<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Cerita sex porno ngentot mesum perek ayam kampus &#187; Sedarah</title>
	<atom:link href="http://www.ceritasex.cn/category/sedarah/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.ceritasex.cn</link>
	<description>Kumpulan cerita sex, foto bugil, dan film porno</description>
	<lastBuildDate>Mon, 26 Jul 2010 07:13:35 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0</generator>
		<item>
		<title>Tante Napsu&#8230;..</title>
		<link>http://www.ceritasex.cn/tante-napsu/</link>
		<comments>http://www.ceritasex.cn/tante-napsu/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 04 Jun 2010 18:21:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cerita Sex</dc:creator>
				<category><![CDATA[Daun Muda]]></category>
		<category><![CDATA[Paruh baya]]></category>
		<category><![CDATA[Sedarah]]></category>
		<category><![CDATA[Tante Girang]]></category>
		<category><![CDATA[abg]]></category>
		<category><![CDATA[birahi]]></category>
		<category><![CDATA[hanny]]></category>
		<category><![CDATA[nafsu]]></category>
		<category><![CDATA[ngentot]]></category>
		<category><![CDATA[poppy]]></category>
		<category><![CDATA[sherly]]></category>
		<category><![CDATA[tante]]></category>
		<category><![CDATA[tante mey]]></category>
		<category><![CDATA[vagina]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ceritasex.cn/?p=1414</guid>
		<description><![CDATA[Pada bulan Mei tersebut aku pergi ke Jakarta untuk mencari pekerjaan, tapi memang kata orang bahwa mencari pekerjaan itu tidak semudah yang kita duga, apalagi di kota metropolis. Pada suatu malam minggu aku tersesat pulang dan tiba-tiba saja ada mobil sedan mewah menghampiriku. Terus dia berkata, “Hey.. kok.. melamun?” katanya. Aku sangat kaget sekali ternyata [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Pada bulan Mei tersebut aku pergi ke Jakarta untuk mencari pekerjaan, tapi memang kata orang bahwa mencari pekerjaan itu tidak semudah yang kita duga, apalagi di kota metropolis. Pada suatu malam minggu aku tersesat pulang dan tiba-tiba saja ada mobil sedan mewah menghampiriku. Terus dia berkata, “Hey.. kok.. melamun?” katanya. Aku sangat kaget sekali ternyata yang menyapaku itu adalah seorang wanita cantik dan aku sempat terdiam beberapa detik. “Eee.. Ditanya kko masih diam sih?” wanita itu bertanya lagi. Lalu aku jawab, “Ii.. nii.. Tante aku tersesat pulang nih?” “Ooohh.. Mendingan kamu ikut Tante saja yah?” “Kemana Tante?” tanyaku. “Gimana kalau ke rumah Tante aja yah?” karena aku dalam keadaan bingung sekali dan tanpa berpikir apa-apa aku langsung mengiyakannya. Singkat cerita aku sudah berada di rumahnya, di perumahan yang super elit. Kemudian aku diperkenalkan sama anak-anaknya yang memang pada cantik dan sexynya seperti Mamanya. Oh yah, setelah aku dan mereka ngobrol panjang lebar ternyata Tante yang nolong aku itu namanya adalah Tante Mey Lin yang dipanggil akrab Tante Mey, anak pertamanya Mbak Hanny, dia masih kuliah di Universitas terkenal di Jakarta, anak yang kedua namanya Sherly kelas 1 SMU dan yang ketiga namanya Poppy kelas 1 SMP, mereka berdua di sekolahkan di sekolah yang terkenal dan favorit di Jakarta.</p>
<p style="text-align: justify;">Walaupun aku baru pertama kenal, tapi aku sama bidadari-bidadari yang pada cantik ini rasanya sudah seperti seseorang yang telah lama berpisah. Lalu kami berlima menonton acara TV yang pas pada waktu itu ada adegan panasnya, dan aku curi pandang sama Tante Mey, rasanya Tante ini enggak tenang dan merasa gelisah sepertinya dia sudah terangsang akan adegan itu, ditambah ada aku disampingnya, namun Tante rupanya malu sama anak-anaknya. Tiba-tiba Tante berkata, “Hanny, Sherly, Poppy cepat tidur sudah malam?” yang memang pada waktu itu menunjukkan jam 10.30. “Memangnya kenapa Mami, filmnya kan belum selesai”, kata Mbak Hanny. Memang dia kelihatannya sudah matang betul dan apa yang akan dilakukan Maminya terhadap aku? Lalu mereka bertiga masuk ke kamarnya masing tapi Sherly dan Poppy tidur satu kamar. Dan kejadian kurang lebih tiga bulan yang lalu terulang lagi dan sungguh diluar dugaan aku. “Nah dewa sekarang tinggal kita berdua”, katanya. “Mrmangnya ada apa tuh Tante?” kataku heran. “Dewa sayang, Tante enggak bisa berbuat bebas terhadap kamu karena Tante malu sama anak-anak,” begitu timbalnya.</p>
<p style="text-align: justify;">“Dewa mendingan kita ke kamar Tante aja yah, please.. temanin Tante malam ini sayang, Tante sudah lama sekali enggak dijamah sama laki-laki”, sambil memeluk aku dan memohon, “Yah sayang? Mau kan?” katanya lagi “Ii.. Yaa, mau.. Tante?” jawabku gugup. Karena Tante sudah mau menolongku. Tiba di kamar Tante rupanya enggak bisa nahan lagi nafsunya dia langsung mencium seluruh tubuhku, lalu kami berdua tanpa terasa sudah seperti sepasang kekasih yang sudah lama pisah. Hingga kami berdua sudah setengah bugil, aku tinggal CD saja dan tante Mey tinggal BH dan CDnya. Tante sempat menari-nari di depanku untuk membangkitkan gairahku supaya semakin nafsu. “Wahh..!! Gile benar nih Tante, kok kayak masih umur 23 tahun saja yah?” gumamku dalam hati. Itu tuh.. Kayak Mbak Hanny anaknya yang pertama. Sungguh indah tubuhnya, payudara yang besar, kencang dan sekel sekali, pinggulnya yang sexy dengan pantat yang runcing ke atas, enak kalau dientot dari belakang? Terus yang paling menggiurkan lagi vaginanya masih bagus dan bersih. Itu gerutuku dalam hati sambil melihat Tante menari-nari.</p>
<p style="text-align: justify;">Tante langsung menindihku lalu mencium bibirku dengan ganasnya lalu aku juga membalasnya, Tante menggesek-gesekkan vaginanya ke penisku yang mulai tegang, juga kedua payudaranya ke dadaku. “Ooohh.. terus.. Tante, gesek.. dan.. Goyang.. yang kerass.. aahh.. oohh..” desahku. “Dewa sayang itu penismu sudah bangun yah, rasanya ada yang menganjal di vaginaku cinta,” kata Tante Mey. Lalu kami berdua tanpa ba.. bi.. bu.. langsung melakukan 69, dengan jelas terlihat vagina Tante Mey yang merah merekah dan sudah sangat basah sekali, mungkin sudah terangsang banget karena tadi habis menggesek-gesekkan vaginanya ke penisku. Lalu aku menjilat, mencium dan menghisapnya habis-habisan, kupermainan kritorisnya. Tante mengerang. “Ooohh.. Eennaakk.. Dewaa.. sayang.. terus.. makan vagina Tante yahh..?” Begitu juga dengan aku, penis rasanya sudah enggak tahan banget ingin masuk ke lobang vagina kenikmatannya. “Ooohh.. yahh.. eenaakk terus.. Tante.. yang cepet kocokkannya..?” Cclluup.. Ccluupp.. Suara penisku didalam mulutnya. “Dewa, vagina Tante sudah enggak tahan lagi sudah cepet lepasin, cepet masukin saja penis kamu cinta?” Tante Mey meringis memohon.<br />
<span id="more-1414"></span><br />
Kemudian aku mengambil posisi diatas dengan membuka pahanya lebar lalu aku angkat ke atas dan aku mulai memasukan penisku ke dalam vaginanya. Bblless.. Bleess.. Bblleess.. “Awww.. Yeeahh.. Ssaakiitt.. De.. Waa?” “Kenapa Tante?” “Pelan-pelan sayang, vaginaku kan sudah lama enggak dientot?” “Ooohh..?” jawabku. “Tahan sebentar yah cinta, biar vagina Tante terbiasa lagi dimasukin penis,” katanya. Selang beberapa menit, “Nah Dewa, sekarang kamu boleh masukin dan entot vagina Tante sampai puas yah?” “Ssiipp.. Siap..!! Tante Mey?” Memang benar vagina Tante rupanya sudah lama enggak dimasukin penis lagi, terbukti aku sampai 3 kali hentakan. Bleess.. Bless.. Bblleess.. Akhir aku masukin semuanya penisku ke vaginanya. Tiga kali juga tente Mey menjerit. “Dewa genjot dan kocok vaginaku sayang?” lalu aku mulai memasuk keluarkan penisku dari lambat sampai keras dan cepat sekali. Tante Mey mengerang dan mendesah. “Ooohh.. ahh.. enak.. sekalii.. penis kamu Dewaa.., akhirnya vagina Tante ngerasain lagi penis.. terus.. Entot vagina Taann.. tee.. Dewaa.. Sayaanngg..?” ceracaunya.</p>
<p style="text-align: justify;">“Uuuhh.. Oohh.. Aaahh.. Yeess.. Ennaakk.. vagina Tante seret sekalii.. Kaya vaginanya perawan?” timbalku. Tiba-tiba, “Dewaa.. Aku mau keluar nih? penis kamu hebatt..?” “Tunggu Tante sayang, aku juga mau keluar nih..?” Akhirnya Tante Mey orgasme duluan. Crott.. Ccroott.. Crroott.. Banyak sekali cairan yang ada dalam vaginanya, rasanya penisku hangat sekali. “Tante aku mau keluar nih..?” kataku, “Dimana nih keluarinnya..?” “Didalam vagina Tante saja Dewaa.. Please.. ingin air mani kamu yang hangat..?” Ccrett.. Ccroott.. Ccrroott.. “Aaarrgghh.. Aarrgghh.. Oohh.. Mmhh.. Nikmat vagina Tantee..?” erangku. Lalu aku dan tente tidur pulas, karena kecapaian akibat pertempuran yang sengit tadi. Sekitar jam 12 malam rasanya penisku ada yang mengulum dan mengocoknya. Ternyata Mbak Hanny, “Ada apa Mbak?” tanyaku. Wah gila dia, sambil mengocok penisku didalam mulutnya, tangan kirinya menusuk-nusuk vaginanya sendiri. Dia berkata, “Dewa aku ingin dong dientot kaya mami tadi, yah.. please..” Dia mempertegas, “Dewa tolong Mbak yah sayang, vagina Mbak juga sudah kangen enggak ngentot lagi, Mbak baru putus sama pacar habis enggak muasin vagina Mbak,” sambil membimbing tangan kananku untuk mengelus-elus vaginanya.</p>
<p style="text-align: justify;">“Iyah deh Mbak, aku akan berusaha dengan berbagai cara untuk dapat membuat vagina Mbak jadi ketagihan sama penis aku,” jawabku vulgar. “Kita entotannya dilantai karpet aja yah?” kata Mbak Hanny. Tapi masih di kamar tersebut, “Aku takut mengganggu Mami yang habis kamu entotin vaginanya, entar Mami bangun lagi kalau ngentotnya diranjang,” dia mempertegas. Mbak Hanny langsung telanjang bulat. Kami pun bercumbu, saling menjilat, mencium, menghisap seperti biasa, dengan gairah yang sangat menggelora sekali. Dan sekarang aku mulai memasukkan penisku ke lubang vaginanya, karena dia sudah gatel banget lihat tadi aku ngentotin Maminya. Maka aku langsung aja, masukkan penisku. Bleess.. Bless.. Bleess.. “Aw.. Oohh.. Aahh.. Yyeess..?” erangnya. “Sakit Mbak?” tanyaku. “Enggak cinta, terusin saja enak banget kok?” Aku langsung mengkocoknya, plak.. plakk.. plokk.. plookk..? suara paha kami berdua beradu..? “Vagina Mbak enaakk.. Sekali sih..?” sambil aku menggoyangkan pinggulku, terus dia juga mengimbangi goyanganku dengan arah yang berlawanan sehigga benar-benar tenggelam seluruh penisku ke dalam vagina surga kenikmatannya.</p>
<p style="text-align: justify;">“Oohh.. ennak.. Dee.. waa.. terus.. entot.. mee.. meekk.. Mmbaakk.. sayyaanngg..?” Akhirnya akupun ngentot lagi sama vaginanya Mbak Hanny, tapi Maminya enggak sedikitpun bangun mungkin capek main sama aku, habis aku bikin tubuhnya dan vaginanya melayang-layang. Lagi asyik-asyiknya ngentotin vaginanya Kak Hanny, tiba-tiba terdengar suara. “Iiihh.. Kakak lagi ngapain?” mendengar suara tersebut, aku terkejut. Rupanya Shelly dan Poppy sedang asyik dan santainya melihat aku ngentot sama kakaknya. Aku langsung aja berhenti dan seketika itu juga Mbak Hanny berkata, “Dewa kenapa, kok berhenti sayang, terus dong entot vagina Mbak, sampai enak dan nikmat sekalii..?” “Ii.. ittuu.. ada..?” “Ada apa?” katanya lagi penasaran. Pas dia menggerakkan wajahnya kekanan, terlihatlah adik-adiknya yang sama-sama sudah bugil tanpa sehelai benang pun. Lalu Mbak Hanny bicara, “Eehh.. adik-adikku ini bandel sekali yah..!!” Setelah dia tahu bahwa aku berhenti karena ada adik-adiknya yang sama sudah telanjang bulat. “Heyy.. kenapa kalian ikut-ikutan telanjang?” kata Mbak Hanny.</p>
<p style="text-align: justify;">“Kak aku ingin ngerasain dientot yah?” tanya Shelly sama kakaknya. “Iyah nih Kakak kok pelit sih.. aku juga sama Kak Shelly ingin juga ngerasain penisnya Mas Dewa,” timbal poppy. “Iyah kan Kak?” tanya poppy pada Shelly. “Iyah nih.. Gimana sih..?” timbal Shelly. “Please dong Kak? Rengek kedua anak tersebut?” terus mungkin sudah terlanjur mereka berdua melihat kakaknya ngentot dan sudah pada bugil semuanya, maka Kak Hanny membolehkannya. “Iyah deh kamu berdua sudah telanjur bugil dan lihat kakak lagi dientot vaginanya sama penis Dewa?” “Sini jangan ribut..” kata Kakaknya lagi, “Tunggu kakak keluar, yah.. entar kamu juga bakal kebagian adikku manis” Tanya kakaknya. “Dewa cepetan kocokannya yang lebih keras lagi.. Kasihan vagina kedua adikku ini sudah pada basah.. tuhh..” Akhirnya aku dan Mbak Hanny pun mempercepat ngentotnya kayak dikejar-kejar hantu. Dan akhirnya orgasme secara bersamaan. “Aaarrgh.. Oohh.. Mmhh.. Aarrgghh.. Enak.. Sekalii.. cintaa? Aku sudah keluar Dewa..?” erangan Mbak Hanny. “Aku juga sama Mbakk.. Rasanya penisku hangat sekali”</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah berhenti beberapa menit, lalu kedua anak abg ini mulai membangkitkan lagi gairahku, Shelly kakaknya lagi asyik mengocok penisku dalam mulut dan bibirnya yang sexy sedangkan Poppy mencium bibirku habis-habisan sampai kedua lidah kami saling bertautan dan aku pun tak tinggal diam, aku mulai meremas-remas toketnya yang sedang seger-segernya seperti buah yang baru matang. Akhirnya kembali lagi aku ngentotin vagina adiknya yang masih perawan. Yang pertama kuentot vaginanya sherly yang kelas 1 SMU. Aku sangat kesulitan memasukan penisku karena vaginanya masih sempit dan perawan lagi. “Benar nih, vagina kamu mau aku masukin?” tanyaku dengan penuh kelembutan, perhatian dan kasih sayang. “Mau sekali Kak..?” jawabnya. “Aku dari tadi sudah kepengen banget, ingin ngerasain gimana sih kalau vagina aku dimasukin penis Mas dewa? Kelihatannya Kak Hanny enak dan nikmat banget, waktu Kakak lagi ngentotin dia?” jawab polosnya. Lalu aku suruh dia diatas aku dibawah dan akhirnya dia memasukan juga. Bles.. Bless.. Bbleess.. “Aw.. Aahh.. Ohh.. Kak.. sudah.. Masuk belumm..?” sambil dia mengedangah ke atas, bibir bawahnya digigit lalu kedua payudaranya dia remas-remas sendiri sambil dia menekan pantatnya kebawah.</p>
<p style="text-align: justify;">“Tekan lagi cinta masih kepalanya yang masuk?” Akhirnya dengan dibantu aku memegang pantatnya kebawah, akhirnya masuklah semuanya. “Aahh.. oohh.. yeeahh.. masuk semuanya yah kak?” katanya. “Iyah Shelly sayang, gimana enak kan?” tanyaku sambil aku mencoba menggenjotnya. “Enak.. sekali.. Kak Dewa..” “Ini belum seberapa Selly. Ntar kamu akan lebih nikmat lagi?” lalu aku kocok vaginanya dan akhirnya dia orgasme duluan. Creett.. Creett.. Ccroott.. “Aakk.. saayyaanngg.. aa.. kuu.. mau.. keluar nihh..” eranganya. Sambil memelukku erat-erat dan pantatnya ditahan ke belakang karena dia ada diatas, lalu aku pun sama menghentakkan pantatku ke depan, arah yang berlawanan supaya dia benar-benar menikmatinya, penisku tertekan lebih dalam lagi ke lubang vaginanya. Dia langsung lemes sementara aku belum orgasme dan kulihat Poppy sedang dioral vaginanya sama kakaknya, Mbak Hanny. “Sudah dong kak..?” kataku pada Mbak Hanny. “Kasihan tuhh.. vagina Poppy sudah ingin banget ngerasain di tusuk sama penisku ini?” kataku lagi “Iyah Kak Hanny, sudah dong kak?” kata Poppy.</p>
<p style="text-align: justify;">“Aku sudah enggak tahan sekali dari tadi lihat Kak Shelly dientot sama penisnya Dewa, sepertinya nikmat dan enak sekali?” katanya memohon agar Kak Hanny melepaskan oralnya di dalam vaginanya. Akhirnya kami berempat mulai perang lagi, aku mau masukin penisku ke vaginanya Poppy sambil nungging (doggy style) kemudian Poppy menjilat vaginanya Mbak Hanny dan Mbak Hanny menjilat vaginanya Shelly yang sudah seger lagi. “Wah.. seretnya bukan main nih vaginanya Poppy, dia masih kelas 1 SMP jadi lebih sempit dibanding kakak-kakaknya dan cengkramannya pun sangat kuat sekali.” “Bleess.. Bless.. Bleess..” “Awww.. Awww.. Ooohh.. Ooohh..” Poppy menjerit lagi setiap aku mau memasukkan lagi penisku. “Sakit yah?” tanyaku sambil aku meremas-remas payudaranya. “Ii.. Iyah.. kak.., Tapi kok enak banget sih? terusin aja Kak Dewa.. Vagina poppy rasanya ada yang mengganjal dan rasanya hangat dan berdenyut-denyut,” katanya. Sambil merem melek karena aku mulai menggenjot vaginanya. “Oohh.. terruuss.. aakk.. saayyaang.. p.. vaginanya Poppy yah..” ceracaunya. Dan rasanya dia mulai juga menggoyangkan pinggulnya. “Tenang cinta.. aku.. akan.. berusaha.. muasin vaginanya dik.. Poppy.. Yah..” Dan akhirnya aku ngentot vagina keempatnya. Lalu aku dengar dia berkata, “Aku mau keluar nih?” “Sabar taahann.. duu.. Luu.. Yah..” Namun baru sekali ini vaginanya dientot dia tak bisa nahan dan.. Crott.. Croott.. “Aarhhgg, eemmhh.. oohh.. yeeaass..nikmat banget aakh..?” eranganya. “Makasih.. Yah kak..?” sambil dia tersenyum. “Aku.. pipisnya kok.. enggak biasanya, tapi enak banget sih.” “Aku mau keluar nih, dimana sayang?” tanyaku. “Aakkh.. didalam vaginaku aja yah.. Aku ingin ngerasain.. Gimana di siram air mani penis..” Ccrroott.. Crroott.. Crott.. Akhirnya aku tumpahkan ke dalam lobang vaginanya dan sebagian lagi kuberikan sama Kak Hanny dan Shelly. Gile.. Benerr.. sekali ngentot dapat empat vagina, yaitu vaginanya anak SMP, anak SMU, mahasiswi dan Tante-Tante.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ceritasex.cn/tante-napsu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Renita, Bersetubuh Dengan Kakak Ipar.</title>
		<link>http://www.ceritasex.cn/renita-bersetubuh-dengan-kakak-ipar/</link>
		<comments>http://www.ceritasex.cn/renita-bersetubuh-dengan-kakak-ipar/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 13 Nov 2009 23:23:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cerita Sex</dc:creator>
				<category><![CDATA[Paruh baya]]></category>
		<category><![CDATA[Sedarah]]></category>
		<category><![CDATA[kisah nyata]]></category>
		<category><![CDATA[selingkuh]]></category>
		<category><![CDATA[bercinta]]></category>
		<category><![CDATA[bersetubuh]]></category>
		<category><![CDATA[incest]]></category>
		<category><![CDATA[ipar]]></category>
		<category><![CDATA[ml]]></category>
		<category><![CDATA[ngentot]]></category>
		<category><![CDATA[renita]]></category>
		<category><![CDATA[seks]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ceritasex.cn/?p=1058</guid>
		<description><![CDATA[Renita 28 th memiliki postur tubuh yang aduhai, tinggi 160 kulitnya yang putih memiliki payudara cukup besar dan kencang, pinggang yang ramping tanpa ada lemak sedikitpun diperutnya dan yang paling ia banggakan adalah pinggulnya yang sexy dengan bongkahan pantatnya yang bulat menonjol membuat pria manapun menahan napas, Rudi 32 th suami Renita berkerja sebagai salah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Renita 28 th memiliki postur tubuh yang aduhai, tinggi 160 kulitnya yang putih memiliki payudara cukup besar dan kencang, pinggang yang ramping tanpa ada lemak sedikitpun diperutnya dan yang paling ia banggakan adalah pinggulnya yang sexy dengan bongkahan pantatnya yang bulat menonjol membuat pria manapun menahan napas, Rudi 32 th suami Renita berkerja sebagai salah satu direktur disebuah perusahaan besar. Perkawinan mereka baru berumur 2 tahun dan belum dikaruniai anak. Keadaan rumah tangga mereka biasa biasa saja, hanya baru baru ini Rudi selalu sibuk dengan pekerjaannya kadang pulang larut malam bahkan kadang dikirim perusahaannya keluar negeri sampai berminggu minggu. Renita mulai merasakan kesepian, pernah satu kali ia ingin ikut suaminya keluar negeri tetapi suaminya tidak mengijinkan. Renita protes karena tidak punya kawan berbicara, akhirnya Rudi mengusulkan untuk ditemani kakaknya Robert 34 th yang kebetulan dipindahkan oleh perusahaannya kekota mereka tinggal. Robert baru saja cerai dengan istrinya karena ada ketidak cocokkan diantara mereka. Robert mempunyai wajah yang cukup tampan dengan tubuh atletis memiliki sifat easy going mudah bergaul dan mempunyai sifat womenizer. Singkat cerita Robert akan tinggal dirumah mereka sebagai orang ketiga yang akan merubah kehidupan Renita selanjutnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Dihari pertama Robert tinggal dirumah mereka, Robert langsung terpesona akan kecantikan adik iparnya atau lebih tegas lagi ia tergiur oleh kemolekan tubuh adik iparnya yang aduhai itu. Hanya karena ia baru saja bertemu dengan adiknya setelah sekian lama tidak bertemu maka ia lebih menyesuaikan dirinya sebagai layaknya seorang kakak. Rudi tidak menaruh curiga apapun kepada kakaknya bahkan ia meminta kakaknya untuk menemani istrinya jikalau ia keluar kota. Suatu saat ketika Rudi akan mendapatkan tugas kantornya selama dua bulan, malam sebelumnya mereka saling berdebat, rupanya Renita tetap ingin ikut karena dua bulan bukan waktu yang singkat dan Renita yang mempunyai sifat polos dan blak blakan langsung to the point bahwa sudah tiga minggu ia tidak digauli oleh suaminya sekarang mau ditinggal dua bulan. Rudi coba menenangkan istrinya dengan mengimingi akan dibawakan oleh oleh dari belanda, Renita tetap kecewa ia hanya ingin kemesraan dari suaminya, akhirnya dengan terpaksa Rudi menggauli istrinya malam itu tetapi karena pikirannya hanya pada tugasnya saja maka ia dengan tempo singkat ia menggauli istrinya dan Renita pun tidak mendapatkan kepuasan bathin yang ia sangat harapkan dari suaminya.</p>
<p style="text-align: justify;">Pagi hari setelah Rudi berangkat ke airport seperti biasanya Renita menyediakan makan pagi, kali ini hanya untuk kakak iparnya saja dan setelah siap Renita memanggil kakak iparnya untuk sarapan, sebenarnya Robert sudah bangun tetapi ia tahu bahwa adiknya keluar negeri hari ini dan ia mendengar perdebatan mereka tadi malam, maka pagi ini ia akan mencoba hasratnya untuk menguji adik iparnya. Lalu ia menyiapkan suatu perangkap dengan pura pura ketiduran sambil menaruh beberapa majalah porno diserakan dilantai. Benar saja tiba tiba pintunya yang tidak tertutup rapat diketuk oleh Renita &#8220;..Mas Robert sarapan mas..&#8221; Renita memanggil kakak iparnya sembari mendorong pintunya untuk melongok kedalam kamar, ternyata kakak iparnya masih tidur dengan memakai selimut menutupi tubuhnya, &#8220;Mas bangun sarapan..&#8221; Ia melihat Robert begitu nyenyak tidurnya akhirnya berniat untuk membangunkannya sendiri lalu masuk kekamar, ia melihat kelantai banyak sekali majalah yang telah terbuka berserakan, maka sebelum membangunkan kakak iparnya Renita bermaksud membereskan dahulu majalah majalah tersebut tetapi alangkah terkejutnya ketika ia mendapati gambar gambar yang ada didalam majalah tersebut. Tangan Renita bergemetaran hatinya berdegup keras melihat pose pose persetubuhan yang sangat closed up, dengan cepat ia melirik kuatir kakak iparnya tiba tiba bangun, hatinya ragu ragu sebenarnya ia ingin cepat cepat membereskan majalah ini ke raknya tetapi entah mengapa ada suatu hasrat ingin melihat gambar gambar itu lebih jauh, &#8220;..Ah.. satu dua halaman sudah itu cepet cepet ditaruh lagi..&#8221; pikiran Renita yang bercabang, lalu pelan pelan ia buka halaman demi halaman, makin dilihat makin melotot matanya, ia melihat satu wanita sedang disetetubuhi dua kali laki, jantungnya makin berdegup keras selangkangannya terasa gatal vaginanya terasa berdenyut denyut putingnya mengeras birahinya dengan cepat meluap kepermukaan apalagi tadi malam hasrat birahinya tidak tertuntaskan oleh suaminya, kembali ia melirik ketempat tidur<span id="more-1058"></span><br />
&#8220;..Ah mas Robert masih tidur..&#8221; lalu pelan pelan ia dudukdilantai sambil menarik dasternya keatas terlihat celana dalamnya yang menerawang tipis kemudian ia masukan tangannya kedalam cd nya, rupanya Renita ingin menuntaskan birahinya dengan masturbasi sambil menghayalkan gambar gambar tersebut, mulailah Renita menggosok gosok clitorisnya sambil memelototi beberapa pose pose gambar yang merangsang birahinya, Renita begitu terokupasi dengan masturbasinya sampai napasnya tersengal tersengal tiba tiba terdengar deritan tempat tidur, membuat Renita kaget bukan kepalang jantungnya terasa berhenti ketika ia menengok ke tempat tidur Robert masih pura pura tidur tetapi sudah berubah posisi dengan menghadap kedirinya dan yang sangat mengejutkan Renita, Robert sudah tidak berselimut lagi dan hanya memakai celana dalam, rupanya Robert dari tadi memperhatikan Renita sehingga kemaluannyapun berdiri, dan yang dilihat oleh Renita adalah pemandangan yang membuat birahinya semakin tidak menentu, tubuh kakak iparnya yang kekar dadanya yang bidang hanya dibalut sepotong cd dimana terlihat jelas batang kemaluannya tercetak dicelana dalamnya. Tubuh Renita terasa kaku dan berat sekali untuk digerakkan tetapi akhirnya agak lega ketika kakak iparnya terdengar mendengkur tanda masih nyenyak tidur.
