<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Cerita sex porno ngentot mesum perek ayam kampus &#187; Seks Umum</title>
	<atom:link href="http://www.ceritasex.cn/category/seks-umum/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.ceritasex.cn</link>
	<description>Kumpulan cerita sex, foto bugil, dan film porno</description>
	<lastBuildDate>Fri, 10 Feb 2012 09:03:13 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
		<item>
		<title>Binalnya Novia</title>
		<link>http://www.ceritasex.cn/binalnya-novia/</link>
		<comments>http://www.ceritasex.cn/binalnya-novia/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 10 Feb 2012 09:03:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cerita Sex</dc:creator>
				<category><![CDATA[Daun Muda]]></category>
		<category><![CDATA[Ekshibionis]]></category>
		<category><![CDATA[Gangbang Rame Rame]]></category>
		<category><![CDATA[Orgy]]></category>
		<category><![CDATA[Seks Umum]]></category>
		<category><![CDATA[binal]]></category>
		<category><![CDATA[gangbang]]></category>
		<category><![CDATA[kontol]]></category>
		<category><![CDATA[lonte]]></category>
		<category><![CDATA[mahasiswi]]></category>
		<category><![CDATA[memek]]></category>
		<category><![CDATA[ngentot]]></category>
		<category><![CDATA[novia]]></category>
		<category><![CDATA[orgy]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ceritasex.cn/?p=3320</guid>
		<description><![CDATA[Sebelumnya saya ingin memperkenalkan diri saya terlebih dahulu, nama saya novia saat ini umur saya 23 tahun saya tinggal di kota bandung, saya ingin berbagi cerita tentang pengalaman hidup saya. Kejadian ini saya alami pada saat umur saya baru menginjak 20 tahun berarti 2 tahun yang lalu. Ketika itu saya kuliah di salah satu perguruan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Sebelumnya saya ingin memperkenalkan diri saya terlebih dahulu, nama saya novia saat ini umur saya 23 tahun saya tinggal di kota bandung, saya ingin berbagi cerita tentang pengalaman hidup saya. Kejadian ini saya alami pada saat umur saya baru menginjak 20 tahun berarti 2 tahun yang lalu. Ketika itu saya kuliah di salah satu perguruan tinggi di bandung mengambil diploma III, yang kebetulan letak kampusnya tidak terlalu jauh dari rumah saya sehingga saya bias pergi ke kampus dengan berjalan kaki tapi kadang di antar oleh pacar saya. Singkat cerita pada suatu hari telah di lakukan UAS namun setelah nilai uas tersebut keluar saya di nyatakan tidak lulus setelah melakukan konformasi kepada dosen yang bersangkutan sebut saja dosen itu pa rudi umurnya kira-kira 50an dia dosen yang dikenal cukup killer namun setelah saya bertemu dengan beliau,dia sangat baik beliau bersedia memberikan ujian perbaikan kepada saya namun tidak dilakukan dikampus dia mengajak bertemu di salah satu motel yang terletak did ago saya pada saat itu berfikiran positif dan menyetujui permintaan pa rudi tersebut.</p>
<p style="text-align: justify;">Singkat cerita tiba lah pada hari H dimana saya harus dating ke motel tersebut untuk melakukan ujian perbaikan tentu saja saat itu saya tidak sendirian saya di antar oleh pacar saya ketika sampai di motel saya menghubungi pa rudi dan ternyata pa rudi sudah berada di salah satu kamar motel tersebut dan menyuruh saya untuk masuk saat itu saya menyruh pacar saya menunggu di lobi motel. Sampailah saya di depan kamar motel yang di sewa Pa Rudi kamar nya yang cukup jauh dari lobi motel tersebut. Ketika pintu tersebut saya ketuk tidak begitu lama Pa Rudi membukakan pintu tersebut dan dia pun tidak berkata apa-apa hanya memandangi saya dari bawah hingga atas memeng pada saat itu saya menggunakan celana jeans ketat di padu dengan blues ktat dan tipis warna kuning dengan 2 kancing di atas nya sengaja tidak saya kancingkan karenang terlalu ketat dengan tonjolan dada saya yang lumayan besar 36B Pa Rudi pun tidak melepaskan pandangannya dari arah dada saya yang pada saat itu dengan jelas memperlihatkan belahan dada saya yang sangat menggoda.</p>
<p style="text-align: justify;">“eh via..sama siapa?”Tanya pa rudi sambil pandangan nya tetap didada ku “emh..sama temen pa”jawab ku sambil tersenyum “ lah..temen nya mana??”Tanya pa rudi heran “nunggu di lobi pa..”jawabku sambli menunjuk kearah lobi “oo temen nya atau pacarnya “kata pa rudi sambil merangkul ku masuk kedalam kamar aku hanya tersenyum malu. Di dalam kamar kita ngobrol-ngobrol masalah ujian memang nilaiku pada saat itu benar-benar tidak bisa dibantu namun pa rudi akan mengusahakan membantu nilai saya,saya sangat senang mendengar ucapan pa rudi namun ketika saya bertanya mana soal untuk ujian perbaikannya pa rudi menjawab tidak ada dia hanya ingin mengobrol 4 mata denganku saja jawabnya singkat dia berkata bahwa dia benar-benar kagum pada diriku. “vie bapa minta foto kamu boleh y..”pinta pa rudi sambil mengambil kamera digital pocket dari tas kerjanya “iihh bapa buat apa malu ahh..”jawab ku sambil tersenyum manja “ya udah kalo ga mau ga apa-apa tapi bapa ga akan Bantu nilai kamu loh..”jawab pa rudi dengan nada mengancam “iih bapa ko gitu..emangnya mau foto yang kaya gimana?”tanyaku</p>
<p style="text-align: justify;">“ya foto aj yang sexy-sexy gitu..”kata pa rudi sambil mengarahkan kameranya kepada ku “emmh..tapi janji ya pa nanti bantuin nilai aku terus fotonya jangan di sebar-sebarin..”kata ku menegaskan “ok..ok santai aja vie ni Cuma buat koleksi pribadi aja ko..”jawabnya dengan senyum bahagia Saya pun di foto dengan beberapa pose yang cukup sensual di dalam kamar motel tersebut pa rudi pun mulai berani mengarahkan gaya ku dengan sambil menyentuh bagian sensitive tubuh ku aku termakan bujuk rayu pa rudi sampai pada akhirnya aku difoto dengan gaya tooless dan pada saat itupun aku sadar kalau aku sudah hamper 1 jam berda di dalam kamar tersebut aku takut pacar ku curiga dan akupun meminta ijin untuk pulang namun pa rudi tidak mengijinkan dia malah memintaku membuka celana jeans ku memang pada saat topless celana jeans ku belum aku buka aku berusaha menolak dengan halus namun ancapan serupa kelur dari mulut pa rudi dan dia pun pergi keluar kamar menghampiri pacarku agar pacarku tidak curiga dan pa rudi berkata pada pacarku kalau ujian ku belum beres karena soal yang di berikan cukup banyak.<br />
<span id="more-3320"></span><br />
Ketika pa rudi kembali ke kamar dia berkata semuanya sudah beres ga perlu kwatir.ayo sekarang buka aj. “memangnya mau ngapain pa??”tanyaku “masa kamu ga ngerti sih”kata pa rudi sambil memeluk ku Akhirnya aku pasrah membiarkan pa rudi meraba seluruh tubuhku lama kelamaan aku pun terbawa suasana dan mulai menikmati permainan pa rudi memang pada saat itu aku memang sudah tidak perawan lagi sekitar 20menit pa rudi menyetubuhiku hingga akhirnya beliau mencapai orgasme dan langsung menyemburkan spermanya didadakusetelah itu aku pun langsung bergegas membersihkan sperma yang membasahi payudaraku dan bergegas berpakain dan meninggalkan kamar tersebut saat berpamitan pa rudi mencium mesra bibir mungilku sambil meremas pantat ku. Di perjalanan pulang pacarku bertanya masalah ujian perbaikan tadi dengan sedikit gugup aku mengarang cerita agar pacarku tidak curiga. Beberapa hari berlalu dari kejadian itu dan akupun dinyatakan lulus namun dibalik itu semua aku berpikiran kalau semuanya dapat berjalan mudah bila ada sesuatu yang dikorbankan terkang juga aku berfikir akan kejadian di motel tersebut ternyata cukup menantang bagiku tapi juga mengasikan dari situ lah aku mulai melakukan hal-hal cukup extrim dan bila di lakukan oleh seorang wanita maka biasanya wanita itu di bilang bispak atau binal namun aku menyingkirkan semua pikiran itu ini adalah hidupku ini adalah kesenangan ku aku ga peduli apa kata orang yang penting aku senang pikir ku pada saat itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku pun mulai merubah penampilan ku memang sat itu aku suka memakai pakaian sexy namun saat ini aku merubah penampilanku menjadi lebih sexy lagi,pada akhirnya pacarku menyadari keanehan pada diriku kami pun sering cekcok yang sampai pada akhirnya aku memutuskan pacarku dan aku pun menjadi sangat bebas melakukan hal-hal yang aku inginkan. Setiap kali aku keluar rumah selalu di barengi dengan baju ketat dengan lingkar leher yang rendah sehingga mempertontonkan belhan dada ku yang membuat mata lelaki terbelalak melihatnya dengan celana yang ketat atau rok ketat yang sengat pendek,aku mulai terbiasa dengan kebiasaan ku ini setiap godaan dari para laki-laki yang ku jumpai di jalanan aku menanggapinya dengan senyum manis. Sampai pada suatu minggu pagi aku terbiasa menemani ibu ku melakukan senam pagi bersama ibu-ibu komplek saat itu aku hanya menggunakan kaos upih tipis dank tat dengan lingkar leher yang cukup rendah sehingga belahan dada ku terlihat cukup jelas di padu dengan celana strit hitam pendek yang csuper ketat sehingga mempertontokan setiap lekuk tubuhku dari mulai pantat sampai memek ku.</p>
<p style="text-align: justify;">setelah selesai senam aku memutuskan untuk pulang duluan karena aku merasa lelah dan ingin beristirahat ketika berjalan sendirian aku sengaja mengambil jalan memutar ke belakang komplek karena biasanya di belakang komplek ku suka banyak laki-laki yang nongkrong karena di situ terdapat sebuah rumah kos-kosan namun saying pada saat itu jalanan sangat sepi tidak ada orang yang terlihat hanya sekeder melintas tukang roti atau tukang sayur saja. Tiba-tiba aku di kagetkan dengan suara motor yang berisik dating dari arahku dan langsung dengan sigap si pengendara motor menepuk pantatku sambil melaju menuju gang yang tembus tepat di sebelah rumahku.spontan aku kanget mengalami kejadian itu sambil terus berjalan aku berfikir ternyata tubuh ku begitu menggoda bagi setiap kamum laki-laki yang melihatku. Ketika aku mulai memasuki gang yang menuju samping rumahku aku melihat sosok pria sedang berjalan menuju ke arahku dalam pikir ku mingkin dia akan melakukan hal yang sama dengan pria yang tadi memakai motor karena gang itu cukup smpit dan sepi, ketika kita berpapasan tiba-tiba pria itu tersenyum menyapaku</p>
<p style="text-align: justify;">“haii..via..dari mana??”sapa pria itu “eehh..emmhh..heii..baru pulang senam..”jawab ku kaget sambil ku perhatikan dia ternyata dia adalah orang yang memakai motor tadi aku hafal betul jaket dan topi yang dia pakai terlebih kejadian itu hanya selang beberapa menit saja dari sekarang saat aku berbincang dengan pria itu. “sendirian aja..mau di anter pulang ga??oo ya aku andri..”kata pria itu sambil mengulurkan tangannya kepada ku mengajak bersalaman namun mata pria itu seolang sedang menscan tubuhku dia memandangi tubukku dari atas sampai kebawah. “oo..y..makasih udah deket ko ga perlu di anter,,tadi sih bareng sama mamah Cuma mamah masih ngobrol ma ibu-ibu lama”jawabku sambil meraih tangannya seraya berjabat tangan ku perhatikan wajahnya lumayan sih ga jelek-jelek amat tapi bila di bandingkan dengan mantanku ya jelas cakep mantanku dong ku taksir umurnya kira-kira 24 tahun. “emh..ko kamu tau nama aku sih??tanyaku sedikit heran “ya siapa sih yang gat au kamu..semua cowo di sini pada tau kamu lagi malah pada pengen kenal Cuma kamunya aja yang yang gat au”jawab andri sambil tersenyum.</p>
<p style="text-align: justify;">Cukup lama kita mengobrol di gang tersebut akhirnya aku memutuskan untuk pulang dan andri pun meminta nomor telpon ku. Ke esokan harinya andri menelpon ku dan kita janjian untuk bertemu andri menjemput ke kampusku dan ketika dia menjemput dia menggunakan jaket yang seperti kemarin dan di balik jaketnya terlihat seperti seragam pegawai pombensin dan dia menggunakan motor yang sama persis seperti motor yang digunakan oleh pria yang kemrin menepuk pantatku di jalan, ternyata memang benar dugaanku tapi aku tidak ambil pusing mungkin dia dari sebagian pria yang mengagumi tubuhku dan dia terlalu nekad. Saat itu aku menggunakan celana legging(strit)panjang berwarna putih di padu dengan kaos ketat model V neck yang cukup rendah aku sengaja menggunakan pakaian seperti itu agar terlihat lebih sexy. Langsung saja aku naik ke motor andri tanpa bertanya kita mau kemana. Ternyata andi mengajakku ke kosannya aku baru tau ternyata andri ngekos tepat di blakang komplek rumahku memang di situ ada kos2an cowo yang terbilang bebas.</p>
<p style="text-align: justify;">Ketika sampai dikosan tangan andri melingkar di pinggang ku sambil mengajakku masuk menyusuri koridor kosan tiba-tiba dari slahsatu kamar keluar laki-laki denagn handuk di pundaknya dan berkata “dri boneka baru..minjem dong,,”kata pria itu sambil tertawa..”ntar baru beli neh..”jawab andri sambil tertawa dan melepaskan tangannya dari pinggang ku namun berhenti tangannya di atas bongkahan pantatku yang sintal,lalu andri membuka pintu kamarnya dan mempersilahkan aku masuk. Didalam kamarnya kita ngobrol-ngobrol dan bercanda sesekali andri menyentuh pahaku yang terbungkus ketatnya legging ku kuperhatikan dia saat ngobrol matanya selalu tertuju pada belahan dadaku dan memek ku. Karena ke asikan bercanda dan ngobrol aku jadi tidak terlalu memperhatikan diriku tanpa kusadari ternyata belahan dadaku memang terlihat cukup jelas dan menantang lama-kelamaan obrolan kita menuju kea rah yang berbau sex entah mengapa aku jadi tidak malu-malu lagi kita saling berbagi pengalaman maslah sex dan aku pun menceritakan pengalaman ku bersama pa rudi dosen ku kepada andri.</p>
<p style="text-align: justify;">Dia pun sangat antusias menanggapi ceritaku sampai pada akhirnya ku tanyakan kepada andri masalah minggu kemarin ketika dia memegang pantatku. “dri..jujur y sebernya waktu pertama kali kita ketemu di gang sebelumnya kamu lewat dulu kan pake motor”tanyaku kepada andri ku lihat wajah andri yang kaget dan malu “emmhh..enngg,,kenapa gitu??”Tanya andri dengan gugup “ya..ga apa-apa sih Cuma aku pengen tau aja ke jujuran kamu..kamu yang pegang pantat aku kan?”tanyaku kembali mendesak. “emh..sory y..sebelumnya ga sopanaku nepuk pantat kamu di jalan”jawab andri sambil wajahnya memerah “ its ok lagi..nyantei aja..”jawabku sambil tersenyum dan merangkul andri yang duduk di sebelahku “ya abisnya semua anak-anak kos di sini sering ngomongin kamu sering ngomongin sexy nya kamu dan aku pun jadi penasaran apa lagi kamu kalo keluar rumah slalu pake yang sexy-sexy terus”jawab andri sambil tersenyum “trus knp sekarang kamu ga berani megang aku??”tanyaku penasaran “eit siapa bilang ga berani!!”jawab andri dengan tegas.</p>
<p style="text-align: justify;">Tiba-tiba andri tangan andri mendarat lagi di pahaku aku hanya terdiam melihat tangan andri yang sedikit meremas pahaku dan perlahan naik terus sampai selangkanganku entah setan apa yang merasuki pikiran ku karena aku hanya terdiam saja melihat andri dengan semangat meraba-raba pahaku dan tiba-tiba andri berkata “via tau g aku penasaran banget ma itu dari tadi Cuma keliatan sedikit”kata andri sambil matanya mengisyaratkan ingin melihat bongkahan dadaku yang montok aku jawab dengan senyuman dan tanpa komando andri langsung menarik lingkar leher kaos ketatku hingga hamper seluruh dada yang masih terbungkus bh ukurn 36B terlihat “via buka aja ya tanggung”kata andri dengan sedikit memohon Aku pun langsung beranjak dari duduk ku dan membuka kaosku sambil membelakangi andri dan saat ku lihat ternyata andri sedang mengocok kontolnya yang lumayan besar sambil tersenyum menatapku “udah di buka neh mau ngapain lagi?”tanyaku sambil berdiri mengahadp andri sengaja ku pertontonkan body ku yang masih terbungkus bh dan ketatnya celana legging ku</p>
<p style="text-align: justify;">“masa gat au sih..ga liat neh ade ku udh bangun gini”jawab andri sambil berdiri dan menghampiriku dia langsung memelukku dan kontolnya yang tegang menempel pada legukan memekku yang masih terbungkus legging lalu dkami berciuman dengan mesra sambil tangan andri meremas-remas dada dan pantatku aku pun takkalah ketinggalan kuraih kontolnya dank u kocok-kocok hingga keluar cairan bening dari kontolnya. Tanpa di suruh andri melepaskan bhku dan mengisap dada ku dengan ganas seolah dia bayi besar yang sedang menyusu pada ibunya dan tiba-tiba dia menyuruhku berlutut dihadannya ku piker dia akan menyruku mengisap kontolnya yang besar namun dia menyruhku menjepit kontolnya dengan dadaku sekitar lima menit ku kocok kontolnya dengan dadaku dan andri pun meminta aku membukaka legging ku. Kebetulan sekali setiap aku memakai legging selalu memakai g-string agar pantat ku terlihat sexy “woow via kamu bener-bener sexy banget aku pengen nyoba nusuk boleh”Tanya andri kepadaku sambil tanyanny mengusap-ngusap memekku yang masih terbungkus g-string namun terselip bulu-bulu halus yang tidak tertutupi legging aku hanya tersenym dan langsung andri menarik leggingku.</p>
<p style="text-align: justify;">“via kayanya enak nih..”kata andri sambil tanyannya terus memainkan klitorisku sampai memek ku melelhkan cairan “via mga tahan neh masukin y..”kata andri aku hanya mengangguk karena sudah keenakan,,blleessbless..tiba-tiba kontol andri yang besar terbenam di dalam memekku “oh my god…aagghhhhhh..andrii..”terikku saat memek ku di terjang rudal andri..kulihat andri hanya tersenyum bahagia dan terus menggenjot memeku Cukup lama andri menggenjotku dan tiba-tiba andri menghentikan genjotannya dan meminta ganti posisi aku berpindah menjadi di atas namun kali ini kita melakukannya sambil duduk di kursi computer dan aku dipangkuan andri “eemmh..via enak banget..emmh..”kata andri sambil dia terus mengisap dada ku “agghh..aghh..emmh…ndri aku mau keluar nih..”aku merasakan akan orgasme dan aku pun meneruskan goyangan ku di pangkuan andri dan nampaknya ndripun ingin orgasme dan dia langsung mencabut kontolnya dan memuntahkan spermanya yang hangat di perutku “aggghhhh..uuhhhh….”erang andri sambil dia mencium bibirku.. “dri..enak banget”kataku sambilmemeluk andri</p>
<p style="text-align: justify;">“ya via enak banget memek kamu udah deh kebayar penbasaranku selama ini,,ku kira kamu orangnya jaim gitu ternyata nyenengin padahlkan kita baru kenal kemarin”kata andri sambil tangann ya tidak henti meras-remas pantatku Aku pun jadi sedikit malu ketika mendengar perkataan andri seperti itu “dri jangan anggap aku cewe murhan ya gara-gara kejadian ini..ni semua Cuma kebawa suasana aja..”kata ku sambil beranjak dari pangkuan andri “ya lah santei aja lagi..tapi kapan-kapan kalo aku mau gimana vi..”kata andri sambil tersenyum nakal. “ya gampang lah bisa di atur”jawab ku santai “terus kalo temen-temen aku penasaran juga ma kamu gimana?”Tanya andri penasaran aku hanya menjawab dengan senyuman sambil membersihkan sperma yang menempel di perutku dan saat ku melihat kearah pintu ooh my god ternyata saking asiknya ML dengan andri sampai lupa merapatkan pintu kamar kosnya dan ku lihat ada orang yang sedang berlalu lalang di luar sesekali orang itu melihat ke arah kamar dan pada saat itu aku masi telanjang bulat di dalam kamar sungguh malu sekali.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku pun bergegas berpakaian dan tidak lama aku berpamitan pulang saat aku keluar kamar kos ku lihat banyak laki-laki diluar dan memandangiku danmenggodaku namun aku cuek saja dan pergi meninggalkan kosan. Sesampainya dirumah aku langsung mandi membersihkan badanku yang lengket terkena sperma sambil membayangkan kejadian tadi sungguh nekad nya diriku baru kenal satuhari langsung mau di ajak ngentot tak terbayangkan jika aku di entot oleh teman-teman kosnya andri yang pada saat itu sedang ngumpul-ngumpul di depan kosan namun di balik itu aku jadi penasaran apa jadinya jika aku di entot secara bergilir oleh para laki-laki. Setelah selesai mandi aku berganti pakaian dengan celana short yang begitu ketat pendek yang hanya sampai sebatas lekukan pantat dan di padu dengan tangtop putih tipis dan ketat sehingga tercetak celas membayang garis Bh ku yang berwarna merah sekedar untuk menikmati angina sore aku duduk di teras rumah sendirian sambil melihat orang-orang yang lewat sesekali bila laki-laki yang lewat tak telapas pandangan mereka ke arahku.</p>
<p style="text-align: justify;">tiba-tiba Hp ku berbunyi dan ku lihat ternyata andri menelepon ku dia menyuruhku kembali dating ke kosannya karena ada temannya yang sedang ultah dan mengadakan acra di kosannya aku pikr itu Cuma akal-akalan mereka saja agar agu mau dating lagi kekosan tapi dari pada bete di rumah lebih baik aku datang saja lalu aku berpamitan pada mamah ku karena dengan alas an akan kerumah temanku yang terletak di belakang komplek rumahku tapi memang benar aku mempunyai teman sewaktu SMA yang rumahnya terletak di belakang komplekku lalu aku meraih cardigan tipisku untuk menutupi tangtop tipisku agar mamah tidak curiga aku kelur menggunakan pakaian yang amat sexy. Ketika sampai di kosan tepatnya di kamar andri kulihat banyak sekali laki-laki disana dan ku perhatikan ternyata mereka adalah laki-laki yang tadi siang ngumpul-ngumpul di depan kosan dan menggodaku,aku langsung masuk kamar andri dan menyapa andri “ada apa ndri?”tanyaku sambil melangkah masuk ku perhatikan para laki-laki itu yang sedang duduk-duduk di karpet menatapku seolah tak berkedip saat ku lihat di cermin besar yang menempel di lemari andri ternyata saking ketatnya shortku sampai-sampai belahan memekku membentuk mirip dengan kap bagasi mobil VW kodok.</p>
