Kisah Eliza 09 : Petaka Akibat Mengintip
Jun 4th, 2009 oleh Cerita Sex
Hari ini hari Kamis, pelajaran di sekolahku berlangsung seperti biasa setelah sempat libur tiga hari lamanya karena ada penyelenggaraan bazar di sekolahku. Pagi ini semua berlangsung seperti biasa, hanya aku dan Jenny saling tersenyum penuh arti kalau tanpa sengaja kami beradu pandang ataupun bersenggolan tangan. Hal ini sering terjadi karena kami memang duduk bersebelahan. Bahkan kadang diam diam aku dan Jenny mencuri curi saling menggenggam tangan di bawah meja. Ya, kejadian di depan rumah Jenny pada akhir liburan kemarin memang mengubah total hubunganku dengan Jenny.
Istirahat pertama tadi kulewatkan bersama Jenny di kantin. Sherly juga ikut nimbrung, dan kami bertiga sudah saling tahu semuanya, hingga tak ada rasa canggung sedikitpun di antara kami bertiga. Kini aku dan Jenny sedan ada di dalam kelas, dan setengah jam lagi adalah waktunya istirahat ke dua. kebetulan aku merasa ingin ke toilet. “Jen, aku ke toilet dulu nih”, bisikku. “Aku ikut sayang”, kata Jenny, membuatku tersenyum geli. “Gila kamu yah? Ya.. terserah kamu sih”, kataku. Lalu aku berdiri dan melangkah ke depan diikuti oleh Jenny.
Hampir bersamaan kami berkata, “Pak, kami ijin ke belakang dulu”. Setelah mendapat ijin dari pak Gatot, aku dan Jenny segera keluar dari kelas, menuju ke toilet, toilet putri tentunya. Tepat sebelum masuk ke toilet, aku menghentikan langkah. “Jen, kamu dengar nggak? Itu…”, aku berbisik agak ragu, sambil menunjuk ke gudang di sebelah toilet ini. Jenny memandangku heran, lalu ia melangkah ke arah pintu gudang itu. “Jennn”, aku berbisik kaget sambil menarik Jenny, karena pintu itu memang agak terbuka, kuatirnya Jenny akan terlihat oleh orang yang ada di dalamnya.
“Apa sih El?”, tanya Jenny heran. “Jen, hati hati dong… kamu kan bisa kelihatan oleh mereka yang di dalam? Sebaiknya kita dengarkan diam diam deh”, bisikku lagi. Kemudian kami berdua menajamkan pendengaran, dan tak lama kemudian aku mendengar suara lenguhan perempuan. Lenguhan perempuan yang mungkin sekali sedang keenaan karena disetubuhi oleh laki laki. Aku dan Jenny saling pandang, kulihat muka Jenny memerah. Sedangkan keadaanku sendiri kelihatannya tak jauh beda, karena mukaku rasanya panas, jantungku juga berdegup kencang.
“El, siapa ya yang lagi asyik nih siang siang gini?”, tanya Jenny dengan bingung. Aku mengangkat bahu, dan Jenny dengan hati hati mengintip melalui pintu. Aku juga cukup penasaran dan ikut mengintip. Beberapa saat kemudian aku cukup shock. Aku melihat Vera yang telanjang bulat, sedang bergumul dengan dua siswa laki laki yang tak aku kenal, yang masih memakai seragam sekolah, tapi sudah tak memakai celana panjang abu abunya. Apakah dua siswa itu teman sekelasnya?
Dengan cepat aku menahan nafas. Aku mulai mencoba memperhatikan Vera. Ia sedang meliuk liukkan tubuhnya di atas tubuh temannya yang rebahan di atas meja yang sudah ditata itu, mungkin sekali Vera sedang mengendarai penis temannya itu. Benar benar pemandangan yang kontras, Vera yang begitu putih menggeliat di atas tubuh temannya yang jadi terlihat begitu hitam. Aku makin tertegun melihat Vera juga terlihat asyik mengoral penis dari seorang lagi yang berdiri di sampingnya. Pemandangan ini membuat gairahku naik, melihat Vera dengan pipinya yang begitu putih, menggembung karena mulutnya menampung penis temannya yang pasti amat hitam itu.
Lenguhan tertahan dari Vera, membuat aku makin merasa lemas, dan aku memutuskan berhenti mengintip dan menarik tangan Jenny. Selain itu aku juga takut ketahuan kalau berlama lama mengintip. Jenny mengikutiku masuk ke WC. Aku mencoba mengatur nafasku yang memburu. Kemudian aku masuk ke dalam salah satu dari tiga kamar di WC ini. Tapi ketika aku akan menutup pintu, aku terkejut melihat Jenny sudah menerobos masuk, dan mengunci pintu kamar WC ini. Dan Jenny memandangku dengan tatapan yang membuat aku bergidik.
“Jen… kamu mmph…”, kata kataku tertahan karena Jenny sudah melumat bibirku dengan sangat bernafsu. Tak butuh waktu lama, aku terlarut dan memejamkan mataku. Aku memeluk Jenny, membalas lumatan bibirnya dengan sepenuh hati. Entah sejak kapan, aku sudah tinggal mengenakan bra, seragam sekolahku sudah dibuang Jenny ke pojok kamar WC ini. Aku balas membuka kancing bajunya, dan beberapa saat kemudian kami berdua sudah telanjang dada dan saling meremasi payudara kami berdua.
“Eliza…”, desah Jenny. Aku tersipu malu ketika Jenny menatapku dengan sayu. “Eliza… aku juga ingin kamu…”, guman Jenny. Kemudian dengan bernafsu Jenny melucuti sabuk yang mengikat rok seragamku di pinggangku, dan dengan cekatan ia sudah melorotkan rok seragamku. Untung lantai WC ini kering, jadi aku tak perlu mengkuatirkan rok seragamku akan basah. Tapi aku sudah harus mendesah hebat, karena celana dalamku sudah dilorotkan oleh Jenny, dan tanpa berkata apa apa Jenny langsung melumat bibir vaginaku.
