakannya rasanya ingatan itu semakin menghantuiku, aku tidak bisa membayangkan kalau sampai suamiku mengetahui kalau aku di perkosa oleh ketiga pembantuku sendiri, “hhmm… gi mana Aldi sudah negerti belom” kataku sambil mengucek rambutnya yang sedang sibuk menghitung soal yang di berikan suamiku, “ya sudah kalau begitu mama bikinin minuman dulu ya, buat kalian,” kataku yang di sambut dengan teriakan mereka berdua, Baru satu langkah aku keluar dari kamar tiba-tiba pergelangan tanganku terasa sakit saat pak Rojak menarik tanganku, “bapak apaan sih!?” bentakku dengan suara yang sangat pelan, “ssstt… jangan berisik…” kata pak Rojak dengan jari telunjuk di bibirnya, “nanti suami dan anak mu dengar, hhmm… bapak cuman mau ini Bu,” katanya lagi sambil mencubit payudaraku, dengan sigap aku mundur ke belakang,</p>
<p style="text-align: justify;">“jangan main-main pak,” beberapa kali aku memandang pintu kamarku yang tidak tertutup rapat, tetapi pak Rojak tidak kehabisan akal dia balik mengancamku dengan mengatakan akan membongkar semua rahasiaku ke pada suamiku, sehingga nyaliku menjadi ciut, “oke, hhmm… kalau begitu bapak ikut saya” kataku dengan suara yang bergetar, karena sudah tidak tahu lagi harus melakukan apa, dia terseyum puas melihatku tak berdaya dengan permintaanya, “maaf Bu, saya inginnya di sini bukan di tempat lain,” katanya dengan suara yang cukup jelas, setelah berkata seperti itu pak Rojak langsung memelukku dengan erat sehingga aku sulit bernafas, “hhmm… bauh tubuh ibu benar-benar menggoda saya,” perlahanku rasakan lidahnya menjulur ke leherku “pak ku mohon, jangan di sini” pintaku ke padanya, Pak Rojak yang mengerti kekhawatiranku langsung membalik tubuhku menghadap daun pintu kamarku yang sedikit terbuka,</p>
<p style="text-align: justify;">“Ibu bisa bayangkan kalau sampai orang yang sedang di dalam kamar Ibu mengetahui apa yang sedang Ibu lakukan,” ancamnya sambil menarik rambutku sehingga aku harus menutup mulutku dengan telapak tanganku agar suara terikanku tidak terdengar oleh suami dan anakku, “Pak ku mohon jangan di sini,” aku hanya bisa menurut saja saat pak Rojak menyuruhku untuk menungging dengan tangan yang menyentuh lantai, sedangkan wajahku menghadap ke celah pintu kamarku yang terbuka, “tahan ya Bu,” katanya sambil menyingkap dasterku, sehingga celana dalamku yang berwarna hitam terpampang di depan matanya, dengan sangat kasar pak Rojak meremas kedua buah pantatku yang padat sehingga aku tak tahan untuk tidak mendesah, “aahkk.. pak hhmm.. ja-jangan di sini pak,” pak Rojak diam saja tidak mendengar kata-kataku melainkan pak Rojak semakin membuatku terangsang dengan mengelus belahan vaginaku dari belakang, “kalau kamu tidak mau ketahuan jangan bicara,” bentak pak Rojak sambil memukul pantatku “ta-tapi pak, oohhkk… aku ga kuat,” kataku dengan suara yang sangat pelan, “ku mohon pak mengertilah,”</p>
<p style="text-align: justify;">Pak Rojak seolah-olah tidak mau tahu, kini dengan rakusnya pak Rojak menjilati vaginaku yang masih tertutup celana dalamku, sehingga aku merasa celana dalamku tampak semakin basah oleh air liurnya. Setelah puas menciumi vaginaku pak Rojak memintaku untuk membuka celana dalamku sendiri masih dengan posisi menungging. Sangat sulit bagiku untuk melepaskan celana dalamku dengan posisi menungging belum lagi aku harus bekonsentrasi agar suaraku tidak keluar dengan keras walaupun pada akhirnya aku berhasil menurunkan celana dalamku sampai ke lutut, “hhuuu… mantab….” katanya sambil merabahi vaginaku dari belakang, “kamu mau tahukan gimana rasanya ngent*t di depan suamimu sendiri,” katanya lagi sambil menunjuk ke arah suamiku yang sedang mengajari anaku Aldi, “pak, ja-jangan…” aku sangat takut sekali kalau suamiku melihat ke arahku, tiba-tiba aku di kejutkan dengan jari telunjuk pak Rojak yang langsung memasuki vaginaku sehingga aku terpekik cukup keras, “sayang… ada apa?” kata suamiku dari dalam, saat mendengar suaraku.</p>
<p style="text-align: justify;">“aahkk… tidak pa, cuman hhmm.. tadi ada tikus lewat,” jawabku asal-asalan agar suamiku tidak curiga ke padaku, tetapi untungnya suamiku tidak melihat ke arahku, dalam ke adaan terjepit seperti ini pak Rojak masih asyik mempermainkan vaginaku dari belakang, “ada tikus??” katanya lagi seolah-olah tidak percaya, “apa perlu papa yang usir,” mendengar tawarannya nafasku teras berhenti tetapi untungnya aku masih banyak akal, “aahhgg… ga usah hhmm.. pa…” kataku terputus-putus menahan rasa nikmat yang di berikan pak Rojak kepadaku, untungnya suamiku tidak curiga dengan suaraku, “asyikan Bu, ngobrol dengan suami sambil di mainin memiawnya,” aku memandangnya dengan wajah yang memerah karena nafsuku sudah di puncak, “ko’ diam cepat ajak suami Ibu ngobrol,” mendengar perkataanya aku langsung melotot ke arahnya, “Ibu mau kalau suami Ibu tau apa yang sekarang Ibu lakuin,” mendengar ancamannya aku kembali terdiam, Dengan sangat terpaksa aku kembali mengajak suamiku mengobrol, walaupun di dalam hati aku merasa was-was takut kalau suamiku menyadari suaraku yang berubah menjadi desahan,</p>
<p style="text-align: justify;">“paaa… ma-mau minum apa?” tanyaku yang kini sedang diperkosa oleh pak Rojak, tanpa kusadari pak Rojak sudah memposisikan penisnya di depan ibir vaginaku sehingga beberapa kali aku terpanjat saat pak rojak menghantamkan penisnya dengan sangat keras ke dalam vaginaku, “terserah mama saja… papa sama Aldi ikut aja,” “iya ma, apa aja asalkan enak,” sambung Aldi, Waktu demi waktu telah berlalu sehingga sampai akhirnya sikapku berubah menjadi sedikit liar dan mulai menyukai cara pak Rojak memperkosaku walaupun pada awalnya hatiku terasa miris sekali di perlakukan seperti ini, “aahk…. pak hhmm.. enak,” aku melenggu panjang saat orgasme melandahku, kini perkosaan yang ku alami berganti dengan perselingkuhanku dengan pembantuku, “ohhk… memiaw istri majikan ternyata enak sekali, ahhkk…” katanya yang terus-terusan menggoyang penisnya di dalam vaginaku, “pak… aahhkk… eehkk… aku, hhmm… ingin keluarrr, uuhhkk…” kali ini suaraku terdengar sangat manja Beberapa menit kemudian kami mengerang bersamaan saat kenikmatan melanda kami berdua, setelah merasa puas aku dan pak Rojak kembali merapikan pakaian kami masing-masing, sebelum pak Rojak pergi meninggalkanku sempat terlihat seyumannya yang tersungging di bibirnya. Setelah membuatkan minuman aku kembali ke kamarku menemui anak dan suamiku, mereka terlihat tanpak senang sekali melihatku hadir dengan membawa minuman dan makanan kecil,</p>
<p style="text-align: justify;">“ini di minum dulu, nanti baru di lanjutin lagi,” kataku sambil meletakan cangkir dan piring di atas meja kecil yang di gunakan Aldi untuk belajar, “makasi mama…” kata Aldi yang langsung saja menyambar minuman yang baru ku bikin, entah kenapa setiap kali melihat Aldi hatiku terasa menjadi damai, dan semua masalah seperti terlupakan, Aku merasa sedikit aneh, saat suamiku memandangku dengan tatapan mencurigakan sehingga aku memberanikan diri untuk bertanya ke padanya, “ada pa, ko memandang mama seperti itu” kataku sambil mengupas jeruk untuk Aldi yang sedang menulis, suamiku mendekatkan mulutnya ke telingaku, “hhmm.. sayang ko’ kamu bau hhmm… gitulah…” mendengar pertanyaannya jantungku terasa berhenti, “bau, bau apa pa?” tanyaku untuk memastikan apa maksud dari pertanyaan suamiku, “kamu tadi ko’ lama ma,” kami terdiam beberapa saat, “mama abis dari kamar mandi ya, hhmmm… papa jadi curiga ni,” katanya sambil tertawa memandangku, mendengar perkataanya aku menjadi sedikit lega, “Iya ni pa, abis kangen si…” kataku manja sambil mencubit penis suamiku, Setelah yakin Aldi tertidur pulas, suamiku mengjakku untuk melayaninya semalaman suntuk. Tubuhku memang terasa lelah karena seharian harus mengalami orgasme, tetapi di sisi lain aku sangat senang karena suamiku tidak mencurigai aku karena bau tubuhku seperti bau orang yang habis bercinta.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ceritasex.cn/pernikahan-yang-ternoda/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Gairah Dalam Kayuhan Tukang Becak</title>
		<link>http://www.ceritasex.cn/gairah-dalam-kayuhan-tukang-becak/</link>
		<comments>http://www.ceritasex.cn/gairah-dalam-kayuhan-tukang-becak/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 19 Jun 2010 07:19:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cerita Sex</dc:creator>
				<category><![CDATA[Paruh baya]]></category>
		<category><![CDATA[Pemerkosaan]]></category>
		<category><![CDATA[selingkuh]]></category>
		<category><![CDATA[birahi]]></category>
		<category><![CDATA[karyawati bank]]></category>
		<category><![CDATA[nafsu]]></category>
		<category><![CDATA[ngentot]]></category>
		<category><![CDATA[poppy]]></category>
		<category><![CDATA[tukang becak]]></category>
		<category><![CDATA[wanita karir]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ceritasex.cn/?p=1448</guid>
		<description><![CDATA[Kejadiannya saat itu adalah di Jakarta. Poppy bekerja sebagai seorang karyawati pada sebuah bank swasta terkemuka. Poppy adalah seorang wanita karier yang berumur 26 tahun pada saat itu. Ia memiliki kulit putih mulus dan tinggi 156 cm. Rambut sebahu serta ukuran dada yang serasi sekali dengan bentuk tubuhnya yang ramping. Saat itu pun Poppy telah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Kejadiannya saat itu adalah di Jakarta. Poppy bekerja sebagai seorang karyawati pada sebuah bank swasta terkemuka. Poppy adalah seorang wanita karier yang berumur 26 tahun pada saat itu. Ia memiliki kulit putih mulus dan tinggi 156 cm. Rambut sebahu serta ukuran dada yang serasi sekali dengan bentuk tubuhnya yang ramping. Saat itu pun Poppy telah memiliki seorang kekasih yang sangat ia cintai dan amat mengerti akan pekerjaannya. Rusdi adalah kakak kelas Poppy saat di kampus dulu di sebuah kota Sumatera. Saat itu pun Rusdi telah bekerja di sebuah perusahaan di Kalimantan. Jadi mereka berpisah untuk waktu yang lama dan hanya sekali 6 bulanlah mereka bisa berkumpul lagi. Poppy menyewa sebuah rumah yang sederhana tidak jauh dari kantornya. Dengan gaji yang cukup, ia dapat mempekerjakan seorang pembantu yang sudah agak tua. Namanya Mpok Ijah. Seringkali Poppy bertukar pikiran dengan Mpok Ijah saat ia tidak kerja. Itu pun topiknya mengenai laki-laki. Mpok Ijah pun tidak terlalu ambil peduli dengan kisah Poppy. Poppy dan Rusdi telah merencanakan untuk menikah saat Rusdi dipindah ke Jakarta nanti.</p>
<p style="text-align: justify;">jadi tidak heran jika saat Rusdi datang ke Jakarta setiap 6 bulan, selalu disambut dengan suka cita oleh Poppy. Kemesraan diantara mereka selalu diakhiri dengan hubungan intim. Poppy telah menyerahkan keperawanannya kepada Rusdi dulu saat mereka sama-sama tinggal di Jakarta berlibur. Poppy selalu memakai sistem kalender untuk menjaga jangan sampai ia hamil akibat hubungan itu. Namun saat Rusdi telah berada kembali di Kalimantan, secara tiba-tiba, Poppy merasakan libidonya kembali naik untuk berhubungan sex. Sedang Rusdi kembali baru 4 bulan lagi. Ia kehabisan akal. Ia tidak ingin memakai jasa gigolo sebab ia tidak ingin diporoti oleh lelaki itu dan takut akan tergantung kepada jasa mereka. Sedang jika ia melakukan selingkuh dengan teman kerja, jelas tidak mungkin. Posisinya akan hancur dan menjatuhkan wibawa dan derajatnya. Ia pusing sekali jika nafsunya datang menghentak-hentak. Timbul pikirannya untuk melakukan hubungan sex yang aman dan berisiko kecil. Setiap pergi dan pulang kantor, Poppy selalu menumpang becak.</p>
