<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Cerita sex porno ngentot mesum perek ayam kampus &#187; selingkuh</title>
	<atom:link href="http://www.ceritasex.cn/category/selingkuh/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.ceritasex.cn</link>
	<description>Kumpulan cerita sex, foto bugil, dan film porno</description>
	<lastBuildDate>Mon, 26 Jul 2010 07:13:35 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0</generator>
		<item>
		<title>Pengalaman Sex Saat Kuliah</title>
		<link>http://www.ceritasex.cn/pengalaman-sex-saat-kuliah/</link>
		<comments>http://www.ceritasex.cn/pengalaman-sex-saat-kuliah/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 23 Jul 2010 21:24:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cerita Sex</dc:creator>
				<category><![CDATA[Daun Muda]]></category>
		<category><![CDATA[Seks Umum]]></category>
		<category><![CDATA[kisah nyata]]></category>
		<category><![CDATA[selingkuh]]></category>
		<category><![CDATA[cuki]]></category>
		<category><![CDATA[kuliah]]></category>
		<category><![CDATA[ngentot]]></category>
		<category><![CDATA[pelajar]]></category>
		<category><![CDATA[sex]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ceritasex.cn/?p=1489</guid>
		<description><![CDATA[Cerita ini berawal pada saat aku masih di kuliah di Universitas M, kota X. Pada saat itu, aku masih jomblo karena memang sejak dari SMP aku ga pernah berani mengungkapkan rasa cinta atau sayang kepada cewek, entah kenapa ya?? Nah, pada saat di bangku kuliah lah kemampuanku untuk melihat cewek dan berani mengungkapkan perasaan kami [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Cerita ini berawal pada saat aku masih di kuliah di Universitas M, kota X.</p>
<p style="text-align: justify;">Pada saat itu, aku masih jomblo karena memang sejak dari SMP aku ga pernah berani mengungkapkan rasa cinta atau sayang kepada cewek, entah kenapa ya?? Nah, pada saat di bangku kuliah lah kemampuanku untuk melihat cewek dan berani mengungkapkan perasaan kami mulai terasah.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku kenal dengan seorang cewek yang kuliah di fakultas Ekonomi Universitas M, sedangkan aku kuliah di fakultas teknik. Kami kenal secara ga sengaja. Perkenalan dimulai waktu Universitas kami mengadakan Kemah bersama. Wuiihhh, rame banget. Kami kenal saat acara bebas.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Hai&#8230;&#8221; sapaku ke cewek itu, dan dia balas menjawab &#8220;Hai juga.&#8221;<br />
&#8220;Fakultas Ekonomi ya?&#8221; &#8220;Kenalkan Rendi.&#8221; Aku mencoba untuk tetap PD walaupun sebenarnya sudah mulai ga kuat nahan badan yang panas dingin .</p>
<p style="text-align: justify;">Tak diduga, dia menjawab &#8220;Namaku Sherly, kamu dari Fakultas Teknik kan?&#8221;. Aku udah sering lihat kamu kok waktu lewat depan gedung Ekonomi.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Bagus, berarti tahap perkenalan bisa dilanjut nich!!&#8221;, aku berteriak dalam hati.</p>
<p style="text-align: justify;">Selanjutnya, setelah perkenalan itu, kami semakin akrab. Namun, ada hal yang memang masih menjadi penghalangku untuk lebih dekat dan mencoba intim dengan Sherly. Ternyata dia sudah punya gebetan, kebetulan temen dia waktu SMA dulu yang kuliah di Fakultas yang sama. &#8220;Aduuuuhhhh!!!&#8221; Aku protes dalam hati, mengapa aku baru menemukan sesosok cewek yang okey pada saat dia sudah dimiliki orang lain. FYI, cewek itu berbadan proporsional, dengan tinggi badan sekitar 168 cm, dengan ukuran dada + 36B. Waaaaw&#8230; keren banget deh.</p>
<p style="text-align: justify;">Sehingga kami hanya dapat berteman saja. Walaupun begitu, aku sering mencuri &#8211; curi melihat dadanya yang ranum dibalik bajunya saat kami bertemu, tanpa diketahui pacarnya tentunya.</p>
<p style="text-align: justify;">Seringkali pula, aku melihat dia melihat sesuatu di balik celanaku, ga tahu tuh, dia lihat apaan, tapi saat aku tanya, dia selalu menjawab celana panjang lo bagus (hihihihihi, jujur ga sich???).</p>
<p style="text-align: justify;">Hingga suatu ketika, saat kami pergi berdua untuk cari makan malam (maklum, kami berdua kebetulan anak kost, dan rumah kost kami lumayan dekat), dia bercerita tentang permintaan pacarnya untuk segera menikah. DHUEEERRRR!!!! Kepalaku terasa berat dan mataku terasa pedih. Pada saat itu pulalah, aku kemudian memberanikan mengungkapkan perasaanku dan mengatakan menyayanginya. Sebenarnya aku menyangka kalau Sherly akan marah dengan keterusteranganku. Tapi, ternyata&#8230; dia malah terharu dan juga berkata, &#8220;Gue sebenarnya juga sayang sama elo, tapi pacar gue ga mungkin mutus gue.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Waduh, aku jadi kebingungan, dan sementara terdiam, tapi kemudian Sherly tersenyum dan bilang, &#8220;Kita jadi temen mesra aja, dan akses bisa bebas, karena pacar gue juga udah bebas akses badan gue.&#8221; Nahhh loooo, hati ku berteriak gembira namun juga agak BT juga. Ternyata tubuhnya sudah ada yang nimbrung.</p>
<p style="text-align: justify;">Tapi sudah lah, aku sanggupi saja permintaan dia, dan mulai saat itu, aku pun bebas mengakses tubuhnya. Pada malam itu pula, kami langsung praktek hehehhe&#8230;</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah makan malam, kami pun langsung pulang dan aku mampir ke kostnya. Karena kost Sherly sangat bebas akses dan waktu berkunjung ga pernah dibatasi. Kami pun memiliki waktu yang sangat luas. Kami pun langsung masuk ke kamar Sherly, cepat &#8211; cepat dia membersihkan diri di kamar mandi, ternyata ada kamar mandi dalamnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah dia mandi, aku pun bergantian mandi. Aku bertanya dalam hati, kok ga mandi bareng aja ya? Ahh, paling itu kebiasaan dia aja kali ya?</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah kami berdua telah bersih, ternyata dia ga memakai kembali pakainnya. Tapi memakai piyama handuk warna kuning cerah, aduh kaya jeruk aja pikirku . Selanjutnya, aku langsung mendekat ke Sherly dan mulai menciumi wajahnya dan berhenti lama untuk menikmati manisnya bibir Sherly. Wooowww&#8230; udah lama aku ingin merasakan bibir ini, ternyata aku bisa!!!<br />
<span id="more-1489"></span><br />
Kami semakin panas, dan secara perlahan aku merasakan tekanan di bagian bawahku, ternyata tangan Sherly udah meraba &#8211; raba bagian luar selangkangan ku. Oooohhh&#8230; ahhhhh&#8230; kami semakin terangsang dan saling meraba, aku mulai meraba dada kanannya di depan piyamanya, aku goyangkan sedikit dan usap usap. Uuuuhhhh, enak&#8230; Sherly mulai berkicau&#8230; ga berhenti. Supaya ga terlalu mencurigakan, Sherly berhenti sebentar dan menyetel musik Pop Barat, sepertinya lagu kompilasi. Ternyata lagu yang distel justru lebih merangsang libido kami. Tanpa banyak bicara, aku mulai melucuti piyama Sherly, tanpa banyak komentar pun, Sherly membuka kaos dan celana panjangku lalu menyerbu dadaku dan menghisap putingku.. Ahhhh sensasi yang luar biasa, karena memang aku belum pernah merasakan hal ini. Ternyata Sherly sangat berpengalaman, aku pun berpikir apakah dia sudah sering beginian dengan pacarnya? Pikiran macam ini lah yang kemudian memacuku untuk dapat memuaskan nafsunya.</p>
<p style="text-align: justify;">Segera aku pegang dadanya, dan aku usap usap putingnya yang berwarna merah muda. Terus aku usap dan kemudian aku hisap.. slurp slurp slurp dan aku gigit sedikit untuk memberi sensasi kepada Sherly. Uaaaahhhh, dia mengerang, &#8220;Terus sayang.. isep terus&#8230; enak.. ahhhh.&#8221; Saat itu juga aku mulai meraba pangkal pahanya, Sherly masih memakai celana dalam warna merah muda. Dengan penuh keyakinan aku mulai mengelus gundukan yang muncul dibagian bawah celana dalamnya. Dia semakin mengerang&#8230; dan aku terus meraba, hingga aku rasakan gundukan itu terasa sedikit basah.. Aku bingung juga sich&#8230; (maklum&#8230; ).</p>
<p style="text-align: justify;">Sherly pun, tak mau kalah dengan aksi ku, dia mulai menyelipkan tangannya ke balik celana dalamku, dan langsung memegang Mr. P ku dan mulai meremas dan menarik maju mundur. Aku sangat terangsang.. terasa sesuatu yang bergetar di tubuhku, dan aku semakin berani membuka celana dalam Sherly dan mengusap Mrs. V nya, lama &#8211; lama, kami semakin asyik, tanpa sadar aku mulai memasukkan tanganku ke Mrs. V Sherly, penuh dengan kenikmatan yang aku ga tahu seperti apa, Sherly berkata, &#8220;Kamu tiduran Ren, aku mau servis kamu&#8230;&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Aku pun langsung tiduran, dan terasa Mr. P ku menjadi hangat dan basah&#8230; saat aku lihat.. Wooooowwww&#8230; Sherly menjilat dan mengulum P ku dengan penuh semangat.. Ohhhh ahhhh uhhh.. aku mulai meracau ga menentu.. lagu yang diputar sejak tadi semakin menambah romantisme suasana. Setelah Sherly puas menjilat dan mengkulum P ku, aku pun mencium bibirnya lagi, dan menjilat puting susunya.. terus aku lanjutin menjilat seluruh tubuhnya sama seperti yang Sherly instruksikan.</p>
<p style="text-align: justify;">Saat mendekati Mrs. V nya, aku berhenti sebentar, karena ragu, namun Sherly berkata, &#8220;Lanjutin aja Ren, lo bakal keenakan ntar&#8221;. Aku pun menjilat Mrs. V nya dan sedikit maju mundur, karena secara naluri seperti itu. Sherly meracau ahhhhh&#8230;..oooojjjjjhhhhh&#8230; terus Ren&#8230;. jangan berhenti&#8230;. enyakkkk&#8230;.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku pun terus menjilati V nya, dan tiba tiba aku berpikir, gimana kalo P ku bertemu langsung dengan V nya. Aku pun segera meminta hal ini ke Sherly, dia sedikit melihatku lalu, tersenyum dan mengangguk. Wahhhh.. terasa sesuatu yang luar biasa terjadi, aku semakin terangsang. Sherly membantu memegang P ku dan mengarahkan menuju V nya. Posisi yang kami pakai adalah Sherly di bawah dan aku di atas. Saat P ku mulai masuk lubang V nya, aku merasakan sedikit linu dan geli. Tapi semakin kedalam, semakin hangat dan enak.. Ahhh ohhh&#8230; uhhh&#8230; terus sayang.. terus&#8230; jangan berhenti&#8230;. ahhhh&#8230; Aku pun semakin tergoda untuk terus menyodok. Bunyi srox.. sroxxx&#8230;sroxx&#8230; mulai terdengar dan kami berciuman dan saling meraba, aku semakin terangsang dan memegang kedua susu Sherly yang besar itu, dan mengusap pentilnya. Sherly pun mencengkeram punggungku dan menarik pinggulku untuk semakin masuk ke tubuhnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah beberapa saat, kami berganti posisi, Sherly berada diatasku dan aku memangku dia diatas ranjangnya. Sherly semakin mudah mengatur posisinya. Srok..srok..srokk..srokk&#8230; Sherly meracau&#8230; ouch..ah&#8230;uh&#8230;ach&#8230;. Enak&#8230; Ren&#8230;<br />
Aku menjilat susunya dan mengulum pentilnya&#8230; dan terkadang mencium bibirnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah sekitar 20 menit, aku mulai merasakan sesuatu yang bergetar di dalam tubuhku, dan siap untuk meledak&#8230; aku pun merasakan Sherly beberapa kali merinding&#8230;. Hingga akhirnya Sherly berteriak kecil dan tubuhnya menjadi tegang dan saat itu pulalah aku juga menegang dan sesuatu muncrat dari P ku di dalam V nya&#8230; Beberapa detik kemudian kami berciuman dan aku mencium pentilnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah itu, aku berkata kalau ada sesuatu yang muncrat tadi, dan Sherly tertawa lepas.. &#8220;Hahahahahha&#8230; itu nama sperma Ren&#8221;, kamu ga pernah ML ya?&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Ya ngga lah..&#8221; Aku membalasnya sambil kembali berpakaian, setelah membersihkan diri kami. &#8220;Kalau itu sperma, berarti kamu bisa hamil dong Sher? Terus gimana dong?&#8221; Aku menjadi takut. Sherly dengan gampang menjawab&#8230; &#8220;Tenang aja Ren, aku sering kok ML ama pacarku dan sering keluar di dalam. Tapi aku cegah dengan pil KB biar ga hamil, dan sampai sekarang masih efektif kok hehehehe.&#8221; Dia terkekeh&#8230; aku pun senyum aja, dan mencium bibirnya sebelum pulang.</p>
<p style="text-align: justify;">Sejak saat itu, kami selalu meluangkan waktu untuk ML, bisa di kamar kost-ku atau di kamar kostnya. Pokoknya di tempat yang kami lihat memungkinkan, tentunya tanpa meninggalkan kesan yang mencurigakan dengan pacar Sherly.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ceritasex.cn/pengalaman-sex-saat-kuliah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Vani Sex Adventure</title>
		<link>http://www.ceritasex.cn/vani-sex-adventure/</link>
		<comments>http://www.ceritasex.cn/vani-sex-adventure/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 25 Jun 2010 18:48:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cerita Sex</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ekshibionis]]></category>
		<category><![CDATA[Seks Umum]]></category>
		<category><![CDATA[selingkuh]]></category>
		<category><![CDATA[ayam kampus]]></category>
		<category><![CDATA[ngentot]]></category>
		<category><![CDATA[orgasme]]></category>
		<category><![CDATA[petualangan seks]]></category>
		<category><![CDATA[sex adventure]]></category>
		<category><![CDATA[vani]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ceritasex.cn/?p=1464</guid>
		<description><![CDATA[Waktu menunjukkan pukul 13.30 ketika Vani tiba Plaza Tendean, tempat janjian ketemuannya dengan Roland. Ketika di sms Vani bilang bahwa Vani pengen ketemuan, Rolland langsung menelpon. Rolland sebenarnya sudah bisa menebak alasan kenapa Vani minta ketemuan. Bagaimanapun, mereka pernah jalan bareng selama 6 bulan. “Ok deh Bel, kita ketemuan di Plaza Tendean saja ya, kan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Waktu menunjukkan pukul 13.30 ketika Vani tiba Plaza Tendean, tempat janjian ketemuannya dengan Roland. Ketika di sms Vani bilang bahwa Vani pengen ketemuan, Rolland langsung menelpon. Rolland sebenarnya sudah bisa menebak alasan kenapa Vani minta ketemuan. Bagaimanapun, mereka pernah jalan bareng selama 6 bulan. “Ok deh Bel, kita ketemuan di Plaza Tendean saja ya, kan lumayan di tengah-tengah tuh” kata Rolland di telepon. Vani mengiyakan. Lalu Rolland menambahkan “Tapi, gue mau lo berpakaian seperti ini…”. Vani mendengarkan ucapan Rolland, lalu wajahnya memerah jengah. “Ih, gila lo ya Land” kata Vani tersipu. “Mau nggak?” balas Rolland nakal. “Ya udah deh” jawab Vani pasrah, timbang ga jadi ketemuan dengan Rolland.</p>
<p style="text-align: justify;">Dan disinilah Vani, menunggu Rolland yang masih dalam perjalanan. Orang-orang melihat seorang cewek cukup tinggi, berambut pendek warna brunette turun dari taxy, mengenakan kemeja terusan warna khaki. Belt coklat besar menghiasi pinggangnya, dan boot pendek yang sewarna dengan belt-nya menutup kakinya. Kemejanya yang tidak terkancing 2 kancing atasnya menunjukkan belahan toked putih Vani yang membusung. Vani masuk ke café **** dan langsung pesan minuman, lalu duduk manis di pojok café. Para karyawan &amp; pengunjung café memandang cewek yang duduk di pojok begitu jutek dan dingin, sehingga tidak ada yang mengganggu. Padahal, situasi diri Vani bertolak belakang dengan tampilan luarnya. Jantungnya berdebar kencang dan nafasnya agak tidak beraturan, akibat nafsu birahi yang menggelora sejak siang tadi. Mengapa si lonte ini belum-belum sudah horny habis seperti ini? Silakan baca runtutan peristiwa hari kemarinnya dan 2 jam sebelumnya di sini.</p>
<p style="text-align: justify;">“Sialan Rolland lama banget sih. Gue jadi makin deg-degan jadinya. Aduuhh..mana mhemek gue berkedut-kedut terus. Makin basah deh…” runtuk Vani dalam hati tak berdaya mengekang nafsu birahinya. Padahal Rolland cuma terlambat sekitar 5 menitan. Vani berupaya mengalihkan perhatiannya dengan mengecek status FBnya di HP. Tiba-tiba ada seseorang sudah berada di samping Vani dan langsung menyapa “Hai Van. Sory agak telat ya” sapa Rolland. Agak kaget Vani mendongak ke samping, dan dengan senangnya bangkit untuk memeluk dan mengecup ringan pipi cowok tersebut. “Ih tambah gemuk aja lo” ujar Vani genit. Rolland memang berperawakan agak gemuk. Keliatannya, kerjaannya yang di belakang meja, memanjakan perut dan tubuhnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Mereka langsung beranjak pergi menuju tempat mobil Rolland di parkir. Rolland melirik ke arah Vani yang menggelayut manja di lengannya. Karena Vani sekepala lebih rendah dari Rolland, dengan mudah Rolland melihat ke belahan toked Vani yang menantang. “Ehm, keliatannya lo ngikutin request gue nih” kata Rolland dengan seringai nakal. “hu-uh.. Iya, gue ga pake BeHa” rajuk Vani manja dan agak tersipu. Rolland terkekeh puas. Akibat tidak memakai BeHa pulalah, nafsu Vani semakin tak tertahannkan. Rasa khawatir orang-orang bakal tahu kalo tokednya cuma ditutupi sehelai kain tipis kemejanya, dan gesekan halus bahan kemeja pada putingnya, membuat puting Vani menegang horny.</p>
<p style="text-align: justify;">Mobil Rolland di parkir di basement yang sepi. Tak ada petugas parkir yang berkeliaran seperti halnya di mall-mall besar. Begitu Vani masuk dan duduk di sebelah Rolland, Rolland langsung meraih kepala Vani, dan melumat bibir sensual Vani dengan penuh nafsu. Vani meladeni ciuman Rolland dengan nafsu yang tak kalah hebatnya. Hampir semenit kedua insan penuh birahi ini saling melumat bibir, memainkan lidah di mulut pasangannya dan diselingi gigitan kecil di bibir bawah. Nafas Vani semakin memburu dan jantungnya berdebar makin kencang, ketika tangan kanan Rolland dengan bebasnya masuk ke balik kemejanya dan merengkuh toked sebelah kirinya dengan ganas. “Uuuugggnnnnnnn…” desah Vani refleks keluar begitu merasakan tokednya diremas-remas oleh Rolland. Tubuh Vani jadi menggelinjang kecil ketika putingnya dijepit kuat oleh jari Rolland, dan dipilin-pilin.</p>
<p style="text-align: justify;">Tidak peduli mereka sedang di tempat umum, Rolland membuka 2 kancing lagi dari kemeja Vani dan menyibakkannya ke samping. Kedua buah melon segar berwarna putih muncul ke permukaan, menantang pandangan Rolland. Puting Vani yang besar sudah mengacung tegak sebagai indikator empunya sedang dilanda libido tinggi. Mata Rolland melotot demi melihat sepasang toked yang besar dan indah tersebut. “Gila, makin gede aja toked lo Van. Cowok lo pasti rajin nggarap toked lo ya” ujar Rolland tersengal-sengal penuh nafsu. Vani bersemu merah dan tidak sempat menyelesaikan jawaban karena kedua tangan Rolland langsung maju dan meremas kedua tokednya kuat-kuat. “Gitu ddee…hmmppffffffff..sssshhhh..” desah Vani lebih erotis lagi. Sambil jari-jarinya memutar-mutar bongkahan toked Vani dan memilin-milin putingnya, Rolland berkata “Buka paha lo Bel, gue pengen lihat lo pegang janji ga”. Sambil tetap mendesah-desah menahan kenikmatan di dadanya, kedua tangan Vani bergerak untuk melepaskan 2 kancing terbawah kemeja terusannya, kemudian menyibakkannya ke samping. Rolland dengan jelas melihat gundukan montok mhemek Vani yang berjembi tipis di puncak belahan mhemek itu.<br />
<span id="more-1464"></span><br />
“Hehehe.. pasti lo horny habis disepanjang jalan karena ga pake BeHa dan CD ya Van” kekeh Rolland penuh kemenangan. “Buka paha lo” perintah Rolland sambil tangannya membuka paha putih mulus Vani. Jemari Rolland langsung meremas kedua bongkah bakpao montok tersebut. “Aiieehhh…..Ahhhhh…” pekik Vani kaget. Dari selangkangannya seolah ada kejutan listrik yang langsung bergerak menyebar ke seluruh tubuhnya. Apalagi Rolland tidak berhenti sampai meremas-remas saja, jari tengahnya langsung menyelusup masuk ke belahan bibir mhemek Vani dan langsung dikocok. “Ahhh.. ahhhh… sssshhhhhh…. “ Vani menggeliat-geliat keenakan, karena mhemeknya yang sudah gatal dari 2 jam yang lalu mendapat pemuasannya dengan garukan-garukan cepat jari Rolland.</p>
<p style="text-align: justify;">“Busett.. udah banjir mhemek lo Van. Jiwa lonte lo jadi makin parah saja” seringai mesum Rolland menghiasi wajahnya. Jari tengah Rolland makin cepat mengocok mhemek Vani. Vani meremas kuat bahu Rolland dan kepalanya menggeleng-geleng resah “Auhh.. ahhh.. Landd… chukup L..aannd… Jhang..jangan di sini dhonng…aahhhh…” rengek Vani tengsin campur horny, karena takut ke-gap satpam. Rolland menghentikan kocokannya dan mengeluarkan jari tengahnya dari mhemek Vani. Sambil menjilati jari tengahnya yang basah oleh cairan mhemek Vani tersebut, Rolland berkata “Hehe gue setuju. Gue juga udah ga tahan ngenthotin lo Van. Gue udah book kamar di hotel depan situ”. Rolland menghidupkan mesin dan mulai bergerak meninggalkan parkir Plaza, sementara Vani memperbaiki kondisi pakaiannya yang terbuka dimana-mana.</p>
<p style="text-align: justify;">Memasuki parkiran hotel M*******a, kedua nafsu manusia ini hampir tidak tertahankan. Ketika Rolland menuju meja resepsionis untuk mengambil kunci kamar, Vani yang menunggu di sofa mendengar HPnya berdering. “”wah Angel. Gue angkat ga ya?” pikir Vani. Tapi ada naluri yang memaksa Vani untuk mengangkat telepon. Baru saja Vani selesai bilang halo, suara panik Angel terdengar di ujung satunya “Vannnnn.. lo kemana aja sihh…”. “Ada apa emangnya Ngel” Vani agak heran. “Lo lupa ya, hari ini kan kesempatan terakhir lo serahkan paper AB ke mr HB. Minggu lalu sudah diampuni sama die, masa lo lupa kalo batasnya hari ini lo harus serahin. Lo mau baru bisa ngulang setahun lagi?” cerocos Angel. “Astaga… gue betul-betul lupa” Vani tersadar dan langsung panik. Paper itu berbobot 50% dari total penilaian mata kulian Mr. HB (Lengkapnya ni dosen bernama David Hutabarat. Cuma anak-anak manggilnya mister HB). Ini mata kuliah wajib, yang jadi prasyarat beberapa mata kulian yang Vani harus ambil semester depan. Gawat kalo sampai ga lulus. “Mr. HB bilang dia tunggu sampe jam 3 ni sore Van. Mending lo sekarang cepet kemari. Bawa tugas ga bawa tugas ga penting. Yang penting lo ngadep dia dulu. Ok?” lanjut Angel cepat.</p>
<p style="text-align: justify;">Buru-buru Vani pamit cabut ke Rolland yang sudah menenteng kunci kamar. “Aduhh Rolland.. sory banget yaa… Gue harus ke kampus nih.. Darurat nine-one-one masalahnya. Udah ya, gue cabut dulu. Ga usah diantar deh…”cerocos Vani. Setelah cium sekali pipi Rolland yang bengong, Vani langsung lari ke pintu lobby dan masuk ke taxy yang memang ada di depan hotel. “Lho? Kok jadi gini?” Rolland terpana dan memandang sedih ke selangkangannya. Setelah tersadar, dia mulai menekan tombol HP-nya dan berbicara “Mia, bolos kantor yuk…”.</p>
<p style="text-align: justify;">Di dalam taxi, otak Vani mulai berpikir cepat menyusun bermacam skenario dan alasan agar bisa mendapat pengampunan dari Mr. HB dan paling tidak tambahan sehari lagi untuk serahkan paper tersebut. Paper Vani belum kelar. Biasanya butuh sekitar 1 jam untuk sampai ke kampus Vani dari area situ. Tapi, berkat desakan Vani ke abang sopir taxy, tak sampai 45 menit mereka sudah sampai kampus.</p>
<p style="text-align: justify;">Pukup 14.50. Vani berlari kecil ke arah ruangan Mr. HB di lantai 3. Setelah sampai kampus tepat waktu, perasaan Vani sudah jauh lebih tenang. Vani yakin bisa merayu Mr.HB untuk memundurkan deadline sampai besok. Sudah rahasia umum kalau Mr.HB yang mata keranjang pilih kasih dengan mahasiswi-mahasiswinya, timbang para mahasiswa. Apalagi bagi mahasiswi yang cakep dan seksi. Vani cukup berpakaian seksi di ujian lisan Mr.HB, dan soal yang keluar lebih mudah bahkan dikasi petunjuk segala (disinggung di cerita pertama. Klik saja ini).</p>
<p style="text-align: justify;">Vani mengetuk tiga kali pintu ruangan Mr. HB, sebelum mendengar suara bariton yang menyilakannya untuk masuk. Begitu kepala Vani nongol, Mr. HB langsung tersenyum “Ahh.. ini dia si Vani yang cantik. Kemana saja kau Manis. Duduk, duduklah kau” ujar Mr. HB bermulut manis mempersilakan Vani duduk di depan meja kerjanya. Begitu menghenyakkan pantatnya di kursi, Vani langsung pasang tampang memelas “Pak.. minta tolong dong.. Tambah sehariii saja, pasti besok Saya sudah bisa serahin paper AB saya Pak” rayu Vani dengan manisnya. “Wah, tidak bisa itu. Kau dan teman-teman kau sudah Bapak kasi kelonggaran sampai dua kali. Tidak ada lagi mundur-mundur deadline” tegas si Mr. HB walau tetap dengan tersenyum. Sambil mencondongkan badannya kedepan sehingga agak membungkuk Vani berkata “Pak, sudah 2 hari ini saya nungguin tante saya di Rumah Sakit. Baru pulang siang tadi. Kalo nggak gitu, pasti paper sudah selesai Pak. Boleh ya Pak”. Mr. HB menelan ludah, karena dari posisinya dia bisa melihat dengan jelas belahan toked Vani yang menonjol. “Puas-puasin deh lo liat toked gue. Yang penting, mundurin deadline-nya sehari” batin Vani penuh percaya diri.</p>
<p style="text-align: justify;">“Wah, susah posisi Bapak kalo begini. Apa kata teman-temanmu kalau kau mendapatkan kelonggaran dari Bapak” Mr. HB masih berusaha tegas, tapi matanya tetap melotot memandang lurus ke belahan gunung kembar di depannya. “Ayolah Pak, nggak ada yang bakal tahulah kalo Bapak ga cerita-cerita” desak Vani terus. Tiba-tiba si Mr. HB bangkit dari kursinya dan berjalan menuju sisi Vani lalu duduk di atas meja tepat di samping Vani “Boleh saja. Tapi ada syaratnya” kata si Mr. HB sambil tetap memandangi belahan dada Vani. “Syarat apaan Pak?” tanya Vani sudah mulai khawatir melihat perilaku Mr. HB. “Kubari kau waktu sehari lagi untuk kumpul itu paper, asal kau ijinkan aku meremas-remas kau punya susu itu hehe” ujar Mr. HB sambil menyeringai mesum.</p>
<p style="text-align: justify;">“HEHH..” kaget Vani mendengar penawaran mesum Mr.HB dan reflek menutup dadanya dengan kedua tangannya. “Terserah kau Vani. Bapak cuma tawarkan solusi yang win-win buat kau. Bapak senang, kau pun senang” ujar Mr.HB dengan lagak tidak butuh. “Aduhh.. gue kasi ga ya? Kalo ntar dia nglunjak gimana? Tapi gue juga ga mau ngulang lagi tahun depan” Vani menimbang-nimbang penawaran tersebut dalam hati. Vani tidak sadar kalau tangannya turun dan tidak lagi menutupi tokednya ketika sedang berpikir untuk terima atau tidak tawaran Mr.HB tersebut. Tapi Mr.HB menganggap diamnya Vani dan fakta bahwa Vani tidak lagi melindungi tokednya, sebagai tanda bahwa Vani menerima tawarannya tersebut.</p>
<p style="text-align: justify;">“AAHH…” Vani memiawik kaget ketika dua tangan muncul dari balik punggungnya dan langsung meremas kuat-kuat kedua bongkah tokednya. “Lho.. Bapak ngapain sihh.. Kan saya blumm..Aakkkhhh… ahhh… hmmppfffffffhhhhh..” protes Vani terpotong desahannya karena mendadak gelombang listrik dan kenikmatan melonjak dari kedua putingnya. “Kau ternyata tidak pake BeHa Vani… kenyal sekali toked kau ini” ujar Mr.BH di samping telinga Vani sambil memilin-milin puting Vani dari balik kain kemejanya. Rangsangan pada tokednya yang tiba-tiba ini, seolah mengingatkan tubuh Vani bahwa ada libido yang terpendam dan menuntut untuk dipuaskan sejak siang tadi.</p>
<p style="text-align: justify;">Serangan tangan Mr.HB semakin gencar. Kedua tanganya sudah menyelusup ke balik kemeja Vani, dan dengan leluasa meremas-remas melon putih dan kenyal tersebut. “Hahhhh…haahhh… aammmhhhhhffffff…” desah Vani keenakan, apalagi lidah Mr.HB menjilati leher jenjang Vani dengan liarnya. Mr.HB kini pindah berlutut di samping Vani. Beliau sudah tidak tahan untuk mencaplok toked Vani yang menggiurkan tersebut. Mr.HB membuka mulutnya lebar-lebar, dan menelan ¼ toked Vani dari ujung putingnya. Kemudian Mr.HB menghisap kuat-kuat puting Vani yang sudah menegang keras sampai keluar suara yang keras. Sluuuurrppp.. Slurrrppppp… Terang saja Vani semakin belingsatan tokednya diperlakukan seperti itu, karena tokednya sensitif banget. “Aaaahhhhaaaahhhh…. Haahhhhhh…SShhhhhhhhh.. Enak banget Pakk…” erang Vani tak tertahankan lagi. Menyadari muridnya makin terangsang, perlakuan Mr.HB pada toked Vani semakin menjadi-jadi. Cupangan memerah menyebar di sekujur bulatan toked Vani yang putih. Gelinjang tubuh Vani pun menjadi-jadi, sehingga bagian bawah kemejanya tersingkap dan membuat Mr.HB terhenyak. “Kau juga tak pakai celana dalam Vani.. Wah wah.. kau memang sudah siap untuk dienthot ternyata” ujar Mr.HB penuh sukacita sambil memasukkan jari tengahnya ke sela-sela mhemek Vani yang sudah basah kuyup. Begitu jari tengah Mr.HB melesak sepenuhnya ke dalam lubang mhemeknya, tubuh Vani langsung melengkung dan lenguh kenikmatannya terdengar “Ouuhhhh….hhhuuuuhhh… iyhaa.. iyhaa… disitu Pak.. benar disitu Pak.. kocok yang kenceng Phak…” pinta Vani penuh nafsu. Dengan senang hati Mr.HB memenuhi permintaan anak didiknya itu. Jari tengahnya keluar masuk mhemek Vani, dan diselingi gerakan mengobel-ngobel yang agak kacau, sehingga bunyi kecipakan becek terdengar. Tak sampai semenit Vani mulai merasakan bahwa rasa gatal yang menggerayangi sekujur mhemeknya terasa semakin menghebat. Semakin kencang dikocok, rasa gatal tersebut semakin memuncak dan meruncing ke bibir-bibir mhemeknya. Dan tanpa dapat ditahan lagi, orgasme pertama Vani di hari itu meledak juga. “OAAAAAAHHHHH….. AGGHHHHH….HHAAAHHHHHHH..” lenguh Vani panjang sampai punggungnya ikut melengkung akibat terpaan gelombang orgasme yang sudah dinanti-nantinya.</p>