<p style="text-align: justify;">“eh.via sini-sini…kenalin neh temen-temen kos ku”kata andri sambil menghampiriku ku lihat di situ ada 3 laki-laki yang sedang asik menatap ke indahahn tubuhku “hai..novia..”kataku sambil membungkuk kearah para laki-laki itu sambil mengajaknya bersalaman secara tidak langsung aku memperlihatkan belahan dadaku kepada mereka bertiga karena posisi mereka di bawah dan aku berdiri sambil membungkuk kea rah mereka. Edo,hendri dan yudi adalah nama ketiga laki-laki itu. “duduk sana”kata andri sambil menepuk pantatku akupun hanya tersenyum dan langsung melangkah duduk di atas kasur dan membuka kardiganku kita saling bercanda dan bercerita setelah sekitar pukul 7 acara dimulai edo yang ku perkirakan paling tua di situ karena wajahnya garang dan tua pada saat itu memngeluarkan 2 botol minuman dari keresek hitam yang di letakan di kolong meja computer. “via suka minum ga?”Tanya edo sambil tersenyum kepadaku..aku hanya tersenyum saja tidak menjawab “sini dong duduk di sini jangan jauh-jauh”kata yudi sambil mempersilahkan aku duduk di asebelahnya di antara yudi dan edo.</p>
<p style="text-align: justify;">akupun tidak menjawab hanya tersenyum dan menghampiri mereka sambil merangkak dari kasur ke karpet lagi-lagi andri menepuk pantatku yang sintal dan berkata “ni celana atau CD ketat ma pendek baget ampe pantatnya kliatan tuh diki “kata andri sambil tertawa di barengi dengan tawa ketiga temannya “ni namanya short..biarin keliatan juga emang kalian pada sukakan ngeliatnya “jawabku dengan sedikit nakal “ni vi buka minumannya”kata edo sambil menyodorkan sebotol Bacardi dan gelas kecil kepadaku lalu ku buka dan menuangkan minuman ke gelas Satu botol pertama habil obrolan mulai ngelantur ku lihat andri sudah tidak karuan aku hanya minum sedikit karena aku sudah antisipasi kalau aku minum banyak dan mabuk aku takut mereka ngentotin aku dan tidak safty botol kedua ku buka dan yudi mulai melakukan hal aneh tangannya mulai meraba pahaku dan sesekali jarinya melintas di atas gundukan memek ku yang pada saat itu aku duduk sila di sebelahnya dan tak lama edu pun tangannya mulai aktif dia merangkul pinggangku dan sesekali tangannya memlilit badanku hingga menyentuh dadaku.</p>
<p style="text-align: justify;">Dan tiba-tiba andri yang duduknya di depankumenarikku untuk berdiri dan ketiku aku berdiri andri langsung melumat bibirku dan kurasakan pantat dan memek juga pahaku sedang diraba-rabaketika ku lepaskan sejenak ciuman andri kulihat edo dan yudi sedang asik meraba-raba pantat dan memekkudan ku lihat hendri yang sedang sibuk dengan HPnya rupanya dia sedang merekam adekan ku dengan 3 temannya oh my god ternyata perkataan andri tadi siang tidak main-main ternyata teman-temannya memang penasaran kepadaku ternyata semua ini sudah direncanakan kataku dalam hati dan tiba-tiba edo menarik short ku “stop mau ngapain sih kalian”kata ku sambil sedikit membentak semuanya kaget dan menatapku “loh ko marah tadi siangkan aku dah bilang temen-temen aku mau sama kamu”kata andri sambil berbisik di telingaku dan terus memelukku “ya tapikan ga usah pake di rekam gitu ndri aku malu”jawabku sambil memeluk andri “buat kenang-kenangan aja ko ga bakal di sebar-sebarin”kata andri meyakinkan aku sejenak aku terdiam di pelukan andri tapi gada salahnya juga dulu juga aku pernah di foto-foto hamper setengah telanjang oleh dosen ku aku pun tidak tau apakah foto itu untuk koleksi dosenku atau mah di pamerkan kepada teman-temanya begitupun saat ini ga ada salahnya juga lagi di entot di rekam pikirku</p>
<p style="text-align: justify;">“ko pada diem ga akan di terusin neh”kataku menantang kepada mereka sambil membalikan badanku sehingga aku membelakangi andri dan saat itu memekku tepat berada di depan wajah edo yang saat itu short ku sudah turun sedikit wajah mereka langsung tersenyum kegirangan terutama edo dia langsung membuka shortu dan menciumi memekku yang masih terbungkus g-string andripun mulai menciumi leherku dari belakang dan mengangkat tangtopku hingga dada ku yang sintal dan masih terbungkus BH terlihat jelas yudi dengan sigap langsung mengisap dada ku hendri pun dengan asiknya merekam adeganku sambil mengocok kontolnya “ga tahan ni vi masukin y..nyantei aja pake kondomko”kata edo sam bil dia langsung memasang kondom pada kontolnya Aku hanya tersenyum dan sambil membuka g-stringku “udah buka aja semuanya biar mantap”kata hendri yang sedang asik merekam bagian memekku lalu aku pun langsung membuka tangtop dan BH ku dan tiduran di atas karpet tanpa di suruh edo langsung mengangkat kakiku ke pundaknya dan menusukkan kontolnya yang coklat dan besar ke memek ku..</p>
<p style="text-align: justify;">“aahhh..aahhhh….pelan-pelan do..gede amat punya kamu..”kata ku sambil sedikit mendesah karena tusukan kontol edo “tapi enakkan”kata edo sambil terus menggenjotku “baaaangggeettt..”kata ku ke enakan Tiba-tiba yudi menyodorkan kontolnya ke wajahku rupanya dia ingin aku mengisap kontolnya dan tanganku tidak tinggal diam dengan sigap aku menarik patang kontol yudi dan memasukannya kedalam mulutku dan tanganku yang satu lagi memegang andri yang sudah mulai basah dengan cairan kental yang keluar dari kontolnya 15 menit secara bergantian aku hisap kontol yudi dan andri tiba-tiba edo mengejang rupanya dia akan orgasme begitupun dengan aku orgasme bersamaan dengan edo aku tak kwatir edo memuntahkan spermanya di memekku karena dia memakai kondom aku mulai lemas dengan kontol andri yang masih menancap di mulutku tiba-tiba blleess..blleess…memekku kembali di sodok oleh kontol yudi kali ini yudi mengangkay aku agar aku duduk di pangkuannya dan andri berdiri di sampingku karena kontolnya sedang aku hisap hendri tetap semangat merekam adegan ku dengan 2 laki-laki.</p>
<p style="text-align: justify;">sesekali hendri meremah dan mengisap dadaku sambil terus merkam dengan hptidak sampai 10 menit yudi kembali orgasme dan melepaskan kontolnya dari memekku kini tinggal 2 laki-laki lagi yang akan menikmati memekku dalam hati ku berkata hendri tiba-tiba memberikan Hpnya kepada yudi untuk merakam adegan itu dan karena edo sudah terkulai lemas di tempat tidur mungkin karena dia terlalu banyak minum hendri duduk di kursi computer dengan kontolnya yang tegak berdiri lalu aku membungkuk mengisap kontol hendri sambil dari belakang terasa memekku di tusuk oleh kontol andri. “oohh my god..udah di tusuk 2 kontol tetep legit ni memek “ kata andri sambil menepuk-nepuk pantatku dan terus menggenjot aku tak bisa berkata apa-apa karena mulutku di sumpal oleh kontol panjang hendri tiba-tiba badan ku mengejang aku orgasme untuk yang kedua kalinya di barengi dengan semburan sperma di mulutku dari kontol hendri “oh my god sungguh nikmat sekali ketika orgasme secara bersamaan mendapatkan sperma hangat yang keluar di mulutku aku pun tidak menyia-nyiakan hal inii aku langsung hisap dan telan habis sperma hendri.</p>
<p style="text-align: justify;">perlahan kontol hendri mulai mengecil dan terlpas dari mulutku namun andri tetap semangat menggenjot memekku Pllok..plloook..plookk…bunyi paha andri yang beradu dengan sintalnya pantatku dan tiba tiba aaggghhh..andri mengerang dan melpaskan kontolnya dan memuntahkan spermanya di punggungku rupanya andri tidak memakai kondom namun dia tetap safty tidak membuang sperma di dalam memek ku andri pun terkulai lemas dan terbaring di karpet. “waaw..matap nih pasti filmnya kalo di tonton”kata yudi sambil mematikan rekaman dari hp hendri “coba liat dong sini”kataku sambil sedikit lemas dan menghampiri yudi Aku pun menyaksikan rekaman itu sambil berdiri di samping yudi dan yudi kembali beraksi dia melahap dadaku dengan buasnya oh my god di rekaman itu aku nampak binal sekali mirip bintang porno dari asia ku perhatikan setiap adegan dengan buasnya setiap laki-laki menggagahi diriku “dri tong lapin dong”aku menyuruh hendri mengelap sperma andri yang masih menempel di punggungku dan mulai meleleh ke pantatku Hendri pun mengelap dan sambil meremas-remas pantatku dan ketika ku lihat jam ternyata suah hamper jam 11 malam lalu aku bergegas berpakaina namun yudi dan hendri melarangku perpakaian dan melarang ku untuk pulang.</p>
<p style="text-align: justify;">ku lihat andri dan edo sudah terlelap karena mabuk dan lelah menggenjotku Aku memohon kepada dua orang itu agar aku di antar pulang karena jalanan komplek sudah sepi terutama di gang sebalah rumahku yang gelap dan cukup panjang aku takut akhirnya hendri bersedia mengantarku dengan syarat aku hanya di perbolehkan mengenakan short saja itu pun tanpa g-string “berarti aku telanjang dada dong”kata ku dengan heran “ya cuek aja udah malem ni ko gda yang liat lagian kan dada kamu bagus”kata hendri sambil tertawa “gimana kalo aku Cuma pake tengtop aja ga pake bh”kataku memberikan penawaran “ya udah kalo pake tengtop mending tidur di sini aja”kata hendri sambil mengenakan celana boxer nya “ok deh pke cardigan aja tanpa tengtop tanpa BH ya..ya..ya..pliss dah malem nihaku tadi bilang nya Cuma mau keluar bentar..kapan-kapan deh pasti aku nginep ma kalian”kataku sedikit merayu “udah kasian tuh anak orang pengen pulang”kata yudi sambil mengecup pipi ku dan berlalu keluar kamar “ok deh tai cardigannya dikancingnya Cuma di perut aja ya yang atasnya ga usah dikancing”kata hendri sambil tersenyum,</p>
<p style="text-align: justify;">“oke..”jawabku sambil aku menggunakan short pendek dan ketat ku sehingga belahan pantat dan memekku terbentuk jelas hendri membantu aku mengenakan cardigan dan membantu mengancingkan 2 kancing saja di perut ku dan 3 kancing di atas di biarkan terbuka sehingga jelas terlihat belahan dada ku sambpai perut Kamipun pergi meninggalkan kosan di perjalanan tangan hendri merangkul pundakku sambil sesekali tangannya di susupkan ke balik kardiganku kami berjalan cukup lambat karena jarak kosan dan rumahku cukup dekat sehingga hendri mengajakku berjalan perlahan agar lebih lama berduaan “via aku belum nyobain memek kamu loh”kata hendri dengan polosnya “terus kenapa??”tanyaku sambil menghentikan langkah “ya aku pengen”jawab hendri singkat “kenap bukannya tadi aja sekarangkan udah di jalan”kataku sambil menruskan kembali langkahku tiba-tiba hendri memelukku dari belakang dan mengeluarkan kedua bongkah dada ku dari balik cardigan “dri ngapain sih ntar di liat orang loh lagian jalannya jadi susah”kataku sambil membiarkan hendri memainkan putting susuku.</p>
<p style="text-align: justify;">“mau y via..bentar aj tuh di gang kan gelap berani ga?”kata hendri memohon memang kurasakan saat itu kontolnya sudah menonjol rupanya dia juga tidak memakai cd akhirnya ku biarkan hendri menikmati memekku sesat di gang sempit dan gelap samping rumahku kami melakukan sambil berdiri aku tidak begitu menikmati permainan hendri karena rasa takut dan was-was terhadap orang yang lewat karena pada saat itu baru pukul 11 aku takut ada satpam komplek atau tukang nasi goring yang lewat Tiadak sampai 10 menit hendri orgasme menyemburkan sperma entah kemana karena saat itu gelap tidak begitu jelas secar bersamaan tiba-tiba terdengar suara tukang nasi goring yang selalu berisik dan oh my god dia berhenti did pan rumahku nampaknya ada orang di rumahku yang belum tidur dan aku pun bergegas mengenakan kembali shortku dan mengakhiri permainan itu dengan ciuman mesra di bibir “dri udh sampe sini aja ya g usah sampe rumah kyanya ada orang di depan rumah”kata ku ke pada hendri “ya udah ga apa-apa ati-ati kamu ya gelap..thanx banget memek ny enak sekali kapan-kapan aku pengen lagi ya tapi berdua aj”kata hendri sambil menepuk pantat sintalku aku hanya tersenyum dan lantas berlari menyusuri gang gelap itu tanpa kusadari kalau aku tidak mengenakan BH dan cardiganku hanya di kancing di perut dengan dada ku yang lumayan besar dan aku berlari maka dada ku berguncang hing sebelah dadaku hamper kelur dari cardigan dan aku tidak menyadari halitu ketika sampai di depan rumah ku lihat tukang nasi goring itu menatapku dengan herandan kulihat di teras rumahku sepi uuh sial ternyata tukang nasi goring ini memang hanya ingin berhenti did pan rumahku bukan karena ada yang beli gumamku dalam hati</p>
<p style="text-align: justify;">“dari mana neng?”tanay penjual nasgor itu karena dia memang sudah langganan ku “ehh..mang ntu dari belakang jawabku sambil bergegas membuka pintu pagar rumahku namun tukangnasgor itu tetap memperhatikan ku sambil tersenyum dan saat aku melintas di samping mobil ayahku terlihat di kaca mobil bayangan ku oh my god pantas saja tukang nasgor melotot terus ternyata dada ku hamper tidak tertutupi cardigan dasar hendri setelah dia mengisap dada ku tadi di gang dia tidak membetulkan lagi cardigannya dan begonia aku kenapa mesti terburu-buru kataku dalam hati ya sudah mingkin itu rejeki buat si mang nasgor lalu aku bergegas masuk ke dalam rumah. Kejadian itu kembali terluang lagi dan kami selalu melakukan nya di kosan andri itu lah pertama kali aku melakukan gangbang dan hingga saat ini pun aku masih selalu melakukannya bersama andri atau teman-teman andri tentunya dengan safty sex agar aman. Dan sekarang aku telah lulus kuliah dan aku tidak bekerja di perusahaan atau kantor-kantor namun aku memilih bekerja di suatu PUB karoke yang menyediakan wanita-wanita pemandu lagu yang bisa di ajak ngentot karena memang sudah keinginanku terjun ke dunia hitam.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ceritasex.cn/binalnya-novia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sempitnya Memek Cewek Manado</title>
		<link>http://www.ceritasex.cn/sempitnya-memek-cewek-manado/</link>
		<comments>http://www.ceritasex.cn/sempitnya-memek-cewek-manado/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 10 Feb 2012 08:52:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cerita Sex</dc:creator>
				<category><![CDATA[Daun Muda]]></category>
		<category><![CDATA[Foto Mesum]]></category>
		<category><![CDATA[Seks Umum]]></category>
		<category><![CDATA[cuki]]></category>
		<category><![CDATA[lonte]]></category>
		<category><![CDATA[manado]]></category>
		<category><![CDATA[memek]]></category>
		<category><![CDATA[ngentot]]></category>
		<category><![CDATA[perek]]></category>
		<category><![CDATA[seks]]></category>
		<category><![CDATA[vagina]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ceritasex.cn/?p=3312</guid>
		<description><![CDATA[Ampun dijee&#8230; sempit banget gila cuy. Katanya syahrini &#8220;sesuatu banget ya&#8221; ya iyalah secara gituloh.. cewek manado dilawan, Sudah dari dulu kali orang tau cewek manado itu rata-rata binal dan lacur cuma mukanya aja rada hancur, tapi tenang aja nanti kita tutup ama topeng aja! ha ha ha..]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Ampun dijee&#8230; sempit banget gila cuy. Katanya syahrini &#8220;<em>sesuatu banget ya</em>&#8221; ya iyalah secara gituloh.. cewek manado dilawan, Sudah dari dulu kali orang tau cewek manado itu rata-rata binal dan lacur cuma mukanya aja rada hancur, tapi tenang aja nanti kita tutup ama topeng aja! ha ha ha..</p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2012/02/sempitnya-memek-cewek-manado-1.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-3314" title="sempitnya-memek-cewek-manado-1" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2012/02/sempitnya-memek-cewek-manado-1-203x300.jpg" alt="" width="203" height="300" /></a></p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2012/02/sempitnya-memek-cewek-manado-2.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-3315" title="sempitnya-memek-cewek-manado-2" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2012/02/sempitnya-memek-cewek-manado-2-204x300.jpg" alt="" width="204" height="300" /></a></p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2012/02/sempitnya-memek-cewek-manado-3.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-3316" title="sempitnya-memek-cewek-manado-3" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2012/02/sempitnya-memek-cewek-manado-3-205x300.jpg" alt="" width="205" height="300" /></a></p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2012/02/sempitnya-memek-cewek-manado-4.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-3317" title="sempitnya-memek-cewek-manado-4" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2012/02/sempitnya-memek-cewek-manado-4-205x300.jpg" alt="" width="205" height="300" /></a></p>
<p><span id="more-3312"></span></p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2012/02/sempitnya-memek-cewek-manado-5.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-3318" title="sempitnya-memek-cewek-manado-5" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2012/02/sempitnya-memek-cewek-manado-5-204x300.jpg" alt="" width="204" height="300" /></a></p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2012/02/sempitnya-memek-cewek-manado-6.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-3313" title="sempitnya-memek-cewek-manado-6" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2012/02/sempitnya-memek-cewek-manado-6-203x300.jpg" alt="" width="203" height="300" /></a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ceritasex.cn/sempitnya-memek-cewek-manado/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Cik Mei Lin tetanggaku</title>
		<link>http://www.ceritasex.cn/cik-mei-lin-tetanggaku/</link>
		<comments>http://www.ceritasex.cn/cik-mei-lin-tetanggaku/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 08 Feb 2012 13:12:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cerita Sex</dc:creator>
				<category><![CDATA[Amoy]]></category>
		<category><![CDATA[anal seks]]></category>
		<category><![CDATA[Paruh baya]]></category>
		<category><![CDATA[Seks Umum]]></category>
		<category><![CDATA[selingkuh]]></category>
		<category><![CDATA[Tante Girang]]></category>
		<category><![CDATA[amoy]]></category>
		<category><![CDATA[anus]]></category>
		<category><![CDATA[cina binal]]></category>
		<category><![CDATA[kontol]]></category>
		<category><![CDATA[mei lin]]></category>
		<category><![CDATA[memek]]></category>
		<category><![CDATA[ngentot]]></category>
		<category><![CDATA[ngeseks]]></category>
		<category><![CDATA[perempuan binal]]></category>
		<category><![CDATA[sperma]]></category>
		<category><![CDATA[vagina]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ceritasex.cn/?p=3309</guid>
		<description><![CDATA[Namaku Iwan. Usiaku saat ini 21 th. Aku kuliah di sebuah perguruan tinggi di Jakarta. Sambil kuliah aku bekerja di sebuah perusahaan swasta. Gajinya tidak terlalu besar, tapi lumayanlah untuk menambah uang kuliah. Aku kost tak jauh dari kampus. Kamar kostku berada dilantai atas paling ujung. Sehingga jendela kamarku langsung menghadap ke depan dengan sebuah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Namaku Iwan. Usiaku saat ini 21 th. Aku kuliah di sebuah perguruan tinggi di Jakarta. Sambil kuliah aku bekerja di sebuah perusahaan swasta. Gajinya tidak terlalu besar, tapi lumayanlah untuk menambah uang kuliah. Aku kost tak jauh dari kampus. Kamar kostku berada dilantai atas paling ujung. Sehingga jendela kamarku langsung menghadap ke depan dengan sebuah pintu keluar. Di seberang rumah kostku tinggal sebuah keluarga muda. Aku tidak tahu siapa nama suaminya. Aku hanya tahu istrinya bernama Linda, tapi biasa dipanggil Cik Mei Lin. Dia wanita keturunan cina. Cik Mei Lin berusia sekitar 30 th. Dia sudah punya seorang akan berusia lima tahun. Suami Cik Mei Lin jarang di rumah. Aku tak tahu ia bekerja dimana. Ia pulang hanya sekali seminggu. Bahkan pernah hingga satu bulan tidak pulang. Itu sebabnya Cik Mei Lin lebih sering sendiri di rumahnya bersama anaknya.Kisah ini bermula di pagi hari saat aku bangun tidur. Hari itu aku libur kerja dan tidak ada jadwal kuliah. Saat itu aku melihat Cik Mei Lin sedang menjemur pakaian. Cik Mei Lin mengenakan kaos tipis tanpa lengan.</p>