</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;..Ohh..Renita kau sungguh cantik..&#8221; mulailah Robert pura pura ngelindur. Renita kaget mendengarnya sejenak ia berhenti melakukan aktifitasnya. &#8220;.. Ohh..seandainya kau istriku akan kupeluk mesra dirimu akan kuciumi seluruh tubuhmu yang begitu sexy..&#8221; Renita benar benar bingung mengapa tiba tibak kakak iparnya melindurkan dirinya tetapi hatinya begitu senang ada seseorang yang menyanjung dirinya walaupun yang menyanjung itu kakak iparnya sendiri. |Tanpa disadari Renita menggunggam sendiri, &#8220;.. Ohh mas Robert seandainya kau suamiku akan kupeluk tubuhmu yang perkasa ini..&#8221; Walaupun suara Renita terdengar lirih tetapi Robert masih dapat mendengarnya, Robert makin berani melakukan aksinya. &#8220;..Ohh..Renita sudah lama aku tidak bergaul dengan wanita seandainya kau bersedia, ingin rasanya aku menyetubuhimu akan kumasukan punyaku ini kevaginamu akan kuberikan kepuasan yang kau dambakan..&#8221; Renita terhenyak darahnya terasa mendidih..mengapa kakak iparnya tahu bahwa ia mendambakan kehangatan seorang laki laki, napsu birahinya semakin menjadi jadi. Vaginanya berdenyut denyut jarinya semakin dalam merogoh lobang kenikmatannya membayangkan ucapan kakak iparnya tersebut. Tiba tiba Robert berbalik lagi kali ini ia mencelentangkan tubuhnya sambil menceloteh memanggil nama |Renita dengan gerakan seperti tidak disengaja ia mengusap usap batang kemaluannya lalu dengan perlahan Robert mencopot cd nya hingga batang kemaluannya mengacung dengan tegar. Renita membelalakkan matanya jantungnya terasa berhenti darahnya berdesir berputar cepat sekali. Tadi malam ia merasakan batang kemaluan suaminya tidak setegar dan sebesar apa yang dilihat sekarang. &#8220;..Ohh Renita lihat batang penisku sudah siap untuk memuasi birahimu, oh seandainya kau diatasku akan kugesek gesekan penisku kevaginamu yang sudah merekah basah itu..&#8221; kembali Robert menyeloteh memancing reaksi Renita, benar saja Renita seperti tersihir tanpa melepaskan pandangannya ke batang kemaluan kakak iparnya ia copot cdnya bahkan sekaligus melepaskan dasternya sehingga Renitapun telanjang tanpa sehelai kain.</p>
<p style="text-align: justify;">Dengan tubuh bugil putih mulus sungguh sangat sexy Renita menaiki tempat tidur sambil mengangkat pantatnya yang sexy buah dadanya yang membusung ikut bergoyang, lalu dengan perlahan ia membuka kedua pahanya sehingga kelihatan vaginanya yang juga membusung, bibirnya terbelah merekah kemerah-merahan diantara bulu bulu kemaluannya yang halus dan sudah kelihatan basah berair. Clitorisnya berwarna merah muda sebesar biji kacang terlihat mencuat keatas diujung bibir vaginanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Renita mulai mengambil posisi berjongkok tepat diantara batang kemaluan Robert yang sudah berdiri tegang. Pikiran Renita sudah begitu kacau napsu birahinya tidak dapat dikuasainya lagi, kata kata kakak iparnya merupakan ajakan yang sangat menggoda kebutuhan sexnya. Renita melihat tubuh kakak iparnya yang sangat perkasa kepala penisnya sudah begitu dekat dengan vaginanya tapi entah mengapa Renita menunggu celotehan kakak iparnya lagi seolah olah menunggu komando untuk pembenaran tindakannya. &#8220;..Ohh..Renita masukin penisku ke vaginamu sayang..&#8221; Robert</p>
<p style="text-align: justify;">memincingkan sebelah matanya tak percaya apa yang dilihatnya, tubuh adik iparnya yang begitu sempurna tanpa sehelai benangpun lalu ia meneruskan celotehannya &#8220;..Ohh akhirnya kau datang dalam mimpiku Ren..pahamu sungguh mulus..&#8221; Robert menaruh kedua tangannya di paha Renita sambil mengelusnya. Renita bergetar hebat sentuhan tangan kakak iparnya menyadarkan seluruh hayalannya. Akhirnya Renita sadar bahwa ia betul betul membutuhkan kehangatan seorang pria dan pria itu berada tepat dihadapannya lalu tanpa sungkan lagi ia membangunkan kakak iparnya &#8220;..Mas Robert.. mas ini Renita bangun mas..&#8221; Lalu Robert membuka matanya dengan mimik pura pura terkejut &#8220;..Ren saya pikir saya sedang mimpi..&#8221; Renitapun tersenyum nakal &#8220;..Mas Robert naksir Renita ya..Renita denger semua yang mas ocehkan tadi lalu Renita turuti apa yang mas perintahkan..&#8221; Robert membalas senyumannya &#8220;.. Tapi belum masuk tuh penisku..&#8221; Renita yang sudah begitu menggebu gebu akhirnya kembali konsentrasi melanjutkan aksinya.</p>
<p style="text-align: justify;">Tetapi Renita tidak langsung memasukkan batang kemaluan kakak iparnya itu kedalam lobang vaginanya yang sudah merekah pasrah untuk menyambut batang penis yang besar itu, melainkan terlebih dahulu menggesek-gesekkan kepala kemaluannya itu diantara belahan vaginanya sehingga kepala yang besar itu basah dan mengkilap oleh cairan lendir yang keluar dari celah-celah vagina wanita itu.<br />
Renita terbuai dengan mata yang terpejam sambil mendesah-desah menahan gejolak nafsu birahi yang terus membara.<br />
&#8220;&#8230;sssssssshhhhh&#8230;maaaassss&#8230;ooooooogggghhhsss. ..!! Bagaikan diguyur air hangat Renita mendesah panjang tubuhnya terasa dialiri jutaan volt kenikmatan napsu birahinya makin terangsang hebat.<br />
Renita mulai menekan kepala penis yang sudah pas berada di posisi mulut lobang vaginanya. Tampak kepala penis Robert masih agak sulit masuk kedalam lobang vaginanya yang walaupun sudah basah dan berair itu karena belum pernah kemasukan penis sebesar punya kakak iparnya itu.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;&#8230;sssleeebbbb&#8230;ssslleeeebbb&#8230;sssslleeeebbb&#8230;b bbllleeeeesssssss&#8230;&#8221; pelan pelan batang penisnya mencoba menyusup lobang vagina Renita yang terasa sekali masih sempit walaupun sudah begitu basah.<br />
&#8220;&#8230;Aaaaaaauuuuuuukkkkkkhhhhhhh&#8230;sssssshhhhh&#8230;ma aaaasssss&#8230;! besaaaar sekaliiii..!!&#8221; &#8220;..Apanya yang besar Renn..?&#8221; Robert memancing reaksi Renita, &#8220;&#8230;Punyanya maass..!!&#8221; &#8220;..Apa namanya..?&#8221; Robert memancing lagi, Renita ragu menjawabnya karena belum pernah selama ia bersetubuh dengan suaminya menyebut nyebut kata kata vulgar, &#8220;..Apa namanya Renn..?&#8221; Robert terus mendesak, &#8220;..Kemaluannya maaas..&#8221; &#8220;..kontol..Renn..namanya kontol..&#8221; Robert menegaskan &#8220;..Apa Renn..?&#8221; akhirnya Renita dapat menyebutnya dengan lirih &#8220;..kontolnya mass besaaar sekali..&#8221; Robert tersenyum puas lalu dengan sekali sentakan mendorong pantatnya keatas, tampak Renita agak tersentak dan mendesah lirih ketika batang penis pria itu menyeruak masuk ke lobang vaginanya .<br />
Matanya terbeliak dengan mulut terbuka sambil kedua tangannya mencengkeram sprei dengan kuat-kuat.Tampak bibir vaginanya yang tebal itu sampai terkuak lebar seperti terkelupas seakan-akan tidak muat untuk menelan besarnya kemaluan kakak iparnya itu.<br />
&#8220;&#8230;Ooooooouuukkkkkhhhhssss&#8230;sssshhhhhh&#8230;maassss &#8230;!..pelaann..pelaann..maasss&#8230;!&#8221;<br />
&#8220;&#8230;hhhhmmmm&#8230;Rennnn memekmu&#8230;sempit sekalii&#8230;ukkkkhhh&#8230;uuuukkkkhhhh&#8230;&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Renita mulai berirama menaik turunkan pantatnya, batang penis Robert masuk merojok lobang vagina Renita tahap demi tahap hingga akhirnya amblas semuanya. Perlahan lahan Robert ikut bergoyang menarik ulur batang kemaluannya yang besar itu, Reni mulai merasakan sensasi yang luar biasa yang bukan main nikmatnya , liang vaginanya yang sudah licin terasa penuh sesak oleh penis kakak iparnya yang besar itu, urat urat batang kemaluannya menggesek nikmat sekali dinding vaginanya yang sudah dilumuri getah birahinya. Tanpa Renita sadari ia mulai menyeloteh diluar kontrol.<br />
&#8220;&#8230;Ohhhhhhhsss&#8230;ssshhh&#8230;enaaaaaak&#8230;seekaliiii. ..punyanya..maaassss..!!&#8230;oooougggghhh&#8230;terruuuu ssss&#8230;maaassss&#8230;teeerrruuusss&#8230;!&#8221;<br />
&#8220;..Terus diapain Renn..?&#8221; lagi lagi Robert ingin Renita menambah kosakatanya, sekarang Renita sudah lebih berani karena sudah terbuai oleh birahinya yang makin menjadi jadi, &#8220;..teruss digoyang kontolnya maass..!!&#8221; &#8220;..Salah Renn namanya kontol*..bilang entotin memeknya Renita..!&#8221; Robert memaksa lagi dengan kata kata baru, Renita merasakan sesuatu yang aneh pada dirinya makin vulgar kata kata yang dipaksakan kakak iparnya untuk diucapkannya makin terangsang napsu birahinya yang sudah menggebu gebu itu.
</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;..Iyyaa..maass entoootin memeknya Renita&#8230;!! Entoootiin&#8230;pake kontol gedenya maaaasss&#8230;!!&#8230;entoootiiiin yang niiikmaaat..!!&#8221;" makin lancar Renita menyeloteh makin beringas Robert menyetubuhi Renita dan Renitapun makin histeris dibuatnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Renita sudah lupa diri bahwa yang menyetubuhi dirinya adalah kakak dari suaminya, yang ada dibenak Renita hanyalah letupan birahi yang harus dituntaskan yang ia tunggu tunggu selama tiga minggu dari suaminya tapi Rudi suaminya sama sekali tidak mempedulikannya sedangkan sekarang ia mendapatkan apa yang ia inginkan justru dari Robert kakak iparnya sendiri, birahinya yang ia pendam sekian lama meletup dipelukan kakak iparnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Akhirnya yang terjadi mereka dengan buas dan ganas saling berpelukan sambil berciuman .Terdengar suara nafas mereka saling memburu kencang, lidah mereka saling mengait dan saling menyedot, saling bergulingan giliran Renita dibawah, Robert mengambil inisiatif menggenjot pinggulnya yang tampak naik turun semakin cepat diantara selangkangan Renita yang makin terbuka lebar, Renitapun mengangkat kedua kakinya sambil ditekuknya, pantatnya ikut diangkat mengharapkan seluruh batang kemaluan kakak iparnya menggesek seluruh syaraf syaraf kenikmatan dirongga vaginanya dan Robertpun semakin mudah menyodokan penisnya yang panjang besar itu keluar masuk sampai menghasilkan suara bedecak-decak seperti suara membecek seiring dengan naik turunnya pantat pria itu.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;&#8230;cccllllleeeeebbbbbbb&#8230;ccccleeeeebbbbb&#8230;cccll eeeeebbbb&#8230;cccleeeeebbbbb&#8230;&#8221;<br />
Robert memperhatikan kearah selangkangan Renita dia melihat vaginanya mencengkeram penisnya erat sekali, ia tersenyum puas bisa menaklukkan vagina adik iparnya ini, yang sudah basah membanjir penuh dengan cairan putih kental sehingga membasahi bulu-bulu jembutnya yang tebal itu dan juga batang kemaluannya. Ia yakin adik iparnya benar benar sudah memasrahkan dirinya untuk disetubuhi kapan saja ia mau,</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;&#8230;oooooouuuuuggghhhhssss&#8230;ooouuugggghhhsss&#8230;ss sshhhh&#8230;maaassss&#8230;!..enaaakkk..sekaliii..kontolm uu&#8230;ini..maass..!<br />
&#8230;teruuuss..maasss&#8230;entoootin..memek Renita yaanggg..ceepaatt&#8230;ouchh&#8230;nikmaaaat..!&#8221;<br />
&#8220;..Ouuuchhh..memekmu sempit seekalii&#8230;Reenn..! terasaaa menyedoot nyedooot..!nikmatnya bukan maiiiin..!!&#8221; Robert mendengus dengus bagai banteng terluka genjotannya makin ganas saja. Mata Robert terlihat lapar menatap payudara Renita yang putih montok dikelilingi bulatan pink ditengahnya terlihat putingnya yang sudah begitu mengeras, tanpa menyia nyiakan kesempatan Robert langsung menomplok dan menyedot menyedot puting susu adik iparnya yang begitu menantang, Tubuh Renita yang menyender dinding setengah duduk setengah celentang menggelinjang hebat..! payudaranya makin dibusungkan bahkan tubuhnya digerakkan kekiri dan kekanan supaya kedua puting buah dadanya yang sudah gatal mendapatkan giliran dari serbuan mulut kakak iparnya ini.<br />
&#8220;&#8230;oooooouuuuuggghhhhssss&#8230;ooouuugggghhhsss&#8230;ss sshhhh&#8230;maaassss&#8230;!..kenyooot teruuusss pentiiiilku..!! &#8230;oooohhh&#8230;maaaasss&#8230;kkaaaauuu&#8230;sunggggguh..pe rkkaaaasssaaaa&#8230;!!.. Reeeniii bisssshhaa ketagihaaaaan.. dientooot..sama..maaasss &#8230;!!&#8221; pikiran Reni sudah tidak jernih lagi, terombang ambing didalam pusaran kenikmatan, terseret didalam pergumulan sex dengan kakak iparnya, jiwanya serasa seenteng kapas melambung tinggi sekali.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Ooooohhhh&#8230;aaaa..aakkhh..aakhuu..ngghha taaahaaann..maaauu..keluaarrr&#8230;maassss&#8230;!&#8221;.. Tubuh Renita mengejang sambil memeluk tubuh Robert erat sekali jiwanya terasa berputar putar merasakan semburan kenikmatan yang dahsyat diklimaksnya yang pertama, &#8220;..Teruuus Renn jangan berhenti aku masih pengen kontol*in memekmu yang lamaaa..! Kamu bisa keluar lagii berkali kaliiii&#8230;!!&#8221; Robert teruss menggenjot tubuh Reni yang hanya pasrah dipelukan kakak iparnya ini.<br />
Lebih dari sejam Robert menyetubuhi Renita tanpa henti, Renita makin lama makin terseret didalam kenikmatan pergumulan sex dengan kakak iparnya yang ia belum pernah rasakan dari suaminya sampai sebegini lamanya dengan segala macam variasi , apalagi waktu Robert memintanya berbalik sambil menungging,
</p>
<p style="text-align: justify;">vaginanya terlihat megap megap disumpal batang penisnya yang besar dari belakang , ia merasakan liang vaginanya menyempit karena tertekuk oleh perutnya sehingga ia merasakan setiap inchi denyutan kenikmatan yang dihasilkan oleh batang penis Robert yang merasuk keliang kenikmatannya, Renita menambah sensasi sensual ini dengan memutar mutar pantatnya yang putih sexy bahkan ketika Robert menyodok penisnya yang besar itu, Renita menyambutnya dengan mendorong keras pantatnya kebelakang sehingga penis Robert yang besar dan panjang itu masuk kelobang vaginanya dalam sekali, menggelitik seluruh rongga kenikmatannya &#8220;..Oooohh&#8230;niiiikmaaat&#8230; sekaaalii&#8230;maass..!! dientot dari belakang&#8230;! urat kontoool maaass.. terasa sekalii menggelitik lobang memeeekku..!!..belum pernah aku rasakan ngentooot beginiii niiikmaaat..!! entoootiiinn.. teruuusss..maaassss&#8230;!!!&#8221; Robert sangat puas mendengarnya lalu ia merunduk memeluk tubuh Renita dari belakang tangannya merogoh keselangkangan Renita, jari2 Robert memainkan clitoris Renita dengan memutar mutarnya, sambil menggenjot dengan beringas penisnya yang besar itu,</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;..uuuuggghhhsss&#8230; aaaaacchhh.. maaaasssss&#8230; yeeeesssss&#8230;!! niiiiikmaaaat..!! mainin teruuuusss&#8230; itiiilku..!! &#8220;..entooootin memeeeekku..!!!&#8221; bagai kesurupan Renita mengeluarkan kata kata vulgar sambil mengerang mengerang dengan liar, tubuhnya yang dalam posisi nungging meliuk meliuk tanpa terkendali rupanya clitorisnya merupakan alat kelamin yang paling sensitif buat Renita, lobang vaginanya yang sudah dihajar begitu rupa oleh penis yang berukuran luar biasa itu ditambah clitorisnya ditekan sambil diputar putar oleh jari Robert, maka sempurnalah puncak kenikmatan yang ia rasakan, tangan Renita mencengkeram sprei erat sekali, dahinya berkerut mulutnya seperti ingin teriak dan mendesis desis seperti orang kepedesan rupanya Renita sedang dilanda kenikmatan yang amat sangat, posisi tubuhnya yang sedang menungging makin ditunggingkan pantatnya keatas memasrahkan vaginanya dihabisi oleh keperkasaan penis kakak iparnya dengan mengharapkan kedatangan gelombang kenikmatan berikutnya yang merupakan pengalaman pertama buat Renita untuk mendapatkan multiple orgasm.</p>
<p style="text-align: justify;">Apa yang terlihat sungguh merupakan pemandangan yang sangat erotiiss..! tubuh mulus Renita menungging meliuk liukdengan liarnya kepalanya bergeleng kekiri dan kekanan buah dadanya bergoyang erotis sekali sementara tangan Robert yang kekar memegang erat pinggang Reni yang ramping itu, pantatnya digenjot cepat sekali batang penisnya yang besar keluar masuk liang vagina begitu dahsyat tanpa ampun, tubuh Reni sampai bergetar hebat terlihat ia mengejut ngejutkan tubuhnya tanda ia sedang mengalami kenikmatan yang maha dahsyat,&#8221;..uuuuggghhhsss&#8230; aaaaacchhh.. yeeeessssss..maaaasssss&#8230; yeeeesssss&#8230;!!&#8221; Renita benar benar melayang kelangit yang ketujuh didalam pergumulan sexnya dengan kakak suaminya ini. &#8220;&#8230;aaaaaaaaaacccchhhh&#8230;!!!!&#8230;terlaaaaluuu..niii iiikmaaaaaaaaaat&#8230;maaaaaassss&#8230;!!!..nggggaaa taahaaannn..akkkhuu.. maaauuu&#8230; keluaaaar&#8230; laaaagiiii&#8230;!!!&#8221; Renita makin histeris mendapatkan klimaks keduanya yang lebih panjang dan lebih nikmat dari yang pertama. Renita benar benar lupa daratan rasa ketagihan nikmatnya merasuk jiwanya ingin rasanya melanjutkan persetubuhannya selama lamanya dengan kakak iparnya karena ia bisa memberikan multiple orgasm yang ia tidak pernah dapatkan dari suaminya.</p>
<p style="text-align: justify;">Tapi tubuh Renita sudah tidak bertenaga lagi lalu ia ambruk ditempat tidur sambil berbalik berbaring napasnya tersengal sengal, rupanya Robert belum juga mengalami ejakulasi terpaksa ia ikut membaringkan dirinya disamping Renita, dengan wajah sayu Renita bertanya &#8220;..Mas belum keluar ya..?&#8221; Robert menggelengkan kepalanya, &#8220;..Jadi Renita masih akan dientot lagi..mas..?&#8221; Renita sudah lancar dengan kosakatanya, Robert mengangguk, &#8220;..Renita masih bisa orgasme lagi ngga..mas..?&#8221; Lalu Robert setengah berbangun berkata sambil membelai rambut Renita dengan mesra &#8220;..Ren kamu masih bisa orgasme 2 X lagi bahkan lebih..ada caranya..&#8221; Tiba tiba Renita menarik batang kemaluan Robert yang masih mengeras, matanya berbinar binar &#8220;..Ajarin Renita ya mas..Renita masih pengen dientot kontol gede mas Robert seharian kalau Renita bisa keluar lagi..keluar lagi..&#8221; &#8220;..Renita jarang klimaks kalau ditiduri sama mas Rudi, mas Rudi pengennya cepet cepet aja, abis keluar langsung tidur..&#8221; Robert tersenyum kecut dalam hati ngedumel &#8220;..Goblok banget adik gua cewek segini sexy dianggurin.. ya udah jangan salahin gua ya..&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Seharian Robert mengajari Renita bagaimana caranya mengayuh sekoci cinta untuk menggapai beberapa pulau berpuncak gunung kenikmatan dan Renita menjadi murid yang cepat tanggap. Satu hari penuh Renita mendapatkan pengalaman luar biasa. Robert merangsang napsu birahinya dengan menyetubuhi dirinya berbagai macam posisi. tidak bisa dihitung sudah berapa kali Renita mengalami orgasme, yang jelas Renita begitu menikmati bahkan mungkin ketagihan disetubuhi batang kemaluan kakak iparnya yang begitu besar dan perkasa.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah kejadian hari itu, setiap ada kesempatan, mereka melakukan permainan sexnya dimana saja, pernah suatu malam Renita setelah berhubungan sex dengan suaminya dan tidak mendapatkan kepuasan yang ia inginkan, setelah suaminya tertidur ia langsung pindah kamar tanpa sepotong pakaian Renita langsung kekamar kakak iparnya minta untuk dipuasi dan seperti biasanya Robert memenuhi keinginannya dengan melumat seluruh tubuhnya tanpa sisa, vaginanya dilahap dengan buas dan seperti biasanya batang kemaluan Robert yang ia gila gilai menggali tak henti henti liang kenikmatannya. Renita dibuat melayang layang diawang awang sampai empat kali orgasm dan baru pindah kembali kekamarnya sekitar jam 4 pagi.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ceritasex.cn/renita-bersetubuh-dengan-kakak-ipar/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Cerita Dewi &#8211; Doni, Anak Tirinya</title>
		<link>http://www.ceritasex.cn/cerita-dewi-doni-anak-tirinya/</link>
		<comments>http://www.ceritasex.cn/cerita-dewi-doni-anak-tirinya/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 31 Oct 2009 03:48:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cerita Sex</dc:creator>
				<category><![CDATA[Paruh baya]]></category>
		<category><![CDATA[Sedarah]]></category>
		<category><![CDATA[bercinta]]></category>
		<category><![CDATA[dewi]]></category>
		<category><![CDATA[ibu muda]]></category>
		<category><![CDATA[incest]]></category>
		<category><![CDATA[ngentot]]></category>
		<category><![CDATA[nonton bf]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ceritasex.cn/?p=1029</guid>
		<description><![CDATA[Jam di dinding menunjukkan pukul 10 pagi, Dewi baru saja beranjak bangun dari tempat tidurnya dan menuju kamar mandinya yang terletak didalam kamar tidurnya, setelah menggosok gigi dan mencuci mukanya, iapun keluar dari kamar tidurnya menuju kedapur untuk membuat sarapan. Setibanya di dapur Dewi melihat Doni anak tirinya sedang membuat kopi, saat itu Doni hanya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Jam di dinding menunjukkan pukul 10 pagi, Dewi baru saja beranjak bangun dari tempat tidurnya dan menuju kamar mandinya yang terletak didalam kamar tidurnya, setelah menggosok gigi dan mencuci mukanya, iapun keluar dari kamar tidurnya menuju kedapur untuk membuat sarapan. Setibanya di dapur Dewi melihat Doni anak tirinya sedang membuat kopi, saat itu Doni hanya memakai celana boxer saja, Dewipun menyapa Doni sesaat ia berada disamping Doni.</p>
<p style="text-align: justify;">“Kamu tidak sekolah, Don??” Dewi bertanya.</p>
<p style="text-align: justify;">“Eh, mami, mami lupa yach!!, kan kemarin hari terakhir aku ujian, jadi hari ini libur sampai pengumuman hasil ujian,” jawab Doni.</p>
<p style="text-align: justify;">“baru bangun mih??, Doni balik bertanya, “mau kubuatkan kopi”</p>
<p style="text-align: justify;">“Heeh, boleh tuch, “ jawab Dewi.</p>
<p style="text-align: justify;">Dewi memperhatikan tubuh anak tirinya ini, Doni mempunyai tubuh yang sangat atletis, dadanya bidang dan berotot, Dewi tahu Doni sering sekali berolahraga, tingginya sekitar 180 cm, berbeda dengan ayahnya yang pendek, dari samping Dewi mengagumi tubuh anak tirinya ini, saat pandangan mata Dewi jatuh di boxer Doni, ia melihat tonjolan di celana boxer Doni, melihat itu Dewi menelan ludahnya, dan ia tahu bahwa Doni saat ini tidak mengenakan celana dalamnya dan kontolnya sedang tegang-tegangnya, dari balik celana boxernya Dewi tahu juga bahwa Doni mempunyai kontol yang besar dan panjang.</p>
<p style="text-align: justify;">“Mih, nich kopinya,” Doni berkata.</p>
<p style="text-align: justify;">“Eehh..iyach, makasih, Don!” sahut Dewi.</p>
<p style="text-align: justify;">Doni tidak mengetahui bahwa dari tadi mamihnya memandangi tonjolan di celananya dengan penuh nafsu.</p>
<p style="text-align: justify;">“Papih, kapan pulang, mih??” Doni bertanya</p>
<p style="text-align: justify;">“Masih lama,” Dewi menjawab.</p>
<p style="text-align: justify;">“Ooohh, aku kekamar dulu yach, mih!” lanjut Doni, “mo chatting dulu ama temenku”</p>
<p style="text-align: justify;">“Heeh, “ Dewi mengiyakan.</p>
<p style="text-align: justify;">Seperginya Doni, Dewi merasakan lubang senggamanya berdenyut-denyut, ingin merasakan kembali sodokan-sodokan kontol-kontol yang besar, sambil menikmati kopinya, tangan kanannya mulai mengelus-elus vaginanya, sementara pikirannya membayangkan pemandangan tadi, membayangkan seandainya kontol Doni dielus-eluskan di itilnya dan dibibir memeknya. Batinnya menjerit memanggil nama Doni sambil merasakan sentuhan tangannya di memek dan itilnya, lubang senggamanya mulai basah karena gelora birahinya yang mulai bangkit, Dewi sendiri merasa heran sendiri kenapa sekarang ini birahinya cepat sekali terangsang, sekarang ini Dewi merasa selalu kehausan ingin dipuaskan, libido seksnya semakin meninggi dibandingkan dengan sebelum ia pernah mendapatkan kepuasan dari suaminya.</p>
<p style="text-align: justify;">Semakin lama elusan tangannya semakin cepat, gairahnya semakin memuncak, lubang senggamanya semakin gatal ingin digaruk kontol besar, gairah birahinya ingin cepat dipuaskan, batinnya berkecamuk antara ingin dientot oleh Doni merasakan kontol Doni mengaduk-aduk lubang senggamanya dengan ketakutan seandainya Doni tidak mau lalu melaporkan hal itu ke papihnya atas kelakuan dia.</p>
<p style="text-align: justify;">Tapi nampaknya nafsu birahinya yang menang, akhirnya Dewi melangkah menuju kamar anak tirinya, sesampainya didepan pintu kamar Doni, dengan perlahan-lahan Dewi membuka pintu kamar Doni, Dewi terkejut melihat pemandangan di depan matanya, Dewi melihat Doni sedang telanjang dan duduk diatas karpet membelakangi pintu, sementara kedua telinga Doni tertutup oleh earphone dan dilayar komputer Dewi melihat adegan seks, rupanya Doni sedang menonton film BF, dan Dewi juga melihat Doni sedang mengelus-elus kontolnya yang sudah ngaceng, melihat ini semua membuat birahi Dewi semakin memuncak, Dewipun melangkah masuk kekamar Doni lalu menutup pintunya, didekatinya Doni dari arah belakang, Doni yang sedang asyik tidak mengetahui bahwa Mamihnya sedang menyaksikan perbuatannya itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah menanggalkan dasternya, Dewi kemudian mendekati Doni, dipeluknya tubuh Doni, diciuminya tengkuk dan telinga Doni, kedua payudaranya ia tempelkan dipunggung Doni, sambil berbisik,</p>
<p style="text-align: justify;">“Doonn,.. sini mamih bantuin,” Dewi mendesah lirih sambil tangan kanannya meraih kontol Doni lalu mengelus-elusnya.</p>
<p style="text-align: justify;">“Eehh…Mih, oouughh…ssshhhh…aachhh” Doni terperanjat kaget akan perbuatan Dewi, tapi ia menikmati sentuhan tangan Dewi yang halus di kontolnya, kagetnya hilang berganti dengan kenikmatan.<br />
<span id="more-1029"></span><br />
Aksi Dewi semakin bertambah, dari tengkuk dan telinga ciumannya menjalar kedepan kedada Doni, dijilatinya kedua puting Doni bergantian, sementara tangannya semakin gencar mengelus-elus kontol Doni, membuat Doni semakin mengerang keenakan, lenguhan-lenguhan kenikmatan keluar dari mulut Doni, Dewi lalu mendorong tubuh Doni sehingga telentang diatas karpet, ciuman dan jilatan Dewi semakin menggila dari dada turun keperut, dari perut turun ke selangkangan Doni, Doni semakin menggelinjang mendapatkan serangan Dewi, tubuh Doni melenting menikmati jilatan Dewi ditubuhnya.
