<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Cerita sex porno ngentot mesum perek ayam kampus &#187; anus</title>
	<atom:link href="http://www.ceritasex.cn/tag/anus/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.ceritasex.cn</link>
	<description>Kumpulan cerita sex, foto bugil, dan film porno</description>
	<lastBuildDate>Mon, 26 Jul 2010 07:13:35 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0</generator>
		<item>
		<title>Pernikahan Yang Ternoda</title>
		<link>http://www.ceritasex.cn/pernikahan-yang-ternoda/</link>
		<comments>http://www.ceritasex.cn/pernikahan-yang-ternoda/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 25 Jun 2010 18:43:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cerita Sex</dc:creator>
				<category><![CDATA[Paruh baya]]></category>
		<category><![CDATA[Pemerkosaan]]></category>
		<category><![CDATA[anal seks]]></category>
		<category><![CDATA[anal]]></category>
		<category><![CDATA[anus]]></category>
		<category><![CDATA[enak]]></category>
		<category><![CDATA[ngentot]]></category>
		<category><![CDATA[perkosa]]></category>
		<category><![CDATA[seks]]></category>
		<category><![CDATA[ternoda]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ceritasex.cn/?p=1462</guid>
		<description><![CDATA[Di dalam ruangan itu terlihat sunyi beberapa dari mereka tidak sanggup melihat dua orang suami istri terbujur kaku, sedangkan di sampingnya terdapat anak yang masih berusia 11 tahun yang sedang menangisi ke dua orang tuanya, karena merasa kasihan aku meminta izin suamiku untuk menemuinya, setelah mendapat izin aku lalu menghampiri anak tersebut berharap dapat menenangkan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Di dalam ruangan itu terlihat sunyi beberapa dari mereka tidak sanggup melihat dua orang suami istri terbujur kaku, sedangkan di sampingnya terdapat anak yang masih berusia 11 tahun yang sedang menangisi ke dua orang tuanya, karena merasa kasihan aku meminta izin suamiku untuk menemuinya, setelah mendapat izin aku lalu menghampiri anak tersebut berharap dapat menenangkan hati anak tersebut, “Al..” panggilku pelan sambil duduk di sampingnya, “sudah jangan nagis lagi, biarkan kedua orang tuamu beristirahat”</p>
<p style="text-align: justify;">Anak itu tetap menangis, beberapa detik dia memandangku dan tidak lama kemudian dia langsung memelukku dengan air mata yang bergelinang, “tante, hiks…hiks… Aldi ga mau sendirian, Aldi mau mama, papa…” dengan penuh rasa kasih sayang aku mengelus punggungnya berharap dapat meringankan bebannya, “tante… bangunin mama,”katanya sambil memukul pundakku, aku semakin tak kuasa mendengar tangisnya, sehingga air matakupun ikut jatuh, “Aldi, jangan sedih lagi ya? Hhmm… kan masih ada tante sama om,” aku melihat ke belakang ke arah suamiku sambil memberikan kode, suami ku mengangguk bertanda dia setuju dengan usulku, “mulai sekarang Aldi boleh tinggal bersama tante dan om, gi mana?” tawarku sambil memeluk erat kepalahnya,</p>
<p style="text-align: justify;">Sebelum lebih jauh mohon izinkan aku untuk memperkenalkan diri, namaku Lisa usia 25 tahun aku menikah di usia muda karena kedua orang tuaku yang menginginkannya, kehidupan keluargaku sangaatlah baik, baik itu dari segi ekonomi maupun dari segi hubungan intim, tetapi seperti pepata yang mengatakan tidak ada gading yang tak retak, begitu juga dengan hidupku walaupun aku memiliki suami yang sangat mencintaiku tetapi selama 4 tahun kami menikah kami belum juga dikaruniai seorang anak sehingga kehidupan keluarga kami terasa ada yang kurang, tetapi untungnya aku memiki seorang suami yang tidak perna mengeluh karena tidak bisanya aku memberikan anak untuknya untuk membalas budi baik kakakku, aku dan suamiku memutuskan untuk merawat anaknya Aldi karena kami pikir apa salah menganggap Aldi sebagai anak sendiri dari pada aku dan suamiku harus mengangkat anak dari orang lain,</p>
<p style="text-align: justify;">Sudah satu minggu Aldi tinggal bersama kami, perlahan ia mulai terbiasa dengan kehidupannya yang baru, aku dan suamiku juga meresa sangat senang sekali karena semenjak kehadirannya kehidupan kami menjadi lebih berwarna, suamiku semakin bersemangat saat bekerja dan sedangkan aku kini memiliki kesibukan baru yaitu merawat Aldi, “Bi…. tolong ambilin tasnya Aldi dong di kamar saya,” kataku memanggil bi Mar</p>
<p style="text-align: justify;">Hari ini adalah hari pertama Aldi bersekolah sehingga aku sangat bersemangat sekali, setelah semuanya sudah beres aku meminta pak Rojak untuk mengantarkan Aldi ke sekolahnya yang baru, beberapa saat Aldi terseyum ke arahku sebelum dia berangkat ke sekolah. Seperti pada umumnya ibu rumah tangga, aku berencana menyiapkan makanan yang special untuk Aldi sehingga aku memutuskan untuk memasak sesuatu di dapur, tetapi saat aku melangkah ke dapur tiba-tiba kakiku terasa kaku saat melihat kehadiran pak Isa yang sedang melakukan hubungan intim dengan mba Ani, mereka yang tidak menyadari kehadiranku masih asyik dengan permainan mereka, “Hmm… APA-APAAN INI?” bentakku ke pada mereka, mendengar suaraku mereka terlihat tanpak kaget melihat ke hadiranku, “kalian benar-benar tidak bermoral, memalukan sekali!”</p>
<p style="text-align: justify;">Mereka tanpak terdiam sambil merapikan kembali pakaian mereka masing-masing, beberapa saat aku melihat penis pak Isa yang terlihat masih sangat tegang, sebenarnya aku sangat terkejut melihat ukuran penis pak Isa yang besar dan berurat, berbeda sekali dengan suamiku, “maafin kami Bu,” kini Ani membuka mulutnya, sedangkan pak Isa masih terdiam, “Maaf… kamu benar-benar wanita murahan, kamu tahu kan pak Isa itu sudah punya istri kenapa kamu masih juga menggoda pak Isa, kamu itu cantik kenapa tidak mencari yang sebaya denganmu?” emosiku semakin memuncak saat mengingat bi Mar istri dari pak Isa, “saya tidak menyangka ternyata anda yang sangat saya hormati ternyata tidak lebih dari binatang, betapa teganya anda menghianati istri anda sendiri,” beberapa kali aku menggelengkan kepalahku, sambil menunjuk ke arahnya,</p>
<p style="text-align: justify;">“maaf Bu ini semua salah saya, jangan salahkan Ani” kata pak Mar yang membela Ani, “mulai sekarang kalian saya PECAT, dan jangan perna menyentuh ataupun menginjak rumah ini, KELUAR KALIAN SEMUA!!” bentakku<br />
<span id="more-1462"></span><br />
Mendengar perkataanku Ani terlihat pucat tidak menyangkah kalau kelakuan bisa membuatnya kehilangan pekerjaan, sedangkan pak Isa terlihat tenang-tenang saja malahan pak Isa tanpak terseyum sinis, “he..he… Ibu yakin dengan keputusan Ibu,” pak Isa tertawa mendengar perkataanku, perlahan pak Isa mendekatiku, “jangan perna main-main dengan saya Bu,” ancamnya dengan sangat sigap pak Isa menangkap kedua tanganku, “apa-apaan ini lepaskan saya, atau saya akan berteriak,” aku mencoba mengancam balik mereka yang sedang mencoba mengikat kedua tanganku,“teriak saja Bu, tidak akan ada orang yang mendengar,” timpal Ani sambil membantu pak Isa mengikat kedua tanganku, Apa yang di katakan Ani ada benarnya juga, tetapi walaupun begitu aku tidak mau menyerah begitu saja dengan susah paya aku berusaha melepaskan diri tapi sayangnya tenagaku kalah besar dari mereka berdua, tanpa bisa berbuat apa-apa aku hanya dapat mengikuti mereka saat membawaku ke dalam kamar pak Isa. Sesampai di kamar aku di tidurkan di atas kasur yang tipis, sedangkan Ani mengambil sebuah Hp dan ternyata Hp itu di gunakan untuk merekamku, sehingga kehawatiranku semakin menjadi-jadi.</p>
<p style="text-align: justify;">“kalian biadab, tidak tau terimakasih anjing kalian!” air mataku tidak dapat kubendung lagi saat jari-jemari pak Isa mulai merabahi pahaku yang putih,</p>
<p style="text-align: justify;">“ja-jangan, mau apa kalian lepaskan saya ku mohon jangan ganggu saya,” kataku di sela-sela isak tangis, “siapa suruh ikut campur urusan saya, he…he… maaf bu ternyata hari ini adalah hari keberuntungan saya, dan hari yang sil bagi Ibu,” semakin lama aku merasa tangannya semakin dalam memasuki dasterku,</p>
<p style="text-align: justify;">“tidak di sangkah impian saya akhirnya terkabul juga,”” sambungnya sambil meremasi paha bagian dalamku, “makanya Bu jangan suka ikut campur urusan orang,” kini giliran Ani yang menceramahiku, “ya, saya ngaku salah tolong lepasin saya,” kini aku hanya dapat memohon agar mereka sedikit iba melihatku, tetapi sayangnya apa yang kuharapkan tidak terjadi, pak Isa tanpa semakin buas memainkan diriku</p>
<p style="text-align: justify;">Aku hanya dapat melihat pasrah saat dasterku terlepas dari tubuhku, kedua payudaraku yang memang sudah tidak tertutupi apa-apa lagi dapat dia nikmati, jari-jarinya yang kasar mulai memainkan selangkanganku, “sslluupss…sslluuppss… hhmm…. ayo Bu puaskan saya?” pinta pak Isa, sambil mengulum payudaraku beberapa kali lidahnya menyapu putting susuku yang mulai mengeras,</p>
<p style="text-align: justify;">“ko’ memiawnya basah bu, he…he…” memang harus diakui, tubuhku tidak dapat membohonginya walaupun bibirku berkata tidak, “wa…wa… Ibukan sudah punya suami ko’ masih juga menggoda laki orang lain, ga malu ya Bu,” Ani melotottiku seolah-olah ingin membalas perkataanku tadi, “dasar wanita munafik, sekarang Ibu tau kan kenapa saya menyukai pak Isa,”bentak Ani kepadaku, sehingga membuat hatiku terasa amat sakit mendengarnya, “aahhkk… pak, hhmm…. pak sudah jangan di terusin…” kataku dengan kaki yang tidak dapat diam saat jarinya menyelusup kedalam vaginaku yang sudah banjir, perlahan kurasakan jari telunjuknya menyelusuri belahan vaginaku,</p>
<p style="text-align: justify;">“oo… enak ya? he…he…” pa Isa tertawa melihatku yang sudah semakin terangsang, leherku terasa basah saat lidah pak Isa menjilati leherku yang jenjang, Dengan sangat kasarnya pak Isa menarik celana dalamku, sehingga vaginaku yang tidak di tumbuhi rambut sehelaipun terlihat olehnya, aku memang sangat rajin mencukur rambut vaginaku agar terlihat lebih bersi dan seksi.</p>
<p style="text-align: justify;">Ani berjongkok di sela-sela kakiku, kamera Hp di arahkan persis di depan vaginaku yang kini sudah tidak ditutupi oleh sehelai kain, tanpa memikirkan perasaanku pak Isa membuka bibir vaginaku sehingga bagian dalam vaginaku dapat di rekam jelas oleh Ani, beberapa kali jari telunjuk pak Isa menggesek clitorisku, “ohk pak plisss.. jangan…? saya malu…” aku merasa sangat malu sekali di perlakukan seperti itu, baru kali ini aku bertelanjang di depan orang lain bukan suamiku sendiri, Ha…ha… malu kenapa Bu? anjing aja tidak malu ga pake baju masa ibu malu si…” katanya yang semakin merendahkan derajatku, setelah puas mempertontonkan vaginaku di depan kamera, pak Isa bertukar posisi dengan Ani untuk memegangi kakiku sedangkan pak Isa berjongkok tepat di bawa vaginaku,</p>
<p style="text-align: justify;">Dengan sangat lembut pak Isa menciumi pahaku kiri dan kanan secara bergantian, semakin lama jilatannya semakin ke atas menyentuh pinggiran vaginaku, “aahkk… sudah pak, rasanya sangat geli hhmm…” aku berusaha sekuat tenaga mengatupkan kedua kakiku tetapi usahaku sia-sia saja, dengan sangat rakus pak Isa menjilati vaginaku yang berwarna pink, sedangkan Ani tanpa puas melihat ke adaanku yang tak berdaya, “nikmatin aja Bu, he..he.. saya dulu sama seperti ibu selalu menolak tapi ujung-ujungnya malah ketagihan” kata Ani tanpa melepaskan pegangannya terhadap kakiku,</p>
<p style="text-align: justify;">Semakin lama aku semakin tidak tahan, tiba-tiba aku merasa tubuhku seperti di aliri listrik dengan tegangan yang tinggi, kalau seandainya Ani tidak memegang kakiku dengan sangat erat mungkin saat ini wajah pak Isa sudah menerima tendanganku, mataku terbelalak saat orgasme melandah tubuhku dengan sangat hebat, cairan vaginaku meleleh keluar dari dalam vaginaku, sehingga tubuhku terasa lemas, “ha…ha… bagaimana Bu, mau yang lebih enak….” pak Isa tertawa puas, aku hanya dapat menggelengkan kepalaku karena aku sudah tidak mampu lagi untuk mengeluarkan suara dari mulutku, perlahan pak Isa berdiri sambil memposisikan penisnya tepat di depan vaginaku, “aahkk… sakit…” aku memikik saat kepala penisnya menerobos liang vaginaku, “uuhk… hhmm… pelan-pelan pak…” pintaku sambil menarik napas menahan rasa sakit yang amat sangat di vaginaku karena ukuran penis pak Isa jauh lebih besar dari penis suamiku,</p>
<p style="text-align: justify;">“tahan Bu, bentar lagi juga enak ko’ “ kata Ani yang kini melepaskan ikatan di tanganku, setelah ikatanku terlepas Ani kembali merekam adegan panas yang kulakukan,</p>
<p style="text-align: justify;">Dengan sangat cepat pak Isa menyodok vaginaku sehingga terdengar suara “plokkss….ploskkss…” saat penisnya mentok ke dalam vaginaku yang mungil, “aahhkk… aahhkk… aaahh… oooo…”semakin cepat sodokannya suaraku semakin lantang terdengar, “oh yeeaa… enak Bu, hhmm… ternyata memiaw Ibu masih sempit sekali walaupun sudah perna menikah,” katanya memujiku, tetapi mendengar pujiannya aku tidak merasa bangga melainkan aku meresa jijik terhadap diriku sendiri, Aku merasa vaginaku seperti di masuki benda yang sangat besar yang mencoba mengorek isi dalam vaginaku, rasanya memang sangat sakit sekali tetapi di sisi lain aku merasa sangat menikamati perkosaan rehadap diriku, selama ini aku belum perna merasakan hal seperti ini dari suamiku sendiri, “ayo sayang, bilang kalau tongkol saya enak…” dengan sangat kasar pak Isa meremasi kedua payudaraku,</p>
<p style="text-align: justify;">“ti-tidak…. ahk… hhmm…” aku di buat merem melek olehnya, “ha..ha.. kamu mau jujur atau tidak, kalau tidak hhmm… saya akan adukan semua ini kepada suamimu, ha…ha…” katanya mengancamku dengan tawa yang sangat menjijikan, “ja-jangan pak,” aku memohon ke padanya, karena takut dengan ancamannya akhirnya aku menyerah juga “iya, aahhkk… aku suka…” kataku dengan suara yang hampir tidak terdengar, “APA… SAYA TIDAAK MENDENGAR?” pak Isa berteriak dengan sangat kencang sehingga gendang telingaku terasa mau pecah mendengar teriakannya, “IYA PAK, ENAK SEKALI SAYA SUKA SAMA tongkol BAPAK….aahhk…uuhhkk!!” dengan sekuat tenaga aku berusaha tegar dan berharap semuanya cepat berlalu, Setelah berapa menit kemudian tubuhku kembali merasa tersengat oleh aliran listrik saat aku kembali mengalami orgasme yang ke dua kalinya,</p>
<p style="text-align: justify;">Dengan sangat kasarnya pak Isa menarik tubuhku sehingga aku berposisi menungging, pantatku yang bulat dan padat menghadap dirinya, “hhmm… indah sekali pantatmu sayang” katanya sambil meremasi bongkahan pantatku, “pak, saya mohon cepat lakukan,” “ha..ha.. kenapa Bu, sudah ga tahan” berkali-kali pantatku menerima pukulan darinya, sebenarnya aku tidak menyangka dengan kata-kataku tadi bisa membuatku semakin renda di mata mereka, sebenarnya aku hanya bermaksud agar semua permainan ini segera berakhir tapi sayangnya pak Isa tidak menginginkan itu,</p>
<p style="text-align: justify;">“tenang Bu, santai saja dulu?” Pak Isa sangat pintar memainkan tubuhku, dengan sangat lembut jari kasarnya menyelusuri belahan pantatku dari atas hingga ke bawah belahan vagianaku, gerakan itu di lakukan berkali-kali sehingga pantatku semakin terlihat membusung ke belakang, “ohhkk… pak, hhhmm….” ku pejamkan mataku saat jarinya mulai menerobos lubang anusku, dengan gerakan yang sangat lembut jarinya keluar masuk dari dalam anusku, “ahhkk….ooo… ssstt…uuuuu… pak” ternyata rintihanku membuat pak Isa semakin mempercepat gerakan jarinya,pak Isa dengan rakusnya kembali menjilati vaginaku dari belakang sedangkan jari-jarinya masih aktif mengocok anusku. Pada saat aku sangat terangsang tiba-tiba kami mendengar suara ketukan yang kuyakini itu adalah pak Rojak yang baru pulang dari mengantar Aldi, “Pak Rojak tolongin saya…” kataku berharap ia bisa membantuku untuk lepas dari pelecehan yang ku alami, dengan santainya Ani membukakan pintu tanpa rasa takut kalau pak Rojak mengadukan kejadian ini ke pada suamiku, pak Rojak tanpak kaget saat melihat keadaanku yang sedang di gagahi oleh pak Isa,</p>
<p style="text-align: justify;">“pak, tolong ku mohon,” kataku memelas, “Wa…wa…. apa-apaan ini, “ beberapa kali pak Rojak menggelengkan kepalahnya dengan mata yang tak henti-hentinya memandangi tubuh mulusku, “Udah pak, jangan sok mau jadi pahlawan kalau bapak mau embat aja, dia sudah menjadi budaknya saya,” pak Isa mulai membujuk pak Rojak dan aku hanya bisa berharap pak Rojak tidak memperdulikan tawaran pak Isa, “kenapa bengong? sini ikutan!” ajaknya lagi “jangan pak saya mohon tolongin saya,” aku mengiba ke pada pak Rojak, tetapi pak Isa tidak mau kalah kedua jarinya membuka bibir vaginaku, “bapak liat ni, memiawnya sudah basa banget… wanita ini munafik” pak Rojak terdiam seperti ada yang sedang di piirkannya,</p>
<p style="text-align: justify;">“memiawnya masih sempit lo, apa lagi anusnya kayaknya masih perawan,” bujuk pak Isa berharap pak Rojak mau bergabung dengannya untuk menikmati tubuhku, Akhirnya pak Rojak tidak tahan melihat vaginaku yang becek terpampang di depannya, “hhmm… oke lah tapi boolnya buat saya ya, ” tubuhku semakin terasa lemas, kini aku sudah tidak tau harus meminta tolong ke pada siapa lagi, perlahan pak Rojak mendekatiku, “sekarang Ibu dudukin tongkol saya, cepat…” perintah pa Isa sambil tidur telentang dengan penis yang mengancung ke atas, dengan sangat pelan aku menuduki penis pak Isa, “eennnggkk…. “ aku menggigit bibir bawahku saat kepala penis pak Isa kembali menembus vaginaku, perlahan penis itu amblas ke dalam vaginaku, dengan sangat erat pak Isa memeluk pinggangku agar tidak dapat bergerak, Setelah melepas semua pakaian yang ada di tubuhnya, pak Rojak mendekatiku dengan penis berada di depan anusku beberapa kali pak rojak menamparkan penisnya ke pantatku,</p>
<p style="text-align: justify;">“pak sakit… aahhkk… aahkk… ja-jangan pak saya belum pernah” aku berusaha melepaskan diri saat pak Rojak mulai berusaha memasuki anusku, sempat beberapa kali ia gagal meembus anusku yang memang masih perawan, “ha…ha… ayo dong Pak, masak kalah sama cewek si…” kata pak Isa mmemanas-manasi pak Rojak agar segera membobol anusku, pak rojak yang mendengar perkataan pak Isa menjadi lebih beringas dari sebelumnya, “AAAAAA….” aku berteriak sekencang-kencangnya saat penis pa Rojak berhasil menerobos anusku, tanpa memberikan aku nafas ia menekan penisnya semakin dalam, “aahkk…. oohhkk… pak, hhmm…” aku merintih ke sakitan saat pak Rojak mulai memaju mundurkan penisnya di dalam anusku, “gi mana pak? Enak kan?” tanya pak Isa yang kini ikutan memaju mundurkan penisnya di dalam vaginaku, “eehhkknngg… mantab pak, enak banget he….he… hhmm….” semakin lama kedua pria tersebut semakin mempercepat tempo permainan kami, Sudah beberapa menit berlalu kedua orang pria ini belum juga menunjukan kalau mereka ingin ejakulasi, sedangkan diriku sedah beberapa kali mengalami orgasme yang hebat sehingga tubuhku terasa terguncang oleh orgasmeku sendiri.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah beberapa menit aku mengalami orgasme tiba-tiba pak Isa menunjukan bahwa dia juga ingin mencapai klimaks. Dengan sekuat tenaga pak Isa semakin menenggelamkan penisnya ke dalam vaginaku dalam hitungan beberapa detik kurasakan cairan hangat membasahi rahimku, “aahkk… enak…. hhmm…” gumamnya saat menyemburkan sperma terakhirnya, setelah puas menodaiku pak Isa melepas penisnya di dalam vaginaku begitu juga dengan pak Rojak yang melepaskan penisnya di dalam anusku, “buka mulutmu cepetan,” perintah pak Rojak sambil menarik wajahku agar menghadap ke arah penisnya yang terlihat berdeyut-deyut, aku sangat kaget sekali saat pak Rojak memuntahkan spermanya ke arah wajahku, sehingga wajahku ternodai oleh sperma pak Rojak, Kini aku benar-benar sudah tidak memiliki tenaga sedikitpun, untuk mengangkat tubuhku saja terasa sangat berat sekali, sedangkan mereka tanpa puas memandangku yang sedang berpose mengangkang di depan mereka karena kedua kakiku kembali dipegangi Ani, sperma yang tadi di muntahkan pak Isa terasa mengalir keluar dari dalam vaginaku,</p>
<p style="text-align: justify;">Aku duduk di atas sofa sambil melihat anak angkatku Aldi yang sedang di temani suamiku belajar, wajah mereka terlihat sangat cerah sekali bertanda bahwa mereka sangat bahagia, entah kenapa tiba-tiba di pikiranku terlintas kembali apa yang terjadi tadi pagi yang menimpa diriku, semakin aku berusaha melupakannya rasanya ingatan itu semakin menghantuiku, aku tidak bisa membayangkan kalau sampai suamiku mengetahui kalau aku di perkosa oleh ketiga pembantuku sendiri, “hhmm… gi mana Aldi sudah negerti belom” kataku sambil mengucek rambutnya yang sedang sibuk menghitung soal yang di berikan suamiku, “ya sudah kalau begitu mama bikinin minuman dulu ya, buat kalian,” kataku yang di sambut dengan teriakan mereka berdua, Baru satu langkah aku keluar dari kamar tiba-tiba pergelangan tanganku terasa sakit saat pak Rojak menarik tanganku, “bapak apaan sih!?” bentakku dengan suara yang sangat pelan, “ssstt… jangan berisik…” kata pak Rojak dengan jari telunjuk di bibirnya, “nanti suami dan anak mu dengar, hhmm… bapak cuman mau ini Bu,” katanya lagi sambil mencubit payudaraku, dengan sigap aku mundur ke belakang,</p>
<p style="text-align: justify;">“jangan main-main pak,” beberapa kali aku memandang pintu kamarku yang tidak tertutup rapat, tetapi pak Rojak tidak kehabisan akal dia balik mengancamku dengan mengatakan akan membongkar semua rahasiaku ke pada suamiku, sehingga nyaliku menjadi ciut, “oke, hhmm… kalau begitu bapak ikut saya” kataku dengan suara yang bergetar, karena sudah tidak tahu lagi harus melakukan apa, dia terseyum puas melihatku tak berdaya dengan permintaanya, “maaf Bu, saya inginnya di sini bukan di tempat lain,” katanya dengan suara yang cukup jelas, setelah berkata seperti itu pak Rojak langsung memelukku dengan erat sehingga aku sulit bernafas, “hhmm… bauh tubuh ibu benar-benar menggoda saya,” perlahanku rasakan lidahnya menjulur ke leherku “pak ku mohon, jangan di sini” pintaku ke padanya, Pak Rojak yang mengerti kekhawatiranku langsung membalik tubuhku menghadap daun pintu kamarku yang sedikit terbuka,</p>
<p style="text-align: justify;">“Ibu bisa bayangkan kalau sampai orang yang sedang di dalam kamar Ibu mengetahui apa yang sedang Ibu lakukan,” ancamnya sambil menarik rambutku sehingga aku harus menutup mulutku dengan telapak tanganku agar suara terikanku tidak terdengar oleh suami dan anakku, “Pak ku mohon jangan di sini,” aku hanya bisa menurut saja saat pak Rojak menyuruhku untuk menungging dengan tangan yang menyentuh lantai, sedangkan wajahku menghadap ke celah pintu kamarku yang terbuka, “tahan ya Bu,” katanya sambil menyingkap dasterku, sehingga celana dalamku yang berwarna hitam terpampang di depan matanya, dengan sangat kasar pak Rojak meremas kedua buah pantatku yang padat sehingga aku tak tahan untuk tidak mendesah, “aahkk.. pak hhmm.. ja-jangan di sini pak,” pak Rojak diam saja tidak mendengar kata-kataku melainkan pak Rojak semakin membuatku terangsang dengan mengelus belahan vaginaku dari belakang, “kalau kamu tidak mau ketahuan jangan bicara,” bentak pak Rojak sambil memukul pantatku “ta-tapi pak, oohhkk… aku ga kuat,” kataku dengan suara yang sangat pelan, “ku mohon pak mengertilah,”</p>
<p style="text-align: justify;">Pak Rojak seolah-olah tidak mau tahu, kini dengan rakusnya pak Rojak menjilati vaginaku yang masih tertutup celana dalamku, sehingga aku merasa celana dalamku tampak semakin basah oleh air liurnya. Setelah puas menciumi vaginaku pak Rojak memintaku untuk membuka celana dalamku sendiri masih dengan posisi menungging. Sangat sulit bagiku untuk melepaskan celana dalamku dengan posisi menungging belum lagi aku harus bekonsentrasi agar suaraku tidak keluar dengan keras walaupun pada akhirnya aku berhasil menurunkan celana dalamku sampai ke lutut, “hhuuu… mantab….” katanya sambil merabahi vaginaku dari belakang, “kamu mau tahukan gimana rasanya ngent*t di depan suamimu sendiri,” katanya lagi sambil menunjuk ke arah suamiku yang sedang mengajari anaku Aldi, “pak, ja-jangan…” aku sangat takut sekali kalau suamiku melihat ke arahku, tiba-tiba aku di kejutkan dengan jari telunjuk pak Rojak yang langsung memasuki vaginaku sehingga aku terpekik cukup keras, “sayang… ada apa?” kata suamiku dari dalam, saat mendengar suaraku.</p>
<p style="text-align: justify;">“aahkk… tidak pa, cuman hhmm.. tadi ada tikus lewat,” jawabku asal-asalan agar suamiku tidak curiga ke padaku, tetapi untungnya suamiku tidak melihat ke arahku, dalam ke adaan terjepit seperti ini pak Rojak masih asyik mempermainkan vaginaku dari belakang, “ada tikus??” katanya lagi seolah-olah tidak percaya, “apa perlu papa yang usir,” mendengar tawarannya nafasku teras berhenti tetapi untungnya aku masih banyak akal, “aahhgg… ga usah hhmm.. pa…” kataku terputus-putus menahan rasa nikmat yang di berikan pak Rojak kepadaku, untungnya suamiku tidak curiga dengan suaraku, “asyikan Bu, ngobrol dengan suami sambil di mainin memiawnya,” aku memandangnya dengan wajah yang memerah karena nafsuku sudah di puncak, “ko’ diam cepat ajak suami Ibu ngobrol,” mendengar perkataanya aku langsung melotot ke arahnya, “Ibu mau kalau suami Ibu tau apa yang sekarang Ibu lakuin,” mendengar ancamannya aku kembali terdiam, Dengan sangat terpaksa aku kembali mengajak suamiku mengobrol, walaupun di dalam hati aku merasa was-was takut kalau suamiku menyadari suaraku yang berubah menjadi desahan,</p>
