<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Cerita sex porno ngentot mesum perek ayam kampus &#187; binal</title>
	<atom:link href="http://www.ceritasex.cn/tag/binal/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.ceritasex.cn</link>
	<description>Kumpulan cerita sex, foto bugil, dan film porno</description>
	<lastBuildDate>Mon, 26 Jul 2010 07:13:35 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0</generator>
		<item>
		<title>3 Gadis SMA : Vani, Chintya, dan Icha</title>
		<link>http://www.ceritasex.cn/3-gadis-sma-vani-chintya-dan-icha/</link>
		<comments>http://www.ceritasex.cn/3-gadis-sma-vani-chintya-dan-icha/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 26 May 2010 19:32:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cerita Sex</dc:creator>
				<category><![CDATA[Daun Muda]]></category>
		<category><![CDATA[Gangbang Rame Rame]]></category>
		<category><![CDATA[Seks Umum]]></category>
		<category><![CDATA[abg]]></category>
		<category><![CDATA[binal]]></category>
		<category><![CDATA[birahi]]></category>
		<category><![CDATA[chintya]]></category>
		<category><![CDATA[icha]]></category>
		<category><![CDATA[kontol]]></category>
		<category><![CDATA[memek]]></category>
		<category><![CDATA[nafsu]]></category>
		<category><![CDATA[ngentot]]></category>
		<category><![CDATA[vani]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ceritasex.cn/?p=1402</guid>
		<description><![CDATA[Kenalin, namaku Ramon, gue masih pelajar SMA. Hari itu sangat mendung, aku mulai memasuki gerbang sekolah, untuk belajar dengan baik seperti yang diharapkan orang tua saya saat berpamitan. Di gerbang saya bertemu dengan Vani, teman sekelasku, akupun berjalan bersama Vani menuju kelas. Kumulai sedikit basa-basi kepadanya. &#8220;Cantik banget sih, Vani&#8230;&#8221; &#8220;Eh, aku belum mandi aja [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Kenalin, namaku Ramon, gue masih pelajar SMA. Hari itu sangat mendung, aku mulai memasuki gerbang sekolah, untuk belajar dengan baik seperti yang diharapkan orang tua saya saat berpamitan. Di gerbang saya bertemu dengan Vani, teman sekelasku, akupun berjalan bersama Vani menuju kelas. Kumulai sedikit basa-basi kepadanya. &#8220;Cantik banget sih, Vani&#8230;&#8221; &#8220;Eh, aku belum mandi aja dibilang cantik, gimana kalo aku udah make over ya??&#8221; &#8220;Belum mandi??? Jorok banget sih&#8230;&#8221; Ejekku &#8220;Kayak kamu bersih banget, biasanya kamu kan bau, apalagi kalo abis pelajaran olahraga, mana sering deket-deket ce lagi pas abis olahraga&#8221; Balasnya &#8220;Sialan nih&#8230;&#8221; Pikirku, &#8220;Ya iyalah&#8230; Namanya juga co, pasti bau dong abis olahraga&#8230;&#8221; &#8220;Ah&#8230; Si Ucup aja ga bau kalo abis olahraga&#8230;&#8221; &#8220;Enak aja, mau kamu sama dia? Cakepan juga aku&#8221; &#8220;Iya juga ya&#8230; Cakepan kamu, hehehe&#8221; &#8220;Iyalah&#8230; Ramon kok, mana ada tandingannya&#8230; Hehehe&#8230;&#8221; &#8220;Haha&#8230; Kamu narsis banget sih jadi co&#8230;&#8221; Katanya sambil mencubit &#8220;Ih&#8230; Geli deh&#8230; Kamu juga lucu deh&#8230;&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Akhirnya kami berdua tiba di kelas, kamipun belajar di kelas sampai pulang, saat jam belajar, entah kenapa Vani minta untuk duduk sebangku denganku, tentu saja aku tidak menolaknya, maklum, Vani itu salah satu ce paling cantik di sekolahku, saat aku duduk sebangku dengan Vani, banyak teman-teman yang membicarakan kami berdua, maklum, di sekolah aku termasuk co yang biasa-biasa aja. Kalo deket sama Vani bisa jadi gosip baru nih. Bel tanda pelajaran berakhir pun berbunyi. Aku lalu berjalan keluar bersama Vani.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Van, kamu pulang sama siapa?&#8221; tanyaku &#8220;Gak tau, biasanya sih aku naik angkot, kamu mau anterin aku?&#8221; &#8220;Boleh, rumah kamu kan gak terlalu jauh, asalkan&#8230;&#8221; &#8220;Asalkan apa? Masa nganterin gitu aja pake syarat sih?&#8221; Protes Vani &#8220;&#8230;asalkan kamu mau cium aku&#8230;&#8221; Aku mulai nekat, karena memang di sekolah aku terkenal nekat. &#8220;Ih&#8230; Ada-ada aja, masa pake cium-cium segala sih??&#8221; &#8220;Ya udah, berhubung kamu cakep, aku mau cium kamu, tapi cari tempat yang sepi dong&#8230;&#8221; &#8220;Oke&#8230; Kita ke toilet belakang sekolah&#8221; &#8220;Tapi jangan apa-apain aku lagi yah&#8230;&#8221; &#8220;Iya deh&#8230; Jangan takut kalo sama aku&#8230;&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Tibalah kami ke toilet belakang sekolah, di situ Vani seperti merasa ketakutan, mungkin karena takut diapa-apain, tapi aku ga peduli. &#8220;Nah&#8230; Sekarang merem dong, biar aku cium&#8230;&#8221; Katanya &#8220;Iya&#8230; Iya&#8230; Tapi kamu merem juga dong&#8230;&#8221; Suruhku &#8220;Ya udah&#8230;&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Vani memejamkan matanya, bibir kami makin berdekatan, setelah cukup dekat, aku membuka mataku dan mulai mencium Vani dengan sangat bernafsu, sambil memeluk tubuhnya aku mencumbui Vani dengan sangat bernafsu. &#8220;Mmmmmmmhhhhhhh&#8230;&#8230;..&#8221; erang Vani, tetapi aku tidak perduli, aku masih saja mencumbuinya. Tetapi Vani masih bisa lepas dari dekapanku. &#8220;Katanya cuma cium, masa kayak gitu??&#8221; Katanya sambil sedikit tertawa &#8220;Tapi suka kan?&#8221; Bilang aja&#8230; Ya kan? Ya kan? Hehe&#8230;&#8221; Kataku sambil tertawa dan meledek Vani &#8220;Iya sih&#8230;&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Aku mulai mencumbuinya lagi, kali ini aku lebih berani, tanganku mulai meraba pantatnya, meremasnya dengan keras. Vani sepertinya mulai meresponnya. Vani melepas lagi cumbuanku. &#8220;Pelan dikit say&#8230; Jangan buru-buru gitu, sekarang diem aja ya, duduk aja di kloset tuh&#8230;&#8221; Suruhnya, dari sini aku mulai ngerti kalau Vani itu seorang &#8220;PROFESIONAL&#8221;, hehehe&#8230; &#8220;Iya say, cepetan dong say, bukain, kasih servis sekalian&#8221; Suruhku padanya, berhubung udah nafsuan banget nih&#8230;</p>
<p style="text-align: justify;">Vani mulai membukakan celanaku, aku juga membuka baju seragamku sendiri, hingga aku telanjang bulat sementara Vani masih berpakaian lengkap, Vani mulai mengocok penisku, setelah itu Vani mulai menjilat-jilat penisku, dan menghisap-hisap penisku, mendapat perlakuan seperti itu aku sangat menikmatinya, udah gak lama dapet kayak gini, dahsyat bro!!! Tiba-tiba ada yang masuk ke dalam toilet tempat kami beraksi.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Waaaahhhhh&#8230;. Ada yang mantap nih&#8230;&#8221; Kata orang yang masuk itu &#8220;Iya tuh, bagus juga&#8230;. Gede loh&#8221; Kata orang kedua yang masuk. Orang pertama adalah Chintya, teman sekelasku juga dan yang kedua Icha, kakak kelasku yang merupakan sepupu Chintya. Mereka berdua terkenal sebagai ce yang hot di sekolah. &#8220;Boleh ikut ga nih? Tanya Icha pada Vani &#8220;Boleh aja kok&#8230;&#8221; jawab Vani. Aku merasa sangat terkejut dengan mereka, mereka masuk tiba-tiba dan seperti mau ikut dengan aksi kami. Kalo mereka mau ikut, Rejeki jangan ditolak ah&#8230;<br />
<span id="more-1402"></span><br />
&#8220;Tapi jangan di sini dong tempatnya, masa sempit gini sih?&#8221; kata Chintya &#8220;Mending kita ke rumahku aja, kebetulan lagi kosong tuh&#8221; tambah Icha &#8220;Ya udah, tapi cepetan dong, nanggung nih&#8230; Belum dikeluarin&#8230;&#8221; &#8220;udah santai aja, nanti kita keluarin bertiga, santai aja&#8221; jawab Icha Akupun langsung mengenakan seragamku kembali, lalu kami berjalan menuju parkiran, aku naik sepeda motor bersama Vani, Icha dan Chintya naik mobil mereka, di perjalanan, Vani menggesek-gesekkan dadanya di punggungku, kayaknya ga sabar juga nih si Vani.</p>
<p style="text-align: justify;">Akhirnya tiba jugalah kami di rumah Icha, Icha dan Chintya sudah sampai duluan di sana, mereka menunggu kami, akhirnya kami masuk ke dalam rumah, Icha mengunci pintu rumahnya. Aku duduk di sofa, dan mereka mulai mengelilingi oleh mereka bertiga, Icha mulai melingkarkan tangannya di leherku sambil berdiri, dan langsung menciumiku, sementara Chintya dan Vani duduk di sebelah kiri dan kananku. Mereka mulai mengelus-elus dada dan selangkanganku, sesuatu mulai mengeras di selangkanganku. Lalu aku memeluk Icha, mendekapnya dengan sangat keras, saat itu aku tidak tahu siapa memegang bagian tubuhku yang mana, saat itu aku merasakan ada yang membukakan celanaku, lalu menariknya dengan sedikit kesulitan untuk membukanya, tinggallah baju seragamku dengan celana pendek ketatku, tanpa ada apa-apa lagi di dalamnya, aku melepaskan ciumanku dengan Icha, lalu kulepas baju seragamku, kini aku telanjang tanpa menggunakan pakaian apapun, lalu aku mencium Vani, sambil Vani mengocok-ngocok penisku, Chintya mulai menjilati dadaku, menghisap putingku, terasa sangat geli.</p>
<p style="text-align: justify;">Icha membuka bajunya, lalu melemparkannya kepada aku dan Vani yang sedang bercumbu. Kulemparkan kembali kepadanya. Terlihat kulit pada dada Icha yang sangat putih mulus, seperti punya mantanku dulu, Sarah. Aku mulai meraba-raba dada Icha, menyelusup dari luar BHnya, lalu Icha membukakan BHnya, semakin terlihat jelas kalau Icha luar biasa cantiknya, lalu Icha membuka roknya ke bawah, juga CDnya, aku sangat suka melihatnya, lalu aku lepaskan cumbuanku pada Vani, aku berdiri dan langsung mencumbu Icha lagi, tanganku meremas-remas memeknya, lalu aku mendorongnya ke sofa, Icha malah berdiri, menarik tanganku, mengajak aku menuju kamarnya, ada sebuah ranjang yang besar, aku langsung ditolaknya hingga berbaring di ranjang, kulihat Vani dan Chintya menyusul kami ke sini. Icha mulai mengocok-ngocok kontolku, tak lama ia mengocok, lalu Icha menghisapnya dengan penuh semangat, aku sampai melayang dibuatnya. Lalu kulihat Chintya dan Vani mulai membuka seluruh pakaian mereka, hingga telanjang bulat, body mereka bagus semua, aku ga bosan-bosan ngeliatin mereka, Chintya lalu memasang posisi meletakkan memeknya ke wajahku.</p>
<p style="text-align: justify;">aku langsung menjilatinya. Vani juga mengocok memeknya sendiri, aku sangat suka melihat pemandangan seperti ini. Mereka semua meraung-raung, mendesah, dan berteriak kenikmatan. Icha yang sepertinya sudah mulai bosan menghisapi kontolku mulai bangkit dan berusaha menduduki kontolku dan memasukkan kontolku ke dalam memeknya yang sudah basah terangsang. Kontolku merasakan betapa nikmatnya memek Icha, aku menggoyangkan pinggulku dengan cepat, Icha pun meresponnya dengan baik, Icha juga membalas gerakan pinggulku dengan sangat liar, melihat itu, Vani menghampiri Icha dan langsung mencium Icha dengan sangat liar, wow! Ini semua sangat hebat, sangat luar biasa rasanya 3 anak SMA kontol dengan liar begini! &#8220;kontol, enak banget nih&#8230; Akkkhhhhh&#8230;&#8230;..&#8221; Desah Icha yang bergoyang liar di atas tubuhku, tak lama kemudian, Icha ambruk ke tubuhku, Icha mengalami orgasme. Icha lalu bangkit dan pindah ke samping kami bertiga, Icha terlihat lemas dan ia tertidur. Vani meraih kontolku dan menghisapnya, sementara Chintya masih bertahan dengan hisapanku di memeknya, aku masih dalam posisi berbaring di ranjang.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Vaniii&#8230; Aku mau ngerasain kontol si Ramon&#8230; Pengen banget nih&#8230; Akkkkhhhh&#8230;.&#8221; &#8220;Ya udah, sini dong&#8221; &#8220;Entar, kamu nungging aja, Chin, biar doggie&#8221; suruhku Chintya lalu menungging, aku sempat meremas-remas pantat dan memeknya, lalu aku mencoba memasukkan kontolku ke dalam memeknya. &#8220;Aaakkkkhhh&#8230;. Aaaahhhh&#8230;.&#8221; Itulah yang keluar dari mulutnya saat kontolku masuk seluruhnya ke dalam memek Chintya &#8220;Aaahhh&#8230; Enak banget memek kamu, Chin, aku suka banget&#8230; Oooohhh&#8230;.&#8221; &#8220;Kencengin, Mon, Kerasin&#8230; Kontolmu enak banget, kenceng beibh&#8230;. Ooooooooohhhhhhh&#8230;&#8230;&#8230;.&#8221; Setelah 7 menit bertahan dalam posisi ini, kurasakan seperti ada yang mau keluar dari dalam penisku, akhirnya aku ngecrot di dalam memeknya sambil mengangkat tubuh Chintya dan mencium bibirnya dari samping. &#8220;Oooohhh&#8230;. Enak banget beibh&#8230; Aku keluar juga nih&#8230; Oooohhh&#8230;. Aaaahhhh&#8230;.&#8221; Tubuh kami berdua pun ambruk, dan kontolku masih berada di dalam memeknya, kami tergeletak dalam posisi menyamping. Aku mulai bangkit, kulihat banyak sekali spermaku di memek Chintya yang meluber keluar memeknya.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Enak banget beibh&#8230; kontol kamu keras banget&#8230; Aku suka banget&#8230;&#8221; katanya, ia pun terbaring lemas, menaruh kepalanya di atas tubuh Icha Kulihat Vani mengangkangkan pahanya, dan memasukkan 2 jarinya ke dalam memeknya. Aku beristirahat sejenak, kontolku masih lemas dari orgasme tadi. 10 menit aku beristirahat sambil kupejamkan mataku. Kulihat Vani sedang mengocok-ngocok memeknya dengan jarinya, aku langsung menghampirinya, dan mencumbuinya, aku mulai dari bibir, leher, lalu aku menyusu di dadanya, dadanya sangat besar, berukuran sekitar 36B, karena tubuhnya termasuk besar. Lalu aku menjilati memeknya, dan mengocok-ngocok memeknya dengan jariku, Vani mengalami orgasmenya. &#8220;Aaaaaaaaaaahhhhhhhhhh&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;. Ennnnaaakkkkkk&#8230;&#8230;.&#8221; Kudiamkan jariku di dalam memeknya sesaat, lalu kukeluarkan. &#8220;Kamu mau kontol, sayang?&#8221; tanyaku Mau banget, sayang, ayo dong, cepetan&#8230;! Masukin&#8230;!&#8221; Kini aku berada di antara kedua pahanya, mengangkat kedua kakinya ke atas bahuku, lalu mencoba memasukkan kontolku ke dalam memeknya yang sudah basah dan merekah merah.</p>
<p style="text-align: justify;">Masuklah kontolku ke dalam memeknya. &#8220;Oooohhh&#8230; Aaaahhhh&#8230; Eeennnaaakkkk&#8230;&#8221; Erangnya saat aku menggoyang kontolku Semakin cepat aku menggoyang kontolku. Kali ini rasanya kontolku lebih tahan dari pada tadi, mungkin karena sudah dikeluarin sekali pikirku, lama dalam posisi seperti ini, aku meminta Vani untuk tidur menyamping, tanpa mengeluarkan kontolku dari dalam memeknya, aku memutar posisinya miring ke kiri, dengan posisi ini aku masih menggoyang pinggulku dengan kencang. Tanganku dalam posisi meremas-remas pantat dan dadanya yang merah bekas cupang, pantatnya merah karena kutampar-tampar. Kulihat Icha dan Chintya mulai bangun, mereka tiduran sambil menonton permainan aku dan Vani. Sambil aku kontol dengan Vani, Icha menghampiriku dan menciumiku, sepertinya dia mau lagi, semakin kencang aku menggoyangkan pinggulku, lalu kuberhenti sebentar, aku memutar tubuh Vani ke posisi doggie, karena aku suka sekali posisi ini, dalam posisi ini aku meremas-remas dada Vani, semakin Vani mendesah dan berteriak, sementara sambil menggoyang aku berciuman dengan Icha, semakin kukencangkan goyanganku dan akhirnya Vani mengalami orgasmenya.</p>
<p style="text-align: justify;">Langsung kulepas kontolku dari memek Vani, aku langsung bergerak menuju Icha yang sudah telentang membuka pahanya, aku memasukkan kontolku ke dalam vaginanya. Aku menggoyang tubuh Icha sambil menindihnya, kami berciuman, kami berdua bertahan lama dalam posisi ini. &#8220;Mon&#8230; Mau keluar nih aku&#8230; Aaaahhh&#8230;. Enak banget&#8230;&#8221; &#8220;Aku juga kak&#8230;&#8221; Wajah Chintya dan Vani berada di atas perut dan dada Icha, seperti menungguku untuk orgasme. Akhirnya aku cabut kontolku keluar memeknya, dan keluarlah cipratan orgasme Icha, sangat deras. Lalu aku menembakkan spermaku ke wajah Chintya dan Vani, Chintya langsung menghisap kontolku sampai lemas. Akhirnya kami bertiga tergeletak lemas di atas ranjang, di depanku ada Icha, di kiriku ada Chintya, dan di dadaku terbaring tubuh Vani. &#8220;Thanx banget, Mon. Aku suka banget kontol kamu, lain kali kita bisa main lagi kan?&#8221; kata Icha &#8220;Iya, Mon. Kita suka banget kontol kamu, walaupun ga terlalu gede, tapi kamu bisa main lama&#8221; puji Vani &#8220;Kapan bisa main lagi, Mon?&#8221; tanya Chintya &#8220;Kapan aja aku bisa kok main sama kalian, kalo mau juga di mana aja aku lakuin, di sekolahan juga jadi!&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Bener nih? Gimana kalo besok kita main lagi di sekolahan?&#8221; kata Icha &#8220;Ah gila ah&#8230; Aku ga mau&#8221; tolak Chintya &#8220;Boleh&#8230; Asalkan pas udah sepi&#8230;&#8221; &#8220;Ga enak dong kalo sepi, ga seru&#8230;&#8221; Kata Icha lagi &#8220;Ah, aku tetep ga mau&#8230;&#8221; Kata Chintya, Chintya mulai memejamkan matanya dan sepertinya dia kelelahan dan tidur. &#8220;Terserah kalian semualah&#8230; Yang penting kalo lagi pengen, hubungi aja aku&#8230; Hahaha&#8230;&#8221; Itulah kisahku bersama 3 gadis hot sekolahku, lain kali akan kuceritakan pengalamanku bersama mereka lagi saat ada pertandingan futsal di sekolah&#8230;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ceritasex.cn/3-gadis-sma-vani-chintya-dan-icha/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Liany: Sex In The Mall</title>
		<link>http://www.ceritasex.cn/liany-sex-in-the-mall/</link>
		<comments>http://www.ceritasex.cn/liany-sex-in-the-mall/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 27 Apr 2010 17:30:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cerita Sex</dc:creator>
				<category><![CDATA[Daun Muda]]></category>
		<category><![CDATA[Ekshibionis]]></category>
		<category><![CDATA[Seks Umum]]></category>
		<category><![CDATA[ayam mall]]></category>
		<category><![CDATA[binal]]></category>
		<category><![CDATA[doyan seks]]></category>
		<category><![CDATA[hyper seks]]></category>
		<category><![CDATA[kontol]]></category>
		<category><![CDATA[liany]]></category>
		<category><![CDATA[lonte]]></category>
		<category><![CDATA[mall]]></category>
		<category><![CDATA[ngentot]]></category>
		<category><![CDATA[sperma]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ceritasex.cn/?p=1373</guid>
		<description><![CDATA[Sore itu Liani sedang duduk ngobrol dengan tiga teman ceweknya di dalam sebuah mal. Mereka sedang asyik-asyiknya ngobrol dan saling bercanda sambil memesan minuman dan makanan ringan. Saat itu mereka semua masih memakai pakaian seragam tapi bukan seragam putih abu-abu biasa, namun seragam dengan corak seperti batik untuk bajunya. Memang sekolahnya ini punya dua jenis [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Sore itu Liani sedang duduk ngobrol dengan tiga teman ceweknya di dalam sebuah mal. Mereka sedang asyik-asyiknya ngobrol dan saling bercanda sambil memesan minuman dan makanan ringan. Saat itu mereka semua masih memakai pakaian seragam tapi bukan seragam putih abu-abu biasa, namun seragam dengan corak seperti batik untuk bajunya. Memang sekolahnya ini punya dua jenis seragam, seragam biasa dan seragam ini.Di hari-hari tertentu seragam inilah yang digunakan. Saat mereka sedang seru-serunya bercandaan, ada seorang cowok yang sedang memandangi empat anak cewek yang cakep-cakep itu dengan tampang mupeng. Cowok ini adalah anak smu juga tapi beda sekolah dengan Liani. Cowok ini memang sering datang ke mal itu, kadang sendirian kadang bareng teman-temannya. Mereka adalah cowok-cowok berandalan yang datang ke mal dengan dua tujuan. Kalau nggak cuci mata dan godain cewek-cewek terutama cewek-cewek smu yang putih dan cakep-cakep itu, ya memalak anak-anak sd atau smp yang main game di dekat bioskop. Hari ini kebetulan ia lagi sendirian.</p>
<p style="text-align: justify;">Saat itu empat cewek itu tetap asyik ngobrol tanpa sadar ada cowok yang menatap mupeng ke arah mereka. Semuanya cakep-cakep dan putih-putih. Namun diantara keempatnya, cowok itu paling sering memandangi Liani. Karena memang Liani yang paling cakep diantara mereka berempat. Apalagi posisi Liani saat itu sungguh pas menghadap ke arahnya. Namun yang bikin cowok itu makin mupeng dengan Liani, saat itu posisi duduk cewek itu agak serampangan. Kedua kakinya agak terbuka dan roknya sedikit tertarik ke atas sehingga cowok itu bisa melihat paha putih Liani yang terbuka, apalagi posisi cowok itu sungguh strategis. Liani seperti tak menyadari sedari tadi ada cowok yang memperhatikan pahanya. Ia tetap tidak mengubah posisi duduknya itu. Sehingga cowok itu sungguh beruntung bisa memandangi paha Liani yang sungguh putih mulus itu selama beberapa saat lamanya. Matanya berpindah-pindah antara wajah yang polos tapi cantik itu dan pahanya yang terbuka. Namun itu masih belum apa-apa. Setelah itu, Liani becanda agak kelewatan dengan salah satu temannya. Sampai temannya itu ingin mencubit dirinya.</p>
<p style="text-align: justify;">Tentu ia tak ingin dicubit begitu saja dan berusaha menghindar. Saat ia berusaha menghindari cubitan itu, tanpa sadar ia membuka kakinya terlalu lebar sampai celana dalamnya kelihatan dari sudut pandang cowok itu. Apalagi cd yang dipakainya saat itu warna hitam, yang mana sungguh kontras dengan kulitnya yang putih. Tentu cowok itu jadi melongo dibuatnya saat mendapat rejeki nomplok itu. Mimpi apa semalam bisa ngeliat celana dalam cewek smu yang cakep dan putih itu. Dan itu terjadi nggak hanya sekali tapi ada tiga atau empat kali. Akibatnya cowok itu kini jadi mupeng abis dengan Liani! Beberapa saat kemudian, bubarlah mereka berempat dari kumpul-kumpul itu. Namun saat itu Liani tidak langsung pulang. Ia ingin melihat-lihat pakaian dulu. Saat itulah ia berjalan melewati cowok itu yang berdiri di dekatnya. Langsung saja mata cowok itu jelalatan menatap diri Liani dari atas ke bawah. Terutama dada cewek itu yang menonjol di balik baju seragam batiknya. Baju seragam itu tak termasuk tipis jadi tak ada yang kelihatan tembus pandang.</p>
<p style="text-align: justify;">Namun tetap menarik untuk dilihat karena kelihatan menonjol, pertanda payudara cewek ini tentu lumayan padat berisi. Saat itu Liani lagi dalam keadaan rasa isengnya muncul, sehingga dilabraknya cowok itu. Memang Liani adalah cewek yang agak aneh. Disaat cewek lain takut, ia malah berani. “Hey! Ngapain lu liat-liat gua terus? Lagi mupeng ya?” Namun kini ia kena batunya, karena cowok itu malah menantang balik, “Kalo memang iya kenapa?” “Enak aja mupengin orang sembarangan. Terus sekarang maunya apa?” “Maunya apa? ML yuk!” Rupanya saat itu Liani lagi kambuh penyakit isengnya, sehingga omongan usil orang itu malah ditanggapi dengan tak kalah badungnya. “Sekarang berani nggak? Di toilet,” katanya. “Boleh. Ayo sekarang! Kebetulan gua udah mupeng abis sama elo.” “Ayo ikut gua kalo berani. Jangan cuman ngomong doang,” kata Liani meninggalkan cowok itu dan berjalan menuju ke toilet cewek. Dan cowok itu, entah karena sama gilanya atau sudah kadung mupeng abis dengan Liani, omongan cewek itu ditanggapi beneran. Ia berjalan mengikutinya.<br />
<span id="more-1373"></span><br />
Sesampai di depan toilet cewek, Liani menoleh ke cowok itu dan berkata,” Ayo masuk.” Dan cowok itu nggak mikir panjang, ikutan masuk ke toilet cewek! Kebetulan toilet itu lagi kosong sehingga tak ada orang yang melihat cowok itu masuk ke toilet cewek. Dan saat Liani masuk ke salah satu kamar, cowok itu pun ikut masuk ke dalam kamar dan menguncinya. Sehingga di dalam kamar toilet yang sempit itu, kini Liani dan cowok itu berduaan didalam! Begitu di dalam, segera cowok itu tak menyia-nyiakan kesempatan langka itu. Tanpa berkata apa-apa lagi, cowok itu langsung menubruk tubuh Liani dan menciuminya. Kapan lagi ia bisa dapat kesempatan ML sama cewek smu yang cakep kayak gini. Apalagi dari seragam yang dikenakan, cewek ini dari sekolah favorit yang bagus di kota itu. Kapan lagi bisa beginian sama cewek kayak gini. Langsung diciuminya bibir Liani dan bagian lagi wajahnya. Liani bukannya protes malah mendiamkan saja. Mungkin ia tak mengira cowok ini bakal senekat itu, atau mungkin ia juga jadi ikutan pengin apalagi belum pernah ia berbuat segila ini di tempat umum.</p>
