<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Cerita sex porno ngentot mesum perek ayam kampus &#187; emut kontol</title>
	<atom:link href="http://www.ceritasex.cn/tag/emut-kontol/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.ceritasex.cn</link>
	<description>Kumpulan cerita sex, foto bugil, dan film porno</description>
	<lastBuildDate>Mon, 26 Jul 2010 07:13:35 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0</generator>
		<item>
		<title>Paini, Pembantu Pemuas Nafsu</title>
		<link>http://www.ceritasex.cn/paini-pembantu-pemuas-nafsu/</link>
		<comments>http://www.ceritasex.cn/paini-pembantu-pemuas-nafsu/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 01 Apr 2010 22:26:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cerita Sex</dc:creator>
				<category><![CDATA[Paruh baya]]></category>
		<category><![CDATA[anal seks]]></category>
		<category><![CDATA[kisah nyata]]></category>
		<category><![CDATA[budak seks]]></category>
		<category><![CDATA[emut kontol]]></category>
		<category><![CDATA[ngentot]]></category>
		<category><![CDATA[paini]]></category>
		<category><![CDATA[pembantu]]></category>
		<category><![CDATA[pemuas nafsu]]></category>
		<category><![CDATA[susu]]></category>
		<category><![CDATA[toket gede]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ceritasex.cn/?p=1334</guid>
		<description><![CDATA[Nama saya Andi, seorang karyawan di sebuah bank terkemuka di indonesia .Saya akan menceritakan kisah saya yang terjadi pada saat saya masih 3 SMU. pada saat tinggi saya 175 cm berat 55 Kg. dan saya berotot pada saat itu karena sering angkat barbel yang 3 kiloan dan sit-up setelah bangun tidur setiap hari. ya cukup [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Nama saya Andi, seorang karyawan di sebuah bank terkemuka di indonesia .Saya akan menceritakan kisah saya yang terjadi pada saat saya masih 3 SMU. pada saat tinggi saya 175 cm berat 55 Kg. dan saya berotot pada saat itu karena sering angkat barbel yang 3 kiloan dan sit-up setelah bangun tidur setiap hari. ya cukup menarik perempuan saat itu sehingga saya dapat seorang wanita cantik di SMU. Tetapi saya tidak akan menceritakan saya tidur dengan pacar saya karena saya tidak pernah ngesex denganya dan tentu saja cerita hubungan pacar atau pasutri itu tidak menarik. Saya akan menceritakan tidur dengan pembantu saya, Paini, Seorang wanita desa yang Ndeso dan lugu. Dia hanya lulusan SD dan pengetahuan sexnya sangat rendah. Masa artinya perawan saja tidak tahu, dia mengira perawan itu susunya kencang dan pantatnya kencang, dan yang tidak perawan itu susuny6a kendor dan pantatnya gantung. masih ada aja yang percaya begituan di era globalisasi. Umurnya masih 19 tahun, masa keemasan. Tingginya hanya 160-an cm dan beratnya sekitar 45 kg.</p>
<p style="text-align: justify;">Kulitnya putih dan halus seperti wanita jawa lainya. wajahnya pun bisa dibilang lumayankarena putih mulus tak berjerwat. Toketnya ukuran jumbonya itu membuat pria didesanya sering menggodanya. sayapun tertarik dengan ukuran besarnya. ukuran yang bisa dibilang kebesaran, 36B, itu adalah nomor yang saya dapatkan ketika mengobok-obok lemarinya ketika dia ke pasar. BH murahan itu kadang saya cium dan hisap aromanya. oh wanginya BH ini dan kadang-kadang saya juga mencium CD nya dan sesekali menumpahkan mani saya di celananya yang kemudian langsung saya bersihkan agar tidak ketahuan. dan kalau anda melihatnya naik sepeda ontelnya dan melewati jalan berbatu atau polisi tidur, toketnya goyang dengan indah. pria mana yang tidak ngaceng melihat pemandangan ini. dan apabila mandi, saya sering melihatanya dengan one way mirror yang saya taruh di kmar mandinya. melihat dia dengan rambut basah atau penuh busa serta melihat dia menyabuni payudaranya dan vaginanya yang dipenuhi bulu tipis yang dicukur membuat saya berfantasi tidur denganya.</p>
<p style="text-align: justify;">sesekali saya juga melihat dia menykur jembutnya atau mencukur bulu kakinya di kamar mandi juga membuat junior saya tegang. atau melihatnya menyuci mobil, oh alangkah seksinya dia ketika saya melihatnya dengan baju yang ngeplat BH dan putingnya karena basah dan tentunya saya lanjutkan dengan choli atau ngocok. Tidur denganya?, tidak saya tidak berani karena takut hamil. tetapi karena saya perkembangan teknologi yang memungkinkan tidak bisa hamil maka niat saya tidur denganya hidup lagi. Suatu hari, Orang tuaku beserta adikku pergi ke luar kota untuk mengahadiri resepsi pernikahan. Sedangkan saya tidak ikut karena saya ada ulangan di sekolah. tetapi ibu saya ingin saya ikut dengan minta ujian susulan. tapi saya menolak dengan pelbagai alasan karena kalau ujian susulan nggak bisa nyontek. akhirnya ortuku beserta adikku meninggalkanku. Kemudian saya belajar(lebih tepatnya membuat contekan buat besok) dan langsung tidur. kemudian saya menegrjakan ulangan dengan contekan dan setelah pulang sekolah saya langsung pulang ke rumah.</p>