<p style="text-align: justify;">“paaa… ma-mau minum apa?” tanyaku yang kini sedang diperkosa oleh pak Rojak, tanpa kusadari pak Rojak sudah memposisikan penisnya di depan ibir vaginaku sehingga beberapa kali aku terpanjat saat pak rojak menghantamkan penisnya dengan sangat keras ke dalam vaginaku, “terserah mama saja… papa sama Aldi ikut aja,” “iya ma, apa aja asalkan enak,” sambung Aldi, Waktu demi waktu telah berlalu sehingga sampai akhirnya sikapku berubah menjadi sedikit liar dan mulai menyukai cara pak Rojak memperkosaku walaupun pada awalnya hatiku terasa miris sekali di perlakukan seperti ini, “aahk…. pak hhmm.. enak,” aku melenggu panjang saat orgasme melandahku, kini perkosaan yang ku alami berganti dengan perselingkuhanku dengan pembantuku, “ohhk… memiaw istri majikan ternyata enak sekali, ahhkk…” katanya yang terus-terusan menggoyang penisnya di dalam vaginaku, “pak… aahhkk… eehkk… aku, hhmm… ingin keluarrr, uuhhkk…” kali ini suaraku terdengar sangat manja Beberapa menit kemudian kami mengerang bersamaan saat kenikmatan melanda kami berdua, setelah merasa puas aku dan pak Rojak kembali merapikan pakaian kami masing-masing, sebelum pak Rojak pergi meninggalkanku sempat terlihat seyumannya yang tersungging di bibirnya. Setelah membuatkan minuman aku kembali ke kamarku menemui anak dan suamiku, mereka terlihat tanpak senang sekali melihatku hadir dengan membawa minuman dan makanan kecil,</p>
<p style="text-align: justify;">“ini di minum dulu, nanti baru di lanjutin lagi,” kataku sambil meletakan cangkir dan piring di atas meja kecil yang di gunakan Aldi untuk belajar, “makasi mama…” kata Aldi yang langsung saja menyambar minuman yang baru ku bikin, entah kenapa setiap kali melihat Aldi hatiku terasa menjadi damai, dan semua masalah seperti terlupakan, Aku merasa sedikit aneh, saat suamiku memandangku dengan tatapan mencurigakan sehingga aku memberanikan diri untuk bertanya ke padanya, “ada pa, ko memandang mama seperti itu” kataku sambil mengupas jeruk untuk Aldi yang sedang menulis, suamiku mendekatkan mulutnya ke telingaku, “hhmm.. sayang ko’ kamu bau hhmm… gitulah…” mendengar pertanyaannya jantungku terasa berhenti, “bau, bau apa pa?” tanyaku untuk memastikan apa maksud dari pertanyaan suamiku, “kamu tadi ko’ lama ma,” kami terdiam beberapa saat, “mama abis dari kamar mandi ya, hhmmm… papa jadi curiga ni,” katanya sambil tertawa memandangku, mendengar perkataanya aku menjadi sedikit lega, “Iya ni pa, abis kangen si…” kataku manja sambil mencubit penis suamiku, Setelah yakin Aldi tertidur pulas, suamiku mengjakku untuk melayaninya semalaman suntuk. Tubuhku memang terasa lelah karena seharian harus mengalami orgasme, tetapi di sisi lain aku sangat senang karena suamiku tidak mencurigai aku karena bau tubuhku seperti bau orang yang habis bercinta.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ceritasex.cn/pernikahan-yang-ternoda/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Model Seksi Digarap Dua Lelaki</title>
		<link>http://www.ceritasex.cn/model-seksi-digarap-dua-lelaki/</link>
		<comments>http://www.ceritasex.cn/model-seksi-digarap-dua-lelaki/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 19 Jun 2010 07:14:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cerita Sex</dc:creator>
				<category><![CDATA[Daun Muda]]></category>
		<category><![CDATA[Gangbang Rame Rame]]></category>
		<category><![CDATA[Pemerkosaan]]></category>
		<category><![CDATA[Seks Umum]]></category>
		<category><![CDATA[kisah nyata]]></category>
		<category><![CDATA[anus]]></category>
		<category><![CDATA[cuki]]></category>
		<category><![CDATA[gangbang]]></category>
		<category><![CDATA[ines]]></category>
		<category><![CDATA[model]]></category>
		<category><![CDATA[ngentot]]></category>
		<category><![CDATA[perkosa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ceritasex.cn/?p=1446</guid>
		<description><![CDATA[Aku, seorang model yunior, diperkenalkan oleh temanku pada seorang fotografer ternama supaya aku bisa diorbitkan menjadi model terkenal. Temanku ngasi tau bahwa om Andi, demikian dia biasanya dipanggil, doyan daun muda. Bagiku gak masalah, asal benar2 dia bisa mendongkrak ratingku sehingga menjadi ternama. Om Andi membuat janjian untuk sesi pemotretan di vilanya di daerah Puncak. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Aku, seorang model yunior, diperkenalkan oleh temanku pada seorang fotografer ternama supaya aku bisa diorbitkan menjadi model terkenal. Temanku ngasi tau bahwa om Andi, demikian dia biasanya dipanggil, doyan daun muda. Bagiku gak masalah, asal benar2 dia bisa mendongkrak ratingku sehingga menjadi ternama.</p>
<p style="text-align: justify;">Om Andi membuat janjian untuk sesi pemotretan di vilanya di daerah Puncak. Pagi2 sekali, pada hari yang telah ditentukan, om andi menjemputku. Bersama dia ikut juga asistennya, Joko, seorang anak muda yang cukup ganteng, kira2 seumuran denganku.</p>
<p style="text-align: justify;">Tugas Joko adalah membantu om Andi pada sesi pemotretan. Mempersiapkan peralatan, pencahayaan, sampe pakaian yang akan dikenakan model. Om Andi sangat profesional mengatur pemotretan, mula2 dengan pakaian santai yang seksi, yang menonjolkan lekuk liku tubuhku yang memang bahenol. Pemotretan dilakukan di luar.</p>
<p style="text-align: justify;">Bajunya dengan potongan dada yang rendah, sehingga toketku yang besar montok seakan2 mau meloncat keluar. Joko terlihat menelan air liurnya melihat toketku yang montok. Pasti dia ngaceng keras, karena kulihat di selangkangan jins nya menggembung. Aku hanya membayangkan berapa besar kontolnya, itu membuat aku jadi blingsatan sendiri.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah itu, om Andi mengajakku melihat hasil pemotretan di laptopnya, dia memberiku arahan bagaimana berpose seindah mungkin. Kemudian sesi ke2, dia minta aku mengenakan lingeri yang juga seksi, minim dan tipis, sehingga aku seakan2 telanjang saja mengenakannya. Pentil dan jembutku yang lebat membayang di kain lingerie yang tipis.</p>
<p style="text-align: justify;">Jokopun kayanya gak bisa konsentrasi melihat tubuhku. Aku yakin kon tolnya sudah ngaceng sekeras2nya. Om Andi mengatur gayaku dan mengambil poseku dengan macam2 gaya tersebut. Tengkurap, telentang, ngangkang dan macem2 pose yang seksi2. Kembali om Joko memberiku arahan setelah membahas hasil pemotretannya.</p>
<p style="text-align: justify;">Sekarang sekitar jam 12 siang, om Andi minta Joko untuk membeli makan siang. Sementara itu aku minta ijin untuk istirahat dikolam renang aja. Om Andi memberiku bikini yang so pasti seksi dan minim untuk dikenakan. Tanpa malu2 segera aku mengenakan bikini itu. Benar saja, bikininya minim sehingga hanya sedikit bagian tubuhku yang tertutupinya. Aku berbaring di dipan dibawah payung. Karena lelah akibat sesi pemotretan yang padat dan angin sepoi2, aku tertidur.</p>
<p style="text-align: justify;">Ditengah tidurku aku merasakan ada sesuatu yang meraba-raba tubuhku, tangan itu mengelus pahaku lalu merambat ke dadaku. Ketika tangan itu menyentuh selangkanganku tiba-tiba mataku terbuka, aku melihat om Andi sedang menggerayangi tubuhku.</p>
<p style="text-align: justify;">“Nes, kamu seksi sekali, om jadi napsu deh ngeliatnya. Om jadi pengen ngentotin Ines, boleh gak Nes. Nanti om bantu kamu untuk jadi model profesional”, katanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Karena sudah diberi tahu temanku, aku tidak terlalu kaget mendengar permintaannya yang to the point.</p>
<p style="text-align: justify;">“Ines sih mau aja om, tapi nanti Joko kalo dateng<br />
gimana”, tanyaku.</p>
<p style="text-align: justify;">Om Andi segera meremas2 toketku begitu mendengar bahwa aku gak keberatan dientot.</p>
<p style="text-align: justify;">“Kamu kan udah sering dientot kan Nes, nanti kalo Joko mau kita main ber 3 aja, asik kan kamunya”, katanya sambil tersenyum.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku diam saja, om Andi berbaring di dipan disebelahku. Segera aku dipeluknya, langsung dia menciumku dengan ganas. Tangannya tetap aktif meremas2 toketku, malah kemudian mulai mengurai tali bra bikiniku yang ada ditengkuk dan dipunggung sehingga toketku pun bebas dari penutup. Dia semakin bernapsu meremas toketku.</p>
<p style="text-align: justify;">“Nes, toket kamu besar dan kenceng, kamu udah napsu ya Nes. Mana pentilnya gede keras begini, pasti sering diisep ya Nes”.</p>
<p style="text-align: justify;">Dia duduk di pinggir dipan dan mulai menyedot toketku, sementara aku meraih kontolnya serta kukocok hingga kurasakan kontol itu makin mengeras. Aku mendesis nikmat waktu tangannya membelai selangkanganku dan menggosok-gosok nonokku dari luar.</p>
<p style="text-align: justify;">“Eenghh.. terus om.. oohh!” desahku sambil meremasi rambut om Andi yang sedang mengisap toketku.<br />
<span id="more-1446"></span><br />
Kepalanya lalu pelan-pelan merambat ke bawah dan berhenti di puserku. Aku mendesah makin tidak karuan ketika lidahnya bermain-main di sana ditambah lagi dengan jarinya yang bergerak keluar masuk nonokku dari samping cd bikini ku. Aku sampai meremas-remas toket dan menggigit jariku sendiri karena tidak kuat menahan rasanya yang geli-geli enak itu hingga akhirnya tubuhku mengejang dan nonokku mengeluarkan cairan hangat.</p>
<p style="text-align: justify;">Dengan merem melek aku menjambak rambut om Andi. Segera tangannya pun mengurai pengikat cd bikiniku sehingga aku sudah telanjang bulat terbaring dihadapannya, siap untuk digarap sepuasnya. Dia segera menyeruput nonokku sampai kurasakan cairanku tidak keluar lagi, barulah om Andi melepaskan kepalanya dari situ, nampak mulutnya basah oleh cairan cintaku.</p>
<p style="text-align: justify;">“Jembut kamu lebat ya Nes, pasti napsu kamu besar. Kamu gak puas kan kalo cuma dientot satu ronde”, katanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Belum beres aku mengatur nafasku yang memburu, mulutku sudah dilumatnya dengan ganas. Kurasakan aroma cairan cintaku sendiri pada mulutnya yang belepotan cairan itu. Aku agak kewalahan dengan lidahnya yang bermain di rongga mulutku. Setelah beberapa menit baru aku bisa beradapatasi, kubalas permainan lidahnya hingga lidah kami saling membelit dan mengisap.</p>
<p style="text-align: justify;">Cukup lama juga kami berpagutan, dia juga menjilati wajahku sampai wajahku basah oleh liurnya.</p>
<p style="text-align: justify;">“Ines ga tahan lagi om, Ines emut kontol om ya” kataku. Om Andi langsung bangkit dan berdiri di sampingku, melepaskan semua yang nempel dibadannya dan menyodorkan kontolnya. kontolnya sudah keras sekali, besar dan panjang. Tipe kontol yang menjadi kegemaranku. Masih dalam posisi berbaring di dipan, kugenggam kontolnya, kukocok dan kujilati sejenak sebelum kumasukkan ke mulut.</p>
<p style="text-align: justify;">Mulutku terisi penuh oleh kontolnya, itu pun tidak menampung seluruhnya paling cuma masuk 3/4nya saja. Aku memainkan lidahku mengitari kepala kontolnya, terkadang juga aku menjilati lubang kencingnya sehingga om Andi bergetar dan mendesah-desah keenakan. Satu tangannya memegangi kepalaku dan dimaju-mundurkannya pinggulnya sehingga aku gelagapan.</p>
<p style="text-align: justify;">“Eemmpp..nngg..!” aku mendesah tertahan karena nyaris kehabisan nafas, namun tidak dipedulikannya.</p>
<p style="text-align: justify;">Kepala kontol itu berkali-kali menyentuh dinding kerongkonganku. Kemudian kurasakan ada cairan memenuhi mulutku. Aku berusaha menelan pejunya itu, tapi karena banyaknya pejunya meleleh di sekitar bibirku. Belum habis semburannya, dia menarik keluar kontolnya, sehingga semburan berikut mendarat disekujur wajahku.</p>
<p style="text-align: justify;">Kuseka wajahku dengan tanganku. Sisa-sisa peju yang<br />
menempel di jariku kujilati sampai habis. Saat itu mendadak pintu pager terbuka dan Joko muncul dari sana, dia melongo melihat kami berdua yang sedang bugil.</p>
<p style="text-align: justify;">“Jok, mau ikutan gak”, tanya om Andi sambil tersenyum.</p>
<p style="text-align: justify;">“Kita makan dulu ya”. Segera kita menyantap makanan yang dibawa Joko<br />
sampai habis.</p>
<p style="text-align: justify;">Sambil makan, kulihat jakunnya Joko turun naik melihat kepolosan tubuhku, meskipun agak gugup matanya terus tertuju ke toketku. Aku mengelus-elus kontolnya dari luar celananya, membuatnya terangsang</p>
<p style="text-align: justify;">Akhirnya Joko mulai berani memegang toketku, bahkan meremasnya. Aku sendiri membantu melepas kancing bajunya dan meraba-raba dadanya.</p>
<p style="text-align: justify;">“Nes, toketnya gede juga ya.. enaknya diapain ya”, katanya sambil terus meremasi toketku.</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam posisi memeluk itupun aku perlahan membuka pakaiannya. Nampaklah kontolnya cukup besar, walaupun tidak sebesar kontol om Andi, tapi kelihatannya lebih panjang. Kugenggam kontolnya, kurasakan kontolnya bergetar dan mengeras. Pelan-pelan tubuhku mulai menurun hingga berjongkok di hadapannya, tanpa basa-basi lagi kumasukkan kontolnya ke mulut, kujilati dan kuemut-emut hingga Joko mengerang keenakan.</p>
<p style="text-align: justify;">“Enak, Jok”, tanya om Andi yang memperhatikan Joko agak grogi menikmati emutanku.</p>
<p style="text-align: justify;">Om Andi lalu mendekati kami dan meraih tanganku untuk mengocok kontolnya. Secara bergantian mulut dan tanganku melayani kedua kontol yang sudah menegang itu. Tidak puas hanya menikmati tanganku, sesaat kemudian om Andi pindah ke belakangku, tubuhku dibuatnya bertumpu pada lutut dan kedua tanganku.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku mulai merasakan kontolnya menyeruak masuk ke dalam nonokku. Seperti biasa, mulutku menganga mengeluarkan desahan meresapi inci demi inci kontolnya memasuki nonokku. Aku dientotnya dari belakang, sambil menyodok, kepalanya merayap ke balik ketiak hingga mulutnya hinggap pada toketku. Aku menggelinjang tak karuan waktu pentil kananku digigitnya dengan gemas, kocokanku pada kontol Joko makin bersemangat.</p>
<p style="text-align: justify;">Rupanya aku telah membuat Joko ketagihan, dia jadi begitu bernafsu memaju-mundurkan pinggulnya seolah sedang ngentot. Kepalaku pun dipeganginya dengan erat sampai kesempatan untuk menghirup udara segar pun aku tidak ada. Akhirnya aku hanya bisa pasrah saja dientot dari dua arah oleh mereka, sodokan dari salah satunya menyebabkan kontol yang lain makin menghujam ke tubuhku. kontol Om Andi menyentuh bagian terdalam dari nonokku dan ketika kontol Joko menyentuh kerongkonganku, belum lagi mereka terkadang memainkan toket atau meremasi pantatku.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku serasa terbang melayang-layang dibuatnya hingga akhirnya tubuhku mengejang dan mataku membelakak, mau menjerit tapi teredam oleh kontol Joko. Bersamaan dengan itu pula entotan Om Andi terasa makin bertenaga. Kami pun nyampe bersamaan, aku dapat merasakan pejunya yang menyembur deras di dalamku, kemudian meleleh keluar lewat selangkanganku.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah nyampe, tubuhku berkeringat, mereka agaknya mengerti keadaanku dan menghentikan kegiatannya.</p>
<p style="text-align: justify;">“Nes, aku pengen ngen totin nonok kamu juga”, kata Joko.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku cuma mengangguk, lalu dia bilang lagi,</p>
<p style="text-align: justify;">“Tapi Ines istirahat aja dulu, kayanya masih cape deh”. Aku turun ke kolam, dan duduk berselonjor di daerah dangkal untuk menyegarkan diriku. Mereka berdua juga ikut turun ke kolam, om Andi duduk di sebelah kiriku dan Joko di kananku. Kami mengobrol sambil memulihkan tenaga, selama itu tangan jahil mereka selalu saja meremas atau mengelus dada, paha, dan bagian sensitif lainnya.</p>
<p style="text-align: justify;">“Nes, aku masukin sekarang aja ya, udah ga tahan daritadi belum rasain nonok kamu” kata Joko mengambil posisi berlutut di depanku.</p>
<p style="text-align: justify;">Dia kemudian membuka pahaku setelah kuanggukan kepala,dia mengarahkan kontolnya yang panjang dan keras itu ke nonokku, tapi dia tidak langsung<br />
menusuknya tapi menggesekannya pada bibir nonokku sehingga aku berkelejotan kegelian dan meremas kontol om andi yang sedang menjilati leher di bawah telingaku.</p>
<p style="text-align: justify;">“Aahh.. Jok, cepet masukin dong, udah kebelet nih!” desahku tak tertahankan.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku meringis saat dia mulai menekan masuk kontolnya. Kini nonokku telah terisi oleh kontolnya yang keras dan panjang itu, yang lalu digerakkan keluar masuk nonokku.</p>
<p style="text-align: justify;">“Wah.. seret banget nonok kamu Nes”, erangnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah 15 menit dia gen tot aku dalam posisi itu, dia melepas kontolnya lalu duduk berselonjor dan manaikkan tubuhku ke kontolnya. Dengan refleks akupun menggenggam kontol itu sambil menurunkan tubuhku hingga kontolnya amblas ke dalam nonokku. Dia memegangi kedua bongkahan pantatku, secara<br />
bersamaan kami mulai menggoyangkan tubuh kami.</p>
<p style="text-align: justify;">Desahan kami bercampur baur dengan bunyi kecipak air kolam, tubuhku tersentak-sentak tak terkendali, kepalaku kugelengkan kesana-kemari, kedua toketku yang terguncang-guncang tidak luput dari tangan dan mulut mereka. Joko<br />
memperhatikan kontolnya sedang keluar masuk di nonokku.</p>
<p style="text-align: justify;">Goyangan kami terhenti sejenak ketika om Andi tiba-tiba mendorong punggungku sehingga pantatku semakin menungging dan toketku makin tertekan ke wajah Joko. om Andi membuka pantatku dan mengarahkan kontolnya ke sana.</p>
<p style="text-align: justify;">“Aduuh.. pelan-pelan om, sakit ” rintihku waktu dia<br />
mendorong masuk kontolnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Bagian bawahku rasanya sesak sekali karena dijejali dua kontol kontol besar. Kami kembali bergoyang, sakit yang tadi kurasakan perlahan-lahan berubah menjadi rasa nikmat. Aku menjerit sejadi-jadinya ketika om Andi menyodok pantatku dengan kasar, kuomeli dia agar lebih lembut dikit. Bukannya mendengar, om Andi malah makin buas menggentotku.</p>
<p style="text-align: justify;">Joko melumat bibirku dan memainkan lidahnya di dalam mulutku agar aku tidak terlalu ribut. Hal itu berlangsung sekitar 20 menit lamanya sampai aku merasakan tubuhku seperti mau meledak, yang dapat kulakukan hanya menjerit panjang dan memeluk Joko erat-erat sampai kukuku mencakar punggungnya. Selama beberapa detik tubuhku menegang sampai akhirnya melemas kembali dalam dekapan Joko.</p>
<p style="text-align: justify;">Namun mereka masih saja memompaku tanpa peduli padaku yang sudah<br />
lemas ini. Erangan yang keluar dari mulutku pun terdengar makin tak bertenaga. Tiba-tiba pelukan mereka terasa makin erat sampai membuatku sulit bernafas, serangan mereka juga makin dahsyat, pentilku disedot kuat-kuat oleh Joko, dan om Andi menjambak rambutku. Aku lalu merasakan peju hangat menyembur di dalam nonok dan pantatku, di air nampak sedikit cairan peju itu melayang-layang. Mereka berdua pun terkulai lemas diantara tubuhku dengan kontol masih tertancap.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah sisa-sisa kenikmatan tadi mereda, akupun mengajak mereka naik ke atas. Sambil mengelap tubuhku yang basah kuyup, aku berjalan menuju kamar mandi. Mereka mengikutiku dan ikut mandi bersama. Disana aku cuma duduk, merekalah yang menyiram, menggosok, dan menyabuniku tentunya sambil menggerayangi. nonok dan toketku paling lama mereka sabuni sampai aku menyindir</p>
<p style="text-align: justify;">“Lho.. kok yang disabun disitu-situ aja sih, mandinya ga beres-beres dong, dingin nih” disambut gelak tawa kami.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah itu, giliran akulah yang memandikan mereka, saat itulah nafsu mereka bangkit lagi, akupun mengemut kontol mereka secara bergantian sehingga langsung saja napsu mereka memuncak. aku segera diseret ke ranjang.</p>
<p style="text-align: justify;">Om Andi mendapat giliran pertama, kelihatannya mereka dia main berdua aja dengan ku. Jembutku yang lebat langsung menjadi sasaran, kemudian salah satu jarinya sudah mengelus2 nonokku. Otomatis aku mengangkangkan pahaku sehingga dia mudah mengakses nonokku lebih lanjut. Segera kontolnya yang besar, panjang dan sangat keras aku genggam dan kocok2.</p>
<p style="text-align: justify;">“Nes, diisep dong”, pintanya. Kepalanya kujilat2 sebentar kemudian kumasukkan ke mulutku. Segera kekenyot pelan2, dan kepalaku mengangguk2 memasukkan kontolnya keluar masuk mulutku, kenyotanku jalan terus.</p>
<p style="text-align: justify;">“Ah, enak Nes, baru diisep mulut atas aja udah nikmat ya, apalagi kalo yg ngisep mulut bawah”, erangnya keenakan.</p>
<p style="text-align: justify;">Tangannya terus saja mengelus2 no nokku yang sudah basah karena napsuku sudah memuncak.</p>
<p style="text-align: justify;">“Nes, kamu udah napsu banget ya, nonok kamu udah basah begini”, katanya lagi. kontolnya makin seru kuisep2nya. Kulihat Joko sedang mengelus2 kontolnya yang sudah ngaceng berat melihat om Andi menggarap aku.</p>
<p style="text-align: justify;">Tiba2 dia mencabut kontolnya dari mulutku dan segera menelungkup diatas badanku. kontolnya diarahkan ke nonokku, ditekannya kepalanya masuk ke nonokku. terasa banget nonokku meregang kemasukan kepala kontol yang besar, dia mulai mengenjotkan kontolnya pelan, keluar masuk nonokku. Tambah lama tambah cepat sehingga akhirnya seluruh kontolnya yang panjang ambles di nonokku.</p>
<p style="text-align: justify;">“Enak om , kontol om bikin nonok Ines sesek, dienjot yang keras om “, rengekku keenakan.</p>
<p style="text-align: justify;">enjotan kontolnya makin cepat dan keras, aku juga makin sering melenguh<br />
kenikmatan, apalagi kalo dia mengenjotkan kontolnya masuk dengan keras, nikmat banget rasanya. Gak lama dientot aku udah merasa mau nyampe,</p>
<p style="text-align: justify;">“om lebih cepet ngenjotnya dong, Ines udah mau nyampe”, rengekku.</p>
<p style="text-align: justify;">“Cepat banget Nes, om belum apa2″ jawabnya sambil mempercepat lagi enjotan kontolnya. A</p>
<p style="text-align: justify;">khirnya aku menjerit keenakan “Om, Ines nyampe mas , aah”, aku menggelepar kenikmatan.</p>
<p style="text-align: justify;">Dia masih terus saja mengenjotkan kon tolnya keluar masuk dengan cepat dan keras. Tiba2 dia mencabut kontolnya dari nonokku.</p>
<p style="text-align: justify;">“Kok dicabut om, kan belum ngecret”, protesku.</p>
<p style="text-align: justify;">Dia diem saja tapi menyuruh aku menungging di pinggir ranjang, rupanya dia mau gaya kontol.</p>
<p style="text-align: justify;">“Om, masukkin dinonok Ines aja ya, kalo dipantat gak asik”, pintaku.</p>
<p style="text-align: justify;">Dia diam saja. Segera kontolnya ambles lagi di nonokku dengan gaya baru ini. Dia berdiri sambil memegang pinggulku. Karena berdiri, enjotan kontolnya keras dan cepat, lebih cepat dari yang tadi, gesekannya makin kerasa di nonokku dan masuknya rasanya lebih dalem lagi,</p>
<p style="text-align: justify;">“Om , nikmat”, erangku lagi.</p>
<p style="text-align: justify;">Jarinya terasa mengelus2 pantatku, tiba2 salah satu jarinya disodokkan ke lubang pantatku, aku kaget sehingga mengejan. Rupanya nonokku ikut berkontraksi meremas kontol besar panjang yang sedang keluar masuk,</p>
<p style="text-align: justify;">“Aah Nes, nikmat banget, empotan nonok kamu kerasa banget”, erangnya sambil terus saja mengenjot nonokku.</p>
<p style="text-align: justify;">Sementara itu sambil mengenjot dia agak menelungkup di punggungku dan tangannya meremas2 toketku, kemudian tangannya menjalar lagi ke i tilku, sambil dientot i tilku dikilik2nya dengan tangannya. Nikmat banget dien tot dengan cara seperti itu.</p>
<p style="text-align: justify;">“Om , nikmat banget ngentot sama om , Ines udah mau nyampe lagi. Cepetan enjotannya om ,” erangku saking nikmatnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Dia sepertinya juga udah mau ngecret, segera dia memegang pinggulku lagi dan mempercepat enjotan kontolnya. Tak lama kemudian,</p>
<p style="text-align: justify;">“Om, Ines mau nyampe lagi, om , cepetan dong enjotannya, aah”, akhirnya aku mengejang lagi keenakan. Gak lama kemudian dia mengentotkan kontolnya dalem2 di nonokku dan terasa pejunya ngecret.</p>
<p style="text-align: justify;">“Aah Nes, nikmat banget”, diapun agak menelungkup diatas punggungku.</p>
<p style="text-align: justify;">Karena lemas, aku telungkup diranjang dan dia masih menindihku, kontolnya tercabut dari nonokku.</p>
<p style="text-align: justify;">“Om , nikmat deh, sekali entot aja Ines bisa nyampe 2 kali. Abis ini giliran Joko ya”, kataku.</p>
