<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Cerita sex porno ngentot mesum perek ayam kampus &#187; Pemerkosaan</title>
	<atom:link href="http://www.ceritasex.cn/category/pemerkosaan/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.ceritasex.cn</link>
	<description>Kumpulan cerita sex, foto bugil, dan film porno</description>
	<lastBuildDate>Fri, 10 Feb 2012 09:03:13 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
		<item>
		<title>Kekasihku Diperkosa Polisi</title>
		<link>http://www.ceritasex.cn/kekasihku-diperkosa-polisi-2/</link>
		<comments>http://www.ceritasex.cn/kekasihku-diperkosa-polisi-2/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 12 Jan 2012 13:24:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cerita Sex</dc:creator>
				<category><![CDATA[anal seks]]></category>
		<category><![CDATA[Daun Muda]]></category>
		<category><![CDATA[Gangbang Rame Rame]]></category>
		<category><![CDATA[Pemerkosaan]]></category>
		<category><![CDATA[anus]]></category>
		<category><![CDATA[budak seks]]></category>
		<category><![CDATA[isep kontol]]></category>
		<category><![CDATA[ngentot]]></category>
		<category><![CDATA[orgasme]]></category>
		<category><![CDATA[perkosa]]></category>
		<category><![CDATA[seks]]></category>
		<category><![CDATA[vira]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ceritasex.cn/?p=3287</guid>
		<description><![CDATA[Saya pertama kenal Vira ketika melihatnya menjadi model cover di sebuah majalah di Jakarta, kemudian ia juga menjadi bintang sinetron Abad 21. Vira berumur 17 tahun, cantik, kulitnya putih mulus, ramah dan yang paling menarik perhatian orang-orang adalah buah dadanya yang bundar dan padat berisi. Semua orang yang menatap Vira pandangannya akan langsung tertarik ke [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Saya pertama kenal Vira ketika melihatnya menjadi model cover di sebuah majalah di Jakarta, kemudian ia juga menjadi bintang sinetron Abad 21. Vira berumur 17 tahun, cantik, kulitnya putih mulus, ramah dan yang paling menarik perhatian orang-orang adalah buah dadanya yang bundar dan padat berisi. Semua orang yang menatap Vira pandangannya akan langsung tertarik ke arah buah dadanya yang membusung. Tidak terlalu besar memang, tapi sangat proporsional engan tubuh dan wajah Vira. Saya berkenalan dengannya, pertama melalui surat kemudian bertemu, sesekali menelepon dirinya. Lama-kelamaan kita semakin sering bertemu dan percakapan yang ada semakin menjurus ke hal-hal yang pribadi. Akhirnya saya memberanikan diri untuk mengajaknya keluar makan malam. Suatu hari saya memberanikan diri untuk mengajaknya dan ternyata Vira senang sekali mendengar ajakan saya, dan langsung setuju. Saya gelisah sekali menunggu pada saat menjemput Vira di rumahnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah pulang kerja dan berganti pakaian saya menjemput Vira, untuk kemudian makan malam di sebuah restoran. Di sana kami bercakap-cakap panjang lebar, setelah itu dilanjutkan sebuah diskotik untuk sedikit menggoyangkan tubuh dan minum. Di tengah-tengah percakapan di diskotik, Vira mengajak saya untuk kembali ke rumahnya dan melanjutkan sisa malam itu di rumahnya. Bagaimana saya bisa menolak tawaran itu?</p>
<p style="text-align: justify;">Sepanjang perjalanan pulang Vira berkata bahwa ia belum pernah mengalami hari yang menyenangkan seperti yang baru ia alami malam itu, dan ia juga berkata, di rumah nanti giliran dirinya yang akan membuat diri saya tidak akan melupakan malam ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Saya begitu bergairah dan berhasrat untuk lekas-lekas sampai ke rumah Vira, ketika tanpa sadar saya mengendarai mobil melebihi batas maksimal kecepatan di jalan. Tiba-tiba saya tersadar ketika di sebelah kanan sudah ada mobil Polantas yang berusaha menghentikan mobil saya. Saya meminggirkan mobil di tempat parkir sebuah toko dan menunggu Polantas tadi mendekati mobil kami. Ia bertanya hendak ke mana kami sampai-sampai kami membawa mobil itu melebihi batas kecepatan. Rupanya alasan saya tidak masuk akal sehingga Polantas tadi meminta STNK dan SIM saya.<br />
<span id="more-3287"></span><br />
Setelah melihat surat-surat itu Polantas itu menjengukkan kepalanya ke dalam mobil kami dan lama sekali mengamati Vira yang duduk terdiam. &#8220;Anda harus meninggalkan mobil Anda di sini dan ikut saya ke kantor&#8221;, perintah Polantas tadi. Akhirnya sepuluh menit kemudian kami sampai ke sebuah kantor polisi yang terpencil di pinggir kota.</p>
<p style="text-align: justify;">Waktu itu sudah lewat pukul 11 malam, dan dalam kantor polisi itu tidak terdapat siapa pun kecuali seorang Sersan yang bertugas jaga dan Polantas yang membawa kami. Ketika kami masuk, Sersan itu memandangi tubuh Vira dari bawah hingga ke atas, kelihatan sekali ia menyukai Vira. Kami dimasukkan ke dalam sel terpisah, saling berseberangan.</p>
<p style="text-align: justify;">Sepuluh menit kemudian, Polantas yang berumur sekitar 40-an dan berbadan gemuk dan Sersan yang tinggi besar berbadan hitam, dan umurnya kira-kira 45 tahun kembali ke ruang tahanan. Polantas tadi berkata, &#8220;Kalian seharusnya jangan mengemudi sampai melebihi batas kecepatan yang ada. Tapi kita semua bener-benar kagum, soalnya dari semua yang kami tangkap baru kali ini kita dapat orang yang cantik seperti kamu.&#8221; Sersan tadi menimpali, &#8220;Betul sekali, dia bener-bener kualitas nomer satu!&#8221; Saya sangat takut mendengar nada bicara mereka, begitu juga Vira yang terus-menerus ditatap oleh mereka berdua.</p>
<p style="text-align: justify;">Mereka lalu membuka sel Vira dan masuk ke dalam. &#8220;Sekarang denger gadis manis, kalau kamu berkelakuan baik, kita akan lepasin kamu dan pacar kamu itu. Mengerti!&#8221; Sersan tadi langsung memegangi kedua tangan Vira sementara Polantas menarik kaos yang dikenakan Vira ke atas. Dalam sekejap seluruh pakaian Vira berhasil dilucuti tanpa perlawanan berarti dari Vira yang terus dipegangi oleh Sersan. &#8220;Wow, lihat dadanya.&#8221; Vira terus meronta-ronta tanpa hasil, sementara Sersan yang tampaknya sudah bosan dengan perlawanan Vira, melemparkan tubuh Vira hingga jatuh telentang ke atas ranjang besi yang ada di sel Vira. Dan dengan cepat diambilnya borgol dan diborgolnya tangan Vira ke rangka di atas kepala Vira.</p>
<p style="text-align: justify;">Kemudian mereka dengan leluasa menggerayangi tubuh Vira. Mereka meremas-remas dan menarik buah dada Vira, kemudian memilin-milin puting susunya sehingga sekarang buah dada Vira mengeras dan puting susunya mengacung ke atas. Kadang mereka mengigit puting susu Vira, sedangkan Vira hanya bisa meronta dan menjerit tak berdaya.</p>
<p style="text-align: justify;">Saya berdiri di dalam sel di seberang Vira tak berdaya untuk menolong Vira yang sedang dikerubuti oleh dua orang itu. Kedua polisi itu lalu melepaskan pakaian mereka dan terlihat jelas kedua batang kemaluan mereka sudah keras dan tegang dan siap untuk memperkosa Vira. Polantas mempunyai batang kemaluan paling tidak sekitar 25 senti, dan Sersan mempunyai batang kemaluan yang lebih besar dan panjang. Vira menjerit-jerit minta agar mereka berhenti, tapi kedua polisi itu tetap mendekatinya.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Lebih baik kamu tutup mulut kamu atau kita berdua bisa bikin ini lebih menyakitkan daripada yang kamu kira.&#8221; kata Polantas.&#8221;Sekarang mendingan kamu siap-siap buat muasin kita dengan badan kamu yang bagus itu!&#8221;"Dia pasti sempit sekali&#8221;, kata Sersan sambil memasukan jari-jarinya ke lubang kemaluan Vira.Ia menggerakkan jarinya keluar masuk, membuat Vira menggelinjang kesakitan dan berusaha melepaskan diri.&#8221;Betul kan, masih sempit sekali.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Kemudian Polantas tadi naik ke atas ranjang di antara kedua kaki Vira. Kemudian mereka membuka kaki Vira lebar-lebar dan Polantas memasukkan batang kemaluannya ke dalam lubang senggama Vira. Vira mengeluarkan jeritan yang keras sekali, ketika perlahan batang kemaluan Polantas membuka bibir kemaluan, dan masuk senti demi senti tanpa berhenti. Kadang ia menarik sedikit batang kemaluannya untuk kemudian didorongnya lebih dalam lagi ke lubang kemaluan Vira.</p>
<p style="text-align: justify;">Sementara itu, Sersan naik dan mendekati wajah Vira, mengelus-elus wajah Vira dengan batang kemaluannya. Mulai dari dahi, pipi kemudian turun ke bibir. Vira menggeleng-gelengkan kepalanya agar tidak bersentuhan dengan batang kemaluan Sersan yang hitam.&#8221;Ayo dong manis, buka mulut kamu&#8221;, kata Sersan sambil meletakkan batang kemaluannya di bibir Vira.&#8221;Kamu belum pernah ngerasain punya polisi kan?&#8221; Vira tak bergeming.&#8221;Buka!&#8221; bentak Sersan.&#8221;Buka mulut kamu, brengsek!&#8221; Perlahan mulut Vira terbuka sedikit, dan Sersan langsung memasukkan batang kemaluannya ke dalam mulut Vira.</p>
<p style="text-align: justify;">Mulut Vira terbuka hingga sekitar 6 senti agar semua batang kemaluan Sersan bisa masuk ke dalam mulutnya. Batang kemaluan Sersan mulai bergerak keluar masuk di mulut Vira, saya melihat tidak semua batang kemaluan Sersan dapat masuk ke mulut Vira, batang kemaluan Sersan terlalu panjang dan besar untuk bisa masuk seluruhnya dalam mulut Vira. Ketika Sersan menarik batang kemaluannya terlihat ada cairan yang keluar dari batang kemaluannya. Julurin lidah kamu!&#8221; Vira membuka mulutnya dan mengeluarkan lidahnya. Sersan kemudian memegang batang kemaluannya dan mengusapkan kepala batang kemaluannya ke lidah Vira, membuat cairan kental yang keluar tadi menempel ke lidah Vira.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;San, dia nggak mungkin bisa masukin punya Sersan ke mulutnya, biar saya coba. Gantian!&#8221; Mereka kemudian bertukar tempat, Sersan sekarang ada di antara kaki Vira dan Polantas berjongkok di dekat wajah Vira. Sersan mulai mendorong batang kemaluannya masuk ke liang senggama Vira. Terlihat sekali dengan susah payah batang kemaluan Sersan yang besar itu membuka bibir kemaluan Vira yang masih sempit. Polantas, mengacungkan batang kemaluannya ke mulut Vira. &#8220;Kamu mungkin nggak bisa masukin punya Sersan ke mulut kamu, tapi kamu musti ngerasain punya saya ini, seluruhnya.&#8221; Dengan kasar ia mendorong batang kemaluannya masuk ke mulut Vira, sampai akhirnya batang kemaluan itu masuk seluruhnya hingga sekarang testis Polantas berada di wajah Vira. Ia kemudian menarik batang kemaluannya sebentar untuk kemudian didorongnya kembali masuk ke tenggorokan Vira. Setelah lima kali, keluar masuk, Polantas sudah tidak bisa lagi menahan orgasmenya.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Saya keluuarrhh. Aaahhh!&#8221; Ia tidak menarik batang kemaluannya keluar dari mulut Vira, batang kemaluannya tampak bergetar berejakulasi di tenggorokan Vira, menyemprotkan sperma masuk ke tenggorokannya. Saya mendengar Vira berusaha menjerit, ketika sperma Sersan mengalir masuk ke perutnya. Terlihat sekali Sersan yang sedang mencapai puncak kenikmatan tidak menyadari Vira meronta-ronta berusaha mencari udara.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Iyya&#8230; yaah! Telleeen semuaa! Aaahhh&#8230; aahhh&#8230; nikhmaattt!&#8221;Ketika selesai ia menarik keluar batang kemaluannya dan Vira langsung megap-megap menghirup udara, dan terbatuk-batuk mengeluarkan sperma yang lengket dan berwarna putih. Vira berusaha meludahkan sperma yang masih ada di mulutnya. Polantas tertawa melihat Vira terbatuk-batuk, &#8220;Kenapa? Nggak suka rasanya? Tenang aja, besok pagi, kamu pasti sudah terbiasa sama itu!&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Sementara Sersan yang masih mengerjai kemaluan Vira sekarang malah memegang pinggul Vira dan membalik tubuh Vira. Vira dengan tubuh berkeringat dan sperma yang menempel di wajahnya tersadar apa yang akan dilakukan Sersan pada dirinya, ketika dirasanya batang kemaluan Sersan mulai menempel di lubang anusnya.&#8221;Jangan Pak, jangan! Ampun Pak, ampun, jangan&#8230;&#8221;"Aaahkk! Jangaaan!&#8221;Vira menjerit-jerit ketika kepala batang kemaluan Sersan berhasil memaksa masuk ke liang anusnya. Wajah Vira pucat merasakan sakit yang amat sangat ketika batang kemaluan Sersan mendorong masuk ke liang anusnya yang kecil. Sersan mendengus-dengus berusaha memasukkan batang kemaluannya ke dalam anus Vira. Perlahan, senti demi senti batang kemaluan itu tenggelam masuk ke anus Vira. Vira terus menjerit-jerit minta ampun ketika perlahan batang kemaluan Sersan masuk seluruhnya ke anusnya. Akhirnya ketika seluruh batang kemaluan Sersan masuk, Vira hanya bisa merintih dan mengerang kesakitan merasakan benda besar yang sekarang masuk ke dalam anusnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Sersan beristirahat sejenak, sebelum mulai bergerak keluar masuk. Kembali Vira menjerit-jerit. Sersan terus bergerak tanpa belas kasihan. Batang kemaluannya bergerak keluar masuk dengan cepat, membuat testisnya menampar-nampar pantat Vira. Sersan tidak peduli mendengar Vira berteriak kesakitan dan menjerit minta ampun ketika sodomi itu berlangsung. Saya melihat berulang kali batang kemaluan Sersan keluar masuk anus Vira tanpa henti. Akhirnya Sersan mencapai orgasme ia menarik batang kemaluannya dan sperma menyemprot keluar menyembur ke punggung Vira, kemudian menyembur ke pantat Vira dan mengalir turun ke pahanya, dan terakhir Sersan kembali memasukkan batang kemaluannya ke anus Vira lagi dan menyemprotkan sisa-sisa spermanya ke dalam anus Vira. Sersan kemudian melepaskan pegangannya dari pinggul Vira dan berdua dengan Polantas mereka keluar dari sel dan menguncinya. Saya masih dapat mendengar Sersan berkata pada Polantas, &#8220;Pantat paling hebat yang pernah ada. Dia bener-bener sempit!&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Dini hari, ketika Vira kelelahan menangis dan merintih, mereka berdua dengan langkah sempoyongan dan dengan botol bir di tangan masuk kembali ke dalam sel Vira. Mereka menendang tubuh Vira agar terbangun dan mereka mulai memperkosanya lagi. Sekarang Polantas menyodomi Vira sementara Sersan berbaring di bawah Vira dan memasukkan batang kemaluannya ke dalam kemaluan Vira. Kemudian mereka berganti posisi. Mereka juga menyiksa Vira dengan memasukkan botol bir ke dalam liang kemaluan dan anusnya sementara batang kemaluan mereka dimasukkan ke mulut Vira. Mereka terus berganti posisi dan Vira terus menerus menjerit dan menjerit hingga akhirnya ia kelelahan dan tak sadarkan diri. Melihat itu polisi-polisi tersebut hanya tertawa terbahak-bahak meninggalkan tubuh Vira yang memar-memar dan belepotan sperma dan bir.</p>
<p style="text-align: justify;">Keesokan paginya, Sersan masuk dan membuka sel kami.&#8221;Kalian boleh pergi.&#8221;Saya membantu Vira mengenakan pakaiannya. Tubuhnya lemah lunglai berbau bir dan sperma-sperma kering masih menempel di tubuhnya. Kami pergi dari kantor polisi itu dan akhirnya sampai ke rumah Vira. Kemudian saya membersihkan tubuh Vira dan menidurkannya. Ketika saya tinggal, saya mendengar ia merintih, &#8220;Jangan Pak, ampun Pak, sakit&#8230; ampuunn&#8230; sakiiit&#8230;&#8221;.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>TAMAT</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ceritasex.cn/kekasihku-diperkosa-polisi-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Nikmat Karaoke Membawa Sengsara Bagian 2</title>
		<link>http://www.ceritasex.cn/nikmat-karaoke-membawa-sengsara-bagian-2/</link>
		<comments>http://www.ceritasex.cn/nikmat-karaoke-membawa-sengsara-bagian-2/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 12 Jan 2012 12:11:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cerita Sex</dc:creator>
				<category><![CDATA[Daun Muda]]></category>
		<category><![CDATA[Pemerkosaan]]></category>
		<category><![CDATA[Seks Umum]]></category>
		<category><![CDATA[selingkuh]]></category>
		<category><![CDATA[Toket gede]]></category>
		<category><![CDATA[cuki]]></category>
		<category><![CDATA[klitoris]]></category>
		<category><![CDATA[kontol]]></category>
		<category><![CDATA[memek]]></category>
		<category><![CDATA[ngentot]]></category>
		<category><![CDATA[orgasme]]></category>
		<category><![CDATA[seks]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ceritasex.cn/?p=3272</guid>
		<description><![CDATA[&#8220;Uh.. saatnya untuk sedikit beraksi Ded!&#8221; kata Dedi dalam hati, lalu ia berdiri di belakang Shinta. Perlahan-lahan ia mendekati Shinta sampai kemaluannya menyentuh pantat Shinta. Shinta sedikit terkejut. &#8220;Hey, dia sengaja nggak ya?&#8221; pikirnya ragu. Sambil terus membungkuk, Shinta berpura-pura terus sibuk. Tapi sekarang ia menggerakkan pinggulnya pelan ke belakang sehingga menempel ketat dengan tubuh [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">&#8220;Uh.. saatnya untuk sedikit beraksi Ded!&#8221; kata Dedi dalam hati, lalu ia berdiri di belakang Shinta. Perlahan-lahan ia mendekati Shinta sampai kemaluannya menyentuh pantat Shinta. Shinta sedikit terkejut. &#8220;Hey, dia sengaja nggak ya?&#8221; pikirnya ragu. Sambil terus membungkuk, Shinta berpura-pura terus sibuk. Tapi sekarang ia menggerakkan pinggulnya pelan ke belakang sehingga menempel ketat dengan tubuh Dedi di belakang. Dedi mencoba mengatur nafasnya supaya tidak terdengar memburu. &#8220;Lho?? dia tau nggak sih?&#8221; pikirnya sesak. Shinta merasakan ada sesuatu yang keras menempel di pantatnya. &#8220;Ha ha sepertinya Dedi sedang terangsang. Satu sentuhan lagi lalu kuminta dia pulang..&#8221; batin Shinta riang. Lalu ia seperti membaca sesuatu di layar sambil menggerak-gerakkan pantatnya ke kanan dan ke kiri perlahan.</p>
<p style="text-align: justify;">Dedi benar-benar menikmati keadaan itu.&#8221;Oh ternyata nggak sesulit yang kukira, sebentar lagi kita pasti akan bercinta,&#8221; pikirnya sambil meletakkan tangannya di pinggul Shinta.&#8221;Ok Ded ini sudah aku print-kan, kamu tinggal belanja bahan-bahan saja, ok? kamu kalo keluar nanti tutup kembali ya pintunya aku mau kirim e-mail buat sepupuku dulu di sini,&#8221; kata Shinta sambil berbalik dan menyodorkan selembar kertas.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Aaa? dia menyuruhku pulang? jadi tadi itu cuma khayalan saja?&#8221; kata Dedi sambil mengambil kertas dari hadapannya. Ia berjalan keluar dengan pelan berharap Shinta memanggilnya lagi, ternyata tidak!&#8221;He he berani taruhan, pasti Dedi menyesal kalau pernah meminta obat ke sini,&#8221; batin Shinta sambil tersenyum lalu ia mulai mengetik surat.</p>
<p style="text-align: justify;">Tiba-tiba ia merasa tubuhnya tertarik ke belakang. Lalu tubuhnya terangkat dalam pelukan seseorang. Shinta mencoba melihat wajah seseorang yang mengangkatnya.&#8221;Hey Ded! ada apaa? eh turunin aku dong.. Dedi! ini nggak lucu ya?!&#8221; kata Shinta.&#8221;Shinta, sorry ya.. aku nggak bisa tahan. Kamu harus nurut, ok? Aku nggak pengen kamu luka,&#8221; kata Dedi dingin sambil membuang tubuh Shinta di sofa. Shinta menggigil ketakutan.&#8221;Dedi, kamu mau apa? jangan ya? Ded..&#8221; pinta Shinta menghiba ketika ia melihat Dedi membuka celana panjangnya. Dedi sudah tak peduli lagi. &#8220;Dengar Shinta, kalau kamu terus bicara aku bakal&#8230;&#8221; Plak! Dedi merasa pipinya panas. Mendadak birahinya berubah menjadi amarah. Dicengkeramnya baju Shinta lalu dengan sekuat tenaga dibukanya dengan paksa sehingga kancing baju itu jatuh berderai ke lantai. Shinta mulai terisak. Ia ingin teriak tapi tak kuasa mengeluarkan suara. Ia didera ketakutan yang amat sangat yang belum pernah ia alami seumur hidupnya.<br />
<span id="more-3272"></span><br />
Dedi menatap payudara yang terbungkus bra warna krem. &#8220;Hoho ternyata 34B. Bagus. Tidak terlalu besar dan akhirnya aku mengetahuinya walaupun dengan cara begini.&#8221; bathin Dedi sambil mengangkat bra itu ke atas. Kedua kakinya menahan tubuh Shinta bagian bawah sementara tangannya memegang kedua tangan Shinta. Ia mulai menjilati payudara itu. Lidahnya bergerak cepat membuat lingkaran yang mengecil di puting Shinta, Lalu ia menyedotnya keras. Shinta mencoba untuk mengontrol dirinya sehingga ia punya tenaga untuk berteriak. Dibiarkannya Dedi menyedot-nyedot puting susunya. Ia berusaha memblok gairah yang mendadak muncul di dirinya.</p>
<p style="text-align: justify;">Dedi benar-benar merasa sangat bergairah. Kemaluannya menegang keras. &#8220;Aku harus membuatnya terangsang supaya aku tidak terlalu kesulitan memasuki dirinya,&#8221; katanya sambil terus mengulum puting Shinta. Lalu bibirnya pindah ke leher. Dengan jilatan-jilatan kecil yang dibuatnya iabergerak ke arah telinga dan bagian dalam telinga Shinta. Hal itu membuat Shinta melenguh pelan lalu dengan cepat menutup mulut lagi. Dedi mendengar lenguhan itu dan itu menambah semangatnya. Dijilatinya lengan Shinta bagian dalam. Shinta meronta kegelian. &#8220;Ah ini akan memakan waktu..&#8221; kata Dedi. Ia melepaskan pegangan tangannya dari tangan Shinta lalu berbalik ke bawah. Kakinya menekan lengan Shinta sementara tangannya memegang kedua kaki Shinta. Shinta melihat ke atas. &#8220;Ahh.. mengapa tubuhku jadi lemas begini,&#8221; pikirnya sambil terisak.</p>
<p style="text-align: justify;">Dedi membuka rok Shinta ke atas. Dilihatnya paha putih bersih di hadapannya yang langsung ia terkam dengan mulutnya. &#8220;Aah harum sekali tubuh ini,&#8221; dijilatinya sampai pangkal paha, kedua paha itu hanya meronta-ronta pelan tertahan oleh kedua tangan kekar Dedi yang sangat menikmati aroma di pangkal paha Shinta. Dedi menggigit pelan pangkal paha itu sambil terus menjilatinya bergantian kiri dan kanan. Shinta terus mencoba menahan reaksi balik dari dalam dirinya. Ia menegangkan kedua pahanya tapi yang terjadi malah ia merenggangkan pahanya. Dedi menangkap itu sebagai isyarat penerimaan. Lalu diturunkan CD Shinta ke bawah lalu dengan rakus, sebelum dibenamkan mulutnya di sana, dirabanya sejenak, &#8220;Hm sudah lembab,&#8221; pikirnya sambil tersenyum. Dedi tidak bisa melihat memek Shinta dengan jelas tapi ia tak mempedulikannya. Lidahnya menerobos ke dalam dengan cepat dijilatinya seluruh dinding memek Shinta. Ditahannya kedua paha Shinta dengan sikunya, lalu jarinya membuka memek itu, sementara jari lainnya mencari klitoris. Dipindahkan lidahnya ke pangkal paha Shinta lagi sambil memijat pelan klitoris Shinta dengan ibu jari dan jarinya.</p>
<p style="text-align: justify;">Dedi merasa sangat tidak leluasa, ia mengangkat kepalanya dan menoleh ke belakang. &#8220;Shinta aku cuma minta kamu jangan berteriak ok? aku mau berdiri sekarang.. kalau kamu mencoba teriak aku bakal menyakiti kamu lebih dari yang kamu bayangkan, ngerti kamu?!&#8221; kata Dedi sambil mengguncang tubuh Shinta pelan. Shinta tak menjawab, ia hanya terisak dan melempar pandangannya ke samping. Dedi tersenyum berdiri dan berlutut di bawah. Ditariknya kedua kaki Shinta, lalu dibukanya lagi memek Shinta. Kali ini ia dapat melihat memek itu dengan jelas. Dijilatinya pelan semakin lama semakin cepat ke arah klitoris.</p>
<p style="text-align: justify;">Shinta terisak lagi, kali ini ia sendiri tak yakin itu refleksi kesedihan atau gairahnya.Shinta terguncang hebat tubuhnya menggigil setiap kali lidah Dedi menyentuh klitorisnya, ia merasa masih bisa menahan dirinya, tapi gerakan lidah Dedi di klitorisnya membuatnya menahan beban yang sangat berat, dengan satu helaan nafas panjang ia memejamkan matanya dan membiarkan dirinya terbawa.</p>
<p style="text-align: justify;">Shinta mulai merasa ada sesuatu yang berasal dari otot kewanitaannya yang berdenyut seirama detak jantungnya, makin lama perasaan itu makin kuat menjalari otot di pangkal pahanya. Tiba-tiba ia merasa perasaan nikmat menjalar cepat dari memeknya, setiap gerakan lidah Dedi yang berirama tetap di klitorisnya menumpukkan perasaan nikmat yang semakin membesar lalu pandangannya mengabur sejenak, nikmat itu berjalan cepat dari memek menyebar ke seluruh tubuhnya, ke otot di daerah pantatnya, menyelusuri otot belakang tubuhnya menghujam dadanya. Ia merasa putingnya menyusut kecil dan mengeras, telinga, hidung, dan matanya seakan tak berfungsi sejenak.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Aduh.. setan! aku orgasme!&#8221; bathin Shinta pelan.Shinta tersengal sengal mengatur nafasnya. &#8220;Hah.. tenagaku habis untuk menahan diri?!&#8221; Shinta mencoba mengangkat tangannya dengan lemah. Dikumpulkannya kekuatan sejenak, lalu ia mencoba berteriak, &#8220;To.. tolong!&#8221; teriaknya pelan.Dedi merasa terkejut, diangkatnya kepalanya, lalu ia berdiri, &#8220;Aku tadi sudah memperingatkan kamu, supaya jangan..&#8221;Ia berkata sambil meraih vas bunga di sampingnya, &#8220;Coba-coba untuk berteriak?! ternyata kamu kurang jelas ya?&#8221; diletakkan vas itu di samping kepala Shinta lalu dipukulnya hingga berkeping-keping, &#8220;Mengerti Shinta?&#8221;"Aw.. iya, ampun Ded,&#8221; kata shinta sambil kembali terisak-isak.</p>
<p style="text-align: justify;">Dedi membuka celana dan celana dalamnya, lalu ia memegang kemaluannya dan mengarahkannya ke wajah Shinta.&#8221;Tidak, Ded jangan&#8230; aku nggak mau, aku&#8230;&#8221; Shinta memejamkan matanya ketika kemaluan Dedi menyentuh pipinya, lalu ke hidung dan matanya dan turun ke bibirnya. Dedi menggeserkan batang kemaluannya dengan perlahan di bibir Shinta. Lalu ia melihat ada cairan bening di kepala kontolnya lalu diarahkan kepala kontolnya ke bibir Shinta. Lalu ia berjalan dua langkah ke belakang, ditariknya kedua kaki Shinta dan dibukanya paha Shinta lebar-lebar, lalu ia mengarahkan kemaluannya ke memek Shinta. Dedi merasa kontolnya melewati ruang yang sempit. Dibenamkan kontolnya sedalam-dalamnya, dibiarkan sejenak, ia mengangkat kepalanya dan melihat wajah Shinta yang berkerut alisnya, lalu diturunkan lagi wajahnya ke samping kepala Shinta, sambil mulai memompa pantatnya dengan irama yang tetap, selang 15 detik Shinta mulai mendesis seirama gerakan pantatnya, lalu ia menaikkan tempo gerakannya sedikit, Shinta mulai gelisah, mulutnya terbuka, &#8220;Oooh.. ooohh..&#8221;lirihnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Dedi menjadi semakin terangsang setelah mendengar desahan di telinganya. Ia berhenti bergerak, lalu mencabut kontolnya keluar, dilihatnya Shinta masih memejamkan mata sambil membuka mulutnya, lalu digesernya tubuh Shinta menjadi setengah terduduk, kakinya menjulur ke lantai. Dengan pelan diangkatnya kedua kaki Shinta, lalu dilingkarkan kedua tangannya melingkari pinggul Shinta. Lalu ia mulai memompa lagi. Pantat Shinta terangkat ke atas oleh tangan Dedi yang melingkar. Shinta merasa tubuhnya dihujami oleh kontol dedi secara kasar, tapi sedikit demi sedikit kenikmatan yang tadi datang lagi membentuk kelompok kecil yang makin membesar, dilemahkan tubuhnya sehingga Dedi bisa mengangkat pinggulnya lebih tinggi. Sementara kedua tangan Shinta berayun-ayun di udara seirama gerakan mereka.</p>
<p style="text-align: justify;">Dedi merasa memek Shinta seakan mengelus-elus seluruh bagian kontolnya, membuat ia merasa geli, memek Shinta terasa sangat hangat dan mencengkeram erat di kontolnya, ia mulai mempercepat gerakannya, dirasakannya tubuh Shinta mulai menegang. Sambil terus memompa ia melihat sekeliling, lalu pandangannya terbentur ke foto perkawinan Shinta dan Boy. Tiba-tiba perasaannya meninggi, ia melihat Shinta tampak anggun dengan baju pengantinnya, lalu dialihkan pandangannya ke bawah dimana Shinta terayun-ayun tak berdaya dan sedang mendaki puncak dengannya.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Ah Shinta kamu cantik sekali..&#8221; katanya.Shinta membuka matanya, menatap sayu ke Dedi, ia berusaha tak menjawab tetapi mulutnya mengeluarkan erangan tak jelas, &#8220;Aah.. a..aah..&#8221; Dedi merasa ia akan orgasme, diangkatnya lagi pinggul Shinta lebih tinggi membuat tubuh Shinta tertekuk di udara, lalu dengan kecepatan penuh ia menggerakkan pantatnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Shinta merasa pandangannya kembali gelap, seluruh tubuhnya mengejang, tubuhnya seakan dihujani oleh kenikmatan badani yang tidak bisa ia ketahui kapan berakhirnya, lalu ia merasa ada cairan hangat menyentuh ujung liang senggamanya dan tubuh Dedi mengejang keras di atasnya, membuat perasaanya sangat aneh, ia tak pernah mengalami sensasi bercinta seperti ini. Sementara Dedi memeluk erat tubuh Shinta, dibiarkan kontolnya menguras spermanya di dalam memek Shinta.Aroma tubuh Shinta menjadi semakin jelas di hidung Dedi ketika ia mengalami orgasme ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Dedi menarik dirinya dan berdiri, sambil memunguti pakaiannya ia berjalan ke arah dapur. Ketika ia menuangkan air ke dalam mulutnya. Tiba-tiba akal sehatnya kembali, cepat-cepat ia memakai pakaiannya dan berlari ke ruang tamu, didapatinya Shinta sedang memeluk kedua kaki sambil melamun.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Shinta.. eh, aku mau..&#8221; kata Dedi gugup, lalu ia melangkah hendak membuka pintu keluar.Shinta memandang Dedi. Lalu memanggil, &#8220;Ded..&#8221;Dedi menoleh ke belakang, Shinta berdiri dan berkata, &#8220;Aku mau bicara nanti, matikan answering machine telepon kamu ok?&#8221;Dedi mengangguk heran lalu berkata, &#8220;Aku minta maaf Shin, karena&#8230;&#8221;Tak selesai perkataannya karena pintu itu terbanting tepat di depan hidungnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Tiga jam kemudian Dedi sedang bersiap untuk pergi keluar kota, ia sudah memesan tiket pesawat.&#8221;Kali ini aku menikmati Bali,&#8221; katanya sambil menatap tiketnya.Tiba-tiba telepon rumahnya berdering, &#8220;Haloo!&#8221; katanya riang.&#8221;Ded.. ini Shinta, aku ingin kamu sekarang ke rumah, puaskan aku lagi, lagi dan setiap saat aku menginginkannya, kalau kamu menolak aku punya rekaman video kejadian tadi siang yang siap disaksikan oleh Boy dan Polisi, aku harap kamu bisa bekerja sama, ok?&#8221; lalu terdengartelepon tertutup.Dedi tak mempercayai pendengarannya, ditatapnya tiket pesawatnya, kepalanya mendadak pusing, ini bukan lagi pemenuhan fantasinya, ia merasa sangat bingung. Dibantingnya koper ke dinding lalu ia ke kamar mandi untuk mencuci wajahnya.&#8221;Tidak..! ini mimpi buruk, ayo bangun Ded, liburan sudah menunggu!&#8221;Ketika berjalan ke wastafel dilihat wajahnya di cermin, &#8220;Ayo, mana wajah predator ini?&#8221;Terpantul wajah yang sama di cermin, namun sekarang adalah wajah budak seksual.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>TAMAT</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ceritasex.cn/nikmat-karaoke-membawa-sengsara-bagian-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jaga Rental</title>
