CERITA
KOMENTAR

ML Dengan ABG Bandung

ml dengan abg bandung 1

ml dengan abg bandung 2

ml dengan abg bandung 3

ml dengan abg bandung 4

ml dengan abg bandung 5
Mau yang lebih HOT? klik saja »

gangbang-abg-sma

Wew gila, ini anak sma kok bikin napsu sih ceweknya.. cantik cantik ternyata doyan di keroyok cowok ngentot gangbang rame rame…. bagus nih videonya download saja!

Kehidupan kota metropolitan sungguh sangat berlainan dengan kehidupan di kampung. Jalanan penuh dengan lalu lalang kendaraan, bergerak tak pernah berhenti. Bis kota, angkutan penumpang umum, mobil, motor dan yang lain-lain berseliweran tak karuan. Lalu lintas benar-benar semrawut. Sepertinya tak ada aturan. Mereka berjalan semau gue, ingin menang sendiri. Tak ada sopan santun di jalanan. Kemacetan sudah merupakan keharusan di kota ini. Para pengendara saling umpat menuntut haknya masing-masing. Pokoknya
membuat stress siapa saja yang hidup di kota ini. Tak heran karenanya para penghuni kota selalu mencari kesempatan untuk refreshing. Melupakan kehidupan yang begitu penuh dengan persaingan, saling ganjal, saling sikut demi kepentingan pribadi. Mereka ada yang pergi ke luar kota, ke daerah pegunungan, ke pantai atau ada juga yang datang ke tempat-tempat hiburan sekedar mendengarkan musik sambil minum-minum bersama teman-temannya.

Setelah hidup tiga bulan di kota ini, aku sudah mulai bisa menyesuaikan diri dengan gaya kehidupan di sini. Aku pernah juga menyempatkan diri mampir ke sebuah café untuk mencari hiburan hanya sekedar melepaskan kepenatan keseibukanku sehari-hari. Aku pun sudah tak berhubungan dengan suamiku lagi setelah kuminta surat cerai darinya, meski kutahu ia berada di kota tempatku kini tinggal. Terakhir kali kami bertemu di suatu tempat dan ia menyatakan maaf atas segala perlakuannya selama ini. Aku memaafkannya dan meminta untuk tidak lagi berhubungan demi kepentingan bersama. Suamiku sebenarnya masih mencintaiku namun keadaan memang tidak memungkinkan lagi. Ia akhirnya menyatakan selamat tinggal dan meninggalkan selembar cek bernilai sangat besar. Katanya untuk menunjang kebutuhanku sehari-hari.

Sebelum aku datang ke kota ini, aku sudah mempersiapkan diri untuk mencari kesibukan. Beruntunglah aku berkenalan dengan seorang wanita pengusaha. Usianya tak jauh berbeda denganku. Orangnya pandai bergaul, ramah dan pintar. Namanya Nuraini. Aku memanggilnya Mbak Rini, karena ia memang meminta dipanggil seperti itu. Cantik, tinggi semampai, tubuhnya montok dan suka berpakaian seksi. Orang bilang tipe ‘Bangkok’. Penampilannya memang sempurna. Wanita berkelas. Katanya ia kenal dengan orang-orang penting dikota ini. Pejabat pemerintah, konglomerat sampai ke jenderal-jenderal dikenalnya dengan baik. Aku tak tahu bagaimana ia bisa menjalin hubungan dengan mereka. Tapi yang pasti, kalau melihat penampilannya yang serba ‘wah’, aku percaya dengan pengakuannya itu. Siapa yang tak suka berhubungan dengan Mbak Rini yang cantik dan seksi itu.

Aku sering berhubungan dengannya dan banyak meminta nasihat, saran berkaitan dengan bisnis di kota ini yang penuh dengan persaingan ketat. Aku pun mau tak mau harus bisa mengimbangi gaya hidupnya yang serba aktif, termasuk mengunjungi tempat-tempat hiburan atau lebih dikenal dengan istilah ‘Dugem’.

Sore tadi aku ditelepon Mbak Rini untuk bertemu di sebuah café yang kebetulan tak begitu jauh dari tempat tinggalku. Katanya aku akan dikenalkan dengan seorang pengusaha besar. Mbak Rini berjanji akan mengikutsertakan diriku untuk sama-sama mengerjakan proyek besar dari pengusaha ini. Di telepon dia wanti-wanti agar aku berdandan secantik mungkin, bahkan kalau bisa seseksi mungkin. Aku tertawa saja mendengar permintaannya itu dan kukatakan ada-ada saja, masa bertemu dengan pengusaha saja harus berpakaian seksi, kataku polos. Tetapi ketika berangkat aku berpakaian seksi juga pada akhirnya.

