<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Cerita sex porno ngentot mesum perek ayam kampus &#187; anal seks</title>
	<atom:link href="http://www.ceritasex.cn/tag/anal-seks/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.ceritasex.cn</link>
	<description>Kumpulan cerita sex, foto bugil, dan film porno</description>
	<lastBuildDate>Mon, 26 Jul 2010 07:13:35 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0</generator>
		<item>
		<title>Paini, Pembantu Pemuas Nafsu</title>
		<link>http://www.ceritasex.cn/paini-pembantu-pemuas-nafsu/</link>
		<comments>http://www.ceritasex.cn/paini-pembantu-pemuas-nafsu/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 01 Apr 2010 22:26:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cerita Sex</dc:creator>
				<category><![CDATA[Paruh baya]]></category>
		<category><![CDATA[anal seks]]></category>
		<category><![CDATA[kisah nyata]]></category>
		<category><![CDATA[budak seks]]></category>
		<category><![CDATA[emut kontol]]></category>
		<category><![CDATA[ngentot]]></category>
		<category><![CDATA[paini]]></category>
		<category><![CDATA[pembantu]]></category>
		<category><![CDATA[pemuas nafsu]]></category>
		<category><![CDATA[susu]]></category>
		<category><![CDATA[toket gede]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ceritasex.cn/?p=1334</guid>
		<description><![CDATA[Nama saya Andi, seorang karyawan di sebuah bank terkemuka di indonesia .Saya akan menceritakan kisah saya yang terjadi pada saat saya masih 3 SMU. pada saat tinggi saya 175 cm berat 55 Kg. dan saya berotot pada saat itu karena sering angkat barbel yang 3 kiloan dan sit-up setelah bangun tidur setiap hari. ya cukup [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Nama saya Andi, seorang karyawan di sebuah bank terkemuka di indonesia .Saya akan menceritakan kisah saya yang terjadi pada saat saya masih 3 SMU. pada saat tinggi saya 175 cm berat 55 Kg. dan saya berotot pada saat itu karena sering angkat barbel yang 3 kiloan dan sit-up setelah bangun tidur setiap hari. ya cukup menarik perempuan saat itu sehingga saya dapat seorang wanita cantik di SMU. Tetapi saya tidak akan menceritakan saya tidur dengan pacar saya karena saya tidak pernah ngesex denganya dan tentu saja cerita hubungan pacar atau pasutri itu tidak menarik. Saya akan menceritakan tidur dengan pembantu saya, Paini, Seorang wanita desa yang Ndeso dan lugu. Dia hanya lulusan SD dan pengetahuan sexnya sangat rendah. Masa artinya perawan saja tidak tahu, dia mengira perawan itu susunya kencang dan pantatnya kencang, dan yang tidak perawan itu susuny6a kendor dan pantatnya gantung. masih ada aja yang percaya begituan di era globalisasi. Umurnya masih 19 tahun, masa keemasan. Tingginya hanya 160-an cm dan beratnya sekitar 45 kg.</p>
<p style="text-align: justify;">Kulitnya putih dan halus seperti wanita jawa lainya. wajahnya pun bisa dibilang lumayankarena putih mulus tak berjerwat. Toketnya ukuran jumbonya itu membuat pria didesanya sering menggodanya. sayapun tertarik dengan ukuran besarnya. ukuran yang bisa dibilang kebesaran, 36B, itu adalah nomor yang saya dapatkan ketika mengobok-obok lemarinya ketika dia ke pasar. BH murahan itu kadang saya cium dan hisap aromanya. oh wanginya BH ini dan kadang-kadang saya juga mencium CD nya dan sesekali menumpahkan mani saya di celananya yang kemudian langsung saya bersihkan agar tidak ketahuan. dan kalau anda melihatnya naik sepeda ontelnya dan melewati jalan berbatu atau polisi tidur, toketnya goyang dengan indah. pria mana yang tidak ngaceng melihat pemandangan ini. dan apabila mandi, saya sering melihatanya dengan one way mirror yang saya taruh di kmar mandinya. melihat dia dengan rambut basah atau penuh busa serta melihat dia menyabuni payudaranya dan vaginanya yang dipenuhi bulu tipis yang dicukur membuat saya berfantasi tidur denganya.</p>
<p style="text-align: justify;">sesekali saya juga melihat dia menykur jembutnya atau mencukur bulu kakinya di kamar mandi juga membuat junior saya tegang. atau melihatnya menyuci mobil, oh alangkah seksinya dia ketika saya melihatnya dengan baju yang ngeplat BH dan putingnya karena basah dan tentunya saya lanjutkan dengan choli atau ngocok. Tidur denganya?, tidak saya tidak berani karena takut hamil. tetapi karena saya perkembangan teknologi yang memungkinkan tidak bisa hamil maka niat saya tidur denganya hidup lagi. Suatu hari, Orang tuaku beserta adikku pergi ke luar kota untuk mengahadiri resepsi pernikahan. Sedangkan saya tidak ikut karena saya ada ulangan di sekolah. tetapi ibu saya ingin saya ikut dengan minta ujian susulan. tapi saya menolak dengan pelbagai alasan karena kalau ujian susulan nggak bisa nyontek. akhirnya ortuku beserta adikku meninggalkanku. Kemudian saya belajar(lebih tepatnya membuat contekan buat besok) dan langsung tidur. kemudian saya menegrjakan ulangan dengan contekan dan setelah pulang sekolah saya langsung pulang ke rumah.</p>
<p style="text-align: justify;">setelah itu saya main PS2 sampai malam bersama teman saya dan setelah selesai teman saya langsung pulang. tidak terasa sudah malam. saya meminta Paini untuk masak. &#8220;Paini&#8230;Paini&#8230;&#8221; saya teriak memanggil paini. mungin karena terlalu keras dia lari terbirit-birit dari ruang tv ke hadapan saya. pada saat lari. susunya bergoyang kemana-mana di balik baju kekecilanya otomatis membuat saya ngaceng. kemian saya langsung mengambil koran dan menutup penis saya dibalik celana pendek yang saya pakai. &#8220;paini, sudah masak nasi belum?&#8221; &#8220;waduh saya lupa&#8221; &#8220;masak nasi tuh kan lama, bisa setengah jam, gimana sih kamu?&#8221; &#8220;Maaf mas andi, saya lupa&#8221; &#8220;makanya dikurangin nonton sinetronya&#8221; &#8220;sekali lagi maaf mas&#8230;&#8221; &#8220;ya udah, gapapa kok, lauknya apa&#8221; &#8220;terserah mas&#8221; &#8220;kalo gitu, nugget aja yang di kulkas&#8221; &#8220;oke mas&#8221; &#8220;kalau gitu saya mandi dulu, nanti kalo udah selesai saya dipanggil ya&#8221; &#8220;nggih mas&#8221; itu adalah percakapan pendek saya dengan paini. kemudian saya mandi denganbersih dan menggunakan baju sepak bola dan celana pendek.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;mas, makananya sudah selesai&#8221;, itu suara paini memanggil saya. kemudian saya langsung makan. &#8220;mbak makannya sudah selesai&#8221; suaraku dengan lantang. kemudian dia datang dan membersihkan meja dan menyuci piring dan saya ke ruang keluarga dan sekilas melihat tv yang sudah hidup yang ditonton oleh nya. ternyata sebuah sinetron, ah,mengapa orang suka menonton junk ini. kemudian saya gonta ganti channel, ternyata semuanya sinetron karena lagi &#8220;prime timenya&#8221; &#8220;mas, kok diganti sih?&#8221; katanya yang saya tidak ketahui sudah duduk dibawah &#8220;mbak masih nonton yang tadi?, itu kan jelek&#8221; &#8220;bagus lo mas, itu episode terakhir lo mas&#8221; &#8220;plis mas&#8221; kata itu diulang berkali kali &#8220;ya udah deh&#8221; kemudian saya mengembalikan ke channel semula dan saya mengambil majalah olahraga karena saya anti-sinetron. dan kami sering bincang-bincang ringan. ya seputar kehidupan saya di sekolah dan cerita dia. kemudian beberapa menik kemudian sinetron itu di ending dan sepasang manusia berciuman yang tentunya disensor seperti hanya keliatan punggungya.<span id="more-1334"></span></p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;yah, kok cuma punggungnya sih?&#8221; &#8220;namanya juga di indonesia, nggak boleh diliatin&#8221; &#8220;iya mas, sinetron lain juga begitu&#8221; kemudian saya melenceng dari topik &#8220;emang mbak nggak tau ciuman&#8221; &#8220;nggak pernah mas, takut hamil&#8221; &#8220;duh ini orang goblog banget ciuman kok hamil&#8221; kataku dalam hati &#8220;mbak, ciuman itu nggak bikin hamil&#8221; &#8220;emang mas pernah nyium mbak dina ya?&#8221; pertanyaanya malah balik ke saya. dina adalah pacarsaya &#8220;nggak pernah, dina kan solehah&#8221;, kataku. pacarku memang solehah, sayapun kalau berpacaran selalu disuruh membawa adikku. pas nembak diapun setengah mati, dia setuju, tetapi kedua orang tua juga harus setuju. itu permintaan. tapi saking cintanya. maka saya menurutinya. &#8220;Ooooo&#8221; katanya &#8220;masak mbak nggak pernah?&#8221; &#8220;betulan nih nggak pernah sama mas jay&#8221;. jay adalah mantan pacarnya di desa. saya mendapatkan informasi ini dari mengorek HPnya &#8220;nggak, saya cuma dicium pipi sama mas jay&#8221; &#8220;oooo, mbak pijatin dong&#8221; kemudian saya telungkup di sofa dan paini memijat saya. &#8220;paini, kamu kok nggak punya pacar sih&#8221; &#8220;nggak tau mas&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;loh, kok nggak tau sih&#8221; &#8220;iya nih&#8221; &#8220;padahal kamu itu cantik&#8221;, rayuan gombalku keluar &#8220;ah mas bisa aja&#8221; &#8220;kok kamu putus sih sama mas jay&#8221; &#8220;dulu mas jay ngajak begituan, tapi saya malu kemudian kami putut&#8221; &#8220;loh kok malu&#8221; &#8220;mmmm&#8221;, dia bergumam &#8220;jawab dong&#8221; &#8220;saya malu buka baju&#8221; &#8220;loh kok buka baju takut?, mbak ini aneh&#8221; &#8220;mmmm&#8221; dia bergumam lagi, lama sekali &#8220;mbak, jawab dong, budek ya&#8221; &#8220;mmmm&#8221; &#8220;oi jawab dong&#8221;, kataku kesal &#8220;anu mas, saya mau jawab tapi jangan bilang sapa-sapa ya&#8221;, ucapanya lirih &#8220;oke deh&#8221; &#8220;janji ya mas&#8221; &#8220;IYA!&#8221;, ucapan saya dengan nada menekan &#8220;saya malu dengan susu saya&#8221; ucapan ini membuat saya ngaceng plus rangsangan darinya merijat pada dalamku. otomatis penis saya tertekan &#8220;aduh&#8221; &#8220;kenapa mas?&#8221; saya bingung haru menjawab apa &#8220;di situ sakitnya, dipijitnya disitu terus aja&#8221; berarti aku menambah kesakitan penisku kemudian saya melanjutkan pembicaraan yang tadi terputus &#8220;kenapa?&#8221; &#8220;kata teman saya, kegedean, terus saya juga risih kalau naik sepeda sering diliat orang mas, aku isin mas&#8221; &#8220;kataku payudaramu bagus kok&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;ah mas ini bisa aja. coba ada opersi negecilin susu&#8221; &#8220;ada tapi harganya selangit, kamu kuat?, nanti operasi di luar negeri&#8221; &#8220;saya nggak kuat mas kalo segitu&#8221; &#8220;bagus kok susumu paini, wanita2 itu pada ingin dibesarin kok kamu dikecilin&#8221; kataku memuji &#8220;terus susu kamu bikin tambah kamu jadi sexy loo&#8221;, kataku memuji lagi &#8220;ah mas ini&#8221;, mukanya merah tersipu malu-malu &#8220;terus muka kamu kan cantik&#8221;, pujianku menjadi-jadi &#8220;tapi kan aku tetep gadis desa mas, kampungan, ndeso&#8221;, katanya merendahkan diri &#8220;kamu bisa kok jadi gadis kota, gadis yang ada di sinetron-sinetron itu&#8221; &#8220;ah yang bener mas, gimana caranya?&#8221;, katanya &#8220;ya dari baju sikap dll&#8221; &#8220;baju, kayak gimana mas?&#8221; &#8220;kalo ini kamu harus percaya diri, kamu pake tanktop atau rok mini&#8221; &#8220;malu mas&#8221; &#8220;udah, kamu coba dulu, saya beliin deh&#8221; &#8220;duh, nggak enak mas&#8221; &#8220;udah, gak papa kok&#8221; kemudian dia ke kamarnya dan mengambil uang &#8220;nggak papa nih mas, masak saya nyuruh majikan beliin baju&#8221; &#8220;oh nggak papa kok, ini kan demi kamu juga, lagipula saya juga ingin keluar&#8221; &#8220;makasih ya mas, jadi nggak enak nih&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;udah tenang saja kok&#8221; kemudian saya keluar dengan naik sepeda motor saya dan pergi ke toko pakaian yang terkemuka. mumpung lagi sale. saya memilih tang top pink, rok jeans mini dan sebuah G-string. tapi masalahnya saya risih membawa pakaian perempuan. apalagi membawa g-string. oleh karena itu, saya mencuri pakaian daripada diketawain sama kasirnya. saya memasukan barang tsb di balik jaket saya yang seharusnya tadi dititipkan penitipan barang, tapi, karena orangnya nggak ada, saya nyelonong aja. dengan perasaan santai saya keluar dan langsung mengendarai motor ke rumah &#8220;kemudian agar keliatan beli, saya diam-diam ke dapur dan mengambil kantong kresek yang ada logo sebuah toko baju &#8220;ini paini bajunya&#8221; &#8220;waduh, makasih banget mas, saya harus ganti brapa?&#8221; &#8220;nggak usah ganti, gratis kok&#8221; tetapi wajh senang itu 360 derajat menjadi malu setelah melihat pakaian yang ada di dalam kantong tersebut&#8221; &#8220;mas, nggak salah nih?&#8221; &#8220;betul kok, kamu pasti seksi dan cantik pake itu&#8221; &#8220;kamu mandi dulu, terus baru pake itu, biar tambah cantik&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;tapi mas, nanti paha sama belahan susu saya kelihatan lo mas&#8221; &#8220;nggak papa kok, kan susu kamu gede terus kulit kamukan putih jadi cantik kok&#8221; &#8220;tapi kan saya jadi malu&#8221; &#8220;tenang, kan cuma ada saya dan kamu doang, jadi nggak usah malu&#8221; &#8220;iya deh mas, tapi cuma semalam saja ya&#8221; &#8220;iya, tapi nanti kamu jangan pake beha&#8221; &#8220;loh mas, kok nggak pake beha?&#8221; &#8220;kamu tahu nggak kalo pake beha bisa bikin kanker payudara nanti matinya cepat kayak artis yang diinfotaiment itu&#8221;, kataku menakutinya &#8220;saya jadi takut mas&#8221; &#8220;makanya kamu nggak usah pake beha aja terus, buang aja behamu, terus kamu pake CD yang saya beliin,&#8221; &#8220;iya mas&#8221; &#8220;Sabunanya yang banyak ya&#8221; kemudian saya menunggu beberapa menit dan akhirnya keluar juga. waduh, cantik bener, terlihat paini dengan tanktop V-neck sehinggaputingnya ngeplat dan belahan dadanya yang besar serta terlihat kakinya dan pahanya mulus yang ingin aku raba-raba. betul-betul membuat saya ngaceng sampai sakit yang kemudian menyembul dibalik celanaku, dengan cepat aku duduk dan langsung mengambil bantal yang kemudian saya taruh diatas paha</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;gimana mas andi&#8221; katanya berusaha menutupi bagian dadanya &#8220;waduh paini kamu seksi dan cantik banget&#8221; &#8220;makasih mas andi&#8221; &#8220;mas jay pasti nyesel mutusin kamu kalo liat kamu kayak begini&#8221; &#8220;ah mas andi bisa aja deh&#8221; &#8220;kamu itu aslinya cantik dan seksi lo paini&#8221; &#8220;mas tapi ada yang nyelip&#8221; &#8220;nyelip?&#8221; &#8220;iya mas&#8221; &#8220;apaan?&#8221; Dengan malu dia berkata&#8221; anu mas, kolor tali yang mas beliin&#8221; &#8220;oh nggak papa kok, ayo duduk disofa&#8221; kemudian dia duduk di hadapan saya &#8220;gimana, enak nggak?&#8221; &#8220;nggak enak mas, yang bawah nyelip, terus yang atas ngetat mas, nggak pake beha lagi mas, puting saya kelihatan ya mas?,saya malu sekali mas, ternyata jadi gadis kota itu susah&#8221; &#8220;puting kamu keliatan bikin kamu jadi tambah seksi kamu kayak di film-film lo, kamu jadi model aja paini&#8221; &#8220;ah, mas ini bisa aja, nanti kalau paini jadi model, nanti yang ngurus mas siapa?&#8221; &#8220;udah paini, nggak usah ditutup-tutupin susumu, santai aja, kan yang liat cuma aku, kalo kamu kecilin susumu, mungkin kamu nggak jadi seksi lagi lo&#8221; &#8220;tenang, cuma saya dan aku, aku nggak gigit kok, aku jaga rahasia kita berdua&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;hihihi&#8221; akhirnya senyumnya mengembang juga &#8220;mas, aku boleh salin ndak?&#8221; &#8220;jangan ganti, nanti saya ajarin biar tambah seksi dan naughty&#8221; &#8220;mas andi, kok kayak lagunya tata yang&#8221; &#8220;nanti biar kamu seksi kaya tata young&#8221; kemudian saya memutar VCD tata young, kemudian lagu sexy, naughty &amp; bitchy keluar keluarlah keluar tata young yang seksi itu &#8220;tata young aja berani diliatin didunia malah, kok kamu dihadapan saya aja kok malu&#8221; &#8220;tata young kan cantik, kalo saya apanya cantik&#8221; &#8220;udah, sekarang kamu menutup mata, bayangkan kamu tata young&#8221; &#8220;iya mas&#8221; kemudian dia meniru gerakan tata young sambil nyanyi, meskipun englishnya kagok, tapi gerakanya sangat sensual. kedua tanganya meraba pahanya, pyudaranya dan tentu saja membuat saya ngaceng. setelah bernyanyi, Paini menjadi percaya diri, dia tidak menutupi tubuhnya lagi. tanpa saya sadari, rupanya dia terangsang, terlihat dari putingnya sudah berkembang. Saya menganggap ini kesempatan emas untuk ML denganya &#8220;mbak, kalo udah nyanyi ayo duduk disini&#8221; &#8220;iya mas&#8221; paini langsung duduk di sampingku</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;mbak haus kan, saya juga haus&#8221; &#8220;kok tau sih mas andi ini, saya ambil jus jeruk di kulkas ya&#8221; &#8220;udah, bia saya yang ambil, mbak kan capek abis joget&#8221; kemudian saya langsung mengambil jus jeruk dikulkas dan mengambil gelas di dapur. Kemudian diam-diam saya mengambil obat perangsang milik kedua orang tua saya di kotak obat. kemudian saya menelan 2 obat perangsang sekaligus dan 1 obat saya tumbuk menjadi bubuk dan saya masukan ke dalam jeruknya. kemudian saya langsung ke ruang keluarga, saya pun juga ngaceng terus, dan tidak saya tutupi yang mungkin bisa menambah rangsangan dia juga &#8220;ini mbak jus jeruknya&#8221; &#8220;slruupp&#8221; jus jeruk itu langsung diminum sampai habis kemudian efek obat itu bekerja. terlihat paini mengipas-ipas tubuhnya dan puting susunya membengkak kemudian kami mulai ngobrol lagi &#8220;mbak, masa sama mas jay cuman cium pipi?&#8221; &#8220;iya, mas&#8221; &#8220;mbak, pengin tau nggak rasanya mulut mbak dicium? kayak disinetron?&#8221; &#8220;mau, kayaknya enak&#8221; &#8220;kalo saya ajarin cium mulut orang mau nggak?&#8221; &#8220;saya takut mas&#8221; &#8220;katanya tadi mau, kok sekarang takut sih?&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;mmmm&#8221; dia bergumam lagi &#8220;udah, gini aja, kamu saya cium, kalo nggak enak nggak usah dilanjutin&#8221; kemudian saya suruh menutup mata, kemuadian saya mendekatkan bibir saya dan kami saling berciuman sekitar 10 detik &#8220;gimana mbak, enak?&#8221; &#8220;enak ya mas&#8221; &#8220;ini ada satu ciuman lagi tapi kamu harus juga aktif, nanti lidah kamu ke lidahmu dan lidahku ke lidahkmu kemudian kepalaku sedikit di miringkan dan kami melakukan french kiss cukup lama sekali. kemudian bibirku berpindah kekupingnya dan kucium kupingnya dan aku julurkan lidahku ke lubang telinganya &#8220;uhh.. geli mas&#8221; kemudian saya cium lehernya yang wangi &#8220;enak mas enak lagi mas ohh..&#8221; dan kuberikan tanda merah di lehernya. kemudian saya turunkan tali tank topnya &#8220;jangan mas, malu&#8221; tetapi kuteruskan saja dan kemudian saya melihat kedua bukit kembar yang yang putingnya sudah menonjol keras, kemudian saya remas-remas kedua bukitnya &#8220;mas, pelan saja&#8221; kemudian kuturunkan temponya dan ku cubit-cubit kecil payudaranya . setelah itu saya pilin-pilin putingnya. dia mendesah menggelinjang &#8220;ohh&#8230;ahh&#8230; geli mas&#8221; sungguh indah pemandangan ini.</p>
<p style="text-align: justify;">kemudian saya emut-emut payudaranya kananya dia teriak-teriak &#8220;ohh yea yess ahhh&#8221; dan tanganya meremas payudara kiri. setelah beberapa menit saya pindah dan beberapa menit kemudian saya menjulurkan lidah saya ke pusarnya yang bersih itu dan kedua tangan saya aktif meremas kedua payudaranya. posisi ini susah karena perut paini bergoyang terus saking nikmat yang kuberikan untuknya. kemudian kedua tangan saya turun ke roknya dan pelorotkan roknya.&#8221;mas jangan mas ahh jangan mas malu ohh&#8221; pada saat ini masih sempet-sempetnya dia untuk bilang tidak. kemudian munculah G-string biru muda, warna kesukaanku kemudian kuraba, rupanya sudah basah. kemudian aku raba bibir vaginaya yang sudah merah merekah.&#8221;ahh enak&#8221; kemudian aku pelorotkan juga g stringnya sehingga sudah terlihat paini si toket gede bugil denganpayudata yang mingkin sudah bertambah bear 25% dengan puting mengeras dan vagina basah yang sudah merekah siap untuk ditidur kemudian saya menyuruh paini untuk membuka bajuku. setelah itu dia memelorotkan celanaku sehinnga terlihatlah CD ku yang menyembul.</p>