</p>
<p style="text-align: justify;">“Aaghhhh….Miiihh, eenaaakkkkk….Aaaaaggghh” Doni mengerang keenakan ketika kontolnya dijilati dan dikulum-kulum oleh Dewi.</p>
<p style="text-align: justify;">Sllrrppp….sssllrrpppp….. Dewi asyik menjilati dan mengulum-ngulum kontol Doni.</p>
<p style="text-align: justify;">“Miihhh, aakkuu gak taahhaann…ouughh..aakkuu..mau keluaar nich..ooughh” Doni merintih.</p>
<p style="text-align: justify;">Mendengar Doni mau keluar Dewi semakin cepat mengulum-ngulum kontol Doni, tak lama kemudian,</p>
<p style="text-align: justify;">Creettt…creeettt..cccreeettt…kontol Doni menyemburkan lahar kenikmatannya didalam mulut Dewi.</p>
<p style="text-align: justify;">“Ougghh..” Dewi tersedak akibat tembakan sperma dari kontol Doni</p>
<p style="text-align: justify;">“Gleekkk..ssllrppp….gleekkk..sslrrppp” terdengar Dewi menelan sperma Doni sambil menghisap-hisap kontol Doni, membuat Doni semakin merem-melek, kontolnya mengedut-ngedut semakin kencang.</p>
<p style="text-align: justify;">Sesaat kemudian kontol Doni berhenti mengedut-ngedut, Dewipun puas mendapatkan sperma perjaka, dan Dewi kaget melihat bahwa kontol Doni tetap keras meskipun barusan telah mengeluarkan sperma, Dewi tidak merasakan kontol Doni yang sedang dalam genggamannya akan mengecil.</p>
<p style="text-align: justify;">“kamu puas, Don” Dewi bertanya lirih.</p>
<p style="text-align: justify;">“Iyach, Mih, “ Doni menjawab</p>
<p style="text-align: justify;">“kamu masih pengen khan,” kembali Dewi bertanya</p>
<p style="text-align: justify;">“heeh” Doni mendesah</p>
<p style="text-align: justify;">Kemudian Dewi berjongkok diatas tubuh Doni, kontol Doni ia arahkan kelubang memeknya yang sudah basah dari tadi. Dioles-oleskannya kepala kontol Doni di itilnya, Dewi merasakan geli-geli nikmat saat itilnya tersentuh oleh kepala kontol Doni, sementara Doni sendiri menggelinjang kegelian saat kepala kontolnya menyentuh itil mamihnya, belum pernah Doni merasakan sensasi seperti ini, biasanya kontolnya itu ia kocok sendiri kalau lagi tegang karena nonton BF, jadi Doni belum pernah merasakan kontolnya itu bersentuhan dengan itil apalagi sampai merasakan dijepit memek.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah puas mengoles-ngoleskan kontol Doni, Dewi mulai menyelipkan kepala kontol Doni dibelahan memeknya, Dewi melenguh saat kepala kontol Doni mulai terjepit dilubang senggamanya, Dewi merasakan lubang senggamanya penuh sesak oleh kepala kontol Doni, perlahan-lahan Dewi mulai menurunkan pantatnya,</p>
<p style="text-align: justify;">Sleepp…Bleeessss….</p>
<p style="text-align: justify;">“Uuugghhh….” Dewi melenguh saat kontol Doni mulai menerobos masuk dalam lubang senggamanya,</p>
<p style="text-align: justify;">“Doni sayang, kontolmu besar sekali, sesak memekku dibuatnya,” lanjut Dewi sambil mulai menekan pantatnya lagi.</p>
<p style="text-align: justify;">Bleeesss…..</p>
<p style="text-align: justify;">“aaagghhh….Mih, sempit sekali memekmu,” Doni mengerang merasakan kontolnya yang terjepit erat oleh memek Dewi.</p>
<p style="text-align: justify;">“bukan memekku yang sempit sayang, tapi kontolmu yang besar, ooohhhhh, enak sekali kontolmu ini,” Dewi mengerang manja, sambil menekan lagi pantatnya kebawah perlahan-lahan,</p>
<p style="text-align: justify;">Bleesss….bleessss…..</p>
<p style="text-align: justify;">Dan,</p>
<p style="text-align: justify;">“Uuuugghhhh….,” Dewi menjerit lirih, saat kepala kontol Doni menyentuh dinding rahimnya,<br />
Sensasi nikmat yang Dewi rasakan kali ini berbeda dengan sensasi nikmat yang pernah ia dapatkan sebelumnya, lubang senggamanya betul-betul penuh sesak oleh jejalan kontol Doni, ini membuat dinding vaginanya berkedut-kedut sendiri, sementara Doni merasakan batang kontolnya seperti dipijat-pijat oleh dinding vagina Dewi, yang membuat ia merem melek.
</p>
<p style="text-align: justify;">Kemudian Dewi mulai mengangkat turunkan pantatnya perlahan-lahan, tangannya bertumpu di dada Doni, Dewi merasakan batang kontol Doni menggesek dengan erat dinding vaginanya, memeknya yang sudah basah tidak terlalu berpengaruh karena besarnya kontol Doni, gesekan-gesekan didinding vaginanya sangat terasa ketat sekali, Donipun merasakan yang sama, apalagi persetubuhan ini adalah kali pertama buat Doni, Doni merasakan perbedaan yang sangat besar antara gesekan tangan dia dibandingkan dengan gesekan memek mamih tirinya ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Keduanya mulai melenguh, mendesah dan merintih menikmati persetubuhan ini, gerakan naik turun Dewi semakin lancar seiring semakin membasahnya lubang kenikmatannya, cairan-cairan kenikmatan dari kedua kemaluan mereka semakin banyak, sehingga memudahkan pergeseran kelamin mereka.</p>
<p style="text-align: justify;">Keirngat mulai mengalir dari kedua tubuh mereka, goyangan Dewi yang semakin cepat membuat kedua bukit payudaranya bergoyang naik turun, pemandangan ini membuat Doni semakin bernafsu, Donipun bangkit dari posisi telentangnya, dipeluknya tubuh Dewi, mulutnya bergantian menghisap-hisap kedua payudara Dewi, membuat puting susu Dewi semakin mengeras, perbuatan Doni merubah gaya naik turun Dewi menjadi maju mundur, kuluman dan hisapan Doni di kedua payudaranya membuat Dewi semakin bernafsu, lenguhan-lenguhan kenikmatannya semakin terdengar.</p>
<p style="text-align: justify;">Dengan posisi duduk seperti ini itil Dewi lebih sering bersentuhan dengan batang kontol Doni, sehingga menambah sensasi kenikmatan Dewi semakin menjadi, gerakan maju mundur Dewi bertambah cepat, mengimbangi kuluman dan hisapan Doni dikedua payudaranya. Kedua tangan Doni yang tadinya hanya memeluk Dewi, mulai beraksi juga, Doni mulai meremas-remas kedua bongkah pantat Dewi, sambil meremas-remas Donipun membantu menekan pantat Dewi bertepatan dengan gerakan maju Dewi, sehingga membuat kontolnya masuk lebih dalam kedalam memek Dewi, aksi Doni ini membuat Dewi mengerang karena sodokan kontol Doni didinding rahimnya semakin terasa.</p>
<p style="text-align: justify;">“Aaagghhh…ssshhhh….ooouucchhhh…terussss..Doon , yaachhh..hisaaappp..teeetekku,”erang Dewi.</p>
<p style="text-align: justify;">“Hhmmmm…sssllrrppp…hhmmmhhmm..ssssllrppp,” Doni mengiyakan permintaan mamihnya.</p>
<p style="text-align: justify;">“Yaaacchh… teeekaaann…paantatkuu…ooucchhh…aaaagghhh…,” lagi-lagi Dewi mengerang saat Doni menekan pantatnya membantu gerakan majunya.</p>
<p style="text-align: justify;">Tak lama kemudian,</p>
<p style="text-align: justify;">“Miiihhhh, hhmmmhh…sssllrpp….aaakkkuu..ssslrpp….mauu..keluaar r..laaagiiii..,” Doni melenguh, sambil mulutnya tetap menghisap-hisap tetek Dewi.</p>
<p style="text-align: justify;">“Taaahhaan…sebeentaarrr..ssaaayaang….kita saamaaan…keeluarnya,” jawab Dewi.</p>
<p style="text-align: justify;">“Slllllrrrpppp….aaaaacchh…aaaaakkkuuu tiddak..ssslrpppppp…” Doni melenguh lagi dan,</p>
<p style="text-align: justify;">Creeetttt…..creeetttt….cccreeeetttt..</p>
<p style="text-align: justify;">kontol Doni menembakkan spermanya dalam lubang senggama Dewi,</p>
<p style="text-align: justify;">“Aaagghhhhh….miiihhh…aaaku kelluaaar…meemek mamihhh enaaakk sekaliii…aaaagghhh..,” Doni mengerang keenakan saat kontolnya memuntahkan sperma dilubang kemaluan Dewi.</p>
<p style="text-align: justify;">Dewi merasakan semburan hangat didinding rahimnya, dan Dewi juga merasakan kontol Doni berdenyut-denyut, merasakan ini semua Dewi semakin mempercepat gerakannya, iapun mendorong tubuh Doni sehingga telentang lagi, dipeluknya tubuh Doni, bibirnya memagut bibir Doni yang, pantatnya digerakkan naik turun dengan cepat, nampaknya Dewi tidak mau kehilangan kesempatan untuk merengkuh kenikmatannya.</p>
<p style="text-align: justify;">“Hmmmhhh….sslllrpp….hhmmmhh…ssllrppp….,” rintihan nikmat keluar dari kedua mulut Dewi dan Doni yang sedang berpagutan.</p>
<p style="text-align: justify;">Tak lama kemudian, gerakan Dewi semakin tidak beraturan dan bertambah cepat, lalu dengan sekali hentakkan Dewi menekan pantatnya dalam-dalam,</p>
<p style="text-align: justify;">“Aaaggghhh….Dooonnn…mamiihhh keluaaar jugaaaa..ooohhhh..eenak kontol besaaarmu ini,” Dewi melenguh.</p>
<p style="text-align: justify;">Ssssrrrr….sssssrrrrr…..sssssrrrr…… lubang senggama Dewi menyemburkan lahar kenikmatan yang menyirami batang kontol Doni.</p>
<p style="text-align: justify;">Doni merasakan pijatan-pijatan kuat dibatang kontolnya, saat lubang vagina Dewi memuntahkan lahar kenikmatannya.</p>
<p style="text-align: justify;">Sambil menikmati sisa-sisa kenikmatannya, Dewi menciumi Doni dengan mesra, keduanya berpagutan dengan mesra, beberapa saat kemudian setelah gairah nafsu mereka mereda, Dewi mengangkat pantatnya, kontol Doni yang mulai mengecilpun terlepas dari jepitan memeknya, Nampak kontol Doni mengkilat oleh sperma dan cairan kenikmatan dari memeknya, Dewipun merebahkan tubuhnya disamping Doni.</p>
<p style="text-align: justify;">“Makasih yach, sayang, kamu telah memberikan Mamih kepuasan,” Dewi berkata sambil mengecup pipi Doni.</p>
<p style="text-align: justify;">“Aku juga, Mih, “ kata Doni sambil memeluk Dewi dan memberikan kecupan ringan dibibir Dewi.</p>
<p style="text-align: justify;">Keduanya kemudian berpelukan sambil memejamkan mata mereka, di bibir mereka tersungging senyum kepuasan.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ceritasex.cn/cerita-dewi-doni-anak-tirinya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tetanggaku Nakal Bagian 2</title>
		<link>http://www.ceritasex.cn/tetanggaku-nakal-bagian-2/</link>
		<comments>http://www.ceritasex.cn/tetanggaku-nakal-bagian-2/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 30 Sep 2009 06:56:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cerita Sex</dc:creator>
				<category><![CDATA[Paruh baya]]></category>
		<category><![CDATA[Sedarah]]></category>
		<category><![CDATA[Tante Girang]]></category>
		<category><![CDATA[bugil]]></category>
		<category><![CDATA[desahan]]></category>
		<category><![CDATA[incest]]></category>
		<category><![CDATA[isep kontol]]></category>
		<category><![CDATA[jilat memek]]></category>
		<category><![CDATA[memek]]></category>
		<category><![CDATA[ngentot]]></category>
		<category><![CDATA[tante]]></category>
		<category><![CDATA[telanjang]]></category>
		<category><![CDATA[teriak]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ceritasex.cn/?p=880</guid>
		<description><![CDATA[Kupercepat laju mobilku sebelum gelap dan di kota terdekat aku pun mencari sebuah hotel. Begitu dapat aku langsung turun memesan sebuah kamar sementara Tante menunggu di mobil. Dan setelah kembali ke mobil untuk mengajak Tante turun sempat kubuktikan dulu padanya tentang lampu mobil sebelahku yang memang padam itu. Berdua masuk ke kamar, setelah mandi dan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Kupercepat laju mobilku sebelum gelap dan di kota terdekat aku pun mencari sebuah hotel. Begitu dapat aku langsung turun memesan sebuah kamar sementara Tante menunggu di mobil. Dan setelah kembali ke mobil untuk mengajak Tante turun sempat kubuktikan dulu padanya tentang lampu mobil sebelahku yang memang padam itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Berdua masuk ke kamar, setelah mandi dan makan malam kamipun bersantai dengan ngobrol sampai kemudian Tante mengajakku untuk pergi tidur. Kamar yang kupesan memang hanya satu tapi dilengkapi dua tempat tidur sebagaimana biasanya bentuk kamar hotel. Melihat dari keadaan ini Tante Juliet tidak mengira bahwa aku betul-betul serius dengan keinginanku untuk mengulang lagi kenangan lama. Dia baru saja mengganti baju tidur dan baru akan mulai mengancingnya ketika aku keluar dari kencing di kamar mandi langsung mendekat memeluknya dari belakang. Aku sendiri hanya mengenakan handuk berlilit pinggang setelah membuka bajuku di kamar mandi.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Gimana Tan, masih boleh dikasih Sony nggak..&#8221; bisikku meminta di telinganya tapi sambil mengecup leher bawah telinganya diikuti kedua tanganku mulai meremasi masing-masing susunya. Tersenyum geli dia karena sudah sampai di situ pun dia masih mengira aku cuma bercanda menggoda.<br />
&#8220;Apanya yang enak sih sama orang yang udah gembrot dan tua gini, Son..&#8221; tanyanya penasaran.<br />
&#8220;Buat Sony sih nggak ada bedanya, malah Sony kangen deh Tan..&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Sambil bicara begitu kubuka lagi satu kancing daster tidurnya yang baru terpasang, sehingga bagian depan tubuhnya terbuka berikut kedua susunya yang bebas karena Tante sengaja tidur tanpa memakai kutang, untuk kemudian tanganku berlanjut meremasi susu telanjangnya itu. Tante membiarkan saja tapi dia bertanya mengujiku dengan nada setengah ragu kepadaku.<br />
<span id="more-880"></span><br />
&#8220;Masak sih kangen sama Tante? Kan kamu biasanya sama cewek-cewek cakep, yang masih muda lagi langsing-langsing badannya..?&#8221; katanya lagi.<br />
&#8220;Justru melulu sama yang begituan, Sony malah bosan.. Sony suka sama Tante yang montok.. &#8221;<br />
&#8220;Kamu bisa aja..&#8221;<br />
&#8220;Lho bener Tan. Montoknya Tante ini yang bikin enak, mantep rasanya. Apalagi yang ini.. Hmm.. Sekarang tambah montok berarti tambah enak lagi rasanya..&#8221; kali ini sebelah tanganku sudah kujulurkan ke bawah meremas-remas gemas gundukan vaginanya.
</p>
<p style="text-align: justify;">Tante Juliet merengek senang, sekarang baru dia percaya dengan keseriusanku. Apalagi ketika dia juga membalas menjulurkan tangannya ke belakang, di situ dia mendapatkan bahwa di balik handuk itu aku sudah tidak mengenakan celana dalam lagi. Tanpa diminta lagi dia sendiri membuka lagi daster tidur sekaligus juga celana dalamnya sendiri untuk bersama-sama telanjang bulat naik ke tempat tidur.</p>
<p style="text-align: justify;">Wanita berwajah cantik diusianya mencapai 32 tahun ini memang sudah mekar tubuhnya, tapi tubuhnya masih cukup kencang lagi mulus sehingga montoknya berkesan sexy yang punya daya tarik tersendiri. Dan aku juga jujur mengatakan bahwa aku merindukan kemontokannya, karena baru saja melihat dia terbuka sudah langsung terangsang gairah kelelakianku. Sebab dia belum lagi merebah penuh, masih duduk di tengah pembaringan untuk mengurai gelung rambutnya, sudah kuburu tidak sabaran lagi. Kusosor sebelah susunya, sebelah lagi kuremas-remas gemas, dengan rakus mulutku mengenyot-ngenyot bagian puncaknya, mengisap, mengulum dan menggigit-gigit putingnya.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Ehngg.. Gelli Soon.. Iya, iya, nanti Tante kasih.. Deh.. &#8221; merengek kegelian dia karena serangan mendadakku.<br />
&#8220;Abis gemes sih Tan.. &#8221; sahutku cepat dan kembali lagi menyerbu bagian dadanya.
</p>
<p style="text-align: justify;">Melihat begini Tante Juliet mengurungkan merebahkan badannya, untuk sementara bertahan dalam posisi duduk itu seperti tidak tega menunda ketidaksabaranku. Air mukanya berseri-seri senang, sebelah tangannya membelai-belai sayang kepalaku dan sebelah lagi lurus ke belakang menopang duduknya, ditungguinya aku melampiaskan rinduku masih pada kedua susunya yang montok dan besar itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Seperti anak kecil yang asyik sendiri bermain dengan balonnya, begitu juga aku sibuk mengerjai bergantian kedua daging bulat gemuk itu untuk memuaskan lewat rasa mulut dan remasan gemasku. Sampai berkecapan suara mulut rakusku dan sampai meleyot-leyot terpencet, terangkat-angkat dan jatuh terayun-ayun, membuat Tante Juliet kadang meringis merintih atau merengek mengerang saking kelewat gemas bernafsu aku dengan keasykanku, tapi begitupun dia tidak mencegah kesibukanku itu. Baru setelah dirasanya aku mereda, diapun bersiap-siap untuk memberikan tuntutan kerinduanku yang berikutnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Ini karena dilihatnya aku sudah cukup puas bermain di atas dan sudah ingin berlanjut ke bawah, yaitu sementara mulutku masih tetap sibuk tapi tangan yang sebelah mulai kujulurkan meraba selangkangannya, segera Tante Juliet pun merubah posisi untuk memberi keleluasaan bagiku. Tubuhnya direbahkan ke belakang sambil meluruskan kedua kakinya yang duduk terlipat menjepit selangkangannya, langsung dibukanya sekali agar aku bisa mencapai vaginanya. Mulutku masih terus mengejar menempel di sebelah susunya tapi tanganku sekarang sudah bisa memegang penuh bukit vaginanya. Bukit daging tebal setangkup tanganku yang ditumbuhi bulu-bulu keriting halus ini langsung kuremas-remas gemas, darah kelelakianku pun tambah mengalir deras.</p>
<p style="text-align: justify;">Keasyikan yang baru menarik perhatian baru juga, berpindah dulu aku ke tengah selangkangannya yang kudesak agar lebih mengangkang sebelum kutarik kepalaku dari susunya. Tante mengira aku sudah akan mulai memasukinya, dia sempat menyambar batangku yang sudah tegang dan melocok-locok dengan tangannya sebentar. Seperti ingin lebih mengencangkan lagi tapi ada terasa bahwa dia juga merindukan batangku, bisa terbaca dari remasan gemasnya yang menarik-narik penisku.</p>
<p style="text-align: justify;">Begitu posisiku terasa pas, aku pun memindahkan mulutku turun menggeser ke bawah dengan cara menciumi lewat perutnya sampai kemudian tiba di atas vaginanya yang terkangkang. Di sini konsentrasiku terpusat dengan mengusap-usap dan memperhatikan dulu bentuk vaginanya. Ini untuk pertama kali aku mendapat kesempatan melihat jelas kemaluannya yang sudah pernah tiga kali kumasuki, tapi karena waktunya sempit tidak sempat kulihat dengan nyata.</p>
<p style="text-align: justify;">Betul-betul suatu pemandangan yang merangsang sekali. Bukit segitiga yang menjendul dengan dagingnya yang tebal itu ditumbuhi bulu-bulu yang begitu lebat, tidak cukup menutupi bagian celah lubang yang diapit pipi kanan kirinya. Tepi bukit itu persis seperti pipi bayi yang montok menggembung, saking tebalnya sehingga menjepit bibir vagina hanya terkuak sedikit meskipun pahanya sudah kukangkangkan lebar-lebar. Penasaran kukuakkan bibir vaginanya dengan jari-jariku untuk melihat lebih ke dalam, tapi belum lagi jelas, Tante Juliet sudah menegurku dengan muka malu-malu merengek geli.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Ahahngg.. Sony mau ngeliat apa di dalem situ sih Son..?&#8221; katanya sambil meringis.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku tidak menyahut tapi sebelum dia berubah pikiran untuk mencegahku, langsung saja kusosorkan mulutku ke tengah lubang yang baru kukuakkan itu.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Ssshh Sonyy.. Ahh.. Ammpuunn.. Sonn!&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Betul juga. Tante Juliet menjerit malu, tangannya refleks ingin menolak kepalaku tapi sudah terlambat. Sebab begitu menempel sudah cepat kusambung dengan menjilat dan menyedot-nyedot tengah lubangnya. Adu ngotot berlangsung hanya sesaat karena Tante kemudian menyerah, menganga dengan wajah tegang dia ketika geli-geli enak permainan mulutku mulai menyengat dia.</p>
<p style="text-align: justify;">Untuk berikutnya aku sendiri mulai meresap enaknya mengisap vagina montok yang baru pertama kudapat darinya. Lagi-lagi ada keasyikkan tersendiri, karena tidak seperti dengan milik cewek lain yang pernah tidur denganku, umumnya celah lubang mereka terasa kecil karena tepi kanan kirinya tidak setebal ini. Milik Tante Juliet justru penampilannya kelihatan sempit tapi kalau dikuakan malah jadi merekah lebar dan dalam. Disosor mulutku yang mengisap rakus, seperti hampir tenggelam wajahku di situ dengan pipiku bertemu pipi vaginanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Di bagian inipun untuk beberapa lama kupuaskan diriku dengan menyedot menjilat-jilat tengah lubangnya, sesekali menyodok-nyodokkan ujung lidah kaku lebih ke dalam, membuatnya mengejang sampai membusung dadanya. Atau juga menggigit-gigit klitoris, menarik-nariknya serta menjilati cepat membuatnya menggelinjang kegelian. Serupa dengan puting susunya, bagian inipun sudah mengeras tanda dia sudah terangsang naik berahinya, tapi Tante Juliet juga tetap membiarkan aku bermain sepuas-puasnya untuk melampiaskan rinduku. Ketika kurasa sudah cukup lama aku mengecap asyik lewat mulutku dan sudah cukup matang dia kubawa terangsang, barulah aku mulai memasukkan penisku ke dalam vaginanya. Di sini baru giliran Tante untuk ikut melampiaskan rindunya kepadaku terasa dari sambutannya yang hangat.</p>
<p style="text-align: justify;">Seperti pengalaman yang kuingat, Tante Juliet bukan type histeris dengan gaya merintih-rintih dan menggeliat-geliat erotis, tapi dalam keadaan saat ini tidak urung meluap juga gejolak rindunya lewat caranya tersendiri kepadaku. Yaitu seiring putaran vagina laparnya menyambut masuknya penisku, tubuhku pun ditarik menindihnya langsung didekapnya erat mengajakku berciuman. Yang ini juga sama hangatnya karena begitu menempel langsung dilumat sepenuh nafsunya. Berikutnya kami yang sama saling merindukan seolah tidak ingin melepaskan dekapan menyatu ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Seluruh permukaan tubuh depan melekat erat dengan bagian atas kedua bibir saling melumat ketat sedang bagian bawah kedua kemaluan pun bergelut hangat. Aku yang memainkan penisku memompa keluar masuk diimbangi vaginanya yang diputar mengocok-ngocok. Ini baru namanya bersetubuh atau menyatukan tubuh kami, karena hampir sepanjang permainan kami melekat seperti itu. Hanya sekali kami menunda sebentar untuk menarik nafas dan kesempatan ini kupakai dengan mengangkat tubuhku dan melihat bagaimana bentuk wanita montok dalam keadaan sedang kusetubuhi ini. Ternyata suatu pemandangan yang mengasyikkan sekaligus makin melonjakkan gairah kejantananku. Di bawah kulihat vaginanya diputar bernafsu, seolah kesenangan mendapat tandingan yang cocok dengannya.</p>
<p style="text-align: justify;">Memperhatikan vagina di bawah itu bagaikan mulut bayi berpipi montok yang kehausan menyedot-nyedot botol susunya sudah menambah rangsangan tersendiri, apalagi melihat keseluruhan goyangan tubuh Tante Juliet. Seluruh daging tubuhnya ikut bergerak teristimewa kedua susunya yang berputaran berayun-ayun tambah menaikkan lagi rangsang kejantananku, sampai aku tidak tahan dan kembali turun menghimpit dia karena sudah terasa akan tiba di saat ejakulasiku. Pada saat yang sama Tante Juliet juga sudah merasa akan tiba di orgasmenya, dia yang mengajak lebih dulu dengan menyambung lumatan bibir tadi untuk menyalurkannya dalam permainan ketat seperti ini.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Hghh ayyo Soon.. Nnghoog.. Hrrhg..&#8221; dengan satu erang tenggorokkan dia membuka orgasmenya disusul olehku hanya selang beberapa detik kemudian.</p>
<p style="text-align: justify;">Kami sama mengejang dan sempat menunda sebentar ketika masuk di puncak permainan, tapi segera berlanjut lagi melumat dengan lebih ketat seolah saling menggigit bibir selama masa orgasme itu. Baru setelah mereda dan berhenti, yang tinggal hanya nafas turun naik kelelahan dan tubuh terasa lemas. Cukup luar biasa, karena meskipun tidak berganti posisi atau gaya tapi permainan terasa nikmat dengan akhir yang memuaskan. Malah seluruh tubuh sudah terasa banjir keringat saking serunya berkonsentrasi dalam melampiaskan kerinduan lama kami. Untuk itu aku begitu melepaskan diri hanya duduk di sebelahnya agar keringat di punggungku tidak membasahi sprei tempat tidur.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Gimana Son rasanya barusan..?&#8221; Tante Juliet mengujiku sambil tangannya mengusap menyeka-nyeka keringat di punggungku. Aku berputar menghadap dia.<br />
&#8220;Makanya Sony tadi ngotot minta, soalnya udah yakin duluan memek montok Tante ini bakal ngasih enak.. &#8221; jawabku dengan meremas mencubit-cubit vaginanya.<br />
&#8220;Udah enak, puas lagi.. Tapi Tante sendiri, gimana rasanya sama Sony?&#8221; balik aku bertanya padanya. Mendapat pujianku air mukanya bersinar senang, ganti dia memujiku.<br />
&#8220;Sama kamu sih nggak usah ditanya lagi, Son. Dulu aja kalau nggak sayangin kamu masih muda sekali, udah mau terus-terusan Tante ngajakin kamu.&#8221;<br />
&#8220;Oya? Kok tadi diajak masih kayak ogah-ogahan?&#8221;<br />
&#8220;Bukan ogah-ogahan, tapi takut ketagihan sama Sony..&#8221; jawabnya bercanda sambil tertawa.<br />
&#8220;Kalau tante mau, Sony mau kok married ama tante..&#8221; kataku.<br />
&#8220;Akh.. Apa Son.. Kamu becanda ya.. Tante kan udah punya suami..&#8221; katanya.<br />
&#8220;Tante nggak usah bohong deh.. Mas Fadli kan nggak bisa normal lagi tante.. Sony tahu kalau Mas Fadli sekarang punya penyakit impoten.. Ya kan tante..&#8221; kataku.<br />
&#8220;Kamu tahu darimana Son.. Tapi tante akui kalau Mas Fadli nggak bisa bikin tante puas..&#8221; katanya sambil menangis.<br />
&#8220;Nah.. Gimana tante suka kan ama Sony.. Selama ini hubungan Sony dengan cewek-cewek lain itu hanya sekedar fun aja kok tan.. Sony sebenarnya cinta ama tante dari pertama pertemuan kita dulu..&#8221; kataku sambil mengecup bibirnya.<br />
&#8220;Son.. Benarkah ucapanmu itu.. Sony benar mencintai tante yang udah tua ini..?&#8221; tanyanya.<br />
&#8220;Ya tante, Sony cinta ama tante dan Sony mau married ama tante..&#8221; kataku sambil meluk tubuh dia.<br />
&#8220;Oh.. Son.. Tante juga suka ama kamu..&#8221; katanya sambil memeluk tubuhku.<br />
&#8220;I Love You Juliet..&#8221; kataku.<br />
&#8220;I Love You too Sony..&#8221; katanya.
