<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Cerita sex porno ngentot mesum perek ayam kampus &#187; anus</title>
	<atom:link href="http://www.ceritasex.cn/tag/anus/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.ceritasex.cn</link>
	<description>Kumpulan cerita sex, foto bugil, dan film porno</description>
	<lastBuildDate>Wed, 08 Feb 2012 13:12:08 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
		<item>
		<title>Cik Mei Lin tetanggaku</title>
		<link>http://www.ceritasex.cn/cik-mei-lin-tetanggaku/</link>
		<comments>http://www.ceritasex.cn/cik-mei-lin-tetanggaku/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 08 Feb 2012 13:12:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cerita Sex</dc:creator>
				<category><![CDATA[Amoy]]></category>
		<category><![CDATA[anal seks]]></category>
		<category><![CDATA[Paruh baya]]></category>
		<category><![CDATA[Seks Umum]]></category>
		<category><![CDATA[selingkuh]]></category>
		<category><![CDATA[Tante Girang]]></category>
		<category><![CDATA[amoy]]></category>
		<category><![CDATA[anus]]></category>
		<category><![CDATA[cina binal]]></category>
		<category><![CDATA[kontol]]></category>
		<category><![CDATA[mei lin]]></category>
		<category><![CDATA[memek]]></category>
		<category><![CDATA[ngentot]]></category>
		<category><![CDATA[ngeseks]]></category>
		<category><![CDATA[perempuan binal]]></category>
		<category><![CDATA[sperma]]></category>
		<category><![CDATA[vagina]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ceritasex.cn/?p=3309</guid>
		<description><![CDATA[Namaku Iwan. Usiaku saat ini 21 th. Aku kuliah di sebuah perguruan tinggi di Jakarta. Sambil kuliah aku bekerja di sebuah perusahaan swasta. Gajinya tidak terlalu besar, tapi lumayanlah untuk menambah uang kuliah. Aku kost tak jauh dari kampus. Kamar kostku berada dilantai atas paling ujung. Sehingga jendela kamarku langsung menghadap ke depan dengan sebuah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Namaku Iwan. Usiaku saat ini 21 th. Aku kuliah di sebuah perguruan tinggi di Jakarta. Sambil kuliah aku bekerja di sebuah perusahaan swasta. Gajinya tidak terlalu besar, tapi lumayanlah untuk menambah uang kuliah. Aku kost tak jauh dari kampus. Kamar kostku berada dilantai atas paling ujung. Sehingga jendela kamarku langsung menghadap ke depan dengan sebuah pintu keluar. Di seberang rumah kostku tinggal sebuah keluarga muda. Aku tidak tahu siapa nama suaminya. Aku hanya tahu istrinya bernama Linda, tapi biasa dipanggil Cik Mei Lin. Dia wanita keturunan cina. Cik Mei Lin berusia sekitar 30 th. Dia sudah punya seorang akan berusia lima tahun. Suami Cik Mei Lin jarang di rumah. Aku tak tahu ia bekerja dimana. Ia pulang hanya sekali seminggu. Bahkan pernah hingga satu bulan tidak pulang. Itu sebabnya Cik Mei Lin lebih sering sendiri di rumahnya bersama anaknya.Kisah ini bermula di pagi hari saat aku bangun tidur. Hari itu aku libur kerja dan tidak ada jadwal kuliah. Saat itu aku melihat Cik Mei Lin sedang menjemur pakaian. Cik Mei Lin mengenakan kaos tipis tanpa lengan.</p>
<p style="text-align: justify;">Kaosnya agak basah, mungkin terkena air sewaktu ia mencuci baju. Dari kamar aku bisa melihat jika Cik Mei Lin tidak memakai bra. Buah dadanya yang montok tercetak jelas lengkap dengan putingnya.Saat itu Cik Mei Lin juga hanya memakai celana pedek ketat yang juga basah. Bongkahan pantatnya yang bulat tercetak jelas. Anehnya tidak ada bayangan segitiga di pantatnya yang sexy. Aku yakin saat itu Cik Mei Lin tidak memakai cd. Aku langsung terangsang melihat pemandangan itu. Ingin sekali aku remas-remas buah dada dan pantat sexy Cik Mei Lin. Sejak itulah aku sering berfantasi bersama tubuh sexy Cik Mei Lin. Aku sering onani sambil membayangkan tubuh Cik Mei. Lama-lama aku tidak puas jika hanya onani sambil membayangkan tubuh Cik Mei Lin. Suatu pagi saat Cik Mei Lin menjemur pakaian aku onani sambil memandang Cik Mei Lin yang lagi-lagi memakai baju tipis dan basah. Kepuasan yang aku rasakan lebih hebat. Semakin lama aku semakin berani. Aku mulai berani bugil di depan Cik Mei Lin. Aku berharap ia melihatku bugil dan terangsang.</p>
<p style="text-align: justify;">Tapi aku tidak berani secara terang-terangan bugil di depan Cik Mei Lin. Aku takut ia marah karena perbuatanku. Aku membuat seolah-olah kejadian itu sebuah kebetulan. Saat Cik Mei Lin sedang menjemur pakaian aku berpura-pura sedang membuka pintu kamarku yang tepat menghadap ke pintu atas rumah Cik Mei Lin. Aku yakin ia pasti akan menoleh kearahku. Dan tepat, saat itu Cik Mei Lin melihat kearahku yang benar-benar bugil. Aku puas sekali&#8230;. Aku jadi ketagihan melakukan hal itu, bugil di depan Cik Mei Lin. Sebenarnya aku berharap Cik Mei Lin akan membalas perbuatanku dengan bugil pula. Kalaupun tidak bugil polos, aku berharap bisa melihat Cik Mei Lin hanya memakai cd dan bra saja. Tapi sayang harapanku tidak tercapai. Aku khawatir Cik Mei Lin mulai marah kepadaku. Akhirnya perlahan-lahan aku mulai menghentikan kebiasaanku itu. Suatu hari aku bertemu Cik Mei Lin di sebuah minimarket. Aku akan membeli sabun mandi dan pasta gigi yang habis. Saat mengambil sabun mandi aku terkejut karena Cik Mei Lin juga akanmengambil sabun mandi. Aku menyapa dengan tersenyum kepadanya. Ia membalas senyumanku.<br />
<span id="more-3309"></span><br />
“Kok nggak pernah telanjang lagi&#8230;.,”kata Cik Mei Lin saat berada tepat di sebelahku. Aku terkejut dengan pertanyaan itu.”Ooh maaf Cik Mei, aku nggak sopan,”jawabku agak takut. “Ah gak papa, aku suka kok lihat kamu bugil,burungmu besar,”balas Cik Mei Lin sambil mendekatkan bibirnya di telingaku. “Entar malem bugil lagi ya, aku tunggu di teras atas,”lanjut Cik Mei Lin. “Boleh, tapi Cik Mei harus bugil juga,”jawabku. Cik Mei Lin tersenyum sambil mengedipkan mata. Sebelum pulang kami saling bertukar nomor hp Malam itu aku sedang santai. Aku bersiap untuk aksi nanti malam, bugil bareng Cik Mei Lin. Tiba-tiba ada sms di hp ku. “Jgn lupa ya nti mlm qt bugil bareng” itu yang dikirimkan Cik Mei Lin di sms-nya. “Ok” jawabku. “Tp jgn dikmrmu ya” lanjut sms itu. “dimana”jawabku. “dikmrku aja, rumahku sdg sepi gak ada siapa2 kamu lngsng msk aja aku tnggu dikmrku” Segera aku bersiap menuju rumah Cik Mei Lin. Sebelumnya aku sempatkan melihat kamar Cik Mei Lin. Aku lihat lampu kamarnya menyala dan gorden jendelanya terbuka.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku bisa melihat dengan jelas Cik Mei Lin yang saat itu hanya memakai cd dan bra. Sexy sekali. Aku tak sabar ingin segera menuju kamar Cik Mei Lin. Aku segera masuk ke rumah Cik Mei. Pintu dan pagarnya tidak terkunci, mungkin segaja. Aku langsung menuju kamar atas, kamar Cik Mei Lin. Pintu kamar Cik Mei tidak dikunci bahkan sedikit terbuka. Saat masuk, aku melihat Cik Mei sedang tiduran di ranjang dan hanya memakai cd dan bra berwarna merah. “Lama banget sich, aku sudah nunggu dari tadi lho,”kata Cik Mei saat aku masuk kamarnya. Aku hanya membalas dengan senyuman. “Eiittt&#8230;.kok masih pake baju&#8230;.”kata Cik Mei. Aku tersenyum mendengarnya dan langsung melucuti pakaianku satu per satu hingga aku benar-benar bugil. kontolku perlahan-lahan mulai bangun dan itu membuat Cik Mei Lin tersenyum. “Wah kontolmu mulai bangun ya,”ujarnya sambil membelai kontolku. Aku merasa nikmat saat tangan Cik Mei Lin mulai menyentuh kontolku. Perlahan-lahan ia mulai membelai dan meremas-remas kontolku yang sudah tegak. “Wowww&#8230;.kontolmu besar ya kalau sudah bangun,”kata Cik Mei.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku hanya tersenyum. kontolku sebetulnya tidak terlalu istimewa, hanya 16 cm. Tapi itu sudah cukup membuat Cik Mei Lan terpesona. Lama-lama Cik Mei tidak puas hanya membelai dan meremas. Ia mulai menjilati dan mengulum kontolku. Ahh&#8230;.nikmat sekali. Bibir sexy Cik Mei Lan mengulum kontolku dengan lahap, seperti menjilati permen lolypop saja. “Ahh&#8230;.Cik Mei&#8230;..ahh&#8230;.ahh&#8230;.nikmat&#8230;”ujarku. Mendengar eranganku Cik Mei Lin semakin bersemangat menjilati kontolku. Ia bahkan menghisap kontolku dengan kuat. Ahh&#8230;..nikmat sekali rasanya. Sambil menghisap kontolku Cik Mei juga membelai dua buah zakarku. Aku hanya merem merasakan kenikmatan itu. Tiba-tiba Cik Mei Lin Menghentikan kulumannya. Ia berdiri dan mencium bibirku. “Sekarang kamu mainin punyaku ya,”katanya. Dengan senang hati aku melakukannya. Sudah sejak lama aku membayangkan bisa meremas-remas buah dada Cik Mei Lin yang montok. Dan sudah lama pula aku membayangkan pantat sexy Cik Mei. Ingin aku menjilati liang vagina dan lubang anusnya. Pasti nikmat sekali.</p>
<p style="text-align: justify;">Selanjutnya Cik Mei Lin mulai melucuti pakaian dalamnya. Mula-mula ia membuka bra merah yang sedari tadi menutupi dua gunung kembarnya. Wow&#8230;.buah dada Cik Mei Lin yang montok kini dengan jelas aku lihat. Ukurannya kira-kira 36 dd. Buah dada putih dengan putingnya yang merah kecoklatan terlihat sangat menantang. Tak sabar aku ingin menjilati puting susu Cik Mei Lin.Aku semakin terpesona saat Cik Mei Lin membuka cd merahnya. Wow&#8230;.rimbunan rambut kemaluan yang lebat terlihat jelas. Kontras dengan paha Cik Mei Lin yang putih. Aku memang sangat suka dengan perempuan yang berjembut lebat. Segera aku peluk tubuh Cik Mei Lin. Tak lupa aku ciumi bibir sexy Cik Mei. Bibir sexy itu aku lumat habis. Perlahan-lahan ciumanku turun ke bawah. Mula-mula leher dan akhirnya ciuman bibirku sampai juga di dua gunung kembar Cik Mei Lin. Aku langsung melumat habis buah dada montok itu. Tak lupa aku jilati dan hisap putingnya yang sudah mengacung. “Ah&#8230;ahh&#8230;.nik..mat&#8230;.”, desah Cik Mei saat ujung lidahku menyentuh puting susunya.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku semakin bersemangat mendengar erangan itu. Lidahku semakin liar menjilati buah dada montok Cik Mei Lin. Erangan dan desahan Cik Mei juga semakin hebat. “Ahh..ahhh&#8230;nikmat sayang&#8230;ahh..hh&#8230;” Jilatan lidahku kini kembali bergerak turun. Setelah buah dada, lidahku mulai menjilati perut, pusar, paha, dan akhirnya lidahku bertemu rimbunan jembut yang lebat. Jembut hitam itu menutupi liang vagina Cik Mei Lin yang sudah basah. Rupanya Cik Mei sudah sangat horny. “Ya&#8230;mainkan lidahmu disitu sayang&#8230;.”desah Cik Mei.Lidahku segera beraksi menyusuri rumbuna jembut Cik Mei Lin yang lebat. Lidahku beraksi menyibat helai demi helai jembut Cik Mei Lin hingga akhirnya ujung lidahku berhasil memasuki liang vagina Ci Mei. Ada cairan keluar dari liang vagina Cik Mei. Aku langsung menghisabnya.”Ahhh&#8230;..ahh&#8230;.nikmat sayang&#8230;.ahhh&#8230;”Cik Mei Lin mendesah keenakan. Tubuh Cik Mei Lin seolah bergetar saat lidahku behasil menemukan biji clitorisnya. Tapi tiba-tiba Cik Mei Lin memintaku menghentikan jilatan lidahku. Rupanya ia ingin berganti permainan.</p>
<p style="text-align: justify;">Ia ingin pula memainkan kontolku. Ia memintaku tidur terlentang di atas ranjang. Kemudian Cik Mei merebahkan tubuhnya diatasku. Ia arahkan vaginanya tepat diatas mukaku. Kami memainkan gaya 69. Cik Mei Lin langsung mengocok kontolku. Sesekali ia juga mengulum dan menjilati kontolku yang sudah berdiri tegak. Ahh….nikmat sekali rasanya. Mulut Cik Mei Lin yang biasanya hanya bisa aku lihat, kini mengulum kontolku. Aku sampai merem melek merasakan nikmatnya lidah Cik Mei Lin yang bermain-main di sekujur kontolku. Aku pun mengimbanginya dengan menjilati vagina Cik Mei Lin. Rambut kemaluannya yang hitam lebat itu terlihat kontras dengan kulitnya yang putih. Segera tercium olehku bau khas vagina. Nafsuku semakin menggelora. Lidahku segera beraksi. Sesekali aku mengigit bibir vagina Cik Mei Lin. “Ahh….ahh…enak Wan..ahh…terus..ahh..terus sayang…..”ujar Cik Mei Lin merasakan jilatanku Tanganku juga tidak tinggal diam. Pantat Cik Mei Lin yang sintal itu aku remas-remas. Kadangkala aku tekan pantat Cik Mei Lin sehingga vaginanya menekan mukaku.</p>
<p style="text-align: justify;">Dan Cik Mei Lin kembali menjerit pelan merasakan kenikmatan di selangkangannya. Terlebih lagi saat aku menjilati clitorisnya. “Wan….ahh…ahh…eennaakkk…terruuss….teruuss..sayyaan ggg…..ahh….”Mendengar desahan Cik Mei Lin aku semakin memperhebat jilatanku. Tapi tiba-tiba Cik Mei Lin memintaku mengentikan jilatanku di vaginanya. Ia juga mencabut kontolku dari mulutnya. “Wan, aku nggak tahan lagi…”ujarnya Ia memintaku tetap tidur terlentang. Selanjutnya Cik Mei Lin berlutut di atasku. Ia genggam kontolku yang tegang dan mengarahkannya tepat di vaginanya. Selanjutnya perlahan-lahan kontolku memasuki liang kenikmatan Cik Mei Lin. “Ahh….Cik Mei…ahh…ahh…”ujarku saat kontolku mulai memasuki vagina Cik Mei Lin. Kenikmatan luar biasa segera aku rasakan. Hingga akhirnya kontolku benar-benar masuk seluruhnya di dalam vagina Cik Mei Lin. Sambil tersenyum Cik Mei Lin membiarkan vaginanya membekap kontolku. Selanjutnya pantatnya mula bergerak naik turun. “Ahh….enaakkk Cik Mei…ahh..nikkmaattt…”desahku “Iya…aku juga..ennaakk Wan..”jawab Cik Mei Lin.</p>
<p style="text-align: justify;">Semakin lama gerakan pantat Cik Mei Lin semakian cepat. Aku mengimbanginya dengan menggerakkan pantatku juga naik turun. Sambil terus menyodokkan kontolku, tanganku juga bekerja meremas-remas buah dada Cik Mei Lin yang bergoyang. Semakin lama gerakan pantat Cik Mei Lin semakin cepat dan tidak beraturan. Matanya terpejam, terlebih saat aku meremas buah dadanya. Mukanya yang putih terlihat memerah. Sambil menjerit pelan ia gerakkan pantatnya naik turun. “Ahh…Wan….ahh….nniikkkmaaatt….ohhh…”jerit Cik Mei Lin pelan. Tiba-tiba Cik Mei Lin rubuh. Tubuhnya menindih tubuhku dengan vagina yang masih terisi kontolku. Ia memelukkan erat-erat sambil menekan pantatnya dalam-dalam. Aku merasakan ada carian hangat menyemprot kontolku. Rupanya Cik Mei Lin orgasme. Beberapa saat kemudian Cik Mei Lin mengangkat pantatnya. Ia tidur terlentang disampingku. Nafasnya yang ngos-ngosan pelahan-lahan mulai teratur kembali. Sambil tersenyum aku remas-remas buah dadanya yang montok itu. Cik Mei Lin membalasnya dengan meremas-remas kontolku yang masih tegang.</p>
<p style="text-align: justify;">“Kenapa sayang, kamu mau main lagi ya,”ujarnya yang aku jawab dengan anggukan kepala Cik Mei Lin tersenyum dan langsung mengambil posisi. Kali ini ia nungging di depanku. Wow, pantatnya yang sexy itu membuat aku tak tahan lagi. Rupanya Cik Mei Lin ingin meraskan hunjaman kontolku dari belakang. Aku segera mengarahkan kontolku ke vagina Cik Mei Lin. Liang nikmat itu terlihat memerah dan basah. Sejenak aku gosok-gosokkan ujung kontolku pada vagina Cik Mei Lin. Ia membalas dengan mengoyng-goyangkan pantatnya. Selanjutnya aku mulai menggerakan pantatku ke depan seiring dengan masukkan kontolku ke dalam laing kenikmatan Cik Mei Lin. “Ohh…Cik Mei….nniikkkmmaatt…..”desahku saat kontolku memasuki vagina Cik Mei Lin. Aku melanjutkan gerakan pantatku maju mundur. kontolku keluar masuk vagina Cik Mei Lin. Kenikmatan luar biasa kembali aku rasakan. kontolku seperti dipijit-pijit. Terlebih lagi Cik Mei Lin mulai menggerakkan pantatnya seperti berputar. Ahh…kontolku seperti dipilin-pilin rasanya. Aku hanya bisa memejamkan mata sambil terus menyodokkan kontolku dalam-dalam.</p>
<p style="text-align: justify;">“Ohh..Cik Mei…ennaakk…ahh…nniikkkmmaattt…..”desahku tak kuasa merasakan kenikmatan vagina Cik Mei Lin “Iya Wan….teerrruuss…ahh……ennaakkk….ahh….terruuss saayyyaanggg….”ujar Cik Mei Lin Aku terus memasukkan kontolku. Kali ini gerakan pantatku lebih kupercepat. Sesekali aku remas-remas pantat Cik Mei Lin yang sexy itu. Tiba-tiba aku meraskan tubuh Cik Mei Lin menegang. Ia menjerit pelan sambil tangannya mencengkeram ujung ranjang. “Ahh…ahh…aakkuu…kkeellluaarrr…ahh…..”jerit Cik Mei Lin sambil matanya terpejam Cik Mei Lin rupanya kembali orgasme. Aku pun merasakan kontolku semakin tegang. Cairan hangat yang menyembur dalam vagina Cik Mei Lin semakin membuat kontolku berdenyut. Dan akhirnya aku tak kuasa menahan spermaku yang ingin segera keluar. Segera aku percepat gerakan kontolku. Semakin lama gerakan kontolku semakin cepat. Akupun tak mampu lagi menahan spermaku lebih lama. Akhirnya . Crroott…crroott…ccrrooott&#8230;&#8230;.spermaku muncrat di dalam vagina Cik Mei Lin, cairan kental putih itu muncrat banyak sekali. Aku setengah berteriak saat spermaku muncrat.</p>
<p style="text-align: justify;">“Ahh..ahh…nniikkkmaatt…ahh….”jeritku pelan Aku diamkan sejenak kontolku di dalam liang vagina Cik Mei Lin. Nikmat sekali. &#8220;Semprotanmu nikmat sekali Wan,&#8221;kata Cik Mei Lin. Selanjutnya aku turun dari ranjang. Aku raih sebotol air mineral sambil mengatur nafasku yang ngos-ngosan. Kemudian aku berbaring di sebelah Cik Mei Lin yang juga rebah di ranjang. “Kami masih kuat Wan,”kata Cik Mei Lin tiba-tiba Aku agak terkejut dengan pertanyaan itu. Cik Mei Lin yang sudah dua kali mencapai puncak. Tapi nampaknya Cik Mei Lin masih ingin melanjutkan permainan. Sehingga aku heran dengan pertanyaan itu. Dalam hati aku kagum juga dengan nafsu Cik Mei Lin yang mengelora. Aku yakin ia masih ingin meneruskan permainan malam ini. “Masih Cik Mei, Kenapa Cik Mei ingin main lagi ya,”ujarku “Iya, tapi permainan yang agak lain,” “Maksud Cik Mei,” “Kamu pernah main anal nggak, kita coba yuk,” ujarnya sambil meremas-remas kontolku yang mulai tegak kembali. Kembali aku terkejut dibuatnya. Cik Mei Lin ingin main analsex. Ia ingin aku menggarap lubang anusnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Tentu aku tidak keberatan. Aku juga ingin sekali merasakan permainan itu. Apalagi yang aku garap adalah pantat Cik Mei Lin yang seksi itu. Cik Mei Lin langsung mengambil posisi. Ia kembali nungging. Vaginanya yang baru saja aku masuki masih tampak merah. Aku langsung mengarahkan kontolku yang kembali tegang tepat di lubang anus Cik Mei Lin. Perlahan-lahan aku gerakan pantatku maju ke depan. Perlahan-lahan pula kontolku mulai masuk ke lubang anus Cik Mei Lin. Sensasi luar biasa langsung aku rasakan. Lubang anus Cik Mei Lin sangat sempit. Lebih sempit daripada vaginanya. Lubang itu juga sangat keset. kontolku agak susah menembusnya. “Ah….Cik Mei anusmu sempit sekali…..” “Iya…Wan….terusin aja…ahh…masukin terruss Wan…ahh…”ujar Cik Mei Lin sambil merem saat aku masukan kontolku ke lubang anusnya. Aku cabut kontolku yang sebagian kepalanya sudah masuk ke anus Cik Mei Lin. Aku coba membasahi anus Cik Mei Lin dengan ludahku. Aku berharap dengan ludahku anus Cik Mei Lin jadi lebih gampang ditembus. Selanjutnya kembali aku masukan kontolku ke lubang anus Cik Mei Lin.</p>
<p style="text-align: justify;">Kali ini kontolku lebih gampang memasukinya. Mungkin karena air ludahku. “Ahh..Wan….ahh…..”ujar Cik Mei Lin saat kontolku mulai menembus duburnya “Ahh….lubang Cik Mei eenak baangeett…..”jawabku Semakin lama kontolku semakin dalam memasuki anus Cik Mei Lin. Dan akhirnya seluruh kontolku masuk ke dalam lubang Cik Mei Lin. Aku diamkan sejenak. Terasa hangat sekali. Lubang anus Cik Mei Lin seperti berdenyut-denyut. Sehingga kontolku seperti dipijit-pijit. Perlahan-lahan aku mulai menggerakkan pantatku, maju mundur sambil memegang pinggang Cik Mei Lin yang sintal. Gerakan pantatku semakin lama semakin hebat. Aku merasakan kenikmatan yang luar biasa. kontolku bergerak keluar masuk lubang anus Cik Mei Lin. Setiap kali kontolku bergerak aku merasakan kenikmatan tiada tara. “Ohh..Cik Mei eeennnaaakkk baannnggettt…..”aku berkata agak sedikit menjerit. “Ohh…iyaa…akuu juuga eennaakkk….teerrruusss…..Waann…”desah Cik Mei Lin yang hanya bisa merem melek merasakan kenikmatan itu. Semakin lama lubang anus Cik Mei Lin semakin licin.</p>
<p style="text-align: justify;">kontolku semakin leluasa maju mundur dan semakin aku menggerakkan kontolku kenikmatan yang aku rasakan semakin hebat. Hingga akhirnya kontolku terasa berdenyut-denyut. Jepitan pantat Cik Mei Lin membuat kontolku menjadi sangat tegang. Dan akhirnya aku tak kuat menahan kontolku yang ingin segera muncrat. “Ahh…Cik Mei aku maauuu keelluaarr…..ahh…ohhh…” “Iyaa..akuu juugaaa….ahhh…ahhh…”jawab Cik Mei Lin sambil menjerit pelan. Rupanya Cik Mei Lin juga orgasme. Akhirnya kontolku benar-benar tak mampu lagi menaham spermaku yang ingin segera muncrat. Crroott..croot..croott….Spermaku muncrat di dalam lubang anus Cik Mei Lin. Banyak juga spermaku yang muncrat. Walau tidak sebanyak yang muncrat pada permainan pertama. Tapi kenikmatan yang aku rasakan lebih hebat. Aku merebahkan tubuhku menindih Cik Mei Lin dari belakang. kontolku masih menancap didalam anus Cik Mei Lin. Aku menciumi punggung dan leher Cik Mei Lin yang putih mulus. Aku mendengar nafas Cik Mei Lin yang terengah-engah seperti orang habis berlari. Nafasku juga ngos-ngosan.</p>
<p style="text-align: justify;">Akhirnya aku cabut kontolku dari pantat Cik Mei Lin. Ia tidur disampingku. Aku rebahkan tubuhku menindih Cik Mei Lin. Kuciumi bibirnya yang seksi itu. “Cik Mei hebat deh….mainnya hot banget….”ujarku “Kamu juga oke banget……lain kali kita main lagi ya…..yang lebih hot”ujar Cik Mei Lin sambil berdiri dan menuju kamar mandi. Aku merasakan tubuhku capek luar biasa. Tanpa terasa tiga jam lebih aku beradu nafsu dengan Cik Mei Lin. Dalam keadaan terlentang tanpa terasa aku tertidur. Sejak saat itu hubunganku dengan Cik Mei Lin semakin akrab. Aku semakin sering tidur dengan Cik Mei Lin. Semua dilakukan saat suami Cik Mei Lin sedang tidak dirumah dan anaknya sudah tidur. Beruntung anaknya tidur di kamar terpisah, jadi tidak menganggu permainan nikmat kami. Cik Mei Lin semakin ketagihan dengan kontolku. Ia bilang kontolku lebih nikmat daripada kontol suaminya. Selain lebih besar dan panjang, kontolku juga disunat. Tidak seperti suaminya yang tidak sunat. “Kontol disunat memang lebih enak daripada yang tidak disunat,”katanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Sebenarnya aku takut Cik Mei Lin hamil. Sebab sudah berkali-kali kontolku muncrat di dalam vagina Cik Mei Lin. Ia tidak mau kalau aku mengeluarkan sperma di luar. Cik Mei Lin juga tidak mau jika aku memakai kondom. “Semprotan kontolmu luar biasa ,”katanya. Tapi untunglah sampai saat ini Cik Mei Lin tidak hamil. Mungkin ia selalu minum pil anti hamil&#8230;..hhhmmmm.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ceritasex.cn/cik-mei-lin-tetanggaku/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kekasihku Diperkosa Polisi</title>
		<link>http://www.ceritasex.cn/kekasihku-diperkosa-polisi-2/</link>
		<comments>http://www.ceritasex.cn/kekasihku-diperkosa-polisi-2/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 12 Jan 2012 13:24:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cerita Sex</dc:creator>
				<category><![CDATA[anal seks]]></category>
		<category><![CDATA[Daun Muda]]></category>
		<category><![CDATA[Gangbang Rame Rame]]></category>
		<category><![CDATA[Pemerkosaan]]></category>
		<category><![CDATA[anus]]></category>
		<category><![CDATA[budak seks]]></category>
		<category><![CDATA[isep kontol]]></category>
		<category><![CDATA[ngentot]]></category>
		<category><![CDATA[orgasme]]></category>
		<category><![CDATA[perkosa]]></category>
		<category><![CDATA[seks]]></category>
		<category><![CDATA[vira]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ceritasex.cn/?p=3287</guid>
		<description><![CDATA[Saya pertama kenal Vira ketika melihatnya menjadi model cover di sebuah majalah di Jakarta, kemudian ia juga menjadi bintang sinetron Abad 21. Vira berumur 17 tahun, cantik, kulitnya putih mulus, ramah dan yang paling menarik perhatian orang-orang adalah buah dadanya yang bundar dan padat berisi. Semua orang yang menatap Vira pandangannya akan langsung tertarik ke [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Saya pertama kenal Vira ketika melihatnya menjadi model cover di sebuah majalah di Jakarta, kemudian ia juga menjadi bintang sinetron Abad 21. Vira berumur 17 tahun, cantik, kulitnya putih mulus, ramah dan yang paling menarik perhatian orang-orang adalah buah dadanya yang bundar dan padat berisi. Semua orang yang menatap Vira pandangannya akan langsung tertarik ke arah buah dadanya yang membusung. Tidak terlalu besar memang, tapi sangat proporsional engan tubuh dan wajah Vira. Saya berkenalan dengannya, pertama melalui surat kemudian bertemu, sesekali menelepon dirinya. Lama-kelamaan kita semakin sering bertemu dan percakapan yang ada semakin menjurus ke hal-hal yang pribadi. Akhirnya saya memberanikan diri untuk mengajaknya keluar makan malam. Suatu hari saya memberanikan diri untuk mengajaknya dan ternyata Vira senang sekali mendengar ajakan saya, dan langsung setuju. Saya gelisah sekali menunggu pada saat menjemput Vira di rumahnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah pulang kerja dan berganti pakaian saya menjemput Vira, untuk kemudian makan malam di sebuah restoran. Di sana kami bercakap-cakap panjang lebar, setelah itu dilanjutkan sebuah diskotik untuk sedikit menggoyangkan tubuh dan minum. Di tengah-tengah percakapan di diskotik, Vira mengajak saya untuk kembali ke rumahnya dan melanjutkan sisa malam itu di rumahnya. Bagaimana saya bisa menolak tawaran itu?</p>
<p style="text-align: justify;">Sepanjang perjalanan pulang Vira berkata bahwa ia belum pernah mengalami hari yang menyenangkan seperti yang baru ia alami malam itu, dan ia juga berkata, di rumah nanti giliran dirinya yang akan membuat diri saya tidak akan melupakan malam ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Saya begitu bergairah dan berhasrat untuk lekas-lekas sampai ke rumah Vira, ketika tanpa sadar saya mengendarai mobil melebihi batas maksimal kecepatan di jalan. Tiba-tiba saya tersadar ketika di sebelah kanan sudah ada mobil Polantas yang berusaha menghentikan mobil saya. Saya meminggirkan mobil di tempat parkir sebuah toko dan menunggu Polantas tadi mendekati mobil kami. Ia bertanya hendak ke mana kami sampai-sampai kami membawa mobil itu melebihi batas kecepatan. Rupanya alasan saya tidak masuk akal sehingga Polantas tadi meminta STNK dan SIM saya.<br />
<span id="more-3287"></span><br />
Setelah melihat surat-surat itu Polantas itu menjengukkan kepalanya ke dalam mobil kami dan lama sekali mengamati Vira yang duduk terdiam. &#8220;Anda harus meninggalkan mobil Anda di sini dan ikut saya ke kantor&#8221;, perintah Polantas tadi. Akhirnya sepuluh menit kemudian kami sampai ke sebuah kantor polisi yang terpencil di pinggir kota.</p>
<p style="text-align: justify;">Waktu itu sudah lewat pukul 11 malam, dan dalam kantor polisi itu tidak terdapat siapa pun kecuali seorang Sersan yang bertugas jaga dan Polantas yang membawa kami. Ketika kami masuk, Sersan itu memandangi tubuh Vira dari bawah hingga ke atas, kelihatan sekali ia menyukai Vira. Kami dimasukkan ke dalam sel terpisah, saling berseberangan.</p>
<p style="text-align: justify;">Sepuluh menit kemudian, Polantas yang berumur sekitar 40-an dan berbadan gemuk dan Sersan yang tinggi besar berbadan hitam, dan umurnya kira-kira 45 tahun kembali ke ruang tahanan. Polantas tadi berkata, &#8220;Kalian seharusnya jangan mengemudi sampai melebihi batas kecepatan yang ada. Tapi kita semua bener-benar kagum, soalnya dari semua yang kami tangkap baru kali ini kita dapat orang yang cantik seperti kamu.&#8221; Sersan tadi menimpali, &#8220;Betul sekali, dia bener-bener kualitas nomer satu!&#8221; Saya sangat takut mendengar nada bicara mereka, begitu juga Vira yang terus-menerus ditatap oleh mereka berdua.</p>
<p style="text-align: justify;">Mereka lalu membuka sel Vira dan masuk ke dalam. &#8220;Sekarang denger gadis manis, kalau kamu berkelakuan baik, kita akan lepasin kamu dan pacar kamu itu. Mengerti!&#8221; Sersan tadi langsung memegangi kedua tangan Vira sementara Polantas menarik kaos yang dikenakan Vira ke atas. Dalam sekejap seluruh pakaian Vira berhasil dilucuti tanpa perlawanan berarti dari Vira yang terus dipegangi oleh Sersan. &#8220;Wow, lihat dadanya.&#8221; Vira terus meronta-ronta tanpa hasil, sementara Sersan yang tampaknya sudah bosan dengan perlawanan Vira, melemparkan tubuh Vira hingga jatuh telentang ke atas ranjang besi yang ada di sel Vira. Dan dengan cepat diambilnya borgol dan diborgolnya tangan Vira ke rangka di atas kepala Vira.</p>
<p style="text-align: justify;">Kemudian mereka dengan leluasa menggerayangi tubuh Vira. Mereka meremas-remas dan menarik buah dada Vira, kemudian memilin-milin puting susunya sehingga sekarang buah dada Vira mengeras dan puting susunya mengacung ke atas. Kadang mereka mengigit puting susu Vira, sedangkan Vira hanya bisa meronta dan menjerit tak berdaya.</p>
<p style="text-align: justify;">Saya berdiri di dalam sel di seberang Vira tak berdaya untuk menolong Vira yang sedang dikerubuti oleh dua orang itu. Kedua polisi itu lalu melepaskan pakaian mereka dan terlihat jelas kedua batang kemaluan mereka sudah keras dan tegang dan siap untuk memperkosa Vira. Polantas mempunyai batang kemaluan paling tidak sekitar 25 senti, dan Sersan mempunyai batang kemaluan yang lebih besar dan panjang. Vira menjerit-jerit minta agar mereka berhenti, tapi kedua polisi itu tetap mendekatinya.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Lebih baik kamu tutup mulut kamu atau kita berdua bisa bikin ini lebih menyakitkan daripada yang kamu kira.&#8221; kata Polantas.&#8221;Sekarang mendingan kamu siap-siap buat muasin kita dengan badan kamu yang bagus itu!&#8221;"Dia pasti sempit sekali&#8221;, kata Sersan sambil memasukan jari-jarinya ke lubang kemaluan Vira.Ia menggerakkan jarinya keluar masuk, membuat Vira menggelinjang kesakitan dan berusaha melepaskan diri.&#8221;Betul kan, masih sempit sekali.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Kemudian Polantas tadi naik ke atas ranjang di antara kedua kaki Vira. Kemudian mereka membuka kaki Vira lebar-lebar dan Polantas memasukkan batang kemaluannya ke dalam lubang senggama Vira. Vira mengeluarkan jeritan yang keras sekali, ketika perlahan batang kemaluan Polantas membuka bibir kemaluan, dan masuk senti demi senti tanpa berhenti. Kadang ia menarik sedikit batang kemaluannya untuk kemudian didorongnya lebih dalam lagi ke lubang kemaluan Vira.</p>
<p style="text-align: justify;">Sementara itu, Sersan naik dan mendekati wajah Vira, mengelus-elus wajah Vira dengan batang kemaluannya. Mulai dari dahi, pipi kemudian turun ke bibir. Vira menggeleng-gelengkan kepalanya agar tidak bersentuhan dengan batang kemaluan Sersan yang hitam.&#8221;Ayo dong manis, buka mulut kamu&#8221;, kata Sersan sambil meletakkan batang kemaluannya di bibir Vira.&#8221;Kamu belum pernah ngerasain punya polisi kan?&#8221; Vira tak bergeming.&#8221;Buka!&#8221; bentak Sersan.&#8221;Buka mulut kamu, brengsek!&#8221; Perlahan mulut Vira terbuka sedikit, dan Sersan langsung memasukkan batang kemaluannya ke dalam mulut Vira.</p>
<p style="text-align: justify;">Mulut Vira terbuka hingga sekitar 6 senti agar semua batang kemaluan Sersan bisa masuk ke dalam mulutnya. Batang kemaluan Sersan mulai bergerak keluar masuk di mulut Vira, saya melihat tidak semua batang kemaluan Sersan dapat masuk ke mulut Vira, batang kemaluan Sersan terlalu panjang dan besar untuk bisa masuk seluruhnya dalam mulut Vira. Ketika Sersan menarik batang kemaluannya terlihat ada cairan yang keluar dari batang kemaluannya. Julurin lidah kamu!&#8221; Vira membuka mulutnya dan mengeluarkan lidahnya. Sersan kemudian memegang batang kemaluannya dan mengusapkan kepala batang kemaluannya ke lidah Vira, membuat cairan kental yang keluar tadi menempel ke lidah Vira.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;San, dia nggak mungkin bisa masukin punya Sersan ke mulutnya, biar saya coba. Gantian!&#8221; Mereka kemudian bertukar tempat, Sersan sekarang ada di antara kaki Vira dan Polantas berjongkok di dekat wajah Vira. Sersan mulai mendorong batang kemaluannya masuk ke liang senggama Vira. Terlihat sekali dengan susah payah batang kemaluan Sersan yang besar itu membuka bibir kemaluan Vira yang masih sempit. Polantas, mengacungkan batang kemaluannya ke mulut Vira. &#8220;Kamu mungkin nggak bisa masukin punya Sersan ke mulut kamu, tapi kamu musti ngerasain punya saya ini, seluruhnya.&#8221; Dengan kasar ia mendorong batang kemaluannya masuk ke mulut Vira, sampai akhirnya batang kemaluan itu masuk seluruhnya hingga sekarang testis Polantas berada di wajah Vira. Ia kemudian menarik batang kemaluannya sebentar untuk kemudian didorongnya kembali masuk ke tenggorokan Vira. Setelah lima kali, keluar masuk, Polantas sudah tidak bisa lagi menahan orgasmenya.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Saya keluuarrhh. Aaahhh!&#8221; Ia tidak menarik batang kemaluannya keluar dari mulut Vira, batang kemaluannya tampak bergetar berejakulasi di tenggorokan Vira, menyemprotkan sperma masuk ke tenggorokannya. Saya mendengar Vira berusaha menjerit, ketika sperma Sersan mengalir masuk ke perutnya. Terlihat sekali Sersan yang sedang mencapai puncak kenikmatan tidak menyadari Vira meronta-ronta berusaha mencari udara.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Iyya&#8230; yaah! Telleeen semuaa! Aaahhh&#8230; aahhh&#8230; nikhmaattt!&#8221;Ketika selesai ia menarik keluar batang kemaluannya dan Vira langsung megap-megap menghirup udara, dan terbatuk-batuk mengeluarkan sperma yang lengket dan berwarna putih. Vira berusaha meludahkan sperma yang masih ada di mulutnya. Polantas tertawa melihat Vira terbatuk-batuk, &#8220;Kenapa? Nggak suka rasanya? Tenang aja, besok pagi, kamu pasti sudah terbiasa sama itu!&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Sementara Sersan yang masih mengerjai kemaluan Vira sekarang malah memegang pinggul Vira dan membalik tubuh Vira. Vira dengan tubuh berkeringat dan sperma yang menempel di wajahnya tersadar apa yang akan dilakukan Sersan pada dirinya, ketika dirasanya batang kemaluan Sersan mulai menempel di lubang anusnya.&#8221;Jangan Pak, jangan! Ampun Pak, ampun, jangan&#8230;&#8221;"Aaahkk! Jangaaan!&#8221;Vira menjerit-jerit ketika kepala batang kemaluan Sersan berhasil memaksa masuk ke liang anusnya. Wajah Vira pucat merasakan sakit yang amat sangat ketika batang kemaluan Sersan mendorong masuk ke liang anusnya yang kecil. Sersan mendengus-dengus berusaha memasukkan batang kemaluannya ke dalam anus Vira. Perlahan, senti demi senti batang kemaluan itu tenggelam masuk ke anus Vira. Vira terus menjerit-jerit minta ampun ketika perlahan batang kemaluan Sersan masuk seluruhnya ke anusnya. Akhirnya ketika seluruh batang kemaluan Sersan masuk, Vira hanya bisa merintih dan mengerang kesakitan merasakan benda besar yang sekarang masuk ke dalam anusnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Sersan beristirahat sejenak, sebelum mulai bergerak keluar masuk. Kembali Vira menjerit-jerit. Sersan terus bergerak tanpa belas kasihan. Batang kemaluannya bergerak keluar masuk dengan cepat, membuat testisnya menampar-nampar pantat Vira. Sersan tidak peduli mendengar Vira berteriak kesakitan dan menjerit minta ampun ketika sodomi itu berlangsung. Saya melihat berulang kali batang kemaluan Sersan keluar masuk anus Vira tanpa henti. Akhirnya Sersan mencapai orgasme ia menarik batang kemaluannya dan sperma menyemprot keluar menyembur ke punggung Vira, kemudian menyembur ke pantat Vira dan mengalir turun ke pahanya, dan terakhir Sersan kembali memasukkan batang kemaluannya ke anus Vira lagi dan menyemprotkan sisa-sisa spermanya ke dalam anus Vira. Sersan kemudian melepaskan pegangannya dari pinggul Vira dan berdua dengan Polantas mereka keluar dari sel dan menguncinya. Saya masih dapat mendengar Sersan berkata pada Polantas, &#8220;Pantat paling hebat yang pernah ada. Dia bener-bener sempit!&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Dini hari, ketika Vira kelelahan menangis dan merintih, mereka berdua dengan langkah sempoyongan dan dengan botol bir di tangan masuk kembali ke dalam sel Vira. Mereka menendang tubuh Vira agar terbangun dan mereka mulai memperkosanya lagi. Sekarang Polantas menyodomi Vira sementara Sersan berbaring di bawah Vira dan memasukkan batang kemaluannya ke dalam kemaluan Vira. Kemudian mereka berganti posisi. Mereka juga menyiksa Vira dengan memasukkan botol bir ke dalam liang kemaluan dan anusnya sementara batang kemaluan mereka dimasukkan ke mulut Vira. Mereka terus berganti posisi dan Vira terus menerus menjerit dan menjerit hingga akhirnya ia kelelahan dan tak sadarkan diri. Melihat itu polisi-polisi tersebut hanya tertawa terbahak-bahak meninggalkan tubuh Vira yang memar-memar dan belepotan sperma dan bir.</p>
<p style="text-align: justify;">Keesokan paginya, Sersan masuk dan membuka sel kami.&#8221;Kalian boleh pergi.&#8221;Saya membantu Vira mengenakan pakaiannya. Tubuhnya lemah lunglai berbau bir dan sperma-sperma kering masih menempel di tubuhnya. Kami pergi dari kantor polisi itu dan akhirnya sampai ke rumah Vira. Kemudian saya membersihkan tubuh Vira dan menidurkannya. Ketika saya tinggal, saya mendengar ia merintih, &#8220;Jangan Pak, ampun Pak, sakit&#8230; ampuunn&#8230; sakiiit&#8230;&#8221;.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>TAMAT</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ceritasex.cn/kekasihku-diperkosa-polisi-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>TANTE ANNE</title>