“Ohh… Jeeeen… ssshhh…”, aku merintih dan mendesah, tanganku sampai harus kutekankan pada dinding karena aku melemas tanpa daya. Jenny dengan kejam terus mengoralku. Kini lidahnya sudah melesak memenuhi liang vaginaku, dan lidah itu bergerak seakan mengorek dinding liang vaginaku. Tentu saja aku makin menggelinjang, tapi Jenny memeluk kedua pahaku dengan kuat, jadi aku tak bisa kemana mana, hanya bisa pasrah sampai Jenny puas mencumbui liang vaginaku.
“Jeeen…”, aku mengeluh ketika kurasakan cairan cintaku membanjir. Aku orgasme hebat dan tubuhku mengejang tak karuan. Jenny terus menyeruput semua cairan cintaku sampai habis, baru kemudian ia melepaskan dekapannya pada kedua pahaku. Aku langsung ambruk ke depan dan tertahan oleh Jenny. “Eliza…”, Jenny mendesah, dan ia membelai rambutku dengan mesra. Nafasku masih tersengal sengal dengan kepalaku yang kurebahkan di pundak Jenny.
“Kamu gila Jen…”, gerutuku ketika aku sudah mulai bisa mengatur nafasku. Jenny tersenyum manis sekali, membuatku ikut tersenyum pada temanku yang cantik ini. Dengan lembut Jenny menyeka vaginaku dengan tissue yang ia ambil dari baju seragamnya. Aku menggigit bibir, ketika usapan lembut dari tissue yang dilakukan Jenny pada bibir vaginaku, membuatku kembali terangsang. Tubuhku rasanya bergetar.
“Udah dong Jen…”, keluhku ketika Jenny dengan nakal melesakkan tissue itu sedikit ke dalam liang vaginaku. “Iya deh El”, kata Jenny sambil tersenyum menggoda. Aku duduk di WC duduk ini, dan menuntaskan keinginanku buang air kecil. Setelah itu aku mengambil tissue yang kubasahi, dan menyeka liang vaginaku. Jenny dengan nakal menaikkan celana dalamku dan membelai pahaku. Aku cuma bisa menggeleng gelengkan kepala, dan aku mencari baju seragam sekolahku dan memakainya. Lalu kuangkat rok seragam sekolahku, dan kupasang ikat pinggangku.
“Jen.. kita kembali ke kelas yuk”, aku mengajak Jenny, yang mengangguk saja. Kami keluar dari WC ini dan kembali ke kelas. “Lama sekali kalian”, tegur pak Gatot. “Maaf pak, tadi saya sakit perut”, aku mencoba mencari alasan. “Saya juga pak”, Jenny ikut memberikan alasan. “Ya sudah, sana duduk”, kata pak Gatot. Kami segera duduk, dan diam diam aku tersenyum geli. Ketika aku melihat Jenny, ternyata ia juga sedang menahan senyum.
Akhirnya bel istirahat kedua berbunyi. Aku dan Jenny sudah akan keluar menuju ke kantin, ketika tiba tiba aku melihat pak Edy masuk. “Eliza, selesai istirahat, temui saya di ruangan saya. Ada yang perlu saya tanyakan berkaitan dengan bazar kemarin”, kata pak Edy. “Iya pak”, jawabku dengan malas, tapi aku berusaha tetap terdengar sopan. Sebal sekali aku melihat senyuman liciknya, dan aku segera menuju ke kantin, dan memang aku jadi kehilangan mood untuk bercanda dengan Jenny ataupun Sherly, tapi aku berusaha untuk tetap menanggapi obrolan maupun canda tawa mereka.
Ketika bel tanda istirahat berakhir berbunyi, aku segera berpamitan, “Sherly, Jenny, aku tinggal dulu ya. Jen, titip pesan sama pak Warno, aku mesti menemui pak Edy nih”. Mereka mengangguk dan aku segera naik ke atas, bersiap menerima nasib buruk. Aku memasuki ruangan pak Edy dengan perasaan kalut. “Silakan duduk Eliza”, kata pak Edy sok ramah. Aku hanya mengangguk, malas menjawab wali kelasku yang bejat ini. Ia beranjak ke arah pintu ruangan ini, melihat keluar sebentar, lalu masuk dan mengunci pintu itu. Aku tahu aku sudah kembali berada dalam kekuasaannya.
Aku hanya diam ketika pak Edy yang sudah duduk di hadapanku memandangiku. Risih sekali rasanya dipandangi seperti ini, seakan aku sedang ditelanjangi dan ditaksir berapa nilai tubuhku ini. Benar benar merendahkan sekali. Aku hanya bisa berharap, nasib sialku hari ini cepat berlalu. Pak Edy yang dari tadi memandangiku tiba tiba berkata, “Eliza.. kamu cantik sekali”.
Aku tercekat, dan menunduk. Aku merinding mendengar pujian yang tak sepantasnya dilakukan oleh seorang wali kelas terhadap muridnya. “Pak, apa tidak ada perlu penting? Kalau tidak ada, biarkan saya kembali ke kelas, saya kan harus mengikuti pelajaran”, kataku pelan. Pak Edy terkekeh dan menjawab, “Tentu saja saya ada perlu sama kamu Eliza”. Berkata begitu, ia berdiri dan mendekatiku. Aku tahu, aku akan segera mengalami pelecehan oleh wali kelasku ini.
Aku diam saja ketika pak Edy mulai meremasi payudaraku. Ia melanjutkan mencumbuiku, menyibakkan rambutku yang hari ini aku ikat, dan mencium belakang leherku. Bagaimanapun jijiknya, rasa terangsang mulai merambati tubuhku. Aku menggigit bibir mencoba bertahan untuk tidak mendesah. Tapi cumbuan yang kuterima makin bertubi tubi. Kurasakan jilatan pada bagian belakang telingaku kanan dan kiri, sementara tangan pak Edy makin nakal, membuka kancing baju seragam sekolahku dan menyusup ke dalam meremasi payudaraku yang masih terbungkus bra ini.