<p style="text-align: justify;">Ia menyadari, abang becak yang bernama Asep itu sering mencuri pandang ke betis dan dadanya saat ia di atas becak. Poppy amat merasakan hal itu. Asep adalah tukang becak yang berumur 40 tahun. Sosoknya hitam, badan sedang, dan amat santun kepada Poppy setiap Poppy menaiki becaknya. Asep adalah lelaki yang telah berkeluarga dan memiliki 4 orang anak yang telah beranjak dewasa. Istrinya bekerja sebagai tukang cuci di tempat Poppy. Poppy tahu jika ia mengajak Asep, maka ia akan mudah mengaturnya sebab Asep tidak akan berani macam-macam apalagi memerasnya. Asep juga adalah bekas preman yang telah sadar, dan kembali bekerja secara baik-baik. Dulunya ia pernah masuk penjara. Tidak heran di pahanya ada tatto. Asep sering juga menelan ludah jika Poppy yang menumpang becaknya. Selain cantik, Poppy juga sering memakai rok pendek dan kelihatan batang pahanya yang mulus di tumbuhi bulu-bulu halus. Juga ia memiliki leher yang jenjang. Baju yang dikenakan Poppy sering yang berleher rendah dan sesekali terlihat belahan dada yang mengundang birahinya.<br />
<span id="more-1448"></span><br />
Saat itu hari Jumat. Hari terakhir kerja bagi para karyawan. Malam itu Poppy menaiki becak Asep. “Bang… langsung ke rumah ya?” kata Poppy. “Baik, Mbak,” jawab Asep. Sesampai di rumah, Poppy minta Asep untuk memasukkan becaknya ke dalam garasi yang tersedia di rumahnya. “Dimasukkan aja becaknya, ya, Bang…” kata Poppy. “Baiklah, Mbak…” “Ini bang, saya minta Abang membantu saya memindahkan komputer itu ke kamar saya, soalnya Mpok Ijah gak kuat” pinta Poppy. “Baiklah, Mbak,” jawab Asep. Lalu Asep masuk kerumah Poppy dan Mpok Ijah menutup pintu dan menguncinya. “Ini, Bang, komputernya,” kata Poppy. Lalu Asep membawa komputer itu kekamar Poppy yang berada di lantai atas rumah itu. Di kamar Poppy yang serba lux itu, komputer diletakkan di sudut kamar. lalu Asep dipersilakan duduk di beranda ruang kamar Poppy itu. Lalu Poppy membawa nampan yang berisi minuman dan makanan kecil. Poppy belum sempat ganti pakaian kerja saat itu. Saat Poppy jongkok, Asep sempat mencuri pandang ke dada Poppy dan terlihat gundukan buah dada yang putih mulus itu menggantung. Lalu Poppy duduk kembali di depan Asep.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Diminum airnya, Bang?” kata Poppy. “Ya, Mbak,” jawab Asep. Sambil duduk Asep melihat sekeliling ruang kamar yang luas dan dingin karena AC itu. Sesekali ia memandang ke depan saat Poppy membaca koran. Rok kerja Poppy terbuka dan tampak olehnya celdam Poppy yang berwarna merah itu. Poppy menyadarinya. Itulah yang ia inginkan. Liur Asep naik turun dan matanya menatap lekat ke paha Poppy. Ia terus memandang pemandangan yang menggairahkan itu. Lalu Poppy berdiri dan berjalan ke arah ranjangnya yang bergaya romawi itu. Di situ ia rebahkan tubuhnya yang padat berisi. Sambil tiduran ia memanggil Asep. “Bang Asep… sini tolong saya, dong…” katanya. Lalu Asep berjalan kearah Poppy. “Ada apa, Mbak?” jawabnya. “Bang, saya minta tolong…. Tolong diurut betis saya ini. Tadi saat saya di becak Abang sempat terantuk bangkunya,” kata Poppy. “Tapi Mbak, saya gak bisa mengurut,” kata Asep. Saat itu tampaklah pemandangan yang amat menarik gairah kelelakian Asep. Lalu sambil tangannya bergoyang, ia raih betis Poppy yang mulus itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Dari jari kaki ia mulai mengurutnya. Sesekali matanya melihat ke paha Poppy, dan kembali ia dipancing gairahnya… Pangkal paha Poppy amat mulus dan di tengahnya tertutup CD merah. Alangkah nikmatnya jika ia dapat merasakan kehangatan itu saat itu. Lalu ia urut satu satu dan Poppy hanya diam menikmati setiap gerakan tangan Asep. Lalu ia berujar. “Agak ke atas, Bang…” katanya. “Baiklah, Mbak” jawab Asep. Lalu ia teruskan gerakan tangannya dan ia singkapkan rok kerja Poppy dan terlihat gundukan vagina Poppy yang bengkak itu. Dengan tidak ada sahutan dari Poppy, Asep lalu meningkatkan gerakannya. Ia merasa Poppy tidak akan marah kepadanya. Lalu tangannya meraih batang paha Poppy dan dengan kasar ia remas paha Poppy. Poppy terbangun dan duduk. Ia pandangi Asep dengan pandangan penuh gairah. Asep pun mengetahui bahwa saat itu Poppy telah mulai bangkit birahinya.</p>
<p style="text-align: justify;">Asep meraih pipi Poppy dan ia ciumi bibir merah Poppy. Dari bibir lalu ia ciumi juga telinga Poppy. Lalu sebelah tangannya bergerak meremas buah dada yang saat itu masih terbungkus blouse kerja. Poppy hanya terpejam. Asep lalu membuka satu per satu kancing baju itu sampai semuanya terlepas dan blouse telah ia buka dan tampaklah dada dan bahu Poppy yang putih mulus. Seumur hidupnya baru kali itulah ia mendapatkan kesempatan memegang kulit tubuh wanita secantik Poppy. Dada Poppy masih terbungkus BH hijau muda ukuran 34b. Kemudian ia ciumi leher jenjang itu, lalu turun ke belahan dada Poppy. Di sana mulutnya diam dan terus melakukan aksinya. Lalu tangan Asep meraih pengait BH itu dan membukanya, sehingga dada Poppy terbuka seluruhnya. Saat itu tinggal rok Poppy saja. Dada yang putih mulus itu ia jilati inci demi inci. Asep tidak ingin kesempatan emas itu hilang. Poppy saat itu hanya merem melek menikmati aksi Asep. Lalu Asep merebahkan tubuh Poppy di ranjang itu dan ia kemudian beralih ke arah bawah pusat Poppy untuk membuka rok kerja Poppy.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah rok kerja itu terbuka, maka yang tampak adalah sebuah celdam merah menutupi goa terlarang milik Poppy. CD itu ia buka, sehingga Poppy benar-benar bugil saat itu. Dengan jarinya, lobang Poppy ia korek. Dimainkannya daging kecil itu. Poppy amat histeris. Asep lalu membuka semua pakaian kumal yang melekat di tubuhnya. Lalu ia baringkan badannya di antara kedua paha Poppy. Penisnya tegak menantang ingin masuk ke dalam lobang Poppy. Lalu ia buka paha Poppy dan terlihat lobang yang siap dimasuki oleh penis Asep. Poppy diam menunggu. Penis Asep amat panjang dan besar. Lalu Asep memasukkan penisnya dan Poppy sempat mengeluh sakit. “Adauuuuu…. Bang… Lambat sedikit, doong…. sakit nih…” katanya. Asep terus memajumundurkan pelirnya selama kurang lebih 30 menit. Ia tidak peduli dengan keluhan Poppy. Sudah lama ia menanti saat itu. Lalu ia muntahkan spermanya sebanyak-banyaknya ke dalam rahim Poppy.</p>
<p style="text-align: justify;">Poppy sadar akan akibat dari sperma Asep, maka ia telah bersiap-siap sebelumnya dengan meminum pil anti hamil. Asep lalu terkulai di samping Poppy. Sedang Poppy merasa puas dan akan mencoba lagi permainan itu dengan Asep. Meskipun Asep tidak berpendidikan namun ia amat suka cita melihat gaya primitif dari Asep. Tidak seperti pacarnya Rusdi yang penuh liku-liku dan irama. Namun ia tetap menomorsatukan Rusdi sebagai kekasihnya. Bagaimanapun Rusdi adalah calon suaminya. Sedang Asep adalah alat pemuas nafsunya yang sewaktu-waktu dapat ia minta. Asep pun tidak macam-macam kepada Poppy. Ia hanya manut kepada segala perintah Poppy.</p>
<p style="text-align: justify;">Sejak saat itu hampir setiap libidonya minta dipuaskan, Poppy selalu meminta Asep yang melakukannya. Jika menggunakan jasa para gigolo, ia khawatir akan penyakit kelamin dan AIDS. Sedang Asep adalah lelaki yang setia kepada istrinya. Ia tak pernah ‘jajan’ kepada wanita lain. Satu-satunya wanita lain yang ditidurinya adalah Poppy seorang. Maka Poppy amat percaya akan kesehatan Asep.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ceritasex.cn/gairah-dalam-kayuhan-tukang-becak/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Digilir Mantan Murid</title>
		<link>http://www.ceritasex.cn/digilir-mantan-murid/</link>
		<comments>http://www.ceritasex.cn/digilir-mantan-murid/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 14 Jun 2010 23:51:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cerita Sex</dc:creator>
				<category><![CDATA[Gangbang Rame Rame]]></category>
		<category><![CDATA[Paruh baya]]></category>
		<category><![CDATA[Pemerkosaan]]></category>
		<category><![CDATA[kisah nyata]]></category>
		<category><![CDATA[cuki]]></category>
		<category><![CDATA[guru]]></category>
		<category><![CDATA[nghntot]]></category>
		<category><![CDATA[perkosa]]></category>
		<category><![CDATA[sex]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ceritasex.cn/?p=1423</guid>
		<description><![CDATA[Wajah tampan dan keceriaan anakku sibungsu Ricky yang berumur 3 tahun, selalu menghiasi hari-hari bahagia kami, sepasang suami isteri menjelang usia senja. Anakku yang sulung, Agung, kini kuliah di kota Gudeg. Sedangkan anakku yang nomor dua memilih untuk tinggal bersama kakek dan neneknya di satu kota kecil di Jawa Timur. Usia ku menjelang 45 tahun, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Wajah tampan dan keceriaan anakku sibungsu Ricky yang berumur 3 tahun, selalu menghiasi hari-hari bahagia kami, sepasang suami isteri menjelang usia senja. Anakku yang sulung, Agung, kini kuliah di kota Gudeg. Sedangkan anakku yang nomor dua memilih untuk tinggal bersama kakek dan neneknya di satu kota kecil di Jawa Timur. Usia ku menjelang 45 tahun, sedangkan suamiku, seorang manajer senior di suatu perusahaan, berumur 7 tahun lebih tua dariku. Hanya Rikcky-lah dan seorang pembantu yang menemaniku di rumah manakala suami kerja. Ulah lucu si bungsu memang menjadi penghibur bathinku, namun kadangkala ketika menatap wajah polosnya terlintas kembali ingatanku akan suatu peristiwa paling kelam dalam hidupku yang selama ini ku pendam, bahkan suamikupun tidak mengetahuinya. Begini kisahnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Dulu aku adalah seorang guru di sebuah SMA di kawasan Jakarta di mana anakku Agung tercatat sebagai salah satu siswanya. Sebagai remaja yang masih dalam masa pancaroba, ia juga tak beda jauh dengan rekan-rekan sebayanya. Mendengarkan musik keras-keras, bercanda, bergaul, berpetualang, memodifikasi sepeda motornya, dan membentuk kelompok sendiri. Sebagai seorang pendidik yang tahu persis perkembangan psikologis, sejauh ini hal itu kuanggap wajar-wajar saja asal tidak terjerumus ke dalam pergaulan yang negatif. Aku pun kenal persis teman-teman akrabnya, karena mereka juga murid-muridku dan mereka sering bertandang bahkan menginap di rumahku. Mereka antara lain Roby, Igo, dan Feri. Mereka berasal dari keluarga yang cukup terpandang dan kaya. Selama ini mereka kuanggap baik, meski cenderung kurang sopan dan semau gue. Kadang mereka pun betah berlama-lama ngobrol denganku. Sampai akhirnya peristiwa itu terjadi.</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam satu razia aparat di sekolah tempatku mengajar, anankku kedapatan membawa sejumlah pil-pil setan. Bagai disambar petir, peristiwa yang mencoreng nama baikku itu membuatku terkejut, kecewa sekaligus marah. Anakku terpaksa harus berurusan dengan hukum, namun loyalitas pada teman-temannya membuatnya tak mau mengungkap siapa sebenarnya pemilik barang-barang haram itu dan darimana sumbernya. Entah mengapa esoknya para orangtua teman-teman akrab Agung, yaitu Roby, Igo, Feri mendadak mengunjungiku. Kini pahamlah aku, bahwa mereka, teman-teman Agung-lah pemilik benda-benda haram tersebut, dan para orangtuanya mencoba menawarkan uang tutup mulut.Tentu saja hal ini membuatku semakin marah, kutolak tegas permintaan mereka, karena aku tak ingin anakku sendirian menanggung beban. Toh secara materi, aku pun berkecukupan. Dengan segala daya upaya akhirnya anakku dibebaskan, sementara rekan-rekannya , karena pengaruh dan kekayaan orangtuanya juga akhirnya lolos dari jerat hukum. Namun Agung dan juga rekan-rekannya dikeluarkan dari sekolah. Akupun juga mengundurkan diri karena wibawa dan nama baikku sudah jatuh, meskipun rekan-rekan guru dan Kepala sekolah membujukku untuk tetap mengajar. Tapi apa kata orang, bagaimana mungkin seorang pendidik tak mampu mendidik anak-anaknya sendiri? Beberapa waktu kemudian Agung, dengan diantar suamiku, kupindahkan ke Yogyakarta. Tepat sehari setelah keberangkatan suami dan anakku, sebuah sedan mewah parkir di depan pagar rumahku. Ternyata .tiga rekan. Sore itu aku baru saja pulang dari klub aerobikku.</p>
