<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Cerita sex porno ngentot mesum perek ayam kampus &#187; cuki</title>
	<atom:link href="http://www.ceritasex.cn/tag/cuki/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.ceritasex.cn</link>
	<description>Kumpulan cerita sex, foto bugil, dan film porno</description>
	<lastBuildDate>Wed, 08 Feb 2012 13:12:08 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
		<item>
		<title>Nikmat Karaoke Membawa Sengsara Bagian 2</title>
		<link>http://www.ceritasex.cn/nikmat-karaoke-membawa-sengsara-bagian-2/</link>
		<comments>http://www.ceritasex.cn/nikmat-karaoke-membawa-sengsara-bagian-2/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 12 Jan 2012 12:11:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cerita Sex</dc:creator>
				<category><![CDATA[Daun Muda]]></category>
		<category><![CDATA[Pemerkosaan]]></category>
		<category><![CDATA[Seks Umum]]></category>
		<category><![CDATA[selingkuh]]></category>
		<category><![CDATA[Toket gede]]></category>
		<category><![CDATA[cuki]]></category>
		<category><![CDATA[klitoris]]></category>
		<category><![CDATA[kontol]]></category>
		<category><![CDATA[memek]]></category>
		<category><![CDATA[ngentot]]></category>
		<category><![CDATA[orgasme]]></category>
		<category><![CDATA[seks]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ceritasex.cn/?p=3272</guid>
		<description><![CDATA[&#8220;Uh.. saatnya untuk sedikit beraksi Ded!&#8221; kata Dedi dalam hati, lalu ia berdiri di belakang Shinta. Perlahan-lahan ia mendekati Shinta sampai kemaluannya menyentuh pantat Shinta. Shinta sedikit terkejut. &#8220;Hey, dia sengaja nggak ya?&#8221; pikirnya ragu. Sambil terus membungkuk, Shinta berpura-pura terus sibuk. Tapi sekarang ia menggerakkan pinggulnya pelan ke belakang sehingga menempel ketat dengan tubuh [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">&#8220;Uh.. saatnya untuk sedikit beraksi Ded!&#8221; kata Dedi dalam hati, lalu ia berdiri di belakang Shinta. Perlahan-lahan ia mendekati Shinta sampai kemaluannya menyentuh pantat Shinta. Shinta sedikit terkejut. &#8220;Hey, dia sengaja nggak ya?&#8221; pikirnya ragu. Sambil terus membungkuk, Shinta berpura-pura terus sibuk. Tapi sekarang ia menggerakkan pinggulnya pelan ke belakang sehingga menempel ketat dengan tubuh Dedi di belakang. Dedi mencoba mengatur nafasnya supaya tidak terdengar memburu. &#8220;Lho?? dia tau nggak sih?&#8221; pikirnya sesak. Shinta merasakan ada sesuatu yang keras menempel di pantatnya. &#8220;Ha ha sepertinya Dedi sedang terangsang. Satu sentuhan lagi lalu kuminta dia pulang..&#8221; batin Shinta riang. Lalu ia seperti membaca sesuatu di layar sambil menggerak-gerakkan pantatnya ke kanan dan ke kiri perlahan.</p>
<p style="text-align: justify;">Dedi benar-benar menikmati keadaan itu.&#8221;Oh ternyata nggak sesulit yang kukira, sebentar lagi kita pasti akan bercinta,&#8221; pikirnya sambil meletakkan tangannya di pinggul Shinta.&#8221;Ok Ded ini sudah aku print-kan, kamu tinggal belanja bahan-bahan saja, ok? kamu kalo keluar nanti tutup kembali ya pintunya aku mau kirim e-mail buat sepupuku dulu di sini,&#8221; kata Shinta sambil berbalik dan menyodorkan selembar kertas.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Aaa? dia menyuruhku pulang? jadi tadi itu cuma khayalan saja?&#8221; kata Dedi sambil mengambil kertas dari hadapannya. Ia berjalan keluar dengan pelan berharap Shinta memanggilnya lagi, ternyata tidak!&#8221;He he berani taruhan, pasti Dedi menyesal kalau pernah meminta obat ke sini,&#8221; batin Shinta sambil tersenyum lalu ia mulai mengetik surat.</p>
<p style="text-align: justify;">Tiba-tiba ia merasa tubuhnya tertarik ke belakang. Lalu tubuhnya terangkat dalam pelukan seseorang. Shinta mencoba melihat wajah seseorang yang mengangkatnya.&#8221;Hey Ded! ada apaa? eh turunin aku dong.. Dedi! ini nggak lucu ya?!&#8221; kata Shinta.&#8221;Shinta, sorry ya.. aku nggak bisa tahan. Kamu harus nurut, ok? Aku nggak pengen kamu luka,&#8221; kata Dedi dingin sambil membuang tubuh Shinta di sofa. Shinta menggigil ketakutan.&#8221;Dedi, kamu mau apa? jangan ya? Ded..&#8221; pinta Shinta menghiba ketika ia melihat Dedi membuka celana panjangnya. Dedi sudah tak peduli lagi. &#8220;Dengar Shinta, kalau kamu terus bicara aku bakal&#8230;&#8221; Plak! Dedi merasa pipinya panas. Mendadak birahinya berubah menjadi amarah. Dicengkeramnya baju Shinta lalu dengan sekuat tenaga dibukanya dengan paksa sehingga kancing baju itu jatuh berderai ke lantai. Shinta mulai terisak. Ia ingin teriak tapi tak kuasa mengeluarkan suara. Ia didera ketakutan yang amat sangat yang belum pernah ia alami seumur hidupnya.<br />
<span id="more-3272"></span><br />
Dedi menatap payudara yang terbungkus bra warna krem. &#8220;Hoho ternyata 34B. Bagus. Tidak terlalu besar dan akhirnya aku mengetahuinya walaupun dengan cara begini.&#8221; bathin Dedi sambil mengangkat bra itu ke atas. Kedua kakinya menahan tubuh Shinta bagian bawah sementara tangannya memegang kedua tangan Shinta. Ia mulai menjilati payudara itu. Lidahnya bergerak cepat membuat lingkaran yang mengecil di puting Shinta, Lalu ia menyedotnya keras. Shinta mencoba untuk mengontrol dirinya sehingga ia punya tenaga untuk berteriak. Dibiarkannya Dedi menyedot-nyedot puting susunya. Ia berusaha memblok gairah yang mendadak muncul di dirinya.</p>
<p style="text-align: justify;">Dedi benar-benar merasa sangat bergairah. Kemaluannya menegang keras. &#8220;Aku harus membuatnya terangsang supaya aku tidak terlalu kesulitan memasuki dirinya,&#8221; katanya sambil terus mengulum puting Shinta. Lalu bibirnya pindah ke leher. Dengan jilatan-jilatan kecil yang dibuatnya iabergerak ke arah telinga dan bagian dalam telinga Shinta. Hal itu membuat Shinta melenguh pelan lalu dengan cepat menutup mulut lagi. Dedi mendengar lenguhan itu dan itu menambah semangatnya. Dijilatinya lengan Shinta bagian dalam. Shinta meronta kegelian. &#8220;Ah ini akan memakan waktu..&#8221; kata Dedi. Ia melepaskan pegangan tangannya dari tangan Shinta lalu berbalik ke bawah. Kakinya menekan lengan Shinta sementara tangannya memegang kedua kaki Shinta. Shinta melihat ke atas. &#8220;Ahh.. mengapa tubuhku jadi lemas begini,&#8221; pikirnya sambil terisak.</p>
<p style="text-align: justify;">Dedi membuka rok Shinta ke atas. Dilihatnya paha putih bersih di hadapannya yang langsung ia terkam dengan mulutnya. &#8220;Aah harum sekali tubuh ini,&#8221; dijilatinya sampai pangkal paha, kedua paha itu hanya meronta-ronta pelan tertahan oleh kedua tangan kekar Dedi yang sangat menikmati aroma di pangkal paha Shinta. Dedi menggigit pelan pangkal paha itu sambil terus menjilatinya bergantian kiri dan kanan. Shinta terus mencoba menahan reaksi balik dari dalam dirinya. Ia menegangkan kedua pahanya tapi yang terjadi malah ia merenggangkan pahanya. Dedi menangkap itu sebagai isyarat penerimaan. Lalu diturunkan CD Shinta ke bawah lalu dengan rakus, sebelum dibenamkan mulutnya di sana, dirabanya sejenak, &#8220;Hm sudah lembab,&#8221; pikirnya sambil tersenyum. Dedi tidak bisa melihat memek Shinta dengan jelas tapi ia tak mempedulikannya. Lidahnya menerobos ke dalam dengan cepat dijilatinya seluruh dinding memek Shinta. Ditahannya kedua paha Shinta dengan sikunya, lalu jarinya membuka memek itu, sementara jari lainnya mencari klitoris. Dipindahkan lidahnya ke pangkal paha Shinta lagi sambil memijat pelan klitoris Shinta dengan ibu jari dan jarinya.</p>
<p style="text-align: justify;">Dedi merasa sangat tidak leluasa, ia mengangkat kepalanya dan menoleh ke belakang. &#8220;Shinta aku cuma minta kamu jangan berteriak ok? aku mau berdiri sekarang.. kalau kamu mencoba teriak aku bakal menyakiti kamu lebih dari yang kamu bayangkan, ngerti kamu?!&#8221; kata Dedi sambil mengguncang tubuh Shinta pelan. Shinta tak menjawab, ia hanya terisak dan melempar pandangannya ke samping. Dedi tersenyum berdiri dan berlutut di bawah. Ditariknya kedua kaki Shinta, lalu dibukanya lagi memek Shinta. Kali ini ia dapat melihat memek itu dengan jelas. Dijilatinya pelan semakin lama semakin cepat ke arah klitoris.</p>
<p style="text-align: justify;">Shinta terisak lagi, kali ini ia sendiri tak yakin itu refleksi kesedihan atau gairahnya.Shinta terguncang hebat tubuhnya menggigil setiap kali lidah Dedi menyentuh klitorisnya, ia merasa masih bisa menahan dirinya, tapi gerakan lidah Dedi di klitorisnya membuatnya menahan beban yang sangat berat, dengan satu helaan nafas panjang ia memejamkan matanya dan membiarkan dirinya terbawa.</p>
<p style="text-align: justify;">Shinta mulai merasa ada sesuatu yang berasal dari otot kewanitaannya yang berdenyut seirama detak jantungnya, makin lama perasaan itu makin kuat menjalari otot di pangkal pahanya. Tiba-tiba ia merasa perasaan nikmat menjalar cepat dari memeknya, setiap gerakan lidah Dedi yang berirama tetap di klitorisnya menumpukkan perasaan nikmat yang semakin membesar lalu pandangannya mengabur sejenak, nikmat itu berjalan cepat dari memek menyebar ke seluruh tubuhnya, ke otot di daerah pantatnya, menyelusuri otot belakang tubuhnya menghujam dadanya. Ia merasa putingnya menyusut kecil dan mengeras, telinga, hidung, dan matanya seakan tak berfungsi sejenak.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Aduh.. setan! aku orgasme!&#8221; bathin Shinta pelan.Shinta tersengal sengal mengatur nafasnya. &#8220;Hah.. tenagaku habis untuk menahan diri?!&#8221; Shinta mencoba mengangkat tangannya dengan lemah. Dikumpulkannya kekuatan sejenak, lalu ia mencoba berteriak, &#8220;To.. tolong!&#8221; teriaknya pelan.Dedi merasa terkejut, diangkatnya kepalanya, lalu ia berdiri, &#8220;Aku tadi sudah memperingatkan kamu, supaya jangan..&#8221;Ia berkata sambil meraih vas bunga di sampingnya, &#8220;Coba-coba untuk berteriak?! ternyata kamu kurang jelas ya?&#8221; diletakkan vas itu di samping kepala Shinta lalu dipukulnya hingga berkeping-keping, &#8220;Mengerti Shinta?&#8221;"Aw.. iya, ampun Ded,&#8221; kata shinta sambil kembali terisak-isak.</p>
<p style="text-align: justify;">Dedi membuka celana dan celana dalamnya, lalu ia memegang kemaluannya dan mengarahkannya ke wajah Shinta.&#8221;Tidak, Ded jangan&#8230; aku nggak mau, aku&#8230;&#8221; Shinta memejamkan matanya ketika kemaluan Dedi menyentuh pipinya, lalu ke hidung dan matanya dan turun ke bibirnya. Dedi menggeserkan batang kemaluannya dengan perlahan di bibir Shinta. Lalu ia melihat ada cairan bening di kepala kontolnya lalu diarahkan kepala kontolnya ke bibir Shinta. Lalu ia berjalan dua langkah ke belakang, ditariknya kedua kaki Shinta dan dibukanya paha Shinta lebar-lebar, lalu ia mengarahkan kemaluannya ke memek Shinta. Dedi merasa kontolnya melewati ruang yang sempit. Dibenamkan kontolnya sedalam-dalamnya, dibiarkan sejenak, ia mengangkat kepalanya dan melihat wajah Shinta yang berkerut alisnya, lalu diturunkan lagi wajahnya ke samping kepala Shinta, sambil mulai memompa pantatnya dengan irama yang tetap, selang 15 detik Shinta mulai mendesis seirama gerakan pantatnya, lalu ia menaikkan tempo gerakannya sedikit, Shinta mulai gelisah, mulutnya terbuka, &#8220;Oooh.. ooohh..&#8221;lirihnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Dedi menjadi semakin terangsang setelah mendengar desahan di telinganya. Ia berhenti bergerak, lalu mencabut kontolnya keluar, dilihatnya Shinta masih memejamkan mata sambil membuka mulutnya, lalu digesernya tubuh Shinta menjadi setengah terduduk, kakinya menjulur ke lantai. Dengan pelan diangkatnya kedua kaki Shinta, lalu dilingkarkan kedua tangannya melingkari pinggul Shinta. Lalu ia mulai memompa lagi. Pantat Shinta terangkat ke atas oleh tangan Dedi yang melingkar. Shinta merasa tubuhnya dihujami oleh kontol dedi secara kasar, tapi sedikit demi sedikit kenikmatan yang tadi datang lagi membentuk kelompok kecil yang makin membesar, dilemahkan tubuhnya sehingga Dedi bisa mengangkat pinggulnya lebih tinggi. Sementara kedua tangan Shinta berayun-ayun di udara seirama gerakan mereka.</p>
<p style="text-align: justify;">Dedi merasa memek Shinta seakan mengelus-elus seluruh bagian kontolnya, membuat ia merasa geli, memek Shinta terasa sangat hangat dan mencengkeram erat di kontolnya, ia mulai mempercepat gerakannya, dirasakannya tubuh Shinta mulai menegang. Sambil terus memompa ia melihat sekeliling, lalu pandangannya terbentur ke foto perkawinan Shinta dan Boy. Tiba-tiba perasaannya meninggi, ia melihat Shinta tampak anggun dengan baju pengantinnya, lalu dialihkan pandangannya ke bawah dimana Shinta terayun-ayun tak berdaya dan sedang mendaki puncak dengannya.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Ah Shinta kamu cantik sekali..&#8221; katanya.Shinta membuka matanya, menatap sayu ke Dedi, ia berusaha tak menjawab tetapi mulutnya mengeluarkan erangan tak jelas, &#8220;Aah.. a..aah..&#8221; Dedi merasa ia akan orgasme, diangkatnya lagi pinggul Shinta lebih tinggi membuat tubuh Shinta tertekuk di udara, lalu dengan kecepatan penuh ia menggerakkan pantatnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Shinta merasa pandangannya kembali gelap, seluruh tubuhnya mengejang, tubuhnya seakan dihujani oleh kenikmatan badani yang tidak bisa ia ketahui kapan berakhirnya, lalu ia merasa ada cairan hangat menyentuh ujung liang senggamanya dan tubuh Dedi mengejang keras di atasnya, membuat perasaanya sangat aneh, ia tak pernah mengalami sensasi bercinta seperti ini. Sementara Dedi memeluk erat tubuh Shinta, dibiarkan kontolnya menguras spermanya di dalam memek Shinta.Aroma tubuh Shinta menjadi semakin jelas di hidung Dedi ketika ia mengalami orgasme ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Dedi menarik dirinya dan berdiri, sambil memunguti pakaiannya ia berjalan ke arah dapur. Ketika ia menuangkan air ke dalam mulutnya. Tiba-tiba akal sehatnya kembali, cepat-cepat ia memakai pakaiannya dan berlari ke ruang tamu, didapatinya Shinta sedang memeluk kedua kaki sambil melamun.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Shinta.. eh, aku mau..&#8221; kata Dedi gugup, lalu ia melangkah hendak membuka pintu keluar.Shinta memandang Dedi. Lalu memanggil, &#8220;Ded..&#8221;Dedi menoleh ke belakang, Shinta berdiri dan berkata, &#8220;Aku mau bicara nanti, matikan answering machine telepon kamu ok?&#8221;Dedi mengangguk heran lalu berkata, &#8220;Aku minta maaf Shin, karena&#8230;&#8221;Tak selesai perkataannya karena pintu itu terbanting tepat di depan hidungnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Tiga jam kemudian Dedi sedang bersiap untuk pergi keluar kota, ia sudah memesan tiket pesawat.&#8221;Kali ini aku menikmati Bali,&#8221; katanya sambil menatap tiketnya.Tiba-tiba telepon rumahnya berdering, &#8220;Haloo!&#8221; katanya riang.&#8221;Ded.. ini Shinta, aku ingin kamu sekarang ke rumah, puaskan aku lagi, lagi dan setiap saat aku menginginkannya, kalau kamu menolak aku punya rekaman video kejadian tadi siang yang siap disaksikan oleh Boy dan Polisi, aku harap kamu bisa bekerja sama, ok?&#8221; lalu terdengartelepon tertutup.Dedi tak mempercayai pendengarannya, ditatapnya tiket pesawatnya, kepalanya mendadak pusing, ini bukan lagi pemenuhan fantasinya, ia merasa sangat bingung. Dibantingnya koper ke dinding lalu ia ke kamar mandi untuk mencuci wajahnya.&#8221;Tidak..! ini mimpi buruk, ayo bangun Ded, liburan sudah menunggu!&#8221;Ketika berjalan ke wastafel dilihat wajahnya di cermin, &#8220;Ayo, mana wajah predator ini?&#8221;Terpantul wajah yang sama di cermin, namun sekarang adalah wajah budak seksual.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>TAMAT</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ceritasex.cn/nikmat-karaoke-membawa-sengsara-bagian-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ngentot ABG (PANAS)</title>
		<link>http://www.ceritasex.cn/ngentot-abg-panas/</link>
		<comments>http://www.ceritasex.cn/ngentot-abg-panas/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 18 Dec 2011 08:58:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cerita Sex</dc:creator>
				<category><![CDATA[Amoy]]></category>
		<category><![CDATA[Daun Muda]]></category>
		<category><![CDATA[Foto Mesum]]></category>
		<category><![CDATA[abg]]></category>
		<category><![CDATA[cuki]]></category>
		<category><![CDATA[hot]]></category>
		<category><![CDATA[memek]]></category>
		<category><![CDATA[ngentot]]></category>
		<category><![CDATA[panas]]></category>
		<category><![CDATA[pepek]]></category>
		<category><![CDATA[pigtail]]></category>
		<category><![CDATA[seks]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ceritasex.cn/?p=3245</guid>
		<description><![CDATA[Hot Hot Hot&#8230; Panas Panas Panas&#8230; ABG yang panas dan hot memeknya sempit bangetttt!!! ajigile kayak lobang semot merah dan sempit banget, masukin kontol aja susah&#8230; jepitannya gak perlu di tanya deh&#8230; soal gaya mau gaya kodok pun dilayani pokoknya HOT &#38; PANAS!!]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Hot Hot Hot&#8230; Panas Panas Panas&#8230; ABG yang panas dan hot memeknya sempit bangetttt!!! ajigile kayak lobang semot merah dan sempit banget, masukin kontol aja susah&#8230; jepitannya gak perlu di tanya deh&#8230; soal gaya mau gaya kodok pun dilayani pokoknya HOT &amp; PANAS!!</p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2011/12/ngentot-abg-1.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-3246" title="ngentot-abg-1" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2011/12/ngentot-abg-1-300x199.jpg" alt="" width="300" height="199" /></a></p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2011/12/ngentot-abg-2.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-3247" title="ngentot-abg-2" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2011/12/ngentot-abg-2-210x300.jpg" alt="" width="210" height="300" /></a></p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2011/12/ngentot-abg-3.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-3248" title="ngentot-abg-3" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2011/12/ngentot-abg-3-300x204.jpg" alt="" width="300" height="204" /></a></p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2011/12/ngentot-abg-4.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-3249" title="ngentot-abg-4" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2011/12/ngentot-abg-4-300x199.jpg" alt="" width="300" height="199" /></a></p>
<p><span id="more-3245"></span></p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2011/12/ngentot-abg-5.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-3250" title="ngentot-abg-5" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2011/12/ngentot-abg-5-300x199.jpg" alt="" width="300" height="199" /></a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ceritasex.cn/ngentot-abg-panas/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Istri-Istri Pamanku Bagian 5</title>
		<link>http://www.ceritasex.cn/istri-istri-pamanku-bagian-5/</link>
		<comments>http://www.ceritasex.cn/istri-istri-pamanku-bagian-5/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 18 Dec 2011 08:17:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cerita Sex</dc:creator>
				<category><![CDATA[Paruh baya]]></category>
		<category><![CDATA[Sedarah]]></category>
		<category><![CDATA[selingkuh]]></category>
		<category><![CDATA[bercinta]]></category>
		<category><![CDATA[bibi]]></category>
		<category><![CDATA[birahi]]></category>
		<category><![CDATA[cuki]]></category>
		<category><![CDATA[istri]]></category>
		<category><![CDATA[memek]]></category>
		<category><![CDATA[ngentot]]></category>
		<category><![CDATA[seks]]></category>
		<category><![CDATA[tante]]></category>
		<category><![CDATA[vagina]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ceritasex.cn/?p=3226</guid>
		<description><![CDATA[Aku merasakan kecanggungan Bi Laha ketika menggenggam penisku. Seakan-akan tengah menimbang-nimbang &#8220;Mau diapakan benda ini?&#8221; &#8220;Dikocok dong Bi&#8230;&#8221; bisikku memohon. Seketika itu juga tangan Bi Laha mulai bergerak-gerak di dalam celana dalamku. &#8220;Iya bi.. iyaahh.. lebih cepat bi.. lebih cepaat.&#8221; Tampaknya untuk soal kocok mengocok, Bi Laha lumayan berpengalaman. Ia juga tahu tempat sensitif pria [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Aku merasakan kecanggungan Bi Laha ketika menggenggam penisku. Seakan-akan tengah menimbang-nimbang &#8220;Mau diapakan benda ini?&#8221; &#8220;Dikocok dong Bi&#8230;&#8221; bisikku memohon. Seketika itu juga tangan Bi Laha mulai bergerak-gerak di dalam celana dalamku. &#8220;Iya bi.. iyaahh.. lebih cepat bi.. lebih cepaat.&#8221; Tampaknya untuk soal kocok mengocok, Bi Laha lumayan berpengalaman. Ia juga tahu tempat sensitif pria di urat sebelah bawah kepala penis. Seraya mengocok naik-turun, jempolnya mempermainkan urat itu membuat mataku terbeliak dan pinggulku berputar-putar. &#8220;Enak bi.. aahh.. ennnaak..&#8221; Lalu tanganku melepaskan remasan di pantatnya, dan kusentakkan tali celana dalam nilonnya. Maka terlepaslah penutup terakhir tubuh sintal isteri Mang Iyus itu. Dengan sigap kuletakkan jari tengahku di belahan vagina Bi Laha. Kusibakkan hutan lebat keriting itu, lalu jariku mencari-cari tonjolan kecil di bagian atas vaginanya.&#8221;aahh&#8230; sss&#8230; aahh.. agak keatas Fi.. agak keatas.. iyaah.. Yang ituuu.. yang ituuu.. ouuuh&#8230;&#8221; Kembali tangan kanan Bi Laha memeluk leherku, sementara tangan kirinya semakin cepat mengocok penisku.</p>