<p style="text-align: justify;">“Iya”, jawabnya sambil berbaring disebelahku.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku memeluknya dan dia mengusap2 rambutku. “Kamu pinter banget muasin lelaki ya Nes”, katanya lagi.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku hanya tersenyum, “Om, Ines mau ke kamar mandi, lengket badan rasanya”, aku pun bangkit dari ranjang dan menuju ke kamar mandi.</p>
<p style="text-align: justify;">Selesai membersihkan diri, aku keluar dari kamar mandi telanjang bulat, kulihat om Andi sudah tidak ada dikamar. Joko sudah berbaring diranjang. Aku tersenyum saja dan berbaring disebelahnya. Dia segera mencium bibirku dengan penuh napsu. kontolnya keelus2. Lidahku dan lidahnya saling membelit dan kecupan bibir berbunyi saking hotnya berciuman. Tangannya juga mengarah kepahaku.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku segera saja mengangkangkan pahaku, sehingga dia bisa dengan mudah mengobok2 nonokku. Sambil terus mencium bibirku, tangannya kemudian naik meremas2 toketku. Pentilku diplintir2nya,</p>
<p style="text-align: justify;">“Jok enak, Ines udah napsu lagi nih”, erangku.</p>
<p style="text-align: justify;">Tanganku masih mengocok kontolnya yang sudah keras banget. Kemudian ciumannya beralih ke toketku. Pentilku yang sudah mengeras segera diemutnya dengan penuh napsu,</p>
<p style="text-align: justify;">“Jok , nikmat banget “, erangku.</p>
<p style="text-align: justify;">Diapun menindihku sambil terus menjilati pentilku. Jilatannya turun keperutku, kepahaku dan akhirnya mendarat di nonokku.</p>
<p style="text-align: justify;">“Aah Jok , enak banget, belum dientot aja udah nikmat banget”, erangku.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku menggeliat2 keenakan, tanganku meremas2 sprei ketika dia mulai menjilati nonok dan i tilku. Pahaku tanpa sengaja mengepit kepalanya dan rambutnya kujambak, aku mengejang lagi, aku nyampe sebelum dientot. Dia pinter banget merangsang napsuku. Aku telentang terengah2, sementara dia terus menjilati nonokku yang basah berlendir itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Dia bangun dan kembali mencium bibirku, dia menarik tanganku minta dikocok kontolnya. Dia merebahkan dirinya, aku bangkit menuju selangkangannya dan mulai mengemut kontolnya.</p>
<p style="text-align: justify;">“Nes, kamu pinter banget sih”, dia memuji.</p>
<p style="text-align: justify;">Cukup lama aku mengemut kon tolnya. Sambil mengeluar masukkan di mulutku,<br />
kontolnya kuisep kuat2. Dia merem melek keenakan.</p>
<p style="text-align: justify;">Kemudian aku ditelentangkan dan dia segera menindihku. Aku sudah mengangkangkan pahaku lebar2. Dia menggesek2kan kepala kontolnya di bibir nonokku, lalu dienjotkan masuk,</p>
<p style="text-align: justify;">“Jok , enak”, erangku.</p>
<p style="text-align: justify;">Dia mulai mengenjotkan kon tolnya keluar masuk pelan2 sampai akhirnya blees, kontolnya nancep semua di nonokku.</p>
<p style="text-align: justify;">“Nes, nonokmu sempit banget, padahal barusan kemasukan kontol berkali2ya”, katanya.</p>
<p style="text-align: justify;">“Tapi enak kan, abis kontol kamu gede dan panjang sampe nonok Ines kerasa sempit”, jawabku terengah.</p>
<p style="text-align: justify;">Dia mulai mengenjotkan kontolnya keluar masuk dengan cepat, bibirku diciumnya.</p>
<p style="text-align: justify;">“Enak Jok, aah”, erangku keenakan.</p>
<p style="text-align: justify;">enjotannya makin cepat dan keras, pinggulku sampe bergetar karenanya. Terasa nonokku mulai berkedut2,</p>
<p style="text-align: justify;">“Jok lebih cepet dong, enak banget, Ines udah mau nyampe”, erangku.</p>
<p style="text-align: justify;">“Cepet banget Nes, aku belum apa2″, jawabnya.</p>
<p style="text-align: justify;">“Abisnya kon tol kamu enak banget sih gesekannya”, jawabku lagi.</p>
<p style="text-align: justify;">enjotannya makin keras, setiap ditekan masuk amblesnya dalem banget rasanya. Itu menambah nikmat buat aku</p>
<p style="text-align: justify;">“Terus Jok , enak”. Toketku diremas2 sambil terus mengenjotkan kontolnya keluar masuk.</p>
<p style="text-align: justify;">“Terus Jok , lebih cepat, aah, enak Jok, jangan brenti, aakh…” akhirnya aku mengejang, aku nyampe, nikmat banget rasanya. Padahal dengan om Andi, aku udah nyampe 2 kali, nyampe kali ini masih terasa nikmat banget. Aku memeluk pinggangnya dengan kakiku, sehingga rasanya makin dalem kontolnya nancep. nonokku kudenyut2kan meremas kontolnya sehingga dia melenguh,</p>
<p style="text-align: justify;">“Enak Nes, empotan nonok kamu hebat banget, aku udah mau ngecret, terus diempot Nes”, erangnya</p>
<p style="text-align: justify;">sambil terus mengenjot nonokku. Akhirnya bentengnya jebol juga. Pejunya ngecret didalam nonokku, banyak banget kerasa nyemburnya</p>
<p style="text-align: justify;">“Nes, aakh, aku ngecret Nes, nikmatnya nonok kamu”, erangnya. Dia menelungkup diatas badanku, bibirku diciumnya.</p>
<p style="text-align: justify;">“Trima kasih ya Nes, kamu bikin aku nikmat banget”. Setelah kontolnya mengecil, dicabutnya dari nonokku dan dia berbaring disebelahku. Aku lemes banget walaupun nikmat sekali. Tanpa terasa aku tertidur disebelahnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku terbangun karena merasa ada jilatan di nonokku, ternyata om Andi yang masih pengen ngentotin aku lagi. kulihat kontolnya sudah ngaceng lagi. nonokku dijilatinya dengan penuh napsu. Pahaku diangkatnya keatas supaya nonokku makin terbuka.</p>
<p style="text-align: justify;">“Om , nikmat banget mas jilatannya”, erangku.</p>
<p style="text-align: justify;">Ngantukku sudah hilang karena rasa nikmat itu. Aku meremas2 toketku sendiri untuk menambah nikmatnya jilatan di nonokku. Pentilku kuplintir2 juga. Kemudian itilku diisep2nya sambil sesekali menjilati nonokku, menyebabkan nonokku sudah banjir lagi.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku menggelepar2 ketika i tilku diemutnya. Cukup lama itilku diemutnya sampai akhirnya kakiku dikangkangkan.</p>
<p style="text-align: justify;">“Om, masukin dong om , Ines udah pengen dientot”, rengekku.</p>
<p style="text-align: justify;">Dia langsung menindih tubuhku, kontolnya diarahkan ke nonokku. Begitu kepala kontolnya menerobos masuk,</p>
<p style="text-align: justify;">“Yang dalem om , masukin aja semuanya sekaligus, ayo dong om “, rengekku karena napsuku yang sudah muncak.</p>
<p style="text-align: justify;">Dia langsung mengenjotkan kontolnya dengan keras sehingga sebentar saja kontolnya sudah nancap semuanya dinonokku. Kakiku segera melingkari pinggangnya sehingga kontolnya terasa masuk lebih dalem lagi.</p>
<p style="text-align: justify;">“Ayo om , dienjot dong”, rengekku lagi.</p>
<p style="text-align: justify;">Dia mulai mengenjot nonokku dengan cepat dan keras, uuh nikmat banget rasanya. enjotannya makin cepat dan keras, ini membuat aku menggeliat2 saking nikmatnya,</p>
<p style="text-align: justify;">“Om , enak om , terus om , Ines udah mau nyampe rasanya”, erangku. Dia tidak menjawab malah mempercepat lagi enjotan kontolnya. Toketku diremas2nya, sampe akhirnya aku mengejang lagi,</p>
<p style="text-align: justify;">“om enak, Ines nyampe om , aah”, erangku lemes.</p>
<p style="text-align: justify;">Kakiku yang tadinya melingkari pinggangnya aku turunkan ke ranjang. Dia tidak memperdulikan keadaanku, kontolnya terus saja dienjotkan keluar masuk dengan cepat, napasnya sudah mendengus2. nonokku kudenyut2kan meremas kontolnya. Dia meringis keenakan.</p>
<p style="text-align: justify;">“Nes, terus diempot Nes, nikmat banget rasanya. Terus empotannya biar om bisa ngecret Nes”, pintanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Sementara itu enjotan kon tolnya masih terus gencar merojok nonokku. Toketku kembali diremas2nya, pentilnya diplintir2nya.</p>
<p style="text-align: justify;">“Om , Ines kepengin ngerasain lagi disemprot peju om “, kataku.</p>
<p style="text-align: justify;">Terus saja kontolnya dienjotkan keluar masuk nonokku dengan cepat dan keras, sampai akhirnya,</p>
<p style="text-align: justify;">“Nes, aku mau ngecret Nes, aah”, erangnya dan terasa semburan pejunya mengisi bagian terdalam nonokku. Nikmat banget rasanya disemprot peju anget. Dia ambruk dan memelukku erat2,</p>
<p style="text-align: justify;">“Nes, nikmat banget deh ngen tot ama kamu”, katanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah beristirahat sebentar, aku segera membersihkan diri dan berpakaian. Kami kembali ke Jakarta. Diperjalanan pulang aku hanya terkapar saja dikursi mobil. Lemes banget abis dien tot 2 cowok berkali2.</p>
<p style="text-align: justify;">“Om, jangan lupa orbitin Ines ya”, kataku.</p>
<p style="text-align: justify;">“Jangan kawatir, selama om masih bisa ngerasain empotan nonok kamu, pasti kamu melejit keatas deh. Bener gak Jok”, jawabnya.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ceritasex.cn/model-seksi-digarap-dua-lelaki/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Di Perkosa Tapi Enak</title>
		<link>http://www.ceritasex.cn/di-perkosa-tapi-enak/</link>
		<comments>http://www.ceritasex.cn/di-perkosa-tapi-enak/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 26 May 2010 21:01:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cerita Sex</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ekshibionis]]></category>
		<category><![CDATA[Paruh baya]]></category>
		<category><![CDATA[Seks Umum]]></category>
		<category><![CDATA[kisah nyata]]></category>
		<category><![CDATA[anak kost]]></category>
		<category><![CDATA[anal]]></category>
		<category><![CDATA[anus]]></category>
		<category><![CDATA[cuki]]></category>
		<category><![CDATA[enak]]></category>
		<category><![CDATA[memek]]></category>
		<category><![CDATA[ngentot]]></category>
		<category><![CDATA[pepek]]></category>
		<category><![CDATA[perkosa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ceritasex.cn/?p=1404</guid>
		<description><![CDATA[Waktu itu aku bersama teman-teman kantor berlibur ke Pangandaran, kami pergi berempat.. Aku, Lina, Mita dan cowoknya Mita.. Edy namanya. Setelah menempuh perjalanan lebih dari 5 jam, akhirnya kami tiba di Pangandaran.. Dan kami langsung menyewa satu bungalow yang terdiri 1 ruang tamu, 2 kamar tidur, 1 kamar mandi dan 1 dapur. Karena kami tiba [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Waktu itu aku bersama teman-teman kantor berlibur ke Pangandaran, kami pergi berempat.. Aku, Lina, Mita dan cowoknya Mita.. Edy namanya. Setelah menempuh perjalanan lebih dari 5 jam, akhirnya kami tiba di Pangandaran.. Dan kami langsung menyewa satu bungalow yang terdiri 1 ruang tamu, 2 kamar tidur, 1 kamar mandi dan 1 dapur. Karena kami tiba sudah larut malam, maka setelah menurunkan barang-barang.. Kami pun langsung masuk ke kamar masing-masing, aku satu kamar bersama Lina, sedangkan Mita satu kamar bersama cowoknya, kamar yang aku tempati terdiri atas dua ranjang yang terpisah, sebuah lemari pakaian dan meja rias dengan kacanya yang besar dan jendela yang menghadap ke laut. Karena capek, lelah dan ngantuk.. Kami pun langsung tidur tanpa ganti baju lagi. Keesokan harinya aku bangun jam 10 pagi dan aku melihat Lina sudah tidak ada ditempat tidurnya, aku pun langsung bangun dan menyisir rambutku yang panjang (sebahu lebih) dan keluar kamar, ternyata tidak ada siapa-siapa..&#8221;Wah pada kemana mereka..&#8221; pikirku, tetapi tiba-tiba HP ku berbunyi, ternyata Lina menelpon.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Sudah bangun non..&#8221; serunya. &#8220;Kalian lagi dimana sih?&#8221; seruku. &#8220;Oh iya.. Sorry, kita lagi pergi cari film nih.. Tadi enggak tega bangunin kamu..&#8221; seru Lina. &#8220;Yaa.. sudah.. Titip makanan yaa..&#8221; sahutku &#8220;Okey non&#8221; lalu hubungan terputus. Kini aku sendirian di bungalow itu, lalu aku pun segera mandi.. Dan menikmati segarnya guyuran air dari shower, setelah mandi akupun memakai CD dan BH warna pink (aku suka yang satu warna) dan memakai kimono, setelah itu aku duduk-duduk disofa tamu sembari mengeringkan rambutku dengan handuk, tiba-tiba aku melihat secarik kertas diatas meja, disitu tertulis &#8216;menyediakan jasa pijat, urut dan lulur&#8217; dan dibawahnya ada nomor teleponnya. &#8220;Ah betapa enaknya dipijat.. Kebetulan badan lagi pegel..&#8221; pikirku sembari membayangkan dipijat oleh si mbok dirumah, lalu aku menelphon nomor itu dan diterima oleh seorang wanita disana, setelah mengutarakan maksudku, akhirnya wanita itu bilang.. Tidak lama lagi akan datang pemijat ke kamar aku, setelah itu akupun duduk menanti.. Tak lama kemudian pintu diketuk dari luar, segera aku bangkit dan membuka pintu.. Dan..</p>
<p style="text-align: justify;">Terkejutlah aku, karena tampak seorang pria dengan baju putih berdiri diambang pintu, lalu. &#8220;Selamat siang neng.. Anu.. Tadi manggil tukang pijat yaa?&#8221; seru pria itu. Tampak pria itu berumur kira-kira 45-an, tidak terlalu tinggi tapi kekar dan berkulit coklat. &#8220;Eh.. nggak.. Anu.. Iya pak..&#8221; sahut aku, &#8220;Anu.. Bapak tukang pijatnya..?&#8221; tanyaku. Pria itu tersenyum lalu, &#8220;Iya neng&#8221;. Wah.. Kini aku rada sedikit panik, tidak menduga kalau tukang pijatnya seorang pria, tapi tanpa aku sadari aku malah mempersilahkan bapak itu masuk, setelah masuk. &#8220;Mau dipijat dimana Neng?&#8221; tanyanya. &#8220;Ngk.. Di.. Kamar aja pak&#8221; sahutku, lalu aku membiarkan bapak itu mengikutiku menuju kamar, tiba didalam kamar, bapak itu segera dengan cekatan membereskan ranjang tidurku, lalu menyuruhku untuk tengkurep diatas ranjang. Aku mengikutinya, dan berbaring tengkurep diatas ranjang.. Lalu terasa tangan si bapak itu yang kasar itu mulai memijat-mijat telapak kaki dan kedua betisku, aku benar-benar merasakan nikmatnya pijatan bapak itu, kemudian.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Maaf neng.. Kimononya dibuka yaa&#8221; serunya, Aku hanya diam saja ketika kimonoku dibuka dan diletak diranjang satunya lagi, kini hanya tinggal CD dan bra saja, setelah memijat betis dan bagian paha.. Si bapak beralih ke punggungku, memang terasa enak pijatan si bapak ini, setelah itu aku merasakan si bapak menuangkan oil ke atas punggungku dan mulai mengosoknya, lalu. &#8220;Maaf yaa Neng&#8221; serunya sembari melepas tali BHku, aku hanya diam saja, kedua tanganku aku taruh dibawa bantal sementara kepalaku menoleh ke arah tembok, terasa geli juga ketika si bapak mulai mengurut bagian samping tubuhku. Lalu terasa tangan si bapak mulai mengurut kebagian bawah dan menyentuh CD ku, lalu &#8220;Maaf yaa neng..&#8221; serunya sembari tangannya menarik CDku kebawah, aku terkejut tapi anehnya aku membiarkan si bapak itu melorotkan CD ku hingga lepas, kini si bapak dengan leluasa mengurut tubuhku bagian belakang yang sudah telanjang itu, lalu si bapak mengosokan oil ke seluruh tubuhku bagian belakang dari pundak sampai ketelapak kaki dan dibawah sinar lampu kamar, aku yakin tubuhku akan tampak mengkilap karena oil itu.</p>
<p><span id="more-1404"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Aku hanya berdiam diri saja.. Dan membiarkan si bapak mengurut bagian dalam pahaku, kedua kaki ku direnggangkan.. Oouhh.. Pasti sekarang dibapak dapat melihat kemaluanku dari belakang.. Pikirku, tapi aku hanya diam saja.. Dan diam-diam merasakan nikmat ketika tangan dibapak menyentuh-nyentuh bibir vaginaku, lalu dibapak naik ke atas tempat tidur dan duduk berlutut diantara kedua paha ku, aku hanya bisa pasrah saja ketika si bapak merenggangkan kedua pahaku lebih lebar lagi dan membiarkan kedua tangan si bapak mengurut-urut bagian pinggir vaginaku.. Gilaa.. Aku terangsang hebat.. Dan setiap jari-jari si bapak menyentuh bibir vagina ku.. Akupun mengelinjang.. Setelah cukup lama, akhirnya si bapak menuangkan oil ke atas pantatku.. Terasa cairan oil itu merambat melewati anus dan terus sampai ke vaginaku, kemudian dengan kedua tangannya.. si bapak mulai mengurut bongkah pantatku, dan aku benar-benar merasakan nikmat dan membiarkan si bapak membuka bongkah pantatku dan pasti dia dapat melihat bentuk kemaluanku dengan jelas dari belakang berikut anus ku.. Oohh</p>
<p style="text-align: justify;">Tiba-tiba terasa jari-jari si bapak mengusap-usap anus ku.. Gilaa.. Aku terangsang hebat.. Apalagi terasa sedikit demi dikit jari telunjuk dibapak itu dicolok-colok ke dalam anus ku.. Bergetar hebat tubuhku.. Dan tanpa aku sadari aku mengangkat pantatku hingga setengah menungging, tiba-tiba kedua tangan si bapak memegang pangkal paha ku dan mengangkat pantatku ke atas, aku menurut saja.. Hingga akhirnya aku menungging dihadapan si bapak itu, kepala ku.. kubenamkan ke atas bantal.. Dan membiarkan si bapak mempermainkan vaginaku dengan jari-jarinya.. Tiba-tiba.. Ooouuhh.. Aku mengeluh panjang ketika terasa jari si bapak menyusup masuk ke dalam anusku.. Terasa sedikit mules ketika jari telunjuk si bapak itu di sodok-sodok keluar masuk lobang pantatku, oohh.. Aku hanya bisa meringis saja dan akupun mengelinjang hebat ketika tangan si bapak yang satunya menyusupkan jarinya ke dalam liang vaginaku.. Gilaa.. Aku merasakan nikmat luar biasa.. Aku hanya pasrah saja dan membiarkan si bapak mengocok-ngocok vagina dan anusku dengan jari-jarinya,</p>
<p style="text-align: justify;">Tanpa sadar aku meluruskan kedua tanganku untuk menopang tubuhku.. Hingga kini posisiku seperti orang merangkak, sementara si bapak tetap duduk berlutut dibelakang. Cukup lama juga jari-jari si bapak menyodok-nyodok liang vaginaku dan lobang pantatku.. Dan aku benar-benar menikmati.. Sehingga tanpa sadar vaginaku sudah basah bercampur dengan oil.. Tiba-tiba aku merasakan ada sesuatu yang menempel dimulut vaginaku, ternyata si bapak telah mengarahkan batang kemaluannya ke bibir vaginaku, aku hanya pasrah dan membiarkan ketika secara pelan-pelan batang kemaluan si bapak mulai ditekan masuk ke dalam vaginaku.. Oohh.. Nikmat.. Tanpa disadari.. Aku mengerak-gerakan pinggulku juga, tubuhku terguncang-guncang ketika si bapak mulai menyodok-nyodok vaginaku dengan batang kemaluannya.. Aahh.. Nggkk.. Ohh.. Aku benar-benar merasakan nikmat.. Dan diam-diam aku mencapai klimaks tanpa sepengetahuan si bapak itu, tiba-tiba si bapak mencabut batang kemaluannya dari vaginaku.. Lalu oohh.. Gilaa.. Terasa ujung batang kemaluan si bapak ditempelkan ke anusku.. Wah dia mau menyodomi aku.. Pikirku memang aku pernah melakukan anal sex.. Tapi ini..</p>
<p style="text-align: justify;">Lalu si bapak menarik kedua tanganku kebelakang dan menyuruh aku membuka belahan pantatku dengan kedua tanganku sendiri.. Kemudian terasa jari-jari si bapak mengolesi anusku dengan oil.. Dan kadang-kadang menyusupkan satu dua jari nya ke dalam.. Kemudian terasa pelan-pelan batang kemaluan si bapak menerobos masuk ke dalam anus ku.. Aakk.. Nggkk.. Aku mengeluh.. Rada sakit dikit.. Tapi setelah semua batang kemaluan si bapak amblas.. Dan ketika si bapak mulai menyodok-nyodok keluar masuk.. Ahh.. Nikmatnya.. Terasa sedikit mules tapi aku benar-benar enjoy anal sex ini.. Tetapi kini aku merasakan kenikmatan yang.. Tidak klimaks-klimaks.. Sampai basah tubuh ku dengan peluh.. Tetapi si bapak tidak kunjung klimaks juga, rasa nikmat.. Mules.. Campur aduk.. Aku hanya bisa meringis-ringis sembari memejamkan mata saja, tetapi akupun tidak tinggal diam.. Jika si bapak menghentikan gerakannya, maka aku langsung mengerakan pinggulku maju-mundur sehingga batang kemaluan si bapak tetap keluar masuk lobang pantatku hingga akhirnya lama kelamaan gerakan si bapak semakin cepat.. Dan terdengar nafasnya yang semakin memburu, rupanya si bapak sudah mau klimaks..</p>
<p style="text-align: justify;">Dan Akupun membuka belahan pantatku semakin lebar dengan kedua tanganku, lalu terdengar si bapak mengerang aahh.. Nggkk.. Lalu ia menjabut batang kemaluannya dari lobang pantatku lalu disemburnya airmaninya kepunggungku crot.. crot.. Terasa ada cairan kental dan hangat membasahi punggungku.. Sampai kerambutku dan akupun seketika rebah telungkup.. Dengan nafas masih memburu.. Dan masih merasakan nyeri di duburku. Setelah itu si bapak.. Pergi ke kamar mandi.. Akupun segera mengambil CD ku dan mengelap air mani si bapak yang belepotan dipunggung ku.. Tiba-tiba aku mendengar suara pintu dibuka.. Akupun segera mengenakan kimonoku dan berjalan keluar kamar.. Ternyata si bapak itu sudah tidak ada.. Loh gimana sih ini orang.. Pikirku.. Ah.. Biar aja kalau enggak mau dibayar.. Lalu akupun menuju kamar mandi.. Terasa lengket punggung ku karena oil tadi, tetapi tiba-tiba ada yang mengetuk pintu.. Akupun segera merapihkan kimonoku dan berpikir.. Pasti si Lina dan kawan-kawan sudah pulang, ketika pintu aku buka tampak seorang ibu-ibu dengan kebaya berdiri diluar.. Lalu&#8230;</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Selamat siang neng.. Neng yang.. Mau dipijet kan?&#8221; seru ibu itu. &#8220;Iya.. Ibu siapa&#8221; tanyaku &#8220;Saya tukang pijatnya neng&#8221; sahutnya.. Gilaa.. Siapa dong bapak tadi.. Walaupun aku terkejut.. Tetapi jujur.. Aku enjoy sekali dengan permainan si bapak itu.. Tapi.. Andaikan tunangan kutahu.. Ah.. Jangan sampailah.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ceritasex.cn/di-perkosa-tapi-enak/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pesta Seks di Malang</title>
		<link>http://www.ceritasex.cn/pesta-seks-di-malang/</link>
		<comments>http://www.ceritasex.cn/pesta-seks-di-malang/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 30 Dec 2009 02:19:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cerita Sex</dc:creator>
				<category><![CDATA[Daun Muda]]></category>
		<category><![CDATA[Seks Umum]]></category>
		<category><![CDATA[Tante Girang]]></category>
		<category><![CDATA[anal seks]]></category>
		<category><![CDATA[kisah nyata]]></category>
		<category><![CDATA[selingkuh]]></category>
		<category><![CDATA[abg]]></category>
		<category><![CDATA[anal]]></category>
		<category><![CDATA[anus]]></category>
		<category><![CDATA[lonte]]></category>
		<category><![CDATA[memek]]></category>
		<category><![CDATA[ngentot]]></category>
		<category><![CDATA[seks]]></category>
		<category><![CDATA[tante]]></category>
		<category><![CDATA[toked]]></category>
		<category><![CDATA[vagina]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ceritasex.cn/?p=1146</guid>
		<description><![CDATA[Di suatu pagi di puncak villa di daerah Batu Malang, sebuah rumah besar bergaya Eropa dengan tamannya yang sangat indah. Di garasi terdapat 7 buah mobil, 1 diantaranya sebuah &#8220;Limosin&#8221;. Dengan dinding tembok yang tinggi dan kokoh mengelilingi rumah yang luasnya hampir 1/3 luas pulau Bali. Di halaman belakang rumah terdapat kolam renang dengan airnya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Di suatu pagi di puncak villa di daerah Batu Malang, sebuah rumah besar bergaya Eropa dengan tamannya yang sangat indah. Di garasi terdapat 7 buah mobil, 1 diantaranya sebuah &#8220;Limosin&#8221;. Dengan dinding tembok yang tinggi dan kokoh mengelilingi rumah yang luasnya hampir 1/3 luas pulau Bali. Di halaman belakang rumah terdapat kolam renang dengan airnya yang jernih. Ada lapangan tenis, lapangan basket, lapangan bola. Di situ terdapat 50 pembantu yang semuanya wanita.</p>
<p style="text-align: justify;">Rumah yang memiliki 100 buah kamar, 1 diantaranya adalah kamar utamanya yang berisi segala macam &#8220;ada&#8221;. Mulai dari TV 100 inchi sampai AC yang membuat kamar sesejuk di &#8220;Kutub Utara&#8221;. Di sebuah sudut kamar terdapat tempat tidur yang ukurannya 3 kali tempat tidur biasa. Di situ terlihatlah pemandangan yang membuat darah kita naik. Apa itu adik-adik? jangan kemana-mana saya kembali setelah yang berikut ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Di situ tergolek sepasang manusia di mabuk asmara, mereka berdua tergolek telanjang dengan posisi saling berangkulan. Oh, begitu indahnya. Si cowok bernama Sony dan si cewek bernama Rini. Sony adalah lelaki sejati dengan tubuh tinggi kekar 180 cm dengan berat 78 kg menjadikan dia &#8220;the real man&#8221;. Ditambah dengan ukuran batang kemaluannya yang lumayan panjang sekitar 17 cm dengan diameter 12 cm. Dan ceweknya Rini dengan tubuh seksi dan kulitnya seputih salju, tinggi 175 cm dengan berat 60 kg. Terus ditambah wajahnya secantik Marimar, rambutnya yang panjang dan indah tergerai, hidungnya semancung cewek bule, bibirnya sensual, lehernya yang jenjang, susunya yang montok dan mancung itu kira-kira 36C, perutnya yang datar dan kencang, pinggangnya yang langsing, pantatnya yang semok, terusss&#8230; ohh&#8230; kemaluannya terlihatlah daging vagina yang memerah segar dengan bibirnya yang sempit dikelilingi oleh bulu kemaluan yang halus rapi membentuk segitiga. Daging kemaluannya empuk dan terpelihara baik, bersih dan tidak ada bau apa-apa. Pahanya yang putih mulus dengan ditumbuhi bulu-bulu halus dan seterusnya pokoknya &#8220;uendaaang&#8221; dech.</p>
<p style="text-align: justify;">Lalu 5 menit kemudian terdengarlah bunyi weker dengan nyaringnya. Sony mendadak terbangun dari tidurnya, dia melihat Rini tertidur pulas di sebelahnya. Dia mengamati wajah pacarnya itu dengan seksama, lalu dia mencium kening pacarnya terus bibirnya yang sensual itu. Rini terbangun juga dari tidurnya terus kaget melihat Sony memandangnya penuh arti. Lalu&#8230;<br />