<p style="text-align: justify;">Mau apa lagi kalian? Masih kurang puas merusak keluarga kami?inikah balasan dari upaya Ibu untuk mencerdaskan kalian?tanyaku ketus dari balik pagar. A..nu, bu Yanthi,ka..kami mau minta maaf, ujar Igo terbata-bata. Bagaimanapun mereka bekas muridku juga, pikirku dalam hati. Baiklah, ayo masuk ke dalam, ujarku luluh dengan itikad baiknya. Pintu pagar berderit ketika kubuka dan mereka pun segera masuk ke ruang tamu. Silahkan duduk, ibu buatkan minuman sebentar, kataku.Mereka duduk dengan rikuh. Beberapa saat kemudian segera kuantarkan minuman dan kuletakan di hadapan mereka masing-masing. Ayo, silahkan diminum, ujarku seraya mendekatkan cangkir tehku sendiri ke mulutku.ehmm, sendirian aja bu?Agung dan Bapak kemana?,tanya Roby berbasa basi.Agung dan Bapak sedang ke Surabaya, rencananya Agung sekolah di sana, jawabku sengaja salah menyebutkan tempat, takut nantinya mereka dendam. ehmm,..begini bukami mengaku salah dan mohon maaf ke ibu, gara “ gara kami keluarga ibu berantakan,..sungguh kami gak nyangka bakal begini jadinya,..ibu juga harus berhenti mengajar..sambung Igo sementara Feri menunduk sesekali menatap ke arahku. Ya, sudah. Semua sudah ibu maafkan, semuanya sudah terjadi. Sekarang tinggal bagaimana kalian merubahnya, lalu kusambung dengan berbagai petuah dan nasihat.</p>
<p style="text-align: justify;">Tapi lama kelamaan kusadari ada yang aneh dengan tatapan mata mereka yang membuatku risih. Baru kusadari kalau tubuh sebelah atasku masih memakai pakaian senam yang ketat dan masih basah oleh keringat sehingga bh tipis dan kulitku dibaliknya samar-samar terlihat. Buah dadakupun tampak jelas menonjol, apalagi potongan dadanya agak rendah sehingga belahan payudaraku yang dibalut kulit putih terlihat jelas. Sementara anak-anak seusia mereka umumnya masih sangat terobsesi dengan sex , atau kata lain sedang panas-panasnya.<br />
<span id="more-1423"></span><br />
Dan aku sendiri sadar, tanpa bermaksud memuji diriku sendiri, bahwa aku dikaruniai wajah dan tubuh yang ideal kalau tidak dikatakan sexy, meski usiaku sudah kepala empat. Terkadang aku menemukan surat cinta yang ditujukan kepadaku dari murid-muridku yang tentu saja takut menyebutkan nama. Sering pula kupergoki siswaku mencuri-curi melihat ke dalam rokku yang tersingkap tak sengaja manakala aku duduk saat mengajar. Bahkan pernah ada beberapa orang siswa yang mengintipku saat buang hajat di kamar mandi, untungnya mereka tak pernah tertangkap. Igo sendiri, seingatku pernah berpapasan denganku saat aku baru keluar dari kamar mandi belakang dengan hanya berlilitkan handuk, meski sejak itu aku selalu berpakaian lengkap jika mereka menginap dirumahku. Semua kuanggap sebagai fenomena yang amat biasa terjadi dilingkungan sekolah. Berangkat dari pengalamanku sendiri saat seusia mereka. Hanya saja zaman dahulu relatif para pemudanya lebih sopan dan pemalu. Tidak seperti anak-anakmuda zaman sekarang.</p>
<p style="text-align: justify;">Kerikuhanku membuatku beranjak untuk mengganti pakaian,sebentar ya, ibu mau ke belakang dulu, pamitku pada mereka. Selesai mengganti baju senam dan training dengan daster panjang kembali kutemui mereka., Ayo, diminum lho, kok tidak dihabisin?, pintaku lagi pada mereka dan sebagai pemotivasi akupun ikut minum dengan harapan usai minuman habis mereka akan segera pulang. Namun agaknya mereka masih enggan meninggalkan rumahku. Kembali berbagai nasihat dan basa-basi kusampaikan pada mereka sampai akhirnya kurasakan ada yang aneh dengan tubuhku. Mendadak rasa pusing hebat dan mengantuk berat menyerang kepalaku..lalu..plek aku terkulai antara sadar dan tidak. Sempat kulihat Igomengibas-ngibaskan tangannya di wajahkudan sisanya kurasakan bagai mimpi tubuhku melayang,,,melayang,,lalu mendarat lembut entah dimana. Pandanganku kabur,tetapi samar-samar segera kukenali kalau aku tengah berada dikamarku sendiri. Pada mulanya aku bingung dengan apa yang terjadi, namun melalui pendengaranku yang masih agak jelas muncul ketakutanku yang amat sangat. Ayo,..cepat buka bajunya, Fer.., suara Igo memerintah temannya. Sedetik kemudian kurasakan tanganku ditarik ke atas, lalu baju dasterku lolos melalui kepalaku.Tubuhku bergidik tetapi tak mampu berbuat apa-apa, badanku serasa tak bertulang dan otot-ototku amat lemas, hanya melalui penglihatan dan pendengaranku yang kabur ku ikuti setiap aksi bejat mantan murid-muridku itu. gila, ternyata bodynya masih sexy abis, coba kita lihat tempat darimana Agung lahir, kurasakan celana dalamku dipelorotkan paksa dan setelah itu aku tidak ingat apa-apa lagi, aku tidak sadarkan diri. Baru kira-kira pukul 2 tengah malam aku tersadar. Mula-mula aku masih bingung dengan apa yang terjadi,dan kamar gelap gulita. Kucoba bangkit untuk menyalakan lampu walau dengan keadaan masih sempoyongan dan kepala yang masih pusing. Ketika lampu menyala, aku tersentak kaget mendapati tubuhku yang bugil dan ingin menjerit sekeras-kerasnya, tetapi aku segera menutup mulut, khawatir jika ada tetangga yang mendengar. Ku lihat sprei yang acak-acakan dan penuh noda cairan yang masih basah. Lalu kulihat tubuhku di cermin, keterkejutanku semakin bertambah mendapati payudara, lengan atas , pangkal paha dan perutku penuh bercak-bercak merah seperti habis dikerok namun kecil-kecil, segera kupahami kalau itu adalah bekas hisapan mulut yang kuat atau cupang. Dan disekitar area itu pula kudapati sisa-sisa cairan yang telah kering berkerak menempel dikulit, termasuk di wajahku. Maka tangiskupun segera pecah menyadari kalau aku telah diperkosa secara bergiliran oleh teman-teman anakku sendiri. Aku terduduk lemas di depan cermin sambil sesenggukan, lama sekali samapi kusadar ada sesuatu yang mengalir keluar dari mulut vaginaku.cairan sperma yang telah bening tanda telah cukup lama bersemayam di dalam liang senggamaku yang juga kurasa amat pegal. Aku tersentak, masih dalam keadaan telanjang, setengah berlari aku menuju kamar mandi membersihkan seluruh tubuhku yang terasa amat kotor.</p>
<p style="text-align: justify;">Hari esok kulalui dengan amat berat karena masih dihantui peristiwa amat memalukan dalam sejarah hidupku. Pikiranku berkecamuk hebat, apakah peristiwa ini kulaporkan pada aparat penegak hukum? apa kata orang nanti? Apa kata suamiku?masihkah ia mencintaiku dengan keadaan diriku? Tapi anak-anak bejat itu harus menerima balasannya ,pikirku lagi. Namun kontradiksi pemikiran silih berganti hinggap dalam benakku. Sampai pada sore harinya kudapati sebuah amplop besar tanpa nama pengirim di halaman rumahku. Entah mengapa jantungku berdegup kencang manakala ku pegang amplop besar berwarna coklat tersebut. Kubawa masuk ke dalam rumah lalu kubuka. Pertama-tama kuambil sebuah lipatan kertas putih kemudian kubaca tulisan yang tertera di dalamnya,Anak Ibu, dan Ibu sendiri, telah mempermalukan keluarga dan merusak masa depan kami, maka kamipun bisa mempermalukan Ibu dan keluarga Ibu, kalau Ibu ingin melaporkan kami, silahkan. Jika ibu ingin benda di dalam amplop kami sebarkan. Masa depan kami terlanjur hancur, so, kami sudah gak peduli lagi,. Dengan panik dan tergesa segera kubuka amplop berwarna biru yang berukuran lebih kecil dari amplop coklat tadi. Isinya cukup tebal, dan nafasku bagai terhenti,..mendapati foto-foto diriku dalam keadaan tanpa tertutup sehelai benangpun,..dan yang paling miris, foto-foto saat tubuhku tengah digarap oleh mereka dalam berbagai pose dan sudut. Pintarnya mereka, semua memakai penutup kepala hingga wajah mereka tak mungkin dikenali. Sebuah cakram VCD juga terdapat di dalamnya. Dengan langkah gontai segera kunyalakan TV berikut VCD player setelah pintu dan Gorden kututup rapat-rapat. Dan terpampanglah semua yang mereka lakukan terhadap diriku. Ternyata mereka telah mempersiapkan segalanya, dari obat bius, kamera dan handycam. Setelah aku tidak sadar, mereka membopongku ke arah kamarku lalu meletakan tubuhku di atas ranjang.</p>
<p style="text-align: justify;">Meski mereka memakai cadar, namun dari segi fisik dan berdasarkan ingatan yang masih tersisa, aku segera mengenali mereka. Fery kemudian meloloskan daster panjangku, sementara Igo kemudian membuka bh lalu celana dalamku, Sedangkan Roby tidak tampak di situ, berarti dialah yang memegang Handycam dan Kamera Digital untuk memotret tubuhku. Dengan jijik,kusaksikan Fery menciumi bibirku dan memera-meras payudaraku. Igo tak kalah atraktifnya, jari jemarinya mengelus-elus vaginaku sambil tertawa-tawa,bulunya tebal juga,ha,..ha..ha,katanyadan ia kemudian menusuk-nusukan jarinya ke dalam liang senggamaku itu. Semua disyut secara close up. Tampak pula tangan Roby memilin-milin puting payudaraku dimana di saat yang sama Fery mengulum dan menghisap sebelah payudaraku yang lain. Dia pula yang membuat cupang-cupang kecil di sekitar bukit kembarku itu. Kamera lalu beralih ke Igo yangrasanya aku mau muntahia tengah menjilati selangkanganku dengan rakus sehingga bulu-bulu pubisku berkilat-kilat karena basah , sementara jari-jarinya dengan kurang ajar terus keluar masuk vaginaku dengan kasar. Dia pula yang bertanggung jawab atas cupang-cupang kecil di sekitar pangkal pahaku yang masih putih mulus itu. Tubuhku bergetar hebat menyaksikan itu semua. Ingin rasanya kumatikan, namun kata hatiku membuatku terus menyaksikan tayangan tidak sopan itu. Dan..kini nafasku terhenti melihat adegan selanjutnya, kulihat Igo membuka pahaku lebar-lebar, lalu tubuhnya yang tinggi kekar merangkak di atas tubuhku. Danlagi-lagi disyut close upIa mengarahkan batang penisnya yang menegang besar , jauh lebih besar dibanding milik suamiku, tepat di mulut vaginaku, lalu.seolah-olah aku merasakannya saat ini pada awalnya ia agak kesulitan melakukan penetrasi, namun setelah melumuri senjata tegangnya dengan air liurnya, perlahan batang kemaluannya amblas ditelan lubang senggamaku.</p>
<p style="text-align: justify;">Dengan buas ia menaikturunkan pantatnya memasuk keluarkan kontol besarnya dari vaginaku.Terdengar nafasnya yang terengah-engah. Suara berkecipakan sebagai akibat pergesekan dua jenis alat kelamin tersebut juga terdengar jelas. Gambar diambil dari samping, nampak mataku tepejam dan tanganku terkulai menengadah di sisi kepala dengan pasrah. Air mataku berlinang menyaksikan itu semua. Tetapi ada suatu perasaan aneh yang kucoba kusingkirkan mulai hinggap dalam sanubariku. Aku takut mengakuinya kalau akumulai terangsang menyaksikan tayangan tersebut. Meski kemudian rasa sakit hati mengalahkannyatetapi hanya sesaatberikutnya..kini kembali perasaan yang betolak belakang berperang dalam bathinku. Yang jelas kini tanganku menyusup ke dalam celana dalamku dan mulai mengelus-elus vaginaku yang telah basah. Tak beberapa lama kemudian, tubuh Igo menegang kemudian memeluku erat-erat sambil setengah berteriak. Pahamlah aku kalau ia tengah mengalami orgasme. Gantian dong, man, ujar Fery sambil mendorong tubuh Igo. Igo beringsut berdiri meninggalkan tubuhku,huuuh, mantaap, katanya seraya mengacungkan jempol kanannya kearah kamera. Kembali tubuhku dimasuki benda asing secara paksa, kali ini Fery yang sama edannya berkelojotan di atas tubuh sexy milikku.</p>