<p style="text-align: justify;">kemudian saya berkata &#8220;paini, kamu sudah siap ntuk melihat penis saya sayang?&#8221;, &#8220;sudah siap mas&#8221; kemudian dia melorot kan celanaku dan &#8220;toing&#8221; penis ku menyembul keluar, penis dengan jembut keriting dan penis kokoh sekitar 18 cm dengan diameter 3 cm. &#8220;emut donk say&#8230;&#8221; &#8220;diemut?!&#8221; &#8220;iya diemut, dijilat&#8221; &#8220;nggak brani ya say?&#8221; &#8220;iya mas&#8230;&#8221; rupanya dia rada ngeri dengan penisku, kemudian saya kk dapur dan mengambil susu kental manis dan mengambil ceres. kemudian saya oleskan susu kental manis coklat itu sampai memenuhi penis ku dan dan kuberi ceres warna-warni di penisku &#8220;biar mbak nggak takut, ini saya beri coklat bia enak oralnya, emut sam pai habis&#8221; &#8220;iya mas&#8221; &#8220;jangan lupa, jangan sampe burung mas kena gigi, nanti lecet&#8221; kemudian dia mulai menjilat penis saya, awalnya menjilat tapi kelama-lamaan mengemut &#8220;ah enak sekali paini terus ahh yess&#8221; yang lama kelamaan sampai mulutnya penuh dan saya menjambak rambutnya. hisapanya seperti orang yang sudah sering nyepong. dia menjalankan perintah. beberapa menit kemudian &#8220;croot-croot&#8221; saya melepaskan mani saya pertama dimulutnya.</p>
<p style="text-align: justify;">anehnya penis saya tidak mengkerut, mungkin ini efek dari obat tersebut.&#8221;mas kok buang pejunya di mulut mabak sih?&#8221;, &#8220;kamu tau nggak mani itu mempunyai protein yang banyak?,telan aja&#8221; kemudian dia menurut dan cairan putih kental itu dia telan sampai habis, kemudian giliran saya menjilat vaginanya. kuraba vaginanya dan kucari clitorisnya. dia mendesah &#8220;ahh enak mass lanjut mass&#8221; dan kemudian keluar juga dan kubersihkan dari mulutku dan sekarang mungkin saatnya penis saya menerobos vaginanya. &#8220;mbak, mungkin ini rada sakit, tapi setelah itu nikmatnya keluar&#8221;, dan saya sudah bersiap memasukanya. kemudian tangan saya dipegang, &#8220;mas, nanti kalo hamil gimana mas?&#8221;,&#8221;kalo kamu hamil aku tanggung jawab&#8221;. kemudian sayaberusaha memasukan penis perlahan-lahan rupanya ketika kepala penisku pengenai dinding vaginanya, &#8220;uhh, perih mas&#8221; kemudian saya memasukan penis 1 cm dan keluar lagi, kemudian saya masukan penis 2 cm dan keluar lagi dan terus-terus menerus danakhirnya aku merasakan ada dinding &#8220;duh mas perih sekali, &#8220;udah kamu siap-siap ya say&#8221;.</p>
<p style="text-align: justify;">kemudian saya menekan dengan keras &#8220;Aaaaa&#8230;&#8221; paini teriak dengan keras. kemudian aku mulai gerakan maju-mundur dengan posisi missionaris dan sesekali saya minta agar penis saya dijepit diantapa penisnya. &#8220;ah-ah-ah-ah&#8221; muka kesakitan paini berubah menjadi muka penuh kenikamatan &#8220;oh oh oh lebih cepat mas&#8221; kemudian saya mempercepat gerakan penis saya &#8220;nikmat mas terus mas uhhh ahhh yes yess&#8221; desahan paini yang membuatku bersemangat. setelah itu kami berganti posisi favorit (katanya) doggy style. saya menyuruh marni membentuk seperti ****** dan kemudian saya mulai menyodok vagina paini. &#8220;ah ah mas terus mas ah ah&#8221; sedankan saya memukul pantanya sampai merah dan setelah itu saya jambak rambutnya seperti cowgirl . tetapi rasa sakit itu sepertinya ditutupi oleh sodokan maut penis ku. dan beberapa menit kemudian paini &#8220;mass mau pipis ahh&#8221;,&#8221;udah keluarin aja&#8221;. dan kemudian dia menegluarkan cairan kental dan beberapa menit kemudian &#8220;croot&#8230;croot&#8230;&#8221; saya juga mengeluarkan cairan hangat yang kental di vaginanya. setelah itu kami french kiss dan tidur bersama di kamar tidur ortuku sambil bugil.</p>
<p style="text-align: justify;">kemudian tidak terasa sudah pagi rupanya. paini masih teridu pulas dan saya membanguninya. &#8220;Mbak, bangun mbak udah jam 9 pagi mbak&#8221; kemudian dia bangun dengan tubuh lemas &#8221; loh, kok sudah jam 9 pagi&#8221; &#8220;laper mbak&#8221; &#8220;mas andi mau makan apa&#8221; &#8220;roti selai aja deh, gimana mbak permainan semalam?, enak nggak?&#8221; &#8220;enak banget mas, besok-besok lagi ya mas&#8221; &#8220;iya&#8221; &#8220;mas, tapi nanti kalo aku hamil gimana mas&#8221; &#8220;udah tenang aja, nanti beli pil anti hamil aja&#8221; &#8220;mas nakal deh&#8221; katanya mencubit putingku &#8220;kamu nakal juga deh&#8221; kemudian aku mencubit payudaranya &#8220;kamu jangan pake baju dulu yach&#8221; pintaku &#8220;iya, tapi mas juga&#8221; kemudian paini pergi ke dapur dan aku pergi ke kamarku untuk mengambil CD BF pinjeman temanku untuk memberikan pendidikan macam posisi ngeseks. kemudian terdengar suara dari dapur &#8220;mas andi, selainya rasa apa?, stroberi,coklat,nanas apa kacang?&#8221; kemudian muncul lagi pikiran ngeresku untuk menidurinya &#8220;bawa aja semua selainya. sekalian bawa ceres sama madu sayank&#8221; &#8220;buat apa?&#8221; &#8220;liat aja nanti deh&#8221; kemudian kami berkumpul lagi di ruang keluarga.</p>
<p style="text-align: justify;">saya menyetel film biru kualitas DVD. terlihat dari kover disknya dengan judul hardcore xxx yang kata teman saya katanya ngeseks di bermacam posisi dan di berbagai tempat seperti di kantor,rumah sakit, hutan, lapangan, air terjun dll dan orangya bermacam seperti chinesse,arabian,india dan lokal ,dll. sedangkan paini sudah menaruh roti dan barang yang saya inginkan. kemudian kami menonton film tersebut bersama paini sabil makan roti. wah rupanya film ini berdurasi 45 menit. Ternyata benar kata sohibku ini film ini memberi pengetahuan posisi macam-macam dan tempat settingannya keren. baru menonton adegan buka baju penis saya bengkak lagi. sedangakan paini masih santai-santai saja. para model yang digunakan betul-betul pro dan cakep-cakep dan cantik-cantik. dan saya paling suka melihat salah satu adegan 1 tante-tante girang yang luar biasa cantiknya serta tubuh yang sangat sempurna dientot 3 orang. saya juga suka melihat orang india yang mukanya seperti aiswarya rai yang toketnya ukuran jumbo, saya taksir 39c ditiduri oleh pria india perkasa. dan kemudian film itu selesai.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;mas andi, minta jatah lagi dong, saya melihat paini yang waow payudaranya betul-betul membengkak, tidak seperti kemarin. putingnya pun lebih besar. kemudian saya menumpahkan semua sirup dan selai saya oleskan ke tubuh saya dan tidak lupa untuk memberikan ceres ke tubuh saya kemudian saya menyuruh membersihkan tubuhku dengan lidah. kemudian dia menjilat tubuhku dengan ganas dan terakhir mengemut penis saya. mungkin karena kelewat nafsu yang membara. Paini menngemut dengan sangat pintar dan kemampuan sedotanya kayak mesin pompa betul betul enak sekali tidak kaya kemarin. sedotanya mungkin bisa membuat penis saya panjang,&#8221;uh-ah alamak enaknya terus ah sedot trus yess ahhh uhhh&#8221; desahanku sambil menjambak rambutnya&#8221; beberapa meni kemudian saya menumpahkan mani di mulutnya dan dia langsung mengemutnya, tapi kali ini penis saya mengekrut. &#8220;loh mas, kok ini mengkerut sih nggak kayak kemarin?&#8221; &#8220;kan ini nggak pake obat sayang kayak kemarin&#8221; &#8220;kalo ukuranya segini gimana masukinya dong?&#8221; &#8220;semua laki-laki tuh kayak gini kalo abis keluarin peju, kamu harus bikin saya rangsangan biar ngaceng lagi&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;rangsangan apaan?&#8221; &#8220;pokoknya sesuatu yang bikin aku ngaceng seperti menari bugil atau laninya&#8221; oh kamu tiru ini aja, lebih gila juga boleh&#8221; sebetulnya penis saya dipijit-pijit juga udah ngaceng tapiu saya mencari cara untuk mengulur waktu kemudian aku ke kamarku mengambil DVD porno lagi yang ceritanya seorang wanita super eksibisionis membuat pria horny. kemudian aku menyetelnya untuk paini. sedangkan aku kamar tidur untuk merenggangkan otot.<br />
setelah selesai saya melihat paini masih menonton film itu dan beberapa menit kemudian film itu selesai.</p>
<p style="text-align: justify;">kemudian paini menggunakan bajunya lagi. &#8220;loh kok pake baju lagi&#8221;,tanyaku. &#8220;buat pertunjukan, nanti juga copot lagi&#8221;. dia menyuruhku untuk duduk di sofa agar saya bisa menikmatinya. rupanya dia ingin meniru yang ada di film barusan. setelah selesai pakai baju dia bilang action maka akting nya di mulai. Dia berjalan berjalan seperti peragawati dan matanya selalu menlirik padaku dengan kedipan nakal. kemudian dia stop di depanku. kemudian dia jong kok dengan paha terbukan lebar memamerkan vaginaya karena tidak menggunakan kolornya kehadapanku kemudian berdiri lagi. kemudian dia mengambil botol air mineral dan menumpahkan di rambut bajunya seperti tidak sengaja. kemudian terlihatlah kedua putingnya yang menambah keseksianya. kemudian dia kelihatan seperti megusap bajunya. yang kemudian kedua tangan itu mengusap dadanya yang basah karena air itu. kemudian dia dia seperti ketagihan mengusap payudaranya dan memegang pyudaranya. Spontan burungku sudah berdiri tapi belum maksima. kemudian dia memilin-milin putingnya yang rupanya terangsang sendiri.</p>
<p style="text-align: justify;">dia memuntir muntir putingnya dan tentu desahanya &#8220;ah-uh ohhh&#8221; yang membuat saya horny maksimal. kemudian setelah memuntir dia kemudian dia duduk berhadapan di kursi. dia terlihat membuka pahanya yang spontan sudah membuat jatah. tapi rupanya belum berakhir. paini kemudian mengusap-usap pahanya dan mulai meraba-raba bibir vaginanya. kemudian diamulai memasukan 3 jari sekaligus ke dalam vaginanya. kemudian dia mulai mengocok jarinya di vaginaya. pertunjukan panas ini sangat mendebarkan yang dimana ini kejadian &#8220;live show&#8221; yang sangat panas. eranganya ketikan memaskuan jarinya &#8220;ah-uh ahhh&#8221; membuat pria manapun ngaceng. kemudian setelah berselang berapa menit, paini meng akhiri mastur basinya. cairan kental sudah ada di jarinya. kemudian saya tepuk tangan dan sebuat ciuman jdat. &#8220;Wah rupanya paini pinta berakting&#8221; &#8220;ah bisa aja mas andi, saya kan cuma meniru yang ada di tv&#8221; &#8220;karena kamu berhasil membuat saya ngaceng ayo kita bertanding&#8221; &#8220;paini, boleh nggak saya anal sex?&#8221; &#8220;Anal sex, apaan tuh?&#8221; &#8220;Anu,ngesex tapi di pantatmu&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;MMMM&#8221; paini &#8220;plis, munkin rada perih, tapi saya ingin coba&#8221; &#8220;boleh mas&#8221; kemudian paini telungkup dan saya beri bantal di pantanya serta penis saya sudah pas ke panatatnya &#8220;saya masukin ya, sakitnya ditahan ya&#8221; kemudian saya memasukan penis saya, setiap saya masukin, paini mendesis kesakita. saya suruh untuk masturbasi. kemuadian saya menaikan temponya. ternyata benar. dijepit pantan itu enak rupanya. &#8220;ahh&#8230;.uhh&#8230;.&#8221; semakin lama semakin cepat &#8220;ahh&#8230;uhhh&#8230;&#8221; eranaganku. &#8220;ahh nikmat sekali dijepit pantatmu paini !&#8221;. dan beberapa menit kemudian saya menghentikan aksi ini. saya kasihan paini merasa kesakitan. kemudian saya suruh untuk berbalik badan. rupanya dia sudah berlinagan air mata. kemudian saya mengecup matanya. &#8220;sudah paini&#8221; &#8220;loh mas kok nggak sampai puncak&#8221; &#8220;saya kasihan sama kamu paini&#8221; &#8220;ah nggak papa kok mas sapai selesai, yang penting mas andi senang&#8221; &#8220;udah nggak saya terusin analnya, sekarang gini aja, kamu diata saya dibawah, kamu pasti senang&#8221; kemudian kita bertanding dengan posisi woman on top atau wanita diatas. dengan posisi ini saya melihat wajah paini berubah 360 derajat.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;ahhhh&#8230;uhhhh&#8230;..&#8221;desahan ini selalu keluat apabila paini memasukan penisku. semakin lama desahanya semakin jadi &#8220;wow, yess ah yess&#8221;, semakin lama temponya semakin cepat. dan akhirnya &#8220;mas, paini mau keluar&#8221; &#8220;mas andi juga keluar, kita keluar sama-sama yuk&#8221; &#8220;kita hitung ya 3&#8230;&#8221; &#8220;dua&#8230;&#8221; &#8220;satu&#8230;&#8221; &#8220;croot&#8221; akhirnya kami langsudn lemas bersama &#8220;ayo paini, kita bikin penutupan&#8221; &#8220;iya mas&#8221; &#8220;sekarang kamu pijit-pijit penis saya biar berdiri lagi&#8221; kemudian paini memijit batang kemluanku dan akhirnya ngaceng lagi&#8221; &#8220;sekarang kita bertanding di kamar mandi sambil mandi biar bersih&#8221; &#8220;mau di kamar mandi, di dapur siapa takut!&#8221; saya heran dengan ini cewek kok nggak capek ngesex ya, mungkin gara-gara pengalaman pertama) kemudian saya gotong dia ke kamar mandi dan saya setel air hangat kemudian kami saling menyabuni dan membilas satu dengan lainya. setelah itu kami sikat gigi dengan cara unik. saya sikat gigi dengan odol yang banyak sekali. kemudian saya sikat sehinngga busanya bertumpahan. kemudian busa itu saya tranfer lewat french kiss yang lama dan saya begitu juga kumur kumur tapi airnya air bersih maksudnya air yang dari keran saya masukan ke mulut saya langsung saya beri ke paini jadi tidak saya gunakan kumur dahulu.</p>
<p style="text-align: justify;">setealah itu kita ngesex posisi standing yaitu paini saya senderkan di tembok kemudian kinya ditekuk ke atas dan saya menembus vaginanya. rupanya posisi ini membuat saya menguras banyak energi dan bikin capek tetapi tertutupi oleh kenikmatan duniawi dan setelah beberapa menit saya menegeluarkan mani terakhir saya di vaginanya dan kami saling mengeringkan badan dan memakai baju kembali dan setelah ini paini merapihkan rumah. Sejak peristiwa ini kami sering melakukan hubungan sumai istri apabila dirumah hanya kami berdua. dan karena sex ini mendongkrak nilai raport saya lebih bagus. dan kalau ulangan nilai saya menjadi lebih bagus dan tanpa menyontek. bahakan nilai UAN saya 100 besar sejawa timur bahkan saya bisa masuk universitas terkemuka di bandung. meskipun jauh dengan kampung halaman sesekali kami masih berhubungan badan apabila saya pulang kampung. dan apabila saya dibandung, saya selalu menyuruh paini untuk merawat payudaranya dan meminum jamu perapet vaginanya. tetapi sayang, ketika saya sudah semester II, dia mengundurkan diri dengan alasan ingin menikah. Tapi rupanya dia ke surabaya kata ibunya. kata ibunya juga dia mengubah nama menjadi Aini, mungkin ingin menghilangkan image kedesaannya. kata ibunya dia kesana menjadi perawat katanya tetapi saya kurang percaya keran dia tidak bersekolah keperawatan. entah tidak tahu kenapa dia ke surabaya mungkin mendapatkan pekerjaan baru disana apa jual diri di lokalisasi Dolly. selamat tinggal paini si toket gede.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ceritasex.cn/paini-pembantu-pemuas-nafsu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Dewi Maniak Seks &#8211; Pesta Ulang Tahun Anaknya Bagian 7 (tamat)</title>
		<link>http://www.ceritasex.cn/dewi-maniak-seks-pesta-ulang-tahun-anaknya-bagian-7-tamat/</link>
		<comments>http://www.ceritasex.cn/dewi-maniak-seks-pesta-ulang-tahun-anaknya-bagian-7-tamat/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 26 Nov 2009 02:45:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cerita Sex</dc:creator>
				<category><![CDATA[Gangbang Rame Rame]]></category>
		<category><![CDATA[Paruh baya]]></category>
		<category><![CDATA[Pemerkosaan]]></category>
		<category><![CDATA[Seks Umum]]></category>
		<category><![CDATA[Tante Girang]]></category>
		<category><![CDATA[anal seks]]></category>
		<category><![CDATA[anus]]></category>
		<category><![CDATA[birahi]]></category>
		<category><![CDATA[dewi]]></category>
		<category><![CDATA[hani]]></category>
		<category><![CDATA[kontol]]></category>
		<category><![CDATA[memek]]></category>
		<category><![CDATA[ngentot]]></category>
		<category><![CDATA[nita]]></category>
		<category><![CDATA[pantat]]></category>
		<category><![CDATA[pesta seks]]></category>
		<category><![CDATA[siska]]></category>
		<category><![CDATA[theesome]]></category>
		<category><![CDATA[toket]]></category>
		<category><![CDATA[vagina]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ceritasex.cn/?p=1087</guid>
		<description><![CDATA[Gerakan Doni yang sedang menyodok-nyodokkan batang kemaluannya didalam lubang pantat Nita semakin bertambah gencar, akibatnya tubuh Nitapun maju mundur dengan cepat, kontol Roni yang sedalam cengkraman memek Nitapun ikut keluar masuk dengan cepat, sementara batang kemaluan Parmin dengan sendirinya keluar masuk mulut Nita seirama dengan gerakan maju mundur tubuh Nita, kedua payudara Nita berguncang maju [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Gerakan Doni yang sedang menyodok-nyodokkan batang kemaluannya didalam lubang pantat Nita semakin bertambah gencar, akibatnya tubuh Nitapun maju mundur dengan cepat, kontol Roni yang sedalam cengkraman memek Nitapun ikut keluar masuk dengan cepat, sementara batang kemaluan Parmin dengan sendirinya keluar masuk mulut Nita seirama dengan gerakan maju mundur tubuh Nita, kedua payudara Nita berguncang maju mundur menerpa wajah Roni, Roni menyambut dengan mulutnya dan menghisap-hisap payudara Nita bergantian.</p>
<p style="text-align: justify;">“Hhhmmmpp….sssllrrppp…hmmmppp…ssslrrppp…sssshhh…hh mmppp..aaaahh..sslrrpp… aahh …hhmmpp..ssslrrpp…ssshhh….hhmmmppp…sslrrppp…,”deng usan Nita terdengar disela-sela kesibukannya menyepong batang kemaluan Parmin.</p>
<p style="text-align: justify;">“Uughhh…nikmat terus emot kontolku…aaahh…uuggghh….aahhh..,”Parmin melenguh menikmati sepongan Nita.</p>
<p style="text-align: justify;">“Hhhhmmpp.ssslrrppp…hhmm…ssslrpp…ooohhh..ssslrrpp. .hhmmpp…aaahhh…hhhmmpp,”Roni menggumam sambil terus menghisap-hisap tetek Nita.</p>
<p style="text-align: justify;">“Ooohh..tante….enak betul anus tante…aaahh… nikmat….ooohh…,”Doni mengerang keenakan sambil terus mempercepat gerakannya.</p>
<p style="text-align: justify;">“Ooohh…terus…entot…akuuu…oohh…sshhhh…hmmmppp….aaah h…enakk…nikmat…. ooohhh ….yang dalam…yang kuat…hhmmppp sslrppp….terus puaskan aku….ooohh..hhmmppp..ssllrpp …sshhh..aahh…hhmmpp..sslrrpp…,”desahan Nita terus terdengar disela-sela kesibukannya menyepong kontol Parmin.</p>
<p style="text-align: justify;">Selang tak lama tubuh mereka berempat bergetar dengan hebat, tubuh mereka meregang, puncak kenikmatan yang dinanti-nantikan oleh mereka akhirnya datang juga, tubuh mereka kelojotan, gerakan tubuh mereka semakin tidak beraturan, hampir secara bersamaan mereka mengerang, kemaluan merekapun hampir berbarengan memuntahkan lahar kenikmatan mereka.</p>
<p style="text-align: justify;">Ccreeeettt..c.creeettt…ccreeett..ssrrr…sssrrr..ccr eeettt..creettt..creett..ssrrr..ssrrr… ketiga lubang Nita dipenuhi oleh pejuh yang menyembur keluar dari batang-batang kemaluan Doni, Roni dan Parmin, Roni merasakan hangatnya lahar kenikmatan Nita menyirami batang kemaluannya, Roni merasakan denyutan kuat dinding vagina Nita seolah meremas-remas batang kemaluannya, lubang pantat Nitapun ikut mengempot kuat saat Nita mencapai klimaksnya itu, Doni merasakan batang kemaluannya seolah dipijat-pijat oleh lubang pantat Nita, sementara Parmin menikmati sedotan kuat dibatang kemaluannya karena saat Nita sedang merengkuh puncak kenikmatannya itu Nita menyedot kuat-kuat batang kemaluan Parmin.</p>
<p style="text-align: justify;">“Uuggghhh….gillaa..sedotannya…aaaku aaahhh…nikmat sekali…,”Parmin mendengus saat merasakan batang kemaluannya yang saat itu sedang memuntahkan cairan sperma disedot kuat-kuat oleh Nita, air pejuhnya langsung masuk dan ditelan oleh Nita.</p>
<p style="text-align: justify;">“Akku keluar..ooohh…nikmat betul….enak..Tante..enak…ooohh…pantatmu…ini oohh…,”Doni mengerang keenakan merasakan empotan lubang pantat Nita.</p>
<p style="text-align: justify;">“Akku juga..ooh…batang kontolku seperti diremas-remas…aahh..oohh..,”Roni melenguh matanya merem melek menikmati pijatan-pijatan dinding vagina Nita di batang kemaluannya.<br />
<span id="more-1087"></span><br />
“Hhhmmpp…glleekk..ssllrrppp…gleeekk…ssllrrppp…aaah h…nikmat…sslrrpp..gleekk…oohh…. aku keluar…puas aku…ssslrrpp..gleekkk…ssslrrppp..gleekk..aahh…kontol-kontol kalian betul… betul hebat..ooohh…nikmat sekali…,”Nita merintih keenakan ditengah kesibukannya menghisap pejuh Parmin.
