<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Cerita sex porno ngentot mesum perek ayam kampus</title>
	<atom:link href="http://www.ceritasex.cn/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.ceritasex.cn</link>
	<description>Kumpulan cerita sex, foto bugil, dan film porno</description>
	<lastBuildDate>Sun, 07 Mar 2010 01:25:08 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9.2</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Tante Lily, Ibu Kost Yang Kesepian</title>
		<link>http://www.ceritasex.cn/tante-lily-ibu-kost-yang-kesepian/</link>
		<comments>http://www.ceritasex.cn/tante-lily-ibu-kost-yang-kesepian/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 07 Mar 2010 01:25:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cerita Sex</dc:creator>
				<category><![CDATA[Paruh baya]]></category>
		<category><![CDATA[Seks Umum]]></category>
		<category><![CDATA[cuki]]></category>
		<category><![CDATA[ibu kost]]></category>
		<category><![CDATA[mesum]]></category>
		<category><![CDATA[ngentot]]></category>
		<category><![CDATA[taboo]]></category>
		<category><![CDATA[tante]]></category>
		<category><![CDATA[tante lily]]></category>
		<category><![CDATA[zaki]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ceritasex.cn/?p=1294</guid>
		<description><![CDATA[Sudah hampir setahun Zaki tinggal di tempat kost bu Lily. Bisa tinggal di tempat kost ini awalnya secara tidak sengaja ketemu bu Lily di pasar. Waktu itu bu Lily kecopetan, trus teriak dan kebetulan Zaki yang ikut menolong menangkap copet dan mengembalikan dompet bu Lily. Trus ngobrol sebentar, kebetulan Zaki lagi cari tempat kost yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Sudah hampir setahun Zaki tinggal di tempat kost bu Lily. Bisa tinggal di tempat kost ini awalnya secara tidak sengaja ketemu bu Lily di pasar. Waktu itu bu Lily kecopetan, trus teriak dan kebetulan Zaki yang ikut menolong menangkap copet dan mengembalikan dompet bu Lily. Trus ngobrol sebentar, kebetulan Zaki lagi cari tempat kost yang baru dan bu Lily mengatakan dia punya tempat kost atau bisa di bilang rumah bedengan yang dikontrakkan, yah jadi deh tinggal di kost-an bu Lily.</p>
<p style="text-align: justify;">Bu Lily lumayan baik terhadap Zaki, kelewat baik malah, karena sampai saat ini Zaki sudah telat bayar kontrak rumah 3 bulan, dan bu Lily masih adem-adem aja. Mungkin masih teringat pertolongan waktu itu. Tapi justru Zaki yang gak enak, tapi mau gimana, lha emang duit lagi seret. akhirnya Zaki lebih banyak menghindar untuk ketemu langsung dengan bu Lily.</p>
<p style="text-align: justify;">Sampai satu hari…… waktu itu masih sore jam 4. Zaki masih tidur-tiduran dengan malasnya di kamarnya. Tempat kost itu berupa kamar tidur dan kamar mandi di dalam. Terdengar pintu kamarnya di ketok… tok..tok..tok.. lalu suara bu Lily yang manggil,”Zack…Zaki… ada di dalem gak?” Sontak Zaki bangun, wah bisa berabe kalo nanyain duit sewa kamar nie, pikir Zaki. Dengan cepat meraih handuk, pura-pura lagi mandi aja ah, ntar juga bu Lily pergi sendiri. Setelah masuk kamar mandi kembali terdengar suara bu Lily,” Zaki lagi tidur ya..?” dan dari kamar mandi Zaki menyahut sedikit teriak,” lagi mandi bu….”</p>
<p style="text-align: justify;">Sesaat tidak ada sahutan, tapi kemudian suara bu Lily jadi dekat,”ya udah mandi aja dulu Zack, ibu tunggu di sini ya…” eh ternyata masuk ke kamar, Zaki tadi gak mengunci pintu. “busyet dah, terpaksa bener-bener harus mandi nie,”pikir Zaki.</p>
<p style="text-align: justify;">Sekitar lima belas menit Zaki di kamar mandi, sengaja mandinya agak dilamain dengan maksud siapa tau bu Lily bosan trus gak jadi nunggu. Tapi rasanya percuma lama-lama toh bu Lily sepertinya masih menunggu. Akhirnya keluar juga Zaki dari kamar mandi, dengan hanya handuk yang melilit di pinggang, tidak pakai celana dalem lagi, maklum tadi gak sempet ambil karena terburu-buru.</p>
<p style="text-align: justify;">Bu Lily tersenyum manis melihat Zaki yang salah tingkah,”lama juga kamu mandi ya Zack…” bu Lily membuka pembicaraan. “pasti bersih banget mandinya ya…” gurau bu Lily sambil sejenak melirik dada bidang Zaki. “ah ibu bisa aja… biasa aja kok bu.., oia ada apa ya bu..?” jawab Zaki sekenanya saja sambil mengambil duduk di pinggiran tempat tidur. Bu Lily mendekat dan duduk di samping Zaki, “Cuma mau ngingetin aja, uang sewa kamarmu dah telat 3 bulan lho… trus mau ngobrol-ngobrol aja sama kamu, kan dah lama gak ngobrol, kamu sie pergi mlulu…”ucap bu Lily. Zaki jadi kikuk,”wahduh… kalo uang sewanya ntar aku bayar cicil boleh gak bu? Soalnya lagi seret nie…” jawab Zaki dengan sedikit memohon.</p>
<p style="text-align: justify;">Bu Lily terlihat sedikit berpikir…”mmmm… boleh deh, tapi jangan lama-lama ya… emang uangmu di pakai untuk apa sie?” terlihat bu Lily sedikit menyelidik. “hmmm… pasti buat cewe mu ya…”dia terlihat kurang senang. “ah nggak juga kok bu….. saya emang lagi ada keperluan,” jawab Zaki hati-hati melihat raut wajah bu Lily yang kurang senang. “huh…laki-laki sama aja, kalo lagi ada maunya, apa aja pasti di kasih pada perempuan yang lagi di dekatinya, hhhh… sama aja dengan suamiku….”keluh bu Lily dengan nada kesal.</p>
<p style="text-align: justify;">Waduh nampaknya bu Lily lagi marahan nie sama suaminya, jangan-jangan amarahnya ditumpahkan pula sama Zaki. Dengan cepat Zaki menjawab,”tapi saya janji kok bu, akan saya lunasi kok…” “hhhhh….”bu Lily menghela nafas,”udahlah Zack, gak apa-apa kok, gak di bayar juga kalo buat kamu ga masalah… ibu Cuma lagi kesel aja sama suamiku, dia cuma perhatiannya sama Marni terus… aku seperti gak dianggap lagi, mentang-mentang Marni jauh lebih muda ya.”</p>
<p style="text-align: justify;">-sedikit penjelasan bahwa bu Lily ini istri pertama dari pak Kardi, sedangkan istri keduanya bu Marni. Dan sekarang sepertinya pak Kardi lebih sering tinggal di rumahnya yang satu lagi bersama bu Marni dan bu Lily tampaknya udah mulai kesepian nie-</p>
<p style="text-align: justify;">“wah kalo masalah keluarga sie aku kurang paham bu…. “jawab Zaki kikuk “gak apa-apa Zack, ibu hanya mau curhat aja sama kamu… boleh kan Zack?” suara bu Lily sendu. Agak lama terdiam, terdengar tarikan nafas bu Lily terasa berat, dan sedikit sesunggukan, waduh lama-lama bisa nangis nie, gawat dong pikir Zaki.</p>
<p style="text-align: justify;">“udah bu jangan terlalu dipikirkan, nanti juga pak Kardi kembali lagi kok, kan ibu juga gak kalah cantiknya sama bu Marni,”Zaki bermaksud menghibur. “ah kamu Zack… emang ibu masih cantik menurutmu?” bu Lily menatap sendu ke arah Zaki, terlihat dua butir air mata mengalir di pipinya. Uhh…. ingin rasanya Zaki menghapus air mata itu, pak Kardi emang keterlaluan masa wanita cantik nan elok seperti ini dianggurin sie, coba Zaki bisa berbuat sesuatu… busyet… Zaki memaki dalam hati… “kenapa otak gwa jadi kotor gini.”<br />
<span id="more-1294"></span><br />
Dengan sedikit gugup Zaki menjawab,”mmm…eee…iya kok bu, ibu masih cantik, kalo masih gadis mungkin aku yang duluan tergoda.” Uupsss …. Maksud hati ingin menghibur, tapi kenapa kata-kata yang menggoda yang keluar dari mulut… gerutu Zaki dalam hati. Zaki jadi panik, jangan-jangan bu Lily marah dengan ucapan Zaki. Tapi ternyata Zaki salah, karena bu Lily tersenyum, manis sekali dengan deretan gigi yang putih dan rapi,”ih Zaki bisa aja menghibur…. Iya juga sie, kalo masih gadis bisa aja tergoda, pantes aja suamiku gak ngelirik aku lagi, bis nya dah tua sie…” rona wajah bu Lily berubah sedih lagi,”kalo menurutmu Zack, apa ibu emang gak menarik lagi…?” sambil berdiri dan memperhatikan tubuhnya kemudian menatap Zaki minta penilaian. Terang aja Zaki makin kikuk,”wah aku mau ngomong apa ya bu…? Takutnya nanti di bilang lancang lho… tapi kalo mau jujur…. Ibu cantik banget, seperti masih 30an deh.” Bu Lily tampaknya senang dengan pujian itu,”hmmm.. kamu ada-ada aja saja… ibu udah 43 lho.. emang Zaki liat dari mananya bisa bilang begitu?”</p>
<p style="text-align: justify;">Zaki jadi cengar cengir,” ….itu penilaian laki-laki lho bu, saya malu bilangin nya.” Bu Lily kembali duduk mendekat, sekarang malah sangat dekat hampir merapat ke Zaki sambil berkata,” ah.. gak perlu malu…. Bilang aja…” Nafas Zaki terasa sesak, badan nya terasa panas dingin menghadapi tatapan bu Lily, matanya indah dengan bulu mata yang lentik, sesaat kemudian Zaki mengalihkan pandangan ke arah tubuh bu Lily mencari alasan penilaian tadi, uups baru deh Zaki memperhatikan bahwa bu Lily memakai baju terusan seperti daster tapi dengan lengan yang berupa tali dan diikat simpul di bahunya. Hmmm .. kulit itu mulus kuning langsat dengan tali baju dan tali bra yang saling bertumpuk di bahu, pandangan Zaki beralih ke bagian depan uupss… terlihat belahan dada yang hmmm… sepertinya buah dada itu lumayan besar. Sentuhan lembut tangan bu Lily di paha Zaki yang masih dibungkus handuk cepat menyadarkan Zaki. Dengan penuh selidik bu Lily bertanya,”lho… kok jadi bengong sie..? apa dong alasannya tadi bilang ibu masih 30an…” Zaki sedikit tergagap karena merasa ketahuan terlalu lama memandangi tubuh bu Lily,”mmm… eeemm.. ibu benar-benar masih cantik, kulitnya masih kencang… masih sangat menggoda…”</p>
<p style="text-align: justify;">Tidak ada jawaban dari mulut bu Lily, hanya pandangan mata yang kini saling beradu, saling tatap untuk beberapa saat… dan seperti ada magnet yang kuat, wajah bu Lily makin mendekat, dengan bibir yang semakin merekah. Zaki pun seakan terbawa suasana, dan tanpa komando lagi, Zaki menyambut bibir merah bu Lily, desahan nafas mulai terasa berat hhhh…hhhh…ciuman terus bertambah dahsyat, bu Lily menjulurkan lidahnya masuk menerobos ke mulut Zaki, dan dibalas dengan lilitan lidah Zaki sehingga lidah tersebut berpilin-pilin dan kemudian deru nafas semakin berat terasa.</p>
<p style="text-align: justify;">Dengan naluri yang alami, tangan Zaki merambat naik ke bahu bu Lily, dengan sekali tarik, terlepas tali pengikat baju di bahu tersebut dan dengan lembut Zaki meraba bahu bu Lily sampai ke lehernya…. Kemudian turun ke arah dada, dengan remasan lembut Zaki meremas payudara yang masih terbungkus bra itu. “hhhhh…hhhh” nafas bu Lily mulai terasa menggebu, nampaknya gairah birahinya mulai memuncak. Jemari lentik bu Lily tak ketinggalan meraba dan mengelus lembut dada Zaki… melingkari pinggang Zaki, mencari lipatan handuk, hendak membukanya…</p>
<p style="text-align: justify;">Uupps…. Zaki tersentak dan sadar….,”ups…hhh… maaf bu… maaf bu… saya terbawa suasana….” Zaki tertunduk tak berani menatap bu Lily sambil merapikan kembali handuknya, baru kemudian dengan sedikit takut melihat ke arah bu Lily.</p>
<p style="text-align: justify;">Terlihat bu Lily pun agak tersentak, tapi tidak berusaha merapikan pakaiannya, sehingga tubuh bagian atas yang hanya tertutup bra itu dibiarkan terbuka. Pemandangan yang menakjubkan. “napa Zack… kita sudah memulainya… dan kamu sudah membangkitkan kembali gairah ibu yang lama terpendam… kamu harus menyelesaikannya Zack…” tatapan bu Lily terlihat semakin sendu… “mmm… ibu gak marah..? gimana nanti kalo ada yang lihat bu… bisa gawat dong… pak Kardi juga bisa marah besar bu…” jawab Zaki.</p>
<p style="text-align: justify;">Tanpa menjawab bu Lily bangkit berdiri, namun karena tidak merapikan pakaiannya, otomatis baju terusan yang dipakai jadi melorot jatuh ke lantai. Zaki terpana melihat tubuh indah itu, sedikit berlemak di perut dan bokongnya namun itu malah menambah seksi lekuk tubuh bu Lily. Kemudian dengan tenang bu Lily melangkah ke arah pintu kamar dan menguncinya. Saat berjalan membelakangi Zaki itu nampak gerakan bokong bu Lily naik turun, dan perasaan Zaki semakin tegang dengan nafsu yang semakin tak tertahankan, demikian juga saat bu Lily berbalik dan melangkah kembali menuju tempat tidur, Zaki tidak melepaskan sedikit pun gerakan bu Lily. Sampai bu Lily berdiri dekat di depan Zaki dan berkata,”kamarnya udah di kunci Zack, dan gak ada yang akan mengganggu&#8230;.” Zaki tidak langsung menjawab, menghidupkan tape dengan suara yang agak besar, setidaknya untuk menyamarkan suara yang ada di ruangan. Bu Lily kembali duduk di pinggiran tempat tidur, dan membuka bra yang digunakannya. Zaki mendekat dan duduk di samping bu Lily… hmmm… nampak payudara itu masih montok dan kenyal, ingin Zaki langsung melahap dengan mulut dan menjilatnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Bu Lily yang memulai gerakan dengan melingkarkan lengannya ke leher Zaki, menarik wajah dan langsung melumat bibir Zaki dengan nafsu yang membara. Zaki membalas dengan tidak kalah sengit, sambil meladeni serangan bibir dan lidah bu Lily, tangan Zaki meremas payudara montok milik bu Lily. Desahan nafas menderu di seputar ruangan, diselingi alunan musik menambah gairah. Setelah beberapa saat, bu Lily mendorong lembut badan Zaki, menyudahi pertempuran mulut dan lidah, dengan nafas yang memburu. Zaki mendorong lembut tubuh bu Lily, berbaring terlentang dengan kaki tetap menjuntai di pinggiran tempat tidur. Dada yang penuh dengan gunung kembar itu seakan menantang dengan puting yang telah tegang. Tanpa menunggu lagi Zaki melaksanakan tugasnya menjelajahi gunung kembar itu mulai dari lembah antara, melingkari dan menuju puncak puting. Dengan gemas Zaki menyedot dan memainkan puting susu itu sambil tangan meremas payudara kembarannya ………………… ”HHHH…. AHHH….MMMH….”suara bu Lily mulai kencang terdengar, desahan-desahan nikmat yang semakin menggairahkan.</p>
<p style="text-align: justify;">Zaki melanjutkan penjelajahan dengan menyusuri lembah payudara menuju perut dan sebentar memainkan lidah pada udel bu Lily yang menggelinjang kegelian. Zaki menghentikan penjelajahan lidah, kemudian dengan cekatan menarik celana dalam bu Lily, melepaskan dan membuang ke lantai. Dengan spontan bu Lily mengangkat kaki ke atas tempat tidur dan memuka lebar pahanya, terlihat gundukan vagina dengan rambut-rambut yang tertata rapi. Zaki mulai kembali aksi dengan menjilati menyusuri paha bu Lily yang halus mulus, terus mendekat ke selangkangan menemui bibir vagina yang mulai mengeluarkan cairan senggama.</p>
<p style="text-align: justify;">Tanpa menunggu lama, Zaki menyapu cairan senggama itu dengan lidahnya dan meneruskan penjelajahan lidah sepanjang bibir vagina bu Lily dan sesekali menggetarkan lidah pada klitorisnya yang membuat bu Lily mengerang kenikmatan,”AHHHH…. MMMMH… HHH… Zack….UHH…”desahan birahi yang memuncak dari bu Lily membuat Zaki semakin bersemangat dan sesekali lidah di julurkan mencoba masuk ke liang senggama yang menanti pemenuhan itu. Setelah beberapa menit Zaki mengeksplorasi liang kewanitaan itu, nampaknya bu Lily tidak sabar lagi menuntut pemenuhan hasrat birahinya,”Zack…. Ayo sayang… masukkin Zack… hhhh…mmmmh.” Suara bu Lily ditingkahi desahan-desahan yang semakin kencang.</p>
<p style="text-align: justify;">Dengan tenang Zaki menyudahi penjelajahan lidah dan bersiap bertempur yang sesungguhnya. Dengan sekali tarik lepaslah handuk yang melilit di pinggang dan bebas mengacung penis dengan bagian kepala yang merah mengkilap. Bu Lily semakin membuka lebar pahanya, besiap menanti pemenuhan terhadap liang wanitanya. Zaki naik ke tempat tidur dan langsung mengarahkan batang penis ke arah vagina bu Lily yang dengan sigap lansung meraih dan meremas batang kemaluan Zaki dan membantu mengarahkannya tepat ke liang vaginanya. Dengan sekali dorongan penis Zaki amblas sampai setengahnya. Zaki menahan gerakan sebentar menikmati prosesi masuknya penis yang disambut desahan bu Lily,” AHHH….TERUSKAN ZACK….AHHH.”</p>
<p style="text-align: justify;">kemudian dengan meresapi masuknya penis sampai sedalam-dalamnya. Setelah dorongan pertama dan batang zakar yang masuk seluruhnya barulah Zaki memompa menaik turunkan pantat dengan irama beraturan seakan mengikuti irama musik yang terasa semakin menggebu dan hot.</p>
<p style="text-align: justify;">Zaki bertumpu pada kedua siku lengan sedangkan bu Lily mencengkam punggung Zaki, meresapi dorongan dan tarikan penis yang bergerak nikmat di liang senggamanya. Suara desahan bercampur aduk dengan alunan musik dan peluh mulai bercucuran di sekujur tubuh,”AH..AH..AH..MMH…MHH…HHHH.” tak hentinya desahan meluncur dari bibir Zaki dan bu Lily. Sesaat Zaki menghentikan gerakan untuk mencoba mengambil nafas segar, bu Lily memeluk Zaki dan menggulingkan badan tanpa melepas penis yang tetap berada di liang vaginanya. Dengan posisi di atas dan setengah berjongkok, bu Lily memompa dan menaikturunkan pantatnya dengan badan bertumpu pada lengan. Sesekali bu Lily memutar pantatnya dan kemudian memasukkan batang zakar Zaki lebih dalam. Zaki tak diam saja, tangan meremas kedua payudara yang menggantung bebas dan menarik-narik puting susu bu Lily.</p>
<p style="text-align: justify;">Suasana makin membara dengan peluh yang bercucuran, sampai saat bu Lily seperti tak sanggup melanjutkan pompaan karena birahi yang hendak mencapai puncak pemenuhan. Dengan sigap Zaki membalikkan posisi, bu Lily kembali berada di bawah, dengan mempercepat tempo dorongan Zaki meneruskan pertempuran. “Zack…AHH..AH..AH..UH…TERUS ZACK…. AHHH…AHH IBU SAMPAI…ZACK….AHHHHHHHHH… MMMMMHHH.”</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah teriakan tertahan bu Lily mengatup bibirnya menikmati orgasme yang didapat, tubuhnya sedikit bergetar. Zaki merasa vagina yang mengalami orgasme itu berkedut-kedut seperti menyedot zakarnya.Zaki menikmatinya dengan memutar –mutar pantatnya dan memasukkan lebih dalam lagi batang zakarnya, dan terasa ada dorongan kuat menyelimuti batang zakarnya, semakin besar dan sesaat Zaki kembali mendorong batangnya dengan cepat dan saat terakhir menarik keluar batanga zakarnya dan melepaskan air maninya di atas perut bu Lily…. Yang dengan cepat meraih penis Zaki dan mengocoknya sampai air mani itu berhenti muncrat, dengan lembut bu Lily mengusap penis yang mulai turun ketegangannya. Zaki membaringkan tubuhnya disamping bu Lily. Terdiam untuk beberapa saat.</p>
<p style="text-align: justify;">Bu Lily bangkit duduk meraih kain di pinggiran tempat tidur dan menyeka sisa air mani di perutnya. Kemudian dengan manja membaringkan tubuhnya diatas Zaki. “makasih ya sayang… ini rahasia kita berdua… I love u Zack,” bisik mesra bu Lily di telinga Zaki.</p>
<p style="text-align: justify;">“mmm…baik bu…”belum sempat Zaki menyelesaikan ucapannya, jari telunjuk bu Lily menempel di bibirnya, “kalo lagi berdua gini jangan pangil ibu dong…”ucap bu Lily manja.</p>
<p style="text-align: justify;">“iya sayang….” Balas Zaki, senyum manis merekah di bibir seksi bu Lily.Setelah itu dengan cepat Zaki dan bu Lily merapikan pakaian, dan sebelum meninggalkan Zaki, bu Lily berbisik mesra,”sayang… tar malem suamiku gak ada di rumah….. aku tunggu di kamar ya… berapa ronde pun dilakoni buat Zaki sayang.” Sambil berpelukan mesra, Zaki menyanggupi ajakan bu Lily.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ceritasex.cn/tante-lily-ibu-kost-yang-kesepian/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Quicky Ngentot Tante Nella Saat Jeda Makan Siang</title>
		<link>http://www.ceritasex.cn/quicky-ngentot-tante-nella-saat-jeda-makan-siang/</link>
		<comments>http://www.ceritasex.cn/quicky-ngentot-tante-nella-saat-jeda-makan-siang/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 07 Mar 2010 01:14:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cerita Sex</dc:creator>
				<category><![CDATA[Paruh baya]]></category>
		<category><![CDATA[kisah nyata]]></category>
		<category><![CDATA[selingkuh]]></category>
		<category><![CDATA[cepat-cepat]]></category>
		<category><![CDATA[nella]]></category>
		<category><![CDATA[ngentot]]></category>
		<category><![CDATA[quicky]]></category>
		<category><![CDATA[tante]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ceritasex.cn/?p=1284</guid>
		<description><![CDATA[Waktu jam istirahat makan siang tante nella minta di entot memeknya katanya gatel, ya udah cepat-cepat nggak sempat buka baju, kontolku di isep,  ku emut toket nya tante nella, lalu ngentot deh uhh&#8230;.









]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Waktu jam istirahat makan siang tante nella minta di entot memeknya katanya gatel, ya udah cepat-cepat nggak sempat buka baju, kontolku di isep,  ku emut toket nya tante nella, lalu ngentot deh uhh&#8230;.</p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2010/03/tante-nella-1.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-1285" title="tante-nella-1" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2010/03/tante-nella-1-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a></p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2010/03/tante-nella-2.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-1286" title="tante-nella-2" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2010/03/tante-nella-2-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a></p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2010/03/tante-nella-3.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-1287" title="tante-nella-3" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2010/03/tante-nella-3-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a></p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2010/03/tante-nella-4.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-1288" title="tante-nella-4" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2010/03/tante-nella-4-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a></p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2010/03/tante-nella-5.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-1289" title="tante-nella-5" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2010/03/tante-nella-5-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a></p>
<p><span id="more-1284"></span></p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2010/03/tante-nella-6.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-1290" title="tante-nella-6" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2010/03/tante-nella-6-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a></p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2010/03/tante-nella-7.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-1291" title="tante-nella-7" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2010/03/tante-nella-7-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a></p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2010/03/tante-nella-8.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-1292" title="tante-nella-8" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2010/03/tante-nella-8-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ceritasex.cn/quicky-ngentot-tante-nella-saat-jeda-makan-siang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Gangbang My Wife</title>
		<link>http://www.ceritasex.cn/gangbang-my-wife/</link>
		<comments>http://www.ceritasex.cn/gangbang-my-wife/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 07 Mar 2010 01:02:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cerita Sex</dc:creator>
				<category><![CDATA[Gangbang Rame Rame]]></category>
		<category><![CDATA[Paruh baya]]></category>
		<category><![CDATA[Seks Umum]]></category>
		<category><![CDATA[Tante Girang]]></category>
		<category><![CDATA[kisah nyata]]></category>
		<category><![CDATA[doyan kontol]]></category>
		<category><![CDATA[gangbang]]></category>
		<category><![CDATA[istri]]></category>
		<category><![CDATA[lonte]]></category>
		<category><![CDATA[memek]]></category>
		<category><![CDATA[memek cina]]></category>
		<category><![CDATA[ngentot]]></category>
		<category><![CDATA[seks]]></category>
		<category><![CDATA[wife]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ceritasex.cn/?p=1262</guid>
		<description><![CDATA[Whoaaaaaaaaa.. hot banget&#8230; ini kisah nyata lho ada suami yang ingin istrinya di gangbang 3 cowok hehehe. Kata istrinya enak banget bikin ngentot sama 5 cowok bikin ketagihan hehehe dasar memek cina doyan kontol pribumi&#8230;.  





