<p style="text-align: justify;">Kemaluannya lebih kecil dibanding milik Igo, tapi sama kerasnya. Kusaksikan tubuhku terayun-ayun membuat bukit kembar ukuran 36 c miliku ikut terguncang-guncang hebat. Dan aku benar-benar muntah menyaksikan adegan akhir tayangan jilid 2 tersebut, mana kala Fery menjelang orgasmenya merangkak sambil mengocok penisnya lalu setengah berjongkok ia buka mulutku dan memasukan batang kontolnya ke dalamnya, ia menggerak-gerakan pinggulnya sebentar,laluserrrserrr.serrr, cairan putih kental muncrat membanjiri rongga mulutku dan sisanya menyiprat di wajahku yang tak tahu apa-apa. Setelah kukeluarkan semua isi perutku dan kubasuh wajahku, kembali kusaksikan adegan berikutnya yang dapat di tebak, kali ini Roby yang beraksi. Igo yang mengambil alih Handycam. Kali ini adegan tak berlangsung lama, mungkin Roby terlalu terangsang karena paling lama melihat tubuhku yang memang menggiurkan atau terlebih dahulu menyaksikan ulah teman-temannya. Ia tumpahkan juga cairan spermanya di dalam vulvaku seperti Igo. Tapi usaikah video rekaman tersebut? Ternyata tidak. Fery kembali bangkit nafsunya,aku pingin lagi nih, man, katanya kepada Igo. Emang lo aja, gua juga mau, tahu?!ayo cepet!jawab Igo.</p>
<p style="text-align: justify;">Tanpa basa-basi Fery dengan tidak membrsihkan sisa sperma rekan-rekannya kembali menyetubuhiku. Dan kurang ajarnya, menjelang orgasme kembali ia merangkak di atas tubuhku, kali ini ia meraup sepasang payudaraku yang memang besar itu lalu menyisipkan kontolnya tepat di antara kedua bukit kembarku yang dirapatkan sedemikian rupa sehingga menjepit penis Fery yang langsung mengayun-ayunkan pinggangnya. Dankembali cairan putih kental muncrat, kali ini membanjiri belahan dada dan leherku. Joroknya Fery , cairan spremanya di balurkan ke seluruh payudara hingga perutku sehingga kulit putih mulus yang membungkusnya berkilauan di timpa cahaya lampu sorot kamera dan lampu kamar. Bajingan, jorok lu Fer,Igo menggerutu. Setelah Fery beranjak, Igo menarik kedua kakiku kea rah pinggir ranjang hingga kakiku menjuntai ke lantai. Dengan Posisi setengah berlutut segera ia melakukan penetrasi ke dalam lubang memekku . Mungkin ia khawatir terkena lelehan sperma Fery di atas perutku.wah,..sudah becek abis, tapi masih enak coy, ujarnya seraya menayun-ayunkan pinggulnya depan belakang. Kembali tubuhku berguncang-guncang. Dan beberapa menit kemudian dengan mengangkang berdiri di atas perutku sambil mengocok-ngocok batang kontolnya, Igo menumpahkan air maninya di atas tubuhku yang terlentang mengundang syahwat. Kembali wajah, payudara, dan perutku dibanjiri cairan kenikmatan dari para lelaki bejat itu..lalu..gambar jutaan semut tampil di televise tanda rekaman telah habis. Mata dan pikiranku seolah-olah tak percaya menyaksikan itu semua. Kini perasaan amat takut menyerangku. Bagaimana jika mereka benar-benar melaksanakan ancaman mereka.</p>
<p style="text-align: justify;">Hatiku teramat sakit sehingga kembali ku menangis. Dengan tergesa-gesa segera kusembunyikan foto-foto syur dan keeping VCD tersebut ke balik kasur springbed. Keesokan harinya benda-benda laknat itu kubakar di halaman belakang rumah. 2 hari kemudian suamiku pulang. Dan aku dengan berat hati berpura-pura seolah tidak ada peristiwa apapun yang terjadi, meski suamiku menangkap kalau aku selalu murung, ia mengira hal itu berkaitan dengan peristiwa yang menimpa anakku. Tetapi apakah terror lantas berakhir ?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ceritasex.cn/digilir-mantan-murid/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tante Napsu&#8230;..</title>
		<link>http://www.ceritasex.cn/tante-napsu/</link>
		<comments>http://www.ceritasex.cn/tante-napsu/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 04 Jun 2010 18:21:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cerita Sex</dc:creator>
				<category><![CDATA[Daun Muda]]></category>
		<category><![CDATA[Paruh baya]]></category>
		<category><![CDATA[Sedarah]]></category>
		<category><![CDATA[Tante Girang]]></category>
		<category><![CDATA[abg]]></category>
		<category><![CDATA[birahi]]></category>
		<category><![CDATA[hanny]]></category>
		<category><![CDATA[nafsu]]></category>
		<category><![CDATA[ngentot]]></category>
		<category><![CDATA[poppy]]></category>
		<category><![CDATA[sherly]]></category>
		<category><![CDATA[tante]]></category>
		<category><![CDATA[tante mey]]></category>
		<category><![CDATA[vagina]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ceritasex.cn/?p=1414</guid>
		<description><![CDATA[Pada bulan Mei tersebut aku pergi ke Jakarta untuk mencari pekerjaan, tapi memang kata orang bahwa mencari pekerjaan itu tidak semudah yang kita duga, apalagi di kota metropolis. Pada suatu malam minggu aku tersesat pulang dan tiba-tiba saja ada mobil sedan mewah menghampiriku. Terus dia berkata, “Hey.. kok.. melamun?” katanya. Aku sangat kaget sekali ternyata [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Pada bulan Mei tersebut aku pergi ke Jakarta untuk mencari pekerjaan, tapi memang kata orang bahwa mencari pekerjaan itu tidak semudah yang kita duga, apalagi di kota metropolis. Pada suatu malam minggu aku tersesat pulang dan tiba-tiba saja ada mobil sedan mewah menghampiriku. Terus dia berkata, “Hey.. kok.. melamun?” katanya. Aku sangat kaget sekali ternyata yang menyapaku itu adalah seorang wanita cantik dan aku sempat terdiam beberapa detik. “Eee.. Ditanya kko masih diam sih?” wanita itu bertanya lagi. Lalu aku jawab, “Ii.. nii.. Tante aku tersesat pulang nih?” “Ooohh.. Mendingan kamu ikut Tante saja yah?” “Kemana Tante?” tanyaku. “Gimana kalau ke rumah Tante aja yah?” karena aku dalam keadaan bingung sekali dan tanpa berpikir apa-apa aku langsung mengiyakannya. Singkat cerita aku sudah berada di rumahnya, di perumahan yang super elit. Kemudian aku diperkenalkan sama anak-anaknya yang memang pada cantik dan sexynya seperti Mamanya. Oh yah, setelah aku dan mereka ngobrol panjang lebar ternyata Tante yang nolong aku itu namanya adalah Tante Mey Lin yang dipanggil akrab Tante Mey, anak pertamanya Mbak Hanny, dia masih kuliah di Universitas terkenal di Jakarta, anak yang kedua namanya Sherly kelas 1 SMU dan yang ketiga namanya Poppy kelas 1 SMP, mereka berdua di sekolahkan di sekolah yang terkenal dan favorit di Jakarta.</p>
<p style="text-align: justify;">Walaupun aku baru pertama kenal, tapi aku sama bidadari-bidadari yang pada cantik ini rasanya sudah seperti seseorang yang telah lama berpisah. Lalu kami berlima menonton acara TV yang pas pada waktu itu ada adegan panasnya, dan aku curi pandang sama Tante Mey, rasanya Tante ini enggak tenang dan merasa gelisah sepertinya dia sudah terangsang akan adegan itu, ditambah ada aku disampingnya, namun Tante rupanya malu sama anak-anaknya. Tiba-tiba Tante berkata, “Hanny, Sherly, Poppy cepat tidur sudah malam?” yang memang pada waktu itu menunjukkan jam 10.30. “Memangnya kenapa Mami, filmnya kan belum selesai”, kata Mbak Hanny. Memang dia kelihatannya sudah matang betul dan apa yang akan dilakukan Maminya terhadap aku? Lalu mereka bertiga masuk ke kamarnya masing tapi Sherly dan Poppy tidur satu kamar. Dan kejadian kurang lebih tiga bulan yang lalu terulang lagi dan sungguh diluar dugaan aku. “Nah dewa sekarang tinggal kita berdua”, katanya. “Mrmangnya ada apa tuh Tante?” kataku heran. “Dewa sayang, Tante enggak bisa berbuat bebas terhadap kamu karena Tante malu sama anak-anak,” begitu timbalnya.</p>
<p style="text-align: justify;">“Dewa mendingan kita ke kamar Tante aja yah, please.. temanin Tante malam ini sayang, Tante sudah lama sekali enggak dijamah sama laki-laki”, sambil memeluk aku dan memohon, “Yah sayang? Mau kan?” katanya lagi “Ii.. Yaa, mau.. Tante?” jawabku gugup. Karena Tante sudah mau menolongku. Tiba di kamar Tante rupanya enggak bisa nahan lagi nafsunya dia langsung mencium seluruh tubuhku, lalu kami berdua tanpa terasa sudah seperti sepasang kekasih yang sudah lama pisah. Hingga kami berdua sudah setengah bugil, aku tinggal CD saja dan tante Mey tinggal BH dan CDnya. Tante sempat menari-nari di depanku untuk membangkitkan gairahku supaya semakin nafsu. “Wahh..!! Gile benar nih Tante, kok kayak masih umur 23 tahun saja yah?” gumamku dalam hati. Itu tuh.. Kayak Mbak Hanny anaknya yang pertama. Sungguh indah tubuhnya, payudara yang besar, kencang dan sekel sekali, pinggulnya yang sexy dengan pantat yang runcing ke atas, enak kalau dientot dari belakang? Terus yang paling menggiurkan lagi vaginanya masih bagus dan bersih. Itu gerutuku dalam hati sambil melihat Tante menari-nari.</p>
<p style="text-align: justify;">Tante langsung menindihku lalu mencium bibirku dengan ganasnya lalu aku juga membalasnya, Tante menggesek-gesekkan vaginanya ke penisku yang mulai tegang, juga kedua payudaranya ke dadaku. “Ooohh.. terus.. Tante, gesek.. dan.. Goyang.. yang kerass.. aahh.. oohh..” desahku. “Dewa sayang itu penismu sudah bangun yah, rasanya ada yang menganjal di vaginaku cinta,” kata Tante Mey. Lalu kami berdua tanpa ba.. bi.. bu.. langsung melakukan 69, dengan jelas terlihat vagina Tante Mey yang merah merekah dan sudah sangat basah sekali, mungkin sudah terangsang banget karena tadi habis menggesek-gesekkan vaginanya ke penisku. Lalu aku menjilat, mencium dan menghisapnya habis-habisan, kupermainan kritorisnya. Tante mengerang. “Ooohh.. Eennaakk.. Dewaa.. sayang.. terus.. makan vagina Tante yahh..?” Begitu juga dengan aku, penis rasanya sudah enggak tahan banget ingin masuk ke lobang vagina kenikmatannya. “Ooohh.. yahh.. eenaakk terus.. Tante.. yang cepet kocokkannya..?” Cclluup.. Ccluupp.. Suara penisku didalam mulutnya. “Dewa, vagina Tante sudah enggak tahan lagi sudah cepet lepasin, cepet masukin saja penis kamu cinta?” Tante Mey meringis memohon.<br />
<span id="more-1414"></span><br />
Kemudian aku mengambil posisi diatas dengan membuka pahanya lebar lalu aku angkat ke atas dan aku mulai memasukan penisku ke dalam vaginanya. Bblless.. Bleess.. Bblleess.. “Awww.. Yeeahh.. Ssaakiitt.. De.. Waa?” “Kenapa Tante?” “Pelan-pelan sayang, vaginaku kan sudah lama enggak dientot?” “Ooohh..?” jawabku. “Tahan sebentar yah cinta, biar vagina Tante terbiasa lagi dimasukin penis,” katanya. Selang beberapa menit, “Nah Dewa, sekarang kamu boleh masukin dan entot vagina Tante sampai puas yah?” “Ssiipp.. Siap..!! Tante Mey?” Memang benar vagina Tante rupanya sudah lama enggak dimasukin penis lagi, terbukti aku sampai 3 kali hentakan. Bleess.. Bless.. Bblleess.. Akhir aku masukin semuanya penisku ke vaginanya. Tiga kali juga tente Mey menjerit. “Dewa genjot dan kocok vaginaku sayang?” lalu aku mulai memasuk keluarkan penisku dari lambat sampai keras dan cepat sekali. Tante Mey mengerang dan mendesah. “Ooohh.. ahh.. enak.. sekalii.. penis kamu Dewaa.., akhirnya vagina Tante ngerasain lagi penis.. terus.. Entot vagina Taann.. tee.. Dewaa.. Sayaanngg..?” ceracaunya.</p>
<p style="text-align: justify;">“Uuuhh.. Oohh.. Aaahh.. Yeess.. Ennaakk.. vagina Tante seret sekalii.. Kaya vaginanya perawan?” timbalku. Tiba-tiba, “Dewaa.. Aku mau keluar nih? penis kamu hebatt..?” “Tunggu Tante sayang, aku juga mau keluar nih..?” Akhirnya Tante Mey orgasme duluan. Crott.. Ccroott.. Crroott.. Banyak sekali cairan yang ada dalam vaginanya, rasanya penisku hangat sekali. “Tante aku mau keluar nih..?” kataku, “Dimana nih keluarinnya..?” “Didalam vagina Tante saja Dewaa.. Please.. ingin air mani kamu yang hangat..?” Ccrett.. Ccroott.. Ccrroott.. “Aaarrgghh.. Aarrgghh.. Oohh.. Mmhh.. Nikmat vagina Tantee..?” erangku. Lalu aku dan tente tidur pulas, karena kecapaian akibat pertempuran yang sengit tadi. Sekitar jam 12 malam rasanya penisku ada yang mengulum dan mengocoknya. Ternyata Mbak Hanny, “Ada apa Mbak?” tanyaku. Wah gila dia, sambil mengocok penisku didalam mulutnya, tangan kirinya menusuk-nusuk vaginanya sendiri. Dia berkata, “Dewa aku ingin dong dientot kaya mami tadi, yah.. please..” Dia mempertegas, “Dewa tolong Mbak yah sayang, vagina Mbak juga sudah kangen enggak ngentot lagi, Mbak baru putus sama pacar habis enggak muasin vagina Mbak,” sambil membimbing tangan kananku untuk mengelus-elus vaginanya.</p>
