<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Cerita sex porno ngentot mesum perek ayam kampus &#187; anal seks</title>
	<atom:link href="http://www.ceritasex.cn/tag/anal-seks/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.ceritasex.cn</link>
	<description>Kumpulan cerita sex, foto bugil, dan film porno</description>
	<lastBuildDate>Wed, 08 Feb 2012 13:12:08 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
		<item>
		<title>Cik Mei Lin tetanggaku</title>
		<link>http://www.ceritasex.cn/cik-mei-lin-tetanggaku/</link>
		<comments>http://www.ceritasex.cn/cik-mei-lin-tetanggaku/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 08 Feb 2012 13:12:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cerita Sex</dc:creator>
				<category><![CDATA[Amoy]]></category>
		<category><![CDATA[anal seks]]></category>
		<category><![CDATA[Paruh baya]]></category>
		<category><![CDATA[Seks Umum]]></category>
		<category><![CDATA[selingkuh]]></category>
		<category><![CDATA[Tante Girang]]></category>
		<category><![CDATA[amoy]]></category>
		<category><![CDATA[anus]]></category>
		<category><![CDATA[cina binal]]></category>
		<category><![CDATA[kontol]]></category>
		<category><![CDATA[mei lin]]></category>
		<category><![CDATA[memek]]></category>
		<category><![CDATA[ngentot]]></category>
		<category><![CDATA[ngeseks]]></category>
		<category><![CDATA[perempuan binal]]></category>
		<category><![CDATA[sperma]]></category>
		<category><![CDATA[vagina]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ceritasex.cn/?p=3309</guid>
		<description><![CDATA[Namaku Iwan. Usiaku saat ini 21 th. Aku kuliah di sebuah perguruan tinggi di Jakarta. Sambil kuliah aku bekerja di sebuah perusahaan swasta. Gajinya tidak terlalu besar, tapi lumayanlah untuk menambah uang kuliah. Aku kost tak jauh dari kampus. Kamar kostku berada dilantai atas paling ujung. Sehingga jendela kamarku langsung menghadap ke depan dengan sebuah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Namaku Iwan. Usiaku saat ini 21 th. Aku kuliah di sebuah perguruan tinggi di Jakarta. Sambil kuliah aku bekerja di sebuah perusahaan swasta. Gajinya tidak terlalu besar, tapi lumayanlah untuk menambah uang kuliah. Aku kost tak jauh dari kampus. Kamar kostku berada dilantai atas paling ujung. Sehingga jendela kamarku langsung menghadap ke depan dengan sebuah pintu keluar. Di seberang rumah kostku tinggal sebuah keluarga muda. Aku tidak tahu siapa nama suaminya. Aku hanya tahu istrinya bernama Linda, tapi biasa dipanggil Cik Mei Lin. Dia wanita keturunan cina. Cik Mei Lin berusia sekitar 30 th. Dia sudah punya seorang akan berusia lima tahun. Suami Cik Mei Lin jarang di rumah. Aku tak tahu ia bekerja dimana. Ia pulang hanya sekali seminggu. Bahkan pernah hingga satu bulan tidak pulang. Itu sebabnya Cik Mei Lin lebih sering sendiri di rumahnya bersama anaknya.Kisah ini bermula di pagi hari saat aku bangun tidur. Hari itu aku libur kerja dan tidak ada jadwal kuliah. Saat itu aku melihat Cik Mei Lin sedang menjemur pakaian. Cik Mei Lin mengenakan kaos tipis tanpa lengan.</p>
<p style="text-align: justify;">Kaosnya agak basah, mungkin terkena air sewaktu ia mencuci baju. Dari kamar aku bisa melihat jika Cik Mei Lin tidak memakai bra. Buah dadanya yang montok tercetak jelas lengkap dengan putingnya.Saat itu Cik Mei Lin juga hanya memakai celana pedek ketat yang juga basah. Bongkahan pantatnya yang bulat tercetak jelas. Anehnya tidak ada bayangan segitiga di pantatnya yang sexy. Aku yakin saat itu Cik Mei Lin tidak memakai cd. Aku langsung terangsang melihat pemandangan itu. Ingin sekali aku remas-remas buah dada dan pantat sexy Cik Mei Lin. Sejak itulah aku sering berfantasi bersama tubuh sexy Cik Mei Lin. Aku sering onani sambil membayangkan tubuh Cik Mei. Lama-lama aku tidak puas jika hanya onani sambil membayangkan tubuh Cik Mei Lin. Suatu pagi saat Cik Mei Lin menjemur pakaian aku onani sambil memandang Cik Mei Lin yang lagi-lagi memakai baju tipis dan basah. Kepuasan yang aku rasakan lebih hebat. Semakin lama aku semakin berani. Aku mulai berani bugil di depan Cik Mei Lin. Aku berharap ia melihatku bugil dan terangsang.</p>
<p style="text-align: justify;">Tapi aku tidak berani secara terang-terangan bugil di depan Cik Mei Lin. Aku takut ia marah karena perbuatanku. Aku membuat seolah-olah kejadian itu sebuah kebetulan. Saat Cik Mei Lin sedang menjemur pakaian aku berpura-pura sedang membuka pintu kamarku yang tepat menghadap ke pintu atas rumah Cik Mei Lin. Aku yakin ia pasti akan menoleh kearahku. Dan tepat, saat itu Cik Mei Lin melihat kearahku yang benar-benar bugil. Aku puas sekali&#8230;. Aku jadi ketagihan melakukan hal itu, bugil di depan Cik Mei Lin. Sebenarnya aku berharap Cik Mei Lin akan membalas perbuatanku dengan bugil pula. Kalaupun tidak bugil polos, aku berharap bisa melihat Cik Mei Lin hanya memakai cd dan bra saja. Tapi sayang harapanku tidak tercapai. Aku khawatir Cik Mei Lin mulai marah kepadaku. Akhirnya perlahan-lahan aku mulai menghentikan kebiasaanku itu. Suatu hari aku bertemu Cik Mei Lin di sebuah minimarket. Aku akan membeli sabun mandi dan pasta gigi yang habis. Saat mengambil sabun mandi aku terkejut karena Cik Mei Lin juga akanmengambil sabun mandi. Aku menyapa dengan tersenyum kepadanya. Ia membalas senyumanku.<br />
<span id="more-3309"></span><br />
“Kok nggak pernah telanjang lagi&#8230;.,”kata Cik Mei Lin saat berada tepat di sebelahku. Aku terkejut dengan pertanyaan itu.”Ooh maaf Cik Mei, aku nggak sopan,”jawabku agak takut. “Ah gak papa, aku suka kok lihat kamu bugil,burungmu besar,”balas Cik Mei Lin sambil mendekatkan bibirnya di telingaku. “Entar malem bugil lagi ya, aku tunggu di teras atas,”lanjut Cik Mei Lin. “Boleh, tapi Cik Mei harus bugil juga,”jawabku. Cik Mei Lin tersenyum sambil mengedipkan mata. Sebelum pulang kami saling bertukar nomor hp Malam itu aku sedang santai. Aku bersiap untuk aksi nanti malam, bugil bareng Cik Mei Lin. Tiba-tiba ada sms di hp ku. “Jgn lupa ya nti mlm qt bugil bareng” itu yang dikirimkan Cik Mei Lin di sms-nya. “Ok” jawabku. “Tp jgn dikmrmu ya” lanjut sms itu. “dimana”jawabku. “dikmrku aja, rumahku sdg sepi gak ada siapa2 kamu lngsng msk aja aku tnggu dikmrku” Segera aku bersiap menuju rumah Cik Mei Lin. Sebelumnya aku sempatkan melihat kamar Cik Mei Lin. Aku lihat lampu kamarnya menyala dan gorden jendelanya terbuka.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku bisa melihat dengan jelas Cik Mei Lin yang saat itu hanya memakai cd dan bra. Sexy sekali. Aku tak sabar ingin segera menuju kamar Cik Mei Lin. Aku segera masuk ke rumah Cik Mei. Pintu dan pagarnya tidak terkunci, mungkin segaja. Aku langsung menuju kamar atas, kamar Cik Mei Lin. Pintu kamar Cik Mei tidak dikunci bahkan sedikit terbuka. Saat masuk, aku melihat Cik Mei sedang tiduran di ranjang dan hanya memakai cd dan bra berwarna merah. “Lama banget sich, aku sudah nunggu dari tadi lho,”kata Cik Mei saat aku masuk kamarnya. Aku hanya membalas dengan senyuman. “Eiittt&#8230;.kok masih pake baju&#8230;.”kata Cik Mei. Aku tersenyum mendengarnya dan langsung melucuti pakaianku satu per satu hingga aku benar-benar bugil. kontolku perlahan-lahan mulai bangun dan itu membuat Cik Mei Lin tersenyum. “Wah kontolmu mulai bangun ya,”ujarnya sambil membelai kontolku. Aku merasa nikmat saat tangan Cik Mei Lin mulai menyentuh kontolku. Perlahan-lahan ia mulai membelai dan meremas-remas kontolku yang sudah tegak. “Wowww&#8230;.kontolmu besar ya kalau sudah bangun,”kata Cik Mei.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku hanya tersenyum. kontolku sebetulnya tidak terlalu istimewa, hanya 16 cm. Tapi itu sudah cukup membuat Cik Mei Lan terpesona. Lama-lama Cik Mei tidak puas hanya membelai dan meremas. Ia mulai menjilati dan mengulum kontolku. Ahh&#8230;.nikmat sekali. Bibir sexy Cik Mei Lan mengulum kontolku dengan lahap, seperti menjilati permen lolypop saja. “Ahh&#8230;.Cik Mei&#8230;..ahh&#8230;.ahh&#8230;.nikmat&#8230;”ujarku. Mendengar eranganku Cik Mei Lin semakin bersemangat menjilati kontolku. Ia bahkan menghisap kontolku dengan kuat. Ahh&#8230;..nikmat sekali rasanya. Sambil menghisap kontolku Cik Mei juga membelai dua buah zakarku. Aku hanya merem merasakan kenikmatan itu. Tiba-tiba Cik Mei Lin Menghentikan kulumannya. Ia berdiri dan mencium bibirku. “Sekarang kamu mainin punyaku ya,”katanya. Dengan senang hati aku melakukannya. Sudah sejak lama aku membayangkan bisa meremas-remas buah dada Cik Mei Lin yang montok. Dan sudah lama pula aku membayangkan pantat sexy Cik Mei. Ingin aku menjilati liang vagina dan lubang anusnya. Pasti nikmat sekali.</p>
<p style="text-align: justify;">Selanjutnya Cik Mei Lin mulai melucuti pakaian dalamnya. Mula-mula ia membuka bra merah yang sedari tadi menutupi dua gunung kembarnya. Wow&#8230;.buah dada Cik Mei Lin yang montok kini dengan jelas aku lihat. Ukurannya kira-kira 36 dd. Buah dada putih dengan putingnya yang merah kecoklatan terlihat sangat menantang. Tak sabar aku ingin menjilati puting susu Cik Mei Lin.Aku semakin terpesona saat Cik Mei Lin membuka cd merahnya. Wow&#8230;.rimbunan rambut kemaluan yang lebat terlihat jelas. Kontras dengan paha Cik Mei Lin yang putih. Aku memang sangat suka dengan perempuan yang berjembut lebat. Segera aku peluk tubuh Cik Mei Lin. Tak lupa aku ciumi bibir sexy Cik Mei. Bibir sexy itu aku lumat habis. Perlahan-lahan ciumanku turun ke bawah. Mula-mula leher dan akhirnya ciuman bibirku sampai juga di dua gunung kembar Cik Mei Lin. Aku langsung melumat habis buah dada montok itu. Tak lupa aku jilati dan hisap putingnya yang sudah mengacung. “Ah&#8230;ahh&#8230;.nik..mat&#8230;.”, desah Cik Mei saat ujung lidahku menyentuh puting susunya.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku semakin bersemangat mendengar erangan itu. Lidahku semakin liar menjilati buah dada montok Cik Mei Lin. Erangan dan desahan Cik Mei juga semakin hebat. “Ahh..ahhh&#8230;nikmat sayang&#8230;ahh..hh&#8230;” Jilatan lidahku kini kembali bergerak turun. Setelah buah dada, lidahku mulai menjilati perut, pusar, paha, dan akhirnya lidahku bertemu rimbunan jembut yang lebat. Jembut hitam itu menutupi liang vagina Cik Mei Lin yang sudah basah. Rupanya Cik Mei sudah sangat horny. “Ya&#8230;mainkan lidahmu disitu sayang&#8230;.”desah Cik Mei.Lidahku segera beraksi menyusuri rumbuna jembut Cik Mei Lin yang lebat. Lidahku beraksi menyibat helai demi helai jembut Cik Mei Lin hingga akhirnya ujung lidahku berhasil memasuki liang vagina Ci Mei. Ada cairan keluar dari liang vagina Cik Mei. Aku langsung menghisabnya.”Ahhh&#8230;..ahh&#8230;.nikmat sayang&#8230;.ahhh&#8230;”Cik Mei Lin mendesah keenakan. Tubuh Cik Mei Lin seolah bergetar saat lidahku behasil menemukan biji clitorisnya. Tapi tiba-tiba Cik Mei Lin memintaku menghentikan jilatan lidahku. Rupanya ia ingin berganti permainan.</p>
<p style="text-align: justify;">Ia ingin pula memainkan kontolku. Ia memintaku tidur terlentang di atas ranjang. Kemudian Cik Mei merebahkan tubuhnya diatasku. Ia arahkan vaginanya tepat diatas mukaku. Kami memainkan gaya 69. Cik Mei Lin langsung mengocok kontolku. Sesekali ia juga mengulum dan menjilati kontolku yang sudah berdiri tegak. Ahh….nikmat sekali rasanya. Mulut Cik Mei Lin yang biasanya hanya bisa aku lihat, kini mengulum kontolku. Aku sampai merem melek merasakan nikmatnya lidah Cik Mei Lin yang bermain-main di sekujur kontolku. Aku pun mengimbanginya dengan menjilati vagina Cik Mei Lin. Rambut kemaluannya yang hitam lebat itu terlihat kontras dengan kulitnya yang putih. Segera tercium olehku bau khas vagina. Nafsuku semakin menggelora. Lidahku segera beraksi. Sesekali aku mengigit bibir vagina Cik Mei Lin. “Ahh….ahh…enak Wan..ahh…terus..ahh..terus sayang…..”ujar Cik Mei Lin merasakan jilatanku Tanganku juga tidak tinggal diam. Pantat Cik Mei Lin yang sintal itu aku remas-remas. Kadangkala aku tekan pantat Cik Mei Lin sehingga vaginanya menekan mukaku.</p>
<p style="text-align: justify;">Dan Cik Mei Lin kembali menjerit pelan merasakan kenikmatan di selangkangannya. Terlebih lagi saat aku menjilati clitorisnya. “Wan….ahh…ahh…eennaakkk…terruuss….teruuss..sayyaan ggg…..ahh….”Mendengar desahan Cik Mei Lin aku semakin memperhebat jilatanku. Tapi tiba-tiba Cik Mei Lin memintaku mengentikan jilatanku di vaginanya. Ia juga mencabut kontolku dari mulutnya. “Wan, aku nggak tahan lagi…”ujarnya Ia memintaku tetap tidur terlentang. Selanjutnya Cik Mei Lin berlutut di atasku. Ia genggam kontolku yang tegang dan mengarahkannya tepat di vaginanya. Selanjutnya perlahan-lahan kontolku memasuki liang kenikmatan Cik Mei Lin. “Ahh….Cik Mei…ahh…ahh…”ujarku saat kontolku mulai memasuki vagina Cik Mei Lin. Kenikmatan luar biasa segera aku rasakan. Hingga akhirnya kontolku benar-benar masuk seluruhnya di dalam vagina Cik Mei Lin. Sambil tersenyum Cik Mei Lin membiarkan vaginanya membekap kontolku. Selanjutnya pantatnya mula bergerak naik turun. “Ahh….enaakkk Cik Mei…ahh..nikkmaattt…”desahku “Iya…aku juga..ennaakk Wan..”jawab Cik Mei Lin.</p>
<p style="text-align: justify;">Semakin lama gerakan pantat Cik Mei Lin semakian cepat. Aku mengimbanginya dengan menggerakkan pantatku juga naik turun. Sambil terus menyodokkan kontolku, tanganku juga bekerja meremas-remas buah dada Cik Mei Lin yang bergoyang. Semakin lama gerakan pantat Cik Mei Lin semakin cepat dan tidak beraturan. Matanya terpejam, terlebih saat aku meremas buah dadanya. Mukanya yang putih terlihat memerah. Sambil menjerit pelan ia gerakkan pantatnya naik turun. “Ahh…Wan….ahh….nniikkkmaaatt….ohhh…”jerit Cik Mei Lin pelan. Tiba-tiba Cik Mei Lin rubuh. Tubuhnya menindih tubuhku dengan vagina yang masih terisi kontolku. Ia memelukkan erat-erat sambil menekan pantatnya dalam-dalam. Aku merasakan ada carian hangat menyemprot kontolku. Rupanya Cik Mei Lin orgasme. Beberapa saat kemudian Cik Mei Lin mengangkat pantatnya. Ia tidur terlentang disampingku. Nafasnya yang ngos-ngosan pelahan-lahan mulai teratur kembali. Sambil tersenyum aku remas-remas buah dadanya yang montok itu. Cik Mei Lin membalasnya dengan meremas-remas kontolku yang masih tegang.</p>
<p style="text-align: justify;">“Kenapa sayang, kamu mau main lagi ya,”ujarnya yang aku jawab dengan anggukan kepala Cik Mei Lin tersenyum dan langsung mengambil posisi. Kali ini ia nungging di depanku. Wow, pantatnya yang sexy itu membuat aku tak tahan lagi. Rupanya Cik Mei Lin ingin meraskan hunjaman kontolku dari belakang. Aku segera mengarahkan kontolku ke vagina Cik Mei Lin. Liang nikmat itu terlihat memerah dan basah. Sejenak aku gosok-gosokkan ujung kontolku pada vagina Cik Mei Lin. Ia membalas dengan mengoyng-goyangkan pantatnya. Selanjutnya aku mulai menggerakan pantatku ke depan seiring dengan masukkan kontolku ke dalam laing kenikmatan Cik Mei Lin. “Ohh…Cik Mei….nniikkkmmaatt…..”desahku saat kontolku memasuki vagina Cik Mei Lin. Aku melanjutkan gerakan pantatku maju mundur. kontolku keluar masuk vagina Cik Mei Lin. Kenikmatan luar biasa kembali aku rasakan. kontolku seperti dipijit-pijit. Terlebih lagi Cik Mei Lin mulai menggerakkan pantatnya seperti berputar. Ahh…kontolku seperti dipilin-pilin rasanya. Aku hanya bisa memejamkan mata sambil terus menyodokkan kontolku dalam-dalam.</p>
<p style="text-align: justify;">“Ohh..Cik Mei…ennaakk…ahh…nniikkkmmaattt…..”desahku tak kuasa merasakan kenikmatan vagina Cik Mei Lin “Iya Wan….teerrruuss…ahh……ennaakkk….ahh….terruuss saayyyaanggg….”ujar Cik Mei Lin Aku terus memasukkan kontolku. Kali ini gerakan pantatku lebih kupercepat. Sesekali aku remas-remas pantat Cik Mei Lin yang sexy itu. Tiba-tiba aku meraskan tubuh Cik Mei Lin menegang. Ia menjerit pelan sambil tangannya mencengkeram ujung ranjang. “Ahh…ahh…aakkuu…kkeellluaarrr…ahh…..”jerit Cik Mei Lin sambil matanya terpejam Cik Mei Lin rupanya kembali orgasme. Aku pun merasakan kontolku semakin tegang. Cairan hangat yang menyembur dalam vagina Cik Mei Lin semakin membuat kontolku berdenyut. Dan akhirnya aku tak kuasa menahan spermaku yang ingin segera keluar. Segera aku percepat gerakan kontolku. Semakin lama gerakan kontolku semakin cepat. Akupun tak mampu lagi menahan spermaku lebih lama. Akhirnya . Crroott…crroott…ccrrooott&#8230;&#8230;.spermaku muncrat di dalam vagina Cik Mei Lin, cairan kental putih itu muncrat banyak sekali. Aku setengah berteriak saat spermaku muncrat.</p>
<p style="text-align: justify;">“Ahh..ahh…nniikkkmaatt…ahh….”jeritku pelan Aku diamkan sejenak kontolku di dalam liang vagina Cik Mei Lin. Nikmat sekali. &#8220;Semprotanmu nikmat sekali Wan,&#8221;kata Cik Mei Lin. Selanjutnya aku turun dari ranjang. Aku raih sebotol air mineral sambil mengatur nafasku yang ngos-ngosan. Kemudian aku berbaring di sebelah Cik Mei Lin yang juga rebah di ranjang. “Kami masih kuat Wan,”kata Cik Mei Lin tiba-tiba Aku agak terkejut dengan pertanyaan itu. Cik Mei Lin yang sudah dua kali mencapai puncak. Tapi nampaknya Cik Mei Lin masih ingin melanjutkan permainan. Sehingga aku heran dengan pertanyaan itu. Dalam hati aku kagum juga dengan nafsu Cik Mei Lin yang mengelora. Aku yakin ia masih ingin meneruskan permainan malam ini. “Masih Cik Mei, Kenapa Cik Mei ingin main lagi ya,”ujarku “Iya, tapi permainan yang agak lain,” “Maksud Cik Mei,” “Kamu pernah main anal nggak, kita coba yuk,” ujarnya sambil meremas-remas kontolku yang mulai tegak kembali. Kembali aku terkejut dibuatnya. Cik Mei Lin ingin main analsex. Ia ingin aku menggarap lubang anusnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Tentu aku tidak keberatan. Aku juga ingin sekali merasakan permainan itu. Apalagi yang aku garap adalah pantat Cik Mei Lin yang seksi itu. Cik Mei Lin langsung mengambil posisi. Ia kembali nungging. Vaginanya yang baru saja aku masuki masih tampak merah. Aku langsung mengarahkan kontolku yang kembali tegang tepat di lubang anus Cik Mei Lin. Perlahan-lahan aku gerakan pantatku maju ke depan. Perlahan-lahan pula kontolku mulai masuk ke lubang anus Cik Mei Lin. Sensasi luar biasa langsung aku rasakan. Lubang anus Cik Mei Lin sangat sempit. Lebih sempit daripada vaginanya. Lubang itu juga sangat keset. kontolku agak susah menembusnya. “Ah….Cik Mei anusmu sempit sekali…..” “Iya…Wan….terusin aja…ahh…masukin terruss Wan…ahh…”ujar Cik Mei Lin sambil merem saat aku masukan kontolku ke lubang anusnya. Aku cabut kontolku yang sebagian kepalanya sudah masuk ke anus Cik Mei Lin. Aku coba membasahi anus Cik Mei Lin dengan ludahku. Aku berharap dengan ludahku anus Cik Mei Lin jadi lebih gampang ditembus. Selanjutnya kembali aku masukan kontolku ke lubang anus Cik Mei Lin.</p>
<p style="text-align: justify;">Kali ini kontolku lebih gampang memasukinya. Mungkin karena air ludahku. “Ahh..Wan….ahh…..”ujar Cik Mei Lin saat kontolku mulai menembus duburnya “Ahh….lubang Cik Mei eenak baangeett…..”jawabku Semakin lama kontolku semakin dalam memasuki anus Cik Mei Lin. Dan akhirnya seluruh kontolku masuk ke dalam lubang Cik Mei Lin. Aku diamkan sejenak. Terasa hangat sekali. Lubang anus Cik Mei Lin seperti berdenyut-denyut. Sehingga kontolku seperti dipijit-pijit. Perlahan-lahan aku mulai menggerakkan pantatku, maju mundur sambil memegang pinggang Cik Mei Lin yang sintal. Gerakan pantatku semakin lama semakin hebat. Aku merasakan kenikmatan yang luar biasa. kontolku bergerak keluar masuk lubang anus Cik Mei Lin. Setiap kali kontolku bergerak aku merasakan kenikmatan tiada tara. “Ohh..Cik Mei eeennnaaakkk baannnggettt…..”aku berkata agak sedikit menjerit. “Ohh…iyaa…akuu juuga eennaakkk….teerrruusss…..Waann…”desah Cik Mei Lin yang hanya bisa merem melek merasakan kenikmatan itu. Semakin lama lubang anus Cik Mei Lin semakin licin.</p>
<p style="text-align: justify;">kontolku semakin leluasa maju mundur dan semakin aku menggerakkan kontolku kenikmatan yang aku rasakan semakin hebat. Hingga akhirnya kontolku terasa berdenyut-denyut. Jepitan pantat Cik Mei Lin membuat kontolku menjadi sangat tegang. Dan akhirnya aku tak kuat menahan kontolku yang ingin segera muncrat. “Ahh…Cik Mei aku maauuu keelluaarr…..ahh…ohhh…” “Iyaa..akuu juugaaa….ahhh…ahhh…”jawab Cik Mei Lin sambil menjerit pelan. Rupanya Cik Mei Lin juga orgasme. Akhirnya kontolku benar-benar tak mampu lagi menaham spermaku yang ingin segera muncrat. Crroott..croot..croott….Spermaku muncrat di dalam lubang anus Cik Mei Lin. Banyak juga spermaku yang muncrat. Walau tidak sebanyak yang muncrat pada permainan pertama. Tapi kenikmatan yang aku rasakan lebih hebat. Aku merebahkan tubuhku menindih Cik Mei Lin dari belakang. kontolku masih menancap didalam anus Cik Mei Lin. Aku menciumi punggung dan leher Cik Mei Lin yang putih mulus. Aku mendengar nafas Cik Mei Lin yang terengah-engah seperti orang habis berlari. Nafasku juga ngos-ngosan.</p>
<p style="text-align: justify;">Akhirnya aku cabut kontolku dari pantat Cik Mei Lin. Ia tidur disampingku. Aku rebahkan tubuhku menindih Cik Mei Lin. Kuciumi bibirnya yang seksi itu. “Cik Mei hebat deh….mainnya hot banget….”ujarku “Kamu juga oke banget……lain kali kita main lagi ya…..yang lebih hot”ujar Cik Mei Lin sambil berdiri dan menuju kamar mandi. Aku merasakan tubuhku capek luar biasa. Tanpa terasa tiga jam lebih aku beradu nafsu dengan Cik Mei Lin. Dalam keadaan terlentang tanpa terasa aku tertidur. Sejak saat itu hubunganku dengan Cik Mei Lin semakin akrab. Aku semakin sering tidur dengan Cik Mei Lin. Semua dilakukan saat suami Cik Mei Lin sedang tidak dirumah dan anaknya sudah tidur. Beruntung anaknya tidur di kamar terpisah, jadi tidak menganggu permainan nikmat kami. Cik Mei Lin semakin ketagihan dengan kontolku. Ia bilang kontolku lebih nikmat daripada kontol suaminya. Selain lebih besar dan panjang, kontolku juga disunat. Tidak seperti suaminya yang tidak sunat. “Kontol disunat memang lebih enak daripada yang tidak disunat,”katanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Sebenarnya aku takut Cik Mei Lin hamil. Sebab sudah berkali-kali kontolku muncrat di dalam vagina Cik Mei Lin. Ia tidak mau kalau aku mengeluarkan sperma di luar. Cik Mei Lin juga tidak mau jika aku memakai kondom. “Semprotan kontolmu luar biasa ,”katanya. Tapi untunglah sampai saat ini Cik Mei Lin tidak hamil. Mungkin ia selalu minum pil anti hamil&#8230;..hhhmmmm.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ceritasex.cn/cik-mei-lin-tetanggaku/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kekasihku Diperkosa Polisi</title>
		<link>http://www.ceritasex.cn/kekasihku-diperkosa-polisi-2/</link>
		<comments>http://www.ceritasex.cn/kekasihku-diperkosa-polisi-2/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 12 Jan 2012 13:24:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cerita Sex</dc:creator>
				<category><![CDATA[anal seks]]></category>
		<category><![CDATA[Daun Muda]]></category>
		<category><![CDATA[Gangbang Rame Rame]]></category>
		<category><![CDATA[Pemerkosaan]]></category>
		<category><![CDATA[anus]]></category>
		<category><![CDATA[budak seks]]></category>
		<category><![CDATA[isep kontol]]></category>
		<category><![CDATA[ngentot]]></category>
		<category><![CDATA[orgasme]]></category>
		<category><![CDATA[perkosa]]></category>
		<category><![CDATA[seks]]></category>
		<category><![CDATA[vira]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ceritasex.cn/?p=3287</guid>
		<description><![CDATA[Saya pertama kenal Vira ketika melihatnya menjadi model cover di sebuah majalah di Jakarta, kemudian ia juga menjadi bintang sinetron Abad 21. Vira berumur 17 tahun, cantik, kulitnya putih mulus, ramah dan yang paling menarik perhatian orang-orang adalah buah dadanya yang bundar dan padat berisi. Semua orang yang menatap Vira pandangannya akan langsung tertarik ke [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Saya pertama kenal Vira ketika melihatnya menjadi model cover di sebuah majalah di Jakarta, kemudian ia juga menjadi bintang sinetron Abad 21. Vira berumur 17 tahun, cantik, kulitnya putih mulus, ramah dan yang paling menarik perhatian orang-orang adalah buah dadanya yang bundar dan padat berisi. Semua orang yang menatap Vira pandangannya akan langsung tertarik ke arah buah dadanya yang membusung. Tidak terlalu besar memang, tapi sangat proporsional engan tubuh dan wajah Vira. Saya berkenalan dengannya, pertama melalui surat kemudian bertemu, sesekali menelepon dirinya. Lama-kelamaan kita semakin sering bertemu dan percakapan yang ada semakin menjurus ke hal-hal yang pribadi. Akhirnya saya memberanikan diri untuk mengajaknya keluar makan malam. Suatu hari saya memberanikan diri untuk mengajaknya dan ternyata Vira senang sekali mendengar ajakan saya, dan langsung setuju. Saya gelisah sekali menunggu pada saat menjemput Vira di rumahnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah pulang kerja dan berganti pakaian saya menjemput Vira, untuk kemudian makan malam di sebuah restoran. Di sana kami bercakap-cakap panjang lebar, setelah itu dilanjutkan sebuah diskotik untuk sedikit menggoyangkan tubuh dan minum. Di tengah-tengah percakapan di diskotik, Vira mengajak saya untuk kembali ke rumahnya dan melanjutkan sisa malam itu di rumahnya. Bagaimana saya bisa menolak tawaran itu?</p>
<p style="text-align: justify;">Sepanjang perjalanan pulang Vira berkata bahwa ia belum pernah mengalami hari yang menyenangkan seperti yang baru ia alami malam itu, dan ia juga berkata, di rumah nanti giliran dirinya yang akan membuat diri saya tidak akan melupakan malam ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Saya begitu bergairah dan berhasrat untuk lekas-lekas sampai ke rumah Vira, ketika tanpa sadar saya mengendarai mobil melebihi batas maksimal kecepatan di jalan. Tiba-tiba saya tersadar ketika di sebelah kanan sudah ada mobil Polantas yang berusaha menghentikan mobil saya. Saya meminggirkan mobil di tempat parkir sebuah toko dan menunggu Polantas tadi mendekati mobil kami. Ia bertanya hendak ke mana kami sampai-sampai kami membawa mobil itu melebihi batas kecepatan. Rupanya alasan saya tidak masuk akal sehingga Polantas tadi meminta STNK dan SIM saya.<br />
<span id="more-3287"></span><br />
Setelah melihat surat-surat itu Polantas itu menjengukkan kepalanya ke dalam mobil kami dan lama sekali mengamati Vira yang duduk terdiam. &#8220;Anda harus meninggalkan mobil Anda di sini dan ikut saya ke kantor&#8221;, perintah Polantas tadi. Akhirnya sepuluh menit kemudian kami sampai ke sebuah kantor polisi yang terpencil di pinggir kota.</p>
<p style="text-align: justify;">Waktu itu sudah lewat pukul 11 malam, dan dalam kantor polisi itu tidak terdapat siapa pun kecuali seorang Sersan yang bertugas jaga dan Polantas yang membawa kami. Ketika kami masuk, Sersan itu memandangi tubuh Vira dari bawah hingga ke atas, kelihatan sekali ia menyukai Vira. Kami dimasukkan ke dalam sel terpisah, saling berseberangan.</p>
<p style="text-align: justify;">Sepuluh menit kemudian, Polantas yang berumur sekitar 40-an dan berbadan gemuk dan Sersan yang tinggi besar berbadan hitam, dan umurnya kira-kira 45 tahun kembali ke ruang tahanan. Polantas tadi berkata, &#8220;Kalian seharusnya jangan mengemudi sampai melebihi batas kecepatan yang ada. Tapi kita semua bener-benar kagum, soalnya dari semua yang kami tangkap baru kali ini kita dapat orang yang cantik seperti kamu.&#8221; Sersan tadi menimpali, &#8220;Betul sekali, dia bener-bener kualitas nomer satu!&#8221; Saya sangat takut mendengar nada bicara mereka, begitu juga Vira yang terus-menerus ditatap oleh mereka berdua.</p>
<p style="text-align: justify;">Mereka lalu membuka sel Vira dan masuk ke dalam. &#8220;Sekarang denger gadis manis, kalau kamu berkelakuan baik, kita akan lepasin kamu dan pacar kamu itu. Mengerti!&#8221; Sersan tadi langsung memegangi kedua tangan Vira sementara Polantas menarik kaos yang dikenakan Vira ke atas. Dalam sekejap seluruh pakaian Vira berhasil dilucuti tanpa perlawanan berarti dari Vira yang terus dipegangi oleh Sersan. &#8220;Wow, lihat dadanya.&#8221; Vira terus meronta-ronta tanpa hasil, sementara Sersan yang tampaknya sudah bosan dengan perlawanan Vira, melemparkan tubuh Vira hingga jatuh telentang ke atas ranjang besi yang ada di sel Vira. Dan dengan cepat diambilnya borgol dan diborgolnya tangan Vira ke rangka di atas kepala Vira.</p>
<p style="text-align: justify;">Kemudian mereka dengan leluasa menggerayangi tubuh Vira. Mereka meremas-remas dan menarik buah dada Vira, kemudian memilin-milin puting susunya sehingga sekarang buah dada Vira mengeras dan puting susunya mengacung ke atas. Kadang mereka mengigit puting susu Vira, sedangkan Vira hanya bisa meronta dan menjerit tak berdaya.</p>
<p style="text-align: justify;">Saya berdiri di dalam sel di seberang Vira tak berdaya untuk menolong Vira yang sedang dikerubuti oleh dua orang itu. Kedua polisi itu lalu melepaskan pakaian mereka dan terlihat jelas kedua batang kemaluan mereka sudah keras dan tegang dan siap untuk memperkosa Vira. Polantas mempunyai batang kemaluan paling tidak sekitar 25 senti, dan Sersan mempunyai batang kemaluan yang lebih besar dan panjang. Vira menjerit-jerit minta agar mereka berhenti, tapi kedua polisi itu tetap mendekatinya.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Lebih baik kamu tutup mulut kamu atau kita berdua bisa bikin ini lebih menyakitkan daripada yang kamu kira.&#8221; kata Polantas.&#8221;Sekarang mendingan kamu siap-siap buat muasin kita dengan badan kamu yang bagus itu!&#8221;"Dia pasti sempit sekali&#8221;, kata Sersan sambil memasukan jari-jarinya ke lubang kemaluan Vira.Ia menggerakkan jarinya keluar masuk, membuat Vira menggelinjang kesakitan dan berusaha melepaskan diri.&#8221;Betul kan, masih sempit sekali.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Kemudian Polantas tadi naik ke atas ranjang di antara kedua kaki Vira. Kemudian mereka membuka kaki Vira lebar-lebar dan Polantas memasukkan batang kemaluannya ke dalam lubang senggama Vira. Vira mengeluarkan jeritan yang keras sekali, ketika perlahan batang kemaluan Polantas membuka bibir kemaluan, dan masuk senti demi senti tanpa berhenti. Kadang ia menarik sedikit batang kemaluannya untuk kemudian didorongnya lebih dalam lagi ke lubang kemaluan Vira.</p>
<p style="text-align: justify;">Sementara itu, Sersan naik dan mendekati wajah Vira, mengelus-elus wajah Vira dengan batang kemaluannya. Mulai dari dahi, pipi kemudian turun ke bibir. Vira menggeleng-gelengkan kepalanya agar tidak bersentuhan dengan batang kemaluan Sersan yang hitam.&#8221;Ayo dong manis, buka mulut kamu&#8221;, kata Sersan sambil meletakkan batang kemaluannya di bibir Vira.&#8221;Kamu belum pernah ngerasain punya polisi kan?&#8221; Vira tak bergeming.&#8221;Buka!&#8221; bentak Sersan.&#8221;Buka mulut kamu, brengsek!&#8221; Perlahan mulut Vira terbuka sedikit, dan Sersan langsung memasukkan batang kemaluannya ke dalam mulut Vira.</p>
<p style="text-align: justify;">Mulut Vira terbuka hingga sekitar 6 senti agar semua batang kemaluan Sersan bisa masuk ke dalam mulutnya. Batang kemaluan Sersan mulai bergerak keluar masuk di mulut Vira, saya melihat tidak semua batang kemaluan Sersan dapat masuk ke mulut Vira, batang kemaluan Sersan terlalu panjang dan besar untuk bisa masuk seluruhnya dalam mulut Vira. Ketika Sersan menarik batang kemaluannya terlihat ada cairan yang keluar dari batang kemaluannya. Julurin lidah kamu!&#8221; Vira membuka mulutnya dan mengeluarkan lidahnya. Sersan kemudian memegang batang kemaluannya dan mengusapkan kepala batang kemaluannya ke lidah Vira, membuat cairan kental yang keluar tadi menempel ke lidah Vira.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;San, dia nggak mungkin bisa masukin punya Sersan ke mulutnya, biar saya coba. Gantian!&#8221; Mereka kemudian bertukar tempat, Sersan sekarang ada di antara kaki Vira dan Polantas berjongkok di dekat wajah Vira. Sersan mulai mendorong batang kemaluannya masuk ke liang senggama Vira. Terlihat sekali dengan susah payah batang kemaluan Sersan yang besar itu membuka bibir kemaluan Vira yang masih sempit. Polantas, mengacungkan batang kemaluannya ke mulut Vira. &#8220;Kamu mungkin nggak bisa masukin punya Sersan ke mulut kamu, tapi kamu musti ngerasain punya saya ini, seluruhnya.&#8221; Dengan kasar ia mendorong batang kemaluannya masuk ke mulut Vira, sampai akhirnya batang kemaluan itu masuk seluruhnya hingga sekarang testis Polantas berada di wajah Vira. Ia kemudian menarik batang kemaluannya sebentar untuk kemudian didorongnya kembali masuk ke tenggorokan Vira. Setelah lima kali, keluar masuk, Polantas sudah tidak bisa lagi menahan orgasmenya.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Saya keluuarrhh. Aaahhh!&#8221; Ia tidak menarik batang kemaluannya keluar dari mulut Vira, batang kemaluannya tampak bergetar berejakulasi di tenggorokan Vira, menyemprotkan sperma masuk ke tenggorokannya. Saya mendengar Vira berusaha menjerit, ketika sperma Sersan mengalir masuk ke perutnya. Terlihat sekali Sersan yang sedang mencapai puncak kenikmatan tidak menyadari Vira meronta-ronta berusaha mencari udara.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Iyya&#8230; yaah! Telleeen semuaa! Aaahhh&#8230; aahhh&#8230; nikhmaattt!&#8221;Ketika selesai ia menarik keluar batang kemaluannya dan Vira langsung megap-megap menghirup udara, dan terbatuk-batuk mengeluarkan sperma yang lengket dan berwarna putih. Vira berusaha meludahkan sperma yang masih ada di mulutnya. Polantas tertawa melihat Vira terbatuk-batuk, &#8220;Kenapa? Nggak suka rasanya? Tenang aja, besok pagi, kamu pasti sudah terbiasa sama itu!&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Sementara Sersan yang masih mengerjai kemaluan Vira sekarang malah memegang pinggul Vira dan membalik tubuh Vira. Vira dengan tubuh berkeringat dan sperma yang menempel di wajahnya tersadar apa yang akan dilakukan Sersan pada dirinya, ketika dirasanya batang kemaluan Sersan mulai menempel di lubang anusnya.&#8221;Jangan Pak, jangan! Ampun Pak, ampun, jangan&#8230;&#8221;"Aaahkk! Jangaaan!&#8221;Vira menjerit-jerit ketika kepala batang kemaluan Sersan berhasil memaksa masuk ke liang anusnya. Wajah Vira pucat merasakan sakit yang amat sangat ketika batang kemaluan Sersan mendorong masuk ke liang anusnya yang kecil. Sersan mendengus-dengus berusaha memasukkan batang kemaluannya ke dalam anus Vira. Perlahan, senti demi senti batang kemaluan itu tenggelam masuk ke anus Vira. Vira terus menjerit-jerit minta ampun ketika perlahan batang kemaluan Sersan masuk seluruhnya ke anusnya. Akhirnya ketika seluruh batang kemaluan Sersan masuk, Vira hanya bisa merintih dan mengerang kesakitan merasakan benda besar yang sekarang masuk ke dalam anusnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Sersan beristirahat sejenak, sebelum mulai bergerak keluar masuk. Kembali Vira menjerit-jerit. Sersan terus bergerak tanpa belas kasihan. Batang kemaluannya bergerak keluar masuk dengan cepat, membuat testisnya menampar-nampar pantat Vira. Sersan tidak peduli mendengar Vira berteriak kesakitan dan menjerit minta ampun ketika sodomi itu berlangsung. Saya melihat berulang kali batang kemaluan Sersan keluar masuk anus Vira tanpa henti. Akhirnya Sersan mencapai orgasme ia menarik batang kemaluannya dan sperma menyemprot keluar menyembur ke punggung Vira, kemudian menyembur ke pantat Vira dan mengalir turun ke pahanya, dan terakhir Sersan kembali memasukkan batang kemaluannya ke anus Vira lagi dan menyemprotkan sisa-sisa spermanya ke dalam anus Vira. Sersan kemudian melepaskan pegangannya dari pinggul Vira dan berdua dengan Polantas mereka keluar dari sel dan menguncinya. Saya masih dapat mendengar Sersan berkata pada Polantas, &#8220;Pantat paling hebat yang pernah ada. Dia bener-bener sempit!&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Dini hari, ketika Vira kelelahan menangis dan merintih, mereka berdua dengan langkah sempoyongan dan dengan botol bir di tangan masuk kembali ke dalam sel Vira. Mereka menendang tubuh Vira agar terbangun dan mereka mulai memperkosanya lagi. Sekarang Polantas menyodomi Vira sementara Sersan berbaring di bawah Vira dan memasukkan batang kemaluannya ke dalam kemaluan Vira. Kemudian mereka berganti posisi. Mereka juga menyiksa Vira dengan memasukkan botol bir ke dalam liang kemaluan dan anusnya sementara batang kemaluan mereka dimasukkan ke mulut Vira. Mereka terus berganti posisi dan Vira terus menerus menjerit dan menjerit hingga akhirnya ia kelelahan dan tak sadarkan diri. Melihat itu polisi-polisi tersebut hanya tertawa terbahak-bahak meninggalkan tubuh Vira yang memar-memar dan belepotan sperma dan bir.</p>
<p style="text-align: justify;">Keesokan paginya, Sersan masuk dan membuka sel kami.&#8221;Kalian boleh pergi.&#8221;Saya membantu Vira mengenakan pakaiannya. Tubuhnya lemah lunglai berbau bir dan sperma-sperma kering masih menempel di tubuhnya. Kami pergi dari kantor polisi itu dan akhirnya sampai ke rumah Vira. Kemudian saya membersihkan tubuh Vira dan menidurkannya. Ketika saya tinggal, saya mendengar ia merintih, &#8220;Jangan Pak, ampun Pak, sakit&#8230; ampuunn&#8230; sakiiit&#8230;&#8221;.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>TAMAT</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ceritasex.cn/kekasihku-diperkosa-polisi-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pengalaman Pertama Anita Chapter 3</title>
		<link>http://www.ceritasex.cn/pengalaman-pertama-anita-chapter-3/</link>
		<comments>http://www.ceritasex.cn/pengalaman-pertama-anita-chapter-3/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 14 Aug 2011 08:49:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cerita Sex</dc:creator>
				<category><![CDATA[anal seks]]></category>
		<category><![CDATA[Orgy]]></category>
		<category><![CDATA[Paruh baya]]></category>
		<category><![CDATA[Seks Umum]]></category>
		<category><![CDATA[selingkuh]]></category>
		<category><![CDATA[anita]]></category>
		<category><![CDATA[cuki]]></category>
		<category><![CDATA[kontol]]></category>
		<category><![CDATA[memek]]></category>
		<category><![CDATA[ngentot]]></category>
		<category><![CDATA[orgy]]></category>
		<category><![CDATA[seks rame rame]]></category>
		<category><![CDATA[toket]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ceritasex.cn/?p=2813</guid>
		<description><![CDATA[Anto pun semakin tak kuat menahan sesuatu yang ingin segera meledak dari dalam kontolnya tetapi ia belum ingin mengakhiri permainan itu Anita terus meracau tak jelas, menjepit kontol Anto dengan sekuat tenaga. Di paksanya agar tak segera mencapai orgasme, sampai akhirnya ia tak kuat lagi menahan sesuatu untuk segera meledak dari dalam liang kewanitaannya. Anita [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Anto pun semakin tak kuat menahan sesuatu yang ingin segera meledak dari dalam kontolnya tetapi ia belum ingin mengakhiri permainan itu Anita terus meracau tak jelas, menjepit kontol Anto dengan sekuat tenaga. Di paksanya agar tak segera mencapai orgasme, sampai akhirnya ia tak kuat lagi menahan sesuatu untuk segera meledak dari dalam liang kewanitaannya. Anita pun berteriak.. &#8220;Thhoo.. Akhuu uudhhaahh mauhh nihh.. Ahh.. Ahh.. Ahh.. Terusshh sayang.. Ggghhaahh..&#8221; teriak Anita gila-gilaan sambil menciumi leher Mbak Yuyun dan menyedot kuat-kuat puting Mbak Yuyun. Melihat temannya yang makin menggila, Mbak Yuyun segera mengambil inisiatif untuk mambalas ciuman Anita pada wajah, bibir, leher dan payudara serta puting Anita agar temannya itu segera memperoleh kepuasan tiada tara. &#8220;Aaahh mhbbaakk.. Akkuu ghahhkk kkuuatthh.. Laghiihh..&#8221; racau Anita. Melihat hal itu, Anto makin mempergencar goyangannya sambil mengimbangi goyangan Anita. Diremasnya bokong Anita sambil ia terus menjilati vagina Mbak Yuyun. Terus mengayun, berharap agar ia pun mendapatkan orgasmenya bersama-sama dengan Anita.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;MbBHaakk.. Akkuu jjuuggaa maauhh keluarr nihh, ghimanahh dhonghh?&#8221; tanya Anto. &#8220;Ooohh yahh terushh sayang.. Kita keluarkhhann barenghh.. Keluarr khhaann sajjaa dii dallamm memekk kkuuhh.., chepatthh thhoo!! Hhhaammillii ahkkuuhh ssayyangnghh.. Aaahh&#8221; racau Anita mempersetankan semuanya sambil tiba-tiba mengejang, menggila dan tak lama kemudian.. Chhrrotss.. Keluarlah lendir kenikmatan dari vagina Anita yang semakin memperlicin keluar masuknya kontol Anto di dalamnya, ia langsung menekan lebih dalam, agar kontol anto makin mentok masuk ke dalam memeknya. Begitu pun anto, merasakan sesuatu yang panas keluar dari dalam vagina Anita, ia menikmati sensasi itu, sampai akhirnya.. Chhrroott.. Sampailah ia pada orgasmenya. Lima kali kontolnya mengeluarkan lahar panas yang kental ke dalam vagina Anita, sampai-sampai cairan-cairan itu membeludak keluar dari vagina Anita. Anto dan Anita pun terkulai lemas. Dengan tetap berada pada posisi mereka masing-masing. Anita begitu menikmati sensasi saat Anto mengeluarkan maninya di dalam memeknya. Begitu panasnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Ia pun merasakan denyut dari kontol anto dan memeknya yang saling menekan. Dan tiba-tiba untuk kedua kalinya Anita merasa memeknya kembali mengejang dan berdenyut keras lagi. &#8220;Ggghhaahh..&#8221;teriak Anita Crotthh.. Rupanya untuk kedua kalinya, keluarlah lendir kenikmatan dari dalam vagina Anita. Ia mendapatkan multy orgasme, hal yang balum pernah ia rasakan saat ia bercinta dengan kedua suaminya. Dan ia amat menikmati hal ini sampai-sampai tubuhnya yang masih menyatu raga bagian bawahnya itu, melenting, matanya terbelalak hingga bola matanya nyaris berputar. Anto pun menikmati sensasi ini, ia menyadari rupanya Anita termasuk wanita yang nafsunya besar sekali. &#8220;Wahh An, aku jadi ngiri nih..&#8221; ujar Yuyun sambil bangun dari posisinya menjongkoki wajah Anto. Kemudian ia bergegas menciumi kontol Anto dan vagina Anita yang masih saling menyatu itu. Dijilatinya lendir yang menggenang itu, direguknya, dikumur-kumurkannya, lalu ia bangun, menahan leher Anita yang masih menikmati sisa-sisa orgasmenya, lalu Yuyun pun mencium Anita sambil meludahkan lendir yang dikulumnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Glekkhh.. Lendir yang disuapkan oleh Yuyun itu langsung ditelan habis oleh Anita, dengan sebagian yang masih meleleh mengalir keluar dari bibirnya. Pemandangan itu membuat Anto kembali dilecut nafsu. Ia pun bangun, kemudian menciumi bibir Anita, meminta bagian dari lendir kenikmatan yang telah meraka ciptakan itu. Kemudian dengan berhati-hati ia pun mencabut kontolnya yang sedari tadi masih dibiarkan menancap dalam vagina Anita sambil diikuti erangan halus dari mulut Anita. &#8220;Ahh Thoo..&#8221; Rupanya kontol Anto masih tegak menantang ingin dipuaskan lebih jauh. Anto pun berdiri sambil menarik tubuh Yuyun, Mereka pun berhadapan kemudian Anto mengangkat tubuh Yuyun yang memang lebih kecil darinya. Ditahannya kaki Yuyun dengan tangannya sampai mengangkang begitu lebarnya. Kemudian.. Bless.. &#8220;ahh.. Hhheebbatthh kkammuhh sayanghh..&#8221; Melesaklah kontol Anto ke dalam vagina Yuyun, diikuti erangan manis dari mulut yuyun. &#8220;Terusshh Shhayaanghh..&#8221; Anto langsung mengayunkan tubuh Yuyun yang mungil itu sampai wanita itu berteriak-teriak dan memukuli punggung Anto.<br />
<span id="more-2813"></span><br />
Begitu bahagianya wanita itu karena mendapatkan apa yang sedari tadi ia dambakan. Decak-decak becek yang dihasilkan dari vagina Yuyun dan kontol Anto yang terus saling merenggut itu kembali memenuhi seluruh ruangan kerja Anita. Sementara itu Anita masih menikmati sisa-sisa orgasmenya tadi, dan hanya tidur mengangkang, tak henti-hentinya memainkan 4 jari tangan kanannya keluar masuk memeknya, sambil menonton kedua temannya itu bercumbu. Yuyun makin meracau tak jelas, begitu pun Anto. Ia terus menunjukkan kejantanannya pada wanita itu. teriakan Yuyun pun tak kalah dengan teriakan Anita tadi, ia juga mempersetankan segalanya. &#8220;Terushh thoo.. Hhhaammiillii akkuuhh sayanghh.. Ohh yahh,&#8221; teriak Yuyun sambil terus mendekap tubuh anto yang tengah sibuk mengayun-ayunkan tubuh mungilnya itu. Sesekali mereka saling memagut, melumat satu sama lain bibir pasangannya. Setelah melakukan posisi itu beberapa menit, Anto menggeser posisinya dengan tak melepas tubuh Yuyun yang masih menyatu dengannya. Ia mengarah ke meja kerja Anita.</p>
<p style="text-align: justify;">Disana ia menidurkan Yuyun diatas meja, kemudian tanpa melepaskan kontolnya, ia mengatur kaki Yuyun dengan menyilangkannya. Dengan posisi ini tentunya jepitan yang dihasilkan oleh vagina Yuyun makin menjepit. Sehingga membuat Yuyun makin merasa terbang keawang-awang, oleh ayunan Anto. Crott, crott, croott.. Blesshh.. Ayunan demi ayunan di lakukan oleh Anto sambil meremas-remas payudara Yuyun yang juga ikut terayun-ayun itu. Begitu pun Yuyun, sambil terlentang diatas meja ia meremasi sendiri payudaranya, memilin-milin putingnya sendiri. Sambil terus meracau tak tentu. Setelah puas dengan posisi itu, Yuyun memutar tubuhnya menghadap tengkurap diatas meja dengan kaki kiri menjejak di lantai dan kaki kananya naik di atas meja. Gaya ini disukai Anto karena seperti gaya doggie style, ia dapat mengerjai vagina Yuyun dengan kontolnya dan menusuk-nusuk lubang anus Yuyun dengan jarinya. Dan hal ini makin membuat Yuyun tak sadarkan diri dan menggila. &#8220;Auffhh.. Auffhh.. Oohh.. Terusshh Thoo, puasskkaann dirimuhh.. Thoo!&#8221; teriak Yuyun.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Ah, Mbak suka gaya ini?? ahh shh..&#8221; balas Anto. &#8220;Ahh ssebbenntarr laggihh Thoo!&#8221; racau Yuyun yang kelihatannya tak lama lagi akan mendapatkan orgasmenya. &#8220;Akuhh jugahh mBHakkhh..&#8221; timpal Anto. Mendengar kedua temannya akan segera meledak, Anita bangkit dari posisinya, kemudian mengarah ke arah pantat Anto. Lalu diciuminya lubang anus Anto, dimainkannya lidahnya keluar masuk lubang pembuangan itu. Kemudian ia berpindah ke sebelah Yuyun, dan mengambil posisi duduk mengangkang diatas mejanya dengan wajah yuyun tepat menghadap di depan vagina Anita, lalu dijambaknya rambut Yuyun agar mulutnya segera beraksi menjilati memeknya. Blesshh.. Melesaklah wajah Yuyun diantara selangkangan Anita. Dengan berpegangan pada pinggiran meja, Anita menikmati kenakalan bibir Yuyun yang sibuk menjilati memeknya. &#8220;Aaahh.. Aaahh.. MBHakkhh..&#8221; teriak Anita. &#8220;Kau sukkaahh iinniihh haahh??&#8221; tanya Yuyun pada Anita. &#8220;Iyyaahh mBHakkhh.. Terusshh mbakhh..&#8221; Pinta Anita. Melihat hal itu, Anto makin tak kuat menahan ledakan ronde keduanya, di percepat goyangannya pada vagina Yuyun, sehingga Yuyun menyadari bahwa Anto sudah akan mencapai puncaknya.</p>
<p style="text-align: justify;">Sambil menjilati vagina Anita, dan berpegangan pada pinggiran meja, ia mempercepat goyangannya sambil memperkuat jepitan memeknya. &#8220;Aahh yahh terushh Thoo.. Keluarr khann di dalamm aja sayaangg..!&#8221; teriak Yuyun. &#8220;Iyaah mbaak.. Sbentarr lagihh, ahh&#8221; Crott, crott meledaklah air mani putih kental dari dalam kontol Anto. Menyembur panasnya. Muncrat terus sampai 4 kali banyaknya. Merasakan sensasi luar biasa memenuhi relung-relung memeknya, Yuyun pun tak kuasa menahan sesuatu yang bergejolak dalam dirinya, dan ia pun menekankan selangkangannya pada kontol Anto yang langsung disambut dengan kontol Anto yang juga menghujamkan dalam-dalam ke dalam vagina Yuyun, sampai kemudian.. Bless crrott croott.. 5 kali lendir kenikmatan menyembur dari dalam vagina Yuyun diikuti teriakan liar Yuyun sambil menghujamkan dalam-dalam wajahnya di antara selangkangan Anita. Blesshh.. &#8220;Aaahh.. Ahh.. Ahh.. Ghhiila kauu Thoo!!&#8221; teriak Yuyun menggila tanpa melepaskan memeknya dari kontol Anto. Begitu juga Anita, melihat Yuyun menggila seperti itu, ia langsung memanfaatkannya dengan menekankan wajah Yuyun lebih melesak ke dalam selangkangan Anita.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Ooohh.. Ssshh&#8221; lirih Anita. Setelah puas, Anto mencabut kontolnya dari dalam vagina Yuyun, dan langsung menjambak rambut kedua wanita itu dengan kedua tangannya, kemudian didekatkannya kedua wajah itu agar saling berciuman dan saling menjilati wajah masing-masing yang dilumuri lendir kenikmatan. Kemudian ditariknya wajah Anita dan Yuyun mendekatinya dan diciuminya keduanya bergantian. Sambil menikmati sisa-sisa orgasmenya. &#8220;Makasih ya sayang.. Kau benar-benar hebat!&#8221; ujar Anita pada Anto. &#8220;Mbak juga!&#8221; balas anto sambil kemudian langsung melumat dalam-dalam bibir Anita. Melihat temannya puas, Yuyun tersenyum lega lalu berkata pada Anita, &#8220;Kamu kapan-kapan bisa call Anto kok kalau ingin! Pokoke aku sudah ngenalin ha.. ha.. ha..&#8221; &#8220;Waah, aku benar-benar puas Mbak.. Aku bakal rajin lembur nih! Or ngelemburkan diri! Ha..&#8221; balas Anita sambil mengerlingkan matanya. &#8220;Satu hal lagi sayang, mulai sekarang jangan panggil aku Mbak, panggil aja namaku or sayang, ok?&#8221; pinta Yuyun sambil mengecup lembut bibir Anita. &#8220;Ok Sayang.. Anyhing for you!&#8221; jawab Anita sambil membalas bibir Yuyun dengan lumatan lembut.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Mbak, aku pulang dulu ya, soalnya sudah janjian mau ketempat cewekku,&#8221; sambung Anto. &#8220;Wah, kamu masih kurang To?&#8221; goda Anita. &#8220;Apa jangan-jangan Mbak Anita yang masih kurang nih? Aku masih kuat begitu kok, mau berapa ronde lagi sih?&#8221; tantang Anto. &#8220;Wah.. Benernya aku masih ingin banget tapi, kayaknya sudah malem banget deh, ntar Mas-ku curiga,&#8221; ujar Anita sambil melirik ke arah jam dinding. &#8220;Ah, tapi persetan lah!&#8221; Rupanya Anita masih sedikit ingin dipuaskan lagi. Ia langsung mengambil posisi nungging, sambil meminta Anto untuk melakukan sex anal kepadanya. &#8220;Mmmhh, kamu mau khan, sex anal To? Aku belum pernah nih! Suamiku nggak pernah mau&#8221; pinta Anita. &#8220;Ya ampun, kamu belum puas ya An?&#8221; tanya Yuyun, yang baru saja hendak mengenakan lagi celana dalamnya. &#8220;Iya nih Mbak..&#8221; Jawab Anita. &#8220;Ok Sayang!&#8221; jawab Anto sambil memegangi kontolnya yang masih tegak menantang, padahal baru saja mencapai orgasme. Dipeganginya pinggul Anita sambil menekan-nekankan kontolnya pada lubang anus Anita. Kemudian.. Blleesshh.. Lubang itu memang terasa sangat seret, karena memang belum pernah dimasuki kontol.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Naikkan sedikit pantatmu Mbak..&#8221; pinta Anto, &#8220;Aaahh.. Iiyyaahh begituhh..&#8221; Anita mulai merem melek kembali, menikmati setiap rojokan dalam lubang anusnya itu. &#8220;Nikkmmaathh Sayanghh..&#8221; Melihat hal ini Yuyun kembali melepas celana dalamnya yang baru ia pakai sampai lutut, kemudian mengangkan di hadapan wajah Anita, menyodorkan memeknya yang masih tercium aroma lendir kenikmatannya. Anita langsung menciumi dan menjilati vagina itu sehingga Yuyun langsung merem melek lagi dibuatnya. Permainan Anto di dalam anus Anto kira-kira 10 menit lamanya, dan Anita amat menikmati permainan barunya ini. Sensasi yang dirasakannya jauh dari yang dibayangkannya selama ini. Begitu nikmatnya. Bukan hanya anusnya saja yang merasakan nikmat, tetapi otot-otot di dalam memeknya kembali berdenyut-denyut nikmat. Anto memainkan tempo yang lambat, karena kuatir pada Anita yang baru kali ini melakukan hal ini. Ia tak ingin melukai dinding anus lawan mainnya itu. Tetapi ia merasa begitru nikmat, karena dinding anus Anita masih sangat seret sehingga begitu menjepit kontolnya.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Terusshh Thoo.. Akkuuhh mauuhh keluarr niihh..&#8221; racau Anita. Rupanya di ronde kedua ini ia tak kuat menahan lama permainannya karena ia begitu menikmati sensasi yang dirasakannya dari hal baru ini. Tak lama kemudian Anita mulai mempercepat goyangan pinggulnya dan semakin liar bermain menjilati dan menggigiti vagina Mbak Yuyun. Sampai akhirnya.. &#8220;Aaahh..&#8221; Anita berteriak, karena otot-otot dalam memeknya berkontraksi mengejang dan melemas. Ia mendapatkan orgasme lagi. Melihat Anita makin menggila, Anto agak mempercepat tempo goyangannya, agaknya ia menjadi tak peduli lawan mainnya bisa kesakitan, tetapi yang keluar dari mulut Anita justru kebalikannya. &#8220;Terusshh Thhoo.. Puaskhann dirimuuhh.. Siksaa akuu Sayaanghh..&#8221; teriak Anita, tak mempedulikan rasa nikmat diselangkangannya yang mulai berubah menjadi sedikit rasa pedih pada anusnya. Hingga tak lama kemudian, terasa olehnya Anto mulai sedikit mengejang dan.. Croott.. Croottss.. Dua kali lendir panas dari kontol Anto meledak di dalam raganya.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Aaahh MBHaakk..&#8221; teriak Anto langsung terkulai lemas memeluk Anita dari belakang yang masih berada dalam posisi itu. Anto menikmati orgasmenya sambil menciumi tengkuk, rambut dan punggung Anita yang putih mulus dan wangi itu. Tangannya memeluk ke arah dada Anita, sambil kemudian meremas-remas lembut, menikmati sensasi yang baru saja di rasakannya. Anita pun terpejam menikmati hal ini. Yuyun tersenyum puas melihat kedua temannya itu telah mencapai puncaknya. Kemudian ia bangun dan langsung memeluk kedua temannya itu, ikut merasakan kehangatan dan kenikmatan yang mereka ciptakan bertiga. &#8220;Ya ampun, sekarang sudah jam 21:45!!&#8221; teriak Anita &#8220;Wah aku bilang apa nih ke orang rumah?&#8221; ujarnya sambil beranjak mencomoti celana dalam, bra dan stelan blazernya yang tergeletak tak beraturan dilantai dan sofa. Ketiganya segera sibuk mengenakan kembali pakaian mereka. Kemudian mereka pulang bersama-sama setelah saling berjanji untuk mengulangi kegilaan itu dalam waktu dekat.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>TAMAT</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ceritasex.cn/pengalaman-pertama-anita-chapter-3/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>The Fallen Princess 4: Final Target</title>