</p>
<p style="text-align: justify;">Lalu, kami berpelukan erat dan bahagia menyertai kami berdua.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ceritasex.cn/tetanggaku-nakal-bagian-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tetanggaku Nakal Bagian 1</title>
		<link>http://www.ceritasex.cn/tetanggaku-nakal-bagian-1/</link>
		<comments>http://www.ceritasex.cn/tetanggaku-nakal-bagian-1/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 30 Sep 2009 06:53:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cerita Sex</dc:creator>
				<category><![CDATA[Paruh baya]]></category>
		<category><![CDATA[Sedarah]]></category>
		<category><![CDATA[Tante Girang]]></category>
		<category><![CDATA[selingkuh]]></category>
		<category><![CDATA[anal]]></category>
		<category><![CDATA[brondong manis]]></category>
		<category><![CDATA[cuki]]></category>
		<category><![CDATA[kontol]]></category>
		<category><![CDATA[laso]]></category>
		<category><![CDATA[memek]]></category>
		<category><![CDATA[ml]]></category>
		<category><![CDATA[ngentot]]></category>
		<category><![CDATA[peret]]></category>
		<category><![CDATA[seks]]></category>
		<category><![CDATA[susu]]></category>
		<category><![CDATA[tante]]></category>
		<category><![CDATA[tante juliet]]></category>
		<category><![CDATA[toket]]></category>
		<category><![CDATA[vagina]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ceritasex.cn/?p=878</guid>
		<description><![CDATA[Suatu ketika rumahnya sedang kosong cuma tinggal Tante Juliet bertiga dengan anak asuhnya yang masih berumur 3 tahun dan pembantunya. Tante Juliet meneleponku untuk meminta tolong membetulkan kran kamar mandinya. Tentu saja kupenuhi karena aku baginya sudah dianggap seperti keluarga di rumahnya dengan sendirinya cepat saja kupenuhi permintaan itu. Aku datang dengan segera tapi kran [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Suatu ketika rumahnya sedang kosong cuma tinggal Tante Juliet bertiga dengan anak asuhnya yang masih berumur 3 tahun dan pembantunya. Tante Juliet meneleponku untuk meminta tolong membetulkan kran kamar mandinya. Tentu saja kupenuhi karena aku baginya sudah dianggap seperti keluarga di rumahnya dengan sendirinya cepat saja kupenuhi permintaan itu. Aku datang dengan segera tapi kran rusak ternyata hanya alasan saja melainkan diminta untuk menemani sambil membantu memijiti kakinya yang katanya sedang kram. Di ruang tengah Tante waktu itu duduk di sofa panjang sedang menonton acara telenovela di televisi.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Abis kalo nggak pake alesan betulin keran nanti nggak enak didengar keluargamu. Sini dong Son, Sony bisa bantuin mijetin kaki Tante, nggak? kaki Tante agak keram sedikit..&#8221; begitu katanya menyambutku dan langsung meminta bantuanku.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku mengangguk dan mendekat berlutut di depannya akan mulai memijit sebelah kakinya di bagian bawah tapi rupanya bukan di situ. &#8220;Oo bukan di situ Son.. Di sini, di selangkangan ini. Nggak apa ya Tante begini, nggak usah kikuk, Sony kan udah kayak anak Tante sendiri. &#8221; katanya sambil menyingkap roknya ke atas menunjukkan daerah yang harus kupijit yaitu di selangkangan pahanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Tidak tanggung-tanggung, rok itu disingkap sampai di atas celana dalamnya sehingga mau tak mau terpandang juga gundukan vaginanya menerawang dari balik kain tipis celana dalamnya itu. Tentu saja, biarpun sudah dipesan lebih dulu agar aku tidak usah kikuk-kikuk, tidak urung mukaku langsung berubah merah malu dengan pemandangan yang seronok ini. Tante seperti tidak mengerti apa yang kurasakan, dia menyuruh aku mendekat masuk di tengah selangkangannya dan mengambil kedua tanganku, meletakan di masing-masing paha atasnya persis di tepi gundukan bukit vaginanya. Dia minta bagian yang katanya sering pegal itu kutekan pelan-pelan dan waktu kumulai agak bergetaran juga tanganku mengerjainya sementara Tante Juliet memejamkan matanya pura-pura menikmati pijitanku. Padahal sungguh, aku sama sekali tidak tahu bahwa aku sedang diperangkap olehnya.<br />
<span id="more-878"></span><br />
&#8220;Iya di situ sering pegel Son, tapi ntar dulu.. Kurang pas yang itu, Tante naikin kaki dulu.. Ya.. &#8220;katanya. Berikutnya dengan alasan kurang puas Tante menaikan kedua telapaknya ke atas tepi sofa di mana dia sekarang minta aku memijit lebih ke dalam lagi sehingga boleh dibilang aku hanya memijit-mijit otot seputar kemaluannya saja. Pikiranku mulai terganggu karena bagaimanapun meremas-remas tepi bukit yang sedang terkangkang menganga ini mau tidak mau membuat nafasku memburu juga. Maklum, meskipun masih remaja tapi aku sudah kenal tidur dengan perempuan sehingga jelas mengenal rasa yang bisa diberikan bukit menggembung di depanku. Apalagi dalam pemandangan yang merangsang seperti ini. Nah, di tengah-tengah kecamuk lamunan seperti ini Tante semakin jauh menggodaku.
</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Ngomong-ngomong Sony udah pernah maen ama cewek, belum?&#8221; katanya agak genit. &#8220;Ngg.. Maen cewek maksud Tante pacaran?&#8221; kataku balik bertanya pura-pura tidak mengerti. &#8220;Maksudnya tidur sama cewek, ngerasain ininya,&#8221; katanya sambil menunjuk vaginanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Ditanya begini wajahku merah lagi, jadi gugup aku menjawab, &#8220;Ngmm.. Belum pernah Tan..&#8221; jawabku berbohong. Mungkin aku salah menjawab begini karena kesempatan ini justru dipakai tante makin menggodaku.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Ah masak sih, coba Tante pegang dulu..&#8221; begitu selesai bicara dia sudah menarikku lebih dekat lagi dengan menjulurkan kedua tangannya, satu dipakai untuk menggantol di leherku menahan tubuhnya tegak dari sandaran sofa, satu lagi dipakai untuk meraba jendulan penisku.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Tante pengen tau kalo bangunnya cepet berarti betul belum pernah..&#8221; lanjutnya lagi. Entah artinya yang sengaja dibolak-balik atau memang ini bagian dari kelihaiannya membujukku, namanya aku masih berdarah muda biarpun sudah terbiasa menghadapi perempuan tapi dirangsang dalam suasana begini tentu saja cepat batangku naik mengeras. Kalau sudah sampai di sini sudah lebih gampang lagi buat dia.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Wihh, memang cepet bener bangunnya.. Tapi coba Son, Tante kok jadi penasaran kayaknya ada yang aneh punyamu..&#8221; katanya tanpa menunggu persetujuanku dia sudah langsung bekerja membuka celanaku membebaskan penisku. Aku sulit menolak karena kupikir dia betul-betul sekedar penasaran ingin melihat keluarbiasaan penisku. Memang, waktu batangku terbuka bebas matanya setengah heran setengah kagum melihat ukuran penisku.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Buukan maen Sonyy.. Keras banget punyamu..&#8221; katanya memuji kagum tapi justru melihat yang begini makin memburu niatnya ingin cepat menjeratku.&#8221;Tapi masak sih yang begini belum pernah dipake ke cewek. Kalo gitu sini Tante kenalin rasa sedikit, deket lagi biar bisa Tante tempelin di sini..&#8221; lanjutnya, lagi-lagi tanpa menunggu komentarku dia memegang batangku dan menarikku lebih merapat kepadanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Apa yang dimaksudkannya adalah dengan sebelah tangan bekerja cepat sekedar menyingkap sebelah kaki celana dalamnya membebaskan vaginanya, lalu sebelah lagi membawa penisku menempelkan kepala batangku di mulut lubang vaginanya. Di situ digosok-gosokannya ujung penisku di celah liangnya beberapa saat dulu baru kemudian menguji perasaanku.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Gimana, enak nggak digosok-gosokin gini?&#8221; katanya tambah super genit. Tentu, jangan bilang lagi kalau sudah begini aku yang sudah tegang dengan sinar mata redup sudah sulit untuk melepaskan diri, berat rasanya menolak kesempatan seperti ini. Aku cuma mengiyakan dengan mengangguk dan Tante Juliet meningkat lebih jauh lagi.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Kalo gitu Sony yang nyoba sendiri biar bisa tahu gimana rasanya, tapi tunggu Tante buka aja sekalian supaya nggak ngalangin..&#8221; lanjutnya dengan cepat melepas celana dalamnya untuk kemudian kembali lagi pada posisi mengangkangnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Menggosok-gosokan sendiri ujung kepala penisku di mulut lubang vaginanya yang menganga tambah membuatku semakin tegang dalam nafsu, tapi untuk menyesapkan masuk ke dalam aku masih tidak berani sebelum mendapat ijinnya. Padahal itu justru yang diinginkan tante hanya saja mengira aku benar-benar masih hijau dia masih memakai siasat halus untuk menyeretku masuk.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Ahh.. Kedaleman gosokinnya..&#8221; katanya menjerit geli memaksudkan aku agak terlalu menusuk. Padahal rasanya aku masih mengikuti sesuai anjurannya, tapi ini memang akal dia untuk masuk di siasat berikut, &#8220;Tapi gini, supaya nggak keset sini Tante basahin dulu punyamu. &#8221; katanya mengajak aku bangun berdiri.</p>
<p style="text-align: justify;">Kali ini apa yang dimaksudkannya adalah dia langsung mengambil penisku dan mulai menjilati seputar batangku, sambil sesekali mengulum kepalanya. Kalau sudah sampai di sini rasanya aku bisa menebak ke mana kelanjutannya. Dan memang, ketika dirasanya batangku sudah cukup basah licin dia pun menarik lagi tubuhku berlutut dan kembali memasang vaginanya siap untuk kumasuki. Dalam keadaan seperti itu aku betul-betul sudah buntu pikiranku, terlupa bahwa dia adalah istri dari Mas Fadli-kakak angkatku. Rangsangan nafsu sudah menuntut kelelakianku untuk tersalurkan lewat dia.</p>
<p style="text-align: justify;">Sehingga sekalipun Tante Juliet tidak lagi menyuruh dengan kata-katanya, aku sudah tahu apa yang akan kulakukan. Ujung penis mulai kusesapkan di lubang vaginanya segera kuikuti dengan gerakan membor untuk menusuk lebih dalam. Tante sendiri meskipun mimik mukanya agak tegang, dia ikut membantu dengan jari-jari tangannya lebih menguakkan bibir vaginanya menjadi semakin menganga, untuk lebih memudahkan usaha masuk batangku. Tapi baru saja terjepit setengah, tiba-tiba Jul anak asuhnya datang mengganggu konsentrasi teristimewa bagi Tante Juliet. Si kecil yang belum mengerti apa-apa ini naik ke sofa langsung menunggangi perut Tante seolah-olah ingin ikut bergabung dengan kami.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Nanti dulu Dek, Mama lagi dicuntik Mas Sony.. Adek maen dulu sana, ya?&#8221; agak kerepotan Tante membujuk SonJul untuk menyingkir dan kembali bermain, sementara aku sendiri tetap sibuk membor dan menggesek keluar masuk penisku untuk menanam sisa batang yang masih belum masuk. Di atas dia repot meredam kelincahan SonJul, sedang di bawah dia juga repot menyambut batangku. Sesekali merintih memintaku jangan terlalu kuat menyodokkan penisku.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Aashh.. Sonn.. Pelan Son.. Memek mama sakit.. Jangan dicuntik keras-kerass..&#8221; erangnya. Untung berhasil Tante Juliet membujuk SonJul tepat pada saat seluruh batangku habis terbenam. Lega wajahnya ketika SonJul sudah mau turun kembali bermain.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Naa, sekarang Mama Adek mau maen sama Mas Sony dulu, ya? Ayo Mas Son.. Pindah ke bawah dulu, Mama Adek juga pengen ikutan ngerasain enaknya.. &#8221; Tanpa melepas kemaluan masing-masing kami pun berpindah ke karpet, Tante Juliet yang di bagian bawah. Di situ begitu posisi terasa pas kami segera menikmati asyik gelut kedua kemaluan denganku memompa dan Tante Juliet mengocok vaginanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Nikmat sanggama mulai meresap dan meskipun di tengah-tengah asyik itu SonJul juga sering datang mengganggu, tapi kami sudah tidak peduli karena masing-masing sedang berpacu menuju puncak kepuasan. Dan ini ternyata bisa tercapai secara bersamaan. Agak terganggu dengan adanya SonJul lagipula suasana kurang begitu bebas, tapi toh cukup memuaskan akhir permainan itu bagi kami berdua. Kelanjutan hubungan kami memang sulit mencari kesempatan yang lowong seperti itu lagi. Setelah yang pertama ini masih sempat dua kali kami melakukan hubungan badan tapi kemudian terputus.</p>
<p style="text-align: justify;">Ada satu keasyikan tersendiri yang kurasakan jika sedang bercinta dengan Tante Juliet yang bertubuh montok ini. Enak rasanya bergelut dengan daging tebalnya, seperti menari-nari di atas kasur empuk berbantalkan susunya yang juga montok dan besar itu. Rasanya dalam sejarah percintaanku dengan para wanita yang kesemuanya cantik-cantik lagi berlekak-lekuk padat menggiurkan, maka cuma dengan dia satu-satunya yang berbeda. Tapi, inilah yang kusebut asyik tadi. Aku sama sekali tidak merasa menyesal dan justru selalu merindukan untuk mengulang kenangan bersama dia, hanya saja kesempatan sudah sulit sekali untuk didapat.</p>
<p style="text-align: justify;">Kesempatan kali keempat kudapat tiga tahun setelah itu yaitu ketika aku diminta mengantar Tante Juliet untuk menghadiri upacara perkawinan seorang keluarga mereka di Las Vegas. Waktu itu rencananya aku hanya mengantar saja dan setelah acara selesai akan pulang langsung ke LA ke tempat kuliahku, tapi rupanya Tante Juliet berubah pikiran ingin pulang menumpang lagi denganku. Mau tak mau aku pun berputar melewati Washington, DC untuk mengantarkan Tante Juliet ke rumahnya dulu sebelum ke LA. Tante memang rupanya tidak ingin berlama-lama dalam kunjungannya, itu sebabnya SonJul tidak diajak serta dan ditinggal bersama pembantu serta suaminya di rumah.</p>
<p style="text-align: justify;">Begitu, dalam perjalanan yang cuma kami berdua di mobil kami pun ngobrol dengan akrab, dengan Tante Juliet yang lebih banyak bertanya-tanya tentang keadaanku sementara aku sendiri sibuk mengemudi. Sampai kemudian menyinggung tentang kegiatan seksku, Tante Juliet memang bisa menduga bahwa aku tentu sudah banyak pengalaman galang-gulung dengan perempuan.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Ngomong-ngomong soal kita dulu kalo sekarang Sony udah kenal banyak cewek cakep pasti kamu nyesel kenapa bikin gitu sama Tante waktu hari itu, ya nggak Son?&#8221; &#8220;Nyesel sih enggak Tan, gimanapun kan Tante yang pertama kali ngenalin rasa sama Sony. Apalagi Sony juga punya kenangan manis dari Tante..&#8221; jawabku menyinggung hubungan intimku waktu itu dengannya.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Tapi itu kan duluu.. Sekarang dibanding-bandingin sama kenalan-kenalanmu yang lebih muda pasti kamu mikir-mikir lagi, kok mau-maunya aku sama Tante model gitu. Itupun waktu dulu, sekarang apalagi.. Tambah nggak nafsu liatnya, ya nggak?&#8221; Aku langsung menoleh dengan tidak enak hati. &#8220;Jangan bilang gitu Tan, Sony nggak pernah nyesel soal yang dulu. Malah kalo masih boleh dikasih sih sekarang pun Sony juga masih mau kok.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Jangan menghibur, ngeliat apanya sama Tante kok berani bilang gitu?&#8221; &#8220;Lho kenyataan dong.. Tante emang sekarang gemukan tapi manisnya nggak kurang. Malah tambah ngerangsang deh..&#8221; jawabku memuji apa adanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Karena memang, sekalipun dia sekarang terlihat lebih gemuk dibanding dulu tapi wajahnya masih tetap terlihat manis. &#8220;Ngerangsang apanya Son?&#8221; tanyanya penasaran. &#8220;Ya ngerangsang pengen dikasih kayak dulu lagi. Soalnya tambah montok kan tambah enak rasanya.&#8221; jawabku dengan membuktikan langsung meraba-raba buah dadanya yang besar itu, Tante Juliet langsung menggelinjang kegelian.<br />
&#8220;Aaa.. Kamu emang pinter ngerayu, bikin orang jadi ngira beneran aja.&#8221; katanya mencandaiku.
</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Lho Sony serius kok, kalo masih kepengen ngulang sama Tante. Makanya tadi Sony nanya, kalo emang masih boleh dikasih sekarang juga Sony belokin nyari hotel, nih?&#8221; Lagi-lagi dia tertawa geli mendengar candaku. &#8220;Yang bilang nggak boleh siapa. Tapi dikasiHPun kamu pasti nggak selera lagi, kan percuma.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Ya udah, kalo nggak percaya.. Tapi ngomong-ngomong sebentar lagi udah gelap, Sony lupa kalo lampu mobil kemaren mati sebelah belum sempat diganti. Gimana kalo kita nyari hotel aja Tan, besok baru terusin lagi.&#8221; kataku mengajukan usul karena kebetulan memang lampu mobilku padam sebelah. Sebetulnya ada cadangan tapi ini kupakai alasan untuk mengajaknya menginap. &#8220;Duh kamu kok sembrono sih Son.. Ayo cari penginepan aja kalo gitu, dipaksa nerusin nanti malah bahaya di jalan..&#8221;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ceritasex.cn/tetanggaku-nakal-bagian-1/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Yuli Namaku</title>
		<link>http://www.ceritasex.cn/yuli-namaku/</link>
		<comments>http://www.ceritasex.cn/yuli-namaku/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 30 Sep 2009 06:14:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cerita Sex</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sedarah]]></category>
		<category><![CDATA[Seks Umum]]></category>
		<category><![CDATA[Tante Girang]]></category>
		<category><![CDATA[bugil]]></category>
		<category><![CDATA[cuki]]></category>
		<category><![CDATA[ml]]></category>
		<category><![CDATA[ngentot]]></category>
		<category><![CDATA[perek]]></category>
		<category><![CDATA[seks]]></category>
		<category><![CDATA[tante enak]]></category>
		<category><![CDATA[tante yuli]]></category>
		<category><![CDATA[yuli]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ceritasex.cn/?p=856</guid>
		<description><![CDATA[Yuli, 29 tahun, adalah seorang ibu rumah tangga dengan 2 orang anak 3 dan 5 tahun. Suaminya, Herman, 36 tahun, adalah karyawan dari salah satu perusahaan swasta besar di Bandung. Perawakan Yuli sebetulnya biasa saja seperti kebanyakan. Yang membuatnya menarik adalah bentuk tubuhnya yang sangat terawat. Buah dadanya tidak terlalu besar, tapi enak untuk dipandang, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Yuli, 29 tahun, adalah seorang ibu rumah tangga dengan 2 orang anak 3 dan 5 tahun. Suaminya, Herman, 36 tahun, adalah karyawan dari salah satu perusahaan swasta besar di Bandung. Perawakan Yuli sebetulnya biasa saja seperti kebanyakan. Yang membuatnya menarik adalah bentuk tubuhnya yang sangat terawat. Buah dadanya tidak terlalu besar, tapi enak untuk dipandang, sesuai dengan pinggangnya yang ramping dan pinggulnya yang bulat.</p>
<p style="text-align: justify;">Kehidupan rumah tangga mereka sangat harmonis. Dengan 2 anak yang sedang lucu-lucunya, ditambah dengan posisi Herman yang cukup tinggi di perusahaannya, membuat mereka menjadi keluarga yang cukup di hormati di lingkungan kompleks mereka tinggal. Yuli pada dasarnya adalah istri yang sangat setia kepada suaminya. Tidak pernah ada niat berkhianat terhadap Herman dalam hati Yuli karena dia sangat mencintai suaminya. Tapi ada satu peristiwa yang menjadi awal berubahnya cara berpikir Yuli tentang cinta..</p>
<p style="text-align: justify;">Suatu siang, Yuli sedang mengasuh anaknya di depan rumah. Dikarenakan kedua anaknya waktu itu berlari jauh dari rumah, maka Yuli langsung mengejar mereka. Tapi tanpa disengaja, kakinya menginjak sesuatu sampai akhirnya Yuli terjatuh. Lututnya memar, agak mengeluarkan darah. Yuli langsung berjongkok dan meringis menahan sakit. Pada waktu itu, Darmawan, anak tetangga depan rumah Yuli kebetulan lewat mau pulang ke rumahnya. Ketika melihat Yuli sedang jongkok sambil meringis memegang lututnya, Darmawan langsung lari ke arah Yuli.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Kenapa tante?&#8221; tanya Darmawan.<br />
&#8220;Aduh, lutut saya luka karena jatuh, Wan&#8230;&#8221; ujar Yuli sambil meringis.<br />
&#8220;Bantu saya berdiri, Wan&#8230;&#8221; kata Yuli.<br />
&#8220;Iya tante,&#8221; kata Darmawan sambil memegang tangan Yuli dan dibimbingnya bediri.<br />
&#8220;Wan, tolong bawa anak-anak saya kemari.. Anterin ke rumah saya, ya&#8230;&#8221; kata Yuli.<br />
&#8220;Iya tante,&#8221; kata Darmawan sambil segera menghampiri anak-anak Yuli.</p>
<p style="text-align: justify;">Sementara Yuli segera pulang ke rumahnya sambil tertatih-tatih. Waktu Darmawan mengantarkan anak-anak Yuli ke rumahnya, Yuli sedang duduk di kursi depan sambil memegangi lututnya.<br />
<span id="more-856"></span><br />
&#8220;Ada obat merah tidak, tante?&#8221; tanya Darmawan.<br />
&#8220;Ada di dalam, Wan,&#8221; kata Yuli.<br />
&#8220;Kita ke dalam saja&#8230;&#8221; kata Yuli lagi sambil bangkit dan tertatih-tatih masuk ke dalam rumah.
</p>
<p style="text-align: justify;">Darmawan dan anak-anaknya mengikuti dari belakang.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Ma, Donny ngantuk,&#8221; kata anaknya kepada Yuli.<br />
&#8220;Tunggu sebentar ya, Wan. Saya mau antar mereka dulu ke kamar. Sudah waktunya anak-anak tidur siang,&#8221; kata Yuli sambil bangkit dan tertatih-tatih mengantar anak-anaknya ke kamar tidur.
</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah mengantar mereka tidur, Yuli kembali ke tengah rumah.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Mana obat merahnya, tante?&#8221; tanya Darmawan.<br />
&#8220;Di atas sana, Wan&#8230;&#8221; kata Yuli sambil menunjuk kotak obat.
</p>
<p style="text-align: justify;">Darmawan segera bangkit dan menuju kotak obat untuk mengambil obat merah dan kapas. Tak lama Darmawan segera kembali dan mulai mengobati lutut Yuli.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Maaf ya, tante.. Saya lancang,&#8221; kata Darmawan.<br />
&#8220;Tidak apa-apa kok, Wan. Tante senang ada yang menolong,&#8221; kata Yuli sambil tersenyum.
</p>
<p style="text-align: justify;">Darmawan mulai memegang lutut Yuli dan mulai memberikan obat merah pada lukanya.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Aduh, perih&#8230;&#8221; kata Yuli sambil agak menggerakkan lututnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Secara bersamaan rok Yuli agak tersingkap sehingga sebagian paha mulusnya nampak di depan mata Darmawan. Darmawan terkesiap melihatnya. Tapi Darmawan pura-pura tak melihatnya. Tapi tetap saja paha mulus yuli menggoda mata Darmawan untuk melirik walau kadang-kadang. Hati Darmawan agak berdebar.. Biasanya dia hanya bisa melihat dari kejauhan saja lekuk-lekuk tubuh Yuli. Atau kadang-kadang hanya kebetulan saja melihat Yuli memakai celana pendek.</p>
<p style="text-align: justify;">Darmawan biasanya hanya bisa membayangkan saja tubuh Yuli sambil onani. Tapi kini, di depan mata sendiri, paha mulus Yuli sangat jelas terlihat. Yuli sepertinya sadar kalau mata Darmawan sesekali melirik ke arah pahanya. Segera Yuli merapikan duduknya dan juga menutup pahanya. Darmawanpun sepertinya terkesima dengan sikap Yuli tersebut. Darmawan menjadi malu sendiri..</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Sudah saya berikan obat merah, tante&#8230;&#8221; kata Darmawan.<br />
&#8220;Iya, terima kasih,&#8221; kata Yuli sambil tersenyum.<br />
&#8220;Sekarang sudah mulai tidak terasa sakit lagi,&#8221; ujar Yuli lagi sambil tetap tersenyum.
</p>
<p style="text-align: justify;">Darmawan, 16 tahun, adalah anak tetangga depan rumah Yuli. Masih duduk di bangku SMP kelas 3. Seperti kebanyakan anak laki-laki tanggung lainnya, Darmawan adalah sosok anak laki-laki yang sudah mulai mengalami masa puber.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Kenapa kamu nunduk terus, Wan?&#8221; tanya Yuli.<br />
&#8220;Tidak apa-apa, tante&#8230;&#8221; ujar Darmawan sambil sekilas menatap mata Yuli lalu menunduk lagi sambil tersenyum malu.<br />
&#8220;Ayo, ada apa?&#8221; tanya Yuli lagi sambil tersenyum.<br />
&#8220;Anu, tante.. Maaf, mungkin tadi sempat marah karena tadi saya sempat melihat secara tidak sengaja&#8230;&#8221; kata Darmawan sambil tetap menunduk.<br />
&#8220;Lihat apa?&#8221; tanya Yuli pura-pura tidak mengerti.<br />
&#8220;Lihat.. Mm.. Lihat ini tante,&#8221; kata Darmawan sambil tangannya mengusap-ngusap pahanya sendiri. Yuli tersenyum mendengarnya.<br />
&#8220;Tidak apa-apa kok, Wan,&#8221; kata Yuli.<br />
&#8220;Kan hanya melihat.. Bukan memegang,&#8221; kata Yuli lagi sambil tetap tersenyum.<br />
&#8220;Lagian, saya tidak keberatan kok kamu melihat paha tante tadi,&#8221; kata Yuli lagi sambil tetap tersenyum.<br />
&#8220;Kamu kan tadi sedang menolong saya memberikan obat,&#8221; kata Yuli.<br />
&#8220;Benar tante tidak marah?&#8221; tanya Darmawan sambil menatap Yuli.