<p style="text-align: justify;">“Iyah deh Mbak, aku akan berusaha dengan berbagai cara untuk dapat membuat vagina Mbak jadi ketagihan sama penis aku,” jawabku vulgar. “Kita entotannya dilantai karpet aja yah?” kata Mbak Hanny. Tapi masih di kamar tersebut, “Aku takut mengganggu Mami yang habis kamu entotin vaginanya, entar Mami bangun lagi kalau ngentotnya diranjang,” dia mempertegas. Mbak Hanny langsung telanjang bulat. Kami pun bercumbu, saling menjilat, mencium, menghisap seperti biasa, dengan gairah yang sangat menggelora sekali. Dan sekarang aku mulai memasukkan penisku ke lubang vaginanya, karena dia sudah gatel banget lihat tadi aku ngentotin Maminya. Maka aku langsung aja, masukkan penisku. Bleess.. Bless.. Bleess.. “Aw.. Oohh.. Aahh.. Yyeess..?” erangnya. “Sakit Mbak?” tanyaku. “Enggak cinta, terusin saja enak banget kok?” Aku langsung mengkocoknya, plak.. plakk.. plokk.. plookk..? suara paha kami berdua beradu..? “Vagina Mbak enaakk.. Sekali sih..?” sambil aku menggoyangkan pinggulku, terus dia juga mengimbangi goyanganku dengan arah yang berlawanan sehigga benar-benar tenggelam seluruh penisku ke dalam vagina surga kenikmatannya.</p>
<p style="text-align: justify;">“Oohh.. ennak.. Dee.. waa.. terus.. entot.. mee.. meekk.. Mmbaakk.. sayyaanngg..?” Akhirnya akupun ngentot lagi sama vaginanya Mbak Hanny, tapi Maminya enggak sedikitpun bangun mungkin capek main sama aku, habis aku bikin tubuhnya dan vaginanya melayang-layang. Lagi asyik-asyiknya ngentotin vaginanya Kak Hanny, tiba-tiba terdengar suara. “Iiihh.. Kakak lagi ngapain?” mendengar suara tersebut, aku terkejut. Rupanya Shelly dan Poppy sedang asyik dan santainya melihat aku ngentot sama kakaknya. Aku langsung aja berhenti dan seketika itu juga Mbak Hanny berkata, “Dewa kenapa, kok berhenti sayang, terus dong entot vagina Mbak, sampai enak dan nikmat sekalii..?” “Ii.. ittuu.. ada..?” “Ada apa?” katanya lagi penasaran. Pas dia menggerakkan wajahnya kekanan, terlihatlah adik-adiknya yang sama-sama sudah bugil tanpa sehelai benang pun. Lalu Mbak Hanny bicara, “Eehh.. adik-adikku ini bandel sekali yah..!!” Setelah dia tahu bahwa aku berhenti karena ada adik-adiknya yang sama sudah telanjang bulat. “Heyy.. kenapa kalian ikut-ikutan telanjang?” kata Mbak Hanny.</p>
<p style="text-align: justify;">“Kak aku ingin ngerasain dientot yah?” tanya Shelly sama kakaknya. “Iyah nih Kakak kok pelit sih.. aku juga sama Kak Shelly ingin juga ngerasain penisnya Mas Dewa,” timbal poppy. “Iyah kan Kak?” tanya poppy pada Shelly. “Iyah nih.. Gimana sih..?” timbal Shelly. “Please dong Kak? Rengek kedua anak tersebut?” terus mungkin sudah terlanjur mereka berdua melihat kakaknya ngentot dan sudah pada bugil semuanya, maka Kak Hanny membolehkannya. “Iyah deh kamu berdua sudah telanjur bugil dan lihat kakak lagi dientot vaginanya sama penis Dewa?” “Sini jangan ribut..” kata Kakaknya lagi, “Tunggu kakak keluar, yah.. entar kamu juga bakal kebagian adikku manis” Tanya kakaknya. “Dewa cepetan kocokannya yang lebih keras lagi.. Kasihan vagina kedua adikku ini sudah pada basah.. tuhh..” Akhirnya aku dan Mbak Hanny pun mempercepat ngentotnya kayak dikejar-kejar hantu. Dan akhirnya orgasme secara bersamaan. “Aaarrgh.. Oohh.. Mmhh.. Aarrgghh.. Enak.. Sekalii.. cintaa? Aku sudah keluar Dewa..?” erangan Mbak Hanny. “Aku juga sama Mbakk.. Rasanya penisku hangat sekali”</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah berhenti beberapa menit, lalu kedua anak abg ini mulai membangkitkan lagi gairahku, Shelly kakaknya lagi asyik mengocok penisku dalam mulut dan bibirnya yang sexy sedangkan Poppy mencium bibirku habis-habisan sampai kedua lidah kami saling bertautan dan aku pun tak tinggal diam, aku mulai meremas-remas toketnya yang sedang seger-segernya seperti buah yang baru matang. Akhirnya kembali lagi aku ngentotin vagina adiknya yang masih perawan. Yang pertama kuentot vaginanya sherly yang kelas 1 SMU. Aku sangat kesulitan memasukan penisku karena vaginanya masih sempit dan perawan lagi. “Benar nih, vagina kamu mau aku masukin?” tanyaku dengan penuh kelembutan, perhatian dan kasih sayang. “Mau sekali Kak..?” jawabnya. “Aku dari tadi sudah kepengen banget, ingin ngerasain gimana sih kalau vagina aku dimasukin penis Mas dewa? Kelihatannya Kak Hanny enak dan nikmat banget, waktu Kakak lagi ngentotin dia?” jawab polosnya. Lalu aku suruh dia diatas aku dibawah dan akhirnya dia memasukan juga. Bles.. Bless.. Bbleess.. “Aw.. Aahh.. Ohh.. Kak.. sudah.. Masuk belumm..?” sambil dia mengedangah ke atas, bibir bawahnya digigit lalu kedua payudaranya dia remas-remas sendiri sambil dia menekan pantatnya kebawah.</p>
<p style="text-align: justify;">“Tekan lagi cinta masih kepalanya yang masuk?” Akhirnya dengan dibantu aku memegang pantatnya kebawah, akhirnya masuklah semuanya. “Aahh.. oohh.. yeeahh.. masuk semuanya yah kak?” katanya. “Iyah Shelly sayang, gimana enak kan?” tanyaku sambil aku mencoba menggenjotnya. “Enak.. sekali.. Kak Dewa..” “Ini belum seberapa Selly. Ntar kamu akan lebih nikmat lagi?” lalu aku kocok vaginanya dan akhirnya dia orgasme duluan. Creett.. Creett.. Ccroott.. “Aakk.. saayyaanngg.. aa.. kuu.. mau.. keluar nihh..” eranganya. Sambil memelukku erat-erat dan pantatnya ditahan ke belakang karena dia ada diatas, lalu aku pun sama menghentakkan pantatku ke depan, arah yang berlawanan supaya dia benar-benar menikmatinya, penisku tertekan lebih dalam lagi ke lubang vaginanya. Dia langsung lemes sementara aku belum orgasme dan kulihat Poppy sedang dioral vaginanya sama kakaknya, Mbak Hanny. “Sudah dong kak..?” kataku pada Mbak Hanny. “Kasihan tuhh.. vagina Poppy sudah ingin banget ngerasain di tusuk sama penisku ini?” kataku lagi “Iyah Kak Hanny, sudah dong kak?” kata Poppy.</p>
<p style="text-align: justify;">“Aku sudah enggak tahan sekali dari tadi lihat Kak Shelly dientot sama penisnya Dewa, sepertinya nikmat dan enak sekali?” katanya memohon agar Kak Hanny melepaskan oralnya di dalam vaginanya. Akhirnya kami berempat mulai perang lagi, aku mau masukin penisku ke vaginanya Poppy sambil nungging (doggy style) kemudian Poppy menjilat vaginanya Mbak Hanny dan Mbak Hanny menjilat vaginanya Shelly yang sudah seger lagi. “Wah.. seretnya bukan main nih vaginanya Poppy, dia masih kelas 1 SMP jadi lebih sempit dibanding kakak-kakaknya dan cengkramannya pun sangat kuat sekali.” “Bleess.. Bless.. Bleess..” “Awww.. Awww.. Ooohh.. Ooohh..” Poppy menjerit lagi setiap aku mau memasukkan lagi penisku. “Sakit yah?” tanyaku sambil aku meremas-remas payudaranya. “Ii.. Iyah.. kak.., Tapi kok enak banget sih? terusin aja Kak Dewa.. Vagina poppy rasanya ada yang mengganjal dan rasanya hangat dan berdenyut-denyut,” katanya. Sambil merem melek karena aku mulai menggenjot vaginanya. “Oohh.. terruuss.. aakk.. saayyaang.. p.. vaginanya Poppy yah..” ceracaunya. Dan rasanya dia mulai juga menggoyangkan pinggulnya. “Tenang cinta.. aku.. akan.. berusaha.. muasin vaginanya dik.. Poppy.. Yah..” Dan akhirnya aku ngentot vagina keempatnya. Lalu aku dengar dia berkata, “Aku mau keluar nih?” “Sabar taahann.. duu.. Luu.. Yah..” Namun baru sekali ini vaginanya dientot dia tak bisa nahan dan.. Crott.. Croott.. “Aarhhgg, eemmhh.. oohh.. yeeaass..nikmat banget aakh..?” eranganya. “Makasih.. Yah kak..?” sambil dia tersenyum. “Aku.. pipisnya kok.. enggak biasanya, tapi enak banget sih.” “Aku mau keluar nih, dimana sayang?” tanyaku. “Aakkh.. didalam vaginaku aja yah.. Aku ingin ngerasain.. Gimana di siram air mani penis..” Ccrroott.. Crroott.. Crott.. Akhirnya aku tumpahkan ke dalam lobang vaginanya dan sebagian lagi kuberikan sama Kak Hanny dan Shelly. Gile.. Benerr.. sekali ngentot dapat empat vagina, yaitu vaginanya anak SMP, anak SMU, mahasiswi dan Tante-Tante.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ceritasex.cn/tante-napsu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Secret Lover</title>
		<link>http://www.ceritasex.cn/secret-lover/</link>
		<comments>http://www.ceritasex.cn/secret-lover/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 04 Jun 2010 18:14:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cerita Sex</dc:creator>
				<category><![CDATA[Paruh baya]]></category>
		<category><![CDATA[kisah nyata]]></category>
		<category><![CDATA[selingkuh]]></category>
		<category><![CDATA[istri orang]]></category>
		<category><![CDATA[mantan pacar]]></category>
		<category><![CDATA[ngentot mulu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ceritasex.cn/?p=1412</guid>
		<description><![CDATA[Jakarta, 18 November, 07.18 PM. Termenung saya dalam mini jeep yang saya kendarai, memandangi antrean kendaraan yang hendak memasuki gerbang Puri Agung Sahid malam itu. Sepasang janur kuning berukuran besar tampak menjuntai di kejauhan, menandakan acara apa yang sedang dilangsungkan di dalamnya. Saya memang berniat menuju ke sana, sama seperti kerumunan mobil yang terjebak dalam [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Jakarta, 18 November, 07.18 PM.</p>
<p style="text-align: justify;">Termenung saya dalam mini jeep yang saya kendarai, memandangi antrean kendaraan yang hendak memasuki gerbang Puri Agung Sahid malam itu. Sepasang janur kuning berukuran besar tampak menjuntai di kejauhan, menandakan acara apa yang sedang dilangsungkan di dalamnya. Saya memang berniat menuju ke sana, sama seperti kerumunan mobil yang terjebak dalam antrean ini. Perlahan saya perhatikan mobil-mobil yang berjejal dalam antrean. Mini jeep saya terlihat seperti sebuah rumput liar di taman penuh bunga. Tepat di depan saya terpampang 735iL, lalu beberapa meter darinya tampak S320. Ada pula S70 dengan plat nomor BS di belakangnya, lalu masih banyak lagi mobil-mobil CBU yang bahkan dalam mimpi pun saya belum pernah melihatnya. Semuanya antri ingin memasuki halaman parkir perhelatan tersebut. Tiba-tiba saya tersenyum simpul, mengingat ucapan seorang yang saya tuakan dalam hidup ini. Katanya di Jakarta tidaklah heran menemukan orang kaya, yang mengherankan adalah menemukan orang jujur. Dan sudah jujurkah semua tuan-tuan bermobil mewah ini? atau lebih jauh lagi, sudah jujur pulakah diri saya?</p>