&#8220;Sony sayang, kenapa memandangku seperti itu?&#8221; tanyanya penasaran sambil tangannya memilin puting susu Sony.<br />
&#8220;Tidak kok Sayang, aku cuma kagum dengan kecantikanmu yang tiada duanya ini&#8230;&#8221; jawab Sony sambil mencium mesra bibir Rini.<br />
&#8220;Oh.. Sony Sayang, aku tercipta memang untuk kamu seorang, aku milikmu seutuhnya Sony,&#8221; jawabnya sambil memeluk tubuh Sony.<br />
&#8220;Oh.. Rini sayang kau memang bidadariku, ohh&#8230; I love you so much honey, ohhh&#8230; my baby.. my darling.. ohhh?&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Mereka berdua saling dekap, peluk, peluk dan peluk lagi, oh sungguh indahnya. Tapi beberapa menit kemudian telepon berbunyi, mereka berdua sempat tersentak karena sedang asyik bertempur, eh.. telpon berbunyi. Telepon diangkat Rini, lalu&#8230;<br />
&#8220;Hallo..&#8221;<br />
&#8220;Hallo bisa bicara dengan Sony!&#8221;<br />
&#8220;Ini dari siapa ya..?&#8221;<br />
&#8220;Saya tantenya Sony, Tante Nadya di Surabaya.&#8221;<br />
&#8220;Tunggu sebentar..!&#8221;<br />
Lalu&#8230;<br />
&#8220;Sayang, ada telepon dari tantemu.. di Surabaya.&#8221;<br />
&#8220;Tante siapa sayang..?&#8221;<br />
&#8220;Katanya sih Tante Nadya.&#8221;<br />
&#8220;Oh.. baiklah biar kuterima, sayang&#8230;&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Lalu&#8230;<br />
&#8220;Hallo, Sony disini&#8230;&#8221;<br />
&#8220;Hallo Sony keponakanku sayang, bagaimana kabarmu sekarang dan tadi itu tadi siapa? Nah ketahuan ya, pasti cewekmu ya. Tante bisa menebak pasti kalian berdua sekarang dalam keadaan bugil.. hayo&#8230; ngaku.. iya apa iya&#8230;?&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Aduh Tante gimana sih, masa pagi-pagi sudah ngomong jorok. Sony baik-baik aja kok.. dan terus terang cewek tadi itu memang cewek Sony.&#8221;<br />
&#8220;Gimana Son, memeknya tentu lebih enak dari punya Tante iya khan..? Tante senang keponakan Tante tersayang sekarang telah berbahagia.. ohhh.. endannngg&#8230;&#8221;<br />
&#8220;Tante please, jangan ungkit masa lalu.. OK. Oh ya, Tante ada perlu apa dengan Sony?&#8221;<br />
&#8220;Oh.. ya lupa aku sorry Son.. Tante kelepasan. Gini Son, Tante mau minta tolong sama kamu. Tante mau pinjam tempat tinggal, sehari aja. Boleh khan?&#8221;<br />
&#8220;Untuk apa Tante, Sony jadi bingung..?&#8221;<br />
&#8220;Gini Son, Tante dengan teman-teman Tante ingin mengadakan pesta sesama anggota &#8216;LESBIAN&#8217;, boleh khan..?&#8221;<br />
&#8220;Apa&#8230;? E.. tidak&#8230; Tante, Sony tidak mengijinkan Tante mengadakan pesta itu. Tante tahu khan sekarang Sony sudah tidak sendirian lagi, gimana dong dengan Rini, dia akan merasa kecewa dan bisa-bisa kami berdua akan berpisah selamanya. Padahal Sony sangat mencintai Rini.&#8221;<br />
<span id="more-1146"></span><br />
&#8220;Sony ingat kejadian sewaktu kita berdua masih tinggal seatap dulu, kalau kamu tidak mau maka Tante akan menyerahkan kaset video tentang kita sama Oom kamu dan tentunya nanti akan sampai ke tangan ibu dan ayah kamu. Bagaiman Sony kamu milih kehormatan atau mengijinkan usul Tante tadi..?&#8221;<br />
&#8220;Jaaa.dddiii ohhh my God, Tante tidak adil sama Sony. Tante curang saya melakukannya khan Tante yang mulai. Tapi.. ok&#8230; ok.. ok.. dech, Tante menang kali ini. Sony akan pikirkan dulu, nanti Sony akan telpon lagi.&#8221;<br />
&#8220;Ingat Sony besok kamu harus telepon Tante, soalnya acaranya akan dilaksanakan hari Minggu besok lusa dan tentunya kamu harus ikut dalam pesta itu.&#8221;<br />
&#8220;Ya.. ya Tante, nanti Sony akan telpon, OK Tante Byee..&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Lalu tubuh Sony jadi lunglai, dia melihat Rini dengan tubuh bugilnya tertidur lagi. Sony lalu duduk di tepi tempat tidurnya. Pikirannya melayang tentang kejadian saat dia dan tantenya melakukan hubungan yang tidak seharusnya. Sony menyesal akan kejadian itu dan tanpa dia sadari Rini bangun dari tidurnya terus mendekap tubuh Sony dari belakang dengan penuh kelembutan, terus berkata, &#8220;Sony sayang ada apa kok kelihatannya sedih?&#8221; Rini memeluk dengan mesra sambil mencium pundak Sony dengan mesra.<br />
&#8220;Rini sayang, boleh aku berterus terang sama kamu. Tapi aku mohon kamu jangan marah. Ingat cinta kita berdua, OK sayang&#8230;&#8221; katanya sambil mencium tangan Rini.<br />
&#8220;Ya.. tentu dong sayang, aku akan terima apapun yang akan kau katakan,&#8221; jawab Rini seraya menghibur Sony.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Eeehhmm.. tadi itu Tante Nadya istrinya Oomku, kakak ibuku. Aku dulu sewaktu masih kuliah tinggal dengan Oom dan Tanteku itu. Kamu tahu kan aku dulu itu bagaimana kalau melihat body cewek seksi sedikit saja aku pasti tertarik, walaupun dia sudah kepala 4 sekalian.&#8221;<br />
&#8220;Teruss&#8230;&#8221;<br />
&#8220;Stop sayang, aku kayaknya sudah tahu apa yang terjadi selanjutnya. Kalau saya tidak salah tebak kamu pasti ada &#8216;main&#8217; sama Tante kamu ya khan?&#8221;<br />
&#8220;Oh.. my.. God.. Rini bagaimana kau bisa menebak jalan pikiranku. Aku menyesal sekali karena perbuatanku itu. Rini sayang apakah kamu masih mau jadi kekasihku?&#8221;<br />
&#8220;Sony sayang aku sudah menyerahkan &#8216;mahkota&#8217;-ku padamu, tentu karena aku sangat mencintai kamu dan Rini ingin selamanya ada di samping kamu sayang&#8230;&#8221; jawab Rini sambil berdiri di depan Sony.<br />
Sony merasa menyesal, lalu dia memeluk tubuh Rini pas di pinggangnya. Dia menyesal akan perbuatannya. Rini mengelus-elus rambut Sony.<br />
&#8220;Sudah dong sayang! Rini tidak akan meninggalkan kamu.&#8221;<br />
&#8220;Ohh.. Rini sayang sungguh mulia hatimu sayang.&#8221;<br />
Sony menitikkan air matanya untuk kedua kalinya.</p>
<p style="text-align: justify;">Lalu&#8230;<br />
&#8220;Tapi, Rini sayang masih ada lagi persoalan yang lebih rumit dari ini.&#8221;<br />
&#8220;Sony sayang, kan Rini udah bilang apapun persoalan tidak sulit bagi Rini. Ayo katakan saja sayang mungkin Rini bisa membantu!&#8221; jawabnya tegas.<br />
&#8220;Eee.. begini sayang, tadi Tante Nadya minta ijin untuk mengadakan pesta di tempat kita&#8230;&#8221;<br />
&#8220;Sony sayang, khan cuma pesta biasa, biarin aja khan tidak apa-apa, masa sama tantenya sendiri kok gitu..?&#8221;<br />
&#8220;Rini sayang, itu bukan pesta biasa tapi pesta seks sesama anggota &#8216;LESBIAN&#8217; yang mewajibkan semua orang yang ikut harus telanjang dan lagi nanti aku akan jadi barang mainan bagi mereka, jadi saya harus melayani semua teman-teman Tante sekitar 7 orang termasuk dia sendiri. Terus tadi sebetulnya sudah saya tolak permintaannya tapi dia mengancam akan memberikan kaset video tentang hubungan kami dulu ke Oom-ku, aduhhh.. mati aku..!&#8221;<br />
&#8220;Sony sayang, benarkah kaset itu ada?&#8221;<br />
&#8220;Benar sekali sayang, Tante orangnya memang agak licik, aduh gimana dong sayang&#8230; besok saya harus mengambil keputusan.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Sony sayang, mungkin inilah ujian bagi Rini. Kita berdua tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Tante kamu memang lihai, benar juga khan nasehat ibu kamu, semakin cantik seorang wanita maka wanita itu semakin licik dan kejam.&#8221;<br />
&#8220;Terus&#8230; kita harus bagaimana ini sayang..?&#8221; Sony memeluk tubuh Rini.<br />
&#8220;Kalau begitu, Rini terpaksa memberi ijin sama kamu. Rini tidak mau kamu putus hubungan dengan orang tua kamu dan juga Rini tidak ingin kehilangan kamu sayang.&#8221;<br />
&#8220;Ohhh.. sayang betapa mulianya cintamu, aku sangat bahagia punya pacar seperti kamu.&#8221;<br />
&#8220;Tapi dengan syarat, Rini harus ikut juga, karena Rini nanti akan merekam semua yang terjadi, jadi nanti bila terjadi apa-apa kita siap dengan pembelaan kita.&#8221;<br />
&#8220;Eee&#8230; sayang kamu licik juga rupanya, tapi boleh juga usulmu. Jadi kamu rela punyaku diobok-obok mereka..&#8221; kata Sony sambil mengecup bibir Rini.<br />
&#8220;Sony sayang, Rini rela asalkan Sony bahagia,&#8221; ucap Rini manja terus memeluk Sony dengan mesranya.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Terus bagaimana dengan pembantu-pembantu kita sayang?&#8221;<br />
&#8220;Besok kita suruh saja mereka untuk pergi membersihkan rumah kita yang ada di Malang biar mereka sibuk di sana dan tidak mengganggu kita, OK..!&#8221;<br />
&#8220;Wah.. Rini sayang aku sungguh bahagia sekali punya pacar seperti kamu, kamu cerdas dan uhuuiii&#8230;&#8221; kata Sony sambil mengecup puting susu Rini yang memang mancung itu.<br />
&#8220;Ahhh&#8230; kamu nakal ya, awas aku gigit kontolmu nanti..&#8221; ancam Rini.<br />
&#8220;Gigit aja.. siapa takut&#8230;&#8221; tantang Sony sambil terus menjilati puting yang mancung itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Lalu, secepat &#8220;pelor M-16&#8243; Rini pegang batang kemaluan Sony yang sudah tegang itu lalu digigitnya kepala kemaluan yang besar itu.<br />
&#8220;Auwww&#8230; sakit sayang&#8230;&#8221;<br />
&#8220;Katanya tadi mau digigit, apa mau lagi ayo&#8230;&#8221;<br />
&#8220;Kamu tega ya.. aku nangis nih&#8230; oooeekkk&#8230; ooeeekkk&#8230;&#8221;<br />
&#8220;Aduh sayang.. cup.. cuup.. cupp.. jangan nangis ini minum &#8216;cucu&#8217; dulu&#8230;&#8221; kata Rini sambil merapatkan kepala Sony ke susunya yang montok itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Lalu, dengan lidahnya Sony yang sudah menjulur keluar bagai ular menjilati ujung puting sensitif itu.<br />
&#8220;Uuuhhh&#8230; ooohhh&#8230;&#8221; Rini mulai mendesah-desah sambil menggerinjal-gerinjal.<br />
Sementara mulut Sony melumat puting susunya yang sebelah kiri, tangannya memilin-milin puting susunya yang satu lagi. Tubuh Rini itu semakin menggeliat-geliat merasakan nikmat yang tak terhingga. Tak ayal lagi, puting susu Rini langsung tertelan mulut Sony dan juga langsung digelitiki dengan buasnya oleh lidahnya, membuat mata Rini mendelik-delik kenikmatan. Dengan kecupan dan sedotan yang bertubi-tubi, seluruh bagian ujung susu itu menjadi basah kuyup akibat lumatan mulut dan jilatan lidah Sony. Mulai dari puting susu yang kiri sampai puting susu yang sebelahnya lagi.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Soonn&#8230; auuhhh&#8230;&#8221; Rini mendesah dan menjerit keenakan tak terkendali.<br />
Sementara tubuhnya yang tengah dilanda hawa nafsu menggeliat-geliat tak tentu arah. Sony pun tidak mau kalah. Dia jilati lembah di antara kedua bukit membusung di dada Rini. Sementara itu, jari-jemari kedua tangannya memainkan kedua puting susu di puncak bukit-bukit tersebut.Ah! Betapa mengasyikkan sekali peristiwa seperti itu. Susu Rini begitu tinggi, mencuat, lagi pula cepat sekali mengeras.</p>
<p style="text-align: justify;">Puting susu Rini yang tinggi dan runcing kembali menjadi santapan yang lezat mulut Sony. Bunyi kecepak-kecepak dan seruput-seruput terdengar dari mulut Sony yang terus-menerus asyik melumat dan menghisap-hisap puting susu Rini kekasihnya itu. Tubuh Rini pun dibuatnya melengkung ke atas, membuat payudaranya semakin mencuat ke atas, yang tentunya semakin membuat gairah birahinya membulak-bulak. Sedotan-sedotan Sony pada puting susu payudara Rini pun semakin menjadi-jadi. Seakan-akan Sony tidak mau melepaskan benda antik yang begitu menggairahkan ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Tak beberapa lama kemudian, Sony beralih ke bagian bawah tubuh Rini. Langsung saja Sony merasakan bau kewanitaan yang harum dan segar. Rini selalu merawat kemaluannya dengan telaten. Sony mendekatkan mulutnya pada bibir kemaluan Rini. Ah! Bau khas kemaluan wanita dengan aromanya yang tersendiri semakin menambah nafsu seksual Sony yang memang sudah nge-&#8221;JOZZ&#8221; dari tadi. Dengan lembut dan penuh kasih sayang Sony menciumi permukaan selangkangan Rini itu yang ditumbuhi bulu-bulu halus kehitaman yang mengelilingi bibir liang kenikmatannya. Kemudian dengan menjulurkan lidah dan dicucukkan sedikit ke lubang kemaluan Rini, sudah cukup membuat Rini mengeluarkan sebuah jeritan kecil. Sony tersenyum mendengarkannya. Terus dicucukkan lidahnya sekali lagi. Rini pun menjerit sekali. Jeritan kecil Rini berubah menjadi jeritan panjang saat ujung lidah Sony menyentuh daging kecil kemerahan, klitorisnya. Dan semakin bertambah panjang lagi, sewaktu lidahnya menjilati daging kecil yang sudah mulai membengkak tersebut. Sekalipun jeritan Rini ini cukup membuat sakit telinga Sony, namun dia tidak menghiraukannya. Berkali-kali Sony jilati dan gelitiki klitoris Rini dengan garangnya tanpa ampun.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Ooouuu&#8230; Sooonnn&#8230;!&#8221; Rini menjerit-jerit dan menjerit lagi.<br />
&#8220;Crut&#8230; Sruput&#8230; Clrrppuut&#8230;&#8221;<br />
Mulut Sony mulai melumat klitoris kemerahan yang semakin bertambah bengkak. Sekali-kali diseruputnya daging kecil nan sensitif itu seperti sedang menyeruput es lilin. Gerinjalan-gerinjal tubuh Rini makin menjadi-jadi. &#8220;Aaauuuwww&#8230;!&#8221; Rini menjerit sambil menjambak rambut Sony cukup keras. Sony meringis kesakitan. Tetapi ini tidak menghalangi usahanya untuk memasukkan lidahnya sedalam-dalamnya ke dalam kemaluan Rini. Sony merasakan rasa asin dan agak aneh memang ketika menjilati seluruh permukaan dinding lubang kenikmatan milik kekasihnya itu. Pemilik lubang itu terus meraung-raung dengan bebasnya. Sony pun semakin tambah bernafsu. Petualangan lidahnya di dalam kemaluan Rini bertambah membabi buta. Boleh dibilang, tak ada secuil bagianpun dari dinding kemaluan Rini yang luput dari jilatan lidahnya yang memang panjang dan runcing. Bahkan, dinding liang kemaluannya yang licin dan sudah dibanjiri oleh cairan bening kenikmatan berulang-ulang menjadi korban rambahan lidahnya yang tak kenal ampun itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Tubuh Rini terus terlonjak-lonjak kesana-kesini saat dihujam-hujamkan lidah Sony yang lancip itu masuk-keluar lubang kemaluannya. Sementara mulutnya terus mengeluarkan desahan-desahan dan tak jarang dibarengi dengan jeritan-jeritan kecil. Mata Rini terpejam, dan akhirnya&#8230;<br />
&#8220;Aaahhh&#8230; crot.. crit.. cret&#8230;&#8221;<br />
Rini telah memperoleh puncak kepuasannya. Air laharnya muncrat di mulut Sony.</p>
<p style="text-align: justify;">Lalu&#8230;<br />
&#8220;Rini sayang, sekarang giliranmu berlutut di ubin dan aku duduk di ranjang, terus&#8230;&#8221;<br />
Kemudian Rini berlutut di lantai, sedangkan Sony duduk di hadapannya di atas kasur, sehingga selangkangannya tepat berada di depan kepalanya.<br />
&#8220;Ayo dong, sayang, dimulai&#8230;!&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Rini meraih batang kemaluan Sony, lalu perlahan-lahan Rini langsung mengelus-elus batang kemaluan Sony serta menciumi dengan lihai. Sony jadi tambah tidak sabar, langsung saja dia jejalkan batang kemaluannya kemulut Rini. Ternyata Rini menyambutnya dan dengan canggih sekali Rini mulai memainkan batang kemaluan itu di mulutnya. Sony benar-benar mengakui kalau permainan mulut Rini memang super hebat. Rini demikian ahli mengombinasikan antara hisapan, gigitan serta jilatan.</p>
<p style="text-align: justify;">Sony merasakan sangat kenikmatan yang luar biasa. Dan Rini tampaknya semakin bersemangat ketika Sony juga merespon dengan menggenjot batang kemaluannya di mulutnya. Bahkan ketika Sony mencoba untuk mencabutnya, Rini berusaha mencegahnya, sehingga batang kemaluannya tidak bisa lepas dari mulutnya. Bukan hanya batang kemaluan saja yang dimainkan. Biji kemaluannya pun kadang-kadang dikulum-kulum sambil sesekali digigit-gigit. Sambil jari telunjuknya ditusukkan ke anus Sony. &#8220;Oohhh.. enakk&#8230;&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Akh, sangat luar biasa sekali. Sambil menggigit biji batang kemaluan, batang kemaluan Sony dielus-elus serta diremas-remas. Dan ketika Sony sudah tidak tahan lagi, tampaknya Rini tahu, dan langsung batang kemaluan Sony kembali dimasukkan ke mulutnya dan memperhebat kuluman serta sedotannya.</p>
<p style="text-align: justify;">Akhirnya Sony benar-benar tidak tahan, dan bermaksud mencabut dari mulutnya. Tapi rupanya Rini tidak rela batang kemaluan itu keluar dari mulutnya, sehingga &#8220;lahar&#8221; Sony keluar di mulutnya. &#8220;Ahhh&#8230;&#8221; benar-benar Sony merasakan nikmat ketika &#8220;lahar&#8221;-nya tertumpah keluar. Rini tampak gembira sekali dengan keluarnya &#8220;lahar&#8221; Sony. Rini sedot semua &#8220;lahar&#8221; Sony seakan-akan tidak rela &#8220;lahar&#8221; kekasihnya itu tumpah dengan percuma. Namun karena Sony mengeluarkan &#8220;lahar&#8221; cukup banyak sehingga sebagian keluar menetes di mulutnya. Rini mengusap &#8220;lahar&#8221; Sony yang keluar dari mulutnya dengan tangannya, kemudian menjilati tangannya yang belepotan air &#8220;lahar&#8221; itu. &#8220;Ah&#8230; Sony sayang punyamu enak sekali.&#8221; Sambil mengecup kepala batang kemaluan yang sudah menyusut itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Lalu Rini mulai segera beraksi lagi, didorongnya Sony di kasur agar kembali terlentang. Kemudian Rini ikut naik ke atas ranjang, tubuhnya yang &#8220;uhui&#8221; itu menindih tubuh Sony. Terus Rini menyodorkan susunya yang besar dan menantang itu dengan indahnya dari atas. Sony pun segera mencambut susu itu dengan riangnya. Sony mulai menjilati puting susu Rini yang masih tetap tinggi dan mengeras seperti tadi. Rini mengeram kecil sewaktu Sony gigit-gigit kecil puting susu yang menggiurkan itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah itu Rini turun lebih ke bawah. Kini Rini menindih perut Sony. Rini mulai mengepit kedua belah susu yang montok itu dengan lengannya. Lalu Rini menjepit batang kemaluan Sony dengan belahan di antara susunya itu. Kemudian Rini menggeser-geserkan batang kemaluan Sony di lembah tersebut. Gesekan-gesekan yang terjadi antara batang kemaluan itu dengan lereng-lereng dua buah bukit menjulang yang mengapit lembah tersebut ternyata memang ampuh, batang kemaluan Sony kini mulai bangkit lagi. Melihat usahanya mulai menunjukkan hasil, Rini semakin menambah cepat gerakannya. Dan benar saja. Tak lama kemudian, batang kemaluan Sony telah kembali &#8220;siap tempur&#8221; seperti semula.</p>
<p style="text-align: justify;">Tanpa mau membuang kesempatan emas, Rini langsung mengangkangi selangkangan Sony. Setelah mengarahkan batang kemaluan Sony tepat di bawah lubang kemaluannya, Rini mulai beraksi. Bertepatan dengan anjloknya tubuhnya ke bawah, batang kemaluan Sony pun langsung tertelan seluruhnya dalam liang kemaluannya. Mereka berdua sama-sama melenguh cukup keras. Sony tidak mau berdiam diri saja. Segera diputar-putar batang kemaluannya di dalam lubang kemaluan Rini. Sementara itu Rini ikut mengimbangi dengan menaik-turunkan sembari memutar-mutar pantatnya yang semok itu. Mereka berdua semakin lama semakin mempercepat tempo gerakannya. Tangan Sony pun ikut ambil bagian, meremas-remas susu Rini dengan gemasnya. Sony menjepit kedua puting susunya yang mengeras, sehingga tak ayal lagi, kedua puting susu itu melejit dengan indahnya di antara jepitan jari-jari Sony.</p>
<p style="text-align: justify;">Seiring dengan gerakan persetubuhan mereka yang makin menggila, nafsu birahi mereka berdua pun semakin menjadi-jadi. Dan dengan nafsu yang semakin membulak-bulak ini, mereka pun juga makin memperganas persetubuhan mereka. Tak terasa secara keseluruhan sudah hampir satu jam lamanya Sony dan Rini memulai permainan cinta mereka.</p>
<p style="text-align: justify;">Beberapa menit kemudian, bersamaan dengan mendekatnya waktu satu jam itu, Sony dan Rini mengalami orgasme berbarengan. Batang kemaluan Sony memuntahkan air &#8220;lahar&#8221; masuk ke dalam lubang kemaluan kekasihnya itu semuanya. Sebagian malah ada yang berlelehan keluar akibat tidak mampunya lubang kemaluannya menampung cairan kenikmatan Sony itu yang kali ini jauh lebih banyak daripada orgasme yang pertama tadi.</p>
<p style="text-align: justify;">Akhirnya dengan tubuh bermandikan keringat yang mengalir deras, Sony dan Rini jatuh tertidur berdampingan di ranjang yang nyaman itu. Batang kemaluan Sony masih menancap di dalam lubang kemaluan kekasihnya itu, sedangkan tangan Sony masih menungkupi salah satu susunya yang ranum.Singkat cerita, pada keesokan hari Sony menelepon tantenya di Surabaya untuk memberitahu kalau mereka berdua setuju saja bila tantenya ingin mengadakan pesta tapi dengan syarat Rini ikut dalam pesta itu. Tantenya tidak keberatan bahkan malah senang Rini ikut.</p>
<p style="text-align: justify;">Hari Minggu, seperti yang dijanjikan telah tiba. Rumah Sony telah sepi tinggal mereka berdua karena seluruh pembantunya telah pergi ke Malang kota untuk membersihkan rumah Sony yang ada di situ. Sony dan Rini sedang santai menonton TV di ruang keluarga. Lima menit kemudian terdengar bel pintu di depan berbunyi. Sony menduga pasti ini rombongan tante dengan teman-temannya. Dia melangkah keluar dan memang benar rombongan tantenya telah datang. Tante Nadya naik mobil Kijang dengan teman-temannya. Mereka semuanya sekitar 7 orang turun dari mobil itu. Tante Nadya turun dari mobil, kakinya yang seksi dan putih itu terlihat aduhai. Sementara 6 temannya yang lain juga sama mereka semua memiliki kaki yang seksi turun dari mobil.</p>
<p style="text-align: justify;">Lalu,<br />
&#8220;Sony sayang, Tante datang, ehmmm&#8230; ahhh.. kamu tambah cakep aja dan oh&#8230; itu anu kamu tambah besar aja,&#8221; ucap tantenya sambil diciumnya pipi Sony dengan tangannya memegang selangkangan Sony.<br />
&#8220;Tante, jangan ah.. ada Rini tuuh&#8230; Oh ya kenalkan ini Rini, Tante?&#8221;<br />
&#8220;Saya Rini Tante, selamat datang di rumah kami,&#8221; ucap Rini sambil menjabat tangan Tante.<br />
&#8220;Oh&#8230; ini yang namanya Rini.. wuih boleh juga Sony, kamu pintar pilih pacar. Ehh.. Rini gimana keponakan Tante OK tidak &#8216;anu&#8217;-nya, ayo jangan malu-malu, jujur aja sama Tante&#8230;?&#8221;<br />
&#8220;Ahh.. Tante ada-ada saja, Rini jadi malu&#8230;&#8221; ucapnya agak kaget sedikit.<br />
&#8220;Alaaa&#8230; gitu aja pakai malu segala, terbuka aja udah&#8230; toh nanti kita semua khan main buka-bukaan&#8230;&#8221; ucapnya lagi.<br />
&#8220;Udahlah.. soal itu jangan dibahas, Rini jadi salah tingkah tuu.. Tante ini gimana sih,&#8221; bela Sony.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Sony, ini semua teman-teman Tante, cantik-cantik bukan? Oh ya, mereka semua belum punya anak lho.. jadi kamu jangan kuatir pasti memek mereka ditanggung sempit dan &#8216;endanng&#8217;. Oh.. ya teman-teman, ini lho keponakanku yang pernah aku ceritakan kemarin. Pokoknya ditanggung &#8216;OK&#8217; dech, ayo kenalan dong&#8230; dan itu pacar Sony, Rini namanya, OK juga khan..?&#8221;"Oh.. ini yang namanya Sony. Wuih &#8216;JOZZ&#8217; sekali, udah tinggi, gagah, ganteng lagi dan itu ohh.. benar-benar &#8216;wuih&#8217;, meskipun hanya kelihatan menyembul dari balik celana. Sony! saya Sari umur 30 tahun, susuku 36C dan &#8216;terowongan&#8217;-ku masih OK lho Son&#8230;&#8221; ucapnya sambil mengecup bibir Sony.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Sony! saya Ratih umur 30 tahun, susuku kamu bisa lihat sendiri&#8230; bagaimana OK kan dan memekku juga masih rapet dan legit lho Son&#8230;&#8221; ucapnya sambil mengecup bibirnya.<br />
&#8220;Sony! saya Tiara umur 31 tahun, susuku juga gede dan putingnya panjang lho, dan memekku masih OK lho Son&#8230;&#8221; ucapnya sambil mengecup bibirnya juga.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Sony! saya Irene umur 30 tahun, susuku gede juga lho dan &#8216;terowongan&#8217;-ku juga masih OK lho Son&#8230;&#8221; ucapnya sambil mengecup bibirnya juga.<br />
&#8220;Sony! saya Nita umur 30 tahun, susuku 36C dan memekku juga masih OK lho Son&#8230;&#8221; ucapnya sambil mengecup bibirnya.<br />
&#8220;Sony! saya Dini umur 32 tahun, susuku juga 36C dan memekku juga masih OK lho Son&#8230;&#8221; ucapnya sambil mengecup bibir Sony.</p>
<p style="text-align: justify;">Sony mempersilakan semua tamunya untuk masuk rumah. Setelah semuanya masuk, betapa kagetnya Sony dan Rini semua tante-tante itu langsung membuka seluruh pakaian mereka satu-persatu hingga polos. Cewek-cewek itu semuanya tidak mempunyai bulu kemaluan di kemaluannya jadi kelihatan &#8220;garis&#8221; kemaluannya yang memang kelihatan masih &#8220;OK&#8221;. Setelah itu mereka semua menuju ke kolam renang. Tante Nadya juga sudah dalam keadaan bugil. Terus,<br />
&#8220;Sony ayo cepat buka bajumu dan Rini juga ayo sini Tante bantu lepasin bajumu..!&#8221; katanya sambil membantu membuka baju Rini.<br />
Seketika itu juga Rini ikut telanjang juga.<br />
&#8220;Wow&#8230; susumu jauh lebih besar dari kita semua dan memekmu yang indah itu wuih.. Sony memang hebat. Ayo Rini kita ke kolam renang&#8230;&#8221; katanya sambil mengajak lari Rini menuju ke kolam renang.</p>