<p style="text-align: justify;">setelah itu saya main PS2 sampai malam bersama teman saya dan setelah selesai teman saya langsung pulang. tidak terasa sudah malam. saya meminta Paini untuk masak. &#8220;Paini&#8230;Paini&#8230;&#8221; saya teriak memanggil paini. mungin karena terlalu keras dia lari terbirit-birit dari ruang tv ke hadapan saya. pada saat lari. susunya bergoyang kemana-mana di balik baju kekecilanya otomatis membuat saya ngaceng. kemian saya langsung mengambil koran dan menutup penis saya dibalik celana pendek yang saya pakai. &#8220;paini, sudah masak nasi belum?&#8221; &#8220;waduh saya lupa&#8221; &#8220;masak nasi tuh kan lama, bisa setengah jam, gimana sih kamu?&#8221; &#8220;Maaf mas andi, saya lupa&#8221; &#8220;makanya dikurangin nonton sinetronya&#8221; &#8220;sekali lagi maaf mas&#8230;&#8221; &#8220;ya udah, gapapa kok, lauknya apa&#8221; &#8220;terserah mas&#8221; &#8220;kalo gitu, nugget aja yang di kulkas&#8221; &#8220;oke mas&#8221; &#8220;kalau gitu saya mandi dulu, nanti kalo udah selesai saya dipanggil ya&#8221; &#8220;nggih mas&#8221; itu adalah percakapan pendek saya dengan paini. kemudian saya mandi denganbersih dan menggunakan baju sepak bola dan celana pendek.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;mas, makananya sudah selesai&#8221;, itu suara paini memanggil saya. kemudian saya langsung makan. &#8220;mbak makannya sudah selesai&#8221; suaraku dengan lantang. kemudian dia datang dan membersihkan meja dan menyuci piring dan saya ke ruang keluarga dan sekilas melihat tv yang sudah hidup yang ditonton oleh nya. ternyata sebuah sinetron, ah,mengapa orang suka menonton junk ini. kemudian saya gonta ganti channel, ternyata semuanya sinetron karena lagi &#8220;prime timenya&#8221; &#8220;mas, kok diganti sih?&#8221; katanya yang saya tidak ketahui sudah duduk dibawah &#8220;mbak masih nonton yang tadi?, itu kan jelek&#8221; &#8220;bagus lo mas, itu episode terakhir lo mas&#8221; &#8220;plis mas&#8221; kata itu diulang berkali kali &#8220;ya udah deh&#8221; kemudian saya mengembalikan ke channel semula dan saya mengambil majalah olahraga karena saya anti-sinetron. dan kami sering bincang-bincang ringan. ya seputar kehidupan saya di sekolah dan cerita dia. kemudian beberapa menik kemudian sinetron itu di ending dan sepasang manusia berciuman yang tentunya disensor seperti hanya keliatan punggungya.<span id="more-1334"></span></p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;yah, kok cuma punggungnya sih?&#8221; &#8220;namanya juga di indonesia, nggak boleh diliatin&#8221; &#8220;iya mas, sinetron lain juga begitu&#8221; kemudian saya melenceng dari topik &#8220;emang mbak nggak tau ciuman&#8221; &#8220;nggak pernah mas, takut hamil&#8221; &#8220;duh ini orang goblog banget ciuman kok hamil&#8221; kataku dalam hati &#8220;mbak, ciuman itu nggak bikin hamil&#8221; &#8220;emang mas pernah nyium mbak dina ya?&#8221; pertanyaanya malah balik ke saya. dina adalah pacarsaya &#8220;nggak pernah, dina kan solehah&#8221;, kataku. pacarku memang solehah, sayapun kalau berpacaran selalu disuruh membawa adikku. pas nembak diapun setengah mati, dia setuju, tetapi kedua orang tua juga harus setuju. itu permintaan. tapi saking cintanya. maka saya menurutinya. &#8220;Ooooo&#8221; katanya &#8220;masak mbak nggak pernah?&#8221; &#8220;betulan nih nggak pernah sama mas jay&#8221;. jay adalah mantan pacarnya di desa. saya mendapatkan informasi ini dari mengorek HPnya &#8220;nggak, saya cuma dicium pipi sama mas jay&#8221; &#8220;oooo, mbak pijatin dong&#8221; kemudian saya telungkup di sofa dan paini memijat saya. &#8220;paini, kamu kok nggak punya pacar sih&#8221; &#8220;nggak tau mas&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;loh, kok nggak tau sih&#8221; &#8220;iya nih&#8221; &#8220;padahal kamu itu cantik&#8221;, rayuan gombalku keluar &#8220;ah mas bisa aja&#8221; &#8220;kok kamu putus sih sama mas jay&#8221; &#8220;dulu mas jay ngajak begituan, tapi saya malu kemudian kami putut&#8221; &#8220;loh kok malu&#8221; &#8220;mmmm&#8221;, dia bergumam &#8220;jawab dong&#8221; &#8220;saya malu buka baju&#8221; &#8220;loh kok buka baju takut?, mbak ini aneh&#8221; &#8220;mmmm&#8221; dia bergumam lagi, lama sekali &#8220;mbak, jawab dong, budek ya&#8221; &#8220;mmmm&#8221; &#8220;oi jawab dong&#8221;, kataku kesal &#8220;anu mas, saya mau jawab tapi jangan bilang sapa-sapa ya&#8221;, ucapanya lirih &#8220;oke deh&#8221; &#8220;janji ya mas&#8221; &#8220;IYA!&#8221;, ucapan saya dengan nada menekan &#8220;saya malu dengan susu saya&#8221; ucapan ini membuat saya ngaceng plus rangsangan darinya merijat pada dalamku. otomatis penis saya tertekan &#8220;aduh&#8221; &#8220;kenapa mas?