		<link>http://www.ceritasex.cn/the-fallen-princess-4-final-target/</link>
		<comments>http://www.ceritasex.cn/the-fallen-princess-4-final-target/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 01 Jul 2011 22:13:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cerita Sex</dc:creator>
				<category><![CDATA[anal seks]]></category>
		<category><![CDATA[Daun Muda]]></category>
		<category><![CDATA[Gangbang Rame Rame]]></category>
		<category><![CDATA[Pemerkosaan]]></category>
		<category><![CDATA[Sedarah]]></category>
		<category><![CDATA[Seks Umum]]></category>
		<category><![CDATA[anita]]></category>
		<category><![CDATA[bambang]]></category>
		<category><![CDATA[binal]]></category>
		<category><![CDATA[gangbang]]></category>
		<category><![CDATA[incest]]></category>
		<category><![CDATA[masturbasi]]></category>
		<category><![CDATA[memek]]></category>
		<category><![CDATA[ml]]></category>
		<category><![CDATA[ngentot]]></category>
		<category><![CDATA[penis]]></category>
		<category><![CDATA[renata]]></category>
		<category><![CDATA[vagina]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ceritasex.cn/?p=2551</guid>
		<description><![CDATA[“mmm…hhhmmm…”. Renata tidur terlentang di kasurnya. Tangannya bergerak lemah lembut mengelus-elus bibir vaginanya sendiri. Di malam yang sepi itu, Renata sendirian di kamarnya dan entah kenapa nafsunya sedang tinggi. Setelah ‘memanaskan’ vaginanya, Renata mengambil sebuah dildo. Dildo kesayangan Renata karena bentuknya besar dan panjang mampu membuat orgasmenya benar-benar maksimal. “uuummmhh..”, Renata mengulum bibir bawahnya menikmati [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2011/07/renata.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-2552" title="renata" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2011/07/renata-227x300.jpg" alt="" width="227" height="300" /></a></p>
<p style="text-align: justify;">“mmm…hhhmmm…”. Renata tidur terlentang di kasurnya. Tangannya bergerak lemah lembut mengelus-elus bibir vaginanya sendiri. Di malam yang sepi itu, Renata sendirian di kamarnya dan entah kenapa nafsunya sedang tinggi. Setelah ‘memanaskan’ vaginanya, Renata mengambil sebuah dildo. Dildo kesayangan Renata karena bentuknya besar dan panjang mampu membuat orgasmenya benar-benar maksimal. “uuummmhh..”, Renata mengulum bibir bawahnya menikmati benda tumpul yang terus masuk ke dalam vaginanya. Begitu sudah seluruhnya masuk ke dalam liang vaginanya, Renata menekan tombolnya. “ooohhh !!! Maanhhh !!”, Renata mendesahkan nama Arman. Arman, sang bandar narkoba, kini telah tiada. Tewas ditembak polisi saat penggrebekkan. Renata merasa sangat kehilangan meski Arman hanyalah sampah masyrakat dan wajahnya jelek, tapi Renata sudah terlanjur bertekuk lutut kepada Arman dengan ‘tongkat sakti’nya. Dildo yang sedang mengaduk-aduk vagina Renata itu mempunyai 2 variasi gerakan. Pertama, bergerak ke kanan dan kiri selama 6 detik. Kedua, berputar di poros selama 4 detik lalu kembali ke gerakan pertama, dst.</p>
<p style="text-align: justify;">Saat Renata sedang menikmati dan menghayati gerakan dildo di vaginanya, tiba-tiba pintu kamar Renata terbuka. Renata menarik selimut untuk menutupi bagian bawah tubuhnya. “kak?”. Ternyata yang masuk adalah adik angkatnya, Andre. “kakak lagi ngapain?”. Andre mendengar suara berdengung. Andre melihat mata Renata sayup-sayup dan tubuhnya bergetar. Andre menarik selimut Renata dan menemukan suara dengung itu berasal dari dildo yang menancap di vagina kakaknya. “tu…tuuphh…piint..ttuuhh..”, lirih Renata pelan. “oke..kak..”. Andre menutup dan mengunci pintu kamar Renata lalu berdiri di ujung tempat tidur Renata. Andre pun menonton kakaknya. Memandangi vagina kakaknya yang tertutup pangkal dildo. Andre tersenyum, menatap vagina yang telah menjadi tempat ‘bermukim’ bagi burung mudanya itu selama 2 tahun terakhir. Ya, benar, hubungan Andre dan Renata bukan kakak-adik angkat biasa. Setiap hari selama 2 tahun terakhir, Andre tidak pernah tidur di kamarnya, dia selalu tidur di kamar Renata. Hubungan ini bermula ketika Andre berumur 13 tahun saat masih duduk di kelas 1 SMP.</p>
<p style="text-align: justify;">Sebenarnya, Andre adalah cucu dari pembantu Renata yang sudah lama meninggal. Saat Andre masih berumur 2 tahun, keluarganya hanya tinggal neneknya. Kedua orang tuanya entah kemana, tak ada kabar. Kakeknya pun meninggal dunia saat Andre baru berumur 6 bulan. Kedua orang tua Renata memutuskan untuk mengadopsi Andre karena nenek Andre sudah dianggap seperti keluarga sendiri oleh keluarga Renata. Renata pun tidak keberatan Andre menjadi adiknya. Awalnya, seperti anak kecil lainnya, Andre sering menjahili Renata. Tapi, ketika hormon-hormon Andre mulai bekerja dan membuat Andre jadi memperhatikan lawan jenis, Andre baru sadar kalau kakak angkatnya itu cantik sekali. Dari ‘pengalaman’ bermain internet yang Andre lakukan mulai dari kelas 4 SD (anak sekarang cepat dewasa karena internet, ya kan? hhi), penis kecil Andre sering tegak jika berdekatan dengan Renata yang waktu itu baru kelas 3 SMP. Saat Renata sudah masuk SMA. Andre semakin tergila-gila dengan Renata bahkan Andre sering membayangkan Renata bugil di depannya.</p>
<p style="text-align: justify;">Andre jadi salah tingkah jika di dekat Renata. Renata sebenarnya memperhatikan tingkah adik angkatnya itu, tapi tidak memperhatikannya karena Renata terlalu sibuk membangun reputasi di sekolahnya. Saking memuja-muja kakak angkatnya, dan Renata pun muncul sebagai pasangan Andre di mimpi basahnya saat berumur . “oohh…kak Rena…aahhh”, Andre mengocok penisnya sendiri sambil memegang cd yang ada di ranjang Renata. Andre menempelkan cd Renata ke hidungnya sambil terus mengocok penisnya sendiri. Aroma vagina Renata masih melekat erat di cd itu karena cd itu habis dipakai Renata kemarin dari sore hingga pagi. Pagi itu, Renata terlambat jadi dia mengganti cdnya dan asal membuang cdnya itu ke tempat tidur. Rupanya, sejak mimpi basah, Andre jadi semakin nekat. Andre sering mengendap-endap ke kamar Renata yang sering tak terkunci lalu Andre mengendus-endus cd dan bh Renata sambil onani. “Andre ??!!”. “hah?!”. Andre kaget bukan kepalang, kakaknya berdiri di pintu kamar padahal dia masih memegang cd kakaknya dan menggenggam penisnya.<br />
<span id="more-2551"></span><br />
Andre keringat dingin, dia tahu tidak bisa mengelak lagi, tertangkap basah. Andre hanya bisa menaikkan celananya sementara Renata mengunci pintu kamar. “jadi kamu…yang bikin bh ama cd kakak banyak yang lengket…”. “ng…ng…”. “sini…kamu mesti cerita ke kakak…udah lama kamu gak cerita-cerita ke kakak..”. Renata menuntun Andre duduk di ranjangnya. Tangan Andre gemetaran, takut sekaligus malu. “kenapa nyiumin cd kakak?”. “mm…ng..”. Andre hanya tertunduk malu tak mampu berkata-kata. “ayo…jawab aja..gak apa-apa kok…”, kata Renata sambil mengelus-elus kepala adiknya. “mm…wanginya….enak, kak…”. “oh…jangan-jangan kamu udah mimpi basah ya?”. “i..iya kak..kok..ka…kak tau?”. “ya kalo belom mimpi basah…mana mungkin kamu jadi nekat gini..”. “ng…ka..kak..marah?”. “nggak kok…tenang aja..”. Renata merangkul Andre. “emang kamu mimpi basah ama siapa? jujur ya ama kakak…”. “mm…sama kakak…”. “ha? sama kakak? kok?”. “kakak..cantik…”. “oh..ah kamu Ndre..ada-ada aja…”. “jangan bilang papa mama, kak…”. “iya-iya..”. “Andre janji…gak bakal bayangin kak Rena lagi..”.</p>
<p style="text-align: justify;">Renata tersenyum dan tiba-tiba berjongkok di depan Andre lalu melorotkan celana Andre. Terpampanglah burung muda itu di hadapan Renata yang sudah kehilangan kesuciannya sejak 1 SMA. Renata kaget juga, Andre yang baru kelas 2 SMP sudah mempunyai penis sebesar pacarnya, kira-kira 16 cm. Tadinya, Renata hanya penasaran saja dengan ‘perkembangan’ adiknya. Tapi, setelah melihat ukuran penis adiknya, nafsu pun mulai menguasai pikiran Renata yang sudah menjadi maniak seks waktu itu. “kakak ngapain?!?”. “udah..kamu tenang aja…”. Renata sudah gelap mata, tidak memikirkan lagi yang di depannya adalah adiknya sendiri, penis itu terlalu menggoda bagi Renata untuk ditutup lagi. “eehhh…”, Andre merinding merasakan listrik seperti mengalir di sekujur tubuhnya saat Renata mulai menciumi batang penis Andre. “oohhh..enaakhhh…kakkhhh…ooohh…”. Andre mengerang-erang mengeluh-eluhkan kakaknya yang menjilati burungnya. Renata terlihat sangat menikmati alat kelamin adiknya itu, tak ada yang lupu dari sapuan lidahnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Penis yang baru saja disunat 1 bulan kemarin itu habis diemut-emut dan dijilat-jilat oleh Renata, zakar Andre pun menjadi bulan-bulan Renata. Sekitar penis Andre pun sudah basah kuyup dengan air liur Renata. Andre terus mendesah dan mendongakkan kepalanya. Andre merasa seperti di surga, belom pernah dia rasakan kenikmatan seperti. Geli, hangat, dan nikmat terasa di selangkangan Andre. Andre tak pernah membayangkan kalau oral seks yang dia baca dari internet selama ini akan sangat nikmat, apalagi yang sedang mengoralnya adalah cewek cantik yang merupakan impiannya yaitu kakaknya sendiri. Semakin lama, Renata jadi semakin bersemangat sendiri. “enaakhhh…”, lirih Andre merasakan penisnya basah, hangat, dan nyaman karena seluruh batangnya telah berada di dalam mulut Renata sepenuhnya. Renata menggigit-gigit kepala dan leher penis Andre dengan gemas. Tubuh Andre menggelinjang-gelinjang saat Renata menggunakan lidahnya untuk mengorek-ngorek habis lubang kencing Andre. Andre tak bisa menahan lagi ‘serangan’ lidah Renata dan akhirnya menumpahkan air mani ke dalam mulut wanita untuk pertama kali alias perdana dan wanita itu kakaknya yang sangat cantik.</p>
<p style="text-align: justify;">“aahh..udahhh kakhh…uuuhh…”, Andre minta ampun karena Renata terus mengemut-emut kepala penisnya yang mulai terasa agak ngilu. Setelah yakin sperma Andre sudah benar-benar tak bersisa, Renata pun mengeluarkan penis adiknya itu dari mulutnya. Renata membuka mulutnya, menunjukkan mulutnya yang penuh sperma ke Andre sebelum akhirnya Renata menelan sperma Andre. Renata berdiri dan tersenyum ke Andre. Andre sendiri, masih ngos-ngosan dan bengong masih tak percaya, penisnya baru saja diemuti oleh kakaknya. “gimana, Ndre? enak gak?”. “eh..eh..enakhh..bangethh..kak..”. Renata belum selesai memberi kejutan ke adiknya. Renata melucuti pakaiannya tepat di hadapan Andre. “gimana…bagus gak badan kakak?”, tanya Renata bertolak pinggang lalu berputar-putar bak model sedang memamerkan tubuhnya. “ba..ba..guss..”. Impian Andre terwujud. Kini, kakaknya berdiri di depannya tanpa sehelai benangpun melekat di tubuh kakaknya. Seperti mimpi Andre, tubuh kakaknya sexy, putih mulus, apalagi payudara dan pantatnya, begitu bulat dan terlihat kenyal dan padat.</p>
<p style="text-align: justify;">Renata mendekat ke Andre lalu menuntun tangan Andre ke belakang sehingga kedua tangan Andre tepat berada di kedua bongkahan pantat Renata. Nafas Andre cepat, vagina Renata kini tepat berada di depan matanya. “eits..gak boleh…”. Renata beberapa kali menahan kepala Andre yang maju mendekati vaginanya. “kenapa, kak?”, nafsu sudah membuat Andre tidak canggung lagi. “kakak capek..baru pulang..ntar malem aja ya..”. “sekarang aja deh kak…”. “eh..bandel banget..”. Andre kelihatan sudah tidak sabaran. “kakak janji deh..kalo kamu dateng ke kamar kakak jam 9..kamu boleh ngapain aja…”. “bener kak??”, seperti anak kecil mendapat permen, Andre kelihatan sangat bahagia. “iya…”. Renata melepaskan rangkulan Andre di pinggangnya lalu mendirikan Andre. Renata menaikkan celana Andre. “udah sana…kakak mau istirahat…”. “tapi bener ya kak…ntar malem…Andre boleh ke sini lagi?”. “iya..iya..”. Malam harinya, Andre pun datang ke kamar Renata untuk tidur bersama atau lebih tepatnya meniduri kakak angkatnya. Sejak saat itu, Andre tak pernah tidur di kamarnya lagi.</p>
<p style="text-align: justify;">Dia selalu mengendap-endap ke kamar Renata tanpa sepengetahuan orang tua angkatnya. Renata tidak keberatan ‘menerima’ Andre setiap malam karena penis Andre cukup untuk memuaskan nafsunya yang memang tinggi itu. Dan bagi Andre, tak usah ditanya lagi. Dari pagi sampai sore, yang ada di otak Andre hanyalah Renata dan ingatan tentang betapa nikmatnya menyetubuhi kakaknya itu. Renata mengajari Andre, dan kadang Andre mempraktekkan yang diliatnya di internet ke kakaknya. “OOOUUHHH !!”, Renata melenguh dan menekuk ke atas. Andre mencabut dildo dari vagina kakaknya. Dan tanpa minta izin, Andre langsung menempatkan kepalanya di selangkangan Renata dan langsung menyerang vagina Renata dengan lidahnya. “ouhh..Ndree..mmhhh…”. Renata menggeliat-geliat dan melebarkan kedua pahanya selebar mungkin menerima kehadiran Andre di selangkangannya dengan senang hati meski tiba-tiba. Andre merasa tak perlu lagi minta izin ke Renata untuk melahap daerah pribadi kakaknya itu karena vagina kakaknya sudah seperti menjadi milik Andre. Lidah Andre begitu lihai mengorek-ngorek vagina Renata.</p>
<p style="text-align: justify;">Renata menekan kepala Andre agar tetap di selangkangannya. Renata merasa nikmat luar biasa, Andre sudah mahir sejak ia ajarkan. “Ndreee !!!”, erang Renata, kembali orgasme. Andre tak menyia-nyiakan cairan vagina Renata, diseruputnya hingga habis tak bersisa. Andre merangkak menaiki tubuh Renata lalu mencumbunya. Andre pun membagi cairan vagina itu dengan si pemiliknya melalui mulut. “kamu ngagetin aja…”, kata Renata manja. “hehe…abisnya bosen di kamar..mendingan ke kamar kakak..”. “ya kan bisa ketok dulu…”. “hehe..”. Andre membuka pakaiannya dan berdiri di samping tempat tidur Renata. Renata memiringkan tubuhnya dan menggengam penis Andre lalu membelai dan mengelus-elus penis itu. Renata sama sekali tidak bosan ‘berjumpa’ dengan penis Andre meski kemarin sudah bertemu karena penis yang sedang digenggamnya sekarang ini adalah penis favoritnya setelah penis Arman. Renata mulai menciumi kepala beserta batang penis Andre dengan mesra sementara tangan kanannya meremas-remas zakar Andre dengan lembut. Lidah Renata pun mulai lincah menari-nari di sekujur batang Andre.</p>
<p style="text-align: justify;">Penis Andre itu habis dikulum dan dijilati oleh Renata, basah kuyup oleh air liur. “hmm..enak banget kak…lagi dong kak..hehe..”. “uh..dasar kamu..”. Renata memukul batang penis Andre dengan pelan. “aduh kak…”. Sesuai permintaan adiknya tersayang, Renata pun mengulum penis Andre lagi. “udah belom?”. “udah kak..tar keluar..kan gak seru..hehe”. Andre pun menaiki tubuh Renata. Mereka berdua berciuman lagi. Saling melumat, memagut dan lidah mereka berdua saling mengait dan membelit, satu sama lain tidak ada yang mau mengalah. Wajah Renata diciumi dan dijilati Andre. Seperti tidak ada hari esok bagi Andre, nafsu Andre begitu menggebu-gebu ingin menikmati setiap senti dari tubuh kakaknya. Renata pasrah ditindih, berada di bawah adiknya sendiri, diciumi dan dijilati bertubi-tubi. “hihi..geli..gelii..udah..ahh..Ndree..”. Renata menggelinjang kegelian karena Andre menjilati kupingnya. Andre pun turun ke leher Renata dan mencupangi leher Renata yang sudah banyak bekas cupangannya. Renata memang membolehkan Andre mencupangnya dimana pun ia suka asal jangan di wajah.</p>
<p style="text-align: justify;">Orang tuanya pernah menanyakan noda-noda hitam di leher Renata, dan dengan enteng Renata menjawabnya dicupang oleh pacarnya. Orang tua Renata tidak mempermasalahkan lagi karena keluarga mereka memang bebas. Tapi, mereka tidak tahu yang sebenarnya kalau bekas-bekas di leher Renata itu dibuat oleh anak angkat mereka. Andre membenamkan kepalanya di belahan payudara Renata. Empuk dan hangat sekali terjepit di antara kedua buah payudara Renata yang putih nan montok itu. “fwaahhh…”. Andre pun mengambil nafas. Renata hanya tersenyum melihat kelakuan adiknya itu. Bagai bayi, Andre pun menyedot kedua puting Renata serta menggigitinya dengan gemas secara bergantian. Tangan kanan Andre bergerak menyusup ke selangkangan Renata dan mulai mengobok-obok vagina Renata. “oohh..oohhh…aahh…”. Renata pun dapat orgasme lagi padahal penis adiknya sama sekali belum menyentuh vaginanya. Andre sudah hafal betul titik tertentu di tubuh kakaknya sehingga mudah bagi Andre untuk membuat kakaknya terangsang dan orgasme hanya dengan ‘gerilya’ saja.</p>
<p style="text-align: justify;">Andre membuka dan menaruh kedua kaki Renata melewati pinggangnya. 2 senti kepala penis Andre sudah berada di dalam vagina Renata. Penis sang adik sudah siap menyatu dengan vagina sang kakak. Menyatu untuk menyamakan irama dan bekerja sama untuk mencapai puncak kenikmatan. “ayoo..Ndreee..hh..”, lirih Renata pelan. ‘benda tumpul’ Andre pun mulai menyundul masuk ke dalam liang vagina Renata. Bibir vagina Renata yang sudah beradaptasi dengan benda tumpul yang satu ini pun melebar menyesuaikan diameter penis Andre yang semakin jauh masuk ke dalam liang vagina Renata. Akhirnya penis Andre sudah mengait vagina Renata dengan kuat. Penis Andre terasa hangat dan nyaman sekali berada di tempat yang sempit itu. Andre memegang pinggang Renata dan mulai menggerakkan pinggulnya maju-mundur. Persetubuhan saudara sekandung pun dimulai. Jika alat kelamin mereka sudah bertemu seperti sekarang, mereka berdua sudah melupakan status mereka sebagai kakak adik. Keduanya hanya sepasang manusia yang sedang mengumbar hawa nafsu binatang mereka satu sama lain.</p>
<p style="text-align: justify;">Andre terus menghujami vagina Renata sambil mencumbui leher kakaknya itu. Cumbuan dari Andre membuat Renata semakin panas. Mereka berdua berpelukan erat. Orgasme melanda Renata.  Ia sangat menikmati tusukan-tusukan Andre yang sangat terasa di vaginanya dan Andre pun menikmati liang vagina Renata yang sempit dan hangat itu. Variasi gerakan dan ‘gocekan’ Andre membuat Renata semakin cepat orgasme. Andre sama sekali tidak berpikir untuk mengganti posisi, yang dia pikirkan hanyalah terus menghujami vagina kakaknya tanpa ampun karena sekali penis Andre masuk ke vagina kakaknya, rasanya tidak mau berhenti dan tidak mau keluar dari situ meski hanya untuk berganti posisi. Renata sebenarnya lebih suka berganti-ganti posisi, tapi Renata menyerahkan ke Andre karena Andrelah yang punya ‘tongkat’ untuk mengendalikannya. Dinginnya AC yang bersuhu 19 derajat celcius sama sekali tak berasa bagi mereka. Mereka sama-sama sudah terbakar api birahi, panas dan bahkan mereka berkeringat di dalam ruangan yang dingin. Keduanya sama-sama berpacu mencapai puncak kenikmatan.</p>
<p style="text-align: justify;">Renata mau penis adiknya itu tetap ‘mengganjal’ vaginanya selama mungkin, dan Andre sangat bernafsu membuat kakaknya puas. Tapi, Andre tidak bisa menahan lagi, spermanya sudah terasa ingin keluar di pucuk penisnya. Andre buru-buru mencabut penisnya lalu mengocok penisnya. “AAAKHHH !!!”. Andre menembaki belahan bibir vagina Renata. Meski sudah sering meniduri kakaknya, ada kepuasaan dan kebanggaan sendiri bagi Andre. Bagaimana tidak, baru kelas 3 SMP tapi sudah bisa menyetubuhi cewek cantik yang lebih dewasa darinya dan membuatnya kelelahan meski cewek itu kakaknya sendiri. Sperma Andre menuruni belahan bibir vagina Renata dan masuk ke dalam liang vagina Renata. Andre menghempaskan tubuhnya di samping Renata. Renata pun memalingkan tubuhnya. “hmm…”. Renata tersenyum sambil ngos-ngosan. Andre melayangkan kecupan-kecupan mesra ke bibir Renata. “coba tiap hari papa mama pergi terus ya kak…kan Andre enak bisa bebas ama kakak…hehe..”. “kamu…kalo papa mama pergi terus gak enak kan..gak ada yang ngasih duit…”. Renata mencubit pipi Andre.</p>
<p style="text-align: justify;">“oh iya ya..hehe..kak..Andre pengen nanya…kenapa kakak harus kuliah di luar kota sih? kenapa gak di sini?”. “ya kakak kan bosen..pengen ganti suasana…”. “tapi ntar Andre jadi gak bisa ketemu kakak dong?”. “ya ntar kalo kakak libur…kakak langsung pulang kok..”. Renata mengelus pipi Andre. “kalo Andre pindah bareng kakak aja gimana?”. “kamu kan masih sekolah…kelas 2 lagi…tanggung..mendingan kamu selesain dulu…”. “terus?”. “ya ntar kalo kamu udah lulus…kamu bilang aja ke papa mama mau sekolah di luar kota..ntar kamu tinggal ama kakak deh…”. “oh iya ya..jadi gak sabar pengen tinggal bareng kakak…hehe..”. “iya iya..”. Andre sudah membayangkan tinggal berdua saja dengan kakak angkatnya yang cantik itu. Kebebasan untuk menikmati tubuh indah kakaknya kapan pun dia inginkan tanpa takut ketahuan. “kak..Andre udah kedinginan nih..hehe..”. “huu..dasar kamu…”, kata Renata menoyor kepala Andre. Mereka lewati malam itu dengan penuh kehangatan bagai pengantin baru yang sedang menikmati malam pertama mereka. Andre tidak pernah merasa cukup, dia ingin terus menerus merengkuh kenikmatan dari tubuh kakaknya sehingga sampai 4 ronde mereka bermain dan akhirnya mereka berdua tertidur kelelahan. Beberapa hari kemudian, Renata sudah mendapat rumah kontrakan di dekat kampusnya dan sudah siap untuk pindah. Malam hari sebelum Renata pergi, seperti biasa, Andre menyusup ke dalam kamar Renata. Andre benar-benar memanfaatkan momen terakhir sebelum Renata pergi. Mereka berdua bersetubuh dengan nafsu yang menggebu-gebu 2 kali lipat dari biasanya. Andre benar-benar tak rela kakaknya itu pergi karena berarti tidak ada yang ‘mengeloni’nya lagi setiap malam. Renata pun agak berat hati meninggalkan Andre, mungkin Renata akan rindu dengan ‘kekasih’ mudanya ini. Keesokan harinya, Renata pun berdandan dan sudah siap pergi. Kebetulan hari itu hari Sabtu sehingga Andre tetap di rumah dan bisa melihat kakaknya sebelum meninggalkannya. Setelah berpamitan ke orang tuanya, saatnya Renata berpamitan ke Andre.</p>
<p style="text-align: justify;">“Ndre…kakak pergi dulu ya…”. “iya kak..ati-ati ya…”. Orang tua mereka tak curiga saat Andre memeluk Renata, wajar bagi mereka. Tapi, sebenarnya Andre memeluk Renata begitu erat karena Andre ingin merasakan kehangatan tubuh kakaknya untuk terakhir kali sebelum berpisah dengan kakaknya yang mungkin dalam waktu lama baru bisa bertemu lagi. Barulah, Renata masuk ke dalam mobil dan pergi menuju kota barunya. Dalam perjalanannya, Renata terus mencoba menghubungi Nadya yang tidak pernah ada kabar lagi setelah pemutaran perdana ‘film’nya saat prom nite. “cckiiittt…”. “aduhh…”. kepala Renata membentur dashboard saat dia ngerem mendadak. Sangat kesal dengan mobil yang menyalipnya tiba-tiba, Renata menekan klakson sekuatnya sambil memaki-maki. Mobil itu berhenti. Dengan marah, Renata turun dari mobilnya dan mendekati mobil di depannya. “eh..kalo nyetir yang bener dong lo !!!”. Renata berani karena memang dia tak salah apa-apa. Kaca terbuka, ternyata seorang bapak-bapak yang mengendarainya. “maaf..maaf…saya lagi buru-buru..”.</p>
<p style="text-align: justify;">“gak bisa…TURUN LO !!”. Bapak itu turun. “maaf…”. Berani karena benar memang betul, tapi waktu yang salah bagi Renata. “maaf..maaf..bapak itu bisa nyetir gak..ss..hmmppfffhhh…”. Renata meronta-ronta saat mulutnya dibekap dari belakang. “mmffhhh…”. Matanya mulai berat. Ternyata sapu tangan itu sudah disiram obat tidur. Renata pun terbius sudah, bapak yang menyetir itu membuka pintu mobilnya dan orang yang membius Renata mengangkat Renata dan memasukkan Renata ke dalam mobil. “lo urusin mobil itu…”. “ok…”. Renata terbangun, pusing sekali kepalanya, matanya juga masih berkunang-kunang, pandangan matanya masih kabur. “halo cantik…hehe…”. “gue dimana?”. “di surga..hahaha..”. Akhirnya kesadaran Renata kembali. “SIAPA LO SEMUA?!! LEPASIN GUE !!”, Renata meronta-ronta. Pergelangan tangan dan kakinya serta perutnya terikat ke kursi yang di dudukinya. “percuma aja lo..ngeronta-ronta kayak gitu…tenaga lo masih belom pulih..”. “LEPASIN GUE !! ANJING LO SEMUA !!”. “wahaha…kita dikatain anjing…”. “oh ye..nama die siape sih Jo?”.</p>
<p style="text-align: justify;">“bentar..hmm…namanya Renata Lavisha Putri..”, jawab Johan setelah melihat ktp Renata. “wah..wah..namanya bagus..pas sama mukanya..hehe..”. “TAI LO !!”. “buset..cakep cakep..ngomongnya kasar juga…perlu kita ajarin yang bener nih…”. Johan mendekat dengan sebuah pisau di tangannya. “MAU NGAPAIN LO ??!”. Renata ketakutan dengan pisau itu. Johan merobek baju Renata sekaligus bhnya. “buset…toketnye gede coy..”. “beuh…enak buat disedot…”. “TOLOONGG !!!”, Renata berteriak sekencang-kencangnya sambil terus berusaha melepaskan diri dari kursi. “gila ! suaranye nyaring banget !! Tung..sumpel nape..”. “oke..”. Untung melorotkan celana dan cdnya sendiri, lalu menyumpal mulut Renata dengan cdnya. Benar-benar tidak enak rasanya, disumpal dengan cd yang bau apek itu. “nah..kalo gini kan enak…sepi..wekekek..”. Merasa sudah tanggung, Untung pun melepaskan bajunya sehingga dia sendiri yang telanjang padahal 2 temannya masih lengkap memakai seragam coklat mereka. Bukan pramuka lho, polisi maksudnya. Melihat Johan yang sendirian saja mengenyoti kedua puting Renata, Untung tidak mau kalah.</p>
<p style="text-align: justify;">Untung langsung mengklaim payudara kiri Renata, sementara Johan tidak ada pilihan lain, kini dia hanya bisa menikmati payudara kanan Renata. “mmffhh…eeffhh !!”. Renata menggigit celana dalam yang menyumpal mulutnya. Karena puting Renata yang sangat kenyal itu, Johan dan Untung benar-benar ketagihan menggigitinya. “Jo…gantian napa?”. “nih…”. Bambang yang sudah telanjang menggantikan Johan. Johan menelanjangi dirinya sendiri. Lalu Untung dan Bambang yang dari tadi seperti lintah yang menyedoti puting Renata pun melepaskan payudara Renata. Mereka bertiga berdiri di depan Renata seperti ingin mempertontonkan penis mereka ke Renata. Bagi maniak seks seperti Renata, 3 batang di hadapannya menimbulkan rasa ‘gelitik’ di dalam dirinya. Besar, dan urat-urat di ketiga batang itu benar-benar membuat Renata lupa kalau dia sedang diculik dan sebentar lagi akan diperkosa. Tanpa perlu membayangkan, vagina Renata mengeluarkan cairannya sendiri, siap untuk menerima ‘tamu’. Johan dan Bambang menggosok-gosokkan penis mereka ke lengan dan payudara Renata.</p>
<p style="text-align: justify;">Sementara Untung menggesekkan penisnya ke telapak tangan Renata yang terbuka itu. Gosokan 3 penis itu membuat tubuh Renata menjadi hangat. Vagina Renata semakin banjir. Ikatan tangan dan kaki Renata dibuka karena 3 pria itu tidak sabar ingin melihat tubuh telanjang Renata. Pastilah daerah pribadi gadis secantik ini sangat mengunggah selera, pikir mereka bertiga. Masing-masing ‘ular’ mereka sudah tak sabar ingin merasakan hangatnya gua Renata. Johan membantu Renata berdiri. Bukan Renata kalau masih berontak setelah melihat 3 penis besar itu. Renata sengaja tidak melakukan perlawanan padahal bisa saja dia menendang atau menonjok mereka. Malah Renata seperti membantu mereka dengan mengangkat kedua kakinya bergantian saat Untung melepaskan celananya. “wah..neng..seneng ya kita perkosa? hehehek..”, Untung melecehkan Renata. Ada perasaan malu di dalam hati Renata, tapi mau apa dikata. “liat tuh…pantes aje…udeh basah duluan…”. Johan melihat titik basah di cd Renata tepat di tengah-tengah selangkangannya. Tanpa basa-basi, Bambang yang ada di depan Renata langsung ‘merogoh’ celana dalam Renata.</p>
<p style="text-align: justify;">Johan dan Untung pun mendekat dari samping kanan dan kiri Renata dan ikutan merogoh cd Renata. Mereka bertiga berebutan mengobok-obok vagina Renata. Renata hanya bisa memejamkan matanya sambil mendesah tertahan menikmati 3 pria itu berebutan mengobok-obok alat kelaminnya. “uuuhhh…mmmhhhh…”. Renata bisa mendesah bebas saat Johan mengeluarkan cd yang menyumpal mulut Renata. “teriak nyaring..tapi desahannya merdu euy…jadi makin napsu gue..ekekek..”. Suara desahan Renata memang merdu sekaligus manja sehingga membuat para lelaki semakin bersemangat jika sudah mendengar Renata mendesah. “hhnnnhhh !!”, tubuh Renata menegang. Ketiga tangan pria itu pun terasa hangat karena Renata sedang menyiram tangan mereka dengan cairan vaginanya. Mereka bertiga menjilati tangan mereka masing-masing yang berlumuran cairan vagina Renata. “mm…enak..”. Johan menurunkan celana dalam Renata, satu-satunya pakaian yang masih menempel di tubuh Renata. Kini, 4 orang itu sudah sama-sama telanjang. 2 lubang dari seorang gadis cantik dengan 3 penis yang sudah tak sabar ingin menjelajah ke dalam tubuh gadis cantik itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Bambang mendorong Renata ke meja, Renata menungging dengan setengah badannya berada di meja. “buset nih pantat mulus banget yak…”. Untung mengelus-elus bongkahan pantat Renata yang bulat, padat, kenyal, dan mulus sebelum akhirnya Untung menampar pantat Renata dengan sangat keras. “aawwhh…”, rintih Renata tetap dengan nada suara manjanya sehingga Untung semakin gemas dan menampar pantat Renata berkali-kali sampai pantat Renata pun jadi memerah. Renata merasa pantatnya perih dan panas. “ayo neng…buka mulutnya…a..a..a..amm…hehe…”, ledek Johan ‘menyuap’ Renata dengan penisnya. Johan mulai memompa mulut Renata dengan perlahan. Renata merasa ada benda tumpul yang menyentuh bibir vaginanya. “hmpfh…”. Benda tumpul itu terus masuk ke dalam liang vagina Renata. Mata Renata terbuka lebih lebar, benda tumpul itu terasa besar dan benar-benar membuat vaginanya penuh sesak. Sesak dan sakit Renata rasakan karena benda itu terus masuk sampai akhirnya mentok di dalam liang vaginanya. Awalnya, Renata kira tadi salah satu dari Bambang atau Untung memasukkan penis ke dalam liang vaginanya, tapi yang dia rasakan beda.</p>
<p style="text-align: justify;">Benda tumpul yang ada di dalam vaginanya tidak seperti yang selama ini Renata kenal. Keras, besar, dan dingin. Renata ingin sekali menengok ke belakang untuk mengetahui benda apa yang sedang ada di dalam tubuhnya, tapi Johan memegangi kepalanya agar bisa terus memompa mulutnya. Benda asing itu mulai bergerak keluar masuk. Ngilu sekali rasanya, Renata jadi sering merapatkan pahanya menahan ngilu. “gila lo Tung..memek orang disodok-sodok pake gituan…”. “bodo ah…demen gue nyiksa cewek cakep kayak gini…”. Tanpa memikirkan Renata, Untung terus menyodok vagina Renata dengan tongkat polisi anti huru-hara yang biasa digunakan untuk memukul massa itu. Meskipun ngilu, Renata masih bisa merasakan nikmat di sela-sela rasa ngilu itu. Kedua paha Renata merapat, dan pantatnya agak terangkat. “enak ya neng…disodok pake tongkat…hehehe…”, Untung meledek Renata yang mengalami orgasme. Vagina Renata akhirnya terasa lega dan plong, tapi penis Untung langsung menggantikan peran tongkat tadi. 2 penis itu seperti berlomba keluar masuk tubuh Renata. Semakin lama semakin cepat ritme 2 penis itu.</p>
<p style="text-align: justify;">“uuhh !! enakkhh !!!”, erang Untung semakin bersemangat. Liang vagina Renata sangat hangat dan sempit. Untung merasa penisnya seperti dipijat-pijat karena dinding vagina Renata begitu erat menjepit penisnya. Bunyi kencang saat selangkangan Untung terus menerus beradu dengan pantat Renata. Tak kuat, Renata menyiram penis Untung yang menyesakki vaginanya dengan cairannya. Untung mencabut ‘tiang’ dari ‘pasak’nya. Cairan vagina Renata langsung meleleh keluar dari tempatnya yang tertahan penis Untung tadi. “he..”. Untung memandangi lubang vagina Renata yang membesar sesuai diameter penisnya tadi. Tapi, beberapa detik kemudian, Untung kaget, lubang vagina itu kembali mengecil ke ukurannya semula. Untung jadi penasaran, dia masukkan lagi penisnya sampai mentok lalu dikeluarkan lagi. Seperti tadi, beberapa detik, lubang vagina Renata kembali mengecil. “gile…memek nih cewek elastis banget…”. “minggir lo ah…memek orang dimaenin dari tadi…gue kan juga pengen…”. Bambang memegang pinggang Renata dan menyiapkan penisnya di depan lubang vagina Renata.</p>
<p style="text-align: justify;">“mmhh…”, desah Renata menikmati penis Bambang yang masuk ke vaginanya dengan sangat perlahan. Johan sudah mencabut penisnya tadi karena sudah tidak tahan menerima serangan mulut Renata. Bambang sengaja mendorong masuk penisnya dengan sangat perlahan, dia ingin Renata benar-benar menikmatinya. “neng Rena…sekarang sepongin punya gue…hehe..”. Untung menampar pipi Renata bolak-balik dengan penisnya sebelum akhirnya menjejali mulut Renata dengan penisnya. Bambang pun mulai menggenjot vagina Renata dengan sangat khidmad dan penuh perasaan seperti sedang menyetubuhi istrinya saja. Sementara Untung dengan kasar mencekoki Renata dengan penisnya. Untung mengeluarkan penisnya saat merasa dia hampir ‘kalah’ dengan permainan mulut Renata yang sangat lihai. “anjriit…sepongan lo mantep banget…kayaknya lo udah biasa nelen kontol ye? hahaha…”. Renata tidak mengindahkan ejekan Untung karena dia sedang menikmati dan menghayati gerakan penis Bambang yang bergerak maju mundur di liang vaginanya. Bambang mengangkat tubuh Renata sedikit dan menyelipkan kedua tangannya melewati lengan Renata untuk menggenggam kedua buah payudara Renata yang memang enak untuk digenggam apalagi diremas.</p>
<p style="text-align: justify;">Renata sampai lupa kalau saat ini dia sedang diperkosa karena Bambang bergerak dengan penuh perasaan, tak asal grasak-grusuk seperti Untung tadi. Ia pun mendapatkan orgasme yang kuat, orgasme yang hanya bisa didapat Renata jika bersenggama dengan Arman atau adiknya, Andre. “Bang..kita sodok bedua aje langsung…”. “bentar…tanggung…”. Bambang mengangkat tubuh Renata sehingga kini mereka berdua sama-sama berdiri tegak, tapi penis Bambang masih kuat mengait vagina Renata. Renata menengok ke belakang, Bambang pun langsung menyosor bibir Renata. Tangan Bambang melingkar di pinggang Renata dari belakang. Bambang tak ingin Renata lepas dari pelukannya karena tubuh Renata sangat hangat dan montok, enak untuk dipeluk. Keduanya begitu menikmati persenggamaan ini, padahal baru kali ini mereka bertemu, tapi sudah seperti lama tidak bertemu. “woy !! sendirian aje…”. “maap..maap…lupa…”. Bambang menarik penisnya keluar dan kini dia tidur di atas tikar yang tadi di gelar Johan. “ayo neng…naek ke sini…”, kata Bambang memukul kedua pahanya seperti ayah yang menyuruh anaknya untuk duduk di pangkuannya.</p>
<p style="text-align: justify;">Penis Bambang jadi seperti tongkat sihir yang menyihir Renata untuk mengikuti perintah Bambang. “kenapa badan gue gerak sendiri? kenapa gue mao?”, pikir Renata dengan hati kecilnya. Renata tidak percaya, badannya seperti bergerak sendiri mendekati Bambang. Apa karena vaginanya menyuruh otak Renata untuk mempersatukan lagi dengan penis Bambang? Renata sama sekali tidak mengerti. Renata menurunkan tubuhnya sambil melirih pelan. Penis Bambang pun sudah kembali berada di dalam liang vagina Renata. Renata mulai menggerakkan pinggulnya maju-mundur dan berputar-putar untuk mengocok penis Bambang. Renata bergoyang liar, tak peduli apapun lagi. “oohh…yak..neng..teruss neng…”. Bambang tersenyum sambil memegangi pinggang Renata yang terus menggoyangkan pinggulnya. Johan mendorong tubuh Renata perlahan sehingga payudara Renata menempel ke wajah Bambang. Johan melebarkan kedua bongkahan pantat Renata. Lubang pantat Renata yang mungil itu pun terlihat, Johan memasukkan 2 ujung jempolnya bersamaan untuk melebarkan lubang pantat Renata.</p>
<p style="text-align: justify;">Kepala penis Johan sudah bersentuhan dengan mulut lubang pantat Renata. “hhmmmhhh….”, lirih Renata saat penis Johan dengan perlahan masuk. Nafas Renata sangat berat rasanya. Di dalam tubuhnya kini tersimpan 2 penis besar. Penuh sesak terasa di bagian bawah tubuh Renata. Bambang dan Johan sama-sama tidak bergerak. Mereka berdua ingin gadis yang sedang mereka ‘kait’ bersama-sama ini beradaptasi dulu dengan kail pancing mereka. Mereka berdua memberi rangsangan-rangsangan kecil ke Renata agar dia merasa nyaman. Bambang menciumi payudara Renata, sedangkan Johan menciumi pundak dan tengkuk leher Renata. Renata menikmati rangsangan-rangsangan Bambang dan Johan yang membuatnya semakin bergairah saja. “ayooo….”, lirih Renata pelan memberi izin ke Bambang dan Johan untuk mulai memompa penisnya. Mendapat lampu hijau dari sang pemilik tubuh yang sedang mereka himpit, Bambang dan Johan mulai menggerakkan penisnya. Seirama, penis Bambang dan Johan keluar masuk bersamaan. Renata seperti berada di atas awan, nikmat sekali rasanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Ditambah lagi, Bambang dan Johan tak berhenti merangsang Renata. Dan kadang mereka membedakan irama genjotan mereka sebelum menyelaraskan irama mereka lagi, Renata pun sampai mendapat 2x orgasme yang maksimal. Desahan tak henti-hentinya keluar dari mulut Renata, Renata sudah ikhlas seikhlas-ikhlasnya merelakan tubuhnya ke Bambang dan Johan. Sedang asik-asiknya mereka bertiga, Untung pun datang merusak suasana. Untung dengan kasar menekan pipi Renata lalu menjejalkan penisnya ke mulut Renata. “mffhh…hmmffhh…”, Renata sebenarnya protes karena Untung sangat kasar dan tiba-tiba padahal dia sedang menikmati disetubuhi oleh Bambang dan Johan, tapi apa mau dikata, Renata tidak bisa berkata apa-apa karena disumpal dengan penis Untung. Renata mengeluarkan teknik kulumannya dan segera ingin Untung orgasme agar penisnya cepat keluar dari mulutnya. “hhh…egghh…OOUUKKHHH !!!”, Untung tak kuasa lagi setelah lama menahan-nahan orgasmenya. Dia ejakulasi ke dalam mulut Renata. Untung tak mau mengeluarkan penisnya dari mulut Renata.</p>
<p style="text-align: justify;">“sial nih orang…gue bikin ngilu lo !!”, pikir Renata. Renata pun menggerakkan lidahnya lagi membelai penis Untung yang sudah mengecil di dalam rongga mulutnya. Sesuai harapan Renata, Untung menahan-nahan ngilu di penisnya dan akhirnya mengeluarkan penisnya dari mulut Renata. Merasa malu karena keok duluan, Untung pun keluar dari kamar itu sambil membawa pakaiannya. “gleek…”. Renata menelan sperma Untung dengan sekali tegukan. Johan dan Bambang mulai lagi. 2 penis itu masuk dengan sangat dalam sampai Renata merasa 2 penis itu hampir bertemu di dalam tubuhnya. Johan dan Bambang benar-benar kuat, mereka berdua masih tenang menggenjot Renata padahal Renata sendiri sudah mendapat orgasme lagi. Biasanya Renata cukup kuat jika soal menahan-nahan klimaks, tapi karena 2 penis yang sedang mengisi liang vagina dan liang anusnya berdiameter besar membuat Renata jadi tak kuasa menahan orgasmenya apalagi 2 penis ini bergerak seirama menambah sensasi nikmat yang dirasakan Renata jadi 2x lipat. “EEGGHHH !!”, Johan menekan penisnya kuat-kuat ke dalam anus Renata.</p>
<p style="text-align: justify;">“OOKKHH !!!”. 2 jenis sperma dari 2 pria yang berbeda sedang berenang masuk ke dalam tubuh Renata. Anus dan vagina Renata terasa hangat, terus menerus diisi sperma. Johan memeluk Renata sehingga Renata kini benar-benar terjepit di antara 2 pria setengah baya dan besar itu. Bambang mengajak Renata berciuman. Renata pun tidak menolak. Sementara Johan menciumi tengkuk leher Renata. Mereka bertiga basah kuyup karena berkeringat sehabis persenggamaan threesome mereka yang panas tadi. Penis Johan dan Bambang sudah seperti hidran air saja, tak henti-hentinya sperma memancar keluar dari 2 penis besar itu. Bahkan Renata sampai orgasme hanya karena ‘tembakan’ Bambang dan Johan. Akhirnya berhenti juga, Renata pun merasa sangat lemas sekali. Meski sudah memuntahkan isinya dan mengecil, penis Bambang dan Johan masih cukup besar untuk tetap ‘nyangkut’ di anus dan vagina Renata. Johan dan Bambang tak pernah merasa senikmat ini dalam bercinta. Begitu puas rasanya. Mungkin karena Renata adalah gadis cantik yang melayani dengan sepenuh hati meski sedang diperkosa.</p>
<p style="text-align: justify;">Sedangkan, Renata tak pernah merasa begitu dikuasai sekaligus dimanja seperti ini karena Johan dan Bambang tidak hanya asal menggenjotnya dengan kuat, mereka juga menjaga baik-baik perasaan dan tubuhnya sehingga Renata pun jadi rela dihimpit mereka. Saat sedang menikmati keheningan malam bersama, Renata menyadari ada beberapa orang yang menyaksikan. Johan bangun lalu membantu Renata duduk di kursi “drep..drep…”. Suara langkah mendekat. “gimana Ren…rasanya?”. “ha?”. Renata pun menoleh ke kanan. Ingin tau siapa yang berbicara. “hai Rena…”. “Anita ??”. Renata kaget melihat Anita berdiri di depannya. “Rena…Rena…lo emang maniak seks…diperkosa malah seneng…”, ejek Anita. “sialan lo…”, kata Renata. Anita mengangkat dagu Renata. “lo tau gak…gue punya rekaman lo…”, Anita tersenyum licik. “ngepet lo Nit…”. Renata ingin berdiri dan mencekik Anita, tapi terlalu lemas, kakinya masih gemetaran karena bagian bawah tubuhnya yang baru saja diudek-udek dengan 2 ‘tongkat’ sakti yang besar tadi. Renata pun jatuh tersungkur di depan Anita sehingga seperti bersujud ke Anita.</p>
<p style="text-align: justify;">“gak usah ampe sujud gitu kali ke gue..”, ledek Anita. “kenapa, Nit? kenapa lo jebak gue?”. “anggep aja ini balesan dari Putri…”. “ha? Putri? lo?”. “ya..gue ama Putri udah sepakat bales dendam ke lo ‘n Nadya…tapi lo mesti bersyukur…Putri gak mau lo ‘n Nadya kenapa-kenapa…jadi Putri cuma nyuruh gue ngerekam lo pas lagi gituan…’n nyebarin kalo lo macem-macem…”. “GUE GAK TAKUT !!”. “haha…jawaban lo sama aja ama Nadya…”. Langkah beberapa orang terdengar. Anita pun mencium salah satu orang yang baru datang itu. “kenapa, Nit?”. “ini…kayak lo dulu jawabannya…”. “Nadya?!”. “hai Ren..”. “kenapa lo…?”. “Nadya sekarang jadi budak gue ‘n Putri…lo inget kan malem prom nite angkatan lo?”. “…”. “itu gara-gara Nadya ngelaporin gue ke polisi…akhirnya sekarang Nadya udah nerima status dia…malu ketemu orang…apa lo mau kayak Nadya?”. “…”. “oh…lo berarti mau kayak Nadya? oke…gue kirim rekaman lo ke ortu ‘n kampus lo kalo gitu biar lo langsung terkenal…lo kan pengen terkenal?”. “jangan !!”. “kalo gitu..lo mesti nurut gue..”. “i…iya…”. “bagus…mulai sekarang…lo jadi budak gue…”. “mm…”.</p>
<p style="text-align: justify;">“mulai sekarang..V lo punya gue ‘n Putri..gue berhak ngelakuin apa aja…kayak V Nadya…”. Anita bergerak ke belakang Nadya lalu mengangkat rok mini Nadya dengan tangan kirinya. Anita elus-elus belahan vagina Nadya. Nadya mulai bernafas berat. “V lo punya gue kan, Nad?”. “iyaah..”. “gue mau apain aja…terserah gue kan?”. “iyaah..Nit…”. Anita menciumi tengkuk leher Nadya sambil terus membelai vaginanya. “oke…guys…”. Ternyata, tidak hanya ada Nadya dan Anita, tapi juga ada 4 orang pria lainnya. Adam, Roy, Untung, dan Yono. Mereka berempat langsung jongkok di dekat Nadya dan langsung berebutan menjilati bagian bawah tubuh Nadya yang tidak tertutup apa-apa itu. 2 orang di depan dan 2 orang di belakang. Nadya mendesah keenakan sambil berpegangan ke Anita. Renata sudah duduk menyaksikan Nadya sedang keenakan dijilati 4 pria sekaligus. Nadya pun menegang dan 4 pria itu langsung berdiri seolah tugas mereka hanya ‘mengubek-ubek’ selangkangan Nadya saja. Cairan vagina Nadya mengalir melalui pahanya. Anita pun mencium bibir Nadya.</p>
<p style="text-align: justify;">“liat, Ren? V lo bakal kayak Nadya..terserah mau gue apain ‘n mau gue kasih siapa…ngerti?”. “i..iya…”. “ok…sekarang lo ikut gue..”. Anita menuntun Renata ke sebuah ruangan gelap. “klekk…ngiik…”. “masuk lo…”. “kleekk..klekk…”, bunyi besi bergerak beberapa kali. “nyalain…”, teriak Anita terdengar jauh. Renata kaget saat lampu menyala. Ternyata dia berada di dalam sebuah sel penjara yang sempit. Dan lebih kaget lagi, sel yang ada di samping kanan dan kiri serta 3 sel yang ada di seberang berpenghuni 2 orang. “wah…ada cewek cakep !!”, teriak pria yang sepertinya narapidana. “silakan bapak-bapak…pake dia sepuasnya !!”, teriak Anita. “aseekk !!”. Semua narapidana itu langsung keluar dari selnya dan berebutan merangseng masuk ke dalam sel Renata. “JANGAANN !!!”, teriak Renata kencang menolak narapidana-narapidana yang sudah tak sabar ingin mencicipi tubuhnya. Dalam waktu singkat, Renata sibuk dengan penis-penis yang besar-besar nan bau itu dalam waktu singkat. Renata pun disetubuhi dan disodomi secara brutal. Para narapidana itu tidak memikirkan keadaan Renata, mereka hanya ingin melepaskan nafsu mereka yang selama ini tak bisa dilampiaskan secara benar. Hampir setiap napi sudah 2 tahun tidak merasakan kehangatan tubuh wanita, jadi tak heran kalau mereka kasar ke Renata. Apalagi wajah Renata yang cantik dan tubuhnya yang montok membuat mereka semakin bernafsu. Dan tentu, semakin mereka bernafsu maka mereka akan semakin kasar dan brutal menyetubuhi Renata.</p>
<p style="text-align: justify;">Anita tersenyum melihat penis sudah mengait anus dan vagina Renata dan mulut Renata yang terus dijejali penis secara bergantian juga 2 tangannya yang sibuk mengocok beberapa penis secara bergantian. Anita pun kembali ke ruangan sebelumnya. Nadya sudah telanjang bulat, pakaiannya sudah berserakan di lantai. Adam dan Roy menciumi tengkuk dan bahu Nadya, Johan dan Untung menciumi lengan Nadya, dan Bambang dan Yono menciumi paha Nadya. “non Anita…boleh kita pake neng Nadya sekarang?”. Rupanya, 6 orang polisi itu menunggu Anita untuk meminta izin menyetubuhi Nadya. “boleh..boleh…silahkan..Nad..layanin mereka ya…”. “okehh…”, jawab Nadya sambil melirih. Anita pun keluar dari kantor polisi itu dan masuk ke dalam mobilnya. Johan, Bambang, Adam, Roy, Untung, dan Yono adalah orang yang waktu itu memperkosa Nadya. Mereka berenam adalah kenalan Sapto dan mereka semua adalah polisi. Nadya waktu itu salah melapor karena dia melapor ke kantor polisi itu, jadi Anita pun tidak ditahan dan akhirnya bisa ‘mengalahkan’ dan menguasai Nadya.</p>
<p style="text-align: justify;">“Put…udah selesai satu lagi…”. “oke, Nit…sekarang kamu pulang ya…”. “oke Put…”. Nadya ditinggal Anita untuk melayani 6 pria itu dan Renata sedang menjalani malam hukumannya sama seperti Nadya dulu sebelum resmi menjadi budak Anita dan Putri. Anita pun sampai di rumah Putri. Dia langsung menuju kamar Putri. Putri membuka pintu kamarnya. Anita pun langsung memeluk Putri dan mencium bibirnya dengan mesra. Anita sudah menganggap Putri sebagai adiknya. Anita menutup pintu kamar dan setelah itu hanya mereka yang tahu.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>BERSAMBUNG &#8230;</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ceritasex.cn/the-fallen-princess-4-final-target/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>The Fallen Princess 3: Musuh Dalam Selimut</title>
		<link>http://www.ceritasex.cn/the-fallen-princess-3-musuh-dalam-selimut/</link>
		<comments>http://www.ceritasex.cn/the-fallen-princess-3-musuh-dalam-selimut/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 28 Jun 2011 14:02:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cerita Sex</dc:creator>
				<category><![CDATA[anal seks]]></category>
		<category><![CDATA[Daun Muda]]></category>
		<category><![CDATA[Gangbang Rame Rame]]></category>
		<category><![CDATA[Orgy]]></category>
		<category><![CDATA[Pemerkosaan]]></category>
		<category><![CDATA[Seks Umum]]></category>
		<category><![CDATA[abg]]></category>
		<category><![CDATA[anita]]></category>
		<category><![CDATA[BERSAMBUNG]]></category>
		<category><![CDATA[budak seks]]></category>
		<category><![CDATA[cuki]]></category>
		<category><![CDATA[gangbang]]></category>
		<category><![CDATA[kontol]]></category>
		<category><![CDATA[memek]]></category>
		<category><![CDATA[mesum]]></category>
		<category><![CDATA[ngentot]]></category>
		<category><![CDATA[orgasme]]></category>
		<category><![CDATA[penis]]></category>
		<category><![CDATA[sekolah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ceritasex.cn/?p=2540</guid>
		<description><![CDATA[Sebulan telah berlalu, Putri dan Sapto semakin mesra setiap harinya, hampir tak bisa dipisahkan. Putri pun sudah menjelma menjadi penerus Reisha. Keahlian ranjangnya sudah setara dengan Reisha. Sangat cepat dia menyerap semua ajaran Sapto. 5x lebih cepat daya serap Putri dibanding Reisha. Tak heran kalau kerinduan Sapto akan keintimannya dengan Reisha, kini terobati dengan keintimannya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2011/06/putri1.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-2541" title="putri" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2011/06/putri1-225x300.jpg" alt="" width="225" height="300" /></a></p>
<p style="text-align: justify;">Sebulan telah berlalu, Putri dan Sapto semakin mesra setiap harinya, hampir tak bisa dipisahkan. Putri pun sudah menjelma menjadi penerus Reisha. Keahlian ranjangnya sudah setara dengan Reisha. Sangat cepat dia menyerap semua ajaran Sapto. 5x lebih cepat daya serap Putri dibanding Reisha. Tak heran kalau kerinduan Sapto akan keintimannya dengan Reisha, kini terobati dengan keintimannya bersama Putri. Putri juga sudah menerima Sapto dengan sepenuh hati, setiap bercinta dengan Sapto kini Putri lakukan dengan senang hati, tidak ada rasa terpaksa seperti dulu. Dan selama 1 bulan, Putri selalu sarapan sperma Sapto. Sejak menyantap sperma Sapto setiap pagi, Putri merasa ada perubahan. Di sekolah, dia tidak pernah merasa lemas dan ngantuk lagi. Dia jadi selalu bersemangat setiap harinya sehingga mudah menyerap pelajaran dan nilai ulangan hariannya sangat bagus. Mungkin karena sperma Sapto yang kaya protein membuat tubuhnya sehat dan terus bertenaga. Akhirnya, Putri pun jadi senang ‘memerah’ penis Sapto setiap pagi. Tapi, Putri tetap tidak mau berkeliaran di dalam rumah jika tidak memakai sehelai benang pun seperti kakaknya.</p>