Akhirnya aku tak tahan lagi dan mendesah perlahan ketika jari tangan pak Edy berhasil menemukan puting payudaraku. Tekanan yang dilakukan pak Edy pada puting payudaraku ditambah kecupannya pada leherku, membuatku menggelinjang. Aku mencoba mengalihkan tangan pak Edy, tapi aku segera menghentikan niatku karena ancaman pak Edy. “Eliza, jangan coba coba melawan, atau bapak panggil pak Girno dan yang lain untuk menemani bapak”, bisik pak Edy di telingaku. Aku langsung lemas dan pasrah, kubiarkan guru bejat ini menikmati diriku.
Tak lama kemudian baju seragam sekolahku sudah tergeletak di lantai, demikian juga bra dan ikat rambutku. “Eliza, kamu lebih cantik kalau rambutmu dibiarkan tergerai seperti ini”, kata pak Edy dengan bernafsu. Ia mengangkatku berdiri, lalu membuka sabukku, melucuti rok dan celana dalamku. Kini aku sudah polos, tinggal mengenakan sepatu sekolah ini. Dengan nafas memburu pak Edy mendekap tubuhku dan membawaku ke sofa. Setelah aku terbaring di sana, pak Edy segera melebarkan pahaku, dan mulai mencoba memasukkan penisnya ke dalam liang vaginaku. Tapi yang terjadi kemudian sungguh membuat aku hampir tak kuat menahan tawa.
Pak Edy tak mampu melesakkan penisnya ke dalam liang vaginaku. Aku sempat merasakan terjangan penis yang terlalu lunak, rupanya pak Edy belum ereksi sempurna. Padahal terlihat jelas ia sudah sangat bernafsu melumat tubuhku. Aku mencoba memikirkan hal lain supaya tak sampai tertawa di depan wali kelasku ini. Kurang lebih dua kali pak Edy mencoba lagi, dan akhirnya… sleb…
Dengan wajah puas pak Edy kini mulai memaju mundurkan pinggulnya. Aku tak begitu merasakan sedang disetubuhi, karena penis ini lunak, dan pendek. Tapi aku mencoba berpura pura terpengaruh, dan aku sengaja menggigit bibirku. “Oh… enak ya Eliza”, ejek pak Edy dengan percaya diri. Aku terpaksa pura pura mengangguk, sambil tetap menggigit bibir. Belum lagi aku merasakan apa apa, tiba tiba penis pak Edy sudah berkedut, dan menyemburkan spermanya dalam liang vaginaku.
Setelah pak Edy puas dan menarik penisnya dari liang vaginaku, aku memejamkan mataku, sekalian mengistirahatkan tubuhku. Aku tak bergerak sama sekali dari posisi tubuhku terakhir saat pak Edy menarik lepas penisnya tadi. Kalau ada laki laki yang melihat cewek yang putih mulus seperti aku, sedang mengkangkang dalam keadaan telanjang seperti ini, pasti aku akan diperkosanya habis habisan. Aku tenang saja, toh tak ada orang di sini, setidaknya itu menurutku. Juga sekalian untuk membiarkan sperma pak Edy keluar mengalir dari liang vaginaku.
Tapi tiba tiba kurasakan vaginaku tertempel sesuatu, yang tak mungkin jari tangan pak Edy, karena kurasakan begitu hangat, dan besar juga. Itu kepala penis! Aku langsung membuka mataku lebar lebar, dan jantungku serasa berhenti. Ya ampun, dia ini kan laki laki yang tadi dioral Vera di gudang? Dan aku makin terkejut ketika di sebelahku sudah berdiri seorang laki laki seumurku, dengan penisnya yang sudah berdiri tegak sekali mengacung ke arah mulutku. Kemungkinan besar dia juga laki laki yang tadi rebahan di gudang dan ditindih oleh Vera .
Belum sempat aku berbuat sesuatu, liang vaginaku sudah terbelah oleh penis laki laki di depanku. “Aaammpphhh…”, aku merintih, tapi segera disumbat oleh penis laki laki yang memang sudah jelas menginginkan servis oralku. Kedua pergelangan tanganku dicengkeram erat, aku sempat berhasil melihat pelakunya, yang ternyata adalah pak Edy! Benar benar biadab, ia memberikan aku pada dua siswa yang sama sekali tak aku kenal ini. Entah apa yang ada di pikiran wali kelasku yang bejat ini.
Kini aku merasakan liang vaginaku begitu penuh, dan aku menggeliat perlahan ketika kurasakan liang vaginaku diaduk aduk oleh penis pemerkosaku ini. Aku tak berani terlalu banyak bergerak, karena liang vaginaku terasa begitu penuh, apalagi penis itu terasa panjang sekali dan menancap begitu dalam. Aku merasa sedikit menderita dengan keluar masuknya penis itu di liang vaginaku ini. Sedangkan mulutku harus terbuka lebar, dan akhirnya aku pasrah, menjepitkan bibirku pada penis yang sedang maju mundur menikmati sempitnya rongga mulutku.
Penis yang sedang kuoral ini panjang juga, berulang kali kepala penis ini seakan ingin melesak masuk kedalam tenggorokanku, bahkan sebelum bibirku mengulum sampai ke pangkal penis ini. Entah kenapa, aku menginginkan penis ini mengaduk tenggorokanku, dan aku sedikit mendongak, memberikan jalan pada penis ini untuk menembus rongga tenggorokanku. Keringat mulai membasahi tubuhku, karena gairahku sudah mulai naik. Aku berulang kali mendesah dan merintih tertahan.