<p style="text-align: justify;">Sebelum terlampau jauh, ijinkanlah saya memperkenalkan diri. Nama saya Ryo, 23 m Jkt (buat chatters yang nggak tau artinya, mending balik pake mesin tik aja kali yah, hehehe&#8230;). Yah saya memang bukan lagi Ryo 23 m Bdg seperti dalam kisah-kisah terdahulu. Kelulusanku dari sebuah fakultas teknik yang dikenal sebagai ekonominya teknik (karena banyak mata kuliah ekonomi dalam kurikulumnya) dari sebuah Universitas ternama di kota itu telah mengantarkanku mendapatkan pekerjaan di Jakarta beberapa waktu yang lalu. But one thing for sure, I&#8217;m not working at Tia&#8217;s office (untuk mengetahui tokoh ini, disarankan untuk membaca Walk Interview). Now I&#8217;m just an employee from one of an automobile industry in Indonesia, based on North Jakarta. Kurang lebih 15 menit yang saya butuhkan sampai akhirnya dapat melangkahkan kaki dengan tenang menuju pintu gerbang perhelatan akbar tersebut, meninggalkan mini jeep saya yang terparkir nun jauh di sana. Setelah memasukkan amplop (yang saya yakin isinya cuma senilai kwaci bagi pasangan tersebut), mengisi daftar hadir dan mengambil souvenir yang dengan ramah diberikan oleh penerima tamu (pretty enough, but not my type), saya menyusuri elevator yang menuju ke lantai II, tempat acara tersebut diselenggarakan. Antrian tamu yang hendak memberikan selamat telah mengekor panjang dengan saya sebagai salah satu korbannya, dengan diiringi gending-gending Jawa yang terus mengalunkan nada-nada lembut daerahku. Di kejauhan tampak Linda, teman semasa SMA dulu, dalam rentangan waktu &#8217;92-&#8217;95 yang lalu, tampak cantik dengan busana daerah Jawa, sibuk menyalami para tamu sambil sesekali menyeka keringat yang menetes di dahinya. Di sampingnya tampak suaminya yang terlihat cukup gagah. Yah&#8230;mereka berdua nampak sangat berbahagia malam ini.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Ryo&#8230;, ma kasih yah mau dateng, kapan nih mau nyusul? kok sendiri?&#8221;, berondong Linda saat dengan lembut kusalami mereka di pelaminan. Saya hanya mampu membalasnya dengan tersenyum. Hhmm&#8230;.menikah? bahkan memikirkannya pun tidak. Dalam dua atau tiga bulan lagi usiaku akan menginjak 24, ah&#8230;masih ada waktu cukup untuk bermain-main, melihat semua silau dunia sebelum pada akhirnya saya akan memutuskan untuk menetap dalam pelukan kedamaian seorang wanita. Kok sendiri? Pertanyaan itu yang masih menggayut di telingaku, saat satu per satu anak tangga pelaminan kuturuni. Seakan-akan dipurukkannya diriku dalam jurang kesunyian. Even an advounturer feels so lonely sometimes, seperti saat ini di mana diriku merasa sangat sendiri di tengah keramaian para tamu undangan. Hhh&#8230;sesak juga rasanya jika sisi sentimentil ini sedang terusik.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Ryo&#8230;..ini kamu? Apa kabar?&#8221;, tiba-tiba sebuah suara wanita menghentakkan lamunanku, membangkitkan kembali diriku dari kesunyian yang baru saja kualami. Sejenak saya palingkan muka mencari sumber suara tersebut. Rasanya pernah sangat mengenalnya. Terus kutelusuri wajah para tamu sampai akhirnya kutertumbuk pada sesosok wajah yang cantik, lembut and of course, I&#8217;ll never forget. Revy, sahabatku di SMA dulu, tampak sangat anggun dengan kebaya modern bernuansa silver transparan yang dikenakannya. Revy&#8230; is that really you?</p>
<p style="text-align: justify;">Tiba-tiba ingatanku terlempar pada beberapa tahun silam. Revy&#8230;. sebuah nama yang masih saja membekas hangat dalam setiap jejak ingatanku. Masih segar dalam ingatan bagaimana lekatnya kami berkawan semasa menempuh pendidikan di tahun terakhir kami pada sebuah SMA favorit di bilangan Slipi Kemanggisan dulu. Tidak ada seorang pun yang percaya bahwa kita tidak terlibat cinta. You&#8217;re both too close to be friends, there must be something special between you, dan masih banyak lagi yang nyata terngiang tuduhan dari teman-temanku dulu akan hubunganku dengan seorang Revy. Jujur di dalam hati pun saya pernah memimpikan hal yang sama terjadi. Yah&#8230;saya memang hanya manusia biasa, yang terkadang sulit mengontrol perasaan dan harapan kala mana berdekatan dengan sesosok lawan jenis yang sangat kita kenal dan terasa sangat mengenal kita. Tapi pada akhirnya saya memilih untuk mendiamkan perasaan itu lewat, sambil membunuhi benih-benih rasa yang terlanjur tumbuh. Saya tidak akan pernah bisa kehilangannya sehingga jika saya tidak dapat memilikinya lebih dari sekedar teman, biarlah saya memilikinya sebagai seorang sahabat. Masih banyak lagi alasan mengapa saya memilih untuk tidak mengungkapkan perasaan saya terhadapnya. In fact, we live in different world. Revy adalah anak dari sebuah keluarga yang dapat di bilang sebagai konglomerat yang berkedudukan di Surabaya. Memang Revy tidak pernah mempermasalahkan hal tersebut, bahkan dia akan marah besar jika ada yang menyinggung permasalahan tersebut. Namun saya juga harus tahu diri, biar bagaimanapun kesenjangan kelas sosial mau tidak mau akan menjadi kendala bagi berjalannya suatu hubungan, apalagi dalam usia remaja seperti kita. Di lain pihak, seusai bangku SMA, ia merencanakan untuk menuntut ilmu di Wina, Austria. Interior Design yang menjadi impiannya selama ini akan ditimbanya di negeri itu. And I don&#8217;t belive in long distance relationship, not a second&#8230;!! Dan memang kabar terakhir darinya adalah ketika kumelepasnya di boarding gate Bandara Soekarno-Hatta di suatu malam, lima tahun yang lewat. Kami berpelukan erat, sepertinya tidak akan pernah bertemu lagi. Wajahnya perlahan menghilang di kerumunan penumpang lain yang siap berangkat. Dan wajah itulah yang sekarang hadir lagi di hadapanku&#8230;..<br />
<span id="more-1412"></span><br />
&#8220;Ryo&#8230;, kok malah bengong? Masih inget saya nggak?&#8221;, sapa Revy ramai menyapaku. Ah&#8230; tentu saja saya ingat, peri kecilku. Tentu saja saya ingat kamu&#8230;.<br />
&#8220;Revy&#8230;?&#8221;, balasku tertegun, tidak mempercayai kehadirannya di hadapanku kini.<br />
&#8220;Of course&#8230;, who else?&#8221;, seru Revy sambil meninju bahuku, &#8220;Siapa lagi temanmu yang secantik ini, hah?&#8221;, katanya lagi. Huh&#8230;pede sekali, tapi memang harus kuakui&#8230;.<br />
&#8220;Apa kabar Rev?&#8221;, balasku sambil menyalami hangat tangannya. &#8220;Lho kok sendiri, cowok kamu mana?&#8221;, tanyaku cepat saat menyadari lingkaran berwarna keemasan melingkar di jari manis kirinya. Ingin rasanya memeluknya, kalau saja&#8230;&#8230;&#8230;<br />
&#8220;Mas Heru lagi nggak ada di Indo. Eh&#8230;tau dari mana kamu saya punya cowok?&#8221;, sahutnya tersadar kalau identitasnya terbongkar.<br />
&#8220;Ah..wanita mana lagi yang mengenakan cincin emas di jari kirinya, kalau bukan pemberian seorang pria spesial&#8221;, todongku sambil cuek.<br />
&#8220;Oh iya..yah&#8230;., eh kamu kok juga sendiri, cewek kamu mana?&#8221;, balas Revy nggak mau kalah.<br />
&#8220;Saya memang masih sendiri kok, masih setia menantimu di ups&#8230;.&#8221;, saya tidak mampu menyelesaikan kalimat, keburu sebuah cubitan mendarat di pinggangku.<br />
&#8220;Hhhh&#8230;.gemes&#8230;masih aja kayak dulu, ngegombalnya nggak ilangilang&#8221;, kata Revy sambil mengencangkan cubitannya di pinggangku. Tinggalah saya meringis-ringis menahan sakit, soalnya nggak mungkin teriak, banyak tamu sih&#8230;</p>
<p style="text-align: justify;">Selanjutnya dapat ditebak, kami terlibat obrolan yang hangat dan akrab. Lima tahun tanpa kabar, dan kini tanpa sengaja bertemu di sebuah pesta pernikahan. Kabar si Anu, kabar si Itu, atau si Ini teman-teman kita dulu silih berganti mengisi topik pembicaraan. Seems just like yesterday&#8230;. Revy kini bekerja di sebuah konsultan interior design di kawasan Rasuna Said Kuningan, Jakarta. Tak jauh dari tempatnya tinggal, di sebuah komplek apartemen yang terletak di belakang sebuah Hypermarket made in France, di daerah yang sama. Katanya menimba ilmu, pengalaman dan sense terlebih dulu, untuk nantinya membuka usaha serupa dengan modal sendiri, itu jawabannya yang diberikan kepadaku saat ku tanya mengapa dia memilih untuk jadi &#8220;ekor naga&#8221;, daripada menjadi &#8220;kepala ayam&#8221; (buat mas dan mbak yang sudah terjun ke dunia kerja, pasti tahu istilah ini). Mas Harry, kakaknya semata wayang, kini sudah menikah dan dikaruniai seorang putra, menempati rumah mereka dulu di kawasan Puri Indah. Dan sebagai gantinya, Revy dibelikan sebuah unit apartemen yang ditempatinya hingga kini. Dan mas Heru, lelaki yang berhasil melingkarkan cincin itu, adalah tunangannya sejak setengah tahun yang lalu. Ia kini sedang menyelesaikan kuliahnya di Boston, USA. Mereka telah 3 tahun berkenalan, walaupun baru berpacaran setahun yang lalu. Medio tahun depan mereka merencanakan untuk menikah, segera setelah Heru menyelesaikan studinya.<br />
Kami terus berbincang akrab, tanpa sadar jumlah tamu yang makin berkurang karena hari beranjak malam. Dengan berat hati, akhirnya kami berpisah. Sempat kuantarkan Revy menuju parkir mobilnya, sebelum akhirnya kita benar-benar berpisah.</p>
<p style="text-align: justify;">Jakarta, 20 November, 12.06 PM</p>
<p style="text-align: justify;">Saya sedang menikmati santap siang di kantor, berkumpul dengan rekan-rekan kerja saat tiba-tiba teleponku berbunyi, dengan nama Revy terpampang di LCD ku. Segera aku menyingkir dari meja sambil menjawab telepon.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Halo&#8230;.Ryo?&#8221;, terdengar suara wanita di ujung sana.<br />
&#8220;Yup&#8230; Apaan Rev?&#8221;, balasku segera.<br />
&#8220;Eh Ryo&#8230;sibuk nggak ntar sore?&#8221;, tanyanya kembali.<br />
&#8220;Ntar sore? Hhmm&#8230;enggak tuh kayaknya&#8221;, jawabku, &#8220;Assiikkk&#8230; mau nraktir yah?&#8221;, sambungku dengan pedenya.<br />
&#8220;Huh&#8230;ge-er&#8230;&#8221;, sahutnya cepat, &#8220;Revy cuman mau ngajakin nomat, abis lagi suntuk nih Ryo&#8221;. Nomat adalah singkatan dari nonton hemat, dimana setiap hari Senin kita mendapat potongan harga untuk membeli tiket (ah..semua juga udah tahu kok).<br />
&#8220;Boleh tapi di mana?&#8221;, tanyaku lagi.<br />
&#8220;Biasa&#8230;di tempat bersejarah kita dulu, masak sih kamu udah nggak ingat masa-masa indah kita berdua&#8230;, hahahaha&#8230;.&#8221;, sambungnya diiringi gelak tawa candanya, &#8220;Revy tunggu di tempat biasanya, 1/2 6 teng yah&#8230;&#8221;. Kami masih sempat berbincang-bincang sebentar, sebelum ia menutup teleponnya. Tempat bersejarah? Ah&#8230; lamunan saya kembali menyusuri jejak waktu yang telah berlalu sekian lamanya. Pondok Indah Mall adalah tempat favorit kami untuk jalan-jalan semasa sekolah dulu. Revy bilang barangnya bagus-bagus, sedangkan menurut saya yang terbaik dari tempat itu adalah pengunjung wanitanya yang cantik-cantik, hahahaha&#8230;.. Entah sudah berapa kali kami jalan bersama ke tempat itu. Nonton, main game (ding-dong tepatnya), makan, atau sekedar ngeceng. Beberapa kali pula kami tertangkap dating oleh teman-teman yang lain, sehingga makin meyakinkan mereka kalau kami tengah berpacaran. Dating? ah&#8230; mungkin itu hanya harapan saya yang kelewat batas menganggap even-even itu sebagai dating.</p>
<p style="text-align: justify;">Waktu menunjukkan jam 17.24 WIB ketika saya melangkahkan kaki memasuki area pertokoan tersebut. &#8220;Tempat biasa&#8221; yang Revy maksud tentunya masih seperti yang dulu, tempat kita sering nongkrong bareng. Outlet St. Michael di lantai dasar, bersebelahan dengan Baskin 31 Ice Cream pasti yang dimaksudnya. Dulu kita sering nongkrong makan ice cream sambil memandangi produk-produk St. Michael dari luar kaca. Hahaha&#8230;.terasa betapa masih kecilnya kami saat itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Seulas senyum telah menyambutku, sesampainya ku di sana. Revy telah tiba terlebih dulu, dan masih seperti dulu, tengah asyik menikmati sebuah cup ice cream rasa strawberry sambil bersender di dinding outlet pakaian tersebut. Setelah berbincang-bincang sambil menantinya menghabiskan sisa ice cream-nya, kami pun naik ke lantai teratas untuk melihat film apa yang sedang diputar. Pangsit goreng, mie bakso dan sebotol teh dingin. Masih saja seperti dulu makanan fave-nya kalau sedang main ke PIM. Restaurant spesialis mie yang terletak tepat di seberang sineplex masih saja kena di lidahnya, pun setelah bertahun-tahun di negeri orang. Kami makan agak tergesa, karena Charlie&#8217;s Angel akan ditayangkan tidak lama lagi.</p>
<p style="text-align: justify;">Waktu sudah malam, ketika Cameron Diaz, Drew Barrymore dan Lucy Liu menyelesaikan aksinya di film dan memaksa kita untuk pulang. Seperti kemarin, kuantarkan kembali Revy menuju mobilnya. Kita menjadi semakin akrab, seperti seorang anak kecil yang tidak mau lepas dari mainan favoritnya yang telah lama menghilang. Yah&#8230;..Revy memang telah lama menghilang dari hidupku, dan entah kini apa maksud-Nya mempertemukannya kembali denganku.</p>