]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Whoaaaaaaaaa.. hot banget&#8230; ini kisah nyata lho ada suami yang ingin istrinya di gangbang 3 cowok hehehe. Kata istrinya enak banget bikin ngentot sama 5 cowok bikin ketagihan hehehe dasar memek cina doyan kontol pribumi&#8230;. <img src='http://www.ceritasex.cn/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> </p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2010/03/gangbang-my-wife-1.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-1263" title="gangbang-my-wife-1" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2010/03/gangbang-my-wife-1-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a></p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2010/03/gangbang-my-wife-2.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-1264" title="gangbang-my-wife-2" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2010/03/gangbang-my-wife-2-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a></p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2010/03/gangbang-my-wife-3.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-1265" title="gangbang-my-wife-3" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2010/03/gangbang-my-wife-3-300x239.jpg" alt="" width="300" height="239" /></a></p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2010/03/gangbang-my-wife-4.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-1266" title="gangbang-my-wife-4" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2010/03/gangbang-my-wife-4-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a></p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2010/03/gangbang-my-wife-5.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-1267" title="gangbang-my-wife-5" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2010/03/gangbang-my-wife-5-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a></p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2010/03/gangbang-my-wife-6.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-1268" title="gangbang-my-wife-6" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2010/03/gangbang-my-wife-6-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a></p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2010/03/gangbang-my-wife-7.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-1269" title="gangbang-my-wife-7" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2010/03/gangbang-my-wife-7-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a></p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2010/03/gangbang-my-wife-8.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-1270" title="gangbang-my-wife-8" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2010/03/gangbang-my-wife-8-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a></p>
<p><span id="more-1262"></span></p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2010/03/gangbang-my-wife-9.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-1271" title="gangbang-my-wife-9" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2010/03/gangbang-my-wife-9-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a></p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2010/03/gangbang-my-wife-10.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-1272" title="gangbang-my-wife-10" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2010/03/gangbang-my-wife-10-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a></p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2010/03/gangbang-my-wife-11.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-1273" title="gangbang-my-wife-11" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2010/03/gangbang-my-wife-11-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a></p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2010/03/gangbang-my-wife-12.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-1274" title="gangbang-my-wife-12" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2010/03/gangbang-my-wife-12-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a></p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2010/03/gangbang-my-wife-13.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-1275" title="gangbang-my-wife-13" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2010/03/gangbang-my-wife-13-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a></p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2010/03/gangbang-my-wife-14.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-1276" title="gangbang-my-wife-14" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2010/03/gangbang-my-wife-14-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a></p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2010/03/gangbang-my-wife-15.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-1277" title="gangbang-my-wife-15" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2010/03/gangbang-my-wife-15-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a></p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2010/03/gangbang-my-wife-16.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-1278" title="gangbang-my-wife-16" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2010/03/gangbang-my-wife-16-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a></p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2010/03/gangbang-my-wife-17.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-1279" title="gangbang-my-wife-17" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2010/03/gangbang-my-wife-17-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a></p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2010/03/gangbang-my-wife-18.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-1280" title="gangbang-my-wife-18" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2010/03/gangbang-my-wife-18-300x233.jpg" alt="" width="300" height="233" /></a></p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2010/03/gangbang-my-wife-19.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-1281" title="gangbang-my-wife-19" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2010/03/gangbang-my-wife-19-300x261.jpg" alt="" width="300" height="261" /></a></p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2010/03/gangbang-my-wife-20.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-1282" title="gangbang-my-wife-20" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2010/03/gangbang-my-wife-20-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ceritasex.cn/gangbang-my-wife/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>ABG Siap Menjadi Simpanan Om-Om..</title>
		<link>http://www.ceritasex.cn/abg-siap-menjadi-simpanan-om-om/</link>
		<comments>http://www.ceritasex.cn/abg-siap-menjadi-simpanan-om-om/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 06 Feb 2010 06:00:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cerita Sex</dc:creator>
				<category><![CDATA[Daun Muda]]></category>
		<category><![CDATA[Foto Mesum]]></category>
		<category><![CDATA[abg]]></category>
		<category><![CDATA[om-om]]></category>
		<category><![CDATA[simpanan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ceritasex.cn/?p=1254</guid>
		<description><![CDATA[Yuk om&#8230; abg ini siap menjadi simpanan kalau bosan sama istri tua ABG yang ini bisa bikin om enak dan terpuaskan untuk urusan birahi hahahaha&#8230;.






]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Yuk om&#8230; abg ini siap menjadi simpanan kalau bosan sama istri tua ABG yang ini bisa bikin om enak dan terpuaskan untuk urusan birahi hahahaha&#8230;.</p>
<p><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2010/02/abg-simpanan-1.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-1255" title="abg-simpanan-1" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2010/02/abg-simpanan-1-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a></p>
<p><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2010/02/abg-simpanan-2.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-1256" title="abg-simpanan-2" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2010/02/abg-simpanan-2-225x300.jpg" alt="" width="225" height="300" /></a></p>
<p><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2010/02/abg-simpanan-3.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-1257" title="abg-simpanan-3" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2010/02/abg-simpanan-3-232x300.jpg" alt="" width="232" height="300" /></a></p>
<p><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2010/02/abg-simpanan-4.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-1258" title="abg-simpanan-4" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2010/02/abg-simpanan-4-300x213.jpg" alt="" width="300" height="213" /></a></p>
<p><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2010/02/abg-simpanan-5.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-1259" title="abg-simpanan-5" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2010/02/abg-simpanan-5-233x300.jpg" alt="" width="233" height="300" /></a></p>
<p><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2010/02/abg-simpanan-6.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-1260" title="abg-simpanan-6" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2010/02/abg-simpanan-6-232x300.jpg" alt="" width="232" height="300" /></a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ceritasex.cn/abg-siap-menjadi-simpanan-om-om/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mencoba 3 Some Dengan Perjaka&#8230;</title>
		<link>http://www.ceritasex.cn/mencoba-3-some-dengan-perjaka/</link>
		<comments>http://www.ceritasex.cn/mencoba-3-some-dengan-perjaka/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 06 Feb 2010 05:52:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cerita Sex</dc:creator>
				<category><![CDATA[Gangbang Rame Rame]]></category>
		<category><![CDATA[Paruh baya]]></category>
		<category><![CDATA[kisah nyata]]></category>
		<category><![CDATA[selingkuh]]></category>
		<category><![CDATA[gangbang]]></category>
		<category><![CDATA[istri]]></category>
		<category><![CDATA[perjaka]]></category>
		<category><![CDATA[threesome]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ceritasex.cn/?p=1251</guid>
		<description><![CDATA[Pengalaman 3 some minggu lalu membuat istriku menjadi pendiam selama beberapa hari. Aku belum pasti apakah dia shock atau malah menikmati atau malu.
Malam hari, istriku merebahkan badannya disampingku, kuelus punggungnya dan kuciumi lehernya lembut..” Ma kok sekarang jadi pendiam&#8230;marah ya sayang&#8230;”tanyaku. Dengan pelan pelan dia membalik badannya menghadapku kemudian kucium tipis bibirnya “ Nggak kok [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Pengalaman 3 some minggu lalu membuat istriku menjadi pendiam selama beberapa hari. Aku belum pasti apakah dia shock atau malah menikmati atau malu.</p>
<p style="text-align: justify;">Malam hari, istriku merebahkan badannya disampingku, kuelus punggungnya dan kuciumi lehernya lembut..” Ma kok sekarang jadi pendiam&#8230;marah ya sayang&#8230;”tanyaku. Dengan pelan pelan dia membalik badannya menghadapku kemudian kucium tipis bibirnya “ Nggak kok pa&#8230;Cuma merasa gimana gitu&#8230;..” Matanya berkaca kaca..</p>
<p style="text-align: justify;">“ Lho kok malah nangis&#8230; kenapa sayang..? Jangan marah ya…kamu tahu kan aku tambah sayang banget. Bener lho….aku berharap banget kamu bisa menikmatinya sayang”…Bisikku lembut agak kuatir.</p>
<p style="text-align: justify;">Ok lah nggak papa, kalo kamu nggak bisa menikmati, yang kemarin itu pertama dan terakhir deh… tapi sekali lagi..aku sayang banget sama kamu ma…kalo kamu bisa menikmatinya aku bahagia banget…” Sambil kucium lembut air matanya yang mulai meleleh dipipinya.</p>
<p style="text-align: justify;">“aku sayang banget sama papa…saaayaaaang banget…jujur ketika itu aku memang menikmatinya tapi aku merasa bersalah ke papa dan malu juga, kok aku kelihatan liar&#8230;malu sama papa&#8230;” bisiknya sambil memainkan kancing bajuku, matanya tidak berani menatapku.<br />
“ Lho kenapa sayang&#8230;aku merasakan nikmat yang luar biasa lho.. bener..aku sangat menikmatinya..memang agak kaget juga ketika melihat kamu ganas dan liar kayak gitu&#8230;aauu!!!”<br />
Istriku mencubit dadaku “ aduh !! papa.. jangan gitu dong..jadi malu neehh” istriku cemberut. Cepat cepat kucium bibirnya lembut, “ aku sangat menikmatinya sayang&#8230;jangan kuatir..” bisikku. Tampaknya suasana hati istriku mulai membaik.</p>
<p style="text-align: justify;">“ Kira kira kamu mau nggak kalo kita coba lagi..mmm ?.”bisikku sambil menggelitik telinganya dengan lidah” aaahhh..mmm..kok nggak sabaran sih pa&#8230;kan barusan&#8230;masak lagi&#8230;mmm..aahhh” Bisiknya sambil menggeliat karena geli.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku remas lembut buah dadanya “ Kali ini sama perjaka gimana ? udah ada lho calonnya&#8230;” Istriku mencium leherku “ aah paling ngakunya perjaka&#8230;nggak percaya&#8230;” sambil membalik memunggungiku, sekilas dia tersenyum tapi berusaha menutupinya.</p>
<p style="text-align: justify;">“ Nggak ..ini perjaka beneran kok&#8230;perjaka ting ting..kalo perjaka kan kamu nanti bisa mengulum batangnya.. aku kan pernah bilang kalo nggak keberatan misalnya cowok itu memuncratkan sperma di dalam dengan catatan masih perjaka&#8230;” Kataku berusaha membujuknya.<br />
Istriku menghentikan geliatannya dan memandangku tajam “Aduh rek&#8230; bahasanya kasar bener&#8230;muncrat !!..yang halus dong pa&#8230;mengeluarkan atau apalah istilahnya.<br />
Mmmm.. papa beneran nih.. bener bener pengen nyenengin aku&#8230;? nggak papa aku nelen spermanya&#8230;ato membiarkannya muncrat didalamnya ? “ato membiarkan spermanya mengenai wajahku ? nggak cemburu ?” pertanyaannya bertubi tubi.<br />
“Aku nggak masalah ma selama dia perjaka..Asyik kan dapat perjaka&#8230;hmmm daun muda bok..! “ Kataku menggoda&#8230;<br />
“Aaahh papa !..” cubitannya menyerbu tubuhku..<br />
<span id="more-1251"></span><br />
Wajah Ryan memerah karena malu, wajahnya menunduk jengah ketika istriku mulai menurunkan lingerienya. Aku akui meski umurnya 40 tahun, tubuh istri masih bagus, mulus, bersih, dan putih, paling nggak menurutku sendirilah&#8230;</p>
<p style="text-align: justify;">He..Ryan..bagaimana menurutmu tubuh istriku&#8230;sexy nggak ? “ tanyaku berbisik sekilas di telinganya. Wajah Ryan tambah memerah, menjawab dengan ragu ragu agak serak : Tante cantik sekali om&#8230;cantik sekali&#8230;mmmm apa om nggak marah&#8230;? selain itu saya kan belum pernah gituan. Kalo nggak bisa muasin gimana ? dan mmmm&#8230; saya nggak enak kalo misalnya keluar duluan.”</p>
<p style="text-align: justify;">Udah..kamu santai aja..pokoknya nurut aja ok..? eh&#8230; kamu udah mandi belum, sana mandi dulu..bersihin yang bener senjata kamu. Nggak mau kalo jorok., pake nih minyak wangiku.” Suruhku. “ eh..udah kok om&#8230;saya udah mandi..” katanya pelan. “Mandi lagi aja deh..” Kataku memaksa.</p>
<p style="text-align: justify;">Sambil menunggu Ryan mandi aku mulai merangsang istriku. Kami berciuman lembut, meremas buah dadanya, sambil sesekali menjilat miss Vnya. “ Pa..nanti menurut papa aku cium batangnya dulu apa langsung dimasukin ? tanya istriku ragu ragu. “ Lho yang paling kamu suka yang mana dulu sayang&#8230;tapi baiknya kamu kulum aja batangnya&#8230;kan masih perjaka&#8230;pasti bersih lah..aku nggak keberatan kok tanpa kondom..:kataku sambil menciumi telinganya.</p>
<p style="text-align: justify;">: Aduhhh tanpa kondom ? mmm kalo aku kulum nggak papa pa ? aku kuatir kalo dia nggak kuat terus keluar di mulut&#8230;eh tapi tadi kata papa nggak papa ya keluar di mulut&#8230;” kata istriku gelisah.</p>
<p style="text-align: justify;">“ Nggak papa honey&#8230;atau biar si Ryan nyiumin bagian bawah aku bagian atas&#8230;.eh Ryan..udah selesai mandinya ? “ Tanyaku, terlihat Ryan sedang berdiri canggung agak jauh di depan kamar mandi.</p>
<p style="text-align: justify;">“ Pa&#8230;gila batangnya gede banget ! mana cukup ! “ Bisik istriku tercekat sambil menatap kaget batang Ryan yang mengacung tinggi.</p>
<p style="text-align: justify;">Hehehehe rupanya istriku terkaget kaget melihat batang gede Ryan…sengaja aku pilih perjaka yang berbatang lebih besar dari punyaku. Lah.. buat apa kalo kecil..nanti istriku nggak terkesan.</p>
<p style="text-align: justify;">He..sini Ryan…kamu nurut aja ya kalo tante nyuruh kamu, coba kamu sekarang nyium punya tante, om yang bagian atas dulu..ok ? Jangan sampe kegigit lho !&#8230;pelan pelan aja….bisa nggak ? Tanyaku.<br />
“ ii..ii ya om…: Katanya sambil jongkok, matanya nanar melihat miss V istriku.<br />
Perlahan lidah Ryan menjilat pelan…hmm lumayan juga untuk pemula. Wajah Ryan tampak memerah menahan nafsu.<br />
” uuuhhh..pa..nikmat sekali…” Tangan istriku menekan kepala Ryan agar lebih tenggelam ke belahan pahanya sambil sesekali meremas dan menjambak rambut perjaka itu, sementara tangan satunya memeluk leherku, kami berciuman lembut…bertambah liar…liar..bibir kami bertautan erat, suara kecipak bibir kami makin keras dan “aaaargghhhh..” Istriku menjerit. “ Lho…ma..kok udah orgasme ? cepet banget…?</p>
<p style="text-align: justify;">Istriku melenguh nikmat,” iya pa…abis memang enak sih…rasanya gak ada beban gitu…kalo kemarin jujur aja ada rasa takut. Kalo ini kan masih perjaka…rasanya lebih nyaman..” Kata istriku sambil tersenyum malu.</p>
<p style="text-align: justify;">“Masuk ya pa…please..punya papa dulu dong..shhh” Perlahan aku arahkan batangku ke vagina istriku yang sudah basah kena ludah Ryan. Perlahan lahan aku masukkan. Dengan pandangan takjub Ryan melihat bagaimana batangku keluar masuk, agaknya dia penasaran bagaimana caranya bercinta. Polos juga itu anak…</p>
<p style="text-align: justify;">“He..Ryan jangan bengong aja..tante mau kulum batang kamu. Kalo kamu nggak kuat nggak papa keluarin aja.” aku mengajarinya.</p>
<p style="text-align: justify;">”Aduh papa..kasar banget sih&#8230;” kata istriku sambil meraih dan mengocok batang Ryan yang menegang keras. Aku kedipkan mataku meminta istriku tidak ragu ragu untuk memulai mengulum batang tersebut, sementara aku tetap mengocok pelan vagina istriku.</p>
<p style="text-align: justify;">Sambil mengocok lembut dan mengelus ujung batangnya, istriku berbisik : ” Ryan &#8230;bener belum pernah sama perempuan lain ? kalo belum, tante masukin mulut ya batang kamu&#8230;kalo nggak kuat nggak papa keluarin aja tapi ngomong dulu..ok ? ”</p>
<p style="text-align: justify;">”Ssssh tante&#8230;sshh belum pernah tante&#8230;aduh enak&#8230;” Suara Ryan bergetar hebat.</p>
<p style="text-align: justify;">” Ok tante cium cium ya&#8230;” Sambil menyentuhkan ujung lidahnya ke permukaan batang Ryan membuat tubuh Ryan bergetar lebih hebat lagi. Dengan perlahan batang Ryan mulai masuk ke dalam mulut istriku. Gila…! Menggairahkan sekali.</p>
<p style="text-align: justify;">Dua kali mengulum istriku menghentikan gerakannya sambil memandangku. “ Kenapa ma kok berhenti ? “ Tanyaku heran.</p>
<p style="text-align: justify;">“ Ternyata bener bener enak pa…enak banget “ Sambil mengedipkan matanya istriku kembali mengulum habis batang Ryan.<br />
“ AAhhhhh tante…mau keluar tante…aaahhh “<br />
Dan menyemburlah sperma Ryan ke mulut istriku yang sibuk menelan dan menjilati muncratan sperma dari batang besar tersebut. Saking banyak spermanya sampai ada yang ke rambut, pipi dan mengalir ke leher istriku. Istriku bersemangat menjilati, menyedot, menggigit gigit gemas. Aaaah bener bener indah dan menggairah pemandangan di depanku….luar biasa…! Seluruh sperma Ryan tidak bersisa sama sekali ditelan habis oleh istriku. Nggak heran sih, istriku paling paling ahli di bidang ilmu perkuluman ini. Dulu jaman pacaran aja, nggak lebih dari 10 menit pasti spermaku sudah semburat keluar.</p>
<p style="text-align: justify;">“Gimana sayang rasanya sperma perjaka ? “ Tanyaku sambil mengedip nakal.</p>
<p style="text-align: justify;">“Aaaah papa jahil banget sihh…” Sambil mencium bibirku…uuff …aku terpaksa ikut merasakan sperma perjaka satu ini..Sementara Ryan sudah tergeletak lemas di samping istriku.</p>
<p style="text-align: justify;">“Ayo pa…sekarang papa ganti yang ngeluarin, tapi jangan disemburin lho…biar bisa berkali kali” Bisiknya. Hehehehe memang kalau nggak aku semprotin, aku bisa bercinta nonstop 4-5 kali lagi. Biarin aja sperma itu keluar sendiri, kalo disemburkan nggak bakalan aku bisa nerusin ML ini.</p>
<p style="text-align: justify;">“Didalam aja sayang…keluarin didalam aja” Bisik istriku. Ahh gila enak banget…aku keluarin pelan pelan spermaku…ahhh nikmat banget.</p>
<p style="text-align: justify;">Ryan tampaknya sudah mulai terangsang kembali. Dengan ragu ragu dengan pandangan berharap dia menyentuh dan meremas tangan istriku. “ Udah bisa bangun lagi ? Ayo coba dimasukin yuk….pelan pelan aja ya..sini tante ajarin gimana masuknya “ Kata istriku lembut, dalam hati aku tertawa…goblok banget nih anak…masa gitu aja harus diajarin.</p>
<p style="text-align: justify;">“Papa geser dulu ya….” Dengan mengocok lembut istriku mengarahkan batang Ryan ke vaginanya…tanpa kondom !!&#8230;dengan takjub aku melihat bagaimana batang besar tersebut mulai menyentuh ujung vagina istriku, digesek gesek pelan sehingga membuka labia mayora yang kemerahan dan perlahan masuk….ahhh sexy sekali…Untuk pertama kalinya istriku menikmati batang orang lain tanpa kondom, dan aku sama sekali tidak keberatan.</p>
<p style="text-align: justify;">” Uuhhh ya gitu Ryan…agak ditekan ya biar bisa masuk lebih dalam…yaaa gitu…ahhh besar sekali…papa nikmat pa…ayo Ryan digoyang dong…kamu keluar masukin kayak seperti om lakukan tadi lho….yaaa gitu…uuuff enak sekali…ayo Ryan kamu ciumin dada tante…pelan pelan ya…dijilat aja ya…yang lembut…” Bisik istriku.</p>
<p style="text-align: justify;">Dengan ragu Ryan memandangku. Aku goyangkan kepalaku go ahead !! bak mendapat durian runtuh Ryan menerkam buah dada istriku yang ranum dengan puting merah muda menjulang keras karena terangsang tersebut.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku biarkan istriku menikmati batang Ryan sepuas puasnya. Dengan pandangan sayu seakan mengucapkan terima kasih, nafas istriku bertambah memburu karena menahan kenikmatan, tampaknya dia segera menuju orgasme yang kedua. Kalau ini terjadi artinya luar biasa karena istriku untuk bisa orgasme sering dibantu dengan jari.</p>
<p style="text-align: justify;">“Pa…pa… boleh didalam ya…gimana pa..nggak papa…” Suara istriku terputus putus, orgasmenya sudah mulai menuju puncak hanya menunggu persetujuanku saja untuk mencapainya. Tangannya meremas pantat Ryan, sementara Ryan sibuk melumat buah dada istriku. Aku cium lembut bibirnya yang merekah tersengal sengal “ nikmati saja sayang, keluarkan…keluarkan orgasmemu….teriaklah yang keras. Puaskan dirimu sayang…”bisikku lembut. Sementara Ryan semakin giat mengeluar masukkan batang raksasanya..”Tante saya mau keluar lagi…didalam ya tante…ahhhh…saya keluar….!”</p>
<p style="text-align: justify;">Nafas istriku tersengal sengal hebat, Kakinya mulai menekuk menekan pantat Ryan, makin memburu&#8230;rintihannya mulai mengeras&#8230;dan matanya berkaca kaca&#8230;Tiba tiba tubuhnya menegang, Jarinya menghunjam keras kepunggung Ryan, kepalanya mendongak keatas sambil memejamkan matanya, istriku melenguh keras. Aaahhh.. istriku orgasme dengan seijinku. Air matanya menetes dari sudut matanya…kenapa dia menangis ? Aku kawatir…</p>
<p style="text-align: justify;">Ryan menarik batangnya dan berjalan canggung kekamar mandi. Tampak spermanya yang sudah bercampur dengan spermaku mengalir perlahan keluar dari vagina istriku.<br />
Aku cium lembut bibirnya: “kenapa menangis sayang …?”<br />
“Papa…nikmat sekali…terima kasih rasa nikmatnya seperti kita pertama kali melakukan&#8230;maaf pa&#8230;aku jahat ya&#8230;” Air matanya masih mengalir, aku cium lagi matanya dengan lembut” Ma..aku sayang banget sama kamu&#8230;Ini semua kan untuk kamu&#8230;jadi nikmati dong..jangan nangis&#8230;ok ?</p>
<p style="text-align: justify;">Kami berciuman&#8230;aku remas lembut rambutnya, perlahan aku tindih tubuhnya dan kami menyatu lagi untuk ketiga kalinya&#8230;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ceritasex.cn/mencoba-3-some-dengan-perjaka/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Iryanti, Gadis Warnet</title>
		<link>http://www.ceritasex.cn/iryanti-gadis-warnet/</link>
		<comments>http://www.ceritasex.cn/iryanti-gadis-warnet/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 06 Feb 2010 05:45:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cerita Sex</dc:creator>
				<category><![CDATA[Daun Muda]]></category>
		<category><![CDATA[Seks Umum]]></category>
		<category><![CDATA[selingkuh]]></category>
		<category><![CDATA[chatting]]></category>
		<category><![CDATA[isep kontol]]></category>
		<category><![CDATA[mirc]]></category>
		<category><![CDATA[ngentot]]></category>
		<category><![CDATA[oral]]></category>
		<category><![CDATA[warnet]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ceritasex.cn/?p=1249</guid>
		<description><![CDATA[Namaku Rio, seorang dokter di sebuah rumah sakit di Jakarta Selatan, kisah yang akan kuceritakan ini terjadi saat aku masih bertunangan dengan istriku sekarang ini, dan terjadi berawal dari hal yang sama sekali tidak terduga sedikitpun olehku.