Rasa sakit yang tadi sempat sedikit melanda liang vaginaku, sudah berubah menjadi rasa yang teramat nikmat. Aku mulai menggeliat keenakan. Dengan liang vaginaku yang teraduk aduk sedemikian rupa oleh sebuah penis yang besar dan panjang, sementara tenggorokanku juga teraduk aduk tak karuan, dan ketidak berdayaan dari aku untuk menggerakkan tanganku yang dicengkeram pak Edy, aku tahu sebentar lagi aku harus pasrah dilanda orgasme yang dahsyat.
Kini vaginaku sudah berdenyut hebat. Aku pun makin menggeliat, mengerang dan melenguh tertahan, penuh kenikmatan. Dan penis itu masih mengaduk liang vaginaku dengan liar tanpa ampun. Akhirnya aku melenguh, ”Nggmm…”. Lenguhanku tersumbat ketika tenggorokanku terbuntu oleh kepala penis yang melesak seenaknya, membuat aku tak tahan lagi dan mengejang tak karuan, kedua betisku melejang sejadi jadinya. Aku merasa cairan cintaku membanjir tak karuan, entah sudah sebasah liang vaginaku.
Pinggangku sudah tertekuk ke atas karena aku tak kuasa menerima nikmatnya orgasme ini, dan dengan pose seperti ini tubuhku pasti terlihat sexy sekali oleh pemerkosaku yang beruntung mendapatkan liang vaginaku ini. Melihat aku orgasme, bukannya berhenti, pemerkosaku ini makin bersemangat mengaduk liang vaginaku. Bahkan ia memajukan tubuhnya hingga tusukan penisnya makin terasa saja. Ternyata ia menginginkan kedua payudaraku. Kedua tangannya meraih sepasang payudaraku ini, dan ia meremas payudaraku dengan sepuas puasnya. Tentu saja aku yang masih dilanda orgasme makin keenakan.
Aku akhirnya mengalami multi orgasme, tubuhku terus mengejang hebat sampai aku kelelahan, orgasme yang susul menyusul terus melandaku. Aku sudah tak bisa merintih lagi, hanya membiarkan tubuhku bergerak diluar kontrolku. Sudah lebih dari satu menit tubuhku tersentak sentak diterjang badai orgasme, dan belum ada tanda tanda pemerkosa liang vaginaku itu akan berejakulasi. Aku mulai menderita dalam kenikmatan yang amat sangat ini, keringatku makin bercucuran membasahi sekujur tubuhku. Aku menatap pemerkosa vaginaku dengan sayu, berharap ia mengerti dan mau memberiku kesempatan istirahat, karea aku tak bisa berkata apapun dengan penis yang sedang memperkosa mulutku ini.
“Break dulu, nanti dia bisa pingsan”, kata pak Edy tiba tiba, dan mereka berdua berhenti memompa tubuhku. Semua penis yang memompa tubuhku berhenti bergerak, demikian juga payudaraku terbebas dari remasan yang sangat membuatku menderita keenakan ini. Tapi penis yang besar itu masih berada dalam liang vaginaku, dan kurasakan denyutan denyutan yang begitu merangsangku. Cuma setidaknya keadaan ini sudah lebih baik buatku, karena multi orgasme yang membuat vaginaku begitu ngilu ini mulai mereda, hingga rasa tersiksa karena kejangnya otot otot di vaginaku dan sekitarnya, termasuk betisku, otomatis juga berkurang.
Juga dengan berhentinya gerakan penis di dalam mulutku tepat saat kepala penis itu tidak sedang menerjang rongga tenggorokanku, memberiku kesempatan untuk mengambil nafas. Pak Edy juga sudah melepaskan cengkeraman pada kedua pergelangan tanganku, hingga aku bisa mengistirahatkan tanganku yang pegal karena tertarik kencang ke belakang selama beberapa menit. Selagi aku mencoba memulihkan tenaga yang rasanya terkuras habis ini, wali kelas sialan ini memperkenalkan pemerkosaku satu per satu, hal yang harusnya sama sekali tidak penting untuk kudengarkan, tapi toh aku tak bisa berbuat apa apa selain terpaksa mendengarkan pak Edy.
“Eliza, kenalkan, ini Dedi, kelas 2G, sebelah kelas kamu”, kata pak Edy sambil menepuk pundak pemerkosa mulutku. Aku melihat Dedi, ia benar benar tidak tampan, bahkan cenderung mengerikan dengan bekas luka di hidungnya. Wajahnya sama sekali tidak ramah. Ya ampun, orang seperti ini ada di kelas sebelahku? Aku memang penghuni kelas 2H. Dan pak Edy bergerak ke arah pemerkosa vaginaku. “Kalau ini Pandu, kelas 2G juga”, kata pak Edy. Aku hanya bisa mengarahkan pandanganku ke arah Pandu karena mulutku tertahan oleh penis Dedi yang kokoh ini.
Pandu juga sama sekali tidak tampan, malah sedikit tongos. Orang orang seperti ini harusnya membuatku jijik atau sedikitnya aku malas berdekatan dengan mereka. Tapi kini mereka sudah mendapatkan tubuhku berkat bantuan wali kelasku yang bejat ini. Ingin aku berteriak pada pak Edy, aku ini kan anak murid kelasnya, mengapa dia tega memberikan aku pada anak murid kelas sebelah seperti ini?
Kini pak Edy bertanya pada Pandu, “Gimana Pandu? Eliza ini lebih enak dari Vera kan?”. Pandu cengengesan menjijikkan dan menjawab, “Pak Edy memang hebat, bisa memberikan kami amoy secantik Eliza ini. Dan memang benar, Eliza ini memeknya lebih rapat jauh dari Vera!”. Dedi menyambung, “Ndu, nanti loe cepetan ngecrot, gua juga mau coba memek amoy cantik ini!”. Aku memejamkan mata, rasanya terhina sekali mendengar pujian yang sebenarnya amat melecehkanku ini.