<p style="text-align: justify;">(&#8220;Oh Rafii, kocokanmu begitu nikmat di klitorisku. Auhh, dasar anak nakal! Sempat-sempatnya kau sentil daging itu. Ooohh.. bagaimana kocokanku sayang? Enak? Kalau mendengar erangan dan goyangan pinggulmu, aku yakin kamu menyukainya. Dan lagi, tanganku sudah terasa basah oleh cairan bening yang keluar dari lubang penismu. Ah, kenapa tiba-tiba aku jadi amat menginginkan cairan manimu?&#8221;)</p>
<p style="text-align: justify;">Putaran pinggul Bi Laha semakin liar mengikuti kocokanku pada klitorisnya. Erangan dan desahannya sudah menjadi teriakan-teriakan kecil. Ia sudah tak peduli kalau orang lain akan mendengar. Dengan satu tangan yang masih bebas, kulepaskan celana dalam CK-ku sehingga Bi Laha semakin bebas mengocok penisku. &#8220;Fi&#8230; kita berdua telanjang bulat Fi.. kita berdua, bibi dan keponakan, telanjang bulat di ruang tamu..&#8221; Desahnya sambil memejamkan mata dan tersenyum manja. Lalu kuhentikan kocokanku, dan kuletakkan ujung jari tengah dan telunjuk di pintu vaginanya. Pelan-pelan kudesakkan kedua jariku ke dalam liang yang sudah teramat basah itu.&#8221;Eeehh&#8230;&#8221; Isteri pamanku itu mengerang lalu menggigit pundakku dengan gemas, kerika kuputar-putar jemariku seraya mendesakkannya lebih kedalam. Lalu mendadak kuhentikan gerak jemariku itu dan berkata,&#8221;Bi.. bibi yakin mau melakukan ini?&#8221;"Ohh ke.. kenapa kamu tanya itu yang..? sss&#8230;&#8221; tanyanya dengan pandangan sayu seraya mendesis dan menyorong-nyorongkan selangkangannya dengan harapan jemariku melesak semakin dalam.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Emm, ingat omongan bibi sebelum ini? Bibi bilang ini kesalahan terbesar?&#8221;"Kamu tahu maksud bibi mengatakan itu?&#8221; Aku menggeleng. Perlahan, senyum nakal mengembang di bibir perempuan itu. &#8220;Adalah kesalahan besar kalau bibi menolak penismu yang&#8230; aahh&#8230;&#8221; Kutusukkan kedua jariku sehingga melesak masuk ke dalam vagina basah itu sehingga pemiliknya menjerit walau belum habis berkata-kata. Mata Bi Laha membelalak, mulutnya menganga seakan sedang mengalami keterkejutan yang amat sangat. Rasakan! Senyumku dalam hati. Inilah upah berpura-pura. Bi Laha, Bi laha. Aku tahu bibi menginginkan ini sejak perjumpaan pertama. Aku tahu penolakan-penolakanmu itu tak sepenuh hati. (&#8220;Ouuuhh.. ini gilaa.. Ini gilaa..! vaginaku ditusuk oleh jari-jari lelaki! Suatu perbuatan yang selama ini cuma ada di perbincangan ibu-ibu arisan. Itupun diucapkan dengan nada heran bercampur tak percaya. Namun sekarang aku mengalaminya! Dan aku tak merasa heran. Malah merasa biasa. Yang ada cuma kegelian dan kegatalan yang semakin terasa berputar-putar di vaginaku. Ohh, apakah aku akan orgasme? Secepat itukah? Hmh, kalau saja suamiku tahu apa yang kualami hari ini. Ia akan sadar bahwa apa yang diberikannya selama 15 tahun itu tak ada apa-apanya!&#8221;)<br />
<span id="more-3226"></span><br />
Pelan-pelan kugerakkan jemariku keluar masuk vagina Bi Laha. Gerakan itu semakin lama semakin cepat. Dan ruangan itu kembali dipenuhi oleh jeritan-jeritan Bi Laha yang semakin menggila bercampur dengan kecipak vaginanya yang sudah banjir tak keruan. Sambil terus menusuk-nusukkan jemariku di selangkangannya, pelan-pelan kubaringkan tubuh isteri pamanku itu di atas sofa. Bi Laha merebahkan tubuhnya seraya membuka selangkangannya. Tusukan dan putaran jemari di vagina perempuan itu semakin kupercepat. Pinggulnya kini bergerak naik turun seakan tengah mengimbangi tusukan-tusukan penis lelaki. Aku mencium pangkal lengan mulusnya yang membentang ke atas mencengkram pegangan sofa. Lalu bibirku menelusuri lengan itu ke arah ketiaknya. Sambil mengecup dan sesekali menggigit, bibirku akhirnya sampai pada ketiaknya yang disuburi oleh rambut lebat. Harum ketiaknya membuat penisku semakin berdenyut di tengah kocokan tangan Bi Laha. Lalu bibirku mengecup dan menarik-narik rambut ketiaknya dengan buas, &#8220;Haahh.. haahh.. Fiii.. geliii&#8230;&#8221; Perempuan itu mendadak menjerit liar. Ah, rupanya ketiak merupakan salah satu &#8216;titik lemah&#8217; yang dapat memicu keliaran dan kebinalan birahinya.</p>
<p style="text-align: justify;">Kriiing&#8230; telepon sialan! Kalau itu pamanku, ia benar-benar laki-laki yang menyebalkan! Makiku dalam hati.</p>
<p style="text-align: justify;">Bi Laha menggeser pinggulnya berusaha meraih gagang telepon. Pinggulnya terus bergerak-gerak mengisyaratkanku untuk terus mengocok dan menusuk vaginanya dengan jariku.&#8221;Haloo.. Haloo..&#8221; Bi Laha sama sekali tak berusaha menyembunyikan nafasnya yang tersengal-sengal. Gila, nekat sekali dia. &#8220;Haloo&#8230;&#8221; Ia mulai meninggikan suaranya. Setelah beberapa saat tak mendengar jawaban, Bi Laha menggeletakkan begitu saja gagang telepon di atas sofa. &#8220;Siapa itu bi? Mang Iyus?&#8221;"Tauk, nggak ada suaranya..&#8221; katanya seraya memeluk leherku dan mencium bibirku dengan kekangenan yang luar biasa.&#8221;Fiii..&#8221; Desahnya manja, &#8220;Bibi mau.., masukin penismu sekarang dong&#8230; please&#8230;&#8221; Wah hebat. Bibiku ini sudah menggunakan terminologi Inggris! Please, katanya.&#8221;Sabar sebentar ya bii..&#8221; ujarku tersenyum sambil mengeluarkan jemariku dari vaginanya. Lalu menggeser tubuh sintal Bi Laha sehingga terduduk bersandar di sofa. Kakinya menggelosor ke lantai dengan sedikit mengangkang.&#8221;Mau diapain yang&#8230;?&#8221;"Sshh.. nikmatin saja bi..&#8221; Aku mulai menciumi dan menyedot kedua buah dada montoknya. Lalu pelan-pelan bibirku mulai menyusuri perutnya yang semulus marmer itu ke arah selangkangan. Menyadari arah bibirku, perempuan itu mengepitkan kedua pahanya dan menahan kepalaku.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Fi.. jangan Fi&#8230; jangan ke situ.. bibi Risih..&#8221;"Hmm.. kenapa risih bi..? Kan penis dan tangan saya sudah pernah masuk ke vagina bibi?&#8221;"Dasar bandel.., bibi risih.. soalnya kalau kamu cium disitu.. kamu akan lihat semuanya.. bibi.. bibi malu..&#8221; {{Jantung Nuke nyaris terlompat dari dadanya mendengar percakapan yang baru saja didengarnya. Ia masih memegang gagang telepon di rumahnya. Baru saja ia memberanikan diri untuk menelepon isteri tua suaminya untuk menjelaskan keadaan yang sebenarnya. Sebagai isteri muda, ia merasa tak nikmat menjadi penyebab pertengkaran suaminya dengan perempuan itu. Namun, entah mengapa, ketika isteri pertama suaminya itu menjawab teleponnya dengan nafas tersengal, Nuke merasa keberaniannya hilang. Ia juga merasa ada sesuatu yang luar biasa tengah terjadi pada perempuan itu. Dan Rafi, keponakan suaminya yang sedang berlibur itu, ternyata sudah pernah menyetubuhi Laha. Juga, anak muda itu pernah memasukkan jarinya ke dalam anu-nya Laha! Oh, haruskah ia menceritakan ini pada suaminya? Pantaskah ia menguping perbuatan mereka? Pelan-pelan, Nuke kembali mendekatkan gagang telepon itu ke telinganya.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Ngga apa-apa bi.. ngga usah malu.. vagina perempuan kan sama dimana-mana?&#8221; Terdengar suara lelaki itu berusaha menenangkan Laha. Oh, akankah keponakan suaminya itu berhasil mencium anu bibinya sendiri? Tanpa sadar, Nuke menggigit bibir dengan perasaan tegang.&#8221;Fii! Please.. ganti kata-kata penis dan vagina itu! Bibi risih mendengarnya..&#8221; Terdengar lelaki itu tertawa. &#8220;Oke.. gimana kalau penis dan vagina? Sound better?&#8221; Lalu terdengar suara orang berciuman. Nuke menelan ludah, dan menyilangkan kedua pahanya. Lama tak terdengar suara apa-apa. Oh, apa yang sedang mereka lakukan? Tiba-tiba Nuke terperanjat oleh jeritan Laha.&#8221;Fiii.. jangaann.. pleaasee.. bibi maluuu..&#8221; Terdengar suaranya seperti orang hendak menangis. &#8220;aa Fii, jangan dipaksa dong&#8230; oh.. ooohh.. oohh&#8230;&#8221; Lalu yang ada di telinga Nuke adalah rintihan dan erangan Laha penuh kenikmatan. Gila pemuda itu. Kelihatannya ia berhasil mencium dan menjilat anu-nya Laha. Oh, seperti apakah rasanya? Pasti luar biasa, karena suara perempuan itu tak melawan lagi dan cuma melolong-lolong keenakan.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Ooohh.. Fiii.. nikmat bangeeet&#8230; Yah.. yah.. iyaahh&#8230; sedot daging yang atas sayang.. yah itu.. itu.. aahh.. sedot terus Fiii&#8230; sedot terruuusss&#8230;&#8221; Nuke mulai menggesek-gesekkan kedua pahanya. Ada perasaan geli dan gatal mengalir ke selangkangannya. Tiba-tiba ia terperanjat ketika mendengar suara Mang Iyus tepat di belakangnya.&#8221;Gimana Nuk? Sudah bicara dengan Laha?&#8221; Nuke menutupi bulatan tempat bicara pada gagang telepon, takut suara suaminya terdengar oleh pasangan yang tengah asyik masyuk di ujung sana.&#8221;mm belum, teleponnya masih bicara&#8221;, katanya berbohong. Tampak suaminya menghela nafas. Nuke merasa kasihan melihat wajah suaminya itu. Lelaki malang, ia tak tahu isteri pertamanya kini tengah asyik bergumul dengan keponakannya sendiri.&#8221;Kalau begitu, ayo kita antar ibu ke dokter.&#8221;"Emm, Kang Iyus saja deh yang nganter. Nuke mau coba telepon teh Laha dulu, nggak enak rasanya.&#8221; Suaminya hanya mengangkat bahu dan berlalu. Setelah mobil suaminya melesat keluar, Nuke buru-buru mengganti kebayanya dengan daster, tanpa beha, tanpa celana dalam. Lalu dengan segera meletakkan gagang telepon itu kembali di telinganya.}}</p>
<p style="text-align: justify;">Bi Laha mengangkat kedua paha dan menyandarkannya di pundakku. Lidahku dengan rakus menjilat daging merah yang terletak di antara dua bibir vaginanya. Kedua bibir itu sudah terbuka lebar dikuak oleh kedua tanganku. Rasa asin dilidahku makin merangsang birahiku. Sesekali aku memasukkan lidahku ke dalam lubang vagina itu dikombinasikan dengan sedotan-sedotanku pada vagina Bi Laha. Perempuan itu menghentakkan pinggulnya sambil menjilati bibirnya sendiri. Tangannya menekan kepalaku dengan keras di selangkangannya. {{Erangan dan rintihan Laha, membuat selangkangan Nuke semakin dipenuhi oleh rasa geli dan gatal. Brengsek. Kenapa aku jadi penasaran dengan permainan mereka? Bagaimana akhirnya? Hmm seperti apakah lelaki bernama Rafi itu?&#8221;Ohh Fii.. lidah kamu seperti penis.. nikmat banget keluar-masuk seperti itu.. bibi rasanya sudah nggak tahan.. tolong masukin penis raksasamu sekarang dong Fiii.. please&#8230;&#8221; Penis raksasa? Gila juga isteri tua suamiku itu, kata Nuke dalam hati. Kok dia nggak malu minta-minta dimasukin seperti itu ya? Sial, aku malah jadi penasaran. Seperti apa sih si Rafi itu? Dan, mm, sebesar apa sih penisnya?</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Fii.. ayo dong.. bibi hampir keluar nihh.. hentikan sedotanmu sayang.. ayoo..&#8221; Huh, nafsu perempuan itu ternyata besar juga. Pantas dia tak tahan oleh godaan keponakannya sendiri. Apalagi anu-suaminya sedang ada masalah. Oh, tak terasa sudah hampir 6 bulan saat terakhir aku merasakan sentuhan Kang Iyus. Tiba-tiba perempuan itu merasa iri pada Laha. Bagaimanapun, isteri tua suaminya itu berani mengambil keputusan! Nuke mengakui. Tiba-tiba terdengar suara gemerisik di sambungan telepon itu. &#8220;Aduh, telepon sialan, ngganggu saja!&#8221; Terdengar makian Laha begitu jelas di telepon. Oh, rupanya perempuan itu kini terbaring dan kepalanya menindih gagang telepon yang masih tergeletak di sofa. Nuke berharap cemas semoga telepon itu tidak diputus. Lalu terdengar suara kecupan dan erangan. Oh mereka mulai lagi berciuman dengan bernafsu. Syukur mereka tetap tak peduli dengan teleponnya. Aku bisa membayangkan seorang pemuda tengah merayap di atas tubuh Laha, lalu perempuan itu membuka lebar-lebar pahanya, lalu lelaki itu menempelkan penisnya di pintu vagina isteri tua suamiku itu, lalu mendorong pelan-pelan pinggulnya.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8221; Yah Fii.. Yah&#8230; pelan-pelan Fii.. ouhh besarnyaa..&#8221; Laha mulai merintih-rintih. Nuke menggesek-gesekkan pahanya. Berkali-kali ia menelan ludah. Jantungnya berdegup cepat. Oh, lelaki itu mulai memasukkan penisnya ke dalam vagina Laha! Tangan isteri muda itu menyelip ke dalam selangkangannya. Ada kelembaban yang hangat terasa di sana.&#8221;Uhh.. Fii stop dulu sayang.. ssakiiit&#8230; hh.. hh.. hh..&#8221; Nuke sempat bergidik mendengar rintihan Laha. Seberapa besar punya-mu Rafi? Oh, kenapa aku jadi tak sabar ingin bertemu dengan pemuda itu? Nuke, jangan gila! Kau kan tidak berharap pemuda itu melakukan apa yang diperbuatnya pada Laha kepadamu? Nuke tidak tahu jawabnya. Andaikan ia tahu pun ia tak mau menjawabnya. Suara nafas Laha jelas sekali di telepon. Kentara sekali ia tengah menenangkan dirinya menahan sakit dan nikmat karena dimasuki penis keponakannya yang besar itu.&#8221;Yang.. bibi sudah siap.. ayo.. masukkan semuanya.. yahh.. iyyaahh..&#8221; Oh, gila, gila.. penis besar itu pasti sudah masuk semua! Oh, terbayang nikmatnya. Terbayang rasa kesemutan dan pegal itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Nuke teringat kala pertama kali suaminya merenggut keperawanannya. sss.. Ohh.. Isteri muda itu mulai menekan-nekan vaginanya dari luar daster. Lalu mulailah terdengar suara kecupan, suara erangan pasangan kasmaran itu yang seirama dengan bunyi sofa berderit-derit. &#8221; Ahh.. terus Fi.. teruuus.. lebih cepat.. Lebih cepaat..&#8221; Jerit Laha. Dan suara derit pun terdengar lebih cepat. Oh, bisa kubayangkan pinggul lelaki itu naik-turun dengan cepat. Juga bisa kubayangkan suara vagina Laha berkecipak dihunjam dengan keras oleh benda besar milik keponakan suamiku itu. &#8220;Yahh.. sedot yang keras Fi.. sedot yang keraas.. gigit puting bibi sayang.. gigit puting bibiii.&#8221; Oh, tiba-tiba Nuke mengeluh, bisakah aku seberuntung perempuan itu?}} Leherku terasa hampir patah dipeluk oleh Bi Laha. Ia memintaku untuk menyedot buah dadanya sekuatku, menjilat putingnya secepatku, dan memompakan pinggulku sekerasnya. Tak kalah dengan tangannya, kedua kakinya merangkul erat pinggangku. Hentakan pinggulku membuat buah dada isteri pamanku itu berguncang-guncang keras.</p>
<p style="text-align: justify;">Mulutnya yang seksi terus menganga menghamburkan jeritan-jeritan birahi. Kaki indahnya yang masih mengenakan sepatu hak tinggi hitam itu, kini terangkat di udara seakan menyambut tusukan-tusukan penisku. Keringat sudah membasahi seluruh tubuh membuat kulit kami terlihat mengkilat dan licin bila digesekkan satu sama lain. Otot tubuh Bi Laha tiba-tiba menegang. Oh, apakah ia akan mencapai puncaknya? Padahal aku belum apa-apa. Aku masih ingin lebih lama menikmati pergumulan ini.{{Nafas Nuke mulai memburu. Jantungnya berpacu dengan gesekan tangan di selangkangannya. aah, permainan panas Laha dengan anak muda itu benar-benar membuat vaginaku becek gila-gilaan. Beruntung rumah ini kosong, pikir perempuan berusia 20 tahun itu seraya menyingsingkan dasternya sehingga vagina polos tak berbulu itu langsung menyentuh bantalan kursi. Sejak remaja ia telah mencukur habis bulu kemaluannya. Terasa lebih bersih, demikian alasannya. Lalu dengan cepat ditempelkannya jari tengah pada tonjolan daging di ujung atas bibir vaginanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Kini, jantung Nuke berpacu dengan kocokan jari di klitorisnya. Ia mendesah, mendesis, seraya memegang gagang telepon itu dengan kuping dan pundaknya. Tangannya yang satu tengah membuka kancing dasternya dan menyelinap cepat mencari buah dada berukuran 34 itu. Ohh, nikmatnya sentuhan-sentuhan di buah dada, puting dan vaginaku. Pasti lebih nikmat lagi kalau tangan keponakan suamiku itu yang melakukannya. Ahh, sss, pemuda brengsek. Kenapa kau tidak menginap disini?&#8221;Fii.. kamu.. hh.. sudah mau keluar&#8230; hh.. sayang..?&#8221; Suara Laha terdengar serak dan terputus-putus. Nuke mempercepat putaran dan pelintiran di klitorisnya. Mulutnya menganga, rintihannya mulai terdengar keras. Tiba-tiba ia merasa seakan-akan vaginanya dipenuhi oleh penis keponakan suaminya itu, yang memompa dengan keras. aahh. &#8220;Belum Fii..? Kamu belum mau keluar? Ooohh bibi sudah nggak tahan sayang.. bibi mau keluar.. nggak apa-apa ya bibi duluan..&#8221; Nuke mempercepat putarannya. Tangan satunya kini memilin dan menarik-narik putingnya dengan keras. Ia seakan bisa merasakan pompaan penis pemuda itu pada vagina Laha semakin cepat dan semakin cepat.. dinding vaginanya mulai berdenyut cepat, nafasnya semakin cepat.</p>
<p style="text-align: justify;">Bersambung&#8230;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ceritasex.cn/istri-istri-pamanku-bagian-5/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Istri-Istri Pamanku Bagian 4</title>
		<link>http://www.ceritasex.cn/istri-istri-pamanku-bagian-4/</link>
		<comments>http://www.ceritasex.cn/istri-istri-pamanku-bagian-4/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 13 Dec 2011 22:42:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cerita Sex</dc:creator>
				<category><![CDATA[Paruh baya]]></category>
		<category><![CDATA[Sedarah]]></category>
		<category><![CDATA[Seks Umum]]></category>
		<category><![CDATA[selingkuh]]></category>
		<category><![CDATA[cuki]]></category>
		<category><![CDATA[erotis]]></category>
		<category><![CDATA[isep kontol]]></category>
		<category><![CDATA[istri]]></category>
		<category><![CDATA[ml]]></category>
		<category><![CDATA[ngentot]]></category>
		<category><![CDATA[sensual]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ceritasex.cn/?p=3214</guid>
		<description><![CDATA[Kebisuan kembali menyelimuti kami berdua. Ruangan asri rumah Bi Laha itu terasa semakin luas dan mencekam dengan kesunyian itu. Suara jangkrik dan kodok sawah terdengar saut menyaut. Sesekali terdengar suara angkutan pedesaan melewati jalan raya. Juga suara delman dan motor melintas. Ahh, desa yang tenang dan damai. Tempat yang sangat sempurna untuk berlibur dan bermalas-malasan. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Kebisuan kembali menyelimuti kami berdua. Ruangan asri rumah Bi Laha itu terasa semakin luas dan mencekam dengan kesunyian itu. Suara jangkrik dan kodok sawah terdengar saut menyaut. Sesekali terdengar suara angkutan pedesaan melewati jalan raya. Juga suara delman dan motor melintas. Ahh, desa yang tenang dan damai. Tempat yang sangat sempurna untuk berlibur dan bermalas-malasan. Tapi tidak dengan kebisuan seperti ini. Aku menguap seraya melihat arloji. Sudah 20 menit lebih kami tak berkata-kata. Dan Mang Iyus belum juga datang. Isterinya sudah terlihat gelisah sambil terus-terusan memandang jam dinding. &#8220;Nggak biasanya Mang Iyus begini..&#8221; suaranya terdengar lirih.</p>
<p style="text-align: justify;">Kriiing&#8230; Kami berdua terlonjak karena kaget. Telepon sialan, makiku dalam hati.(&#8220;Telepon keparat!&#8221;)</p>
<p style="text-align: justify;">Bi Laha bergegas mengangkatnya. Tampaknya Mang Iyus lagi yang menelepon. Mereka terlibat pembicaraan sejenak.&#8221;Lo bapak ini gimana sih? Kita kan sudah siap dari tadi..&#8221; Terdengar suara Bi Laha meninggi.&#8221;Iyaa saya ngerti.. tapi apa segitu mendesaknya sampai bapak musti batalin janji makan malam dan nginep disana??&#8221; O.. Oo.. naga-naganya aku bisa menebak kemana arah pembicaraan ini.&#8221;Apa? Cuma gara-gara ibunya pusing-pusing bapak harus nganter ke dokter? Apa perempuan itu ngga bisa anter sendiri? Dengar Pak, saya juga punya hak sebagai isteri pertama. Hari ini semestinya adalah hak saya. Bilang sama perempuan itu, kalau mau jadi isteri kedua harus berani tanggung konsekuensi.. kalau bukan harinya, jangan minta-minta antar ke dokter!&#8221; Braak! Bi Laha membanting gagang telepon seraya menghempaskan tubuhnya ke sofa. Ia menutup muka dengan kedua tangannya.</p>
<p style="text-align: justify;">(&#8220;Suami egois! Tak adil! Aku benar-benar merasa seperti keranjang sampah. Sesak di dadaku semakin menggunung dan menggunung, lalu mendesak keluar. Air mataku mulai mengalir. Tiba-tiba aku terkesiap. Belum pernah aku membentak-bentak suamiku sebelumnya. Belum pernah aku mengahiri pertengkaran dengan bantingan telepon. Belum pernah aku seberani ini. Lalu, bayang-bayang pergumulanku dengan Rafi melintas. Karena itukah aku jadi berani?&#8221;)<br />
<span id="more-3214"></span><br />
Aku memberanikan diri melirik ke arah Bi Laha. Perempuan itu tengah duduk sambil menutup muka di sofa. Shit! Kenapa liburanku harus diwarnai hal-hal seperti ini? Kenapa pula aku memilih tempat ini sebagai tempat berliburku? Aku menghela nafas. Ingin rasanya aku mendekati wanita yang tengah bersedih itu dan menghiburnya. Tapi saat itu, aku benar-benar tak tau harus berbuat apa.</p>