		<link>http://www.ceritasex.cn/tante-anne/</link>
		<comments>http://www.ceritasex.cn/tante-anne/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 12 Dec 2011 22:18:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cerita Sex</dc:creator>
				<category><![CDATA[anal seks]]></category>
		<category><![CDATA[Ekshibionis]]></category>
		<category><![CDATA[Paruh baya]]></category>
		<category><![CDATA[Sedarah]]></category>
		<category><![CDATA[Seks Umum]]></category>
		<category><![CDATA[selingkuh]]></category>
		<category><![CDATA[Tante Girang]]></category>
		<category><![CDATA[amoy]]></category>
		<category><![CDATA[anus]]></category>
		<category><![CDATA[chinese]]></category>
		<category><![CDATA[kontol]]></category>
		<category><![CDATA[memek]]></category>
		<category><![CDATA[ngentot]]></category>
		<category><![CDATA[sex liar]]></category>
		<category><![CDATA[tante anne]]></category>
		<category><![CDATA[vagina]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ceritasex.cn/?p=3195</guid>
		<description><![CDATA[Cerita ini terjadi saat aku masih berusia 16 tahun, dan masih bersekolah di salah satu SMA di Medan. Namaku Chris, aku peranakan  Canada-Chinese. Papaku berasal dari Canada, dan Mamaku Chinese  Indonesia. Kata teman-teman wajahku sih lumayan ganteng, ehmm. Tinggiku 180 cm, nggak begitu tinggi dibandingkan dengan Papa yang 185 cm. Aku lahir di Canada, tapi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Cerita ini terjadi saat aku masih berusia 16 tahun, dan masih bersekolah di salah satu SMA di Medan. Namaku Chris, aku peranakan  Canada-Chinese. Papaku berasal dari Canada, dan Mamaku Chinese  Indonesia. Kata teman-teman wajahku sih lumayan ganteng, ehmm. Tinggiku 180 cm, nggak begitu tinggi dibandingkan dengan Papa yang 185 cm. Aku lahir di Canada, tapi sewaktu umur 10 tahun, Papa ditugaskan ke Medan, Indonesia. Jadi aku juga ikut, dan bersekolah di sana. Mula-mula terasa asing juga kota ini bagiku. Tapi lama kelamaan aku juga dapat terbiasa. Terus terang, pemikiranku lebih condong kepada pemikiran-pemikiran Timur, mungkin karena didikan Mama yang keras. Biarpun di negara-negara Barat sudah biasa terjadi hubungan seks remaja, namun aku belum pernah melakukannya dengan pacarku, well&#8230; at least pada saat itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Hari kedua di Jakarta, aku minta diantar oleh supir ke rumah Tante Anne. Rumahnya ter nggak jumpa. Wajahnya masih saja sama seperti yang dulu, seakan dia tidak bertambah tua sedikitpun. &#8220;Oh yah&#8230; tuh supirnya disuruh pulang saja Chris&#8230; ntar kamu bawa saja mobil Tante kalau mau pulang&#8221;, aku pun mengiyakan, dan menyuruh pulang supirnya.&#8221;Wah&#8230; besar sekali rumahnya yah Tante&#8221;, kataku sewaktu kami memasuki ruang tamu. Aku dengar dari Mama sih, katanya suaminya Tante Anne ini anak salah seorang konglomerat Jakarta, jadi nggak heran kalau rumahnya semewah ini. Setelah itu kami ngobrol-ngobrol, dia menanyakan keadaan Mama, Papa dan kakek. Tante Anne juga sudah lama tidak bertemu dengan Mama. Lumayan lama kami ngobrol, setelah itu dia mengajakku untuk makan malam.&#8221;Makan dulu yuk Chris&#8230; tuh sudah disiapin makanannya sama si Ning&#8221;, katanya menunjuk ke pembantunya yang sedang menghidangkan makanan di meja makan.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Kita nggak nunggu Om Joe?&#8221; aku menanyakan suaminya.&#8221;Oh&#8230; nggak usah, Om mu nggak pulang malam ini katanya&#8221;,&#8221;Oh&#8230; ok deh&#8221;, kataku sambil beranjak ke ruang makan. Rumah sebesar ini cuma dihuni sendirian dengan pembantunya. Berani juga Tanteku ini.&#8221;Kamu berani pulang entar Chris? sudah malem loh ini&#8221;, katanya sambil melirik ke jam dinding yang sudah menunjukkan jam 7 lewat 30 menit.&#8221;Ah berani kok Tante&#8230;&#8221;"Hmm&#8230; mending kamu tidur di sini saja deh malem ini&#8230; tuh ada kamar kosong di atas.&#8221;"Umm&#8230; iyah deh&#8230; ntar aku telepon ke Kakek kalau gitu&#8221;, dalam hati, aku mengira bahwa Tanteku ini menyuruhku menginap karena dia takut sendirian di rumah, sama sekali tidak ada pikiran negatif dalam otakku sewaktu aku mengiyakan tawarannya.Sehabis makan, aku pun menelepon ke rumah kakek, dan memberitahu bahwa hari ini aku menginap di rumah Tante Anne.&#8221;Oh iyah&#8230; kalau kamu mau mandi air panas, pakai saja kamar mandi Tante. Ntar kamu pakai saja bajunya Om Joe. Yuk sini!&#8221;"He&#8230; eh&#8221;, aku mengangguk sambil mengikutinya.</p>
<p style="text-align: justify;">Kamar mandi yang dimaksud terletak di dalam kamarnya. Kamarnya benar-benar mewah dan besar. Dengan tempat tidur ukuran double di tengah-tengah ruangan, mini theatre set, dan sebuah kamar mandi di sudut ruangan.&#8221;Nih&#8230; coba&#8230; bisa pakai nggak kamu?&#8221; dia memberikan T-shirt dan celana pendek kepadaku.&#8221;Bisa kayaknya&#8221;, aku pun mengambil pakaian itu dan membawanya ke kamar mandi. Sehabis dari kamar mandi, aku sempat sedikit kaget melihat Tante Anne. Dia mengenakan baju tidur tipis, tidur tengkurap di atas tempat tidur. Kelihatan dengan jelas celana dalamnya, tapi aku tidak melihat tali BH di punggungnya. Terangsang juga aku melihat pemandangan seperti itu. Kelihatannya ia tertidur saat menonton TV. TV-nya masih menyala. Aku berjalan ke arah TV, bermaksud mematikannya. Melihat adegan panas yang sedang berlangsung di TV, mendadak aku terdiam pas di depan TV. Kulihat ke belakang, Tante Anne masih tidur. Aku berdiri menonton dulu, sekedar iseng. 5 menit lagi ah baru kumatikan, begitu pikiranku saat itu.<br />
<span id="more-3195"></span><br />
&#8220;Hey&#8230;&#8221; saat aku sedang asyik menonton, tiba-tiba terdengar teguran halus Tante Anne, diikuti oleh tawa tertahannya. Aku benar-benar malu sekali waktu itu. Aku berbalik ke belakang sambil tersenyum malu-malu. Waktu aku berbalik, kulihat Tante Anne sudah duduk tegak di atas tempat tidur. Samar-samar terlihat puting susunya dari balik baju tidurnya yang tipis.&#8221;Kirain Tante sudah tidur&#8230; hehe&#8221;, kataku asal-asalan sambil berjalan hendak keluar dari kamar.&#8221;Chris&#8230; bisa tolong pijitin badan Tante? Pegel nih semua&#8221;, terdengar suara helaan nafas panjang, dan suara kain jatuh ke lantai. Saat aku berbalik hendak menjawab, kulihat Tante Anne sudah kembali tidur tengkurap di tempat tidur, tapi kali ini tanpa baju tidur, satu-satunya yang masih dikenakannya adalah celana dalamnya.&#8221;Ya&#8230;&#8221; hanya itu saja yang bisa keluar dari mulutku. Aku pun berjalan ke arah Tante Anne. Sedikit canggung, kuletakkan tanganku di atas bahunya. &#8220;Engghh&#8230;&#8221; terdengar dia mengerang perlahan.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Om Joe kapan pulangnya Tante?&#8221; kuatir juga aku ketauan oleh suaminya.&#8221;Emm&#8230; mungkin minggu depan&#8230; nggak tau deh&#8230; kalau Om mu sih&#8230; jarang di rumah. Mungkin seminggu pulang sekali&#8221;, dalam hatiku merasa kasihan juga kepada Tante Anne. Pantas saja dia merasa kesepian. &#8220;Fhhuuuhh&#8230;&#8221; kembali terdengar helaan nafas panjang. &#8220;Kamu sudah punya pacar Chris?&#8221; tanyanya memecah keheningan.&#8221;Yah&#8230; di Medan.&#8221;"Hehehe&#8230; cantik nggak Chris?&#8221; Tante Anne memang dari dulu senang bercanda. Sangat berbeda dengan ibuku yang kadang bersikap agak tertutup, Tante Anne adalah penganut kebebasan Barat. Aku hanya tersenyum saja menjawab pertanyaannya. &#8220;Turun dikit Chris!&#8221; aku pun menurunkan pijatanku dari bahu ke punggungnya. &#8220;Kamu duduk saja di atas pantat Tante&#8230; supaya bisa lebih kuat pijitannya.&#8221;Aku yang semula mengambil posisi duduk di sampingnya, sekarang duduk di atas pantatnya. &#8220;Unghh&#8230; berat kamu&#8221;, mendengus tertahan dia waktu kududuk di atasnya.&#8221;Hehehe&#8230; tapi katanya suruh duduk di sini&#8221;, cuek saja aku melanjutkan pijatanku.</p>
<p style="text-align: justify;">Penisku sudah terasa menegang sekali, sesekali kutekan kuat-kuat penisku ke pantat Tante Anne. Walaupun aku masih memakai celana lengkap, namun sudah terasa nikmat dan hangat sewaktu penisku kutekan ke pantatnya.&#8221;Iiihh&#8230; nakal ya&#8230; bilangin Mama kamu lho&#8221;, katanya sewaktu merasakan penisku menekan-nekan pantatnya.&#8221;Sudah belom Tante? sudah cape nih&#8221;, kataku setelah beberapa menit memijat punggungnya.&#8221;Iyah&#8230; kamu berdiri dulu deh&#8230; Tante mau balik&#8221;, aku berdiri, dan Tante Anne sekarang berbalik posisi. Sekarang aku bisa melihat wajahnya yang cantik dengan jelas, payudaranya yang masih kencang itu berdiri tegak di hadapanku. Puting susunya yang merah kecoklatan terlihat begitu menantang. Aku sampai terbengong beberapa detik dibuatnya.&#8221;Hey&#8230; pijit bagian depan dong sekarang&#8221;, katanya.Aku duduk di atas pahanya, kuremas dengan lembut kedua payudaranya. Lalu kupuntir-puntir puting susunya dengan jari-jariku. &#8220;Ihh&#8230; geli&#8230; hihihihi&#8230;&#8221; dia cekikikan. Aku benar-benar sudah tidak bisa mengendalikan nafsuku lagi.</p>
<p style="text-align: justify;">Sekarang ini yang ada dalam otakku hanyalah bagaimana memuaskan Tante Anne, memberinya kepuasan yang selama ini jarang ia dapatkan dari suaminya. Rasa kasihan akan Tante Anne yang telah lama merindukan kehangatan laki-laki bercampur dengan nafsuku sendiri yang sudah menggelora. Aku menarik celana dalamnya dengan agak kasar. Kulihat dia hanya diam saja sambil memejamkan matanya pasrah. Kuakui inilah pertama kalinya aku melihat wanita telanjang secara nyata. Tapi agaknya aku tidak begitu canggung, sepertinya aku melakukan semuanya dengan begitu alamiah. Tante Anne membuka lebar kedua pahanya begitu celana dalamnya kulepas. Kulihat dengan jelas vaginanya dengan bulu-bulu halus yang dicukur dengan rapi membentuk segitiga di sekitarnya. &#8220;Sudah sering beginian yah kamu Chris?&#8221; tanyanya heran juga melihat aku begitu mantap.&#8221;Ehh&#8230; nggak kok&#8230; baru sekali Tante&#8221;, nafasku sudah memburu, kata-kata pun sudah sulit kuucapkan dengan tenang. Kulihat nafas Tante Anne juga sudah mulai memburu, berkali-kali ia menarik nafas panjang untuk menenangkan diri.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Jilatin dong Chris!&#8221; katanya memelas. Mulanya aku ragu-ragu juga, tapi kudekatkan juga kepalaku ke vaginanya. Tidak ada bau tidak enak sama sekali, Tante Anne rajin menjaga kebersihan vaginanya aku kira. Kujulurkan lidahku menjilati dari bawah menuju ke pusar. Beberapa menit aku bermain-main dengan vaginanya. Tante Anne hanya bisa mengerang dan menggelinjang kecil menahan nikmat. Kulihat ia meremas sendiri buah dadanya dan memuntir-muntir sendiri puting susunya. Aku berdiri sebentar, melepaskan semua pakaianku. Bengong dia melihat penisku yang 18 cm itu. Aku cuma tersenyum kepadanya, dan melanjutkan menjilati vaginanya. Beberapa saat kemudian ia meronta dengan kuat.&#8221;aahh&#8230; ohh God&#8230; aargghh&#8230;&#8221; bagaikan gila, dia menjepit kepalaku dengan pahanya, lalu menekan kepalaku supaya menempel lebih kuat lagi ke vaginanya dengan dua tangannya. Aku susah bernafas dibuatnya.&#8221;Lagi&#8230; arghh&#8230; clitorisnya Chriss&#8230; ssshh&#8230; yah&#8230; yah&#8230; lagi&#8230; oooohh&#8230;&#8221; semakin menggila lagi dia ketika aku mengulum clitorisnya, dan memainkannya dengan lidahku di dalam mulut.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku memasukkan lidahku sedalam-dalamnya ke dalam lubang vaginanya. Bau cairan kewanitaan semakin keras tercium. vaginanya benar-benar sudah basah. Tiba-tiba dia menjambak rambutku dengan kuat, dan menggerakkan kepalaku naik turun di vaginanya dengan cepat dan kasar. Lalu ia menegang, dan tenang. Saat itu juga aku merasa cairan hangat semakin banyak mengalir keluar dari vaginanya. Aku jilati semuanya.&#8221;Ohh&#8230; God&#8230; bener-benar hebat kamu Chris&#8230; lemas Tante&#8230; aahh&#8230; nggak kuat lagi deh untuk berdiri&#8230; shitt&#8230; sudah lama nggak begini&#8221;, dia terbujur lemas setelah 1/2 jam yang melelahkan itu. Aku cuma tersenyum. Perlahan kutarik kedua kakinya ke tepi tempat tidur, kubuka pahanya selebar-lebarnya dan kujatuhkan kakinya ke lantai. Vaginanya sekarang terbuka lebar. Nampaknya ia masih terbayang-bayang atas peristiwa tadi dan belum sadar atas apa yang kulakukan sekarang padanya. Begitu ia sadar penisku sudah menempel di bibir vaginanya.&#8221;Ohh&#8230;&#8221; ia cuma bisa menjerit tertahan.</p>
<p style="text-align: justify;">Lalu ia pura-pura meronta tidak mau. Aku juga tidak tahu bagaimana cara memasukkan penisku ke dalam vaginanya. Aku sering lihat di film-film, dan mereka melakukannya dengan mudah. Tapi ini sungguh berbeda. Lubangnya sangat kecil, mana mungkin bisa masuk pikirku. Tiba-tiba kurasakan tangan Tante Anne memegang penisku dan membimbing penisku ke vaginanya.&#8221;Tekan di sini Chris&#8230; pelan-pelan yah&#8230; punya kamu gede banget sih&#8221;, pelan ia membantuku memasukkan penisku ke dalam vaginanya. Belum sampai seperempat bagian yang masuk ia sudah menjerit kesakitan.&#8221;Aahh&#8230; sakitt&#8230; oooh&#8230; pelan-pelan Chris&#8230; aduuh&#8230;.&#8221; tangan kirinya masih menggenggam penisku, menahan laju masuknya agar tidak terlalu deras. Sementara tangan kanannya meremas-remas kain sprei, kadang memukul-mukul tempat tidur. Aku merasakan penisku diurut-urut di dalam vaginanya. Aku berusaha untuk memasukkan lebih dalam lagi, tapi tangan Tante Anne membuat penisku susah untuk masuk lebih ke dalam lagi. Aku menarik tangannya dari penisku, lalu kupegang erat-erat pinggulnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Kemudian kudorong penisku masuk sedikit lagi. Aduhh&#8230; sakkkitt&#8230; ooohh&#8230; ssshh&#8230; lagi&#8230; lebih dalam Chriss&#8230; aahh&#8221;, kembali Tante Anne mengerang dan meronta. Aku juga merasakan kenikmatan yang luar biasa, tak sabar lagi kupegang erat pinggulnya supaya ia berhenti meronta, lalu kudorong sekuatnya penisku ke dalam. Kembali Tante Anne menjerit dan meronta dengan buas. Aku diam sejenak, menunggu dia supaya agak tenang. &#8220;Goyang dong Chris&#8221;, dia sudah bisa tersenyum sekarang. Aku menggoyang penisku keluar masuk di dalam vaginanya. Tante Anne terus membimbingku dengan menggerakkan pinggulnya seirama dengan goyanganku. Lama juga kami bertahan di posisi seperti itu. Kulihat dia hanya mendesis, sambil memejamkan mata.Tiba-tiba kurasakan vaginanya menjepit penisku dengan sangat kuat. Tubuh Tante Anne mulai menggelinjang, nafasnya mulai tak karuan, dan tangannya meremas-remas payudaranya sendiri.&#8221;Ohh&#8230; ooohh&#8230; Tante sudah mau keluar nih&#8230; sshh&#8230; aahh&#8221;, goyangan pinggulnya sekarang sudah tidak beraturan.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Kamu masih lama nggak Chris? Kita keluar bareng saja yuk&#8230;. aahh&#8221;, tak menjawab, aku mempercepat goyanganku. &#8220;Aahh&#8230; shitt&#8230; Tante keluar Chrisss&#8230; ooohh&#8230; gile&#8221;, dia menggelinjang dengan hebat, kurasakan cairan hangat keluar membasahi pahaku. Aku semakin bersemangat menggenjot. Aku juga merasa bahwa aku bakal keluar tidak lama lagi.&#8221;Aahh&#8230; sshh&#8230;&#8221; kusemprotkan saja cairanku ke dalam vaginanya. Lalu kucabut penisku, dan terduduk di lantai.&#8221;Kamu hebat&#8230; sudah lama Tante nggak pernah klimaks.&#8221;"aah&#8230; capek Tante.&#8221;"Mandi lagi yuk&#8230; lengket-lengket nih jadinya&#8221;, ia berjalan ke kamar mandi dan aku mengikutinya. Kami saling membersihkan tubuh di bawah siraman shower. Setelah mandi, kami tidur-tiduran tanpa busana, berciuman, sambil ngobrol macem-macem. VCD porno yang tadi sudah habis rupanya. Tante Anne menggantinya dengan VCD yang lain.&#8221;Eh&#8230; yang ini bagus loh Chris&#8221;, lalu ia menghidupkannya. Filmnya tentang seorang gadis yang diperkosa, sedikit sadis menurutku, tapi sangat merangsang sekali.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Tante sudah lama kepengen coba yang seperti itu Chris&#8230; kalau Om mu sih&#8230; nggak ada seninya&#8230; taunya cuman goyang, nembak, tidur&#8230; susah juga hahaha&#8230; kamu mau coba nggak?&#8221; dia tersenyum melihatku.&#8221;Hehehe&#8230; terserah&#8230;&#8221;"Ok!&#8221; lalu ia berjalan ke lemarinya. Sewaktu ia membukanya, aku terkejut juga melihat begitu banyak Sex Stuff seperti vibrator, tali, handcuff, dan banyak lagi.&#8221;Wah&#8230; banyak amat peralatannya Tante&#8221;, kataku bercanda.&#8221;He eh&#8230; yah beginilah&#8230; soalnya Om kamu jarang pulang sih. Tante kan butuh seks juga. Yah&#8230; terpaksa harus bermain dengan fantasi sendiri.&#8221;"Hehehe&#8221;, aku cuma tertawa kecil. Kulihat ia mengambil tali dari lemari.&#8221;Nih&#8230; kerjain Tante seperti yang di film itu dong Chris!&#8221; ia melemparkan tali itu kepadaku dan berjalan ke arah tempat tidur. Tempat tidur itu bergaya Eropa pertengahan, mempunyai pagar rendah berjeruji di sisi atas dan bawah. Ia memegang pagar berjeruji itu. Aku mengikat tangannya di jeruji itu, ia sekarang membungkuk membelakangiku dengan tangan terikat.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku berjongkok dan mulai menjilati vaginanya untuk pemanasan.&#8221;Sssh&#8230; oouhh&#8230;&#8221; kembali kudengar erangannya. Setelah beberapa saat vaginanya mulai basah. &#8220;Pakai vibrator Chris!&#8221; aku berjalan ke lemari dan mengambil vibrator yang berbentuk seperti penis manusia itu. Hati-hati kumasukkan vibrator itu ke dalam vaginanya, lalu kugeser switch ke posisi &#8220;low&#8221;. Terdengar vibrator itu mulai berdengung halus.&#8221;Ouuh&#8230; aahh&#8230;&#8221; kelihatannya Tante Anne sangat menikmati permainan.Tempo permainan sangat lambat kali ini. Ia menggelinjang sedikit mengiringi dengungan halus vibrator. Sambil sebelah tanganku memegangi vibrator supaya tidak lepas dari vaginanya, aku memberinya tepukan di paha, memberinya tanda agar ia membuka pahanya selebar-lebarnya. &#8220;Jilat anus Tante Chris!&#8221; kembali ia memberi komando. Aku mulai menjilati pahanya yang putih dan jenjang, perlahan berpindah ke anus. Bosan menjilati anusnya, aku berdiri, memeluknya dari belakang, dan meremas payudaranya dengan sebelah tanganku yang masih bebas. Beberapa saat kemudian ia orgasme.</p>
<p style="text-align: justify;">Lalu ia menyuruhku memasukkan penisku ke dalam lubang anusnya. Aku sempat terkejut mendengarnya. Menurutku pasti akan sakit sekali penisku dijepit oleh lubang anusnya. Tetapi Tante Anne terus-terusan meminta dengan suara yang memelas.&#8221;Tante sudah pernah nyoba?&#8221; tanyaku ragu-ragu.&#8221;Pernah&#8230; pakai vibrator&#8230; cobain saja deh&#8230; lebih sempit loh di sini&#8230; Tante kepingin nyoba dimasukin 2 lubang sekaligus.&#8221;"Ok!&#8221; aku kembali membungkuk, kujilat bagian sekitar anusnya untuk melicinkannya. Kulihat Tante Anne merintih-rintih ketika vibrator kugoyang agak cepat, tetapi ia tidak bisa banyak meronta karena tangannya masih terikat kuat ke jeruji tempat tidur. Setelah merasa jalan masuk cukup licin aku pun mengambil ancang-ancang, kugesek-gesekkan dulu kepala penisku di sekitar anusnya.&#8221;Yahh.. langsung saja Chriss&#8221;, Tante Anne yang sudah tidak sabar, memundur-mundurkan pantatnya agar penisku bisa segera masuk ke dalam lubang anusnya. Kutarik vibrator yang masih saja berdengung itu dari belakang, supaya pantat Tante Anne makin menempel ke kepala penisku.</p>
<p style="text-align: justify;">Akibatnya vibrator itu melesak makin dalam ke vaginanya Tante Anne. &#8220;Aahh&#8230; ooohh&#8230; sshh&#8230;&#8221; semakin menggila saja dia. Pelan kudorong kepala penisku ke dalam lubang anusnya.Kepala penisku terasa sedikit pedih, aku menghentikan dorongannya sejenak. &#8220;Oooohh&#8230; yahh&#8230; terussss&#8230; deeper Chriss&#8230;.&#8221;"Sssshh&#8230; oooohh&#8230;&#8221; aku hanya bisa mendesis menahan pedih yang bercampur nikmat ketika penisku masuk kira-kira setengah bagian ke dalam lubang anusnya. Menurutku masuk melalui lubang anus tidak begitu nikmat, karena tidak ada cairan yang melicinkannya. Tapi kulihat Tante Anne bagaikan sedang terbang sekarang. Nikmat sekali katanya. Kukira itu karena dua lubangnya sedang terisi. Tante Anne terus saja menggoyang-goyang pinggulnya kebelakang supaya penisku dapat masuk lebih dalam ke dalam lubang anusnya. Aku tidak dapat menahan lagi goyangannya, kubenamkan sekuat tanaga penisku ke dalam anusnya. Rasanya seperti penisku sedang di massage dengan kuat di dalam. Tanpa sadar, karena menahan nikmat tanganku menggoyang-goyangkan vibrator itu dengan kencang.</p>
<p style="text-align: justify;">Tempo permainan berubah menjadi liar sekarang. Tangan Tante Anne mencengkeram jeruji tampat tidur dan menggoyangnya karena nikmat yang tak terkira. Aku mencoba menggoyang penisku di dalam anusnya. Memang sedikit pedih karena kurangnya cairan pelicin di dalam anusnya, tapi aku tidak peduli lagi. Sesekali kugunakan tangan kiriku untuk meremas payudaranya yang tergantung-gantung itu. Beberapa saat kemudian aku merasa mau orgasme.&#8221;Aahh&#8230; oouuhh&#8230; Tante sudah mau keluar belum?&#8221; tanyaku dengan nafas memburu.&#8221;Engggh&#8230; sssssh&#8230; iyah&#8230;&#8221;Kurasakan Tante Anne semakin menggila menggoyang pinggulnya. Kemudian dia tubuhnya menegang, kemudian terkulai lemas. Aku pun merasa maniku sudah di ujung-ujungnya. Kupercepat goyangan, kuremas payudaranya dengan kasar, dan kukocok vibratornya lebih cepat lagi. Kulihat Tante Anne menjerit-jerit, tapi ia tak bisa berbuat banyak karena tangannya terikat dengan kuat.&#8221;Arrrgghh&#8230; ooohh&#8230;&#8221; seiring dengan eranganku, kusemprotkan maniku ke dalam anusnya. Kali ini kurasakan maniku keluar banyak sekali.</p>
<p style="text-align: justify;">Lalu kucabut penisku dari dalam anusnya, dan kucabut vibrator dari vaginanya. Sekilas kulihat vagina dan anusnya merah sekali dan sedikit membengkak. Kubuka ikatan tangannya dan dia memeluk serta menciumiku. Lalu kami berdua tertidur di lantai.Pengalaman ini tak akan pernah kulupakan. Sampai sekarang kami kadang-kadang masih melakukannya. Tante Anne benar-benar seorang seks maniak yang tak bisa puas, setiap kali berhubungan selalu ada saja cara-cara baru yang ia ajarkan. Kukira ini juga mempengaruhi tingkah laku seksualku. Sampai sekarang aku senang melakukan hubungan seks dengan fantasi tinggi, seperti menggunakan tali, cambuk, handcuff, dan sebagainya. Aku menjadi senang menyiksa lawan mainku. Sepertinya puncak kenikmatanku sulit tercapai kalau aku tidak melakukannya.</p>
<p style="text-align: justify;">TAMAT</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ceritasex.cn/tante-anne/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Akibat Merokok Di WC Sekolah</title>
		<link>http://www.ceritasex.cn/akibat-merokok-di-wc-sekolah/</link>
		<comments>http://www.ceritasex.cn/akibat-merokok-di-wc-sekolah/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 06 Dec 2011 23:12:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cerita Sex</dc:creator>
				<category><![CDATA[anal seks]]></category>
		<category><![CDATA[Daun Muda]]></category>
		<category><![CDATA[Gangbang Rame Rame]]></category>
		<category><![CDATA[Orgy]]></category>
		<category><![CDATA[Paruh baya]]></category>
		<category><![CDATA[Pemerkosaan]]></category>
		<category><![CDATA[Seks Umum]]></category>
		<category><![CDATA[alice]]></category>
		<category><![CDATA[anus]]></category>
		<category><![CDATA[double penetration]]></category>
		<category><![CDATA[erlina]]></category>
		<category><![CDATA[gangbang]]></category>
		<category><![CDATA[ngentot]]></category>
		<category><![CDATA[perkosa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ceritasex.cn/?p=3189</guid>
		<description><![CDATA[Namaku Erlina atau biasa dipanggil Lina. Umurku 17 tahun dan masih sekolah di sebuah SMA swasta di Jakarta. Bukannya narsis, tapi banyak yang bilang wajahku cantik sehingga tak heran jika banyak cowok yang mengejarku. Selain wajahku yang manis aku juga memiliki kulit yang putih mulus. Tapi yang lebih kubanggakan adalah dadaku yang berukuran 34B yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Namaku Erlina atau biasa dipanggil Lina. Umurku 17 tahun dan masih sekolah di sebuah SMA swasta di Jakarta. Bukannya narsis, tapi banyak yang bilang wajahku cantik sehingga tak heran jika banyak cowok yang mengejarku. Selain wajahku yang manis aku juga memiliki kulit yang putih mulus. Tapi yang lebih kubanggakan adalah dadaku yang berukuran 34B yang untuk ukuran anak seusiaku, ukurannya cukup besar dengan puting berwarna merah kecoklatan, karena sering kupelintir-pelintir. Cerita ini bermula ketika aku ketahuan sedang merokok di WC sekolah. Ya…aku memang pecandu berat rokok. Sehari bisa habis sebungkus. Kalau sudah pingin ngerokok aku sering curi-curi di WC sekolah. Seperti siang itu, setelah pulang sekolah aku langsung ke toilet wanita dan mengeluarkan rokok dari tasku. Sambil menunggu sopirku yang memang sering datang telat, aku mulai menyalakan sebatang rokok. Suasana sekolah sudah sepi karena siswa dan guru-guru sudah pada pulang, makanya aku berani.</p>
<p style="text-align: justify;">Lagi asik-asiknya merokok aku dikagetkan oleh dua orang yang membuka pintu kamar mandi. Ternyata mereka adalah penjaga sekolahku, Pak Togar dan Kiryo. Aku pun ketangkap basah dan tak bisa mengelak. Mereka menuduhku melakukan pelanggaran berat di areal sekolah dan harus dilaporkan. Tentu saja aku tidak menginginkan hal itu terjadi. Bisa dibayangkan jika sampai kejadian ini diketahui kepala sekolah maka aku pasti dipecat dari sekolah ini. Aku tidak mau sampai dipecat sehingga terjadi perdebatan dan tawar-menawar di antara kami. Aku menawarkan sejumlah uang kepada kedua penjaga seklah itu. Kemudian Kiryo sesuatu pada Pak Togar, entah apa yang dibisikkan lalu keduanya mulai cengengesan melihat ke arahku. Pak Togar lalu berkata, “Gini saja, bagaimana kalau kita pakai sebentar body Non buat biaya tutup mulut?” “Huh, dasar…cowok dimana-mana sama aja, selangkangan melulu isi kepalanya!” omelku dalam hati Sorot mata mereka membuatku nervous dan jantungku berdetak lebih cepat, kakiku serasa lemas bak kehilangan pijakan sehingga aku menyandarkan punggungku ke tembok.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah kupikir-pikir, akhirnya aku mengiyakan juga, daripada aku dipecat dari sekolah ini mending kurelakan tubuhku untuk kedua penjaga sekolah ini. Lagian aku sudah tidak perawan lagi dan termasuk gadis yang doyan ngesex. Tapi bercinta dengan kedua orang ini membuatku agak sedikit takut. Bagaimana tidak, Pak Togar berumur 40 tahun dengan tubuh tambun berambut cepak sudah agak beruban dan wajah mirip tukang pukul, sedangkan Kiryo baru berumur 24 tahun, tubuhnya kurus dekil, dengan jenggot kambing yang jarang di dagunya. Selain itu dari segi fisik, keduanya jauh dari ganteng. Tapi tak ada pilihan lain bagiku selain melayani nafsu mereka. Akhirnya aku menganggukan kepala yang disambut dengan tawa dari mereka. “Hehehe…cantik, sexy… wah beruntung banget kita Pak Togar!” kata Kiryo “Iya Kir, anak SMA pula.ha..ha…”sambut Pak Togar tertawa penuh kemenangan Kedua penjaga sekolah itu lalu mendekatiku. Pak Togar langsung melumat bibirku sebelum aku sempat protes dan berkelit, sedangkan si Kiryo meraba-raba dadaku yang kiri dari luar.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku memejamkan mata mencoba meresapinya, Pak Togar makin ganas menciumiku ditambah lagi tangannya ikut meremas-remas payudaraku yang kanan. Aku hanya berdiam diri saja tak memberikan reaksi. Sambil melumat, lidahnya mencari-cari dan berusaha masuk ke dalam mulutku, dan ketika berhasil lidahnya bergerak bebas menjilati lidahku hingga secara tak sengaja lidahkupun meronta-ronta. Sambil memejamkan mata aku mencoba untuk membawa diri mengikuti arus permainan. Dengan kuluman lidah Pak Togar yang agresif, ditambah remasan-remasan telapak tangan mereka pada payudaraku, birahiku pun dengan cepat naik. Memang, aku sudah sangat terbiasa dan sangat terbuai dengan permaian seperti ini hingga dengan mudahnya Pak Togar mulai membangkitkan nafsuku. Bahkan kini aku mulai memberanikan diri menggerakkan tangan memeluk kepala Pak Togar. Sementara di bawah sana kurasakan sebuah tangan kasar meraba pahaku. Aku membuka mata dan melihatnya, di sana Kiryo mulai menyingkap rok SMA ku dan merabai pahaku yang putih mulus.<br />
<span id="more-3189"></span><br />
“Mulus banget pahanya Non…bikin gemes aja..nih…he..he..” sahut Kiryo sambil tangannya makin merayap naik hingga selangkanganku. Pak Togar lalu melepaskan ciumannya dan berkata : ”Gua juga jadi penasaran ini dengan teteknya. Semulus pahanya ga? Hahaha…” Pak Togar lalu beralih dadaku. Seragam SMAku yang agak ketat disingkapnya sehingga terlihatlah buah dadaku yang masih terbungkus BH hitam, itupun juga langsung diturunkan hingga dadaku terekspos di hadapan mereka. “Wow teteknya montok sekali, putih lagi” komentarnya sambil meremas payudara kananku yang pas di tangannya. Seperti yang aku katakan, untuk ukuran anak SMA seusiaku, ukuran dadaku cukup besar dengan puting berwarna merah kecoklatan. Kiryo juga langsung kesengsem dengan payudaraku, dengan gemas dia melumat yang kiri. Mereka kini semakin liar menggerayangiku. Putingku makin mengeras karena terus dipencet-pencet dan dipelintir Pak Togar sambil mencupangi leher jenjangku, dia melakukannya cukup lembut dibandingkan Kiryo yang memperlakukan payudara kiriku dengan kasar, dia menyedot kuat-kuat dan kadang disertai gigitan sehingga aku sering merintih kalau gigitannya keras.</p>
<p style="text-align: justify;">Namun perpaduan antara kasar dan lembut ini justru menimbulkan sensasi yang khas. Melihat aku semakin pasrah, mereka semakin menjadi-jadi. Tak kusadari rokku sudah terangkat sehingga dapat kurasakan angin membelai kulit pahaku, celana dalamku pun tersingkap dengan jelas. Kiryo menyusupkan tangannya ke balik celana dalamku dan mulai mengobok-obok di dalam sana. Tangan Pak Togar yang lainnya merayap turun mengelusi belakang pahaku hingga mencengkram pantatku. Nafasku makin memburu, aku hanya memejamkan mata dan mengeluarkan desahan-desahan menggoda. Vaginaku terasa semakin becek karena gesekan-gesekan dari jari Kiryo, bahkan suatu ketika aku sempat tersentak pelan ketika dua jarinya menemukan lalu mencubit pelan daging kecil yang tak lain adalah klitorisku. “Ohhhhh…..Bang…….auw!!” desahku. Tubuhku serasa lemas tak berdaya, pasrah membiarkan mereka menjarah tubuhku. Reaksiku ini membuat mereka semakin bergairah. Kiryo meraih tangan kiriku dan menuntunnya ke penisnya yang entah kapan dia keluarkan.</p>
<p style="text-align: justify;">Ukurannya lumayan jadi juga, walaupun perawakannya kurus dan dekil, penisnya yang sudah tegang cukup besar sehingga membuatku terhenyak. “Waw…keras juga, gede lagi” kataku dalam hati saat menggenggam penisnya yang memang panjang itu. Aku mulai mengocoknya perlahan sesuai yang diperintahkannya, terasa benar benda itu makin membengkak saja dalam genggamanku. Tak lama kemudian, Kiryo menarik tangannya keluar dari celana dalamku, jari-jarinya basah oleh cairan kewanitaanku yang langsung dijilatinya seperti menjilat madu. Kemudian aku disuruh berdiri menghadap tembok dan menunggingkan pantatku pada mereka, kusandarkan kedua tanganku di tembok untuk menyangga tubuhku. “Asyik nih, siang ini kita bisa ngentot cewek cantik” celoteh Kiryo sambil meremasi bongkahan pantatku yang membulat indah itu. “Iya…dari dulu saya sudah naksir berat sama si Non Erlina ini, soalnya udah kece, suka pake baju seksi pula. Ga nyangka akhirnya ada kesempatan kaya gini…hehe” timpal pak Togar. Dia langsung membuka baju dan celananya hingga telanjang.</p>
<p style="text-align: justify;">Masih sambil dengan berpegangan di tembok, kugerakkan mataku memperhatikan burungnya yang baru dikeluarkan dari sangkarnya. Wow…aku membelalakkan mata tak berkedip, soalnya ukurannya bisa dibilang menakjubkan, panjang sih tidak beda jauh dari Kiryo tapi yang ini lebih berurat dan lebar, dengan ujungnya yang disunat hingga menyerupai cendawan. Jantungku jadi tambah berdegup membayangkan akan ditusuk olehnya. Sumpah deh…penisnya ini mengalahkan semua teman-teman kencanku. Jauh lebih menggairahkan dibanding milik teman-teman SMU-ku yang pernah ML denganku. Bahkan mengalahkan penis Tarjo pembantuku sendiri. (sebagai informasi aku pernah ML dengan pembantuku yang bernama Tarjo. Di lain kesempatan, akan kuceritakan pengalamanku itu). Aku berhenti menatap takjub saat Kiryo mulai menurunkan celana dalamku. Disuruhnya aku mengangkat kaki kiri agar bisa meloloskan celana dalam. Akhirnya pantatku yang sudah telanjang menungging dengan celana dalamku masih menggantung di kaki kanan. Posisiku yang sedikit menungging mengakibatkan vaginaku terpampang di hadapan mereka.</p>
<p style="text-align: justify;">Mata mereka seperti mau copot melihat kewanitaanku yang sudah tidak tertutup apa-apa lagi dari balik rok abu-abuku yang terangkat hingga pinggang. Kiryo mendekap tubuhku dari belakang dalam posisi berdiri. Dengan lembut dia membelai permukaan vaginaku yang ditumbuhi bulu-bulu halus itu. Sementara tangan yang satunya mulai naik ke payudaraku, darahku makin bergolak ketika telapak tangannya yang kasar itu meremas-remas dadaku. “Sshh.. Bang” desahku dengan agak gemetar ketika jarinya menekan bagian tengah kemaluanku. “Tenang Non…saya gak bakal kasar kok, dijamin enak ngentot sama si ganteng Kiryo!” kata Kiryo memuji diri tanpa tahu kondiri dirinya, ia juga terus merayu sambil mengelusi bagian pangkal pahaku dengan jarinya. Aksi Kiryo berhenti ketika Pak Togar meletakkan sebuah kursi panjang di tengah toilet. Kursi panjang itu biasa digunakan untuk duduk jika sedang ngantri mau ke toliet. Pak Togar lalu memberi isyarat agar Kiryo menelentangkan tubuhku di atas kursi itu. Sekarang aku terbaring telentang di atas kursi itu dengan Kiryo berada di antara kedua pahaku.</p>
<p style="text-align: justify;">Dia membentangkan pahaku lebar-lebar membuatku malu dan menutupkan tanganku di vaginaku. Dengan gemas dia membentangkan tanganku lagi. Pak Togar lalu mendekat dan berkata : ”Non Erlina, dari dulu saya pengen suatu saat nanti agar kontol saya bisa ngerasian bibir Non. Eh, akhirnya kesampaian juga. He.he..” katanya sambil tertawa, “sekarang ayo buka mulutnya Non!” perintah Pak Togar setengah menghardik. Hal itu membuatku takut. Akupun pelan-pelan meraih benda itu, ya ampun tanganku yang mungil tak muat menggenggamnya, sungguh fantastis ukurannya. “Ayo non, emutin kontol Pak Togar tuh, pasti yahud rasanya kalo diemut sama Non!” kata Kiryo menimpali. aku tak punya pilhan lain. Kubimbing penis dalam genggamanku ke mulutku yang mungil dan merah, uuhh.. susah sekali memasukkannya karena ukurannya. Sekilas tercium bau keringat dari penisnya sehingga aku harus menahan nafas juga terasa asin waktu lidahku menyentuh kepalanya, namun aku terus memasukkan lebih dalam ke mulutku lalu mulai memaju-mundurkan kepalaku. Selain menyepong tanganku turut aktif mengocok ataupun memijati buah pelirnya.</p>
<p style="text-align: justify;">“Uaahh.. uueennakk banget, Non Lina udah pengalaman yah?” ceracau Pak Togar menikmati seponganku, sementara tangannya yang bercokol di payudaraku sedang asyik memelintir dan memencet putingku. Di bawah sana, kurasakan Kiryo mulai menjilati pahaku yang putih mulus, jilatannya perlahan-lahan mulai menjalar menuju ke tengah. Aku hanya dapat bergetar saat kurasakan lidahnya yang tebal dan kasar itu menyusup ke pangkal pahaku lalu menyentuh bibir vaginaku. Bukan hanya bibir vaginaku yang dijilatinya, tapi lidahnya juga masuk ke liang vaginaku, rasanya wuiihh..gak karuan, geli-geli enak seperti mau pipis. Tangannya yang terus mengelus paha dan pantatku mempercepat naiknya libidoku. Aku makin bersemangat mengoral penis Pak Togar saking nikmatnya yg kurasakan. “Wah, makin gatel nih Non Lina. Awas…kontol saya jangan sampai digigit ya. ohhhh…ohh….” kata Pak Togar. Sambil mengoral penis Pak Togar aku menjambak rambut si Kiryo yang sedang menyeruput vaginaku. Aku benar-benar sudah terbuai dalam kenikmatan birahi.</p>