<p style="text-align: justify;">Cowok itu jadi tambah nafsu melihat Liani membiarkan saja. Kembali ia menciumi bibir Liani. Sementara Liani kini malah menanggapi aksi cowok itu. Bibirnya juga ikutan aktif mencium bibir cowok itu. Akhirnya keduanya saling berpagutan di dalam kamar toilet itu. Kedua lidah mereka saling bertemu dan “bersilat lidah”. Merasa diberi angin, cowok itu jadi makin liar aksinya. Kini dibukanya kancing baju seragam Liani satu persatu. Sudah sejak tadi ia penasaran ingin “mengecek” dada cewek itu. Sehingga terbukalah baju seragam Liani dan tampaklah kulit tubuhnya yang putih mulus. Dadanya terbungkus oleh bra warna hitam.. Dengan penuh nafsu dilepasnya bra itu. Tangan cowok itu merogoh ke punggung Liani mencari pengait branya untuk dibukanya. Setelah dibukanya, diangkatnya bra itu, sehingga nampaklah payudara yang putih mulus serta padat berisi itu. Seketika cowok itu jadi nafsu melihat dada yang putih menggiurkan itu. Segera dipegangnya kedua dada Liani dengan kedua tangannya. Diraba-rabanya dada yang berada dalam genggamannya itu, digoyang-goyangnya, dan diremas-remasnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Kedua jari-jarinya memilin-milin puting payudara Liani yang segar kemerahan itu. Sementara toilet yang tadinya sepi tak ada orang sama sekali itu, tiba-tiba jadi banyak orang. Malah telah terjadi antrian sampai 5 orang yang menunggu. Apalagi barusan kedatangan serombongan ibu-ibu ke toilet itu, yang baru saja selesai makan dan ngobrol di food court (entah mereka disana lagi arisan atau sekedar kumpul-kumpul). Saat itu ada seorang ibu yang mengeluh ke temannya, “Aduuh, lama bener ya. Sudah nggak tahan nih.” “Iya nih, lama bener. Apalagi yang ini nih,” kata seorang ibu yang berdiri paling depan menunjuk ke kamar yang dipakai Liani,” Dari tadi nggak keluar-keluar.” “Iya. Kamar yang lain sudah ganti dua tiga orang, ini orang satu masih belum keluar juga,” kata ibu lainnya. “Mbak, mbak,” kata seorang ibu yang lain sambil mengetuk-ngetuk kamar Liani,” masih lama nggak ya? Kita semua sudah pada kebelet nih.” “Iya dari tadi lama bener, ngapain aja sih?” “Iya, iya, sebentar, sabar kenapa sih,” kata Liani dari dalam sementara saat itu payudaranya lagi diremas-remas cowok itu.</p>
<p style="text-align: justify;">“Soalnya situ di dalam sudah lama bener. Yang mau pake toilet bukan cuman situ doang.” “Pake kamar yang lain napa sih?” seru Liani sebelum bibirnya dikunci oleh cowok itu yang sambil terus meremas-remas dadanya. “Yaelah ini orang. Kamar yang lain juga penuh Bu. Pengertian sedikit kenapa sih.” “Situ lagi ngapain sih di dalam?” “Lagi beranak kali ya di dalam. Lama bener.” Namun ibu-ibu itu hanya bisa ngedumel saja sambil ngantri. Tak lama kemudian toilet jadi sepi kembali. Tiga kamar yang lain telah dipake banyak orang, tapi yang satu itu masih terus tertutup. Sementara di dalam, mereka lagi seru-serunya. Liani tak mau kalah dengan cowok itu, ia juga ikutan aktif. Dibukanya retsleting celana panjang cowok itu dan diturunkannya. Nampak tonjolan besar di celana dalamnya. Langsung dibukanya celana dalam itu dan diturunkannya. Nampak penis hitam yang disunat kepalanya. Ukurannya biasa saja namun telah menegak dengan keras. Segera penis cowok itu dipegang dan dipijit-pijit oleh tangannya yang halus. Sementara cowok itu makin bernafsu.</p>
<p style="text-align: justify;">Ia mendekat ke samping Liani, kedua tangannya terus meremas-remas payudara putih itu dan kini mulutnya mulai mengemut-ngemut puting payudara yang kemerahan itu. Dengan rakus diemut-emutnya puting merah yang segar itu. Sementara tangan halus Liani kini mengelus-ngelus kepala penis yang disunat itu. Namun tiba-tiba, Crooot, croott, crooottt, keluarlah sperma cukup banyak dari penis cowok itu. Semprotan yang pertama meloncat cukup jauh sampai mendarat di tempat duduk kloset. Setelah itu makin lama makin berkurang tekanannya. Rupanya ia nggak bisa nahan lagi saat kepala penisnya dielus-elus oleh Liani. Apalagi ia terlalu bernafsu dengan payudara Liani yang putih dan montok apalagi dengan putingnya yang segar kemerahan. “Yah, cuman kayak gini doang.” Tangannya kini belepotan penuh dengan sperma cowok itu. “Badan gede, ngomongnya galak, tapi loyo,” ejek gadis itu sambil mengelap tangannya yang penuh dengan sperma ke baju cowok itu. Roknya bahkan masih sangat rapi belum tersentuh sama sekali! Sementara cowok itu kini menghentikan aksinya dan melepas pegangannya dari dada Liani.</p>
<p style="text-align: justify;">Mukanya merah padam. Liani segera mengaitkan bra-nya lagi dan mengancingkan bajunya.“Udah ah, gua pulang dulu,” katanya sambil membuka pintu kamar toilet itu dan setelah tidak ada orang segera meninggalkan toilet itu. Sementara cowok itu segera memakai celana dalam dan celana panjangnya. Setelah itu segera keluar dari toilet itu. Namun, “AAAHHHHHHHHHHHH! Toloooong. Ada cowok disini!” teriak seorang ibu setengah baya dengan histeris. Saat itu akan masuk seorang tante gendut dengan temannya. “Jangan masuk Bu, ada cowok di dalam!” teriak ibu tadi. “Kurang ajar kamu ya! Ngapain kamu kesini,” maki tante gendut tadi sambil memukul-mukulkankan tasnya ke kepala cowok itu. “Satpaaam! Mana satpam. Panggil satpam kemari! Satpaaam!!” Dan akhirnya, dengan baju masih basah dengan spermanya sendiri, digiringlah cowok itu oleh satpam mal yang berkumis sangar. Sungguh malu dua kali ia hari itu. Pertama karena dicokok satpam dan ditonton orang banyak. Kedua, malu dengan cewek cakep tadi. Dan oleh satpam, cowok itu dianggap bersalah karena masuk ke toilet cewek dan melakukan onani di dalam. Sementara Liani melihat itu dari kejauhan dengan tertawa-tawa terpingkal-pingkal.</p>
<p style="text-align: justify;">Liani baru saja memarkir mobilnya dan masuk ke dalam mal itu. Saat itu datang sms di handphone-nya. Bunyinya,”Sorry, tadi gua salah ketik. Ketemuannya bukan jam 2 tapi jam 4.” Sms itu datang dari Herlina teman sekolahnya. Mereka janjian untuk ngumpul dan makan bareng dengan beberapa temannya. Ah, sialan, gerutu Liani. Kenapa nggak bilang dari tadi-tadi? Tahu gitu gua pulang dulu ke rumah. Padahal saat itu pun masih kepagian untuk jam 2. Karena ia langsung jalan dari sekolah. Sekarang malah ternyata janjiannya dimundurin ke jam 4. Tapi kalo mau pulang rumah dulu, tanggung. Sedangkan kalo nunggu bengong sendirian 2 jam lebih juga bosan. Malah-malah nanti bisa digangguin cowok iseng kayak waktu itu. Akhirnya diputuskan mending nonton aja.. Meski sendirian tapi masih mendingan daripada bengong aja. Lalu ia naik ke tempat bioskop. Saat itu lagi sepi, karena memang bukan jam umum untuk nonton. Sementara ia melihat-lihat film yang ada dan yang pas jamnya, ada seorang cowok yang ngeliatin dia terus. Cowok ini adalah anak smu juga yang biasanya datang ke mal itu untuk dua tujuan.</p>
<p style="text-align: justify;">Kalau nggak cuci mata dan godain cewek-cewek terutama cewek-cewek smu yang cakep-cakep dan putih-putih itu, ya memalak anak-anak sd atau smp yang main game di dekat bioskop. Kebetulan cowok itu habis memalak anak SMP “gemuk” yaitu anak orang kaya yang dikasih duit jajan banyak. Setelah merasa penghasilannya hari itu cukup, kini ia ingin menikmati sisa hari itu dengan nonton. Dan saat itulah ia melihat Liani yang juga datang sendirian. Saat melihat cewek cakep apalagi sendirian, ia tak bisa menahan mulut usilnya itu. “Suitt, suitt,” siulnya dengan usil sambil matanya menggerayangi seluruh tubuh Liani,” Muluss.” Saat itu Liani memakai baju seragam batiknya. Sehingga ia bisa lolos dari satpam yang kadang tidak memperbolehkan anak-anak SMU berseragam putih abu-abu masuk. Ia jadi mupeng dengan Liani karena selain cakep dan kulitnya putih banget, body-nya pun ok. Pandangannya seketika mengarah ke dada Liani yang nampak menonjol di balik baju seragam batiknya. Baju seragam itu tak termasuk tipis jadi tak ada yang kelihatan tembus pandang.</p>
<p style="text-align: justify;">Namun tetap menarik untuk dipelototi karena kelihatan menonjol, pertanda payudara cewek ini tentu lumayan padat berisi. “Sendirian ya? Mau ditemenin ga?” tanya cowok itu cengengesan. Liani tidak menghiraukan cowok itu. Ia tidak merasa perlu menanggapi cowok-cowok semacam itu, yang kerjaannya cuman nggodain cewek kayak dirinya. Lagian, ditanggapi pun juga percuma. Kayak waktu itu. Ngomongnya aja kayak jagoan tapi belum apa-apa langsung keok. Setelah itu Liani mendatangi loket dan membeli satu tiket. Setelah cewek itu pergi, cowok itu juga mendatangi loket itu dan berkata ke penjual karcisnya,”Sebelahnya cewek tadi, Mbak.” Tak lama kemudian masuklah Liani ke dalam gedung bioskop. Ia membeli tiket tempat duduk di baris paling belakang di tengah-tengah. Gedung bioskop saat itu sangat sepi penonton. Tak lama kemudian masuklah cowok tadi dan nomor kursinya memang betul di sebelah Liani. “Hi,” sapa cowok itu. “Hi,” kata Liani. “Nonton sendirian ya?” “Iya.” “Sama dong. Gua juga sendirian. Aneh ya, kok kebetulan duduknya bisa sebelahan?”</p>
<p style="text-align: justify;">“Khan lu yang minta tadi sama Mbak-nya.” “Hah! Masa sih? Kok gua nggak inget?” “Udahlah lu ga usah pura-pura. Dikira gua nggak tahu.” “Hehehe, iya sih,” katanya cengengesan. “Oh ya, nama lu siapa? Nama gua Boy..” “Rika,” kata Liani asal-asalan. Dan cowok itu selanjutnya berusaha melakukan pendekatan ke arah kemupengan. Sementara Liani kini jadi timbul semangat badungnya. Sebelum cowok tadi masuk dan duduk di sebelahnya pun, ia telah membayangkan, situasi sepi-sepi gini, kayaknya jadi asyik deh kalo gituan. Gituan di dalam gedung bioskop! Oleh karena itu kini ia bersikap wait and see aja terhadap cowok yang ngaku namanya “Boy” ini. Ia sendiri ragu cowok kayak gini bisa punya nama sebagus itu. Tapi, masa bodolah. Yang penting bukan namanya keren apa nggak nya. Karena Liani tidak menolak, cowok itu jadi makin lama makin berani. Kini dipegangnya tangan Liani. Dan cewek itu diam saja. Lalu diraba-rabanya tangan yang halus itu. Kemudian ia memegang rambut Liani. Cewek itu diam saja. Kini dipeluknya cewek itu dan diciumnya pipi cewek itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Masih diam saja. Kini cowok itu jadi tambah berani. Diciumnya bibir cewek itu. Liani awalnya mendiamkan saja. Namun kini dirasakan, ciuman cowok itu not bad juga. Jadi ia mulai menanggapinya. Ia mulai ikut mencium cowok itu. Tak lama kemudian mereka berdua berciuman saling berpagutan di dalam bioskop. Lidah mereka saling beradu di dalam mulut yang saling melekat itu. Tak jelas siapa mendominasi siapa. Karena keduanya sama-sama aktif. Lalu cowok itu mulai menggerayangi tubuh Liani. Diraba-rabanya dada cewek itu. Dirasakannya payudaranya yang lumayan berisi juga. Begitu dapat kesempatan memegang payudara, seketika nafsunya langsung naik. Kemudian cowok itu menciumi leher putih Liani. Dikecup-kecupnya leher yang putih halus itu. Dan dibukanya kancing baju seragam Liani satu satu. Samar-samar nampak kulit tubuhnya yang putih mulus. Hmmm, sungguh indah. Ia sudah lama sering membayangkan cewek yang putih kayak Liani gini. Tapi baru kali ini ia merasakannya. Samar-samar kelihatan gundukan dada bagian atas yang tak tertutup oleh bra cewek ini. Lalu dibukanya bra itu. Diulurkan tangannya ke punggung cewek itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Namun ternyata kaitannya tak disitu. Sehingga tangannya berpindah ke depan. Dengan sekali tarik, dilepasnya kaitan di bagian depan branya itu. Kemudian dibukanya bra itu. Dan, ia sungguh terpana menyaksikan dada yang putih dan indah milik Liani. Meski samar-samar, namun sungguh menggairahkan! Segera direngkuhnya dada itu. Diraba-rabanya. Dan diusap-usapnya kedua putingnya yang menonjol dan sensitif itu dengan ibu jarinya. “Ooh” keluh Liani saat kedua putingnya diusap-usap cowok itu. Kemudian cowok itu meremas-remas dengan lembut payudara yang padat berisi dan kenyal itu. Oh, sungguh puas rasanya bisa memegang dan meremas-remas payudara telanjang cewek yang cakep dan putih kayak gini! Cewek ini betul-betul sexy sekali. Apalagi dengan dada yang telanjang gini. Apalagi dengan dadanya yang ada dalam genggaman tangannya gini! Cowok itu makin merapatkan dirinya ke cewek itu. Kini kepalanya turun ke dada cewek itu. Mulutnya segera mencium payudara cewek itu. Lalu menjilati. Dan menyedot-nyedot kedua putingnya kiri kanan bergantian.</p>
<p style="text-align: justify;">Oooh! Liani mulai “naik” dengan aksi cowok itu. Apalagi ia cukup jago dalam merangsang payudaranya. Termasuk saat menjilati dan menghisap putingnya. Ditambah lagi, tubuhnya yang sejak tadi agak kedinginan karena ac bioskop itu, kini “dihangatkan” oleh kecupan-kecupan cowok itu terutama di payudaranya. Dadanya terasa hangat saat cowok itu menghisap-hisap dan mengenyot-ngenyot putingnya. Liani juga ikutan beraksi. Tangannya menggerayangi tubuh cowok itu. Memegang dadanya yang bidang. Lalu tangannya turun ke bawah. Ke perut. Dan turun lebih bawah lagi. Tangannya merasakan ada benda keras di dalam celana cowok itu. Kini ia ingin menguji ketahanan cowok itu. Kalo nggak mampu, mending diketahui sekarang daripada tahunya belakangan. Ditaruhnya tangannya di selangkangan cowok itu. Ia memegang-megang bagian pangkal paha cowok itu. Sampai akhirnya disentuhnya batang yang mengeras di dalam celana itu. Sementara cowok itu jadi kaget dengan reaksi Liani ini. Tak disangka-sangkanya cewek yang cakep dan tampangnya sedemikian polos bisa melakukan ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Tak disangkanya cewek ini rupanya sudah punya cukup pengalaman juga. Ia jadi makin senang. Dibiarkan cewek ini berbuat semaunya. Termasuk setelah itu dilepasnya sabuk celananya. Dibukanya retsleting celana panjangnya. Dan…tangan yang putih mungil itu menyusup masuk ke celana dalamnya. Memegang batangnya yang telah mengeras sejak tadi-tadi. Tak hanya sekedar memegang saja, tapi tangan mungil itu mengocok-ngocok batangnya dan jari-jarinya mengusap-usap kepala dan leher penisnya. Oooh! Hampir meloncat ia rasanya karena nikmatnya tak terbayangkan saat penisnya dikocok-kocok dan diusap-usap oleh cewek cakep di sebelahnya ini. Oleh karena itu, tentu ia tak mau kalah dengan cewek ini. Tindakan cewek itu dibalasnya dengan setimpal. Dibukanya rok seragam cewek itu. Samar-samar terlihat pahanya yang sungguh putih itu. Diraba-rabanya paha mulus itu terutama pangkalnya. Lalu tangannya dimainkan di atas celana dalam cewek itu. Jari-jemarinya menggelitik daerah sekitar vaginanya. Oooh, oohhhh. Cewek itu mulai mendesah-desah. Apalagi saat jarinya kini dimainkan di liang vaginanya. Bahkan jarinya itu ditekan-tekan ke dalam liang itu, sampai akhirnya masuk sedikit. OOHhhhhh! Liani secara spontan mendesah. Lalu tangannya ikut-ikutan dengan yang dilakukan cewek itu tadi, yaitu… disusupkannya di dalam celana dalam cewek itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Ouw! Dirasakannya tangannya mengenai bulu-bulu di daerah tersembunyi itu. Sungguh lebat sekali bulu-bulunya! Lalu tangannya turun ke bawah dikit. Kini tangannya mencapai daerah terlarang dari cewek ini. Namun cewek ini diam saja saat tangannya mencapai daerah terlarangnya. Malah ia menikmatinya! Segera tangannya dimainkan di daerah vagina cewek itu. Cewek itu makin mendesah-desah. Apalagi saat tangannya menemukan dan merangsang klitoris cewek itu. Dilihatnya cewek itu merintih-rintih dan mendesah-desah serta tubuhnya menggelinjang-gelinjang. Hanya suara desahannya saja yang ditahannya. Sehingga ia mendengar desahan-desahan pelan cewek itu. Apalagi setelah mulutnya kini kembali mengenyot-ngenyot dada cewek itu. Dirasakannya vagina cewek itu basah berair. Demikianlah Liani yang tadinya agak memandang rendah cowok ini dan bermaksud “mengetest”nya kini ternyata tidak hanya cowok itu lulus ujian tapi juga mampu membuatnya lupa diri. Ia lupa dengan niatnya ingin mengetestnya karena sekarang malah ia jadi menggelinjang-gelinjang kenikmatan sudah lupa akan segalanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Namun ternyata cowok itu tidak berhenti sampai disitu saja dalam hal “memanaskan” dirinya. Karena cowok itu kini berjongkok di depan Liani, membuka kedua kakinya lebar-lebar. Dan….mulutnya menjilati vaginanya. Oooohhhh! Liani jadi makin tak tahan lagi untuk tidak menggeliat-geliatkan tubuhnya. Apalagi teknik jilatan cowok itu lumayan juga. Paling tidak cukup untuk membuatnya jadi basah kuyup. Oleh karena di dalam gedung bioskop yang ruang geraknya terbatas, mereka tak mau berlama-lama. Begitu tahu Liani telah siap, segera dilepaskannya celana dalam cewek itu. Ia harus melepas sepatu cewek itu dan meloloskan celana dalam itu dari tubuh cewek itu. Supaya lingkup geraknya lebih bebas. Kemudian ia menurunkan celananya berikut celana dalamnya. Dan, dengan menunggingkan tubuh Liani, bleesss! dimasukkannya penisnya ke dalam vagina cewek itu dalam posisi doggy style. Disodok-sodoknya vagina itu yang dirasakannya amat sempit itu. Kedua tangannya memegang payudara cewek itu. Ditepuk-tepuk dan diremas-remasnya. Akhirnya cewek itu berhasil disetubuhinya juga. Cewek yang di luar tadi mengacuhkan dia dan memandang rendah dirinya. Namun sekarang keadaannya sungguh berbeda. Kini dirinya berada di dalam tubuh cewek itu, dan menikmati cewek itu!</p>
<p style="text-align: justify;">Sementara Liani sungguh menikmati genjotan penis cowok itu di dalam tubuhnya. Ia dengan lirih mendesah-desah saat penis cowok itu menyodok-nyodok di dalam dirinya. Apalagi ditambah ketegangan bahwa kegiatan itu berlangsung di tempat umum, di dalam bioskop! Sementara cowok ini ternyata sungguh perkasa mengocok-ngocok vaginanya. Setelah itu mereka berganti posisi. Kini cowok itu duduk dibangku bioskop itu. Sementara Liani duduk di pangkuannya. Tapi sebelum itu, rupanya Liani ingin menelanjangi bagian bawah cowok itu, sama seperti cowok itu yang sebelumnya melepas celana dalamnya. Dilepasnya celana panjang dan celana dalam cowok itu dari tubuhnya sehingga kini bagian bawah cowok itu telanjang. Sementara, cowok itu menyingkap rok seragamnya yang dikenakannya itu, sehingga kini pantat dan bulu kemaluannya terbuka bebas. Seandainya gedung itu tidak gelap dan ada orang yang menoleh ke belakang, tentu orang itu bisa melihat kedua paha dan bulu kemaluannya dengan jelas! Kini Liani duduk dengan manis di pangkuan cowok itu. Namun tentu bukan sekedar pangkuan biasa. Tapi penis cowok itu masuk menembus ke dalam vaginanya. Setelah itu, giliran Liani yang menggoyang tubuhnya sendiri naik turun. Sementara kedua tangan cowok itu memainkan payudaranya.</p>
<p style="text-align: justify;">“Oooh….ohhhhh……ohhhhhh…….ohhhhhhh” Ia terus mendesah-desah. Dan ia terus menggoyang tubuhnya naik turun. Beberapa saat lamanya. Sampai akhirnya, “Uuuuuhhhhhhhhhhhhh…..uuuuuhhhhhhhhhhhhhhhhhh….uuu uuuuhhhhhhhhhhhhh” ia melenguh-lenguh panjang, saat ia mengalami orgasme. Orgasme di dalam gedung bioskop karena disetubuhi oleh cowok tak dikenal! Oleh cowok yang awalnya dipandang rendah! Setelah Liani orgasme, ia melepaskan tubuhnya dari penis cowok yang masih mengeras itu. Kemudian cowok itu menyuruh Liani untuk mengulum penisnya. “Sekarang giliran lu yang isep dong say.” “OK, tapi jangan dikeluarin ya. Kalo mau keluar, bilang ya.” “Beres dah,” kata cowok itu. Segera Liani dengan patuh mengemut buah zakar cowok itu. Lidahnya menjilat-jilat buah zakar cowok itu. Lalu mulutnya mengulum dan menghisap-hisap batang penis itu. “Shleeb..shleeeb…shleeeb…” Seperti mengemut ice lolipop saja Liani saat itu. Cuman bedanya ini lebih besar. Lalu ujung lidahnya digunakan untuk menjilat batang penis itu dari pangkal dekat buah zakar, terus naik ke atas sampai ke ujung kepala penis yang disunat itu. Lidahnya menjilati leher penis itu, dan mengitarinya, sampai tiga kali. Lalu seluruh bagian kepala penis itu disapunya dengan ujung lidahnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah itu, balik lagi disepong-sepongnya batang penis itu. Seperti ice lolipop tadi. “Shleeb..shleeeb…shleeeb…” Kemudian Liani mengeluarkannya dari mulutnya. Ia takut kalau-kalau isinya akan segera keluar. Tapi saat itu tiba-tiba cowok itu mengocok penisnya, saat penis itu tepat berada di depan mukanya. Dan…. tiba-tiba, Crooot, croott, crooottt. Penis itu memuncratkan seluruh isinya, membasahi muka Liani! Membuat mukanya kini jadi belepotan penuh sperma cowok itu! Karena cowok itu menahan kepalanya dan tak memberinya kesempatan untuk menghindar. Ia memang sengaja ingin memuntahkan isi penisnya itu ke muka cewek ini! Yah, sudah dibilang, jangan dikeluarin kayak gini, batin Liani, sekarang jadi belepotan dah muka gua. Di dalam gedung bioskop lagi. Mana abis ini gua mau ketemu sama teman gua lagi. Sialan betul nih cowok, sudah dikasih enak malah ngerjain orang. Sementara cowok itu nampak puas menumpahkan isi penisnya ke wajah cakep Liani. Ia tersenyum cengengesan melihat wajah cewek itu sekarang jadi belepotan karena spermanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Karena Liani tidak ingin sperma yang membasahi wajahnya itu turun ke bawah ke tubuhnya, segera ia mengambil apa yang ada di dekatnya untuk mengelap mukanya itu. Dan akhirnya digunakannya celana panjang cowok itu untuk mengelap mukanya. Sialan, dua kali main di dalam mal, momen “crott” nya nggak ada yang bener, gerutunya dalam hati. Cowok itu sebenarnya tidak ingin Liani menggunakan celana panjangnya untuk mengelap mukanya itu. Namun dalam hal ini ia kalah cepat dengan cewek itu. Karena saat itu ia terlena karena puas menyaksikan wajah cewek itu belepotan. Tak lama kemudian, Liani mengaitkan kembali branya dan mengancingkan baju seragamnya. “Gua ke toilet dulu ya,” kata Liani, karena ia ingin cuci muka. Saat ia ingin membawa celana dalamnya, cowok itu tidak memberikannya. “Lu pakenya disini aja. Nanti sehabis lu balik dari toilet,” kata cowok itu.. Karena setelah ini ia masih ingin menggrepe-grepe cewek ini. “Lu bawa ini aja. Ke toilet sekalian tolong bersihin ini,” kata cowok itu sambil menyodorkan celana panjangnya yang basah kena spermanya sendiri itu,” Tolong lu bilas dengan air supaya nggak bau.”</p>
<p style="text-align: justify;">Sialan cowok ini, pikir Liani. Habis mainin orang, sekarang malah main nyuruh aja. Emang pikirnya gua pembantunya. Enak aja suruh orang nyuci celananya. Namun Liani tidak membantah. Dibawanya celana panjang milik cowok itu ke dalam toilet. Cowok itu lagi duduk dengan santai menonton film bioskop itu. Baru saat inilah ia menonton film di layar depan itu. Ia agak kecapean juga setelah barusan maen dengan cewek itu. Gila bener hari ini. Mimpi apa gua bisa maen sama cewek kayak dia itu. Cakepnya dan putihnya kayak gitu. Apalagi ternyata dia cukup jago juga maennya. Hatinya benar-benar puas! Tapi lama kelamaan kakinya terasa kedinginan juga. Makin lama ac bioskop itu rasanya makin dingin. Apalagi orang di dalam gedung itu hanya segelintir. Lama bener sih cewek itu nggak balik-balik, pikirnya. Lho! Saat itu ia baru sadar ternyata celana dalamnya nggak ada disitu. Rupanya terbawa waktu cewek itu membawa celana panjangnya. Ingin rasanya ia memburu cewek itu ke toilet memintanya untuk cepat-cepat kembali. Namun itu tidaklah mungkin karena saat ini ia tak bercelana. Biarlah gua tunggu cewek itu datang aja. Namun ternyata cewek itu nggak datang-datang juga. Sampai akhirnya filmnya berakhir dan lampu gedung dinyalakan.</p>