Sebelum keluar pintu rumah, aku masih menyempatkan diri bercermin di depan kaca yang ada di ruang tamu. Kuperhatikan dandananku agar tak membuat malu Mbak Rini nantinya. Aku cukup puas dengan penampilanku. Blouse warna hitam itu sangat cocok sekali dengan warna kulitku yang putih bersih. Melekat ketat mencetak bentuk tubuhku sehingga memperlihatkan lekukan-lekukannya, terutama di bagian dada. Payudaraku nampak membusung penuh di balik blouse ketat ini. Bahkan kancing bagian atasnya sampai susah dimasukan ke dalam lubangnya saking ketatnya. Aku agak jengah melihat tonjolan dadaku sendiri. Ke bawahnya kupadu dengan rok sebatas lutut. Aku sengaja memakai rok ini supaya bentuk kakiku yang ramping dan betisku yang indah kelihatan cantik. Aku puas dengan dandananku.

Setengah jam kemudian aku sudah berada di café itu. Aku celingukan mencari Mbak Rini di tengah keramaian orang-orang yang berlalu lalang di sana. Agak gugup juga aku berada di sana, mungkin belum terbiasa dengan kehidupan malam seperti ini meski telah beberapa kali mencobanya. Selang beberapa menit, aku menemukannya di pojok ruangan café itu tengah duduk berdua dengan seorang pria. Mbak Rini segera melambaikan tangannya padaku saat kumelangkah ke sana.

“Sini buruan,” panggilnya.
“Nah, kenalin ini teman saya. Cantik khan?” katanya kemudian seraya memperkenalkanku kepada pria di sampingnya.
“Anna,” ucapku lirih malu-malu sambil menyodorkan tanganku menyambut uluran tangan pria itu.
“Aku Rudy,” balasnya segera sambil tersenyum padaku.

Nampaknya pria ini sudah berumur namun penampilannya masih segar, penuh vitalitas, dan juga harum, dengan wewangian yang terasa aroma maskulinitasnya. Orangnya masih gagah walau sudah berumur. Tubuhnya pun tinggi, tegap, dan kekar. Aku dapat merasakannya dari genggaman tangannya yang kuat, dan pemandangan samar bukit dadanya dari balik kemeja yang dipakainya. Telapak tangannya yang besar menggenggam habis tanganku yang mungil. Orangnya ramah, berkharisma, dan menarik. Kuperhatikan wajahnya yang cukup tampan itu. Kekagumanku pun semakin bertambah. Penampilannya benar-benar ‘dandy’. Pakaiannya kelihatan mahal. Cukup meyakinkan menjadi pengusaha besar.

“Silakan duduk,” ucapnya sopan. Tempat duduk itu berbentuk setengah lingkaran merapat ke dinding dilengkapi meja di depannya. Tadinya aku mau duduk paling ujung akan tetapi Mbak Rini menyuruhku bergeser lebih ke dalam agar ada tempat duduk baginya. Sementara dari ujung sana, Mas Rudy, demikian aku memanggilnya karena kulihat ia sudah berumur, bergeser masuk untuk duduk sehingga praktis aku berada di antara mereka berdua. Aku lirik Mbak Rini sebagai tanda protes karena posisiku yang terjepit tak ada jalan keluar. Lucunya, ia malah mengedipkan mata entah apa maksudnya. Sedangkan dari sisi lain, Mas Rudy terus merapat padaku sehingga kurasakan bahu kami saling bersentuhan. Aku jadi kebingungan oleh keadaan ini. Lagi-lagi Mbak Rini mengedipkan matanya, kali ini sambil berbisik “santai aja,” katanya.

Kami mulai mengobrol ngalor ngidul. Tanya ini dan itu diselingi canda gurau antara Mas Rudy dengan Mbak Rini yang agak berbau porno. Kelihatannya mereka sudah akrab betul. Bahkan sekali-sekali Mbak Rini mencubit lengan Mas Rudy sambil tertawa manja, bahkan genit. Sementara aku yang berada di antara mereka hanya bisa tersenyum serba salah mengikuti canda mereka yang semakin lama semakin seru. Karena berada di tengah mereka jadi sudah pasti aku terkena sentuhan mereka saat saling cubit. Bahkan tangan Mas Rudy sempat nyerempet buah dadaku yang menonjol terlalu ke depan saat ia mencubit tangan Mbak Rini.
Mau yang lebih HOT? klik saja »