Dan beberapa saat kemudian, ronde kedua pemerkosaan terhadap diriku dimulai. Pandu mulai menggenjot liang vaginaku lagi. Dedi tak mau kalah, ia menerjangkan penisnya melesak ke dalam rongga tenggorokanku. Kembali aku harus melayani kedua pemerkosaku ini, siswa sekolah ini, yang seangkatan denganku. Kini liang vaginaku sudah begitu basah, dan hunjaman penis itu sudah tak begitu menyiksaku lagi sejak awal. Sedangkan tenggorokanku juga basah oleh air liurku sendiri dan cairan pelumas penis Dedi.
Aku merasakan Pandu menjejalkan penisnya dalam dalam di tiap hunjaman yang dilakukannya, kelihatannya ia sedang mencari kenikmatannya sendiri untuk segera berejakulasi. Tapi aku cukup menderita juga atas apa yang dilakukannya, karena sesekali kurasakan dinding rahimku seperti tersodok kepala penis Pandu. Aku mengerang tertahan menahan sakit yang bercampur nikmat ini. Entah apa bedanya dengan ronde pertama tadi, kali ini baru beberapa menit, Pandu mulai mengerang, dan penisnya kurasakan berkedut hebat di dalam liang vaginaku.
“Oh.. Elizaaa…”, erang Pandu, tubuhnya bergetar hebat, dan kurasakan liang vaginaku disirami spermanya yang amat hangat, dan banyak. Aku hanya diam, memang aku terangsang, tapi aku belum sampai orgasme. Mendadak dengan cepat Dedi menarik lepas penisnya yang sejak tadi bersarang di dalam mulutku, dan begitu Pandu menarik lepas penisnya dari liang vaginaku, Dedi segera mengambil posisi untuk mendapatkan servis liang vaginaku. Aku benar benar merasa seperti pelacur di dalam ruangan ini.
“Ngghhh…”, aku melenguh perlahan ketika liang vaginaku yang sempat merasa sedikit lega setelah Pandu menarik lepas penisnya tadi, kini kembali terisi penis Dedi yang sempat kuperhatikan tadi, kira kira berukuran 16 cm, dengan diameter sekitar 4 cm. Dan selagi Dedi mulai memompa liang vaginaku, Pandu berjalan ke arah kepalaku, dan kuperhatikan penisnya yang masih belum begitu layu. Ternyata sesuai dugaanku, penis itu panjang dan besar. Kira kira panjangnya hampir 20 cm, dan diameternya mungkin nyaris 5 cm. Pantas saja tadi aku sampai tak kuasa menahan nikmat yang melanda selangkanganku.
Kini penis itu sudah ada di depan mulutku. Terbiasa menghadapi gangbang ataupun perkosaan yang menimpa diriku, dengan tanpa sadar aku membuka mulutku, membiarkan penis yang masih belepotan sperma Pandu dan cairan cintaku sendiri itu melesak masuk, dan aku seakan tahu tugasku untuk membersihkan penis itu. Selagi Dedi terus memompa liang vaginaku dengan bersemangat, aku mengulum penis Pandu, menjilat seluruh permukaan kulit penis yang sudah mulai mengecil perlahan ini, dan menyeruput semua sisa sperma yang masih belepotan di sana. Kutelan campuran semua cairan itu, dan aku sengaja menjepit penis itu dengan bibirku, kujepit dengan agak kuat. Sampai ke kepala penisnya, aku mencucup dengan kuat, membuat Pandu melolong keenakan. Tapi aku tak mau melepaskannya.
“Aaargghh… sudah Elizaaa…”, erang Pandu. Ia menggigil keenakan, dan setelah ia mengeluarkan suara seperti sedang disembelih, baru aku melepaskan cucupanku pada kepala penisnya. Pandu langsung roboh ke lantai, ia merintih dan mengerang keenakan. Kini aku tinggal berkonsentrasi pada Dedi. Tapi rupanya pak Edy ingin servis oralku juga, ia sudah menyodorkan penisnya di depan mulutku. Maka aku terpaksa membuka mulutku, menerima penis pak Edy yang mini ini, yang memang masih belepotan sperma.
Aku melakukan hal yang sama seperti yang aku lakukan pada penis Pandu tadi, dan pak Edy juga melolong keenakan sampai akhirnya ketika aku melepaskan kulumanku, pak Edy juga roboh tak berdaya di sebelah Pandu. Tapi kini aku sudah terangsang hebat, sodokan demi sodokan yang sejak tadi kuterima membuat vaginaku terasa begitu ngilu. Memang penis Dedi tak sebesar penis Pandu, tapi cukup untuk memaksaku menderita dalam kenikmatan ini.
Aku mulai menggeliat dilanda kenikmatan ini, dan perlahan aku mendesah. “Sssh… oooh”, aku makin keras mendesah. Vaginaku serasa akan meledak dipompa habis habisan oleh Dedi, dan akhirnya aku orgasme di ronde kedua ini. “Nggghhhh.. nggghhhh…”, kini aku melenguh sejadi jadinya karena mulutku bebas tak tersumbat oleh penis seperti tadi. Pinggangku kembali tertekuk ke atas, tubuhku tersentak sentak tak karuan dan mengejang hebat, kedua betisku melejang tak karuan. Untungnya Dedi sendiri juga sedang mengerang, ia akan segera orgasme.
“Ooooh… Elizaaa… memekmu… enaaaak…”, erang Dedi. Tubuhnya tersentak beberapa kali saat penisnya menyemprotkan sperma ke dalam liang vaginaku. Ia menarik lepas penisnya dari jepitan liang vaginaku, dan dengan gontai ia berjalan, hendak mendapatkan servis oral dariku. Orgasmeku sudah mereda, dan aku membuka mulutku begitu penis itu sudah ada di depan mulutku. kuberikan perlakuan yang sama kepada penis Dedi seperti tadi aku memperlakukan penis Pandu dan pak Edy.