<p style="text-align: justify;">Sebentar lagi aku akan mencapai puncak kenikmatan. Tidak sampai lima menit, tubuhku mengejang, rasa nikmat itu menjalar dari vagina ke seluruh tubuhku. Sensasi itu berlangsung terus sampai kurasakan cairanku tidak keluar lagi, barulah Kiryo melepaskan kepalanya dari situ, nampak mulutnya basah oleh cairan cintaku Badanku lemas, dan kulepaskan mulutku dari penis Pak Togar. Pak Togar nampaknya mengerti dengan kondisiku sehingga dia tidak memaksaku mengoral penisnya lagi. “Emang enak ya cairan pejunya cewek SMA” sahut Kiryo kepada Pak Togar. “Tunggu sampai lu rasain sepongannya deh Kir…pokoknya maknyus deh! Non Lina udah pengalaman yah?” kata Pak Togar. “Benar tuh Pak…anak-anak SMA sekarang kan doyan ngentot. Hehehehe…” Aku hanya mengatur nafasku sambil memejamkan mata mendengar olok-olok mereka. Belum beres aku mengatur nafasku yang memburu, aku mulai merasakan ada jari yang merenggangkan vaginaku, kemudian disusul dengan sebuah benda keras yang menyeruak masuk. Benda itu adalah penis Kiryo, ia sepertinya buru-buru sekali ingin menikmati vaginaku.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku membelalakkan mata menahan nyeri ketika penisnya menerobos vaginaku. Penis besar itu kesulitan menjebol vaginaku yang masih sempit itu. Kepala penisnya yang besar itu menggesek klitoris di liang senggamaku hingga aku merintih antara sakit dan nikmat. Ia terus berusaha menekankan miliknya ke dalam milikku yang memang sudah sangat basah. Aku memejamkan mata, meringis, dan merintih menahan rasa perih akibat gesekan benda itu pada milikku. Pelahan-lahan benda itu meluncur masuk ke dalam milikku. Dan ketika dengan kasar dia tiba-tiba menekankan miliknya seluruhnya amblas ke dalam diriku. aku tak kuasa menahan diri untuk tidak memekik. “ahh……….bang…….stop…….ahhhhhhh…….sakittttttt…pelan dikithh!!” aku melolong panjang menahan rasa perih akibat gesekan benda itu pada milikku yang masih sempit, sampai mataku berair. Perasaan perih bercampur nikmat tersebut membuat badanku mengejang beberapa detik. “Oohh.. Non Lina sayang…peret banget.. memekmu.. enaknya!” ceracaunya di tengah aktivitasnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Kiryo menyetubuhiku dalam posisi doggie di atas lantai toilet, alat kelamin kami yang bertumbukan menimbulkan bunyi plok-plok-plok. Aku sungguh larut dalam kenikmatan ini dan tak bisa menahan desahanku. Penisnya menggesek dinding-dinding vaginaku, semakin cepat dan semakin dalam, saking keenakannya dia tak sadar penisnya ditekan hingga masuk semua. Ini membuatku merasa sakit bukan main dan aku menyuruhnya berhenti sebentar, namun Kiryo yang sudah kalap ini tidak mendengarkanku, malahan dia menggerakkan pinggulnya lebih cepat. Aku dibuatnya serasa terbang ke awang-awang, rasa perih dan nikmat bercampur baur dalam desahan dan gelinjang tubuh kami. Pak Togar tidak menyia-nyiakan mulutku yang mengap-mengap dan terbuka lebar. Ia berlutut di hadapanku dan dijejalinya penisnya ke mulutku sehingga teriakanku tersumbat. Kiryo makin brutal menyodok-nyodok vaginaku. Sambil menyodok, kepalanya merayap ke payudaraku dan tangannya sesekali menampar bongkahan pantatku karena gemas.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku menggelinjang tak karuan waktu puting kananku digigitnya dengan bernafsu, kocokan dan kulumanku pada penis Pak Togar pun makin bersemangat. Rupanya teknik oral seksku telah membuat Pak Togar ketagihan, dia jadi begitu bernafsu memperkosa mulutku dengan memaju-mundurkan pinggulnya seolah sedang bersetubuh. Kepalaku pun dipeganginya dengan erat seolah tidak rela melepaskannya. Bahkan sesekali dia menjambak rambutku ketika aku menggigit pelan batangnya. Penisnya yang besar itu menyesaki mulutku yang mungil itu pun ada sisanya karena tidak tertampung semua. Hal itu membuat aku susah bernafas. Akhirnya aku hanya bisa pasrah saja disenggamai dari dua arah oleh mereka, sodokan dari salah satunya menyebabkan penis yang lain makin menghujam ke tubuhku. Aku mencoba mengikuti ritme genjotan mereka hingga pelan-pelan akupun mulai terbiasa, serasa terbang melayang-layang aku dibuatnya hingga akhirnya tubuhku menggelinjang. Aku mau menjerit tapi mulutku tersumbat oleh penis Pak Togar. Bersamaan dengan itu pula genjotan Kiryo terasa makin bertenaga.</p>
<p style="text-align: justify;">“Non…neng saya keluar nih !” erangnya panjang sambil meringis. Hal yang sama pula dirasakan olehku, aku tidak sanggup lagi menahan gelombang orgasme yang menerpaku demikian dahsyat. Kami mencapai orgasme bersamaan, aku dapat merasakan spermanya yang menyembur deras di dalamku, dari selangkanganku meleleh cairan hasil persenggamaan kami. Aku melepaskan penis Pak Togar dari mulutku dan mengambil udara segar. Tubuh telanjangku terbaring lemas di kursi panjang itu. Lelah sekali persetubuhan liar barusan. Kurasakan punggungku sakit karena bergesekan dengan kursi panjang itu. “Hehe…liat nih Pak Togar, akhirnya saya bisa juga numpahin peju ke memek bidadari sekolah kita” kata Kiryo membentangkan bibir vaginaku dengan jarinya, seolah ingin memamerkan cairan spermanya dengan bangga. “Ngehek juga kau Kir, kenapa pula jadi kau yang duluan ngetotin dia. Kan harusnya saya sebagai yang lebih tua darimu”. kata Pak Togar sewot. “Aduh maaf Pak. Habis saya gak tahan tadi. Soalnya Non Lina ini udah dari dulu pengen saya entotin.</p>
<p style="text-align: justify;">He..he… Kalo saya ngocok pasti selalu ngebayangin dia. Jadi mengertilah Bang. He,,he,,” kata Kiryo sambil cengengesan. Pak Togar lalu mendekatiku. “Non Lina, bisa ga Bapak tusuk sekarang? udah ga tahan daritadi belum rasain memeknya Non, boleh kan?” kata Pak Togar sambil mengangkat tubuhku. Aku tahu itu hanya basa-basi, sebab jika aku menolak sekalipun dia pasti akan tetap melakukannya. Maka, walau masih lemas banget, tapi kuanggukan kepala mengiyakannya. “Tapi pelan-pelan ya…masih cape nih” kataku sambil menatap ngeri ke penis supernya yang sudah menegang maksimal. Dia nampaknya senang, karena sebentar lagi akan merasakan kenikmatan gadis muda. Diangkatnya tubuhku lalu digiring ke arah wastafel lalu aku disuruh berbalik dan tanganku bertumpu pada wastafel. Sekarang aku dapat melihat diriku melalui cermin di hadapanku dan dari belakang kulihat dia sedang mengagumi tubuhku dan mengelus-ngelusnya. “Bener-bener body yang top!” pujinya sambil meremas bongkahan pantatku dengan gemas dan menepuknya.</p>
<p style="text-align: justify;">Saat tangannya mengelus kemaluanku tanpa sadar aku malah merenggangkan kakiku sehingga dia makin leluasa merambahi daerah terlarang itu. Lewat cermin kulihat dia mulai mempersiapkan penisnya dengan menggosok-gosokkan pada bibir vagina dan anusku. Kemudian dia menyelipkan penisnya di antara selangkanganku lewat belakang. Tanpa buang waktu lagi, Pak Togar mendorong penisnya pada vaginaku. Walaupun sudah becek oleh lendirku, aku masih merasa nyeri karena penisnya yang tebal tidak sebanding ukurannya dengan liang senggamaku. Aku merintih kesakitan merasakan penis itu melesak hingga amblas seluruhnya. Dia langsung menyodok-nyodokkan penisnya dengan kecepatan yang semakin lama semakin tinggi. “Benar juga katamu Kir…sempit banget…enak…ohh” sahut Pak Togar. Dia pasti tak habis pikir bisa menikmati gadis SMA sepertiku. Kedua bandot ini memnag sangat beruntuk bisa menikmati tubuhku dengan gratis. Tapi setelah kupikir-pikir toh aku juga menikmatinya. Permainan mereka telah berhasil menggali sisi terliar dalam diriku. Tak dapat kusangkal bahwa aku sangat menikmati persetubuhan ini.</p>
<p style="text-align: justify;">“OH…pak terus….entot aku!!” desahku tanpa malu-malu lagi. Cermin di depanku memantulkan bayangan wajahku yang sedang horny, mulutku mengap-mengap mengeluarkan merintih terlebih ketika tangan kasar itu meremas-remas kedua payudaraku sambil sesekali dipermainkannya putingku yang sudah mengeras. “Suka ga Non Lina bapak ginikan?” tanyanya sambil terus menggenjot dan mempermainkan payudaraku. Nampaknya dia senang melihatku tersiksa seperti ini. ”Aahh.. iya…suka…” desahku tak tertahankan. Pak Togar menimpali jawabanku dengan berkata pada Kiryo : “Lu denger Kir? Katanya dia suka. Hahaha….” “Hajar aja terus memeknya Pak. Udah gatal dia itu….hahahahahah..” kata Kiryo. Kiryo menontonku sedang bersetubuh dengan Pak Togar sambil duduk merokok di bangku panjang. Pak Togar makin bersemangat saja menyetubuhiku. Tusukan-tusukan penisnya seolah merobek tubuhku, hingga 15 menit kemudian tubuhku bagaikan kesetrum dan mengucurlah cairan dari vaginaku dengan deras sampai membasahi pahaku. Aku merintih panjang sampai tubuhku melemas kembali, kepalaku jatuh tertunduk, nafasku masih kacau setelah mencapai orgasme.</p>
<p style="text-align: justify;">Tadinya kukira dia juga akan segera memuntahkan spermanya, ternyata aku salah, penisnya masih begitu keras dan dia masih kuat menggenjotku tanpa mempedulikan kondisiku yang mulai kepayahan. Rambut panjangku dijambaknya sehingga kepalaku terangkat, kembali kulihat adeganku melalui cermin dimana tubuhku yang telah mandi keringat tergoncang-goncang, nampak pula payudara terayun kesana-kemari. Sudah seperempat jam berlalu, selama itulah aku digenjotnya namun belum terlihat tanda-tanda akan orgasme, justru nafsuku mulai bangkit lagi. Variasi gerakannya sangat lihai sampai membuatku berkelejotan, juga staminanya itu sungguh diluar dugaan. Mendadak dia menarik lepas penisnya, aku sudah siap menerima semprotan spermanya, namun…ooohh..tidak! penis itu masih mengacung dengan gagahnya. Dia lalu duduk di kursi panjang tadi, “Sini Non, kita main pangku-pangkuan!” suruhnya seraya menepuk paha. Aku menurut saja dan tanpa diminta lagi aku naik ke pangkuannya, tanpa malu-malu lagi aku melingkarkan tangaku di pundaknya.</p>
<p style="text-align: justify;">Akupun dengan senang hati menuntun penisnya memasuki milikku, dalam posisi seperti ini aku dapat lebih aktif bergoyang. Setelah menurunkan tubuhku hingga penisnya amblas ke dalam vaginaku, aku pun mulai bergoyang di pangkuannya. Pak Togar pun membalas gerakkanku dengan menyentak-nyentak pinggulnya berlawanan denganku sehingga tusukannya makin dalam. Kedua tangannya menggerayangi tubuhku terutama payudara dan punggung. “Ohhh.oohhhhh……ohhhh.” hanya itu yang keluar dari mulutku. Aku menggoyangkan tubuhku dengan gencar dengan gerakan naik-turun, sesekali aku melakukan gerakan meliuk sehingga Pak Togar mengerang karena penisnya terasa diplintir. Wajahnya dibenamkan pada belahan dadaku, putting kiriku disedot dan dikulumnya dengan rakus. Kunaik-turunkan tubuhku dengan gencar sampai dia melenguh-lenguh keenakan. “Uuugghh…oohh…memek SMA enak banget, nngghhh…memek anak..sma..!!”. Kiryo menonton adegan kami sambil mengelus-elus penisnya, dia ingin memancing adik kecilnya untuk `bangun`. “Ayo…goyang Non…oohh!” Pak Togar sepertinya ketagihan dengan goyanganku.</p>
<p style="text-align: justify;">Tangannya tetap meremas-remas dadaku, bahkan sesekali mulutnya menggigit payudaraku. Kontan aku menjerit-jerit makin kuat. Jeritanku membuat Pak Togar makin bernafsu begitu juga Kiryo, dia tidak tahan hanya menonton saja. Dia mendekat dan berdiri di sebelahku, penisnya mengacung di depan mukaku. Dia mengelus-eluskan benda itu pada pipiku yang halus. “Emut non…ayo buka mulutnya!” sambil mengarahkan batangnya ke mulutku yang mendesah-desah. Dengan setengah memaksa dia menjejalinya ke mulutku. Aku yang tak punya pilihan lain langsung memasukkan penis itu ke mulutku. Kusambut batangnya dengan kuluman dan jilatanku, aku merasakan aroma sperma pada benda itu, lidahku terus menjelajah ke kepala penisnya dimana masih tersisa sedikit cairan itu, ntah kenapa aku tidak merasa jijik. Malah kupakai ujung lidahku untuk menyeruput cairan yang tertinggal di lubang kencingnya. Hal itu membuat Kiryo blingsatan sambil meremas-remas rambutku. Aku melakukannya sambil terus bergoyang di pangkuan Pak Togar. ”ah uh ah….hhhhh………”suara-suara itu membahana di kamar mandi itu. Untung suasana sekolah sudah sepi kalau tidak bisa berabe.</p>
<p style="text-align: justify;">Dengan tetap bergoyang, aku juga mengisap-ngisap penis Kiryo makin keras hingga membuat batangnya menegang maksimal. Tangannya merayap ke bawah menggerayangi payudaraku. Dia sangat pandai meremas-remas titik sensitifku, sehingga aku dibuatnya melayang-layang. Gelombang orgasme sudah di ambang batas, aku merasa sudah mau sampai, namun Pak Togar menyuruhku bertahan sebentar agar bisa keluar bersama. Sampai akhirnya dia meremas pantatku erat-erat dan memberitahuku akan segera keluar, perasaan yang kutahan-tahan itu pun kucurahkan juga. “Aaaahhhhh….hhhhhhhh!!!!” desahan panjang keluar dari mulutku, kepalaku mendongak ke atas menatap langit-langit kamar mandi sehingga penis Kiryo yang sudah menegang maksimal lepas dari bibirku. Aku dan Pak Togar orgasme bersamaan dan dia menumpahkannya di dalam rahimku. Vaginaku serasa banjir oleh cairannya yang hangat dan kental itu, sperma yang tidak tertampung meleleh keluar di daerah selangakanganku. Aku ambruk ke depan, ke dalam pelukan Pak Togar.</p>
<p style="text-align: justify;">Dia peluk tubuhku sambil penisnya tetap dalam vaginaku, kami berdua basah kuyup keringat yang mengucur. Aku merasakan kehangatan dalam dekapan pria itu. Tanpa memperdulikan tubuhku yang lemas Kiryo langsung mengangkat tubuhku dari Pak Togar. Dia lalu membuatku menungging diatas lantai dengan tangan bertumpu pada kursi panjang itu. “Mau ngapain lagi sih Bang?” tanyaku. “udah dulu dong, Lina dah cape nih” keluhku yang tidak dipedulikannya. Dia menepuk-nepuk pantatku yang montok. Dia kemudian meludahi bagian duburku beberapa kali. lalu digosok-gosokkan dengan jarinya ke daerah itu. Aku memejamkan mata dan berharap semoga dia tidak menyerang anusku, karena aku sudah membayangkan ngerinya kalau batangnya itu membobol pantatku yang masih perawan. Aku belum pernah anal seks sebelumnya dan tidak punya keinginan untuk melakukannya karena membayangkannya juga sudah sakit. Sunguh aku lemas jika membayangkan rasa sakit jika penisnya menusuk-nusuk anusku seperti menusuk-nusuk vaginaku. Belum habis aku berfikir aku dikejutkan oleh sebuah benda lonjong di bibir lubang anusku.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku pun kontan menarik pantatku. Tapi Kiryo malah menarikku. Aku terkejut dan mencoba berontak “Jangan bang…jangan di situ…. Sakit!” ibaku. “Tahan Non, masih baru emang sakit, tapi ntar pasti enak kok” katanya dengan tenang. Aku masih meronta-ronta tapi Pak Togar memegangi tubuhku. Nampaknya dia memberi kesempatan bagi Kiryo menikmati anusku. Dia perlahan-lahan mendorong penisnya masuk ke anusku. Anusku pun kontan mengerut. Dia masih terus berusaha melicinkan jalan penisnya. Setelah beberapa saat menarik dan mendorong akhirnya ia berhasil memperawani anusku. Aku memeluk tubuh Pak Togar karena saking perihnya baru pertama kali ditusuk bagian sana. Dia diamkan sebentar penisnya disana untuk beradaptasi sekalian menikmati jepitannya. Kesempatan ini juga kupakai untuk membiasakan diri dan mengambil nafas. “Auhhh….sakit…” Aku menjerit keras saat dia mulai menghujamkan penisnya. Secara bertahap sodokannya bertambah kencang dan kasar sehingga tubuhku pun ikut terhentak-hentak. Aku tidak bisa melukiskan rasa sakit yang aku rasakan.</p>
<p style="text-align: justify;">Tanpa menghiraukannku dia tetap mengengot duburku. Untuk merangsangku, Pak Togar meraih kedua payudaraku yang bergoyang dan diremas-remasnya dengan lembut. Tapi remasannya kalah dibandingkan rasa sakit yang kuterima. “pak..u..da..ah….Erlina..sa..kit” jeritku panjang. Keringat dan air mataku bercucuran. Jeritanku itu bukannya membuatnya kasihan malahan membuatnya makin bernafsu. Dengan keras dia sodok-sodokan penisnya dan pantatku yang mulus itu diremas-remas dengan brutal. Suara rintihanku saling beradu dengan lenguhan. Lambat laun mulai kuraskan nikmat sedikit. Tapi walaupun begitu air mataku tetap bercucuran akibat sensasi nikmat di tengah-tengah rasa perih dan ngilu. Rasa sakit itu kurasakan terutama pada dubur, aku mengaduh setiap kali dia mengirim hentakan dan remasan keras, namun aku juga tidak rela dia menyudahinya. Terkadang aku harus menggigit bibir untuk meredam jeritanku. “aduh, sempit banget nih pantat.” desahnya sambil terus menggenjotku. “Udah bangsat. Hentikan. Sak…..it…..” kata-kata kasar keluar dari mulutku, tapi dia bahkan tidak peduli.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku terus memaki dan memakinya agar berhenti. Untuk meredam suaraku Pak Togar lalu mamasukkan penisnya ke mulutku dan memaksaku mengemutnya. Dia bahkan mulai kasar dengan menjambak rambutku. Aku tak punya pilihan lain selain mengoralnya. Hitung-hitung pengalih rasa sakit vaginaku. Kusedot dengan keras penis hitam itu. Kubuat pemiliknya medesah-desah. Walau masih lengket-lengket bekas persenggamaan barusan, kupakai lidahku menyapu batangnya. Aku dapat melihat ekspresi kenikmatan pada wajahnya akibat teknik oralku. Tiba-tiba Kiryo melingkarkan kedua lengannya ke ketiakku dan menarik bahuku. Kedua lenganku sekarang terkunci oleh lengan Kiryo dan terentang ke samping, membuatku terpaksa melepaskan kulumannya pada penis Pak Togar. Dalam posisi seperti itu Kiryo kemudian menarik tubuhnya sehingga kami berdua terlentang di lantai kamar mandi itu dengan posisi tubuhku ada di atasnya. Melihat hal itu, Pak Togar ikut maju, dipentangkannya kedua belah pahaku dan ditekuknya ke arah samping sehingga mengangkang seperti kodok, membuat vaginaku terkuak lebar.</p>
<p style="text-align: justify;">“Oohhh… janganh.. ahhh…hentikan……….”Aku berteriak takut saat menyadari apa yang akan dilakukan oleh Pak Togar. Pelan-pelan Pak Togar mula mendekatkan penisnya ke vaginaku. Aku berontak menyadari bahwa akan ada 2 penis besar dironggaku. Pasti sangat sakit pikirku. Tapi aku tak bisa berbuat banyak karena Kiryo memegangi tubuhku hingga aku tak bisa bergerak. “AAHHHHHKKK…am…pun………….nnnnn……..” aku menjerit saat penis Pak Togar menembus liang vaginaku. Sekarang dua batang penis besar memasuki tubuhku dari depan dan belakang. Aku meronta-ronta hebat saat secara bergantian Kiryo dan Pak Togar menggenjot tubuhnya. Tubuh ku mengeliat-liat di dalam himpitan kedua penjaga sekolah buruk rupa itu. Dan sambil menggenjot vaginaku, Pak Togar juga sibuk menciumi dan melumat bibirku. Aku merasa tersiksa dihimpit kedua penjaga sekolah brutal ini, tapi sebenarnya Aku juga merasakan sebuah sensasi hebat yang bergolak dari dalam tubuhku, bagaikan api besar yang membara dan meledak-ledak, membuatku akhirnya tenggelam dalam permainan seks bertiga itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Apalagi ternyata Kiryo dan Pak Togar sangat lihai dalam urusan seks, membuat sensasi dalam tubuhAku meledak. “aahhh… ahhhh… mau nyampe…….. oohhh… udaaaahhh… oohhh… udaaahhh…”Aku merintih-rintih merasakan orgasmenya setiap saat bisa meledak. Tapi kelihaian Kiryo dan Pak Togar dalam bersenggama membuat mereka bisa menahan orgasmeku. Mereka tidak ingin Aku selesai dengan mudah. Setiap kali Aku akan meledakkan orgasmenya, setiap kali pula mereka menghentikannya dengan bermacam cara, seperti dengan menghentikan genjotan penisnya, atau menjambak rambutku sampai kesakitan dan melupakan dorongan orgasmenya. Aku benar-benar dibuat takluk oleh kedua penjaga sekolah itu. Kurasakan wajahku panas merasakan sensasi orgasmenya berulang kali berhasil digagalkan. Entah berapa lama tubuhku berada di dalam himpitan dan genjotan kedua penjaga sekolah itu.Aku sendiri sampai terlalu payah untuk merintih, tubuhnya sekarang hanya tergetar dan menggeliat setiap kali hendak orgasme. “Gimana rasanya dikeroyok kaya gini Non Erlina? Ngomong dong..” kata Pak Togar sambil terus menggenjot vaginaku.</p>
<p style="text-align: justify;">“Eeegghh… ennaaakkk… Oohhhh… Nikmathh… Ahhhhh…..” jawabku sambil membiarkan kedua puting payudaraku dijilat dan digigit kecil oleh Pak Togar. “Apa Non mau lain kali ngentot bareng kita lagi?” tanya Kiryo dari belakang. “Ehhkkhh…. iyaahhh… mauuhhh… oohhh…” aku menjawab asal saja. Mendengar hal itu Kiryo makin bersemangat menggenjotkan penisnya di anusku. Hal itu berlangsung sekitar 15 menit lamanya sampai aku merasakan tubuhku seperti mau meledak, yang dapat kulakukan hanya menjerit panjang dan memeluk Pak Togar erat-erat sampai kukuku mencakar punggungnya. Selama beberapa detik tubuhku menegang sampai akhirnya melemas kembali dalam dekapan mereka. Namun mereka masih saja memompaku tanpa peduli padaku yang sudah lemas ini. Erangan yang keluar dari mulutku pun terdengar makin tak bertenaga. Tiba-tiba pelukan mereka terasa makin erat sampai membuatku sulit bernafas, serangan mereka juga makin dahsyat, putingku disedot kuat-kuat oleh Pak Togar, dan Kiryo menjambak rambutku. Aku lalu merasakan cairan hangat menyembur di dalam vagina dan anusku.</p>
<p style="text-align: justify;">Mereka berdua pun terkulai lemas diantara tubuhku dengan penis masih tertancap. Tanpa disadari, ada seseorang di luar sana yang telah mengetahui perbuatan mesum kami di toilet ini. Tiba-tiba saja pintu terbuka dan orang itu masuk “Hei, apa-apaan kalian? Ini sekolah, bukan tempat untuk main gila!” bentaknya Tentu saja kami pun terkejut dan melihat ke arah Ms. Alice, guru Bahasa Inggris yang berasal dari Amerika itu, berdiri berkacak pinggang dengan muka yang marah. Perlu diketahui bahwa sekolahku adalah sekolah internasional jadi tidak heran ada beberapa guru native yang mengajar di sini. Ms. Alice adalah seorang wanita berumur 24 tahun, berambut merah pendek dengan tubuh terbilang jangkung kalau dibandingkan tinggi badan wanita Asia pada umumnya. Ia sudah dua tahun di Indonesia sehingga sudah cukup lancar berbahasa Indonesia. Aku yang masih kaget buru-buru metutupi dadaku yang telanjang dengan kedua lengan. Mata Ms. Alice terpaku melihat melihat batang kemaluan kedua pria itu yang setengah ereksi itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Melihat reaksi Ms. Alice yang terdiam dan matanya mengarah pada kemaluan pria itu, Pak Togar timbul nyalinya untuk maju mendekati Ms. Alice, matanya menatap mata hijau wanita bule itu dengan tajam. Aneh, Ms. Alice yang tadinya tampak galak tiba-tiba terdiam dan melangkah mundur setengah langkah. Tanpa aba-aba, Pak Togar menarik lengan Ms. Alice dan dengan cepat mendekap tubuhnya. “No…tidak…mmmhhh!” sebelum Ms. Alice menyelesaikan kata-katanya bibirnya sudah lebih dulu dilumat dengan ganas oleh Pak Togar. Ms. Alice berusaha melepaskan diri dengan mendorong tubuh penjaga sekolah itu, tetapi tenaganya tentu kalah dibanding pria itu. Pak Togar menyibak rok Ms. Alice hingga terlihat pahanya yang jenjang dan putih mulus, tangan kasar itu langsung menggerayangi kemaluan Ms. Alice dari luar celana dalamnya. Mereka bergumul beberapa saat hingga akhirnya dorongan tangan Ms. Alice mulai berubah menjadi pelukan dan elusan liar, ia mulai membalas cumbuan Pak Togar dan bermain lidah dengannya.bertarung dan tangan Ms. Alice meraih penis Pak Togar.</p>
<p style="text-align: justify;">Ciuman mereka terpisah beberapa saat untuk mengambil nafas. “Puasin saya Pak…yah setubuhi saya dengan your big cock!” pinta Ms. Alice dengan suara lirih, kelihatannya ia sudah terangsang berat. Pak Togar menurunkan celana dalam Ms. Alice lalu melepas bajunya dengan kasar. Ms. Alice agak kaget tetapi diam saja. Batang kemaluannya yang dari tadi dielus-elusnya itu kini digesek-gesekkan oleh Pak Togar di selangkangannya. Ms. Alice menyandarkan punggungnya ke tembok dan mulai mengerang keenakan. Aku pun kembali merasakan seseorang meremas-remas buah dadaku dari belakang, ternyata Kiryo yang nafsunya bangkit lagi siap untuk memulai babak berikutnya. Aku pun melingkarkan tangan memeluk lehernya, kutengokkan wajah ke samping dan ia menyambut bibirku, kami kembali berciuman. Penisnya yang sudah bangkit lagi bergesekan dengan belahan pantatku. Kulihat di sudut sana, Ms. Alice pun mulai mengerang dan mendesah, tangannya membuka kait branya sendiri lalu menurunkan cupnya sehingga payudaranya pun terkuak. Pak Togar langsung memainkan buah dada wanita bule itu dan mereka pun berciuman dengan panas.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah beberapa saat saling merangsang, Pak Togar membawa Ms. Alice ke bangku panjang dan membaringkannya telentang di atasnya. Kemudian mulailah ia memasukkan batang kemaluannya yang sudah siap tempur itu ke dalam liang kemaluan Ms. Alice. Sodokan-sodokan pertama dimulainya dengan pelan-cepat pelan-cepat dengan ritme yang secara random. Ms. Alice mendesah dan menggumam dalam bahasa Inggris menerima sodokan-sodokan penis pria itu. Sementara tubuhku juga telah kembali bersatu dengan Kiryo, sambil mendekapku dari belakang ia memasukkan penisnya ke vaginaku, tubuhku dibungkukan ke depan membentuk sudut 90 derajat dan ia memegangi kedua pergelangan tanganku. Ia pun memulai genjotannya terhadap vaginaku. Dalam posisi begini kedua payudaraku nampak jelas sekali berayun-ayun mengundang selera. “Uuugghhh…asoy nih, memek bule, sedappphh!” ceracau Pak Togar sambil terus menggenjot vagina Ms. Alice dengan berpegangan pada kedua pergelangan kaki wanita itu. Ms. Alice terlihat pasrah, tubuhnya yang sudah telanjang bulat tersentak sentak di atas kursi panjang itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku melihat jelas vagina Ms. Alice yang bulunya juga kemerahan itu diterobos penis pak Togar yang besar dan berurat. Desahan pelan yang seksi dari guru Bahasa Inggrisku itu membuatku panas dingin menyaksikannya. Ms. Alice sama sekali tak terlihat diperkosa, bahkan dengan penuh penyerahan ia menyambut setiap tusukan pak Togar dengan sedikit mengangkat pinggulnya, nampaknya ia sudah lama tidak menikmati kenikmatan seks sehingga sekarang demikian larut di dalamnya. Sepuluh menitan kemudian mereka berganti posisi, kini Pak Togar telentang di bangku panjang dan sebelum ia sempat meminta, Ms. Alice sudah lebih dulu meraih penis besarnya dan menjilatinya dengan bernafsu. Wajah Ms. Alice nampak liar ketika menjilati penis itu sambil mengocoknya persis seperti artis-artis porno di film-film produksi Vivid dan Private, berbeda sekali dengan kesehariannya ketika mengajar di kelas yang anggun dan keibuan. Sedangkan aku kini sedang disetubuhi Kiryo dengan punggung bersandar ke tembok dan kedua kakiku diangkat olehnya, ternyata kurus-kurus begini kuat juga dia menopang tubuhku.</p>
<p style="text-align: justify;">Penisnya menghujam-hujam vaginaku, terkadang bibir kami bertemu dan saling bermain lidah. Aku sudah benar-benar mandi keringat karena sudah bergulat sejak tadi, tapi herannya kedua orang ini sepertinya belum puas juga mengerjaiku apalagi sekarang ditambah Ms. Alice. “Aahh..ahhh…kuat banget sih Bang, mau sampe kapan nih?” desahku di tengah pergumulan kami “Hehehe…mumpung dapet rejeki Non, kapan lagi bisa gini, makannya kudu dipuas-puasin sekarang…huuhhh….uuhh!” jawabnya tanpa menghentikan genjotan “Enngghh…Bang…” aku melenguh keenakan ketika tiba tiba penisnya menyodok dalam-dalam. Cairan cintaku yang sudah kembali meleleh melumasi vaginaku membuat sodokan itu terasa begitu nikmat. Apalagi urat urat yang menggerinjal itu berdenyut denyut, membuat aku kehilangan kontrol dan mulai menggerakkan pinggulku menyambut tiap genjotannya. “Enak kan Non?” tanya Kiryo dengan senyum mengejek. “Iyah Bang… enakkhh.. ooohh” jawabku yang sedang dimabuk birahi. Dalam diriku sekarang ini hanyalah mengejar orgasmeku, tak kuperdulikan celotehan Kiryo yang mengejekku dengan cara menirukan desahan, erangan dan lenguhanku.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku menggerakkan mata ke arah bangku panjang, ternyata mereka sedang bergaya 69. Pak Togar sedang asyik-asyiknya menjilat dan mencucuki vagina Ms. Alice yang di atas tubuhnya, ia membenamkan wajahnya pada vagina berbulu kemerahan itu seolah mau melahapnya. Ms. Alice dengan badan menggeliat-geliat menahan nikmat juga tidak kalah agresif mengoral penis penjaga sekolah itu sehingga pria itu melenguh nikmat dan berkelejotan. Setelah itu Ms. Alice melanjutkannya dengan naik ke penis Pak Togar, setelah menempelkan kepala penis itu pada bibir vaginanya, Ms. Alice menurunkan tubuhnya dan blesss…penis Pak Togar pun terbenam dalam vaginanya. Ia mulai menaik turunkan tubuhnya hingga vaginanya terpompa oleh penis itu. Pak Togar dibuatnya kelabakan dan mengerang ngerang dengan goyangan tubuhnya yang ganas. Kiryo sudah hampir selesai denganku, ia sudah mau keluar. Sebelum ngecrot ia menurunkan tubuhku dan menyuruhku berlutut. Di depan wajahku ia kocok penisnya dan crottt…croott…spermanya muncrat diiringi erangannya. Wajahku pun basah karena cipratan cairan putih kental itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku membuka mulut menyambut cipratan sperma itu, setelah semprotannya melemah, kuraih benda itu dan langsung kumasukkan mulut dan kuemuti dengan nikmatnya penisnya yang mulai lembek bercampur sperma dan cairan kewanitaanku itu. Kiryo akhirnya terduduk lemas di lantai, aku yang belum mencapai orgasme menghampiri Pak Togar yang sedang sibuk dengan Ms. Alice di atas bangku. Kunaiki wajah Pak Togar dengan posisi berhadapan dengan Ms. Alice, sehingga lubang kemaluan dan pantatku tepat mengarah ke wajah pria itu. Tanpa kuminta aku sudah merasakan lidahnya menjilati liang kemaluanku yang basah itu dan memainkan klitorisku. Pada waktu yang sama, aku mulai menciumi Ms. Alice dan memainkan buah dadanya, begitu pula dengan Ms. Alice yang membalas ciumanku dengan ganas dan juga meremas payudaraku. Ia menjilati cipratan sperma yang membasahi wajahku itu hingga bersih. “You…naughty girl…sshh…I’ll punish you for this!” katanya sambil mendesah di dekat wajahku. Aku hanya tersenyum nakal memandangnya lalu kupagut bibirnya dan kamipun berpelukan sesama wanita dan beradu lidah.</p>
<p style="text-align: justify;">Lima menit kemudian bibirku merayap turun ke lehernya terus dengan tujuan payudaranya. Putingnya yang coklat itu pun akhirnya kutangkap dengan mulutku dan kuemut-emut. “Uuuhh…I’m coming…yeesss…aaahh…aahh!” Ms. Alice mendesah panjang beberapa saat kemudian diiringi dengan tubuhnya yang mengejang. Ia semakin cepat menaik-turunkan tubuhnya di atas penis Pak Togar hingga akhirnya kulihat tubuhnya semakin berkelejotan, ia mencengkram erat kedua lenganku menyongsong orgasme hingga melemas dalam dekapanku. “Weleh…weleh hari ini hoki banget udah dapet cewek SMA dapet gurunya lagi…mana bule pula!” sahut Kiryo berjalan menghampiri kami, “yuk sini Miss, gua pengen ngerasain memek bule nih!” Ia menarik tubuh Ms. Alice yang masih lemas pasca orgasme. Karena masih belum pulih tenaganya Ms. Alice pun tersungkur di lantai. Melihat itu, Kiryo duduk di lantai dan menaikkan tubuh guru bahasa Inggrisku itu ke pangkuannya dalam posisi berhadapan. Ia mengarahkan penisnya yang sudah keras lagi ke vagina Ms. Alice yang dengan pasrah mengikuti saja arahannya.</p>
<p style="text-align: justify;">“Aaaahh!!” terdengar desahan lirih dari mulut wanita berambut merah itu saat ia menurunkan tubuhnya hingga vaginanya tertancap di penis Kiryo Tanpa menunggu lebih lama lagi, Kiryo mulai menyentak-nyentakkan pinggulnya ke atas membuat Ms. Alice mendesah nikmat sambil berpelukan pada tubuh kurusnya. Penjaga sekolah bertubuh kurus itu membenamkan wajahnya pada dada Ms. Alice dan dengan bernafsu ia melumat payudaranya yang berukuran lumayan besar itu secara bergantian. “Non Lina, bapak tusuk lagi yah!” pinta Pak Togar di bawah selangkanganku, sepertinya ia sudah cukup puas melumat kewanitaanku, terlihat dari mulutnya yang sudah belepotan cairanku. Aku mengangguk saja mengiyakannya, lalu ia menyuruhku berposisi doggie di lantai. Setelah bertumpu dengan kedua lutut dan telapak tanganku, aku merasakan kepala penisnya kembali melesak masuk ke vaginaku. “Uuuhhh!” desahku lirih dengan wajah terangkat. Ia memompa tubuhku dengan penuh nafsu. Tangannya meraba dan meremas-remas payudaraku yang bergelayutan. Sambil terus memompa, tangan satunya meraih payudara Ms. Alice yang sedang bersetubuh dengan Kiryo di sebelahnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Tangannya yang menggerayangi payudaraku makin ganas sambil sesekali memilin-milin puting susuku. Tubuhku tersentak-sentak karena pompaan Pak Togar, kutengokkan kepalaku ke samping belakang melihat Ms. Alice sedang menaik turunkan tubuhnya di atas penis Kiryo sementara payudaranya dikenyot pria kurus itu dan payudara satunya diremas-remas Pak Togar. Ms. Alice sepertinya sudah pulih tenaga dan birahinya, terlihat dari goyangnya yang liar itu. “Ooohhh…uuhh…Lina…Lina!!” ia memanggilku di tengah desahannya “Yes Miss?” jawabku “Please…aahhh…remember…remember to keep this little secret, ok…hhhmmhh!” katanya dengan lirih. “Sure…ahhhh…I do!” jawabku menyanggupi Kami terus berpesta seks di toilet selama hingga setengah jam ke depan, aku terpaksa minta berhenti karena sudah mencapai batas staminaku sedangkan mereka masih tampak bersemangat. Untungnya ada Ms. Alice sehingga mereka mengijinkanku pulang lebih dulu. Setelah aku berpakaian Kiryo sedang menyetubuhi Ms. Alice dalam gaya doggie sementara Pak Togar di depannya menyetubuhi mulut guruku itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku berpamitan pada mereka dan keluar menutup pintu membiarkan mereka yang di dalam meneruskan kegiatan mereka berasyik masyuk. Sungguh tubuhku terasa lemas sekali, berjalan pun terasa nyeri pada vagina dan pantatku, terutama anusku yang kurasakan sakit dan sekarang terasa terbuka longgar. Demikian sekilas petualangaku dengan kedua penjaga sekolahku yang kelak terulang lagi dan lagi pada hari-hari berikutnya. Aku semakin tak dapat melepaskan diri dari kenikmatan yang mereka berikan dan menjadi budak seks mereka sampai aku lulus SMA. Aku senang karena mereka mewarnai kehidupan seks masa SMA-ku dengan variasi seks yang belum berbeda dari yang lain. Sejak saat itu jika ada kesempatan aku selalu bercinta dengan mereka. Tak jarang aku mengundang mereka ke rumahku jika keadaan sepi. Di rumah kami menikmati kepuasan mulai dari kamar tidurku, ruang tamu sampai kamar mandi. Bahkan beberapa kali aku mengajak mereka untuk pesta seks dengan teman-teman SMAku yang cantik-cantik, ya…sahabat-sahabat dekatku yang kebetulan sama-sama petualang seks. Ms. Alice, guru Bahasa Inggrisku itu, bukanlah satu-satunya orang lain yang terlibat dalam kehidupan seksku yang liar, guru les pianoku yang gadis alim itu pun juga tak terkecuali, lalu ada juga adik sepupuku dan seorang guru muda cantik di sekolahku yang ikut terseret dalam kehidupan gilaku ini. Pak Togar sesekali mengajak kenalannya yang lain untuk ikut menikmati tubuhku dan juga teman-temanku. Biasanya yang diajak adalah lelaki yang paruh baya namun staminanya bagus. Aku hanya berpesan agar mereka tidak ember membocorkan semua ini, I love my sex life!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ceritasex.cn/akibat-merokok-di-wc-sekolah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Aduh Moncrot Deh&#8230;</title>
		<link>http://www.ceritasex.cn/aduh-moncrot-deh/</link>
		<comments>http://www.ceritasex.cn/aduh-moncrot-deh/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 16 Nov 2011 19:45:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cerita Sex</dc:creator>
				<category><![CDATA[Amoy]]></category>
		<category><![CDATA[Daun Muda]]></category>
		<category><![CDATA[Foto Mesum]]></category>
		<category><![CDATA[amoy]]></category>
		<category><![CDATA[anus]]></category>
		<category><![CDATA[hot]]></category>
		<category><![CDATA[memek]]></category>
		<category><![CDATA[seksi]]></category>
		<category><![CDATA[toket]]></category>
		<category><![CDATA[toket gede]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ceritasex.cn/?p=3170</guid>
		<description><![CDATA[Siapa yang berani nolak tubuh indah dan seksi kayak gini? bakalan moncrot-moncrot lo pada he he he]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Siapa yang berani nolak tubuh indah dan seksi kayak gini? bakalan moncrot-moncrot lo pada he he he</p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2011/11/crot-moncrot-1.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-3173" title="crot-moncrot-1" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2011/11/crot-moncrot-1-284x300.jpg" alt="" width="284" height="300" /></a></p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2011/11/crot-moncrot-2.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-3172" title="crot-moncrot-2" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2011/11/crot-moncrot-2-237x300.jpg" alt="" width="237" height="300" /></a></p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2011/11/crot-moncrot-3.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-3171" title="crot-moncrot-3" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2011/11/crot-moncrot-3-300x263.jpg" alt="" width="300" height="263" /></a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ceritasex.cn/aduh-moncrot-deh/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Dari Pemerkosaan Menjadi Skandal Perselingkuhan</title>
		<link>http://www.ceritasex.cn/dari-pemerkosaan-menjadi-skandal-perselingkuhan/</link>
		<comments>http://www.ceritasex.cn/dari-pemerkosaan-menjadi-skandal-perselingkuhan/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 06 Nov 2011 13:48:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cerita Sex</dc:creator>
				<category><![CDATA[anal seks]]></category>
		<category><![CDATA[Gangbang Rame Rame]]></category>
		<category><![CDATA[Paruh baya]]></category>
		<category><![CDATA[Pemerkosaan]]></category>
		<category><![CDATA[Seks Umum]]></category>