Ngentot Cewek Pake Jilbab

Gila pas nemu video ini gue kaget setengah mati…. ternyata cewek jilbab itu munafik…. nafsunya tinggi banget tapi doyannya sama om om atau bapak bapak ternyata, lihat saja video ini ngentotnya sama yang tua-tua ternyata sodara-sodara…. jilbab sekarang bukan jaminan orang itu alim ini salah satu buktinya mereka juga manusia yang punya nafsu birahi yang harus dipuaskan oleh laku-laki….. enjoy…. ada 3 seri

Download:

Seri I

Seri II

Seri III

Ceritanya sensual dan bikin horny banget, cewek jepang doyan ngentot di entot sama cowok cowok jepang sampai orgasme lalu di gangbang hmmmm mantap deh pokoknya putih mulus menggairahkan……

Download Klik

Awalnya aku tak terlalu tertarik dengan pasangan suami-istri muda yang baru tinggal di samping rumahku itu. Suaminya yang bernama Bram, berusia sekitar 32 tahun, merupakan seorang pria dengan wajah tirus dan dingin. Sangat mahal senyum. Sedang istrinya, seorang wanita 23 tahun, bertubuh sintal yang memiliki sepasang mata membola cantik, raut wajah khas wanita Jawa. Tak beda jauh dengan suaminya, dia juga terlihat kaku dan tertutup. Tapi watak itu, agaknya lebih disebabkan oleh sikap pendiam dan pemalunya. Sehari-harinya, dia selalu mengenakan pakaian kebaya. Latar belakang kehidupan pedesaan wanita berambut ikal panjang ini, terlihat masih cukup kental, Jakarta tak membuatnya berubah. Aku hanya sempat bicara dan bertemu lebih dekat dengan pasangan ini, dihari pertama mereka pindah. Saat mengangkat barang-barangnya, aku kebetulan baru pulang dari jogging dan lewat di depan pintu pagar halaman rumah yang mereka kontrak. Setelah itu, aku tak pernah lagi kontak dengan keduanya. Aku juga tak merasa perlu untuk mengurusi mereka
.
Perasaan dan pikiranku mulai berubah, khususnya terhadap si Istri yang bernama Maryati, ketika suatu pagi bangun dari tidur aku duduk di balik jendela. Dari arah sana, secara kebetulan, juga melalui jendela kamarnya, aku menyaksikan si Istri sedang melayani suaminya dengan sangat telaten dan penuh kasih. Mulai menemani makan, mengenakan pakaian, memasang kaos kaki, sepatu, membetulkan letak baju, sampai ketika mencium suaminya yang sedang bersiap-siap untuk turun kerja, semua itu kusaksikan dengan jelas. Aku punya kesimpulan wanita lumayan cantik itu sangat mencintai pasangan hidupnya yang berwajah dingin tersebut.

Entah mengapa, tiba-tiba saja muncul pertanyaan nakal di otakku. Apakah Istri seperti itu memang memiliki kesetiaan yang benar-benar tulus dan jauh dari pikiran macam-macam terhadap suaminya? Sebutlah misalnya berhayal pada suatu ketika bisa melakukan petualangan seksual dengan lelaki lain? Apakah seorang istri seperti itu mampu bertahan dari godaan seks yang kuat, jika pada suatu ketika, dia terposisikan secara paksa kepada suatu kondisi yang memungkinkannya bermain seks dengan pria lain? Apakah dalam situasi seperti itu, dia akan melawan, menolak secara total meski keselamatannya terancam? Atau apakah dia justru melihatnya sebagai peluang untuk dimanfaatkan, dengan dalih ketidakberdayaan karena berada dibawah ancaman? Pertanyaan-pertanyaan itu, secara kuat menyelimuti otak dudaku yang memang kotor dan suka berhayal tentang penyimpangan seksual. Sekaligus juga akhirnya melahirkan sebuah rencana biadab, yang jelas sarat dengan resiko dosa dan hukum yang berat. Aku ingin memperkosa Maryati! Wuah! Tapi itulah memang tekad yang terbangun kuat di otak binatangku.
Mau yang lebih HOT? klik saja »