Bulan February 2001 lalu aku mengantarkan kawanku Rudy ke bengkel Toyota di jalan ***(edited) Jakarta. Saat tiba di bengkel, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Namaku Rio, seorang dokter di sebuah rumah sakit di Jakarta Selatan, kisah yang akan kuceritakan ini terjadi saat aku masih bertunangan dengan istriku sekarang ini, dan terjadi berawal dari hal yang sama sekali tidak terduga sedikitpun olehku.</p>
<p style="text-align: justify;">Bulan February 2001 lalu aku mengantarkan kawanku Rudy ke bengkel Toyota di jalan ***(edited) Jakarta. Saat tiba di bengkel, sudah banyak mobil yang antri menunggu giliran.<br />
Rudy tersenyum kepadaku dan bilang, &#8220;Sorry Yo.., kayaknya loe musti nungguin lama juga nih..&#8221;<br />
Brengsek juga nih pikirku, biar tidak bosan, aku pergi ke warnet di dekat situ, persisnya di sebelah Soto Kudus, persis depan Danar Hadi.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku masuk, disambut oleh seorang cewek yang ternyata adalah yang bertugas menjaga warnet tersebut. Mulanya aku tidak begitu memperhatikannya, berhubung hatiku lagi kesal sekali sama ulah si Rudy tadi. Tapi ketika aku mulai meng-klik mouse dan sedang menunggu connect-nya internet, baru aku perhatikan bahwa cewek penjaga ini punya wajah cukup lumayan dan body yang oke juga. Terus terang, saat itu juga aku terpikat oleh penampilannya, aku jatuh hati pada &#8220;the way she look&#8221;.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku sibuk berpikir dalam hati, bagaimana cara aku berkenalan dengannya? Tapi mungkin memang takdir cara itu datang dengan sendirinya, cewek itu tidak lama kemudian membuka juga internet dan dia duduk persis di belakangku, jadi posisi kami saling memunggungi satu sama lain. Aku sempat menoleh ke belakang, dan kulihat dia membuka situs &#8220;mIRC&#8221;.<br />
&#8220;Kayaknya dia mau chatting nih..,&#8221; pikirku.<br />
Ternyata benar, dia mau chatting, dan aku sempat melihat kalau dia pake &#8220;nick&#8221; yanthie. Langsung saja aku masuk ke &#8220;mIRC&#8221; juga, aku call dia, eeh dia nge-reply.</p>
<p style="text-align: justify;">Kami berkenalan, dan selama chatting itu dia sama sekali tidak sadar kalau Rio yang sedang ngobrol dengannya adalah cowok yang duduk tepat di belakangnya, hihihihi. Pas sejam aku selesai, aku bayar, aku pancing obrolan dengannya, aku tahu sekarang namanya &#8220;Yanti&#8221;, tepatnya &#8220;Iryanti&#8221;. Tampangnya benar-benar membuat aku bergairah.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku lalu keluar, pergi ke bengkel menemui si Rudy, mobilnya sedang dikerjakan. Aku pergi ke telepon kartu di bengkel itu, kutelepon penerangan &#8220;108&#8243;. Kutanyakan nomer telepon warnet itu, setelah kudapat langsung kutelepon, dan aku minta bicara dengan Yanti.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Siapa nih..?&#8221; suara Yanti di seberang sana.<br />
&#8220;Ini Rio, boleh saya kenal kamu..?&#8221; jawabku.<br />
&#8220;Boleh aja, tapi kamu dapat nomer ini darimana..?&#8221; tanya Yanti lagi.<br />
&#8220;Saya yang pernah main di warnet kamu..,&#8221; jawabku.<br />
Dan Oh My God..! Tahu tidak Yanti bilang apa..?<br />
&#8220;Kamu yang tadi chatting di belakang saya khan..?&#8221; katanya.<br />
Mati aku, dia sudah tahu rupanya. Terlanjur malu aku mengaku saja, kalau itu benar aku, dan aku terpesona oleh penampilan dia, tapi aku malu untuk menegur disana, jadi aku pakai cara ini saja.</p>
<p style="text-align: justify;">Yanti tertawa, enak deh suaranya, kuberanikan saja ingin menjemput dia, mau atau tidak. Katanya dia sore ini tidak bisa, karena cowoknya (yang akhirnya kuketahui namanya Joe) menjemput dia.<br />
&#8220;Gimana kalau besok lusa aja..?&#8221; katanya.<br />
&#8220;Oke aja..&#8221; kataku.</p>
<p style="text-align: justify;">Jadilah lusanya aku tidak praktek, jam 17.00 tepat aku sudah sampai di warnet Yanti. Kami terus jalan deh. Di jalan, dasar pikiran nakalku sudah di ubun-ubun, aku tanya sudah berapa lama Yanti pacaran sama Joe, berapa kali pacaran, terakhir aku juga mengaku sudah punya cewek, terus aku tanya mau tidak Yanti jadi cewekku? Yanti kaget.<br />
&#8220;Jadi Yanti ngeduain Joe donk Yo..?&#8221; tanyanya.<br />
&#8220;Iya sama Rio juga ngeduain cewek Rio..&#8221; jawabku sekenanya.<br />
&#8220;Nakal kamu Yo..&#8221; kata Yanti sambil mencubit lenganku.<br />
&#8220;Naaah.., kena nih cewek..!&#8221; pikirku.<br />
<span id="more-1249"></span><br />
Kutangkap tangannya, kupegang kuat, kuhentikan mobilku di depan sebuah bangunan sepi dekat Pasaraya Manggarai, kutarik Yanti ke arahku, kucium bibirnya, Yanti mendorong tubuhku.<br />
&#8220;Hhhmmmhh malu-malu kucing nih..&#8221; pikirku.<br />
Terus kutarik tubuhnya sambil mengeluarkan kata-kata gombalku. Lama kelamaan Yanti tidak menolak lagi, dibalasnya ciumanku, dijulurkannya lidahnya, digigitnya bibirku, kusedot lidahnya, nikmat sekali, urat syarafku terangsang. Kuraba pahanya, terus ke selangkangannya, Yanti mendesah.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Jangan Rio..&#8221; desahnya.<br />
Aku berhenti, kuhidupkan mesin mobil, kuarahkan mobil ke hotel ***(edited) di jalan ***(edited) Jakarta Pusat, aku langsung parkir.<br />
&#8220;Mau ngapain kita kesini Yo..?&#8221; tanya Yanti.<br />
Aku tidak menjawab, kusuruh dia menunggu di mobil, aku masuk ke dalam, aku check in di kamar 104.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah diantar ke kamar, kuhidupkan AC, lalu aku ke mobil.<br />
&#8220;Yan, turun yuuk..!&#8221; kataku.<br />
&#8220;Nggak tau ah, mau ngapain sih Rio..?&#8221; kata Yanti.<br />
Lagi-lagi kukeluarkan jurus mautku, sampai akhirnya Yanti mau juga ikut masuk ke kamar. Di dalam kamar kubuka celana panjangku. Dengan hanya pakai handuk aku ke kamar mandi, saat aku keluar kulihat Yanti sedang nonton TV.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Film apa sih Yan..?&#8221; tanyaku sambil duduk di sebelahnya.<br />
&#8220;Sinetron..,&#8221; jawab Yanti pendek.<br />
Kupandangi wajahnya, Yanti jengah juga dan bilang, &#8220;Ngapain sih ngeliatin gitu Yo..?&#8221;<br />
&#8220;Kamu cantik..&#8221; rayuku.<br />
&#8220;Rio pengen ciuman kayak tadi deh..&#8221; kataku.<br />
Kutarik tubuhnya, Yanti diam saja, kuangkat dagunya, kupandangi lekat-lekat matanya, kucium lembut bibirnya, Yanti memejamkan matanya. Dibalasnya ciumanku, kujulurkan lidahku, Yanti membalasnya, kuhisap, Yanti membalasnya. Pikiranku benar-benar sudah dikuasai gairah memuncak, kuciumi lehernya, kujilati sepuasku.<br />
&#8220;Aaacchh.., Riooo&#8230;&#8221; desahan Yanti membuatku tambah bernafsu.<br />
Aku berdiri di samping tempat tidur sambil tidak lepas memandang wajahnya sedikitpun.</p>
<p style="text-align: justify;">Kubuka bajuku, handuk, terakhir celana dalamku, sengaja tidak kupadamkan lampu, penisku langsung &#8220;tegak-melompat&#8221; keluar &#8220;sarangnya&#8221;. Kulihat Yanti terkesima, kuhampiri dia, kuraih tangannya, kuletakkan di atas penisku, kusuruh dia melakukan gerakan &#8220;mengocok&#8221;.<br />
&#8220;Aaahhh nikmat sekali..&#8221; desahku.</p>
<p style="text-align: justify;">15 menit Yanti melakukan itu, kulepaskan tangannya dari penisku, kutarik wajahnya, kuarahkan ke penisku. Mula-mula Yanti menolak, dengan sedikit paksaan mau juga dia. Masuklah penisku dalam mulut mungilnya. Digerakkannya maju-mundur berulang kali sampai basah kuyup penisku oleh ludahnya, kurasakan spermaku mau keluar, kutarik rambutnya.<br />
&#8220;Stop Yanti..!&#8221; kataku.</p>
<p style="text-align: justify;">Kini kubaringkan dia, kutelanjangi Yanti sampai sehelai benang pun tidak ada lagi di tubuhnya. Kupandangi tubuhnya, tampak di perut kirinya ada tahi lalat cukup besar. Kucium bibirnya, dagunya, turun ke lehernya, dadanya, perutnya, kuhisap pusar dan tahi lalatnya, Yanti menggelinjang geli. Kuteruskan ke selangkangannya, kumasukkan jari tengahku sambil aku terus mencium selangkangannya.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Aaaccchhh Riiiooo niiikkkmaaatnyaaa sayaaanggg&#8230;&#8221; desah Yanti.<br />
Yanti mengangkat pantatnya setinggi-tingginya, kurasakan basah vaginanya. Yanti telah orgasme rupanya. Kini aku menaiki tubuh Yanti, penisku pun sudah amat berdenyut mendambakan pelampiasan pula. Kuarahkan penisku ke vagina Yanti, kuturunkan perlahan pinggulku, tidak sedetikpun kulepaskan pandanganku dari mata Yanti. Kulihat Yanti menggigit bibirnya.<br />
&#8220;Sakiiittt Riiiooo&#8230;&#8221; desahnya.<br />
Kuhentikan sejenak, lalu kuteruskan lagi, Yanti mendesis lagi. Kulihat butiran air mata di sisi matanya.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Sakit saayyyaangg..?&#8221; tanyaku.<br />
&#8220;Iyyaaa Riiiooo, punya kamu besar sekali..&#8221; jawab Yanti meracau.<br />
&#8220;Mana besar sama punya Joe..?&#8221; tanyaku.<br />
&#8220;Besar punya kamu Riooo&#8230; sakit saaayyyaangghhh, perrriiihhh, tapiii niiikmaaatthh sekaliii..&#8221; rintih Yanti.<br />
Akhirnya masuk semua penisku ke dalam vaginanya. Kutarik maju mundur, akibatnya sungguh luar biasa, Yanti menggeram, kedua kakinya menjepit pinggangku sekuatnya, giginya ditanamkan di bahuku, kurasakan pedih. Waaaahhh berdarah nih&#8230; Yanti orgasme kedua kalinya.</p>
<p style="text-align: justify;">Kini kuganti posisiku, Yanti kusuruh menungging, dan dengan nafsu memuncak kutusukkan penisku ke anusnya, kurasakan otot &#8220;spchincter ani&#8221;-nya mencengkram erat penisku. Kugerakkan masuk-keluar penisku, kugenggam payudaranya, Yanti menggenggam tepi tempat tidur.<br />
&#8220;Riiooo&#8230; saaayyyaanngghh&#8230; ciiintaaa&#8230; eeennnaaakkhhh&#8230; Riioooo.. Rioooo&#8230; nikmaaatthh sayaaaanggghh&#8230; terrruuussshhh cinnntaaaa&#8230;&#8221; erang Yanti terus menerus.<br />
Aku benar-benar nikmat, &#8220;Yaaanntiii kuhamili kamuuuu&#8230; badan kamuuu enak bangeeettthh..&#8221; erangku juga.</p>
<p style="text-align: justify;">10 menit kemudian aku tidak tahan lagi, penisku berdenyut kuat, kucengkram erat pinggul Yanti, kusemburkan sperma hangatku dalam vagina Yanti.<br />
&#8220;Aaacchhh nikmat sekali&#8230;&#8221; desahku di telinganya.<br />
Kami pun terkulai lemas.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ceritasex.cn/iryanti-gadis-warnet/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Penyanyi Dangdut Bispak</title>
		<link>http://www.ceritasex.cn/penyanyi-dangdut-bispak/</link>
		<comments>http://www.ceritasex.cn/penyanyi-dangdut-bispak/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 06 Feb 2010 05:43:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cerita Sex</dc:creator>
				<category><![CDATA[Daun Muda]]></category>
		<category><![CDATA[Foto Mesum]]></category>
		<category><![CDATA[bispak]]></category>
		<category><![CDATA[dangdut]]></category>
		<category><![CDATA[lonte]]></category>
		<category><![CDATA[penyanyi]]></category>
		<category><![CDATA[perek]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ceritasex.cn/?p=1238</guid>
		<description><![CDATA[Habis nyanyi di sewa di entot memeknya euhhh enaknya&#8230;&#8230; sawer terus lobang memeknyaaaaaa&#8230;&#8230;. mantappp&#8230;







]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Habis nyanyi di sewa di entot memeknya euhhh enaknya&#8230;&#8230; sawer terus lobang memeknyaaaaaa&#8230;&#8230;. mantappp&#8230;</p>
<p><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2010/02/dangdut-bispak-1.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-1240" title="dangdut-bispak-1" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2010/02/dangdut-bispak-1-236x300.jpg" alt="" width="236" height="300" /></a></p>
<p><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2010/02/dangdut-bispak-2.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-1241" title="dangdut-bispak-2" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2010/02/dangdut-bispak-2-300x251.jpg" alt="" width="300" height="251" /></a></p>
<p><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2010/02/dangdut-bispak-3.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-1242" title="dangdut-bispak-3" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2010/02/dangdut-bispak-3-240x300.jpg" alt="" width="240" height="300" /></a></p>
<p><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2010/02/dangdut-bispak-4.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-1243" title="dangdut-bispak-4" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2010/02/dangdut-bispak-4-300x241.jpg" alt="" width="300" height="241" /></a></p>
<p><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2010/02/dangdut-bispak-5.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-1244" title="dangdut-bispak-5" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2010/02/dangdut-bispak-5-300x210.jpg" alt="" width="300" height="210" /></a></p>
<p><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2010/02/dangdut-bispak-6.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-1245" title="dangdut-bispak-6" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2010/02/dangdut-bispak-6-300x229.jpg" alt="" width="300" height="229" /></a></p>
<p><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2010/02/dangdut-bispak-7.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-1246" title="dangdut-bispak-7" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2010/02/dangdut-bispak-7-240x300.jpg" alt="" width="240" height="300" /></a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ceritasex.cn/penyanyi-dangdut-bispak/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tante Digilir 3 Brondong SMA</title>
		<link>http://www.ceritasex.cn/tante-digilir-3-brondong-sma-2/</link>
		<comments>http://www.ceritasex.cn/tante-digilir-3-brondong-sma-2/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 24 Jan 2010 13:31:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cerita Sex</dc:creator>
				<category><![CDATA[Daun Muda]]></category>
		<category><![CDATA[Paruh baya]]></category>
		<category><![CDATA[Tante Girang]]></category>
		<category><![CDATA[abg]]></category>
		<category><![CDATA[brondong]]></category>
		<category><![CDATA[ngentot]]></category>
		<category><![CDATA[ngisep kontol]]></category>
		<category><![CDATA[oral seks]]></category>
		<category><![CDATA[sepong]]></category>
		<category><![CDATA[tante]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ceritasex.cn/?p=1236</guid>
		<description><![CDATA[Mendung tebal angin dingin mulai menghembus, aku terus melaju mobil ku melintasi jalan raya yang agak sepi, aku baru saja mengunjungi salah satu nasabahku yang tempatnya agak jauh dari kota, aku harus melewati jalan raya yang sepi dan jauh dari perumahan penduduk.Tiba tiba saja aku merasakan ban mobilku kempes, lalu aku menoba berhenti dan memeriksanya, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Mendung tebal angin dingin mulai menghembus, aku terus melaju mobil ku melintasi jalan raya yang agak sepi, aku baru saja mengunjungi salah satu nasabahku yang tempatnya agak jauh dari kota, aku harus melewati jalan raya yang sepi dan jauh dari perumahan penduduk.Tiba tiba saja aku merasakan ban mobilku kempes, lalu aku menoba berhenti dan memeriksanya, ternyata ban belakang sebelah kiri kempes.&#8221;ah g papa pasti aku masih bisa menaikinya sampai di kota&#8221; pikirku.</p>
<p style="text-align: justify;">Dan ketika aku membuka pintu mobilku, aku tak bisa membuka nya.Astaga aku menutup pintu mobilku dan kunci mobil masih mengantung di dalam, haaa&#8230;dasar sial. aku mencoba mencari Hpku, Oh no..! Hp dan tas ku juga di dalam mobil.</p>
<p style="text-align: justify;">Hujan mulai turun aku bsah kuyup kehujanan, mana sudah menjelang malam, tempat sunyi kek begini weeeeeeh&#8230;.merinding rasanya.Setelah 20 menit berlalu aku melihat lampu mobil, aku melambai lambaikan tanganku.<br />
Mobil itu berhenti dan ternyata pengendaranya adalah anak anak muda, sepertinya pelajar SMU.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;eehhhmmm&#8230;.boleh minta tolong g dik, pinjem Hp nya buat telpon ke rumah, bentar aja,kunci mobil aku kekunci didalam mobil,dan tas aku di dalam juga&#8221; kataku sambil gemetaran menahan dingin.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;waduh mbak..eh tante masuk mobil aja dulu, biar g kedinginan&#8221; jawab salah seorang darimereka.Aku masuk kemobil, karena memang kedinginan.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;aduh sorry ya mobil nya jadi basah&#8221; kataku. ternyata dimobil itu ada tiga orang remaja yang masih berseragam SMU, bau mobil terasa banget bau rokok, dan seperti nya mereka abis minum minum.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8221; ah g apa apa tante, ini HP nya ,telpon aja dulu&#8221; kata pemuda itu sambil menyerahkan HP.</p>
<p style="text-align: justify;">Berkali kali aku coba menghubungi G ada yang menjawab,tidak biasanya di rumah sepi jam segini, gerutuku.<br />
&#8220;G ada yang angkat ya tante?&#8221; tanya pemuda yg di sebelahku.<br />
&#8220;iya, g tau kemana mereka&#8221; kataku mulai gelisah.<br />
&#8221; kalo begitu kita anter aja deh tante, rumah nya dimana&#8221;jawab pemuda yang di depan.<br />
&#8220;wah agak jauh dek, di jln kartini&#8221; jawabku<br />
&#8221; gpp tante paling juga 30 menit kan dari sini&#8221; jawabnya lagi<br />
&#8220;iya deh makasih kalo g keberatan nanti aku ganti uang bensin nya ya&#8221; kataku lagi<br />
<span id="more-1236"></span><br />
Mobil melaju,agak perlahan karena hujan lebat sekali, aku semakin kedinginan karena baju yang aku kenakan basah sekali.Aku mencoba menggosok gosokkan telapak tanganku, untuk mengurangi ras dingin.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Riki lepas donk jaket lo, kasih ke tante biar g kedinginan, lo mah dah liat gitu di diemin aja&#8221; kata pemuda yang menyetir mobil. kemudian pemuda yang duduk di kursi depan melepas jaket nya dan memberikan nya padaku.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;kenalin tante yang di sebelah tante tuh namanya Dendi, nah ini Riki, and gw Angga &#8221; kata si angga mengenalkan diri.<br />
&#8220;tante masih dingin ya, mau gw peluk tante biar agak hangatan dikit&#8221; tanya si Dendi tiba tiba. aku tak menjawab karena tubuhku bener bener gemetar kedinginan, aku biarkan saja si Dendi memelukku.aku mulai merasakan hangat di tubuhku. aku memejamkan mataku.</p>
<p style="text-align: justify;">Tiba tiba aku merasakan sesuatu merayap ke buah dadaku, aku membiarkan nya,aku pura pura tak merasakan apa apa,aku merasakan nafas Dendi mulai takteratur.perlahan perlakuan Dendi membangkitkan gairahku, aku geserkan tubuhku sedikit agar Dendi bisa leluasa bermain main di payudaraku.<br />
Dendi menngecup kupingku, yang seketika itu mengalirkan getar birahi, yang secepatkilat menjalar keseluruh tubuhku.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;oh..ssshhhh&#8230;..aaahhh&#8221; desahku,<br />
&#8220;tante&#8230;aahhh &#8230;kamu cantik sekali&#8221; desah Dendi, sambil perlahan mulai meraih bibirku, kami berciuman, lidah Dendi bermain main di ronngga mulutku, tanganku mulai aktif, menjamah dan mengelus apapun yang bisa aku elus dari tubuh Dendi.Aku benar benar lupa kalo di mobil itu ada oarang lain.<br />
dan tanpa aku sadari aku merasakan elusan elusan lain di pahaku, sementara tangan Dendi masih memainkan payudaraku, dan bibirnya masih terus melumat bibirku.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;ahk&#8230;aahhh&#8230;aaaaahhh&#8230;.&#8221;aku terpekik mana kala elusan elusan itu menyentuh sesuatu yang paling sensitif itu. rupa nya Riki tanpa kusadari telah berpindah tempat, Riki terus mengelus dan mulai melepas celana dalamku, aku benar benar di derai perasaan nikmat yang teramat sangat.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;ooohhhh&#8230;.terusin&#8230;oh yah&#8230;aaahhh&#8221; desahku mana kala Riki mengelus elus Vaginaku dan sesekali menyentuh clitku dengan jempolnya.<br />
Dendi meucuti pakaianku, melepas braku, aku benar benar tak kuasa menolak kenikmatan itu. Dendi melumat , menghisap dan mengulum puting payudaraku bergantian. dan Riki mulai menjilati bibir kemaluanku. sunnguh kenikmatan yang luar biasa menyerang aku dari bwah dan atas.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;tante&#8230;nikmat sekali payudara tante &#8221; kata Dendi.<br />
&#8220;isep Den..terusin Den&#8230;aaah&#8221; ceracauku.<br />
&#8220;oooohhh&#8230;.Ki aahhh&#8230;masukin jari nya ki&#8230;terus ki&#8230;Buka ki masukin lidah kamu Ki&#8230;oooohh&#8221; aku semakin gila.Aku mengangkat angkat pantatku sambil tanganku menekan kepala Riki yang sibuk menjilati kemaluanku.<br />
&#8220;aaaahhh&#8230;Tante memek tante enak sekali&#8230;Riki suka sekali&#8221; kata riki<br />
&#8220;aduh kalian jahat ya&#8230;masak gw suruh nyetir mobil sambil kontol gw ngaceng kek gini&#8221; celoteh Angga.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8221; Den&#8230;tante buka ya&#8221; kataku sambil meraih seleting celana Dendi. Dendi pasarah saja. Gundukan yang keras di balik CD biru itu membuat aku tak tahan ingin segera menikmatinya. Dendi bangkit dan melepas celana dan CD nya. Riki mengikuti hal yg dilakukan Dendi, kemudian aku duduk diantara mereka, kedua nya melumat payudaraku bergantian, sementara aku melebarkan kakiku, sebelah kiri ke Riki dan sebelah kanan di atas paha Dendi, jelas sekali memekku yang basah itu terpampang dengan jelas nya.<br />
sementara kedua tanganku sibuk memainkan titit Dendi dan Riki.</p>
<p style="text-align: justify;">tangan Dendi merambat turun dan menyentuh vaginaku, aku mengeliat ketika jari riki mulai menusuk lubang vaginaku. kemudian aku merubah posisiku, dengan membelakangi Riki dan mengoral titit Dendi. tapi kemudian riki menarik pantatku dan mengangkat nya, sehingga posisiku setengah menungging.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8221; aaahh&#8230;tante&#8230;isep tante&#8230;oooohhh nikmat sekali&#8221; ceracau dendi<br />
&#8220;isep kontol gw tante&#8230;.oooohhhh &#8230;terusin tante &#8230;.isep&#8230;&#8221;dendi mengeliat tak karuan ketika buah jakar itu aku isep dan aku coba masukkan semua kemulutku.<br />
aku terus mempermainkan kontol Dendi, menusuk nusukkan ujung lidah ku ke lubang yang kecil itu.</p>
<p style="text-align: justify;">sementara itu, Riki memberiku sensasi yang luar biasa, ketika lidah dendi menyapu anusku,memainkan lidah nya di anusku. tiba tiba aja Angga mengejutkan kita semua.<br />