		<category><![CDATA[selingkuh]]></category>
		<category><![CDATA[anal]]></category>
		<category><![CDATA[anus]]></category>
		<category><![CDATA[cuki]]></category>
		<category><![CDATA[hardcore]]></category>
		<category><![CDATA[istri]]></category>
		<category><![CDATA[kontol]]></category>
		<category><![CDATA[memek]]></category>
		<category><![CDATA[ngentot]]></category>
		<category><![CDATA[sex]]></category>
		<category><![CDATA[skandal]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ceritasex.cn/?p=3162</guid>
		<description><![CDATA[Gila, hanya kata itu yang ada dalam benakku saat mengingat kisah pemerkosaan dari para pembantuku yang hingga kini menjadi skandal perselingkuhan. Aku dibuat liar oleh mereka, sungguh ini bukan kehendakku tapi aku sangat menikmatinya. Cerita panas yang sampai kini menjadi rahasia dalam rumah tanggaku. Di dalam ruangan itu terlihat sunyi beberapa dari mereka tidak sanggup [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Gila, hanya kata itu yang ada dalam benakku saat mengingat kisah pemerkosaan dari para pembantuku yang hingga kini menjadi skandal perselingkuhan. Aku dibuat liar oleh mereka, sungguh ini bukan kehendakku tapi aku sangat menikmatinya. Cerita panas yang sampai kini menjadi rahasia dalam rumah tanggaku.</p>
<p style="text-align: justify;">Di dalam ruangan itu terlihat sunyi beberapa dari mereka tidak sanggup melihat dua orang suami istri terbujur kaku, sedangkan di sampingnya terdapat anak yang masih berusia 11 tahun yang sedang menangisi ke dua orang tuanya, karena merasa kasihan aku meminta izin suamiku untuk menemuinya, setelah mendapat izin aku lalu menghampiri anak tersebut berharap dapat menenangkan hati anak tersebut, “Al..” panggilku pelan sambil duduk di sampingnya, “sudah jangan nagis lagi, biarkan kedua orang tuamu beristirahat”</p>
<p style="text-align: justify;">Anak itu tetap menangis, beberapa detik dia memandangku dan tidak lama kemudian dia langsung memelukku dengan air mata yang bergelinang,“tante, hiks…hiks… Aldi ga mau sendirian, Aldi mau mama, papa…” dengan penuh rasa kasih sayang aku mengelus punggungnya berharap dapat meringankan bebannya, “tante… bangunin mama,”katanya sambil memukul pundakku, aku semakin tak kuasa mendengar tangisnya, sehingga air matakupun ikut jatuh,“Aldi, jangan sedih lagi ya? Hhmm… kan masih ada tante sama om,” aku melihat ke belakang ke arah suamiku sambil memberikan kode, suami ku mengangguk bertanda dia setuju dengan usulku, “mulai sekarang Aldi boleh tinggal bersama tante dan om, gi mana?” tawarku sambil memeluk erat kepalahnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Sebelum lebih jauh mohon izinkan aku untuk memperkenalkan diri, namaku Lisa usia 25 tahun aku menikah di usia muda karena kedua orang tuaku yang menginginkannya, kehidupan keluargaku sangaatlah baik, baik itu dari segi ekonomi maupun dari segi hubungan intim, tetapi seperti pepata yang mengatakan tidak ada gading yang tak retak, begitu juga dengan hidupku walaupun aku memiliki suami yang sangat mencintaiku tetapi selama 4 tahun kami menikah kami belum juga dikaruniai seorang anak sehingga kehidupan keluarga kami terasa ada yang kurang, tetapi untungnya aku memiki seorang suami yang tidak perna mengeluh karena tidak bisanya aku memberikan anak untuknya untuk membalas budi baik kakakku, aku dan suamiku memutuskan untuk merawat anaknya Aldi karena kami pikir apa salah menganggap Aldi sebagai anak sendiri dari pada aku dan suamiku harus mengangkat anak dari orang lain.</p>
<p style="text-align: justify;">Sudah satu minggu Aldi tinggal bersama kami, perlahan ia mulai terbiasa dengan kehidupannya yang baru, aku dan suamiku juga meresa sangat senang sekali karena semenjak kehadirannya kehidupan kami menjadi lebih berwarna, suamiku semakin bersemangat saat bekerja dan sedangkan aku kini memiliki kesibukan baru yaitu merawat Aldi,“Bi…. tolong ambilin tasnya Aldi dong di kamar saya,” kataku memanggil bi Mar<br />
<span id="more-3162"></span><br />
Hari ini adalah hari pertama Aldi bersekolah sehingga aku sangat bersemangat sekali, setelah semuanya sudah beres aku meminta pak Rojak untuk mengantarkan Aldi ke sekolahnya yang baru, beberapa saat Aldi terseyum ke arahku sebelum dia berangkat ke sekolah. Seperti pada umumnya ibu rumah tangga, aku berencana menyiapkan makanan yang special untuk Aldi sehingga aku memutuskan untuk memasak sesuatu di dapur, tetapi saat aku melangkah ke dapur tiba-tiba kakiku terasa kaku saat melihat kehadiran pak Isa yang sedang melakukan hubungan intim dengan mba Ani, mereka yang tidak menyadari kehadiranku masih asyik dengan permainan mereka,“Hmm… APA-APAAN INI?” bentakku ke pada mereka, mendengar suaraku mereka terlihat tanpak kaget melihat ke hadiranku, “kalian benar-benar tidak bermoral, memalukan sekali!”</p>
<p style="text-align: justify;">Mereka tanpak terdiam sambil merapikan kembali pakaian mereka masing-masing, beberapa saat aku melihat penis pak Isa yang terlihat masih sangat tegang, sebenarnya aku sangat terkejut melihat ukuran penis pak Isa yang besar dan berurat, berbeda sekali dengan suamiku,“maafin kami Bu,” kini Ani membuka mulutnya, sedangkan pak Isa masih terdiam,“Maaf… kamu benar-benar wanita murahan, kamu tahu kan pak Isa itu sudah punya istri kenapa kamu masih juga menggoda pak Isa, kamu itu cantik kenapa tidak mencari yang sebaya denganmu?” emosiku semakin memuncak saat mengingat bi Mar istri dari pak Isa, “saya tidak menyangka ternyata anda yang sangat saya hormati ternyata tidak lebih dari binatang, betapa teganya anda menghianati istri anda sendiri,” beberapa kali aku menggelengkan kepalahku, sambil menunjuk ke arahnya,</p>
<p style="text-align: justify;">“maaf Bu ini semua salah saya, jangan salahkan Ani” kata pak Mar yang membela Ani,“mulai sekarang kalian saya PECAT, dan jangan perna menyentuh ataupun menginjak rumah ini, KELUAR KALIAN SEMUA!!” bentakku</p>
<p style="text-align: justify;">Mendengar perkataanku Ani terlihat pucat tidak menyangkah kalau kelakuan bisa membuatnya kehilangan pekerjaan, sedangkan pak Isa terlihat tenang-tenang saja malahan pak Isa tanpak terseyum sinis,“he..he… Ibu yakin dengan keputusan Ibu,” pak Isa tertawa mendengar perkataanku, perlahan pak Isa mendekatiku, “jangan perna main-main dengan saya Bu,” ancamnya dengan sangat sigap pak Isa menangkap kedua tanganku,“apa-apaan ini lepaskan saya, atau saya akan berteriak,” aku mencoba mengancam balik mereka yang sedang mencoba mengikat kedua tanganku,“teriak saja Bu, tidak akan ada orang yang mendengar,” timpal Ani sambil membantu pak Isa mengikat kedua tanganku,Apa yang di katakan Ani ada benarnya juga, tetapi walaupun begitu aku tidak mau menyerah begitu saja dengan susah paya aku berusaha melepaskan diri tapi sayangnya tenagaku kalah besar dari mereka berdua, tanpa bisa berbuat apa-apa aku hanya dapat mengikuti mereka saat membawaku ke dalam kamar pak Isa. Sesampai di kamar aku di tidurkan di atas kasur yang tipis, sedangkan Ani mengambil sebuah Hp dan ternyata Hp itu di gunakan untuk merekamku, sehingga kehawatiranku semakin menjadi-jadi.“kalian biadab, tidak tau terimakasih anjing kalian!” air mataku tidak dapat kubendung lagi saat jari-jemari pak Isa mulai merabahi pahaku yang putih,</p>
<p style="text-align: justify;">“ja-jangan, mau apa kalian lepaskan saya ku mohon jangan ganggu saya,” kataku di sela-sela isak tangis,“siapa suruh ikut campur urusan saya, he…he… maaf bu ternyata hari ini adalah hari keberuntungan saya, dan hari yang sil bagi Ibu,” semakin lama aku merasa tangannya semakin dalam memasuki dasterku,</p>
<p style="text-align: justify;">“tidak di sangkah impian saya akhirnya terkabul juga,”” sambungnya sambil meremasi paha bagian dalamku,“makanya Bu jangan suka ikut campur urusan orang,” kini giliran Ani yang menceramahiku,“ya, saya ngaku salah tolong lepasin saya,” kini aku hanya dapat memohon agar mereka sedikit iba melihatku, tetapi sayangnya apa yang kuharapkan tidak terjadi, pak Isa tanpa semakin buas memainkan diriku</p>
<p style="text-align: justify;">Aku hanya dapat melihat pasrah saat dasterku terlepas dari tubuhku, kedua payudaraku yang memang sudah tidak tertutupi apa-apa lagi dapat dia nikmati, jari-jarinya yang kasar mulai memainkan selangkanganku,“sslluupss…sslluuppss… hhmm…. ayo Bu puaskan saya?” pinta pak Isa, sambil mengulum payudaraku beberapa kali lidahnya menyapu putting susuku yang mulai mengeras,</p>
<p style="text-align: justify;">“ko’ memeknya basah bu, he…he…” memang harus diakui, tubuhku tidak dapat membohonginya walaupun bibirku berkata tidak,“wa…wa… Ibukan sudah punya suami ko’ masih juga menggoda laki orang lain, ga malu ya Bu,” Ani melotottiku seolah-olah ingin membalas perkataanku tadi, “dasar wanita munafik, sekarang Ibu tau kan kenapa saya menyukai pak Isa,”bentak Ani kepadaku, sehingga membuat hatiku terasa amat sakit mendengarnya,“aahhkk… pak, hhmm…. pak sudah jangan di terusin…” kataku dengan kaki yang tidak dapat diam saat jarinya menyelusup kedalam vaginaku yang sudah banjir, perlahan kurasakan jari telunjuknya menyelusuri belahan vaginaku,“oo… enak ya? he…he…” pa Isa tertawa melihatku yang sudah semakin terangsang, leherku terasa basah saat lidah pak Isa menjilati leherku yang jenjang.</p>
<p style="text-align: justify;">Dengan sangat kasarnya pak Isa menarik celana dalamku, sehingga vaginaku yang tidak di tumbuhi rambut sehelaipun terlihat olehnya, aku memang sangat rajin mencukur rambut vaginaku agar terlihat lebih bersi dan seksi.</p>
<p style="text-align: justify;">Ani berjongkok di sela-sela kakiku, kamera Hp di arahkan persis di depan vaginaku yang kini sudah tidak ditutupi oleh sehelai kain, tanpa memikirkan perasaanku pak Isa membuka bibir vaginaku sehingga bagian dalam vaginaku dapat di rekam jelas oleh Ani, beberapa kali jari telunjuk pak Isa menggesek clitorisku,“ohk pak plisss.. jangan…? saya malu…” aku merasa sangat malu sekali di perlakukan seperti itu, baru kali ini aku bertelanjang di depan orang lain bukan suamiku sendiri,“Ha…ha… malu kenapa Bu? anjing aja tidak malu ga pake baju masa ibu malu si…” katanya yang semakin merendahkan derajatku, setelah puas mempertontonkan vaginaku di depan kamera, pak Isa bertukar posisi dengan Ani untuk memegangi kakiku sedangkan pak Isa berjongkok tepat di bawa vaginaku.</p>
<p style="text-align: justify;">Dengan sangat lembut pak Isa menciumi pahaku kiri dan kanan secara bergantian, semakin lama jilatannya semakin ke atas menyentuh pinggiran vaginaku,“aahkk… sudah pak, rasanya sangat geli hhmm…” aku berusaha sekuat tenaga mengatupkan kedua kakiku tetapi usahaku sia-sia saja, dengan sangat rakus pak Isa menjilati vaginaku yang berwarna pink, sedangkan Ani tanpa puas melihat ke adaanku yang tak berdaya,“nikmatin aja Bu, he..he.. saya dulu sama seperti ibu selalu menolak tapi ujung-ujungnya malah ketagihan” kata Ani tanpa melepaskan pegangannya terhadap kakiku.</p>
<p style="text-align: justify;">Semakin lama aku semakin tidak tahan, tiba-tiba aku merasa tubuhku seperti di aliri listrik dengan tegangan yang tinggi, kalau seandainya Ani tidak memegang kakiku dengan sangat erat mungkin saat ini wajah pak Isa sudah menerima tendanganku, mataku terbelalak saat orgasme melandah tubuhku dengan sangat hebat, cairan vaginaku meleleh keluar dari dalam vaginaku, sehingga tubuhku terasa lemas,“ha…ha… bagaimana Bu, mau yang lebih enak….” pak Isa tertawa puas, aku hanya dapat menggelengkan kepalaku karena aku sudah tidak mampu lagi untuk mengeluarkan suara dari mulutku, perlahan pak Isa berdiri sambil memposisikan penisnya tepat di depan vaginaku.</p>
<p style="text-align: justify;">“aahkk… sakit…” aku memikik saat kepala penisnya menerobos liang vaginaku, “uuhk… hhmm… pelan-pelan pak…” pintaku sambil menarik napas menahan rasa sakit yang amat sangat di vaginaku karena ukuran penis pak Isa jauh lebih besar dari penis suamiku,“tahan Bu, bentar lagi juga enak ko’ “ kata Ani yang kini melepaskan ikatan di tanganku, setelah ikatanku terlepas Ani kembali merekam adegan panas yang kulakukan,</p>
<p style="text-align: justify;">Dengan sangat cepat pak Isa menyodok vaginaku sehingga terdengar suara “plokkss….ploskkss…” saat penisnya mentok ke dalam vaginaku yang mungil,<br />
“aahhkk… aahhkk… aaahh… oooo…”semakin cepat sodokannya suaraku semakin lantang terdengar,“oh yeeaa… enak Bu, hhmm… ternyata memek Ibu masih sempit sekali walaupun sudah perna menikah,” katanya memujiku, tetapi mendengar pujiannya aku tidak merasa bangga melainkan aku meresa jijik terhadap diriku sendiri,Aku merasa vaginaku seperti di masuki benda yang sangat besar yang mencoba mengorek isi dalam vaginaku, rasanya memang sangat sakit sekali tetapi di sisi lain aku merasa sangat menikamati perkosaan rehadap diriku, selama ini aku belum perna merasakan hal seperti ini dari suamiku sendiri,“ayo sayang, bilang kalau kontol saya enak…” dengan sangat kasar pak Isa meremasi kedua payudaraku,“ti-tidak…. ahk… hhmm…” aku di buat merem melek olehnya,“ha..ha.. kamu mau jujur atau tidak, kalau tidak hhmm… saya akan adukan semua ini kepada suamimu, ha…ha…” katanya mengancamku dengan tawa yang sangat menjijikan,“ja-jangan pak,” aku memohon ke padanya, karena takut dengan ancamannya akhirnya aku menyerah juga “iya, aahhkk… aku suka…” kataku dengan suara yang hampir tidak terdengar,</p>
<p style="text-align: justify;">“APA… SAYA TIDAAK MENDENGAR?” pak Isa berteriak dengan sangat kencang sehingga gendang telingaku terasa mau pecah mendengar teriakannya,“IYA PAK, ENAK SEKALI SAYA SUKA SAMA kontol BAPAK….aahhk…uuhhkk!!” dengan sekuat tenaga aku berusaha tegar dan berharap semuanya cepat berlalu,<br />
Setelah berapa menit kemudian tubuhku kembali merasa tersengat oleh aliran listrik saat aku kembali mengalami orgasme yang ke dua kalinya,</p>
<p style="text-align: justify;">Dengan sangat kasarnya pak Isa menarik tubuhku sehingga aku berposisi menungging, pantatku yang bulat dan padat menghadap dirinya,“hhmm… indah sekali pantatmu sayang” katanya sambil meremasi bongkahan pantatku,“pak, saya mohon cepat lakukan,”“ha..ha.. kenapa Bu, sudah ga tahan” berkali-kali pantatku menerima pukulan darinya, sebenarnya aku tidak menyangka dengan kata-kataku tadi bisa membuatku semakin renda di mata mereka, sebenarnya aku hanya bermaksud agar semua permainan ini segera berakhir tapi sayangnya pak Isa tidak menginginkan itu,</p>
<p style="text-align: justify;">“tenang Bu, santai saja dulu?”<br />
Pak Isa sangat pintar memainkan tubuhku, dengan sangat lembut jari kasarnya menyelusuri belahan pantatku dari atas hingga ke bawah belahan vagianaku, gerakan itu di lakukan berkali-kali sehingga pantatku semakin terlihat membusung ke belakang,“ohhkk… pak, hhhmm….” ku pejamkan mataku saat jarinya mulai menerobos lubang anusku, dengan gerakan yang sangat lembut jarinya keluar masuk dari dalam anusku, “ahhkk….ooo… ssstt…uuuuu… pak” ternyata rintihanku membuat pak Isa semakin mempercepat gerakan jarinya,<br />
pak Isa dengan rakusnya kembali menjilati vaginaku dari belakang sedangkan jari-jarinya masih aktif mengocok anusku. Pada saat aku sangat terangsang tiba-tiba kami mendengar suara ketukan yang kuyakini itu adalah pak Rojak yang baru pulang dari mengantar Aldi.</p>
<p style="text-align: justify;">“Pak Rojak tolongin saya…” kataku berharap ia bisa membantuku untuk lepas dari pelecehan yang ku alami, dengan santainya Ani membukakan pintu tanpa rasa takut kalau pak Rojak mengadukan kejadian ini ke pada suamiku, pak Rojak tanpak kaget saat melihat keadaanku yang sedang di gagahi oleh pak Isa,</p>
<p style="text-align: justify;">“pak, tolong ku mohon,” kataku memelas,“Wa…wa…. apa-apaan ini, “ beberapa kali pak Rojak menggelengkan kepalahnya dengan mata yang tak henti-hentinya memandangi tubuh mulusku,“Udah pak, jangan sok mau jadi pahlawan kalau bapak mau embat aja, dia sudah menjadi budaknya saya,” pak Isa mulai membujuk pak Rojak dan aku hanya bisa berharap pak Rojak tidak memperdulikan tawaran pak Isa,</p>
<p style="text-align: justify;">“kenapa bengong? sini ikutan!” ajaknya lagi“jangan pak saya mohon tolongin saya,” aku mengiba ke pada pak Rojak, tetapi pak Isa tidak mau kalah kedua jarinya membuka bibir vaginaku,“bapak liat ni, memeknya sudah basa banget… wanita ini munafik” pak Rojak terdiam seperti ada yang sedang di piirkannya,</p>
<p style="text-align: justify;">“memeknya masih sempit lo, apa lagi anusnya kayaknya masih perawan,” bujuk pak Isa berharap pak Rojak mau bergabung dengannya untuk menikmati tubuhku,Akhirnya pak Rojak tidak tahan melihat vaginaku yang becek terpampang di depannya,</p>
<p style="text-align: justify;">“hhmm… oke lah tapi boolnya buat saya ya, ” tubuhku semakin terasa lemas, kini aku sudah tidak tau harus meminta tolong ke pada siapa lagi, perlahan pak Rojak mendekatiku,“sekarang Ibu dudukin kontol saya, cepat…” perintah pa Isa sambil tidur telentang dengan penis yang mengancung ke atas, dengan sangat pelan aku menuduki penis pak Isa “eennnggkk…. “ aku menggigit bibir bawahku saat kepala penis pak Isa kembali menembus vaginaku, perlahan penis itu amblas ke dalam vaginaku, dengan sangat erat pak Isa memeluk pinggangku agar tidak dapat bergerak.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah melepas semua pakaian yang ada di tubuhnya, pak Rojak mendekatiku dengan penis berada di depan anusku beberapa kali pak rojak menamparkan penisnya ke pantatku,“pak sakit… aahhkk… aahkk… ja-jangan pak saya belum pernah” aku berusaha melepaskan diri saat pak Rojak mulai berusaha memasuki anusku, sempat beberapa kali ia gagal meembus anusku yang memang masih perawan.</p>
<p style="text-align: justify;">“ha…ha… ayo dong Pak, masak kalah sama cewek si…” kata pak Isa mmemanas-manasi pak Rojak agar segera membobol anusku, pak rojak yang mendengar perkataan pak Isa menjadi lebih beringas dari sebelumnya,“AAAAAA….” aku berteriak sekencang-kencangnya saat penis pa Rojak berhasil menerobos anusku, tanpa memberikan aku nafas ia menekan penisnya semakin dalam, “aahkk…. oohhkk… pak, hhmm…” aku merintih ke sakitan saat pak Rojak mulai memaju mundurkan penisnya di dalam anusku.“gi mana pak? Enak kan?” tanya pak Isa yang kini ikutan memaju mundurkan penisnya di dalam vaginaku,“eehhkknngg… mantab pak, enak banget he….he… hhmm….” semakin lama kedua pria tersebut semakin mempercepat tempo permainan kami.</p>
<p style="text-align: justify;">Sudah beberapa menit berlalu kedua orang pria ini belum juga menunjukan kalau mereka ingin ejakulasi, sedangkan diriku sedah beberapa kali mengalami orgasme yang hebat sehingga tubuhku terasa terguncang oleh orgasmeku sendiri. Setelah beberapa menit aku mengalami orgasme tiba-tiba pak Isa menunjukan bahwa dia juga ingin mencapai klimaks. Dengan sekuat tenaga pak Isa semakin menenggelamkan penisnya ke dalam vaginaku dalam hitungan beberapa detik kurasakan cairan hangat membasahi rahimku.</p>
<p style="text-align: justify;">“aahkk… enak…. hhmm…” gumamnya saat menyemburkan sperma terakhirnya, setelah puas menodaiku pak Isa melepas penisnya di dalam vaginaku begitu juga dengan pak Rojak yang melepaskan penisnya di dalam anusku,“buka mulutmu cepetan,” perintah pak Rojak sambil menarik wajahku agar menghadap ke arah penisnya yang terlihat berdeyut-deyut, aku sangat kaget sekali saat pak Rojak memuntahkan spermanya ke arah wajahku, sehingga wajahku ternodai oleh sperma pak Rojak,Kini aku benar-benar sudah tidak memiliki tenaga sedikitpun, untuk mengangkat tubuhku saja terasa sangat berat sekali, sedangkan mereka tanpa puas memandangku yang sedang berpose mengangkang di depan mereka karena kedua kakiku kembali dipegangi Ani, sperma yang tadi di muntahkan pak Isa terasa mengalir keluar dari dalam vaginaku,</p>
<p style="text-align: justify;">********<br />
Aku duduk di atas sofa sambil melihat anak angkatku Aldi yang sedang di temani suamiku belajar, wajah mereka terlihat sangat cerah sekali bertanda bahwa mereka sangat bahagia, entah kenapa tiba-tiba di pikiranku terlintas kembali apa yang terjadi tadi pagi yang menimpa diriku, semakin aku berusaha melupakannya rasanya ingatan itu semakin menghantuiku, aku tidak bisa membayangkan kalau sampai suamiku mengetahui kalau aku di perkosa oleh ketiga pembantuku sendiri,“hhmm… gi mana Aldi sudah negerti belom” kataku sambil mengucek rambutnya yang sedang sibuk menghitung soal yang di berikan suamiku, “ya sudah kalau begitu mama bikinin minuman dulu ya, buat kalian,” kataku yang di sambut dengan teriakan mereka berdua.</p>
<p style="text-align: justify;">Baru satu langkah aku keluar dari kamar tiba-tiba pergelangan tanganku terasa sakit saat pak Rojak menarik tanganku,“bapak apaan sih!?” bentakku dengan suara yang sangat pelan,“ssstt… jangan berisik…” kata pak Rojak dengan jari telunjuk di bibirnya, “nanti suami dan anak mu dengar, hhmm… bapak cuman mau ini Bu,” katanya lagi sambil mencubit payudaraku, dengan sigap aku mundur ke belakang,“jangan main-main pak,” beberapa kali aku memandang pintu kamarku yang tidak tertutup rapat, tetapi pak Rojak tidak kehabisan akal dia balik mengancamku dengan mengatakan akan membongkar semua rahasiaku ke pada suamiku, sehingga nyaliku menjadi ciut,</p>
<p style="text-align: justify;">“oke, hhmm… kalau begitu bapak ikut saya” kataku dengan suara yang bergetar, karena sudah tidak tahu lagi harus melakukan apa, dia terseyum puas melihatku tak berdaya dengan permintaanya,“maaf Bu, saya inginnya di sini bukan di tempat lain,” katanya dengan suara yang cukup jelas, setelah berkata seperti itu pak Rojak langsung memelukku dengan erat sehingga aku sulit bernafas, “hhmm… bauh tubuh ibu benar-benar menggoda saya,” perlahanku rasakan lidahnya menjulur ke leherku“pak ku mohon, jangan di sini” pintaku ke padanya,</p>
<p style="text-align: justify;">Pak Rojak yang mengerti kekhawatiranku langsung membalik tubuhku menghadap daun pintu kamarku yang sedikit terbuka,“Ibu bisa bayangkan kalau sampai orang yang sedang di dalam kamar Ibu mengetahui apa yang sedang Ibu lakukan,” ancamnya sambil menarik rambutku sehingga aku harus menutup mulutku dengan telapak tanganku agar suara terikanku tidak terdengar oleh suami dan anakku,“Pak ku mohon jangan di sini,” aku hanya bisa menurut saja saat pak Rojak menyuruhku untuk menungging dengan tangan yang menyentuh lantai, sedangkan wajahku menghadap ke celah pintu kamarku yang terbuka.</p>
<p style="text-align: justify;">“tahan ya Bu,” katanya sambil menyingkap dasterku, sehingga celana dalamku yang berwarna hitam terpampang di depan matanya, dengan sangat kasar pak Rojak meremas kedua buah pantatku yang padat sehingga aku tak tahan untuk tidak mendesah,“aahkk.. pak hhmm.. ja-jangan di sini pak,” pak Rojak diam saja tidak mendengar kata-kataku melainkan pak Rojak semakin membuatku terangsang dengan mengelus belahan vaginaku dari belakang,“kalau kamu tidak mau ketahuan jangan bicara,” bentak pak Rojak sambil memukul pantatku“ta-tapi pak, oohhkk… aku ga kuat,” kataku dengan suara yang sangat pelan, “ku mohon pak mengertilah,”Pak Rojak seolah-olah tidak mau tahu, kini dengan rakusnya pak Rojak menjilati vaginaku yang masih tertutup celana dalamku, sehingga aku merasa celana dalamku tampak semakin basah oleh air liurnya. Setelah puas menciumi vaginaku pak Rojak memintaku untuk membuka celana dalamku sendiri masih dengan posisi menungging. Sangat sulit bagiku untuk melepaskan celana dalamku dengan posisi menungging belum lagi aku harus bekonsentrasi agar suaraku tidak keluar dengan keras walaupun pada akhirnya aku berhasil menurunkan celana dalamku sampai ke lutut,</p>
<p style="text-align: justify;">“hhuuu… mantab….” katanya sambil merabahi vaginaku dari belakang, “kamu mau tahukan gimana rasanya ngentot di depan suamimu sendiri,” katanya lagi sambil menunjuk ke arah suamiku yang sedang mengajari anaku Aldi,“pak, ja-jangan…” aku sangat takut sekali kalau suamiku melihat ke arahku, tiba-tiba aku di kejutkan dengan jari telunjuk pak Rojak yang langsung memasuki vaginaku sehingga aku terpekik cukup keras,“sayang… ada apa?” kata suamiku dari dalam, saat mendengar suaraku.“aahkk… tidak pa, cuman hhmm.. tadi ada tikus lewat,” jawabku asal-asalan agar suamiku tidak curiga ke padaku, tetapi untungnya suamiku tidak melihat ke arahku, dalam ke adaan terjepit seperti ini pak Rojak masih asyik mempermainkan vaginaku dari belakang,</p>
<p style="text-align: justify;">“ada tikus??” katanya lagi seolah-olah tidak percaya, “apa perlu papa yang usir,” mendengar tawarannya nafasku teras berhenti tetapi untungnya aku masih banyak akal,“aahhgg… ga usah hhmm.. pa…” kataku terputus-putus menahan rasa nikmat yang di berikan pak Rojak kepadaku, untungnya suamiku tidak curiga dengan suaraku,“asyikan Bu, ngobrol dengan suami sambil di mainin memeknya,” aku memandangnya dengan wajah yang memerah karena nafsuku sudah di puncak, “ko’ diam cepat ajak suami Ibu ngobrol,” mendengar perkataanya aku langsung melotot ke arahnya, “Ibu mau kalau suami Ibu tau apa yang sekarang Ibu lakuin,” mendengar ancamannya aku kembali terdiam,<br />
Dengan sangat terpaksa aku kembali mengajak suamiku mengobrol, walaupun di dalam hati aku merasa was-was takut kalau suamiku menyadari suaraku yang berubah menjadi desahan,“paaa… ma-mau minum apa?” tanyaku yang kini sedang diperkosa oleh pak Rojak, tanpa kusadari pak Rojak sudah memposisikan penisnya di depan ibir vaginaku sehingga beberapa kali aku terpanjat saat pak rojak menghantamkan penisnya dengan sangat keras ke dalam vaginaku,“terserah mama saja… papa sama Aldi ikut aja,”“iya ma, apa aja asalkan enak,” sambung Aldi,</p>
<p style="text-align: justify;">Waktu demi waktu telah berlalu sehingga sampai akhirnya sikapku berubah menjadi sedikit liar dan mulai menyukai cara pak Rojak memperkosaku walaupun pada awalnya hatiku terasa miris sekali di perlakukan seperti ini,“aahk…. pak hhmm.. enak,” aku melenggu panjang saat orgasme melandahku, kini perkosaan yang ku alami berganti dengan perselingkuhanku dengan pembantuku,“ohhk… memek istri majikan ternyata enak sekali, ahhkk…” katanya yang terus-terusan menggoyang penisnya di dalam vaginaku,<br />
“pak… aahhkk… eehkk… aku, hhmm… ingin keluarrr, uuhhkk…” kali ini suaraku terdengar sangat manja</p>
<p style="text-align: justify;">Beberapa menit kemudian kami mengerang bersamaan saat kenikmatan melanda kami berdua, setelah merasa puas aku dan pak Rojak kembali merapikan pakaian kami masing-masing, sebelum pak Rojak pergi meninggalkanku sempat terlihat seyumannya yang tersungging di bibirnya. Setelah membuatkan minuman aku kembali ke kamarku menemui anak dan suamiku, mereka terlihat tanpak senang sekali melihatku hadir dengan membawa minuman dan makanan kecil,“ini di minum dulu, nanti baru di lanjutin lagi,” kataku sambil meletakan cangkir dan piring di atas meja kecil yang di gunakan Aldi untuk belajar,“makasi mama…” kata Aldi yang langsung saja menyambar minuman yang baru ku bikin, entah kenapa setiap kali melihat Aldi hatiku terasa menjadi damai, dan semua masalah seperti terlupakan,Aku merasa sedikit aneh, saat suamiku memandangku dengan tatapan mencurigakan sehingga aku memberanikan diri untuk bertanya ke padanya,“ada pa, ko memandang mama seperti itu” kataku sambil mengupas jeruk untuk Aldi yang sedang menulis,</p>
<p style="text-align: justify;">suamiku mendekatkan mulutnya ke telingaku, “hhmm.. sayang ko’ kamu bau hhmm… gitulah…” mendengar pertanyaannya jantungku terasa berhenti,“bau, bau apa pa?” tanyaku untuk memastikan apa maksud dari pertanyaan suamiku,<br />
“kamu tadi ko’ lama ma,” kami terdiam beberapa saat, “mama abis dari kamar mandi ya, hhmmm… papa jadi curiga ni,” katanya sambil tertawa memandangku, mendengar perkataanya aku menjadi sedikit lega,“Iya ni pa, abis kangen si…” kataku manja sambil mencubit penis suamiku,Setelah yakin Aldi tertidur pulas, suamiku mengjakku untuk melayaninya semalaman suntuk. Tubuhku memang terasa lelah karena seharian harus mengalami orgasme, tetapi di sisi lain aku sangat senang karena suamiku tidak mencurigai aku karena bau tubuhku seperti bau orang yang habis bercinta.</p>
<p style="text-align: justify;">Hampir tiap hari aku merengkuh kenikmatan bersama para pembantuku, kenikmatan yangh tidak aku dapatkan dari suamiku yang membuat aku semakin liar.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ceritasex.cn/dari-pemerkosaan-menjadi-skandal-perselingkuhan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Istri-Istri Binal : Pulang Mudik</title>
		<link>http://www.ceritasex.cn/istri-istri-binal-pulang-mudik/</link>
		<comments>http://www.ceritasex.cn/istri-istri-binal-pulang-mudik/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 09 Oct 2011 21:29:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cerita Sex</dc:creator>
				<category><![CDATA[anal seks]]></category>
		<category><![CDATA[Paruh baya]]></category>
		<category><![CDATA[Seks Umum]]></category>
		<category><![CDATA[selingkuh]]></category>
		<category><![CDATA[anal]]></category>
		<category><![CDATA[anus]]></category>
		<category><![CDATA[bejat]]></category>
		<category><![CDATA[binal]]></category>
		<category><![CDATA[istri]]></category>
		<category><![CDATA[kontol]]></category>
		<category><![CDATA[memek]]></category>
		<category><![CDATA[ngentot]]></category>
		<category><![CDATA[seks]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ceritasex.cn/?p=2916</guid>
		<description><![CDATA[Sejak berkeluarga dan tinggal di Bogor aku selalu sempatkan pulang mudik menengok orang tua dan mertuaku di Yogyakarta setiap hari raya Idul Fitri. Biasanya kami mudik seminggu sebelum hari rayanya, agar kami bisa puas merayakan lebaran di sana. Aku mudik seringnya dengan mobil sendiri. Saat anak-anakku masih kecil aku sendiri yang menyetir hingga sampai ke [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Sejak berkeluarga dan tinggal di Bogor aku selalu sempatkan pulang mudik menengok orang tua dan mertuaku di Yogyakarta setiap hari raya Idul Fitri. Biasanya kami mudik seminggu sebelum hari rayanya, agar kami bisa puas merayakan lebaran di sana. Aku mudik seringnya dengan mobil sendiri. Saat anak-anakku masih kecil aku sendiri yang menyetir hingga sampai ke rumah orang tua kami. Saat anakku beranjak besar dan remaja, gantian merekalah yang bawa mobil.</p>
<p style="text-align: justify;">Kalau pulang mudik aku paling senang lewat jalur selatan yang tidak begitu ramai dan jarang ada kemacetan. Hal yang paling kusukai adalah saat aku melewati desa Redjo Legi menjelang masuk ke kota Purworejo. Di situ tinggal pamanku, biasa kupanggil dengan Pak Lik. Dia adalah adik sepupu bapakku. Aku sangat akrab dengannya karena anak Pak Lik yang paling tua, pernah kuliah di kotaku dan tinggal di rumah orang tuaku.</p>
<p style="text-align: justify;">Kalau hari libur semesteran, aku sering diajaknya pulang ke Redjo Legi untuk mencari belut. Depan halaman rumahnya yang hingga kini merupakan sawah yang terbentang luas, menyediakan banyak belut untuk kami tangkap dan kami goreng. Nostalgia macam itulah yang membuatku selalu menyempatkan diri, mampir ke rumah Pak Lik setiap kali aku pulang mudik.</p>
<p style="text-align: justify;">Tidak ada yang begitu berubah di rumah Pak Lik sejak dulu. Rumahnya yang berdinding gedek kulit bambu itu terasa sangat nyaman. Bagusnya dinding gedek macam itu adalah fungsi sirkulasi udaranya yang sangat bagus, disebabkan gedeknya bercelah-celah, karena jalinan bambunya yang tidak mungkin bisa rapat benar. Kemudian di pagi hari, sinar matahari akan menembus celah-celah gedek itu, sehingga panasnya cukup untuk membangunkan kami, yang tentunya masih bermalas-malasan di amben. Suatu istilah setempat untuk balai-balai tempat tidur, yang terbuat dari bambu. Hanya saja rumah itu sekarang terasa lebih lega disebabkan renovasi yang dilakukan Pak Lik beserta istri.</p>
<p style="text-align: justify;">Pak Lik sendiri walaupun saat ini usianya sudah lebih dari 50 tahun, tepatnya 54 tahun, 12 tahun di atas umurku dan 18 tahun di atas umur istriku, sosoknya masih gagah dan sehat. Tubuhnya yang 180 senti itu tampak tegap, kekar dan berisi. Khas tubuh seorang petani dan guru bela diri.</p>
<p style="text-align: justify;">Empat tahun yang lalu Bu Lik meninggal dunia karena sakit sehingga kini Pak Lik menjadi duda. Untuk menopang kegiatannya sehari-hari, Pak Lik dibantu pelayan kecil dari kampungnya untuk mencuci pakaiannya dan masak ala kadarnya. Apabila sudah tidak ada lagi yang dikerjakannya, dia pulang ke rumahnya yang tidak jauh dari rumah Pak Lik. Kedua anaknya sendiri sudah bekerja di lain kota, dan mereka baru pulang kalau lebaran tiba. Sama seperti tradisi di keluargaku umumnya. Akhirnya Pak Lik menjadi terbiasa hidup sendirian.</p>
<p style="text-align: justify;">Sanak saudaranya yang lain termasuk aku, sering menyarankannya untuk kawin lagi. Agar ada perempuan yang membuatkannya kopi di pagi hari atau menjadi pasangannya saat bertandang ke acara keluarga. Namun sampai saat ini Pak Lik masih belum juga menemukan jodohnya yang sesuai. Walaupun pendidikannya cukup tinggi, waktu itu sudah menyandang titel BA atau sarjana muda, kegiatannya sehari-hari adalah bertani dan mengajari seni bela diri kepada anak-anak tetangganya. Dalam hal bertani, dia menggarap sendiri sawahnya yang cukup luas ini.<br />
<span id="more-2916"></span><br />
Tahun ini aku dan istriku terpaksa pulang mudik berdua saja. Anak-anakku punya acara sendiri bersama teman-temannya yang susah aku pengaruhi untuk ikut menemani kami. Ya, sudah. Aku tidak suka memaksa mereka. Ketiganya sedang beranjak dewasa dan harus bisa belajar mengambil keputusan sendiri.</p>
<p style="text-align: justify;">Menjelang masuk kota Kroya jam menunjukkan pukul 2 siang saat aku merasa agak demam. Tubuhku melemah dan kepalaku mulai terasa pusing. Sambil berpesan agar menyupirnya tidak usah buru-buru, istriku memberi obat berupa puyer anti masuk angin yang selalu dia bawa saat bepergian jauh. Sesudah aku meminumnya, rasa tubuhku agak lumayan dan pusingku sedikit berkurang. Tetapi tetap saja tidak senyaman kalau tubuh sedang benar-benar sehat. Menjelang masuk gerbang desa Redjo Legi menuju rumahnya Pak Lik, aku merasakan sakitku tak tertahankan lagi. Kupaksakan terus jalan pelan-pelan hingga tepat jam 5 sore, mobilku memasuki halaman rumah Pak Lik yang seperti biasanya, menyambut kami dengan sepenuh kehangatan.</p>
<p style="text-align: justify;">Ketika dia tahu aku sakit, dia panggil embok-embok di kampungnya yang biasa mijit dan kerokan. Suatu kebiasaan orang Jawa kalau sakit, tubuhnya dikerok dengan mata uang logam untuk mengeluarkan anginnya. Ketika sakitku tidak juga berkurang, dengan ditemani istriku, Pak Lik mengantarkanku pergi ke dokter yang tidak jauh dari rumahnya. Dalam perjalanan ke sana, tiba-tiba hujan turun dengan lebatnya. Tak urung tubuh kami bertiga pun menjadi basah. Untungnya jarak kami dengan klinik dokter itu sudah dekat, sehingga kami bisa cepat berteduh di sana. Tanpa khawatir pakaian kami menjadi basah kuyup karenanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Dari dokter itu, aku diberi obat dan disuruh banyak istirahat. Selesai berobat, ternyata hujan masih tetap deras di luar sana. Agak lama menunggu, Pak Lik menjadi tak sabar. Dia berinisiatif untuk pulang duluan, bermaksud menjemput kami dengan mobilku. Aku dan istriku kompak keberatan dengan rencananya itu. Meskipun klinik sang dokter tidak begitu jauh dari rumah Pak Lik, sekitar 5 kiloan, kami merasa sangat tidak enak hati. Kami merasa telah banyak merepotkannya sejak kedatangan kami tadi. Pak Lik yang baik hati itu tetap bersikeras, hingga akhirnya kami mengalah.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku memperhatikan kepergiannya dengan perasaan khawatir bercampur kagum. Perasaan khawatir muncul karena aku tidak ingin paman kesayanganku itu jatuh sakit karena hujan-hujanan. Sedangkan kekagumanku timbul melihat sosoknya saat ini. Kemeja kausnya yang basah kuyup oleh air hujan, membuat tubuhnya yang atletis itu tercetak jelas. Ketika pandanganku menoleh ke samping, aku bisa melihat pancaran kekaguman yang sama tersiar dari wajah istriku. Dik Narti segera mengubah arah pandangannya begitu tahu aku memperhatikannya.</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam perjalanan pulang, tak sengaja aku melirik ke arah istriku. Kuperhatikan wanita itu tak lepas-lepasnya mengagumi Pak Lik secara diam-diam. Apalagi saat menjemput kami, Pak Lik hanya mengenakan kaus singlet tipis dan celana jeans biru ketat. Seakan-akan dia ingin memamerkan ketiaknya yang berbulu lebat, dan tubuhnya yang terpahat sempurna. Seketika itu juga aku merasa cemburu dan tidak nyaman dengan tingkah istriku itu&#8230;.</p>
<p style="text-align: justify;">Sepulangnya dari dokter, lagi-lagi Pak Lik membuatku takjub atas kebaikan hatinya. Dibantu istriku, Pak Lik merepotkan dirinya dengan menyediakan makan malam untuk kami bertiga. Waktu makan malam itu kami pakai untuk mengobrol dan bersenda gurau penuh keakraban, melepas kerinduan. Ketika kami menanyakan di mana anak-anaknya, dengan senyuman ramahnya yang khas, Pak Lik menjawab bahwa keduanya masih memiliki kesibukan di kotanya masing-masing. Kesibukan itulah yang membuat mereka tidak bisa pulang mudik tahun ini. Seusai makan malam, istriku menyuruhku meminum obat. Tak lama aku langsung diserang kantuk yang luar biasa. Rupanya dokter telah memberikan obat tidur padaku bersamaan dengan obat demamnya. Akupun langsung tertidur pulas.</p>