<p style="text-align: justify;">Sementara itu Sony memandangi tubuh Tante dan Rini pacarnya yang telanjang berlari menuju kolam. Setelah itu dia buka baju dan celananya, terus dia menuju ke kamar sebentar untuk mengambil &#8220;Obat Perkasa&#8221; dari negeri China yang konon ceritanya, dipakai oleh kaisar China sebelum bersetubuh dengan selirnya yang berjumlah puluhan orang. Dioleskannya obat itu pada batang kemaluannya, 1 menit kemudian batang kemaluan itu membesar, membesar dan membesar. Jadi kini batang kemaluan Sony yang tadinya tidur sekarang bangun dan keras sekali persis &#8220;tiang listrik&#8221;.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah itu, Sony turun dan langsung berjalan dengan santai menuju kolam, batang kemaluannya tetap mengacung ke depan dengan telur kembarnya saling goyang sana, goyang sini. Dia melihat cewek-cewek itu sedang asyik dengan kegiatannya masing-masing. Dia mencari dimana Rini berada. Oh&#8230; di situ rupanya. Rini sedang asyik menjilati kemaluan tantenya dengan keadaan menungging, sementara dari belakang Tante Sari menjilati kemaluan Rini. Mereka menjerit dan menjerit keenakan. Sementara itu Tante Nadya asyik menjilati kemaluan Tante Ratih yang berada di atas mulutnya. Tante Ratih merintih, &#8220;Ohhh&#8230;&#8221; Mereka semua tidak tahu akan kedatangan Sony.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Hai&#8230; cewek! Siapa yang mau batang kemaluan? ayo ke sini&#8230;!&#8221; teriak Sony sambil memegangi batang kemaluannya yang berdiri dengan kokoh.<br />
Lalu semua mata tertuju ke batang kemaluan Sony yang memang luar biasa. Terus mereka menghentikan kegiatan mereka, lalu berlarian ke arah Sony. Rupanya mereka ingin merasakan batang kemaluan itu. Kekasihnya sendiri pun si Rini sampai tidak percaya bagaimana batang kemaluan Sony &#8220;Yayang&#8221;-nya bisa 2 kali lipat besarnya dari biasanya, padahal dengan ukuran biasa saja Rini dibikin &#8220;KO&#8221;, apalagi sekarang. Lalu dia berjalan menghampiri Sony yang sedang dikeroyok oleh banyak cewek itu.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;OK.. OK.. semuanya nanti akan dapat, ayo sekarang Tante-Tante berbaris sejajar dengan posisi nungging, OK&#8230;&#8221; teriaknya.<br />
&#8220;Sony sayang! kamu makai obat ya&#8230; kontolmu jadi besar 2 kali lipat dari biasanya,&#8221; bisik Rini.<br />
&#8220;Rini sayang, kamu ikut baris ya.. nanti kamu dapat giliran pertama. Eee.. Rini sayang, kamu harus tahan ya sakitnya.. OK!&#8221; bisik Sony sambil dikecupnya bibir pacarnya itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Jadi begitulah mereka semua baris sejajar dengan posisi nungging dengan yang paling ujung Rini disusul Tante Nadya dan seterusnya. Dengan perlahan Sony menghampiri Rini.<br />
&#8220;Ma’af Tante-Tante, Sony mulai dari pacar Sony sendiri.. OK&#8230;&#8221; ucapnya.<br />
&#8220;Huuu.. huu&#8230; KKN&#8230; nich yeee&#8230;&#8221; teriak mereka semua.<br />
Tapi tak digubris oleh Sony. Pada saat Sony mulai beraksi Rini tidak menolah, lalu tiba-tiba dia merasakan batang kemaluan Sony dipukul-pukulkan pada pantatnya yang membuat dia kegelian. Lalu, diserudukkan batang kemaluannya ke liang kemaluannya tapi sulit sekali, dia coba lagi dan gagal. &#8220;Aaaah&#8230; seret sekali ya kayak perawan,&#8221; kata Sony. Rini menjerit, &#8220;Auwww&#8230;&#8221; terus Rini berbalik membantu Sony dengan mengelomohi batang kemaluannya dengan air ludahnya tapi masih juga tidak berhasil menembus liang kemaluannya. Rini melihat Sony berusaha lagi, dan perlahan masuk pada lubang kemaluan Rini yang kecil, Rini merasakan agak sedikit pedih.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Sony sayang, udah ah&#8230; batang kemaluan kamu tidak bisa masuk lho, terlalu besar sih,&#8221; pinta Rini.<br />
&#8220;Sebentar sayang, tahan dulu ya&#8230; ini udah masuk kepalanya, tahan ya sayang&#8230;&#8221; jawabnya sambil didesaknya lubang kemaluan Rini dengan batang kemaluannya itu dan&#8230;<br />
&#8220;Sreeet&#8230; sret&#8230; sreettt&#8230;&#8221;"Aauuww&#8230;&#8221;<br />
Rini menjerit merasakan batang kemaluan Sony terasa tembus di kerongkongannya, digerak-gerakkan pantatnya Rini kegelian. Meskipun hanya setengah yang masuk tapi akhirnya banjir juga liang kemaluannya dan dia merasakan kenikmatan saat batang kemaluan Sony maju mundur di lubang kemaluannya. Sesekali pantat Rini ditepuknya untuk menambah semangatnya menggenjot batang kemaluannya, susu Rini dibiarkan bergelantungan bergerak bebas sementara tangan Sony sibuk memegang pinggul Rini memaju-mundurkan pantatnya. Saat batang kemaluan masuk badan, Rini terasa tertusuk geli tak karuan. Sesekali juga Sony menciumi punggung Rini yang ditumbuhi bulu-bulu halus, sambil batang kemaluannya terus bergerak keluar masuk di lubang kemaluannya. Rini juga berusaha dengan menggerakkan pantatnya kiri-kanan dan batang kemaluan Sony yang cuma setengah masuk itu seakan terjepit kuat.</p>
<p style="text-align: justify;">Sony semakin cepat memaju-mundurkan batang kemaluannya, dan&#8230;<br />
&#8220;Ohhh.. ooohh&#8230; Rini.. udah mau keluar nih&#8230; ohh&#8230; Sonnn&#8230; sshh&#8230; aaahh&#8230;&#8221;<br />
Goyangannya sekarang sudah tidak beraturan.<br />
&#8220;Ohh.. Sonnn.. kau sungguh perkasa&#8230; aahhh&#8230;&#8221;<br />
Sony mempercepat goyangan.<br />
&#8220;Aahhh&#8230; Rini.. keluar sayang&#8230; ooohhh&#8230;&#8221;<br />
Rini menggelinjang dengan hebat, Sony merasakan cairan hangat keluar membasahi pahanya.<br />
Sony hanya butuh 10 menit untuk meng-&#8221;KO&#8221; Rini, padahal biasanya sampai berjam-jam.</p>
<p style="text-align: justify;">Kemudian giliran Tante Nadya. Tampak oleh Sony kemaluan tantenya dengan bibir kenyal yang sudah agak menggelambir itu demikian basah dan mulai membengkak. Lalu Sony mendorong sedikit tubuh tantenya ke depan sehingga pantatnya agak naik ke atas, yang lebih memudahkan batang kemaluannya untuk melakukan tusukan ke dalam lubang kemaluannya. Setelah itu langsung disodoknya batang kemaluannya ke lubang kemaluan yang menganga itu. Tubuh Tante Nadya terhenyak hingga hampir terjungkal ke depan akibat kerasnya sodokan Sony, sementara mulutnya menjerit kecil. Dalam sekejap, batang kemaluan Sony yang besar itu masuk seluruhnya ditelan oleh lubang kemaluan itu yang langsung menjepitnya. Jepitan lubang kemaluan tantenya yang berdenyut-denyut menambah gairah birahinya yang memang sudah menggelora.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Ahhh&#8230; Son&#8230; kamu lebih perkasa dari dulu&#8230; ohhh.. yaa.. teruskan&#8230; ohh&#8230;&#8221; rintihnya.<br />
Dengan cepat, Sony menarik batang kemaluannya sampai hampir keluar dari dalam kemaluan tantenya. Lalu ditusukkannya kembali dengan cepat. Kemudian ditarik dan disodokkan lagi, seterusnya berulang-ulang tanpa henti. Dorongan yang keras ditambah dengan sensasi kenikmatan yang luar biasa membuat tantenya itu beberapa kali nyaris terjerembab. Rini yang tadi terkapar-pun tidak mau ketinggalan beraksi. Sony melihatnya duduk mengangkang di hadapan tantenya, memamerkan lubang kemaluannya yang telah kembali basah. Tante Nadya langsung saja menyambar lubang kemaluan yang mulai berdenyut-denyut keras itu.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Iiihh.. Tante&#8230; aaahhh&#8230;&#8221; Rini menjerit sekeras-kerasnya.<br />
Tante Nadya mencucukkan lidahnya masuk ke dalam lubang kemaluan Rini yang bertambah banjir saja. Semakin lama semakin dalam merambah seluruh dinding lorong kenikmatan yang begitu licin. Setiap sentuhan lidahnya pada permukaan dinding yang basah dan mengkilap itu ibarat tegangan listrik jutaan volt yang menyetrum Rini. Seketika itu juga, tubuh Rini mengejang ke belakang. Susu montok yang menggantung kencang di dadanya kelihatan semakin membusung. Tangan Sony yang menggapai-gapai untuk memegang kedua bukit kembar yang menggairahkan itu tidak berhasil mencapainya. Jaraknya terlalu jauh, sementara Sony masih dengan kegiatan menyetubuhi Tante Nadya. Dengan sedikit mengejang Sony menggenjot batang kemaluannya kembali ke dalam lubang kemaluan tantenya sekuat-kuatnya. Tantenya pun makin memperganas &#8220;serangan&#8221; lidah dan mulutnya pada kemaluan Rini, kekasihnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Akhirnya, dalam waktu lima menit, perjuangan Sony membuahkan hasil. Tantenya melenguh panjang itu tandanya bahwa ia sudah mencapai klimaksnya. Bersamaan itu juga Rini juga telah mencapai klimaksnya, lalu dia kembali terkapar. Cairan tantenya yang agak bening dari Rini itu muncrat ke pahanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Wuihh.. benar-benar hebat Sony, sudah 2 orang korbannya yang terkapar. Sekarang giliran Tante Sari yang sudah nungging, dan tampak jelas sekali lubang kemaluannya, juga lubang anusnya, Sony tidak langsung memasukkan batang kemaluannya yang dari tadi masih berdiri tegak itu, tapi mempermainkan lidahnya di sekitar kemaluan dan kedua pantatnya, samar-samar terdengar desahan suara Tante Sari, segera batang kemaluannya ditempelkan di permukaan lubang kemaluannya. Terdengar desahan Tante Sari, dan Sony mulai menggerakkan batang kemaluannya maju mundur, nikmat sekali meskipun tidak bisa masuk semua karena batang kemaluan Sony terlalu panjang dan Tante Sari tampak menikmati dengan menggerakkan pinggulnya ke kanan dan ke kiri. Kurang lebih 10 menit Tante Sari menjerit dan&#8230; &#8220;Crot.. crit.. cret&#8230;&#8221; lendir hangat kembali membasahi batang kemaluan Sony. Lalu pelan-pelan Sony kembali menggerakkan batang kemaluannya maju mundur, Sony iseng melihat lubang dubur Tante Sari yang agak mencuat keluar, lalu dicobanya memasukkan jari telunjuknya ke dalam duburnya yang basah itu, terdengar sedikit rintihan, &#8220;Ssstt&#8230; ah Son pelan-pelan dong!&#8221; rintihan yang membuat Sony semakin nafsu. Tiba tiba Sony ingin sekali mencoba untuk menikmati lubang duburnya yang kelihatannya masih &#8220;perawan&#8221; itu. Ditariknya pelan batang kemaluannya yang masih basah dan licin itu akibat lendir dari lubang kemaluan Tante Sari. Ditempelkannya kepala batang kemaluannya yang mengeras di permukaan duburnya, dipegangnya batang kemaluannya sehingga kepalanya mengeras, lalu Sony mencoba menekan batang kemaluannya, karena licin oleh cairan tadi maka kepala kemaluanku segera melesak ke dalam, dia pun mengeluh, &#8220;Akhhh.. aduh Sonnn.. sstt ohh..&#8221; Sony berhenti sesaat, dan dia bertanya, &#8220;Kok dimasukin di situ Son&#8230; sakit?&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Lalu ditariknya batang kemaluannya dari lubang dubur itu. Sony beralih ke Tante Ratih dan tampaklah pantat dan kemaluannya terlihat merekah dan basah. Sebelum Sony memasukkan batang kemaluannya, dia jilat dulu kemaluannya dan lubang pantatnya. Cairan dari lubang kemaluannya mulai membasahi bibir kemaluannya ditambah dengan ludah Sony.</p>
<p style="text-align: justify;">Diarahkannya batang kemaluannya ke lubang kemaluannya dan menekan ke dalam dengan pelan-pelan, sambil merasakan gesekan daging mereka berdua. Suara becek terdengar dari batang kemaluan dan lubang kemaluan dan cukup lama Sony memompanya. Lalu 5 menit kemudian, &#8220;Ohhh.. Sonn.. aku&#8230; keluuaarr.. ahhh&#8230; yeess&#8230;&#8221; muncratlah cairan membasahi paha Sony untuk ke-4 kalinya. &#8220;Oh.. Sony kau sungguh hebat&#8230; aduhh&#8230; nikmatnya&#8230;&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Sampai saat ini Sony masih tetap perkasa, lalu dia menghampiri Tante Tiara yang lebih &#8220;semok&#8221; karena gumpalan pantatnya itu yang begitu montok. Langsung diremas-remas pantat Tante Tiara itu dengan bersemangat. &#8220;Auuh&#8230;&#8221; Tante Tiara mendesah kecil dibuatnya. Kemudian kaki Tante Tiara direnggangkannya sedikit, sampai terlihat lubang kemaluannya dari bawah. Lalu Sony langsung saja menusukkan dua jarinya sekaligus ke dalam lubang kemaluannya itu. Semua jarinya itu dapat dengan mudah masuk begitu saja ke dalam kemaluan itu. Pada usia sekarang, kemaluan Tante Tiara memang sudah agak lebar dibandingkan dulu, tetapi tetap masih cukup sempit dan masih lentur. Dipermainkannya jari-jarinya itu di dalam lubang kemaluannya.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Iiih&#8230; Sony&#8230; uuhhh&#8230;&#8221; jerit Tante Tiara yang liar.<br />
Apalagi setelah Sony mulai menjilati kemaluannya dengan lidahnya.<br />
&#8220;Aaahh&#8230; Soonnyyy&#8230;&#8221; Tante Tiara menjerit panjang.<br />
Sony menyodokkan batang kemaluannya ke dalam lubang kemaluannya. Sementara itu tangannya mulai berpetualang di susunya. Diremas-remas susu yang kenyal itu, terasa pas di tangan. Sony jadi ingat saat dia sedang main bola volly, bolanya pas di tangannya. Tak ketinggalan pula puting susunya yang begitu cepat menegang turut menjadi korban keganasan tangannya.</p>
<p style="text-align: justify;">Sony terus memompa batang kemaluannya masuk-keluar di dalam lubang kemaluan Tante Tiara dengan cepat. Makin lama makin cepat lagi. Sampai-sampai bunyi kecipak-kecipak akibat selangkangannya yang berbenturan cukup keras dengan pantatnya terdengar jelas. Tiba-tiba dirasakan lubang kemaluannya menjepit batang kemaluan Sony dengan sangat kuat. Tubuh Tante Tiara mulai menggelinjang, nafasnya mulai tak karuan, dan tangannya meremas-remas payudaranya sendiri.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Ohhh&#8230; ooohh&#8230; Tante udah mau keluar nih&#8230; sshh&#8230; aaahh&#8230;&#8221;<br />
&#8220;Aahhh&#8230; &#8216;jancuk tenan&#8230;&#8217; Tante keluar Sonnn&#8230; ooohhh&#8230;&#8221;<br />
Dia menggelinjang dengan hebat, dirasakan cairan hangat keluar membasahi paha Sony. Dia langsung terkapar dengan lubang kemaluannya yang kelihatan masih mengeluarkan cairan terus.</p>
<p style="text-align: justify;">Sony berpindah ke Tante Dini yang sudah dalam menungging pasrah. Dari belakang Tante Dini merasakan Sony mulai menggila menjilati kemaluannya yang kelihatan merekah. Sony menjauh dan Tante Dini merasakan desahan nafasnya membesar. Tante Dini terkejut lubang kemaluannya digeser-geser oleh batang kemaluan Sony yang besar itu. Tante Dini mengarahkan pantatnya ke belakang dan Sony menjauhkan batang kemaluannya dari lubang kemaluannya, Sony menggoda dan Tante Dini jadi penasaran ingin merasakan batang kemaluannya lagi.</p>
<p style="text-align: justify;">Tante Dini merasakan batang kemaluan Sony kini mulai mendesak liang kemaluannya lagi dan terpeleset, dia merasakan Sony kesulitan mengepas batang kemaluannya di lubang kemaluannya. Kini ujung batang kemaluan itu telah tepat pada lubang kemaluannya, perlahan dan pasti gerakan Sony maju sedikit demi sedikit menuju dinding kemaluannya. Tante Dini menunggu dan merasakan gesekan perlahan itu menimbulkan sensasi yang hebat pada tubuhnya. Saat batang kemaluan Sony sudah seluruhnya mengisi liang kemaluannya. Sony diam sesaat sambil membelai-belai pinggangnya yang bulat. Tante Dini merasakan semuanya, dicengekeramnya pinggangnya kuat-kuat dan Sony mulai bergerak maju mundur membelah kemaluannya. Tante Dini mengimbangi dengan memutar-mutar pantatnya seperti penari perut, Sony mengimbangi dengan sodokan-sodokan gilanya. Pinggulnya dipakainya sebagai setir, jika ingin gerakan lambat, ditariknya pinggulnya kuat-kuat sehingga Tante Dini tidak bisa bergerak, demikian pula sebaliknya. Tante Dini merasakan telur batang kemaluan Sony menghantam pantatnya sebelah bawah saat batang kemaluannya masuk total pada kemaluannya. Pantat Tante Dini terus bergerak dan batang kemaluan Sony tidak tinggal diam, semua tenaga telah dikerahkan oleh Tante Dini untuk memperolah kepuasan maksimum, tapi 5 menit kemudian&#8230;<br />
&#8220;Ahhh&#8230; Sonn&#8230;&#8221;<br />
&#8220;Crot.. cret&#8230;&#8221;<br />
Muntahlah cairan Sony membasahi batang kemaluannya dan paha Sony.</p>
<p style="text-align: justify;">Sony masih perkasa, terus dia menghampiri Tante Irene yang menunggingkan pantatnya dan minta ditusuk, Sony mulai mengarahkan batang kemaluannya ke lubang kemaluan Tante Irene yang tampak menganga berwarna merah jambu. Sony terus memegang pinggul Tante Irene dan mengayun pinggulnya dengan irama yang teratur. Sesekali Sony pindahkan tangannya untuk meremas susu yang montok. Beberapa lama kemudian nafas Tante Irene mulai memburu dan makin menderu seirama dengan makin kerasnya hentakan dari Sony. Kemudian Tante Irene mulai mengerang,<br />
&#8220;Oohhh&#8230; aku.. ohhh&#8230; keluarrr&#8230; ahhh&#8230;&#8221;<br />
&#8220;Crot.. crit&#8230; cret&#8230;&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Sony langsung menuju ke korban terakhir, Tante Nita yang juga sedang menungging. Lubang kemaluannya yang berwarna merah muda agak merekah. Sony pelan-pelan menusukkan batang kemaluannya, masuk sepertiga. Tangan kiri Sony sambil meremas-remas susunya yang mulai mengeras itu. Tante Nita menekankan badannya ke belakang sehingga batang kemaluan Sony amblas masuk ke dalam lubang kemaluannya. Sony mulai melakukan aksi tarik dorong. Nafasnya mulai tak teratur dan cengkeraman tangannya di tangan Sony semakin kuat.<br />
&#8220;Hhh&#8230; Son aku mau keluar ahhs&#8230;&#8221;<br />
Muncratlah semua cairan Tante Nita.</p>
<p style="text-align: justify;">Demikianlah kisahku tentang pesta seks yang berlangsung beberapa hari tsb&#8230; Sungguh menyenangkan.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ceritasex.cn/pesta-seks-di-malang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>ABG SMA HOT</title>
		<link>http://www.ceritasex.cn/abg-sma-hot/</link>
		<comments>http://www.ceritasex.cn/abg-sma-hot/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 27 Dec 2009 11:18:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cerita Sex</dc:creator>
				<category><![CDATA[Daun Muda]]></category>
		<category><![CDATA[Foto Mesum]]></category>
		<category><![CDATA[abg]]></category>
		<category><![CDATA[anus]]></category>
		<category><![CDATA[bugil]]></category>
		<category><![CDATA[hot]]></category>
		<category><![CDATA[memek]]></category>
		<category><![CDATA[sma]]></category>
		<category><![CDATA[telanjang]]></category>
		<category><![CDATA[toket]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ceritasex.cn/?p=1136</guid>
		<description><![CDATA[HOT BANGET!]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>HOT BANGET!</p>
<p><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2009/12/abg-sma-hot.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-1137" title="abg-sma-hot" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2009/12/abg-sma-hot-300x212.jpg" alt="" width="300" height="212" /></a></p>
<p><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2009/12/abg-sma-hot-1.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-1138" title="abg-sma-hot-1" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2009/12/abg-sma-hot-1-300x212.jpg" alt="" width="300" height="212" /></a></p>
<p><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2009/12/abg-sma-hot-2.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-1140" title="abg-sma-hot-2" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2009/12/abg-sma-hot-2-300x211.jpg" alt="" width="300" height="211" /></a></p>
<p><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2009/12/abg-sma-hot-3.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-1139" title="abg-sma-hot-3" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2009/12/abg-sma-hot-3-300x214.jpg" alt="" width="300" height="214" /></a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ceritasex.cn/abg-sma-hot/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Dewi Maniak Seks &#8211; Pesta Ulang Tahun Anaknya Bagian 7 (tamat)</title>
		<link>http://www.ceritasex.cn/dewi-maniak-seks-pesta-ulang-tahun-anaknya-bagian-7-tamat/</link>
		<comments>http://www.ceritasex.cn/dewi-maniak-seks-pesta-ulang-tahun-anaknya-bagian-7-tamat/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 26 Nov 2009 02:45:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cerita Sex</dc:creator>
				<category><![CDATA[Gangbang Rame Rame]]></category>
		<category><![CDATA[Paruh baya]]></category>
		<category><![CDATA[Pemerkosaan]]></category>
		<category><![CDATA[Seks Umum]]></category>
		<category><![CDATA[Tante Girang]]></category>
		<category><![CDATA[anal seks]]></category>
		<category><![CDATA[anus]]></category>
		<category><![CDATA[birahi]]></category>
		<category><![CDATA[dewi]]></category>
		<category><![CDATA[hani]]></category>
		<category><![CDATA[kontol]]></category>
		<category><![CDATA[memek]]></category>
		<category><![CDATA[ngentot]]></category>
		<category><![CDATA[nita]]></category>
		<category><![CDATA[pantat]]></category>
		<category><![CDATA[pesta seks]]></category>
		<category><![CDATA[siska]]></category>
		<category><![CDATA[theesome]]></category>
		<category><![CDATA[toket]]></category>
		<category><![CDATA[vagina]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ceritasex.cn/?p=1087</guid>
		<description><![CDATA[Gerakan Doni yang sedang menyodok-nyodokkan batang kemaluannya didalam lubang pantat Nita semakin bertambah gencar, akibatnya tubuh Nitapun maju mundur dengan cepat, kontol Roni yang sedalam cengkraman memek Nitapun ikut keluar masuk dengan cepat, sementara batang kemaluan Parmin dengan sendirinya keluar masuk mulut Nita seirama dengan gerakan maju mundur tubuh Nita, kedua payudara Nita berguncang maju [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Gerakan Doni yang sedang menyodok-nyodokkan batang kemaluannya didalam lubang pantat Nita semakin bertambah gencar, akibatnya tubuh Nitapun maju mundur dengan cepat, kontol Roni yang sedalam cengkraman memek Nitapun ikut keluar masuk dengan cepat, sementara batang kemaluan Parmin dengan sendirinya keluar masuk mulut Nita seirama dengan gerakan maju mundur tubuh Nita, kedua payudara Nita berguncang maju mundur menerpa wajah Roni, Roni menyambut dengan mulutnya dan menghisap-hisap payudara Nita bergantian.</p>
<p style="text-align: justify;">“Hhhmmmpp….sssllrrppp…hmmmppp…ssslrrppp…sssshhh…hh mmppp..aaaahh..sslrrpp… aahh …hhmmpp..ssslrrpp…ssshhh….hhmmmppp…sslrrppp…,”deng usan Nita terdengar disela-sela kesibukannya menyepong batang kemaluan Parmin.</p>
<p style="text-align: justify;">“Uughhh…nikmat terus emot kontolku…aaahh…uuggghh….aahhh..,”Parmin melenguh menikmati sepongan Nita.</p>
<p style="text-align: justify;">“Hhhhmmpp.ssslrrppp…hhmm…ssslrpp…ooohhh..ssslrrpp. .hhmmpp…aaahhh…hhhmmpp,”Roni menggumam sambil terus menghisap-hisap tetek Nita.</p>
<p style="text-align: justify;">“Ooohh..tante….enak betul anus tante…aaahh… nikmat….ooohh…,”Doni mengerang keenakan sambil terus mempercepat gerakannya.</p>
<p style="text-align: justify;">“Ooohh…terus…entot…akuuu…oohh…sshhhh…hmmmppp….aaah h…enakk…nikmat…. ooohhh ….yang dalam…yang kuat…hhmmppp sslrppp….terus puaskan aku….ooohh..hhmmppp..ssllrpp …sshhh..aahh…hhmmpp..sslrrpp…,”desahan Nita terus terdengar disela-sela kesibukannya menyepong kontol Parmin.</p>
<p style="text-align: justify;">Selang tak lama tubuh mereka berempat bergetar dengan hebat, tubuh mereka meregang, puncak kenikmatan yang dinanti-nantikan oleh mereka akhirnya datang juga, tubuh mereka kelojotan, gerakan tubuh mereka semakin tidak beraturan, hampir secara bersamaan mereka mengerang, kemaluan merekapun hampir berbarengan memuntahkan lahar kenikmatan mereka.</p>
<p style="text-align: justify;">Ccreeeettt..c.creeettt…ccreeett..ssrrr…sssrrr..ccr eeettt..creettt..creett..ssrrr..ssrrr… ketiga lubang Nita dipenuhi oleh pejuh yang menyembur keluar dari batang-batang kemaluan Doni, Roni dan Parmin, Roni merasakan hangatnya lahar kenikmatan Nita menyirami batang kemaluannya, Roni merasakan denyutan kuat dinding vagina Nita seolah meremas-remas batang kemaluannya, lubang pantat Nitapun ikut mengempot kuat saat Nita mencapai klimaksnya itu, Doni merasakan batang kemaluannya seolah dipijat-pijat oleh lubang pantat Nita, sementara Parmin menikmati sedotan kuat dibatang kemaluannya karena saat Nita sedang merengkuh puncak kenikmatannya itu Nita menyedot kuat-kuat batang kemaluan Parmin.</p>
<p style="text-align: justify;">“Uuggghhh….gillaa..sedotannya…aaaku aaahhh…nikmat sekali…,”Parmin mendengus saat merasakan batang kemaluannya yang saat itu sedang memuntahkan cairan sperma disedot kuat-kuat oleh Nita, air pejuhnya langsung masuk dan ditelan oleh Nita.</p>
<p style="text-align: justify;">“Akku keluar..ooohh…nikmat betul….enak..Tante..enak…ooohh…pantatmu…ini oohh…,”Doni mengerang keenakan merasakan empotan lubang pantat Nita.</p>
<p style="text-align: justify;">“Akku juga..ooh…batang kontolku seperti diremas-remas…aahh..oohh..,”Roni melenguh matanya merem melek menikmati pijatan-pijatan dinding vagina Nita di batang kemaluannya.<br />
<span id="more-1087"></span><br />
“Hhhmmpp…glleekk..ssllrrppp…gleeekk…ssllrrppp…aaah h…nikmat…sslrrpp..gleekk…oohh…. aku keluar…puas aku…ssslrrpp..gleekkk…ssslrrppp..gleekk..aahh…kontol-kontol kalian betul… betul hebat..ooohh…nikmat sekali…,”Nita merintih keenakan ditengah kesibukannya menghisap pejuh Parmin.