Dedi pun tak kuasa bertahan, ia mengerang dan melolong tak kuasa menahan nikmat. Begitu aku melepaskan kulumanku, Dedi juga roboh di sebelah pak Edy. Aku sendiri terbaring lemas dan keadaanku tak lebih baik dari mereka. Entah dosa apa aku harus melayani tiga lelaki bejat ini di sekolah. Entah apa lagi yang kelak terjadi, mungkin Pandu dan Dedi akan mencari kesempatan untuk memperkosaku lagi.
Aku mencoba bangkit dari sofa ini, dan mengambil tissue di atas meja. Aku menyeka bibir liang vaginaku dan sekitarnya yang belepotan sperma dan cairan cintaku. Aku kembali mengambil tissue agak banyak, dan menyeka keringat yang membasahi sekujur tubuhku. Tanpa berkata apa apa aku mengambil celana dalamku dan mengenakan di tubuhku menutup liang vaginaku. Juga aku mengenakan bra, baju dan rok seragam sekolahku. Dengan pandangan benci aku menatap pak Edy. “Sekarang biarkan saya kembali ke kelas pak!”, kataku ketus.
“Tunggu Eliza”, kata pak Edy dengan buru buru. Ia berdiri dan memakai celana yang tadi ia lepas untuk memperkosaku. Demikian juga dengan Pandu dan Dedi juga sudah mengenakan celana mereka semua. Lalu Pandu dan Dedi duduk di kedua ujung sofa, sedangkan pak Edy membimbing aku untuk duduk di tengah mereka. Kedua lenganku didekap dari samping tubuhku oleh satu lengan mereka, sedangkan tangan mereka yang menganggur mulai meremasi payudaraku.
“Eliza, Pandu dan Dedi ini adalah anak teman bapak. Tadi bapak melihat kamu mengintip ke gudang saat Pandu dan Dedi sedang bermain dengan Vera. Karena bapak takut kamu menyebarkan ke teman lain, bapak terpaksa membungkam mulut kamu dengan mengatur kejadian ini”, kata pak Edy tanpa merasa bersalah. Aku makin muak pada wali kelasku ini. Perlu apa juga aku menyebarkan kepada teman teman tentang aib yang dilakukan Vera? Toh aku sendiri juga sudah bukan gadis yang suci.
“Oh iya Eliza. Tadi kamu mengintip dengan Jenny kan”, tanya pak Edy sambil tersenyum menjijikkan. Kata katanya membuat aku serasa disambar petir. “Apa maksud bapak?”, dengan panik aku bertanya setengah membentak. Kedua siswa bejat yang masih asyik meremasi payudaraku ini tertawa mengerikan. “Sederhana Eliza, Jenny juga harus dibungkam. Kalau kamu tak ingin bapak menyeret kamu ke rumah kosong di sebelah mess untuk melayani seluruh penghuni mess sekolah ini, kamu harus bisa bawa Jenny ke UKS, sabtu malam besok ini. Tempat kamu pertama kali bermain cinta di sekolah ini”, kata pak Edy.
Aku langsung lemas, diiringi tawa mereka. Aku tak tahu apa yang harus aku lakukan. Setelah beberapa remasan keras pada kedua payudaraku hingga aku menggeliat, dua siswa bejat itu melepaskanku. Aku segera berdiri, dan menuju ke pintu keluar setelah membenahi baju seragamku yang sedikit awut awutan. Tepat ketika aku membuka kunci pintu ruangan ini, pak Edy kembali mengingatkan, “Eliza, ingat, besok Sabtu jam delapan malam, bapak tunggu kamu dan Jenny di ruang UKS”.
Aku tak menjawab, dan keluar dari ruangan laknat ini. Dalam perjalanan menuju ke kelas, aku berpikir keras, apa yang harus aku lakukan. Aku belum bisa mengambil keputusan sampai akhirnya aku masuk ke kelas. Aku mengetuk pintu kelas dahulu. “Permisi pak Warno, maaf saya tadi dipanggil pak Edy”, aku memberikan keterangan. Pak Warno tersenyum dan menyilakan aku masuk, “Ya Eliza, bapak sudah diberitahu Jenny. Silakan duduk”. Aku berjalan ke tempat duduk sambil melamun. Ketika aku sudah duduk di sebelah Jenny, aku dikagetkan oleh cubitan Jenny. “Eliza.. kamu cantik deh kalau rambutmu dibiarin tergerai gini. Tadi kok nggak digerai gini sih waktu sama aku?”, goda Jenny. Aku hanya tersenyum malu. Tapi aku juga dalam kegundahan yang amat sangat, entah Jenny tahu atau tidak.