<p style="text-align: justify;">Padahal, Sapto ingin sekali melihat Putri berlalu-lalang di sekitarnya tanpa pakaian. Memang, tubuh indah Putri sudah menjadi pemandangan Sapto sehari-hari, tapi melihat Putri telanjang selain di dalam kamarnya adalah fantasi liar Sapto. “Mang Sapto..”, lirih Putri lembut berada di dalam rengkuhan Sapto setelah bercinta dengan sangat panas. “iya non..ada apa?”. “Mang Sapto mau bantuin Putri kan?”. “iyalah mau non..emang mau minta tolong apa?”. “Putri mau balas dendam..”, nada suara Putri berubah. “beres non..Mang Sapto bakal bantuin non Putri..”. Lalu mereka berdua berpelukan lebih erat dari sebelumnya. Keduanya sama-sama tahu, mereka berdua akan saling menjaga dan membantu satu sama lain. Pembunuhan pasti tidak akan seru, Putri memikirkan cara untuk membuat target pertamanya malu seumur hidup dan kalau bisa, sampai hidup segan mati pun tak mau. Sapto dan Putri pun mulai menyusun rencana. Tapi, sedang asyik-asyiknya terus berduaan setiap hari, orang tua Putri pulang. Awalnya mereka berdua bingung, bagaimana caranya menghabiskan waktu bersama jika ada orang tua Putri.</p>
<p style="text-align: justify;">Dulu, orang tua Reisha dan Putri meski masih jarang ke luar kota, mereka terus pergi sehingga Reisha dan Sapto hanya tinggal memikirkan keberadaan Putri dan Reisha sampai sering bolos sekolah hanya untuk menghabiskan waktu bersama Sapto, tapi kini, orang tua Putri dan Reisha sering berada di rumah. Bukan Sapto namanya jika kehabisan akal. Sapto yang bertugas antar-jemput Putri, ‘menculik’ Putri setiap hari ke rumahnya. Tentu, Putri mau saja setiap hari ke rumah Sapto. Berbagai alasan, Putri utarakan ke kedua orang tuanya mulai dari pelajaran tambahan, ekskul, belajar kelompok, mengerjakan tugas, dll. Kedua orang tuanya percaya saja karena yang mereka tahu, Putri adalah anak yang baik dan pintar. Kini, Putri tidak pernah lagi makan malam bersama karena setiap malam dia selalu pulang dalam keadaan kenyang. Kenyang karena sperma Sapto. Dan untuk ‘sarapan’ pagi, Putri menguras penis Sapto selama perjalanannya ke sekolah. “Nad..mau ke mana lo?”. “gue mau balik ah Ta..bt gue..”. “yaudah..terserah..”. “Nit..gue balik duluan ya..”. “oke..”.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah cipika cipiki ke kedua temannya itu, Nadya keluar meninggalkan club favoritnya. Mobil Nadya melaju kencang menembus kegelapan malam karena dia memang sedang sangat bad mood. Tapi, lama-lama mobilnya terasa aneh. Mobilnya terasa berguncang-guncang sepanjang jalan. Nadya meminggirkan mobilnya di jalanan yang sudah sepi. Rupanya, ban belakang mobilnya kempes. “mampus gue..pake kempes segala..”, Nadya kebingungan, bannya kempes di jalanan yang sepi, ditambah sekarang jam 2 pagi, mana ada bengkel yang masih buka. Teleponnya mati, lupa di cas olehnya. Tiba-tiba ada seseorang yang datang dari kejauhan. “Pak…maaf..bisa bantu saya?”. “oh iya..ada apa neng?”. “ban saya kempes..”. “yah neng..malem-malem gini..gak ada bengkel yang buka..”. “tolong Pak…”. “mm..bentar neng..saya coba ke bengkel teman saya dulu..mudah-mudahan masih bangun..”. Dengan sabar, Nadya menunggu bapak tadi. Tidak ada pilihan lain, mau pulang dan kembali lagi, tak ada kendaraan yang lewat. Tak lama kemudian, ada empat orang laki-laki yang datang. “wah..ternyata mobilnya neng cakep toh..pantes aja tadi gue mimpi ketiban duren..”.<br />
<span id="more-2540"></span><br />
“ngomong aje lo ! cepet dorong !! neng masuk ke mobil aja..”. “gak apa-apa, Pak?”. “iya gak apa-apa neng..deket ini..”. Nadya masuk ke dalam mobil, dan empat orang itu mendorong mobil Nadya sampai di depan sebuah bengkel. “neng..kayaknya ban dalemnya sobek..harus diganti..ato neng punya ban cadangan?”. “ban cadangan? gak ada Pak..gimana dong?”, Nadya bingung karena melihat bengkelnya sangat kecil, tak mungkin ada ban mobil. “kemarin ada sih..ban yang ukurannya sama kayak gini..tapi punya orang..”. “gak apa-apa deh, Pak..saya beli 2x lipat..tolong Pak..”. “o yaudah kalo gitu neng..”. “nah neng duduk aja dulu..”. “iya Pak..makasih..”. “nih neng..minum teh anget dulu…”. “makasih..Pak..”. “aahh..”. Tenggorokan Nadya terasa lega sekali, disiram teh manis hangat di malam yang dingin. “oh iya neng namanya siapa?”. “nama saya Nadya, Pak..”. “oh Nadya..kalau saya Sapto..neng Nadya malem-malem gini..ada di luar?”. “iya Pak..saya abis dugem..”. “oh dugem..kalo saya sih gak pernah dugem neng..paling dangdutan..hehe..”. Sapto terus memancing-mancing Nadya hingga Nadya akhirnya merasa nyaman dan senang berbicara dengan Sapto.</p>
<p style="text-align: justify;">Tapi, Nadya merasa ngantuk, padahal biasanya dia ngantuk kalau sudah jam 4 pagi, tapi sekarang baru jam setengah 3. Berkali-kali Nadya menahan kantuk, tapi akhirnya pandangan Nadya gelap. Nadya terbangun di sebuah kamar yang kotor. “siapa kalian ??!!!”, Nadya kaget ada 3 orang yang memakai topeng yang mengelilinginya. “tenang aja neng cantik…kita cuma mau numpang buang peju di memek neng..wahahahaha !!!”. “liat..bodynya mantep banget..bakalan puas nih..”. Mendengar hal itu, Nadya langsung menyadari tubuhnya terlentang tanpa ditutup sehelai benang pun. Tubuhnya menjadi tontonan menarik bagi 3 pria bertopeng itu. 3 orang itu memandangi Nadya dengan pandangan lapar. Tak pernah di hadapan mereka ada seorang gadis cantik yang terlentang pasrah dengan tubuh yang sangat indah dan menggiurkan. Nadya langsung menutupi payudara dan vaginanya dengan kedua tangannya. “tenang aja neng..gak usah ditutup segala..hehe..”. Salah satu pria memegang dan menjauhkan kedua tangan Nadya. “LEPASIN !! LEPASIN !!!”, satu orang lagi menahan kedua kaki Nadya yang tadi menendang-nendang.</p>
<p style="text-align: justify;">Satu orang lagi menggerakkan tangannya mendekati kedua payudara Nadya. Sebut saja dia Joko. Joko memilin-milin kedua puting Nadya. Desahan kecil keluar dari mulut Nadya di sela-sela kata-katanya yang menolak dan mengatai Joko. Joko hanya terkekeh dan terus memainkan kedua puting Nadya sebelum akhirnya Joko mengemuti dan menggigiti kedua puting Nadya bergantian. “nnghh..gakkhhh…”. Pria yang memegang kedua tangan Nadya (sebut saja Jaja) pun melepas kedua tangan Nadya karena Nadya mulai ‘melemah’. Jaja langsung menyedot-nyedot puting kanan Nadya yang nganggur. Kini, Jaja dan Joko seperti lintah yang menempel erat di payudara Nadya. Tak mau lepas dari payudara yang indah itu. Saatnya penyerangan terakhir. Jaja dan Joko mengangkat dan melebarkan kedua kaki Nadya. Vagina Nadya benar-benar terbuka untuk ‘serangan’. “jangan..jangann..”. 3 orang itu hanya tersenyum licik, malah semakin bernafsu mendengar penolakan dari Nadya. Dan melihat daerah vagina Nadya yang bersih, terawat, dan rapih, orang yang ketiga, sebut saja Deni, langsung mengelus-elus vagina Nadya.</p>
<p style="text-align: justify;">Jari-jari Deni bergerak perlahan menyusuri vagina dan pangkal paha Nadya membuat Nadya secara tak sadar melirih pelan. Gairah Nadya semakin lama semakin naik seiring tangan Deni yang terus bergerak menelusuri daerah pribadinya. Tak bisa dipungkiri lagi, Nadya yang sudah 2 minggu tak disentuh pria karena baru putus dengan pacarnya mulai menikmatinya. Tubuhnya merespon positif sentuhan Deni. “enak ya neng? kekeke..”. Muka Nadya agak memerah mendengar ejekan dan tawa Jaja dan Joko, tapi memang nikmat apalagi Jaja dan Joko kini juga ikut mengelus-elus vaginanya. Nadya sudah seperti pasien dengan 3 dokter yang siap ‘mengoperasi’nya. Tubuh Nadya terlentang pasrah untuk dijadikan ‘mainan’ 3 pria yang sama sekali tak dia kenal. “eemmhhh…”, Nadya melirih pelan menikmati Deni yang kini menyapu belahan vaginanya berkali-kali. Jaja dan Joko pun kembali asik menyedot kedua puting Nadya dengan kuat sampai pipi mereka kempot seperti ingin menyedot susu dari payudara Nadya. Klitoris Nadya pun menjadi bulan-bulanan lidah Deni berikutnya. Nadya sudah tidak peduli sama sekali, yang penting dia merasa nikmat yang luar biasa.</p>
<p style="text-align: justify;">“oohhh…mmmhhh…”. “enak ya neng? hehehe..”. “iyaa..hhh..terusshhh..bangghhh !!!”. “beres neng..kekeke…”. Jaja tergoda dengan bibir Nadya yang kelihatan merah merekah. Jaja langsung memagut bibir Nadya habis-habisan dan Nadya yang sudah terbakar api birahi pun membalas Jaja sehingga mereka berdua berciuman dengan panas. Sedangkan, Joko menikmati kedua buah payudara Nadya dengan serakah. Puas melumat bibir Nadya, Jaja iseng meludah ke mulut Nadya. Tanpa disangka, Nadya menelan ludah Jaja tanpa ragu-ragu. “demen nelen ludah gue lo ye ?? nih gue kasih lagi…wahahaha…”. Jaja meludah berkali-kali ke mulut Nadya dan Nadya pun menelan ludah Jaja terus seperti orang kehausan. Sepertinya, Nadya sudah terlalu larut dalam kenikmatan sampai-sampai ia sudi dan tidak segan-segan menelan ludah pria yang sedang memperkosanya. “gila !! nih cewek kuat juga..”, Deni kebingungan. Nadya belum orgasme padahal lidah Deni masih setia membelai vaginanya. Tapi akhirnya, Deni berhasil membuat Nadya mengejang dan mengucurkan cairan vaginanya yang manis itu yang langsung diseruput habis oleh Deni.</p>
<p style="text-align: justify;">Joko dan Deni bertukar posisi sementara Jaja masih senang melihat Nadya yang begitu lahap menelan ludahnya terus menerus. Tapi, Jaja pun ingin juga merasakan manisnya vagina gadis cantik ini. Setelah mereka bertiga mencicipi manisnya vagina Nadya, Deni, Jaja, dan Joko melucuti pakaian mereka masing-masing. Mereka menyuruh Nadya turun dari tempat tidur. Dengan patuhnya, Nadya turun lalu bertumpu dengan kedua lututnya di lantai yang kotor itu. Nadya yang sudah larut dalam birahi menjadi semakin patuh setelah melihat 3 ‘senjata’ besar yang sekarang mengelilinginya. Deni menarik tangan kanan Nadya ke penisnya dan tangan kiri Nadya sudah menggenggam batang Jaja. Tanpa disuruh, Nadya mulai mengocok 2 penis di tangannya itu. Joko menyodorkan penisnya ke mulut Nadya. Nadya langsung menghangatkan penis Joko dengan mulutnya sambil terus mengocok 2 penis lainnya. “Oohh…enaakhh…ajiibbhh..”. Joko mengerang keenakan, tak menduga gadis cantik ini begitu lihai mengulum penisnya. Nadya mengeluarkan penis Joko dan langsung berpindah ke penis Deni, Nadya mengocok penis Joko yang berlumuran air liurnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Bosan dengan penis Deni, penis Jaja yang sekarang mendapat service mulut Nadya. 3 orang itu menikmati service Nadya. Sesuai informasi yang mereka dapat, gadis cantik yang sedang mengulum penis mereka ini memang sudah tidak perawan dan sering melakukan seks, tapi Jaja, Joko, dan Deni tak menyangka kalau korban mereka ternyata begitu lihai memanjakan penis mereka. Jaja dan Deni mengangkat dan menaruh tubuh Nadya di tempat tidur lagi. Mereka berdua melebarkan kedua kaki Nadya sementara Joko mengelus-eluskan penisnya ke belahan bibir vagina Nadya. “hheengggkkhhh !!!!”, pekik Nadya kesakitan, Joko menghentakkan penisnya yang besar dan tebal itu dengan sekali hentakan. “oogghhh..ajiiib…sempithh..mantephh..”. Joko berdiam menikmati jepitan dinding vagina Nadya di penisnya. Joko mulai menarik dan mendorong penisnya. “hhnnhh..hhnnggghhh..”. Nadya masih agak ngilu merasakan penis besar itu terus bergesekkan dengan dinding vaginanya. Lalu Nadya pun disibukkan dengan 2 penis besar lainnya yang kini ada di depan wajahnya. Penis Joko terus merojoki vagina Nadya dengan brutal, keluar masuk seenaknya.</p>
<p style="text-align: justify;">Tapi, lama kelamaan, vagina Nadya pun beradaptasi dengan ukuran penis Joko sehingga hanya rasa nikmat yang kini dirasakan Nadya. Jaja dan Deni kompak menggerakkan penisnya ‘melindas’ kedua puting Nadya bolak-balik sebelum mereka memukul-mukulkan penis mereka sendiri ke payudara Nadya. Payudara Nadya berguncang-guncang dipukul-pukul seperti itu. “aaahhhh !!!”, tubuh Nadya menegang mendapat orgasmenya. Hangat rasanya. Penis Joko terasa semakin hangat diguyur cairan vagina Nadya. Joko mencabut penisnya. Vagina Nadya hanya ‘kosong’ untuk beberapa detik karena penis Jaja langsung menyesaki vagina Nadya yang belum sempat beristirahat. Deni minggir sebentar untuk membiarkan Joko ‘mencuci’ batangnya ke mulut Nadya. Nadya pun orgasme lagi setelah diaduk-aduk Jaja. Selanjutnya, penis Deni gantian yang mengisi liang vagina Nadya. Mereka bertiga terus menggilir vagina Nadya sampai Nadya pun lemas karena orgasme terus menerus. Tubuh Nadya kini seperti boneka, hanya bergerak mengikuti gerakan penis yang mengait vaginanya. Penis Joko sekarang menancap di vagina Nadya untuk yang ketiga kalinya.</p>
<p style="text-align: justify;">Joko mengangkat tubuh Nadya. Kini, Nadya duduk di atas selangkangan Joko. Vaginanya terkunci dengan penis Joko. Tubuh Nadya tersentak ke atas menerima hentakan penis Joko. “oouhhh…mmhhh…yeesshhh..Goddhh…”. Joko menghentikan gerakan penisnya. Nadya tanpa sadar menggerakkan pinggulnya untuk tetap mengocok penis Joko. Nadya tidak peduli lagi jika dia seperti pelacur yang sedang keenakan bergoyang dengan liar di atas penis orang yang tak ia kenal. Joko pun tersenyum melihat gadis cantik yang sedang asik bergoyang di atas penisnya. Nadya terlihat begitu menikmati persetubuhan ini, belum pernah dia rasakan vaginanya penuh sesak seperti sekarang karena pacarnya tidak sebesar ini sehingga rasa malu dan hina yang Nadya rasakan kalah mutlak dengan hawa nafsu yang sudah mencapai ubun-ubunnya. Joko menarik Nadya dan mendekapnya dengan erat. Joko pun menghujami vagina Nadya sekuatnya sampai Nadya klimaks. Tak ada tenaga lagi yang tersisa di tubuh Nadya, tubuhnya bagai tak bertulang dan tak bersendi. Nadya menengok ke belakang saat merasa ada sesuatu di liang anusnya. Rupanya Deni sedang melebarkan lubang pantat Nadya dengan kedua jarinya. Deni menggesek-gesekkan penisnya ke belahan pantat Nadya dan memukul-mukul kedua bongkahan pantat Nadya.</p>
<p style="text-align: justify;">Antara takut dan penasaran yang Nadya rasakan saat kepala penis Deni menempel di lubang pantatnya bersiap untuk masuk ke dalam. Takut saluran anusnya cidera dan berdarah dimasuki penis sebesar itu, tapi juga penasaran bagaimana rasanya. “pengen tau gue..rasanya nyodok pantat cewek cakep..gwahaha !!!!”. Kepala penis Deni mulai menyundul masuk ke dalam liang anus Nadya. “hnnnnhhh !!!”, lenguh Nadya merasakan lubang pantatnya terasa amat pedih dan panas. Batang kejantanan Deni terus masuk menerobos liang anus Nadya dengan pelan tapi pasti, dan lubang pantat Nadya melar menyesuaikan diameter penis Deni. Penis Deni sudah 3/4 masuk ke ‘rumah’ barunya. Deni sengaja mendorong penisnya dengan perlahan. Deni tak ingin membuat lubang pantat Nadya luka karena dia ingin menyodomi Nadya dan merasakan pantat Nadya yang hangat dan sempit. Bagian bawah tubuh Nadya benar-benar terasa penuh sesak, bagaimana tidak, ada 2 penis yang besar yang sedang ‘menghuni’ vagina dan anus Nadya di saat yang bersamaan. Kedua penis itu mulai bergerak. Nadya mengerang kesakitan di sela-sela desahan kenikmatannya.</p>
<p style="text-align: justify;">Lama kelamaan Nadya tidak merasakan pedih lagi di lubang pantatnya, yang dia rasakan kini hanyalah kenikmatan yang bertambah 2x lipat dari sebelumnya. Tubuh Nadya yang indah, kuning langsat, dan mungil itu terhimpit di antara 2 pria berbadan besar. Nadya tidak mungkin lepas dari himpitan karena 2 penis yang mengait vagina dan pantatnya seperti mengunci posisi tubuhnya agar tidak bergerak kemana-mana. Di depan mata Nadya, terpampang kepala penis Jaja. “daripada megap-megap gitu..mendingan makan kontol neng..wahahaha !!!!”. Jaja pun mencekoki Nadya dengan penisnya. Kini, lengkap sudah, 3 lubang pada tubuh Nadya, semuanya sudah ada ‘penghuni’nya yang aktif keluar masuk. 3 penis itu hampir seirama dan selaras bergerak keluar masuk tubuh Nadya melalui 3 lubang yang berbeda. Nadya sudah tenggelam dalam kenikmatan, Nadya ingin 3 penis ini tetap keluar masuk tubuhnya selamanya karena nikmat luar biasa. “OOKKKHHH !!”, Joko menghentakkan penisnya ke atas dan menyemburkan spermanya ke rahim Nadya. Begitu selesai, Jaja menarik penisnya dari mulut Nadya, Deni mengangkat tubuh Nadya dan Joko langsung turun dari ranjang karena penisnya sudah lemas setelah menumpahkan isinya ke dalam rahim Nadya.</p>
<p style="text-align: justify;">Kini, Deni berada di bawah Nadya dengan penis yang tetap menancap di anus Nadya dengan kokoh. Jaja langsung mengisi vagina Nadya yang sedang ‘kosong’. Sesuai instingnya, Nadya melingkarkan kedua kakinya di pinggang Jaja. Desahan-desahan Nadya begitu menggairahkan. Tak lama kemudian, Jaja tidak kuat menahan lama-lama, dia pun menyirami rahim Nadya dengan spermanya. Begitu selesai, Jaja mengangkat Nadya dan membuatnya tidur terlentang dengan kaki yang mengangkang dengan lebarnya. Jaja menyiapkan vagina Nadya untuk menerima penis terakhir yang belum membuang isinya yaitu penis Joko. Begitu penis Joko dan vagina Nadya sudah saling terkunci, Jaja meninggalkan mereka. Joko menciumi leher Nadya dengan bergairah sambil terus menggenjot vagina Nadya. Joko sangat mengagumi tubuh indah Nadya. Kulitnya halus dan wajah cantiknya membuat Joko ingin berlama-lama menikmati Nadya. Dan Nadya pun ingin Joko terus memompa vaginanya. Joko akhirnya menuntaskan hajatnya, benih-benihnya sudah tersebar di dalam rahim Nadya. “ayo neng..dibersihin dong kontol gue..hwahaha !!”. Nadya pun membersihkan penis Joko dengan seksama seakan-akan dia berterima kasih kepada penis itu sudah ‘menyikat’ vaginanya dengan sangat baik.</p>
<p style="text-align: justify;">“tenang aja neng..ntar kita balik lagi kok..kekeke…”, Joko terkekeh-kekeh dan tersenyum penuh kemenangan sambil ke luar kamar meninggalkan Nadya sendirian. Nadya sendirian di kamar itu, telanjang, nafas tersengal-sengar, tubuh yang berlumuran air liur serta vagina yang seperti banjir sperma. Di dalam rahim Nadya, bermilyar-milyar sperma dari 3 orang yang berbeda tercampur rata dengan cairan vaginanya sendiri. Tidak tahu bagaimana jadinya jika dia sampai hamil. Nadya terbaring lemas tak berdaya di atas tempat tidur. Nadya sama sekali tak menyadari kalau ada beberapa kamera beresolusi tinggi yang diletakkan di berbagai angle di kamar itu merekam peristiwa tadi. Sementara itu, di teras rumah yang sederhana Joko, Jaja, dan Deni sedang merokok, mengobrol sambil tertawa penuh kemenangan karena telah merasakan nikmatnya meniduri gadis cantik. Ada 3 orang yang mendekati rumah itu sebut saja Dadang, Parjo, dan Wawan. “mana korbannye?”. “tuh di dalem..baru aje selese kita pake..pake aje sono..”. “cakep ‘n bohay gak?”. “gak usah lo tanya..kontol gue aje ampe lemes saking nafsunye ngeliat muka ‘n bodynye..”.</p>
<p style="text-align: justify;">“jadi gak sabar gue..”. Mereka bertiga langsung masuk ke dalam kamar tempat Nadya terbaring lemas. “alo neng..”. Nadya melihat ke 3 orang yang sudah telanjang bulat dengan matanya yang sudah sayup-sayup. “yah memeknya udah belepotan gitu..”. “udeh..kita langsung tancep aje..kapan lagi bisa ngerasain ngentotin cewek cakep kayak gini..hehe..”. “yoi mamen..”. Nadya pun tidak bisa apa-apa dan pasrah menerima perlakuan 3 pria bertopeng itu. Sementara itu, di kamar sebelahnya, ada 2 orang yang sedang asik bermesraan. “non..kayaknya si Nadya itu malah keenakan diperkosa ama temen-temennya Mang Sapto..”. “ya Mang..kayaknya malah keenakan..”. Mereka berdua mendengar desahan-desahan yang terdengar dari kamar sebelah. “tapi denger kamar sebelah..Mang Sapto jadi nafsu nih..hehe..”. “ih..dasar Mang Sapto..”. Putri mengangkat kedua tangannya ke atas agar Sapto mudah menarik kaosnya. Kemudian, Putri tidur terlentang. Sapto membuka celana jeans Putri. Terpampanglah tubuh Putri yang putih mulus. Benar-benar pemandangan yang sangat indah dan diidam-idamkan para lelaki.</p>
<p style="text-align: justify;">Sapto berada di atas Putri mendekati bibir Putri, tapi tiba-tiba pintu kamar terbuka. Spontan, pasangan itu melihat ke arah pintu. “wah..enak banget lo To..sendirian aje..gue ikutan nape..”, Deni mengomentari melihat Sapto yang menindih gadis cantik dengan tubuh yang benar-benar mulus, tak ada cacat. “enak aje lo..jatah lo di kamar sebelah..ini jatah gue..”. Sapto berjalan ke arah Deni. “ayolah To..kayaknya neng Putri mau maen betiga? ya kan neng Putri?”. Deni memang lebih suka cewek mungil seperti Putri dibanding Nadya yang postur tubuhnya seperti model, jadi tak heran Deni ngiler berat melihat Putri yang telanjang. “ng..”. Putri tidak menjawab, dia hanya menutup payudara dan daerah vaginanya dengan kedua tangannya. Putri tidak ingin payudara dan vaginanya dilihat orang lain selain orang tua, kakaknya, dan terakhir tentu saja Sapto. “tuh..ditutupin kan? udeh lo sono akh !! ganggu aje lo !!!”, Sapto pun mendorong Deni keluar kamar. “ah..pelit lo To !!”. “ganggu aje..”. Sapto pun mengunci pintu agar tidak ada yang mengganggu kebersamaannya dengan majikan tercintanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Yakin, tak ada yang mengganggu lagi, Putri menjauhkan kedua tangannya dari payudara dan vaginanya siap untuk Sapto. Deni masuk ke dalam kamar tempat Nadya sedang dikeroyok sambil ngedumel. Deni pun bergabung dengan 5 pria lainnya menggilir Nadya dan membuang sperma seenaknya ke dalam dan ke tubuh Nadya. Malam itu, meski tak sampai terdengar ke luar, rumah Sapto lebih ramai dari biasanya. Ramai karena desahan-desahan dari 2 gadis cantik yang sama-sama sedang tenggelam dalam kenikmatan ragawi meski dalam 2 kamar serta 2 kondisi yang berbeda. Di kamar yang satu, Putri dan Sapto sedang bercinta dengan penuh hasrat yang menggebu-gebu satu sama lain. Begitu intim, mesra, dan penuh kehangatan bagai pasangan suami istri yang baru saja menikah. Dan di kamar lain, ada Nadya yang sudah lemas digilir 6 pria dengan penis yang besar-besar yang bergiliran menyetubuhinya terus menerus. Nadya terbangun, membuka matanya. Nadya benar-benar mengalami mimpi buruk, aneh, dan agak menyenangkan. Disetubuhi 6 pria semalaman suntuk, benar-benar mimpi yang aneh. “Waaa !!”, teriak Nadya ketika membuka selimutnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Tubuhnya penuh noda-noda putih apalagi daerah vaginanya. Berarti yang dikiranya mimpi, ternyata benar-benar terjadi. Tapi, seberapa keras pun Nadya mengingat-ingat kejadian sebelum itu, sama sekali tidak ada bayangan. Yang dia ingat hanya ketika dia sudah disetubuhi beberapa pria secara bergantian. Sama sekali tak ada wajah yang terlintas di ingatan Nadya. Nadya hanya bisa merasakan akibat kejadian itu. Vagina dan pantatnya terasa sangat ngilu. Nadya berharap tidak ada yang tahu kejadian itu. Untung hari itu minggu dan juga hari seninnya libur, jadi Nadya tak khawatir harus masuk sekolah dengan jalan mengangkang karena ngilu. 2 hari itu, Nadya gunakan untuk menyembuhkan tubuhnya setelah dipakai 6 pria semalaman suntuk meski Nadya sama sekali tak ingat kecuali kenikmatan yang ia dapatkan. Nadya sekolah seperti biasa, 2 minggu menjelang UAN. Sepulang sekolah, ada sms yang masuk ke handphonenya. “gimana Nadya?? kayaknya lo keenakan digilir 6 cowok??”. Nadya menelpon nomer asing itu. “eh siapa lo??”. “kalo lo mau tau gue siapa..lo dateng ke bioskop 22 di mal MM studio 1..jam 9 nanti..sendiri..”.</p>
<p style="text-align: justify;">“eh tunggu..lo siapa?”. Hubungan telpon itu terputus, dan Nadya tidak bisa menelpon orang itu lagi, sepertinya orang itu mematikan hpnya. Jantung Nadya dag dig dug, rasanya berdetak lebih kencang seperti genderang mau perang. Malamnya, Nadya datang ke tempat yang ditentukan sendirian tanpa ada yang menemaninya. Resminya, bioskop tersebut sudah tutup karena memang bioskop itu tidak mempunyai jadwal midnite, tapi pintu terbuka. Mal akan segera tutup, Nadya tahu itu, tapi rasa penasarannya mengalahkan rasa takutnya terkunci di dalam mal itu. Nadya masuk ke dalam studio 1, gelap tidak terlihat apa-apa dan tidak ada film yang sedang diputar. Tiba-tiba layar itu menyala dan memainkan sebuah film. “aahhh..ooohhh..terusshhh !!”. Nadya terbelalak, film yang diputar adalah dirinya sedang disetubuhi seorang pria. “gimana Nad? bagus kan filemnya?”. Nadya menengok ke belakang, arah suara tadi. Cahaya dari film yang sedang diputar membuat wajah orang yang ada di belakang Nadya jadi kelihatan. “Anita ??!!! ll..llo??”. “gak nyangka gue Nad..lo demen juga di gangbang kayak gitu…”. Anita tersenyum licik.</p>
<p style="text-align: justify;">“jjaa..di..lloo??”. “iya..gue yang rencanain film itu..dari dulu gue benci ama tingkah lo ama Rena yang sok..”. “tai lo, Nit !!! gue bakal laporin ke polisi !!”. Tiba-tiba ada yang menyelinap dan memegangi Nadya yang ingin mencekik Anita. “ckck…”. “LEPASIN !!!”. “silahkan kalo lo mau lapor polisi..yang pasti lo bakal jadi bintang bokep terkenal se-Indonesia dengan film lo ini..”. “sialan lo Nit !!!”. Sumpah serapah keluar dari mulut Nadya mengatai Anita. Anita hanya tersenyum saja. “haha…terserah lo mau ngomong apa…yang pasti kalo lo gak mau film ini kesebar..lo mesti nurutin semua perintah gue..”. Nadya memandang sosok Anita dengan tidak percaya. Adik kelasnya yang selama ini patuh kepadanya dan Renata, kini berdiri di depannya dan mengancamnya. “gimana, Nad?”. “NGGAK !!! GUE GAK TAKUT SAMA LO !!!!”. “yaudah..terserah lo..yang pasti mulai besok…lo bakal jadi bintang bokep Indonesia dengan aksi panas lo itu…”. Anita berjalan menuruni tangga ingin keluar lewat pintu masuk studio. “LEPASIN !! TUNGGU NIT !!!”. Orang yang memegangi Nadya melepaskannya. Nadya langsung mengejar Anita dan memeluk kaki Anita.</p>
<p style="text-align: justify;">“pleaasee..Nit..jangan Nit..please…”. “kalo gitu lo bakal nurutin semua perintah gue?”. “iya Nit..iya Nit..gue bakal lakuin semua perintah lo..tapi please jangan disebar…”. “oke..mulai besok lo harus lakuin semua perintah gue..”. “iya Nit..iya Nit..”. Anita pun keluar studio bioskop meninggalkan Nadya. Siapa tadi yang memegangnya?. Sama sekali tidak terlihat apa-apa saat Nadya mengecek setiap bangku bioskop karena film sudah berhenti sehingga gelap total. Esok hari, Nadya mencari-cari Anita, tapi Anita sama sekali tidak terlihat. Nomer Anita dan nomer yang kemarin tidak tersambung. Berkali-kali Nadya coba di selang waktu yang berbeda tetap tidak tersambung. Tiba-tiba ada sms masuk ke hp Nadya. “temuin gue di kelas XI-IS 3 jam 7 malem…”. Nadya pun tetap di sekolah sampai jam 7 dengan harap-harap cemas. Nadya menyalakan lampu kelas itu, duduk sendiri di kursi depan. Anita pun masuk ke dalam kelas. Bagai melihat guru killer, jantung Nadya berdegup kencang. Anita mematikan lampu. Terdengar banyak langkah masuk ke dalam kelas, bunyi kursi bergerak, dan terakhir pintu terkunci.</p>
<p style="text-align: justify;">Lampu kelas pun menyala lagi. Nadya kaget, tidak hanya dirinya dan Anita yang ada di kelas itu. Tapi, ada 4 orang pria yang duduk di kursi samping kanan dan kiri Nadya. Nadya kenal dengan 4 orang itu. Alex dan Jody, satpam sekolah. Udin, tukang sapu sekolah. Dan terakhir Jamal, salah satu pemilik tempat jajanan di kantin sekolah. “ngapain mereka ada di sini ?!”. “mereka cuma mau nonton..”. “maksud lo ?!!”. “nonton lo nari..”. “hehe…iya neng Nadya…kita pengen banget ngeliat neng nari…”. “ayo Nad..kasian penonton..”. “sialan lo Nit..liat aja pembalasan gue…”, dalam hati Nadya. Nadya berjalan ke depan kelas. Bunyi musik pun terdengar. Dengan segan, Nadya menggerakkan tubuhnya sekedarnya saja. Tapi lama kelamaan Nadya bergoyang dengan asiknya, larut dalam musik yang diputar. Anita sengaja memutar musik beraroma trance (bener gak? musik clubbing itu trance bukan sih?) karena Anita tahu Nadya yang dugem 5x dalam seminggu pasti akan tersihir untuk menari ketika mendengar musik ini. “wooo…terus..terus…”. 4 pria itu menonton Nadya yang bergoyang dengan semangatnya hampir tak berkedip.</p>
<p style="text-align: justify;">“buka ! buka !!”, teriak 4 pria itu memukul-mukul meja. “denger kan lo Nad??”. Nadya tersadar dan berhenti bergoyang. “nggak !! gue nggak mau !!!”. “oh..lo mau terkenal, Nad??”. “nngg…”. “ayo !!” Dengan terpaksa, Nadya mulai membuka satu kancing hemnya. “sambil nari…”. Nadya pun sangat terpaksa menurutinya. Baru kali ini, Nadya melakukan tari striptease di depan 4 pria yang paruh baya dan semuanya jauh dari kata ganteng. Tinggal tanktop dan hotpants yang menempel di tubuh Nadya. 4 pria itu menelan ludah mereka sendiri melihat kulit Nadya yang kuning langsat itu. “ayo buka tanktop ‘n hotpants lo sekalian !!”. “please Nit !! jangan Nit !!”. Tiba-tiba Alex, Jody, Udin, dan Jamal bergerak mendekati Nadya dengan cepat. Alex memegangi kedua tangan Nadya ke belakang, Jody dan Jamal memegangi kedua kaki Nadya. “LEPASIN GUE !!! GUE LAPORIN LO SEMUA KE POLISI !!!”. “biarin..yang penting kita semua bisa ngerasain memek lo…hehe !!”, bisik Alex. Udin memotong kedua tali tanktop Nadya. Tanktop Nadya pun jatuh ke lantai. Baru kali ini, Udin melihat payudara seindah itu. Besar, bulat, dan terlihat sangat kencang dan kenyal.</p>
<p style="text-align: justify;">“LEPASIN !! LEPASIN !!”, Nadya memberontak tapi percuma saja. Tangan Nadya yang ada di belakang membuat payudaranya semakin membusung ke depan seolah menantang Udin. Udin langsung melahap payudara Nadya dengan buas. “JANGAN !!! JANGAN !!”, Nadya berusaha menjauhkan kedua payudaranya dari Udin. Seperti lomba makan kerupuk, mulut Udin mengikuti gerakan payudara Nadya yang bergoyang ke kanan dan ke kiri. Tak mau repot lagi, Udin menggenggam kedua payudara Nadya. “EEGGGHHHH !!! SHITTHHH !!”. Kemarahan Nadya kini ada 2 macam. Marah pada Anita dan 4 orang yang sedang menjamah tubuhnya dan marah kepada dirinya sendiri, sentilan dan emutin yang Udin lakukan di kedua putingnya mulai terasa mengenakkan. “JANGAN !!”. Nadya berusaha menutup dan menyilangkan kakinya untuk menyusahkan Jody yang ingin melorotkan hotpantsnya. Tapi, Jamal membuat kaki Nadya tak bisa bergerak lagi. Jody pun dengan mudah melorotkan hotpants Nadya. “buset..ternyata..gini toh bentuknya memek cewek SMA…mantep..WAHAHAHA !!!”. “enak buat disodok kayaknye Day(Jody maksudnya)..GAHAHAHAK !!”. Jody mengelus-elus vagina Nadya</p>
<p style="text-align: justify;">Nadya mengulum bibir bawahnya agar tidak ada desahan yang keluar dari mulutnya. Alex membuat Nadya memiringkan kepalanya sehingga Alex pun bisa menikmati kelembutan bibir Nadya. “kobel dikit ah..kekeke..”. Jody mengebor vagina Nadya dengan 2 jarinya. “sii..allhh..hhhmmhhh !!”. Jamal juga ikut-ikutan melakukan pengeboran, tapi ‘tambang’ Jamal adalah liang anus Nadya. Tentu, Nadya tak bisa melawan lagi. Semua ‘titik’ vitalnya sudah dijamah oleh 4 pria yang tua dan jelek itu. Nadya kesulitan bernafas, Alex mencumbunya dengan sangat bernafsu karena istrinya memang sedang pulang kampung, sudah 3 minggu Alex tak mendapat jatah. Jadi, tak heran kalau nafsu Alex begitu tinggi, apalagi yang sedang dicumbunya adalah ‘barang’ berkualitas tinggi. Tubuh Nadya pun menegang. Merasa dinding vagina Nadya yang berkedut-kedut, Jody mengeluarkan 2 jarinya. “gile..ngucur kayak keran…”, komentar Jody melihat vagina Nadya yang mengucurkan cairannya dengan deras. “wah..asik….gak usah beli miras..kita bisa mabok…”, balas Jamal yang terus asik mengebor pantat Nadya. “wahahaha..bener juga lo Mal…nyok..kita minum..ampe mabok..”.</p>
<p style="text-align: justify;">“Din..nyedot mulu lo..beresin meja..”. “oh..okeh..”. Udin langsung mengerti. Kedua puting dan seluruh payudara Nadya berlumuran air liur Udin. “oi..ngorek-ngorek pantat orang terus..mendingan lo bantuin Udin..”. “hehe..okeh okeh..”. “nih juga atu…”, kata Jody memukul kepala Alex. “adaw sakit..sialan lo..”. “abisnye..lo mau ngerasain memek die gak? apa mau nyipok die doang lo? mending lo bantuin gue angkat die..”. Mereka berbicara bagaikan Nadya adalah sebuah barang yang tanpa perasaan padahal Nadya sudah malu bukan kepalang rasanya. “pakh..pleaasehh..janganh..pakkhh..”, pinta Nadya memelas dengan suara lemah. “tenang neng Nadya..kita cuma mau merkosa neng doang kok..GAHAHAHAK !!”, leceh Udin. Tubuh Nadya terbaring pasrah di atas 4 meja yang sudah dirapatkan tadi oleh Udin dan Jamal. Satu per satu, mereka menikmati daerah pribadi Nadya yang menggiurkan itu. Setiap kali orgasme, cairan vagina Nadya malah semakin banyak sehingga 4 orang itu pun semakin senang ‘menguras’ vagina Nadya secara bergiliran. Nadya diturunkan dari atas meja, dan berdiri dengan kakinya sendiri.</p>
<p style="text-align: justify;">Alex, Jody, Jamal, dan Udin menyodomi Nadya dari belakang. Mereka sangat bernafsu melihat pantat Nadya yang mulus dan bulat ditambah vagina dan lubang pantatnya terlihat sangat bagus dari belakang. Nadya pun sudah tidak menolak lagi, dia mulai bekerja sama menyelaraskan gerakan dengan penis siapa saja yang sedang menyodok vagina atau anusnya. Penis ditarik keluar, Nadya akan memajukan tubuhnya dan jika penis didorong masuk, Nadya akan memundurkan pinggulnya agar penis yang sedang ada di vagina atau anusnya terasa masuk dengan lebih maksimal. “enak gak neng..gue sodok dari belakang?”. “enaakkhhh…teruusshhh…entotin guee..ooohhhh !!!”, jawab Nadya tak memperdulikan harga dirinya lagi. 4 orang itu tertawa melecehkan Nadya karena gadis cantik dan kaya itu kini, tak malu-malu minta ke 4 pria jelek dan miskin untuk terus menggenjotnya. Nadya tak bisa berpikir lagi, dia hanya mengikuti insting tubuhnya. Nadya menggerakkan pinggulnya maju mundur saat penis yang sedang masuk ke dalam tubuhnya sengaja didiamkan oleh pemiliknya untuk melecehkan Nadya.</p>
<p style="text-align: justify;">Melihat Nadya yang begitu menikmati disetubuhi 4 pria secara bergiliran, birahi Anita yang sedang merekam kejadian itu pun terusik. Anita menutup matanya, tak ingin ‘terusik’ lebih jauh. Anita tahu, dia tidak boleh terangsang karena siapa tahu bisa jadi serangan balik untuknya. Anus dan vagina Nadya pun tak ubahnya seperti wadah sperma 4 orang itu. Udin dengan penisnya yang sudah loyo bagai tak bertulang karena sudah 4x menumpahkan spermanya ke dalam tubuh Nadya memotong-motong tanktop dan hotpants Nadya. “MAMPUS LOO !!! OOKKHHH !!”. Alex menekan penisnya kuat-kuat ke dalam vagina Nadya. Akhirnya mereka semua sudah tak kuat lagi, penis mereka sudah tak mampu bangun lagi. Alex, Jody, Udin, dan Jamal memakai pakaian mereka lagi. “makasih ya neng…hehe..”, bisik Udin. “makanya neng..punya muka jangan cakep-cakep…bikin nafsu aja..hahaha..”, bisik Alex. Jamal tidak berkata apa-apa selain memukul kencang pantat Nadya. “mudah-mudahan…neng Nadya hamil ya..WAHAHAHA !!!”, kata Jody. Mereka berempat bersama Anita meninggalkan Nadya yang belum bisa bergerak karena kedua kakinya masih gemetaran.</p>
<p style="text-align: justify;">“bos..film kedua udah selesai..”, Anita berbicara lewat telpon. “bagus…sekarang lo ke rumah gue…”. “ok bos…”. “neng Anita…kalo diliat-liat..neng Anita manis juga ya..”. “alah…bisa aja Pak Alex..”. “pasti enak kalo ditemenin ama neng Anita…”. Tangan Jamal menyusup masuk ke dalam rok Anita dan mengelus-elus pantat Anita yang tidak tertutup apa-apa. “ditemenin ngapain dulu nih..”, goda Anita sambil mengeluarkan tangan Jamal dari dalam roknya. “ya nemenin kita-kita di kasur..hehe…”. “kapan-kapan aja ya Pak…udah dulu ya Pak..Anita mau ke rumah temen dulu…”. Anita pun pergi dengan mobilnya menuju rumah dalang semua ini. Nadya memakai tanktop dan hotpantsnya lagi dengan agak bersusah payah karena masih lemas. Tanktop Nadya bolong tepat di bagian dadanya, sedangkan hotpants Nadya seperti terbelah dua karena bagian tengahnya bolong sampai ke belakang. Nadya mencari-cari seragam SMAnya, tapi tak ada. Nadya berjalan ke luar kelas dengan tertatih-tatih. Kedua tangannya, Nadya gunakan untuk menutupi payudara dan vaginanya. Sperma yang membanjiri liang vaginanya menetes dari vaginanya seiring gerakan Nadya seperti meninggalkan jejak. Di depan gerbang sekolah, Alex, Udin, Jamal, dan Jody sedang duduk sambil minum kopi dan merokok. Nadya tahu seragamnya pasti disembunyikan oleh salah satu dari mereka, tapi Nadya sudah malas dan ingin segera sampai rumah untuk mengistirahatkan tubuhnya.</p>
<p style="text-align: justify;">“wah..ini dia..jablay kita…ati-ati ya Blay pulangnya…GWAHAHAHA !!!!”. “besok kita pinjem memeknya lagi..GAHAHAHA !!”. Nadya pun tidak menghiraukan ejekan dan lecehan mereka, Nadya hanya melintas di depan mereka diam tanpa kata. Nadya masuk ke dalam mobil dan langsung menuju rumahnya. Sejak saat itu, Nadya resmi menjadi budak Anita. Anita sudah membuat jadwal tetap untuk Nadya. Senin sampai Jumat, Alex, Udin, Jody, dan Jamal bisa mendapatkan kenikmatan ragawi dari tubuh Nadya. Sabtu dan Minggu pun Nadya punya jadwal khusus. Dari Sabtu pagi sampai Sabtu sore, Anita membiarkan Nadya ‘bebas’, tapi Sabtu malamnya, Anita membawa Nadya ke areal kuburan lalu Anita menemui 2 orang penjaga kuburan yang kebetulan sedang istirahat di tempat seperti bale-bale dan bilang ke 2 orang itu kalau malam ini mereka sedang beruntung karena mereka diizinkan menyetubuhi Nadya oleh Anita. “ah yang bener, neng? kita boleh ngentotin temen neng ini?”. “iya..Pak..temen saya ini emang pengen banget ngerasain maen di kuburan..”. “gak mungkin ah..masa cewek cakep kayak neng Nadya…mau dientot ama kita? di kuburan lagi? jangan-jangan neng berdua ini se..se..setan?”. Dua orang itu saling bertatapan dengan pucat pasi. Mereka ingin sekali kabur, tapi wajah cantik Nadya membuat mereka antara takut dan bernafsu.</p>
<p style="text-align: justify;">Mereka kompak mengecek kedua kaki Anita dan Nadya, apakah menyentuh tanah atau tidak. Anita menuntun tangan kedua orang itu ke payudara Nadya. “coba aja..empuk gak?”, tanya Anita tersenyum. “iya empuk banget..biarin deh..mau manusia kek..mau setan kek..yang penting cakep..ehehe..”. 2 pria itu semakin asyik meremas-remas payudara Nadya yang sangat empuk dan kenyal itu. Nafsu melihat gadis cantik mengalahkan rasa takut mereka. Apalagi, Nadya tidak berusaha menjauhkan tangan mereka malah melirih pelan menikmati remasan di payudaranya. 2 penjaga kubur itu pun menelanjangi Nadya dan menelanjangi diri mereka sendiri dan mulai menikmati hangatnya tubuh Nadya. Begitu selesai, Anita membawa Nadya pulang ke rumahnya. Anita mengunci kamar Nadya. Sekitar jam 12 alias Minggu siang, Anita membawa Nadya pergi lagi setelah Nadya mandi. Dan kali ini, Nadya dibawa ke rumah sarang pengemis dan anak-anak jalanan biasa berkumpul hanya untuk disetubuhi oleh orang-orang kalangan bawah itu dengan bau badan yang tidak sedap. Tapi, layaknya pelacur sejati, Nadya tidak memperdulikan itu dan menikmati pria-pria jelek menyetubuhinya bergantian.</p>
<p style="text-align: justify;">Sabtu berikutnya, Anita membawa Nadya ke areal pemakaman yang sama, tapi kali ini ada 5 orang penjaga kubur. Sepertinya 2 orang kemarin menyebar kabar. Anita malah menyuruh 5 orang itu agar membawa teman lebih banyak minggu depan. Nadya tidak bisa apa-apa selain diam saja meski diperlakukan sangat rendah oleh Anita seperti itu. Seperti halnya di kuburan, tempat pengemis pun semakin ramai. Semakin ramai kuburan dan rumah pengemis itu. Kini, saking ramainya kuburan, Nadya tidak lagi disetubuhi di bale-bale melainkan di kuburan. Kadang Nadya berpegangan pada batu nisan untuk disodomi dari belakang secara bergiliran dan kadang Nadya ditidurkan di atas kuburan untuk disetubuhi secara bergantian oleh para penjaga kubur yang kini sudah lebih dari 20 orang. Anita senang melihat Nadya yang tidak berdaya tapi Anita membayar mereka semua yang ingin menyutubuhi Nadya agar tidak melukai tubuh Nadya. Bukannya Anita kasihan ke Nadya, tapi Anita hanya ingin tubuh Nadya tetap mulus dan bagus agar laki-laki bernafsu melihatnya. Dan setiap hari Anita pun memberikan obat ke Nadya agar vagina dan anusnya tetap sempit dan kesat.</p>
<p style="text-align: justify;">Jadi, sebesar apapun penis yang menghantam vagina atau anus Nadya, keesokan paginya akan kembali seperti semula. Nadya sudah tidak tahan lagi. Selain, tidak tahan dengan Anita yang memperlakukannya seperti pelacur murahan, Nadya juga tidak tahan dengan dirinya yang mulai menikmati dan terbiasa disetubuhi orang-orang yang sangat jauh di bawah standarnya. Nadya merasa dirinya sudah sangat rendah. Tubuh Nadya kini bisa dinikmati siapa saja dengan mudah. Nadya pun melaporkan Anita ke polisi beserta Alex, Jody, Udin, dan Jamal tanpa memikirkan lagi ancaman Anita. Setelah Anita, dan lainnya ditangkap. Nadya pun kembali ke kehidupan normalnya, tidak ada yang tahu kejadian yang Nadya alami termasuk Renata. Kini, tak ada lagi lelaki yang mudah menyentuhnya, dan akibat perbudakan itu Nadya jadi lebih menghargai tubuhnya dan tak asal membiarkan dirinya disentuh seperti dulu. Sepertinya ‘perbudakan’ itu membawa manfaat tersendiri ke Nadya. Segala ujian dari rangkaian ujian akhir pun dilalui. Nadya mengerjakan semua UAN dengan lancar karena dapat bocoran. Dan UAS dia lalui dengan mencontek.</p>
<p style="text-align: justify;">Tapi, praktek Nadya lakukan sendiri meski dengan susah payah. Malam prom nite pun datang, Nadya dan Renata datang dengan gaun yang anggun tapi tetap sexy menggoda sehingga Nadya dan Renata menjadi pusat perhatian. “Nad..gak nyangka..lo hot juga maennya..boleh dong..gue cobain body lo..hehe..”. “apaan si lo Jo? ngomong ngasal…”. “liat aja di dalem..film prom nitenya mantep..”. Nadya pun segera bergegas masuk ke ruangan karena tadi dia sedang mengobrol di luar. “OOHHH !!! MMMMHHH..TERUSSHH Pakhh !!”. Mata Nadya terbelalak melihat film yang sedang diputar. Rekaman waktu Nadya digilir 6 pria di rumah Sapto waktu itu. Nadya melihat seorang gadis tersenyum ke arahnya di ujung meja makan. “Anita??”.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>BERSAMBUNG&#8230;</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ceritasex.cn/the-fallen-princess-3-musuh-dalam-selimut/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ketika Istriku Menjadi Budak Seks Bosku Bagian 2</title>
		<link>http://www.ceritasex.cn/ketika-istriku-menjadi-budak-seks-bosku-bagian-2/</link>
		<comments>http://www.ceritasex.cn/ketika-istriku-menjadi-budak-seks-bosku-bagian-2/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 16 Jun 2011 14:10:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cerita Sex</dc:creator>
				<category><![CDATA[Amoy]]></category>
		<category><![CDATA[anal seks]]></category>
		<category><![CDATA[Gangbang Rame Rame]]></category>
		<category><![CDATA[Orgy]]></category>
		<category><![CDATA[Pemerkosaan]]></category>
		<category><![CDATA[audrey]]></category>
		<category><![CDATA[budak seks]]></category>
		<category><![CDATA[haus seks]]></category>
		<category><![CDATA[istri]]></category>
		<category><![CDATA[kontol]]></category>
		<category><![CDATA[memek]]></category>
		<category><![CDATA[ngentot]]></category>
		<category><![CDATA[orgasme]]></category>
		<category><![CDATA[pelecehan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ceritasex.cn/?p=2506</guid>
		<description><![CDATA[Bagian I: Permulaan Audrey, Tidak terasa sudah 3 minggu berlalu semenjak kejadian di puncak. Selama tiga minggu itu tidak ada apapun yang terjadi. Aku dan istriku Audrey masih menuruti instruksi yang diberikan Wen sebelum kami pulang dari puncak, namun tidak ada tanda-tanda Wen akan meneruskan aksinya terhadap Audrey. Di kantor tempatku bekerja Wen tidak pernah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2011/06/budak-seks.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-2507" title="budak-seks" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2011/06/budak-seks-300x199.jpg" alt="" width="300" height="199" /></a></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="text-decoration: underline;"><strong>Bagian I: Permulaan</strong></span></p>
<p style="text-align: justify;">Audrey, Tidak terasa sudah 3 minggu berlalu semenjak kejadian di puncak. Selama tiga minggu itu tidak ada apapun yang terjadi. Aku dan istriku Audrey masih menuruti instruksi yang diberikan Wen sebelum kami pulang dari puncak, namun tidak ada tanda-tanda Wen akan meneruskan aksinya terhadap Audrey. Di kantor tempatku bekerja Wen tidak pernah membicarakan kejadian di puncak itu, dia bertindak seolah-olah kejadian di puncak tidak pernah terjadi dan akupun bekerja seperti biasa yaitu membantu Wen dalam manajemen kantor sehari-hari, meskipun semenjak kejadian 3 minggu lalu itu aku dan Wen menjadi tidak akrab seperti biasanya. Kami jarang mengobrol satu sama lain, adapun apabila harus berbicara dengan Wen hanyalah sebatas pembicaraan yang terkait dengan pekerjaan. Selama tiga minggu itu, Audrey tidak pernah keluar rumah. Bel kecil di bibir atas memeknya dan larangan memakai BH dan celana dalam membuatnya risih untuk keluar rumah. Setiap Audrey melangkah pasti terdengar bel kecil itu berbunyi pelan.</p>
<p style="text-align: justify;">Mungkin pembantu-pembantu dan supir di rumah sebenarnya mendengar dentingan bel kecil itu, hal itu terlihat di raut wajah mereka ketika Audrey ada di sekitar mereka. Raut wajah mereka menampakkan kebingungan dan kecurigaan karena mendengar bunyi bel kecil dari dalam rok majikan perempuannya, namun mereka tidak ada yang berani bertanya ataupun berkata apa-apa. Di rumahku aku dan Audrey mempekerjakan 2 pembantu wanita, 1 pembantu pria dan seorang supir. Salah satu pembantu wanita kami yang biasa kami panggil bi Minah seorang wanita tua yang bertugas memasak dan mencuci pakaian. Satu pembantu wanita kami yang lain bernama panggilan Mar seorang wanita muda berumur 18 tahunan yang bertugas membersihkan rumah, sedangkan pembantu pria dan supir kami masing-masing bernama Sudin dan Amir. Keduanya berumur sekitar 50 tahunan dan berkulit sangat hitam tanda seringnya terkena terik sinar matahari. Pembantu-pembantu dan supir di rumah terlihat menyadari perubahan pada diri Audrey, terutama Sudin dan Amir.</p>
<p style="text-align: justify;">Mereka sering terlihat memandangi istriku di rumah, meskipun setiap kali aku melihatnya mereka memalingkan muka dan pura-pura sedang tidak memandangi Audrey. Audrey di rumah tidak pernah lagi memakai BH dan celana dalam, hal itu sesuai dengan instruksi Wen. Ada rasa kekuatiran bahwa pembantu dan supir di rumah mengetahui hal itu, apalagi setelah melihat akhir-akhir ini Sudin dan Amir sering memandangi istriku dengan tatapan yang lain, sedikit mesum terpancar di muka mereka yang hitam itu. Tidak terasa sudah 3 minggu berlalu semenjak kejadian di puncak…, ketika pada suatu malam telepon kami berdering. Audrey mengangkat telepon dan terlihat berbicara dengan serius dengan orang di seberang telepon itu. Setelah 10 menit berbicara, Audrey menutup telepon dan dengan muka pucat menghampiriku. Audrey menceritakan bahwa yang menelepon barusan adalah Wen. Wen akan datang ke rumah besok siang dan memerintahkan istriku untuk mempersiapkan diri…</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="text-decoration: underline;"><strong>Bagian II: Pelecehan di Rumah</strong></span></p>
<p style="text-align: justify;">Mr. Wen, Keesokan harinya, aku ke kantor seperti biasanya, karena ketika Wen menelepon Audrey tadi malam, Wen tidak menginstruksikan apa-apa yang berkaitan dengan diriku. Hari itu di kantor Wen memberikanku banyak pekerjaan yang harus dilakukan. Terus terang aku tidak bisa konsentrasi di kantor. Perasaanku campur aduk mengingat telepon Wen pada istriku tadi malam, namun Wen tidak mengatakan apapun kepadaku tentang janjinya dengan Audrey siang ini. Wen memperlakukanku seolah-olah aku tidak mengetahui rencananya siang ini dengan Audrey. Menjelang istirahat makan siang, aku melihat Wen meninggalkan kantor. Melihat itu hatiku semakin campur aduk. Aku bisa menebak Wen akan pergi kemana, namun aku tidak bisa berbuat apa-apa, masih banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan di kantor. Aku semakin tidak bisa konsentrasi dan pikiranku semakin kacau ketika jam sudah menunjukkan pukul 3 sore dan belum ada tanda-tanda Wen kembali ke kantor. Akhirnya aku memutuskan untuk menelepon Hp Audrey. “Tuut…tuut…tuut…” bunyi nada panggil di Hp Audrey tidak ada yang mengangkat.<br />
<span id="more-2506"></span><br />
Setelah beberapa detik kemudian baru ada yang mengangkat, dan yang mengangkat adalah Wen. “Tom, tenang saja, Audrey tidak apa-apa, kamu tidak perlu kuatir” suara Wen terdengar seakan-akan dia tahu kekuatiranku. “Kamu tolong selesaikan dulu pekerjaan-pekerjaan yang saya kasih hari ini” perintah Wen kemudian lalu menutup Hp itu. Perasaanku semakin kacau balau karena mengetahui ternyata Wen masih berada di rumahku, apalagi secara sayup-sayup aku mendengar erangan-erangan istriku di latar belakang suara Wen di HP. Dengan perasaan kalut akupun berusaha dengan cepat mengerjakan semua pekerjaan yang diberikan Wen kepadaku. Namun karena banyaknya pekerjaan yang diberikan Wen, aku baru bisa menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan tersebut kurang lebih pukul 7 malam. Begitu semua pekerjaan selesai, akupun segera pulang ke rumah. Di jalan, Amir supirku aku suruh mengendarai mobil dengan cepat sehingga aku dapat sampai ke rumah dengan segera. Sesampainya di rumah, aku melihat mobil Wen masih berada di drive way rumahku.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku sempat mendengar Amir supirku mengatakan “Kok ada mobil Pak Wen?”, namun aku tidak menjawab atau memperhatikan kata-kata supirku lagi, aku langsung keluar mobil dan masuk rumah dari pintu samping. Di dalam rumah, aku tidak melihat istriku atau Wen di ruang tamu maupun di ruang tengah. Akupun langsung naik ke lantai atas menuju kamar tidur utama rumahku. Pintu kamar utama ternyata terkunci dari dalam. Aku mengetuknya pelan beberapa kali sambil memanggil-manggil nama Audrey. Setelah beberapa menit, pintu kamar itu terbuka. Ternyata yang membukakan pintu adalah Wen. Kemudian Wen mempersilahkan aku masuk ke dalam kamarku sendiri tersebut. Ternyata di dalam kamar sudah ada satu lagi pria yang belum pernah aku lihat sebelumnya. Wen memperkenalkan aku dengan pria tersebut yang ternyata adalah anaknya Wen. Namanya Peter, umurnya kurang lebih 20 tahun, badannya kekar tanda dia sering pergi ke fitness center dan matanya sipit seperti bapaknya. Aku belum pernah melihat Peter sebelumnya, karena Wen memang selalu tidak pernah mengajak keluarganya dalam acara-acara kantor.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku hanya pernah mendengar bahwa Wen adalah seorang duda dengan satu orang anak. Aku mengira bahwa selama ini anaknya Wen berada di Cina, ternyata dugaanku meleset, karena sekarang berdiri di hadapanku, Peter anaknya Wen yang nampak sekali sudah cukup lama berada di Jakarta bersama bapaknya, hal itu dapat dilihat dari betapa fasihnya Peter dalam berbahasa Indonesia. Baik Wen dan Peter sudah berpakaian lengkap, hanya kaus kaki dan sepatu saja yang belum mereka kenakan. Pertama kali melihatku, Peter terlihat canggung dan merasa tidak enak. “Ter, seperti sudah papa katakan kepadamu, Audrey itu sudah mempunyai suami, dan suaminya telah setuju bahwa kita boleh melakukan apa saja terhadap istrinya. Terbukti kan papa tidak bohong” kata Wen tiba-tiba kepada Peter karena melihat kecanggungan Peter di hadapanku. Peter “Sekarang kamu nikmati saja malam ini. Papa ada tontonan menarik buatmu” sambung Wen kepada Peter yang membuat jantungku semakin berdegup kencang. Peter yang diajak bicara tidak menjawab, dia hanya mengangguk-angguk pelan.</p>