<p style="text-align: justify;">Sesampainya di rumah, kubongkar kembali file-file lamaku, berharap mendapatkan secuil kenangan tentang Revy di situ. Dan saya berhasil mendapatkannya&#8230;..!! Dua lembar potongan karcis film &#8220;Speed&#8221; tertanda medio 94 yang lalu masih ada dalam salah satu file-file lamaku. Tersenyum ku seorang diri mengingat betapa lucu mimik wajahnya mengagumi sosok Keanu Reeves yang menjadi tokoh dalam film tersebut, 6 tahun yang lampau sambil terus mendesakku untuk mengikuti potongan rambut Keanu yang memang tengah mewabah saat itu. Hahaha&#8230;makin kayak tikus kecebur got donk kalau saya nekat memapras rambut saya meniru tokoh tersebut. Di lain pihak, entah mengapa saya suka menyimpan benda-benda yang mempunyai memori, mungkin saya adalah orang yang setia pada kenangan. Dan malam itu saya tertidur dengan senyum. Senyum tentang indahnya sebuah kenangan&#8230;&#8230;</p>
<p style="text-align: justify;">Jakarta, 1 Desember 2000, 03.19 PM</p>
<p style="text-align: justify;">Lapar dan haus memang nyaris tidak saya rasakan, namun perasaan yang jenuh dan mengantuk yang tengah melanda diriku dengan hebat, sambil terus mencoba fokus memandangi General Managerku yang terus mengomel sepanjang memimpin rapat siang itu. Busyet&#8230;bosku ini pakai baterai apa yah, kok ngomelnya tahan banget dari tadi, pikirku sambil setengah mati menahan mata agar tidak terpejam. Memang sih dia tidak mengomeliku, namun rekan-rekan yang lain yang menjadi sasaran. Tapi tetap saja bikin bete kalau dengar orang yang ngomel melulu. Ini salah, itu salah. Ini kurang, itu kurang. Iseng kulirik ke luar jendela. Hhmmm&#8230;ruangan ini di lantai 4, kayaknya lumayan juga kalo GM-ku ini dilempar ke luar jendela, hahahaha&#8230;&#8230;..Tet&#8230;..bunyi teleponku sekali, cukup mengejutkanku. Saya rupanya lupa untuk men-set silent mode sebelum meeting tadi dimulai. Untung cuma SMS, coba kalau phone call yang masuk, bisa bikin ribut seruangan meeting donk. Sejenak kulirik SMS yang masuk. Ah&#8230;dari Revy yang mengajakku keluar mencari makan bersama sore nanti. Lumayan lah, malam libur seperti ini ada juga yang bisa dikerjakan. Berarti selesai meeting, saya harus menelponnya kembali untuk memastikan jadwal dating kita sore ini. Dating? hah? mimpi kamu&#8230;!!</p>
<p style="text-align: justify;">Sejak kita bertemu lagi, memang sering kami berjalan-jalan seusai jam kantor. Hampir 2 hari sekali kami jalan, pun hanya untuk dinner dan mengobrol serta bercanda. Rasanya tidak pernah habis bahan obrolan kami. Entah mengapa kami makin terasa dekat satu dengan lainnya. Revy pernah bilang kalau jalan dengan saya banyak ketawanya. Dia bisa bebas bercanda, ketawa, bahkan sampai ngakak. Katanya lagi, komentar-komentar saya sering mengejutkannya, dan membuatnya tidak bisa berhenti untuk tertawa. Rasanya ramai, seperti waktu masih muda dulu, ujarnya lagi. Dia bilang belum ada seorangpun kecuali saya yang mampu membuatnya dapat mengekspresikan apapun rasa di dalam hatinya dengan bebas, tidak juga Heru, tunangannya. Katanya berjalan dengan tunangannya itu adalah jalan-jalan serius, dinner di tempat-tempat yang serius (maksudnya formal kali yah?), membicarakan hal-hal yang serius. Datar tanpa kejutan, tanpa gejolak. But I love him anyway, sambungnya lagi.</p>
<p style="text-align: justify;">Tidak terasa semakin hari kita semakin dekat. Semakin sering kita jalan, ada sesuatu yang mulai mengikat perhatianku kepadanya. Semakin ku mengenal kembali dirinya, seperti saat-saat dulu. Ah&#8230;.kalau saja cincin itu belum ada&#8230;..<br />
Waktu menunjukkan jam 17.36 WIB saat kulangkahkan kaki memasuki lobby gedung kantor Revy, sebuah gedung dengan bentuk menyerupai kipas raksasa di atapnya. Saya memang menjemputnya kali ini, karena mobilnya telah expired surat-suratnya dan harus diuruskan ke pihak yang berwenang untuk perpanjangannya. It takes one or two days, katanya. Telah kutelepon dari lahan parkir tadi, mengatakan bahwa saya akan menunggunya di lobby. Yup&#8230;, itu dia. Revy telah menunggu di lobby. Setelan celana panjang hitam dengan blazer senada menutupi kausnya yang berwarna biru muda sangat chic dikenakannya.</p>
<p style="text-align: justify;">Kemacetan Jakarta sore hari telah memaksa kami untuk membongkar kotak kue Revy lebih dulu di jalan ketika jam di mobilku menunjukkan pukul 18.02 WIB. Sebuah restaurant Korean Food yang terletak di BBD Tower (kini Bank Mandiri) di kawasan Diponegoro yang menjadi referensinya kali ini. Katanya dari situ kita bisa makan sambil menikmati gemerlapnya lampu Jakarta di bawah sana dari puncak gedung tersebut. Mendengarnya mengingatkanku pada kafe-kafe di bilangan bukit dago pakar Bandung, tempat kita bisa menikmati city view Bandung sepuas mungkin sambil menghirup dinginnya udara pegunungan, sebuah pemandangan yang selalu menjadi fave saya sampai kapan pun. Andaikan Revy sempat pula merasakannya&#8230;. Kali ini Revy memang benar. Indah sekali menyaksikan gemerlapnya Jakarta dari atas sini. Lampu-lampu dari gedung maupun penerangan, berwarna-warni menghiasi pemandangan kota di malam hari. Di bawah sana tampak permainan ornamen lampu dari sebuah restaurant steak terkenal berpendar-pendar indah. Bagus memang, tapi tetap ada sisi romantisnya yang hilang. Tidaklah sesakral city view Bandung, di mana kita dibuat menyatu dengan alam, merasakan sapaan lembut angin yang menghembus wajah kita, tanpa batas dinding kaca dan pendingin ruangan seperti sekarang ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Namun dengan Revy di hadapanku, apalah yang menjadi kurang bagus? Memandang senyumnya saja seakan mampu memadamkan setiap lampu kota yang ada di bawah sana. Hiperbolik memang, tapi bukankah begitu rasanya fall in love? Hah? Jatuh cinta? mimpi kamu&#8230;!! &#8220;Lucu yah Ryo, kalau ingat dulu kita sering dikira pacaran&#8221;, katanya di tengah obrolan. &#8220;Iya.. dan kalau mereka melihat lagi apa yang kita lakukan sekarang, pasti semua kaget menyangka betapa awetnya kita pacaran, hahahaha&#8230;&#8221;, sahutku. Dan kami pun tertawa bersama. Seringkali kami berjalan bersama, tidak satu kata cinta pun terucap, pun setelah bilangan tahun telah berlalu. And now what a perfect situation&#8230;. Delicious food, good place, romantic sight, beautiful face, fire in the heart, unless&#8230;&#8230; unless one thing&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;, ring in her hand. Huh&#8230;&#8230; Masih sempat kulirik jam yang menempel di dinding ruang tamu Revy menunjukkan pukul 22.42 WIB saat kami memasuki unit apartemennya. Sebuah unit apartemen kecil yang asri, dengan 2 kamar tidur dan teras dengan pemandangan menghampar menuju Jl. Casablanca, jelas terlihat dari lantai 7 ini. Revy meninggalkanku sendiri di ruang tamu, saat ia meminta ijin untuk sebentar ke kamar kecil. Hhmm.. penataan ruangan yang bergaya minimalis namun dengan paduan warna yang terang dan berani mewarnai desain interor ruang tersebut. Iseng kusibakkan tumpukan CD yang berserakkan di karpet. Chaka Khan, Toto, Whitney Houston dan ah&#8230;Syaharani&#8230;, sama seperti kasetnya yang selalu kudengarkan di mobil saat pulang-pergi kerja. Perlahan kumainkan dalam stereo set, selembut suara Syaharani melantunkan &#8220;Unforgetable&#8221; beberapa saat kemudian.</p>
<p style="text-align: justify;">Kuhempaskan tubuhku di atas sofa, saat tak lama kemudian Revy bergabung denganku, membawa dua kaleng coke dingin untuk kembali mengobrol dan bercanda, cekikikan dan tertawa lepas. God damned, I hate those ring&#8230;&#8230; Malam semakin larut, ketika kuputuskan untuk berpamitan dan pulang. Why does it feel so hard everytime I say goodbye, seems like I won&#8217;t never see her again &#8230;.? Sepatu kiriku baru saja kukenakan, saat tiba-tiba dari belakangku terdengar suara Revy bertanya, &#8220;Ryo, kita sudah lama berteman, and I think I&#8217;ve already knew all about you, except one thing&#8221;, Revy menahan nafasnya sejenak untuk kemudian melanjutkan, &#8220;&#8230;and may I know about it now? and please answer the truth&#8221;.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Sure whatever you want to know, just ask me&#8221;, tanyaku terheran. Sebenarnya mau nanya apa sih nih anak?<br />
&#8220;Ryo, have you ever had some different feelings about me?&#8221;, tanyanya tergugup.<br />
&#8220;What do you mean with different feelings?&#8221;, balasku tak kalah kagetnya.<br />
&#8220;Come on Ryo, you know what I mean. Don&#8217;t make it harder for me, please&#8230;.&#8221;, kata Revy dengan wajah memelas.<br />
&#8220;Why should you know?&#8221;, tanyaku lagi untuk menghindar.<br />
&#8220;I just have to know, Ryo. Please answer me&#8230;&#8221;, balasnya sedikit memaksa. Shit&#8230;.!! What should I do? Tell her everything I&#8217;ve been feeling about her? or just lying and tell her everything is right? Perang batin berkecamuk seketika, membuatku ragu untuk memilih apa yang akan kukatakan kepadanya. Waktu merambat perlahan, sampai akhirnya saya menyerah dan memutuskan untuk menceritakan yang sebenarnya. Pikirku toh dia sudah menemukan cinta sejatinya dan sebentar lagi akan menikah. Pengakuanku mungkin hanyalah sebuah intermezzo dalam jejak-jejak hidupnya. Dan lagipula kita sudah sama-sama dewasa, pasti dapat menerima keadaan seberapa buruk pun.<br />
&#8220;Have I fallen with you, is that what you wanna know, Rev?&#8221;, tanyaku pada akhirnya. Revy hanya terdiam dan tertunduk sembari memainkan ujung blazernya dengan kedua tangannya. &#8220;Yes Rev, I have fallen with you. In fact I have been falling in love with you since we&#8217;re in school&#8221;, jawabku mencoba untuk tegas. &#8220;Apakah saya pernah jatuh cinta sama kamu, Rev? Jawabnya pernah, bahkan selalu&#8230;. Saya selalu mencintaimu&#8221;, lanjutku tidak kuat lagi menahan endapan perasaanku padanya. Sunyi keadaan setelah itu. Menit demi menit berlalu tanpa kutahu apa yang harus kulakukan. Marahkah dia padaku? Jika tidak, mengapa dia terdiam begitu lama? Lalu saya harus bagaimana? Meninggalkannya begitu saja, atau harus tetap tinggal untuk melihat reaksinya? Sekonyong-konyong Revy menubruk tubuhku, memelukku erat sambil menangis. Saya hanya mampu balas memeluknya sambil mengusap-usap rambut sebahunya yang terurai di pundaknya. What&#8217;s wrong honey? &#8220;Kamu jahhaaattt&#8230;&#8230;!!&#8221;, serunya tiba-tiba, masih sambil menangis dan memukuli dadaku dengan kedua tangannya.<br />
&#8220;Kenapa kamu baru mengatakannya sekarang? Tahukah kamu Ryo, betapa setianya saya menyimpan cinta untukmu selama ini, sampai akhirnya saya memutuskan untuk memberikannya kepada orang lain?&#8221;, serunya lagi sambil sesunggukkan.</p>
<p style="text-align: justify;">Tiba-tiba dunia terasa berputar hebat mana kala saya mendengar pengakuannya. Revy selama ini mencintaiku? Oh My God&#8230;.. I&#8217;ve found someone who understand me best, and I just let it slip away? Sesak rasanya nafasku demi mendengar semuanya. Those ring&#8230;.those ring takes my happiness away&#8230; Menit demi menit berlalu kudengarkan seluruh cerita Revy, mendengarkan bagaimana dia terus mengharapkan perkataan cinta dari bibirku, bahkan sampai saat dia menuntut ilmu ke luar negeri dan kami tidak pernah berkabar berita lagi. Sampai akhirnya dia memutuskan untuk menerima cinta Heru dan belajar untuk mencintainya, karena cinta Heru adalah kenyataan baginya, sedangkan cinta saya hanyalah sebuah mimpi. Saya tak tahu harus berkata apa. Yang saya lakukan hanya berusaha meredakan tangis dan menyekakan air matanya dengan sapu tanganku. Beberapa saat hingga akhirnya keadaan Revy cukup tenang, dan kami masih terus saja berpelukan&#8230; I think of you every morning, dream of you every night Darling I&#8217;ll never be lonely, whenever you&#8217;re inside I love you, for sentimental reasons&#8230;&#8230;</p>