<p style="text-align: justify;">Mr.HB sempat terpana demi menyaksikan betapa hebatnya reaksi orgasme Vani. Sedetik kemudian ia tersadar, dan cepat-cepat bangun untuk melepas celananya. Ketika Vani mendapatkan kembali kesadarannya 30 detik kemudian, Mr.HB sudah hendak melepaskan celana dalamnya. Cepat-cepat Vani berdiri dan berkata “Ehh.. Bapak mau ngapain? Perjanjiannya kan cuma remas-remas susu. Ini kan sudah lebih dari remas-remas” ujar Vani ketus.“ Sambil tetap melorotkan celana dalamnya Mr. HB berkata “Sudahlah Vani, Bapak tau kau juga lagi horny. Kuberi kau poin A kalau kau mau Bapak enthot sekarang. Ya?” Mr.HB mencoba tawar menawar. “Hah? A? Bener ya Pak” tanya Vani. “Kalau gitu Bapak tulis dulu di kertas evaluasi Bapak, bahwa nilai Saya A, baru kita lanjut” ujar Vani licik. “Mana bisa begitu Vani. Kertas evaluasi kan baru Bapak bisa isi kalo sudah UAS” Mr.HB semakin desperate. Sambil berlagak mengancingkan kemeja bagian atasnya, Vani berkata “Ya sudah kalau begitu. Sampai ketemu besok ya Pak”. Susah payah bergerak karena celana dalamnya masih melingkar di mata kaki Mr.HB cepat-cepat berkata “Eh.. eh. Iya..iya.. Bapak nilai sekarang. Kau duduk saja manis di sofa sana ya”. Setelah itu cepat-cepat Mr.HB menaikkan CDnya dan membongkar-bongkar mejanya. Lalu setelah menulis singkat diatas sebuah map, Mr.HB mendekati Vani di sofa dan menyorongkan map tersebut. Di Form Valuasi, terlihat jelas cuma nama Vani yang sudah mendapat nilai A.</p>
<p style="text-align: justify;">Sambil tersenyum puas Vani berkata “Gitu dong Pak, kan gamp…Eeeiiihhhhh….Hmmppffh!!” Belum selesai Vani menyelesaikan ucapannya, Mr.HB sudah menerkam dan menindih tubuh Vani di sofa, lalu dengan buas melumat bibir Vani. Sambil menjilati leher Vani, tangan Mr.HB dengan cepat melepaskan belt yang melingkari perut Vani, lalu mengangkat kemeja terusannya tinggi-tinggi sampai seperut. Sehingga selangkangan Vani yang minim jembi terpampang dengan jelas. “Eh. Pak..Pak.. sabar Pak. Sabar Pak” Vani agak menyesali omongan asalnya tadi dan berusaha menutupi selangkangannya. Tapi Mr.HB yang sudah dikuasai nafsu birahi, dengan mudahnya menyingkirkan kedua tangan Vani hanya dengan tangan kirinya. Lalu tangan kanannya dengan cepat meremas gundukan mhemek Vani. “Pak jang…Aaahhhhhh….. Auhhhhhh…” ucapan Vani berganti lenguhan terkejut bernuansa nikmat. Cukup dengan beberapa kocokan saja, mhemeknya sudah banjir kembali. “Haahhh.. haahhhhh…. Oohhhhhh.. hmmmppffff….” desah Vani blingsatan karena mhemeknya kini dikocok dengan dua jari, yang kadang menggesek klitorisnya.</p>
<p style="text-align: justify;">“Sudah kuduga kau suka Vani hehehe..” tawa kemenangan Mr.HB terdengar. Tangan kirinya yang sudah tidak perlu memegangi Vani, cepat-cepat melorotkan CDnya. Konthol Mr.HB yang hitam pekat langsung tampil mengacung tegak. Mr.HB yang konaknya sudah di ubun-ubun, langsung mengangkangkan lebar-lebar paha Vani. Sambil mengocok-ngocok pelan kontholnya, Mr.HB mulai mengarahkan palkon-nya ke bibir mhemek Vani. Vani tidak hanya pasrah, tapi juga sudah berharap agar konthol tersebut menghujam mhemeknya. “Ah… kontholnya si tua ini kecil. Tapi tak ada rotan, akarpun jadi” batin Vani. Tanpa cek medan dan kedalaman, Mr.HB langsung membenamkan dalam-dalam tongkol ukuran 11cm-nya ke dalam lobang kenikmatan Vani. Membuat Vani agak tersedak dan melenguh pendek “Heeggghhh..umhh..”. Mr.HB langsung menyeringai puas “Aggghh.. rapat sekali meqi kau ini Vani..hahhhh”.</p>
<p style="text-align: justify;">Mr.HB langsung menggenjot Vani dengan kecepatan tinggi. Lenguhan kenikmatan Mr.HB mengalahkan desahan erotis Vani yang mulai menikmati pompaan konthol Mr.HB di liang mhemeknya. “Hmmm…ahahhh.. ahhh.. iya Pak.. betul gitu Pak.. lebih cepat Pak.. ahhhh..” ceracau Vani keenakan. Mendengar ceracau Vani yang mesum itu, Mr.HB semakin kehilangan kontrol. Tangannya mencengkram toked Vani kuat-kuat, dan genjotan pinggulanya semakin tidak beraturan. Tiba-tiba, “AAAAHHHHHH…. AKU KELUARR..” lenguh Mr.HB kuat. Peju Mr.HB menyemprot-nyemprot di dalam mhemek Vani. Vani terpana. Baru 3 menit ngeseks, Mr.HB sudah ngecret.</p>
<p style="text-align: justify;">Sambil masih tersengal-sengal, Mr.HB jatuh di atas tubuh Vani. “Hebat sekali kau Vani. Belum pernah Bapak ngrasakan meqi senikmat kau punya” puji Mr.HB sambil beranjak bangkit karena dilihatnya Vani kesusahan bernapas. Dengan mudahnya konthol Mr.HB terlepas dari mhemek Vani, dengan diikuti leleran pejunya yang banyak mengalir di bibir mhemek Vani. Vani gondok setengah mati. “Kupret! Baru juga gue naik. Ini mah bukannya terpuaskan, malah makin horny gue jadinya” batin Vani kesal sambil memperbaiki pakaiannya.</p>
<p style="text-align: justify;">“Ya udah Pak. Saya pamit kalo gitu. Ingat ya, cuma sekali ini Bapak bisa nikmatin tubuh Saya. Kalau Bapak mencoba lagi, Saya laporkan ke Dekan kalau Bapak menyalahgunakan kekuasaan sebagai Dosen” sambil berkata seperti itu, Vani memphoto Mr.HB yang bugil dan langsung keluar ruangan dengan judesnya. Mr.HB cuma bisa bengong, dan lemes (tapi puas hehehe). Vani cepet-cepet keluar sebenarnya karena tidak ingin ketahuan si dosen mesum itu kalau dia masih konak habis. Vani cuma ingin cepat-cepat ke toilet untuk membersihkan mhemeknya dari sisa peju, kemudian langsung masturbasi. Sudah ga tahan bo’!</p>
<p style="text-align: justify;">Toilet yang berjarak hanya 10 meter dari ruangan Mr.HB serasa berkilometer bagi Vani yang nafsunya meledak-ledak. Jantungnya berdebar keras, nafas Vani memburu dan mhemeknya berkedut-kedut protes minta dikocok. Toilet cewek yang terletak bersebelahan dengan toilet cowok, tidak ada orang sama sekali di dalamnya. Maklumlah, sudah sore jadi banyak mahasiswa dan dosen yang sudah pulang. Vani langsung masuk ke bilik paling dekat pintu, dan membuka pahanya lebar-lebar agar mudah disemprot dengan air. Semprotan keras air terasa sangat nikmat di mhemeknya. Tidak berlama-lama membersihkan, Vani langsung duduk di atas toilet yang telah ditutup atasnya. Dibukanya pahanya, jari telunjuk dan tengahnya bergerak membelai bibir mhemeknya, lalu masuk ke dalam mhemeknya yang sudah banjir lagi. “Hmmmmmmppfffff….sshhhhhhh… ouuhhh… enaknyaa..” desah Vani perlahan, berusaha agar suaranya tidak terlalu keras. Tapi, setelah semenit, Vani sudah lupa situasi, sehingga kocokan dan suaranya makin menjadi-jadi mengiringi nafsunya yang menggelora. “Aahhhhhhhh…. Hahhhhhh… Ouggggghhhhhhh……” lenguh Vani dalam kungkungan birahi. “Ini dia.. ini dia.. aduuhh mhemek gue makin gatelllll…..shhhhhh..” batin Vani yang titik orgasmenya semakin mendekat.</p>
<p style="text-align: justify;">Tiba-tiba pintu bilik Vani terbuka lebar dan seseorang berdiri tegak di hadapannya. Vani nyaris tersedak karena kagetnya, plus dia hampir saja mencapai klimaksnya. “Oh elu Van. Gue pikir kuntilanak lagi indehoy” kata orang tersebut sambil cengar-cengir. Vani yang terkesima sampai lupa mengangkat tangannya dari selangkangannya, cuma bisa berkata tergagap “Oh..ehh.. Ethan.. Kok lo disini?” tanya Vani salah tingkah. Ditengah rasa shocknya akibat ke gap lagi masturbasi oleh Ethan, Vani setengah tidak sadar kalau Ethan berjalan mendekat dan mengangkat tubuhnya ke pelukan Ethan. Vani baru sadar ketika mukanya sudah dekat sekali ke muka Ethan, yang berkata “Kalo lo lagi horny, napa ga call gue aja. Gue selalu siap kok kalo buat elo” ujar Ethan. Belum sempat Vani membalas ucapan itu, bibirnya sudah dilumat oleh Ethan. Vani gelagepan tapi tidak bisa melepaskan diri dari pelukan Ethan yang kuat. Tidak butuh lama, nafsu Vani sudah menguasai akal sehatnya. Ciuman Ethan diimbangi oleh french kiss Vani yang basah dan panas. Tangan Ethan dengan aktifnya meremas-remas pantat Vani yang sekal dan menonjol. Tiba-tiba Ethan melepaskan ciumannya “Van, kita pindah tempat yuk. Gue tau tempat yang lebih nyaman” kata Ethan agak tersengal-sengal. Tidak menunggu reaksi Vani, Ethan langsung menyeret tangan Vani keluar dari toilet.</p>
<p style="text-align: justify;">Ethan sebenarnya tidak sengaja masuk toilet cewek setelah selesai urusan di dosen lain di lantai yang sama, hanya karena toilet cowok airnya tidak ngalir. Tapi, begitu masuk suara lenguhan cewek terdengar bergema. Story selanjutnya, sudah Anda baca di atas. Vani blingsatan memperbaiki pakaiannya karena Ethan menarik Vani di sepanjang koridor, naik menuju ke lantai 4. Walaupun Vani sebenarnya tidak perlu kuatir, karena koridor bangunan itu kosong. Ternyata Ethan mengajaknya menuju ruangan sekretariat forum mahasiswa manajemen, yang entah bagaimana Ethan punya kuncinya. Setelah masuk ruangan, Ethan mengunci pintu lalu berdiri menghadap Vani “Buka baju lo Van” perintah Ethan. Seperti dihipnotis, Vani langsung menurutinya. Pertama-tama belt besarnya dilepaskan, lalu satu persatu kancing kemejanya diloloskan, maka kemeja terusan Vani pun jatuh tergeletak di lantai. Vani berdiri menantang tanpa sehelaipun benang menutupi, hanya bot coklat berhak semi tinggi yang tetap terpakai, yang malah membuat penampilannya semakin slutty. Ethan pada saat yang sama juga sedang melepaskan celana dalamnya, untuk kemudian berdiri bugil dengan konthol setengah tegak. “Sepong konthol gue Van” perintah Ethan. “Uhh.. haruskah?” rajuk Vani, tapi tetap mendekat ke arah Ethan.</p>
<p style="text-align: justify;">Vani berjongkok di depan Ethan, dan langsung menggenggam konthol hitam Ethan dengan tangan kanannya, lalu mulai mengocok. Kemudian tanpa ragu-ragu, Vani membuka mulutnya lebar-lebar dan memasukkan konthol Ethan sampai setengahnya dan mulai mengemutnya. “Ssshhh… gila.. enak Van..” desis Ethan keenakan sambil memegang kepala Vani dan menggerakannya maju mundur. Konthol Ethan semakin membesar di dalam mulut Vani, dan membuatnya agak kerepotan melakukan blowjob pada konthol selebar 5cm tersebut. Aroma konthol Ethan membuat libido Vani kembali naik ke level tinggi. Sambil melumat-lumat konthol, jari tengah tangan kirinya dengan aktif mengobel-ngobel mhemeknya sendiri. Keasikan masturbasi dengan mhemeknya, Vani malah lupa memblow job Ethan. Konthol Ethan cuma dipegang kuat-kuat, sedang Vani melenguh-lenguh keenakan.</p>
<p style="text-align: justify;">Ethan yang kesal, langsung menyuruh Vani mengambil posisi doggy di atas kasur gulung yang ditebar oleh Ethan. “Nungging Van, gue pengen nyodok lo dari belakang” perintah Ethan. Vani melakukannya dengan patuh. Kedua tangan menahan body depan, kaki tertekuk, paha terbuka selebar mungkin, dan pantat ditunggingkan. “Wow.. lo emang napsuin Van” ujar Ethan senang sambil menampar pantat Vani yang sekal dan bundar itu. “Ahhh.. “ Vani cuma mengerang pelan karena tamparan Ethan. Tanpa berlama-lama, Ethan langsung memasukkan palkonnya ke sela-sela bibir mhemek Vani yang sudah basah kuyup. Sambil memegang erat pinggul Vani, Ethan mulai menekan pinggulnya dalam-dalam. “Heeppp… shit.. masih sempit aja ni mhemek” maki Ethan senang, sambil menekan agak keras sehingga setengah batang kontholnya amblas, SLEPP… “Akkhhhhhh…. “ erang Vani agak keras, setengah kaget karena tiba-tiba mhemeknya disesaki oleh benda asing yang sangat tebal.</p>
<p style="text-align: justify;">Sambil berusaha menoleh ke belakang, Vani memohon “Ayo Than, langsung dikocok.. Mhemek gue udah gatel banget nihh..” rengek Vani manja plus horny. Ethan semakin bersemangat untuk menggenjot Vani dari belakang. Pantat Ethan dengan aktif mulai maju mundur, menghajar mhemek Vani dengan hujaman-hujaman kontholnya yang besar. “Aaaahhhh.. haaahhhh… ouugggghhhh.. “ lenguh Vani. “Hmmppff.. buseet… gatel di dinding mhemek gue rasanya digaruk-garuk enak banget… Gede banget konthol si Ethan.. Gillaaaa….Mau tereak aja rasanya… aahhhhh..” batin Vani yang semakin terbuai nafsu birahi. Akibat pompaan Ethan, tubuh Vani terguncang-guncang maju mundur dengan kuatnya. Tokednya yang 36C tanpa ampun bergoyang-goyang heboh tak tentu arah. Ethan yang tidak puas cuma meremas-remas pantat Vani, menggapaikan tangannya untuk meraih toked Vani yang bergoyang bebas.</p>
<p style="text-align: justify;">Sambil meremas-remas sepasang daging kenyal bundar dada Vani, Ethan menceracau keenakan “Gillaa.. toked lo besar banget Van… Lo demen kan gue remes-remes gini..”. Ethan tak perlu jawaban langsung, karena lenguhan Vani yang semakin keras sudah menunjukkan betapa Vani juga menikmati setiap remasan di tokednya. Tidak sampai 5 menit digempur dengan doggy style, tubuh Vani sudah menegang. Lenguhannya semakin keras “Ahhh.. ouuuggghhhh.. yahh.. yahh.. cepetin Than.. cepetin ngocoknya..Ahh..ahhh..” Vani mencerocos di sela-sela erangannya. Memenuhi request Vani, Ethan meningkatkan RPMnya. Dan…….”OUUUUUUGGGGHHHHHH……. GUE KELUAR.. GUE KELUAR….AAAHHH…” jerit Vani sambil mengejan-ngejan. Ethan merasakan ada semprotan pelan di kontholnya. Diturunkan kecepatan kocokannya, untuk membiarkan Vani cooling down dan ambil nafas dulu.</p>
<p style="text-align: justify;">“Hah.. hah…hah… gila.. enak banget.Than..” ujar Vani yang nafasnya masih tersengal-sengal. Ethan pelan-pelan mencabut kontholnya. Walaupun sudah pelan-pelan, tetap saja Vani terpekik kecil ketika konthol itu dicabut. “Auh.. kok dicabut?” tanya Vani kaget. Ethan tidak berkata apa-apa, tapi langsung membalikkan tubuh Vani sehingga terlentang. Toked Vani yang menggunung indah menjadi sasaran lumatan bibir Ethan. Sambil meremas-remas dengan kuat, puting Vani dijilat-jilat dan dipermainkan dengan lidah oleh Ethan. Libido Vani langsung naik lagi. Bahkan rasa gatal di mhemeknya kembali dengan lebih hebat. “SShhhhhh… hhmmppfffff… “ desis Vani keenakan karena tokednya sekarang sedang dikenyot dan dihisap kuat-kuat oleh Ethan.</p>
<p style="text-align: justify;">“Haahh.. hahh… Than, gue mau diatas ya” pinta Vani. “Hehe gue emang pengen ngerasain goyangan lo Van” akur Ethan dengan usul Vani. Ethan terlentang dan Vani mengangkang di atasnya, mulai mengarahkan konthol Ethan ke lubang mhemeknya. Tanpa kesulitan batang konthol tersebut amblas langsung 3/4nya. “Heekkhhhhhh… uuuuhhhh… gede banget sihhh…” runtuk Vani yang matanya sampai terpejam karena kenikmatan yang dirasa ketika batang gemuk tersebut menerobos dan menggesek dinding-dinding mhemeknya yang licin. Vani langsung mulai menggoyang pinggulnya dengan gerakan naik turun, sambil tangannya bertelekan di perut sixpack Ethan. Slepp.. slepp.. sleppp… bunyi gesekan konthol dengan dinding becek mhemek Vani. “HHHhhhmmm… hhaahhhhh…. Sshhhhhh…” desah Vani menikmati setiap sentuhan. Karena Vani diatas, dengan mudah dia mengarahkan sentuhan-sentuhan konthol Ethan ke titik-titik yang Vani suka. Sekarang konthol Ethan amblas seluruhnya, dan Vani mulai melakukan gerakan maju mundur, dan diselingi oleh gerakan pinggulnya yang memutar-mutar. Sensasinya? Luarr biasaaa… Ethan merasakan kontholnya dipilin-pilin, dan diremas-remas dengan enaknya oleh cengkraman dinding-dinding licin yang panas mhemek Vani. “Ahhh.. hhaaahhh… gillaa mhemek lo enak bener Vannn….” erang Ethan yang sampai merem melek saking enaknya.</p>
<p style="text-align: justify;">Lebih cepat dari ronde pertama, Vani sudah hampir mencapai orgasmenya lagi. Konthol Ethan menggesek-gesek tepat di titik g-spot Vani. Rasa gatal yang sangat hebat terasa mengumpul disekujur selangkangan Vani, membuat Vani semakin blingsatan goyangannya berusaha menggaruk setiap titik gatal tersebut. Ethan yang tau Vani akan mencapai orgasmenya lagi, mempercepatnya dengan meremas tokednya yang tergantung bebas sambil memilin-milin putingnya. Betul saja, detik berikutnya Vani merasakan ledakan kenikmatan muncrat di lubang senggamanya “OOOAAHHHHHH……. AAAAAUUHHHH…. OUHH… Ouuhhhh…. hmmmmppffffff…” jerit Vani penuh kepuasan. Tubuh Vani bergetar dengan hebatnya, dialiri sengatan listrik orgasme yang bersumber dari mhemeknya dan menyebar ke seluruh tubuh. 15 detik setelah gelombang klimaksnya berlalu, Vani menjatuhkan diri di atas tubuh Ethan. Nafasnya masih tersengal-sengal.</p>
<p style="text-align: justify;">Ethan yang sudah merasa tanggung, tidak lagi menunggu Vani siap. Tangan Ethan menggapai pantat Vani dan mengangkatnya sedikit, agar ada sedikit celah antara selangkangannya dengan selangkangan Vani. Ethan mulai menggerakkan pinggulnya naik turun, karena kontholnya masih menancap dalam di mhemek Vani. Ethan mengocok dengan cepat. Plak..plak.. plak.. slep..slepp. sleppp.. bunyi benturan tongkol Ethan dengan mhemek Vani, ditingkahi oleh kecipak becek cairan mhemek Vani. “Ahh.. ahh. Thann.. tung… tunggu… jangan dikocok lagi.. ngiluu..” rengek Vani lemas. Tapi, Ethan malah mempercepat kocokannya. Tapi, ternyata akibat kocokan ini, rasa ngilu di mhemek Vani cuma tarasa sebentar. Sekarang malah rasa gatal itu kembali dengan lebih hebat lagi. Tanpa diduga, gelombang orgasme yang lebih dahsyat dari sebelumnya meledak di selangkangan Vani.</p>
<p style="text-align: justify;">“HIAAHHHHHH…..AAAAHHHHH… OUUFFFHHHHHH…. GUE KELUAR LAGI THANNNN” pekik Vani yang mencapai orgasmenya lagi dengan mata terpejam kuat dan tangan meremas pundak Ethan kencang-kencang. “Hahh.. hah…. Gila.. gila… gue keluar lagii…” desah Vani lemas.</p>
<p style="text-align: justify;">Ethan bergerak menggulingkan tubuhnya, sehingga sekarang Vani yang ditindih. “Than.. time out.. time out..Gue nyaris pingsan nih..” Vani memohon dengan suara lemas. “Sorry Van, gue udah nanggung banget nih. Tahanin bentar lagi ya. Gue udah mo keluar juga kok” kata Ethan dengan nafas memburu karena birahinya sudah diubun-ubun kepala. Tanpa menuggu persetujuan Vani, Ethan langsung tancap torsi tinggi dalam posisi misionaris. Konthol Ethan menghujam mhemek Vani tanpa belas kasihan. Keluar masuk dengan cepat, berputar-putar, mengobel-ngobel dinding mhemek yang sempit dan semakin banjir itu. Tanpa bisa ditahan, Vani mengalami orgasmenya yang entah untuk keberapa kali. “ETHANNN… GUE YANG KLUARR NEEHHHH… EEHHHHHHHHMMMMM..” teriak Vani kesal tapi penuh kenikmatan, sambil kelonjotan di bawah tubuh Ethan.</p>
<p style="text-align: justify;">Ethan mencabut kontholnya, diiringi lelehan banjir peju dan cairan mhemek Vani. Ethan langsung mengambil posisi di atas perut Vani, dan menjepitkan kontholnya di sela-sela toked biadab Vani. Kedua telapak tangan Ethan merangkum kedua bongkah susu ranum tersebut, dan menjepitkannya kuat-kuat ke kontholnya yang sudah hampir meledakkan peju. Konthol Ethan dikocok dengan cepat di sela-sela toked Vani “Ouuh.. I lovee tits fish..” lenguh Ethan kenikmatan. Tak sampai setengah menit, Ethan merasakan ada gerakan aliran dari pangkal batang kontholnya menuju ke palkonnya. Rasa gatal di palkonnya pun semakin menghebat. Dan ledakan orgasme Ethanpun terjadi juga “OOOOOHHHH… SHIIITTTTT……” lenguh Ethan keras. Semprotan peju langsung menembak. Lelehannya memenuhi toked dan wajah Vani. Dan Ethanpun langsung terbaring lemas di samping Vani.</p>
<p style="text-align: justify;">Hampir 3 menit tidak ada yang berbicara. Hanya nafas memburu yang terdengar semakin perlahan, seiring lewatnya badai kenikmatan seksual. Ethan memiringkan badannya dan langsung menatap Vani. “Gue pikir lo udah ga mau lagi ngenthot sama gue Van” ujar Ethan sambil nyengir nakal. Muka Vani bersemu merah, tapi masih berusaha menjawab dengan ketus “Gue kepepet. Lagi horny habis, ga ada partnernya”. Ethan masih keras kepala “Udah deh. Akuin aja.. si Albert juga ga bisa muasin kaya gue kan?” ujar Ethan dengan PeDenya. Walaupun itu benar, Vani gengsi mengakuinya “Huu.. siapa bilang”. Tapi, ucapan Ethan berikutnya mengejutkan Vani “Lo mau ga jadi fish buddy gue?” “Hah? Maksud lo?” tanya Vani. “Iya.. fish buddy. Kalo lo butuh seks, lo bisa ajak gue. Begitu juga sebaliknya. Tapi cuma sebatas seks. No other commitment. Jadi cowok lo tetep Albert. Ok ga?” terang Ethan. Vani agak bimbang menjawabnya. Kalau mengikuti kata hati (dan kata mhemek), Vani jelas maulah. Cuma gengsi kalo langsung mengiyakan.</p>
<p style="text-align: justify;">Tiba-tiba Ethan menyosor bibir Vani dan melumatnya. “Gue anggap diem lo itu tanda setuju”. Sambil membalas lumatan bibir Ethan, fantasi Vani mulai membayangkan petualangan seks macam apa lagi yang akan dialaminya bersama Ethan.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ceritasex.cn/vani-sex-adventure/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Gairah Dalam Kayuhan Tukang Becak</title>
		<link>http://www.ceritasex.cn/gairah-dalam-kayuhan-tukang-becak/</link>
		<comments>http://www.ceritasex.cn/gairah-dalam-kayuhan-tukang-becak/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 19 Jun 2010 07:19:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cerita Sex</dc:creator>
				<category><![CDATA[Paruh baya]]></category>
		<category><![CDATA[Pemerkosaan]]></category>
		<category><![CDATA[selingkuh]]></category>
		<category><![CDATA[birahi]]></category>
		<category><![CDATA[karyawati bank]]></category>
		<category><![CDATA[nafsu]]></category>
		<category><![CDATA[ngentot]]></category>
		<category><![CDATA[poppy]]></category>
		<category><![CDATA[tukang becak]]></category>
		<category><![CDATA[wanita karir]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ceritasex.cn/?p=1448</guid>
		<description><![CDATA[Kejadiannya saat itu adalah di Jakarta. Poppy bekerja sebagai seorang karyawati pada sebuah bank swasta terkemuka. Poppy adalah seorang wanita karier yang berumur 26 tahun pada saat itu. Ia memiliki kulit putih mulus dan tinggi 156 cm. Rambut sebahu serta ukuran dada yang serasi sekali dengan bentuk tubuhnya yang ramping. Saat itu pun Poppy telah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Kejadiannya saat itu adalah di Jakarta. Poppy bekerja sebagai seorang karyawati pada sebuah bank swasta terkemuka. Poppy adalah seorang wanita karier yang berumur 26 tahun pada saat itu. Ia memiliki kulit putih mulus dan tinggi 156 cm. Rambut sebahu serta ukuran dada yang serasi sekali dengan bentuk tubuhnya yang ramping. Saat itu pun Poppy telah memiliki seorang kekasih yang sangat ia cintai dan amat mengerti akan pekerjaannya. Rusdi adalah kakak kelas Poppy saat di kampus dulu di sebuah kota Sumatera. Saat itu pun Rusdi telah bekerja di sebuah perusahaan di Kalimantan. Jadi mereka berpisah untuk waktu yang lama dan hanya sekali 6 bulanlah mereka bisa berkumpul lagi. Poppy menyewa sebuah rumah yang sederhana tidak jauh dari kantornya. Dengan gaji yang cukup, ia dapat mempekerjakan seorang pembantu yang sudah agak tua. Namanya Mpok Ijah. Seringkali Poppy bertukar pikiran dengan Mpok Ijah saat ia tidak kerja. Itu pun topiknya mengenai laki-laki. Mpok Ijah pun tidak terlalu ambil peduli dengan kisah Poppy. Poppy dan Rusdi telah merencanakan untuk menikah saat Rusdi dipindah ke Jakarta nanti.</p>
<p style="text-align: justify;">jadi tidak heran jika saat Rusdi datang ke Jakarta setiap 6 bulan, selalu disambut dengan suka cita oleh Poppy. Kemesraan diantara mereka selalu diakhiri dengan hubungan intim. Poppy telah menyerahkan keperawanannya kepada Rusdi dulu saat mereka sama-sama tinggal di Jakarta berlibur. Poppy selalu memakai sistem kalender untuk menjaga jangan sampai ia hamil akibat hubungan itu. Namun saat Rusdi telah berada kembali di Kalimantan, secara tiba-tiba, Poppy merasakan libidonya kembali naik untuk berhubungan sex. Sedang Rusdi kembali baru 4 bulan lagi. Ia kehabisan akal. Ia tidak ingin memakai jasa gigolo sebab ia tidak ingin diporoti oleh lelaki itu dan takut akan tergantung kepada jasa mereka. Sedang jika ia melakukan selingkuh dengan teman kerja, jelas tidak mungkin. Posisinya akan hancur dan menjatuhkan wibawa dan derajatnya. Ia pusing sekali jika nafsunya datang menghentak-hentak. Timbul pikirannya untuk melakukan hubungan sex yang aman dan berisiko kecil. Setiap pergi dan pulang kantor, Poppy selalu menumpang becak.</p>
<p style="text-align: justify;">Ia menyadari, abang becak yang bernama Asep itu sering mencuri pandang ke betis dan dadanya saat ia di atas becak. Poppy amat merasakan hal itu. Asep adalah tukang becak yang berumur 40 tahun. Sosoknya hitam, badan sedang, dan amat santun kepada Poppy setiap Poppy menaiki becaknya. Asep adalah lelaki yang telah berkeluarga dan memiliki 4 orang anak yang telah beranjak dewasa. Istrinya bekerja sebagai tukang cuci di tempat Poppy. Poppy tahu jika ia mengajak Asep, maka ia akan mudah mengaturnya sebab Asep tidak akan berani macam-macam apalagi memerasnya. Asep juga adalah bekas preman yang telah sadar, dan kembali bekerja secara baik-baik. Dulunya ia pernah masuk penjara. Tidak heran di pahanya ada tatto. Asep sering juga menelan ludah jika Poppy yang menumpang becaknya. Selain cantik, Poppy juga sering memakai rok pendek dan kelihatan batang pahanya yang mulus di tumbuhi bulu-bulu halus. Juga ia memiliki leher yang jenjang. Baju yang dikenakan Poppy sering yang berleher rendah dan sesekali terlihat belahan dada yang mengundang birahinya.<br />
<span id="more-1448"></span><br />
Saat itu hari Jumat. Hari terakhir kerja bagi para karyawan. Malam itu Poppy menaiki becak Asep. “Bang… langsung ke rumah ya?” kata Poppy. “Baik, Mbak,” jawab Asep. Sesampai di rumah, Poppy minta Asep untuk memasukkan becaknya ke dalam garasi yang tersedia di rumahnya. “Dimasukkan aja becaknya, ya, Bang…” kata Poppy. “Baiklah, Mbak…” “Ini bang, saya minta Abang membantu saya memindahkan komputer itu ke kamar saya, soalnya Mpok Ijah gak kuat” pinta Poppy. “Baiklah, Mbak,” jawab Asep. Lalu Asep masuk kerumah Poppy dan Mpok Ijah menutup pintu dan menguncinya. “Ini, Bang, komputernya,” kata Poppy. Lalu Asep membawa komputer itu kekamar Poppy yang berada di lantai atas rumah itu. Di kamar Poppy yang serba lux itu, komputer diletakkan di sudut kamar. lalu Asep dipersilakan duduk di beranda ruang kamar Poppy itu. Lalu Poppy membawa nampan yang berisi minuman dan makanan kecil. Poppy belum sempat ganti pakaian kerja saat itu. Saat Poppy jongkok, Asep sempat mencuri pandang ke dada Poppy dan terlihat gundukan buah dada yang putih mulus itu menggantung. Lalu Poppy duduk kembali di depan Asep.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Diminum airnya, Bang?” kata Poppy. “Ya, Mbak,” jawab Asep. Sambil duduk Asep melihat sekeliling ruang kamar yang luas dan dingin karena AC itu. Sesekali ia memandang ke depan saat Poppy membaca koran. Rok kerja Poppy terbuka dan tampak olehnya celdam Poppy yang berwarna merah itu. Poppy menyadarinya. Itulah yang ia inginkan. Liur Asep naik turun dan matanya menatap lekat ke paha Poppy. Ia terus memandang pemandangan yang menggairahkan itu. Lalu Poppy berdiri dan berjalan ke arah ranjangnya yang bergaya romawi itu. Di situ ia rebahkan tubuhnya yang padat berisi. Sambil tiduran ia memanggil Asep. “Bang Asep… sini tolong saya, dong…” katanya. Lalu Asep berjalan kearah Poppy. “Ada apa, Mbak?” jawabnya. “Bang, saya minta tolong…. Tolong diurut betis saya ini. Tadi saat saya di becak Abang sempat terantuk bangkunya,” kata Poppy. “Tapi Mbak, saya gak bisa mengurut,” kata Asep. Saat itu tampaklah pemandangan yang amat menarik gairah kelelakian Asep. Lalu sambil tangannya bergoyang, ia raih betis Poppy yang mulus itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Dari jari kaki ia mulai mengurutnya. Sesekali matanya melihat ke paha Poppy, dan kembali ia dipancing gairahnya… Pangkal paha Poppy amat mulus dan di tengahnya tertutup CD merah. Alangkah nikmatnya jika ia dapat merasakan kehangatan itu saat itu. Lalu ia urut satu satu dan Poppy hanya diam menikmati setiap gerakan tangan Asep. Lalu ia berujar. “Agak ke atas, Bang…” katanya. “Baiklah, Mbak” jawab Asep. Lalu ia teruskan gerakan tangannya dan ia singkapkan rok kerja Poppy dan terlihat gundukan vagina Poppy yang bengkak itu. Dengan tidak ada sahutan dari Poppy, Asep lalu meningkatkan gerakannya. Ia merasa Poppy tidak akan marah kepadanya. Lalu tangannya meraih batang paha Poppy dan dengan kasar ia remas paha Poppy. Poppy terbangun dan duduk. Ia pandangi Asep dengan pandangan penuh gairah. Asep pun mengetahui bahwa saat itu Poppy telah mulai bangkit birahinya.</p>