&#8221; saya bingung haru menjawab apa &#8220;di situ sakitnya, dipijitnya disitu terus aja&#8221; berarti aku menambah kesakitan penisku kemudian saya melanjutkan pembicaraan yang tadi terputus &#8220;kenapa?&#8221; &#8220;kata teman saya, kegedean, terus saya juga risih kalau naik sepeda sering diliat orang mas, aku isin mas&#8221; &#8220;kataku payudaramu bagus kok&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;ah mas ini bisa aja. coba ada opersi negecilin susu&#8221; &#8220;ada tapi harganya selangit, kamu kuat?, nanti operasi di luar negeri&#8221; &#8220;saya nggak kuat mas kalo segitu&#8221; &#8220;bagus kok susumu paini, wanita2 itu pada ingin dibesarin kok kamu dikecilin&#8221; kataku memuji &#8220;terus susu kamu bikin tambah kamu jadi sexy loo&#8221;, kataku memuji lagi &#8220;ah mas ini&#8221;, mukanya merah tersipu malu-malu &#8220;terus muka kamu kan cantik&#8221;, pujianku menjadi-jadi &#8220;tapi kan aku tetep gadis desa mas, kampungan, ndeso&#8221;, katanya merendahkan diri &#8220;kamu bisa kok jadi gadis kota, gadis yang ada di sinetron-sinetron itu&#8221; &#8220;ah yang bener mas, gimana caranya?&#8221;, katanya &#8220;ya dari baju sikap dll&#8221; &#8220;baju, kayak gimana mas?&#8221; &#8220;kalo ini kamu harus percaya diri, kamu pake tanktop atau rok mini&#8221; &#8220;malu mas&#8221; &#8220;udah, kamu coba dulu, saya beliin deh&#8221; &#8220;duh, nggak enak mas&#8221; &#8220;udah, gak papa kok&#8221; kemudian dia ke kamarnya dan mengambil uang &#8220;nggak papa nih mas, masak saya nyuruh majikan beliin baju&#8221; &#8220;oh nggak papa kok, ini kan demi kamu juga, lagipula saya juga ingin keluar&#8221; &#8220;makasih ya mas, jadi nggak enak nih&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;udah tenang saja kok&#8221; kemudian saya keluar dengan naik sepeda motor saya dan pergi ke toko pakaian yang terkemuka. mumpung lagi sale. saya memilih tang top pink, rok jeans mini dan sebuah G-string. tapi masalahnya saya risih membawa pakaian perempuan. apalagi membawa g-string. oleh karena itu, saya mencuri pakaian daripada diketawain sama kasirnya. saya memasukan barang tsb di balik jaket saya yang seharusnya tadi dititipkan penitipan barang, tapi, karena orangnya nggak ada, saya nyelonong aja. dengan perasaan santai saya keluar dan langsung mengendarai motor ke rumah &#8220;kemudian agar keliatan beli, saya diam-diam ke dapur dan mengambil kantong kresek yang ada logo sebuah toko baju &#8220;ini paini bajunya&#8221; &#8220;waduh, makasih banget mas, saya harus ganti brapa?&#8221; &#8220;nggak usah ganti, gratis kok&#8221; tetapi wajh senang itu 360 derajat menjadi malu setelah melihat pakaian yang ada di dalam kantong tersebut&#8221; &#8220;mas, nggak salah nih?&#8221; &#8220;betul kok, kamu pasti seksi dan cantik pake itu&#8221; &#8220;kamu mandi dulu, terus baru pake itu, biar tambah cantik&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;tapi mas, nanti paha sama belahan susu saya kelihatan lo mas&#8221; &#8220;nggak papa kok, kan susu kamu gede terus kulit kamukan putih jadi cantik kok&#8221; &#8220;tapi kan saya jadi malu&#8221; &#8220;tenang, kan cuma ada saya dan kamu doang, jadi nggak usah malu&#8221; &#8220;iya deh mas, tapi cuma semalam saja ya&#8221; &#8220;iya, tapi nanti kamu jangan pake beha&#8221; &#8220;loh mas, kok nggak pake beha?&#8221; &#8220;kamu tahu nggak kalo pake beha bisa bikin kanker payudara nanti matinya cepat kayak artis yang diinfotaiment itu&#8221;, kataku menakutinya &#8220;saya jadi takut mas&#8221; &#8220;makanya kamu nggak usah pake beha aja terus, buang aja behamu, terus kamu pake CD yang saya beliin,&#8221; &#8220;iya mas&#8221; &#8220;Sabunanya yang banyak ya&#8221; kemudian saya menunggu beberapa menit dan akhirnya keluar juga. waduh, cantik bener, terlihat paini dengan tanktop V-neck sehinggaputingnya ngeplat dan belahan dadanya yang besar serta terlihat kakinya dan pahanya mulus yang ingin aku raba-raba. betul-betul membuat saya ngaceng sampai sakit yang kemudian menyembul dibalik celanaku, dengan cepat aku duduk dan langsung mengambil bantal yang kemudian saya taruh diatas paha</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;gimana mas andi&#8221; katanya berusaha menutupi bagian dadanya &#8220;waduh paini kamu seksi dan cantik banget&#8221; &#8220;makasih mas andi&#8221; &#8220;mas jay pasti nyesel mutusin kamu kalo liat kamu kayak begini&#8221; &#8220;ah mas andi bisa aja deh&#8221; &#8220;kamu itu aslinya cantik dan seksi lo paini&#8221; &#8220;mas tapi ada yang nyelip&#8221; &#8220;nyelip?&#8221; &#8220;iya mas&#8221; &#8220;apaan?&#8221; Dengan malu dia berkata&#8221; anu mas, kolor tali yang mas beliin&#8221; &#8220;oh nggak papa kok, ayo duduk disofa&#8221; kemudian dia duduk di hadapan saya &#8220;gimana, enak nggak?