<p style="text-align: justify;">“Tontonan? Apalagi ini yang akan diperbuat Wen kepada istriku” pikirku kalut dalam hati. Setelah beberapa menit baru aku bisa menenangkan diri, dan aku baru menyadari bahwa Audrey tidak berada di kamar itu. Rupanya Audrey sedang di kamar mandi untuk membersihkan diri, hal itu aku ketahui dari bunyi shower di kamar mandi yang memang berada di kamar itu. Aku, Peter dan Wen tidak berbicara apapun lagi, kami hanya menunggu Audrey di kamar mandi. Aku merasa canggung berada dengan 2 pria lain di kamarku sendiri. Peter juga terlihat canggung, dia hanya terlihat beberapa kali berbisik kepada Wen. Setelah beberapa menit, Audrey keluar dari kamar mandi. Audrey hanya menggunakan handuk melilit di tubuhnya. Audrey terlihat sedikit terkejut ketika dia mengetahui aku sudah berada di kamar. Mukanya terlihat malu. “Audrey segera siap-siap sesuai perintahku” kata Wen kepada Audrey memecah keheningan kamar. Audrey hanya menggangguk menurut. Melihat anggukan Audrey, Wen kemudian melangkah keluar kamar sambil menyuruhku dan Peter mengikutinya. Kami pun keluar dari kamar tidur utama meninggalkan Audrey sendiri dan kami menuju ruang TV di lantai bawah. Sesampainya di ruang TV, Wen menyuruh Peter dan aku meminggirkan meja di ruang TV sehingga hanya tinggal sofa dan karpet di ruang TV itu. Wen dan Peter duduk di sofa panjang sedangkan aku diminta duduk di sofa kecil di ruang TV. Setelah kurang lebih 15 menit kemudian, nampak Audrey turun dari lantai atas. Audrey sudah mengenakan make-up dengan rambut tertata rapi, namun Audrey tidak mengenakan pakaian apapun juga.</p>
<p style="text-align: justify;">Audrey turun ke ruang TV dalam keadaan telanjang bulat, di memeknya yang bersih terlihat cincin emas dan bel kecil masih tergantung. Terus terang Audrey terlihat sangat cantik sekali dengan kepolosannya itu yang membuat kontolku segera mengencang. Sesampainya di ruang TV, Audrey langsung berdiri di tengah ruangan menghadap ke arah Wen dan Peter. Terlihat Audrey sedikit malu karena melihat kehadiranku diruang TV itu. “Nah, Audrey, setelah saya dan anakku ini menikmati tubuhmu dari siang, sekarang saya ingin melihat apakah kamu sudah siap untuk benar-benar menjadi budak seksku” kata Wen tiba-tiba kepada Audrey. Audrey yang ditanya hanya mengangguk pelan. “Sekarang kamu panggil pembantu laki-laki dan supirmu kesini” perintah Wen kepada Audrey. “Ter, kamu juga panggil si Kisno kesini” perintah Wen kepada Peter sambil menunjuk ke arah luar rumah menandakan Peter harus memanggil Kisno supir pribadi Wen yang menunggu diluar. Mendengar apa yang dikatakan Wen, Audrey dan aku sangat kaget. Kami tidak percaya dengan apa yang baru kami dengar.</p>
<p style="text-align: justify;">“Maaf Pak Wen, kelihatannya jangan sejauh itu” kataku kepada Wen. “Ya terserah kamu Tom, tapi jangan salahkan saya kalau dvd rekaman persetubuhan Audrey tersiar luas di internet atau bahkan sampai ke tangan orang tua Audrey” jawab Wen kalem. Aku tidak bisa menjawab, aku hanya bisa memandang Audrey untuk menanyakan pendapatnya. Audrey hanya diam saja, air mata menetes di kedua pipinya. “Bagaimana? Ini terserah kalian” sahut Wen kepadaku dan Audrey sambil memberi isyarat kepada Peter untuk bangkit dari sofa. Melihat Wen dan Peter bangkit dari sofa, Audrey segera berlutut dan meraih paha Wen. “Ampuun Pak Wen, saya akan lakukan apa saja, asal jangan dengan pembantu atau supir…malu saya…” tangis Audrey mengiba kepada Wen. Sudin “Aaahh…kamu itu budak seksku, kamu harus menurut apapun yang saya suruh tahu! Lagian pembantu-pembantumu pasti sudah curiga, dari tadi siang saya ada di dalam kamarmu. Apa lagi yang kamu harus sembunyikan” hardik Wen kepada Audrey. “Saya hitung sampai 10, apabila tetap tidak mau, saya akan pergi dari rumahmu sekarang juga, tapi jangan salahkan saya kalau rekaman persetubuhanmu sampai ke tangan orang tuamu” lanjut Wen tegas.</p>
<p style="text-align: justify;">“1…..2……3……4…….5…….6……7…..” hitungan Wen dimulai. Pada hitungan ke delapan, Audrey bangkit dari posisi berlutut. Dengan gemetar dan isak tangis Audrey menuju interkom yang berada di dinding ruang TV. “Pak Sudin….Pak Amir…” suara Audrey bergetar memanggil pembantu laki-laki dan supirku. “Ya bu..” terdengar jawaban Sudin dari seberang interkom. “Tolong Pak Sudin dan Pak Amir ke ruang TV” lanjut Audrey masih dengan suara bergetar menahan tangis. “Baik bu” jawab Sudin kemudian. Mendengar itu, Wen segera meyuruh Peter untuk memanggil Kisno supir pribadinya yang menunggu diluar. Peter yang sudah dapat menebak apa yang diinginkan bapaknya dengan sedikit berlari segera keluar rumah. “Jangan lupa bilang si Kisno bawa videocamnya” sahut Wen kepada anaknya. Audrey telah kembali berdiri di tengah ruang TV sambil menangis ketika Sudin dan Amir tiba di ruang TV. “Ada……aaapppaaaaaa…” Amir tidak dapat melanjutkan kata-katanya, nampak sekali dia kaget ketika tiba di ruang TV dan melihat majikan perempuannya dalam keadaan telanjang bulat di tengah ruang TV.</p>
<p style="text-align: justify;">Baik Amir maupun Sudin hanya berdiri terpana melihat keadaan Audrey. Tidak ada kata-kata yang keluar dari mulut mereka. Meskipun raut muka mereka nampak kaget, namun mata mereka tidak bisa lepas dari pemandangan indah yang ada di hadapan mereka. Amir “Naahh, Sudin dan Amir, malam ini majikanmu mau memberimu hadiah atas kesetian kalian selama ini” kata Wen tiba-tiba memecah keheningan di ruang TV itu. Mendengar kata-kata Wen, Sudin dan Amir diam saja. Mereka mengerti apa maksud kata-kata Wen, namun mereka berdua langsung menatapku seakan minta kepastian dariku. Karena masih kaget dan tidak tahu apa yang harus aku perbuat, aku hanya diam saja dan malah memandang ke arah Audrey seakan-akan menyuruh Sudin dan Amir menanyakannya langsung ke Audrey. “Audrey, hentikan tangismu! Cepat katakan apa yang saya telah ajarkan kepadamu sepanjang siang” sahut Wen dengan keras kepada Audrey. “Tuan-tuan, sa..saya..si..siap melayani tuan-tuan…silahkan pa..pakai se..seluruh lubang yang ada pada diri saya untuk ke…kenikmatan tuan-tuan” kata Audrey terbata-bata sambil menahan tangisnya.</p>
<p style="text-align: justify;">“Nah, Sudin dan Amir, kalian sudah dengar sendiri kan. Silahkan langsung saja jangan malu-malu. Majikanmu sudah memperbolehkan. Saya hanya minta boleh direkam ya….” kata Wen terkekeh sambil mengambil video kamera dari tangan Kisno yang ternyata juga bersama Peter telah tiba di ruang TV. “Kisno, kamu ajari Sudin dan Amir supaya tidak malu-malu” perintah Wen kemudian kepada Kisno supirnya. “Siaap boss” jawab Kisno cepat sambil menghampiri Audrey. Kemudian Kisno menjambak rambut Audrey dengan tangan kirinya dan menariknya ke belakang sehingga wajah Audrey terdongak ke atas. “Mir, Din. Majikanku ini selalu membagi budak seksnya kepadaku. Sekarang majikanmu ini sudah jadi budak seksnya, sehingga beruntunglah kalian bisa ikutan menikmatinya. Ayo jangan malu-malu, kapan lagi bisa menikmati dan memperbudak majikan sendiri…haa..haa….haa..” kata Kisno kepada Sudin dan Amir sambil tertawa dan tangan kanannya mulai meraba-raba kedua payudara dan memek Audrey. Dengan ragu-ragu, Sudin dan Amir menghampiri Audrey.</p>
<p style="text-align: justify;">Tangan-tangan mereka mulai menggerayangi tubuh dan paha mulus Audrey. Melihat Audrey hanya diam saja, tangan-tangan Sudin dan Amir semakin berani menggerayangi tubuh Audrey. Tangan-tangan mereka mulai ikut-ikutan meraba-raba kedua payudara dan memek Audrey. Kisno “Senyum! Jangan mewek aja kalau lagi ngelayanin tuan-tuanmu ini!” bentak Kisno keras kepada Audrey. Audrey yang mendengar bentakan Kisno berusaha tersenyum dengan terpaksa. “Cium kedua majikan kamu ini dengan mesra” perintah Kisno selanjutnya kepada Audrey sambil melepaskan jambakannya pada rambut Audrey. Audrey meskipun terlihat terpaksa kemudian melingkarkan kedua tangannya di leher Amir dan mulai mencium bibir Amir dengan mesra. Ciuman Audrey pada supirku itu tidak bertepuk sebelah tangan. Amir langsung membalas ciuman Audrey dengan ganas. Lidahnya langsung masuk ke mulut Audrey dan mengobok-obok mulut Audrey sampai-sampai Audrey kesulitan bernapas dan tersedak. Kemudian Audrey beralih kepada Sudin. Kembali kedua tangannya dilingkarkan di leher pembantuku itu, dan bibirnya mulai menciumi bibir Sudin.</p>
<p style="text-align: justify;">Tidak seperti Amir, Sudin membalas ciuman Audrey dengan mesra. Sudin sedikit menarik Audrey dari Kisno dan Amir, sehingga Audrey dan Sudin dapat berciuman dengan mesra berdua tanpa gangguan Amir dan Kisno. Sambil tetap berciuman dengan Audrey, Sudin melingkarkan tangan kirinya di pinggul Audrey dan tangan kanannya digunakan untuk meraba-raba dan mempermainkan klitoris Audrey. Setelah berciuman beberapa menit sambil mempermainkan klitoris Audrey, Sudin menurunkan tangan kirinya ke bongkahan pantat Audrey. Diraba-rabanya kedua bongkahan pantat Audrey itu, dan kemudian dengan sedikit menahan pantat Audrey dengan telapak tangan kirinya, Sudin memasukan jari tengah dan jari telunjuk tangan kanannya ke dalam memek Audrey dengan jempol tangan kanan Sudin tetap mempermainkan klitoris Audrey. “Eegghhh…” terdengar erangan kecil Audrey ketika kedua jari Sudin memasuki memeknya. “Suka?” tanya Sudin kepada Audrey sambil melepaskan ciumannya pada Audrey. Audrey tidak menjawab, dia hanya diam saja. Melihat Audrey hanya diam saja, Sudin menekan kedua jarinya di dalam memek Audrey dengan sedikit keras.</p>
<p style="text-align: justify;">“Egghh….” terdengar erangan Audrey sedikit mengeras. “Suka?” tanya Sudin lagi kepada Audrey dengan sedikit tegas. Mendengar pertanyaan Sudin untuk kedua kalinya, Audrey mengangguk pelan untuk menjawab dan menyenangkan hati Sudin. “Eh..sini Din, jangan dipakai sendiri aja, kita juga mau” kata Kisno tiba-tiba sambil menarik Audrey dari Sudin. “Ayo sini, layani kita bertiga sekaligus” kata Kisno sambil menarik Audrey kembali ke tengah ruang TV yang segera diikuti oleh Amir dan Sudin. “Ayo pelacur, kamu kan sudah diajari Pak Wen dari tadi siang, tunjukkan keahlianmu” perintah Kisno kepada Audrey. Kini Audrey yang telanjang bulat dikelilingi oleh Kisno, Sudin dan Amir di tengah ruang TV. Tanpa perlu diperintah lebih lanjut, Audrey mulai melepaskan pakaian Kisno, Sudin dan Amir. Setelah seluruh pakaian ketiganya lepas, Audrey kemudian berlutut dan mulai melepaskan celana dan celana dalam Kisno, Sudin dan Amir sehingga Kisno, Sudin dan Amir menjadi telanjang bulat. Terlihat sedikit kaget Audrey melihat selangkangan dan kontol-kontol Kisno, Sudin dan Amir.</p>
<p style="text-align: justify;">Selangkangan Kisno, Sudin dan Amir ditumbuhi bulu-bulu yang sangat lebat tidak terurus, ketiga kontol mereka semuanya berwarna hitam, berukuran besar-besar dan sudah mengeras. Nampak kontol Kisno sedikit berbeda dari yang lainnya. Di kontol Kisno terlihat mempunyai tonjolan-tonjolan bulat, sepertinya di dalam kulit kontol Kisno seakan-akan ada beberapa kelereng kecil yang dapat bergerak-gerak dan membuat kulit kontol Kisno menjadi tidak rata dan bergelombang. Selain daripada keanehan itu, terlihat kedua sisi kontol kisno juga ditindik dengan beberapa cincin emas seperti yang ada pada bibir atas memek Audrey, namun yang membedakannya adalah di cincin-cincin pada kontol Kisno itu di beberapa bagiannya tertutup dengan bulu-bulu kasar seperti sabuk kelapa. Melihat kontol Kisno yang sangat aneh itu, terlihat wajah Audrey menjadi panik dan ketakutan. Air mata kembali meleleh di kedua pipinya. “Hehehehe….jangan takut” kata Kisno tiba-tiba kepada Audrey. “kontol ini akan membawa kenikmatan untukmu pelacur! Pak Wen khusus membawaku ke Cina untuk menjadikan kontolku ini sumber kenikmatan wanita yang tidak ada taranya.</p>
<p style="text-align: justify;">Jadi kamu harus merasa beruntung dapat mencicipi kontolku ini. Kamu pasti akan ketagihan seks setelah merasakan kontolku ini” kata Kisno dengan sedikit tertawa. Setelah mengatakan hal itu, tanpa menunggu apa-apa lagi, Kisno langsung menarik muka Audrey ke arah selangkangannya. Dan dengan sedikit memaksa tangan Kisno membuka mulut Audrey dan memasukkan kontolnya yang besar ke dalam mulut Audrey. Audrey dengan sedikit gelagapan berusaha membuka mulutnya lebar-lebar agar dapat menerima kontol Kisno yang besar itu. Kisno langsung memompa kontolnya pada mulut Audrey dengan cepat sampai Audrey tersedak-sedak. Setelah beberapa menit memompa mulut Audrey dengan kontolnya, Kisno kemudian memalingkan wajah Audrey ke arah kontol Amir. Audrey mengerti apa yang diminta, dia langsung membuka mulutnya dan mulai melakukan oral service pada kontol Amir. Raut muka Amir menampakkan kegembiraan yang amat sangat ketika kontolnya mulai dioral oleh mulut Audrey. Dia kelihatannya tidak mempercayai apa yang sedang terjadi, dia tidak pernah menyangka bahwa majikan perempuannya yang muda dan cantik mau mengulum-ngulum, menghisap-hisap dan menjilati kontol tuannya.</p>
<p style="text-align: justify;">Selagi mengoral service kontol Amir, Kisno meraih tangan kiri Audrey dan mengarahkan ke kontolnya. Audrey seperti wanita yang sudah terlatih langsung mengerti kemauan Kisno dan mulai mengocok-ngocok kontol Kisno dengan tangan kirinya. Melihat itu Sudin juga tidak mau kalah dan meraih tangan kanan Audrey dan mengarahkannya ke kontolnya. Tanpa diperintah lagi Audrey juga langsung mengocok-ngocok kontol Sudin. Terlihat pemandangan yang sangat menakjubkan di hadapanku. Audrey yang cantik jelita, berkulit mulus dan putih sedang melayani 3 laki-laki yang buruk rupa sekaligus. 2 laki-laki itu yang sedang dilayani Audrey adalah pembantu dan supirnya sendiri yang sudah berusia 50 tahunan, sedangkan pria satu lagi, si Kisno, meskipun umurnya kira-kira seumuranku, namun mukanya dapat dikatakan yang paling buruk jika dibandingkan dengan yang lain, dan dengan tubuh gempalnya Kisno terlihat seakan-akan seperti raksasa jika dibandingkan dengan tubuh Audrey. Setelah beberapa menit mengoral kontol Amir, wajah Audrey kembali dipalingkan oleh Kisno.</p>
<p style="text-align: justify;">Kali ini ke kontol Sudin. Audrey langsung menurut dan mulai menjilati dan menghisap-hisap kontol Sudin sedangkan tangan kanannya beralih ke kontol Amir. Setelah beberapa menit melayani kontol Sudin dengan mulutnya, wajah Audrey kembali dipalingkan ke kontol Kisno dan tangannyapun beralih ke kontol yang lain yang sedang tidak dioralnya. Kemudian beberapa menit kemudian beralih lagi ke kontol Amir dan kemudian ke kontol Sudin dan begitu seterusnya sehingga ketiga kontol hitam raksasa itu diservicenya bergantian. Selain menjilati dan menghisap ketiga kontol itu, Wen yang sedari tadi asyik merekam adegan Audrey dengan Kisno, Sudin dan Amir memerintahkan Audrey untuk mengulum-ngulum biji-biji kemaluan Kisno, Sudin dan Amir serta juga menjilati paha dalam ketiganya. Audrey juga diperintahkan Wen, untuk melakukan deep throat pada ketiga kontol itu, hal mana dipenuhi oleh Audrey dengan susah payah karena begitu besarnya kontol-kontol itu. Audrey menuruti semua instruksi Wen meskipun terlihat beberapa kali Audrey merasa tidak nyaman karena bau dari kontol-kontol dan selangkangan-selangkangan Kisno, Sudin dan Amir, namun dengan pasrah Audrey terpaksa menurutinya. Sedangkan Kisno, Sudin dan Amir terlihat keenakan dioral dan dijilati oleh Audrey, muka-muka mereka sudah nampak mesum keenakan. Setelah hampir satu jam memberikan oral service kepada Kisno, Sudin dan Amir, nampak peluh mulai sedikit membasahi tubuh Audrey. AC di ruang TV sedikit banyak membantu Audrey sehingga peluh tidak membanjiri tubuhnya. Audrey yang sedang mengulum kontol Sudin mempercepat gerakannya, kelihatannya Audrey mengetahui bahwa Sudin hampir mencapai klimaksnya.</p>
<p style="text-align: justify;">“Good…good….telan semua ya….” perintah Wen seakan-akan tahu apa yang akan terjadi. Audrey tidak menjawab, dia malah makin mempercepat gerakannya mengoral service kontol Sudin. Dan tidak beberapa lama kemudian Sudin memuntahkan seluruh spermanya ke dalam mulut Audrey yang langsung ditelan semuanya oleh Audrey, hal mana terlihat dari tenggorokan Audrey yang bergerak-gerak menelan sesuatu dalam jumlah yang banyak. Setelah menelan seluruh sperma Sudin, Audrey berpindah ke kontol Amir. Dihisap-hisapnya kontol Amir dengan mulutnya sambil tangan kanannya yang kini bebas mengelus-elus biji kemaluan Amir. Tidak beberapa lama kemudian, Amirpun memuntahkan seluruh spermanya ke dalam mulut Audrey dan seluruh sperma itupun ditelan habis oleh Audrey. Terakhir adalah giliran Kisno. Audrey menghisap-hisap dan menjilati kontol Kisno dan kedua tangan Audrey mengelus-elus biji kemaluan dan paha dalam Kisno. Terlihat sekali Audrey berusaha memberikan rangsangan yang hebat untuk Kisno agar Kisno cepat mengalami orgasme dan penderitaan Audrey dalam memberikan oral service dapat segera berakhir.</p>
<p style="text-align: justify;">Namun rupanya Kisno mempunyai stamina yang cukup bagus, sehingga perlu waktu yang cukup lama bagi Audrey untuk membuat Kisno orgasme dan memuntahkan seluruh spermanya ke dalam mulut Audrey. Ketika seluruh sperma Kisno telah ditelan habis oleh Audrey, Kisno kembali menjambak rambut Audrey dan menariknya ke atas dengan kasar sehingga Audrey terpaksa berdiri. Kemudian Kisno meraih cincin emas dan bel kecil di bibir atas memek Audrey dengan kasar. “Oooucchh….” terdengar jeritan kecil kesakitan keluar dari mulut Audrey. Kemudian Kisno dengan menarik cincin emas dan bel kecil itu menuntun Audrey ke sofa tunggal yang menghadap TV LCD 42’ di ruang TV rumahku. Suatu pemandangan yang juga sangat menakjubkan, Kisno yang bertubuh besar dan gempal itu menarik cincin dan bel kecil itu dan dengan terpaksa dan sambil menahan sakit Audrey yang cantik mengikutinya. Kisno dengan seenaknya menarik cincin dan bel keci itu seakan-akan dia sedang menarik cincin dihidung seekor sapi, namun bukan sapi yang ditarik melainkan istriku Audrey di memeknya.</p>
<p style="text-align: justify;">Audrey didudukan oleh Kisno di sofa tunggal itu, masing-masing kedua kakinya dibuka lebar diletakkan di lengan-lengan sofa tersebut sehingga posisi Audrey sekarang duduk di sofa dengan kedua kaki mengangkang lebar. Wen memberi isyarat kepada Audrey untuk tidak bergerak dalam posisi itu. Kemudian Wen menyambungkan sebuah kabel panjang ke TV LCD 42’ yang berada di hadapan Audrey. Dan setelah kabel tersambung, nampaklah gambar Audrey di TV itu sedang mengangkang lebar di sofa. “Nah, sekarang baru asyik. Kamu bisa melihat secara live persetubuhanmu sendiri” kata Wen kepada Audrey. Audrey tidak menjawab apa-apa. Kemudian Wen memerintahkan Audrey untuk membuka memeknya dengan jari-jari tangannya sendiri. Audrey dengan sedikit ragu menurutinya. Audrey membuka memeknya sendiri dengan lebar-lebar. Lalu Wen memerintahkan Audrey untuk mengatakan hal-hal yang tidak senonoh, seperti “saya pelacur yang siap melayani”, “memek saya sudah ingin sekali dimasuki kontol yang besar” dan lain-lain. Audrey pada awalnya tidak mau menuruti perintah Wen, namun setelah diancam oleh Wen bahwa rekaman persetubuhannya akan tersebar di internet, Audreypun menuruti dengan sedikit isak tangis dan air mata yang meleleh di kedua pipinya.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah puas mempermalukan Audrey, Wen memberikan isyarat kepada Kisno, dan Kisnopun langsung berlutut didepan selangkangan Audrey dan mulai menjilati paha dalam Audrey dan terus ke memek Audrey. Ketika lidah Kisno yang ternyata ditindik dengan besi kecil itu mulai menyapu bagian dalam memek Audrey, terlihat tubuh Audrey sedikit menegang menerima rangsangan di memeknya. Kedua tangan Audrey meremas-remas pegangan tangan sofa dan kadang-kadang memegang paha dalamnya sendiri agar kedua kakinya tetap mengangkang lebar. Mata Audrey tertuju pada selangkangannya sendiri untuk melihat kegiatan lidah Kisno di memeknya. “Audrey, ngapain kamu melihat ke bawah, di TV sudah ada gambarmu sendiri, kalau kamu mau melihat dengan jelas memekmu tanpa terhalang kepala Kisno, akan saya zoom dan kamu bisa melihatnya secara jelas di TV” kata Wen sambil menzoom kameranya dan mengarahkannya pada posisi yang tepat sehingga di TV terlihat jelas sekali memek Audrey yang sedang dijilati oleh Kisno dengan rakus. Audrey menuruti apa yang dikatakan oleh Wen.</p>
<p style="text-align: justify;">Audrey mulai memandang ke arah TV dan melihat memeknya sedang dijilati oleh Kisno di TV. Dengan tanpa menghentikan jilatan-jilatannya pada memek dan klitoris Audrey, Kisno memasukkan jari telunjuk dan jari tengah tangan kanannya ke dalam memek Audrey. Audrey dengan mata tetap memandang ke TV mengeluarkan erangan kecil, badannya bergoyang-goyang mengikuti irama permainan jari-jari Kisno di memeknya. Adegan itu direkam dengan lihainya oleh Wen. Wen kadang-kadang menzoom in dan zoom out kameranya sehingga kadang-kadang hanya gambar memek Audrey yang sedang dipermainkan Kisno nampak di layar TV dan kadang-kadang gambar keseluruhan Audrey sedang duduk mengangkang di sofa dengan badan yang bergoyang-goyang dan meliuk-liuk dengan kepala Kisno terbenam diselangkangannya nampak di layar TV. Erangan-erangan makin jelas keluar dari mulut Audrey, nampaknya Kisno dengan lihainya telah membuat Audrey terangsang hebat. Tubuh Audrey makin bergoyang mengikuti irama jilatan-jilatan lidah Kisno di memeknya. Kadang-kadang terlihat Audrey menggigit kecil bibir bawahnya sendiri menahan rangsangan hebat yang mulai menjalar ke seluruh tubuhnya. Cukup kira-kira 10 menit permainan Kisno di memek Audrey sudah membuat Audrey mulai lupa pada keadaan sekelilingnya. Mata Audrey tetap menatap TV yang menanyangkan dirinya sedang dirangsang oleh Kisno, namun kedua tangannya mulai mengelus-elus dan menjambak-jambak kecil rambut di kepala Kisno. Audrey mulai berani memajukan pinggulnya ke depan agar lidah dan jari-jari tangan Kisno dapat makin menekan masuk ke dalam memeknya.</p>
<p style="text-align: justify;">“Iyaaa…teerruss…iyaa….teeerusss” mulai terdengar rintihan-rintihan Audrey tanda dia menyukai apa yang diperbuat Kisno di memeknya. Mendengar itu Wen tertawa kecil dan menzoom kamera ke wajah Audrey yang cantik. Audrey yang melihat wajahnya di close-up di TV tersenyum kecil. Rangsangan yang diberikan Kisno pada memeknya mulai menghilangkan rasa malu dan rasa jijiknya terhadap pasangan persetubuhannya. Tidak lama setelah itu mulai nampak tanda-tanda Audrey akan mengalami orgasmenya. Pinggulnya makin ditekannya ke depan kearah mulut Kisno. Jambakan-jambakan tangannya pada rambut Kisno mulai semakin liar dan kedua kakinya semakin dibukanya lebar-lebar. Detik-detik akhir mendekati orgasme makin terlihat pada diri Audrey, gerakan pinggulnya semakin liar, erangan-erangannya semakin keras, namun ketika saat-saat orgasme tinggal selangkah lagi, tiba-tiba dengan mulutnya, Kisno menarik cincin emas yang ada di bibir atas memek Audrey dengan keras. “Aoouuuccch……..!!!” teriak Audrey keras karena kesakitan. Mukanya meringis menahan sakit, bibirnya menggigit tangan kanannya yang dikepal.</p>
<p style="text-align: justify;">Orgasme yang tinggal selangkah lagi dicapainya hilang karena rasa sakit itu. Muka sedikit kecewa nampak diraut wajah Audrey, namun Kisno tidak mempedulikannya. Kisno kembali pada kegiatannya merangsang memek Audrey kembali, dan bagi Audrey setelah beberapa menit rasa sakit itu hilang, Audreypun kembali hanyut pada permainan Kisno di memeknya. Beberapa kali kejadian seperti itu berulang, rupanya Kisno dengan sengaja membuat Audrey ke titik hampir klimaks namun kemudian menurunkannya kembali dengan cara menarik cincin emas yang berada di bibir atas memek Audrey, sehingga Audrey hanya mengalami rangsangan yang sangat hebat namun tidak bisa orgasme. Diperlakukan seperti itu membuat Audrey penasaran, goyangan pinggulnya semakin hebat, sedangkan kedua tangannya berusaha melindungi cincin emas dan bel kecil yang berada di bibir atas memeknya agar tidak bisa ditarik oleh mulut Kisno. Melihat itu Wen segera menyuruh Peter untuk memegang kedua tangan Audrey dan menariknya ke atas dan ke belakang kepala Audrey, sehingga dengan kedua tangan yang dipegang Peter itu, Audrey tidak bisa mencegah perbuatan Kisno yang menghalanginya mencapai orgasme.</p>
<p style="text-align: justify;">Selama setengah jam Audrey diperlakukan demikian oleh Kisno. Audrey nampak sekali sudah tidak tahan untuk meraih orgasmenya yang tidak kunjung juga bisa dicapainya. Tatapan matanya sayu dan pasrah dan kadang-kadang dia memejamkan matanya. “Tolong….bikin saya orgasme…jangan…ditarik lagi…” desah Audrey pelan kepada Kisno berulang-ulang. Mendengar itu Wen kembali tertawa lebar dan berkata “Audrey, kamu itu budak seks, bukan kamu yang harus dilayani, tapi kamu harus melayani tahu!” “Kamu kalau mau orgasme harus minta ijin, apabila diijinkan baru boleh kamu orgasme, mengerti!” lanjut wen kepada Audrey. Audrey yang sudah tidak tahan untuk mencapai orgasme langsung menjawab “Pak Wen, bolehkah saya orgasme?” Pertanyaan itu diulangnya berkali-kali sampai tiba-tiba Sudin dan Amir secara hampir bersamaan berkata “Pak Wen, biarkan saya yang membuatnya orgasme”. Mendengar itu Wen tertawa kecil “Tidak usah rebutan, Audrey bisa melayani kalian berdua sekaligus” “Audrey, kamu beruntung, ada 2 pejantan ini yang mau memuaskanmu, kamu tahu apa yang harus dilakukan” kata Wen setengah memerintah kepada Audrey.</p>
<p style="text-align: justify;">Mendengar itu, Audrey dengan dibantu oleh Kisno bangkit dari sofa, lalu kemudian langsung merebahkan diri telentang di karpet di tengah ruang TV dengan kaki mengangkang lebar-lebar di hadapan Sudin dan Amir. Sudin dan Amir dengan kontol-kontolnya yang sudah kembali mengencang malah dengan bodohnya termangu melihat posisi siap disetubuhi yang dipertontonkan Audrey kepada mereka. Kelihatannya mereka tidak percaya apa yang ada di hadapan mereka dan mereka bingung siapa yang akan memulai duluan. “Pak Amir…sini..” desah Audrey setengah memerintah kepada Amir dan dengan muka yang nampak sudah tidak sabar karena baik Amir maupun Sudin hanya termangu berdiri di hadapannya. Amir yang mendengar namanya dipanggil dengan setengah cengengesan meledek kearah Sudin langsung memposisikan dirinya di atas tubuh Audrey. Amir segera mengarahkan kontolnya yang besar dan hitam kearah memek Audrey yang mungil dan mulus itu. “Maaf ya bu….hehehehe…” terdengar bisikan Amir sambil terkekeh kecil kepada Audrey ketika Amir mulai memasukkan kontolnya ke dalam memek Audrey.</p>
<p style="text-align: justify;">Terdengar erangan dan rintihan kecil dari mulut Audrey ketika kontol Amir mulai memasuki memeknya. Audrey berusaha memposisikan dirinya agar kontol Amir dapat masuk dengan lancar ke dalam memeknya. Meskipun memeknya sudah sangat basah akibat permainan Kisno, namun terlihat Audrey sedikit kesusahan menerima kontol Amir yang besar di memeknya. Setelah beberapa puluh detik, barulah seluruh kontol Amir amblas ke dalam memek Audrey. Mata Audrey memancarkan kebahagiaan dan ketakjuban karena ternyata memeknya dapat menampung seluruh kontol Amir yang sangat besar dan panjang itu. Beberapa menit Amir mendiamkan kontolnya dalam memek Audrey untuk memberikan kesempatan pada Audrey membiasakan diri dengan kontolnya yang besar itu. Kemudian tanpa basa-basi lagi Amir langsung menggenjot kontolnya pada memek Audrey dengan keras, cepat dan kasar. Audrey yang sudah terangsang berat karena permainan Kisno sebelumnya, langsung melayani permainan kasar Amir, dilayaninya genjotan-genjotan Amir dengan goyangan-goyangan pinggulnya dengan tak kalah hebat.</p>
<p style="text-align: justify;">Terlihat pemandangan yang sangat hebat. Dua manusia berbeda jenis kelamin, yang satu muda dan cantik sedangkan yang satu lagi tua dan jelek bersetubuh hanya untuk mencari kepuasan nafsu hewani masing-masing, tanpa cinta dan tanpa kemesraan tapi hanya berlomba-lomba mencari kepuasan seksnya masing-masing. Audrey dan Amir bersetubuh dengan kasar dan ganas, mereka berdua sudah tidak mempedulikan sekelilingnya. Mereka seakan-akan berlomba untuk lebih dahulu mencapai orgasmenya sebelum pasangan persetubuhannya mencapai orgasme. Hanya perlu sekitar 15 menit ketika Audrey yang memang telah terangsang hebat dengan permainan Kisno mencapai orgasmenya yang hebat dan panjang. Lenguhan keras terdengar keluar dari mulutnya, badannya menegang keras, tanggannya merangkul erat punggung Amir dan kedua kakinya dikaitkan rapat-rapat pada pinggul Amir. Setelah beberapa menit di puncak orgasme, badan Audrey melemas, kedua tangannya melepas pelukannya pada punggung Amir, kedua kakinya tergolek lemas di atas karpet. Tidak seperti Audrey, Amir yang sebelumnya sudah mencapai orgasme ketika dioral service oleh Audrey, masih membutuhkan waktu lama untuk mencapai orgasme.</p>
<p style="text-align: justify;">Genjotan-genjotannya pada memek Audrey malah semakin kencang, cepat dan kasar. Muka Amir tersenyum lebar karena mengetahui majikan perempuannya sudah mencapai orgasme, seakan-akan menunjukkan bahwa dia adalah pemenang dari pertarungan seks itu. Audrey yang sudah lemas, karena selain sudah orgasme juga karena sedari siang sudah melayani Wen dan anaknya hanya bisa tergoncang-goncang hebat dengan permainan kasar Amir. Kedua tangan Audrey hanya tergolek lemah di atas karpet, kedua kakinya tidak dapat diangkatnya lagi. Audrey hanya bisa tergeletak lemas dengan posisi kaki terbuka lebar di atas karpet. Ketika Amir meraih kedua pergelangan kaki Audrey dengan kedua tangannya dan mengangkatnya ke atas serta membuka kedua kakinya lebar-lebar, Audrey hanya bisa pasrah. Erangan-erangan terdengar setiap kali kontol Amir yang besar membobol memeknya berulang kali dengan kasar. Mata Audrey hanya bisa menatap kosong ke wajah Amir dan sesekali kearah memeknya seakan-akan menunggu kapan kontol Amir yang besar akan memuntahkan seluruh spermanya ke dalam memeknya.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah belasan menit, Amir belum juga tampak akan orgasme. Amir merapatkan kedua kaki Audrey dan menyandarkannya pada salah satu bahunya dan semakin cepat menggenjot memek Audrey. Audrey secara reflek merapatkan kedua tangannya sejajar di kiri dan kanan tubuhnya. Audrey hanya bisa mengerang-erang dan merintih-rintih ketika kontol Amir masuk seluruhnya ke dalam memeknya. Dengan kaki yang dirapatkan oleh Amir, memek Audrey makin menyempit karena selangkangannya tertutup rapat. Badan Audrey hanya tergoncang-goncang mengikuti permainan Amir. Audrey sudah tidak sanggup lagi menggoyangkan pinggulnya, dia hanya bisa pasrah sambil merintih-rintih. Telah beberapa belas menit berlalu ketika tiba-tiba Wen berkata “Oooh, kita ada yang lupa nih, si pelacur tadi orgasme tanpa minta ijin terlebih dahulu, berarti dia harus dihukum”. “Kisno, mana jepitan favorit saya, kamu bawa?” lanjut Wen kepada Kisno. Kisno yang ditanya langsung merogoh tas kamera dan mengeluarkan dua buah jepitan besi yang berbentuk seperti jepitan jemuran. Kedua jepitan itu dihubungkan dengan sebuah rantai besi.</p>
<p style="text-align: justify;">“Pakaikan ke Audrey” perintah Wen kepada Kisno. Wajah Audrey nampak ketakutan melihat jepitan besi itu. Kedua tangannya langsung digunakannya untuk menutupi kedua payudaranya. Rupanya Audrey dapat langsung menebak apa kegunaan jepit besi itu. Peter yang melihat Audrey menutupi kedua payudaranya dengan kedua tangannya langsung mendekati Audrey. Diraihnya kedua tangan Audrey dan dengan paksa ditariknya kedua tangan Audrey itu ke atas dan diletakan di atas karpet sejajar dengan kepala Audrey. Dengan posisi kedua lengan dipegangi oleh Peter dan kedua kaki yang dipegangi oleh Amir. Audrey menjadi tidak berdaya dan kedua payudaranya terekpos bebas. Kemudian Kisno menghampiri Audrey, dan dengan cekatan masing-masing jepitan itu digunakannya untuk menjepit masing-masing puting payudara Audrey. Audrey tidak dapat berkata apa-apa karena begitu cepatnya kejadian itu. Hanya terdengar jeritan keras Audrey dan diikuti dengan air mata yang meleleh di kedua pipinya ketika masing-masing jepitan sudah terpasang dengan sempurna menjepit puting payudaranya.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah kedua jepitan sudah terpasang sempurna pada tempatnya, Kisno menyerahkan rantai yang menghubungkan kedua jepitan itu kepada Amir. Amir dengan wajah mesum melepaskan pegangannya pada kedua kaki Audrey dan menerima rantai besi itu dari Kisno. Kemudian Amir tanpa basa basi lagi langsung menarik rantai besi itu ke arahnya sehingga kedua payudara Audrey tertarik ke atas dan ke arah Amir sampai-sampai membuat tubuh Audrey terpaksa mengikuti tarikan Amir pada rantai besi itu sehingga posisi Audrey setengah duduk namun Audrey tidak dapat duduk dengan sempurna karena dalam memeknya masih tertancap kontol Amir yang besar. “Ngangkang yang lebar dan angkat kakinya atau saya tarik sampai putingnya putus!” sahut Amir tiba-tiba kepada Audrey yang cukup membuatku kaget karena baru pertama kalinya aku mendengar supirku ini berani membentak istriku. Dengan kedua jepit diputingnya dan rantai yang ditangan Amir, Audrey hanya bisa menurut. Diangkatnya dan dibukanya lebar-lebar kedua kakinya sehingga kini Audrey dalam posisi setengah duduk dengan hanya sedikit pantat yang menumpu tubuhnya dan kedua tapak tangannya yang bertumpu pada karpet agar tubuhnya tidak jatuh ke belakang.</p>
<p style="text-align: justify;">Amir kembali mempercepat genjotannya pada memek Audrey. Kedua tangan Amir memegang rantai jepit itu dan menarik-nariknya sehingga nampak seperti seperti seseorang yang sedang memegang tali kendali kuda. Sesekali tangan kirinya menampar-nampar paha luar Audrey sehingga Amir seperti seorang joki. Tapi bukan joki yang menunggang kuda tapi joki yang sedang menyetubuhi seorang wanita yang sangat cantik. Payudara Audrey nampak tertarik dengan kencang kedepan, badannya bergoyang hebat karena genjotan ganas Amir pada memeknya. Audrey nampak kerepotan untuk menjaga keseimbangannya, namun karena jepitan pada kedua payudaranya itu nampak Audrey tetap berusaha tetap pada posisinya. Setelah beberapa menit diperlakukan kasar begitu oleh Amir, nampak perubahan pada diri Audrey. Rupanya diperlakukan kasar oleh supirnya membuat sensasi sendiri pada diri Audrey. memeknya nampak mulai banjir dengan cairan kewanitaannya. Bunyi memek basah yang dimasuki kontol mulai terdengar keras setiap kali Amir dengan kasar memasukkan kontolnya dalam memek Audrey.</p>
<p style="text-align: justify;">Mata Audrey menjadi berbinar, matanya memandang bergantian kearah Amir, kearah kedua payudaranya dan kearah memeknya yang sedang digenjot dengan ganas oleh kontol Amir yang besar dan hitam itu. Ketika Amir menyodorkan jari tengah dan jari telunjuk tangan kirinya kearah muka Audrey, Audrey langsung menyambutnya dengan mulutnya dan mulai mengulum-ngulum kedua jari Amir itu dengan tatapan yang seksi kearah Amir. Desahan-desahan kenikmatan mulai keluar dari mulut Audrey, rupanya dia sudah benar-benar tunduk pada supirku itu. Audrey menuruti apa saja perintah Amir. Ketika Amir menyuruhnya menjulurkan lidah, Audrey langsung menurutinya. Tangan kiri Amir langsung meraih lidah Audrey itu dan menarik-nariknya, Audrey bukan kesakitan tapi malah membiarkan Amir dan tersenyum dengan mulut yang terbuka. Setiap adegan-adegan itu direkam dengan baik oleh Wen dan nampak dengan jelas dilayar TV. Terlihat Wen sangat puas dengan hasil karyanya. Audrey nampak sekali menikmati persetubuhannya dengan Amir. Audrey nampak sekali berusaha menyenangkan dan melayani Amir dengan sebaik-baiknya, rasa sakit pada puting payudaranya sudah berubah menjadi kenikmatan yang luar biasa. Setiap genjotan kasar Amir pada memeknya selalu diiringi dengan jeritan seksi kenikmatan yang tiada tara dari mulut Audrey.</p>
<p style="text-align: justify;">Sudin yang dari tadi hanya menjadi penonton kelihatannya sudah tidak bisa menahan diri untuk ikut menyetubuhi majikan perempuannya. Sudin mendekati Audrey, diambilnya rantai yang menghubungkan kedua jepitan dari tangan Amir dan direbahkannya Audrey telentang di atas karpet. Kemudian Sudin berlutut menghadap kearah Amir dan mengangkangi wajah Audrey sehingga sekarang wajah Audrey berada di bawah selangkangannya. Setelah itu Sudin menarik rantai itu ke atas, sehingga mau tidak mau Audrey harus mengangkat dada dan wajahnya sehingga wajahnya menempel di biji kemaluan dan lubang pantat Sudin. Dengan sekali hentakan pada rantai itu oleh Sudin, kelihatannya Audrey sudah dilanda birahi yang sangat hebat mengerti apa maunya Sudin. Audrey mulai menjilati dan mengulum biji kemaluan Sudin dari bawah. Audrey juga tanpa malu-malu lagi menjilati lubang pantat pembantu prianya itu. Muka Sudin tampak sumringah ketika merasakan jilatan dan kuluman Audrey di selangkangannya, sedangkan Amir sekarang meraih kedua pergelangan kaki Audrey dan mengangkatnya serta membuka lebar-lebar kedua kaki Audrey sambil terus menggenjot memek Audrey dengan kontolnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Desahan-desahan Audrey semakin menggila, rasa malunya disetubuhi oleh supir dan pembantu prianya telah hilang sama sekali. Rintihan-rintihan nikmat membahana di ruangan itu. Bel kecil di memek Audrey menambah ramainya suara yang terdengar. Kurang lebih 10 menit kemudian terdengar suara dari bawah selangkangan Sudin. “Tuan….tuuu…an….boleh sa…saya orgasme?” desah Audrey cukup keras. “Hahaha….boleh…boleh….” tawa Sudin dan Amir hampir bersamaan. Beberapa detik setelah itu terlihat tubuh Audrey mengejang hebat, terdengar lenguhan hebat keluar dari mulutnya menggambarkan seakan-akan Audrey melepas suatu kenikmatan yang luar biasa yang telah tertahan lama di tubuhnya. Wen dengan cekatan merekam semua adegan itu, mukanya terlihat puas melihat Audrey sekarang benar-benar tunduk dan menerima semua yang dilakukan terhadap dirinya. Setelah beberapa menit di puncak orgasme, akhirnya tubuh Audrey melemas. Wajahnya terlihat lelah namun senyum kepuasan terlihat di bibirnya. “Sekarang gentian saya yang dilayani dong” kata Amir kepada Audrey tiba-tiba sambil mencabut kontolnya dari memek Audrey serta merebahkan diri disamping Audrey.</p>
<p style="text-align: justify;">Audrey terlihat berusaha keluar dari bawah selangkangan Sudin, dan Sudinpun mengerti dan membolehkannya. Dengan senyum Audrey kemudian menaiki tubuh Amir sehingga sekarang Audrey dan Amir dalam posisi woman on top. Segera setelah menaiki tubuh Amir, Audrey membimbing kontol Amir dengan tangannya ke dalam memeknya, kemudian ditekannya memeknya ke bawah sehingga kontol Amir amblas seluruhnya ke dalam memek Audrey. Kemudian Audrey menggerakan pinggulnya naik turun serta memutar, membuat Amir merasakan kontolnya diservice oleh memek Audrey. Tidak itu saja yang dilakukan Audrey, Audrey juga menciumi dan menjilati dada dan leher Amir yang membuat Amir sedikit melenguh kenikmatan. “Kok Amir saja, saya juga mau” sahut Sudin tiba-tiba dengan nada yang sudah tidak sabar. Audrey hanya tersenyum kearah Sudin dan merebahkan tubuhnya di dada Amir. Kemudian dengan tanpa mengatakan apa-apa lagi kedua tangan Audrey membuka kedua pantatnya sendiri sehingga lubang anus Audrey terlihat jelas dan menantang untuk dimasuki. Sudin si pria tua itu mengerti apa maksud Audrey.</p>
<p style="text-align: justify;">Sudin segera berjongkok dan mengarahkan kontolnya ke lubang anus Audrey. Sedikit demi sedikit terlihat kontol Sudin memasuki lubang anus Audrey. Lubang anus Audrey masih cukup seret karena hanya keringat dan cairan kewanitaan Audrey yang membasahi anus tersebut. Terlihat wajah Audrey di dada Amir menahan sakit. Mata Audrey terpejam menahan sakit dan Audrey menggigit bibir bawahnya sendiri ketika senti demi senti kontol Sudin yang besar mulai menerobos masuk ke dalam lubang anus Audrey. Namun tidak ada keluhan atau jeritan sakit keluar dari mulut Audrey. Audrey dengan tabah menerima kontol Sudin di anusnya. Setelah kontol Sudin masuk seluruhnya ke dalam lubang anus Audrey, baik Audrey, Amir dan Sudin berdiam diri beberapa menit dalam keadaan kontol Amir seluruhnya masuk dalam memek Audrey dan seluruh kontol Sudin seluruhnya masuk dalam lubang anus Audrey. Beberapa menit berlalu ketika terlihat Audrey mulai dapat membiasakan diri dengan dua kontol besar masing-masing di memek dan anusnya. Kemudian Audrey mengangkat tubuhnya sedikit dan bertumpu dengan kedua tangannya di karpet dan secara bersamaan mulai memutar-mutar pantatnya sendiri.</p>
<p style="text-align: justify;">Amir dan Sudin mengerti bahwa majikan perempuannya itu sudah siap melakukan persetubuhan dan keduanya segera menggenjot kontol mereka masing-masing dari pelan-pelan makin lama makin cepat. Amir dari bawah dengan buasnya menggenjotkan kontolnya ke memek Audrey, sedangkan Sudin dengan tidak kalah ganasnya menggenjot kontolnya ke anus Audrey dari belakang. Menerima serangan dari dua arah pada kedua lubangnya, wajah Audrey menampakkan kepuasan, senyumnya kembali terlihat dan desahan-desahan nikmat mulai keluar dari mulutnya. Amir kemudian dari bawah menyerahkan rantai yang menghubungkan kedua jepitan di payudara Audrey ke mulut Audrey, dan Audreypun langsung menyambutnya dengan menggigit rantai tersebut. Kemudian Audrey sedikit merebahkan tubuhnya ke depan sehingga kedua payudaranya persis di atas wajah Amir yang langsung disambut Amir dengan genggaman kedua tangan Amir di kedua payudara tersebut dan disertai jilatan dan kuluman mulut Amir di payudara Audrey. Sudin yang sedang menggasak anus Audrey dengan kontolnya tidak mau kalah, ditariknya rambut Audrey ke belakang sehingga kepala Audrey terdongak ke atas yang menyebabkan kedua payudara Audrey ikut tertarik. Lenguhan kecil terdengar dari mulut Audrey ketika kedua payudaranya tertarik kencang, namun wajah Audrey tetap terlihat kenikmatan. Mendengar itu, Sudin makin menarik-narik rambut Audrey, setiap tarikannya selalu disertai lenguhan nikmat Audrey sehingga membuat Sudin semakin berani menarik-narik rambut Audrey dengan kasar. Setelah 20 menit terlihat Amir mulai akan mencapai orgasmenya. Audrey menyadari hal itu dan semakin menggerak-gerakan pinggulnya dengan liar sehingga dalam waktu tidak beberapa lama kemudian Amir mencapai orgasmenya dan memuntahkan seluruh spermanya ke dalam memek Audrey.</p>
<p style="text-align: justify;">Melihat Amir telah orgasme, Sudin kemudian mencabut kontolnya dari anus Audrey dan menarik tubuh Audrey ke belakang dan segera men-doggy style Audrey dengan kasar. Audrey terlihat puas dengan perlakuan pembantu pria dan supirnya. Mulut Audrey yang sekarang tepat diselangkangan Amir tidak tinggal diam, dikulum dan dijilatinya kontol Amir sehingga semua sperma dan cairan kewanitaan yang menempel di kontol Amir dijilat dan ditelannya sampai bersih. Kedua tangan Audrey mengocok-ngocok kontol Amir seakan-akan tidak rela kalau kontol Amir sudah melayu. Kegiatan Audrey pada kontol Amir baru terhenti ketika tiba-tiba Sudin meraih kedua pundak Audrey dan menariknya ke belakang sehingga sekarang posisi Audrey dan Sudin dalam keadaan berlutut tegak dengan kontol Sudin menggasak memek Audrey dari belakang. Sudin terus menggasak memek Audrey dengan kontolnya, gerakan-gerakannya sungguh liar, kedua tangan Sudin meraih kedua payudara Audrey dari belakang. Diremas-remasnya kedua payudara Audrey dengan ganas. Audreypun tidak mau kalah, diputar-putarnya pinggulnya dengan disertai tekanan-tekanan ke belakang kearah kontol Sudin. Selain menggenjot memek Audrey dari belakang dan meremas-remas payudara Audrey dengan ganasnya, Sudin juga menciumi dan menjilati leher Audrey yang jenjang itu dan juga mengulum-ngulum kuping Audrey. Sambil terus menjilati leher dan kuping Audrey, Sudin kemudian mengarahkan tangan kanannya ke klitoris Audrey dan mulai menggosok-gosok klitoris Audrey dengan jari telunjuk dan jari tengah tangan kanannya.</p>
<p style="text-align: justify;">Diperlakukan demikian, Audrey menggelinjang-gelinjang kenikmatan, kedua tangan Audrey meraih pantat Sudin dan menarik-nariknya ke depan sehingga kontol Sudin semakin keras menghujam memeknnya. Kemudian Audrey mendongakkan kepalanya ke belakang ke bahu kanan Sudin dan mulai menciumi bibir Sudin yang langsung disambut Sudin dengan ganas. Audrey dan Sudin berciuman dan saling memainkan lidahnya masing-masing. Terdengar rintihan-rintihan nikmat Audrey dan dengan mata sayu Audrey memandangi mata Sudin sambil terus berciuman dengan Sudin. “Aaah…ahhh…nikmat pak Sudin….aam..pun….nikmat sekali…” terdengar desahan-desahan kecil keluar dari mulut Audrey. Benar-benar pemandangan yang hebat, seorang wanita cantik berkulit putih bersetubuh dengan seorang pria tua setengah baya berkulit hitam legam. Keringat mengucur deras dikeduanya sehingga nampak kedua tubuh mereka mengkilap karena keringat itu dan semuanya terekam dengan baik di kamera video Wen. Setelah sekian puluh menit, kembali Audrey berkata “Tuuaan bolehkah saya orgasme lagi….”</p>
<p style="text-align: justify;">“Tunggu, saya juga hampir orgasme, kita orgasme sama-sama ya” jawab Sudin kepada budak seksnya yang dahulu adalah majikan perempuannya. Audrey tidak menjawab, dia hanya menganggukkan kepala dan terlihat berusaha sekuat tenaga menahan orgasmenya dengan susah payah. Setelah beberapa belas menit kemudian terlihat Sudin akan mencapai orgasmenya, Audrey menyadari hal itu dan raut mukanya terlihat lega. Beberapa detik kemudian kedua manusia berlainan jenis itu mencapai orgasme secara bersama-sama. Kembali tubuh Audrey mengejang hebat, diremas-remasnya rambut kepala Sudin, diciuminya bibir Sudin dan secara bersamaan, Sudin juga memuntahkan sperma di dalam memek Audrey. Beberapa menit Audrey dan Sudin berada di puncak orgasme, kemudian kedua tubuh mereka rebah bersamaan di atas karpet kelelahan.</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="text-decoration: underline;"><strong>Bagian III: Pengalaman Baru Bersama Kisno</strong></span></p>
<p style="text-align: justify;">Wen rupanya belum puas dengan Audrey. Segera ditariknya rantai penjepit payudara Audrey sehingga terpaksa membuat Audrey bangkit. Kemudian Wen memerintahkan Audrey untuk duduk di sofa kecil dengan kedua kaki mengangkang bertumpu pada kedua lengan sofa. Kemudian wen memerintahkan Kisno untuk mengikat masing-masing pergelangan kaki Audrey pada kaki-kaki sofa, demikian juga kedua pergelangan tangan Audrey diikat pada kaki-kaki sofa yang lainnya, sehingga kini posisi Audrey menjadi tidak berdaya dengan posisi duduk mengangkang di sofa dan masing-masing kakinya terikat di kaki-kaki depan sofa serta masing-masing tangan terikat di kaki-kaki belakang sofa. Audrey yang masih kelelahan tidak banyak melawan, kelihatannya Audrey sudah benar-benar pasrah dengan apa yang akan dialaminya. “Nah, Audrey, sekarang pelajaran baru buat kamu” kata Wen tiba-tiba sambil menyerahkan kamera video kepada Kisno. “Kisno, kamu rekam ya yang bagus” lanjut Wen kepada Kisno. Kisno yang mendengar perintah majikannya hanya mengangguk-angguk sambil tersenyum dan mulai merekam Audrey dalam keadaan tidak berdaya itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Wen kemudian berlutut dihadapan selangkangan Audrey, tangan kanannya kemudaian menggosok-gosok memek Audrey, dan kemudian jari tengah dan jari telunjuk tangan kanannya mulai memasuki memek Audrey. Audrey sedikit menggelinjang ketika 2 jari tangan Wen masuk ke dalam memeknya. Desahan kecil keluar dari mulut Audrey. Setelah beberapa menit memainkan memek Audrey dengan 2 jarinya, Wen kemudian meraih rantai penjepit payudara Audrey dengan tangan kirinya serta mulai menarik-nariknya pelan-pelan namun panjang sehingga kedua payudara Audrey benar-benar tertarik ke depan. Suara rintihan terdengar lagi dari mulut Audrey ketika rantai tersebut ditarik-tarik oleh Wen. Beberapa menit berlalu ketika Wen mulai menggunakan ibu jari tangan kanannya untuk memainkan klitoris Audrey, dan secara pelan-pelan memasukkan jari manis tangan kanannya ke dalam memek Audrey sehingga kini 3 jari Wen masuk ke dalam memek Audrey. Setelah 3 jari Wen masuk ke memek Audrey, Wen mulai memompa ketiga jarinya keluar masuk memek Audrey dengan cepat.</p>
<p style="text-align: justify;">Wen secara lihai memainkan memek Audrey dengan ketiga jarinya ditambah ibu jarinya di klitoris Audrey yang membuat Audrey menggelinjang hebat dan merintih-rintih kenikmatan dengan keras. Terdengar bunyi keciplak kecipluk ketika memek Audrey yang sudah basah dengan sperma Amir dan Sudin serta ditambah cairan kewanitaannya sendiri dikerjai habis-habisan oleh jari-jari tangan Wen. Setelah beberapa menit, Wen mulai memasukkan jari kelingkingnya ke dalam memek Audrey, sehingga sekarang 4 jari tangan Wen memompa memek Audrey. Terlihat raut wajah Audrey menampakkan sedikit kekuatiran, tapi ikatan pada kedua kaki dan kedua tangannya membuat Audrey tidak dapat berbuat banyak serta ditambah lagi kelihaian jari-jari tangan Wen di memeknya membuat Audrey hanyut dalam birahinya meskipun terdapat sedikit kekuatiran karena memeknya tidak pernah dimasuki 4 jari tangan sebelumnya. Cukup lama Wen memainkan memek Audrey dengan keempat jari tangannya sehingga Audrey makin menggelinjang-gelinjang dan mendesah-desah kenikmatan. Kemudian Wen memperlambat genjotan keempat jarinya pada memek Audrey dan kemudian mulai mencoba memasukkan ibu jari tangan kanannya ke dalam memek Audrey.</p>
<p style="text-align: justify;">“Jaaa…ngggaan..Pak Wen..ugggghhhh…” terdengar suara kuatir Audrey ketika ibu jari tangan Wen mulai memasuki memeknya. “Ini namanya fisting, kamu harus terbiasa dengan ini, kamu sebagai budak seks harus bisa menerima dan menikmati apa saja perlakuan tuanmu” Wen menjawab kekuatiran Audrey dengan tegas. “Sekarang perhatikan ini! Kamu akan takjub dengan dengan apa yang memekmu bisa terima” lanjut Wen sambil terus memasukkan ibu jarinya ke dalam memek Audrey. Setelah kelima jari tangan kanan Wen masuk seluruhnya ke dalam memek Audrey, Wen tidak berhenti sampai situ saja, namun telapak tangan kanannya terus mendesak masuk ke dalam memek Audrey sedangkan tangan kirinya makin menarik rantai penjepit payudara Audrey makin ke depan. “Ooogghhh…..uuugghh…..aaaggghhhhh….” jerit Audrey keras ketika telapak tangan kanan sampai pergelangan tangan kanan Wen masuk seluruhnya ke dalam memek Audrey. “Gigit ini supaya tidak terlalu sakit” kata Wen kemudian sambil menyerahkan rantai penjepit payudara itu ke dalam mulut Audrey yang langsung dituruti oleh Audrey.</p>
<p style="text-align: justify;">Wen tidak langsung memompa lengannya pada memek Audrey. Didiamkannya telapak tangannya di dalam memek Audrey. Audrey sambil menggigit rantai itu terlihat meringis-ringis sambil berusaha membenarkan posisinya badannya. Mata Audrey terlihat menatap takjub kearah memeknya sendiri. Sekali lagi benar-benar pemandangan yang diluar dugaanku, istriku yang cantik jelita duduk mengangkang terikat di atas sofa tidak berdaya dengan telapak tangan Wen tertancap kuat didalam memeknya. Setelah beberapa waktu, Wen mulai menggerakkan telapak tangannya keluar masuk memek Audrey secara perlahan-lahan yang disertai rintihan-rintihan Audrey setiap kali telapak tangan Wen memasuki memek Audrey. “Uuughhh…..ooogggh……aahhh….” desah Audrey cukup keras sambil menggelinjang-gelinjang serta meringis-ringis antara menahan sakit dan nikmat. Beberapa menit kemudian Wen mulai mempercepat gerakan tangannya keluar masuk memek Audrey. Wen juga mengkombinasikan gerakan tangannya dengan gerakan memutar-mutar telapak tangannya di dalam memek Audrey. Gerakan-gerakan tangan Wen tersebut makin membuat Audrey menggelinjang-gelinjang.</p>