<p style="text-align: justify;">Asep meraih pipi Poppy dan ia ciumi bibir merah Poppy. Dari bibir lalu ia ciumi juga telinga Poppy. Lalu sebelah tangannya bergerak meremas buah dada yang saat itu masih terbungkus blouse kerja. Poppy hanya terpejam. Asep lalu membuka satu per satu kancing baju itu sampai semuanya terlepas dan blouse telah ia buka dan tampaklah dada dan bahu Poppy yang putih mulus. Seumur hidupnya baru kali itulah ia mendapatkan kesempatan memegang kulit tubuh wanita secantik Poppy. Dada Poppy masih terbungkus BH hijau muda ukuran 34b. Kemudian ia ciumi leher jenjang itu, lalu turun ke belahan dada Poppy. Di sana mulutnya diam dan terus melakukan aksinya. Lalu tangan Asep meraih pengait BH itu dan membukanya, sehingga dada Poppy terbuka seluruhnya. Saat itu tinggal rok Poppy saja. Dada yang putih mulus itu ia jilati inci demi inci. Asep tidak ingin kesempatan emas itu hilang. Poppy saat itu hanya merem melek menikmati aksi Asep. Lalu Asep merebahkan tubuh Poppy di ranjang itu dan ia kemudian beralih ke arah bawah pusat Poppy untuk membuka rok kerja Poppy.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah rok kerja itu terbuka, maka yang tampak adalah sebuah celdam merah menutupi goa terlarang milik Poppy. CD itu ia buka, sehingga Poppy benar-benar bugil saat itu. Dengan jarinya, lobang Poppy ia korek. Dimainkannya daging kecil itu. Poppy amat histeris. Asep lalu membuka semua pakaian kumal yang melekat di tubuhnya. Lalu ia baringkan badannya di antara kedua paha Poppy. Penisnya tegak menantang ingin masuk ke dalam lobang Poppy. Lalu ia buka paha Poppy dan terlihat lobang yang siap dimasuki oleh penis Asep. Poppy diam menunggu. Penis Asep amat panjang dan besar. Lalu Asep memasukkan penisnya dan Poppy sempat mengeluh sakit. “Adauuuuu…. Bang… Lambat sedikit, doong…. sakit nih…” katanya. Asep terus memajumundurkan pelirnya selama kurang lebih 30 menit. Ia tidak peduli dengan keluhan Poppy. Sudah lama ia menanti saat itu. Lalu ia muntahkan spermanya sebanyak-banyaknya ke dalam rahim Poppy.</p>
<p style="text-align: justify;">Poppy sadar akan akibat dari sperma Asep, maka ia telah bersiap-siap sebelumnya dengan meminum pil anti hamil. Asep lalu terkulai di samping Poppy. Sedang Poppy merasa puas dan akan mencoba lagi permainan itu dengan Asep. Meskipun Asep tidak berpendidikan namun ia amat suka cita melihat gaya primitif dari Asep. Tidak seperti pacarnya Rusdi yang penuh liku-liku dan irama. Namun ia tetap menomorsatukan Rusdi sebagai kekasihnya. Bagaimanapun Rusdi adalah calon suaminya. Sedang Asep adalah alat pemuas nafsunya yang sewaktu-waktu dapat ia minta. Asep pun tidak macam-macam kepada Poppy. Ia hanya manut kepada segala perintah Poppy.</p>
<p style="text-align: justify;">Sejak saat itu hampir setiap libidonya minta dipuaskan, Poppy selalu meminta Asep yang melakukannya. Jika menggunakan jasa para gigolo, ia khawatir akan penyakit kelamin dan AIDS. Sedang Asep adalah lelaki yang setia kepada istrinya. Ia tak pernah ‘jajan’ kepada wanita lain. Satu-satunya wanita lain yang ditidurinya adalah Poppy seorang. Maka Poppy amat percaya akan kesehatan Asep.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ceritasex.cn/gairah-dalam-kayuhan-tukang-becak/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ngentotin TTM Sebelum Dia Kawin</title>
		<link>http://www.ceritasex.cn/ngentotin-ttm-sebelum-dia-kawin/</link>
		<comments>http://www.ceritasex.cn/ngentotin-ttm-sebelum-dia-kawin/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 19 Jun 2010 07:07:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cerita Sex</dc:creator>
				<category><![CDATA[Daun Muda]]></category>
		<category><![CDATA[Seks Umum]]></category>
		<category><![CDATA[kisah nyata]]></category>
		<category><![CDATA[selingkuh]]></category>
		<category><![CDATA[ngentot]]></category>
		<category><![CDATA[sebelum kawin]]></category>
		<category><![CDATA[teman tapi mesra]]></category>
		<category><![CDATA[ttm]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ceritasex.cn/?p=1427</guid>
		<description><![CDATA[Seperti biasa&#8230; junior minta jatah dulu sebelum TTM kawin dengan bandot tua hehehe&#8230;]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Seperti biasa&#8230; junior minta jatah dulu sebelum TTM kawin dengan bandot tua hehehe&#8230;</p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2010/06/ngentot-ttm-1.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-1428" title="ngentot-ttm-1" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2010/06/ngentot-ttm-1-300x210.jpg" alt="" width="300" height="210" /></a></p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2010/06/ngentot-ttm-2.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-1429" title="ngentot-ttm-2" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2010/06/ngentot-ttm-2-233x300.jpg" alt="" width="233" height="300" /></a></p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2010/06/ngentot-ttm-3.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-1430" title="ngentot-ttm-3" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2010/06/ngentot-ttm-3-199x300.jpg" alt="" width="199" height="300" /></a></p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2010/06/ngentot-ttm-4.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-1431" title="ngentot-ttm-4" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2010/06/ngentot-ttm-4-199x300.jpg" alt="" width="199" height="300" /></a></p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2010/06/ngentot-ttm-5.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-1432" title="ngentot-ttm-5" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2010/06/ngentot-ttm-5-268x300.jpg" alt="" width="268" height="300" /></a></p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2010/06/ngentot-ttm-6.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-1433" title="ngentot-ttm-6" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2010/06/ngentot-ttm-6-300x199.jpg" alt="" width="300" height="199" /></a></p>
<p><span id="more-1427"></span></p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2010/06/ngentot-ttm-7.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-1434" title="ngentot-ttm-7" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2010/06/ngentot-ttm-7-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a></p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2010/06/ngentot-ttm-8.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-1435" title="ngentot-ttm-8" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2010/06/ngentot-ttm-8-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a></p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2010/06/ngentot-ttm-9.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-1436" title="ngentot-ttm-9" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2010/06/ngentot-ttm-9-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a></p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2010/06/ngentot-ttm-10.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-1437" title="ngentot-ttm-10" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2010/06/ngentot-ttm-10-219x300.jpg" alt="" width="219" height="300" /></a></p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2010/06/ngentot-ttm-11.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-1438" title="ngentot-ttm-11" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2010/06/ngentot-ttm-11-300x166.jpg" alt="" width="300" height="166" /></a></p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2010/06/ngentot-ttm-12.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-1439" title="ngentot-ttm-12" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2010/06/ngentot-ttm-12-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a></p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2010/06/ngentot-ttm-14.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-1441" title="ngentot-ttm-14" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2010/06/ngentot-ttm-14-300x213.jpg" alt="" width="300" height="213" /></a></p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2010/06/ngentot-ttm-15.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-1442" title="ngentot-ttm-15" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2010/06/ngentot-ttm-15-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a></p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2010/06/ngentot-ttm-16.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-1443" title="ngentot-ttm-16" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2010/06/ngentot-ttm-16-300x201.jpg" alt="" width="300" height="201" /></a></p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2010/06/ngentot-ttm-17.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-1444" title="ngentot-ttm-17" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2010/06/ngentot-ttm-17-300x211.jpg" alt="" width="300" height="211" /></a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ceritasex.cn/ngentotin-ttm-sebelum-dia-kawin/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Video Seks Cut Tari dan Ariel</title>
		<link>http://www.ceritasex.cn/video-seks-cut-tari-dan-ariel/</link>
		<comments>http://www.ceritasex.cn/video-seks-cut-tari-dan-ariel/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 09 Jun 2010 10:28:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cerita Sex</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bokep Download]]></category>
		<category><![CDATA[Bokep Online]]></category>
		<category><![CDATA[Seks Umum]]></category>
		<category><![CDATA[selingkuh]]></category>
		<category><![CDATA[ah uh]]></category>
		<category><![CDATA[ariel]]></category>
		<category><![CDATA[cut tari]]></category>
		<category><![CDATA[gosip]]></category>
		<category><![CDATA[hot]]></category>
		<category><![CDATA[ngentot]]></category>
		<category><![CDATA[oh yes]]></category>
		<category><![CDATA[seks]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ceritasex.cn/?p=1416</guid>
		<description><![CDATA[Waduh kayaknya Ariel lagi naik daun menjadi &#8220;Ariel PeterPorn&#8221; lagi-lagi ada orang iseng yang bikin gosip. Masabodo mau asli mau nggak yang penting dapat tontonan gratisssssssss&#8230;&#8230;. Hehehehe&#8230;.. selamat menikmati video-nya yach,&#8230;&#8230; klik disini untuk download!]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Waduh kayaknya Ariel lagi naik daun menjadi &#8220;<em><strong>Ariel PeterPorn</strong></em>&#8221; lagi-lagi ada orang iseng yang bikin gosip. Masabodo mau asli mau nggak yang penting dapat tontonan gratisssssssss&#8230;&#8230;.</p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2010/06/video-seks-ariel-cut-tari-1.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-1417" title="video-seks-ariel-cut-tari-1" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2010/06/video-seks-ariel-cut-tari-1-300x245.jpg" alt="" width="300" height="245" /></a></p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2010/06/video-seks-ariel-cut-tari-2.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-1418" title="video-seks-ariel-cut-tari-2" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2010/06/video-seks-ariel-cut-tari-2-300x245.jpg" alt="" width="300" height="245" /></a></p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2010/06/video-seks-ariel-cut-tari-3.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-1419" title="video-seks-ariel-cut-tari-3" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2010/06/video-seks-ariel-cut-tari-3-300x245.jpg" alt="" width="300" height="245" /></a></p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2010/06/video-seks-ariel-cut-tari-4.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-1420" title="video-seks-ariel-cut-tari-4" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2010/06/video-seks-ariel-cut-tari-4-300x245.jpg" alt="" width="300" height="245" /></a></p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2010/06/video-seks-ariel-cut-tari-5.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-1421" title="video-seks-ariel-cut-tari-5" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2010/06/video-seks-ariel-cut-tari-5-300x245.jpg" alt="" width="300" height="245" /></a></p>
<p style="text-align: justify;">Hehehehe&#8230;.. selamat menikmati video-nya yach,&#8230;&#8230; <a href="http://www.ceritasex.cn/member-vip/video-seks-ariel_cut_tari.mp4">klik disini untuk download</a>!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ceritasex.cn/video-seks-cut-tari-dan-ariel/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
<enclosure url="http://www.ceritasex.cn/member-vip/video-seks-ariel_cut_tari.mp4" length="53395733" type="video/mp4" />
		</item>
		<item>
		<title>Secret Lover</title>
		<link>http://www.ceritasex.cn/secret-lover/</link>
		<comments>http://www.ceritasex.cn/secret-lover/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 04 Jun 2010 18:14:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cerita Sex</dc:creator>
				<category><![CDATA[Paruh baya]]></category>
		<category><![CDATA[kisah nyata]]></category>
		<category><![CDATA[selingkuh]]></category>
		<category><![CDATA[istri orang]]></category>
		<category><![CDATA[mantan pacar]]></category>
		<category><![CDATA[ngentot mulu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ceritasex.cn/?p=1412</guid>
		<description><![CDATA[Jakarta, 18 November, 07.18 PM. Termenung saya dalam mini jeep yang saya kendarai, memandangi antrean kendaraan yang hendak memasuki gerbang Puri Agung Sahid malam itu. Sepasang janur kuning berukuran besar tampak menjuntai di kejauhan, menandakan acara apa yang sedang dilangsungkan di dalamnya. Saya memang berniat menuju ke sana, sama seperti kerumunan mobil yang terjebak dalam [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Jakarta, 18 November, 07.18 PM.</p>
<p style="text-align: justify;">Termenung saya dalam mini jeep yang saya kendarai, memandangi antrean kendaraan yang hendak memasuki gerbang Puri Agung Sahid malam itu. Sepasang janur kuning berukuran besar tampak menjuntai di kejauhan, menandakan acara apa yang sedang dilangsungkan di dalamnya. Saya memang berniat menuju ke sana, sama seperti kerumunan mobil yang terjebak dalam antrean ini. Perlahan saya perhatikan mobil-mobil yang berjejal dalam antrean. Mini jeep saya terlihat seperti sebuah rumput liar di taman penuh bunga. Tepat di depan saya terpampang 735iL, lalu beberapa meter darinya tampak S320. Ada pula S70 dengan plat nomor BS di belakangnya, lalu masih banyak lagi mobil-mobil CBU yang bahkan dalam mimpi pun saya belum pernah melihatnya. Semuanya antri ingin memasuki halaman parkir perhelatan tersebut. Tiba-tiba saya tersenyum simpul, mengingat ucapan seorang yang saya tuakan dalam hidup ini. Katanya di Jakarta tidaklah heran menemukan orang kaya, yang mengherankan adalah menemukan orang jujur. Dan sudah jujurkah semua tuan-tuan bermobil mewah ini? atau lebih jauh lagi, sudah jujur pulakah diri saya?</p>
<p style="text-align: justify;">Sebelum terlampau jauh, ijinkanlah saya memperkenalkan diri. Nama saya Ryo, 23 m Jkt (buat chatters yang nggak tau artinya, mending balik pake mesin tik aja kali yah, hehehe&#8230;). Yah saya memang bukan lagi Ryo 23 m Bdg seperti dalam kisah-kisah terdahulu. Kelulusanku dari sebuah fakultas teknik yang dikenal sebagai ekonominya teknik (karena banyak mata kuliah ekonomi dalam kurikulumnya) dari sebuah Universitas ternama di kota itu telah mengantarkanku mendapatkan pekerjaan di Jakarta beberapa waktu yang lalu. But one thing for sure, I&#8217;m not working at Tia&#8217;s office (untuk mengetahui tokoh ini, disarankan untuk membaca Walk Interview). Now I&#8217;m just an employee from one of an automobile industry in Indonesia, based on North Jakarta. Kurang lebih 15 menit yang saya butuhkan sampai akhirnya dapat melangkahkan kaki dengan tenang menuju pintu gerbang perhelatan akbar tersebut, meninggalkan mini jeep saya yang terparkir nun jauh di sana. Setelah memasukkan amplop (yang saya yakin isinya cuma senilai kwaci bagi pasangan tersebut), mengisi daftar hadir dan mengambil souvenir yang dengan ramah diberikan oleh penerima tamu (pretty enough, but not my type), saya menyusuri elevator yang menuju ke lantai II, tempat acara tersebut diselenggarakan. Antrian tamu yang hendak memberikan selamat telah mengekor panjang dengan saya sebagai salah satu korbannya, dengan diiringi gending-gending Jawa yang terus mengalunkan nada-nada lembut daerahku. Di kejauhan tampak Linda, teman semasa SMA dulu, dalam rentangan waktu &#8217;92-&#8217;95 yang lalu, tampak cantik dengan busana daerah Jawa, sibuk menyalami para tamu sambil sesekali menyeka keringat yang menetes di dahinya. Di sampingnya tampak suaminya yang terlihat cukup gagah. Yah&#8230;mereka berdua nampak sangat berbahagia malam ini.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Ryo&#8230;, ma kasih yah mau dateng, kapan nih mau nyusul? kok sendiri?&#8221;, berondong Linda saat dengan lembut kusalami mereka di pelaminan. Saya hanya mampu membalasnya dengan tersenyum. Hhmm&#8230;.menikah? bahkan memikirkannya pun tidak. Dalam dua atau tiga bulan lagi usiaku akan menginjak 24, ah&#8230;masih ada waktu cukup untuk bermain-main, melihat semua silau dunia sebelum pada akhirnya saya akan memutuskan untuk menetap dalam pelukan kedamaian seorang wanita. Kok sendiri? Pertanyaan itu yang masih menggayut di telingaku, saat satu per satu anak tangga pelaminan kuturuni. Seakan-akan dipurukkannya diriku dalam jurang kesunyian. Even an advounturer feels so lonely sometimes, seperti saat ini di mana diriku merasa sangat sendiri di tengah keramaian para tamu undangan. Hhh&#8230;sesak juga rasanya jika sisi sentimentil ini sedang terusik.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Ryo&#8230;..ini kamu? Apa kabar?&#8221;, tiba-tiba sebuah suara wanita menghentakkan lamunanku, membangkitkan kembali diriku dari kesunyian yang baru saja kualami. Sejenak saya palingkan muka mencari sumber suara tersebut. Rasanya pernah sangat mengenalnya. Terus kutelusuri wajah para tamu sampai akhirnya kutertumbuk pada sesosok wajah yang cantik, lembut and of course, I&#8217;ll never forget. Revy, sahabatku di SMA dulu, tampak sangat anggun dengan kebaya modern bernuansa silver transparan yang dikenakannya. Revy&#8230; is that really you?</p>
<p style="text-align: justify;">Tiba-tiba ingatanku terlempar pada beberapa tahun silam. Revy&#8230;. sebuah nama yang masih saja membekas hangat dalam setiap jejak ingatanku. Masih segar dalam ingatan bagaimana lekatnya kami berkawan semasa menempuh pendidikan di tahun terakhir kami pada sebuah SMA favorit di bilangan Slipi Kemanggisan dulu. Tidak ada seorang pun yang percaya bahwa kita tidak terlibat cinta. You&#8217;re both too close to be friends, there must be something special between you, dan masih banyak lagi yang nyata terngiang tuduhan dari teman-temanku dulu akan hubunganku dengan seorang Revy. Jujur di dalam hati pun saya pernah memimpikan hal yang sama terjadi. Yah&#8230;saya memang hanya manusia biasa, yang terkadang sulit mengontrol perasaan dan harapan kala mana berdekatan dengan sesosok lawan jenis yang sangat kita kenal dan terasa sangat mengenal kita. Tapi pada akhirnya saya memilih untuk mendiamkan perasaan itu lewat, sambil membunuhi benih-benih rasa yang terlanjur tumbuh. Saya tidak akan pernah bisa kehilangannya sehingga jika saya tidak dapat memilikinya lebih dari sekedar teman, biarlah saya memilikinya sebagai seorang sahabat. Masih banyak lagi alasan mengapa saya memilih untuk tidak mengungkapkan perasaan saya terhadapnya. In fact, we live in different world. Revy adalah anak dari sebuah keluarga yang dapat di bilang sebagai konglomerat yang berkedudukan di Surabaya. Memang Revy tidak pernah mempermasalahkan hal tersebut, bahkan dia akan marah besar jika ada yang menyinggung permasalahan tersebut. Namun saya juga harus tahu diri, biar bagaimanapun kesenjangan kelas sosial mau tidak mau akan menjadi kendala bagi berjalannya suatu hubungan, apalagi dalam usia remaja seperti kita. Di lain pihak, seusai bangku SMA, ia merencanakan untuk menuntut ilmu di Wina, Austria. Interior Design yang menjadi impiannya selama ini akan ditimbanya di negeri itu. And I don&#8217;t belive in long distance relationship, not a second&#8230;!! Dan memang kabar terakhir darinya adalah ketika kumelepasnya di boarding gate Bandara Soekarno-Hatta di suatu malam, lima tahun yang lewat. Kami berpelukan erat, sepertinya tidak akan pernah bertemu lagi. Wajahnya perlahan menghilang di kerumunan penumpang lain yang siap berangkat. Dan wajah itulah yang sekarang hadir lagi di hadapanku&#8230;..<br />
<span id="more-1412"></span><br />
&#8220;Ryo&#8230;, kok malah bengong? Masih inget saya nggak?&#8221;, sapa Revy ramai menyapaku. Ah&#8230; tentu saja saya ingat, peri kecilku. Tentu saja saya ingat kamu&#8230;.<br />
&#8220;Revy&#8230;?&#8221;, balasku tertegun, tidak mempercayai kehadirannya di hadapanku kini.<br />
&#8220;Of course&#8230;, who else?&#8221;, seru Revy sambil meninju bahuku, &#8220;Siapa lagi temanmu yang secantik ini, hah?&#8221;, katanya lagi. Huh&#8230;pede sekali, tapi memang harus kuakui&#8230;.<br />
&#8220;Apa kabar Rev?&#8221;, balasku sambil menyalami hangat tangannya. &#8220;Lho kok sendiri, cowok kamu mana?&#8221;, tanyaku cepat saat menyadari lingkaran berwarna keemasan melingkar di jari manis kirinya. Ingin rasanya memeluknya, kalau saja&#8230;&#8230;&#8230;<br />
&#8220;Mas Heru lagi nggak ada di Indo. Eh&#8230;tau dari mana kamu saya punya cowok?&#8221;, sahutnya tersadar kalau identitasnya terbongkar.<br />
&#8220;Ah..wanita mana lagi yang mengenakan cincin emas di jari kirinya, kalau bukan pemberian seorang pria spesial&#8221;, todongku sambil cuek.<br />
&#8220;Oh iya..yah&#8230;., eh kamu kok juga sendiri, cewek kamu mana?&#8221;, balas Revy nggak mau kalah.<br />
&#8220;Saya memang masih sendiri kok, masih setia menantimu di ups&#8230;.&#8221;, saya tidak mampu menyelesaikan kalimat, keburu sebuah cubitan mendarat di pinggangku.<br />
&#8220;Hhhh&#8230;.gemes&#8230;masih aja kayak dulu, ngegombalnya nggak ilangilang&#8221;, kata Revy sambil mengencangkan cubitannya di pinggangku. Tinggalah saya meringis-ringis menahan sakit, soalnya nggak mungkin teriak, banyak tamu sih&#8230;</p>
<p style="text-align: justify;">Selanjutnya dapat ditebak, kami terlibat obrolan yang hangat dan akrab. Lima tahun tanpa kabar, dan kini tanpa sengaja bertemu di sebuah pesta pernikahan. Kabar si Anu, kabar si Itu, atau si Ini teman-teman kita dulu silih berganti mengisi topik pembicaraan. Seems just like yesterday&#8230;. Revy kini bekerja di sebuah konsultan interior design di kawasan Rasuna Said Kuningan, Jakarta. Tak jauh dari tempatnya tinggal, di sebuah komplek apartemen yang terletak di belakang sebuah Hypermarket made in France, di daerah yang sama. Katanya menimba ilmu, pengalaman dan sense terlebih dulu, untuk nantinya membuka usaha serupa dengan modal sendiri, itu jawabannya yang diberikan kepadaku saat ku tanya mengapa dia memilih untuk jadi &#8220;ekor naga&#8221;, daripada menjadi &#8220;kepala ayam&#8221; (buat mas dan mbak yang sudah terjun ke dunia kerja, pasti tahu istilah ini). Mas Harry, kakaknya semata wayang, kini sudah menikah dan dikaruniai seorang putra, menempati rumah mereka dulu di kawasan Puri Indah. Dan sebagai gantinya, Revy dibelikan sebuah unit apartemen yang ditempatinya hingga kini. Dan mas Heru, lelaki yang berhasil melingkarkan cincin itu, adalah tunangannya sejak setengah tahun yang lalu. Ia kini sedang menyelesaikan kuliahnya di Boston, USA. Mereka telah 3 tahun berkenalan, walaupun baru berpacaran setahun yang lalu. Medio tahun depan mereka merencanakan untuk menikah, segera setelah Heru menyelesaikan studinya.<br />
Kami terus berbincang akrab, tanpa sadar jumlah tamu yang makin berkurang karena hari beranjak malam. Dengan berat hati, akhirnya kami berpisah. Sempat kuantarkan Revy menuju parkir mobilnya, sebelum akhirnya kita benar-benar berpisah.</p>
<p style="text-align: justify;">Jakarta, 20 November, 12.06 PM</p>
<p style="text-align: justify;">Saya sedang menikmati santap siang di kantor, berkumpul dengan rekan-rekan kerja saat tiba-tiba teleponku berbunyi, dengan nama Revy terpampang di LCD ku. Segera aku menyingkir dari meja sambil menjawab telepon.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Halo&#8230;.Ryo?&#8221;, terdengar suara wanita di ujung sana.<br />
&#8220;Yup&#8230; Apaan Rev?&#8221;, balasku segera.<br />
&#8220;Eh Ryo&#8230;sibuk nggak ntar sore?&#8221;, tanyanya kembali.<br />
&#8220;Ntar sore? Hhmm&#8230;enggak tuh kayaknya&#8221;, jawabku, &#8220;Assiikkk&#8230; mau nraktir yah?&#8221;, sambungku dengan pedenya.<br />
&#8220;Huh&#8230;ge-er&#8230;&#8221;, sahutnya cepat, &#8220;Revy cuman mau ngajakin nomat, abis lagi suntuk nih Ryo&#8221;. Nomat adalah singkatan dari nonton hemat, dimana setiap hari Senin kita mendapat potongan harga untuk membeli tiket (ah..semua juga udah tahu kok).<br />
&#8220;Boleh tapi di mana?&#8221;, tanyaku lagi.<br />
&#8220;Biasa&#8230;di tempat bersejarah kita dulu, masak sih kamu udah nggak ingat masa-masa indah kita berdua&#8230;, hahahaha&#8230;.&#8221;, sambungnya diiringi gelak tawa candanya, &#8220;Revy tunggu di tempat biasanya, 1/2 6 teng yah&#8230;&#8221;. Kami masih sempat berbincang-bincang sebentar, sebelum ia menutup teleponnya. Tempat bersejarah? Ah&#8230; lamunan saya kembali menyusuri jejak waktu yang telah berlalu sekian lamanya. Pondok Indah Mall adalah tempat favorit kami untuk jalan-jalan semasa sekolah dulu. Revy bilang barangnya bagus-bagus, sedangkan menurut saya yang terbaik dari tempat itu adalah pengunjung wanitanya yang cantik-cantik, hahahaha&#8230;.. Entah sudah berapa kali kami jalan bersama ke tempat itu. Nonton, main game (ding-dong tepatnya), makan, atau sekedar ngeceng. Beberapa kali pula kami tertangkap dating oleh teman-teman yang lain, sehingga makin meyakinkan mereka kalau kami tengah berpacaran. Dating? ah&#8230; mungkin itu hanya harapan saya yang kelewat batas menganggap even-even itu sebagai dating.</p>
<p style="text-align: justify;">Waktu menunjukkan jam 17.24 WIB ketika saya melangkahkan kaki memasuki area pertokoan tersebut. &#8220;Tempat biasa&#8221; yang Revy maksud tentunya masih seperti yang dulu, tempat kita sering nongkrong bareng. Outlet St. Michael di lantai dasar, bersebelahan dengan Baskin 31 Ice Cream pasti yang dimaksudnya. Dulu kita sering nongkrong makan ice cream sambil memandangi produk-produk St. Michael dari luar kaca. Hahaha&#8230;.terasa betapa masih kecilnya kami saat itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Seulas senyum telah menyambutku, sesampainya ku di sana. Revy telah tiba terlebih dulu, dan masih seperti dulu, tengah asyik menikmati sebuah cup ice cream rasa strawberry sambil bersender di dinding outlet pakaian tersebut. Setelah berbincang-bincang sambil menantinya menghabiskan sisa ice cream-nya, kami pun naik ke lantai teratas untuk melihat film apa yang sedang diputar. Pangsit goreng, mie bakso dan sebotol teh dingin. Masih saja seperti dulu makanan fave-nya kalau sedang main ke PIM. Restaurant spesialis mie yang terletak tepat di seberang sineplex masih saja kena di lidahnya, pun setelah bertahun-tahun di negeri orang. Kami makan agak tergesa, karena Charlie&#8217;s Angel akan ditayangkan tidak lama lagi.</p>
<p style="text-align: justify;">Waktu sudah malam, ketika Cameron Diaz, Drew Barrymore dan Lucy Liu menyelesaikan aksinya di film dan memaksa kita untuk pulang. Seperti kemarin, kuantarkan kembali Revy menuju mobilnya. Kita menjadi semakin akrab, seperti seorang anak kecil yang tidak mau lepas dari mainan favoritnya yang telah lama menghilang. Yah&#8230;..Revy memang telah lama menghilang dari hidupku, dan entah kini apa maksud-Nya mempertemukannya kembali denganku.</p>
