Klub Tukar Istri Bagian 3 (Tiga)
Nov 6th, 2010 oleh Cerita Sex
Aroma jembut Ratih membuat nafsu Sinta semakin membara-bara. Ia mengemut-ngemut clitoris Ratih yang menjembul keluar dengan begitu semangat. Sembari melakukan itu, ia memasukkan tiga buah jari dan mengobel-ngobel memek Ratih dengan tidak kalah semangat. Cairan vagina ratih mengalir dengan deras diikuti dengan nafasnya yang sudah tersengal-sengal.
“Ahhhhh mbak Sinta…emmmh…aaaaahhhhhh…”
“Enak bengat mbak Ratih, aku ketagihan mbak…emmmmh…jilat punyaku mbak…”
Ratih mengangguk cepat dan mulai kembali sibuk menghisap-hisap memek sinta. Lidahnya ia sempilkan masuk ke dalam lubang kecil nan rapat itu dan dengan leluasanya diputar-putar dan ditekan-tekan. Tangan kanannya memainkan payudaranya yang lumayan besar. Putingnya sudah mancung dan sekeras mungkin. Sensasi nakal yang ia peroleh dari hubungan senggama penuh nafsu dengan Sinta begitu hebat membuatnya horny setengah mati. Tangannya yang lain mengelus-ngelus pantat Sinta yang mengkel dan halus menawan. Sesekali ia mengelus lubang anus Sinta dan menekan-nekan bagia luarnya dengan jari telunjuknya.
“Mbak…ahhh…jangan teken yang itu mbak…emmmh…”
“Kamu beneran gak mau…emmh..Sinta….hmmm?”
“Mbak jangan mbak…..emmmh…ooooh…”
Ratih tersenyum nakal dan menyelipkan jari telunjuknya masuk. Liang anusnya menjepit jari Ratih dengan begitu kencang dan rapat. Tubuh Sinta seketika juga bergetar hebat oleh sensasi baru.
“AHHHH…MBAK….AKU GAK KUAT MBAK…OOOH..”
“Masa sih mbak? emmmh…kok kayaknya kamu kesenengan ya? hmmm?”
Ia menekan masuk jari telunjuknya dan menekan masuk semakin cepat. Sinta mengerang hebat dan membenamkan kepalanya semakin jauh ke dalam selangkangan Ratih.
Maria melepaskan gigitannya dari puting Martha dan memandangi wajah wanita yang kelelahan itu. Ia menjilat habis bibirnya dan melumatnya penuh nafsu. Martha hanya bisa mengerang keenakan sambil tangannya semakin ganas memainkan memeknya sendiri.
“Mbak mau coba mainan baru aku enggak?”
“Emmmmg mainan baru apa mar? Aku mau dong…”
“Liat nih jeng, oke kan?”
Maria tersenyum nakal dan mengeluarkan sebuah dildo panjang dengan dua buah sisi.
“Aku mau dong mbak, kayaknya…emmmh…enak banget…”
Maria mulai merangkak turun dan bertualang ke selangkangan Martha. Dengan dildo panjang itu di tangan kanannya, ia mulai menjilati memek Martha yang sebenarnya sudah amat sangat basah itu. Martha hanya bisa menelengkan kepalanya keenakan. Ia melenguh keenakan bagai sapi. Maria mulai memasukkan kepala dildo yang satu perlahan-lahan ke dalam memek Martha yang sudah terbuka lebar.
“Kumasukki ya mbak…”
“Ahhhh…Maria…emmmh…enak banget…ahhhh.”
BLESSS!
“OOOHHH..emmmmhh…yang cepet maria..emmmmh….”
Maria menyodok-nyodok masuk dildo itu dnegan cepat dan Martha hanya bisa menggelinjang hebat. Payudaranya bergetar naik dan turun seiringan dengan irama masuk dildo itu dari tangan Martha.
“Ahhhh…emmmmmh….ooooh……mmmmmh…..cepet… .emmmmh….”
Maria mengehentikan gerakannya dan mulai memasukkan dildo itu ke memeknya sendiri. Mereka berdua sama-sama tidur terlentang dengan kedua pantat mereka bersentuhan dan sebuah dildo panjang menghubungkan memek mereka.