<p style="text-align: justify;">Audrey mulai menggerakan pinggulnya maju mundur serta memutar mengikuti irama permainan tangan Wen pada memeknya. Desahan-desahan yang keluar dari mulut Audrey semakin keras, dan sekarang nampaknya tinggal desahan-sesahan kenikmatan. Wajah Audrey terdongak ke atas sambil sesekali menunduk menatap kearah memeknya, sedangkan dada Audrey membusung ke depan dan meliuk-liuk tidak karuan. Kedua payudaranya tertarik keras setiap kali Audrey mendongakkan kepalanya ke atas karena rantai yang digigitnya menjadi menarik kedua payudaranya. “Ooohh…..ohhhh…Pak Wen….Oohhh..ooohhh” terdengar desahan-desahan Audrey telah berubah menjadi lolongan-lolongan panjang kenikmatan. Beberapa menit kemudian, Audrey sudah benar-benar hanyut dalam kenikmatan birahinya. Mata Audrey berubah menjadi benar-benar sayu dan sesekali Audrey memejamkan matanya. Liukan-liukan pinggul dan badannya memelan seakan-akan sedang bergerak dalam slow motion. Mulut Audrey terbuka sedikit, rantai dimulutnya sudah terlepas dari gigitannya. Kepalanya bergerak ke kiri dan ke kanan serta memutar dengan pelan, lolongan-lolongannya mejadi semakin panjang dan lambat-lambat.</p>
<p style="text-align: justify;">Melihat perubahan pada diri Audrey, Wen tersenyum sinis dan memerintahkan Amir untuk melepaskan seluruh ikatan pada kaki-kaki dan tangan-tangan Audrey. Begitu seluruh ikatan terlepas, Audrey yang kini bebas bergerak, mulai mengeliat-geliat seperti orang yang baru bangun tidur. Kedua tangan Audrey kadang menggeliat ke atas sambil meremas-remas pelan rambutnya sendiri, kadang mengusap-usap perutnya sendiri dan naik ke atas untuk mengelus-ngelus kedua payudaranya sendiri. Audrey semakin membuka lebar kedua kakinya untuk memberikan akses lebih luas bagi tangan Wen, sedangkan bibir Audrey mulai menciumi dan menjilati serta mengigit-gigit kecil lengan atasnya sendiri persis di atas ketiaknya, dan kadangkala digigitnya sendiri bibir bawahnya. Beberapa belas menit kemudian terlihat Audrey sudah siap orgasme. Dengan kedua tangannya Audrey meraih tangan kanan Wen yang sedang mengobok-ngobok memeknya sehingga Wen tidak dapat lagi memompa tangannya keluar masuk memek Audrey. Wen mengerti apa yang diinginkan Audrey. Wen menghentikan kegiatannya dan membiarkan telapak tangan kanannya terbenam seluruhnya di memek Audrey.</p>
<p style="text-align: justify;">Sedangkan Audrey dengan kedua tangannya yang masih memegang tangan kanan Wen mulai menggerakkan pinggulnya maju mundur dan memutar, sehingga kini Audrey yang bergerak sendiri untuk memuaskan nafsu birahinya dan mengarahkan tangan Wen agar mengenai titik-titik kenikmatan dalam memeknya. Tidak lama setelah itu, badan Audrey mengejang hebat. Kedua tangannya menarik kuat-kuat tangan kanan Wen agar semakin dalam tertancap memeknya. “Tuuuuaaaan…. bbolehhh..saya orgasme….pleaaaassseeee…..” teriak Audrey keras dengan terbata-bata memohon kepada Wen. Wen yang ditanya hanya mengangguk pelan, dan tak lama kemudian terdengar suara Audrey berteriak keras dengan badan yang mengejang hebat, “Oogggghhh…terimaaa…kassiiihhhh….tuaaaan…eennaakk!!” Setelah badan Audrey melemas, Wen pun mengeluarkan tangan kanannya dari memek Audrey. Audrey langsung rubuh ke sofa ketika tangan Wen seluruhnya tercabut dari memeknya. Nafas Audrey terengah-engah kelelahan, kedua kakinya dirapatkannya kembali, keringat membasahi sekujur tubuhnya. “Kisno, tuh sekarang ambil bagianmu” kata Wen memecah keheningan ruangan sambil meminta kamera videonya kembali dari Kisno.</p>
<p style="text-align: justify;">Mendengar itu terlihat Kisno kegirangan. Dikembalikannya kamera video yang sedang digenggamnya kepada majikannya. Dengan sedikit melonjak-lonjak kegirangan Kisno mendekati Audrey. Audrey yang masih kelelahan terlihat sedikit ketakutan melihat tingkah laku Kisno. Sesampainya di dekat Audrey, tanpa bicara apapun lagi, Kisno langsung menjambak rambut Audrey dengan keras dan menarik Audrey sehingga Audrey terjerembab ke karpet. “Aooowwww…..!!!” terdengar terikan Audrey keras ketika tubuhnya terjerembab ke karpet karena tarikan Kisno pada rambutnya. “Diam kamu pelacur! Sekarang kamu milikku! Nurut aja! Ayo bangun posisi merangkak seperti anjing!” bentak Kisno kepada Audrey sambil menendang-nendang pelan pantat Audrey. Dengan gerakan menjambak rambut Audrey ke atas, Kisno berhasil membuat Audrey menuruti kemauannya, kini Audrey dalam posisi merangkak seperti anjing dengan Kisno menjambak rambutnya kuat-kuat. Kemudian Kisno dengan tetap menjambak rambut Audrey berjalan mengelilingi ruangan sehingga Audrey harus merangkak-rangkak mengikutinya.</p>
<p style="text-align: justify;">Kisno sambil mengelilingi ruangan mengatakan kepada semua yang ada di ruangan itu bahwa dia akan membuat Audrey benar-benar bertekuk lutut padanya dan membuat Audrey benar-benar kecanduan akan kontolnya. Kemudian Kisno menghentikan langkahnya ketika sampai ditempat aku duduk. Diarahkannya Audrey berlutut dihadapan selangkanganku. “Nah, sebelum kamu merasakan kontolku, sebagai perbandingan kamu nikmati dulu kontol suamimu, nanti setelah itu kamu akan mengerti apa itu kenikmatan. Buka celana suamimu sekarang” kata Kisno memerintahkan Audrey. Dengan sekali tarikan pada rambut Audrey, Kisno berhasil membuat Audrey menurut. Audrey mulai membuka dan menurunkan celana dan celana dalamku. Aku yang sudah sangat terangsang karena melihat persetubuhan istriku dengan Amir, Sudin dan tangan Wen hanya berdiam diri saja, malah pada saat itu aku berpikir ini adalah kesempatan karena sudah lama aku tidak bersetubuh dengan istriku mengingat Wen sebelumnya hanya membolehkan Audrey untuk mengoral service kontolku saja. Ketika celana dan celana dalamku sudah terlepas, terlihat kontolku sudah sangat menegang. Terlihat wajah Audrey sedikit kecewa mengetahui bahwa aku terangsang melihat dirinya dikerjai oleh laki-laki lain.</p>
<p style="text-align: justify;">“Wah, si suami rupanya sudah sangat terangsang nih karena melihat istrinya kita kerjain” kata Kisno kepada semua yang ada di ruangan itu sambil tertawa. Kemudian Kisno memerintahkan Audrey untuk menaiki diriku dan memasukkan kontolku ke dalam memeknya, sehingga kini Audrey duduk di atasku dengan kontolku tertancap di memeknya. Seperti mengerti apa yang diinginkan Kisno, Audrey mulai menggerakkan tubuh dan pinggulnya naik turun memompa kontolku. Mula-mula gerakan tersebut dilakukan Audrey dengan perlahan namun lama-lama makin cepat. memek Audrey yang basah masih terasa rapat di kontolku. Hal ini membuat aku sedikit terkejut karena memek itu sebelumnya baru dimasuki tangan Wen yang besar. Ternyata memek Audrey tidak melonggar atau rusak karena tangan Wen, memek Audrey tetap seperti sediakala, namun ada yang beda pada diri Audrey, yaitu dalam melakukan persetubuhannya denganku ini, Audrey tidak mengeluarkan desahan apapun, Audrey melakukannya hanya seperti robot, nampak sekali Audrey tidak menikmatinya. Sedangkan aku yang sudah lama tidak merasakan memek wanita sangat menikmati persetubuhan tersebut.</p>
<p style="text-align: justify;">Tidak memerlukan waktu terlalu lama bagiku untuk mengalami orgasme. Aku muntahkan seluruh spermaku di dalam memek Audrey. “Tuan, Tommy sudah klimaks” kata Audrey tiba-tiba sambil menoleh ke Kisno setelah aku selesai memuntahkan seluruh spermaku di dalam memeknya. “Cepat amat…ya sudah sekarang duduk mengangkang disitu” kata Kisno amemerintahkan istriku sambil menujuk sofa panjang. Audrey menuruti kemauan Kisno. Audrey duduk di sofa panjang dengan kaki mengangkang lebar. Terlihat lelehan spermaku ada yang keluar dari selangkangannya yang dicukur bersih itu. Kemudian Kisno memposisikan dirinya di hadapan Audrey, diarahkannya kontolnya yang berbentuk aneh dan dipenuhi tindikan itu kearah memek Audrey. Audrey nampak ketakutan ketika kontol Kisno yang mempunyai tonjolan-tonjolan bulat yang dapat bergerak-gerak dengan tindikan beberapa cincin emas yang sebagiannya tertutup dengan bulu-bulu kasar seperti sabuk kelapa mendekati memeknya. “Jangan takut, kamu akan segera tahu enaknya ini kontol ini. Ini kontol spesial, cuma ada satu di Indonesia. Untuk jadi seperti ini harus dibuat di Cina hehehehehe” tawa Kisno melihat raut muka Audrey yang memperlihatkan kekuatiran.</p>
<p style="text-align: justify;">Secara pelan-pelan, Kisno mulai memasukan kontolnya ke dalam memek Audrey yang langsung disambut dengan teriakan histeris dari Audrey. “Aaaah…….ugggghhhhhh….jangan tuan….apa ini….” jerit histeris Audrey sambil berusaha melepaskan diri dari Kisno. Sebelum Audrey bisa berbuat banyak, Kisno dengan cekatan memegang kedua tangan Audrey dan memposisikan Audrey kembali ke posisi semula. “Jangan banyak bergerak, kamu mau saya sakiti atau mau menerima kenikmatan luar biasa! Pilih! Ini baru kepala kontolku yang masuk!” bentak Kisno kepada Audrey sambil memegang kedua tangan Audrey sejajar dengan kepala Audrey. Audrey hanya mengangguk lemah tanda persetujuannya. Air mata terlihat berlinang dikedua matanya. Kemudian Kisno melanjutkan memasukkan kontolnya ke dalam memek Audrey secara perlahan sekali, senti demi senti masuk pelan-pelan ke dalam memek Audrey, seakan-akan Kisno memang sengaja agar dinding memek Audrey merasakan gesekan kontol bertindik cincin emas yang dibaluti oleh bulu-bulu seperti sabuk kelapa itu. “Ooooggghhh…….” desah Audrey panjang sekali ketika Kisno menekan pantatnya ke depan sehingga sebagian kecil batang kontol Kisno mulai masuk ke dalam memek Audrey. Mata Audrey melotot tajam memandangi memeknya mulai dimasuki kontol Kisno. Mulut Audrey terbuka lebar dan pinggulnya bergerak sedikit mengatur posisinya agar lebih nyaman dalam menerima kontol Kisno.</p>
<p style="text-align: justify;">“UUggghhhhhh….” teriakan kecil tapi panjang keluar dari mulut Audrey ketika Kisno menekan lagi pantatnya ke depan sehingga batang kontol Kisno makin masuk ke dalam memek Audrey. Badan Audrey bergetar hebat. Audrey membuka kakinya lebar-lebar, matanya masih melotot tajam memandangi memeknya sendiri. “Ooogggghhh……” teriakan Audrey semakin panjang ketika untuk ketiga kalinya Kisno menekan pantatnya ke depan sehingga batang kontol Kisno semakin dalam lagi memasuki memek Audrey. Audrey mendongakkan kepalanya ke belakang, matanya tertutup rapat namun mulutnya makin terbuka lebar. Beberapa saat Kisno menghentikan gerakannya, kemudian terdengar lagi teriakan panjang “Ooogghhh…” keluar dari mulut Audrey ketika Kisno kembali menekan pantatnya ke depan sehingga batang kontol Kisno semakin dalam lagi memasuki memek Audrey. Kepala Audrey yang masih terdongak itu terlihat bergerak ke kiri dan ke kanan. Kedua tangan Audrey yang telah dilepas dari genggaman Kisno terlihat masing-masing memegang bahu Kisno. Badan Audrey semakin bergetar hebat, kakinya yang mengangkang terlihat menendang-nendang kecil ke udara. Sekali lagi Kisno menghentikan gerakannya untuk beberapa saat sebelum untuk kelima kalinya menekan pantatnya kedepan yang membuat batang kontolnya semakin dalam lagi masuk ke dalam memek Audrey. Teriakan Audrey terdengar semakin keras dan liar ketika batang kontol Kisno makin dalam masuk ke dalam memeknya. Badan Audrey yang bergetar hebat sekarang bergoyang-goyang tidak karuan. Kedua kakinya semakin keras menendang-nendang ke udara sedangkan masing-masing tangannya memukul-mukul bahu Kisno.</p>
<p style="text-align: justify;">“Aaaammmppppuuunnnn…..tuaaaannnn…..saya tidak tahan….” Kata Audrey dengan badan yang menggeliat-geliat hebat sambil memandang Kisno. Kisno kembali menghentikan gerakannya, namun kontras dengan Kisno, justru badan Audrey semakin keras menggeliat-geliat, kakinya semakin keras menendang-nendang ke udara dan kedua tangannya kini menjambak-jambak rambut Kisno. Kemudian Kisno dengan keras menekan pantatnya ke depan sehingga seluruh kontolnya amblas ke dalam memek Audrey yang disertai lolongan sangat panjang dari mulut Audrey. Menerima seluruh kontol Kisno di dalam memeknya membuat badan Audrey menegang dan menggeliat-geliat, kedua kakinya mengangkang lurus ke atas dan bibir Audrey menggigit keras tangan kirinya sendiri yang dikepal sedangkan tangan kanannya tetap menjambak keras rambut Kisno. “Hehehe…. enak ya?” tanya Kisno kepada Audrey. Audrey tidak menjawab, matanya nanar melihat ke wajah Kisno. Lalu tiba-tiba Kisno memutar-mutar pinggulnya sehingga seluruh kontol Kisno menggesek-gesek dinding dalam memek Audrey. Masing-masing tangan Audrey meremas keras pegangan sofa, kepalanya kembali terdongak ke belakang, badannya makin menegang hebat, dadanya membusung ke depan sehingga punggung Audrey sampai melengkung ke depan ketika Audrey merasakan kontol Kisno bergesekan dengan dinding dalam memeknya.</p>
<p style="text-align: justify;">Beberapa detik kemudian terdengar lolongan panjang Audrey tanda Audrey mencapai orgasmenya. memek Audrey memuncratkan cairan kewanitaan dengan cukup banyak dan berulang-ulang sampai-sampai sofa yang didudukinya menjadi sangat basah. Tidak mempedulikan Audrey yang sedang orgasme, Kisno mulai memompa kontolnya secara perlahan keluar masuk memek Audrey. Diperlakukan demikian Audrey menggelinjang-gelinjang hebat seperti cacing kepanasan. Kemudian Kisno mulai mempercepat genjotan kontolnya pada memek Audrey. Badan Audrey makin bergerak tidak karuan, kedua tangannya memukul-mukul lengan sofa. Nafas Audrey tersengal-sengal, rintihan-rintihan nikmatnya makin menjadi-jadi. Terdengar suara kecipak kecipuk yang sangat keras ketika kontol Kisno keluar masuk memek Audrey yang sudah sangat becek. “Terus….teruuussss….jangaaannn…berhenti……lebih keras…lebih keras…..lebih dalam…lebih dalam….” jeritan Audrey terdengar keras mengiba-ngiba kepada Kisno. “Jagoanku….jagoanku….hajar terus…memekku ini….ini milikmu semua….” Audrey merintih-rintih nikmat sambil masing-masing tangannya memegang pipi Kisno dengan keras dan matanya memandang liar ke mata Kisno.</p>
<p style="text-align: justify;">Hanya perlu kurang lebih lima menit untuk Audrey mencapai orgasmenya kembali. memek Audrey kembali memuncratkan cairan kewanitaannya, badan Audrey menegang hebat, mata Audrey tertutup rapat dan lolongan yang panjang membuat semua orang tahu ketika Audrey sedang orgasme. Setelah orgasme, Audrey kembali menggeliat-geliat hebat, matanya kembali terbuka, tangannya menekan-nekan pantat Kisno agar kontol Kisno makin dalam masuk ke memeknya, dan selalu kurang lebih lima menit kemudian, badan Audrey menegang kembali, lolongan panjang terdengar dari mulutnya, badannya seperti kaku ketika Audrey mengalami orgasmenya kembali dan cairan kewanitaan kembali memuncrat hebat dari memeknya. Kejadian tersebut kembali terjadi berulang-ulang sampai kurang lebih 40 menit. Badan Audrey dan Kisno sudah mandi keringat, namun keduanya nampak menikmati sekali permainan seks mereka, terutama Audrey terlihat sekali sudah tidak dapat mengontrol dirinya, lenguhan-lenguhannya semakin keras. Audrey mulai meracau dan mengeluarkan kata-kata cabul untuk menyemangati Kisno. Sangat berbeda dari Audrey yang pertama kali kukenal dan kunikahi. Audery sekarang telah berubah menjadi wanita yang gila seks, semakin kasar perlakuan Kisno terlihat semakin Audrey menikmatinya. Kemudian secara tiba-tiba, Kisno mencabut kontolnya yang besar dari memek Audrey.</p>
<p style="text-align: justify;">Langsung saja terdengar keluhan keras dari mulut Audrey. “Jangan….dilepaaasss…..ooouuccchh……” terdengar teriakan Audrey ketika Kisno menjambak rambutnya dengan kasar dan menariknya serta memposisikannya berdiri menungging dengan kedua tangan berpangku pinggir meja di ruangan TV itu. Tanpa mengatakan apapun lagi, Kisno dengan kasar lalu memasukkan kontolnya ke dalam memek Audrey dari belakang. Terdengar jeritan dari mulut Audrey ketika kontol Kisno yang berbentuk aneh itu kembali mengoyak memeknya. Kisno kemudian langsung memompa dengan kasar memek Audrey dengan gaya doggy style. Tangan kiri Kisno melingkar ke depan kearah klitoris Audrey dan tangan kiri Kisno mulai memainkan, mencubit-cubit dan memilin-milin klitoris Audrey. Diperlakukan demikian langsung badan Audrey bereaksi. Badan Audrey menggelinjang-gelinjang hebat seperti orang kegelian. Terlihat cairan kewanitaan Audrey meleleh dari memeknya makin membasahi kedua paha dalamnya. Mulut Audrey terbuka lebar, kepalanya bergoyang-goyang tidak beraturan, sedangkan kedua tangannya berusaha dengan susah payah tetap bertumpu pada pinggir meja.</p>
<p style="text-align: justify;">Suara lolongan dan rintihan nikmat Audrey membahana di ruangan itu bersahut-sahutan dengan bunyi keciplak kecipluk dari memeknya yang basah dan bunyi bel kecil yang tersangkut di bibir atas memeknya. Mata Audrey merem melek dan mendelik-delik karena kenikmatan yang tidak ada taranya, dan setiap kurang lebih lima menit Audrey kembali mencapai orgasmenya yang selalu ditandai dengan badannya yang mengejang hebat dan memeknya yang memuncratkan cairan kewanitaan dengan cukup banyak. Kurang lebih 30 menit Adrey didoggy style oleh Kisno, keringat Audrey sudah mengucur deras. Cairan kewanitaannya sudah benar-benar membasahi kedua paha dalamnya. Karpet di antara kedua kaki Audrey sudah basah karena cairan kewanitaan Audrey yang mengucur deras ke bawah. Meja kaca tempat kedua tangan Audrey bertumpu sudah juga basah dengan lelehan keringat Audrey dan cairan kewanitaan Audrey yang memuncrat cukup jauh. Kemudian Wen dengan kamera ditangan kanannya menjambak rambut Audrey dengan tangan kirinya dan menarik rambut Audrey ke belakang sehingga wajah Audrey terdongak ke atas. Kamera lalu menclose-up wajah Audrey yang sedang meringis-ringis kenikmatan itu.</p>
<p style="text-align: justify;">“Enak? Jawab ke kamera ini bagaimana rasanya” tanya Wen tegas kepada Audrey. “Eeen..naaakkk…sekkaaali tuuuaaan” jawab Audrey sambil menggeliat-liat liar karena sodokan-sodokan kontol Kisno dari belakang, “kontol tuan Kisno seperti hidup dan mengigit-gigit bagian dalam memek saya…uuugghhh…aagghhh…..” lanjut Audrey sambil memandang kamera dan merintih-rintih kenikmatan. “OOoooogggghhh………!!!” kemudian terdengar lolongan panjang Audrey yang disertai dengan memek yang kembali memuncratkan cairan kewanitaannya tanda Audrey kembali mengalami orgasme yang panjang. “Cepat sekali kamu orgasme ya. Mulai sekarang kamu harus juga menuruti apa kemauan Kisno, Amir dan Sudin. Kamu harus menyerahkan seluruh tubuhmu pada mereka, mau? Siap?” lanjut Wen sambil menjambak-jambak rambut Audrey ke belakang. Setelah sedikit reda dari orgasmenya, Audrey menjawab dengan terbata-bata “Mau…tuuuaan…maaauu…, saya siap melayani dan menuruti apa maunya tuan Kisno, Amir dan Sudin” “Sayaa….sepenuhnya milik mereka…eegghhh…aaaggghhh….ugghhhhh….” lanjut Audrey sambil menggelinjang-gelinjang dan merem melek kenikmatan.</p>
<p style="text-align: justify;">Lalu Wen melepaskan jambakannya pada rambut Audrey dan mundur beberapa langkah untuk memberikan keleluasaan bagi Audrey untuk kembali konsentrasi ke persetubuhannya dengan Kisno. Melihat Wen telah membiarkan Audrey, Amir dan Sudin maju ke depan dan berdiri masing-masing disamping kiri dan kanan wajah Audrey. Kemudian Amir dan Sudin memerintahkan Audrey untuk mengocok masing-masing kontol mereka dengan masing-masing tangan Audrey. Audrey segera menuruti meskipun hal tersebut membuat dirinya susah untuk berdiri karena kedua tangannya yang tadinya digunakannya untuk menumpu badannya sekarang harus dipergunakan untuk mengocok-ngocok kontol Sudin dan Amir. Melihat Audrey yang kesulitan berdiri sambil menungging, Kisno malah menggunakan kedua tangannya untuk memegang erat pinggul Audrey dan makin memompa dengan keras kontolnya pada memek Audrey yang membuat Audrey makin kesulitan berdiri menungging. Ditambah lagi sekarang Amir dan Sudin dengan tangannya masing-masing mulai meraba-raba dan mempermainkan klitoris dan kedua payudara Audrey sehingga Audrey makin menggelinjang-gelinjang seperti cacing kepanasan yang membuatnya tambah sulit mempertahankan posisi berdirinya. Audrey yang sudah benar-benar kehilangan kontrol atas dirinya sudah benar-benar pasrah. Kenikmatan yang diberikan Kisno pada dirinya telah benar-benar menghilangkan harga dirinya sebagai wanita terhormat. Menyadari Audrey sudah benar-benar hanyut dalam kenikmatan seksual, Amir dan Sudin tidak tahan untuk mengetahui seberapa menurutnya Audrey pada mereka.</p>
<p style="text-align: justify;">“Hayo…menggonggong seperti anjing betina yang sedang dientot” perintah Amir kasar tiba-tiba kepada Audrey. “Gu…guk…guuk…oghhh…..aghhh..guuuk….” Audrey langsung menuruti perintah Amir yang disambut oleh tawa lebar dari Amir, Sudin dan Kisno. “Hayo keluarkan lidahmu seperti anjing kehausan” perintah Sudin kemudian yang langsung dituruti oleh Audrey yang cantik sambil menggelinjang-gelinjang kenikmatan sehingga sekarang Audrey dalam posisi berdiri menungging didoggy style Kisno dengan masing-masing tangan sibuk mengocok kontol Amir dan kontol Sudin serta mulut terbuka dengan lidah menjulur keluar serta nafas terengah-engah seperti anjing kehausan. “Hahahahaha…” terdengar tawa semua yang ada di ruangan TV itu melihat Audrey menuruti semua perintah Amir dan Sudin. Hanya aku yang tidak ikut tertawa. Aku sekarang melihat istriku yang cantik benar-benar dipermalukan oleh supir dan pembantunya sendiri tapi istriku menikmatinya. Audrey sudah benar-benar takluk pada keperkasaan Kisno sehingga mau dipermalukan oleh Sudin dan Amir.</p>
<p style="text-align: justify;">“OOOggggghhhh…..” terdengar lolongan panjang dari mulut Audrey setiap kali Audrey mencapai orgasmenya. Tubuhnya selalu mengejang hebat dan memeknya selalu memuncratkan cairan kewanitaan setiap kali Audrey mencapi orgasme namun Audrey tidak melemas setelah mengalami orgasme. memeknya langsung siap meneruskan persetubuhannya dengan Kisno. Setelah berpuluh-puluh menit dan setelah Audrey mengalami orgasme yang sudah tidak terhitung lagi, Amir dan Sudin mencapai orgasmenya. Dimuntahkannya sperma mereka masing-masing ke wajah Audrey, dan mereka memerintahkan Audrey membersihkan sisa-sisa sperma dari kontol mereka dengan menggunakan lidah dan mulut Audrey yang langsung dituruti Audrey tanpa ragu-ragu. Sudin dan Amir juga memerintahkan Audrey untuk membersihkan muka Audrey dari sperma dengan tangan Audrey, kemudian mereka meminta Audrey untuk menjilati tangannya sendiri dan menelan seluruh sperma yang ada ditangannya. Tidak seperti Amir dan Sudin, rupanya Kisno benar-benar seorang pria yang tangguh dalam hal seks. Belum ada tanda-tanda Kisno akan orgasme.</p>
<p style="text-align: justify;">Amir dan Sudin yang sudah lemas berejakulasi kemudian hanya menonton persetubuhan Kisno dan Audrey. Demikian juga yang lainnya hanya menonton Audrey dikerjai habis-habisan oleh Kisno. Audrey dan Kisno melanjutkan pertarungan seks yang tidak seimbang itu. Audrey setiap kurang lebih 5 menit menyerah kalah dan mengalami orgasme yang dahsyat sedangkan Kisno dengan perkasanya tetap memompa memek Audrey dengan cepat dan kasar. Audrey dan Kisno bersetubuh dengan berbagai macam gaya, baik itu dalam posisi Kisno di atas menindih tubuh Audrey maupun gaya woman on top serta gaya lainnya yang aneh-aneh dan belum pernah aku lihat sebelumnya. Audrey dan Kisno juga bersetubuh di berbagai tempat di lantai bawah rumah kami, baik itu di atas karpet, di atas sofa, ditangga maupun di atas meja makan. Kami semua yang menonton mengikuti kemana saja persetubuhan Audrey dan Kisno dilakukan. Setelah beberapa jam, akhirnya terlihat Kisno akan mengalami orgasmenya. Diperintahkannya Audrey berlutut sambil kedua tangannya memegang mangkuk dan menengadahkannya kearah kontol Kisno.</p>
<p style="text-align: justify;">Dengan sedikit kocokan pada kontolnya, Kisno memuntahkan banyak sekali sperma ke mangkuk itu. Kemudian Kisno memerintahkan Audrey untuk meletakkan mangkuk itu di lantai dan memerintahkan Audrey mulai meminum dan menjilat abis sperma yang berada di mangkuk itu sehingga sekarang posisi Audrey seperti anjing yang sedang minum di mangkuknya. Audrey menuruti segala perintah Kisno tanpa melakukan protes apapun. Nampaknya sudah benar-benar habis harga diri istriku ini. Audrey sudah benar-benar menjadi budak seks sejati. Hal itu makin terlihat ketika sedang menjilati mangkuk berisi sperma Kisno dengan posisi menungging seperti anjing yang sedang minum, Amir memasukkan gagang sapu ke memek Audrey dari belakang dan memerintahkan Audrey untuk menggerakkan pinggul dan badannya sehingga memek Audrey mengocok-ngocok gagang sapu, dan hal tersebut dipatuhi oleh Audrey tanpa protes sehingga Audrey dengan rela menyetubuhi dirinya sendiri dengan gagang sapu yang dipegang Amir. “Oke, Tommy….saya dan Peter pulang dulu. Kisno kamu disini dulu saja, kelihatannya Audrey sangat menyukaimu. Biar Peter yang menyetir mobil pulang ke rumah. kata Wen tiba-tiba kepadaku dan Kisno.</p>
<p style="text-align: justify;">Kisno hanya mengangguk riang, sedangkan aku mengantarkan Wen dan Peter ke mobilnya. Ketika aku kembali ke dalam rumah, ternyata Kisno, Amir dan Sudin sudah mulai lagi menyetubuhi Audrey secara bersamaan. Posisi Sudin berbaring di atas karpet ditindih Audrey sedangkan Kisno menindih Audrey dari belakang. kontol Sudin tertancap keras di memek Audrey dan kontol Kisno sedang membobol lubang anus Audrey, sedangkan Amir sibuk memompa kontolnya dalam mulut Audrey sehingga kini seluruh lubang Audrey dipenuhi kontol-kontol yang besar-besar. Jeritan-jeritan dan rintihan-rintihan nikmat terdengar lagi membahana di rumahku. Aku hanya melihat sebentar persetubuhan mereka dan naik ke atas ke kamar tidur utama untuk beristirahat. Aku melihat istriku sangat menikmati persetubuhannya dengan Kisno, Amir dan Sudin sehingga aku membiarkan istriku menikmatinya tanpa gangguan dariku. Di dalam kamar, meskipun pintu kamarku tertutup rapat, masih jelas terdengar jeritan-jeritan dan rintihan-rintihan mereka. Terdengar jelas lolongan istriku tanda dia orgasme yang disertai suara tawa dari Kisno, Amir dan Sudin. Aku merebahkan diriku di kasur sambil membayangkan apa yang kira-kira sedang dilakukan Kisno, Amir dan Sudin terhadap istriku di ruang bawah sampai akhirnya aku terlelap dalam tidur.</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="text-decoration: underline;"><strong>Bagian IV: Penutup</strong></span></p>
<p style="text-align: justify;">Keesokan harinya, ternyata aku bangun cukup siang. Sudah jelas aku terlambat datang ke kantor. Buru-buru aku mandi dan berpakaian dan setelah siap aku turun ke ruang bawah. Ketika melewati ruang TV aku melihat dari belakang Kisno, Amir dan Sudin duduk di sofa sambil merokok dan menonton TV. Aku tidak melihat istriku, oleh karenanya aku bergegas menghampiri mereka di ruang TV. Ternyata setelah dekat dengan tempat Kisno, Amir dan Sudin duduk, aku melihat istriku sedang duduk bersimpuh setengah berbaring di atas karpet sambil menjilati jari-jari kaki Kisno, Amir dan Sudin. Di memek istriku tertancap sebuah mentimun besar dan di lubang anusnya tertancap sebuah pisang ambon yang belum dikupas. Melihat aku datang dan sudah siap dengan pakaian kantor, Kisno berkata “Pak, mau ke kantor ya, saya nebeng ya pak, tadi pak Wen menelepon dan memerintahkan saya segera ke kantor. Aku hanya mengangguk dan memerintahkan Amir untuk segera menyiapkan mobil dan mengantarku ke kantor.</p>
<p style="text-align: justify;">Pada mulanya Amir terlihat tidak mau menuruti perintahku, tapi dengan satu pelototan tajam dari mataku, Amir segera mengerti dan menuruti perintahku. Sudin yang melihat Amir pontang-panting mengenakan bajunya dan lari ke garasi mobil hanya tertawa kecil sambil dengan kaki kirinya mengarahkan kepala istriku untuk menjilati jari-jari kaki kanannya. Melihat tingkah Sudin aku hanya diam saja mengacuhkan karena aku melihat Audrey juga tidak protes dan menerima perlakuan pembantu priaku itu. Setelah mobil selesai dipanaskan oleh Amir, aku dan Kisno masuk ke dalam mobil menuju kantor dengan disupiri oleh Amir. Sepintas aku lihat ketika keluar rumah, Sudin dengan memegang rantai yang menyambungkan kedua jepitan pada kedua payudara Audrey sedang menarik Audrey ke atas menuju kamar tidur utama di lantai atas.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ceritasex.cn/ketika-istriku-menjadi-budak-seks-bosku-bagian-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ketika Istriku Menjadi Budak Seks Bosku</title>
		<link>http://www.ceritasex.cn/ketika-istriku-menjadi-budak-seks-bosku/</link>
		<comments>http://www.ceritasex.cn/ketika-istriku-menjadi-budak-seks-bosku/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 14 Jun 2011 15:51:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cerita Sex</dc:creator>
				<category><![CDATA[Amoy]]></category>
		<category><![CDATA[anal seks]]></category>
		<category><![CDATA[Orgy]]></category>
		<category><![CDATA[Paruh baya]]></category>
		<category><![CDATA[Pemerkosaan]]></category>
		<category><![CDATA[selingkuh]]></category>
		<category><![CDATA[amoy]]></category>
		<category><![CDATA[anus]]></category>
		<category><![CDATA[audrey]]></category>
		<category><![CDATA[budak seks]]></category>
		<category><![CDATA[istri cina]]></category>
		<category><![CDATA[istri muda]]></category>
		<category><![CDATA[ngentot]]></category>
		<category><![CDATA[obat perangsang]]></category>
		<category><![CDATA[orgasme]]></category>
		<category><![CDATA[orgy]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ceritasex.cn/?p=2495</guid>
		<description><![CDATA[Bagian I: Permulaan Audrey, Cerita ini bermula ketika aku dan istriku sudah membina rumah tangga selama 2 tahun. Aku bernama Tommy dan Istriku bernama Audrey, umurnya saat ini 27 tahun, berwajah cantik, kulitnya putih, tinggi badan sekitar 165cm, rambutnya sedikit lebih panjang dari bahu. Kehidupan kami berumah tangga sangatlah baik, kami termasuk keluarga yang mapan. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2011/06/istri-budak-seks.jpeg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-2496" title="istri-budak-seks" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2011/06/istri-budak-seks-294x300.jpg" alt="" width="294" height="300" /></a></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="text-decoration: underline;"><strong>Bagian I: Permulaan</strong></span></p>
<p style="text-align: justify;">Audrey, Cerita ini bermula ketika aku dan istriku sudah membina rumah tangga selama 2 tahun. Aku bernama Tommy dan Istriku bernama Audrey, umurnya saat ini 27 tahun, berwajah cantik, kulitnya putih, tinggi badan sekitar 165cm, rambutnya sedikit lebih panjang dari bahu. Kehidupan kami berumah tangga sangatlah baik, kami termasuk keluarga yang mapan. Sebagai istri, Audrey adalah istri yang baik, ia adalah seorang wanita yang alim dan sopan. Untuk urusan ranjang, Audrey dapat dikatakan bukanlah seorang ahli, laki-laki pertama yang menidurinya adalah aku yaitu pada saat malam pengantin kami. Dua tahun kehidupan perkawinan kami berjalan baik-baik saja, kami belum mempunyai keturunan, mungkin kekurangannya adalah kehidupan seks kami terlalu biasa-biasa saja. Kami mungkin hanya berhubungan badan sekali dalam 2 minggu dan itupun hanya dengan cara yang sangat konvensional yaitu posisiku di atas dan dia di bawah. Audrey tidak menyukai atau bahkan dapat dikatakan tidak mau dengan gaya lain selain gaya konvensional tersebut.</p>
<p style="text-align: justify;">Entah kenapa setelah 2 tahun berumah tangga, pada waktu berhubungan badan dengan Audrey, aku selalu membayangkan Audrey sedang disetubuhi laki-laki lain, dan hal tersebut terus berulang sampai-sampai pada saat sedang tidak berhubungan badanpun dengan Audrey aku selalu memikirkan bagaimana rasanya melihat Audrey disetubuhi laki-laki lain. Aku bekerja di sebuah perusahaan multi-nasional, bossku adalah seorang warga negara China, umurnya sekitar 59 tahun, badannya sangat gemuk dan kepalanya sudah mulai botak, hanya tinggal rambut-rambut tipis menutupi bagian kepala belakangnya. Bossku ini, namanya Wen sangatlah baik kepadaku, dapat dibilang akulah tangan kanannya di Indonesia. Orangnya suka bergurau masalah-masalah seks. Wen sering sekali menanyakan kabar Audrey, memang sudah beberapa kali Wen bertemu dengan Audrey dalam acara-acara kantor, terlihat sekali dia sangat tertarik pada Audrey yang memang sangat cantik dan menggiurkan banyak laki-laki. Suatu ketika Wen menanyakan kehidupan rumah tanggaku, seperti biasa dia menanyakan kabar Audrey dan menanyakan mengapa sampai saat ini kami belum mempunyai keturunan dan apakah hal tersebut disengaja karena memang belum menginginkan keturunan.</p>
<p style="text-align: justify;">Mendengar pertanyaan tersebut, akupun menjawab bahwa sebenarnya aku dan Audrey menginginkan keturunan tapi memang belum berhasil mendapatkannya. “Mungkin cara kamu salah Tom, berapa kali kamu berhubungan badan dengan istrimu dalam seminggu” Tanya Wen kepadaku. “Yah sekitar sekali dalam 2 minggu dan pada saat istriku dalam keadaan subur” jawabku singkat. “Waah, mungkin kamu harus periksa ke dokter tuh, dokter ahli kandungan dan dokter ahli jiwa. Kenapa ke dokter ahli jiwa? Karena kamu punya istri cantik tapi hanya ditiduri sekali dalam 2 minggu atau pada saat subur saja. Kalau Audrey itu istriku, pasti aku tiduri dia tiap hari dan berkali-kali” candanya kepadaku. Mendengar hal tersebut, entah setan apa yang menghinggapi diriku, timbul sebuah ide dalam benakku. “Mr. Wen mau tidur dengan istriku? Bilang saja terus terang” celotehku. Mendengar perkataanku muka Wen terlihat kaget dan tidak percaya. “Kalau saya bilang memang sangat mau bagaimana?” katanya memancingku. “Ya boleh saja” sahutku. Kemudian aku menceritakan kepada Wen bahwa akhir-akhir ini aku selalu membayangkan aku menyaksikan Audrey ditiduri laki-laki lain, dan aku juga menjelaskan bahwa mungkin pikiranku ini hanya akan jadi khayalan semata mengingat betapa alimnya Audrey. Ternyata gayung bersambut. Wen menjelaskan dan meyakinkan kepadaku bahwa sebenarnya tidak ada wanita yang alim dalam seks, wanita hanya memerlukan pancingan dan pengaturan “permainan” dari laki-lakinya untuk membangkitkan nafsu yang ada dalam dirinya. Wen kemudian mengatakan bahwa dirinya akan dengan senang hati membantu khayalanku menjadi kenyataan kalau memang aku mempercayainya. Mendengar itu akupun langsung mengiyakan. Wen kemudian memastikan lagi apakah aku tidak akan apa-apa kalau dirinya meniduri Audrey dan menanyakan apakah aku meminta imbalan sesuatu dari dirinya agar dia diperbolehkan meniduri Audrey.<br />
<span id="more-2495"></span><br />
Aku menjawab bahwa aku tidak meminta apa-apa, aku hanya minta diperbolehkan untuk melihat dan menonton Wen meniduri Audrey. “Hahaha…rupanya kamu sudah ingin sekali melihat istrimu ditiduri laki-laki lain ya” candanya kepadaku. “Ya begitulah”, jawabku singkat. “Oke, kalau begitu jumat depan bawa istrimu ke villa xxx di puncak pada pukul 8.00 pm” sahut Wen sambil menunjukan ancer-ancer dimana villa itu berada.</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="text-decoration: underline;"><strong>Bagian II: Pesta di rumah Wen</strong></span></p>
<p style="text-align: justify;">Mr. Wen, Pukul 8 malam aku dan Audrey telah berada di depan villa yang dimaksud oleh Wen. Audrey memakai gaun malam panjang. Wajahnya terlihat sangat cantik dengan sapuan make-up tipis. Badannya tetap terlihat menawan meskipun ditutupi oleh gaun malam yang panjang. Seorang pelayan yang rupanya bertugas menyambut tamu mempersilahkan kami masuk ke ruang tengah. Villa tersebut sangatlah besar ditengah perkebunan teh dengan halaman belakang dengan kolam renang dan jacuzzi. Ruang tengah villa tersebut sangatlah besar dan telah disulap menjadi diskotik dengan lagu house music yang berdentum keras. Sudah banyak tamu lain baik wanita maupun laki-laki yang telah datang lebih dahulu daripada kami. Semua tamu kelihatannya adalah teman-teman Wen, mereka adalah sesama pengusaha China daratan yang ada di Indonesia, rata-rata mereka berusia di atas 50 tahun. Aku tidak melihat satupun rekan kerjaku di kantor yang datang, mungkin karena memang tidak diundang. Melihat kami, Wen menyambut aku dan Audrey dengan ramah. Wen kemudian mempersilahkan kami menikmati pesta yang diadakannya dan menjelaskan kepada kami bahwa pesta ini diadakan untuk networking sesama pengusaha China daratan di Indonesia.</p>
<p style="text-align: justify;">Kemudian Wen meninggalkan aku dan Audrey dan mempersilahkan kami untuk memesan minuman langsung ke bar di pojok ruang tengah. Kamipun menuju bar untuk memesan minuman. Audrey memesan segelas jus buah dan aku segelas bir, dan kamipun menikmati pesta tersebut dan berbincang-bincang dengan tamu-tamu yang lain. Sekitar satu jam kemudian, yaitu tidak beberapa lama setelah Audrey menghabiskan jus buahnya, aku melihat terjadi perubahan pada diri Audrey. Audrey mulai menikmati lagu house music di ruangan tersebut dan mulai menggerakan badannya mengikuti alunan house music. Wen kemudian mendekati kami dan mengajak Audrey ke dance floor. Audrey tanpa meminta ijin dariku mengikuti Wen ke dance floor dan mulai menari dan berdansa dengan Wen. Aku melihat teman-teman Wen baik wanita dan laki-laki semuanya mendekat kepada Wen dan Audrey dan kemudian menari bersama. Sedangkan aku hanya duduk disofa dan menonton sambil meminum birku. Pesta berlangsung meriah, tidak terasa 3 jam sudah berlalu. Audrey masih menari dan berdansa dengan tamu-tamu lainnya. Aku melihat sudah beberapa gelas minuman yang ditawarkan kepada Audrey dan dihabiskannya. Kemudian 3 tamu wanita mengajak Audrey ke lantai atas villa, aku berusaha mengikuti tapi tiba-tiba tangan Wen mencegahku di kaki tangga menuju lantai atas.</p>
<p style="text-align: justify;">“Biarkan saja, kamu harus mengikuti semua arahan saya kalau mau rencana kita berjalan lancar” kata Wen kepadaku. 2 jam telah berlalu semenjak Audrey naik ke lantai atas villa, tamu-tamu sudah banyak yang pulang, ketika tiba-tiba Wen memanggilku. “Ayo ke atas” ajak Wen kepadaku. Akupun mengikuti Wen ke lantai atas bersama 4 tamu pria yang lain yang aku tidak tahu namanya. Di lantai atas, Wen membimbing kami ke dalam sebuah kamar. Kamar tersebut sangatlah besar lengkap dengan segala furniture mewah, dan tepat ditengah kamar terdapat tempat tidur king size dengan sprei berwarna merah marun dengan TV LCD yang sangat besar menempel di dinding dan menghadap ke tempat tidur tersebut. Sebuah connecting door yang tertutup telihat di salah satu sisi ruangan itu menandakan kamar tersebut tersambung dengan kamar yang lain. Audrey dan 3 tamu wanita sudah berada di kamar tersebut, mereka sedang berbincang-bincang dengan akrab. “Nah, ini kamar buat Tommy dan Audrey, yang lain ayo ikut saya, akan saya tunjukan kamar masing-masing” kata Wen sambil mempersilahkan tamu-tamu yang lain keluar dari kamar itu.</p>
<p style="text-align: justify;">“Selamat malam dan selamat tidur, besok kita pulang ke Jakarta” kata Wen kepadaku dan Audrey sambil meninggalkan kami berdua di kamar tersebut. Aku tidak tahu apa rencana Wen jadi aku hanya mengikuti saja apa yang diinstruksikannya. Setelah membersihkan badan, aku dan Audreypun naik ke tempat tidur. Beberapa saat kami mencoba tidur namun tidak bisa. Aku masih bingung dengan apa yang akan terjadi, mengapa Wen tidak melakukan apapun juga, sedangkan Audrey terlihat gelisah tidak tahu apa penyebabnya. Tiba-tiba Audrey memalingkan wajahnya kepadaku dan memelukku. Tanpa berkata apa-apa dia menciumku dan aku balas ciumannya. Beberapa saat kami berciuman, Audrey berkata “Buka bajunya Tom, aku kepengen nih”. Sedikit kaget aku melihat Audrey menjadi agresif, tidak biasanya Audrey mengajak aku melakukan hubungan badan, biasanya aku yang selalu mengajaknya. “Mungkin ini akibat minuman yang diberikan Wen di pesta” pikirku. “Mungkin ini ada kaitannya dengan rencana Wen” pikirku lagi. Maka akupun menuruti apa yang diinginkan Audrey. Akupun melepaskan seluruh pakaianku dan kemudian aku melepaskan seluruh pakaian Audrey sehingga kami berdua telanjang bulat. Aku dan Audrey berciuman, berpelukan dan melakukan foreplay, namun meskipun telah beberapa saat melakukan foreplay, aku menyadari sesuatu hal yang aneh, kemaluanku tidak dapat berdiri dan mengencang.</p>
<p style="text-align: justify;">“Ini pasti karena bir yang diberi oleh Wen, dia pasti mencampur sesuatu pada birku” pikirku dalam hati. Kami mencoba segala macam gaya foreplay, namun meskipun sudah lebih dari 1 jam teta kemaluanku tidak dapat berdiri. Audrey terus mencoba membangunkan kemaluanku, namun tetap tidak berhasil. Raut frustasi nampak di wajahnya. Terlihat sekali Audrey ingin berhubungan badan, gejolak dalam dirinya sudah tidak tertahankan lagi, namun keinginannya tidak dapat terpenuhi karena kemaluanku tidak bisa berdiri dan mengeras. Kami terus mencoba, namun tetap tidak berhasil. Wajah Audrey semakin terlihat frustasi, namun nafsu seksnya masih menggebu-gebu bahkan aku lihat tiap menit semakin bertambah. Tiba-tiba connecting door kamar kami terbuka dan Wen masuk ke dalam kamar kami dengan hanya menggunakan jubah tidur. Aku dan Audrey sangat kaget. Audrey langsung menyembunyikan tubuhnya di bawah selimut. “Maaf, mungkin saya bisa membantu kalian” kata Wen tiba-tiba. “Pak Wen, harap keluar dari kamar kami” sahut Audrey dengan sedikit membentak.</p>
<p style="text-align: justify;">Wen bukannya keluar kamar kami, tapi malah duduk dipinggir tempat tidur kami dan berkata “Saya melihat suamimu sedang dalam masalah, saya hanya ingin membantu” “Apa maksudnya? Jangan kurang ajar!” sahut Audrey dengan keras. “Tenang, saya hanya ingin membantu. Kita akan berpesta malam ini” kata Wen tegas. Aku melihat Audrey sedikit takut mendengar bentakan Wen. “Coba kita tanya suamimu apa pendapatnya” bentak Wen lagi kepada Audrey. Aku sekarang menyadari inilah rencana Wen untuk dapat meniduri Audrey. Dan aku ingin sekali melihat Audrey ditiduri pria lain, maka akupun mengikuti permainan Wen. “Terserah apa maunya Pak Wen, kami akan menuruti” kataku kepada Wen. “Tom, aku tidak mau, apa-apan in….” Audrey belum menyelesaikan kata-katanya, tiba-tiba Wen menarik selimut yang menutupi tubuh Audrey dan dengan cekatan tangan kanannya memegang kedua tangan Audrey dan menariknya ke atas kepala Audrey, sedangkan tangan kirinya menangkap kedua kaki Audrey. Wen kemudian memerintahkanku untuk memegang pergelangan kedua kaki Audrey dan membukanya lebar-lebar. Akupun menuruti sehingga posisi Audrey sekarang tiduran dalam dalam bentuk menyerupai Y terbalik.</p>
<p style="text-align: justify;">“Tom, jangan bantu dia tapi bant…..uuggghhh…..” terhenti kata-kata Audrey ketika Wen mulai menciumi kedua payudaranya berukuran pas sesuai dengan ukuran badannya, sedangkan tangan kiri Wen yang bebas sudah menggerayangi vagina Audrey. “Mmmhh… saya tahu kamu sudah nafsu berat, jangan melawan, nikmati saja” bisik Wen kepada Audrey sambil terus menjilati kedua payudara Audrey. “Tom, apa yang kamu lakukan” desah Audrey sambil memandang sayu kepadaku. Aku tidak menjawab atau lebih tepatnya pura-pura tidak mendengar. Terlihat dimuka Audrey bahwa dia sudah sangat terangsang karena ciuman dan jilatan-jilatan Wen dikedua payudaranya serta tangan kiri Wen yang memainkan klitorisnya. 15 menit diperlakukan demikian oleh Wen, Audrey mulai mengeluarkan erangan-erangan dan rintihan-rintihan pelan, perut dan pinggangnya mulai bergerak mengikuti irama permainan jari wen di klitorisnya. Mata Audrey semakin sayu, matanya mulai merem melek. Kemudian Wen menghentikan ciumannya di kedua payudara Audrey dan berkata “Gimana Tom, kamu lihat sendiri istrimu mulai menikmatinya”</p>
<p style="text-align: justify;">“Sebentar lagi dia akan menikmati malam yang paling menakjubkan bagi dirinya” tambah Wen sambil tetap memaikan klitoris Audrey dengan jarinya. “Coba kamu pangku istrimu di pinggir kasur, pegang dan buka kakinya lebar-lebar. Aku ingin menikmati vagina istrimu yang sudah basah ini” perintah Wen kepadaku kemudian. Aku menuruti apa yang diperintahkan Wen. Aku angkat Audrey dan aku duduk dipinggir kasur sambil memangku Audrey. Aku pegang dan buka kaki Audrey lebar-lebar sehingga sekarang Audrey posisinya dipangku olehku dan mengangkang lebar sehingga menyerupai huruf “M”. Audrey sudah tidak melawan lagi, tubuhnya yang lemas menuruti apa yang aku lakukan terhadapnya. Audrey hanya memandangku sayu tanpa berkata apa-apa lagi. Kemudian Wen berlutut dilantai dipinggir kasur. Wen memandang Audrey dan berkata “Wow indah sekali vaginamu Audrey, pasti banyak laki-laki yang ingin memcobanya”. Audrey hanya memandang Wen dengan sayu dan tidak menjawab. Wen kemudian mulai menjilati vagina Audrey yang disertai erangan dari Audrey.</p>
<p style="text-align: justify;">Audrey hanya bisa memandang Wen menjilati vaginanya, Audrey mulai menggigit bibirnya sendiri tanda dia makin terangsang, kadang-kadang dia memandangku seakan-akan untuk memastikan bahwa aku tidak apa-apa kalau dia terangsang oleh pria lain. Kemudian tangan Wen membuka vagina Audrey dengan tangan kirinya. Hal ini membuat Audrey yang sedang memandang sayu kepadaku kaget dan melihat ke bawah kearah vaginanya. “Jangan…” desah Audrey pelan. “Tenang cantik… ini akan enak sekali” sahut Wen dengan kasar dan tegas. Kemudian Wen memasukkan kedua jarinya ke dalam vagina Audrey dan menggerakkannya keluar masuk dan memutar disertai jeritan kecil Audrey. Lalu kembali menjilati vagina Audrey dan memainkan klitoris Audrey dengan lidahnya tanpa menghentikan kegiatan jarinya di vagina Audrey. Erangan-erangan dan rintihan-rintihan Audrey semakin keras, badan dan pinggulnya bergerak mengikuti permainan Wen di vaginanya. 15-30 menit diperlakukan demikian oleh Wen, Audrey terlihat mulai mendekati orgasmenya, erangannya semakin keras, goyangan badannya juga semakin keras dan tidak beraturan.</p>
<p style="text-align: justify;">Sampai pada akhirnya tubuh Audrey mengejang hebat, matanya tertutup rapat dan kepalanya mendongak ke atas. “UUUGGGHHHHH…….” erang Audrey keras menandakan dia mengalami orgasme yang hebat. Cairan keluar dari vaginanya, cairan tersebut sedikit memuncrat. Tidak pernah kau melihat Audrey mengalami orgasme yang sedemikian hebat, apalagi hanya karena dijilati vaginanya. 3 menit lamanya Audrey dipuncak orgasme. Namun anehnya setelah orgasmenya berlalu Audrey tidak lemas, matanya malah berbinar dan wajahnya tersenyum nakal kepada Wen. “Istrimu sudah siap disetubuhi. Obat yang saya berikan dalam minumannya bekerja dengan baik dan cocok untuk dirinya. Istrimu siap untuk bersetubuh sepanjang malam. Setiap habis orgasme badannya akan terasa semakin segar dan nafsu seksnya semakin menggila” kata Wen menjelaskan kepadaku karena melihat aku heran dengan keadaan Audrey. “Sekarang kamu, duduk saja di sofa itu dan menonton istrimu kusetubuhi. Aku lihat kemaluanmu mulai bisa bangun lagi, artinya obat yang kucampur di birmu mulai hilang, sehingga kamu bisa menikmati tontonan yang akan aku dan istrimu berikan spesial untukmu” perintah Wen kepadaku.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku menuruti Wen dan pindah ke sofa di samping tempat tidur. Wen mengangkat tubuh Audrey dan menelentangkannya di tengah tempat tidur. Wen kemudian melepaskan baju tidurnya. Ternyata di balik baju tidur tersebut Wen sudah tidak mengenakan apapun lagi, sehingga sekarang Wen dan Audrey berdua telanjang bulat di kasur. Audrey terlihat kaget melihat penis Wen. Penis Wen sangat besar, panjang, tebal dan berurat. Kemudian Wen mendekati kepala Audrey. Wen berlutut mengangkangi muka Audrey. Tangan kirinya mulai meraih vagina Audrey. Audrey yang merasa ada tangan di vaginanya langsung membuka kakinya lebar-lebar. Wen mengarahkan penisnya yang besar ke mulut Audrey, dan Audreypun tanpa diperintah membuka mulutnya lebar-lebar, dan Wen kemudian mulai memasukkan kemaluannya yang besar keluar masuk mulut Audrey yang mungil. Terlihat mulut Audrey kesulitan untuk menerima penis yang besar itu, namun Wen dengan sedikit kasar memaksakan penisnya keluar masuk mulut Audrey. Terlihat mulut Audrey penuh oleh penis Wen. Audrey kelihatan kepayahan namun tetap berusaha mengikuti maunya Wen.</p>
<p style="text-align: justify;">Kemudian Wen memerintahkan Audrey menjulurkan lidahnya keluar dengan tetap membuka mulutnya, dan Audrey menuruti apa maunya Wen, sehingga sekarang penis Wen keluar masuk mulut Audrey dan lidah Audrey menjilati batang penis Wen. Sungguh suatu hal yang menakjubkan yang terjadi di depan mataku. Audrey yang biasanya paling tidak mau melakukan oral seks sekarang menuruti kemauan pria tua gendut yang sebenarnya tidak begitu dikenalnya. 10 menit kemudian penis Wen sudah terlihat sangat kencang, kemudian Wen menurunkan badannya dan mengarahkan penisnya ke vagina Audrey. Mengetahui apa yang akan dilakukan Wen, Audrey membuka makin lebar kedua kakinya. Wen kemudian dengan perlahan memasukkan penisnya yang besar ke dalam vagina Audrey secara perlahan. Audrey terlihat menahan sakit ketika penis Wen mulai memasuki vaginanya, namun raut mukanya segera berubah menjadi raut muka takjub ketika penis Wen telah seluruhnya masuk ke vaginanya. Mungkin Audrey tidak menyangka vaginanya dapat menampung seluruh penis Wen yang sangat besar dan panjang itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah penis Wen masuk seluruhnya ke dalam vagina Audrey, Wen tidak langsung menggenjotnya, namun Wen menunggu beberapa saat agar Audrey terbiasa dengan penisnya yang besar di dalam vaginanya. Satu menit kemudian Wen mulai menggerakkan penisnya keluar sampai hanya tinggal kepala penisnya di dalam vagina Audrey, kemudian Wen memasukkan seluruh penisnya kembali secara perlahan ke dalam vagina Audrey dan hal tersebut dilakukannya berulang-ulang dengan menambah tempo iramanya makin lama makin cepat. Audrey terlihat sangat menikmati permainan dan gerakan Wen, matanya berbinar, erangan-erangan kecil keluar dari mulutnya yang mungil, pinggulnya bergerak mengikuti irama permainan Wen dan kadang-kadang Audrey menciumi dada Wen yang ditumbuhi bulu sangat lebat itu. Tempo permainan dan genjotan penis Wen di dalam vagina Audrey semakin cepat, racauan Audrey semakin kencang, matanya merem melek menikmati genjotan-genjotan penis Wen di vaginanya. Wen yang mengetahui Audrey sangat menikmati persetubuhannya makin mempercepat gerakannya. Wen menciumi, menjilati dan sedikit menggigit puting kedua payudara Audrey secara bergantian. Audrey diperlakukan demikian semakin hanyut dalam nafsu birahinya, racauannya semakin keras lagi, mulutnya terbuka, matanya terpejam dan kedua tangannya meremas-remas sprei tempat tidur. 20 menit kemudian tubuh Audrey, Audrey, mulai mengejang, tanda dia akan mengalami orgasme yang hebat.</p>
<p style="text-align: justify;">“Terus…terus…jaaanngaan berheen..ti” teriakan kecil keluar dari mulut Audrey. Kemudian badannya mengejang hebat sampai badannya melengkung ke belakang, kedua kakinya diapitkan di pinggul Wen dan kedua tangannya merangkul leher Wen dengan kencang. “OOOOhhhhh……” lolong Audrey ketika dia dipuncak orgasmenya, dan kemudian badannya sedikit melemas dan Audrey langsung menciumi bibir Wen dan mereka berdua berciuman dengan ganasnya, lidah Audrey dan lidah wen saling berpautan, hal yang tidak pernah dilakukan Audrey terhadapku. Melihat adegan live Audrey dan Wen membuat penisku menegang dengan keras. “Akhirnya kahayalanku menjadi kenyataan” pikirku dalam hati. Setelah beberapa menit berciuman, Wen kemudian memindahkan posisi Audrey sehingga Audrey sekarang tiduran sambil menyamping menghadap ke arah diriku di sofa. Tanpa memgeluarkan penisnya dari vagina Audrey. Wen memindahkan tubuhnya ke belakang Audrey sehingga sekarang mereka berdua tidur menyamping menghadap diriku dengan Audrey didepan dan Wen di belakangnya. Wen kemudian melanjutkan genjotan penisnya yang sangat besar itu di vagina Audrey.</p>