		<link>http://www.ceritasex.cn/jaga-rental/</link>
		<comments>http://www.ceritasex.cn/jaga-rental/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 13 Dec 2011 22:50:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cerita Sex</dc:creator>
				<category><![CDATA[Gangbang Rame Rame]]></category>
		<category><![CDATA[kisah nyata]]></category>
		<category><![CDATA[Paruh baya]]></category>
		<category><![CDATA[Pemerkosaan]]></category>
		<category><![CDATA[Tante Girang]]></category>
		<category><![CDATA[blowjob]]></category>
		<category><![CDATA[juliet]]></category>
		<category><![CDATA[mini]]></category>
		<category><![CDATA[ml]]></category>
		<category><![CDATA[ngentot]]></category>
		<category><![CDATA[setan]]></category>
		<category><![CDATA[tante]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ceritasex.cn/?p=3217</guid>
		<description><![CDATA[Cerita ini diawali pada saat saya sedang menjaga rental VCD punya teman. Saat itu saya bertiga, saya dan 2 orang cewek teman saya. Jam menunjukkan pukul 23:50 WIB. Karena setengah jam lagi akan tutup, maka 2 teman saya pamit pulang. Saya tidak ikut pulang karena tempat itu sekaligus juga rumah saya. Beberapa menit setelah teman [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Cerita ini diawali pada saat saya sedang menjaga rental VCD punya teman. Saat itu saya bertiga, saya dan 2 orang cewek teman saya. Jam menunjukkan pukul 23:50 WIB. Karena setengah jam lagi akan tutup, maka 2 teman saya pamit pulang. Saya tidak ikut pulang karena tempat itu sekaligus juga rumah saya. Beberapa menit setelah teman saya ulang, ada mobil berhenti di depan rental. Samar-samar saya melihat di dalam mobil ada 2 orang cewek.&#8221;Mungkin dia mau pinjam kali ya&#8230;&#8221; pikir saya saat itu.Setelah itu pintu mobil terbuka, dan terlihatlah kaki putih mulus nan indah. Ketika kaki itu mendarat di tanah, cewek itu menurunkan roknya yang panjang (lho kok bisa sih..?). Terus tadi ketika dia mau turun dari mobil, kakinya yang putih itu kelihatan. Saya curiga, pasti ada yang tidak beres nich. Tapi masa bodoh ah&#8230; (emang gue pikirin). Pintu yang satunya terbuka, dan munculah cewek satu lagi, dia menggunakan celana dan kaos kentat, sehingga payudaranya yang lumayan besar kelihatan putingnya yang panjang. 2 cewek yang kira-kira sudah berstatus tante-tante ini mulai memasuki rental. Mereka lihat sana lihat sini, kelihatannya mereka bingung memilih.</p>
<p style="text-align: justify;">Ketika sedang memilih itulah awal dari kisah seru ini, tante yang pakai celana kentat itu sedang melihat CD yang letaknya agak ke tengah, jadi dia harus menungging kalau mau lihat CD tersebut. Ketika dia menungging, ohhh&#8230; begitu indah lekuk tubuhnya, dan itu ohhh.., itu belahan kemaluannya tergambar di celana kentatnya. Ahhh&#8230; mana tahan&#8230; batang kejantananku langsung saja tegang.. tegang.. dan tegang&#8230; Karena saya lagi asyik memperhatikan tante yang bercelana kentat, saya tidak tahu kalau tante yang satunya mengawasi saya. Tiba-tiba saya terkejut karena ada suara CD jatuh di sebelah kanan saya. Langsung saja saya menoleh ke kanan.. dan ahh&#8230; mimpi kali ya&#8230; Saya seperti tidak berada dalam alam sadar. Tante yang memakai rok tadi, ketika mengambil CD yang jatuh itu, roknya tersingkap ke atas, dan oh.. belahan pantatnya yang putih mulus dan tentu saja kemaluannya yang gemuk itu kelihatan masih ok. Vagina itu kelihatan jelas, karena bulu kemaluannya sepertinya sudah dicukur habis. Ohhhh&#8230; mana tahan&#8230; benar-benar malam yang berkesan bagiku.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Mas, lagi lihat apa sih, kok matanya sampai melotot gitu..?&#8221;Tiba-tiba ada suara yang mengagetkan ketika saya lihat dari arah depan, dan ternyata tante yang bercelana kentat itu sudah berada di depan saya. Oh begitu cantik dan harum sekali, body-nya yang &#8216;uhui&#8217; itu membuat saya menjadi termenung lagi.&#8221;Ihhh.. Mas ini nakal deh, ditanya kok malah melototin gue&#8230; naksir ya..?&#8221; katanya.Saya tersadar lagi dan seakan tidak percaya dia berkata seperti itu.&#8221;Saya harus memanggil apa nich, Ibu, Tante, Mbak atau Nona-Nona..?&#8221; kataku.&#8221;Ehhh&#8230; darimana Mas tahu kalau saya sudah menikah..?&#8221; katanya lagi. Sebelum menjawab, saya penasaran ingin melihat ke tante yang tadi. Saya melirik sedikit ke kanan, ehh.. dia sudah tidak ada. Gila, cepat benar tu cewek menghilangnya.&#8221;Ehhh.. begini&#8230; saya tahu, karena di jari manis Ibu.. eee.. Tante.. eee.. Mbak.., ada cincinnya.&#8221; kataku lagi.&#8221;Mas pintar juga ya, Mas boleh panggil Tante atau Mbak&#8230;&#8221; katanya sambil tersenyum.Ehmm&#8230; tambah cantik saja nih tante genit.&#8221;Eee&#8230; Tante mau pinjam film apa..? Kok keliatannya dari tadi bingung milihnya&#8230; biar nanti saya yang nyariin, mungkin ketemu.&#8221; kataku berlagak sok pahlawan.<br />
<span id="more-3217"></span><br />
&#8220;Mas namanya siapa sih, kalau boleh tante tahu&#8230;? katanya.&#8221;Sony tante..&#8221; kata saya.&#8221;Aduh.. kalau gitu Mas sudah dong kenal dengan Tante..&#8221; katanya.&#8221;Masak sih Tante, rasanya kita baru aja ketemu deh&#8230; ya nggak Tante..&#8221; kataku penasaran.&#8221;Sony udah lama kenal dengan Tante, tiap pagi kalau pas Tante lagi mandi, Sony selalu ngintip Tante dari dalam bak cucian. Pas Tante lagi beol, Tante jadi malu.. terpaksa Tante tutup anu Tante pakai tangan biar nggak dilihat sama Sony. Terus pas Tante lagi bersihin anu Tante. Ya khan..? Sony ngaku aja deh..!&#8221; katanya manja.&#8221;Sony ngintip Tante mandi dari bak cucian..? Mana cukup badan Sony yang besar gini ngumpet di bak cucian..? Ahh Tante becanda ya..?&#8221; kata saya bingung.&#8221;Nggak kok Son, Tante memang becanda&#8230; yang Tante maksud itu sebetulnya celana dalam suami Tante yang merk-nya SONY&#8230; sorry ya&#8230;&#8221; katanya.&#8221;Nggak pa-pa, tapi boleh nggak Sony ngintip Tante mandi lagi..?&#8221; kata saya menggoda.&#8221;Ahhh.. Sony kamu nakal ya..! Emangya kamu nggak pernah ngintip cewek kamu pas mandi ya..?&#8221; katanya.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Sony belum punya pacar Tante, masih single man gicu..?&#8221; kata saya.&#8221;Jadi kamu bebas dong kencan dengan siapa aja&#8230;&#8221; katanya.&#8221;Ya.. ya.. ya..&#8221; kata saya girang.&#8221;Oh ya. Tante, nama Tante siapa sih..? Dan teman Tante yang satu lagi tadi..?&#8221; kata saya.&#8221;Juliet, dan teman Tante tadi&#8230; mana dia ya..? Min.. Min.. kesini deh..!&#8221; teriaknya.Terus tante yang tadi membuat saya kelabakan mendatangi kami. Dan &#8216;uhui&#8217;, dia juga cantik lho, wow.. wajahnya sungguh manis, mirip boneka padahal dia sudah menikah.&#8221;Min.. kenalin ini Sony.. Son ini Mini teman Tante. Cantik ya..?&#8221; katanya.&#8221;Sony..&#8221; kata saya sambil melihat wajahnya yang manis.&#8221;Mini.. Son, kamu ganteng juga ya.. ya nggak Yul..?&#8221; katanya sambil menyubit tangan Tante Juliet.&#8221;Ya lho Son, kamu ganteng sekali lho..!&#8221; katanya.&#8221;Akh.. Tante ini ada-ada saja.. Oh ya, Tante jadi nggak pinjam CD-nya..?&#8221; kataku.&#8221;Ha.. pinjam CD..? Akhh.., kamu nakal deh..! Tante khan udah pakai CD sendiri.&#8221; kata Tante Mini.&#8221;Akhh.. Tante becanda lagi.. tapi tadi Sony lihat Tante Mini tidak pakai CD.&#8221; kata saya.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Eee.. kamu nakal ya.. kamu ngintip ya.. kamu jahat deh..!&#8221; katanya.&#8221;Sorry deh Tante.. Sony nggak sengaja tadi lihat punya Tante..&#8221; kata saya meminta maaf. &#8220;Udah ah.., kalian berdua becanda aja.. Son, Tante mau pinjam film &#8216;ehek-ehek&#8217;, ada nggak..?&#8221; katanya.&#8221;Eee&#8230; tapi kuncinya dibawa temen saya, Tante. Jadi nggak bisa masuk ke kamar XXX..&#8221; kata saya mencoba menjelaskan.&#8221;Apa sih kamar XXX itu, Son..?&#8221; tanya Tante Mini.&#8221;Eee.. Kamar penyimpanan VCD BF Tante&#8230; takut kalau ada penggeledahan..&#8221; kata saya.&#8221;Emangnya kamu nggak bawa kunci serepnya Son..?&#8221; tanya Tante Juliet.&#8221;Eee.. itu bukan sembarang kunci Tante. Begini Tante.., Sony akan jelaskan. Pintu kamar itu terbuat dari baja bikinan orang Amerika, Tante. Jadi meskipun di rudal pakai bom apapun, pintu itu tidak akan bisa jebol, terus di depan pintu itu ada eee.. Aduh nggak enak nih..&#8221; kata saya agak ragu untuk menjelaskan.&#8221;Kamu nggak usah ragu-ragu deh..!&#8221; kata Tante Juliet. &#8220;Eee.. di depan pintu itu bukan lubang kunci, tapi disitu ada benda berbentuk anu cowok, tapi terbuat dari bahan yang elastis.</p>
<p style="text-align: justify;">Kalau kita mau masuk, maka terlebih dahulu teman cewek Sony harus main dulu ama itu &#8216;mainan&#8217;, terus pas temen Sony udah klimaks, cairannya khan nyemprot ke dalam alat itu&#8230; Nah, disitu cairan itu akan diperiksa, bila cocok dengan contoh sample di dalam, maka pintu itu akan terbuka. Jadi bukan sembarang orang bisa masuk ke kamar itu, meskipun dia itu cewek kayak Tante berdua&#8230;&#8221; kata saya.&#8221;Wow, canggih juga&#8230; terus gimana dong..? Tante udah nggak tahan nih..!&#8221; kata Tante Mini sambil menggaruk anunya.Aduh gila benqr nih cewek, saya ingin mengetest Tante Mini, apakah dia seliar tingkah lakunya. Tapi&#8230; mimpi kali ya..? &#8220;Son, bisa nggak Tante berdua minta tolong..? Kamu bisa khan muasin nafsu Tante yang sedang kesepian ini, ya khan Sayang..?&#8221; kata Tante Mini manja.&#8221;Aduh, gimana ya Tante, nanti kalau pacar dan sephia Sony tahu gimana dong jadinya..?&#8221; kata saya ragu tetapi girang.&#8221;Sony sayang, hanya semalam aja kok ya.. Mau ya..? Masak sih kamu nolak tubuh sesintal ini..?&#8221; kata Tante Juliet sambil berbalik arah, terus menungging, terus menggoyang pantatnya naik-turun.</p>
<p style="text-align: justify;">Melihat pemandangan indah itu, batang kejantanan saya menjadi naik 100%.&#8221;Iya lho Son, masa sih kamu nolak kami&#8230; dan kamu nggak usah kuatir deh.. masalah uang kami akan ngasih berapapun yang kamu mau&#8230; Ya sayang ya..? Puasin Tante ya..?&#8221; kata Tante Mini sambil mendekat ke arah saya.Terus dia berbalik arah juga, dan setelah itu dia mengangkat roknya ke atas, dan ohhh.. mana tahan.. vaginanya yang merah delima itu kelihatannya sudah setengah basah dan terlihat merekah ohhh.. &#8220;Iya deh Tante, tapi Sony tutup rental dulu ya..?&#8221; kata saya sambil terus berdiri dari kursi.Tetapi alangkah terkejutnya saya, batang kejantanan saya telah merobek resleting celana saya. Saya ingat tadi saya tidak memakai celana dalam, jadi sekarang batang kemaluan saya menyumbul dari celana saya.&#8221;Aduh.. Sony sayang.. batangmu besar lho.. aduh Tante nggak bisa ngebayangin deh gimana rasanya nanti kontol kamu masuk ke memek Tante yang masih sempit ini&#8230; aduh nikmat kali ya..?&#8221; kata Tante Mini sambil memegang dan mengelus batang kejantanan saya.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Wow.. Son, punya kamu besar ya.. Tante kayaknya udah nggak tahan pingin ngerasain punya kamu&#8230; hiii&#8230; lucu ya kepalanya mirip helm NAZI.. Memek Tante bisa robek nih..!&#8221; kata Tante Juliet sambil ikut mengelus batang kemaluan saya. &#8220;Sabar dong Tante, Sony mau nutup rental dulu. Tante masuk aja ke ruangan sebelah ya..! Nanti Sony nyusul..!&#8221; kata saya.&#8221;Jangan lama-lama ya Sayang.. Tante udah nggak tahan nih..!&#8221; kata Tante Mini.Lalu, saya bergegas menutup rental, setelah itu saya masuk ke ruangan dimana kedua tante itu berada.&#8221;Oh ya.. Tante-Tante mau minum apa..?&#8221; kata saya.&#8221;Softdrink yang dingin ya Son..&#8221; kata Tante Juliet.Sementara Tante Mini sepertinya agak kurang sabar, dia terus mengobok-obok vaginanya. Lalu saya mengambilkan 3 coke dari dalam kulkas, dan kusodorkan pada kedua tante itu. Setelah mereguk coke sekaleng, Tante Mini yang dari tadi tidak sabar, langsung saja pindah ke pangkuan saya dan mulai menciumi bibir saya tanpa basa-basi. Kubalas ciuman Tante Mini, sementara tangan saya mengelus-elus punggungnya, dan terus menuju pinggulnya yang memang wuih itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Sementara Tante Juliet hanya menonton adegan kami berdua. Tangan Tante Mini tidak kalah gesitnya mulai membuka pakaianku dan terus meraba-raba dada serta puting saya sambil bibirnya yang sensual itu terus melumat bibir saya. Saya juga terus segera membuka baju Tante Mini dan BH-nya, maka terlihatlah dua buah gunung Himalaya dengan putingnya yang mancung. Mula-mula kuciumi dan kulumat serta kumainkan putingnya yang sudah super menegang itu.&#8221;Akkhh.. Sshh&#8230; Sony sayang&#8230; kamu pintar sekali.. ohhhh.. yesss.. terus.. Son.. ohhh..&#8221; katanya sambil tangannya meremas rambut saya.Setelah itu saya mulai merayap ke selangkangannya, kugosok-gosok klitorisnya dengan tangan kiri saya dan saya masukkan 2 jari tangan kanan saya ke vaginanya. Uhhh&#8230; benar-benar sempit.&#8221;Ohhh&#8230; yess&#8230; Son&#8230; terusss&#8230; sshh&#8230; yess.. Fuck me with your hands.. ohh&#8230;&#8221; desah Tante Mini. Sementara itu, saya melihat Tante Juliet mulai membuka pakaiannya satu persatu. Saya memperhatikannya meskipun saya sedang asyik dengan pekerjaan saya. Tante Juliet yang sudah telanjang itu mulai mendekati kami dan ikut meraba batang kejantanan saya.</p>
<p style="text-align: justify;">Lalu tangan kanan saya pindah ke payudara Tante Juliet yang lebih mancung dari temannya ini. Kugesek-gesekkan dengan perlahan, dan kupuntir ke kiri dan ke kanan.&#8221;Ohhh&#8230; terus Son, ohhh&#8230; yesss..!&#8221; kata Tante Juliet.Tante Juliet terus memainkan batang kejantanan saya dengan memijat-mijat, lalu kepalanya mulai didekatkan ke batang kejantanan saya, dan &#8220;Sruppp..&#8221; masuklah batang kejantanan saya ke mulut yang sensual itu. Dihisap, dikocok, dihisap, dikocok, dihisap, wuihh&#8230; sedap&#8230; ahh. Sementara itu Tante Mini yang sudah tidak tahan, langsung mendesah, &#8220;Ssshhh&#8230; aahh&#8230; Sonn.. ohhh.. yesss..!&#8221; sambil tangannya meremas rambut saya dengan kerasnya. Sepertinya dia akan keluar, otot dindingnya mengencang dan, &#8220;Ahhh&#8230; yess&#8230; aahh&#8230;&#8221; desahnya sambil tangannya mendorong dan menarik kepala Tante Juliet agar batang kejantanan saya dapat lebih masuk ke mulut Tante Juliet.Rupanya Tante Mini telah klimaks, kemudian jari kiri saya terus kukocok-kocok dalam vaginanya secara cepat (350 km/jam).&#8221;Ahh.. hhmm&#8230; sshhh&#8230; yesss..!&#8221; dia menegang dan mulai menghentikan gerakannya secara perlahan.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Ohhh.. yesss&#8230; Sony sayang kamu pintar sekali&#8230; ohhhh&#8230; yesss..!&#8221; katanya sambil mengelus kepala saya.Lalu saya merubah posisi. Sekarang saya berbaring di bawah, saya merebahkan tubuh saya yang mulai penuh keringat. Lalu Tante Mini mulai menaiki tubuh saya, dan tangannya meraih batang kejantanan saya untuk diarahkan ke vaginanya yang sudah mulai agak kering. Digosok-gosok sebentar batang kejantanan saya ke vaginanya yang sudah merekah itu. Lalu dengan perlahan dia menurunkan pantatnya.&#8221;Ohh.. Son&#8230; nikmat sekali kontolmu&#8230; ohhh..!&#8221; desahnya sambil terus menaik-turunkan pantatnya yang bulat itu, sehingga mulai melahap batang saya dalam vaginanya.&#8221;Ohhh&#8230; yesss.. Tante&#8230; terus..!&#8221; saya mulai terangsang karena jepitan vaginanya.Sementara itu, Tante Juliet mulai mendekati saya terus mengangkangi kakinya tepat di atas wajah saya dan mulai menurunkan pantatnya.&#8221;Ayo.. Son&#8230; jilatin punya Tante..!&#8221; katanya sambil terus menurunkan dan menggoyangkan pantat dan liang senggamanya ke arah wajah saya. Karena lebatnya bulu kemaluannya itu, saya hampir bersin dibuatnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Lalu saya jilati dengan perlahan klitorisnya hingga dinding lubang vaginanya mulai meneteskan cairannya.&#8221;Sss.. hhhmm&#8230; aakkkhh&#8230; yesss&#8230; terus Son..!&#8221; desahnya.Sementara itu Tante Mini terus naik turun hingga terdengar decak antara saya dan dia.Beberapa saat kemudian, &#8220;Ohhh&#8230; Son, Tante mau keluar.. ohhh&#8230; yesss..!&#8221; desahnya.Karena saya sedang sibuk, jadi saya tidak dapat bicara apa-apa.Dan, &#8220;Crett&#8230; crottt.. critt..!&#8221; muncratlah cairan Tante Mini.&#8221;Ohhh.. yesss&#8230; Son kamu sungguh hebat sayang..!&#8221; katanya sambil mencabut batang kejantanan saya dari liang senggamanya dan terus menjilati batang kejantanan saya yang basah itu. Lalu saya suruh Tante Juliet untuk merebahkan badannya di bawah, dan dia terus melebarkan kakinya yang putih mulus dan indah itu. Karena sekarang tante agak mengangkang lebih lebar, jadi vaginanya yang merah kehitaman itu terlihat. Saya lalu mengarahkan batang kejantanan saya ke vagina Tante Juliet, dan perlahan saya dorong hingga masuk seluruhnya.&#8221;Akhhh&#8230; yesss&#8230; fuck me darling..! Ohhh..!&#8221; desahnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Sementara Tante Mini tertidur, saya terus menggoyang tubuh saya maju-mundur, dan hebatnya Tante Juliet juga ikut menggoyang pinggulnya mengikuti irama. Batang kejantanan saya terasa dipelintir, tetapi makin asyik saja. Kutambah &#8216;gigi&#8217;, hingga gerakanku menjadi lebih dasyat. Dengan kecepatan penuh, saya menggoyang terus hingga terdengar kecipak-kecipak. Karena seranganku, Tante Juliet jadi meram melek matanya menikmati keluar masuknya batang penis saya dalam liang senggamanya. &#8220;Akhh&#8230; Sonnn&#8230; yesss..!&#8221; desahnya sambil jarinya mencengkeram tangan saya dan kukunya menancap ke kulit saya.Tubuhnya mengejang sesaat, lalu melemas tetapi saya masih asyik menikmati vaginanya dengan terus memasukkan penis saya ke dalam vaginanya yang banjir. &#8220;Akhh&#8230; yesss&#8230; Tante keluarrr.. Sonnn..!&#8221; sambil menancapkan dalam-dalam vaginanya ke batang kejantanan saya.Saya yang merasa belum keluar terus saja menggenjot gerakan saya. Dan tidak lama kemudian, saya akhirnya keluar juga. Saya mencabut batang kejantanan saya dari vaginanya Tante Juliet dan merebahkan tubuh di sampingnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Tangan Tante Mini dan Juliet secara bergantian membelai batang kejantanan saya. &#8220;Sony sayang, terima kasih ya.. kamu telah membuat kami melayang ke langit ketujuh..&#8221; kata Tante Juliet sambil terus membelai batang kejantanan saya.Lalu kami bertiga terkulai lemas dengan posisi saya di tengah, dan kedua cewek cantik itu di samping saya. Lalu saya tertidur hingga pagi. Ketika saya bangun, saya masih dalam keadaan telanjang. Tetapi anehnya kedua tante itu sudah tidak ada. Mata saya tertuju pada setumpuk uang di samping saya. Pasti dari tante-tante itu. Setelah itu, saya masukkan beberapa uang itu ke kas rental, dan sisanya masuk ke kantong saya. Lalu saya mandi, membersihkan bekas-bekas tadi malam. Dan setelah itu saya membuka rental dan saya lihat di depan, koran sudah datang. Saya ambil koran dan melihat halaman depannya.&#8221;Copot.. eee.. copot.. jantungku&#8230;&#8221; dalam hati saya bergumam.Serasa tidak percaya, disitu tertulis &#8220;MOBIL MENABRAK POHON ASEM, 2 CEWEK TEWAS&#8221;. Dan disitu disebutkan bahwa nama kedua cewek itu Juliet dan Mini.</p>
<p style="text-align: justify;">Ohhh.. Ya Tuhan.., jadi tadi malam saya bercinta dengan hantu. Saya hampir saja muntah gara-gara berita itu. Lalu saya bergegas mengambil uang dari kedua tante itu dari kantong baju saya. Ohhh.., syukurlah uangnya masih tetap ada. Benar-benar peristiwa yang tidak masuk akal.</p>
<p style="text-align: justify;">TAMAT</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ceritasex.cn/jaga-rental/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Istri-Istri Pamanku Bagian 3</title>
		<link>http://www.ceritasex.cn/istri-istri-pamanku-bagian-3/</link>
		<comments>http://www.ceritasex.cn/istri-istri-pamanku-bagian-3/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 13 Dec 2011 22:23:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cerita Sex</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pemerkosaan]]></category>
		<category><![CDATA[Sedarah]]></category>
		<category><![CDATA[Seks Umum]]></category>
		<category><![CDATA[selingkuh]]></category>
		<category><![CDATA[birahi]]></category>
		<category><![CDATA[gairah]]></category>
		<category><![CDATA[istri]]></category>
		<category><![CDATA[istri pamanku]]></category>
		<category><![CDATA[ngentot]]></category>
		<category><![CDATA[toket]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ceritasex.cn/?p=3209</guid>
		<description><![CDATA[Sambil masih memilin puting kirinya dan menciumi lehernya, aku membuka ritsluiting celanaku, menurunkan sedikit celana dalamku, lalu kukeluarkan penis raksasaku. Tangan kananku menjulur kebawah lalu dengan sekali tarik kuangkat ujung baju kebayanya ke atas sehingga punggung mulus berhias tali beha hitam milik isteri Mang Iyus itu kini terpampang di hadapanku. Kuletakkan penisku yang sudah sangat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Sambil masih memilin puting kirinya dan menciumi lehernya, aku membuka ritsluiting celanaku, menurunkan sedikit celana dalamku, lalu kukeluarkan penis raksasaku. Tangan kananku menjulur kebawah lalu dengan sekali tarik kuangkat ujung baju kebayanya ke atas sehingga punggung mulus berhias tali beha hitam milik isteri Mang Iyus itu kini terpampang di hadapanku. Kuletakkan penisku yang sudah sangat tegang itu di atas kulit mulus punggung Bi Laha. Lagi-lagi Bi Laha membuka matanya dengan pandangan kebingungan, antara keinginan melihat penisku bercampur dengan ketakutan akan melakukan persetubuhan dengan lelaki bukan suaminya. Ia hanya bisa mengerang dan menggelinjang sambil menoleh menatapku ketika dirasanya daging keras penisku mulai menggesek-gesek kulit halus punggungnya, dirasanya punggungnya mulai ditetesi oleh cairan bening yang keluar dari lubang penisku. Bi Laha benar-benar terlihat berada di simpang jalan.</p>
<p style="text-align: justify;">Ia begitu bergairah dengan sensasi yang belum pernah dialaminya selama hidup, namun ia begitu ketakutan melihat keponakannya dengan penuh nafsu tengah meremas-remas susunya, memilin putingnya, menggesekkan penis di punggungnya, dan&#8230; perempuan itu dengan mudah menebak bahwa perbuatan ini akan berakhir dengan persetubuhan!Jam dinding berdentang keras menandakan pukul 8 malam. Waktu dimana Mang Iyus biasa pulang. Seakan tersadar dari mimpinya, Bi Laha meronta dan menahan kedua tanganku yang masih sibuk meremas buah dada dan putingnya, &#8220;Fi&#8230; tolong.. stoop.. inget Fi.. kamu keponakan bibi..&#8221; Sambil berkata, perempuan itu menjauhkan kedua tanganku dari buah dadanya. Tak kehilangan akal, begitu terlepas dari puting, tangan kananku langsung menyambar selangkangannya dan meraba gundukan daging di balik kain jarik yang sudah tak karuan bentuknya itu. Dengan cepat tanganku mengocok vagina Bi Laha dari luar.</p>
<p style="text-align: justify;">Bi Laha sempat terbelalak melihat reaksiku, ia sama sekali tak menduga gerakanku dan matanya tampak terkejap-kejap menikmati kocokan jemariku di celana dalam nilon yang menutupi daerah klitorisnya. (&#8220;aahh, tangan keponakanku ini benar-benar luar biasa. Kocokannya benar-benar membuat seluruh lorong vaginaku terasa geli. Dindingnya yang terasa amat basah itu mulai berdenyut. Ingin rasanya aku membuka celana dalamku dan membiarkan jemari kasarnya mempermainkan daging kemaluanku. Sial, haruskah aku menghentikan kenikmatan ini? Tapi, betapa kejamnya orang menghujat seorang isteri tak setia!&#8221;) Sempat ia merenggangkan paha beberapa saat seakan menyilakan tanganku mengeksplorasi vaginanya lebih jauh, namun dengan kekuatan entah dari mana, ia berteriak &#8220;Fii.. lepaskaann Bibi&#8230;&#8221; lalu meronta, dan mendorongku kebelakang hingga nyaris terjengkang. Perempuan itu meloncat dari duduknya dan lari menjauh. Rambutnya acak-acakan, buah dadanya bergelayutan keluar dari beha nya, kain jariknya nyaris lepas dari stagennya.<br />
<span id="more-3209"></span><br />
Sial! Padahal dia hampir menyerah! &#8220;Fi.. cukup Fi.. kita nggak boleh berbuat lebih jauh dari ini, bibi yakin kalau kita teruskan ini akan berakhir di atas ranjang.&#8221; katanya dengan nafas memburu sambil membelakangiku dan memasukkan kembali kedua buah dadanya ke dalam beha. &#8220;Nggak akan berakhir di ranjang bi.. kan saya sudah bilang dari awal.. bibi nggak akan saya apa-apain, masa bibi nggak percaya omongan saya?&#8221; Ia merapikan baju kebaya dan rambutnya &#8220;Bukan itu Fi, bibi ngga percaya pada bibi sendiri.&#8221; (Mendadak Laha sendiri ragu. Apakah ia harus bangga atau menyesal akan keputusannya ini) Lalu ia berbalik ke arahku dan perempuan itu terbelalak, ia tampak terkejut dan tanpa sadar menjerit kecil, &#8220;Ya ampuunn Rafi.. besarnya&#8230;&#8221; Mata Bi Laha terpaku pada penisku yang masih mengacung tegang keluar dari celana dalamku. Urat-urat tegang tampak sekali menonjol di sekeliling batang berdiameter 3-4 cm itu. Kepala penisku menunjuk langsung ke wajah perempuan berusia paruh tiga puluh itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Keraguan kembali tergambar di air mukanya. Dari situ aku yakin, bahwa birahi isteri pamanku itu masih tersisa terlalu banyak untuk dilewatkan begitu saja. Nafsuku benar-benar sudah naik ke kepala, aku sudah tak peduli, kubungkam suara hatiku, kubuang janji-janji bull shitku pada Bi Laha dan dengan cepat kuhampiri tubuh montoknya lalu kupeluk dengan erat. &#8220;Rafiii mau apa kamuffff.. mphh..&#8221; Teriakannya terpotong oleh lumatan bibirku di atas bibirnya yang ranum itu. Itulah kali pertama aku mencium bibiku. (&#8220;Hah, ia menciumku, ia menciumku! Rafi, kamu adalah laki-laki kedua dalam hidup yang pernah mencium bibir bibi. Oh, nikmat betul merasakan lidahmu menyapu seluruh rongga mulut bibi. Nikmat betul merasakan bibirku disedot dan digigit. Uh, apakah kamu juga akan menjadi lelaki kedua yang akan.. yang akan.. menyetubuhiku? Dan gelagat itu sudah tampak. Coba lihat, tanganku tak bisa bergerak. Tubuhku didekapnya erat. Jangan-jangan, jangan-jangan.. pemuda ini sungguh-sungguh berniat memperkosaku. Hah, bagaimana kalau orang  lain tahu?&#8221; Bagi perempuan ini, kata &#8216;perkosa&#8217; kini menimbulkan gairah sekaligus kekhawatiran.)</p>
<p style="text-align: justify;">Pelukanku sedemikian eratnya sehingga terasa buah dadanya yang menggencet dadaku seakan hendak pecah. Ia melepaskan bibirnya dari lumatanku dan memalingkan muka mencoba untuk melawan. &#8220;Rafi.. jangan.. saya istri pamanmu.. ohh&#8230; nanti bibi teriak!&#8221; Tak kuhiraukan kata-katanya. Di kupingku terngiang bisikan-bisikan yang terasa semakin keras : Dia mau.. Dia mau.. Paksa dia.. Perkosa dia..! Maka dengan bertubi-tubi kuciumi lehernya sehingga walaupun ia meronta dan memukul-mukul punggungku, terasa sesekali badannya menggelinjang karena geli. Bunyi kecupan bercampur erangan birahiku dan desahan yang memohon aku melepaskannya menggema di udara dingin rumah besar di Kabupaten Garut itu. Ia memejamkan matanya tak berani menatapku yang kini mulai menjilati telinga dan lehernya, &#8220;TOLOOONG&#8230; TOLoooNG!!!&#8221; Tiba-tiba perempuan itu menjerit. (&#8220;Aku takut! aku benar-benar takut! Saat ini aku memang dahaga lelaki. Dan itu bukan berarti aku mau diperkosa oleh keponakanku sendiri. Apalagi katanya, seorang pemerkosa cenderung selalu berbuat kasar. Oh tiba-tiba aku merasa begitu ngeri melihat pemuda itu menciumi leher dan kupingku dengan ganas. Tapi, haruskah berteriak?&#8221;)</p>
<p style="text-align: justify;">Aku terkejut mendengar teriakan Bi Laha. Ini bahaya..! Bisa bubar semua rencana! Lalu kudorong dengan paksa dan kurebahkan tubuh sintal yang meronta-ronta itu ke atas meja. Kedua tanganku dengan kuat menahan pergelangan tangannya yang kini membentang ke atas. Bi Laha semakin meronta. Kepalanya di palingkan dengan keras ke kiri ke kanan untuk menghindari bibirnya dari lumatanku. Pinggulnya yang terbaring di pinggir meja disentak-sentak untuk menjauhkan penisku dari selangkangannya. Well, tak ada pilihan lain, sorry Bi Laha. Lalu dengan kasar kutindih tubuh montok itu sehingga rontaanya tertahan, pinggulku mengunci gerak selangkangannya, penisku kini tergencet oleh perutku dan selangkangannya. (&#8220;Betul dugaanku. Lelaki ini tiba-tiba jadi kasar! Aduh, aku jadi betul-betul ngeri! Aku takut ia menamparku, aku takut ia melukaiku. Aku juga takut, ia akan mengoyak-ngoyak vaginaku. Ya Tuhan, malang nian nasibku. Aku takut darah!&#8221;) Lalu tanpa sengaja penisku itu tergencet oleh sebuah gundukan daging hangat yang terasa ditutupi oleh bulu-bulu lebat.</p>