<p style="text-align: justify;">Kriiing.. Setan! Sekali lagi ia mengejutkanku, akan kulempar ke tong sampah. Telepon itu berdering berkali-kali namun Bi Laha tak juga beranjak mengangkatnya.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Bibi ingin saya yang mengangkatnya?&#8221; Aku menawarkan diri. Bi Laha mengangkat mukanya. Matanya merah dan basah oleh air mata. Ia tersenyum kecil, dan menggeleng. &#8220;Ngga usah Fi.. kamu baik sekali.. biar bibi yang angkat..&#8221; Kasihan benar bibiku yang cantik ini. Andai aku dapat menghiburmu. Telepon itu ternyata dari Mang Iyus lagi. Mereka lagi-lagi terlibat pertengkaran soal hak isteri pertama dan kedua. Bi Laha juga tanpa tedeng aling-aling menuduh Mang Iyus telah melalaikan kewajibannya untuk memenuhi haknya sebagai isteri pertama. Aku membuka pintu depan dan duduk di teras agar tidak mendengarkan pertengkaran itu. Tapi sia-sia, karena di daerah yang sepi seperti Cilimus, orang bisa mendengar suara lebih dari 50 meter. Aku memenuhi paru-paruku dengan udara malam yang segar. aahh.. aku tersenyum sendiri mengingat pengalamannya hari ini. Adakah kesempatan seperti itu akan terulang lagi?</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Saya nggak peduli. Bapak nggak pulang selama sebulan juga saya nggak peduli. Sekarang saya akan kunci rumah, dan pergi tidur. Saya ngga mau liat mukamu malam ini!&#8221; Braak! Lagi-lagi Bi Laha mengakhiri pembicaraannya dengan acara banting telepon. Diam-diam aku kagum pada bibiku ini. Sehari-hari ia tampak begitu lincah dan ramah. Bertolak belakang dengan apa yang baru saja kulihat. Ia bagai seekor singa betina yang mengaum menggetarkan sukma. Aku menghela nafas, lalu masuk kembali dan mengunci pintu. Terlihat Bi Laha masih terduduk di sofa besar dekat meja telepon. Ia kini bersandar sambil menutupi matanya dengan tangan kanan. Tangan kirinya memegang tisu yang sesekali digunakan untuk menghapus air mata yang mengalir deras di pipinya. Dengan hati-hati aku duduk di sampingnya. Walau sempat ragu, kujulurkan tanganku memeluk pundaknya. &#8220;Mau berbagi cerita dengan saya Bi..? Mudah-mudahan bisa mengurangi beban Bibi.&#8221; Bisikku dengan lembut. Tiba-tiba isteri pamanku ini menjatuhkan kepalanya ke dadaku dan menangis tersenguk-senguk.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Bibi sangat setia pada pamanmu Fi.. bibi banyak berkorban untuknya.. tapi kenapa sekarang bibi disia-siakan&#8230;&#8221; Lalu ia menceritakan bagaimana ia membantu Mang Iyus membangun usahanya. Ia juga bercerita bahwa tanah rumah ini adalah pemberian orang tua Bi Laha. Ia juga bercerita suatu ketika Mang Iyus ditipu orang sehingga harus menjual sebagian hartanya. Bi Laha menjual seluruh perhiasannya untuk menolong suaminya itu. Dan begitu banyak cerita lainnya yang menyimpulkan betapa tegarnya perempuan ini. Ia pun tetap tegar ketika harus menerima kenyataan untuk dimadu. Kami terdiam beberapa saat. Tangan kananku memeluk pundaknya dan tangan kiriku membelai lembut rambutnya. Tangan kanan Bi Laha memeluk leherku sementara kepalanya masih terus bersandar di dadaku.</p>
<p style="text-align: justify;">(&#8220;Pemuda ini sungguh penuh perhatian. Kelembutannya melebihi lelaki manapun yang pernah kukenal. Hanya beberap menit, dan ia sanggup mengurangi kesal di hatiku.&#8221; Perempuan itu mendongak memandang wajah keponakannya. &#8220;Rafi, sorot matamu sungguh sejuk. Bibi benar-benar merasa aman di dalam pelukanmu.&#8221; Harum nafas pemuda itu terasa begitu dekat dengan bibirnya. Tiba-tiba Laha merasa sangat sayang padanya. Ia seakan telah mengenal lelaki itu sangat lama.)</p>
<p style="text-align: justify;">Tangan kanan Bi Laha membelai pipi kiriku dengan kasih sayang, lalu ia mengecup pipi kananku lembut. &#8220;Terima kasih Fi.. terimakasih untuk menemani di saat bibi butuh seseorang..&#8221; Aku tersenyum. &#8220;Saya senang bisa membantu bibi.. Saya sayang pada bibi..&#8221; ujarku tulus. Kata-kataku itu membuat bibiku terharu. Kembali ia menyenderkan kepalanya seraya memeluk leherku dengan lebih erat. Aku pun hanyut oleh rasa kasih sayang yang menyelimuti hati kami. Dengan penuh ketulusan aku mencium kening Bi Laha lamaa sekali. Lalu kukecup pipinya yang terasa basah oleh air matanya. Bi Laha mendongakkan kepalanya memandangku dengan senyuman sayang. Hidung mancungnya dekat sekali dengan hidungku. Kami berdua bisa menghirup wangi nafas masing-masing. Mata kami saling beradu pandang. Oh, alangkah indahnya matamu bi&#8230; alangkah cantiknya wajahmu&#8230; kalau kau bukan isteri pamanku, aku pasti jatuh cinta padamu. Tak peduli kau 12 tahun lebih tua dariku.</p>
<p style="text-align: justify;">(&#8220;Ohh.. Rafi.. bibi benar-benar takluk melihat matamu. Seakan ada magnet yang membuat orang lain tertarik untuk terus memandangi.. Sayang bibi lahir terlalu cepat 12 tahun. Kalau tidak, kita pasti sebaya, dan kita pasti cocok satu sama lain dan akulah yang akan memuaskan malam-malam dinginmu dan aku juga yang pasti menjadi perempuan pertama yang menyedot dan menghisap.&#8221;)</p>
<p style="text-align: justify;">Aku menempelkan bibirku di atas bibir Bi Laha. Perempuan itu tanpa ragu menyambut ciuman lembutku. Ciuman ini terasa berbeda dari ciuman-ciuman sebelumnya. Ciuman kali ini lebih merupakan pernyataan kasih sayang dibanding sekedar nafsu.</p>
<p style="text-align: justify;">(&#8220;Sayangku, alangkah hangatnya bibirmu. Peluklah aku lebih erat lagi. Leburlah tubuhku dengan ragamu. Malam ini aku bukanlah isteri pamanmu. Malam ini aku adalah kekasihmu. Kali ini, kamu tak perlu lagi memperkosaku. Kamu boleh menggumuli tubuhku sepuasmu. Kamu boleh memasukkan penismu sepuas-puasnya. Oh, belum lebih dari satu jam, aku sudah amat rindu pada penismu itu.&#8221;)</p>
<p style="text-align: justify;">Entah siapa yang memulai tahu-tahu bibir kami sudah saling memagut. Lidah Bi Laha mencoba menerobos masuk ke mulutku. Beberapa kali lidahnya bertumbukan dengan lidahku yang juga berupaya untuk menjelajahi lorong mulutnya. &#8220;Emmh.. mmh..&#8221; Perempuan itu mengerang ketika lidahku berhasil melesak masuk mulutnya dan dengan cepat mulai menjelajahi langit-langitnya. Kedua tanganku kini memegang pipinya sehingga aku dapat mengontrol pagutan bibir dan lidahku. Lalu Bi Laha mencengkram tangan kiriku dan membimbingnya ke bawah melalui leher, pundak, terus ke dadanya yang busung. Aku mulai tak percaya dengan respon isteri pamanku itu. Belum genap satu jam yang lalu, perempuan itu masih meronta-ronta menolak remasan dan rabaanku. Tapi sekarang, bibiku tanpa malu-malu membawa tanganku ke dadanya. Kuselipkan tanganku ke balik kebayanya sehingga terpegang bukit daging yang masih dilapisi oleh beha. Lalu, kuselipkan telapak tanganku ke balik behanya yang elastis itu sehingga dengan mudah kukeluarkan buah dada kanan Bi Laha dari cup behanya.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Emmh..&#8221; perempuan itu menggelinjang ketika dengan gemas kuremas-remas buah dada montok berwarna putih itu. Remasanku membuat bentuk daging kenyal itu berubah-ubah dari bundar ke lonjong, bundar-lonjong, bundar-lonjong. Lalu, jempol dan telunjukku mulai memilin-milin puting berwarna coklat tua itu. &#8220;Yang keras Fi.. yang kerass.. Ahh..&#8221; Bi Laha mendesah seraya menyodorkan dadanya sehingga telapak tanganku semakin dipenuhi oleh gumpalan bukit kenyalnya. Dan tubuhnya semakin menggelinjang ketika kuciumi jenjang lehernya yang putih mulus bagai pualam. Desahannya nyaris menjadi jeritan ketika puting yang telah berubah menjadi keras dan panjang itu kupijit dan kutarik. &#8220;aahh.. gila, tarik lagi Fi.. tarik lagiiih.. yang keraass&#8230; euuhh.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">(&#8220;Saat ini puting buah dadaku terasa seperti tombol listrik yang mengalirkan gelombang kenikmatan keseluruh tubuh setiap kali dipelintir oleh tangan pemuda ini. Remasan-remasan di daging buah dadaku menunjukkan kombinasi gelora birahi muda dengan luapan kasih sayang. Sesekali kasar menyakitkan, namun lebih sering lembut menghanyutkan. Malam ini, aku merasa seperti orang yang terbebas dari kamar gelap, pengap dan terkunci. Paru-paruku terasa penuh oleh udara sejuk kebebasan. Baru kali ini aku merasa kedudukanku diatas suamiku. Perasaan itu timbul karena aku berani mengambil keputusan untuk tak mempedulikannya. Kini, aku hanya akan peduli pada diriku sendiri. Dan malam ini, aku hanya akan peduli pada nafsu birahiku.&#8221;)</p>
<p style="text-align: justify;">Bi Laha menghentikan pagutannya di bibirku. Ia menjauhkan tanganku dari buah dadanya, lalu berdiri. Seraya tersenyum dan memandang mataku dengan pandangan penuh birahi, perempuan itu membuka kancing kebayanya satu per satu. Lalu ia membuka kebayanya, menggerakkan pundak, dan seketika itu juga kain kebaya pink itu jatuh ke lantai melingkari telapak kakinya. Jantungku makin berdegup kencang melihat tubuh mulus isteri pamanku yang berdiri setengah telanjang di hadapanku. Dengan sigap, tangannya membuka stagennya, dan tak sampai satu menit, kain jarik itupun terjatuh menimbun kakinya yang masih mengenakan sepatu hak tinggi. Maka, tubuh sintal itu kini hanya dibalut beha dan celana dalam saja. Mataku tekejap-kejap tak percaya melihat pemandangan di hadapanku. Bi Laha mengenakan beha berbentuk bikini yang hanya menutupi sebagian kecil ujung buah dadanya. Tali pundak dan punggungnya tampak tak lebih dari seutas tali kecil. Celana dalamnya yang berwarna putih juga berbentuk bikini pantai yang hanya menutupi daerah selangkangan dan pantat yang dihubungkan oleh seutas tali melintasi pinggul kiri dan kanannya.</p>
<p style="text-align: justify;">Di bagian selangkangan, gumpalan bulu keriting nampak menerawang di balik celana dalam tipis dari bahan nilon itu. Wow.. tak pernah kubayangkan di balik kain kebaya isteri pamanku ini tersembunyi beha dan celana dalam yang desainnya sangat merangsang!!&#8221;Kamu suka modelnya Fi?&#8221; Bi Laha tersenyum memandang wajahku yang melongo terpesona. Kedua ibu jarinya mengait pada tali BH di depan dada. Pelan-pelan jempolnya menarik tali itu sehingga penutup buah dadanya bergeser ke atas. &#8220;Su.. suka sekali bi..&#8221; Aku menahan nafas melihat puting coklatnya sedikit demi sedikit terlihat. Tanganku dengan cepat membuka T-Shirt ku. Lalu, kuturunkan ritsluiting celana jeans-ku dan meloloskannya melalui kedua kaki. Tubuh atletisku kini hanya dibalut celana Calvin Klein merah tua. Dan celana itu tak mampu menutupi bola besarku yang diselimuti bulu-bulu keriting yang lebat. Batang penisku yang sudah tegak itu tampak menonjol di celana berbahan elastis itu. Mata Bi Laha berkejap-kejap memandangi bongkahan daging di selangkanganku itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Lalu dengan gerakan cepat, Bi Laha menyentakkan tali behanya sehingga kedua buah melon montok itu melejit keluar dari cup-nya dan bergayut menantang untuk dijamah. &#8220;Kamu tega membiarkan bibi kedinginan Fi..?&#8221; Katanya sambil membuang behanya ke sofa. Tak tahan dengan godaan perempuan berusia 35 tahun yang sangat mengundang itu, aku meloncat dari dudukku dan menubruk tubuh sintal telanjang yang cuma ditutupi celana dalam tipis itu. Tanganku memeluk erat pinggangnya dan Bi Laha menyambut dengan pelukan yang tak kalah erat di leherku. Dadaku terasa sesak digencet oleh kedua buah dadanya yang montok. Lalu sambil berdiri, kami saling memagut, menggigit, dan menjilat dengan buas. Jemari lentik perempuan itu membelai-belai rambut belakangku dan meremas punggungku. Tanganku bergerak ke bawah menelusuri punggungnya yang putih bak pualam itu sebelum menyelinap masuk ke dalam celana dalam nilonnya. Lalu dengan penuh nafsu kuremas dengan keras kedua buah pantatnya. &#8220;Emmhh..&#8221; Bi Laha mengerang keras sambil terus menyedot lidahku.</p>
<p style="text-align: justify;">Selama beberapa saat pantat bulat Bi Laha habis kuremas-remas membuat perempuan itu menggeliat-geliat keras sehingga buah dadanya menggesek-gesek dan menggencet dadaku.(&#8220;Oohh gila remasannya.. belum pernah suamiku menggunakan pantatku sebagai obyek seks-nya.. tapi pemuda ini.. aku betul-betul dibuat gila.. ingin rasanya aku berteriak-teriak liar dan menggeliat-geliat histeris untuk menyemburkan bara gelora yang sudah sedemikian lama terpendam. Dan, tanpa sadar aku sudah melakukannya. Aku mulai menggelat-geliat liar! Ooohh nikmatnya menggesek-gesekkan putingku ke dadanya yang bidang. Nikmatnya menggesek-gesekkan selangkanganku ke bongkahan daging di selangkangannya. Tunggu! Bongkahan itu! Bongkahan itulah yang saat ini amat sangat kurindukan.Laha melepaskan pelukannya dari leher Rafi, lalu menempelkannya di dada bidang pemuda itu.Uuuhh.. Rafi sayang, dadamu begitu kokohnya.. tak heran aku merasa begitu nyaman menyandarkan kepalaku disana. Ayo sayang, sekarang menggeliatlah.. biar kumainkan putingmu dengan jemariku. Yah, mengeranglah.. kamu keenakan kan? Auw!! Jangan cubit pantatku!&#8221;)</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Nakal!&#8221; Bi Laha balas mencubit putingku. Aku meringis. &#8220;Habis saya nggak tahan waktu bibi memainkan puting saya.. gelii..&#8221;"Hmm&#8221; Bi Laha tersenyum nakal sambil menurunkan kedua tangannya ke arah perutku. &#8220;Geli mana dengan ini Fi?&#8221; Dengan cepat perempuan itu memasukkan tangannya ke celana dalamku dan, &#8220;Oaahh&#8221;, dalam sekejap penisku sudah berada dalam genggamannya.</p>
<p style="text-align: justify;">(&#8220;Pantas saja benda ini nyaris mengoyak vaginaku. Gila, diameternya! Kurasakan jempolku sampai tak bisa bertemu dengan jemariku yang lain! Dan kekenyalannya&#8230; ooohh.. sangat menggemaskan. Sangat menggoda untuk.. untuk&#8230; dikulum! Oh, haruskah aku menunggu sampai lelaki ini meminta?&#8221;)</p>
<p style="text-align: justify;">Bersambung&#8230;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ceritasex.cn/istri-istri-pamanku-bagian-4/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bercumbu dengan Tante Linda</title>
		<link>http://www.ceritasex.cn/bercumbu-dengan-tante-linda/</link>
		<comments>http://www.ceritasex.cn/bercumbu-dengan-tante-linda/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 13 Dec 2011 22:14:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cerita Sex</dc:creator>
				<category><![CDATA[Paruh baya]]></category>
		<category><![CDATA[Seks Umum]]></category>
		<category><![CDATA[Tante Girang]]></category>
		<category><![CDATA[binal]]></category>
		<category><![CDATA[cuki]]></category>
		<category><![CDATA[nafsu]]></category>
		<category><![CDATA[ngentot]]></category>
		<category><![CDATA[oh yes]]></category>
		<category><![CDATA[seks]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ceritasex.cn/?p=3207</guid>
		<description><![CDATA[Namaku Ade, umurku waktu itu sekitar 19 tahun, aku kini kuliah di OSU, Amerika. Kebetulan aku kost di salah satu kenalan Oom aku di sana yang bernama Tante Linda. Wuih, dia itu orangnya baik benar kepadaku. Kebetulan dia seorang istri simpanan bule yang kaya raya tapi sudah tua. Jadilah aku kost di rumahnya yang memang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Namaku Ade, umurku waktu itu sekitar 19 tahun, aku kini kuliah di OSU, Amerika. Kebetulan aku kost di salah satu kenalan Oom aku di sana yang bernama Tante Linda. Wuih, dia itu orangnya baik benar kepadaku. Kebetulan dia seorang istri simpanan bule yang kaya raya tapi sudah tua. Jadilah aku kost di rumahnya yang memang agak sepi, maklumlah di sana jarang memakai pembantu sih. Tante Linda ini orangnya menurutku sih seksi sekali. Buah dadanya besar bulat seperti semangka dengan ukuran 36C. Sedangkan tingginya sekitar 175 cm dengan kaki langsing seperti peragawati. Sedangkan perutnya rata soalnya dia belum punya anak, yah maklumlah suaminya sudah tua, jadi mungkin sudah loyo. Umurnya sekitar 33 tahun tapi kulitnya masih mulus dan putih bersih. Hal ini yang membuatku betah berlama-lama di rumah kalau lagi nggak ada urusan penting, aku malas keluar rumah. Lagian aku juga bingung mau keluar rumah tapi nggak tahu jalan. Dan sehari-harinya aku cuma mengobrol dengan Tante Linda yang seksi ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Ternyata dia itu orangnnya supel benar nggak canggung cerita-cerita denganku yang jauh lebih muda. Dari cerita Tante Linda bisa aku tebak dia itu orangnya kesepian banget soalnya suaminya jarang pulang, maklum orang sibuk. Makanya aku berupaya menjadi teman dekatnya untuk sementara suaminya lagi pergi. Hari demi hari keinginanku untuk bisa mendapatkan Tante Linda semakin kuat saja, lagi pula si Tante juga memberi lampu hijau kepadaku. Terbukti dia sering memancing-mancing gairahku dengan tubuhnya yang seksi itu. Kadang-kadang kupergok Tante Linda lagi pas sudah mandi, dia hanya memakai lilitan handuk saja, wah melihat yang begitu jantungku deg-degan rasanya, kepingin segera membuka handuknya dan melahap habis tubuh seksinya itu. Kadang- kadang juga dia sering memanggilku ke kamarnya untuk mengancingkan bajunya dari belakang. Malah waktu itu aku sempat mengintip dia lagi mandi sambil masturbasi. Wah pokoknya dia tahu benar cara mancing gairahku.</p>
<p style="text-align: justify;">Sampai pada hari itu tepatnya hari Jumat malam, waktu itu turun  hujan gerimis, jadi aku malas keluar rumah, aku di kamar lagi main internet, melihat gambar-gambar porno dari situs internet, terus tanpa sadar kukeluarkan kemaluanku yang sudah tegang sambil melihat gambar perempuan bugil. Kemudian kuelus-elus batang kemaluanku sampai tegang sekali sekitar 15 cm, habis aku sudah terangsang banget sih. Tanpa kusadari tahu-tahu Tante Linda masuk menyelonong saja tanpa mengetuk pintu, saking kagetnya aku nggak sempat menutup batang kemaluanku yang sedang tegang itu. Tante Linda sempat terbelalak melihat batang kemaluanku yang sedang tegang, langsung saja dia bertanya sambil tersenyum manis. &#8220;Hayyoo lagi ngapain kamu De?&#8221; &#8220;Aah, nggak Tante lagi main komputer&#8221;, jawabku sekenanya. Tapi Tante Linda sepertinya sadar kalau aku saat itu sedang mengelus-elus batang kemaluanku. &#8220;Ada apa sih Tante?&#8221; tanyaku. &#8220;Aah nggak, Tante cuma pengen ajak kamu temenin Tante nonton di ruang depan.&#8221;<br />
<span id="more-3207"></span><br />