</p>
<p style="text-align: justify;">Suara erangan dan rintihan mereka berempat hampir bersamaan dengan erangan Gito yang baru saja mencapai puncak kenikmatannya juga, saat Gito terkapar kelelahan dan sedang menikmati sisa-sisa kenikmatan yang baru saja dicapainya, keempat orang ini juga sama-sama menikmati sisa-sisa kenikmatan yang baru saja mereka rengkuh.</p>
<p style="text-align: justify;">“Uuughh…aaahhh…ssshhh..hhhmmpp…ssslrpp…hhhmmppp..s sslrrpp..aahh..sshh..oouuhh…. hhmmppp..sslrrppp..hhhmmpp..sslllrppp..aaahhh…enak …terus entot aku..buat aku puas…. Oohh …hhmmpp..sslrppp…sshhh…,”Hani merintih-rintih keenakan sambil mulutnya sibuk mengulum-ngulum batang kemaluan Udin.</p>
<p style="text-align: justify;">“Uugghh…kalian betul-betul jantan…oohh..ini yang aku butuhkan selama ini…ssshhh..aahhh… hmmmppp..ssslrppp…aaahh…hmmmpp…slllrppp…nikmatnya… enak sekalliii…hmmpp..sllrpppp …aaaahh…ssshhh….hmmppp…slrrrppp…,” tak hentinya Hani merintih-rintih keenakan menikmati genjotan batang-batang kemaluan Dedi dan Anto.</p>
<p style="text-align: justify;">Dedi dan Anto bekerja sama dengan baik saat mereka mengeluar masukkan batang kemaluan mereka, saat mereka mendorong maju batang mereka, merekapun menekannya dalam-dalam, sehingga dinding rahim Hani tersentuh oleh ujung kepala kontol Anto.</p>
<p style="text-align: justify;">Sementara itu Udin yang sedang menikmati permainan mulut Hanipun merem melek menikmati sedotan-sedotan kuat Hani, pipi Hani menjadi kempot saat ia menyedot kuat-kuat itu, tubuh Udin menggigil keenakan dibuatnya.</p>
<p style="text-align: justify;">“Uughh..gila sedotannya….enak..aahhh…terus sedot Bu, terus…buat aku muncrat…ooohh…. Aaahhh….nikmat betul ….,” Udin mengerang keenakan.</p>
<p style="text-align: justify;">“Lubang pantatnya sempit banget bih…ooohhh….enak betul…ooohh….Tantteee…enak..betul.. kontol anusmu …. Aaahhh…sedaapp…,”Dedi mengerang juga.</p>
<p style="text-align: justify;">“Tanteee…memekmu..aaahh…hhmppp…sslrppp…tetekmu…mas ih mengkal…oouughh…sslrpp. Sempit bener memekmu…,”Antopun ikut mengerang merasakan jepitan yang ketat dibatang kemaluannya.</p>
<p style="text-align: justify;">“Ooohhh….hhmmmppp…slrrppp..gleekk…ssslllrppp..sssh hh…aaaghhh…oouughh…kon***-***tol kalian juga enaaaaakk….besaaarr…puaskan aku…ooohh…hhmmpp…sllrppp….entot aku….yang kuat hhmppp…ssslrrrppp…ssshhh..aaahhh…tekan yang dalam….ooohh..hmmmpp…sslrrppp… enak…,”Hani semakin merintih-rintih.</p>
<p style="text-align: justify;">“Tambah cepat sodokan kaliaan…ooughh…hmmpp..sslrpp…hmmppp…slrrppp…sshhaa ahhh… aku tidak tahan lagi…ooohh…sssshhhaaahhh…hhmmmppp…aaku mau kelluaar…ooohhh….yang cepat…oooghh…yang dalam….uuughh…sshhh…aaahh…entot..terus.. aakkuu…oooghh…enaakk…hhmppp…sslrrrpp…ssshh…sslrppp …sssshh..,” rintihan Hani semakin menjadi-jadi.</p>
<p style="text-align: justify;">Dedi dan Anto menambah cepat gerakan keluar masuk batang-batang kemaluan mereka sesuai dengan permintaan Hani, dan mereka juga merasakan hal yang sama dengan Hani, puncak kenikmatan mereka sudah diambang pintu, Udinpun merasakan hal yang sama, dengan penuh nafsu Udin mulai mencecar mulut Hani dengan cepat, kedua tangannya memegangi kepala Hani, Hani dibuat gelagapan oleh jejalan batang kemaluan Udin dimulutnya, batang kemaluan Udin semakin dalam masuk dimulutnya, setiap Udin mendorong maju batang kemaluannya anak tekak dan tenggorokan Hani tersentuh oleh batang kemaluan Udin.</p>
<p style="text-align: justify;">Dan hampir bersamaan lahar kenikmatan mereka menyembur dengan kuat, creeeettt….creeettt… ssrrrrr…ccreettt..ccreett…crettt..sssrrr….sssrrr…c creeettt..ccrreeettt…</p>
<p style="text-align: justify;">“Oooohhh…aaaku keluaarr…,”pekik mereka berempat kompak, hampir bersamaan dengan pekikan Gito dan Doni cs, yang sama-sama berhasil merengkuh puncak kenikmatan mereka.</p>
<p style="text-align: justify;">Anto, Dedi dan Udin menekan dalam-dalam batang kemaluan mereka di lubang-lubang senggama Hani, tubuh mereka meregang dan mengejut-ngejut seirama dengan berdenyutnya batang kemaluan mereka saat menyemprotkan lahar kenikmatannya, Hani menggelepar menyambut puncak kenikmatan yang berhasil ia raih, pantatnya mengejut-ngejut, vaginanya berdenyut-denyut kuat sambil memuntahkan lahar kenikmatannya dan membasahi lubang memek dan batang kemaluan Anto.</p>
<p style="text-align: justify;">“Uuuugghhh..uuhuukk…gleeek….uuughhh..uuhuukk…gleee kk…hhmmppp…sslrrppp…ggleekk … ssslrppp…hhmmmppp…aaahh…oooohhh….,” Hani tersedak saat kemaluan Udin menyemprotkan air pejuhnya, pejuh Udin langsung masuk tenggorokan, Hani menelan pejuh Udin yang menerobos ditenggorokannya.</p>
<p style="text-align: justify;">Akhirnya mereka berempat juga terkapar kecapaian menyusul Gito dan Doni cs yang baru saja terkapar juga, wajah puas terukir diwajah mereka.</p>
<p style="text-align: justify;">Vagina Siska yang semakin basah mempermudah keluar masuk batang kemaluan Hilman, Hilman dengan bertubi-tubi menyodokkan penisnya dimemek Siska, Siska mendesah-desah keenakan, Siska melenguh tubuhnya melenting matanya terbelalak saat ujung kepala penis Hilman menyentuh dinding rahimnya.</p>
<p style="text-align: justify;">“Ouugghh…sshhh..aaahh…ssshhh…aahhh..hhmm..aaahh..s sshh…enak..terus…yang dalam..yang kuat…ooohh…puaskan aku…yang cepat…aah..sshhaaahh….,”rintihan Siska keluar terus menerus dari mulutnya saat menerima sodokan-sodokan penis Hilman.</p>
<p style="text-align: justify;">“Memekmu juga enaaak…Tante…uuugghhh..aaahh….nikmatnya kontol Tante…aaaghhh,” Hilman mengerang sambil terus mengeluar masukkan batang kemaluannya.</p>
<p style="text-align: justify;">Rintihan Siska yang terus menerus disahuti oleh rintihan Rina yang sedang dipompa oleh Feri dan Nanang,</p>
<p style="text-align: justify;">“Ouughh…enaknya….terus pompa aku…..entot aku..puaskan..aku lagii…aagghh..ssshhh..aahhh ….kalian hebat nikmatnya dientot seperti ini…..tambah cepat…tambah dalaamm…hmmm..ahhh.. sshhh..aagghh…oooghh….,” rintih Rina.</p>
<p style="text-align: justify;">Tubuh Rina terlihat naik turun, kedua batang kemaluan kepunyaan Nanang dan Feri keluar masuk dengan cepat, tangan Feri menahan beban tubuh Rina dipantat sementara tangan Nanang menahannya dipinggang Rina, kerja sama Feri dan Nanang saat mengangkat dan menurunkan tubuh Rina betul-betul kompak.</p>
<p style="text-align: justify;">Dewi pun tidak mau kalah dengan kedua temannya yang merintih-rintih keenakan akibat sodokan penis dilubang mereka, Dewi yang saat itu sedang menerima sodokan-sodokan Hendra di vaginanya dan Edwin di lubang pantatnya ikutan merintih meramaikan suasana yang semakin menghangat, suara rintihan Dewi sedikit berbeda dengan kedua temannya itu karena mulutnya sedang asyik menyepong penis Acep,</p>
<p style="text-align: justify;">“Hhhmmppp..sslrrppp…aaahh…sshhh…aahhh…hmmppp..ssll lrrppp…ssslrppp..hhhmppp..oohhh entot…aku..tekan…aaaahh..yang dalam…hhmmpp..sslrppp…teruss….hhmpp…aahh..sshhh…. yang kuat…uuhuukk…uuhuukk..hhmmpp..slrppp…sshhh..aahh…, ” suara rintihan Dewi bercampur dengan suara sedotan-sedotannya dipenis Acep kadang-kadang suara tersedaknya terdengar saat penis Acep masuk terlalu dalam didalam mulutnya sehingga menyentuh anak tekaknya dan dinding tenggorokkannya.</p>
<p style="text-align: justify;">Saat ketiga grup ini sedang asyiknya memacu birahi mereka untuk segera mencapai puncaknya, ketiga grup ini mendengar pekikan nikmat dari Gito, kemudian disambung oleh suara jeritan puas dari kelompok Doni dan kelompok Dedi, nampaknya Gito, Doni dan kelompoknya serta Dedi dan grupnya telah berhasil terlebih dahulu mencapai titik puncak pendakian kenikmatan mereka.</p>
<p style="text-align: justify;">Ketiga grup yang masih asyik dengan pergulatan mereka ini semakin mempercepat gerakan-gerakan mereka, mereka berlomba untuk mencapai puncak kenikmatannya masing-masing, nafas mereka semakin memburu, birahi mereka semakin menggelegak, keringat mereka semakin deras keluar dari tubuh mereka, desahan dan rintihan mereka terus menerus terdengar.</p>
<p style="text-align: justify;">Hilman semakin menggebu menggenjot penisnya keluar masuk dimemek Siska, Siska mengimbangi dengan putaran-putaran erotis pantatnya, Hilman menekan Siska memutar keatas, Hilman menarik Siska memutar kebawah, Hilman merasakan batang penisnya seperti dipilin-pilin, Hilmanpun melenguh keenakan bersahutan dengan rintihan nikmat Siska,</p>
<p style="text-align: justify;">“Uuggghh…penisku..seperti.dipilin-pilin..ooohh..terus..Tante..enak..sekali…nikmat…go yangan pantatmu…persis goyangan Inul…oouughh..terus..tante…terus..putar..goyang…aa hhhh,” Hilman melenguh.</p>
<p style="text-align: justify;">“Kooontoolmmu…jugaa…oooghhh….enaak…terus..tekan yang dalam…yang kuaat..agghh… enak….nikmaaat…yang cepat….puaskkaan. aku…,”Siska merintih-rintih keenakan.</p>
<p style="text-align: justify;">Feri dan Nanangpun mempercepat gerakan tangan mereka yang menaik turunkan tubuh Rina, gerakan penis mereka semakin cepat keluar masuk dilubang vagina dan pantat Rina, secepat gerakan naik turun tubuh Rina, Rina mendesah-desah menikmati sodokan-sodokan dua batang penis, Feri dan Nanangpun melenguh keenakan merasakan jepitan kuat di penis mereka.</p>
<p style="text-align: justify;">“Oohhhh…enaakk…aaghh..terus..terus…yang cepat…yang dalam…terus..ooohh..enak sekali dientot kaliann…oooghh…aaagghh…kkooontooll..kaliann nikmaat..aaghh…sshhh..aaahhh… oohhh…,”Rina mendesah keenakan.</p>
<p style="text-align: justify;">“Ooohh….Tante …memekmu jugaaa..enakk….oohhh…,”Feri melenguh.</p>
<p style="text-align: justify;">“Iyaah..Bu…pantatmu juga sempit sekalii…ooohh…nikmat…,”Nanang melenguh.</p>
<p style="text-align: justify;">“Aaaaghhh….terusssss…tekaaann…hmmppp..sslrrppp…kko ontooll..kkaaaliann..hhmmpp..sslrrpp<br />
aaaaghh..sshhh…hhmmppp…yang dalam..uuhuukk…uuhuukkk..nikmat….aaghh..ssshh..ooh h… hmmmmppp…sllrppp…,”Dewipun ikut mengerang-erang keenakan sambil tersedak-sedak saat penis Acep menyentuh anak tekak dan tenggorokannya.
</p>
<p style="text-align: justify;">“Tante….Ooohhh..ssedot punyakuuu..aaahhh..nikmat sekali seponganmu…Tante…hebat..aahhh ….terus Tantee.,..terusss..sedot yang kuattt…hhmm..aahhh…,”Acep mengerang-erang keenakan.</p>
<p style="text-align: justify;">Hendra sambil menikmati penisnya yang sedang keluar masuk di memek Dewi sibuk dengan kedua payudara Dewi yang berguncang dihadapan matanya, mulutnya bergiliran menghisap dan menjilati kedua putingnya bergiliran kiri dan kanan, tangannya aktif meremas-remas kedua payudara itu, membuat kenikmatan Dewi semakin bertambah, Edwin dengan gencarnya menyodok-nyodokkan penisnya dilubang pantat Dewi, kedua tangannya ikut membantu gerakan maju mundurnya dengan berpegangan pada pinggang Dewi, saat ia menekan masuk penisnya tangannya menarik kuat pinggang Dewi sehingga penisnya melesak masuk lebih dalam lagi dilubang pantat Dewi, bukan hanya penisnya saja yang masuk lebih dalam tetapi penis Hendrapun menyeruak masuk lebih dalam sampai ujung kepala penis Hendra menyentuh dinding rahim Dewi dengan kuat, tatkala Edwin menarik mundur penisnya tangannya mendorong maju tubuh Dewi, begitu seterusnya lama-lama gerakannya semakin bertambah cepat.</p>
<p style="text-align: justify;">Gerakan tubuh Hilman semakin tidak beraturan, tubuhnya dan tubuh Siska mulai bergetar, kaki Siska mulai mengait dibelakang pinggang Hilman, terlihat kaki Siska mulai meregang, pantatnya terangkat, tubuhnya melenting, matanya terpejam, dari mulutnya terdengar desahan-desahan, dan</p>
<p style="text-align: justify;">Sssssrrrr…ssrrrr…ssrrr… vagina Siska menyemburkan lahar kenikmatannya membasahi penis Hilman.</p>
<p style="text-align: justify;">“Ooogghhh…akuu..keluarr….nikmatt..ooghh..ssshh..aa hhh..enaak….koontollmu…betuul..betull… maaanttapp…aaghh..sshhh..aahh…oooohhh….tekan yang ddaaalllaammm….,”Siska mengerang menyambut puncak birahinya yang berhasil ia rengkuh.</p>
<p style="text-align: justify;">Hilman semakin mempercepat gerakannya, dan kemudian Hilman menekan penisnya dalam-dalam dilubang memek Siska, penisnya mengejut-ngejut menyemburkan spermanya di lubang senggama Siska,</p>
<p style="text-align: justify;">Creettt…creett..creett… Siska merasakan dinding rahimnya hangat oleh semprotan sperma Hilman.</p>
<p style="text-align: justify;">“Aaahhh…Tantee..aku juga keluar…memekmmu betull enak..aaaghhh…,”Hilman mengerang.</p>
<p style="text-align: justify;">Saat Siska dan Hilman saling menyemburkan lahar kenikmatan mereka, Rina melenguh panjang,</p>
<p style="text-align: justify;">“Oouughhh….aaaku…keluuaaarr….aaaachhh..nikmatnya…d ieentoot..kaliann…aaahhh..sshhh… ooohhh…aaaaaahhhh…,” Rina melenguh, puncak kenikmatannya berhasil ia raih, tubuhnya bergetar hebat, pahanya terlihat mengejang, pantatnya mengejut-ngejut saat vaginanya menyemburkan lahar kenikmatannya.</p>
<p style="text-align: justify;">Sssssrrrr…..ssrrrr…..ssssrrr….vaginanya semakin bertambah basah akibat semburan cairan kepuasan Rina.</p>
<p style="text-align: justify;">Hampir bersamaan Feri dan Nanangpun mencapai puncak birahi mereka, mereka menurunkan tubuh Rina kebawah menyambut sodokan penis mereka, sehingga penis mereka menghujam dalam-dalam dilubang memek dan pantat Rina, penis mereka berbarengan mengejut-ngejut mengeluarkan pejuhnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Creeettt..ccreeettt…creettt…Rina merasakan hangatnya pejuh mereka berdua menyirami kedua lubangnya.</p>
<p style="text-align: justify;">“Ooohhh…aaku juga keluar ….Tante…eenaakkk…nikmatnya…memekmu inii…,”erang Feri.</p>
<p style="text-align: justify;">“Akku juga kkeeluar…aaaghh…aaahhh…oohhh…Bu….ooohhh..,”Nanang mengerang hampir bersamaan dengan erangan Feri.</p>
<p style="text-align: justify;">Mendengar erangan kepuasan kedua temannya membuat Dewi semakin ingin cepat-cepat menuntaskan hasrat birahinya, tubuhnya dimaju mundurkan lebih cepat, sedotan-sedotannya semakin menggila dipenis Acep, Acep yang mendapat serangan itu menjadi kelabakan, penisnya mulai mengejut-ngejut..dan creettt..creett..creett..</p>
<p style="text-align: justify;">“Tanteee..aku keluuaar..oohh…gila sepongan Tante…aaahh..enak..betull…,” Acep mengerang, tubuhnya bergetar hebat, pantatnya ia tekan kedepan, penisnya melesak lebih dalam di mulut Dewi.</p>
<p style="text-align: justify;">“Uuhuukk…uuhuukk….gleeekk…uuhuukk..uuhukk..gleekk… .sssslrpp..uuhuukk…hmmppp…gleek…sslrrpp..hhmmpp…ss lrrpp…,” Dewi tersedak-sedak akibat lesakan penis Acep yang menyentuh dinding tenggorokannya dan terjangan sperma Acep ditenggorokannya yang langsung masuk mengalir kedalam perutnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Gerakan Dewi terhenti sebentar saat ia sedang tersedak itu, tapi gerakan Edwin dan Hendra tidak berhenti, malahan mereka semakin meningkatkan akselarasi penis mereka dilubang memek dan pantat Dewi.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah penis Acep tuntas meneteskan tetes terakhir spermanya, Dewi kembali mengikuti gerakan Edwin dan Hendra dengan memaju-mundurkan tubuhnya menyambut sodokan penis-penis mereka.</p>
<p style="text-align: justify;">Tubuh mereka mulai bergetar dengan hebat, gerakan tubuh mereka mulai tidak beraturan, dan tiba-tiba dengan satu kali sentakan kuat Edwin menarik pantat Dewi kebelakang dan Edwin sendiri mendorong maju pantatnya, penisnya dan penis Hendra terbenam lebih dalam di lubang memek dan pantat Dewi.</p>
<p style="text-align: justify;">Ccreeettt…ccreeettt…ccreeett…sssrrr…sssrrr…sssrrr… ccrreeettt..cccreett…ccreett….hampir bersamaan ketiga kemaluan mereka mengeluarkan lahar kenikmatannya.</p>
<p style="text-align: justify;">Tubuh mereka mengejang dan meregang, mereka bertiga menggelepar menyambut kedatangan puncak kenikmatan mereka, suara erangan mereka bersahutan.</p>
<p style="text-align: justify;">“Ohhh….Tantee..aku keluaar…nikmaatttnya..pantatmu ini..aaahh..ooohh..,”Edwin mengerang.</p>
<p style="text-align: justify;">“Akuu juga Tanteee..aakuu…keluarr…aaahhh..meemekmu..enaak…Tan tee…,”Hendra mengerang juga.</p>
<p style="text-align: justify;">“Shhh….aaaghh…ooohhhh…koontolll..kaliann…betulll hebatt…aaku ppuaass..sekali.dientott…. oleh…kaliaan…aaaghh…ssshhh..aahhh….ssshhh..aaahh…. ,”Dewipun merintih-rintih menikmati terjangan lahar kenikmatannya yang sedang muncrat.</p>
<p style="text-align: justify;">Pesta Ulang Tahun anaknya Doni berhasil Dewi rubah menjadi pesta seks yang tidak akan pernah dilupakan oleh dia ataupun teman-temannya, dan tentu juga yang pastinya tidak akan dilupakan oleh Doni beserta teman-temannya, dan sudah jelas pesta ini tidak akan dilupakan oleh Gito cs.</p>
<p style="text-align: justify;">Pesta seks ini terus berlanjut sampai matahari bersinar dengan teriknya dan mereka semua telah kehabisan tenaga serta nafsu birahi mereka semua betul-betul telah terlampiaskan, entah berapa kali mereka semua mendapatkan puncak kenikmatan dari persetubuhan itu, tapi yang jelas para lelaki yang ada dipesta ini merasakan tubuh kelima wanita itu.</p>
<p style="text-align: justify;">TAMAT.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ceritasex.cn/dewi-maniak-seks-pesta-ulang-tahun-anaknya-bagian-7-tamat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Dewi Maniak Seks &#8211; Pesta Ulang Tahun Anaknya Bagian 3</title>
		<link>http://www.ceritasex.cn/dewi-maniak-seks-pesta-ulang-tahun-anaknya-bagian-3/</link>
		<comments>http://www.ceritasex.cn/dewi-maniak-seks-pesta-ulang-tahun-anaknya-bagian-3/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 26 Nov 2009 02:21:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cerita Sex</dc:creator>
				<category><![CDATA[Paruh baya]]></category>
		<category><![CDATA[Pemerkosaan]]></category>
		<category><![CDATA[Tante Girang]]></category>
		<category><![CDATA[anal seks]]></category>
		<category><![CDATA[anus]]></category>
		<category><![CDATA[dewi]]></category>
		<category><![CDATA[gangbang]]></category>
		<category><![CDATA[ngentot]]></category>
		<category><![CDATA[pesta seks]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ceritasex.cn/?p=1070</guid>
		<description><![CDATA[Setelah badai nafsunya mereda Dewi beranjak menuju kamar mandi untuk membersihkan Vaginanya dari sisa-sisa sperma Udin, melihat Dewi beranjak Hani dan Nita mengikutinya, dikamar mandi sambil membersihkan tubuh dan vaginanya masing-masing mereka merencanakan untuk melakukan persetubuhan dengan mereka lagi, nampaknya mereka betul-betul ketagihan merasakan sodokan-sodokan batang kemaluan para lelaki itu, selesai mereka membersihkan diri, Hani [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Setelah badai nafsunya mereda Dewi beranjak menuju kamar mandi untuk membersihkan Vaginanya dari sisa-sisa sperma Udin, melihat Dewi beranjak Hani dan Nita mengikutinya, dikamar mandi sambil membersihkan tubuh dan vaginanya masing-masing mereka merencanakan untuk melakukan persetubuhan dengan mereka lagi, nampaknya mereka betul-betul ketagihan merasakan sodokan-sodokan batang kemaluan para lelaki itu, selesai mereka membersihkan diri, Hani dan Nita kembali keruang keluarga sementara Dewi menuju ke dapur untuk membuat minuman, Hani dan Nita menyuruh para lelaki itu untuk membersihkan batang kemaluan mereka sebelum mereka memulai ronde selanjutnya, dengan gesit para lelaki itu menuju kekamar mandi bersamaan.</p>
<p style="text-align: justify;">Di dapur Dewi yang sedang membuat minuman tidak menyadari, bahwa saat itu anaknya Doni sudah berada di garasi bersama dengan 3 temannya, mereka memasukkan mobil kedalam garasi saat Dewi sedang berada didalam kamar mandi, sementara para lelaki tidak mendengar suara mobil datang karena suara musik di ruangan keluarga agak lumayan keras sehingga menutupi suara mobil Doni. Nampaknya Doni merencanakan sesuatu dengan ketiga temannya, karena kepulangan Doni lebih awal dari yang ia bilang ke Dewi. Doni mengetahui bahwa Dewi pernah melakukan seks dengan ketiga temannya yang saat sekarang ini bersama dia, dan dia mendengar cerita mereka saat mereka menyetubuhi Dewi, Doni tertarik untuk melakukan ramai-ramai bersama temannya sebelum pesta ulang tahunnya besok dimulai.</p>
<p style="text-align: justify;">Tapi Doni tidak mengetahui bahwa saat itu Dewi baru saja selesai pesta seks, ketika Doni membuka pintu garasi yang menghubungkan dengan dapur, Doni terkejut dengan pemandang yang ada dihadapannya, ia melihat tubuh Dewi yang tidak mengenakan sehelai kainpun sedang menyiapkan minuman, Doni tidak mau banyak berpikir kenapa Dewi bertelanjang bulat dan suara musik terdengar mengalun dari ruangan keluarga, yang saat ini ada dalam pikiran Doni dan ketiga temannya yang menyaksikan pemandangan itu adalah ‘Pucuk Dicinta Ulam Tiba’, keinginan mereka bakalan terwujudkan malam ini yaitu menyetubuhi Dewi beramai-ramai.</p>
<p style="text-align: justify;">“Ehhh…apa-apaan ini, siapa?…,”Dewi berkata setengah terkejut saat Doni memeluknya dari belakang.</p>
<p style="text-align: justify;">“Ssttt…Mih, Ini Doni..,”jawab Doni, sambil melanjutkan dengan menciumi tengkuk Dewi dan kedua tangannya meremas-remas kedua bukit kembar Dewi.</p>
<p style="text-align: justify;">“Ooohh…Don, kukira siapa, oooohhh….jangan disini, kita didalam saja,”Dewi mendesah mendapat serangan Doni, dan ia melepaskan tangan Doni dari kedua bukit kembarnya, Dewipun membalikkan badannya berhadapan dengan Doni.</p>
<p style="text-align: justify;">Dewi tambah terkejut saat tubuhnya berhadapan dengan Doni, karena bukan hanya Doni yang datang tapi ada ketiga temannya Doni yang pernah melakukan seks dengan dia, dengan sedikit salah tingkah Dewi mencoba menutupi kedua payudaranya dan selangkangannya, tapi hal itu dicegah oleh Doni, kedua tangan Dewi dipegang oleh Doni sambil Doni membisikkan sesuatu ketelinga Dewi, mendengar itu muka Dewi menjadi merah, tapi otaknya berpikir dengan cepat, pesta malam ini akan menjadi tambah seru karena kedatangan tenaga baru dan muda, dengan cepat diajaknya ke 4 anak muda ini kedalam sambil tidak lupa untuk menyuruh mereka membawa minuman yang sudah dibuatnya tadi.</p>
<p style="text-align: justify;">Doni dan ketiga temannya terperanjat saat sampai diruangan keluarga begitu pula dengan Gito cs, yang menyambut kedatangan mereka dengan penuh gembira hanyalah Nita &amp; Hani, jalan pikiran mereka hampir sama dengan Dewi, yaitu kedatangan tenaga baru yang masih muda.</p>
<p style="text-align: justify;">Hani dan Nita langsung menyambut keempat anak muda itu, dengan gesit mereka melucuti baju mereka satu persatu sehingga keempatnya sekarang sama-sama telanjang bulat, Nita dan Hani berdecak kagum melihat keempat batang kemaluan mereka yang sudah berdiri tegak dan ukurannya hampir sama, tapi yang jelas kepunyaan keempat anak muda ini lebih besar dan panjang daripada kepunyaan Gito cs, dengan bernafsu Hani dan Nita mulai menyerbu keempat batang kemaluan itu, Hani memegang 2 batang begitu juga dengan Nita, lalu mereka mulai menyelomoti kontol-kontol tersebut, yang satu diselomoti dan dikulum-kulum yang satunya dikocok-kocok dan diremas-remas lembut oleh tangan Hani dan Nita.<br />
<span id="more-1070"></span><br />
Gito cs asyik menonton ‘live show’ yang dilakukan oleh Hani dan Nita serta keempat anak muda itu, sementara itu Dewi berpikir tentang mengundang sisa teman-teman Doni untuk datang malam ini, ia mempunyai rencana untuk membuat pesta ulang tahun Doni dirayakan tepat jam 12 malam, lalu ia membisikkan sesuatu ketelinga Doni, dijawab oleh Doni dengan anggukan, kemudian Doni membisikkan sesuatu ketelinga Dewi, Dewi mengangguk dan langsung mengambil HP Doni, Dewi beranjak meninggalkan ruangan menuju ke dapur, di dapur terlihat Dewi sibuk berbicara di HP Doni.