&#8220;Dah sampe neh&#8230;giliran gw kalian mundur semua &#8221; kata Angga sambil membuka pintu mobil, yang tanpa aku sadari ternyata kita sudah di dalam ganransi mobil Angga. kemudian Dendi turun yang diikuti oleh Riki, mereka berdua tergopoh gopoh memakai kembali celana mereka.<br />
angga menarik jaket yang hendak ku kenakan kembali, dan menarik tanganku keluar dari mobil, dalam keadaan baju yang terbuka dan bra yang terlepas, Rok yang berantakan, Angga menariku masuk kerumah nya, aku mengikuti saja.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;gantian, lo harus muasin gw, dari tadi gw dah ngaceng negliat tingkah kalian&#8221; kata si Angga yang sambil mendorongku jatuh ke sofa, kemudian dengan kasar dia membuka celananya sendiri dan menyodorkan kontol nya yang sudah mengeras ke mulutku.<br />
&#8220;ayo isep bich&#8230;hah&#8230;ayo!&#8221; Dengan kasar Angga menyumpal mulutku dengan kontolnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku mengisap, kontol angga memainkan dengan lidahku,sesekali aku kocok dengan tanganku. lidahku berputar putar di seputar buah pelirnya.<br />
&#8220;oooh yah&#8230;terus sayang&#8230;isep&#8230;lo emang lihai&#8230;aahhh&#8230;aaahhh&#8221;<br />
&#8216; kontol kamu enak banget Ngga&#8230;aku suka banget&#8221; aku mengumam menikmati kontol Angga.<br />
&#8220;ngga &#8230;boleh ya aku isep kontol lo ampe keluar? &#8221; godaku<br />
&#8221; Iya sayang&#8230;.aahhh&#8230;.isep sayang&#8230;oooohhh&#8230;.yah begitu&#8230;begitu sayang terus&#8230;terusin..&#8221; angga meracau menikmati seponganku.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku merasakan kedutan di batang Angga, yang aku tau dia sebentar lagi bakal menyemburkan pejuhnya, aku sengaja mempermainkan Angga, dengan menghentikan aktifitasku, aku melepas kontol itu dari mulutku.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8221; sayang kenapa berhenti&#8230;ayo donk isep lagi&#8230;dah mau keluar neh&#8230;ayo donk&#8221; rayu Angga sambil menyodorkan kontol nya ke mulutku. aku tersenyum sambil berdiri.<br />
&#8221; he he he &#8230;nanti donk Ngga&#8230;aku haus nih&#8230;boleh minta minum ya?&#8221; godaku.<br />
&#8220;g boleh ayo &#8230;isepin dulu ampe keluar please donk sayang&#8230;ayao..&#8221; kata angga sambil mengelus elus pantatku.<br />
&#8221; kalo lo bisa buktiin ke aku kalo lo bisa muasin aku&#8230;.aku mau isep punya kamu ampe keluar&#8221; tantangku<br />
&#8221; dasar perempuan&#8230;.sini gw puasin lo minta yang gimana hah?&#8221; angga geram mendengar tantanganku. kemudian dengan kasar dia membopong tubuhku ke meja makan. Angga menciumiku dengan kasar, yang dimana buat aku semakin membakar gairahku, ciuman angga semakin ganas, dari telingaku kemudian leherku menjadi sasarannya, dengan kasar Angga melucuti pakaianku sehingga aku berbugil ria.</p>
<p style="text-align: justify;">dalam sepintas pandang aku melihat riki dan Dendi yang ternyata dari tadi melihatku sambil beronani. ciuman angga turun ke payudaraku, memilin milin putingku dengan liah nya, semnetara tangan angga menyusuri pahaku, mengelus dan mulai meraba raba vaginaku yang sudah basah. aku merenggangkan kakiku agar angga bisa leluasa memainkan vaginaku yang becek.</p>
<p style="text-align: justify;">angga memasukkan jari nya ke memeku mencoba mencari G spot dan mengocok nya dengan gerakan yang cepat.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8221; oh ya&#8230;yah&#8230;yaaah&#8230;terus ngga&#8230;terus&#8221; ceracauku<br />
&#8220;lo suka hah&#8230;enak kalo memek lo gw beginikan hah&#8221;<br />
&#8220;iya ngga..terusin sayang&#8230;oooohhh..nikmat nya nggak&#8230;terus ngga&#8221;<br />
&#8221; ayo bilang lo mo gw apain&#8230;mo gw isepin &#8230;mo gw entot memek lo ini hah&#8221;kata angga sambil mengocok memekku dengan jarinya. kemudian angga mengangkat tubuhku agar aku duduk di meja makan, kemudian angga mulai menggisap memekku dengan lidah nya.<br />
&#8221; ayo bilang bich..enak g gw giniin&#8230;hah&#8230;memek lo udah basah..memek lo udah gatal kan?&#8221;<br />
&#8221; iay ngga&#8230;memk aku udah g sabar minta lo entot..ayo ngga masukin ngga&#8230;aku mohon&#8221;<br />
aku merintih memohon pada angga agar segera mengentotku.<br />
&#8220;hhmmm&#8230;memek lo nikmat &#8230;ooohhh&#8230;aku suka sekali&#8221; ceracau angga<br />
&#8216; nggak&#8230;ooohhh&#8230;.aaaahhh&#8230;.gigit nggak itil aku ngga&#8230;iyah begitu&#8230;ooohhh&#8221;<br />
&#8221; lo suka dikasarin yah&#8230;heh&#8230;.gw akan entot lo&#8230;ampe lo puas&#8221;<br />
&#8220;ngga &#8230;ayo ngga masukin ngga&#8230;aku udah g tahan&#8221; rintihku, sambil terus meremas remas rambut angga, angga seakan akan sengaja mempermainkan gairahku, dia terus mengisap memeku dan jarinya menusuk nusuk memekku.</p>
<p style="text-align: justify;">Riki dan Dendi mendekati aku dan angga, yang kemudaian dendi segera meraih payudaraku, sementara Riki melumat bibirku, sungguh pengalam luar biasa yang belum pernah aku rasakan, di serbu dari segala arah membuat aku semkain tak bisa menahan dasyat nya kenikmatan itu.<br />
&#8221; aaahhhkkk&#8230;.ooohhh&#8230;.aku&#8230;ak&#8230;aku ke..keluar nggaaaaaa&#8230;.aaah&#8230;aaahhh&#8221; aku menjerit sambil tanganku menekan kepala angga, aku mengalami orgasme yang teramat hebat.</p>
<p style="text-align: justify;">Angga berdiri dan menarik tanganku, aku mengikutinya, disusul dendi dan riki, Angga membawaku ke ruang tamu, kemudian angga mulai mencumbuku kembali, kali ini Angga menyuruhku duduk di sofa, dan dengan nafsu yang meletup letup angga menciumi bibirku.<br />
kemudian angga memutar tubuhku, kakiku disandaran sofa sementara kepalaku menggelantuh kelantai, kemudian dendi menarik kakuku agar lebih naik.<br />
kemudain angga mengangkangi kepalaku dan mulai menyodok nyodokkan kontol nya ke mulutku, sementara itu Riki dan Dendi secara bergantian menghisap isap memekku,</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;ooohh&#8230;.yah baby suck it &#8230;suck&#8230;terus tante&#8230;oooohhh&#8221; angga menikmati permainan permanian lidahku, aku sendiri merasakan kenikmatan yangluar biasa mana kala aku merasakan jari jari dendi dan riki memainkan clitku.<br />
lima menit kemudian angga menarik tubuhku dan memintaku terlentang di sofa, dan mulai lah angga memasukkan kontol nya.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;aaahhh&#8230;.angga&#8230;enak ngga&#8230;enak sayang&#8230;entot aku ngga&#8221; celotehku<br />
&#8220;tante memek tante enak&#8230;.sempit sekali tante&#8230;rasanya kontol angga kek di sedot sedot&#8221;<br />
&#8220;entot aku ngga&#8230;terus ngga sodok yang dalem ngga&#8221;<br />
&#8220;tante&#8230;gw mo keluar tante&#8230;gw udah g tahan&#8230;.aaahh&#8230;aaahhh&#8230;enak tante&#8221;<br />
&#8220;Jangan ngga&#8230;tante masih suka kontol kamu ngga&#8230;aaahhh&#8230;jangan keluarin dulu ngga&#8221; pintaku, tapi angga keburu menyemprotkan pejuh nya.<br />
&#8220;aaaaahhhhhhhh&#8230;&#8230;&#8230;aaaaaahhhh&#8230;&#8230;..aaah&#8230;aa hh&#8230;&#8221; erang angga<br />
&#8220;sorry tante&#8230;angga g kuat nahan tante&#8230;udah dari tadi sih tante&#8221;jawab angga<br />
aku kecewa rasanya karena memekku masih ingin merasakan sodokan sodokan kontol angga yang besar dan panjang itu.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8221; Dendi ayo donk sayang&#8230;fuck me&#8230;memek tante masih pengen kontol lagi ayo&#8230;&#8221; pintaku ke Dendi yang dari tadi coli sendiri. kemudian Dendi mendekatiku dan mulai memasukkan penis nya yang tak seberapa besar ukuranya. sementara Riki memintaku mengoralnya.<br />
&#8220;oh ya&#8230;ooohhh&#8230;.yah&#8230;yah&#8230;entot tante Den&#8230;yaah&#8230;terus Den&#8221; ocehku<br />
&#8220;tante goyang tante&#8230;yah begitu tante &#8230;oooohhhh&#8230;nikmat tante..enak&#8221;<br />
&#8220;Ki&#8230;kontol lo enak banget&#8230;.tante suka sekali&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">kemudian aku melepas isepanku di kontol Riki ..dan meminta Dendi berhenti, aku berganti posisi, aku meminta Riki duduk di sofa yang kemudian aku naik dan menggoyang nya dari atas, semnetara itu aku meminta Dendi untuk memasukkan kontol nya ke anusku.<br />
&#8220;aahkk&#8230;pelan pelan Den&#8230;tante belom pernah soal nya&#8221; pintaku ketika Dendi main sodok aja ke anusku. setelah berulangkali gagal menembus anusku ahirnya masuk juga.<br />
&#8220;aaahhh&#8230;oooohhh..tante peret sekali&#8230;lebih sempit&#8221; kata dendi.<br />
&#8220;ooohhh&#8230;.tante memek tante enak sekali&#8221;<br />
&#8220;ayo sayang&#8230;nikmati tubuh tante ini&#8230;ayo&#8230;aahhh&#8230;nikmatin sampai kalian puas&#8221; racauku<br />
&#8220;ooohhh tante dendi mo keluar&#8230;barengan yah tante&#8221;<br />
&#8220;tahan dulu den&#8230;biar barengan ma Riki&#8221; pintaku<br />
tiga menit kemudian riki memintaku menggoyang nya lebih cepat<br />
&#8220;ayo tante goyang&#8230;iya &#8230;begitu&#8230;terus tante&#8230;terus&#8221;<br />
&#8220;aaaahhhhhh&#8230;&#8230;.ahhk&#8230;aaahkk&#8230;aaaahhhh&#8221; kami bertiga keluar bersamaan, kakiku gemetar menahan kenikmatan itu, sementara Dendi mencabut penis nya dan terkulai di sofa, semnetara aku memeluk erat Riki.</p>
<p style="text-align: justify;">Kami melakukan nya kembali, mereka mengentotku bergantian, payudaraku lengket lengket karena pejuh mereka, sekujurtubuhku terasa bagaikan kena lem lengket dimana mana, tak terasa waktu menunjukan pukul 11 malam, lalu aku bergegas mandi dan meminta angga untuk mengantarku pulang. dalam perjalanan pulang, aku merasakan kepuasan yang tak terhingga, ternyata enak juga ML dengan anak anak muda. mereka lebih rakus lebih dasyat.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ceritasex.cn/tante-digilir-3-brondong-sma-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Awalnya Meronta, Kini Ketagihan</title>
		<link>http://www.ceritasex.cn/awalnya-meronta-kini-ketagihan/</link>
		<comments>http://www.ceritasex.cn/awalnya-meronta-kini-ketagihan/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 24 Jan 2010 13:18:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cerita Sex</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pemerkosaan]]></category>
		<category><![CDATA[Seks Umum]]></category>
		<category><![CDATA[cuki]]></category>
		<category><![CDATA[heni]]></category>
		<category><![CDATA[memek]]></category>
		<category><![CDATA[ngentot]]></category>
		<category><![CDATA[ngewe]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ceritasex.cn/?p=1233</guid>
		<description><![CDATA[Aku, adalah seorang laki-laki yang sudah beristri dan mempunyai seorang anak yang sudah berumur 7 tahun dan sudah bersekolah di kelas 1 SD. Karena anak kami masih kecil dan jarak antara rumah kami dengan SD tempat anak kami bersekolah cukup jauh maka setiap hari istriku mengantarkan anak kami ke sekolah. Kami mempunyai tetangga, suami istri, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Aku, adalah seorang laki-laki yang sudah beristri dan mempunyai seorang anak yang sudah berumur 7 tahun dan sudah bersekolah di kelas 1 SD. Karena anak kami masih kecil dan jarak antara rumah kami dengan SD tempat anak kami bersekolah cukup jauh maka setiap hari istriku mengantarkan anak kami ke sekolah. Kami mempunyai tetangga, suami istri, yang sudah sangat akrab dengan kami. Istrinya, sebut saja Heni, sangat akrab dengan istriku sehingga hampir setiap hari ia bermain ke rumah kami, dan kalau berkunjung ke rumah kami biasanya ia langsung masuk tanpa mengucapkan salam atau membunyikan bel. Suaminya sendiri bekerja di perusahaan swasta yang seringkali pulang malam dan kebetulan mereka belum dikaruniai anak.</p>
<p style="text-align: justify;">Heni biasa memanggil istriku dengan sebutan Teteh sedangkan kepadaku ia biasa memanggil Mas Ary. Ia adalah seorang wanita yang cantik, kulitnya putih mulus, dan bodinya pun menggiurkan namun sangat bersahaja dan lugu, tidak pernah neko-neko, baik dalam cara berpakaian maupun cara bergaul, pokoknya polos. Kalau berkunjung ke rumah kami biasanya ia hanya memakai daster, atau kadang-kadang memakai kain, namun bagiku hal tersebut menjadikan dia sangat seksi. Aku merasa sangat senang kalau ia berkunjung ke rumah kami dan berlama-lama mengobrol dengan istriku sebab aku bisa berlama-lama pula mengintipnya dari balik garden kamar memperhatikan tubuhnya yang sintal. Bahkan kalau sudah tidak tahan aku pun melakukan onani sambil mengintipnya dan membayangkan seandainya tubuh Heni itu bugil dan aku menggumulinya. Bahkan tidak jarang ketika aku sedang menyetubuhi istriku pikiranku berfantasi seolah-olah aku sedang menyetubuhi Heni, dan memang dengan berfantasi seperti itu aku merasakan kenikmatan yang lebih dari biasanya. Namun aku sering merasa kesal karena orang yang sering kubayangkan tersebut selalu bersikap acuh terhadap diriku. Aku sering mencoba memancing ke arah pembicaraan yang agak menjurus namun ia tidak pernah menanggapinya, bahkan pura-pura tidak mendengarnya. Sikapnya tersebut membuat diriku semakin merasa penasaran.</p>
<p style="text-align: justify;">Pada suatu hari istriku minta izin kepadaku untuk pergi ke rumah saudaranya yang rumahnya agak jauh, setelah pulang dari sekolah anak kami, dan diperkirakan baru akan pulang ke rumah sore harinya. Aku pun tidak berkeberatan karena aku pun tidak akan pergi ke mana-mana sehingga tidak khawatir dengan keadaan rumah kami. Aku pun bersantai-santai saja di rumah sambil menyetel vcd porno yang tidak berani kusetel bila anak kami sedang berada di rumah. Aku menikmati tontonan yang merangsang tersebut sambil membayangkan bahwa yang bermain di dalam film porno tersebut adalah aku dan Heni. Aku terhanyut dalam bayangan bahwa diriku sedang menggumuli tubuh bugil Heni. Kebetulan sudah seminggu kontolku tidak mendapat jatah karena istriku sedang berhalangan. kontolku sudah sangat ngaceng.</p>
<p style="text-align: justify;">Sedang asyik-asyiknya aku menonton sambil mempermainkan kontolku tiba-tiba pintu yang lupa aku kunci dibuka orang sehingga kontan kumatikan vcd player yang sedang kusetel. Ternyata yang membuka pintu tersebut adalah Heni yang langsung masuk sambil memanggil-manggil istriku: ?Teh ??. Teh ???. Ia memakai kain dan baju atasannya agak terbuka atasnya, sehingga pangkal buah dadanya yang putih mulus dan montok terlihat sedikit. Kain yang dipakainya agak basah, mungkin ia baru selesai mencuci sehingga pinggulnya tercetak dengan jelas dan aku tidak melihat garis segitiga di balik kain yang dikenakannya itu sehingga aku berkeyakinan bahwa ia tidak memakai celana dalam. Hal itu menyebabkan aku semakin terangsang. ?Mas, Tetehnya ke mana?? tanyanya. ?Ke rumah saudara, pulangnya nanti sore!? jawabku, ?Memangnya mau apa sih Hen?? tanyaku. ?Anu Mas, mau pinjam seterikaan, kepunyaan saya rusak?. Datanglah setan membisikkan ke dalam diriku bahwa aku harus memanfaatkan kesempatan ini untuk mewujudkan hal yang selama ini selalu menjadi fantasiku. Aku berkata: ?Biasanya sih di kamar tidur, ambil saja sendiri!?, padahal aku tahu bahwa seterikaan tersebut tidak disimpan di kamar tidur. Ketika Heni pergi ke kamar tidur untuk mencari seterikaan aku segera mengunci pintu agar tidak ada orang lain yang mengganggu rencanaku. kontolku sudah sangat keras karena ingin segera mendapat jatah.<br />
<span id="more-1233"></span><br />
Dari dalam kamar tidur terdengar Heni berkata: ?Kok enggak ada Mas, di sebelah mana ya?? Aku pun masuk ke kamar tidur dengan hanya mengenakan sarung tanpa memakai celana dalam supaya rencanaku tidak terhambat dengan cd. Nampaknya Heni tidak menaruh curiga apa-apa. ?Mungkin di bawah tempat tidur!? kataku. Kemudian Heni pun melihat ke bawah tempat tidur, tentu saja sambil menungging. Ketika Heni menungging aku melihat sebuah pemandangan yang sangat indah dan sangat menggairahkan. Pantat Heni yang bahenol tercetak jelas pada kain yang dikenakannya, dan sekali lagi aku yakin bahwa Heni tidak memakai celana dalam karena aku tidak melihat garis segitiga pada pantatnya yang bahenol itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Karena sudah tidak tahan maka aku pun segera memeluk tubuh Heni dari belakang sambil menggesek-gesekkan kontolku pada pantatnya. Ternyata Heni memberikan reaksi yang tidak kuharapkan. Ia meronta-ronta berusaha melepaskan tubuhnya dari pelukanku sambil memaki-maki diriku, ?Mas apa-apaan sih? Lepaskan diriku, aku tidak mau melakukan ini, kamu bajingan Mas, tidak kusangka!? Melihat reaksinya yang seperti itu pada mulanya aku pun merasa ragu untuk melanjutkan perbuatanku, namun rupanya bisikan setan lebih dahsyat daripada akal sehatku, sehingga walaupun Heni meronta-ronta sambil memaki-maki aku tidak peduli, bahkan aku semakin bernafsu.</p>
<p style="text-align: justify;">?Ampun Mas, lepaskan aku, aku tidak mau melakukan hal yang seperti ini!? Heni berkata sambil menangis dan meronta-ronta. Aku semakin ganas, kuhempaskan tubuh Heni ke atas tempat tidur sambil kutarik kainnya secara paksa sehingga kain tersebut lepas dan terlihatlah kemaluan Heni yang ditumbuhi bulu yang lebat. Aku pun semakin bernafsu, aku berusaha untuk membuka pakaian bagian atasnya, namun aku mendapat kesulitan karena Heni selalu mendekapkan tangannya erat-erat di daarya sambil terus menangis, kakinya pun selalu dirapatkan erat-erat sambil menendang-nendang sehingga aku mendapat kesulitan untuk memasukkan tubuhku di sela-sela pahanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Mungkin karena sudah lelah atau karena lengah pada suatu kesempatan aku mendapat kesempatan untuk merenggangkan pahanya dan tubuhku berhasil masuk ke sela-sela pahanya. Dari sana aku berusaha untuk melepaskan pakaian bagian atas Heni dan sekaligus bh-nya yang pertahankan dengan gigih, sambil meronta-ronta, menjerit-jerit, memukul, dan mencakari tubuhku. Akhirnya aku berhasil menyobekkan pakaian bagian atasnya dan melepaskan bh-nya, dan aku pun berhasil mendaratkan bibirku pada susunya yang masih keras, maklum belum dipakai menyusui, kecuali suaminya. Tidak ayal lagi aku pun menciumi susunya dan sesekali mengulum putingnya dan menyedotnya. Diperlakukan demikian Heni mendesah, namun ia masih terus melakukan perlawanan dengan cara meronta-ronta sambil menangis, walaupun rontaannya sudah agak melemah, entah karena kecapekan entah karena mulai terangsang. Sejalan dengan itu pertahanan pahanya pun mengendur sehingga lambat laun kontolku yang sudah super tegang berhasil menyentuh bagian luar memeknya dan kugesek-gesekkan kontolku untuk mencari lubang yang selama ini aku idam-idamkan.</p>
<p style="text-align: justify;">Akhirnya kontolku berhasil menemukan lubang idaman tersebut, dan secara perlahan tapi pasti aku pun memasukkan kontolku ke dalam lubang tersebut. Ketika kontolku berhasil melakukan penetrasi ke dalam lubang memeknya serta merta terdengar mulut Heni mendesah dan merintih, badannya pun menjadi lemas, perlawanannya mengendur, dan ketika penetrasi kontolku kusempurnakan dengan tekanan yang mantap ia pun menjerit tertahan, ?Aaaaaaahhhh ??? Maaaassssssss ????..?. Inilah reaksi yang sangat aku harapkan ?.. Ketika kontolku aku naikturunkan dengan cepat pantat Heni pun mengimbanginya dengan gerakan sebaliknya. Sekarang bibirku pun dengan leluasa tanpa hambatan bermain di puting susunya, sesekali aku bergerilya di ketiaknya yang ditumbuhi bulu yang lebat, aromanya yang agak bau keringat sangat aku senangi sehingga semakin meningkatkan gairahku. Tangan Heni yang tadinya dipergunakan untuk memukuli dan mencakar tubuhku kini ia pergunakan untuk memeluk dan mengelus-elus punggungku. Tadinya ia menangis dan menjerit-jerit karena menolak kini ia menjerit-jerit dan mendesah serta mengerang karena gairah yang memuncak. ?Aaaaaahhhhhh ??..??.. Eeeeeeeemmmmmmhh ??? Aduuuuuuuhhhhhhh ???. Ssssssshhhhhhh ???. Sssssssshhhhh ???? sssssshhhhhhh ???. Hhhhhhhmmmmmmmhhh ????.. Maaaaassssssss ???.. Nikmaaaaaaaaatttttttt?.</p>
<p style="text-align: justify;">Heni meladeni semua permainanku dengan sangat agresif, kami berguling-guling di atas tempat tidur, kadang aku di atas kadang Heni yang di atas. Nampak sekali ia sangat menikmati permainan ini, sama sekali tidak tampak bekas-bekas penolakannya. Ketika aku suruh dia menungging untuk melakukan posisi dog-style ia menolak, ?Jangaaaaaan Masssssssss, jangan dari dubuuuuur ?? aku tidak suka, jijiiiiiiiiikkkkk? Rupanya ia mengira bahwa aku akan menyodominya karena oleh suaminya ia tidak pernah disetubuhi dari arah belakang. Aku pun memaksanya untuk menungging, posisi yang sangat aku sukai ketika bersetubuh dengan istriku. Dengan terpaksa Heni menuruti keinginanku. Pemandangan yang aku lihat saat Heni menungging semakin meningkatkan birahiku, pantatnya yang putih dan bulat serta memek berbulu yang terjepit oleh pahanya, aaaahhhh ??.. sungguh menggairahkan. Segera aku arahkan kontolku yang masih sangat tegang itu ke arah memeknya yang terjepit oleh paha mulus. Ketika kontolku secara perlahan-lahan masuk ke dalam memeknya, Heni menggelepar-gelepar sambil kelojotan merasakan sensasi yang baru ia rasakan setelah beberapa tahun menikah. ?Aaaaaaaaawwwwww ????.. Maaaassssssss ???.. Enak sekaliiiiiiiiiiiiii ???.. Terus Maaassssss jangan lepaskan kontolmuuuuuuuuuu ???. Adduuuuuuuuhhhhhhh ???.. teruuuuuus tekaaaannnnnnnnn yang keraaaaaaaaassss ??.. kalau bisa dengan kanjutnyaaaaaaaa ???.! Tangannya menggapai-gapai ke belakang ingin menarik pantatku agar kontolku masuk lebih dalam lagi. Dengan leluasa pula kedua tanganku mempermainkan susunya yang menggelantung dengan indah. Maka erangan Heni pun semakin menjadi-jadi karena ia mendapat kenikmatan dari dua arah. memeknya yang aku kocok terus dengan kontolku dan susunya yang terus aku permainkan dengan tanganku. Heni pun menjerit dan mengerang dengan histeris, mulutnya meracau mengeluarkan kata-kata jorok yang semakin merangsang diriku. ?Maaaaaasssss ???.. jangan lepaskan kontolmu dari memekku, puaskanlah memekku dengan kontolmuuuuuuuu ???.. aku baru merasakan kenikmatan yang seperti ini, Aaaaawwwww ???. Maaassssss, aku ingin agar kontolmu terus berada di dalam memekku ??. Aaaaaaaahhhhhhhhh ???.. sssssshhhhhhhhhhhhhh ???? sssssshhhhhhhhhh ????..</p>