&#8220;Ohh ya sudah, nanti saya nyusul yah Tan&#8221;, jawabku.&#8221;Tapi jangan lama-lama yah&#8221;, kata Tante Linda lagi.Setelah itu aku berupaya meredam ketegangan batang kemaluanku, lalu aku beranjak keluar kamar tidur dan menemani Tante Linda nonton film semi porno yang banyak mengumbar adegan-adegan syuuurr.Melihat film itu langsung saja aku jadi salah tingkah, soalnya batang kemaluanku langsung saja bangkit lagi nggak karuan. Malah malam itu Tante Linda memakai baju yang seksi sekali, dia memakai baju yang ketat dan gilanya dia nggak pakai bra, soalnya aku bisa lihat puting susunya yang agak muncung ke depan. Karuan saja, gairahku memuncak melihat pemandangan seperti itu, tapi yah apa boleh buat aku nggak bisa apa-apa. Sedangkan batang kemaluanku semakin tegang saja sehingga aku mencoba bergerak-gerak sedikit guna membetulkan letaknya yang miring. Melihat gerakan-gerakan itu Tante Linda langsung menyadari sambil tersenyum ke arahku. &#8220;Lagi ngapain sih kamu De?&#8221;"Ah nggak Tante..&#8221;Sementara itu Tante Linda mendekatiku sehingga jarak kami semakin dekat dalam sofa panjang itu.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Kamu terangsang yah De, lihat film ini?&#8221;"Ah nggak Tante biasa aja&#8221;, jawabku mencoba mengendalikan diri. Bisa kulihat payudaranya yang besar menantang di sisiku, ingin rasanya kuhisap-hisap sambil kugigit putingnya yang keras. Tapi rupanya hal ini tidak dirasakan olehku saja, Tante Linda pun rupanya juga sudah agak terangsang sehingga dia mencoba mengambil serangan terlebih dahulu. &#8220;Menurut kamu Tante seksi nggak De?&#8221; tanyanya.&#8221;Wah seksi sekali Tante&#8221;, kataku.&#8221;Seksi mana sama yang di film itu?&#8221; tanyanya lagi sambil membusungkan buah dadanya sehingga terlihat semakin membesar.&#8221;Wah seksi Tante dong, abis Tante bodynya bagus sih.&#8221; kataku.&#8221;Ah masa sih?&#8221; tanyanya.&#8221;Iya bener Tante, sumpah&#8230;&#8221; kataku.Jarak duduk kita semakin rapat karena Tante Linda terus mendekatkan dirinya padaku, lalu dia bertanya lagi kepadaku,&#8221;Kamu mau nggak kalo diajak begituan sama Tante?&#8221;"Mmaaauu Tante&#8230;&#8221; Ah seperti dapat durian runtuh kesempatan ini tidak aku sia-siakan, langsung saja aku memberanikan diri untuk mencoba mendekatkan diri pada Tante Linda.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Wahhhh barang kamu gede juga ya De&#8230;&#8221; katanya.&#8221;Ah Tante bisa aja deh&#8230; Tante kok kelihatannya makin lama makin seksi aja sih.. sampe saya gemes deh ngeliatnya&#8230;&#8221; kataku.&#8221;Ah nakal kamu yah De&#8221;, jawab Tante Linda sambil meletakkan tangannya di atas kemaluanku, lalu aku mencoba untuk tenang sambil memegang tangannya.&#8221;Waah jangan dipegangin terus Tante, nanti bisa tambah gede loh&#8221;, kataku.&#8221;Ah yang bener nih?&#8221; tanyanya.&#8221;Iya Tante.. ehhh, eehhh saya boleh pegang itu Tante nggak?&#8221; kataku.&#8221;Pegang apa?&#8221; tanyanya.&#8221;Pegang itu tuh..&#8221; kataku sambil menunujukkan ke arah buah dada Tante yang besar itu.&#8221;Ah boleh aja kalo kamu mau.&#8221;Wah kesempatan besar nih, tapi aku agak sedikit takut pegang buah dadanya, takut dia marah tapi tangan si Tante sekarang malah sudah mengelus-elus kemaluanku sehingga aku memberanikan diri untuk mengelus buah dadanya.&#8221;Ahhh.. arghhh enak De.. kamu nakal yah&#8221;, kata Tante sembari tersenyum manis ke arahku, spontan saja kulepas tanganku.&#8221;Loh kok dilepas sih De?&#8221;"Ah, takut Tante marah&#8221;, kataku.&#8221;Ooohh nggak sayang&#8230; kemari deh.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Tanganku digenggam Tante Linda, kemudian diletakkan kembali di buah dadanya sehingga aku pun semakin berani meremas-remas buah dadanya. &#8220;Aaarrhh&#8230; sshh&#8221;, rintihan Tante semakin membuatku penasaran, lalu aku pun mencoba mencium Tante Linda, sungguh diluar dugaanku, Tante Linda menyambut ciumanku dengan beringas, kami pun lalu berciuman dengan mesra sekali sambil tanganku bergerilya di buah dadanya yang sekal sekali itu. &#8220;Ahhh kamu memang hebat De.. terusin sayang.. malam ini kamu mesti memberikan kepuasan sama Tante yah.. ahhh.. arhhh.&#8221;"Tante, saya boleh buka baju Tante nggak?&#8221; tanyaku.&#8221;Oohhhh silakan sayang&#8221;, lalu dengan cepat kubuka bajunya sehingga buah dadanya yang besar dengan puting yang kecoklatan sudah berada di depan mataku, langsung saja aku menjilat-jilat buah dadanya yang memang aku kagumi itu. &#8220;Aahhh&#8230; arghhh&#8230;&#8221; lagi-lagi Tante mengerang-erang keenakan. &#8220;Teruss.. terusss sayang&#8230; ahhh enak sekali&#8230;&#8221; lama aku menjilati buah dada Tante Linda, hal ini berlangsung sekitar 10 menitan sehingga tanpa kusadari batang kemaluanku juga sudah mulai mengeluarkan cairan bening pelumas di atas kepalanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Lalu sekilas kulihat tangan Tante Linda sedang mengelus-elus bagian klitorisnya sehingga tanganku pun kuarahkan ke arah bagian celananya untuk kupelororti. &#8220;Aahhh buka saja sayang&#8230; jangan malu-malu&#8230; ahhhh&#8230;&#8221; nafas Tante Linda terengah-engah menahan nafsu, seperti kesetanan aku langsung membuka celananya dan kuciumi CD-nya. Waah, dia lagsung saja menggelinjang keenakan, lalu kupelorotkan celana dalamnya sehingga sekarang Tante Linda sudah bugil total. Kulihat liang kemaluannya yang penuh dengan bulu yang ditata rapi sehingga kelihatan seperti lembah yang penuh dengan rambut. Lalu dengan pelan-pelan kumasukan jari tengahku untuk menerobos lubang kemaluannya yang sudah basah itu. &#8220;Aahrrrh&#8230; sshh&#8230; enak De.. enak sekali&#8221;, jeritnya. Lalu kudekatkan mukaku ke liang kemaluannya untuk menjilati bibir kemaluannya yang licin mengkilap itu, lalu dengan nafsu kujilati liang kemaluan Tante dengan lidahku turun naik sepeti mengecat saja. Tante Linda semakin kelabakan, dia menggoyangkan kepalanya ke kanan dan ke kiri sambil memeras buah dadanya sendiri.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Aahhh&#8230; sshhh come on baby.. give me more, give me more&#8230; ohhhh&#8221;, dengan semakin cepat kujilati klitorisnya dan dengan jari tanganku kucoblos lubang kemaluannya yang semakin lama semakin basah. Beberapa saat kemudian tubuhnya bergerak dengan liar sepertinya dia mau orgasme. Lalu kupercepat tusukan-tusukan jariku sehingga dia merasa keenakan sekali lalu seketika dia menjerit, &#8220;Oohh aaahh&#8230; Tante sudah keluar sayang&#8230; ahhh&#8221;, sambil menjerit kecil pantatnya digoyang-goyangkan untuk mencari lidahku yang masih terus menjilati bagian bibir kemaluannya sehingga cairan orgasmenya kujilati sampai habis. Kemudian tubuhnya tenang seperti lemas sekali, lalu dia menarik tubuhku ke atas sofa. &#8220;Wah ternyata kamu memang hebat sekali, Tante sudah lama tidak sepuas ini loh&#8230;&#8221; sambil mencium bibirku sehingga cairan liang kemaluannya berlepotan ke bibir Tante Linda. Sementara itu batang kemaluanku yang masih tegang di elus-elus oleh Tante Linda dan aku pun masih memilin-milin puting Tante yang sudah semakin keras itu.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Aahh..&#8221; desahnya sambil terus mencumbu bibirku. &#8220;Sekarang giliran Tante sayang&#8230; Tante akan buat kamu merasakan nikmatnya tubuh Tante ini.Tangan Tante Linda segera menggerayangi batang kemaluanku lalu digenggamnya batang kemaluanku dengan erat sehingga agak terasa sakit, tapi kudiamkan saja habis enak juga diremas-remas oleh tangan Tante Linda. Lalu aku juga nggak mau kalah, tanganku juga terus meremas-remas payudaranya yang indah itu. Terus terang aku paling suka dengan buah dada Tante Linda karena bentuknya yang indah sekali, juga besar berisi alias montok. &#8220;Aahhh&#8230; shhh,&#8221;, rupanya Tante Linda mulai terangsang kembali ketika tanganku mulai meremas-remas buah dadanya dengan sesekali kujilati dengan lidah pentilnya yang sudah tegang itu, seakan-akan seperti orang kelaparan kuemut-emut terus puting susunya sehingga Tante Linda menjadi semakin blingsatan.&#8221;Ahh kamu suka sekali sama dada Tante yah De?&#8221;"Iya Tante, abis tetek Tante bentuknya sangat merangsang sih, terus besar tapi masih tetep kencang&#8230;&#8221;"Aahhh kamu emang pandai muji orang De..&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Sementara itu tangannya masih terus membelai batang kemaluanku yang kepalanya sudah berwarna kemerahan tetapi tidak dikocok hanya dielus-elus. Lalu Tante Linda mulai menciumi dadaku terus turun ke arah selangkanganku sehingga aku pun mulai merasakan kenikmatan yang luar biasa sampai pada akhirnya Tante Linda jongkok di bawah sofa dengan kepala mendekati batang kemaluanku. &#8220;Wahh batang kemaluanmu besar sekali De&#8230; nggak disangka kamu nggak kalah besarnya sama punya orang bule&#8221;, Tante Linda memuji-muji batang kemaluanku.Sedetik kemudian dia mulai mengecup kepala batang kemaluanku yang mengeluarkan cairan bening pelumas dan merata tersebut ke seluruh kepala batang kemaluanku dengan lidahnya. Uaah, tak kuasa aku menahan erangan merasakan nikmatnya service yang diberikan Tante Linda malam itu. Lalu dia mulai membuka mulutnya lalu memasukkan batang kemaluanku ke dalam mulutnya sambil menghisap-hisap dan menjilati seluruh bagian batang kemaluanku sehingga basah oleh ludahnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku pun nggak mau kalah, sambil mengelus-elus rambutnya sesekali kuremas dengan kencang buah dadanya yang montok sehingga Tante Linda bergelinjang menahan kenikmatan. Selang beberapa menit setelah Tante melakukan hisapannya, aku mulai merasakan desiran-desiran kenikmatan menjalar di seluruh batang kemaluanku lalu kuangkat Tante Linda kemudian kudorong perlahan sehingga dia telentang di atas karpet. Dengan penuh nafsu kuangkat kakinya sehingga dia mengangkang tepat di depanku.&#8221;Ahh De ayolah masukin batang kemaluan kamu ke Tante yah.. Tante udah nggak sabar mau ngerasain memek Tante disodok-sodok sama batangan kamu yang besar itu.&#8221;"Iiiya Tante&#8221;, kataku. Lalu aku mulai membimbing batang kemaluanku ke arah lubang kemaluan Tante Linda tapi aku nggak langsung memasukkannya tapi aku gesek-gesekan ke bibir kemaluan Tante Linda sehingga Tante Linda lagi-lagi menjerit keenakan, &#8220;Aahhh.. yes.. yes.. oh good.. ayolah sayang jangan tanggung-tanggung masukinnya&#8230;&#8221; lalu aku mendorong masuk batang kemaluanku.</p>
<p style="text-align: justify;">Uh, agak sempit rupanya lubang kemaluan Tante Linda ini sehingga agak susah memasukkan batang kemaluanku yang sudah besar sekali itu. &#8220;Aahh.. shhh.. aoh.. oohhh pelan-pelan sayang.. terus-terus&#8230; ahhh&#8221;, aku mulai mendorong kepala batang kemaluanku ke dalam lubang kemaluan Tante Linda sehingga Tante Linda merasakan kenikmatan yang luar biasa ketika batang kemaluanku sudah masuk semuanya. Kemudian batang kemaluanku mulai kupompakan dengan perlahan tapi dengan gerakan memutar sehingga pantat Tante Linda juga ikut-ikutan bergoyang-goyang. &#8220;Aahhh argghhh.. rasanya nikmat sekali karena goyangan pantat Tante Linda menjadikan batang kemaluanku seperti dipilin-pilin oleh dinding liang kemaluannya yang seret itu dan rasanya seperti empotan ayam. &#8220;Uuaahhh..&#8221; sementara itu aku terus menjilati puting susu Tante Linda dan menjilati lehernya yang dibasahi keringatnya. Sementara itu tangan Tante Linda mendekap pantatku keras-keras sehingga kocokan yang kuberikan semakin cepat lagi. &#8220;Ooohh shhh sayang&#8230; enak sekali ooohhh yess&#8230; ooohh good&#8230;</p>
<p style="text-align: justify;">ooh yes&#8230;&#8221; mendenganr rintihannya aku semakin bernafsu untuk segera menyelesaikan permainan ini, &#8220;Aahh&#8230; cepat sayang Tante mau keluar ahh&#8221;, tubuh Tante Linda kembali bergerak liar sehingga pantatnya ikut-ikutan naik rupayanya dia kembali orgasme, bisa kurasakan cairan hangat menyiram kepala batang kemaluanku yang lagi merojok-rojok lubang kemaluan Tante Linda. &#8220;Aahh&#8230; shhsss.. yess&#8221;, lalu tubuhnya kembali agak tenang menikmati sisa-sisa orgasmenya. &#8220;Wahh kamu memang bener-bener hebat De&#8230; Tante sampe keok dua kali sedangkan kamu masih tegar.&#8221;"Iiya Tante&#8230; bentar lagi juga Ade keluar nih&#8230;&#8221; sambil terus aku menyodok-sodok lubang kemaluan Tante Linda yang sempit dan berdenyut-denyut itu.&#8221;Ahh enak sekali Tante.. ahhh&#8230;&#8221;"Terusin sayang.. terus&#8230; ahhh.. shhh&#8221;, erangan Tante Linda membuatku semakin kuat merojok-rojok batang kemaluanku ke dalam liang kenikmatannya.&#8221;Aauwh pelan-pelan sayang ahhh.. yes.. ahh good.&#8221;"Aduh Tante, bentar lagi keluar nih&#8230;&#8221; kataku.&#8221;Aahh Ade sayang&#8230; keluarin di dalam aja yah sayang.. ahhh..</p>
<p style="text-align: justify;">Tante mau ngerasin.. ahhh&#8230; shhh mau rasain siraman hangat peju kamu sayang&#8230;&#8221;"Iiiyyaa&#8230; Tante..&#8221; lalu aku mengangkat kaki kanan Tante sehingga posisi liang kemaluannya lebih menjepit batang kemaluanku yang sedang keluar masuk lobang kemaluannya.&#8221;Aahhh&#8230; ohhh ahhh.. ssshhh.. Tante Ade mau keluar nih.. ahhh&#8221;, lalu aku memeluk Tante Linda sambil meremas-meremas buah dadanya. Sementara itu, Tante Linda memelukku kuat-kuat sambil mengoyang-goyangkan pantatnya. &#8220;Ah Tante juga mau keluar lagi ahhh&#8230; shhh&#8230;&#8221; lalu dengan sekuat tenaga kurojok liang kemaluannya sehingga kumpulan air maniku yang sudah tertahan menyembur dengan dahsyat. &#8220;Seeerr.. serr&#8230; crot.. crot&#8230;&#8221; &#8220;Aahhh enak sekali Tante&#8230; ahhh harder.. harder&#8230; ahhh Tante&#8230;&#8221; Selama dua menitan aku masih menggumuli tubuh Tante Linda untuk menuntaskan semprotan maniku itu. Lalu Tante Linda membelai-belai rambutku. &#8220;Ah kamu ternyata seorang jagoan De&#8230;&#8221; Setelah itu ia mencabut batang kemaluanku yang masih agak tegang dari lubang kemaluannya kemudian dimasukkan ke dalam mulutnya untuk dijilati oleh lidahnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Ah, ngilu rasanya batang kemaluanku dihisap Tante Linda. Setelah kejadian ini kami sering melakukan hubungan seks yang kadang-kadang meniru gaya-gaya dari film porno yang banyak beredar di sana. Sekian, semoga ceritaku ini bisa jadi bahan bagi anda yang suka bersenggama dengan tante-tante.</p>
<p style="text-align: justify;">TAMAT</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ceritasex.cn/bercumbu-dengan-tante-linda/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Binalnya Tante Ida</title>
		<link>http://www.ceritasex.cn/binalnya-tante-ida/</link>
		<comments>http://www.ceritasex.cn/binalnya-tante-ida/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 16 Nov 2011 20:00:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cerita Sex</dc:creator>
				<category><![CDATA[Paruh baya]]></category>
		<category><![CDATA[Pemerkosaan]]></category>
		<category><![CDATA[Seks Umum]]></category>
		<category><![CDATA[Tante Girang]]></category>
		<category><![CDATA[bercinta]]></category>
		<category><![CDATA[binal]]></category>
		<category><![CDATA[bokep]]></category>
		<category><![CDATA[cuki]]></category>
		<category><![CDATA[isep kontol]]></category>
		<category><![CDATA[kontol]]></category>
		<category><![CDATA[ml]]></category>
		<category><![CDATA[ngentot]]></category>
		<category><![CDATA[seks]]></category>
		<category><![CDATA[tante ida]]></category>
		<category><![CDATA[vagina]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ceritasex.cn/?p=3177</guid>
		<description><![CDATA[Aku sedang berlibur di kota Bandung, nginap dirumah Om ku adik mama yang paling kecil. Mereka memang 7 bersaudara dan mamaku yang paling tua, aku saat itu berumur 20 tahun dan omku berumur 35 tahun. Istri om ku, tante Ida berumur 27 tahun, orangnya sangat cantik dan mempunyai tubuh yang mungil tapi padat. Pantatnya bebar-benar [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Aku sedang berlibur di kota Bandung, nginap dirumah Om ku adik mama yang paling kecil. Mereka memang 7 bersaudara dan mamaku yang paling tua, aku saat itu berumur 20 tahun dan omku berumur 35 tahun. Istri om ku, tante Ida berumur 27 tahun, orangnya sangat cantik dan mempunyai tubuh yang mungil tapi padat. Pantatnya bebar-benar montok dengan pinggang yang ramping dan perut yang datar, maklum mereka belum mempunyai anak, biarpun sudah kawin hampir 3 tahun. Akan tetapi tante Ida yang cantik itu, orangnya sangat judes, dia tidak memandang mata keluargaku, maklum kami hanya biasa-biasa saja, sedangkan tante Ida datang dari keluarga yang sangat kaya di kota Surabaya, dia hanya 2 bersaudara dan Ida adik perempuannya yang berumur 22 tahun, masih kuliah di ITB dan tinggal dirumah om dan tante Ida di Bandung. Selama aku berada dirumah om ku ini, hampir setiap hari tante Ida mengomel saja, karena dia memang sangat benci kalau aku menginap dirumah mereka. Disamping aku memang termasuk anak yang bandel, biarpun secara postur tubuh, aku sudah kelihatan sangat dewasa, karena tinggi badanku 175 cm dengan tubuh yang berotot, tante Ida curiga saja dan menganggap aku sering menerima duit dari om ku, pada hal sangat jarang om ku memberi aku duit.</p>
<p style="text-align: justify;">Saat ini aku nginap di rumah mereka, sebenarnya hanya terpaksa saja, karena aku sedang berlibur di Bandung dan ibuku memberitahukan kepada om ku yang memaksa aku tinggal dirumahnya. Hari ini entah mengapa aku merasa suntuk banget sendirian, kemarin sore sebelum om ku pulang dari kantor, tante Ida marah-marah dan menunjukan muka cemberut terhadap saya. Saat itu rumah berada dalam keadaan sepi, om sudah pergi kekantor, Mbak Ani adik tante Ida sedang pergi kuliah, Bik Suti lagi pergi ke pasar, dan tante Ida katanya mau pergi ke arisan. Tadi sebelum pergi dengan nada yang setengah membentak, tante Ida menyuruh saya menjaga rumah. &#8220;Dari pada BT sendiri, mending nonton BF aja di kamar,&#8221; pikirku. TV mulai kunyalakan, kuambil CD porno yang kemarin kupinjam ditempat persewahan dekat rumah, adegan-adegan panas nampak di layar. Mendengar desahan-desahan artis BF yang cantik dan bahenol tersebut membuat aku terangsang. Dengan lincahnya tanganku melucuti celana beserta CD-ku sendiri. Burungku yang sedari tadi tegak mengacung kukocok perlahan.</p>
<p style="text-align: justify;">Film yang kutonton itu cukup panas, sehingga aku menjadi semakin bergairah. Kutanggalkan pakaian yang masih melekat, akhirnya tubuhku tanpa ada penutup sekalipun. Kocokan tanganku semakin cepat seiring dengan makin panasnya adegan yang kutonton. Kurasakan ada getaran dalam kontolku yang ingin meyeruak keluar. Aku mau orgasme, tiba-tiba… &#8220;Anton.. apa yang kamu lakukan!!&#8221; teriak sebuah suara yang aku kenal. &#8220;Ooooohh… Tante…?!&#8221; aku kaget setengah mati dan sangat bingung sekali saat itu. Tak kusangka tante Ida yang katanya mau pergi arisan bisa kembali secepat itu. Tanpa sadar aku bangkit berdiri dan kudekati tante Ida yang cantik tapi judes itu, yang masih berdiri dalam keadaan kaget dengan mata membelalak melihat keadaanku yang telanjang bulat dengan kontolku yang panjang dan besar dalam keadaan tegang itu. Tiba-tiba entah setan mana yang mendorongku, secara refleks saja aku menyergap dan mendekap tubuh tante Ida yang mungil padat itu. Badannya yang mungil dan tingginya yang hanya sampai sebahu dari ku, ku bekap dengan kuat dan kutarik agak keatas, sehingga tante Ida hanya berdiri dengan ujung jari kakinya saja dengan kepala agak tertengadah keatas, karena kaget. Dengan cepat kucium dan kulumat bibir tipisnya yang seksi.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Eeeehhhh… ppppffffff…!!! badan tante Ida seketika mengejang dan agak menggeliat menerima perlakuan yang tidak pernah dia sangka akan berani aku lakukan itu dan sesaat kemudian dia mulai memberontak dengan hebat, sehingga ciumanku terlepas….<br />
<span id="more-3177"></span><br />
&#8220;Anton.. jangan kurang ajar.. berani benar kau ini.. ingat, Toonnn.. Aku ini istri om mu…!!! Cepat lepas… nanti kulaporkan kau ke om mu…&#8221; teriak tante Ida dengan suara garang mencoba mengancamku. Aku tak lagi peduli, salah tante Ida sendiri sih, orang mau orgasme kok diganggu. Dengan buasnya aku jilat belakang telinga dan tengkuknya, kedua payudaranya yang biarpun tidak terlalu besar, tapi padat itu langsung kuramas-ramas dengan buas, sampai tante Ida menjerit-jerit. Disamping nafsuku yang memang sudah menggila itu, ada juga rasa ingin balas dendam dan mau mengajar adat padanya atas perlakuan dan pandangannya yang sangat menghina padaku. Dia mencoba berteriak, tapi dengan cepat aku segera menciumnya lagi. Ada kali 10 menit aku melakukan hal itu, sementara tante Ida terus meronta-ronta, dan mengancamku serta mencaci maki, entah apa saja yang dikatakannya, aku sudah tidak memperdulikannya lagi.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku terus menyerangnya dengan buas dan mengelus-elus dan meramas-ramas seluruh tubuhnya sambil terus mencium mulutnya dengan rakus. Dia tidak dapat melepaskan diri dari dekapanku, karena memang tubuhku yang tinggi 175 cm dengan badan yang atletis dan berotot, tidak sebanding dengan tubuh tante Ida yang 155 cm dan mungil itu. Akibat seranganku yang bertubi-tubi itu, lama kelamaan kurasakan tidak ada lagi perlawanan dari tante Ida, entah karena dia sudah lelah atau mungkin dia mulai terangsang juga. Merasa sudah tidak ada perlawanan lagi dari tante Ida, kontolku yang panjang dan besar yang sudah sangat tegang itu kugosok-gosok pada perutnya dan kemudian kuraih tangannya yang mungil dan kuelus-elus ke kontolku, tangan mungilnya kugosok-gosok, mengocok kontolku yang mulai mengeras. Tubuhnya terasa mengejang, akan tetapi kedua matanya masih terpejam, dan tidak ada perlawanan darinya. Kemudian ketika dengan perlahan kubuka baju tante Ida, dia dengan lemah masih mencoba menahan tanganku, akan tetapi tanganku yang satu mengunci kedua tangannya dan tanganku yang lain membuka satu demi satu kancing-kancing blusnya, dan perlahan-lahan mempertontonkan keindahan tubuh di balik kain itu. Setelah berhasil membuka blus dan BH-nya, kuturunkan ciumanku menuju ke payudara tante Ida yang padat berisi…</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Tooonnnn… aaammmpuunn… Toonnnnn… iiii.. iiingaaattttt.. Tooonnn..!!!&#8221; Kucium dan kulumat putingnya yang berwarna kecoklatan itu. Terkadang kugigit dan kupuntir putingnya, sementara kusingkap roknya dan jari-jariku mulai mengelus-elus kemaluannya yang masih tertutup CD. &#8220;Iiiiiiiiii…..ooohhhhhhh…..aaaagggghhhhhh……..ssssshhhhhhh……..Toooonnnnn……! !!!!&#8221; akibat perlakuanku itu, kayaknya tante Ida mulai terangsang juga, itu terasa dari tubuhnya yang mengejang kaku dan dengusan nafasnya makin terdengar kuat. Aku makin memperhebat seranganku dan tiba-tiba tubuh tante Ida bergetar dengan kuat dan…….. &#8220;Aaaahhhhhh..Toooonnnn…jaaa..jaaa angaaannn….Tooonnnn……iiii…ngaaaatttt.. Tooo nnn… oooohhhhhhh…………aaaaaggggghhh…aaaaggghhh .aaaaggggggggghhhhh…!!!!!&#8221; akhirnya, disertai tubuhnya yang mengejang dan menggeliat-geliat kuat, serta kedua tangannya mendekap punggung ku….Seerrr.. cairan kewanitaan tante Ida membasahi CD nya sekalian jemariku. Setelah masa orgasmenya berlalu, terasa badan tante Ida melemas terkulai dalam dekapanku dan kedua matanya masih terpejam rapat, entah perasaan apa yang sedang bergelora dalam tubuhnya, puas, malu atau putus asa akibat perlakuanku terhadap nya , sehingga dia mencapai orgasme itu. Tarikan nafasnya masih terengah-engah.</p>