<p style="text-align: justify;">Sesaat kemudian… “Eh, lu tahu nggak,” kata Herlina kepada Liani,” Barusan ada cowok yang digiring satpam. Gara-garanya ia keluar dari gedung bioskop nggak pake baju. Bajunya digunakan untuk menutupi selangkangannya. Soalnya cowok itu nggak pake celana. Dan, tahu nggak, hihihi, ternyata cowok itu pake celana dalam cewek, warnanya merah muda lagi.” “Lu baru dateng sih, jadi nggak ngeliat. Orang-orang pada heboh. Cewek-cewek yang di deketnya pada teriak-teriak. Tapi abis itu pada ketawa semua. Kayaknya orang gila deh itu.” Liani hanya tersenyum geli membayangkan itu. Biar tahu rasa, cowok nggak tahu diri. Sudah dikasih enak malah ngelunjak. Saat cowok itu menyuruhnya membersihkan celana panjangnya, sekaligus diam-diam dicomotnya juga celana dalam cowok itu. Setelah ia membersihkan mukanya, ia langsung keluar kompleks bioskop itu. Tentunya dengan menyembunyikan celana itu di dalam tasnya. Supaya nggak ketahuan orang. Setelah itu ia beli celana dalam yang langsung dipakainya di dalam toilet. Dan celana cowok itu dibuangnya di tempat pembuangan sampah yang sepi dan agak jauh dari mal itu. Setelah itu, baru ia balik lagi ke mal itu.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ceritasex.cn/liany-sex-in-the-mall/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Nikmatnya Istri Anak Buahku</title>
		<link>http://www.ceritasex.cn/nikmatnya-istri-anak-buahku-2/</link>
		<comments>http://www.ceritasex.cn/nikmatnya-istri-anak-buahku-2/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 27 Apr 2010 17:24:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cerita Sex</dc:creator>
				<category><![CDATA[Paruh baya]]></category>
		<category><![CDATA[Seks Umum]]></category>
		<category><![CDATA[selingkuh]]></category>
		<category><![CDATA[binal]]></category>
		<category><![CDATA[istri]]></category>
		<category><![CDATA[ngentot]]></category>
		<category><![CDATA[seks]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ceritasex.cn/?p=1371</guid>
		<description><![CDATA[Ceritanya dimulai sewaktu saya ditugaskan sebagai staff di pabrik pengolahan minyak sawit di salah satu perkebunan di Sulawesi. Namaku Alex, umurku 27 tahun, belum menikah. Sebagai seorang staff yang baru pindah ke daerah perkebunan, dimana masyarakat yg tinggal sangat berjauhan kecuali karyawan dan staff perkebunan yg sengaja dibuat dalam satu perumahan, mutlak sebagai pendukung utama [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Ceritanya dimulai sewaktu saya ditugaskan sebagai staff di pabrik pengolahan minyak sawit di salah satu perkebunan di Sulawesi. Namaku Alex, umurku 27 tahun, belum menikah. Sebagai seorang staff yang baru pindah ke daerah perkebunan, dimana masyarakat yg tinggal sangat berjauhan kecuali karyawan dan staff perkebunan yg sengaja dibuat dalam satu perumahan, mutlak sebagai pendukung utama opersional yang sewaktu-waktu bisa dipanggil dalam waktu 24 jam.</p>
<p style="text-align: justify;">Walaupun sebagai staff, karena sebelumnya perumahan sudah diisi oleh sebagian karyawan yg sudah duluan menempati, saya menempati rumah kopel kayu (dua rumah dempet menjadi satu bangunan) ketiga dari ujung dan agak kecil yg sebenarnya fasilitas untuk karyawan biasa. Manager pabrik sendiri menganjurkan agar memindahkan karyawan yg sudah menempati fasilitas rumah (rumah single beton) yang sebenarnya diperuntukkan bagi staff bujangan maupun keluarga, tapi untuk mengambil hati para karyawan yang mana nantinya juga akan menjadi bawahan saya.</p>
<p style="text-align: justify;">Akhirnya sayapun minta agar diijinkan menempati rumah kopel ketiga dari pinggir menghadap ke timur berhadapan dengan rumah yang menghadap ke barat dibatasi oleh jalan besar belum diaspal tapi sudah dikerasin.</p>
<p style="text-align: justify;">Rumah tetangga sebelah kiri yang agak berjarak tanah kosong selebar satu rumah ditempati oleh karyawan laki-laki yang sudah berkeluarga teapi istrinya masih tinggal di rumah orangtuanya , jauh dari lokasi perkebunan. Biasanya dia pulang sekali sebulan untuk mengantarkan gaji bulanan untuk nafkah anak istrinya.</p>
<p style="text-align: justify;">Rumah sebelah kanan yang merupakan pasangan rumah kopelku ditempati oleh karyawan laki-laki berumur 35 tahun, namanya bersama Nardi bersama istrinya yang berumur 33 tahun, namanya Hartini. Hartini walaupun bukan termasuk wanita kota, tapi sangat modis dan mengikuti kemajuan jaman disesuaikan dengan kondisi ekonomi. Yang paling membuat saya sangat kagum adalah bentuk payudara yang sangat padat berisi dan body yang cenderung montok.</p>
<p style="text-align: justify;">Dengan kondisi rumah kopel kayu seperti itu biasanya sepelan apapun pembicaran ataupun gerakan dalam rumah akan terasa di rumah sebelah. Dan saat itu kebetulan Nardi masuk dalam shift-1 dibawah pimpinan saya.</p>
<p style="text-align: justify;">Karena saya masih bujangan dan memang bukan tipe yang rajin ngurus rumah, untuk makan biasanya saya makan di warung yang berada di luar lingkungan perumahan berjarak sekitar 500 meter dari perumahan pabrik dan 50 meter dari pabrik. Untuk cuci pakaian, aku usahakan cuci sendiri walaupun hanya satu kali seminggu. Seringkali kalau udah malam atau hujan, terpaksa aku tidak makan nasi, hanya mengandalkan mi instant yang direbus seadanya. Karena mungkin kasihan, pada suatu sore sepulang kerja shift-1 pagi, kami bertiga, aku, Nardi dan Hartini ngobrol di teras, dan saat itu Nardi yang menjadi bawahanku itu menyarankan agar makan di rumahnya saja setiap hari dengan membayar secukupnya kepada istrinya.</p>
<p style="text-align: justify;">Akhirnya terjadi kesepakatan untuk makan setiap hari sekalian cuci pakaian ditanggung jawabi oleh Hartini. Karena setiap hari berdekatan dan makan bersama semakin lama hubungan kamipun semakin akrab dan tidak sungkan lagi ngobrol berdua tanpa suaminya.</p>
<p style="text-align: justify;">Awal kejadian pada suatu sore sepulang kerja sekitar jam 16.00, dan Nardi masih lembur di pabrik untuk mencari tambahan aku dan Hartini duduk ngobrol di teras. Saat itu aku menanyakan kenapa mereka yang sudah menikah 9 tahun belum punya anak. Dia dengan malu-malu bercerita bahwa mereka sudah sangat menginginkan anak dan sampai saat ini Hartini sudah periksa ke dokter dan dinyatakan tidak ada masalah, dan suaminya sendiri katanya tidak mau periksa karena merasa tidak ada kelainan dalam hal fisik, dan kebutuhan batin istrinya sanggup terpenuhi.<br />
<span id="more-1371"></span><br />
Dari situ, semakin lama pembicaraan kami semakin bebas sampai saya bercerita bahwa aku pernah mempunyai bekas pacar yang fisiknya agak montok seperti Hartini, dan iseng-iseng aku mengatakan bahwa biasanya wanita yang cenderung montok mempunyai payudara yang lembek dan turun dan rambut vagina sedikit dan jarang-jarang. Hartini membantah bahwa tidak semuanya begitu, dan dia sendiri mengatakan bentuk kepunyaan dia sangat bertolak belakang dengan yang saya katakan. Karena saya penasaran saya katakana bahwa Hartini pasti bohong, tapi dia menyangkal, akhirnya dengan jantung berdebar keras takut kalau Hartini marah saya minta tolong apabila bersedia ingin melihatnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Tapi mungkin demi menjaga agar dia tidak dianggap murahan, dia menolak keras, lama kelamaan saya memohon dengan muka pura-pura dibuat kasihan ditambah alasan bahwa sudah kangen banget sama pacar yang saat itu berada di Jakarta yang biasanya sekali seminggu bertemu, akhirnya dia mengatakan dengan pipi merah bahwa saya boleh melihat dia tapi dari jauh dan tidak boleh menyentuhnya. Saya tentu saja dengan cepat menyetujuinya. Dengan gerak malas-malasan atau dibuat pura-pura berat hati, dia berjalan menuju kamar belakang yang berdampingan dengan kamar depan dan tak lupa menutup jendela belakang yang berhadapan dengan lahan perkebunan masyarakat untuk menjaga apabila secara kebetulan ada orang yang bekerja di lahan tersebut. Kemudian dia berdiri sambil tersenyum malu-malu kepada saya yang tak mau melepasakan pemandangan indah tersebut dari jendela depan yang sengaja saya atur posisi saya masih di teras tetapi kepala saya melongok ke dalam rumah seakan-akan kalau orang melihat dari halaman ataupun lewat dari jalanan kami sedang berbicara dengan orang yang berada di dalam rumah. Jarak antara posisi duduk saya (diperbatasan teras rumah saya dengan rumah dia) hanya berjarak sekitar empat meter saja ke posisi dia berdiri di kamar belakang.</p>
<p style="text-align: justify;">Dengan lagak seorang model dia bergerak pelan-pelan membuka kaos birunya sambil jalan ke kiri dan kanan secara perlahan sampai ke balik pintu kamar sampai mata saya kadang tidak mampu melihat pemandangan yang mengasyikkan, tetapi setiap mau ke arah balik pintu saya perlahan teriak “Tin, jangan sampai kesitu dong, aku nggak bisa lihat nih.”. Sepertinya Hartini memang sengaja membuat saya penasaran. Kaos yang ditarik ke atas lalu dijepit oleh ketiaknya dan kelihatan BH berwarna merah menyala seakan-akan tidak mampu menutupi semua payudara montok putih yang menyembul keluar dari bagian atas BH nya seakan-akan protes mengapa dia dijepit terlalu keras.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah didiamkan sekitar 30 detik, sambil tersenyum mengedipkan mata sebelah kepada saya, dia pun mulai membuka kancing depan BH dan membiarkan cup BH nya menjuntai kebawah. (Akhirnya saya ketahui bahwa Hartini mempnyai ukuran 36 dan cupnya saya kurang tau, yang jelas satu telapak tangan saya masih belum bisa menutupi sebelah payudaranya dan dia mempunyai BH yang tidak mempunyai kancing di belakang).</p>
<p style="text-align: justify;">Mata saya seakan-akan mau keluar melihat pemandangan tersebut, sedangkan dia sendiri seakan-akan bangga menatap bagaimana saya sangat terpesona dengan payudaranya dengan puting sebesar puntung rokok Sampoerna Mild dan berwarna coklat kemerahan . Dalam 30 detik seakan-akan saya tidak bernafas tidak mau melepaskan pandangan saya sampai akhirnya dia berseru pelan “Udah ya, ntar lagi suamiku pulang” Saya tidak dapat berkata apapun saat itu dan sesudah merapikan pakaiannya, Hartini kembali ke teras seakan-akan tidak terjadi apa-apa kecuali berdiam diri dan duduk diteras rumahnya sedangkan saya sudah pindah duduknya kembali ke teras rumah saya. Setelah beberapa lama, perlahan berkata, “Jangan bilangin sama siapa-siapa ya?” kelihatannya Hartini sangat ketakutan apabila diketahui orang lain.</p>
<p style="text-align: justify;">“Jelas dong, masak gua bilangin sama orang, kan gua juga menanggung resiko” Sesaat kemudian dari jauh sudah kelihatan bahwa Nardi sudah pulang bersama teman-temannya yang ikut lembur. Kami pun berusaha berbicara normal tidak perlahan lagi tetapi membicarakan yang lain. Setelah menaiki tangga, Nardi langsung menyerahkan tas bekalnya kepada Hartini dan Hartini langsung membawa masuk sambil memberesi tempat bekal suaminya. Saya dan Nardi ngobrol sebagaimana layaknya bertetangga walaupun dia tetap menaruh hormat karena bagaimanapun kalau di pabrik dia menjadi bawahan saya.</p>
<p style="text-align: justify;">Malamnya saya terus memikirkan persitiwa tadi sore, kenapa dia bersedia menunjukkan sesuatu yang harusnya hanya boleh dilihat oleh suaminya, padahal dia mengatakan dalam hal kepuasan batin dia mengakuinya. Dalam hati saya berniat untuk lebih jauh., lagi mengingat bahwa Hartini tidak marah. Besoknya kira-kira dalam situasi yang sama sepulang kerja kami ngobrol kembali, dan saya beranikan untuk memancing lagi.</p>
<p style="text-align: justify;">“Kemarin memang benar ya, punya kamu memang bagus sekali bukan karena BH”. Dia tersenyum manis sedikit malu mungkin merasa bangga dengan pujian yang keluar dari mulut saya. “Tapi saya nggak yakin bahwa rambut bawah kamu bukan seperti yang saya lihat punya bekas pacarku dulu” Dengan masih tertawa kecil dia memperbaiki rambutnya dengan kedua tangannya. “Kan kemarin aku bilang apa, sekarang minta itu, sekarang ini, besok minta yang lain lagi dong Awas lho nanti ketahuan pacarmu yang sekarang di Jakarta, tau rasa deh.” “Nggak mungkin dia tahu, kecuali kamu yang bilangin”</p>
<p style="text-align: justify;">Walaupun saya menjawab mengatakan tidak perlu khawatir, tapi dalam hati saya bertanya kenapa justru pacar saya yang dia khawatirin bukannya diri sendiri atau suaminya. Berkat bujukan dan rayuan seorang laki-laki walaupun bukan seorang ahli, dia berkata perlahan “Tapi ingat ya, hanya sebentar dan sekali ini saja ya. Aku takut nanti ketahuan sama suamiku, bisa dibunuh aku nanti. Sekalian awasi orang lain mana tau ada yang mau kesini” Saya hanya mengangguk cepat, tak sabar melihat pemandangan yang akan saya lihat. Perlahan Hartini berjalan menuju kamar belakang sambil saya menikmati pantatnya seperti pantat bebek sedang berjalan. Pemandangan dari belakang membuat penis saya sudah mulai naik dan saya langsung membereskan posisi kontol saya agar tidak sakit. Sesampai di kamar dia pun sepertinya agak gugup mengintip sekeliling luar rumah dari celah papan. Sebentar kemudian dia menaikkan rok katun berwarna hitam setinggi lutut sampai celana dalam merahnya kelihatan. Mata saya seakan tidak mau berkedip takut melewatkan pertunjukan gratis tersebut. Dia menatap saya dengan mata gugup, sepertinya ingin pertunjukan tersebut.</p>
<p style="text-align: justify;">“Lex, udah lihat kan” teriaknya perlahan seperti berbisik. “Kan belum dibuka, tadi udah janji boleh lihat dari jauh. Kalau nggak aku aja deh yang buka ke situ ya” sahutku dengan perlahan sambil mata mengawasi sekeliling, tapi saya yakin masih kedengaran kepada dia. “Jangan …jangan kesini, disitu aja.”dia menjawab sepertinya ketakutan. Saya pun menganggukkan kepala. Kemudian dia melepaskan lagi rok yang sebelumnya diangkat sampai jatuh seperti posisi biasa, dan kedua tangannya masuk dari bawahnya menurunkan celana dalamnya sampai lepas, dengan sebelah tangan masih memegangi celana dalam kemudian Hartini mengangkat roknya kembali ke atas. Ya ampun…… Vaginanya sepertinya tertutupi oleh pegunungan hitam. Dia menatap saya dan mengangguk dengan ekspresi meminta persetujuan agar selesai. Saya sendiri berusaha agar lebih lama lagi menonton, tapi 15 detik kemudian dia langsung membungkuk dan memakai kembali celana dalamnya. Kemudian dia membuka pintu kamar belakang untuk menghilangkan kecurigaan suaminya apabila pulang nantinya dan langsung menuju dapur untuk memberesi makan malam kami nantinya dan tidak bertemu lagi sampai kami makan malam.</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam hati saya mulai yakin bahwa saya tidak bertepuk sebelah tangan. Selama ini apabila saya merasa sudah horny, sayang melampiaskan dengan onani di kamar sambil tiduran ataupun di kamar mandi. Semenjak kejadian tersebut saya mulai berani memeluk, mencium maupun meraba sekalian menciumi buah dadanya sewaktu giliran Hartini mau mengantarkan pakaian bersih dan menyusun di lemari pakaianku yang saya tempatkan di kamar tidurku. Biasanya sewaktu dia mau ngantar pakaian di depan pintu kamar biasanya dia sudah kasih kode jari di mulut, memberi info tidak aman. Apabila aman dia cuma senyum kecil, saya mengartikan isyarat aman. Disaat seperti itulah biasanya saya bisa menikmati bibir maupun teteknya. Kadang saking gemasnya saya tak sadar mengisap puting buah dadanya sampai dia kesakitan dan berbisik “Lex…. Jangan keras-keras. Emang nggak sakit.” Biasanya saya langsung minta maaf dan mengelus-elus buah dadanya dengan mesra. Ada kalanya Hartini tidak mau dicium karena sedang pake pewarna bibir, katanya nanti kalau dicium bisa hilang, suaminya bisa curiga, Sampai sampai sewaktu memberikan uang makan dan cuci pakaianku pun selalu saya menaruhnya sendiri di tengah buah dadanya baru saya tutup sendiri BH nya dan diakhiri dengan senyum dan cium.</p>
<p style="text-align: justify;">Puncak perselingkuhan kami adalah saat saya mau masuk shift sore, masuk jam empat sore dan biasanya pulang jam 12 malam, kalau buah sawit sedang panen raya dan menumpuk biasanya diteruskan sampai pagi. Setiap shift sore biasanya saya akan pulang sekitar jam 7 atau 8 malam untuk malam, sementara bisa bergantian dengan asistenku, biasanya jatah satu jam. Dan suami Hartini yaitu Nardi biasanya karena tidak punya kendaraan, malas pulang dan sudah membawa bekal dari rumah sore harinya. Sore itu sekitar jam 2 siang saya sudah mandi dan bersiap-siap mau berangkat, karena sebagai kepala shift harus koordinasi dulu dengan kepala shift pagi, dan saya masih memakai handuk bertelanjang dada di kamar, Hartini datang ke kamar sambil menaruh jari diatas bibir, pertanda tidak aman. Saya berbisik, “Emang dimana suamimu” “Itu masih lagi tidur di kamar” jawabnya perlahan. Hartini pun berjalan menuju lemari pakaianku sambil tangan kirinya mencubit puting tetekku. Saya merasa geli, dan mau membalas mencubit teteknya. Dia mengelak sambil berbisik,</p>
<p style="text-align: justify;">“Jangan sekarang, ntar malam aja, waktu pulang makan” “Dimana” “Ntar ke kamar saja langsung, pintu belakang tidak kukunci, hanya ditutupkan saja” “Tapi nanti jangan pake apa-apa ya.“ godaku pelan sambil main mata. Saya diam memikirkan kata-katanya, Sambil berjalan ke teras saya masih sempatkan meraba pantatnya sampai dia menepiskannya. Saya kaget memikirkan ada apa Hartini malah mengundang saya malam-malam ke kamarnya. Sampai di pabrik saya tidak konsentrasi dalam mengawasi karyawan melakukan tugas masing-masing dan masih memikirkan apa maunya Hartini. Saya sengaja agak lebih lama pulang makan malamnya sekitar jam 8.30 malam, dan suasana perumahan sudah agak sepi karena gerimis dari sore. Saya langsung menempat motor dinas ke belakang rumah agar tidak menyolok dari luar. Saya masuk rumah dan menyalakan lampu sebentar kemudian dari celah papan, saya mengintip rumah sebelah dan kelihatan rumah sangat gelap, karena biasanya pada saat tidur memang kebiasaan lampu dimatikan. Pandangan orang dari luar kalau lampu sudah dimatikan biasanya enggan bertamu paling tidak kalau tidak benar-benar penting sekali.</p>
<p style="text-align: justify;">“Tin…..udah tidur ya, kesini dong?” teriakku pelan, sampai dua kali saya berteriak pelan, Hartinipun mendekat dibatasi oleh papan pembatas berbisik “Pintu belakang tidak dikunci, Alex aja yang kesini” Sayapun berjalan menuju kebelakang rumah sambil mematikan lampu ruang tengah, sehingga dari luar kelihatan saya sudah pergi kembali ke pabrik. Karena sangat gelap saya membiasakan mata dulu, baru mengawasi sekeliling. Mengingat kaos kerja yang saya pakai berwarna putih, saya membuka dan menyangkutkan di pintu belakang sebelah dalam. Lalu berjingkat-jingkat perlahan saya menuju pintu belakang rumah Hartini. Dengan sangat hati-hati saya mendorong pintu, takut mengeluarkan suara dan berjalan pelan sekali sambil menahan nafas, takut getaran kaki saya di lantai papan kedengaran sama orang lain. Memasuki kamar depan, Hartini kelihatan tidur dengan memakai kain sarung sebatas dada dan kaos you can see berwarna pink yang bisa saya lihat dari cahaya lampu jalan di depan rumah masuk dari celah papan kayu. Hartini berpura-pura memejamkan mata.</p>
<p style="text-align: justify;">Saya langsung jongkok di sampingnya dan meraba bua dadanya tanpa membuka kain sarungnya. Dia melirik sambil tangannya mencubit pipi saya. Saya teruskan dengan mencium bibirnya. Tak lama kemudian dia pun membalas dan tangan saya mulai menurunkan kain sarungnya dan manaikkan kaos sampai buah dadanya kelihatan penuh. Saat itu Hartini tidak memakai BH lagi seperti godaan saya siang harinya. Agak lama kami berciuman sambil tangan kananku meremas-remas kedua buah dadanya. Saya merasa sudah sangat bernafsu begitu juga penglihatan saya kepada Hartini. “Tin, mau nggak kita masukin, ntar aku buang di luar deh.” bisikku “Lex, jangan dibuang di luar” jawabnya pelan sambil memelukku lebih keras sambil mencium pipi kiriku . “Ntar kalau hamil gimana dong, bisa bahaya kita” sahutku. Tanganku masih terus memutar-mutar puting kirinya. Tangan kiriku memangku lehernya sambil menahan berat tubuhku, karena saat itu saya masih jongkok. “Biar aja. Aku kan punya suami. Kalau aku hamil kan wajar” “Tapi kalau nantinya anaknya lahir mirip aku gimana dong, suamimu bisa curiga loh”</p>
<p style="text-align: justify;">Dia menatap saya memelas, seperti meminta pertolongan, saya merasa kasihan melihat wajahnya. “Tolongin aku ya Lex, pokoknya dikeluarin didalam aja. Saya tanggung kamu tidak akan apa-apa. Aku pengen hamil Lex. Aku ingin buktikan kepada keluarga suamiku bahwa aku tidak mandul.” Sepertinya dia memohon. Saya ingat bahwa Hartini pernah cerita bahwa beberapa keluarga suaminya diam-diam sudah menganjurkan agar suaminya mencari istri lagi kalau ingin punya anak. “Kamu sudah yakin” Saya ingin menegaskan lagi bahwa dia memang meninginkannya. “Iya Lex, tolongin aku ya” bisiknya langsung mencium bibirku. Saya pun membalas ciumannya setelah yakin dia memang sangat menginginkannya. Sambil tetap berciuman tanganku mulai menarik turun kain sarungnya sampai lepas melewati kaki. Saya melepaskan bibirku turun ke puting buah dadanya sambil tangan kananku meraba pangkal paha. Sepertinya celana dalam Hartini sudah agak basah. Hartini mendesah pelan sambil tangannya masih memeluk kepalaku, sekali-kali berusaha menekan kearah teteknya yang sedang saya putar-putar pakai lidah, sambil tanganku menarik celana dalamnya turun lepas dari kakinya dibantu dengan gerak pantat Hartini yang terangkat. Mataku sekali-sekali melirik ke arah vagina yang ditumbuhi rambut-rambut keriting yang lebat dan tanganku meraba-raba menyisihkan bulu-bulu jembut yang tumbuh dengan suburnyaitu agar tanganku bisa masuk ke lubang vaginanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Refleks tangan kiri Hartini menangkap tangan kananku dan menariknya ke atas tanpa melepaskannya lagi. Saat itu mulutku mulai turun ke arah perut, tetapi sesampai pusar Hartini menolak dan menahan kepalaku agar jangan sampai ke memeknya. Saya berusaha pelan-pelan menarik kepalaku sampai mulutku hampir mencium vaginanya. Tiba-tiba Hartini bangun duduk. Saya kaget dan takut dia marah. Sambil menatapku dia melingkarkan tangannya ke leherku, berbisik. “Jangan cium, bau. Aku nggak mau dicium itu.” “Nggak bau kok Tin, malah harum. Sebentar aja ya” jawabku merayu sambil cium lehernya. Hartini menggelinjing dan sambil mendesah pelan “Pokoknya jangan ya Lex, kamu masukin aja punya kamu” Tangannya meraba ke arah kontolku, yang sudah menegang tapi tidak maksimum karena kurang konsentrasi, setiap saat harus mengawasi suara di sekeliling rumah. Saat itu saya malah masih memakai celana kerja telanjang dada. Hartini berusaha membuka gesper, tapi agak kesulitan. Saya bangun dan membuka sendiri sampai benar-benar telanjang. Lalu saya tunjukkan kontolku kepada Hartini, dia membuang muka.</p>