<p style="text-align: justify;">Kaosnya agak basah, mungkin terkena air sewaktu ia mencuci baju. Dari kamar aku bisa melihat jika Cik Mei Lin tidak memakai bra. Buah dadanya yang montok tercetak jelas lengkap dengan putingnya.Saat itu Cik Mei Lin juga hanya memakai celana pedek ketat yang juga basah. Bongkahan pantatnya yang bulat tercetak jelas. Anehnya tidak ada bayangan segitiga di pantatnya yang sexy. Aku yakin saat itu Cik Mei Lin tidak memakai cd. Aku langsung terangsang melihat pemandangan itu. Ingin sekali aku remas-remas buah dada dan pantat sexy Cik Mei Lin. Sejak itulah aku sering berfantasi bersama tubuh sexy Cik Mei Lin. Aku sering onani sambil membayangkan tubuh Cik Mei. Lama-lama aku tidak puas jika hanya onani sambil membayangkan tubuh Cik Mei Lin. Suatu pagi saat Cik Mei Lin menjemur pakaian aku onani sambil memandang Cik Mei Lin yang lagi-lagi memakai baju tipis dan basah. Kepuasan yang aku rasakan lebih hebat. Semakin lama aku semakin berani. Aku mulai berani bugil di depan Cik Mei Lin. Aku berharap ia melihatku bugil dan terangsang.</p>
<p style="text-align: justify;">Tapi aku tidak berani secara terang-terangan bugil di depan Cik Mei Lin. Aku takut ia marah karena perbuatanku. Aku membuat seolah-olah kejadian itu sebuah kebetulan. Saat Cik Mei Lin sedang menjemur pakaian aku berpura-pura sedang membuka pintu kamarku yang tepat menghadap ke pintu atas rumah Cik Mei Lin. Aku yakin ia pasti akan menoleh kearahku. Dan tepat, saat itu Cik Mei Lin melihat kearahku yang benar-benar bugil. Aku puas sekali&#8230;. Aku jadi ketagihan melakukan hal itu, bugil di depan Cik Mei Lin. Sebenarnya aku berharap Cik Mei Lin akan membalas perbuatanku dengan bugil pula. Kalaupun tidak bugil polos, aku berharap bisa melihat Cik Mei Lin hanya memakai cd dan bra saja. Tapi sayang harapanku tidak tercapai. Aku khawatir Cik Mei Lin mulai marah kepadaku. Akhirnya perlahan-lahan aku mulai menghentikan kebiasaanku itu. Suatu hari aku bertemu Cik Mei Lin di sebuah minimarket. Aku akan membeli sabun mandi dan pasta gigi yang habis. Saat mengambil sabun mandi aku terkejut karena Cik Mei Lin juga akanmengambil sabun mandi. Aku menyapa dengan tersenyum kepadanya. Ia membalas senyumanku.<br />
<span id="more-3309"></span><br />
“Kok nggak pernah telanjang lagi&#8230;.,”kata Cik Mei Lin saat berada tepat di sebelahku. Aku terkejut dengan pertanyaan itu.”Ooh maaf Cik Mei, aku nggak sopan,”jawabku agak takut. “Ah gak papa, aku suka kok lihat kamu bugil,burungmu besar,”balas Cik Mei Lin sambil mendekatkan bibirnya di telingaku. “Entar malem bugil lagi ya, aku tunggu di teras atas,”lanjut Cik Mei Lin. “Boleh, tapi Cik Mei harus bugil juga,”jawabku. Cik Mei Lin tersenyum sambil mengedipkan mata. Sebelum pulang kami saling bertukar nomor hp Malam itu aku sedang santai. Aku bersiap untuk aksi nanti malam, bugil bareng Cik Mei Lin. Tiba-tiba ada sms di hp ku. “Jgn lupa ya nti mlm qt bugil bareng” itu yang dikirimkan Cik Mei Lin di sms-nya. “Ok” jawabku. “Tp jgn dikmrmu ya” lanjut sms itu. “dimana”jawabku. “dikmrku aja, rumahku sdg sepi gak ada siapa2 kamu lngsng msk aja aku tnggu dikmrku” Segera aku bersiap menuju rumah Cik Mei Lin. Sebelumnya aku sempatkan melihat kamar Cik Mei Lin. Aku lihat lampu kamarnya menyala dan gorden jendelanya terbuka.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku bisa melihat dengan jelas Cik Mei Lin yang saat itu hanya memakai cd dan bra. Sexy sekali. Aku tak sabar ingin segera menuju kamar Cik Mei Lin. Aku segera masuk ke rumah Cik Mei. Pintu dan pagarnya tidak terkunci, mungkin segaja. Aku langsung menuju kamar atas, kamar Cik Mei Lin. Pintu kamar Cik Mei tidak dikunci bahkan sedikit terbuka. Saat masuk, aku melihat Cik Mei sedang tiduran di ranjang dan hanya memakai cd dan bra berwarna merah. “Lama banget sich, aku sudah nunggu dari tadi lho,”kata Cik Mei saat aku masuk kamarnya. Aku hanya membalas dengan senyuman. “Eiittt&#8230;.kok masih pake baju&#8230;.”kata Cik Mei. Aku tersenyum mendengarnya dan langsung melucuti pakaianku satu per satu hingga aku benar-benar bugil. kontolku perlahan-lahan mulai bangun dan itu membuat Cik Mei Lin tersenyum. “Wah kontolmu mulai bangun ya,”ujarnya sambil membelai kontolku. Aku merasa nikmat saat tangan Cik Mei Lin mulai menyentuh kontolku. Perlahan-lahan ia mulai membelai dan meremas-remas kontolku yang sudah tegak. “Wowww&#8230;.kontolmu besar ya kalau sudah bangun,”kata Cik Mei.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku hanya tersenyum. kontolku sebetulnya tidak terlalu istimewa, hanya 16 cm. Tapi itu sudah cukup membuat Cik Mei Lan terpesona. Lama-lama Cik Mei tidak puas hanya membelai dan meremas. Ia mulai menjilati dan mengulum kontolku. Ahh&#8230;.nikmat sekali. Bibir sexy Cik Mei Lan mengulum kontolku dengan lahap, seperti menjilati permen lolypop saja. “Ahh&#8230;.Cik Mei&#8230;..ahh&#8230;.ahh&#8230;.nikmat&#8230;”ujarku. Mendengar eranganku Cik Mei Lin semakin bersemangat menjilati kontolku. Ia bahkan menghisap kontolku dengan kuat. Ahh&#8230;..nikmat sekali rasanya. Sambil menghisap kontolku Cik Mei juga membelai dua buah zakarku. Aku hanya merem merasakan kenikmatan itu. Tiba-tiba Cik Mei Lin Menghentikan kulumannya. Ia berdiri dan mencium bibirku. “Sekarang kamu mainin punyaku ya,”katanya. Dengan senang hati aku melakukannya. Sudah sejak lama aku membayangkan bisa meremas-remas buah dada Cik Mei Lin yang montok. Dan sudah lama pula aku membayangkan pantat sexy Cik Mei. Ingin aku menjilati liang vagina dan lubang anusnya. Pasti nikmat sekali.</p>
<p style="text-align: justify;">Selanjutnya Cik Mei Lin mulai melucuti pakaian dalamnya. Mula-mula ia membuka bra merah yang sedari tadi menutupi dua gunung kembarnya. Wow&#8230;.buah dada Cik Mei Lin yang montok kini dengan jelas aku lihat. Ukurannya kira-kira 36 dd. Buah dada putih dengan putingnya yang merah kecoklatan terlihat sangat menantang. Tak sabar aku ingin menjilati puting susu Cik Mei Lin.Aku semakin terpesona saat Cik Mei Lin membuka cd merahnya. Wow&#8230;.rimbunan rambut kemaluan yang lebat terlihat jelas. Kontras dengan paha Cik Mei Lin yang putih. Aku memang sangat suka dengan perempuan yang berjembut lebat. Segera aku peluk tubuh Cik Mei Lin. Tak lupa aku ciumi bibir sexy Cik Mei. Bibir sexy itu aku lumat habis. Perlahan-lahan ciumanku turun ke bawah. Mula-mula leher dan akhirnya ciuman bibirku sampai juga di dua gunung kembar Cik Mei Lin. Aku langsung melumat habis buah dada montok itu. Tak lupa aku jilati dan hisap putingnya yang sudah mengacung. “Ah&#8230;ahh&#8230;.nik..mat&#8230;.”, desah Cik Mei saat ujung lidahku menyentuh puting susunya.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku semakin bersemangat mendengar erangan itu. Lidahku semakin liar menjilati buah dada montok Cik Mei Lin. Erangan dan desahan Cik Mei juga semakin hebat. “Ahh..ahhh&#8230;nikmat sayang&#8230;ahh..hh&#8230;” Jilatan lidahku kini kembali bergerak turun. Setelah buah dada, lidahku mulai menjilati perut, pusar, paha, dan akhirnya lidahku bertemu rimbunan jembut yang lebat. Jembut hitam itu menutupi liang vagina Cik Mei Lin yang sudah basah. Rupanya Cik Mei sudah sangat horny. “Ya&#8230;mainkan lidahmu disitu sayang&#8230;.”desah Cik Mei.Lidahku segera beraksi menyusuri rumbuna jembut Cik Mei Lin yang lebat. Lidahku beraksi menyibat helai demi helai jembut Cik Mei Lin hingga akhirnya ujung lidahku berhasil memasuki liang vagina Ci Mei. Ada cairan keluar dari liang vagina Cik Mei. Aku langsung menghisabnya.”Ahhh&#8230;..ahh&#8230;.nikmat sayang&#8230;.ahhh&#8230;”Cik Mei Lin mendesah keenakan. Tubuh Cik Mei Lin seolah bergetar saat lidahku behasil menemukan biji clitorisnya. Tapi tiba-tiba Cik Mei Lin memintaku menghentikan jilatan lidahku. Rupanya ia ingin berganti permainan.</p>
<p style="text-align: justify;">Ia ingin pula memainkan kontolku. Ia memintaku tidur terlentang di atas ranjang. Kemudian Cik Mei merebahkan tubuhnya diatasku. Ia arahkan vaginanya tepat diatas mukaku. Kami memainkan gaya 69. Cik Mei Lin langsung mengocok kontolku. Sesekali ia juga mengulum dan menjilati kontolku yang sudah berdiri tegak. Ahh….nikmat sekali rasanya. Mulut Cik Mei Lin yang biasanya hanya bisa aku lihat, kini mengulum kontolku. Aku sampai merem melek merasakan nikmatnya lidah Cik Mei Lin yang bermain-main di sekujur kontolku. Aku pun mengimbanginya dengan menjilati vagina Cik Mei Lin. Rambut kemaluannya yang hitam lebat itu terlihat kontras dengan kulitnya yang putih. Segera tercium olehku bau khas vagina. Nafsuku semakin menggelora. Lidahku segera beraksi. Sesekali aku mengigit bibir vagina Cik Mei Lin. “Ahh….ahh…enak Wan..ahh…terus..ahh..terus sayang…..”ujar Cik Mei Lin merasakan jilatanku Tanganku juga tidak tinggal diam. Pantat Cik Mei Lin yang sintal itu aku remas-remas. Kadangkala aku tekan pantat Cik Mei Lin sehingga vaginanya menekan mukaku.</p>
<p style="text-align: justify;">Dan Cik Mei Lin kembali menjerit pelan merasakan kenikmatan di selangkangannya. Terlebih lagi saat aku menjilati clitorisnya. “Wan….ahh…ahh…eennaakkk…terruuss….teruuss..sayyaan ggg…..ahh….”Mendengar desahan Cik Mei Lin aku semakin memperhebat jilatanku. Tapi tiba-tiba Cik Mei Lin memintaku mengentikan jilatanku di vaginanya. Ia juga mencabut kontolku dari mulutnya. “Wan, aku nggak tahan lagi…”ujarnya Ia memintaku tetap tidur terlentang. Selanjutnya Cik Mei Lin berlutut di atasku. Ia genggam kontolku yang tegang dan mengarahkannya tepat di vaginanya. Selanjutnya perlahan-lahan kontolku memasuki liang kenikmatan Cik Mei Lin. “Ahh….Cik Mei…ahh…ahh…”ujarku saat kontolku mulai memasuki vagina Cik Mei Lin. Kenikmatan luar biasa segera aku rasakan. Hingga akhirnya kontolku benar-benar masuk seluruhnya di dalam vagina Cik Mei Lin. Sambil tersenyum Cik Mei Lin membiarkan vaginanya membekap kontolku. Selanjutnya pantatnya mula bergerak naik turun. “Ahh….enaakkk Cik Mei…ahh..nikkmaattt…”desahku “Iya…aku juga..ennaakk Wan..”jawab Cik Mei Lin.</p>
<p style="text-align: justify;">Semakin lama gerakan pantat Cik Mei Lin semakian cepat. Aku mengimbanginya dengan menggerakkan pantatku juga naik turun. Sambil terus menyodokkan kontolku, tanganku juga bekerja meremas-remas buah dada Cik Mei Lin yang bergoyang. Semakin lama gerakan pantat Cik Mei Lin semakin cepat dan tidak beraturan. Matanya terpejam, terlebih saat aku meremas buah dadanya. Mukanya yang putih terlihat memerah. Sambil menjerit pelan ia gerakkan pantatnya naik turun. “Ahh…Wan….ahh….nniikkkmaaatt….ohhh…”jerit Cik Mei Lin pelan. Tiba-tiba Cik Mei Lin rubuh. Tubuhnya menindih tubuhku dengan vagina yang masih terisi kontolku. Ia memelukkan erat-erat sambil menekan pantatnya dalam-dalam. Aku merasakan ada carian hangat menyemprot kontolku. Rupanya Cik Mei Lin orgasme. Beberapa saat kemudian Cik Mei Lin mengangkat pantatnya. Ia tidur terlentang disampingku. Nafasnya yang ngos-ngosan pelahan-lahan mulai teratur kembali. Sambil tersenyum aku remas-remas buah dadanya yang montok itu. Cik Mei Lin membalasnya dengan meremas-remas kontolku yang masih tegang.</p>
<p style="text-align: justify;">“Kenapa sayang, kamu mau main lagi ya,”ujarnya yang aku jawab dengan anggukan kepala Cik Mei Lin tersenyum dan langsung mengambil posisi. Kali ini ia nungging di depanku. Wow, pantatnya yang sexy itu membuat aku tak tahan lagi. Rupanya Cik Mei Lin ingin meraskan hunjaman kontolku dari belakang. Aku segera mengarahkan kontolku ke vagina Cik Mei Lin. Liang nikmat itu terlihat memerah dan basah. Sejenak aku gosok-gosokkan ujung kontolku pada vagina Cik Mei Lin. Ia membalas dengan mengoyng-goyangkan pantatnya. Selanjutnya aku mulai menggerakan pantatku ke depan seiring dengan masukkan kontolku ke dalam laing kenikmatan Cik Mei Lin. “Ohh…Cik Mei….nniikkkmmaatt…..”desahku saat kontolku memasuki vagina Cik Mei Lin. Aku melanjutkan gerakan pantatku maju mundur. kontolku keluar masuk vagina Cik Mei Lin. Kenikmatan luar biasa kembali aku rasakan. kontolku seperti dipijit-pijit. Terlebih lagi Cik Mei Lin mulai menggerakkan pantatnya seperti berputar. Ahh…kontolku seperti dipilin-pilin rasanya. Aku hanya bisa memejamkan mata sambil terus menyodokkan kontolku dalam-dalam.</p>
<p style="text-align: justify;">“Ohh..Cik Mei…ennaakk…ahh…nniikkkmmaattt…..”desahku tak kuasa merasakan kenikmatan vagina Cik Mei Lin “Iya Wan….teerrruuss…ahh……ennaakkk….ahh….terruuss saayyyaanggg….”ujar Cik Mei Lin Aku terus memasukkan kontolku. Kali ini gerakan pantatku lebih kupercepat. Sesekali aku remas-remas pantat Cik Mei Lin yang sexy itu. Tiba-tiba aku meraskan tubuh Cik Mei Lin menegang. Ia menjerit pelan sambil tangannya mencengkeram ujung ranjang. “Ahh…ahh…aakkuu…kkeellluaarrr…ahh…..”jerit Cik Mei Lin sambil matanya terpejam Cik Mei Lin rupanya kembali orgasme. Aku pun merasakan kontolku semakin tegang. Cairan hangat yang menyembur dalam vagina Cik Mei Lin semakin membuat kontolku berdenyut. Dan akhirnya aku tak kuasa menahan spermaku yang ingin segera keluar. Segera aku percepat gerakan kontolku. Semakin lama gerakan kontolku semakin cepat. Akupun tak mampu lagi menahan spermaku lebih lama. Akhirnya . Crroott…crroott…ccrrooott&#8230;&#8230;.spermaku muncrat di dalam vagina Cik Mei Lin, cairan kental putih itu muncrat banyak sekali. Aku setengah berteriak saat spermaku muncrat.</p>
<p style="text-align: justify;">“Ahh..ahh…nniikkkmaatt…ahh….”jeritku pelan Aku diamkan sejenak kontolku di dalam liang vagina Cik Mei Lin. Nikmat sekali. &#8220;Semprotanmu nikmat sekali Wan,&#8221;kata Cik Mei Lin. Selanjutnya aku turun dari ranjang. Aku raih sebotol air mineral sambil mengatur nafasku yang ngos-ngosan. Kemudian aku berbaring di sebelah Cik Mei Lin yang juga rebah di ranjang. “Kami masih kuat Wan,”kata Cik Mei Lin tiba-tiba Aku agak terkejut dengan pertanyaan itu. Cik Mei Lin yang sudah dua kali mencapai puncak. Tapi nampaknya Cik Mei Lin masih ingin melanjutkan permainan. Sehingga aku heran dengan pertanyaan itu. Dalam hati aku kagum juga dengan nafsu Cik Mei Lin yang mengelora. Aku yakin ia masih ingin meneruskan permainan malam ini. “Masih Cik Mei, Kenapa Cik Mei ingin main lagi ya,”ujarku “Iya, tapi permainan yang agak lain,” “Maksud Cik Mei,” “Kamu pernah main anal nggak, kita coba yuk,” ujarnya sambil meremas-remas kontolku yang mulai tegak kembali. Kembali aku terkejut dibuatnya. Cik Mei Lin ingin main analsex. Ia ingin aku menggarap lubang anusnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Tentu aku tidak keberatan. Aku juga ingin sekali merasakan permainan itu. Apalagi yang aku garap adalah pantat Cik Mei Lin yang seksi itu. Cik Mei Lin langsung mengambil posisi. Ia kembali nungging. Vaginanya yang baru saja aku masuki masih tampak merah. Aku langsung mengarahkan kontolku yang kembali tegang tepat di lubang anus Cik Mei Lin. Perlahan-lahan aku gerakan pantatku maju ke depan. Perlahan-lahan pula kontolku mulai masuk ke lubang anus Cik Mei Lin. Sensasi luar biasa langsung aku rasakan. Lubang anus Cik Mei Lin sangat sempit. Lebih sempit daripada vaginanya. Lubang itu juga sangat keset. kontolku agak susah menembusnya. “Ah….Cik Mei anusmu sempit sekali…..” “Iya…Wan….terusin aja…ahh…masukin terruss Wan…ahh…”ujar Cik Mei Lin sambil merem saat aku masukan kontolku ke lubang anusnya. Aku cabut kontolku yang sebagian kepalanya sudah masuk ke anus Cik Mei Lin. Aku coba membasahi anus Cik Mei Lin dengan ludahku. Aku berharap dengan ludahku anus Cik Mei Lin jadi lebih gampang ditembus. Selanjutnya kembali aku masukan kontolku ke lubang anus Cik Mei Lin.</p>
<p style="text-align: justify;">Kali ini kontolku lebih gampang memasukinya. Mungkin karena air ludahku. “Ahh..Wan….ahh…..”ujar Cik Mei Lin saat kontolku mulai menembus duburnya “Ahh….lubang Cik Mei eenak baangeett…..”jawabku Semakin lama kontolku semakin dalam memasuki anus Cik Mei Lin. Dan akhirnya seluruh kontolku masuk ke dalam lubang Cik Mei Lin. Aku diamkan sejenak. Terasa hangat sekali. Lubang anus Cik Mei Lin seperti berdenyut-denyut. Sehingga kontolku seperti dipijit-pijit. Perlahan-lahan aku mulai menggerakkan pantatku, maju mundur sambil memegang pinggang Cik Mei Lin yang sintal. Gerakan pantatku semakin lama semakin hebat. Aku merasakan kenikmatan yang luar biasa. kontolku bergerak keluar masuk lubang anus Cik Mei Lin. Setiap kali kontolku bergerak aku merasakan kenikmatan tiada tara. “Ohh..Cik Mei eeennnaaakkk baannnggettt…..”aku berkata agak sedikit menjerit. “Ohh…iyaa…akuu juuga eennaakkk….teerrruusss…..Waann…”desah Cik Mei Lin yang hanya bisa merem melek merasakan kenikmatan itu. Semakin lama lubang anus Cik Mei Lin semakin licin.</p>
<p style="text-align: justify;">kontolku semakin leluasa maju mundur dan semakin aku menggerakkan kontolku kenikmatan yang aku rasakan semakin hebat. Hingga akhirnya kontolku terasa berdenyut-denyut. Jepitan pantat Cik Mei Lin membuat kontolku menjadi sangat tegang. Dan akhirnya aku tak kuat menahan kontolku yang ingin segera muncrat. “Ahh…Cik Mei aku maauuu keelluaarr…..ahh…ohhh…” “Iyaa..akuu juugaaa….ahhh…ahhh…”jawab Cik Mei Lin sambil menjerit pelan. Rupanya Cik Mei Lin juga orgasme. Akhirnya kontolku benar-benar tak mampu lagi menaham spermaku yang ingin segera muncrat. Crroott..croot..croott….Spermaku muncrat di dalam lubang anus Cik Mei Lin. Banyak juga spermaku yang muncrat. Walau tidak sebanyak yang muncrat pada permainan pertama. Tapi kenikmatan yang aku rasakan lebih hebat. Aku merebahkan tubuhku menindih Cik Mei Lin dari belakang. kontolku masih menancap didalam anus Cik Mei Lin. Aku menciumi punggung dan leher Cik Mei Lin yang putih mulus. Aku mendengar nafas Cik Mei Lin yang terengah-engah seperti orang habis berlari. Nafasku juga ngos-ngosan.</p>
<p style="text-align: justify;">Akhirnya aku cabut kontolku dari pantat Cik Mei Lin. Ia tidur disampingku. Aku rebahkan tubuhku menindih Cik Mei Lin. Kuciumi bibirnya yang seksi itu. “Cik Mei hebat deh….mainnya hot banget….”ujarku “Kamu juga oke banget……lain kali kita main lagi ya…..yang lebih hot”ujar Cik Mei Lin sambil berdiri dan menuju kamar mandi. Aku merasakan tubuhku capek luar biasa. Tanpa terasa tiga jam lebih aku beradu nafsu dengan Cik Mei Lin. Dalam keadaan terlentang tanpa terasa aku tertidur. Sejak saat itu hubunganku dengan Cik Mei Lin semakin akrab. Aku semakin sering tidur dengan Cik Mei Lin. Semua dilakukan saat suami Cik Mei Lin sedang tidak dirumah dan anaknya sudah tidur. Beruntung anaknya tidur di kamar terpisah, jadi tidak menganggu permainan nikmat kami. Cik Mei Lin semakin ketagihan dengan kontolku. Ia bilang kontolku lebih nikmat daripada kontol suaminya. Selain lebih besar dan panjang, kontolku juga disunat. Tidak seperti suaminya yang tidak sunat. “Kontol disunat memang lebih enak daripada yang tidak disunat,”katanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Sebenarnya aku takut Cik Mei Lin hamil. Sebab sudah berkali-kali kontolku muncrat di dalam vagina Cik Mei Lin. Ia tidak mau kalau aku mengeluarkan sperma di luar. Cik Mei Lin juga tidak mau jika aku memakai kondom. “Semprotan kontolmu luar biasa ,”katanya. Tapi untunglah sampai saat ini Cik Mei Lin tidak hamil. Mungkin ia selalu minum pil anti hamil&#8230;..hhhmmmm.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ceritasex.cn/cik-mei-lin-tetanggaku/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bercinta dengan Guru Bahasa Inggris</title>
		<link>http://www.ceritasex.cn/bercinta-dengan-guru-bahasa-inggris/</link>
		<comments>http://www.ceritasex.cn/bercinta-dengan-guru-bahasa-inggris/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 13 Jan 2012 23:58:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cerita Sex</dc:creator>
				<category><![CDATA[Paruh baya]]></category>
		<category><![CDATA[Seks Umum]]></category>
		<category><![CDATA[bercinta]]></category>
		<category><![CDATA[guru]]></category>
		<category><![CDATA[ml]]></category>
		<category><![CDATA[nafsu birahi]]></category>
		<category><![CDATA[ngentot]]></category>
		<category><![CDATA[orgasme]]></category>
		<category><![CDATA[seks]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ceritasex.cn/?p=3299</guid>
		<description><![CDATA[Sejalan dengan waktu, kini aku bisa kuliah di universitas keinginanku. Namaku Jack, sekarang aku tinggal di Yogyakarta dengan fasilitas yang sangat baik sekali. Kupikir aku cukup beruntung bisa bekerja sambil kuliah sehingga aku mempunyai penghasilan tinggi. Berawal dari reuni SMA-ku di Jakarta. Setelah itu aku bertemu dengan guru bahasa inggrisku, kami ngobrol dengan akrabnya. Ternyata [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Sejalan dengan waktu, kini aku bisa kuliah di universitas keinginanku. Namaku Jack, sekarang aku tinggal di Yogyakarta dengan fasilitas yang sangat baik sekali. Kupikir aku cukup beruntung bisa bekerja sambil kuliah sehingga aku mempunyai penghasilan tinggi.</p>