“Ahhhhhhh ahhhhhhh mbak martha, goyangin pinguul mbak dong…oooh…”
“Mmmmh mmmmh mmmmh ahhhhhhh….kamu juga dong mbak…emmmh….emmmh…”
Ratih dan Sinta mulai mengubah posisi mereka dan saling berpautan mulut. Sinta menciumi Ratih penuh nafsu dan meremas payudaranya kencang. Ratih tidak mau kalah dan menarik rambut panjang Sinta ke belakang dan menjilati leher Sinta yang halus dan menggairahkan.
“Emmh mbak Sinta, aku mau bantuin mereka deh..”
“Boleh kok mbak Ratih, kenapa enggak?”
Mereka berdua tersenyum dan merangkak menuju Maria dan Martha yang sama-sama menutup mara keenakan. Ratih mengenggam dildo itu tepat di tengah dan mulai menggesek-gesekkannya maju ke kanan dan ke kiri, menekan dildo itu keluar dan masuk secara bersamaan di memek Martha dan Maria. Tangan kirinya pun mulai memainkan clitorisnya sendiri akibat dirinya yang mulai bergairah memperhatikan erangan penuh nafsu dari Maria dan Martha. Sinta mendekati selangkangan Martha dan menjilati clitorisnya yang terjembul manis di balik hutan rimba sekelilingnya. Clitoris itu dipelintir Sinta dengan lidahnya dan sesekali ia hisap penuh nafsu.
“Mbak Sinta ahhhhh isapan mu…oooh..Ratih!…emmmmh…dildonya….ahhhh”
“Makin cepet Rat..ayo…emmmmh….aahhhh..oooohhhh.”
“Ahhhh…emmmmmmh ini cukup cepet mbak maria? emmmmhhh”
“Ahhhh ahhhh ahhhhh…emmmh…”
Ratih mulai menyondongkan tubuhnya menuju Maria dan menjilati puting merahnya yang sudah mencuat karena horny. Keempat wanita itupun melanjutkan “arisan” penuh nafsu selama satu jam ke depan tanpa menyadari bahwa ada dua orang laki-laki yang memperhatikan kegiatan mereka dari beranda di sebelah rumah mereka.
Yosua – Sabtu pukul 18.25
Yosua berjalan menghampiri Fendi yang baru saja membereskan meja kantornya.
“Hei kawan! Mau pulang cepat-cepat nih?”
“Iya boss, capek banget gw.”
“Capek ngapain lo?”
“Ya capek kerja lah! Emang capek mau ngapain lagi?”
“Hahahaha, gini bos. Gw mau nanya sesuatu.”
“Nanya apa?”
“Berhubung anak-anak kita semua lagi study tour hari ini, boleh gak gw maen ke rumah lo?”
“Mau ngapain?”
“Yah lo ngerti lah, hehehe.”
“Lah terus gw gimana? Nanti Mona tauk dong!”
“Masalah itu, gw udah nyiapin acara buat lo malem ini.”
Seorang wanita berjalan menghampiri mereka dari belakang.
“Selamat malam pak Yosua, jadi pak rencananya mau nganterin saya malem ini?”
Yosua dan Fendi berbalik secara bersamaan.
“Aduh Alia, maaf ya tapi saya ada krisis di rumah. Istri lagi resek.”
“Ohh, begitu pak.” Alia terlihat sedih dan murung. Wajah manisnya yang masih sangat muda dan menarik membuat Fendi begitu gregetan.
“Tetapi mungkin pak Fendi tidak keberatan mau nganterin kamu.”
“Benar pak?”
Fendi melirik Yosua bingung. Yosua mengkedipkan mata kanannya dan tersenyum picis. Fendi mengerti apa yang Yosua maksud.
“Sebentar ya Alia, saya mau berbicara sebentar dengan pak Yosua.”
“Baik pak.”
Fendi mengajak Yosua berjalan maju dan berbisik kepadanya.
“Lo gila ya Yos?”
“Gw tauk lo naksir ama dia, siapa yang enggak? Dan lagi dia juga kayaknya demen ama lo!”