<p style="text-align: justify;">Sesampainya di rumah, kubongkar kembali file-file lamaku, berharap mendapatkan secuil kenangan tentang Revy di situ. Dan saya berhasil mendapatkannya&#8230;..!! Dua lembar potongan karcis film &#8220;Speed&#8221; tertanda medio 94 yang lalu masih ada dalam salah satu file-file lamaku. Tersenyum ku seorang diri mengingat betapa lucu mimik wajahnya mengagumi sosok Keanu Reeves yang menjadi tokoh dalam film tersebut, 6 tahun yang lampau sambil terus mendesakku untuk mengikuti potongan rambut Keanu yang memang tengah mewabah saat itu. Hahaha&#8230;makin kayak tikus kecebur got donk kalau saya nekat memapras rambut saya meniru tokoh tersebut. Di lain pihak, entah mengapa saya suka menyimpan benda-benda yang mempunyai memori, mungkin saya adalah orang yang setia pada kenangan. Dan malam itu saya tertidur dengan senyum. Senyum tentang indahnya sebuah kenangan&#8230;&#8230;</p>
<p style="text-align: justify;">Jakarta, 1 Desember 2000, 03.19 PM</p>
<p style="text-align: justify;">Lapar dan haus memang nyaris tidak saya rasakan, namun perasaan yang jenuh dan mengantuk yang tengah melanda diriku dengan hebat, sambil terus mencoba fokus memandangi General Managerku yang terus mengomel sepanjang memimpin rapat siang itu. Busyet&#8230;bosku ini pakai baterai apa yah, kok ngomelnya tahan banget dari tadi, pikirku sambil setengah mati menahan mata agar tidak terpejam. Memang sih dia tidak mengomeliku, namun rekan-rekan yang lain yang menjadi sasaran. Tapi tetap saja bikin bete kalau dengar orang yang ngomel melulu. Ini salah, itu salah. Ini kurang, itu kurang. Iseng kulirik ke luar jendela. Hhmmm&#8230;ruangan ini di lantai 4, kayaknya lumayan juga kalo GM-ku ini dilempar ke luar jendela, hahahaha&#8230;&#8230;..Tet&#8230;..bunyi teleponku sekali, cukup mengejutkanku. Saya rupanya lupa untuk men-set silent mode sebelum meeting tadi dimulai. Untung cuma SMS, coba kalau phone call yang masuk, bisa bikin ribut seruangan meeting donk. Sejenak kulirik SMS yang masuk. Ah&#8230;dari Revy yang mengajakku keluar mencari makan bersama sore nanti. Lumayan lah, malam libur seperti ini ada juga yang bisa dikerjakan. Berarti selesai meeting, saya harus menelponnya kembali untuk memastikan jadwal dating kita sore ini. Dating? hah? mimpi kamu&#8230;!!</p>
<p style="text-align: justify;">Sejak kita bertemu lagi, memang sering kami berjalan-jalan seusai jam kantor. Hampir 2 hari sekali kami jalan, pun hanya untuk dinner dan mengobrol serta bercanda. Rasanya tidak pernah habis bahan obrolan kami. Entah mengapa kami makin terasa dekat satu dengan lainnya. Revy pernah bilang kalau jalan dengan saya banyak ketawanya. Dia bisa bebas bercanda, ketawa, bahkan sampai ngakak. Katanya lagi, komentar-komentar saya sering mengejutkannya, dan membuatnya tidak bisa berhenti untuk tertawa. Rasanya ramai, seperti waktu masih muda dulu, ujarnya lagi. Dia bilang belum ada seorangpun kecuali saya yang mampu membuatnya dapat mengekspresikan apapun rasa di dalam hatinya dengan bebas, tidak juga Heru, tunangannya. Katanya berjalan dengan tunangannya itu adalah jalan-jalan serius, dinner di tempat-tempat yang serius (maksudnya formal kali yah?), membicarakan hal-hal yang serius. Datar tanpa kejutan, tanpa gejolak. But I love him anyway, sambungnya lagi.</p>
<p style="text-align: justify;">Tidak terasa semakin hari kita semakin dekat. Semakin sering kita jalan, ada sesuatu yang mulai mengikat perhatianku kepadanya. Semakin ku mengenal kembali dirinya, seperti saat-saat dulu. Ah&#8230;.kalau saja cincin itu belum ada&#8230;..<br />
Waktu menunjukkan jam 17.36 WIB saat kulangkahkan kaki memasuki lobby gedung kantor Revy, sebuah gedung dengan bentuk menyerupai kipas raksasa di atapnya. Saya memang menjemputnya kali ini, karena mobilnya telah expired surat-suratnya dan harus diuruskan ke pihak yang berwenang untuk perpanjangannya. It takes one or two days, katanya. Telah kutelepon dari lahan parkir tadi, mengatakan bahwa saya akan menunggunya di lobby. Yup&#8230;, itu dia. Revy telah menunggu di lobby. Setelan celana panjang hitam dengan blazer senada menutupi kausnya yang berwarna biru muda sangat chic dikenakannya.</p>
<p style="text-align: justify;">Kemacetan Jakarta sore hari telah memaksa kami untuk membongkar kotak kue Revy lebih dulu di jalan ketika jam di mobilku menunjukkan pukul 18.02 WIB. Sebuah restaurant Korean Food yang terletak di BBD Tower (kini Bank Mandiri) di kawasan Diponegoro yang menjadi referensinya kali ini. Katanya dari situ kita bisa makan sambil menikmati gemerlapnya lampu Jakarta di bawah sana dari puncak gedung tersebut. Mendengarnya mengingatkanku pada kafe-kafe di bilangan bukit dago pakar Bandung, tempat kita bisa menikmati city view Bandung sepuas mungkin sambil menghirup dinginnya udara pegunungan, sebuah pemandangan yang selalu menjadi fave saya sampai kapan pun. Andaikan Revy sempat pula merasakannya&#8230;. Kali ini Revy memang benar. Indah sekali menyaksikan gemerlapnya Jakarta dari atas sini. Lampu-lampu dari gedung maupun penerangan, berwarna-warni menghiasi pemandangan kota di malam hari. Di bawah sana tampak permainan ornamen lampu dari sebuah restaurant steak terkenal berpendar-pendar indah. Bagus memang, tapi tetap ada sisi romantisnya yang hilang. Tidaklah sesakral city view Bandung, di mana kita dibuat menyatu dengan alam, merasakan sapaan lembut angin yang menghembus wajah kita, tanpa batas dinding kaca dan pendingin ruangan seperti sekarang ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Namun dengan Revy di hadapanku, apalah yang menjadi kurang bagus? Memandang senyumnya saja seakan mampu memadamkan setiap lampu kota yang ada di bawah sana. Hiperbolik memang, tapi bukankah begitu rasanya fall in love? Hah? Jatuh cinta? mimpi kamu&#8230;!! &#8220;Lucu yah Ryo, kalau ingat dulu kita sering dikira pacaran&#8221;, katanya di tengah obrolan. &#8220;Iya.. dan kalau mereka melihat lagi apa yang kita lakukan sekarang, pasti semua kaget menyangka betapa awetnya kita pacaran, hahahaha&#8230;&#8221;, sahutku. Dan kami pun tertawa bersama. Seringkali kami berjalan bersama, tidak satu kata cinta pun terucap, pun setelah bilangan tahun telah berlalu. And now what a perfect situation&#8230;. Delicious food, good place, romantic sight, beautiful face, fire in the heart, unless&#8230;&#8230; unless one thing&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;, ring in her hand. Huh&#8230;&#8230; Masih sempat kulirik jam yang menempel di dinding ruang tamu Revy menunjukkan pukul 22.42 WIB saat kami memasuki unit apartemennya. Sebuah unit apartemen kecil yang asri, dengan 2 kamar tidur dan teras dengan pemandangan menghampar menuju Jl. Casablanca, jelas terlihat dari lantai 7 ini. Revy meninggalkanku sendiri di ruang tamu, saat ia meminta ijin untuk sebentar ke kamar kecil. Hhmm.. penataan ruangan yang bergaya minimalis namun dengan paduan warna yang terang dan berani mewarnai desain interor ruang tersebut. Iseng kusibakkan tumpukan CD yang berserakkan di karpet. Chaka Khan, Toto, Whitney Houston dan ah&#8230;Syaharani&#8230;, sama seperti kasetnya yang selalu kudengarkan di mobil saat pulang-pergi kerja. Perlahan kumainkan dalam stereo set, selembut suara Syaharani melantunkan &#8220;Unforgetable&#8221; beberapa saat kemudian.</p>
<p style="text-align: justify;">Kuhempaskan tubuhku di atas sofa, saat tak lama kemudian Revy bergabung denganku, membawa dua kaleng coke dingin untuk kembali mengobrol dan bercanda, cekikikan dan tertawa lepas. God damned, I hate those ring&#8230;&#8230; Malam semakin larut, ketika kuputuskan untuk berpamitan dan pulang. Why does it feel so hard everytime I say goodbye, seems like I won&#8217;t never see her again &#8230;.? Sepatu kiriku baru saja kukenakan, saat tiba-tiba dari belakangku terdengar suara Revy bertanya, &#8220;Ryo, kita sudah lama berteman, and I think I&#8217;ve already knew all about you, except one thing&#8221;, Revy menahan nafasnya sejenak untuk kemudian melanjutkan, &#8220;&#8230;and may I know about it now? and please answer the truth&#8221;.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Sure whatever you want to know, just ask me&#8221;, tanyaku terheran. Sebenarnya mau nanya apa sih nih anak?<br />
&#8220;Ryo, have you ever had some different feelings about me?&#8221;, tanyanya tergugup.<br />
&#8220;What do you mean with different feelings?&#8221;, balasku tak kalah kagetnya.<br />
&#8220;Come on Ryo, you know what I mean. Don&#8217;t make it harder for me, please&#8230;.&#8221;, kata Revy dengan wajah memelas.<br />
&#8220;Why should you know?&#8221;, tanyaku lagi untuk menghindar.<br />
&#8220;I just have to know, Ryo. Please answer me&#8230;&#8221;, balasnya sedikit memaksa. Shit&#8230;.!! What should I do? Tell her everything I&#8217;ve been feeling about her? or just lying and tell her everything is right? Perang batin berkecamuk seketika, membuatku ragu untuk memilih apa yang akan kukatakan kepadanya. Waktu merambat perlahan, sampai akhirnya saya menyerah dan memutuskan untuk menceritakan yang sebenarnya. Pikirku toh dia sudah menemukan cinta sejatinya dan sebentar lagi akan menikah. Pengakuanku mungkin hanyalah sebuah intermezzo dalam jejak-jejak hidupnya. Dan lagipula kita sudah sama-sama dewasa, pasti dapat menerima keadaan seberapa buruk pun.<br />
&#8220;Have I fallen with you, is that what you wanna know, Rev?&#8221;, tanyaku pada akhirnya. Revy hanya terdiam dan tertunduk sembari memainkan ujung blazernya dengan kedua tangannya. &#8220;Yes Rev, I have fallen with you. In fact I have been falling in love with you since we&#8217;re in school&#8221;, jawabku mencoba untuk tegas. &#8220;Apakah saya pernah jatuh cinta sama kamu, Rev? Jawabnya pernah, bahkan selalu&#8230;. Saya selalu mencintaimu&#8221;, lanjutku tidak kuat lagi menahan endapan perasaanku padanya. Sunyi keadaan setelah itu. Menit demi menit berlalu tanpa kutahu apa yang harus kulakukan. Marahkah dia padaku? Jika tidak, mengapa dia terdiam begitu lama? Lalu saya harus bagaimana? Meninggalkannya begitu saja, atau harus tetap tinggal untuk melihat reaksinya? Sekonyong-konyong Revy menubruk tubuhku, memelukku erat sambil menangis. Saya hanya mampu balas memeluknya sambil mengusap-usap rambut sebahunya yang terurai di pundaknya. What&#8217;s wrong honey? &#8220;Kamu jahhaaattt&#8230;&#8230;!!&#8221;, serunya tiba-tiba, masih sambil menangis dan memukuli dadaku dengan kedua tangannya.<br />
&#8220;Kenapa kamu baru mengatakannya sekarang? Tahukah kamu Ryo, betapa setianya saya menyimpan cinta untukmu selama ini, sampai akhirnya saya memutuskan untuk memberikannya kepada orang lain?&#8221;, serunya lagi sambil sesunggukkan.</p>
<p style="text-align: justify;">Tiba-tiba dunia terasa berputar hebat mana kala saya mendengar pengakuannya. Revy selama ini mencintaiku? Oh My God&#8230;.. I&#8217;ve found someone who understand me best, and I just let it slip away? Sesak rasanya nafasku demi mendengar semuanya. Those ring&#8230;.those ring takes my happiness away&#8230; Menit demi menit berlalu kudengarkan seluruh cerita Revy, mendengarkan bagaimana dia terus mengharapkan perkataan cinta dari bibirku, bahkan sampai saat dia menuntut ilmu ke luar negeri dan kami tidak pernah berkabar berita lagi. Sampai akhirnya dia memutuskan untuk menerima cinta Heru dan belajar untuk mencintainya, karena cinta Heru adalah kenyataan baginya, sedangkan cinta saya hanyalah sebuah mimpi. Saya tak tahu harus berkata apa. Yang saya lakukan hanya berusaha meredakan tangis dan menyekakan air matanya dengan sapu tanganku. Beberapa saat hingga akhirnya keadaan Revy cukup tenang, dan kami masih terus saja berpelukan&#8230; I think of you every morning, dream of you every night Darling I&#8217;ll never be lonely, whenever you&#8217;re inside I love you, for sentimental reasons&#8230;&#8230;</p>
<p style="text-align: justify;">Alunan suara Syaharani lembut melantunkan sebuah tembang lawas &#8220;For Sentimental Reasons&#8221;, makin menghanyutkan kami berdua dalam sebuah dekapan erat yang menyejukkan. Tanpa sadar tubuh kami bergerak perlahan mengikuti alunan lagu. Ya&#8230; tanpa sadar kami berdansa, diiringi lembut musik yang keluar dari stereo set di buffet ruang tamu. Dari jendela masih terlihat Jakarta yang terang, seakan sengaja menyisakan kehangatannya untuk kami berdua. Kami terus tenggelam dalam suatu dansa yang lembut dan romantis, bahkan setelah musik berhenti dimainkan sekalipun. Kami hanya bergoyang lembut, mengikuti kata hati semata. Perlahan kukecup lembut keningnya. Terasa bagaimana ia mempererat dekapannya. Kudongakkan perlahan dagunya, masih sempat terlihat olehku bagaimana Revy memejamkan kedua matanya, sebelum akhirnya kucium bibirnya penuh perasaan&#8230;.. Kami berdekapan dan berciuman erat, larut dalam galau emosi dan kerinduan yang sekian lama tak terkatakan, bahkan dalam bilangan tahun sekalipun. Segala macam rasa yang pernah kami rasakan, seakan kami tumpahkan pada sebuah ciuman yang dalam. Lembut kuangkat tubuhnya hingga kini ku menggendongnya setelah beberapa saat kita bercumbu, sambil terus berciuman. Perlahan kuberjalan ke sofa dengan tetap merengkuhnya dalam dekapan.</p>
<p style="text-align: justify;">Tiba-tiba kurasakan ruangan menjadi gelap, tatkala tangan Revy berhasil menjangkau saklar lampu yang terletak di dekat pintu utama. Sunyi senyap gelap, hanya desahan nafas kami berdua yang sedang dihanyutkan cinta. Kini kami terduduk di sofa, dengan Revy dalam pangkuanku. Kami masih terus saja berciuman, semakin dalam. Perlahan kutanggalkan dua buah kancing blazernya, untuk kemudian jatuh terjuntai ke karpet. Revy pun berusaha melepaskan satu per satu kancing kemejaku, hingga pada akhirnya ia berhasil mendapatkan kemejaku dalam genggamannya, untuk kemudian dijatuhkannya pula ke karpet. Kami terus bergumul dalam paduan kerinduan yang tak terbilang. Tak kuingat jelas bagaimana masing-masing kami kehilangan kain penutup tubuh satu per satu, sampai akhirnya kami hanya tinggal mengenakan kain penutup tubuh yang terakhir. Kucumbui dada Revy penuh kehangatan, ketika kurasakan lembut tangannya menyusup ke balik celana dalamku, menurunkannya dan menggenggam erat kejantananku dengan telapak tangannya. Ugh&#8230;sungguh suatu sensasi yang tak terkatakan. Kuturuni centi demi centi tubuh Revy dengan menyisakan bekas- bekas pagutan berwarna keunguan pada sekujur tubuhnya. Nafas Revy terus memburu, dan makin memburu ketika perlahan kusingkapkan celana dalam bernuansa biru muda, sedikit-demi sedikit menyusuri kedua kakinya yang jenjang hingga akhirnya terlepas seluruhnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Kini keadaan kami tak ubahnya tatkala pertama kali kami dilahirkan, tanpa selembar benang pun menutupi tubuh kami berdua. Perlahan kubuka paha Revy dan mengarahkan wajahku ke sana. Bagai tersengat, nafas Revy tertahan ketika ia mulai merasakan sesuatu yang lembut membelai organ kewanitaannya. Lembut sekali kumainkan lidahku di liang kewanitaannya, memberinya suatu sensasi oral yang tak terkatakan. &#8220;Ryo&#8230;.uuhhh&#8230;.hhhmmm&#8230;&#8221;, terdengar lembut suara Revy berbisik, di antara desah nafasnya yang memburu. Terus kuperlakukan dia dengan penuh kasih sayang. Jilatan lembut diselingi gigitan kecil dan hisapan perlahan terus mendera organ kewanitaannya, membawanya makin tinggi terbuai dalam gulungan hasrat yang perlahan-lahan merambati seluruh aliran darahnya. Menit demi menit berlalu hingga&#8230;.. &#8220;Ryooo&#8230;aahhhh&#8230;&#8221;, serunya tertahan seraya mencengkeram rambutku. Puncak itu telah datang menderanya, menenggelamkannya pada jurang kenikmatan hingga dasarnya. Saya hanya mampu memandanginya saja. Bagaimana indahnya ekspresi Revy terbuai alunan orgasme yang baru saja hadir menyapanya mampu mengalahkan segala keindahan yang pernah saya saksikan sebelumnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Kubiarkan Revy mengejang detik demi detik puncak yang baru saja dilaluinya untuk kemudian mulai dapat mengatur nafasnya kembali. Kurasakan tangan Revy lembut menepis tanganku yang telah menggenggam latex pengaman. &#8220;Don&#8217;t use it, I wanna feel you inside me completely&#8230;.&#8221;, bisiknya lembut di telingaku seraya menggenggam kejantananku dan menuntunnya ke dalam liang kewanitaannya. Hangat dan mendebarkan rasanya tatkala ujung kejantananku menempel pada bibir vaginanya. Terasa sentuhan lembut tangan Revy pada pinggulku dan mendorongnya ke depan untuk menghujamkan kejantananku dalam tubuhnya. Terasa suatu sensasi yang sangat menyesakkan dan mendebarkan, ketika kunikmati mili demi mili kejantananku menembus organ kewanitaan Revy. Ekspresi wajahnya yang terlihat sangat menikmati penetrasi tersebut makin membuatku serasa terbang dibuai kenikmatan. Hingga pada akhirnya terasa kejantananku terbenam utuh dalam tubuhnya, seutuh seluruh perasaan cintaku padanya yang selama ini kusimpan. Sayu matanya memandangku, kukecup lembut keningnya sebelum akhirnya kami tenggelam ke dalam suatu persetubuhan yang sangat indah, dimana galau hati dan rasa cinta bercampur aduk menjadi satu di dalamnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Kini Revy terbaring di sofa dan diriku dengan posisi setengah terduduk terus memompa kejantananku keluar masuk tubuhnya. Kaki kirinya terkulai di pundakku, saat kaki kanannya terjulur ke karpet. Kami terus bersetubuh dengan sangat intim, seakan tiada lagi hari esok bagi kami. &#8220;Ryooo&#8230;&#8230;hhhmmm&#8230;aahh..&#8221;, jerit Revy lirih saat sesekali dirasakannya kejantananku mendesak hebat liang kewanitaannya. Waktu terus berpacu, seiring berpacunya hasrat kami menyatukan seluruh rasa dan raga kami berdua. Makin kurekatkan persetubuhan ini saat kurasakan Revy mulai mendekati puncak keduanya. Dan&#8230; &#8220;Ryoooo&#8230;..aarrggghhh..hhhmmppff.&#8221;, suara Revy sungguh mendebarkan terdengar. Puncak kedua telah datang merenggutnya kembali dan menenggelamkannya dalam gulungan nafsu dan kenikmatan yang seperti tiada berujung. Belum selesai Revy melepaskan seluruh ekspresinya, dengan cepat kucium bibirnya dalam. Terdengar lirih jeritan-jeritan kecil sisa orgasmenya saat kami berciuman. Dengan tiba-tiba kutarik tubuh Revy dan mendudukkannya dalam pangkuanku. Kini wajah kami berhadapan dekat, dengan Revy dalam pangkuan. Kembali kutikamkan kejantananku dalam kewanitaannya, seraya meremas buah pinggulnya dan menaik-turunkan tubuhnya di atas tubuhku. Kami bersetubuh sambil berciuman teramat dalam.</p>
<p style="text-align: justify;">Tubuh Revy bergoyang-goyang mengikuti setiap hentakan persetubuhan kami. Sesekali disibakkan rambutnya yang mulai basah terurai. Ada suatu momen yang sangat indah setelah sekian waktu berlalu, tatkala Revy menyibakkan rambutnya dan tetap meletakkan kedua tangannya di atas kepalanya, seraya terus bergoyang mengikuti alunan persetubuhan. Bagai sebuah tarian kehidupan yang sangat indah dan sakral, mengikuti setiap gerak tubuhnya menyetubuhiku.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Rev, I love you&#8221;, bisikku lembut di telinganya, diantara deraan-deraan lembut persetubuhan kami.<br />
&#8220;Me too&#8221;, hanya itu yang mampu diucapkannya sebelum terhentak kembali merasakan sesaknya kejantananku memenuhi organ kewanitaannya. Terasa pula olehku bagaimana vaginanya makin erat menghimpit organ kejantananku&#8230;..<br />
&#8220;Ryoo&#8230;.eennngghhhh&#8230;..aahhhhh..&#8221;, teriaknya tertahan ketika orgasme itu kembali menggulungnya, menyeretnya ke dalam lembah kenikmatan hingga ke dasarnya.<br />
Kini ia merebahkan kepalanya di pundakku. &#8220;Revy sayang kamu&#8230;&#8221;, ucapnya lirih di telingaku. Saya hanya mampu mengusap lembut rambutnya. Ah&#8230; Revy, andai kamu dapat tahu betapa aku pun merasakan hal yang sama sepertimu.<br />
Kugendong Revy menuju kamar tidurnya. Dia memelukku erat seakan tidak akan pernah ia lepaskan. Masih sempat kupadamkan lampu kamar tidur saat kami mulai memasukinya. Kami terus berciuman, semakin dalam. Kuturunkan Revy dan membalikkan tubuhnya menghadap ke jendela. Sempat kudengar jeritan lirih terkejutnya ketika ku memposisikan dirinya seperti itu. Kini Revy setengah berdiri membelakangiku, dengan kedua tangannya bertumpu pada meja kerjanya yang menghadap ke jendela kamar tidurnya yang masih terbuka. Perlahan kusisipkan kembali kejantananku dalam liang kewanitaannya.<br />
&#8220;Ugh&#8230;.&#8221;, terdengar lirih bisik Revy saat ia mulai merasakan tikaman kejantananku menembusnya dari belakang.</p>
<p style="text-align: justify;">Kembali kami bersetubuh, sangat erat. Kuterus menikamkan kejantananku ke dalam organ kewanitaannya dari belakang, seraya meremasi kedua buah pinggulnya. Betapa indahnya persetubuhan ini, suatu sensasi yang belum pernah saya rasakan sebelumnya ketika bercinta seraya memandangi lampu-lampu kota yang masih saja benderang dari jendela tanpa kain penghalang yang terpampang di depan kami berdua. Kami terus bercinta, mencoba merasakan kehangatan pendar-pendar lampu jalanan kota Jakarta yang terpampang di depan kami, seakan-akan terus memancari kami dengan cinta. Galau hati, luapan emosi, kerinduan dan rasa cinta ditambah city view metropolitan berpadu dalam dekapan erat sang dewi nafsu, menghantarkan persetubuhan kami semakin dalam dan dalam. Kami berciuman, mendesah, mengerang, mendekap, coba merasakan semua sensasi yang ditawarkan dalam sebuah persetubuhan. Semakin terhimpit rasanya kejantananku di dalam liang vaginanya, ketika mulai kurasakan sesuatu bergejolak mendesak keluar dari dalam tubuhku.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Rev, I&#8217;m almost there&#8230;.&#8221;, bisikku lembut.<br />
&#8220;Yes Ryo, cum inside honey&#8230;&#8221;, balasnya lirih. Makin terasa desakan orgasme menghimpitku ketika makin kutikamkan kejantananku dalam liang kewanitaan Revy. Perlahan merambati seluruh urat syarafku&#8230;.<br />
&#8220;Ryo&#8230;.eenngghhh&#8230;&#8221;, jerit Revy lirih, seakan memberi tanda kepadaku bahwa ia pun sedang mendekati orgasmenya yang kesekian kali. Kupacu persetubuhan ini semakin cepat, karena ku tahu tidak ada gunanya lagi mempertahankan lebih lama, karena tembok pertahananku akan hancur berantakan dalam hitungan detik&#8230;..<br />
&#8220;Ryooo&#8230;..aahhhh&#8230;!!&#8221;.<br />
&#8220;I&#8217;m cumming Rev, I&#8217;m cummiiinngg&#8230;!!.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Kami berteriak hampir berbarengan kala orgasme menyapa kami dalam waktu yang bersamaan. Kurasakan derasnya cairan kejantananku menyembur keras, memenuhi liang kewanitaan Revy dengan suatu sensasi kenikmatan yang tak terbilang. Revy terus menekan pinggulku ke arahnya, seakan hendak menghabiskan setiap detik orgasme kami di dalam tubuhnya. Entah berapa lama kami terbuai tinggi, terlenakan gelombang hasrat yang terpuaskan di dalam suatu gulungan orgasme yang begitu dahsyat&#8230;&#8230;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ceritasex.cn/secret-lover/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Berbagi Nikmat Dengan Sahabat</title>
		<link>http://www.ceritasex.cn/berbagi-nikmat-dengan-sahabat/</link>
		<comments>http://www.ceritasex.cn/berbagi-nikmat-dengan-sahabat/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 17 May 2010 12:41:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cerita Sex</dc:creator>
				<category><![CDATA[Daun Muda]]></category>
		<category><![CDATA[Ekshibionis]]></category>
		<category><![CDATA[Gangbang Rame Rame]]></category>
		<category><![CDATA[Seks Umum]]></category>
		<category><![CDATA[selingkuh]]></category>
		<category><![CDATA[1 cowok 2 cewek]]></category>
		<category><![CDATA[abg]]></category>
		<category><![CDATA[cuki]]></category>
		<category><![CDATA[kost]]></category>
		<category><![CDATA[main bertiga]]></category>
		<category><![CDATA[ngentot]]></category>
		<category><![CDATA[ngintip]]></category>
		<category><![CDATA[reisha]]></category>
		<category><![CDATA[rico]]></category>
		<category><![CDATA[seks]]></category>
		<category><![CDATA[selvi]]></category>
		<category><![CDATA[threesome]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ceritasex.cn/?p=1387</guid>
		<description><![CDATA[Gadis cantik itu bernama Reisha. Ia berumur 19 tahun dan baru saja menginjak semester 3 di salah satu perguruan tinggi yang cukup bonafit di kota tersebut. Saat ini Reisha memang sedang dilanda birahi karena memang sebentar lagi dirinya akan mendekati masa menstruasi. Masa-masa seperti ini bagi seorang gadis seperti Reisha memang menjadi saat dimana libido [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Gadis cantik itu bernama Reisha. Ia berumur 19 tahun dan baru saja menginjak semester 3 di salah satu perguruan tinggi yang cukup bonafit di kota tersebut. Saat ini Reisha memang sedang dilanda birahi karena memang sebentar lagi dirinya akan mendekati masa menstruasi. Masa-masa seperti ini bagi seorang gadis seperti Reisha memang menjadi saat dimana libido sedang tinggi-tingginya. Sebagai seorang jomblo, tentunya Reisha tidak memiliki pasangan yang bisa ia ajak menyalurkan hasrat birahinya. Maka dari itu masturbasi pun menjadi satu-satunya cara yang paling efektif sebagai penyaluran birahinya saat ini. Kedua mata Reisha nampak terpejam mencoba untuk menghayati rabaan demi rabaan yang ia lakukan sendiri pada tubuhnya. Sesekali desahan kecil terdengar dari mulut gadis cantik tersebut, ketika rabaannya menyentuh puting dan klitorisnya sendiri. Namun ketika semua usahanya ini hampir memperoleh” hasil”, tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu di depan pintu kamar kos Reisha. “Tok… tok… tok…!”.</p>
<p style="text-align: justify;">“Sial!”, runtuk Reisha di dalam hati. “Kenapa mesti di saat seperti ini ada tamu yang datang ke kosannya, benar-benar sial!”, runtuk gadis itu lagi. “Tok… tok… tok…! Sha…!!”, suara ketokan di pintu kenbali terdengar, kini ditambah dengan suara teriakan seorang gadis. “Sebentar…!”, teriak Reisha. Dengan segera gadis cantik tersebut mengancingkan kembali kaitan branya dan mengenakan celana dalamnya. “Ya, sebentar!”, teriak Reisha lagi sambil merapikan posisi celana pendek dan kaosnya. Setelah merapikan pakaian dan sedikit mengusap-usap wajahnya di depan cermin yang terlihat sedikit memerah akibat menahan nafsu, gadis itu pun kemudian membuka pintu. “Haii… lama amat sih bukanya?”, di depan pintu berdiri seorang gadis yang tak kalah cantik jika dibandingkan dengan Reisha. Gadis itu seumuran dengan Reisha dan merupakan temen satu kampusnya. Gadis itu bernama Shelvi. “Eh iya, sorry tadi lagi di kamar mandi sih”, Reisha mencoba menutupi aktifitas yang tadi ia lakukan di dalam kamar. Ternyata Shelvi tidak sendiri. Di belakangnya berdiri seorang laki-laki berperawakan tinggi dan berwajah tampan.</p>
<p style="text-align: justify;">Rambut laki-laki itu tercukur rapi. Dari penampilannya terlihat ia cukup perlente. Mungkin ia adalah pacar Shelvi, pikir Reisha dalam hati. “O iya, ini Rico cowok gue”, Shelvi memperkenalkan laki-laki yang berada di belakangnya tersebut. “Rico”, laki-laki itu kemudian menyodorkan tangan kanannya. Reisha pun membalasnya, “Reisha”. Kedua tangan mereka pun saling berjabatan tangan. “Kok tumben nih? Ada apa Vi?”, tanya Reisha kepada sahabatnya. “Gue mau ngomong bentar ama lu dong”. Reisha mengerutkan keningnya. “Ric, lu tunggu di sini aja dulu ya”, Shelvi berucap ke arah laki-laki tersebut. Laki-laki itu pun hanya mengangguk. Lalu Shelvi menarik tangan Reisha untuk masuk ke dalam kamar kosnya. Di dalam mereka duduk di atas ranjang. “Ada apa sih Vi?”, Reisha kembali mengulangi pertanyaannya. Shelvi menetakkan jari telunjuknya di depan bibirnya, menandakan agar Reisha menurunkan volume suaranya. Ia pun kemudian berbisik, “Gini Sha, gue mau pinjem kamar lu bentar dong”. “Ah? Buat apa?”, bisik Reisha penuh kecurigaan.</p>