<p style="text-align: justify;">Berawal dari reuni SMA-ku di Jakarta. Setelah itu aku bertemu dengan guru bahasa inggrisku, kami ngobrol dengan akrabnya. Ternyata Ibu Shinta masih segar bugar dan amat menggairahkan. Penampilannya amat menakjubkan, memakai rok mini yang ketat, kaos top tank sehingga lekuk tubuhnya nampak begitu jelas. Jelas saja dia masih muda sebab sewaktu aku SMA dulu dia adalah guru termuda yang mengajar di sekolah kami. Sekolahku itu cuma terdiri dari dua kelas, kebanyakan siswanya adalah wanita. Cukup lama aku ngobrol dengan Ibu Shinta, kami rupanya tidak sadar waktu berjalan dengan cepat sehingga para undangan harus pulang. Lalu kami pun berjalan munuju ke pintu gerbang sambil menyusuri ruang kelas tempatku belajar waktu SMA dulu.</p>
<p style="text-align: justify;">Tiba-tiba Ibu Shinta teringat bahwa tasnya tertinggal di dalam kelas sehinga kami terpaksa kembali ke kelas. Waktu itu kira-kira hampir jam dua belas malam, tinggal kami berdua. Lampu-lampu di tengah lapangan saja yang tersisa. Sesampainya di kelas, Ibu Shinta pun mengambil tasnya kemudian aku teringat akan masa lalu bagaimana rasanya di kelas bersama dengan teman-teman. Lamunanku buyar ketika Ibu Shinta memanggilku.<br />
<span id="more-3299"></span><br />
&#8220;Kenapa Jack&#8221;"Ah.. tidak apa-apa&#8221;, jawabku. (sebetulnya suasana hening dan amat merinding itu membuat hasratku bergejolak apalagi ada Ibu Shinta di sampingku, membuat jantungku selalu berdebar-debar).&#8221;Ayo Jack kita pulang, nanti Ibu kehabisan angkutan&#8221;, kata Ibu Shinta.&#8221;Sebaiknya Ibu saya antar saja dengan mobil saya&#8221;, jawabku dengan ragu-ragu.&#8221;Terima kasih Jack&#8221;.</p>
<p style="text-align: justify;">Tanpa sengaja aku mengutarakan isi hatiku kepada Ibu Shinta bahwa aku suka kepadanya, &#8220;Oh my God what i&#8217;m doing&#8221;, dalam hatiku. Ternyata keadaan berkata lain, Ibu Shinta terdiam saja dan langsung keluar dari ruang kelas. Aku panik dan berusaha minta maaf. Ibu Shinta ternyata sudah cerai dengan suaminya yang bule itu, katanya suaminya pulang ke negaranya. Aku tertegun dengan pernyataan Ibu Shinta. Kami berhenti sejenak di depan kantornya lalu Ibu Shinta mengeluarkan kunci dan masuk ke kantornya, kupikir untuk apa masuk ke dalam kantornya malam-malam begini. Aku semakin penasaran lalu masuk dan bermaksud mengajaknya pulang tapi Ibu Shinta menolak. Aku merasa tidak enak lalu menunggunya, kurangkul pundak Ibu Shinta, dengan cepat Ibu Shinta hendak menolak tetapi ada kejadian yang tak terduga, Ibu Shinta menciumku dan aku pun membalasnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Ohh.., alangkah senangnya aku ini, lalu dengan cepat aku menciumnya dengan segala kegairahanku yang terpendam. Ternyata Ibu Shinta tak mau kalah, ia menciumku dengan hasrat yang sangat besar mengharapkan kehangatan dari seorang pria. Dengan sengaja aku menyusuri dadanya yang besar, Ibu Shinta terengah sehingga ciuman kami bertambah panas kemudian terjadi pergumulan yang sangat seru. Ibu Shinta memainkan tangannya ke arah batang kemaluanku sehingga aku sangat terangsang. Lalu aku meminta Ibu Shinta membuka bajunya, satu persatu kancing bajunya dibukanya dengan lembut, kutatap dengan penuh hasrat. Ternyata dugaanku salah, dadanya yang kusangka kecil ternyata amat besar dan indah, BH-nya berwarna hitam berenda yang modelnya amat seksi.</p>
<p style="text-align: justify;">Karena tidak sabar maka kucium lehernya dan kini Ibu Shinta setengah telanjang, aku tidak mau langsung menelanjanginya, sehingga perlahan-lahan kunikmati keindahan tubuhnya. Aku pun membuka baju sehingga badanku yang tegap dan atletis membangkitkan gairah Ibu Shinta, &#8220;Jack kukira Ibu mau bercinta denganmu sekarang.., Jack, tutup pintunya dulu dong&#8221;, bisiknya dengan suara agak bergetar, mungkin menahan birahinya yang juga mulai naik.</p>
<p style="text-align: justify;">Tanpa disuruh dua kali, secepat kilat aku segera menutup pintu depan. Tentu agar keadaan aman dan terkendali. Setelah itu aku kembali ke Ibu Shinta. Kini aku jongkok di depannya. Menyibak rok mininya dan merenggangkan kedua kakinya. Wuih, betapa mulus kedua pahanya. Pangkalnya tampak menggunduk dibungkus celana dalam warna hitam yang amat minim. Sambil mencium pahanya tanganku menelusup di pangkal pahanya, meremas-remas liang senggamanya dan klitorisnya yang juga besar. Lidahku makin naik ke atas. Ibu Shinta menggelinjang kegelian sambil mendesah halus. Akhirnya jilatanku sampai di pangkal pahanya.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Mau apa kau sshh&#8230; sshh&#8221;, tanyanya lirih sambil memegangi kapalaku erat-erat.&#8221;Ooo&#8230; oh.. oh..&#8221;, desis Ibu Shinta keenakan ketika lidahku mulai bermain-main di gundukan liang kenikmatannya. Tampak dia keenakan meski masih dibatasi celana dalam.</p>
<p style="text-align: justify;">Serangan pun kutingkatkan. Celananya kulepaskan. Sekarang perangkat rahasia miliknya berada di depan mataku. Kemerahan dengan klitoris yang besar sesuai dengan dugaanku. Di sekelilingnya ditumbuhi rambut yang tidak begitu lebat. Lidahku kemudian bermain di bibir kemaluannya. Pelan-pelan mulai masuk ke dalam dengan gerakan-gerakan melingkar yang membuat Ibu Shinta makin keenakan, sampai harus mengangkat-angkat pinggulnya. &#8220;Aahh&#8230; Kau pintar sekali. Belajar dari mana hh&#8230;&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Tanpa sungkan-sungkan Ibu Shinta mencium bibirku. Lalu tangannya menyentuh celanaku yang menonjol akibat batang kemaluanku yang ereksi maksimal, meremas-remasnya beberapa saat. Betapa lembut ciumannya, meski masih polos. Aku segera menjulurkan lidahku, memainkan di rongga mulutnya. Lidahnya kubelit sampai dia seperti hendak tersendak. Semula Ibu Shinta seperti akan memberontak dan melepaskan diri, tapi tak kubiarkan. Mulutku seperti melekat di mulutnya. &#8220;Uh kamu pengalaman sekali ya. Sama siapa? Pacarmu?&#8221;, tanyanya diantara kecipak ciuman yang membara dan mulai liar. Aku tak menjawab. Tanganku mulai mempermainkan kedua payudaranya yang tampak menggairahkan itu. Biar tidak merepotkanku, BH-nya kulepas. Kini dia telanjang dada. Tak puas, segera kupelorotkan rok mininya. Nah kini dia telanjang bulat. Betapa bagus tubuhnya. Padat, kencang dan putih mulus.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Nggak adil. Kamu juga harus telanjang..&#8221; Ibu Shinta pun melucuti kaos, celanaku, dan terakhir celana dalamku. Batang kemaluanku yang tegak penuh segera diremas-remasnya. Tanpa dikomando kami rebah di atas ranjang, berguling-guling, saling menindih. Aku menunduk ke selangkangannya, mencari pangkal kenikmatan miliknya. Tanpa ampun lagi mulut dan lidahku menyerang daerah itu dengan liar. Ibu Shinta mulai mengeluarkan jeritan-jeritan tertahan menahan nikmat. Hampir lima menit kami menikmati permainan itu. Selanjutnya aku merangkak naik. Menyorongkan batang kemaluanku ke mulutnya.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Gantian dong..&#8221; Tanpa menunggu jawabannya segera kumasukkan batang kemaluanku ke mulutnya yang mungil. Semula agak kesulitan, tetapi lama-lama dia bisa menyesuaikan diri sehingga tak lama batang kemaluanku masuk ke rongga mulutnya. &#8220;Justru di situ nikmatnya.., Selama ini sama suami main seksnya gimana?&#8221;, tanyaku sambil menciumi payudaranya. Ibu Shinta tak menjawab. Dia malah mencium bibirku dengan penuh gairah. Tanganku pun secara bergantian memainkan kedua payudaranya yang kenyal dan selangkangannya yang mulai basah. Aku tahu, perempuan itu sudah kepengin disetubuhi. Namun aku sengaja membiarkan dia menjadi penasaran sendiri.</p>
<p style="text-align: justify;">Tetapi lama-lama aku tidak tahan juga, batang kemaluanku pun sudah ingin segera menggenjot liang kenikmatannya. Pelan-pelan aku mengarahkan barangku yang kaku dan keras itu ke arah selangkangannya. Ketika mulai menembus liang kenikmatannya, kurasakan tubuh Ibu Shinta agak gemetar. &#8220;Ohh&#8230;&#8221;, desahnya ketika sedikit demi sedikit batang kemaluanku masuk ke liang kenikmatannya. Setelah seluruh barangku masuk, aku segera bergoyang naik turun di atas tubuhnya. Aku makin terangsang oleh jeritan-jeritan kecil, lenguhan serta kedua payudaranya yang ikut bergoyang-goyang.</p>
<p style="text-align: justify;">Tiga menit setelah kugenjot, Ibu Shinta menjepitkan kedua kakinya ke pinggangku. Pinggulnya dinaikkan. Tampaknya dia akan orgasme. Genjotan batang kemaluanku kutingkatkan. &#8220;Ooo&#8230; ahh&#8230; hmm&#8230; ssshh&#8230;&#8221;, desahnya dengan tubuh menggelinjang menahan kenikmatan puncak yang diperolehnya. Kubiarkan dia menikmati orgasmenya beberapa saat. Kuciumi pipi, dahi, dan seluruh wajahnya yang berkeringat. &#8220;Sekarang Ibu Shinta berbalik. Menungging di atas meja.., sekarang kita main dong di atas meja ok!&#8221; Aku mengatur badannya dan Ibu Shinta menurut. Dia kini bertumpu pada siku dan kakinya. &#8220;Gaya apa lagi ini?&#8221;, tanyanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah siap aku pun mulai menggenjot dan menggoyang tubuhnya dari belakang. Ibu Shinta kembali menjerit dan mendesah merasakan kenikmatan yang tiada taranya, yang mungkin selama ini belum pernah dia dapatkan dari suaminya. Setelah dia orgasme sampai dua kali, kami istirahat.&#8221;Capek?&#8221;, tanyaku. &#8220;Kamu ini aneh-aneh saja. Sampai mau remuk tulang-tulangku&#8221;.&#8221;Tapi kan nikmat Bu..&#8221;, jawabku sambil kembali meremas payudaranya yang menggemaskan.&#8221;Ya deh kalau capek. Tapi tolong sekali lagi, aku pengin masuk agar spermaku keluar. Nih sudah nggak tahan lagi batang kemaluanku. Sekarang Ibu Shinta yang di atas&#8221;, kataku sambil mengatur posisinya.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku terletang dan dia menduduki pinggangku. Tangannya kubimbing agar memegang batang kemaluanku masuk ke selangkangannya. Setelah masuk tubuhnya kunaik-turunkan seirama genjotanku dari bawah. Ibu Shinta tersentak-sentak mengikuti irama goyanganku yang makin lama kian cepat. Payudaranya yang ikut bergoyang-goyang menambah gairah nafsuku. Apalagi diiringi dengan lenguhan dan jeritannya saat menjelang orgasme. Ketika dia mencapai orgasme aku belum apa-apa. Posisinya segera kuubah ke gaya konvensional. Ibu Shinta kurebahkan dan aku menembaknya dari atas. Mendekati klimaks aku meningkatkan frekuensi dan kecepatan genjotan batang kemaluanku. &#8220;Oh Ibu Shinta.., aku mau keluar nih ahh..&#8221; Tak lama kemudian spermaku muncrat di dalam liang kenikmatannya. Ibu Shinta kemudian menyusul mencapai klimaks. Kami berpelukan erat. Kurasakan liang kenikmatannya begitu hangat menjepit batang kemaluanku. Lima menit lebih kami dalam posisi rileks seperti itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Kami berpelukan, berciuman, dan saling meremas lagi. Seperti tak puas-puas merasakan kenikmatan beruntun yang baru saja kami rasakan. Setelah itu kami bangun di pagi hari, kami pergi mencari sarapan dan bercakap-cakap kembali. Ibu Shinta harus pergi mengajar hari itu dan sorenya baru bisa kujemput.</p>
<p style="text-align: justify;">Sore telah tiba, Ibu Shinta kujemput dengan mobilku. Kita makan di mall dan kami pun beranjak pulang menuju tempat parkir. Di tempat parkir itulah kami beraksi kembali, aku mulai menciumi lehernya. Ibu Shinta mendongakkan kepala sambil memejamkan mata, dan tanganku pun mulai meremas kedua buah dadanya. Nafas Ibu Shinta makin terengah, dan tanganku pun masuk di antara kedua pahanya. Celana dalamnya sudah basah, dan jariku mengelus belahan yang membayang. &#8220;Uuuhh.., mmmhh..&#8221;, Ibu Shinta menggelinjang, tapi gairahku sudah sampai ke ubun-ubun dan aku pun membuka dengan paksa baju dan rok mininya.</p>
<p style="text-align: justify;">Aaahh..! Ibu Shinta dengan posisi yang menantang di jok belakang dengan memakai BH merah dan CD merah. Aku segera mencium puting susunya yang besar dan masih terbungkus dengan BH-nya yang seksi, berganti-ganti kiri dan kanan. Tangan Ibu Shinta mengelus bagian belakang kepalaku dan erangannya yang tersendat membuatku makin tidak sabar. Aku menarik lepas celana dalamnya, dan nampaklah bukit kemaluannya. Akupun segera membenamkan kepalaku ke tengah ke dua pahanya. &#8220;Ehhh&#8230;, mmmhh..&#8221;. Tangan Ibu Shinta meremas jok mobilku dan pinggulnya bergetar ketika bibir kemaluannya kucumbui. Sesekali lidahku berpindah ke perutnya dan menjilatinya dengan perlahan.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Ooohh.., aduuuhh..&#8221;. Ibu Shinta mengangkat punggungnya ketika lidahku menyelinap di antara belahan kemaluannya yang masih begitu rapat. Lidahku bergerak dari atas ke bawah dan bibir kemaluannya mulai membuka. Sesekali lidahku membelai klitorisnya yang membuat tubuh Ibu Shinta terlonjak dan nafas Ibu Shinta seakan tersendak. Tanganku naik ke dadanya dan meremas kedua bukit dadanya. Putingnya membesar dan mengeras. Ketika aku berhenti menjilat dan mengulum, Ibu Shinta tergeletak terengah-engah, matanya terpejam. Tergesa aku membuka semua pakaianku, dan kemaluanku yang tegak teracung ke langit-langit, kubelai-belaikan di pipi Ibu Shinta. &#8220;Mmmhh&#8230;, mmmhh.., ooohhm..&#8221;. Ketika Ibu Shinta membuka bibirnya, kujejalkan kepala kemaluanku, kini iapun mulai menyedot. Tanganku bergantian meremas dadanya dan membelai kemaluannya. &#8220;Oouuuh Ibu Shinta.., enaaaak.., teruuuss&#8230;&#8221;, erangku.</p>
<p style="text-align: justify;">Ibu Shinta terus mengisap batang kemaluanku sambil tangannya mengusap liang kenikmatannya yang juga telah banjir karena terangsang menyaksikan batang kemaluanku yang begitu besar dan perkasa baginya. Hampir 20 menit dia menghisap batang kemaluanku dan tak lama terasa sekali sesuatu di dalamnya ingin meloncat ke luar. &#8220;Ibu Shinta.., ooohh.., enaaak.., teruuus&#8221;, teriakku. Dia mengerti kalau aku mau keluar, maka dia memperkuat hisapannya dan sambil menekan liang kenikmatannya, aku lihat dia mengejang dan matanya terpejam, lalu.., &#8220;Creet.., suuurr.., ssuuur..&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Oughh.., Jack.., nikmat..&#8221;, erangnya tertahan karena mulutnya tersumpal oleh batang kemaluanku. Dan karena hisapannya terlalu kuat akhirnya aku juga tidak kuat menahan ledakan dan sambil kutahan kepalanya, kusemburkan maniku ke dalam mulutnya, &#8220;Crooot.., croott.., crooot..&#8221;, banyak sekali maniku yang tumpah di dalam mulutnya.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Aaahkk.., ooough&#8221;, ujarku puas. Aku masih belum merasa lemas dan masih mampu lagi, akupun naik ke atas tubuh Ibu Shinta dan bibirku melumat bibirnya. Aroma kemaluanku ada di mulut Ibu Shinta dan aroma kemaluan Ibu Shinta di mulutku, bertukar saat lidah kami saling membelit. Dengan tangan, kugesek-gesekkan kepala kemaluanku ke celah di selangkangan Ibu Shinta, dan sebentar kemudian kurasakan tangan Ibu Shinta menekan pantatku dari belakang. &#8220;Ohm, masuk.., augh.., masukin&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Perlahan kemaluanku mulai menyeruak masuk ke liang kemaluannya dan Ibu Shinta semakin mendesah-desah. Segera saja kepala kemaluanku terasa tertahan oleh sesuatu yang kenyal. Dengan satu hentakan, tembuslah halangan itu. Ibu Shinta memekik kecil. Aku menekan lebih dalam lagi dan mulutnya mulai menceracau, &#8220;Aduhhh.., ssshh.., iya.., terus.., mmmhh.., aduhhh.., enak.., Jack&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Aku merangkulkan kedua lenganku ke punggung Ibu Shinta, lalu membalikkan kedua tubuh kami sehingga Ibu Shinta sekarang duduk di atas pinggulku. Nampak kemaluanku menancap hingga pangkal di kemaluannya. Tanpa perlu diajari, Ibu Shinta segera menggerakkan pinggulnya, sementara jari-jariku bergantian meremas dan menggosok payudaranya, klitoris dan pinggulnya, dan kamipun berlomba mencapai puncak.</p>
<p style="text-align: justify;">Lewat beberapa waktu, gerakan pinggul Ibu Shinta makin menggila dan iapun membungkukkan tubuhnya dengan bibir kami saling melumat. Tangannya menjambak rambutku, dan akhirnya pinggulnya berhenti menyentak. Terasa cairan hangat membalur seluruh batang kemaluanku. Setelah tubuh Ibu Shinta melemas, aku mendorongnya hingga telentang, dan sambil menindihnya, aku mengejar puncak orgasmeku sendiri. Ketika aku mencapai klimaks, Ibu Shinta tentu merasakan siraman air maniku di liang kenikmatannya, dan iapun mengeluh lemas dan merasakan orgasmenya yang kedua. Sekian lama kami diam terengah-engah, dan tubuh kami yang basah kuyup dengan keringat masih saling bergerak bergesekan, merasakan sisa-sisa kenikmatan orgasme.</p>
<p style="text-align: justify;">TAMAT</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ceritasex.cn/bercinta-dengan-guru-bahasa-inggris/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Lily Gadis Bandung Berjilbab ini Ternyata Doyan Pejuh!</title>
		<link>http://www.ceritasex.cn/lily-gadis-bandung-berjilbab-ini-ternyata-doyan-pejuh/</link>
		<comments>http://www.ceritasex.cn/lily-gadis-bandung-berjilbab-ini-ternyata-doyan-pejuh/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 12 Jan 2012 13:15:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cerita Sex</dc:creator>
				<category><![CDATA[Amoy]]></category>
		<category><![CDATA[Daun Muda]]></category>
		<category><![CDATA[Foto Mesum]]></category>
		<category><![CDATA[Seks Umum]]></category>
		<category><![CDATA[amoy]]></category>
		<category><![CDATA[bandung]]></category>
		<category><![CDATA[cina]]></category>
		<category><![CDATA[cumshot]]></category>
		<category><![CDATA[isep kontol]]></category>
		<category><![CDATA[lily]]></category>
		<category><![CDATA[pejuh]]></category>
		<category><![CDATA[sperma]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ceritasex.cn/?p=3274</guid>
		<description><![CDATA[Walahhh no komen deh hari gini emang susah dapat cewek yang masih baik ckckck&#8230; tapi pada doyan juga kan? doyan kok pake protes udahlah nikmatin aja si lily mesum..]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Walahhh no komen deh hari gini emang susah dapat cewek yang masih baik ckckck&#8230; tapi pada doyan juga kan? doyan kok pake protes udahlah nikmatin aja si lily mesum..</p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2012/01/lily-gadis-bandung-doyan-pejuh-1.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-3275" title="lily-gadis-bandung-doyan-pejuh-1" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2012/01/lily-gadis-bandung-doyan-pejuh-1-200x300.jpg" alt="" width="200" height="300" /></a></p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2012/01/lily-gadis-bandung-doyan-pejuh-2.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-3276" title="lily-gadis-bandung-doyan-pejuh-2" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2012/01/lily-gadis-bandung-doyan-pejuh-2-225x300.jpg" alt="" width="225" height="300" /></a></p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2012/01/lily-gadis-bandung-doyan-pejuh-3.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-3277" title="lily-gadis-bandung-doyan-pejuh-3" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2012/01/lily-gadis-bandung-doyan-pejuh-3-225x300.jpg" alt="" width="225" height="300" /></a></p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2012/01/lily-gadis-bandung-doyan-pejuh-4.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-3278" title="lily-gadis-bandung-doyan-pejuh-4" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2012/01/lily-gadis-bandung-doyan-pejuh-4-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a></p>
<p><span id="more-3274"></span></p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2012/01/lily-gadis-bandung-doyan-pejuh-5.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-3279" title="lily-gadis-bandung-doyan-pejuh-5" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2012/01/lily-gadis-bandung-doyan-pejuh-5-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a></p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2012/01/lily-gadis-bandung-doyan-pejuh-6.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-3280" title="lily-gadis-bandung-doyan-pejuh-6" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2012/01/lily-gadis-bandung-doyan-pejuh-6-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a></p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2012/01/lily-gadis-bandung-doyan-pejuh-7.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-3281" title="lily-gadis-bandung-doyan-pejuh-7" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2012/01/lily-gadis-bandung-doyan-pejuh-7-224x300.jpg" alt="" width="224" height="300" /></a></p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2012/01/lily-gadis-bandung-doyan-pejuh-8.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-3282" title="lily-gadis-bandung-doyan-pejuh-8" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2012/01/lily-gadis-bandung-doyan-pejuh-8-225x300.jpg" alt="" width="225" height="300" /></a></p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2012/01/lily-gadis-bandung-doyan-pejuh-9.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-3283" title="lily-gadis-bandung-doyan-pejuh-9" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2012/01/lily-gadis-bandung-doyan-pejuh-9-225x300.jpg" alt="" width="225" height="300" /></a></p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2012/01/lily-gadis-bandung-doyan-pejuh-10.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-3284" title="lily-gadis-bandung-doyan-pejuh-10" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2012/01/lily-gadis-bandung-doyan-pejuh-10-225x300.jpg" alt="" width="225" height="300" /></a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ceritasex.cn/lily-gadis-bandung-berjilbab-ini-ternyata-doyan-pejuh/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Nikmat Karaoke Membawa Sengsara Bagian 2</title>