</p>
<p style="text-align: justify;">Yuli menggelengkan kepalanya sambil tetap tersenyum. Darmawanpun jadi ikut tersenyum.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Tante sangat cantik kalau tersenyum,&#8221; kata Darmawan mulai berani.<br />
&#8220;Ihh, kamu tuh masih kecil sudah pintar merayu&#8230;&#8221; kata Yuli.<br />
&#8220;Saya berkata jujur loh, tante,&#8221; kata Darmawan lagi.<br />
&#8220;Kamu sudah makan, Wan?&#8221; tanya Yuli.<br />
&#8220;Belum tante. Saya pulang dari rumah teman tadi belum makan,&#8221; kata Darmawan.<br />
&#8220;Makan disini saja, ya.. Temani saya makan siang,&#8221; ajak Yuli.<br />
&#8220;Baik tante, terima kasih,&#8221; kata Darmawan.
</p>
<p style="text-align: justify;">Mereka menikmati makan siang di meja makan bulat kecil. Ketika sedang menikmati makan, tanpa sengaja kaki Darmawan menyentuk kaki Yuli. Darmawan kaget, lalu segera menarik kakinya.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Maaf tante, saya tidak sengaja,&#8221; kata Darmawan.<br />
&#8220;Tidak apa-apa kok, Wan&#8230;&#8221; kata Yuli sambil matanya nenatap Darmawan dengan pandangan yang berbeda.
</p>
<p style="text-align: justify;">Ketika kaki Darmawan menyentuh kakinya, seperti terasa ada sesuatu yang berdesir dari kaki yang tersentuh sampai ke hati. Yuli merasakan sesuatu yang lain akan kejadian tak sengaja itu.. Tiba-tiba Yuli merasakan ada sesuatu keinginan tertentu muncul yang membuat perasaannya tidak menentu. Sentuhan kaki Darmawan terasa begitu hangat dan membangkitkan suatu perasaan aneh..</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Kamu sudah punya pacar, Wan?&#8221; tanya Yuli sambil menatap Darmawan.<br />
&#8220;Belum tante,&#8221; kata Darmawan sambil tersenyum.<br />
&#8220;Lagian saya tidak tahu caranya mendapatkan perempuan,&#8221; ujar Darmawan lagi sambil tetap tersenyum. Yulipun ikut tersenyum.<br />
&#8220;Pernah tidak kamu punya keinginan tertentu terhadap perempuan?&#8221; tanya Yuli lagi.<br />
&#8220;Keinginan apa tante?&#8221; tanya Darmawan. Yuli tersenyum.<br />
&#8220;Kita habiskan dulu makannya. Nanti kita bicara&#8230;&#8221; kata Yuli.
</p>
<p style="text-align: justify;">Selesai makan, mereka duduk-duduk di ruang tengah.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Kamu ada sesuatu yang harus diselesaikan di rumah tidak saat ini?&#8221; tanya Yuli.<br />
&#8220;Tidak ada, tante,&#8221; kata Darmawan.<br />
&#8220;Tadi tante mau tanya apa?&#8221; kata Darmawan penasaran.<br />
&#8220;Begini, apakah kamu suka kepada wanita tertentu? Maksud saya suka kepada tubuh wanita?&#8221; tanya Yuli.<br />
&#8220;Kita bicara jujur saja, ya.. Saya tidak akan bicara pada siapa-siapa kok,&#8221; kata Yuli lagi.<br />
&#8220;Kamu juga mau kan jaga rahasia pembicaraan kita?&#8221; kata Yuli lagi.<br />
&#8220;Iya, tante,&#8221; kata Darmawan.<br />
&#8220;Kalau begitu jawablah pertanyaan tante tadi&#8230;&#8221; kata Yuli sambil tersenyum.<br />
&#8220;Ya, saya suka melihat perempuan yang tubuhnya bagus. Saya juga suka tante karena tante cantik dan tubuhnya bagus,&#8221; kata Darmawan tanpa ragu.<br />
&#8220;Maksudnya tubuh bagus apa,&#8221; tanya Yuli lagi. Darmawan agak ragu untuk menjawab.<br />
&#8220;Ayolah&#8230;&#8221; kata Yuli sambil memegang tangan Darmawan. Tangan Darmawan bergetar.. Yuli tersenyum.<br />
&#8220;Mm.. Saya pernah.. Pernah lihat majalah Playboy, juga.. Juga.. Juga saya pernah lihat VCD porno.. Mm.. Mm.. Saya lihat banyak perempuan tubuhnya bagus&#8230;&#8221; kata Darmawan dengan nafas tersendat.<br />
&#8220;Oh, ya? Di VCD itu kamu lihat apa saja,&#8221; kata Yuli pura-pura tidak tahu, sambil terus menggenggam tangan Darmawan yang terus gemetar.<br />
&#8220;Mm.. Lihat orang sedang begituan&#8230;&#8221; kata Darmawan.<br />
&#8220;Begituan apa?&#8221; tanya Yuli lagi.<br />
&#8220;Ya, lihat orang sedang bersetubuh&#8230;&#8221; kata Darmawan.
</p>
<p style="text-align: justify;">Yuli kembali tersenyum, tapi dengan nafas yang agak memburu menahan sesuatu di dadanya.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Kamu suka tidak film begitu?&#8221; tanya Yuli.<br />
&#8220;Iya suka, tante?&#8221; kata Darmawan sambil menunduk.<br />
&#8220;Mau coba seperti di film, tidak?&#8221; kata Yuli.
</p>
<p style="text-align: justify;">Darmawan diam sambil tetap menunduk. Tangannya makin gemetar. Yuli mendekatkan tubuhnya ke tubuh Darmawan. Wajahnya di dekatkan ke wajah Darmawan.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Mau tidak?&#8221; tanya Yuli setengah berbisik.</p>
<p style="text-align: justify;">Darmawan tetap diam dan gemetar. Wajahnya agak tertunduk. Yuli membelai pipi anak tanggung tersebut. Lalu diciumnya pipi Darmawan. Darmawan tetap diam dan makin gemetar. Yuli terus menciumi wajah Darmawan, lalu akhirnya dilumatnya bibir Darmawan.. Lama-lama Darmawanpun mulai terangsang nafsunya. Dengan pasti dibalasnya ciuman Yuli.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Masukkan tangan kamu ke sini&#8230;&#8221; kata Yuli dengan nafas memburu sambil memegang tangan Darmawan dan mengarahkannya ke dalam baju Yuli.<br />
&#8220;Masukkan tangan kamu ke dalam BH saya, Wan.. Pegang buah dada saya,&#8221; kata Yuli sambil tangannya meremas ****** Darmawan dari luar celana.
</p>
<p style="text-align: justify;">Sementara tangan Darmawan sudah masuk ke dalam BH Yuli dan mulai meremas-remas buah dada Yuli.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Mmhh.. Terus sayang&#8230;&#8221; kata Yuli.<br />
&#8220;Tangan saya pegal, tante&#8230;&#8221; kata Darmawan polos.<br />
&#8220;Uhh.. Kita pindah ke kamar, yuk&#8230;&#8221; ajak Yuli sambil menarik tangan Darmawan. Sesampainya di dalam kamar..<br />
&#8220;Buka pakaian kamu, Wan&#8230;&#8221; ujar Yulipun melepas seluruh pakaiannya sendiri.<br />
&#8220;Iya, tante&#8230;&#8221; kata Darmawan.
</p>
<p style="text-align: justify;">Yuli setelah melepas seluruh pakaiannya, segera naik dan telentang di tempat tidur. Darmawan terkesima melihat tubuh telanjang Yuli. Seumur-umur Darmawan, baru kali ini dia melihat tubuh telanjang wanita di depan mata. Apalagi wanita tersebut adalah wanita yang sering di bayangkannya bila onani. ****** Darmawan langsung tegang dan tegak..</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Naik sini, Wan&#8230;&#8221; kata Yuli.<br />
&#8220;Iya, tante&#8230;&#8221; kata Darmawan.<br />
&#8220;Sini naik ke atas tubuh saya&#8230;&#8221; kata Yuli sambil mengangkangkan pahanya.
</p>
<p style="text-align: justify;">Darmawan segera menaiki tubuh telanjang Yuli. Yuli langsung melumat bibir Darmawan dan Darmawanpun langsung membalasnyanya dengan hebat. Sementara satu tangan Darmawan meremas buah dada Yuli yang tidak terlalu besar. Sementara ****** Darmawan sesekali mengenai belahan memek Yuli.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Ohh.. Mmhh.. Terus remas.. Terus&#8230;&#8221; desah Yuli sambil memegang tangan Darmawan yang sedang meremas buah dadanya, dan tangan mereka bersamaan meremas buah dadanya.<br />
&#8220;Ohh.. Sshh&#8230;&#8221; kata Yuli. Darmawanpun dengan bernafsu terus meremas dan menciumi serta menjilati buah dada Yuli.<br />
&#8220;Wan, jilati memek ya, sayang&#8230;&#8221; pinta Yuli.<br />
&#8220;Tapi saya tidak tahu caranya, tante,&#8221; kata Darmawan polos.
</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Sekarang dekatkan saja wajah kamu ke memek, lalu kamu jilati belahannya&#8230;&#8221; kata Yuli setengah memaksa dengan menekan kepala Darmawan ke arah memeknya.</p>
<p style="text-align: justify;">Darmawan langsung menuruti permintaan Yuli. Dijilatinya belahan memek Yuli sampai tubuh Yuli mengejang menahan nikmat.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Ohh.. Mm.. Ohh.. Terus jilat, sayang&#8230;&#8221; desah Yuli sambil meremas kepala Darmawan.<br />
&#8220;Wan, kamu jilati bagian atas sini&#8230;&#8221; kata Yuli sambil jarinya mengelus kelentitnya.
</p>
<p style="text-align: justify;">Lalu lidah Darmawan menjilati habis kelentit Yuli.. Yuli kembali menggelepar merasakan nikmat yang teramat sangat.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Teruss.. Sshh.. Ohh&#8230;&#8221; desah Yuli sambil badannya semakin mengejang.</p>
<p style="text-align: justify;">Pahanya rapat menjepit kepala Darmawan. Sementara tangannya semakin menekan kepala Darmawan ke memeknya. Tak lama..</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Ohh&#8230;&#8221; desah Yuli panjang. Yuli orgasme.<br />
&#8220;Sudah, Wan.. Naik sini,&#8221; kata Yuli.
</p>
<p style="text-align: justify;">Darmawan lalu menaiki tubuh Yuli. Yuli lalu mengelap mulut Darmawan yang basah oleh cairan memeknya. Yuli tersenyum, lalu mengecup bibir Darmawan.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Mau tidak ****** kamu saya hisap,&#8221; kata Yuli.<br />
&#8220;Mau tante,&#8221; kata Darmawan bersemangat.<br />
&#8220;Bangkitlah.. Sinikan ****** kamu,&#8221; kata Yuli sambil tangannya meraih ****** Darmawan yang tegang dan tegak.
</p>
<p style="text-align: justify;">Darmawan lalu mengangkangi wajah Yuli. Yuli segera mengulum ****** Darmawan. Tidak hanya itu, ****** Darmawan lalu dijilat, dihisap, lalu dikocoknya silih berganti. Darmawan tubuhnya mengejang menahan rasa nikmat yang teramat sangat. Tangannya berpegangan pada pinggiran ranjang.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Ohh.. Tantee.. Enaakk&#8230;&#8221; jerit kecil Darmawan sambil memompa kontolnya di mulut Yuli.<br />
&#8220;Masukkin ke memek, sayang&#8230;&#8221; kata Yuli setelah dia beberapa lama menghisap ****** Darmawan.
</p>
<p style="text-align: justify;">Darmawan lalu mengangkangi Yuli. Sementara tangan Yuli memegang dan membimbing ****** Darmawan ke lubang memeknya.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Ayo tekan sedikit, sayang&#8230;&#8221; kata Yuli.</p>
<p style="text-align: justify;">Darmawan berusaha menekan kontolnya ke lubang memek Yuli sampai akhirnya.. Bless.. Bless.. Bless.. ****** Darmawan berhasil masuk dan mulai memompa memek Yuli. Darmawan merasakan suatu kenikmatan yang tiada tara pada batang kontolnya.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Bagaimana rasanya, Wan?&#8221; tanya Yuli sambil tersenyum dan menggoyang pantatnya.<br />
&#8220;Ohh.. Sangat enakk, tanttee&#8230;&#8221; kata Darmawan tersendat sambil memompa kontolnya keluar masuk memek Yuli.
</p>
<p style="text-align: justify;">Yuli tersenyum.. Setelah beberapa lama memompa kontolnya, tiba-tiba tubuh Darmawan mengejang. Gerakannya makin cepat. Yuli karena sudah mengerti langsung meremas pantat Darmawan dan menekankannya ke memeknya. Tak lama.. Crott.. Croott.. Croott.. Croott..</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Ohh.. Hohh&#8230;&#8221; desah Darmawan. Tubuhnya lemas dan lunglai di atas tubuh Yuli.<br />
&#8220;Udah keluar? Bagaimana rasanya?&#8221; tanya tante Yuli sambil memeluk Darmawan.<br />
&#8220;Sangat enak, tante&#8230;&#8221; kata Darmawan.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ceritasex.cn/yuli-namaku/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hasrat Terpendam</title>
		<link>http://www.ceritasex.cn/hasrat-terpendam/</link>
		<comments>http://www.ceritasex.cn/hasrat-terpendam/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 07 Aug 2009 06:13:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cerita Sex</dc:creator>
				<category><![CDATA[Paruh baya]]></category>
		<category><![CDATA[Sedarah]]></category>
		<category><![CDATA[Tante Girang]]></category>
		<category><![CDATA[selingkuh]]></category>
		<category><![CDATA[anal]]></category>
		<category><![CDATA[cuki]]></category>
		<category><![CDATA[gairah]]></category>
		<category><![CDATA[gatel]]></category>
		<category><![CDATA[Hasrat]]></category>
		<category><![CDATA[istri]]></category>
		<category><![CDATA[ngentot]]></category>
		<category><![CDATA[tante]]></category>
		<category><![CDATA[Tidak Puas]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ceritasex.cn/?p=831</guid>
		<description><![CDATA[Bukan salahku kalau aku masih menggebu-gebu dalam berhubungan seks. Sayangnya suamiku sudah uzur, kami beda umur hampir 15 tahun, sehingga dia tidak lagi dapat memberi kepuasan sex kepadaku. Dan bukan salahku pula kemudian aku mencari pelampiasan pada pria-pria muda di luar, untuk memenuhi hasrat seks-ku yang kian menggebu di usia 35 ini. Dengan TB 170cm [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Bukan salahku kalau aku masih menggebu-gebu dalam berhubungan seks. Sayangnya suamiku sudah uzur, kami beda umur hampir 15 tahun, sehingga dia tidak lagi dapat memberi kepuasan sex kepadaku. Dan bukan salahku pula kemudian aku mencari pelampiasan pada pria-pria muda di luar, untuk memenuhi hasrat seks-ku yang kian menggebu di usia 35 ini. Dengan TB 170cm BB 58kg Bra 38C aku merasa sangat seksi dan sintal dengan payudara yang membusung besar ke depan dengan pantat njedol ke belakang apalagi perut ramping dan pinggul besar membulat, menambahkan tubuhnya yang bongsor ini semakin bahenol dan montok. Namun sepandai-pandainya aku berselingkuh akhirnya ketahuan juga. Suamiku marah bukan kepalang memergoki aku berpelukan dengan seorang pria muda sambil telanjang bulat di sebuah motel.</p>
<p style="text-align: justify;">Dan ultimatum pun keluar dari suamiku. Aku dilarang olehnya beraktivitas diluar rumah tanpa pengawalan. Entah itu dengan suamiku ataupun anakku. Tak sedikitpun aku lepas dari pengawasan mereka bertiga. Secara bergantian mengawasiku. Aditya anak kakak sulungku yang baru masuk kuliah dapat giliran mengawasi di pagi hari karena dia masuk siang. Siangnya giliran Leni anakku sendiri yang duduk di kelas dua SMA, untuk mengawasiku. Dan malamnya suamiku kena giliran. Tentu saja aktivitas seks-ku pun terganggu total. Hasratku sering tak terlampiaskan, akibatnya aku sering uring-uringan. Memang sih aku bisa masturbasi, tapi kurang nikmat. Dua minggu berlalu aku masih bisa menahan diri.</p>
<p style="text-align: justify;">Sebulan berlalu aku sudah stres berat. Bahkan frekuensi masturbasiku terus bertambah, sampai pernah sehari 10 kali kulakukan. Tapi tetap saja tak pernah mencapai kepuasan yang total. Aku masih butuh kocokan penis keras laki-laki. Seperti pada pagi hari Senin, saat bangun pagi jam 8 rumah sudah sepi. Suamiku dan Leni sudah pergi, dan tinggal Aditya yang ada di bawah. Aku masih belum bangkit dari tempat tidurku, masih malas-malasan untuk bangun. Tiba-tiba aku tersentak karena merasa darahku mengalir dengan cepat. Ini memang kebiasaanku saat bangun pagi, nafsu seks-ku muncul. Sebisanya kutahan-tahan, tapi selangkanganku sudah basah kuyup.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku pun segera melorotkan CD-ku lalu BH didadaku sehingga susu montok besar mancung itu leluasa muntah keluar dan langsung aku menyusupkan dua jari tangan kananku ke lubang vaginaku. vaginaku yang merekah kemerahan ditumbuhi rambut kemaluan yang hitam sangat lebat mulai dari bawah pusar sampai pada vaginaku yang seret ini membentuk segitiga hitam agak keriting. Aku mendesis pelan saat kedua jari itu masuk, terus kukeluar-masukkan dengan pelan tapi pasti. Aku masih asyik bermasturbasi, tanpa menyadari ada sesosok tubuh yang sedang memperhatikan kelakuanku dari pintu kamar yang terbuka lebar. Dan saat mukaku menghadap ke pintu aku terkejut melihat Aditya, anak kakak sulungku, sedang memperhatikanku bermasturbasi.<br />
<span id="more-831"></span><br />
Tapi anehnya aku tidak kelihatan marah sama sekali, tangan kanan masih terus memainkan kemaluanku, dan aku malah mendesah keras sambil mengeluarkan lidahku. Dan Aditya tampak tenang-tenang saja melihat kelakuanku. Aku jadi salah tingkah, tapi merasakan liang vagina yang makin basah saja, aku turun dari tempat tidur dan berjalan ke arah Aditya. Tubuh bongsorku yang sintal berjalan dengan buah dada menari-nari ke kanan ke kiri mengikuti langkahku, dengan sesekali kebelai bulu kemaluan vaginaku menambah rangsangan pada Aditya kemenakanku itu. Anak kakak sulungku itu masih tenang-tenang saja, padahal saat turun dari tempat tidur aku sudah melepas pakaian dan kini telanjang bulat. Aku yang sudah terbuai oleh nafsu seks tak mempedulikan statusku lagi sebagai tantenya.<br />
Saat kami berhadapan tangan kanan langsung meraba selangkangan anak itu.</p>
<p style="text-align: justify;">“Bercintalah dengan Tante, Aditya!” pintaku sambil mengelus-elus selangkangannya yang sudah tegang. Aditya tersenyum,<br />
“Tante tahu, sejak Aditya tinggal disini 6 bulan lalu, Aditya sudah sering membayangkan bagaimana nikmatnya kalo Aditya bercinta dengan Tante..”<br />
Aku terperangah mendengar omongannya.<br />
“Dan sering kalo Tante tidur, Aditya telanjangin bagian bawah Tante serta menjilatin kemaluan Tante.”<br />
Aku tak percaya mendengar perkataan kopanakanku ini.<br />
“Dan kini dengan senang hati Aditya akan ‘kerjai’ Tante sampai Tante puas!”.<br />
Aditya langsung memegang daguku dan mencium bibirku dan melumatnya dengan penuh nafsu. Lidahnya menyelusuri rongga mulutku dengan ganas. Sementara kedua tangannya bergerilya ke mana-mana, tangan kiri meremas-remas payudaraku dengan lembut sementara tangan kanannya mengelus permukaan kemaluanku. Aku langsung pasrah diperlakukan sedemikian rupa, hanya sanggup mendesahdan menjerit kecil.<br />
Puas berciuman, Aditya melanjutkan sasarannya ke kedua payudaraku. Kedua puting susuku yang besar coklat kehitaman, dihisap anak itu dengan lembut. Kedua permukaan payudaraku dijilati sampaimengkilat, dan aku sedikit menjerit kecil saat putingku digigitnya pelan namun mesra. Aduh, tak henti-hentinya aku mendesah akibat perlakuan Aditya. Ciuman Aditya berlanjut ke perut, dan diapun berjongkok sementara aku tetap berdiri. Aku tahu apa yang akan Aditya lakukan dan ini adalah bagian di mana aku sering orgasme. Yah, aku paling tak tahan kalau kemaluanku di oral seks.<br />
Aditya tersenyum sebentar ke arahku, sebelum mulutnya mencium permukaan lubang vaginaku yang rimbun tertutup bulu kemaluan yang sangat lebat. Lidahnya pun menari-nari di liang vagina, membuatku melonjak bagai tersetrum. Kedua tanganku terus memegangi kepalanya yang tenggelam di selangkanganku, saat lidahnya menjilati klitorisku dengan lembut. Dan benar saja, tak lama kemudian tubuhku mengejang dengan hebatnya dan desahanku semakin keras terdengar. Aditya tak peduli, anak itu terus menjilati kemaluanku yang memuncratkan cairan-cairan kental saat aku berorgasme tadi.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku yang kelelahan langsung menuju tempat tidur dan tidur telentang. Aditya tersenyum lagi. Dia kini melucuti pakaiannya sendiri dan siap untuk menyetubuhi Tantenya dengan penisnya yang telah tegang.<br />
“Aaahh besar banget penismu, keras berotot panjang lagi, tante suka penis yang begini “<br />
sahutku takjub keheranan dan gembira karena sebentar lagi vaginaku akan dikocok penis yang gede dan panjang, kira-kira ukurannya panjang 20 cm diameter 4 cm coba bayangin hebat kan. Aditya bersiap memasukkan penisnya ke lubang vaginaku, dan aku menahannya,<br />
“Tunggu sayang, biar Tante kulum penismu itu sebentar.”<br />
Aditya menurut, di sodorkannya penis yang besar dan keras itu ke arah mulutku yang langsung mengulumnya dengan penuh semangat. Penis itu kini kumasukkan seluruhnya ke dalam mulutku sementara dia membelai rambutku dengan rasa sayang. Batangnya yang keras kujilati hingga mengkilap.<br />
“Sekarang kau boleh kocok dan genjot vagina Tante, Adit..” kataku setelah puas mengulum penisnya.<br />
Diapun mengangguk, penisnya segera dibimbing menuju lubang vagina yang kemerahan merekah siap menerima tusukan penis besar nikmat itu. Vaginaku yang basah kuyup memudahkan penis Aditya untuk masuk ke dalam dengan mulus.<br />
“Ahh.. Adit!” aku mendesah saat penis Aditya amblas dalam kemaluanku.<br />
Aditya lalu langsung menggenjot tubuhnya dengan cepat, lalu berubah lambat tapi pasti. Diperlakukan begitu kepalaku berputar-putar saking nikmatnya. Apalagi Aditya seringkali membiarkan kepala penisnya menggesek-gesek permukaan kemaluanku sehingga aku kegelian.<br />
Berbagai macam posisi diperagakan oleh Aditya, mulai dari gaya ****** sampai tradisional membuatku orgasme berkali-kali. Tapi dia belum juga ejakulasi membuatku penasaran dan bangga. Ini baru anak yang perkasa. Dan baru saat aku berada di atas tubuhnya, Aditya mulai kewalahan. Goyangan pinggulku langsung memacunya untuk mencapai puncak kenikmatan. Dan saat Aditya memeluk dengan erat, saat itu pula air mani membasahi kemaluanku dengan derasnya, membuatku kembali orgasme untuk yang kesekian kalinya.
</p>
<p style="text-align: justify;">Selangkanganku kini sudah banjir tidak karuan bercampur aduk antara mani Aditya dengan cairanku sendiri. Aditya masih memelukku dan mencium bibirku dengan lembut. Dan kami terus bermain cinta sampai siang dan baru berhenti saat Leni pulang dari sekolah. Sejak saat itu aku tak lagi stress karena sudah mendapat pelampiasan dari keponakanku. Setiap saat aku selalu dapat memuaskan nafsuku yang begitu besar. Dan tidak seorang pun mengetahui kecuali kami berdua.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ceritasex.cn/hasrat-terpendam/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menggoda Pak Jarot</title>
		<link>http://www.ceritasex.cn/menggoda-pak-jarot/</link>
		<comments>http://www.ceritasex.cn/menggoda-pak-jarot/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 01 Aug 2009 12:47:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cerita Sex</dc:creator>
				<category><![CDATA[Daun Muda]]></category>
		<category><![CDATA[Sedarah]]></category>
		<category><![CDATA[Seks Umum]]></category>
		<category><![CDATA[abg]]></category>
		<category><![CDATA[anak tiri]]></category>
		<category><![CDATA[bapak tiri]]></category>
		<category><![CDATA[memek]]></category>
		<category><![CDATA[ngentot]]></category>
		<category><![CDATA[seks liar]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ceritasex.cn/?p=742</guid>
		<description><![CDATA[Pada awalnya aku tidak ingin ibuku menikah lagi dengan Pak Jarot, seorang pengusaha otomotif yang cukup sukses di kotaku. Bukan hanya karena aku masih belum bisa melupakan kepergian ayah kandungku, namun juga karena beliau sudah memiliki dua isteri. Tapi apa boleh buat, terpaksa aku harus menerimanya sebagai ayah tiriku agar dia bisa membiayai kuliahku. Seperti [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Pada awalnya aku tidak ingin ibuku menikah lagi dengan Pak Jarot, seorang pengusaha otomotif yang cukup sukses di kotaku. Bukan hanya karena aku masih belum bisa melupakan kepergian ayah kandungku, namun juga karena beliau sudah memiliki dua isteri. Tapi apa boleh buat, terpaksa aku harus menerimanya sebagai ayah tiriku agar dia bisa membiayai kuliahku.</p>
<p style="text-align: justify;">Seperti pepatah jawa bilang, &#8216;witing tresno jalaran soko kulino&#8217; lambat laun aku bisa merasakan kehadiran Pak Jarot mampu memberikan nuansa tersendiri dalam keluarga kecil kami. Meskipun aku hanya anak tiri, tapi beliau sangat menyayangiku. Jadi tidak adil rasanya kalau aku tidak membalas kebaikan beliau kepadaku. Anehnya, rasa sayangku kepada beliau justru melebihi rasa sayangku kepada ayah kandungku sendiri. Entah kenapa aku menjadi terobsesi terhadap beliau. Pak Jarot seolah menjadi sosok idola bagiku. Bahkan tak jarang aku berhayal seandainya saja beliau adalah kekasihku, bisa mencumbu dan bercinta dengannya. Pikiran kotor itu selalu hinggap manakala aku berhadapan dengannya.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Ibu nginep di rumah Pak De, ya Pak?&#8221; tanyaku pada suatu malam. Kebetulan Pak jarot baru saja pulang mengantarkan ibu ke rumah Pak De yang lagi punya gawe.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Iya, mungkin lusa baru pulang. Soalnya acaranya ditunda besok malam.&#8221; jawab beliau. &#8220;Kamu&#8230;..,&#8221; Pak Jarot tidak melanjutkan kata-katanya. beliau hanya memandangku dengan heran.<br />
<span id="more-742"></span><br />
&#8220;Kenapa Pak?&#8221; Kok bapak ngeliatin Sulis kayak gitu sih? Kayak belum pernah ketemu Sulis aja!&#8221; tanyaku penasaran.