<p style="text-align: justify;">Sekitar pukul 10 atau 11 malam, aku tidak begitu pasti, aku dibangunkan oleh suara berisik amben bambu, disertai suara desahan dan lenguhan halus dari kamar sebelah. Kantukku masih sangat terasa. Aku meraba-raba istriku tetapi tak kutemukan dia berbaring di sampingku. Aku menduga mungkin perempuan itu sedang buang hajat di kamar mandi belakang. Di rumah Pak Lik, kamar-kamarnya memang tidak dilengkapi lampu. Cahaya dalam kamar cukup didapat dari imbas lampu besar di ruang tamu. Ruangan yang berbatasan dengan ruang keluarga itu, membuat cahayanya dapat tembus ke ruangan-ruangan lain di dalam rumahnya. Suara amben yang terus mengganggu telingaku, ditambah suara desahan dan lenguhan yang semakin keras, memaksaku mengintip ke celah dinding di samping kananku.</p>
<p style="text-align: justify;">Apa yang kemudian kulihat di sana langsung memukul diriku. Akupun menjadi terpana dan limbung. Kepalaku yang pusing karena sakit langsung kambuh seketika. Aku kembali terkapar dengan jantungku yang berdegup cepat. Benarkah sepasang manusia yang sedang asyik bergumul setengah bugil itu Pak Lik dan Dik Narti? Benarkah istriku telah tega mengkhianatiku? Benarkah Pak Lik yang kebaikan hatinya selalu membuatku takjub kepadanya, orang yang selalu menghiburku jika sedang sedih, orang yang baru saja mengantarkanku ke dokter, sedang menggauli istriku saat ini? Perempuan yang seharusnya dianggap sama dengan keponakannya juga?</p>
<p style="text-align: justify;">Apakah kekuranganku Dik Narti? Karena kesibukan kerja yang selalu merampas waktuku, membuatmu merasa berhak untuk menerima kenikmatan seksual dari orang lain? Termasuk dari pamanku sendiri? Apakah memang karena itu, sebagaimana yang sering kamu keluhkan padaku? Ataukah Pak Lik yang sudah 4 tahun menduda yang memulainya terlebih dahulu? Dia merayumu dan kamupun tak mampu menolaknya? Lelaki tua yang macho seperti diakah lelaki idamanmu?</p>
<p style="text-align: justify;">Ah, sejuta pertanyaan yang aku tidak mampu menjawabnya karena semakin menambah pusing kepalaku. Sementara suara berisik dari amben itu menjadi semakin tak terkendali. Rintihan halus Dik Narti dan desahan berat Pak Lik juga terdengar semakin jelas di telingaku. Aku tak mampu bangun karena obat yang kuminum tadi dapat membuatku limbung kalau tidak ada yang menolongku. Aku hanya mampu mengintip dari celah dinding itu, tak mampu lebih jauh mencegah tindakan tak senonoh dari pasangan laknat tersebut.</p>
<p style="text-align: justify;">Di sana kulihat Pak Lik sedang asyik mengayun-ayunkan kontolnya, yang ukurannya membuatku takjub, ke lubang memek istriku. Dia melakukannya sambil menciumi bibir Dik Narti sepenuh nafsu. Sialan! Kenapa bisa-bisanya saat ini aku merasa takjub pada kontol pamanku sendiri? Kepada lelaki tua yang jelas-jelas telah mengkhianati diriku dengan menggauli istriku? Tetapi memang kuakui, kontol pamanku itu pasti akan membuat lelaki mana saja yang melihatnya, iri&#8230;.</p>
<p style="text-align: justify;">Selain gede, panjang dan kelihatan keras, kontol itu dihiasi dengan urat-uratnya yang bersembulan di sekujur batangnya. Kepalanya yang bagaikan topi helm para tentara dan bentuk batangnya yang melengkung ke atas, membuat kontol cokelat muda itu terlihat sempurna di mataku.</p>
<p style="text-align: justify;">Sementara itu sambil tetap berpelukan, tangan Dik Narti terus memeluk kepala Pak Lik. Perempuan binal itu tampaknya berusaha memastikan agar bibir-bibir mereka tetap saling berpagutan. Saling melumat dan menghisap. Suara kecupan saat bibir yang satu terlepas dari bibir yang lain terdengar terus beruntun. Di bawah sana, ayunan kontol Pak Lik yang semakin dalam menghujam memek istriku, membuat ambennya terdengar semakin berisik.</p>
<p style="text-align: justify;">“Pak Lik, Pak Lik, enaakk Pak Lik.. teruss Pak Lik.. oocchh.. hhmm.. Pak Lik..”</p>
<p style="text-align: justify;">Duh, rintihan Dik Narti yang begitu menikmati derita birahinya, membuat kepalaku seakan terpukul-pukul palu. Darah yang naik ke kepalaku, membuat pusingku semakin menghebat. Sementara di kamar sana, desahan Pak Lik sendiri tidak kalah hebatnya. Sebagai lelaki sehat yang telah menduda selama 4 tahun, tentu kandungan libidonya sangat menumpuk. Bukan tidak mungkin dialah pelakunya. Dia merayu istriku karena dia tahu aku tidak akan mudah terbangun karena obat demam yang kutelan ini.</p>
<p style="text-align: justify;">”Ssshhh&#8230; oohhh&#8230; oohh&#8230; enakkee, memekmu Dikkhh&#8230;” ujar Pak Lik.<br />
”Aahh&#8230; sshhh&#8230; yaahh&#8230; terusshh&#8230; Pak&#8230; lagihhh&#8230; ooohh.. oohhh… lebihh… keraasshhh….” balas istriku.</p>
<p style="text-align: justify;">Kulihat buah dada istriku yang besar dan ranum, dengan pentilnya yang tegak mengacung, sudah terbongkar dari balik kausnya. Itu pasti ulah nakal Pak Lik sebelumnya. Dia membetotnya keluar untuk dilumati, dihisap, dan diremas-remas. Kedua pentil susu istriku itu pastilah sudah basah kuyup oleh lumuran ludah pamanku. Ketiak-ketiak istriku tampak sangat sensual saat dia memegang erat kepala Pak Lik dan meremasi rambutnya. Ketiak-ketiak itu pastilah sudah merasakan jilatan lidah pamanku, yang sejak tadi aktif bergentayangan menebar nikmat. Kembali aku ambruk ke ambenku.</p>
<p style="text-align: justify;">Rasa pusing di kepalaku sangat menyakitkan. Tanganku berusaha memijit-mijit kepalaku sendiri untuk mengurangi rasa sakitnya. Tetapi setiap kali aku mendengar suara erotis dari pasangan mesum itu, akupun tergoda untuk kembali mengintip lubang dinding di sampingku.</p>
<p style="text-align: justify;">Kulihat kontol Pak Lik terasa semakin sesak saja menembus memek Dik Narti. Dia tarik keluar pelan dengan dibarengi desahan beratnya dan rintihan nikmat Dik Narti, kemudian mendorongnya masuk kembali dengan desahan yang berulang. Dia lakukan itu berulang-ulang, desahan nikmat dari keduanya juga terdengar berulang. Kemudian kulihat tusukan kontol Pak Lik semakin dipercepat. Mungkin kegatalan birahi mereka terasa semakin menjadi-jadi.</p>
<p style="text-align: justify;">Tak lama kulihat Pak Lik tidak lagi melumati bibir Dik Narti. Dia turun dari amben dan menarik pelan pinggul istriku ke pinggiran ambennya. Lalu dia mengangkat salah satu tungkai kaki istriku sehingga menyentuh bahunya yang bidang. Dengan cara itu rupanya Pak Lik ingin bisa lebih dalam menusukkan kontolnya ke memek Dik Narti. Akibatnya kenikmatan yang tak berperi melanda istriku. Dia meremas-remas sendiri susu-susunya. Kepalanya yang rambutnya telah acak-acakan, terus bergoyang ke kanan dan ke kiri, menahan siksa nikmat yang tak terhingga.</p>
<p style="text-align: justify;">Melihat itu hatiku menjadi semakin panas. Mereka benar-benar biadab. Mereka sudah tidak lagi memperhitungkan aku, suami sahnya dan keponakannya yang kini berada di kamar sebelah, tengah tergeletak karena sakit yang membuatku merasa hampir mati&#8230;.</p>
<p style="text-align: justify;">Tiba-tiba selintas pikiran hinggap di kepalaku. Oh begitu rupanya…..</p>
<p style="text-align: justify;">Aku jadi paham sekarang penyebab peristiwa terkutuk ini. Sebelum kami makan malam bersama tadi, kami sempat bersalin pakaian terlebih dahulu. Berbeda denganku yang langsung menggantikan pakaianku yang basah dengan pakaian cadangan, istriku menyempatkan diri untuk mandi sejenak. Nah di rumah Pak Lik, letak kamar mandi dekat dengan dapur, hanya dibatasi satu ruangan kosong multi fungsi. Saat istriku pergi mandi, Pak Lik memang sedang berada di dapur untuk menyiapkan makan malam. Aku pikir mungkin inilah awal dari peristiwa itu. Istriku yang memang suka dengan Pak Lik, sengaja mandi tanpa mengunci pintunya rapat-rapat. Tentu saja bagi lelaki yang lama menduda seperti Pak Lik, pancingan Dik Narti itu bagaikan rejeki nomplok. Pamanku mungkin memakai kesempatan itu untuk mengintip istriku mandi secara leluasa.</p>
<p style="text-align: justify;">Ketika aku kembali mengintip, tahu-tahu keduanya sudah berganti posisi. Kali ini pamanku sudah berbaring di atas amben kembali, sementara istriku berada di atas tubuhnya, asyik menungganginya. Pak Lik tampak asyik meremasi pantat Dik Narti, sementara istriku asyik bergerak naik-turun sambil meremasi payudaranya sendiri.</p>
<p style="text-align: justify;">Tak lama gerakan mereka mulai berubah lagi. Keduanya bergerak semakin liar. Masih dengan istriku menunggangi tubuhnya, pamanku bangkit dan langsung membenamkan wajahnya di gunung kembar istriku. Di sana dia sibuk menyusui payudara istriku bergantian, yang kanan dan yang kiri. Mendapat serangan yang menggila itu, istriku tampak semakin histeris. Desahan birahinya terdengar semakin keras, membuat siapapun yang mendengarnya, menjadi sangat terangsang. Sementara di bawah sana, kontol pamanku tampak semakin mengkilat saja. Berhiaskan lendir birahi istriku, kontol itu keluar-masuk memek Dik Narti dengan cepatnya, membuat suara ambennya semakin keras terdengar.</p>
<p style="text-align: justify;">Keduanya pun sudah bugil kini. Tiada lagi kaus putih yang membungkus tubuh pamanku, menyajikan pemandangan yang mengagumkan dari tubuh berotot lelaki berusia setengah abad, yang mengkilat oleh keringatnya. Begitu juga kaus tank-top hijau dan celana dalam Dik Narti yang tadi masih tersampir di salah satu kakinya, sudah hilang entah ke mana. Membuat lekak-lekuk di tubuh sintalnya terlihat semakin jelas. Sekarang keduanya tampak sangat seksi dan&#8230; sangat serasi! Sesuatu yang aku benci sekali mengakuinya!!!</p>
<p style="text-align: justify;">Pompaan kontol pamanku di memek istriku, suara beradunya paha dengan paha, desahan berat Pak Lik dan rintihan nikmat tak berkeputusan Dik Narti, membuat simfoni erotis yang terdengar sangat indah di malam yang dingin dan sunyi ini. Kalau tadi pompaan kontol Pak Lik tampak cepat, sekarang kulihat gerakan mengayunnya semakin diperlambat. Rupanya pamanku sedang mempraktekkan teknik bercintanya yang baru. Sekitar tiga atau empat kali pompaan biasa, dia membuat satu hentakan keras dan bertenaga. Tampaknya dia berusaha membuat kontolnya lebih dalam lagi menembus memek istriku. Begitu dia lakukan berkali-kali. Tentu saja istriku semakin histeris dibuatnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Istriku seakan tidak mau kalah dengan Pak Lik. Sambil memeluk leher pamanku yang kokoh, dia putar-putar pinggulnya secara liar, memainkan kontol lelaki tua yang sejak tadi aktif memompa memeknya. Desahan berat pamanku terdengar semakin keras dan tak berkeputusan merasakan nakalnya pantat dan pinggul Dik Narti saat memainkan ”tongkat saktinya“. Jeleknya Dik Narti, teknik seperti itu tak pernah dia praktekkan kepadaku saat kami bercinta. Benar-benar setan wanita itu!!!</p>
<p style="text-align: justify;">Kusaksikan saat ini, mereka sudah sangat lupa diri. Kenikmatan nafsu birahi telah menghempaskan mereka ke sifat-sifat hewaniah yang tak mengenal lagi rasa malu, sungkan, iba, hormat dan harga diri. Mereka sudah hangus terbakar oleh nafsu birahi yang menggelora. Menjadi budak nafsu setan yang bergentayangan di dalam diri mereka sendiri. Aku terbatuk-batuk dan mual. Pusing kepalaku langsung menghebat. Sementara racauan penuh nikmat yang dari mulut keduanya, terdengar tak berkeputusan dan semakin keras.</p>
<p style="text-align: justify;">Dengan suara yang sengaja kukeraskan aku mengeluarkan dahakku ke ember yang telah disediakan, disusul dengan muntah-muntah benaran. Aku berharap dengan tindakanku itu segalanya pasti berhenti. Mereka akan bergegas menolong diriku. Tetapi yang terjadi justru sebaliknya. Suara amben itu justru terdengar semakin berisik. Sehingga kini ada dua sumber berisik di dalam rumah ini. Suara manusia yang sedang tergeletak kepayahan di kamar ini dan suara erotis manusia, berkejar-kejaran dalam nafsu setan di kamar itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku tahu mereka dalam keadaan tanggung. Puncak nikmat sudah dekat dan nafsu birahi untuk memuntahkan segalanya sudah di ubun-ubun. Mereka pasti berpikir, biarkan saja aku menunggu di sini. Membiarkan aku sendiri dengan gelisah, pusing, campur sakit hati akibat dikhianati. Edannya, tak lama aku justru terpengaruh oleh mereka.</p>
<p style="text-align: justify;">Kontolku yang ukuran panjang dan diameternya hanya setengah dari kontol Pak Lik telah terbangun dari tidurnya. Walaupun pusing di kepalaku masih tetap menghebat, kontolku berdiri dengan tegangnya, terangsang oleh desahan erotis yang sangat memukau dari kamar sebelah. Aku berusaha mati-matian untuk meredam kontolku yang terus menegang gara-gara suara erotis itu, sebelum akhirnya aku kembali tergoda untuk mengintip kembali. Aku ingin tahu sejauh mana pamanku itu bisa memuaskan Dik Narti, perempuan yang kuat sekali syahwat hewaniahnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Saat kembali aku mengintip, keduanya sedang berancang-ancang untuk berubah posisi lagi. Rupanya gairah seksual yang menggebu-gebu membuat stamina mereka seakan tiada batasnya. Masih dengan pamanku berbaring di atas amben, istriku segera memutar tubuhnya. Kepalanya mengarah ke selangkangan Pak Lik, sedangkan selangkangannya dia arahkan ke kepala pamanku. Oooo&#8230; rupanya mereka ingin saling menjilati kemaluan lawan mainnya, posisi 69&#8230;</p>
<p style="text-align: justify;">Kembali desahan berat dan rintihan nikmat terdengar saling bersahutan. Wajah Dik Narti tampak timbul tenggelam di antara selangkangan pamanku, begitu pula sebaliknya. Dalam posisi ini mereka terlihat saling berlomba memberikan kepuasan dalam menikmati kemaluan pasangannya. Hisapan, jilatan dan kocokan tangan istriku di kontol pamanku beradu cepat dengan jilatan, hisapan, dan tusukan jari-jari kekar Pak Lik di memek Dik Narti&#8230;.</p>
<p style="text-align: justify;">Posisi cabul yang baru itu sontak membuat hatiku tambah panas saja. Dik Narti selalu menolak perintahku untuk mengulum kontolku dengan berbagai alasan. Sebaliknya terhadap pamanku, dia melakukannya dengan senang hati. Lihatlah itu&#8230; betapa intensnya dia menjalari batangan kaku dan kekar milik pamanku dengan lidahnya&#8230; Betapa semangatnya dia menyedot-nyedot ’helm tentara‘nya&#8230; Betapa tekunnya dia menghisap-hisap ’kantung menyan’ Pak Lik&#8230; Betapa wajahnya sangat menikmati kegiatan cabulnya itu&#8230;</p>
<p style="text-align: justify;">Sebaliknya Pak Lik seakan tidak mau kalah. Dia tak hanya menjilat, menghisap dan menusukkan jari-jarinya ke lubang memek istriku saja. Pak Lik juga turut menjilati lubang anus istriku sambil sesekali jari-jarinya yang kasar menusuk lubangnya. Membuat erangan nikmat keduanya, terdengar semakin keras bersahut-sahutan. Sekali lagi aku hanya bisa merutuk dan merutuk melihat kenyataan itu. Sungguh bangsat pasangan laknat itu!!!</p>
<p style="text-align: justify;">Adegan seru itu tidak berlangsung lama. Begitu dirasanya puas, mereka berganti posisi lagi. Masih di atas amben, keduanya segera memposisikan diri. Tak lama mereka sudah kembali bergoyang-goyang. Mereka bercinta dalam gaya anjing di kamar itu. Hanya saja bukan lubang memek istriku lagi yang menjadi sasaran keganasan kontol Pak Lik, melainkan lubang anus Dik Narti&#8230;</p>
<p style="text-align: justify;">Kulihat Dik Narti tampak termehek-mehek. Merasakan betapa nikmatnya lubang anusnya, dijejali kontol sebesar itu. Memang ada sedikit bayangan rasa pedih di wajah cantiknya, tetapi perempuan binal itu justru menyemangati Pak Lik agar lebih liar lagi dalam memompa anusnya&#8230;</p>
<p style="text-align: justify;">”Aaahhhsss&#8230; aahhhsss&#8230;. aaahhhsss&#8230; Teeerrruussshhh&#8230; Paakkk&#8230; Eennnaaakkkhhhh&#8230;“<br />
’’Hhhoohhhh&#8230; hhhooohhhh&#8230; Diiikkksss&#8230;. Diikkksss&#8230; apaanyaahhh&#8230; yaanngghh&#8230; hhhooohhh&#8230; ooohhh&#8230; Ennaaakkkhhh&#8230;?“ pancing pamanku.<br />
“Ittuuhhh&#8230; ooohhh&#8230;. aaahhhsss&#8230; kooonnntttooolll&#8230; Paakkkhhh&#8230; Liiikkkhhhsss&#8230; Eennnaaakkhhh&#8230;“ sahut Dik Narti.<br />
“Mmaassaaahhh sssiiihhh caannnttiikkkhhh&#8230; Ennnaaakkkhhh&#8230; aahhh&#8230; betuuulllsss&#8230; ennnaaakkkhhh&#8230; kontoolllsshhhkkuuu&#8230; iiinnniiihhhh?“ ujar Pak Lik dengan terus menyodok anus istriku tanpa ampun.<br />
“Aaahhhsss&#8230; ooohhh&#8230; aaahhhsss&#8230; bbbeeennnaaarrrkkkhhh&#8230; aaakkkhhh&#8230; aaahhh&#8230;<br />
Eennnaaakkkhhh&#8230;. sssuumpppaaahhh&#8230;“ balas istriku dengan matanya yang merem melek keenakan.</p>
<p style="text-align: justify;">Kuakui lubang anusnya masih perawan, karena Dik Narti selalu menolak kalau anusnya dientot olehku. Bangsat!!! Hanya itulah ungkapan yang pantas mewakili kekesalan hatiku saat ini kepada Dik Narti&#8230;.</p>
<p style="text-align: justify;">Gerak dan ayun pasangan laknat itupun sampai di puncaknya dalam posisi ini. Begitupun ekspresi di wajah mereka. Ketampanan wajah Pak Lik dan kecantikan wajah Dik Narti menjadi jelas terlihat. Desahan berat pamanku bersahut-sahutan dengan erangan histeris istriku, merasakan nikmatnya anal seks itu. Rambut Dik Narti yang indah dijadikan tali kekang oleh tangan kanan Pak Lik. Sementara tangan kirinya, memegangi pinggul istriku sambil aktif mengocok lubang memeknya dengan jari-jemarinya. Sedangkan kedua tangan istriku mencengkram pinggiran amben itu dengan erat.</p>
<p style="text-align: justify;">”Pppaakkk… Liiikkkhhh… ooohhh… terusshhh… Paakkk… eennnaaakkk… Paaakkkk…”<br />
”Ooohhh… Dddiiikkk… Ooohhh… ooohhhh… aaannnuuusss… mmmuuhhh… eeennnaaakkk… banggeeetttt… ”<br />
”Ooohhh… terussshhh… aaahhh… terussshhh… Paaakkk… Leebiiihhh… Keraassshhh… Aaahhhh… Aaahhh… Laaggiiihhhh…. ”</p>
<p style="text-align: justify;">Ketika ejakulasi mereka akhirnya hadir, suara-suara di rumah ini benar-benar gaduh. Aku yang muntah-muntah tanpa henti dengan suaraku seperti seekor babi yang sedang disembelih bercampur dengan suara histeris Pak Lik bersama Dik Narti, meraih orgasme mereka secara beruntun, diakhiri ejakulasi yang datang hampir bersamaan. Untuk sesaat suara amben masih terdengar berisik untuk kemudian reda dan sunyi, berganti dengan suara-suara kecupan bibir, suara pujian saling memuja, dan suara nafas yang tersengal-sengal. Sementara di sebelah sini aku masih mengeluarkan suara dari batukku disertai dengan rasa mau muntah yang keluar dari tenggorokanku.</p>
<p style="text-align: justify;">Tak lama istriku muncul di pintu. Dipegangnya kepalaku.<br />
’Ah, kok semakin panas mas, obatnya diminum lagi ya?’ katanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Kemudian dengan kuat tangannya meringkus kepalaku dan memaksakan obat cair itu masuk ke mulutku. Aku terlampau lemah untuk menolaknya. Saat jari-jarinya memencet hidungku, aku yang mengalami kesulitan nafas, terpaksa menelan habis seluruh obat yang disuapkannya ke dalam rongga mulutku. Kemudian disuruhnya aku minum air hangat. Sebelum air itu habis kuteguk aku sudah kembali jatuh tertidur pulas. Praktis aku tidak punya alibi sedikitpun atas apa yang selanjutnya terjadi di rumah ini hingga 6 jam kemudian saat aku terbangun.</p>
<p style="text-align: justify;">Jam 9 pagi esoknya aku terbangun lemah. Pertama-tama yang kulihat adalah dinding di mana aku mengintai selingkuh istriku dengan Pak Lik. Aku marah pada dinding itu. Kenapa begitu banyak lubangnya sehingga aku bisa mengintip. Aku juga marah pada diriku sendiri, kenapa aku yang sakit ini masih-masihnya tergoda untuk mengintip ke dinding itu. Menyaksikan istriku yang sedang asyik menanggung nikmat, digojlok secara brutal oleh pamanku. Tapi saat aku ingin teriak karena teringat peristiwa semalam, Dik Narti muncul di pintu kamar. Pandangan matanya terasa sangat lembut dan perhatian. Dia mendekat dan duduk di ambenku. Dia ganti kompres di kepalaku dengan elusan tangannya yang lembut sambil berkata,</p>
<p style="text-align: justify;">“Mas Roso (begitu dia memanggilku) semalaman mengigau terus. Panas tubuhnya tinggi. Aku jadi takut dan khawatir. Pak Lik bilang supaya aku ambil air dan kain untuk mengompres kepala Mas Roso”</p>
<p style="text-align: justify;">Mendengar mulutnya menyebut ‘Pak Lik’ yang aku ingat betul sama persis nada dan pengucapannya saat dia asyik bergelut dengan pamanku semalam, seketika itu darahku mendidih. Tanganku seketika mencekal blusnya. Aku ingin sekali menampar wajahnya yang cantik itu. Tetapi senyum teduhnya kembali hadir di bibirnya.</p>
<p style="text-align: justify;">“Hah, apa lagi mas, apa lagi yang dirasakan, sayang?” ucapnya lembut tanpa prasangka apapun atas perlakuan kasarku barusan, menatapku dengan air mukanya yang anehnya tampak tetap suci bersih.</p>
<p style="text-align: justify;">Langsung didih darahku surut. Aku tak mampu melawan kelembutan sikap dan senyumnya yang menawan itu. Kutanyakan padanya di mana Pak Lik sekarang, dengan bola mata berbinar Dik Narti menjawab pamanku sedang berada di sawahnya. Hari ini giliran dia untuk membuka pematang agar air sungai mengalir ke sawahnya. Dia juga bilang agar aku banyak istirahat saja dulu. Dia sudah menelepon orang tua di Yogya dari HPku, mengabarkan bahwa aku sakit dan akan istirahat dulu di Redjo Legi selama 3 hari ke depan. Rupanya demamku sangat parah sehingga aku harus dirawat di Redjo Legi selama 3 hari penuh. Kemudian dia beranjak dan kembali dengan sepiring bubur sum-sum, aku disuapinya.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku jadi berpikir apa yang sesungguhnya terjadi tadi malam. Apakah panas tubuhku yang sangat hebat, telah membawaku ke alam mimpi? Sampai-sampai aku menggigau sepanjang malam sebagaimana kata istriku, ataukah perselingkuhan Pak Lik dengan istriku itu memang benar-benar sebuah kenyataan? Kembali kepalaku berputar-putar rasanya. Istriku kembali mencekokiku dengan obat yang dibawanya. Akupun kembali tertidur.</p>
<p style="text-align: justify;">Sebelum aku terlelap benar, istriku dengan penuh kasih memeluk kepalaku. Dia mengelus-elus kepalaku sambil mendekatkannya ke dadanya. Pada saat itu aku merasakan semburat aroma yang lembut menerjang ke hidungku. Aroma yang sangat kukenal, aroma ludah dan sperma lelaki yang telah mengering. Aroma itu menguar dari payudaranya dan bagian lain tubuhnya. Obat tidurku tak memberi kesempatan padaku untuk melek lebih lama. Aku kembali pulas tertidur.</p>
<p style="text-align: justify;">Selanjutnya selama 3 hari ke depan, setiap malam aku selalu benar-benar terlelap, sehingga tak lagi tahu apa yang sedang terjadi di antara mereka, Pak Lik dan Dik Narti, selama sisa hari-hari itu. Saat berpamitanpun, aku tidak melihat tanda-tanda mencurigakan itu dari wajah keduanya saat mereka sedang berpamitan. Keduanya berpisah secara sewajarnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Sampai kini, 6 bulan sesudah peristiwa itu, aku tetap tidak tahu apa yang sesungguhnya terjadi. Apakah peristiwa mesum itu hanyalah khayalanku belaka atau memang benar-benar terjadi? Aku tidak mempunyai alibi apapun untuk mempertanyakan keinginan tahuku pada istriku. Juga tidak punya keberanian untuk itu. Aku sangat khawatir akan kehilangan dirinya. Yang mungkin bisa dan perlu aku lakukan adalah memilih jalur utara yang padat saat pulang mudik yang akan datang. Juga seterusnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Namun yang pasti, jika dugaanku benar istriku dan Pak Lik berselingkuh, aku yakin keduanya tak akan berhenti sampai di situ saja. Perselingkuhan itu pasti akan terus berlangsung, entah sampai kapan&#8230;.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ceritasex.cn/istri-istri-binal-pulang-mudik/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ketika Istriku Menjadi Budak Seks Bosku</title>
		<link>http://www.ceritasex.cn/ketika-istriku-menjadi-budak-seks-bosku/</link>
		<comments>http://www.ceritasex.cn/ketika-istriku-menjadi-budak-seks-bosku/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 14 Jun 2011 15:51:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cerita Sex</dc:creator>
				<category><![CDATA[Amoy]]></category>
		<category><![CDATA[anal seks]]></category>
		<category><![CDATA[Orgy]]></category>
		<category><![CDATA[Paruh baya]]></category>
		<category><![CDATA[Pemerkosaan]]></category>
		<category><![CDATA[selingkuh]]></category>
		<category><![CDATA[amoy]]></category>
		<category><![CDATA[anus]]></category>
		<category><![CDATA[audrey]]></category>
		<category><![CDATA[budak seks]]></category>
		<category><![CDATA[istri cina]]></category>
		<category><![CDATA[istri muda]]></category>
		<category><![CDATA[ngentot]]></category>
		<category><![CDATA[obat perangsang]]></category>
		<category><![CDATA[orgasme]]></category>
		<category><![CDATA[orgy]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ceritasex.cn/?p=2495</guid>
		<description><![CDATA[Bagian I: Permulaan Audrey, Cerita ini bermula ketika aku dan istriku sudah membina rumah tangga selama 2 tahun. Aku bernama Tommy dan Istriku bernama Audrey, umurnya saat ini 27 tahun, berwajah cantik, kulitnya putih, tinggi badan sekitar 165cm, rambutnya sedikit lebih panjang dari bahu. Kehidupan kami berumah tangga sangatlah baik, kami termasuk keluarga yang mapan. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2011/06/istri-budak-seks.jpeg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-2496" title="istri-budak-seks" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2011/06/istri-budak-seks-294x300.jpg" alt="" width="294" height="300" /></a></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="text-decoration: underline;"><strong>Bagian I: Permulaan</strong></span></p>
<p style="text-align: justify;">Audrey, Cerita ini bermula ketika aku dan istriku sudah membina rumah tangga selama 2 tahun. Aku bernama Tommy dan Istriku bernama Audrey, umurnya saat ini 27 tahun, berwajah cantik, kulitnya putih, tinggi badan sekitar 165cm, rambutnya sedikit lebih panjang dari bahu. Kehidupan kami berumah tangga sangatlah baik, kami termasuk keluarga yang mapan. Sebagai istri, Audrey adalah istri yang baik, ia adalah seorang wanita yang alim dan sopan. Untuk urusan ranjang, Audrey dapat dikatakan bukanlah seorang ahli, laki-laki pertama yang menidurinya adalah aku yaitu pada saat malam pengantin kami. Dua tahun kehidupan perkawinan kami berjalan baik-baik saja, kami belum mempunyai keturunan, mungkin kekurangannya adalah kehidupan seks kami terlalu biasa-biasa saja. Kami mungkin hanya berhubungan badan sekali dalam 2 minggu dan itupun hanya dengan cara yang sangat konvensional yaitu posisiku di atas dan dia di bawah. Audrey tidak menyukai atau bahkan dapat dikatakan tidak mau dengan gaya lain selain gaya konvensional tersebut.</p>
<p style="text-align: justify;">Entah kenapa setelah 2 tahun berumah tangga, pada waktu berhubungan badan dengan Audrey, aku selalu membayangkan Audrey sedang disetubuhi laki-laki lain, dan hal tersebut terus berulang sampai-sampai pada saat sedang tidak berhubungan badanpun dengan Audrey aku selalu memikirkan bagaimana rasanya melihat Audrey disetubuhi laki-laki lain. Aku bekerja di sebuah perusahaan multi-nasional, bossku adalah seorang warga negara China, umurnya sekitar 59 tahun, badannya sangat gemuk dan kepalanya sudah mulai botak, hanya tinggal rambut-rambut tipis menutupi bagian kepala belakangnya. Bossku ini, namanya Wen sangatlah baik kepadaku, dapat dibilang akulah tangan kanannya di Indonesia. Orangnya suka bergurau masalah-masalah seks. Wen sering sekali menanyakan kabar Audrey, memang sudah beberapa kali Wen bertemu dengan Audrey dalam acara-acara kantor, terlihat sekali dia sangat tertarik pada Audrey yang memang sangat cantik dan menggiurkan banyak laki-laki. Suatu ketika Wen menanyakan kehidupan rumah tanggaku, seperti biasa dia menanyakan kabar Audrey dan menanyakan mengapa sampai saat ini kami belum mempunyai keturunan dan apakah hal tersebut disengaja karena memang belum menginginkan keturunan.</p>
<p style="text-align: justify;">Mendengar pertanyaan tersebut, akupun menjawab bahwa sebenarnya aku dan Audrey menginginkan keturunan tapi memang belum berhasil mendapatkannya. “Mungkin cara kamu salah Tom, berapa kali kamu berhubungan badan dengan istrimu dalam seminggu” Tanya Wen kepadaku. “Yah sekitar sekali dalam 2 minggu dan pada saat istriku dalam keadaan subur” jawabku singkat. “Waah, mungkin kamu harus periksa ke dokter tuh, dokter ahli kandungan dan dokter ahli jiwa. Kenapa ke dokter ahli jiwa? Karena kamu punya istri cantik tapi hanya ditiduri sekali dalam 2 minggu atau pada saat subur saja. Kalau Audrey itu istriku, pasti aku tiduri dia tiap hari dan berkali-kali” candanya kepadaku. Mendengar hal tersebut, entah setan apa yang menghinggapi diriku, timbul sebuah ide dalam benakku. “Mr. Wen mau tidur dengan istriku? Bilang saja terus terang” celotehku. Mendengar perkataanku muka Wen terlihat kaget dan tidak percaya. “Kalau saya bilang memang sangat mau bagaimana?” katanya memancingku. “Ya boleh saja” sahutku. Kemudian aku menceritakan kepada Wen bahwa akhir-akhir ini aku selalu membayangkan aku menyaksikan Audrey ditiduri laki-laki lain, dan aku juga menjelaskan bahwa mungkin pikiranku ini hanya akan jadi khayalan semata mengingat betapa alimnya Audrey. Ternyata gayung bersambut. Wen menjelaskan dan meyakinkan kepadaku bahwa sebenarnya tidak ada wanita yang alim dalam seks, wanita hanya memerlukan pancingan dan pengaturan “permainan” dari laki-lakinya untuk membangkitkan nafsu yang ada dalam dirinya. Wen kemudian mengatakan bahwa dirinya akan dengan senang hati membantu khayalanku menjadi kenyataan kalau memang aku mempercayainya. Mendengar itu akupun langsung mengiyakan. Wen kemudian memastikan lagi apakah aku tidak akan apa-apa kalau dirinya meniduri Audrey dan menanyakan apakah aku meminta imbalan sesuatu dari dirinya agar dia diperbolehkan meniduri Audrey.<br />
<span id="more-2495"></span><br />
Aku menjawab bahwa aku tidak meminta apa-apa, aku hanya minta diperbolehkan untuk melihat dan menonton Wen meniduri Audrey. “Hahaha…rupanya kamu sudah ingin sekali melihat istrimu ditiduri laki-laki lain ya” candanya kepadaku. “Ya begitulah”, jawabku singkat. “Oke, kalau begitu jumat depan bawa istrimu ke villa xxx di puncak pada pukul 8.00 pm” sahut Wen sambil menunjukan ancer-ancer dimana villa itu berada.</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="text-decoration: underline;"><strong>Bagian II: Pesta di rumah Wen</strong></span></p>
<p style="text-align: justify;">Mr. Wen, Pukul 8 malam aku dan Audrey telah berada di depan villa yang dimaksud oleh Wen. Audrey memakai gaun malam panjang. Wajahnya terlihat sangat cantik dengan sapuan make-up tipis. Badannya tetap terlihat menawan meskipun ditutupi oleh gaun malam yang panjang. Seorang pelayan yang rupanya bertugas menyambut tamu mempersilahkan kami masuk ke ruang tengah. Villa tersebut sangatlah besar ditengah perkebunan teh dengan halaman belakang dengan kolam renang dan jacuzzi. Ruang tengah villa tersebut sangatlah besar dan telah disulap menjadi diskotik dengan lagu house music yang berdentum keras. Sudah banyak tamu lain baik wanita maupun laki-laki yang telah datang lebih dahulu daripada kami. Semua tamu kelihatannya adalah teman-teman Wen, mereka adalah sesama pengusaha China daratan yang ada di Indonesia, rata-rata mereka berusia di atas 50 tahun. Aku tidak melihat satupun rekan kerjaku di kantor yang datang, mungkin karena memang tidak diundang. Melihat kami, Wen menyambut aku dan Audrey dengan ramah. Wen kemudian mempersilahkan kami menikmati pesta yang diadakannya dan menjelaskan kepada kami bahwa pesta ini diadakan untuk networking sesama pengusaha China daratan di Indonesia.</p>
<p style="text-align: justify;">Kemudian Wen meninggalkan aku dan Audrey dan mempersilahkan kami untuk memesan minuman langsung ke bar di pojok ruang tengah. Kamipun menuju bar untuk memesan minuman. Audrey memesan segelas jus buah dan aku segelas bir, dan kamipun menikmati pesta tersebut dan berbincang-bincang dengan tamu-tamu yang lain. Sekitar satu jam kemudian, yaitu tidak beberapa lama setelah Audrey menghabiskan jus buahnya, aku melihat terjadi perubahan pada diri Audrey. Audrey mulai menikmati lagu house music di ruangan tersebut dan mulai menggerakan badannya mengikuti alunan house music. Wen kemudian mendekati kami dan mengajak Audrey ke dance floor. Audrey tanpa meminta ijin dariku mengikuti Wen ke dance floor dan mulai menari dan berdansa dengan Wen. Aku melihat teman-teman Wen baik wanita dan laki-laki semuanya mendekat kepada Wen dan Audrey dan kemudian menari bersama. Sedangkan aku hanya duduk disofa dan menonton sambil meminum birku. Pesta berlangsung meriah, tidak terasa 3 jam sudah berlalu. Audrey masih menari dan berdansa dengan tamu-tamu lainnya. Aku melihat sudah beberapa gelas minuman yang ditawarkan kepada Audrey dan dihabiskannya. Kemudian 3 tamu wanita mengajak Audrey ke lantai atas villa, aku berusaha mengikuti tapi tiba-tiba tangan Wen mencegahku di kaki tangga menuju lantai atas.</p>
<p style="text-align: justify;">“Biarkan saja, kamu harus mengikuti semua arahan saya kalau mau rencana kita berjalan lancar” kata Wen kepadaku. 2 jam telah berlalu semenjak Audrey naik ke lantai atas villa, tamu-tamu sudah banyak yang pulang, ketika tiba-tiba Wen memanggilku. “Ayo ke atas” ajak Wen kepadaku. Akupun mengikuti Wen ke lantai atas bersama 4 tamu pria yang lain yang aku tidak tahu namanya. Di lantai atas, Wen membimbing kami ke dalam sebuah kamar. Kamar tersebut sangatlah besar lengkap dengan segala furniture mewah, dan tepat ditengah kamar terdapat tempat tidur king size dengan sprei berwarna merah marun dengan TV LCD yang sangat besar menempel di dinding dan menghadap ke tempat tidur tersebut. Sebuah connecting door yang tertutup telihat di salah satu sisi ruangan itu menandakan kamar tersebut tersambung dengan kamar yang lain. Audrey dan 3 tamu wanita sudah berada di kamar tersebut, mereka sedang berbincang-bincang dengan akrab. “Nah, ini kamar buat Tommy dan Audrey, yang lain ayo ikut saya, akan saya tunjukan kamar masing-masing” kata Wen sambil mempersilahkan tamu-tamu yang lain keluar dari kamar itu.</p>
<p style="text-align: justify;">“Selamat malam dan selamat tidur, besok kita pulang ke Jakarta” kata Wen kepadaku dan Audrey sambil meninggalkan kami berdua di kamar tersebut. Aku tidak tahu apa rencana Wen jadi aku hanya mengikuti saja apa yang diinstruksikannya. Setelah membersihkan badan, aku dan Audreypun naik ke tempat tidur. Beberapa saat kami mencoba tidur namun tidak bisa. Aku masih bingung dengan apa yang akan terjadi, mengapa Wen tidak melakukan apapun juga, sedangkan Audrey terlihat gelisah tidak tahu apa penyebabnya. Tiba-tiba Audrey memalingkan wajahnya kepadaku dan memelukku. Tanpa berkata apa-apa dia menciumku dan aku balas ciumannya. Beberapa saat kami berciuman, Audrey berkata “Buka bajunya Tom, aku kepengen nih”. Sedikit kaget aku melihat Audrey menjadi agresif, tidak biasanya Audrey mengajak aku melakukan hubungan badan, biasanya aku yang selalu mengajaknya. “Mungkin ini akibat minuman yang diberikan Wen di pesta” pikirku. “Mungkin ini ada kaitannya dengan rencana Wen” pikirku lagi. Maka akupun menuruti apa yang diinginkan Audrey. Akupun melepaskan seluruh pakaianku dan kemudian aku melepaskan seluruh pakaian Audrey sehingga kami berdua telanjang bulat. Aku dan Audrey berciuman, berpelukan dan melakukan foreplay, namun meskipun telah beberapa saat melakukan foreplay, aku menyadari sesuatu hal yang aneh, kemaluanku tidak dapat berdiri dan mengencang.</p>
<p style="text-align: justify;">“Ini pasti karena bir yang diberi oleh Wen, dia pasti mencampur sesuatu pada birku” pikirku dalam hati. Kami mencoba segala macam gaya foreplay, namun meskipun sudah lebih dari 1 jam teta kemaluanku tidak dapat berdiri. Audrey terus mencoba membangunkan kemaluanku, namun tetap tidak berhasil. Raut frustasi nampak di wajahnya. Terlihat sekali Audrey ingin berhubungan badan, gejolak dalam dirinya sudah tidak tertahankan lagi, namun keinginannya tidak dapat terpenuhi karena kemaluanku tidak bisa berdiri dan mengeras. Kami terus mencoba, namun tetap tidak berhasil. Wajah Audrey semakin terlihat frustasi, namun nafsu seksnya masih menggebu-gebu bahkan aku lihat tiap menit semakin bertambah. Tiba-tiba connecting door kamar kami terbuka dan Wen masuk ke dalam kamar kami dengan hanya menggunakan jubah tidur. Aku dan Audrey sangat kaget. Audrey langsung menyembunyikan tubuhnya di bawah selimut. “Maaf, mungkin saya bisa membantu kalian” kata Wen tiba-tiba. “Pak Wen, harap keluar dari kamar kami” sahut Audrey dengan sedikit membentak.</p>
