Cerita
Komentar

Mantap nih mahasiswi keren dari bandung… kalau kayak gini sih bisa betah tiap hari dirumah hahaha… :p

Para pembaca mungkin masih ingat mengenai kisahku dengan kakak ipar yang dulu membenciku, namun secara tak terduga akhirnya kami saling berbagi kenikmatan yang ternyata sebelumnya sudah sama-sama kami angankan. Hubungan kami berlanjut hingga beberapa lama. Kalau timbul hasratku (kontolku sudah ngaceng) maka aku mengirim SMS kepadanya agar diupayakan waktu untuk bertemu dan berbagi kenikmatan, demikian pula sebaliknya, kalau memek dia sudah sangat ingin ditembus oleh kontolku maka dialah yang mengirim SMS kepadaku; dan pada kenyataannya dialah yang lebih sering meminta aku agar memuaskan hasrat ngewenya yang masih menggebu-gebu. Dan sejak itu dia makin rajin melakukan senam seks untuk lebih menambah kenikmatan ngewe yang biasa kami lakukan. Oh ya, perlu pembaca ketahui bahwa kadang-kadang kami melakukan persetubuhan di rumahku dan kadang-kadang di rumahnya, tergantung situasi dan kondisi–kebetulan jarak antara rumahku dengan rumahnya cukup jauh–, atau di tempat-tempat lain yang kami rasa memungkinkan.

Pada suatu hari aku pergi ke rumahnya karena sebelumnya aku menerima SMS agar aku datang ke rumahnya pada hari itu karena memeknya sudah sangat ingin diewe oleh kontolku. Akupun dengan senang hati menyetujuinya karena kontolku pun sudah ingin dimasukkan ke dalam lubang memek sementara istriku semakin dingin saja. Seperti biasa aku melakukan olah raga dahulu agar badanku fit karena akan menghadapi pertempuran sengit; kontolku aku elus-elus karena dia merupakan unjung tombak yang siap menembus dan melobangi musuh, tapi musuh yang nikmaaaaaat.

Sesampai di rumah kakak iparku tersebut aku langsung masuk karena biasanya kalau sudah janjian seperti itu pintunya tidak pernah dikunci, malah kadang-kadang aku langsung masuk ke dalam kamarnya dan di sana ia sudah menunggu dengan tak sabar maka kalau begitu kami pun langsung melakukan pertempuran, pergumulan, dan per-ewe-an. Namun kali itu suasana sepi, kakak iparku tidak terlihat, di dalam kamarnya pun tidak ada. Aku cari di dapur tidak ada, kamar mandi pun kosong. Aku merasa agak kesal padahal nafsuku sudah menggelora dan kontolku sudah ngaceng dan berdenyut-denyut, haruskah kontolku kutenangkan kembali? Namun bagaimanakah caranya?

Naaah ……! Naaah……! Aku pun memanggil si Inah (Inah adalah pembantu rumah tangga kakakku yang sudah lama bekerja di sana, umurnya kira-kira 26 tahun, tapi sudah 4 tahun menjadi janda). Ya Maaas ….. ! Si Inah menjawab sambil menghampiriku. Sejenak aku terkesima, aku merasa pangling. Tidak seperti biasanya, kali ini si Inah berdandan dengan rapi dan seksi. Ia mengenakan celana panjang yang ketat sehingga segitiga memeknya tercetak dengan jelas, di bagian atasnya ia memakai kaos tanpa lengan dengan bagian dada yang terbuka sehingga terlihat pangkal teteknya yang putih mulus sangat menggairahkan dan ketiaknya dengan sedikit bulunya yang tersembul sehingga menyebabkan kontolku yang tadi sudah mulai lemas menjadi ngaceng kembali. Badannya harum oleh parfum. Aku baru sadar bahwa ternyata si Inah itu cantik dan seksi, tubuhnya bahenol, tidak kalah dengan gadis-gadis kota, hanya saja selama ini ia tidak pernah berdandan karena sibuk dengan pekerjaan di rumah.