<p style="text-align: justify;">Berani taruhan bulunya pasti lebat sekali, soalnya dari luar kain kebayanya saja sudah terasa kelebatannya, mengingat itu darahku terasa berdesir. (&#8220;Tunggu Laha, ketakutanmu terlalu berlebihan. Pemuda ini cuma kasar ketika menindihmu. Itu pun karena kau berteriak!&#8221; Logika Laha mulai bicara. Tiba-tiba perempuan itu menyadari betapa sesungguhnya kekasaran pemuda itu tak lebih dari reaksi akibat terakannya tadi. Lalu kengerian itu sirna. Lalu ada kehangatan di selangkangannya. &#8220;Ouuh Rafi, sungguh hangat dan keras penismu itu. Ayo, gesekkan, gesekkan penismu di atas vagina bibi&#8230; Tapi.. tapi.. bagaimana kalau suamiku tiba-tiba pulang?&#8221;) &#8220;Silakan berteriak bi.. ngga ada gunanya.. di rumah ini nggak ada siapa-siapa.. orang di jalanan juga ngga bisa denger..&#8221; kataku menantang dengan nafas tak kalah memburu dengan Bi Laha. &#8220;Kalaupun ketahuan paling saya diusir.. tapi bibi..? Bibi bisa dicerai oleh Mang Iyus yang sudah punya Nuke, jadi apa untungnya berteriak?&#8221; Bibiku tak bisa menjawab namun matanya menyorotkan sinar kemarahan padaku. Entah marah karena kata-kataku atau perbuatanku.</p>
<p style="text-align: justify;">(&#8220;Jangan pernah kau sebut nama sundal itu di hadapanku!&#8221;) &#8220;Bi.. saya tau bibi selama ini kesepian, apalagi setelah Mang Iyuspunya Nuke makanya bi.. pikir praktis saja.. kalau Mang Iyus boleh punya perempuan lebih dari satu.. kenapa bibi nggak..?&#8221; Aku mulai coba meyakinkan bibiku dengan logika-logika ngawurku. Bi Laha kembali memejamkan mata dan memalingkan muka seraya menggigit bibir. Tampak betul ia tengah berusaha menekan kemarahan di dalam dadanya. Mataku menelusuri tubuh sintal yang tertindih oleh tubuhku. Baru kusadari betapa merangsangnya posisi tubuh Bi Laha itu dilihat dari atas. Kedua tangannya membentang ke atas dan pahanya mengangkang. Ketiaknya yang tampak putih di balik kebaya brokat hijau itu dipenuhi oleh bulu keriting yang lebat. Wangi khas menyebar dari ketiaknya menandakan mental perempuan itu saat ini tengah tertekan. Tapi wangi itu membuat gairahku meningkat lagi. Suka atau tidak, isteri pamanku ini akan kesetubuhi! Aku kembali menciumi leher Bi Laha dengan bertubi-tubi, terus ke dada mengitari puting susu lalu mampir ke ketiaknya yang rupanya merupakan weak point bibiku karena terdengar ia mendesah ketika aku mulai mengecupnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Tanganku melepaskan pergelangan tangan Bi Laha dan, brettt..! Dengan kasar kurobek kebaya di bagian dada sehingga buah dada besar yang masih tertutup BH hitam itu terbuka menantang wajahku. Tangan Bi Laha berusaha menutupi dadanya yang kini bebas dilihat oleh mataku. &#8220;hh.. Fiii&#8230; bibi malu&#8230;&#8221; bisiknya lirih. (&#8220;Ya Tuhan, ia akan melakukannya.. ia akan melakukannya! Ia akan memperkosaku! Ooohh.. semoga tak ada kekasaran lagi.&#8221;) Aku kembali meraih tangan Bi Laha dan menahannya dalam posisi membentang ke atas. Posisi itu membuat bagian depan kebaya brokatnya terbuka ke samping sehingga perutnya yang kencang dan mulus itu terlihat dengan jelas. Buah dadanya terangkat keatas tertarik behanya yang cuma mampu menutupi 3/4 bagian buah dada bibiku itu. Bagian bawah bukit kembarnya menonjol keluar dari bagian bawah beha hitam berukuran 34 itu. &#8220;Susu bibi seksi sekali.. Mang Iyus benar-benar lelaki beruntung.. &#8221; Dan aku pun mulai menciumi daging empuk di bagian atas buah dadanya, lalu aku gigit behanya dan kuangkat kedua cup-nya sehingga kedua buah dada itu melejit keluar.</p>
<p style="text-align: justify;">Wuiihh.. benar-benar buah dada yang indah, begitu putih dan mulus, urat-urat birunya tergurat halus di sekitar putingnya yang berwarna coklat kemerahan. Aku mulai mengecup dan menjilati buah dada kenyal itu dengan rakus, kecupan dan jilatanku itu mulai menyusuri daerah sekeliling putingnya. Gerakan melingkar itu semakin kecil dan semakin kecil, &#8220;Ehh.. Euhh&#8230; sss&#8230;&#8221; Ditengah rontaannya yang mulai melemah, terdengar Bi Laha merintih dan mendesis keenakan sambil terus membuat gerak melingkar lidahku sesekali menyentil putingnya membuat rintihannya semakin keras diselingi dengan nada kesal karena merasa dipermainkan&#8230; hehe.. rupanya perempuan ini ingin cepat-cepat diisap, if that what you want that is what you get. Satu, dua&#8230; dan&#8230; tiga! Lalu kumasukkan puting dan 1/2 buah dada istri pamanku itu ke dalam mulutku. &#8220;Aohh&#8230; sss&#8230;&#8221; Gerakan tubuh Bi Laha mulai liar. Lalu dengan rakus kusedot dan jilat putingnya bergantian kiri dan kanan. Sambil merintih Bi Laha menjilati bibirnya sendiri dan menggeleng-gelengkan kepalanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Rambutnya sudah awut-awutan dan setengah basah terkena tumpahan air minum di meja. Denyutan di penisku terasa makin keras, akupun tak mau berlama-lama. Sambil terus menyedot buah dada dan putingnya, tangan kiriku melepaskan tangan Bi Laha dan dengan cepat menyingkap kain kebaya Bi Laha sampai sebatas perut sehingga terlihatlah pahanya yang putih mulus itu mengangkang di depan penisku. Dari luar celana dalam nya yang berwarna krem, terbayang segumpal bulu keriting lebat yang menutupi vagina. Sebagian daripadanya nampak keluar dari celana dalam yang basah di daerah selangkangan itu. Duh Bi Laha&#8230; aku benar-benar tak sabar untuk segera mencium, menjilat, dan memasukkan penisku ke vaginamu yang seksi. Lalu tangan kiriku dengan cepat meraba pahanya dari lutut sampai selangkangan. Begitu sampai, jari tengahku langsung kutempelkan di belahan vaginanya, dengan seketika jariku merasakan kehangatan pada celana dalam yang sudah basah dan lengket itu. Pelan-pelan kutekan jari tengahku sehingga kain celana dalamnya ikut melesak masuk ke liang vaginanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Otot Bi Laha menegang, pinggulnya terangkat sedikit membuat jariku dan kain celana dalamnya semakin terbenam, &#8220;Fii.. eeehh&#8230;&#8221; Dengan mata terbelalak ia merintih. Kepanikan mulai terbayang di wajahnya. (&#8220;Oooh Rafi, terus terang aku takut. Aku yakin perbuatan kita ini akan berakhir dengan persetubuhan. Dan aku takut kalau suamiku benar-benar pulang! Dan menceraikanku dengan tuduhan bersetubuh dengan keponakannya! Tapi bukankah aku diperkosa?&#8221; Laha tersentak. Ternyata ia mulai mencari justifikasi.) Tangan kanannya yang bebas memegang dadaku seakan siap untuk mendorong.. Oh NO YOU DON&#8217;T.. tak akan kubiarkan terulang lagi, kuhentikan semua aktivitasku lalu SReeeT..! Dengan cepat kedua tanganku menarik celana dalam isteri kesepian itu ke bawah sehingga lolos melalui kedua pergelangan kakinya. &#8220;Ahh.. FIII JANGaaNNN&#8230;&#8221; Bi Laha menjerit dan mencoba bangkit. Tapi.. BRAAK!! Dengan cepat kutindih kembali tubuh montok yang hampir saja terduduk itu sehingga punggungnya yang mulus sedikit terhempas ke meja. Wajah Bi Laha emakin panik ketika kutempelkan kepala penisku ke liang vaginanya.</p>
<p style="text-align: justify;">(&#8220;Ya Tuhan, ia mulai kasar lagi dan penisnya, penis besarnya akan memasukiku! Sanggupkah aku menampungnya? Sakitkah rasanya? Aduuh, kenapa aku jadi panik begini? Persis seperti seorang gadis yang akan diperawani. Oh.. Rafi, bibi benar-benar mengharapkan kau melakukannya. Bibi benar-benar ingin bersetubuh denganmu. Tapi bibi malu karena kamu keponakanku sendiri. Bibi juga takut Mang Iyus tahu perbuatan kita. Oh Rafiii, gelinya bibir vagina bibi&#8230; jangan berlama-lama sayang, persetan dengan pamanmu, masukkan sekarang.&#8221;)</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Bersambung&#8230;</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ceritasex.cn/istri-istri-pamanku-bagian-3/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Akibat Merokok Di WC Sekolah</title>
		<link>http://www.ceritasex.cn/akibat-merokok-di-wc-sekolah/</link>
		<comments>http://www.ceritasex.cn/akibat-merokok-di-wc-sekolah/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 06 Dec 2011 23:12:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cerita Sex</dc:creator>
				<category><![CDATA[anal seks]]></category>
		<category><![CDATA[Daun Muda]]></category>
		<category><![CDATA[Gangbang Rame Rame]]></category>
		<category><![CDATA[Orgy]]></category>
		<category><![CDATA[Paruh baya]]></category>
		<category><![CDATA[Pemerkosaan]]></category>
		<category><![CDATA[Seks Umum]]></category>
		<category><![CDATA[alice]]></category>
		<category><![CDATA[anus]]></category>
		<category><![CDATA[double penetration]]></category>
		<category><![CDATA[erlina]]></category>
		<category><![CDATA[gangbang]]></category>
		<category><![CDATA[ngentot]]></category>
		<category><![CDATA[perkosa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ceritasex.cn/?p=3189</guid>
		<description><![CDATA[Namaku Erlina atau biasa dipanggil Lina. Umurku 17 tahun dan masih sekolah di sebuah SMA swasta di Jakarta. Bukannya narsis, tapi banyak yang bilang wajahku cantik sehingga tak heran jika banyak cowok yang mengejarku. Selain wajahku yang manis aku juga memiliki kulit yang putih mulus. Tapi yang lebih kubanggakan adalah dadaku yang berukuran 34B yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Namaku Erlina atau biasa dipanggil Lina. Umurku 17 tahun dan masih sekolah di sebuah SMA swasta di Jakarta. Bukannya narsis, tapi banyak yang bilang wajahku cantik sehingga tak heran jika banyak cowok yang mengejarku. Selain wajahku yang manis aku juga memiliki kulit yang putih mulus. Tapi yang lebih kubanggakan adalah dadaku yang berukuran 34B yang untuk ukuran anak seusiaku, ukurannya cukup besar dengan puting berwarna merah kecoklatan, karena sering kupelintir-pelintir. Cerita ini bermula ketika aku ketahuan sedang merokok di WC sekolah. Ya…aku memang pecandu berat rokok. Sehari bisa habis sebungkus. Kalau sudah pingin ngerokok aku sering curi-curi di WC sekolah. Seperti siang itu, setelah pulang sekolah aku langsung ke toilet wanita dan mengeluarkan rokok dari tasku. Sambil menunggu sopirku yang memang sering datang telat, aku mulai menyalakan sebatang rokok. Suasana sekolah sudah sepi karena siswa dan guru-guru sudah pada pulang, makanya aku berani.</p>
<p style="text-align: justify;">Lagi asik-asiknya merokok aku dikagetkan oleh dua orang yang membuka pintu kamar mandi. Ternyata mereka adalah penjaga sekolahku, Pak Togar dan Kiryo. Aku pun ketangkap basah dan tak bisa mengelak. Mereka menuduhku melakukan pelanggaran berat di areal sekolah dan harus dilaporkan. Tentu saja aku tidak menginginkan hal itu terjadi. Bisa dibayangkan jika sampai kejadian ini diketahui kepala sekolah maka aku pasti dipecat dari sekolah ini. Aku tidak mau sampai dipecat sehingga terjadi perdebatan dan tawar-menawar di antara kami. Aku menawarkan sejumlah uang kepada kedua penjaga seklah itu. Kemudian Kiryo sesuatu pada Pak Togar, entah apa yang dibisikkan lalu keduanya mulai cengengesan melihat ke arahku. Pak Togar lalu berkata, “Gini saja, bagaimana kalau kita pakai sebentar body Non buat biaya tutup mulut?” “Huh, dasar…cowok dimana-mana sama aja, selangkangan melulu isi kepalanya!” omelku dalam hati Sorot mata mereka membuatku nervous dan jantungku berdetak lebih cepat, kakiku serasa lemas bak kehilangan pijakan sehingga aku menyandarkan punggungku ke tembok.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah kupikir-pikir, akhirnya aku mengiyakan juga, daripada aku dipecat dari sekolah ini mending kurelakan tubuhku untuk kedua penjaga sekolah ini. Lagian aku sudah tidak perawan lagi dan termasuk gadis yang doyan ngesex. Tapi bercinta dengan kedua orang ini membuatku agak sedikit takut. Bagaimana tidak, Pak Togar berumur 40 tahun dengan tubuh tambun berambut cepak sudah agak beruban dan wajah mirip tukang pukul, sedangkan Kiryo baru berumur 24 tahun, tubuhnya kurus dekil, dengan jenggot kambing yang jarang di dagunya. Selain itu dari segi fisik, keduanya jauh dari ganteng. Tapi tak ada pilihan lain bagiku selain melayani nafsu mereka. Akhirnya aku menganggukan kepala yang disambut dengan tawa dari mereka. “Hehehe…cantik, sexy… wah beruntung banget kita Pak Togar!” kata Kiryo “Iya Kir, anak SMA pula.ha..ha…”sambut Pak Togar tertawa penuh kemenangan Kedua penjaga sekolah itu lalu mendekatiku. Pak Togar langsung melumat bibirku sebelum aku sempat protes dan berkelit, sedangkan si Kiryo meraba-raba dadaku yang kiri dari luar.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku memejamkan mata mencoba meresapinya, Pak Togar makin ganas menciumiku ditambah lagi tangannya ikut meremas-remas payudaraku yang kanan. Aku hanya berdiam diri saja tak memberikan reaksi. Sambil melumat, lidahnya mencari-cari dan berusaha masuk ke dalam mulutku, dan ketika berhasil lidahnya bergerak bebas menjilati lidahku hingga secara tak sengaja lidahkupun meronta-ronta. Sambil memejamkan mata aku mencoba untuk membawa diri mengikuti arus permainan. Dengan kuluman lidah Pak Togar yang agresif, ditambah remasan-remasan telapak tangan mereka pada payudaraku, birahiku pun dengan cepat naik. Memang, aku sudah sangat terbiasa dan sangat terbuai dengan permaian seperti ini hingga dengan mudahnya Pak Togar mulai membangkitkan nafsuku. Bahkan kini aku mulai memberanikan diri menggerakkan tangan memeluk kepala Pak Togar. Sementara di bawah sana kurasakan sebuah tangan kasar meraba pahaku. Aku membuka mata dan melihatnya, di sana Kiryo mulai menyingkap rok SMA ku dan merabai pahaku yang putih mulus.<br />
<span id="more-3189"></span><br />
“Mulus banget pahanya Non…bikin gemes aja..nih…he..he..” sahut Kiryo sambil tangannya makin merayap naik hingga selangkanganku. Pak Togar lalu melepaskan ciumannya dan berkata : ”Gua juga jadi penasaran ini dengan teteknya. Semulus pahanya ga? Hahaha…” Pak Togar lalu beralih dadaku. Seragam SMAku yang agak ketat disingkapnya sehingga terlihatlah buah dadaku yang masih terbungkus BH hitam, itupun juga langsung diturunkan hingga dadaku terekspos di hadapan mereka. “Wow teteknya montok sekali, putih lagi” komentarnya sambil meremas payudara kananku yang pas di tangannya. Seperti yang aku katakan, untuk ukuran anak SMA seusiaku, ukuran dadaku cukup besar dengan puting berwarna merah kecoklatan. Kiryo juga langsung kesengsem dengan payudaraku, dengan gemas dia melumat yang kiri. Mereka kini semakin liar menggerayangiku. Putingku makin mengeras karena terus dipencet-pencet dan dipelintir Pak Togar sambil mencupangi leher jenjangku, dia melakukannya cukup lembut dibandingkan Kiryo yang memperlakukan payudara kiriku dengan kasar, dia menyedot kuat-kuat dan kadang disertai gigitan sehingga aku sering merintih kalau gigitannya keras.</p>
<p style="text-align: justify;">Namun perpaduan antara kasar dan lembut ini justru menimbulkan sensasi yang khas. Melihat aku semakin pasrah, mereka semakin menjadi-jadi. Tak kusadari rokku sudah terangkat sehingga dapat kurasakan angin membelai kulit pahaku, celana dalamku pun tersingkap dengan jelas. Kiryo menyusupkan tangannya ke balik celana dalamku dan mulai mengobok-obok di dalam sana. Tangan Pak Togar yang lainnya merayap turun mengelusi belakang pahaku hingga mencengkram pantatku. Nafasku makin memburu, aku hanya memejamkan mata dan mengeluarkan desahan-desahan menggoda. Vaginaku terasa semakin becek karena gesekan-gesekan dari jari Kiryo, bahkan suatu ketika aku sempat tersentak pelan ketika dua jarinya menemukan lalu mencubit pelan daging kecil yang tak lain adalah klitorisku. “Ohhhhh…..Bang…….auw!!” desahku. Tubuhku serasa lemas tak berdaya, pasrah membiarkan mereka menjarah tubuhku. Reaksiku ini membuat mereka semakin bergairah. Kiryo meraih tangan kiriku dan menuntunnya ke penisnya yang entah kapan dia keluarkan.</p>
<p style="text-align: justify;">Ukurannya lumayan jadi juga, walaupun perawakannya kurus dan dekil, penisnya yang sudah tegang cukup besar sehingga membuatku terhenyak. “Waw…keras juga, gede lagi” kataku dalam hati saat menggenggam penisnya yang memang panjang itu. Aku mulai mengocoknya perlahan sesuai yang diperintahkannya, terasa benar benda itu makin membengkak saja dalam genggamanku. Tak lama kemudian, Kiryo menarik tangannya keluar dari celana dalamku, jari-jarinya basah oleh cairan kewanitaanku yang langsung dijilatinya seperti menjilat madu. Kemudian aku disuruh berdiri menghadap tembok dan menunggingkan pantatku pada mereka, kusandarkan kedua tanganku di tembok untuk menyangga tubuhku. “Asyik nih, siang ini kita bisa ngentot cewek cantik” celoteh Kiryo sambil meremasi bongkahan pantatku yang membulat indah itu. “Iya…dari dulu saya sudah naksir berat sama si Non Erlina ini, soalnya udah kece, suka pake baju seksi pula. Ga nyangka akhirnya ada kesempatan kaya gini…hehe” timpal pak Togar. Dia langsung membuka baju dan celananya hingga telanjang.</p>
<p style="text-align: justify;">Masih sambil dengan berpegangan di tembok, kugerakkan mataku memperhatikan burungnya yang baru dikeluarkan dari sangkarnya. Wow…aku membelalakkan mata tak berkedip, soalnya ukurannya bisa dibilang menakjubkan, panjang sih tidak beda jauh dari Kiryo tapi yang ini lebih berurat dan lebar, dengan ujungnya yang disunat hingga menyerupai cendawan. Jantungku jadi tambah berdegup membayangkan akan ditusuk olehnya. Sumpah deh…penisnya ini mengalahkan semua teman-teman kencanku. Jauh lebih menggairahkan dibanding milik teman-teman SMU-ku yang pernah ML denganku. Bahkan mengalahkan penis Tarjo pembantuku sendiri. (sebagai informasi aku pernah ML dengan pembantuku yang bernama Tarjo. Di lain kesempatan, akan kuceritakan pengalamanku itu). Aku berhenti menatap takjub saat Kiryo mulai menurunkan celana dalamku. Disuruhnya aku mengangkat kaki kiri agar bisa meloloskan celana dalam. Akhirnya pantatku yang sudah telanjang menungging dengan celana dalamku masih menggantung di kaki kanan. Posisiku yang sedikit menungging mengakibatkan vaginaku terpampang di hadapan mereka.</p>
<p style="text-align: justify;">Mata mereka seperti mau copot melihat kewanitaanku yang sudah tidak tertutup apa-apa lagi dari balik rok abu-abuku yang terangkat hingga pinggang. Kiryo mendekap tubuhku dari belakang dalam posisi berdiri. Dengan lembut dia membelai permukaan vaginaku yang ditumbuhi bulu-bulu halus itu. Sementara tangan yang satunya mulai naik ke payudaraku, darahku makin bergolak ketika telapak tangannya yang kasar itu meremas-remas dadaku. “Sshh.. Bang” desahku dengan agak gemetar ketika jarinya menekan bagian tengah kemaluanku. “Tenang Non…saya gak bakal kasar kok, dijamin enak ngentot sama si ganteng Kiryo!” kata Kiryo memuji diri tanpa tahu kondiri dirinya, ia juga terus merayu sambil mengelusi bagian pangkal pahaku dengan jarinya. Aksi Kiryo berhenti ketika Pak Togar meletakkan sebuah kursi panjang di tengah toilet. Kursi panjang itu biasa digunakan untuk duduk jika sedang ngantri mau ke toliet. Pak Togar lalu memberi isyarat agar Kiryo menelentangkan tubuhku di atas kursi itu. Sekarang aku terbaring telentang di atas kursi itu dengan Kiryo berada di antara kedua pahaku.</p>
<p style="text-align: justify;">Dia membentangkan pahaku lebar-lebar membuatku malu dan menutupkan tanganku di vaginaku. Dengan gemas dia membentangkan tanganku lagi. Pak Togar lalu mendekat dan berkata : ”Non Erlina, dari dulu saya pengen suatu saat nanti agar kontol saya bisa ngerasian bibir Non. Eh, akhirnya kesampaian juga. He.he..” katanya sambil tertawa, “sekarang ayo buka mulutnya Non!” perintah Pak Togar setengah menghardik. Hal itu membuatku takut. Akupun pelan-pelan meraih benda itu, ya ampun tanganku yang mungil tak muat menggenggamnya, sungguh fantastis ukurannya. “Ayo non, emutin kontol Pak Togar tuh, pasti yahud rasanya kalo diemut sama Non!” kata Kiryo menimpali. aku tak punya pilhan lain. Kubimbing penis dalam genggamanku ke mulutku yang mungil dan merah, uuhh.. susah sekali memasukkannya karena ukurannya. Sekilas tercium bau keringat dari penisnya sehingga aku harus menahan nafas juga terasa asin waktu lidahku menyentuh kepalanya, namun aku terus memasukkan lebih dalam ke mulutku lalu mulai memaju-mundurkan kepalaku. Selain menyepong tanganku turut aktif mengocok ataupun memijati buah pelirnya.</p>
<p style="text-align: justify;">“Uaahh.. uueennakk banget, Non Lina udah pengalaman yah?” ceracau Pak Togar menikmati seponganku, sementara tangannya yang bercokol di payudaraku sedang asyik memelintir dan memencet putingku. Di bawah sana, kurasakan Kiryo mulai menjilati pahaku yang putih mulus, jilatannya perlahan-lahan mulai menjalar menuju ke tengah. Aku hanya dapat bergetar saat kurasakan lidahnya yang tebal dan kasar itu menyusup ke pangkal pahaku lalu menyentuh bibir vaginaku. Bukan hanya bibir vaginaku yang dijilatinya, tapi lidahnya juga masuk ke liang vaginaku, rasanya wuiihh..gak karuan, geli-geli enak seperti mau pipis. Tangannya yang terus mengelus paha dan pantatku mempercepat naiknya libidoku. Aku makin bersemangat mengoral penis Pak Togar saking nikmatnya yg kurasakan. “Wah, makin gatel nih Non Lina. Awas…kontol saya jangan sampai digigit ya. ohhhh…ohh….” kata Pak Togar. Sambil mengoral penis Pak Togar aku menjambak rambut si Kiryo yang sedang menyeruput vaginaku. Aku benar-benar sudah terbuai dalam kenikmatan birahi.</p>
<p style="text-align: justify;">Sebentar lagi aku akan mencapai puncak kenikmatan. Tidak sampai lima menit, tubuhku mengejang, rasa nikmat itu menjalar dari vagina ke seluruh tubuhku. Sensasi itu berlangsung terus sampai kurasakan cairanku tidak keluar lagi, barulah Kiryo melepaskan kepalanya dari situ, nampak mulutnya basah oleh cairan cintaku Badanku lemas, dan kulepaskan mulutku dari penis Pak Togar. Pak Togar nampaknya mengerti dengan kondisiku sehingga dia tidak memaksaku mengoral penisnya lagi. “Emang enak ya cairan pejunya cewek SMA” sahut Kiryo kepada Pak Togar. “Tunggu sampai lu rasain sepongannya deh Kir…pokoknya maknyus deh! Non Lina udah pengalaman yah?” kata Pak Togar. “Benar tuh Pak…anak-anak SMA sekarang kan doyan ngentot. Hehehehe…” Aku hanya mengatur nafasku sambil memejamkan mata mendengar olok-olok mereka. Belum beres aku mengatur nafasku yang memburu, aku mulai merasakan ada jari yang merenggangkan vaginaku, kemudian disusul dengan sebuah benda keras yang menyeruak masuk. Benda itu adalah penis Kiryo, ia sepertinya buru-buru sekali ingin menikmati vaginaku.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku membelalakkan mata menahan nyeri ketika penisnya menerobos vaginaku. Penis besar itu kesulitan menjebol vaginaku yang masih sempit itu. Kepala penisnya yang besar itu menggesek klitoris di liang senggamaku hingga aku merintih antara sakit dan nikmat. Ia terus berusaha menekankan miliknya ke dalam milikku yang memang sudah sangat basah. Aku memejamkan mata, meringis, dan merintih menahan rasa perih akibat gesekan benda itu pada milikku. Pelahan-lahan benda itu meluncur masuk ke dalam milikku. Dan ketika dengan kasar dia tiba-tiba menekankan miliknya seluruhnya amblas ke dalam diriku. aku tak kuasa menahan diri untuk tidak memekik. “ahh……….bang…….stop…….ahhhhhhh…….sakittttttt…pelan dikithh!!” aku melolong panjang menahan rasa perih akibat gesekan benda itu pada milikku yang masih sempit, sampai mataku berair. Perasaan perih bercampur nikmat tersebut membuat badanku mengejang beberapa detik. “Oohh.. Non Lina sayang…peret banget.. memekmu.. enaknya!” ceracaunya di tengah aktivitasnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Kiryo menyetubuhiku dalam posisi doggie di atas lantai toilet, alat kelamin kami yang bertumbukan menimbulkan bunyi plok-plok-plok. Aku sungguh larut dalam kenikmatan ini dan tak bisa menahan desahanku. Penisnya menggesek dinding-dinding vaginaku, semakin cepat dan semakin dalam, saking keenakannya dia tak sadar penisnya ditekan hingga masuk semua. Ini membuatku merasa sakit bukan main dan aku menyuruhnya berhenti sebentar, namun Kiryo yang sudah kalap ini tidak mendengarkanku, malahan dia menggerakkan pinggulnya lebih cepat. Aku dibuatnya serasa terbang ke awang-awang, rasa perih dan nikmat bercampur baur dalam desahan dan gelinjang tubuh kami. Pak Togar tidak menyia-nyiakan mulutku yang mengap-mengap dan terbuka lebar. Ia berlutut di hadapanku dan dijejalinya penisnya ke mulutku sehingga teriakanku tersumbat. Kiryo makin brutal menyodok-nyodok vaginaku. Sambil menyodok, kepalanya merayap ke payudaraku dan tangannya sesekali menampar bongkahan pantatku karena gemas.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku menggelinjang tak karuan waktu puting kananku digigitnya dengan bernafsu, kocokan dan kulumanku pada penis Pak Togar pun makin bersemangat. Rupanya teknik oral seksku telah membuat Pak Togar ketagihan, dia jadi begitu bernafsu memperkosa mulutku dengan memaju-mundurkan pinggulnya seolah sedang bersetubuh. Kepalaku pun dipeganginya dengan erat seolah tidak rela melepaskannya. Bahkan sesekali dia menjambak rambutku ketika aku menggigit pelan batangnya. Penisnya yang besar itu menyesaki mulutku yang mungil itu pun ada sisanya karena tidak tertampung semua. Hal itu membuat aku susah bernafas. Akhirnya aku hanya bisa pasrah saja disenggamai dari dua arah oleh mereka, sodokan dari salah satunya menyebabkan penis yang lain makin menghujam ke tubuhku. Aku mencoba mengikuti ritme genjotan mereka hingga pelan-pelan akupun mulai terbiasa, serasa terbang melayang-layang aku dibuatnya hingga akhirnya tubuhku menggelinjang. Aku mau menjerit tapi mulutku tersumbat oleh penis Pak Togar. Bersamaan dengan itu pula genjotan Kiryo terasa makin bertenaga.</p>
<p style="text-align: justify;">“Non…neng saya keluar nih !” erangnya panjang sambil meringis. Hal yang sama pula dirasakan olehku, aku tidak sanggup lagi menahan gelombang orgasme yang menerpaku demikian dahsyat. Kami mencapai orgasme bersamaan, aku dapat merasakan spermanya yang menyembur deras di dalamku, dari selangkanganku meleleh cairan hasil persenggamaan kami. Aku melepaskan penis Pak Togar dari mulutku dan mengambil udara segar. Tubuh telanjangku terbaring lemas di kursi panjang itu. Lelah sekali persetubuhan liar barusan. Kurasakan punggungku sakit karena bergesekan dengan kursi panjang itu. “Hehe…liat nih Pak Togar, akhirnya saya bisa juga numpahin peju ke memek bidadari sekolah kita” kata Kiryo membentangkan bibir vaginaku dengan jarinya, seolah ingin memamerkan cairan spermanya dengan bangga. “Ngehek juga kau Kir, kenapa pula jadi kau yang duluan ngetotin dia. Kan harusnya saya sebagai yang lebih tua darimu”. kata Pak Togar sewot. “Aduh maaf Pak. Habis saya gak tahan tadi. Soalnya Non Lina ini udah dari dulu pengen saya entotin.</p>
<p style="text-align: justify;">He..he… Kalo saya ngocok pasti selalu ngebayangin dia. Jadi mengertilah Bang. He,,he,,” kata Kiryo sambil cengengesan. Pak Togar lalu mendekatiku. “Non Lina, bisa ga Bapak tusuk sekarang? udah ga tahan daritadi belum rasain memeknya Non, boleh kan?” kata Pak Togar sambil mengangkat tubuhku. Aku tahu itu hanya basa-basi, sebab jika aku menolak sekalipun dia pasti akan tetap melakukannya. Maka, walau masih lemas banget, tapi kuanggukan kepala mengiyakannya. “Tapi pelan-pelan ya…masih cape nih” kataku sambil menatap ngeri ke penis supernya yang sudah menegang maksimal. Dia nampaknya senang, karena sebentar lagi akan merasakan kenikmatan gadis muda. Diangkatnya tubuhku lalu digiring ke arah wastafel lalu aku disuruh berbalik dan tanganku bertumpu pada wastafel. Sekarang aku dapat melihat diriku melalui cermin di hadapanku dan dari belakang kulihat dia sedang mengagumi tubuhku dan mengelus-ngelusnya. “Bener-bener body yang top!” pujinya sambil meremas bongkahan pantatku dengan gemas dan menepuknya.</p>
<p style="text-align: justify;">Saat tangannya mengelus kemaluanku tanpa sadar aku malah merenggangkan kakiku sehingga dia makin leluasa merambahi daerah terlarang itu. Lewat cermin kulihat dia mulai mempersiapkan penisnya dengan menggosok-gosokkan pada bibir vagina dan anusku. Kemudian dia menyelipkan penisnya di antara selangkanganku lewat belakang. Tanpa buang waktu lagi, Pak Togar mendorong penisnya pada vaginaku. Walaupun sudah becek oleh lendirku, aku masih merasa nyeri karena penisnya yang tebal tidak sebanding ukurannya dengan liang senggamaku. Aku merintih kesakitan merasakan penis itu melesak hingga amblas seluruhnya. Dia langsung menyodok-nyodokkan penisnya dengan kecepatan yang semakin lama semakin tinggi. “Benar juga katamu Kir…sempit banget…enak…ohh” sahut Pak Togar. Dia pasti tak habis pikir bisa menikmati gadis SMA sepertiku. Kedua bandot ini memnag sangat beruntuk bisa menikmati tubuhku dengan gratis. Tapi setelah kupikir-pikir toh aku juga menikmatinya. Permainan mereka telah berhasil menggali sisi terliar dalam diriku. Tak dapat kusangkal bahwa aku sangat menikmati persetubuhan ini.</p>
<p style="text-align: justify;">“OH…pak terus….entot aku!!” desahku tanpa malu-malu lagi. Cermin di depanku memantulkan bayangan wajahku yang sedang horny, mulutku mengap-mengap mengeluarkan merintih terlebih ketika tangan kasar itu meremas-remas kedua payudaraku sambil sesekali dipermainkannya putingku yang sudah mengeras. “Suka ga Non Lina bapak ginikan?” tanyanya sambil terus menggenjot dan mempermainkan payudaraku. Nampaknya dia senang melihatku tersiksa seperti ini. ”Aahh.. iya…suka…” desahku tak tertahankan. Pak Togar menimpali jawabanku dengan berkata pada Kiryo : “Lu denger Kir? Katanya dia suka. Hahaha….” “Hajar aja terus memeknya Pak. Udah gatal dia itu….hahahahahah..” kata Kiryo. Kiryo menontonku sedang bersetubuh dengan Pak Togar sambil duduk merokok di bangku panjang. Pak Togar makin bersemangat saja menyetubuhiku. Tusukan-tusukan penisnya seolah merobek tubuhku, hingga 15 menit kemudian tubuhku bagaikan kesetrum dan mengucurlah cairan dari vaginaku dengan deras sampai membasahi pahaku. Aku merintih panjang sampai tubuhku melemas kembali, kepalaku jatuh tertunduk, nafasku masih kacau setelah mencapai orgasme.</p>