</p>
<p style="text-align: justify;">Anto dan Dedi yang saat itu sedang menikmati permainan tangan dan mulut Hani mengimbangi permainan Hani dengan meremas-remas payudara Hani dan memilin-milin puting susunya Hani, Hani menikmati remasan-remasan tangan mereka di kedua payudaranya serta pilinan-pilinan di kedua putingnya, membuat ia semakin bernafsu mengulum-ngulum kedua batang kemaluan Anto dan Dedi, kedua batang kemaluan Anto dan Dedi bergantian dikulum-kulum oleh Hani, saat Hani mengulum dan menyelomoti serta menjilati kontol Anto tangannya sibuk meremas dan mengocok-ngocok kontol Dedi, begitu juga sebaliknya saat mulut Hani sibuk dengan kontol Dedi tangannya sibuk mempermainkan kontol Anto, Anto dan Dedi betul-betul menikmati permainan Hani, batang kemaluan mereka semakin menegang dan mengeras, nafsu Anto dan Dedi tidak dapat dibendung lagi dengan bersamaan mereka mengangkat tubuh Hani untuk berdiri, lalu kedua anak muda ini mulai menyerang Hani, Anto diatas dan Dedi dibawah, Anto dengan bernafsu mulai menciumi, menjilati, menghisap-hisap kedua payudara Hani bergantian antara kiri dan kanan, sementara Dedi berjongkok sibuk menjilati kelentit Hani dan menghisap-hisapnya, serangan mereka membuat Hani mendesah keenakan, tubuhnya gemetar menahan laju nikmat yang sangat luar biasa.</p>
<p style="text-align: justify;">“Ooohh…hisap tetekku…ooohh itilku juga hisap yang kuat….aaahhh…enak,”desah Hani.</p>
<p style="text-align: justify;">“remas-remas tetekku…yaahh..terus…oohh..hisapp…remas…ooohh,”Han i mendesah lagi.</p>
<p style="text-align: justify;">“Ooohhh…hisap itilku…yaahh..enakk..terus..kocok memekku dengan jari..yah …hhmmm..aaahh.. terus…puaskan aku…hhhmm..aahhh…,”lagi-lagi Hani mendesah-desah keenakan.</p>
<p style="text-align: justify;">Kemaluan Hani semakin basah akibat perlakuan kedua anak muda itu, cairan pelicinnya semakin banyak keluar, membasahi jari-jari Dedi yang sedang keluar masuk di lubang memek Hani, gerakan jari tangan Dedi semakin cepat keluar masuk dilubang memek Hani, tubuh Hani meliuk-liuk menahan arus nikmat yang luar biasa, pantatnya terlihat mengejut-ngejut saat Dedi menghisap kelentitnya serta mengocok lubang vaginanya, desahan-desahan nikmat keluar tanpa henti dari mulut Hani, kepalanya mendongak dengan mata terpejam.</p>
<p style="text-align: justify;">Anto dan Dedi merasakan batang kemaluannya semaklin mengeras saja mendengar desahan Hani, mereka kemudian menghentikan aksinya, kemudian mereka menyuruh Hani merangkak, Anto lalu berlutut tepat dihadapan Hani dan segera menyodorkan kontolnya kemulut Hani yang langsung disambut oleh Hani dengan penuh nafsu, sambil tangannya memegangi kepala Hani, Anto menekankan dan menarik kepala Hani sehingga kontolnya keluar masuk mulut Hani, bibir Hani menjepit kuat batang kemaluan Anto, kadang-kadang karena terlalu menekan kebawah kepala kontolnya menyentuh anak tekak Hani, sehingga membuat Hani tersedak, sementara Anto mulai beraksi di mulut Hani, Dedi berjongkok dibelakang Hani dan mengarahkan kepala kontolnya kearah lubang vagina Hani, ssleeeppp…diselipkannya kepala kontolnya tepat dilubang memek Hani.</p>
<p style="text-align: justify;">Dedi mulai mendorong masuk kontolnya perlahan-lahan kedalam lubang memek Hani, bleess….. bleesss….bleesss… sedikit demi sedikit batang kemaluannya mulai terbenam didalam lubang senggama Hani, Dedi merasakan memek Hani sangat menjepit erat kontolnya, Hani sendiri merasakan memeknya menjadi penuh sesak oleh kontol Dedi, Dedi mendiamkan sebentar kontolnya yang baru masuk setengahnya, ia merasakan memek Hani seperti meremas-remas kontolnya, nampaknya otot dinding vagina Hani sedang bekerja hendak menyesuaikan dengan ukuran batang kemaluan Dedi.</p>
<p style="text-align: justify;">“Terus jangan berhenti…tekan lebih dalam lagi kontolmu..Ooohhh..enak sekali … kontolmu… hhhmmmm…..ssllrppp….oouughhhh,” Hani merintih sambil melahap kontol Antol lagi.</p>
<p style="text-align: justify;">Mendengar itu Dedi lalu mendorong lagi kontolnya untuk masuk lebih dalam bleesss….blesss….blesss…perlahan-lahan batang kemaluan Dedi akhirnya masuk semua kedalam lubang senggama Hani.</p>
<p style="text-align: justify;">“Uugghhh…gila To, memeknya sempit sekali, kayanya jarang dipake nih ama lakinya….,”Dedi berkata kepada Anto.</p>
<p style="text-align: justify;">“Tar giliran, gw masih asyik dengan sepongannya…gila ..ahli banget dia nyepong kontol nich,” Anto menjawab.</p>
<p style="text-align: justify;">Tangan Anto kemudian beralih meremas-remas payudara Hani yang mulai bergoyang kedepan dan kebelakang seirama dengan sodokan-sodokan Dedi yang mulai mengeluar masukkan kontolnya dilubang memek Hani.</p>
<p style="text-align: justify;">Hani dibuat merem melek oleh mereka berdua, desahan dan rintihan keenakan semakin sering keluar dari mulutnya yang sibuk menyepong kontol Anto, tubuhnya gemetar menahan arus kenikmatan yang menerjang dengan kuat, Hani merasakan lubang vaginanya berdenyut semakin cepat secepat sodokan-sodokan kontol Dedi, tubuhnya mulai bergetar hebat, paha dan pantatnya mulai mengejut-ngejut, menyambut datangnya puncak kenikmatannya, tak lama berselang Hani melenguh panjang, vaginanya berdenyut-denyut menyemburkan lahar kenikmatannya.</p>
<p style="text-align: justify;">Sssssrrr…..ssssrrrrr….sssssrrrrr….sssrrr….vagina Hani menyemburkan lahar kenikmatannya menyirami batang kemaluan Dedi.</p>
<p style="text-align: justify;">“Ooooohhh…..aaakku..keluaar…eenak..sekali…aaahhh…. ssshhh..ooohh…hhmmm..aahh,” lenguh Hani.</p>
<p style="text-align: justify;">Tubuh Hani bergetar dengan hebat, terlihat pantatnya mengejut-ngejut seirama dengan keluarnya cairan kenikmatannya, kepalanya mendongak matanya terpejam, tangannya mencengkram paha Anto dengan kuat.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ceritasex.cn/dewi-maniak-seks-pesta-ulang-tahun-anaknya-bagian-3/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Dewi Maniak Seks &#8211; Pesta Ulang Tahun Anaknya Bagian 1</title>
		<link>http://www.ceritasex.cn/dewi-maniak-seks-pesta-ulang-tahun-anaknya-bagian-1/</link>
		<comments>http://www.ceritasex.cn/dewi-maniak-seks-pesta-ulang-tahun-anaknya-bagian-1/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 26 Nov 2009 02:13:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cerita Sex</dc:creator>
				<category><![CDATA[Paruh baya]]></category>
		<category><![CDATA[Pemerkosaan]]></category>
		<category><![CDATA[Seks Umum]]></category>
		<category><![CDATA[Tante Girang]]></category>
		<category><![CDATA[anal seks]]></category>
		<category><![CDATA[anus]]></category>
		<category><![CDATA[cuki]]></category>
		<category><![CDATA[dewi]]></category>
		<category><![CDATA[hani]]></category>
		<category><![CDATA[lonte]]></category>
		<category><![CDATA[lonte cina]]></category>
		<category><![CDATA[maniak seks]]></category>
		<category><![CDATA[ngentot]]></category>
		<category><![CDATA[nita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ceritasex.cn/?p=1066</guid>
		<description><![CDATA[Siang itu Dewi sedang kedatangan dua temannya, Nita dan Hani, ada kesamaan pada mereka bertiga, yaitu mempunyai suami yang jauh lebih tua dari umur mereka dan mereka bertiga lahir ditahun yang sama. Yang membuat perbedaan diantara mereka adalah anak tiri, dimana anak tiri Nita dan Hani tidak ikut dengan mereka tetapi anak tiri mereka ikut [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Siang itu Dewi sedang kedatangan dua temannya, Nita dan Hani, ada kesamaan pada mereka bertiga, yaitu mempunyai suami yang jauh lebih tua dari umur mereka dan mereka bertiga lahir ditahun yang sama. Yang membuat perbedaan diantara mereka adalah anak tiri, dimana anak tiri Nita dan Hani tidak ikut dengan mereka tetapi anak tiri mereka ikut dengan ibunya masing-masing, selain itu Dewi menikah dengan seorang Duda, sementara kedua temannya menikah dengan suami orang, dan suami mereka sekarang telah menceraikan istri-istri tuanya. Nita dan Hani hampir mempunyai sifat yang sama yaitu tipe wanita yang tidak mau sengsara, yang mereka pedulikan hanyalah harta kekayaan dari suami-suami mereka, mereka menikah juga tidak didasari dengan cinta.</p>
<p style="text-align: justify;">Sudah dari dulu Nita dan Hani selalu mengajak Dewi untuk pergi bersama, mencari batang-batang kemaluan yang besar dan panjang untuk memuaskan birahi mereka dan Dewi selalu menolak ajakan itu. Tapi itu dulu, semenjak Dewi sudah beberapa kali merasakan kenikmatan atas sodokan-sodokan dari batang kemaluan lelaki yang panjang dan besar, Dewi selalu merindukan batang-batang kemaluan lelaki yang besar dan panjang.</p>
<p style="text-align: justify;">Topik pembicaraan mereka siang ini tidak jauh berbeda dari dulu, yaitu tidak jauh dari selangkangan lelaki, hanya sekarang Dewi juga ikut aktif, dulu Dewi hanya sekedar pendengar setia sambil tersenyum simpul, kalau sekarang Dewi aktif bercerita tentang pengalaman-pengalaman seksnya, membuat kedua temannya ini melongo mendengar cerita Dewi itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Tak satupun kejadian yang telah dialami oleh Dewi yang disembunyikan termasuk ketika Dewi menikmati permainan seks dengan Doni-anak tirinya dan juga ketika bersetubuh dengan ketiga teman Doni, Nita dan Hani hanya dapat menelan ludah mendengar cerita Dewi itu, birahi mereka mulai bangkit mendengar cerita Dewi, apalagi ketika Dewi menceritakan melakukan seks dengan tiga lelaki sekaligus, yang belum pernah mereka alami selama ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Tak terasa waktu berlalu, jam di dinding telah menunjukkan pukul 12 siang, perut mereka mulai meronta minta diisi, Dewi berinisiatip hendak menyediakan makanan untuk kedua temannya ini, Nita dan Hani mengikuti langkah Dewi kedapur, obrolan kembali berlanjut sambil sibuk menyiapkan makanan.</p>
<p style="text-align: justify;">Tak lama kemudian makan siangpun tersaji, obrolanpun mereka lanjutkan di meja makan sambil menikmati makan siang mereka, penasaran dengan cerita Dewi, Hani dan Nita mengusulkan ke Dewi agar mereka bisa untuk ikut menikmati batang-batang kemaluan lelaki yang panjang dan besar, mereka berdiskusi tentang bagaimana caranya untuk membuat hal itu terjadi, sedang asyiknya mereka menyusun rencana, mereka mendengar suara kunci yang terbuka dari arah pintu depan, Dewi tahu bahwa yang pulang itu adalah Doni anak tirinya, dan tebakan Dewi betul adanya, selang tak lama wajah Doni terlihat oleh mereka, Donipun memanggutkan kepala dan tersenyum kepada Hani dan Nita, lalu ia menghampiri Dewi.<br />
<span id="more-1066"></span><br />
“Mih, sabtu ini kan aku Ulang Tahun, boleh tidak aku undang teman-temanku kesini untuk merayakannya,” tanya Doni sesampainya dihadapan Dewi.
</p>
<p style="text-align: justify;">“Oh, iyah, hampir Mamih lupa, berapa orang, terus apa saja yang harus Mamih sediakan,” Dewi bertanya balik ke Doni.</p>
<p style="text-align: justify;">“Ah, gak banyak kok Mih, paling sepuluh orang termasuk aku sebelas jadinya, kayanya gak usah repot-repot dech, beli makanan jadi aja Mih,” jawab Doni.</p>
<p style="text-align: justify;">“Yach klo cuman sebanyak itu sich, Mamih siapin sendiri aja, gak usah beli, paling kita beli kue ulang tahunnya dan minumannya saja,” balas Dewi.</p>
<p style="text-align: justify;">“Ah kebetulan Sabtu ini, suamiku gak ada, dia pergi keluar kota, jadi aku bantuin kamu aja, Wi,” sahut Nita.</p>
<p style="text-align: justify;">“Iyah, aku juga bantuin kamu dech, Wi, mumpung lakiku juga belon pulang,” Hani ikut nimbrung juga.</p>
<p style="text-align: justify;">“Oh, iyach, Don, kenalin ini teman Mamih, ini tante Nita dan yang itu tante Hani, “ kata Dewi.</p>
<p style="text-align: justify;">“Serius kalian mo bantuin, yach klo gitu sich, aku seneng-seneng aja ada yang bantuin,” lanjut Dewi.</p>
<p style="text-align: justify;">“Doni,” kata Doni menyebutkan namanya sambil menjabat tangan Hani dan Nita.</p>
<p style="text-align: justify;">“Waduh, makasih banyak, Mih, dan tante makasih juga yach udah mau bantuin mamih,” Doni berkata kepada mereka.</p>
<p style="text-align: justify;">“Doni, kekamar yach, mo istirahat,” lanjut Doni dan Donipun beranjak meninggalkan mereka.</p>
<p style="text-align: justify;">Sepeninggal Doni, mereka bertiga tersenyum genit, dan mereka mulai merencanakan acara tersebut, dalam benak mereka berharap mudah-mudahan yang diundang Doni adalah teman laki-lakinya semua, kalau yang datang semuanya adalah lelaki maka pesta yang akan mereka adakan itu pasti akan lebih meriah, dan mereka merencanakan akan membuat pesta ulang tahun itu menjadi pesta seks, tapi kemudian Dewi tersadar bahwa kemungkinan besar rencana itu tidak dapat dilaksanakan karena suaminya sedang berada di Jakarta, kembali ketiganya memutar otak untuk dapat melaksanakan niat mereka itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Sorenya Nita dan Hani berpamitan sambil membawa PR kerumah masing-masing tentang bagaimana caranya membuat pesta itu terjadi sesuai dengan harapan mereka dan menyingkirkan suami Dewi untuk sementara waktu, mereka bertiga berjanji untuk saling memberi kabar jika salah satu dari mereka telah menemukan akal untuk hal tersebut.</p>
<p style="text-align: justify;">Sampai 2 hari menjelang hari H, mereka bertiga belum menemukan jalan untuk menyingkirkan suaminya Dewi, tapi nampaknya dewi seks berpihak pada mereka bertiga, nampaknya dewi seks memberikan jalan kepada mereka untuk melakukan acara pesta seks yang sudah mereka rencanakan itu, karena saat suaminya pulang kerumah ia memberitahu Dewi bahwa besok dirinya harus berangkat dengan pak Erwin untuk meninjau lokasi proyek mereka. Mendengar berita ini Dewi bersorak girang dalam hatinya, tak sabar ia ingin segera memberitahukan kabar ini kepada kedua temannya.</p>
<p style="text-align: justify;">Keesokan harinya sepeninggal suaminya, Dewi menghubungi kedua temannya dan memberitahukan berita gembira ini, kedua temannya yang mendengar berita ini bersorak kegirangan dan mereka berjanji untuk datang kerumah Dewi hari ini dan mereka merencanakan akan bermalam dirumah Dewi sampai hari Minggu.</p>
<p style="text-align: justify;">Siangnya setelah Hani dan Nita tiba dirumah Dewi, mereka bertiga pergi berbelanja untuk keperluan acara besok, selesai belanja mereka langsung pulang, setibanya dirumah mereka melihat Doni sedang nonton TV.</p>
<p style="text-align: justify;">“Don, Mamih ada yang lupa nich,” kata Dewi.</p>
<p style="text-align: justify;">“Apa yang mamih lupa?” Doni bertanya.</p>
<p style="text-align: justify;">“Kamu undang teman-temanmu itu jam berapa?” tanya Dewi.</p>
<p style="text-align: justify;">“Oh, jam 12 siang, soalnya biar pas waktunya dengan waktu makan siang,”jawab Doni.</p>
<p style="text-align: justify;">“Terus, berapa orang laki-laki dan berapa orang perempuan,”Dewi kembali bertanya.</p>
<p style="text-align: justify;">“Oh, klo itu sich, yang Doni suruh dating semuanya teman laki-laki Doni,”Doni menjawab kembali.</p>
<p style="text-align: justify;">“Memangnya kamu tidak punya teman perempuan, makanya tidak ada teman perempuanmu yang diundang?,” kembali Dewi bertanya</p>
<p style="text-align: justify;">“Ada sich, Mih. Cuman gak asyik aja klo ada teman perempuanku, gak rame, gak heboh,”jawab Doni.</p>
<p style="text-align: justify;">“Eh, Mamih juga perempuan, berarti kehadiran mamih tidak diinginkan juga dong?” canda Dewi.</p>
<p style="text-align: justify;">“Yach, itu sich lain mih,”jawab Doni.</p>
<p style="text-align: justify;">“Och, yach mih, aku mau pergi dulu kerumah temanku, pulangku pasti malam, gak usah mamih tungguin yach,” lanjut Doni, yang segera beranjak setelah di iyakan oleh Dewi.</p>
<p style="text-align: justify;">Sepeninggal Doni, mereka bertiga sibuk didapur menyiapkan bahan-bahan untuk besok, sambil asyik merencanakan tindakan apa yang harus mereka lakukan besok, karena sibuk dan asyik dengan rencana-rencana mereka.</p>
<p style="text-align: justify;">Jam di dinding menunjukkan pukul 6 sore saat mereka mendengar suara bel pintu, Dewi beranjak kedepan untuk melihat siapa yang datang bertamu, saat pintu dibuka, ternyata yang datang adalah Parmin.</p>
<p style="text-align: justify;">“Ada apa pak Parmin?” tanya Dewi.</p>
<p style="text-align: justify;">“Ini Bu, saya mau mengembalikan pinjaman saya yang kemarin,”jawab Parmin.</p>
<p style="text-align: justify;">“Oh, memang pak Parmin sudah ada uangnya,” tanya Dewi lagi, sambil berpikir untuk mengundang Parmin agar datang nanti malam dan mengajak Sugito, Dewi berpikir pasti teman2nya ingin merasakan sodokan-sodokan satpam ini.</p>
<p style="text-align: justify;">“Sudah Bu, sudah soalnya hari ini saya dapat rejeki,” jawab Parmin.</p>
<p style="text-align: justify;">“Oh ya sudah, ngomong-ngomong Pak Parmin nanti malam tugas tidak,”tanya Dewi.</p>
<p style="text-align: justify;">“Memang kenapa Bu?”Parmin balik bertanya.</p>
<p style="text-align: justify;">“Klo tidak tugas bagaimana klo pak Parmin nanti malam datang yach sekitar jam 8an gitu, sambil ajak pak Gito,”jawab Dewi genit.</p>
<p style="text-align: justify;">“Oh bisa, bisa Bu, nanti malam saya akan datang sama pak Gito, hanya kita berdua aja Bu,”Parmin mengiyakan sambil bertanya.</p>
<p style="text-align: justify;">“Memang ada siapa lagi,”tanya Dewi</p>
<p style="text-align: justify;">“Klo yang tidak tugas nanti malam sich ada 2 orang lagi, Nanang dan Udin,”jawab Parmin.</p>
<p style="text-align: justify;">“Yach, udah sekalian mereka juga suruh datang,”sahut Dewi cepat.</p>
<p style="text-align: justify;">“Klo gitu saya permisi dulu Bu, saya mau kasih tahu mereka,”pamit Parmin.</p>
<p style="text-align: justify;">Dewi bergegas masuk sepeninggal Parmin, lalu ia ceritakan hal tersebut kepada teman-temannya, Hani dan Nita menyambut gembira hal tersebut, lalu mereka cepat-cepat membenahi dapur dan menyiapkan makanan kecil dan minuman untuk pesta kecil mereka nanti malam, selesai itu mereka betiga membersihkan diri mereka dan bersiap-siap untuk menyambut tamu-tamu yang akan memberikan mereka kepuasan.</p>
<p style="text-align: justify;">Jam berdentang 7 kali saat bel pintu dirumah Dewi berbunyi, Dewi bergegas menuju kepintu depan, pintu dibuka Dewi melihat 4 sosok lelaki dihadapannya, Dewi tersenyum melihat yang siapa yang datang ini, lalu ia mempersilahkan ke 4nya untuk masuk dan langsung diajaknya keruangan keluarga dimana Hani dan Nita sedang menunggu kehadiran mereka juga.</p>
<p style="text-align: justify;">Dewi memperkenalkan mereka kepada Hani dan Nita, yang disambut dengan genit oleh Hani dan Nita, merekapun terlibat pembicaraan sambil menikmati makanan dan minuman, sambil diselingi dengan rabaan dan remasan-remasan genit ketiga wanita ini kepada para lelaki, ke 4 lelaki ini tidak pernah membayangkan dalam hidupnya mereka akan mengalami hal ini, 3 wanita yang jelas-jelas lebih cantik dan seksi daripada istri mereka dirumah bertingkah laku genit kepada mereka, dan tangan mereka meraba-raba serta meremas-remas batang kemaluan mereka dari balik celana yang mereka pakai, aksi ke 3 wanita ini telah membuat birahi mereka mendidih.</p>
<p style="text-align: justify;">Gito yang sedang menikmati remasan dan rabaan tangan Hani, mulai melakukan aksi balik, tangannya mulai meremas-remas payudara Hani, mulutnya mulai melumat bibir Hani, aksi balas Gito membuat Hani mendesah, Parmin melakukan hal yang sama kepada Nita, mulutnya melumat bibir Nita dengan penuh nafsu, kedua tangannya beraksi melucuti pakaian atas Nita yang dilanjut dengan membuka Branya, terlihat kedua payudara Nita yang masih mengkal menggantung dengan indahnya, kedua putingnya yang berwarna merah muda sedikit mencuat, dengan tidak sabar Parmin memnyerbu kedua payudara itu, remasan-remasan penuh nafsu dilakukannya kebukit kembar Nita diselingi dengan pilinan-pilinan dikedua putingnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Nanang dan Udin yang sedang menikmati tangan lembut Dewi, menyaksikan kedua temannya sudah beraksi dan saat mereka melihat Parmin melucuti pakaian dan bra Nita, kemudian terpampang dengan jelas dikedua mata mereka bukit kembar Nita, mereka menjadi penasaran ingin segera melihat bukitm kembar Dewi. Keduanya bekerja sama melucuti pakaian Dewi termasuk dengan bra dan celana dalam Dewi, akhirnya Dewi dibuat telanjang bulat oleh mereka, setelah selesai dengan melucuti pakaian Dewi, mereka melepaskan pakaian mereka dengan tergesa-gesa, dengan keadaan telanjang bulat mereka mulai menyerbu Dewi, Nanang menerkam bagian atas Dewi dengan penuh nafsu, dia melumat bibir Dewi yang disambut dengan penuh nafsu oleh Dewi, sementara tangan Nanang beraksi dikedua payudara Dewi, remasan-remasan tangan Nanang dan pilinan-pilinan dikedua putingnya membuat Dewi mendesah apalagi Udin juga mulai beraksi dibagian bawah tubuhnya, Udin dengan penuh nafsu menjilati vagina Dewi dan menghisap-hisap kelentit Dewi.</p>
<p style="text-align: justify;">Gito menghentikan serangannya, ia mulai melucuti pakaian yang dikenakan oleh Hani sehingga tubuh mulus dan putih Hani terpampang dengan jelas dikedua mata Gito, Hani juga membalas dengan melucuti semau pakaian Gito, saat celana dalam Gito terlepas, Hani melihat batang kemaluan Gito yang sudah berdirti tegak dengan gagahnya, dibandingkan dengan kepunyaan suaminya memang sangat berbeda, Gito kemudian merebahkan tubuhnya diatas karpet, Hani dengan posisi merangkak mulai menyerbu batang kemaluan Gito, dikulum-kulum dan dijilatinya barang pusaka Gito itu dengan penuh nafsu, sambil menikmati selomotan dan jilatan Hani dikontolnya, tangan Gito tidak tinggal diam, kedua tangannya mulai menyerang payudara dan vagina Hani, tangan kirinya asyik meremas-remas payudara Hani bergantian sambil ditingkahi dengan pilinan-pilinan dikedua putingnya, tangan kanannya dengan lembut menggesek-gesek vagina dan kelentit Hani, kadang-kadang jari tengahnya menerobos kedalam lubang vagina Hani lalu dikocok-kocokkan keluar masuk dilubang vagina Dewi.</p>
<p style="text-align: justify;">Parminpun tidak mau kalah oleh teman-temannya, ia segera melucuti pakaian Nita dan pakaiannya sendiri, setelah tubuh Nita tidak tertutupi oleh sehelai kainpun begitu pula dengan tubuhnya yang sudah polos, Parmin segera merangkak keatas tubuh Nita, ia mulai menjilati vagina dan kelentit Nita, Nita juga mulai membalas aksi Parmin dengan penuh nafsu batang kemaluan Parmin diselomoti dan dijilatinya, Parmin melenguh menikmati sedotan-sedotan mulut Nita dibatang kemaluannya, iapun mengimbanginya dengan melesakkan kedua jarinya kedalam lubang vagina Nita, dan mengocok-ngocokannya keluar masuk lubang vagina Nita, dari mulut Nita yang sedang penuh oleh jejalan batang kemaluan Parmin terdengar erangan dan lenguhan, Nita betul-betul menikmati sensasi permainan mulut dan tangan Parmin divaginanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Saat itu Dewi dengan penuh nafsu sedang menikmati batang kemaluan Nanang, mulutnya mengulum-ngulum kontol Nanang, tangan kirinya mengelus-ngelus biji pelernya, sementara tangan kanannya meremas-remas rambut Udin yang masih asyik bermain dengan vaginanya, kadang-kadang terlihat pantat Dewi terangkat menyambut hisapan mulut Udin serta sodokan jari tangan Udin divaginanya, lenguhan dan erangan terdengar keluar dari mulut Dewi, Nanang merasakan kenikmatan yang tiada duanya, ia betul-betul menikmati selomotan dan jilatan Dewi dikontolnya, tangan kirinya memegang kepala Dewi, kadang-kadang mendorong kepala Dewi akibatnya kontolnya hampir masuk semuanya didalam mulut Dewi dan membuat Dewi tersedak, sementara tangan kanannya meremas-remas kedua payudara Dewi bergantian kiri dan kanan, dan ditingkahi dengan memilin-milin kedua putingnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Kemaluan Hani semakin basah mendapatkan serangan Gito yang bertubi-tubi, Hani sudah tidak sabar lagi ingin merasakan sodokan-sodokan kontol Gito dilubang senggamanya, dengan segera Hani merangkak diatas tubuh Gito dan mulai mengarahkan kontol Gito yang sudah semakin tegang itu kelubang senggamanya, dioles-oleskannya kepala kontol Gito dengan kelentitnya, kemudian Hani menyelipkan kepala kontol Gito di lubang vaginanya, sleepp….dengan perlahan-lahan Hani mulai menurunkan pantatnya, batang kemaluan Gito mulai menerobos lubang senggama Hani, bleesss…sedikit-demi sedikit kontol Gito mulai menyeruak masuk, bleeess…Hani menurunkan pantatnya lagi, Hani merasakan memeknya agak sedikit sakit akibat kontol Gito yang lebih besar daripada kepunyaan suaminya, bleess….kembali Hani menurunkan pantatnya, Gito merasakan memek Hani begitu erat menjepit batang kemaluannya, dan bleessss…dengan sekali hentakan kuat Hani menekan pantatnya kebawah, batang kemaluan Gito melesak lebih dalam lagi dirongga vagina Hani, Gito merasakan ujung kepala kontoknya bersentuhan dengan dinding rahim Hani begitu pula Hani merasakan dinding rahimya tersentuh agak kuat oleh kepala kontol Gito, keduanya melenguh….Uuuughhhh…</p>
<p style="text-align: justify;">Hani mendiamkan sebentar gerakannya, ia merebahkan tubuhnya ketubuh Gito sementara mulutnya mulai menciumi mulut Gito, dibalas oleh Gito dengan penuh nafsu, Gito meneroboskan lidahnya kedalam mulut Hani mencari lidah Hani, lidah mereka bertautan dirongga mulut Hani, tangan Gito mengelus-ngelus punggung Hani dan kedua bongkah pantat Hani, kadang-kadang tangannya meremas-remas kedua bongkah pantat Hani, tingkah mereka tidak luput dari pandangan Parmin yang sedang asyik menjilati kemaluan Nita, karena posisi mereka tepat berhadapan dengan kepala Parmin, Parmin melihat jelas sekali tahap demi tahap saat kontol Gito menerobos masuk kedalam lubang vagina Hani, lalu saat ia melihat tangan Gito meremas-remas pantat Hani, Parmin melihat lubang pantat Hani, ia ingat pengalamannya sewaktu mengentot lubang pantat Dewi, dan sekarang ia juga ingin memerawani lubang pantat Hani, Parmin segera menghentikan aksinya, ia beranjak dari posisinya kemudian Parmin berlutut dibelakang Hani, dibasahinya batang kemaluannya dengan air ludahnya, lalu ia selipkan kepala kontolnya dilubang pantat Hani, ssleepp … kepala kontol Parmin mulai terselip dilubang pantat Hani, Hani menjerit merasakan sakit saat lubang pantatnya mulai diterobos oleh kepala kontol Parmin, Hanipun meronta agar kepala kontol Parmin terlepas dari lubang pantatnya tapi percuma karena Gito yang melihat Parmin mendekati Hani dari belakang sudah mengetahui apa yang hendak dilakukan oleh Parmin, kedua tangannya memeluk erat Hani sehingga Hani tidak dapat bergerak.</p>
<p style="text-align: justify;">“Saakit….aaargghh….cabut kontolmu dari lubang pantatku…Ooogghh,”jerit Hani.</p>
<p style="text-align: justify;">“ssssttt..tenang Bu, sekarang sakit tapi lama-lama pasti ibu akan keenakan,” kata Parmin sambil mulai melesakkan batang kemaluannya dilubang pantat Hani perlahan-lahan, bleeesss…bleesss…blessss…bleessss.</p>
<p style="text-align: justify;">“Sakkiiittt….Ugghhh….sakiitt…..sudah aku tidak kuat…sakit sekali..”jeritan Hani terdengar kembali saat batang kemaluan Parmin semakin masuk kedalam lubang pantatnya.</p>