“Iya juga sih, tapi apa gak sebaiknya gw maen ke rumah lo aja. Maksud gw ama Sinta gitu, biar kita..mmmh..impas?”
“Dia lagi dapet hari ini, kalau dia juga lagi gak dapet, mana mungki gw mau jalanin rencana ini?”
“Sial banget…” Fendi melirik ke arah Alia yang berdiri sambil memainkan handphonenya.
“Ya sudahlah, kapan lagi dapet durian runtuh seperti ini.”
Yosua tersenyum lebar.
Fendi – Sabtu pukul 18.40
“Silahkan masuk Alia.”
Fendi membukakan pintu mobil sedannya dan membiarkan Alia masuk
“Terima kasih pak.”
Dengan tidak sabar, Fendi masuk ke dalam mobilnya dan berpura-pura menunggu mobilnya panas.
“Sebentar ya Alia, kalau tidak panas, mobil ini sering mogok.”
“Aku juga, mmmh, enggak terburu-buru kok pak.” Alia tersenyum manis membalas perkataan Fendi.
“Rumah kamu dimana Alia?”
“Aku ngekost di daerah tanjung duren pak.”
“Enggak jauh dong ya dari sini.”
“Iya pak.”
“Enggak usah panggil aku bapak, Fendi saja.”
“Oke deh, emmmh….mas Fendi..”
“Gitu dong.” Fendi tersenyum lebar.
“Kamu sudah punya pacar Al?”
“Belum pak..mmmh…aku belum sempet.”
“Masa wanita secantik kamu belum dapat pacar?”
“Ahh bapak bisa saja…”
Fendi meletakkan tangannya di atas paha Alia dan memandangi wajah resepsionis cantik itu. Ia bisa mendengar nafas Alia yang semakin tidak teratur dan wajahnya yang semakin mendekat.
“Kamu cantik banget loh Al.”
“Ah…bapak…..gombal deh….”
Fendi menaikkan tangan kanannya dan mengelus pipi lembut Alia. Ia menarik wajahnya mendekat dan mencium bibir merahnya. Alia awalnya membalas ciuman itu dengan kikuk, namun setelah lidah mereka bertautan, ia semakin semangat dan mulai melumat bibir Fendi dengan tidak kalah bernafsu.
“Ahhhh..pak Fendi…emmmh…”
“Kamu wangi banget Alia…mmmmh…”
“Bapak…mmmh…mau main di kostan aku?”
Fendi tidak menjawab pertanyaan itu dan hanya tersenyum lebar. Ia langsung melepas rem tangan mobil itu dan mengendarainya cepat keluar dari gedung perkantorannya. Tangan kanannya sibuk mengendarai setir mobil matic miliknya sementara tangan kirinya tidak pernah ia angkat dari atas paha Alia.
Yosua – Sabtu pukul 19.20
“Mona, kamu sudah siap belum? Air baknya sudah penuh.”
“Siap dong mas.”
Yosua berbalik dan tertakjub melihat Mona yang tampil sangat seksi. Ia memakain daster tipis dari kain sutra sepanjang paha tanpa memakai daleman. Payudaranya terpampang indah dan memeknya membuat Yosua tidak bisa bersabar lagi. Rambutnya yang bergelombang ia biarkan tergerai indah. Perlahan ia berjalan menuju Yosua yang masih ternganga memperhatikan kecantikan Mona.
“Kamu cantik banget Mona.”
“Terima kasih Yos.” Ia mencium bibir Yosua mesra dan memautkan lidahnya dengan Yosua. Tangannya mulai menarik lepas dasi yang Yosua pakai dan membuka beberapa kancing pertama dari kemeja birunya.
“Masa kamu mau mandi pakai baju sih sayang?”
“Memangnya kita bakal mandi?”
“Memangnya kamu mau bajumu basah? Hmmm?”
Mona tersenyum nakal dan berjalan masuk menuju kamar mandinya. Bak panjang itu telah diisi air hangat hingga penuh dan Mona mulai membuka dasternya diikuti Yosua yang melepaskan ikat pinggang dan celana kerjanya.