</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Kamu cantik&#8230;!&#8221; kata Pak Jarot agak bergumam.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Saya kenapa Pak?&#8221; tanyaku lagi pura-pura tidak dengar.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Eh&#8230;, anu&#8230;, nggak kok!&#8221; jawab beliau gugup. &#8220;Bapak cuma kagum aja ngeliat kamu. Pasti ibumu juga secantik kamu waktu masih muda dulu.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Alah&#8230;., bohong! Pasti Bapak lagi mikir jorok ya tentang Sulis&#8230;?&#8221; kataku menggoda. Aku duduk di samping Pak Jarot sambil melingkarkan tanganku ke pinggangnya.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Ah&#8230;, ya nggak lah!&#8221; kata Pak Jarot grogi. Dari pandangan matanya tadi aku tahu kalau beliau sempat berpikir jorok mengenai diriku. Terlebih tubuhku hanya terbalut sehelai handuk saja, karena aku baru selesai mandi. Dan tiba-tiba saja terlintas di benakku untuk mewujudkan hasratku untuk merayu ayah tiriku itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Dengan manja kau merapatkan tubuhku ke tubuh Pak Jarot dan menyandarkan kepalaku ke bahunya yang kokoh. &#8220;Jujur saja, Pak! Sebenarnya dari dulu saya penasaran banget ama bapak. Kenapa sih, Bapak kok dikagumi banyak wanita? Bahkan mereka rela dijadikan isteri yang kesekian oleh Bapak&#8230;.&#8221; kataku sambil memainkan jemariku di atas perut Pak Jarot. Sesekali jemariku menyelinap masuk ke balik kaos oblongnya yang sedikit aku singkap demi merasakan kehangatan perutnya yang keras berotot.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Haah&#8230;,entahlah Lis!&#8221; pak Jarot mendesah panjang. &#8220;Bapak sendiri juga gak ngerti, kenapa mereka bisa terpikat sama bapak.&#8221; Pak Jarot melingkarkan tangannya kepundakku dan mengelus lenganku uang terbuka.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Mungkin&#8230;, apakah mereka&#8230;, kagum&#8230;, dengan&#8230;..&#8221; kata-kataku kacau. Sulit sekali untuk mengucapkan kata yang terakhir. Namun aku sudah kepalang tanggung, &#8220;&#8230;..ini!&#8221; akhirnya aku mengucapkan kata terakhir sambil memindahkan tanganku ke pangkal paha Pak Jarot. Dan dengan lembut aku meremas daging kenyal yang ada di antara selangkangan Pak Jarot yang masih terbungkus sarung kusutnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Pak Jarot mengerang lirih sambil memejamkan matanya menikmati remasan tanganku di penisnya yang masih lemas.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Aaahhh&#8230;, kam nakal, Lis!&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Aku tersenyum dan memandang wajah flamboyan Pak Jarot dengan tatapan sayu, seolah sedang memohon sesuatu dari ayahnya.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Pak&#8230;! Bolehkah saya&#8230;..&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Tentu saja sayang! Bapak akan memberikan apa saja yang kamu inginkan!&#8221; Pak Jarot tersenyum. Beliau balik memandangku dengan kasih sayang. Perlahan aku memberanikan diri untuk mengecup bibir ayah tiriku itu. Kumisnya yang cukup tebal memberikan rangsangan tersendiri. Apalagi beliau membalas lumatanku dengan sedotan yang nikmat.</p>
<p style="text-align: justify;">Pak Jarot mengankat kedua tangannya ketika aku mulai menarik kaos oblongnya ke atas. Aku sempat terkesima melihat tubuh Pak Jarot. Jarang-jarang ada pria seusia beliau yang masih memiliki tubuh yang atletis. Bahkan tubuh mantan pacarku dulu tidaklah sebagus Pak Jarot. Bahunya yang lebar, dadanya yang bidang dan perutnya yang rata berotot. Ditambah lagi bulu-bulu halus yang berbaris rapi mulai dari dada sampai ke perutnya dan menghilang di balik gulungan simpul sarung Pak Jarot.</p>
<p style="text-align: justify;">Dengan lembut aku mulai membelai bulu-bulu halus di dada Pak Jarot, diikuti dengan lumatan-lumatan mesra di puting susunya.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Ooouuhhh&#8230;!&#8221; Pak Jarot melenguh nikmat. Tangannya yang kokoh membelai mesra rambutku yang masih agak basah, sementara tangan satunya menarik lepas handuk yang melilit tubuhku. Seketika itu juga terbukalah tubuh putih mulusku di hadapan ayah tiriku itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Sementara itu perlahan lumatanku menuruni dada bidang Pak Jarot, melewati perutnya yang berotot dan berhenti di bawah pusarnya. Sesaat aku menelan ludah, dan dengan perlahan tangan kiriku menyelinap masuk ke dalam sarungnya, mencari sesuatu yang sangat aku impikan selama ini.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Aaahhhggg&#8230;., Lis!&#8221; kembali ayah tiriku itu melenguh ketika jemariku menyentuh kejantanannya.</p>
<p style="text-align: justify;">Dari dalam sarungnya aku bisa merasakan penis Pak Jarot yang mulai mengembang dan bergerak-gerak. Aku sudah tak sabar lagi untuk menyaksikan senjata andalan ayah tiriku itu. Sedikit demi sedikit aku menyingkap dan menurunkan gulungan sarung Pak Jarot. Beliau juga membantuku dengan mengangkat pantatnya agar sarung kusutnya itu bisa lolos dan jatuh ke bawah sofa.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Astaga, Pak!&#8221; aku terpekik ngeri melihat benda yang ada di genggamanku.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Kenapa, Lis?&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Inikah yang membuat semua wanita tergila-gila pada Bapak?&#8221; tanyaku takjub.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Mungkin juga. Lis&#8230;.Oouuhh&#8230;!&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Pantesan aja. Wanita mana yang tidak tergila-gila melihat k0nt01 sebesar ini!&#8221; kataku sambil mengelus dan mengurut k0nt01 Pak Jarot.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Tapi kamu juga suka kan, Lis?&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Aku hanya tersenyum mendengar pertanyaan Pak Jarot. Dan perlahan-lahan aku mendekatkan wajahku ke arah kejantanannya. Dengan penuh kasih sayang, aku menggesek-gesekkan batang k0nt01 Pak Jarot ke pipiku. sesekali aku menjilat dan mengecup permukaan kulitnya yang berurat.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Ooouuhh&#8230;, Lis! Terus&#8230;.Oouuhhh&#8230;.!&#8221; Pak Jarot mulai bereaksi. Tangannya mulai melancarkan aksinya, memelusuri lekuk-lekuk tubuhku. Membelai punggungku dan meremas pantatku yang membuatku bersemangat. Aku bahkan mengangkat pantatku lebih tinggi ketika jemari Pak Jarot menyelinap di belahan pantatku. Dengan kedua lutut bertumpu di sofa beludru itu, aku menjadi lebih leluasa untuk memainkan batang k0nt01 Pak Jarot. Beliau juga lebih mudah untuk menusukkan telunjuknya ke memekku yang sudah basah.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Ooouucchhh&#8230;., Pak!&#8221; rintihku.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Ayo, Lis! Hisap k0nt01 Bapak&#8230;!&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Aku menuruti perintah Pak Jarot. Dengan lembut aku melumat ujung k0nt01 Pak Jarot.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Oh yahhh.., terus Lis! Masukkan lebih dalam lagi&#8230;.!&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Dengan susah payah aku berusaha membuka mulutku lebar-lebar agar k0nt01 Pak Jarot bisa masuk ke dalamnya. Kemudian perlahan-lahan aku menggerakkan kepalaku maju mundur seiring dengan gerakan tanganku yang mengocok batang k0nt01nya.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Oohh, yeah&#8230;.nikmat banget, Lis! Ooohh&#8230;.!&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Aku tidak menghiraukan rintihan Pak Jarot. Aku malah keasyikan mengulum dan melumat kejantanannya yang besar itu. Seperti anak kecil yang tangah menikmati ice cream coklat atau melumat lolipop. Sesekali aku menyedot ujung kejantan ayah tiriku yang sudah berdiri kokoh itu. Aku perkirakan sekarang ukurannya mencapai 20 cm dengan diameter 5 cm. Cukup besar untuk ukuran k0nt01 pria Indonesia.</p>
<p style="text-align: justify;">Cukup lama aku memainkan batang k0nt01 Pak Jarot di dalam mulutku. Sampai akhirnya aku melepaskan kulumanku untuk mengambil nafas.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Waaahhh&#8230;, k0nt01 bapak memang luar biasa besar!&#8221; pujiku.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Sedotanmu juga nikmat, Lis! Bapak sih sudah nggak sabar untuk merasakan sedotanmu yang lain!&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Saya juga sudah ndak sabar pengen nyoba sodokan k0nt01 bapak ang besar ini!&#8221; Kataku sambil terus mengelus dan mengocok kejantanan Pak Jarot. &#8220;Gimana kalau kita mulai sekarang saja?&#8221;.</p>
<p style="text-align: justify;">Pak Jarot mengangguk. Beliau mengangkat tubuhku ke atas pangkuannya. Kedua kakiku mengangkangi tubuhnya sehingga memekku yang sudah basah menganga lebar, menanti sebuah benda tumpul mengoyaknya.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Giman, Lis? Kamu sudah siap?&#8217; tanya Bapak meyakinkanku.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku mengangguk pelan sambil menatap sayu wajah Bapak. Perlahan-lahan tangan kanan Pak Jarot membimbing k0nt01nya yang sudah berdiri angkuh ke arah memekku. Aku sempat menahan nafas selama beberapa detik. Namun Pak Jarot ternyata belum memasukkan k0nt01nya ke gua darbaku. Beliau malah mempermainkan ujung k0nt01nya di bibir vaginaku. Beliau menggesek-gesekkan ujung penisnya di permukaan kelentitku yang berdenyut-denyut.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Ooouccchh&#8230;., ooouuchh&#8230;, Ssshhhtt&#8230;.! Aduh, Pak&#8230;.geli&#8230;.ooucchh&#8230;!&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Gimana sayang? enakkan?&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Aduh, Pak! cepetan masukin dong! Saya udah nggak sabar nih&#8230;., aauhh&#8230;.!&#8221;aku kelonjatan menahan rasa antara geli dan nikmat. keringat mengalir deras membasahi tubuh kami. Terlebih ketika Pak Jarot mulai menusukkan ujung k0nt01nya ke memekku.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Aduh&#8230;! Ooouhh&#8230;., sakit Pak!&#8221; rintihku menahan rasa perih di bibir kemaluanku.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Tenang saja, Lis! Tahan dulu, nanti juga rasa perihnya akan hilang sendiri!&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Kembali Pak Jarot menusukkan batang k0nt01nya yang besar itu lebih dalam lagi, sambil memegang buah pantatku. Dengan naluriku, akupun menurunkan pantatku sambil mencengkeram erat pundak Bapak agar k0nt01 beliau segera masuk seutuhnya. Dan&#8230;, Blesss&#8230;.! akhirnya k0nt01 Bapak yang besar itu bisa menembus gua darbaku.</p>
<p style="text-align: justify;">Meskipun aku sudah tidak perawan lagi, namun Pak Jarot tidak mempertanyakannya. Untuk beberapa saat bapak membiarkan k0nt01nya terbenam di dalam rongga vaginaku. Kemudian dengan menyelonjorkan kedua kakinya, belia mengangkat sedikit pantatku dan menekannya kembali ke bawah secara perlahan.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Ooouhhh&#8230;.!&#8221; beliau mendengus nikmat. Aku tahu yang diinginkan Pak Jarot. Dengan kedua tanganku bertumpu di dada kekarnya, aku mulai mengayunkan pantatku ke atas dan ke bawah secara perlahan.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Ooouuhhh&#8230;., yeah! Bagus, Lis! Terus&#8230;.!&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Aduh, Pak! k0nt01 Bapak kegedean&#8230;.ooucchhh&#8230;.!&#8221; aku merintih. Ada rasa nyeri disekitar bibir vaginaku. Namun aku menahannya dan terus mengayunkan pantatku. Hasilnya, rasa perih itu perlahan-lahan menghilang, berganti dengan rasa nikmat yang luar biasa. Terlebih saat aku membuat gerakan pantat memutar, terasa banget urat-urat yang bertonjolan di batang k0nt01 Bapak menggesek-gesek dan mengorek-ngorek dinding vaginaku.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Alamaaakkk&#8230;! Nikmat banget goyanganmu, Lis! Oouhhh&#8230; yeah&#8230;. jepitanmu sungguh mantap!&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Semakin lama gerakanku semakin liar. Menghentak-hentak dan meliuk-liuk di atas tubuh Pak Jarot, pria yang sudah aku anggap ayahku sendiri itu. Kami terus berpacu melawan waktu. Desahan, lenguhan dan rintihan nikmat terdengar memburu, seiring dengan tarian keringat yang mengalir di tubuh kami.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Ooouucchh&#8230;,Pak! Sulis sudah nggak kuat lagi Pak! Ooouugghh&#8230;.Ooouugghh!&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Sabar sebentar ya sayang! Ayo, lebih cepat lagi goyangnya! Ooohhh&#8230;!&#8221; aku mempercepat gerakanku, bergoyang-goyang dan menjepit-jepit batang k0nt01 Pak jarot. Sampai akhirnya&#8230;..</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Aaarrggghhhh&#8230;..! Sulis keluar, Pak! Ooohhhh&#8230;!&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Aku sudah tidak bisa menahan magma panas yang keluar meleleh dari dalam memekku. Tubuhku seketika lunglai. Seluruh tulangku seolah rumuk. aku memeluk erat tubuh kokoh ayahku itu. Namun Pak Jarot masih terlihat tangguh. Beliau masih terus menyodokkan kejantanannya yang masih berdiri angkuh. Menghunjam dahsyak ke dalam memekku sampai terdengar bunyi yang berkecipak.</p>
<p style="text-align: justify;">Ceplok&#8230;!Ceplok&#8230;! Ceplok&#8230;!</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Ayo Sayang! Goyangkan pantatmu&#8230;.! Beri bapak kepuasan! Oooouuhhh&#8230;..!&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Dengan sisa-sisa tenagaku aku berusaha menggoyangkan pantatku, menjepit dan memelintir batang k0nt01 Pak Jarot di dalam memekku.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Ayo Lis! Lebih cepat lagi&#8230;.! Ooohhh&#8230;., ssshhhttt&#8230;..! Bapak suda mau&#8230;., keluar&#8230;.ooouhhhh!&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Kami mempercepat gerakan mengayun. Sampai beberapa saat kemudian, aku merasakan batang k0nt01 Pak Jarot mulai berdenyut-denyut di dalam rongga vaginaku. Makin lama denyut k0nt01 Pak Jarot semakin cepat, sampai&#8230;..</p>
<p style="text-align: justify;">Crottt&#8230;.! Croottt&#8230;! Croootttt&#8230;.!</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Aaaaggghhhh&#8230;.ooougghhh&#8230;., akhirnya!&#8221; Pak Jarot mengerang panjang sambil tetap membenamkan batang k0nt01nya. Cairan panas dan kental menyembur deras dari kejantanan Pak jarot. Meluber membasahi paha kami sampai dengan sofa beludru yang menjadi saksi bisu pergumulan kami.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Ooohh.., Bapak memang benar-benar hebat!&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Permainanmu juga hebat Lis! Bapak belum pernah merasakan senikmat ini sebelumnya!&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Aku mencium bibir Pak Jarot kembali, &#8220;Pantesan banyak wanita yang tergila-gila sama bapak! Semuanya pasti ketagihan jika merasakan kehebatan bapak!&#8221; pujiku.</p>
<p style="text-align: justify;">Malam itu bukanlah malam yang terakhir bagi kami untuk bercumbu. aku sendiri memang sudah ketagihan akan kehebatan k0nt01 Ayah tiriku itu. Sering kali aku mengundang Pak Jarot ke kamarku hanya untuk meminta kenikmatan dari batang k0nt01nya yang besar itu.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ceritasex.cn/menggoda-pak-jarot/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ganasnya Gairah Birahi Tanteku</title>
		<link>http://www.ceritasex.cn/ganasnya-gairah-birahi-tanteku/</link>
		<comments>http://www.ceritasex.cn/ganasnya-gairah-birahi-tanteku/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 17 Jul 2009 20:37:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cerita Sex</dc:creator>
				<category><![CDATA[Daun Muda]]></category>
		<category><![CDATA[Paruh baya]]></category>
		<category><![CDATA[Sedarah]]></category>
		<category><![CDATA[Tante Girang]]></category>
		<category><![CDATA[abg]]></category>
		<category><![CDATA[birahi]]></category>
		<category><![CDATA[cuki]]></category>
		<category><![CDATA[emut]]></category>
		<category><![CDATA[emut kontol]]></category>
		<category><![CDATA[gairah]]></category>
		<category><![CDATA[ml]]></category>
		<category><![CDATA[ngentot]]></category>
		<category><![CDATA[nikmat]]></category>
		<category><![CDATA[sedot kontol]]></category>
		<category><![CDATA[seks]]></category>
		<category><![CDATA[sepong]]></category>
		<category><![CDATA[sepong kontol]]></category>
		<category><![CDATA[tante]]></category>
		<category><![CDATA[tante yus]]></category>
		<category><![CDATA[tante yustina]]></category>
		<category><![CDATA[vivi]]></category>
		<category><![CDATA[yustina]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ceritasex.cn/?p=622</guid>
		<description><![CDATA[Sesaat lamanya aku hanya berdiri di depan pintu gerbang sebuah rumah mewah tetapi berarsitektur gaya Jawa kuno. Hampir separuh bagian rumah di depanku itu adalah terbuat dari kayu jati tua yang super awet. Di depan terdapat sebuah pendopo kecil dengan lampu gantung kristalnya yang antik. Lantai keramik dan halaman yang luas dengan pohon-pohon perindangnya yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Sesaat lamanya aku hanya berdiri di depan pintu gerbang sebuah rumah mewah tetapi berarsitektur gaya Jawa kuno. Hampir separuh bagian rumah di depanku itu adalah terbuat dari kayu jati tua yang super awet. Di depan terdapat sebuah pendopo kecil dengan lampu gantung kristalnya yang antik. Lantai keramik dan halaman yang luas dengan pohon-pohon perindangnya yang tumbuh subur memayungi seantero lingkungannya. Aku masih ingat, di samping rumah berlantai dua itu terdapat kolam ikan Nila yang dicampur dengan ikan Tombro, Greskap, dan Mujair. Sementara ikan Geramah dipisah, begitu juga ikan Lelenya. Dibelakang sana masih dapat kucium adanya peternakan ayam kampung dan itik. Tante Yustina memang seorang arsitek kondang dan kenamaan.</p>
<p style="text-align: justify;">Enam tahun aku tinggal di sini selama sekolah SMU sampai D3-ku, sebelum akhirnya aku lulus wisuda pada sebuah sekolah pelayaran yang mengantarku keliling dunia. Kini hampir tujuh tahun aku tidak menginjakkan kakiku di sini. Sama sekali tidak banyak perubahan pada rumah Tante Yus. Aku bayangkan pula si Vivi yang dulu masih umur lima tahun saat kutinggalkan, pasti kini sudah besar, kelas enam SD.</p>
<p style="text-align: justify;">Kulirik jarum jam tanganku, menunjukkan pukul 23:35 tepat. Masih sesaat tadi kudengar deru lembut taksi yang mengantarku ke desa Kebun Agung, sleman yang masih asri suasana pedesaannya ini. Suara jangkrik mengiringi langkah kakiku menuju ke pintu samping. Sejenak aku mencari-cari dimana dulu Tante Yus meletakkan anak kuncinya. Tanganku segera meraba-raba ventilasi udara di atas pintu samping tersebut. Dapat. Aku segera membuka pintu dan menyelinap masuk ke dalam.</p>
<p style="text-align: justify;">Sejenak aku melepas sepatu ket dan kaos kakinya. Hmm, baunya harum juga. Hanya remang-remang ruangan samping yang ada. Sepi. Aku terus saja melangkah ke lantai dua, yang merupakan letak kamar-kamar tidur keluarga. Aku dalam hati terus-menerus mengagumi figur Tante Yus. Walau hidup menjada, sebagai single parents, toh dia mampu mengurusi rumah besar karyanya sendiri ini. Lama sekali kupandangi foto Tante Yus dan Vivi yang di belakangnya aku berdiri dengan lugunya. Aku hanya tersenyum.</p>
<p style="text-align: justify;">Kuperhatikan celah di bawah pintu kamar Vivi sudah gelap. Aku terus melangkah ke kamar sebelahnya. Kamar tidur Tante Yus yang jelas sekali lampunya masih menyala terang. Rupanya pintunya tidak terkunci. Kubuka perlahan dan hati-hati. Aku hanya melongo heran. Kamar ini kosong melompong. Aku hanya mendesah panjang. Mungkin Tante Yus ada di ruang kerjanya yang ada di sebelah kamarnya ini. Sebentar aku menaruh tas ransel parasit dan melepas jaket kulitku. Berikutnya kaos oblong Jogja serta celana jeans biruku. Kuperhatikan tubuhku yang hitam ini kian berkulit gelap dan hitam saja. Tetapi untungnya, di tempat kerjaku pada sebuah kapal pesiar itu terdapat sarana olah raga yang komplit, sehingga aku kian tumbuh kekar dan sehat.<br />
<span id="more-622"></span><br />
Tidak perduli dengan kulitku yang legam hitam dengan rambut-rambut bulu yang tumbuh lebat di sekujur kedua lengan tangan dan kakiku serta dadaku yang membidang sampai ke bawahnya, mengelilingi pusar dan terus ke bawah tentunya. Air. Ya aku hanya ingin merasakan siraman air shower dari kamar mandi Tante Yus yang bisa hangat dan dingin itu.<br />
Aku hendak melepas cawat hitamku saat kudengar sapaan yang sangat kukenal itu dari belakangku, &#8220;Andrew..? Kaukah itu..?&#8221;
</p>
<p style="text-align: justify;">Aku segera memutar tubuhku. Aku sedikit terkejut melihat penampilan Tante Yus yang agak berbeda. Dia berdiri termangu hanya mengenakan kemeja lengan panjang dan longgar warna putih tipis tersebut dengan dua kancing baju bagian atasnya yang terlepas. Sehingga aku dapat melihat belahan buah dadanya yang kuakui memang memiliki ukuran sangat besar sekali dan sangat kencang, serta kenyal. Aku yakin, Tante Yus tidak memakai BH, jelas dari bayangan dua bulatan hitam yang samar-samar terlihat di ujung kedua buah dadanya itu. Rambutnya masih lebat dipotong sebatang bahunya. Kulit kuning langsat dan bersih sekali dengan warna cat kukunya yang merah muda.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Ngg.., selamat malam Tante Yus&#8230; maaf, keponakanmu ini datang dan untuk berlibur di sini tanpa ngebel dulu. Maaf pula, kalau tujuh tahun lamanya ini tidak pernah datang kemari. Hanya lewat surat, telpon, kartu pos, e-mail.., sekali lagi, saya minta maaf Tante. Saya sangat merindukan Tante..!&#8221; ucapku sambil kubiarkan Tante Yus mendekatiku dengan wajah haru dan senangnya.<br />
&#8220;Ouh Andrew&#8230; ouh..!&#8221; bisik Tante Yus sambil menubrukku dan memelukku erat-erat sambil membenamkan wajahnya pada dadaku yang membidang kasar oleh rambut.<br />
Aku sejenak hanya membalas pelukannya dengan kencang pula, sehingga dapat kurasakan desakan puting-puting dua buah dadanya Tante Yus.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Kau pikir hanya kamu ya, yang kangen berat sama Tante, hmm..? Tantemu ini melebihi kangennya kamu padaku. Ngerti nggak..? Gila kamu Andrew..!&#8221; imbuhnya sambil memandangi wajahku sangat dekat sekali dengan kedua tangannya yang tetap melingkarkan pada leherku, sambil kemudian memperhatikan kondisi tubuhku yang hanya bercawat ini.<br />
Tante Yustina tersenyum mesra sekali. Aku hanya menghapus air matanya. Ah Tante Yus&#8230;<br />
&#8220;Ya, untuk itulah aku minta maaf pada Tante&#8230;&#8221;<br />
&#8220;Tentu saja, kumaafkan..&#8221; sahutnya sambil menghela nafasnya tanpa berkedip tetap memandangiku, &#8220;Kamu tambah gagah dan ganteng Andrew. Pasti di kapal, banyak crew wanita yang bule itu jatuh cinta padamu. Siapa pacarmu, hmm..?&#8221;<br />
&#8220;Belum punya Tan. Aku masih nabung untuk membina rumah tangga dengan seorang, entah siapa nanti. Untuk itu, aku mau minta Tante bikinkan aku desain rumah&#8230;&#8221;<br />
&#8220;Bayarannya..?&#8221; tanya Tante Yus cepat sambil menyambar mulutku dengan bibir tipis Tante Yus yang merah.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku terkejut, tetapi dalam hati senang juga. Bahkan tidak kutolak Tante Yus untuk memelukku terus menerus seperti ini. Tapi sialnya, batang kemaluanku mulai merinding geli untuk bangkit berdiri. Padahal di tempat itu, perut Tante Yus menekanku. Tentu dia dapat merasakan perubahan kejadiannya.<br />
&#8220;Aku&#8230; ngg&#8230;&#8221;<br />
&#8220;Ahh, kamu Andrew. Tante sangat kangen padamu, hmm&#8230; ouh Andrew&#8230; hmm..!&#8221; sahut Tante Yus sambil menerkam mulutku dengan bibirnya.<br />
Aku sejenak terkejut dengan serbuan ganas mulut Tante Yus yang kian binal melumat-lumat mulutku, mendasak-desaknya ke dalam dengan buas. Sementara jemari kedua tangannya menggerayangi seluruh bagian kulit tubuhku, terutama pada bagian punggung, dada, dan selangkanganku. Tidak karuan lagi, aku jadi terangsang. Kini aku berani membalas ciuman buas Tante Yus. Nampaknya Tante Yus tidak mau mengalah, dia bahkan tambah liar lagi. Kini mulut Tante Yus merayap turun ke bawah, menyusuri leherku dan dadaku. Beberapa cupangan yang meninggalkan warna merah menghiasi pada leher dan dadaku. Kini dengan liar Tante Yus menarik cawatku ke bawah setelah jongkok persis di depan selangkanganku yang sedikit terbuka itu. Tentu saja, batang kemaluanku yang sebenarnya telah meregang berdiri tegak itu langsung memukul wajahnya yang cantik jelita.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Ouh, gila benar. Tititmu sangat besar dan kekar, An. Ouh&#8230; hmmm..!&#8221; seru bergairah Tante Yus sambil memasukkan batang kejantananku ke dalam mulutnya, dan mulailah dia mengulum-ngulum, yang seringkali dibarengi dengan mennyedot kuat dan ganas.<br />
Sementara tangan kanannya mengocok-ngocok batang kejantananku, sedang jemari tangan kirinya meremas-remas buah kemaluanku. Aku hanya mengerang-ngerang merasakan sensasi yang nikmat tiada taranya. Bagaimana tidak, batang kemaluanku secara diam-diam di tempat kerjaku sana, kulatih sedemikian rupa, sehingga menjadi tumbuh besar dan panjang. Terakhir kuukur, batang kejantanan ini memiliki panjang 25 sentimeter dengan garis lingkarnya yang hampir 20 senti. Rambut kemaluan sengaja kurapikan.
</p>
<p style="text-align: justify;">Tante Yus terus menerus masih aktif mengocok-ngocok batang kemaluanku. Remasan pada buah kemaluanku membuatku merintih-rintih kesakitan, tetapi nikmat sekali. Bahkan dengan gilanya Tante Yus kadangkala memukul-mukulkan batang kemaluanku ini ke seluruh permukaan wajahnya. Aku sendiri langsung tidak mampu menahan lebih lama puncak gairahku. Dengan memegangi kepala Tante Yus, aku menikam-nikamkan batang kejantananku pada mulut Tante Yus. Tidak karuan lagi, Tante Yus jadi tersendak-sendak ingin muntah atau batuk. Air matanya malah telah menetes, karena batang kejantananku mampu mengocok sampai ke tenggorokannya.</p>
<p style="text-align: justify;">Pada satu kesempatan, aku berhasil mencopot kemejanya. Aku sangat terkejut saat melihat ukuran buah dadanya. Luar biasa besarnya. Keringat benar-benar telah membasahi kedua tubuh kami yang sudah tidak berpakaian lagi ini. Dengan ganas, kedua tangan Tante Yus kini mengocok-ngocok batang kemaluanku dengan genggamannya yang sangat erat sekali. Tetapi karena sudah ada lumuran air ludah Tante Yus, kini jadi licin dan mempercepat proses ejakulasiku.<br />
&#8220;Crooot&#8230; cret.. croot&#8230; creeet..!&#8221; menyemprot air maniku pada mulut Tante Yus.<br />
Saat spremaku muncrat, Tante Yus dengan lahap memasukkan batang kemaluanku kembali ke dalam mulutnya sambil mengurut-ngurutnya, sehingga sisa-sisa air maniku keluar semua dan ditelan habis oleh Tante Yus.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Ouhh&#8230; ouh.. auh Tante&#8230; ouh..!&#8221; gumamku merasakan gairahku yang indah ini dikerjai oleh Tante Yus.<br />
&#8220;Hmmm&#8230; Andrew&#8230; ouh, banyak sekali air maninya. Hmmm.., lezaat sekali. Lezat. Ouh&#8230; hmmm..!&#8221; bisik Tante Yus menjilati seluruh bagian batang kemaluanku dan sisa-sisa air maninya.<br />
Sejenak aku hanya mengolah nafasku, sementara Tante Yus masih mengocok-ngocok dan menjilatinya.<br />
&#8220;Ayo, Andrew&#8230; kemarilah Sayang.., kemarilah Baby..!&#8221; pintanya sambil berbaring telentang dan membuka kedua belah pahanya lebar-lebar.