<p style="text-align: justify;">Wen bukannya keluar kamar kami, tapi malah duduk dipinggir tempat tidur kami dan berkata “Saya melihat suamimu sedang dalam masalah, saya hanya ingin membantu” “Apa maksudnya? Jangan kurang ajar!” sahut Audrey dengan keras. “Tenang, saya hanya ingin membantu. Kita akan berpesta malam ini” kata Wen tegas. Aku melihat Audrey sedikit takut mendengar bentakan Wen. “Coba kita tanya suamimu apa pendapatnya” bentak Wen lagi kepada Audrey. Aku sekarang menyadari inilah rencana Wen untuk dapat meniduri Audrey. Dan aku ingin sekali melihat Audrey ditiduri pria lain, maka akupun mengikuti permainan Wen. “Terserah apa maunya Pak Wen, kami akan menuruti” kataku kepada Wen. “Tom, aku tidak mau, apa-apan in….” Audrey belum menyelesaikan kata-katanya, tiba-tiba Wen menarik selimut yang menutupi tubuh Audrey dan dengan cekatan tangan kanannya memegang kedua tangan Audrey dan menariknya ke atas kepala Audrey, sedangkan tangan kirinya menangkap kedua kaki Audrey. Wen kemudian memerintahkanku untuk memegang pergelangan kedua kaki Audrey dan membukanya lebar-lebar. Akupun menuruti sehingga posisi Audrey sekarang tiduran dalam dalam bentuk menyerupai Y terbalik.</p>
<p style="text-align: justify;">“Tom, jangan bantu dia tapi bant…..uuggghhh…..” terhenti kata-kata Audrey ketika Wen mulai menciumi kedua payudaranya berukuran pas sesuai dengan ukuran badannya, sedangkan tangan kiri Wen yang bebas sudah menggerayangi vagina Audrey. “Mmmhh… saya tahu kamu sudah nafsu berat, jangan melawan, nikmati saja” bisik Wen kepada Audrey sambil terus menjilati kedua payudara Audrey. “Tom, apa yang kamu lakukan” desah Audrey sambil memandang sayu kepadaku. Aku tidak menjawab atau lebih tepatnya pura-pura tidak mendengar. Terlihat dimuka Audrey bahwa dia sudah sangat terangsang karena ciuman dan jilatan-jilatan Wen dikedua payudaranya serta tangan kiri Wen yang memainkan klitorisnya. 15 menit diperlakukan demikian oleh Wen, Audrey mulai mengeluarkan erangan-erangan dan rintihan-rintihan pelan, perut dan pinggangnya mulai bergerak mengikuti irama permainan jari wen di klitorisnya. Mata Audrey semakin sayu, matanya mulai merem melek. Kemudian Wen menghentikan ciumannya di kedua payudara Audrey dan berkata “Gimana Tom, kamu lihat sendiri istrimu mulai menikmatinya”</p>
<p style="text-align: justify;">“Sebentar lagi dia akan menikmati malam yang paling menakjubkan bagi dirinya” tambah Wen sambil tetap memaikan klitoris Audrey dengan jarinya. “Coba kamu pangku istrimu di pinggir kasur, pegang dan buka kakinya lebar-lebar. Aku ingin menikmati vagina istrimu yang sudah basah ini” perintah Wen kepadaku kemudian. Aku menuruti apa yang diperintahkan Wen. Aku angkat Audrey dan aku duduk dipinggir kasur sambil memangku Audrey. Aku pegang dan buka kaki Audrey lebar-lebar sehingga sekarang Audrey posisinya dipangku olehku dan mengangkang lebar sehingga menyerupai huruf “M”. Audrey sudah tidak melawan lagi, tubuhnya yang lemas menuruti apa yang aku lakukan terhadapnya. Audrey hanya memandangku sayu tanpa berkata apa-apa lagi. Kemudian Wen berlutut dilantai dipinggir kasur. Wen memandang Audrey dan berkata “Wow indah sekali vaginamu Audrey, pasti banyak laki-laki yang ingin memcobanya”. Audrey hanya memandang Wen dengan sayu dan tidak menjawab. Wen kemudian mulai menjilati vagina Audrey yang disertai erangan dari Audrey.</p>
<p style="text-align: justify;">Audrey hanya bisa memandang Wen menjilati vaginanya, Audrey mulai menggigit bibirnya sendiri tanda dia makin terangsang, kadang-kadang dia memandangku seakan-akan untuk memastikan bahwa aku tidak apa-apa kalau dia terangsang oleh pria lain. Kemudian tangan Wen membuka vagina Audrey dengan tangan kirinya. Hal ini membuat Audrey yang sedang memandang sayu kepadaku kaget dan melihat ke bawah kearah vaginanya. “Jangan…” desah Audrey pelan. “Tenang cantik… ini akan enak sekali” sahut Wen dengan kasar dan tegas. Kemudian Wen memasukkan kedua jarinya ke dalam vagina Audrey dan menggerakkannya keluar masuk dan memutar disertai jeritan kecil Audrey. Lalu kembali menjilati vagina Audrey dan memainkan klitoris Audrey dengan lidahnya tanpa menghentikan kegiatan jarinya di vagina Audrey. Erangan-erangan dan rintihan-rintihan Audrey semakin keras, badan dan pinggulnya bergerak mengikuti permainan Wen di vaginanya. 15-30 menit diperlakukan demikian oleh Wen, Audrey terlihat mulai mendekati orgasmenya, erangannya semakin keras, goyangan badannya juga semakin keras dan tidak beraturan.</p>
<p style="text-align: justify;">Sampai pada akhirnya tubuh Audrey mengejang hebat, matanya tertutup rapat dan kepalanya mendongak ke atas. “UUUGGGHHHHH…….” erang Audrey keras menandakan dia mengalami orgasme yang hebat. Cairan keluar dari vaginanya, cairan tersebut sedikit memuncrat. Tidak pernah kau melihat Audrey mengalami orgasme yang sedemikian hebat, apalagi hanya karena dijilati vaginanya. 3 menit lamanya Audrey dipuncak orgasme. Namun anehnya setelah orgasmenya berlalu Audrey tidak lemas, matanya malah berbinar dan wajahnya tersenyum nakal kepada Wen. “Istrimu sudah siap disetubuhi. Obat yang saya berikan dalam minumannya bekerja dengan baik dan cocok untuk dirinya. Istrimu siap untuk bersetubuh sepanjang malam. Setiap habis orgasme badannya akan terasa semakin segar dan nafsu seksnya semakin menggila” kata Wen menjelaskan kepadaku karena melihat aku heran dengan keadaan Audrey. “Sekarang kamu, duduk saja di sofa itu dan menonton istrimu kusetubuhi. Aku lihat kemaluanmu mulai bisa bangun lagi, artinya obat yang kucampur di birmu mulai hilang, sehingga kamu bisa menikmati tontonan yang akan aku dan istrimu berikan spesial untukmu” perintah Wen kepadaku.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku menuruti Wen dan pindah ke sofa di samping tempat tidur. Wen mengangkat tubuh Audrey dan menelentangkannya di tengah tempat tidur. Wen kemudian melepaskan baju tidurnya. Ternyata di balik baju tidur tersebut Wen sudah tidak mengenakan apapun lagi, sehingga sekarang Wen dan Audrey berdua telanjang bulat di kasur. Audrey terlihat kaget melihat penis Wen. Penis Wen sangat besar, panjang, tebal dan berurat. Kemudian Wen mendekati kepala Audrey. Wen berlutut mengangkangi muka Audrey. Tangan kirinya mulai meraih vagina Audrey. Audrey yang merasa ada tangan di vaginanya langsung membuka kakinya lebar-lebar. Wen mengarahkan penisnya yang besar ke mulut Audrey, dan Audreypun tanpa diperintah membuka mulutnya lebar-lebar, dan Wen kemudian mulai memasukkan kemaluannya yang besar keluar masuk mulut Audrey yang mungil. Terlihat mulut Audrey kesulitan untuk menerima penis yang besar itu, namun Wen dengan sedikit kasar memaksakan penisnya keluar masuk mulut Audrey. Terlihat mulut Audrey penuh oleh penis Wen. Audrey kelihatan kepayahan namun tetap berusaha mengikuti maunya Wen.</p>
<p style="text-align: justify;">Kemudian Wen memerintahkan Audrey menjulurkan lidahnya keluar dengan tetap membuka mulutnya, dan Audrey menuruti apa maunya Wen, sehingga sekarang penis Wen keluar masuk mulut Audrey dan lidah Audrey menjilati batang penis Wen. Sungguh suatu hal yang menakjubkan yang terjadi di depan mataku. Audrey yang biasanya paling tidak mau melakukan oral seks sekarang menuruti kemauan pria tua gendut yang sebenarnya tidak begitu dikenalnya. 10 menit kemudian penis Wen sudah terlihat sangat kencang, kemudian Wen menurunkan badannya dan mengarahkan penisnya ke vagina Audrey. Mengetahui apa yang akan dilakukan Wen, Audrey membuka makin lebar kedua kakinya. Wen kemudian dengan perlahan memasukkan penisnya yang besar ke dalam vagina Audrey secara perlahan. Audrey terlihat menahan sakit ketika penis Wen mulai memasuki vaginanya, namun raut mukanya segera berubah menjadi raut muka takjub ketika penis Wen telah seluruhnya masuk ke vaginanya. Mungkin Audrey tidak menyangka vaginanya dapat menampung seluruh penis Wen yang sangat besar dan panjang itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah penis Wen masuk seluruhnya ke dalam vagina Audrey, Wen tidak langsung menggenjotnya, namun Wen menunggu beberapa saat agar Audrey terbiasa dengan penisnya yang besar di dalam vaginanya. Satu menit kemudian Wen mulai menggerakkan penisnya keluar sampai hanya tinggal kepala penisnya di dalam vagina Audrey, kemudian Wen memasukkan seluruh penisnya kembali secara perlahan ke dalam vagina Audrey dan hal tersebut dilakukannya berulang-ulang dengan menambah tempo iramanya makin lama makin cepat. Audrey terlihat sangat menikmati permainan dan gerakan Wen, matanya berbinar, erangan-erangan kecil keluar dari mulutnya yang mungil, pinggulnya bergerak mengikuti irama permainan Wen dan kadang-kadang Audrey menciumi dada Wen yang ditumbuhi bulu sangat lebat itu. Tempo permainan dan genjotan penis Wen di dalam vagina Audrey semakin cepat, racauan Audrey semakin kencang, matanya merem melek menikmati genjotan-genjotan penis Wen di vaginanya. Wen yang mengetahui Audrey sangat menikmati persetubuhannya makin mempercepat gerakannya. Wen menciumi, menjilati dan sedikit menggigit puting kedua payudara Audrey secara bergantian. Audrey diperlakukan demikian semakin hanyut dalam nafsu birahinya, racauannya semakin keras lagi, mulutnya terbuka, matanya terpejam dan kedua tangannya meremas-remas sprei tempat tidur. 20 menit kemudian tubuh Audrey, Audrey, mulai mengejang, tanda dia akan mengalami orgasme yang hebat.</p>
<p style="text-align: justify;">“Terus…terus…jaaanngaan berheen..ti” teriakan kecil keluar dari mulut Audrey. Kemudian badannya mengejang hebat sampai badannya melengkung ke belakang, kedua kakinya diapitkan di pinggul Wen dan kedua tangannya merangkul leher Wen dengan kencang. “OOOOhhhhh……” lolong Audrey ketika dia dipuncak orgasmenya, dan kemudian badannya sedikit melemas dan Audrey langsung menciumi bibir Wen dan mereka berdua berciuman dengan ganasnya, lidah Audrey dan lidah wen saling berpautan, hal yang tidak pernah dilakukan Audrey terhadapku. Melihat adegan live Audrey dan Wen membuat penisku menegang dengan keras. “Akhirnya kahayalanku menjadi kenyataan” pikirku dalam hati. Setelah beberapa menit berciuman, Wen kemudian memindahkan posisi Audrey sehingga Audrey sekarang tiduran sambil menyamping menghadap ke arah diriku di sofa. Tanpa memgeluarkan penisnya dari vagina Audrey. Wen memindahkan tubuhnya ke belakang Audrey sehingga sekarang mereka berdua tidur menyamping menghadap diriku dengan Audrey didepan dan Wen di belakangnya. Wen kemudian melanjutkan genjotan penisnya yang sangat besar itu di vagina Audrey.</p>
<p style="text-align: justify;">Tangan kiri Audrey dilipatnya ke belakang sehingga tangan kiri Wen dapat dengan bebas memijat-mijat kedua payudara Audrey. Wen menggenjot penisnya dalam vagina Audrey dengan cepat, tangan kirinya bergantian memijat kedua payudara Audrey dan klitoris Audrey. Audrey kembali tenggelam dalam nafsu seksnya, matanya terlihat sayu, mulutnya terbuka sedikit dan tanpa sadar Audrey mengangkat kaki kirinya ke atas, sehingga terlihat olehku vaginanya yang mungil penuh sesak oleh penis Wen yang besar dan panjang itu. Sekitar 40 menit Wen telah menyetubuhi Audrey dengan gaya menyamping, gerakan-gerakannya semakin ganas. Audrey tergoncang-goncang dengan hebatnya, racauan-racauan Audrey sudah berubah menjadi terikan-teriakan kenikmatan. Gelombang demi gelombang orgasme melanda Audrey, namun Wen masih dengan semangatnya menyetubuhi Audrey dan belum ada tanda-tanda bahwa Wen akan orgasme, sedangkan aku saja sudah dua kali mengalami orgasme melihat Audrey disetubuhi oleh Wen dengan ganasnya. Wen yang belum puas dengan Audrey kembali mengubah posisi Audrey lagi. Kali ini Audrey dimintanya tengkurap menungging dengan kepala menghadap diriku di sofa, dan kemudian Wen menyetubuhi Audrey dengan gaya doggy style, hal mana yang belum pernah dilakukan oleh diriku dan Audrey karena Audrey selalu menolaknya, namun dengan Wen, Audrey dengan senang hati menurutinya. Wen menggenjot vagina Audrey dari belakang dengan tempo yang berubah-ubah, kadang cepat sekali dan secara tiba-tiba memelankan genjotannya seperti slow motion dan kemudian cepat lagi. Hal ini membuat Audrey semakin tidak bisa mengontrol dirinya, kepalanya tertunduk dan bergerak ke kanan kiri tidak beraturan. Tangan Audrey kembali meremas-remas sprei tempat tidur dengan kencangnya, racauan-racauan dan teriakan-teriakan Audrey semakin membahana di kamar itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Kemudian tangan kiri Wen meraih rambut Audrey, menjambaknya dan menariknya ke belakang sehingga kepala Audrey mendongak ke atas. Genjotan penis Wen dalam vagina Audrey masih dalam tempo yang berubah-ubah, tangan kanan Wen kadang-kadang menampar kedua pantat Audrey bergantian. Kepala Audrey terdongak ke atas, kedua matanya terpejam rapat dan mulutnya terbuka lebar. Audrey sudah tidak dapat lagi bergerak mengikuti permainan Wen, tubuhnya hanya tergoncang-goncang keras karena sodokan-sodokan penis Wen ke dalam vaginanya. Gelombang-demi gelombang orgasme kembali melanda Audrey. Setiap mengalami orgasme tubuh Audrey mengejang untuk beberapa menit dan dari vaginanya sedikit memuncratkan cairan kewanitaannya, hal mana tidak pernah terjadi apabila Audrey bersetubuh denganku. Setiap setelah mengalami orgasme, tubuh Audrey terlihat melemas untuk beberapa saat, namun tidak lama kemudian terlihat tubuh Audrey menjadi segar kembali dan siap menerima genjotan-genjotan ganas penis Wen yang besar di dalam vaginanya. “Ini pasti karena obat yang diberikan Wen dalam minuman istriku” pikirku dalam hati melihat stamina Audrey yang sangat kuat malam itu. Kedua tangan Wen kemudian meraih kedua tangan Audrey dan menarikanya ke belakang, sehingga tubuh Audrey sedikit terangkat ke atas dengan kedua lututnya masih bertumpu pada kasur, dan Wen menggerakan penisnya yang besar keluar masuk secara pendek-pendek dan dalam tempo yang sangat cepat pada vagina Audrey. Teriakan-terikan nikmat Audrey semakin gencar karena diperlakukan demikian, mata Audrey masih tertutup rapat dengan mulut terbuka lebar.</p>
<p style="text-align: justify;">“Buka matamu Audrey dan pandang suamimu!” perintah Wen dengan tegas. Audrey menuruti apa yang diperintahkan Wen sehingga Audrey sekarang melihat diriku duduk di sofa sambil bermastrubasi. “Lihat Audrey, suamimu sangat menikmati melihat kamu disetubuhi pria lain” sahut Wen kepada Audrey. “Kamu suka disetubuhi pria lain?” Tanya Wen kepada Audrey. Audrey tidak menjawab, mungkin dia malu, namun raut wajahnya tidak bisa membohongi diriku. Terlihat sekali dia sangat menyukai dan menikmati persetubuhannya dengan Wen. “Jawab!!!” hardik Wen dengan tiba-tiba kepada Audrey sambil mempercepat genjotan penisnya dalam vagina Audrey. “Aaagh….suu…ka….” sahut Audrey dengan terbata-bata karena sambil menikmati penis Wen dalam vaginanya. “Enakan mana Audrey? suamimu atau saya” tanya Wen lagi sambil penisnya menggenjot dengan kasar vagina Audrey. “Ee..naa….enak saaamaa pak…uughhh….wen” jawab Audrey sambil mengerang-erang kenikmatan. “Mau kamu saya setubuhi kapan saja saya mau” tanya Wen lagi dengan kasar. “Maaa…..uuuuu….ppaak weeen….” jawab Audrey sambil tubuhnya mengejang tanda Audrey mengalami orgasme lagi.</p>
<p style="text-align: justify;">Dengan tetap memegang kedua tangan Audrey ke belakang, Wen menghentikan gerakannya untuk beberapa saat dan membiarkan Audrey menikmati orgasmenya. Setelah beberapa saat Wen kembali menggenjot vagina Audrey dengan kencang, membuat nafsu seks Audrey kembali bergelora. Benar-benar takjub aku melihat adegan demi adegan yang dipertontonkan Audrey dan Wen. Audrey yang cantik dengan kulitnya yang putih mulus dengan setia melayani nafsu binatang seorang tua bangka bermuka jelek dan berperut gendut. “Audrey, lihat suamimu sangat menikmati kamu disetubuhi olehku. Boleh suamimu menonton setiap kali kamu saya setubuhi?” tanya Wen dengan sedikit nada memerintah kepada Audrey. “Boo…leehhh….aaagghh….paak…uggghhh…wen” jawab Audrey sambil meracau kenikmatan. Melihat Audrey menurut dan tunduk sepenuhnya pada Wen membuat penisku kembali memuncratkan sperma untuk kesekian kalinya dan sedikit mengenai bibir atas Audrey. Melihat hal itu Wen memerintahkan Audrey menjilat dan menelan spermaku yang menempel dibibir atasnya, dan yang menakjubkan adalah tanpa pikir panjang Audrey menuruti apa yang diperintahkan Wen padahal aku tahu Audrey biasanya paling jijik dengan sperma apalagi harus menjilat dan menelannya. 20 menit sudah semenjak aku mencapai orgasmeku. Aku sudah terlalu capek untuk bermastrubasi lagi, namun Audrey masih dihajar vaginanya dengan ganas dari belakang oleh Wen dan Audrey sudah mengalami orgasme-orgasme yang sangat dahsyat. Beberapa saat kemudian Wen terlihat mulai akan orgasme. Rupanya Audrey menyadarinya.</p>
<p style="text-align: justify;">“Uugh…aaghhh…pak wen…jaaa…ngaaan…keluar aaggghh… di dalam” pinta Audrey sambil mengerang-erang kenikmatan. “Naaan…tiii aaaggghhh…saya….hamil….” tambah Audrey lagi dengan tetap merintih-rintih penuh nikmat. “Kalau tidak boleh di dalam, berarti harus keluar di mulutmu ya Audrey, dan harus ditelan semua tidak boleh ada yang tercecer keluar” kata Wen kepada Audrey. “Iii…yaaaaa….paaak weeeeen……di mulut saya…AAAAGHHHHH, adduuuuhhhhh niiikkmaaattt sekali pak weeeeennn…aampunnnn…nikmat……” teriak Audrey sambil orgasme lagi. Kemudian Wen membalikkan tubuh Audrey sehingga Audrey terlentang di kasur. Wen kembali mengangkangi Audrey dan menjambak rambut Audrey dengan kasar dan memasukkan penisnya yang besar ke dalam mulut Audrey. “Telan…telan semua…jangan sampai ada yang keluar” perintah Wen kepada Audrey. Terlihat penis Wen yang besar berdenyut dengan keras, sedangkan mulut Audrey menghisap-hisap penis Wen dan terlihat tenggorokan Audrey bergerak-gerak tanda Audrey sedang menelan sesuatu dalam jumlah yang banyak. Wen menumpahkan seluruh spermanya ke dalam mulut Audrey dan Audrey menelan setiap tetes sperma Wen yang masuk ke dalam mulutnya. Setelah beberapa saat Wen mengeluarkan penisnya yang besar dari mulut Audrey.</p>
<p style="text-align: justify;">“Bersihkan…jilat sampai bersih…!” kembali Wen memerintahkan Audrey yang langsung dituruti oleh Audrey. Selagi Audrey menjilat-jilati penis dan biji Wen, Wen bertanya kepadaku “Boleh pinjam istrimu malam ini? Aku terkesiap mendengar permintaan Wen. Aku tidak percaya dengan apa yang aku dengar. Melihat aku tidak menjawab, Wen berkata lagi kepadaku “Audrey kelihatannya sangat menyukai aku setubuhi, dan obat yang aku berikan kepadanya masih bekerja, sehingga Audrey masih ingin dipuaskan nafsu seksnya. “Bagaimana Audrey” tanya Wen kemudian kepada Audrey. Audrey sambil tetap menjilati penis Wen hanya mengangguk-anggukan kepalanya tanda membenarkan apa yang dikatakan Wen kepadaku. Melihat Audrey memberikan persetujuannya maka akupun mengiyakan permintaan Wen. Wen kemudian menyruh Audrey pindah ke kamar sebelah dan Audrey menuruti permintaan Wen. “Tom, kamu istirahat saja di kamar ini, aku dan Audrey ada di kamar sebelah. Connecting door akan tetap terbuka, sehingga kapan saja kamu ingin melihat istrimu disetubuhi olehku, kamu dapat masuk ke kamar sebelah’ kata Wen kepadaku. Aku hanya mengganggukan kepala tanda setuju, dan kemudian Wen meninggalkan aku dikamar sendirian dan Wen pindah ke kamar sebelah menyusul Audrey. Aku sudah terlalu capek untuk membersihkan badan atau berpakaian. Aku langsung naik ke tempat tidur dan menyelimuti tubuhku dengan selimut yang masih sedikit basah bekas cairan kewanitaan Audrey….dan beberapa saat kemudian mulai terdengar rintihan-rintihan nikmat Audrey dari kamar sebelah menandakan Wen dan Audrey sudah mulai lagi dengan persetubuhan mereka…namun aku terlalu capek untuk beranjak dari kasur….dan kemudian terlelap….</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="text-decoration: underline;"><strong>Bagian III: Di kamar Sebelah</strong></span></p>
<p style="text-align: justify;">Sinar Matahari tepat jatuh dimataku, ketika aku mulai bangun dari tidurku. Melihat posisi matahari dari jendela kamar itu, aku menyadari bahwa hari telah siang. Aku gerakan badanku dikasur untuk membangunkan diriku. Keadaanku masih telanjang bulat dan aku masih terkesima dengan apa yang telah terjadi tadi malam. Rintihan-rintihan dan erangan-erangan nikmat Audrey dari kamar sebelah, membuat diriku terbangun dari lamunanku. “Ah, gila mereka, apa mereka masih bersetubuh terus” pikirku dalam hati. “Apakah mereka melakukan persetubuhan secara non-stop sepanjang malam?” pikirku lagi. Rasa lapar mulai terasa diperutku, dan aku mulai berpakaian. Rintihan-rintihan nikmat Audrey di tidak menggugahku untuk ke kamar sebelah. Namun ketika kakiku melangkah ke pintu kamar karena aku ingin ke dapur mencari makan, terdengar kegiatan di kamar sebelah sedikit aneh dan mengusik rasa ingin tahuku. Aku sepertinya mendengar lebih dari 2 orang di kamar sebelah. Maka akupun mengurungkan niatku untuk keluar kamar dan akupun melangkahkan kakiku ke connecting door yang menghubungkan kamarku dengan kamar sebelah.</p>
<p style="text-align: justify;">Betapa kagetnya ketika aku masuk ke dalam kamar sebelah tersebut. Aku melihat 2 wanita muda yang tadi malam bersama Audrey sedang duduk disofa panjang di sebelah tempat tidur di kamar itu sambil tertawa-tawa kecil menonton adegan yang sedang berlangsung di tempat tidur tersebut. Lebih kaget lagi ketika aku menyadari apa yang sedang terjadi di tempat tidur. Istriku Audrey, sedang disetubuhi oleh Wen dan salah seorang tamu Wen yang tadi malam menginap di villa!!! Posisi Audrey bertumpu pada kedua lutut dan kedua tangannya dengan pantat yang sedikit menungging ke belakang. Terlihat tamu Wen tersebut, seorang pria tua berumur sekitar 60 tahunan berbadan besar dan buncit dengan bulu yang lebat memenuhi sekujur tubuhnya sedang menyetubuhi Audrey dengan kasar dari belakang. Sedangkan Wen yang tangan kanannya sedang menjambak rambut Audrey yang sekarang telah dikuncir buntut kuda terlihat asyik menggenjot penisnya dengan kasar di dalam mulut Audrey. “Ah, kamu sudah bangun Tom” kata Wen ketika melihat diriku masuk ke dalam kamar.</p>
<p style="text-align: justify;">“Silahkan duduk Tom” kata Wen lagi sambil mempersilahkan aku duduk di sofa di antara kedua wanita yang sedang menonton Audrey disetubuhi dua laki-laki tua itu. “Ini namanya Pak Lam, dia ini salah satu sahabatku” kata Wen kemudian sambil memperkenalkan pria tua yang sedang menyetubuhi Audrey dengan kasar dari belakang. Yang disebut Pak Lam hanya menengok sebentar sambil melambaikan sebelah tangannya kepadaku dan kemudian melanjutkan kegiatannya pada Audrey. Mr. Lam “Aku selalu berbagi apapun dengannya. Vagina Audrey sangat nikmat untuk disetubuhi, sehingga aku harus membaginya kepada sahabat tuaku ini biar dia juga tahu betapa nikmatnya istrimu ini. Aku harap kamu tidak keberatan ya Tom. Toh istrimu tidak keberatan, malah suka…” kata Wen sambil terkekeh kecil. “Audrey, kamu suka disetubuhi Pak Lam kan?” tanya Wen kepada Audrey. Audrey tidak menjawab. Audrey terlihat sedang asyik sendiri menikmati persetubuhannya. “Hahaha…wanita cantik ini rupanya sudah dalam kenikmatannya sendiri” tawa Wen sambil melihat Audrey yang sedang menikmati setiap genjotan penis Lam dan penis Wen.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku yang masih shock hanya menuruti perintah Wen dan duduk di sofa di antara kedua wanita muda tersebut. “Ladies, tolong bantu sang suami tercinta ini agar dapat menikmati istrinya disetubuhi oleh 2 pria sekaligus” perintah Wen kepada kedua wanita yang duduk disamping kiri dan kananku. Mendengar perintah Wen, kedua wanita muda itu langsung membuka dan melepaskan celana dan celana dalamku. Kemudian mereka berdua dengan tetap sesekali menonton adegan Audrey dengan Lam dan Wen mulai menjilati penisku secara bergantian, membuat penisku langsung berdiri dengan tegak. Di atas tempat tidur aku melihat Audrey sedang disetubuhi habis-habisan oleh kedua pria tua itu. Mereka memperlakukan Audrey dengan kasar, namun terlihat Audrey meskipun kepayahan melayani nafsu kedua pria tersebut, Audrey nampak menikmatinya. Semakin Audrey diperlakukan kasar oleh kedua pria tua itu, semakin nampak Audrey menikmatinya. Rintihan-rintihan Audrey semakin keras apabila Lam dan Wen menggenjot penisnya masing-masing dalam vagina dan mulut Audrey dengan kasar.</p>
<p style="text-align: justify;">Sambil sesekali menampar kedua belahan pantat Audrey dengan tangan kirinya, Lam menggenjot penisnya di vagina Audrey dari belakang dengan cepat dan kasar. Kemudian tangan kanannya melingkar di pinggul Audrey dan terus ke arah vagina Audrey dari arah depan sehingga jari-jari tangannya dapat memainkan klitoris Audrey. Audrey tanpa sadar mengangkat kaki kanannya sehingga posisinya sekarang seperti anjing yang sedang kencing untuk memberikan akses yang lebih luas bagi jari-jari tangan Lam di vagina Audrey. Dengan posisi satu kaki mengangkang ke atas, aku dapat melihat ternyata bulu-bulu di sekitar vagina Audrey telah dicukur habis. Aku tidak tahu kapan mereka mencukur habis bulu-bulu di sekitar vagina Audrey, mungkin tadi malam ketika aku sudah tidur. Rupanya mereka telah berpesta seks sepanjang malam. Vagina Audrey terlihat putih mulus tanpa sehelai bulupun dengan bibir vaginanya terlihat sedikit berwarna merah muda tanda vagina itu telah digenjot habis sepanjang malam. Ketika jari-jari tangan Lam mulai mempermainkan vagina Audrey dan mencubit-cubit kecil klitoris Audrey, tubuh Audrey bergoyang hebat, pinggulnya, badannya naik turun tidak beraturan. Erangan-erangan dan rintihan-rintihan nikmat keluar dari mulut Audrey.</p>
<p style="text-align: justify;">Wen sekarang menggunakan kedua tangannya untuk menjambak rambut Audrey sehingga dapat membuatnya semakin kencang menyetubuhi mulut Audrey. Diperlakukan demikian, Audrey semakin bergoyang-goyang,tubuhnya meliuk-liuk karena ditekan dari belakang dan dari depan. Racauan dan rintihannya semakin keras, matanya tidak berkedip dan selalu memandang ke arah muka Wen. Lam dan Wen semakin mempercepat gerakannya sehingga Audrey benar-benar tergoncang-goncang hebat. Audrey terlihat bermaksud menurunkan kaki kanannya agar lebih memudahkannya menerima hajaran-hajaran penis Lam dan Wen di vagina dan mulutnya. Namun hal itu tidak dapat dilakukannya karena terhalang tangan kanan Lam yang telah benar-benar menggenggam vagina Audrey, terutama klitorisnya. Melihat adegan live didepan mataku, aku orgasme dengan cepat, dan kedua wanita muda yang melayani aku menghisap dan menelan seluruh spermaku sampai habis. Melihat aku sudah orgasme, Wen kemudian memerintahkan salah satu wanita disebelahku untuk mengambil sesuatu “Ambil pil yang biasa di laci itu” kata Wen memerintahkan wanita tersebut sambil menunjuk salah satu laci disamping tempat tidur.</p>
<p style="text-align: justify;">Wanita yang disuruh Wen, mengeluarkan sebuah botol dari laci tersebut, membukanya, dan mengeluarkan sebuah pil serta kemudian menyerahkannya kepada Wen. “Buka mulutmu Audrey, telan pil ini supaya kamu tidak hamil, Lam ingin memuntahkan spermanya dalam vaginamu. Saya juga ingin orgasme dalam vaginamu, bosan saya orgasme dalam mulutmu terus sepanjang malam” perintah Wen kepada Audrey. Kemudian Wen mengeluarkan penisnya yang besar dari mulut Audrey dan memasukkan pil tersebut ke dalam mulut Audrey yang langsung ditelan Audrey tanpa menggunakan air sedikitpun. Setelah itu Wen kembali menjambak rambut Audrey dan kembali melanjutkan genjotan penisnya pada mulut Audrey. 20 menit telah berlalu, namun aku melihat baik Audrey, Wen maupun Lam belum ada yang orgasme. Terus terang terkejut aku melihat perubahan pada diri Audrey. Audrey tidak orgasme-orgasme, tidak seperti tadi malam yang dengan mudahnya dia mencapai orgasme berulang-ulang. Tatapan mata Audrey terlihat sangat sayu dan sedikit kosong, namun dari rintihan-rintihannya aku tahu dia lebih menikmati persetubuhannya saat ini daripada persetubuhannya tadi malam. Melihat raut wajahku yang penuh tanda Tanya, Wen kemudian menjelaskan kepadaku apa yang telah terjadi.</p>
<p style="text-align: justify;">“Tadi pagi Audrey saya beri obat ramuan China. Obat ini membuat Audrey lebih lama mencapai orgasme, ini agar Audrey dapat mengimbangi kami sehingga tidak cepat lelah. Namun dengan obat ini otot vagina Audrey akan semakin kencang sehingga jepitannya pada penis yang masuk ke dalam vaginanya akan semakin kuat dan hal ini membuat Audrey dan siapapun pria yang menyetubuhinya merasa lebih nikmat. Setiap gesekan penis dalam vagina Audrey akan berpuluh-puluh kali lipat lebih terasa nikmat bagi Audrey dan pria tersebut” kata Wen menjelaskan kepadaku. “Lihat Audrey sekarang sudah benar-benar menikmati setiap gesekan penis Lam dalam vaginanya, bahkan dia sangat menikmatinya sampai-sampai dia tidak begitu sadar akan sekelilingnya lagi, hanya kenikmatan dan kenikmatan yang dia rasakan saat ini. Dipikirannya hanya ada rasa kenikmatan yang amat sangat dan tidak ada rasa yang lain selain kenikmatan tersebut. Kenikmatan yang Audrey rasakan saat ini sudah menguasai dan menghipnotis seluruh badan dan pikirannya” tambah Wen kepadaku.</p>
<p style="text-align: justify;">“Tom, kamu lihat nanti waktu istrimu mengalami orgasme. Kamu akan lihat bagaimana seorang wanita mengalami orgasme yang super dahsyat. Kamu pasti tidak akan menyangka bahwa istrimu bisa orgasme sehebat yang nanti kamu akan lihat” lanjut Wen kepadaku. 45 menit telah berlalu, ketika aku melihat perubahan pada diri Audrey. Erangan-erangan dan rintihan-rintihan nikmatnya mulai memelan, namun badannya semakin bergoyang-goyang dengan kencang dan tidak beraturan. Lam dan Wen semakin gencar menggenjot penisnya masing-masing dalam vagina dan mulut Audrey, membuat Audrey sulit untuk tetap bertumpu pada kedua tanganya dan satu lututnya. Badan Audrey benar-benar bergoncang hebat karena tekanan dari belakang dan dari depan disertai goyangan badannya sendiri yang semakin tidak beraturan. Mata Audrey tetap memandang kearah wajah Wen dengan sekali-kali mendelik-delik. Kedua tangannya beberapa kali jatuh karena tidak kuat menahan badannya, namun jambakan Wen pada rambutnya membuat Audrey tidak tersungkur ke kasur. Suara Audrey semakin pelan bahkan sekarang hampir tidak terdengar sama sekali, tangannya yang sudah tidak kuat menumpu badannya dan mulai mencari pegangan lain. Kedua tangan Audrey terlihat berusaha memegang kedua sisi pinggul Wen, kemudian beralih ke kedua tangan Wen yang sedang menjambak rambutnya, lalu kembali kasur menumpu badannya dan begitu seterusnya terlihat Audrey sedang mencari posisi yang enak untuk menumpu badannya yang bergoyang hebat dan dihajar dari depan dan belakang oleh Wen dan Lam.</p>
<p style="text-align: justify;">“Right on time. She is nearly there, I also nearly there” sahut Lam tiba-tiba kepada Wen. Mendengar itu Wen hanya tersenyum kemudian Wen berpaling kepada kedua wanita muda yang sedang menemaniku. “Kalian berdua kesini, bantu Audrey agar tetap pada posisinya, agar Pak Lam bisa menikmati orgasmenya dengan lancar” perintah Wen kepada kedua wanita itu. Kedua wanita yang diperintah Wen kemudian naik ke kasur dan memposisikan diri mereka masing-masing berlutut disamping kiri dan kanan Audrey. Kemudian kedua wanita tersebut meraih masing-masing pundak Audrey dari arah bawah sehingga sekarang tangan-tangan kedua wanita tersebut masing-masing menumpu pundak Audrey, membuat kedua tangan Audrey terbuka kearah kiri dan kanan. Sudah tidak terdengar suara rintihan Audrey. Badan Audrey juga bergerak memelan namun terlihat Audrey berusaha memundurkan pinggulnya agar penis Lam makin masuk jauh ke dalam vaginanya. Gerakan Audrey yang pelan meliuk-liuk terlihat sangat kontras dengan gerakan Lam dan wen yang semakin ganas menggenjot penisnya masing-masing ke dalam vagina dan mulut Audrey.</p>
<p style="text-align: justify;">“Tom, sini naik ke kasur agar kamu bisa melihat dengan jelas. Istrimu sebentar lagi akan orgasme yang hebat” kata Wen kepadaku. Tanpa menunggu lagi akupun segera naik ke kasur agar bisa melihat Audrey dari dekat dan dengan jelas. Lam kemudian melepaskan tangan kanannya dari klitoris Audrey sehingga kali Audrey bisa turun dan kedua lututnya bisa kembali menumpu badannya. Lam lalu sedikit berjongkok serta kedua tangannya meraih pinggul Audrey. Dengan posisi demikian Lam bisa dengan lebih leluasa menggenjot penisnya dengan keras ke dalam vagina Audrey. Kira-kira sepuluh menit kemudian, badan Audrey makin meliuk-liuk ke kiri dan ke kanan serta menekan ke belakang ke arah penis Lam. “Ooh, this baby still want it more, although my dick has reached the inside end of her vagina” kata Lam yang merasa Audrey terus menekan pinggulnya ke belakang ke arah penisnya. “Your vagina is not deep enough darling, but if you want it, I’ll give it to you” lanjut Lam sambil menghentikan genjotannya dan menarik pinggul Audrey kebelakang dan secara bersamaan memajukan pinggulnya sendiri ke depan dan kemudian membiarkannya dalam keadaan begitu.</p>
<p style="text-align: justify;">Ditekan dari belakang dengan keras sampai ke ujung vaginanya, membuat mata Audrey mendelik. Kemudian Wen mengeluarkan penisnya dari mulut Audrey dan melepaskan jambakan tangannya di rambut Audrey sehingga sekarang kepala Audrey bebas bergerak. “She is all yours, Lam” kata Wen kepada Lam. “Ooh, she is real good, look at her hips moving, she knows how to please a man” sahut Lam merasakan goyangan meliuk-liuk pinggul Audrey. “Her vagina is very tight, my dickhead being played by her wall end of vagina. Damn..this girl is good” lanjut Lam sambil merasakan ujung penisnya bergesekan pada bagian yang paling dalam dari vagina Audrey. Audrey terus memainkan penis besar Lam dalam vaginanya. Pinggul Audrey naik turun dan memutar-mutar secara perlahan ditambah tekanan pinggul Lam dari belakang dan tangan Lam yang menarik pinggul Audrey ke belakang, membuat kedua manusia yang meskipun berbeda umur sangat jauh menjadi satu kesatuan dan sama-sama menikmati persetubuhan mereka. Sepuluh menit kemudian, Audrey memejamkan matanya, jari-jari tangannya membuka dan mengepal secara perlahan, mulutnya terbuka lebar, goyangan pinggulnya menjadi patah-patah.</p>
<p style="text-align: justify;">“Oh, she is coming, let us come together baby…!!!!’ sahut Lam dengan keras. Seperti mengerti perintah Lam, Audrey menghentikan goyangannya, pinggulnya secara keras didorongnya ke belakang, kepalanya terdongak ke atas dengan mulut terbuka lebar, seluruh badannya menegang dan terdengar desahan kecil Audrey. “Oohh… this is goooood…..I am in heaven….” desah Audrey pelan. Bersamaan dengan itu Lam memuntahkan spermanya di dalam vagina Audrey. “Take that bitch…., you like being fill up with cum you little whore!” teriak Lam sedikit keras sambil terus memuntahkan spermanya di dalam vagina Meda. “Oooh… yeeesss… fill me up….oohhhh…this is too good….I am your whore, your little whore” desah Audrey sangat pelan. Kembali sesuatu yang menakjubkan terjadi didepan mataku, sudah 10 menit berlalu tapi Nampak orgasme Audrey belum turun juga. Audrey masih terus dipuncak kenikmatan. Ketika Wen melepaskan pegangannya pada pinggul Audrey dan mulai menarik penisnya keluar dari vagina Audrey, Nampak raut muka Audrey sedikit sedih. “Don’t take it off now…pleaseee…I am not finished yet” rengek Audrey pelan sambil kembali meliuk-liukan pinggulnya secara perlahan untuk memancing Lam mengurungkan niatnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Lam tidak mendengarkan rengekan Audrey, dan mencabut penisnya. Tapi kekecewaan Audrey hanya sebentar karena Wen langsung siap menggantikan posisi Lam. Ditidurkannya Audrey telentang di atas kasur dibukanya kaki Audrey lebar-lebar. “Masih kurang Audrey?” Tanya Wen menggoda Audrey sebelum mulai memasukkan penisnya ke dalam vagina Audrey. “Masih…pak Wen…saya masih orgasme…..ooohhhh nikmat sekali…..mau disetubuhi sekarang…” rengek Audrey sambil menarik pinggul Wen ke arahnya. “Oohhhh……” desah Audrey ketika penis Wen masuk ke dalam vaginanya sampai mentok. Wen kemudian secara perlahan menggenjot vagina Audrey dengan penisnya. Setiap gerakan Wen selalu disertai lolongan pelan namun panjang dari Audrey. Kepala Audrey terdongak ke belakang, matanya terpejam rapat, dadanya membusung ke atas sehingga sebagian punggungnya terangkat dari kasur. Bibir kecilnya mengigit-gigit pelan jari telunjuk kanannya, lolongan pelan namun panjang terdengar dari mulut Audrey setiap kali Wen menggerakan penisnya secara perlahan. Penasaran dengan apa yang dirasakan Audrey, aku membisikinya dan bertanya.</p>
<p style="text-align: justify;">“Bagaimana rasanya Drey? Enak?” tanyaku. “Ennakkk…ooohhhhh…. Terima kasih Tom atas pengalaman indah ini…..orgasmeku tidak berhenti-henti nih…..oohhhh panjang sekali…..oohhhh…..aku disetubuhi sambil orgasme…..” jawab Audrey pelan kepadaku sambil terus menikmati orgasmenya yang berkepanjangan. Lima belas menit kemudian, penis Wen berdenyut kencang pertanda dia akan orgasme, dan tubuh Audreypun tiba-tiba lebih menegang lagi. “Oohhh….apa ini pak wen….kenapa saya……” desah Audrey pelan kepada Wen. “Inilah puncaknya orgasme dari orgasme Drey. Nikmati saja” jawab Wen. Bersamaan dengan itu, tubuh Audrey dan Wen benar-benar menegang. Keduanya berusaha menarik satu sama lain dan merapatkan persenggamaan mereka. Kaki Audrey melingkar di pinggul Wen. Dada Audrey makin membusung, kepalanya makin terdongak ke belakang dan giginya menggigit bibir bawahnya sendiri. Sedangkan kepala Wen berada di pundak Audrey, mulutnya sedikit menggigit pundak Audrey dan penisnya ditekan dengan keras ke dalam vagina Audrey. “OOOhhhhh……” teriak Audrey dan Wen bersamaan. Wen memuntahkan seluruh spermanya ke dalam vagina Audrey, Dua manusia mengalami orgasme hebat secara bersamaan.</p>