<p style="text-align: justify;">“Gue mau gituan ama cowok gue”, Shelvi berkata sambil memberikan isyarat tangan dengan memasukkan ibu jarinya diantara jari telunjuk dan jari tengahnya. Reisha benar-benar tersentak melihat isyarat tangan sahabatnya tersebut. Tanda tersebut sering ia lihat setiap kali Shelvi ingin menyamarkan kata “making love”. Bukan tanda itu yang mengejutkan Reisha, karena ia tahu benar kalau memang sahabatnya ini sudah sering melakukan perbuatan terlarang tersebut dengan pacar-pacarnya. Yang membuatnya terkejut adalah kenapa ia memilih kamar kosnya ini untuk berbuat mesum. “Gila lu ya? Nggak boleh!”, bentak Reisha sambil tetap berbisik. “Please Sha, gue udah nggak tahan nih, memiaw gue udah basah banget”. “Ngapain lu nggak cari hotel aja?”. “Nggak sempet, ntar lagi cowok gue musti ke bandara, ini juga sama sekali nggak direncanain kok tiba-tiba dateng gitu aja waktu dia grepein gue di bioskop”.sebenarnya Reisha ingin mengatakan tidak, namun melihat ekspresi wajah Shelvi yang begitu memelas ia pun menjadi bingung harus memberi jawaban apa.</p>
<p style="text-align: justify;">“Please Sha, cowok gue cuma sehari ini aja bisa transit di sini, ntar malem dia musti keluar kota lagi jadi waktu gue ama dia cuma bentar banget nih”. “Kalau ntar ada yang liat gimana? Kan gue malu juga tiba-tiba di kamar kos gue ada cowoknya?”, tempat kos Reisha ini memang hanya menerima penghuni kos wanita, sehingga aturan tentang menerima tamu laki-laki memang diatur sedikit ketat. “Sepi gini kok? Lagian gue nggak bakal lama kok, sueeer!!!”, Shelvi mengacungkan jari tengah dan jadi telunjuknya bersamaan. Reisha tambah bingung mendengar kata-kata sahabatnya ini. “Lu tu bener-bener gila tau nggak?”, ucap Reisha masih tetap berbisik. “Please Sha, please…”. Reisha kembali mengerutkan keningnya. “Please Sha”, kembali Shelvi memelas. “I… iya deh”, ucap Reisha ragu. Ia sendiri tidak tahu kenapa kata-kata persetujuan tersebut bisa keluar dari mulutnya. “Thanks Sha, lu emang temen gue yang paling baik”. Shelvi langsung memonyongkan bibirnya hendak mencium sahabatnya ini, namun dengan segera Reisha menghentikan perbuatannya tersebut. “Horny sih horny, tapi lu jangan sosor gue kayak gitu dong!”.</p>
<p style="text-align: justify;">“Hehehe… sorry abis kalo lagi horny gue emang suka lupa diri sih”. “Trus gue musti kemana dong?”, Reisha kembali bingung. Tentu saja ia harus bingung, karena jika kamarnya sedang “dipakai” oleh sahabatnya ini tentunya ia tidak bisa berada di tempat yang sama juga bersama mereka. “Lu kemana kek, makan kek, nonton kek, nih gue kasi lu ongkos deh”. Shelvi mengeluarkan beberapa lembar uang lima puluh ribuan dari dompetnya. Gadis cantik ini memang tergolong cukup beruntung untuk bidang keuangan. Memiliki orang tua seorang pengusaha sukses tentunya membuat isi dompetnya hampir tidak pernah kosong, bahkan kalau tidak boleh dibilang berlebih. Reisha nampak mengerutkan dahinya. Melihat sahabatnya belum juga beranjak dari tempatnya, langsung saja Shelvi mengajukan protes, “Udah ah lu pikirin sambil jalan aja! Dah kebelet nih!”.“Eh… iya… iya…”, Reisha langsung beranjak dari atas ranjang, disusul kemudian oleh Shelvi.Mereka berdua kemudian melangkah menuju pintu. “Ya udah kalo gitu gue keluar bentar ya Vi”, Reisha melambaikan tangan ke arah sahabatnya.<br />
<span id="more-1387"></span><br />
“OK, ati-ati ya Sha”, Shelvi melempar sebuah senyum penuh makna, yang mana hanya mereka berdua yang mengerti. Sebelum beranjak, Reisha melempar senyum kecil juga Laki-laki itu pun kemudian membalas dengan senyuman kecil pula. Lalu Reisha berjalan menuju tempat parkir dimana semua sepeda motor para penghuni kos terparkir. Setelah tiba di samping sepeda motornya, sekilas gadis cantik itu menengok kembali ke arah kamar kosnya. Tidak terlihat lagi Shelvi dan cowoknya disana. Bahkan kini pintu kamar kosnya sudah tertutup rapat. Shelvi memang pernah bercerita tentang cowok barunya, namun ia belum bertemu dengan pacar baru sahabatnya tersebut secara langsung. Apakah cowok ini yang dimaksud oleh sahabatnya tersebut? Ia sama sekali tidak tahu. Hampir beberapa menit Reisha berdiri disamping sepeda motornya. Mengetahui kalau saat ini mungkin sahabatnya sedang bercinta di dalam kamar kosnya, justru membuat gairah di dalam dirinya yang tadi sempat muncul kini kembali bergejolak. Tak terasa vaginanya kembali berdenyut-denyut dan payudaranya terasa mengeras seperti yang ia alami beberapa menit yang lalu ketika melakukan masturbasi. Tiba-tiba di saat itu pula di dalam otak gadis cantik itu terbersit sebuah ide gila untuk mengintip kegiatan sahabatnya tersebut di dalam kamar. Tidak etis memang mengintip sahabat sendiri yang sedang bercinta, namun gejolak nafsu Reisha yang sudah tidak bisa tertahan lagi menghilangkan semua pikiran waras di dalam otaknya.“Sha, lu nggak boleh ngelakuin itu, itu sama aja lu mempermalukan sahabat lu sendiri!”, suara kata hati malaikat di dalam diri Reisha berteriak-teriak di telinga kanannya.</p>
<p style="text-align: justify;">“Halah… liat dikit emang kenapa? Itu juga kan kamar lu Sha? Siapa suruh ngentot di kamar orang!”, di saat yang sama suara kata hati iblis di dalam dirinya pun juga tidak mau kalah terdengar menggema di telinga kirinya. “Tetep nggak boleh Sha, lu harus menghargai privasi orang dong!”. “Tai kucing tuh privasi! Sedeng asyik ngentot gitu paling juga mereka nggak bakal sadar lu intipin Sha!”. “Nggak boleh!”. “Boleh!”. Nggak bisa!”. “Bisa!”. Suara hati malaikat dan iblis kini terus menggema di dalam kepada Reisha, seakan-akan mencoba memberikan “nasehat” jalan terbaik yang harus ia lakukan saat ini. “Udah… udah… udah… pada bisa diem nggak sih?”, Reisha menggeleng-gelengkan kepalanya sambil berteriak di dalam batinnya. Kepalanya terasa mau pecah mendengar kata hatinya sendiri yang terus berteriak-teriak di dalam kepalanya secara bergantian. Reisha menarik nafasnya panjang dan berdiam diri sesaat. Akhirnya gadis cantik itu pun memilih untuk mengendap-endap menuju kamar kosnya sendiri. Saat ini sisi iblis Reisha pastilah sedang tertawa lantang penuh kemenangan.</p>
<p style="text-align: justify;">Jika saja ada yang melihat Reisha sedang berjalan mengendap-endap menuju kamar kosnya sendiri seperti saat ini, tentu akan menimbulkan tanda tanya dan kecurigaan. Bersyukur sore ini tempat kos Reisha nampak begitu sepi, karena memang diakhir pekan rata-rata penghuni kos kembali ke rumah mereka masing-masing untuk bersua dengan keluarga. Sedangkan untuk penghuni kos yang tidak kembali ke rumah seperti Reisha kini sebagian besar sedang melaksanakan aktifitas mereka masing-masing di luar kosan. Reisha sendiri masih berada di kosannya karena kebetulan siang tadi ia harus mengambil kuliah tambahan sehingga akhirnya memilih tetap tinggal di kosan. Di depan jendela kamarnya, Reisha mencoba mencari celah yang terbuka diantara tirai yang tertutup. Memang ada sedikit celah yang tersisa, namun tidak cukup lebar untuk bisa melihat apa yang terjadi di dalam. Beberapa kali dari dalam kamar terdengar tawa cekikikan kecil dan suara desahan manja. Suara tawa itu pastilah suara Shelvi bersama pacarnya. Reisha masih terus berusha mendongak-dongakkan kepalanya di depan jendela, sampai tiba-tiba…</p>
<p style="text-align: justify;">“Duaar!!!”, tirai penutup jendela tersebut tersibak dan muncullah wajah Shelvi dari balik jendela. Wajah Reisha langsung terlihat merah padam karena ketahuan mengintip. Belum hilang rasa terkejut Reisha, dengan santainya Shelvi menutup kembali tirai tersebut dan kemudian gadis cantik itu keluar dari kamar dengan tubuh hanya berbalut handuk hijau milik Reisha. “Daripada lu ngintipin gue, mending lu gabung aja”. Reisha begitu tersentak mendengar kata-kata sahabatnya tersebut. Saat ini ia merasa seperti tersambar petir puluhan ribu volt. “Vi, nggak! Jangan!”, Reisha berusaha bertahan ketika Shelvi menarik tangan kanannya untuk mengajaknya masuk ke dalam kamar. “Udah… hayo!”. “Nggak Vi!”. “Hayo dong…!”, Shelvi terus memaksa. Setelah cukup lama saling menarik tangan masing-masing akhirnya Reisha pun tidak kuat lagi melawan tarikan sahabatnya itu. Ia pun tertarik masuk ke dalam kamar. “Aaakkhh…!”, begitu masuk ke dalam kamar Reisha langsung berteriak dan menutup matanya dengan kedua telapak tangannya. Bagaimana tidak berteriak.</p>
<p style="text-align: justify;">Di atas ranjangnya kini terlihat seorang laki-laki sedang terduduk santai dengan hanya mengenakan kaos tanpa tambahan apapun lagi sebagai penutup bagian bawah tubuhnya. Di bagian selangkangan laki-laki tersebut mengacung tegak sebuah batang yang berukuran sangat besar. “Halah, gaya lu tu kayak baru pertama kali aja ngeliat tongkol hehe…”, Shelvi dengan santainya berkata seronok kepada sahabatnya tersebut setelah menutup pintu kamar. Wajah Reisha semakin memerah mendengar kata-kata Shelvi tersebut. Memang benar apa yang dikatakan sahabatnya ini, karena penis bukanlah hal asing bagi mereka berdua. Namun dalam hal ini jelas berbeda. Laki-laki yang kini terbaring di ranjangnya jelas-jelas baru saat ini ia jumpai untuk pertama kalinya. Tentu akan sangat aneh apabila tiba-tiba saja di saat itu juga ia harus melihat penis laki-laki yang baru saja ia kenal tersebut. Shelvi dengan santainya berjalan mendekati ranjang kemudian naik ke atasnya. Ia lalu mencium bibir laki-laki tersebut sambil memeluknya. “Ric, Reisha mau gabung bareng kita nih, boleh ya?”.</p>
<p style="text-align: justify;">Laki-laki itu hanya tersenyum kecil, “Boleh kok”. Shelvi membalas dengan senyuman pula. Dikecupnya sekali lagi bibir pacarnya tersebut, kemudian beranjak turun dari ranjang dan kembali mendekati Reisha. Reisha sendiri masih terlihat berdiri mematung dengan ekspresi penuh kehampaan. “”Ayo dong!”, kembali Shelvi menyeret tangan Reisha mendekat menuju ranjang. “Nggak Vi, gue nggak mau”. “Halah, jangan malu-malu gitu ah! Norak tau…”. “Nggak Vi, bener gue nggak bisa”, Reisha terus berusaha bertahan. Shelvi pun akhirnya hanya melengos dan melepaskan tangan Reisha setelah tidak mampu memaksa kembali sahabatnya tersebut untuk mendekati ranjang.“Ya udah, kalo gitu lu disini aja”. Shelvi kembali berjalan menuju ranjang. Sebelum naik ke atas ranjang ia melepaskan handuk yang melilit tubuhnya. Terlihatlah kini tubuh sintal itu hanya terbalut celana dalam putih beraksen garis-garis pink. Rupanya sebelum memergoki Reisha tadi, mereka berdua sudah sempat melepaskan beberapa lembar pakaian yang mereka kenakan. Pakaian-pakaian tersebut kini ada yang tergeletak di atas ranjang ataupun di lantai kamar.</p>
<p style="text-align: justify;">Gadis cantik itu lalu merangkak naik ke atas ranjang dan kembali memeluk tubuh pacarnya. “Lanjut yuk!”. Mereka berdua pun berciuman panas sambil beradu lidah. Tangan Rico pun dengan cekatan meremas-remas payudara montok Shelvi. Keduanya begitu menikmati percumbuan mereka seolah-olah di dalam kamar hanya ada mereka berdua, tanpa memperdulikan kehadiran Reisha di sana. Tak hanya meremas, kini puting payudara kanan Shelvi sudah berada sepenuhnya di dalam kuluman Rico. Shelvi pun akhirnya terpaksa remas-remas sendiri payudara kirinya karena tangan Rico saat ini sibuk mengobok-obok selangkangannya yang masih tertutupi celana dalam. Selangkangan yang sebelumnya telah basah itu pun kini nampak semakin basah. “Aaahh… oooh…”, Shelvi sengaja mendesah sesensual mungkin sambil menatap ke arah Reisha yang masih berdiri di dekat pintu. “Ooohh… aaah…”, kini Shelvi memasang ekspresi wajah penuh kenikmatan seolah-olah menikmati betul kuluman di payudaranya dan permainan tangan Rico di selangkangannya. Shelvi tersenyum kecil ketika melihat Reisha yang sudah mulai nampak berdiri gelisah sambil menggesek-gesekkan kedua pahanya.</p>
<p style="text-align: justify;">“Ntar Ric, gue mau ngelepas CD dulu nih”. Rico pun menghentikan remasan tangannya, namun tidak kuluman mulutnya. “Udah dong, berhenti bentar aja”, Shelvi berusaha melepaskan kuluman Rico di payudaranya yang sudah terlihat dipenuhi beberapa bercak-bercak merah. Rico pun menurut, namun bukan berarti payudara montok itu bisa terbebas begitu saja. Di saat Shelvi berusaha melorotkan celana dalam yang dikenakannya, remasan tangan kanan Rico masih tetap bertengger di gundukan daging kenyal tersebut. “Udah!”, ucap Shelvi setelah meletakkan kain mungil penutup selangkannya tersebut di sampingnya. Gadis cantik itu pun kini yang ganti angresif memeluk tubuh Rico dan mencium bibir laki-laki tersebut dengan ganas. Tak hanya itu kini jari-jari mungil Shelvi juga secara bersamaan dengan telaten mengocok-ocok batang penis Rico yang telah menegang. Shelvi memang sengaja mengatur posisi tubuhnya agar menghadap ke arah Reisha. Sambil berciuman dan bermain lidah, Shelvi tetap intens sesekali melirik ke arah sahabatnya tersebut.</p>
<p style="text-align: justify;">Kini Reisha sudah tidak mampu lagi menutupi gairah birahi yang menyerangnya akibat melihat live show yang terjadi di hadapannya. Tangan Reisha mulai bergerak merabai dadanya sendiri, sambil tetap menggesek-gesekkan kedua pahanya. Senyum Shelvi pun semakin lebar karena berhasil memancing gairah Reisha. “Ric, lu ML ama Reisha dulu ya, ntar baru ama gue”, bisik Shelvi di telinga pacarnya. “Dia kan tadi udah nggak mau Vi?”, sahut Rico ditengah remasan tangannya di payudara pacarnya tersebut. “Udah, ntar gue yang ngatur deh”. “Emang lu nggak cemburu Vi, gue ML ama temen lu?”. “Nggaklah, kan gue yang nyuruh, lagian itung-itung sekalian gue ngasi bonus ke lu juga ke Reisha”. “OK deh, asal lu nggak apa-apa aja”. Shelvi pun membuka kaos Rico sehingga kini mereka berdua pun telah benar-benar dalam keadaan telanjang. Kemudian setelah mencium bibir pacarnya tersebut, Shelvi pun beranjak turun dari ranjang dan kembali menghampiri Reisha. Rico sendiri terlihat mengambil posisi terbaring santai di atas ranjang sambil menatap langit-langit kamar.</p>
<p style="text-align: justify;">“Sha, ayo dong kita bareng yuk”. “Nggak Vi”, kembali Reisha menolak. “Ayo dong, gue tau lu sekarang udah horny kan?”, desak Shelvi lagi. “Gue malu Vi”. “Napa musti malu? Kan ada gue disini?”. “Iya sih…”. “Sha, gue tau lu udah lama banget nggak ML sejak lu putus ama cowok lu, gue cuma mau bantu lu nyalurin birahi lu”. “Tapi itu kan cowok lu Vi?”. “Halah, lu nggak enak ama gue? Kan gue yang nyuruh lu? Cowok gue juga asyik-asyik aja kok, lagian kucing mana sih yang nolak kalo di kasi ikan? Hehe”.Apa yang dikatakan Shelvi tadi memang benar adanya. Sudah hampir setahun ia tidak lagi bisa merasakan hangatnya persetubuhan. Apalagi kini mendekati tanggal-tanggal krusial menjelang menstruasi, dimana gairah dan hormon kewanitaannya mulai memuncak tak terkendali. Ingin sekali rasanya ia melepaskan semua beban birahi di dalam dirinya ini dengan bercinta bersama seorang laki-laki. Tapi kalau dia harus menyalurkannya dengan cara bersetubuh bersama pacar sahabat baiknya sendiri, hal ini tentu sesuatu yang benar-benar di luar akal sehat.</p>
<p style="text-align: justify;">Namun di sisi lain, bukankah justru sahabat baiknya inilah yang memintanya untuk melakukan persetubuhan? Jadi siapakah sebenarnya yang gila dalam hal ini? “Ayo Sha…”, Shelvi menarik tangan Reisha dan kali ini gadis cantik itu nampak tidak melakukan perlawanan lagi. Ketika kedua gadis itu berdiri di pinggir ranjang, Rico hanya tersenyum kecil ke arah Reisha. Di dalam hati kecilnya, laki-laki tersebut cukup mengagumi kecantikan dan keindahan tubuh Reisha. Dalam hal ini tentu ia sangat mensyukuri karena bisa memacari Shelvi yang memiliki fantasi sensual yang liar, sehingga sebentar lagi mungkin ia akan segera bisa menikmati tubuh sahabat pacarnya ini tanpa perlu melakukan perselingkuhan di belakang pacarnya. “Ric, lu rangsang dikit Reisha gih!”. Rico pun berdiri dan mendekati Reisha. Tubuh Reisha terlihat bergetar ketika seorang laki-laki dalam keadaan telanjang bulat kini berlahan mendekatinya. Reisha sempat melirik nakal ke arah batang penis Rico. Batang tegang itu terlihat sangat besar untuk membuatnya bergidik dan membuat selangkangannya terasa senut-senut.</p>
<p style="text-align: justify;">Ia tidak bisa membayangkan rasa sakit yang akan menyerangnya jika batang besar itu harus masuk ke dalam dirinya. “Vi…”, Reisha memegang tangan sahabatnya, ketika Rico semakin mendekat. “Udah, anggep aja Rico itu cowok lu”. “Tapi Vi…”, belum sempat Reisha melanjutkan kata-katanya Rico sudah keburu memeluk tubuhnya dan mencium bibirnya. Reisha pun gelagapan dibuatnya, walaupun ia sama sekali tidak menolak bibir Rico yang kini terus menyerang bibirnya. Awalnya Reisha terlihat kikuk, namun beberapa saat kemudian ia pun mulai membalas pagutan bibir Rico. Apalagi ketika kemudian gadis cantik itu merasakan sentuhan lembur Shelvi di pundaknya, Reisha pun tidak malu lagi membalas permainan lidah Rico di mulutnya. Reisha yang memang sejak semula telah terbakar nafsu birahi membuat Rico tidak perlu terlalu bekerja keras untuk membangkitkan sisi liar gadis cantik tersebut. Shelvi sendiri kini masih berdiri di belakang Reisha sambil meremas-remas payudara sahabatnya tersebut dari balik kaos. Kemudian dengan cekatan kedua tangan gadis tersebut masuk ke dalam kaos Reisha.</p>
<p style="text-align: justify;">Berlahan jari-jari Shelvi bergerak membuka kaitan bra berwarna putih tanpa renda yang dikenakan sahabatnya. Kini remasan tangan Shelvi pun dapat langsung merasakan kelembutan dan kekenyalan payudara Reisha. Diserang dari dua arah seperti ini membuat Reisha kian melambung. “Aaah… oooh…!”, cuma lenguhan dan desahan yang keluar dari mulut gadis cantik tersebut, ditengah lumatan bibir Rico. Saking terbelenggunya oleh nafsu membuat Reisha sama sekali tidak melawan ketika Rico menggiringnya berbaring di ranjang. Bahkan saking terbuainya oleh cumbuan pacar sahabatnya tersebut, Reisha sama sekali tidak menyadari kalau kini tubuh atasnya saat ini sudah sama sekali tidak tertutup apapun. Shelvi melemparkan kaos berikut dengan bra milik Reisha sehingga kedua potong pakaian tersebut kini tergeletak di lantai. Hal ini membuat Rico menjadi leluasa mengulum dan menghisap kedua payudara milik Reisha. Payudara gadis cantik itu memang tidaklah terlalu besar, tidak sebesar milik Shelvi, namun ukurannya pas untuk tubuhnya yang berukuran cukup mungil.</p>
<p style="text-align: justify;">Ketika kedua payudara Reisha kini sepenuhnya berada di dalam “kekuasaan” Rico, maka bibir lembut gadis cantik itu pun kini berganti menjadi milik Shelvi. Kedua gadis cantik tersebut terlihat begitu eksotis ketika saling mengulum, menjilat dan bertukar air liur. Mereka berdua sesungguhnya bukanlah lesbian, namun desakan birahi yang kini menguasai kedua gadis tersebut membuat mereka lupa kalau mereka sesungguhnya adalah makhluk sejenis.Ketika kedua gadis itu terlihat asyik saling kulum dan saling jilat, di bawah sana ciuman Rico sudah merambat turun sampai ke perut Reisha yang rata. Sambil tetap mencium pusar Reisha, kedua tangan laki-laki tersebut terlihat memegang ujung celana pendek gadis cantik tersebut. Sesaat kemudian celana pendek itu telah melorot turun dan akhirnya terlepas. Rico kemudian menciumi kedua paha mulus Reisha dan akhirnya ciuman tersebut bermuara di celana dalam putih gadis tersebut yang sudah terasa basah. Kain mungil tipis menerawang itulah yang kini hanya menjadi pembatas antara lidah Rico dengan vagina Reisha.</p>
<p style="text-align: justify;">“Hhhmm… hhmm…!”, hanya itu yang keluar dari mulut Reisha yang kini sedang dicumbui oleh Shelvi. Gadis cantik itu harus beberapa kali menggerakkan pantatnya menahan geli akibat permainan lidah Rico yang beberapa kali menyentuh klitorisnya. Ini berarti celana dalam Reisha sudah berhasil dienyahkan oleh laki-laki tersebut. Reisha benar-benar merasakan kenikmatan yang luar biasa. Bibir dan payudaranya terus menerus dipermainkan oleh Shelvi, sementara di saat yang bersamaan vagina dan klitorisnya jura terus dipermainkan oleh Rico. Terasa sekali kalau di bawah sana sudah semakin basah dan becek, sedangkan payudara dan putingnya sendiri terasa demikian menegang. Permukaan kasar lidah Rico begitu nikmat dirasakan Reisha ketika menari-menari bebas diantara bulu-bulu tipis basah yang ada disana. Saat ini gadis cantik itu sudah benar-benar melayang akibat gelora nafsu birahinya sendiri. Melihat Reisha yang sudah siap tempur, Rico lalu menghentikan jilatannya. Laki-laki itu beranjak dari posisinya samping mengocok-ngocok batang penisnya sendiri yang sudah semakin menegang.</p>
<p style="text-align: justify;">Laki-laki itu merasa batang penisnya belum cukup tegang untuk memberikan kenikmatan kepada dua orang gadis yang bersamanya saat ini. Ia pun menyuruh Shelvi menghentika ciuman bibirnya dan lalu mengarahkan batang penisnya ke dalam mulut Reisha yang masih terbaring pasrah. Kini batang penis tersebut udah terkocok keluar masuk ke dalam mulut mungil Reisha. Reisha nampak cukup gelagapan menerima kocokan penis besar Rico di dalam mulutnya. Ujung penis laki-laki tersebut terasa beberapa kali menyentuh kerongkongannya. Karena takut tersedak, gadis cantik itu pun memilih untuk mengganti posisinya menjadi terduduk. Posisi ketiga insan yang sedang dimabuk birahi itu pun berganti. Kini Rico duduk di ujung ranjang, dimana batang penisnya nampak sedang dijilati oleh dua orang gadis cantik. Rico saat ini benar-benar merasa seperti seorang raja yang sedang dilayani dengan penuh cinta oleh selir-selirnya. Ketika batang penis itu amblas ke dalam mulut Reisha, Shelvi pun kemudian mencium bibir Rico sambil merabai dada bidang pacarnya tersebut.</p>
<p style="text-align: justify;">Cukup lama keduanya saling lumat, sebelum ciuman Shelvi mulai turun ke leher dan dada Rico. Lalu Shelvi pun menyorongkan payudara kanannya ke mulut Rico untuk dilumatnya. Rico pun dengan senang hati melumat dan menjilati payudara montok milik pacarnya tersebut. Memang payudara Shelvi lebih besar ukurannya dibandingkan milik Reisha, namun kedua payudara gadis cantik tersebut sama-sama memiliki daya tarik mereka sendiri. “Aaah…!”, Shelvi mendesah pelan ketika Rico sedikit menggigit puting payudaranya, setelah pacarnya tersebut kembali membuat beberapa cupangan dipemukaan daging montok tersebut.Kini terlihat kedua gadis itu telah berganti posisi. Kini Shelvi yang nampak mengulum batang penis Rico sedangkan Reisha bergantian mencumbu bibir dan dada Rico. Laki-laki tersebut benar-benar tidak percaya kalau Reisha ternyata begitu liar ketika terbakar birahi. Jika dilihat sekilas tadi, dari segi penampilan luar semula Rico melihat Reisha seperti seorang gadis lugu dan polos. Sama sekali tidak terlintas di benaknya tadi kalau gadis cantik, sahabat pacarnya ini pernah memiliki pengalaman bercinta sebelumnya. Namun kini Rico begitu terbuai dengan permainan Reisha yang tak kalah menggairahkan dengan permainan cinta pacarnya, Shelvi.</p>
<p style="text-align: justify;">“Ooohh…ooohh…”, Rico hanya bisa mendesah penuh kenikmatan mendapatkan pelayanan dari kedua gadis cantik tersebut. “Ric, mulai masukin ya? Udah tegang banget nih”, Shelvi menghentikan kuluman dan kemudian memelas ke pacarnya untuk mulai melakukan penetrasi.“OK deh, siapa duluan nih?”. “Reisha aja deh”. Reisha sama sekali tidak berkomentar mendengar percakapan pasangan kekasih tersebut. Yang dia tahu saat ini dirinya memang sangat ingin segera disetubuhi, entah duluan atau belakangan sama sekali tidak masalah baginya.Rico pun menuruti kata-kata pacarnya. Laki-laki itu pun membaringkan tubuh Reisha di ranjang dan kemudian membuka kedua paha gadis tersebut lebar-lebar. Sejenak Rico menelan ludah. Di hadapannya kini terpampang indah sebuah vagina gadis muda yang begitu mempesona. Entah berapa penis yang pernah memasuki lubang kenikmatan tersebut, Rico sama sekali tidak ambil pusing. Yang jelas sebentar lagi batang penisnya akan bisa menikmati vagina ranum milik sahabat pacarnya tersebut. Wajah Reisha terlihat memerah karena malu melihat tatapan nanar Rico ke arah vaginanya.Tak sabaran merasakan nikmatnya vagina Reisha, dengan segera Rico menghujamkan batang penisnya ke dalam lubang kenikmatan tersebut.</p>
<p style="text-align: justify;">“Aaaahhh…!!”, baik Rico maupun Reisha memiawik penuh kenikmatan. Rico merasakan sensasi kenikmatan yang dasyat ketika memasukkan batang penisnya ke dalam vagina Reisha. Memasukkan penis ke dalam vagina seorang gadis yang belum pernah kita setubuhi sebelumnya memang selalu membawa sensasi tersendiri. Begitu pula dengan Reisha, yang memang sudah sekian lama tidak dapat lagi merasakan hujaman penis di dalam vaginanya. Lesakan penis Rico terasa seperti siraman air ditengah kegersangan hidupnya selama ini. Rico pun tak membuang-membuang waktu untuk secepatnya menghujam-hujamkan batang penisnya. Batang penis Rico mengocok vagina Reisha dengan kencang, sedangkan Reisaha sendiri terlihat begitu menikmati kocokan tersebut. Shelvi yang harus menunggu giliran untuk disetubuhi, terlihat mencium bibir Reisha yang kini terguncang-guncang hebat. Shelvi juga meraba-raba payudara Reisha yang nampak terguncang tak kalah hebat. “Gimana Sha? Enak?”, bisik Shelvi nakal di telinga sahabatnya. “Aaaa enak Vi”, ucap Reisha gemetar. “Nikmat kan tongkol cowok gue? Hehe”.</p>
<p style="text-align: justify;">“Vi lu nunging gih, giliran lu yang gue entot sekarang”. Shelvi pun menurut. Ia lalu mengambil posisi nunging di samping Reisha yang terbaring terlentang. Rico lalu mencabut batang penisnya dari dalam vagina Reisha dan ganti memasukkannya ke dalam vagina pacarnya. “Aaakkhh…!”, Shelvi melenguh kencang. Gadis itu memejamkan matanya sambil meremas erat sprei. Batang penis Rico yang langsung menghujam kencang ke dalam vaginanya cukup memberikan rasa sakit yang luar biasa. Tapi di satu sisi sensasi yang ditimbulkan antara campuran rasa sakit dan kenikmatan justru semakin membangkitkan birahinya. Lubang kenikmatan yang semula sempat mengering, kini mulai basah kembali dialiri cairan cinta. Ditengah genjotan Rico, Shelvi menggigit bibirnya. Gadis itu begitu merindukan genjotan penis besar pacarnya ini. Hampir dua minggu lamanya mereka harus berpisah karena Rico harus tugas ke luar daerah. Kali ini pun mereka hanya bisa bertemu sehari sebelum malam nanti Rico harus berangkat kembali ke tempat tugasnya. Ketika Shelvi mendapat giliran disetubuhi, Reisha giliran merabai tubuh Shelvi.</p>
<p style="text-align: justify;">Payudara, paha, pinggang dan bagian-bagian tubuh sensitif lainnya secara bergiliran menerima rabaan dan sentuhan Reisha. Bahkan tidak hanya menyentuh, Reisha juga menciumi dan menjilati sekujur tubuh Shelvi, guna membantu sahabatnya ini menikmati persetubuhan yang kini ia lakukan bersama pacarnya. “Giliran lu lagi Sha”, ucap Rico ditengah genjotannya di vagina Shelvi. Seperti layaknya Shelvi tadi, Reisha pun begitu saja menuruti kata-kata Rico. Apakah ini bertanda kalau kedua gadis cantik tersebut telah sepenuhnya ditaklukkan oleh Rico dengan kocokan penis besar dan panjangnya? Mungkin saja, karena kedua gadis cantik itu terlihat bak budak seks yang sedang melayani majikannya. Kini Reisha pun menungging di samping Shelvi, seakan-akan menyerahkan sepenuhnya vaginanya untuk pacar sahabatnya tersebut. Rico meremas-remas pantat sekal Reisha sebelum melepaskan penisnya dari dalam vagina Shelvi. “Aaakhh…”, kini penis Rico kembali menghujam-hujam kencang ke dalam vagina Reisha. Shelvi pun kembali mencium bibir Rico sambil merabai lembut tubuh pacarnya tersebut.</p>
<p style="text-align: justify;">Rico pun harus membagi konsentrasi antara menggenjoti vagina Reisha dengan permainan lidah Shelvi di dalam mulutnya. Keduanya memberikan sensasi kenikmatan tersendiri bagi Rico. Gaya doggie ini tidak berlangsung lama karena Shelvi menyuruh Reisha untuk mengambil posisi woman on top. Kini Rico berbaring di atas ranjang, dimana Reisha berada di atas tubuhnya dan menggoyang-goyangkan pinggulnya. Hal ini membuat batang penis Rico yang menancap di dalam vagina Reisha terasa terjepit dengan kencang. Posisi seperti ini memudahkan Shelvi untuk bergantian mengulum bibir Rico maupun Reisha. Tak hanya bibir mereka, Shelvi juga bergantian menjilati dada keduanya. Sambil bergoyang kini Reisha pun harus membagi konsentrasi antara kuluman bibir Shelvi dan remasan tangan Rico di kedua payudaranya. “Hhhmm… hhmmm… hhhmmm…”, desahan tertahan keluar dari kedua mulut gadis cantik tersebut yang kini terlihat masih berciuman panas. Sedangkan Rico ditengah dera rasa nikmat akibat jepitan vagina Reisha, terlihat begitu kagum melihat pemandangan dua gadis cantik yang kini sedang bercumbu ria di hadapannya.</p>