Jenny sama sekali tak tahu, bahwa aku harus memutuskan, apakah aku akan menyerahkan Jenny kepada orang orang bejat itu, atau aku yang menyerahkan diri untuk dibantai di rumah kosong oleh sekitar 60 orang. Entah apa kalaupun kemudian aku yang menyerahkan diriku, apakah Jenny pasti dibiarkan lolos? Rasanya juga tak mungkin. Tapi kalau aku menyerahkan Jenny pada mereka, apakah nanti Jenny akan membenciku? Keduanya adalah pilihan yang sangat sulit bagiku. Dan aku jadi melamun sampai akhirnya bel pulang sekolah berbunyi…
Kata Kunci Pengunjung:
- cerita sex eliza
- cerita ngentot eliza
- bokepeliza
- www sex perkosaan com
- lenguhan jilbab
- cerita gairah jilbab
- foto kisah eliza
- Cerita Nakal pemerkosaan
- Cerita sex akibat mengintip
- Perkosa eliza amoy
- Cerita sex eliza 09
- www cerita eliza
- bapak dukun mesum
- lenguhan jilbaber
- www cerita sex pelecehan sex berakhir nikmat co id
- penis gede dukun
- kisah eliza
- eliza mesum
- cerita sex jenny
- kisah ngentot asyik
- jilbaber melenguh nikmat
- DIENTOT SAMPAI ORGASME HEBAT
- cerita smu eliza
- cerita seks eliza
- Cerita Eliza diperkosa bapak guru
- cerita sex siswa
- cerita ngentot jenny
- pemerkosaan eliza 5
- penis gede dukun cabul
- Cerita ngentot dibawah meja takut ketahuan
- cerita sex pelecehan nikmat
- cerita sex perkosaan di ikat jilbab
- jilbabku vaginaku
- cewek smu berjilbab di perkosa ke dua tangan di ikat ke atas
- cerita ngentot lonte
- keenaan ngentot
- Cerita seks eliza 12 13
- kumpulan cerita sex eliza
- kujepit penisnya jilbab
- Cerita seks amoy eliza-petaka akibat mengintip
- Cerita seks amoy eliza
- cerita seks akibat film bokep
- mengapa memek wanita berjilbab cenderung nikmat dientot
- cerita seks petaka akibat mengintip
- cerita perkosaan gangbang jilbab
- cerita perkosa eliza
- ngentot sama dukun cabul
- cerita panas yang membuat penis berdiri
- cerita panas bapak kost
- cerita sex guru kejam
- kisah mengintip
- Cerita sex mengintip
- cerita seks jiLbab roK paNjang
- perkosa eliza
- Cerita bokep waktu mengintip
- Cerita bokep eliza
- cerita sek ngoral dibawah meja
- Ceritaseks di toilet wc umum dan seks di tempat umum
- vaginaku dukun
- cerita dewasa eliza
- site:ceritasex cn www cerita eliza
- Diperkosa dukun cabul sampai puas
- Dita seks jilbab bejat
- cerita eliza 12
- Seks sangat nikmat di perkosa dukun cabul
- enaknya ngentot dengan dukun cabul
- dukun yang beruntung dapat memek perawan
- kisah sex dukun cabul tante
- eliza ngentot di sekolah
- lenguhan istri berjilbab
- kisah sex dukun mesum yang nikmat
- gadis berjilbab itu mengerang keenakan
- Kisah saru nikmatnya di perkosa smapi mani keluar dan orgasme tubuhku mengejang di ruang kosong
- kumpulan gudang cerita sex wanita jilbab
- kisah sex di toilet
- gadis jilbab menderita kenikmatan diperkosa memek dan anusnya
- kisah seks eliza
- gadis jilbab mengerang diperkosa
- kisah porno istri diperkosa dukun
- kisah pertama kali anak sekolah ngentot
- gairah jilbab perkosaan nikmat
- kisah perkosaan akhwat berjilbab lebar
- kisah sex jilbab
- kisah sex jilbab di ikat
- kontol 16 cm dioral
- erangan liar jilbab binal
- foto eliza dari cerita sex eliza
- Kumpulan cerita sek elyza
- kumpulan cerita pak guru ngentot murid demi nilai
- Enaknya ngentot bapak dukun
- foto ikat mengikat pemerkosaan cewek
- kumpulan cerita sexs elliza
- kontol pemerkosaku
- gadis berjilbab ditindih bapak
- gadis berjilbab ditindih omsenang
- Kontol gede pemerkosaku
- Koleksi cerita bokep siswi smu dientot wali kelasnya
- lenguh binal pelacur
- Kisah sex vera
- kisah sex ngentot asyik
- gadis cantik diperkosa dukun cabul
- gairah kerudung mendesah perkosa
- Gambar ngentot di dalam gudang sex
- gudang kisah mesum
- kapan lagi ngentotnya eliza
- gudang kisah sex
- gudang sex jilbab & sekolah
- jilbabterangsang
- Gudangceritamesum
- jilbabku belepotan
- guru jilbab mendesah saat memek dan anusnya diperkosa
- jilbaber melenguh
- jilbab mendesah cerita melenguh
- Isteri berjilbab ditelanjangi
- jilbab vaginaku
- jilbab meremas mendesah
- istri berjilbab disetubuhi dukun
- istri orgasme jilbab muda jangan
- jilbab mendesah merintih
- jenny ngentot
- Gudang cerita sex perkosaan dukun cabul com
- eliza entot gangbang
- kerudung mendesah
- kisah pemerkosaan kontol gede
- kisah nyata aku perek suka duka
- kisah nikmatnya sex
- kisah ngentot tante vera
- kisah ngentot eliza
- Kisah ngentot di gudang sekolah
- kisah ngentot d gudang
- gangbang akhwat jilbab jilbab
- GUDANG CERITA DUKUN NGENTOT
- kisah mesum dalam wc
- gudang cerita mesum pemerkosaan berjilbab
- KISAH MEMEK SEKOLAH
- kisah jilbab terangsang
- kisah eliza ngentot
- Kisah eliza 19
- kisah eliza 12
- kisah anak kost com
- jilbab bernafsu
- Orgasme pepek
- puting perkosa seragam
- rapat berakhir kenikmatan
- risih bugil didepan orang memekku vaginaku dientot
- seks jilbab penis
- Semua cairan memeknya kutelan
- semua cerita sex tentang eliza
- Sex aku di perkosa kepala sekolah
- Sex ikat mengikat dengan jilbab
- sex perkosaan krn mengintip
- tante menggenjot kontol 16 cm