Napsunya majikanku

Aku Dina, saat itu aku sedang berkelana di Bali, sebabnya adalah karena aku bertengkar dengan ayahku (ibuku sudah meninggal). Ayahku mengatakan bahwa aku tidak produktif, karena tiap ari kerjaku hanya menghambur2kan uangnya saja dengan belanja sana sini. Memang aku ini maniak blanja, laper mata sehingga melihat apa saja yang bagus kubeli, padahal aku gak butuh2 amat. Kebetulan kondisi keuangan ayahku mendukung kebiasaan maniakku itu. Aya sering menegurku karena kebiasaanku yang tidak produktif itu. Aku tersinggung, sehingga timbul keinginanku untuk hidup mandiri, dan lokasi yang kupilih adalah Bali, kata temenku disana banyaklah kerjaan kalo mau kerja apa saja. Begitulah, akhirnya aku terdampar di Bali, seorang diri, tanpa sodara dan teman. Mula2 bingung juga aku mo ngapain. aku settle di satu losmen yang mur mer, untuk menghemat pengeluaranku. Mencari makan juga di warung2 sederhana yang mur mer juga. Cukup sengsara hidupku diawal2nya karena aku sudah terbiasa dengan kehidupan yang serba kecukupan di rumah ayahku. Tetapi tekadku untuk mandiri, lepas dari ayahku kupelihara teguh,
rasa sengsara, perlahan2 menjadi biasa karena aku berusaha keras untuk menikmatinya. Segala macam usaha untuk mendapatkan uang walaupun sedikti aku lakukan, demikianlah aku kerja serabutan, apa saja kulakoni, kecuali yang satu itu, jual diri. Terus terang saja, waktu tinggal dengan ayahku, aku mempunyai banyak pacar, dan dengan pacar2ku itu aku sering sekali mereguk kenikmatan sex. Ini yang kadang menyiksaku, ampir gak tahan aku menahan diri untuk tidak ngesex dengan lelaki yang banyak seliweran disekitarku. Mereka suka dengan kecantikanku yang alami, warna kulitku yang **********, tubuhku proporsional, toketku gak besar tapi gak bisa dibilang tocil. Pinggulku agak besar, sehingga kalo lelaki melihat aku memakai celana ketat baik panjang maupun pendek, dari belakang pasti napsu melihat gerakan pinggulku yang seirama dengan langkahku. Pinggulku menggeyol indah kekiri kekanan. Ada juga lelaki bule yang ngganteng banget, kaya aktor hollywood, yang terang2an ngajakin aq ngesex, malah dia menjanjikan segepok dolar amrik kalo aku bisa meladenin napsunya, tapi aku masih coba bertahan untuk tidak menerima tawaran yang sangat2 menggiurkan itu, dapet uang dan dapet kepuasan sex , palagi kan katanya kon tol bule tu gede panjang. kon tol pacar2ku ya
standard ukuran orang kitalah, walaupun harus diakui aku mendapat kenikmatan juga dari kon tol2 standard itu.