</p>
<p style="text-align: justify;">Aku tanpa membuang waktu lagi, terus menyerudukkan mulutku pada celah vagina Tante Yus yang merekah ingin kuterkam itu. Benar-benat lezat. Vagina Tante Yus mulai kulumat-lumat tanpa karuan lagi, sedangkan lidahku menjilat-jilat deras seluruh bagiang liang vaginanya yang dalam. Berulang kali aku temukan kelentitnya lewat lidahku yang kasar. Rambut kemaluan Tante Yus memang lebat dan rindang. Cupangan merah pun kucap pada seluruh bagian daging vagina Tante Yus yang menggairahkan ini. Tante Yus hanya menggerinjal-gerinjal kegelian dan sangat senang sekali nampaknya. Kulirik tadi, Tante Yus terus-menerus melakukan remasan pada buah dadanya sendiri sambil sesekali memelintir puting-putingnya. Berulang kali mulutnya mendesah-desah dan menjerit kecil saat mulutku menciumi mulut vaginanya dan menerik-narik daging kelentitnya.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Ouh Andrew&#8230; lakukan sesukamu.. ouh.., lakukan, please..!&#8221; pintanya mengerang-erang deras.<br />
Selang sepuluh menit kemuadian, aku kini merayap lembut menuju perutnya, dan terus merapat di seluruh bagian buah dadanya. Dengan ganas aku menyedot-nyedot puting payudaranya. Tetapi air susunya sama sekali tidak keluar, hanya puting-puting itu yang kini mengeras dan memanjang membengkak total. Di buah dadanya ini pula aku melukiskan cupanganku banyak sekali. Berulang kali jemariku memilin-milin gemas puting-puting susu Tante Yus secara bergantian, kiri kanan. Aku kini tidak tahan lagi untuk menyetubuhi Tanteku. Dengan bergegas, aku membimbing masuk batang kemaluanku pada liang vaginanya.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Ooouhkk.. yeaaah&#8230; ayoo.. ayooo&#8230; genjot Andrew..!&#8221; teriak Tante Yus saat merasakan batang kejantananku mulai menikam-nikam liar mulut vaginanya.<br />
Sambil menopang tubuhku yang berpegangan pada buah dadanya, aku semakin meningkatkan irama keluar masuk batang kemaluanku pada vagina Tante Yus. Wanita itu hanya berpegangan pada kedua tanganku yang sambil meremas-remas kedua buah dadanya.<br />
&#8220;Blesep&#8230; sleeep&#8230; blesep..!&#8221; suara senggama yang sangat indah mengiringi dengan alunan lembut.<br />
Selang dua puluh menit puncak klimaks itu kucapai dengan sempurna, &#8220;Creeet&#8230; croot&#8230; creeet..!&#8221;<br />
&#8220;Ouuuhhhkk.. aooouhkk&#8230; aaahhk..,&#8221; seru Tante Yus menggelepar-gelepar lunglai.<br />
&#8220;Tante&#8230; ouhhh..!&#8221; gumamku merasakan keletihanku yang sangat terasa di seluruh bagian tubuhku.<br />
Dengan batang kemaluan yang masih tetap menancap erat pada vagiana Tante Yus, kami jatuh tertidur. Tante Yus berada di atasku.
</p>
<p style="text-align: justify;">Karena kelelahanku yang sangat menguasai seluruh jaringan tubuhku, aku benar-benar mampu tertidur dengan pulas dan tenang. Entah sudah berapa lama aku tertidur pulas, yang jelas saat kubangun udara dingin segera menyergapku. Sial. Aku sadar, ini di desa dekat Merapi, tentu saja dingin. Tidak berapa lama jam dinding berdentang lima sampai enam kali. Jam enam pagi..! Dengan agak malas aku beranjak berdiri, tetapi tidak kulihat Tante Yus ada di kamar ini. Sepi dan kosong. Dimana dia..? Aku terus mencoba ingin tahu. Dalam keadaan bugil ini, aku melangkah mendekati meja lampu. Secarik kertas kutemukan dengan tulisan dari tangan Tante Yustina.</p>
<p style="text-align: justify;">Andrew sayang, Tante kudu buru-buru ke Jakarta pagi ini. Udah dijemput. Ada pameran di sana. Tolong jaga rumah dan Vivi. Ttd, Yustina.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku menghela nafas dalam-dalam. Gila, setelah menikmati diriku, dia minggat. Tetapi tidak apa-apa, aku dapat beristirahat total di sini, ditemani Vivi. Eh, tapi dimana dia..? Aku segera mengambil selembar handuk putih kecil yang segera kulilitkan pada tubuh bawahku. Tanpa membuang waktu lagi aku segera menyusuri rumah, dari ruang ke ruang dari kamar ke kamar. Tetapi sosok bocah SD itu tidak kelihatan sama sekali. Aku hampir putus asa, tetapi mendadak aku mendengar suara gemericik air pancuran dari kamar mandi ruang tamu di depan sana. Vivi. Ya itu pasti dia. Aku segera memburu.</p>
<p style="text-align: justify;">Kubuka pintu kamar tamu yang luas dan asri ini. Benar. Kulihat pintu kamar mandinya tidak ditutup, ada bayangan orang di situ yang sedang mandi sambil bernyanyi melagukan Westlife. Edan, anak SD nyanyinya begitu. Aku hanya tersenyum saja. Perlahan aku mendekati gawang pintu. Aku seketika hanya menelan ludahku sendiri. Vivi berdiri membelakangiku masih asyik bergoyang-goyang sambil menggosok seluruh tubuhnya yang telanjang bulat itu dengan sabun. Rambut panjangnya tumbuh lurus dan hitam sebatas pinggang. Berkulit kuning langsat dan nampaknya halus sekali. Kusadari dia telah tumbuh lebih dewasa.</p>
<p style="text-align: justify;">Air shower masih menyiraminya dengan hangat. Pantatnya sungguh indah bergerak-gerak penuh gairah. Hanya aku belum lihat buah dadanya. Tanpa kuduga, Vivi membalikkan badannya. Aku yang melamun, seketika terkejut bukan main, takut dan khawatir membuatnya kaget lalu marah besar. Ternyata tidak.<br />
&#8220;Mas..? Mas Andrew..?&#8221; bertanya Vivi tidak percaya dengan wajah senang bercampur kaget.<br />
Aku hanya menghela nafas lega. Dapat kuperhatikan kini, buah dadanya Vivi telah tumbuh cukup besar. Puting-putingnya hitam memerah kelam dan tampak menonjol indah. Kira-kira buah dadanya ya, sekitar seperti tutup gelas itu. Seperti belum tumbuh, tetapi kok terlihat sudah memiliki daging menonjolnya. Sedangkan rambut kemaluannya sama sekali belum tumbuh. Masih bersih licin.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Hai vivi, apa kabarnya..?&#8221; tanyaku mendekat.<br />
Vivi hanya tersenyum, &#8220;Masih ingat ketika kita renang bersama di rumahku dulu..? Kita berdua kan..? Hmm..?&#8221; sambungku meraih bahunya.<br />
Air terus menyirami tubuhnya, dan kini juga tubuhku. Vivi mengangguk ingat.<br />
&#8220;Ya. Ngg.., bagaimana kalau kita mandi bareng lagi Mas. Vivi kangen&#8230; mas andrew.. ouh..!&#8221; ujarnya memeluk pinggangku.<br />
Aku mengangkut tubuhnya yang setinggi dadaku ini dengan erat.<br />
&#8220;Tentu saja, yuk..!&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Aku menurunkan Vivi.<br />
&#8220;Kapan Mas datangnya..?&#8221;<br />
&#8220;Tadi malam. Vivi lagi tidur ya..?&#8221;<br />
&#8220;Hm.. Mh..!&#8221;<br />
Aku melepas handukku yang kini basah. Saat kulepas handukku, Vivi tampak kaget melihat rambut kemaluanku yang tumbuh rapih. Segera saja tangannya menjamah buah kemaluan dan bantang kejantananku.<br />
&#8220;Ouh.., Mas sudah punya rambut lebat ya. Vivi belum Mas..,&#8221; ujarnya sambil memperhatikan vaginanya yang kecil.<br />
Tentu saja aku jadi geli, batang kemaluanku diraba-raba dan ditimang-timang jemari tangan mungil Vivi yang nakal ini.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Itu karena Vivi masih kecil. Nanti pasti juga memiliki rambut kemaluan. Hmm..?&#8221; ucapku sambil membelai wajahnya yang manis sekali.<br />
Vivi hanya tersipu. Sialnya, aku kini jadi kian geli saat Vivi menarik-narik batang kejantananku dengan candanya.<br />
&#8220;Ihhh.., kenyal sekali&#8230; ouh.., seperti belalai ya Mas..!&#8221;<br />
Aku jadi terangsang. Gila.<br />
&#8220;Belalai ini bisa akan jadi tumbuh besar dan panjang lho. Vivi mau lihat..?&#8221;<br />
&#8220;Iya Mas.., gimana tuh..?&#8221;<br />
&#8220;Vivi mesti mengulum, menghisap-hisap dan menyedotnya dengan kuat sekali batang zakar ini. Gimana..? Enak kok..!&#8221; kataku merayu dengan hati yang berdebar-debar kencang.<br />
Vivi sejenak berpikir, lalu tanpa menoleh ke arahku lagi, dia memasukkan ujung batang kejantananku ke dalam mulutnya. Wow..! Gadis kecil ini langsung melakukan perintahku, lebih-lebih aku mengarahkan juga untuk mengocok-ngocok batang kemaluanku ini, Vivi menurut saja, dia malah kegirangan senang sekali. Dianggapnya batang ku adalah barang mainan baginya.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Iya Mas. Tambah besar sekali dan panjang..!&#8221; serunya kembali melumat-lumatkan batang kejantananku dan mengocok keras batangnya.<br />
Sekarang Vivi kuajari lagi untuk meremas buah kemaluanku. Aku membayangkan semua itu bahwa Tante Yus yang melakukan. Indah sekali sensasinya. Tetapi nyatanya aku tengah dipompa nafsu seksku dari bocah cilik ini. Edan, sepupuku lagi. Tetapi apa boleh buat. Aku lagi kebelet sekali kini. Yang ada hanyalah Vivi yang lugu dan bodoh tetapi mengasyikan sekali. Batang kejantananku kini benar-benar telah tumbuh sempurna keras dan panjangnya. Vivi kian senang. Aku kian tidak tahan.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Teruskan Vi, teruskan&#8230; ya.., ya&#8230; lebih keras dan kenceng&#8230; lakukanlah Sayang..!&#8221; perintahku sambil mengerang-erang.<br />
Setelah hampir lima belas menit kemudian, air maniku muncrat tepat di dalam mulut Vivi yang tengah menghisap batang kemaluanku.<br />
&#8220;Creeet&#8230; crooot.. creet.. cret..!&#8221;<br />
&#8220;Hup.. mhhhp..!&#8221; teriak kaget Vivi mau melepaskan batang kemaluanku.<br />
Tetapi secepat itu pula dia kutahan untuk tetap memasukkan batang kemaluanku di dalam mulutnya.<br />
&#8220;Telan semua spermanya Vi. Itu namanya sperma. Enak sekali kok, bergizi tinggi. Telan semuanya, ya.. yaaa&#8230; begitu&#8230; terus bersihkan sisa-sisanya dari batangnya Mas..!&#8221; perintahku yang dituruti dengan sedikit enggan.<br />
Tetapi lama kelamaan Vivi tampak keasyikan mencari-cari sisa air maniku.<br />
&#8220;Enak sekali Mas. Tapi kental dan baunya, hmm.., seperti air tajin saat Mama nanak nasi..! Enak pokoknya..! Lagi dong Mas, keluarkan spermanya..!&#8221;<br />
Gila. Gila betul. Aku masih mencoba mengatur jalannya nafasku, Vivi minta spermaku lagi..? Edan anak ini.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Baik, tapi kini Vivi ikuti perintahku ya..! Nanti tambah asyik, tapi sakit. Gimana..?&#8221;<br />
&#8220;Kalau enak dan asyik, mauh. Nggak papa sakit dikit. Tapi spermanya ada lagi khan..?&#8221;<br />
Aku mengangguk. Vivi mulai kubaringkan sambil kubuka kedua belahan pahanya yang mulus itu untuk melingkari di pinggangku. Vivi memperhatikan saja. Air dari shower masih mengucuri kami dengan dingin setelah tadi sempat kuganti ke arah cool.<br />
&#8220;Auuuh, aduh.. Mas..!&#8221; teriak vivi kaget saat aku memasukkan batang kejantananku ke dalam liang vaginanya yang jelas-jelas sangat sempit itu.<br />
Tetapi aku tidak perduli lagi. Kukocok vagina Vivi dengan deras dan kencang sambil kuremas-remas buah dadanya yang kecil, serta menarik-narik puting-puting buah dadanya dengan gemas sekali. Vivi semakin menjerit-jerit kesakitan dan tubuhnya semakin menggerinjal-gerinjal hebat.<br />
&#8220;Sakiiit.. auuuh Mas.., Mas hentikan saja&#8230; sakiiit, perih sekali Mas, periiihhh&#8230; ouuuh akkkh&#8230; aouuuhkkk..!&#8221; menjerit-jerit mulut manisnya itu yang segera saja kuredam dengan melumat-lumat mulutnya.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Blesep.. blesep&#8230; slebb..!&#8221; suara persetubuhkan kami kian indah dengan siraman shower di atas kami.<br />
Aku semakin edan dan garang. Gerakan tubuhku semakin kencang dan cepat. Dapat kurasakan gesekan batang kemaluanku yang berukuran raksasa ini mengocok liang vaginan Vivi yang super rapat sempitnya. Dari posisi ini, aku ganti dengan posisi Vivi yang menungging, aku menyodok vaginanya dari belakang. Lalu ke posisi dia kupangku, sedangkan aku yang bergerak mengguncangkan tubuhnya naik, lalu kuterima dengan menikam ke atas menyambut vaginanya yang melelehkan darah.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Tidak Masss&#8230; ouh sakit.. uhhk&#8230; huuuk&#8230; ouhhh&#8230; sakiiit..!&#8221; tangisnya sejadi-jadinya.<br />
Tetapi aku tidak perduli, sepuluh posisi kucobakan pada tubuh bugil mungil Vivi. Bahkan Vivi nyaris pingsan. Tetapi disaat gadis itu hendak pingsan, puncak ejakulasiku datang.<br />
&#8220;Creeet&#8230; crooot.. sreeet&#8230; crreeet..!&#8221; muncratnya air mani yang memenuhi liang vaginanya Vivi bercampur dengan darahnya.<br />
Vivi jatuh pingsan. Aku hanya mengatur nafasku saja yang tidak karuan. Lemas. Vivi pingsan saat aku memasangkan kembali batang kemaluanku ke posisi dia, kugendong di depan dengan dadanya merapat pada dadaku. Pelan-pelan kujatuh menggelosor ke bawah dengan batang kemaluanku yang masih menancap erat di vaginanya.
</p>
<p style="text-align: justify;">Itulah pengalamanku dengan Tante Yus dan putrinya Vivi yang keduanya memang binal itu. Teriring salam untuk Vivi.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ceritasex.cn/ganasnya-gairah-birahi-tanteku/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Rini Keponakan Pembantuku yang Nakal</title>
		<link>http://www.ceritasex.cn/rini-keponakan-pembantuku-yang-nakal/</link>
		<comments>http://www.ceritasex.cn/rini-keponakan-pembantuku-yang-nakal/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 19 Jun 2009 15:03:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cerita Sex</dc:creator>
				<category><![CDATA[Daun Muda]]></category>
		<category><![CDATA[Sedarah]]></category>
		<category><![CDATA[Seks Umum]]></category>
		<category><![CDATA[Tante Girang]]></category>
		<category><![CDATA[keponakan]]></category>
		<category><![CDATA[ngentot]]></category>
		<category><![CDATA[orgy]]></category>
		<category><![CDATA[pembantu]]></category>
		<category><![CDATA[rini]]></category>
		<category><![CDATA[seks]]></category>
		<category><![CDATA[tante]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ceritasex.cn/?p=411</guid>
		<description><![CDATA[Kisah ini kembali terulang ketika keluarga gw membutuhkan seorang pembantu lagi. Kebetulan saat itu mbak Dian menganjurkan agar keponakannya Rini yang bekerja disini, membantu keluarga ini. Mungkin menurut ortu gw dari pada susah susah cari kesana kesini, gak pa pa lah menerima tawaran Dian ini. Lagian dia juga sudah cukup lama berkerja pada keluarga ini. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Kisah ini kembali terulang ketika keluarga gw membutuhkan seorang pembantu lagi. Kebetulan saat itu mbak Dian menganjurkan agar keponakannya Rini yang bekerja disini, membantu keluarga ini. Mungkin menurut ortu gw dari pada susah susah cari kesana kesini, gak pa pa lah menerima tawaran Dian ini. Lagian dia juga sudah cukup lama berkerja pada keluarga ini. Mungkin malah menjadi pembantu kepercayaan keluarga kami ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Akhirnya ortu menyetujui atas penawaran ini dan mengijinkan keponakannya untuk datang ke Jakarta dan tinggal bersama dalam keluarga ini.<br />
Didalam pikiran gw gak ada hal yang akan menarik perhatian gw kalau melihat keponakannya. “Paling paling anaknya hitam, gendut, trus jorok. Mendingan sama bibinya aja lebih enak kemutannya.” Pikir gw dalam hati.<br />
Sebelum kedatangan keponakannya yang bernama Rini, hampir setiap malam kalau anggota keluarga gw sudah tidur lelap. Maka pelan pelan gw ke kamar belakang yang memang di sediakan keluarga untuk kamar tidur pembantu.
</p>
<p style="text-align: justify;">Pelan pelan namun pasti gw buka pintu kamarnya, yang memang gw tahu mbak Dian gak pernah kunci pintu kamarnya semenjak kejadian itu. Ternyata mbak Dian tidur dengan kaki mengangkang seperti wanita yang ingin melahirkan. Bagaimanapun juga setiap gw liat selangkangannya yang di halus gak di tumbuhi sehelai rambutpun juga. Bentuknya gemuk montok, dengan sedikit daging kecil yang sering disebut klitoris sedikit mencuat antara belahan vagina yang montok mengiurkan kejantanan gw. Perlahan lahan gw usap permukaan vagina mbak Dian yang montok itu, sekali kali gw sisipin jari tengah gw tepat ditengah vaginanya dan gw gesek gesekan hingga terkadang menyentuh klitorisnya. Desahan demi desahan akhirnya menyadarkan mbak Dian dari tidurnya yang lelap.</p>
<p style="text-align: justify;">“mmmm&#8230;.sssshh&#8230;..oooohh, Donn&#8230; kok gak bangun mbak sih. Padahal mbak dari tadi tungguin kamu, sampai mbak ketiduran.” Ucap mbak Dian sama gw setelah sadar bahwa vaginanya disodok sodok jari nakal gw. Tapi mbak Dian gak mau kalah, tanpa diminta mbak Dian tahu apa yang gw paling suka.<br />
Dengan sigap dia menurunkan celana pendek serta celana dalam gue hingga dengkul, karena kejantanan gw sudah mengeras dan menegang dari tadi.<br />
Mbak Dian langsung mengenggam batang kejantanan gw yang paling ia kagumi semenjak kejadian waktu itu.<br />
Dijilat jilat dengan sangat lembut kepala kejantanan gw, seakan memanjakan kejantanan gw yang nantinya akan memberikan kenikmatan yang sebentar lagi ia rasakan. Tak sesenti pun kejantanan gw yang gak tersapu oleh lidahnya yang mahir itu. Dikemut kemut kantong pelir gw dengan gemasnya yang terkadang menimbulkan bunyi bunyi “plok.. plok”. Mbak Dian pun gak sungkan sungkan menjilat lubang dubur gw. Kenikmatan yang mbak Dian berikan sangat diluar perkiraan gw malam itu.<br />
<span id="more-411"></span><br />
“Mbak&#8230;.uuuh. enak banget mbak. Trus mbak nikmatin kont*l saya mbak.” Guyam gw yang udah dilanda kenikmatan yang sekarang menjalar.
</p>
<p style="text-align: justify;">Semakin ganas mbak Dian menghisap kont*l gw yang masuk keluar mulutnya, ke kanan kiri sisi mulutnya yang mengesek susunan giginya. Kenikmatan yang terasa sangat gak bisa gw ceritain, ngilu. Hingga akhirnya pangkal unjung kont*l gw terasa ingin keluar.</p>
<p style="text-align: justify;">“Mbak&#8230; Donny mau keluar nih&#8230;” sambil gw tahan kont*l gw didalam mulutnya, akhirnya gw muncratin semua sperma didalam mulut mungil mbak Dian yang berbibir tipis itu.<br />
“Croot&#8230; croot&#8230; Ohhh&#8230; nikmat banget mbak mulut mbak ini, gak kalah sama mem*k mbak Dian. Namun kali ini mbak Dian tanpa ada penolakan, menerima muncratan sperma gw didalam mulutnya. Menelan habis sperma yang ada didalam mulutnya hingga tak tersisa. Membersihkan sisa sperma yang meleleh dari lubang kencing gw. Tak tersisa setetespun sperma yang menempel di batang kont*l gw. Bagaikan wanita yang kehausan di tengah padang gurun sahara, mbak Dian menyapu seluruh batang kont*l gw yang teralirkan sperma yang sempat meleleh keluar dari lubang kencing gw.</p>
<p style="text-align: justify;">Lalu dengan lemas aku menindih tubuhnya dan berguling ke sisinya. Merebahkan tubuh gw yang sudah lunglai itu dalam kenikmatan yang baru tadi gue rasakan.<br />
“Donn&#8230; mem*k mbak blom dapet jatah&#8230; mbak masih pengen nih, nikmatin sodokan punya kamu yang berurat panjang besar membengkak itu menyanggah di dalam mem*k mbak&#8230;.” pinta mbak Dian sambil memelas. Mengharapkan agar gw mau memberikannya kenikmatan yang pernah ia rasakan sebelumnya.<br />
“Tenang aja mbak&#8230; mbak pasti dapat kenikmatan yang lebih dari pada sebelumnya, karena punya saya lagi lemes, jadi sekarang mbak isep lagi. Terserak mbak pokoknya bikin adik saya yang perkasa ini bangun kembali. Oke.”</p>
<p style="text-align: justify;">Tanpa kembali menjawab perintah gw. Dengan cekatan layaknya budak seks. Mbak Dian menambil posisi kepalanya tepat di atas kont*l gw, kembali mbak Dian menghisap hisap. Berharap keperkasaan gw bangun kembali. Segala upaya ia lakukan, tak luput juga rambut halus yang tumbuh mengelilingi batang kont*l gw itu dia hisap hingga basah lembab oleh air ludahnya.<br />
Memang gw akuin kemahiran pembantu gw yang satu ini hebat sekali dalam memanjakan kont*l gw didalam mulutnya yang seksi ini. Alhasil kejantanan gw kembali mencuat dan mengeras untuk siap bertempur kembali.<br />
Lalu gw juga gak mau lama lama seperti ini. Gw juga mau merasakan kembali kont*l gw ini menerobos masuk ke dalam mem*knya yang montok gemuk itu. Mengaduk ngaduk isi mem*knya.<br />
Gw memberi aba aba untuk memulai ke tahap yang mbak Dian paling suka. Dengan posisi women on top, mbak Dian mengenggam batang kont*l gue. Menuntun menyentuh mem*knya yang dari setadi sudah basah. kont*l gw di gesek gesek terlebih dahulu di bibir permukaan mem*knya. Menyentuh, mengesek dan membelah bibir mem*knya yang mengemaskan. Perlahan kont*l gw menerobos bibir mem*knya yang montok itu. Perlahan lahan kont*l gw seluruhnya terbenam didalam liang kenikmatannya. Goyangan pinggulnya mbak dian membuat gw nikmat banget. Semakin lama semakin membara pinggul yang dihiasi bongkahan pantat semok itu bergoyang mempermainkan kont*l gw yang terbenam didalam mem*knya.
</p>
<p style="text-align: justify;">“uh&#8230; Donn. Punya kamu perkasa banget sih. Nikmat banget&#8230;.” dengan mimik muka yang merem melek menikmati hujaman kont*l gw ke dalam liang senggamanya.</p>
<p style="text-align: justify;">“mem*k mbak Dian juga gak kalah enaknya. Bisa pijit pijit punya saya&#8230; mem*k mbak di apain sih&#8230; kok enak banget.”</p>
<p style="text-align: justify;">“Ih&#8230; mau tahu aja. Gak penting diapain. Yang penting kenikmatan yang diberikan sama mem*k mbak sama kamu Donn&#8230;.” sahut mbak Dian sambil mencubit pentil tetek gw.</p>
<p style="text-align: justify;">“Donn&#8230; ooohh&#8230;. Donn&#8230;. mbak mmmmauu kluuuuaaarr&#8230; ooohh.” Ujar mbak Dian sambil mendahakkan kepalanya ke atas, berteriak karena mencapai puncak dari kenikmatannya. Dengan lunglai mbak Dian ambruk merebahkan tubunya yang telanjang tepat di atas badan gw. Untung saja posisi kamar mbak Dian jauh dari kamar kamar saudara dan ortu gw. Takutnya teriakan tadi membangunkan mereka dan menangkap basah persetubuhan antara pembantu dengan anak majikannya. Gak kebayang deh jadinya kayak apa.<br />
Lalu karena gw belum mencapai kenikmatan ini, maka dengan menyuruh mbak Dian mengangkatkan pantatnya sedikit tanpa harus mengeluarkan batang kont*l gw dari dalam liang kenikmatannya. Masih dengan posisi women on top. Kembali kini gue yang menyodok nyodok mem*knya dengan bringas. Sekarang gw gak perduli suara yang keluar dari mulut mbak Dian dalam setiap sodokan demi sodokan yang gw hantam kedalam mem*knya itu.</p>
<p style="text-align: justify;">“Donn&#8230;. kamu kuat banget Donn&#8230; aaah&#8230; uuuhhh&#8230; ssshhhh&#8230;. ooohhh&#8230;” erangan demi erangan keluar silih berganti bersama dengan keringat yang semakin mengucur di sekujur badan gw dan mbak Dian.<br />
“Truuuus&#8230; Donn&#8230; sodok trusss mem*k mbak Doooonn. Jangan perduliin hantam truuuss.” Erangan mbak Dian yang memerintah semakin membuat darah muda gw semakin panas membara. Sekaligus semakin membuat gw terangsang.<br />
“Suka saya ent*t yah mbak&#8230; kont*l saya enak’kan&#8230; hhmmm.” Tanya gw memancing birahinya untuk semakin meningkat lagi.<br />
“hhhhhmmmm&#8230; suka&#8230;.sssshhh&#8230; banget Donn. Suka banget.” Kembali erangannya yang tertahan itu terdengar bersama dengan nafasnya yang menderu dera karena nafsu birahinya kembali memuncak.<br />
“Bilang kalau mbak Dian adalah budak seks Donny.” Perintah gw.<br />
“Mbak budak seks kamu Donn, mbak rela meskipun kamu perkosa waktu itu&#8230;. Ohhhh&#8230; nikmatnya kont*l kamu ini Donn.”</p>
<p style="text-align: justify;">Semakin kencang kont*l gw ent*tin mem*knya mbak Dian. Mungkin seusai pertempuran ranjang ini mem*knya mbak Dian lecet lecet karena sodokan kont*l gw yang tak henti hentinya memberikan ruang untuk istirahat.<br />
Merasa sebentar lagi akan keluar, maka gw balikkan posisi tubuh mbak Dian dibawah tanpa harus mengeluarkan kont*l yang sudah tertanam rapi didalam mem*knya. Gw peluk dia trus gw balikin tubuhnya kembali ke posisi normal orang melakukan hubungan badan.<br />
Gw buka lebar lebar selangkangan mbak Dian dan kembali memompa mem*k mbak Dian. Terdengar suara suara yang terjadi karena beradunya dua kelamin berlainan jenis. “plok&#8230; plok&#8230;” semakin kencang terdengar dan semakin cepat daya sodokan yang gw hantam ke dalam liang vaginanya. Terasa sekali bila dalam posisi seperti ini, kont*l gw seperti menyentuh hingga rahimnya. Setiap di ujung hujangan yang gw berikan. Maka erangan mbak Dian yang tertahan itu mengeras.