</p>
<p style="text-align: justify;">Suara erangan dan rintihan mereka berempat hampir bersamaan dengan erangan Gito yang baru saja mencapai puncak kenikmatannya juga, saat Gito terkapar kelelahan dan sedang menikmati sisa-sisa kenikmatan yang baru saja dicapainya, keempat orang ini juga sama-sama menikmati sisa-sisa kenikmatan yang baru saja mereka rengkuh.</p>
<p style="text-align: justify;">“Uuughh…aaahhh…ssshhh..hhhmmpp…ssslrpp…hhhmmppp..s sslrrpp..aahh..sshh..oouuhh…. hhmmppp..sslrrppp..hhhmmpp..sslllrppp..aaahhh…enak …terus entot aku..buat aku puas…. Oohh …hhmmpp..sslrppp…sshhh…,”Hani merintih-rintih keenakan sambil mulutnya sibuk mengulum-ngulum batang kemaluan Udin.</p>
<p style="text-align: justify;">“Uugghh…kalian betul-betul jantan…oohh..ini yang aku butuhkan selama ini…ssshhh..aahhh… hmmmppp..ssslrppp…aaahh…hmmmpp…slllrppp…nikmatnya… enak sekalliii…hmmpp..sllrpppp …aaaahh…ssshhh….hmmppp…slrrrppp…,” tak hentinya Hani merintih-rintih keenakan menikmati genjotan batang-batang kemaluan Dedi dan Anto.</p>
<p style="text-align: justify;">Dedi dan Anto bekerja sama dengan baik saat mereka mengeluar masukkan batang kemaluan mereka, saat mereka mendorong maju batang mereka, merekapun menekannya dalam-dalam, sehingga dinding rahim Hani tersentuh oleh ujung kepala kontol Anto.</p>
<p style="text-align: justify;">Sementara itu Udin yang sedang menikmati permainan mulut Hanipun merem melek menikmati sedotan-sedotan kuat Hani, pipi Hani menjadi kempot saat ia menyedot kuat-kuat itu, tubuh Udin menggigil keenakan dibuatnya.</p>
<p style="text-align: justify;">“Uughh..gila sedotannya….enak..aahhh…terus sedot Bu, terus…buat aku muncrat…ooohh…. Aaahhh….nikmat betul ….,” Udin mengerang keenakan.</p>
<p style="text-align: justify;">“Lubang pantatnya sempit banget bih…ooohhh….enak betul…ooohh….Tantteee…enak..betul.. kontol anusmu …. Aaahhh…sedaapp…,”Dedi mengerang juga.</p>
<p style="text-align: justify;">“Tanteee…memekmu..aaahh…hhmppp…sslrppp…tetekmu…mas ih mengkal…oouughh…sslrpp. Sempit bener memekmu…,”Antopun ikut mengerang merasakan jepitan yang ketat dibatang kemaluannya.</p>
<p style="text-align: justify;">“Ooohhh….hhmmmppp…slrrppp..gleekk…ssslllrppp..sssh hh…aaaghhh…oouughh…kon***-***tol kalian juga enaaaaakk….besaaarr…puaskan aku…ooohh…hhmmpp…sllrppp….entot aku….yang kuat hhmppp…ssslrrrppp…ssshhh..aaahhh…tekan yang dalam….ooohh..hmmmpp…sslrrppp… enak…,”Hani semakin merintih-rintih.</p>
<p style="text-align: justify;">“Tambah cepat sodokan kaliaan…ooughh…hmmpp..sslrpp…hmmppp…slrrppp…sshhaa ahhh… aku tidak tahan lagi…ooohh…sssshhhaaahhh…hhmmmppp…aaku mau kelluaar…ooohhh….yang cepat…oooghh…yang dalam….uuughh…sshhh…aaahh…entot..terus.. aakkuu…oooghh…enaakk…hhmppp…sslrrrpp…ssshh…sslrppp …sssshh..,” rintihan Hani semakin menjadi-jadi.</p>
<p style="text-align: justify;">Dedi dan Anto menambah cepat gerakan keluar masuk batang-batang kemaluan mereka sesuai dengan permintaan Hani, dan mereka juga merasakan hal yang sama dengan Hani, puncak kenikmatan mereka sudah diambang pintu, Udinpun merasakan hal yang sama, dengan penuh nafsu Udin mulai mencecar mulut Hani dengan cepat, kedua tangannya memegangi kepala Hani, Hani dibuat gelagapan oleh jejalan batang kemaluan Udin dimulutnya, batang kemaluan Udin semakin dalam masuk dimulutnya, setiap Udin mendorong maju batang kemaluannya anak tekak dan tenggorokan Hani tersentuh oleh batang kemaluan Udin.</p>
<p style="text-align: justify;">Dan hampir bersamaan lahar kenikmatan mereka menyembur dengan kuat, creeeettt….creeettt… ssrrrrr…ccreettt..ccreett…crettt..sssrrr….sssrrr…c creeettt..ccrreeettt…</p>
<p style="text-align: justify;">“Oooohhh…aaaku keluaarr…,”pekik mereka berempat kompak, hampir bersamaan dengan pekikan Gito dan Doni cs, yang sama-sama berhasil merengkuh puncak kenikmatan mereka.</p>
<p style="text-align: justify;">Anto, Dedi dan Udin menekan dalam-dalam batang kemaluan mereka di lubang-lubang senggama Hani, tubuh mereka meregang dan mengejut-ngejut seirama dengan berdenyutnya batang kemaluan mereka saat menyemprotkan lahar kenikmatannya, Hani menggelepar menyambut puncak kenikmatan yang berhasil ia raih, pantatnya mengejut-ngejut, vaginanya berdenyut-denyut kuat sambil memuntahkan lahar kenikmatannya dan membasahi lubang memek dan batang kemaluan Anto.</p>
<p style="text-align: justify;">“Uuuugghhh..uuhuukk…gleeek….uuughhh..uuhuukk…gleee kk…hhmmppp…sslrrppp…ggleekk … ssslrppp…hhmmmppp…aaahh…oooohhh….,” Hani tersedak saat kemaluan Udin menyemprotkan air pejuhnya, pejuh Udin langsung masuk tenggorokan, Hani menelan pejuh Udin yang menerobos ditenggorokannya.</p>
<p style="text-align: justify;">Akhirnya mereka berempat juga terkapar kecapaian menyusul Gito dan Doni cs yang baru saja terkapar juga, wajah puas terukir diwajah mereka.</p>
<p style="text-align: justify;">Vagina Siska yang semakin basah mempermudah keluar masuk batang kemaluan Hilman, Hilman dengan bertubi-tubi menyodokkan penisnya dimemek Siska, Siska mendesah-desah keenakan, Siska melenguh tubuhnya melenting matanya terbelalak saat ujung kepala penis Hilman menyentuh dinding rahimnya.</p>
<p style="text-align: justify;">“Ouugghh…sshhh..aaahh…ssshhh…aahhh..hhmm..aaahh..s sshh…enak..terus…yang dalam..yang kuat…ooohh…puaskan aku…yang cepat…aah..sshhaaahh….,”rintihan Siska keluar terus menerus dari mulutnya saat menerima sodokan-sodokan penis Hilman.</p>
<p style="text-align: justify;">“Memekmu juga enaaak…Tante…uuugghhh..aaahh….nikmatnya kontol Tante…aaaghhh,” Hilman mengerang sambil terus mengeluar masukkan batang kemaluannya.</p>
<p style="text-align: justify;">Rintihan Siska yang terus menerus disahuti oleh rintihan Rina yang sedang dipompa oleh Feri dan Nanang,</p>
<p style="text-align: justify;">“Ouughh…enaknya….terus pompa aku…..entot aku..puaskan..aku lagii…aagghh..ssshhh..aahhh ….kalian hebat nikmatnya dientot seperti ini…..tambah cepat…tambah dalaamm…hmmm..ahhh.. sshhh..aagghh…oooghh….,” rintih Rina.</p>
<p style="text-align: justify;">Tubuh Rina terlihat naik turun, kedua batang kemaluan kepunyaan Nanang dan Feri keluar masuk dengan cepat, tangan Feri menahan beban tubuh Rina dipantat sementara tangan Nanang menahannya dipinggang Rina, kerja sama Feri dan Nanang saat mengangkat dan menurunkan tubuh Rina betul-betul kompak.</p>
<p style="text-align: justify;">Dewi pun tidak mau kalah dengan kedua temannya yang merintih-rintih keenakan akibat sodokan penis dilubang mereka, Dewi yang saat itu sedang menerima sodokan-sodokan Hendra di vaginanya dan Edwin di lubang pantatnya ikutan merintih meramaikan suasana yang semakin menghangat, suara rintihan Dewi sedikit berbeda dengan kedua temannya itu karena mulutnya sedang asyik menyepong penis Acep,</p>
<p style="text-align: justify;">“Hhhmmppp..sslrrppp…aaahh…sshhh…aahhh…hmmppp..ssll lrrppp…ssslrppp..hhhmppp..oohhh entot…aku..tekan…aaaahh..yang dalam…hhmmpp..sslrppp…teruss….hhmpp…aahh..sshhh…. yang kuat…uuhuukk…uuhuukk..hhmmpp..slrppp…sshhh..aahh…, ” suara rintihan Dewi bercampur dengan suara sedotan-sedotannya dipenis Acep kadang-kadang suara tersedaknya terdengar saat penis Acep masuk terlalu dalam didalam mulutnya sehingga menyentuh anak tekaknya dan dinding tenggorokkannya.</p>
<p style="text-align: justify;">Saat ketiga grup ini sedang asyiknya memacu birahi mereka untuk segera mencapai puncaknya, ketiga grup ini mendengar pekikan nikmat dari Gito, kemudian disambung oleh suara jeritan puas dari kelompok Doni dan kelompok Dedi, nampaknya Gito, Doni dan kelompoknya serta Dedi dan grupnya telah berhasil terlebih dahulu mencapai titik puncak pendakian kenikmatan mereka.</p>
<p style="text-align: justify;">Ketiga grup yang masih asyik dengan pergulatan mereka ini semakin mempercepat gerakan-gerakan mereka, mereka berlomba untuk mencapai puncak kenikmatannya masing-masing, nafas mereka semakin memburu, birahi mereka semakin menggelegak, keringat mereka semakin deras keluar dari tubuh mereka, desahan dan rintihan mereka terus menerus terdengar.</p>
<p style="text-align: justify;">Hilman semakin menggebu menggenjot penisnya keluar masuk dimemek Siska, Siska mengimbangi dengan putaran-putaran erotis pantatnya, Hilman menekan Siska memutar keatas, Hilman menarik Siska memutar kebawah, Hilman merasakan batang penisnya seperti dipilin-pilin, Hilmanpun melenguh keenakan bersahutan dengan rintihan nikmat Siska,</p>
<p style="text-align: justify;">“Uuggghh…penisku..seperti.dipilin-pilin..ooohh..terus..Tante..enak..sekali…nikmat…go yangan pantatmu…persis goyangan Inul…oouughh..terus..tante…terus..putar..goyang…aa hhhh,” Hilman melenguh.</p>
<p style="text-align: justify;">“Kooontoolmmu…jugaa…oooghhh….enaak…terus..tekan yang dalam…yang kuaat..agghh… enak….nikmaaat…yang cepat….puaskkaan. aku…,”Siska merintih-rintih keenakan.</p>
<p style="text-align: justify;">Feri dan Nanangpun mempercepat gerakan tangan mereka yang menaik turunkan tubuh Rina, gerakan penis mereka semakin cepat keluar masuk dilubang vagina dan pantat Rina, secepat gerakan naik turun tubuh Rina, Rina mendesah-desah menikmati sodokan-sodokan dua batang penis, Feri dan Nanangpun melenguh keenakan merasakan jepitan kuat di penis mereka.</p>
<p style="text-align: justify;">“Oohhhh…enaakk…aaghh..terus..terus…yang cepat…yang dalam…terus..ooohh..enak sekali dientot kaliann…oooghh…aaagghh…kkooontooll..kaliann nikmaat..aaghh…sshhh..aaahhh… oohhh…,”Rina mendesah keenakan.</p>
<p style="text-align: justify;">“Ooohh….Tante …memekmu jugaaa..enakk….oohhh…,”Feri melenguh.</p>
<p style="text-align: justify;">“Iyaah..Bu…pantatmu juga sempit sekalii…ooohh…nikmat…,”Nanang melenguh.</p>
<p style="text-align: justify;">“Aaaaghhh….terusssss…tekaaann…hmmppp..sslrrppp…kko ontooll..kkaaaliann..hhmmpp..sslrrpp<br />
aaaaghh..sshhh…hhmmppp…yang dalam..uuhuukk…uuhuukkk..nikmat….aaghh..ssshh..ooh h… hmmmmppp…sllrppp…,”Dewipun ikut mengerang-erang keenakan sambil tersedak-sedak saat penis Acep menyentuh anak tekak dan tenggorokannya.
</p>
<p style="text-align: justify;">“Tante….Ooohhh..ssedot punyakuuu..aaahhh..nikmat sekali seponganmu…Tante…hebat..aahhh ….terus Tantee.,..terusss..sedot yang kuattt…hhmm..aahhh…,”Acep mengerang-erang keenakan.</p>
<p style="text-align: justify;">Hendra sambil menikmati penisnya yang sedang keluar masuk di memek Dewi sibuk dengan kedua payudara Dewi yang berguncang dihadapan matanya, mulutnya bergiliran menghisap dan menjilati kedua putingnya bergiliran kiri dan kanan, tangannya aktif meremas-remas kedua payudara itu, membuat kenikmatan Dewi semakin bertambah, Edwin dengan gencarnya menyodok-nyodokkan penisnya dilubang pantat Dewi, kedua tangannya ikut membantu gerakan maju mundurnya dengan berpegangan pada pinggang Dewi, saat ia menekan masuk penisnya tangannya menarik kuat pinggang Dewi sehingga penisnya melesak masuk lebih dalam lagi dilubang pantat Dewi, bukan hanya penisnya saja yang masuk lebih dalam tetapi penis Hendrapun menyeruak masuk lebih dalam sampai ujung kepala penis Hendra menyentuh dinding rahim Dewi dengan kuat, tatkala Edwin menarik mundur penisnya tangannya mendorong maju tubuh Dewi, begitu seterusnya lama-lama gerakannya semakin bertambah cepat.</p>
<p style="text-align: justify;">Gerakan tubuh Hilman semakin tidak beraturan, tubuhnya dan tubuh Siska mulai bergetar, kaki Siska mulai mengait dibelakang pinggang Hilman, terlihat kaki Siska mulai meregang, pantatnya terangkat, tubuhnya melenting, matanya terpejam, dari mulutnya terdengar desahan-desahan, dan</p>
<p style="text-align: justify;">Sssssrrrr…ssrrrr…ssrrr… vagina Siska menyemburkan lahar kenikmatannya membasahi penis Hilman.</p>
<p style="text-align: justify;">“Ooogghhh…akuu..keluarr….nikmatt..ooghh..ssshh..aa hhh..enaak….koontollmu…betuul..betull… maaanttapp…aaghh..sshhh..aahh…oooohhh….tekan yang ddaaalllaammm….,”Siska mengerang menyambut puncak birahinya yang berhasil ia rengkuh.</p>
<p style="text-align: justify;">Hilman semakin mempercepat gerakannya, dan kemudian Hilman menekan penisnya dalam-dalam dilubang memek Siska, penisnya mengejut-ngejut menyemburkan spermanya di lubang senggama Siska,</p>
<p style="text-align: justify;">Creettt…creett..creett… Siska merasakan dinding rahimnya hangat oleh semprotan sperma Hilman.</p>
<p style="text-align: justify;">“Aaahhh…Tantee..aku juga keluar…memekmmu betull enak..aaaghhh…,”Hilman mengerang.</p>
<p style="text-align: justify;">Saat Siska dan Hilman saling menyemburkan lahar kenikmatan mereka, Rina melenguh panjang,</p>
<p style="text-align: justify;">“Oouughhh….aaaku…keluuaaarr….aaaachhh..nikmatnya…d ieentoot..kaliann…aaahhh..sshhh… ooohhh…aaaaaahhhh…,” Rina melenguh, puncak kenikmatannya berhasil ia raih, tubuhnya bergetar hebat, pahanya terlihat mengejang, pantatnya mengejut-ngejut saat vaginanya menyemburkan lahar kenikmatannya.</p>
<p style="text-align: justify;">Sssssrrrr…..ssrrrr…..ssssrrr….vaginanya semakin bertambah basah akibat semburan cairan kepuasan Rina.</p>
<p style="text-align: justify;">Hampir bersamaan Feri dan Nanangpun mencapai puncak birahi mereka, mereka menurunkan tubuh Rina kebawah menyambut sodokan penis mereka, sehingga penis mereka menghujam dalam-dalam dilubang memek dan pantat Rina, penis mereka berbarengan mengejut-ngejut mengeluarkan pejuhnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Creeettt..ccreeettt…creettt…Rina merasakan hangatnya pejuh mereka berdua menyirami kedua lubangnya.</p>
<p style="text-align: justify;">“Ooohhh…aaku juga keluar ….Tante…eenaakkk…nikmatnya…memekmu inii…,”erang Feri.</p>
<p style="text-align: justify;">“Akku juga kkeeluar…aaaghh…aaahhh…oohhh…Bu….ooohhh..,”Nanang mengerang hampir bersamaan dengan erangan Feri.</p>
<p style="text-align: justify;">Mendengar erangan kepuasan kedua temannya membuat Dewi semakin ingin cepat-cepat menuntaskan hasrat birahinya, tubuhnya dimaju mundurkan lebih cepat, sedotan-sedotannya semakin menggila dipenis Acep, Acep yang mendapat serangan itu menjadi kelabakan, penisnya mulai mengejut-ngejut..dan creettt..creett..creett..</p>
<p style="text-align: justify;">“Tanteee..aku keluuaar..oohh…gila sepongan Tante…aaahh..enak..betull…,” Acep mengerang, tubuhnya bergetar hebat, pantatnya ia tekan kedepan, penisnya melesak lebih dalam di mulut Dewi.</p>
<p style="text-align: justify;">“Uuhuukk…uuhuukk….gleeekk…uuhuukk..uuhukk..gleekk… .sssslrpp..uuhuukk…hmmppp…gleek…sslrrpp..hhmmpp…ss lrrpp…,” Dewi tersedak-sedak akibat lesakan penis Acep yang menyentuh dinding tenggorokannya dan terjangan sperma Acep ditenggorokannya yang langsung masuk mengalir kedalam perutnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Gerakan Dewi terhenti sebentar saat ia sedang tersedak itu, tapi gerakan Edwin dan Hendra tidak berhenti, malahan mereka semakin meningkatkan akselarasi penis mereka dilubang memek dan pantat Dewi.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah penis Acep tuntas meneteskan tetes terakhir spermanya, Dewi kembali mengikuti gerakan Edwin dan Hendra dengan memaju-mundurkan tubuhnya menyambut sodokan penis-penis mereka.</p>
<p style="text-align: justify;">Tubuh mereka mulai bergetar dengan hebat, gerakan tubuh mereka mulai tidak beraturan, dan tiba-tiba dengan satu kali sentakan kuat Edwin menarik pantat Dewi kebelakang dan Edwin sendiri mendorong maju pantatnya, penisnya dan penis Hendra terbenam lebih dalam di lubang memek dan pantat Dewi.</p>
<p style="text-align: justify;">Ccreeettt…ccreeettt…ccreeett…sssrrr…sssrrr…sssrrr… ccrreeettt..cccreett…ccreett….hampir bersamaan ketiga kemaluan mereka mengeluarkan lahar kenikmatannya.</p>
<p style="text-align: justify;">Tubuh mereka mengejang dan meregang, mereka bertiga menggelepar menyambut kedatangan puncak kenikmatan mereka, suara erangan mereka bersahutan.</p>
<p style="text-align: justify;">“Ohhh….Tantee..aku keluaar…nikmaatttnya..pantatmu ini..aaahh..ooohh..,”Edwin mengerang.</p>
<p style="text-align: justify;">“Akuu juga Tanteee..aakuu…keluarr…aaahhh..meemekmu..enaak…Tan tee…,”Hendra mengerang juga.</p>
<p style="text-align: justify;">“Shhh….aaaghh…ooohhhh…koontolll..kaliann…betulll hebatt…aaku ppuaass..sekali.dientott…. oleh…kaliaan…aaaghh…ssshhh..aahhh….ssshhh..aaahh…. ,”Dewipun merintih-rintih menikmati terjangan lahar kenikmatannya yang sedang muncrat.</p>
<p style="text-align: justify;">Pesta Ulang Tahun anaknya Doni berhasil Dewi rubah menjadi pesta seks yang tidak akan pernah dilupakan oleh dia ataupun teman-temannya, dan tentu juga yang pastinya tidak akan dilupakan oleh Doni beserta teman-temannya, dan sudah jelas pesta ini tidak akan dilupakan oleh Gito cs.</p>
<p style="text-align: justify;">Pesta seks ini terus berlanjut sampai matahari bersinar dengan teriknya dan mereka semua telah kehabisan tenaga serta nafsu birahi mereka semua betul-betul telah terlampiaskan, entah berapa kali mereka semua mendapatkan puncak kenikmatan dari persetubuhan itu, tapi yang jelas para lelaki yang ada dipesta ini merasakan tubuh kelima wanita itu.</p>
<p style="text-align: justify;">TAMAT.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ceritasex.cn/dewi-maniak-seks-pesta-ulang-tahun-anaknya-bagian-7-tamat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Dewi Maniak Seks &#8211; Pesta Ulang Tahun Anaknya Bagian 3</title>
		<link>http://www.ceritasex.cn/dewi-maniak-seks-pesta-ulang-tahun-anaknya-bagian-3/</link>
		<comments>http://www.ceritasex.cn/dewi-maniak-seks-pesta-ulang-tahun-anaknya-bagian-3/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 26 Nov 2009 02:21:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cerita Sex</dc:creator>
				<category><![CDATA[Paruh baya]]></category>
		<category><![CDATA[Pemerkosaan]]></category>
		<category><![CDATA[Tante Girang]]></category>
		<category><![CDATA[anal seks]]></category>
		<category><![CDATA[anus]]></category>
		<category><![CDATA[dewi]]></category>
		<category><![CDATA[gangbang]]></category>
		<category><![CDATA[ngentot]]></category>
		<category><![CDATA[pesta seks]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ceritasex.cn/?p=1070</guid>
		<description><![CDATA[Setelah badai nafsunya mereda Dewi beranjak menuju kamar mandi untuk membersihkan Vaginanya dari sisa-sisa sperma Udin, melihat Dewi beranjak Hani dan Nita mengikutinya, dikamar mandi sambil membersihkan tubuh dan vaginanya masing-masing mereka merencanakan untuk melakukan persetubuhan dengan mereka lagi, nampaknya mereka betul-betul ketagihan merasakan sodokan-sodokan batang kemaluan para lelaki itu, selesai mereka membersihkan diri, Hani [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Setelah badai nafsunya mereda Dewi beranjak menuju kamar mandi untuk membersihkan Vaginanya dari sisa-sisa sperma Udin, melihat Dewi beranjak Hani dan Nita mengikutinya, dikamar mandi sambil membersihkan tubuh dan vaginanya masing-masing mereka merencanakan untuk melakukan persetubuhan dengan mereka lagi, nampaknya mereka betul-betul ketagihan merasakan sodokan-sodokan batang kemaluan para lelaki itu, selesai mereka membersihkan diri, Hani dan Nita kembali keruang keluarga sementara Dewi menuju ke dapur untuk membuat minuman, Hani dan Nita menyuruh para lelaki itu untuk membersihkan batang kemaluan mereka sebelum mereka memulai ronde selanjutnya, dengan gesit para lelaki itu menuju kekamar mandi bersamaan.</p>
<p style="text-align: justify;">Di dapur Dewi yang sedang membuat minuman tidak menyadari, bahwa saat itu anaknya Doni sudah berada di garasi bersama dengan 3 temannya, mereka memasukkan mobil kedalam garasi saat Dewi sedang berada didalam kamar mandi, sementara para lelaki tidak mendengar suara mobil datang karena suara musik di ruangan keluarga agak lumayan keras sehingga menutupi suara mobil Doni. Nampaknya Doni merencanakan sesuatu dengan ketiga temannya, karena kepulangan Doni lebih awal dari yang ia bilang ke Dewi. Doni mengetahui bahwa Dewi pernah melakukan seks dengan ketiga temannya yang saat sekarang ini bersama dia, dan dia mendengar cerita mereka saat mereka menyetubuhi Dewi, Doni tertarik untuk melakukan ramai-ramai bersama temannya sebelum pesta ulang tahunnya besok dimulai.</p>
<p style="text-align: justify;">Tapi Doni tidak mengetahui bahwa saat itu Dewi baru saja selesai pesta seks, ketika Doni membuka pintu garasi yang menghubungkan dengan dapur, Doni terkejut dengan pemandang yang ada dihadapannya, ia melihat tubuh Dewi yang tidak mengenakan sehelai kainpun sedang menyiapkan minuman, Doni tidak mau banyak berpikir kenapa Dewi bertelanjang bulat dan suara musik terdengar mengalun dari ruangan keluarga, yang saat ini ada dalam pikiran Doni dan ketiga temannya yang menyaksikan pemandangan itu adalah ‘Pucuk Dicinta Ulam Tiba’, keinginan mereka bakalan terwujudkan malam ini yaitu menyetubuhi Dewi beramai-ramai.</p>
<p style="text-align: justify;">“Ehhh…apa-apaan ini, siapa?…,”Dewi berkata setengah terkejut saat Doni memeluknya dari belakang.</p>
<p style="text-align: justify;">“Ssttt…Mih, Ini Doni..,”jawab Doni, sambil melanjutkan dengan menciumi tengkuk Dewi dan kedua tangannya meremas-remas kedua bukit kembar Dewi.</p>
<p style="text-align: justify;">“Ooohh…Don, kukira siapa, oooohhh….jangan disini, kita didalam saja,”Dewi mendesah mendapat serangan Doni, dan ia melepaskan tangan Doni dari kedua bukit kembarnya, Dewipun membalikkan badannya berhadapan dengan Doni.</p>
<p style="text-align: justify;">Dewi tambah terkejut saat tubuhnya berhadapan dengan Doni, karena bukan hanya Doni yang datang tapi ada ketiga temannya Doni yang pernah melakukan seks dengan dia, dengan sedikit salah tingkah Dewi mencoba menutupi kedua payudaranya dan selangkangannya, tapi hal itu dicegah oleh Doni, kedua tangan Dewi dipegang oleh Doni sambil Doni membisikkan sesuatu ketelinga Dewi, mendengar itu muka Dewi menjadi merah, tapi otaknya berpikir dengan cepat, pesta malam ini akan menjadi tambah seru karena kedatangan tenaga baru dan muda, dengan cepat diajaknya ke 4 anak muda ini kedalam sambil tidak lupa untuk menyuruh mereka membawa minuman yang sudah dibuatnya tadi.</p>
<p style="text-align: justify;">Doni dan ketiga temannya terperanjat saat sampai diruangan keluarga begitu pula dengan Gito cs, yang menyambut kedatangan mereka dengan penuh gembira hanyalah Nita &amp; Hani, jalan pikiran mereka hampir sama dengan Dewi, yaitu kedatangan tenaga baru yang masih muda.</p>
<p style="text-align: justify;">Hani dan Nita langsung menyambut keempat anak muda itu, dengan gesit mereka melucuti baju mereka satu persatu sehingga keempatnya sekarang sama-sama telanjang bulat, Nita dan Hani berdecak kagum melihat keempat batang kemaluan mereka yang sudah berdiri tegak dan ukurannya hampir sama, tapi yang jelas kepunyaan keempat anak muda ini lebih besar dan panjang daripada kepunyaan Gito cs, dengan bernafsu Hani dan Nita mulai menyerbu keempat batang kemaluan itu, Hani memegang 2 batang begitu juga dengan Nita, lalu mereka mulai menyelomoti kontol-kontol tersebut, yang satu diselomoti dan dikulum-kulum yang satunya dikocok-kocok dan diremas-remas lembut oleh tangan Hani dan Nita.<br />
<span id="more-1070"></span><br />
Gito cs asyik menonton ‘live show’ yang dilakukan oleh Hani dan Nita serta keempat anak muda itu, sementara itu Dewi berpikir tentang mengundang sisa teman-teman Doni untuk datang malam ini, ia mempunyai rencana untuk membuat pesta ulang tahun Doni dirayakan tepat jam 12 malam, lalu ia membisikkan sesuatu ketelinga Doni, dijawab oleh Doni dengan anggukan, kemudian Doni membisikkan sesuatu ketelinga Dewi, Dewi mengangguk dan langsung mengambil HP Doni, Dewi beranjak meninggalkan ruangan menuju ke dapur, di dapur terlihat Dewi sibuk berbicara di HP Doni.