&#8221; &#8220;nggak enak mas, yang bawah nyelip, terus yang atas ngetat mas, nggak pake beha lagi mas, puting saya kelihatan ya mas?,saya malu sekali mas, ternyata jadi gadis kota itu susah&#8221; &#8220;puting kamu keliatan bikin kamu jadi tambah seksi kamu kayak di film-film lo, kamu jadi model aja paini&#8221; &#8220;ah, mas ini bisa aja, nanti kalau paini jadi model, nanti yang ngurus mas siapa?&#8221; &#8220;udah paini, nggak usah ditutup-tutupin susumu, santai aja, kan yang liat cuma aku, kalo kamu kecilin susumu, mungkin kamu nggak jadi seksi lagi lo&#8221; &#8220;tenang, cuma saya dan aku, aku nggak gigit kok, aku jaga rahasia kita berdua&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;hihihi&#8221; akhirnya senyumnya mengembang juga &#8220;mas, aku boleh salin ndak?&#8221; &#8220;jangan ganti, nanti saya ajarin biar tambah seksi dan naughty&#8221; &#8220;mas andi, kok kayak lagunya tata yang&#8221; &#8220;nanti biar kamu seksi kaya tata young&#8221; kemudian saya memutar VCD tata young, kemudian lagu sexy, naughty &amp; bitchy keluar keluarlah keluar tata young yang seksi itu &#8220;tata young aja berani diliatin didunia malah, kok kamu dihadapan saya aja kok malu&#8221; &#8220;tata young kan cantik, kalo saya apanya cantik&#8221; &#8220;udah, sekarang kamu menutup mata, bayangkan kamu tata young&#8221; &#8220;iya mas&#8221; kemudian dia meniru gerakan tata young sambil nyanyi, meskipun englishnya kagok, tapi gerakanya sangat sensual. kedua tanganya meraba pahanya, pyudaranya dan tentu saja membuat saya ngaceng. setelah bernyanyi, Paini menjadi percaya diri, dia tidak menutupi tubuhnya lagi. tanpa saya sadari, rupanya dia terangsang, terlihat dari putingnya sudah berkembang. Saya menganggap ini kesempatan emas untuk ML denganya &#8220;mbak, kalo udah nyanyi ayo duduk disini&#8221; &#8220;iya mas&#8221; paini langsung duduk di sampingku</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;mbak haus kan, saya juga haus&#8221; &#8220;kok tau sih mas andi ini, saya ambil jus jeruk di kulkas ya&#8221; &#8220;udah, bia saya yang ambil, mbak kan capek abis joget&#8221; kemudian saya langsung mengambil jus jeruk dikulkas dan mengambil gelas di dapur. Kemudian diam-diam saya mengambil obat perangsang milik kedua orang tua saya di kotak obat. kemudian saya menelan 2 obat perangsang sekaligus dan 1 obat saya tumbuk menjadi bubuk dan saya masukan ke dalam jeruknya. kemudian saya langsung ke ruang keluarga, saya pun juga ngaceng terus, dan tidak saya tutupi yang mungkin bisa menambah rangsangan dia juga &#8220;ini mbak jus jeruknya&#8221; &#8220;slruupp&#8221; jus jeruk itu langsung diminum sampai habis kemudian efek obat itu bekerja. terlihat paini mengipas-ipas tubuhnya dan puting susunya membengkak kemudian kami mulai ngobrol lagi &#8220;mbak, masa sama mas jay cuman cium pipi?&#8221; &#8220;iya, mas&#8221; &#8220;mbak, pengin tau nggak rasanya mulut mbak dicium? kayak disinetron?&#8221; &#8220;mau, kayaknya enak&#8221; &#8220;kalo saya ajarin cium mulut orang mau nggak?&#8221; &#8220;saya takut mas&#8221; &#8220;katanya tadi mau, kok sekarang takut sih?&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;mmmm&#8221; dia bergumam lagi &#8220;udah, gini aja, kamu saya cium, kalo nggak enak nggak usah dilanjutin&#8221; kemudian saya suruh menutup mata, kemuadian saya mendekatkan bibir saya dan kami saling berciuman sekitar 10 detik &#8220;gimana mbak, enak?&#8221; &#8220;enak ya mas&#8221; &#8220;ini ada satu ciuman lagi tapi kamu harus juga aktif, nanti lidah kamu ke lidahmu dan lidahku ke lidahkmu kemudian kepalaku sedikit di miringkan dan kami melakukan french kiss cukup lama sekali. kemudian bibirku berpindah kekupingnya dan kucium kupingnya dan aku julurkan lidahku ke lubang telinganya &#8220;uhh.. geli mas&#8221; kemudian saya cium lehernya yang wangi &#8220;enak mas enak lagi mas ohh..&#8221; dan kuberikan tanda merah di lehernya. kemudian saya turunkan tali tank topnya &#8220;jangan mas, malu&#8221; tetapi kuteruskan saja dan kemudian saya melihat kedua bukit kembar yang yang putingnya sudah menonjol keras, kemudian saya remas-remas kedua bukitnya &#8220;mas, pelan saja&#8221; kemudian kuturunkan temponya dan ku cubit-cubit kecil payudaranya . setelah itu saya pilin-pilin putingnya. dia mendesah menggelinjang &#8220;ohh&#8230;ahh&#8230; geli mas&#8221; sungguh indah pemandangan ini.</p>
<p style="text-align: justify;">kemudian saya emut-emut payudaranya kananya dia teriak-teriak &#8220;ohh yea yess ahhh&#8221; dan tanganya meremas payudara kiri. setelah beberapa menit saya pindah dan beberapa menit kemudian saya menjulurkan lidah saya ke pusarnya yang bersih itu dan kedua tangan saya aktif meremas kedua payudaranya. posisi ini susah karena perut paini bergoyang terus saking nikmat yang kuberikan untuknya. kemudian kedua tangan saya turun ke roknya dan pelorotkan roknya.&#8221;mas jangan mas ahh jangan mas malu ohh&#8221; pada saat ini masih sempet-sempetnya dia untuk bilang tidak. kemudian munculah G-string biru muda, warna kesukaanku kemudian kuraba, rupanya sudah basah. kemudian aku raba bibir vaginaya yang sudah merah merekah.&#8221;ahh enak&#8221; kemudian aku pelorotkan juga g stringnya sehingga sudah terlihat paini si toket gede bugil denganpayudata yang mingkin sudah bertambah bear 25% dengan puting mengeras dan vagina basah yang sudah merekah siap untuk ditidur kemudian saya menyuruh paini untuk membuka bajuku. setelah itu dia memelorotkan celanaku sehinnga terlihatlah CD ku yang menyembul.</p>