<p style="text-align: justify;">Kucabut kontolku dari memek Heni karena aku sudah merasa agak lelah dengan posisi tersebut. Heni menyangka bahwa aku akan menyelesaikan eweanku terhadap dirinya, ia marah-marah dan meminta agar aku segera memasukkan lagi kontolku ke dalam memeknya, ?Mas jangan dicabut dong kontolnya, Aku belum orgasme nih! Ayo masukkan lagi! Aaaaahhhhh ???.. kontolmu Maaaaasssss ????. Namun aku mempunyai rencana lain. Aku minta agar Heni berbaring telentang dengan kaki menekuk. Aku segera mengarahkan mukaku ke memeknya, mula-mula aku jilati bagian dalam pahanya, kemudian aku jilati memeknya dan aku hisap itilnya. Diperlakukan demikian kontan Heni menjerit karena ia tidak menyangka akan mendapat perlakuan seperti itu, dan memang ia tidak pernah diperlakukan demikian oleh suaminya. Suaminya sangat konvensional. ?Aaaaaawwwwww ?????? Maaaaaassssss ???. Geliiiiiiiiiiii ??.. tapi nikmaaaaaaatt ???. Terus Mas hisap itilkuuuuuuuu ???, jilat memekkkuuuu ??? agak ke bawah Masss, ya ??.. ya ??.. benar disitu Maaaaasssss, ???. Aaaaaaaawwwwwww ???. Maaaasssssss ??.. mana kontolmu ?. Kesinikan ??.. aku ingin mengulumnya ??..? Maka aku pun berputar untuk menyodorkan kontolku ke melut Heni, dan kami pun mempraktekkan posisi 69. kontolku dijilati oleh Heni, kadang-kadang dikenyotnya dalam-dalam. Aku pun mengerang sambil terus menghisap memek Heni yang sudah dipenuhi oleh lendir.</p>
<p style="text-align: justify;">Ketika aku merasa bahwa aku akan mencapai orgasme aku pun mencabut kontolku dari mulut Heni dan segera memasukkannya ke dalam memeknya sambil terus digenjot. Nampaknya Heni pun sama akan mencapai orgasme, gerakan pantatnya semakin liar, desahannya semakin kerap. Dan ketika aku merasa ada yang mendesak di dalam kontolku aku pun menekankannya keras-keras ke dalam memek Heni sambil memeluk tubuhnya erat-erat, Heni pun demikian pula, ia memeluk tubuhku erat-erat sambil menahan tekanan kontolku. Maka kami pun mengalami orgasme secara bersamaan dan kami pun sama-sama mengeluarkan suara erangan yang panjang sebagai tanda bahwa kami berada pada puncak kepuasan. Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaahhhhhhhhhhh ????. Ssssssshhhhhhhhhhhh ?????.. Maaaaaaaaaaasssssss ????.., Heeeeeeeeeennnnnnnn. Tubuh kami pun terkulai bermandikan keringat, Heni memeluk erat-erat tubuhku seolah-olah tidak mau lepas selamanya. Ia berbisik dengan manja sambil nafasnya terengah-engah, ?Mas maaf yah atas kelakuanku terhadap Mas Ary tadi! Tadinya Heni kira ngewe itu dengan siapa pun rasanya sama saja, ternyata ngewe dengan Mas Ary itu beribu-ribu kali lebih nikmat dibandingkan dengan ngewe bersama suami Heni. Terus terang saja kadang-kadang Heni merasa bosan ngewe dengan suami Heni karena ia hanya mementingkan diri sendiri. Baru kali ini Heni mengalami yang namanya orgasme. Ah kontol Mas Ary sangat perkasa, aaaahhhhh ???. Kamu kok nikmat sekali!?. Sambil berkata demikian ia mempermainkan kontolku sehingga kontolku tegang kembali.</p>
<p style="text-align: justify;">Melihat kontolku sudah ng*c*ng kembali Heni merengek meminta ngewe kembali. ?Mas, ngewe kembali yu? Tuh kan kontolnya sudah tegang kembali, Heni akan meladeni Mas Ary sampai kapan pun kontol Mas Ary sanggup menancap di dalam memek Heni! Ayo dong Mas!? Aku pura-pura tidak mau (padahal nafsu sih sudah sampai ke puncak ubun-ubun) ?Enggak mau ah nanti suamimu keburu pulang, lagi pula Heni kan mau menyeterika, kita cari saja seterikaan itu?. ?Enggak Mas, suamiku sedang pergi ke luar kota, baru besok ia pulang. Soal seterikaan sekarang sudah menjadi nomor ke berapa, jauh lebih penting kontolmu Mas dibanding dengan seterikaan. Menyeterika itu seringkali terasa membosankan tetapi ngewe denganmu rasanya aku tidak akan pernah bosan maaaaaasss ??. Cepet doooongngng ??? coba raba Vkku Mas, sudah sangat basaaahhhh masssss, ayo doooooong ??., Heni menjawab, ia tetap merengek meminta agar aku memasukkan kontolku ke dalam Vknya, namun aku diam saja seperti tidak mau. Karena aku tidak bereaksi maka Heni pun mengambil inisiatif, ia segera naik ke atas tubuhku, menciumi dadaku, menyodorkan susunya ke mulutku agar kuhisap, menyodorkan ketiaknya agar aku menjilatnya, dan menyodorkan memeknya ke mukaku, ?Mas, jilat dong memekku, hisap *t*lnya sesukamu, aku inghin mendapat kenikmatan lagi, silahkan dong Maaasssss ?..!?. Aku pun tidak menyia-nyiakan kesempatan yang menggairahkan ini, segera aku menjilati memeknya dan menghisap *t*lnya, kadang-kadang menggigitnya. Diperlakukan demikian Heni mendesah dan mengerang sambil pinggulnya tidak henti-hentinya menggelinjang, ?Aaaahhhhh ??? Maaasssss ??? terus beri aku kenikmataaaaaan, aaaawwwww ??.. jangan terlalu keras menggigitnya dooooong Mas, aaahhhhhhhh ???. Ssssshhhhhhh ??? ssssssshhhhhhh ???.. nikmaaaaaaat ???.?.</p>
<p style="text-align: justify;">Tidak lama kemudian ia mengarahkan lubang memeknya ke arah kontolku yang memang sudah ngaceng dari tadi dan kontolku pun menyambutnya dan terus melakukan penetrasi sambil terus kunaikturunkan pantatku untuk mengimbangi goyangan pantat Heni. ?Aaaaaaaaaaaahhhhhhhh ???.. ssssshhhhhhh ??..?, Heni pun menjerit karena merasa senang diperlakukan demikian, ?aaaaaahhhhh ??.. hmmmmmhhhhhh ???. Massssssss ??.. terus tancapkan kontolmu ke dalam memekku ??? ssssshhhhhhhh ??. aku rela maaaasssss ??.. Maaassss bulu kanjutmu menambah kenikmatan memekku maaaaasssss ??.. aaaahhhhhhh ??. Setelah berlangsung agak lama Heni meminta aku mencabut kontolku dan menusuknya dari belakang, ?Maaaaasssss ??.. cabut dulu kontolmuuuuuuuu ??.. aku ingin ditusuk dari belakang aaaaahhhhhhhh ??? cepet maaasssss tusuk memekku dari belakaaaaaaang ??? Maaaaassssss ??.. aaaaaaaahhhhh ??.. sssshhhhhhhh ??.. Maaassssss ??.. Heni memang hebat, kini ia sangat agresif dan pandai merangsang serta memuaskan lawan mainnya. Ia langsung bisa mengimbangi permainanku dalam bersetubuh. Kami pun melakukan berbagai variasi dan posisi dalam bersetubuh, dan kami selalu mengalami orgasme secara bersamaan.</p>
<p style="text-align: justify;">Sejak saat itu aku dan Heni sering melakukan persetubuhan, tergantung siapa yang lebih dulu menginginkan maka dialah yang menghampiri lebih dulu. Kadang-kadang Heni datang ke rumahku ketika istriku sedang tidak ada di rumah. Kadang-kadang aku yang datang ke rumahnya ketika suaminya sudah pergi. Tidak jarang ketika aku datang ke rumahnya Heni sedang mencuci pakaian di kamar mandi maka kami pun bersetubuh di kamar mandi, kadang-kadang kami bersetubuh di dapur kalau kebetulan ia sedang memasak, kadang-kadang pula kami melakukannya dengan berbasah-basah di lantai bila ia sedang mengepel. Dan setiap variasi persetubuhan yang kami lakukan selalu memberi sensasi baru kepada kami.</p>
<p style="text-align: justify;">Heni semakin sering berkunjung ke rumahku, walaupun sedang ada istriku. Kalau ia berkunjung ke rumahku dan istriku sedang di kamar mandi atau sedang ke warung kami memanfaatkan waktu yang sebentar tersebut dengan seefektif mungkin untuk ngewe atau sekedar saling mempermainkan kemaluan kami masing-masing. Atau kalau kami berpapasan maka tangan Heni tidak pernah menyia-nyiakan kesempatan untuk menjawil kontolku dan aku pun selalu mencubit memeknya yang memang seolah-olah ia sodorkan untuk kucubit atau kujawil dan kuremas susunya.</p>
<p style="text-align: justify;">Kini, setelah aku mempunyai lubang kenikmatan yang baru, yaitu memek Heni, aku pun tidak terlalu banyak menuntut kepada istriku, demikian juga Heni, ia tidak lagi suka meminta jatah kepada suaminya.</p>
<p style="text-align: justify;">Ah Heniiiiiii ??.. Heni, dulu kamu meronta-ronta, kini kamu meminta-minta ??..!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ceritasex.cn/awalnya-meronta-kini-ketagihan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Istri Sakinah</title>
		<link>http://www.ceritasex.cn/istri-sakinah/</link>
		<comments>http://www.ceritasex.cn/istri-sakinah/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 24 Jan 2010 13:08:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cerita Sex</dc:creator>
				<category><![CDATA[Paruh baya]]></category>
		<category><![CDATA[Seks Umum]]></category>
		<category><![CDATA[Tante Girang]]></category>
		<category><![CDATA[kisah nyata]]></category>
		<category><![CDATA[selingkuh]]></category>
		<category><![CDATA[enak]]></category>
		<category><![CDATA[istri]]></category>
		<category><![CDATA[liza]]></category>
		<category><![CDATA[lonte]]></category>
		<category><![CDATA[ngentot.istri]]></category>
		<category><![CDATA[pepek]]></category>
		<category><![CDATA[swinger]]></category>
		<category><![CDATA[tukar pasangan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ceritasex.cn/?p=1230</guid>
		<description><![CDATA[Liburan sekolah yang lalu kami membuat acara di puncak, disamping untuk mempererat persahabatan juga sekaligus memberikan refreshing pada anak anak setelah ujian sekolah. Kami bertetangga 6 keluarga berangkat bersama sama dengan 8 mobil dan menginap di villa yang besar dengan 3 paviliun dan 8 kamar tidur. Hari Sabtu kami berangkat bersama sama, jalanan arah Puncak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Liburan sekolah yang lalu kami membuat acara di puncak, disamping untuk mempererat persahabatan juga sekaligus memberikan refreshing pada anak anak setelah ujian sekolah. Kami bertetangga 6 keluarga berangkat bersama sama dengan 8 mobil dan menginap di villa yang besar dengan 3 paviliun dan 8 kamar tidur. Hari Sabtu kami berangkat bersama sama, jalanan arah Puncak sudah macet sejak keluar dari pintu toll, setelah berjuang dengan kemacetan 5 jam sampailah kami di Villa yang kami sewa tersebut, untunglah tidak terlalu jauh sehingga tidak perlu tersiksa lebih lama dijepit kemacetan. Masing masing keluarga menempati kamar masing masing dan sisanya dipakai anak anak atau siapa saja yang ingin tidur disitu. Disamping 6 keluarga, ada juga yang mengajak adik, paman maupun keluarga lainnya, jadi diluar anak anak ada 19 orang dewasa atau remaja. Para Bapak mempersiapkan acara barbeque untuk nanti malam sementara ibu-ibu mempersiapkan makanan baik yang sudah kita bawa dalam keadaan matang maupun yang harus dimasak terlebih dahulu, sementara anak anak bermain di halaman dan kolam renang.</p>
<p style="text-align: justify;">Kami bertetangga sudah saling mengenal dengan baik sehingga tidak ada perasaan apa apa ketika kami melakukan liburan bersama dan ini bukanlah yang pertama kali tapi sudah beberapa kali. Bahkan ketika kami semua bermain di kolam pada sore harinya, tak ada yang aneh, semua berjalan seperti biasa, saling engejek, saling menggoda, saling bersenda gurau, meski terkadang gurauannya mpet ke arah sensitif. Maklum kami semua masih se-usia antara 30 ? 35 tahun, yang paling kami yakin tidak lebih dari 40 tahun, yaitu Mas Surya, tapi penampilan dan postur tubuhnya terlihat sama dengan kami semua. Malamnya kami mengadakan barbeque sambil bermain catur, gaple, atau permainan apapun untuk melepas ketegangan dan bersantai sambil ngobrol mengenai segala hal. Jarum jam sudah menunjukkan pukul 12 tengah malam, sementara bapak-bapak lainnya asik bermain gaple, kami berempat berdiskusi dibawah indahnya bulan dan bintang malam. Tanpa kusadari paviliun sudah sepi, rupanya anak anak maupun ibu ibu sudah pada tidur, mungkin kelelahan.</p>
<p style="text-align: justify;">Hanya istriku Lily, Kiki dan seorang pembantu yang sedang di dapur, membuat kopi untuk kami yang begadang, setelah kopi dan the terhidang mereka menghilang masuk ke kamar. Satu persatu mereka menghilang masuk kamar, tingal 6 orang yang masih tahan begadang, untuk melepaskan penat aku jalan jalan di sekitar Villa sambil memandang kerlap kerlip lampu di bawah, sungguh indah di malam maupun siang hari, pantesan banyak orang ingin punya villa di daerah puncak. Aku menuju Paviliun C tempat kamar kami yang letaknya di ujung, agak jauh dari bangunan induk, kami satu paviliun dengan keluarga Mas Surya, dengan menahan dingin kututup rapat sweaterku, sendirian berjalan dikeremangan lampu taman. Paviliun C terlihat gelap, ?Rupanya mereka sudah tidur?, pikirku. Sebelum masuk paviliun aku mengitari bangunan itu, duduk di ayunan di pojok taman bermain yang gelap dan disinari sinar rembulan, kuhisap asap rokokku dalam dalam dan kuhembuskan sekuat kuatnya, dalam hati mengagumi arsitektur bangunan yang artistik. Tiba tiba aku dikejutkan oleh suara langkah di belakangku, ternyata istriku belum tidur dan menyusulku duduk di sampingku.</p>
<p style="text-align: justify;">Kursi besi itu terasa dingin, istriku merapatkan tubuhnya padaku, sambil memandangi hiasan di langit yang indah, kupeluk rapat untuk memberikan kehangatan padanya. Tanpa kata kata kami saling berpelukan dalam keremangan malam tanpa cahaya lampu, tanpa bicara kami akhirnya berciuman, begitu bergairah di keheningan malam, tangan istriku sudah mengusap selangkanganku dan kubalas dengan belaian lembut di dadanya, sweater nya terasa tebal mengganggu remasanku, apalagi bra-nya yang rapat menutup buah dadanya. Kuselipkan tanganku di balik sweater, terasa hangat tubuhnya, kuraba dan kuremas buah dadanya, tanpa permisi dengan sekali sentil terlepaslah bra yang menyangga buah dadanya. Kami masih saling melumat bibir, tangannya dengan trampil membuka resliting celanaku dan mengeluarkan kejantananku, langsung mengocoknya. Kubalas dengan remasan buah dadanya penuh gairah. ?Jangan disini, ntar dilihat orang orang? bisikku ?Nggak, terlalu gelap untuk dilihat dari sana? balas istriku sambil melepaskan ciumannya dan berlutut di bawahku.</p>
<p style="text-align: justify;">Dinginnya malam sudah tidak kami hiraukan, kejantananku sudah berada dalam jilatan dan kulumannya, aku tidak berani mendesah, takut terdengar mereka yang masih begadang. ?Udah lama aku tidak melakukannya di luar? bisiknya disela sela kulumannya. Aku tidak bisa melihat bagaimana kejantananku keluar masuk mulut istriku tersayang. Tak lama kemudian dia berdiri dan menarikku ke meja besi di depan kami, dia menarik turun celana jeans-nya hingga lutut lalu telentang di atas meja itu, aku yakin dia merasa dingin di atas meja itu tapi tak dihiraukannya. Kuangkat kakinya dan kujilati vaginanya, dia menggeliat tanpa berani bersuara, ditariknya kepalaku sebagai pertanda untuk segera mulai. Kunaikkan kakinya di pundakku dan kusapukan penisku ke vaginanya yang sudah basah, perlahan kudorong masuk penis tegangku hingga semua tertanam ke dalam. Dalam keremangan malam kulihat istriku menggigit bibirnya, dia menikmati kocokanku tanpa suara, aku tahu itu siksaan baginya bercinta tanpa desahan. Kocokanku makin cepat, dia meremas remas buah dadanya, terkadang menggigit sendiri jari tangannya untuk menahan desahannya. Aku masih mengenakan pakaian, hanya penisku yang keluar dari lubang celanaku. Kami berganti posisi, dia berdiri dan telungkup di meja sementara aku mengocoknya dari belakang, dinginnya malam tak mampu menghentikan kami, perlahan dingin berganti dengan panasnya gairah kami. Kupegang pinggulnya dan kusodokkan penisku dengan keras, kembali dia menggigit bibir bawahnya menahan nikmat. Kami berpindah kembali ke ayunan, dia nungging dan kami bercinta dogie style, baru kali ini kami bercinta sambil ber-ayun, setiap kali kusodokkan penisku dengan keras, kursi itu berayun dan kembali, begitu seterusnya hingga istriku tak perlu melakukan gerakan maju mundur. Hampir setengah jam kami bercinta di dinginnya malam udara puncak, tak ada desah dan jerit kenikmatan, hanya keringat kami yang mulai menetes. Tiba tiba kudengar suara orang bercakap mendekati kami, spontan kami menghentikan permainan dan membetulkan letak pakaian kami.<br />
<span id="more-1230"></span><br />
Untunglah mereka tidak melihat ke arah taman hingga tak mengetahui keberadaan kami di taman. Masih dalam keadaan penuh nafsu dan gairah, kami putuskan untuk melanjutkan di kamar, paviliun itu masih gelap. Kubuka kamar kami, ternyata tempat tidur kami sudah dipenuhi anak anak yang tidur berangkulan di balik selimut karena kedinginan. Istriku kemudian membuka kamar sebelahnya yang tidak terkunci, kamar keluarga Mas Surya, ternyata Mas Surya dan istrinya, Eliz sudah tidur juga, berangkulan di balik selimutnya. Di kejauhan kulihat beberapa orang masih begadang di depan bangunan induk, dengan agak jengkel istriku duduk di sofa ruang tamu, aku tahu aku harus menghiburnya atau menuntaskan birahinya. Kubuka celanaku dan menyodorkan penisku yang masih basah cairan vaginanya ke mulutnya, dia langsung menyambut dengan kuluman penuh nafsu. Tak lama kemudian kami kembali bergumulan penuh nafsu, celanaku sudah terlepas begitu juga celananya, kami bercinta dengan mengenakan sweater. Sedikit kesadaranku timbul, kukunci pintu depan dan belakang, begitu juga kamar anak anak aku kunci dari luar. Kubiarkan kamar Mas Surya, toh mereka sudah tidur lelap.</p>
<p style="text-align: justify;">Permainan kami berlanjut, kami bercinta di sofa maupun di karpet ruang tamu, tanpa kami sadari satu persatu pakaian kami terlepas dari tubuh kami, telanjang kami bercinta dengan nafsu yang menggelora, sesekali istriku berani mendesah ketika kukocok vaginanya dengan keras, seakan lupa bahwa ada Mas Surya dan istrinya di kamar itu. Duapuluh menit sudah berlalu, aku duduk di sofa sementara istriku duduk dipangkuanku turun naik dan bergoyang pinggul, mengocok dengan liarnya, kukulum dan kusedot serta kupermainkan putingnya dengan lidahku, dia menggelinjang nikmat, diremasnya rambutku. Goyangannya makin menggairahkan, seakan meremas penisku yang tertanam di vaginanya. Aku tak tahan lebih lama lagi menahan gairahnya, kemudian menyemprotlah spermaku di vaginanya, belum habis denyutan penisku menyemprotkan sperma ketika kurasakan remasan kuat dari dinding vagina istriku, dia mengikutiku mencapai puncak kenikmatan beberapa detik kemudian, kami saling berdenyut dan saling berpelukan penuh nikmat. Akhirnya kamipun terkulai telanjang di sofa ruang tamu, napas kami bersatu dalam birahi yang indah. Sebelum kami tertidur di sofa, kami kenakan kembali pakaian kami dan tertidur di sofa ruang tamu. Keesokan paginya semua berjalan seperti biasa, sebagaian besar berangkat ke daerah Agrowisata bersama anak anak, sementara aku dan istriku tinggal di villa dan mas Surya pergi men-servis mobil yang sempat ngadat saat macet. Karena tidurku kurang nyenyak, setelah mandi dan bersih bersih maka aku lanjutkan tidur di kamarku yang semalam dipakai anak anak. Jam dinding berbunyi 10 kali pertanda pukul 10 pagi, belum lelap tidurku sayup sayup kudengar pembicaraan istriku dengan seorang wanita yang tidak aku tahu pasti siapa dia. ?Mbak Lily, aku mau tanya, pribadi nih, boleh enggak ??</p>
<p style="text-align: justify;">kata wanita itu yang ternyata mbak Eliz. ?Ada apa sih mbak, kok kelihatan serius amat ?? tanya istriku ?Jangan marah ya, janji ya,?anu mbak?..aduh gimana nih susah ngomongnya? Mbak Eliz terdengar canggung. ?Emangnya ada apa sih ?? ?Anu mbak emmm&#8230;. semalam permainan mbak begitu menggairahkan dan liar, aku dan Mas Sur jadi menikmatinya sampai habis, setelah itu kami melakukannya di kamar meski tidak selama dan seheboh permainan mbak? ?Hah ? kok mbak Eliz?..?jawab istriku, ada nada kaget disuaranya. ?Iya mbak, maaf ya mbak, ketika aku dengar ada suara agak berisik aku terbangun, dan lebih kaget lagi ketika kulihat Mbak Lily dan Mas Hendra sedang begituan? ?Seberapa lama mbak lihat ?? tanya istriku penasaran ?Sejak mbak Lily mengulum Mas Hendra? jawabnya, berarti itu baru permulaan, cukup lama dia melihat permainan kami ?Lalu, aku melihat bagaimana Mas Hendra menjilati mbak, sepertinya mbak begitu menikmati gitu, aku jadi pingin deh digituin, tapi Mas Sur nggak pernah mau melakukannya? mbak Eliz melanjutkan. ?Emang mbak melihat kami bersama dengan Mas Surya ?? Tanya istriku penasaran ?Ketika aku sedang melihat kalian di lantai, saat itulah Mas Sur bangun dan kami melihat kalian berdua sambil dia memelukku, terus terang aku salut sama suami mbak, bisa bermain lama begitu dan banyak posisi, dan ?.. dan?.. dan?.. jangan marah ya mbak, aku ?aku ?. melihat punya Mas Hendra begitu besar, meski dalam keremangan aku bisa melihatnya, sampai sampai saat aku bermain dengan Mas Sur kubayangkan punya Mas Hendra yang besar itu, entah bagaimana rasanya barang sebesar itu, tak terbayang deh, enak kali mbak ya sampai mbak menggeliat kelojotan kayak gitu, jangan marah ya mbak aku kan cuma mengatakan perasaanku apa adanya? ada nada kagum dan ragu ragu dari suara mbak Eliz. Aku tak tahu bagaimana mbak Eliz bisa bercerita begitu polos dan terus terang tanpa basa basi seperti itu. ?Emang punya Mas Sur nggak gede ?? pancing istriku ?</p>
<p style="text-align: justify;">Entahlah mbak, tapi punya Mas Hendra kelihatan begitu besar dan ah nggak tau lah mbak? ?Mbak Eliz pingin merasakannya ?? pancing istriku penuh selidik, aku yakin dia sudah mulai keluar isengnya. ?Jangan marah mbak, aku Cuma berkhayal saja kok, lagian aku kan nggak mungkin selingkuh dengan suami teman sendiri, ntar aku dikira apa? mbak Eliz terdengar canggung. ?Bagaimana kalo kuijinkan? benar sudah keluar gairah liarnya ?Maksud mbak ?? Eliz terdengar kaget ?Ya kamu ngerasain yang kamu bayangkan, dari pada cuma dibayangkan dan membuatku berpikir yang negatif, lebih baik di wujudkan saja, iya kan? istriku sudah mulai nakal ?Mbak ijinin aku sama suami mbak ? ah mbak pasti bergurau nih,ah udahlah mbak, anggap pembicaraan ini nggak ada, sekedar iseng? Mbak Eliz mulai gugup. ?Mbak, tolong jawab dengan jujur, aku serius nih, mbak Eliz mau apa enggak ?? Mereka terdiam, hanya pancuran air cucian piring yang kudengar, tiba tiba kudengar suara gelas jatuh berantakan, rupanya ada yang nervous. ?Mbak beneran nih ? Mas Hendra sendiri gimana ?? tanyanya kaget dan penasaran ?Udahlah, masalah itu serahkan padaku, jawab dulu kamu mau apa enggak ? Mereka terdiam lagi. ?Entahlah mbak, aku jadi malu nih? dia ragu ragu. ?kalau Mas Hendra mau dan mbak nggak keberatan, &#8230;.ya&#8230;.aku sih&#8230;. emmm&#8230; malu ah? ?Ya jelas mau dong, dikasih enak kok nggak mau? tegas istriku ?Sekarang mbak mau apa enggak ? soal suami mbak biar aku yang atasi, serahkan saja padaku, trust me, kalo emang oke ntar aku bilang ke mas Hendra? lanjut istriku meyakinkan mbak Eliz, entah apa yang ada dibenaknya. Tak kudengar pembicaraan lebih lanjut, sepertinya mbak Eliz masih ragu atau malu untuk meng-iyakan tawaran istriku. ?Tapi jangan bilang bilang mas Sur ya mbak? kata mbak Eliz berarti setuju tanpa meng-iyakan. ?Gila apa, emang kita mau cari perkara? suara istriku meninggi ?Temanin ya mbak? ?Ini orang, udah diijinin masih minta ditemenin lagi, kayak perawan aja? kata istriku sewot ?Bukan gitu mbak, aku kan canggung kalo langsung ke kamar mas Hendra, ntar dikira ngajak selingkuh lagi, padahal kan seijin mbak?</p>