		<link>http://www.ceritasex.cn/nikmat-karaoke-membawa-sengsara-bagian-2/</link>
		<comments>http://www.ceritasex.cn/nikmat-karaoke-membawa-sengsara-bagian-2/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 12 Jan 2012 12:11:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cerita Sex</dc:creator>
				<category><![CDATA[Daun Muda]]></category>
		<category><![CDATA[Pemerkosaan]]></category>
		<category><![CDATA[Seks Umum]]></category>
		<category><![CDATA[selingkuh]]></category>
		<category><![CDATA[Toket gede]]></category>
		<category><![CDATA[cuki]]></category>
		<category><![CDATA[klitoris]]></category>
		<category><![CDATA[kontol]]></category>
		<category><![CDATA[memek]]></category>
		<category><![CDATA[ngentot]]></category>
		<category><![CDATA[orgasme]]></category>
		<category><![CDATA[seks]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ceritasex.cn/?p=3272</guid>
		<description><![CDATA[&#8220;Uh.. saatnya untuk sedikit beraksi Ded!&#8221; kata Dedi dalam hati, lalu ia berdiri di belakang Shinta. Perlahan-lahan ia mendekati Shinta sampai kemaluannya menyentuh pantat Shinta. Shinta sedikit terkejut. &#8220;Hey, dia sengaja nggak ya?&#8221; pikirnya ragu. Sambil terus membungkuk, Shinta berpura-pura terus sibuk. Tapi sekarang ia menggerakkan pinggulnya pelan ke belakang sehingga menempel ketat dengan tubuh [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">&#8220;Uh.. saatnya untuk sedikit beraksi Ded!&#8221; kata Dedi dalam hati, lalu ia berdiri di belakang Shinta. Perlahan-lahan ia mendekati Shinta sampai kemaluannya menyentuh pantat Shinta. Shinta sedikit terkejut. &#8220;Hey, dia sengaja nggak ya?&#8221; pikirnya ragu. Sambil terus membungkuk, Shinta berpura-pura terus sibuk. Tapi sekarang ia menggerakkan pinggulnya pelan ke belakang sehingga menempel ketat dengan tubuh Dedi di belakang. Dedi mencoba mengatur nafasnya supaya tidak terdengar memburu. &#8220;Lho?? dia tau nggak sih?&#8221; pikirnya sesak. Shinta merasakan ada sesuatu yang keras menempel di pantatnya. &#8220;Ha ha sepertinya Dedi sedang terangsang. Satu sentuhan lagi lalu kuminta dia pulang..&#8221; batin Shinta riang. Lalu ia seperti membaca sesuatu di layar sambil menggerak-gerakkan pantatnya ke kanan dan ke kiri perlahan.</p>
<p style="text-align: justify;">Dedi benar-benar menikmati keadaan itu.&#8221;Oh ternyata nggak sesulit yang kukira, sebentar lagi kita pasti akan bercinta,&#8221; pikirnya sambil meletakkan tangannya di pinggul Shinta.&#8221;Ok Ded ini sudah aku print-kan, kamu tinggal belanja bahan-bahan saja, ok? kamu kalo keluar nanti tutup kembali ya pintunya aku mau kirim e-mail buat sepupuku dulu di sini,&#8221; kata Shinta sambil berbalik dan menyodorkan selembar kertas.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Aaa? dia menyuruhku pulang? jadi tadi itu cuma khayalan saja?&#8221; kata Dedi sambil mengambil kertas dari hadapannya. Ia berjalan keluar dengan pelan berharap Shinta memanggilnya lagi, ternyata tidak!&#8221;He he berani taruhan, pasti Dedi menyesal kalau pernah meminta obat ke sini,&#8221; batin Shinta sambil tersenyum lalu ia mulai mengetik surat.</p>
<p style="text-align: justify;">Tiba-tiba ia merasa tubuhnya tertarik ke belakang. Lalu tubuhnya terangkat dalam pelukan seseorang. Shinta mencoba melihat wajah seseorang yang mengangkatnya.&#8221;Hey Ded! ada apaa? eh turunin aku dong.. Dedi! ini nggak lucu ya?!&#8221; kata Shinta.&#8221;Shinta, sorry ya.. aku nggak bisa tahan. Kamu harus nurut, ok? Aku nggak pengen kamu luka,&#8221; kata Dedi dingin sambil membuang tubuh Shinta di sofa. Shinta menggigil ketakutan.&#8221;Dedi, kamu mau apa? jangan ya? Ded..&#8221; pinta Shinta menghiba ketika ia melihat Dedi membuka celana panjangnya. Dedi sudah tak peduli lagi. &#8220;Dengar Shinta, kalau kamu terus bicara aku bakal&#8230;&#8221; Plak! Dedi merasa pipinya panas. Mendadak birahinya berubah menjadi amarah. Dicengkeramnya baju Shinta lalu dengan sekuat tenaga dibukanya dengan paksa sehingga kancing baju itu jatuh berderai ke lantai. Shinta mulai terisak. Ia ingin teriak tapi tak kuasa mengeluarkan suara. Ia didera ketakutan yang amat sangat yang belum pernah ia alami seumur hidupnya.<br />
<span id="more-3272"></span><br />
Dedi menatap payudara yang terbungkus bra warna krem. &#8220;Hoho ternyata 34B. Bagus. Tidak terlalu besar dan akhirnya aku mengetahuinya walaupun dengan cara begini.&#8221; bathin Dedi sambil mengangkat bra itu ke atas. Kedua kakinya menahan tubuh Shinta bagian bawah sementara tangannya memegang kedua tangan Shinta. Ia mulai menjilati payudara itu. Lidahnya bergerak cepat membuat lingkaran yang mengecil di puting Shinta, Lalu ia menyedotnya keras. Shinta mencoba untuk mengontrol dirinya sehingga ia punya tenaga untuk berteriak. Dibiarkannya Dedi menyedot-nyedot puting susunya. Ia berusaha memblok gairah yang mendadak muncul di dirinya.</p>
<p style="text-align: justify;">Dedi benar-benar merasa sangat bergairah. Kemaluannya menegang keras. &#8220;Aku harus membuatnya terangsang supaya aku tidak terlalu kesulitan memasuki dirinya,&#8221; katanya sambil terus mengulum puting Shinta. Lalu bibirnya pindah ke leher. Dengan jilatan-jilatan kecil yang dibuatnya iabergerak ke arah telinga dan bagian dalam telinga Shinta. Hal itu membuat Shinta melenguh pelan lalu dengan cepat menutup mulut lagi. Dedi mendengar lenguhan itu dan itu menambah semangatnya. Dijilatinya lengan Shinta bagian dalam. Shinta meronta kegelian. &#8220;Ah ini akan memakan waktu..&#8221; kata Dedi. Ia melepaskan pegangan tangannya dari tangan Shinta lalu berbalik ke bawah. Kakinya menekan lengan Shinta sementara tangannya memegang kedua kaki Shinta. Shinta melihat ke atas. &#8220;Ahh.. mengapa tubuhku jadi lemas begini,&#8221; pikirnya sambil terisak.</p>
<p style="text-align: justify;">Dedi membuka rok Shinta ke atas. Dilihatnya paha putih bersih di hadapannya yang langsung ia terkam dengan mulutnya. &#8220;Aah harum sekali tubuh ini,&#8221; dijilatinya sampai pangkal paha, kedua paha itu hanya meronta-ronta pelan tertahan oleh kedua tangan kekar Dedi yang sangat menikmati aroma di pangkal paha Shinta. Dedi menggigit pelan pangkal paha itu sambil terus menjilatinya bergantian kiri dan kanan. Shinta terus mencoba menahan reaksi balik dari dalam dirinya. Ia menegangkan kedua pahanya tapi yang terjadi malah ia merenggangkan pahanya. Dedi menangkap itu sebagai isyarat penerimaan. Lalu diturunkan CD Shinta ke bawah lalu dengan rakus, sebelum dibenamkan mulutnya di sana, dirabanya sejenak, &#8220;Hm sudah lembab,&#8221; pikirnya sambil tersenyum. Dedi tidak bisa melihat memek Shinta dengan jelas tapi ia tak mempedulikannya. Lidahnya menerobos ke dalam dengan cepat dijilatinya seluruh dinding memek Shinta. Ditahannya kedua paha Shinta dengan sikunya, lalu jarinya membuka memek itu, sementara jari lainnya mencari klitoris. Dipindahkan lidahnya ke pangkal paha Shinta lagi sambil memijat pelan klitoris Shinta dengan ibu jari dan jarinya.</p>
<p style="text-align: justify;">Dedi merasa sangat tidak leluasa, ia mengangkat kepalanya dan menoleh ke belakang. &#8220;Shinta aku cuma minta kamu jangan berteriak ok? aku mau berdiri sekarang.. kalau kamu mencoba teriak aku bakal menyakiti kamu lebih dari yang kamu bayangkan, ngerti kamu?!&#8221; kata Dedi sambil mengguncang tubuh Shinta pelan. Shinta tak menjawab, ia hanya terisak dan melempar pandangannya ke samping. Dedi tersenyum berdiri dan berlutut di bawah. Ditariknya kedua kaki Shinta, lalu dibukanya lagi memek Shinta. Kali ini ia dapat melihat memek itu dengan jelas. Dijilatinya pelan semakin lama semakin cepat ke arah klitoris.</p>
<p style="text-align: justify;">Shinta terisak lagi, kali ini ia sendiri tak yakin itu refleksi kesedihan atau gairahnya.Shinta terguncang hebat tubuhnya menggigil setiap kali lidah Dedi menyentuh klitorisnya, ia merasa masih bisa menahan dirinya, tapi gerakan lidah Dedi di klitorisnya membuatnya menahan beban yang sangat berat, dengan satu helaan nafas panjang ia memejamkan matanya dan membiarkan dirinya terbawa.</p>
<p style="text-align: justify;">Shinta mulai merasa ada sesuatu yang berasal dari otot kewanitaannya yang berdenyut seirama detak jantungnya, makin lama perasaan itu makin kuat menjalari otot di pangkal pahanya. Tiba-tiba ia merasa perasaan nikmat menjalar cepat dari memeknya, setiap gerakan lidah Dedi yang berirama tetap di klitorisnya menumpukkan perasaan nikmat yang semakin membesar lalu pandangannya mengabur sejenak, nikmat itu berjalan cepat dari memek menyebar ke seluruh tubuhnya, ke otot di daerah pantatnya, menyelusuri otot belakang tubuhnya menghujam dadanya. Ia merasa putingnya menyusut kecil dan mengeras, telinga, hidung, dan matanya seakan tak berfungsi sejenak.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Aduh.. setan! aku orgasme!&#8221; bathin Shinta pelan.Shinta tersengal sengal mengatur nafasnya. &#8220;Hah.. tenagaku habis untuk menahan diri?!&#8221; Shinta mencoba mengangkat tangannya dengan lemah. Dikumpulkannya kekuatan sejenak, lalu ia mencoba berteriak, &#8220;To.. tolong!&#8221; teriaknya pelan.Dedi merasa terkejut, diangkatnya kepalanya, lalu ia berdiri, &#8220;Aku tadi sudah memperingatkan kamu, supaya jangan..&#8221;Ia berkata sambil meraih vas bunga di sampingnya, &#8220;Coba-coba untuk berteriak?! ternyata kamu kurang jelas ya?&#8221; diletakkan vas itu di samping kepala Shinta lalu dipukulnya hingga berkeping-keping, &#8220;Mengerti Shinta?&#8221;"Aw.. iya, ampun Ded,&#8221; kata shinta sambil kembali terisak-isak.</p>
<p style="text-align: justify;">Dedi membuka celana dan celana dalamnya, lalu ia memegang kemaluannya dan mengarahkannya ke wajah Shinta.&#8221;Tidak, Ded jangan&#8230; aku nggak mau, aku&#8230;&#8221; Shinta memejamkan matanya ketika kemaluan Dedi menyentuh pipinya, lalu ke hidung dan matanya dan turun ke bibirnya. Dedi menggeserkan batang kemaluannya dengan perlahan di bibir Shinta. Lalu ia melihat ada cairan bening di kepala kontolnya lalu diarahkan kepala kontolnya ke bibir Shinta. Lalu ia berjalan dua langkah ke belakang, ditariknya kedua kaki Shinta dan dibukanya paha Shinta lebar-lebar, lalu ia mengarahkan kemaluannya ke memek Shinta. Dedi merasa kontolnya melewati ruang yang sempit. Dibenamkan kontolnya sedalam-dalamnya, dibiarkan sejenak, ia mengangkat kepalanya dan melihat wajah Shinta yang berkerut alisnya, lalu diturunkan lagi wajahnya ke samping kepala Shinta, sambil mulai memompa pantatnya dengan irama yang tetap, selang 15 detik Shinta mulai mendesis seirama gerakan pantatnya, lalu ia menaikkan tempo gerakannya sedikit, Shinta mulai gelisah, mulutnya terbuka, &#8220;Oooh.. ooohh..&#8221;lirihnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Dedi menjadi semakin terangsang setelah mendengar desahan di telinganya. Ia berhenti bergerak, lalu mencabut kontolnya keluar, dilihatnya Shinta masih memejamkan mata sambil membuka mulutnya, lalu digesernya tubuh Shinta menjadi setengah terduduk, kakinya menjulur ke lantai. Dengan pelan diangkatnya kedua kaki Shinta, lalu dilingkarkan kedua tangannya melingkari pinggul Shinta. Lalu ia mulai memompa lagi. Pantat Shinta terangkat ke atas oleh tangan Dedi yang melingkar. Shinta merasa tubuhnya dihujami oleh kontol dedi secara kasar, tapi sedikit demi sedikit kenikmatan yang tadi datang lagi membentuk kelompok kecil yang makin membesar, dilemahkan tubuhnya sehingga Dedi bisa mengangkat pinggulnya lebih tinggi. Sementara kedua tangan Shinta berayun-ayun di udara seirama gerakan mereka.</p>
<p style="text-align: justify;">Dedi merasa memek Shinta seakan mengelus-elus seluruh bagian kontolnya, membuat ia merasa geli, memek Shinta terasa sangat hangat dan mencengkeram erat di kontolnya, ia mulai mempercepat gerakannya, dirasakannya tubuh Shinta mulai menegang. Sambil terus memompa ia melihat sekeliling, lalu pandangannya terbentur ke foto perkawinan Shinta dan Boy. Tiba-tiba perasaannya meninggi, ia melihat Shinta tampak anggun dengan baju pengantinnya, lalu dialihkan pandangannya ke bawah dimana Shinta terayun-ayun tak berdaya dan sedang mendaki puncak dengannya.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Ah Shinta kamu cantik sekali..&#8221; katanya.Shinta membuka matanya, menatap sayu ke Dedi, ia berusaha tak menjawab tetapi mulutnya mengeluarkan erangan tak jelas, &#8220;Aah.. a..aah..&#8221; Dedi merasa ia akan orgasme, diangkatnya lagi pinggul Shinta lebih tinggi membuat tubuh Shinta tertekuk di udara, lalu dengan kecepatan penuh ia menggerakkan pantatnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Shinta merasa pandangannya kembali gelap, seluruh tubuhnya mengejang, tubuhnya seakan dihujani oleh kenikmatan badani yang tidak bisa ia ketahui kapan berakhirnya, lalu ia merasa ada cairan hangat menyentuh ujung liang senggamanya dan tubuh Dedi mengejang keras di atasnya, membuat perasaanya sangat aneh, ia tak pernah mengalami sensasi bercinta seperti ini. Sementara Dedi memeluk erat tubuh Shinta, dibiarkan kontolnya menguras spermanya di dalam memek Shinta.Aroma tubuh Shinta menjadi semakin jelas di hidung Dedi ketika ia mengalami orgasme ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Dedi menarik dirinya dan berdiri, sambil memunguti pakaiannya ia berjalan ke arah dapur. Ketika ia menuangkan air ke dalam mulutnya. Tiba-tiba akal sehatnya kembali, cepat-cepat ia memakai pakaiannya dan berlari ke ruang tamu, didapatinya Shinta sedang memeluk kedua kaki sambil melamun.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Shinta.. eh, aku mau..&#8221; kata Dedi gugup, lalu ia melangkah hendak membuka pintu keluar.Shinta memandang Dedi. Lalu memanggil, &#8220;Ded..&#8221;Dedi menoleh ke belakang, Shinta berdiri dan berkata, &#8220;Aku mau bicara nanti, matikan answering machine telepon kamu ok?&#8221;Dedi mengangguk heran lalu berkata, &#8220;Aku minta maaf Shin, karena&#8230;&#8221;Tak selesai perkataannya karena pintu itu terbanting tepat di depan hidungnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Tiga jam kemudian Dedi sedang bersiap untuk pergi keluar kota, ia sudah memesan tiket pesawat.&#8221;Kali ini aku menikmati Bali,&#8221; katanya sambil menatap tiketnya.Tiba-tiba telepon rumahnya berdering, &#8220;Haloo!&#8221; katanya riang.&#8221;Ded.. ini Shinta, aku ingin kamu sekarang ke rumah, puaskan aku lagi, lagi dan setiap saat aku menginginkannya, kalau kamu menolak aku punya rekaman video kejadian tadi siang yang siap disaksikan oleh Boy dan Polisi, aku harap kamu bisa bekerja sama, ok?&#8221; lalu terdengartelepon tertutup.Dedi tak mempercayai pendengarannya, ditatapnya tiket pesawatnya, kepalanya mendadak pusing, ini bukan lagi pemenuhan fantasinya, ia merasa sangat bingung. Dibantingnya koper ke dinding lalu ia ke kamar mandi untuk mencuci wajahnya.&#8221;Tidak..! ini mimpi buruk, ayo bangun Ded, liburan sudah menunggu!&#8221;Ketika berjalan ke wastafel dilihat wajahnya di cermin, &#8220;Ayo, mana wajah predator ini?&#8221;Terpantul wajah yang sama di cermin, namun sekarang adalah wajah budak seksual.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>TAMAT</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ceritasex.cn/nikmat-karaoke-membawa-sengsara-bagian-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Nikmat Karaoke Membawa Sengsara Bagian 1</title>
		<link>http://www.ceritasex.cn/nikmat-karaoke-membawa-sengsara-bagian-1/</link>
		<comments>http://www.ceritasex.cn/nikmat-karaoke-membawa-sengsara-bagian-1/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 18 Dec 2011 09:00:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cerita Sex</dc:creator>
				<category><![CDATA[Gangbang Rame Rame]]></category>
		<category><![CDATA[kisah nyata]]></category>
		<category><![CDATA[Sedarah]]></category>
		<category><![CDATA[Seks Umum]]></category>
		<category><![CDATA[anna]]></category>
		<category><![CDATA[erotis]]></category>
		<category><![CDATA[gairah]]></category>
		<category><![CDATA[gangbang]]></category>
		<category><![CDATA[karaoke]]></category>
		<category><![CDATA[ngentot]]></category>
		<category><![CDATA[orgy]]></category>
		<category><![CDATA[Pemerkosaan]]></category>
		<category><![CDATA[sensual]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ceritasex.cn/?p=3252</guid>
		<description><![CDATA[Kejadian ini terjadi karena saya dan pacar saya, Anna, pergi berkaraoke baik beramai-ramai dengan teman-teman kami maupun hanya kami berdua. Suatu hari saya diberitahu oleh teman saya bahwa ada sebuah tempat karaoke di Kelapa Gading yang memutarkan lagu-lagu karaoke dengan gambar-gambar wanita telanjang. Karena penasaran dan ingin mengetahui lebih lanjut saya mengajak Anna untuk pergi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Kejadian ini terjadi karena saya dan pacar saya, Anna, pergi berkaraoke baik beramai-ramai dengan teman-teman kami maupun hanya kami berdua. Suatu hari saya diberitahu oleh teman saya bahwa ada sebuah tempat karaoke di Kelapa Gading yang memutarkan lagu-lagu karaoke dengan gambar-gambar wanita telanjang. Karena penasaran dan ingin mengetahui lebih lanjut saya mengajak Anna untuk pergi berkaraoke di tempat tersebut.</p>
<p style="text-align: justify;">Saat malam minggu, sekitar jam 22.30 saya mengajak Anna untuk berkaraoke di tempat tersebut dan Anna pun tidak keberatan, sebelumnya saya telah memberitahukan Anna situasi dan keadaannya. Sesampai di sana saya langsung membooking sebuah ruangan VIP, kami terpaksa membooking ruangan untuk sepuluh orang karena ruangan itu yang paling kecil. Lalu kami pun diantar oleh seorang wanita menuju ke ruangan yang telah kami booking. Sesampainya di ruangan, wanita tersebut menawarkan minuman dan makanan. Kami hanya memesan minuman dan makanan kecil saja, kacang garing, karena baru sejam yang lalu kami makan. Setelah menerima orderan, wanita tersebut langsung ke luar. Sementara itu kami berdua mulai memilih lagu yang ingin kami nyanyikan maupun hanya untuk didengar. Dua buah lagu telah selesai kami nyanyikan dan pintu terbuka kembali dan masuklah wanita tadi sambil membawa pesanan kami.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah lama menunggu, kami merasa penasaran karena gambar-gambar yang hot belum juga muncul di layar TV dan ternyata gambar-gambar hot itu baru mulai muncul setelah jam 23.30 WIB. Melihat gambar-gambar wanita telanjang itu membuat saya mulai tinggi nafsu seksnya. Saya mulai merapatkan duduk saya dengan Anna dan mulai melingkarkan tangan saya di pinggangnya. Anna rupanya peka akan perubahan keadaan yang terjadi dan ia pun mulai menyandarkan tubuhnya ke dada saya sambil terus bernyanyi. Saya sudah sulit berkonsentrasi dengan teks-teks yang tertulis di layar TV, tangan saya pun mulai menjalankan tugasnya.<br />
<span id="more-3252"></span><br />
Pertama saya mulai meraba-raba punggungnya dan kemudian perlahan tapi pasti tangan saya mulai berpindah ke bagian depan, tangan saya mulai menyentuh gumpalan daging yang terbungkus rapi oleh BH berenda yang agak tipis. Saya mulai meremas-remas ke dua gumpalan daging dengan bernafsu, Anna mulai mengeluarkan desahan-desahan lembut yang menggoda. Desahan Anna itu semakin membuat nafsu seks saya semakin meningkat dan segera tangan saya menyelinap di balik kaosnya yang ketat dan langsung saya lepaskan cantelan BH di punggungnya yang mulus. &#8220;Kunci dulu pintunya sayang, entar kalo ada yang masuk gimana&#8221;, kata Anna, bergegas aku menghampiri pintu dan mencari kuncinya. Pintunya tidak berkunci, segera saya berputar otak. Sofa yang ada di dekat pintu saya dorong hingga menempel dengan pintu, lumayan pintu itu tidak dapat langsung terbuka karena terganjal oleh sebuah sofa.</p>