</p>
<p style="text-align: justify;">Anto dan Dedi yang saat itu sedang menikmati permainan tangan dan mulut Hani mengimbangi permainan Hani dengan meremas-remas payudara Hani dan memilin-milin puting susunya Hani, Hani menikmati remasan-remasan tangan mereka di kedua payudaranya serta pilinan-pilinan di kedua putingnya, membuat ia semakin bernafsu mengulum-ngulum kedua batang kemaluan Anto dan Dedi, kedua batang kemaluan Anto dan Dedi bergantian dikulum-kulum oleh Hani, saat Hani mengulum dan menyelomoti serta menjilati kontol Anto tangannya sibuk meremas dan mengocok-ngocok kontol Dedi, begitu juga sebaliknya saat mulut Hani sibuk dengan kontol Dedi tangannya sibuk mempermainkan kontol Anto, Anto dan Dedi betul-betul menikmati permainan Hani, batang kemaluan mereka semakin menegang dan mengeras, nafsu Anto dan Dedi tidak dapat dibendung lagi dengan bersamaan mereka mengangkat tubuh Hani untuk berdiri, lalu kedua anak muda ini mulai menyerang Hani, Anto diatas dan Dedi dibawah, Anto dengan bernafsu mulai menciumi, menjilati, menghisap-hisap kedua payudara Hani bergantian antara kiri dan kanan, sementara Dedi berjongkok sibuk menjilati kelentit Hani dan menghisap-hisapnya, serangan mereka membuat Hani mendesah keenakan, tubuhnya gemetar menahan laju nikmat yang sangat luar biasa.</p>
<p style="text-align: justify;">“Ooohh…hisap tetekku…ooohh itilku juga hisap yang kuat….aaahhh…enak,”desah Hani.</p>
<p style="text-align: justify;">“remas-remas tetekku…yaahh..terus…oohh..hisapp…remas…ooohh,”Han i mendesah lagi.</p>
<p style="text-align: justify;">“Ooohhh…hisap itilku…yaahh..enakk..terus..kocok memekku dengan jari..yah …hhmmm..aaahh.. terus…puaskan aku…hhhmm..aahhh…,”lagi-lagi Hani mendesah-desah keenakan.</p>
<p style="text-align: justify;">Kemaluan Hani semakin basah akibat perlakuan kedua anak muda itu, cairan pelicinnya semakin banyak keluar, membasahi jari-jari Dedi yang sedang keluar masuk di lubang memek Hani, gerakan jari tangan Dedi semakin cepat keluar masuk dilubang memek Hani, tubuh Hani meliuk-liuk menahan arus nikmat yang luar biasa, pantatnya terlihat mengejut-ngejut saat Dedi menghisap kelentitnya serta mengocok lubang vaginanya, desahan-desahan nikmat keluar tanpa henti dari mulut Hani, kepalanya mendongak dengan mata terpejam.</p>
<p style="text-align: justify;">Anto dan Dedi merasakan batang kemaluannya semaklin mengeras saja mendengar desahan Hani, mereka kemudian menghentikan aksinya, kemudian mereka menyuruh Hani merangkak, Anto lalu berlutut tepat dihadapan Hani dan segera menyodorkan kontolnya kemulut Hani yang langsung disambut oleh Hani dengan penuh nafsu, sambil tangannya memegangi kepala Hani, Anto menekankan dan menarik kepala Hani sehingga kontolnya keluar masuk mulut Hani, bibir Hani menjepit kuat batang kemaluan Anto, kadang-kadang karena terlalu menekan kebawah kepala kontolnya menyentuh anak tekak Hani, sehingga membuat Hani tersedak, sementara Anto mulai beraksi di mulut Hani, Dedi berjongkok dibelakang Hani dan mengarahkan kepala kontolnya kearah lubang vagina Hani, ssleeeppp…diselipkannya kepala kontolnya tepat dilubang memek Hani.</p>
<p style="text-align: justify;">Dedi mulai mendorong masuk kontolnya perlahan-lahan kedalam lubang memek Hani, bleess….. bleesss….bleesss… sedikit demi sedikit batang kemaluannya mulai terbenam didalam lubang senggama Hani, Dedi merasakan memek Hani sangat menjepit erat kontolnya, Hani sendiri merasakan memeknya menjadi penuh sesak oleh kontol Dedi, Dedi mendiamkan sebentar kontolnya yang baru masuk setengahnya, ia merasakan memek Hani seperti meremas-remas kontolnya, nampaknya otot dinding vagina Hani sedang bekerja hendak menyesuaikan dengan ukuran batang kemaluan Dedi.</p>
<p style="text-align: justify;">“Terus jangan berhenti…tekan lebih dalam lagi kontolmu..Ooohhh..enak sekali … kontolmu… hhhmmmm…..ssllrppp….oouughhhh,” Hani merintih sambil melahap kontol Antol lagi.</p>
<p style="text-align: justify;">Mendengar itu Dedi lalu mendorong lagi kontolnya untuk masuk lebih dalam bleesss….blesss….blesss…perlahan-lahan batang kemaluan Dedi akhirnya masuk semua kedalam lubang senggama Hani.</p>
<p style="text-align: justify;">“Uugghhh…gila To, memeknya sempit sekali, kayanya jarang dipake nih ama lakinya….,”Dedi berkata kepada Anto.</p>
<p style="text-align: justify;">“Tar giliran, gw masih asyik dengan sepongannya…gila ..ahli banget dia nyepong kontol nich,” Anto menjawab.</p>
<p style="text-align: justify;">Tangan Anto kemudian beralih meremas-remas payudara Hani yang mulai bergoyang kedepan dan kebelakang seirama dengan sodokan-sodokan Dedi yang mulai mengeluar masukkan kontolnya dilubang memek Hani.</p>
<p style="text-align: justify;">Hani dibuat merem melek oleh mereka berdua, desahan dan rintihan keenakan semakin sering keluar dari mulutnya yang sibuk menyepong kontol Anto, tubuhnya gemetar menahan arus kenikmatan yang menerjang dengan kuat, Hani merasakan lubang vaginanya berdenyut semakin cepat secepat sodokan-sodokan kontol Dedi, tubuhnya mulai bergetar hebat, paha dan pantatnya mulai mengejut-ngejut, menyambut datangnya puncak kenikmatannya, tak lama berselang Hani melenguh panjang, vaginanya berdenyut-denyut menyemburkan lahar kenikmatannya.</p>
<p style="text-align: justify;">Sssssrrr…..ssssrrrrr….sssssrrrrr….sssrrr….vagina Hani menyemburkan lahar kenikmatannya menyirami batang kemaluan Dedi.</p>
<p style="text-align: justify;">“Ooooohhh…..aaakku..keluaar…eenak..sekali…aaahhh…. ssshhh..ooohh…hhmmm..aahh,” lenguh Hani.</p>
<p style="text-align: justify;">Tubuh Hani bergetar dengan hebat, terlihat pantatnya mengejut-ngejut seirama dengan keluarnya cairan kenikmatannya, kepalanya mendongak matanya terpejam, tangannya mencengkram paha Anto dengan kuat.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ceritasex.cn/dewi-maniak-seks-pesta-ulang-tahun-anaknya-bagian-3/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Dewi Maniak Seks &#8211; Pesta Ulang Tahun Anaknya Bagian 1</title>
		<link>http://www.ceritasex.cn/dewi-maniak-seks-pesta-ulang-tahun-anaknya-bagian-1/</link>
		<comments>http://www.ceritasex.cn/dewi-maniak-seks-pesta-ulang-tahun-anaknya-bagian-1/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 26 Nov 2009 02:13:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cerita Sex</dc:creator>
				<category><![CDATA[Paruh baya]]></category>
		<category><![CDATA[Pemerkosaan]]></category>
		<category><![CDATA[Seks Umum]]></category>
		<category><![CDATA[Tante Girang]]></category>
		<category><![CDATA[anal seks]]></category>
		<category><![CDATA[anus]]></category>
		<category><![CDATA[cuki]]></category>
		<category><![CDATA[dewi]]></category>
		<category><![CDATA[hani]]></category>
		<category><![CDATA[lonte]]></category>
		<category><![CDATA[lonte cina]]></category>
		<category><![CDATA[maniak seks]]></category>
		<category><![CDATA[ngentot]]></category>
		<category><![CDATA[nita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ceritasex.cn/?p=1066</guid>
		<description><![CDATA[Siang itu Dewi sedang kedatangan dua temannya, Nita dan Hani, ada kesamaan pada mereka bertiga, yaitu mempunyai suami yang jauh lebih tua dari umur mereka dan mereka bertiga lahir ditahun yang sama. Yang membuat perbedaan diantara mereka adalah anak tiri, dimana anak tiri Nita dan Hani tidak ikut dengan mereka tetapi anak tiri mereka ikut [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Siang itu Dewi sedang kedatangan dua temannya, Nita dan Hani, ada kesamaan pada mereka bertiga, yaitu mempunyai suami yang jauh lebih tua dari umur mereka dan mereka bertiga lahir ditahun yang sama. Yang membuat perbedaan diantara mereka adalah anak tiri, dimana anak tiri Nita dan Hani tidak ikut dengan mereka tetapi anak tiri mereka ikut dengan ibunya masing-masing, selain itu Dewi menikah dengan seorang Duda, sementara kedua temannya menikah dengan suami orang, dan suami mereka sekarang telah menceraikan istri-istri tuanya. Nita dan Hani hampir mempunyai sifat yang sama yaitu tipe wanita yang tidak mau sengsara, yang mereka pedulikan hanyalah harta kekayaan dari suami-suami mereka, mereka menikah juga tidak didasari dengan cinta.</p>
<p style="text-align: justify;">Sudah dari dulu Nita dan Hani selalu mengajak Dewi untuk pergi bersama, mencari batang-batang kemaluan yang besar dan panjang untuk memuaskan birahi mereka dan Dewi selalu menolak ajakan itu. Tapi itu dulu, semenjak Dewi sudah beberapa kali merasakan kenikmatan atas sodokan-sodokan dari batang kemaluan lelaki yang panjang dan besar, Dewi selalu merindukan batang-batang kemaluan lelaki yang besar dan panjang.</p>
<p style="text-align: justify;">Topik pembicaraan mereka siang ini tidak jauh berbeda dari dulu, yaitu tidak jauh dari selangkangan lelaki, hanya sekarang Dewi juga ikut aktif, dulu Dewi hanya sekedar pendengar setia sambil tersenyum simpul, kalau sekarang Dewi aktif bercerita tentang pengalaman-pengalaman seksnya, membuat kedua temannya ini melongo mendengar cerita Dewi itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Tak satupun kejadian yang telah dialami oleh Dewi yang disembunyikan termasuk ketika Dewi menikmati permainan seks dengan Doni-anak tirinya dan juga ketika bersetubuh dengan ketiga teman Doni, Nita dan Hani hanya dapat menelan ludah mendengar cerita Dewi itu, birahi mereka mulai bangkit mendengar cerita Dewi, apalagi ketika Dewi menceritakan melakukan seks dengan tiga lelaki sekaligus, yang belum pernah mereka alami selama ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Tak terasa waktu berlalu, jam di dinding telah menunjukkan pukul 12 siang, perut mereka mulai meronta minta diisi, Dewi berinisiatip hendak menyediakan makanan untuk kedua temannya ini, Nita dan Hani mengikuti langkah Dewi kedapur, obrolan kembali berlanjut sambil sibuk menyiapkan makanan.</p>
<p style="text-align: justify;">Tak lama kemudian makan siangpun tersaji, obrolanpun mereka lanjutkan di meja makan sambil menikmati makan siang mereka, penasaran dengan cerita Dewi, Hani dan Nita mengusulkan ke Dewi agar mereka bisa untuk ikut menikmati batang-batang kemaluan lelaki yang panjang dan besar, mereka berdiskusi tentang bagaimana caranya untuk membuat hal itu terjadi, sedang asyiknya mereka menyusun rencana, mereka mendengar suara kunci yang terbuka dari arah pintu depan, Dewi tahu bahwa yang pulang itu adalah Doni anak tirinya, dan tebakan Dewi betul adanya, selang tak lama wajah Doni terlihat oleh mereka, Donipun memanggutkan kepala dan tersenyum kepada Hani dan Nita, lalu ia menghampiri Dewi.<br />
<span id="more-1066"></span><br />
“Mih, sabtu ini kan aku Ulang Tahun, boleh tidak aku undang teman-temanku kesini untuk merayakannya,” tanya Doni sesampainya dihadapan Dewi.
</p>
<p style="text-align: justify;">“Oh, iyah, hampir Mamih lupa, berapa orang, terus apa saja yang harus Mamih sediakan,” Dewi bertanya balik ke Doni.</p>
<p style="text-align: justify;">“Ah, gak banyak kok Mih, paling sepuluh orang termasuk aku sebelas jadinya, kayanya gak usah repot-repot dech, beli makanan jadi aja Mih,” jawab Doni.</p>
<p style="text-align: justify;">“Yach klo cuman sebanyak itu sich, Mamih siapin sendiri aja, gak usah beli, paling kita beli kue ulang tahunnya dan minumannya saja,” balas Dewi.</p>
<p style="text-align: justify;">“Ah kebetulan Sabtu ini, suamiku gak ada, dia pergi keluar kota, jadi aku bantuin kamu aja, Wi,” sahut Nita.</p>
<p style="text-align: justify;">“Iyah, aku juga bantuin kamu dech, Wi, mumpung lakiku juga belon pulang,” Hani ikut nimbrung juga.</p>
<p style="text-align: justify;">“Oh, iyach, Don, kenalin ini teman Mamih, ini tante Nita dan yang itu tante Hani, “ kata Dewi.</p>
<p style="text-align: justify;">“Serius kalian mo bantuin, yach klo gitu sich, aku seneng-seneng aja ada yang bantuin,” lanjut Dewi.</p>
<p style="text-align: justify;">“Doni,” kata Doni menyebutkan namanya sambil menjabat tangan Hani dan Nita.</p>
<p style="text-align: justify;">“Waduh, makasih banyak, Mih, dan tante makasih juga yach udah mau bantuin mamih,” Doni berkata kepada mereka.</p>
<p style="text-align: justify;">“Doni, kekamar yach, mo istirahat,” lanjut Doni dan Donipun beranjak meninggalkan mereka.</p>
<p style="text-align: justify;">Sepeninggal Doni, mereka bertiga tersenyum genit, dan mereka mulai merencanakan acara tersebut, dalam benak mereka berharap mudah-mudahan yang diundang Doni adalah teman laki-lakinya semua, kalau yang datang semuanya adalah lelaki maka pesta yang akan mereka adakan itu pasti akan lebih meriah, dan mereka merencanakan akan membuat pesta ulang tahun itu menjadi pesta seks, tapi kemudian Dewi tersadar bahwa kemungkinan besar rencana itu tidak dapat dilaksanakan karena suaminya sedang berada di Jakarta, kembali ketiganya memutar otak untuk dapat melaksanakan niat mereka itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Sorenya Nita dan Hani berpamitan sambil membawa PR kerumah masing-masing tentang bagaimana caranya membuat pesta itu terjadi sesuai dengan harapan mereka dan menyingkirkan suami Dewi untuk sementara waktu, mereka bertiga berjanji untuk saling memberi kabar jika salah satu dari mereka telah menemukan akal untuk hal tersebut.</p>
<p style="text-align: justify;">Sampai 2 hari menjelang hari H, mereka bertiga belum menemukan jalan untuk menyingkirkan suaminya Dewi, tapi nampaknya dewi seks berpihak pada mereka bertiga, nampaknya dewi seks memberikan jalan kepada mereka untuk melakukan acara pesta seks yang sudah mereka rencanakan itu, karena saat suaminya pulang kerumah ia memberitahu Dewi bahwa besok dirinya harus berangkat dengan pak Erwin untuk meninjau lokasi proyek mereka. Mendengar berita ini Dewi bersorak girang dalam hatinya, tak sabar ia ingin segera memberitahukan kabar ini kepada kedua temannya.</p>
<p style="text-align: justify;">Keesokan harinya sepeninggal suaminya, Dewi menghubungi kedua temannya dan memberitahukan berita gembira ini, kedua temannya yang mendengar berita ini bersorak kegirangan dan mereka berjanji untuk datang kerumah Dewi hari ini dan mereka merencanakan akan bermalam dirumah Dewi sampai hari Minggu.</p>
<p style="text-align: justify;">Siangnya setelah Hani dan Nita tiba dirumah Dewi, mereka bertiga pergi berbelanja untuk keperluan acara besok, selesai belanja mereka langsung pulang, setibanya dirumah mereka melihat Doni sedang nonton TV.</p>
<p style="text-align: justify;">“Don, Mamih ada yang lupa nich,” kata Dewi.</p>
<p style="text-align: justify;">“Apa yang mamih lupa?” Doni bertanya.</p>
<p style="text-align: justify;">“Kamu undang teman-temanmu itu jam berapa?” tanya Dewi.</p>
<p style="text-align: justify;">“Oh, jam 12 siang, soalnya biar pas waktunya dengan waktu makan siang,”jawab Doni.</p>
<p style="text-align: justify;">“Terus, berapa orang laki-laki dan berapa orang perempuan,”Dewi kembali bertanya.</p>
<p style="text-align: justify;">“Oh, klo itu sich, yang Doni suruh dating semuanya teman laki-laki Doni,”Doni menjawab kembali.</p>
<p style="text-align: justify;">“Memangnya kamu tidak punya teman perempuan, makanya tidak ada teman perempuanmu yang diundang?,” kembali Dewi bertanya</p>
<p style="text-align: justify;">“Ada sich, Mih. Cuman gak asyik aja klo ada teman perempuanku, gak rame, gak heboh,”jawab Doni.</p>
<p style="text-align: justify;">“Eh, Mamih juga perempuan, berarti kehadiran mamih tidak diinginkan juga dong?” canda Dewi.</p>
<p style="text-align: justify;">“Yach, itu sich lain mih,”jawab Doni.</p>
<p style="text-align: justify;">“Och, yach mih, aku mau pergi dulu kerumah temanku, pulangku pasti malam, gak usah mamih tungguin yach,” lanjut Doni, yang segera beranjak setelah di iyakan oleh Dewi.</p>
<p style="text-align: justify;">Sepeninggal Doni, mereka bertiga sibuk didapur menyiapkan bahan-bahan untuk besok, sambil asyik merencanakan tindakan apa yang harus mereka lakukan besok, karena sibuk dan asyik dengan rencana-rencana mereka.</p>
<p style="text-align: justify;">Jam di dinding menunjukkan pukul 6 sore saat mereka mendengar suara bel pintu, Dewi beranjak kedepan untuk melihat siapa yang datang bertamu, saat pintu dibuka, ternyata yang datang adalah Parmin.</p>
<p style="text-align: justify;">“Ada apa pak Parmin?” tanya Dewi.</p>
<p style="text-align: justify;">“Ini Bu, saya mau mengembalikan pinjaman saya yang kemarin,”jawab Parmin.</p>
<p style="text-align: justify;">“Oh, memang pak Parmin sudah ada uangnya,” tanya Dewi lagi, sambil berpikir untuk mengundang Parmin agar datang nanti malam dan mengajak Sugito, Dewi berpikir pasti teman2nya ingin merasakan sodokan-sodokan satpam ini.</p>
<p style="text-align: justify;">“Sudah Bu, sudah soalnya hari ini saya dapat rejeki,” jawab Parmin.</p>
<p style="text-align: justify;">“Oh ya sudah, ngomong-ngomong Pak Parmin nanti malam tugas tidak,”tanya Dewi.</p>
<p style="text-align: justify;">“Memang kenapa Bu?”Parmin balik bertanya.</p>
<p style="text-align: justify;">“Klo tidak tugas bagaimana klo pak Parmin nanti malam datang yach sekitar jam 8an gitu, sambil ajak pak Gito,”jawab Dewi genit.</p>
<p style="text-align: justify;">“Oh bisa, bisa Bu, nanti malam saya akan datang sama pak Gito, hanya kita berdua aja Bu,”Parmin mengiyakan sambil bertanya.</p>
<p style="text-align: justify;">“Memang ada siapa lagi,”tanya Dewi</p>
<p style="text-align: justify;">“Klo yang tidak tugas nanti malam sich ada 2 orang lagi, Nanang dan Udin,”jawab Parmin.</p>
<p style="text-align: justify;">“Yach, udah sekalian mereka juga suruh datang,”sahut Dewi cepat.</p>
<p style="text-align: justify;">“Klo gitu saya permisi dulu Bu, saya mau kasih tahu mereka,”pamit Parmin.</p>
<p style="text-align: justify;">Dewi bergegas masuk sepeninggal Parmin, lalu ia ceritakan hal tersebut kepada teman-temannya, Hani dan Nita menyambut gembira hal tersebut, lalu mereka cepat-cepat membenahi dapur dan menyiapkan makanan kecil dan minuman untuk pesta kecil mereka nanti malam, selesai itu mereka betiga membersihkan diri mereka dan bersiap-siap untuk menyambut tamu-tamu yang akan memberikan mereka kepuasan.</p>
<p style="text-align: justify;">Jam berdentang 7 kali saat bel pintu dirumah Dewi berbunyi, Dewi bergegas menuju kepintu depan, pintu dibuka Dewi melihat 4 sosok lelaki dihadapannya, Dewi tersenyum melihat yang siapa yang datang ini, lalu ia mempersilahkan ke 4nya untuk masuk dan langsung diajaknya keruangan keluarga dimana Hani dan Nita sedang menunggu kehadiran mereka juga.</p>
<p style="text-align: justify;">Dewi memperkenalkan mereka kepada Hani dan Nita, yang disambut dengan genit oleh Hani dan Nita, merekapun terlibat pembicaraan sambil menikmati makanan dan minuman, sambil diselingi dengan rabaan dan remasan-remasan genit ketiga wanita ini kepada para lelaki, ke 4 lelaki ini tidak pernah membayangkan dalam hidupnya mereka akan mengalami hal ini, 3 wanita yang jelas-jelas lebih cantik dan seksi daripada istri mereka dirumah bertingkah laku genit kepada mereka, dan tangan mereka meraba-raba serta meremas-remas batang kemaluan mereka dari balik celana yang mereka pakai, aksi ke 3 wanita ini telah membuat birahi mereka mendidih.</p>
<p style="text-align: justify;">Gito yang sedang menikmati remasan dan rabaan tangan Hani, mulai melakukan aksi balik, tangannya mulai meremas-remas payudara Hani, mulutnya mulai melumat bibir Hani, aksi balas Gito membuat Hani mendesah, Parmin melakukan hal yang sama kepada Nita, mulutnya melumat bibir Nita dengan penuh nafsu, kedua tangannya beraksi melucuti pakaian atas Nita yang dilanjut dengan membuka Branya, terlihat kedua payudara Nita yang masih mengkal menggantung dengan indahnya, kedua putingnya yang berwarna merah muda sedikit mencuat, dengan tidak sabar Parmin memnyerbu kedua payudara itu, remasan-remasan penuh nafsu dilakukannya kebukit kembar Nita diselingi dengan pilinan-pilinan dikedua putingnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Nanang dan Udin yang sedang menikmati tangan lembut Dewi, menyaksikan kedua temannya sudah beraksi dan saat mereka melihat Parmin melucuti pakaian dan bra Nita, kemudian terpampang dengan jelas dikedua mata mereka bukit kembar Nita, mereka menjadi penasaran ingin segera melihat bukitm kembar Dewi. Keduanya bekerja sama melucuti pakaian Dewi termasuk dengan bra dan celana dalam Dewi, akhirnya Dewi dibuat telanjang bulat oleh mereka, setelah selesai dengan melucuti pakaian Dewi, mereka melepaskan pakaian mereka dengan tergesa-gesa, dengan keadaan telanjang bulat mereka mulai menyerbu Dewi, Nanang menerkam bagian atas Dewi dengan penuh nafsu, dia melumat bibir Dewi yang disambut dengan penuh nafsu oleh Dewi, sementara tangan Nanang beraksi dikedua payudara Dewi, remasan-remasan tangan Nanang dan pilinan-pilinan dikedua putingnya membuat Dewi mendesah apalagi Udin juga mulai beraksi dibagian bawah tubuhnya, Udin dengan penuh nafsu menjilati vagina Dewi dan menghisap-hisap kelentit Dewi.</p>