<p style="text-align: justify;">Kami terdiam sejenak, sementara tubuh tante Ida bersandar lemas dalam dekapanku dengan mata. Jemari lentik tante Ida masih menggenggam kontolku yang masih tegak mengacung. Akhirnya secara perlahan-lahan kepala tante Ida menengadah keatas dan terlihat pandangan matanya yang sayu menatapku, sehingga menambah kecantikan wajahnya dan secara lembut terdengar suaranya… &#8220;Oooohhhh….Toonnnn, apa yang kau perbuat pada tantemu ini…….?????&#8221; &#8220;Eeeehhmmm…maafkan Anton tante….Anton lupa diri….abis tante tadi masuk tiba-tiba selagi Anton akan mencapai klimaks….salah tante sendiri sihhh…….lagi pula…tante amat cantik sihhh…..!!!!!!&#8221; sahutku mencari-cari alasan sekenanya. Sekarang kayaknya tante Ida sudah pasrah dan sambil tanganya masih menggenggam kontolku katanya lagi.. &#8220;Tooonnnn…..punya kamu gede amat yaaaa…????. Punya Om mu nggak sampai segede ini..!!&#8221; &#8220;Aaahhhhh, tante…apa betull…?????!&#8221; memang kontol ku panjangnya 20 cm dan gede juga dengan kepalanya yang bulat besar, apalagi kalau lagi sangat bernafsu begini. Jemari lentik tante Ida yang tadinya hanya menggenggam saja, kini mulai memainkan kontolku dengan manja. Seperti mendapat mainan baru, tangan tante Ida tak mau lepas dari situ.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Taaannnnn…., kok diiiii…..dii…diamin aja, dikocok dong, Taannn…. biar enaaakkk….!!!!&#8221; &#8220;Ton, Ton.. kamu keburu nafsu aja….aaaaggghhh….!!!&#8221;, perlahan-lahan kedua tanganku menekan bahu tante Ida, sehingga tubuh tante Ida berjongkok dan sesaat kemudian kepalanya telah sejajar dengan selangkanganku. Kedua tangannya segera menggenggam kontolku dan kemudian tante Ida mulai menjilati kepala kontolku dengan lidahnya. Bergetar seluruh tubuhku menerima rangsang dari mulut tante Ida. Dijilatnya seluruh batang kemaluanku, mulai dari pangkal sampai ujung. Tak ada bagian yang terlewat dari sapuan lidahnya. Dikocoknya kontolku didalam mulutnya, tapi tak semuanya bisa masuk. Mungkin hanya 3/4 nya saja yang dapat masuk ke mulut tante Ida. Kurasakan dinding tenggorokan tante Ida menyentuh kepala kontolku. Sungguh sensasi sangat luar biasa menjalar ke seluruh tubuhku. Cukup lama juga tante Ida mengulum kontolku. Kurasakan batang kontolku mulai membesar dan makin mengeras. Dari dalam kurasakan ada sesuatu yang memaksa untuk keluar.</p>
<p style="text-align: justify;">Merasa aku akan keluar, tante Ida semakin cepat mengocok batang kemaluanku. &#8220;Taaannnnn..ah..aohh.. taaannn.. Anton mo keluar,…….aaauuugghhhh…..taaannnn..!!!!!!!&#8221; Akhirnya..Croott..croott..croottt.. Hampir sepuluh kali cairan itu menyembur dari ujung kontolku. Diminumnya air maniku dengan, dijilatinya semua, sampai tak ada lagi cairan yang tersisa. Meskipun sudah keluar tetapi kontolku tetap saja masih tegar, meski tak seberapa keras lagi. Melihat itu, tante Ida mencium-cium kepala kontolku dan menjilat-jilatnya hingga bersih. Kemudian kutarik berdiri tubuh tante Ida dan kudorong ke tempat tidur, sehingga tante Ida terlentang diatas tempat tidur. Dengan cepat kulucuti rok sekalian CD nya, sehingga sekarang tante Ida terlentang diatas tempat tidur dengan tubuhnya yang mungil tapi padat itu berada dalam keadaan telanjang bulat. Tante Ida hanya menatap ku dengan pandangan yang sayu dan terlihat pasrah. Aku naik keatas tempat tidur dan kedua kakinya kupentang lebar-lebar dan aku berjongkok diantara kedua pahanya yang terpentang membuka lebar kemaluannya yang telah licin, siap untuk diterobos.</p>
<p style="text-align: justify;">Kupegang batang kontolku dan kugosok-gosok sepanjang bibir kemaluannya, sambil kutekan-tekan pelahan. Merasakan gesekan-gesekan lembut vagina tante Ida, kontolku mulai mengeras kembali. Ku ambil tangan tante Ida dan ku tempatkan pada batang kontolku, segera digengamnya kontolku dan diarahkan ke lubang kemaluannya. Dengan sedikit gerakan menekan, kepala kontolku perlahan-lahan mulai masuk setengah ke lobang kemaluan tante Ida. Terasa lobang kemaluan tante Ida sangat sempit mencengkeram batang kemaluanku. Dinding kemaluan tante membungkus rapat batang kemaluanku, kutekan lagi dan tubuh tante Ida menggeliat… &#8220;Oooooohhhhhh… Toooonnnn… bee.. beeeesaaarrrr aaaaa.. maaaattttt.. pe.. peeelaaan… pee laaan… Tooooonnnnn… ooooohhhhh..!!!!!&#8221; tante Ida merintih perlahan. Secara pelan dan hati-hati aku menekan batang kemaluanku makin dalam… terus… terus…. ooohhhhhh… eeeenna aaak… benaaarrrr… terasa jepitan kuat dinding kemaluan tante Ida yang menjepit rapat batang kemaluanku. Perasaanku terasa melayang-layang dilanda kenikmatan yang tidak terlukisakan ini…..</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Taaaaannnnn……ooohhhhhh…..eeee euuuuunnaaaakkkkkkkk…taannnnn….!!!!&#8221; Dengan kedua paha yang terkangkang lebar-lebar dan kedua tangannya berpegang pada pinggangku, tante Ida memandang ku dengan tatapan sayu, terlihat sangat cantik dan menawan, sehingga aku yang sedang bertumpu diatasnya perasaanku terasa menggila, melihat dan merasakan wanita cantik dan ayu yang berbadan mungil tapi padat ini, terlentang pasrah dibawahku, menerima seluruh perlakuanku. Kugerakan perlahan-lahan pinggulku menekan kebawah, sehingga kontolku  terbenam makin dalam kelobang kemaluannya, dalam….. dalam….. terus…… terus….. daannnn….. ….kemudian……ujung kepala kontolku terasa mentok, karena beberapa kali tubuh tante Ida mengejang ketika aku mencoba menekan lebih kuat, aku kemudian mulai menarik keluar dan selanjutnya memompa keluar masuk. Dengan bersemangat aku mulai menaik-turunkan tubuhku. Gerakan naik-turun yang terkadang diselingi dengan gerakan memutar, sungguh merupakan sensasi yang sangat luar biasa. Apalagi posisi kedua paha tante Ida terkangkang lebar-lebar, membuat tikaman-tikamanku terasa jauh didalam dasar lobang kemaluannya.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku dapat melihat payudara tante Ida bergerak-gerak keatas kebawah setiap kali aku menekan masuk kontolku dalam-dalam sehingga kedua selangkangan kami berhimpit rapat-rapat. Kemudian kurasakan otot-otot kemaluan tante Ida dengan kuat menyedot kontolku. Semakin lama kurasa semakin kuat saja kemaluan tante Ida menjepit kontolku. Kulihat wajah tante Ida nampak makin memerah menahan orgasme keduanya yang akan melandanya sebentar lagi. &#8220;Aaaaaaddduuuuuhhhhh….Toooonnn.. Aaaagggghhhhhh.. Oouggg.. hhaa..hhaa…Toooonn …taaannnn…teeeee…maaa…. Maaauuuu…keee… keeeeluaraarrrr lagi, Toonnnnn…!!!!!!!.&#8221; Dan….. Seeeeerrrr…..kurasakan cairan hangat membasahi kontolku. Sementara nafsuku sudah sangat memuncak menuntut penyelesaiannya, aku sudah tidak bisa lagi bertindak halus, tanpa banyak bicara, segera saja kupompa pantatku dengan cepat dan gencar, mendapat serangan yang agak kasar dan tiba-tiba itu tante Ida menjerit-jerit kesakitan. Meskipun lobang kemaluan tante Ida telah basah dan licin banget, tapi tetap saja terasa seret untuk ukuran kontolku yang besar.</p>
<p style="text-align: justify;">Tak kuhiraukan lagi suara tante Ida yang menjerit-jerit kesakitan, yang ada dipikiranku saat itu adalah aku ingin segera mengakhiri permainan ini dan merasakan nikmat yang akan datang padaku. Kurasakan otot-otot kontolku mulai berdenyut-denyut dengan kerasnya, ada sesuatu yang berusaha untuk keluar dari batang kontolku. Kucoba untuk menahannya selama mungkin agar tidak segera keluar, tapi jepitan dinding kemaluan tante Ida akhirnya meruntuhkan pertahananku. &#8220;Aaaaaauuddddduuhhhh… taaannnnnn… teeeee… oooooohhhhh…..!!!!&#8221; keluhan panjang penuh kenikmatan keluar dari mulut ku disertai dengan …croott.. croott….croooootttt….semburan..maniku menyemprot dengan kuat, mengisi relung-relung terdalam lobang kemaluan tante Ida, kemudian badanku tertelungkup lemas menidih badan mungi tante Ida, sementara kuubiarkan kontolku tetap didalam kemaluan tante Ida untuk merasakan sisa-sisa orgasmeku. Kurasakan kemaluan tante Ida tetap saja berdenyur-denyut, meski tak sekuat tadi. &#8220;Taannnn, terima kasih ya, udah mau temenin Anton main.!!!!&#8221; kataku dengan manja.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Kamu, tuh, Ton, kalau lagi nafsu jangan main maksa dong, masak tantemu sendiri kamu perkosa juga…..!!!!&#8221; &#8220;Iiihhhhh…tante…..tapi tante senang juga….kaannnn …..????&#8221; &#8220;Iya.. siiihhh….!!!!!&#8221; kata tante Ida malu-malu. Sejak saat itu sikap tante Ida terhadapku berobah seratus persen, biarpun sikap kami ini tetap terjaga dihadapan om dan adik tante Ida. Aku dan tante Ida sering berhubungan sex bersama kalau rumah lagi sepi. Aku makin merasa sayang saja terhadap tante Ida, apalagi tante Ida melayani nafsu sex saya dengan rela dan sepenuh hati.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ceritasex.cn/binalnya-tante-ida/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Dari Pemerkosaan Menjadi Skandal Perselingkuhan</title>
		<link>http://www.ceritasex.cn/dari-pemerkosaan-menjadi-skandal-perselingkuhan/</link>
		<comments>http://www.ceritasex.cn/dari-pemerkosaan-menjadi-skandal-perselingkuhan/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 06 Nov 2011 13:48:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cerita Sex</dc:creator>
				<category><![CDATA[anal seks]]></category>
		<category><![CDATA[Gangbang Rame Rame]]></category>
		<category><![CDATA[Paruh baya]]></category>
		<category><![CDATA[Pemerkosaan]]></category>
		<category><![CDATA[Seks Umum]]></category>
		<category><![CDATA[selingkuh]]></category>
		<category><![CDATA[anal]]></category>
		<category><![CDATA[anus]]></category>
		<category><![CDATA[cuki]]></category>
		<category><![CDATA[hardcore]]></category>
		<category><![CDATA[istri]]></category>
		<category><![CDATA[kontol]]></category>
		<category><![CDATA[memek]]></category>
		<category><![CDATA[ngentot]]></category>
		<category><![CDATA[sex]]></category>
		<category><![CDATA[skandal]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ceritasex.cn/?p=3162</guid>
		<description><![CDATA[Gila, hanya kata itu yang ada dalam benakku saat mengingat kisah pemerkosaan dari para pembantuku yang hingga kini menjadi skandal perselingkuhan. Aku dibuat liar oleh mereka, sungguh ini bukan kehendakku tapi aku sangat menikmatinya. Cerita panas yang sampai kini menjadi rahasia dalam rumah tanggaku. Di dalam ruangan itu terlihat sunyi beberapa dari mereka tidak sanggup [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Gila, hanya kata itu yang ada dalam benakku saat mengingat kisah pemerkosaan dari para pembantuku yang hingga kini menjadi skandal perselingkuhan. Aku dibuat liar oleh mereka, sungguh ini bukan kehendakku tapi aku sangat menikmatinya. Cerita panas yang sampai kini menjadi rahasia dalam rumah tanggaku.</p>
<p style="text-align: justify;">Di dalam ruangan itu terlihat sunyi beberapa dari mereka tidak sanggup melihat dua orang suami istri terbujur kaku, sedangkan di sampingnya terdapat anak yang masih berusia 11 tahun yang sedang menangisi ke dua orang tuanya, karena merasa kasihan aku meminta izin suamiku untuk menemuinya, setelah mendapat izin aku lalu menghampiri anak tersebut berharap dapat menenangkan hati anak tersebut, “Al..” panggilku pelan sambil duduk di sampingnya, “sudah jangan nagis lagi, biarkan kedua orang tuamu beristirahat”</p>
<p style="text-align: justify;">Anak itu tetap menangis, beberapa detik dia memandangku dan tidak lama kemudian dia langsung memelukku dengan air mata yang bergelinang,“tante, hiks…hiks… Aldi ga mau sendirian, Aldi mau mama, papa…” dengan penuh rasa kasih sayang aku mengelus punggungnya berharap dapat meringankan bebannya, “tante… bangunin mama,”katanya sambil memukul pundakku, aku semakin tak kuasa mendengar tangisnya, sehingga air matakupun ikut jatuh,“Aldi, jangan sedih lagi ya? Hhmm… kan masih ada tante sama om,” aku melihat ke belakang ke arah suamiku sambil memberikan kode, suami ku mengangguk bertanda dia setuju dengan usulku, “mulai sekarang Aldi boleh tinggal bersama tante dan om, gi mana?” tawarku sambil memeluk erat kepalahnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Sebelum lebih jauh mohon izinkan aku untuk memperkenalkan diri, namaku Lisa usia 25 tahun aku menikah di usia muda karena kedua orang tuaku yang menginginkannya, kehidupan keluargaku sangaatlah baik, baik itu dari segi ekonomi maupun dari segi hubungan intim, tetapi seperti pepata yang mengatakan tidak ada gading yang tak retak, begitu juga dengan hidupku walaupun aku memiliki suami yang sangat mencintaiku tetapi selama 4 tahun kami menikah kami belum juga dikaruniai seorang anak sehingga kehidupan keluarga kami terasa ada yang kurang, tetapi untungnya aku memiki seorang suami yang tidak perna mengeluh karena tidak bisanya aku memberikan anak untuknya untuk membalas budi baik kakakku, aku dan suamiku memutuskan untuk merawat anaknya Aldi karena kami pikir apa salah menganggap Aldi sebagai anak sendiri dari pada aku dan suamiku harus mengangkat anak dari orang lain.</p>
<p style="text-align: justify;">Sudah satu minggu Aldi tinggal bersama kami, perlahan ia mulai terbiasa dengan kehidupannya yang baru, aku dan suamiku juga meresa sangat senang sekali karena semenjak kehadirannya kehidupan kami menjadi lebih berwarna, suamiku semakin bersemangat saat bekerja dan sedangkan aku kini memiliki kesibukan baru yaitu merawat Aldi,“Bi…. tolong ambilin tasnya Aldi dong di kamar saya,” kataku memanggil bi Mar<br />
<span id="more-3162"></span><br />
Hari ini adalah hari pertama Aldi bersekolah sehingga aku sangat bersemangat sekali, setelah semuanya sudah beres aku meminta pak Rojak untuk mengantarkan Aldi ke sekolahnya yang baru, beberapa saat Aldi terseyum ke arahku sebelum dia berangkat ke sekolah. Seperti pada umumnya ibu rumah tangga, aku berencana menyiapkan makanan yang special untuk Aldi sehingga aku memutuskan untuk memasak sesuatu di dapur, tetapi saat aku melangkah ke dapur tiba-tiba kakiku terasa kaku saat melihat kehadiran pak Isa yang sedang melakukan hubungan intim dengan mba Ani, mereka yang tidak menyadari kehadiranku masih asyik dengan permainan mereka,“Hmm… APA-APAAN INI?” bentakku ke pada mereka, mendengar suaraku mereka terlihat tanpak kaget melihat ke hadiranku, “kalian benar-benar tidak bermoral, memalukan sekali!”</p>
<p style="text-align: justify;">Mereka tanpak terdiam sambil merapikan kembali pakaian mereka masing-masing, beberapa saat aku melihat penis pak Isa yang terlihat masih sangat tegang, sebenarnya aku sangat terkejut melihat ukuran penis pak Isa yang besar dan berurat, berbeda sekali dengan suamiku,“maafin kami Bu,” kini Ani membuka mulutnya, sedangkan pak Isa masih terdiam,“Maaf… kamu benar-benar wanita murahan, kamu tahu kan pak Isa itu sudah punya istri kenapa kamu masih juga menggoda pak Isa, kamu itu cantik kenapa tidak mencari yang sebaya denganmu?” emosiku semakin memuncak saat mengingat bi Mar istri dari pak Isa, “saya tidak menyangka ternyata anda yang sangat saya hormati ternyata tidak lebih dari binatang, betapa teganya anda menghianati istri anda sendiri,” beberapa kali aku menggelengkan kepalahku, sambil menunjuk ke arahnya,</p>
<p style="text-align: justify;">“maaf Bu ini semua salah saya, jangan salahkan Ani” kata pak Mar yang membela Ani,“mulai sekarang kalian saya PECAT, dan jangan perna menyentuh ataupun menginjak rumah ini, KELUAR KALIAN SEMUA!!” bentakku</p>
<p style="text-align: justify;">Mendengar perkataanku Ani terlihat pucat tidak menyangkah kalau kelakuan bisa membuatnya kehilangan pekerjaan, sedangkan pak Isa terlihat tenang-tenang saja malahan pak Isa tanpak terseyum sinis,“he..he… Ibu yakin dengan keputusan Ibu,” pak Isa tertawa mendengar perkataanku, perlahan pak Isa mendekatiku, “jangan perna main-main dengan saya Bu,” ancamnya dengan sangat sigap pak Isa menangkap kedua tanganku,“apa-apaan ini lepaskan saya, atau saya akan berteriak,” aku mencoba mengancam balik mereka yang sedang mencoba mengikat kedua tanganku,“teriak saja Bu, tidak akan ada orang yang mendengar,” timpal Ani sambil membantu pak Isa mengikat kedua tanganku,Apa yang di katakan Ani ada benarnya juga, tetapi walaupun begitu aku tidak mau menyerah begitu saja dengan susah paya aku berusaha melepaskan diri tapi sayangnya tenagaku kalah besar dari mereka berdua, tanpa bisa berbuat apa-apa aku hanya dapat mengikuti mereka saat membawaku ke dalam kamar pak Isa. Sesampai di kamar aku di tidurkan di atas kasur yang tipis, sedangkan Ani mengambil sebuah Hp dan ternyata Hp itu di gunakan untuk merekamku, sehingga kehawatiranku semakin menjadi-jadi.“kalian biadab, tidak tau terimakasih anjing kalian!” air mataku tidak dapat kubendung lagi saat jari-jemari pak Isa mulai merabahi pahaku yang putih,</p>
<p style="text-align: justify;">“ja-jangan, mau apa kalian lepaskan saya ku mohon jangan ganggu saya,” kataku di sela-sela isak tangis,“siapa suruh ikut campur urusan saya, he…he… maaf bu ternyata hari ini adalah hari keberuntungan saya, dan hari yang sil bagi Ibu,” semakin lama aku merasa tangannya semakin dalam memasuki dasterku,</p>
<p style="text-align: justify;">“tidak di sangkah impian saya akhirnya terkabul juga,”” sambungnya sambil meremasi paha bagian dalamku,“makanya Bu jangan suka ikut campur urusan orang,” kini giliran Ani yang menceramahiku,“ya, saya ngaku salah tolong lepasin saya,” kini aku hanya dapat memohon agar mereka sedikit iba melihatku, tetapi sayangnya apa yang kuharapkan tidak terjadi, pak Isa tanpa semakin buas memainkan diriku</p>
<p style="text-align: justify;">Aku hanya dapat melihat pasrah saat dasterku terlepas dari tubuhku, kedua payudaraku yang memang sudah tidak tertutupi apa-apa lagi dapat dia nikmati, jari-jarinya yang kasar mulai memainkan selangkanganku,“sslluupss…sslluuppss… hhmm…. ayo Bu puaskan saya?” pinta pak Isa, sambil mengulum payudaraku beberapa kali lidahnya menyapu putting susuku yang mulai mengeras,</p>
<p style="text-align: justify;">“ko’ memeknya basah bu, he…he…” memang harus diakui, tubuhku tidak dapat membohonginya walaupun bibirku berkata tidak,“wa…wa… Ibukan sudah punya suami ko’ masih juga menggoda laki orang lain, ga malu ya Bu,” Ani melotottiku seolah-olah ingin membalas perkataanku tadi, “dasar wanita munafik, sekarang Ibu tau kan kenapa saya menyukai pak Isa,”bentak Ani kepadaku, sehingga membuat hatiku terasa amat sakit mendengarnya,“aahhkk… pak, hhmm…. pak sudah jangan di terusin…” kataku dengan kaki yang tidak dapat diam saat jarinya menyelusup kedalam vaginaku yang sudah banjir, perlahan kurasakan jari telunjuknya menyelusuri belahan vaginaku,“oo… enak ya? he…he…” pa Isa tertawa melihatku yang sudah semakin terangsang, leherku terasa basah saat lidah pak Isa menjilati leherku yang jenjang.</p>
<p style="text-align: justify;">Dengan sangat kasarnya pak Isa menarik celana dalamku, sehingga vaginaku yang tidak di tumbuhi rambut sehelaipun terlihat olehnya, aku memang sangat rajin mencukur rambut vaginaku agar terlihat lebih bersi dan seksi.</p>
<p style="text-align: justify;">Ani berjongkok di sela-sela kakiku, kamera Hp di arahkan persis di depan vaginaku yang kini sudah tidak ditutupi oleh sehelai kain, tanpa memikirkan perasaanku pak Isa membuka bibir vaginaku sehingga bagian dalam vaginaku dapat di rekam jelas oleh Ani, beberapa kali jari telunjuk pak Isa menggesek clitorisku,“ohk pak plisss.. jangan…? saya malu…” aku merasa sangat malu sekali di perlakukan seperti itu, baru kali ini aku bertelanjang di depan orang lain bukan suamiku sendiri,“Ha…ha… malu kenapa Bu? anjing aja tidak malu ga pake baju masa ibu malu si…” katanya yang semakin merendahkan derajatku, setelah puas mempertontonkan vaginaku di depan kamera, pak Isa bertukar posisi dengan Ani untuk memegangi kakiku sedangkan pak Isa berjongkok tepat di bawa vaginaku.</p>
<p style="text-align: justify;">Dengan sangat lembut pak Isa menciumi pahaku kiri dan kanan secara bergantian, semakin lama jilatannya semakin ke atas menyentuh pinggiran vaginaku,“aahkk… sudah pak, rasanya sangat geli hhmm…” aku berusaha sekuat tenaga mengatupkan kedua kakiku tetapi usahaku sia-sia saja, dengan sangat rakus pak Isa menjilati vaginaku yang berwarna pink, sedangkan Ani tanpa puas melihat ke adaanku yang tak berdaya,“nikmatin aja Bu, he..he.. saya dulu sama seperti ibu selalu menolak tapi ujung-ujungnya malah ketagihan” kata Ani tanpa melepaskan pegangannya terhadap kakiku.</p>
<p style="text-align: justify;">Semakin lama aku semakin tidak tahan, tiba-tiba aku merasa tubuhku seperti di aliri listrik dengan tegangan yang tinggi, kalau seandainya Ani tidak memegang kakiku dengan sangat erat mungkin saat ini wajah pak Isa sudah menerima tendanganku, mataku terbelalak saat orgasme melandah tubuhku dengan sangat hebat, cairan vaginaku meleleh keluar dari dalam vaginaku, sehingga tubuhku terasa lemas,“ha…ha… bagaimana Bu, mau yang lebih enak….” pak Isa tertawa puas, aku hanya dapat menggelengkan kepalaku karena aku sudah tidak mampu lagi untuk mengeluarkan suara dari mulutku, perlahan pak Isa berdiri sambil memposisikan penisnya tepat di depan vaginaku.</p>
<p style="text-align: justify;">“aahkk… sakit…” aku memikik saat kepala penisnya menerobos liang vaginaku, “uuhk… hhmm… pelan-pelan pak…” pintaku sambil menarik napas menahan rasa sakit yang amat sangat di vaginaku karena ukuran penis pak Isa jauh lebih besar dari penis suamiku,“tahan Bu, bentar lagi juga enak ko’ “ kata Ani yang kini melepaskan ikatan di tanganku, setelah ikatanku terlepas Ani kembali merekam adegan panas yang kulakukan,</p>
<p style="text-align: justify;">Dengan sangat cepat pak Isa menyodok vaginaku sehingga terdengar suara “plokkss….ploskkss…” saat penisnya mentok ke dalam vaginaku yang mungil,<br />