“Ibu ke mana Nah?” tanyaku. “Ke kampung Mas bersama Bapak, tadi pagi ada telepon dari kampung yang menyuruh Ibu dan Bapak ke kampung, katanya sih ada urusan penting”, kata si Inah. “Kapan pulangnya?” tanyaku selanjutnya. “Katanya sih nanti sore”, jawab si Inah. “Ada pesan dari Ibu? tanyaku; si Inah menjawab ragu-ragu “Ada Mas, anu ……. anu ……..” “Anu anu apa Nah, kalau ngomong yang jelas dong!” kataku; “Anu Mas, kata Ibu mentimunnya diberikan saja kepada saya”, kata si Inah. “Mentimun, mentimun apa?” tanyaku heran. Si Inah semakin kelihatan gugup “anu mas mentimun yang dibawa oleh Mas”. Aku semakin bingung “Mentimun apa? Aku tidak pernah membawa mentimun”, kataku. “Anu Mas …….. mentimun Mas …… yang biasa dikulum oleh Ibu dan dimasukkan ke memeknya” kata si Inah. Aku merasa kaget, ternyata yang selama ini kulakukan dengan diam-diam dengan kakak iparku telah diketahui oleh si Inah. Aku kebingungan, apa yang harus kulakukan? Si Inah berkata lagi, “Ya tidak apa-apa Mas kalau Mas keberatan mah, tapi perbuatan Mas yang suka mengewe Ibu akan saya ceriterakan kepada Bapak”.

Mendengar permintaan serta ancamannya, ditambah lagi sebenarnya dari tadi aku sangat terangsang melihat kemolekan tubuh si Inah maka segera kuraih tubuh Inah ke pangkuanku (aku sedang duduk di kursi), aku cium bibirnya sambil tanganku bergerilya masuk ke dalam kausnya untuk menggarap teteknya. Si Inah mengerang dan merintih, ngngngnghhhhhh ……. ssssshhhhhh ….., kemudian ciumanku turun ke lehernya yang jenjang sementara tanganku berusaha melepaskan kaos yang membungkus tubuhnya. Ciumanku terus turun ke buah dadanya yang sudah tidak ditutupi oleh apa-apa, dan ternyata dia tidak memakai BH, aku hisap dan aku permainkan pentilnya dengan lidahku. Diperlakukan demikian si Inah menggelinjang-gelinjang keenakan sambil mulutnya tidak henti-hentinya mengeluarkan erangan dan jeritan lirih, aaaaaahhhhh …….. sssssssss …….. Mas nikmaaaaaat, terus Maaaaaaas ……… hisap terusssss …… Maassss.
Continue Reading »

Hakim Cabul

“Sidang diskors sampai besok!” Dan, Bambang mengetok palu tanda sidang ditunda. Sidang rencananya akan dilanjutkan besok untuk mendengarkan saksi-saksi lainnya. Sidang ini membahas dakwaan terhadap Irsan, seorang pengusaha yang terbukti melakukan tindakan suap untuk mendapatkan proyek triliunan rupiah yang tentu saja merugikan negara puluhan miliaran rupiah. Meskipun termasuk kasus besar yang sedang menjadi cover story di media tanah air, dari sidang ke sidang rasanya Bambang semakin tidak bisa mengalihkan matanya dari sosok wanita berumur 40-an tahun. Terlihat sangat cantik dan dibalut dengan keanggunan dan kemewahan penampilannya. Dari informasi anak buahnya, Bambang mengetahui nyonya cantik itu adalah isteri Irsan. Nyonya Nia, namanya. Di samping Nyonya Nia, adalah Tyas puteri sulungnya yang beranjak dewasa. Sama-sama cantik dan mempesona.