<p style="text-align: justify;">Gito menghentikan serangannya, ia mulai melucuti pakaian yang dikenakan oleh Hani sehingga tubuh mulus dan putih Hani terpampang dengan jelas dikedua mata Gito, Hani juga membalas dengan melucuti semau pakaian Gito, saat celana dalam Gito terlepas, Hani melihat batang kemaluan Gito yang sudah berdirti tegak dengan gagahnya, dibandingkan dengan kepunyaan suaminya memang sangat berbeda, Gito kemudian merebahkan tubuhnya diatas karpet, Hani dengan posisi merangkak mulai menyerbu batang kemaluan Gito, dikulum-kulum dan dijilatinya barang pusaka Gito itu dengan penuh nafsu, sambil menikmati selomotan dan jilatan Hani dikontolnya, tangan Gito tidak tinggal diam, kedua tangannya mulai menyerang payudara dan vagina Hani, tangan kirinya asyik meremas-remas payudara Hani bergantian sambil ditingkahi dengan pilinan-pilinan dikedua putingnya, tangan kanannya dengan lembut menggesek-gesek vagina dan kelentit Hani, kadang-kadang jari tengahnya menerobos kedalam lubang vagina Hani lalu dikocok-kocokkan keluar masuk dilubang vagina Dewi.</p>
<p style="text-align: justify;">Parminpun tidak mau kalah oleh teman-temannya, ia segera melucuti pakaian Nita dan pakaiannya sendiri, setelah tubuh Nita tidak tertutupi oleh sehelai kainpun begitu pula dengan tubuhnya yang sudah polos, Parmin segera merangkak keatas tubuh Nita, ia mulai menjilati vagina dan kelentit Nita, Nita juga mulai membalas aksi Parmin dengan penuh nafsu batang kemaluan Parmin diselomoti dan dijilatinya, Parmin melenguh menikmati sedotan-sedotan mulut Nita dibatang kemaluannya, iapun mengimbanginya dengan melesakkan kedua jarinya kedalam lubang vagina Nita, dan mengocok-ngocokannya keluar masuk lubang vagina Nita, dari mulut Nita yang sedang penuh oleh jejalan batang kemaluan Parmin terdengar erangan dan lenguhan, Nita betul-betul menikmati sensasi permainan mulut dan tangan Parmin divaginanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Saat itu Dewi dengan penuh nafsu sedang menikmati batang kemaluan Nanang, mulutnya mengulum-ngulum kontol Nanang, tangan kirinya mengelus-ngelus biji pelernya, sementara tangan kanannya meremas-remas rambut Udin yang masih asyik bermain dengan vaginanya, kadang-kadang terlihat pantat Dewi terangkat menyambut hisapan mulut Udin serta sodokan jari tangan Udin divaginanya, lenguhan dan erangan terdengar keluar dari mulut Dewi, Nanang merasakan kenikmatan yang tiada duanya, ia betul-betul menikmati selomotan dan jilatan Dewi dikontolnya, tangan kirinya memegang kepala Dewi, kadang-kadang mendorong kepala Dewi akibatnya kontolnya hampir masuk semuanya didalam mulut Dewi dan membuat Dewi tersedak, sementara tangan kanannya meremas-remas kedua payudara Dewi bergantian kiri dan kanan, dan ditingkahi dengan memilin-milin kedua putingnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Kemaluan Hani semakin basah mendapatkan serangan Gito yang bertubi-tubi, Hani sudah tidak sabar lagi ingin merasakan sodokan-sodokan kontol Gito dilubang senggamanya, dengan segera Hani merangkak diatas tubuh Gito dan mulai mengarahkan kontol Gito yang sudah semakin tegang itu kelubang senggamanya, dioles-oleskannya kepala kontol Gito dengan kelentitnya, kemudian Hani menyelipkan kepala kontol Gito di lubang vaginanya, sleepp….dengan perlahan-lahan Hani mulai menurunkan pantatnya, batang kemaluan Gito mulai menerobos lubang senggama Hani, bleesss…sedikit-demi sedikit kontol Gito mulai menyeruak masuk, bleeess…Hani menurunkan pantatnya lagi, Hani merasakan memeknya agak sedikit sakit akibat kontol Gito yang lebih besar daripada kepunyaan suaminya, bleess….kembali Hani menurunkan pantatnya, Gito merasakan memek Hani begitu erat menjepit batang kemaluannya, dan bleessss…dengan sekali hentakan kuat Hani menekan pantatnya kebawah, batang kemaluan Gito melesak lebih dalam lagi dirongga vagina Hani, Gito merasakan ujung kepala kontoknya bersentuhan dengan dinding rahim Hani begitu pula Hani merasakan dinding rahimya tersentuh agak kuat oleh kepala kontol Gito, keduanya melenguh….Uuuughhhh…</p>
<p style="text-align: justify;">Hani mendiamkan sebentar gerakannya, ia merebahkan tubuhnya ketubuh Gito sementara mulutnya mulai menciumi mulut Gito, dibalas oleh Gito dengan penuh nafsu, Gito meneroboskan lidahnya kedalam mulut Hani mencari lidah Hani, lidah mereka bertautan dirongga mulut Hani, tangan Gito mengelus-ngelus punggung Hani dan kedua bongkah pantat Hani, kadang-kadang tangannya meremas-remas kedua bongkah pantat Hani, tingkah mereka tidak luput dari pandangan Parmin yang sedang asyik menjilati kemaluan Nita, karena posisi mereka tepat berhadapan dengan kepala Parmin, Parmin melihat jelas sekali tahap demi tahap saat kontol Gito menerobos masuk kedalam lubang vagina Hani, lalu saat ia melihat tangan Gito meremas-remas pantat Hani, Parmin melihat lubang pantat Hani, ia ingat pengalamannya sewaktu mengentot lubang pantat Dewi, dan sekarang ia juga ingin memerawani lubang pantat Hani, Parmin segera menghentikan aksinya, ia beranjak dari posisinya kemudian Parmin berlutut dibelakang Hani, dibasahinya batang kemaluannya dengan air ludahnya, lalu ia selipkan kepala kontolnya dilubang pantat Hani, ssleepp … kepala kontol Parmin mulai terselip dilubang pantat Hani, Hani menjerit merasakan sakit saat lubang pantatnya mulai diterobos oleh kepala kontol Parmin, Hanipun meronta agar kepala kontol Parmin terlepas dari lubang pantatnya tapi percuma karena Gito yang melihat Parmin mendekati Hani dari belakang sudah mengetahui apa yang hendak dilakukan oleh Parmin, kedua tangannya memeluk erat Hani sehingga Hani tidak dapat bergerak.</p>
<p style="text-align: justify;">“Saakit….aaargghh….cabut kontolmu dari lubang pantatku…Ooogghh,”jerit Hani.</p>
<p style="text-align: justify;">“ssssttt..tenang Bu, sekarang sakit tapi lama-lama pasti ibu akan keenakan,” kata Parmin sambil mulai melesakkan batang kemaluannya dilubang pantat Hani perlahan-lahan, bleeesss…bleesss…blessss…bleessss.</p>
<p style="text-align: justify;">“Sakkiiittt….Ugghhh….sakiitt…..sudah aku tidak kuat…sakit sekali..”jeritan Hani terdengar kembali saat batang kemaluan Parmin semakin masuk kedalam lubang pantatnya.</p>
<p style="text-align: justify;">“Uughh…tenang Bu, nanti pasti juga ibu ketagihan,”kata Parmin lalu dengan sekali hentakan ia dorong batang kemaluannya, bbleesssss…..seluruh batang kemaluannya tertelan di lubang pantat Hani, “Uuughhh,…gila…sempit sekali nich lubang pantatnya, Bu, belom pernah dientot lubang pantatnya yach,”Parmin mengerang sambil bertanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Hani tidak dapat menjawab karena menahan sakit yang luar biasa, Gito merasa kasihan melihat Hani, dengan lembut ia menciumi Hani, dengan berpegangan pada pinggang Hani, Parmin mulai menggerakkan tubuh Hani kedepan dan kebelakang perlahan-lahan, sehingga membuat batang kemaluannya keluar masuk dengan sendirinya dilubang pantat Hani, tapi bukan batang kemaluannya saja yang secara otomatis keluar masuk, kontol Gitopun dengan sendirinya keluar masuk dilubang vagina Hani.</p>
<p style="text-align: justify;">Lama-lama isak tangis Hani berganti menjadi erangan dan desahan, rasa sakit perlahan-lahan berganti menjadi rasa nikmat yang luar biasa, dari yang tadinya hanya diam saja sekarang Hani mulai membantu gerakan Parmin yang memaju-mundurkan tubuhnya, kedua payudaranya yang bergelantungan didepan wajah Gito bergoyang seiring dengan gerakan tubuhnya yang maju mundur, dengan penuh nafsu Gito menjilati dan mengulum-ngulum kedua payudara Hani bergantian kiri-kanan, dan ditingkahi dengan hisapan-hisapan kuat dikedua putingnya, menambah sensasi kenikmatan Hani.</p>
<p style="text-align: justify;">“Ooohhh..enak sekali…aaaghh…terus…hisap tetekku…yach…tekan lebih dalam…,”Hani mengerang-ngerang kenikmatan, tubuhnya ia mundurkan lebih kuat membuat kedua kontol Gito dan Parmin melesak lebih dalam.</p>
<p style="text-align: justify;">“Enak betul memek ibu, gak kalah enak ama punya bu Dewi, aaghh kontolku seperti diremas-remas,” Gito mengerang merasakan keenakan saat dinding vagina Dewi mencengkram erat batang kemaluannya dan berdenyut-denyut.</p>
<p style="text-align: justify;">“Iyach lubang pantatnya sama-sama masih perawan sama seperti punya bu Dewi, enak kurasa…kontolku juga kaya diremas-remas nich,”erang Parmin bersamaan dengan erangan Gito, Parmin merasakan ketatnya lubang pantat Hani menjepit kontolnya, juga dinding lubang pantatnya yang berdenyut-denyut.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;</p>
<p style="text-align: justify;">Saat Parmin mulai melesakkan kontolnya kelubang pantat Hani, Nita yang ditinggal begitu saja segera menghampiri Nanang, didorongnya tubuh Nanang hingga bersandar di sofa, lalu ia berdiri mengangkangi kepala Nanang yang tergolek diatas sandaran sofa, kaki kanannya ia angkat keatas dan dipijakkannya diatas sandaran sofa, kedua tangannya menguakkan lubang vaginanya, terpampang di mata Nanang pemandangan yang menakjubkan yang belum pernah ia lihat selama ini, kelentit Nita terlihat oleh Nanang dengan jelas sementara vagina Nita yang berwarna merah muda terlihat jelas oleh Nanang, tanpa membuang waktu lagi dan Nanang tahu bahwa Nita ingin vagina dan kelentinya dijilati dan dihisap, Nanang mulai menjulurkan lidahnya dan mulai menjilati vagina Nita sambil ditingkahi dengan hisapan-hisapan dikelentitnya, tangan Nanang mulai beraksi juga, kedua jari tengah dan jari manis tangan kanannya mulai menerobos masuk kedalam lubang vagina Nita, tangan kirinya mulai mengelus-ngelus lubang pantat Nita, Nita melenguh menerima serangan ini, pantatnya ia maju mundurkan perlahan-lahan, Nanang menekan bagian dalam vagina Nita tepat dibelakang kelentitnya saat ia menghisap-hisap kelentitnya, kadang-kadang kedua jarinya mengocok vagina Nita.</p>
<p style="text-align: justify;">“Oohhh…terus…hisap itilku..yang kuaat…aaaghh…enak…terus…tekan…yach..kocok lagi…ochh enak sekali…,”Nita mengerang merasakan sensasi kenikmatan permainan tangan dan mulut Nanang.</p>
<p style="text-align: justify;">“Hhhmm…ssslllrrppp…memek ibu wangi dan cairannya ini gurih…ssslrrpppp…,”gumam Nanang sambil asyik menghisap-hisap kelentit Nita dan menelan cairan-cairan pelicin yang keluar dair vagina Nita.</p>
<p style="text-align: justify;">Kocokan-kocokan tangannya semakin dipercepat keluar masuk dalam lubang vagina Nita yang semakin basah oleh cairan pelicinnya, kadang-kadang ia tekan bagian belakang kelentitnya saat ia menghisap kuat-kuat kelentitnya, tubuh Nita gemetar dibuatnya, lenguhannya semakin sering terdengar, matanya merem-melek menikmati permainan Nanang, kedua tangan Nita mulai meremasi kedua payudaranya sendiri.</p>
<p style="text-align: justify;">kontol</p>
<p style="text-align: justify;">Dewi sendiri yang ditinggalkan oleh Nanang juga mulai meremasi kedua payudaranya dengan kedua tangannya sambil menikmati permainan Udin dilubang vaginanya, tubuhnya kadang-kadang melenting menikmati serangan Udin, kedua kakinya yang menopang saat tubuhnya melenting terlihat gemetar, Dewi merasakan nikmat yang luar biasa dengan permainan Udin, kedua jari tangan Udin keluar masuk dengan cepat, kadang-kadang Udin memutar-mutar jari tangannya yang sedang berada didalam vagina Dewi kekiri-kekanan, atau kadang-kadang Udin menekan keatas-kebawah kedua jari tangan saat kedua jari tangannya berada didalam vagina Dewi, sementara hisapan dan jilatannya dikelentit Dewi tidak berhenti saat Udin melakukan aksi tangannya itu, Dewi dibuat merem melek oleh Udin, lenguhan dan desahannya sering terdengar, bersahutan dengan suara Nita dan Hani yang sama-sama sedang menikmati serangan-serangan dilubang senggama mereka.</p>
<p style="text-align: justify;">“Oohh…terus Din, enak betul..hisap terus kelentitku…Ooohh…yach…kocok memekku yach…,”lenguh Dewi.</p>
<p style="text-align: justify;">“Hhhhmmm…ssllrppp..memek ibu..enak..wangi…,”Udin bergumam, sambil mulutnya tetap menghisap kelentit Dewi.</p>
<p style="text-align: justify;">Aksi Udin semakin menggila, jempol kirinya ia masukkan kedalam lubang pantat Dewi dan saat jempolnya sudah masuk semuanya didalam lubang pantat Dewi, ia gerakkan jempolnya keatas-kebawah, aksinya ini menambah sensasi kenikmatan buat Dewi, tangan kanan Dewi menekan belakang kepala Udin, pantatnya terangkat, kaki dan tubuhnya terlihat gemetar merasakan kenikmatan permainan Udin.</p>
<p style="text-align: justify;">“Oooohh..Din, terus..terus…enak…yach…,”terdengar Dewi mengerang lagi.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;</p>
<p style="text-align: justify;">Sementara Hani yang sedang dikeroyok berdua mulai mendekati titik kenikmatannya, puncak kenikmatannya sudah diambang pintu, erangannya semakin sering terdengar, tubuhnya mengejang-ngejang, keringatnya sudah membanjir menjadi satu dengan keringat Gito dan Parmin.</p>
<p style="text-align: justify;">“Ooohhh…teruss…sodok memekku dengan kontol kalian, lebih kuat dan lebih dalam, yach…oohh kalian betul-betul enak, aku tidak kuat lagi, Ooohh…aku mau keluar …tekan lebih dalam….aarrghh yach…begitu..teruss..lebih cepat lebih dalam…aaagghh..aku keluar,” Hani mengerang keenakan, tubuhnya mengejang-ngejang dan gemetar, saat meraih puncak kenikmatannya…ssssrrrrrr….sssrrrrrr..lubang vaginanya menyemprotkan lahar kenikmatannya menyirami kontol Gito yang berada didalam lubang vaginanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Hani memeluk Gito erat, tubuhnya meregang menikmati peraihan puncak kenikmatannya, matanya terbeliak keatas sehingga hanya bola putihnya saja yang terlihat, mulutnya ternganga sementara kepalanya mendongak keatas.</p>
<p style="text-align: justify;">kontol</p>
<p style="text-align: justify;">Saat Hani sedang meregang menyambut puncak kenikmatannya, Nita juga hendak meraih puncak kenikmatannya, tubuhnya mulai agak limbung, kedua kakinya gemetar, tangan kanannya meraih belakang kepala Nanang, tangan kirinya memegang erat sandaran kepala sofa, tubuhnya mengejang, pantatnya menekan kebawah lalu mengejut-ngejut, ssssrrrr…..sssrrr…sssrrr…cairan kenikmatannya menyembur keluar menyiram mulut dan muka Nanang, merasakan itu Nanang semakin kuat menghisap kelentit Nita, sementara jari tangannya ia dorong lebih dalam dan digerakkan keatas-kebawah, bagian depan dan belakang jari tangannya bergantian bersentuhan dengan dinding vagina Nita.</p>
<p style="text-align: justify;">“Oouuhh…aku keluar….oooh…enak…hisap kuat-kuat itilku….yaaachhh…,”Nita mengerang, puncak kenikmatannya berhasil ia rengkuh, tubuhnya mengejang, pantatnya mengejut-ngejut saat vaginanya menyemburkan cairan kenikmatan, matanya terpejam merasakan sensasi kenikmatan yang berhasil ia capai, kepalanya terdongak kebelakang.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;</p>
<p style="text-align: justify;">Saat kedua temannya sedang meregang keenakan, Dewi juga merasakan hal yang sama, tubuhnya saat itu juga sedang meregang menyambut puncak kenikmatan yang berhasil ia rengkuh, pantatnya semakin terangkat keatas, kedua kakinya gemetaran, kedua tangannya menjambak rambut Udin, sementara tubuhnya melenting ditopang oleh kepala dan kedua kakinya, mulutnya melenguh kuat saat vaginanya mulai menyemburkan lahar kenikmatannya, pantatnya mengejut-ngejut seirama dengan semburan lahar kenikmatan dari lubang vaginanya, ssrrrrr…..ssssrrrr….ssssrrrrrr….</p>
<p style="text-align: justify;">“Din, aaku keluaar…ooohhh…enak….sekali..hisap yang kuat Din, yach aaarggg…,”Dewi melenguh menyambut puncak kenikmatannya.</p>
<p style="text-align: justify;">Dari wajah ketiga wanita itu terlihat senyum kepuasan, pipi mereka merona merah, nafas mereka terdengar memburu, tubuh mereka masih gemetar, terlihat pantat mereka masih mengejut-ngejut lemah seirama dengan semburan lahar kenikmatan dari lubang vagina mereka yang mulai mereda.</p>
<p style="text-align: justify;">Keempat lelaki itu mendiamkan sejenak aksi mereka, mereka merasakan kedutan-kedutan dilubang vagina mereka yang perlahan mulai mereda. Mereka berempat saling bertukar pandangan dan dimulut mereka tersungging senyuman, mereka berempat berpikir bahwa ini baru awal dari permainan seks selanjutnya dan mereka akan merasakan satu demi satu tubuh para wanita ini.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ceritasex.cn/dewi-maniak-seks-pesta-ulang-tahun-anaknya-bagian-1/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Gairah Birahi Susan 3</title>
		<link>http://www.ceritasex.cn/gairah-birahi-susan-3/</link>
		<comments>http://www.ceritasex.cn/gairah-birahi-susan-3/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 18 Oct 2009 06:23:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cerita Sex</dc:creator>
				<category><![CDATA[Paruh baya]]></category>
		<category><![CDATA[Seks Umum]]></category>
		<category><![CDATA[Tante Girang]]></category>
		<category><![CDATA[anal seks]]></category>
		<category><![CDATA[gairah birahi]]></category>
		<category><![CDATA[nafsu seks]]></category>
		<category><![CDATA[ngentot]]></category>
		<category><![CDATA[ngentot anus]]></category>
		<category><![CDATA[orgasme]]></category>
		<category><![CDATA[pantat]]></category>
		<category><![CDATA[susan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ceritasex.cn/?p=1011</guid>
		<description><![CDATA[Suatu hari Susan bertemu dengan temannya Donita, Donita bercerita tentang seorang lelaki yang bernama Rendi, seorang lelaki berusia sekitar 30 tahun, single dan Rendi adalah seorang sales di sebuah perusahaan asuransi. “Hari itu aku sedang dirumah sendirian,”kata Donita pada Susan.”kira-kira jam 2 siang, dan tidak ada siapapun dirumah, tiba-tiba kudengar suara bel rumahku berbunyi, kemudian [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Suatu hari Susan bertemu dengan temannya Donita, Donita bercerita tentang seorang lelaki yang bernama Rendi, seorang lelaki berusia sekitar 30 tahun, single dan Rendi adalah seorang sales di sebuah perusahaan asuransi.</p>
<p style="text-align: justify;">“Hari itu aku sedang dirumah sendirian,”kata Donita pada Susan.”kira-kira jam 2 siang, dan tidak ada siapapun dirumah, tiba-tiba kudengar suara bel rumahku berbunyi, kemudian ketika kubuka didepanku berdiri seorang lelaki muda dan gagah, senyumnya begitu hangat.”</p>
<p style="text-align: justify;">Donita berkata pada Susan “Setelah memperkenalkan dirinya, pada awalnya aku tidak begitu tertarik dengan dirinya setelah mendengar ia dari perusahaan asuransi, tapi senyumnya itu tidak tahan aku dibuatnya, kupandangi dia dari atas sampai kebawah, kulihat postur tubuhnya betul-betul atletis, melihat itu aku merasakan kemaluanku mulai basah dan gatal ingin merasakan sodokan kontol, apalagi ketika kulihat diselangkangannya, nampak tonjolan dibalik celananya betul-betul membuatku penasaran. Akhirnya kupersilahkan dia untuk masuk, sampai akhirnya aku terlena dipuaskan oleh kontolnya hampir selama 3 jam.”</p>
<p style="text-align: justify;">Gairah birahi Susan bergelora hanya dengan mendengarkan cerita Donita tentang kontol Rendi yang besar dan hangat, dalam hatinya Susan membatin ingin juga merasakan sodokan kontol Rendi, Susan ingin juga merasakan dientot oleh kontol Rendi dan Susan tidak menginginkan kontol Rendi dicabut dari lubang memeknya.</p>
<p style="text-align: justify;">Kemudian Susan mulai mengatur strategi untuk mengundang Rendi agar dating kerumahnya berpura-pura tertarik dengan asuransi, Susan menyampaikan hal ini kepada Donita, akhirnya Donita menghubungi Rendi untuk datang kerumah Susan.</p>
<p style="text-align: justify;">Hari itu Susan menunggu kedatangan Rendi dirumahnya, Susan tidak sabar ingin cepat-cepat merasakan kontol Rendi mengaduk-aduk lubang senggamanya, yang mulai basah karena membayangkan akan kenikmatan yang bakal ia dapatkan.</p>
<p style="text-align: justify;">Susan mendengar bel pintunya berbunyi, tanpa membuang waktu lama Susan membuka pintunya, dihadapannya berdiri seorang lelaki yang tampan dan gagah, betul kata Donita dengan lelaki ini betul-betul gagah dan menawan hati.</p>
<p style="text-align: justify;">“Selamat Siang,” kata Rendi sambil tersenyum.</p>
<p style="text-align: justify;">Susan langsung merasakan gairah birahinya bergejolak mendengar suara lembut Rendi, lalu Susan mempersilahkan Rendi masuk kedalam, kemudian mereka terlibat pembicaraan, kadang-kadang mereka bercanda.</p>
<p style="text-align: justify;">Tak lama berselang, Susan mengambil keputusan untuk tidak membuang waktu lagi dengan percuma, kemudian Susan tersenyum kepada Rendi, dengan gaya yang menggoda yang mengisyaratkan pada Rendi bahwa dirinya ingin disentuh dan dientot oleh Rendi.</p>
<p style="text-align: justify;">“Kamu suka dengan bentuk badanku,” Susan mulai menggoda.</p>
<p style="text-align: justify;">“Sudah pasti, tubuhmu begitu indah dan sexy,”gumam Rendi, sambil kedua matanya menatap tak berkedip kebelahan payudara Susan.”Aku akan puaskan kamu dengan kontolku yang besar ini.”</p>
<p style="text-align: justify;">Rendi tidak membual dengan omongannya itu, Rendi mulai membuka celana dan Cdnya, dan mata Susan terbelalak saat melihat kontol Rendi yang besar dan sudah tegang itu, betul-betul besar dan sudah membengkak, panjang dengan kepala kontolnya yang mengkilat dan siap untuk menerobos lubang senggamanya.<br />
“Oh, betul-betul besar dan panjang kontolmu itu,”Susan tersenyum sambil membuka seluruh bajunya, kemudian dengan tubuh yang sudah telanjang Susan beranjak kekamar tidurnya, sesampainya dikamar tidurnya, Susan merebahkan badannya, kedua kakinya ia kangkangkan lebar-lebar, menantikan Rendi untuk menyodokkan kontolnya.