<p style="text-align: justify;">Saya memegang kepalanya bermaksud agar dia mau mengoral kontolku, tapi dia bertahan tidak mau. Akhirnya kami kembali berbaring di tempat tidur menetralkan suasana sambil kembali memulai cumbuan. Akhirnya saya dan Hartini sepertinya sudah kembali sama-sama terangsang, dan saya putuskan mengangkat kaki kananku merenggangkan kedua kakinya. Sedikit demi sedikit kakinya mulai ngangkang sampai kedua kakiku bisa masuk, siap untuk memasuki lubang surga. Tapi Hartini memelukku dengan erat sampai mulutnya menyumpal mulutku dan membisiki, “Kita di lantai aja ya. Jangan disini. Soalnya tempat tidurnya berisik nanti” Tanpa menjawab saya langsung bangun turun dari tempat tidur dan Hartini ikut bangun sambil bawa sebuah bantal dan berbaring merenggangkan kakinya di lantai. Saya yang sudah nggak sabaran langsung mengambil posisi. Tak lupa kaos pinknya saya buka sampai lepas melewati kepala. Tangan kanan saya memegang kontolku mengarahkan ke vagina yang sudah banyak mengeluarkan cairan birahi. Sesaat sesudah menyentuh bibir vaginanya, kami berdua saling memandang, seakan-akan meminta persetujuan, dan mulutku mencium mulut Hartini dan langsung dibalas sambil memeluk erat.</p>
<p style="text-align: justify;">“Tin, gua masukin ya. Nggak nyesal kan?” bisikku kembali memastikan. Hartini tidak menjawab, hanya menganggukkan kepala pelan, tapi terasa bahwa dia sudah merespon, pelan-pelan saya masukin kontolku yang berukuran diameter 4 cm dan panjang 12 cm. Saya menahan nafas begitupun Hartini menikmati saat indah tersebut. Walaupun vagina Hartini sudah mengeluarkan banyak cairan lendir, sepertinya masih bisa kurasakan betapa saat memasuki memeknya terasa nikmat sampai sesudah masuk semua, saya diamkan sambil memandang muka Hartini yang memejamkan matanya. Sesaat kemudian dia membuka matanya dan langsung buang muka merapatkan pelukannya sambil mencium leherku. Dengan bertumpukan kedua siku di lantai saya mulai menaik-turunkan pantatku, sampai kedengaran bunyi suara dari lubang vagina Hartini seperti suara tepukan tangan di air. “Plok…plok….plok……” Beberapa lama saya menggenjot kontolku, tiba-tiba kedua kaki Hartini menjepit keras kedua kakiku sampai saya kesusahan mengangkat pantatku, sampai saat pantatku kuangkat terasa berat karena pantat Hartini juga ikut terangkat dan kurasakan leherku digigit. Saya berpikir mungkin dia sudah orgasme, tapi kurasakan juga ada yang mendesak dari kontolku.</p>
<p style="text-align: justify;">“Kamu udah keluar duluan ya” tanyaku karena jepitan kakinya terasa semakin lama semakin lemah sampai kini telapak kakinya sudah menapaki lantai kayu lagi seperti semula. Dia tidak menjawab hanya mencaricari mulutku dengan mulutnya dan melumat lidahku. “Aku udah mau keluar nih, keluarin diluar aja ya?” bisikku sesaat setelah bisa melepaskan lidahku dari mulutnya, memastikan karena saya masih takut resikonya di kemudian hari. “Tolongin aku Lex..aku ingin sekali hamil.” Suaranya seperti mau nangis meminta. Tapi tangan kanannya sudah ditaruh diatas pantatku sepertinya menjaga agar nantinya saya tidak melepaskan kontolku dari vaginanya. “Ya udah, tapi kamu harus jaga rahasia ini baik-baik ya?” jawabku “Iya…iya…nggak usah khawatir, tapi janji jangan dibuang diluar ya” bisiknya. Saya nggak jawab lagi tapi mulai menggenjot memeknya lagi yang sepertinya semakin kurang menjepit karena sudah orgasme seraya mulutku mengulum lidahnya. Beberapa saat kemudian aku membisiki telinganya, “Aku udah mau keluar” sambil genjotanku semakin cepat dan tangan kanannya menekan pantatku semakin keras ditambah kedua kakinya menekan belakang pahaku dari atas sambil tangan kirinya memeluk leherku dengan ketat, sampai akhirnya “Ouchhhhhh……” mulutku mengulum mulut Hartini seakan mau menghabiskan saat itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Dan terasa ada yang keluar dari kontolku membasahi memek Hartini. “Crooot….crooot…croooooot…” Sampai rasanya tidak ada lagi yang dikeluarkan baru saya menghentikan genjotanku dan diam bertumpukan kedua siku tangan dan kontolku sengaja saya tumpukan ke vagina Hartini. Saya terdiam tidak bergerak, sambil memandangi mukanya yang terpejam. Kukecup bibirnya dan berbisik. “Tin, aku balik ya, kelamaan ntar orang lain bisa curiga” “Makasih ya Lex, makan malamnya sudah aku taruh di rumahmu tadi sebelum kamu datang.” jawabnya pelan. Tetapi ketika saya mau melepaskan kontolku dari vaginanya, dia meraih leherku dan sesaat mencium bibirku dengan mesra. Ketika sudah dilepaskan aku langsung bangkit berdiri dan mencari celanaku yang saya lupa taruh dimana. Hartini masih tiduran dan merapatkan kakinya memandang saya dan mengarahkan telunjuknya ke tempat tidur, tapi yang saya lihat malah celana dalamnya, dan mengambil dengan tangan kiri untuk diserahkan kepada Hartini , tapi dia malah menarik tangan kananku dan tangan kanannya menyambut celana dalamnya seraya menyuruhku pelan agar jongkok Saya mengikuti saja tanpa tahu kemauannya.</p>
<p style="text-align: justify;">Hartini melap kontolku yang masih basah dengan pejuku yang bercampur dengan cairannya sendiri dengan celana dalam putihnya, saya tersenyum dan meremas susunya dengan tangan kiri. Kemudian telunjuknya menunjukkan dimana tadi celana saya lepaskan. Sesaat sesudah saya memakai celana, saya jongkok untuk mencium dia dan pamit sekalian berterima kasih atas bonus cuci pakaian dapat cuci penis, dia tersenyum sambil mencubit pelan pipi kiriku. Begitulah sampai sekitar 6 bulan kemudian kami sering melakukan hubungan suami istri setiap ada kesempatan, walaupun tidak setiap bersetubuh Hartini mendapat orgasme karena kadang saya merayu dengan alasan biar lebih cepat hamil walaupun dia sedang tidak menginginkannya atau takut ketahuan orang lain yang penting birahiku terpuaskan. Enam bulan kemudian saya menikah dan istriku menjadi seorang ibu rumah tangga yang tinggal bertetangga dengan Hartini, dan anehnya empat bulan sesudah menikah istri saya hamil. Saya merasa kasihan kepada Hartini, walaupun kami berhubungan sekitar enam bulan seperti suami istri belum hamil-hamil juga bahkan sampai saya mutasi ke Jakarta kembali. Dia hanya sedih menatap kepergian kami sewaktu mau meninggalkan perumahan tanpa kata-kata perpisahan..</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ceritasex.cn/nikmatnya-istri-anak-buahku-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Istriku Menikmati Di Perkosa Maling</title>
		<link>http://www.ceritasex.cn/istriku-menikmati-di-perkosa-maling/</link>
		<comments>http://www.ceritasex.cn/istriku-menikmati-di-perkosa-maling/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 18 Mar 2010 22:49:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cerita Sex</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pemerkosaan]]></category>
		<category><![CDATA[kisah nyata]]></category>
		<category><![CDATA[binal]]></category>
		<category><![CDATA[birahi]]></category>
		<category><![CDATA[istri]]></category>
		<category><![CDATA[maling]]></category>
		<category><![CDATA[ngentot]]></category>
		<category><![CDATA[perkosa]]></category>
		<category><![CDATA[seks]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ceritasex.cn/?p=1305</guid>
		<description><![CDATA[Tiba-tiba sebuah suara keras membangunkan kami di tengah malam. Nita istriku memeluk lenganku saking ketakutannya. Suara itu datang dari arah dapur. Sepertinya kaca yang jatuh berantakan. Naluriku mengatakan ada hal yang tak beres ada di dalam rumah ini. Aku bangun dan menyalakan lampu. Istriku berusaha menahan aku. Dengan hati-hati aku bangun dan membuka pintu dan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Tiba-tiba sebuah suara keras membangunkan kami di tengah malam. Nita istriku memeluk lenganku saking ketakutannya. Suara itu datang dari arah dapur. Sepertinya kaca yang jatuh berantakan. Naluriku mengatakan ada hal yang tak beres ada di dalam rumah ini. Aku bangun dan menyalakan lampu. Istriku berusaha menahan aku. Dengan hati-hati aku bangun dan membuka pintu dan melangkah ke dapur.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku kaget dengan ketakutan yang amat saat muncul sosok asing di bawah jendela dapurku. Nampak di lantai kaca jendela pecah berserakan. Pasti dia ini maling yang hendak mencuri di rumah kami. Sama-sama kaget dengan gesitnya pencuri ini berdiri dan melangkah pendek menyambar pisau dapur kami yang tidak jauh dari tempatnya. Orang ini lebih gede dari aku. Dengan rambut dan jambangnya yang nggak bercukur nampak begitu sangar. Dengan pakaiannya yang T. Shirt gelap dan celana jean bolong-bolong dia menyeringai mengancam aku dengan pisau dapur itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku memang lelaki yang nggak pernah tahu bagaimana berkelahi. Melihat ulah maling ini langsung nyaliku putus. Dengan gemetar yang sangat aku berlari kembali ke kamar tidurku dan menutup pintunya. Namun kalah cepat dengan maling itu. Aku berusaha keras menekan untuk mengunci sebaliknya maling itu terus mendorong dengan kuatnya. Istriku histeris berteriak-teriak ketakutan,</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Ada apa Maass.. Toloonngg.. Tolongg..&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Namun teriakan itu pasti sia-sia. Rumah kami adalah rumah baru di perumahan yang belum banyak penghuninya. Tetangga terdekat kami adalah Pak RT yang jaraknya sekitar 30 rumah kosong, yang belum berpenghuni, dari rumah kami. Sementara di arah yang berbeda adalah bentangan kali dan sawah yang luas berpetak-petak. Sejak pernikahan kami 2 tahun yang lalu, inilah rumah kredit kami yang baru kami tinggali selama 2 bulan ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Upaya tarik dan dorong pintu itu dengan pasti dimenangkan oleh si maling. Aku terdepak jatuh ke lantai dan maling itu dengan leluasa memasuki kamar tidur kami. Dia mengacung-acungkan pisau dapur ke isteriku agar tidak berteriak-teriak sambil mengancam hendak memotong leherku. Istriku seketika &#8216;klakep&#8217; sepi. Sambil menodongkan pisau ke leherku dengan kasar aku diraihnya dengan menarik bajuku keluar dari kamar. Matanya nampak menyapu ruangan keluarga dan menarikku mendekat ke lemari perabot. Pasti di nyari-nyari benda berharga yang kami simpan.</p>
<p style="text-align: justify;">Dia menemukan lakban di tumpukkan macam-macam peralatan. Dengan setengah membanting dia mendorong aku agar duduk di lantai. Dia me-lakban tangan dan kakiku kemudian mulutku hingga aku benar-benar bungkem. Dalam keadaan tak berkutik aku ditariknya kembali ke kamar tidurku. Istriku kembali berteriak sambil menangis histeris. Namun itu hanya sesaat.</p>
<p style="text-align: justify;">Maling ini sungguh berpengalaman dan berdarah dingin. Dia hanya bilang, &#8220;Diam nyonya cantiikk.. Jangan membuat aku kalap lhoo..&#8221; kembali istriku &#8216;klakep&#8217; dan sepi.</p>
<p style="text-align: justify;">Nampak maling itu menyapukan pandangannya ke kamar tidurku. Dia melihati jendela, lemari, tempat tidur, rak kset dan pesawat radio di kamarku. Dia sepertinya berpikir. Semuanya kusaksikan dalam kelumpuhan dan kebisuanku karena lakban yang mengikat kaki tanganku dan membungkam rapat mulutku.</p>
<p style="text-align: justify;">Tiba-tiba maling itu mendekati Nita istriku yang gemetar menggulung tubuhnya di pojok ranjang karena shock dan histeris dengan peristiwa yang sedang terjadi. Dengan lakbannya dia langsung bekap mulutnya dan direbahkannya tubuhnya di ranjang. Aku tak kuasa apa-apa hanya mampu tergolek dan berkedip-kedip di lantai. Aku melihat bagaimana sorot mata ketakutan pada wajah Nita istriku itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Ternyata maling itu merentangkan tangan istriku dan mengikatnya terpisah di kanan kiri kisi-kisi ranjang kayu kami. Demikian pula pada kakinya. Dia rentangkan dan ikat pada kaki-kaki ranjang. Dan akhirnya yang terjadi adalah aku yang tergolek lumpuh di lantai sementara Nita istriku telentang dan terikat di ranjang pengantin kami.</p>
<p style="text-align: justify;">Perasaanku sungguh tidak enak. Aku khawatir maling ini berbuat diluar batas. Melihat sosoknya, nampak dia ini orang kasar. Tubuhnya nampak tegar dengan otot-ototnya yang membayang dari T. Shirt dekilnya. Aku taksir tingginya ada sekitar 180 cm. Aku melihati matanya yang melotot sambil menghardik, &#8220;Diam nyonya cantiikk..&#8221; saat melihat istriku yang memang nampak sangat seksi dengan pakaian tidurnya yang serba mini karena udara panas di kamar kami yang sempit ini.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Aku mau makan dulu ya sayaang.. Jangan macam-macam&#8221;. Dia nyelonong keluar menuju dapur. Dasar maling nggak bermodal. Dia ngancam pakai pisauku, ngikat pakai lakbanku sekarang makan makananku.</p>
<p style="text-align: justify;">Nampak istriku berontak melepaskan diri dengan sia-sia. Sesekali nampak matanya cemas dan ketakutan memandang aku. Aku menggeleng-gelengkan kepalaku dengan maksud melarangnya bergerak banyak. Hemat tenaga.<span id="more-1305"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Sesudah makan maling itu gelatakan membukai berbagai lemari dan laci-laci di rumah. Dia nggak akan dapatkan apa-apa karena memang kami nggak punya apa-apa. Aku bayangkan betapa wajahnya akan kecewa karena kecele. Kudengar suara gerutu. Nampaknya dia marah.</p>
<p style="text-align: justify;">Dengan menendang pintu dia kembali masuk kamar tidur kami. Membuka lemari pakaian dan mengaduk-adukkannya. Dilempar-lemparkannya isi lemari hingga lantai penuh berserakan. Dia buka kotak perhiasan istriku. Dibuang-buangnya perhiasan imitasi istriku.</p>
<p style="text-align: justify;">Karena tak mendapatkan apa yang dicari maling mengalihkan sasaran kekecewaan. Dia pandangi istriku yang telentang dalam ikatan di ranjang. Dia mendekat sambil menghardik,</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Mana uang, manaa..? Dasar miskin yaa..? Kamu umpetin dimana..?&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Tangannya yang mengkilat berotot bergerak meraih baju tidur istriku kemudian menariknya dengan keras hingga robek dan putus kancing-kancingnya. Dan yang kemudian nampak terpampang adalah bukit kembar yang begitu indah. Payudara Nita yang sangat ranum dan padat yang memang selalu tanpa BH setiap waktu tidur. Nampak sekali wajah maling itu terkesima.</p>
<p style="text-align: justify;">Kini aku benar-benar sangat takut. Segala kemungkinan bisa terjadi. Aku saksikan adanya perubahan raut mukanya. Sesudah tidak mendapatkan uang atau benda berharga dia jadi penasaran. Dia merasa berhak mendapat pengganti yang setimpal. Maling itu lebih mendekat lagi ke Nita dan dengan terus memandangi susunya yang sangat sensual itu. Pelan-pelan dia duduk di tepian ranjang.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Dimana kamu simpan uangmu nyonya cantiikk..?&#8221; sambil tangan turun menyentuh tubuh Nita yang sama sekali tak bisa menolak karena kaki dan tangannya terikat lakban itu. Dan tangan itu mulai mengelusi dekat susunya.</p>
<p style="text-align: justify;">Ampuunn.. Kulihat bagaimana mata Nita demikian paniknya. Dia merem memejamkan matanya sambil memperdengarkan suara dari hidungnya, &#8220;Hheehh.. Hheehh.. Heehh..&#8221;. Istriku mengeluarkan air mata dan menangis, menggeleng-geleng kepalanya sambil mengeluarkan dengus dari hidungnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Dan sentuhan maling itu tidak berhenti di tempat. Air mata istriku merangsang dia semakin brutal. Tangan-tangannya dengan tanpa ragu mengelus-elus dan kemudian meremas-remas susu Nita serta bagian tubuh sensitive lainnya. Hal ini benar-benar membuat darahku menggelegak marah. Aku harus berbuat sesuatu yang bisa menghentikan semua ini apapun risikonya. Yang kemudian bisa kulakukan adalah menggerakkan kakiku yang terikat, menekuk dan kemudian menendangkan ke tepian ranjangku. Maling itu terkaget namun sama sekali tidak bergeming.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Hey, brengsek. Mau ngapain kamu. Jangan macam-macam. Jangan ganggu istrimu yang sedang menikmati pijitanku,&#8221; dia menghardik aku. Dan aku memang langsung putus asa. Aku tak mungkin berbuat apa-apa lagi. Kini hanya batinku yang meratapi kejadian ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Dan yang terjadi berikutnya adalah sesuatu yang benar-benar mengerikan. Maling itu menarik robek seluruh busana tidur istriku. Dia benar-benar membuat Nita telanjang kecuali celana dalamnya. Lantas dia rebah merapatkan tubuhnya disampingnya. Istriku nampak bak rusa rubuh dalam terkaman serigala. Dan kini pemangsanya mendekat untuk mencabik-cabik untuk menikmati tubuhnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Dari matanya mengalir air mata dukanya. Dia tak mampu berpuat apa-apa lagi. Dalam setengah telanjangnya aku kian menyadari betapa cantiknya Nita istriku ini. Dia tunjukkan betapa bagian-bagian tubuhnya menampilkan sensualitas yang pasti menyilaukan setiap lelaki yang memandangnya. Rambutnya yang mawut terurai, pertemuan lengan dan bahu melahirkan lembah ketiak yang bisa menggoyahkan iman para lelaki.</p>
<p style="text-align: justify;">Susunya yang membusung ranum dengan pentilnya yang merah ungu sebesar ujung jari kelingking sangat menantang nafsu birahi laki-laki manapun yang berkesempatan melihatnya. Perut dengan pinggulnya yang.. Uuhh.. Begitu dahsyat mempesona syahwat. Aku sendiri terheran bagaimana aku bisa menyunting dewi secantik ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Dan kini maling brutal itu menenggelamkan mukanya ke dadanya. Dia menciumi dan menyusu pada susu Nita seperti bayi raksasa. Dia mengenyoti pentil istriku yang nampaknya berusaha berontak dengan menggeliat-geliatkan tubuhnya yang dipastikan sia-sia. Dengan semakin beringas nafsu nyolongnya kini berubah menjadi nafsu binatang yang dipenuhi birahi.</p>
<p style="text-align: justify;">Dengan gampang dia menjelajahkan moncongnya ke sekujur tubuh Nita. Dia merangsek menjilat-jilat dan menciumi ketiak istriku yang sangat sensual itu. Inilah pesta besarnya. Dia mungkin tak pernah membayangkan akan mencicipi nikmat tidur dengan perempuan secantik Nita istriku ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Menjarah dengan kenyotan, jilatan dan ciumannya maling ini merangsek ke tepian pinggul Nita dan kemudian naik ke perutnya. Dengan berdengus-dengus dan nafasnya yang memburu dia menjilati pusar Nita sambil tangannya gerayangan ke segala arah meremas dan nampak terkadang sedikit mencakar menyalurkan gelegak nafsu birahinya.</p>
<p style="text-align: justify;">Perlawanan istriku sudah sangat melemah. Yang terdengar hanyalah gumam dengus mulut tersumpal sambil menggeleng-gelengkan kepalanya sebagai ungkapan penolakannya. Mungkin ketakutan serta kelelahannya membuat stamina-nya &#8216;down&#8217; dan lumpuh. Sementara sang maling terus melumati perut dan menjilat-jilat bagian-bagian sensual tubuhnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Kebringasan serta kebrutalan hasrat syahwat maling ini semakin meroket ke puncak. Jelas ia akan memperkosa istriku di depan aku suaminya. Dia bangun dari ranjang dan dengan cepat melepasi T. Shirt serta celana dekilnya. Dia menelanjangi dirinya. Aku terkesima. Maling itu memiliki postur tubuh yang sangat atletis dan menawan menurut ukuran tampilan tubuh lelaki. Dengan warna kulitnya yang coklat kehitaman berkilat karena keringatnya nampak dadanya, otot lengannya perutnya begitu kencang seperti pelaku binaraga. Tungkai kakinya, paha dan betisnya sungguh serasi banget.</p>
<p style="text-align: justify;">Yang membuat aku terperangah adalah kemaluannya. kontol maling itu begitu mempesona. Muncul dari rimbun jembutnya, kontol itu tegak ngaceng dengan bonggol kepalanya yang juga berkilatan karena kerasnya tekanan darah syahwatnya yang mendesakinya. Besar dan panjangnya di atas rata-rata kemaluan orang Asia dan nampak sangat serasi dalam warna hitaman pada awalnya kemudian sedikit belang kecoklatan pada leher dan ujungnya. Lubang kencingnya muncul dari belahan bonggol yang mekar menantang.</p>
<p style="text-align: justify;">Kesan kekumuhan awal yang kutemui dari rambut dan jambang yang tak bercukur serta pakaiannya yang dekil langsung musnah begitu lelaki maling ini bertelanjang. Dia nampak sangat jantan macam jagoan.</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam ketakutan dan panik istriku Nita melihat saat maling itu bangun dan dengan cepat melepasi pakaiannya. Begitu lelaki maling itu benar-benar telanjang aku melihat perubahan pada wajah dan mata istriku. Wajah dan pandangannya nampak terpana. Yang belumnya layu dan kuyu kini beringas dengan mata yang membelalak. Mungkin karena ketakutannya yang semakin jadi atau karena adanya &#8216;surprise&#8217; yang tampil dari sosok lelaki telanjang yang kini ada bersamanya diranjangnya. Anehnya pandangannya itu tak dilepaskannya hingga ekor matanya mengikuti kemanapun lelaki maling itu bergerak.</p>
<p style="text-align: justify;">Walaupun aku tak berani menyimpulkan secara pasti, menurut pendapatku wajah macam itu adalah wajah yang diterpa hasrat birahi. Adakah birahi Nita bangkit dan berhasrat pada lelaki maling yang dengan brutal telah mengikat dan menelanjangi tubuhnya di depan suaminya itu. Ataukah &#8216;surprise&#8217; yang disuguhkan lelaki itu telah membalik 180 derajat dari takut, marah dan benci menjadi dorongan syahwat yang dahsyat yang melanda seluruh sanubarinya ? Ahh.. Aku dirasuki cemburu buta. Aku sering mendengar perempuan yang jatuh cinta dengan penculiknya.</p>
<p style="text-align: justify;">Lelaki maling turun dari ranjang dan merangkak di depan arah kaki Nita yang terikat. Dia meraih kaki Nita yang terikat dan mulai dengan menjilatinya. Lidahnya menyapu ujung-ujung jari kaki istriku kemudian mengulumnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku menyaksikan kaki Nita yang seakan disengat listrik ribuan watt. Kaget meronta dan meregang-regang. Aku tidak pasti. Apakah itu gerak kaki untuk berontak atau menahan kegelian syahwati. Sementara lelaki maling itu terus menyerang dengan jilatan-jilatannya di telapaknya. Demikian dia melakukan pada kedua tungkai kaki istriku untuk mengawali lumatan dan jilatan selanjutnya menuju puncak nikmat syahwatnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Dengan caranya maling itu memang sengaja menjatuhkan martabatku sebagai suami Nita.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Mas, istrimu enak banget loh. Boleh aku entot ya? Boleh.. Ha ha. Aku entot istrimu yaa..&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Dan aku disini yang tergolek macam batang pisang tak berdaya hanya mampu menerawang dan menelan ludah.</p>
<p style="text-align: justify;">Namun ada yang mulai merambati dan merasuk ke dalam sanubariku. Aku ingin tahu, macam apa wajah Nita saat kontol maling itu nanti menembusi kemaluannya. Dan keinginan tahuku itu ternyata mulai merangsang syahwat birahiku. Dalam tergolek sambil mata tak lepas memandangi ulah lelaki maling telanjang yang melata bak kadal komodo di atas tubuh pasrah istriku yang jelita, kontolku jadi menegang. Aku ngaceng.</p>