<p style="text-align: justify;">Ya udah deh, kalo gitu kita keroyok aja mas Hendra rame rame, kita main bertiga aja, buruan ntar suamimu keburu datang dari servis mobil? jawab istriku. Mendengar pembicaraan mereka kejantananku perlahan menegang, apalagi ketika membayangkan mbak Eliz yang cantik dan mulus. Wanita keturunan Aceh itu umurnya 1 ? 2 tahun lebih muda dari istriku, tingginya sedikit dibawah istriku, mungkin 160, tapi body-nya sungguh menggetarkan birahi laki laki yang melihatnya, apalagi dadanya yang terlihat menonjol menantang, perkiraanku pasti tidak lebih kecil dari 36B, kulitnya yang putih mulus bak pualam, sungguh beruntung aku kalau memang ini terjadi, ingin rasanya aku segera menikmati tubuh sexy-nya. Tak lama kemudian kudengar langkah menuju ke kamar, aku pura pura tidur pulas ketika mereka masuk kamar dan mendekati tempat tidur, ranjang bergoyang ketika mereka naik. Kudengar mereka berbisik bisik sebentar, tanpa bicara lagi tiba tiba istriku langsung menciumku, pura pura kaget kubalas kuluman bibir istriku. Sambil mencium susu dia meremas remas kejantananku yang menegang dibalik celana pendek, kuremas buah dadanya dibalik sweater-nya, kejantananku makin menegang, aku masih menunggu sentuhan tangan lembut mbak Eliz, kulepas sweater-nya hingga tampak bra ungu yang tak lama kemudian tanggal dari tubuhnya. Sekilas kulirik mbak Eliz hanya berdiri mematung melihat kami berciuman. Tak lama kemudian kami sudah sama sama telanjang bulat berpelukan dan berciuman didepan mbak Eliz yang masih berdiri di ujung ranjang. Aku khawatir mbak Eliz berubah pikiran, maka kuhentikan ciumanku dan menghampirinya, dia mundur selangkah menjauhiku, tampak keragu raguan di sikapnya, untunglah istriku membantunya, didekatinya mbak Eliz diraihnya tangannya dan dituntun ke arah kejantananku yang menegang. Ragu ragu dia egangnya tapi istriku berhasil memaksanya untuk meremas kejantananku, dia dangku dengan sorot mata kagum, aku suka dengan cara pandangnya yang penuh gairah itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Ketika mbak Eliz mulai meremas dan mengocok, kutarik tubuhnya dalam pelukanku yang telanjang, bisa kurasakan buah dadanya yang mengganjal di dadaku. Istriku ikutan memelukku, kini dua wanita cantik dalam pelukanku, satu telanjang dan satunya masih berpakaian. Tanpa membuang kesempatan lebih lama, kucium pipi mbak Eliz yang mulus itu dan terus bergeser ke bibir manisnya, mulanya agak canggung dia melayani ciuman bibirku tapi kemudian dibalasnya ciumanku dengan tak kalah gairahnya, dilumatnya bibirku seakan tak mau melepaskan lagi. Tanganku mulai menyusuri dadanya, kuremas dengan lembut buah dadanya, seperti dugaanku, begitu montok dan kenyal, membuatku makin gemas untuk meremas remas. Remasan dan kocokan empat tangan di kejantananku makin liar, seliar ciuman dan remasanku pada buah dada mbak Eliz. Kulepas kaosnya, terlihatlah buah dada montoknya yang masih terbungkus bra merah berenda, sungguh sexy dan terlihat begitu padat, aku menelan ludah melihat kemontokan tubuh nan sexy itu, segera kudaratkan ciumanku ke leher mbak Eliz, dia menggelinjang dan mulai mendesis pelan, remasanku makin leluasa menggerayangi kedua bukit yang menantang, kuselipkan tanganku di sela bra-nya, begitu didapati putingnya segera kupermainkan dengan nakal, gelinjang mbak Eliz makin menjadi, desisnya makin jelas terdengar. Istriku yang dari tadi memelukku dari belakang bergeser ke belakang mbak Eliz, ternyata dia melepas bra merah itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Tadaaaaaaaaa? kata istriku setelah menarik bra mbak Eliz. Aku kembali terpesona melihat buah dadanya yang polos padat menggantung di dadanya, belum hilang kagumku, istriku ternyata sudah melorotkan celana pendek sekaligus celana dalamnya, untuk kesekian kalinya aku melongo melihat ke-sexy-an tubuh telanjang tetanggaku ini, rambut pubicnya yang tertata rapi membentuk segitiga, begitu indah. Tangan mbak Eliz dari tadi tak pernah lepas dari kejantananku, bibir dan lidahku kembali menyusuri leher jenjangnya dan lidahku langsung menuju ke puncak bukit yang kemerahan, dengan liar kupermainkan putting yang kecil menantang, kukulum dan kusedot putingnya sambil mempermainkan dengan lidahku, geliat dan desis mbak Eliz bertambah berani, rambutnya yang panjang tergerai bebas saat dia menengadah dan mendesah. Puas melumat kedua bukit mulusnya, ciumanku turun ke perut dan berhenti di kangannya. Lidahku menyusuri kedua paha hingga lututnya, sengaja aku tak menyentuh daerah vaginanya, ingin kupermainkan dia lebih lama lagi, ingin kulihat dia menggeliat seperti cacing kepanasan. Dugaanku benar, dia kelocotan dilanda birahi, berulang kali tanganku dituntun ke daerah vaginanya, tapi aku tak mau melanjutkan. ?Pleeeeeeeaaassssse??pleaaaaaaassssse? desahnya yang membuat aku tak tega mempermainkan lebih lama lagi. Kutuntun dia ke arah ranjang dan kutelentangkan, kini tubuh telanjang dan sexy mbak Eliz telentang penuh pasrah, aku menikmati saat saat seperti ini. Kutindih tubuh montok itu, kami kembali berciuman sebentar sebelum akhirnya aku jongkok di antara kedua kakinya.</p>
<p style="text-align: justify;">“Ini yang kamu mau bukan ?” kata istriku yang dari tadi telanjang berdiri menonton suaminya sedang mencumbu mbak Eliz, istri tetangga. Lidahku menyusuri pahanya yang mulus, lalu berhenti di selangkangannya. Aku mulai menjilati bibir vaginanya, dia menggeliat dan menjerit tertahan ketika lidahku menyentuh klitorisnya, tangannya digigitnya untuk menahan jeritannya. Istriku yang duduk di sampingnya tersenyum melihatnya, lidahku menari nari di vaginanya, sesekali kusedot liang vaginanya, tak jarang cairan vaginanya tertelan mulutku. Mbak Eliz menggeliat tanpa kontrol, pahanya menjepit kepalaku, tapi tak kuhiraukan. Dua jari tanganku sudah mengocok liang vaginanya sembari lidahku menyapu klitorisnya, dia menjerit penuh nikmat. “Aaaaauuuuuggghhhh… .. yessss…yessss… . trussss” jeritnya lepas sambil meremas remas rambutku, seakan lupa bahwa dia sedang menikmati suami orang. “Aaagghhh…sssshhhhhh… sssshhhh…yesss… yesss…. yaaa…aku keluaaaaaaaar” jeritnya tertahan, ternyata dia sudah orgasme hanya dengan jilatan lidah. Aku tak mempedulikannya, terus kujilati dan kukocokkan jari tanganku.</p>
<p style="text-align: justify;">“Aaaaghhh…. ssssssudah….. ssssssudah….. pleeeeeeaaaase” dia memohonku menghentikan jilatanku, tapi aku tak mau berhenti begitu saja. “Mas, udah mas, kasih dia istirahat dulu” celetuk istriku. Dengan berat hati aku beranjak dari selangkangan mbak Eliz, telentang diantara kedua wanita itu, istriku segera bergeser ke selangkanganku, diremasnya kejantananku dan langsung dikulumnya, tak lama kemudian kejantananku sudah meluncur keluar masuk mulutnya. Kakiku diangkatnya dan dia menjilati kantong bola hingga ke lubang anusku, aku mendesis sambil meraba dan meremas remas buah dada mbak Eliz yang masih telentang di sampingku. Mbak Eliz memiringkan tubuhnya, kini dia dipelukanku, kepalanya disandarkan di bahu ketika istriku sedang menjilati penisku. Mbak Eliz mulai kembali menciumi wajahku, terus beralih ke leher dan dadaku, dikulumnya putingku, aku menggeliat nikmat mendapat perlakuan kedua wanita cantik ini secara bersamaan. “Mbak, aku duluan ya” pintanya pada istriku ketika ciumannya sudah sampai di perut. “You are my guest, terserah, asal mau berbagi ini” jawab istriku sambil menyodorkan penisku ke muka mbak Eliz. Dia meraih penisku dan engocoknya dengan tangannya, sepertinya dia agak ragu untuk mengulum penisku. “Terlalu besar mbak, nggak muat nih” katanya kemudian “Coba aja dulu, ntar akan masuk sendiri” jawab istriku masih asik menjilati pangkal paha dan kantong bolaku. Mbak Eliz mulai menjilati kepala penisku, lidahnya berputar putar di ujung penis, lalu turun ke batangnya hingga pangkalnya, terus naik lagi ke ujung, kepala kedua wanita itu berimpit di selangkanganku. Wonderful, dua wanita cantik bermain dengan kejantananku, I’m flying to heaven. Jari tanganku mengocok vagina mbak Eliz yang basah, dia menjilat sambil mendesis. “Ya gitu terus masukin, pelan pelan saja” istriku seakan mengajari mbak Eliz, dan kepala penisku sudah berada di mulutnya. Kulihat dia kesulitan untuk memasukkan batangnya, istriku segera mengambil alih, diraihnya penisku dan langsung dimasukkan ke mulutnya dengan lahapnya, dia mengocok penuh gairah, lalu dikembalikan lagi ke mbak Eliz, seperti anak kecil yang mengembalikan permainan yang dipinjamnya. Mbak Eliz berusaha untuk memasukkan sebanyak mungkin penisku ke rongga mulutnya, hanya setengah yang bisa dia kulum, istriku menjilati batang penis yang tidak tertampung, penisku mulai meluncur keluar masuk mulut mbak Eliz, kocokan jariku di vaginanya makin cepat, desahnya tertahan penisku. Mbak Eliz ber anjak menaiki tubuhku, sepertinya dia ingin segera merasakan penisku di vaginanya, tapi istriku mencegahnya. “Jangan posisi ini dulu, pelan pelan saja, santai saja” kata istriku meminta Eliz telentang di sampingku.</p>
<p style="text-align: justify;">Segera kunaiki dan kutindih tubuhnya, kucium dan kujilati leher mulusnya, istriku dengan setia menuntun kejantananku ke vagina mbak Eliz, perlahan lahan kudorong masuk menguak liang sempit di selangkangannya. “Aaaaagghhhhh… .. pe…lan……. pe…lan…. mas, sakiiiiiiiit, besar bangeeeet” desahnya seperti seorang perawan yang baru bercinta. “Santai saja mbak, nggak usah tegang, mas jangan kasar dong” kata istriku yang selalu bertindak sebagai sutradara dan pengatur laku. Kudorong penisku memasuki liang sempit itu sebentar lalu kutarik lagi perlahan lahan, kudorong lagi dan kutarik lagi, makin lama makin dalam penisku melesak kedalam liang vaginanya, hingga akhirnya semua penisku masuk dalam vaginanya, kudiamkan sejenak dan kunikmati expresi di wajahnya yang bersemu merah. Mbak Eliz menggigit bibirnya, entah sakit entah nikmat, padahal liang vaginanya sudah basah, tangannya mencengkeram pantatku dengan kencangnya. Dia menahan tubuhku ketika aku mulai gerakan menarik, kudiamkan lagi sambil menciumi lehernya, buah dadanya masih terasa mengganjal di dadaku.</p>
<p style="text-align: justify;">“Gila gede banget, penuh rasanya mas, tak kusangka bisa sepenuh ini” bisiknya ditelingaku. Istriku mulai mengelus kantong bola-ku, membuatku menggelinjang di tas tubuh mbak Eliz, dia memelukku lebih erat lagi. Perlahan aku mulai menarik dan mendorong penisku, makin lama makin cepat hingga akhirnya aku bisa mengocok mbak Eliz dengan gerakan normal, desahan nikmat keluar dari mulut manisnya membuatku makin bernafsu menggoyangkan pantatku. Dia ikutan menggoyangkan pantatnya mengimbangiku, rupanya sudah bisa menyesuaikan diri. Aku berlutut sambil mengocoknya, kuamati wajah mbak Eliz yang sedang dilanda birahi, wajah cantiknya makin cantik ketika dia mendesah, membuatku semakin bernafsu. “Egh.. egh.. egh…. enak mas, trus massssss…yessss… fuck me..yess” desahnya lepas seirama kocokanku. Buah dada montok mbak Eliz berguncang guncang, diremasnya sendiri kedua bukitnya itu sambil dia mempermainkan putingnya. Istriku meletakkan kedua kaki mbak Eliz ke pundakku, membuat penisku makin melesak ke dalam. “Ouhh…yaa.. makasih mbak,…trus masss” desahnya makin merasakan kenikmatannya, makin cepat kocokanku makin liar dia mendesah.</p>
<p style="text-align: justify;">“Gimana ? enak mbak ?” goda istriku sambil mengelus elus rambutnya. “Ufff&#8230; bu.. bukan enak lagii&#8230;. tooooop deh” jawabnya di sela sela desahan sambil meremas remas buah dadanya sendiri. “Enak mana sama suami mbak ?” tanyaku keceplosan, tak seharusnya aku membandingkan seperti ini. “Tau ahh” “Enak mana ?” desakku sambil menyodoknya keras “Aaaauugghhhh. .. ssss&#8230; en.. nak&#8230; i&#8230;. nniii” jawaban atau desahannya, tentu saja dia akan menjawab begitu, mana mungkin dia menjawab lain kalau sedang menikmati yang ini. “Aaagghhh…shit… shit…yessss” teriaknya sambil mencengkeram erat lenganku, dan bersamaan dengan itu kurasakan remasan otot vaginanya pada penisku, dia mencapai orgasme lagi, tak lebih sepuluh menit aku mengocoknya.  Kuhentikan gerakanku sejenak untuk merasakan denyutan vagina mbak Eliz yang cukup kuat. Wajahnya makin cantik lagi dikala orgasme, semu kemerahan terlihat jelas di raut mukanya yang putih, sungguh berbeda dengan keseharian biasanya. Tubuh mbak Eliz langsung melemas seiring dengan habisnya denyutan itu, aku ingin mengocoknya lagi tapi istriku sudah menarik lenganku meminta giliran. Aku telentang di samping tubuh mbak Eliz yang masih ngos-ngosan, istriku langsung mengatur posisinya di atasku dan melesaklah penisku ke vaginanya, vagina kedua di pagi itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Jujur saja kurasakan vagina mbak Eliz lebih nikmat dibandingkan istriku, tapi gerakan dan goyangan istriku jauh lebih erotik dari mbak Eliz, dia langsung naik turun dan bergoyang pinggul di atasku, aku dan istriku sama sama mendesah nikmat. Kuraih dan kuremas buah dadanya yang menggantung indah, lebih kecil dari punya mbak Eliz, tapi sama sama padat dan kenyal. Kupeluk tubuh istriku sambil mengocoknya dari bawah, dia mendesah dekat telingaku, kami saling berdekapan erat. Mbak Eliz sepertinya tak tahan melihat permainan kami, dia lalu mencium pipiku di sisi lain, kuraih tubuhnya, kuremas buah dadanya lalu kupeluk, sungguh nikmat memeluk dua wanita yang cantik dan sexy, sambil tetap mengocoknya. Istriku kembali duduk di atas penisku sambil bergoyang pinggul. “Mbak di atas sana gih” perintah istriku sambil menjulurkan lidah memberi kode untuk dijilati vaginanya. Mereka saling berpandangan lalu tersenyum, mbak eliz segera membuka kakinya tepat di atas mukaku, segera kusambut dengan lidahku. Kedua wanita ini saling mendesah di atasku, mereka saling berhadapan dan berpegangan tangan, ada kepuasan tersendiri bisa memberikan kenikmatan pada dua wanita cantik secara bersamaan, meski aku tidak bisa melihat expresi wajah keduanya, pandangan dan mukaku tertutup pantat mbak Eliz. Tiba tiba mereka turun secara bersamaan, aku kecewa, tetapi segera kekecewaanku berganti dengan kenikmatan lagi, ternyata berganti posisi, istriku di atas kepalaku sedangkan mbak Eliz pada penisku. Goyangan mbak Eliz tidak seliar istriku, tapi tetap saja nikmat, kembali mereka mendesah bersama sama. “Dari belakang mbak” usul istriku tak lama kemudian “Doggie ??” Tanya mbak Eliz yang masih turun naik di atas penisku. Tanpa menjawab istriku langsung turun dan nungging di sebelahku, diikuti dengan mbak Eliz nungging di sebelahnya, kini aku harus memilih diantara dua vagina yang menantang. Kuamati mereka sejenak, baru sekarang kusadari kalau pantat mbak Eliz begitu sintal dan padat, indah dipandang, apalagi kalau digoyang. Tanpa piker panjang, aku berdiri di belakang mbak Eliz.</p>
<p style="text-align: justify;">kusapukan sebentar lalu kudorong perlahan masuk hingga semua penisku tertanam ke vaginanya. agghhhh… . pelaaaaan” desahnya ketika penisku menguak liang vaginanya. Istriku mandangku sambil tersenyum, tapi tak kupedulikan, aku sedang konsentrasi menikmati mbak Eliz. Penisku mulai meluncur keluar masuk vaginanya, kupegang pantatnya yang padat berisi, kutarik dan kudorong seirama kocokanku, mbak Eliz mendesah lebih liar. Buah dadanya ber-ayun ayun dengan bebasnya, kuraih dan kuremas dengan gemas penuh nafsu, kupermainkan putingnya, membuat dia makin mendesah dan mulai berani menggoyangkan pantat mengimbangiku, kenikmatanku bertambah apalagi ketika istriku memelukku dari belakang dan mengelus dadaku sambil menciumi tengkuk dan punggungku. Kocokanku pada mbak Eliz makin cepat dan liar, ketika istriku nungging di sebelahnya meminta giliran, agak berat aku melepas mbak Eliz yang sedang dalam birahi tinggi, tapi aku tak bisa mengabaikan istriku. Kugeser tubuhku di belakang istriku, dengan sekali dorong melesaklah penisku ke vaginanya, langsung kukocok dengan cepat dan keras, aku tahu kesukaannya, makin liar makin suka dia. “Mbak keluarnya di aku saja ya” pinta mbak Eliz yang disambut senyuman oleh istriku di sela desahannya. “Boleh asal setelah itu dibersihkan dengan mulut” jawab istriku nakal sambil mendesah nikmat “Dengan mulut mbak ??” tanyanya heran “Iyyaaaa, mau nggak ???” jawab istriku dengan nada tinggi, aku yang mendengarnya jadi tambah bernafsu, kuhentakkan makin keras penisku ke vaginanya.</p>
<p style="text-align: justify;">“Mmmmm…iya deh” jawab mbak Eliz sambil mengangkat dua jarinya lalu bergeser ke belakangku dan memeluk seperti yang dilakukan istriku tadi. “Janji”. Belum sempat mbak Eliz memberi jawaban, terdengar deru mobil melintas di depan pavilliun, Mas Surya telah dating. Sebelum kami sempat berpikir harus berbuat apa, istriku sudah mengambil inisiatif. “Kalian lanjutkan saja, Mas Surya biar aku yang tangani, believe me” katanya langsung menarik keluar penisku dan turun dari ranjang, dikenakannya kaos dan celana pendeknya tanpa mengenakan pakaian dalam, entah sengaja atau terburu buru aku tak tahu. “Ingat janjimu mbak” teriaknya sesaat sebelum pintu kamar tertutup. Sepeninggal dia aku dan mbak Eliz saling berpandangan seperti tak tahu harus berbuat apa. Masih tetap telanjang, kami mengintip ke jendela dari balik tirai, melihat keadaan, kulihat istriku berbicara dengan Mas Surya yang baru keluar dari mobil, digandengnya Mas Surya menuju kolam renang, tanpa berganti pakaian renang istriku langsung mencebur ke kolam, Mas Surya melepas pakaiannya, dengan memakai celana dalam dia mengikuti istriku masuk ke kolam, aku yakin Mas Surya akan segera tahu kalau istriku tidak memakai bra begitu kaosnya basah, putingnya pasti membayang di balik kaos basah itu, aku tidak tahu dengan pikiran Mbak Eliz. Membayangkan mereka berdua gairahku kembali naik, aku bergeser ke belakang mbak Eliz yang masih asik mengintip mereka. Kupeluk dan kuremas buah dadanya dari belakang, dia tidak memberi respon. Kubuka kakinya, dia menurut saja, ku usap usapkan penisku ke pantatnya lalu kusapukan penisku ke vaginanya, dia menoleh ke arahku dan kubalas dengan senyuman. Tubuhnya menegang ketika penisku meluncur masuk ke liang vaginanya, dia mendesah tapi matanya tetap tertuju pada istriku dan suaminya di kolam sana, aku tak peduli apa yang ada di benaknya. Kukocok dia dengan cepat, tangannya meremas tirai jendela, kami bercinta dengan berdiri, sambil memegang pantat dan meremas buah dadanya kukocok makin cepat, dia mendesah lepas, seakan melupakan mereka yang ada di kolam.</p>
<p style="text-align: justify;">“Aduh mas, enak mas, terussss” desahnya lagi, tangannya tertumpu pada bingkai jendela, aku menyukai pandangan pantatnya yang mulus, sintal, padat berisi, apalagi saat bergoyang ketika kukocok, begitu indah dan menggairahkan. Khawatir kami lepas kontrol dan tirainya tertarik, kami pindah ke sofa, sayup sayup kudengar tawa dan canda dari kolam. Mbak Eliz duduk di sofa, aku berlutut di antara kedua kakinya yang terbuka, kupeluk dan kuciumi bibir dan lehernya, dia memegang penisku, mengocoknya sejenak lalu menyapukan ke vaginanya, masih saling melumat bibir, penisku kembali memenuhi rongga vagina mbak Eliz, dia melepaskan lumatannya ketika semuanya sudah berada dalam vaginanya, dipandanginya mataku dengan sorot penuh gairah. “Cumbui aku sesuka Mas Hendra, fuck me as you like, puaskan aku mas” bisiknya, ada nada marah pada suaranya, mungkin dia cemburu dengan yang di kolam, tapi aku tak peduli, yang penting aku bisa menikmati tubuh sexy mbak Eliz sebanyak yang aku bisa. Kami saling memeluk dan mengocok, berbagai posisi kami lakukan dari meja, karpet lantai hingga kembali ke ranjang dengan segala posisi yang ada di imajinasi kami, entah sudah berapa kali dia mengalami orgasme, tapi selalu berulang dan berulang lagi.</p>
<p style="text-align: justify;">Rasanya tak pernah habis kureguk kenikmatan dari mbak Eliz. Suara canda dari kolam sudah tak terdengar lagi, kami terlalu asik mengarungi lautan kenikmatan hingga tak perhatikan sejak kapan terhenti. Tubuhku untuk kesekian kalinya di atas tubuh mbak Eliz, mengocok dan menggoyang dengan penuh gairah dan nafsu, kakinya dikaitkan di atas pinggangku, kami saling mereguk kenikmatan, hingga sampailah aku ke puncak kenikmatan sexual, tubuhku menegang. “Keluarin di dalam Mas” bisiknya, dan sedetik kemudian menyemprotlah spermaku di rahim istri tetanggaku yang cantik ini. “Aaaaaaauuuuuggghhhh” dia menjerit spontan ketika semprotan pertama menghantam dinding rahim dan vaginanya, tubuhnya ikut menegang dan sebelum denyutanku habis vaginanya ikutan berdenyut lemah, kami orgasme hampir bersamaan, saling memeluk erat, napas kami menderu seiring deru birahi kami. Aku langsung lunglai di atas tubuh dan pelukan mbak Eliz, kurasakan detak jantungnya yang berpacu cepat. Kami berpelukan dan saling mendekap tanpa kata, seakan menikmati saat saat nikmat yang baru saja kami gapai. “Udah dulu ya saying, ntar suamimu tahu” kataku memecahkan keheningan, kuberanikan memanggil kata saying, mengingat saat nikmat yang baru saja kami lalui. “Thanks mas, ini the best sex I have ever had” katanya masih di pelukanku. “Mas Hendra bukan satu satunya selain suamiku, aku memang beberapa kali selingkuh sama teman, tolong pegang rahasia ini ya Mas, tapi inilah yang terbaik dan punya Mas Hendra adalah yang terbesar yang pernah aku tahu selama ini, paling asik deh” katanya pelan tapi mengagetkanku. Sungguh beruntung laki laki yang telah menikmati tubuh sexy dan wajah cantik ini. “Mas Surya tahu ?” tanyaku sambil menutupi kekagetanku.</p>
<p style="text-align: justify;">“Entahlah Mas, mungkin juga sudah tahu tapi dia belum memergoki secara langsung sih, mau Tanya juga nggak berani dia karena aku juga tahu dia sering selingkuh, bahkan sekali tertangkap basah” Mbak Eliz terdiam sejenak. “Kehidupan keluarga kami sih nggak ada masalah, selama masalah itu tidak dibawa ke rumah, dan kita juga nggak pernah mengungkit ungkit masalah itu, it just fun, selama ini kami happy-happy saja kok, nothing wrong with my family. Aku berkata sejujurnya bahwa inilah yang terbaik yang pernah aku alami, aku jadi pingin lagi lain waktu, terserah Mas Hendra apa dengan mbak Lily atau Cuma kita berdua, aku sih oke oke saja, yang penting kita bisa menjaga keluarga kita masing masing” lanjutnya, dia menciumku, lalu turun dan berpakaian. Kami lalu ke ruang tamu, kubuka tirai kamar pertanda kami sudah selesai, kolam renang terlihat sepi, dia membuatkan aku kopi lalu nonton TV bareng sambil menunggu kedatangan istriku dan suaminya yang entah sekarang dimana atau lagi ngapain. Sesekali kami berciuman dan kucuri remasan buah dadanya. “Kamu belum memenuhi janjimu”, kataku asal. “Yang mana ?” “Sebelum istriku keluar” “Emang dia pernah melakukannya ? “Bukan pernah lagi tapi setiap kali kami selesai bercinta” jawabku, melihat keadaan masih aman, kutarik mbak Eliz ke dapur, aku bersandar di dinding dan kulorotkan celanaku hingga lutut dan kuminta dia jongkok. Agak ragu sebentar tapi akhirnya dia menurut, kembali bibir dan lidahnya menyusuri kejantananku, tak lama kemudian penisku sudah keluar masuk bibir mungilnya, makin lama makin menegang dan membesar. Kupegang rambutnya dan kukocokkan penisku di mulutnya. “Eeeegghhh…eeehhhmmm, gila, tak muat mulutku Mas” Penisku makin cepat keluar masuk mulutnya, tak lebih dari tiga menit kemudian kusemprotkan spermaku ke mulutnya, tak banyak memang, tapi aku sudah bisa merasakan orgasme di mulutnya. Dia berusaha menarik keluar, tapi kutahan kepalanya, dan tertelanlah spermaku itu, dia seperti mau muntah tapi tak kupedulikan, takkan kulepas sebelum aku yakin dia sudah menelannya, kuusap usapkan penisku yang sudah lemas itu ke mukanya, dia menikmatinya.</p>