<p style="text-align: justify;">kemudian saya berkata &#8220;paini, kamu sudah siap ntuk melihat penis saya sayang?&#8221;, &#8220;sudah siap mas&#8221; kemudian dia melorot kan celanaku dan &#8220;toing&#8221; penis ku menyembul keluar, penis dengan jembut keriting dan penis kokoh sekitar 18 cm dengan diameter 3 cm. &#8220;emut donk say&#8230;&#8221; &#8220;diemut?!&#8221; &#8220;iya diemut, dijilat&#8221; &#8220;nggak brani ya say?&#8221; &#8220;iya mas&#8230;&#8221; rupanya dia rada ngeri dengan penisku, kemudian saya kk dapur dan mengambil susu kental manis dan mengambil ceres. kemudian saya oleskan susu kental manis coklat itu sampai memenuhi penis ku dan dan kuberi ceres warna-warni di penisku &#8220;biar mbak nggak takut, ini saya beri coklat bia enak oralnya, emut sam pai habis&#8221; &#8220;iya mas&#8221; &#8220;jangan lupa, jangan sampe burung mas kena gigi, nanti lecet&#8221; kemudian dia mulai menjilat penis saya, awalnya menjilat tapi kelama-lamaan mengemut &#8220;ah enak sekali paini terus ahh yess&#8221; yang lama kelamaan sampai mulutnya penuh dan saya menjambak rambutnya. hisapanya seperti orang yang sudah sering nyepong. dia menjalankan perintah. beberapa menit kemudian &#8220;croot-croot&#8221; saya melepaskan mani saya pertama dimulutnya.</p>
<p style="text-align: justify;">anehnya penis saya tidak mengkerut, mungkin ini efek dari obat tersebut.&#8221;mas kok buang pejunya di mulut mabak sih?&#8221;, &#8220;kamu tau nggak mani itu mempunyai protein yang banyak?,telan aja&#8221; kemudian dia menurut dan cairan putih kental itu dia telan sampai habis, kemudian giliran saya menjilat vaginanya. kuraba vaginanya dan kucari clitorisnya. dia mendesah &#8220;ahh enak mass lanjut mass&#8221; dan kemudian keluar juga dan kubersihkan dari mulutku dan sekarang mungkin saatnya penis saya menerobos vaginanya. &#8220;mbak, mungkin ini rada sakit, tapi setelah itu nikmatnya keluar&#8221;, dan saya sudah bersiap memasukanya. kemudian tangan saya dipegang, &#8220;mas, nanti kalo hamil gimana mas?&#8221;,&#8221;kalo kamu hamil aku tanggung jawab&#8221;. kemudian sayaberusaha memasukan penis perlahan-lahan rupanya ketika kepala penisku pengenai dinding vaginanya, &#8220;uhh, perih mas&#8221; kemudian saya memasukan penis 1 cm dan keluar lagi, kemudian saya masukan penis 2 cm dan keluar lagi dan terus-terus menerus danakhirnya aku merasakan ada dinding &#8220;duh mas perih sekali, &#8220;udah kamu siap-siap ya say&#8221;.</p>
<p style="text-align: justify;">kemudian saya menekan dengan keras &#8220;Aaaaa&#8230;&#8221; paini teriak dengan keras. kemudian aku mulai gerakan maju-mundur dengan posisi missionaris dan sesekali saya minta agar penis saya dijepit diantapa penisnya. &#8220;ah-ah-ah-ah&#8221; muka kesakitan paini berubah menjadi muka penuh kenikamatan &#8220;oh oh oh lebih cepat mas&#8221; kemudian saya mempercepat gerakan penis saya &#8220;nikmat mas terus mas uhhh ahhh yes yess&#8221; desahan paini yang membuatku bersemangat. setelah itu kami berganti posisi favorit (katanya) doggy style. saya menyuruh marni membentuk seperti ****** dan kemudian saya mulai menyodok vagina paini. &#8220;ah ah mas terus mas ah ah&#8221; sedankan saya memukul pantanya sampai merah dan setelah itu saya jambak rambutnya seperti cowgirl . tetapi rasa sakit itu sepertinya ditutupi oleh sodokan maut penis ku. dan beberapa menit kemudian paini &#8220;mass mau pipis ahh&#8221;,&#8221;udah keluarin aja&#8221;. dan kemudian dia menegluarkan cairan kental dan beberapa menit kemudian &#8220;croot&#8230;croot&#8230;&#8221; saya juga mengeluarkan cairan hangat yang kental di vaginanya. setelah itu kami french kiss dan tidur bersama di kamar tidur ortuku sambil bugil.</p>
<p style="text-align: justify;">kemudian tidak terasa sudah pagi rupanya. paini masih teridu pulas dan saya membanguninya. &#8220;Mbak, bangun mbak udah jam 9 pagi mbak&#8221; kemudian dia bangun dengan tubuh lemas &#8221; loh, kok sudah jam 9 pagi&#8221; &#8220;laper mbak&#8221; &#8220;mas andi mau makan apa&#8221; &#8220;roti selai aja deh, gimana mbak permainan semalam?, enak nggak?&#8221; &#8220;enak banget mas, besok-besok lagi ya mas&#8221; &#8220;iya&#8221; &#8220;mas, tapi nanti kalo aku hamil gimana mas&#8221; &#8220;udah tenang aja, nanti beli pil anti hamil aja&#8221; &#8220;mas nakal deh&#8221; katanya mencubit putingku &#8220;kamu nakal juga deh&#8221; kemudian aku mencubit payudaranya &#8220;kamu jangan pake baju dulu yach&#8221; pintaku &#8220;iya, tapi mas juga&#8221; kemudian paini pergi ke dapur dan aku pergi ke kamarku untuk mengambil CD BF pinjeman temanku untuk memberikan pendidikan macam posisi ngeseks. kemudian terdengar suara dari dapur &#8220;mas andi, selainya rasa apa?, stroberi,coklat,nanas apa kacang?&#8221; kemudian muncul lagi pikiran ngeresku untuk menidurinya &#8220;bawa aja semua selainya. sekalian bawa ceres sama madu sayank&#8221; &#8220;buat apa?&#8221; &#8220;liat aja nanti deh&#8221; kemudian kami berkumpul lagi di ruang keluarga.</p>