Sampe satu siang, ketika aku berjalan didepan sebuah rumah makan, tiba2 ada sebuah sedan mewah yang memotong didepanku, sehingga aku terjatuh. Dari dalem mobil mewah itu keluar lelaki. Melihat wajahnya, rasa marah yang meluap2 karena aku diserempet sampe jatuh (kaya Cici Paramida aja ya) walaupun gak sampe lecet2, sirna seketika. Lelaki itu sangat tampan, bodinya sangat atletis. Dia segera menolongku bangkit sambil minta maaf dengan sangat. “Wah mbak, maaf sekali ya, saya sedang terburu2, sehingga gak liat mbak lagi jalan. Ada yang luka mbak, ay0 saya antar ke rumah sakit”. “Gak kok mas, cuma kaget saja”. Dia mengeluarkan hp nya, dia berbicara dengan seseorang untuk mengcancel pertemuannya siang ini. “Wah mbak, sebagai permintaan maaf dan bersyukur karena mbak gak sampe luka, gimana kalo saya traktir makan siang di resto ini”. Aku melihat nama restonya, wah ini resto mewah yang makanannya mahal2, di deket rumah ayahku juga ada resto ini. “Ya deh mas, atau saya manggil apa enaknya”. “Saya … (dia menyebutkan
namanya), mo manggil mas bole, manggil nama juga bole kok. Kalo mbak?” “Aku panggil mas aja deh ya, kayanya mas jauh lebi tua dari aku. Aku Dina, mas”. Aku digandengnya masuk restoran yang terletak dipinggir pantai. Kelihatannya dia sudah menjadi pelanggan resto ini, kelihatan dari banyaknya waiter yang eknal dia. Dia milih tempat menghadap kelaut. “MO makan apa mbak?” “Jangan panggil mbak ah, Dina aja”. “Ya deh, Dina mo makan apa”. “Aku ikutan mas aja deh, mas kan yang tau menu yang enak2 dari restoran ini”. “Doyan seafood kan?” “Doyan mas, aku apa juga aku makan, kecuali batu ma kayu ma beling”. “Bisa aja kamu, kok beling”.
“Soalnya aku belon blajar ilmu kuda lumping”. Tertawanya berderai mendengar guyonanku. “Bener kan tadi gak apa2 kamu Din”. “Gak apa kok mas, aku cuma kaget”. “Sekarang masih kaget?” “Masih mas”. “Lo kok masi kaget”. “Ya mas, kaget, kok ada ya lelaki didunia ini yang seganteng mas”. “Bisa aja kamu”. Demikianlah selama makan, kami bercanda2. Setelah makan selesai, dia bertanya lagi. “Kamu ke bali dalam rangka apa Din?”. aku menceritakan kondisiku dengan ringkas. “O, kamu lagi cari kerjaan toh, ditempatku aja, mau?” “Jadi apa mas”. Aku perlu asisten buat koordinir kerjaan di rumahku, ya kerjaan rumah tangga lah”. “Jadi pembantu gitu?” “O enggaklah, masak prempuan secantik dan seseksi kamu dijadiin pembantu. Kaya kepala house keeping gitu, mau gak, bole tinggal dirumahku kok, gratis, makan minum juga gratis”. “Tapi gak dapet gaji?” “Ya dapet lah, mau ya. butuhnya urgetnt neh, kalo gak kasian asistenku yang sekarang ini, dia dah bantu aku di pekerjaan, masih juga ketiban kerjaan ngurus rumahku”. “Iya deh, buat mas yang ganteng apa si yang enggak?” “Oke kalo gitu mulai hari ini ya, abis makan kita ambil
barang2 kamu dari losmen, dan kerumahku. Aku akan kasi kamu …. sebulan (dia menyebutkan satu angka yang besar). “Mau mas”. Demikianlah aku pindah dari losmen murahan kerumahnya yang lebih besar lagi dari rumah ayahku. Aku diperkenalkan kepada sejumlah pembantu, ada yang urusan membersihkan rumah, cuci mencuci, masak memasak dan membersihkan dan merawat kebunnya yang luas, disamping ada seorang driver. Mereka semua hormat padaku, karen aku diperkenalkan sebagai kepala house keeping. Aku diajak ke satu kamar, besarnya seperti kamarku dirumah ayahku, ada soundsystem dan tv besar, pake ac pula (dilosmen aku bermandi kringet tiap malem karena so pasti murah ya tanpa fasilitas
apa2, termasuk ac). “Wah mas, enak banget ya kerja ma mas”. “Ya udah, kamu sosialisasi ma para pembantu, aku mesti pergi ke kantor ya”. Aku ditinggal bersama sejumlah pembantu, aku mencoba akrab dengan mereka semua dengan bersikap merendah. “Ibu bapak, aku cuma kebetulan disuru jadi kepala house keeping, tapi aku tu pasti kala pengalaman ma ibu bapak, jadi kerjaan kita kroyok rame2 ya, aku bersedia kok melakukan kerjaan ibu bapak juga”. Mereka senang karena aku gak sok2an, mentang2 ditunjuk jadi kepala, sebentar saja aku dah bisa berakrab2 dengan mereka semua, ngatur kerjaan dengan mereka semua. Cuma mereka sungkan kalo aku mbantu melakukannya. Ya udah akhirnya ya kalo mereka sibuk
banget aku bantu, kalo enggak ya aku santai saja. Di halaman belakang rumah ada kolam renang yang lumayan luas, kerjaan pak bon yang membersihkan kolam yang jarang sekali dipake seminggu sekali. Aku dengan segala senang hati mbantu pak bon yang dah berumur itu membersihkan kotoran yang nempel didinding kolam. Denag pak sopir, aku juga bisa berakrab2, palagi pak sopirlah yang mengantarkan aku membeli semua keperluan rumah tangga, dan diriku sendiri, dengan catatan si mas gak make mobilnya. Kadang karena tau aku perlu banget pergi, si mas rela nyetir sendiri kekantornya supaya pak sopir bisa nganterian aku kesana kemari dengan mobil satunya lagi, gak semewah mobil si mas yang pasti,
tapi cukuplah untuk beli2 ini itu. Maklumlah si mas itu pengusaha yang sukses dalam bisnis mobil mewah import build up. Demikianlah aku menjalani hari2ku dengan segala senang hati, kerjaan gak berat2 amat, uang berlimpah karena semua kebutuhan hidupku dipenuhi si mas, malah kadang si mas membelikan aku pakaian kalo aku harus ikut bantu di kantor. Kadang ada event besar dimana aku juga harus turut bantu asisten yang satunya lagi. yaman sekali kan.
Mau yang lebih HOT? klik saja »

« Cerita terbaru - Cerita lama »