<p style="text-align: justify;">“Uughh…tenang Bu, nanti pasti juga ibu ketagihan,”kata Parmin lalu dengan sekali hentakan ia dorong batang kemaluannya, bbleesssss…..seluruh batang kemaluannya tertelan di lubang pantat Hani, “Uuughhh,…gila…sempit sekali nich lubang pantatnya, Bu, belom pernah dientot lubang pantatnya yach,”Parmin mengerang sambil bertanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Hani tidak dapat menjawab karena menahan sakit yang luar biasa, Gito merasa kasihan melihat Hani, dengan lembut ia menciumi Hani, dengan berpegangan pada pinggang Hani, Parmin mulai menggerakkan tubuh Hani kedepan dan kebelakang perlahan-lahan, sehingga membuat batang kemaluannya keluar masuk dengan sendirinya dilubang pantat Hani, tapi bukan batang kemaluannya saja yang secara otomatis keluar masuk, kontol Gitopun dengan sendirinya keluar masuk dilubang vagina Hani.</p>
<p style="text-align: justify;">Lama-lama isak tangis Hani berganti menjadi erangan dan desahan, rasa sakit perlahan-lahan berganti menjadi rasa nikmat yang luar biasa, dari yang tadinya hanya diam saja sekarang Hani mulai membantu gerakan Parmin yang memaju-mundurkan tubuhnya, kedua payudaranya yang bergelantungan didepan wajah Gito bergoyang seiring dengan gerakan tubuhnya yang maju mundur, dengan penuh nafsu Gito menjilati dan mengulum-ngulum kedua payudara Hani bergantian kiri-kanan, dan ditingkahi dengan hisapan-hisapan kuat dikedua putingnya, menambah sensasi kenikmatan Hani.</p>
<p style="text-align: justify;">“Ooohhh..enak sekali…aaaghh…terus…hisap tetekku…yach…tekan lebih dalam…,”Hani mengerang-ngerang kenikmatan, tubuhnya ia mundurkan lebih kuat membuat kedua kontol Gito dan Parmin melesak lebih dalam.</p>
<p style="text-align: justify;">“Enak betul memek ibu, gak kalah enak ama punya bu Dewi, aaghh kontolku seperti diremas-remas,” Gito mengerang merasakan keenakan saat dinding vagina Dewi mencengkram erat batang kemaluannya dan berdenyut-denyut.</p>
<p style="text-align: justify;">“Iyach lubang pantatnya sama-sama masih perawan sama seperti punya bu Dewi, enak kurasa…kontolku juga kaya diremas-remas nich,”erang Parmin bersamaan dengan erangan Gito, Parmin merasakan ketatnya lubang pantat Hani menjepit kontolnya, juga dinding lubang pantatnya yang berdenyut-denyut.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;</p>
<p style="text-align: justify;">Saat Parmin mulai melesakkan kontolnya kelubang pantat Hani, Nita yang ditinggal begitu saja segera menghampiri Nanang, didorongnya tubuh Nanang hingga bersandar di sofa, lalu ia berdiri mengangkangi kepala Nanang yang tergolek diatas sandaran sofa, kaki kanannya ia angkat keatas dan dipijakkannya diatas sandaran sofa, kedua tangannya menguakkan lubang vaginanya, terpampang di mata Nanang pemandangan yang menakjubkan yang belum pernah ia lihat selama ini, kelentit Nita terlihat oleh Nanang dengan jelas sementara vagina Nita yang berwarna merah muda terlihat jelas oleh Nanang, tanpa membuang waktu lagi dan Nanang tahu bahwa Nita ingin vagina dan kelentinya dijilati dan dihisap, Nanang mulai menjulurkan lidahnya dan mulai menjilati vagina Nita sambil ditingkahi dengan hisapan-hisapan dikelentitnya, tangan Nanang mulai beraksi juga, kedua jari tengah dan jari manis tangan kanannya mulai menerobos masuk kedalam lubang vagina Nita, tangan kirinya mulai mengelus-ngelus lubang pantat Nita, Nita melenguh menerima serangan ini, pantatnya ia maju mundurkan perlahan-lahan, Nanang menekan bagian dalam vagina Nita tepat dibelakang kelentitnya saat ia menghisap-hisap kelentitnya, kadang-kadang kedua jarinya mengocok vagina Nita.</p>
<p style="text-align: justify;">“Oohhh…terus…hisap itilku..yang kuaat…aaaghh…enak…terus…tekan…yach..kocok lagi…ochh enak sekali…,”Nita mengerang merasakan sensasi kenikmatan permainan tangan dan mulut Nanang.</p>
<p style="text-align: justify;">“Hhhmm…ssslllrrppp…memek ibu wangi dan cairannya ini gurih…ssslrrpppp…,”gumam Nanang sambil asyik menghisap-hisap kelentit Nita dan menelan cairan-cairan pelicin yang keluar dair vagina Nita.</p>
<p style="text-align: justify;">Kocokan-kocokan tangannya semakin dipercepat keluar masuk dalam lubang vagina Nita yang semakin basah oleh cairan pelicinnya, kadang-kadang ia tekan bagian belakang kelentitnya saat ia menghisap kuat-kuat kelentitnya, tubuh Nita gemetar dibuatnya, lenguhannya semakin sering terdengar, matanya merem-melek menikmati permainan Nanang, kedua tangan Nita mulai meremasi kedua payudaranya sendiri.</p>
<p style="text-align: justify;">kontol</p>
<p style="text-align: justify;">Dewi sendiri yang ditinggalkan oleh Nanang juga mulai meremasi kedua payudaranya dengan kedua tangannya sambil menikmati permainan Udin dilubang vaginanya, tubuhnya kadang-kadang melenting menikmati serangan Udin, kedua kakinya yang menopang saat tubuhnya melenting terlihat gemetar, Dewi merasakan nikmat yang luar biasa dengan permainan Udin, kedua jari tangan Udin keluar masuk dengan cepat, kadang-kadang Udin memutar-mutar jari tangannya yang sedang berada didalam vagina Dewi kekiri-kekanan, atau kadang-kadang Udin menekan keatas-kebawah kedua jari tangan saat kedua jari tangannya berada didalam vagina Dewi, sementara hisapan dan jilatannya dikelentit Dewi tidak berhenti saat Udin melakukan aksi tangannya itu, Dewi dibuat merem melek oleh Udin, lenguhan dan desahannya sering terdengar, bersahutan dengan suara Nita dan Hani yang sama-sama sedang menikmati serangan-serangan dilubang senggama mereka.</p>
<p style="text-align: justify;">“Oohh…terus Din, enak betul..hisap terus kelentitku…Ooohh…yach…kocok memekku yach…,”lenguh Dewi.</p>
<p style="text-align: justify;">“Hhhhmmm…ssllrppp..memek ibu..enak..wangi…,”Udin bergumam, sambil mulutnya tetap menghisap kelentit Dewi.</p>
<p style="text-align: justify;">Aksi Udin semakin menggila, jempol kirinya ia masukkan kedalam lubang pantat Dewi dan saat jempolnya sudah masuk semuanya didalam lubang pantat Dewi, ia gerakkan jempolnya keatas-kebawah, aksinya ini menambah sensasi kenikmatan buat Dewi, tangan kanan Dewi menekan belakang kepala Udin, pantatnya terangkat, kaki dan tubuhnya terlihat gemetar merasakan kenikmatan permainan Udin.</p>
<p style="text-align: justify;">“Oooohh..Din, terus..terus…enak…yach…,”terdengar Dewi mengerang lagi.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;</p>
<p style="text-align: justify;">Sementara Hani yang sedang dikeroyok berdua mulai mendekati titik kenikmatannya, puncak kenikmatannya sudah diambang pintu, erangannya semakin sering terdengar, tubuhnya mengejang-ngejang, keringatnya sudah membanjir menjadi satu dengan keringat Gito dan Parmin.</p>
<p style="text-align: justify;">“Ooohhh…teruss…sodok memekku dengan kontol kalian, lebih kuat dan lebih dalam, yach…oohh kalian betul-betul enak, aku tidak kuat lagi, Ooohh…aku mau keluar …tekan lebih dalam….aarrghh yach…begitu..teruss..lebih cepat lebih dalam…aaagghh..aku keluar,” Hani mengerang keenakan, tubuhnya mengejang-ngejang dan gemetar, saat meraih puncak kenikmatannya…ssssrrrrrr….sssrrrrrr..lubang vaginanya menyemprotkan lahar kenikmatannya menyirami kontol Gito yang berada didalam lubang vaginanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Hani memeluk Gito erat, tubuhnya meregang menikmati peraihan puncak kenikmatannya, matanya terbeliak keatas sehingga hanya bola putihnya saja yang terlihat, mulutnya ternganga sementara kepalanya mendongak keatas.</p>
<p style="text-align: justify;">kontol</p>
<p style="text-align: justify;">Saat Hani sedang meregang menyambut puncak kenikmatannya, Nita juga hendak meraih puncak kenikmatannya, tubuhnya mulai agak limbung, kedua kakinya gemetar, tangan kanannya meraih belakang kepala Nanang, tangan kirinya memegang erat sandaran kepala sofa, tubuhnya mengejang, pantatnya menekan kebawah lalu mengejut-ngejut, ssssrrrr…..sssrrr…sssrrr…cairan kenikmatannya menyembur keluar menyiram mulut dan muka Nanang, merasakan itu Nanang semakin kuat menghisap kelentit Nita, sementara jari tangannya ia dorong lebih dalam dan digerakkan keatas-kebawah, bagian depan dan belakang jari tangannya bergantian bersentuhan dengan dinding vagina Nita.</p>
<p style="text-align: justify;">“Oouuhh…aku keluar….oooh…enak…hisap kuat-kuat itilku….yaaachhh…,”Nita mengerang, puncak kenikmatannya berhasil ia rengkuh, tubuhnya mengejang, pantatnya mengejut-ngejut saat vaginanya menyemburkan cairan kenikmatan, matanya terpejam merasakan sensasi kenikmatan yang berhasil ia capai, kepalanya terdongak kebelakang.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;</p>
<p style="text-align: justify;">Saat kedua temannya sedang meregang keenakan, Dewi juga merasakan hal yang sama, tubuhnya saat itu juga sedang meregang menyambut puncak kenikmatan yang berhasil ia rengkuh, pantatnya semakin terangkat keatas, kedua kakinya gemetaran, kedua tangannya menjambak rambut Udin, sementara tubuhnya melenting ditopang oleh kepala dan kedua kakinya, mulutnya melenguh kuat saat vaginanya mulai menyemburkan lahar kenikmatannya, pantatnya mengejut-ngejut seirama dengan semburan lahar kenikmatan dari lubang vaginanya, ssrrrrr…..ssssrrrr….ssssrrrrrr….</p>
<p style="text-align: justify;">“Din, aaku keluaar…ooohhh…enak….sekali..hisap yang kuat Din, yach aaarggg…,”Dewi melenguh menyambut puncak kenikmatannya.</p>
<p style="text-align: justify;">Dari wajah ketiga wanita itu terlihat senyum kepuasan, pipi mereka merona merah, nafas mereka terdengar memburu, tubuh mereka masih gemetar, terlihat pantat mereka masih mengejut-ngejut lemah seirama dengan semburan lahar kenikmatan dari lubang vagina mereka yang mulai mereda.</p>
<p style="text-align: justify;">Keempat lelaki itu mendiamkan sejenak aksi mereka, mereka merasakan kedutan-kedutan dilubang vagina mereka yang perlahan mulai mereda. Mereka berempat saling bertukar pandangan dan dimulut mereka tersungging senyuman, mereka berempat berpikir bahwa ini baru awal dari permainan seks selanjutnya dan mereka akan merasakan satu demi satu tubuh para wanita ini.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ceritasex.cn/dewi-maniak-seks-pesta-ulang-tahun-anaknya-bagian-1/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Dari Desa Ke Kota Cuma Karena Pengen Anal Seks</title>
		<link>http://www.ceritasex.cn/dari-desa-ke-kota-cuma-karena-pengen-anal-seks/</link>
		<comments>http://www.ceritasex.cn/dari-desa-ke-kota-cuma-karena-pengen-anal-seks/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 14 Oct 2009 02:21:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cerita Sex</dc:creator>
				<category><![CDATA[Foto Mesum]]></category>
		<category><![CDATA[Seks Umum]]></category>
		<category><![CDATA[anal seks]]></category>
		<category><![CDATA[anal]]></category>
		<category><![CDATA[anus]]></category>
		<category><![CDATA[cuki]]></category>
		<category><![CDATA[cum shot]]></category>
		<category><![CDATA[kembang desa]]></category>
		<category><![CDATA[lonte]]></category>
		<category><![CDATA[ngentot]]></category>
		<category><![CDATA[seks]]></category>
		<category><![CDATA[sperma]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ceritasex.cn/?p=972</guid>
		<description><![CDATA[Jauh² datang dari desa ke kota, niatnya sih cari kerjaan apa daya banyak setan di kota menjadikan neng kembang desa ini menjadi seorang pelayan SEKS ngentot dogie style anal seks lalu cumshot di muka hmmm&#8230;&#8230;. mangstabbbb..]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Jauh² datang dari desa ke kota, niatnya sih cari kerjaan apa daya banyak setan di kota menjadikan neng kembang desa ini menjadi seorang pelayan SEKS ngentot dogie style anal seks lalu cumshot di muka hmmm&#8230;&#8230;. mangstabbbb..</p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2009/10/ngentot-1.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-973" title="ngentot-1" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2009/10/ngentot-1-245x300.jpg" alt="ngentot-1" width="245" height="300" /></a></p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2009/10/ngentot-2.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-974" title="ngentot-2" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2009/10/ngentot-2-245x300.jpg" alt="ngentot-2" width="245" height="300" /></a></p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2009/10/ngentot-3.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-975" title="ngentot-3" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2009/10/ngentot-3-247x300.jpg" alt="ngentot-3" width="247" height="300" /></a></p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2009/10/ngentot-4.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-976" title="ngentot-4" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2009/10/ngentot-4-244x300.jpg" alt="ngentot-4" width="244" height="300" /></a></p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2009/10/ngentot-5.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-977" title="ngentot-5" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2009/10/ngentot-5-245x300.jpg" alt="ngentot-5" width="245" height="300" /></a></p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2009/10/ngentot-6.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-978" title="ngentot-6" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2009/10/ngentot-6-300x202.jpg" alt="ngentot-6" width="300" height="202" /></a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ceritasex.cn/dari-desa-ke-kota-cuma-karena-pengen-anal-seks/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Istri yang Selingkuh</title>
		<link>http://www.ceritasex.cn/istri-yang-selingkuh/</link>
		<comments>http://www.ceritasex.cn/istri-yang-selingkuh/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 05 Oct 2009 21:08:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cerita Sex</dc:creator>
				<category><![CDATA[anal seks]]></category>
		<category><![CDATA[selingkuh]]></category>
		<category><![CDATA[anus]]></category>
		<category><![CDATA[birahi]]></category>
		<category><![CDATA[istri haus seks]]></category>
		<category><![CDATA[istri muda]]></category>
		<category><![CDATA[istri selingkuh]]></category>
		<category><![CDATA[ngentot]]></category>
		<category><![CDATA[pantat lobang]]></category>
		<category><![CDATA[wanita haus seks]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ceritasex.cn/?p=966</guid>
		<description><![CDATA[Aku telah menikah lebih dari 8 tahun, istriku Erni adalah seorang wanita yang cantik dan menggairahkan. Semua yang dapat kugambarkan tentang sosoknya hanyalah, aku tak mungkin bisa mendapatkan seorang pasangan hidup sebaik dia. Akhir-akhir ini kesibukanku di kantor membuat kehidupan rumah tanggaku sedikit tergoncang, pagi-pagi sekali sudah berangkat dan pulang sudah larut malam. Erni tak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Aku telah menikah lebih dari 8 tahun, istriku Erni adalah seorang wanita yang cantik dan menggairahkan. Semua yang dapat kugambarkan tentang sosoknya hanyalah, aku tak mungkin bisa mendapatkan seorang pasangan hidup sebaik dia. Akhir-akhir ini kesibukanku di kantor membuat kehidupan rumah tanggaku sedikit tergoncang, pagi-pagi sekali sudah berangkat dan pulang sudah larut malam. Erni tak bekerja, dia hanya mengurus rumah, jadi bisa dikatakan dia sendirian saja di rumah tanpa teman, tanpa pembantu selama kutinggal kerja. Tapi terkadang dia pergi keluar dengan teman- temannya, tapi dia selalu menghubungiku lewat telepon sebelum pergi. Hari Rabu, pekerjaanku di kantor selesai lebih awal, dan ingin pulang dan mengajak Erni keluar untuk menebus semua waktuku untuknya. Aku meninggalkan kantor sebelum jam makan siang dan memberitahukan pada sekretarisku bahwa aku tidak akan kembali ke kantor lagi hari ini. Kupacu mobilku secepatnya agar segera sampai di rumah dan mungkin aku akan mendapatkan kenikmatan siang hari sebelum kami pergi keluar. Saat hampir tiba di rumahku, kulihat ada sebuah mobil yang diparkir di depan. Aku pikir itu mungkin milik temannya. Aku lalu keluar dari mobil dan melangkah masuk ke dalam rumah. Kubuka pintu depan, sengaja aku tak mengeluarkan suara untuk mengejutkannya. Di ruang tengah tak kujumpai siapa pun, lalu aku melangkah ke dapur, tapi tetap tak ada seorang pun kutemui. Mungkin mereka ada di kamar tidur, perempuan bisanya berada di sana untuk mencoba beberapa pakaian barunya. Semakin mendekat ke pintu kudengar suara, kucoba mencermati pendengaranku dan mencoba untuk mendengarkannya dengan seksama. Ini adalah hari dimana aku berharap seharusnya berada di kantor saja. Begitu kuintip dari pinggir pintu yang sedikit terbuka, kusaksikan istriku berada dalam pelukan lelaki lain.</p>
<p style="text-align: justify;">istriku dalam posisi merangkak dengan batang penis lelaki itu terkubur dalam lubang anusnya.. &#8220;Oh *******, lebih keras lagi dong!&#8221; perintah istriku. &#8220;Kamu menyukainya kan, jalang, kamu suka penisku dalam anusmu, iya kan?&#8221; &#8220;Oh ya Bud, kamu tahu itu!&#8221; Aku berdiri mematung di sana tanpa mampu bereaksi, terlalu shock untuk mengatakan atau melakukan sesuatu dan hanya menyaksikan pemandangan mengejutkan ini. Istriku, yang aku bersedia mati untuknya, sedang melakukan anal seks dengan lelaki ini, sebuah hal yang kuinginkan tetapi tak pernah mau dia lakukan bersamaku. Dan sekarang dia melakukannya dengan lelaki ini! Aku terpaku memandangnya mengayunkan bongkahan pantatnya yang indah, kepalanya menggantung ke bawah dan sekujur tubuhnya bermandikan keringat mengisyaratkan pada lelaki ini agar memberinya lebih lagi. Air mata mengaburkan pandanganku dan kedua kakiku seakan direkat pada lantai membuatku tak bisa beranjak dari sana dan menyaksikan keseluruhan peristiwa ini. Serasa hancur hatiku saat lelaki itu menjambak rambutnya dan menarik kepalanya ke belakang dan memanggil istriku dengan sebutan &#8216;jalang&#8217;, dan memaksakan batang penisnya masuk ke dalam lubang anus istriku yang terlihat mengerut.<br />
<span id="more-966"></span><br />
Istriku memohon agar lebih dalam lagi dan pinggulnya menghantam berlawanan dengan pinggang lelaki ini. Dengan tangan kanannya, lelaki itu menjangkau ke bawah tubuh istriku dan menggenggam payudaranya yang sekal, menjepit ujung puting susunya yang kecoklatan dengan keras sekali, jeritan yang keluar dari bibir istriku menandakan bahwa dia merasakan kesakitan. Kami tidak pernah bercinta dengan cara begitu, kami selalu melakukannya dengan penuh cinta, aku tak pernah ingin menyakitinya dan aku tak mengerti bagaimana dia bisa menyukai saat diperlakukan kasar seperti ini. &#8220;Ya Budi, puaskan aku, beri aku apa yang tak dapat diberikan suamiku, kamu tahu betapa senangnya aku saat kamu melakukannya sayang!&#8221; Lelaki ini semakin menarik rambutnya dengan keras dan juga menarik payudaranya ke samping hingga kupikir puting susunya akan terkoyak karenanya, tapi dari bibirnya malah keluar jerit an memohon lagi. Aku harap aku dapat menikmati hal ini dan dapat bergabung dengan mereka, tapi aku tak bisa. Budi, itu nama lelaki ini yang kudengar disebutkan istriku, mengatakan padanya bahwa dia akan meraih orgasmenya, dan dia menarik keluar batang penisnya dari lubang anus istriku.
</p>
<p style="text-align: justify;">Istriku memutar tubuhnya dengan cepat dan menaruh batang penisnya yang masih berlumuran cairan dari lubang anusnya sendiri itu ke dalam mulutnya, mulut yang sama yang aku suka menciumnya selama 8 tahun terakhir ini, 10 tahun jika kuhitung sejak kami pertama berkencan sewaktu kuliah dulu. Hampir saja aku muntah begitu dia menelan penis kotornya itu ke dalam mulutnya dan menghisap spermanya begitu lelaki ini menyemburkan spermanya dengan hebat hingga tumpah sampai ke dagunya. &#8220;Benar begitu penghisap penisku, hisap terus jalang, telan spermaku pelacurku.&#8221; Ingin rasanya kubunuh lelaki itu, bagaimana mungkin dia bisa memanggil wanita secantik ini dengan sebutan kotor begitu. Bagaimana bisa istriku membiarkannya memanggilnya dengan sebutan itu. Seperti seorang bodoh saja saat aku melihat dan mendengarkan aksi mereka saat istriku menyelesaikan hisapannya pada batang penis lelaki ini. Dengan kasar dia menarik wajah istriku mendekat padanya untuk mencium bibirnya yang penuh. Memasukkan lidahnya ke dalam mulutnya saat istriku dengan senang menghisapnya. Tangan lelaki itu berada pada bongkahan pantat istriku.</p>
<p style="text-align: justify;">menekan tubuhnya agar merapat saat mereka berciuman layaknya sepasang remaja yang sedang dimabuk cinta. Akhirnya aku baru bisa bergerak, dan aku berbalik lalu melangkah ke ruang keluarga kami, duduk di atas sofa sambil memegangi kepalaku, kedua sikuku bertumpu pada paha. Air mata meleleh membasahi wajahku mengingat segala peristiwa mengejutkan yang baru saja kusaksikan. Memikirkan tentang bagaimana dan apa yang membuat Erni melakukan perbuatan terkutuk ini padaku. Aku selalu memperlakukannya dengan penuh cinta dan kasih sayang, kami mempunyai kehidupan seks yang indah, setidaknya itu menurutku. Aku selalu melihatnya mendapatkan orgasme setiap kali kami bercinta. Dia tak pernah menuntut padaku bahwa dia menginginkan lagi dan aku pasti akan memenuhinya. Apa yang membuatnya melakukan ini. Aku pikir aku akan melihat mereka keluar dari dalam kamar sebentar lagi, tapi aku salah. Aku tak ingin melihat apa yang mereka lakukan, tapi ada sesuatu dari dalam diriku yang mendorongku untuk kembali ke kamar itu. Saat aku kembali mengintip dari balik pintu, kedua kaki istriku berada di bahu lelaki ini dan dia sekarang sedang menyetubuhi vaginanya.</p>
<p style="text-align: justify;">lubang yang sama dimana kudapatkan kenikmatan selama 10 tahun. Tak dapat kupercaya pendengaranku akan kata-kata hina yang keluar dari mulut manis istriku. &#8220;Oh ya, puaskan aku dengan penismu, isi mulutku lagi dengan spermamu. Lebih keras Budi, berikan yang aku mau, lebih keras lagi *******!!&#8221; Belum pernah kudengar dia berkata seperti ini sebelumnya. &#8220;Ya jalang, milik siapa vagina lezat ini?&#8221; &#8220;Oh milikmu Budi, semuanya milikmu sayang.&#8221; Setiap kata yang terucap seakan sebilah belati yang menghunjam ke hatiku, merobeknya menjadi berkeping- keping seiring pinggul istriku bergoyang mengiringi hentakan lelaki ini dengan gairah yang belum pernah kulihat darinya. Sebuah pemikiran melintas dalam benakku, aku senang, senang karena sampai dengan saat ini kami belum mempunyai seorang anak yang akan menemukan bahwa ibunya adalah seorang pelacur! &#8220;Siapa yang dapat memuaskanmu, siapa yang mampu memenuhi keinginanmu?&#8221; &#8220;Kamu Budi, hanya kamu yang bisa memberiku!&#8221; Apa yang harus kulakukan, pergi, tetap di sini, melabrak mereka, atau hanya menghajar lelaki ini? Tak kulakukan apa pun, selain hanya melihat. Mungkin jika aku lebih dari seorang pria, atau setidaknya lebih dari seorang pria yang tega.</p>
<p style="text-align: justify;">aku akan melakukan sesuatu daripada hanya berdiri saja di sini. Seharusnya kulabrak mereka, menghajar mereka berdua, atau apa pun, tapi aku hanya menyaksikan perbuatan mereka dengan hati yang hancur berkeping- keping. Nafsu istriku b egitu besar dan lelaki itu memuaskannya, mereka bersetubuh seperti sepasang binatang di atas ranjang cinta kami. Bed covernya sudah sangat kusut seperti kedua pakaian mereka yang tercampak di lantai dalam pergulatan birahi mereka berdua. Kusaksikan batang penisnya yang keras ditarik hampir keluar seluruhnya dan dilesakkannya kembali dengan hentakan yang mampu membuat pinggul istriku terangkat dengan kedua pahanya yang terpentang lebar untuk menerima seluruh batang keras milik lelaki itu ke dalam vaginanya. &#8220;Puaskan aku sayang, berikan penismu padaku. Jangan coba berhenti, jangan pernah berhenti!&#8221; Kembali mereka berciuman dengan begitu bernafsu. Pinggul mereka saling menghantam berulang kali. Mereka tak menyadari kehadiranku di belakang mereka yang sebenarnya bahkan hanya dengan menolehkan kepalanya saja mereka akan dapat melihatku yang sedang berdiri mengintip dari balik pintu.</p>
<p style="text-align: justify;">Tapi mereka sedang sibuk dengan kegiatannya yang lebih penting sekarang, pendakian untuk sebuah orgasme lagi. Sudah cukup apa yang kusaksikan, lebih dari apa yang ingin kulihat. Aku bebalik dan keluar dari rumah. Kukendarai mobil di bawah sinar mentari yang cerah sampai mataku terbakar, dari sinar mentari dan dari air mata. Kejadian yang baru saja kusaksikan berputar dalam benakku. Aku berhenti pada sebuah kafe dan memesan segelas minuman yang paling keras. Kutatap jam di dinding hingga jarum jam menunjukkan pukul 7 malam, kembali ke mobilku dan pulang ke rumah kami, jika masih bisa disebut rumah kami sekarang. Baru saja aku masuk ke dalam, aku langsung bertemu dengan Erni, dia hendak mencium bibirku, tapi kulengoskan mukaku. &#8220;Ada yang salah, sayang?&#8221; tanyanya. &#8220;Nggak, hanya capai saja!&#8221; Kami melangkah ke meja makan dan saling berbincang sebentar, aku lebih pendiam daripada biasanya, dan dia berlagak seolah tak ada apa pun yang terjadi hari ini. Kuselesaikan makan malamku dan beranjak untuk mandi, berharap aku mampu mencuci ingatan mengerikan tentang istriku yang berselingkuh dengan lelaki lain dari benakku, tapi itu tak terjadi.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku naik ke pembaringan, tak dapat tidur dengan nyenyak karena ingatan akan istriku yang bertingkah seperti seorang pelacur yang haus akan batang penis sedang memuaskan lelaki ******* yang bernama Budi. Memberinya apa yang seharusnya hanya untukku. Rasanya jarum jam tak akan pernah beranjak ke pukul 6 pagi agar aku dapat pergi dari sini dan merenung. ***** Hari ini seakan berlalu dengan sangat lambat, akhirnya jam 11 siang tiba. Kukendarai mobilku dan kembali ke rumah. Kembali kulihat mobil Budi terparkir di depan rumah. Kemarahanku sekarang sudah melampaui batasnya. Dengan tergesa aku mesuk ke dalam rumah dan menemukan mereka berdua sedang bergulat di atas ranjang kami lagi. Dengan marah kuteriakkan padanya agar menjauh dari istriku dan mengusirnya keluar dari rumahku. Budi hanya tertawa dan dengan batang penis yang masih berlumuran dengan cairan istriku, dia mengenakan pakaiannya, sedangkan Erni berusaha untuk menjelaskan semuanya. Tak ada satu pun kata- kata yang ingin kudengar dari mulutnya. Setelah Budi pergi, kemudian Erni menemuiku di meja makan.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Erni, kenapa kamu lakukan semua ini? Apa yang terjadi?&#8221; &#8220;Penyebabnya kamu! Kamu nggak pernah ada, kamu nggak pernah memperhatikanku, mengajakku keluar. Yang kamu lakukan hanya kerja, kerja, kerja! Persetan dengan semua itu. Aku menginginkan lebih dari itu dan Budi memberinya.&#8221; &#8220;Aku dapat memberimu lebih Erni, Aku akan memaafkanmu jika kamu menghentikan semua kegilaan ini. Aku tidak bisa hidup tanpa kamu!&#8221; Dia memandang tajam ke arahku. &#8220;Kamu boleh berkata sesukamu, aku tidak peduli. Kenyataannya kamu membuatku muak, kamu bukan seorang lelaki. Seorang lelaki akan membunuh pria yang berselingkuh dengan istrinya, tetapi kamu bahkan tak melakukan apa-apa. Kamu pecundang!&#8221; &#8220;Tolong jangan lakukan ini Erni, kamu tahu betapa aku mencintaimu.&#8221; &#8220;Persetan dengan kamu!&#8221; dia meneriakiku, lalu menelepon Budi. &#8220;Budi, jemput aku, sekarang juga!&#8221; dan membanting teleponnya. Dia masuk ke dalam kamar dan tak lama kemudian keluar dengan membawa koper, lalu pergi untuk menunggu jemputan Budi. Lelaki ******* ini datang tak lama berselang..</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ceritasex.cn/istri-yang-selingkuh/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