Sebagai Hakim, Bambang dengan mudah mendapatkan informasi tentang keluarga Irsan ini. Nyonya Nia, mantan seorang fotomodel yang cukup terkenal di zamannya. Pantas dia memiliki semua kecantikan itu. Si pemilik kulit putih ini menyukai olahraga senam yoga. Beberapa kali Bambang malah sudah mengintip Nyonya Nia saat latihan. Sangat menggairahkan ketika melihat tubuhnya yang masih langsing basah oleh peluh. Pakaian senamnya memperlihatkan lekuk tubuhnya yang sangat sempurna.

“Beruntung sekali Si Irsan ini,”Gumam Bambang dalam hati. Hampir seminggu ini, Hakim ini tidak mampu melupakan setiap lekuk tubuh Nyonya Nia. Tinggi semampai 175 cm, dengan tonjolan buah dada 34 D yang membuat gairah Sang Hakim begitu menggelora. Dan, aku harus bisa merasakan nikmatnya tubuh Nia ini, kata Bambang dalam hati sambil masuk ke ruang kerjanya.

Dan waktunya tiba. Besok isterinya dan anak-anaknya akan berangkat ke Yogya untuk mengunjungi rumah mertuanya, sambil liburan sekolah. Artinya, ada waktu seharian untuk merancang semuanya…..

Dalam perjalanan pulang dari airport usai mengantar keluarganya, Bambang menelpon Nyonya Nia lewat no hp baru yang sengaja dia siapkan untuk operasi ini.”Selamat siang Nyonya Nia. Saya Bambang, Anda pasti kenal. Saya punya cara untuk menyelamatkan Irsan Maulana,suami nyonya. Kalau nyonya tertarik datang ke Mall Taman Anggrek sekarang. Datang di depan lobi masuk. Jangan cerita siapa-siapa,termasuk keluarga Nyonya. Kejahatan suami ibu berat. Polisi pasti sedang membuntuti Nyonya sekarang. Nanti Nyonya saya kalau sudah sampai sana.”

Terlihat dari nada suara Nyonya Nia yang kaget karena tidak menyangka peristiwa ini. Bambang sengaja tidak memperpanjang percakapan. Dan perhitungan Bambang tidak meleset, selang beberapa lama kemudian, terlihat Nyonya Nia sudah di lobi, sendirian.

“Sekarang, naik taksi nyonya. Jalan sampai ke tempat yang saya perintahkan. Nanti Nyonya akan saya jemput.” Perintah Bambang lagi. Dan, Nyonya Nia pun menurut. Hehehehe, isteri yang baik, tapi akan ku rusak kesucianmu sebentar lagi, kata Bambang dalam hati.
Continue Reading »

Sejak masih kelas 1 SMP, Tasya sudah terlihat cantik. Dulu tubuhnya mungil. Berkulit bersih. (Bagi umumnya orang Jawa, kulitnya sudah termasuk putih) Di antara cewek sekelasnya kecantikannya paling menonjol. Tasya menjadi pusat perhatian juga karena kecerdasannya. Itu diakui oleh teman-teman dan para guru. Tetapi kekurangan Tasya adalah, dia cewek pemalu. Tidak PD. Bila didekati cowok, salting (salah tingkah) . Karena kekurangannya ini, Tasya tak punya banyak teman cowok. Meskipun sebenarnya banyak yang naksir berat sama dia. Diam-diam salah seorang gurunya menaruh hati pada cewek mungil ini. Pak Wid, yang di usia 40 masih sendiri. Bujang Lapuak, kata orang Minang. Sebagai guru, dia tahu diri, sadar usia, maka yang bisa dilakukan hanya sebatas menggoda atau kadang-kadang memberi tugas ringan, mengambilkan tas di kantor atau disuruh foto kopi soal di koperasi sekolah. Bagi Pak Wid, yang penting bisa dekat, bisa bicara dan kalau bisa, …. sedikit menyentuh tangannya atau mencubit pipinya. Itu sudah cukup. Begitu terus sampai kelas tiga dan lulus, Pak Wid belum berhasil pedekate. Bahkan sampai lulus!!!