<p style="text-align: justify;">Kusaksikan betapa maling itu merangsek ke selangkangan istriku. Dia menciumi dan menyedoti paha Nita serta meninggalkan merah cupang di setiap rambahannya. Namun yang membuat jantungku berdegup kencang adalah geliat-geliat tubuh istriku yang terikat serta desah dari mulutnya yang terbungkam. Aku sama sekali tidak melihatnya sebagai perlawanan seorang yang sedang disakiti dan dirampas kehormatannya. Istriku nampak begitu hanyut menikmati ulah maling itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku memastikan bahwa Nita telah tenggelam dalam hasrat seksualnya. Dia menggeliat-geliat dan menggoyang-goyangkan tubuhnya teristimewa pinggul serta pantatnya. Nita dilanda kegatalan birahi yang sangat dahsyat dan kini nuraninya terus menjemput dan merindui kenyotan bibir si maling itu. Dalam pada itu aku berusaha tetap berpikir positip. Bahwa sangat berat menolak godaan syahwat sebagaimana yang sedang dialaminya. Secara pelan dan pasti kontolku sendiri semakin keras dan tegak menyaksikan yang harus aku saksikan itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Dan klimaks dari pergulatan &#8216;perkosaan&#8217; itu terjadi. Lelaki maling itu menenggelamkan bibirnya ke bibir nonok Nita yang tampak ditutupi oleh bulu-bulu jembut yang tumbuh dengan sangat rimbunnya. Dia menyedot dan mengenyoti itil istriku dan menyeruakkan lidahnya menembusi gerbang kemaluannya. Tak terelakkan..</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam kucuran keringat yang terperas dari tubuhnya Nita menjerit dalam gumam desahnya. Pantatnya semakin diangkatnya tinggi-tinggi. Dia nampak hendak meraih orgasmenya. Bukan main. Biasanya sangat sulit bagi Nita menemukan orgasme. Kali ini belum juga maling itu melakukan penetrasi dia telah dekat pada puncak kepuasan syahwatnya. Ah.. Lihat ituu.. Benar.. Nita meraih orgasmenya.. Nittaa..</p>
<p style="text-align: justify;">Dia mengangkat tinggi pantatnya dan tetap diangkatnya hingga beberapa saat sambil terkejat-kejat. Nampak walaupun tangannya terikat jari-jarinya mengepal seakan hendak meremas sesuatu. Dan kaki-kakinya yang meregang mengungkapkan betapa nikmat syahwat sedang melandanya. Itulah yang bisa ditampilkan olehnya dikarenakan tangan serta kakinya masih terikat ke ranjang.</p>
<p style="text-align: justify;">Dan sang maling tanggap. Sebelum keburu Nita kelelahan dia naik menindih tubuh istriku dan menuntun kontolnya ke lubang nonoknya. Beberapa kali dia mengocok kecil sebelum akhirnya kemaluan yang lumayan gede dan panjang itu tembus dan amblas ditelan nonok istriku.</p>
<p style="text-align: justify;">Maling itu langsung mengayun-ayunkan kontolnya ke lubang nikmat yang sepertinya disemangati oleh istriku dengan menggoyang dan mengangkat-angkat pantat dan pinggulnya agar kontol itu bisa menyentuhi gerbang rahimnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku sendiri demikian terbakar birahi menyaksikan peristiwa itu. Khususnya bagaimana wajah istriku dengan rambutnya yang berkeringat mawut jatuh ke dahi dan alisnya. kontolku sangat tertahan oleh celana sempitku. Aku tak mampu melakukan apa-apa untuk melepaskan dorongan syahwatku.</p>
<p style="text-align: justify;">Genjotan maling itu semakin cepat dan sering. Aku pastikan bahwa maling itu sedang dirambati nikmat birahinya. kontolnya yang semakin tegar kaku nampak licin berkilat karena cairan birahi Nita yang melumurinya nampak seperti piston diesel keluar masuk menembusi nonok istriku. Aku bayangkan betapa nikmat melanda istriku. Dengan kondisinya yang tetap terikat di ranjang, pantatnya nampak naik turun atau mengegos menimpali pompan kontol lelaki maling itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Sebentar lagi spermanya akan muncrat mengisi rongga kemaluan istriku. Dan nampaknya istrikupun akan mendapatkan orgasmenya kembali. Orgasme beruntun. Bukan main. Selama menikah aku bisa hitung berapa kali dia berkejat-kejat menjemput orgasmenya. Namun bersama maling ini tidak sampai 1 jam dia hendak menjemput orgasmenya yang kedua.</p>
<p style="text-align: justify;">Saat-saat puncak orgasme serta ejakulasinya semakin dekat, lelaki itu mendekatkan wajahnya ke wajah Nita dan tangannya meraih kemudian melepas lakban di mulut istriku. Namun dia tak memberinya kesempatan untuk teriak. Mulutnya langsung menyumpal mulut istriku. Aku saksikan mereka saling berpagut. Dan itu bukan pagutan paksa. Istriku nampak menimpali lumatan bibir maling itu. Mereka tenggelam dalam nikmatnya persetubuhan. Dan ahh.. ahh.. aahh..</p>
<p style="text-align: justify;">Maling itu melepas cepat pagutannya dan sedikit bangkit. Dia menyambar pisau dapur yang masih ada di dekatnya. Dengan masing-masing sekali sabetan kedua ikatan tangan Nita terbebas. Dan pisau itu langsung dilemparkannya ke lantai. Tangan maling itu cepat memeluki tubuh istriku serta bibirnya memagutinya. Dan tanpa ayal dan ragu begitu terbebas tangan istriku langsung memeluki tubuh lelaki maling ini. Kini aku menyaksikan persetubuhan yang nyaris sempurna. Lelaki maling bersama Nita istriku langsung tenggelam mendekati puncak syahwatnya. Hingga&#8230;</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Aarrcchh.. Cantikk.. Aku keluaarr.. Hhoohh.. Ampun enaknyaa..&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Istriku juga mendesis hebat, tak ada omongan namun jelas, dia kembali meraih orgasmenya. Dengan tangannya yang bebas dia bisa melampiaskan gelegak birahinya. Tangannya mencakar punggung maling itu dan menancapkan kukunya. Nampak bilur sejajar memanjang di kanan kiri punggungnya merembes kemerahan. Punggung maling itu sempat terluka dan berdarah.</p>
<p style="text-align: justify;">Masih beberapa saat mereka dalam satu pelukan sebelum pada akhirnya lelaki maling itu bangkit dan menarik kontolnya dari kemaluan istriku. Aku langsung menyaksikan pejunya yang kental melimpah tumpah dan meleleh dari lubang nonok Nita yang tampak berwarna sangat merah karena terangsangnya. Sesaat mata maling itu melihati tubuh istriku yang nampak lunglai. Dia lantas bergerak efektif.</p>
<p style="text-align: justify;">Maling itu turun dari ranjang, memakai celana dan T. Shirt-nya. Dia mencopot selembar sarung bantal. Dia mengeluarkan dari kantongnya HP-ku dan HP istriku, jam tangan, perhiasan dan segepok uang simpananku, mungkin hanya sekitar 500-an ribu rupiah. Dia masukkan hasil curiannya ke sarung bantal itu. Tak sampai 2 menit sejak turun ranjang dia langsung keluar dan kabur meninggalkan aku yang masih terikat tak berdaya di lantai dan Nita yang telanjang sesudah disetubuhinya. Dia telah mencuri barang-barangku dan menikmati tubuh dan kemaluan istriku.</p>
<p style="text-align: justify;">Nita nampak bengong sambil melihati aku,</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Maaf, maass.. Aku harus memuaskan nafsu syahwatnya agar dia tidak menyakiti Mas..&#8221; Nita sudah siap dengan alibinya. Aku hanya diam. Nikmat seksual memang bisa mengubah banyak hal.</p>
<p style="text-align: justify;">Hingga kini, sesudah 8 tahun menikah hingga mempunyai 2 anak aib itu tak pernah diketahui orang. Kami sepakat menyimpannya dalam-dalam.</p>
<p style="text-align: justify;">Sesekali kulihat istriku bengong. Aku memakluminya. Setidaknya memang postur tubuhku serta kaliber kemaluanku tak mungkin mengimbangi milik lelaki maling itu.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ceritasex.cn/istriku-menikmati-di-perkosa-maling/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mia Anak Yogya Yang Liar</title>
		<link>http://www.ceritasex.cn/mia-anak-yogya-yang-liar/</link>
		<comments>http://www.ceritasex.cn/mia-anak-yogya-yang-liar/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 15 Jan 2010 07:09:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cerita Sex</dc:creator>
				<category><![CDATA[Daun Muda]]></category>
		<category><![CDATA[Seks Umum]]></category>
		<category><![CDATA[binal]]></category>
		<category><![CDATA[liar]]></category>
		<category><![CDATA[mia]]></category>
		<category><![CDATA[ngentot]]></category>
		<category><![CDATA[seks]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ceritasex.cn/?p=1220</guid>
		<description><![CDATA[Cerita berawal dari kisah pacaran saya dengan Mia, seorang mahasiswi yang berbeda kampus dengan saya. Setelah saya berpacaran dengannya selama dua bulan, barulah Mia menampakkan sisi kehidupan aslinya, bahwa dia penganut seks bebas. Keadaan itu saya ketahui dari perkataannya sendiri ketika saya selesai makan dengannya di sebuah warung mahasiswa khas Yogyakarta. Ketika itu dia cerita [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Cerita berawal dari kisah pacaran saya dengan Mia, seorang mahasiswi yang berbeda kampus dengan saya. Setelah saya berpacaran dengannya selama dua bulan, barulah Mia menampakkan sisi kehidupan aslinya, bahwa dia penganut seks bebas. Keadaan itu saya ketahui dari perkataannya sendiri ketika saya selesai makan dengannya di sebuah warung mahasiswa khas Yogyakarta. Ketika itu dia cerita kalau selama tiga bulan dia tidak pernah disentuh lelaki termasuk saya.Maksudnya tentu saja merasakan kenikmatan seksual yang selama ini dipenuhinya dari mantan pacarnya yang terdahulu sebelum saya. Kontansaya kaget berat mendengar hal itu.<br />
Batang kemaluan saya langsung tegak dan seakan ingin loncat keluar.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Kenapa kamu tiba-tiba jadi horny begini&#8230;?&#8221; tanya saya.<br />
&#8220;Aku tiga hari ini habis nonton BF bareng temen-temen kosku&#8230;&#8221; jawabnya,<br />
&#8220;Ayolah&#8230; kamu mauya?&#8221; pintanya.<br />
Aku semakin tidak karuan mendengar permintaannya itu sambil menggelayut di lenganku dengan manja.<br />
Akhirnya kuputuskan untuk meladeninya, meskipun aku belum pernah melakukannya sama sekali dengan wanita manapun.<br />
Dia tampak senang sekali mendengar kesediaanku meladeninya malam itu.<br />
Di kepalaku mulai timbul pikiran-pikiran yang kotor sambil berfantasi dengan<br />
kemolekan tubuhnya yang sintal, langsing dan berisi itu (payudaranya berukuran 32A, kira-kira segitu deh).</p>
<p style="text-align: justify;">Seketika saja motorku langsung kubawa ke arah tempat kost-nya yang memang bebas,dan laki-laki boleh masuk, karena memang tetangga sekitar berjarak agak berjauhan dengan rumah itu.<br />
Sampai di kost-nya, aku memarkirkan motorku dan langsung digandeng masuk ke dalam kamarnya.<br />
Teman-teman satu kost-nya langsung saja mengejek kami ketika kami baru saja masuk, &#8220;Waaahh, sudah kebelet ya&#8230; abis yang kemarin itu?&#8221; kata salah seorang dari mereka dan langsung disambut sorakan yang lainnya.<br />
Aku hanya diam saja, sedang Mia tertawa kecil sambil berkata, &#8220;Biarin! Orang gue juga kepengen kok!&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Sesampainya di kamar, Mia bergegas mengunci pintu dan langsung menubrukku sampai aku tersungkur di kasurnya. Dia mulai menerkam bibirku dengan ciumannya yang penuh nafsu. Aku sudah tidak ada pikiran untuk menghentikan tindakannya itu. Aku langsung meladeni ciumannya yang ganas itu dengan ganas pula. Tangan Mia mulai merayap di kemaluanku yang masih tertutup celana. Aku tidak mau kalah juga, kusergap payudaranya dengan remasan yang lembut sambil kulepaskan satu persatu kancing bajunya. Akhirnya dia pun berdiri karena melihatku mulai bernafsu dan sudah mulai membuka bajunya. Dia mulai membantuku membuka bajuku hingga celana dan sekaligus celana dalamku terlepas dari tubuhku dan dilemparkannya saja ke tepi ranjangnya. Begitu juga sebaliknya, kulucutkan pakainnya hingga kami sama-sama telanjang bulat. Tanpa pikir panjang, aku direbahkannya di atas kasur dalam posisi duduk, dan kini wajahnya sudah berada tepat di depan batang kejantananku yang sudah tegak berdiri.<br />
<span id="more-1220"></span><br />
&#8220;Aku kangen sama kemaluan lelaki!&#8221; katanya sambil mengocok-ngocok lembut batang kemaluanku. Aku semakin menggeliat. Baru pertama kali batang kemluanku dikocok sama cewek. Kocokannya semakin terasa dan aku semakin mendesah hebat. Tidak sampai dua menit dia mengocok, tiba-tiba mulutnya diarahkannya ke batang kejantananku dan ia pun mulai mengulumnya. Gila! Sensasi yang luar biasa. Aku terkesan dengan permainan mulutnya, sesekali dihisap, dimainkan menggunakan gigi, dikulum, dijilat dan banyak lagi deh. Setelah agak lama dan aku juga sudah mulai sangat terangsang, kuangkat dia ke sebelahku dan sekarang aku yang berlutut di lantai, sedang Mia yang sekarang duduk di kasur. Aku sudah tidak tahan ingin mencoba merasakan menjilati miliknya yang gundul tanpa ada selembar bulu pun itu, karena tampaknya Mia sudah mencukurnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku memulai dengan mempermainkan vaginanya terlebih dahulu menggunakan jari-jariku.<br />
&#8220;Sssttt&#8230; aaahhh&#8230; terus!&#8221; rintihnya ketika jariku mulai memasuki daerang<br />
liang senggamanya.<br />
Aku mulai mempermainkan nafsunya dengan jari-jariku, dia mulai meronta dengan mengangkat-angkat pantatnya. Tidak lama setelah itu aku mulai menjilati dengan segala macam cara di lembah yang gersang itu, mulai dari kumasukkan lidahku ke lubangnya sampai kuputar-putar di lipatannya yang membuat Mia semakin meronta bagaikan orang yang kerasukan birahi.</p>
<p style="text-align: justify;">Sekitar 10 menit aku memainkan liang senggamanya, Mia mulai tidak tahan.<br />
&#8220;Maaass&#8230; akuuu&#8230; mauuu.. keluarrr&#8230; aaahhh&#8230; masukin aja pake&#8230;<br />
batangmu&#8230; Masss&#8230; uuuhhh&#8230; aaahhh!&#8221; rontanya sambil mengangkat-angkat terus pantatnya, sedangkan kepalaku masih ditekannya, seakan dia minta jangan dilepaskannya lidahku pada lembahnya. Aku tidak mempedulikan rintihannya hingga suatu saat, &#8220;Seeerrr&#8230; haaahhh&#8230; haaahhh..!&#8221; Mia mengelinjang hebat merasakan orgasmenya. Liang kemaluannya tetap tidak kubiarkan menganggur, aku masih mempermainkan liangnya itu denganjariku. Mia masih meronta. Langsung dia sergap batanganku, dikocoknya dan dikulumnya dengan penuh semangat. Aku sedikit meronta karena seakan Mia membalas perlakuanku padanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Akhirnya aku langsung saja merebahkannya dalam posisi telentang, aku mulai membimbing batang kejantananku yang masih tegang hebat itu ke liang senggamanya; dan, &#8220;Sleppp!&#8221; batanganku sudah masuk penuh.<br />
Ketika rudalku itu masuk penuh, Mia merintih, &#8220;Haaahhh&#8230; Maaasss&#8230; goyang!&#8221; rintihnya manja.<br />
Kuturuti saja kata-katanya, aku mulai menggoyang pinggulku dan menyodok-nyodok lubang kenikmatannya dengan batang kejantananku. Rintihan demi rintihan bergantian keluar dari mulut kami. Sampai akhirnya Mia semakin menggelenjang tidak menentu, aku tahu kalau dia sudah mau orgasme lagi. Melihat gejala itu, langsung saja kupercepat gerakanku sampai akhirnya, &#8220;Serrr&#8230; serrr&#8230;serrr&#8230;!&#8221; keluarlah cairan kenikmatan itu dari liangnya.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Stop&#8230; Stooop dulu&#8230; hhhuuhhh&#8230; huuhhh.. haaahhh, jangan&#8230; dicabut Mas!<br />
Biarin aja&#8230;&#8221; pintanya.<br />
Aku pun tidak mencabut kemaluanku dan seketika kurasakan batang kejantananku dihisap-hisap liang vaginanya, gilaaa! Nikmat sekali. Tidak lama kemudian aku dibaringkan ke kasur dengan posisi telentang. Kini posisi Mia ada di atas dalam keadaan duduk sambil mengocok batanganku dan membimbing lagi ke arah liang kemaluannya.<br />
&#8220;Sleppp!&#8221;<br />
&#8220;Ohhh&#8230; liangmu enak banget Say!&#8221; kataku.<br />
&#8220;Punya kamu juga bikin aku gila Mas!&#8221; katanya sambil menaik-turunkan tubuhnya di atas tubuhku.</p>
<p style="text-align: justify;">Tanganku tidak diam saja, kuraih payudaranya dan kukulum, kuhisap payudaranya bergantian sambil kumulai meremas bergantian tanpa berhenti. Rontaan Mia semakin hebat dan semakin kelojotan dia. Aku pun mulai tidak tahan, karena posisi inilah yang paling kusukai, karena tangan dan mulutku tidak akan berhenti hinggap di bagian tubuh wanita yang paling kusukai, yaitu payudara.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah sekitar 15 menit kami saling menggenjot birahi, akhirnya rasanya aku tidak dapat lagi menahan keinginanku meledakkan laharku. &#8220;Saaayyy&#8230; aku mauuu keluar Saaayyy..!&#8221; rintihku.<br />
&#8220;Tunggu aku Masss&#8230; ntar keluarnya aku kocokin aja!&#8221; kata Mia yang membuatku kaget setengah mati dan langsung membayangkan bagaiamana nikmatnya dikocokin tangannya ketika mau orgasme.<br />
Tidak berapa lama kemudian, aku merasakan jepitan pangkal paha Mia semakin keras, dan rontaannya semakin tidak beraturan, sedangkan aku juga sedikit mulai merasakan mau keluar. Seketika batang kemaluanku merasakan adanya cairan yang mengguyur dari dalam rahimnya sambil Mia terlihat kelojotan tidak beraturan.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku belum merasakan mau keluar juga saat itu.<br />
&#8220;Mia, keluarin aku juga dong!&#8221; pintaku merintih sambil meremas buah dadanya yang ranum itu.<br />
Seketika dia sudah mengocok batang kejantananku dan langsung membasahinya dengan ludahnya, dihisapnya dan dikulumnya layaknya sedang makan es krim. Tidak ada semenit aku sudah menumpahkan air maniku ke lehernya sambil kocokannya terus jalan tidak berhenti. Setelah itu dia membersihkan batang rudalku dengan jilatannya.<br />
&#8220;Aku ntar malem pengen lagi ya?&#8221; pintaku.<br />
&#8220;Aku juga pengen lagi kok Masss!&#8221; katanya dengan disertai ciuman lembut di<br />
bibirku.</p>
<p style="text-align: justify;">Sejak saat itu aku mulai ketagihan hubungan seks dan kami berdua tidak pernah sungkan-sungkan lagi kalau lagi ingin melakukan hubungan seks. Pernah kami melakukannya sehari tiga kali. Bahkan kami pernah hanya melakukan 10 hari dengan oral seks saja, mengingat saat itu Mia baru menstruasi.</p>
<p style="text-align: justify;">Namun petualngan seksku belum berhenti sampai disitu. Pernah suatu ketika, permainan hubungan seks kami diintip Ibu kost Mia dan dua orang teman kost-nya. Hingga saat Mia sudah lulus dan kembali ke kota asalnya, aku masih tetap main ke kost Mia karena setelah kepergian Mia, aku jadi simpanan Ibu kost Mia dan seorang teman kost Mia yang juga pernah mengintip kami melakukan hubungan seks itu sampai sekarang. Aku jadi benar-benar ketagihan sampai sekarang.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ceritasex.cn/mia-anak-yogya-yang-liar/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Joana, Si Seksi Dengan Birahi Binal</title>
		<link>http://www.ceritasex.cn/joana-si-seksi-dengan-birahi-binal/</link>
		<comments>http://www.ceritasex.cn/joana-si-seksi-dengan-birahi-binal/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 30 Dec 2009 02:40:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cerita Sex</dc:creator>
				<category><![CDATA[Daun Muda]]></category>
		<category><![CDATA[Foto Mesum]]></category>
		<category><![CDATA[binal]]></category>
		<category><![CDATA[birahi]]></category>
		<category><![CDATA[joana]]></category>
		<category><![CDATA[ngentot]]></category>
		<category><![CDATA[seksi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ceritasex.cn/?p=1150</guid>
		<description><![CDATA[Bonus buat bro n sis semua&#8230;&#8230;Joana cewek seksi yang binal hehehe]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Bonus buat bro n sis semua&#8230;&#8230;Joana cewek seksi yang binal hehehe <img src='http://www.ceritasex.cn/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> </p>
<p><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2009/12/joana-seksi-binal-1.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-1151" title="joana-seksi-binal-1" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2009/12/joana-seksi-binal-1-225x300.jpg" alt="" width="225" height="300" /></a></p>
<p><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2009/12/joana-seksi-binal-2.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-1152" title="joana-seksi-binal-2" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2009/12/joana-seksi-binal-2-225x300.jpg" alt="" width="225" height="300" /></a></p>
<p><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2009/12/joana-seksi-binal-3.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-1153" title="joana-seksi-binal-3" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2009/12/joana-seksi-binal-3-225x300.jpg" alt="" width="225" height="300" /></a><br />
<span id="more-1150"></span><br />
<a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2009/12/joana-seksi-binal-4.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-1154" title="joana-seksi-binal-4" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2009/12/joana-seksi-binal-4-300x200.jpg" alt="" width="300" height="200" /></a></p>
<p><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2009/12/joana-seksi-binal-5.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-1155" title="joana-seksi-binal-5" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2009/12/joana-seksi-binal-5-300x200.jpg" alt="" width="300" height="200" /></a></p>
<p><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2009/12/joana-seksi-binal-6.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-1156" title="joana-seksi-binal-6" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2009/12/joana-seksi-binal-6-200x300.jpg" alt="" width="200" height="300" /></a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ceritasex.cn/joana-si-seksi-dengan-birahi-binal/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sepupu keparat, punya istri kok napsuin amat</title>
		<link>http://www.ceritasex.cn/sepupu-keparat-punya-istri-kok-napsuin-amat/</link>
		<comments>http://www.ceritasex.cn/sepupu-keparat-punya-istri-kok-napsuin-amat/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 01 Aug 2009 13:18:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cerita Sex</dc:creator>
				<category><![CDATA[Seks Umum]]></category>
		<category><![CDATA[kisah nyata]]></category>
		<category><![CDATA[selingkuh]]></category>
		<category><![CDATA[bercinta dengan istri muda]]></category>
		<category><![CDATA[binal]]></category>
		<category><![CDATA[gairah birahi]]></category>
		<category><![CDATA[istri sepupu]]></category>
		<category><![CDATA[mbak nin]]></category>
		<category><![CDATA[ngentot]]></category>
		<category><![CDATA[ngentot istri orang]]></category>
		<category><![CDATA[seks liar]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ceritasex.cn/?p=764</guid>
		<description><![CDATA[Pesta pernikahan kakak sepupuku, Mas Bud, dapat dikatakan sangat meriah dan sangat mewah. Dia memang sangat beruntung, perwakannya yang over size dengan perut yang mirip gentong itu tidak menghalanginya untuk menikahi Mbak Nin, seorang wanita yang sangat cantik dengan body yang sangat aduhai. Aku pun heran, kenapa wanita secantik Mbak Nin yang memiliki tubuh langsing [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Pesta pernikahan kakak sepupuku, Mas Bud, dapat dikatakan sangat meriah dan sangat mewah. Dia memang sangat beruntung, perwakannya yang over size dengan perut yang mirip gentong itu tidak menghalanginya untuk menikahi Mbak Nin, seorang wanita yang sangat cantik dengan body yang sangat aduhai. Aku pun heran, kenapa wanita secantik Mbak Nin yang memiliki tubuh langsing dengan tinggi 170cm itu mau menikahi Mas Bud. Apa mungkin karena kekayaan Mas Bud? Tapi masa bodolah, yang pasti mataku selalu tidak bisa lepas dari Mbak Nin, dan otakku pun sibuk memikirkan sesuatu yang sangat nakal.</p>
<p style="text-align: justify;">Seperti biasa, setiap 2 bulan sekali diadakan petemuan keluarga. Karena keluarga kami merupakan keluarga yang sangat besar. Setiap pertemuan keluarga, aku selalu berusaha untuk mencuri pandang, kecantikan dan kemolekan tubuh Mbak Nin yang sempurna itu memang membuatku jatuh cinta dan sangat bernafsu. Ingin rasanya memeluk, mencium dan becinta dengannya. Tapi sayang pertemuan keluarga yang hanya sehari semalem itu sangatlah sebentar bagiku. Aku selalu tidak pernah puas untuk menghayalkan Mbak Nin.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah 14 kali pertemuan keluarga, sekitar 2 tahun setelah pernikahan Mas Bud dan Mbak Nin, akupun kuliah di Jakarta. Karena rumahku di Bandung, aku terpaksa harus mencari tempat kost.Tapi Mas Bud melarangku dan menyuruhku tinggal di rumah besarnya. Aku disuruh menjaga rumah selama kepergian Mas Bud ke negeri Belanda selama kira-kira 2 Bulan. ?Sekalian menemani Mbak Nin.? Kata Mas Bud. Aku jelas bersedia, selain ngirit uang kost juga bisa selalu melihat keindahan Mbak Nin.</p>