<p style="text-align: justify;">Beberapa menit Wen dan Audrey berada di puncak orgasme mereka. “Oke semuanya keluar dari kamar ini. Biarkan Audrey istirahat dulu” kata Wen setelah selesai memuntahkan seluruh spermanya dalam vagina Audrey. Wenpun beranjak dari atas tubuh Audrey, tidur disampingnya dan menyelimuti dirinya dan Audrey dengan selimut. Audrey hanya tersenyum dengan mata terpejam dan menidurkan kepalanya di dada Wen yang ditumbuhi bulu yang sangat lebat, sedangkan yang lainnya termasuk aku pergi meninggalkan kamar itu dan membiarkan Wen dan Audrey istirahat.</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="text-decoration: underline;"><strong>Bagian IV: Basement Villa</strong></span></p>
<p style="text-align: justify;">Menjelang sore terlihat Wen keluar dari kamar itu dan bergabung dengan aku dan tamu-tamu yang lain di ruang tengah villa. Rupanya yang menginap di villa tersebut selain aku, Audrey, Wen, Lam dan kedua wanita yang siang tadi berada di kamar, juga ada satu wanita lagi dan tiga tamu laki-laki. “Wah, sudah pada berkumpul rupanya, maaf saya baru bangun” kata Wen kepada aku dan tamu-tamu lainnya. Kamipun mengobrol di ruang tengah villa itu sampai menjelang malam. Kurang lebih jam 6.30pm Wen menginstruksikanku untuk membangunkan Audrey. “Tom, bangunkan istrimu, kita akan makan malam bersama” sahut Wen kepadaku. Akupun segera menuruti perintah Wen dan naik ke lantai atas villa menuju kamar tempat Audrey istirahat karena memang aku sudah mulai kuatir terhadap Audrey sebab setelah kejadian siang tadi di kamar aku belum melihatnya lagi. Sesampainya di kamar, aku melihat Audrey sudah bangun namun masih tiduran tengkurap di atas kasur, tubuhnya masih telanjang, terlihat mukanya nampak habis menangis. Melihat aku masuk ke kamar, air mata menetes kembali dari matanya.</p>
<p style="text-align: justify;">“Tom, apa yang kamu lakukan terhadapku. Kenapa kamu jahat terhadapku, kenapa kamu membiarkan semua ini terjadi?” tangis Audrey kepadaku. Akupun berusaha menenangkan dan menghibur istriku, kami berbincang-bincang di kamar itu cukup lama sambil aku berusaha terus menghiburnya sampai tiba-tiba salah satu dari tamu wanita masuk ke kamar dan meminta Audrey untuk mandi dan membersihkan diri karena aku dan Audrey sudah ditunggu di ruang makan oleh Wen dan tamu-tamu yang lain. Dengan sedikit malas Audrey menurutinya. Setelah Audrey mandi dan berpakaian kamipun keluar dari kamar itu dan menuju ruang makan. Terlihat Audrey ragu-ragu untuk keluar dari kamar. Terlihat Audrey sedikit malu untuk bertemu dengan Wen dan tamu-tamu yang lain setelah kejadian tadi malam dan tadi siang. Sesampainya di ruang makan, tamu-tamu yang lain sudah menunggu. Wen mempersilahkan aku dan Audrey duduk di kursi yang disediakan di ruang makan itu demikian juga terhadap tamu-tamu yang lain masing-masing dipersilahkan duduk oleh Wen. Kamipun menyantap hidangan malam yang disediakan sambil mengobrol. Pembicaraan di meja makan itu kebanyakan tentang bisnis antara Wen dan tamu-tamunya. Tidak ada yang menyinggung kejadian tadi malam dan tadi siang, seakan-akan kejadian tersebut tidak pernah terjadi. Hal itu membuat Audrey terlihat sedikit tenang. Selesai santap malam Wen mempersilahkan tamu-tamunnya, termasuk aku dan Audrey ke ruang tengah. Di ruang tengah makanan kecil dan minuman telah disediakan dan Wen mempersilahkan kami semua untuk mencicipi makanan kecil dan minuman tersebut kemudian melanjutkan obrolan bisnisnya dengan tamu-tamunya di ruang tengah, Wen sedikit mengacuhkan aku dan istriku karena memang obrolannya adalah masalah bisnis. Setelah kurang lebih 2 jam berbicara bisnis dengan tamunya tiba-tiba Wen berkata</p>
<p style="text-align: justify;">“Ok saya rasa omomgan bisnis sudah cukup untuk malam ini. Sekarang kita ke topik selanjutnya” “Zhou, obatmu ternyata sangat manjur, lihat saja ini hasilnya” sambung Wen sambil memencet remote TV. TV menyala dan betapa kagetnya aku melihat apa yang muncul di TV. Rekaman persetubuhan Audrey tadi malam dan tadi siang terlihat di layar TV. Aku melihat wajah Audrey sangat terkejut dan malu melihat tamu-tamu yang lain menyaksikan tayangan persetubuhannya dilayar TV. Audrey bangkit dari tempat duduknya dan bermaksud meninggalkan ruang tengah itu, namun Wen menghardiknya dengan tegas. “Audrey, duduk kamu! Tidak ada yang menyuruh kamu untuk pergi!” bentak Wen dengan sangat keras. Mendengar bentakan Wen aku sangat terkejut. Aku bermaksud untuk turut berdiri, namun aku merasakan tubuhku lemas dan aku tidak mampu berdiri. Kelihatannya Wen telah mencampurkan sesuatu lagi dalam minumanku sehingga badanku lemas tidak berdaya. Aku melihat Audrey sedikit ketakutan mendengar bentakan Wen, namun dikarenakan aku hanya tetap duduk dan tidak membela Audrey, maka Audreypun mengurungkan niatnya dan kembali duduk. Wen dan tamu-tamu lainnya kemudian membahas adegan demi adegan persetubuhan Audrey yang ditayangkan TV. Mereka membahasnya seakan-akan Audrey tidak ada di ruangan itu. Komentar-komentar keluar dari mulut mereka. Wen memuji Zhou atas kemanjuran obatnya. Wen menjelaskan bagaimana Audrey yang alim itu bisa menjadi seorang pelacur murahan dikarenakan meminum obat itu. Ada lagi tamu yang lain memuji daya tahan Audrey karena obat itu. Setelah rekaman adegan persetubuhan Audrey di TV selesai, kemudian Wen dengan suara tegas memerintahkan Audrey</p>
<p style="text-align: justify;">“Nah, Audrey, tolong hibur tamu-tamuku ini. Jangan biarkan mereka hanya menonton kamu di TV saja, perbolehkan mereka juga menikmati dirimu.” Mendengar itu dengan raut muka penuh ketakutan, Audrey bangkit dari tempat duduknya dan berusaha lari keluar dari villa, namun baru beberapa langkah berlari, Wen dan Zhou dengan sigap menangkap Audrey. “Wow, rupanya pelacur ini tidak mau menuruti perintah. Ck…ck..ck…Audrey kamu sangat mengecewakan” kata Wen sambil mencengkram tubuh Audrey dari belakang. “Kamu harus dihukum dan dididik yang benar supaya bisa menjadi budak seks yang patuh” lanjut Wen kemudian kepada Audrey. Audrey meronta-ronta dengan keras dan berusaha melepaskan diri, namun cengkraman Zhou dan Wen pada dirinya terlalu kuat, sehingga usaha Audrey untuk melepaskan diri menjadi sia-sia. Kemudian Wen dan Zhou menyeret Audrey ke basement villa, diikuti oleh tamu-tamu yang lain. Mereka meninggalkan aku di ruang tengah. Aku kembali berusaha bangkit untuk membantu Audrey, namun aku sama sekali tidak dapat berdiri sehingga aku hanya dapat terduduk lemah di sofa melihat perlakuan Zhou dan Wen terhadap Audrey. Tidak lama mereka meninggalkan aku di ruang tengah. Kira-kira 15 menit kemudian 2 orang tamu pria mendatangiku dan segera membopongku ke basement villa. Basement villa itu ternyata suatu ruangan yang kelihatannya sering digunakan untuk pesta seks yang aneh-aneh. Aku melihat banyak peralatan seks yang lebih mirip sebagai alat penyiksaan tergantung di dinding basement itu. Banyak peralatan seks yang belum pernah aku lihat sebelumnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Merinding aku ketika memasuki basement villa itu, namun yang membuat aku lebih kaget dan takut lagi adalah ketika aku melihat Audrey sudah terikat dalam keadaan telanjang bulat. Posisi Audrey berdiri dengan kedua tangan terikat ke atas melebar oleh rantai-rantai yang tertancap kuat dilangit-langit basement, sedangkan kakinya mengangkang lebar terikat dengan rantai-rantai yang menancap kuat ke lantai basement, sehingga posisi Audrey menyerupai huruf “X”. Aku melihat Audrey meronta-ronta sekuat tenaga, air matanya mengucur deras di kedua pipinya. Permohonan-permohonan untuk dilepaskan keluar dari mulutnya, namun rengekannya hanya dibalas dengan tawa sinis oleh orang-orang yang berada di basement villa itu. Kedua tamu yang membopongku kemudian mendudukanku di sebuah kursi persis di hadapan Audrey. “Teman-teman, malam ini kita akan mendidik pelacur ini supaya mau menjadi budak seks yang patuh. Harap teman-teman duduk di kursi-kursi yang telah disediakan, dan kita akan segera mulai pendidikan buat pelacur ini” sahut Wen tiba-tiba.</p>
<p style="text-align: justify;">Mendengar itu semua yang ada di basement itu duduk di kursi yang telah disediakan disekeliling tempat Audrey terikat dan menunggu apa yang selanjutnya Wen akan lakukan terhadap Audrey. “Audrey, ini kesempatan kamu yang terakhir. Kamu bisa secara sukarela menjadi budak seksku yang patuh atau aku akan membuat kamu menjadi budak seksku yang patuh. Kedua-duanya pada akhirnya kamu akan menjadi budak seksku yang patuh, namun cara kedua pasti jauh lebih menyakitkan” kata Wen kemudian sambil tertawa. Mendengar itu aku melihat ketakutan yang amat sangat di wajah Audrey. Audrey semakin kencang meronta-ronta berusaha melepaskan diri. Tangisannya semakin keras, permohonan minta dilepaskan juga semakin keras. “Ok, kalalu kamu mau dengan cara yang menyakitkan” kata Wen setelah melihat Audrey tetap berusaha melepaskan diri. Wen kemudian mengambil sebuah cambuk kuda dan berdiri di belakang Audrey. Aku melihat Audrey merinding ketakutan melihat cambuk kuda tersebut. “Ctaarr….ctttarr….cttaaarrr…..” suara cambuk 3 kali berbunyi disertai raungan kesakitan Audrey. Wen telah mencambuk punggung Audrey dengan keras.</p>
<p style="text-align: justify;">Raungan tangis Audrey semakin keras, badannya tetap meronta-ronta untuk melepaskan diri. “Cttaar…cttarr…ctarr..ctaarrr…” bunyi cambuk kembali bertubi-tubi mendera punggung Audrey hingga Audrey pingsan. Melihat Audrey pingsan salah seorang tamu wanita mengguyurkan air ke kepala Audrey untuk membangunkannya. Ketika Audrey siuman, Wen menanyakan kepada Audrey apakah Audrey bersedia menjadi budak seksnya. Setiap kali Audrey mengatakan tidak atau berusaha meronta-ronta untuk melepaskan diri, maka bunyi cambuk akan terdengar lagi, dan kali ini tidak hanya mendera punggung Audrey, namun juga mendera ke pantat, kedua payudara dan vaginanya. 30 menit Audrey dicambuki seluruh tubuhnya, bekas-bekas cambuk berwarna kemerahan terlihat disekujur tubuhnya. Tubuh Audrey sudah kelihatan lemas. Tidak ada lagi raungan tangis keluar dari mulutnya. “Bagaimana Audrey, apakah kamu sekarang bersedia jadi budak seksku?” tanya Wen kemudian. Audrey hanya menggelengkan kepalanya secara lemah tanda penolakannya. “Ok, kalau kamu tetap tidak mau. Kita akan ke tahap selanjutnya. Kita lihat sampai mana kamu tahan siksaan ini” sahut Wen kepada Audrey sambil mengisyaratkan sesuatu kepada seorang tamu wanita.</p>
<p style="text-align: justify;">Tamu wanita yang diberi isyarat oleh Wen kemudian maju ke depan. Dia membawa sebuah jarum dan sebuah cincin yang terbuat dari emas dan menyerahkannya kepada Wen. Kemudian Wen berjongkok di depan vagina Audrey. Dibukanya vagina Audrey secara perlahan. Mengetahui akan apa yang akan terjadi, Audrey meronta-ronta dengan hebat, namun beberapa tamu maju ke depan dan memegang erat-erat tubuh dan pinggul Audrey sehingga Audrey tidak dapat bergerak. “Jangan…jangan….” pinta Audrey lirih. “AAAUOOCCCHHH….” Kemudian terdengar teriakan Audrey. Ternyata Wen menusuk bibir dalam bagian atas vagina Audrey dengan jarum dan kemudian memasukkan cincin tersebut dalam lubang yang telah dibuatnya pada bibir vagina Audrey tersebut. Raungan keras kesakitan Audrey membahana di basement itu, kemudian Audrey kembali pingsan. Kemudian Wen kembali berdiri dan mundur beberapa langkah untuk melihat hasil kerjanya. Dia terlihat puas dengan apa yang telah diperbuatnya pada Audrey. Audrey terlihat dalam posisi terikat, masih pingsan dengan sebuah cincin di bibir atas vaginanya dengan sedikit darah terlihat disekitar bibir atas vaginanya. Seorang tamu wanita kembali mengguyurkan air ke kepala Audrey dan membersihkan vagina Audrey dari bekas darah tersebut. Kemudian tamu wanita tersebut memberikan wewangian ke hidung Audrey agar Audrey siuman. Siuman dari pingsannya, terlihat sekali Audrey menahan sakit di vaginanya. Kemudian Wen kembali menghampiri Audrey dengan membawa jarum tersebut lagi beserta sebuah cincin emas lainnya. Tangan kiri Wen kemudian meraih puting payudara sebelah kiri Audrey dan tangan kanan Wen memegang jarum siap menusuknya.</p>
<p style="text-align: justify;">“Jangan….jangan….ampun….jangan…sakit…saya bersedia jadi budak seks Pak Wen asalkan jangan siksa saya lagi” tiba-tiba terdengar suara pelan Audrey. Mendengar hal itu Wen dan tamunya tertawa penuh kemenangan. “Benar kamu mau jadi budak seksku dan menuruti semua keinginanku” Tanya Wen kepada Audrey. “Iya…iya….saya mau…tolong jangan sakiti saya lagi” jawab Audrey menyerah. “Ok, bagus..bagus…, ladies…beri hadiah kepada budak seksku yang baru ini, buat dia menikmati statusnya yang baru sebagai budakku” kata Wen sambil memberi isyarat kepada para tamu wanita untuk maju ke depan. Para tamu wanita tanpa perlu diperintah lebih lanjut langsung maju ke depan mengelilingi Audrey. Satu tamu wanita berjongkok di hadapan vagina Audrey dan mulai menjilati dan menghisap-hisap vagina Audrey. Tamu-tamu yang lain menciumi dan menjilati kedua payudara Audrey, paha Audrey, punggung Audrey dan sekujur tubuhnya. 15 Menit diperlakukan demikian terlihat tubuh Audrey mulai mengkhianatinya. Audrey mulai meliuk-liukan badannya mengikuti permainan para tamu wanita tersebut di seluruh tubuhnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Melihat reaksi Audrey, para tamu wanita tersebut semakin ganas mengerjai tubuh Audrey. Jari-jari tangan mereka secara bergantian keluar masuk vagina Audrey yang mana hal tersebut semakin membuat Audrey tidak dapat mengontrol tubuhnya. Tidak beberapa lama kemudian terdengar erangan Audrey tanda Audrey telah mencapai orgasmenya yang disambut oleh tepuk tangan meriah dari para tamu pria di basement itu. Tidak menunggu sampai orgasme Audrey reda, Wen kemudian melepaskan ikatan Audrey dan membimbingnya untuk berdiri di hadapanku. “Mulai sekarang istrimu adalah budak seksku. Mulai sekarang aku harus didahulukan oleh istrimu dan bukan kamu lagi. Apabila kamu macam-macam rekaman dvd persetubuhan istrimu akan aku sebar di internet” kata Wen kepadaku. Aku hanya diam tercekat oleh ancaman Wen itu. Badanku masih lemas sehingga aku tidak dapat berbuat apa-apa meskipun sebenarnya ingin aku meninju Wen. Kemudian Wen mengaitkan sebuah bel kecil keperakan di cincin emas yang berada di bibir atas vagina Audrey, dan kemudian Wen mengetes bunyi bel tersebut dengan jarinya.</p>
<p style="text-align: justify;">“Ting…ting…ting” terdengar bunyi bel pelan. Audrey kemudian diposisikan membungkuk ke depan dengan kedua tangan bertumpu di kedua pegangan kursi tempat aku duduk. Pantatnya di keataskan sedikit oleh Wen sehingga Audrey sedikit berjinjit dengan pantat sejajar dengan selangkangan Wen. Wajah Audrey dengan wajahku menjadi berhadapan dengan sangat dekat. Lalu Wen memelorotkan celananya sendiri. Terlihat penis Wen yang besar sudah mengacung keras, dan tanpa basa basi lagi dimasukkannya penis besar itu ke dalam vagina Audrey dari belakang. Erangan kecil keluar dari mulut Audrey disertai bunyi bel berdenting beberapa kali. Mata Audrey terpejam rapat. Aku melihat ke bawah ke arah vagina Audrey. Terlihat vagina Audrey sudah penuh dengan penis Wen yang besar dengan sebuah bel kecil yang bergoyang-goyang tergantung dari bibir atas vaginanya. Wen mulai memompa penisnya keluar masuk vagina Audrey yang disertai erangan-erangan kecil Audrey dan bunyi bel yang bergoyang. Tubuh Audrey terdorong ke depan sehingga wajahnya sekarang berada disamping kuping kananku.</p>
<p style="text-align: justify;">Terdengar erangan-erangan Audrey di kupingku setiap kali penis Wen yang besar memasuki vaginanya. “Maafkan aku Tom, aku tidak kuat disiksa…” tiba-tiba bisik Audrey di kupingku. Aku tidak menjawab dan hanya diam saja. Genjotan-genjotan penis Wen pada vagina Audrey semakin keras, dan erangan-erangan Audrey semakin terdengar keras. Badan Audrey mulai mengikuti irama permainan Wen. Terlihat vagina Audrey sudah sangat basah, cairan kewanitaannya mulai terlihat membasahi kedua paha dalamnya. “Wah vagina istrimu sangat basah…dia sangat menikmatinya” kata Wen kepadaku sambil tertawa. “Saatnya kita ke tahap selanjutnya” kata Wen kemudian sambil dengan tiba-tiba memasukkan 2 jarinya secara kasar ke dalam anus Audrey. Jeritan keras terdengar dari mulut Audrey. Audrey berusaha menarik badannya namun dengan sigap Wen menahannya. “Diam Audrey!!!” hardik Wen kepada Audrey. Setelah beberapa menit puas mengobok-obok anus Audrey dengan kedua jarinya, Wen lalu mencabut penisnya dari vagina Audrey dan mengarahkannya ke anus Audrey. Wen menarik badan Audrey ke belakang sehingga wajah Audrey sekarang kembali berhadapan dengan wajahku. Terlihat wajah kesakitan dari Audrey ketika penis Wen yang besar mulai memasuki lubang anusnya. Air mata mulai meleleh dari kedua mata Audrey. Perlu beberapa menit sampai seluruh penis Wen masuk ke dalam lubang anus Audrey, dan kemudian Wen mulai memompa penisnya keluar masuk lubang anus Audrey. Jeritan-jeritan sakit terdengar dari mulut Audrey, matanya kembali terpejam menahan sakit. Dua tamu wanita kemudian mendatangi Audrey dari kedua sisi. Salah satunya membawa vibrator yang cukup besar dan menyalakannya.</p>
<p style="text-align: justify;">“Ziiing…….” terdengar bunyi vibartor itu. Salah satu tamu wanita tersebut kemudian berjongkok disisi sebelah kiri Audrey dan memasukan vibrator tersebut ke dalam vagina Audrey yang disertai erangan-erangan Audrey. Tamu wanita yang lainnya berjongkok disisi kanan Audrey dan mulai meraba-raba dan menciumi payudara Audrey yang bergantung bebas. Tubuh Audrey kembali terdorong ke depan, sehingga wajahnya kembali berada disebelah kuping kananku. Badan Audrey bergoyang hebat dikarenakan genjotan penis Wen di lubang anusnya dan genjotan vibrator di vaginanya. Erangan-erangan Audrey terdengar keras bersahut-sahutan dengan bunyi vibrator dan bel yang bergoyang keras di bibir atas vaginanya. Erangan-erangan Audrey tidak lagi terdengar sebagai erangan kesakitan tapi telah berubah menjadi erangan kenikmatan. Tanpa disadarinya, Audrey mulai menciumi kuping dan leherku dan sesekali menggigit pelan leherku. Tidak butuh waktu lama untuk Audrey mencapai orgasmenya kembali, badannya mengejang hebat disertai lenguhan kecil ketika dia mencapai puncak orgasmenya.</p>
<p style="text-align: justify;">Namun Wen belum ada tanda-tanda bahwa Wen akan mencapai orgasmenya. 40 menit telah berlalu, Audrey telah berkali-kali mengalami orgasme, sampai akhirnya Wen memuntahkan seluruh spermanya didalam anus Audrey. Wen kemudian menarik penisnya keluar dari lubang anus Audrey dan membimbing Audrey ke matras di tengah basement itu. Ternyata salah satu tamu pria Wen telah tidur terlentang di atas matras itu dengan keadaan telanjang bulat dan penis besar yang mengacung ke atas. Wen membimbing Audrey menduduki penis tersebut. Audrey hanya menurut saja apa yang dikehendaki Wen. Setelah penis besar tamu Wen yang bernama Liem itu masuk seluruhnya ke dalam vagina Audrey, Liem kemudian menarik kedua putting payudara Audrey sehingga posisi badan atas Audrey meniduri dada Liem. Liem lalu mencium bibir Audrey dengan ganas, dan aku melihat Audrey melayaninya. Lidah Audrey dan lidah Liem bertautan, mereka berciuman dengan ganasnya. Sementara itu Zhou yang juga sudah telanjang bulat mendekati pantat Audrey dari belakang, dan tanpa basa-basi memasukan penisnya yang juga besar ke dalam lubang anus Audrey, sehingga sekarang posisi Audrey terjepit di antara tubuh Liem dan Zhou dengan 2 penis menancap masing-masing di vaginanya dan di anusnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Mata Audrey terlihat berbinar ketika Liem dan Zhou mulai memompa penisnya masing-masing pada vagina dan anus Audrey. Tidak ada lagi penolakan dari Audrey, bahkan Audrey turut menggoyang-goyangkan pinggulnya seirama dengan genjotan Liem dan Zhou. “Lihat, istrimu mulai menikmati dan menerima statusnya yang baru sebagai budak seks. Saya harap kamu juga dapat menerimanya. Kamu tidak mau kan rekaman dvd istrimu tersebar di internet, lagipula aku lihat kamu juga mulai menikmatinya, lihat penis kamu mulai membesar” bisik Wen kepadaku. “Kamu menurut saja, dan kamu dapat mendapatkan impianmu selama ini, yaitu melihat istrimu disetubuhi pria lain” lanjut Wen kepadaku. Aku hanya mengangguk pelan. Terus terang melihat Audrey disandwich oleh 2 laki-laki tua telah membangkitkan nafsu birahiku. Obat yang diberikan Wen kepadaku mulai memudar dan tubuhku mulai tidak lemas lagi, namun bukannya aku membantu Audrey melepaskan diri tapi aku malah menikmati adegan seks di depanku. Terasa lama sekali untuk Liem dan Zhou mencapai orgasmenya, namun sebaliknya sangat cepat sekali Audrey mengalami orgasme.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah Audrey mengalami orgasme berkali-kali, barulah Liem dan Zhou secara bersamaan memuntahkan spermanya masing-masing dalam vagina dan anus Audrey. Selesai memuntahkan spermanya dalam anus dan vagina Audrey, Liem dan Zhou segera digantikan oleh tamu pria yang lainnya. Kali ini giliran Lam dan satu tamu lainnya yang bernama Kong. Audrey diposisikan tiduran terlentang di atas tubuh gemuk Lam dengan penis Lam yang menancap di anus Audrey, sedangkan Kong menancapkan penisnya ke dalam vagina Audrey dari atas. Lam dan Kong dengan segera menggenjot penisnya masing-masing dengan kasar pada vagina dan anus Audrey. Audrey terlihat kepayahan melayani nafsu Lam dan Kong. Kedua tangan Audrey bertumpu di dada Lam, kedua kakinya terbuka lebar memberikan akses seluas-luasnya bagi penis Kong di vaginanya.  Sementara itu, ketiga tamu wanita yang semuanya telah telanjang bulat menyerbu penisku, mereka memelorotkan celana dan celana dalamku dan mulai menjilati penisku secara bergantian yang membuat nafsu birahiku semakin memuncak. Tanganku mulai berani meraba-raba payudara ketiga wanita tersebut. Audrey kadang-kadang terlihat memandang ke arahku yang sedang dioral service oleh ketiga tamu wanita tersebut. Entah cemburu atau karena tidak mau kalah melihat aku menikmati service ketiga tamu wanita tersebut, Audrey kembali berkonsentrasi dengan persetubuhannya dengan Lam dan Kong. Tangan kanannya meraih belakang kepala Kong dan ditariknya kedepan dan Audrey menciumi bibir Kong dengan ganasnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Lidah Audrey terlihat bermain dengan lidah Kong, pinggul Audrey bergoyang makin hebat seakan-akan memberi semangat untuk Lam dan Kong agar menggenjot penisnya masing-masing dengan semakin ganas pada vagina dan anusnya. Orgasme demi orgasme melanda Audrey, sampai akhirnya Lam dan Kong menghabiskan seluruh spermanya dalam vagina dan anus Audrey. Aku sendiripun telah mengalami orgasme, seluruh spermaku ditelan habis oleh ketiga tamu wanita tersebut. Setelah selesai menghabiskan seluruh spermaku, ketiga wanita tersebut bermain seks bertiga. Rupanya mereka adalah lesbian. Ketika aku bermaksud untuk ikut serta, secara halus mereka menolakku. Sementara itu Audrey masih melayani kelima pria tua di atas matras. Mereka secara bergantian atau bersama-sama menyetubuhi Audrey dengan berbagai macam gaya seks. Terkadang seluruh lubang yang ada di Audrey yaitu mulut, vagina dan anus Audrey harus melayani penis-penis pria-pria tua tersebut secara bersamaan. Terlihat juga Audrey melayani kelima pria tua tersebut secara bersamaan. Audrey duduk di atas Wen yang berbaring terlentang dimatras dengan penis Wen pada vagina Audrey, sedangkan Kong asyik menggenjot anus Audrey dari belakang. Secara bersamaan mulut Audrey menjilati dan menghisap penis Lam, sedangkan tangan kiri Audrey sibuk mengocok penis Zhou dan tangan kanan Audrey sibuk mengocok penis Liem. Terlihat suatu adegan yang fantastis di hadapanku, Audrey istriku yang cantik, berkulit putih dan mulus sibuk melayani 5 pria tua yang semuanya bertubuh gemuk dan berbulu lebat. Erangan-erangan mereka membahana di basement itu disertai bunyi bel kecil yang tergantung di bibir atas vagina Audrey. Orgasme-orgasme silih berganti melanda mereka. Sudah banyak sekali sperma kelima pria tua itu memenuhi vagina, lubang anus dan mulut Audrey. Bekas-bekas sperma nampak dibibir vagina dan lubang anus Audrey, juga demikian di bibir mulut Audrey, namun mereka terus bersetubuh sepanjang malam itu sampai pagi menjelang ketika mereka semua kehabisan tenaga dan tidur bersama di basement itu dengan keadaan telanjang bulat.</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="text-decoration: underline;"><strong>Bagian V: Penutup</strong></span></p>
<p style="text-align: justify;">Hari sudah siang ketika Audrey dan kelima pria tua bangun, merekapun mandi bersama-sama. Ketiga tamu wanita sudah tidak nampak di villa, kelihatannya mereka sudah pulang duluan ke Jakarta. Tidak terasa sudah dari jumat malam aku dan Audrey berada di villa. Sekarang sudah hari minggu, namun tidak terlihat Wen dan 4 pria lainnya akan pulang ke Jakarta. Mereka masih asyik menyetubuhi budak seks barunya, yaitu Audrey istriku. Tidak henti-hentinya mereka menyetubuhi Audrey baik secara bergantian maupun secara bersama-sama. Mereka menyetubuhi Audrey baik di ruang tengah, di ruang makan, di kolam renang, di jacuzzi maupun di kamar tidur. Aku melihat Audrey berusaha melayani nafsu binatang mereka dengan sebaik-baiknya. Terlihat sekali istriku sudah menerima status barunya sebagai budak seks. Meskipun terlihat sulit bagi Audrey untuk mengimbangi kemampuan seks kelima pria tua itu, namun Audrey terlihat mulai menikmatinya, terutama apabila Audrey disetubuhi dengan gaya-gaya baru yang belum pernah dicobanya. Kelima pria itu terus menyetubuhi Audrey sepanjang hari Minggu, Senin sampai hari Selasa, mereka hanya berhenti kalau saatnya makan dan tidur sebentar.</p>
<p style="text-align: justify;">Kagum aku melihat stamina kelima pria tua tersebut mengingat usia mereka semuanya sudah di atas 50 tahun. Kadang-kadang ketika mereka beristirahat sebentar, mereka mengijinkanku untuk dioral oleh Audrey, namun mereka tidak pernah mengajakku untuk secara bersama-sama menyetubuhi Audrey. Hari Rabu pagi, mereka baru mengijinkan aku dan Audrey kembali ke Jakarta dengan instruksi bahwa cincin dan bel kecil di bibir atas vagina Audrey tidak boleh dilepas, mulai sekarang Audrey hanya diperbolehkan memakai rok dengan tidak boleh memakai BH dan celana dalam, setiap hari Audrey harus meminum pil anti hamil yang diberikan oleh Wen, Audrey harus selalu mencukur bulu-bulu disekitar vaginanya sehingga vaginanya selalu mulus tanpa bulu sehelaipun, aku tidak boleh menyetubuhi Audrey, aku hanya boleh dioral saja oleh Audrey dan kapanpun Wen dan teman-temannya memanggil Audrey atau datang ke rumah kami, Audrey harus siap melayani. Apabila kami tidak menuruti maka dvd rekaman persetubuhan Audrey di villa tersebut akan tersebar di internet. Audrey hanya mengangguk tanda setuju mendengar instruksi Wen sedangkan aku hanya diam tanpa bisa berbuat apapun. Kamipun pulang ke Jakarta pada hari Rabu pagi itu dengan status baru istriku sebagai budak seks pemuas nafsu.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ceritasex.cn/ketika-istriku-menjadi-budak-seks-bosku/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bayar Hutang Yang Kebablasan&#8230;</title>
		<link>http://www.ceritasex.cn/bayar-hutang-yang-kebablasan/</link>
		<comments>http://www.ceritasex.cn/bayar-hutang-yang-kebablasan/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 18 Mar 2011 21:56:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cerita Sex</dc:creator>
				<category><![CDATA[anal seks]]></category>
		<category><![CDATA[Gangbang Rame Rame]]></category>
		<category><![CDATA[Orgy]]></category>
		<category><![CDATA[Paruh baya]]></category>
		<category><![CDATA[anti]]></category>
		<category><![CDATA[anus]]></category>
		<category><![CDATA[gangbang]]></category>
		<category><![CDATA[hutang]]></category>
		<category><![CDATA[istri]]></category>
		<category><![CDATA[ngentot]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ceritasex.cn/?p=2078</guid>
		<description><![CDATA[Ini adalah ceritaku&#8230; Namaku adalah Anti umurku 29 tahun, aku adalah seorang istri dari seorang lelaki bernama Bayu yang umurnya juga sama denganku. Aku hanyalah seorang ibu rumah tangga, sedangkan Bayu bekerja hanya kalau sedang ada proyek saja. Kalau sedang tidak ada proyek maka Bayu hanya diam di rumah dan tidak berusaha untuk mencari pekerjaan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Ini adalah ceritaku&#8230; Namaku adalah Anti umurku 29 tahun, aku adalah seorang istri dari seorang lelaki bernama Bayu yang umurnya juga sama denganku. Aku hanyalah seorang ibu rumah tangga, sedangkan Bayu bekerja hanya kalau sedang ada proyek saja. Kalau sedang tidak ada proyek maka Bayu hanya diam di rumah dan tidak berusaha untuk mencari pekerjaan tetap yang bisa menjamin hidup kami. Selama 3 tahun pernikahan kami, Bayu tidak pernah bekerja tetap di satu perusahaan. Entah untungnya atau sialnya kami sampai sekarang belum dikarunai seorang anak. Akibat dari Bayu yang tidak mempunyai pekerjaan tetap akhirnya dia mempunyai hutang dimana-mana. Sampai suatu saat ada orang yang datang ke rumah kami dan marah-marah karena Bayu belum juga membayar hutangnya. Pada saat itu aku hanya bisa menemani Bayu di sisinya menghadapi kata-kata kasar orang yang dihutangi oleh Bayu. Aku sendiri melihat gelagat yang aneh dari orang itu. Sambil marah-marah matanya seringkali tertangkap olehku sedang melirik ke arahku.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku sendiri memang mempunyai tubuh yang cukup bagus menurutku. Tinggi 170cm (termasuk tinggi untuk perempuan lokal), berat 60kg, kulit sawo matang, dengan ukuran dada 36. Kehidupan seks kami tidaklah bermasalah walaupun tidak bisa dibilang istimewa. Bayu selalu dapat memuaskanku walaupun dia adalah seorang yang konservatif yang selalu bermain dengan gaya yang itu-itu saja. Beberapa hari setelah rumah kami didatangi oleh orang yang menagih hutang, aku melihat orang tersebut di jalan ketika aku mau pergi ke rumah saudaraku. Tadinya aku akan meminjam uang dari saudaraku untuk menutupi hutang Bayu pada orang tersebut, tapi ditengah jalan aku mempunyai pikiran lain. Aku ikuti orang tersebut untuk mengetahui dimana rumahnya. Tadinya niatku hanya untuk mengetahui saja, tapi akhirnya aku mempunyai niat lain. Aku putuskan untuk menggadaikan tubuhku untuk melunasi hutang-hutang suamiku kepada orang itu. Setelah aku mantap dengan niatku, beberapa hari kemudian aku memberanikan diri untuk mendatangi rumah orang tersebut.</p>
<p style="text-align: justify;">Rumah orang itu memang sangat besar dan sangat mewah. Setelah berhasil mengatasi rasa gugupku akhirnya kuberanikan diri untuk memencet bel. Tak lama kemudian seorang lelaki kurus yang kupikir adalah pesuruh di rumah itu keluar. “Nyari siapa bu?” “Hmm. Bapaknya ada?” tanyaku pada lelaki tersebut. “Ibu siapa? Biar saya sampaikan ke Bapak.” “Bilang aja dari istrinya pak Bayu.” Akhirnya pesuruh itu masuk ke dalam rumah dan tak lama berselang dia keluar lagi untuk membukakan pagar. “Tunggu aja di ruang tamu bu.” Katanya padaku. Langsung saja aku menuju ke arah yang ditunjuknya. Sebuah pintu dari kayu jati dengan ukiran yang sangat cantik. Belum juga aku sampai ke depan pintu, pintu tersebut sudah dibuka dari dalam. Rupanya yang membukakan pintunya adalah orang yang kucari. Orang dengan perawakan kurang lebih 180cm dan kuperkirakan beratnya 75kg. Aku perkirakan umurnya sekitar 50 tahun. Berkulit hitam dan terlihat masih segar. Kesan angker yang ditunjukkannya pada saat menagih hutang tidak ada sama sekali pada saat aku datang.</p>
<p style="text-align: justify;">Justru aku menangkap kesan ramah dan sopan dari dia. Dia langsung menjabat tanganku sambil menyebut namanya. “Broto. Mari masuk bu&#8230;” “Anti” Jawabku langsung ketika melihat dia kebingungan. “Oh iya. Bu Anti silahkan masuk” Aku langsung masuk menuju ruang tamu. Dan Pak Broto langsung memersilakan aku untuk duduk. “Mau minum apa bu Anti?” “Ah gak usah repot-repot pak” jawabku dengan gaya basa-basi bangsa timur. Akhirnya Pak Broto menyuruh pembantunya untuk membuatkan sirup. Sambil menunggu minuman datang pak Broto memulai pembicaraan, sekaligus untuk mencairkan suasana yang kaku. Seolah-olah dia tahu kalau aku gugup dan grogi bertemu dengannya. Kuakui dia adalah sosok yang bisa membuat pembicaraan menjadi santai. Ditambah lagi mungkin dengan wawasan yang cukup luas sehingga dia sepertinya tidak pernah kehabisan bahan pembicaraan layaknya penyiar radio yang selalu ngoceh sepanjang jam siaran. Semakin jauh kami berbicara justru aku semakin kehilangan rasa gugupku yang tadi menghinggapi. Obrolan kami sempat terhenti karena pembantu pak Broto datang membawakan minuman pesananan majikannya.</p>
<p style="text-align: justify;">“Silahkan diminum bu Anti” “Oh iya pak. Terima kasih.” Tak lama langsung saja kuteguk minuman yang disuguhkan. “Koq sepi ya pak? Istri bapak lagi keluar?” Tanyaku unuk memulai obrolan kembali. “Istri saya sudah lama meninggal.” “Oh maaf pak, saya gak tahu” “Oh gak apa-apa. Oh iya bu Anti sudah berapa lama menikah dengan pak Bayu?” “Tiga tahun pak. Tapi ya gitu deh pak. Mas Bayu gak pernah punya kerjaan tetap. Jadi makin lama makin numpuk aja hutangnya. Ditambah lagi sampai sekarang kami belum juga punya anak” kataku sekalian curhat sedikit ke pak Broto. Setelah disinggung soal hutang, pak Broto akhirnya menanyakan perihal hutang suamiku. Dan dia juga bercerita bahwa sebenarnya suamiku tidak hanya berhutang kepadanya tapi juga ke teman-teman pak Broto. Jujur saja aku kaget, karena selama ini suamiku tidak pernah berkata jujur perihal hutangnya. Rupanya pak Broto sudah menyimpan rencana sendiri yang kurang lebih mirip dengan rencanaku.<br />
<span id="more-2078"></span><br />
Dan akhirnya rencana itu disampaikan kepadaku, bahwa hutang suamiku bisa lunas dengan catatan aku mau diajak bercinta dengannya. Pengurangan hutang suamiku satu juta setiap aku melayaninya. Dan itu berlaku juga untuk hutang suamiku dengan teman-temannya yang ternyata ada dua orang lagi. Dan ternyata suamiku berhutang sepuluh juta ke setiap orangnya. Ini berarti aku harus bercinta tiga puluh kali, dengan setiap orangnya aku layani sepuluh kali. Aku sempat berpikir juga melihat keadaan yang seperti itu, tapi demi melunasi hutang suamiku akhirnya aku sanggupi permintaannya. Akhirnya aku disuruh kembali lagi keesokan harinya, karena hari itu Pak Broto sudah mempunyai janji dengan rekan bisnisnya. Sebelum pulang aku menanyakan apakah teman-temannya berkenan dibayar hutangnya dengan tubuhku? Dan Pak Broto berhasil meyakinkan bahwa teman-temannya pasti akan satu suara dengannya. Akhirnya keesokan harinya aku datang kembali ke rumah Pak Broto. Hari itu aku untuk pertama kalinya berdandan bukan untuk suamiku, tapi untuk laki-laki lain.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku datang dengan pakaian tetap casual saja. Toh pikirku nantinya pakaian ini juga tidak berguna karena ketika aku menunaikan tugasku baju ini harus dilepas. Yang jelas aku mempersiapkan mentalku untuk hal ini. Karena ini juga untuk pertama kalinya aku akan disetubuhi oleh laki-laki yang bukan suamiku. Dan yang jelas aku juga mempersiapkan vaginaku. Semua bulu-bulu yang tumbuh disekitar vaginaku kucukur habis, sehingga vaginaku bisa terlihat dengan jelas. Sesampainya di rumah Pak Broto aku disambut dengan hangat, Pak Broto mencium punggung tanganku dan kedua pipiku. Diriku agak canggung menerima perlakuan yang diberikan kepadaku, karena dia bukan suamiku. Tetapi aku sendiri tidak pernah diperlakukan seperti itu oleh suamiku. Saat itu aku merasa diperlakukan layaknya seorang perempuan. Dia tidak menunjukkan bahwa dia hawa nafsunya, tapi justru menunjukkan sikap seorang lelaki dewasa yang membuatku sedikit “terbius” oleh perlakuannya. Setelah sambutan hangatnya aku langsung diajak menuju kamarnya. Kamar yang cukup mewah bagiku.</p>
<p style="text-align: justify;">Dan rupanya Pak Broto telah menyulap kamarnya menjadi begitu indah. Wangi bunga telah memenuhi seisi kamarnya. Ketika aku masih terpesona dengan kamarnya yang mewah tiba-tiba dia memelukku dari belakang. Refleks dan sedikit terkejut membuat diriku agak memberontak. Tetapi dia meyakinkan diriku untuk tenang dan menikmati saja saat-saat tersebut. Dia mulai menciumi leher dan kupingku yang jelas membuatku terangsang. Lalu dia membalikkan tubuhku sehingga kami saling berhadapan. “Boleh kupanggil Anti saja?” tanyanya padaku. “Hmm.. boleh aja pak” “Wah. Jangan panggil pak dong. Panggil saja Broto. Supaya lebih mesra.” “Iya Broto. Boleh aja kalau kamu mau panggil aku Anti.” aku mulai menikmati keadaan. “Hmm.. Anti. Sebenarnya ada satu lagi kejutan untukmu hari ini.” “Apa itu?” Belum dia menjawabnya tiba-tiba pintu kamar terbuka. Lalu ada dua orang memasuki kamar tersebut. Hal itu jelas saja membuat aku kaget. “Ini dia kejutannya. Ada dua orang lagi temanku yang dihutangi suamimu yang ingin ikut bermain dengan kita.”</p>