<p style="text-align: justify;">Tangan kiri Audrey dilipatnya ke belakang sehingga tangan kiri Wen dapat dengan bebas memijat-mijat kedua payudara Audrey. Wen menggenjot penisnya dalam vagina Audrey dengan cepat, tangan kirinya bergantian memijat kedua payudara Audrey dan klitoris Audrey. Audrey kembali tenggelam dalam nafsu seksnya, matanya terlihat sayu, mulutnya terbuka sedikit dan tanpa sadar Audrey mengangkat kaki kirinya ke atas, sehingga terlihat olehku vaginanya yang mungil penuh sesak oleh penis Wen yang besar dan panjang itu. Sekitar 40 menit Wen telah menyetubuhi Audrey dengan gaya menyamping, gerakan-gerakannya semakin ganas. Audrey tergoncang-goncang dengan hebatnya, racauan-racauan Audrey sudah berubah menjadi terikan-teriakan kenikmatan. Gelombang demi gelombang orgasme melanda Audrey, namun Wen masih dengan semangatnya menyetubuhi Audrey dan belum ada tanda-tanda bahwa Wen akan orgasme, sedangkan aku saja sudah dua kali mengalami orgasme melihat Audrey disetubuhi oleh Wen dengan ganasnya. Wen yang belum puas dengan Audrey kembali mengubah posisi Audrey lagi. Kali ini Audrey dimintanya tengkurap menungging dengan kepala menghadap diriku di sofa, dan kemudian Wen menyetubuhi Audrey dengan gaya doggy style, hal mana yang belum pernah dilakukan oleh diriku dan Audrey karena Audrey selalu menolaknya, namun dengan Wen, Audrey dengan senang hati menurutinya. Wen menggenjot vagina Audrey dari belakang dengan tempo yang berubah-ubah, kadang cepat sekali dan secara tiba-tiba memelankan genjotannya seperti slow motion dan kemudian cepat lagi. Hal ini membuat Audrey semakin tidak bisa mengontrol dirinya, kepalanya tertunduk dan bergerak ke kanan kiri tidak beraturan. Tangan Audrey kembali meremas-remas sprei tempat tidur dengan kencangnya, racauan-racauan dan teriakan-teriakan Audrey semakin membahana di kamar itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Kemudian tangan kiri Wen meraih rambut Audrey, menjambaknya dan menariknya ke belakang sehingga kepala Audrey mendongak ke atas. Genjotan penis Wen dalam vagina Audrey masih dalam tempo yang berubah-ubah, tangan kanan Wen kadang-kadang menampar kedua pantat Audrey bergantian. Kepala Audrey terdongak ke atas, kedua matanya terpejam rapat dan mulutnya terbuka lebar. Audrey sudah tidak dapat lagi bergerak mengikuti permainan Wen, tubuhnya hanya tergoncang-goncang keras karena sodokan-sodokan penis Wen ke dalam vaginanya. Gelombang-demi gelombang orgasme kembali melanda Audrey. Setiap mengalami orgasme tubuh Audrey mengejang untuk beberapa menit dan dari vaginanya sedikit memuncratkan cairan kewanitaannya, hal mana tidak pernah terjadi apabila Audrey bersetubuh denganku. Setiap setelah mengalami orgasme, tubuh Audrey terlihat melemas untuk beberapa saat, namun tidak lama kemudian terlihat tubuh Audrey menjadi segar kembali dan siap menerima genjotan-genjotan ganas penis Wen yang besar di dalam vaginanya. “Ini pasti karena obat yang diberikan Wen dalam minuman istriku” pikirku dalam hati melihat stamina Audrey yang sangat kuat malam itu. Kedua tangan Wen kemudian meraih kedua tangan Audrey dan menarikanya ke belakang, sehingga tubuh Audrey sedikit terangkat ke atas dengan kedua lututnya masih bertumpu pada kasur, dan Wen menggerakan penisnya yang besar keluar masuk secara pendek-pendek dan dalam tempo yang sangat cepat pada vagina Audrey. Teriakan-terikan nikmat Audrey semakin gencar karena diperlakukan demikian, mata Audrey masih tertutup rapat dengan mulut terbuka lebar.</p>
<p style="text-align: justify;">“Buka matamu Audrey dan pandang suamimu!” perintah Wen dengan tegas. Audrey menuruti apa yang diperintahkan Wen sehingga Audrey sekarang melihat diriku duduk di sofa sambil bermastrubasi. “Lihat Audrey, suamimu sangat menikmati melihat kamu disetubuhi pria lain” sahut Wen kepada Audrey. “Kamu suka disetubuhi pria lain?” Tanya Wen kepada Audrey. Audrey tidak menjawab, mungkin dia malu, namun raut wajahnya tidak bisa membohongi diriku. Terlihat sekali dia sangat menyukai dan menikmati persetubuhannya dengan Wen. “Jawab!!!” hardik Wen dengan tiba-tiba kepada Audrey sambil mempercepat genjotan penisnya dalam vagina Audrey. “Aaagh….suu…ka….” sahut Audrey dengan terbata-bata karena sambil menikmati penis Wen dalam vaginanya. “Enakan mana Audrey? suamimu atau saya” tanya Wen lagi sambil penisnya menggenjot dengan kasar vagina Audrey. “Ee..naa….enak saaamaa pak…uughhh….wen” jawab Audrey sambil mengerang-erang kenikmatan. “Mau kamu saya setubuhi kapan saja saya mau” tanya Wen lagi dengan kasar. “Maaa…..uuuuu….ppaak weeen….” jawab Audrey sambil tubuhnya mengejang tanda Audrey mengalami orgasme lagi.</p>
<p style="text-align: justify;">Dengan tetap memegang kedua tangan Audrey ke belakang, Wen menghentikan gerakannya untuk beberapa saat dan membiarkan Audrey menikmati orgasmenya. Setelah beberapa saat Wen kembali menggenjot vagina Audrey dengan kencang, membuat nafsu seks Audrey kembali bergelora. Benar-benar takjub aku melihat adegan demi adegan yang dipertontonkan Audrey dan Wen. Audrey yang cantik dengan kulitnya yang putih mulus dengan setia melayani nafsu binatang seorang tua bangka bermuka jelek dan berperut gendut. “Audrey, lihat suamimu sangat menikmati kamu disetubuhi olehku. Boleh suamimu menonton setiap kali kamu saya setubuhi?” tanya Wen dengan sedikit nada memerintah kepada Audrey. “Boo…leehhh….aaagghh….paak…uggghhh…wen” jawab Audrey sambil meracau kenikmatan. Melihat Audrey menurut dan tunduk sepenuhnya pada Wen membuat penisku kembali memuncratkan sperma untuk kesekian kalinya dan sedikit mengenai bibir atas Audrey. Melihat hal itu Wen memerintahkan Audrey menjilat dan menelan spermaku yang menempel dibibir atasnya, dan yang menakjubkan adalah tanpa pikir panjang Audrey menuruti apa yang diperintahkan Wen padahal aku tahu Audrey biasanya paling jijik dengan sperma apalagi harus menjilat dan menelannya. 20 menit sudah semenjak aku mencapai orgasmeku. Aku sudah terlalu capek untuk bermastrubasi lagi, namun Audrey masih dihajar vaginanya dengan ganas dari belakang oleh Wen dan Audrey sudah mengalami orgasme-orgasme yang sangat dahsyat. Beberapa saat kemudian Wen terlihat mulai akan orgasme. Rupanya Audrey menyadarinya.</p>
<p style="text-align: justify;">“Uugh…aaghhh…pak wen…jaaa…ngaaan…keluar aaggghh… di dalam” pinta Audrey sambil mengerang-erang kenikmatan. “Naaan…tiii aaaggghhh…saya….hamil….” tambah Audrey lagi dengan tetap merintih-rintih penuh nikmat. “Kalau tidak boleh di dalam, berarti harus keluar di mulutmu ya Audrey, dan harus ditelan semua tidak boleh ada yang tercecer keluar” kata Wen kepada Audrey. “Iii…yaaaaa….paaak weeeeen……di mulut saya…AAAAGHHHHH, adduuuuhhhhh niiikkmaaattt sekali pak weeeeennn…aampunnnn…nikmat……” teriak Audrey sambil orgasme lagi. Kemudian Wen membalikkan tubuh Audrey sehingga Audrey terlentang di kasur. Wen kembali mengangkangi Audrey dan menjambak rambut Audrey dengan kasar dan memasukkan penisnya yang besar ke dalam mulut Audrey. “Telan…telan semua…jangan sampai ada yang keluar” perintah Wen kepada Audrey. Terlihat penis Wen yang besar berdenyut dengan keras, sedangkan mulut Audrey menghisap-hisap penis Wen dan terlihat tenggorokan Audrey bergerak-gerak tanda Audrey sedang menelan sesuatu dalam jumlah yang banyak. Wen menumpahkan seluruh spermanya ke dalam mulut Audrey dan Audrey menelan setiap tetes sperma Wen yang masuk ke dalam mulutnya. Setelah beberapa saat Wen mengeluarkan penisnya yang besar dari mulut Audrey.</p>
<p style="text-align: justify;">“Bersihkan…jilat sampai bersih…!” kembali Wen memerintahkan Audrey yang langsung dituruti oleh Audrey. Selagi Audrey menjilat-jilati penis dan biji Wen, Wen bertanya kepadaku “Boleh pinjam istrimu malam ini? Aku terkesiap mendengar permintaan Wen. Aku tidak percaya dengan apa yang aku dengar. Melihat aku tidak menjawab, Wen berkata lagi kepadaku “Audrey kelihatannya sangat menyukai aku setubuhi, dan obat yang aku berikan kepadanya masih bekerja, sehingga Audrey masih ingin dipuaskan nafsu seksnya. “Bagaimana Audrey” tanya Wen kemudian kepada Audrey. Audrey sambil tetap menjilati penis Wen hanya mengangguk-anggukan kepalanya tanda membenarkan apa yang dikatakan Wen kepadaku. Melihat Audrey memberikan persetujuannya maka akupun mengiyakan permintaan Wen. Wen kemudian menyruh Audrey pindah ke kamar sebelah dan Audrey menuruti permintaan Wen. “Tom, kamu istirahat saja di kamar ini, aku dan Audrey ada di kamar sebelah. Connecting door akan tetap terbuka, sehingga kapan saja kamu ingin melihat istrimu disetubuhi olehku, kamu dapat masuk ke kamar sebelah’ kata Wen kepadaku. Aku hanya mengganggukan kepala tanda setuju, dan kemudian Wen meninggalkan aku dikamar sendirian dan Wen pindah ke kamar sebelah menyusul Audrey. Aku sudah terlalu capek untuk membersihkan badan atau berpakaian. Aku langsung naik ke tempat tidur dan menyelimuti tubuhku dengan selimut yang masih sedikit basah bekas cairan kewanitaan Audrey….dan beberapa saat kemudian mulai terdengar rintihan-rintihan nikmat Audrey dari kamar sebelah menandakan Wen dan Audrey sudah mulai lagi dengan persetubuhan mereka…namun aku terlalu capek untuk beranjak dari kasur….dan kemudian terlelap….</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="text-decoration: underline;"><strong>Bagian III: Di kamar Sebelah</strong></span></p>
<p style="text-align: justify;">Sinar Matahari tepat jatuh dimataku, ketika aku mulai bangun dari tidurku. Melihat posisi matahari dari jendela kamar itu, aku menyadari bahwa hari telah siang. Aku gerakan badanku dikasur untuk membangunkan diriku. Keadaanku masih telanjang bulat dan aku masih terkesima dengan apa yang telah terjadi tadi malam. Rintihan-rintihan dan erangan-erangan nikmat Audrey dari kamar sebelah, membuat diriku terbangun dari lamunanku. “Ah, gila mereka, apa mereka masih bersetubuh terus” pikirku dalam hati. “Apakah mereka melakukan persetubuhan secara non-stop sepanjang malam?” pikirku lagi. Rasa lapar mulai terasa diperutku, dan aku mulai berpakaian. Rintihan-rintihan nikmat Audrey di tidak menggugahku untuk ke kamar sebelah. Namun ketika kakiku melangkah ke pintu kamar karena aku ingin ke dapur mencari makan, terdengar kegiatan di kamar sebelah sedikit aneh dan mengusik rasa ingin tahuku. Aku sepertinya mendengar lebih dari 2 orang di kamar sebelah. Maka akupun mengurungkan niatku untuk keluar kamar dan akupun melangkahkan kakiku ke connecting door yang menghubungkan kamarku dengan kamar sebelah.</p>
<p style="text-align: justify;">Betapa kagetnya ketika aku masuk ke dalam kamar sebelah tersebut. Aku melihat 2 wanita muda yang tadi malam bersama Audrey sedang duduk disofa panjang di sebelah tempat tidur di kamar itu sambil tertawa-tawa kecil menonton adegan yang sedang berlangsung di tempat tidur tersebut. Lebih kaget lagi ketika aku menyadari apa yang sedang terjadi di tempat tidur. Istriku Audrey, sedang disetubuhi oleh Wen dan salah seorang tamu Wen yang tadi malam menginap di villa!!! Posisi Audrey bertumpu pada kedua lutut dan kedua tangannya dengan pantat yang sedikit menungging ke belakang. Terlihat tamu Wen tersebut, seorang pria tua berumur sekitar 60 tahunan berbadan besar dan buncit dengan bulu yang lebat memenuhi sekujur tubuhnya sedang menyetubuhi Audrey dengan kasar dari belakang. Sedangkan Wen yang tangan kanannya sedang menjambak rambut Audrey yang sekarang telah dikuncir buntut kuda terlihat asyik menggenjot penisnya dengan kasar di dalam mulut Audrey. “Ah, kamu sudah bangun Tom” kata Wen ketika melihat diriku masuk ke dalam kamar.</p>
<p style="text-align: justify;">“Silahkan duduk Tom” kata Wen lagi sambil mempersilahkan aku duduk di sofa di antara kedua wanita yang sedang menonton Audrey disetubuhi dua laki-laki tua itu. “Ini namanya Pak Lam, dia ini salah satu sahabatku” kata Wen kemudian sambil memperkenalkan pria tua yang sedang menyetubuhi Audrey dengan kasar dari belakang. Yang disebut Pak Lam hanya menengok sebentar sambil melambaikan sebelah tangannya kepadaku dan kemudian melanjutkan kegiatannya pada Audrey. Mr. Lam “Aku selalu berbagi apapun dengannya. Vagina Audrey sangat nikmat untuk disetubuhi, sehingga aku harus membaginya kepada sahabat tuaku ini biar dia juga tahu betapa nikmatnya istrimu ini. Aku harap kamu tidak keberatan ya Tom. Toh istrimu tidak keberatan, malah suka…” kata Wen sambil terkekeh kecil. “Audrey, kamu suka disetubuhi Pak Lam kan?” tanya Wen kepada Audrey. Audrey tidak menjawab. Audrey terlihat sedang asyik sendiri menikmati persetubuhannya. “Hahaha…wanita cantik ini rupanya sudah dalam kenikmatannya sendiri” tawa Wen sambil melihat Audrey yang sedang menikmati setiap genjotan penis Lam dan penis Wen.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku yang masih shock hanya menuruti perintah Wen dan duduk di sofa di antara kedua wanita muda tersebut. “Ladies, tolong bantu sang suami tercinta ini agar dapat menikmati istrinya disetubuhi oleh 2 pria sekaligus” perintah Wen kepada kedua wanita yang duduk disamping kiri dan kananku. Mendengar perintah Wen, kedua wanita muda itu langsung membuka dan melepaskan celana dan celana dalamku. Kemudian mereka berdua dengan tetap sesekali menonton adegan Audrey dengan Lam dan Wen mulai menjilati penisku secara bergantian, membuat penisku langsung berdiri dengan tegak. Di atas tempat tidur aku melihat Audrey sedang disetubuhi habis-habisan oleh kedua pria tua itu. Mereka memperlakukan Audrey dengan kasar, namun terlihat Audrey meskipun kepayahan melayani nafsu kedua pria tersebut, Audrey nampak menikmatinya. Semakin Audrey diperlakukan kasar oleh kedua pria tua itu, semakin nampak Audrey menikmatinya. Rintihan-rintihan Audrey semakin keras apabila Lam dan Wen menggenjot penisnya masing-masing dalam vagina dan mulut Audrey dengan kasar.</p>
<p style="text-align: justify;">Sambil sesekali menampar kedua belahan pantat Audrey dengan tangan kirinya, Lam menggenjot penisnya di vagina Audrey dari belakang dengan cepat dan kasar. Kemudian tangan kanannya melingkar di pinggul Audrey dan terus ke arah vagina Audrey dari arah depan sehingga jari-jari tangannya dapat memainkan klitoris Audrey. Audrey tanpa sadar mengangkat kaki kanannya sehingga posisinya sekarang seperti anjing yang sedang kencing untuk memberikan akses yang lebih luas bagi jari-jari tangan Lam di vagina Audrey. Dengan posisi satu kaki mengangkang ke atas, aku dapat melihat ternyata bulu-bulu di sekitar vagina Audrey telah dicukur habis. Aku tidak tahu kapan mereka mencukur habis bulu-bulu di sekitar vagina Audrey, mungkin tadi malam ketika aku sudah tidur. Rupanya mereka telah berpesta seks sepanjang malam. Vagina Audrey terlihat putih mulus tanpa sehelai bulupun dengan bibir vaginanya terlihat sedikit berwarna merah muda tanda vagina itu telah digenjot habis sepanjang malam. Ketika jari-jari tangan Lam mulai mempermainkan vagina Audrey dan mencubit-cubit kecil klitoris Audrey, tubuh Audrey bergoyang hebat, pinggulnya, badannya naik turun tidak beraturan. Erangan-erangan dan rintihan-rintihan nikmat keluar dari mulut Audrey.</p>
<p style="text-align: justify;">Wen sekarang menggunakan kedua tangannya untuk menjambak rambut Audrey sehingga dapat membuatnya semakin kencang menyetubuhi mulut Audrey. Diperlakukan demikian, Audrey semakin bergoyang-goyang,tubuhnya meliuk-liuk karena ditekan dari belakang dan dari depan. Racauan dan rintihannya semakin keras, matanya tidak berkedip dan selalu memandang ke arah muka Wen. Lam dan Wen semakin mempercepat gerakannya sehingga Audrey benar-benar tergoncang-goncang hebat. Audrey terlihat bermaksud menurunkan kaki kanannya agar lebih memudahkannya menerima hajaran-hajaran penis Lam dan Wen di vagina dan mulutnya. Namun hal itu tidak dapat dilakukannya karena terhalang tangan kanan Lam yang telah benar-benar menggenggam vagina Audrey, terutama klitorisnya. Melihat adegan live didepan mataku, aku orgasme dengan cepat, dan kedua wanita muda yang melayani aku menghisap dan menelan seluruh spermaku sampai habis. Melihat aku sudah orgasme, Wen kemudian memerintahkan salah satu wanita disebelahku untuk mengambil sesuatu “Ambil pil yang biasa di laci itu” kata Wen memerintahkan wanita tersebut sambil menunjuk salah satu laci disamping tempat tidur.</p>
<p style="text-align: justify;">Wanita yang disuruh Wen, mengeluarkan sebuah botol dari laci tersebut, membukanya, dan mengeluarkan sebuah pil serta kemudian menyerahkannya kepada Wen. “Buka mulutmu Audrey, telan pil ini supaya kamu tidak hamil, Lam ingin memuntahkan spermanya dalam vaginamu. Saya juga ingin orgasme dalam vaginamu, bosan saya orgasme dalam mulutmu terus sepanjang malam” perintah Wen kepada Audrey. Kemudian Wen mengeluarkan penisnya yang besar dari mulut Audrey dan memasukkan pil tersebut ke dalam mulut Audrey yang langsung ditelan Audrey tanpa menggunakan air sedikitpun. Setelah itu Wen kembali menjambak rambut Audrey dan kembali melanjutkan genjotan penisnya pada mulut Audrey. 20 menit telah berlalu, namun aku melihat baik Audrey, Wen maupun Lam belum ada yang orgasme. Terus terang terkejut aku melihat perubahan pada diri Audrey. Audrey tidak orgasme-orgasme, tidak seperti tadi malam yang dengan mudahnya dia mencapai orgasme berulang-ulang. Tatapan mata Audrey terlihat sangat sayu dan sedikit kosong, namun dari rintihan-rintihannya aku tahu dia lebih menikmati persetubuhannya saat ini daripada persetubuhannya tadi malam. Melihat raut wajahku yang penuh tanda Tanya, Wen kemudian menjelaskan kepadaku apa yang telah terjadi.</p>
<p style="text-align: justify;">“Tadi pagi Audrey saya beri obat ramuan China. Obat ini membuat Audrey lebih lama mencapai orgasme, ini agar Audrey dapat mengimbangi kami sehingga tidak cepat lelah. Namun dengan obat ini otot vagina Audrey akan semakin kencang sehingga jepitannya pada penis yang masuk ke dalam vaginanya akan semakin kuat dan hal ini membuat Audrey dan siapapun pria yang menyetubuhinya merasa lebih nikmat. Setiap gesekan penis dalam vagina Audrey akan berpuluh-puluh kali lipat lebih terasa nikmat bagi Audrey dan pria tersebut” kata Wen menjelaskan kepadaku. “Lihat Audrey sekarang sudah benar-benar menikmati setiap gesekan penis Lam dalam vaginanya, bahkan dia sangat menikmatinya sampai-sampai dia tidak begitu sadar akan sekelilingnya lagi, hanya kenikmatan dan kenikmatan yang dia rasakan saat ini. Dipikirannya hanya ada rasa kenikmatan yang amat sangat dan tidak ada rasa yang lain selain kenikmatan tersebut. Kenikmatan yang Audrey rasakan saat ini sudah menguasai dan menghipnotis seluruh badan dan pikirannya” tambah Wen kepadaku.</p>
<p style="text-align: justify;">“Tom, kamu lihat nanti waktu istrimu mengalami orgasme. Kamu akan lihat bagaimana seorang wanita mengalami orgasme yang super dahsyat. Kamu pasti tidak akan menyangka bahwa istrimu bisa orgasme sehebat yang nanti kamu akan lihat” lanjut Wen kepadaku. 45 menit telah berlalu, ketika aku melihat perubahan pada diri Audrey. Erangan-erangan dan rintihan-rintihan nikmatnya mulai memelan, namun badannya semakin bergoyang-goyang dengan kencang dan tidak beraturan. Lam dan Wen semakin gencar menggenjot penisnya masing-masing dalam vagina dan mulut Audrey, membuat Audrey sulit untuk tetap bertumpu pada kedua tanganya dan satu lututnya. Badan Audrey benar-benar bergoncang hebat karena tekanan dari belakang dan dari depan disertai goyangan badannya sendiri yang semakin tidak beraturan. Mata Audrey tetap memandang kearah wajah Wen dengan sekali-kali mendelik-delik. Kedua tangannya beberapa kali jatuh karena tidak kuat menahan badannya, namun jambakan Wen pada rambutnya membuat Audrey tidak tersungkur ke kasur. Suara Audrey semakin pelan bahkan sekarang hampir tidak terdengar sama sekali, tangannya yang sudah tidak kuat menumpu badannya dan mulai mencari pegangan lain. Kedua tangan Audrey terlihat berusaha memegang kedua sisi pinggul Wen, kemudian beralih ke kedua tangan Wen yang sedang menjambak rambutnya, lalu kembali kasur menumpu badannya dan begitu seterusnya terlihat Audrey sedang mencari posisi yang enak untuk menumpu badannya yang bergoyang hebat dan dihajar dari depan dan belakang oleh Wen dan Lam.</p>
<p style="text-align: justify;">“Right on time. She is nearly there, I also nearly there” sahut Lam tiba-tiba kepada Wen. Mendengar itu Wen hanya tersenyum kemudian Wen berpaling kepada kedua wanita muda yang sedang menemaniku. “Kalian berdua kesini, bantu Audrey agar tetap pada posisinya, agar Pak Lam bisa menikmati orgasmenya dengan lancar” perintah Wen kepada kedua wanita itu. Kedua wanita yang diperintah Wen kemudian naik ke kasur dan memposisikan diri mereka masing-masing berlutut disamping kiri dan kanan Audrey. Kemudian kedua wanita tersebut meraih masing-masing pundak Audrey dari arah bawah sehingga sekarang tangan-tangan kedua wanita tersebut masing-masing menumpu pundak Audrey, membuat kedua tangan Audrey terbuka kearah kiri dan kanan. Sudah tidak terdengar suara rintihan Audrey. Badan Audrey juga bergerak memelan namun terlihat Audrey berusaha memundurkan pinggulnya agar penis Lam makin masuk jauh ke dalam vaginanya. Gerakan Audrey yang pelan meliuk-liuk terlihat sangat kontras dengan gerakan Lam dan wen yang semakin ganas menggenjot penisnya masing-masing ke dalam vagina dan mulut Audrey.</p>
<p style="text-align: justify;">“Tom, sini naik ke kasur agar kamu bisa melihat dengan jelas. Istrimu sebentar lagi akan orgasme yang hebat” kata Wen kepadaku. Tanpa menunggu lagi akupun segera naik ke kasur agar bisa melihat Audrey dari dekat dan dengan jelas. Lam kemudian melepaskan tangan kanannya dari klitoris Audrey sehingga kali Audrey bisa turun dan kedua lututnya bisa kembali menumpu badannya. Lam lalu sedikit berjongkok serta kedua tangannya meraih pinggul Audrey. Dengan posisi demikian Lam bisa dengan lebih leluasa menggenjot penisnya dengan keras ke dalam vagina Audrey. Kira-kira sepuluh menit kemudian, badan Audrey makin meliuk-liuk ke kiri dan ke kanan serta menekan ke belakang ke arah penis Lam. “Ooh, this baby still want it more, although my dick has reached the inside end of her vagina” kata Lam yang merasa Audrey terus menekan pinggulnya ke belakang ke arah penisnya. “Your vagina is not deep enough darling, but if you want it, I’ll give it to you” lanjut Lam sambil menghentikan genjotannya dan menarik pinggul Audrey kebelakang dan secara bersamaan memajukan pinggulnya sendiri ke depan dan kemudian membiarkannya dalam keadaan begitu.</p>
<p style="text-align: justify;">Ditekan dari belakang dengan keras sampai ke ujung vaginanya, membuat mata Audrey mendelik. Kemudian Wen mengeluarkan penisnya dari mulut Audrey dan melepaskan jambakan tangannya di rambut Audrey sehingga sekarang kepala Audrey bebas bergerak. “She is all yours, Lam” kata Wen kepada Lam. “Ooh, she is real good, look at her hips moving, she knows how to please a man” sahut Lam merasakan goyangan meliuk-liuk pinggul Audrey. “Her vagina is very tight, my dickhead being played by her wall end of vagina. Damn..this girl is good” lanjut Lam sambil merasakan ujung penisnya bergesekan pada bagian yang paling dalam dari vagina Audrey. Audrey terus memainkan penis besar Lam dalam vaginanya. Pinggul Audrey naik turun dan memutar-mutar secara perlahan ditambah tekanan pinggul Lam dari belakang dan tangan Lam yang menarik pinggul Audrey ke belakang, membuat kedua manusia yang meskipun berbeda umur sangat jauh menjadi satu kesatuan dan sama-sama menikmati persetubuhan mereka. Sepuluh menit kemudian, Audrey memejamkan matanya, jari-jari tangannya membuka dan mengepal secara perlahan, mulutnya terbuka lebar, goyangan pinggulnya menjadi patah-patah.</p>
<p style="text-align: justify;">“Oh, she is coming, let us come together baby…!!!!’ sahut Lam dengan keras. Seperti mengerti perintah Lam, Audrey menghentikan goyangannya, pinggulnya secara keras didorongnya ke belakang, kepalanya terdongak ke atas dengan mulut terbuka lebar, seluruh badannya menegang dan terdengar desahan kecil Audrey. “Oohh… this is goooood…..I am in heaven….” desah Audrey pelan. Bersamaan dengan itu Lam memuntahkan spermanya di dalam vagina Audrey. “Take that bitch…., you like being fill up with cum you little whore!” teriak Lam sedikit keras sambil terus memuntahkan spermanya di dalam vagina Meda. “Oooh… yeeesss… fill me up….oohhhh…this is too good….I am your whore, your little whore” desah Audrey sangat pelan. Kembali sesuatu yang menakjubkan terjadi didepan mataku, sudah 10 menit berlalu tapi Nampak orgasme Audrey belum turun juga. Audrey masih terus dipuncak kenikmatan. Ketika Wen melepaskan pegangannya pada pinggul Audrey dan mulai menarik penisnya keluar dari vagina Audrey, Nampak raut muka Audrey sedikit sedih. “Don’t take it off now…pleaseee…I am not finished yet” rengek Audrey pelan sambil kembali meliuk-liukan pinggulnya secara perlahan untuk memancing Lam mengurungkan niatnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Lam tidak mendengarkan rengekan Audrey, dan mencabut penisnya. Tapi kekecewaan Audrey hanya sebentar karena Wen langsung siap menggantikan posisi Lam. Ditidurkannya Audrey telentang di atas kasur dibukanya kaki Audrey lebar-lebar. “Masih kurang Audrey?” Tanya Wen menggoda Audrey sebelum mulai memasukkan penisnya ke dalam vagina Audrey. “Masih…pak Wen…saya masih orgasme…..ooohhhh nikmat sekali…..mau disetubuhi sekarang…” rengek Audrey sambil menarik pinggul Wen ke arahnya. “Oohhhh……” desah Audrey ketika penis Wen masuk ke dalam vaginanya sampai mentok. Wen kemudian secara perlahan menggenjot vagina Audrey dengan penisnya. Setiap gerakan Wen selalu disertai lolongan pelan namun panjang dari Audrey. Kepala Audrey terdongak ke belakang, matanya terpejam rapat, dadanya membusung ke atas sehingga sebagian punggungnya terangkat dari kasur. Bibir kecilnya mengigit-gigit pelan jari telunjuk kanannya, lolongan pelan namun panjang terdengar dari mulut Audrey setiap kali Wen menggerakan penisnya secara perlahan. Penasaran dengan apa yang dirasakan Audrey, aku membisikinya dan bertanya.</p>
<p style="text-align: justify;">“Bagaimana rasanya Drey? Enak?” tanyaku. “Ennakkk…ooohhhhh…. Terima kasih Tom atas pengalaman indah ini…..orgasmeku tidak berhenti-henti nih…..oohhhh panjang sekali…..oohhhh…..aku disetubuhi sambil orgasme…..” jawab Audrey pelan kepadaku sambil terus menikmati orgasmenya yang berkepanjangan. Lima belas menit kemudian, penis Wen berdenyut kencang pertanda dia akan orgasme, dan tubuh Audreypun tiba-tiba lebih menegang lagi. “Oohhh….apa ini pak wen….kenapa saya……” desah Audrey pelan kepada Wen. “Inilah puncaknya orgasme dari orgasme Drey. Nikmati saja” jawab Wen. Bersamaan dengan itu, tubuh Audrey dan Wen benar-benar menegang. Keduanya berusaha menarik satu sama lain dan merapatkan persenggamaan mereka. Kaki Audrey melingkar di pinggul Wen. Dada Audrey makin membusung, kepalanya makin terdongak ke belakang dan giginya menggigit bibir bawahnya sendiri. Sedangkan kepala Wen berada di pundak Audrey, mulutnya sedikit menggigit pundak Audrey dan penisnya ditekan dengan keras ke dalam vagina Audrey. “OOOhhhhh……” teriak Audrey dan Wen bersamaan. Wen memuntahkan seluruh spermanya ke dalam vagina Audrey, Dua manusia mengalami orgasme hebat secara bersamaan.</p>
<p style="text-align: justify;">Beberapa menit Wen dan Audrey berada di puncak orgasme mereka. “Oke semuanya keluar dari kamar ini. Biarkan Audrey istirahat dulu” kata Wen setelah selesai memuntahkan seluruh spermanya dalam vagina Audrey. Wenpun beranjak dari atas tubuh Audrey, tidur disampingnya dan menyelimuti dirinya dan Audrey dengan selimut. Audrey hanya tersenyum dengan mata terpejam dan menidurkan kepalanya di dada Wen yang ditumbuhi bulu yang sangat lebat, sedangkan yang lainnya termasuk aku pergi meninggalkan kamar itu dan membiarkan Wen dan Audrey istirahat.</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="text-decoration: underline;"><strong>Bagian IV: Basement Villa</strong></span></p>
<p style="text-align: justify;">Menjelang sore terlihat Wen keluar dari kamar itu dan bergabung dengan aku dan tamu-tamu yang lain di ruang tengah villa. Rupanya yang menginap di villa tersebut selain aku, Audrey, Wen, Lam dan kedua wanita yang siang tadi berada di kamar, juga ada satu wanita lagi dan tiga tamu laki-laki. “Wah, sudah pada berkumpul rupanya, maaf saya baru bangun” kata Wen kepada aku dan tamu-tamu lainnya. Kamipun mengobrol di ruang tengah villa itu sampai menjelang malam. Kurang lebih jam 6.30pm Wen menginstruksikanku untuk membangunkan Audrey. “Tom, bangunkan istrimu, kita akan makan malam bersama” sahut Wen kepadaku. Akupun segera menuruti perintah Wen dan naik ke lantai atas villa menuju kamar tempat Audrey istirahat karena memang aku sudah mulai kuatir terhadap Audrey sebab setelah kejadian siang tadi di kamar aku belum melihatnya lagi. Sesampainya di kamar, aku melihat Audrey sudah bangun namun masih tiduran tengkurap di atas kasur, tubuhnya masih telanjang, terlihat mukanya nampak habis menangis. Melihat aku masuk ke kamar, air mata menetes kembali dari matanya.</p>
<p style="text-align: justify;">“Tom, apa yang kamu lakukan terhadapku. Kenapa kamu jahat terhadapku, kenapa kamu membiarkan semua ini terjadi?” tangis Audrey kepadaku. Akupun berusaha menenangkan dan menghibur istriku, kami berbincang-bincang di kamar itu cukup lama sambil aku berusaha terus menghiburnya sampai tiba-tiba salah satu dari tamu wanita masuk ke kamar dan meminta Audrey untuk mandi dan membersihkan diri karena aku dan Audrey sudah ditunggu di ruang makan oleh Wen dan tamu-tamu yang lain. Dengan sedikit malas Audrey menurutinya. Setelah Audrey mandi dan berpakaian kamipun keluar dari kamar itu dan menuju ruang makan. Terlihat Audrey ragu-ragu untuk keluar dari kamar. Terlihat Audrey sedikit malu untuk bertemu dengan Wen dan tamu-tamu yang lain setelah kejadian tadi malam dan tadi siang. Sesampainya di ruang makan, tamu-tamu yang lain sudah menunggu. Wen mempersilahkan aku dan Audrey duduk di kursi yang disediakan di ruang makan itu demikian juga terhadap tamu-tamu yang lain masing-masing dipersilahkan duduk oleh Wen. Kamipun menyantap hidangan malam yang disediakan sambil mengobrol. Pembicaraan di meja makan itu kebanyakan tentang bisnis antara Wen dan tamu-tamunya. Tidak ada yang menyinggung kejadian tadi malam dan tadi siang, seakan-akan kejadian tersebut tidak pernah terjadi. Hal itu membuat Audrey terlihat sedikit tenang. Selesai santap malam Wen mempersilahkan tamu-tamunnya, termasuk aku dan Audrey ke ruang tengah. Di ruang tengah makanan kecil dan minuman telah disediakan dan Wen mempersilahkan kami semua untuk mencicipi makanan kecil dan minuman tersebut kemudian melanjutkan obrolan bisnisnya dengan tamu-tamunya di ruang tengah, Wen sedikit mengacuhkan aku dan istriku karena memang obrolannya adalah masalah bisnis. Setelah kurang lebih 2 jam berbicara bisnis dengan tamunya tiba-tiba Wen berkata</p>
<p style="text-align: justify;">“Ok saya rasa omomgan bisnis sudah cukup untuk malam ini. Sekarang kita ke topik selanjutnya” “Zhou, obatmu ternyata sangat manjur, lihat saja ini hasilnya” sambung Wen sambil memencet remote TV. TV menyala dan betapa kagetnya aku melihat apa yang muncul di TV. Rekaman persetubuhan Audrey tadi malam dan tadi siang terlihat di layar TV. Aku melihat wajah Audrey sangat terkejut dan malu melihat tamu-tamu yang lain menyaksikan tayangan persetubuhannya dilayar TV. Audrey bangkit dari tempat duduknya dan bermaksud meninggalkan ruang tengah itu, namun Wen menghardiknya dengan tegas. “Audrey, duduk kamu! Tidak ada yang menyuruh kamu untuk pergi!” bentak Wen dengan sangat keras. Mendengar bentakan Wen aku sangat terkejut. Aku bermaksud untuk turut berdiri, namun aku merasakan tubuhku lemas dan aku tidak mampu berdiri. Kelihatannya Wen telah mencampurkan sesuatu lagi dalam minumanku sehingga badanku lemas tidak berdaya. Aku melihat Audrey sedikit ketakutan mendengar bentakan Wen, namun dikarenakan aku hanya tetap duduk dan tidak membela Audrey, maka Audreypun mengurungkan niatnya dan kembali duduk. Wen dan tamu-tamu lainnya kemudian membahas adegan demi adegan persetubuhan Audrey yang ditayangkan TV. Mereka membahasnya seakan-akan Audrey tidak ada di ruangan itu. Komentar-komentar keluar dari mulut mereka. Wen memuji Zhou atas kemanjuran obatnya. Wen menjelaskan bagaimana Audrey yang alim itu bisa menjadi seorang pelacur murahan dikarenakan meminum obat itu. Ada lagi tamu yang lain memuji daya tahan Audrey karena obat itu. Setelah rekaman adegan persetubuhan Audrey di TV selesai, kemudian Wen dengan suara tegas memerintahkan Audrey</p>
<p style="text-align: justify;">“Nah, Audrey, tolong hibur tamu-tamuku ini. Jangan biarkan mereka hanya menonton kamu di TV saja, perbolehkan mereka juga menikmati dirimu.” Mendengar itu dengan raut muka penuh ketakutan, Audrey bangkit dari tempat duduknya dan berusaha lari keluar dari villa, namun baru beberapa langkah berlari, Wen dan Zhou dengan sigap menangkap Audrey. “Wow, rupanya pelacur ini tidak mau menuruti perintah. Ck…ck..ck…Audrey kamu sangat mengecewakan” kata Wen sambil mencengkram tubuh Audrey dari belakang. “Kamu harus dihukum dan dididik yang benar supaya bisa menjadi budak seks yang patuh” lanjut Wen kemudian kepada Audrey. Audrey meronta-ronta dengan keras dan berusaha melepaskan diri, namun cengkraman Zhou dan Wen pada dirinya terlalu kuat, sehingga usaha Audrey untuk melepaskan diri menjadi sia-sia. Kemudian Wen dan Zhou menyeret Audrey ke basement villa, diikuti oleh tamu-tamu yang lain. Mereka meninggalkan aku di ruang tengah. Aku kembali berusaha bangkit untuk membantu Audrey, namun aku sama sekali tidak dapat berdiri sehingga aku hanya dapat terduduk lemah di sofa melihat perlakuan Zhou dan Wen terhadap Audrey. Tidak lama mereka meninggalkan aku di ruang tengah. Kira-kira 15 menit kemudian 2 orang tamu pria mendatangiku dan segera membopongku ke basement villa. Basement villa itu ternyata suatu ruangan yang kelihatannya sering digunakan untuk pesta seks yang aneh-aneh. Aku melihat banyak peralatan seks yang lebih mirip sebagai alat penyiksaan tergantung di dinding basement itu. Banyak peralatan seks yang belum pernah aku lihat sebelumnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Merinding aku ketika memasuki basement villa itu, namun yang membuat aku lebih kaget dan takut lagi adalah ketika aku melihat Audrey sudah terikat dalam keadaan telanjang bulat. Posisi Audrey berdiri dengan kedua tangan terikat ke atas melebar oleh rantai-rantai yang tertancap kuat dilangit-langit basement, sedangkan kakinya mengangkang lebar terikat dengan rantai-rantai yang menancap kuat ke lantai basement, sehingga posisi Audrey menyerupai huruf “X”. Aku melihat Audrey meronta-ronta sekuat tenaga, air matanya mengucur deras di kedua pipinya. Permohonan-permohonan untuk dilepaskan keluar dari mulutnya, namun rengekannya hanya dibalas dengan tawa sinis oleh orang-orang yang berada di basement villa itu. Kedua tamu yang membopongku kemudian mendudukanku di sebuah kursi persis di hadapan Audrey. “Teman-teman, malam ini kita akan mendidik pelacur ini supaya mau menjadi budak seks yang patuh. Harap teman-teman duduk di kursi-kursi yang telah disediakan, dan kita akan segera mulai pendidikan buat pelacur ini” sahut Wen tiba-tiba.</p>
<p style="text-align: justify;">Mendengar itu semua yang ada di basement itu duduk di kursi yang telah disediakan disekeliling tempat Audrey terikat dan menunggu apa yang selanjutnya Wen akan lakukan terhadap Audrey. “Audrey, ini kesempatan kamu yang terakhir. Kamu bisa secara sukarela menjadi budak seksku yang patuh atau aku akan membuat kamu menjadi budak seksku yang patuh. Kedua-duanya pada akhirnya kamu akan menjadi budak seksku yang patuh, namun cara kedua pasti jauh lebih menyakitkan” kata Wen kemudian sambil tertawa. Mendengar itu aku melihat ketakutan yang amat sangat di wajah Audrey. Audrey semakin kencang meronta-ronta berusaha melepaskan diri. Tangisannya semakin keras, permohonan minta dilepaskan juga semakin keras. “Ok, kalalu kamu mau dengan cara yang menyakitkan” kata Wen setelah melihat Audrey tetap berusaha melepaskan diri. Wen kemudian mengambil sebuah cambuk kuda dan berdiri di belakang Audrey. Aku melihat Audrey merinding ketakutan melihat cambuk kuda tersebut. “Ctaarr….ctttarr….cttaaarrr…..” suara cambuk 3 kali berbunyi disertai raungan kesakitan Audrey. Wen telah mencambuk punggung Audrey dengan keras.</p>
<p style="text-align: justify;">Raungan tangis Audrey semakin keras, badannya tetap meronta-ronta untuk melepaskan diri. “Cttaar…cttarr…ctarr..ctaarrr…” bunyi cambuk kembali bertubi-tubi mendera punggung Audrey hingga Audrey pingsan. Melihat Audrey pingsan salah seorang tamu wanita mengguyurkan air ke kepala Audrey untuk membangunkannya. Ketika Audrey siuman, Wen menanyakan kepada Audrey apakah Audrey bersedia menjadi budak seksnya. Setiap kali Audrey mengatakan tidak atau berusaha meronta-ronta untuk melepaskan diri, maka bunyi cambuk akan terdengar lagi, dan kali ini tidak hanya mendera punggung Audrey, namun juga mendera ke pantat, kedua payudara dan vaginanya. 30 menit Audrey dicambuki seluruh tubuhnya, bekas-bekas cambuk berwarna kemerahan terlihat disekujur tubuhnya. Tubuh Audrey sudah kelihatan lemas. Tidak ada lagi raungan tangis keluar dari mulutnya. “Bagaimana Audrey, apakah kamu sekarang bersedia jadi budak seksku?” tanya Wen kemudian. Audrey hanya menggelengkan kepalanya secara lemah tanda penolakannya. “Ok, kalau kamu tetap tidak mau. Kita akan ke tahap selanjutnya. Kita lihat sampai mana kamu tahan siksaan ini” sahut Wen kepada Audrey sambil mengisyaratkan sesuatu kepada seorang tamu wanita.</p>
<p style="text-align: justify;">Tamu wanita yang diberi isyarat oleh Wen kemudian maju ke depan. Dia membawa sebuah jarum dan sebuah cincin yang terbuat dari emas dan menyerahkannya kepada Wen. Kemudian Wen berjongkok di depan vagina Audrey. Dibukanya vagina Audrey secara perlahan. Mengetahui akan apa yang akan terjadi, Audrey meronta-ronta dengan hebat, namun beberapa tamu maju ke depan dan memegang erat-erat tubuh dan pinggul Audrey sehingga Audrey tidak dapat bergerak. “Jangan…jangan….” pinta Audrey lirih. “AAAUOOCCCHHH….” Kemudian terdengar teriakan Audrey. Ternyata Wen menusuk bibir dalam bagian atas vagina Audrey dengan jarum dan kemudian memasukkan cincin tersebut dalam lubang yang telah dibuatnya pada bibir vagina Audrey tersebut. Raungan keras kesakitan Audrey membahana di basement itu, kemudian Audrey kembali pingsan. Kemudian Wen kembali berdiri dan mundur beberapa langkah untuk melihat hasil kerjanya. Dia terlihat puas dengan apa yang telah diperbuatnya pada Audrey. Audrey terlihat dalam posisi terikat, masih pingsan dengan sebuah cincin di bibir atas vaginanya dengan sedikit darah terlihat disekitar bibir atas vaginanya. Seorang tamu wanita kembali mengguyurkan air ke kepala Audrey dan membersihkan vagina Audrey dari bekas darah tersebut. Kemudian tamu wanita tersebut memberikan wewangian ke hidung Audrey agar Audrey siuman. Siuman dari pingsannya, terlihat sekali Audrey menahan sakit di vaginanya. Kemudian Wen kembali menghampiri Audrey dengan membawa jarum tersebut lagi beserta sebuah cincin emas lainnya. Tangan kiri Wen kemudian meraih puting payudara sebelah kiri Audrey dan tangan kanan Wen memegang jarum siap menusuknya.</p>
<p style="text-align: justify;">“Jangan….jangan….ampun….jangan…sakit…saya bersedia jadi budak seks Pak Wen asalkan jangan siksa saya lagi” tiba-tiba terdengar suara pelan Audrey. Mendengar hal itu Wen dan tamunya tertawa penuh kemenangan. “Benar kamu mau jadi budak seksku dan menuruti semua keinginanku” Tanya Wen kepada Audrey. “Iya…iya….saya mau…tolong jangan sakiti saya lagi” jawab Audrey menyerah. “Ok, bagus..bagus…, ladies…beri hadiah kepada budak seksku yang baru ini, buat dia menikmati statusnya yang baru sebagai budakku” kata Wen sambil memberi isyarat kepada para tamu wanita untuk maju ke depan. Para tamu wanita tanpa perlu diperintah lebih lanjut langsung maju ke depan mengelilingi Audrey. Satu tamu wanita berjongkok di hadapan vagina Audrey dan mulai menjilati dan menghisap-hisap vagina Audrey. Tamu-tamu yang lain menciumi dan menjilati kedua payudara Audrey, paha Audrey, punggung Audrey dan sekujur tubuhnya. 15 Menit diperlakukan demikian terlihat tubuh Audrey mulai mengkhianatinya. Audrey mulai meliuk-liukan badannya mengikuti permainan para tamu wanita tersebut di seluruh tubuhnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Melihat reaksi Audrey, para tamu wanita tersebut semakin ganas mengerjai tubuh Audrey. Jari-jari tangan mereka secara bergantian keluar masuk vagina Audrey yang mana hal tersebut semakin membuat Audrey tidak dapat mengontrol tubuhnya. Tidak beberapa lama kemudian terdengar erangan Audrey tanda Audrey telah mencapai orgasmenya yang disambut oleh tepuk tangan meriah dari para tamu pria di basement itu. Tidak menunggu sampai orgasme Audrey reda, Wen kemudian melepaskan ikatan Audrey dan membimbingnya untuk berdiri di hadapanku. “Mulai sekarang istrimu adalah budak seksku. Mulai sekarang aku harus didahulukan oleh istrimu dan bukan kamu lagi. Apabila kamu macam-macam rekaman dvd persetubuhan istrimu akan aku sebar di internet” kata Wen kepadaku. Aku hanya diam tercekat oleh ancaman Wen itu. Badanku masih lemas sehingga aku tidak dapat berbuat apa-apa meskipun sebenarnya ingin aku meninju Wen. Kemudian Wen mengaitkan sebuah bel kecil keperakan di cincin emas yang berada di bibir atas vagina Audrey, dan kemudian Wen mengetes bunyi bel tersebut dengan jarinya.</p>
<p style="text-align: justify;">“Ting…ting…ting” terdengar bunyi bel pelan. Audrey kemudian diposisikan membungkuk ke depan dengan kedua tangan bertumpu di kedua pegangan kursi tempat aku duduk. Pantatnya di keataskan sedikit oleh Wen sehingga Audrey sedikit berjinjit dengan pantat sejajar dengan selangkangan Wen. Wajah Audrey dengan wajahku menjadi berhadapan dengan sangat dekat. Lalu Wen memelorotkan celananya sendiri. Terlihat penis Wen yang besar sudah mengacung keras, dan tanpa basa basi lagi dimasukkannya penis besar itu ke dalam vagina Audrey dari belakang. Erangan kecil keluar dari mulut Audrey disertai bunyi bel berdenting beberapa kali. Mata Audrey terpejam rapat. Aku melihat ke bawah ke arah vagina Audrey. Terlihat vagina Audrey sudah penuh dengan penis Wen yang besar dengan sebuah bel kecil yang bergoyang-goyang tergantung dari bibir atas vaginanya. Wen mulai memompa penisnya keluar masuk vagina Audrey yang disertai erangan-erangan kecil Audrey dan bunyi bel yang bergoyang. Tubuh Audrey terdorong ke depan sehingga wajahnya sekarang berada disamping kuping kananku.</p>
<p style="text-align: justify;">Terdengar erangan-erangan Audrey di kupingku setiap kali penis Wen yang besar memasuki vaginanya. “Maafkan aku Tom, aku tidak kuat disiksa…” tiba-tiba bisik Audrey di kupingku. Aku tidak menjawab dan hanya diam saja. Genjotan-genjotan penis Wen pada vagina Audrey semakin keras, dan erangan-erangan Audrey semakin terdengar keras. Badan Audrey mulai mengikuti irama permainan Wen. Terlihat vagina Audrey sudah sangat basah, cairan kewanitaannya mulai terlihat membasahi kedua paha dalamnya. “Wah vagina istrimu sangat basah…dia sangat menikmatinya” kata Wen kepadaku sambil tertawa. “Saatnya kita ke tahap selanjutnya” kata Wen kemudian sambil dengan tiba-tiba memasukkan 2 jarinya secara kasar ke dalam anus Audrey. Jeritan keras terdengar dari mulut Audrey. Audrey berusaha menarik badannya namun dengan sigap Wen menahannya. “Diam Audrey!!!” hardik Wen kepada Audrey. Setelah beberapa menit puas mengobok-obok anus Audrey dengan kedua jarinya, Wen lalu mencabut penisnya dari vagina Audrey dan mengarahkannya ke anus Audrey. Wen menarik badan Audrey ke belakang sehingga wajah Audrey sekarang kembali berhadapan dengan wajahku. Terlihat wajah kesakitan dari Audrey ketika penis Wen yang besar mulai memasuki lubang anusnya. Air mata mulai meleleh dari kedua mata Audrey. Perlu beberapa menit sampai seluruh penis Wen masuk ke dalam lubang anus Audrey, dan kemudian Wen mulai memompa penisnya keluar masuk lubang anus Audrey. Jeritan-jeritan sakit terdengar dari mulut Audrey, matanya kembali terpejam menahan sakit. Dua tamu wanita kemudian mendatangi Audrey dari kedua sisi. Salah satunya membawa vibrator yang cukup besar dan menyalakannya.</p>
<p style="text-align: justify;">“Ziiing…….” terdengar bunyi vibartor itu. Salah satu tamu wanita tersebut kemudian berjongkok disisi sebelah kiri Audrey dan memasukan vibrator tersebut ke dalam vagina Audrey yang disertai erangan-erangan Audrey. Tamu wanita yang lainnya berjongkok disisi kanan Audrey dan mulai meraba-raba dan menciumi payudara Audrey yang bergantung bebas. Tubuh Audrey kembali terdorong ke depan, sehingga wajahnya kembali berada disebelah kuping kananku. Badan Audrey bergoyang hebat dikarenakan genjotan penis Wen di lubang anusnya dan genjotan vibrator di vaginanya. Erangan-erangan Audrey terdengar keras bersahut-sahutan dengan bunyi vibrator dan bel yang bergoyang keras di bibir atas vaginanya. Erangan-erangan Audrey tidak lagi terdengar sebagai erangan kesakitan tapi telah berubah menjadi erangan kenikmatan. Tanpa disadarinya, Audrey mulai menciumi kuping dan leherku dan sesekali menggigit pelan leherku. Tidak butuh waktu lama untuk Audrey mencapai orgasmenya kembali, badannya mengejang hebat disertai lenguhan kecil ketika dia mencapai puncak orgasmenya.</p>
<p style="text-align: justify;">Namun Wen belum ada tanda-tanda bahwa Wen akan mencapai orgasmenya. 40 menit telah berlalu, Audrey telah berkali-kali mengalami orgasme, sampai akhirnya Wen memuntahkan seluruh spermanya didalam anus Audrey. Wen kemudian menarik penisnya keluar dari lubang anus Audrey dan membimbing Audrey ke matras di tengah basement itu. Ternyata salah satu tamu pria Wen telah tidur terlentang di atas matras itu dengan keadaan telanjang bulat dan penis besar yang mengacung ke atas. Wen membimbing Audrey menduduki penis tersebut. Audrey hanya menurut saja apa yang dikehendaki Wen. Setelah penis besar tamu Wen yang bernama Liem itu masuk seluruhnya ke dalam vagina Audrey, Liem kemudian menarik kedua putting payudara Audrey sehingga posisi badan atas Audrey meniduri dada Liem. Liem lalu mencium bibir Audrey dengan ganas, dan aku melihat Audrey melayaninya. Lidah Audrey dan lidah Liem bertautan, mereka berciuman dengan ganasnya. Sementara itu Zhou yang juga sudah telanjang bulat mendekati pantat Audrey dari belakang, dan tanpa basa-basi memasukan penisnya yang juga besar ke dalam lubang anus Audrey, sehingga sekarang posisi Audrey terjepit di antara tubuh Liem dan Zhou dengan 2 penis menancap masing-masing di vaginanya dan di anusnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Mata Audrey terlihat berbinar ketika Liem dan Zhou mulai memompa penisnya masing-masing pada vagina dan anus Audrey. Tidak ada lagi penolakan dari Audrey, bahkan Audrey turut menggoyang-goyangkan pinggulnya seirama dengan genjotan Liem dan Zhou. “Lihat, istrimu mulai menikmati dan menerima statusnya yang baru sebagai budak seks. Saya harap kamu juga dapat menerimanya. Kamu tidak mau kan rekaman dvd istrimu tersebar di internet, lagipula aku lihat kamu juga mulai menikmatinya, lihat penis kamu mulai membesar” bisik Wen kepadaku. “Kamu menurut saja, dan kamu dapat mendapatkan impianmu selama ini, yaitu melihat istrimu disetubuhi pria lain” lanjut Wen kepadaku. Aku hanya mengangguk pelan. Terus terang melihat Audrey disandwich oleh 2 laki-laki tua telah membangkitkan nafsu birahiku. Obat yang diberikan Wen kepadaku mulai memudar dan tubuhku mulai tidak lemas lagi, namun bukannya aku membantu Audrey melepaskan diri tapi aku malah menikmati adegan seks di depanku. Terasa lama sekali untuk Liem dan Zhou mencapai orgasmenya, namun sebaliknya sangat cepat sekali Audrey mengalami orgasme.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah Audrey mengalami orgasme berkali-kali, barulah Liem dan Zhou secara bersamaan memuntahkan spermanya masing-masing dalam vagina dan anus Audrey. Selesai memuntahkan spermanya dalam anus dan vagina Audrey, Liem dan Zhou segera digantikan oleh tamu pria yang lainnya. Kali ini giliran Lam dan satu tamu lainnya yang bernama Kong. Audrey diposisikan tiduran terlentang di atas tubuh gemuk Lam dengan penis Lam yang menancap di anus Audrey, sedangkan Kong menancapkan penisnya ke dalam vagina Audrey dari atas. Lam dan Kong dengan segera menggenjot penisnya masing-masing dengan kasar pada vagina dan anus Audrey. Audrey terlihat kepayahan melayani nafsu Lam dan Kong. Kedua tangan Audrey bertumpu di dada Lam, kedua kakinya terbuka lebar memberikan akses seluas-luasnya bagi penis Kong di vaginanya.  Sementara itu, ketiga tamu wanita yang semuanya telah telanjang bulat menyerbu penisku, mereka memelorotkan celana dan celana dalamku dan mulai menjilati penisku secara bergantian yang membuat nafsu birahiku semakin memuncak. Tanganku mulai berani meraba-raba payudara ketiga wanita tersebut. Audrey kadang-kadang terlihat memandang ke arahku yang sedang dioral service oleh ketiga tamu wanita tersebut. Entah cemburu atau karena tidak mau kalah melihat aku menikmati service ketiga tamu wanita tersebut, Audrey kembali berkonsentrasi dengan persetubuhannya dengan Lam dan Kong. Tangan kanannya meraih belakang kepala Kong dan ditariknya kedepan dan Audrey menciumi bibir Kong dengan ganasnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Lidah Audrey terlihat bermain dengan lidah Kong, pinggul Audrey bergoyang makin hebat seakan-akan memberi semangat untuk Lam dan Kong agar menggenjot penisnya masing-masing dengan semakin ganas pada vagina dan anusnya. Orgasme demi orgasme melanda Audrey, sampai akhirnya Lam dan Kong menghabiskan seluruh spermanya dalam vagina dan anus Audrey. Aku sendiripun telah mengalami orgasme, seluruh spermaku ditelan habis oleh ketiga tamu wanita tersebut. Setelah selesai menghabiskan seluruh spermaku, ketiga wanita tersebut bermain seks bertiga. Rupanya mereka adalah lesbian. Ketika aku bermaksud untuk ikut serta, secara halus mereka menolakku. Sementara itu Audrey masih melayani kelima pria tua di atas matras. Mereka secara bergantian atau bersama-sama menyetubuhi Audrey dengan berbagai macam gaya seks. Terkadang seluruh lubang yang ada di Audrey yaitu mulut, vagina dan anus Audrey harus melayani penis-penis pria-pria tua tersebut secara bersamaan. Terlihat juga Audrey melayani kelima pria tua tersebut secara bersamaan. Audrey duduk di atas Wen yang berbaring terlentang dimatras dengan penis Wen pada vagina Audrey, sedangkan Kong asyik menggenjot anus Audrey dari belakang. Secara bersamaan mulut Audrey menjilati dan menghisap penis Lam, sedangkan tangan kiri Audrey sibuk mengocok penis Zhou dan tangan kanan Audrey sibuk mengocok penis Liem. Terlihat suatu adegan yang fantastis di hadapanku, Audrey istriku yang cantik, berkulit putih dan mulus sibuk melayani 5 pria tua yang semuanya bertubuh gemuk dan berbulu lebat. Erangan-erangan mereka membahana di basement itu disertai bunyi bel kecil yang tergantung di bibir atas vagina Audrey. Orgasme-orgasme silih berganti melanda mereka. Sudah banyak sekali sperma kelima pria tua itu memenuhi vagina, lubang anus dan mulut Audrey. Bekas-bekas sperma nampak dibibir vagina dan lubang anus Audrey, juga demikian di bibir mulut Audrey, namun mereka terus bersetubuh sepanjang malam itu sampai pagi menjelang ketika mereka semua kehabisan tenaga dan tidur bersama di basement itu dengan keadaan telanjang bulat.</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="text-decoration: underline;"><strong>Bagian V: Penutup</strong></span></p>