<p><span id="more-764"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Satu minggu telah belalu semenjak kepegian Mas Bud. Aku pun sibuk di kampus dengan berbagai jenis kegiatannya. Aku berusaha menyibukkan diriku agar pikiran kotor mengenai Mbak Nin dapat aku tepis. Aku tidak mau menghianati Mas Bud, kakak sepupuku. Jam 7 malam tepat aku sampai dirumah Mas Bud, yang kini hanya didiami oleh satu orang pembantu rumah tangga, satu orang satpam, aku dan Mbak Nin. Aku lihat Mbak Nin belum pulang. Aku pun bebersih diri dan kemudian bersantai di kursi sofa sambil mendengarkan music klasik dari Beethoven. Dolby Digital Suround Sound System Super DTC yang ada diruangan tengah itu membuai diriku dan akupun terlelap. Entah berapa lama aku tertidur di kursi sofa sampai kemudian aku terbangun dengan dering telephone dari mesin faximile yang ada di kantor pribadi Mas Bud. Aku terkejut, terbangun dan bermaksud menuju ke arah suara telephone tersebut. Belum sempat aku beranjak dari kursi sofa, aku melihat suatu pemandangan yang sangat mengejutkan.Pintu kamar Mbak Nin terbuka, dan keluarlah Mbak Nin dengan rambut yang basah dan hanya di bungkus handuk berlari menuju kearah ruang kerja Mas Bud.Dari ruang santai tersebut aku bisa melihat jelas kearah ruang kerja Mas Bud. Aku lihat Mbak Nin sedang berbicara dengan seseorang di telephone tersebut.</p>
<p style="text-align: justify;">Handuk itu membungkus tubuh Mbak Nin mulai dada sampai sampai perbatasan antara pantat dan pahanya. Hatiku berdebar sangat keras melihat itu semua. Terlihat betapa sintalnya tubuh Mbak Nin.Walaupun terbungkus handuk, bentuk pinggul dan pantatnya dapat terlihat jelas. Jantungku tambah tidak karuan ketika Mbak Nin mengambil sebuah buku dari lemari atas yang membuat handuk tersebut semakin terangkat. ?Oh, My God!!!? Ternyata Mbak Nin tidak memakai CD, terlihat belahan pantatnyayang sangat bulat, padat, putih dan mulus tak bercacat. Mbak Nin membalikan tubuhnya, aku terkejut dan tetap pura-pura tertidur. Mbak Nin kemudian duduk diatas meja kerja Mas Bud dan membaca buku yang baru saja diambilnya. Hal ini membuatku semakin gila. Kali ini Mbak Nin menyilangkan kakinya yang ramping itu agak tinggi sehingga handuknya makin naik ke atas. Benar-benar merupakan pemandangan yang sangat indah, pahanya yang putih mulus serta padat berisi itu membuat jantungku serasa mau copot.</p>
<p style="text-align: justify;">?Pletak?.!!!? Tak sengaja kakiku menyenggol vas bunga di atas meja didepan kursi sofa tempat aku berbaring. Aku kaget setengah mati takut ketahuan Mbak Nin. Untung aku tidak kehabisan akal, aku bangun dan membenarkan posisi vas bunga tadi dengan terus berpura-pura tidak menyadari keberadaan Mbak Nin.</p>
<p style="text-align: justify;">?Apaan tuh?? Tanyanya yang kemudian aku jawab dengan singkat. ?Eh?, ini Mbak vas bunganya jatuh.? jawabku. ?Rangga, kesini deh sebentar?.!?Aku kaget setengah mati, Mbak Nin memanggilku. aku berjalan dengan pura-pura sempoyongan karena masih mengantuk. Aku berjalan menuju ruang kerja Mas Bud. Kulihat dari dekat Mbak Nin dengan posisi yang masih sama memandangiku. Perpaduan antara betis indah dengan paha yang putih, mulus padat berisi itu semakin jelas.?Duduk sini!?Perintahnya sambil menunjukan kursi yang berada tepat didepan meja yang diduduki Mbak Nin. Aku menurut tanpa sepatah katapun. Setelah aku duduk di depannya, Mbak Nin mengangkat kaki kanannya dan meletakkan telapak kakinya tepat diantara pahaku. Aku hanya terdiam dengan jantung yang semakin kencang. Entah apa maksud Mbak Nin.?Nih, lihat?., tadi pagi aku kesandung, dan jari kelingkingku sedikit memar.? katanya sambil tak hentinya kutatap kakinya yang indah dan bersih itu. Jari-jarinya mungil dan putih sangatlah indah bila di pandang dan di pegang.?Mau nggak pijitin kaki Mbak?? Aku pun langsung meraih betis yang indah itu. Mbak Nin mengangkat kaki kanannya dari pangkuan kaki kirinya. Aku tak menyadari gerakan itu karena pikiran dan mataku saat itu terfokus kepada sesuatu diantara kedua belah paha Mbak Nin. Aku terkejut, telapak kaki kiri Mbak Nin tiba-tiba membelai dan memutari daerah kemaluanku yang masih tegang dan terbungkus celana jeans ku. aku memandangi Mbak Nin dan?..,?Jangan kegat, Mbak tau koq, dari dulu kamu selalu merhatiin Mbak terus khan?? Katanya, aku heran dari mana Mbak Nin tahu kalau aku emmang selalu mengagumi keindahannya. ?Mbak Nin juga selalu merhatiin kamu, cuma kamu aja yang nggak pernah sadar.? Katanya lagi. ?Kamu sayang Mbak Nin nggak?? Tanyanya. ?Ssssayang Mmmm?mb..mbak!? Jawabku terbata-bata. ?Mbak Nin juga sayang kamu.. bener deh!? ?Kalo kamu sayang Mbak Nin, kamu tolongin Mbak Nin mau khan?? Tanyanya. ?Mau Mbak, tolong apaan?? Tanyaku lagi.</p>
<p style="text-align: justify;">?Cium betis Mbak Nin donk sayang!? Baru kali ini Mbak Nin memanggilku sayang, bisanya Mbak Nin hanya memanggil namaku. Tanpa satu pertanyaan pun aku ciumi betisnya yang putih dan indah itu. Aku tidak hanya menciumi betis itu, sesekali aku menjilati betis itu. Makin lama makin keatas sampai ke pahanya. Mbak Nin menggelinjang hebat, desahannya membuatku semakin buas. ?Ah?., sayang?..terus sayang?.enak?!? Aku menjadi semakin nekat, makin lama aku makin keatas terus dan kemudian bibirku tak hentinya menciumi paha Mbak Nin. Semakin lama semakin keatas.?Cium aku sayang!?Tiba-tiba Mbak Nin menghentikan gerakanku. Dengan kedua tanggannya Mbak Nin menarik kepalaku dan membimbingku untuk mencium kedua bibirnya yang sangat tipis dan berwarna merah muda. Kita berdua akhirnya saling berciuman.Sesekali lidahku masuk kemulutnya dan begitu pula sebaliknya. Lidah kita saling bermain di dalam mulut. Aku dapat merasakan, kedua tangan Mbak Nin berusaha membuka ikat pinggang kulitku. Aku terdiam saja, sampai akhirnta Mbak Nin menyelipkan tanggannya ke balik celanaku. Mbak Nin meraih batang kemaluanku, aku terus menciuminya sambil mencari ikatan yang mengikat handuk Mbak Nin.</p>
<p style="text-align: justify;">?Mbak aku lepas ya handuknya?? Kataku, Mbak Nin hanya menganggukan kepalanya sambil terus memandangiku. Tak lama kemudian aku lihat Mbak Nin sudah telanjang bulat didepanku, tanpa sehelai benang pun menutupi tubuhnya yang langsing, putih, mulus dan padat tersebut. Terlihat jelas olehku kedua bukit kembarnya. Besarnya tidak seberapa, tetapi memiliki bentuk yang sangat indah. Kencang, Padat, keras dengan puting yang sedikit mencuat keatas. Aku tak sabar, mulutku langsung mendarat tepat di puting susunya. Saat itu aku lakukan segala sesuatu yang bisa mulutku lakukan.Menjilati, menciumi dan menghisap. Kulakukan itu secara bergantian antara yang kiri dan kanan. Aku benar-benar asyik dengan kesibukanku saat itu.?Ah, sayang?terus sayang?oh.? Aku menjelajahi seluruh tubuh bagian atasnya. Dari kedua bukit kembarnya, aku ber alih ke ketiaknya. Aku angkat ke dua tangannya. Ketiaknya yang tanpa bulu dan beraroma wangi itu aku jilati dengan ujung lidahku. Mbak Nin menjepit kepalaku. ?Ah, jangan disitu dong, aku nggak kuat, geli!? akupun beralih ke perutnya. ?Busyet?!? Pikirku, tak sedikitpun lemak yang aku temukan di perutnya. Sambil menciumi dan menjilati perutnya aku penasaran apakah ada sedikit saja lemak yang bertengger di perutnya. aku memutar ke pinggangnya.?Ah?sayang, ternyata kamu nakal?.!? Mbak Nin mulai meracau. aku terus memutari bagian perutnya yang ternyata tak ada lemak sama sekali. ?Hebat?., a perfect woman.? pikirku. ?Tak ada, ya?. betul? sama sekali?, tak ada cacatnya sama sekali tubuh wanita ini.? pikirku. ?Putih, mulus, padat, bersih, tak berlemak dan kencang.? aku terus menikmati menjilati tibuhnya.?Buka celana kamu sayang?!? Mbak Nin menyuruhku, aku pun melorotkan celanaku sekaligus dengan CD ku, sehingga akupun telanjang bulat. Batang kemaluanku sudah benar-benar mencuat keatas. ?Wow, Punya kamu udah bangun rupanya.??Tunggu sebentar ya.?Mbak Nin naik keatas meja, seluruh tubuhnya benar-benar di atas meja. Mbak Nin mengatur posisinya, dan akhirnya Mbak Nin nungging diatas meja dengan wajah tepat didepan kemaluanku.Tangannya kirinya meraih dan menarik batang kemaluanku. Aku menurut saja bagaikan kerbau yang di cocok hidungnya. Mbak Nin mulai menciumi kepala kemaluanku ?OH?.,!? Sekarang giliranku yang merasakan nikmatnya permainan yang Mbak Nin lakukan. Mula-mula hanya kepala kemaluanku yang merasakan hisapan, jilatan, dan sedikit sentuhan giginya yang putih bersih. Lama kelamaan Mbak Nin membenamkan batang kemaluanku sedikit demi sedikit kedalam mulutnya. ?Ah?., Uh??!? Aku mendesah pelan dengan sedikit menyeringai untuk menahan gejolak yang sedang berkecamuk di dalam tubuhku. Aku nggak mau hal ini cepat selesai. Mbak Nin terus mempermainkan batang kemaluanku. Kadang sesekali Mbak Nin mengulum kedua bijiku. Hal ini membuat ku sedikit mules, tapi kenikmatan yang aku raih jauh dari itu semua.Aku tak mau diam, aku julurkan tangan kananku untuk meraih perbatasan punggung dan belahan pantatnya. Untuk mengimbangi permainannya, pantat Mbak Nin yang terlihat nungging, ku remas dengan tangan kanan, sementara tangan kiri masih meraba-raba punggung Mbak Nin, aku raba dan aku belai punggung yang putih mulus itu. Tangan ku bergerak turun menelusuri celah pantatnya, dan sekarang menuju liang kemaluannya. Kemaluan itu kemudian aku sentuh dari belakang, dan terasa sudah sangat basah dan merekah. aku belai-belai bibir luar kewanitaannya dan akhirnya ku belai-belai clitoris-nya. Merasa clitoris-nya tersentuh oleh jariku, pantat Mbak Nin semakin dinaikkan, dan terasa tegang, kuluman ke batang kejantanan ku semakin kencang dan buas. Melihat perpaduan antara belaian klitoris, punggung yang putih mulus dan kuluman rudal, suara kami jadi semakin maracau.</p>
<p style="text-align: justify;">Kocokan mulutnya terhadap Batangku semakin lama semakin dalam dan cepat. Kadang kepalanya naik dan turun, tetapi kadang kepalanya juga sedikit berputar. Sedikit perubahan gerak dari kepalanya, terasa sangat nikmat aku rasakan. Aku mulai kehilangan kendali, ada sesuatu yang bergejolak diatas pangkal batang kemaluanku. Entah mengapa, tangan kanannya menyentuh perutku dan mendorongku. Dorongannya sedikit kuat sehingga aku terduduk dikursi lagi.?Plop?!? Terdengar suara yang lucu akibat terlepasnya batang kemaluanku dari mulut mungilnya.?Sekarang giliran kamu sayang.? Seakan Mbak Nin tahu, bahwa aku sudah mulai kehilangan kendali. Mbak Nin menghentikan permainannya dan mengatur posisinya lagi.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku dapat melihat dengan jelas. Lubang kenikmatan Mbak Nin yang bewarna merah muda dan merekah itu. Aku memandanginya sejenak. Betapa indah lubang surga Mbak Nin yang membuatku seakan tak bernafas menahan gelora dan aliran listrik yang mulai over load. Jari tengah tangan kanan Mbak Nin mempermainkan lubang surganya kekiri, kekanan, keatas, dan kebawah sehingga tampak kemaluan Mbak Nin kembang seakan kembang kempis. Sesekali Mak Nin Mempermainkan clitoris-nya sendiri. Tak berapa lama, wajahnya yang cantik dengan rambutnya yang hitam legam dan panjang itu menengok kebelakang, matanya yang semula bulat kini redup, dan dari bibirnya yang indah Mbak Nin berkata,? Kamu mau ini khan?? ujar Mbak Nin yang posisinya semakin menungging untuk menunjukan keindahan lubang surganya kepada ku agar lebih jelas dan agar aku semakin gila.?Cukup sudah?.!? Pikirku. ?Aku nggak tahan lagi.? Maka aku dekatkan batang kejantananku yang sudah tegak keras keatas dengan lubang kewanitaannya yang semakin harum dan basah itu. ?Ah?? sayang??.Ufhhhh!? Aku tempelkan kepala batang ku ke clitoris-nya dan aku gesek-gesekan ke sekitar lubang kenikmatannya.</p>
<p style="text-align: justify;">?Sekarang sayang, sekarang.? Mbak Nin sudah tidak bisa menahan hawa nasfunya. Tangan kirinya menjulur kebelakang dan meraih batang kemaluanku. Mbak Nin membimbingnya mendekati gua surga itu, dan??,<br />
?Ssss??..slek!? secara perlahan dan mantap, batang kemaluanku telah terbenam di lubang kenikmatan Mbak Nin.
</p>
<p style="text-align: justify;">Aku dorong pantatku secara amat sangat perlahan sehingga batang kemaluanku pun masuk secara amat sangat perlahan pula. Mulai dari bagian kepala kemaluanku, kemudian bagian leher, kemudian bagian batang, hingga semuanya amblas sampai ke pangkal kemaluanku. ?Ahhhh???.? Mbak Nin dan akupun mendesah menahan kenikmatan yang tiada</p>
<p style="text-align: justify;">tara tersebut seiring dengan pergerakan batang kejantananku. Aku sengaja tidak langsung mengocokkan ******ku, aku diamkan semua bagian kejantannanku tetap habis amblas di lubang surganya sejenak. Aku rasakan sejenak betapa rasa lembab, basah, dan hangat yang luar biasa indah menyelimuti kemaluanku. Walaupun kemaluanku masih belum bergerak, aku dapat merasakan kemaluan Mbak Nin yang tidak hanya sempit, tapi juga dapat menghisap dan menekan-nekan kemaluanku. Tanpa menarik ******ku, aku gerakan pantatku kedepan tiga kali sehingga?., ?Bleb, bleb, bleb..!? Posisi Mbak Nin pun sedikit maju karena tekanan dari ku.</p>
<p style="text-align: justify;">?Oh?.,Ah?.., Oh?..!? Desahan Mbak Nin seiring dengan tekanan tadi. ?Sayang, cepat donk, pompa aku semau kamu!? Pinta Mbak Nin. Aku mulai menarik dengan perlahan kemaluanku sampai sebatas leher kemaluanku, kemudian aku tekan perlahan, tapi hanya sampai setengah batang kejantananku, kemudan aku tarik, aku tekan setengah, tarik, tekan, tarik tekan?. terus begitu secara berulang. Aku melakukan dengan cara yang aku baca dari buku kama sutra, yaitu, aku tarik keluar kejantananku sampai sebatas leher dan kemudian aku masukan hanya setengah dari batang kejantananku sebanyak 10 kali, dan kemudian diselingi 1 kali keluar sebatas leher dan masuk sampai amblas semua batangku dan menahannya sejenak untuk memberikan kesempatan kepada Mbak Nin untuk melakukan gerakan berputar.</p>
<p style="text-align: justify;">?Crek,crek?crek?crek.? Suara indah itu terulang sepuluh kali, diselingi dengan?.?Sleb?.? sebanyak sekali ?Plok, plok, plok, plok?!? Suara yang muncul akibat benturan antara pangkal pahaku dengan pantat putih mulus Mbak Nin membuat suasana semakin indah. Memek Mbak Nin memang gila. Betapa aku tak perlu mengangkat pantatku sedikit keatas agar mendapat gesekan dan tekanan pada bagian atas batang kemaluanku, atau ke bawah agar gesekannya lebih terasa di bawah, atau kekiri, atau kekanan?.., semua itu tidak perlu sama sekali. Kemaluan Mbak Nin yang benar-benar lubang surga itu sudah sangat sempit, sehingga menekan dan menggesek semua permukaan ******ku, dari ujung kepala sampai ke pangkal kemaluanku.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku tak bisa lagi mengatur gerakanku, semakin lama gerakanku semakin cepat, dan tekanannya pun semakin keras. Dari posisiku yang di belakang, aku dapat jelas melihat penisku keluar masuk cepat ke lubang vaginanya, dan saking pasnya, terlihat bibir vagina Mbak Nin itu tertarik keluar setiap batangku kutarik keluar.  ?Oughhh, ough?, ah?..,oh?.., kamu hebat sayang.? Mbak Nin terus mendesah dan meracau. Sesekali dengan posisinya yang menungging, tangan kanan Mbak Nin kebelakang dan menyentuh perutku untuk menahan tekanan yang aku lakukan. Aneh memang, Mbak Nin menahan laju tekanan penisku dengan tangannya, tetapi Mbak Nin terus meracau??Terus sayang, ah?, terus, terus sayang?..!?</p>
<p style="text-align: justify;">Buah dada Mbak Nin terpental-pental dan desahannya benar-benar menghanyutkan, seperti suara musik terindah yang pernah aku dengar. ?Ahhh? shh ssshhh sayang, Ohh?. enakkk? Uhhh uhhh? hmmm?Enak sayang?.terus!? Seru Mbak Nin</p>
<p style="text-align: justify;">?Aowww?.!? Tiba-tiba Mbak Nin sedikit berteriak. ?Kenapa Mbak, sakit ya?? Tanyaku yang hanya di jawab dengan senyum dan gelengan kepalanya saja ?Teruskan sayang aku suka koq.? Katanya.Aku berpikir mungkin gerakanku terlalu kuat, ditambah liang vagina Mbak Nin yang begitu sempitnya. Maka aku ambil inisiatif untuk mengangkat kaki kanannya. Aku angkat kaki kanannya agar lubang surga Mbak Nin sedikit lebih longgar, sehingga Mbak Nin dapat lebih menikmatinya.</p>
<p style="text-align: justify;">?Oghhhh, fffffff, sayang kamu memang hebat!? Katanya. Karena gesekan yang terjadi sedikit berkurang, aku semakin cepat melakukan gerakan maju mundur dengan sedikit gerakan keatas akibat terangkatnya kaki kanan Mbak Nin dengan tangan kananku. Semua hal itu tidak mengurangi kenikmatan yang aku rasakan, bahkan percintaan kami menjadi lebih variatif, sampai suatu saat aku turunkan lagi kaki kanannya dan kedua tanganku memegang pinggulnya kuat-kuat sambil sesekali meremaspantatnya yang bulat indah itu. Dan?..,?Oughhh.. sayang.. aku keluar?!!!!? Vagina Mbak Nin kurasakan semakin licin dan hangat, tapi denyutannya semakin terasa. Aku dibuat terbang rasanya. Aku hentikan gerakan maju mundurku, sekarang aku benamkan seluruh batang penisku ke liang vagina Mbak Nin sambil terus mendenyutkan batang kemaluanku. Aku tekan dengan kuat penisku sambil menahan pinggulnya yang indah. Aku yakin benar, denyutan yang aku buat di batang kemaluanku dan tekanan hebat terhadap kewanitaannya membuat orgasme Mbak Nin makin hebat dirasakannya. Terbukti dari kenikmatan orgasmenya itu,sekonyong-konyong membuatnya terbangun dari posisi nunggingnya disertai kedua tanggannya menjambak rambut kepalaku dengan kuat dan wajahnya yang menyeringai menahan gejolak kenikmatan surgawi.?Hufff, hufff,hufff?.!? Nafas Mbak Nin menunjukan dia baru saja mengalami sensasi elektrikal yang hebat menjalar di tubuhnya. Tubuhnya sedikit lemas. Aku tahan beban tubuhnya dengan tangan kiriku yang kemudian melingkari pinggulnya yang padat dan mulus itu sementara tangan kananku mengambil kursi tadi dan kemudian aku duduk di kursi itu sambil memangku dan menciumi bibirnya yang merah merekah.</p>
<p style="text-align: justify;">?Oh sayang, aku keluar, oh enaknya.? Mbak Nin berbisik padaku sambil sesekali mencium telingaku. Batang kejantananku pun masih terbenam di dalam kewanitaannya. Apa lagi dengan Mbak Nin di pangkuanku, membuat batang kemaluanku amblas habis sampai di pangkalnya. Hanya saat ini tidak terjadi gerakan-gerakan yang berarti.</p>
<p style="text-align: justify;">?Kamu belum keluar ya?? Tanya Mbak Nin, aku diam saja dengan sedikit menggelengkan kepala. Aku biarkan Mbak Nin berbicara, karena memang aku menikmatinya. Aku biarkan Mbak Nin beristirahat sebentar sambil menciumi wajah ku disertai tangannya yang terus-terusan meraba biji pelerku. Rasa hangat di batang kemaluanku masih begitu terasa, ingin rasanya aku gerakan lagi. Tapi aku bersabar, aku biarkan bidadariku mengumpulkan tenaganya untuk pertarungan tahap berikutnya. Tak berapa lama, aku coba mendenyutkan batangku. ?Ah, aow?.geli dong sayang?!? Mbak Nin berceloteh sambil disertai tawanya yang manja.?Kamu masih kuat nggak, sayang?? Aku tidak lagi terdiam, pertanyaan ini harus kujawab.</p>
<p style="text-align: justify;">?Masih donk, Mbak.? Kataku, aku masih tetap untuk berusaha menahan diri. ?Pindah kekamarku yuk?? Ajak Mbak Nin. ?Tapi jangan di lepas ya sayang, punyaku masih betah sama punyamu.? Celoteh Mbak Nin.</p>
<p style="text-align: justify;">Secara perlahan dan berhati-hati aku bangun dari kursi itu. Dengan posisi membelakangiku, aku bawa Mbak Nin keatas meja. Dan secara perlahan aku putar tubuh Mbak Nin dengan amat sangat hati-hati karena Mbak Nin tidak ingin ******ku terlepas dari memeknya, begitu pula aku. Dengan sedikit kerjasama, akhirnya kami berdua sudah saling berhadapan. Mbak Nin langsung ku gendong dengan penisku yang masih tatap tertanam. Kedua belah kaki panjang Mbak Nin mengempit pinggangku erat-erat. Aku pun melangkah ke kamar Mbak Nin.Sesampai di kamar, aku rebahkan tubuh Mbak Nin ditempat tidur yang masih rapi. Tampak olehku kedua susu Mbak Nin yang indah. Puting susu yang kemerahan itu membuatku langsung melumatnya. Mbak Nin hanya bisa mendesah dan menggigit bibir bawahnya. Ketika aku baru menggerakan pantatku keatas Mbak Nin, menghentikan gerakanku??,</p>
<p style="text-align: justify;">?Sayang, tadi kamu yang kerja, sekarang giliran aku donk! aku pengen di atas ya!? Belum sempat aku jawab, Mbak Nin sudah mendorong tubuhku, sehingga aku mau nggak mau merebahkan tubuhku diatas kasur empuk tadi. Mbak Nin sekarang sudah ada di atasku tepat membentuk sudut 90 derajat dengan tubuhku.?Luruskan kakinya sayang!?Perintah Mbak Nin sambil memegang kedua pahaku dan meluruskan kakiku. Kedua tangan Mbak Nin kemudian memegang kedua puting susunya dan meremas kedua payudaranya sendiri, dan mulai menangkat pantatnya dan menurunkannya kembali. Saat ini dialah yang memompaku.Aku baru sadar, bahwa Mbak Nin saat ini tiada lain adalah kuda liar yang tak terkendali. Dia bergerak keatas dan kebawah yang kemudian di selingi dengan memutarkan pinggulnya yangjuga disambung dengan gerakan maju mundurnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Maju, mudur, atas, bawah, kiri, kanan, putar. Serasa penisku dipermainkan seenaknya. Mbak Nin menjadikan batang kemaluanku sebagai budak nafsunya. Kedua tanganku sibuk meremas-remas payudaranya, memelintir dan mencubit punting susunya, dan memegang pinggulnya. Sesekali dia membungkukkan badannya untuk menciumiku. Aku tidak diijinkannya untuk bangun dan mencium bibir atau pun buah dadanya. Saat ini dia terus memegang kendali. ******ku semakin panas, rasa nikmat menjalar keseluruh tubuhku.?Oh?.Mbak Nin, terus Mbak?.!? Aku mulai meracau.</p>
<p style="text-align: justify;">Betapa liarnya wanita ini. Rasa hangat dan nikmat yang tak terhingga mulai merambah batang kejantananku yang semakin lama mulai aku rasakan desiran yang hebat. Aku memejamkan mata dan meremas pinggul dan susu Mbak Nin. Aku tahan gejolak kenikmatan surgawi ini. Aku tak ingin benteng pertahananku Bobol, sebelum bidadari diatasku memuaskan diri memperbudak batang kemaluanku. Kempotan memek Mbak Nin semakin lama semakin kuat. Kemaluanku terasa terjepit dan semakin terjepit. Basah, lembab, licin, dan hangat menjadi satu menciptakan sensasi kenikmatan yang luar biasa. Aku berusaha menahan serangan sang bidadari.</p>
<p style="text-align: justify;">Kejadian tersebut terus berulang. Nafas kita berdua menderu-deru. Tubuh penuh dengan keringat.?Oh?Ah?..Oh?., Oughhhh, Offff, Aowwww?!? Mbak Nin pun sudah tidak lagi mendesah. Desahannya di ganti dengan teriakan dan jeritan kecil. Gerakannya makin liar. Aku merasa kasihan melihat batangku diperbudak sedemikian rupa, tapi apa daya, kenikmatan yang aku rasakan lebih dari segalanya di dunia ini. Mendadak kulihat?..,<br />
Tubuh Mbak Nin mengejang. Mbak Nin menengadahkan kepalanya. Urat lehernya nampak, dia berteriak kecil.<br />
?Aaaaoooowwwww??..!!!?<br />
Kurasakan semburan lava panas menyelimuti batangku yang masih terbenam. ?Oh?!? kataku. Nikmat sekali rasanya. Mbak Nin menjatuhkan tubuhnya didalam pelukanku. Dia mengalami orgasme lagi, hanya kali ini dia tidak mampu berkata apa-apa lagi. Tampak betapa lelahnya dia. Tapi untuk kali ini aku tak bisa memberi waktu lagi untuk Mbak Nin beristirahat. Aku sidah hampir dipuncak, mulai terasa olehku puncak kenikmatan yang sebentar lagi aku rasakan. Aku balikkan tubuhku sehingga tubuh mulus Mbak Nin ada di bawahku.