<p style="text-align: justify;">Tadinya kukira dia juga akan segera memuntahkan spermanya, ternyata aku salah, penisnya masih begitu keras dan dia masih kuat menggenjotku tanpa mempedulikan kondisiku yang mulai kepayahan. Rambut panjangku dijambaknya sehingga kepalaku terangkat, kembali kulihat adeganku melalui cermin dimana tubuhku yang telah mandi keringat tergoncang-goncang, nampak pula payudara terayun kesana-kemari. Sudah seperempat jam berlalu, selama itulah aku digenjotnya namun belum terlihat tanda-tanda akan orgasme, justru nafsuku mulai bangkit lagi. Variasi gerakannya sangat lihai sampai membuatku berkelejotan, juga staminanya itu sungguh diluar dugaan. Mendadak dia menarik lepas penisnya, aku sudah siap menerima semprotan spermanya, namun…ooohh..tidak! penis itu masih mengacung dengan gagahnya. Dia lalu duduk di kursi panjang tadi, “Sini Non, kita main pangku-pangkuan!” suruhnya seraya menepuk paha. Aku menurut saja dan tanpa diminta lagi aku naik ke pangkuannya, tanpa malu-malu lagi aku melingkarkan tangaku di pundaknya.</p>
<p style="text-align: justify;">Akupun dengan senang hati menuntun penisnya memasuki milikku, dalam posisi seperti ini aku dapat lebih aktif bergoyang. Setelah menurunkan tubuhku hingga penisnya amblas ke dalam vaginaku, aku pun mulai bergoyang di pangkuannya. Pak Togar pun membalas gerakkanku dengan menyentak-nyentak pinggulnya berlawanan denganku sehingga tusukannya makin dalam. Kedua tangannya menggerayangi tubuhku terutama payudara dan punggung. “Ohhh.oohhhhh……ohhhh.” hanya itu yang keluar dari mulutku. Aku menggoyangkan tubuhku dengan gencar dengan gerakan naik-turun, sesekali aku melakukan gerakan meliuk sehingga Pak Togar mengerang karena penisnya terasa diplintir. Wajahnya dibenamkan pada belahan dadaku, putting kiriku disedot dan dikulumnya dengan rakus. Kunaik-turunkan tubuhku dengan gencar sampai dia melenguh-lenguh keenakan. “Uuugghh…oohh…memek SMA enak banget, nngghhh…memek anak..sma..!!”. Kiryo menonton adegan kami sambil mengelus-elus penisnya, dia ingin memancing adik kecilnya untuk `bangun`. “Ayo…goyang Non…oohh!” Pak Togar sepertinya ketagihan dengan goyanganku.</p>
<p style="text-align: justify;">Tangannya tetap meremas-remas dadaku, bahkan sesekali mulutnya menggigit payudaraku. Kontan aku menjerit-jerit makin kuat. Jeritanku membuat Pak Togar makin bernafsu begitu juga Kiryo, dia tidak tahan hanya menonton saja. Dia mendekat dan berdiri di sebelahku, penisnya mengacung di depan mukaku. Dia mengelus-eluskan benda itu pada pipiku yang halus. “Emut non…ayo buka mulutnya!” sambil mengarahkan batangnya ke mulutku yang mendesah-desah. Dengan setengah memaksa dia menjejalinya ke mulutku. Aku yang tak punya pilihan lain langsung memasukkan penis itu ke mulutku. Kusambut batangnya dengan kuluman dan jilatanku, aku merasakan aroma sperma pada benda itu, lidahku terus menjelajah ke kepala penisnya dimana masih tersisa sedikit cairan itu, ntah kenapa aku tidak merasa jijik. Malah kupakai ujung lidahku untuk menyeruput cairan yang tertinggal di lubang kencingnya. Hal itu membuat Kiryo blingsatan sambil meremas-remas rambutku. Aku melakukannya sambil terus bergoyang di pangkuan Pak Togar. ”ah uh ah….hhhhh………”suara-suara itu membahana di kamar mandi itu. Untung suasana sekolah sudah sepi kalau tidak bisa berabe.</p>
<p style="text-align: justify;">Dengan tetap bergoyang, aku juga mengisap-ngisap penis Kiryo makin keras hingga membuat batangnya menegang maksimal. Tangannya merayap ke bawah menggerayangi payudaraku. Dia sangat pandai meremas-remas titik sensitifku, sehingga aku dibuatnya melayang-layang. Gelombang orgasme sudah di ambang batas, aku merasa sudah mau sampai, namun Pak Togar menyuruhku bertahan sebentar agar bisa keluar bersama. Sampai akhirnya dia meremas pantatku erat-erat dan memberitahuku akan segera keluar, perasaan yang kutahan-tahan itu pun kucurahkan juga. “Aaaahhhhh….hhhhhhhh!!!!” desahan panjang keluar dari mulutku, kepalaku mendongak ke atas menatap langit-langit kamar mandi sehingga penis Kiryo yang sudah menegang maksimal lepas dari bibirku. Aku dan Pak Togar orgasme bersamaan dan dia menumpahkannya di dalam rahimku. Vaginaku serasa banjir oleh cairannya yang hangat dan kental itu, sperma yang tidak tertampung meleleh keluar di daerah selangakanganku. Aku ambruk ke depan, ke dalam pelukan Pak Togar.</p>
<p style="text-align: justify;">Dia peluk tubuhku sambil penisnya tetap dalam vaginaku, kami berdua basah kuyup keringat yang mengucur. Aku merasakan kehangatan dalam dekapan pria itu. Tanpa memperdulikan tubuhku yang lemas Kiryo langsung mengangkat tubuhku dari Pak Togar. Dia lalu membuatku menungging diatas lantai dengan tangan bertumpu pada kursi panjang itu. “Mau ngapain lagi sih Bang?” tanyaku. “udah dulu dong, Lina dah cape nih” keluhku yang tidak dipedulikannya. Dia menepuk-nepuk pantatku yang montok. Dia kemudian meludahi bagian duburku beberapa kali. lalu digosok-gosokkan dengan jarinya ke daerah itu. Aku memejamkan mata dan berharap semoga dia tidak menyerang anusku, karena aku sudah membayangkan ngerinya kalau batangnya itu membobol pantatku yang masih perawan. Aku belum pernah anal seks sebelumnya dan tidak punya keinginan untuk melakukannya karena membayangkannya juga sudah sakit. Sunguh aku lemas jika membayangkan rasa sakit jika penisnya menusuk-nusuk anusku seperti menusuk-nusuk vaginaku. Belum habis aku berfikir aku dikejutkan oleh sebuah benda lonjong di bibir lubang anusku.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku pun kontan menarik pantatku. Tapi Kiryo malah menarikku. Aku terkejut dan mencoba berontak “Jangan bang…jangan di situ…. Sakit!” ibaku. “Tahan Non, masih baru emang sakit, tapi ntar pasti enak kok” katanya dengan tenang. Aku masih meronta-ronta tapi Pak Togar memegangi tubuhku. Nampaknya dia memberi kesempatan bagi Kiryo menikmati anusku. Dia perlahan-lahan mendorong penisnya masuk ke anusku. Anusku pun kontan mengerut. Dia masih terus berusaha melicinkan jalan penisnya. Setelah beberapa saat menarik dan mendorong akhirnya ia berhasil memperawani anusku. Aku memeluk tubuh Pak Togar karena saking perihnya baru pertama kali ditusuk bagian sana. Dia diamkan sebentar penisnya disana untuk beradaptasi sekalian menikmati jepitannya. Kesempatan ini juga kupakai untuk membiasakan diri dan mengambil nafas. “Auhhh….sakit…” Aku menjerit keras saat dia mulai menghujamkan penisnya. Secara bertahap sodokannya bertambah kencang dan kasar sehingga tubuhku pun ikut terhentak-hentak. Aku tidak bisa melukiskan rasa sakit yang aku rasakan.</p>
<p style="text-align: justify;">Tanpa menghiraukannku dia tetap mengengot duburku. Untuk merangsangku, Pak Togar meraih kedua payudaraku yang bergoyang dan diremas-remasnya dengan lembut. Tapi remasannya kalah dibandingkan rasa sakit yang kuterima. “pak..u..da..ah….Erlina..sa..kit” jeritku panjang. Keringat dan air mataku bercucuran. Jeritanku itu bukannya membuatnya kasihan malahan membuatnya makin bernafsu. Dengan keras dia sodok-sodokan penisnya dan pantatku yang mulus itu diremas-remas dengan brutal. Suara rintihanku saling beradu dengan lenguhan. Lambat laun mulai kuraskan nikmat sedikit. Tapi walaupun begitu air mataku tetap bercucuran akibat sensasi nikmat di tengah-tengah rasa perih dan ngilu. Rasa sakit itu kurasakan terutama pada dubur, aku mengaduh setiap kali dia mengirim hentakan dan remasan keras, namun aku juga tidak rela dia menyudahinya. Terkadang aku harus menggigit bibir untuk meredam jeritanku. “aduh, sempit banget nih pantat.” desahnya sambil terus menggenjotku. “Udah bangsat. Hentikan. Sak…..it…..” kata-kata kasar keluar dari mulutku, tapi dia bahkan tidak peduli.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku terus memaki dan memakinya agar berhenti. Untuk meredam suaraku Pak Togar lalu mamasukkan penisnya ke mulutku dan memaksaku mengemutnya. Dia bahkan mulai kasar dengan menjambak rambutku. Aku tak punya pilihan lain selain mengoralnya. Hitung-hitung pengalih rasa sakit vaginaku. Kusedot dengan keras penis hitam itu. Kubuat pemiliknya medesah-desah. Walau masih lengket-lengket bekas persenggamaan barusan, kupakai lidahku menyapu batangnya. Aku dapat melihat ekspresi kenikmatan pada wajahnya akibat teknik oralku. Tiba-tiba Kiryo melingkarkan kedua lengannya ke ketiakku dan menarik bahuku. Kedua lenganku sekarang terkunci oleh lengan Kiryo dan terentang ke samping, membuatku terpaksa melepaskan kulumannya pada penis Pak Togar. Dalam posisi seperti itu Kiryo kemudian menarik tubuhnya sehingga kami berdua terlentang di lantai kamar mandi itu dengan posisi tubuhku ada di atasnya. Melihat hal itu, Pak Togar ikut maju, dipentangkannya kedua belah pahaku dan ditekuknya ke arah samping sehingga mengangkang seperti kodok, membuat vaginaku terkuak lebar.</p>
<p style="text-align: justify;">“Oohhh… janganh.. ahhh…hentikan……….”Aku berteriak takut saat menyadari apa yang akan dilakukan oleh Pak Togar. Pelan-pelan Pak Togar mula mendekatkan penisnya ke vaginaku. Aku berontak menyadari bahwa akan ada 2 penis besar dironggaku. Pasti sangat sakit pikirku. Tapi aku tak bisa berbuat banyak karena Kiryo memegangi tubuhku hingga aku tak bisa bergerak. “AAHHHHHKKK…am…pun………….nnnnn……..” aku menjerit saat penis Pak Togar menembus liang vaginaku. Sekarang dua batang penis besar memasuki tubuhku dari depan dan belakang. Aku meronta-ronta hebat saat secara bergantian Kiryo dan Pak Togar menggenjot tubuhnya. Tubuh ku mengeliat-liat di dalam himpitan kedua penjaga sekolah buruk rupa itu. Dan sambil menggenjot vaginaku, Pak Togar juga sibuk menciumi dan melumat bibirku. Aku merasa tersiksa dihimpit kedua penjaga sekolah brutal ini, tapi sebenarnya Aku juga merasakan sebuah sensasi hebat yang bergolak dari dalam tubuhku, bagaikan api besar yang membara dan meledak-ledak, membuatku akhirnya tenggelam dalam permainan seks bertiga itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Apalagi ternyata Kiryo dan Pak Togar sangat lihai dalam urusan seks, membuat sensasi dalam tubuhAku meledak. “aahhh… ahhhh… mau nyampe…….. oohhh… udaaaahhh… oohhh… udaaahhh…”Aku merintih-rintih merasakan orgasmenya setiap saat bisa meledak. Tapi kelihaian Kiryo dan Pak Togar dalam bersenggama membuat mereka bisa menahan orgasmeku. Mereka tidak ingin Aku selesai dengan mudah. Setiap kali Aku akan meledakkan orgasmenya, setiap kali pula mereka menghentikannya dengan bermacam cara, seperti dengan menghentikan genjotan penisnya, atau menjambak rambutku sampai kesakitan dan melupakan dorongan orgasmenya. Aku benar-benar dibuat takluk oleh kedua penjaga sekolah itu. Kurasakan wajahku panas merasakan sensasi orgasmenya berulang kali berhasil digagalkan. Entah berapa lama tubuhku berada di dalam himpitan dan genjotan kedua penjaga sekolah itu.Aku sendiri sampai terlalu payah untuk merintih, tubuhnya sekarang hanya tergetar dan menggeliat setiap kali hendak orgasme. “Gimana rasanya dikeroyok kaya gini Non Erlina? Ngomong dong..” kata Pak Togar sambil terus menggenjot vaginaku.</p>
<p style="text-align: justify;">“Eeegghh… ennaaakkk… Oohhhh… Nikmathh… Ahhhhh…..” jawabku sambil membiarkan kedua puting payudaraku dijilat dan digigit kecil oleh Pak Togar. “Apa Non mau lain kali ngentot bareng kita lagi?” tanya Kiryo dari belakang. “Ehhkkhh…. iyaahhh… mauuhhh… oohhh…” aku menjawab asal saja. Mendengar hal itu Kiryo makin bersemangat menggenjotkan penisnya di anusku. Hal itu berlangsung sekitar 15 menit lamanya sampai aku merasakan tubuhku seperti mau meledak, yang dapat kulakukan hanya menjerit panjang dan memeluk Pak Togar erat-erat sampai kukuku mencakar punggungnya. Selama beberapa detik tubuhku menegang sampai akhirnya melemas kembali dalam dekapan mereka. Namun mereka masih saja memompaku tanpa peduli padaku yang sudah lemas ini. Erangan yang keluar dari mulutku pun terdengar makin tak bertenaga. Tiba-tiba pelukan mereka terasa makin erat sampai membuatku sulit bernafas, serangan mereka juga makin dahsyat, putingku disedot kuat-kuat oleh Pak Togar, dan Kiryo menjambak rambutku. Aku lalu merasakan cairan hangat menyembur di dalam vagina dan anusku.</p>
<p style="text-align: justify;">Mereka berdua pun terkulai lemas diantara tubuhku dengan penis masih tertancap. Tanpa disadari, ada seseorang di luar sana yang telah mengetahui perbuatan mesum kami di toilet ini. Tiba-tiba saja pintu terbuka dan orang itu masuk “Hei, apa-apaan kalian? Ini sekolah, bukan tempat untuk main gila!” bentaknya Tentu saja kami pun terkejut dan melihat ke arah Ms. Alice, guru Bahasa Inggris yang berasal dari Amerika itu, berdiri berkacak pinggang dengan muka yang marah. Perlu diketahui bahwa sekolahku adalah sekolah internasional jadi tidak heran ada beberapa guru native yang mengajar di sini. Ms. Alice adalah seorang wanita berumur 24 tahun, berambut merah pendek dengan tubuh terbilang jangkung kalau dibandingkan tinggi badan wanita Asia pada umumnya. Ia sudah dua tahun di Indonesia sehingga sudah cukup lancar berbahasa Indonesia. Aku yang masih kaget buru-buru metutupi dadaku yang telanjang dengan kedua lengan. Mata Ms. Alice terpaku melihat melihat batang kemaluan kedua pria itu yang setengah ereksi itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Melihat reaksi Ms. Alice yang terdiam dan matanya mengarah pada kemaluan pria itu, Pak Togar timbul nyalinya untuk maju mendekati Ms. Alice, matanya menatap mata hijau wanita bule itu dengan tajam. Aneh, Ms. Alice yang tadinya tampak galak tiba-tiba terdiam dan melangkah mundur setengah langkah. Tanpa aba-aba, Pak Togar menarik lengan Ms. Alice dan dengan cepat mendekap tubuhnya. “No…tidak…mmmhhh!” sebelum Ms. Alice menyelesaikan kata-katanya bibirnya sudah lebih dulu dilumat dengan ganas oleh Pak Togar. Ms. Alice berusaha melepaskan diri dengan mendorong tubuh penjaga sekolah itu, tetapi tenaganya tentu kalah dibanding pria itu. Pak Togar menyibak rok Ms. Alice hingga terlihat pahanya yang jenjang dan putih mulus, tangan kasar itu langsung menggerayangi kemaluan Ms. Alice dari luar celana dalamnya. Mereka bergumul beberapa saat hingga akhirnya dorongan tangan Ms. Alice mulai berubah menjadi pelukan dan elusan liar, ia mulai membalas cumbuan Pak Togar dan bermain lidah dengannya.bertarung dan tangan Ms. Alice meraih penis Pak Togar.</p>
<p style="text-align: justify;">Ciuman mereka terpisah beberapa saat untuk mengambil nafas. “Puasin saya Pak…yah setubuhi saya dengan your big cock!” pinta Ms. Alice dengan suara lirih, kelihatannya ia sudah terangsang berat. Pak Togar menurunkan celana dalam Ms. Alice lalu melepas bajunya dengan kasar. Ms. Alice agak kaget tetapi diam saja. Batang kemaluannya yang dari tadi dielus-elusnya itu kini digesek-gesekkan oleh Pak Togar di selangkangannya. Ms. Alice menyandarkan punggungnya ke tembok dan mulai mengerang keenakan. Aku pun kembali merasakan seseorang meremas-remas buah dadaku dari belakang, ternyata Kiryo yang nafsunya bangkit lagi siap untuk memulai babak berikutnya. Aku pun melingkarkan tangan memeluk lehernya, kutengokkan wajah ke samping dan ia menyambut bibirku, kami kembali berciuman. Penisnya yang sudah bangkit lagi bergesekan dengan belahan pantatku. Kulihat di sudut sana, Ms. Alice pun mulai mengerang dan mendesah, tangannya membuka kait branya sendiri lalu menurunkan cupnya sehingga payudaranya pun terkuak. Pak Togar langsung memainkan buah dada wanita bule itu dan mereka pun berciuman dengan panas.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah beberapa saat saling merangsang, Pak Togar membawa Ms. Alice ke bangku panjang dan membaringkannya telentang di atasnya. Kemudian mulailah ia memasukkan batang kemaluannya yang sudah siap tempur itu ke dalam liang kemaluan Ms. Alice. Sodokan-sodokan pertama dimulainya dengan pelan-cepat pelan-cepat dengan ritme yang secara random. Ms. Alice mendesah dan menggumam dalam bahasa Inggris menerima sodokan-sodokan penis pria itu. Sementara tubuhku juga telah kembali bersatu dengan Kiryo, sambil mendekapku dari belakang ia memasukkan penisnya ke vaginaku, tubuhku dibungkukan ke depan membentuk sudut 90 derajat dan ia memegangi kedua pergelangan tanganku. Ia pun memulai genjotannya terhadap vaginaku. Dalam posisi begini kedua payudaraku nampak jelas sekali berayun-ayun mengundang selera. “Uuugghhh…asoy nih, memek bule, sedappphh!” ceracau Pak Togar sambil terus menggenjot vagina Ms. Alice dengan berpegangan pada kedua pergelangan kaki wanita itu. Ms. Alice terlihat pasrah, tubuhnya yang sudah telanjang bulat tersentak sentak di atas kursi panjang itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku melihat jelas vagina Ms. Alice yang bulunya juga kemerahan itu diterobos penis pak Togar yang besar dan berurat. Desahan pelan yang seksi dari guru Bahasa Inggrisku itu membuatku panas dingin menyaksikannya. Ms. Alice sama sekali tak terlihat diperkosa, bahkan dengan penuh penyerahan ia menyambut setiap tusukan pak Togar dengan sedikit mengangkat pinggulnya, nampaknya ia sudah lama tidak menikmati kenikmatan seks sehingga sekarang demikian larut di dalamnya. Sepuluh menitan kemudian mereka berganti posisi, kini Pak Togar telentang di bangku panjang dan sebelum ia sempat meminta, Ms. Alice sudah lebih dulu meraih penis besarnya dan menjilatinya dengan bernafsu. Wajah Ms. Alice nampak liar ketika menjilati penis itu sambil mengocoknya persis seperti artis-artis porno di film-film produksi Vivid dan Private, berbeda sekali dengan kesehariannya ketika mengajar di kelas yang anggun dan keibuan. Sedangkan aku kini sedang disetubuhi Kiryo dengan punggung bersandar ke tembok dan kedua kakiku diangkat olehnya, ternyata kurus-kurus begini kuat juga dia menopang tubuhku.</p>
<p style="text-align: justify;">Penisnya menghujam-hujam vaginaku, terkadang bibir kami bertemu dan saling bermain lidah. Aku sudah benar-benar mandi keringat karena sudah bergulat sejak tadi, tapi herannya kedua orang ini sepertinya belum puas juga mengerjaiku apalagi sekarang ditambah Ms. Alice. “Aahh..ahhh…kuat banget sih Bang, mau sampe kapan nih?” desahku di tengah pergumulan kami “Hehehe…mumpung dapet rejeki Non, kapan lagi bisa gini, makannya kudu dipuas-puasin sekarang…huuhhh….uuhh!” jawabnya tanpa menghentikan genjotan “Enngghh…Bang…” aku melenguh keenakan ketika tiba tiba penisnya menyodok dalam-dalam. Cairan cintaku yang sudah kembali meleleh melumasi vaginaku membuat sodokan itu terasa begitu nikmat. Apalagi urat urat yang menggerinjal itu berdenyut denyut, membuat aku kehilangan kontrol dan mulai menggerakkan pinggulku menyambut tiap genjotannya. “Enak kan Non?” tanya Kiryo dengan senyum mengejek. “Iyah Bang… enakkhh.. ooohh” jawabku yang sedang dimabuk birahi. Dalam diriku sekarang ini hanyalah mengejar orgasmeku, tak kuperdulikan celotehan Kiryo yang mengejekku dengan cara menirukan desahan, erangan dan lenguhanku.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku menggerakkan mata ke arah bangku panjang, ternyata mereka sedang bergaya 69. Pak Togar sedang asyik-asyiknya menjilat dan mencucuki vagina Ms. Alice yang di atas tubuhnya, ia membenamkan wajahnya pada vagina berbulu kemerahan itu seolah mau melahapnya. Ms. Alice dengan badan menggeliat-geliat menahan nikmat juga tidak kalah agresif mengoral penis penjaga sekolah itu sehingga pria itu melenguh nikmat dan berkelejotan. Setelah itu Ms. Alice melanjutkannya dengan naik ke penis Pak Togar, setelah menempelkan kepala penis itu pada bibir vaginanya, Ms. Alice menurunkan tubuhnya dan blesss…penis Pak Togar pun terbenam dalam vaginanya. Ia mulai menaik turunkan tubuhnya hingga vaginanya terpompa oleh penis itu. Pak Togar dibuatnya kelabakan dan mengerang ngerang dengan goyangan tubuhnya yang ganas. Kiryo sudah hampir selesai denganku, ia sudah mau keluar. Sebelum ngecrot ia menurunkan tubuhku dan menyuruhku berlutut. Di depan wajahku ia kocok penisnya dan crottt…croott…spermanya muncrat diiringi erangannya. Wajahku pun basah karena cipratan cairan putih kental itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku membuka mulut menyambut cipratan sperma itu, setelah semprotannya melemah, kuraih benda itu dan langsung kumasukkan mulut dan kuemuti dengan nikmatnya penisnya yang mulai lembek bercampur sperma dan cairan kewanitaanku itu. Kiryo akhirnya terduduk lemas di lantai, aku yang belum mencapai orgasme menghampiri Pak Togar yang sedang sibuk dengan Ms. Alice di atas bangku. Kunaiki wajah Pak Togar dengan posisi berhadapan dengan Ms. Alice, sehingga lubang kemaluan dan pantatku tepat mengarah ke wajah pria itu. Tanpa kuminta aku sudah merasakan lidahnya menjilati liang kemaluanku yang basah itu dan memainkan klitorisku. Pada waktu yang sama, aku mulai menciumi Ms. Alice dan memainkan buah dadanya, begitu pula dengan Ms. Alice yang membalas ciumanku dengan ganas dan juga meremas payudaraku. Ia menjilati cipratan sperma yang membasahi wajahku itu hingga bersih. “You…naughty girl…sshh…I’ll punish you for this!” katanya sambil mendesah di dekat wajahku. Aku hanya tersenyum nakal memandangnya lalu kupagut bibirnya dan kamipun berpelukan sesama wanita dan beradu lidah.</p>
<p style="text-align: justify;">Lima menit kemudian bibirku merayap turun ke lehernya terus dengan tujuan payudaranya. Putingnya yang coklat itu pun akhirnya kutangkap dengan mulutku dan kuemut-emut. “Uuuhh…I’m coming…yeesss…aaahh…aahh!” Ms. Alice mendesah panjang beberapa saat kemudian diiringi dengan tubuhnya yang mengejang. Ia semakin cepat menaik-turunkan tubuhnya di atas penis Pak Togar hingga akhirnya kulihat tubuhnya semakin berkelejotan, ia mencengkram erat kedua lenganku menyongsong orgasme hingga melemas dalam dekapanku. “Weleh…weleh hari ini hoki banget udah dapet cewek SMA dapet gurunya lagi…mana bule pula!” sahut Kiryo berjalan menghampiri kami, “yuk sini Miss, gua pengen ngerasain memek bule nih!” Ia menarik tubuh Ms. Alice yang masih lemas pasca orgasme. Karena masih belum pulih tenaganya Ms. Alice pun tersungkur di lantai. Melihat itu, Kiryo duduk di lantai dan menaikkan tubuh guru bahasa Inggrisku itu ke pangkuannya dalam posisi berhadapan. Ia mengarahkan penisnya yang sudah keras lagi ke vagina Ms. Alice yang dengan pasrah mengikuti saja arahannya.</p>
<p style="text-align: justify;">“Aaaahh!!” terdengar desahan lirih dari mulut wanita berambut merah itu saat ia menurunkan tubuhnya hingga vaginanya tertancap di penis Kiryo Tanpa menunggu lebih lama lagi, Kiryo mulai menyentak-nyentakkan pinggulnya ke atas membuat Ms. Alice mendesah nikmat sambil berpelukan pada tubuh kurusnya. Penjaga sekolah bertubuh kurus itu membenamkan wajahnya pada dada Ms. Alice dan dengan bernafsu ia melumat payudaranya yang berukuran lumayan besar itu secara bergantian. “Non Lina, bapak tusuk lagi yah!” pinta Pak Togar di bawah selangkanganku, sepertinya ia sudah cukup puas melumat kewanitaanku, terlihat dari mulutnya yang sudah belepotan cairanku. Aku mengangguk saja mengiyakannya, lalu ia menyuruhku berposisi doggie di lantai. Setelah bertumpu dengan kedua lutut dan telapak tanganku, aku merasakan kepala penisnya kembali melesak masuk ke vaginaku. “Uuuhhh!” desahku lirih dengan wajah terangkat. Ia memompa tubuhku dengan penuh nafsu. Tangannya meraba dan meremas-remas payudaraku yang bergelayutan. Sambil terus memompa, tangan satunya meraih payudara Ms. Alice yang sedang bersetubuh dengan Kiryo di sebelahnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Tangannya yang menggerayangi payudaraku makin ganas sambil sesekali memilin-milin puting susuku. Tubuhku tersentak-sentak karena pompaan Pak Togar, kutengokkan kepalaku ke samping belakang melihat Ms. Alice sedang menaik turunkan tubuhnya di atas penis Kiryo sementara payudaranya dikenyot pria kurus itu dan payudara satunya diremas-remas Pak Togar. Ms. Alice sepertinya sudah pulih tenaga dan birahinya, terlihat dari goyangnya yang liar itu. “Ooohhh…uuhh…Lina…Lina!!” ia memanggilku di tengah desahannya “Yes Miss?” jawabku “Please…aahhh…remember…remember to keep this little secret, ok…hhhmmhh!” katanya dengan lirih. “Sure…ahhhh…I do!” jawabku menyanggupi Kami terus berpesta seks di toilet selama hingga setengah jam ke depan, aku terpaksa minta berhenti karena sudah mencapai batas staminaku sedangkan mereka masih tampak bersemangat. Untungnya ada Ms. Alice sehingga mereka mengijinkanku pulang lebih dulu. Setelah aku berpakaian Kiryo sedang menyetubuhi Ms. Alice dalam gaya doggie sementara Pak Togar di depannya menyetubuhi mulut guruku itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku berpamitan pada mereka dan keluar menutup pintu membiarkan mereka yang di dalam meneruskan kegiatan mereka berasyik masyuk. Sungguh tubuhku terasa lemas sekali, berjalan pun terasa nyeri pada vagina dan pantatku, terutama anusku yang kurasakan sakit dan sekarang terasa terbuka longgar. Demikian sekilas petualangaku dengan kedua penjaga sekolahku yang kelak terulang lagi dan lagi pada hari-hari berikutnya. Aku semakin tak dapat melepaskan diri dari kenikmatan yang mereka berikan dan menjadi budak seks mereka sampai aku lulus SMA. Aku senang karena mereka mewarnai kehidupan seks masa SMA-ku dengan variasi seks yang belum berbeda dari yang lain. Sejak saat itu jika ada kesempatan aku selalu bercinta dengan mereka. Tak jarang aku mengundang mereka ke rumahku jika keadaan sepi. Di rumah kami menikmati kepuasan mulai dari kamar tidurku, ruang tamu sampai kamar mandi. Bahkan beberapa kali aku mengajak mereka untuk pesta seks dengan teman-teman SMAku yang cantik-cantik, ya…sahabat-sahabat dekatku yang kebetulan sama-sama petualang seks. Ms. Alice, guru Bahasa Inggrisku itu, bukanlah satu-satunya orang lain yang terlibat dalam kehidupan seksku yang liar, guru les pianoku yang gadis alim itu pun juga tak terkecuali, lalu ada juga adik sepupuku dan seorang guru muda cantik di sekolahku yang ikut terseret dalam kehidupan gilaku ini. Pak Togar sesekali mengajak kenalannya yang lain untuk ikut menikmati tubuhku dan juga teman-temanku. Biasanya yang diajak adalah lelaki yang paruh baya namun staminanya bagus. Aku hanya berpesan agar mereka tidak ember membocorkan semua ini, I love my sex life!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ceritasex.cn/akibat-merokok-di-wc-sekolah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Binalnya Tante Ida</title>
		<link>http://www.ceritasex.cn/binalnya-tante-ida/</link>
		<comments>http://www.ceritasex.cn/binalnya-tante-ida/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 16 Nov 2011 20:00:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cerita Sex</dc:creator>
				<category><![CDATA[Paruh baya]]></category>
		<category><![CDATA[Pemerkosaan]]></category>
		<category><![CDATA[Seks Umum]]></category>
		<category><![CDATA[Tante Girang]]></category>
		<category><![CDATA[bercinta]]></category>
		<category><![CDATA[binal]]></category>
		<category><![CDATA[bokep]]></category>
		<category><![CDATA[cuki]]></category>
		<category><![CDATA[isep kontol]]></category>
		<category><![CDATA[kontol]]></category>
		<category><![CDATA[ml]]></category>
		<category><![CDATA[ngentot]]></category>
		<category><![CDATA[seks]]></category>
		<category><![CDATA[tante ida]]></category>
		<category><![CDATA[vagina]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ceritasex.cn/?p=3177</guid>
		<description><![CDATA[Aku sedang berlibur di kota Bandung, nginap dirumah Om ku adik mama yang paling kecil. Mereka memang 7 bersaudara dan mamaku yang paling tua, aku saat itu berumur 20 tahun dan omku berumur 35 tahun. Istri om ku, tante Ida berumur 27 tahun, orangnya sangat cantik dan mempunyai tubuh yang mungil tapi padat. Pantatnya bebar-benar [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Aku sedang berlibur di kota Bandung, nginap dirumah Om ku adik mama yang paling kecil. Mereka memang 7 bersaudara dan mamaku yang paling tua, aku saat itu berumur 20 tahun dan omku berumur 35 tahun. Istri om ku, tante Ida berumur 27 tahun, orangnya sangat cantik dan mempunyai tubuh yang mungil tapi padat. Pantatnya bebar-benar montok dengan pinggang yang ramping dan perut yang datar, maklum mereka belum mempunyai anak, biarpun sudah kawin hampir 3 tahun. Akan tetapi tante Ida yang cantik itu, orangnya sangat judes, dia tidak memandang mata keluargaku, maklum kami hanya biasa-biasa saja, sedangkan tante Ida datang dari keluarga yang sangat kaya di kota Surabaya, dia hanya 2 bersaudara dan Ida adik perempuannya yang berumur 22 tahun, masih kuliah di ITB dan tinggal dirumah om dan tante Ida di Bandung. Selama aku berada dirumah om ku ini, hampir setiap hari tante Ida mengomel saja, karena dia memang sangat benci kalau aku menginap dirumah mereka. Disamping aku memang termasuk anak yang bandel, biarpun secara postur tubuh, aku sudah kelihatan sangat dewasa, karena tinggi badanku 175 cm dengan tubuh yang berotot, tante Ida curiga saja dan menganggap aku sering menerima duit dari om ku, pada hal sangat jarang om ku memberi aku duit.</p>
<p style="text-align: justify;">Saat ini aku nginap di rumah mereka, sebenarnya hanya terpaksa saja, karena aku sedang berlibur di Bandung dan ibuku memberitahukan kepada om ku yang memaksa aku tinggal dirumahnya. Hari ini entah mengapa aku merasa suntuk banget sendirian, kemarin sore sebelum om ku pulang dari kantor, tante Ida marah-marah dan menunjukan muka cemberut terhadap saya. Saat itu rumah berada dalam keadaan sepi, om sudah pergi kekantor, Mbak Ani adik tante Ida sedang pergi kuliah, Bik Suti lagi pergi ke pasar, dan tante Ida katanya mau pergi ke arisan. Tadi sebelum pergi dengan nada yang setengah membentak, tante Ida menyuruh saya menjaga rumah. &#8220;Dari pada BT sendiri, mending nonton BF aja di kamar,&#8221; pikirku. TV mulai kunyalakan, kuambil CD porno yang kemarin kupinjam ditempat persewahan dekat rumah, adegan-adegan panas nampak di layar. Mendengar desahan-desahan artis BF yang cantik dan bahenol tersebut membuat aku terangsang. Dengan lincahnya tanganku melucuti celana beserta CD-ku sendiri. Burungku yang sedari tadi tegak mengacung kukocok perlahan.</p>