<p style="text-align: justify;">Sungguh fenomena yang sangat eksotis dan indah. Ketika tiba giliran kembali untuk berganti posisi, Shelvi pun agaknya memilih untuk menggunakan gaya woman on top juga. Begitu batang penis tersebut terlepas dari vagina Reisha, Shelvi langsung memasukkannya ke dalam mulutnya. Cairan cinta Reisha begitu terasa di lidahnya ketika Shelvi mengulum dan mengocok batang penis Rico dengan mulutnya. Sedangkan Reisha hanya meremas-remas pantat sekal Shelvi. Kemudian Shelvi mengambil posisi mengangkang diatas tubuh pacarnya. Sejenak gadis manis itu mengatur posisi penis Rico, agar pas ketika terhujam nanti. Setelah merasa pas Shelvi pun menurunkan tubuhnya dan batang penis itu pun menghujam kencang masuk ke dalam duburnya. Shelvi memang tidak mengarahkan batang penis Rico ke dalam vaginanya, namun ke dalam duburnya. Rupanya gadis cantik itu ingin memberikan pelayanan anal seks untuk pacarnya. “Oooohh…!!!”, Rico berteriak merasakan penisnya melesak masuk ke dalam pantat pacarnya tersebut. “Aaaahh… aaahh…”, Shelvi dan Rico sama-sama mendesah, berteriak dan melenguh secara bergantian.</p>
<p style="text-align: justify;">Mereka seakan-akan lupa kalau mereka kini sedang bercinta di kosan Reisha, dimana kemungkinan ada penghuni kos yang akan mendengar teriakan mereka. Reisha sendiri kini nampak meraba-raba vagina dan klitoris Shelvi. Sejenak ia membasahkan tangan kanannya dengan liur kemudian kembali melanjutkan aktifitasnya mengobok-obok vagina Shelvi. Vagina Shelvi memang saat ini sedang menganggur karena yang sedang sibuk menerima genjotan penis Rico adalah duburnya. Sedangkan Rico yang terlihat begitu menikmati aksi Shelvi yang terlihat turun naik di atas tubuhnya, kini sibuk pula memainkan vagina Reisha yang juga menganggur dengan jari-jarinya. Beberapa kali jari-jari tangan Rico menghujam-hujam masuk ke dalam lubang vagina Reisha, sehingga membuat pemiliknya juga mendesah-desah penuh kenikmatan. Menerima genjotan penis di duburnya serta permainan jari-jari Reisha di vagina dan klitorisnya, membuat Shelvi terlihat segera akan mencapai klimaks. Dan benar saja tak lama kemudian Shelvi melenguh kencang, menandakan pencapaian puncak permainan. “Aaaakkhh…!!!”, lenguh Shelvi sambil mendongakkan kepala dan memejamkan matanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Shelvi pun mencabut batang penis Rico dari dalam vaginanya dan sejenak berbaring di ranjang menikmati sensasi kenikmatan yang baru saja menderanya. Kesempatan ini digunakan Rico untuk kembali menghujamkan batang penisnya ke dalam vagina Reisha. Laki-laki itu pun membaringkan Reisha di ranjang dan dengan segera mengocok kembali lubang kenikmatan milik gadis cantik tersebut. Kini Rico nampak semakin kesetanan mengocok vagina Reisha, karena ia ingin betul-betul menikmati saat-saat dimana ia bisa menyetubuhi sahabat pacarnya ini mumpung dirinya masih memiliki kesempatan. Vagina Reisha seolah-olah menjadi selingan yang begitu indah, diantara persetubuhan yang biasa ia lakukan bersama Shelvi, pacarnya. “Aaaahh…. Ahhh…”. “Oooohh… ooohh…”. “Sha… memiaw lu nikmat banget!”, rancau Rico. “tongkol lu juga enak Ric”, balas Reisha. Shelvi yang saat ini sudah pulih dari deraan birahinya dan nampak memeluk serta merabai tubuh Rico, cukup merasa cemburu mendengar kata-kata pacarnya tadi. Namun Shelvi segera mengusir jauh-jauh perasaan tersebut, karena baik pacar maupun sahabatnya ini kini sedang dilanda birahi menjelang klimaks sehingga wajar kalau mereka mengeluarkan kata-kata yang seronok.</p>
<p style="text-align: justify;">“Ric… gue keluar… aaakkhh…!!!”. Tubuh Reisha nampak mengejang. Ini adalah klimaks pertamanya sejak putus dengan pacar lamanya beberapa bulan yang lalu. Klimaks yang sangat dinanti-nantinya. Klimaks yang terasa jauh lebih nikmat daripada saat ia mencapai klimaks karena melakukan masturbasi. Rico pun mencabut batang penisnya dan membiarkan Reisha terbaring di ranjang menikmati momen puncaknya. Rico yang kini berdiri di atas ranjang lalu memandang sayu ke arah Shelvi yang sebelumnya telah mencapai klimaks terlebih dahulu. Shelvi pun mengerti makna tatapan pacarnya tersebut. Ia pun kemudian bersimpuh dihadapan Rico dan mulai memasukkan batang penis Rico ke dalam mulutnya. Shelvi pun dengan telaten mengocok-ngocok penis Rico dengan mulut dan jari-jari lentiknya. Rico yang sebelumnya memang sudah hampir sampai di ujung klimaks, benar-benar menikmati kuluman pacarnya tersebut. “Vi, gue keluar nih!”. Shelvi pun melepaskan kulumannya dan hanya melakukan kocokan tangan pada batang penis Rico. Kocokan tangan Shelvi nampak semakin kencang ketika Rico mulai memejamkan matanya.</p>
<p style="text-align: justify;">“Aaaahh…!!!”. “Crroooot… crooot… crooot…”, beberapa kali cairan sperma muncrat dari ujung penis Rico. Cairan putih kental itu pun ditampung oleh Shelvi di dalam mulutnya. Setelah semprotan terakhir keluar, mulut Shelvi sudah dipenuhi oleh cairan sperma pacarnya. Gadis cantik itu pun kemudian menelan cairan tersebut sampai tetes terakhir. Lalu dengan telaten Shelvi kembali mengulum batang penis pacarnya tersebut. Ia pun menjilati sisa-sisa sperma yang masih menempel pada ujung kepala batang kokoh yang kini mulai mengendur tersebut dan menelannya. “Thanks ya Vi”, Rico ikut bersimpuh dan mendaratkan ciuman mesra bibir Shelvi. Shelvi pun hanya tersenyum kecil. “Gimana enak? Hehe…”, goda Shelvi. “Enak banget!”, ucap Rico mantap. Kemudian Rico menatap ke arah Reisha yang masih tergolek telanjang di atas ranjang. Ia hanya tersenyum melihat tubuh indah gadis cantik yang baru saja ia nikmati kehangatannya tersebut. Kembali rasa cemburu mengalir di dalam hati Shelvi melihat tatapan nanar pacarnya terhadap tubuh sahabatnya. Dengan segera ia mengambil selimut dan menutup tubuh telanjang Reisha. Seolah mengerti maksud yang tersirat dari tindakan pacarnya, Rico pun kemudian mengajak Shelvi turun dari ranjang. Ia lalu memeluk mesra tubuh telanjang pacarnya tersebut dan kemudian mencium bibirnya mesra. Keduanya pun cukup lama saling mengulum bibir masing-masing.</p>
<p style="text-align: justify;">“Kita langsung cabut yuk”. “Musti sekarang ya?”. “Iya nih, klo nggak ntar terlambat lagi”. “Hhhm… masih kangen!”, ucap Shelvi manja. “Kan cuma 3 hari lagi, abis itu gue nggak perlu keluar kota deh, OK?”. “OK deh”. “Cium lagi dong”. Keduanya kembali berciuman mesra. Setelah itu Rico pun mengenakan kembali pakaiannya sedangkan Shelvi sendiri hanya membalutkan handuk milik Reisha guna menutupi ketelanjangan tubuhnya. “Lo lu kok nggak pake pakaian? Kan gue harus nganter lu pulang dulu”, ucap Rico heran. Shelvi menggeleng. “Nggak usah deh, biar ntar gue pulang dianter Reisha aja, kasihan ntar lu telat lagi kalo pake nganterin gue dulu”. Sekilas Shelvi melirik ke arah Reisha yang masih terbaring di ranjang. Entah Reisha saat ini tertidur akibat kelelahan atau pura-pura tidur karena tak ingin menganggu dirinya bersama Rico. Shelvi sama sekali tidak tahu. “Ya udah kalo gitu, gue langsung cabut ya”. “OK deh, ati-ati di jalan ya”. “Ntar begitu landing gue telpon lu deh”. “OK!”. Lalu Shelvi mengantar Rico sampai di depan pintu. Di luar suasana sudah terlihat gelap, tidak seperti saat mereka berdua datang tadi. Rupanya mereka bertiga cukup lama bermain cinta di dalam kamar. Mereka kembali berciuman sampai akhirnya Shelvi melambaikan tangannya melepas kepergian Rico. Shelvi lalu menutup pintu kamar kos tersebut. Gadis cantik itu lalu beranjak menuju ranjang dan duduk di pinggirnya.</p>
<p style="text-align: justify;">“Sha, lu tidur?”, Shelvi menyibak rambut Reisha yang menutupi wajahnya. Reisha hanya menggeleng dari balik selimut. “Kok dari tadi lu diem aja sih?”. “Gue malu Vi”. “Halah, kayaknya tadi kita udah ngebahas masalah ini deh”. “Iya, tapi tetep aja gue malu”. “Ya udah gini aja deh, kalo ntar lu udah punya cowok lagi, lu bagi juga ama gue jadi kita impas, gimana? Hehe”. “Dasar! Gila lu ya!”. Keduanya pun tertawa cekikikan. “Udah ah, pake baju gih, trus anterin gue cari makan, gue laper banget nih!”. Lalu kedua gadis cantik itu pun membersihkan diri dan mengenakan pakaian mereka kembali. Entah apa yang sebenarnya melintas di otak Shelvi ketika mengajak Reisha melakukan threesome dengan pacarnya, namun yang jelas semua pihak yang terlibat kini merasa bahagia.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ceritasex.cn/berbagi-nikmat-dengan-sahabat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Nikmatnya Istri Anak Buahku</title>
		<link>http://www.ceritasex.cn/nikmatnya-istri-anak-buahku-2/</link>
		<comments>http://www.ceritasex.cn/nikmatnya-istri-anak-buahku-2/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 27 Apr 2010 17:24:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cerita Sex</dc:creator>
				<category><![CDATA[Paruh baya]]></category>
		<category><![CDATA[Seks Umum]]></category>
		<category><![CDATA[selingkuh]]></category>
		<category><![CDATA[binal]]></category>
		<category><![CDATA[istri]]></category>
		<category><![CDATA[ngentot]]></category>
		<category><![CDATA[seks]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ceritasex.cn/?p=1371</guid>
		<description><![CDATA[Ceritanya dimulai sewaktu saya ditugaskan sebagai staff di pabrik pengolahan minyak sawit di salah satu perkebunan di Sulawesi. Namaku Alex, umurku 27 tahun, belum menikah. Sebagai seorang staff yang baru pindah ke daerah perkebunan, dimana masyarakat yg tinggal sangat berjauhan kecuali karyawan dan staff perkebunan yg sengaja dibuat dalam satu perumahan, mutlak sebagai pendukung utama [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Ceritanya dimulai sewaktu saya ditugaskan sebagai staff di pabrik pengolahan minyak sawit di salah satu perkebunan di Sulawesi. Namaku Alex, umurku 27 tahun, belum menikah. Sebagai seorang staff yang baru pindah ke daerah perkebunan, dimana masyarakat yg tinggal sangat berjauhan kecuali karyawan dan staff perkebunan yg sengaja dibuat dalam satu perumahan, mutlak sebagai pendukung utama opersional yang sewaktu-waktu bisa dipanggil dalam waktu 24 jam.</p>
<p style="text-align: justify;">Walaupun sebagai staff, karena sebelumnya perumahan sudah diisi oleh sebagian karyawan yg sudah duluan menempati, saya menempati rumah kopel kayu (dua rumah dempet menjadi satu bangunan) ketiga dari ujung dan agak kecil yg sebenarnya fasilitas untuk karyawan biasa. Manager pabrik sendiri menganjurkan agar memindahkan karyawan yg sudah menempati fasilitas rumah (rumah single beton) yang sebenarnya diperuntukkan bagi staff bujangan maupun keluarga, tapi untuk mengambil hati para karyawan yang mana nantinya juga akan menjadi bawahan saya.</p>
<p style="text-align: justify;">Akhirnya sayapun minta agar diijinkan menempati rumah kopel ketiga dari pinggir menghadap ke timur berhadapan dengan rumah yang menghadap ke barat dibatasi oleh jalan besar belum diaspal tapi sudah dikerasin.</p>
<p style="text-align: justify;">Rumah tetangga sebelah kiri yang agak berjarak tanah kosong selebar satu rumah ditempati oleh karyawan laki-laki yang sudah berkeluarga teapi istrinya masih tinggal di rumah orangtuanya , jauh dari lokasi perkebunan. Biasanya dia pulang sekali sebulan untuk mengantarkan gaji bulanan untuk nafkah anak istrinya.</p>
<p style="text-align: justify;">Rumah sebelah kanan yang merupakan pasangan rumah kopelku ditempati oleh karyawan laki-laki berumur 35 tahun, namanya bersama Nardi bersama istrinya yang berumur 33 tahun, namanya Hartini. Hartini walaupun bukan termasuk wanita kota, tapi sangat modis dan mengikuti kemajuan jaman disesuaikan dengan kondisi ekonomi. Yang paling membuat saya sangat kagum adalah bentuk payudara yang sangat padat berisi dan body yang cenderung montok.</p>
<p style="text-align: justify;">Dengan kondisi rumah kopel kayu seperti itu biasanya sepelan apapun pembicaran ataupun gerakan dalam rumah akan terasa di rumah sebelah. Dan saat itu kebetulan Nardi masuk dalam shift-1 dibawah pimpinan saya.</p>
<p style="text-align: justify;">Karena saya masih bujangan dan memang bukan tipe yang rajin ngurus rumah, untuk makan biasanya saya makan di warung yang berada di luar lingkungan perumahan berjarak sekitar 500 meter dari perumahan pabrik dan 50 meter dari pabrik. Untuk cuci pakaian, aku usahakan cuci sendiri walaupun hanya satu kali seminggu. Seringkali kalau udah malam atau hujan, terpaksa aku tidak makan nasi, hanya mengandalkan mi instant yang direbus seadanya. Karena mungkin kasihan, pada suatu sore sepulang kerja shift-1 pagi, kami bertiga, aku, Nardi dan Hartini ngobrol di teras, dan saat itu Nardi yang menjadi bawahanku itu menyarankan agar makan di rumahnya saja setiap hari dengan membayar secukupnya kepada istrinya.</p>
<p style="text-align: justify;">Akhirnya terjadi kesepakatan untuk makan setiap hari sekalian cuci pakaian ditanggung jawabi oleh Hartini. Karena setiap hari berdekatan dan makan bersama semakin lama hubungan kamipun semakin akrab dan tidak sungkan lagi ngobrol berdua tanpa suaminya.</p>
<p style="text-align: justify;">Awal kejadian pada suatu sore sepulang kerja sekitar jam 16.00, dan Nardi masih lembur di pabrik untuk mencari tambahan aku dan Hartini duduk ngobrol di teras. Saat itu aku menanyakan kenapa mereka yang sudah menikah 9 tahun belum punya anak. Dia dengan malu-malu bercerita bahwa mereka sudah sangat menginginkan anak dan sampai saat ini Hartini sudah periksa ke dokter dan dinyatakan tidak ada masalah, dan suaminya sendiri katanya tidak mau periksa karena merasa tidak ada kelainan dalam hal fisik, dan kebutuhan batin istrinya sanggup terpenuhi.<br />
<span id="more-1371"></span><br />
Dari situ, semakin lama pembicaraan kami semakin bebas sampai saya bercerita bahwa aku pernah mempunyai bekas pacar yang fisiknya agak montok seperti Hartini, dan iseng-iseng aku mengatakan bahwa biasanya wanita yang cenderung montok mempunyai payudara yang lembek dan turun dan rambut vagina sedikit dan jarang-jarang. Hartini membantah bahwa tidak semuanya begitu, dan dia sendiri mengatakan bentuk kepunyaan dia sangat bertolak belakang dengan yang saya katakan. Karena saya penasaran saya katakana bahwa Hartini pasti bohong, tapi dia menyangkal, akhirnya dengan jantung berdebar keras takut kalau Hartini marah saya minta tolong apabila bersedia ingin melihatnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Tapi mungkin demi menjaga agar dia tidak dianggap murahan, dia menolak keras, lama kelamaan saya memohon dengan muka pura-pura dibuat kasihan ditambah alasan bahwa sudah kangen banget sama pacar yang saat itu berada di Jakarta yang biasanya sekali seminggu bertemu, akhirnya dia mengatakan dengan pipi merah bahwa saya boleh melihat dia tapi dari jauh dan tidak boleh menyentuhnya. Saya tentu saja dengan cepat menyetujuinya. Dengan gerak malas-malasan atau dibuat pura-pura berat hati, dia berjalan menuju kamar belakang yang berdampingan dengan kamar depan dan tak lupa menutup jendela belakang yang berhadapan dengan lahan perkebunan masyarakat untuk menjaga apabila secara kebetulan ada orang yang bekerja di lahan tersebut. Kemudian dia berdiri sambil tersenyum malu-malu kepada saya yang tak mau melepasakan pemandangan indah tersebut dari jendela depan yang sengaja saya atur posisi saya masih di teras tetapi kepala saya melongok ke dalam rumah seakan-akan kalau orang melihat dari halaman ataupun lewat dari jalanan kami sedang berbicara dengan orang yang berada di dalam rumah. Jarak antara posisi duduk saya (diperbatasan teras rumah saya dengan rumah dia) hanya berjarak sekitar empat meter saja ke posisi dia berdiri di kamar belakang.</p>
<p style="text-align: justify;">Dengan lagak seorang model dia bergerak pelan-pelan membuka kaos birunya sambil jalan ke kiri dan kanan secara perlahan sampai ke balik pintu kamar sampai mata saya kadang tidak mampu melihat pemandangan yang mengasyikkan, tetapi setiap mau ke arah balik pintu saya perlahan teriak “Tin, jangan sampai kesitu dong, aku nggak bisa lihat nih.”. Sepertinya Hartini memang sengaja membuat saya penasaran. Kaos yang ditarik ke atas lalu dijepit oleh ketiaknya dan kelihatan BH berwarna merah menyala seakan-akan tidak mampu menutupi semua payudara montok putih yang menyembul keluar dari bagian atas BH nya seakan-akan protes mengapa dia dijepit terlalu keras.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah didiamkan sekitar 30 detik, sambil tersenyum mengedipkan mata sebelah kepada saya, dia pun mulai membuka kancing depan BH dan membiarkan cup BH nya menjuntai kebawah. (Akhirnya saya ketahui bahwa Hartini mempnyai ukuran 36 dan cupnya saya kurang tau, yang jelas satu telapak tangan saya masih belum bisa menutupi sebelah payudaranya dan dia mempunyai BH yang tidak mempunyai kancing di belakang).</p>
<p style="text-align: justify;">Mata saya seakan-akan mau keluar melihat pemandangan tersebut, sedangkan dia sendiri seakan-akan bangga menatap bagaimana saya sangat terpesona dengan payudaranya dengan puting sebesar puntung rokok Sampoerna Mild dan berwarna coklat kemerahan . Dalam 30 detik seakan-akan saya tidak bernafas tidak mau melepaskan pandangan saya sampai akhirnya dia berseru pelan “Udah ya, ntar lagi suamiku pulang” Saya tidak dapat berkata apapun saat itu dan sesudah merapikan pakaiannya, Hartini kembali ke teras seakan-akan tidak terjadi apa-apa kecuali berdiam diri dan duduk diteras rumahnya sedangkan saya sudah pindah duduknya kembali ke teras rumah saya. Setelah beberapa lama, perlahan berkata, “Jangan bilangin sama siapa-siapa ya?” kelihatannya Hartini sangat ketakutan apabila diketahui orang lain.</p>
<p style="text-align: justify;">“Jelas dong, masak gua bilangin sama orang, kan gua juga menanggung resiko” Sesaat kemudian dari jauh sudah kelihatan bahwa Nardi sudah pulang bersama teman-temannya yang ikut lembur. Kami pun berusaha berbicara normal tidak perlahan lagi tetapi membicarakan yang lain. Setelah menaiki tangga, Nardi langsung menyerahkan tas bekalnya kepada Hartini dan Hartini langsung membawa masuk sambil memberesi tempat bekal suaminya. Saya dan Nardi ngobrol sebagaimana layaknya bertetangga walaupun dia tetap menaruh hormat karena bagaimanapun kalau di pabrik dia menjadi bawahan saya.</p>
<p style="text-align: justify;">Malamnya saya terus memikirkan persitiwa tadi sore, kenapa dia bersedia menunjukkan sesuatu yang harusnya hanya boleh dilihat oleh suaminya, padahal dia mengatakan dalam hal kepuasan batin dia mengakuinya. Dalam hati saya berniat untuk lebih jauh., lagi mengingat bahwa Hartini tidak marah. Besoknya kira-kira dalam situasi yang sama sepulang kerja kami ngobrol kembali, dan saya beranikan untuk memancing lagi.</p>
<p style="text-align: justify;">“Kemarin memang benar ya, punya kamu memang bagus sekali bukan karena BH”. Dia tersenyum manis sedikit malu mungkin merasa bangga dengan pujian yang keluar dari mulut saya. “Tapi saya nggak yakin bahwa rambut bawah kamu bukan seperti yang saya lihat punya bekas pacarku dulu” Dengan masih tertawa kecil dia memperbaiki rambutnya dengan kedua tangannya. “Kan kemarin aku bilang apa, sekarang minta itu, sekarang ini, besok minta yang lain lagi dong Awas lho nanti ketahuan pacarmu yang sekarang di Jakarta, tau rasa deh.” “Nggak mungkin dia tahu, kecuali kamu yang bilangin”</p>
<p style="text-align: justify;">Walaupun saya menjawab mengatakan tidak perlu khawatir, tapi dalam hati saya bertanya kenapa justru pacar saya yang dia khawatirin bukannya diri sendiri atau suaminya. Berkat bujukan dan rayuan seorang laki-laki walaupun bukan seorang ahli, dia berkata perlahan “Tapi ingat ya, hanya sebentar dan sekali ini saja ya. Aku takut nanti ketahuan sama suamiku, bisa dibunuh aku nanti. Sekalian awasi orang lain mana tau ada yang mau kesini” Saya hanya mengangguk cepat, tak sabar melihat pemandangan yang akan saya lihat. Perlahan Hartini berjalan menuju kamar belakang sambil saya menikmati pantatnya seperti pantat bebek sedang berjalan. Pemandangan dari belakang membuat penis saya sudah mulai naik dan saya langsung membereskan posisi kontol saya agar tidak sakit. Sesampai di kamar dia pun sepertinya agak gugup mengintip sekeliling luar rumah dari celah papan. Sebentar kemudian dia menaikkan rok katun berwarna hitam setinggi lutut sampai celana dalam merahnya kelihatan. Mata saya seakan tidak mau berkedip takut melewatkan pertunjukan gratis tersebut. Dia menatap saya dengan mata gugup, sepertinya ingin pertunjukan tersebut.</p>
<p style="text-align: justify;">“Lex, udah lihat kan” teriaknya perlahan seperti berbisik. “Kan belum dibuka, tadi udah janji boleh lihat dari jauh. Kalau nggak aku aja deh yang buka ke situ ya” sahutku dengan perlahan sambil mata mengawasi sekeliling, tapi saya yakin masih kedengaran kepada dia. “Jangan …jangan kesini, disitu aja.”dia menjawab sepertinya ketakutan. Saya pun menganggukkan kepala. Kemudian dia melepaskan lagi rok yang sebelumnya diangkat sampai jatuh seperti posisi biasa, dan kedua tangannya masuk dari bawahnya menurunkan celana dalamnya sampai lepas, dengan sebelah tangan masih memegangi celana dalam kemudian Hartini mengangkat roknya kembali ke atas. Ya ampun…… Vaginanya sepertinya tertutupi oleh pegunungan hitam. Dia menatap saya dan mengangguk dengan ekspresi meminta persetujuan agar selesai. Saya sendiri berusaha agar lebih lama lagi menonton, tapi 15 detik kemudian dia langsung membungkuk dan memakai kembali celana dalamnya. Kemudian dia membuka pintu kamar belakang untuk menghilangkan kecurigaan suaminya apabila pulang nantinya dan langsung menuju dapur untuk memberesi makan malam kami nantinya dan tidak bertemu lagi sampai kami makan malam.</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam hati saya mulai yakin bahwa saya tidak bertepuk sebelah tangan. Selama ini apabila saya merasa sudah horny, sayang melampiaskan dengan onani di kamar sambil tiduran ataupun di kamar mandi. Semenjak kejadian tersebut saya mulai berani memeluk, mencium maupun meraba sekalian menciumi buah dadanya sewaktu giliran Hartini mau mengantarkan pakaian bersih dan menyusun di lemari pakaianku yang saya tempatkan di kamar tidurku. Biasanya sewaktu dia mau ngantar pakaian di depan pintu kamar biasanya dia sudah kasih kode jari di mulut, memberi info tidak aman. Apabila aman dia cuma senyum kecil, saya mengartikan isyarat aman. Disaat seperti itulah biasanya saya bisa menikmati bibir maupun teteknya. Kadang saking gemasnya saya tak sadar mengisap puting buah dadanya sampai dia kesakitan dan berbisik “Lex…. Jangan keras-keras. Emang nggak sakit.” Biasanya saya langsung minta maaf dan mengelus-elus buah dadanya dengan mesra. Ada kalanya Hartini tidak mau dicium karena sedang pake pewarna bibir, katanya nanti kalau dicium bisa hilang, suaminya bisa curiga, Sampai sampai sewaktu memberikan uang makan dan cuci pakaianku pun selalu saya menaruhnya sendiri di tengah buah dadanya baru saya tutup sendiri BH nya dan diakhiri dengan senyum dan cium.</p>
<p style="text-align: justify;">Puncak perselingkuhan kami adalah saat saya mau masuk shift sore, masuk jam empat sore dan biasanya pulang jam 12 malam, kalau buah sawit sedang panen raya dan menumpuk biasanya diteruskan sampai pagi. Setiap shift sore biasanya saya akan pulang sekitar jam 7 atau 8 malam untuk malam, sementara bisa bergantian dengan asistenku, biasanya jatah satu jam. Dan suami Hartini yaitu Nardi biasanya karena tidak punya kendaraan, malas pulang dan sudah membawa bekal dari rumah sore harinya. Sore itu sekitar jam 2 siang saya sudah mandi dan bersiap-siap mau berangkat, karena sebagai kepala shift harus koordinasi dulu dengan kepala shift pagi, dan saya masih memakai handuk bertelanjang dada di kamar, Hartini datang ke kamar sambil menaruh jari diatas bibir, pertanda tidak aman. Saya berbisik, “Emang dimana suamimu” “Itu masih lagi tidur di kamar” jawabnya perlahan. Hartini pun berjalan menuju lemari pakaianku sambil tangan kirinya mencubit puting tetekku. Saya merasa geli, dan mau membalas mencubit teteknya. Dia mengelak sambil berbisik,</p>
<p style="text-align: justify;">“Jangan sekarang, ntar malam aja, waktu pulang makan” “Dimana” “Ntar ke kamar saja langsung, pintu belakang tidak kukunci, hanya ditutupkan saja” “Tapi nanti jangan pake apa-apa ya.“ godaku pelan sambil main mata. Saya diam memikirkan kata-katanya, Sambil berjalan ke teras saya masih sempatkan meraba pantatnya sampai dia menepiskannya. Saya kaget memikirkan ada apa Hartini malah mengundang saya malam-malam ke kamarnya. Sampai di pabrik saya tidak konsentrasi dalam mengawasi karyawan melakukan tugas masing-masing dan masih memikirkan apa maunya Hartini. Saya sengaja agak lebih lama pulang makan malamnya sekitar jam 8.30 malam, dan suasana perumahan sudah agak sepi karena gerimis dari sore. Saya langsung menempat motor dinas ke belakang rumah agar tidak menyolok dari luar. Saya masuk rumah dan menyalakan lampu sebentar kemudian dari celah papan, saya mengintip rumah sebelah dan kelihatan rumah sangat gelap, karena biasanya pada saat tidur memang kebiasaan lampu dimatikan. Pandangan orang dari luar kalau lampu sudah dimatikan biasanya enggan bertamu paling tidak kalau tidak benar-benar penting sekali.</p>
<p style="text-align: justify;">“Tin…..udah tidur ya, kesini dong?” teriakku pelan, sampai dua kali saya berteriak pelan, Hartinipun mendekat dibatasi oleh papan pembatas berbisik “Pintu belakang tidak dikunci, Alex aja yang kesini” Sayapun berjalan menuju kebelakang rumah sambil mematikan lampu ruang tengah, sehingga dari luar kelihatan saya sudah pergi kembali ke pabrik. Karena sangat gelap saya membiasakan mata dulu, baru mengawasi sekeliling. Mengingat kaos kerja yang saya pakai berwarna putih, saya membuka dan menyangkutkan di pintu belakang sebelah dalam. Lalu berjingkat-jingkat perlahan saya menuju pintu belakang rumah Hartini. Dengan sangat hati-hati saya mendorong pintu, takut mengeluarkan suara dan berjalan pelan sekali sambil menahan nafas, takut getaran kaki saya di lantai papan kedengaran sama orang lain. Memasuki kamar depan, Hartini kelihatan tidur dengan memakai kain sarung sebatas dada dan kaos you can see berwarna pink yang bisa saya lihat dari cahaya lampu jalan di depan rumah masuk dari celah papan kayu. Hartini berpura-pura memejamkan mata.</p>
<p style="text-align: justify;">Saya langsung jongkok di sampingnya dan meraba bua dadanya tanpa membuka kain sarungnya. Dia melirik sambil tangannya mencubit pipi saya. Saya teruskan dengan mencium bibirnya. Tak lama kemudian dia pun membalas dan tangan saya mulai menurunkan kain sarungnya dan manaikkan kaos sampai buah dadanya kelihatan penuh. Saat itu Hartini tidak memakai BH lagi seperti godaan saya siang harinya. Agak lama kami berciuman sambil tangan kananku meremas-remas kedua buah dadanya. Saya merasa sudah sangat bernafsu begitu juga penglihatan saya kepada Hartini. “Tin, mau nggak kita masukin, ntar aku buang di luar deh.” bisikku “Lex, jangan dibuang di luar” jawabnya pelan sambil memelukku lebih keras sambil mencium pipi kiriku . “Ntar kalau hamil gimana dong, bisa bahaya kita” sahutku. Tanganku masih terus memutar-mutar puting kirinya. Tangan kiriku memangku lehernya sambil menahan berat tubuhku, karena saat itu saya masih jongkok. “Biar aja. Aku kan punya suami. Kalau aku hamil kan wajar” “Tapi kalau nantinya anaknya lahir mirip aku gimana dong, suamimu bisa curiga loh”</p>