“aahhkk… aahhkk… aaahh… oooo…”semakin cepat sodokannya suaraku semakin lantang terdengar,“oh yeeaa… enak Bu, hhmm… ternyata memek Ibu masih sempit sekali walaupun sudah perna menikah,” katanya memujiku, tetapi mendengar pujiannya aku tidak merasa bangga melainkan aku meresa jijik terhadap diriku sendiri,Aku merasa vaginaku seperti di masuki benda yang sangat besar yang mencoba mengorek isi dalam vaginaku, rasanya memang sangat sakit sekali tetapi di sisi lain aku merasa sangat menikamati perkosaan rehadap diriku, selama ini aku belum perna merasakan hal seperti ini dari suamiku sendiri,“ayo sayang, bilang kalau kontol saya enak…” dengan sangat kasar pak Isa meremasi kedua payudaraku,“ti-tidak…. ahk… hhmm…” aku di buat merem melek olehnya,“ha..ha.. kamu mau jujur atau tidak, kalau tidak hhmm… saya akan adukan semua ini kepada suamimu, ha…ha…” katanya mengancamku dengan tawa yang sangat menjijikan,“ja-jangan pak,” aku memohon ke padanya, karena takut dengan ancamannya akhirnya aku menyerah juga “iya, aahhkk… aku suka…” kataku dengan suara yang hampir tidak terdengar,</p>
<p style="text-align: justify;">“APA… SAYA TIDAAK MENDENGAR?” pak Isa berteriak dengan sangat kencang sehingga gendang telingaku terasa mau pecah mendengar teriakannya,“IYA PAK, ENAK SEKALI SAYA SUKA SAMA kontol BAPAK….aahhk…uuhhkk!!” dengan sekuat tenaga aku berusaha tegar dan berharap semuanya cepat berlalu,<br />
Setelah berapa menit kemudian tubuhku kembali merasa tersengat oleh aliran listrik saat aku kembali mengalami orgasme yang ke dua kalinya,</p>
<p style="text-align: justify;">Dengan sangat kasarnya pak Isa menarik tubuhku sehingga aku berposisi menungging, pantatku yang bulat dan padat menghadap dirinya,“hhmm… indah sekali pantatmu sayang” katanya sambil meremasi bongkahan pantatku,“pak, saya mohon cepat lakukan,”“ha..ha.. kenapa Bu, sudah ga tahan” berkali-kali pantatku menerima pukulan darinya, sebenarnya aku tidak menyangka dengan kata-kataku tadi bisa membuatku semakin renda di mata mereka, sebenarnya aku hanya bermaksud agar semua permainan ini segera berakhir tapi sayangnya pak Isa tidak menginginkan itu,</p>
<p style="text-align: justify;">“tenang Bu, santai saja dulu?”<br />
Pak Isa sangat pintar memainkan tubuhku, dengan sangat lembut jari kasarnya menyelusuri belahan pantatku dari atas hingga ke bawah belahan vagianaku, gerakan itu di lakukan berkali-kali sehingga pantatku semakin terlihat membusung ke belakang,“ohhkk… pak, hhhmm….” ku pejamkan mataku saat jarinya mulai menerobos lubang anusku, dengan gerakan yang sangat lembut jarinya keluar masuk dari dalam anusku, “ahhkk….ooo… ssstt…uuuuu… pak” ternyata rintihanku membuat pak Isa semakin mempercepat gerakan jarinya,<br />
pak Isa dengan rakusnya kembali menjilati vaginaku dari belakang sedangkan jari-jarinya masih aktif mengocok anusku. Pada saat aku sangat terangsang tiba-tiba kami mendengar suara ketukan yang kuyakini itu adalah pak Rojak yang baru pulang dari mengantar Aldi.</p>
<p style="text-align: justify;">“Pak Rojak tolongin saya…” kataku berharap ia bisa membantuku untuk lepas dari pelecehan yang ku alami, dengan santainya Ani membukakan pintu tanpa rasa takut kalau pak Rojak mengadukan kejadian ini ke pada suamiku, pak Rojak tanpak kaget saat melihat keadaanku yang sedang di gagahi oleh pak Isa,</p>
<p style="text-align: justify;">“pak, tolong ku mohon,” kataku memelas,“Wa…wa…. apa-apaan ini, “ beberapa kali pak Rojak menggelengkan kepalahnya dengan mata yang tak henti-hentinya memandangi tubuh mulusku,“Udah pak, jangan sok mau jadi pahlawan kalau bapak mau embat aja, dia sudah menjadi budaknya saya,” pak Isa mulai membujuk pak Rojak dan aku hanya bisa berharap pak Rojak tidak memperdulikan tawaran pak Isa,</p>
<p style="text-align: justify;">“kenapa bengong? sini ikutan!” ajaknya lagi“jangan pak saya mohon tolongin saya,” aku mengiba ke pada pak Rojak, tetapi pak Isa tidak mau kalah kedua jarinya membuka bibir vaginaku,“bapak liat ni, memeknya sudah basa banget… wanita ini munafik” pak Rojak terdiam seperti ada yang sedang di piirkannya,</p>
<p style="text-align: justify;">“memeknya masih sempit lo, apa lagi anusnya kayaknya masih perawan,” bujuk pak Isa berharap pak Rojak mau bergabung dengannya untuk menikmati tubuhku,Akhirnya pak Rojak tidak tahan melihat vaginaku yang becek terpampang di depannya,</p>
<p style="text-align: justify;">“hhmm… oke lah tapi boolnya buat saya ya, ” tubuhku semakin terasa lemas, kini aku sudah tidak tau harus meminta tolong ke pada siapa lagi, perlahan pak Rojak mendekatiku,“sekarang Ibu dudukin kontol saya, cepat…” perintah pa Isa sambil tidur telentang dengan penis yang mengancung ke atas, dengan sangat pelan aku menuduki penis pak Isa “eennnggkk…. “ aku menggigit bibir bawahku saat kepala penis pak Isa kembali menembus vaginaku, perlahan penis itu amblas ke dalam vaginaku, dengan sangat erat pak Isa memeluk pinggangku agar tidak dapat bergerak.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah melepas semua pakaian yang ada di tubuhnya, pak Rojak mendekatiku dengan penis berada di depan anusku beberapa kali pak rojak menamparkan penisnya ke pantatku,“pak sakit… aahhkk… aahkk… ja-jangan pak saya belum pernah” aku berusaha melepaskan diri saat pak Rojak mulai berusaha memasuki anusku, sempat beberapa kali ia gagal meembus anusku yang memang masih perawan.</p>
<p style="text-align: justify;">“ha…ha… ayo dong Pak, masak kalah sama cewek si…” kata pak Isa mmemanas-manasi pak Rojak agar segera membobol anusku, pak rojak yang mendengar perkataan pak Isa menjadi lebih beringas dari sebelumnya,“AAAAAA….” aku berteriak sekencang-kencangnya saat penis pa Rojak berhasil menerobos anusku, tanpa memberikan aku nafas ia menekan penisnya semakin dalam, “aahkk…. oohhkk… pak, hhmm…” aku merintih ke sakitan saat pak Rojak mulai memaju mundurkan penisnya di dalam anusku.“gi mana pak? Enak kan?” tanya pak Isa yang kini ikutan memaju mundurkan penisnya di dalam vaginaku,“eehhkknngg… mantab pak, enak banget he….he… hhmm….” semakin lama kedua pria tersebut semakin mempercepat tempo permainan kami.</p>
<p style="text-align: justify;">Sudah beberapa menit berlalu kedua orang pria ini belum juga menunjukan kalau mereka ingin ejakulasi, sedangkan diriku sedah beberapa kali mengalami orgasme yang hebat sehingga tubuhku terasa terguncang oleh orgasmeku sendiri. Setelah beberapa menit aku mengalami orgasme tiba-tiba pak Isa menunjukan bahwa dia juga ingin mencapai klimaks. Dengan sekuat tenaga pak Isa semakin menenggelamkan penisnya ke dalam vaginaku dalam hitungan beberapa detik kurasakan cairan hangat membasahi rahimku.</p>
<p style="text-align: justify;">“aahkk… enak…. hhmm…” gumamnya saat menyemburkan sperma terakhirnya, setelah puas menodaiku pak Isa melepas penisnya di dalam vaginaku begitu juga dengan pak Rojak yang melepaskan penisnya di dalam anusku,“buka mulutmu cepetan,” perintah pak Rojak sambil menarik wajahku agar menghadap ke arah penisnya yang terlihat berdeyut-deyut, aku sangat kaget sekali saat pak Rojak memuntahkan spermanya ke arah wajahku, sehingga wajahku ternodai oleh sperma pak Rojak,Kini aku benar-benar sudah tidak memiliki tenaga sedikitpun, untuk mengangkat tubuhku saja terasa sangat berat sekali, sedangkan mereka tanpa puas memandangku yang sedang berpose mengangkang di depan mereka karena kedua kakiku kembali dipegangi Ani, sperma yang tadi di muntahkan pak Isa terasa mengalir keluar dari dalam vaginaku,</p>
<p style="text-align: justify;">********<br />
Aku duduk di atas sofa sambil melihat anak angkatku Aldi yang sedang di temani suamiku belajar, wajah mereka terlihat sangat cerah sekali bertanda bahwa mereka sangat bahagia, entah kenapa tiba-tiba di pikiranku terlintas kembali apa yang terjadi tadi pagi yang menimpa diriku, semakin aku berusaha melupakannya rasanya ingatan itu semakin menghantuiku, aku tidak bisa membayangkan kalau sampai suamiku mengetahui kalau aku di perkosa oleh ketiga pembantuku sendiri,“hhmm… gi mana Aldi sudah negerti belom” kataku sambil mengucek rambutnya yang sedang sibuk menghitung soal yang di berikan suamiku, “ya sudah kalau begitu mama bikinin minuman dulu ya, buat kalian,” kataku yang di sambut dengan teriakan mereka berdua.</p>
<p style="text-align: justify;">Baru satu langkah aku keluar dari kamar tiba-tiba pergelangan tanganku terasa sakit saat pak Rojak menarik tanganku,“bapak apaan sih!?” bentakku dengan suara yang sangat pelan,“ssstt… jangan berisik…” kata pak Rojak dengan jari telunjuk di bibirnya, “nanti suami dan anak mu dengar, hhmm… bapak cuman mau ini Bu,” katanya lagi sambil mencubit payudaraku, dengan sigap aku mundur ke belakang,“jangan main-main pak,” beberapa kali aku memandang pintu kamarku yang tidak tertutup rapat, tetapi pak Rojak tidak kehabisan akal dia balik mengancamku dengan mengatakan akan membongkar semua rahasiaku ke pada suamiku, sehingga nyaliku menjadi ciut,</p>
<p style="text-align: justify;">“oke, hhmm… kalau begitu bapak ikut saya” kataku dengan suara yang bergetar, karena sudah tidak tahu lagi harus melakukan apa, dia terseyum puas melihatku tak berdaya dengan permintaanya,“maaf Bu, saya inginnya di sini bukan di tempat lain,” katanya dengan suara yang cukup jelas, setelah berkata seperti itu pak Rojak langsung memelukku dengan erat sehingga aku sulit bernafas, “hhmm… bauh tubuh ibu benar-benar menggoda saya,” perlahanku rasakan lidahnya menjulur ke leherku“pak ku mohon, jangan di sini” pintaku ke padanya,</p>
<p style="text-align: justify;">Pak Rojak yang mengerti kekhawatiranku langsung membalik tubuhku menghadap daun pintu kamarku yang sedikit terbuka,“Ibu bisa bayangkan kalau sampai orang yang sedang di dalam kamar Ibu mengetahui apa yang sedang Ibu lakukan,” ancamnya sambil menarik rambutku sehingga aku harus menutup mulutku dengan telapak tanganku agar suara terikanku tidak terdengar oleh suami dan anakku,“Pak ku mohon jangan di sini,” aku hanya bisa menurut saja saat pak Rojak menyuruhku untuk menungging dengan tangan yang menyentuh lantai, sedangkan wajahku menghadap ke celah pintu kamarku yang terbuka.</p>
<p style="text-align: justify;">“tahan ya Bu,” katanya sambil menyingkap dasterku, sehingga celana dalamku yang berwarna hitam terpampang di depan matanya, dengan sangat kasar pak Rojak meremas kedua buah pantatku yang padat sehingga aku tak tahan untuk tidak mendesah,“aahkk.. pak hhmm.. ja-jangan di sini pak,” pak Rojak diam saja tidak mendengar kata-kataku melainkan pak Rojak semakin membuatku terangsang dengan mengelus belahan vaginaku dari belakang,“kalau kamu tidak mau ketahuan jangan bicara,” bentak pak Rojak sambil memukul pantatku“ta-tapi pak, oohhkk… aku ga kuat,” kataku dengan suara yang sangat pelan, “ku mohon pak mengertilah,”Pak Rojak seolah-olah tidak mau tahu, kini dengan rakusnya pak Rojak menjilati vaginaku yang masih tertutup celana dalamku, sehingga aku merasa celana dalamku tampak semakin basah oleh air liurnya. Setelah puas menciumi vaginaku pak Rojak memintaku untuk membuka celana dalamku sendiri masih dengan posisi menungging. Sangat sulit bagiku untuk melepaskan celana dalamku dengan posisi menungging belum lagi aku harus bekonsentrasi agar suaraku tidak keluar dengan keras walaupun pada akhirnya aku berhasil menurunkan celana dalamku sampai ke lutut,</p>
<p style="text-align: justify;">“hhuuu… mantab….” katanya sambil merabahi vaginaku dari belakang, “kamu mau tahukan gimana rasanya ngentot di depan suamimu sendiri,” katanya lagi sambil menunjuk ke arah suamiku yang sedang mengajari anaku Aldi,“pak, ja-jangan…” aku sangat takut sekali kalau suamiku melihat ke arahku, tiba-tiba aku di kejutkan dengan jari telunjuk pak Rojak yang langsung memasuki vaginaku sehingga aku terpekik cukup keras,“sayang… ada apa?” kata suamiku dari dalam, saat mendengar suaraku.“aahkk… tidak pa, cuman hhmm.. tadi ada tikus lewat,” jawabku asal-asalan agar suamiku tidak curiga ke padaku, tetapi untungnya suamiku tidak melihat ke arahku, dalam ke adaan terjepit seperti ini pak Rojak masih asyik mempermainkan vaginaku dari belakang,</p>
<p style="text-align: justify;">“ada tikus??” katanya lagi seolah-olah tidak percaya, “apa perlu papa yang usir,” mendengar tawarannya nafasku teras berhenti tetapi untungnya aku masih banyak akal,“aahhgg… ga usah hhmm.. pa…” kataku terputus-putus menahan rasa nikmat yang di berikan pak Rojak kepadaku, untungnya suamiku tidak curiga dengan suaraku,“asyikan Bu, ngobrol dengan suami sambil di mainin memeknya,” aku memandangnya dengan wajah yang memerah karena nafsuku sudah di puncak, “ko’ diam cepat ajak suami Ibu ngobrol,” mendengar perkataanya aku langsung melotot ke arahnya, “Ibu mau kalau suami Ibu tau apa yang sekarang Ibu lakuin,” mendengar ancamannya aku kembali terdiam,<br />
Dengan sangat terpaksa aku kembali mengajak suamiku mengobrol, walaupun di dalam hati aku merasa was-was takut kalau suamiku menyadari suaraku yang berubah menjadi desahan,“paaa… ma-mau minum apa?” tanyaku yang kini sedang diperkosa oleh pak Rojak, tanpa kusadari pak Rojak sudah memposisikan penisnya di depan ibir vaginaku sehingga beberapa kali aku terpanjat saat pak rojak menghantamkan penisnya dengan sangat keras ke dalam vaginaku,“terserah mama saja… papa sama Aldi ikut aja,”“iya ma, apa aja asalkan enak,” sambung Aldi,</p>
<p style="text-align: justify;">Waktu demi waktu telah berlalu sehingga sampai akhirnya sikapku berubah menjadi sedikit liar dan mulai menyukai cara pak Rojak memperkosaku walaupun pada awalnya hatiku terasa miris sekali di perlakukan seperti ini,“aahk…. pak hhmm.. enak,” aku melenggu panjang saat orgasme melandahku, kini perkosaan yang ku alami berganti dengan perselingkuhanku dengan pembantuku,“ohhk… memek istri majikan ternyata enak sekali, ahhkk…” katanya yang terus-terusan menggoyang penisnya di dalam vaginaku,<br />
“pak… aahhkk… eehkk… aku, hhmm… ingin keluarrr, uuhhkk…” kali ini suaraku terdengar sangat manja</p>
<p style="text-align: justify;">Beberapa menit kemudian kami mengerang bersamaan saat kenikmatan melanda kami berdua, setelah merasa puas aku dan pak Rojak kembali merapikan pakaian kami masing-masing, sebelum pak Rojak pergi meninggalkanku sempat terlihat seyumannya yang tersungging di bibirnya. Setelah membuatkan minuman aku kembali ke kamarku menemui anak dan suamiku, mereka terlihat tanpak senang sekali melihatku hadir dengan membawa minuman dan makanan kecil,“ini di minum dulu, nanti baru di lanjutin lagi,” kataku sambil meletakan cangkir dan piring di atas meja kecil yang di gunakan Aldi untuk belajar,“makasi mama…” kata Aldi yang langsung saja menyambar minuman yang baru ku bikin, entah kenapa setiap kali melihat Aldi hatiku terasa menjadi damai, dan semua masalah seperti terlupakan,Aku merasa sedikit aneh, saat suamiku memandangku dengan tatapan mencurigakan sehingga aku memberanikan diri untuk bertanya ke padanya,“ada pa, ko memandang mama seperti itu” kataku sambil mengupas jeruk untuk Aldi yang sedang menulis,</p>
<p style="text-align: justify;">suamiku mendekatkan mulutnya ke telingaku, “hhmm.. sayang ko’ kamu bau hhmm… gitulah…” mendengar pertanyaannya jantungku terasa berhenti,“bau, bau apa pa?” tanyaku untuk memastikan apa maksud dari pertanyaan suamiku,<br />
“kamu tadi ko’ lama ma,” kami terdiam beberapa saat, “mama abis dari kamar mandi ya, hhmmm… papa jadi curiga ni,” katanya sambil tertawa memandangku, mendengar perkataanya aku menjadi sedikit lega,“Iya ni pa, abis kangen si…” kataku manja sambil mencubit penis suamiku,Setelah yakin Aldi tertidur pulas, suamiku mengjakku untuk melayaninya semalaman suntuk. Tubuhku memang terasa lelah karena seharian harus mengalami orgasme, tetapi di sisi lain aku sangat senang karena suamiku tidak mencurigai aku karena bau tubuhku seperti bau orang yang habis bercinta.</p>
<p style="text-align: justify;">Hampir tiap hari aku merengkuh kenikmatan bersama para pembantuku, kenikmatan yangh tidak aku dapatkan dari suamiku yang membuat aku semakin liar.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ceritasex.cn/dari-pemerkosaan-menjadi-skandal-perselingkuhan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ngentot Wanita Berjilbab Part 2</title>
		<link>http://www.ceritasex.cn/ngentot-wanita-berjilbab-part-2/</link>
		<comments>http://www.ceritasex.cn/ngentot-wanita-berjilbab-part-2/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 04 Nov 2011 06:05:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cerita Sex</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ekshibionis]]></category>
		<category><![CDATA[Paruh baya]]></category>
		<category><![CDATA[Seks Umum]]></category>
		<category><![CDATA[selingkuh]]></category>
		<category><![CDATA[anita]]></category>
		<category><![CDATA[binal]]></category>
		<category><![CDATA[cuki]]></category>
		<category><![CDATA[istri]]></category>
		<category><![CDATA[jilbab]]></category>
		<category><![CDATA[memek]]></category>
		<category><![CDATA[mesum]]></category>
		<category><![CDATA[ngentot]]></category>
		<category><![CDATA[seks]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ceritasex.cn/?p=3151</guid>
		<description><![CDATA[Aku : aku melihat apa yg sering kamu lakukan di malam hari. Anita : maksud kamu apa? ini siapa? Aku : tak usah mencoba menyangkal, aku punya rekaman. kamu seksi sekali sayang! Anita tidak membalas sms terakhirku, dia malah langsung menelfon, aku kebingungan menjawabnya karena bisa saja dia kenal dengan suaraku dan kedokku ketahuan. Akhirnya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Aku : aku melihat apa yg sering kamu lakukan di malam hari.<br />
Anita : maksud kamu apa? ini siapa?<br />
Aku : tak usah mencoba menyangkal, aku punya rekaman. kamu seksi sekali sayang!</p>
<p style="text-align: justify;">Anita tidak membalas sms terakhirku, dia malah langsung menelfon, aku kebingungan menjawabnya karena bisa saja dia kenal dengan suaraku dan kedokku ketahuan. Akhirnya aku membiarkan telfonnya berlalu, dadaku berdebar-debar, tak kukira dia akan menelfon.</p>
<p style="text-align: justify;">berkali-kali dia menelfon tapi di selingin dengan sms, dia mencoba memohon padaku agar menjelaskan apa maksud smsku. tapi tak kubalas lagi.</p>
<p style="text-align: justify;">sehari telah berlalu sejak aku mulai menerornya, beberapa kali dia masih mencoba menghubungiku tapi aku tidak meresponnya sama sekali, dia mengirimkan sms, tidak aku balas karena aku bingung mau membalas apa.<br />
<span id="more-3151"></span><br />
hari ini, aku mulai sms dia lagi. dengan strategi baru.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku : tak usah khawatir, aku akan tetap menjaga rahasia ini, tenang saja.<br />
Anita : hei, saya mohon maaf, maksud kamu apa? saya tidak mengerti.<br />
Aku : sudah kubilang, aku punya rekamanmu. di gambar itu kamu klihatn menggairahkan sekali, berbeda dengan sosok wanita muslim yang selama ini kukenal.</p>
<p style="text-align: justify;">ops, aq tidak sadar menuliskan sms begitu. kusumpahi diriku, bisa saja dia menerka-nerka dan mencurigaiku, karna aku sering bertemu dengan anita.</p>
<p style="text-align: justify;">Anita : bagaimana kalau kita ketemu saja? tolong jawab telfon saya, saya mau bicara sama km!<br />
Aku : kamu mau bertemu? boleh saja, saya akan membantumu mencapai surga dunia, nonton film biru berdua itu lebih enak.<br />
Anita : KURANG AJAR KAMU.<br />
Aku : terserah kamu, tapi kamu sendiri pasti sudah lama tidak menikmati tubuh lelaki.<br />
Anita : tolong, bicaralah dengan jelas. aku sudah punya suami.<br />
Aku : tapi suamimu tidak bisa lagi menyentuh memek mu kan?<br />
Anita : apa? sebenarnya kamu ini siapa?<br />
Aku : aku ini malaikatmu, ingin mengeluarkanmu dari siksaan batin, hingga kau tak usah tersiksa lagi bermasturbasi di tengah malam.<br />
Anita : bejat kamu. kita perlu ketemu!</p>
<p style="text-align: justify;">aku kebingungan, apakah harus kutemui dia? jika dia tahu siapa yang menerornya, dia pasti marah dan kecewa padaku, aku bisa terancam. tapi dia tak mungkin berani, toh rekamannya ada padaku, aku bisa mengancam dia.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8212;&#8211;</p>
<p style="text-align: justify;">aku mengambil inisiatif lain. aku aktifkan kembali kartu sim ku yang asli dan keluar dari rumah. kuketuk pintu rumah Anita, tak ada sahutan. aku bersabar dan tetap berusaha mengetuk pintu dan memberi salam. akhirnya dia datang membukakan pintu dan menyapaku. dia tetap biasa saja, berpenampilan sebagaimana mestinya, jilbabnya tidak lepas dan memakai baju terusan yang halus, tonjolan dadanya sedikit saja yang membusung, mungkin dia melapis bajunya. tadi dia mengenakan pakaian seksi dan mendobel pakaiannya dengan long dres ini agar lebih cepat menyambutku.</p>