<p style="text-align: justify;">saya menyetel film biru kualitas DVD. terlihat dari kover disknya dengan judul hardcore xxx yang kata teman saya katanya ngeseks di bermacam posisi dan di berbagai tempat seperti di kantor,rumah sakit, hutan, lapangan, air terjun dll dan orangya bermacam seperti chinesse,arabian,india dan lokal ,dll. sedangkan paini sudah menaruh roti dan barang yang saya inginkan. kemudian kami menonton film tersebut bersama paini sabil makan roti. wah rupanya film ini berdurasi 45 menit. Ternyata benar kata sohibku ini film ini memberi pengetahuan posisi macam-macam dan tempat settingannya keren. baru menonton adegan buka baju penis saya bengkak lagi. sedangakan paini masih santai-santai saja. para model yang digunakan betul-betul pro dan cakep-cakep dan cantik-cantik. dan saya paling suka melihat salah satu adegan 1 tante-tante girang yang luar biasa cantiknya serta tubuh yang sangat sempurna dientot 3 orang. saya juga suka melihat orang india yang mukanya seperti aiswarya rai yang toketnya ukuran jumbo, saya taksir 39c ditiduri oleh pria india perkasa. dan kemudian film itu selesai.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;mas andi, minta jatah lagi dong, saya melihat paini yang waow payudaranya betul-betul membengkak, tidak seperti kemarin. putingnya pun lebih besar. kemudian saya menumpahkan semua sirup dan selai saya oleskan ke tubuh saya dan tidak lupa untuk memberikan ceres ke tubuh saya kemudian saya menyuruh membersihkan tubuhku dengan lidah. kemudian dia menjilat tubuhku dengan ganas dan terakhir mengemut penis saya. mungkin karena kelewat nafsu yang membara. Paini menngemut dengan sangat pintar dan kemampuan sedotanya kayak mesin pompa betul betul enak sekali tidak kaya kemarin. sedotanya mungkin bisa membuat penis saya panjang,&#8221;uh-ah alamak enaknya terus ah sedot trus yess ahhh uhhh&#8221; desahanku sambil menjambak rambutnya&#8221; beberapa meni kemudian saya menumpahkan mani di mulutnya dan dia langsung mengemutnya, tapi kali ini penis saya mengekrut. &#8220;loh mas, kok ini mengkerut sih nggak kayak kemarin?&#8221; &#8220;kan ini nggak pake obat sayang kayak kemarin&#8221; &#8220;kalo ukuranya segini gimana masukinya dong?&#8221; &#8220;semua laki-laki tuh kayak gini kalo abis keluarin peju, kamu harus bikin saya rangsangan biar ngaceng lagi&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;rangsangan apaan?&#8221; &#8220;pokoknya sesuatu yang bikin aku ngaceng seperti menari bugil atau laninya&#8221; oh kamu tiru ini aja, lebih gila juga boleh&#8221; sebetulnya penis saya dipijit-pijit juga udah ngaceng tapiu saya mencari cara untuk mengulur waktu kemudian aku ke kamarku mengambil DVD porno lagi yang ceritanya seorang wanita super eksibisionis membuat pria horny. kemudian aku menyetelnya untuk paini. sedangkan aku kamar tidur untuk merenggangkan otot.<br />
setelah selesai saya melihat paini masih menonton film itu dan beberapa menit kemudian film itu selesai.</p>
<p style="text-align: justify;">kemudian paini menggunakan bajunya lagi. &#8220;loh kok pake baju lagi&#8221;,tanyaku. &#8220;buat pertunjukan, nanti juga copot lagi&#8221;. dia menyuruhku untuk duduk di sofa agar saya bisa menikmatinya. rupanya dia ingin meniru yang ada di film barusan. setelah selesai pakai baju dia bilang action maka akting nya di mulai. Dia berjalan berjalan seperti peragawati dan matanya selalu menlirik padaku dengan kedipan nakal. kemudian dia stop di depanku. kemudian dia jong kok dengan paha terbukan lebar memamerkan vaginaya karena tidak menggunakan kolornya kehadapanku kemudian berdiri lagi. kemudian dia mengambil botol air mineral dan menumpahkan di rambut bajunya seperti tidak sengaja. kemudian terlihatlah kedua putingnya yang menambah keseksianya. kemudian dia kelihatan seperti megusap bajunya. yang kemudian kedua tangan itu mengusap dadanya yang basah karena air itu. kemudian dia dia seperti ketagihan mengusap payudaranya dan memegang pyudaranya. Spontan burungku sudah berdiri tapi belum maksima. kemudian dia memilin-milin putingnya yang rupanya terangsang sendiri.</p>