<p style="text-align: justify;">Film yang kutonton itu cukup panas, sehingga aku menjadi semakin bergairah. Kutanggalkan pakaian yang masih melekat, akhirnya tubuhku tanpa ada penutup sekalipun. Kocokan tanganku semakin cepat seiring dengan makin panasnya adegan yang kutonton. Kurasakan ada getaran dalam kontolku yang ingin meyeruak keluar. Aku mau orgasme, tiba-tiba… &#8220;Anton.. apa yang kamu lakukan!!&#8221; teriak sebuah suara yang aku kenal. &#8220;Ooooohh… Tante…?!&#8221; aku kaget setengah mati dan sangat bingung sekali saat itu. Tak kusangka tante Ida yang katanya mau pergi arisan bisa kembali secepat itu. Tanpa sadar aku bangkit berdiri dan kudekati tante Ida yang cantik tapi judes itu, yang masih berdiri dalam keadaan kaget dengan mata membelalak melihat keadaanku yang telanjang bulat dengan kontolku yang panjang dan besar dalam keadaan tegang itu. Tiba-tiba entah setan mana yang mendorongku, secara refleks saja aku menyergap dan mendekap tubuh tante Ida yang mungil padat itu. Badannya yang mungil dan tingginya yang hanya sampai sebahu dari ku, ku bekap dengan kuat dan kutarik agak keatas, sehingga tante Ida hanya berdiri dengan ujung jari kakinya saja dengan kepala agak tertengadah keatas, karena kaget. Dengan cepat kucium dan kulumat bibir tipisnya yang seksi.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Eeeehhhh… ppppffffff…!!! badan tante Ida seketika mengejang dan agak menggeliat menerima perlakuan yang tidak pernah dia sangka akan berani aku lakukan itu dan sesaat kemudian dia mulai memberontak dengan hebat, sehingga ciumanku terlepas….<br />
<span id="more-3177"></span><br />
&#8220;Anton.. jangan kurang ajar.. berani benar kau ini.. ingat, Toonnn.. Aku ini istri om mu…!!! Cepat lepas… nanti kulaporkan kau ke om mu…&#8221; teriak tante Ida dengan suara garang mencoba mengancamku. Aku tak lagi peduli, salah tante Ida sendiri sih, orang mau orgasme kok diganggu. Dengan buasnya aku jilat belakang telinga dan tengkuknya, kedua payudaranya yang biarpun tidak terlalu besar, tapi padat itu langsung kuramas-ramas dengan buas, sampai tante Ida menjerit-jerit. Disamping nafsuku yang memang sudah menggila itu, ada juga rasa ingin balas dendam dan mau mengajar adat padanya atas perlakuan dan pandangannya yang sangat menghina padaku. Dia mencoba berteriak, tapi dengan cepat aku segera menciumnya lagi. Ada kali 10 menit aku melakukan hal itu, sementara tante Ida terus meronta-ronta, dan mengancamku serta mencaci maki, entah apa saja yang dikatakannya, aku sudah tidak memperdulikannya lagi.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku terus menyerangnya dengan buas dan mengelus-elus dan meramas-ramas seluruh tubuhnya sambil terus mencium mulutnya dengan rakus. Dia tidak dapat melepaskan diri dari dekapanku, karena memang tubuhku yang tinggi 175 cm dengan badan yang atletis dan berotot, tidak sebanding dengan tubuh tante Ida yang 155 cm dan mungil itu. Akibat seranganku yang bertubi-tubi itu, lama kelamaan kurasakan tidak ada lagi perlawanan dari tante Ida, entah karena dia sudah lelah atau mungkin dia mulai terangsang juga. Merasa sudah tidak ada perlawanan lagi dari tante Ida, kontolku yang panjang dan besar yang sudah sangat tegang itu kugosok-gosok pada perutnya dan kemudian kuraih tangannya yang mungil dan kuelus-elus ke kontolku, tangan mungilnya kugosok-gosok, mengocok kontolku yang mulai mengeras. Tubuhnya terasa mengejang, akan tetapi kedua matanya masih terpejam, dan tidak ada perlawanan darinya. Kemudian ketika dengan perlahan kubuka baju tante Ida, dia dengan lemah masih mencoba menahan tanganku, akan tetapi tanganku yang satu mengunci kedua tangannya dan tanganku yang lain membuka satu demi satu kancing-kancing blusnya, dan perlahan-lahan mempertontonkan keindahan tubuh di balik kain itu. Setelah berhasil membuka blus dan BH-nya, kuturunkan ciumanku menuju ke payudara tante Ida yang padat berisi…</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Tooonnnn… aaammmpuunn… Toonnnnn… iiii.. iiingaaattttt.. Tooonnn..!!!&#8221; Kucium dan kulumat putingnya yang berwarna kecoklatan itu. Terkadang kugigit dan kupuntir putingnya, sementara kusingkap roknya dan jari-jariku mulai mengelus-elus kemaluannya yang masih tertutup CD. &#8220;Iiiiiiiiii…..ooohhhhhhh…..aaaagggghhhhhh……..ssssshhhhhhh……..Toooonnnnn……! !!!!&#8221; akibat perlakuanku itu, kayaknya tante Ida mulai terangsang juga, itu terasa dari tubuhnya yang mengejang kaku dan dengusan nafasnya makin terdengar kuat. Aku makin memperhebat seranganku dan tiba-tiba tubuh tante Ida bergetar dengan kuat dan…….. &#8220;Aaaahhhhhh..Toooonnnn…jaaa..jaaa angaaannn….Tooonnnn……iiii…ngaaaatttt.. Tooo nnn… oooohhhhhhh…………aaaaaggggghhh…aaaaggghhh .aaaaggggggggghhhhh…!!!!!&#8221; akhirnya, disertai tubuhnya yang mengejang dan menggeliat-geliat kuat, serta kedua tangannya mendekap punggung ku….Seerrr.. cairan kewanitaan tante Ida membasahi CD nya sekalian jemariku. Setelah masa orgasmenya berlalu, terasa badan tante Ida melemas terkulai dalam dekapanku dan kedua matanya masih terpejam rapat, entah perasaan apa yang sedang bergelora dalam tubuhnya, puas, malu atau putus asa akibat perlakuanku terhadap nya , sehingga dia mencapai orgasme itu. Tarikan nafasnya masih terengah-engah.</p>
<p style="text-align: justify;">Kami terdiam sejenak, sementara tubuh tante Ida bersandar lemas dalam dekapanku dengan mata. Jemari lentik tante Ida masih menggenggam kontolku yang masih tegak mengacung. Akhirnya secara perlahan-lahan kepala tante Ida menengadah keatas dan terlihat pandangan matanya yang sayu menatapku, sehingga menambah kecantikan wajahnya dan secara lembut terdengar suaranya… &#8220;Oooohhhh….Toonnnn, apa yang kau perbuat pada tantemu ini…….?????&#8221; &#8220;Eeeehhmmm…maafkan Anton tante….Anton lupa diri….abis tante tadi masuk tiba-tiba selagi Anton akan mencapai klimaks….salah tante sendiri sihhh…….lagi pula…tante amat cantik sihhh…..!!!!!!&#8221; sahutku mencari-cari alasan sekenanya. Sekarang kayaknya tante Ida sudah pasrah dan sambil tanganya masih menggenggam kontolku katanya lagi.. &#8220;Tooonnnn…..punya kamu gede amat yaaaa…????. Punya Om mu nggak sampai segede ini..!!&#8221; &#8220;Aaahhhhh, tante…apa betull…?????!&#8221; memang kontol ku panjangnya 20 cm dan gede juga dengan kepalanya yang bulat besar, apalagi kalau lagi sangat bernafsu begini. Jemari lentik tante Ida yang tadinya hanya menggenggam saja, kini mulai memainkan kontolku dengan manja. Seperti mendapat mainan baru, tangan tante Ida tak mau lepas dari situ.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Taaannnnn…., kok diiiii…..dii…diamin aja, dikocok dong, Taannn…. biar enaaakkk….!!!!&#8221; &#8220;Ton, Ton.. kamu keburu nafsu aja….aaaaggghhh….!!!&#8221;, perlahan-lahan kedua tanganku menekan bahu tante Ida, sehingga tubuh tante Ida berjongkok dan sesaat kemudian kepalanya telah sejajar dengan selangkanganku. Kedua tangannya segera menggenggam kontolku dan kemudian tante Ida mulai menjilati kepala kontolku dengan lidahnya. Bergetar seluruh tubuhku menerima rangsang dari mulut tante Ida. Dijilatnya seluruh batang kemaluanku, mulai dari pangkal sampai ujung. Tak ada bagian yang terlewat dari sapuan lidahnya. Dikocoknya kontolku didalam mulutnya, tapi tak semuanya bisa masuk. Mungkin hanya 3/4 nya saja yang dapat masuk ke mulut tante Ida. Kurasakan dinding tenggorokan tante Ida menyentuh kepala kontolku. Sungguh sensasi sangat luar biasa menjalar ke seluruh tubuhku. Cukup lama juga tante Ida mengulum kontolku. Kurasakan batang kontolku mulai membesar dan makin mengeras. Dari dalam kurasakan ada sesuatu yang memaksa untuk keluar.</p>
<p style="text-align: justify;">Merasa aku akan keluar, tante Ida semakin cepat mengocok batang kemaluanku. &#8220;Taaannnnn..ah..aohh.. taaannn.. Anton mo keluar,…….aaauuugghhhh…..taaannnn..!!!!!!!&#8221; Akhirnya..Croott..croott..croottt.. Hampir sepuluh kali cairan itu menyembur dari ujung kontolku. Diminumnya air maniku dengan, dijilatinya semua, sampai tak ada lagi cairan yang tersisa. Meskipun sudah keluar tetapi kontolku tetap saja masih tegar, meski tak seberapa keras lagi. Melihat itu, tante Ida mencium-cium kepala kontolku dan menjilat-jilatnya hingga bersih. Kemudian kutarik berdiri tubuh tante Ida dan kudorong ke tempat tidur, sehingga tante Ida terlentang diatas tempat tidur. Dengan cepat kulucuti rok sekalian CD nya, sehingga sekarang tante Ida terlentang diatas tempat tidur dengan tubuhnya yang mungil tapi padat itu berada dalam keadaan telanjang bulat. Tante Ida hanya menatap ku dengan pandangan yang sayu dan terlihat pasrah. Aku naik keatas tempat tidur dan kedua kakinya kupentang lebar-lebar dan aku berjongkok diantara kedua pahanya yang terpentang membuka lebar kemaluannya yang telah licin, siap untuk diterobos.</p>
<p style="text-align: justify;">Kupegang batang kontolku dan kugosok-gosok sepanjang bibir kemaluannya, sambil kutekan-tekan pelahan. Merasakan gesekan-gesekan lembut vagina tante Ida, kontolku mulai mengeras kembali. Ku ambil tangan tante Ida dan ku tempatkan pada batang kontolku, segera digengamnya kontolku dan diarahkan ke lubang kemaluannya. Dengan sedikit gerakan menekan, kepala kontolku perlahan-lahan mulai masuk setengah ke lobang kemaluan tante Ida. Terasa lobang kemaluan tante Ida sangat sempit mencengkeram batang kemaluanku. Dinding kemaluan tante membungkus rapat batang kemaluanku, kutekan lagi dan tubuh tante Ida menggeliat… &#8220;Oooooohhhhhh… Toooonnnn… bee.. beeeesaaarrrr aaaaa.. maaaattttt.. pe.. peeelaaan… pee laaan… Tooooonnnnn… ooooohhhhh..!!!!!&#8221; tante Ida merintih perlahan. Secara pelan dan hati-hati aku menekan batang kemaluanku makin dalam… terus… terus…. ooohhhhhh… eeeenna aaak… benaaarrrr… terasa jepitan kuat dinding kemaluan tante Ida yang menjepit rapat batang kemaluanku. Perasaanku terasa melayang-layang dilanda kenikmatan yang tidak terlukisakan ini…..</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Taaaaannnnn……ooohhhhhh…..eeee euuuuunnaaaakkkkkkkk…taannnnn….!!!!&#8221; Dengan kedua paha yang terkangkang lebar-lebar dan kedua tangannya berpegang pada pinggangku, tante Ida memandang ku dengan tatapan sayu, terlihat sangat cantik dan menawan, sehingga aku yang sedang bertumpu diatasnya perasaanku terasa menggila, melihat dan merasakan wanita cantik dan ayu yang berbadan mungil tapi padat ini, terlentang pasrah dibawahku, menerima seluruh perlakuanku. Kugerakan perlahan-lahan pinggulku menekan kebawah, sehingga kontolku  terbenam makin dalam kelobang kemaluannya, dalam….. dalam….. terus…… terus….. daannnn….. ….kemudian……ujung kepala kontolku terasa mentok, karena beberapa kali tubuh tante Ida mengejang ketika aku mencoba menekan lebih kuat, aku kemudian mulai menarik keluar dan selanjutnya memompa keluar masuk. Dengan bersemangat aku mulai menaik-turunkan tubuhku. Gerakan naik-turun yang terkadang diselingi dengan gerakan memutar, sungguh merupakan sensasi yang sangat luar biasa. Apalagi posisi kedua paha tante Ida terkangkang lebar-lebar, membuat tikaman-tikamanku terasa jauh didalam dasar lobang kemaluannya.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku dapat melihat payudara tante Ida bergerak-gerak keatas kebawah setiap kali aku menekan masuk kontolku dalam-dalam sehingga kedua selangkangan kami berhimpit rapat-rapat. Kemudian kurasakan otot-otot kemaluan tante Ida dengan kuat menyedot kontolku. Semakin lama kurasa semakin kuat saja kemaluan tante Ida menjepit kontolku. Kulihat wajah tante Ida nampak makin memerah menahan orgasme keduanya yang akan melandanya sebentar lagi. &#8220;Aaaaaaddduuuuuhhhhh….Toooonnn.. Aaaagggghhhhhh.. Oouggg.. hhaa..hhaa…Toooonn …taaannnn…teeeee…maaa…. Maaauuuu…keee… keeeeluaraarrrr lagi, Toonnnnn…!!!!!!!.&#8221; Dan….. Seeeeerrrr…..kurasakan cairan hangat membasahi kontolku. Sementara nafsuku sudah sangat memuncak menuntut penyelesaiannya, aku sudah tidak bisa lagi bertindak halus, tanpa banyak bicara, segera saja kupompa pantatku dengan cepat dan gencar, mendapat serangan yang agak kasar dan tiba-tiba itu tante Ida menjerit-jerit kesakitan. Meskipun lobang kemaluan tante Ida telah basah dan licin banget, tapi tetap saja terasa seret untuk ukuran kontolku yang besar.</p>
<p style="text-align: justify;">Tak kuhiraukan lagi suara tante Ida yang menjerit-jerit kesakitan, yang ada dipikiranku saat itu adalah aku ingin segera mengakhiri permainan ini dan merasakan nikmat yang akan datang padaku. Kurasakan otot-otot kontolku mulai berdenyut-denyut dengan kerasnya, ada sesuatu yang berusaha untuk keluar dari batang kontolku. Kucoba untuk menahannya selama mungkin agar tidak segera keluar, tapi jepitan dinding kemaluan tante Ida akhirnya meruntuhkan pertahananku. &#8220;Aaaaaauuddddduuhhhh… taaannnnnn… teeeee… oooooohhhhh…..!!!!&#8221; keluhan panjang penuh kenikmatan keluar dari mulut ku disertai dengan …croott.. croott….croooootttt….semburan..maniku menyemprot dengan kuat, mengisi relung-relung terdalam lobang kemaluan tante Ida, kemudian badanku tertelungkup lemas menidih badan mungi tante Ida, sementara kuubiarkan kontolku tetap didalam kemaluan tante Ida untuk merasakan sisa-sisa orgasmeku. Kurasakan kemaluan tante Ida tetap saja berdenyur-denyut, meski tak sekuat tadi. &#8220;Taannnn, terima kasih ya, udah mau temenin Anton main.!!!!&#8221; kataku dengan manja.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Kamu, tuh, Ton, kalau lagi nafsu jangan main maksa dong, masak tantemu sendiri kamu perkosa juga…..!!!!&#8221; &#8220;Iiihhhhh…tante…..tapi tante senang juga….kaannnn …..????&#8221; &#8220;Iya.. siiihhh….!!!!!&#8221; kata tante Ida malu-malu. Sejak saat itu sikap tante Ida terhadapku berobah seratus persen, biarpun sikap kami ini tetap terjaga dihadapan om dan adik tante Ida. Aku dan tante Ida sering berhubungan sex bersama kalau rumah lagi sepi. Aku makin merasa sayang saja terhadap tante Ida, apalagi tante Ida melayani nafsu sex saya dengan rela dan sepenuh hati.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ceritasex.cn/binalnya-tante-ida/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Perkosaan Yang Fantastis</title>
		<link>http://www.ceritasex.cn/perkosaan-yang-fantastis/</link>
		<comments>http://www.ceritasex.cn/perkosaan-yang-fantastis/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 16 Nov 2011 19:51:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cerita Sex</dc:creator>
				<category><![CDATA[Paruh baya]]></category>
		<category><![CDATA[Pemerkosaan]]></category>
		<category><![CDATA[Seks Umum]]></category>
		<category><![CDATA[kontol]]></category>
		<category><![CDATA[memek]]></category>
		<category><![CDATA[ngentot]]></category>
		<category><![CDATA[orgasme]]></category>
		<category><![CDATA[perkosa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ceritasex.cn/?p=3175</guid>
		<description><![CDATA[Suatu saat suamiku harus meneruskan S2-nya ke luar negeri untuk tugas perusahaan. Aku mengantar kepergian suamiku sampai di bandara. Demikian sejak itu, aku harus membiasakan hidupnya dengan jadwal tugas suamiku, suatu hari menjelang sore hari, setelah menyediakan makan malam di atas meja, yang pada saat ini harus disiapkan sendiri, sebab pembantuku sedang pulang kampung, karena [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Suatu saat suamiku harus meneruskan S2-nya ke luar negeri untuk tugas perusahaan. Aku mengantar kepergian suamiku sampai di bandara. Demikian sejak itu, aku harus membiasakan hidupnya dengan jadwal tugas suamiku, suatu hari menjelang sore hari, setelah menyediakan makan malam di atas meja, yang pada saat ini harus disiapkan sendiri, sebab pembantuku sedang pulang kampung, karena mendadak ada keluarga dekatnya di kampung yang sakit berat. John teman suamiku orang Italy pada waktu mereka sekolah di Inggris bersama, sedang mendapat tugas di Indonesia sementara ini tinggal dirumah. Telah hampir satu bulan John tinggal bersama kami, istrinya tetap berada di Italy. Seperti biasanya setelah selesai makan bersama, aku kembali kekamar dan karena udara diluar terasa panas aku ingin mengambil shower lalu aku mengambil handuk dan masuk ke kamar mandi untuk berpancur. Letak kamar mandi nyambung dengan kamar tidurnya. Setelah selesai mandi, aku mengeringkan tubuhku dan dengan hanya membungkus tubuhku dengan handuk mandi, aku membuka pintu kamar mandi dan masuk ke dalam kamar tidurku.</p>
<p style="text-align: justify;">Disudut seberang kamar tidur yang tidak tertutup pintunya terlihat John sedang santai dikamarnya, rupanya dia telah selesai makan dan masuk ke kamarnya untuk nonton tv memang dia lebih senang di dalam kamar yang lantainya dilapisi karpet tebal dan udaranya dingin oleh AC. Dengan masih dililit handuk, aku duduk di depan meja rias untuk mengeringkan dan bersisir rambut. Pada saat itu John kulihat dari cerminku mendadak bangkit dari tempat duduknya dan berjalan mondar mandir di dalam ruangan kamarnya, terlihat malam ini John agak gelisah, tidak seperti biasa yang selalu menutup pintu kamarnya, malam ini dia mondar mandir dan sekali-sekali matanya yang biru kecoklatan melihat ke arahku yang sedang duduk menyisir rambutku. Melihat John seperti itu, aku bangkit berdiri dan berjalan menuju pintu untuk menutup pintu kamarku, aku sempat melihat John tersenyum padaku sambil berkata, &#8220;Hai Ratna kau cantik sekali malam ini..!&#8221; Tiba tiba John langsung berdiri melintas kamarnya, tanpa aba-aba salah satu kakinya menahan pintu kamarku lalu tangannya yang kekar mencoba menggapai pinggangku.</p>
<p style="text-align: justify;">Tercium olehku bau alkohol dari mulutnya rupanya John baru saja minum whisky, &#8220;..John sadar.. aku Ratna istri temanmu..!&#8221; John bisa bicara Indonesia, aku mencoba berbalik dan karena eratnya pegangannya di pinggangku, aku terhuyung-huyung dan aku jatuh telentang di lantai yang dilapisi karpet tebal. Kedua kakiku terpentang lebar, sehingga handuk yang tadinya menutupi bagian bawahku tersingkap, yang mengakibatkan bagian bawahku terbuka polos terlihat bagian pahaku yang putih mulus masih agak basah karena belum sempat kering dengan betul. Rupanya minuman keras sangat mempengaruhi pikiran John yang sudah begitu lama tidak kencan dengan wanita, John dengan cepat berjalan ke arahku yang sedang telentang di lantai dan sekarang jongkok diantara kedua kakiku yang terbuka lebar itu. Dengan cepat kepalanya telah berada diantara pangkal pahaku dan tiba-tiba terasa lidahnya yang kasar dan basah itu mulai menjilati pahaku, hal ini menimbulkan perasaan yang sangat geli. Aku mencoba menarik badannya ke atas untuk menghindari serbuannya pada pahaku, akan tetapi tangannya begitu kekar tubuhnya terlihat besar dan atletis menahan tubuhku.<br />
<span id="more-3175"></span><br />
John menunjukan matanya yang jalang, yang membuat aku ketakutan sehingga badanku terdiam dengan kaku. Kedua matanya melotot dengan buas melihat ke arah selangkanganku, kepalanya berada diantara kedua pahaku. Jilatannya makin naik ke atas dan tiba-tiba badanku menjadi kejang ketika bibir John itu terasa menyentuh pinggir dari belahan bibir kemaluanku dari bawah terus naik ke atas dan akhirnya badanku terasa meriang ketika lidah John yang besar basah dan kasar itu menyentuh klitorisku dan menggesek dengan suatu jilatan yang panjang, yang membuat aku terasa terbang melayang-layang bagaikan layang-layang putus ditiup angin.&#8221;Aduuuhh!&#8221; tak terasa keluar keluhan panjang dari mulutku. Tubuhku terus bergetar-getar seperti orang kena setrum dan mataku terbeliak melihat kearah lidah John yang bolak balik menyapu belahan bibir kemaluanku dan dengan tanpa kusadari kedua pahaku makin kubuka lebar, memberikan peluang yang makin besar pada lidah John bermain-main pada belahan kemaluanku. Dengan tak dapat ditahan lagi.</p>
<p style="text-align: justify;">Cairan pelumas mulai membanjiri keluar dari dalam kemaluanku dan dari cairan ini makin membuat John makin giat memainkan lidahnya terus menyapu dari bawah ke atas, mulai dari permukaan lubang anusku naik terus menyapu belahan bibir vaginaku sampai pada puncaknya yaitu pada klitorisku. Ohhh&#8230; dengan cepat vaginaku menjadi basah kuyup oleh cairan nafsu yang keluar terus menerus dari dalam vaginaku. Sejenak aku seakan-akan lupa diri, terbawa oleh nafsu birahi yang melanda.akan tetapi pada saat berikut aku baru sadar akan situasi yang menimpaku.&#8221;Aduuuhh benar-benar gila ini, aku terbuai oleh nafsu karena sentuhan seorang laki laki asing.. aaahh.. tidak.. tidak bisa ini terjadi!&#8221;, dengan cepat aku menarik tubuhku dan mencoba bergulir membalik badan untuk bisa meloloskan diri dari John. Dengan membalik badan, sekarang aku merangkak dengan kedua tangan dan lutut dan rupanya ini suatu gerakan yang salah yang berakibat sangat sangat fatal bagiku karena dengan tiba-tiba terasa sesuatu tenaga yang besar menahan pinggangku dan ketika masih dalam keadaan merangkak itu aku menoleh kepalaku ke belakang.</p>
<p style="text-align: justify;">Terlihat John dengan kedua tangannya merangkul pinggangku dan kepalanya mendekap punggungku tangannya mencoba menarik handuk yang hanya tinggal separoh melilit badanku, badannya yang berat itu menekan tubuhku. Aku mencoba merangkak maju dan berpegang pada tepi tempat tidur untuk mencoba berdiri, akan tetapi tiba-tiba John menekan badannya yang beratnya hampir 80 Kg itu sehingga posisiku yang sudah setengah berlutut, karena beratnya badan John, akhirnya aku tersungkur ke tempat tidur dengan posisi berlutut di pinggir tempat tidur dan separuh badan tertelungkup di atas tempat tidur, di mana badan John menidih badanku. Kedua kaki John berlutut sambil bertumpu di lantai diantara kedua pahaku yang agak terkangkang dan karena posisi badanku yang tertelungkup itu, akhirnya handuk yang setengah melilit dan menutupi badanku lepas, sehingga seluruh tubuhku terbuka dengan lebar. Terdengar John mendesah melihat pinggangku yang ramping serta bongkahan pantatku yang bulat menonjol &#8220;..Oh..Ratna tak kusangka kau begitu sexy..!&#8221; Tubuh John makin dirapatkan ketubuhku, sehingga terasa pantatku tergesek oleh kedua pahanya yang besar dan berbulu.</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam usaha merenggangkan kedua kakiku, tangan John bergerak-gerak diselangkanganku dan tanpa dapat dihindari bagian bawah vaginaku tergesek-gesek oleh jari jarinya yang besar besar itu. &#8220;Ouch..!..stop John..!&#8221; Aku mencoba menyadarinya, kedua tanganku tidak dapat digerakkan karena terhimpit diantara badanku sendiri .Tiba-tiba aku merasakan ada suatu benda kenyal, bulat panas terhimpit pada belahan pantatku dan tiba-tiba aku menyadari akan bahaya yang akan menimpaku, John rupanya sudah mulai beraksi dengan menggesek-gesekan batang kemaluannya pada belahan kenyal pantatku. &#8220;Auooohh.. John.. stop! pleasee..aach..!&#8221; dengan panik aku mencoba menyuruhnya berhenti melakukan aksinya, akan tetapi seruan itu tidak dipedulikan oleh John malahan sekarang terasa gerakan-gerakan menusuk nusuk benda tersebut pada pantatku mula-mula perlahan dan semakin lama semakin gencar saja. Aku menoleh ke kanan, ke arah kaca besar lemari yang persis berada di samping kanan tempat tidur, terlihat batang kemaluan orang asing tersebut telah tegang dan ya ampun..besar sekali..! dan terlihat batang kemaluannya yang merah berurat bagai sosis besar dengan ujungnya berbentuk agak bulat sedang menggesek gesek bagian pantatku. Rupanya Orang asing ini sudah sangat terangsang dan sekarang dia sedang berusaha memperkosaku. Aku benar-benar menjadi panik, bagaimana tidak.. aku akan disetubuhi oleh teman suamiku yang kelihatan sedang kesetanan oleh nafsu birahinya.</p>
<p style="text-align: justify;">Tanpa kusadari sodokan-sodokan batang kemaluan John semakin gencar saja, sehingga aku yang melihat melalui cermin gerakan pantat bule yang bahenol pahanya yang kekar tersebut , benar-benar terpesona karena gerakan tekanan-tekanan ke depan pantatnya benar-benar sangat cepat dan gencar, terasa sekarang serangan-serangan kepala batang kemaluannya tersebut mulai menimbulkan perasaan geli pada belahan pantatku dan kadang-kadang ujung batang kemaluannya menyentuh dengan cepat lubang anusku, menimbulkan perasaan geli yang amat sangat. Terlihat kedua kakinya melangkah ke depan, sehingga sekarang kedua pahanya yang berbulu memepeti kedua pahaku dan gerakan tekanan dan cocolan-cocolan kepala batang kemaluannya mulai terarah menyentuh bibir kemaluanku, aku menjadi bertambah panik, disamping perasaan yang mulai terasa tidak menentu, karena sodokan-sodokan kepala batang kemaluan John menimbulkan perasaan geli dan mulai membangkitkan nafsu birahiku yang sama sekali aku tidak kehendaki.</p>
<p style="text-align: justify;">Akhirnya dengan suatu gerakan dan tekanan yang cepat, John mendorong pantatnya ke depan dengan kuat, sehingga batang kemaluannya yang telah terjepit diantara bibir kemaluanku yang memang telah basah kuyup dan licin itu, akhirnya terdorong masuk dengan kuat dan terbenam separoh kedalam vaginaku, diikuti dengan jeritan panjang kepedihan yang keluar dari mulutku. &#8220;Aaduhh..!&#8221; kepalaku tertengadah ke atas dengan mata yang melotot serta mulut yang terbuka megap-megap kehabisan udara serta kedua tangan mencengkeram dengan kuat pada kasur. Akan tetapi John, tanpa memberikan kesempatan padaku untuk berpikir dan menyadari keadaan yang sedang terjadi, dengan cepat mulai memompa batang kemaluannya dengan gerakan-gerakan yang buas, tanpa mengenal kasihan pada istri temannya yang baru pertama kali ini menerima batang kemaluan yang sedemikian besarnya dalam vaginaku.</p>
<p style="text-align: justify;">Batang kemaluannya yang baru masuk sebagian itu dengan cepat keluar masuk mengaduk-aduk lubang kemaluanku tanpa mempedulikan betapa besar batang kemaluannya dibandingkan dengan daya tampung vaginaku. Walaupun hanya sebagian dari batang kemaluan bule itu yang masuk dari setiap gerakan menyebabkan keseluruhan bibir vaginaku mengembang dan mencengkeram batangnya dan klitorisku yang sudah keluar semuanya dan mengeras ikut tertekan masuk ke dalam, di mana klitorisku terjepit dan tergesek dengan batang kemaluannya yang besar dan berurat itu,&#8221;Ooohh..aku keenakan.. ini tak mungkin terjadi!&#8221; pikirku setengah sadar. &#8220;Aku mulai menikmati disetubuhi oleh teman suamiku, bule lagi? gila!&#8221; sementara perkosaan itu terus berlangsung, desiran darahku terasa mengalir semakin cepat, pikiran warasku perlahan-lahan menghilang kalah oleh permainan kenikmatan yang sedang diberikan oleh keperkasaan batang kemaluannya yang sedang &#8216;menghajar&#8217; liang kenikmatankuku.</p>
<p style="text-align: justify;">Perasaanku seakan-akan terasa melayang-layang di awan-awan dan dari bagian vaginaku terasa mengalir suatu perasaan mengelitik yang menjalar ke seluruh bagian tubuh, membuat perasaan nikmat yang terasa sangat fantastis, membuat mataku terbeliak dan terputar-putar akibat pengaruh batang kemaluan John yang besar begitu tajam dan begitu dahsyat mengaduk-aduk seluruh bagian yang sensitif didalam vaginaku tanpa ada yang tersisa satu milipun. Keseluruhan syaraf syaraf yang bisa menimbulkan kenikmatan dari dinding dalam vaginaku tak lolos dari sentuhan, tekanan, gesekan dan sodokan kepala dan batang kemaluan John yang benar-benar besar itu, rasanya paling kurang tiga kali besarnya tapi seratus kali lebih nikmat dari batang kemaluan suamiku dan cara gerakan pantat bule perkasa ini bergerak memompakan batang kemaluannya keluar masuk ke dalam vaginaku, benar-benar fantastis sangat cepat, membuatku tak sempat mengambil nafas ataupun menyadari apa yang terjadi, hanya rasa nikmat yang menyelubungi seluruh perasaanku, membuat secara total aku tidak dapat mengendalikan diri lagi.</p>