<p style="text-align: justify;">“Tapi Broto&#8230;” “Tenang saja. Kalau kau melayani kami sekaligus maka bayarannya dinaikkan menjadi 1,5 juta untuk sekali main. Tidak lagi satu juta.” Sebenarnya aku agak keberatan juga dengan keadaan itu. Tapi karena suasana yang tercipta sudah kunikmati akhirnya aku menyetujuinya. Kedua temannya memang berbeda sekali dengannya. Temannya yang satu bernama Faisal, keturunan Arab mempunyai dan berkulit putih. Sedangkan yang satunya bernama Hans, keturunan Cina. Tapi yang jelas ketiganya mempunyai postur tubuh yang sama. Tinggi besar dan tegap. Beda sekali dengan suamiku yang tingginya kira-kira sama denganku dan mempunyai tubuh yang tidak sebagus mereka. Jujur saja diam-diam aku mulai mengagumi mereka bertiga dan mulai membayangkan disetubuhi oleh mereka bertiga. Aku sudah lagi tidak peduli dengan suasana romantis di kamar Pak Broto, tapi aku sudah mulai membayangkan suasana liar yang akan terjadi berikutnya. Tiba-tiba saja Pak Broto sudah mulai mencium bibirku.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku yang dari tadi sedang menghayal jelas terkejut, walaupun tidak lama dan langsung membalas ciuman dari Pak Broto. Tak lama berselang Faisal dan Hans langsung bergabung. Faisal datang dari belakangku dan langsung menciumi leherku sedangkan Hans langsung ke tujuan dengan meremas kedua dadaku. Hal ini jelas saja membuat nafsuku meledak. Aku tidak tahan untuk tidak bersuara, dan akhirnya akupun mulai mengeluarkan desahan dari mulutku. Setelah itu bajuku dan celana panjang yang aku pakai mulai dilepas dari tubuhku sehingga terlihat bra dan cd yang aku kenakan. Hal ini jelas saja membuat mereka bertiga tambah liar untuk menjamah tubuhku. Dan tak lama berselang bra dan cdku pun ikut lepas dari tubuhku sehingga aku benar-benar bugil. Sudah tidak ada lagi perasaan canggung dan malu di diriku. Yang ada hanya nafsu yang sudah berada di ubun-ubun. Setelah itu mereka bertiga pun melepas pakaiannya masing-masing. Dan aku benar-benar tidak bisa menyembunyikan rasa kagetku ketika mereka bertiga sudah bugil.</p>
<p style="text-align: justify;">Karena mereka semua mempunyai ukuran penis yang sangat besar bagiku. Panjang penisnya sekitar 20 cm dan berdiameter kira-kira 4-5 cm. Aku sendiri tidak dapat membedakan secara pasti punya siapa yang paling besar. Karena ukuran penis mereka yang hampir sama. Tapi yang jelas berbeda sekali dengan punya suamiku yang hanya sekitar 13cm dengan diameter 2 cm. Aku dihadapkan dengan tiga penis raksasa. Perasaan takut dan penasaran bercampur aduk di diriku. Takut karena belum pernah melihat penis dengan ukuran sebesar itu. Penasaran karena perempuan mana yang tidak mau vaginanya dimasuki penis seperti itu. Setelah semuanya bugil mereka membimbingku untuk jongkok, dan setelah itu mereka semua mengelilingiku. Mereka minta dioral secara bergantian. Lalu kulakukan permintaan itu dengan senang hati walaupun agak bersusah payah. Aku sering mengoral suamiku, tetapi yang ini beda. Tiga penis dengan ukuran jauh dari penis suamiku. Ukuran penis mereka membuat aku agak gelagapan dan sedikit sesak nafas awalnya. Tapi lama-lama akhirnya aku bisa menguasai keadaan juga.</p>
<p style="text-align: justify;">Ketika aku mengoral penis pak Broto kedua tanganku mengocok penis Hans dan Faisal, begitu seterusnya. Jika satu sedang kuoral maka yang dua lagi kebagian kocokan tanganku. “Aarrrgghhh nikmat sekali seponganmu anti” ucapan itu terlontar dari Faisal ketika mendapat giliran dioral olehku. Hans mendapat giliran terakhir untuk kuoral. Dan ketika giliran Hans mereka membimbingku ke arah tempat tidur. Rupanya mereka memintaku untuk mengoral Hans sambil terlentang sementara penis Hans berada di atas mulutku. Ketika sedang asik-asiknya menikmati penis Hans, tiba-tiba kurasakan rangsangan hebat di kedua payudaraku dan di vaginaku. Rupanya Faisal sedang asik menggerayangi kedua payudaraku. Dia sedang asik meremas dan menjilati kedua payudaraku. Sedangkan Pak Broto berada di selangkanganku, dia terlihat asik menjilati vaginaku. Terang saja aku mengoral Hans sambil mengerang (ingin berteriak tidak bisa karena mulutku disumpal penis Hans) keenakan karena perlakuan kedua orang tadi terhadap dua tempat sensitif di tubuhku.</p>
<p style="text-align: justify;">Tak lama kemudian Hans melepaskan penisnya dari mulutku lalu bergabung dengan Faisal untuk menikmati payudaraku. Faisal menggarap payudara kiriku sedangkan Hans yang kanan pak Broto tetap menjilati vaginaku. Hal ini membuatku terangsang hebat sehingga tidak tahan lagi untuk berteriak dan meracau. “Aarrrrgghhh, nikmat banget&#8230; teruuussss&#8230; aaarrgghhh&#8230; aayoo teruusss” Akhirnya aku sampai juga pada orgasmeku yang pertama. Tak lama kemudian aku merasakan sesuatu menempel di bibir vaginaku. Setelah kulirik ternyata pak Broto sudah siap memasukkan penisnya itu ke dalam vaginaku. Aku merasakan penis pak Broto semakin lama semakin mendesak vaginaku. Aku merasa seperti perawan lagi karena begitu susahnya penis pak Broto memasuki vaginaku. Terang saja susah, penis sebesar itu mencoba masuk ke dalam vaginaku yang biasanya hanya dimasuki penis Bayu yang sekarang menjadi biasa bagiku. Terbantu oleh vaginaku yang sudah basah akhirnya penis pak Broto berhasil masuk juga. Perlahan-lahan pak Broto mulai menggoyangkan penisnya keluar masuk di vaginaku.</p>
<p style="text-align: justify;">“Arrrghhh broto&#8230; terus&#8230; cepetin donkk.. entotin&#8230;” aku sudah meracau tak karuan karena penis pak Broto yang menghadirkan kenikmatan yang luar biasa. Ditambah lagi Hans dan Faisal yang masih sibuk dengan kedua payudaraku. Akhirnya setelah dirasa lancar pak Brotopun mulai mempercepat goyangannya. Baru beberapa goyangan saja aku sudah orgasme lagi padahal kulihat pak Broto masih kuat menggoyang penisnya. Makin lama makin cepat dan cepat sampai akhirnya aku tak tahan dan sampai pada orgasme ku yang kesekekian kali. Setelah agak lama terasa goyangan pak Broto semakin cepat dan cepat kemudian sampai pada goyangan dia yang terakhir, tubuhnya mengejang keras sekali, suaranya melenguh setengah berteriak. Dan aku bisa merasakan kalau dia orgasme. Semburan spermanya di dalam vaginaku terasa sekali. Tak lama berselang pak Broto mencabut penisnya dan aku didatangi oleh Hans dan Faisal yag tampak sudah tidak sabar. Aku lihat Hans membawa baby oil. “Untuk apa?” tanyaku. “Sudahlah nikmati saja” begitu kata Hans.</p>
<p style="text-align: justify;">Karena memang gairahku masih diatas akhirnya aku tidak pedulikan lagi. Tak lama mereka memintaku untuk berposisi doggy style, dan aku iyakan saja toh aku juga terbiasa dengan gaya itu. Tapi betapa kagetnya ketika kurasakan Hans menumpahkan baby oil di lubang pantatku dan di penisnya lalu kemudian berusaha memasukkan penisnya itu ke pantatku. Tadinya aku ingin berontak, tetapi Faisal memegangi tubuhku dengan erat supaya tidak berontak. Terasa sedikit sakit ketika penis Hans mencoba untuk memasuki lubang pantatku tetapi kemudian setelah masuk terasa nikmat yang luar biasa juga. Tidak kalah dengan nikmatnya ketika masuk ke vagina. Lalu Hans kemudian mulai untuk menggoyang penisnya di dalam pantatku. Ketika sudah lancar dan baru beberapa saat Hans meminta merubah posisi tanpa melepaskan penisnya dari pantatnya. Kami berdua terlentang dan bertindihan dengan aku diatasnya. Sehingga makin kurasa Penis itu bergerilya di lubang pantatku.</p>
<p style="text-align: justify;">Tak lama kemudian Faisal menghampiri kami dan sudah siap dengan penisnya yang sudah berdiri tegak dan diarahkan ke vaginaku yang terbuka menantang. Akhirnya Faisal memasukkan penisnya ke dalam vaginaku berbarengan dengan Hans dia menggoyangkan penisnya keluar masuk vaginaku. Sebuah pengalaman luar biasa yang belum aku alami sebelumnya. Aku disetubuhi dua laki-laki secara bersamaan. Benar-benar terasa nikmat sekali, ditambah lagi keduanya ditambah pak Broto merupakan sosok lelaki gagah, tampan dan enak dipandang. Pergumulan kami bertiga tak terasa membuatku orgasme berkali-kali, karena rasa nikmat yang luar biasa. Dan akhirnya Faisal dan Hans secara bersamaan mencapai orgasmenya. Hans mengerluarkan spermanya di dalam pantatku sedang Faisal di dalam vaginaku. Setelah itu kami berempat mebersihkan diri, dan rupanya di meja makan sudah disiapkan makanan untuk kami berempat. Setelah kami makan akhirnya aku izin untuk pulang dan tidak lupa membuat janji untuk pertemuan berikutnya dengan mereka.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah kejadian itu aku merasakan tidak nafsu lagi dengan Bayu ketika dia mengajakku untuk bersetubuh. Aku hanya berusaha menjalankan kewajibanku saja. Tetapi jujur saja aku tidak merasa puas. Karena aku sudah menemukan sesuatu yang lebih diluar sana. Dan setelah semua hutang-hutang Bayu lunas aku sering kali mendatangi mereka atau salah satu dari mereka untuk minta disetubuhi. Aku sudah sampai pada taraf ketagihan yang luar biasa. Pada akhirnya akupun jujur kepada Bayu tentang hal yang selama ini terjadi. Dia terkejut, tapi tak biasa marah karena aku melakukan itu untuk melunasi hutang-hutangnya. Setelah kutanyai apakah dia ingin menuntut cerai diriku, dia tidak mau menceraikanku dengan alasan dia masih sayang. Aku memberikan syarat kepada Bayu yaitu, aku bebas bersetubuh dengan ketiga orang itu kapanpun dan dimanapun aku mau tanpa harus dicemburui. Akhirnya Bayu menyetujuinya, karena masih menyayangiku. Pernah suatu saat ketika Bayu pulang ke rumah dia mendapati diriku sedang bersetubuh dengan ketiga pria tersebut.</p>
<p style="text-align: justify;">Ketika dia akan pergi justru dia dipaksa untuk duduk dan menyaksikan kami oleh pak Broto, Hans dan Faisal. Bahkan dia juga ditelanjangi oleh mereka didepanku. Mereka sengaja melakukan itu hanya untuk membandingkan ukuran penis mereka dan Bayu dan memang penis Bayu menjadi terlihat kecil sekali. Sebenarnya aku kasihan melihatnya diperlakukan seperti itu. Tetapi karena hawa nafsu yang sudah menguasai diriku, maka tak kuacuhkan dia dan aku hanya melayani penis-penis raksasa yang dapat memuaskan vaginaku.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ceritasex.cn/bayar-hutang-yang-kebablasan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Klub Tukar Istri Bagian 3 (Tiga)</title>
		<link>http://www.ceritasex.cn/klub-tukar-istri-bagian-3-tiga/</link>
		<comments>http://www.ceritasex.cn/klub-tukar-istri-bagian-3-tiga/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 05 Nov 2010 20:56:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cerita Sex</dc:creator>
				<category><![CDATA[anal seks]]></category>
		<category><![CDATA[Gangbang Rame Rame]]></category>
		<category><![CDATA[Om Senang]]></category>
		<category><![CDATA[Orgy]]></category>
		<category><![CDATA[Paruh baya]]></category>
		<category><![CDATA[selingkuh]]></category>
		<category><![CDATA[Tante Girang]]></category>
		<category><![CDATA[alia]]></category>
		<category><![CDATA[anal]]></category>
		<category><![CDATA[anus]]></category>
		<category><![CDATA[gairah birahi]]></category>
		<category><![CDATA[istri]]></category>
		<category><![CDATA[istri-istri haus seks]]></category>
		<category><![CDATA[lesbi]]></category>
		<category><![CDATA[maria]]></category>
		<category><![CDATA[mesum]]></category>
		<category><![CDATA[mona]]></category>
		<category><![CDATA[ngentot]]></category>
		<category><![CDATA[ratih]]></category>
		<category><![CDATA[sinta]]></category>
		<category><![CDATA[tukar istri]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ceritasex.cn/?p=1635</guid>
		<description><![CDATA[Aroma jembut Ratih membuat nafsu Sinta semakin membara-bara. Ia mengemut-ngemut clitoris Ratih yang menjembul keluar dengan begitu semangat. Sembari melakukan itu, ia memasukkan tiga buah jari dan mengobel-ngobel memek Ratih dengan tidak kalah semangat. Cairan vagina ratih mengalir dengan deras diikuti dengan nafasnya yang sudah tersengal-sengal. &#8220;Ahhhhh mbak Sinta&#8230;emmmh&#8230;aaaaahhhhhh&#8230;&#8221; &#8220;Enak bengat mbak Ratih, aku ketagihan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Aroma jembut Ratih membuat nafsu Sinta semakin membara-bara. Ia mengemut-ngemut clitoris Ratih yang menjembul keluar dengan begitu semangat. Sembari melakukan itu, ia memasukkan tiga buah jari dan mengobel-ngobel memek Ratih dengan tidak kalah semangat. Cairan vagina ratih mengalir dengan deras diikuti dengan nafasnya yang sudah tersengal-sengal.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Ahhhhh mbak Sinta&#8230;emmmh&#8230;aaaaahhhhhh&#8230;&#8221;<br />
&#8220;Enak bengat mbak Ratih, aku ketagihan mbak&#8230;emmmmh&#8230;jilat punyaku mbak&#8230;&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Ratih mengangguk cepat dan mulai kembali sibuk menghisap-hisap memek sinta. Lidahnya ia sempilkan masuk ke dalam lubang kecil nan rapat itu dan dengan leluasanya diputar-putar dan ditekan-tekan. Tangan kanannya memainkan payudaranya yang lumayan besar. Putingnya sudah mancung dan sekeras mungkin. Sensasi nakal yang ia peroleh dari hubungan senggama penuh nafsu dengan Sinta begitu hebat membuatnya horny setengah mati. Tangannya yang lain mengelus-ngelus pantat Sinta yang mengkel dan halus menawan. Sesekali ia mengelus lubang anus Sinta dan menekan-nekan bagia luarnya dengan jari telunjuknya.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Mbak&#8230;ahhh&#8230;jangan teken yang itu mbak&#8230;emmmh&#8230;&#8221;<br />
&#8220;Kamu beneran gak mau&#8230;emmh..Sinta&#8230;.hmmm?&#8221;<br />
&#8220;Mbak jangan mbak&#8230;..emmmh&#8230;ooooh&#8230;&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Ratih tersenyum nakal dan menyelipkan jari telunjuknya masuk. Liang anusnya menjepit jari Ratih dengan begitu kencang dan rapat. Tubuh Sinta seketika juga bergetar hebat oleh sensasi baru.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;AHHHH&#8230;MBAK&#8230;.AKU GAK KUAT MBAK&#8230;OOOH..&#8221;<br />
&#8220;Masa sih mbak? emmmh&#8230;kok kayaknya kamu kesenengan ya? hmmm?&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Ia menekan masuk jari telunjuknya dan menekan masuk semakin cepat. Sinta mengerang hebat dan membenamkan kepalanya semakin jauh ke dalam selangkangan Ratih.</p>
<p style="text-align: justify;">Maria melepaskan gigitannya dari puting Martha dan memandangi wajah wanita yang kelelahan itu. Ia menjilat habis bibirnya dan melumatnya penuh nafsu. Martha hanya bisa mengerang keenakan sambil tangannya semakin ganas memainkan memeknya sendiri.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Mbak mau coba mainan baru aku enggak?&#8221;<br />
&#8220;Emmmmg mainan baru apa mar? Aku mau dong&#8230;&#8221;<br />
&#8220;Liat nih jeng, oke kan?&#8221;<br />
Maria tersenyum nakal dan mengeluarkan sebuah dildo panjang dengan dua buah sisi.<br />
&#8220;Aku mau dong mbak, kayaknya&#8230;emmmh&#8230;enak banget&#8230;&#8221;<br />
Maria mulai merangkak turun dan bertualang ke selangkangan Martha. Dengan dildo panjang itu di tangan kanannya, ia mulai menjilati memek Martha yang sebenarnya sudah amat sangat basah itu. Martha hanya bisa menelengkan kepalanya keenakan. Ia melenguh keenakan bagai sapi. Maria mulai memasukkan kepala dildo yang satu perlahan-lahan ke dalam memek Martha yang sudah terbuka lebar.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Kumasukki ya mbak&#8230;&#8221;<br />
&#8220;Ahhhh&#8230;Maria&#8230;emmmh&#8230;enak banget&#8230;ahhhh.&#8221;<br />
BLESSS!<br />
&#8220;OOOHHH..emmmmhh&#8230;yang cepet maria..emmmmh&#8230;.&#8221;<br />
Maria menyodok-nyodok masuk dildo itu dnegan cepat dan Martha hanya bisa menggelinjang hebat. Payudaranya bergetar naik dan turun seiringan dengan irama masuk dildo itu dari tangan Martha.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Ahhhh&#8230;emmmmmh&#8230;.ooooh&#8230;&#8230;mmmmmh&#8230;..cepet&#8230; .emmmmh&#8230;.&#8221;<br />
Maria mengehentikan gerakannya dan mulai memasukkan dildo itu ke memeknya sendiri. Mereka berdua sama-sama tidur terlentang dengan kedua pantat mereka bersentuhan dan sebuah dildo panjang menghubungkan memek mereka.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Ahhhhhhh ahhhhhhh mbak martha, goyangin pinguul mbak dong&#8230;oooh&#8230;&#8221;<br />
&#8220;Mmmmh mmmmh mmmmh ahhhhhhh&#8230;.kamu juga dong mbak&#8230;emmmh&#8230;.emmmh&#8230;&#8221;<br />
<span id="more-1635"></span><br />
Ratih dan Sinta mulai mengubah posisi mereka dan saling berpautan mulut. Sinta menciumi Ratih penuh nafsu dan meremas payudaranya kencang. Ratih tidak mau kalah dan menarik rambut panjang Sinta ke belakang dan menjilati leher Sinta yang halus dan menggairahkan.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Emmh mbak Sinta, aku mau bantuin mereka deh..&#8221;<br />
&#8220;Boleh kok mbak Ratih, kenapa enggak?&#8221;<br />
Mereka berdua tersenyum dan merangkak menuju Maria dan Martha yang sama-sama menutup mara keenakan. Ratih mengenggam dildo itu tepat di tengah dan mulai menggesek-gesekkannya maju ke kanan dan ke kiri, menekan dildo itu keluar dan masuk secara bersamaan di memek Martha dan Maria. Tangan kirinya pun mulai memainkan clitorisnya sendiri akibat dirinya yang mulai bergairah memperhatikan erangan penuh nafsu dari Maria dan Martha. Sinta mendekati selangkangan Martha dan menjilati clitorisnya yang terjembul manis di balik hutan rimba sekelilingnya. Clitoris itu dipelintir Sinta dengan lidahnya dan sesekali ia hisap penuh nafsu.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Mbak Sinta ahhhhh isapan mu&#8230;oooh..Ratih!&#8230;emmmmh&#8230;dildonya&#8230;.ahhhh&#8221;<br />
&#8220;Makin cepet Rat..ayo&#8230;emmmmh&#8230;.aahhhh..oooohhhh.&#8221;<br />
&#8220;Ahhhh&#8230;emmmmmmh ini cukup cepet mbak maria? emmmmhhh&#8221;<br />
&#8220;Ahhhh ahhhh ahhhhh&#8230;emmmh&#8230;&#8221;<br />
Ratih mulai menyondongkan tubuhnya menuju Maria dan menjilati puting merahnya yang sudah mencuat karena horny. Keempat wanita itupun melanjutkan &#8220;arisan&#8221; penuh nafsu selama satu jam ke depan tanpa menyadari bahwa ada dua orang laki-laki yang memperhatikan kegiatan mereka dari beranda di sebelah rumah mereka.</p>
<p style="text-align: justify;">Yosua &#8211; Sabtu pukul 18.25</p>
<p style="text-align: justify;">Yosua berjalan menghampiri Fendi yang baru saja membereskan meja kantornya.<br />
&#8220;Hei kawan! Mau pulang cepat-cepat nih?&#8221;<br />
&#8220;Iya boss, capek banget gw.&#8221;<br />
&#8220;Capek ngapain lo?&#8221;<br />
&#8220;Ya capek kerja lah! Emang capek mau ngapain lagi?&#8221;<br />
&#8220;Hahahaha, gini bos. Gw mau nanya sesuatu.&#8221;<br />
&#8220;Nanya apa?&#8221;<br />
&#8220;Berhubung anak-anak kita semua lagi study tour hari ini, boleh gak gw maen ke rumah lo?&#8221;<br />
&#8220;Mau ngapain?&#8221;<br />
&#8220;Yah lo ngerti lah, hehehe.&#8221;<br />
&#8220;Lah terus gw gimana? Nanti Mona tauk dong!&#8221;<br />
&#8220;Masalah itu, gw udah nyiapin acara buat lo malem ini.&#8221;<br />
Seorang wanita berjalan menghampiri mereka dari belakang.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Selamat malam pak Yosua, jadi pak rencananya mau nganterin saya malem ini?&#8221;<br />
Yosua dan Fendi berbalik secara bersamaan.<br />
&#8220;Aduh Alia, maaf ya tapi saya ada krisis di rumah. Istri lagi resek.&#8221;<br />
&#8220;Ohh, begitu pak.&#8221; Alia terlihat sedih dan murung. Wajah manisnya yang masih sangat muda dan menarik membuat Fendi begitu gregetan.<br />
&#8220;Tetapi mungkin pak Fendi tidak keberatan mau nganterin kamu.&#8221;<br />
&#8220;Benar pak?&#8221;<br />
Fendi melirik Yosua bingung. Yosua mengkedipkan mata kanannya dan tersenyum picis. Fendi mengerti apa yang Yosua maksud.<br />
&#8220;Sebentar ya Alia, saya mau berbicara sebentar dengan pak Yosua.&#8221;<br />
&#8220;Baik pak.&#8221;<br />
Fendi mengajak Yosua berjalan maju dan berbisik kepadanya.<br />
&#8220;Lo gila ya Yos?&#8221;<br />
&#8220;Gw tauk lo naksir ama dia, siapa yang enggak? Dan lagi dia juga kayaknya demen ama lo!&#8221;<br />
&#8220;Iya juga sih, tapi apa gak sebaiknya gw maen ke rumah lo aja. Maksud gw ama Sinta gitu, biar kita..mmmh..impas?&#8221;<br />
&#8220;Dia lagi dapet hari ini, kalau dia juga lagi gak dapet, mana mungki gw mau jalanin rencana ini?&#8221;<br />
&#8220;Sial banget&#8230;&#8221; Fendi melirik ke arah Alia yang berdiri sambil memainkan handphonenya.<br />
&#8220;Ya sudahlah, kapan lagi dapet durian runtuh seperti ini.&#8221;<br />
Yosua tersenyum lebar.</p>
<p style="text-align: justify;">Fendi &#8211; Sabtu pukul 18.40</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Silahkan masuk Alia.&#8221;<br />
Fendi membukakan pintu mobil sedannya dan membiarkan Alia masuk<br />
&#8220;Terima kasih pak.&#8221;<br />
Dengan tidak sabar, Fendi masuk ke dalam mobilnya dan berpura-pura menunggu mobilnya panas.<br />
&#8220;Sebentar ya Alia, kalau tidak panas, mobil ini sering mogok.&#8221;<br />
&#8220;Aku juga, mmmh, enggak terburu-buru kok pak.&#8221; Alia tersenyum manis membalas perkataan Fendi.<br />
&#8220;Rumah kamu dimana Alia?&#8221;<br />
&#8220;Aku ngekost di daerah tanjung duren pak.&#8221;<br />
&#8220;Enggak jauh dong ya dari sini.&#8221;<br />
&#8220;Iya pak.&#8221;<br />
&#8220;Enggak usah panggil aku bapak, Fendi saja.&#8221;<br />
&#8220;Oke deh, emmmh&#8230;.mas Fendi..&#8221;<br />
&#8220;Gitu dong.&#8221; Fendi tersenyum lebar.<br />
&#8220;Kamu sudah punya pacar Al?&#8221;<br />
&#8220;Belum pak..mmmh&#8230;aku belum sempet.&#8221;<br />
&#8220;Masa wanita secantik kamu belum dapat pacar?&#8221;<br />
&#8220;Ahh bapak bisa saja&#8230;&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Fendi meletakkan tangannya di atas paha Alia dan memandangi wajah resepsionis cantik itu. Ia bisa mendengar nafas Alia yang semakin tidak teratur dan wajahnya yang semakin mendekat.<br />
&#8220;Kamu cantik banget loh Al.&#8221;<br />
&#8220;Ah&#8230;bapak&#8230;..gombal deh&#8230;.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Fendi menaikkan tangan kanannya dan mengelus pipi lembut Alia. Ia menarik wajahnya mendekat dan mencium bibir merahnya. Alia awalnya membalas ciuman itu dengan kikuk, namun setelah lidah mereka bertautan, ia semakin semangat dan mulai melumat bibir Fendi dengan tidak kalah bernafsu.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Ahhhh..pak Fendi&#8230;emmmh&#8230;&#8221;<br />
&#8220;Kamu wangi banget Alia&#8230;mmmmh&#8230;&#8221;<br />
&#8220;Bapak&#8230;mmmh&#8230;mau main di kostan aku?&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Fendi tidak menjawab pertanyaan itu dan hanya tersenyum lebar. Ia langsung melepas rem tangan mobil itu dan mengendarainya cepat keluar dari gedung perkantorannya. Tangan kanannya sibuk mengendarai setir mobil matic miliknya sementara tangan kirinya tidak pernah ia angkat dari atas paha Alia.</p>
<p style="text-align: justify;">Yosua &#8211; Sabtu pukul 19.20</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Mona, kamu sudah siap belum? Air baknya sudah penuh.&#8221;<br />
&#8220;Siap dong mas.&#8221;<br />
Yosua berbalik dan tertakjub melihat Mona yang tampil sangat seksi. Ia memakain daster tipis dari kain sutra sepanjang paha tanpa memakai daleman. Payudaranya terpampang indah dan memeknya membuat Yosua tidak bisa bersabar lagi. Rambutnya yang bergelombang ia biarkan tergerai indah. Perlahan ia berjalan menuju Yosua yang masih ternganga memperhatikan kecantikan Mona.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Kamu cantik banget Mona.&#8221;<br />
&#8220;Terima kasih Yos.&#8221; Ia mencium bibir Yosua mesra dan memautkan lidahnya dengan Yosua. Tangannya mulai menarik lepas dasi yang Yosua pakai dan membuka beberapa kancing pertama dari kemeja birunya.<br />
&#8220;Masa kamu mau mandi pakai baju sih sayang?&#8221;<br />
&#8220;Memangnya kita bakal mandi?&#8221;<br />
&#8220;Memangnya kamu mau bajumu basah? Hmmm?&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Mona tersenyum nakal dan berjalan masuk menuju kamar mandinya. Bak panjang itu telah diisi air hangat hingga penuh dan Mona mulai membuka dasternya diikuti Yosua yang melepaskan ikat pinggang dan celana kerjanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Yosua melepaskan celana dalam putihnya dan berjalan masuk mengikuti Mona. Tidak lupa ia menutup pintu kamar mandi itu. Lekuk tubuh Mona yang menawan membuatnya semakin terangsang. Pantat Mona yang bulat bergetar dengan indah setiap kali ia berjalan mendekati bath-tubnya.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Ayo dong Yos, kamu nunggu apa lagi?&#8221;<br />
&#8220;Enggak nunggu apa-apa kok sayang.&#8221; Yosua memeluk Mona dari belakang dan mencium lehernya.<br />
&#8220;Emmmh&#8230;Yos, aku masih keringetan loh..&#8221;<br />
&#8220;Tapi keringet kamu saja wanginya, hmmmm, enak sekali&#8230;&#8221;<br />
&#8220;Ahh&#8230; jangan dijilat leherku Yos&#8230;ahhhh&#8230;.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Mona mengangkat tangannya dan merenggut rambut Yosua yang sibuk mencumbu leher Mona. Nafasnya yang menderu-deru membuat Mona tidak kalah terangsang. Ia menggesek-gesekkan pantat sengkelnya ke penis Yosua. Dalam hitungan detik, batang keperkasaan Yosua berdiri tegap sudah.<br />
&#8220;Mas sudah semangat aja nih&#8230;mmmmmhhh&#8230;&#8221;<br />
&#8220;Kamu seksi sekali Mona&#8230;&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Mona melepaskan dirinya dari pelukan Yosua dan berjalan masuk ke dalam bath-tubnya yang sudah penuh. Ia melirik centil kepada Yosua dan menariknya masuk. Air hangat di dalam bak mandi itu tumpah bersamaan dengan masuknya kedua manusia yang digelapkan nafsu itu. Mona meletakkan kepalanya di bahu Yosua yang sedang bersender.<br />
&#8220;Ahhhh&#8230;..emmmmmmhh&#8230;&#8221;<br />
&#8220;Rileks saja Mona..&#8221;<br />
&#8220;Mana aku bisa rileks kalau kamunya tegang begitu.&#8221; Tangannya menggenggam penis Yosua yang tidak melemas sama sekali.<br />
&#8220;Kamu semangat sekali Mona&#8230;&#8221;<br />
&#8220;Kamu juga kan mas?&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Tangan Yosua mulai memainkan payudara Mona, meremasnya halus penuh nafsu. Kedua tangannya mencubit-cubit payudara pink Mona yang semakin lama semakin keras. Mona mendesah penuh nafsu.<br />
&#8220;Ahhhh&#8230;..Yosua&#8230;.emmmmh&#8230;&#8230;.ahhhhh&#8230;..&#8221;<br />
&#8220;Kamu jangan cepat-cepat Mona, nanti aku keluarnya cepet gimana?&#8221;<br />
&#8220;Ya udah deh mas, aku hisap saja gimana?&#8221;<br />
&#8220;Masih perlu nanya?&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Mona tersenyum nakal dan merubah posisinya menjadi menungging. Yosua mengangkat pantatnya dan duduk di pojokan bath-tub dengan kakinya sedikit mengangkang. Mona langsung merangkak maju dan melahap habis penis Yosua yang sudah mengacung tinggi. Mona menjilat glans Yosua yang masih tertutupi sedikit kulup. Lidahnya menyelip masuk dan memaksa kulup itu tertarik ke bawah. Kepala penisnya yang berwarna ungu semakin keras setelah kulup itu berhasil ditarik Mona ke bawah.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Ahhhh Mona, pela-pelan dong&#8230;emmmmh&#8221;<br />
&#8220;Kamu seneng kan mas Yos? Hmmm?&#8221; Mona memasukkan semua penis Yosua ke dalam mulutnya dan mulai menggerakkan kepalanya maju ke depan dan ke belakang.<br />
&#8220;Ahhhh&#8230;emmmhm&#8230;.enak sekali Mona&#8230;.&#8221;<br />
&#8220;Mmmmmh mmmmhhhh&#8221;<br />
&#8220;Ahhhh Mona, terus&#8230;ahhhh&#8230;terus&#8230;emmmh&#8230;&#8221;<br />
Tangan Mona mulai meremas-remas biji Yosua dengan nafsu.<br />
&#8220;Ahhh enak sekali penis kamu Yos..&#8221;<br />
&#8220;Jilatan kamu juga&#8230;emmmmh&#8230;enak banget..&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Mona menurunkan kepalanya dan menjilat kedua kantung kemih itu satu persatu. Ia menghisap-hisap buah zakar itu satu persatu secara bergantian. Yosua mendesah hebat dan menggelinjang penuh nafsu.<br />
&#8220;Ahhhhhh&#8230;mmmmmmh&#8230;..Mona&#8230;.mmmmh&#8230;.&#8221;<br />
&#8220;Puuuaaaah&#8230;.gantian ya sayang&#8230;&#8221;<br />
&#8220;Tentu saja manis..&#8221; Yosua mencium Mona dan memutar tubuhnya mengganti posisi mereka. Yosua sekarang mulai menjongkok dan Mona menduduki ujung bath tub.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Dijilat dong say&#8230;&#8221;<br />
&#8220;Gak usah kamu minta Mona&#8230;Emmmmh&#8221;<br />
&#8220;OOOOOHHH&#8230;aaaahhh&#8230;.emmmmh&#8221;<br />
Yosua menjilati memek Mona dengan begitu bernafsu. Lidahnya dimasukkan ke dalam lubang vaginanya dan diputar-putar penuh nafsu. Kepalanya semakin menekan masuk dan hidungnya menghirup aroma jembut Mona yang membuatnya semakin horny. Mona menggelinjang hebat dan mendesah lirih.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Emmmmh&#8230;mas&#8230;.enak banget mas&#8230;..ahhhh&#8230;&#8221;<br />
Mona memainkan payudaranya. Ia menariknya ke atas dan menghisap putingnya sendiri.<br />
&#8220;Ahhhh&#8230;emmmmhhh&#8230;.mas&#8230;mas&#8230;..&#8221;<br />
&#8220;Ada apa Mona?&#8221;<br />
&#8220;Mau bantu aku enggak mas?&#8221;<br />
&#8220;Bantu apa sayang?&#8221;<br />
&#8220;Aku mau mas, cukur aku dong..&#8221;<br />
&#8220;Cukur?&#8221;<br />
&#8220;Iya mas&#8230;aku udah lama enggak..emmh..cukuran..&#8221;<br />
&#8220;Kamu yakin?&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Mona mengangguk dan menjilat lidahnya sendiri. Yosua sedikit kebingungan mendengar permintaan Mona namun ia terlalu bernafsu untuk mempertanyakan permintaan aneh itu.<br />
&#8220;Cukuran sama shave foamnya ada di situ mas.&#8221;<br />
Yosua tidak berkata apa-apa dan berjalan keluar mengambil hal yang diminta oleh Mona. Ia kembali ke posisi sebelumnya dan mulai menutupi selangkangan Mona dengan shaving foam milik suaminya.<br />
&#8220;Emmmmh..dingin mas&#8230;&#8221;<br />
&#8220;Kamu beneran mau shave sekarang?&#8221;<br />
&#8220;Ayo dong mas&#8230;aku udah enggak sabar nih..&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Yosua menekankan cukuran jenggot yang biasa Fendi pakai diselangkangannya. Ia mulai menarik cukuran itu ke bawah dan membersihkan jembut Mona perlahan-lahan. Sensasi dingin dari silet yang Yosua pakai membuat Mona semakin terangsang. Ia mendesah penuh nafsu dan bergetar hebat.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Ahhhh&#8230;emmmmh&#8230;&#8221;<br />
&#8220;Kamu sepertinya nafsu sekali dicukur begini Mon.&#8221;<br />
&#8220;Aku enggak tahu mas&#8230;rasanya&#8230;baru gitu&#8230;emmmh&#8230;&#8221;<br />
&#8220;Oke sudah bersih..&#8221;<br />
Yosua membilas memek Mona dan membersihkan sisa-sisa foam dari selangkangannya.<br />
&#8220;Bagaimana memekku sekarang mas?&#8221;<br />
&#8220;Enggak kalah bantik kok dari sebelumnya..&#8221;<br />
&#8220;Ah mas bisa aja&#8230;&#8221;<br />
&#8220;Sudah basah saja nih Mona&#8230;&#8221;<br />
&#8220;Emmmh&#8230;..masukin sekarang dong mas&#8230;&#8221;<br />
Yosua berdiri dan mendekati Mona. Mona tanpa diberi aba-aba, menarik penis Yosua dan memaksanya masuk menuju memeknya yang sudah bersih dari bulu jembut.<br />
&#8220;Ahhhh&#8230;.Mas&#8230;.besar banget&#8230;.emmmmhhh&#8221;<br />
&#8220;Kamu suka Mona? Hmmmm?&#8221;<br />
&#8220;Ahhhhh&#8230;suka banget&#8230;.emmmmmmhhh&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Yosua menggoyangkan pinggulnya maju ke depan dan ke belakang. Semakin lama ritmenya semakin cepat. Mona mendesah dan memeluk pundak Yosua. Yosua memainkan pinggulnya dan mulai menciumi puting Mona yang sudah keras setengah mati.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Ahhhh mas&#8230;emmmmmhhhh&#8230;fuck! ahhhhh&#8221;<br />
&#8220;Mona&#8230;emmmh&#8230;Mona&#8230;.i love you&#8230;mmmmhh&#8221;<br />
&#8220;I love you tooo&#8230;&#8230;ahhhhh emmmmh..&#8221;<br />
Tangan Mona melepas pelukannya dan mulai memainkan klitorisnya. Ia menekan-nekan klitorisnya semakin cepat seiring dengan tusukan masuk penis Yosua yang sudah mendekati puncaknya.<br />
&#8220;Ahhh aku udah mau sampai Mona&#8230;.emmmmh&#8230;.&#8221;<br />
&#8220;Aku&#8230;mmmmmhhh..juga mas&#8230;.ahhhh&#8230;&#8221;<br />
&#8220;Ohhh&#8230;ooohhhh&#8230;&#8221;<br />
Cepet&#8230;mmmmh&#8230;cepet mas! mmmmhhh&#8221;<br />
&#8220;OOOHHH&#8230;.AHHHH&#8230;AHHHH&#8230;&#8221;<br />
CROOOT CROOOT CROOOOT</p>
<p style="text-align: justify;">Penis Yosua menyemburkan semua spermanya di dalam. Mona memeluk Yosua lemas dan mencium bibirnya. Ia melumat bibir Yosua penuh nafsu dan lidahnya berpautan penuh nafsu dengan lidah Yosua.<br />
&#8220;Kamu hebat sekali Yosua, aku belum pernah sampai secepat itu&#8230;mmmmhhhh&#8221;<br />
Yosua membalas ciuman Mona sambil melirik kamera yang ia pasang di bawah kloset yang merekam kegiatan bejat mereka secara sempurna hari itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Fendi &#8211; Sabtu pukul 19.34</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Ahhhh..ahhhh&#8230;ahhhhh..aaahhhhhh&#8230;&#8221;<br />
&#8220;Enak Alia? Hmmmm?&#8221;<br />
&#8220;Ahhh&#8230;ahhhh..pak Fendi&#8230;mmmmh&#8230;ahhh&#8230;ahhh..&#8221;<br />
Fendi menunduk dan mencium punggung seksi Alia tanpa melepaskan penisnya dari memek Alia yang rapat dan benar-beanr basah.<br />
&#8220;Emmmmh&#8230;mamak kamu sempit banget Alia&#8230;mmmmhhh&#8230;.enak banget&#8230;.&#8221;<br />
&#8220;Ahhhh&#8230;ahhhhh&#8230;ohhhh pak&#8230;.emmmhhhh&#8230;..&#8221;<br />
&#8220;Kamu suka penis aku Alia? Hmmmm? Hmmmm?&#8221;<br />
Fendi menghunuskan penisnya dalam-dalam dan menahan gerakannya. Alia menahan nafasnya dan mengerang kencang.<br />
&#8220;Ahhhhhh&#8230;enak banget&#8230;emmmh..pak&#8230;ahhhhhhh&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Bagaimana ya rasanya lubangmu yang lain?&#8221;<br />
&#8220;Ahhhh&#8230;apa pak?&#8221;<br />
Fendi melumasi lubang anus Alia dengan ludahnya. Ia memasukkan telunjuknya tanpa permisi pada Alia. Alia terkejut dan tubuhnya merinding geli. Ia mengerang kesakitan namun juga penuh nafsu.<br />
&#8220;Ahhhh jangan pak&#8230;aku belum pernah..ahhh&#8230;&#8221;<br />
&#8220;Setiap orang kan punya pertama kalinya Alia, hmmm?&#8221;<br />
&#8220;Enggak pak&#8230;ahhh jangan&#8230;ahhhhh&#8221;<br />
&#8220;Kamu bilangnya jangan tapi kok kayaknya malah semakin nafsu Al?&#8221;<br />
&#8220;Emmmmh&#8230;.pak&#8230;telunjuk bapak&#8230;ahhhh&#8230;.anus saya rasanya aneh pak&#8230;&#8221;<br />
&#8220;Siap ya bapak anal..&#8221;<br />
&#8220;Jangan pak&#8230;ahhhhh.&#8221;<br />
Fendi mengeluarkan penisnya dari memek Alia dan mengarahkannya sedikit ke atas.<br />
&#8220;Pak enggak pak&#8230;ahhhhh&#8230;&#8221;<br />
&#8220;Rileks saja Alia&#8230;.&#8221;<br />
&#8220;Ahhhh&#8230;.emmmmmhhhh&#8221; ****** Fendi yang sedang kencang-kencangnya dipaksa masuk menuju lubang sempit itu. Ia semakin nafsu melihat penolakan dari Alia, terlebih lagi membayangkan istrinya sedang bersenggama dengan Yosua sekarang. Ia sudah tidak tahan lagi.<br />
&#8220;OOOOH..PAKK!! AHHHH&#8221;<br />
&#8220;Rileks Alia&#8230;ooohhh&#8230;.rileks..&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Alia membenamkan kepalanya ke atas bantal untuk meredam teriakannya. Ia berkeringat basah dan seluruh tubuhnya menegang akibat sensasi penis Fendi di lubang anusnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Fendi yang mulai merasa nyaman mulai memainkan pinggulnya masuk dan keluar. Fendi melenguh penuh nafsu akibat sensasi jepitan kencang dari anus Alia.<br />
&#8220;Sempit banget Alia&#8230;mmmhh&#8221;<br />
&#8220;Perih pak&#8230;perihhh&#8230;ahhhh&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Fendi bisa melihat percikan darah di penisnya. Namun ia tidak menghentikan gerakannya.<br />
&#8220;Kamu juga perih kan saat memek kamu pertama kali dijebol&#8230;Hmmm?&#8221;<br />
&#8220;Ahhh..tapi pak itu kan sudah lama&#8230;ahhhh&#8230;.sepuluh tahun yang&#8230;emmmh lalu!&#8221;<br />
&#8220;Sekarang jadi enak kan? Hmmmm? Nanti juga kamu&#8230;ahhh&#8230;.keenakan&#8230;ooooh&#8230;&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Air mata Alia mulai mengalir. Ia bahagia bisa merasakan hubungan bersenggama dengan Fendi, atasannya yang sudah menjadi sasarannya sejak ia mulai bekerja di perusahaan itu, namun rasa perih bercampur nikmat itu terlalu besar untuk bisa ia redam. Ia pasrah dan mulai berusaha menikmatinya.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>BERSAMBUNG &#8230;</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ceritasex.cn/klub-tukar-istri-bagian-3-tiga/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