<p style="text-align: justify;">Kami kembali ke ruang tamu menunggu kedatangan mereka, sepuluh menit kemudian muncullah Mas Surya dari balik pintu, sendirian dan masih mengenakan celana dalamnya yang sud ah agak kering, berarti cukup lama dia keluar dari kolam renang, dia terlihat agak terkejut melihat kami berdua di ruangan itu. “Eh, kirain kalian ikut Tea Walk” sapanya agak kaku langsung masuk ke kamarnya. Aku dan mbak Eliz saling berpandangan, dia kemudian menyusul suaminya ke kamar meninggalkan aku sendirian di ruang tamu. Cukup lama aku sendirian menunggu istriku sebelum akhirnya dia dating menenteng pakaiannya, hanya berbalut handuk dan rambutnya basah, padahal dia sudah lama keluar dari kolam. Dia tersenyum dan langsung masuk kamar, kususul dan kutarik handuknya hingga terlepas, ternyata dia tidak mengenakan apa apa dibaliknya, kupeluk dan kudorong dia ke ranjang yang baru saja aku pakai bercinta dengan mbak Eliz. Sambil berpelukan dia mulai bercerita apa yang telah terjadi. Ternyata dia membohongi Mas Surya bahwa kami ikut Tea Walk dan di kolam renang tak hentinya Mas Sur memandangi tubuhnya, sering tertangkap basah matanya memandang nakal ke arah buah dadanya yang memang menonjol di balik kaos basahnya, bahkan tak jarang Mas Surya berusaha menggodanya tapi istriku pura pura tak tahu. Mungkin karena merasa usahanya tidak mendapat respon, maka dia i ngin segera ke Pavilliun, entah mau ngapain. Saat Mas Surya bilas di kamar mandi sebelah kolam, istriku menerobos masuk, langsung memeluk dan menciumnya, tentu saja Mas Surya kaget tapi segera membalas dengan penuh nafsu. Ketika istriku memegang kejantanannya yang sudah menegang di balik celana dalamnya yang masih basah, dia terkejut karena tidak sebesar yang dibayangkan, agak kecewa juga dia, apalagi ibandingkan punyaku, tapi ketika dikeluarkannnya ternyata bentuknya yang lurus ke depan, berbeda dengan penisku, dia langsung bergairah, karena bentuk seperti itulah kesukaannya. Istriku langsung jongkok di depan Mas Surya, menjilati sebentar kepala dan batang kemaluannya, lalu mengulumnya, penis kecil Mas Surya masuk semua ke mulutnya hingga hidungnya bisa menyentuh rambut pubic-nya.</p>
<p style="text-align: justify;">Mas Surya mendesis dan meremas rambut basah istriku sambil mengocokkan penisnya di mulutnya. Mata Mas Surya menatap tajam penuh kagum ketika istriku melepas pakaian basahnya, sama sama telanjang kembali mereka berpelukan dan berciuman, tangan Mas Surya tiada hentinya meremas buah dada istriku, begitu juga mulutnya seakan tak mau melepaskan putingnya. Mulanya dia menolak ketika istriku minta jilatan di vaginanya, tapi istriku tak peduli, dia memaksa posisi 69 sehingga ketika dia mengulum penis Mas Surya, vaginanya tepat di atas mukanya. Diawali dengan kocokan jari di vagina, tatapi akhirnya lidah Mas Surya mampir juga di vaginanya, bahkan menari nari pada klitoris istriku. Mendapat jilatan di gina, kuluman dan kocokan istriku makin menjadi, membuat Mas Surya sering kali entikan jilatannya untuk merasakan nikmatnya kuluman istriku pada penisnya. Akhirnya mereka bercinta di kamar mandi, dengan hanya beralaskan handuk, istriku engocok Mas Surya yang telentang di bawahnya, tangannya tak pernah bosan menjelajahi kedua bukitnya. Ada rasa aneh ketika penis Mas Surya memasuki liang vagina istriku, tidak biasanya dia merasakan penis yang kecil seperti itu, tapi lama kelamaan dia bisa menikmati juga gerakan liar dari penis itu di vaginanya, ada kenikmatan berbeda antara ukuran besar dan kecil. Mereka kemudian berganti posisi, gantian istriku telentang, Mas Surya menindih dan mengocoknya, seperti kata istrinya, permainan suaminya tidak terlalu banyak improvisasi, justru istriku yang banyak mengambil inisiatif, kedua kakinya di tumpangkan ke bahu Mas Surya, penisnya lebih dalam masuk ke vagina istriku, tidak lebih dari 7 kocokan kemudian, Mas Surya menyemprotkan spermanya dalam vagina istriku, tanpa permisi lagi, seenaknya saja dia menyemburkan cairannya di dalam, denyutannya cukup kuat untuk membuat istriku menjerit kaget bercampur nikmat, lalu tubuh Mas Surya melemas terkulai di atas tubuh istriku, agak kecewa juga dia karena belum mencapai orgasme tapi Mas Surya sudah selesai terlebih dahulu, dan sialnya lagi dia tidak berhasil membangkitkan kembali gairah Mas Surya, tubuhnya semakin berat menindih badannya,</p>
<p style="text-align: justify;">apalagi di atas lantai yang keras. “Kamu memang hebat, pintar dan liar” bisik Mas Surya ketika istriku mendorong tubuhnya turun. “Baru segitu aja sudah memuji, kamu akan kaget bagaimana istrimu mendapatkan kenikmatan dari suamiku di sana” teriak batin istriku, tapi dia menutupi dengan senyuman. “Ingin aku mengulangi lagi di tempat dan suasana yang lebih nyaman, entah kapan, kalau kamu nggak keberatan” lanjut Mas Surya ketika mereka mengenakan kembali pakaiannya. “Boleh asal Mas dengan syarat dan aturan main yang kutetapkan, ntar aku kasih tahu bila saatnya tiba, kalau bisa ketika di puncak ini” jawab istriku nakal. Akhirnya mereka berdua keluar kamar mandi, istriku melihat tirai sudah terbuka pertanda kami sudah selesai dan keadaan aman, tugas sudah diselesaikan dengan baik. Ketika menuju Pavilliun, istriku teringat k alau celana dalamnya tertinggal di kamar mandi, segera dia kembali, langsung saja dia masuk. Ternyata si Bobby salah satu adik tetanggaku yang baru tamat kuliah berada di dalam, mereka berdua sama sama kaget, apalagi terlihat Bobby memegang celana dalam istriku sambil meremas selangkangannya. “Ada apa Bob ?” Tanya istriku menutupi kekagetannya “Aku tahu yang mbak lakukan sama Mas Surya barusan, aku sudah intip sejak Mbak mengikutinya masuk sini, jadi aku tahu semuanya” kata Bobby dengan pandangan nakal “Lalu ?” Tanya istriku menyelidik “Apa Mas Hendra atau mbak Eliz tahu ? bagaimana kalau mereka mengetahuinya ?” ada nada ancaman. “Jangan bilang mereka ya Bob, please” kata istriku pura pura terkejut dan takut untuk mengetahui apa maunya “Aku akan tutup mulut kalau ada imbalannya” Bobby berkata dengan angkernya “OK, berapa yang kamu mau asal keep this secret” tantang istriku “Aku nggak butuh duit dari mbak meski aku tidak punya duit, aku Cuma minta hal yang sama dengan Mas Surya” jawab Bobby, tentu saja mengagetkan istriku. “Bobby !!!, apa maksudmu” Tanya istriku pura pura bodoh “Ya apa yang mbak lakukan sama Mas Sur, aku minta yang sama, tapi aku nggak maksa kok, terserah mbak Lily saja” jawab Bobby enteng menggoda.</p>
<p style="text-align: justify;">Bobby sebenarnya tampan, hitam manis dan badannya atletis karena dia punya hobby aerobik, sebenarnya bisa saja istriku melayani kemauan Bobby, toh beberapa gigolo yang kami booking banyak yang usianya tak beda dari dia, bahkan lebih muda, masih kuliah lagi, tapi istriku tak mau merusak hubungan dengan kakaknya, ada rasa segan. Istriku terdiam mempertimbangkan, sebenarnya bukan takut dia cerita ke aku atau mbak Eliz, tapi lebih banyak pada etika berteman dan bertetangga. “Mbak gak rugi deh, aku masih perjaka kok, belum pernah melakukan yang gituan, paling juga onani” bujuk Bobby “Bobby, kalau kamu benar masih perjaka, mbak malah nggak mau melayani, sebaiknya kamu berikan pada orang yang kamu cintai, istrimu kelak, tapi mbak akan memberi imbalan tutup mulutmu dengan cara mbak sendiri dan mbak jamin kamu pasti menyukainya, tapi yang pasti bukan yang satu itu, asal kamu melupakan semua yang pernah terjadi di sini, baik antara aku dan Mas Surya maupun aku sama kamu, tidak pernah terjadi apa apa disini, oke ?” istriku yang nakal mencoba bernegosiasi sambil mendekati Bobby.</p>
<p style="text-align: justify;">Dia masih terdiam ketika istriku memeluk dan mencium kedua pipinya, terasa jantungnya yang berdetak kencang, apalagi ketika istriku mendekapnya erat, buah dadanya menempel rapat di dada Bobby. Dia diam saja dan membalas ketika bibir Bobby melumat bibirnya, tangan istriku segera menjelajah di selangkangan Bobby ketika Bobby mulai menjamah buah dadanya. “Aku belum pernah melakukan ini” katanya terbata bata, tangannya agak gemetaran ketika meremas buah dada istriku. Istriku bersandar di dinding, dia nurut saja ketika Bobby melepas kaosnya, bahkan dia mulai mendesis ketika Bobby meremas dan mengulum kedua buah dada dan putingnya. Terasa kaku dan kasar remasan dan kuluman Bobby, tapi istriku menikmati permainan perjaka ini, dibiarkannya Bobby menikmati seluruh tubuhnya, bibirnya, lidahnya, elusannya, tak sejengkalpun tubuh istriku luput dari jamahannya, kecuali bagian selangkangan yang masih tertutup celana pendek. Berulang kali Bobby berusaha melepasnya tapi istriku selalu menolak, dan terus mencoba lagi hingga akhirnya istriku menyerah. “OK, kamu boleh melakukannya tapi tetap tidak yang satu itu” tegas istriku, dan tak lama kemudian istriku kembali telanjang di kamar itu, di depan orang yang berbeda, konyolnya lagi kini dia telanjang di depan orang yang masih berpakaian lengkap dan bersepatu cats. Rupanya Bobby Cuma mengelus dan menciumi paha dan pantat istriku, dia tidak melakukan jilatan di vagina maupun sentuhan di klitoris seperti perkiraan istriku semula. Bobby paling suka menciumi pipi, leher dan melumat bibir istriku, juga meremas dan mengulum kedua buah dadanya. Sambil saling melumat bibir, istriku membuka resliting celana Bobby dan mengeluarkan kejantanannya, terkaget dia mendapati kenyataan bahwa penis Bobby cukup besar, mungkin sama dengan punyaku, dia jongkok di depan Bobby dan mengocok dengan tangannya. “It’s show time” kata istriku, lalu dia mulai menjilati sekujur penis Bobby, jilatan nakalnya menjelajah ke seluruh bagian kejantanannya, membuat Bobby mendesis desis dan meremas rambut istriku.</p>
<p style="text-align: justify;">“Oooooooohhhhh… . sssssssshhhhhh” desisan keluar dari mulutnya ketika istriku memasukkan penis itu ke mulutnya, penis yang besar itu makin tegang dan membesar dalam genggaman dan kocokan mulut istriku. Kalau tidak mengingat siapa Bobby dan hubungan baik dengan kakaknya, ingin rasanya memasukkan penisnya ke vagina, untuk melampiaskan birahi yang tidak elesaikan dengan Mas Surya tadi. Sambil mengocok dengan mulut, tanpa setahu Bobby istriku mempermainkan jarinya di klitoris, dia memerlukan sesuatu di vaginanya, ingin rasanya mengajak ber-69 supaya sama sama nikmat. Belum lima menit istriku mengocoknya, tiba tiba Bobby teriak dan langsung menyemprotkan spermanya di mulut istriku, segera ditariknya keluar penisnya hingga beberapa semprotan sperma mengenai muka dan rambutnya, dimasukkannya kembali penis Bobby ke mulutnya, beberapa tetesan masih keluar mengisi mulut istriku, banyak juga sperma yang disemprotkan Bobby, maklum baru pertama kali melakukan seperti ini. Istriku bukannya mengeluarkan penis dari mulutnya ketika semprotannya habis, tapi justru mempermainkan dengan lidahnya, kontan saja Bobby teriak kegelian dan mencabut dengan paksa penisnya dari mulut istriku. “Gimana ? puas nggak ?” goda istriku sambil mengusap sisa sperma yang ada di bibirnya. “Gila, 100% mbak” jawab Bobby dengan nada puas “Udah keluar sana, mbak mau mandi bersihin spermamu yang ada di tubuh mbak ini, lagian ntar mereka tahu” kata istriku sambil berdiri dan menyalakan shower. “Aku di sini aja mbak, sambil lihat mbak mandi” kata Bobby “Ah nggak nggak nggak bisa, ini diluar perjanjian” jawab istriku ketus, sebenarnya dia khawatir kalau Bobby bisa segera recovery dan minta kelanjutannya, kan bisa berabe, maklum masih darah muda, disamping itu dia juga takut terhanyut emosi dan nafsu birahi dengan melayani permintaan Bobby untuk bercinta. Akhirnya Bobby keluar dan istriku melanjutkan mandi, itulah sebabnya ketika dia dating dengan menenteng pakaian, rambutnya basah dan hanya berbalut handuk. Mendengar ceritanya barusan, kuceritakan juga pengakuan dari Mbak Eliz tentang keluarga yang saling selingkuh.</p>
<p style="text-align: justify;">kulihat pandangan isriku berbinar, entah apa yang ada dalam pikirannya. Nafsuku naik kembali ingin aku menuntaskan birahi istriku yang tak terselesaikan, tapi dia menolak. “Jangan sekarang Pa, ntar aja, aku ingin ngerjain Mas Surya, kita bertiga, Papa setuju kan” pinta istriku, tak ada alasan bagiku untuk menolak karena dia sudah membantuku dengan mbak Eliz. “Sekarang kita harus pikirkan bagaimana menyingkirkan mbak Eliz sementara, Papa ada ide nggak ?” kata istriku. “Aku bisa aja mengajak mbak Eliz jalan jalan keluar, tapi kalau kamu minta kita bertiga ya kita harus pikirkan lagi alasannya” jawabku “Kita pikir nanti deh, sekarang kita keluar cari makan, sekarang sudah hampir jam 1 saatnya makan, siapa tahu kita dapat ide” usul istriku setelah kami saling terdiam berpikir beberapa lama. Setelah berpakaian sewajarnya kami keluar kamar, ternyata Mas Surya dan istrinya sudah berada di teras depan Pavilliun, kami saling menyapa seolah tidak pernah terjadi apa apa diantara kami, semuanya berjalan normal separti biasa, tak ada rasa canggung ataupun segan, padahal diantara kami sudah saling menikmati pasangan masing masing.</p>
<p style="text-align: justify;">Bedanya, kini seringkali mbak Eliz memandangku dengan sorot mata yang penuh gairah, dan kubalas dengan senyum penuh arti, tentu hal ini hanya kami berdua yang tahu. Mungkin juga hal yang sama dilakukan Mas Sur dan istriku. Kami berempat ke Bangunan utama yang letaknya di depan melintas kolam renang, berbaur dan ngobrol dengan penjaga dan mereka yang tidak ikut Tea Walk, ternyata 3 orang tidak ikut termasuk Bobby. Anak anak dan lainnya belum pada dating, mungkin mereka langsung makan siang. “Pa, sepertinya susah menyingkirkan mbak Eliz, nggak ada alasan yang kuat, agaimana kalau kita ajak aja mereka bersamaan, kita berempat” usul istriku ketika kami berdua di dapur. “Aku sih oke saja, toh kita sudah sering melakukannya, tapi gimana ngajaknya ?” tanyaku “Serahkan padaku, panggil mbak Eliz kemari” jawab istriku meyakinkan, kutinggalkan istriku yang sedang membuat bandrek untuk kami semua, aku bergabung kembali dengan mereka di teras, dan mbak Eliz segera ke dapur setelah kuberi tahu. Kulihat mereka berbicara serius sambil berbisik, terkadang tertawa renyah, entah apa yang dibicarakan, aku yakin istriku sedang me-lobby mbak Eliz dan percaya cara lobby istriku yang seringkali membawa hasil. Tak lama kemudian kuhampiri mereka, ingin tahu hasilnya. “Mulanya dia keberatan kalau suaminya ikutan, apalagi dengan aku, tapi setelah kubujuk akhirnya dia mau, asal aku yang memberitahu ke Mas Surya. Pa tahu nggak, ternyata dia pernah melakukannya dengan dua laki laki……” Percakapan kami terhenti ketika salah seorang pembantu mendekat. “Aku yakin Mas Surya akan menyetujui rencana ini, dia bukan halangan yang berarti” lanjutnya setelah pembantu itu pergi. Kami bergabung kembali sambil membawa beberapa cangkir Bandrek, kulihat mbak Eliz duduk di samping suaminya dengan pandangan penuh Tanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Kami terlalu asyik ngobrol sehingga istriku sepertinya agak kesulitan mencari kesempatan membicarakan rencananya dengan Mas Surya. “Mas Surya, bisa Bantu aku sebentar” pinta istriku lalu meninggalkan kami menuju Pavilliun, Mas Surya mengikutinya, kulihat mbak Eliz memandangku dan kubalas dengan senyuman dan anggukan. Entah yang lainnya curiga atau enggak, kenapa istriku minta bantuan Mas Surya dan bukan aku, suaminya. “Mungkin istriku perlu bantuan lagi” kataku seraya beranjak meninggalkan ruangan. “Aku ikut Mas” kata mbak Eliz mengikutiku. “Aku nggak yakin apakah Mas Surya mau menyetujui rencana istri Mas, aku juga masih ragu apakah bisa melihat kenyataan suamiku sedang mencumbu istri Mas” kata Eliz ketika kami melintas dekat kolam renang. “Aku yakin kamu pasti bisa, terbukti kamu makin bergairah ketika melihat suamimu sedang bermain dengan istriku di kolam renang tadi pagi” jawabku meyakinkannya. Pavilliun C seperti sebelumnya terlihat sepi, tirai kamar tertutup repat, kami curiga, kuberi tanda pada mbak Eliz untuk masuk dengan cara mengendap endap, sayup sayup kudengar desahan istriku dari kamar Mas Surya yang sedikit terbuka.</p>
<p style="text-align: justify;">Berdua kami mendekati dan mengintip apa yang sedang terjadi, kami melihat Mas  Surya sedang berlutut di depan istriku yang duduk di tepi ranjang, keduanya tidak mengenakan celana lagi, istriku sedang menggeliat menerima jilatan dari suami mbak Eliz, tangannya meremas remas rambut Mas Surya, aku yakin istriku sudah memberikan kuluman penis padanya. Kurasakan mbak Eliz menggenggam tanganku erat, entah dia cemburu atau makin bergairah. “dia tak pernah melakukannya padaku” bisik mbak Eliz, kuberi tanda supaya tidak bersuara. Sambil menjilati vaginanya, tangan Mas Surya menjelajah ke daerah dada istriku yang ternyata sudah tidak mengenakan bra, desah istriku terdengar tertahan. Kuelus pundak mbak Eliz, untuk menenangkan gejolak emosinya, melihat suaminya memberi istriku apa yang belum pernah diberikan padanya. Dia membalas dengan elusan dan remasan di selangkanganku, kejantananku makin menegang. Mbak Eliz menarikku ke samping, aku bersandar di dinding, dia langsung melorotkan celana pendekku dan berlutut di antara kedua kakiku, dipegang dan dikocoknya sebentar kejantananku yang sudah menegang lalu dijilatinya dengan penuh nafsu, tak lama kemudian kejantananku sudah keluar masuk mulut mbak Eliz.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku tidak berani mendesah, sementara di dalam kamar desahan istriku masih terdengar penuh gairah meskipun lirih. Kukocok mulut mbak Eliz, dia jauh lebih bergairah mengulumku dibandingkan sebelumnya, mungkin karena cemburu atau dendam, makin cepat aku mengocoknya. Aku tak berani terlalu bernafsu, perhatianku sesekali tertuju keluar, takut kalau ada yang lewat pasti bisa melihat kami karena tirai ruang tamu belum sempat kami tutup. Desahan istriku sudah berubah, aku hapal betul desahan itu, pasti Mas Surya sudah melesakkan penisnya ke vagina istriku. Sungguh berani mereka melakukannya tanpa melihat situasi, sungguh nekat tanpa perhitungan, pikirku. Kuminta mbak Eliz untuk pindah ke dapur, tapi dia tak mau, sepertinya ada rasa cemburu dan menikmati mendengar istriku mendesah bersama suaminya, ternyata aku mengalami hal yang sama, makin mendesah istriku makin aku bernafsu mengocokmulutnya. Ingin rasanya kulesakkan segera penisku ke vagina mbak Eliz, tapi keadaan tidak memungkinkan, mbak Eliz tetap menolak ketika kuberi isyarat untuk pindah ke kamarku, dia masih menikmati desahan istriku yang kini sudah bergantian dengan desahan suaminya dari dalam kamar, jilatan dan kulumannya tak henti dari penisku. Mbak Eliz melepaskan penisku, dia merangkak mengintip ke dalam kamar, begitu juga aku. Dugaanku benar, kami lihat Mas Surya sedang menindih tubuh istriku sambil menciumi lehernya, pantatnya turun naik mengocok vaginanya, sementara kaki istriku menjepit pinggang Mas Surya, mereka saling memeluk erat mengunci. Mbak Eliz diam saja ketika kusingkapkan rok-nya, begitu asyik dia melihat suaminya sedang bersetubuh dengan istriku, aku tertegun sejenak melihat celana dalamnya hijau tua yang menutupi pantatnya, lebih tepat menghiasi pantatnya karena hanya seutas tali, celana dalam model String, sungguh sexy pantatnya yang mulus dan padat berhias itu. Tak perlu membukanya, hanya menyisihkan tali itu sudah cukup bagi penisku untuk mencapai vaginanya. Kuciumi dan kujilat pantatnya, dari lubang anus hingga ke vaginanya, dia menungging makin tinggi pantatnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Mbak Eliz diam saja ketika kusapukan kepala penis ke vaginanya yang sudah basah, perlahan sekali aku mendorong masuk penisku, takut kalau mbak Eliz menjerit, tapi tak luput juga dia menjerit kecil ketika penisku tertanam semua dan menyentuh dinding dalam vaginanya. Untungnya jeritan kecil itu tertutup desah mereka hingga belum menyadari keberadaan kami di luar kamar. Pelan pelan mulai kukocok mbak Eliz dari belakang, dogie style, aku bisa merasakan dia kurang enjoy karena harus bercinta tanpa desahan sedikitpun, tapi tetap menolak untuk berpindah ke kamar. Disamping itu aku harus tetap waspada dengan keadaan di luar, sebenarnya ini terlalu ceroboh, tak pernah aku melakukan seceroboh ini, tapi setelah beberapa menit berlalu, aku mulai menikmati ketegangan ini, baik ketegangan dari dalam kamar maupun dari luar. Seringkali mbak Eliz menengok ke dalam kamar ketika kukocok, terutama ketika desahan istriku meninggi, aku tak tahu posisi apa di dalam. Tiba tiba terdengar jerit orgasme dari Mas Surya, cepat juga padahal belum 10 menit mereka bercinta, mungkin karena terburu buru.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku tak tahu harus berbuat apa, ingin menyelesaikan tapi takut mereka segera keluar, akirnya kucabut penisku dari mbak Eliz, dia tidak protes berarti setuju untuk menghentikannya. Kami merapikan pakaian dan duduk di ruang tamu menunggu mereka keluar. Tak lama kemudian Mas Surya dan istriku keluar kamar, tampak expresi terkejut dari Mas Surya tapi istriku hanya senyum senyum saja mengetahui keberadaan kami. “Eh.. Mas Hendra, udah lama ?” terlihat kegugupan pada pertanyaannya. “Cukup lama untuk mengetahui Mas dan mbak Lily di kamar” jawab istrinya ketus tanpa memandang ke arah suaminya, aku yakin cuma pura pura saja untuk memperkuat posisinya. “Kami hanya……” “Berdua dengan mbak Lily dan memuaskannya” potong istrinya tetap dengan nada tinggi. Mas Surya diam saja, memandang ke arahku seakan meminta bantuan, karena tidak tahu hasil pembicaraanku dengannya sebelumnya maka aku tak berani komentar dan kualihkan pandanganku keluar, istriku juga diam dan duduk di sebelahku melihat perlakuan mbak Eliz pada suaminya, kami semua terdiam.</p>