</p>
<p style="text-align: justify;">Rendi yang mengikutinya dari belakang, melihat tubuh Susan yang sudah telanjang bulat itu mengangkang ditempat tidurnya, nafsu birahinya bertambah.</p>
<p style="text-align: justify;">“Ini kontolku, sayang,”kata Rendi. “Tunggu sampai kontolku ini melakukan tugasnya, kamu akan ketagihan dengan kontolku saat ia mulai menerobos lubang memekmu, aku akan buat memekmu ketagihan akan genjotan kontolku, dan kemudian aku akan entot lubang pantatmu sampai kamu merintih-rintih keenakan”<br />
<span id="more-1011"></span><br />
Susan yang belum pernah mencoba dientot dilubang pantatnya merasa khawatir dan sedikit takut dengan apa yang akan dirasakannya nanti, tapi saat ini Susan sedang memikirkan tentang kenikmatan yang akan diterima oleh memeknya saat kontol Rendi menerobos masuk memeknya.
</p>
<p style="text-align: justify;">Rendi bergerak mendekati Susan yang sudah mengangkang diatas tempat tidurnya, kepala kontolnya yang sudah tegang men yentuh bibir memek Susan yang sudah basah, kemudian Rendi mengarahkan kontolnya dengan tangannya dan menyelipkan kontolnya dalam lubang memek Susan.</p>
<p style="text-align: justify;">Susan merasakan kepala kontol Rendi yang besar menerobos dilubang memeknya, dan Susan merasakan kehangatan menyelimuti memeknya, suaranya mendesah-desah menandakan kenikmatan yang ia rasakan saat kontol Rendi mulai menerobos memeknya.</p>
<p style="text-align: justify;">“Ohh, indahnya, sayanng, Oohh..enaknya.” Susan mendesah. “Masukkan yang dalam kontolmu, aku ingin merasakan kontolmu menyentuh dinding rahimku.”</p>
<p style="text-align: justify;">Rendi bertumpu dengan kedua tangannya, sementara pinggulnya ia gerakkan kedepan, dengan sekali sentakan kuat kontolnya melesak kedalam lubang memek Susan yang sudah basah.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Uuughhh!&#8221; Susan melenguh, tubuhnya melenting seperti busur panah merasakan desakan kontol Rendi dilubang memeknya. “Oohh, eenak sekali,,tekan lagi sayang.”</p>
<p style="text-align: justify;">Rendi mulai memompa kontolnya, keluar masuk dalam lubang senggama Susan dengan cepat dan penuh tenaga dan betul-betul agresif.</p>
<p style="text-align: justify;">Belum sekalipun ritme goyangan Rendi menjadi pelan, Rendi memang dating untuk mengentot, dan itulah yang dia lakukan. Kontolnya yang sudah tegang memenuhi lubang memek Susan sepenuh-penuhnya, dan dengan cara dia menggenjot kontolnya itu dilubang senggama Susan membuat lubang memek Susan semakin menjadi basah.</p>
<p style="text-align: justify;">“Kamu betul-betul tahu bagaimana membuatku bernafsu, sayang,” Susan merintih, kedua payudaranya berguncang seiring dengan gerakan Rendi. “kamu betul-betul hebat, “</p>
<p style="text-align: justify;">Rendi tersenyum dan tetap memompa kontolnya keluar masuk lubang memek Susan terus menerus, pinggulnya seperti melayang, naik turun dengan cepat dan kuat, dengan irama yang membuat Susan merasakan dirinya sedang dibawa mendaki kepuncak gunung, puncak kenikmatan bersetubuh yang memang disukai oleh Susan.</p>
<p style="text-align: justify;">Susan melingkarkan kakiknya kebelakang tubuh Rendi, ini adalah cara Susan yang paling Susan sukai saat dientot, karena dengan begini Susan dapat merasakan kontol yang sedang mengentotnya akan masuk lebih dalam didalam lubang senggamanya, Susan dapat merasakan sentuhan-sentuhan kepala kontol didinding rahimnya, sehingga membuatnya bergetar, sensasi getaran yang ia dapatkan menjalar dari dinding rahimnya, keatas kearah kedua payudaranya.</p>
<p style="text-align: justify;">Susan mulai merasakan kenikmatan yang sangat luar biasa, nafasnya semakin memburu, seluruh tubuhnya mulai bergetar penuh nafsu ingin dipuaskan.</p>
<p style="text-align: justify;">“Lelaki ini betul-betul hebat,” batin Susan. “Ia mengentotku seperti orang gila! Dan ia mempunyai kontol yang sangat luar biasa dan irama genjotannya tidak pernah melemah sedikitpun” Susan merasakan kontol Rendi yang besar dan panjang keluar masuk dilubang memeknya, memicu gelora birahinya yang terpendam semenjak ia mendengar cerita tentang Rendi dari Donita.</p>
<p style="text-align: justify;">“Memekmu sungguh sempit dan enak, sayang,” Rendi berbisik. “Aku bisa mengentotmu sepanjang malam,”</p>
<p style="text-align: justify;">“Kenapa tidak,”Susan mendesah. “Aku punya waktu untuk itu semua.”</p>
<p style="text-align: justify;">“Pasti akan kulakukan, karena aku tidak ada janji lagi dengan yang lainnya, dan kamu adalah yang paling indah dan sexy dari seluruh wanita yang pernah aku entot.”</p>
<p style="text-align: justify;">Susan tersenyum mendengar itu, dan iapun mulai menggoyangkan pantatnya, dan mengangkat pantatnya saat Rendi mendorong masuk kontolnya, sehingga kedua bulu mereka bersentuhan, dan Susan merasakan biji pelernya Rendi menyentuh pantatnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Kedua tubuh mereka bergerak dengan erotis, penuh dengan irama nafsu yang menggelora, mereka berdua bekerja sama menggerakkan kemaluan mereka dengan indahnya, kedua bongkahan pantat Susan bersentuhan dengan paha Rendi dan biji peler Rendi saat Rendi mendorong masuk kontolnya dalam lubang memek Susan.</p>
<p style="text-align: justify;">Tubuh Susan mulai berguncang dengan keras, sementara dinding vaginanya semakin sering meremas-remas kontol Rendi setiap kali Rendi menekan kontolnya, keringat mereka mulai mengalir dengan deras.</p>
<p style="text-align: justify;">Mata Susan tertutup rapat, kepalanya mendongak, kepalanya bergoyang kekiri kekanan merasakan gelombang kenikmatan mengalir disekujur tubuhnya, betul-betul nikmat yang ia rasakan membuat memeknya bergairah dan membuat kedua puting susunya mencuat dan mengeras.</p>
<p style="text-align: justify;">Susan merasakan dari cara Rendi mendengus dan melenguh dan dari cara kontolnya berdenyut, nampaknya Rendi hampir mendekati puncak kenikmatannya.</p>
<p style="text-align: justify;">Gerakan kontolnya tidak terkendali saat keluar masuk dalam lubang memeknya, tangan dan bahu Rendi mulai bergetar, Rendi tidak mengatakan apapun selain mendesah-desah, pikiran Rendi hanya tertumpu pada pencapaian puncak kenikmatannya dan menyemburkan spermanya didalam lubang memek Susan.</p>
<p style="text-align: justify;">“Kamu siap, sayang?” Rendi berbisik, suaranya nyaris tidak terdengar, matanya terpejam, mulutnya terbuka lebar. “kita keluar sama-sama!”</p>
<p style="text-align: justify;">“Ohh..yeah..oohh…yeahh, sayang,”Susan merintih-rintih. “Aku juga, keluarkan spermamu, sayang.”</p>
<p style="text-align: justify;">Gerakan mereka semakin tergesa-gesa, Rendi memompa kontolnya dilubang memek Susan bertambah cepat dan bertambah dalam, tubuh Susan mulai bergetar dengan keras, pantatnya naik turun diatas tempat tidur, seluruh tubuhnya bergerak terus menerus, menginginkan kontol Rendi masuk lebih dalam lagi didalam lubang senggamanya.</p>
<p style="text-align: justify;">“Sekarang,”Rendi menggeram. “ Aku keluar…..”</p>
<p style="text-align: justify;">“AKU JUGA, OOHHH..KONTOLMU NNIKMAT”Susan menjerit keenakan. “Eegghhh! Ohh. Tekan…entot…tekan…entot aku…ooohhh”</p>
<p style="text-align: justify;">Susan merintih-rintih, matanya mendelik yang nampak hanya putihnya saja, diwajahnya terpancar rona sangat kepuasan, mulutnya terbuka, pipinya merona merah.</p>
<p style="text-align: justify;">Lubang memeknya seperti membara menembakkan lahar kenikmatannya yang meledak-ledak menandakan terpenuhinya hasrat birahinya dan kontol Rendi sendiri menembakkan spermanya didalam lubang memek Susan.</p>
<p style="text-align: justify;">Rendi merasakan kontolnya diremas-remas seiring dengan kedutan-kedutan memek Susan yang menembakkan lahar kenikmatannya, kontolnya berkedut-kedut dan menyentak-nyentak dibarengi dengan mengejangnya urat-urat kontolnya mengiringi puncak kenikmatan yang diraihnya, spermanya hangat dan banyak menyirami memek Susan, mengisi seluruh celah lubang memek Susan.</p>
<p style="text-align: justify;">“Ooohhh, aku tidak pernah merasakan kenikmatan ini selama hidupku,” Susan mendesah. Susan menatap mata Rendi, menyampaikan pesan semua kehangatan dan kenikmatan yang menyelimuti jiwanya saat ini betul-betul sensasi yang erotis sekali bagi dirinya.</p>
<p style="text-align: justify;">Rendi merasakan kenikmatan yang sangat luar biasa, tubuhnya bergetar dengan keras saat kontolnya menembakkan sperma terakhirnya didalam lubang senggama Susan, kemudian perlahan-lahan nafasnya mulai normal, kontolnya masih terbenam dalam-dalam di lubang senggama Susan, Rendi merasakan dinding vagina Susan berdenyut-denyut perlahan, dan Rendi merasakan kontolnya basah dan hangat oleh cairan kenikmatan mereka berdua.</p>
<p style="text-align: justify;">“Kamu, besar, kontolmu ini indah, kamu.”Susan mendesis.”Kamu baru saja melakukan apa yang kamu bilang, kamu baru saja memberikan memekku penuh sesak dengan jejalan kontolmu yang besar.”</p>
<p style="text-align: justify;">“Oh ya, tapi aku belum selesai.”kata Rendi. “kamu ingatkan? Apa yang aku bilang bahwa aku akan mengentot lubang pantatmu, ayo berputar, aku sangat bernafsu sekali ingin mengentot lubang pantatmu!.”</p>
<p style="text-align: justify;">Susan merasakan gairah birahinya kembali, tapi ia takut, ia membayangkan jika Rendi akan merobek lubang pantatnya. Lubang pantatnya pasti sempit sekali karena ia belum pernah merasakan dientot dilubang pantatnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Tetapi Susan penasaran juga, dan penuh dengan gairah birahi untuk mencoba pengalaman yang baru ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Susanpun membalikkan badannya, Rendi menunggu penuh nafsu, kontolnya lebih tegang daripada sebelumnya, Rendi menatap penuh nafsu bongkahan pantat Susan yang montok dan indah, Rendi melihat lipatan lubang pantat Susan berdenyut sangat menantang untuk diterobos oleh kontolnya yang sangat tegang ini.</p>
<p style="text-align: justify;">“OK, Rendi, berikan padaku kontolmu itu.” Susan berkata lembut, tubuhnya sedikit gemetar, sedikit takut akan apa yang terjadi tapi juga penasaran untuk mengetahui bagaimana rasanya saat kontol Rendi yang besar dan sangat tegang itu menerobos masuk lubang pantatnya.</p>
<p style="text-align: justify;">“Dengan senang hati, sayang,” Rendi menjawab. “Dengan senang hati, aku akan mengentot lubang pantatmu dengan kontolku ini, tahan!!”</p>
<p style="text-align: justify;">Rendi meludahi lubang pantat Susan, lalu menggesek-gesekkan kontolnya diludahnya itu, ludahnya melumasi lubang pantat Susan dan kepala kontolnya, ini ia lakukan berulang-ulang sampai Rendi merasakan lubang pantat Susan cukup basah, kemudian Rendi menekankan kepala kontolnya dilubang pantat Susan dan menyentakkan kontolnya kedalam lubang pantat Susan dengan kuat, kontolnya yang besar dan panjang terbenam dalam-dalam dilubang pantat Susan.</p>
<p style="text-align: justify;">Rendi merasakan lubang pantat Susan sangat sempit sekali, Susan sendiri berteriak merasakan lubang pantatnya telah tersumpal penuh oleh kontol Rendi, tubuhnya melompat maju dan rebah diatas tempat tidur, tapi Rendi sudah mengantisipasi gerakan Susan ini, dengan memegangi pinggul Susan, dan mendorong maju bersamaan dengan tubuh Susan yang rebah diatas tempat tidur, kontolnya tetap terbenam didalam lubang pantat Susan, Rendi dapat merasakan otot-otot lubang pantat Susan yang mencengkram kuat batang kontolnya saat ia mulai mencoba memaju mundurkan kontolnya.</p>
<p style="text-align: justify;">“Oohh, lubang pantatmu betul-betul sempit sekali,” rendi berkata dengan penuh nafsu.”kamu betul-betul membuatku bergairah kembali,”</p>
<p style="text-align: justify;">Susan tidak begitu merasa bergairah, ia merasakan kontol Rendi seolah merobek lubang pantatnya, ia merasakan perih dilubang pantatnya. Susan merasakan sodokan kontol Rendi seperti menyentuh isi perutnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Setiap Susan bergerak, kontol Rendi membuat kesakitan lubang pantatnya, Susan berkeringat dingin merasakan kontol Rendi yang menyumpal lubang pantatnya, tapi entah kenapa membangkitkan gairah birahi di memeknya, memeknya berdenyut-bergairah membuat akal sehatnya hilang.</p>
<p style="text-align: justify;">Susan menggigit bantal, Susan merasakan sakit dilubang pantatnya tapi memeknya menjadi bergairah, kemudian ia mencoba untuk sedikit rileks agar lubang pantatnya tidak terlalu mencengkram kontol Rendi.</p>
<p style="text-align: justify;">Rendi sendiri sudah sangat bergairah dan bernafsu sekali sehingga ia tidak memperdulikan bahwa Susan sedang kesakitan yang ia pikirkan saat ini adalah memompa kontolnya dilubang pantat Susan yang sangat sempit.</p>
<p style="text-align: justify;">Sungguh luarbiasa yang Rendi rasakan saat ini, batang kontolnya betul-betul terjepit dengan eratnya oleh lubang pantat Susan.</p>
<p style="text-align: justify;">Rendi menarik tubuh Susan agar menungging, dengan begitu lubang pantatnya akan lebih terbuka, dan ia mulai memompa kembali kontolnya dalam-dalam dilubang pantat Susan, dengan gerakan yang teratur.</p>
<p style="text-align: justify;">Kontolnya menerjang dan berdenyut dilubang pantat Susan, mencoba memberikan kepuasan dalam persetubuhan kali ini, kontolnya merasakan getaran dilubang pantat Susan.</p>
<p style="text-align: justify;">“Ayo, sayang.” Rendi berbisik pelan. “Aku tidak akan berhenti sampai lubang pantatmu penuh oleh spermaku.”</p>
<p style="text-align: justify;">Dan Rendi memang tidak bercanda, ia mulai bertubi-tubi mengeluar masukkan kontolnya dilubang pantat Susan, maju-mundur, dalam dan lebih dalam lagi, memenuhi seluruh celah didalam lubang pantat Susan.</p>
<p style="text-align: justify;">Tapi anehnya setelah beberapa saat, Susan mulai menyukai rasa yang ditimbulkan oleh kontol Rendi dilubang pantatnya, Susan mulai merespon sodokan kontol Rendi, Susan mulai merasakan enaknya kontol Rendi saat keluar masuk dilubang pantatnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Susan merasakan kontol Rendi menyentuh bagian yang paling dalam dilubang pantatnya, Susan merasakan kontol Rendi meluncur lebih dalam dilubang pantatnya, menggesek-gesek bagian-bagian yang membangkitkan gairah birahinya, membuat ia terbakar dalam nafsu dan birahinya.</p>
<p style="text-align: justify;">Susunya mulai bergoyang seirama dengan gerakan Rendi yang memompa kontolnya, Susan merasakan nafsu birahinya menggelegak diseluruh tubuhnya, Susan merasakan perutnya seperti diaduk-aduk oleh kehangatan yang menyelimuti gairah birahinya.</p>
<p style="text-align: justify;">“Oohh… eeenaak..belajar darimana kamu mengentot dengan cara seperti ini?”Susan bertanya dengan suara yang mendesah. “Kamu betul-betul tahu caranya mengentot lubang pantat, kontolmu mulai membangkitkan gairah birahiku.”</p>
<p style="text-align: justify;">“Kamu sukakan.”Rendi bertanya, sambil tetap memompa kontolnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Rendi memompa Susan seperti kontol yang lagi birahi, dan kontolnya semakin terbenam lebih dalam di lubang pantat Susan. Rendi betul-betul menikmati persetubuhannya ini itu terpancar dari wajahnya, dorongan kontolnya semakin dalam-dalam memasuki lubang pantatnya, biji pelernya bergoyang bersentuhan dengan bibir kemaluan Susan.</p>
<p style="text-align: justify;">Susan betul-betul sangat bernafsu sekali sekarang ini, kontol Rendi betul-betul memberikan kepuasan yang tiada taranya sehingga Susan merasakan getaran yang sangat kuat memenuhi seluruh tubuhnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Belum pernah Susan merasakan kenikmatan seperti ini, dari sakit yang ia rasakan tadi berubah menjadi kenikmatan, entotan dilubang pantatnya membuat Susan lebih bergairah darfipada sebelumnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Susan mencoba untuk melawan, tapi badannya mulai bergetar tidak terkontrol lagi, Susan merasakan tangannya seperti dari karet, Susan merasakan kegelian yang sangat dikedua kakinya saat biji peler Rendi yang berbulu menyentuh pahanya, desahan, rintihan dan lenguhan Susan semakin terdengar, pikirannya penuh dengan sensasi kenikmatan, hanya dengan merasakan kontol Rendi yang keluar masuk di lubang pantatnya, membuat memeknya menjadi basah, itilnya terasa gatal karena nafsu birahinya.</p>
<p style="text-align: justify;">“Ooohh..aku tak tahan lagi,!”Susan melenguh.”Aku akan keluar, dan aku ingin merasakan spermamu memenuhi lubang pantatku.”</p>
<p style="text-align: justify;">Rendi melenguh saat menyodokkan kontolnya dengan kuat di lubang pantat Susan, Sodokan-sodokan Rendi membawa mereka berdua mendekati puncak kenikmatan dari persetubuhan mereka, Rendi merasakan kontolnya berdenyut-denyut bersiap untuk menembakkan spermanya, Susan sendiri merasakan lendir kenikmatannya mulai mengalir keluar dari lubang vaginanya, Susan merasakan denyutan kontol Rendi didinding lubang pantatnya, detik-detik pencapaian puncak kepuasan seperti inilah yang selalu diinginkan oleh Susan.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Aiieeee! Aiiee! Ohhhh aku mau kelluaaarrr…!&#8221; Susan menjerit, Seluruh badan Susan mengejang dan payudaranya bergoyang seirama dengan sodokan-sodokan kontol Rendi, putingnya mengeras bagaikan karet.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Entot aku yang keras, sayang!&#8221; Susan berteriak. &#8220;Aku tidak tahan lagi, Ooohhh..kontolmu membuatku seperti pelacur, tapi aku tidak perduli, terus entot aku yang kuat sayang.!&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Kepala Susan bergerak kekanan kekiri, mulutnya terbuka lebar mengeluarkan suara lenguhan dan desahan, matanya setengah terpejam, mukanya menampakkan kepuasan saat Susan mencapai puncak kenikmatannya.</p>
<p style="text-align: justify;">Dan kemudian Rendi menembakkan spermanya, kontolnya semakin mengeras dan mengejut-ngejut, kontol Rendi memuntahkan sperma yang banyak<br />
dilubang pantat Susan.