</p>
<p style="text-align: justify;">Sampai saatnya terasa kembali denyut denyutan yang semula gw rasakan, namun kali ini denyut itu semakin hebat. Seakan telah di ujung helm surga gw. Gw tahan gak mau permainan ini cepat cepat usai. Setiap mau mencapai puncaknya. Gw pendam dalam dalam kont*l gw di dalam lubang senggamanya mbak Dian.</p>
<p style="text-align: justify;">Tiba tiba rasa nikmat ini semakin&#8230;. ooohhh&#8230;.ssshhhh&#8230;</p>
<p style="text-align: justify;">Denyut denyut itu semakin menjadi&#8230; tanpa dapat gw tahan lagi. Akhirnya.<br />
“Mbak&#8230; Donn&#8230; mau kluuuarr nih&#8230;..”<br />
“Donn&#8230; jangan dicabut keluarin didalam saja, jangan sia sia in sperma kamu sampai terbuat. Kluarin di dalam aja Donn.” Seru mbak Dian yang mengharapkan agar gw memuncratkan didalam liang senggamanya itu.<br />
“Aaaahh&#8230;.. Crooot&#8230; Croot.” Akhirnya sperma gw keluar didalam liang senggama mbak Dian. Bagi mbak Dian sperma yang gw semprotkan di liang kewanitaannya sangat nikmat sekali, berbeda dengan mantan suaminya yang dulu.<br />
Karena banyaknya sperma yang keluar. Ketika gw cabut kont*l gw dari lubang kewanitaan mbak Dian. Sedikit demi sedikit mengalir keluar dari selah selah belahan bibir vagina mbak Dian sperma yang tadi gw keluarin.<br />
“Thank’s yah mbak. Mbak Dian kembali lagi menyalurkan hasrat saya untuk menyetubuhi mbak Dian yang ke sekian kalinya.” Ucap gw kepada mbak Dian sambil merebahkan badan gw yang lemas terkuras karena pertempuran yang membawa kenikmatan ini.<br />
“Mbak yang minta terima kasih Donn. Bukannya kamu, kamu sudah mau memberikan kenikmatan yang slalu mbak dambakan ini.” Kata mbak Dian sambil meraih kembali batang kont*l gw yang sudah tergulai lemas.<br />
“Mbak suka yah sama kont*l saya&#8230; nanti bangun lagi loh. Apa mbak Dian mampu meladeni hercules ini kalau nanti dia bangun kembali.” Goda gw ke mbak Dian sambil meremas remas gunung kembarnya yang berukuran 36 B itu dengan puting yang mungil seperti wanita yang belum menikah.<br />
“Ihh&#8230;. kamu kuat banget sih. Bisa mati kalau kamu hantam lagi punya mbak sama tongkat ajaib kamu ini. Tadi saja mbak sudah berkali kali mencapai puncaknya. Sedangkan kamu hanya dua kali.”. “Donn&#8230; mungkin sungguh beruntung sekali bila nanti wanita yang menjadi istri mu.” Kata mbak Dian yang mengakui keperkasaan tongkat “Dewa Cabul” ini.<br />
“hahahaha&#8230;. habisnya tubuh mbak sungguh mengiurkan bila hanya dipandang saja, kan lebih nikmat lagi bila dirasakan langsung.” Tawa gw.</p>
<p style="text-align: justify;">Beberapa hari kemudian. Sepulangnya gw dari rumah temen gw di bilangan Mangga Dua, Jakarta Utara. Gw di kejutkan dengan sesosok hadirnya wanita yang memiliki paras ayu dengan mata yang bulat, seakan akan mengambarkan paras muka yang sangat mengiurkan bila di setubuhi. Bibir yang tipis merah merona bukan karena memakai lipstik, samar samar terlihat tumbuh bulu halus di pinggir bibir yang menantang untuk dicium. Memiliki postur tinggi badan sekitar 165cm, berkulit putih mulus. Memiliki rambut panjang hitam lurus sebahu, rambut halus yang tumbuh disekujur lengan putihnya pun menjadi sebuah pesonanya. Memiliki lingkaran dada 36 C yang membuat hati laki laki ingin melihat gundukan daging yang terbungkus itu secara langsung, didukung penuh dengan bongkahan pantatnya yang semok bagaikan buntut mobil BMW yang menungging kebelakang bila berjalan. Goyangannya begitu akan mengoda hati laki laki yang menatap pantulan pantatnya yang sungguh menawan itu.<br />
Terbayang sepintas ingin menikmati tubuh indah itu meski bagaimana caranya, terlintas juga bila Rini menolak maka bakalan gw ambil jalan memperkosanya.</p>
<p style="text-align: justify;">“Donn&#8230; kok ngelamun aja sih. Sudah makan blom, sana makan mbak Dian masak enak tuh hari ini. Katanya sih menu masakan yang paling kamu suka.”. “Sana makan dulu, jangan bengong&#8230;” tegur ibuku yang membuyarkan lamunan fantasi seks gw dengan Rini saat itu.<br />
Akhirnya Rini mulai berkerja menjadi pembantu di keluarga gw. Sehari hari Rini suka pakai daster sedengkul. Terkadang kalau Rini lagi membersihkan ruangan keluarga, suka gw curi liat goyangan pantatnya yang bulat menantang untuk diremas itu. sekali kali kalau dia sedang menunduk membersihkan meja kaca diruangan tersebut. Terlihat dengan jelas buah dadanya yang menyembur ingin keluar dari BH yang ia gunakan, entah karena kekecilan atau buah dadanya yang terlalu besar untuk anak seusia Rini yang sekarang beranjak 17 tahun.<br />
Hingga gw nekat untuk memenuhi hasrat setan gw ini.
</p>
<p style="text-align: justify;">Pernah waktu itu ketika keadaan rumah sedang kosong. Nyokap ke Bandung ada acara arisan ibu ibu. Bokap sibuk dengan urusannya sendiri di kantornya yang terletak di kawasan perkantoran Sudirman, Jakarta. Kakak gw masing masing sudah menikah dan punya keluarga masing masing. Sedangkan mbak Dian sendiri ijin pulang kampung untuk menengok anaknya hasil dari mantan suaminya. Sebelum pulang mbak Dian meminta untuk menyetubuhi dirinya sebelum nanti ia merindukan “tongkat ajaib” ini bila nanti di kampungnya. Begitulah mbak Dian kalau menyebut adik gw dengan sebutan itu. Mungkin ini juga gue anggap kesempatan emas bagi gw, karena saat ini keadaan rumah kosong hanya tinggal gw dan seorang wanita belia putih merangsang untuk segera menikmati bongkahan daging yang terbelah dan masih terbungkus rapi di balik celana dalam Rini. Serta dua gunung kembar yang jelas jelas hampir loncat dari rumahnya yang kekecilan.</p>
<p style="text-align: justify;">Siang itu gw pura pura tidur di kamar gw, karena gw tahu jam berapa dia bersihin kamar gw, jamberpa dia nyapu dan jam berapa saja kalau Rini akan mandi.<br />
Waktu itu gw tidur hanya mengenakan CD ketat yang secara otomatis membentuk lekukan lekukan di luar CD gw. Rini biasanya masuk kedalam kamar gw dengan mengetuknya terlebih dahulu, lalu akan masuk bila sudah gw iya kan.<br />
Pertama tama dia kikuk lihat gw tidur terlentang dengan hanya mengenakan CD saja. Terlebih lagi Rini suka melirik nakal kearah selangkangan gw yang saat itu makin tegang kala lihat Rini memakai daster dengan lubang leher yang agak melebar dan tinggi daster yang Rini kenakan juga amatlah minim sekali. Lebih tepatnya daster itu di sebut dengan baju tidur terusan tanpa lengan tangan. Mengaitkan antara sisi depan dan belakang hanya dengan seutas ikatan tali berwarna putih.<br />
Melihatnya saja membuat tangan gw terasa gatal sekali ingin cepat cepat menerkam tubuh sintal itu dan menindihinya di bawah tubuh gw. Merasakan seluruh jengkal tubuhnya, terutama merasakan membelah durian kampung rasa kota metropolitan.</p>
<p style="text-align: justify;">Sekitar 20 menit kemudian, tiba tiba Rini meninggalkan sapu yang di tangannya, tergeletak di bawah lantai. Perlahan lahan gw perhatiin gerakkannya yang mulai serba salah itu. Mengendap endap Rini berjalan menghampiri gw yang pura pura tertidur di atas ranjang gw yang berukuran no 1. Kemudian ditatap seongkongan batang yang tersembunyi menantang di balik Cd yang gw pakai.<br />
Dalam hati gw, akhirnya dugaan gw tentang wanita berbulu halus di lengan dan pahanya ternyata benar. Bahwa memiliki hasrat seks yang tinggi untuk merasakannya.<br />
Dengan posisi Rini berdiri di sisi ranjang, mulai perlahan tangannya ia julurkan mendekati punya gw yang tersembunyi itu. Di usap usap batang kont*l gw seirama. Naik&#8230; turun&#8230; yang terkadang diselinggi dengan pijatan kecil pada katong pelir dan usapan halus di kepala kont*l gw yang membengkak karena tegang dan keluar dari sisi atas CD yang gw pakai itu.<br />
Hati hati dia mulai menarik ke dua sisi atas CD gw, pelan pelan hingga membebaskan hercules yang sedari tadi ingin keluar.<br />
Digenggam batang kont*l gw dengan tangan kanannya dan mulai memainkan batangnya sambil menaik turunkan tangannya di barengi jilatan jilatan kecil yang menyapu permukaan kepala kont*l gw yang terlihat mengkilap membengkak karena rangsangan yang diberikan oleh Rini lewat jilatan jilatan lidahnya yang sangat nikmat itu. lama lama semakin beringas Rini melahap batang kont*l gw hingga masuk semuanya ke dalam mulutnya. Terasa sekali ujung batang kont*l gw mneyentuh hingga kerongkongannya. Terkadang digigit kecil pada helm surga gw. Akibatnya geli seperti ingin kencing.<br />
Tak hanya itu. samar samar terlihat tangan sebelah kirinya mulai terselip diantara dasternya dengan kaki yang terbuka agak tertekuk pada lututnya. Rintihan demi rintihan silih berganti, seperti sudah tak memperdulikan keberadaan gw yang sedang ia nikmati. Akhirnya memang gw akui sendiri permainan yang Rini lakukan sangat nikmat sekali, melebihi bibinya yang slama ini gw anggap paling pro dalam hal seperti ini. Erangan gw akhirnya keluar juga dari sekian lama gw tahan agar dia nikmatin dulu hal yang ia lakukan terhadap hercules gw.
</p>
<p style="text-align: justify;">“Rin&#8230; kamu sedang apa&#8230; kok celana dalam saya kamu buka. Dan bukannya kamu sedang membersihkan kamar saya.” Pura pura gw kaget dan memergoki Rini sedang mengoral kont*l gw.</p>
<p style="text-align: justify;">Mungkin karena malu karena tertangkap basah mengoral anak majikannya yang sedang tidur. Rini langsung keluar dengan muka yang merah karena malu. Gw pun gak tinggal diam, gw susul Rini yang keluar tanpa berkata apa apa. Terlihat di ruangan tengah. Rini sedang duduk sambil menutup mukanya karena kejadian yang tadi itu. perlahan gw mendekati Rini dan duduk sebelah kiri sampingnya.</p>
<p style="text-align: justify;">“Kenapa Rin&#8230; kok malahan diam saja.” Tanya gw dengan nada yang sopan teratur, seakan seorang dosen fakultas yang bertanya kepada mahasiswi yang bersalah.</p>
<p style="text-align: justify;">“Rini&#8230; malu sama kakak&#8230;” jawab Rini dengan masih menutup muka cantiknya. Dengan sedikit rambut halus yang tumbuh di atas bibir merah tipisnya.</p>
<p style="text-align: justify;">“Kenapa malu&#8230; apa karena tadi Rini mengoral kakak yah&#8230; kalau boleh kakak tahu. Kamu tahu hal itu dari mana Rin&#8230;” tanya gw kembali sekedar ingin tahu pengalamannya tentang oral kelamin laki laki.</p>
<p style="text-align: justify;">“mmmmhh&#8230; Rini pernah nonton dirumah temen Rini. Rini lihat cewek menghisap punya laki lakinya dengan begitu enaknya.” Jawab Rini dengan sejujur jujurnya menceritakan pengalamannya tentang hal mengoral.</p>
<p style="text-align: justify;">“Trus kenapa tadi&#8230; saat kak Donny sedang istirahat. Kenapa kamu membuka celana dalam kakak dan mengoral kemaluan kakak dengan begitu nikmatnya.” Tanya gw yang seperti mengintrogasi seorang tersangka pembunuhan tingkat kakap.</p>
<p style="text-align: justify;">“Habis&#8230; punyanya kakak gede banget dan membentuk diluar celana kak Donny. Rini pertama tama hanya penasaran saja ingin melihat bentuk punya kak Donn&#8230; tapi, Rini gak tahu. Tiba tiba Rini ingin sekali memasukkan punya kak Donny kedalam mulut Rini. Layak seperti film yang pernah Rini tonton di rumah teman Rini itu.” jawab Rini dengan begitu polosnya ingin tahu dan merasakan menghisap kelamin laki laki.</p>
<p style="text-align: justify;">“Trus sekarang Rini masih pengen&#8230; atau mau rasa yang lebih dari yang tadi Rini lakukan terhadap kak Donny barusan.” Tanya gw dengan mengusap usap paha putihnya yang terlihat hingga pangkal pahanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Rini bagaikan terkunci bibirnya untuk menjawab penawaran gw itu. hanya dengan menganggukna kepalanya yang berartikan iya.<br />
Perlahan gw kecup bibir tipis yang sempat membuat gw ingin sekali merasakan nikmat bibir gadis berumur 17 tahun yang sekarang terpampang dihadapan gw.<br />
Dengan lembut gw mengecup bibir Rini, perlahan gw sapu setiap detail bibir itu. lembut, halus, seperti makanan agar agar. Perlahan gw menurunkan celana gw bersamaan dengan CD yang tadi sempat Rini turunin.<br />
Gw tuntun tangan kirinya menuju hercules yang telah siap sedari tadi bertahan ingin ikut merasakan kembali usapan dan hisapan gadis 17 tahun ini lagi.<br />
Di usap usap batang kont*l gw yang menegang dengan keras, bersamaan dengan nafas yang semakin meninggi karena didera nafsu darah perawan yang belum terjamah oleh laki laki. Tak ingin kalah dengan kegiatan tangan Rini, kini tangan gw mulai mengusap lembut gunung kembar yang membusung menantang untuk diremas oleh tangan perkasa. Tanpa gw perintah atau gw kasih petunjuk. Rini dengan kesadarannya membuka daster berserta bra kekecilan yang menutupi buah dadanya yang berukuran 36 C dengan pentil merah kecil menantang ingin sesegera di hisap dan mungkin di gigit kecil.<br />
Sesaat langsung gw tarik tubuh mungil itu ke dalam jangkauan dekapan gw. Dengan sigap gw hisap puting susu Rini yang menantang dan ternyata telah mengeras sedaritadi. Rini ternyata tak ingin hanya dia seorang yang merasakan kenikmatan ini bila pasangannya tak merasakan kenikmatan ini juga.<br />
Disambar batang kont*l gw tegang mnegacung tegak berdiri, berirama dengan desahan suaranya. Rini memanjakan kont*l gw dengan sangat lembut. Seakan akan tahu benda yang kini ia genggam sekarang adalah pusaka seseorang yang sekarang memberikan ia kenikmatan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
</p>
<p style="text-align: justify;">“Uuuuhh&#8230;.ssshhh&#8230; uuuuuhhhhh&#8230;. Kak&#8230; uuuuuhhh. Enak banget kak&#8230; Uuuuuhh&#8230;” desah Rini tanpa melepaskan genggamannya dari batang kont*l gw. Seakan akan takut kehilangan tongkat pusaka warisan nenek moyang.</p>
<p style="text-align: justify;">“Rin&#8230; enakkan. Kak Donny gak bohongkan&#8230; ini hanya pemanasan saja. Nanti&#8230; nanti permainan yang sesungguhnya Rini akan merasakan melayang ke surga tingkat tertinggi.” Seru gw memancing agar birahi Rini semakin terbakar dengan omongan gw.</p>
<p style="text-align: justify;">“HHmmm&#8230; enak kak&#8230; enak&#8230; uuuuuhhhh&#8230;.uuuuhhhh&#8230;.kak. berikan Rini kenikmatan yang kakkkaak jannnjiiin iiiituuuu&#8230;” seru Rini dibarengi dengan desahan yang tertahan.</p>
<p style="text-align: justify;">Dengan tangan sebelah kanan mengenggam batang kont*l gw. Mengesek gesekkan kepala kont*l gw pada bibir mem*knya yang masih malu malu mereka itu. perlahan lahan dengan dibantu cairan yang keluar dari sela sela mem*knya, secara langsung membantu melancarkan kont*l gw untuk menerobos masuk dan sesegera mungkin merasakan kehangatan mem*knya Rini.<br />
Perlahan gw dorong batang kont*l gw hingga membuat kedua bibir mem*k Rini ikut tertekan kedalam. Terpampang muka Rini yang meringis menahan sakit ketika benda tumpul berurat hendak memaksa masuk kedalam liang kewanitaan yang selama ini slalu Rini jaga.<br />
Dengan susah payah, akhirnya kepala kont*l gw berhasil masuk. Perlahan gw tekan kembali dengan sedikit keras dengan tangan gw sebelah kiri memeras buah dadanya yang putih serta puting susu yang mengeras meruncing ke depan.</p>
<p style="text-align: justify;">“Tahan yah Rin&#8230; ini hanya pertamanya saja yang sakit. Nanti setelah punya kak masuk ke dalam mem*k kamu. Bukan sakit yang akan kamu rasakan lagi, tapi kenikmatan yang pernah sebelumnya kak janjikan kepada kamu tadi.” Rayu gw untuk menenangkan sakit yang ia derita saat kont*l gw akan menerobos liang surganya.<br />
Rini tak menjawab perkataan gw. Hanya menganggukkan kepalanya dan sesekali menatap ke arah gw yang sekarang akan menyetubuhinya lebih lanjut.
</p>
<p style="text-align: justify;">“Aaaakkkhh&#8230;. kkaakk&#8230; saaakkkit. Kak. Sakit banget.” Teriak Rini setelah seluruh batang kont*l gw berhasil menembus gerbang yang tadi menintip malu malu.</p>
<p style="text-align: justify;">Namun gw gak akan menyia yia kan usaha gw yang tadi begitu susahnya menerobos mem*knya.<br />
Pelan pelan gw tarik batang kont*l gw hingga hanya menyisakan setengahnya di dalam dan kembali menekam batang kont*l gw masuk kedalam lagi. Gw lakukan berkali kali biar mem*k Rini bisa menyesuai benda asing yang menganjal di tengah tengah rongga sempit yang masih perawan itu. selama 3 menit lebih gw lakukan pengadaptasian di mem*knya Rini. Bisa gw liahat di pantulan kaca wastafel ada tetesan air mata yang mengalir di kedua pipi halusnya. Namun selang beberapa menit kemudian bukan isak tangis yang kini terdengar namun desahan yang mirip terdengar kini.
</p>
<p style="text-align: justify;">“Gimana Rin&#8230; masih sakit gak punya kamu.” Tanya gw memastikan rasa yang kini ia rasakan tanpa menghentikan penestrasi kedalam liang kewanitaannya.</p>
<p style="text-align: justify;">“Kak&#8230; kak. Agak lebih cepat dan agak keras dong tekannya. Enak&#8230; sekarang enak kak.” Ujar Rini memberikan izin gw untuk melanjutkan ke tahap selanjutnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Lalu tanpa melanjutkannya gw mempercepat sodokan kont*l gw ke dalam mem*knaya yang seirama dengan goyangan pantat Rini yang mendorong pantatnya yang putih bulat itu ke belakang.<br />
Sodokan demi sodokan gw pompa terus menerus ke mem*k perawan yang sempit itu. terasa sekali di sekujur batang kont*l gw timbul rasa ngilu yang begitu amat sangat nikmatnya.
</p>
<p style="text-align: justify;">Semakin lama gw percepat irama pompaan kont*l gw yang diiringi desahan haus seorang wanita yang baru pertama kali merasakan surga dunia.</p>
<p style="text-align: justify;">“uuuuhhh&#8230;. ssshhhh&#8230;. kak. Lagi kak. Lebih keras.” Pinta Rini yang merasa kurang kencang menyetubuhinya.</p>
<p style="text-align: justify;">“Gila nih perawan, segini kencangnya gw hantam pake kont*l gw, dia bilang kurang!!!!” umpat gw dalam hati yang merasa heran atas hasrat seks yang terpendam dalam diri Rini ini.<br />
Mungkin karena terasa terkuras tenaga yang ada didalam badan gw ini. Akhirnya gw minta kepada Rini untuk mengubah posisi ngent*tnya. Gw gendong Rini merapat ke dinding rumah gw. Dengan kedua tangan Rini melingkar di leher gw. Kedua kakinya melingkar dipinggang gw seperti anak kecil yang sedang ingin memanjat pohon. Dengan cepat ia meraih batang kont*l gw dan meletakkan kembali ke dalam liang kewanitaannya. Seakan akan tak mau sampai kenikmatan yang tadi ia rasakan terputus sebelum ia mencapai puncak kenikmatannya yang selanjutnya. Dengan gaya mengendong Rini dan sambil berjalan menuju ke dalam kamar gw yang pertama kali Rini mengoral kont*l gw tadi.</p>
<p style="text-align: justify;">Merebahkan tubuh mungil Rini yang mengiurkan itu di atas ranjang gw. Berusaha untuk tidak merubah posisi keberadaan kont*l gw yang sudah menancap didalam mem*knya.<br />
Dengan mengangkat kedua kakinya dan menaruhkannya di atas bahu gw, membuat lebih leluasa kont*l gw untuk keluar masuk mem*knya Rini.</p>
<p style="text-align: justify;">“Dah gak sakit lagi’kan&#8230; enak’kan sekarang rasanya. Eeehhhhmmm&#8230; eeehhhhmm&#8230;. enak Rin. Kalau kakak sodok mem*k Rini kayak gini.” Tanya gw terhadap Rini dengan posisi setengah tertindih oleh badan gw.<br />
Rini hanya menatap gw yang sedang memompanya sambil mengigit tipis bibir bawanya yang mungil. Dengan menganggukkan kepala dan mengucap usapkan kedua tangannya pada dada gw yang bidang.<br />
Namun ada satu ekspresi muka Rini yang buat gw sungguh sungguh terangsang banget. Saat gw hentakin dengan keras batang kont*l gw ke dalam liang kemaluannya. Saat itu paras ayunya semakin merangsangkan dengan bibir mungil nya yang membuka sedikit, seperti mengharapkan rasa nikmat yang lebih.
</p>
<p style="text-align: justify;">“Rin&#8230; mem*k kamu memang sungguh nikmat sekali&#8230; beda sekali dengan mem*knya mbak Dian.” Kata gw dengan tanpa sadar mengucapkan kata kata itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Dengan paras muka kaget, Rini menatap gw yang masih terus memompa mem*knya dengan cepat. Namun Rini hanya diam tanpa mempersoalkan bahwa gw juga sudah pernah mencicipi liang kenikmatan bibinya Dian.<br />
Selang beberapa menit. Rini meminta agar merubah posisi senggamanya menjadi women on top. Alasannya ia lebih menikmati bila liang kewanitaannya ditikam oleh kont*l gw dari bawah. Sensasi yang akan ia rasakan lebih nikmat dibandingkan dengan gaya sebelumnya.<br />
Perlahan gw merubah posisi kembali. Namun kali ini terpaksa harus mencabut terlebuh dahulu bazzoka yang sudah tertancap di laras Rini.<br />
Dengan berirama Rini mengoyangkan pantatnya yang bulat indah itu maju mundur, layaknya seseorang yang sedang naik kuda pacuan.<br />
Ekspresi Rini kali ini membuat gw sungguh tergila gila akan perlakuan yang ia perbuat atas kont*l gw ini. Terasa sekali kont*l gw mengaduk seluruh isi liang kewanitaannya. Terkadang maju mundur, terkadang berputar putar seperti goyangan salah satu artis Inul daratista yang sedang goyang ngebor.
</p>
<p style="text-align: justify;">“Rin&#8230;. nikmat banget. Trusss Rin. Jangan berhenti.” Terasa kont*l gw akhirnya mendenyut denyut akan memuntahkan sesuatu dari pangkalnya. “Gila enak banget, mem*k kamu memang kakak akuin lebih nikmat dibandingkan dengan mbak Dian. Uuuuhhh&#8230; damn. Trus&#8230; Rin.” Umpat gw yang merasa akan mencapai puncaknya.</p>
<p style="text-align: justify;">“Kak&#8230; Rini mau&#8230;. mmmmauu&#8230;. sssssshhh&#8230;. kkakak&#8230;. oooooohhh&#8230;. kkllluar.” Desah Rini yang memberitahukan gw ia mau mencapai puncaknya juga.</p>
<p style="text-align: justify;">“Rin&#8230; tahan sebentar lagi&#8230; seddiiikkit lagi. Kita keluarin samamma yah&#8230;.uuuhh.”</p>
<p style="text-align: justify;">Semakinkencang goyangan yang dibuat oleh Rini. Dan akhirnya&#8230;.</p>
<p style="text-align: justify;">“Aaakkkhhh&#8230;.. kakak.” Teriak Rini sambil merebahkan tubuhnya yang lemas terkuras di atas tubuh gw. Dengan posisi batang kont*l gw yang masih menancap didalam mem*knya. Karena Rini tak mampu menahan dorongan yang memaksa. Akhirnya Rini mencapai puncaknya terlebih dahulu. Dengan kencang gw hujam kont*l gw semakin cepat ke dalam mem*knya. Tanpa memperdulikan tubuh Rini yang sudah terbujur lemas di atas badan gw.</p>
<p style="text-align: justify;">“Crooot&#8230;. Croot&#8230;.” sperma gw muncrat semuanya didalam rahim Rini. Karena banyaknya sperma yang keluar memenuhi rahimnya hingga tak tertempung. Sperma yang gw keluarin itu mengalir melalui sela sela bibir mem*k Rini yang montok itu.<br />
Tanpa mencabut bazzoka yang masih menancap. Gw biarkan Rini istirahat, tidur diatas badan gw layaknya seorang anak kecil yang tertidur karena kelelahan.<br />
Dalam satu hari penuh gw setubuhi Rini terus menerus. Mumpung rumah gak ada siapa2. hanya Rini dan gw. Dari pagi hingga malam jam 9 malam sebelum seluruh anggota keluarga gw pulang ke rumah.
</p>
<p style="text-align: justify;">“Rin&#8230; terima kasih yah. Rini sudah mau kasih kakak keperawanan Rini.” Ujar gw mengucapkan terima kasih setelah melahap keperawanan yang nikmat itu.</p>
<p style="text-align: justify;">“Rini juga sangat terima kasih sama kak Donny. Mau izinin Rini merasakan surga dunia yang begitu indah ini.” Jawab Rini sambil masih merebahkan kepalanya di dada gw.</p>
<p style="text-align: justify;">Sungguh beruntungnya diri gw saat ini dan nanti kedepannya. Memiliki pemuas nafsu didalam rumah sendiri. Tanpa harus membayar sepeser uangpun kepada mereka. Permainan antara keponakan dan bibinya sungguh nikmat sekali. Hingga pernah gw lakuin bertiga. Saat seluruh keluarga gw pergi ke rumah saudara gw yang ada di surabaya. Kebetulan mereka menginap selama tiga hari dua malam disana. Bisa kebayang gak nikmatnya tidur didampingi dua wanita yang memiliki hasrat seks yang tinggi. Dalam satu hari gw bisa layanin mereka berdua sebanyak 7 kali. Itu juga harus gw bantu dengan telor ayam kampung dicampur dengan madu sebelum bertempur.<br />
Di dapur&#8230; di ruang keluarga&#8230; di balkon lantai dua&#8230; huh, pokoknya dimana mereka berada, disana juga gw ent*tin Rini atau mbak Dian dengan sesuka hati gw.<br />
Namun yang paling nikmat saat gw ent*tin Rini di Taman Rumah gw. Diatas rumput hanya di alasin oleh handuk putih.
</p>
<p style="text-align: justify;">Nikmatnya punya pembantu yang Hot seperti Mbak Dian dan Rini yang masih berusia 17 tahun ini.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ceritasex.cn/rini-keponakan-pembantuku-yang-nakal/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