<p style="text-align: justify;">aku mulai menyadari akan hebatnya kenikmatan yang sedang menyelubungi seluruh sudut-sudut yang paling dalam di relung tubuhku akibat sodokan-sodokan batang kemaluan bule dalam rongga vaginaku yang menjepit erat, &#8220;Aaahh.. !&#8221; tiba-tiba aku merasakan sesuatu yang besar, benar-benar besar sedang mulai memaksa masuk ke dalam vaginaku, memaksa bibir vaginaku membuka sebesar-besarnya, rasanya sampai sebatas kemampuan yang bisa kutolerir. Aku menoleh ke arah cermin untuk melihat apa yang sedang memaksa masuk ke dalam vaginaku itu dan.., &#8220;Aaaduuuhh.. gila.. benar-benar fantastis besarnya penis bule ini&#8221; keluhku, terlihat bagian pangkal belakang batang kemaluan John sepanjang kurang lebih 5 cm membengkak, membentuk seperti bonggol, dan dari bagian tersebut sedang mulai dipaksakan masuk, menekan bibir-bibir kemaluanku dan secara perlahan-lahan menerobos masuk ke dalam lubang vaginaku . &#8220;&#8216;Ooohh.. aaampun.. jangan John.. aku akan mati kalau engkau memaksakan benda itu masuk ke dalamku!&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">aku memelas tak berdaya seakan-akan John akan mengerti, akan tetapi sia-sia saja, dengan mata melotot aku melihat benda tersebut mulai menghilang ke dalam kemaluanku, &#8220;Rat.. nanti kalau sudah masuk semuanya dan licin kau akan merasakan kenikmatan yang kamu belum pernah rasakan sebelumnya..!&#8221; John mencoba menenangkanku, kepalaku tertengadah ke atas dan mataku terbalik ke belakang sehingga bagian putihnya saja yang kelihatan, dan sekujur badanku mengejang, bongkahan tersebut terus menerobos masuk ke dalam lubang vaginaku, sampai akhirnya seluruh lubang kenikmatanku dipenuhi oleh kepala, batang kemaluan dan bongkahan pada pangkal batang kemaluan bule tersebut. Oh.. benar-benar terasa sesak dan penuh rongga vaginaku dijelali oleh keseluruhan batang kemaluan bule tsb. Dalam keadaan itu John terus melanjutkan menekan-nekan pantatnya dengan cepat, membuat badanku ikut bergerak-gerak karena belakang batang kemaluannya telah terganjal di dalam lubang kemaluanku akibat bongkahan pada pangkal batang kemaluannya yang besar itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Pantat John tersebut terus bergerak-gerak dengan liarnya, sambil bibirnya menciumi pundakku yang sudah tidak ditutupi handuk, terengah-engah dan mendengus-dengus, hal ini mengakibatkan batang kemaluannya dan bongkahan tersebut mengesek-gesek pada dinding-dinding vaginaku yang sudah sangat sangat kencang dan sensitif mencengkeram, yang menimbulkan perasaan geli dan nikmat yang amat sangat..sehingga kepalaku tergeleng-geleng ke kiri dan ke kanan dengan tak terkendali dan dengan histeris pantatku kutekan ke belakang merespon perasaan nikmat yang diberikan oleh John, yang tak pernah kualami selama ini.&#8221;Ooohh.. tidak..&#8221; pikirku, &#8220;Aku tak pantas mengalami ini.. aku bukan seorang maniak seks! Aku selama ini tidak pernah nyeleweng dengan siapa pun.. ta.taapii.. sekarang.. ooohh seorang bule? aduuuhh! Tapiii.. ooohh.. enaaaknya.. aghh.. akuuu.. tak dapat menahan ini.. agghh.. aku tak menyadari betapa.. nikmaaatnya penis besar dari seorang bule yang perkasa..! aaaaqhh..!&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Akhirnya aku tidak dapat mengendalikan diriku, rasa bersalah kalah oleh kenikmatan yang sedang melanda seluruh tubuhku dari perasaan yang begitu nikmat yang diberikan John padaku, dengan tak sadar lagi aku mendesah mengerang dan mengguman, &#8220;Ooohh..John you&#8217;re cock is so biiig.. so gooood..! enaaakk.. aaaggh! teruuusss.. puasin aku.. Fuuuck meee Jooohn..&#8221; Aku benar-benar sekarang telah berubah menjadi seekor kuda liar, aku betinanya sedang ia kuda jantannya. Perkosaan sudah tidak ada lagi dibenakku, pada saat ini yang yang kuinginkan adalah disetubuhi oleh John senikmat mungkin dan selama mungkin, dan akhirnya aku mengalami orgasme yang pertama yang benar-benar dahsyat, suatu kenikmatan yang tak pernah kualami dengan suamiku selama ini.&#8221;Ooohh.. yaa Ooohh.. puasin lagi aku John Ooohh.. setubuhi aku dengan batang kemaluanmu yang begitu besar dan perkasa!..aaaagghhh&#8230;!&#8221; terasa cairan hangat terus keluar dari dalam tubuhku, membasahi rongga-rongga di dalam lubang kemaluanku. &#8220;Aaagghhh.. ooohh.. benar-benar nikmaaaaat..!&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">keluhku tak percaya, terasa badanku melayang-layang, suatu kenikmatan yang tak terlukiskan. &#8220;Aaagghhh!&#8221; gerakanku yang liar pada saat mengalami orgasme itu agaknya membuat John merasa nikmat juga, disebabkan otot-otot kemaluanku berdenyut-denyut dengan kuat mengempot batang kemaluannya, mungkin pikirnya ini adalah kuda betina terhebat yang pernah dinikmatinya, hangat.. sempit dan sangat liar, batang kemaluan John yang besar itu mulai membengkak, sementara gerakan-gerakan tekanannya makin cepat saja, kelihatan John akan mengalami orgasme, gerakan-gerakan yang liar dari batang penisnya yang besar itu menimbulkan perasaan ngilu dan nikmat pada bagian dalam vaginaku, membuatku kehilangan kontrol dan menimbulkan perasaan gila dalam diriku, pantatku kugerak-gerakkan ke kiri dan ke kanan dengan liar mengimbangi gerakan sodokan John yang makin cepat saja.&#8221;Ooohh.. aaaduuh.. aaaghh! Joooohn..aku mau keluuuuaaar laaaggiii..!!&#8221; lenguhan panjang keluar dari mulutku mengimbangi orgasme kedua yang melandaku. Badanku meliuk-liuk dan bergetar dengan hebat kedua kakiku kurapatkan erat erat , kepalaku tertengadah ke atas dengan mulut terbuka dan kedua tanganku mencengkeram kasur dengan kuat sedangkan kedua otot-otot paha mengejang dengan hebat dan kedua mataku terbeliak dengan bagian putihnya yang kelihatan sementara otot-otot dalam kemaluanku terus berdenyut-denyut dan hal ini juga menimbulkan perasaan nikmat yang luar biasa pada John karena batang kemaluannya terasa dikempot kempot oleh lobang vaginaku yang mengakibatkan dia juga mengalami orgasme dan terasa cairan hangat dan kental yang keluar dari batang kejantanannya, rasanya lebih hangat dan lebih kental dan banyak dari punya suamiku, air mani John serasa dipompakan, tak henti-hentinya ke dalam lobang vaginaku, rasanya langsung ke dalam rahimku banyak sekali.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku dapat merasakan semburan-semburan cairan kental hangat yang kuat, tak putus-putusnya dari air maninya .memompakan benihnya ke dalam kandunganku terus menerus hampir selama 1 menit, mengosongkan air maninya yang tersimpan cukup lama, karena selama ini dia tidak pernah bersetubuh dengan istrinya yang berada jauh dinegaranya. John terus menekan batang kemaluannya sehingga clitorisku ikut tertekan dan hal ini makin memberikan perasaan nikmat yang hebat, yang tak kusangka, tubuhku bergetar lagi merasakan rangsangan dahsyat sampai akhirnya aku mengalami orgasme yang ketiga. Akhirnya aku tertidur dengan nyenyaknya karena letih. Keesokan harinya aku terbangun dengan tubuh yang masih terasa lemas dan terasa tulang-tulangku seakan-akan lepas dari sendi-sendinya, sambil melirik ke arah John yang sedang tertidur lelap kupandangi tubuhnya yang telanjang kekar besar terlihat bulu bulu halus kecoklat coklatan menghias dadanya yang bidang lalu bulu bulu tersebut turun kebawah semakin lebat dan memutari sebuah benda yang tadi malam &#8216;menghajar&#8217; vaginaku, benda itu masih tertidur tetapi ukurannya bukan main seperti penis suamiku yang sudah tegang maximum. Tiba tiba darahku berdesir, vaginaku terasa berdenyut, &#8220;..Oh.. apa yang terjadi pada diriku..?&#8221;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ceritasex.cn/perkosaan-yang-fantastis/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Diperkosa Ayah Mertua</title>
		<link>http://www.ceritasex.cn/diperkosa-ayah-mertua-2/</link>
		<comments>http://www.ceritasex.cn/diperkosa-ayah-mertua-2/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 07 Nov 2011 07:54:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cerita Sex</dc:creator>
				<category><![CDATA[Paruh baya]]></category>
		<category><![CDATA[Pemerkosaan]]></category>
		<category><![CDATA[Sedarah]]></category>
		<category><![CDATA[Seks Umum]]></category>
		<category><![CDATA[selingkuh]]></category>
		<category><![CDATA[enak]]></category>
		<category><![CDATA[kontol]]></category>
		<category><![CDATA[memek]]></category>
		<category><![CDATA[ngentot]]></category>
		<category><![CDATA[nikmat]]></category>
		<category><![CDATA[peacur]]></category>
		<category><![CDATA[perkosa]]></category>
		<category><![CDATA[seks]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ceritasex.cn/?p=3168</guid>
		<description><![CDATA[Namaku Novianti. Usiaku telah menginjak kepala tiga. Sudah menikah setahun lebih dan baru mempunyai seorang bayi laki-laki. Suamiku berusia hanya lebih tua satu tahun dariku. Kehidupan kami dapat dikatakan sangat bahagia. Memang kami berdua kawin dalam umur agak terlambat sudah diatas 30 tahun. Selewat 40 hari dari melahirkan, suamiku masih takut untuk berhubungan seks. Mungkin [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Namaku Novianti. Usiaku telah menginjak kepala tiga. Sudah menikah setahun lebih dan baru mempunyai seorang bayi laki-laki. Suamiku berusia hanya lebih tua satu tahun dariku. Kehidupan kami dapat dikatakan sangat bahagia. Memang kami berdua kawin dalam umur agak terlambat sudah diatas 30 tahun. Selewat 40 hari dari melahirkan, suamiku masih takut untuk berhubungan seks. Mungkin dia masih teringat pada waktu aku menjerit-jerit pada saat melahirkan, memang dia juga turut masuk ke ruang persalinan mendampingi saya waktu melahirkan. Di samping itu aku memang juga sibuk benar dengan si kecil, baik siang maupun malam hari. Si kecil sering bangun malam-malam, nangis dan aku harus menyusuinya sampai dia tidur kembali. Sementara suamiku semakin sibuk saja di kantor, maklum dia bekerja di sebuah kantor Bank Pemerintah di bagian Teknologi, jadi pulangnya sering terlambat. Keadaan ini berlangsung dari hari ke hari, hingga suatu saat terjadi hal baru yang mewarnai kehidupan kami, khususnya kehidupan pribadiku sendiri. Ketika itu kami mendapat kabar bahwa ayah mertuaku yang berada di Amerika bermaksud datang ke tempat kami.</p>
<p style="text-align: justify;">Memang selama ini kedua mertuaku tinggal di Amerika bersama dengan anak perempuan mereka yang menikah dengan orang sana. Dia datang kali ini ke Indonesia sendiri untuk menyelesaikan sesuatu urusan. Ibu mertua nggak bisa ikut karena katanya kakinya sakit. Ketika sampai waktu kedatangannya, kami menjemput di airport, suamiku langsung mencari-cari ayahnya. Suamiku langsung berteriak gembira ketika menemukan sosok seorang pria yang tengah duduk sendiri di ruang tunggu. Orang itu langsung berdiri dan menghampiri kami. Ia lalu berpelukan dengan suamiku. Saling melepas rindu. Aku memperhatikan mereka. Ayah mertuaku masih nampak muda diumurnya menjelang akhir 50-an, meski kulihat ada beberapa helai uban di rambutnya. Tubuhnya yang tinggi besar, dengan kulit gelap masih tegap dan berotot. Kelihatannya ia tidak pernah meninggalkan kebiasaannya berolah raga sejak dulu. Beliau berasal dari belahan Indonesia Timur dan sebelum pensiun ayah mertua adalah seorang perwira angkatan darat. &#8220;Hei nak Novi. Apa khabar&#8230;!&#8221;, sapa ayah mertua padaku ketika selesai berpelukan dengan suamiku.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Ayah, apa kabar? Sehat-sehat saja kan? Bagaimana keadaan Ibu di Amerika..?&#8221; balasku. &#8220;Oh&#8230;Ibu baik-baik saja. Beliau nggak bisa ikut, karena kakinya agak sakit, mungkin keseleo&#8230;.&#8221; &#8220;Ayo kita ke rumah&#8221;, kata suamiku kemudian. Sejak adanya ayah di rumah, ada perubahan yang cukup berarti dalam kehidupan kami. Sekarang suasana di rumah lebih hangat, penuh canda dan gelak tawa. Ayah mertuaku orangnya memang pandai membawa diri, pandai mengambil hati orang. Dengan adanya ayah mertua, suamiku jadi lebih betah di rumah. Ngobrol bersama, jalan-jalan bersama. Akan tetapi pada hari-hari tertentu, tetap saja pekerjaan kantornya menyita waktunya sampai malam, sehingga dia baru sampai kerumah di atas jam 10 malam. Hal ini biasanya pada hari-hari Senin setiap minggu. Sampai terjadilah peristiwa ini pada hari Senin ketiga sejak kedatangan ayah mertua dari Amerika. Sore itu aku habis senam seperti biasanya. Memang sejak sebulan setelah melahirkan, aku mulai giat lagi bersenam kembali, karena memang sebelum hamil aku termasuk salah seorang yang amat giat melakukan senam dan itu biasanya kulakukan pada sore hari.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah merasa cukup kuat lagi, sekarang aku mulai bersenam lagi, disamping untuk melemaskan tubuh, juga kuharapkan tubuhku bisa cepat kembali ke bentuk semula yang langsing, karena memang postur tubuhku termasuk tinggi kurus akan tetapi padat. Setelah mandi aku langsung makan dan kemudian meneteki si kecil di kamar. Mungkin karena badan terasa penat dan pegal sehabis senam, aku jadi mengantuk dan setelah si kecil kenyang dan tidur, aku menidurkan si kecil di box tempat tidurnya. Kemudian aku berbaring di tempat tidur. Saking sudah sangat mengantuk, tanpa terasa aku langsung tertidur. Bahkan aku pun lupa mengunci pintu kamar. Setengah bermimpi, aku merasakan tubuhku begitu nyaman. Rasa penat dan pegal-pegal tadi seperti berangsur hilang&#8230; Bahkan aku merasakan tubuhku bereaksi aneh. Rasa nyaman sedikit demi sedikit berubah menjadi sesuatu yang membuatku melayang-layang. Aku seperti dibuai oleh hembusan angin semilir yang menerpa bagian-bagian peka di tubuhku. Tanpa sadar aku menggeliat merasakan semua ini sambil melenguh perlahan.<br />
<span id="more-3168"></span><br />
Dalam tidurku, aku bermimpi suamiku sedang membelai-belai tubuhku dan kerena memang telah cukup lama kami tidak berhubungan badan, sejak kandunganku berumur 8 bulan, yang berarti sudah hampir 3 bulan lamanya, maka terasa suamiku sangat agresif menjelajahi bagian-bagian sensitif dari sudut tubuhku. Tiba-tiba aku sadar dari tidurku&#8230; tapi kayaknya mimpiku masih terus berlanjut. Malah belaian, sentuhan serta remasan suamiku ke tubuhku makin terasa nyata. Kemudian aku mengira ini perbuatan suamiku yang telah kembali dari kantor. Ketika aku membuka mataku, terlihat cahaya terang masih memancar masuk dari lobang angin dikamarku, yang berarti hari masih sore. Lagian ini kan hari Senin, seharusnya dia baru pulang agak malam, jadi siapa ini yang sedang mencumbuku&#8230; Aku segera terbangun dan membuka mataku lebar-lebar. Hampir saja aku menjerit sekuat tenaga begitu melihat orang yang sedang menggeluti tubuhku. Ternyata&#8230; dia adalah mertuaku sendiri. Melihat aku terbangun, mertuaku sambil tersenyum, terus saja melanjutkan kegiatannya menciumi betisku.</p>
<p style="text-align: justify;">Sementara dasterku sudah terangkat tinggi-tinggi hingga memperlihatkan seluruh pahaku yang putih mulus. &#8220;Yah&#8230;!! Stop&#8230;.jangan&#8230;. Yaaahhhh&#8230;!!?&#8221; jeritku dengan suara tertahan karena takut terdengar oleh Si Inah pembantuku. &#8220;Nov, maafkan Bapak&#8230;. Kamu jangan marah seperti itu dong, sayang&#8230;.!!&#8221; Ia malah berkata seperti itu, bukannya malu didamprat olehku. &#8220;Ayah nggak boleh begitu, cepat keluar, saya mohon&#8230;.!!&#8221;, pintaku menghiba, karena kulihat tatapan mata mertuaku demikian liar sambil tangannya tak berhenti menggerayang ke sekujur tubuhku. Aku mencoba menggeliat bangun dan buru-buru menurunkan daster untuk menutupi pahaku dan beringsut-ingsut menjauhinya dan mepet ke ujung ranjang. Akan tetapi mertuaku makin mendesak maju menghampiriku dan duduk persis di sampingku. Tubuhnya mepet kepadaku. Aku semakin ketakutan. &#8220;Nov&#8230; Kamu nggak kasihan melihat Bapak seperti ini? Ayolah, Bapak kan sudah lama merindukan untuk bisa menikmati badan Novi yang langsing padat ini&#8230;.!!!!&#8221;, desaknya. &#8220;Jangan berbicara begitu.</p>
<p style="text-align: justify;">Ingat Yah&#8230; aku kan menantumu&#8230;. istri Toni anakmu?&#8221;, jawabku mencoba menyadarinya. &#8220;Jangan menyebut-nyebut si Toni saat ini, Bapak tahu Toni belum lagi menggauli nak Novi, sejak nak Novi habis melahirkan&#8230; Benar-benar keterlaluan tu anak&#8230;.!!, lanjutnya. Rupanya entah dengan cara bagaimana dia bisa memancing hubungan kita suami istri dari Toni. Ooooh&#8230;. benar-benar bodoh si Toni, batinku, nggak tahu kelakuan Bapaknya. Mertuaku sambil terus mendesakku berkata bahwa ia telah berhubungan dengan banyak wanita lain selain ibu mertua dan dia tak pernah mendapatkan wanita yang mempunyai tubuh yang semenarik seperti tubuhku ini. Aku setengah tak percaya mendengar omongannya. Ia hanya mencoba merayuku dengan rayuan murahan dan menganggap aku akan merasa tersanjung. Aku mencoba menghindar&#8230; tapi sudah tidak ada lagi ruang gerak bagiku di sudut tempat tidur. Ketika kutatap wajahnya, aku melihat mimik mukanya yang nampaknya makin hitam karena telah dipenuhi nafsu birahi. Aku mulai berpikir bagaimana caranya untuk menurunkan hasrat birahi mertuaku yang kelihatan sudah menggebu-gebu.</p>
<p style="text-align: justify;">Melihat caranya, aku sadar mertuaku akan berbuat apa pun agar maksudnya kesampaian. Kemudian terlintas dalam pikiranku untuk mengocok kemaluannya saja, sehingga nafsunya bisa tersalurkan tanpa harus memperkosa aku. Akhirnya dengan hati-hati kutawarkan hal itu kepadanya. &#8220;Yahh&#8230; biar Novi mengocok Ayah saja ya&#8230; karena Novi nggak mau ayah menyetubuhi Novi&#8230; Gimana&#8230;?&#8221; Mertuaku diam dan tampak berpikir sejenak. Raut mukanya kelihatan sedikit kecewa namun bercampur sedikit lega karena aku masih mau bernegosiasi. &#8220;Baiklah..&#8221;, kata mertuaku seakan tidak punya pilihan lain karena aku ngotot tak akan memberikan apa yang dimintanya. Mungkin inilah kesalahanku. Aku terlalu yakin bahwa jalan keluar ini akan meredam keganasannya. Kupikir biasanya lelaki kalau sudah tersalurkan pasti akan surut nafsunya untuk kemudian tertidur. Aku lalu menarik celana pendeknya. Ugh! Sialan, ternyata dia sudah tidak memakai celana dalam lagi. Begitu celananya kutarik, batangnya langsung melonjak berdiri seperti ada pernya. Aku sangat kaget dan terkesima melihat batang kemaluan mertuaku itu&#8230;.</p>
<p style="text-align: justify;">Oooohhhh&#8230;&#8230; benar-benar panjang dan besar. Jauh lebih besar daripada punya Toni suamiku. Mana hitam lagi, dengan kepalanya yang mengkilap bulat besar sangat tegang berdiri dengan gagah perkasa, padahal usianya sudah tidak muda lagi. Tanganku bergerak canggung. Bagaimananpun baru kali ini aku memegang kontol orang selain milik suamiku, mana sangat besar lagi sehingga hampir tak bisa muat dalam tanganku. Perlahan-lahan tanganku menggenggam batangnya. Kudengar lenguhan nikmat keluar dari mulutnya seraya menyebut namaku. &#8220;Ooooohhh&#8230;..sssshhhh&#8230;..Noviii&#8230;eee..eeenaaak. .. betulll..!!!&#8221; Aku mendongak melirik kepadanya. Nampak wajah mertuaku meringis menahan remasan lembut tanganku pada batangnya. Aku mulai bergerak turun naik menyusuri batangnya yang besar panjang dan teramat keras itu. Sekali-sekali ujung telunjukku mengusap moncongnya yang sudah licin oleh cairan yang meleleh dari liangnya. Kudengar mertuaku kembali melenguh merasakan ngilu akibat usapanku. Aku tahu dia sudah sangat bernafsu sekali dan mungkin dalam beberapa kali kocokan ia akan menyemburkan air maninya.</p>
<p style="text-align: justify;">Sebentar lagi tentu akan segera selesai sudah, pikirku mulai tenang. Dua menit, tiga&#8230; sampai lima menit berikutnya mertuaku masih bertahan meski kocokanku sudah semakin cepat. Kurasakan tangan mertuaku menggerayangi ke arah dadaku. Aku kembali mengingatkan agar jangan berbuat macam-macam. &#8220;Nggak apa-apa &#8230;..biar cepet keluar..&#8221;, kata mertuaku memberi alasan. Aku tidak mengiyakan dan juga tidak menepisnya karena kupikir ada benarnya juga. Biar cepat selesai, kataku dalam hati. Mertuaku tersenyum melihatku tidak melarangnya lagi. Ia dengan lembut dan hati-hati mulai meremas-remas kedua payudara di balik dasterku. Aku memang tidak mengenakan kutang kerena habis menyusui si kecil tadi. Jadi remasan tangan mertua langsung terasa karena kain daster itu sangat tipis. Sebagai wanita normal, aku merasakan kenikmatan juga atas remasan ini. Apalagi tanganku masih menggenggam batangnya dengan erat, setidaknya aku mulai terpengaruh oleh keadaan ini. Meski dalam hati aku sudah bertekad untuk menahan diri dan melakukan semua ini demi kebaikan diriku juga.</p>
<p style="text-align: justify;">Karena tentunya setelah ini selesai dia tidak akan berbuat lebih jauh lagi padaku. &#8220;Novi sayang.., buka ya? Sedikit aja..&#8221;, pinta mertuaku kemudian. &#8220;Jangan Yah. Tadi kan sudah janji nggak akan macam-macam..&#8221;, ujarku mengingatkan. &#8220;Sedikit aja. Ya?&#8221; desaknya lagi seraya menggeser tali daster dari pundakku sehingga bagian atas tubuhku terbuka. Aku jadi gamang dan serba salah. Sementara bagian dada hingga ke pinggang sudah telanjang. Nafas mertuaku semakin memburu kencang melihatku setengah telanjang. &#8220;Oh.., Novii kamu benar-benar cantik sekali&#8230;.!!!&#8221;, pujinya sambil memilin-milin dengan hati-hati puting susuku, yang mulai basah dengan air susu. Aku terperangah. Situasi sudah mulai mengarah pada hal yang tidak kuinginkan. Aku harus bertindak cepat. Tanpa pikir panjang, langsung kumasukkan batang kemaluan mertuaku ke dalam mulutku dan mengulumnya sebisa mungkin agar ia cepat-cepat selesai dan tidak berlanjut lebih jauh lagi. Aku sudah tidak mempedulikan perbuatan mertuaku pada tubuhku. Aku biarkan tangannya dengan leluasa menggerayang ke sekujur tubuhku, bahkan ketika kurasakan tangannya mulai mengelus-elus bagian kemaluanku pun aku tak berusaha mencegahnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku lebih berkonsentrasi untuk segera menyelesaikan semua ini secepatnya. Jilatan dan kulumanku pada batang kontolnya semakin mengganas sampai-sampai mertuaku terengah-engah merasakan kelihaian permainan mulutku. Aku tambah bersemangat dan semakin yakin dengan kemampuanku untuk membuatnya segera selesai. Keyakinanku ini ternyata berakibat fatal bagiku. Sudah hampir setengah jam, aku belum melihat tanda-tanda apapun dari mertuaku. Aku jadi penasaran, sekaligus merasa tertantang. Suamiku pun yang sudah terbiasa denganku, bila sudah kukeluarkan kemampuan seperti ini pasti takkan bertahan lama. Tapi kenapa dengan mertuaku ini? Apa ia memakai obat kuat? Saking penasarannya, aku jadi kurang memperhatikan perbuatan mertuaku padaku. Entah sejak kapan daster tidurku sudah terlepas dari tubuhku. Aku baru sadar ketika mertuaku berusaha menarik celana dalamku dan itu pun terlambat! Begitu menengok ke bawah, celana itu baru saja terlepas dari ujung kakiku. Aku sudah telanjang bulat! Ya ampun, kenapa kubiarkan semua ini terjadi.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku menyesal kenapa memulainya. Ternyata kejadiannya tidak seperti yang kurencanakan. Aku terlalu sombong dengan keyakinanku. Kini semuanya sudah terlambat. Berantakan semuanya! Pekikku dalam hati penuh penyesalan. Situasi semakin tak terkendali. Lagi-lagi aku kecolongan. Mertuaku dengan lihainya dan tanpa kusadari sudah membalikkan tubuhku hingga berlawanan dengan posisi tubuhnya. Kepalaku berada di bawahnya sementara kepalanya berada di bawahku. Kami sudah berada dalam posisi enam sembilan! Tak lama kemudian kurasakan sentuhan lembut di seputar selangkanganku. Tubuhku langsung bereaksi dan tanpa sadar aku menjerit lirih. Suka tidak suka, mau tidak mau, kurasakan kenikmatan cumbuan mertuaku di sekitar itu. Akh luar biasa! Aku menjerit dalam hati sambil menyesali diri. Aku marah pada diriku sendiri, terutama pada tubuhku sendiri yang sudah tidak mau mengikuti perintah pikiran sehatku. Tubuhku meliuk-liuk mengikuti irama permainan lidah mertuaku. Kedua pahaku mengempit kepalanya seolah ingin membenamkan wajah itu ke dalam selangkanganku.</p>
<p style="text-align: justify;">Kuakui ia memang pandai membuat birahiku memuncak. Kini aku sudah lupa dengan siasat semula. Aku sudah terbawa arus. Aku malah ingin mengimbangi permainannya. Mulutku bermain dengan lincah. Batangnya kukempit dengan buah dadaku yang membusung penuh dan kenyal. Maklum, masih menyusui. Sementara kontol itu bergerak di antara buah dadaku, mulutku tak pernah lepas mengulumnya. Tanpa kusadari kami saling mencumbu bagian vital masing-masing selama lima belas menit. Aku semakin yakin kalau mertuaku memakai obat kuat. Ia sama sekali belum memperlihatkan tanda-tanda akan keluar, sementara aku sudah mulai merasakan desiran-desiran kuat bergerak cepat ke arah pusat kewanitaanku. Jilatan dan hisapan mulut mertuaku benar-benar membuatku tak berdaya. Aku semakin tak terkendali. Pinggulku meliuk-liuk liar. Tubuhku mengejang, seluruh aliran darah serasa terhenti dan aku tak kuasa untuk menahan desakan kuat gelombang lahar panas yang mengalir begitu cepat. &#8220;Oooohhhhh&#8230;&#8230;.aaaa&#8230;.aaaaa&#8230;&#8230;aaauugghhhhhhh hh..!!!!!&#8221; aku menjerit lirih begitu aliran itu mendobrak pertahananku.</p>
<p style="text-align: justify;">Kurasakan cairan kewanitaanku menyembur tak tertahankan. Tubuhku menggelepar seperti ikan terlempar ke darat merasakan kenikmatan ini. Aku terkulai lemas sementara batang kontol mertuaku masih berada dalam genggamanku dan masih mengacung dengan gagahnya, bahkan terasa makin kencang saja. Aku mengeluh karena tak punya pilihan lain. Sudah kepalang basah. Aku sudah tidak mempunyai cukup tenaga lagi untuk mempertahankan kehormatanku, aku hanya tergolek lemah tak berdaya saat mertuaku mulai menindih tubuhku. Dengan lembut ia mengusap wajahku dan berkata betapa cantiknya aku sekarang ini. &#8220;Noviii&#8230;..kau sungguh cantik. Tubuhmu indah dan langsing tapi padat berisi.., mmpphh..!!!&#8221;, katanya sambil menciumi bibirku, mencoba membuka bibirku dengan lidahnya. Aku seakan terpesona oleh pujiannya. Cumbu rayunya begitu menggairahkanku. Aku diperlakukan bagai sebuah porselen yang mudah pecah. Begitu lembut dan hati-hati. Hatiku entah mengapa semakin melambung tinggi mendengar semua kekagumannya terhadap tubuhku. Wajahku yang cantik, tubuhku yang indah dan berisi.</p>
<p style="text-align: justify;">Payudaraku yang membusung penuh dan menggantung indah di dada. Permukaan agak menggembung, pinggul yang membulat padat berisi menyambung dengan buah pantatku yang `bahenol’. Diwajah mertuaku kulihat memperlihatkan ekspresi kekaguman yang tak terhingga saat matanya menatap nanar ke arah lembah bukit di sekitar selangkanganku yang baru numbuh bulu-bulu hitam pendek, dengan warna kultiku yang putih mulus. Kurasakan tangannya mengelus paha bagian dalam. Aku mendesis dan tanpa sadar membuka kedua kakiku yang tadinya merapat. Mertuaku menempatkan diri di antara kedua kakiku yang terbuka lebar. Kurasakan kepala kontolnya yang besar ditempelkan pada bibir kemaluanku. Digesek-gesek, mulai dari atas sampai ke bawah. Naik turun. Aku merasa ngilu bercampur geli dan nikmat. Cairan yang masih tersisa di sekitar itu membuat gesekannya semakin lancar karena licin. Aku terengah-engah merasakannya. Kelihatannya ia sengaja melakukan itu. Apalagi saat moncong kontolnya itu menggesek-gesek kelentitku yang sudah menegang. Mertuaku menatap tajam melihat reaksiku.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku balas menatap seolah memintanya untuk segera memasuki diriku secepatnya. Ia tahu persis apa yang kurasakan saat itu. Namun kelihatannya ia ingin melihatku menderita oleh siksaan nafsuku sendiri. Kuakui memang aku sudah tak tahan untuk segera menikmati batang kontolnya dalam memekku. Aku ingin segera membuatnya `KO’. Terus terang aku sangat penasaran dengan keperkasaannya. Kuingin buktikan bahwa aku bisa membuatnya cepat-cepat mencapai puncak kenikmatan. &#8220;Yah..?&#8221; panggilku menghiba. &#8220;Apa sayang&#8230;&#8221;, jawabnya seraya tersenyum melihatku tersiksa. &#8220;Cepetan..yaaahhhhh&#8230;&#8230;.!!!&#8221; &#8220;Sabar sayang. Kamu ingin Bapak berbuat apa&#8230;&#8230;.?&#8221; tanyanya pura-pura tak mengerti. Aku tak menjawab. Tentu saja aku malu mengatakannya secara terbuka apa keinginanku saat itu. Namun mertuaku sepertinya ingin mendengarnya langsung dari bibirku. Ia sengaja mengulur-ulur dengan hanya menggesek-gesekan kontolnya. Sementara aku benar-benar sudah tak tahan lagi mengekang birahiku. &#8220;Novii&#8230;.iiii&#8230; iiiingiiinnnn aaa&#8230;aaayahhhh&#8230;.se&#8230;.se.. seeegeeeraaaa ma&#8230; masukin..!!!&#8221;, kataku terbata-bata dengan terpaksa.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku sebenarnya sangat malu mengatakan ini. Aku yang tadi begitu ngotot tidak akan memberikan tubuhku padanya, kini malah meminta-minta. Perempuan macam apa aku ini!? &#8220;Apanya yang dimasukin&#8230;&#8230;.!!&#8221;, tanyanya lagi seperti mengejek. &#8220;Aaaaaaggggkkkkkhhhhh&#8230;..ya&#8230;yaaaahhhh. Ja&#8230;..ja&#8230;.Jaaangan siksa Noviiii..!!!&#8221; &#8220;Bapak tidak bermaksud menyiksa kamu sayang&#8230;&#8230;!!&#8221; &#8220;Oooooohhhhhh.., Yaaaahhhh&#8230; Noviii ingin dimasukin kontol ayah ke dalam memek Novi&#8230;&#8230; uugghhhh..!!!&#8221; Aku kali ini sudah tak malu-malu lagi mengatakannya dengan vulgar saking tak tahannya menanggung gelombang birahi yang menggebu-gebu. Aku merasa seperti wanita jalang yang haus seks. Aku hampir tak percaya mendengar ucapan itu keluar dari bibirku sendiri. Tapi apa mau dikata, memang aku sangat menginginkannya segera. &#8220;Baiklah sayang. Tapi pelan-pelan ya&#8221;, kata mertuaku dengan penuh kemenangan telah berhasil menaklukan diriku. &#8220;Uugghh..&#8221;, aku melenguh merasakan desakan batang kontolnya yang besar itu. Aku menunggu cukup lama gerakan kontol mertuaku memasuki diriku.</p>