<p style="text-align: justify;">aku dipersilahkan masuk, aku menyampaikan maksudku bahwa di rumah aku sedang suntuk, bingung mau ngapain dan datang kesini untuk ngobrol. kutanya apakah dia sibuk atau tidak, ternyata sudah tidak, pekerjaan rumahnya telas selesai. mungkin saat aku menerornya tadi, dia sambil mengerjakan tugasnya sebagai ibu rumah tangga. aku bercerita banyak tentangnya, tentang pacarku, kuminta penilaiannya padanya dan berbagai obrolan lain.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;asal kalian sama-sama suka dan saling menyayangi. jika sudah saling sayang, hubungan kalian pasti kuat. godaan apapun yang akan datang, kalian pasti akan bisa melewatinya&#8221;, Anita memberikan saran padaku. aku memintanya menceritakan pengelamannya juga, yaaa sebagai bahan cerita kataku, padahal cuma alasan doang agar aku bisa tau cerita-cerita pribadi dia. aku memintanya untuk menceritakan hubungannya dengan suaminya.</p>
<p style="text-align: justify;">dia mungkin agak curiga kenapa aku ngotot banyak bertanya tentang suaminya, namun aku cepat-cepat menukar giliran, aku kembali yang bercerita dan setelah itu, kutanyakan padanya, kenapa dia jarang keluar rumah lagi bersama suaminya? apakah ada masalah?, tanyaku. dia menceritakan tentang cedera yang dialami suaminya, saat ini suaminya bisa dikatakan lumpuh, tak banyak yang bisa dikerjakannya selain di kamar. mungkin sekali-kali saja dia keluar kamar dan berkeliling di dalam rumah. dia terus bercerita bahwa dia menyayangi suaminya, walaupun dia tak bisa meminta banyak dari suaminya dia tetap melayaninya dengan baik. Kubayangkan lagi kejadia malam-malam ketika Anita bergelut dengan dirinya sendiri, saat dia butuh kekuatan seorang suami untuk &#8220;mengerjainya&#8221; hingga puas.</p>
<p style="text-align: justify;">aku mulai merasa malu mendengar ceritanya, dia sangat sayang pada suaminya, dia sangat setiap padanya, walaupun kebutuhan seksnya tinggi, dia tetap merawat suaminya dengan baik. mungkin inilah alasan kenapa dia jarang keluar rumah, mungkin dia takut tergoda oleh pesona lelaki yang akan membuyarkan cintanya pada sang suami tercinta. Aku? aku mungkin bisa diterima karena aku dianggap lebih muda olehnya, mungkin dia menganggapku sebagai seorang adik saja. akhirnya aku mohon pamit, niatku melihat kondisinya saat dia menerima sms teror dariku tidak lagi kuperhatikan, dia memang seperti tidak mendapatkan ancaman, wajahnya tetap tenang, dan auranya tetap juga sayu. dia manis sekali.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8212;&#8211;</p>
<p style="text-align: justify;">beberapa hari berlalu, aku tidak menerorka lagi, aku masih kasihan padanya yang terus menjaga kesuciannya dan cintanya pada suaminya. namun, setelah 2 minggu berlalu, tak sengaja lagi aku dapati dia begadang, tidak seperti biasanya, malam ini lebih larut. jam 3 subuh. malam itu tak ada celah untuk mengintipnya, dan memang dia merubah posisi ruangan. aku hanya bisa mendengan desahan halusnya, suaranya kecil sekali, namun jika diperhatikan terdengar juga lenguhannya. Ouhhhhhh, ahhhhh tuhannnnn, ouhhhhh !!!</p>
<p style="text-align: justify;">aku tepat pada waktunya, dia sedang tinggi-tingginya. Akhhhhh !!!, dia agak sedikit berteriak, mungkin memang berteriak tapi aku yg mendengarnya samar. Akhhhhhh AKHHHHH&#8230; uhhhhh&#8230;. suaranya mulai agak keras. Ouhhhh iyaaaahhhh, hemmmppphhhhh. aku cepat-cepat pulang ke rumah. kuaktifkan kartu sim terorisku dan segera melancarkan aksiku. kuaktifkan handycam dan memutar balik aksinya yang berhasil kurekam dl. aku mengelus buru*gku sendiri sambil mengetik sms.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku : kamu butuh bantuan malam ini?</p>
<p style="text-align: justify;">anita tak menjawab. tak ada jawaban. aku tersiksa sekali menunggu smsnya.</p>
<p style="text-align: justify;">keesokan paginya, dia baru membalas sms ku : KURANG AJAR!!!</p>
<p style="text-align: justify;">mungkin dia langsung tertidur pulas setelah masturbasinya yang tertangkap olehku.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku : semalam kamu banjir berapa kali? sepertinya nikmat sekali yah?<br />
Anita : kalau kamu memang laki-laki, tolong temui saya di &#8230;.</p>
<p style="text-align: justify;">dia menyebutkan tempat dimana kami harus bertemu. tapi aku tidak datang. aku masih ragu bagaimana harus bertemu dengannya.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8212;&#8211;</p>
<p style="text-align: justify;">suatu hari aku datang lagi bertamu ke rumahnya. aku kembali meminta saran padanya. &#8220;Aku suka pada wanita lain&#8221;, kataku. dia kebingungan mau menjawab bagaimana. sebelum dia menjawab, aku sudah bertanya padanya. &#8220;menurut mba, kalau aku suka pada wanita yang lebih tua itu bagaimana?&#8221;. &#8220;Tidak ada masalah, umur bukan halangan, win. trus kamu tidak suka lagi pada pacarmu yang sekarang? kenapa?&#8221;. Dia mulai bersemangat, mungkin dia memang butuh teman cerita.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Aku suka sama pacarku, cuma rasanya aku tergoda dengan perempuan yang satu ini, mba&#8221;. &#8220;hehehe, kamu laki-laki yang gampang tergoda ya? wah bahaya itu&#8221;. &#8220;Ahhh, mba Nita ngawur. mungkin aku lebih suka perempuan yang lebih dewasa, pacarku kan terlalu manja&#8221;.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Hehehe, gak apa-apa sih, selama itu memang pilihan terbaik kamu, cuma kamu bisa nyakitin perasaan pacar kamu, jadi kamu jangan egois dong, kamu punya tanggung jawab terhadap perasaan dia&#8221;. dia tersenyum lembut. ahhh damai melihat dirinya seperti ini.</p>
<p style="text-align: justify;">aku sangat tergoda padanya, beberapa kali aku terus bertamu di rumahnya, dia tidak heran, memang betul dia suka ada temen ngobrol di rumah, soalnya dia jarang keluar rumah, kecuali memang mendesak. hari ini saat aku datang padanya, aku meminta saran bagaimana mengatakan bahwa aku suka pada perempuan yang umurnya lebih tua itu.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;yaa, mungkin kamu katakan saja, dengan suasana romantis atau sesuai kreativitasmu deh, hehehe&#8221;. dia mulai terlihat bebas tertawa lebih riang di depanku, mungkin karena sudah terbiasa ngobrol. sesekali dia meninggalkanku karena harus memperhatikan suaminya.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Masalahnya mba, saya ngerasa malu ungkapin perasaan saya ke perempuan yang lebih tua&#8221;. &#8220;kenapa harus malu? kamu kan laki-laki, tunjukin keberanian kamu dong, biar dia tau kamu bertanggung jawab&#8221;. Katanya.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Iya, cuma tidak biasa saja, orang-orang kan nembaknya cewek yang lebih muda, jadi lebih gampang. Kayaknya perempuan dewasa memang susah diraih&#8221;. &#8220;Iya dong, kamu perlu dewasa juga&#8221;.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;menurut mba gimana?&#8221;. &#8220;Kamu cukup dewasa sih, kamu enak diajak ngobrol, nyambung dan cerdas, cuma perlu keberanian aj, apalagi wajahmu ganteng loh&#8221;. Ahhhh aku suka skali kata-katanya ini, Anita seperti cewek muda yang genit, masih masa nakal-nakalnya dulu. Aku mulai mendapatkan jalan yang bagus ne.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Ah, mba Nita bisa aja. nah kalau misalnya gini, mba Nita di posisi cewek yang disuka sama cowok yang lebih muda, sikap mba Nita gimana coba?&#8221;. &#8220;Hehehe, kok jadi mba sih. masa begitunya udah lewat&#8221;.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Iya, tapi kan bisa dibayangkan. mba Nita sukanya cowok yang kayak gimana?&#8221;. &#8220;emmm kayak gimana yah? &#8230;. dia harus bertanggung jawab, berani dan menghargai orang lain termasuk pasangannya&#8221;. &#8220;maksudku secara fisik gimana? trus kalau ditembak, kira-kira pengennya kayak gimana?&#8221;.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Yaaa kalau fisik sih yaa kalau boleh yang ganteng, tapi gak juga gpp, yang jelas sikapnya baik&#8230; trus kalau nembaknya yaaa yang romantis&#8230; hehehe&#8221;, sisi lain dari mba Nita mulai kelihatan, dia lebih manis dan kesan keibuannya tidak nampak, dia seperti mahasiswi2 di kampusku, nakal dan centil. dia mulai merasa bebas ngomong mungkin.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Yaaa yang romantis itu bagaimana mba Nita? apakah dia datang ke mba nita, duduk di samping kayak gini (aku mempraktekkannya, duduk di sampingnya, Nita cuma tersenyum dan merespon ramah, kamu seperti anak umur belasan saja). trus dia bilang cinta ke mba?&#8221;.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Yaaa itu boleh juga, cuma kurang romantis&#8221;. &#8220;Trus baiknya gimana dong&#8221;. Aku coba memaksanya. dia mulai menceritakan imajinasi romantisnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Yaaa awalnya kita jalan-jalan ke suatu tempat yang memang romantis, di daerh bukit misalnya, trus kita duduk berdua di bukit itu smbil ngobrol yang lucu-lucu.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;sambil cubit-cubitan atau melempar rumput ke wajah&#8221;, kataku. &#8220;Iyaa, pokoknya senang, sampai kita diam trus melihat pemandangan&#8221;. &#8220;Nita kamu lihat pemandangannya indah, mirip seperti dirimu&#8221;. kataku, tubuhku mulai kudekatkan padanya, tapi dia agak risih. &#8220;pacarannya blum bisa sentuh-sentuh dong, hehehe&#8221;. Katanya padaku saat kusentuhkan tubuhku padanya. dia makin manis, aku mulai bisa mengangap dia seumuran denganku.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;trus si cowok bercerita tentang hal-hal yang indah, tentang masa depan, dan pelan-pelan muji aku, hehehe&#8221;. &#8220;Iyaa, wajahmu indah nita, mataku segar melihatnya, aku senang kamu bisa riang seperti ini&#8221;. kataku, aku makin percaya diri. &#8220;hehe, trus?&#8221;.</p>
<p style="text-align: justify;">aku kebingungan dia bilang begitu &#8220;Andai kita bisa bersatu, aku sangat bersyukur, aku bisa mengorbankan diriku untuk kebahagiaanmu&#8221;. aku beralih ke depannya, berlutut dan memegang tangannya, dia kaget atas sikapku. &#8220;maafkan aku jika membuat kamu merasa lain, biarkan bukit ini menjadi saksi, duduklah di sampingku&#8221;, kutarik tangannya dengan lembut dan kudukkan di laintai berkarpet tebal, kami duduk bersampingan diantara sofa dan meja sekarang. kugenggam tangannya erat-erat. dia mengikuti begitu saja, pasrah. raut wajahnya seperti kebingungan harus berbuat apa. tak kuberi dia kesempatak untuk berfikir jernih.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Nita, aku ingin memelukmu dengan perasaan cinta, penuh kasih sayang. entah apa yang mendorongku berkata seperti ini, tapi kau sendiri yang memupuk perasaan cinta ini, Nita&#8221;, tanganku mulai melingkar di pundaknya, tubuhku makin erat. &#8220;emmm&#8221;, Nita kebingungan.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;bagaimana aku harus mencintaimu Nita? aku ingin kita hidup bersama dan bahagia, saling merasa dan saling memberikan kesenangan&#8221;. aku mengelus pundaknya, tanganku yg satu tetap menggenggam tangannya. &#8220;Nita, izinkan aku mengajakmu terbang di atas bukit ini&#8221;. dan bibirku melayang ke wajahnya, kucium pipinya pertama, namun dia sendiri yang mencari bibirku. Akhirnya kami berpagutan. Nita menutup mata.</p>
<p style="text-align: justify;">bibirnya yang kecil berisi lebih agresif dariku, namun kubiarkan, aku mengikuti saja, tanganku yang nakal kesana kemari, pakaiannya yang berlapis-lapis menggangguku, apagi dia mengenakan baju panjang jadi susah kuselipkan tanganku ke dalam. namun remasan ke dadanya dari luar saja membuatnya seperti gila, dia memegang tanganku yang sedang meremas payudaranya. dia meremas tanganku dengan keras.</p>
<p style="text-align: justify;">Ciumannya makin gila, lihat kami ikut serta, dia tak membuka mata. tanganku meremas dadanya sambil menahan beban badan di punggungnya, kudorong dia dengan pelan hingga kami terbaring di atas karpet, kami tak bisa bergerak banyak karena dibatasi oleh kursi dan meja, namun begitu saja sudah sangat cukup. Kutarik jilbabnya, lalu ciumanku turun ke lehernya yang putih jenjang. Ouhhh betapa indahnya. mulutnya menganga, bibirnya merah merekah smbil mendesah. tangannya meremas pantatku dan menekannya sehingga tubuhnya makin tertekan&#8230;</p>
<p style="text-align: justify;">Oughhhhh,,, ahhhhhhhh.. terusinnnnn&#8230;. Nita betul-betul menikmati, aku makin buas menjilati lehernya, sesekali kugigit pelan hingga dia menggelinjang. saat lidahku berjalan naik ke telingannya dia menahan dan mendorong kepalaku ke bawah&#8230; owwwhhhhh,, jilattttinnn terusshhhhh pantatnya bergoyang dan tangannya makin menekan pantatku. dari atas, kuselipkan tanganku ke dalam bajunya, aku sempat bingung karena bajunya berlapis tiga, baju paling luar, di dalamnya ada baju kaos dan di dalamnya ada baju tidur yang tipis, tanpa bra. dan aku menemukannya. walaupun aku tak melihat payudaranya, aku bisa tau ukurannya 34b, tak pernah kukira dia punya payudara luar biasa seperti ini, tegang dan lembut. dari leher, bibirku mulain turun, saat aku kesulitan menjilati dadanya lebih kebawah, tangannya membantu dengan menarik V bajunya sengingga kancingnya lepas dan robek. Kugapai payudara yang satunya dengan beringas, tak sempat kunikmati dengan mata. Kukulum begitu saja, putingnya kupilin dengan bibirku, ujung putingnya kujilati di dalam mulut. Ouchhhhhhh&#8230;&#8230;..</p>
<p style="text-align: justify;">Akhhhhhhh&#8230;&#8230;&#8230;&#8230; Uhhhhhh Iyaaahhhh,,,, ouhh sayangggg&#8230; uuu dahhhh laaa mahhhhh,, AAAUUKKHHHHH&#8230;&#8230;.. OOOOOushhhhhhh, dia berteriak sambil menekan pantatku sangat kuat, aku mebantunya dengan menekan selangkangannya, tangan Nita naik ke kepalaku dan menariknya, dia menciumku dengan beringas, bibirku sakit digigitnya tapi aku pasrah saja, aku menikmatinya, ini permainan yang hot, sofa yang berat ini berseger sedikit, meja sudah jauh dari kami. Oughhhhhhhhh,,, emmphhhhhh.. ouhhhhh&#8230; ia melenguh panjang, melepaskan seluruh nafasnya yg tertahan saat memeluk leherku dengan erat. Dia terlah terbang bersamaku, aku memeluknya sambil mencium lehernya. Kucium dengan penuh cinta, kuhafal baik-baik aroma rambut dan lehernya, entah masih adakah kesempatal lain terbang ke langin bersama anita.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku mulai lagi, mencium bibirnya, kami bertarung lagi. entah dia keenakan sehingga belum sadar apa yang kami lakukan, aku berusaha mencapai orgasme ku juga, kugesekkan kont*lku yang masih di sarangnya di selangkangan anita, kuhisap dengan beringas dadanya, dia menggeliat seperti cacing kepanasan, tangannya tiba-tiba sudah sampai di dalam celanaku, mengelus kont*lku, dia berusaha membuka celana jeans yang kukenakan. Aku makin gila mengulum putingnya, kuremas pantatnya. Namun saat kancing jeansku terlepas, belum sempat dia menarik ke bawah, seorang anak datang dengan ucapan assalamu alaikum di depan pintu. Anaknya datang!</p>
<p style="text-align: justify;">Kami segera bergegas, berantakan, rambut Anita kesana-kemari, tidak mirip anita kelihatannya tetapi seorang bidadari cantik jelita yang seksi, penuh nafsu dan energik. Jilbabnya dikenakan seadanya, kami langsung kompak seperti membersihkan minuman yang tumpah. Untung saja, tanpa disadari minuman kami tumpah saat sedang bergelut tadi. Anita bergegas membawa gelas ke dapur. Aku sendiri memperbaiki posisiku. tak lama kemudian aku pulang ke rumah, tanpa pamitan kepada Anita, dia tak keluar lagi menemuiku, jadi kukira aku memang harus pulang. Di jalan pulang, Penisku berdiri tegang mengingat adegan lain. Aku pulang ke rumah dan melampiaskannya di kamar mandi. Ohhhh Indahnya hari ini.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Bersambung&#8230;</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ceritasex.cn/ngentot-wanita-berjilbab-part-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Eneng Jilbab Kok Mesum?</title>
		<link>http://www.ceritasex.cn/eneng-jilbab-kok-mesum/</link>
		<comments>http://www.ceritasex.cn/eneng-jilbab-kok-mesum/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 04 Nov 2011 05:54:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cerita Sex</dc:creator>
				<category><![CDATA[Daun Muda]]></category>
		<category><![CDATA[Foto Mesum]]></category>
		<category><![CDATA[Toket gede]]></category>
		<category><![CDATA[cuki]]></category>
		<category><![CDATA[eneng]]></category>
		<category><![CDATA[jilbab]]></category>
		<category><![CDATA[memek]]></category>
		<category><![CDATA[mesum]]></category>
		<category><![CDATA[ngentot]]></category>
		<category><![CDATA[seks]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ceritasex.cn/?p=3137</guid>
		<description><![CDATA[Nih bro jaman sekarang emang susah nyari cewek yang bener buat dijadikan istri. Mau jilbab kek yang buka-bukaan kek semua sama aja pamer toket ma memek. Yang pakai jilbab belum tentu alim, malahan bisa kebalikannya yang pakai jilbab justru lebih hyperseks dan ganas di ranjang dibanding sama yang buka-bukaan kayak si eneng yang satu ini&#8230;]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Nih bro jaman sekarang emang susah nyari cewek yang bener buat dijadikan istri. Mau jilbab kek yang buka-bukaan kek semua sama aja pamer toket ma memek. Yang pakai jilbab belum tentu alim, malahan bisa kebalikannya yang pakai jilbab justru lebih hyperseks dan ganas di ranjang dibanding sama yang buka-bukaan kayak si eneng yang satu ini&#8230;</p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2011/11/eneng-jilbab-mesum-1.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-3139" title="eneng-jilbab-mesum-1" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2011/11/eneng-jilbab-mesum-1-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a></p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2011/11/eneng-jilbab-mesum-2.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-3140" title="eneng-jilbab-mesum-2" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2011/11/eneng-jilbab-mesum-2-225x300.jpg" alt="" width="225" height="300" /></a></p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2011/11/eneng-jilbab-mesum-3.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-3141" title="eneng-jilbab-mesum-3" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2011/11/eneng-jilbab-mesum-3-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a></p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2011/11/eneng-jilbab-mesum-4.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-3142" title="eneng-jilbab-mesum-4" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2011/11/eneng-jilbab-mesum-4-225x300.jpg" alt="" width="225" height="300" /></a></p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2011/11/eneng-jilbab-mesum-5.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-3143" title="eneng-jilbab-mesum-5" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2011/11/eneng-jilbab-mesum-5-225x300.jpg" alt="" width="225" height="300" /></a></p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2011/11/eneng-jilbab-mesum-6.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-3144" title="eneng-jilbab-mesum-6" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2011/11/eneng-jilbab-mesum-6-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a></p>
<p><span id="more-3137"></span></p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2011/11/eneng-jilbab-mesum-7.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-3145" title="eneng-jilbab-mesum-7" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2011/11/eneng-jilbab-mesum-7-225x300.jpg" alt="" width="225" height="300" /></a></p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2011/11/eneng-jilbab-mesum-8.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-3146" title="eneng-jilbab-mesum-8" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2011/11/eneng-jilbab-mesum-8-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a></p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2011/11/eneng-jilbab-mesum-9.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-3147" title="eneng-jilbab-mesum-9" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2011/11/eneng-jilbab-mesum-9-225x300.jpg" alt="" width="225" height="300" /></a></p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2011/11/eneng-jilbab-mesum-10.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-3148" title="eneng-jilbab-mesum-10" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2011/11/eneng-jilbab-mesum-10-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a></p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2011/11/eneng-jilbab-mesum-11.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-3149" title="eneng-jilbab-mesum-11" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2011/11/eneng-jilbab-mesum-11-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ceritasex.cn/eneng-jilbab-kok-mesum/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Nita Cantik Istri Teman Kost ku</title>
		<link>http://www.ceritasex.cn/nita-cantik-istri-teman-kost-ku/</link>
		<comments>http://www.ceritasex.cn/nita-cantik-istri-teman-kost-ku/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 01 Nov 2011 03:50:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cerita Sex</dc:creator>
				<category><![CDATA[Paruh baya]]></category>
		<category><![CDATA[Seks Umum]]></category>
		<category><![CDATA[selingkuh]]></category>
		<category><![CDATA[cuki]]></category>