<p style="text-align: justify;">Dia menatap saya memelas, seperti meminta pertolongan, saya merasa kasihan melihat wajahnya. “Tolongin aku ya Lex, pokoknya dikeluarin didalam aja. Saya tanggung kamu tidak akan apa-apa. Aku pengen hamil Lex. Aku ingin buktikan kepada keluarga suamiku bahwa aku tidak mandul.” Sepertinya dia memohon. Saya ingat bahwa Hartini pernah cerita bahwa beberapa keluarga suaminya diam-diam sudah menganjurkan agar suaminya mencari istri lagi kalau ingin punya anak. “Kamu sudah yakin” Saya ingin menegaskan lagi bahwa dia memang meninginkannya. “Iya Lex, tolongin aku ya” bisiknya langsung mencium bibirku. Saya pun membalas ciumannya setelah yakin dia memang sangat menginginkannya. Sambil tetap berciuman tanganku mulai menarik turun kain sarungnya sampai lepas melewati kaki. Saya melepaskan bibirku turun ke puting buah dadanya sambil tangan kananku meraba pangkal paha. Sepertinya celana dalam Hartini sudah agak basah. Hartini mendesah pelan sambil tangannya masih memeluk kepalaku, sekali-kali berusaha menekan kearah teteknya yang sedang saya putar-putar pakai lidah, sambil tanganku menarik celana dalamnya turun lepas dari kakinya dibantu dengan gerak pantat Hartini yang terangkat. Mataku sekali-sekali melirik ke arah vagina yang ditumbuhi rambut-rambut keriting yang lebat dan tanganku meraba-raba menyisihkan bulu-bulu jembut yang tumbuh dengan suburnyaitu agar tanganku bisa masuk ke lubang vaginanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Refleks tangan kiri Hartini menangkap tangan kananku dan menariknya ke atas tanpa melepaskannya lagi. Saat itu mulutku mulai turun ke arah perut, tetapi sesampai pusar Hartini menolak dan menahan kepalaku agar jangan sampai ke memeknya. Saya berusaha pelan-pelan menarik kepalaku sampai mulutku hampir mencium vaginanya. Tiba-tiba Hartini bangun duduk. Saya kaget dan takut dia marah. Sambil menatapku dia melingkarkan tangannya ke leherku, berbisik. “Jangan cium, bau. Aku nggak mau dicium itu.” “Nggak bau kok Tin, malah harum. Sebentar aja ya” jawabku merayu sambil cium lehernya. Hartini menggelinjing dan sambil mendesah pelan “Pokoknya jangan ya Lex, kamu masukin aja punya kamu” Tangannya meraba ke arah kontolku, yang sudah menegang tapi tidak maksimum karena kurang konsentrasi, setiap saat harus mengawasi suara di sekeliling rumah. Saat itu saya malah masih memakai celana kerja telanjang dada. Hartini berusaha membuka gesper, tapi agak kesulitan. Saya bangun dan membuka sendiri sampai benar-benar telanjang. Lalu saya tunjukkan kontolku kepada Hartini, dia membuang muka.</p>
<p style="text-align: justify;">Saya memegang kepalanya bermaksud agar dia mau mengoral kontolku, tapi dia bertahan tidak mau. Akhirnya kami kembali berbaring di tempat tidur menetralkan suasana sambil kembali memulai cumbuan. Akhirnya saya dan Hartini sepertinya sudah kembali sama-sama terangsang, dan saya putuskan mengangkat kaki kananku merenggangkan kedua kakinya. Sedikit demi sedikit kakinya mulai ngangkang sampai kedua kakiku bisa masuk, siap untuk memasuki lubang surga. Tapi Hartini memelukku dengan erat sampai mulutnya menyumpal mulutku dan membisiki, “Kita di lantai aja ya. Jangan disini. Soalnya tempat tidurnya berisik nanti” Tanpa menjawab saya langsung bangun turun dari tempat tidur dan Hartini ikut bangun sambil bawa sebuah bantal dan berbaring merenggangkan kakinya di lantai. Saya yang sudah nggak sabaran langsung mengambil posisi. Tak lupa kaos pinknya saya buka sampai lepas melewati kepala. Tangan kanan saya memegang kontolku mengarahkan ke vagina yang sudah banyak mengeluarkan cairan birahi. Sesaat sesudah menyentuh bibir vaginanya, kami berdua saling memandang, seakan-akan meminta persetujuan, dan mulutku mencium mulut Hartini dan langsung dibalas sambil memeluk erat.</p>
<p style="text-align: justify;">“Tin, gua masukin ya. Nggak nyesal kan?” bisikku kembali memastikan. Hartini tidak menjawab, hanya menganggukkan kepala pelan, tapi terasa bahwa dia sudah merespon, pelan-pelan saya masukin kontolku yang berukuran diameter 4 cm dan panjang 12 cm. Saya menahan nafas begitupun Hartini menikmati saat indah tersebut. Walaupun vagina Hartini sudah mengeluarkan banyak cairan lendir, sepertinya masih bisa kurasakan betapa saat memasuki memeknya terasa nikmat sampai sesudah masuk semua, saya diamkan sambil memandang muka Hartini yang memejamkan matanya. Sesaat kemudian dia membuka matanya dan langsung buang muka merapatkan pelukannya sambil mencium leherku. Dengan bertumpukan kedua siku di lantai saya mulai menaik-turunkan pantatku, sampai kedengaran bunyi suara dari lubang vagina Hartini seperti suara tepukan tangan di air. “Plok…plok….plok……” Beberapa lama saya menggenjot kontolku, tiba-tiba kedua kaki Hartini menjepit keras kedua kakiku sampai saya kesusahan mengangkat pantatku, sampai saat pantatku kuangkat terasa berat karena pantat Hartini juga ikut terangkat dan kurasakan leherku digigit. Saya berpikir mungkin dia sudah orgasme, tapi kurasakan juga ada yang mendesak dari kontolku.</p>
<p style="text-align: justify;">“Kamu udah keluar duluan ya” tanyaku karena jepitan kakinya terasa semakin lama semakin lemah sampai kini telapak kakinya sudah menapaki lantai kayu lagi seperti semula. Dia tidak menjawab hanya mencaricari mulutku dengan mulutnya dan melumat lidahku. “Aku udah mau keluar nih, keluarin diluar aja ya?” bisikku sesaat setelah bisa melepaskan lidahku dari mulutnya, memastikan karena saya masih takut resikonya di kemudian hari. “Tolongin aku Lex..aku ingin sekali hamil.” Suaranya seperti mau nangis meminta. Tapi tangan kanannya sudah ditaruh diatas pantatku sepertinya menjaga agar nantinya saya tidak melepaskan kontolku dari vaginanya. “Ya udah, tapi kamu harus jaga rahasia ini baik-baik ya?” jawabku “Iya…iya…nggak usah khawatir, tapi janji jangan dibuang diluar ya” bisiknya. Saya nggak jawab lagi tapi mulai menggenjot memeknya lagi yang sepertinya semakin kurang menjepit karena sudah orgasme seraya mulutku mengulum lidahnya. Beberapa saat kemudian aku membisiki telinganya, “Aku udah mau keluar” sambil genjotanku semakin cepat dan tangan kanannya menekan pantatku semakin keras ditambah kedua kakinya menekan belakang pahaku dari atas sambil tangan kirinya memeluk leherku dengan ketat, sampai akhirnya “Ouchhhhhh……” mulutku mengulum mulut Hartini seakan mau menghabiskan saat itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Dan terasa ada yang keluar dari kontolku membasahi memek Hartini. “Crooot….crooot…croooooot…” Sampai rasanya tidak ada lagi yang dikeluarkan baru saya menghentikan genjotanku dan diam bertumpukan kedua siku tangan dan kontolku sengaja saya tumpukan ke vagina Hartini. Saya terdiam tidak bergerak, sambil memandangi mukanya yang terpejam. Kukecup bibirnya dan berbisik. “Tin, aku balik ya, kelamaan ntar orang lain bisa curiga” “Makasih ya Lex, makan malamnya sudah aku taruh di rumahmu tadi sebelum kamu datang.” jawabnya pelan. Tetapi ketika saya mau melepaskan kontolku dari vaginanya, dia meraih leherku dan sesaat mencium bibirku dengan mesra. Ketika sudah dilepaskan aku langsung bangkit berdiri dan mencari celanaku yang saya lupa taruh dimana. Hartini masih tiduran dan merapatkan kakinya memandang saya dan mengarahkan telunjuknya ke tempat tidur, tapi yang saya lihat malah celana dalamnya, dan mengambil dengan tangan kiri untuk diserahkan kepada Hartini , tapi dia malah menarik tangan kananku dan tangan kanannya menyambut celana dalamnya seraya menyuruhku pelan agar jongkok Saya mengikuti saja tanpa tahu kemauannya.</p>
<p style="text-align: justify;">Hartini melap kontolku yang masih basah dengan pejuku yang bercampur dengan cairannya sendiri dengan celana dalam putihnya, saya tersenyum dan meremas susunya dengan tangan kiri. Kemudian telunjuknya menunjukkan dimana tadi celana saya lepaskan. Sesaat sesudah saya memakai celana, saya jongkok untuk mencium dia dan pamit sekalian berterima kasih atas bonus cuci pakaian dapat cuci penis, dia tersenyum sambil mencubit pelan pipi kiriku. Begitulah sampai sekitar 6 bulan kemudian kami sering melakukan hubungan suami istri setiap ada kesempatan, walaupun tidak setiap bersetubuh Hartini mendapat orgasme karena kadang saya merayu dengan alasan biar lebih cepat hamil walaupun dia sedang tidak menginginkannya atau takut ketahuan orang lain yang penting birahiku terpuaskan. Enam bulan kemudian saya menikah dan istriku menjadi seorang ibu rumah tangga yang tinggal bertetangga dengan Hartini, dan anehnya empat bulan sesudah menikah istri saya hamil. Saya merasa kasihan kepada Hartini, walaupun kami berhubungan sekitar enam bulan seperti suami istri belum hamil-hamil juga bahkan sampai saya mutasi ke Jakarta kembali. Dia hanya sedih menatap kepergian kami sewaktu mau meninggalkan perumahan tanpa kata-kata perpisahan..</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ceritasex.cn/nikmatnya-istri-anak-buahku-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Nyonya Astrid</title>
		<link>http://www.ceritasex.cn/nyonya-astrid/</link>
		<comments>http://www.ceritasex.cn/nyonya-astrid/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 26 Apr 2010 05:06:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cerita Sex</dc:creator>
				<category><![CDATA[Paruh baya]]></category>
		<category><![CDATA[Seks Umum]]></category>
		<category><![CDATA[selingkuh]]></category>
		<category><![CDATA[astrid]]></category>
		<category><![CDATA[bimo]]></category>
		<category><![CDATA[bokep]]></category>
		<category><![CDATA[istri tetangga]]></category>
		<category><![CDATA[ngentot]]></category>
		<category><![CDATA[nonton bf]]></category>
		<category><![CDATA[semarang]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ceritasex.cn/?p=1359</guid>
		<description><![CDATA[Kejadian ini sudah terjadi beberapa tahun yang lalu, Ketika aku baru beberapa bulan pindah ke sebuah perumahan yang masih sepi dari penghuni. Jika malam itu adalah malam sial bagiku, mungkin benar… pasalnya siangnya Puspa istriku berangkat ke Semarang dijemput mas Tono kakak lelakinya, untuk menghadiri pernikahan sepupu mereka, sedangkan aku memang ga ikut karena ga [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Kejadian ini sudah terjadi beberapa tahun yang lalu, Ketika aku baru beberapa bulan pindah ke sebuah perumahan yang masih sepi dari penghuni. Jika malam itu adalah malam sial bagiku, mungkin benar… pasalnya siangnya Puspa istriku berangkat ke Semarang dijemput mas Tono kakak lelakinya, untuk menghadiri pernikahan sepupu mereka, sedangkan aku memang ga ikut karena ga mungkin meninggalkan tugas kantor yang memang sedang tinggi loadnya di akhir tahun ini… Yang pertama malam ini aku bakal kesepian di rumah, yang kedua baru tadi pagi menstruasi Puspa istriku berhenti, seharusnya malam ini aku dapat jatah setelah selama hampir seminggu kejantananku ga ketemu musuh … Makanya sepulang kantor aku mampir ke Glodok tempat yang memang sehari-hari aku lewati… kubeli beberapa filem bokep… pikirku lumayan untuk menghabiskan week end ini…. Menjelang memasuki gerbang perumahan yang masih sepi dari penghuni ini, hampir aku mengumpat keras, ketika ingat kalao DVD playerku masih berada di tukang service yang seharusnya sudah bisa diambil beberapa hari yang lalu dan sekarang, gila aja kalau aku harus putar balik menembus kemacetan Jakarta hanya untuk mengambil benda itu…. Aaaah… aku ingat mas Budhi satu-satunya tetangga terdekatku yang rumahnya bersebelahan dengan rumahku, aku bisa pinjam dia… kembali aku bernafas lega. Sehabis mandi, segera aku bertandang ke rumah sebelah, aku sempat heran, ga biasanya masih jam 20.30 ruang tamunya sudah gelap, padahal mobil Avanza hitam miliknya ada di rumah, berarti mas Budhi ada dirumah… simpulku sederhana…</p>
<p style="text-align: justify;">“ Mas Budhii… maaas…” panggilku dari luar pagar, sesekali kuketok-ketokkan gembok ke pagar besi, sehingga terdengar suara besi beradu nyaring… Agak lama kulihat lampu ruang tamu menyala, tapi pintu tidak segera dibuka, kulihat tirai sedikit tersingkap dan ada yang mengintip dari dalam, tumben pake diintip segala…. Biasanya mas budhi langsung buka pintu. “ Eeeiii… Bimooo… sorry ya…ayo masuk pagar ga dikunci kan..?” seru suara wanita yang sangat aku kenal, mbak Astrid istri mas Budhi keluar dari pintu dengan pakaian tidurnya dilapisi sweater “ Lho mas Budhi mana mbak… sudah tidur..? waduu jadi ngganggu neeh..?” kataku agak kikuk ketika aku sudah duduk di ruang tamu itu mas Budhi ga muncul.. “ Mas Budhi sedang tugas ke Medan Bim… eh mau minum apa neeh..?” mbak Astrid wanita berwajah cantik ini menawarkan minum yang membuatku semakin jengah untuk duduk berlama-lama disitu, pasalnya mba Astrid dengan pakaian tidur yang tipis memperlihatkan bayangan celana G-String putihnya… aku yakin bagian atas jika tak tertutup sweater akan membayang BH nya… atau mungkin ga pake… yang aku tahu ibu ini buah dadanya sangat montok… Sebenarnya antara aku dan mbak Astrid sudah akrab sekali, bahkan kalo bercanda kadang-kadang agak seronok… tapi itu justru jika ada di depan mas Budhi atau ada Puspa istriku.. ketika berdua begini aku jadi kaya mati angin… sementara mba Astrid masih bersikap wajar…</p>
<p style="text-align: justify;">“ Waah.. ga usah repot-repot mbak… aku hanya mau pinjem DVD player aja kalo bisa…” kataku dengan agak sungkan… “ Ada kok Bim… bentar aku lepasin kabel-kabelnya yah… sendirian di rumah… mau nonton film jorok ya..?” Tebak mbak Astrid yang tengah berlutut di lantai mencabuti kabel DVD player yang berada dibawah kolong membelakangiku sehingga pantatnya yang montok itu ngepress di baju tidurnya yang tipis dengan celana G-String, terlihat pantat montok itu bagaikan tanpa celana…mau ga mau kejantananku yang sudah seminggu ga ketemu musuhnya merespon positif&#8230; mulai menggeliat bangun. “ Waaah… eeehhh… anuu… buat nonton video pengantin temen yang baru diedit” jawabku sempat gagap… “ Alllaaaaaa… ga usah ngelesslaaah… iya juga gapapa… udah gede ini…haa..haaa..” potong mbak Astrid sambil meletakkan benda elektronik tipis ini di meja… dengan posisi aga menunduk ini mataku menangkap dua gundukan montok putih mulus tanpa lapisan dari sela-sela sweaternya di dalam daster yang memang berleher rendah… dan mbak Astrid seolah ga merasa akan hal itu…</p>
<p style="text-align: justify;">“ Haaa…haaa… mbak Astrid nuduh neeh… nonton bokep sendirian ga seru… kalo ditemenin mbak Astrid baru seruuu…” jawabku mulai terbawa gaya sembarangannya mbak Astrid… “ Heeee..??? bener ya Bim..? seumur-umur aku belom pernah nonton bokep… soalnya mas Budhi ga pernah ngasih… kamu ada kan filemnya..?” cerocos mbak Astrid tanpa bisa kujawab… dan sebelum aku bisa jawab… “ Ya udah sana kamu duluan aku ngunciin pintu sama matiin lampu dulu….” Tanpa menunggu jawabanku ibu muda ini sudah menghilang ke belakang… Dengan gontai aku melangkah pulang sambil nenteng DVD player milik mba Astrid&#8230; pikiranku jadi kacau, karena mba Astrid kepengen ikut nonton bokep sama aku&#8230; Sampai dirumah sambil masangin kabel-kabel ke monitor aku bingung sendiri… aku bakal mati gaya, nonton bokep berduaan dengan istri orang… Lain semasa bujangan dulu, kalo nonton bokep justru cari pendamping yang bisa dijadikan pelampiasan… Lulu anak Fakultas Psikologi, pendampingku setia nonton bokep… ujung-ujungnya kami saling melampiaskan walaupun hanya sampe oral sex… Lulu ga mau aku setubuhi, katanya waktu itu dia masih perawan… Trus beberapa lagi Titiek, Anita, Mimi… kalo mereka bertiga memang sudah dapat predikat ayam kampus. Bahkan pernah aku dikeroyok mereka bertiga semaleman…</p>
<p style="text-align: justify;">“ Heeeiii aku datang…! ko malah ngelamun Bim…?” Suara mba Astrid membuyarkan lamunanku. Mba Astrid datang dengan membawa tentengan berupa beberapa minuman kaleng dan makanan kecil.. “ Busyeeet bekelnya banyak bener…? Mau sampe pagi…?” seruku untuk menetralisir kebingunganku… Waddduuu… aku pikir mba Astrid tadi berganti baju yang lebih pantas, ternyata masih menggunakan baju tidur yang sama… ini namanya sial atau keberuntungan siiih..???“ Heh..? siapa tau sampe pagi…? Bim aslinya… sebelum kamu datang tadi aku di dalam rumah sendirian, tuh takut… tau ga siih..? sepi bangeeet… makanya aku bawa banyak bekel, ntar kita ngobrol aja sampe pagi… setuju..?” celoteh mba Astrid panjang lebar bener-bener ga berubah sikapnya, ada atau ga ada suaminya… “ Sekarang mau nonton yang mana dulu..? silakan nyonya Astrid menentukan pilihan…” kataku sambil menyodorkan segepok piringan DVD lengkap dengan sampulnya… Pilihan mba Astrid rupanya tepat, pilihan filmnya masih yang XX&#8230; jadi sewaktu nonton kami masih bisa sambil santai bercanda mengkomentari adegan demi adegan, walaupun 2 jam kemudian setelah film pertama selesai aku lihat wajah mba Astrid agak memerah dan sesekali merapatkan sweaternya seolah-olah menyembunyikan dadanya yang montok&#8230;.</p>
<p style="text-align: justify;">“ Mmm&#8230; apa sih yang dikuatirkan mas Budhi dengan aku nonton Bokep, kalo beginian sih ga begitu ngaruh aku rasa Bim&#8230;?” kata mba Astrid sedikit arogan.. sambil milih-milih lagi film yang akan ditonton berikutnya&#8230; “ Yang bener aja deeeh Nyonya Astrid..?? kalo nontonnya sama suami orang..?” Jawabku menggodanya.. entah kenapa aku bisa menemukan panggilan Nyonya Astrid untuknya yang selama ini ga pernah muncul.. “ Haa&#8230; haaa&#8230; suami Puspa sih anak kemaren sore mana berani macem-macem..?” sahutnya setengah menantang dengan bibir manisnya dicibirkan padaku&#8230; Memang usia mba Astrid lebih tua 2-3 tahun dari aku, makanya sering ledekannya kepadaku selalu menyangkut umur dan apalagi memang wajahku kata orang adalah baby face, innocent&#8230; seandainya orang tau kelakuanku di jaman kuliah dulu&#8230; pernah kencan ranjang dengan dosen manajemen&#8230; pernah pacarin anaknya sekaligus nidurin mamanya&#8230; ibu kospun pernah aku embat&#8230; mungkin akan lain kesannya padaku dan kebetulan Puspa istriku aku dapatkan ketika aku sudah di Jakarta dan sama sekali tak tahu masa laluku yang brengsek&#8230;</p>
<p style="text-align: justify;">“ Biim&#8230; iihh asyik banget tuh mereka yak..?” Gumam mba Astrid yang memang dasar mulutnya ga bisa diem&#8230; melihat adegan pose 69 kayanya heran banget&#8230;“ Emang kamu belum pernah mba..?” sahutku polos&#8230;“ Eeeh&#8230; enggak&#8230; no comment.. sssst diem aja ya sekarang..” kudengar mba Astrid menjawab gagap dan suaranya agak bergetar&#8230;. Benar saja suasana jadi hening, apalagi volume film memang kecil supaya ga kedengaran dari luar&#8230;. Tapi kini yang aku dengar adalah suara nafas mba Astrid yang tidak teratur, seolah-olah terengah-engah&#8230; sedangkan aku juga sudah terhanyut dengan adegan syuuur yang terpampang di monitor dan film kali ini adalah XXX&#8230; celana pendekku yang gombrong, di bagian selangkanganku sudah menggembung akibat batang kemaluanku sudah menegang kencang, makanya kutumpangkan bantalan kursi agar ga terlihat oleh mba Astrid&#8230; awalnya aku ga begitu memperhatikan mba Astrid, karena aku sangat terbawa oleh adegan dan wajah-wajah seksi di film itu&#8230; tapi beberapa kali kudengar mba Astrid menghela nafas panjangnya&#8230; dan beberapa kali merubah posisi duduknya, seolah gelisah&#8230; mulailah aku memperhatikan tingkah wanita yang menahan gejolak birahi&#8230;. kulihat sering nyonya muda ini meregangkan jari-jari tangannya&#8230;. dan kulihat wajah yang cantik berkulit putih ini makin memerah, seperti layaknya orang habis minum arak&#8230; Satu setengah jam berlalu&#8230; sesekali kulirik mba Astrid yang duduk di sebelahku persis&#8230; kegelisahannya kulihat semakin hebat&#8230; dan hilang sudah komentar-komentar konyolnya seperti pada film pertama&#8230; Pada suatu saat menjelang film ini selesai&#8230; mata kami bertemu pandang&#8230; kulihat sorot mata yang aneh dari mba Astrid&#8230; sementara kurasa matakupun sudah aneh juga&#8230; dimata mba Astrid..<br />
<span id="more-1359"></span><br />
“ Biiiiiimmmm&#8230;.” Kudengar suaranya mendesah memanggil namaku“ Ya mbaa&#8230;” jawabku tak kalah lirih, dalam pandanganku saat itu yang dihadapanku bukanlah Astrid sebagai wanita yang sudah kukenal baik&#8230;tetapi Astrid sebagai wanita yang sangat menggairahkan sedang menggelar libidonya&#8230; entah siapa yang memulai&#8230; tahu-tahu tangan kami sudah saling menggenggam&#8230; kuremas lembut jari-jari halus mba Astrid. Mba Astrid menundukkan wajahnya ketika wajahku mendekat, kusibakkan rambut panjangnya yang jatuh menutup sebagian wajahnya&#8230; kembali dia mengangkat wajahnya dan wajah kami hampir tak berjarak, hembusan nafasnya terasa hangat dihidungku.. matanya menatapku penuh makna&#8230; Entah keberanian dari mana yang mendorongku mengulum bibir indah yang setengah terbuka milik mba Astrid&#8230; aah reaksi positif kudapatkan&#8230; kulumanku dibalasnya, sejenak bibir kami berpagutan mesra, sampe akhirnya dia melepaskan pagutan bibirnya dengan nafas terengah-engah.“ Aaah Biimo&#8230; jangan&#8230; jangan diteruskan&#8230; bahaya&#8230;” katanya setengah berbisik sambil berusaha melepaskan rengkuhanku&#8230; tak akan kulepaskan nyonya cantik ini&#8230; kepalang tanggung..pikirku.</p>
<p style="text-align: justify;">“ Kenapa mba..? apanya yang berbahaya..?” sahutku sekenanya sambil mendaratkan kecupan bibirku di lehernya yang jenjang&#8230; sejenak dia meronta-ronta kecil berusaha menghindari kenakalan bibirku pada leher mulusnya, sementara tanganku tengah meremasi kemontokan buah dada yang ternyata memang tak mengenakan bra&#8230; beberapa kali tangan halusnya menepiskan tanganku dari dadanya&#8230; tapi segera tanganku kembali ke tempat semula, sampai sesaat kemudian perlawanannya berhenti dengan sendirinya, berubah dengan desah nafas memburu dan geliatan tubuhnya&#8230; serangankupun kukendorkan.. kecupan bibirku kuperlembut demikian juga remasan tanganku berubah menjadi elusan lembut pada kulit payudaranya dan gelitikan mesra pada puting susunya yang sudah mengeras&#8230;“ Bimo&#8230; ssss&#8230; aku ngga tahaaan..” bisiknya pendek, dekat sekali suara itu di telingaku&#8230; ooowww&#8230; daun telingaku dikulumnya&#8230; dijilatinya&#8230;“ Ikuti aja mba&#8230; nikmati aja..” bisikku mesra sambil menarik tali daster yang tersimpul di pundaknya, sehingga memperlihatkan kesempurnaan bukit montok di dadanya.. begitu mulus dengan puting mungil mengeras berwarna merah kecoklatan&#8230; kudaratkan jilatan ujung lidahku pada benda itu, tubuh mba Astrid menggeliat sambil mendesah panjang&#8230;</p>
<p style="text-align: justify;">“ Ssssssshhh&#8230; aaahh&#8230; Biimm..ooo.. aku.. takuut&#8230; mmmmmhh” Tak kupedulikan lagi kalimat-kalimat mba Astrid, karena nafsukupun sudah di ubun-ubun apalagi menghadapi kenyataan ternyata tubuh ibu muda ini memang tak layak untuk dilewatkan sesentipun&#8230; desah-desah resah berhamburan dari mulut mba Astrid, geliatan tubuhnya sudah menunjukkan kepasrahannya kepada birahinya sendiri&#8230; tangannya mulai melingkar di leherku, betapa rambutku digerumasinya, betapa kuatnya jari lentik mba Astrid mencengkeram kulit punggungku, manakala puting susunya kukulum dalam waktu yang lama&#8230;.“ Duuuh&#8230; ampuuunn&#8230;..” desahnya lirih, perutnya yang rata berkulit putih dihiasi lubang pusar berbentuk bagus ini menggeliat erotis, manakala bibirku mengecupinya&#8230; Tubuh atas mba Astrid sudah kutelanjangi, entah kemana daster dan sweaternya jatuh ketika kulempar tadi. Tubuhnya setengah rebah dengan kepala berada di sandaran tangan sofa, sementara kulihat tangannya meremasi payudaranya sendiri&#8230; Mba Astrid mengerang panjang dengan menggoyang-goyangkan kepalanya yang mendongak ketika lubang pusarnya kukorek-korek mesra dengan lidahku&#8230; tubuhnya menggeliat erotis sekali, rupanya disitu adalah salah satu daerah sensitifnya&#8230;</p>
<p style="text-align: justify;">“ Owww&#8230; Biimmoo&#8230; jangaaan&#8230; aku ga mauu&#8230;” bisiknya sambil tangannya menahan daguku&#8230; ketika kukecupi gundukan kemaluannya dari balik celana G Stringnya yang sudah tampak bercak basah&#8230;“ Kenapa mbak..?” tanyaku lembut..“ Ssssshh&#8230; aku belum.. pernah&#8230; maluuu..” jawab mba Astrid, sambil berusaha menarik tubuhku ke atas&#8230; Busyeet jadi diapain aja tubuh indah ini sama mas Budhi..? Selanjutnya tanpa permisi celana G String itu kusingkap ke samping&#8230;. Fuuuiii..! sebuah gundukan kecil yang dibelah tengah dengan rambut kemaluan ga begitu lebat&#8230; sebuah bentuk luar kemaluan wanita yang masih orisinil&#8230; indah sekali belahan yang basah kulihat berdenyut-denyut&#8230; tak ayal lagi lidahku terjulur menyapu cairan yang membasahi belahan indah itu&#8230;. “Aaaaahhh&#8230; Biiiimmoooo&#8230; kamu bandeeelll&#8230;” Erang mba Astrid dengan tubuh semakin hebat menggeliat&#8230; sepasang kaki panjangnya semakin terkangkang lebar&#8230; kaki sebelah kiri terjuntai ke lantai yang beralaskan karpet tebal dan kaki sebelah kanannya ditumpangkan di atas sandaran sofa&#8230; setelah G Stringnya kutanggalkan. Rambutku habis diacak-acak tangannya yang gemas yang kadang mencengkeram erat kulit pundakku&#8230; hal ini membuat aku semakin kesetanan ditambah aroma vaginanya yang segar&#8230; bibirku menciumi bibir vaginanya selayaknya mencium bibir mulutnya dan lidahku menyelip-nyelip memasuki liang yang basah itu sampai sedalam-dalamnya&#8230;. sesekali kukulum clitoris mungil yang sudah mengeras&#8230;</p>
<p style="text-align: justify;">“ Biiimmmmooo&#8230;. ampuuuunn&#8230; nikmaaaaat bangeeettt&#8230;” mba Astrid merintih-rintih dengan suara seperti orang mau menangis&#8230; pinggulnya bergerak-gerak merespon ulah lidah dan bibirku di selangkangannya&#8230;“ Ooowwh&#8230; Biiimmm&#8230; sudaaaaahhhh aku ga tahaaaaan&#8230;” Suara mba Astrid semakin memilukan&#8230; Tiba-tiba tubuh mba Astrid bangkit dan mendorong lembut tubuhku yang tengah bersimpuh di karpet tebal kuikuti saja sehingga tubuhku telentang di karpet sedangkan tubuh mba Astrid mengikuti arah rebah tubuhku sehingga tubuhku kini ditindihnya&#8230;. payudaranya yang montok dan kenyal itu kini menempel ketat di dadaku&#8230; wajah kami begitu dekat dan wajah wanita yang tengah diamuk birahi memang akan semakin terlihat memikat, seperti wajah mba Astrid ini kulihat semakin mempesonaku&#8230;“ Bimooo&#8230; ayo masukin yaaah..?” Desisnya dengan bibir indahnya kulihat gemetar&#8230;Alis indah di wajah cantik mba Astrid mengerinyit dan matanya yang agak sipit semakin menyipit sayu&#8230;“ Ouught&#8230; pelaaan Biiimm&#8230; ssssss&#8230; nyeriii&#8230;” keluhnya&#8230; sambil memepererat pelukannya&#8230; kurasakan liang sanggama ibu muda ini sempit sekali ketika palkonku berusaha menerobosnya&#8230; Tapi ibu muda ini sangat bersemangat untuk menuntaskan gairah binalnya&#8230; walaupun dengan ekspresi yang nampak kesulitan dan kesakitan&#8230;. diiringi geal-geol pinggulnya&#8230; akhirnya amblaslah seluruh batang kemaluanku tertanam di liang sanggamanya yang sempit..</p>
<p style="text-align: justify;">“ Sssshhh&#8230; gilaaa&#8230; gede banget punya kamu&#8230; hhh&#8230; hhh&#8230; tunggu Biimm..” Tubuh sintal mba Astrid ambruk ke tubuhku ketika penetrasi itu berhasil&#8230; kudiamkan sejenak tubuh sintal itu diam tak bergerak di atas tubuhku dengan nafas memburu tak beraturan&#8230; besutan-besutan kecil kurasakan ketika mba Astrid mulai menggerakkan pinggulnya&#8230; dan gerakan itu semakin keras&#8230; dan besutan-besutan itu semakin nikmat kurasakan&#8230;. aku ga bisa menahan diri lagi untuk mengcounternya&#8230; aku mulai mengayun batang kemaluanku.. “ Biimmooo&#8230; oooohhh&#8230;sssshhhh” hanya itu desah-desah kalimat pendek yang sering terucap dari mulut mba Astrid yang dengan gemulai menarikan pinggulnya&#8230; diiringi erangan dan rintihan kami yang sangat ekspresif&#8230; sesekali bibir kami berpagutan liar&#8230; remasan gemas tanganku pada payudara montok yang terayun-ayun itu seakan tak mau lepas&#8230; “ Biimm&#8230; Biimmoooo&#8230; ssssshh&#8230; aku hampiiirrr&#8230; ookkkhhh..” gerakan tubuh mba Astrid semakin tak beraturan&#8230; dan rasanya akupun ga perlu menahan bobolnya tanggul spermaku untuk lebih lama&#8230;</p>
<p style="text-align: justify;">“ Tunggu mba..” desisku pendek.. dan bagaikan dikomandoin tubuh kami bisa serentak meregang dan aku terpaksa mengayunkan batang kemaluanku sehebat-hebatnya un tuk menghasilkan kenikmatanku secara maksimal&#8230;“ Aaaaarrgh.. Biiiimmooo&#8230; aammmpuuuunn&#8230;” Tubuh mbak Astrid menggelepar hebat di atas tubuhku&#8230; betapa kejam kuku jarinya mencengkeram dadaku sebagai pelampiasan meledaknya puncak birahi betinanya&#8230;.Hening&#8230;. sesaat setelah terjadinya ledakan hebat&#8230; kulihat jarum jam didnding menunjukkan angka 11.30&#8230; tubuhku tetap rebah telentang&#8230; sedangkan tubuh mba Astrid tergolek disamping membelakangiku&#8230; Ketika deru nafas memburu kami mulai mereda&#8230; dan ketika keringat birahi kami mulai mengering&#8230;. kupeluk tubuh sintal mba Astrid dari belakang, tapi dengan lembut tanganku diangkat dan dipindahkan ke tubuhku sendiri&#8230; dan tubuh mbak Astrid beringsut menjauhiku&#8230; kudekati lagi tubuh itu dan kudaratkan kecupan di punggung berkulit mulus itu&#8230; kudengar isak tangisnya&#8230;.“ kenapa mba..?” tanyaku lembut&#8230; lama ga ada jawaban, isak tangis mba Astrid makin keras&#8230; kubelai lembut pundaknya.. tapi tanganku ditepisnya&#8230;</p>