<p style="text-align: justify;">dia memuntir muntir putingnya dan tentu desahanya &#8220;ah-uh ohhh&#8221; yang membuat saya horny maksimal. kemudian setelah memuntir dia kemudian dia duduk berhadapan di kursi. dia terlihat membuka pahanya yang spontan sudah membuat jatah. tapi rupanya belum berakhir. paini kemudian mengusap-usap pahanya dan mulai meraba-raba bibir vaginanya. kemudian diamulai memasukan 3 jari sekaligus ke dalam vaginanya. kemudian dia mulai mengocok jarinya di vaginaya. pertunjukan panas ini sangat mendebarkan yang dimana ini kejadian &#8220;live show&#8221; yang sangat panas. eranganya ketikan memaskuan jarinya &#8220;ah-uh ahhh&#8221; membuat pria manapun ngaceng. kemudian setelah berselang berapa menit, paini meng akhiri mastur basinya. cairan kental sudah ada di jarinya. kemudian saya tepuk tangan dan sebuat ciuman jdat. &#8220;Wah rupanya paini pinta berakting&#8221; &#8220;ah bisa aja mas andi, saya kan cuma meniru yang ada di tv&#8221; &#8220;karena kamu berhasil membuat saya ngaceng ayo kita bertanding&#8221; &#8220;paini, boleh nggak saya anal sex?&#8221; &#8220;Anal sex, apaan tuh?&#8221; &#8220;Anu,ngesex tapi di pantatmu&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;MMMM&#8221; paini &#8220;plis, munkin rada perih, tapi saya ingin coba&#8221; &#8220;boleh mas&#8221; kemudian paini telungkup dan saya beri bantal di pantanya serta penis saya sudah pas ke panatatnya &#8220;saya masukin ya, sakitnya ditahan ya&#8221; kemudian saya memasukan penis saya, setiap saya masukin, paini mendesis kesakita. saya suruh untuk masturbasi. kemuadian saya menaikan temponya. ternyata benar. dijepit pantan itu enak rupanya. &#8220;ahh&#8230;.uhh&#8230;.&#8221; semakin lama semakin cepat &#8220;ahh&#8230;uhhh&#8230;&#8221; eranaganku. &#8220;ahh nikmat sekali dijepit pantatmu paini !&#8221;. dan beberapa menit kemudian saya menghentikan aksi ini. saya kasihan paini merasa kesakitan. kemudian saya suruh untuk berbalik badan. rupanya dia sudah berlinagan air mata. kemudian saya mengecup matanya. &#8220;sudah paini&#8221; &#8220;loh mas kok nggak sampai puncak&#8221; &#8220;saya kasihan sama kamu paini&#8221; &#8220;ah nggak papa kok mas sapai selesai, yang penting mas andi senang&#8221; &#8220;udah nggak saya terusin analnya, sekarang gini aja, kamu diata saya dibawah, kamu pasti senang&#8221; kemudian kita bertanding dengan posisi woman on top atau wanita diatas. dengan posisi ini saya melihat wajah paini berubah 360 derajat.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;ahhhh&#8230;uhhhh&#8230;..&#8221;desahan ini selalu keluat apabila paini memasukan penisku. semakin lama desahanya semakin jadi &#8220;wow, yess ah yess&#8221;, semakin lama temponya semakin cepat. dan akhirnya &#8220;mas, paini mau keluar&#8221; &#8220;mas andi juga keluar, kita keluar sama-sama yuk&#8221; &#8220;kita hitung ya 3&#8230;&#8221; &#8220;dua&#8230;&#8221; &#8220;satu&#8230;&#8221; &#8220;croot&#8221; akhirnya kami langsudn lemas bersama &#8220;ayo paini, kita bikin penutupan&#8221; &#8220;iya mas&#8221; &#8220;sekarang kamu pijit-pijit penis saya biar berdiri lagi&#8221; kemudian paini memijit batang kemluanku dan akhirnya ngaceng lagi&#8221; &#8220;sekarang kita bertanding di kamar mandi sambil mandi biar bersih&#8221; &#8220;mau di kamar mandi, di dapur siapa takut!&#8221; saya heran dengan ini cewek kok nggak capek ngesex ya, mungkin gara-gara pengalaman pertama) kemudian saya gotong dia ke kamar mandi dan saya setel air hangat kemudian kami saling menyabuni dan membilas satu dengan lainya. setelah itu kami sikat gigi dengan cara unik. saya sikat gigi dengan odol yang banyak sekali. kemudian saya sikat sehinngga busanya bertumpahan. kemudian busa itu saya tranfer lewat french kiss yang lama dan saya begitu juga kumur kumur tapi airnya air bersih maksudnya air yang dari keran saya masukan ke mulut saya langsung saya beri ke paini jadi tidak saya gunakan kumur dahulu.</p>
<p style="text-align: justify;">setealah itu kita ngesex posisi standing yaitu paini saya senderkan di tembok kemudian kinya ditekuk ke atas dan saya menembus vaginanya. rupanya posisi ini membuat saya menguras banyak energi dan bikin capek tetapi tertutupi oleh kenikmatan duniawi dan setelah beberapa menit saya menegeluarkan mani terakhir saya di vaginanya dan kami saling mengeringkan badan dan memakai baju kembali dan setelah ini paini merapihkan rumah. Sejak peristiwa ini kami sering melakukan hubungan sumai istri apabila dirumah hanya kami berdua. dan karena sex ini mendongkrak nilai raport saya lebih bagus. dan kalau ulangan nilai saya menjadi lebih bagus dan tanpa menyontek. bahakan nilai UAN saya 100 besar sejawa timur bahkan saya bisa masuk universitas terkemuka di bandung. meskipun jauh dengan kampung halaman sesekali kami masih berhubungan badan apabila saya pulang kampung. dan apabila saya dibandung, saya selalu menyuruh paini untuk merawat payudaranya dan meminum jamu perapet vaginanya. tetapi sayang, ketika saya sudah semester II, dia mengundurkan diri dengan alasan ingin menikah. Tapi rupanya dia ke surabaya kata ibunya. kata ibunya juga dia mengubah nama menjadi Aini, mungkin ingin menghilangkan image kedesaannya. kata ibunya dia kesana menjadi perawat katanya tetapi saya kurang percaya keran dia tidak bersekolah keperawatan. entah tidak tahu kenapa dia ke surabaya mungkin mendapatkan pekerjaan baru disana apa jual diri di lokalisasi Dolly. selamat tinggal paini si toket gede.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ceritasex.cn/paini-pembantu-pemuas-nafsu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tukang kirim Galon Air Dengan Nonik</title>