<p style="text-align: justify;">Alunan suara Syaharani lembut melantunkan sebuah tembang lawas &#8220;For Sentimental Reasons&#8221;, makin menghanyutkan kami berdua dalam sebuah dekapan erat yang menyejukkan. Tanpa sadar tubuh kami bergerak perlahan mengikuti alunan lagu. Ya&#8230; tanpa sadar kami berdansa, diiringi lembut musik yang keluar dari stereo set di buffet ruang tamu. Dari jendela masih terlihat Jakarta yang terang, seakan sengaja menyisakan kehangatannya untuk kami berdua. Kami terus tenggelam dalam suatu dansa yang lembut dan romantis, bahkan setelah musik berhenti dimainkan sekalipun. Kami hanya bergoyang lembut, mengikuti kata hati semata. Perlahan kukecup lembut keningnya. Terasa bagaimana ia mempererat dekapannya. Kudongakkan perlahan dagunya, masih sempat terlihat olehku bagaimana Revy memejamkan kedua matanya, sebelum akhirnya kucium bibirnya penuh perasaan&#8230;.. Kami berdekapan dan berciuman erat, larut dalam galau emosi dan kerinduan yang sekian lama tak terkatakan, bahkan dalam bilangan tahun sekalipun. Segala macam rasa yang pernah kami rasakan, seakan kami tumpahkan pada sebuah ciuman yang dalam. Lembut kuangkat tubuhnya hingga kini ku menggendongnya setelah beberapa saat kita bercumbu, sambil terus berciuman. Perlahan kuberjalan ke sofa dengan tetap merengkuhnya dalam dekapan.</p>
<p style="text-align: justify;">Tiba-tiba kurasakan ruangan menjadi gelap, tatkala tangan Revy berhasil menjangkau saklar lampu yang terletak di dekat pintu utama. Sunyi senyap gelap, hanya desahan nafas kami berdua yang sedang dihanyutkan cinta. Kini kami terduduk di sofa, dengan Revy dalam pangkuanku. Kami masih terus saja berciuman, semakin dalam. Perlahan kutanggalkan dua buah kancing blazernya, untuk kemudian jatuh terjuntai ke karpet. Revy pun berusaha melepaskan satu per satu kancing kemejaku, hingga pada akhirnya ia berhasil mendapatkan kemejaku dalam genggamannya, untuk kemudian dijatuhkannya pula ke karpet. Kami terus bergumul dalam paduan kerinduan yang tak terbilang. Tak kuingat jelas bagaimana masing-masing kami kehilangan kain penutup tubuh satu per satu, sampai akhirnya kami hanya tinggal mengenakan kain penutup tubuh yang terakhir. Kucumbui dada Revy penuh kehangatan, ketika kurasakan lembut tangannya menyusup ke balik celana dalamku, menurunkannya dan menggenggam erat kejantananku dengan telapak tangannya. Ugh&#8230;sungguh suatu sensasi yang tak terkatakan. Kuturuni centi demi centi tubuh Revy dengan menyisakan bekas- bekas pagutan berwarna keunguan pada sekujur tubuhnya. Nafas Revy terus memburu, dan makin memburu ketika perlahan kusingkapkan celana dalam bernuansa biru muda, sedikit-demi sedikit menyusuri kedua kakinya yang jenjang hingga akhirnya terlepas seluruhnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Kini keadaan kami tak ubahnya tatkala pertama kali kami dilahirkan, tanpa selembar benang pun menutupi tubuh kami berdua. Perlahan kubuka paha Revy dan mengarahkan wajahku ke sana. Bagai tersengat, nafas Revy tertahan ketika ia mulai merasakan sesuatu yang lembut membelai organ kewanitaannya. Lembut sekali kumainkan lidahku di liang kewanitaannya, memberinya suatu sensasi oral yang tak terkatakan. &#8220;Ryo&#8230;.uuhhh&#8230;.hhhmmm&#8230;&#8221;, terdengar lembut suara Revy berbisik, di antara desah nafasnya yang memburu. Terus kuperlakukan dia dengan penuh kasih sayang. Jilatan lembut diselingi gigitan kecil dan hisapan perlahan terus mendera organ kewanitaannya, membawanya makin tinggi terbuai dalam gulungan hasrat yang perlahan-lahan merambati seluruh aliran darahnya. Menit demi menit berlalu hingga&#8230;.. &#8220;Ryooo&#8230;aahhhh&#8230;&#8221;, serunya tertahan seraya mencengkeram rambutku. Puncak itu telah datang menderanya, menenggelamkannya pada jurang kenikmatan hingga dasarnya. Saya hanya mampu memandanginya saja. Bagaimana indahnya ekspresi Revy terbuai alunan orgasme yang baru saja hadir menyapanya mampu mengalahkan segala keindahan yang pernah saya saksikan sebelumnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Kubiarkan Revy mengejang detik demi detik puncak yang baru saja dilaluinya untuk kemudian mulai dapat mengatur nafasnya kembali. Kurasakan tangan Revy lembut menepis tanganku yang telah menggenggam latex pengaman. &#8220;Don&#8217;t use it, I wanna feel you inside me completely&#8230;.&#8221;, bisiknya lembut di telingaku seraya menggenggam kejantananku dan menuntunnya ke dalam liang kewanitaannya. Hangat dan mendebarkan rasanya tatkala ujung kejantananku menempel pada bibir vaginanya. Terasa sentuhan lembut tangan Revy pada pinggulku dan mendorongnya ke depan untuk menghujamkan kejantananku dalam tubuhnya. Terasa suatu sensasi yang sangat menyesakkan dan mendebarkan, ketika kunikmati mili demi mili kejantananku menembus organ kewanitaan Revy. Ekspresi wajahnya yang terlihat sangat menikmati penetrasi tersebut makin membuatku serasa terbang dibuai kenikmatan. Hingga pada akhirnya terasa kejantananku terbenam utuh dalam tubuhnya, seutuh seluruh perasaan cintaku padanya yang selama ini kusimpan. Sayu matanya memandangku, kukecup lembut keningnya sebelum akhirnya kami tenggelam ke dalam suatu persetubuhan yang sangat indah, dimana galau hati dan rasa cinta bercampur aduk menjadi satu di dalamnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Kini Revy terbaring di sofa dan diriku dengan posisi setengah terduduk terus memompa kejantananku keluar masuk tubuhnya. Kaki kirinya terkulai di pundakku, saat kaki kanannya terjulur ke karpet. Kami terus bersetubuh dengan sangat intim, seakan tiada lagi hari esok bagi kami. &#8220;Ryooo&#8230;&#8230;hhhmmm&#8230;aahh..&#8221;, jerit Revy lirih saat sesekali dirasakannya kejantananku mendesak hebat liang kewanitaannya. Waktu terus berpacu, seiring berpacunya hasrat kami menyatukan seluruh rasa dan raga kami berdua. Makin kurekatkan persetubuhan ini saat kurasakan Revy mulai mendekati puncak keduanya. Dan&#8230; &#8220;Ryoooo&#8230;..aarrggghhh..hhhmmppff.&#8221;, suara Revy sungguh mendebarkan terdengar. Puncak kedua telah datang merenggutnya kembali dan menenggelamkannya dalam gulungan nafsu dan kenikmatan yang seperti tiada berujung. Belum selesai Revy melepaskan seluruh ekspresinya, dengan cepat kucium bibirnya dalam. Terdengar lirih jeritan-jeritan kecil sisa orgasmenya saat kami berciuman. Dengan tiba-tiba kutarik tubuh Revy dan mendudukkannya dalam pangkuanku. Kini wajah kami berhadapan dekat, dengan Revy dalam pangkuan. Kembali kutikamkan kejantananku dalam kewanitaannya, seraya meremas buah pinggulnya dan menaik-turunkan tubuhnya di atas tubuhku. Kami bersetubuh sambil berciuman teramat dalam.</p>
<p style="text-align: justify;">Tubuh Revy bergoyang-goyang mengikuti setiap hentakan persetubuhan kami. Sesekali disibakkan rambutnya yang mulai basah terurai. Ada suatu momen yang sangat indah setelah sekian waktu berlalu, tatkala Revy menyibakkan rambutnya dan tetap meletakkan kedua tangannya di atas kepalanya, seraya terus bergoyang mengikuti alunan persetubuhan. Bagai sebuah tarian kehidupan yang sangat indah dan sakral, mengikuti setiap gerak tubuhnya menyetubuhiku.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Rev, I love you&#8221;, bisikku lembut di telinganya, diantara deraan-deraan lembut persetubuhan kami.<br />
&#8220;Me too&#8221;, hanya itu yang mampu diucapkannya sebelum terhentak kembali merasakan sesaknya kejantananku memenuhi organ kewanitaannya. Terasa pula olehku bagaimana vaginanya makin erat menghimpit organ kejantananku&#8230;..<br />
&#8220;Ryoo&#8230;.eennngghhhh&#8230;..aahhhhh..&#8221;, teriaknya tertahan ketika orgasme itu kembali menggulungnya, menyeretnya ke dalam lembah kenikmatan hingga ke dasarnya.<br />
Kini ia merebahkan kepalanya di pundakku. &#8220;Revy sayang kamu&#8230;&#8221;, ucapnya lirih di telingaku. Saya hanya mampu mengusap lembut rambutnya. Ah&#8230; Revy, andai kamu dapat tahu betapa aku pun merasakan hal yang sama sepertimu.<br />
Kugendong Revy menuju kamar tidurnya. Dia memelukku erat seakan tidak akan pernah ia lepaskan. Masih sempat kupadamkan lampu kamar tidur saat kami mulai memasukinya. Kami terus berciuman, semakin dalam. Kuturunkan Revy dan membalikkan tubuhnya menghadap ke jendela. Sempat kudengar jeritan lirih terkejutnya ketika ku memposisikan dirinya seperti itu. Kini Revy setengah berdiri membelakangiku, dengan kedua tangannya bertumpu pada meja kerjanya yang menghadap ke jendela kamar tidurnya yang masih terbuka. Perlahan kusisipkan kembali kejantananku dalam liang kewanitaannya.<br />
&#8220;Ugh&#8230;.&#8221;, terdengar lirih bisik Revy saat ia mulai merasakan tikaman kejantananku menembusnya dari belakang.</p>
<p style="text-align: justify;">Kembali kami bersetubuh, sangat erat. Kuterus menikamkan kejantananku ke dalam organ kewanitaannya dari belakang, seraya meremasi kedua buah pinggulnya. Betapa indahnya persetubuhan ini, suatu sensasi yang belum pernah saya rasakan sebelumnya ketika bercinta seraya memandangi lampu-lampu kota yang masih saja benderang dari jendela tanpa kain penghalang yang terpampang di depan kami berdua. Kami terus bercinta, mencoba merasakan kehangatan pendar-pendar lampu jalanan kota Jakarta yang terpampang di depan kami, seakan-akan terus memancari kami dengan cinta. Galau hati, luapan emosi, kerinduan dan rasa cinta ditambah city view metropolitan berpadu dalam dekapan erat sang dewi nafsu, menghantarkan persetubuhan kami semakin dalam dan dalam. Kami berciuman, mendesah, mengerang, mendekap, coba merasakan semua sensasi yang ditawarkan dalam sebuah persetubuhan. Semakin terhimpit rasanya kejantananku di dalam liang vaginanya, ketika mulai kurasakan sesuatu bergejolak mendesak keluar dari dalam tubuhku.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Rev, I&#8217;m almost there&#8230;.&#8221;, bisikku lembut.<br />
&#8220;Yes Ryo, cum inside honey&#8230;&#8221;, balasnya lirih. Makin terasa desakan orgasme menghimpitku ketika makin kutikamkan kejantananku dalam liang kewanitaan Revy. Perlahan merambati seluruh urat syarafku&#8230;.<br />
&#8220;Ryo&#8230;.eenngghhh&#8230;&#8221;, jerit Revy lirih, seakan memberi tanda kepadaku bahwa ia pun sedang mendekati orgasmenya yang kesekian kali. Kupacu persetubuhan ini semakin cepat, karena ku tahu tidak ada gunanya lagi mempertahankan lebih lama, karena tembok pertahananku akan hancur berantakan dalam hitungan detik&#8230;..<br />
&#8220;Ryooo&#8230;..aahhhh&#8230;!!&#8221;.<br />
&#8220;I&#8217;m cumming Rev, I&#8217;m cummiiinngg&#8230;!!.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Kami berteriak hampir berbarengan kala orgasme menyapa kami dalam waktu yang bersamaan. Kurasakan derasnya cairan kejantananku menyembur keras, memenuhi liang kewanitaan Revy dengan suatu sensasi kenikmatan yang tak terbilang. Revy terus menekan pinggulku ke arahnya, seakan hendak menghabiskan setiap detik orgasme kami di dalam tubuhnya. Entah berapa lama kami terbuai tinggi, terlenakan gelombang hasrat yang terpuaskan di dalam suatu gulungan orgasme yang begitu dahsyat&#8230;&#8230;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ceritasex.cn/secret-lover/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