</p>
<p style="text-align: justify;">Susan mengimbangi dengan menggoyangkan pantatnya, mengedut-ngedutkan otot lubang pantatnya, lubang pantatnya mencengkram dengan erat batang kontol Rendi, Susan seperti gila merasakan kenikmatan yang sangat hebat, saat ini Susan merasakan seluruh tubuhnya bergetar hebat saat meraih puncak kenikmatannya yang sangat luar biasa ini, mulutnya mengerang, mendesah dan melenguh.</p>
<p style="text-align: justify;">Akhirnya kedua tubuh insan ini jatuh ditempat tidur saat tetes terakhir lahar kenikmatan mereka menetes dari kemaluan mereka, nafas mereka terdengar tersengal-sengal. Tak lama kemudian tubuh Rendi bergulir dari atas tubuh Susan, terlihat kontolnya mengkilat karena cairan sperma bercampur dengan cairan dari pantat Susan, sementara dari lubang pantat Susan terlihat sperma Rendi mulai mengalir perlahan menuju ke Vaginanya yang saat itu juga sedang mengalir cairan kenikmatannya, cairan kenikmatan mereka bercampur dan mulai menetes keatas tempat tidur.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ceritasex.cn/gairah-birahi-susan-3/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Istri yang Selingkuh</title>
		<link>http://www.ceritasex.cn/istri-yang-selingkuh/</link>
		<comments>http://www.ceritasex.cn/istri-yang-selingkuh/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 05 Oct 2009 21:08:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cerita Sex</dc:creator>
				<category><![CDATA[anal seks]]></category>
		<category><![CDATA[selingkuh]]></category>
		<category><![CDATA[anus]]></category>
		<category><![CDATA[birahi]]></category>
		<category><![CDATA[istri haus seks]]></category>
		<category><![CDATA[istri muda]]></category>
		<category><![CDATA[istri selingkuh]]></category>
		<category><![CDATA[ngentot]]></category>
		<category><![CDATA[pantat lobang]]></category>
		<category><![CDATA[wanita haus seks]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ceritasex.cn/?p=966</guid>
		<description><![CDATA[Aku telah menikah lebih dari 8 tahun, istriku Erni adalah seorang wanita yang cantik dan menggairahkan. Semua yang dapat kugambarkan tentang sosoknya hanyalah, aku tak mungkin bisa mendapatkan seorang pasangan hidup sebaik dia. Akhir-akhir ini kesibukanku di kantor membuat kehidupan rumah tanggaku sedikit tergoncang, pagi-pagi sekali sudah berangkat dan pulang sudah larut malam. Erni tak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Aku telah menikah lebih dari 8 tahun, istriku Erni adalah seorang wanita yang cantik dan menggairahkan. Semua yang dapat kugambarkan tentang sosoknya hanyalah, aku tak mungkin bisa mendapatkan seorang pasangan hidup sebaik dia. Akhir-akhir ini kesibukanku di kantor membuat kehidupan rumah tanggaku sedikit tergoncang, pagi-pagi sekali sudah berangkat dan pulang sudah larut malam. Erni tak bekerja, dia hanya mengurus rumah, jadi bisa dikatakan dia sendirian saja di rumah tanpa teman, tanpa pembantu selama kutinggal kerja. Tapi terkadang dia pergi keluar dengan teman- temannya, tapi dia selalu menghubungiku lewat telepon sebelum pergi. Hari Rabu, pekerjaanku di kantor selesai lebih awal, dan ingin pulang dan mengajak Erni keluar untuk menebus semua waktuku untuknya. Aku meninggalkan kantor sebelum jam makan siang dan memberitahukan pada sekretarisku bahwa aku tidak akan kembali ke kantor lagi hari ini. Kupacu mobilku secepatnya agar segera sampai di rumah dan mungkin aku akan mendapatkan kenikmatan siang hari sebelum kami pergi keluar. Saat hampir tiba di rumahku, kulihat ada sebuah mobil yang diparkir di depan. Aku pikir itu mungkin milik temannya. Aku lalu keluar dari mobil dan melangkah masuk ke dalam rumah. Kubuka pintu depan, sengaja aku tak mengeluarkan suara untuk mengejutkannya. Di ruang tengah tak kujumpai siapa pun, lalu aku melangkah ke dapur, tapi tetap tak ada seorang pun kutemui. Mungkin mereka ada di kamar tidur, perempuan bisanya berada di sana untuk mencoba beberapa pakaian barunya. Semakin mendekat ke pintu kudengar suara, kucoba mencermati pendengaranku dan mencoba untuk mendengarkannya dengan seksama. Ini adalah hari dimana aku berharap seharusnya berada di kantor saja. Begitu kuintip dari pinggir pintu yang sedikit terbuka, kusaksikan istriku berada dalam pelukan lelaki lain.</p>
<p style="text-align: justify;">istriku dalam posisi merangkak dengan batang penis lelaki itu terkubur dalam lubang anusnya.. &#8220;Oh *******, lebih keras lagi dong!&#8221; perintah istriku. &#8220;Kamu menyukainya kan, jalang, kamu suka penisku dalam anusmu, iya kan?&#8221; &#8220;Oh ya Bud, kamu tahu itu!&#8221; Aku berdiri mematung di sana tanpa mampu bereaksi, terlalu shock untuk mengatakan atau melakukan sesuatu dan hanya menyaksikan pemandangan mengejutkan ini. Istriku, yang aku bersedia mati untuknya, sedang melakukan anal seks dengan lelaki ini, sebuah hal yang kuinginkan tetapi tak pernah mau dia lakukan bersamaku. Dan sekarang dia melakukannya dengan lelaki ini! Aku terpaku memandangnya mengayunkan bongkahan pantatnya yang indah, kepalanya menggantung ke bawah dan sekujur tubuhnya bermandikan keringat mengisyaratkan pada lelaki ini agar memberinya lebih lagi. Air mata mengaburkan pandanganku dan kedua kakiku seakan direkat pada lantai membuatku tak bisa beranjak dari sana dan menyaksikan keseluruhan peristiwa ini. Serasa hancur hatiku saat lelaki itu menjambak rambutnya dan menarik kepalanya ke belakang dan memanggil istriku dengan sebutan &#8216;jalang&#8217;, dan memaksakan batang penisnya masuk ke dalam lubang anus istriku yang terlihat mengerut.<br />
<span id="more-966"></span><br />
Istriku memohon agar lebih dalam lagi dan pinggulnya menghantam berlawanan dengan pinggang lelaki ini. Dengan tangan kanannya, lelaki itu menjangkau ke bawah tubuh istriku dan menggenggam payudaranya yang sekal, menjepit ujung puting susunya yang kecoklatan dengan keras sekali, jeritan yang keluar dari bibir istriku menandakan bahwa dia merasakan kesakitan. Kami tidak pernah bercinta dengan cara begitu, kami selalu melakukannya dengan penuh cinta, aku tak pernah ingin menyakitinya dan aku tak mengerti bagaimana dia bisa menyukai saat diperlakukan kasar seperti ini. &#8220;Ya Budi, puaskan aku, beri aku apa yang tak dapat diberikan suamiku, kamu tahu betapa senangnya aku saat kamu melakukannya sayang!&#8221; Lelaki ini semakin menarik rambutnya dengan keras dan juga menarik payudaranya ke samping hingga kupikir puting susunya akan terkoyak karenanya, tapi dari bibirnya malah keluar jerit an memohon lagi. Aku harap aku dapat menikmati hal ini dan dapat bergabung dengan mereka, tapi aku tak bisa. Budi, itu nama lelaki ini yang kudengar disebutkan istriku, mengatakan padanya bahwa dia akan meraih orgasmenya, dan dia menarik keluar batang penisnya dari lubang anus istriku.
</p>
<p style="text-align: justify;">Istriku memutar tubuhnya dengan cepat dan menaruh batang penisnya yang masih berlumuran cairan dari lubang anusnya sendiri itu ke dalam mulutnya, mulut yang sama yang aku suka menciumnya selama 8 tahun terakhir ini, 10 tahun jika kuhitung sejak kami pertama berkencan sewaktu kuliah dulu. Hampir saja aku muntah begitu dia menelan penis kotornya itu ke dalam mulutnya dan menghisap spermanya begitu lelaki ini menyemburkan spermanya dengan hebat hingga tumpah sampai ke dagunya. &#8220;Benar begitu penghisap penisku, hisap terus jalang, telan spermaku pelacurku.&#8221; Ingin rasanya kubunuh lelaki itu, bagaimana mungkin dia bisa memanggil wanita secantik ini dengan sebutan kotor begitu. Bagaimana bisa istriku membiarkannya memanggilnya dengan sebutan itu. Seperti seorang bodoh saja saat aku melihat dan mendengarkan aksi mereka saat istriku menyelesaikan hisapannya pada batang penis lelaki ini. Dengan kasar dia menarik wajah istriku mendekat padanya untuk mencium bibirnya yang penuh. Memasukkan lidahnya ke dalam mulutnya saat istriku dengan senang menghisapnya. Tangan lelaki itu berada pada bongkahan pantat istriku.</p>
<p style="text-align: justify;">menekan tubuhnya agar merapat saat mereka berciuman layaknya sepasang remaja yang sedang dimabuk cinta. Akhirnya aku baru bisa bergerak, dan aku berbalik lalu melangkah ke ruang keluarga kami, duduk di atas sofa sambil memegangi kepalaku, kedua sikuku bertumpu pada paha. Air mata meleleh membasahi wajahku mengingat segala peristiwa mengejutkan yang baru saja kusaksikan. Memikirkan tentang bagaimana dan apa yang membuat Erni melakukan perbuatan terkutuk ini padaku. Aku selalu memperlakukannya dengan penuh cinta dan kasih sayang, kami mempunyai kehidupan seks yang indah, setidaknya itu menurutku. Aku selalu melihatnya mendapatkan orgasme setiap kali kami bercinta. Dia tak pernah menuntut padaku bahwa dia menginginkan lagi dan aku pasti akan memenuhinya. Apa yang membuatnya melakukan ini. Aku pikir aku akan melihat mereka keluar dari dalam kamar sebentar lagi, tapi aku salah. Aku tak ingin melihat apa yang mereka lakukan, tapi ada sesuatu dari dalam diriku yang mendorongku untuk kembali ke kamar itu. Saat aku kembali mengintip dari balik pintu, kedua kaki istriku berada di bahu lelaki ini dan dia sekarang sedang menyetubuhi vaginanya.</p>
<p style="text-align: justify;">lubang yang sama dimana kudapatkan kenikmatan selama 10 tahun. Tak dapat kupercaya pendengaranku akan kata-kata hina yang keluar dari mulut manis istriku. &#8220;Oh ya, puaskan aku dengan penismu, isi mulutku lagi dengan spermamu. Lebih keras Budi, berikan yang aku mau, lebih keras lagi *******!!&#8221; Belum pernah kudengar dia berkata seperti ini sebelumnya. &#8220;Ya jalang, milik siapa vagina lezat ini?&#8221; &#8220;Oh milikmu Budi, semuanya milikmu sayang.&#8221; Setiap kata yang terucap seakan sebilah belati yang menghunjam ke hatiku, merobeknya menjadi berkeping- keping seiring pinggul istriku bergoyang mengiringi hentakan lelaki ini dengan gairah yang belum pernah kulihat darinya. Sebuah pemikiran melintas dalam benakku, aku senang, senang karena sampai dengan saat ini kami belum mempunyai seorang anak yang akan menemukan bahwa ibunya adalah seorang pelacur! &#8220;Siapa yang dapat memuaskanmu, siapa yang mampu memenuhi keinginanmu?&#8221; &#8220;Kamu Budi, hanya kamu yang bisa memberiku!&#8221; Apa yang harus kulakukan, pergi, tetap di sini, melabrak mereka, atau hanya menghajar lelaki ini? Tak kulakukan apa pun, selain hanya melihat. Mungkin jika aku lebih dari seorang pria, atau setidaknya lebih dari seorang pria yang tega.</p>
<p style="text-align: justify;">aku akan melakukan sesuatu daripada hanya berdiri saja di sini. Seharusnya kulabrak mereka, menghajar mereka berdua, atau apa pun, tapi aku hanya menyaksikan perbuatan mereka dengan hati yang hancur berkeping- keping. Nafsu istriku b egitu besar dan lelaki itu memuaskannya, mereka bersetubuh seperti sepasang binatang di atas ranjang cinta kami. Bed covernya sudah sangat kusut seperti kedua pakaian mereka yang tercampak di lantai dalam pergulatan birahi mereka berdua. Kusaksikan batang penisnya yang keras ditarik hampir keluar seluruhnya dan dilesakkannya kembali dengan hentakan yang mampu membuat pinggul istriku terangkat dengan kedua pahanya yang terpentang lebar untuk menerima seluruh batang keras milik lelaki itu ke dalam vaginanya. &#8220;Puaskan aku sayang, berikan penismu padaku. Jangan coba berhenti, jangan pernah berhenti!&#8221; Kembali mereka berciuman dengan begitu bernafsu. Pinggul mereka saling menghantam berulang kali. Mereka tak menyadari kehadiranku di belakang mereka yang sebenarnya bahkan hanya dengan menolehkan kepalanya saja mereka akan dapat melihatku yang sedang berdiri mengintip dari balik pintu.</p>
<p style="text-align: justify;">Tapi mereka sedang sibuk dengan kegiatannya yang lebih penting sekarang, pendakian untuk sebuah orgasme lagi. Sudah cukup apa yang kusaksikan, lebih dari apa yang ingin kulihat. Aku bebalik dan keluar dari rumah. Kukendarai mobil di bawah sinar mentari yang cerah sampai mataku terbakar, dari sinar mentari dan dari air mata. Kejadian yang baru saja kusaksikan berputar dalam benakku. Aku berhenti pada sebuah kafe dan memesan segelas minuman yang paling keras. Kutatap jam di dinding hingga jarum jam menunjukkan pukul 7 malam, kembali ke mobilku dan pulang ke rumah kami, jika masih bisa disebut rumah kami sekarang. Baru saja aku masuk ke dalam, aku langsung bertemu dengan Erni, dia hendak mencium bibirku, tapi kulengoskan mukaku. &#8220;Ada yang salah, sayang?&#8221; tanyanya. &#8220;Nggak, hanya capai saja!&#8221; Kami melangkah ke meja makan dan saling berbincang sebentar, aku lebih pendiam daripada biasanya, dan dia berlagak seolah tak ada apa pun yang terjadi hari ini. Kuselesaikan makan malamku dan beranjak untuk mandi, berharap aku mampu mencuci ingatan mengerikan tentang istriku yang berselingkuh dengan lelaki lain dari benakku, tapi itu tak terjadi.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku naik ke pembaringan, tak dapat tidur dengan nyenyak karena ingatan akan istriku yang bertingkah seperti seorang pelacur yang haus akan batang penis sedang memuaskan lelaki ******* yang bernama Budi. Memberinya apa yang seharusnya hanya untukku. Rasanya jarum jam tak akan pernah beranjak ke pukul 6 pagi agar aku dapat pergi dari sini dan merenung. ***** Hari ini seakan berlalu dengan sangat lambat, akhirnya jam 11 siang tiba. Kukendarai mobilku dan kembali ke rumah. Kembali kulihat mobil Budi terparkir di depan rumah. Kemarahanku sekarang sudah melampaui batasnya. Dengan tergesa aku mesuk ke dalam rumah dan menemukan mereka berdua sedang bergulat di atas ranjang kami lagi. Dengan marah kuteriakkan padanya agar menjauh dari istriku dan mengusirnya keluar dari rumahku. Budi hanya tertawa dan dengan batang penis yang masih berlumuran dengan cairan istriku, dia mengenakan pakaiannya, sedangkan Erni berusaha untuk menjelaskan semuanya. Tak ada satu pun kata- kata yang ingin kudengar dari mulutnya. Setelah Budi pergi, kemudian Erni menemuiku di meja makan.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Erni, kenapa kamu lakukan semua ini? Apa yang terjadi?&#8221; &#8220;Penyebabnya kamu! Kamu nggak pernah ada, kamu nggak pernah memperhatikanku, mengajakku keluar. Yang kamu lakukan hanya kerja, kerja, kerja! Persetan dengan semua itu. Aku menginginkan lebih dari itu dan Budi memberinya.&#8221; &#8220;Aku dapat memberimu lebih Erni, Aku akan memaafkanmu jika kamu menghentikan semua kegilaan ini. Aku tidak bisa hidup tanpa kamu!&#8221; Dia memandang tajam ke arahku. &#8220;Kamu boleh berkata sesukamu, aku tidak peduli. Kenyataannya kamu membuatku muak, kamu bukan seorang lelaki. Seorang lelaki akan membunuh pria yang berselingkuh dengan istrinya, tetapi kamu bahkan tak melakukan apa-apa. Kamu pecundang!&#8221; &#8220;Tolong jangan lakukan ini Erni, kamu tahu betapa aku mencintaimu.&#8221; &#8220;Persetan dengan kamu!&#8221; dia meneriakiku, lalu menelepon Budi. &#8220;Budi, jemput aku, sekarang juga!&#8221; dan membanting teleponnya. Dia masuk ke dalam kamar dan tak lama kemudian keluar dengan membawa koper, lalu pergi untuk menunggu jemputan Budi. Lelaki ******* ini datang tak lama berselang..</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ceritasex.cn/istri-yang-selingkuh/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mencoba kenjatanan prajurit</title>
		<link>http://www.ceritasex.cn/mencoba-kenjatanan-prajurit/</link>
		<comments>http://www.ceritasex.cn/mencoba-kenjatanan-prajurit/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 01 Aug 2009 12:15:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cerita Sex</dc:creator>
				<category><![CDATA[Daun Muda]]></category>
		<category><![CDATA[Ekshibionis]]></category>
		<category><![CDATA[Gangbang Rame Rame]]></category>
		<category><![CDATA[Seks Umum]]></category>
		<category><![CDATA[anal]]></category>
		<category><![CDATA[anal seks]]></category>
		<category><![CDATA[binal]]></category>
		<category><![CDATA[dewi]]></category>
		<category><![CDATA[hisap]]></category>
		<category><![CDATA[kentot]]></category>
		<category><![CDATA[liar]]></category>
		<category><![CDATA[memek]]></category>
		<category><![CDATA[ngentot]]></category>
		<category><![CDATA[orgy]]></category>
		<category><![CDATA[prajurit]]></category>
		<category><![CDATA[seks liar]]></category>
		<category><![CDATA[seks party]]></category>
		<category><![CDATA[seks rame rame]]></category>
		<category><![CDATA[susi]]></category>
		<category><![CDATA[toket]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ceritasex.cn/?p=740</guid>
		<description><![CDATA[Pada suatu sore saat aku dengan Dewi temanku dalam perjalanan di jalan bebas hambatan, waktu itu hujan cukup deras sehingga jalanan kurang nampak jelas dari kaca mobil kami. Dewi yang memegang setir pada waktu itu sebenarnya juga mengendarai dengan hati-hati, tapi karena sedang apes mobil yang kami naiki itu keluar jalur dan mobilnya terperosok ke [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Pada suatu sore saat aku dengan Dewi temanku dalam perjalanan di jalan bebas hambatan, waktu itu hujan cukup deras sehingga jalanan kurang nampak jelas dari kaca mobil kami. Dewi yang memegang setir pada waktu itu sebenarnya juga mengendarai dengan hati-hati, tapi karena sedang apes mobil yang kami naiki itu keluar jalur dan mobilnya terperosok ke dalam parit. Untung Dewi tidak ngebut sehingga kami berdua selamat dan tidak mengalami lecet sedikit pun. Karena mobilnya terperosok ke dalam parit, maka kami tidak bisa langsung membawa mobil ke jalur yang semestinya lagi.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Waduh.. Sus! Nggak bisa keluar nih bannya, mana HP-ku habis batterainya, wah! Gimana nih?&#8221; Dewi panik dan sepertinya kehabisan akal.<br />
&#8220;HP-ku juga nih, mana hujan lagi, sepi kendaraan lagi, kalau gini sich! Meski ada orang yang memperkosa kita nggak pa-pa deh! Asal kita diantar pulang saja&#8221;, aku ngomong sekenanya.<br />
&#8220;Gila kau Sus, tapi benar juga asal jangan kasar-kasar kali ya, hehehe..!&#8221;<br />
&#8220;Loh! Semakin kasar semakin nikmat lagi, hahaha..!&#8221; kami tertawa seakan-akan kami sudah terlepas dari masalah.<br />
&#8220;Sus, kalau kita di dalam mobil saja, kita akan di sini sampai mampus&#8221;, gerutu Dewi.<br />
&#8220;Habis gimana lagi, di luar kan hujan gitu.&#8221;<br />
&#8220;Yah kamu, nggak takut diperkosa, masak takut sama hujan, ya sudah aku saja yang keluar, kucoba dorong mobil ini keluar dari lubang&#8221;, Dewi nekat dengan semangat empat lima dia keluar dan mulai mendorong moncong depan mobil sialan ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku melihat Dewi berusaha dengan keras dan mengerahkan seluruh tenaganya, tapi mobil sialan ini tidak bergerak sedikit pun.<br />
&#8220;Sus! Hidupin mesinnya!&#8221; Dewi teriak-teriak, kuhidupkan mesin lalu giginya kuganti gigi mundur, ternyata mobil hanya bergeming sedikit saja. Lalu aku ikut keluar dan juga mencoba mendorong sama-sama dan ternyata tidak membawa perubahan yang berarti.<br />
&#8220;Ya.. nggak bisa juga Wik&#8221;, keluhku.<br />
&#8220;Iyah, tapi bodimu cukup bagus basah-basah gini Sus..&#8221;<br />
&#8220;Kamu itu mabok ya? Tapi bodimu juga terlihat bagus&#8221;, lalu kami tertawa-tawa.<br />
<span id="more-740"></span><br />
&#8220;Hei..! Sus itu ada mobil, kita cegat yuk&#8221;, sambil Dewi menunjuk ke arah mobil truk yang semakin mendekat, dan kemudian kami bergegas berlari sampai ke tengah jalan dan melambai-lambaikan kedua tangan kami. Dan kami berhasil, truk itu ternyata adalah truknya tentara.<br />
&#8220;Kenapa kalian? Kenapa dengan mobilnya?&#8221; Teriak supir truk, dan kami menghampirinya, &#8220;Itu Pak mobil kami masuk parit, jadi mobil kami tidak bisa jalan lagi nih Pak!&#8221; kujawab dengan nada yang mesra.<br />
&#8220;O iya! Hei! Anak-anak bantu nyonya-nyonya ini ayo cepat.&#8221; Kemudian turun empat orang dari belakang truk itu.<br />
&#8220;Mari Nyonya, anda yang pegang kemudi&#8221;, kata salah satunya dengan tegas kepadaku, lalu kujawab, &#8220;Loh, kok Nyonya sih, kan aku masih muda dan single lagi&#8221;, sambil kugoda dia, huh badannya tegap, tampangnya nggak jelek-jelek amat, tapi yang penting kan bodinya kekar.</p>
<p style="text-align: justify;">Kucoba menghidupkan mesin lagi beberapa kali tapi tak mau hidup-hidup, waduh kenapa ya?, dan kulihat ternyata bensinnya sudah habis.<br />
&#8220;Waduh Mas bensinnya habis, ada cadangan ngak mas-mas ini&#8221;, teriakku.<br />
&#8220;Waduh maaf Nona kami tak punya..&#8221;<br />
&#8220;Yah sudah, kalau gitu kami ikut kalian saja&#8221;, setelah kami mengambil tas, kami langsung naik truk mereka.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah masuk, dengan santainya aku melepas bajuku yang basah di hadapan keempat prajurit yang tidak jelas pangkatnya itu, kulihat mereka menatap kami tanpa berkedip sedikit pun, lalu kudekati salah satu dari mereka setelah pakaianku terlepas semua. &#8220;Kenapa? suka dengan bodiku hmm..&#8221; godaku. Kulihat jakunnya naik turun dan matanya tak henti-hentinya melihat payudaraku yang boleh dibilang montok dan seksi cukup mengoda pokoknya. Lalu kupegang tangannya, kudekatkan ke bongkahan payudaraku, &#8220;Gruungg!&#8221; suara itu tiba-tiba merusak suasana hening, &#8220;Hei! Jangan berangkat dulu&#8221;, mereka berempat bergegas mendekati jendela sopir, entah apa yang mereka bicarakan.<br />
&#8220;Sus, kamu sudah gila ya?&#8221; tegur Dewi yang terlihat agak malu-malu tapi mau.<br />
&#8220;Sudahlah, lagian kita kan kedinginan butuh penghangat dong&#8221;, sambil kucubit susu kirinya dan Dewi pun tersenyum dan mulai melepas bajunya.