Yosua melepaskan celana dalam putihnya dan berjalan masuk mengikuti Mona. Tidak lupa ia menutup pintu kamar mandi itu. Lekuk tubuh Mona yang menawan membuatnya semakin terangsang. Pantat Mona yang bulat bergetar dengan indah setiap kali ia berjalan mendekati bath-tubnya.
“Ayo dong Yos, kamu nunggu apa lagi?”
“Enggak nunggu apa-apa kok sayang.” Yosua memeluk Mona dari belakang dan mencium lehernya.
“Emmmh…Yos, aku masih keringetan loh..”
“Tapi keringet kamu saja wanginya, hmmmm, enak sekali…”
“Ahh… jangan dijilat leherku Yos…ahhhh….”
Mona mengangkat tangannya dan merenggut rambut Yosua yang sibuk mencumbu leher Mona. Nafasnya yang menderu-deru membuat Mona tidak kalah terangsang. Ia menggesek-gesekkan pantat sengkelnya ke penis Yosua. Dalam hitungan detik, batang keperkasaan Yosua berdiri tegap sudah.
“Mas sudah semangat aja nih…mmmmmhhh…”
“Kamu seksi sekali Mona…”
Mona melepaskan dirinya dari pelukan Yosua dan berjalan masuk ke dalam bath-tubnya yang sudah penuh. Ia melirik centil kepada Yosua dan menariknya masuk. Air hangat di dalam bak mandi itu tumpah bersamaan dengan masuknya kedua manusia yang digelapkan nafsu itu. Mona meletakkan kepalanya di bahu Yosua yang sedang bersender.
“Ahhhh…..emmmmmmhh…”
“Rileks saja Mona..”
“Mana aku bisa rileks kalau kamunya tegang begitu.” Tangannya menggenggam penis Yosua yang tidak melemas sama sekali.
“Kamu semangat sekali Mona…”
“Kamu juga kan mas?”
Tangan Yosua mulai memainkan payudara Mona, meremasnya halus penuh nafsu. Kedua tangannya mencubit-cubit payudara pink Mona yang semakin lama semakin keras. Mona mendesah penuh nafsu.
“Ahhhh…..Yosua….emmmmh…….ahhhhh…..”
“Kamu jangan cepat-cepat Mona, nanti aku keluarnya cepet gimana?”
“Ya udah deh mas, aku hisap saja gimana?”
“Masih perlu nanya?”
Mona tersenyum nakal dan merubah posisinya menjadi menungging. Yosua mengangkat pantatnya dan duduk di pojokan bath-tub dengan kakinya sedikit mengangkang. Mona langsung merangkak maju dan melahap habis penis Yosua yang sudah mengacung tinggi. Mona menjilat glans Yosua yang masih tertutupi sedikit kulup. Lidahnya menyelip masuk dan memaksa kulup itu tertarik ke bawah. Kepala penisnya yang berwarna ungu semakin keras setelah kulup itu berhasil ditarik Mona ke bawah.
“Ahhhh Mona, pela-pelan dong…emmmmh”
“Kamu seneng kan mas Yos? Hmmm?” Mona memasukkan semua penis Yosua ke dalam mulutnya dan mulai menggerakkan kepalanya maju ke depan dan ke belakang.
“Ahhhh…emmmhm….enak sekali Mona….”
“Mmmmmh mmmmhhhh”
“Ahhhh Mona, terus…ahhhh…terus…emmmh…”
Tangan Mona mulai meremas-remas biji Yosua dengan nafsu.
“Ahhh enak sekali penis kamu Yos..”
“Jilatan kamu juga…emmmmh…enak banget..”
Mona menurunkan kepalanya dan menjilat kedua kantung kemih itu satu persatu. Ia menghisap-hisap buah zakar itu satu persatu secara bergantian. Yosua mendesah hebat dan menggelinjang penuh nafsu.
“Ahhhhhh…mmmmmmh…..Mona….mmmmh….”
“Puuuaaaah….gantian ya sayang…”
“Tentu saja manis..” Yosua mencium Mona dan memutar tubuhnya mengganti posisi mereka. Yosua sekarang mulai menjongkok dan Mona menduduki ujung bath tub.