Di mata para siswa, dia guru yang menyenangkan, berjiwa muda, pandai bikin lelucon segar saat mengajar dan ….. murah hati. Maka ketika mereka sudah lulus, masih sering mengunjungi rumah Pak Wid yang tinggal di situ ditemani ibunya yang sudah lanjut usia. Tidak heran jika acara reuni pertama mereka setelah 3 tahun meninggalkan SMP tercinta, diselenggarakan di rumah Pak Wid. Sederhana tetapi meriah. Acara demi acara lancar dan meninggalkan kesan yang mendalam. Hampir seluruh siswa hadir. Tidak terkecuali TASYA. Pak Wid belum melupakan Tasya. Guru jomblo itu masih memegang teguh tekadnya untuk mendapatkan Tasya. Acara reuni sudah selesai. Sudah banyak yang pulang. Pak Wid berusaha menahan sebentar agar cewek pujaannya itu tidak pulang dulu. Bujangan tua ini sudah menyiapkan trik menarik, dia berharap bisa berhasil.

“Tasya, jangan pulang dulu. Sebentaaaar saja.” “Ada, apa Pak.” Tasya menahan langkahnya di tangga teras. “Mumpung kamu pakai pakaian cantik, aku mau ambil gambarmu.” “Ah, malu, Pak!” Tasya langsung sembunyi di balik tubuh Kiki yang ada di dekatnya. Tetap saja dia masih pemalu. “ Dewi, Sumi dan Andre, temani Tasya. Dia malu foto sendirian.” Masih terasa wibawa Pak Wid sebagai guru. Beberapa anak bergaya di depan kamera. Tetapi Pak Wid hanya meng- close up Tasya saja. Mereka nggak tahu tipuan itu.. Selesai foto mereka keluar dari teras menuju motor masing-masing. Pak Wid melambai ke Tasya juga. Dia membocengkan Kiki, sahabat dekatnya. Akhirnya rumah itu sepi. Tetapi Pak Wid masih berdiri di pintu pekarangan. Ada sesuatu yang ditunggu. 2 menit, 3 menit sampai 7 menit tak ada apa-apa. Pak Wid melangkah masuk, tiba-tiba langkahnya terhenti dan menoleh. Dia mendengar suara sepeda motor mendekat. Pak Wid tersenyum. Pasti anak itu mau ambil helm yang sengaja disembunykan agar cewek pujaan htinya yang pemalu itu kembali saat yang lain sudah pulang.

“Aduuuuh, Pak, helmku di mana ya?” Tasya bertanya dengan cemas. “Lho, sudah sampai di mana? Kok baru ingat kalau nggak pake helm?” Pak Wid pura-pura heran. “Gara-gara saya difoto-foto tadi, jadi saya tertinggal teman-teman.” Tasya cemberut, dia protes. “Aku pake topi serasa pake helm.Ternyata belum pake helm. Untung Kiki mengingatkan.” “Wah, sorry Tasya. Betul juga kamu. Kalau masih banyak teman kan bisa bertanya .” Pak Wid mencoba menenangkan kepanikan cewek cantik itu. “Masuk sana! Dicari di dalam. Seingat kamu ditaruh di mana?” “Tadi di stang motor!” Tasya sangat yakin. Wajahnya menampakkan kecemasan. “Ya, siapa tahu ada yang meminjam tapi mengembalikan di tempat lain?” Pak Wid menjawab dengan kalem. Tasya masuk kembali ke rumah. Kiki ikut mencari. Pak Wid juga “ikut-ikutan” mencari. Tapi tidak ada. “Sudah, pake saja helm ku. Itu di motorku!” Pak Wid menawarkan jasa. Tasya ragu sejenak, tetapi merasa lega. Minimal dia bisa pinjam dulu untuk pulang. “Pinjam dulu, ya Pak?” mengambil helm yang ditunjukkan gurunya.
Continue Reading »

SPG Telkom Flexy

Enjoy aja bro n sis! ini foto mesum SPG telkom flexy!


Continue Reading »

« Newer Posts - Older Posts »