<p style="text-align: justify;">Mbak Eliz berdiri, menggandeng tanganku dan istriku, kami bertiga masuk kamar yang tadi dipakai Mas Surya dan istriku, pintu sengaja tidak ditutup, tanpa mempedulikan suaminya lagi dia memeluk dan menciumku. Mbak Eliz langsung jongkok di depanku dan mengeluarkan kejantananku, dijilati dan dikulum seperti yang dia lakukan tadi, kutarik istriku ke pelukanku dan kami berciuman sementara penisku sudah meluncur nikmat di mulut mbak Eliz. Cukup demonstratif dia mengulumku di depan suaminya, sambil memeluk dan berciuman dengan istriku, kupegang rambut mbak Eliz dan mengocoknya. Mbak Eliz mendorongku hingga telentang di ranjang, setelah melepas rok dan celana dalam mininya, segera membuat posisi 69 di atasku, seolah dia juga ingin memberikan apa yang belum pernah diberikan pada suaminya, kusambut vaginanya dengan jilatan lidah penuh gairah, dan dia mulai mendesah lepas penuh kenikmatan. Istriku lalu ikutan mbak Eliz mengulum penisku secara bergantian, dua lidah wanita cantik bekerja di daerah kejantananku, membuatku mendesis desis nikmat.</p>
<p style="text-align: justify;">Mas Surya berdiri di depan pintu melihat istriku dan istrinya menjilati kejantananku yang jauh lebih besar dari punya-nya. Dia tidak berani masuk, mungkin ada perasaan bersalah. Desah kenikmatan dan gairah mbak Eliz sungguh jauh lebih menggairahkan dibanding tadi, seolah dia ingin memamerkan kenikmatannya pada suaminya, bahwa dia bisa mendapatkan kenikmatan yang lebih dari orang lain, suami dari wanita yang tadi disetubuhinya. Mbak Eliz turun dari tubuhku, dikocoknya penisku yang masih dalam kuluman istriku, dia memandang suaminya sejenak lalu naik ke atasku, kembali dia menoleh ke suaminya sebelum menyapukan penisku ke vaginanya dan desahan keras keluar dari mulutnya tanpa tertahan ketika penisku masuk ke vaginanya. “AAAAauuuugggghhhhhh… ssssssshhhhh… yessss…enak Massssss”, desahnya sambil bergoyang pinggul dan turun naik di atasku sambil melepas kaos dan bra-nya. Kuraih dan kuremas buah dadanya yang bergoyang goyang. Aku tak berani melihat ke arah Mas Surya, ada rasa kasihan dan perasaan bersalah mempermainkan dia seperti ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Istriku beralih ke kepalaku, aku menolak ketika dia mau engangkangiku karena masih ada sisa sperma Mas Surya di vaginanya. Kutarik tubuh mbak Eliz dalam pelukanku dan kudekap erat tubuh telanjangnya di depan suaminya, dia mengimbangi dengan menggoyangkan pantatnya ketika aku mulai mengocoknya dari bawah, desahan demi desahan nikmat keluar dari mulutnya, kami saling melumat bibir, istriku mengelus kantong bolaku membuat aku makin bergairah mengocok. Kami berganti posisi, dogie style menghadap ke Mas Surya sesuai permintaan istrinya, istriku memelukku dari belakang, ternyata dia sudah ikutan telanjang, bauh dadanya di gesek gesekkan ke punggungku sementara tangannya memegang penisku, yang sedang keluar masuk vagina mbak Eliz. Sungguh nikmat dan ada sensasi yang tak terlukiskan bercinta dengan wanita di depan suaminya yang tak berdaya. Aku mengocok dan menjamah seluruh badan mbak Eliz, tapi masih tetap tak berani memandang ke arah mas Surya, pandanganku justru aku fokuskan ke tubuh mulus mbak Eliz. “Ouuuuhhhh…yesss… yaaa…fuck me harder…yessss… trus mas…ya…enak masss” desahnya demonstratif dan kuturuti dengan kocokan yang makin cepat dan keras, terkadang kuhentakkan penisku ke vaginanya membuat dia menjerit dalam kenikmatan yang tinggi. Tak lama kemudian kurasakan tubuh mbak Eliz menegang, dia lalu menjerit keras bersamaan denyutan dan remasan vaginanya pada penisku. Mbak Eliz mencapai orgasme yang tertunda dari tadi, kudiamkan sejenak menikmati remasan vaginanya lalu kuteruskan lagi, dia menggeliat, kutarik rambutnya kebelakang hingga kepalanya terdongak dan kukocok dengan keras. Aku tak mau menghentikan meskipun dia sudah orgasme, puncak kenikmatan sudah di depan mata, desahan mbak Eliz tak kuhiraukan lagi, kocokanku makin cepat dan tidak beraturan, hingga akhirnya menyemprotlah spermaku di vaginanya. Aku dan mbak Eliz teriak hampir bersamaan, semburan spermaku membuat mbak Eliz menggelinjang nikmat menerimanya, dia menoleh ke arahku dengan senyuman puas, lalu dicabutnya penisku dari vaginanya. Tangannya meraih penisku, dipegangnya dan menoleh ke arah suaminya lalu dimasukkan ke mulutnya, dia mengulum penisku yang masih banyak spermanya, dikulum dan dijilatinya seperti membersihkan sperma dari penisku, aku kembali mendesis tak menyangka mendapatkan kenikmatan ini. Kuraih buah dada mbak Eliz dan kuremas remas saat dia menjilati dan mengulum. Kami sama sama telentang dalam kelelahan yan g nikmat. Istriku yang masih telanjang turun dari ranjang dan mendekati Mas Surya. “sekarang giliran kita” katanya sembari meremas remas di selangkangannya yang disambut dengan remasan di dada. “jangan di sini, kurang aman, kita keluar saja, cari hotel yang lebih enak” usulku sembari turun dari ranjang mengambil pakaian, kulemparkan kaos dan rok mbak Eliz tanpa pakaian dalam. Dia mengenakannya kembali sambil tersenyum ketika mengetahui tidak ada bra dan celana dalam di situ. Pasangan Surya-Eliz sudah masuk perangkap kami. Berempat kami meninggalkan Villa, tentu saja tak ada yang curiga akan kepergian<br />
kami berempat, tak lama kemudian Carnival kami sudah berada dalam antrian kemacetan jalanan di puncak.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku dan mbak Eliz di depan sementara Mas Surya dengan istriku duduk di jok paling di belakang karena jok tengah memang di lepas, membuat ruangan menjadi lebih lapang, kaca film yang gelap ditambah tirai tertutup rapat sungguh cocok dengan keadaan kami yang sama sama dibakar birahi, dari kaca spion dalam bisa kulihat Mas Surya berciuman dengan istriku, tangannya meremas remas kedua buah dadanya. Melihat suaminya berciuman di belakang, mbak Eliz menggapai penisku dan meremasnya, jalanan macet tidak memerlukan konsentrasi penuh, aku bisa menikmati remasan mbak Eliz sambil memandang istriku dan Mas Surya di belakang. Remasan Mas Sur berganti dengan kuluman di putting istriku, dia mulai mendesah menikmati kuluman suami mbak Eliz, tangannya meraih penis dan meremasnya. Kubelokkan Carnival menuju salah satu warung sate, kudengar suara protes dari belakang ketika mengetahui mobil sudah parkir di depan warung itu, kami keluar saling bergandengan, tentu orang tidak menyangka kalau yang digandeng itu bukan pasangan resminya, sama sama mesra, buah dada mbak Eliz yang montok tanpa bra terlihat jelas bagiku, entah orang lain. Selama makan mbak Eliz memperlakukanku layaknya suaminya begitu juga istriku terhadap mas Surya, Mas Surya sepertinya sudah menikmati permainan ini. Sungguh sulit mendapatkan hotel atau villa yang masih kosong saat liburan seperti ini, dari hotel, cottage maupun orang sekitar yang biasa menyewakan villa, semuanya penuh, fully occupied. Setelah melewati Puncak Pass akhirnya kami mendapatkan kamar yang masih kosong, dengan terpaksa kami ambil kamar yang suite dengan 3 kamar yang harganya minta ampun mahalnya, apalagi hanya untuk dipakai dalam waktu yang tidak lama, sekedar pelampiasan nafsu liar kami, tapi uang bukanlah masalah kalau hati lagi senang, kami hanya ingin segera mencapai tempat dan melampiaskan hasrat masing masing. Kutinggalkan Mas Surya dan istriku yang sedang menyelesaikan administrasinya, aku langsung menggandeng mbak Eliz menuju kamar mengikuti Room Boy. Kami duduk di sofa menunggu kedatangan mereka, mbak Eliz duduk di pangkuanku lalu merosot bersimpuh di depanku sambil melepas celana pendekku, dia meraih kejantananku dan mengusap usapkan di wajah sambil menciuminya dengan gemas. “Ini penis kok segede ini, enak deh, sungguh beruntung mbak Lily tiap hari bisa merasakannya” komentarnya sambil mulai menjilati kepala penisku. “Kamu juga beruntung telah merasakannya” jawabku Dia tidak menjawab karena mulutnya sudah penuh terisi penisku, meski hanya setengahnya yang bisa dia kulum, tapi dia berusaha dengan mempermainkan lidahnya di dalam rongga mulutnya. Mbak Eliz sedang asyik mengocokku ketika suaminya datang menggandeng istriku. “Wah sudah mulai duluan nih, udah nggak tahan ya” goda istriku. Tanpa menunggu jawaban kami, istriku menghampiriku, kami berciuman, Mas Surya memeluknya dari belakang, menyelipkan tangannya ke dalam kaos istriku dan meremas remas kedua buah dadanya sambil mencium tengkuknya membuat istriku menggeliat. Mbak Eliz hanya tersenyum sambil tetap mengulum penisku melihatnya, Mas Surya melepas kaos istriku, buah dadanya yang padat menantang langsung kukulum, tak kupedulikan tangan Mas Surya yang sedang meremasnya. Istriku menggeliat dan mendesah mendapat kuluman dan ciuman di tengkuk. Dia duduk di sampingku dan Mas Surya duduk di antara kedua kakinya, bersebelahan dengan istrinya. Kedua suami istri itu memainkan mulut dan lidahnya di daerah kenikmatan kami dengan cara yang berbeda, istriku melumat bibirku, sambil menikmati permainan lidah Mas Surya yang sedang lincah bergerak liar di vaginanya, kepala Mas Surya seolah tertancap di selangkangan istriku, begitu juga mbak Eliz yang kepalanya terjepit di antara kakiku..</p>
<p style="text-align: justify;">Tak lama Mas Surya dalam jepitan selangkangan istriku, dia lalu berlutut, melepas pakaian dan menyapukan penisnya ke vagina Lily, dengan sekali dorong masuklah penisnya mengisi liang kenikmatannya dan langsung mengocok cepat, membuat istriku mulai mendesah. Melihat suaminya sudah duluan menikmati istriku, mbak Eliz berdiri melepas semua pakaiannya hingga telanjang, lalu ke pangkuanku, menyodorkan kedua buah dadanya ke mukaku yang langsung kusambut dengan kuluman penuh gairah, perlahan dia menurunkan tubuhnya, perlahan pula penisku memenuhi vaginanya. Kupeluk tubuh telanjangnya yang sexy ketika semua penisku tertanam ke dalam, dia membalas pelukanku dengan rapat sambil menggoyangkan pantatnya. “Ouh yaaa…yaaaa…enak masssss” desahnya bersautan dengan desahan istriku yang sedang menerima kocokan Mas Surya. Aku diam menerima kocokan mbak Eliz sambil mengulum kedua bukit montoknya, satu tangan meremas mbak Eliz sedang tangan lainnya meremas buah dada istriku, sama sama kenyal dan padat meski punya mbak Eliz lebih besar dan montok.</p>
<p style="text-align: justify;">Mereka berganti posisi meniru kami, kedua wanita bergoyang di pangkuan pasangan masing masing, desah dan jeritannya seolah berpacu dalam birahi, kukulum dan kusedot putting mbak Eliz, dia menggelinjang dengan jeritan nikmat tanpa menghentikan goyangannya, terkadang kedua wanita saling berpandangan dan tersenyum nikmat, tangannya saling berpegangan. Mas Surya membenamkan kepalanya di antara kedua bukit di depannya, istriku meremas rambutnya. Istriku memandang mbak Eliz lalu mengangguk memberi isyarat, tiba tiba secara bersamaan mereka berdiri, kami tidak sempat protes, ternyata mereka bertukar tempat kembali ke suaminya masing masing. Sementara istriku harus menyesuaikan kembali dengan ukuran penisku pelan pelan melesakkan ke vaginanya, Mbak Eliz langsung melesakkan penis suaminya ke vaginanya dan bergoyang dengan liarnya. Istriku memelukku setelah berhasil memasukkan semua penisku ke vaginanya. “Gila, sepertinya jauh lebih besar dari biasanya, terasa pennnnnnnuh” bisiknya sambil mendesah “Lebih enak kan, dia gimana ?” balasku berbisik “Punya Papa lebih besar tapi dia lebih keras dan tegang lurus, sama sama enak sih” Kuraih dan kuremas buah dada mbak Eliz yang bergoyang goyang di depan muka suaminya, kupermainkan putingnya membuat dia menggeliat dan mendesah sambil pantatnya turun naik di pangkuan sang suami. Kubiarkan istriku turun naik di pangkuanku sambil memandangi wajah mbak Eliz yang makin cantik menggairahkan terbakar nafsu. “Aku mau ngerjain mbak Eliz, biar dia merasakan two in one dengan suaminya” bisikku pada istriku tak lama kemudian, dia memandangku dan turun dari pangkuan. Aku berdiri di belakang mbak Eliz, sepertinya dia belum menyadari kehadiranku, kupeluk dari belakang, kudekap erat dan kuremas buah dadanya sambil menciumi tengkuknya, dia menggelinjang hebat, apalagi bersamaan dengan kuluman suaminya pada putingnya, desahannya berubah menjadi jeritan liar nan nikmat menggairahkan. “Aaaaaagggghhh… sssssshhhh… ehhhhhmmmmm” sambil menggoyang goyangkan kepalanya, rambut indahnya tergerai menutupi wajahnya yang kemudian disibakkan suaminya. Aku berdiri di atas sofa, posisi penisku sejajar kepala mbak Eliz, kusodorkan penisku yang tegang ke mulutnya, dia meraih dan mengocoknya.</p>
<p style="text-align: justify;">kulihat mbak Eliz memandang ke arah suaminya sebelum akhirnya memasukkan penisku ke mulutnya, tanpa mengentikan goyangan pinggulnya. Penisku segera keluar masuk mulut mbak Eliz, tepat di muka suaminya yang sedang meremas remas kedua buah dadanya, kini mbak Eliz mendapat dua penis di atas dan dibawah. Istriku hanya berdiri tersenyum melihat kami bertiga dan memandangku saat merasakan nikmatnya kuluman mbak Eliz. Kupegang rambut indah mbak Eliz yang tergerai di mukanya dan kukocokkan penisku ke mulutnya membuat dia tidak bisa bebas bergerak kecuali hanya bergoyang pinggul. Aku sudah tak mempedulikan lagi inya, yang hanya menonton bagaimana penisku mengisi mulut istrinya tercinta. Hanya beberapa menit kami mengeroyok mbak Eliz, ternyata sensasinya terlalu tinggi baginya, tak lama kemudian kurasakan cengkramannya pada penisku mengeras , gerakannya tidak beraturan dan, “Ooooouuugghhhh… yesssss…yaaaa… yaaaaaaa. .. oh Massssss” jeritnya orgasme, dia menggeliat di pangkuan suaminya sambil tetap mencengkeram penisku. Tubuh mbak Eliz melunglai memeluk suaminya, aku turun dan kucium pipinya yang masih bersandar di bahu sang suami, napasnya masih menderu, sempat kudengar dia berucap “terima kasih Mas”, entah ditujukan ke aku atau suaminya. “Giliranku” kata Lily, aku duduk di samping Mas Surya yang masih memangku istrinya. Lily berlutut di selangkanganku dan memasukkan penisku ke mulutnya, mbak Eliz turun dari suaminya, menggenggam dan mengocok penisnya yang masih tegang dan basah karena vaginanya, dikulumnya penis itu seakan membersihkan dari cairannya. Istriku sambil mengulumku meraih penis Mas Surya yang masih dalam kuluman istrinya, lalu mengocoknya setelah ditinggalkan mbak Eliz ke kamar mandi. Mas Surya beralih ke belakang istriku, mengatur posisinya bersiap untuk doggie. Tak lama kemudian istriku sudah menerima kocokannya dari belakang, dengan liarnya menghentakkan tubuhnya ke tubuh istriku yang masih bergairah mengulumku, sesekali kulumannya terlepas karena sodokan keras Mas Surya. Desahannya tertahan penisku yang ada di mulutnya, gerakan Mas Surya makin ganas, ditariknya rambut istriku dan menyodoknya dengan keras, tubuh istriku terdongak karena sodokannya, tapi dia tidak pedulikan, sodokan kerasnya tidak melemah, semakin istriku menggeliat nikmat membuatnya semakin bersemangat.</p>
<p style="text-align: justify;">Sambil mengocok, tangannya tak pernah lepas dari tubuh istriku, dielusnya punggung dan pantatnya lalu diremasnya kedua buah dadanya yang menggantung bebas. Dengan cepat istriku sudah bisa menyesuaikan dengan gaya permainan liar Mas Surya, kembali dia mengulum penisku, kupegang dan kuelus rambutnya, sesekali kutekan ke arah penis supaya masuk ke mulutnya sebanyak mungkin, meski dia tidak pernah bisa memasukkan semuanya. Kami berganti posisi, istriku duduk di pangkuanku, tapi sebelum dia memasukkan penisku ke vaginanya, Mas Surya sudah mendahului menyapukan kepala penisnya, dan melesak kembali ke vaginanya. Istriku menoleh ke Mas Surya, dia hanya membalas dengan senyuman, kini Mas Surya mengocok istriku yang duduk di pangkuanku. Dia mendesis di pelukanku menerima kembali kocokan Mas Surya. “Mbak suaminya nakal nih, merebut jatah suamiku” teriak istriku sambil mendesah ketika melihat mbak Eliz keluar kamar mandi. Mbak Eliz terlihat makin cantik dengan rambutnya yang tergerai basah dan hanya berbalut handuk, buah dadanya makin kelihatan montok berisi tertutup handuk putih. “Biarin aja, itulah balasan kalau kalian menggoda istri orang, tetangga lagi, bikin mereka kapok mas” jawab mbak Eliz mencium suaminya lalu duduk di sampingku. Tak kuperhatikan buah dada istriku yang berayun-ayun di mukaku, kutarik tubuh mbak Eliz mendekat, kulempar handuk penutup tubuhnya, aroma wangi tercium dari tubuh segarnya ketika kucium leher dan bibirnya, kami saling mengulum sambil aku memangku istriku yang menerima kocokan Mas Surya. “Pindah ke kamar yuk, disini kurang bebas” usul mbak Eliz Tanpa menunggu jawaban, kudorong istriku turun dari pangkuanku lalu kutuntun mbak Eliz menuju kamar, sekilas masih kulihat Mas Surya meneruskan kocokannya terhadap istriku, dia menyetubuhi istriku dari belakang sama sama berdiri, berpelukan dan berciuman. Sesampai di kamar, kurebahkan tubuh telanjang mbak Eliz dan langsung kutindih, kususuri tubuhnya yang segar sehabis mandi, terasa lebih menggairahkan, aku paling menyukai membenamkan mukaku di antara kedua bukit di dadanya yang montok. Tak lama kemudian istriku dan Mas Surya masuk kamar, ketika kami sedang ber-69 dengan mbak Eliz di atas, mereka langsung mengambil posisi doggie. Istriku mengatur posisi tubuhnya hingga kepalanya di antara kakiku dan bisa mengulumku bergantian dengan mbak Eliz ketika suaminya mengocoknya dari belakang, aku tak bisa melihat dengan jelas, tapi bisa merasakan ketika dua mulut dan dua lidah sedang berada di kejantananku baik secara bersamaan maupun bergantian, terasa kenikmatan yang berlebihan.</p>
<p style="text-align: justify;">Ranjang serasa bergoyang ketika kudengar jeritan nikmat istriku akibat hentakan kuat dari Mas Surya, kulihat dari celah paha mbak Eliz, Mas Surya menjambak rambut istriku hingga dia terdongak ke belakang dan menyodoknya dengan keras, buah dada istriku berayun-ayun tak beraturan karena sodokan itu. “Mas, gantian dong” pinta mbak Eliz pada suaminya, tanpa menunggu jawaban dia langsung turun dan nungging di samping istriku. Mas Surya melepaskan istriku dan bergeser di belakang istrinya, langsung penisnya melesak ke vagina mbak Eliz dengan kecepatan tinggi seperti yang dia lakukan pada istriku, kontan mbak Eliz menjerit seperti terkaget menerima perlakuan suaminya yang kasar itu, tapi tak ada tanda protes, justru kulihat expresi kenikmatan di wajahnya yang cantik. Kuraih buah dadanya yang montok berayun ayun dan kuremas sambil kupermainkan putingnya, membuat mbak Eliz makin histeris dalam desahannya. Istriku yang ditinggal Mas Surya, beralih ke atasku, mengatur posisinya sebelum akhirnya melesakkan penisku ke liang vaginanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Jeritan nikmat keluar dari mulutnya saat penisku menerobos masuk. Setelah terdiam sesaat, mulailah goyangan pinggulnya di atasku, penisku terasa di remas remas, gerakan istriku semakin liar, kunikmati sambil meremas remas buah dada mbak Eliz yang sedang mendapat kocokan dari suaminya. Melihat istriku bergoyang liar dan menggairahkan, Mas Surya rupanya tergoda juga untuk kembali menikmati istriku yang memang lebih liar dibandingkan istrinya, ditinggalkannya istrinya yang sedang mendesah nikmat, tak dipedulikannya suara protes dan kecewa dari mbak Eliz. Dia berdiri di samping Lily yang sedang terbakar kenikmatan, menyodorkan penisnya yang masih basah dari mbak Eliz ke mulutnya, istriku segera meraih penis itu dan langsung mengulumnya sambil tetap bergoyang pinggul dan turun naik di atasku. Penis mas Surya yang tidak terlalu besar segera masuk semua ke mulutnya tanpa hambatan, dia tidak mengalami kesulitan meng-handle dua penis secara bersamaan. Kedua penis mengocoknya di atas dan dibawah secara bersamaan, mbak Eliz yang cemberut segera kutarik dalam dekapanku, dia merebahkan kepalanya di dadaku sambil memandangi penis suaminya meluncur di mulut istriku.</p>
<p style="text-align: justify;">Mbak Eliz berlutut di sisi istriku, kedua wanita itu bergantian mengulum dan menjilati penis Mas Surya dengan rakusnya. Kami berimprovisasi dengan berbagai gaya dan posisi di semua tempat di kamar itu, sepertinya sudah menjadi kodrat bahwa aku lebih sering menikmati mbak Elis dan mas surya lebih menyukai istriku. Tak ada aturan, yang capek boleh berhenti yang masih kuat silahkan melanjutkan, permainan selalu bervariasi, kadang MMF, FFM atau MMFF. Anehnya, Mas Surya yang tadi cepat orgasme, dengan berame rame seperti ini justru bisa bertahan lebih lama, bahkan istriku sempat dibuat kewalahan. Kami saling mereguk dan memberi kenikmatan yang seolah tak pernah habis dinikmati. Selama di kamar tak seutas benang menutupi tubuh kami, bahkan ketika Room Boy mengantar makan malam, hanya Mas Surya yang berbalut handuk yang menerimanya, karena aku lagi sibuk mereguk kenikmatan dengan istriku dan istrinya. Setelah memberi tahu teman teman di Villa bahwa mungkin kami pulang pagi karena terjebak kemacetan di Cianjur, malam itu kami habiskan dengan pesta penuh nafsu seakan there is no tomorrow. Kami bebas melakukan dengan siapa saja, dimana saja, posisi apa saja, its wild sex, meski cuma kami berempat. Yang paling mengesankan adalah bercinta bertukar pasangan di keremangan malam yang dingin di udara terbuka, karena tempat kami memang jauh di pojok yang jarang dilewati orang.</p>
<p style="text-align: justify;">Dinginnya angin malam tak mampu mengusir gairah nafsu kami yang memang sedang memuncak. Keesokan harinya kami kembali ke Villa pukul 11 pagi, beberapa pertanyaan muncul mengiringi kedatangan kami, karena memang hp kami matikan untuk menghindari gangguan. Tak ada yang curiga dengan apa yang telah kami lakukan semalam, bahkan beberapa ibu ibu kasihan melihat kami yang kelihatan kurang tidur dan capek, mereka mengira kita kecapekan karena terjebak macet sehingga menginap di Cianjur, padahal itu jauh dari realita, justru kami kurang tidur dan capek karena nikmat. Akhirnya kami kembali membaur dengan tetangga lainnya, terhadap Mas Surya dan mbak Eliz kami bersikap sewajarnya seperti tidak terjadi apa apa, begitu juga mereka, tidak ada perubahan sikap kami pada mereka, paling tidak didepan banyak orang. Sesekali aku masih bisa mencuri cium ataupun pelukan ataupun rabaan dari Mbak Eliz saat berdua, istriku hanya tersenyum saja melihat tingkah lakuku itu. Kami masih berkeinginan untuk melakukannya lagi di lain waktu dan kesempatan, tak perlu menunggu liburan atau di puncak. Kalau ada peminat yang serius bisa kirim email, tak tunggu&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ceritasex.cn/istri-sakinah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