</p>
<p style="text-align: justify;">?Oh sayang, aku tadi keluar lagi?..! Aku sudak cape??.?? Belum sempat dia selesaikanucapannya. Aku sumpal kedua belah bibirnya dengan mulutku. Aku bimbing kedua betis Mbak Nin agar bertumpu di kedua bahuku. Aku mulai memompa dengan cepat dan dahsyat.</p>
<p style="text-align: justify;">?Oh?sayang, kamu cepat keluar ya sayang?.! Aku sudah mulai lelah !?<br />
Aku terdiam dan hanya terus memompa kemaluanku sampai amblas dan menariknya keluar sampai sebatas leher. Aku sudah tidak dapat mengendalikan tubuhku sendiri. Seakan tubuhku bisa bergerak sendiri semaunya.
</p>
<p style="text-align: justify;">?Oh? ampun sayang?!? Desah Mbak NinAku sedikit takut, jikalau Mbak Nin tidak bisa memuaskan aku saat itu. Tapi aku tak perduli. Aku kemudian berinisiatif, aku keleuarkan sejenak ****** ku dari lubang hangat Mbak Nin sejenak, kemudian aku angkat pinggul Mbak Nin dan aku ambil tiga buah bantal untuk mengganjal pantat Mbak Nin. Sehingga Vagina Mbak Nin terbuka dan terlihat Itil Mbak Nin yang mencuat. Keindahan vagina Mbak Nin yang berwarna merah muda dan dihiasi dengan clitoris-nya yang kecil mungil itu membuatku semakin buas. Aku arahkan dan aku masukkan kembali batangku kedalam lubang surga milik Mbak Nin tersebut. Hanya kali ini aku memasukkannya dengan cepat dan tepat tanpa basa-basi lagi. Lali aku memompanya dan terus s memompanya dengan cepat sekali sambil jari-jemari tangan kananku mempermainkan clitoris?nya. Entah mengapa, teriakan dan desahan Mbak Nin berubah lagi, yang asalnya?..</p>
<p style="text-align: justify;">?Aku capek sayang, ampun?.., aku capek?..!?Telah Berubah menjadi?. ?Terus sayang aku sanggup keluar sekali lagi?..terus sayang?teruuuusssss!?Desahan dan jeritan kecil itu membuatku semakin semangat. Aku genjot terus, terus dan terus??!  ?Oh sayangku, aku mau keluar lagi?..!? Kata Mbak Nin ?Sebentar sayang, sebentar lagi aku juga keluar?.Tttttaah?, tttahan dulu yasayang?..!!!? Aku mulai nggak keruan.</p>
<p style="text-align: justify;">Genjotan ******ku, goyangan pinggul Mbak Nin, dan kempotan memek Mbak Nin. Membuat segalanya tak terkendali. Ketika kulihat Mbak Nin mulai menengadahkan kepalanya dan urat lehernya mulai mengejang. Aku segera mempercepat genjotanku, dan akhirnya?? ?Aaaaaakkkhhhhhhhh??.!? Kita berdua beteriak kecil, Kedua tangan Mbak Nin memegang pantatku dan menekannya dengan keras kearah memeknya sampai kejantananku amblas habis tak bersisa satu mili pun. Aku membungkukan badanku dan menyelipkan pergelangan tanganku ke ketiaknya dan telapak tanganku mengangkat kepalanya sehingga aku bisa mencium bibirnya. ?Crot??serrrrr??crot?.serr?.crot?.ser?Entah berapa kali Cairan puncak kenikmatan surgawi ku menyembur dan bertemu dengan cairan kenikmatan tiada tara nya Mbak Nin.</p>
<p style="text-align: justify;">Cairan kenikmatan kami saling bertemu di dalam vagina Mbak Nin. Mungkin sekitar 40 atau 50 detik, kita berdua saling merengkuh puncak kenikmatan itu. Kehangatan yang amat sangat indah itu menyelimuti kejantananku. ******ku terus berdenyut seiring dengan memek mbak nin yang juga berdenyut. Kita berdua tidak sanggup lagi berkata apapun juga. Tubuh Mbak Nin tergeletak di samping tubuhku. Aku berusaha untuk mengangkat tubuhnku dengan tenagaku yang terakhir. Aku cium bibirnya dan Mbak Nin pun berkata,?Yyyy?yang terakhir itu?.ad?adalah or..orgg?orgasme ku yang paling lama?..? Kita berdua pun tidur saling berpelukan sampai keesokan paginya.</p>
<p style="text-align: justify;">Semenjak itu kami bagaikan sepasang burung yang sedang kasmaran. Diluar kesibukan kami sehari-hari selalu kami gunakan untuk bercinta dan bercinta. Tiada hari yang kami lewatkan tanpa sex. Kami pun sering membaca buku tentang sex agar kami berdua selalu bisa terpuaskan, dan yang paling penting, memuaskan. Kami pun tak tahu waktu dan tempat. Kadang kami melakukannya di Garasi, di meja dapur, di sofa, di dalam mobil, di kamar mandi, di kolam renang, di halaman rumah, di atas rumput, bahkan kami pernah melakukannya di dalam lift sebuah Mall yang saat itu mendadak macet dan kami terjebak di dalamnya.</p>
<p style="text-align: justify;">
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ceritasex.cn/sepupu-keparat-punya-istri-kok-napsuin-amat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tergila-gila Penis Bengkok</title>
		<link>http://www.ceritasex.cn/tergila-gila-penis-bengkok/</link>
		<comments>http://www.ceritasex.cn/tergila-gila-penis-bengkok/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 01 Aug 2009 13:04:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cerita Sex</dc:creator>
				<category><![CDATA[Seks Umum]]></category>
		<category><![CDATA[selingkuh]]></category>
		<category><![CDATA[ayu]]></category>
		<category><![CDATA[bengkok]]></category>
		<category><![CDATA[binal]]></category>
		<category><![CDATA[buah dada]]></category>
		<category><![CDATA[cewek gairah tinggi]]></category>
		<category><![CDATA[doyan kontol]]></category>
		<category><![CDATA[kontol]]></category>
		<category><![CDATA[mesum]]></category>
		<category><![CDATA[ngentot]]></category>
		<category><![CDATA[penis]]></category>
		<category><![CDATA[penis bengkok]]></category>
		<category><![CDATA[seks]]></category>
		<category><![CDATA[susu]]></category>
		<category><![CDATA[toket]]></category>
		<category><![CDATA[toket gede]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ceritasex.cn/?p=754</guid>
		<description><![CDATA[Jam 10.00 Ayu sampai di hotel Nusantara Jl. Pasarkembang yang letaknya di sebelah selatan Stasiun Tugu Yogyakarta. Setelah mengurus administrasi pada resepsionis, ia segera mendapatkan kunci kamar no.21.&#8221;Selamat beristirahat Tante,&#8221; kata petugas resepsionis dengan mata tak berkedip memandangi buah dada Ayu yang pagi itu dibalut T-Shirt putih dan CD merah. Sehingga nampak kontras dipandang. Tapi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Jam 10.00 Ayu sampai di hotel Nusantara Jl. Pasarkembang yang letaknya di sebelah selatan Stasiun Tugu Yogyakarta. Setelah mengurus administrasi pada resepsionis, ia segera mendapatkan kunci kamar no.21.&#8221;Selamat beristirahat Tante,&#8221; kata petugas resepsionis dengan mata tak berkedip memandangi buah dada Ayu yang pagi itu dibalut T-Shirt putih dan CD merah. Sehingga nampak kontras dipandang. Tapi justru itulah yang membuat mata pemuda petugas resepsionis tak berkedip memandangi pentil Ayu.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah membuka pintu kamar, Ayu langsung duduk di sofa yang ada luar kamar tidur dengan wajah grogi. Dadanya berdegup kencang. Sampai detik ini perempuan Bali beranak satu itu masih bingung, kenapa ia bisa mempunyai keberanian seperti itu. &#8220;Apa yang telah membuatku nekat seperti ini?&#8221;, batinnya sembari matanya memandangi sekeliling kamar hotel yang ia pesan pagi tadi. Ia pun segera merebahkan dirinya ke sofa. Rok jeans yang dipakainya tersingkap ke atas membuat pahanya yang putih mulus kelihatan. Tiba-tiba ada suara ketukan pintu. Ayu segera bangun. Namun ia tidak langsung membukakan pintu. Ia nampak grogi dan segera membenahi rambutnya yang sedikit acak-acakan. Ia ingin terlihat cantik dan sexy di hadapan Yogi. Suara ketukan pintu kembali terdengar. &#8220;Saya membawa makanan yang Tante pesan&#8221;, terdengar suara dari luar.</p>
<p style="text-align: justify;">Wajah Ayu kembali tenang. Setelah pelayan hotel keluar, Ayu segera merebahkan kembali tubuhnya di atas sofa. Ia coba memejamkan matanya. Namun tiba-tiba terdengar HP nya berbunyi. Tertanyata ada SMS dari Yogi. &#8220;Sayang, kamu sudah tak sabar menungguku ya?&#8221;, begitu bunyi SMS itu. &#8220;Dasar Mas Yogi ini pandai mempermainkan nafsuku&#8221;, batinnya dengan wajah tak sabar. Tiba-tiba kembali terdengar suara HP. Ternyata masih SMS dari Yogi. &#8220;Kamu sudah siap mereguk kenikmatan bersamaku kan?&#8221;.</p>
<p><span id="more-754"></span></p>
<p style="text-align: justify;">SMS itu membuat nafsu sex Ayu memuncak. Tanpa sadar tangan kanannya meraba paha dan terus ke selangkangannya. Sedang tangan kirinya mempermainkan ke dua buah dadanya. Mata Ayu nampak merem-melek merasakan kenikmatan rabaan tangannya. Sesekali keluar desahan nikmat dari bibirnya. Di tengah kenikmatan yang ia rasakan, kembali terdengar suara ketukan pintu. &#8220;Ini pasti Mas Yogi&#8221;, batin Ayu dengan wajah gembira. Ia segera bergegas membuka pintu. Benar saja, di balik pintu berdiri laki-laki 40th yang ia tunggu sejak tadi. Belum sempat Yogi mengunci pintu kamar, Ayu segera menghujani bibir Yogi dengan ciuman. &#8220;Sabar sayang, pintunya kan belum ditutup. Bagaimana kalau ada pegawai hotel yang melihat&#8221;, kata Yogi coba mengingatkan.</p>
<p style="text-align: justify;">Rupanya nafsu Ayu sudah sampai puncak. Ia terus menghujani bibir Yogi dengan ciuman dan jilatan lidahnya. &#8220;Ayo mas, memek Ayu sudah pengin nih..?, rengek Ayu sembari berjalan menuju sofa. Ia sengaja duduk dengan sedikit menyingkapkan roknya ke atas sehingga CD pink nya kelihatan dengan jelas.Ternyata perlakuan dan rengekkan Ayu mampu membangkitkan nafsu Yogi. Setelah mengunci pintu kamar, ia segera menghampiri Ayu. Belum sempat ia duduk, Ayu sudah menyambutnya dengan ciuman dan jilatan penuh nafsu. Bibir Yogi habis dilumatnya. Ayu pun menjulurkan lidahnya. Yogi tahu apa yang diinginkan Ayu. Dengan cepat dihisapnya lidah Ayu. &#8220;Oh&#8230;.puasin Ayu ya&#8230; mas&#8230;&#8221;, desah Ayu memohon. &#8220;Iya sayang, hari ini kamu pasti puas&#8221;, jawab Yogi sembari membuka T-Shirt Ayu. Tanpa menunggu lama lagi, Ayu segera memelorotkan rok jeans yang menempel ditubuhnya. Sehingga sekarang ia tinggal memakai bra dan cd saja.<br />
Mulut mereka masih saling cium dan saling jilat. Sesekali lidah mereka bergelut, kadang di mulut Yogi dan kemudian pindah ke mulut Ayu. Tangan Yogi tak mau tinggal diam. Ia segera membuka pengait bra Ayu. Sehingga menyembullah pentil Ayu yang masih kencang itu. &#8220;Waow.., pentilmu indah sayang..&#8221;, puji Yogi sembari menatap mata Ayu dengan mesra. &#8220;Ich..mas Yogi nakal. Ayo dong, mau diapain pentil Ayu&#8221;, kata Ayu sembari mempermainkan puting sebelah kanan dengan jari-jarinya.</p>
<p style="text-align: justify;">Tiba-tiba Yogi berjalan menuju ke kamar tanpa mempedulikan permintaan Ayu. Rupanya ia ingin membuat Ayu penasaran. Ia merebahkan dirinya di atas kasur dengan kaki masih di lantai. Tak mau nafsunya hilang, Ayu segera menyusul. Ia naik ke atas perut Yogi. Lalu ia membungkuk dan menyorongkon pentilnya ke mulut Yogi. Dengan sigap mulut Yogi segere melumat pentil kanan Ayu. Dikulumnya seluruh pentil Ayu yang memang kecil itu. &#8220;Pentilmu seperti pentil gadis 17th&#8221;, kata Yogi kemudian. Tangan kanan Yogi mempermainkan puting pentil ayu yang sebalah kiri. Sedang lidahnya menjilat dan menggigit puting Ayu yang sebelah kanan.<br />
&#8220;Ayo mas, jilatin terus&#8230;..jaaannggannn&#8230;. lepaskan lidahmu dari pentilku&#8221;, erang Ayu dengan mata merem melek merasakan kenikmatan yang diperolehnya.
</p>
<p style="text-align: justify;">Bosan dengan puting, tangan kanan Yogi pun turun. Ia raba dengan lembut paha bagian dalam Ayu. Lalu tangannya segera masuk ke dalam cd Ayu. Awalnya ia raba pantat Ayu, lalu berbalik menuju ke memek Ayu. &#8220;Mas.., mainkan memek Ayu mas&#8230;mem&#8230;.mek Ayu sudah berde&#8230;nyut&#8230;&#8221;, pinta Ayu tak kuat menahan gejolak nafsu yang menghinggapi sekujur tubuhnya.Yogi segera bangun. Disuruhnya Ayu berdiri tepat dihadapannya. Ayu tahu apa yang diinginkan Yogi. Ia cepat membuka cd nya. Nampak lah memek Ayu yang berwarna kemerah-merahan. Ditengahnya terlihat menyembul keluar daging sebesar kacang. &#8220;Tuh.., klitorismu sudah pengin di jilat&#8221;, kata Yogi menggoda.Tanpa menunggu waktu lama, Ayu segera menyorongkan memeknya tepat ke mulut Yogi. Mulanya Yogi menjilati bulu-bulu tipis yang tumbuh disekitar memek Ayu. Setelah puas lidahnya segera mencari sasaran lain. Dijilatinya bagian luar memek Ayu. Setelah itu lidahnya menjilati memek bagian dalam.</p>
<p style="text-align: justify;">Dirasakannya ada cairan sedikit asin yang masuk ke dalam mulutnya. Rupanya memek Ayu sudah basah sejak tadi. &#8220;Masukkan lidahmu mas&#8230;ko&#8230;cokkkk mem&#8230;mekkku pakai lidahmu&#8221;"&#8221;,&#8217; pinta Ayu dengan suara penuh nafsu. Yogi pun menuruti permintaan itu. Ia segera menjulurkan lidahnya masuk kedalam memek Ayu. Lalu lidahnya berputar-putar di dalam memek Ayu. Sesekali digigitnya klitoris yang menyembul. Perlakuan itu membuat Ayu jadi blingsatan. Ia mendapatkan kepuasan yang sulit diungkapkan dengan kata-kata. &#8220;Oughh&#8230;mas.. enak&#8230;sek&#8230;.kali&#8230;., terus&#8230;jangan berhenti&#8230;&#8221;, erang Ayu sembari memaju-mundurkan pantatnya ke arah mulut Yogi. Yogi tak mau berlama-lama dengan permaina itu. Ia ingin segera menuntaskan nafsu Ayu. Ia memasukkan dua jarinya ke dalam memek Ayu yang sudah semakin basah. Dikocoknya memek Ayu dengan jarinya. Sementara lidahnya menjilat dan menggigit klitoris Ayu. &#8220;Mas&#8230;.Ayu nggak..tttaa&#8230;hhhhannn&#8230; Ayu mmmma&#8230;.uuuu kel&#8230;.luuuu&#8230;ar&#8230;..&#8221;, teriak Ayu liar. Gerakan pantat Ayu semakin cepat. Tak lama kemudian tubuhnya menegang dan syur&#8230;.syur&#8230;.keluarlah cairan kenikmatan dari memeknya ke mulut Yogi. Ayu segera mengambil posisi duduk berhadapan dengan Yogi. Dengan penuh nafsu di kulumnya bibir Yogi yang berisi cairan kenikmatannya sendiri. &#8220;,Hhh..h&#8230;nikmat sekali Mas&#8221;, desahnya. &#8220;Ayu..tak mau berhenti Mas. Ayu&#8230;ingin lagi&#8221;, katanya memohon. Setelah berkata seperti itu Ayu lalu mendorong tubuh Yogi. Sehingga Yogi kembali dalam posisi tidur dengan ke dua kakinya masih dilantai. Lalu Ayu kembali duduk di atas perut Yogi yang sudah sedikit buncit. Maklum sudah 40th. Ke dua tangan Yogi segera membuka kancing baju Yogi satu per satu. Sesekali dengan nakal jarinya mempermainkan puting Yogi. Setelah baju Yogi terbuka, dengan tak sabar Ayu menjilati puting Yogi. Bergantian kiri dan kanan. &#8220;Oh&#8230;lidahmu nakal sayang&#8221;, rintih Yogi kemudian. Lalu lidah Ayu menyelusuri seluruh permukaan dada Yogi. kemudian turun dan terus turun hingga sampai ke penis Yogi yang sudah menegang. &#8220;Inilah yang membuat memek Ayu ketagihan&#8221;, goda Ayu sembari mengelus-elus penis Yogi dari luar celana. Tangannya membuka resluiting celana Yogi dengan lincah. Lalu Ayu turun dari tempat tidur. Kemudian ditariknya celana Yogi.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah itu Ayu segera berlutut dan mencium buah zakar Yogi. Sementara tangannya mengocok penis Yogi dengan keras. Penis Yogi semakin tegang. Dalam posisi tegang seperti itu, nampak jelas bahwa penisnya bengkok ke kanan. &#8220;Benda jelek dan bengkok kayak gini kok dicari&#8221;, goda Ayu masih terus mengocok penis Yogi. &#8220;Tapi kamu suka kan&#8230;?, ujar Yogi sembari mendingakkan kepalanya. Terlihatlah mulut dan lidah Ayu yang sedang mempermainkan buah zakarnya. &#8220;Ayo sayang, cium dan jilati benda yang bengkok itu&#8221;, pinta Yogi. Ayu segera menuruti permintaan itu. Ia mempermainkan lidahnya diseluruh permukaan kulit penis Yogi. Sesekali ia sengaja menggigit penis itu dengan gemas. Ia juga menyelingi dengan menjilat lubang penis Yogi. Perlakukan itu membuat Yogi blingsatan. Lalu ia menyuruh Ayu untuk naik ketempat tidur. Ayu tahu, Yogi memintanya naik ke tempat tidur karena Yogi ingin menjilati memeknya lagi. Itulah sebenarnya yang ditunggu oleh Ayu. Karena ia masih ingin memperoleh orgasme lagi. Sehingga posisi mereka sekarang adalah 69. Posisi yang sangat disenangi oleh banyak orang. &#8220;Cepat puasi memek ku dengan lidahmu sayang&#8230;.&#8221;, pinta Ayu begitu memeknya sudah berada tepat dihadapan mulut Yogi.</p>
<p style="text-align: justify;">Sementara ia sendiri tidak berhenti menjilat dan menggigit penis bengkok Yogi. Dengan ganas Yogi segera melumat memek Ayu. Dari selangkangan sampai lubang memek Ayu ia telusuri dengan lidahnya. &#8220;Mas&#8230;.nikmat&#8230;banget mas&#8230;teruskan&#8230;..jjaa&#8230;ngan&#8230;..ber&#8230;hhhennnti i&#8230;,&#8221; rintih Ayu kenikmatan. Gerakan lidah Yogi semakin menggila. Seluruh permukaan memek Ayu habis dilumatnya. Tiba-tiba Yogi menghentikan jilatannya. &#8220;Bagaimana sayang? Enak&#8230;?, tanya Yogi kemudian. &#8220;Please..jangan berhenti Mas, jilati&#8230;gigit&#8230; memek Ayu sampai habis Mas&#8230;.&#8221;, begitulah jawaban Ayu dengan liar. Yogi segera melakukan apa yang jadi permintaan Ayu. Lidahnya kembali menjilati seluruh memek Ayu dengan penuh nafsu. &#8220;Ooohh&#8230;enak se..kkka&#8230;..liiii sayang&#8230;Ayu mmmaa&#8230;uu..kel&#8230;..llllluuuuuu&#8230;..aaaaaarrrrr&#8221;, rintih Ayu nikmat. Yogi mempercepat gerakan lidahnya di lubang memek Ayu. Lidahnya ia maju mundurkan layaknya penis. &#8220;Ayuu&#8230;..ngggak&#8230;ku&#8230;&#8230;&#8230;aaaa&#8230;&#8230;.aaaatttt. &#8230;&#8230;say&#8230;..yyyyaaaa&#8230;ng&#8230;. Oughhh&#8230;..e&#8230;..nnnnaaaa&#8230;&#8230;nakkkkkk, Aaa..yyyyyuuu&#8230;..kkkkeeee&#8230;&#8230;llllluuuuu&#8230;&#8230;aa aaaarrrrr&#8230;&#8230;.&#8221;, jerit Ayu keras sekali.<br />
Kembali Ayu memperoleh orgasme. Cairan kenikmatannya kembali memenuhi mulut Yogi. Seperti orgasme yang pertama, kali ini Ayu pun ingin menelan dan merasakan cairan kenikmatannya sendiri. &#8220;Bagi ke Ayu dong sayang..&#8221;, pintanya manja. Ia segera mengulum mulut Yogi. Maka cairan kenikmatan Ayu pun mereka bagi berdua.