<p style="text-align: justify;">Hari sudah siang ketika Audrey dan kelima pria tua bangun, merekapun mandi bersama-sama. Ketiga tamu wanita sudah tidak nampak di villa, kelihatannya mereka sudah pulang duluan ke Jakarta. Tidak terasa sudah dari jumat malam aku dan Audrey berada di villa. Sekarang sudah hari minggu, namun tidak terlihat Wen dan 4 pria lainnya akan pulang ke Jakarta. Mereka masih asyik menyetubuhi budak seks barunya, yaitu Audrey istriku. Tidak henti-hentinya mereka menyetubuhi Audrey baik secara bergantian maupun secara bersama-sama. Mereka menyetubuhi Audrey baik di ruang tengah, di ruang makan, di kolam renang, di jacuzzi maupun di kamar tidur. Aku melihat Audrey berusaha melayani nafsu binatang mereka dengan sebaik-baiknya. Terlihat sekali istriku sudah menerima status barunya sebagai budak seks. Meskipun terlihat sulit bagi Audrey untuk mengimbangi kemampuan seks kelima pria tua itu, namun Audrey terlihat mulai menikmatinya, terutama apabila Audrey disetubuhi dengan gaya-gaya baru yang belum pernah dicobanya. Kelima pria itu terus menyetubuhi Audrey sepanjang hari Minggu, Senin sampai hari Selasa, mereka hanya berhenti kalau saatnya makan dan tidur sebentar.</p>
<p style="text-align: justify;">Kagum aku melihat stamina kelima pria tua tersebut mengingat usia mereka semuanya sudah di atas 50 tahun. Kadang-kadang ketika mereka beristirahat sebentar, mereka mengijinkanku untuk dioral oleh Audrey, namun mereka tidak pernah mengajakku untuk secara bersama-sama menyetubuhi Audrey. Hari Rabu pagi, mereka baru mengijinkan aku dan Audrey kembali ke Jakarta dengan instruksi bahwa cincin dan bel kecil di bibir atas vagina Audrey tidak boleh dilepas, mulai sekarang Audrey hanya diperbolehkan memakai rok dengan tidak boleh memakai BH dan celana dalam, setiap hari Audrey harus meminum pil anti hamil yang diberikan oleh Wen, Audrey harus selalu mencukur bulu-bulu disekitar vaginanya sehingga vaginanya selalu mulus tanpa bulu sehelaipun, aku tidak boleh menyetubuhi Audrey, aku hanya boleh dioral saja oleh Audrey dan kapanpun Wen dan teman-temannya memanggil Audrey atau datang ke rumah kami, Audrey harus siap melayani. Apabila kami tidak menuruti maka dvd rekaman persetubuhan Audrey di villa tersebut akan tersebar di internet. Audrey hanya mengangguk tanda setuju mendengar instruksi Wen sedangkan aku hanya diam tanpa bisa berbuat apapun. Kamipun pulang ke Jakarta pada hari Rabu pagi itu dengan status baru istriku sebagai budak seks pemuas nafsu.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ceritasex.cn/ketika-istriku-menjadi-budak-seks-bosku/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Nikmatnya Jadi Polisi Gadungan&#8230;</title>
		<link>http://www.ceritasex.cn/nikmatnya-jadi-polisi-gadungan/</link>
		<comments>http://www.ceritasex.cn/nikmatnya-jadi-polisi-gadungan/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 24 May 2011 20:12:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cerita Sex</dc:creator>
				<category><![CDATA[anal seks]]></category>
		<category><![CDATA[Daun Muda]]></category>
		<category><![CDATA[Gangbang Rame Rame]]></category>
		<category><![CDATA[Pemerkosaan]]></category>
		<category><![CDATA[jilbab]]></category>
		<category><![CDATA[kontol]]></category>
		<category><![CDATA[ngentot]]></category>
		<category><![CDATA[polisi]]></category>
		<category><![CDATA[polisi gadungan]]></category>
		<category><![CDATA[toket]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ceritasex.cn/?p=2364</guid>
		<description><![CDATA[Tiap pagi, gue lewat depan rumah itu. Makanya, gue tahu penghuninya keluarga muda dengan anak balita satu. Nyonya rumah namanya Yani. Doi lulusan IKIP Seni Tari. Udah lama juga sih gue perhatiin doi. Tapi gue baru kenal ama perempuan Klaten itu lewat lakinya yang pelukis. Doi orangnya nggak cakep-cakep banget. Tapi tampangnya yang khas Jawa, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Tiap pagi, gue lewat depan rumah itu. Makanya, gue tahu penghuninya keluarga muda dengan anak balita satu. Nyonya rumah namanya Yani. Doi lulusan IKIP Seni Tari. Udah lama juga sih gue perhatiin doi. Tapi gue baru kenal ama perempuan Klaten itu lewat lakinya yang pelukis.</p>
<p style="text-align: justify;">Doi orangnya nggak cakep-cakep banget. Tapi tampangnya yang khas Jawa, lembut dan pasrah itu bikin gue betah ngelihatin mukanya kalo pas bertamu ke rumahnya. Apalagi dia enak juga diajak ngomong, suaranya itu senada dengan wajah pasrahnya. Gue jadi suka bayangin dia merintih-rintih di bawah siksaan gue.</p>
<p style="text-align: justify;">Nah, suatu hari lakinya jadi kaya mendadak karena ada order lukisan dalam jumlah besar. Terus, dia ngontrak rumah sebelah buat Yani sama anaknya. Rumah yang sekarang dijadiin galeri lukis.</p>
<p style="text-align: justify;">Doi yang sebelumnya sering cerita kalo lakinya sibuk banget, sekarang cerita repotnya ngurus rumah dan anaknya yang umur 3 tahun sendirian. Itu sebabnya dia ngajak adiknya Poppy dan ponakannya Umi untuk tinggal serumah. Tampang dua cewek itu mirip banget sama Yani, cuma dua-duanya lebih seger dan imut-imut. Akhirnya gue tahu juga kalo di rumah itu, sering cuma ada tiga cewek tadi sama satu anak balita.</p>
<p style="text-align: justify;">Nafsu juga gue waktu temen gue ngasih usul yang menarik. Langsung saja gue telepon Yani malem itu. Gue rubah suara gue biar nggak dikenal.<br />
&#8220;Choirun ada?&#8221;<br />
&#8220;Nggak ada, lagi mancing. Ini siapa ya?&#8221;<br />
Huh bego, pikirku. Dia kagak tahu kalo lakinya lagi maen sama Linda, tante Chinese yang gatal !<br />
&#8220;Mbak Yani sendiri ya?&#8221;<br />
&#8220;Nggak, sama Poppy dan Umi,&#8221;<br />
&#8220;Ya sudah, besok saja,&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Tiga temen gue langsung bersorak begitu pasti malam itu lakinya Yani nggak di rumah. Kami berempat pun segera berjalan ke rumah dekat gerbang perumahan itu. Tiga temen gue sudah siap dengan &#8216;peralatan&#8217;nya, lalu mengetuk pintu.</p>
<p style="text-align: justify;">Seorang perempuan mengintip dari balik korden.<br />
&#8220;Siapa ya?&#8221;<br />
&#8220;Kami dari Polres bu, ada yang ingin kami sampaikan,&#8221; sahut teman gue yang badannya memang mirip polisi.</p>
<p style="text-align: justify;">Tak lama kemudian pintu terbuka, tiga temen gue masuk. Dari jauh gue lihat Poppy dan Umi ikut menemui mereka.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Maaf bu, suami ibu kami tangkap satu jam lalu,&#8221;<br />
&#8220;Lho, kenapa?&#8221; Yani terlonjak.<br />
&#8220;Ia kedapatan menghisap ganja&#8230;&#8221;<br />
&#8220;Nggak mungkin!&#8221; perempuan itu memekik.<br />
&#8220;Tapi begitulah kenyataannya. Kami juga dapat perintah menggeledah rumah ini. Ini suratnya,&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Yani tak dapat menolak, dibiarkannya ketiga &#8216;polisi&#8217; itu menggeledah rumahnya. Dasar nakal, seorang temen gue sudah menyiapkan seplastik ganja dan kemudian ia teriak, &#8220;Ada di bawah kasur sini, komandan!&#8221;<br />
<span id="more-2364"></span><br />
Temenku yang paling besar memandang Yani dengan tajam. &#8220;Sekarang kalian bertiga ikut ke kantor polisi!&#8221; tegasnya.<br />
&#8220;Tapi&#8230;tapi&#8230;saya nggak tahu bagaimana barang itu ada di situ&#8230;&#8221; kata Yani terbata-bata.<br />
&#8220;Sekarang ibu bantu kami, ikut saja ke kantor polisi, juga dua adik ini,&#8221;<br />
Akhirnya ketiga cewek itu mau juga ikut, setelah sebelumnya Yani menitipkan anaknya ke Bu Tukiran. Temen gue pinter juga, dia pinjam mobil Feroza Yani dengan alasan mereka cuma bawa motor. Lewat handphone, salah satu temen gue ngasih tahu.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Beres Dan, siap cabut,&#8221; katanya. Gue segera pakai topeng ski, ambil kunci mobil dan duduk di belakang stir.</p>
<p style="text-align: justify;">Sebelum masuk, kaget juga tiga cewek itu karena tangan mereka diborgol di belakang punggung. &#8220;Kami nggak ingin repot nantinya,&#8221; alasan temen gue.<br />
Hanya beberapa saat saja, mobil pun berjalan. Yani duduk di tengah dengan satu temen gue menjaga pintu. Sedang Poppy dan Umi di belakang dijaga dua lagi temen gue.</p>
<p style="text-align: justify;">Baru jalan 100 meteran di jalan menurun ke arah Kasongan, tiga temen gue itu ketawa ngakak. &#8220;Gampang banget&#8230;&#8221; kata mereka. Tentu saja tiga cewek itu bingung. Apalagi Yani kini terpaksa duduk merapat jendela karena dipepet lelaki besar di sebelahnya.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Kalian tidak akan kami bawa ke kantor polisi, seneng kan nggak perlu lihat pistol? Tapi jangan khawatir, nanti kita tunjukin pistol yang lain,&#8221; desisnya.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Eh&#8230;eh&#8230;apa-apaan ini?&#8221; Yani ketakutan. &#8220;Eiiiiii&#8230;.awwwhhhh&#8230;kuranga jj&#8230;awwwhhhh&#8230;&#8221; Yani menjerit dan meronta, sebab tiba-tiba kedua payudaranya ditangkap dua telapak tangan yang besar, lalu diremas-remas keras seenaknya. Dua gadis di belakang juga menjerit-jerit ketika payudara mereka pun diperlakukan sama.</p>
<p style="text-align: justify;">Lelaki itu lalu menyingkapkan jilbab Yani dan dengan nafsu kembali mencengkeram payudara montok itu. Yani makin keras menjerit. Lalu tiba-tiba&#8230;breetttt&#8230;.bagian muka jubah tipisnya koyak sehingga memperlihatkan tonjolan buah dadanya yang berbungkus BH coklat muda.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Wah, susu yang segar,&#8221; kata temen gue.<br />
&#8220;Jangannn&#8230;tolong&#8230;jangaann. ..&#8221; Yani menangis.<br />
&#8220;Jangan cerewet, kalian bertiga tidak usah bawel, nurut saja atau tempik kalian kuculek pake belati ini!&#8221; kali ini temen gue mulai mengancam dengan menyentuhkan ujung belati ke permukaan payudara Yani yang menyembul dari BH-nya.</p>
<p style="text-align: justify;">Di belakang, Poppy dan Umi terisak-isak. Blus keduanya sudah lepas, tinggal rok yang menutupi bagian bawah tubuh muda dan mulus itu. Keduanya pun memekik berbarengan ketika penutup dada mereka direnggut hingga putus.<br />
&#8220;Wah&#8230;wah&#8230;ini susu yang indah&#8230;&#8221; kata kedua temen gue di belakang. &#8220;Coba lihat punya Nyonya ini&#8230;&#8221; lanjut mereka.</p>
<p style="text-align: justify;">Temen gue di depan pun bertindak cepat, memutus tali antara dua cup BH Yani. Yani terisak, buah dadanya kini telanjang dan&#8230;..&#8221;Awwwwww&#8230;.&#8221; ia menjerit agak keras ketika kedua putingnya dijepit dan ditarik serta diguncang-guncangkan. Kedua temen gue di belakang ketawa dan ikut-ikutan melakukan hal yang sama pada puting Umi dan Poppy.</p>
<p style="text-align: justify;">Yani meronta-ronta tapi sia-sia saja ketika tubuhnya dibaringkan di jok mobil, lalu temen gue duduk di atas perutnya, memunggungi dan menyingkapkan bagian bawah jubahnya. Kedua kaki telanjangnya menendang-nendang, tapi ia kesakitan juga waktu kedua bagian dalam paha mulusnya dicengkeram keras. Ia menjerit lagi waktu selangkangannya yang ditutupi celana dalam putih digebuk sampai bunyi berdebuk. Dengan kasar, jari-jari temen gue menyingkapkan kain segitiga itu hingga memeknya yang berjembut agak lebat terbuka. Tanpa ba bi bu, ditusukkannya telunjuknya ke lubang memek Yani.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Aaaaakhhhh&#8230;.&#8221; Yani menjerit kesakitan. Memeknya yang kering membuat tusukan itu jadi amat menyakitkan. Tapi temen gue itu nekad terus nyodok-nyodok memek yang legit itu. Malah waktu telunjuknya sudah terasa agak licin, dia tambah jari tengah. Lagi-lagi Yani menjerit kesakitan. Tapi nggak kapok juga temen gue itu. Sebentar saja sudah tiga jari yang nyodok-nyodok memek perempuan manja itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Di belakang, Poppy dan Umi juga merintih-rintih, sebab dua lelaki yang bersama mereka kini mengisap-isap pentil susu mereka sambil terus meremas-remas teteknya yang kenyal. Poppy pertama kali memekik waktu tangan temen gue menelusup sampai ke balik celdamnya dan meremas-remas memeknya sambil sesekali mencabuti jembutnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Umi akhirnya juga mendapat penghinaan yang sama, bahkan ia merasa klentitnya lecet karena terus diuyel-uyel dengan kasar.</p>
<p style="text-align: justify;">***</p>
<p style="text-align: justify;">Mobil akhirnya sampai ke rumah besar punya temen gue yang asyik ngobok-obok memek Yani. Gue buka pintu belakang mobil. Di dalam, gue liat Poppy dan Umi yang topless, cuman pake rok doank! Dan yang lebih bikin gue kaget lagi, ternyata kontol dua temen gue lagi dijilatin ama dua perawan itu.<br />
Toket kedua anak itu kelihatan mulai memerah karena terus diremet-remet. Terang aja gue tersentak, tapi gue sendiri gak bisa berbuat apa-apa lagi! Soalnya gue sendiri nggak tahan, terus ikut mencet pentil kanan Poppy dan pentil kiri Umi.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Nggghhhhh&#8230;.&#8221; dua cewek itu cuma bisa mengerang karena dua kontol ada di mulut mereka. Terus gue buka pintu tengah. Buset, di dalam, temen gue masih asyik menjilati memek Yani dan menyodok-nyodok lubangnya dengan tiga jari. Yani sudah tidak menjerit-jerit lagi. Yang terdengar sekarang cuma rintihannya, persis seperti bayangan gue.</p>
<p style="text-align: justify;">Nggak tahan, gue naik, terus gue pegangin kepala perempuan berjilbab itu.<br />
&#8220;Emut kontol gue, kalau nggak, gue potong tetek lu!&#8221; kata gue sambil nyodorin kontol yang udah ngaceng sejak tadi. Tangan kiri gue mencengkeram tetek kanan Yani yang montok sampai ke pangkalnya. Tangan kanan gue menahan kepala Yani biar tetep menghadap kontol.<br />
Yani nyerah, dia buka mulutnya. Cepet gue masukin kontol gue sampe ke pangkalnya.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Diemut!&#8221; bentak gue sambil menambah tenaga remasan di buah dadanya.<br />
Gue ngerasain kenikmatan yang luar bisa banget waktu kontol gue diemut-emutnya sambil merintih-rintih.<br />
Biar gampang, sama temen gue tadi, gue gotong cewek itu dan gue lempar ke lantai garasi. Yani menjerit kesakitan dan makin keras jeritannya waktu jubahnya gue lucuti, begitu juga rok dalam dan celdamnya. Terlihatlah memeknya yang terpelihara rapi, dengan bulu-bulu halus yang diatur dengan indahnya. Gue mainkan itilnya yang ada di dalam bibir memeknya sampai dia berkelojotan ke kanan-ke kiri.</p>
<p style="text-align: justify;">Sekarang temen gue yang jongkok di depan muka cewek itu dan memaksanya berkaraoke. Dari belakangnya, tanpa banyak bicara, gue langsung ngentot cewek itu.<br />
&#8220;Aunghhhhhh&#8230;&#8221; Yani mengerang panjang waktu kontol gue nyodok memeknya sampai mentok. Memeknya lumayan rapet dan legit biarpun dia sudah punya anak satu.</p>
<p style="text-align: justify;">Ada seperempat jam gue kocok memeknya pake kontol, terus gue suruh dia nungging. Dari depan, temen gue masih ngentot mulutnya sambil memegangi kepala cewek berjilbab itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Dari belakang, pemandangan itu bikin gue makin nafsu. Gue remet keras-keras memeknya pake tangan kiri, terus telunjuk kanan gue tusukin ke pantatnya. Yani mengerang lagi waktu gue gerakin telunjuk gue berputar-putar supaya lobang kecil itu jadi lebar. Begitu mulai lebar, gue masukin kontol ke dalamnya.<br />
Tubuh Yani mengejang hebat, erangannya juga terdengar amat heboh. Tapi tetep gue paksa kontol gue biar susahnya bukan main. Sampe akhirnya kontol gue masuk sampai ke pangkal, gue tarik lagi sampai tinggal kepalanya yang kejepit. Terus dengan tiba-tiba gue dorong sekuat tenaga.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Aaaaaakhhhhh&#8230;..&#8221; Yani melepas kontol temen gue dan menjerit keras. Tapi rupanya pas temen gue sampai puncak kenikmatannya. Akibatnya air maninya nyemprot muka Yani sampai belepotan.<br />
Cuek, gue genjot terus pantat perempuan montok itu biar dia menangis-nangis kesakitan. Malah sekarang gue peluk dia sambil kedua teteknya gue remes-remes. Temen gue yang barusan nyemprot sekarang malah masukin dua jarinya ke lubang memek Yani dan diputar-putar. Ini bikin Yani makin kesakitan.<br />
Gue ngerasa kontol gue udah peka banget. Jadi makin cepet gue genjot dan langsung gue banting cewek itu. Yani nggak sempet mengelak, waktu kontol gue tempelkan ke mulutnya dan gue paksa dia mengulumnya.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Crooottt&#8230;crottt&#8230;crottt&#8230; &#8221; air mani gue nyemprot sampai tiga kali ke dalam mulutnya. Yani sudah mau menumpahkannya, jadi gue pencet pentilnya dan gue tarik ke atas.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Telen!&#8221; bentak gue. Sambil merem, Yani menelannya semua, lalu menekuk tubuhnya sambil menangis. Dengan ujung jilbabnya gue dan temen gue mengelap kontol yang berlendir. Dari celah pantat bundar Yani gue lihat ada darah keluar.<br />
Lagi asyik ngelihatin tubuh bugil Yani, gue dengar ketawa ngakak dua temen gue. Lalu terlihat Poppy dan Umi turun dari mobil dan jalan sempoyongan. Gue melotot. Dua cewek itu nyaris bugil. Jilbab mereka disampirkan ke belakang sehingga teteknya yang kemerahan bekas diremas-remas bebas terlihat, dengan pentilnya yang kecoklat-coklatan. Dua-duanya terisak-isak, di sekitar bibir dua cewek hitam manis itu belepotan lendir putih.</p>
<p style="text-align: justify;">Yang menarik, rok mereka sudah lepas, tinggal celdam putih milik Poppy dan kuning muda Umi. Malah celdam Poppy dibikin temen gue terangkat tinggi sampai nyelip di bibir memeknya. Akibatnya, bibir memeknya kanan dan kiri kelihatan gemuk dan jembutnya menyembul ke kanan dan kiri. Nggak tahan, gue pepet anak itu ke mobil, terus tangan gue mulai merayapi selangkangannya. Tangan gue mulai bermain-main di bibir vaginanya yang njepit celananya.<br />
&#8220;Jangaann&#8230;ampun oommm&#8230;&#8221; rintihnya. &#8220;Adduhhhh&#8230;&#8221; pekik mahasiswi UAD itu, karena gue cabut beberapa helai jembutnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Dari bawah gue cengkeram tetek kanan Poppy yang nggak seberapa gede tapi kenyal itu, terus gue dorong ke atas sampai putingnya ngacung, lalu gue sedot kuat-kuat. Poppy meronta kesakitan, apalagi kemudian gue tarik celdamnya ke atas. Poppy memekik waktu celdamnya akhirnya putus.<br />
Gue terus melorot dan gue paksa cewek itu nyodorin memeknya buat gue hisap. Gue mainin itilnya dengan lidah gue, bahkan sampai gue sedot pakai mulut gue! Poppy makin kelojotan dan mendesah.</p>
<p style="text-align: justify;">Sementara itu, gue lihat Umi lagi dipaksa menyepong kontol temen gue. Sedang Yani sudah mulai disodomi lagi. Malah, dia dipaksa telentang dengan kontol menusuk pantatnya, lalu memeknya disodok dari depan. Kedengeran Yani menjerit-jerit kesakitan.<br />
&#8220;Aihhh&#8230;&#8221; Poppy memekik waktu telunjuk gue masuk satu ruas ke lubang pantatnya, terus gue dorong ke depan sampai lubang memeknya merekah dan kelihatan lorong yang merah dan basah, gue jilatin sampai cewek 21 tahun itu menggeliat-geliat.<br />
&#8220;Aduhh&#8230;jangaann&#8230;&#8221; Poppy menjerit waktu gue tiba-tiba berdiri sambil mengangkat kaki kirinya.</p>
<p style="text-align: justify;">Tapi gue nggak peduli, kontol gue pas banget nunjuk memeknya. Terus gue kucek-kucek memek anak itu, sampai mulai terasa basah. Terus gue pegang kontol gue dan gue paksa masuk kepalanya ke celah bibir memeknya. Kepala kontol gue terasa seperti direndam di air hangat. Poppy menjerit makin nggak karuan waktu tangan kiri gue mencengkeram tetek kanannya sampai ke pangkalnya sekuat tenaga. Malah, daging kenyal itu sampai terasa seperti remuk.<br />
&#8220;Aaaakkhh&#8230;.auhhhhh&#8230;.ouchhh &#8230;aiiiii&#8230;.sakkkiiittt&#8230;.ad duhhhhh&#8230;.&#8221; Poppy menjerit histeris waktu gue dorong pinggang ke depan dengan tiba-tiba dan sekuat tenaga.</p>
<p style="text-align: justify;">Kontol gue masuk sampai ke pangkalnya. Malah kerasa kepalanya sampai mentok ke dasar memeknya. Begitu mentok gue berhenti sebentar. Gadis itu sesenggukan, nafasnya tersengal-sengal. Tapi yang paling asyik, gue merasa kontol gue di dalam memeknya seperti dibasahi cairan hangat. Belakangan gue tahu yang hangat itu darah keperawanannya.</p>
<p style="text-align: justify;">Dengan gerakan kasar dan tiba-tiba, gue kocok kontol gue di dalam memek Poppy. Terasa sempit banget dan kering. Gue sih enak, tapi akibatnya Poppy menjerit-jerit kesakitan dan minta ampun. Poppy masih merintih-rintih waktu kontol gue tarik keluar, terus gue jongkok di depan selangkangannya. Langsung gue masukin empat jari ke dalam lubang memeknya yang masih menganga.<br />
&#8220;Aucchhhhh&#8230;sakkkiiittt&#8230;aaa hhhh&#8230;&#8221; Poppy menjerit lagi waktu empat jari gue puter-puter di dalam memeknya. Waktu gue tarik keluar empat jari gue yang basah lendir dan darah, cewek itu jatuh melorot sambil terus menangis.<br />
&#8220;Hey, bawa sini perawan satu itu, lu ambil memek yang ini. Pantatnya buat gue ya!&#8221; teriak gue ke teman yang lagi asyik ngucek-ngucek memek Umi.</p>
<p style="text-align: justify;">Temen gue cepat bangun lalu menyeret kedua kaki Umi dan menggeletakkan cewek imut-imut itu di dekat kaki gue. Tanpa banyak bicara, dia terus mendorong Poppy yang menangis sambil duduk bersimpuh sehingga jatuh terlentang.<br />
Gue tarik Umi sampai kepalanya berbantalkan paha gue, menghadap Poppy yang lagi digarap ulang. Gue remas-remas pelan kedua payudaranya yang kenyal. Cewek itu menangis.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Kamu paling muda, jadi memekmu pasti paling enak. Kamu mau kontolku masuk memekmu?&#8221; kata gue sambil memilin-milin putingnya yang hitam dan mungil tetapi tebal.<br />
&#8220;Huuu&#8230;jangaaannn&#8230;huuu. ..&#8221; ABG itu menangis lagi.<br />
&#8220;Lihat Bu Lik Yani dan Bu Lik Poppy itu&#8230;memeknya sudah jebol&#8230;kalau kamu nggak mau seperti mereka, kamu harus nurutin apa kata gue, ngerti? Sekarang lihat ini,&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Gue lalu menghampiri Yani yang sedang dientot dan disodomi berbarengan. Gue pegang kepala Yani yang lagi menjerit-jerit kesakitan. Lalu gue paksa dia mengulum kontol gue lagi sampai kontol gue basah. Terus gue suruh temen gue yang lagi nyodok memek Yani bangun, gantian dia memasukkan kontolnya ke mulut Yani. Terus gue suruh pindah kontol temen gue satunya dari pantat ke memek.<br />
Badan Yani kelojotan dan gemeteran waktu gue paksa kontol gue ikut masuk memeknya. Temen gue yang dari tadi menyodomi dia rupanya nggak tahan lama lagi. Dia cepat-cepat menggerakkan kontolnya maju mundur. Yani menjerit histeris, sebab dua kontol di dalam memeknya bikin memeknya seperti mau sobek.<br />
Temen gue rupanya nggak tahan. Nggak lama dia ngecrot di dalam memek Yani. Yang di atas juga gitu, dia ngecrot lumayan banyak di dalam mulut Yani. Yani ambruk, lemes di lantai.</p>
<p style="text-align: justify;">Sekarang gue balik ke Poppy yang lagi menjerit-jerit karena dipaksa duduk di atas kontol temen gue. Kedua teteknya dicengkeram sehingga dia terpaksa bergerak-gerak naik turun. Dari belakang, gue dorong punggung Poppy yang mulus sampai dia ambruk di atas dada temen gue.<br />
&#8220;Kamu nggak mau disodomi juga kan. Lihat nih,&#8221; kata gue lagi kepada Umi yang makin kenceng nangisnya.<br />
Poppy menjerit melengking waktu telunjuk gue paksa masuk ke lubang anusnya. Rapet banget, jadi gue paksa satu telunjuk lagi masuk dan gue gerak-gerakin, bikin lubangnya makin lebar. Sampai cukupan buat masuknya kepala kontol, gue sodok aja.</p>
<p style="text-align: justify;">Kepala kontol gue sekarang kejepit pantat Poppy. Gue dorong dua senti, Poppy menjerit lagi. Mundur satu senti lalu maju tiga senti. Poppy makin keras menjerit. Lalu mundur lagi satu senti dan dengan tenaga penuh&#8230;.<br />
&#8220;Aaaaaachhhhh&#8230;aauuhhhhh&#8230;.s aakkkiiitt&#8230;.nggghhhhh&#8230;.&#8221; Poppy menjerit histeris. Kontol gue masuk sampai pangkalnya ke dalam lubang pantatnya. Sempit banget, sampai kerasa kontol gue seperti remuk di dalam. Tapi terus gue genjot agak lama.<br />
Lima menitan, gue lepas dan dua temen gue yang tadi ngerjain Yani udah siap di belakang Poppy, mau gantiin. Gue balik ke Umi, sementara Poppy mulai menjerit lagi waktu pantatnya disodomi lagi. Tapi jeritannya hilang waktu mulutnya juga diperkosa.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Gimana? Kamu mau nurut?&#8221; kata gue sambil jongkok di sebelah Umi dan mengucek-ucek memeknya yang berjembut tipis.<br />
&#8220;I&#8230;iya&#8230;iya&#8230;&#8221; katanya terbata-bata.<br />
&#8220;Bagus, sekarang bersihin kontolku,&#8221; kata gue sambil berdiri, menyodorkan kontol gue yang basah air mani temen gue dan darah dari pantat Poppy. Umi menelan ludahnya, tampangnya tampak jijik. Tapi karena takut, dia jilat juga kontol gue.<br />
Gila, gue kayak di awang-awang, apalagi dia terus mulai menyedot-nyedot kontol gue. Setelah lama dia nyepong gue, gue liat tiga temen gue udah selesai. Poppy kayaknya pingsan. Memek, pantat dan mulutnya belepotan air mani.<br />
&#8220;Gue juga bersihin dong,&#8221; kata temen-temen gue berbarengan.</p>
<p style="text-align: justify;">Umi nggak punya pilihan lain. Akhirnya gadis imut-imut itu berjongkok di depan empat lelaki, menjilati dan menyepong kontol-kontol berlendir. Tidak cuma itu, dia juga gue suruh jilat seluruh air mani di badan Yani dan Poppy. Malah, dari memek Yani gue sendokin air mani dan gue suapin ke mulut Umi yang berbibir mungil itu.<br />
&#8220;Huuu&#8230;huuu&#8230;sudahh&#8230;sa ya mau pulang&#8230;&#8221; Umi terisak sambil duduk bersimpuh.<br />
&#8220;Boleh, tapi kamu harus joget dulu,&#8221; kata gue sambil melepas ikatan di tangannya.<br />
Umi seperti kebingungan. Tapi tiba-tiba ia menjerit karena temen gue tahu-tahu menyabetkan ikat pinggangnya, kena payudara kirinya. &#8220;Ayo cepet joget!&#8221; bentaknya.</p>
<p style="text-align: justify;">Takut-takut Umi berdiri, tapi kali ini temen gue yang lain menampar pantatnya dari belakang. &#8220;Joget yang hot!&#8221; bentaknya.<br />
Akhirnya Umi mulai meliuk-liukkan tubuhnya. Merangsang banget, gadis berjilbab tapi bugil, joget di depan gue. Gue tunjuk selangkangannya. &#8220;Ayo, gerakin pinggulmu maju mundur sampai memekmu kena telunjukku ini,&#8221; kata gue.</p>
<p style="text-align: justify;">Umi nurut. Pinggulnya maju mundur sampai memeknya yang berjembut tipis nyenggol telunjuk gue. Pas mau nyenggol kelima kalinya, sengaja gue sodok agak kenceng sampai seperti menusuk klentitnya. Umi menjerit kesakitan.<br />
Sekarang dia malah ketakutan waktu tiga temen gue ikut joget di sekelilingnya sambil memegang-megang buah dada, pantat dan memeknya.<br />
&#8220;Jogetmu bikin aku ngaceng nih!&#8221; kata gue sambil mengacungkan kontol gue yang emang udah tegang banget.<br />
Temen-temen gue ketawa ngakak lalu memegangi kedua tangan Umi dan menelentangkannya di lantai.<br />
&#8220;Aaahhh&#8230;.janngaaaannnn&#8230;.ka lian jahaaaattt&#8230;aaahhhh&#8230;&#8221; Umi menjerit dan meronta-ronta. Satu kakinya dipegangi temen gue, satu lagi gue pegangin, ngangkang lebar banget.</p>
<p style="text-align: justify;">Umi nangis lagi, waktu ngerasa memeknya mulai kesenggol kepala kontol gue. Cewek mungil ini menjerit keras waktu jari gue dan temen gue menarik bibir memeknya ke kanan dan kiri. Terus, kontol gue mulai masuk 4 senti dan tarikan langsung dilepas. Sekarang kontol gue kejepit memek perawan yang sempit.<br />
Gue ambil posisi, pegangan dua buah dadanya yang mulus sambil jempol dan telunjuk gue menjepit pentilnya.<br />
&#8220;Aku harus adil dong, masak saudaramu dapat kontol, kamu nggak?&#8221; kata gue sambil dengan tiba-tiba mendorong kontol gue maju dengan kekuatan penuh. Akibatnya luar biasa. Umi menjerit sangat keras. Gue sendiri merasa kontol gue merobek sesuatu yang sangat liat. Begitu kontol gue mentok ke dasar memeknya, gue berhenti sebentar. Kerasa memeknya berdenyut-denyut meremas-remas kontol gue. Pelan-pelan gue merasa ada cairan hangat membasahi kontol gue. Itu pasti darah perawannya.</p>
<p style="text-align: justify;">Akhirnya, ABG imut-imut itu menjerit-jerit tak berhenti waktu kontol gue kocok dengan gerak cepat di dalam memeknya. Apalagi temen-temen gue asyik meremas-remas teteknya. Malah, kerasa ada yang mulai nusuk pantatnya pakai jari. Ada lagi yang memaksanya ngemut kontolnya.<br />
Nggak lama, gue pindah kontol ke pantatnya setelah Umi dibikin nungging. Lagi-lagi Umi menjerit histeris, sebab pantatnya yang lebih sempit dari memeknya itu tetap bisa gue jebol pakai kontol gue. Seperti dua cewek lainnya, sekarang Umi telentang di atas dada gue, terus memeknya yang berdarah disodok kontol temen gue dari depan. Mulutnya sekarang malah dipaksa ngemut dua kontol sekaligus.<br />
Sekarang Umi gue paksa nungging di atas dada temen gue sambil kontolnya tetap di dalam memek cewek yang baru lulus SMU itu. Dua kontol masih berebut masuk mulutnya. Dari belakang, sekarang gue coba masukin kontol gue, bareng kontol temen gue yang sudah masuk duluan.</p>
<p style="text-align: justify;">Umi merintih kesakitan, waktu kontol gue bisa masuk. Pas kontol temen gue masuk sampai pangkalnya, gue sodok keras-keras sampai kontol gue juga masuk sampai pangkal. Umi memekik keras, sebab terasa ada yang &#8216;krekk&#8217; di dalam memeknya. Selaput daranya mungkin sobek lebih lebar lagi.<br />
Gue ambil kontol karet punya temen gue, terus gue tusukin jauh-jauh ke dalam anusnya. Memeknya jadi terasa tambah sempit aja. Umi mengerang panjang waktu gue nggak tahan lagi, ngocokkan kontol beneran dan kontol karet makin cepat.<br />
&#8220;Minggir&#8230;minggir&#8230;&#8221; kata gue ke dua temen gue yang lagi memperkosa mulut Umi. Cepet gue masukin kontol gue ke dalam mulut berbibir mungil itu dan, sedetik kemudian, air mani gue tumpah banyak banget di dalam mulutnya.<br />
Umi sudah lemas waktu dia ditelentangin dan tiga temen gue antri ngocok cepat-cepat lalu nembak di dalam mulutnya.<br />
Cewek itu betul-betul tak berdaya. Saat temen gue yang terakhir nyemprot ke dalam mulutnya, dia malah sudah pingsan. Mulutnya yang terbuka betul-betul putih, penuh air mani. Malah, wajah imut-imutnya juga ikut basah.</p>
<p style="text-align: justify;">***</p>
<p style="text-align: justify;">Tiga cewek itu sekarang sudah di mobil lagi. Mulut-mulut mereka yang penuh air mani sudah dilakban, sedang tangan diikat di belakang punggung. Tiga cewek bugil itu digeletakkan begitu saja di lantai tengah mobil. Yani yang pertama siuman, merintih dan menggeliat. Dua temen gue yang jaga di jok tengah lalu mengangkatnya hingga duduk di tengah-tengah. Lagi-lagi payudara montoknya diremas-remas dan putingnya disedot-sedot. Yani cuma bisa merintih.</p>
<p style="text-align: justify;">Tapi ia mengerang kesakitan waktu dua ujung gagang kuas lukis yang runcing didorong di atas dua putingnya sampai tak bisa maju lagi.<br />
&#8220;Ini bagus dan menarik,&#8221; kata temen gue lalu mengikat empat kuas dengan karet gelang di dua ujung gagang kuas, masing-masing dua kuas. Ia lalu merenggangkan kedua kuas dan menyelipkan payudara Yani di antaranya. Selanjutnya, tarikan dilepas sehingga kuas kembali merapat dan menjepit erat gumpalan daging montok itu di pangkalnya. Dua buah dada Yani diperlakukan seperti itu, sehingga menggelembung dan makin lama makin terlihat merah kehitaman. Yani merintih dan menggeliat-geliat kesakitan.</p>
<p style="text-align: justify;">Lalu Poppy yang menyusul siuman juga diperlakukan sama. Terakhir, begitu sampai Kasongan, Umi siuman. Perlakuan yang diterimanya nyaris sama. Bedanya, cuma dua kuas yang menjepit di payudaranya. Tapi, pasti sakit sekali karena yang dijepit adalah dua putingnya sekaligus.</p>
<p style="text-align: justify;">Rumah Yani dini hari itu sepi sekali. Maka mobil langsung masuk garasi yang memiliki pintu tembus ke kamar Yani. Tiga pigura besar langsung disiapkan temen-temen gue. Lalu cewek-cewek yang masih menggeliat kesakitan itu, kita &#8216;pigura&#8217; dengan tangan terikat di frame atas, kaki di frame bawah.<br />
&#8220;Ini pasti lucu,&#8221; kata temen gue sambil bawa masuk dongkrak mobil. Diputarnya dongkrak sehingga bagian pengangkat turun merapat dan ulirnya yang berdiameter tiga senti menonjol tiga senti. Lalu dibuatnya Umi duduk di atas dongkrak. Otomatis besi berulir menusuk memeknya. Lalu diputarnya lagi dongkrak sehingga turun dan besi berulir naik. Umi mengerang kesakitan, sebab begitu besi pengangkat rapat, besi berulir itu mencuat ke dalam memeknya sedalam 10 senti lebih.</p>
<p style="text-align: justify;">Darah perawannya bercampur air manipun menetes ke dongkrak dan lantai keramik putih. Sedang Yani dan Poppy dipigura pada posisi berdiri. Dua puting Yani dan Poppy lalu disentuh dengan raket nyamuk. Sekejap tapi dua cewek itu langsung melonjak dan mengerang kesakitan. Lalu gagang raket ditusukkan ke dalam memek Poppy. Lubang pantatnya dimasuki lima kuas dengan bulu di dalam. Di memek Yani gue masukin dua baterai besar dan satu di pantatnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Tiga buah pancing lalu gue ikat di pigura Yani. Lalu, tiga kail gue tancapkan di pentil dan klitorisnya. Yani mengerang hebat waktu tali pancing gue gulung sampai menarik tiga titik peka itu. Sampai akhirnya, Yani pingsan lagi.<br />
&#8220;Kamu berdua harus pingsan lagi ya?&#8221; kata gue kepada Poppy dan Umi yang ketakutan waktu ngelihat enam tusuk gigi lancip di tangan gue.<br />
Pertama-tama Poppy yang mengerang hebat waktu dua tusuk gigi gue tancepin di dua pentilnya sampai lima senti. Darah lalu mengalir dan menetes lewat ujung tusuk gigi. Waktu klentitnya yang gue tusuk dari bawah sampai tembus ke atas, Poppy mengerang lagi dan tubuhnya kejang sampai akhirnya lemas, pingsan.</p>
<p style="text-align: justify;">Sekarang Umi yang ketakutan. Gue tarik satu persatu putingnya, gue tusuk tembus melintang sehingga nyangkut di gagang kuas. Darah juga menitik lewat ujung tusuk gigi. Seperti Poppy, dia juga pingsan waktu klentitnya juga gue tusuk tembus melintang.</p>
<p style="text-align: justify;">***</p>
<p style="text-align: justify;">Keadaan sepi, gue dan temen-temen membuka lebar korden ruang tamu, lalu menyalakan lampu. Cepat kami cabut dari situ sambil melihat pemandangan indah di ruang tamu&#8230;</p>
<p style="text-align: justify;">***</p>
<p style="text-align: justify;">Seminggu kemudian, gue mampir ke rumahnya. Berlagak nggak tahu, toh Yani, Poppy dan Umi juga nggak tahu kalo gue yang merkosa mereka. Tapi gue kaget juga waktu yang membuka pintu bukan mereka, tapi seorang gadis berjilbab putih panjang dan jubah ungu.<br />
&#8220;Saya Kantuningsih. Saya kos di sini,&#8221; kata gadis berwajah khas Jawa itu.<br />
&#8220;Bu Yani kemana?&#8221;<br />
&#8220;Bu Yani sekarang tinggal di Klaten&#8230;&#8221; sahutnya.<br />
Ow&#8230; ow&#8230; gue kecewa. Tapi entar dulu, kapan-kapan si Kantun ini perlu disodok juga memeknya. Temen-temen gue harus dikasih tau</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ceritasex.cn/nikmatnya-jadi-polisi-gadungan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bayar Hutang Yang Kebablasan&#8230;</title>
		<link>http://www.ceritasex.cn/bayar-hutang-yang-kebablasan/</link>
		<comments>http://www.ceritasex.cn/bayar-hutang-yang-kebablasan/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 18 Mar 2011 21:56:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cerita Sex</dc:creator>
				<category><![CDATA[anal seks]]></category>
		<category><![CDATA[Gangbang Rame Rame]]></category>
		<category><![CDATA[Orgy]]></category>
		<category><![CDATA[Paruh baya]]></category>
		<category><![CDATA[anti]]></category>
		<category><![CDATA[anus]]></category>
		<category><![CDATA[gangbang]]></category>
		<category><![CDATA[hutang]]></category>
		<category><![CDATA[istri]]></category>
		<category><![CDATA[ngentot]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ceritasex.cn/?p=2078</guid>
		<description><![CDATA[Ini adalah ceritaku&#8230; Namaku adalah Anti umurku 29 tahun, aku adalah seorang istri dari seorang lelaki bernama Bayu yang umurnya juga sama denganku. Aku hanyalah seorang ibu rumah tangga, sedangkan Bayu bekerja hanya kalau sedang ada proyek saja. Kalau sedang tidak ada proyek maka Bayu hanya diam di rumah dan tidak berusaha untuk mencari pekerjaan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Ini adalah ceritaku&#8230; Namaku adalah Anti umurku 29 tahun, aku adalah seorang istri dari seorang lelaki bernama Bayu yang umurnya juga sama denganku. Aku hanyalah seorang ibu rumah tangga, sedangkan Bayu bekerja hanya kalau sedang ada proyek saja. Kalau sedang tidak ada proyek maka Bayu hanya diam di rumah dan tidak berusaha untuk mencari pekerjaan tetap yang bisa menjamin hidup kami. Selama 3 tahun pernikahan kami, Bayu tidak pernah bekerja tetap di satu perusahaan. Entah untungnya atau sialnya kami sampai sekarang belum dikarunai seorang anak. Akibat dari Bayu yang tidak mempunyai pekerjaan tetap akhirnya dia mempunyai hutang dimana-mana. Sampai suatu saat ada orang yang datang ke rumah kami dan marah-marah karena Bayu belum juga membayar hutangnya. Pada saat itu aku hanya bisa menemani Bayu di sisinya menghadapi kata-kata kasar orang yang dihutangi oleh Bayu. Aku sendiri melihat gelagat yang aneh dari orang itu. Sambil marah-marah matanya seringkali tertangkap olehku sedang melirik ke arahku.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku sendiri memang mempunyai tubuh yang cukup bagus menurutku. Tinggi 170cm (termasuk tinggi untuk perempuan lokal), berat 60kg, kulit sawo matang, dengan ukuran dada 36. Kehidupan seks kami tidaklah bermasalah walaupun tidak bisa dibilang istimewa. Bayu selalu dapat memuaskanku walaupun dia adalah seorang yang konservatif yang selalu bermain dengan gaya yang itu-itu saja. Beberapa hari setelah rumah kami didatangi oleh orang yang menagih hutang, aku melihat orang tersebut di jalan ketika aku mau pergi ke rumah saudaraku. Tadinya aku akan meminjam uang dari saudaraku untuk menutupi hutang Bayu pada orang tersebut, tapi ditengah jalan aku mempunyai pikiran lain. Aku ikuti orang tersebut untuk mengetahui dimana rumahnya. Tadinya niatku hanya untuk mengetahui saja, tapi akhirnya aku mempunyai niat lain. Aku putuskan untuk menggadaikan tubuhku untuk melunasi hutang-hutang suamiku kepada orang itu. Setelah aku mantap dengan niatku, beberapa hari kemudian aku memberanikan diri untuk mendatangi rumah orang tersebut.</p>
<p style="text-align: justify;">Rumah orang itu memang sangat besar dan sangat mewah. Setelah berhasil mengatasi rasa gugupku akhirnya kuberanikan diri untuk memencet bel. Tak lama kemudian seorang lelaki kurus yang kupikir adalah pesuruh di rumah itu keluar. “Nyari siapa bu?” “Hmm. Bapaknya ada?” tanyaku pada lelaki tersebut. “Ibu siapa? Biar saya sampaikan ke Bapak.” “Bilang aja dari istrinya pak Bayu.” Akhirnya pesuruh itu masuk ke dalam rumah dan tak lama berselang dia keluar lagi untuk membukakan pagar. “Tunggu aja di ruang tamu bu.” Katanya padaku. Langsung saja aku menuju ke arah yang ditunjuknya. Sebuah pintu dari kayu jati dengan ukiran yang sangat cantik. Belum juga aku sampai ke depan pintu, pintu tersebut sudah dibuka dari dalam. Rupanya yang membukakan pintunya adalah orang yang kucari. Orang dengan perawakan kurang lebih 180cm dan kuperkirakan beratnya 75kg. Aku perkirakan umurnya sekitar 50 tahun. Berkulit hitam dan terlihat masih segar. Kesan angker yang ditunjukkannya pada saat menagih hutang tidak ada sama sekali pada saat aku datang.</p>
<p style="text-align: justify;">Justru aku menangkap kesan ramah dan sopan dari dia. Dia langsung menjabat tanganku sambil menyebut namanya. “Broto. Mari masuk bu&#8230;” “Anti” Jawabku langsung ketika melihat dia kebingungan. “Oh iya. Bu Anti silahkan masuk” Aku langsung masuk menuju ruang tamu. Dan Pak Broto langsung memersilakan aku untuk duduk. “Mau minum apa bu Anti?” “Ah gak usah repot-repot pak” jawabku dengan gaya basa-basi bangsa timur. Akhirnya Pak Broto menyuruh pembantunya untuk membuatkan sirup. Sambil menunggu minuman datang pak Broto memulai pembicaraan, sekaligus untuk mencairkan suasana yang kaku. Seolah-olah dia tahu kalau aku gugup dan grogi bertemu dengannya. Kuakui dia adalah sosok yang bisa membuat pembicaraan menjadi santai. Ditambah lagi mungkin dengan wawasan yang cukup luas sehingga dia sepertinya tidak pernah kehabisan bahan pembicaraan layaknya penyiar radio yang selalu ngoceh sepanjang jam siaran. Semakin jauh kami berbicara justru aku semakin kehilangan rasa gugupku yang tadi menghinggapi. Obrolan kami sempat terhenti karena pembantu pak Broto datang membawakan minuman pesananan majikannya.</p>
<p style="text-align: justify;">“Silahkan diminum bu Anti” “Oh iya pak. Terima kasih.” Tak lama langsung saja kuteguk minuman yang disuguhkan. “Koq sepi ya pak? Istri bapak lagi keluar?” Tanyaku unuk memulai obrolan kembali. “Istri saya sudah lama meninggal.” “Oh maaf pak, saya gak tahu” “Oh gak apa-apa. Oh iya bu Anti sudah berapa lama menikah dengan pak Bayu?” “Tiga tahun pak. Tapi ya gitu deh pak. Mas Bayu gak pernah punya kerjaan tetap. Jadi makin lama makin numpuk aja hutangnya. Ditambah lagi sampai sekarang kami belum juga punya anak” kataku sekalian curhat sedikit ke pak Broto. Setelah disinggung soal hutang, pak Broto akhirnya menanyakan perihal hutang suamiku. Dan dia juga bercerita bahwa sebenarnya suamiku tidak hanya berhutang kepadanya tapi juga ke teman-teman pak Broto. Jujur saja aku kaget, karena selama ini suamiku tidak pernah berkata jujur perihal hutangnya. Rupanya pak Broto sudah menyimpan rencana sendiri yang kurang lebih mirip dengan rencanaku.<br />
<span id="more-2078"></span><br />
Dan akhirnya rencana itu disampaikan kepadaku, bahwa hutang suamiku bisa lunas dengan catatan aku mau diajak bercinta dengannya. Pengurangan hutang suamiku satu juta setiap aku melayaninya. Dan itu berlaku juga untuk hutang suamiku dengan teman-temannya yang ternyata ada dua orang lagi. Dan ternyata suamiku berhutang sepuluh juta ke setiap orangnya. Ini berarti aku harus bercinta tiga puluh kali, dengan setiap orangnya aku layani sepuluh kali. Aku sempat berpikir juga melihat keadaan yang seperti itu, tapi demi melunasi hutang suamiku akhirnya aku sanggupi permintaannya. Akhirnya aku disuruh kembali lagi keesokan harinya, karena hari itu Pak Broto sudah mempunyai janji dengan rekan bisnisnya. Sebelum pulang aku menanyakan apakah teman-temannya berkenan dibayar hutangnya dengan tubuhku? Dan Pak Broto berhasil meyakinkan bahwa teman-temannya pasti akan satu suara dengannya. Akhirnya keesokan harinya aku datang kembali ke rumah Pak Broto. Hari itu aku untuk pertama kalinya berdandan bukan untuk suamiku, tapi untuk laki-laki lain.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku datang dengan pakaian tetap casual saja. Toh pikirku nantinya pakaian ini juga tidak berguna karena ketika aku menunaikan tugasku baju ini harus dilepas. Yang jelas aku mempersiapkan mentalku untuk hal ini. Karena ini juga untuk pertama kalinya aku akan disetubuhi oleh laki-laki yang bukan suamiku. Dan yang jelas aku juga mempersiapkan vaginaku. Semua bulu-bulu yang tumbuh disekitar vaginaku kucukur habis, sehingga vaginaku bisa terlihat dengan jelas. Sesampainya di rumah Pak Broto aku disambut dengan hangat, Pak Broto mencium punggung tanganku dan kedua pipiku. Diriku agak canggung menerima perlakuan yang diberikan kepadaku, karena dia bukan suamiku. Tetapi aku sendiri tidak pernah diperlakukan seperti itu oleh suamiku. Saat itu aku merasa diperlakukan layaknya seorang perempuan. Dia tidak menunjukkan bahwa dia hawa nafsunya, tapi justru menunjukkan sikap seorang lelaki dewasa yang membuatku sedikit “terbius” oleh perlakuannya. Setelah sambutan hangatnya aku langsung diajak menuju kamarnya. Kamar yang cukup mewah bagiku.</p>
<p style="text-align: justify;">Dan rupanya Pak Broto telah menyulap kamarnya menjadi begitu indah. Wangi bunga telah memenuhi seisi kamarnya. Ketika aku masih terpesona dengan kamarnya yang mewah tiba-tiba dia memelukku dari belakang. Refleks dan sedikit terkejut membuat diriku agak memberontak. Tetapi dia meyakinkan diriku untuk tenang dan menikmati saja saat-saat tersebut. Dia mulai menciumi leher dan kupingku yang jelas membuatku terangsang. Lalu dia membalikkan tubuhku sehingga kami saling berhadapan. “Boleh kupanggil Anti saja?” tanyanya padaku. “Hmm.. boleh aja pak” “Wah. Jangan panggil pak dong. Panggil saja Broto. Supaya lebih mesra.” “Iya Broto. Boleh aja kalau kamu mau panggil aku Anti.” aku mulai menikmati keadaan. “Hmm.. Anti. Sebenarnya ada satu lagi kejutan untukmu hari ini.” “Apa itu?” Belum dia menjawabnya tiba-tiba pintu kamar terbuka. Lalu ada dua orang memasuki kamar tersebut. Hal itu jelas saja membuat aku kaget. “Ini dia kejutannya. Ada dua orang lagi temanku yang dihutangi suamimu yang ingin ikut bermain dengan kita.”</p>
<p style="text-align: justify;">“Tapi Broto&#8230;” “Tenang saja. Kalau kau melayani kami sekaligus maka bayarannya dinaikkan menjadi 1,5 juta untuk sekali main. Tidak lagi satu juta.” Sebenarnya aku agak keberatan juga dengan keadaan itu. Tapi karena suasana yang tercipta sudah kunikmati akhirnya aku menyetujuinya. Kedua temannya memang berbeda sekali dengannya. Temannya yang satu bernama Faisal, keturunan Arab mempunyai dan berkulit putih. Sedangkan yang satunya bernama Hans, keturunan Cina. Tapi yang jelas ketiganya mempunyai postur tubuh yang sama. Tinggi besar dan tegap. Beda sekali dengan suamiku yang tingginya kira-kira sama denganku dan mempunyai tubuh yang tidak sebagus mereka. Jujur saja diam-diam aku mulai mengagumi mereka bertiga dan mulai membayangkan disetubuhi oleh mereka bertiga. Aku sudah lagi tidak peduli dengan suasana romantis di kamar Pak Broto, tapi aku sudah mulai membayangkan suasana liar yang akan terjadi berikutnya. Tiba-tiba saja Pak Broto sudah mulai mencium bibirku.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku yang dari tadi sedang menghayal jelas terkejut, walaupun tidak lama dan langsung membalas ciuman dari Pak Broto. Tak lama berselang Faisal dan Hans langsung bergabung. Faisal datang dari belakangku dan langsung menciumi leherku sedangkan Hans langsung ke tujuan dengan meremas kedua dadaku. Hal ini jelas saja membuat nafsuku meledak. Aku tidak tahan untuk tidak bersuara, dan akhirnya akupun mulai mengeluarkan desahan dari mulutku. Setelah itu bajuku dan celana panjang yang aku pakai mulai dilepas dari tubuhku sehingga terlihat bra dan cd yang aku kenakan. Hal ini jelas saja membuat mereka bertiga tambah liar untuk menjamah tubuhku. Dan tak lama berselang bra dan cdku pun ikut lepas dari tubuhku sehingga aku benar-benar bugil. Sudah tidak ada lagi perasaan canggung dan malu di diriku. Yang ada hanya nafsu yang sudah berada di ubun-ubun. Setelah itu mereka bertiga pun melepas pakaiannya masing-masing. Dan aku benar-benar tidak bisa menyembunyikan rasa kagetku ketika mereka bertiga sudah bugil.</p>
<p style="text-align: justify;">Karena mereka semua mempunyai ukuran penis yang sangat besar bagiku. Panjang penisnya sekitar 20 cm dan berdiameter kira-kira 4-5 cm. Aku sendiri tidak dapat membedakan secara pasti punya siapa yang paling besar. Karena ukuran penis mereka yang hampir sama. Tapi yang jelas berbeda sekali dengan punya suamiku yang hanya sekitar 13cm dengan diameter 2 cm. Aku dihadapkan dengan tiga penis raksasa. Perasaan takut dan penasaran bercampur aduk di diriku. Takut karena belum pernah melihat penis dengan ukuran sebesar itu. Penasaran karena perempuan mana yang tidak mau vaginanya dimasuki penis seperti itu. Setelah semuanya bugil mereka membimbingku untuk jongkok, dan setelah itu mereka semua mengelilingiku. Mereka minta dioral secara bergantian. Lalu kulakukan permintaan itu dengan senang hati walaupun agak bersusah payah. Aku sering mengoral suamiku, tetapi yang ini beda. Tiga penis dengan ukuran jauh dari penis suamiku. Ukuran penis mereka membuat aku agak gelagapan dan sedikit sesak nafas awalnya. Tapi lama-lama akhirnya aku bisa menguasai keadaan juga.</p>
<p style="text-align: justify;">Ketika aku mengoral penis pak Broto kedua tanganku mengocok penis Hans dan Faisal, begitu seterusnya. Jika satu sedang kuoral maka yang dua lagi kebagian kocokan tanganku. “Aarrrgghhh nikmat sekali seponganmu anti” ucapan itu terlontar dari Faisal ketika mendapat giliran dioral olehku. Hans mendapat giliran terakhir untuk kuoral. Dan ketika giliran Hans mereka membimbingku ke arah tempat tidur. Rupanya mereka memintaku untuk mengoral Hans sambil terlentang sementara penis Hans berada di atas mulutku. Ketika sedang asik-asiknya menikmati penis Hans, tiba-tiba kurasakan rangsangan hebat di kedua payudaraku dan di vaginaku. Rupanya Faisal sedang asik menggerayangi kedua payudaraku. Dia sedang asik meremas dan menjilati kedua payudaraku. Sedangkan Pak Broto berada di selangkanganku, dia terlihat asik menjilati vaginaku. Terang saja aku mengoral Hans sambil mengerang (ingin berteriak tidak bisa karena mulutku disumpal penis Hans) keenakan karena perlakuan kedua orang tadi terhadap dua tempat sensitif di tubuhku.</p>
<p style="text-align: justify;">Tak lama kemudian Hans melepaskan penisnya dari mulutku lalu bergabung dengan Faisal untuk menikmati payudaraku. Faisal menggarap payudara kiriku sedangkan Hans yang kanan pak Broto tetap menjilati vaginaku. Hal ini membuatku terangsang hebat sehingga tidak tahan lagi untuk berteriak dan meracau. “Aarrrrgghhh, nikmat banget&#8230; teruuussss&#8230; aaarrgghhh&#8230; aayoo teruusss” Akhirnya aku sampai juga pada orgasmeku yang pertama. Tak lama kemudian aku merasakan sesuatu menempel di bibir vaginaku. Setelah kulirik ternyata pak Broto sudah siap memasukkan penisnya itu ke dalam vaginaku. Aku merasakan penis pak Broto semakin lama semakin mendesak vaginaku. Aku merasa seperti perawan lagi karena begitu susahnya penis pak Broto memasuki vaginaku. Terang saja susah, penis sebesar itu mencoba masuk ke dalam vaginaku yang biasanya hanya dimasuki penis Bayu yang sekarang menjadi biasa bagiku. Terbantu oleh vaginaku yang sudah basah akhirnya penis pak Broto berhasil masuk juga. Perlahan-lahan pak Broto mulai menggoyangkan penisnya keluar masuk di vaginaku.</p>