“Dijilat dong say…”
“Gak usah kamu minta Mona…Emmmmh”
“OOOOOHHH…aaaahhh….emmmmh”
Yosua menjilati memek Mona dengan begitu bernafsu. Lidahnya dimasukkan ke dalam lubang vaginanya dan diputar-putar penuh nafsu. Kepalanya semakin menekan masuk dan hidungnya menghirup aroma jembut Mona yang membuatnya semakin horny. Mona menggelinjang hebat dan mendesah lirih.
“Emmmmh…mas….enak banget mas…..ahhhh…”
Mona memainkan payudaranya. Ia menariknya ke atas dan menghisap putingnya sendiri.
“Ahhhh…emmmmhhh….mas…mas…..”
“Ada apa Mona?”
“Mau bantu aku enggak mas?”
“Bantu apa sayang?”
“Aku mau mas, cukur aku dong..”
“Cukur?”
“Iya mas…aku udah lama enggak..emmh..cukuran..”
“Kamu yakin?”
Mona mengangguk dan menjilat lidahnya sendiri. Yosua sedikit kebingungan mendengar permintaan Mona namun ia terlalu bernafsu untuk mempertanyakan permintaan aneh itu.
“Cukuran sama shave foamnya ada di situ mas.”
Yosua tidak berkata apa-apa dan berjalan keluar mengambil hal yang diminta oleh Mona. Ia kembali ke posisi sebelumnya dan mulai menutupi selangkangan Mona dengan shaving foam milik suaminya.
“Emmmmh..dingin mas…”
“Kamu beneran mau shave sekarang?”
“Ayo dong mas…aku udah enggak sabar nih..”
Yosua menekankan cukuran jenggot yang biasa Fendi pakai diselangkangannya. Ia mulai menarik cukuran itu ke bawah dan membersihkan jembut Mona perlahan-lahan. Sensasi dingin dari silet yang Yosua pakai membuat Mona semakin terangsang. Ia mendesah penuh nafsu dan bergetar hebat.
“Ahhhh…emmmmh…”
“Kamu sepertinya nafsu sekali dicukur begini Mon.”
“Aku enggak tahu mas…rasanya…baru gitu…emmmh…”
“Oke sudah bersih..”
Yosua membilas memek Mona dan membersihkan sisa-sisa foam dari selangkangannya.
“Bagaimana memekku sekarang mas?”
“Enggak kalah bantik kok dari sebelumnya..”
“Ah mas bisa aja…”
“Sudah basah saja nih Mona…”
“Emmmh…..masukin sekarang dong mas…”
Yosua berdiri dan mendekati Mona. Mona tanpa diberi aba-aba, menarik penis Yosua dan memaksanya masuk menuju memeknya yang sudah bersih dari bulu jembut.
“Ahhhh….Mas….besar banget….emmmmhhh”
“Kamu suka Mona? Hmmmm?”
“Ahhhhh…suka banget….emmmmmmhhh”
Yosua menggoyangkan pinggulnya maju ke depan dan ke belakang. Semakin lama ritmenya semakin cepat. Mona mendesah dan memeluk pundak Yosua. Yosua memainkan pinggulnya dan mulai menciumi puting Mona yang sudah keras setengah mati.
“Ahhhh mas…emmmmmhhhh…fuck! ahhhhh”
“Mona…emmmh…Mona….i love you…mmmmhh”
“I love you tooo……ahhhhh emmmmh..”
Tangan Mona melepas pelukannya dan mulai memainkan klitorisnya. Ia menekan-nekan klitorisnya semakin cepat seiring dengan tusukan masuk penis Yosua yang sudah mendekati puncaknya.
“Ahhh aku udah mau sampai Mona….emmmmh….”
“Aku…mmmmmhhh..juga mas….ahhhh…”
“Ohhh…ooohhhh…”
Cepet…mmmmh…cepet mas! mmmmhhh”
“OOOHHH….AHHHH…AHHHH…”
CROOOT CROOOT CROOOOT
Penis Yosua menyemburkan semua spermanya di dalam. Mona memeluk Yosua lemas dan mencium bibirnya. Ia melumat bibir Yosua penuh nafsu dan lidahnya berpautan penuh nafsu dengan lidah Yosua.