</p>
<p style="text-align: justify;">Dengan sisa-sisa tenaga yang masih ada, Ayu kembali mengulum penis Yogi yang rupanya sudah mulai mengendor tegangannya. Namun berkat kelihaian lidahnya, dalam waktu singkat penis Yogi sudah kembali tegak. Namun karena bengkok penis Yogi tidak bisa berdiri lurus. Tanpa diminta Ayu kembali mengambil posisi di atas Yogi. Lalu ia menuntun penis itu menuju lubang memeknya yang masih ngilu. &#8220;Kamu tidak istirahat dulu sayang?&#8221;, tanya Yogi heran. &#8220;Untuk benda antik ini memekku tak akan pernah bosan. &#8220;Bikin memekku ketagihan dan bikin memekku tergila-gila&#8221;, jawab Ayu sembari menurunkan pantatnya ketika penis Yogi sudah memasuki lubang memeknya. Namun ternyata penis Yogi tidak bisa masuk ke dalam lobang memeknya. Ayu baru ingat jika penis kesayangannya itu bengkok ke kanan. Ayu segera memiringkan posisinya agak ke kiri. Dengan posisi itu penis Yogi dapat masuk dengan penuh ke lubang memeknya. Blllesssss begitu suara pertemuan dua alat kenikmatan milik Ayu dan Yogi. Ayu segera menggerakkan pantatnya naik turun.</p>
<p style="text-align: justify;">Gerakan itu diimbangi Yogi dengan gerakan gangsing (berputar).Rupanya Ayu sangat menikmati gerakan yang dilakukan Yogi. &#8220;Mas&#8230;.penismu memang nikmat&#8230;.ayo&#8230;lebih&#8230;.keras sayang&#8230;&#8230;&#8221;, erang Ayu kenikmatan.<br />
Tiba-tiba ia membungkukkan badannya dan mulutnya segera mencari mulut Yogi. Begitu ketemu, mulut mereka berdua kembali beradu. Lidah mereka kembali bergelut dan saling memilin. Bosan dengan mulut Yogi, Ayu segera berpindah ke puting susu Yogi. Dijilatnya ke dua puting susu itu bergantian. &#8220;Terus sayang&#8230;oughhh&#8230;.Ayu&#8230;.jjjiii&#8230;.llllaaa&#8230;tann nn&#8230;mu&#8230;eeennnaa&#8230;.kkkkk:, erang Yogi tak kuat menahan sensasi kenikmatan yang ditimbulkan oleh jilatan lidah Ayu ke kedua puting susunya. Yogi segera memeluk tubuh Ayu dengan arat. Lalu ia melakukan gerakan berguling. Sehingga posisi mereka berubah menjadi Yogi di atas dan Ayu di bawah. Yogi segera memompa memek Ayu dengan penuh semangat. &#8220;Oughhh yang keras sayang&#8230;.jjjangaaannnnn ber&#8230;.hhhennnn&#8230;..tttttiiii&#8221;,rintih Ayu kemudian. Rintihan itu semakin membuat Yogi bersemangat. Nafsunya juga makin meningkat. Sekarang gerakannya tidak hanya maju mundur. Ia kembali mengeluarkan senjata rahasianya berupa gerakan gangsing (berputar). Ayu merasakan seluruh isi memeknya diaduk-aduk dengan penis Yogi. &#8220;Aaahhhh, ayoo&#8230;..hab&#8230;bi&#8230;.si&#8230;mem&#8230;..mekkk&#8230;ku..ough &#8230;ennnakkkkbanget&#8230;saya<br />
Yogi semakin mengintensifkan gerakannya. Ia tak mempedulikan keringatnya yang mengucur membasahi tubuhnya. Bahkan ke dua tangannya tak mau tinggal diam. Kedua pentil Ayu menjadi sasaran nafsunya yang memuncak. &#8220;Ayu&#8230;.nggak&#8230;.kkkuuu&#8230;.aaaaattt.. lllaaa..ggggiii..Ayu&#8230;kkkkeeee&#8230;..lllluuuu&#8230;arr ..&#8221;, teriak Ayu dengan liarnya. &#8220;Aku jjuu&#8230;gggga&#8230;.ssaa&#8230;.yyyyaaaanngggg&#8230; kita ke&#8230;llluuaa&#8230;..rrr sama-sama&#8230;&#8221;. jawab Yogi sembari mempercepat gerakannya.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Ough&#8230;..pennn&#8230;nisss&#8230;mu&#8230;en..nak&#8230;.ba..nget .., Ayu kkkkee&#8230;llluuu&#8230;aaarrrr:, jerit Ayu kenikmatan.<br />
&#8220;Aku&#8230; jjju&#8230;ggaa&#8230; creeeett&#8230;creeet&#8230;..&#8221;, begitulah suara air mani Yogi yang tumpah memasuki lubang memek Ayu. Tak lama kemudian tubuh Ayu nampak lunglai terbaring disamping tubuh Yogi. &#8220;Kamu puas sayang?&#8221;, tanya Yogi sembari mengecup kening Ayu. Ayu hanya tersenyum. Ia membalas kecupan itu dengan jilatan di mulut dan leher Yogi.<br />
&#8220;Kapan kita bisa memadu kenikmatan lagi Mas?&#8217;, tanya Ayu sendu. &#8220;Jujur mas, aku masih ingin mereguk kenikmatan bersamamu&#8221;, lanjutnya kemudian.
</p>
<p style="text-align: justify;">Akhirnya mereka berdua berjanji suatu saat, bila ada kesempatan akan kembali bertemu. Entah di Bali atau di Yogya.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ceritasex.cn/tergila-gila-penis-bengkok/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mencoba kenjatanan prajurit</title>
		<link>http://www.ceritasex.cn/mencoba-kenjatanan-prajurit/</link>
		<comments>http://www.ceritasex.cn/mencoba-kenjatanan-prajurit/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 01 Aug 2009 12:15:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cerita Sex</dc:creator>
				<category><![CDATA[Daun Muda]]></category>
		<category><![CDATA[Ekshibionis]]></category>
		<category><![CDATA[Gangbang Rame Rame]]></category>
		<category><![CDATA[Seks Umum]]></category>
		<category><![CDATA[anal]]></category>
		<category><![CDATA[anal seks]]></category>
		<category><![CDATA[binal]]></category>
		<category><![CDATA[dewi]]></category>
		<category><![CDATA[hisap]]></category>
		<category><![CDATA[kentot]]></category>
		<category><![CDATA[liar]]></category>
		<category><![CDATA[memek]]></category>
		<category><![CDATA[ngentot]]></category>
		<category><![CDATA[orgy]]></category>
		<category><![CDATA[prajurit]]></category>
		<category><![CDATA[seks liar]]></category>
		<category><![CDATA[seks party]]></category>
		<category><![CDATA[seks rame rame]]></category>
		<category><![CDATA[susi]]></category>
		<category><![CDATA[toket]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ceritasex.cn/?p=740</guid>
		<description><![CDATA[Pada suatu sore saat aku dengan Dewi temanku dalam perjalanan di jalan bebas hambatan, waktu itu hujan cukup deras sehingga jalanan kurang nampak jelas dari kaca mobil kami. Dewi yang memegang setir pada waktu itu sebenarnya juga mengendarai dengan hati-hati, tapi karena sedang apes mobil yang kami naiki itu keluar jalur dan mobilnya terperosok ke [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Pada suatu sore saat aku dengan Dewi temanku dalam perjalanan di jalan bebas hambatan, waktu itu hujan cukup deras sehingga jalanan kurang nampak jelas dari kaca mobil kami. Dewi yang memegang setir pada waktu itu sebenarnya juga mengendarai dengan hati-hati, tapi karena sedang apes mobil yang kami naiki itu keluar jalur dan mobilnya terperosok ke dalam parit. Untung Dewi tidak ngebut sehingga kami berdua selamat dan tidak mengalami lecet sedikit pun. Karena mobilnya terperosok ke dalam parit, maka kami tidak bisa langsung membawa mobil ke jalur yang semestinya lagi.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Waduh.. Sus! Nggak bisa keluar nih bannya, mana HP-ku habis batterainya, wah! Gimana nih?&#8221; Dewi panik dan sepertinya kehabisan akal.<br />
&#8220;HP-ku juga nih, mana hujan lagi, sepi kendaraan lagi, kalau gini sich! Meski ada orang yang memperkosa kita nggak pa-pa deh! Asal kita diantar pulang saja&#8221;, aku ngomong sekenanya.<br />
&#8220;Gila kau Sus, tapi benar juga asal jangan kasar-kasar kali ya, hehehe..!&#8221;<br />
&#8220;Loh! Semakin kasar semakin nikmat lagi, hahaha..!&#8221; kami tertawa seakan-akan kami sudah terlepas dari masalah.<br />
&#8220;Sus, kalau kita di dalam mobil saja, kita akan di sini sampai mampus&#8221;, gerutu Dewi.<br />
&#8220;Habis gimana lagi, di luar kan hujan gitu.&#8221;<br />
&#8220;Yah kamu, nggak takut diperkosa, masak takut sama hujan, ya sudah aku saja yang keluar, kucoba dorong mobil ini keluar dari lubang&#8221;, Dewi nekat dengan semangat empat lima dia keluar dan mulai mendorong moncong depan mobil sialan ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku melihat Dewi berusaha dengan keras dan mengerahkan seluruh tenaganya, tapi mobil sialan ini tidak bergerak sedikit pun.<br />
&#8220;Sus! Hidupin mesinnya!&#8221; Dewi teriak-teriak, kuhidupkan mesin lalu giginya kuganti gigi mundur, ternyata mobil hanya bergeming sedikit saja. Lalu aku ikut keluar dan juga mencoba mendorong sama-sama dan ternyata tidak membawa perubahan yang berarti.<br />
&#8220;Ya.. nggak bisa juga Wik&#8221;, keluhku.<br />
&#8220;Iyah, tapi bodimu cukup bagus basah-basah gini Sus..&#8221;<br />
&#8220;Kamu itu mabok ya? Tapi bodimu juga terlihat bagus&#8221;, lalu kami tertawa-tawa.<br />
<span id="more-740"></span><br />
&#8220;Hei..! Sus itu ada mobil, kita cegat yuk&#8221;, sambil Dewi menunjuk ke arah mobil truk yang semakin mendekat, dan kemudian kami bergegas berlari sampai ke tengah jalan dan melambai-lambaikan kedua tangan kami. Dan kami berhasil, truk itu ternyata adalah truknya tentara.<br />
&#8220;Kenapa kalian? Kenapa dengan mobilnya?&#8221; Teriak supir truk, dan kami menghampirinya, &#8220;Itu Pak mobil kami masuk parit, jadi mobil kami tidak bisa jalan lagi nih Pak!&#8221; kujawab dengan nada yang mesra.<br />
&#8220;O iya! Hei! Anak-anak bantu nyonya-nyonya ini ayo cepat.&#8221; Kemudian turun empat orang dari belakang truk itu.<br />
&#8220;Mari Nyonya, anda yang pegang kemudi&#8221;, kata salah satunya dengan tegas kepadaku, lalu kujawab, &#8220;Loh, kok Nyonya sih, kan aku masih muda dan single lagi&#8221;, sambil kugoda dia, huh badannya tegap, tampangnya nggak jelek-jelek amat, tapi yang penting kan bodinya kekar.</p>
<p style="text-align: justify;">Kucoba menghidupkan mesin lagi beberapa kali tapi tak mau hidup-hidup, waduh kenapa ya?, dan kulihat ternyata bensinnya sudah habis.<br />
&#8220;Waduh Mas bensinnya habis, ada cadangan ngak mas-mas ini&#8221;, teriakku.<br />
&#8220;Waduh maaf Nona kami tak punya..&#8221;<br />
&#8220;Yah sudah, kalau gitu kami ikut kalian saja&#8221;, setelah kami mengambil tas, kami langsung naik truk mereka.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah masuk, dengan santainya aku melepas bajuku yang basah di hadapan keempat prajurit yang tidak jelas pangkatnya itu, kulihat mereka menatap kami tanpa berkedip sedikit pun, lalu kudekati salah satu dari mereka setelah pakaianku terlepas semua. &#8220;Kenapa? suka dengan bodiku hmm..&#8221; godaku. Kulihat jakunnya naik turun dan matanya tak henti-hentinya melihat payudaraku yang boleh dibilang montok dan seksi cukup mengoda pokoknya. Lalu kupegang tangannya, kudekatkan ke bongkahan payudaraku, &#8220;Gruungg!&#8221; suara itu tiba-tiba merusak suasana hening, &#8220;Hei! Jangan berangkat dulu&#8221;, mereka berempat bergegas mendekati jendela sopir, entah apa yang mereka bicarakan.<br />
&#8220;Sus, kamu sudah gila ya?&#8221; tegur Dewi yang terlihat agak malu-malu tapi mau.<br />
&#8220;Sudahlah, lagian kita kan kedinginan butuh penghangat dong&#8221;, sambil kucubit susu kirinya dan Dewi pun tersenyum dan mulai melepas bajunya.
</p>
<p style="text-align: justify;">Mesin truk tak lama kemudian mati lagi dan keempat prajurit itu dengan cepat melucuti bajunya masing-masing. &#8220;Nona jangan salahkan kami, karena kami sudah empat bulan tidak pernah menyentuh wanita, mungkin nanti agak kasar&#8221;, kata salah seorang prajurit yang hanya tinggal celana dalamnya saja yang menempel di tubuhnya. Kemudian dia mendekap tubuhku lalu langsung melumat halus bibirku, ternyata dia mahir memainkan lidahnya, nafasku habis rasanya, dan sekilas kulihat prajurit yang lain menggelar terpal dalam tuk yang cukup luas itu dan kulihat Dewi sudah mulai dikerjai seorang prajurit yang mulai membelai, mencium dan mengulum dada montok milik Dewi.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah beberapa saat berciuman, prajurit yang berhadapan denganku mulai mencium leher di bawah telingaku sambil mendesah-desah merasakan kenikmatan, setelah itu dia merambat mengerjai susu sebelah kiriku dengan liar dan ganas. Ssst! Sunguh nikmat sekali. Dengan tiba-tiba badanku ditarik lalu dibaringkan ke atas terpal kasar di lantai truk itu. Sekilas kulihat supir tadi juga mulai naik, kemudian dengan tergesa-gesa melepas pakaiannya sampai polos, lalu mendekatiku dan menuju selangkanganku, kemudian dia menjilati liang kewanitaanku, langsung aku mendesis dan mengeram, dengan tiba-tiba prajurit yang tadi membaringkanku langsung menghimpit kepalaku dengan selangkangannya, kemudian dengan cepat kulepas celana dalamnya. Setelah keluar batang kemaluannya kemudian langsung kulahap batang kemaluan yang lumayan besar itu. Kukulum-kulum dan kusedot kuat-kuat hingga prajurit itu mengeram-ngeram sambil menekan-nekan kepalaku sampai aku sesak nafas. Sesekali aku mendengus dan mendesis akibat ulah supir truk yang mejilat dan menggigit lembut klitorisku, sampai tubuhku mengejang lalu tak lama kemudian sepertinya tumpah semua cairan dalam liang kewanitaanku.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku tetap sibuk dengan batang kemaluan yang ada dalam mulutku lalu kurasakan payudaraku ada yang meremas dan sesekali dikulum-kulum. Sungguh kewalahan aku melayani mereka. Dengan tiba-tiba aku mendengar erangan Dewi tepat di sebelah kiri kupingku, ternyata dia sedang dalam keadaan tengkurap di antara kedua prajurit. &#8220;Gilaa Suss.. ughh.. sst!&#8221; Dewi mulutnya ngomel-ngomel nggak karuan sambil merem-melek tak berdaya. Gila, Dewi dikerjai depan belakang. Lalu prajurit-prajurit yang mengerjaiku berusaha membimbingku untuk nungging, setelah nungging di atas salah seorang dari mereka dan setelah batang kemaluan prajurit di bawahku tepat di antara bibir kewanitaanku, pantatku ditarik dengan keras-keras hingga masuk semua betang kemaluan prajurit itu dengan lancar karena liang kewanitaanku sudah licin.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah beberapa kali genjotan prajurit yang lain berusaha memasukkan batang kemaluannya ke dalam anusku. &#8220;Ssst.. aah.. aah!&#8221; Gila sakit banget, baru kali ini anusku digarap orang. &#8220;Aaakkh..!&#8221; aku menjerit sekuat tenaga begitu batang kemaluan prajurit yang besar itu masuk ke dalam anusku. Selang beberapa saat, terasa juga nikmatnya gesekan dari dua lubangku yang sebelumnya tidak terbayang, meski rasa sakit masih menyertai. Kemudian tubuhku mengejang dan sampailah aku pada klimaks kedua, tapi kuperhatikan kedua prajurit itu masih sibuk menggenjotku. Pelir besar tiba-tiba berada di wajahku, kemudian peler itu didorongnya ke mulutku yang kemudian kukulum dan kusedot, di sela-sela desisan dan eranganku. &#8220;Ayo Nona sedot yang kuat!&#8221; kata prajurit itu sambil menekan-nekan kepalaku. &#8220;Uuugh.. aakh.. esst!&#8221; suara geraman dan desisan silih berganti saling sahut menyahut dalam truk itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Saat kulihat di sebelah, Dewi terkapar dan lemas, sesekali dia mengeram karena prajurit itu masih getol menyetubuhi Dewi. Gila rasanya aku mau keluar untuk ketiga kalinya sebentar lagi, beberapa saat kemudian kurasakan kedua prajurit yang menyetubuhiku depan belakang mengeram serta merangkul kuat-kuat tubuhku dan kemudian kurasakan liang kewanitaan dan duburku tersembur cairan yang hangat hampir bersamaan, aku pun mencapai klimaks yang ketiga.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah aku mencapai klimaks, aku semakin bersemangat mengulum dan menyedot batang kemaluan di hadapanku sampai pada akhirnya cairan hangat itu menyembur memenuhi rongga tenggorokanku. Lalu prajurit itu melepaskanku dan bergerak menjauhiku. Dan kulihat Dewi pun mulai di tinggal sendirian, kemudian kelima prajurit itu mendekat. &#8220;Ayo sini kita gantian, aku pingin rasain juga dia&#8221;, kata salah satu dari mereka sambil tertawa-tawa, waduh habis aku.</p>
<p style="text-align: justify;">Dua prajurit yang menyetubuhi Dewi mendekat, lalu satu dari mereka menggendongku dan kemudian setelah pelernya tepat di tengah-tengah liang kewanitaanku, aku sedikit diturunkan dan amblas sudah batang kemaluannya tertelan liang kewanitaanku tanpa halangan. Aku disetubuhinya sambil berdiri, sambil tangannya tak henti-hentinya naik turun dengan posisi aku merangkul erat tubuhnya, kemudian dari belakang duburku disodok peler dari belakang, aku menjerit dan mengeram kesakitan, buah dadaku digerayanginya dengan brutal.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah beberapa saat aku dikerjain berdiri, aku diturunkan kemudian aku disuruh mengangkangi seorang prajurit, dan setelah pas masuklah kembali peler besar itu dalam liang kewanitaanku, dan yang lain menyusul menimpaku dari belakang, dan bukannya masuk ke duburku melainkan juga masuk ke dalam liang kewanitaanku, gila ini prajurit, dengan kasar dan brutal akhirnya masuk juga pelernya meski hanya setengahnya, tapi sakitnya bukan main aku menjerit-jerit minta ampun tapi tidak di gubrisnya. Karena mungkin tidak memuaskan dia, maka peler yang masuk hanya setengah itu dicabutnya kemudian dengan serta-merta menyodokkan ke duburku dengan keras, lalu mengosoknya dengan brutal, tak lama kemudian dia mencapai klimaks, setelah beberapa saat lalu batang kemaluannya dicabutnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Sekarang aku berkonsentrasi pada satu orang saja, aku merubah posisiku dengan posisi nangkring di atas selangkangannya, kemudian aku mulai naik turun dan sedikit goyang kanan kiri, hingga tak lama kemudian pertahanannya terlihat sedikit goyang, begitu pula aku sepertinya aku akan mencapai klimaks keempat kalinya. Setelah beberapa saat kurasakan liang kewanitaanku di sembur cairan hangat dan kemudian aku pun mencapai klimaks yang keempat kalinya, kami pun saling menggeram, lalu aku menggulirkan tubuhku di samping prajurit yang terlihat lemas. Kulihat Dewi masih di kerjai tiga orang prajurit, Dewi meringis-ringis sambil terus dijejali batang kemaluan prajurit yang besar itu. Karena aku merasa kasihan dengan Dewi dengan sedikit sempoyongan kuhampiri mereka kemudian kutarik salah satu dari mereka yang sedang getol-getolnya ngerjai dubur Dewi lalu kukangkangi dia, setelah tepat posisi pelernya diantara bibir kewanitaanku, kududuki dan langsung masuk seluruh batang kemaluan prajurit itu. Kugoyang-goyang dengan gencar hingga prajurit itu kewalahan menghadapi seranganku, membuatnya tak kuasa menahan lahar spermanya, menyemburlah spermanya dalam liang kewanitaanku. Karena aku belum mencapai klimaks lagi kepalang tanggung sehinga aku tetap menggoyang pinggulku sampai aku mencapai klimaks.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah selesai prajurit-prajurit itu mengerjaiku dan Dewi mereka terlihat lelah. Aku menghampiri Dewi, kulihat wajahnya sudah lelah, &#8220;Gimana Wik?&#8221; bisikku. &#8220;Wah! habis aku, sampai aku klimaks lima kali Sus&#8221;, Dewi menjawab pertanyaanku dengan sisa-sisa tenaganya. Setelah itu kami minta diantar ke rumah kontrakanku dan kemudian aku menghubungi jasa mobil derek kemudian kami istirahat setelah kami mandi bersama.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ceritasex.cn/mencoba-kenjatanan-prajurit/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Koleksi Foto Bugil Chika Part 5</title>
		<link>http://www.ceritasex.cn/koleksi-foto-bugil-chika-part-5/</link>
		<comments>http://www.ceritasex.cn/koleksi-foto-bugil-chika-part-5/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 01 Aug 2009 12:03:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cerita Sex</dc:creator>
				<category><![CDATA[Daun Muda]]></category>
		<category><![CDATA[Foto Mesum]]></category>
		<category><![CDATA[abg]]></category>
		<category><![CDATA[bandung]]></category>
		<category><![CDATA[binal]]></category>
		<category><![CDATA[bugil]]></category>
		<category><![CDATA[chika]]></category>
		<category><![CDATA[emut kontol]]></category>
		<category><![CDATA[liar]]></category>
		<category><![CDATA[memek]]></category>
		<category><![CDATA[ngentot]]></category>
		<category><![CDATA[seks]]></category>
		<category><![CDATA[vagina]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ceritasex.cn/?p=717</guid>
		<description><![CDATA[]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2009/08/chika-86.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-723" title="chika-86" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2009/08/chika-86-225x300.jpg" alt="chika-86" width="225" height="300" /></a></p>
<p><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2009/08/chika-81.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-718" title="chika-81" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2009/08/chika-81-225x300.jpg" alt="chika-81" width="225" height="300" /></a></p>
<p><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2009/08/chika-82.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-719" title="chika-82" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2009/08/chika-82-300x225.jpg" alt="chika-82" width="300" height="225" /></a></p>
<p><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2009/08/chika-83.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-720" title="chika-83" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2009/08/chika-83-225x300.jpg" alt="chika-83" width="225" height="300" /></a></p>
<p><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2009/08/chika-84.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-721" title="chika-84" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2009/08/chika-84-225x300.jpg" alt="chika-84" width="225" height="300" /></a><br />
<span id="more-717"></span></p>
<p><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2009/08/chika-85.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-722" title="chika-85" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2009/08/chika-85-225x300.jpg" alt="chika-85" width="225" height="300" /></a></p>
<p><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2009/08/chika-87.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-724" title="chika-87" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2009/08/chika-87-225x300.jpg" alt="chika-87" width="225" height="300" /></a></p>
<p><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2009/08/chika-88.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-725" title="chika-88" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2009/08/chika-88-225x300.jpg" alt="chika-88" width="225" height="300" /></a></p>
<p><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2009/08/chika-89.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-726" title="chika-89" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2009/08/chika-89-224x300.jpg" alt="chika-89" width="224" height="300" /></a></p>
<p><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2009/08/chika-90.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-727" title="chika-90" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2009/08/chika-90-225x300.jpg" alt="chika-90" width="225" height="300" /></a></p>
<p><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2009/08/chika-91.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-728" title="chika-91" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2009/08/chika-91-242x300.jpg" alt="chika-91" width="242" height="300" /></a></p>
<p><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2009/08/chika-92.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-729" title="chika-92" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2009/08/chika-92-300x225.jpg" alt="chika-92" width="300" height="225" /></a></p>
<p><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2009/08/chika-93.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-730" title="chika-93" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2009/08/chika-93-267x300.jpg" alt="chika-93" width="267" height="300" /></a></p>
<p><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2009/08/chika-94.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-731" title="chika-94" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2009/08/chika-94-225x300.jpg" alt="chika-94" width="225" height="300" /></a></p>
<p><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2009/08/chika-95.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-732" title="chika-95" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2009/08/chika-95-225x300.jpg" alt="chika-95" width="225" height="300" /></a></p>
<p><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2009/08/chika-96.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-733" title="chika-96" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2009/08/chika-96-300x225.jpg" alt="chika-96" width="300" height="225" /></a></p>
<p><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2009/08/chika-97.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-734" title="chika-97" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2009/08/chika-97-225x300.jpg" alt="chika-97" width="225" height="300" /></a></p>
<p><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2009/08/chika-98.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-735" title="chika-98" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2009/08/chika-98-300x225.jpg" alt="chika-98" width="300" height="225" /></a></p>
<p><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2009/08/chika-100.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-736" title="chika-100" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2009/08/chika-100-225x300.jpg" alt="chika-100" width="225" height="300" /></a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ceritasex.cn/koleksi-foto-bugil-chika-part-5/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