<p style="text-align: justify;">“Arrrghhh broto&#8230; terus&#8230; cepetin donkk.. entotin&#8230;” aku sudah meracau tak karuan karena penis pak Broto yang menghadirkan kenikmatan yang luar biasa. Ditambah lagi Hans dan Faisal yang masih sibuk dengan kedua payudaraku. Akhirnya setelah dirasa lancar pak Brotopun mulai mempercepat goyangannya. Baru beberapa goyangan saja aku sudah orgasme lagi padahal kulihat pak Broto masih kuat menggoyang penisnya. Makin lama makin cepat dan cepat sampai akhirnya aku tak tahan dan sampai pada orgasme ku yang kesekekian kali. Setelah agak lama terasa goyangan pak Broto semakin cepat dan cepat kemudian sampai pada goyangan dia yang terakhir, tubuhnya mengejang keras sekali, suaranya melenguh setengah berteriak. Dan aku bisa merasakan kalau dia orgasme. Semburan spermanya di dalam vaginaku terasa sekali. Tak lama berselang pak Broto mencabut penisnya dan aku didatangi oleh Hans dan Faisal yag tampak sudah tidak sabar. Aku lihat Hans membawa baby oil. “Untuk apa?” tanyaku. “Sudahlah nikmati saja” begitu kata Hans.</p>
<p style="text-align: justify;">Karena memang gairahku masih diatas akhirnya aku tidak pedulikan lagi. Tak lama mereka memintaku untuk berposisi doggy style, dan aku iyakan saja toh aku juga terbiasa dengan gaya itu. Tapi betapa kagetnya ketika kurasakan Hans menumpahkan baby oil di lubang pantatku dan di penisnya lalu kemudian berusaha memasukkan penisnya itu ke pantatku. Tadinya aku ingin berontak, tetapi Faisal memegangi tubuhku dengan erat supaya tidak berontak. Terasa sedikit sakit ketika penis Hans mencoba untuk memasuki lubang pantatku tetapi kemudian setelah masuk terasa nikmat yang luar biasa juga. Tidak kalah dengan nikmatnya ketika masuk ke vagina. Lalu Hans kemudian mulai untuk menggoyang penisnya di dalam pantatku. Ketika sudah lancar dan baru beberapa saat Hans meminta merubah posisi tanpa melepaskan penisnya dari pantatnya. Kami berdua terlentang dan bertindihan dengan aku diatasnya. Sehingga makin kurasa Penis itu bergerilya di lubang pantatku.</p>
<p style="text-align: justify;">Tak lama kemudian Faisal menghampiri kami dan sudah siap dengan penisnya yang sudah berdiri tegak dan diarahkan ke vaginaku yang terbuka menantang. Akhirnya Faisal memasukkan penisnya ke dalam vaginaku berbarengan dengan Hans dia menggoyangkan penisnya keluar masuk vaginaku. Sebuah pengalaman luar biasa yang belum aku alami sebelumnya. Aku disetubuhi dua laki-laki secara bersamaan. Benar-benar terasa nikmat sekali, ditambah lagi keduanya ditambah pak Broto merupakan sosok lelaki gagah, tampan dan enak dipandang. Pergumulan kami bertiga tak terasa membuatku orgasme berkali-kali, karena rasa nikmat yang luar biasa. Dan akhirnya Faisal dan Hans secara bersamaan mencapai orgasmenya. Hans mengerluarkan spermanya di dalam pantatku sedang Faisal di dalam vaginaku. Setelah itu kami berempat mebersihkan diri, dan rupanya di meja makan sudah disiapkan makanan untuk kami berempat. Setelah kami makan akhirnya aku izin untuk pulang dan tidak lupa membuat janji untuk pertemuan berikutnya dengan mereka.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah kejadian itu aku merasakan tidak nafsu lagi dengan Bayu ketika dia mengajakku untuk bersetubuh. Aku hanya berusaha menjalankan kewajibanku saja. Tetapi jujur saja aku tidak merasa puas. Karena aku sudah menemukan sesuatu yang lebih diluar sana. Dan setelah semua hutang-hutang Bayu lunas aku sering kali mendatangi mereka atau salah satu dari mereka untuk minta disetubuhi. Aku sudah sampai pada taraf ketagihan yang luar biasa. Pada akhirnya akupun jujur kepada Bayu tentang hal yang selama ini terjadi. Dia terkejut, tapi tak biasa marah karena aku melakukan itu untuk melunasi hutang-hutangnya. Setelah kutanyai apakah dia ingin menuntut cerai diriku, dia tidak mau menceraikanku dengan alasan dia masih sayang. Aku memberikan syarat kepada Bayu yaitu, aku bebas bersetubuh dengan ketiga orang itu kapanpun dan dimanapun aku mau tanpa harus dicemburui. Akhirnya Bayu menyetujuinya, karena masih menyayangiku. Pernah suatu saat ketika Bayu pulang ke rumah dia mendapati diriku sedang bersetubuh dengan ketiga pria tersebut.</p>
<p style="text-align: justify;">Ketika dia akan pergi justru dia dipaksa untuk duduk dan menyaksikan kami oleh pak Broto, Hans dan Faisal. Bahkan dia juga ditelanjangi oleh mereka didepanku. Mereka sengaja melakukan itu hanya untuk membandingkan ukuran penis mereka dan Bayu dan memang penis Bayu menjadi terlihat kecil sekali. Sebenarnya aku kasihan melihatnya diperlakukan seperti itu. Tetapi karena hawa nafsu yang sudah menguasai diriku, maka tak kuacuhkan dia dan aku hanya melayani penis-penis raksasa yang dapat memuaskan vaginaku.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ceritasex.cn/bayar-hutang-yang-kebablasan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Larasati, Malam Ini…</title>
		<link>http://www.ceritasex.cn/larasati-malam-ini/</link>
		<comments>http://www.ceritasex.cn/larasati-malam-ini/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 24 Jan 2011 23:17:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cerita Sex</dc:creator>
				<category><![CDATA[anal seks]]></category>
		<category><![CDATA[Daun Muda]]></category>
		<category><![CDATA[Paruh baya]]></category>
		<category><![CDATA[Sedarah]]></category>
		<category><![CDATA[selingkuh]]></category>
		<category><![CDATA[birahi]]></category>
		<category><![CDATA[isep kontol]]></category>
		<category><![CDATA[kontol]]></category>
		<category><![CDATA[larasati]]></category>
		<category><![CDATA[memek]]></category>
		<category><![CDATA[ngentot]]></category>
		<category><![CDATA[orgasme]]></category>
		<category><![CDATA[vagina]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ceritasex.cn/?p=1888</guid>
		<description><![CDATA[Cerita ini merupakan kelanjutan kisahku yang lalu&#8230; Aku dan Laras baru selesai mandi bersama dan akan berganti pakaian, saat ponselku berdering, ternyata telepon dari isteriku yang tadi berangkat ke Australia. “Dari siapa Yah…?” tanya Laras sambil memakai bra. “Bunda” jawabku “Terus Laras gimana, Yah…?” tanya Laras nampak khawatir. Aku memberi isyarat supaya dia tenang. Setelah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Cerita ini merupakan kelanjutan kisahku yang lalu&#8230;</p>
<p style="text-align: justify;">Aku dan Laras baru selesai mandi bersama dan akan berganti pakaian, saat ponselku berdering, ternyata telepon dari isteriku yang tadi berangkat ke Australia.</p>
<p style="text-align: justify;">“Dari siapa Yah…?” tanya Laras sambil memakai bra. “Bunda” jawabku “Terus Laras gimana, Yah…?” tanya Laras nampak khawatir. Aku memberi isyarat supaya dia tenang. Setelah tekan tombol ‘yes’ aku aktifkan speaker-phone agar Laras bisa mendengar pembicaraan kami. Dalam kondisi sekarang ini aku tidak ingin Laras merasa aku merahasiakan sesuatu dari dia. Bagaimanapun hari ini adalah hari pertama aku selingkuh dengan Laras, aku tidak ingin mengacaukan saat-saat seperti ini. Laras kembali memakai seragam sekolahnya walaupun agak kusut.</p>
<p style="text-align: justify;">“Sore Bunda, nginap dimana?” tanyaku<br />
“Di Causeway 353 Hotel” jawab isteriku.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah berbasa-basi dengan isteriku, aku memberi tahu kalau aku bersama Laras. Dari dulu isteriku ingin punya anak perempuan, tapi tidak mau hamil lagi. Laras yang sering datang ke rumah di luar jadwal pertemuan anak asuhku membuat Laras dan isteriku menjadi sangat dekat. Mungkin bagi Laras, kami adalah orang tuanya, sedangkan bagi isteriku, dia seperti mendapatkan anak perempuan kandung. Isteriku sudah sering mengusulkan agar Laras tidur di rumah saja supaya bisa mengawasi Laras sampai rencana kami mengirim Laras ke Australia untuk kuliah terlaksana.</p>
<p style="text-align: justify;">“Oh iya, Bund. Ini ada Laras” kataku lagi sambil meraih tangan Laras. Laras tadinya menolak tapi aku segera memberi isyarat agar dia tenang dan wajar. “Laras…? Hei… apa kabar Sayang…?” tanya isteriku pada Laras “Baik Bunda…”</p>
<p style="text-align: justify;">Cukup lama Laras bicara dengan isteriku. Berkali-kali Laras melirik minta persetujuanku untuk menjawab pertanyaan isteriku. Ternyata benar dugaanku, isteriku merasa senang setelah tahu ada Laras di rumah. Salah satu pesannya kepada Laras adalah mengawasi dan menjaga menu makananku.</p>
<p style="text-align: justify;">Akhirnya isteriku memberi tahu Laras kalau setelah lulus nanti, kami berencana mengirim Laras ke Australia untuk kuliah disana. Dia juga minta Laras pindah ke rumah kami. Sejenak Laras bengong tak percaya sampai aku ikut bicara meyakinkan Laras.</p>
<p style="text-align: justify;">“Makasih Ayah” kata Laras setelah telepon ditutup sambil memeluku dengan erat dan menciumi wajahku. “Laras tak pernah membayangkan kalau bisa kuliah ke luar negeri” “Itu karena usaha Laras sendiri. Ayah lihat Laras nilai rapotnya sangat bagus, jadi sayang kalau hanya kuliah disini.” Jawabku. “Sekarang kita makan dulu untuk merayakan berita gembira ini.”<br />
<span id="more-1888"></span><br />
Aku angkat telepon antar ruang dan bicara dengan Ayu untuk menanyakan apakah pakaian Laras sudah dikirim dari rumah asuh. Ternyata pakaian Laras sudah sampai dan diletakkan di ruang keluarga. Aku suruh Laras mengambil tasnya. Setelah Laras berganti pakaian kami berangkat menuju mall yang baru di buka di jalan Pemuda. Mall dengan hotel ini cukup megah. Setelah makan di salah satu cafe, aku ajak Laras berbelanja pakaian, sepatu, dan kosmetik. Laras bingung ketika memilih, rupanya dia baru pertama kali mengenal baju, parfum, dan lain-lain yang harganya di atas satu juta rupiah. Selama ini penghuni rumah asuh ku hanya dibelikan pakaian yang sederhana, walapun bukan murahan. Harganya tidak sampai tiga ratus ribu satu stel. Kosmetik yang dibelikan isteriku mereka hanya merek lokal, jadi harganya tidak terlalu mahal. Akhirnya aku bantu dia memilih barang-barang yang akan dibelinya, salah satunya adalah lingerie dengan tali di bahu. Aku bayangkan Laras pasti sangat seksi memakai lingerie ini. Ketika membayar belanjaan Laras, aku baru tahu, dia membeli lotion untuk vagina juga. Aku tersenyum ketika Laras terlihat malu ketika aku ketahui dia membeli lotion vagina.</p>
<p style="text-align: justify;">Hampir jam sembilan malam kami sampai di rumah. Satpam yang membukakan gerbang memberi tahu kalau para pembantu dan tukang kebun sedang asyik nonton TV di paviliun belakang, sehingga kedatangan kami tidak mereka sadari. Kami langsung ke kamar tidurku.</p>
<p style="text-align: justify;">“Laras boleh tanya sama Ayah?” kata Laras tiba-tiba. “Boleh. Kenapa?” “Apa Bunda nggak marah, kalau tahu Ayah menghabiskan uang banyak buat Laras?” “Kenapa mesti Bunda marah, Sayang? Laras dengar sendiri di telepon tadi. Bunda juga sayang sama Laras. Ayah dan Bunda tidak punya anak perempuan, itu sebabnya Bunda ingin Laras tinggal di sini, bukan di rumah asuh… Ayah sama Bunda sudah lama ingin mengangkat Laras menjadi anak secara resmi. Hanya karena rumah asuh itu dikelola Bunda, agak sulit prosedurnya. Akhirnya Ayah sama Bunda memutuskan agar Laras tinggal disini, resmi sebagai anak atau tidak sudah tidak penting lagi” kataku menjelaskan.</p>
<p style="text-align: justify;">“Iya sih, tapi…” kata-kata Laras terhenti. Aku tersenyum dan tetap diam menunggu Laras melanjutkan kata-katanya. “Kita sudah seperti suami isteri… Ayah, Laras sudah mengkhianati Bunda” kata Laras lagi. Ada keraguan dan penyesalan nampak di nada suaranya.</p>
<p style="text-align: justify;">“Sudahlah Laras. Semuanya sudah kita lakukan dengan penuh kesadaran. Kita menikmati hari ini dengan penuh gairah dan kenikmatan. Bunda juga menyusuh Laras tidur di sini untuk menemani Ayah.” kataku untuk menenangkannya. “Kalau nanti Laras tinggal disini, pati Bunda juga akan membelikan Laras baju, sepatu dan lain-lain. Nah, sekarang Laras istirahat dulu. Besok Ayah antar ke sekolah.”</p>
<p style="text-align: justify;">Laras menjawab dengan anggukan kepalanya sambil tersenyum yang dipaksakan lalu segera menyiapkan buku-buku pelajaran buat sekolah besok. Selesai menyiapkan buku dan seragamnya, Laras minta ijin untuk ke kamar mandi. Kali ini dia wanti-wanti agar aku tidak ikut.</p>
<p style="text-align: justify;">“Iya deh… Ayah tunggu disini” aku tertawa mengiyakan. Aku tahu, Laras pasti akan menggunakan lotion vaginanya. “Awas kalau ayah ngintip. Nanti nggak dikasi yang asyik-asyik…” kata Laras sambil melotot lucu.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah keluar dari kamar mandi, aku minta untuk memakai lingerie yang baru aku belikan. Aku duduk di sofa untuk mengamati Laras melepas pakaiannya dan mengambil lingerie barunya. Laras menatapku sambil tersenyum. Nampaknya dia menyukai lingerie yang aku belikan. Tangannya meraih karet spandek celana dalamnya. Dengan gerakan matanya, Laras minta pendapatku apakah melepas celana dalam atau tetap dipakai. Aku memberi isyarat agar dia melepas celana dalam dan branya, karena lingerie itu terdiri dari rok pendek dan G-string. Laras memenuhi permintaanku. Bra dan celana dalamnya dilepaskan lalu memakai lingerie barunya. Setelah memakai lingerie, aku minta Laras memakai make up yang tadi aku belikan. Dia hanya menyapukan bedak di wajahnya, lalu mengoleskan lipstick tipis di bibirnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku benar-benar terpesona setelah Laras memakai lingerie barunya serta berdandan tipis seperti ini. Dia nampak sangat cantik dan seksi. Lingerie itu berbentuk terusan yang terbuat dari broklat pink transparan. Lingerie itu hanya menutup tubuh Laras mulai dari puting payudaranya sampai pangkal paha. Ada dua utas tali di bahu kanan dan kiri untuk menahan lingerie itu agar tidak terlepas. Lingerie itu memamerkan lekukan tubuh Laras dari dengan sempurna dan tidak terkesan norak. Bagian atas menampakkan bahu laras yang lembut dan agak bidang, nampak seksi. Payudaranya yang terlihat bagian atasnya nampak menonjol dan terangkat. Payudara seorang gadis yang baru mekar. Sedangkan bagian bawahnya memperlihatkan kedua paha dan kakinya yang panjang dan bersih mulus.</p>
<p style="text-align: justify;">Laras mendekati aku dengan bergaya seperti peragawati. Badannya lenggak-lenggok sengaja memancing birahiku, yang sudah bangkit sejak dia melepaskan pakaianya. Setelah kira-kira satu meter di depanku lenggokan tubuh Laras makin erotis. Gerakannya gemulai, pinggulnya bergerak dengan seksi, tangannya memegang rambutnya lalu diangkat ke atas. Kembali Laras meliukkan tubuhnya dengan tangan tetap menahan rambutnya. Aku benar-benar gemas dan terangsang menikmati gerakan Laras. kemudian tangannya memegang payudaranya lalu memijit dan meremas payudaranya sendiri, sambil sesekali mendesah.</p>
<p style="text-align: justify;">“Ayah… Laras cantik kan…?” tanya Laras sambil terus meremas payudaranya. “Ayah suka Laras berpakaian seperti ini…? Ayah juga suka Laras memakai make up…?” “Kamu cantik sekali Sayang.” Aku memujinya. Bukan untuk merayunya, tapi aku benar-benar tulus waktu mengatakannya. “Benar-benar cantik, juga seksi. Dengan lingerie ini, keindahan tubuh Laras benar-benar tampak” “Ah, Ayah bisa aja…” jawab Laras sambil duduk di pangkuanku dengan manja. “Laras jadi malu nih…” kedua tangannya memeluk leherku “Lho, kenapa…?” “Masa Laras dibilang seksi…” kata Laras sambil mendekatkan kepalaku di payudaranya.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku segera menggigit puting Laras dari luar lingerie. Tanganku aku lingkarkan di pinggangnya dan menyibakkan lingerienya bagian belakang dari bawah untuk meraih pantatnya</p>
<p style="text-align: justify;">“Aahh… Ayah suka nakal sih…?” kata Laras di sela desahan nafasnya yang mulai memburu. Kepalaku diremas sambil diciumi. “Tapi Laras suka kan…?” kataku menggodanya. Dia hanya tertawa menggoda. &#8220;Suka banget&#8230;&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Aku berdiri sambil mengangkat tubuh Laras. Dia aku gendong lalu berjalan mengitari kamarku yang berukuran lima kali tujuh meter persegi. Sambil berjalan, aku senandungkan lagu Everything I Do, I Do It for You yang biasa dinyanyikan Bryan Adam. Tangan Laras melingkar di leherku, bergayut manja. Aku berjalan sambil mengayun-ayunkan tubuh Laras seperti menina-bobokan seorang gadis kecil. Nampaknya dia menikmati sekali ayunan tanganku. Matanya setengah terpejam dengan mulut merekah. Aku dekatkan mulutku ke bibirnya, lalu perlahan aku gigit bibirnya lalu aku hisap dengan lembut.</p>
<p style="text-align: justify;">“Aahh…” Laras mendesah ketika lidahku menjilat langit-langit mulutnya. Kami berciuman sambil menggendong tubuh Laras. Desahan dan erangan Laras bersaing dengan suara kecupan bibirku pada bibirnya. Lalu kami saling lumat dan saling hisap. Aku bawa Laras ke tempat tidurku dan aku baringkan dia, sementara lidahku terus menghisap dan mengait lidahnya. Aku ingin mencoba suasana baru dalam persetubuhanku dengan Laras.</p>
<p style="text-align: justify;">Perlahan aku buka tali lingerie yang mengikat bahunya dengan mulutku. sesekali mulutku mengecup pundaknya sambil lidahku menjilat-jilat pundak Laras yang lunak tapi kenyal itu. Tali terlepas, tapi lingerie itu masih melekat pada tubuh Laras. kembali mulutku menurunkan sedikit lengerienya sampai dadanya terbuka, lalu aku kulum putingnya. Lidahku berputar dan mengait puting Laras yang sudah bertambah kenyal dan sekitar puting itu berubah berbintil-bintil. Nafsuku sudah mendekati puncak. Aku ingin menikmati Laras dengan cara lain. Aku berubah menjadi liar dan kasar. Kasar namun tidak sampai membuat Laras merasa sakit. Aku ingin memuaskan nafsuku dengan caraku sendiri. Dengan penuh semangat dan cepat aku cium leher Laras. Melihat kekasaranku, Laras agak terkejut. Aku semakin liar dan rakus menetek payudaranya. Rupanya Laras ikut terbawa suasana. Nafasnya terengah-engah terdengar di sela-sela erangannya.</p>
<p style="text-align: justify;">“Sshh… Ayah… aahh… sshh”</p>
<p style="text-align: justify;">Dengan tak kalah liar dia merengkuh kepalaku dan mencari-cari bibirku, lalu melumat bibirku sambil memasukkan lidahnya ke dalam mulutku. kupeluk Laras dengan erat sambil beradu lidah. Kami saling hisap dan saling sedot sambil saling mengait-kaitkan lidah dengan penuh nafsu dan liar. Aku menumpukan berat badanku pada tubuh Laras, sehingga tubuh kami saling melekat dengan erat. Kulepas ciumanku pada bibir Laras, lalu aku susuri leher Laras, kemudian berpindah ke payudaranya kembali. Dengan kasar aku cium dan aku hisap payudara dan putingnya. Laras menggelinjang seperti ingin berontak melepaskan diri dari pelukanku. Aku tahu Laras tidak ingin aku yang mengendalikan permainan. Laras menginginkan dia yang mengendalikan permainan seperti tadi siang.</p>
<p style="text-align: justify;">Laras ternyata memang tipe wanita agresif, selalu ingin menguasai permainan seks yang dilakukan. Dalam setiap berhubungan sex, wanita seperti dia tidak hanya ingin dibuat orgasme dan dipuaskan, tapi juga ingin memuaskan pasangannya. Wanita seperti dia juga dengan mudah muncul birahinya, seperti waktu melihat aku telanjang dada tadi siang.</p>
<p style="text-align: justify;">Tapi aku tak peduli. Aku tidak memberi kesempatan kepadanya untuk bertindak lebih jauh. Aku masih ingin mengendalikan permainan ini. Kedua tanganku meremas-remas payudara Laras. Mulutku menyusuri perutnya yang rata dan kenyal. Lidahku merayap dipermukaan kulit perutnya yang halus dan licin karena ludahku. Kecupan dan jilatan lidahku makin cepat, liar dan kasar. Aku merangkak mundur sehingga bibirku menyentuh perut bawahnya, tepat di atas vagina, lalu aku jilat dan aku kecup sambil menghisapnya. Laras melenguh dan menggelinjang. Aku ingin memberi tanda pada perut bagian bawah ini. Segera aku kecup lalu kusedot dengan kuat sambil menggigit pelan. Laras mengerang ketika aku menghisap dan menggigit perutnya. Beberapa saat kemudian, nampak bercak merah karena pembuluh darah di bagian itu melebar. Lima buah cupang aku letakkan berjajar membentuk huruf V di perut Laras.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah puas memberi cupang di perut bagian bawah, aku melepaskan lingerienya, tidak dengan tanganku, tapi tetap dengan mulut dan gigiku. Ada sensasi lain yang aku rasakan ketika bibirku menyentuh kulitnya saat melepas lingerie itu. Sensasi lain dengan kalau aku sekedar mencium seluruh tubuhnya. Sensasi sentuhan bibirku pada kulit Laras saat melepas lingeri juga dirasakan Laras. Berkali-kali suara lenguhan dan desisan kami bersahut-sahutan. Demikian pula saat melepas G-string yang melekat di selakangannya. Bibirkuku pun bersentuhan dengan vagina Laras. Kami kembali merintih, mengerang dan mendesah.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah seluruh tubuh Laras terbuka, dengan cepat aku pagut vagina Laras yang sudah basah berlendir. Lidahku dengan mantap menjilat dan bergetar pada klitorisnya, lalu vagina Laras aku hisap dan aku kilik-kilik dengan lidahku. Vaginanya mengeluarkan aroma berbeda dari tadi siang atau tadi sore. Itu karena Laras memakai lotion untuk vagina yang dia beli di mall. Aroma wangi menyusup hidungku membuat aku makin bersemangat untuk mengulum vagina dan klitorisnya. “Ahh… sshh” hanya itu kata-kata yang berkali-kali keluar dari mulut Laras, tak ada yang lain.</p>
<p style="text-align: justify;">Laras benar-benar menikmati permainanku. Badannya menggelinjang bergerak seperti ular yang menari karena mendengar tiupan seruling. Lidahku aku getarkan dengan cepat menyentuh bibir vagina Laras bagian dalam, sambil sesekali aku masukkan dan aku getarkan di dalam lubang vaginanya yang sangat sempit. Sesekali pula aku sedot saat kurasakan lendir vaginanya meleleh keluar sambil memasukkan klitorisnya ke dalam mulutku. Lalu aku masukkan hidungku ke dalam vaginanya. Sambil aku tekan, hidungku aku gesekkan di dalam lubang vagina Laras. sementara itu lidahku menjilat kulit antara anus dan vaginanya.</p>
<p style="text-align: justify;">“Auw…sshh… Ayaahh…” Laras menjerit saat lidahku menjilat kulit antara anus dan vaginanya. Sejenak dia bergetar, lalu Laras mengangkat badannya seperti akan duduk. Mulutnya mendesis dan mengerang. “Ssshh… Laras diapain Yah… ?” tanya Laras di sela-sela desisan bibirnya. “Aahh… nikmat bangeettt…” katanya lagi lalu kembali terlentang dan bergerak liar. Aku tak menjawab.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku lebih peduli dengan vagina dan klitoris Laras. Lebih peduli pada kulit antara anus dan vaginanya. Aku terus menjilat dan menghisap. Membiarkan Laras menikmati setiap rangsangan yang aku berikan.</p>
<p style="text-align: justify;">Kedua kaki Laras aku angkat dan aku lipat di perutnya dengan posisi membuka, sehingga pantatnya terangkat dan vagina serta anusnya nampak sangat jelas. Ledir yang meleleh tampang cukup banyak dan deras. Vaginanya tampak berkedut-kedut pelan, klitorisnya menonjol ke depan seperti penis kecil yang sedang ereksi. Sedangkan anusnya yang berkerut ikut berkedut pula. Anusnya basah mengkilat karena terkena lelehan cairan vaginanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku tusukkan hidungku ke lubang anus Laras lalu aku goyangkan sambil aku tekan. Tercium bau khas anus bercampur wangi lotion vagina membuatku nyaman muntuk terus menjilat dan memasukkan lidahku. Mungkin bagi orang lain jijik menjilat anus partner seksnya, tapi bagiku bau itu menimbulkan sensasi tersendiri, apalagi bercampur dengan lotion vagina. Lidahku dengan cepat menari mengorek anus Laras. Bibirku mengecup dan dan menjepit kerut-kerut anusnya kuat-kuat. Tak kuduga. Laras dengan cepat mencapai orgasme yang pertama malam ini. Tubuhnya meliuk-liuk tak terkendali lalu mengejang dengan kuat, mulutnya mendesis-desis.</p>
<p style="text-align: justify;">“Aahh… Ayah… Laras dapet lagi… aahh…” Laras berteriak kencang.</p>
<p style="text-align: justify;">Tangan Laras mencengkeram kepalaku lalu rambutku diremas. Aku berhenti sejenak mengamati Laras. Mata Laras terpejam dengan nafasnya terengah-engah. Kedua betis dan pahanya menjepit kepalaku ketika aku susupkan kembali di antara kedua pahanya. Aku teruskan jilatanku pada anusnya, namun tidak secepat dan sekaras tadi. Perlahan dan lebut seluruh permukaan lidahku aku oleskan ke anusnya beberapa kali, lalu aku ganti menghisap lembut dan pelan klitorisnya. Aku ingin Laras dapat menikmati orgasmenya sepanjang mungkin. Aku merangkak menindih Laras. dengan lembut dan pelan aku kecup payudaranya. Laras memeluku lalu mencium bibirku. Dia agak kaget mencium bau anusnya yang masih menempel di bibir dan lidahku, lalu tersenyum sambil memejamkan mata.</p>
<p style="text-align: justify;">“Ayah nggak jijik mencium dan menjlat anus Laras?” “Enggak tuh…” jawabku. Laras menjawab dengan memelukku lalu mencium bibirku dengan ganas. “Kalau gitu Laras juga enggak jijik.” “Enggak jijik apa?” “Ada deh… eh tapi Ayah nakal terus…?” “Nakal gimana Sayang?” “Laras inginnya Ayah yang ejakulasi, bukan Laras yang orgasme duluan” “Ya sudah… sekarang terserah Laras.” kataku lalu berbaring di samping kanannya sambil menyusupkan tangan kiriku di bawah kepalanya, lalu memeluknya.</p>
<p style="text-align: justify;">Perlahan Laras bangkit lalu menindih tubuhku, lalu dengan ganas dan liar dia mencium sekujur tubuhku. Leherku basah kuyup karena jilatannya. Hebat sekali gadis ini. Tujuh kali orgasme dalam sehari masih memiliki tenaga dan nafsu yang luar biasa dalam berhubungan sex. Mau tak mau aku membadingkan dengan isteriku yang hanya mampu bertahan dua kali orgasme sekali bersetubuh, kemudian menunggu dua atau tiga hari baru berhubungan sex lagi. Tapi Laras benar-benar tinggi stamina dan nafsunya. Laras tetap saja masih liar, menjilat-jilat tubuhku, dan meremas putingku dengan bibirnya. Putingku digigit-gigit dan dihisap bergantian kiri dan kanan. Sementara, penisku yang sudah tegang sejak mengamati Laras berganti pakaian dengan lingerie, dimasukkan kedalam vaginanya. Laras memang tidak menggoyangkan pantatnya untuk mengocok penisku, tapi gerakannya waktu menjilat dan mengisap tubuhku membuat pantatnya juga bergerak, sehingga penisku serasa dipilin dan dipijat vagina Laras. Ingin aku mengimbangi gerakan Laras, tapi setiap aku merespon, Laras melarangku.</p>
<p style="text-align: justify;">“Ayah diam dulu ya… biar Laras yang muasin Ayah…”</p>
<p style="text-align: justify;">Akhirnya aku diam menikmati permainannya yang semakin agresif dan liar. Aku hanya menggeliat dan mendesis nikmat. Laras memundurkan badannya, sehingga penisku terlepas dari vagina, namun bibir dan lidahnya tetap menjilat dan meremas kulit dada dan perutku. Bibir dan lidah Laras diseret dan bergeser di permukaan kulitku, lalu berhenti dan berputar-putar di tempat, diseret dan bergeser lagi, berkali-kali. Perpindahan lidah dan bibir Laras makin ke bawah ke aras penisku. Ketika sampai di pangkal penisku, lidahnya menekan dan menari-nari membasahi batang penisku. Kemudian lidah Laras mengitari selakanganku sebelah kiri dan kanan lalu berhenti di bagian bawah menjilat, mengecup dan memijat scrotumku dengan lembut sehingga aku melayang dibuatnya. Tiba-tiba Laras menjadi liar ketika dengan penuh nafsu, penisku dilahapnya lalu dihisap dan dipuntir dengan lidahnya.</p>
<p style="text-align: justify;">“Ssshh… Laras… sshh…” aku mendesis dan mengerang. “Nikmat kan Yah…?” kata Laras ketika berhenti menghisap penisku. “Iyyyaa… Terusin Sayang…aahh” aku minta Laras untuk meneruskkan aksinya.</p>
<p style="text-align: justify;">Sebenarnya, tanpa kusuruh pun Laras pasti terus mengulum dan mengocok penisku dengan mulut dan lidahnya, karena begitu selesai mengucapkan kata-kata itu, Laras dengan sigap langsung mengulum penisku kembali dengan intensitas lebih tinggi.</p>
<p style="text-align: justify;">Tangannya menggenggam pangkal penisku sambil digerakkan seolah sedang memutar gas sepeda motor dibarengi dengan gerakan mengocok dengan erat dan mantap namun lembut, sehingga penisku terasa nikmat sekali. Beberapa saat kemudian, aku sudah hampir ejakulasi. Laras mempercepat kocokannya dan memperkuat hisapannya. Namun tiba-tiba dilepaskannya penisku dari mulutnya. Bibirnya menyusuri pangkal pahaku, lalu berputar-putar di pahaku bagian dalam. Kakiku kemudian diangkat sehingga tubuh dan kakiku membentuk sudut sembilan puluh derajat. Kemudian Laras meneruskan jilatannya sambil menyeret lidahnya dipermukaan kulit paha belakangku, lalu pantatku menjadi sasaran lidahnya. Giginya mengigit-gigit pelan pantatku dibarengi dengan hisapan dan jilatan lidahnya. Laras tidak berhenti di pantatku. Belahan pantatku pun ikut dijilat, dikecup dan dihisapnya. Anusku juga tak lepas dari korekan dan pijatan lidah Laras, sementara tangannya terus mengosok penisku.</p>
<p style="text-align: justify;">“Uhh… ssshh” hanya itu kata-kata yang mampu aku ucapkan menikmati jilatan, hisapan dan kecupan Laras di anusku. Baru kali ini seumur hidupku pantatku dijilat orang, apalagi sekarang dijilat dan dihisap gadis muda yang cantik seperti Laras. Aku benar-benar puas atas permainan Laras. lama sekali dia menjilat anusku sampai-sampai aku kembali hampir ejakulasi. Penisku yang ada dalam kocokan Laras terasa berkedut hebat, tapi dia berhenti mengocok penisku dan menjauhkan mulutnya dari anusku.</p>
<p style="text-align: justify;">“Laras… Masukin penis Ayah ke dalam…” kata-kataku terhenti.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku berharap agar Laras segera mengulum penisku, namun lagi-lagi Laras membuat aku semakin penasaran. Laras malah menjilat betisku.</p>
<p style="text-align: justify;">“Sabar Ayah… ejakulasinya nanti dulu ya…” kata Laras sambil tersenyum mengejek. Aku makin penasaran. segera aku raih kepala Laras dan aku sodorkan ke penisku, namun Laras mengelak dengan gesit.</p>
<p style="text-align: justify;">“Eit… sabar dong… Ayah nikmatin aja dulu seperti siang tadi Laras menikmati permainan Ayah… hihihi…” kata Laras sambil tertawa. Rupanya dia ingin membalas, ketika tadi siang orgasmenya aku tunda sampai beberapa kali.</p>
<p style="text-align: justify;">Selesai berkata begitu, lidahnya lincah menari menyusuri betis belakangku, lalu lipatan lututku. Jilatan Laras terus turun ke arah telapak kakiku. Memang, geli dan nikmat rasanya, namun tentu saja lebih nikmat jika Laras mengisap penisku, bukan betis, lipatan lutut atau telapak kakiku. Kekecewaan karena ejakulasiku yang tertunda dua kali membuat penisku sedikit mengendur, walapun masih cukup keras untuk masuk ke vagina Laras. Rupanya Laras tahu kalau penisku jadi sedikit mengendur.</p>
<p style="text-align: justify;">Laras berhenti menjilat telapak kakiku, lalu merangkak menindih tubuhku. Tubuhnya dengan ketat menghimpit tubuhku. Payudaranya melesak karena menekan dadaku, sedangkan vagina dan klitorisnya digesek-gesekkan di penisku. Kembali penisku ereksi dengan sempurna. Tegang, keras, dan kekar. Dengan sekali gerakan pinggulku, ujung penisku sudah menempel di mulut lubang vagina Laras. aku angkat pantatku agar penisku segera melesak kedalamnya, namun vagina Laras benar-benar sempit, sehingga aku kesulitan dan gagal memasukan penisku. Nafsuku benar-benar memuncak, ingin segera terpuaskan.</p>
<p style="text-align: justify;">“Ayah… kok enggak sabaran sih…?” kata Laras sambil tertawa ketika aku gagal memasukkan penisku. “dibilang nanti ya nanti dong… Ayah sabar ya…” katanya lagi “Laras… ayo dong… Ayah udah nggak tahan, Sayang…” kini aku yang merengek minta segera dipuaskan oleh Laras. Laras menjawab permintaanku dengan mengulum putingku. Bibir dan lidahnya kembali menjilat-jilat dadaku, leherku dan melumat bibirku. Penisku yang sudah hampir meledak terjepit vaginanya. Laras menggerakkan pantatnya, penisku pun dikocok bibir vaginanya. Bibir vagina dan klitoris Laras yang basah terasa hangat mengocok, menjepit dan meremas penisku. Aku hampir gila diperlakukan Laras seperti ini.</p>
<p style="text-align: justify;">“Uh… ssshh…” Laras mendesis sambil menggigit bibir bawahnya sambil memejamkan matanya erat-erat. Rupanya gesekan penisku di klitoris dan vaginanya telah membuat Laras terangsang hebat dan tak mampu membendung nafsunya sendiri. Nampak sekali gerakan Laras sudah tak teratur. Akhirnya Laras mengendurkan pelukannya. Penisku diraihnya lalu dikocok sebentar sebelum dimasukkan ke dalam vaginanya. Dengan susah payah, akhirnya setengah penisku amblas ke dalam vagina Laras. Laras berusaha memasukkan semua penisku ke dalam vaginanya dengan menduduki penisku, lalu mengangkat pantatnya dan menekannya ke bawah.</p>
<p style="text-align: justify;">“Ayaahh… ssshh… aahh” Laras mendesah dan mengerang ketika akhirnya penisku masuk semuanya ke dalam vaginanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Dengan pelan dan lembut Laras bergerak memutar pinggulnya. Putaran dan goyangan laras membuat penisku terasa dipijat dan diremas. Lalu aku merasakan sesuatu yang belum aku rasakan selama bersetubuh dengan Laras atau dengan isteriku. Aku merasakan penisku disedot dengan kuat beberapa kali, lalu seperti dikocok biasa, kemudian disedot lagi beberapa kali, lalu biasa lagi… Aku tatap mata Laras yang terpejam menikmati persetubuhan yang kami lakukan. Aku merasa melayang. Berkali-kali sedotan vagina Laras membuatku segera menuju ejakulasi. Aku berusaha menahan, karena Laras saat ini belum meunjukkan tanda-tanda akan orgasme. Tiba-tiba Laras mencabut penisku dari vaginanya, lalu duduk sambil tangannya meremas dan mengocok penisku.</p>
<p style="text-align: justify;">“Jangan buru-buru dikeluarin Ayah… Ayah tadi janji sama Laras…” “Janji apa sayang…” aku benar-benar lupa apa yang suydah aku janjikan kepada Laras.</p>
<p style="text-align: justify;">“Masa lupa Yah…”jawab Laras tanpa memberi penjelasan apa janjiku, Laras mengulurkan kedua tangannya menyuruh aku bangkit. Setelah aku duduk, Laras membelakangi aku dan nungging. “Dari belakang Yah… Laras ingin disetubuhi dari belakang” “Oh… Laras… kamu bukan gadis kelas 3 SMA… kamu benar-benar wanita. Wanita dewasa yang matang dan selalu ingin mencoba yang baru…” kataku dalam hati.</p>
<p style="text-align: justify;">Tanpa menunggu lebih lama segera aku merangkak mendekati Laras dan memegang pantatnya. Dengan pelan aku masukkan penisku ke dalam vaginanya. Laras menyambut penisku dengan tidak sabar. Dihentakkannya pantatnya ke belakang dengan keras dan cepat. Vagina Laras yang sudah sangat basah dan agak melebar karena terangsang hebat, serta posisi doggy ini membuat penisku tak terlalu sulit memasuki vaginanya. setelah masuk semuanya Laras memutar pantatnya. Penisku serasa dipilin-pilin, diremas dan dipijat.</p>
<p style="text-align: justify;">“Ahh… Ayaahh….” Laras menjerit. “Nikmat sekali…aahh ssshh”</p>
<p style="text-align: justify;">Aku raih payudara Laras yang bergoyang-goyang karena gerakannya untuk mengocok penisku. Kuremas dan kupilin putingnya, sambil terus bergerak maju mundur mengocok penisku di dalam vagina Laras. Dengan posisi doggy ini membuat tulang vagina Laras yang bagian depan mengesek batang penisku bagian bawah. Nikmat dan nikmat. Itu yang aku rasakan ketika penisku keluar masuk dalam vagina Laras yang bergerak dan berputar. Entah kenapa aku yang tadi sudah hampir ejakulasi kini aku merasa sangat segar dan kuat. Tak sedikit pun tanda-tanda aku akan segera ejakulasi. Mungkin karena dengan posisi doggy ini aku merasa dapat mengendalikan persetubuhan, bukan dikendalikan oleh Laras, sehingga aku masih mampu bertahan. Apalagi aku melihat Laras menikmati persetubuhan dengan gaya yang pertama dia lakukan. Aku makin merasa nyaman dan mampu bertahan untuk tidak ejakulasi dengan cepat.</p>
<p style="text-align: justify;">Dengan mantap dan kencang aku sodokkan penisku ke dalam vagina Laras. tubuh Laras tergundang-guncang maju mundur karena goyanganku. Kedua tanganku memegang dan pantat Laras. empat jari tangan kanan dan kiri meremas pantat Laras, sedangkan jempolku aku selipkan di belahan pantatnya, mengorek dan mengelus anusnya.</p>
<p style="text-align: justify;">“Ayah… nikmat sekali…” kata Laras sambil menoleh ke belakang dan berusaha melihat apa yang aku lakukan terhadap anusnya.<br />
“Iya… Sayang… Ayah juga merasa nikmat…”<br />
“Jempol ayah… sshh… aahh… Jempol ayah…” Laras mendesiskan kata-kata dengan cepat sambil terengah-engah.<br />
“Hmmm…? Kenapa… ? Nikmat kan…?”<br />
“Iya… aahh… ssshh…” Laras makin mendesis dengan mata melotot. “Masukin Ayah… Masukin penis Ayah di anus Laras… Cepat Ayaahh…” Laras berteriak kesetanan.</p>
<p style="text-align: justify;">Rupanya dia ingin melakukan anal seks. Laras benar-benar gadis yang luar biasa di bidang seks. Dia nampaknya selalu ingin mencoba hal-hal yang baru. Sedangkan aku, ini pertama kali aku melakukan anal sex. Aku belum pernah memikirkan untuk melakukan anal sex, sementara isteriku juga tak pernah meminta. Memang kami melakukan hubungan sex dengan berbagai macam gaya, tapi yang namanya anal sex belum pernah kami coba lakukan. Kami tidak pernah mengeksplor anus waktu melakukan foreplay. Sejenak aku ragu, tapi Laras kembali meminta untuk melakukan anal sex. Perlahan aku lepaskan penisku dari vagina Laras.</p>
<p style="text-align: justify;">“Kenapa berhenti Ayah…?” tanya Laras “Kalau gitu cepat masukin penis Ayah dalam anus Laras…” kata Laras sambil meremas dan mengocok vagina serta klitorisnya sendiri.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku turun dari tempat tidur untuk mengambil botol lubricant gel yang biasa aku gunakan untuk bersetubuh dengan isteriku. Karena dia sudah mengalami menopause, lubricant gel ini sangat menolong untuk membuat vagina isteriku basah. Kelenjar yang mengeluarkan cairan vaginanya tidak produktif lagi. Kami gunakan lubricant gel agar isteriku tidak kesakitan waktu bersetubuh. Dengan demikian isteriku dapat menikmati persetubuhan yang kami lakukan.</p>
<p style="text-align: justify;">Kuminta Laras untuk nungging lagi. Perlahan aku elus anus Laras sambil sedikit-demi sedikit aku masukkan jariku agar otot-otot anusnya mengembang. Aku tahu, Laras akan kesakitan karena anusnya dimasuki penisku untuk yang pertama kali. Bagaimanapun juga otot anus berbeda elastisitasnya dengan otot vagina yang lebih mudah melebar saat dimasuki penis. Aku mencim dan menjilat anus Laras dengan lahap guna memberi rangsangan. Dengan jilatanku, aku berharap Laras akan merasa nikmat sehingga pada saat aku lakukan penetrasi, Laras tidak akan begitu kesakitan.</p>
<p style="text-align: justify;">“Aahh… aahh… sshh… Ayah… cepat masukin dong…” Laras merintih dan merengek agar aku cepat-cepat memasukkan penisku. Rupanya Laras benar-benar penasaran untuk menikmati anal sex.</p>
<p style="text-align: justify;">“Iya Sayang…” jawabku sambil terus menjilat dan mengorek anus Laras dengan lidahku. “Sabar sebentar… tunggu sampai anus Laras bener-bener siap menerima penis Ayah.” “Auw… ssshh nikmat. Ayah… masukin sekarang dong…”</p>
<p style="text-align: justify;">Aku tidak mau langsung memasukkan penisku ke dalam vagina Laras. aku tidak ingin dia terlali kesakitan karena pertama kali melakukan anal sex. Aku meraih botol lubricant gel lalu memasang tabung aplikatornya. Perlahan aku tusukkan tabung aplikator ke dalam anus Laras sambil menekan botol itu.</p>
<p style="text-align: justify;">“Ups… sshh ya… gitu dong Ayah… penisnya dimasukin”</p>
<p style="text-align: justify;">Laras tidak menyadari kalau yang aku masukkan kedalam anusnya bukan penis melainkan aplikator. Setelah cukup gel yang masuk ke dalam anus Laras, aku tuang dan aku oleskan pada telunjuk tangan kananku. Kemudian telunjukku yang basah karena lubricant gel perlahan-lahan aku tusukkan ke dalam anus Laras, aku tarik sedikit, lalu aku tusukkan lebih dalam lagi.</p>
<p style="text-align: justify;">“Ahh… terusin Yah…”</p>
<p style="text-align: justify;">Dengan perlahan aku kocok jariku di anus Laras, sementara tanganku yang lain meremas vagina Laras. Klitorisnya aku pilin-pilin dan pencet dengan lembut dengan jempolku, sedangkan dua jariku memasuki lubang vaginanya lalu bergerak keluar masuk di dalam vaginanya. Dua lubang sumber kenikmatan seksual Laras aku korek, aku tusuk-tusuk. Pantatnya aku jilat dan aku gigit-gigit pelan. Laras terus merintih dan mendesah menikmati setiap remasan, kocokan dan gigitanku. Anus Laras sudah siap sekarang, karena jariku dengan leluasa dapat keluar masuk memompa anusnya. Perlahan penisku yang sudah sangat keras dan tegang aku tempelkan di pantatnya. Jariku terus mempompa anus dan vaginanya.</p>
<p style="text-align: justify;">“Kok belum masuk sih…? Tadi yang masuk apa dong Yah…” tanya Laras setelah tahu penisku belum menyentyh anusnya</p>
<p style="text-align: justify;">Perlahan telunjuk kananku aku lepas dari anus Laras. Kembali aku tuang lubricant gel lalu aku oleskan di penisku. Perlahan penisku aku coba masukkan ke dalam anusnya. Susah sekali memasukkan penisku, walaupun lubrikan gel cukup membantu. Laras mengerti kesulitanku lalu menoleh ke belakang.</p>
<p style="text-align: justify;">“Sshh… Aahh… Susah masuknya ya Yah?” tanya Laras lalu dia merendahkan bahunya dan membuka lebar-lebar pahanya sehingga posisinya semakin nungging, pantatnya dan anus membuka lebih lebar. “Sabar ya Sayang…” kataku. “Agak sakit nanti pada awalnya” “Iya… Yah… nanti pasti sakit, tapi sesudah itu jadi nikmat” kata Laras sambil tersenyum.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku paksa penisku agar bisa masuk ke dalam anus Laras dengan mendorongnya kuat-kuat. “Auw…” Laras menjerit kesakitan saat seperempat bagian penisku berhasil memasuki lubang anusnya. “Sakit sekali Yah…”</p>
<p style="text-align: justify;">Aku berhenti sejenak untuk membiarkan otot anusnya melebar secara alami agar tidak terlalu menyakitkan bagi Laras.</p>
<p style="text-align: justify;">“Kenapa berhenti Ayah…?” tanya Laras sambil menggoyangkan pantatnya. “Supaya Laras tidak kesakitan…” jawabku. “Terusin dong yah…” kata Laras lalu mendorong mundur sehingga penisku tertekan dan melesak beberapa senti lagi ke dalam anusnya. Akibatnya sungguh luar biasa bagiku.</p>
<p style="text-align: justify;">Pantat Laras yang berputar membuat penisku serasa dijepit dengan ketat oleh benda yang kenyal sambil diremas-remas. Nikmat. Sungguh nikmat!</p>
<p style="text-align: justify;">“Aahh…” kami mengerang hampir bersamaan. “Sakit Sayang?” tanyaku mendengar Laras merintih “Sakit sedikit … tapi nikmat sekali, Ayah” kata Laras. Kemudian Laras dengan semangat menggoyangkan pantatnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Mendengar desahan dan erangan Laras yang dapat merasakan nikmat saat penisku bergoyang karena gerakan pantatnya, aku tarik penisku keluar sedikit lalu aku masukkan lagi dengan pelan tapi mantap. Setelah tiga empat kali penisku keluar masuk, aku tekan dengan sedikit keras sehingga penisku melesak sepenuhnya ke dalam anus Laras.</p>
<p style="text-align: justify;">“Auw…” Laras kembali menjerit<br />
“Sakit Sayang…?”<br />
“Enggak…” kata Laras sambil dengan semangat dia memutar pantatnya mengimbangi gerakan maju mundur yang aku lakukan. “Ahh… Nikmat sekali Ayah… sshh… aahh… sshh…”</p>
<p style="text-align: justify;">Aku membungkuk untuk meraih klitoris Laras lalu memilin dengan dua jariku, sementara tanganku yang lain meremas-remas payudaranya. Kami mengerang bersahut-sahutan. Belum lima menit, tubuh Laras mengejang sambil mengerang keras.</p>
<p style="text-align: justify;">“Ayaahh… auw… aahh…” teriakan Laras mengagetkan aku. Laras meliukkan badannya, pantatnya disodok-sodokkan ke belakang dengan keras dan cepat.<br />
“Kenapa Sayang…?” aku bertanya karena mengira dia kesakitan.<br />
“Laras…aahh…ssshh… Laras orgasme lagi….”</p>
<p style="text-align: justify;">Aku tak menduga Laras sudah orgasme. Rupanya benar informasi yang aku baca, anal sex lebih nikmat, baik bagi perempuan maupun laki-laki. Dengan anal sex, penis terjepit lebih kencang sedangkan bagi wanita, sodokan penis di dalam anus dapat dengan mudah mendorong otot-otot usus besar menekan G-spot. Itu sebabnya kenikmatan yang ditimbulkan luar biasa. Demikian pula Laras. Hari pertama melakukan persetubuhan disertai dengan anal sex. Hal ini rupanya yang menyebabkan Laras dengan mudah memperoleh puncak kenikmatan. Laras ambruk tersungkur di atas tempat tidur sehingga penisku terlepas dari anusnya. Sebenarnya aku juga hampir ejakulasi, kalau saja Laras dapat bertahan lebih lama sedikit lagi. Laras membalik tubuhnya hingga terlentang, nafasnya memburu terengah-engah sedangkan matanya terpejam.</p>
<p style="text-align: justify;">“Nikmat sekali Ayah…” katanya lalu diam tidak bergerak sampai beberapa saat. “Ayah-bener-bener hebat…” katanya lagi.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku segera berbaring miring di sampingnya, kemudian memeluk dan mencium bibirnya. Saat membuka matanya Laras tersenyum sambil tangannya menggapai ingin memeluk aku. Cukup lama kami berciuman. Bibir dan lidah kami saling beradu, saling mengecup dan saling menghisap. Kemudian Laras kembali memelukku kencang sekali.</p>
<p style="text-align: justify;">“Laras bener-bener puas hari ini, Ayah…”<br />
“Ayah juga puas Sayang…”<br />
“Belum… Ayah belum puas…” kata Laras sambil meraih penisku lalu dikocoknya dengan lembut. “Ayah juga harus merasakan kepuasan yang Laras rasakan malam ini.” Katanya lagi sambil memilin-milin penisku.<br />
“Laras capek, kan?”<br />
“Enggak! Laras enggak capek!” jawab Laras tegas sambil bangkit lalu nungging lagi. “Laras ingin dimasukin lagi dari belakang, tapi di vagina Laras aja supaya Ayah yang duluan ejakulasi…” kataLaras sambil meraih tanganku meminta aku bangun.</p>
<p style="text-align: justify;">Penis yang sangat keras dan tegang diremas dan dikocok Laras, lalu dituntunnya penisku menuju lubang vaginanya. Lagi-lagi vagina Laras terasa terlalu sempit untuk penisk, tapi cairan vaginanya yang melimpah akibat orgasme yang baru saja dialaminya, serta sisa-sisa lubricant gel di penisku, membuat penisku akhirnya amblas di dalam vaginanya. aku pegang kedua pantat Laras pada bagian samping lalu aku goyangkan pantatnya maju mundur untuk mengocok penisku. Laras mengimbangi dengan memutar pantatnya.</p>
<p style="text-align: justify;">“Ssshh… Aahh” kami mendesah dan mengerang berkali-kali. Laras bersemangat sekali menggoyangkan pantatnya.<br />
“Ayyaahh…” Laras mendesah dengan erotis.</p>
<p style="text-align: justify;">Terus terang aku agak kewalahan melayani nafsu anak asuhku ini. Rasa lelah perlahan-lahan menyerang tubuhku. Sejak isteriku menopause, aku tidak pernah bersetubuh berkali-kali seperti dengan Laras. Fisikku yang berusia 58 tahun mulai menunjukkan reaksi. Rasa lelah makin menguasai sekujur tubuhku, walaupun penisku masih tegar berdiri dengan gagah. Aku bergerak perlahan memompa vagina Laras. Suara kecipak akibat tubrukan pantat Laras dengan perutku sudah tak sesering tadi. Tapi aku masih ingin Laras mencapai orgasmenya. Aku tidak ingin babak-babak persetubuhanku dengan Laras tak memuaskan dirinya. Naluri laki-laki ku menuju G-spot Laras. Kemudian, posisi tubuh Laras agak aku tegakkan sedikit, lalu aku mengatur posisi penisku agar dapat mengarah ke G-spot nya yang telah aku pelajari dan aku hafal dengan baik letaknya waktu persetubuhan kami tadi siang. Namun tiba-tiba aku rasakan penisku kembali disedot vagina Laras beberapa kali.</p>
<p style="text-align: justify;">“Akkk….” Aku menjerit tertahan mengekspresikan kenikmatan yang aku rasakan. Entah apa yang dilakukan Laras sehingga penisku terasa disedot-sedot seperti ini, sampai-sampai aku hampir lupa tujuanku menegakkan tubuh Laras tadi. Segera aku hentakkan penisku ke depan dengan arah agak mengangkat ke atas, saat aku angkat, aku tekan pantat Laras ke bawah sambil aku tarik ke belakang.</p>
<p style="text-align: justify;">“Ayaahh…” Laras memekik sambil menoleh ke belakang. Matanya melotot menahan nikmat yang dia rasakan. Rupanya tujuanku tercapai. G-spot Laras sedikit tersentuh penisku.</p>
<p style="text-align: justify;">“Ayyaahh…! Ayahh enggak boleh nakalll…” kini Laras merengek. Badan Laras meliuk-liuk… kocokan pada penisku menjadi tak teratur, kadang cepat, kadang lambat. Kadang berputar, kadang maju mundur. Kuulangi lagi gerakan menhentakkan penisku sambil mengangkat seperti tadi. Kini tarikan pada pantat Laras aku perkuat, setelah pantatnya menyentuh perutku, aku tekan pantat Laras ke bawah.</p>
<p style="text-align: justify;">“Ayyaahh….” Laras melolong seperti serigala. Kepalanya digoyang ke kiri dan ke kanan. Pantatnya bergoyang tak karuan. Tiba-tiba tubuhnya mengejang. “Ayah jahat banget… sshh… aahh… &#8221; kata Laras sambil mengerang &#8220;Laras orgasme lagi kan… aahh” kata Laras dengan manja lalu tersungkur ambruk dan penisku terlepas dari vaginanya lagi.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku masih jongkok di sela-sela kedua paha Laras, ketika Laras bangun lalu dengan cepat tanpa aku duga mulutnya menyambar penisku yang sangat keras, lalu disedotnya kuat-kuat. Aku menggelinjang karena nikmat. Laras mendorong tubuhku. Laras sama sekali tidak melepaskan penisku dari mulutnya saat aku jatuh terletang. Dengan penuh nafsu, dia melahap dan menghisap penisku. Penisku seluruhnya masuk ke dalam mulutnya sehingga sebagian masuk ke dalam kerongkongannya. Rasa nikmat menjalar ke seluruh tubuhku. Rasa nikmat itu perlahan-lahan mengalir menuju satu titik: menuju penisku yang berada dalam hisapan dan pilinan mulut dan lidah Laras. Aku mendekati ejakulasi. Perlahan aku berusaha melepaskan penisku dari kuluman Laras, agar tidak ejakulasi di dalam mulutnya. Namun Laras menggeleng protes sambil melotot.</p>
<p style="text-align: justify;">“Laras… Ayah nikmat sekali… Ayah mau ejakulasi Sayang…”</p>
<p style="text-align: justify;">Laras tidak peduli. Dia makin rakus melumat penisku. Lidahnya berpytar-putar mengelus dan menghisap penisku. Tangan kanannya mengocok penisku sedangkan jari-jari tangan kirinya mengelus dan meremas anus dan scrotumku secara bergantian. Akhirnya aku tak tahan, aku ejakulasi dengan penis di dalam mulut Laras. Laras menghisap makin kuat saat spermaku menyemprot tenggorokannya. Kocokan tangannya juga makin kencang. Aku terkulai lemas.</p>
<p style="text-align: justify;">“Makasih Ayah….”<br />
“Mmmm…?” cuma itu kata-kata yang keluar dari mulutku karena menahan rasa nikmat uang luar biasa akibat penisku disedot Laras saat ejakulasi.<br />
“Ayah udah nepatin janji Ayah…?”<br />
“Oh ya…? Janji apa?”<br />
“Kasi minum Laras!”<br />
“Minum…?”<br />
“Iya, Ayah… Ayah udah kasi Laras sperma yang banyak. Laras udah minum…” kata laras sambil bangkit menuju wastafel di depan kamar mandi, lalu berkumur beberapa kali.<br />
“Kenapa kumur-kumur, Sayang? Jijik ya…?” tanyaku saat Laras kembali ke tempat tidur untuk berbaring di sampingku.<br />
“Kalo jijik, Laras enggak mau Ayah ejakulasi di dalam dong…” katanya sambil tersenyum lalu memeluk dan mencium bibirku. “aku kan cuma mau cium Ayah. Makanya Laras kumur biar gab au sperma” katanya lagi lalu memeluku dengan erat.</p>
<p style="text-align: justify;">Kami tetap tidak memakai pakaian. Lingerie dan G-string Laras tergeletak di lantai. Demikian pula baju, singlet, jeans dan celana dalamku. Semuanya berserakan di lantai. Tapi tidak kami peduli, kami juga tidak peduli dengan seseorang yang mengintip persetubuhan kami tadi siang.. Kami terlalu lelah. Satu-satunya yang ingin kami lakukan adalah tidur. Tidur yang nyenyak sekali karena kami sama-sama kelelahan. Ya… lelah dan puas. Sangat puas.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ceritasex.cn/larasati-malam-ini/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