- Perkosaan gangbang dan dukun mesum yg keji biadab
- perempuan berjilbab itu merintih penuh kenikmatan
- pentil eliza
- pak dukun jarinya masuk memekku
- payudara jilbab penis cerita
- Payudaraku jilbabku vaginaku
- pejuh nikmat co id
- pelacur ini mengerang keenakan
- Pelajaran ngentot dari lonte
- pemerkosaan eliza
- penis gde temanku
- penis gede bapak kost
- penisnya jilbabku
- Tante nyang keenaan di entot kontol nyang sangat besar
- Terangsang istri teman berjilbab
- vera memek
- www cerita sex didalam gudang
- www cerita sex ingintip lalu di perkosa
- www cerita sex jilbaber mesum di wc umum
- www cerita sex malam petaka
- www cerita sex pelecehan berakhir nikmat co id
- www cerita sex pelecehan sex berakhir nikmat
- www ceritase perkosaan berakhir kenikmatan com
- www gambar wanita jilbaber ngoral
- www kisah ngentot eliza
- www kontolku bersarang dimemek lonte com
- www cerita sex biadab com
- www cerita seks anak sekolah com
- www cerita seks akibat mengintip gadis
- www cerita aku dan vera main sex
- www cerita dewasa kisah dukun cabul dapat memek bnyak com
- www cerita dewasa petaka saat liburan
- www cerita eliza com
- www cerita jilbab bejat
- www cerita ngentot eliza
- www cerita ngentot karena mengintip
- www cerita ngentot sama bapak kost com
- www cerita ngentot wali murid
- www cerita pemerkosaan dukun bejad com
- memek jilbab nikmat
- Lenguhan jilbaber perawan
- meremas penis jilbab
- Mulai mendesah hebat
- multi orgasme perkosa melayani mereka takut ketahuan
- ngentot abg jilbab mendesah
- ngentot amoy nyaman
- ngentot berkat keenaan
- Ngentot dengan penis dukun
- Ngentot di bawah meja
- ngentot di gudang kosong
- ngentot dibawah meja
- meremas jilbab bapak
- menyibak jilbab penis
- mengulum pentil spg penuh kenikmatan
- lenguhan seks akhwat jilbaber
- lenguhan spg
- Melenguh dan mengerang sewaktu diperkosa
- Memek vera
- Memekku di perkosa sama dukun
- memekku tersodok oleh penismu
- memeku dientot nasabah
- mendesah dalam dekapan rame gangbang
- mendesah jilbab binal
- Wanita berjilbab di entot sampai puas
- ngentot didalam toilet
- Ngentot jeny cerita
- ngentot mbak farida
- NIKMATNYA DISETUBUHI DUKUN CABUL
- Nikmatnya disetubuhi teman
- nikmatnya jadi dukun cabul bisa ml
- nikmatnya jilbaber
- nikmatnya ngentot memek tante jenny
- nikmatnya perkosa eliza
- nikmatnya perkosa jilbab
- nikmatnya perkosa teman sekelas
- Nikmatnya sodokan penis dukun cabul
- Nikmatnyadientotdukun
- nikmatnya dioral istri temanku di rumahnya
- nikmatnya dientot oleh bapak kostku
- Nikmatnya dientot dukun
- ngentot memek wali kelas
- Ngentot pepekku tanpa ampun
- Ngentot temanku di gudang
- ngentotin jilbab belepotan sperma 3gp
- Ngesek bertiga dengan anak kost
- ngesex di pojok kantin
- nikmat terasa digauli dukun
- nikmatnya di perkosa dukun cabul
- Nikmatnya diaduk-aduk dan di perkosa dukun cabul
- Nikmatnya dientot dua lelaki
- ohh ohh enaaaaknya kontol gede
- Cerita mesum mengintip
- cerita ngesex akibat
- cerita ngesex di gua dengan dukun
- cerita ngetot di dalam toilet
- Cerita ngewe dengan tante eliza
- cerita ngewe dgn dua gadis berkerudung
- cerita ngewe di depan kelas
- Cerita ngewe di gudang sekolh
- Cerita nikmatnya dientot dukun cabul
- cerita nikmatnya pepek disumbat kontol keras
- Cerita nikmatnya seks dengan penis besar
- cerita ngentot sm sales
- cerita ngentot sex eliza
- cerita ngentot sama sales gatel
- cerita nafsu birahi pemerkosa di wc kampus
- cerita nafsu liar dukun cabul
- cerita ngentot abg eliza
- cerita ngentot akibat mengintip
- cerita Ngentot anak SMU sampai puas
- cerita ngentot bertiga dengan penis panjang dan besar
- cerita ngentot dengan bapak - bapak nakal di kost
- Cerita ngentot di bawah meja
- Cerita ngentot di gudang sekolah
- cerita ngentot istri berjilbab karna terpaksa
- cerita nikmatnya vagina disetubuhi dukun dengan penis besar
- cerita panas akhwat ditelanjangi
- cerita penis ereksi karena istri tetangga telanjang
- cerita perempuan berjilbab mesum
- cerita perkosaan dukun bejat
- Cerita perkosaan eliza
- cerita petaka gadis jilbab sex
- cerita porno - eliza
- cerita porno cina
- cerita porno di aku entot saat memakai jibab
- cerita porno eliza
- cerita sek bapak bejat
- Cerita pemerkosaan wanita berjilbab panjang
- cerita pemerkosaan eliza
- cerita pemerkosaan dengan dukun dan berakhir nikmat
- cerita panas bapak kost tersiksa menahan nikmat
- cerita panas eliza
- Cerita panas jilbab pelecehan di kereta api
- cerita panas kontol gede membikin puas gadis berkerudung
- cerita panas ngentotin eliza
- CERITA PANAS SETENGAH BAZA
- cerita panas wanita berjilbab mengulum penis
- cerita payudara jilbab tetangga penis
- cerita pelecehan akhwat di kereta
- cerita pelecehan jilbab
- cerita sek dukun cewek cina
- Cerita mesum jilbab lebar susu gede tubuh mulus
- 123 cerita dukun cabul
- berhasil melepas jilbab anus
- Bermain sex saling ikat mengikat
- cerita akhwat binal
- cerita akhwat dientot dukun
- Cerita akibat kontol berdiri

kpn kisah eliza yg k10 dtulis..
q dh gag sbar pngen bc lho..
q nanti yow..