<p style="text-align: justify;">Serasa tak sampai-sampai. Selain besar, kontol mertuaku sangat panjang juga. Aku sampai menahan nafas saat batangnya terasa mentok di dalam. Rasanya sampai ke ulu hati. Aku baru bernafas lega ketika seluruh batangnya amblas di dalam. Mertuaku mulai menggerakkan pinggulnya perlahan-lahan. Satu, dua dan tiga tusukan mulai berjalan lancar. Semakin membanjirnya cairan dalam liang memekku membuat kontol mertuaku keluar masuk dengan lancarnya. Aku mengimbangi dengan gerakan pinggulku. Meliuk perlahan. Naik turun mengikuti irama tusukannya. Gerakan kami semakin lama semakin meningkat cepat dan bertambah liar. Gerakanku sudah tidak beraturan karena yang penting bagiku tusukan itu mencapai bagian-bagian peka di dalam relung kewanitaanku. Dia tahu persis apa yang kuinginkan. Ia bisa mengarahkan batangnya dengan tepat ke sasaran. Aku bagaikan berada di awang-awang merasakan kenikmatan yang luar biasa ini. Batang mertuaku menjejal penuh seluruh isi liangku, tak ada sedikitpun ruang yang tersisa hingga gesekan batang itu sangat terasa di seluruh dinding vaginaku.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Aduuhh.. auuffhh.., nngghh..!!!&#8221;, aku merintih, melenguh dan mengerang merasakan semua kenikmatan ini. Kembali aku mengakui keperkasaan dan kelihaian mertuaku di atas ranjang. Ia begitu hebat, jantan dan entah apalagi sebutan yang pantas kuberikan padanya. Toni suamiku tidak ada apa-apanya dibandingkan ayahnya yang bejat ini. Yang pasti aku merasakan kepuasan tak terhingga bercinta dengannya meski kusadari perbuatan ini sangat terlarang dan akan mengakibatkan permasalahan besar nantinya. Tetapi saat itu aku sudah tak perduli dan takkan menyesali kenikmatan yang kualami. Mertuaku bergerak semakin cepat. Kontolnya bertubi-tubi menusuk daerah-daerah sensitive. Aku meregang tak kuasa menahan desiran-desiran yang mulai berdatangan seperti gelombang mendobrak pertahananku. Sementara mertuaku dengan gagahnya masih mengayunkan pinggulnya naik turun, ke kiri dan ke kanan. Eranganku semakin keras terdengar seiring dengan gelombang dahsyat yang semakin mendekati puncaknya. Melihat reaksiku, mertuaku mempercepat gerakannya. Batang kontolnya yang besar dan panjang itu keluar masuk dengan cepatnya seakan tak memperdulikan liangku yang sempit itu akan terkoyak akibatnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Kulihat tubuh mertuaku sudah basah bermandikan keringat. Aku pun demikian. Tubuhku yang berkeringat nampak mengkilat terkena sinar lampu kamar. Aku mencoba meraih tubuh mertuaku untuk mendekapnya. Dan disaat-saat kritis, aku berhasil memeluknya dengan erat. Kurengkuh seluruh tubuhnya sehingga menindih tubuhku dengan erat. Kurasakan tonjolan otot-ototnya yang masih keras dan pejal di sekujur tubuhku. Kubenamkan wajahku di samping bahunya. Pinggul kuangkat tinggi-tinggi sementara kedua tanganku menggapai buah pantatnya dan menarik kuat-kuat. Kurasakan semburan demi semburan memancar kencang dari dalam diriku. Aku meregang seperti ayam yang baru dipotong. Tubuhku mengejang-ngejang di atas puncak kenikmatan yang kualami untuk kedua kalinya saat itu. &#8220;Yaaaah.., ooooohhhhhhh.., Yaaaahhhhh..eeee&#8230;eeennnaaaakkkkkkkk&#8230;!!!&#8221; Hanya itu yang bisa keluar dari mulutku saking dahsyatnya kenikmatan yang kualami bersamanya. &#8220;Sayang nikmatilah semua ini. Bapak ingin kamu dapat merasakan kepuasan yang sesungguhnya belum pernah kamu alami&#8230;.&#8221;, bisik ayah dengan mesranya.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Bapak sayang padamu, Bapak cinta padamu&#8230;. Bapak ingin melampiaskan kerinduan yang menyesak selama ini..&#8221;, lanjutnya tak henti-henti membisikan untaian kata-kata indah yang terdengar begitu romantis. Aku mendengarnya dengan perasaan tak menentu. Kenapa ini datangnya dari lelaki yang bukan semestinya kusayangi. Mengapa kenikmatan ini kualami bersama mertuaku sendiri, bukan dari anaknya yang menjadi suamiku&#8230;????. Tanpa terasa air mata menitik jatuh ke pipi. Mertuaku terkejut melihat ini. Ia nampak begitu khawatir melihatku menangis. &#8220;Novi sayang, kenapa menangis?&#8221; bisiknya buru-buru. &#8220;Maafkan Bapak kalau telah membuatmu menderita..&#8221;, lanjutnya seraya memeluk dan mengelus-elus rambutku dengan penuh kasih sayang. Aku semakin sedih merasakan ini. Tetapi ini bukan hanya salahnya. Aku pun berandil besar dalam kesalahan ini. Aku tidak bisa menyalahkannya saja. Aku harus jujur dan adil menyikapinya. &#8220;Bapak tidak salah. Novi yang salah..&#8221;, kataku kemudian. &#8220;Tidak sayang. Bapak yang salah&#8230;&#8221;, katanya besikeras. &#8220;Kita, Yah. Kita sama-sama salah&#8221;, kataku sekaligus memintanya untuk tidak memperdebatkan masalah ini lagi.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Terima kasih sayang&#8221;, kata mertuaku seraya menciumi wajah dan bibirku. Kurasakan ciumannya di bibirku berhasil membangkitkan kembali gairahku. Aku masih penasaran dengannya. Sampai saat ini mertuaku belum juga mencapai puncaknya. Aku seperti mempunyai utang yang belum terbayar. Kali ini aku bertekad keras untuk membuatnya mengalami kenikmatan seperti apa yang telah ia berikan kepadaku. Aku tak sadar kenapa diriku jadi begitu antusias untuk melakukannya dengan sepenuh hati. Biarlah terjadi seperti ini, toh mertuaku tidak akan selamanya berada di sini. Ia harus pulang ke Amerika. Aku berjanji pada diriku sendiri, ini merupakan yang terakhir kalinya. Timbulnya pikiran ini membuatku semakin bergairah. Apalagi sejak tadi mertuaku terus-terusan menggerakan kontolnya di dalam memekku. Tiba-tiba saja aku jadi beringas. Kudorong tubuh mertuaku hingga terlentang. Aku langsung menindihnya dan menicumi wajah, bibir dan sekujur tubuhnya. Kembali kuselomoti batang kontolnya yang tegak bagai tiang pancang beton itu. Lidahku menjilat-jilat, mulutku mengemut-emut. Tanganku mengocok-ngocok batangnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Kulirik kewajah mertuaku kelihatannya menyukai perubahanku ini. Belum sempat ia akan mengucapkan sesuatu, aku langsung berjongkok dengan kedua kaki bertumpu pada lutut dan masing-masing berada di samping kiri dan kanan tubuh mertuaku. Selangkanganku berada persis di atas batangnya. &#8220;Akh sayang!&#8221; pekik mertuaku tertahan ketika batangnya kubimbing memasuki liang memekku. Tubuhku turun perlahan-lahan, menelan habis seluruh batangnya. Selanjutnya aku bergerak seperti sedang menunggang kuda. Tubuhku melonjak-lonjak seperti kuda binal yang sedang birahi. Aku tak ubahnya seperti pelacur yang sedang memberikan kepuasan kepada hidung belang. Tetapi aku tak perduli. Aku terus berpacu. Pinggulku bergerak turun naik, sambil sekali-sekali meliuk seperti ular. Gerakan pinggulku persis seperti penyanyi dangdut dengan gaya ngebor, ngecor, patah-patah, bergetar dan entah gaya apalagi. Pokoknya malam itu aku mengeluarkan semua jurus yang kumiliki dan khusus kupersembahkan kepada ayah mertuaku sendiri! &#8220;Ooohh&#8230; oohhhh&#8230; oooouugghh.. Noviiiii.., luar biasa&#8230;..!!!&#8221; jerit mertuaku merasakan hebatnya permainanku.</p>
<p style="text-align: justify;">Pinggulku mengaduk-aduk lincah, mengulek liar tanpa henti. Tangan mertuaku mencengkeram kedua buah dadaku, diremas dan dipilin-pilin, sehingga air susuku keluar jatuh membasahi dadanya. Ia lalu bangkit setengah duduk. Wajahnya dibenamkan ke atas dadaku. Menjilat-jilat seluruh permukaan dadaku yang berlumuran air susuku dan akhirnya menciumi putting susuku. Menghisapnya kuat-kuat sambil meremas-remas menyedot air susuku sebanyak-banyaknya. Kami berdua saling berlomba memberi kepuasan. Kami tidak lagi merasakan dinginnya udara meski kamarku menggunakan AC. Tubuh kami bersimbah peluh, membuat tubuh kami jadi lengket satu sama lain. Aku berkutat mengaduk-aduk pinggulku. Mertuaku menggoyangkan pantatnya. Kurasakan tusukan kontolnya semakin cepat seiring dengan liukan pinggulku yang tak kalah cepatnya. Permain kami semakin meningkat dahsyat. Sprei ranjangku sudah tak karuan bentuknya, selimut dan bantal serta guling terlempar berserakan di lantai akibat pergulatan kami yang bertambah liar dan tak terkendali. Kurasakan mertuaku mulai memperlihatkan tanda-tanda.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku semakin bersemangat memacu pinggulku untuk bergoyang. Mungkin goyangan pinggulku akan membuat iri para penyanyi dangdut saat ini. Tak selang beberapa detik kemudian, aku pun merasakan desakan yang sama. Aku tak ingin terkalahkan kali ini. Kuingin ia pun merasakannya. Tekadku semakin kuat. Aku terus memacu sambil menjerit-jerit histeris. Aku sudah tak perduli suaraku akan terdengar kemana-mana. Kali ini aku harus menang! Upayaku ternyata tidak percuma. Kurasakan tubuh mertuaku mulai mengejang-ngejang. Ia mengerang panjang. Menggeram seperti harimau terluka. Aku pun merintih persis kuda betina binal yang sedang birahi. &#8220;Eerrgghh.. ooooo&#8230;.ooooooo&#8230;..oooooouugghhhhhh..!!!!&#8221; mertuaku berteriak panjang. Tubuhnya menghentak-hentak liar. Tubuhku terbawa goncangannya. Aku memeluknya erat-erat agar jangan sampai terpental oleh goncangannya. Mendadak aku merasakan semburan dahsyat menyirami seluruh relung vaginaku. Semprotannya begitu kuat dan banyak membanjiri liangku. Akupun rasanya tidak kuat lagi menahan desakan dalam diriku.</p>
<p style="text-align: justify;">Sambil mendesakan pinggulku kuat-kuat, aku berteriak panjang saat mencapai puncak kenikmatan berbarengan dengan ayah mertuaku. Tubuh kami bergulingan di atas ranjang sambil berpelukan erat. Saking dahsyatnya, tubuh kami terjatuh dari ranjang. Untunglah ranjang itu tidak terlalu tinggi dan permukaan lantainya tertutup permadani tebal yang empuk sehingga kami tidak sampai terkilir atau terluka. &#8220;Oooooogggghhhhhhh.. yaahh..,nik&#8230;.nikkkk nikmaatthh&#8230;. yaaahhhh..!!!!&#8221; jeritku tak tertahankan. Tulang-tulangku serasa lolos dari persendiannya. Tubuhku lunglai, lemas tak bertenaga terkuras habis dalam pergulatan yang ternyata memakan waktu lebih dari 2 jam! Gila! Jeritku dalam hati. Belum pernah rasanya aku bercinta sampai sedemikian lamanya. Aku hanya bisa memeluknya menikmati sisa-sisa kepuasan. Perasaanku tiba-tiba terusik. Sepertinya aku mendengar sesuatu dari luar pintu kamar, kayaknya si Inah&#8230;. Karena mendengar suara ribut-ribut dari kamar, rupanya ia datang untuk mengintip&#8230;. tapi aku sudah terlalu lelah untuk memperhatikannya dan akhirnya tertidur dalam pelukan mertuaku, melupakan semua konsekuensi dari peristiwa di sore ini di kemudian hari&#8230;..</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ceritasex.cn/diperkosa-ayah-mertua-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Dari Pemerkosaan Menjadi Skandal Perselingkuhan</title>
		<link>http://www.ceritasex.cn/dari-pemerkosaan-menjadi-skandal-perselingkuhan/</link>
		<comments>http://www.ceritasex.cn/dari-pemerkosaan-menjadi-skandal-perselingkuhan/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 06 Nov 2011 13:48:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cerita Sex</dc:creator>
				<category><![CDATA[anal seks]]></category>
		<category><![CDATA[Gangbang Rame Rame]]></category>
		<category><![CDATA[Paruh baya]]></category>
		<category><![CDATA[Pemerkosaan]]></category>
		<category><![CDATA[Seks Umum]]></category>
		<category><![CDATA[selingkuh]]></category>
		<category><![CDATA[anal]]></category>
		<category><![CDATA[anus]]></category>
		<category><![CDATA[cuki]]></category>
		<category><![CDATA[hardcore]]></category>
		<category><![CDATA[istri]]></category>
		<category><![CDATA[kontol]]></category>
		<category><![CDATA[memek]]></category>
		<category><![CDATA[ngentot]]></category>
		<category><![CDATA[sex]]></category>
		<category><![CDATA[skandal]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ceritasex.cn/?p=3162</guid>
		<description><![CDATA[Gila, hanya kata itu yang ada dalam benakku saat mengingat kisah pemerkosaan dari para pembantuku yang hingga kini menjadi skandal perselingkuhan. Aku dibuat liar oleh mereka, sungguh ini bukan kehendakku tapi aku sangat menikmatinya. Cerita panas yang sampai kini menjadi rahasia dalam rumah tanggaku. Di dalam ruangan itu terlihat sunyi beberapa dari mereka tidak sanggup [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Gila, hanya kata itu yang ada dalam benakku saat mengingat kisah pemerkosaan dari para pembantuku yang hingga kini menjadi skandal perselingkuhan. Aku dibuat liar oleh mereka, sungguh ini bukan kehendakku tapi aku sangat menikmatinya. Cerita panas yang sampai kini menjadi rahasia dalam rumah tanggaku.</p>
<p style="text-align: justify;">Di dalam ruangan itu terlihat sunyi beberapa dari mereka tidak sanggup melihat dua orang suami istri terbujur kaku, sedangkan di sampingnya terdapat anak yang masih berusia 11 tahun yang sedang menangisi ke dua orang tuanya, karena merasa kasihan aku meminta izin suamiku untuk menemuinya, setelah mendapat izin aku lalu menghampiri anak tersebut berharap dapat menenangkan hati anak tersebut, “Al..” panggilku pelan sambil duduk di sampingnya, “sudah jangan nagis lagi, biarkan kedua orang tuamu beristirahat”</p>
<p style="text-align: justify;">Anak itu tetap menangis, beberapa detik dia memandangku dan tidak lama kemudian dia langsung memelukku dengan air mata yang bergelinang,“tante, hiks…hiks… Aldi ga mau sendirian, Aldi mau mama, papa…” dengan penuh rasa kasih sayang aku mengelus punggungnya berharap dapat meringankan bebannya, “tante… bangunin mama,”katanya sambil memukul pundakku, aku semakin tak kuasa mendengar tangisnya, sehingga air matakupun ikut jatuh,“Aldi, jangan sedih lagi ya? Hhmm… kan masih ada tante sama om,” aku melihat ke belakang ke arah suamiku sambil memberikan kode, suami ku mengangguk bertanda dia setuju dengan usulku, “mulai sekarang Aldi boleh tinggal bersama tante dan om, gi mana?” tawarku sambil memeluk erat kepalahnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Sebelum lebih jauh mohon izinkan aku untuk memperkenalkan diri, namaku Lisa usia 25 tahun aku menikah di usia muda karena kedua orang tuaku yang menginginkannya, kehidupan keluargaku sangaatlah baik, baik itu dari segi ekonomi maupun dari segi hubungan intim, tetapi seperti pepata yang mengatakan tidak ada gading yang tak retak, begitu juga dengan hidupku walaupun aku memiliki suami yang sangat mencintaiku tetapi selama 4 tahun kami menikah kami belum juga dikaruniai seorang anak sehingga kehidupan keluarga kami terasa ada yang kurang, tetapi untungnya aku memiki seorang suami yang tidak perna mengeluh karena tidak bisanya aku memberikan anak untuknya untuk membalas budi baik kakakku, aku dan suamiku memutuskan untuk merawat anaknya Aldi karena kami pikir apa salah menganggap Aldi sebagai anak sendiri dari pada aku dan suamiku harus mengangkat anak dari orang lain.</p>
<p style="text-align: justify;">Sudah satu minggu Aldi tinggal bersama kami, perlahan ia mulai terbiasa dengan kehidupannya yang baru, aku dan suamiku juga meresa sangat senang sekali karena semenjak kehadirannya kehidupan kami menjadi lebih berwarna, suamiku semakin bersemangat saat bekerja dan sedangkan aku kini memiliki kesibukan baru yaitu merawat Aldi,“Bi…. tolong ambilin tasnya Aldi dong di kamar saya,” kataku memanggil bi Mar<br />
<span id="more-3162"></span><br />
Hari ini adalah hari pertama Aldi bersekolah sehingga aku sangat bersemangat sekali, setelah semuanya sudah beres aku meminta pak Rojak untuk mengantarkan Aldi ke sekolahnya yang baru, beberapa saat Aldi terseyum ke arahku sebelum dia berangkat ke sekolah. Seperti pada umumnya ibu rumah tangga, aku berencana menyiapkan makanan yang special untuk Aldi sehingga aku memutuskan untuk memasak sesuatu di dapur, tetapi saat aku melangkah ke dapur tiba-tiba kakiku terasa kaku saat melihat kehadiran pak Isa yang sedang melakukan hubungan intim dengan mba Ani, mereka yang tidak menyadari kehadiranku masih asyik dengan permainan mereka,“Hmm… APA-APAAN INI?” bentakku ke pada mereka, mendengar suaraku mereka terlihat tanpak kaget melihat ke hadiranku, “kalian benar-benar tidak bermoral, memalukan sekali!”</p>
<p style="text-align: justify;">Mereka tanpak terdiam sambil merapikan kembali pakaian mereka masing-masing, beberapa saat aku melihat penis pak Isa yang terlihat masih sangat tegang, sebenarnya aku sangat terkejut melihat ukuran penis pak Isa yang besar dan berurat, berbeda sekali dengan suamiku,“maafin kami Bu,” kini Ani membuka mulutnya, sedangkan pak Isa masih terdiam,“Maaf… kamu benar-benar wanita murahan, kamu tahu kan pak Isa itu sudah punya istri kenapa kamu masih juga menggoda pak Isa, kamu itu cantik kenapa tidak mencari yang sebaya denganmu?” emosiku semakin memuncak saat mengingat bi Mar istri dari pak Isa, “saya tidak menyangka ternyata anda yang sangat saya hormati ternyata tidak lebih dari binatang, betapa teganya anda menghianati istri anda sendiri,” beberapa kali aku menggelengkan kepalahku, sambil menunjuk ke arahnya,</p>
<p style="text-align: justify;">“maaf Bu ini semua salah saya, jangan salahkan Ani” kata pak Mar yang membela Ani,“mulai sekarang kalian saya PECAT, dan jangan perna menyentuh ataupun menginjak rumah ini, KELUAR KALIAN SEMUA!!” bentakku</p>
<p style="text-align: justify;">Mendengar perkataanku Ani terlihat pucat tidak menyangkah kalau kelakuan bisa membuatnya kehilangan pekerjaan, sedangkan pak Isa terlihat tenang-tenang saja malahan pak Isa tanpak terseyum sinis,“he..he… Ibu yakin dengan keputusan Ibu,” pak Isa tertawa mendengar perkataanku, perlahan pak Isa mendekatiku, “jangan perna main-main dengan saya Bu,” ancamnya dengan sangat sigap pak Isa menangkap kedua tanganku,“apa-apaan ini lepaskan saya, atau saya akan berteriak,” aku mencoba mengancam balik mereka yang sedang mencoba mengikat kedua tanganku,“teriak saja Bu, tidak akan ada orang yang mendengar,” timpal Ani sambil membantu pak Isa mengikat kedua tanganku,Apa yang di katakan Ani ada benarnya juga, tetapi walaupun begitu aku tidak mau menyerah begitu saja dengan susah paya aku berusaha melepaskan diri tapi sayangnya tenagaku kalah besar dari mereka berdua, tanpa bisa berbuat apa-apa aku hanya dapat mengikuti mereka saat membawaku ke dalam kamar pak Isa. Sesampai di kamar aku di tidurkan di atas kasur yang tipis, sedangkan Ani mengambil sebuah Hp dan ternyata Hp itu di gunakan untuk merekamku, sehingga kehawatiranku semakin menjadi-jadi.“kalian biadab, tidak tau terimakasih anjing kalian!” air mataku tidak dapat kubendung lagi saat jari-jemari pak Isa mulai merabahi pahaku yang putih,</p>
<p style="text-align: justify;">“ja-jangan, mau apa kalian lepaskan saya ku mohon jangan ganggu saya,” kataku di sela-sela isak tangis,“siapa suruh ikut campur urusan saya, he…he… maaf bu ternyata hari ini adalah hari keberuntungan saya, dan hari yang sil bagi Ibu,” semakin lama aku merasa tangannya semakin dalam memasuki dasterku,</p>
<p style="text-align: justify;">“tidak di sangkah impian saya akhirnya terkabul juga,”” sambungnya sambil meremasi paha bagian dalamku,“makanya Bu jangan suka ikut campur urusan orang,” kini giliran Ani yang menceramahiku,“ya, saya ngaku salah tolong lepasin saya,” kini aku hanya dapat memohon agar mereka sedikit iba melihatku, tetapi sayangnya apa yang kuharapkan tidak terjadi, pak Isa tanpa semakin buas memainkan diriku</p>
<p style="text-align: justify;">Aku hanya dapat melihat pasrah saat dasterku terlepas dari tubuhku, kedua payudaraku yang memang sudah tidak tertutupi apa-apa lagi dapat dia nikmati, jari-jarinya yang kasar mulai memainkan selangkanganku,“sslluupss…sslluuppss… hhmm…. ayo Bu puaskan saya?” pinta pak Isa, sambil mengulum payudaraku beberapa kali lidahnya menyapu putting susuku yang mulai mengeras,</p>
<p style="text-align: justify;">“ko’ memeknya basah bu, he…he…” memang harus diakui, tubuhku tidak dapat membohonginya walaupun bibirku berkata tidak,“wa…wa… Ibukan sudah punya suami ko’ masih juga menggoda laki orang lain, ga malu ya Bu,” Ani melotottiku seolah-olah ingin membalas perkataanku tadi, “dasar wanita munafik, sekarang Ibu tau kan kenapa saya menyukai pak Isa,”bentak Ani kepadaku, sehingga membuat hatiku terasa amat sakit mendengarnya,“aahhkk… pak, hhmm…. pak sudah jangan di terusin…” kataku dengan kaki yang tidak dapat diam saat jarinya menyelusup kedalam vaginaku yang sudah banjir, perlahan kurasakan jari telunjuknya menyelusuri belahan vaginaku,“oo… enak ya? he…he…” pa Isa tertawa melihatku yang sudah semakin terangsang, leherku terasa basah saat lidah pak Isa menjilati leherku yang jenjang.</p>
<p style="text-align: justify;">Dengan sangat kasarnya pak Isa menarik celana dalamku, sehingga vaginaku yang tidak di tumbuhi rambut sehelaipun terlihat olehnya, aku memang sangat rajin mencukur rambut vaginaku agar terlihat lebih bersi dan seksi.</p>
<p style="text-align: justify;">Ani berjongkok di sela-sela kakiku, kamera Hp di arahkan persis di depan vaginaku yang kini sudah tidak ditutupi oleh sehelai kain, tanpa memikirkan perasaanku pak Isa membuka bibir vaginaku sehingga bagian dalam vaginaku dapat di rekam jelas oleh Ani, beberapa kali jari telunjuk pak Isa menggesek clitorisku,“ohk pak plisss.. jangan…? saya malu…” aku merasa sangat malu sekali di perlakukan seperti itu, baru kali ini aku bertelanjang di depan orang lain bukan suamiku sendiri,“Ha…ha… malu kenapa Bu? anjing aja tidak malu ga pake baju masa ibu malu si…” katanya yang semakin merendahkan derajatku, setelah puas mempertontonkan vaginaku di depan kamera, pak Isa bertukar posisi dengan Ani untuk memegangi kakiku sedangkan pak Isa berjongkok tepat di bawa vaginaku.</p>
<p style="text-align: justify;">Dengan sangat lembut pak Isa menciumi pahaku kiri dan kanan secara bergantian, semakin lama jilatannya semakin ke atas menyentuh pinggiran vaginaku,“aahkk… sudah pak, rasanya sangat geli hhmm…” aku berusaha sekuat tenaga mengatupkan kedua kakiku tetapi usahaku sia-sia saja, dengan sangat rakus pak Isa menjilati vaginaku yang berwarna pink, sedangkan Ani tanpa puas melihat ke adaanku yang tak berdaya,“nikmatin aja Bu, he..he.. saya dulu sama seperti ibu selalu menolak tapi ujung-ujungnya malah ketagihan” kata Ani tanpa melepaskan pegangannya terhadap kakiku.</p>
<p style="text-align: justify;">Semakin lama aku semakin tidak tahan, tiba-tiba aku merasa tubuhku seperti di aliri listrik dengan tegangan yang tinggi, kalau seandainya Ani tidak memegang kakiku dengan sangat erat mungkin saat ini wajah pak Isa sudah menerima tendanganku, mataku terbelalak saat orgasme melandah tubuhku dengan sangat hebat, cairan vaginaku meleleh keluar dari dalam vaginaku, sehingga tubuhku terasa lemas,“ha…ha… bagaimana Bu, mau yang lebih enak….” pak Isa tertawa puas, aku hanya dapat menggelengkan kepalaku karena aku sudah tidak mampu lagi untuk mengeluarkan suara dari mulutku, perlahan pak Isa berdiri sambil memposisikan penisnya tepat di depan vaginaku.</p>
<p style="text-align: justify;">“aahkk… sakit…” aku memikik saat kepala penisnya menerobos liang vaginaku, “uuhk… hhmm… pelan-pelan pak…” pintaku sambil menarik napas menahan rasa sakit yang amat sangat di vaginaku karena ukuran penis pak Isa jauh lebih besar dari penis suamiku,“tahan Bu, bentar lagi juga enak ko’ “ kata Ani yang kini melepaskan ikatan di tanganku, setelah ikatanku terlepas Ani kembali merekam adegan panas yang kulakukan,</p>
<p style="text-align: justify;">Dengan sangat cepat pak Isa menyodok vaginaku sehingga terdengar suara “plokkss….ploskkss…” saat penisnya mentok ke dalam vaginaku yang mungil,<br />
“aahhkk… aahhkk… aaahh… oooo…”semakin cepat sodokannya suaraku semakin lantang terdengar,“oh yeeaa… enak Bu, hhmm… ternyata memek Ibu masih sempit sekali walaupun sudah perna menikah,” katanya memujiku, tetapi mendengar pujiannya aku tidak merasa bangga melainkan aku meresa jijik terhadap diriku sendiri,Aku merasa vaginaku seperti di masuki benda yang sangat besar yang mencoba mengorek isi dalam vaginaku, rasanya memang sangat sakit sekali tetapi di sisi lain aku merasa sangat menikamati perkosaan rehadap diriku, selama ini aku belum perna merasakan hal seperti ini dari suamiku sendiri,“ayo sayang, bilang kalau kontol saya enak…” dengan sangat kasar pak Isa meremasi kedua payudaraku,“ti-tidak…. ahk… hhmm…” aku di buat merem melek olehnya,“ha..ha.. kamu mau jujur atau tidak, kalau tidak hhmm… saya akan adukan semua ini kepada suamimu, ha…ha…” katanya mengancamku dengan tawa yang sangat menjijikan,“ja-jangan pak,” aku memohon ke padanya, karena takut dengan ancamannya akhirnya aku menyerah juga “iya, aahhkk… aku suka…” kataku dengan suara yang hampir tidak terdengar,</p>
<p style="text-align: justify;">“APA… SAYA TIDAAK MENDENGAR?” pak Isa berteriak dengan sangat kencang sehingga gendang telingaku terasa mau pecah mendengar teriakannya,“IYA PAK, ENAK SEKALI SAYA SUKA SAMA kontol BAPAK….aahhk…uuhhkk!!” dengan sekuat tenaga aku berusaha tegar dan berharap semuanya cepat berlalu,<br />
Setelah berapa menit kemudian tubuhku kembali merasa tersengat oleh aliran listrik saat aku kembali mengalami orgasme yang ke dua kalinya,</p>
<p style="text-align: justify;">Dengan sangat kasarnya pak Isa menarik tubuhku sehingga aku berposisi menungging, pantatku yang bulat dan padat menghadap dirinya,“hhmm… indah sekali pantatmu sayang” katanya sambil meremasi bongkahan pantatku,“pak, saya mohon cepat lakukan,”“ha..ha.. kenapa Bu, sudah ga tahan” berkali-kali pantatku menerima pukulan darinya, sebenarnya aku tidak menyangka dengan kata-kataku tadi bisa membuatku semakin renda di mata mereka, sebenarnya aku hanya bermaksud agar semua permainan ini segera berakhir tapi sayangnya pak Isa tidak menginginkan itu,</p>
<p style="text-align: justify;">“tenang Bu, santai saja dulu?”<br />
Pak Isa sangat pintar memainkan tubuhku, dengan sangat lembut jari kasarnya menyelusuri belahan pantatku dari atas hingga ke bawah belahan vagianaku, gerakan itu di lakukan berkali-kali sehingga pantatku semakin terlihat membusung ke belakang,“ohhkk… pak, hhhmm….” ku pejamkan mataku saat jarinya mulai menerobos lubang anusku, dengan gerakan yang sangat lembut jarinya keluar masuk dari dalam anusku, “ahhkk….ooo… ssstt…uuuuu… pak” ternyata rintihanku membuat pak Isa semakin mempercepat gerakan jarinya,<br />
pak Isa dengan rakusnya kembali menjilati vaginaku dari belakang sedangkan jari-jarinya masih aktif mengocok anusku. Pada saat aku sangat terangsang tiba-tiba kami mendengar suara ketukan yang kuyakini itu adalah pak Rojak yang baru pulang dari mengantar Aldi.</p>
<p style="text-align: justify;">“Pak Rojak tolongin saya…” kataku berharap ia bisa membantuku untuk lepas dari pelecehan yang ku alami, dengan santainya Ani membukakan pintu tanpa rasa takut kalau pak Rojak mengadukan kejadian ini ke pada suamiku, pak Rojak tanpak kaget saat melihat keadaanku yang sedang di gagahi oleh pak Isa,</p>
<p style="text-align: justify;">“pak, tolong ku mohon,” kataku memelas,“Wa…wa…. apa-apaan ini, “ beberapa kali pak Rojak menggelengkan kepalahnya dengan mata yang tak henti-hentinya memandangi tubuh mulusku,“Udah pak, jangan sok mau jadi pahlawan kalau bapak mau embat aja, dia sudah menjadi budaknya saya,” pak Isa mulai membujuk pak Rojak dan aku hanya bisa berharap pak Rojak tidak memperdulikan tawaran pak Isa,</p>
<p style="text-align: justify;">“kenapa bengong? sini ikutan!” ajaknya lagi“jangan pak saya mohon tolongin saya,” aku mengiba ke pada pak Rojak, tetapi pak Isa tidak mau kalah kedua jarinya membuka bibir vaginaku,“bapak liat ni, memeknya sudah basa banget… wanita ini munafik” pak Rojak terdiam seperti ada yang sedang di piirkannya,</p>
<p style="text-align: justify;">“memeknya masih sempit lo, apa lagi anusnya kayaknya masih perawan,” bujuk pak Isa berharap pak Rojak mau bergabung dengannya untuk menikmati tubuhku,Akhirnya pak Rojak tidak tahan melihat vaginaku yang becek terpampang di depannya,</p>
<p style="text-align: justify;">“hhmm… oke lah tapi boolnya buat saya ya, ” tubuhku semakin terasa lemas, kini aku sudah tidak tau harus meminta tolong ke pada siapa lagi, perlahan pak Rojak mendekatiku,“sekarang Ibu dudukin kontol saya, cepat…” perintah pa Isa sambil tidur telentang dengan penis yang mengancung ke atas, dengan sangat pelan aku menuduki penis pak Isa “eennnggkk…. “ aku menggigit bibir bawahku saat kepala penis pak Isa kembali menembus vaginaku, perlahan penis itu amblas ke dalam vaginaku, dengan sangat erat pak Isa memeluk pinggangku agar tidak dapat bergerak.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah melepas semua pakaian yang ada di tubuhnya, pak Rojak mendekatiku dengan penis berada di depan anusku beberapa kali pak rojak menamparkan penisnya ke pantatku,“pak sakit… aahhkk… aahkk… ja-jangan pak saya belum pernah” aku berusaha melepaskan diri saat pak Rojak mulai berusaha memasuki anusku, sempat beberapa kali ia gagal meembus anusku yang memang masih perawan.</p>
<p style="text-align: justify;">“ha…ha… ayo dong Pak, masak kalah sama cewek si…” kata pak Isa mmemanas-manasi pak Rojak agar segera membobol anusku, pak rojak yang mendengar perkataan pak Isa menjadi lebih beringas dari sebelumnya,“AAAAAA….” aku berteriak sekencang-kencangnya saat penis pa Rojak berhasil menerobos anusku, tanpa memberikan aku nafas ia menekan penisnya semakin dalam, “aahkk…. oohhkk… pak, hhmm…” aku merintih ke sakitan saat pak Rojak mulai memaju mundurkan penisnya di dalam anusku.“gi mana pak? Enak kan?” tanya pak Isa yang kini ikutan memaju mundurkan penisnya di dalam vaginaku,“eehhkknngg… mantab pak, enak banget he….he… hhmm….” semakin lama kedua pria tersebut semakin mempercepat tempo permainan kami.</p>
<p style="text-align: justify;">Sudah beberapa menit berlalu kedua orang pria ini belum juga menunjukan kalau mereka ingin ejakulasi, sedangkan diriku sedah beberapa kali mengalami orgasme yang hebat sehingga tubuhku terasa terguncang oleh orgasmeku sendiri. Setelah beberapa menit aku mengalami orgasme tiba-tiba pak Isa menunjukan bahwa dia juga ingin mencapai klimaks. Dengan sekuat tenaga pak Isa semakin menenggelamkan penisnya ke dalam vaginaku dalam hitungan beberapa detik kurasakan cairan hangat membasahi rahimku.</p>
<p style="text-align: justify;">“aahkk… enak…. hhmm…” gumamnya saat menyemburkan sperma terakhirnya, setelah puas menodaiku pak Isa melepas penisnya di dalam vaginaku begitu juga dengan pak Rojak yang melepaskan penisnya di dalam anusku,“buka mulutmu cepetan,” perintah pak Rojak sambil menarik wajahku agar menghadap ke arah penisnya yang terlihat berdeyut-deyut, aku sangat kaget sekali saat pak Rojak memuntahkan spermanya ke arah wajahku, sehingga wajahku ternodai oleh sperma pak Rojak,Kini aku benar-benar sudah tidak memiliki tenaga sedikitpun, untuk mengangkat tubuhku saja terasa sangat berat sekali, sedangkan mereka tanpa puas memandangku yang sedang berpose mengangkang di depan mereka karena kedua kakiku kembali dipegangi Ani, sperma yang tadi di muntahkan pak Isa terasa mengalir keluar dari dalam vaginaku,</p>
<p style="text-align: justify;">********<br />