“Kamu hebat sekali Yosua, aku belum pernah sampai secepat itu…mmmmhhhh”
Yosua membalas ciuman Mona sambil melirik kamera yang ia pasang di bawah kloset yang merekam kegiatan bejat mereka secara sempurna hari itu.
Fendi – Sabtu pukul 19.34
“Ahhhh..ahhhh…ahhhhh..aaahhhhhh…”
“Enak Alia? Hmmmm?”
“Ahhh…ahhhh..pak Fendi…mmmmh…ahhh…ahhh..”
Fendi menunduk dan mencium punggung seksi Alia tanpa melepaskan penisnya dari memek Alia yang rapat dan benar-beanr basah.
“Emmmmh…mamak kamu sempit banget Alia…mmmmhhh….enak banget….”
“Ahhhh…ahhhhh…ohhhh pak….emmmhhhh…..”
“Kamu suka penis aku Alia? Hmmmm? Hmmmm?”
Fendi menghunuskan penisnya dalam-dalam dan menahan gerakannya. Alia menahan nafasnya dan mengerang kencang.
“Ahhhhhh…enak banget…emmmh..pak…ahhhhhhh”
“Bagaimana ya rasanya lubangmu yang lain?”
“Ahhhh…apa pak?”
Fendi melumasi lubang anus Alia dengan ludahnya. Ia memasukkan telunjuknya tanpa permisi pada Alia. Alia terkejut dan tubuhnya merinding geli. Ia mengerang kesakitan namun juga penuh nafsu.
“Ahhhh jangan pak…aku belum pernah..ahhh…”
“Setiap orang kan punya pertama kalinya Alia, hmmm?”
“Enggak pak…ahhh jangan…ahhhhh”
“Kamu bilangnya jangan tapi kok kayaknya malah semakin nafsu Al?”
“Emmmmh….pak…telunjuk bapak…ahhhh….anus saya rasanya aneh pak…”
“Siap ya bapak anal..”
“Jangan pak…ahhhhh.”
Fendi mengeluarkan penisnya dari memek Alia dan mengarahkannya sedikit ke atas.
“Pak enggak pak…ahhhhh…”
“Rileks saja Alia….”
“Ahhhh….emmmmmhhhh” ****** Fendi yang sedang kencang-kencangnya dipaksa masuk menuju lubang sempit itu. Ia semakin nafsu melihat penolakan dari Alia, terlebih lagi membayangkan istrinya sedang bersenggama dengan Yosua sekarang. Ia sudah tidak tahan lagi.
“OOOOH..PAKK!! AHHHH”
“Rileks Alia…ooohhh….rileks..”
Alia membenamkan kepalanya ke atas bantal untuk meredam teriakannya. Ia berkeringat basah dan seluruh tubuhnya menegang akibat sensasi penis Fendi di lubang anusnya.
Fendi yang mulai merasa nyaman mulai memainkan pinggulnya masuk dan keluar. Fendi melenguh penuh nafsu akibat sensasi jepitan kencang dari anus Alia.
“Sempit banget Alia…mmmhh”
“Perih pak…perihhh…ahhhh”
Fendi bisa melihat percikan darah di penisnya. Namun ia tidak menghentikan gerakannya.
“Kamu juga perih kan saat memek kamu pertama kali dijebol…Hmmm?”
“Ahhh..tapi pak itu kan sudah lama…ahhhh….sepuluh tahun yang…emmmh lalu!”
“Sekarang jadi enak kan? Hmmmm? Nanti juga kamu…ahhh….keenakan…ooooh…”
Air mata Alia mulai mengalir. Ia bahagia bisa merasakan hubungan bersenggama dengan Fendi, atasannya yang sudah menjadi sasarannya sejak ia mulai bekerja di perusahaan itu, namun rasa perih bercampur nikmat itu terlalu besar untuk bisa ia redam. Ia pasrah dan mulai berusaha menikmatinya.
BERSAMBUNG …