		<category><![CDATA[itil]]></category>
		<category><![CDATA[kontol]]></category>
		<category><![CDATA[kost]]></category>
		<category><![CDATA[memek]]></category>
		<category><![CDATA[ml]]></category>
		<category><![CDATA[ngentot]]></category>
		<category><![CDATA[nita]]></category>
		<category><![CDATA[orgasme]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ceritasex.cn/?p=3122</guid>
		<description><![CDATA[Meskipun tinggal di Jakarta dan digaji besar, aku lebih suka tinggal di perkampungan. Kosku berada di wilayah Jakarta Selatan dekat perbatasan Tangerang. Lokasinya yang nyaman dan tenang, jau dari hiruk pikuk kota, membuatku betah tinggal lama disini sejak tahun 2009. Sudah 7 tahun lebih aku belum pernah pindah. Tetangga-tetangga pun heran mengapa aku betah tinggal [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Meskipun tinggal di Jakarta dan digaji besar, aku lebih suka tinggal di perkampungan. Kosku berada di wilayah Jakarta Selatan dekat perbatasan Tangerang. Lokasinya yang nyaman dan tenang, jau dari hiruk pikuk kota, membuatku betah tinggal lama disini sejak tahun 2009. Sudah 7 tahun lebih aku belum pernah pindah. Tetangga-tetangga pun heran mengapa aku betah tinggal disitu padahal bu kostku terkenal orangnya kolot dan masih memegang tradisi lama. Orangnyapun alim dan tidak suka anak kostnya berbuat macam-macam dan kalau ketahuan sudah pasti diusir dari rumah kostnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Rumah kostku 2 lantai yang disewakan hanya 5 kamar dengan ukuran sedang dan kostnya baik untuk putra maupun putri, yang masih single maupun yang sudah berkeluarga. Kamar mandi untuk anak kost disedakan ada 2 didalam rumah satu dan yang diluar juga ada. Ibu koskupun tinggal disitu cuman tinggal di kamar sebelah dalam bersama anak semata wayangnya Mas Rano.</p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2011/11/nita.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-3123" title="nita" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2011/11/nita-300x191.jpg" alt="" width="300" height="191" /></a></p>
<p style="text-align: justify;">Kejadian ini terjadi sekitar tahun 2005, Rumah kost hanya terisi dua satu untukku dan sebelahnya lagi keluarga Mas Tarno berasal dari Yogyakarta. Mas Tarno umurnya 2 tahun diatasku jadi waktu itu sekitar 26 tahun. Istrinya bernama Nita seumuran denganku. Nita orangnya manis putih tinggi sekitar 165 cm ukuran payudara sekitar 34-an. Mereka sudah dikaruniai satu orang anak masih berumur 2 tahun bernama Rara. Mas Tarno orangnya penggangguran. Jadi untuk keperluan, Nita-lah yang bekerja dari pagi sampai malam di sebuah Supermarket terkenal (supermarket ini sering dikenai sanksi oleh Komisi Pengawas Persaingan Usaha lho!!!….hayo tebak siapa bisa..hahahaha….) sebagai SPG sebuah produk susu untuk balita. Karena keperluannya yang begitu banyak, Nita (menurut pengakuannya) sampai meminta pihak manajemen untuk bisa bekerja 2 shift.<br />
<span id="more-3122"></span><br />
Tentunya keluarga macam ini sering cek-cok. Nita mengganggap Mas Tarno orangnya pemalas bisanya hanya minta duit untuk beli rokok. Padahal jerih payah Nita seharusnya untuk beli susu buat Rara putrinya. Mas Tarno pun sering membalas omelan-omelan Nita dengan tamparan dan tendangan bahkan dilakukan didepan anaknya. Aku sendiri tidak betah melihat pertengkaran itu.<br />
Suatu saat, Mas Tarno dapat pekerjaan sebagai ABK dan tentunya harus meninggalkan keluarganya dalam waktu yang cukup lama. Nita senangnya bukan main mendengarnya. Akan tetapi hal itu tidak berlangsung lama.</p>
<p style="text-align: justify;">Pada malam itu, aku ngobrol dengan Nita dikamarnya sambil nonton TV. Si Rara muter-muter sambil bermain maklum umur segitu masih lucu-cucunya.<br />
“Sekarang sepi ya, Nit….nggak ada Mas Tarno.” kataku<br />
“Lebih baik gini, Ted. Enakan kalo Mas Tarno nggak ada.” Keluh Nita kepadaku.<br />
“Emangnya Kenapa?” tannyaku.<br />
“Mas Tarno tuh kerja nggak kerja tetep nyusahin. wajar khan kalo aku minta duit ke Mas Tarno? Aku khan istrinya. Eh, Dianya marah-marah. Besoknya aku diomelin juga ama ibu mertuaku. Katanya aku nggak boleh minta duitnya dulu biar bisa buat nabung. Gombal!!! Aku nggak percaya Mas Tarno bisa nabung!!!” Dia jawab dengan marah-marah.</p>
<p style="text-align: justify;">“Sabar ya…” Aku mencoba untuk menenangkannya apalagi Rara dah minta bobo’. “Seandainya Mas Tedy yang jadi suamiku mungkin aku tidak akan merana. Mas Tedy dah dapat pekerjaan tetap dan digaji besar sedangkan suamiku, Mas Tarno hanya pekerja kasar di kapal itupun baru sebulan sebelumnya penggangguran.” Keluhnya.</p>
<p style="text-align: justify;">“Udah…jangan berandai-andai….biarkan hidup mengalir saja.” Jawabku sekenanya.“Mas, ….. Tiba-tiba Nita duduk disebelahku mengapit tangganku dan menyandarkan kepalanya. Aku sungguh terkejut. Aku tahu Nita butuh kasih sayang, butuh belaian, butuh perhatian. Bukan tendangan dan tamparan. Aku balas dia dengan pelukan di bahunya. Sayang sekali Wanita semanis Nita disia-siakan oleh laki-laki. Tapi Aku juga laki-laki normal punya nafsu terhadap wanita. Justru inilah kesempatanku untuk mengerjai Nita apalagi ibu kostku menjengguk keluarganya di Surabaya selama seminggu dan baru berangkat kemarin malam dan Mas Rano dapat jatah kerja Shift malam di sebuah Mall. Yuhuyyy…akhirnya kesempatan itu tiba!!!</p>
<p style="text-align: justify;">Kutoleh Nita yang saat itu sedang memakai daster, tanpa basa basi aku langsung merengkuh tubuh Nita yang montok itu kedalam pelukanku dan langsung kucium bibirnya yang tipis itu. Nita memeluk tubuhku erat erat, Nita sangat pandai memainkan lidahnya, terasa hangat sekali ketika lidahnya menyelusup diantara bibirku. Tanganku asyik meremas susu Nita yang tidak seberapa besar tapi kencang, pentilnya kupelintir membuat Nita memejamkan matanya karena geli. Dengan sigap aku menarik daster Nita, dan seperti biasanya Nita sudah tak mengenakan apa apa dibalik dasternya itu ternyata Nita memang sudah merencanakannya tanpa sepengetahuanku. Tubuh Nita benar benar aduhai dan merangsang seleraku, tubuhnya semampai, putih dengan susu yang pas dengan ukuran tubuhnya ditambah memek yang tak berambut mencembung.</p>
<p style="text-align: justify;">“Eh gimana kalo si Rara bangun?” tanyaku. “Tenang aja Mas Tedy, Susu yang diminum Rara tadi dah aku campurin CTM.” Jawabnya dengan gaya yang manja. Benar-benar persiapan yang sempurna. Ketika kubentangkan bibir memeknya, itilnya yang sebesar biji salak langsung menonjol keluar. ketika kusentuh dengan lidahku, Nita langsung menjerit lirih. Aku langsung mencopot baju dan celanaku sehingga kontolku yang sepanjang 12 cm langsung mengangguk angguk bebas. Ketika kudekatkan kontolku ke wajah Nita, dengan sigap pula Nita menggenggamnya dan kemudian mengulumnya. Kulihat bibir Nita yang tebal itu sampai membentuk huruf O karena kontolku yang berdiameter 3 cm itu hampir seluruhnya memadati bibir mungilnya, Nita sepertinya sengaja memamerkan kehebatan kulumannya, karena sambil mengulum kontolku ia berkali kali melirik kearahku.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku hanya dapat menyeringai keenakan dengan servis Nita ini. Mungkin posisiku kurang tepat bagi Nita yang sudah berbaring itu sementara aku sendiri masih berdiri disampingnya, maka Nita melepaskan kulumannya dan menyuruhku berbaring disebelahnya. Setelah aku berbaring dengan agak tergesa gesa Nita merentangkan kedua kakiku dan mulai lagi menjilati bagian peka disekeliling kontolku, mulai dari pelirku, terus naik keatas sampai keNitang kencingku semuanya dijilatinya, bahkan Nita dengan telaten menjilati Nitang duburku yang membuat aku benar benar blingsatan. Aku hanya dapat meremas remas susu Nita serta merojok memeknya dengan jariku. Aku sudah tak tahan dengan kelihaian Nita ini, kusuruh dia berhenti tetapi Nita tak memperdulikanku malahan ia makin lincah mengeluar masukkan kontolku kedalam mulutnya yang hangat itu. Tanpa dapat dicegah lagi air maniku menyembur keluar yang disambut Nita dengan pijatan pijatan lembut dibatang kontolku seakan akan dia ingin memeras air maniku agar keluar sampai tuntas.</p>
<p style="text-align: justify;">Ketika Nita merasa kalau air maniku sudah habis keluar semua, dengan pelan pelan dia melepaskan kulumannya, sambil tersenyum manis ia melirik kearahku. Kulihat ditepi bibirnya ada sisa air maniku yang masih menempel dibibirnya, sementara yang lain rupanya sudah habis ditelan oleh Nita. Nita langsung berbaring disampingku dan berbisik “Mas Tedy diam saja ya, biar saya yang memuaskan Mas !” Aku tersenyum sambil menciumi bibirnya yang masih berlepotan air maniku sendiri itu. Dengan tubuh telanjang bulat Nita mulai memijat badanku yang memang jadi agak loyo juga setelah tegang untuk beberapa waktu itu, pijatan Nita benar benar nyaman, apalagi ketika tangannya mulai mengurut kontolku yang setengah ngaceng itu, tanpa dihisap atau diapa apakan, kontolku ngaceng lagi, mungkin karena memang karena aku masih kepengen main beberapa kali lagi maka nafsuku masih bergelora.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku juga makin bernafsu melihat susu Nita yang pentilnya masih kaku itu, apalagi ketika kuraba memeknya ternyata itilnya juga masih membengkak menandakan kalau Nita juga masih bernafsu hanya saja penampilannya sungguh kalem . Melihat kontolku yang sudah tegak itu, Nita langsung mengangkangi aku dan menepatkan kontolku diantara bibir memeknya, kemudian pelan pelan ia menurunkan pantatnya sehingga akhirnya kontolku habis ditelan memeknya itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah kontolku habis ditelan memeknya, Nita bukannya menaik turunkan pantatnya, dia justru memutar pantatnya pelan pelan sambil sesekali ditekan, aku merasakan ujung kontolku menyentuh dinding empuk yang rupanya leher rahim Nita. Setiap kali Nita menekan pantatnya, aku menggelinjang menahan rasa geli yang sangat terasa diujung kontolku itu. Putaran pantat Nita membuktikan kalau Nita memang jago bersetubuh, kontolku rasanya seperti diremas remas sambil sekaligus dihisap hisap oleh dinding memek Nita. Hebatnya memek Nita sama sekali tidak becek, malahan terasa legit sekali, seolah olah Nita sama sekali tak terangsang oleh permainan ini. Padahal aku yakin seyakin yakinnya bahwa Nita juga sangat bernafsu, karena kulihat dari wajahnya yang memerah, serta susu dan itilnya yang mengeras seperti batu itu. Aku makin lama makin tak tahan dengan gerakan Nita itu, kudorong ia kesamping sehingga aku dapat menindihinya tanpa perlu melepaskan jepitan memeknya. Begitu posisiku sudah diatas, langsung kutarik kontolku dan kutekan sedalam dalamnya memasuki memek Nita.</p>
<p style="text-align: justify;">Nita menggigit bibirnya sambil memejamkan mata, kakinya diangkat tinggi tinggi serta sekaligus dipentangnya pahanya lebar lebar sehingga kontolku berhasil masuk kebagian yang paling dalam dari memek Nita. Rojokanku sudah mulai tak teratur karena aku menahan rasa geli yang sudah memenuhi ujung kontolku, sementara Nita sendiri sudah merintih rintih sambil menggigiti pundakku. Mulutku menciumi susu Nita dan menghisap pentilnya yang kaku itu, ketika Nita memintaku untuk menggigiti susunya, tanpa pikir panjang aku mulai menggigit daging empuk itu dengan penuh gairah, Nita makin keras merintih rintih, kepalaku yang menempel disusunya ditekan keras keras membuatku tak bisa bernafas lagi, saat itulah tanpa permisi lagi kurasakan memek Nita mengejang dan menyemprotkan cairan hangat membasahi seluruh batang kontolku.</p>
<p style="text-align: justify;">Ketika aku mau menarik pantatku untuk memompa memeknya, Nita dengan keras menahan pantatku agar terus menusuk bagian yang paling dalam dari memeknya sementara pantatnya bergoyang terus diatas ranjang merasakan sisa sisa kenikmatannya. Dengan suara agak gemetar merasakan kenikmatannya, Nita menanyaiku apakah aku sudah keluar, ketika aku menggelengkan kepala, Nita menyuruhku mencabut kontolku. Ketika kontolku kucabut, Nita langsung menjilati kontolku sehingga cairan lendir yang berkumpul disitu menjadi bersih. kontolku saat itu warnanya sudah merah padam dengan gagahnya tegas keatas dengan urat uratnya yang melingkar lingkar disekeliling batang kontolnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Nita sesekali menjilati ujung kontolku dan juga buah pelirku. Ketika Nita melihat kontolku sudah bersih dari lendir yang membuat licin itu, dia kembali menyuruhku memasukkan kontolku, tetapi kali ini Nita yang menuntun kontolku bukannya keNitang memeknya melainkan keNitang duburnya yang sempit itu. Aku menggigit bibirku merasakan sempit serta hangatnya Nitang dubur Nita, ketika kontolku sudah menyelusup masuk sampai kepangkalnya, Nita menyuruhku memaju mundurkan kontolku, aku mulai menggerakkan kontolku pelan pelan sekali.</p>
<p style="text-align: justify;">Kurasakan betapa ketatnya dinding dubur Nita menjepit batang kontolku itu, terasa menjalar diseluruh batangnya bahkan terus menjalar sampai keujung kakiku. Benar benar rasa nikmat yang luar biasa, baru beberapa kali aku menggerakkan kontolku, aku menghentikannya karena aku kuatir kalau air maniku memancar, rasanya sayang sekali jika kenikmatan itu harus segera lenyap. Nita menggigit pundakku ketika aku menghentikan gerakanku itu, ia mendesah minta agar aku meneruskan permainanku. Setelah kurasa agak tenang, aku mulai lagi menggerakkan kontolku menyelusuri dinding dubur Nita itu, dasar sudah lama menahan rasa geli, tanpa dikomando lagi air maniku tiba tiba memancar dengan derasnya, aku melenguh keras sekali sementara Nita juga mencengkeram pundakku.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku jadi loyo setelah dua kali memuntahkan air mani yang aku yakin pasti sangat banyak. Tanpa tenaga lagi aku terguling disamping tubuh Nita, kulihat kontolku yang masih setengah ngaceng itu berkilat oleh lendir yang membasahinya. Nita langsung bangun dari tempat tidur, dengan telanjang bulat ia keluar mengambil air dan dibersihkannya kontolku itu, aku tahu kali ini dia tak mau membersihkannya dengan lidah karena mungkin dia kuatir kalau ada kotorannya yang melekat. Setelah itu, disuruhnya aku telungkup agar memudahkan dia memijatku, aku jadi tertidur, disamping karena memang lelah, pijatan Nita benar benar enak, sambil memijat sesekali dia menggigiti punggungku dan pantatku. Aku benar benar puas menghadapi perempuan satu ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku tertidur cukup lama, ketika terbangun badanku terasa segar sekali, karena selama aku tidur tadi Nita terus memijit tubuhku. Ketika aku membalikkan tubuhku, ternyata Nita masih saja telanjang bulat, kontolku mulai ngaceng lagi melihat tubuh Nita yang sintal itu, tanganku meraih susunya dan kuremas dengan penuh gairah, Nitapun mulai meremas remas kontolku yang tegang itu.<br />
“Yuk kita ke kamar mandi” ajakku<br />
“Sapa takut…..”<br />
Aku menarik tangan Nita keluar kamar sambil bugil tapi aku sempatkan menyambar 2 buah handuk kemudian berjalan mengendap masuk , takut ketahuan tetangga sebelah rumah dan mengunci pintu kamar mandinya dari dalam. ” Nit…kamu seksi banget..” desisku sambil lebih mendekatinya, dan langsung mencium bibirnya yang ranum. Nita membalas ciumanku dengan penuh gairah, dan aku mendorong tubuhnya ke dinding kamar mandi.</p>
<p style="text-align: justify;">Tanganku membekap dadanya dan memainkan putingnya. Nita mendesah pelan. Ia menciumku makin dalam. Kujilati putingnya yang mengeras dan ia melenguh nikmat. Aku ingat, pacarku paling suka kalau aku berlama-lama di putingnya. Tapi kali ini tidak ada waktu, karena sudah menjelang pagi. Nita mengusap biji pelirku. Kunaikan tubuh Nita ke bak mandi. Kuciumi perutnya dan kubuka pahanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Bulu kemaluannya rapi sekali. Kujilati liangnya dengan nikmat, sudah sangat basah sekali. ia mengelinjang dan kulihat dari cermin, ia meraba putingnya sendiri, dan memilin-milinnya dengan kuat. Kumasukan dua jari tanganku ke dalam liangnya, dan ia menjerit tertahan. Ia tersenyum padaku, tampak sangat menyukai apa yg kulakukan. Jari telunjuk dan tengahku menyolok-nyolok ke dalam liangnya, dan jempolku meraba-raba kasar klitorisnya. Ia makin membuka pahanya, membiarkan aku melakukan dengan leluasa. Semakin aku cepat menggosok klitorisnya, semakin keras desahannya. Sampai-sampai aku khawatir akan tetangga sebelah rumah dengar karena dinding kamar mandi bersebelahan tepat dengan dinding rumha tetangga. Lalu tiba-tiba ia meraih kepalaku, dan seperti menyuruhku menjilati liangnya..</p>
<p style="text-align: justify;">” Ahhh…ahhh….Mas…Arghhhh..uhhh….Maaasss….” ia mendesah-desah girang ketika lidahku menekan klitorisnya kuat2. Dan jari-jariku makin mengocok liangnya. Semenit kemudian, Nita benar-benar orgasme, dan membuat mulutku basah kuyub dengan cairannya. Ia tersenyum lalu mengambil jari2ku yang basah dan menjilatinya sendiri dengan nikmat.</p>
<p style="text-align: justify;">Ia lalu mendorongku duduk di atas toilet yg tertutup, Ia duduk bersimpuh dan mengulum kontolku yang belum tegak benar. Jari-jarinya dengan lihay mengusap-ngusap bijiku dan sesekali menjilatnya. Baru sebentar saja, aku merasa akan keluar. Jilatan dan isapannya sangat kuat, memberikan sensasi aneh antara ngilu dan nikmat. Nita melepaskan pagutannya, dan langsung duduk di atas pangkuanku.</p>
<p style="text-align: justify;">Ia bergerak- gerak sendiri mengocok kontolku dengan penuh gairah. Dadanya naik turun dengan cepat, dan sesekali kucubit putingnya dengan keras. Ia tampak sangat menyukai sedikit kekerasan. Maka dari itu, aku memutuskan untuk berdiri dan mengangkat tubuhnya sehingga sekarang posisiku berdiri, dengan kakinya melingkar di pinggangku.</p>
<p style="text-align: justify;">Kupegang pantatnya yang berisi dan mulai kukocok dengan kasar. Nita tampak sangat menyukainya. Ia mendesah-desah tertahan dan mendorong kepalaku ke dadanya. Karena gemas, kugigit dengan agak keras putingnya. Ia melenguh ,” Oh…gitu Mas..gigit seperti itu…aghhh…”</p>
<p style="text-align: justify;">Kugigit dengan lebih keras puting kirinya, dan kurasakan asin sedikit di lidahku. Tapi tampaknya Nita makin terangsang.kontolku terus memompa liangnya dengan cepat, dan kurasakan liangnya semakin menyempit… kontolku keluar masuk liangnya dengan lebih cepat, dan tiba-tiba mata Nita merem melek, dan ia semakin menggila, lenguhan dan desahannya semakin kencang hingga aku harus menutup mulutnya dengan sebelah tangannku. ” Ah Maass…Ehmm… Arghh…Arghhh…Ohhhhh uhhhhhh…” Nita orgasme untuk kesekian kalinya dan terkulai ke bahuku.</p>
<p style="text-align: justify;">Karena aku masih belum keluar, aku mencabut kontolku dari liangnya yang banjir cairannya, dan membalikan tubuhnya menghadap toilet. Biasa kalau habis minum staminaku memang suka lebih gila. Nita tampak mengerti maksudku, ia menunggingkan pantatnya, dan langsung kutusuk kontolku ke liangnya dari belakang. Ia mengeram senang, dan aku bisa melihat seluruh tubuhnya dari cermin di depan kami. Ia tampak terangsang, seksi dan acak-acakan.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku mulai memompa liangnya dengan pelan, lalu makin cepat, dan tangan kiriku meraih puting payudaranya, dan memilinnya dengan kasar, sementara tangan kananku sesekali menepuk keras pantatnya. kontolku makin cepat menusuk2 liangnya yang semakin lama semakin terasa licin. Tanganku berpindah-pindah, kadang mengusap-ngusap klitorisnya dengan cepat. Badan Nita naik turun sesuai irama kocokanku, dan kontolku semakin tegang dan terus menghantam liangnya dari belakang. Ia mau orgasme lagi, rupanya, karena wajahnya menegang dan ia mengarahkan tanganku mengusap klitorisnya dengan lebih cepat. kontolku terasa makin becek oleh cairan liangnya.</p>
<p style="text-align: justify;">“Nita..aku juga mau keluar nih….”<br />
” oh tahan dulu…kasih aku….kontolmu….tahan!!!!<br />
“Nita langsung membalikan tubuhnya, dan mencaplok kontolku dengan rakus. Ia mengulumnya naik turun dengan cepat seperti permen, dan dalam itungan detik, menyemprotlah cairan maniku ke dalam mulutnya.<br />
” ArGGGhhhh!! Oh yes !! ” erangku tertahan.</p>
<p style="text-align: justify;">Nita menyedot kontolku dengan nikmat, menyisakan sedikit rasa ngilu pada ujung kontolku, tapi ia tidak peduli, tangan kirinya menekan pelirku dan kanannya mengocok kontolku dengan gerakan makin pelan. Kakiku lemas dan aku terduduk di kursi toilet yg tertutup. Nita berlutut dan menjilati seluruh kontolku dengan rakus.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah Nita menjilat bersih kontolku, ia memakaikan handukku, lalu memakai handuknya sendiri. Ia memberi isyarat agar aku tidak bersuara, lalu perlahan-lahan membuka pintu kamar mandi. Setelah yakin aman, ia keluar dan aku mengikutinya dari belakang. Setelah kejadian itu aku sama Nita semakin gila-gilaan dalam bermain seks sampai dengan ibu kosku kembali dari Surabaya tentunya aku hanya bisa melakukannya di malam hari.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ceritasex.cn/nita-cantik-istri-teman-kost-ku/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