Aku duduk di atas sofa sambil melihat anak angkatku Aldi yang sedang di temani suamiku belajar, wajah mereka terlihat sangat cerah sekali bertanda bahwa mereka sangat bahagia, entah kenapa tiba-tiba di pikiranku terlintas kembali apa yang terjadi tadi pagi yang menimpa diriku, semakin aku berusaha melupakannya rasanya ingatan itu semakin menghantuiku, aku tidak bisa membayangkan kalau sampai suamiku mengetahui kalau aku di perkosa oleh ketiga pembantuku sendiri,“hhmm… gi mana Aldi sudah negerti belom” kataku sambil mengucek rambutnya yang sedang sibuk menghitung soal yang di berikan suamiku, “ya sudah kalau begitu mama bikinin minuman dulu ya, buat kalian,” kataku yang di sambut dengan teriakan mereka berdua.</p>
<p style="text-align: justify;">Baru satu langkah aku keluar dari kamar tiba-tiba pergelangan tanganku terasa sakit saat pak Rojak menarik tanganku,“bapak apaan sih!?” bentakku dengan suara yang sangat pelan,“ssstt… jangan berisik…” kata pak Rojak dengan jari telunjuk di bibirnya, “nanti suami dan anak mu dengar, hhmm… bapak cuman mau ini Bu,” katanya lagi sambil mencubit payudaraku, dengan sigap aku mundur ke belakang,“jangan main-main pak,” beberapa kali aku memandang pintu kamarku yang tidak tertutup rapat, tetapi pak Rojak tidak kehabisan akal dia balik mengancamku dengan mengatakan akan membongkar semua rahasiaku ke pada suamiku, sehingga nyaliku menjadi ciut,</p>
<p style="text-align: justify;">“oke, hhmm… kalau begitu bapak ikut saya” kataku dengan suara yang bergetar, karena sudah tidak tahu lagi harus melakukan apa, dia terseyum puas melihatku tak berdaya dengan permintaanya,“maaf Bu, saya inginnya di sini bukan di tempat lain,” katanya dengan suara yang cukup jelas, setelah berkata seperti itu pak Rojak langsung memelukku dengan erat sehingga aku sulit bernafas, “hhmm… bauh tubuh ibu benar-benar menggoda saya,” perlahanku rasakan lidahnya menjulur ke leherku“pak ku mohon, jangan di sini” pintaku ke padanya,</p>
<p style="text-align: justify;">Pak Rojak yang mengerti kekhawatiranku langsung membalik tubuhku menghadap daun pintu kamarku yang sedikit terbuka,“Ibu bisa bayangkan kalau sampai orang yang sedang di dalam kamar Ibu mengetahui apa yang sedang Ibu lakukan,” ancamnya sambil menarik rambutku sehingga aku harus menutup mulutku dengan telapak tanganku agar suara terikanku tidak terdengar oleh suami dan anakku,“Pak ku mohon jangan di sini,” aku hanya bisa menurut saja saat pak Rojak menyuruhku untuk menungging dengan tangan yang menyentuh lantai, sedangkan wajahku menghadap ke celah pintu kamarku yang terbuka.</p>
<p style="text-align: justify;">“tahan ya Bu,” katanya sambil menyingkap dasterku, sehingga celana dalamku yang berwarna hitam terpampang di depan matanya, dengan sangat kasar pak Rojak meremas kedua buah pantatku yang padat sehingga aku tak tahan untuk tidak mendesah,“aahkk.. pak hhmm.. ja-jangan di sini pak,” pak Rojak diam saja tidak mendengar kata-kataku melainkan pak Rojak semakin membuatku terangsang dengan mengelus belahan vaginaku dari belakang,“kalau kamu tidak mau ketahuan jangan bicara,” bentak pak Rojak sambil memukul pantatku“ta-tapi pak, oohhkk… aku ga kuat,” kataku dengan suara yang sangat pelan, “ku mohon pak mengertilah,”Pak Rojak seolah-olah tidak mau tahu, kini dengan rakusnya pak Rojak menjilati vaginaku yang masih tertutup celana dalamku, sehingga aku merasa celana dalamku tampak semakin basah oleh air liurnya. Setelah puas menciumi vaginaku pak Rojak memintaku untuk membuka celana dalamku sendiri masih dengan posisi menungging. Sangat sulit bagiku untuk melepaskan celana dalamku dengan posisi menungging belum lagi aku harus bekonsentrasi agar suaraku tidak keluar dengan keras walaupun pada akhirnya aku berhasil menurunkan celana dalamku sampai ke lutut,</p>
<p style="text-align: justify;">“hhuuu… mantab….” katanya sambil merabahi vaginaku dari belakang, “kamu mau tahukan gimana rasanya ngentot di depan suamimu sendiri,” katanya lagi sambil menunjuk ke arah suamiku yang sedang mengajari anaku Aldi,“pak, ja-jangan…” aku sangat takut sekali kalau suamiku melihat ke arahku, tiba-tiba aku di kejutkan dengan jari telunjuk pak Rojak yang langsung memasuki vaginaku sehingga aku terpekik cukup keras,“sayang… ada apa?” kata suamiku dari dalam, saat mendengar suaraku.“aahkk… tidak pa, cuman hhmm.. tadi ada tikus lewat,” jawabku asal-asalan agar suamiku tidak curiga ke padaku, tetapi untungnya suamiku tidak melihat ke arahku, dalam ke adaan terjepit seperti ini pak Rojak masih asyik mempermainkan vaginaku dari belakang,</p>
<p style="text-align: justify;">“ada tikus??” katanya lagi seolah-olah tidak percaya, “apa perlu papa yang usir,” mendengar tawarannya nafasku teras berhenti tetapi untungnya aku masih banyak akal,“aahhgg… ga usah hhmm.. pa…” kataku terputus-putus menahan rasa nikmat yang di berikan pak Rojak kepadaku, untungnya suamiku tidak curiga dengan suaraku,“asyikan Bu, ngobrol dengan suami sambil di mainin memeknya,” aku memandangnya dengan wajah yang memerah karena nafsuku sudah di puncak, “ko’ diam cepat ajak suami Ibu ngobrol,” mendengar perkataanya aku langsung melotot ke arahnya, “Ibu mau kalau suami Ibu tau apa yang sekarang Ibu lakuin,” mendengar ancamannya aku kembali terdiam,<br />
Dengan sangat terpaksa aku kembali mengajak suamiku mengobrol, walaupun di dalam hati aku merasa was-was takut kalau suamiku menyadari suaraku yang berubah menjadi desahan,“paaa… ma-mau minum apa?” tanyaku yang kini sedang diperkosa oleh pak Rojak, tanpa kusadari pak Rojak sudah memposisikan penisnya di depan ibir vaginaku sehingga beberapa kali aku terpanjat saat pak rojak menghantamkan penisnya dengan sangat keras ke dalam vaginaku,“terserah mama saja… papa sama Aldi ikut aja,”“iya ma, apa aja asalkan enak,” sambung Aldi,</p>
<p style="text-align: justify;">Waktu demi waktu telah berlalu sehingga sampai akhirnya sikapku berubah menjadi sedikit liar dan mulai menyukai cara pak Rojak memperkosaku walaupun pada awalnya hatiku terasa miris sekali di perlakukan seperti ini,“aahk…. pak hhmm.. enak,” aku melenggu panjang saat orgasme melandahku, kini perkosaan yang ku alami berganti dengan perselingkuhanku dengan pembantuku,“ohhk… memek istri majikan ternyata enak sekali, ahhkk…” katanya yang terus-terusan menggoyang penisnya di dalam vaginaku,<br />
“pak… aahhkk… eehkk… aku, hhmm… ingin keluarrr, uuhhkk…” kali ini suaraku terdengar sangat manja</p>
<p style="text-align: justify;">Beberapa menit kemudian kami mengerang bersamaan saat kenikmatan melanda kami berdua, setelah merasa puas aku dan pak Rojak kembali merapikan pakaian kami masing-masing, sebelum pak Rojak pergi meninggalkanku sempat terlihat seyumannya yang tersungging di bibirnya. Setelah membuatkan minuman aku kembali ke kamarku menemui anak dan suamiku, mereka terlihat tanpak senang sekali melihatku hadir dengan membawa minuman dan makanan kecil,“ini di minum dulu, nanti baru di lanjutin lagi,” kataku sambil meletakan cangkir dan piring di atas meja kecil yang di gunakan Aldi untuk belajar,“makasi mama…” kata Aldi yang langsung saja menyambar minuman yang baru ku bikin, entah kenapa setiap kali melihat Aldi hatiku terasa menjadi damai, dan semua masalah seperti terlupakan,Aku merasa sedikit aneh, saat suamiku memandangku dengan tatapan mencurigakan sehingga aku memberanikan diri untuk bertanya ke padanya,“ada pa, ko memandang mama seperti itu” kataku sambil mengupas jeruk untuk Aldi yang sedang menulis,</p>
<p style="text-align: justify;">suamiku mendekatkan mulutnya ke telingaku, “hhmm.. sayang ko’ kamu bau hhmm… gitulah…” mendengar pertanyaannya jantungku terasa berhenti,“bau, bau apa pa?” tanyaku untuk memastikan apa maksud dari pertanyaan suamiku,<br />
“kamu tadi ko’ lama ma,” kami terdiam beberapa saat, “mama abis dari kamar mandi ya, hhmmm… papa jadi curiga ni,” katanya sambil tertawa memandangku, mendengar perkataanya aku menjadi sedikit lega,“Iya ni pa, abis kangen si…” kataku manja sambil mencubit penis suamiku,Setelah yakin Aldi tertidur pulas, suamiku mengjakku untuk melayaninya semalaman suntuk. Tubuhku memang terasa lelah karena seharian harus mengalami orgasme, tetapi di sisi lain aku sangat senang karena suamiku tidak mencurigai aku karena bau tubuhku seperti bau orang yang habis bercinta.</p>
<p style="text-align: justify;">Hampir tiap hari aku merengkuh kenikmatan bersama para pembantuku, kenikmatan yangh tidak aku dapatkan dari suamiku yang membuat aku semakin liar.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ceritasex.cn/dari-pemerkosaan-menjadi-skandal-perselingkuhan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Diperkosa ternyata Nikmat</title>
		<link>http://www.ceritasex.cn/diperkosa-ternyata-nikmat/</link>
		<comments>http://www.ceritasex.cn/diperkosa-ternyata-nikmat/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 04 Nov 2011 19:26:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cerita Sex</dc:creator>
				<category><![CDATA[Paruh baya]]></category>
		<category><![CDATA[Pemerkosaan]]></category>
		<category><![CDATA[Seks Umum]]></category>
		<category><![CDATA[selingkuh]]></category>
		<category><![CDATA[Tante Girang]]></category>
		<category><![CDATA[binal]]></category>
		<category><![CDATA[hot]]></category>
		<category><![CDATA[istri]]></category>
		<category><![CDATA[memek]]></category>
		<category><![CDATA[ngentot]]></category>
		<category><![CDATA[perkosa]]></category>
		<category><![CDATA[seks]]></category>
		<category><![CDATA[winnie]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ceritasex.cn/?p=3159</guid>
		<description><![CDATA[Namaku Winie, umurku sudah 35 tahun dengan dua orang anak yang sudah beranjak dewasa. Waktu menikah umurku masih 19 tahun dan sekarang anakku yang paling tua sudah berumur 15 tahun sedang yang bungsu berumur 13 tahun. Kedua anakku disekolahkan di luar negeri semua sehingga di rumah hanya aku dan suami serta dua orang pembantu yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Namaku Winie, umurku sudah 35 tahun dengan dua orang anak yang sudah beranjak dewasa. Waktu menikah umurku masih 19 tahun dan sekarang anakku yang paling tua sudah berumur 15 tahun sedang yang bungsu berumur 13 tahun. Kedua anakku disekolahkan di luar negeri semua sehingga di rumah hanya aku dan suami serta dua orang pembantu yang hanya bekerja untuk membersihkan perabot rumah serta kebun, sementara menjelang senja mereka pulang.</p>
<p style="text-align: justify;">Suamiku sebagai seorang usahawan memiliki beberapa usaha di dalam dan luar negri. Kesibukannya membuat suamiku selalu jarang berada di rumah. Bila suamiku berada di rumah hanya untuk istirahat dan tidur sedang pagi-pagi sekali dia sudah kembali leyap dalam pandangan mataku. Hari-hariku sebelum anakku yang bungsu menyusul kakaknya yang sudah lebih dulu menuntut ilmu di luar negeri terasa menyenangkan karena ada saja yang dapat kukerjakan, entah itu untuk mengantarkannya ke sekolah ataupun membantunya dalam pelajaran. Namun semenjak tiga bulan setelah anakku berada di luar negeri hari-hariku terasa sepi dan membosankan. Terlebih lagi bila suamiku sedang pergi dengan urusan bisnisnya yang berada di luar negeri, bisa meninggalkan aku sampai 2 mingguan lamanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku tidak pernah ikut campur urusan bisnisnya itu sehingga hari-hariku kuisi dengan jalan-jalan ke mall ataupun pergi ke salon dan terkadang melakukan senam. Sampai suatu hari kesepianku berubah total karena supirku. Suatu hari setibanya di rumah dari tempatku senam supirku tanpa kuduga memperkosaku.</p>
<p style="text-align: justify;">Seperti biasanya begitu aku tiba di dalam rumah, aku langsung membuka pintu mobil dan langsung masuk ke dalam rumah dan melangkahkan kakiku menaiki anak tangga yang melingkar menuju lantai dua dimana kamar utama berada. Begitu kubuka pintu kamar, aku langsung melemparkan tasku ke bangku yang ada di dekat pintu masuk dan aku langsung melepas pakaian senamku yang berwarna hitam hingga tinggal BH dan celana dalam saja yang masih melekat pada tubuhku. Saat aku berjalan hendak memasuki ruang kamar mandi aku melewati tempat rias kaca milikku. Sesaat aku melihat tubuhku ke cermin dan melihat tubuhku sendiri, kulihat betisku yang masih kencang dan berbentuk mirip perut padi, lalu mataku mulai beralih melihat pinggulku yang besar seperti bentuk gitar dengan pinggang yang kecil kemudian aku menyampingkan tubuhku hingga pantatku terlihat masih menonjol dengan kencangnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Kemudian kuperhatikan bagian atas tubuhku, buah dadaku yang masih diselimuti BH terlihat jelas lipatan bagian tengah, terlihat cukup padat berisi serta, “Ouh.. ngapain kamu di sini!” sedikit terkejut ketika aku sedang asyik-asyiknya memandangi kemolekan tubuhku sendiri tiba-tiba saja kulihat dari cermin ada kepalanya supirku yang rupanya sedang berdiri di bibir pintu kamarku yang tadi lupa kututup.</p>
<p style="text-align: justify;">“Jangan ngeliatin.. sana cepet keluar!” bentakku dengan marah sambil menutupi bagian tubuhku yang terbuka.<br />
Tetapi supirku bukannya mematuhi perintahku malah kakinya melangkah maju satu demi satu masuk kedalam kamar tidurku.<br />
“Aris.. Saya sudah bilang cepat keluar!” bentakku lagi dengan mata melotot.<br />
“silakan ibu teriak sekuatnya, hujan di luar akan melenyapkan suara ibu!” ucapnya dengan matanya menatap tajam padaku.<br />
Sepintas kulihat celah jendela yang berada di sampingku dan ternyata memang hujan sedang turun dengan lebat, memang ruang kamar tidurku cukup rapat jendela-jendelanya hingga hujan turun pun takkan terdengar hanya saja di luar sana kulihat dedaunan dan ranting pohon bergoyang tertiup angin kesana kemari.<br />
<span id="more-3159"></span><br />
Detik demi detik tubuh supirku semakin dekat dan terus melangkah menghampiriku. Terasa jantungku semakin berdetak kencang dan tubuhku semakin menggigil karenanya. Aku pun mulai mundur teratur selangkah demi selangkah, aku tidak tahu harus berbuat apa saat itu sampai akhirnya kakiku terpojok oleh bibir ranjang tidurku.<br />
“Mas.. jangan!” kataku dengan suara gemetar.<br />
“Hua.. ha.. ha.. ha..!” suara tawa supirku saat melihatku mulai kepepet.<br />
“Jangan..!” jeritku, begitu supirku yang sudah berjarak satu meteran dariku menerjang tubuhku hingga tubuhku langsung terpental jatuh di atas ranjang dan dalam beberapa detik kemudian tubuh supirku langsung menyusul jatuh menindih tubuhku yang telentang.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku terus berusaha meronta saat supirku mulai menggerayangi tubuhku dalam himpitannya. Perlawananku yang terus-menerus dengan menggunakan kedua tangan dan kedua kakiku untuk menendang-nendangnya terus membuat supirku juga kewalahan hingga sulit untuk berusaha menciumi aku sampai aku berhasil lepas dari himpitan tubuhnya yang besar dan kekar itu. Begitu aku mendapat kesempatan untuk mundur dan menjauh dengan membalikkan tubuhku dan berusaha merangkak namun aku masih kalah cepat dengannya, supirku berhasil menangkap celana dalamku sambil menariknya hingga tubuhku pun jatuh terseret ke pinggir ranjang kembali dan celana dalam putihku tertarik hingga bongkahan pantatku terbuka. Namun aku terus berusaha kembali merangkak ke tengah ranjang untuk menjauhinya. Lagi-lagi aku kalah cepat dengan supirku, dia berhasil menangkap tubuhku kembali namun belum sempat aku bangkit dan berusaha merangkak lagi, tiba-tiba saja pinggulku terasa kejatuhan benda berat hingga tidak dapat bergerak lagi.</p>
<p style="text-align: justify;">“Aris.. Jangan.. jangan.. mas..” kataku berulang-ulang sambil terisak nangis.<br />
Rupanya supirku sudah kesurupan dan lupa siapa yang sedang ditindihnya. Setelah melihat tubuhku yang sudah mulai kecapaian dan kehabisan tenaga lalu supirku dengan sigapnya menggenggam lengan kananku dan menelikungnya kebelakan tubuhku begitu pula lengan kiriku yang kemudian dia mengikat kedua tanganku kuat-kuat, entah dengan apa dia mengikatnya. Setelah itu tubuhnya yang masih berada di atas tubuhku berputar menghadap kakiku. Kurasakan betis kananku digenggamnya kuat-kuat lalu ditariknya hingga menekuk. Lalu kurasakan pergelangan kaki kananku dililitnya dengan tali. Setelah itu kaki kiriku yang mendapat giliran diikatkannya bersama dengan kaki kananku.</p>
<p style="text-align: justify;">“Saya ingin mencicipi ibu..” bisiknya dekat telingaku.<br />
“Sejak pertama kali saya melamar jadi supir ibu, saya sudah menginginkan mendapatkan kesempatan seperti sekarang ini.” katanya lagi dengan suara nafas yang sudah memburu.<br />
“Tapi saya majikan kamu Ris..” kataku mencoba mengingatkan.<br />
“Memang betul bu.. tapi itu waktu jam kerja, sekarang sudah pukul 7 malam berarti saya sudah bebas tugas..” balasnya sambil melepas ikatan tali BH yang kukenakan.<br />
“Hhh mm uuhh,” desah nafasnya memenuhi telingaku.<br />
“Tapi malam ini Bu Winie harus mau melayani saya,” katanya sambil terus mendengus-denguskan hidungnya di seputar telingaku hingga tubuhku merinding dan geli.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah supirku melepas pakaiannya sendiri lalu tubuhku dibaliknya hingga telentang. Aku dapat melihat tubuh polosnya itu. Tidak lama kemudian supirku menarik kakiku sampai pahaku melekat pada perutku lalu mengikatkan tali lagi pada perutku. Tubuhku kemudian digendongnya dan dibawanya ke pojok bagian kepala ranjang lalu dipangkunya di atas kedua kaki yang diselonjorkan, mirip anak perempuan yang tubuhnya sedang dipeluk ayahnya. Tangan kirinya menahan pundakku sehingga kepalaku bersandar pada dadanya yang bidang dan terlihat otot dadanya berbentuk dan kencang sedangkan tangan kanannya meremasi kulit pinggul, pahaku dan pantatku yang kencang dan putih bersih itu.</p>
<p style="text-align: justify;">“Aris.. jangan Ris.. jangan!” ucapku berulang-ulang dengan nada terbata-bata mencoba mengingatkan pikirannya.<br />
Namun Aris, supirku tidak memperdulikan perkataanku sebaliknya dengan senyum penuh nafsu terus saja meraba-raba pahaku.<br />
“Ouh.. zzt.. Euh..” desisku panjang dengan tubuh menegang menahan geli serta seperti terkena setrum saat kurasakan tangannya melintasi belahan kedua pahaku.<br />
Apalagi telapak dan jemari tangannya berhenti tepat di tengah-tengah lipatan pahaku.<br />
“Mass.. Eee” rintihku lebih panjang lagi dengan bergetar sambil memejapkan mata ketika kurasakan jemarinya mulai mengusap-usap belahan bibir vaginaku. Tangan Mas Aris terus menyentuh dan bergerak dari bawah ke atas lalu kembali turun lagi dan kembali ke atas lagi dengan perlahan sampai beberapa kali. Lalu mulai sedikit menekan hingga ujung telunjuknya tenggelam dalam lipatan bibir vaginaku yang mulai terasa berdenyut-denyut, gatal dan geli.</p>
<p style="text-align: justify;">Tangannya yang terus meraba dan menggelitik-gelitik bagian dalam bibir vaginaku membuat birahiku jadi naik dengan cepatnya, apalagi sudah cukup lama tubuhku tidak pernah mendapatkan kehangatan lagi dari suamiku yang selalu sibuk dan sibuk. Entah siapa yang memulai duluan saat pikiranku sedang melayang kurasakan bibirku sudah beradu dengan bibirnya saling berpagut mesra, menjilat, mengecup, menghisap liur yang keluar dari dalam mulut masing-masing.</p>
<p style="text-align: justify;">“Ouh.. Winie.. wajahmu cukup merangsang sekali Winie..!” ucapnya dengan nafasnya yang semakin memburu itu.<br />
Setelah berkata begitu tubuhku ditarik hingga buah dadaku yang menantang itu tepat pada mukanya dan kemudian, “Ouh.. mas..” rintihku panjang dengan kepala menengadah kebelakan menahan geli bercampur nikmat yang tiada henti setelah mulutnya dengan langsung memagut buah dadaku yang ranum itu. Kurasakan mulutnya menyedot, memagut, bahkan menggigit-gigit kecil punting susuku sambil sekali-kali menarik-narik dengan giginya.</p>
<p style="text-align: justify;">Entah mengapa perasaanku saat itu seperti takut, ngeri bahkan sebal bercampur aduk di dalam hati, namun ada perasaan nikmat yang luar biasa sekali seakan-akan ada sesuatu yang pernah lama hilang kini kembali datang merasuki tubuhku yang sedang dalam keadaan tidak berdaya dan pasrah. “Bruk..” tiba-tiba tangan Mas Aris melepaskan tubuhku yang sedang asyik-asyiknya aku menikmati sedalam-dalamnya tubuhku yang sedang melambung dan melayang-layang itu hingga tubuhku terjatuh di atas ranjang tidurku. Tidak berapa lama kemudian kurasakan bagian bibir vaginaku dilumat dengan buas seperti orang yang kelaparan. Mendapat serangan seperti itu tubuhku langsung menggelinjang-gelinjang dan rintihan serta erangan suaraku semakin meninggi menahan geli bercampur nikmat sampai-sampai kepalaku bergerak menggeleng ke kanan dan ke kiri berulang-ulang. Cukup lama mulutnya mencumbu dan melumati bibir vaginaku terlebih-lebih pada bagian atas lubang vaginaku yang paling sensitif itu.</p>
<p style="text-align: justify;">“Aris.. sudah.. sudah.. ouh.. ampun Aar.. riss..” rintihku panjang dengan tubuh yang mengejang-ngejang menahan geli yang menggelitik bercampur nikmat yang luar biasa rasanya saat itu. Lalu kurasakan tangannya pun mulai rebutan dengan bibirnya. Kurasakan jarinya dicelup ke dalam lorong kecil kemaluanku dan mengorek-ngorek isi dalamnya.<br />
“Ouh.. Ris..” desisku menikmati alur permainannya yang terus terang belum pernah kudapatkan bahkan dengan suamiku sendiri.<br />
“Sabar Win.., saya suka sekali dengan lendirmu sayang!” suara supirku yang setengah bergumam sambil terus menjilat dan menghisap-hisap tanpa hentinya sampai beberapa menit lagi lamanya.<br />
Setelah puas mulutnya bermain dan berkenalan dengan bibir kemaluanku yang montok itu si Aris lalu mendekati wajahku sambil meremas-remas buah dadaku yang ranum dan kenyal itu.</p>
<p style="text-align: justify;">“Bu Winie.., saya entot sekarang ya.. sayang..” bisiknya lebih pelan lagi dengan nafas yang sudah mendesah-desah. “Eee..” pekikku begitu kurasakan di belahan pangkal pahaku ada benda yang cukup keras dan besar mendesak-desak setengah memaksa masuk belahan bibir vaginaku.<br />
“Tenang sayang.. tenang.. dikit lagi.. dikit lagi..”<br />
“Aah.. sak.. kiit..!” jeritku keras-keras menahan ngilu yang amat sangat sampai-sampai terasa duburku berdenyut-denyut menahan ngilunya. Akhirnya batang penis supirku tenggelam hingga dalam dibalut oleh lorong kemaluanku dan terhimpit oleh bibir vaginaku.</p>
<p style="text-align: justify;">Beberapa saat lamanya, supirku dengan sengaja, penisnya hanya didiamkan saja tidak bergerak lalu beberapa saat lagi mulai terasa di dalam liang vaginaku penisnya ditarik keluar perlahan-lahan dan setelah itu didorong masuk lagi, juga dengan perlahan-lahan sekali seakan-akan ingin menikmati gesekan-gesekan pada dinding-dinding lorong yang rapat dan terasa bergerenjal-gerenjal itu. Makin lama gerakannya semakin cepat dan cepat sehingga tubuhku semakin berguncang dengan hebatnya sampai, “Ouhh..”<br />
Tiba-tiba suara supirku dan suaraku sama-sama beradu nyaring sekali dan panjang lengkingannya dengan diikuti tubuhku yang kaku dan langsung lemas bagaikan tanpa tulang rasanya. Begitu pula dengan tubuh supirku yang langsung terhempas kesamping tubuhku.</p>
<p style="text-align: justify;">“Sialan kamu Ris!” ucapku memecah kesunyian dengan nada geram.<br />
Setelah beberapa lama aku melepas lelah dan nafasku sudah mulai tenang dan teratur kembali.<br />
“Kamu gila Ris, kamu telah memperkosa istri majikanmu sendiri, tau!” ucapku lagi sambil memandang tubuhnya yang masih terkulai di samping sisiku.<br />
“Bagaimana kalau aku hamil nanti?” ucapku lagi dengan nada kesal.<br />
“Tenang Bu Winie.., saya masih punya pil anti hamil, Bu Winie.” ucapnya dengan tenang.<br />
“Iya.. tapi kan udah telat!” balasku dengan sinis dan ketus.<br />
“Tenang bu.. tenang.. setiap pagi ibu kan selalu minum air putih dan selama dua hari sebelumnya saya selalu mencampurkan dengan obatnya jadi Bu Winie enggak usah khawatir bakalan hamil bu,” ucapnya malah lebih tenang lagi.<br />
“Ouh.. jadi kamu sudah merencanakannya, sialan kamu Ris..” ucapku dengan terkejut, ternyata diam-diam supirku sudah lama merencanakannya.<br />
“Bagaimana Bu Winie..?”<br />
“Bagaimana apanya? Sekarang kamu lepasin saya Ris..” kataku masih dengan nada kesal dan gemas.<br />
“Maksudnya, tadi waktu di Entotin enak kan?” tanyanya lagi sambil membelai rambutku.<br />
Wajahku langsung merah padam mendengar apa yang baru saja diucapkan oleh supirku, namun dalam hati kecilku tidak dapat kupungkiri walaupun tadi dia sudah memperkosa dan menjatuhkan derajatku sebagai majikannya, namun aku sendiri turut menikmatinya bahkan aku sendiri merasakan organsime dua kali.</p>
<p style="text-align: justify;">“Kok ngak dijawab sich!” tanya supirku lagi.<br />
“Iya..iya, tapi sekarang lepasin talinya dong Aris!” kataku dengan menggerutu karena tanganku sudah pegal dan kaku.<br />
“Nanti saja yach! Sekarang kita mandi dulu!” ucapnya sambil langsung menggendong tubuhku dan membawa ke kamar mandi yang berada di samping tempat ranjangku. Tubuhku yang masih lemah lunglai dengan kedua tangan dan kakiku yang masih terikat itu diletakkan di atas lantai keramik berwarna krem muda yang dingin tepat di bawah pancuran shower yang tergantung di dinding. Setelah itu supirku menyalakan lampu kamar mandiku dan menyalakan kran air hingga tubuhku basah oleh guyuran air dingin yang turun dari atas pancuran shower itu. Melihat tubuhku yang sudah basah dan terlihat mengkilat oleh pantulan lampu kamar mandi lalu Aris supirku berjongkok dekatku dan kemudian duduk di sampingku hingga tubuhnya pun turut basah oleh air yang turun dari atas.</p>
<p style="text-align: justify;">Mata supirku yang memandangiku seperti terlihat lain dari biasanya, dia mulai mengusap rambutku yang basah ke belakang dengan penuh sayang seperti sedang menyayang seorang anak kecil. Lalu diambilnya sabun Lux cair yang ada di dalam botol dan menumpahkan pada tubuhku lalu dia mulai menggosok-gosok tubuhku dengan telapak tangannya. Pinggulku, perutku lalu naik ke atas lagi ke buah dadaku kiri dan kemudian ke buah dadaku yang kanan. Tangannya yang terasa kasar itu terus menggosok dan menggosok sambil bergerak berputar seperti sedang memoles mobil dengan cairan kits. Sesekali dia meremas dengan lembut buah dada dan punting susuku hingga aku merasa geli dibuatnya, lalu naik lagi di atas buah dadaku, pundakku, leherku lalu ke bahuku, kemudian turun lagi ke lenganku.<br />
“Ah.. mas..” pekikku ketika tangannya kembali turun dan turun lagi hingga telapak tangannya menutup bibir vaginaku.<br />
Kurasakan telapak tangannya menggosok-gosok bibir vaginaku naik turun dan kemudian membelah bibir vaginaku dengan jemari tangannya yang lincah dan cekatan dan kembali menggosok-gosokkannya hingga sabun Lux cair itu menjadi semakin berbusa.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah memandikan tubuhku lalu dia pun membasuh tubuhnya sendiri sambil membiarkan tubuhku tetap bersandar di bawah pancuran shower. Usai membersihkan badan, supirku lalu menggendongku keluar kamar mandi dan menghempaskan tubuhku yang masih basah itu ke atas kasur tanpa melap tubuhku terlebih dahulu.<br />
“Saya akan bawakan makanan ke sini yach!” ucapnya sambil supirku melilit handuk yang biasa kupakai kepinggangnya lalu ngeloyor ke luar kamarku tanpa sempat untuk aku berbicara. Sudah tiga tahun lebih aku tidak pernah merasakan kehangatan yang demikian memuncak, karena keegoisan suamiku yang selalu sibuk dengan pekerjaan. Memang dalam hal keuangan aku tidak pernah kekurangan. Apapun yang aku mau pasti kudapatkan, namun untuk urusan kewajiban suami terhadap istrinya sudah lama tidak kudapatkan lagi.</p>
<p style="text-align: justify;">Entah mengapa perasaanku saat ini seperti ada rasa sedang, gembira atau.. entah apalah namanya. Yang pasti hatiku yang selama ini terasa berat dan bosan hilang begitu saja walaupun dalam hati kecilku juga merasa malu, benci, sebal dan kesal. Supirku cukup lama meninggalkan diriku sendirian, namun waktu kembali rupanya dia membawakan masakan nasi goreng dengan telor yang masih hangat serta segelas minuman kesukaanku. Lalu tubuhku disandarkan pada teralis ranjang.<br />
“Biar saya yang suapin Bu Winie yach!” ucapnya sambil menyodorkan sesendok nasi goreng yang dibuatnya.<br />
“Kamu yang masak Ris!” tanyaku ingin tahu.<br />
“Iya, lalu siapa lagi yang masak kalau bukan saya, kan di rumah cuma tinggal kita berdua, si Wati kan udah saya suruh pulang duluan sebelum hujan tadi turun!” kata supirku.<br />
“Ayo dicicipi!” katanya lagi.</p>
<p style="text-align: justify;">Mulanya aku ragu untuk mencicipi nasi goreng buatannya, namun perutku yang memang sudah terasa lapar, akhirnya kumakan juga sesendok demi sesendok. Tidak kusangka nasi goreng buatannya cukup lumanyan juga rupanya. Tanpa terasa nasi goreng di piring dapat kuhabisi juga.<br />
“Bolehkan saya memanggil Bu Winie dengan sebutan mbak?” tanyanya sambil membasuh mulutku dengan tissue.<br />
“Boleh saja, memang kenapa?” tanyaku.<br />
“Engga apa-apa, biar enak aja kedengaran di kupingnya.”</p>
<p style="text-align: justify;">Kalau saya boleh manggil Mbak Winie, berarti Bu Winie eh.. salah maksudnya Mbak Winie, panggil saya Bang aja yach!” celetuknya meminta.<br />
“Terserah kamu saja ” kataku.<br />
“Sudah nggak capai lagi kan Mbak Winie!” sahut supirku.<br />
“Memang kenapa!?” tanyaku.<br />
“Masih kuatkan?” tanyanya lagi dengan senyum binal sambil mulai meraba-raba tubuhku kembali.<br />
Aku tidak memberi jawaban lagi, hanya menunduk malu, tadi saja aku diperkosanya malah membuatku puas disetubuhinya apalagi untuk babak yang kedua kataku dalam hati. Sejujurnya aku tidak rela tubuhku diperkosanya namun aku tidak mampu untuk menolak permintaannya yang membuat tubuhku dapat melayang-layang di udara seperti dulu saat aku pertama kali menikah dengan suamiku.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ceritasex.cn/diperkosa-ternyata-nikmat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