<p style="text-align: justify;">“ Bimo&#8230; aku sedih dengan kejadian ini&#8230; aku malu sama kamu.. dan aku merasa sudah melukai hati Puspa dan mas Budhi&#8230;” terdengar suara mba Astrid serak&#8230;“ Malu kepadaku..? untuk apa malu&#8230;? justru aku merasa lebih dekat dan bahagia sama kamu mbak.. walaupun sebenarnya ga seharusnya dengan jalan seperti ini&#8230; selama kita bisa memposisikan masalah ini pada porsinya, kurasa mas Budhi ataupun Puspa ga akan merasa kita sakiti..” jawabku panjang lebar..“ Aku takut mereka tahu apa yang telah kita lakukan..” sahut mba Astrid dengan suara yang semakin tenang&#8230;“ Mereka ga akan tahu selama kita ga memberitahu&#8230; dan kondisi kita saat ini adalah seorang lelaki dan wanita yang punya keinginan yang harus terpenuhi saat ini juga&#8230; kita tidak bisa menghindari mbak..” sahutku lagi, sambil kutumpangkan tanganku dipinggul bulatnya&#8230; mba Astrid tak bereaksi walaupun masih mempunggungiku&#8230;“Lebih tepatnya harus terpenuhi malam ini&#8230; bukan hanya sesaat&#8230;” sahut mba Astrid sambil membalikkan badannya, sehingga kembali payudara montoknya menempel di dadaku&#8230; matanya menatapku tajam penuh tantangan.. dan kini wajah sembab sehabis menangis ini tersenyum manis sekali&#8230;</p>
<p style="text-align: justify;">“ sepanjang malam ini mba..?” tanyaku menegaskan, sambil kulingkarkan lenganku ke pinggangnya yang raping&#8230;“ Yah&#8230; bukankah malam masih panjang Bim&#8230;?” bisiknya manja.. wajahnya ditengadahkan ke wajahku. Kupagut bibir bagus itu dan disambut dengan sangat bergairah&#8230;. Gairah liar birahi betina mba Astrid meletup dahsyat, aku benar-benar tak menyangka ibu muda yang kalem dan polos bisa berubah sedemikian agresip&#8230; Batang kemaluanku rupanya benar-benar membikin ibu muda ini gemas setengah mati&#8230; tak hentinya tangan berjari lentik ini mengocok dan meremas-remasnya..“ Bimo aku pengen “ini” kamu..” bisiknya manja sambil meremas lebih keras saat mengucap kata “ini”&#8230;“ Emang bisa..?” sahutku menggoda&#8230; wooww.. perutku digigit kecil mba Astrid dengan gemas&#8230;“ Boleeeh enggaaa..?” rajuknya“ Iyaaaa&#8230; habisiiin deeeh..” jawabku sambil kuremas pantat bulatnya&#8230; Awalnya kurasakan mba Astrid masih coba-coba&#8230; dengan sabar aku memberi arahan, karena beberapa kali palkonku terkena giginya&#8230; lumayan sakiit&#8230; Selanjutnya, tubuhku dibuat melintir dan menggeliat merasakan permainan lidah dan lembutnya bibir mba Astrid membasuk batang kemaluanku&#8230; kadang-kadang dengan nekadnya batang kemaluanku ditanamnya dalam-dalam sampai ujung kerongkongannya&#8230; sampai mba Astrid tersedak..</p>
<p style="text-align: justify;">“ Eeeii.. jangan diabisin mbaa..” kataku lembut&#8230; melihat mba Astrid tersedak..“ Abis gemeees aku Bim&#8230; punya kamu panjaaang bangeeet, gede lagi&#8230;” bisiknya manja, memberi alasan&#8230;Akhirnya kami membuat posisi 69, mba Astrid menindihku dengan posisi mengangkangi wajahku&#8230; Kami sepakat dengan posisi ini sampai mencapai orgasme&#8230; kembali erangan dan rintihan kami bersahutan.. gerak tubuh kami sudah tak berirama, detik-detik akhir mba Astridpun kurasakan&#8230; beberapa kali kaki panjangnya meregang dan besotan mekinya di bibirku makin liar&#8230; aksi lidah dan bibirnya pada batang kemaluankupun makin liar, membuatku semakin mendekati titik kulminasi&#8230;“ Eeeeeehhhkkk&#8230; Biiiimmmm&#8230; niiiikkkkmaaaattnyaaa&#8230;” rengek mba Astrid panjang, tubuhnya menggeliat hebat&#8230; kedua kakinya meregang.. besotan meki ke mulutkupun makin hebat&#8230; lidahku kujulurkan jauh kedalam liang becek yang kurasakan mengedut-ngedut&#8230;“ Oooowww.. mbak akuu.. hampiiirr&#8230;” Desahku selang tak lama setelah palkonku kembali dihajar lidah dan mulut mba Astrid&#8230; busyeeet, bukannya melepaskan kuluman bibirnya di palkonku, mba Astrid malah memperhebat aksi mulut dan lidahnya ditambah kocokan tangannya pada batang kemaluanku&#8230; Apa dayaku&#8230; tak ampun lagi diiringi eranganku, tubuhku mengejang keras mengantarkan semprotan spermaku bertubi-tubi di dalam mulut mba Astrid yang makin lengket seperti lintah menempel di tubuhku&#8230; tak luput kantong pelerku diremas-remas lembut, seakan spermaku ingin diperas habis&#8230; setelah dirasa tetes terakhir&#8230; buru-buru mba Astrid bangun dari tubuhku dan menyambar botol aqua yang tadi dibawa dari rumah dan diteguknya sampai tandas&#8230;</p>
<p style="text-align: justify;">“ Iiih&#8230; rasanya aneh&#8230; banyak banget, kentel lagi&#8230; kenyang deh aku Bim&#8230; tapi enaak kok, asin ada gurihnya..” komentar mba Astrid dengan pengalaman barunya&#8230; Kembali kami berbaring di karpet tebal merasakan lemasnya tubuh&#8230;Setelah mengguyur tubuh dengan shower di kamar mandi kembali kami rebahan santai di karpet tebal di depan televisi, saat itulah mba Astrid menceritakan rahasia kehidupan ranjangnya dengan mas Budhi, yang monotone, mas Budhi terlalu polos dan lurus dalam soal sex.. sedikit-sedikit takut dosa. Dalam hal kepuasan sex sebenernya mba Astrid tidak merasa kekurangan, karena selain mas Budhi memang punya stamina tubuh yang bagus dengan hidup sehatnya, di sisi lain memang mba Astrid adalah type wanita yang gampang tersulut gairah seksualnya dan dengan cepat mencapai puncak orgasme&#8230;“ Pernah hari Minggu pagi aku liat mas Budhi sedang nyuci mobil dengan kaos yang basah, sehingga nempel dibadannya yang atletis&#8230; seeerrrr&#8230; langsung.. basah juga deh CD ku&#8230; dan langsung kutarik mas budhi kekamar dan aku telanjangi&#8230;. haa.. haaa.. dapet dua kali&#8230;” tutur mba Astrid sambil menyuapi aku dengan anggur yang dibawanya tadi&#8230; Kembali kami nonton bokep yang belum kami tonton&#8230; belum seperempat jam Asia Carrera beraksi&#8230;</p>
<p style="text-align: justify;">“ Biiiimmm&#8230; nggaaa tahaaan neeh&#8230; keburu pagi&#8230;” Desah mba Astrid manja dengan nafas yang sudah ngos-ngosan&#8230; apalagi dengan membengkaknya batang kemaluanku yang dari tadi ga lepas dari genggamannya.“ Mba Astrid pingin diapain..?” bisikku sambil kudaratkan kecupan di lehernya“ Pingin kaya di film itu&#8230;” jawabnya manja&#8230; tanpa disuruh mba Astrid menelungkupkan tubuhnya di sofa dengan kaki berlutut di karpet agak mengangkang&#8230; kuminta pantatnya ditunggingkan sehingga gundukan bukit kemaluannya mengarah keluar&#8230; mba Astrid kembali mengerang gemas ketika palkonku mulai merentangkan otot liang sanggamanya&#8230; ketika pantat montok itu mulai menggeol gemulai dan ketika batang kemaluanku mulai memompa&#8230; mulailah kuda jantan dan kuda betina ini berpacu birahi&#8230; Aku membuktikan mba Astrid memang wanita yang cepat mencapai orgasme dan cepat kembali berkobar birahinya&#8230; dan mba Astrid menghendaki berganti posisi setelah dia mencapai orgasme&#8230; saking seringnya dia mencapai orgasme&#8230; hampir-hampir kami kehabisan posisi dan di setiap posisi mba Astrid mengaku bisa mencapai orgasme dengan kenikmatan yang maksimal&#8230; Ketika pada orgasme mba Astrid yang kelima, aku juga merasakan orgasmeku hampir sampai&#8230; mba Astrid menyadari itu&#8230;</p>
<p style="text-align: justify;">“ Biimm&#8230; tumpahkan dimulutku sayaaang&#8230; aku suka peju kentel kamu&#8230;” rengeknya disela-sela nafas kuda betinanya&#8230; dan dengan bernafsu sekali mba Astrid menyambut semburan demi semburan sperma kentalku dengan mulut terbuka lebar dan lidah yang menggapai-gapai&#8230; Tubuh mba Astrid kembali rebah telentang di karpet setelah menenggak setengah botol aqua&#8230; rambutnya yang panjang tampak kusut dan basah oleh keringatnya, tubuhnya yang berkulit putih juga tampak berkilat basah oleh keringat&#8230; terlihat sinar matanya yang kecapekan dan wajah agak memucat&#8230; Ketika aku keluar dari kamar mandi setelah kembali mengguyur tubuhku dengan shower, kulihat mba Astrid tertidur pulas dengan bibir tersenyum&#8230; kulihat jam menunjukkan jam 03.45&#8230; kurebahkan tubuhku disisinya&#8230; kubelai lembut rambutnya yang masih basah oleh keringat birahi&#8230; kukecup keningnya yang sedikit nonong&#8230; kuamati tubuh telanjang ibu muda ini, sebuah struktur yang sempurna&#8230; wajahnya berbentuk oval, bibir berbentuk bagus, hidung mancung berbentuk ramping, mata agak sipit tapi memanjang dengan kelopak besar&#8230;</p>
<p style="text-align: justify;">bulu mata yang lentik dan panjang&#8230; alisnya seperti di gambar&#8230; postur tubuhnyapun proporsional antara tinggi dan beratnya&#8230; sekitar 165 – 170 cm&#8230; buah dadanya yang montok kutaksir cup branya B&#8230;. memang masih kenyal menggemaskan dengan puting susu bak perawan, mencuat mungil ke depan, berwarna merah kecoklatan&#8230; perutnya yang rata dengan lubang pusar berbentuk indah&#8230; pinggang ramping menyambung dengan pinggul yang padat ditopang sepasang kaki yang panjang berbentuk atletis&#8230;. Rupanya aku tak dapat menahan kantukku&#8230; Aku membuka mata kulihat mbak Astrid bersimpuh di sebelah tubuhku, dengan pakaian sudah lengkap membalut tubuhnya, rupanya dia yang membangunkanku kulihat jam dinding menunjukkan pukul 05.15&#8230; “Biim, aku pulang dulu yaa..?” kata mbak Astrid, wajahnya sudah segar, rupanya sempat mencuci mukanya sebelum membangunkanku&#8230; “ Eeeh&#8230; buru-buru sih..? kan masih pagi&#8230; “ jawabku sambil menarik pinggangnya&#8230; “ Bimo kamu gila&#8230; liat tuh udah terang&#8230;” protesnya ketika tubuhnya menindih tubuhku akibat tarikan tanganku dan aku memang gha peduli karena seperti biasa kalo pagi hari, batang kemaluanku pasti ikut menggeliat bangun saat aku bangun&#8230;. kembali kugumuli tubuh indah yang kini sudah berdaster lengkap dengan sweaternya&#8230;.</p>
<p style="text-align: justify;">“ Aaaahhh Bimmooo&#8230; ga mauuk&#8230; bauuuk ga enak..” protesnya manja tapi tidak menolak bahkan kudengar desisan panjang ketika batang kemaluanku kembali menggelosor memasuki tubuhnya&#8230; “ Biiimmo&#8230; asli aku ga mampu menolak yang begini iniii ooohhkk&#8230;” desisnya gemas merasakan pompaan batang kemaluanku ke liang sanggamanya yang sempit&#8230; “ Ayyuu Biiimmm&#8230; keburu mbak Suti dateng&#8230;” bisik mbak Astrid di deket telingaku, setelah orgasmenya yang kedua, mbak Suti adalah tukang cuci yang tiap pagi datang ke rumahnya&#8230;. “Owwkk.. Biiimmm&#8230; giiilllaa kamuuu&#8230; aku berasaa lagiii&#8230;” rengek mbak Astrid lirih.. kurasakan tubuhnya mulai menegang&#8230; “ Mmmhh&#8230; tuungguuu mbaakk..” Kupergencar pompaanku&#8230; tubuh mbak Astrid makin kuat menegang.. memperkuat pelukan dan cengkeramannya di tubuhku&#8230; “ Oooowww&#8230; nggaaaaa tahaaaan Biiiimmm&#8230;!” teriakan keras mba Astrid menghantarkan geleparan tubuhnya yang tak terkontrol hal ini ternyata mendorong dengan cepat semburatnya spermaku kembali memenuhi liang sanggama mba Astrid&#8230;. Kembali kami terkapar di atas karpet&#8230; kali ini mbak Astrid ngga lagi telanjang&#8230; hanya dasternya aja tersingkap sampai ke perut&#8230; Setelah nafsnya kembali teratur mbak Astrid beringsut bangkit sambil memungut celana G Stringnya dimasukkan ke kantong dasternya&#8230;</p>
<p style="text-align: justify;">“ Udah ya Bim&#8230; makasih banget untuk malam panjang ini&#8230; aku ga akan melupakan malam indah sama kamu ini, tapi aku berharap cukup sekali ini saja&#8230; jangan sampai kita ulang ya Biim&#8230; janji ya..?” kata mbak Astrid sendu&#8230; akupun mengangguk saja, ngga ada kalimat yang mampu terucap dari mulutku&#8230; Kuantar mbak Astrid sampai pintu ruang tamu, karena aku masih telanjang bulat&#8230; Nggak sampai setengah menit mba Astrid menutup pintu rumahnya, kulihat dari balik kaca jendela mba Suti tukang cuci itu datang&#8230; Memang kejadian itu ga terulang lagi sampai saat ini dan hubungan keluarga kami tetap seperti sediakala sampai akhirnya mba Astrid dan Puspa istriku melahirkan anak dengan waktu hampir bersamaan, tapi kejadian semalam itu rupanya benar-benar menjadi ikon yang hidup di hati aku dan mbak Astrid&#8230; beberapa kali kami melakukan phone sex setiap kali mbak Astrid curhat tentang kehidupan seksnya yang tetap monotone&#8230; hanya sebatas itu&#8230;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ceritasex.cn/nyonya-astrid/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kupergoki Istriku Selingkuh, Aku Entot Istri Orang Yang Menyelingkuhi Istriku</title>
		<link>http://www.ceritasex.cn/kupergoki-istriku-selingkuh-aku-entot-istri-orang-yang-menyelingkuhi-istriku/</link>
		<comments>http://www.ceritasex.cn/kupergoki-istriku-selingkuh-aku-entot-istri-orang-yang-menyelingkuhi-istriku/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 04 Apr 2010 20:15:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cerita Sex</dc:creator>
				<category><![CDATA[Paruh baya]]></category>
		<category><![CDATA[Pemerkosaan]]></category>
		<category><![CDATA[Seks Umum]]></category>
		<category><![CDATA[kisah nyata]]></category>
		<category><![CDATA[selingkuh]]></category>
		<category><![CDATA[istri]]></category>
		<category><![CDATA[kontol]]></category>
		<category><![CDATA[milf]]></category>
		<category><![CDATA[ngentot]]></category>
		<category><![CDATA[tukar pasangan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ceritasex.cn/?p=1349</guid>
		<description><![CDATA[Sesampainya di rumah setelah terbang sana terbang sini di beberapa kota masih di Pulau Jawa maupun di Pulau Kalimantan dan Sulawesi selama 7 minggu ini untuk urusan bisnis kayu dan hasil-hasil bumi lainnya, tubuhku mulai dilanda letih dan penat luar biasa. Namun secara psikologis justru sebaliknya, aku mulai dapat merasakan suasana rileks dan tentram. Merasa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Sesampainya di rumah setelah terbang sana terbang sini di beberapa kota masih di Pulau Jawa maupun di Pulau Kalimantan dan Sulawesi selama 7 minggu ini untuk urusan bisnis kayu dan hasil-hasil bumi lainnya, tubuhku mulai dilanda letih dan penat luar biasa. Namun secara psikologis justru sebaliknya, aku mulai dapat merasakan suasana rileks dan tentram. Merasa at home dan ingin selekasnya menemui mantan kekasihku, sang isteri tercinta. Hal ini cukup membantu keseimbangan diriku sehingga tidak membuatku dilanda senewen. Karena penerbangan yang kuambil adalah sore jam 6 dari Surabaya, maka masih sore pula sekitar jam 7.30 aku sudah mendarat dan lalu setengah jam kemudian dengan menggunakan jasa taksi aku sudah menginjakkan kaki di halaman rumahku di bilangan Slipi. Lalu lintas tidak macet karena ini hari Minggu. Dari luar ruang tamu nampak terang disinari lampu, berarti isteriku ada di rumah. Di rumah kami tinggal 4 orang saja. Aku yang berusia 38, isteriku 31, pembantu laki-laki 52, dan pembantu wanita 44. Oh ya, setelah 9 tahun menikah kami belum dikarunia anak.</p>
<p style="text-align: justify;">Jadi semakin menjadi-jadilah diriku menghabiskan waktu mengurus bisnis karena belum ada urusan lain yang memerlukan perhatianku. Syukurlah selama ini bisnisku lancar-lancar saja demikian pula perkawinan kami. Ketika hendak kupencet bel kuurungkan siapa tahu pintu tidak dikunci. Tadi gerbang depan dibukakan oleh pembantu wanitaku karena kebetulan dia pas lagi mau keluar untuk membuang sampah. Setelahnya dia kembali ke kamarnya yang terletak di samping kiri bangunan utama. Pembantu-pembantuku kubuatkan kamar di luar. Ukuran rumahku cukup besar dengan masih ditambah tanah yang lumayan luas yang kubuat menjadi taman hampir mengelilingi bangunan rumah kecuali sisi kiri karena kepotong kamar-kamar pembantu dan jalan samping. Dari gerbang depan ke pintu kira-kira mencapai 25 meter. Benar, pintu tidak dikunci dan aku masuk dengan senyap demi membikin isteriku kaget. Aku suka sekali dengan permainan kaget-kagetan begini. Biasanya isteriku suka terpekik lalu menghambur ke pelukanku dan dibarengi dengan ciuman bertubi-tubi. Itulah santapan rohaniku.</p>
<p style="text-align: justify;">Dan itu sering terjadi karena aku sering bepergian dalam waktu lama pula, rekorku pernah sampai 3 bulan baru pulang. Pada awal perkawinan kami tidaklah demikian, namun 5 tahun belakangan ini yah begitulah. Dampaknya adalah kehidupan seks kami mulai menurun drastis frekuensinya maupun kualitasnya. Kali ini aku menangkap suasana lain. Memang biasanya sebelum pulang aku memberitahukan isteriku bahwa dalam 2 sampai 5 hari bakal pulang. Sengaja kali ini aku tidak memberitahu agar lebih dahsyat pekikan-pekikan kangen isteriku itu. Di ruang tamu TV menyala agak keras. Lalu aku menuju dapur mengendap-endap siapa tahu isteriku di sana dan sekalian mau mengambil air putih. Tidak ada. Ah mungkin lagi tidur barangkali di kamar pikirku. Kuletakkan tas koperku di atas meja makan lalu aku mengambil sebotol air dingin di kulkas. Kuletakkan pantatku di atas kursi sambil minum. Kuambil sebatang rokok lalu kunyalakan. Ada sekitar 5 menit kunikmati asap-asap racun itu sebelum akhirnya kuputuskan untuk naik ke lantai 2 di mana kamar tidur kami berada.</p>
<p style="text-align: justify;">Pelan-pelan kunaiki tangga. Pelan sekali kubuka pintu, namun hanya seukuran setengah kepala. Aku ingin mengintip kegiatan isteriku di kamar spesial kami. Apakah lagi lelap dengan pose yang aduhai. Ataukah lagi mematut diri di cermin. Ataukah lagi.. Upss!! Berdebar jantungku. Dalam keremangan lampu kamar (kamar lampuku bisa disetel tingkat keterangannya sedemikian rupa) kulihat ada 2 manusia. Jelas salah satu sosoknya adalah isteriku, mana mungkin aku pangling. Dia lagi mengangkangi seseorang. Posisi kepalanya nampak seperti di sekitar kemaluan lawannya. Perasaanku mulai dilanda kekacauan. Sulit kudefinisikan. Marah. Kaget. Bingung. Bahkan penasaran. Apa yang sedang berlangsung di depan mataku ini? Kepala isteriku nampak naik turun dengan teratur dengan ditingkahi suara-suara lenguhan tertahan seorang pria yang menjemput kenikmatan seksual. Mungkin saking asiknya mereka berolah asmara terkuaknya pintu tidak mereka sadari. Tiba-tiba perasaan aneh menjalari diriku. Darahku berdesir pelan dan makin kencang. Rasa penasaranku sudah mulai dicampur aduki dengan gairah kelelakianku yang membangkit.</p>
<p style="text-align: justify;">Ini lebih dahsyat ketimbang menonton film-film bokep terpanas sekalipun. Kesadaran diriku juga lenyap entah kemana bahwa yang di depan mataku adalah isteriku dengan pria yang pasti bukan diriku. Sekarang aku lebih ingin menyaksikan adegan ini sampai tuntas. Kontolku mulai mengejang. Posisi mereka mulai berbalik. Isteriku mengambil posisi di bawah sementara lawannya ganti di atasnya. Persis sama seperti tadi hanya saja sekarang kelihatannya memek isteriku yang dijadikan sasaran. Aku semakin ngaceng. “Ohh.. Sshh…” suara desisan isteriku berulang-ulang. Telaten sekali si pria (aku sudah menangkap sosok lawannya dengan jelas adalah pria) sehingga isteriku mulai bergerak meliuk-liuk dan menengadahkan kepalanya berkali-kali. “Uuhh.. Eehhss.. Teruss jilatthh.. Pak Minnh.. Ahh.. Uffh..”. Plong rasa dadaku demi akhirnya menemukan identitas sang pelaku pria. Mr. Karmin pembantu priaku yang tua itu. Wah.. Wah.. Pantesan tadi aku agak mengenali sosoknya. Belum sempat aku banyak berpikir kesadaranku disedot kembali oleh suara-suara kesetanan isteriku dari hasil kerja persetubuhan itu.<br />
<span id="more-1349"></span><br />
“Yyaahh.. Teruss.. Teruss.. Aahh.. Tusukk.. Tuussuukkhin liidaahhmu Pak.. Yaahh beegittu.. Oohh..” Semakin binal kepala isteriku tergolek sana sini. Nampaknya dia sudah berada di awang-awang kenikmatan. Aku juga semakin dilanda gairah sehingga tanpa sadar tanganku mulai meremas-remas burungku sendiri. “Ahh…” Ah isteriku akhirnya jebol juga. Aku tahu itu. Tapi nampaknya Pak Karmin masih meneruskan aktivitasnya. Sebentar kemudian kaki isteriku diangkatnya ke kedua bahunya yang bidang dan kekar itu (meskipun sudah tua tapi tubuh pembantuku masih gagah akibat pekerjaannya yang secara fisik membutuhkan kekuatan). Dimainkan jari-jarinya di liang memek isteriku. Lenguhan-lenguhan isteriku kembali terdengar. Semakin kencang kocokan jari Pak Karmin pada memek isteriku. Dengan menggelinjang mengangkat-ngangkat paha isteriku kembali dibuat mabuk kepayang. Akhirnya kulihat batang kemaluan Mr. Karmin sudah diarahkan ke lobang kemaluan isteriku. Busseett gede juga nih punya si tua bangka. Semakin menggelegak gairahku ketika membayangkan bagaimana memek isteriku akan dihujami oleh benda sebesar itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Bless. Masuk. Gleg ludahku tertelan. “Oohh.. Eyaahh.. Eenaakk.. Paakk..”. Pelan-pelan dipompanya memek isteriku dengan godam si Mr. Karmin. Mulai menggila kembali goyangan pantat isteriku melayani rangsekan-rangsekan si batang besar itu. “Geennjoott.. Yaahh.. Genjoott.. Oohh.. Ennakk Banngeett.. Oohh..” Aku menyaksikkan tubuh isteriku terhentak-hentak naik turun akibat sodokan-sodokan yang bertenaga itu. Tangan Mr. Karmin tak tinggal diam menyenggamai buah dada isteriku yang telah menjulang tegak. Wuuhh gila, dahsyat sekali pemandangan yang kusaksikan ini. Setelah hampir 10 menit diangkatlah tubuh isteriku dan dibalikkannya menjadi posisi menungging. Gaya anjing rupanya dikenal juga oleh Si Tua ini. Kembali liang memek isteriku dihunjam dari arah belakang. Konsistensi gerakan anjing yang maju mundur itu beserta lenguhan-lenguhan isteriku semakin mengobarkan hasratku. “Ahh.. Aahh.. Ssooddooghh.. Kuaatt.. Kuat.. Paakkhh, oohh.. Giillaa..” Pompaan Mr. Karmin semakin lama dibuat semakin bertenaga dan semakin cepat.</p>
<p style="text-align: justify;">“Oo hh.. Yaa.. Beggiittuu.. Teruss.. Paakkhh..” Kupikir bakalan selesai eh ternyata isteriku sekarang disuruh berdiri, Mr. Karmin menyetubuhinya sambil berdiri. Tanpa sadar aku menoleh ke lantai bawah ternyata si Pembantu Wanita memergokiku sedang mengintip. Karena jengah atau bagaimana Mrs. Karmin merona mukanya lalu menyingkir ke belakang dengan tergesa. Pembantuku adalah suami isteri. “Yaahh.. Terruuss.. Mauuhh.. Keelluaarr.. Nihh Paakkh..” “Aku sebentar laggii.. Juuggaa.. Ibbuu..” “Baarrenng.. Yaahh.. Paakkh.. Ohh.. Ohh.. Yaahh.. Uuddaahh” Sambil mengejang-ngejang keduanya melepas energi terakhir dan terbesar yang disertai ledakan kenikmatan luar biasa. Mr. Karmin akhirnya jebol juga pertahanannya. Begitu adegan selesai aku dengan perlahan sekali menutup pintunya. Kuturuni perlahan tangga menuju dapur kembali. Celanaku masih padat mnggembung tak terkira. Aku senewen ingin menuntaskan hasratku. Ketika sampai dapur kulihat Mrs. Karmin sedang duduk termangu. Kami saling menatap dalam keadaan bingung dan resah. Kudekati dia ketika mulai terisak-isak meneteskan air mata, ingin kutenangkan hatinya.</p>
<p style="text-align: justify;">Mungkin kejadian tadi telah berulang kali berlangsung selama aku tidak di rumah. “Sudah sering kejadianya Mbok?” tanyaku. Dia mengangguk. “Maafkan isteriku yah” Entah kenapa tiba-tiba mata kami bertatapan kembali. Selama ini dia tidak berani menatapku. Kali ini mungkin dia sedang kesepian dan masygul hatinya. “Ayo ke kamarmu Mbok.” Hasratku masih tinggi dan harus dituntaskan. Kami saat ini sedang masuk dalam situasi kejiwaan yang membutuhkan pertolongan satu sama lain. Plus gairah buatku. Ketika sampai kamarnya yang agak sempit itu, kusuruh dia duduk di ranjang. Kupegang tangannya dan kuelus. Sosok wanita ini sebenarnya tidak terlalu buruk. Kulit terang meskipun tidak semulus isteriku tapi lumayan bersih. Tinggi sedang dan hebatnya perut tidak terlalu melambung. Tetek cukup besar setelah kusadari saat ini. Dia selalu memakai kebaya dan kain. Kepalanya ditimpakan di dadaku. Meskipun dia lebih tua dari aku namun dalam kondisi begini dia memerlukan kekuatan dari dada laki-laki. Kubiarkan meskipun dibarengi aroma bumbu dapur. Tapi tidak terlalu menyengat. Rambutnya otomatis megenai hidungku. Bau minyak rambut Pomade menyergap hidungku. Kucium-kucium dan kuendus-kuendus. Kujalari menuju ke telinga. Diam saja. Ke lehernya. Malah terdengar ketawa kegelian. Mulai kuusap lengannya. Semakin erat dia mendesakkan tubuhnya ke diriku. Sambil mengusap lengan kanannya naik turun sengaja kurenggangkan jariku sehingga menyentuh tipis teteknya. Terus kuulang sampai akhirnya kepalanya mulai bergoyang. Lalu kuelus langsung teteknya. Gemas aku. Dia mulai mendesah. Kuremas-remas lembut. Mulai melenguh. Kubaringkan. Menurut saja. Kubuka bagian dada dari kebayanya. Memang besar miliknya. Kuning agak pucat warnanya. Kuhisap-hisap. Menegak-negak kepalanya.</p>
<p style="text-align: justify;">“Ehhmm.. Eehhf..” Kusingkap kainnya dan kuelus pahanya. “Ehh.. Ehhshs..” Kuselusupkan tanganku jauh menuju pangkal pahanya. Kuusap-usap gundukannya. “Ehhss.. Ehhss.. Oohh…” tergolek kanan kiri kepalanya. Kutindih dia dengan mengangkangkan kakinya. Mulai kuselusuri dari tetek sampai leher kanan kiri dengan lidahku. “Oohh.. Paakk.. Oohh..” Kurenggut bibirnya yang tebal dengan bibirku. Kumasukkan lidahku menjangkau lidahnya. Pada mulanya pasif. Lalu dia mulai mengerti dan kami saling beradu lidah dan ludah. Berkecipak suara kuluman kami. Kutekan-tekan bagian bawah diriku sehingga tonjolan burungku menggesek wilayah memeknya. Mengerinjal pantatnya. “Esshh.. Ehhss.. Oohh…” desahnya berulang-ulang. Kami berdiri untuk melepas baju masing-masing setelah kubisikkan keinginanku. Kuamati dari ujung rambut sampai kaki. Keteknya dibiarkan berbulu, ah sensasional sekali. Baru kali ini kulihat wanita membiarkan keteknya berbulu. Isteriku licin sekali. Jembut mememknya lebat sekali dan cenderung tidak rapi. Luar biasa. Karena hasratku yang sudah tinggi sejak tadi langsung kugumul Dia dan menjatuhkannya di ranjang.</p>
<p style="text-align: justify;">Kujilati kembali mulai dari kening, leher, pipi, tetek, ketek (di sini aku berlama-lama karena penasaran sekali dengan rasa bulunya), perut dan memeknya. Kumainkan lidahku memutari labia mayoranya. “Oohh.. Paakk.. Ohh..” Dipegangi kepalaku dan ditekan-tekannya sesuai keinginannya. Kumasuki klitorisnya dengan lidahku. Aku tidak jijik kali ini. Hasratku yang menggila telah mengalahkan kebiasaanku selama ini. “Esshh.. Ahhss.. Esshh.. Oohh.. Mmass..” Dia memanggilku Mas berarti kesadarannya mulai kaca balau. Kuremas pantatnya sebelum akhirnya kujebloskan kontolku ke memeknya yang telah banjir bandang itu. Kupompa maju mundur tanpa tergesa. Yang penting bertenaga dan merangsek ke dalam. Menggeliat-geliat kayak cacing kepanasan si Mrs. Karmin ini. Semakin dikangkangkan pahanya. Kupegang ujung telapak kakinya sambil aku terus menyodokinya. “Yaahh.. Teruss.. Yangg dalaam .. Masshh.. Ohh.. Ennaakk banngeetts.. Shh.” Kubaringkin miring lalu kulipat kaki kanannya ke depan dan kuhujami memeknya dari belakang. Kami bersetubuh dalam posisi berbaring miring (kebayangkan?). Kuubah posisi menjadi dog-style. Namun dia telungkup sehingga tingkat penetrasinya lebih maksimal. Benturan-benturan dengan pantatnya yang bulat membuatku gemas. Kugenjot sedalam-dalamnya memeknya yang rimbun itu.</p>
<p style="text-align: justify;">“Yaahhss.. Ehhssh.. Oohhs…” begitu terus erangnya sambil membeliak-beliak. Akhirnya setelah 23 menit kami menegang bersama dan mencurahkan cairan masing-masing berleleran di dalam memeknya. Cairan miliknya sampai tumpah ruang merembes keluar memeknya, punyaku juga demikian saking tidak tertampungya semprotan maniku. Kubiarkan kontolku masih terbenam sambil aku tetap menindihnya. Aku jilatin lagi leher dan pipinya sampai kontolku sudah lemas tak berdaya. Tanganku masih aktif bergerilya mengusapi buah kembarnya yang masih mengencang. Kujilat-jilat dan kuhisap-hisap. Keringat kami campur aduk membanjiri spreinya yang sudah agak kusam itu. Sejak saat itu bila aku pulang dari bepergian maka aku mengunjungi Mrs. Karmin terlebih dahulu untuk bersetubuh di kamarnya baru masuk rumah setelah maniku terhambur ke memeknya yang mudah basah itu. Malah boleh dikata sudah tidak pernah lagi menggauli isteriku sendiri. Suatu kali Mr. Karmin memergokinya ketika mau ambil rokok, namun aku cuek saja kepalang lagi hot, tapi dia mafhum saja. Toh ibaratnya kami seperti tukar pasangan. Pernah terbersit di kepalaku untuk melakukan sex party berempat. Tapi gagasan itu belum terlaksana, karena aku masih merasa risih kalau rame-rame begitu.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ceritasex.cn/kupergoki-istriku-selingkuh-aku-entot-istri-orang-yang-menyelingkuhi-istriku/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