<p style="text-align: justify;">Langsung saya balik ke sofa tempat saya duduk semula dan mulai melepaskan kaos dan beha yang dikenakan Anna. Kali ini Anna tidak keberatan dengan tindakan saya malah membantu saya melepaskan kaos yang dikenakannya. Begitu kaos dan BH itu terlepas saya melihat dua buah gumpalan daging yang sangat menggemaskan, ukurannya tidak terlalu besar tapi sangat proporsional dengan tubuh Anna yang ramping. Walaupun sering melihat Anna telanjang bulat, akan tetapi saya selalu terpesona jika melihat buah dada Anna yang indah dan sekal itu. Tak kubiarkan diriku terpesona terlalu lama, langsung kuraih buah dada Anna yang sudah menantang untuk diremas-remas dan dihisap-hisap. Desahan halus kembali terdengar ketika tanganku mulai meremas-remas buah dadanya dan disertai dengan hisapan maupun jilatan. &#8220;Ahh&#8230; ahh&#8230; ahh&#8230;, nikmat, nikmat, teruskan sayang jangan dilepaskan hisapannya&#8221;, Anna bergumam dengan penuh nafsu.</p>
<p style="text-align: justify;">Melihat Anna yang sudah mulai tinggi nafsunya, segera tangan saya pun berpindah ke paha. Tangan saya pun mulai menyusup di bawah rok mininya dan mulai meraba-raba paha yang putih mulus, sampai tangan saya meyentuh CD-nya yang juga berenda. Segera saya pelorotkan CD itu dan tangan saya pun kembali bergerilya di pahanya sampai di sebuah bukit kecil yang tandus, Anna baru saja mencukur habis bulu rambut kemaluannya, sehingga saya dapat dengan leluasa menemukan celah di bukit itu. Segera tangan saya mulai menyusup masuk ke dalam celah dan mulai memainkan clitorisnya yang empuk dan legit. Tubuh Anna mulai bergetar sambil terus mengeluarkan suara desahan-desahan nikmat, ahh&#8230; ahh&#8230; ahh&#8230;, nikmat sayang, nikmat sekali, sambil disertai dorongan pantat Anna. Saya pun semakin bernafsu untuk meremas-remas kemaluannya.</p>
<p style="text-align: justify;">Tiba-tiba Anna bangkit dari duduknya sambil berkata, &#8220;Mas mau lihat saya menari striptease tidak?&#8221; Walaupun agak sedikit kaget karena Anna tiba-tiba berdiri mendadak, segera aku menganggukkan kepala pertanda setuju dengan usulnya. Anna pun kembali mengenakan seluruh pakaiannya dan mulai memilih lagu yang akan menemaninya menari-nari.</p>
<p style="text-align: justify;">Anna mulai berdiri di tengah-tengah ruangan dan ketika lagu mulai dilantunkan, tubuh Anna mulai meliuk-liuk mengikuti irama lagu. Anna meliuk-liukkan tubuh yang sintal dengan lemas dan menggairahkan, Anna sesekali meremas-remas buah dadanya dan juga terkadang meraba-raba kemaluannya sambil menjulurkan lidahnya. Satu lagu berlalu, Anna pun mulai menanggalkan kaos dan BH-nya, sambil terus meliuk-liukkan tubuhnya. Saya sebenarnya sudah tidak dapat menahan nafsu seks saya lagi, apalagi melihat buah dada Anna bergoyang-goyang dengan indahnya. Melihat saya yang mulai blingsatan karena nafsu, Anna semakin hot meliuk-liukkan tubuhnya yang sintal dan tiba-tiba ia melepaskan rok mininya terus melemparkannya ke saya. &#8220;Buka, buka, buka CD-nya&#8221;, kataku. Mendengar teriakanku Anna semakin kerasukan dan ia semakin bernafsu meliuk-liukkan badannya sambil terus meremas-remas buah dadanya supaya saya semakin bernafsu.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah puas melakukan gerakan-gerakan yang merangsang, Anna membelakangiku dan mulai memelorotkan CD secara perlahan-lahan yang semakin membuat nafsuku tidak tertahankan lagi. Segera saya tubruk tubuhnya dan kuremas-remas buah dadanya dari belakang. Tanganku dengan cepat menarik lepas CD-nya yang masih menempel di kakinya dan tanganku langsung menyusup ke celah di bukitnya yang tandus. Anna pun menjerit kenikmatan, &#8220;Aahh&#8230; ahh&#8230; ahh&#8230; nikmat, nikmat sekali teruskan, teruskan ahh, ahh, ohh&#8230; Mas, Anna sudah tidak tahan nich pingin ngerasain tusukan pedang Mas yang kuat dan perkasa&#8221;, katanya. &#8220;Ok, Anna&#8221;, segera kulepaskan baju dan celana jeans yang kukenakan.</p>
<p style="text-align: justify;">Tiba-tiba aku teringat bahwa aku membawa seutas tali dan penutup mata yang akan kugunakan untuk mengikat tangan Anna dan juga menutupi kedua matanya. Segera kusampaikan gagasanku itu sambil terus merangsangnya dengan remasan-remasan di buah dadanya maupun di kemaluannya. Anna mengangguk-angguk tanda ia menyetujui gagasanku itu, segera aku mendudukkan tubuh Anna kembali di sofa dan saya pun mulai mengikat kedua tangannya di sofa dan kemudian matanya pun kututupi dengan selembar kain. Nafsuku benar-benar memuncak melihat Anna yang dalam keadaan telanjang bulat, terikat dan tertutup matanya. Melihat Anna yang sudah tidak berdaya dan pasrah, saya pun langsung membuka CD yang kukenakan dan mengacunglah penis yang keras dan gagah.</p>
<p style="text-align: justify;">Ketika saya ingin mendekat ke tubuh Anna yang sedang duduk bersandar dengan pasrahnya, tiba-tiba tubuh saya disergap dari belakang oleh tiga laki-laki yang kekar dan langsung mulut saya dibekap dengan sebuah gumpalan kain. Tubuh saya didudukkan di sofa berseberangan (sofa di ruangan itu berbentuk huruf U) dengan tubuh telanjang Anna dan tubuh saya pun diikat dengan kuat dan erat. &#8220;Sorry yach, gue pinjem dulu wanita lu, lu nontonin aje kami bertiga menikmati tubuh wanita lu, ok.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Selesai membereskan aku hingga tak berdaya, ketiga laki-laki itu mulai menghampiri tubuh Anna yang masih telanjang dan duduk bersandar dengan pasrahnya menunggu untuk disetubuhi.</p>
<p style="text-align: justify;">Melihat tubuh Anna yang telanjang bulat tanpa seutas benang, dengan buah dadanya yang sekal dan menantang serta bukit kemaluannya yang tandus telah membuat nafsu seks ketiga laki-laki itu meninggi. Mereka pun lalu melakukan undian terlebih dahulu untuk menentukan siapa yang berhak menikmati Anna terlebih dahulu. Ternyata yang menang adalah laki-laki yang agak kekar dan berkulit gelap, ia tersenyum menyeringai dan segera menghampiri Anna dan mulai meremas-remas buah dadanya. Anna tidak menyadari bahwa yang meremas-remas buah dadanya bukanlah saya lagi, Anna hanya mengeluarkan lenguhan-lenguhan nikmat, &#8220;Ahh, ahh, ahh, nikmat, nikmat sayang terus, terus, hisap, hisap sayang.&#8221; Mendengar permintaan Anna untuk menghisap buah dadanya, langsung laki-laki itu menghisap-hisap buah dada Anna yang menantang.</p>
<p style="text-align: justify;">Hisapan dan jilatan laki-laki itu semakin membuat Anna bernafsu, terlihat dari tubuhnya yang mengejang-ngejang dan juga puting susunya tampak menegang. Anna sudah tidak dapat lagi menahan nafsunya, &#8220;Ayo sayang masukkan barangmu, cepat sayang, ahh, ahh, aah, aku sudah tidak tahan lagi nich&#8221;, seru Anna. Permintaan Anna segera disambut dengan tusukan kemaluan laki-laki itu yang berukuran cukup besar, panjangnya sekitar 17 cm dan tebalnya sekitar 4 cm. Mulanya ujung kemaluan laki-laki itu hanya menempel di kemaluan Anna dan perlahan tapi pasti ia mulai menggoyangkan pantatnya sehingga kemaluannya mulai menusuk ke dalam kemaluan Anna. Setelah yakin kemaluannya pada arah yang benar, langsung laki-laki itu menghentakkan pantatnya dengan keras sehingga amblaslah seluruh kemaluannya ke dalam kemaluan Anna. Ahh&#8230; ah&#8230; ahh, ooohh, nikmat sayang, nikmat, ohh&#8230; nikmatnya.&#8221; Desahan Anna semakin membuat laki-laki itu mempercepat gerakan pantatnya sehingga juga semakin membuat Anna menjerit nikmat.</p>
<p style="text-align: justify;">Melihat temannya sedang asyik menikmati tubuh telanjang Anna, membuat kedua laki-laki yang lainnya menjadi tidak tahan juga. Mereka pun akhirnya menghampiri dan mulai ikut menikmati tubuh Anna dengan meremas-remas dan menjilati serta menghisap buah dada Anna. Karena nafsu sexnya yang sudah memuncak, Anna tidak menyadari bahwa yang menikmati tubuhnya tidak hanya satu orang melainkan tiga orang. Anna hanya terus mengeluarkan suara desahan-desahan nikmat, sampai suatu saat tubuh Anna tiba-tiba mengejang dengan kuat yang menandakan bahwa ia telah mencapai puncak kenikmatan yang ternyata dibarengi oleh tembakan dari kemaluan si laki-laki itu. Satu menit tubuh Anna mengejang-ngejang dengan nikmat dan kemudian tubuh Anna pun mulai melemas.</p>
<p style="text-align: justify;">Bersambung&#8230;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ceritasex.cn/nikmat-karaoke-membawa-sengsara-bagian-1/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Gairah Tante Vivi Bagian 1</title>
		<link>http://www.ceritasex.cn/gairah-tante-vivi-bagian-1/</link>
		<comments>http://www.ceritasex.cn/gairah-tante-vivi-bagian-1/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 18 Dec 2011 08:47:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cerita Sex</dc:creator>
				<category><![CDATA[Paruh baya]]></category>
		<category><![CDATA[Seks Umum]]></category>
		<category><![CDATA[selingkuh]]></category>
		<category><![CDATA[Tante Girang]]></category>
		<category><![CDATA[erotis]]></category>
		<category><![CDATA[gairah]]></category>
		<category><![CDATA[ml]]></category>
		<category><![CDATA[ngentot]]></category>
		<category><![CDATA[tante]]></category>
		<category><![CDATA[vivi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ceritasex.cn/?p=3243</guid>
		<description><![CDATA[Tante Vivi menyuruhku datang malam ini ke rumahnya. Sebenarnya agak malas juga dan khawatir, bagaimanapun saya lebih senang mengajak Selva, pacarku untuk menemani, ini membuatku ragu-ragu untuk berangkat.9.15 malam: Aku masih ragu-ragu&#8230;, berangkat&#8230;, tidak&#8230;, berangkat&#8230;, tidak.9.25 malam: Akhirnya Tante Vivi tanpa kuduga benar-benar menelepon, kebetulan aku sendiri yang menerima.&#8221;Lho&#8230;, Ar&#8230;, kok kamu belum berangkat, bisa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Tante Vivi menyuruhku datang malam ini ke rumahnya. Sebenarnya agak malas juga dan khawatir, bagaimanapun saya lebih senang mengajak Selva, pacarku untuk menemani, ini membuatku ragu-ragu untuk berangkat.9.15 malam: Aku masih ragu-ragu&#8230;, berangkat&#8230;, tidak&#8230;, berangkat&#8230;, tidak.9.25 malam: Akhirnya Tante Vivi tanpa kuduga benar-benar menelepon, kebetulan aku sendiri yang menerima.&#8221;Lho&#8230;, Ar&#8230;, kok kamu belum berangkat, bisa dateng tidak Ar?..&#8221;, tanyanya kendengaran agak kecewa.&#8221;Mm&#8230;, gimana ya Tante&#8230;, agak gerimis nih di sini&#8230;&#8221;, sahutku beralasan.&#8221;Masa iya Ar&#8230;, yaah&#8230;, kalo gitu Tante jemput aja yaa&#8230;&#8221;, balasnya seolah tak mau kalah. Aku jadi blingsatan dibuatnya.&#8221;Waah&#8230;, tidak usah deh Tante&#8230;, okelah saya ke sana sekarang Tante&#8230;, mm Selva saya ajak ya Tante&#8230;&#8221;, sahutku kemudian. Aku pikir ke sana malm-malam mau tidak mau akhirnya pasti harus nginap. Kalau ada Selva kan aku tidak begitu risih, masa aku bawa Selva pulang malam-malam. Tapi&#8230;&#8221;iih&#8230;, jangan Ar&#8230;, Selva jangan diajak&#8230;, mm pokoknya ke sini aja dulu Ar&#8230;, yaa&#8230;, Tante tunggu&#8230;, Klik&#8221;.</p>
<p style="text-align: justify;">Sekali lagi seolah disengaja Tante Vivi langsung memutuskan hubungan. Sialan pikirku, dia mengerjaiku, ngapain malam-malam ke sana kaya tidak ada waktu siang atau pagi kek. Aku jadi kesal, ngapain Selva kemarin cerita kalau aku banyak ngerti masalah Komputer. Wuueek&#8230;, kaya pakar wae&#8230;, sekarang baru kena getahnya. Akhirnya dengan perasaan malas, malam itu benar-benar agak gerimis, badanku sampai kedinginan terkena rintik air gerimis malam yang dingin.Sekitar pukul 10.00 malam: Aku sampai juga di tempat Tante Vivi, suasana di komplek perumahan itu sudah sepi sekali, aku membuka pintu pagar yang sengaja belum dikunci dan kumasukkan sepeda motor ke dalam.Belum sempat aku mengetuk pintu, ternyata Tante Vivi rupanya sudah mengetahui kedatanganku. Mungkin ia mendengar deru suara motorku ketika datang tadi.&#8221;aahh&#8230;, akhirnya dateng juga kamu Ar&#8230;&#8221;, katanya ramah dari balik pintu depan.&#8221;Iya&#8230;, Tante&#8230;&#8221;, sahutku berusaha ramah, bagaimanapun aku masih setengah kesal, sudah datang malam-malam kehujanan lagi.&#8221;Agak gerimis ya Ar&#8230;&#8221;, tanyanya seolah tak mau tau.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Hsii&#8230;&#8221;, Tanpa sadar aku terbersin.&#8221;Eehh&#8230;, kamu Flu Ar&#8230;&#8221;, tanyanya kemudian.Aku mengusap wajah dan hidungku yang setengah lembab terkena air gerimis. Tante Vivi menarik tanganku masuk ke dalam dan menutup pintu. &#8220;Klik&#8230;&#8221;, sekaligus menguncinya. Aku tak begitu memperhatikannya karena aku sendiri kuatir dengan kondisiku yang terasa agak meriang. Kuusap berulang kali wajahku yang dingin. Lalu tiba-tiba kurasakan sebuah telapak tangan yang hangat dan lembut membantu ikut mengusap pipi kananku. &#8220;Pipimu dingin sekali Ar&#8230;, kamu pasti masuk angin yaa&#8230;, Tante bikinin susu jahe anget yaa&#8230;&#8221;, sahutnya lembut. Aku menoleh dan astaga wajahnya itu begitu dekat sekali dengan mukaku. &#8220;Duh&#8230;, cantiknya&#8221;. Kulitnya yang putih mulus dan halus, matanya yang hitam bulat sedikit sipit dengan bentuk alisnya yang hitam memanjang tanpa celak, hidungnya yang kecil bangir, dan bentuk bibirnya yang menawan tanpa lipstik. Terlihat sedikit tebal dan begitu ranum. Sexy sekali bibirnya. Tante Vivi tersenyum kecil melihatku setengah melongo.<br />
<span id="more-3243"></span><br />
&#8220;Kamu duduk dulu Ar&#8230;, Tante ke belakang dulu&#8230;&#8221;, sahutnya pelan. Tanpa menunggu jawabanku, ia membalikkan tubuh dan bergegas berjalan melintasi ruang tengah menuju ke belakang. Tubuhnya yang tingginya mungkin sekitar 160 cm kelihatan begitu seksi ramping dan padat. Sempat kulihat langkah kakinya yang berjalan sangat elok, saat itu kuingat jelas ia memakai celana Jeans putih ketat serta memakai baju kemeja halus berwarna merah muda dan dibiarkan berada di luar celana. Baju yang dikenakannya seperti umumnya baju kemeja sekarang yang relatif panjang, membuat celana jeans yang dikenakannya tertutup sampai ke atas paha. Namun karena sifatnya yang lemas, membuat bajunya itu seolah menempel ketat pada bentuk tubuhnya yang memang sangat seksi dan montok. Pinggulnya yang bulat padat bergoyang indah kekiri dan kanan. Begitu gemulai bagai penari Jaipong. Kuhempaskan pantatku dengan perasaan lelah di atas sofa empuk ruang tamunya. Aku memandang ke sekeliling ruangan tamunya yang cukup mewah. Lukisan besar pemandangan alam bergaya naturalis tergantung di atas tembok persis di belakang tempat dudukku.</p>
<p style="text-align: justify;">Selebihnya berupa lukisan-lukisan naturalis sederhana yang berbingkai kecil dan sedang tentang suasana kehidupan pulau Bali. Aku tak begitu tertarik dengan lukisan, sehingga aku tak sampai mengamati lama-lama. Sepuluh menit kemudian, Tante Vivi muncul dengan segelas besar susu jahe yang masih kelihatan panas, karena asapnya masih terlihat mengepul. Dengan wajah cerah dan senyum manis bibirnya yang menggemaskan, mau tak mau aku jadi ikutan senang.&#8221;Waah&#8230;, asiik nih kelihatannya&#8230;, wangi lagi baunya&#8230;, mm..&#8221;, kataku spontan.&#8221;Pelan-pelan Ar&#8230;, masih panas&#8230;&#8221;, sahutnya pendek, sambil memberikan minuman jahe itu kepadaku. Lalu tanpa risih ia duduk di sebelahku. Aku jadi deg-degan juga.&#8221;Gimana kuliah Selva Ar&#8230;, kapan nih rencana mau majunya&#8230;&#8221;, tanya Tante Vivi kemudian.&#8221;Entah Tante&#8230;, setahu saya sih bulan depan ini dia harus menyelesaikan seluruh asistensi skripsinya. Soal maju ujian skripsi saya kurang tau Tante..&#8221;, sahutku polos. &#8220;iih.., kamu ini gimana sih Ar&#8230;, pacarnya sendiri kok tidak tahu, asyiik pacaran aja yaa rupanya&#8230;&#8221;, ujar Tante Vivi setengah bercanda.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;aah&#8230;, Tau aja Tante&#8230;, tidak salah&#8230;&#8221;, sahutku sambil ketawa nyaring.&#8221;Kamu menyukai dia Ar&#8230;&#8221;, tanya Tante Vivi kemudian, seolah setengah malas menanggapi candaku.&#8221; Waah&#8230;, Tante ini gimana sih&#8230;, ya jelas dong Tante&#8230;, lagipula sekarang kami sudah sangat serius menjalin hubungan ini&#8230;, saya mencintainya Tante&#8230;&#8221;, sahutku sedikit serius.Tante Vivi tersenyum kepadaku, giginya yang putih bersih terawat kelihatan indah, serasi dengan bentuk bibirnya yang tak terlalu lebar.&#8221;Tidak Ar&#8230;, Tante khan cuman nanya&#8230;, soalnya Tante lihat Selva sayang sekali sama kamu&#8230;&#8221;, ujarnya kemudian.&#8221;Jangan kuatir deh Tante&#8230;&#8221;, sahutku pelan sambil mulutku mulai menyeruput wedang susu jahe bikinannya itu. Terasa sedikit pedas di bibir namun hangat manis di lidah dan kerongkonganku.&#8221;Komputernya di taruh mana Tante&#8230;&#8221;, tanyaku tanpa memandangnya sambil terus seteguk demi seteguk menghabiskan minumanku.&#8221;Tuh&#8230;, di kamar kerja Tante&#8230;&#8221;,sahutnya pendek. Sejenak aku meletakkan minuman dan memandang Tante Vivi yang berada di sebelahku.&#8221;Lalu tunggu apalagi nih&#8230;&#8221;, ujarku setengah bercanda.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Apanya&#8230;?&#8221;, tanya Tante Vivi seakan tak mengerti. Pandangan matanya kelihatan sedikit bingung.&#8221;Lhoh&#8230;, katanya pengen diker&#8230;, eeh diajarin&#8230;&#8221;, lanjutku. Hampir aja aku kelepasan ngomong ngeres, jantungku sampai kaget sendiri dag-dig-dug tidak karuan. Untung tidak kebablasan ngomomg.&#8221;ooh&#8230;, iya.., aduuh Tante sampai kaget&#8230;, Yuk ke kamar Ar&#8230;&#8221;, sahutnya sambil mencolek lenganku. Kami berdiri dan berjalan beriringan ke tempat yang ia maksud. Kami melintasi ruangan tengah yang lebih lapang dan mewah. Kulihat sebuah meja pendek tempat dudukan pesawat Televisi ukuran besar mungkin sekitar 51 inchi lengkap dengan satu set sound systemnya sekaligus berada di sebelah kiri ruang itu. Sedangkan kami menuju ke sebuah ruangan di sebelah kanan yang pintunya sudah setengah terbuka. Tante Vivi menyilahkanku masuk duluan. &#8220;Masuk Ar&#8230;, sorry ruangannya agak berantakan&#8230;&#8221;, ujarnya sambil memberi jalan. Aku masuk dulu kedalam ruangan diikuti Tante Vivi. Ruangan atau kamar itu cukup besar berukuran 5 x 7 meter dan pada umumnya tampak rapi walau masih ada sedikit acak-cakan karena di atas lantai persis di depan tempatku berdiri yang terhampar sebuah karpet berukuran sedang tampak berserakan beberapa majalah wanita yang halamannya masih terbuka disana-sini.</p>
<p style="text-align: justify;">Di depannya ada sebuah meja kerja yang cukup besar, dan di atas meja terdapat beberapa buah buku kecil dan agenda kerja, selain itu terlihat 2 kardus besar dan beberapa kardus kecil yang aku sudah hapal bentuk dan cirinya, apalagi pada kardus besar yang berbentuk kotak itu terdapat tulisan besar GoldStar Monitor. Ketika aku menengok ke sebelah kiri, waah&#8230;, ternyata di situ terdapat sebuah ranjang berukuran sedang. Kasurnya jelas Spring Bed yang terlihat dari ukurannya yang tebal, tertutup dengan sprei berwarna merah jambu. Bantalnya bertumpuk rapi di sisi kiri dan kanan tempat tidur. Di sebelah kiri tempat tidur terdapat sebuah meja kecil dan seperangkat mini stereo. &#8220;Waduuh&#8230;, ini tempat kerja apa kamar Tante&#8230;?&#8221;, tanyaku heran dan kagum. Bagiku ruangan selapang ini terlalu besar untuk kamar tidur. Kamarku sendiri yang berukuran 3&#215;4 meter aja menurutku sudah gede, apalagi sebesar ini.&#8221;Dua-duanya Ar&#8230;, ya kamar kerja ya&#8230;, tempat tidur&#8230;, mm&#8230;, Tante khan cuman sendirian di rumah ini Ar&#8230;&#8221;, sahut Tante Vivi yang berada di sebelah kananku.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Sendirian&#8230;, maksud Tante?&#8221;, tanyaku kepadanya tak mengerti.&#8221;Lhoh&#8230;, apa Selva tidak pernah bilang sama kamu&#8230;, Tante khan&#8230;, sudah bercerai Ar&#8230;&#8221;, sahutnya kemudian. Kedengaran sekali kalimat terakhir yang diucapkannya sedikit terpatah-patah. Astaga&#8230;, seruku dalam hati. Pantas, seolah baru menyadari. Selama ini aku tak pernah ingat apalagi menanyakan tentang suami Tante Vivi ini. Jadi selama ini Tante Vivi itu seorang Janda. Ya ampuun&#8230;, kenapa aku tak menyadari sejak semula. Semenjak pertama kali aku datang ke sini bersama Selva, memang aku tak melihat orang lain lagi selain Inem pembantunya. Waktu itu kupikir suaminya sedang bekerja. Pantas ketika aku datang tadi hanya Tante Vivi sendirian yang menyambutku. Jadii&#8230;, hatiku jadi setengah grogi juga. Aku jadi teringat tentang beberapa kisah nyata di majalah yang pernah kubaca tentang kehidupan seorang janda muda, terutama sekali mengenai soal seks. Pada umumnya katanya mereka sangat mudah dirayu dan tak jarang juga pintar merayu. Jangan-jangan&#8230;, pikirku mulai ngeres lagi.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;ooh&#8230;, maaf Tante saya baru tahu sekarang&#8230;&#8221;, ujarku lirih sejenak kemudian. Tante Vivi tersenyum kecil.&#8221; Udahlah Ar&#8230;, itu masa lalu&#8230;, tidak usah diungkit lagi&#8230;&#8221;, ujarnya setengah menghindar. Terlihat ada setetes air menggenang di pelupuk kedua matanya yang indah. Sedetik kemudian ia sengaja memalingkan mukanya dari tatapanku, mungkin ia tak ingin terlihat sedih di depanku. Kemudian ia berjalan ke depan dan setengah berjongkok memunguti semua majalah yang masih berserakan di atas karpet, spontan aku segera menyusul hendak membantunya.&#8221;Sini Ari bantu Tante&#8230;&#8221;, kataku pendek. Tanpa menoleh ke arahnya aku langsung nimbrung mengumpulkan majalah yang masih tersisa.&#8221;iih sudah Ar&#8230;, tidak usah&#8230;, kok kamu ikutan repot&#8230;&#8221;,sahutnya. Kali ini wajahnya kulihat sudah cerah kembali. Bibirnya yang ranum setengah terbuka menyunggingkan sebuah senyuman manis. Manis sekali. Aku sempat terpana selama 2 detik. &#8221; Tante tidak menikah lagi&#8230;?&#8221;, tanyaku padanya tanpa sadar. Sedikit kaget juga aku dengan pertanyaanku, jangan-janga ia marah atau sedih kembali.</p>