</p>
<p style="text-align: justify;">Mesin truk tak lama kemudian mati lagi dan keempat prajurit itu dengan cepat melucuti bajunya masing-masing. &#8220;Nona jangan salahkan kami, karena kami sudah empat bulan tidak pernah menyentuh wanita, mungkin nanti agak kasar&#8221;, kata salah seorang prajurit yang hanya tinggal celana dalamnya saja yang menempel di tubuhnya. Kemudian dia mendekap tubuhku lalu langsung melumat halus bibirku, ternyata dia mahir memainkan lidahnya, nafasku habis rasanya, dan sekilas kulihat prajurit yang lain menggelar terpal dalam tuk yang cukup luas itu dan kulihat Dewi sudah mulai dikerjai seorang prajurit yang mulai membelai, mencium dan mengulum dada montok milik Dewi.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah beberapa saat berciuman, prajurit yang berhadapan denganku mulai mencium leher di bawah telingaku sambil mendesah-desah merasakan kenikmatan, setelah itu dia merambat mengerjai susu sebelah kiriku dengan liar dan ganas. Ssst! Sunguh nikmat sekali. Dengan tiba-tiba badanku ditarik lalu dibaringkan ke atas terpal kasar di lantai truk itu. Sekilas kulihat supir tadi juga mulai naik, kemudian dengan tergesa-gesa melepas pakaiannya sampai polos, lalu mendekatiku dan menuju selangkanganku, kemudian dia menjilati liang kewanitaanku, langsung aku mendesis dan mengeram, dengan tiba-tiba prajurit yang tadi membaringkanku langsung menghimpit kepalaku dengan selangkangannya, kemudian dengan cepat kulepas celana dalamnya. Setelah keluar batang kemaluannya kemudian langsung kulahap batang kemaluan yang lumayan besar itu. Kukulum-kulum dan kusedot kuat-kuat hingga prajurit itu mengeram-ngeram sambil menekan-nekan kepalaku sampai aku sesak nafas. Sesekali aku mendengus dan mendesis akibat ulah supir truk yang mejilat dan menggigit lembut klitorisku, sampai tubuhku mengejang lalu tak lama kemudian sepertinya tumpah semua cairan dalam liang kewanitaanku.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku tetap sibuk dengan batang kemaluan yang ada dalam mulutku lalu kurasakan payudaraku ada yang meremas dan sesekali dikulum-kulum. Sungguh kewalahan aku melayani mereka. Dengan tiba-tiba aku mendengar erangan Dewi tepat di sebelah kiri kupingku, ternyata dia sedang dalam keadaan tengkurap di antara kedua prajurit. &#8220;Gilaa Suss.. ughh.. sst!&#8221; Dewi mulutnya ngomel-ngomel nggak karuan sambil merem-melek tak berdaya. Gila, Dewi dikerjai depan belakang. Lalu prajurit-prajurit yang mengerjaiku berusaha membimbingku untuk nungging, setelah nungging di atas salah seorang dari mereka dan setelah batang kemaluan prajurit di bawahku tepat di antara bibir kewanitaanku, pantatku ditarik dengan keras-keras hingga masuk semua betang kemaluan prajurit itu dengan lancar karena liang kewanitaanku sudah licin.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah beberapa kali genjotan prajurit yang lain berusaha memasukkan batang kemaluannya ke dalam anusku. &#8220;Ssst.. aah.. aah!&#8221; Gila sakit banget, baru kali ini anusku digarap orang. &#8220;Aaakkh..!&#8221; aku menjerit sekuat tenaga begitu batang kemaluan prajurit yang besar itu masuk ke dalam anusku. Selang beberapa saat, terasa juga nikmatnya gesekan dari dua lubangku yang sebelumnya tidak terbayang, meski rasa sakit masih menyertai. Kemudian tubuhku mengejang dan sampailah aku pada klimaks kedua, tapi kuperhatikan kedua prajurit itu masih sibuk menggenjotku. Pelir besar tiba-tiba berada di wajahku, kemudian peler itu didorongnya ke mulutku yang kemudian kukulum dan kusedot, di sela-sela desisan dan eranganku. &#8220;Ayo Nona sedot yang kuat!&#8221; kata prajurit itu sambil menekan-nekan kepalaku. &#8220;Uuugh.. aakh.. esst!&#8221; suara geraman dan desisan silih berganti saling sahut menyahut dalam truk itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Saat kulihat di sebelah, Dewi terkapar dan lemas, sesekali dia mengeram karena prajurit itu masih getol menyetubuhi Dewi. Gila rasanya aku mau keluar untuk ketiga kalinya sebentar lagi, beberapa saat kemudian kurasakan kedua prajurit yang menyetubuhiku depan belakang mengeram serta merangkul kuat-kuat tubuhku dan kemudian kurasakan liang kewanitaan dan duburku tersembur cairan yang hangat hampir bersamaan, aku pun mencapai klimaks yang ketiga.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah aku mencapai klimaks, aku semakin bersemangat mengulum dan menyedot batang kemaluan di hadapanku sampai pada akhirnya cairan hangat itu menyembur memenuhi rongga tenggorokanku. Lalu prajurit itu melepaskanku dan bergerak menjauhiku. Dan kulihat Dewi pun mulai di tinggal sendirian, kemudian kelima prajurit itu mendekat. &#8220;Ayo sini kita gantian, aku pingin rasain juga dia&#8221;, kata salah satu dari mereka sambil tertawa-tawa, waduh habis aku.</p>
<p style="text-align: justify;">Dua prajurit yang menyetubuhi Dewi mendekat, lalu satu dari mereka menggendongku dan kemudian setelah pelernya tepat di tengah-tengah liang kewanitaanku, aku sedikit diturunkan dan amblas sudah batang kemaluannya tertelan liang kewanitaanku tanpa halangan. Aku disetubuhinya sambil berdiri, sambil tangannya tak henti-hentinya naik turun dengan posisi aku merangkul erat tubuhnya, kemudian dari belakang duburku disodok peler dari belakang, aku menjerit dan mengeram kesakitan, buah dadaku digerayanginya dengan brutal.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah beberapa saat aku dikerjain berdiri, aku diturunkan kemudian aku disuruh mengangkangi seorang prajurit, dan setelah pas masuklah kembali peler besar itu dalam liang kewanitaanku, dan yang lain menyusul menimpaku dari belakang, dan bukannya masuk ke duburku melainkan juga masuk ke dalam liang kewanitaanku, gila ini prajurit, dengan kasar dan brutal akhirnya masuk juga pelernya meski hanya setengahnya, tapi sakitnya bukan main aku menjerit-jerit minta ampun tapi tidak di gubrisnya. Karena mungkin tidak memuaskan dia, maka peler yang masuk hanya setengah itu dicabutnya kemudian dengan serta-merta menyodokkan ke duburku dengan keras, lalu mengosoknya dengan brutal, tak lama kemudian dia mencapai klimaks, setelah beberapa saat lalu batang kemaluannya dicabutnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Sekarang aku berkonsentrasi pada satu orang saja, aku merubah posisiku dengan posisi nangkring di atas selangkangannya, kemudian aku mulai naik turun dan sedikit goyang kanan kiri, hingga tak lama kemudian pertahanannya terlihat sedikit goyang, begitu pula aku sepertinya aku akan mencapai klimaks keempat kalinya. Setelah beberapa saat kurasakan liang kewanitaanku di sembur cairan hangat dan kemudian aku pun mencapai klimaks yang keempat kalinya, kami pun saling menggeram, lalu aku menggulirkan tubuhku di samping prajurit yang terlihat lemas. Kulihat Dewi masih di kerjai tiga orang prajurit, Dewi meringis-ringis sambil terus dijejali batang kemaluan prajurit yang besar itu. Karena aku merasa kasihan dengan Dewi dengan sedikit sempoyongan kuhampiri mereka kemudian kutarik salah satu dari mereka yang sedang getol-getolnya ngerjai dubur Dewi lalu kukangkangi dia, setelah tepat posisi pelernya diantara bibir kewanitaanku, kududuki dan langsung masuk seluruh batang kemaluan prajurit itu. Kugoyang-goyang dengan gencar hingga prajurit itu kewalahan menghadapi seranganku, membuatnya tak kuasa menahan lahar spermanya, menyemburlah spermanya dalam liang kewanitaanku. Karena aku belum mencapai klimaks lagi kepalang tanggung sehinga aku tetap menggoyang pinggulku sampai aku mencapai klimaks.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah selesai prajurit-prajurit itu mengerjaiku dan Dewi mereka terlihat lelah. Aku menghampiri Dewi, kulihat wajahnya sudah lelah, &#8220;Gimana Wik?&#8221; bisikku. &#8220;Wah! habis aku, sampai aku klimaks lima kali Sus&#8221;, Dewi menjawab pertanyaanku dengan sisa-sisa tenaganya. Setelah itu kami minta diantar ke rumah kontrakanku dan kemudian aku menghubungi jasa mobil derek kemudian kami istirahat setelah kami mandi bersama.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ceritasex.cn/mencoba-kenjatanan-prajurit/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pemerkosaan Indri</title>
		<link>http://www.ceritasex.cn/pemerkosaan-indri/</link>
		<comments>http://www.ceritasex.cn/pemerkosaan-indri/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 09 Jul 2009 11:35:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cerita Sex</dc:creator>
				<category><![CDATA[Paruh baya]]></category>
		<category><![CDATA[Pemerkosaan]]></category>
		<category><![CDATA[anal seks]]></category>
		<category><![CDATA[anus]]></category>
		<category><![CDATA[gangbang]]></category>
		<category><![CDATA[indri]]></category>
		<category><![CDATA[ngentot]]></category>
		<category><![CDATA[perkosa]]></category>
		<category><![CDATA[sodomi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ceritasex.cn/?p=563</guid>
		<description><![CDATA[Indri tengah belanja pakaian dalam siang yang panas itu di pasar yang ramai. Hari itu hari minggu. Ia sengaja pergi sendirian karena suaminya tengah pergi keluar kota bersama mertuanya. Indri terlihat cantik dengan menggunakan gaun terusan santai diatas lutut berwarna hijau muda. Sebenarnya gaun itu hanya menggunakan satu tali, namun ia menutupnya dengan semacam jaket [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Indri tengah belanja pakaian dalam siang yang panas itu di pasar yang ramai. Hari itu hari minggu. Ia sengaja pergi sendirian karena suaminya tengah pergi keluar kota bersama mertuanya. Indri terlihat cantik dengan menggunakan gaun terusan santai diatas lutut berwarna hijau muda. Sebenarnya gaun itu hanya menggunakan satu tali, namun ia menutupnya dengan semacam jaket coklat tipis. Rambutnya yang bob pendek agak blonde karena baru dicat kemarin.</p>
<p style="text-align: justify;">Seperti biasa ia mengenakan lipstik merah dibibirnya yang penuh. Sesekali saat ia menunduk memilih bra dietalase, para pedagang di belakangnya terpaksa menelan ludah melihat begys dan pahanya yang jenjang yang mengintip dari gaunnya yang terangkat. Apalagi Indriani memiliki tubuh yang proporsional, dengan pinggul dan bokong yang pas untuk ukuran tubuhnya. Sehari-hari ia adalah seorang CSO di salah satu bank terbesar di kota bkl tempatnya tinggal. Pekerjaan yang menuntutnya selalu menjaga penampilan. Indri tengah memilih bra ketika seseorang memegang lengannya. Indri tersentak,”Eh! Mbak Egy! Ya ampun sampe kaget Indri..” Egy adalah salah satu rekan kerjanya di kantor. Ia merinding melihat Egy menyeringai, disebelahnya Emy, atasan mereka, seorang wanita yang berwajah lembut juga tersenyum. Indri sebenarnya berusaha menghindari mereka karena mereka menyimpan rahasia kotornya dan selalu berusaha memanfaatkannya untuk menyiksa Indri. Ya, suatu hari Indriani terpaksa melayani nafsu seorang preman pasar di kantornya karena pemerasan. Namun ternyata teman-temannya itu memergokinya dan menganggap Indri memang suka dilecehkan. Mereka kini memanfaatkan foto-foto bugilnya untuk memeras Indri, melecehkannya.</p>
<p style="text-align: justify;">“Belanjo apo Indri? Wai bagus jugo pilihan Indri, bra nyo sexy nian&#8230;” Egy merebut bra yang ada ditangan Indri. Indriani pucat pasi. Tak disadarinya ia memang memegang sebuah bra mini berwarna merah. “Dik Indri, ikut mbak dulu yuk, ada yang mbak mau omongin..” Emy menegur ramah. Indriani menjadi salah tingkah. Emy memang selalu lembut, namun pernah suatu hari ia memaksa Indri melayani rekan kerjanya dan beberapa orang tukang beca di rumahnya. “Ayok, cepet..” Egy yang bertubuh agak kekar menarik Indriani. Dengan jengah Indri berjalan didepan mereka, masuk ke bagian dalam pasar modern itu. Saat ini sebagian kios memang masih belum berisi. Mereka berjalan melewati kios-kios yang menjual pakaian, mainan, dan plastik. Di hari minggu seperti ini kondisi pasar tengah ramainya. Beberapa pemuda hanya sekedar nongkrong di berbagai sudut pasar yang agak sepi. Mereka berada di lorong yang paling ramai dan sibuk. Udara terasa sedikit panas dan sumpek. Indri merasa jengah karena bagian ini adalah bagian plastik dimana para pedagang umumnya laki-laki sumatera yang kasar dan bertubuh besar dan kekar. Dan ia dapat merasakan beberapa memelototi tubuhnya yang membayang dibalik gaunnya.</p>
<p><span id="more-563"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Apalagi peluhnya mulai mengucur membasahi tubuhnya. Indri dapat merasakan setetes keringat mengalir diantara buah dadanya. “Mampir sini sebentar dik, bantuin mba pilih barang ya&#8230;” Emy menarik lengan Indri ke sebuah kios plastik. Indri hanya mengangguk. Dalam hati ia berkata tidak mungkin mereka tega melecehkanku disini. Tidak mungkin. Sekilas indri dapat melihat Egy bicara dengan penjaga toko yang berwajah kasar. Indri melihat mba Emy dengan seksama mulai memilih2 mainan plastik. Kios itu terbagi 2, bagian depan yang bebas dimasuki pembeli, kemudian dibatasi semacam tirai tipis sepertinya semacam gudang sekaligus tempat istirahat para pedagang. “Wah, ga ada didepan, ayo Indri tememy mba ke dalem, liat di gudangnya..” Emy menarik Indri yang hanya mampu menuruti. Mereka masuk ke ruangan dibalik tirai itu. Ruangan sempit dan sumpek, berukuran tak lebih dari 3 x 1,5 m. Kanan kiri dipenuhi barang plastik murahan. Ditengah terdapat sebuah bangku kayu, mungkin tempat pedagang istirahat. Kumuh dan sumpek. Dilantai yang penuh debu terdapat bantal kusam penuh noda. Indri tidak menyadari dibelakangnya Egy ikut masuk. “MMMHHH!!!” Indri mendadak merasakan sesuatu yang berbau menyengat membekap mulutnya. Sementara tubuhnya yang mungil didekap erat oleh Egy. Ia sempat melihat Emy tersenyum melihatnya meronta-ronta. Egy memang jauh lebih kekar. Sepertinya ia membekap Indri dengan kain yang diberi semacam bius. Indri merasakan tubuhnya lemas. Panik. Indri merasakan tubuhnya merosot dari dekapan Egy jatuh ke lantai yang berdebu.</p>
<p style="text-align: justify;">Indriani meronta-ronta panik menyadari kondisinya. Ia tertelungkup diatas meja panjang di tengah ruangan itu. Kedua tangannya diikat kekaki bangku. Sebuah tongkat mengikat di lututnya sdemikian sehingga ia tidak bisa merapatkan kakinya. Mulutnya disumpal kain kumal yang pesing. Sebuah celana dalam kotor. Dan ia telanjang bulat. Dengan susah payah ia mengangkat wajahnya dan melihat egy dan emy tersenyum senyum sambil memegang seluruh pakaiannya. “Kami pergi jalan-jalan dulu ya sayang&#8230; mungkin malam kami pulang.. hihihi.. o iya bentar lagi yang punya toko dateng loo. Nakal ya Indri berani telanjang di sini&#8230; “ Emy menyeringai sambil berlalu. “NGHHHHH!!! NNGGGHH!!!!” Indriani mulai menangis tersedu. sEmentara Egy melihatnya dengan tatapan penuh nafsu. Ia memabyangkan rekannya itu akan digilir seluruh pedagang di tempat kumuh ini. Hmmm bagaimana kalo aku undang juga para kuli pasar diluar ya.. Egy menutup mata Indri dengan sebuah kain hitam. “Kalo mato ditutup In, jadi mereka dak takut perkosa kamu, kan kamu ga liat..”</p>
<p style="text-align: justify;">Indri memang terlihat sangat merangsang. Punggungnya yang mulus berkilau oleh peluh. Pantatnya yang bulat dan kencang dibuat sedikit mengangkat sehingga lubang dubur dan vaginanya terlihat mengundang. Beberapa memyt berlalu, kemudian terdengar teriakan-teriakan kasar, Indri menangis sejadi-jadinya. Ia akan segara digilir.<br />
“Waaahh!! Siapo ini??” Indri hanya bisa mendengar suara-suara kasar di belakangnya. Walaupun matanya ditutup, ia dapat merasakan ruangan itu menjadi semakin sempit.
</p>
<p style="text-align: justify;">Ada beberapa laki-laki yang masuk, dan semuanya langsung girang. “Pake bae bang, matanya ditutup!” ada yang berbisik. “HMMMM!! HMMM!!!” Indri berusaha meronta. Beberapa tangan mulai terasa menjamah pantatnya. Meremas remasnya, Indri merinding merasakannya. Ia merasakan sensasi yang memalukan. Apalagi beberapa jari mulai menyelip di vagina dan anusnya. Indri merasakan seluruh tubuhnya meremang. “NGHHHH!!!” Indri bergetar merasakan jari itu masuk ke duburnya yang kering. Cepat dan dalam. Kemudian ia jari itu mengocok lubang duburnya itu dengan keras. Indri merasakan nyeri yang amat sangat. Ia lemas kegyka jari itu dicabut. Kemudian terdengar retslegyng diturunkan, Indri hanya mampu menangis tak berdaya. Tangan-tangan terasa mencengkeram pantatnya, memaksanya membuka. Kemudian sesuatu mulai melesak paksa di duburnya. “NGGHHHH!!!!” Indri hampir pingsan kegyka anusnya disodomi. Pinggulnya dicengkeram kemudian ia mulai disentak-sentak. Ia dapat mendengar pemerkosanya mendengus-dengus bernafsu. “Ohhhh nikmat nian pantat kau deekk&#8230; ohhh bini aku dak pernah galak disodomi uuhhhh okkhhh” Lelaki itu meracau dan melenguh lenguh nikmat. Indri merasakan tubuhnya tersentak-sentak kasar. Duburnya seakan dirobek.</p>
<p style="text-align: justify;">Walaupun ini bukan yang pertama ia disodomi. “Nghhhhhhhh!!!!” lelaki itu bergetar nikmat. Indri menangis tersedu merasakan semburan cairan panas dianusnya. Berulang-ulang. “Panggil kawan2 yang lain! Ayo kapan lagi..!” Indri samar-samar dapat mendengar kata-kata itu diluar. Ia merinding. Ada berapa jumlah mereka? Indri tidak punya waktu berpikir, mendadak seseorang telah menerobos masuk ke vaginanya. Kemudian menggenjotnya dengan kasar. Sementara buah dadanya diremas-remas. Indri telah lemas kegyka orang keempat mulai memaksa masuk di anusnya. Entah kenapa para pemerkosanya lebih suka menggarap duburnya. Indri dapat merasakan pantat dan selangkangannya basah berbanjir sperma kental. Ada yang sengaja menyemburkan maninya di punggungnya yang basah oleh keringat. Di pantatnya. Bahkan ada yang dengan sengaja menyemburkan spermanya di wajah Indri. Indri akhirnya hanya tertelungkup lemas. Sekujur tubuhnya basah oleh peluhnya dan pemerkosanya, lengkap dengan sperma dimana-mana. Mungkin ada 12 orang yang bergiliran menggarapnya siang itu. Indri hanya pasrah kegyka ikatan talinya dibuka kemudian tubuhnya dibopong beramai ramai, ia dapat merasakan mereka membawanya keluar gedung kemudian meletakkannya di tanah. Tiba-tiba pembungkam mulutnya ditarik. Indri baru berusaha bernafas kegyka mendadak cairan hangat memasuki mulutnya. Indri menangis tak berdaya. Mereka mengencinginya beramai-ramai.</p>
<p style="text-align: justify;">Indri terbangun malam harinya. Ia tergeletak diatas tanah dibelakang gedung. Tubuhnya telanjang bulat, pesing, selangkangan dan anusnya pedih. Disampingnya terdapat gaunnya, yang terusan dengan satu tali. tanpa pakaian dalam dan lainnya. Indri menangis tersedu.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ceritasex.cn/pemerkosaan-indri/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Prita bosan di memek mas.. coba entot di anus yuk&#8230;</title>
		<link>http://www.ceritasex.cn/prita-bosan-di-memek-mas-coba-entot-di-anus-yuk/</link>
		<comments>http://www.ceritasex.cn/prita-bosan-di-memek-mas-coba-entot-di-anus-yuk/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 25 May 2009 04:30:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cerita Sex</dc:creator>
				<category><![CDATA[Foto Mesum]]></category>
		<category><![CDATA[anal]]></category>
		<category><![CDATA[anal seks]]></category>
		<category><![CDATA[dubur]]></category>
		<category><![CDATA[lobang anus]]></category>
		<category><![CDATA[ngentot]]></category>
		<category><![CDATA[prita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ceritasex.cn/?p=231</guid>
		<description><![CDATA[Prita bosan di memek mas.. coba entot di anus yuk&#8230; ahhh ahhhh&#8230;&#8230; sempitnya&#8230;.. susah masuk nih&#8230;. ahhhh anussss&#8230;&#8230; uhhhhh shhhhhh enak kan daripada lobang memek lobang anus lebih menjepit croooooottt crottttttt]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2009/05/prita-anal-1.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-232" title="prita-anal-1" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2009/05/prita-anal-1-291x300.jpg" alt="prita-anal-1" width="291" height="300" /></a></p>
<p>Prita bosan di memek mas.. coba entot di anus yuk&#8230;</p>
<p><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2009/05/prita-anal-2.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-233" title="prita-anal-2" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2009/05/prita-anal-2-300x202.jpg" alt="prita-anal-2" width="300" height="202" /></a></p>
<p>ahhh ahhhh&#8230;&#8230; sempitnya&#8230;.. susah masuk nih&#8230;. ahhhh anussss&#8230;&#8230;</p>
<p><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2009/05/prita-anal-3.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-234" title="prita-anal-3" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2009/05/prita-anal-3-300x224.jpg" alt="prita-anal-3" width="300" height="224" /></a></p>
<p style="text-align: justify;">uhhhhh shhhhhh enak kan daripada lobang memek lobang anus lebih menjepit croooooottt crottttttt</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ceritasex.cn/prita-bosan-di-memek-mas-coba-entot-di-anus-yuk/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