<p style="text-align: justify;">Namun ternyata tidak, sambil tetap tersenyum ia balik bertanya.&#8221;Siapa yang mau sama aku Ar&#8230;?&#8221;"aah&#8230;, Ari kira banyak Tante&#8230;&#8221;"Siapaa&#8230;?&#8221;"Ari juga mau Tante&#8230;&#8221;, kataku cuek, karena maksudku memang bercanda. Ia mendelik lalu sambil setengah ketawa tangannya mencubit lenganku sekaligus mendorongku ke samping.&#8221;Hik&#8230;, hik&#8230;, kamu ini ada-ada aja Ar&#8230;, jangan nyindir gitu dong Ar, memangnya gampang cari laki-laki jaman sekarang&#8230;&#8221;, ujarnya. Lalu kulihat ia terduduk diam seribu bahasa. Aku jadi heran sekaligus geli melihatnya melamun sambil memegangi majalah.&#8221;Kenapa Tante&#8230; &#8220;, tanyaku padanya. Tante Vivi sedikit kaget mendengar pertanyaanku. Namun sambil tersenyum kecut ia hanya menjawab pendek.&#8221;Sudahlah Ar&#8230;, jangan bicara masalah itu&#8230;&#8221;. Akupun tak mengubernya walau sebenarnya masih penasaran apa yang sebenarnya terjadi dulu dengan perceraiannya.Singkat cerita, malam itu aku hanya menghabiskan waktu sekitar 20 menit untuk merakit komputer barunya. Untung saja Tante Vivi membeli komputer jenis Build Up sehingga aku tak perlu untuk memeriksa 2 kali, cuman periksa tegangan input, tinggal sambung kabel ke monitor dan CPU, pasang external modem, pasang speaker aktifnya ke output soundcard, sambung ke stavolt&#8230;, sudah beres.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Sudah beres Tante&#8230;, mm&#8230;, mau sambung ke internet&#8230;?&#8221;, tanyaku puas. Agak keringetan juga rasanya mukaku, walau cuman sekedar sambung sana-sini.&#8221;aah masa&#8230;?, secepat itu Ar&#8230;?&#8221;, tanya Tante Vivi yang sejak tadi juga tak pernah beranjak dari sebelah kananku, asyik melihatku bekerja.&#8221;Lha&#8230;, iya&#8230;, gampang khan&#8230;&#8221;, sahutku pendek. Kupandangi wajah cantiknya yang setengah melongo seolah tak yakin.&#8221;Makanya dicoba dulu dong Tante&#8230;, biar tidak nanya-nanya lagi&#8230;, mana nih stop kontaknya&#8221;, tanyaku kemudian.&#8221;iih&#8230;, hik&#8230;, hik&#8230;, gitu aja sewot&#8230;, jahat kamu Ar&#8230;, hik&#8230;, hik&#8230;, ehem&#8230;, itu ada di belakang meja sebelah bawah Ar&#8230;&#8221;, jawabnya sambil setengah tertawa kecil.Aku melongok ke bawah meja&#8230;, astaga di bawah situ berarti mestinya aku harus merangkak di situ&#8230;, sejenak aku melongo.&#8221;Kenapa Ar&#8230;?&#8221;"Ooh tidak Papa Tante..&#8221;. Akhirnya mau tak mau akhirnya aku harus merangkak masuk ke bawah meja kerjanya yang cukup besar itu sambil tangan kananku menarik kabel power CPU-nya ke bawah. Pengap juga di bawah situ karena memang agak remang, maklum penerangan di kamar ini hanya cuma menggunakan sebuah lampu bohlam sekitar 100 Watt, sinarnya kurang kuat di bawah sini.</p>
<p style="text-align: justify;">Sedang lampu meja kerja terpaksa dimatikan untuk stroom komputer. Setelah terpasang ke stop kontak, sambil setengah merangkak mundur aku langsung membalikkan tubuh dan astaga&#8230;, aku terhenyak kaget karena melihat Tante Vivi ikut juga melongok membungkuk ke bawah meja, tanpa disengaja kedua mataku menyaksikan pemandangan vulgar yang luar biasa indah. Woow, Tante Vivi dengan posisi tubuh seperti itu membuat baju kemejanya yang sedikit gombrong dan karena jenis kainnya yang sangat lemas membuatnya jadi melorot ke bawah pas dibagian dada, apalagi kancing kemejanya yang sedikit rendah, membuat kedua bulatan payudaranya yang sangat besar dan berwarna putih terlihat menggantung bak buah semangka, diantara keremangan aku masih dapat melihat dengan sangat jelas betapa indah kedua bongkah susunya yang kelihatan begitu sangat montok dan kencang. Samar kulihat kedua puting mungilnya yang berwarna merah kecoklatan. &#8220;Yaa aammpuunn&#8230;&#8221;, bisikku lirih tanpa sadar, &#8220;Ia tidak pake Behaa&#8230;&#8221; Tante Vivi semula tak menyadari apa yang terjadi dan apa yang sedang kupelototi, 5 detik saja&#8230;, bagiku itu sudah cukup lama.</p>
<p style="text-align: justify;">Tante Vivi seolah baru menyadari ia menjerit lirih.&#8221;iih&#8230;&#8221;, serunya lirih. Masih dalam posisi membungkuk, tangan kanannya reflek menarik bajunya sampai ke atas leher, setengah pucat ia memandangku lalu berdiri dan mundur 1 langkah. Sudah telanjur, percuma kalau malu, akhirnya dengan cuek aku merangkak ke luar dan berdiri di hadapannya, sambil senyam-senyum seolah tidak salah, akhirnya aku minta maaf juga kepadanya. &#8220;Maaf Tante&#8230;, sa&#8230;, Ari tidak sengaja&#8230;&#8221;, ujarku cuek. Tante Vivi masih dengan sedikit pucat, akhirnya hanya bisa tersenyum kecil. Wajahnya kelihatan memerah.&#8221;Sudahlah&#8230;, Ar&#8230;&#8221;, sahutnya pendek. Dalam hati aku berbisik, lumayan dapat tontonan susu gede gratiss.</p>
<p style="text-align: justify;">Bersambung&#8230;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ceritasex.cn/gairah-tante-vivi-bagian-1/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Istri-Istri Pamanku Bagian 6 (TAMAT)</title>
		<link>http://www.ceritasex.cn/istri-istri-pamanku-bagian-6-tamat/</link>
		<comments>http://www.ceritasex.cn/istri-istri-pamanku-bagian-6-tamat/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 18 Dec 2011 08:24:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cerita Sex</dc:creator>
				<category><![CDATA[Paruh baya]]></category>
		<category><![CDATA[Sedarah]]></category>
		<category><![CDATA[Seks Umum]]></category>
		<category><![CDATA[selingkuh]]></category>
		<category><![CDATA[Tante Girang]]></category>
		<category><![CDATA[birahi]]></category>
		<category><![CDATA[istri]]></category>
		<category><![CDATA[istri pamanku]]></category>
		<category><![CDATA[mesum]]></category>
		<category><![CDATA[nafsu]]></category>
		<category><![CDATA[ngentot]]></category>
		<category><![CDATA[porno]]></category>
		<category><![CDATA[seks]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ceritasex.cn/?p=3229</guid>
		<description><![CDATA[Pinggulku menghentak semakin cepat dan cepat. Tubuh Bi Laha terguncang kesana kemari, dan gelinjangnya tampak sudah tak karuan. Tiba-tiba pahanya menjepit keras, dan pinggulnya yang sedari tadi berputar-putar liar itu diangkat tinggi-tinggi dan.., &#8220;Oooh&#8230; bibi keluar.. bibi keluaarrr&#8230; nggg&#8230;&#8221; Terdengar suara Bi Laha merengek panjang. Tangannya menjambak rambutku dan serta mencakar pundakku. atanya membelalak dan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Pinggulku menghentak semakin cepat dan cepat. Tubuh Bi Laha terguncang kesana kemari, dan gelinjangnya tampak sudah tak karuan. Tiba-tiba pahanya menjepit keras, dan pinggulnya yang sedari tadi berputar-putar liar itu diangkat tinggi-tinggi dan.., &#8220;Oooh&#8230; bibi keluar.. bibi keluaarrr&#8230; nggg&#8230;&#8221; Terdengar suara Bi Laha merengek panjang. Tangannya menjambak rambutku dan serta mencakar pundakku. atanya membelalak dan mulutnya meringis. Otot wajahnya tegang seperti orang yang tengah melahirkan. Ketika itu juga penisku terasa hangat disemprot oleh cairan orgasme Bi Laha. Dan dinding vaginanya seperti menyempit meremas-remas penisku. {{aahh, Rafiii&#8230; aahh aku.. aku juga keluaarrr&#8230; Nuke menghempaskan tubuhnya ke tembok. Gagang teleponnya terjatuh ke lantai.}} Suara apa itu? Seperti keluar dari gagang telepon yang tergeletak di sisi kepala Bi Laha yang kini terbaring lemas, seperti orang yang kehilangan tulang-belulang. Ah, mungkin cuma imajinasiku saja. Aku menghentikan aktifitasku, dan menikmati keindahan wajah isteri pamanku yang sedang mengalami orgasmenya.</p>
<p style="text-align: justify;">Pipi ranum perempuan itu kini tampak memerah, buah dadanya mulai naik turun dengan irama teratur. Pelan-pelan wajah cantik itu membuka matanya, lalu dengan lembut ia mencium keningku dan dengan penuh kasih sayang memelukku erat.&#8221;Terima kasih sayang, terima kasih.&#8221; Bi Laha memandangku dengan mata berbinar. &#8220;Kamu sudah menghilangkan dahaga bibi selama ini..&#8221; &#8220;Sama-sama bi&#8230;, bibi juga merupakan perempuan diatas 30 yang tercantik dan terseksi yang pernah saya lihat. Ini kali pertama saya tidur dengan wanita seusia bibi. Dan&#8230;&#8221; Aku mencium bibirnya lembut. &#8220;Tingkah dan tubuh bibi nggak beda dengan perawan.&#8221; Perempuan itu tergelak, lalu mencubit pinggangku. &#8220;Dasar perayu, ayo kasih bibi satu menit untuk membersihkan diri, lalu giliran kamu bibi puaskan.&#8221; Ia mencabut penisku yang masih tegang dari vaginanya, lalu membimbingku ke kamar mandi. &#8220;Punyamu itu benar-benar mengerikan lho Fi..&#8221; Komentarnya ketika menyiramkan air dingin di tubuh kami berdua. Air dingin itu mendadak seakan memberi tenaga baru bagi kita berdua.</p>
<p style="text-align: justify;">Kesegarannya terasa mengalir dari ujung rambut hingga ujung kaki. Setelah mengeringkan tubuh, perempuan itu menarik tubuhku ke dalam pelukannya. Penisku yang sempat layu, kembali menegang menempel di perut mulusnya. &#8220;Hmm..&#8221; Ia bergumam kagum. &#8220;Si besar-mu itu sudah siap rupanya?&#8221; Aku mengangguk. &#8220;Kamu mau main di mana Fi? Di kamar bibi..?&#8221; Aku menggeleng &#8220;Ngga bi.., ini kamar Mang Iyus, saya nggak mau, bau kamar ini mengingatkan saya kalau bibi isteri paman saya dan itu membuat saya cemburu..&#8221; Bi Laha tersenyum bahagia mendengar kata-kataku itu, mukanya berbinar-binar persis seperti remaja yang sedang kasmaran. Ia pun mulai menggesek-gesekkan perutnya ke penisku membuat cairan bening itu keluar lagi membasahi pusar. &#8220;Kalau begitu kita main di sofa lagi ya..?&#8221; Tanpa menunggu jawaban, ia membimbingku menuju sofa. Gagang telepon itu masih tergeletak di sana. Sambil duduk, aku meraih gagang itu untuk kuletakkan kembali di tempatnya, namun Bi Laha mencegah. &#8220;Jangan. Biarkan disitu. Bibi ngga mau diganggu oleh telepon dari pamanmu.<br />
<span id="more-3229"></span><br />
Malam ini, kamulah suami bibi dan seorang isteri yang baik akan melakukan apa saja untuk menyenangkan suaminya&#8230; ya nggak yang..?&#8221; {{Benar firasatku. Mereka akan memulai lagi permainan panasnya! Tapi tak kusangka Laha sedemikian marahnya pada suamiku, ehm, suami kami. Seperti kemarahan yang terakumulasi lalu meletus dengan dahsyatnya. Oh kedengarannya mereka sudah mulai. Laha mulai mengerang dan merintih, wah sedang diapakan dia?? Hmh.. betapa beruntungnya kau Laha.. Semoga aku sempat mencicipi pemuda itu sebelum pulang ke Bandung!! Nuke melihat jam di dinding, sudah 20 menit sejak suaminya pergi ke dokter. Ahh, mudah-mudahan antreannya panjang. Lampu di kamar tengah itu padam. Nuke terbaring di atas kasur busa sambil menempelkan gagang telepon erat-erat di kupingnya. Tubuhnya telanjang bulat.}} Sehabis menggosok-gosokkan jemariku di lipatan vaginanya, dengan gemas kuraih tubuh telanjang isteri pamanku itu dan kududukkan di pangkuanku dengan posisi saling berhadapan. Kakinya yang mulus itu mengangkang sehingga bagian bawah penisku menempel tepat di belahan vaginanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Dadanya yang busung tepat berada di depan mulutku. Dengan segera kubenamkan mulutku di belahan buah dadanya. &#8220;Emm.. &#8220;, Bi Laha menggelinjang genit &#8220;Kamu suka sekali sama susu Bibi ya..?&#8221; Sambil mulai menyedot putingnya aku mengangguk. Bi Laha mulai bergumam seperti orang terserang demam sambil memeluk leherku. Pantatnya digerakkannya maju mundur sehingga vaginanya menggesek-gesek batang penisku. Tak sampai 3 menit bergumul, Bi Laha sudah terangsang kembali. Kasihan Bibiku ini. Begitu lamanya ia menahan dahaga sehingga akibatnya, cepat sekali perempuan itu terangsang. &#8220;Ooohh Fiii.. bibi ngga tahan&#8230; &#8221; Tiba-tiba dengan cepat tangannya menangkap penisku, ia mengangkat pantatnya sedikit lalu menyelipkan kepala penisku di bibir vaginanya. Pelan-pelan, ia menurunkan pantatnya sehingga batang besar itu melesak ke dalam vaginanya yang, my god, sudah basah itu. &#8220;Aah.. sss&#8230; aahh..&#8221; Bi Laha mulai mendesis-desis merasakan kenikmatan di dinding vaginanya. Hmm, agak terlalu cepat prosesnya, pikirku. Lalu kuhentikan gerak pantat perempuan itu sehingga penis yang baru masuk seperempatnya itu tertahan di dalam.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Ohh&#8230; kok ditahan &#8216;yang..?&#8221; Bi Laha bertanya dengan nada kecewa. &#8220;Nggak, saya ingin cara lain bi.. bibi ngga keberatan kan..?&#8221;. Tiba-tiba perempuan itu tersenyum malu dan melepaskan penisku dari jepitan vaginanya. Ia lalu merebahkan tubuhnya di atas tubuhku sambil memelukku mesra. &#8220;Maaf &#8216;yang, bibi lupa sasma kamu. Bibi memang egois. Bibi cuma memikirkan bagaimana untuk secepatnya orgasme lagi.. Maklum, anak perawan..&#8221; Kami berdua tergelak. Bi Laha, Bi Laha.. sayang kau isteri orang.&#8221;Oke, kamu mau bibi ngapain supaya puas&#8230;&#8221;"Coba bibi berlutut di depan saya..&#8221; Bi Laha tersenyum dan berlutut tepat diantara dua pahaku. Penisku kini tepat berada di dadanya yang montok.&#8221;Terus.. ngapain..?&#8221; Katanya polos.&#8221;Tutup mata bibi dan buka mulut.. saya ingin mencium bibir bibi sambil berlutut..&#8221;"Uuuhh.. macem-macem.. &#8221; Ujarnya manja, sambil menutup mata dan membuka mulutnya.&#8221;Mulutnya kurang lebar bi.. saya ingin menjilat lidah bibi..&#8221;{{Apa yang kau inginkan Rafi..? Jangan-jangan ia ingin agar Laha memasukkan&#8230;}}&#8221;mm! mm!&#8221; Bi Laha menjerit-jerit kaget ketika kumasukkan penisku ke dalam mulutnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Ia terbelalak melihat batang besar itu bergerak keluar masuk rongga mulutnya. Tampak ia agak jijik dan risih sehingga beberapa kali tampak hendak meludahkan penis itu keluar. Namun, tanganku dengan kokoh menahan kepalanya untuk memaksa mencicipinya.&#8221;Maaf bi, saya paling suka kalau penis saya dikulum. Saya takut kalau minta, bibi malah nggak mau. Nah, terpaksa saya agak maksa. Tapi rasanya nikmat kan?&#8221;"Mmmm&#8230;!&#8221; Bi Laha menggumam keras sambil memperlihatkan ekspresi berpura-pura marah. Tapi, ia mulai menggerakkan kepalanya naik-turun tanpa paksaan. Nafasnya juga ikut memburu. Rupanya dengan mengulum penisku ia semakin terangsang birahinya.&#8221;Yaahh.. begitu Bi.. tapi giginya jangan kena batang saya dong Bi.. sakiit.. Naahh begitu.. aouhh.. aahh..&#8221; {{Nuke memasukkan jari telunjuknya ke dalam mulut, lalu mengulumnya. Oh Rafiii, kau benar laki-laki penuh fantasi. Benar dugaanku, kau memang menginginkan penismu dikulum dan dihisap. Oooh nasib, kenapa Bi Laha selalu yang ditakdirkan untuk mendapat sesuatu pertama kali?</p>
<p style="text-align: justify;">Perempuan itu kemudian meremas buah dadanya dengan keras. Telunjuknya serasa berubah menjadi penis besar milik keponakan suaminya itu, walaupun ia tak pernah melihat bentuk aslinya. Tiba-tiba ia merasa batinnya seakan mengucapkan sumpah, &#8220;Aku harus mendapatkan pemuda itu, apapun resikonya!&#8221;}} &#8220;Bii.. sekarang sambil masuk keluar, lidah bibi digoyang dong.. supaya kena urat sebelah bawah yang deket kepala.. yaahh.. yaah.. gituuu.. addouww.. Bii.. ennakk.. aahh..&#8221; Aku mulai menggelinjang-gelinjang. Tubuhku kini bersandar dengan santai di sofa dan hanya pinggulku yang bergoyang-goyang mengikuti irama keluar-masuk mulut isteri pamanku itu. Bi Laha memang orang yang cepat belajar. Terbukti tanpa petunjuk, ia mulai mengembangkan sendiri teknik-teknik oral seks. Seperti yang sedang ia lakukan saat ini, Bi Laha tengah menyedot sambil sesekali menggigit urat sensitif di bawah kepala penisku. Lalu, ia juga mengecup dan mencubit-cubit dengan bibirku batang penisku dari arah kepala sampai kedua bola di pangkalnya. Dan yang gila, ia kini bisa mengkombinasikan antara kuluman dan kocokan tangan.</p>
<p style="text-align: justify;">Penisku digenggamnya di bagian atas lalu diturunkannya ke pangkal batang. Ketika bagian kepala penisku keluar dari ujung genggamannya, mulutnya langsung menyambut untuk dikulum. Demikian seterusnya. Aku hanya bisa berkata &#8220;Biii.. bibiii&#8230; ennnaakkk.. aahh..&#8221; seraya membelai-belai punggungnya yang putih mulus itu. Kadang-kadang belaianku itu mendekati belahan pantatnya, yang sesekali kuremas gemas. {{Hebat kau Laha, aku iri padamu. Kau bisa membuat pemuda itu mengerang keenakan dengan sedotan dan hisapanmu. Itu berarti, kau ahli memuaskan lelaki.}} Aku mencabut penisku dari mulutnya lalu mengecup bibirnya mesra. &#8220;Terima kasih Bi&#8230;, Bibi memang baik sekali&#8230;&#8221; &#8220;Tapi, kamu kan belum keluar &#8216;yang..?&#8221; &#8220;Hehe.. nanti juga keluar sendiri.. bi.. pinjam susunya dong..&#8221; Aku meletakkan penis besarku di belahan buah dada bibiku yang montok itu. Seakan sudah berpengalaman, perempuan itu menjepit penisku dengan buah dada kiri kanannya, lalu pelan-pelan mulai bergerak naik turun. &#8220;Oaah&#8230; Oaahh.. Biii.. Bibiii jepitan susunya nikmat bangeeett.. penis saya rasanya diremes-remes.. aahh&#8230;&#8221;.</p>
<p style="text-align: justify;">{{Nuke mengangkat kedua pahanya sehingga dengkulnya nyaris menyentuh buah dadanya, lalu ia memasukkan jari tengahnya ke dalam liang vaginanya. aahh, aku tak tahan lagi mendengar permainan mereka. Aku ingin cepat-cepat orgasme lagi. Dan perempuan itu mulai memutar-mutarkan jarinya di liang lembab itu. Rafi, Laha, kalian memang gila. Belum pernah aku mendengar kisah persetubuhan sepanas kalian. Apalagi yang sedang kalian lakukan sekarang. Menjepit penis dengan kedua buah dada? Lalu, si lelaki menggerakkan penisnya maju mundur? Ohh benar-benar sensasional! Tiba-tiba didengarnya suara pemuda itu berkata, &#8220;Bii.. saya ngga tahan lagi.. bibi benar-benar merangsang birahi saya.. Coba sekarang bibi berdiri menungging. Pegang dudukan sofa ini..&#8221; &#8220;Begini Fi..?&#8221;"Yak&#8230; betul. Kakinya dibuka agak lebar.. yak. Fuuuhh.. Pantat bibi seksi sekaliii..&#8221; Terdengar suara pemuda itu seperti memuja sesuatu. &#8220;Kalau bibi goyang seperti ini, kamu suka?&#8221; Laha mulai menggoda dengan nada senang. Tentu saja senang. Siapa yang tak senang dipuji? Tanpa sadar Nuke berkata ketus dalam hati.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;&#8216;Yang.. kamu mau masukin dari belakang?&#8221;"Yak.. ini satu lagi kesukaan saya.. bibi pernah melakukannya?&#8221;"Boro-borooo..&#8221; Nuke tersenyum masam mendengar jawaban Laha. Perempuan itu benar. Kang Iyus adalah lelaki tanpa fantasi. Baginya seks adalah suatu kewajiban. Bukan alat untuk mencapai kenikmatan. Nuke pun mulai bisa mengerti mengapa isteri tua suaminya itu nekad berselingkuh dengan keponakannya sendiri. Tiba-tiba terdengat suara Laha merintih-rintih. &#8220;Sakit bi&#8230;?&#8221; Oh, pemuda itu mulai memasukkan penisnya dari belakang! Ow, pasti nikmat sekali..!}} &#8220;Sedikit.. sss&#8230; pelan-pelan ya yang..?&#8221; Bi Laha mencengkeram kain dudukan sofa itu seraya menggigit bibir. Rupanya ia merasa sakit menerima peneterasi dari arah belakang untuk pertama kalinya. Baru separuh penisku memasuki vaginanya. Aku membelai pantat yang sedang menungging itu, terus ke arah punggung, lalu ke bawah menyambut buah dadanya yang bergelantungan. Kepalanya menengok kebelakang ingin melihat bagaimana penis besarku memasuki vaginanya.&#8221;Coba dorong lagi Fi.. sedikit-sedikit ya..?&#8221; Aku mengangguk dan mendesakkan penisku semakin dalam.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Yaahh.. iyyyaahh.. RAFiii&#8230; auh.. panjang sekali punyamu yang&#8230;&#8221; Perempuan itu menjerit ketika seluruh penisku amblas tertanam dalam vaginanya yang becek itu. Lalu mulailah aku menikmati posisi kesukaanku itu. Kuhentakkan keras-keras pinggulku ke pantat Bi Laha. Setiap hentakan menyebabkan pantatnya bergetar dan buah dadanya berayun keras. Setiap hentakan itu juga menyebabkan mulut seksi perempuan berusia 30-an itu menjerit dan meringis. Lalu tempelkan perut dan dadaku di punggung mulusnya. Tangan kananku mulai meremas-remas kedua buah dadanya serta memilin putingnya, sedang tangan kiriku mengocok tonjolan daging di pangkal vagina yang dipenuhi oleh bulu-bulu keriting itu. &#8220;aahh.. aahh.. nikmat sekali yang&#8230; posisi ini ennnaakk&#8230;&#8221; Hampir 5 menit kami bergumul dalam posisi menungging. Tiba-tiba kurasakan desiran itu bergerak cepat dari ujung kepala, turun ke dada, melewati perut, dan terus ke selangkangan&#8230; Otot-ototku mulai menegang. &#8220;Biii.. bibi&#8230; Saya mau keluar biii..&#8221;"Ya sayang.. ayo sayang.. bibi juga mau keluar.. bibi juga mauuu..&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">{{Ooohh Rafiii, aku jugaa&#8230; Nuke mempercepat tusukan jari tengah di vaginanya. Terdengar suara mobil suaminya memasuki halaman. Nuke tak peduli.}}</p>
<p style="text-align: justify;">Aku mendekatkan kepalaku ke kepalanya, Bi Laha menengok dan menyambut ciumanku dari belakang. Kami saling memagut sambil terus merasakan gesekan-gesekan di kelamin kami yang semakin cepat, kocokanku di klitorisnya yang semakin liar, remasanku di buah dadanya yang semakin keras, ciuman kami yang semakin buas diiringi &#8220;mmhh&#8230; mmhh..&#8221; yang semakin keras dan sering. Tiba-tiba otot-otot tubuh kami menegang, lalu semakin menegang, semakin menegang, lalu&#8230;&#8221;Bibiii saya keluaar&#8230; aahh&#8230;&#8221; &#8220;Bibi juga sayang, bibi jugaa&#8230; nnggg&#8230;&#8221; {{Tubuh Nuke meregang, lalu ia menusukkan jemarinya dalam-dalam. Dan.. aaouuuhh&#8230; aku orgasme.. aku orgasmeee! Gila! Untuk kedua kalinya! Terdengar suara pintu mobil dibuka. Nuke melompat, menutup telepon, membawa kasur busa dan menghilang ke balik kamar tidurnya.}}</p>
<p style="text-align: justify;">Malam itu, atas permintaannya aku menyetubuhi bibiku sekali lagi di atas meja makan. Untuk membalas hutang tadi siang, begitu alasannya dengan nada gurau. Sesudah itu kamipun tidur berpelukan dengan mesra di kamarku sambil bertelanjang bulat. Sebelum tidur kami mengucapkan beberapa kata cinta dan berciuman lamaa sekali.</p>
<p style="text-align: justify;">TAMAT</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ceritasex.cn/istri-istri-pamanku-bagian-6-tamat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Istri-Istri Pamanku Bagian 4</title>
		<link>http://www.ceritasex.cn/istri-istri-pamanku-bagian-4/</link>
		<comments>http://www.ceritasex.cn/istri-istri-pamanku-bagian-4/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 13 Dec 2011 22:42:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cerita Sex</dc:creator>
				<category><![CDATA[Paruh baya]]></category>
		<category><![CDATA[Sedarah]]></category>
		<category><![CDATA[Seks Umum]]></category>
		<category><![CDATA[selingkuh]]></category>
		<category><![CDATA[cuki]]></category>
		<category><![CDATA[erotis]]></category>
		<category><![CDATA[isep kontol]]></category>
		<category><![CDATA[istri]]></category>
		<category><![CDATA[ml]]></category>
		<category><![CDATA[ngentot]]></category>
		<category><![CDATA[sensual]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ceritasex.cn/?p=3214</guid>
		<description><![CDATA[Kebisuan kembali menyelimuti kami berdua. Ruangan asri rumah Bi Laha itu terasa semakin luas dan mencekam dengan kesunyian itu. Suara jangkrik dan kodok sawah terdengar saut menyaut. Sesekali terdengar suara angkutan pedesaan melewati jalan raya. Juga suara delman dan motor melintas. Ahh, desa yang tenang dan damai. Tempat yang sangat sempurna untuk berlibur dan bermalas-malasan. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Kebisuan kembali menyelimuti kami berdua. Ruangan asri rumah Bi Laha itu terasa semakin luas dan mencekam dengan kesunyian itu. Suara jangkrik dan kodok sawah terdengar saut menyaut. Sesekali terdengar suara angkutan pedesaan melewati jalan raya. Juga suara delman dan motor melintas. Ahh, desa yang tenang dan damai. Tempat yang sangat sempurna untuk berlibur dan bermalas-malasan. Tapi tidak dengan kebisuan seperti ini. Aku menguap seraya melihat arloji. Sudah 20 menit lebih kami tak berkata-kata. Dan Mang Iyus belum juga datang. Isterinya sudah terlihat gelisah sambil terus-terusan memandang jam dinding. &#8220;Nggak biasanya Mang Iyus begini..&#8221; suaranya terdengar lirih.</p>
<p style="text-align: justify;">Kriiing&#8230; Kami berdua terlonjak karena kaget. Telepon sialan, makiku dalam hati.(&#8220;Telepon keparat!&#8221;)</p>
<p style="text-align: justify;">Bi Laha bergegas mengangkatnya. Tampaknya Mang Iyus lagi yang menelepon. Mereka terlibat pembicaraan sejenak.&#8221;Lo bapak ini gimana sih? Kita kan sudah siap dari tadi..&#8221; Terdengar suara Bi Laha meninggi.&#8221;Iyaa saya ngerti.. tapi apa segitu mendesaknya sampai bapak musti batalin janji makan malam dan nginep disana??&#8221; O.. Oo.. naga-naganya aku bisa menebak kemana arah pembicaraan ini.&#8221;Apa? Cuma gara-gara ibunya pusing-pusing bapak harus nganter ke dokter? Apa perempuan itu ngga bisa anter sendiri? Dengar Pak, saya juga punya hak sebagai isteri pertama. Hari ini semestinya adalah hak saya. Bilang sama perempuan itu, kalau mau jadi isteri kedua harus berani tanggung konsekuensi.. kalau bukan harinya, jangan minta-minta antar ke dokter!&#8221; Braak! Bi Laha membanting gagang telepon seraya menghempaskan tubuhnya ke sofa. Ia menutup muka dengan kedua tangannya.</p>
<p style="text-align: justify;">(&#8220;Suami egois! Tak adil! Aku benar-benar merasa seperti keranjang sampah. Sesak di dadaku semakin menggunung dan menggunung, lalu mendesak keluar. Air mataku mulai mengalir. Tiba-tiba aku terkesiap. Belum pernah aku membentak-bentak suamiku sebelumnya. Belum pernah aku mengahiri pertengkaran dengan bantingan telepon. Belum pernah aku seberani ini. Lalu, bayang-bayang pergumulanku dengan Rafi melintas. Karena itukah aku jadi berani?&#8221;)<br />
<span id="more-3214"></span><br />
Aku memberanikan diri melirik ke arah Bi Laha. Perempuan itu tengah duduk sambil menutup muka di sofa. Shit! Kenapa liburanku harus diwarnai hal-hal seperti ini? Kenapa pula aku memilih tempat ini sebagai tempat berliburku? Aku menghela nafas. Ingin rasanya aku mendekati wanita yang tengah bersedih itu dan menghiburnya. Tapi saat itu, aku benar-benar tak tau harus berbuat apa.</p>
<p style="text-align: justify;">Kriiing.. Setan! Sekali lagi ia mengejutkanku, akan kulempar ke tong sampah. Telepon itu berdering berkali-kali namun Bi Laha tak juga beranjak mengangkatnya.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Bibi ingin saya yang mengangkatnya?&#8221; Aku menawarkan diri. Bi Laha mengangkat mukanya. Matanya merah dan basah oleh air mata. Ia tersenyum kecil, dan menggeleng. &#8220;Ngga usah Fi.. kamu baik sekali.. biar bibi yang angkat..&#8221; Kasihan benar bibiku yang cantik ini. Andai aku dapat menghiburmu. Telepon itu ternyata dari Mang Iyus lagi. Mereka lagi-lagi terlibat pertengkaran soal hak isteri pertama dan kedua. Bi Laha juga tanpa tedeng aling-aling menuduh Mang Iyus telah melalaikan kewajibannya untuk memenuhi haknya sebagai isteri pertama. Aku membuka pintu depan dan duduk di teras agar tidak mendengarkan pertengkaran itu. Tapi sia-sia, karena di daerah yang sepi seperti Cilimus, orang bisa mendengar suara lebih dari 50 meter. Aku memenuhi paru-paruku dengan udara malam yang segar. aahh.. aku tersenyum sendiri mengingat pengalamannya hari ini. Adakah kesempatan seperti itu akan terulang lagi?</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Saya nggak peduli. Bapak nggak pulang selama sebulan juga saya nggak peduli. Sekarang saya akan kunci rumah, dan pergi tidur. Saya ngga mau liat mukamu malam ini!&#8221; Braak! Lagi-lagi Bi Laha mengakhiri pembicaraannya dengan acara banting telepon. Diam-diam aku kagum pada bibiku ini. Sehari-hari ia tampak begitu lincah dan ramah. Bertolak belakang dengan apa yang baru saja kulihat. Ia bagai seekor singa betina yang mengaum menggetarkan sukma. Aku menghela nafas, lalu masuk kembali dan mengunci pintu. Terlihat Bi Laha masih terduduk di sofa besar dekat meja telepon. Ia kini bersandar sambil menutupi matanya dengan tangan kanan. Tangan kirinya memegang tisu yang sesekali digunakan untuk menghapus air mata yang mengalir deras di pipinya. Dengan hati-hati aku duduk di sampingnya. Walau sempat ragu, kujulurkan tanganku memeluk pundaknya. &#8220;Mau berbagi cerita dengan saya Bi..? Mudah-mudahan bisa mengurangi beban Bibi.&#8221; Bisikku dengan lembut. Tiba-tiba isteri pamanku ini menjatuhkan kepalanya ke dadaku dan menangis tersenguk-senguk.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Bibi sangat setia pada pamanmu Fi.. bibi banyak berkorban untuknya.. tapi kenapa sekarang bibi disia-siakan&#8230;&#8221; Lalu ia menceritakan bagaimana ia membantu Mang Iyus membangun usahanya. Ia juga bercerita bahwa tanah rumah ini adalah pemberian orang tua Bi Laha. Ia juga bercerita suatu ketika Mang Iyus ditipu orang sehingga harus menjual sebagian hartanya. Bi Laha menjual seluruh perhiasannya untuk menolong suaminya itu. Dan begitu banyak cerita lainnya yang menyimpulkan betapa tegarnya perempuan ini. Ia pun tetap tegar ketika harus menerima kenyataan untuk dimadu. Kami terdiam beberapa saat. Tangan kananku memeluk pundaknya dan tangan kiriku membelai lembut rambutnya. Tangan kanan Bi Laha memeluk leherku sementara kepalanya masih terus bersandar di dadaku.</p>
<p style="text-align: justify;">(&#8220;Pemuda ini sungguh penuh perhatian. Kelembutannya melebihi lelaki manapun yang pernah kukenal. Hanya beberap menit, dan ia sanggup mengurangi kesal di hatiku.&#8221; Perempuan itu mendongak memandang wajah keponakannya. &#8220;Rafi, sorot matamu sungguh sejuk. Bibi benar-benar merasa aman di dalam pelukanmu.&#8221; Harum nafas pemuda itu terasa begitu dekat dengan bibirnya. Tiba-tiba Laha merasa sangat sayang padanya. Ia seakan telah mengenal lelaki itu sangat lama.)</p>
<p style="text-align: justify;">Tangan kanan Bi Laha membelai pipi kiriku dengan kasih sayang, lalu ia mengecup pipi kananku lembut. &#8220;Terima kasih Fi.. terimakasih untuk menemani di saat bibi butuh seseorang..&#8221; Aku tersenyum. &#8220;Saya senang bisa membantu bibi.. Saya sayang pada bibi..&#8221; ujarku tulus. Kata-kataku itu membuat bibiku terharu. Kembali ia menyenderkan kepalanya seraya memeluk leherku dengan lebih erat. Aku pun hanyut oleh rasa kasih sayang yang menyelimuti hati kami. Dengan penuh ketulusan aku mencium kening Bi Laha lamaa sekali. Lalu kukecup pipinya yang terasa basah oleh air matanya. Bi Laha mendongakkan kepalanya memandangku dengan senyuman sayang. Hidung mancungnya dekat sekali dengan hidungku. Kami berdua bisa menghirup wangi nafas masing-masing. Mata kami saling beradu pandang. Oh, alangkah indahnya matamu bi&#8230; alangkah cantiknya wajahmu&#8230; kalau kau bukan isteri pamanku, aku pasti jatuh cinta padamu. Tak peduli kau 12 tahun lebih tua dariku.</p>
<p style="text-align: justify;">(&#8220;Ohh.. Rafi.. bibi benar-benar takluk melihat matamu. Seakan ada magnet yang membuat orang lain tertarik untuk terus memandangi.. Sayang bibi lahir terlalu cepat 12 tahun. Kalau tidak, kita pasti sebaya, dan kita pasti cocok satu sama lain dan akulah yang akan memuaskan malam-malam dinginmu dan aku juga yang pasti menjadi perempuan pertama yang menyedot dan menghisap.&#8221;)</p>
<p style="text-align: justify;">Aku menempelkan bibirku di atas bibir Bi Laha. Perempuan itu tanpa ragu menyambut ciuman lembutku. Ciuman ini terasa berbeda dari ciuman-ciuman sebelumnya. Ciuman kali ini lebih merupakan pernyataan kasih sayang dibanding sekedar nafsu.</p>
<p style="text-align: justify;">(&#8220;Sayangku, alangkah hangatnya bibirmu. Peluklah aku lebih erat lagi. Leburlah tubuhku dengan ragamu. Malam ini aku bukanlah isteri pamanmu. Malam ini aku adalah kekasihmu. Kali ini, kamu tak perlu lagi memperkosaku. Kamu boleh menggumuli tubuhku sepuasmu. Kamu boleh memasukkan penismu sepuas-puasnya. Oh, belum lebih dari satu jam, aku sudah amat rindu pada penismu itu.&#8221;)</p>
<p style="text-align: justify;">Entah siapa yang memulai tahu-tahu bibir kami sudah saling memagut. Lidah Bi Laha mencoba menerobos masuk ke mulutku. Beberapa kali lidahnya bertumbukan dengan lidahku yang juga berupaya untuk menjelajahi lorong mulutnya. &#8220;Emmh.. mmh..&#8221; Perempuan itu mengerang ketika lidahku berhasil melesak masuk mulutnya dan dengan cepat mulai menjelajahi langit-langitnya. Kedua tanganku kini memegang pipinya sehingga aku dapat mengontrol pagutan bibir dan lidahku. Lalu Bi Laha mencengkram tangan kiriku dan membimbingnya ke bawah melalui leher, pundak, terus ke dadanya yang busung. Aku mulai tak percaya dengan respon isteri pamanku itu. Belum genap satu jam yang lalu, perempuan itu masih meronta-ronta menolak remasan dan rabaanku. Tapi sekarang, bibiku tanpa malu-malu membawa tanganku ke dadanya. Kuselipkan tanganku ke balik kebayanya sehingga terpegang bukit daging yang masih dilapisi oleh beha. Lalu, kuselipkan telapak tanganku ke balik behanya yang elastis itu sehingga dengan mudah kukeluarkan buah dada kanan Bi Laha dari cup behanya.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Emmh..&#8221; perempuan itu menggelinjang ketika dengan gemas kuremas-remas buah dada montok berwarna putih itu. Remasanku membuat bentuk daging kenyal itu berubah-ubah dari bundar ke lonjong, bundar-lonjong, bundar-lonjong. Lalu, jempol dan telunjukku mulai memilin-milin puting berwarna coklat tua itu. &#8220;Yang keras Fi.. yang kerass.. Ahh..&#8221; Bi Laha mendesah seraya menyodorkan dadanya sehingga telapak tanganku semakin dipenuhi oleh gumpalan bukit kenyalnya. Dan tubuhnya semakin menggelinjang ketika kuciumi jenjang lehernya yang putih mulus bagai pualam. Desahannya nyaris menjadi jeritan ketika puting yang telah berubah menjadi keras dan panjang itu kupijit dan kutarik. &#8220;aahh.. gila, tarik lagi Fi.. tarik lagiiih.. yang keraass&#8230; euuhh.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">(&#8220;Saat ini puting buah dadaku terasa seperti tombol listrik yang mengalirkan gelombang kenikmatan keseluruh tubuh setiap kali dipelintir oleh tangan pemuda ini. Remasan-remasan di daging buah dadaku menunjukkan kombinasi gelora birahi muda dengan luapan kasih sayang. Sesekali kasar menyakitkan, namun lebih sering lembut menghanyutkan. Malam ini, aku merasa seperti orang yang terbebas dari kamar gelap, pengap dan terkunci. Paru-paruku terasa penuh oleh udara sejuk kebebasan. Baru kali ini aku merasa kedudukanku diatas suamiku. Perasaan itu timbul karena aku berani mengambil keputusan untuk tak mempedulikannya. Kini, aku hanya akan peduli pada diriku sendiri. Dan malam ini, aku hanya akan peduli pada nafsu birahiku.&#8221;)</p>
<p style="text-align: justify;">Bi Laha menghentikan pagutannya di bibirku. Ia menjauhkan tanganku dari buah dadanya, lalu berdiri. Seraya tersenyum dan memandang mataku dengan pandangan penuh birahi, perempuan itu membuka kancing kebayanya satu per satu. Lalu ia membuka kebayanya, menggerakkan pundak, dan seketika itu juga kain kebaya pink itu jatuh ke lantai melingkari telapak kakinya. Jantungku makin berdegup kencang melihat tubuh mulus isteri pamanku yang berdiri setengah telanjang di hadapanku. Dengan sigap, tangannya membuka stagennya, dan tak sampai satu menit, kain jarik itupun terjatuh menimbun kakinya yang masih mengenakan sepatu hak tinggi. Maka, tubuh sintal itu kini hanya dibalut beha dan celana dalam saja. Mataku tekejap-kejap tak percaya melihat pemandangan di hadapanku. Bi Laha mengenakan beha berbentuk bikini yang hanya menutupi sebagian kecil ujung buah dadanya. Tali pundak dan punggungnya tampak tak lebih dari seutas tali kecil. Celana dalamnya yang berwarna putih juga berbentuk bikini pantai yang hanya menutupi daerah selangkangan dan pantat yang dihubungkan oleh seutas tali melintasi pinggul kiri dan kanannya.</p>
<p style="text-align: justify;">Di bagian selangkangan, gumpalan bulu keriting nampak menerawang di balik celana dalam tipis dari bahan nilon itu. Wow.. tak pernah kubayangkan di balik kain kebaya isteri pamanku ini tersembunyi beha dan celana dalam yang desainnya sangat merangsang!!&#8221;Kamu suka modelnya Fi?&#8221; Bi Laha tersenyum memandang wajahku yang melongo terpesona. Kedua ibu jarinya mengait pada tali BH di depan dada. Pelan-pelan jempolnya menarik tali itu sehingga penutup buah dadanya bergeser ke atas. &#8220;Su.. suka sekali bi..&#8221; Aku menahan nafas melihat puting coklatnya sedikit demi sedikit terlihat. Tanganku dengan cepat membuka T-Shirt ku. Lalu, kuturunkan ritsluiting celana jeans-ku dan meloloskannya melalui kedua kaki. Tubuh atletisku kini hanya dibalut celana Calvin Klein merah tua. Dan celana itu tak mampu menutupi bola besarku yang diselimuti bulu-bulu keriting yang lebat. Batang penisku yang sudah tegak itu tampak menonjol di celana berbahan elastis itu. Mata Bi Laha berkejap-kejap memandangi bongkahan daging di selangkanganku itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Lalu dengan gerakan cepat, Bi Laha menyentakkan tali behanya sehingga kedua buah melon montok itu melejit keluar dari cup-nya dan bergayut menantang untuk dijamah. &#8220;Kamu tega membiarkan bibi kedinginan Fi..?&#8221; Katanya sambil membuang behanya ke sofa. Tak tahan dengan godaan perempuan berusia 35 tahun yang sangat mengundang itu, aku meloncat dari dudukku dan menubruk tubuh sintal telanjang yang cuma ditutupi celana dalam tipis itu. Tanganku memeluk erat pinggangnya dan Bi Laha menyambut dengan pelukan yang tak kalah erat di leherku. Dadaku terasa sesak digencet oleh kedua buah dadanya yang montok. Lalu sambil berdiri, kami saling memagut, menggigit, dan menjilat dengan buas. Jemari lentik perempuan itu membelai-belai rambut belakangku dan meremas punggungku. Tanganku bergerak ke bawah menelusuri punggungnya yang putih bak pualam itu sebelum menyelinap masuk ke dalam celana dalam nilonnya. Lalu dengan penuh nafsu kuremas dengan keras kedua buah pantatnya. &#8220;Emmhh..&#8221; Bi Laha mengerang keras sambil terus menyedot lidahku.</p>
<p style="text-align: justify;">Selama beberapa saat pantat bulat Bi Laha habis kuremas-remas membuat perempuan itu menggeliat-geliat keras sehingga buah dadanya menggesek-gesek dan menggencet dadaku.(&#8220;Oohh gila remasannya.. belum pernah suamiku menggunakan pantatku sebagai obyek seks-nya.. tapi pemuda ini.. aku betul-betul dibuat gila.. ingin rasanya aku berteriak-teriak liar dan menggeliat-geliat histeris untuk menyemburkan bara gelora yang sudah sedemikian lama terpendam. Dan, tanpa sadar aku sudah melakukannya. Aku mulai menggelat-geliat liar! Ooohh nikmatnya menggesek-gesekkan putingku ke dadanya yang bidang. Nikmatnya menggesek-gesekkan selangkanganku ke bongkahan daging di selangkangannya. Tunggu! Bongkahan itu! Bongkahan itulah yang saat ini amat sangat kurindukan.Laha melepaskan pelukannya dari leher Rafi, lalu menempelkannya di dada bidang pemuda itu.Uuuhh.. Rafi sayang, dadamu begitu kokohnya.. tak heran aku merasa begitu nyaman menyandarkan kepalaku disana. Ayo sayang, sekarang menggeliatlah.. biar kumainkan putingmu dengan jemariku. Yah, mengeranglah.. kamu keenakan kan? Auw!! Jangan cubit pantatku!&#8221;)</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Nakal!&#8221; Bi Laha balas mencubit putingku. Aku meringis. &#8220;Habis saya nggak tahan waktu bibi memainkan puting saya.. gelii..&#8221;"Hmm&#8221; Bi Laha tersenyum nakal sambil menurunkan kedua tangannya ke arah perutku. &#8220;Geli mana dengan ini Fi?&#8221; Dengan cepat perempuan itu memasukkan tangannya ke celana dalamku dan, &#8220;Oaahh&#8221;, dalam sekejap penisku sudah berada dalam genggamannya.</p>
<p style="text-align: justify;">(&#8220;Pantas saja benda ini nyaris mengoyak vaginaku. Gila, diameternya! Kurasakan jempolku sampai tak bisa bertemu dengan jemariku yang lain! Dan kekenyalannya&#8230; ooohh.. sangat menggemaskan. Sangat menggoda untuk.. untuk&#8230; dikulum! Oh, haruskah aku menunggu sampai lelaki ini meminta?&#8221;)</p>
<p style="text-align: justify;">Bersambung&#8230;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ceritasex.cn/istri-istri-pamanku-bagian-4/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