		<link>http://www.ceritasex.cn/tukang-kirim-galon-air-dengan-nonik-2/</link>
		<comments>http://www.ceritasex.cn/tukang-kirim-galon-air-dengan-nonik-2/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 23 Dec 2009 21:45:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cerita Sex</dc:creator>
				<category><![CDATA[Seks Umum]]></category>
		<category><![CDATA[kisah nyata]]></category>
		<category><![CDATA[selingkuh]]></category>
		<category><![CDATA[amoy]]></category>
		<category><![CDATA[cina]]></category>
		<category><![CDATA[emut kontol]]></category>
		<category><![CDATA[ngentot]]></category>
		<category><![CDATA[orgasme]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ceritasex.cn/?p=1126</guid>
		<description><![CDATA[Semasa masa-masa akhir kuliah, gw dah berpikir untuk buka usaha sendiri. Banyak hal yang ingin gw lakukan. Akhirnya, atas bantuan dari ortu, gwmembuka usaha air minum galon. Tempatnya di salah satu rumah ortu yang tidak ditinggali. Setelah direnovasi, lalu sedikit interior design, maka siaplahuntuk memulai bisnis.Awal-awalnya memang sedikit sulit, tetapi lama-kelamaan usaha gw semakin berkembang. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Semasa masa-masa akhir kuliah, gw dah berpikir untuk buka usaha sendiri. Banyak hal yang ingin gw lakukan. Akhirnya, atas bantuan dari ortu, gwmembuka usaha air minum galon. Tempatnya di salah satu rumah ortu yang tidak ditinggali. Setelah direnovasi, lalu sedikit interior design, maka siaplahuntuk memulai bisnis.Awal-awalnya memang sedikit sulit, tetapi lama-kelamaan usaha gw semakin berkembang. Posisi gw sebagai kasir dan penerima telp, sedangkan pegawaiku bertugas mengirimkan galon ke pelanggan. Kalau pas ada kuliah, kupercayakan pada seorang pegawaiku yang udah ikut gw sejak awal. Toh selama ini tidak ada masalah.</p>
<p style="text-align: justify;">Ditempat gw, sering banget para pegawai pengirim galon itu keluar masuk.Berganti-ganti orang. Untung ada si Faizal, pegawai yang gw percaya dan udah ikut gw dari awal. Umurnya masih muda, jebolan STM. Dia udah jadi kayak mandor dan wakil gw gitu. Ngatur jadwal pengiriman dan menyimpan uang. Karena sama-sama masih muda, pembicaraan kami ini klop gitu.</p>
<p style="text-align: justify;">Kami sering membagi cerita kalo pas tidak ada kiriman. Semacam curhat-curhatan gitu. Dia ada masalah apa, cerita ama gw, begitu juga sebaliknya. Sering juga kita bercanda cubit-cubitan sampe kadang diliatin para pembantu yang datang bawa galon naek mobil majikannya. Ntah, emangnya ada yang aneh ya?</p>
<p style="text-align: justify;">Lama-lama gw mulai suka ama si Faizal ini. Mungkin benar kata pepatah jawa: tresno jalaran soko kulino. Gw merasa seneng kalo dia ada dikantor, kalo pas ngirim galon sambil kasih perintah ke pegawai lain wow kok keliatannya gagah banget (padahal kan ya biasa aja). Gw jadi suka berdandan kalo ke kantor, biasalah. Make-up tipis plus kaus-kaus yg menarik perhatian cowok. hehehe&#8230;</p>
<p style="text-align: justify;">Siang itu, kebetulan semua kiriman udah jalan. Hanya Faizal yang melakukan semuanya karena pegawaiku yang lain izin pulang kampung. Kita lalu ngobrol-ngobrol menghabiskan waktu. Karena udah akrab banget, obrolan kita lalu nyerempet-nyerempet ke topik-topik &#8220;lampu merah&#8221;.</p>
<p style="text-align: justify;">Awalnya aku agak segan sih, tapi mungkin karena udah kenal banget plus dia enak kalo mancingnya alias ndak vulgar, gw jadinya ngga keberatan menanggapinya. Gw tulis percakapan yang gw ingat aja ya. Faizal tanya apa gw pernah diganggu orang iseng kalo dikampus. Gw heran emange ada apa? Dia jawab, &#8220;lha nonik bajunya seksi-seksi geto&#8221; sambil tertawa kecil. Yeee, cuman kaus gini aja kok. &#8220;Lho iya. tapi tipis and ketat, mbak. kan bikin cenut-cenut.&#8221;. Hehehe&#8230;kita berdua tertawa kecil.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Emang loe suka ya?&#8221;, tanya gw iseng. Faizal ngga jawab tapi jempol kanannya naik tinggi banget. &#8220;plus nonik cuakep kayak artis hong kong.&#8221;. alaaa gombal elo, sahutku ketus. &#8220;Lha dibilang ndak percaya. Nonik pasti udah ada pacar ya?&#8221;. Gw diem sebentar, &#8220;dah putus mas.&#8221;. &#8220;Weleh&#8230;punya cewe kayak nonik diputus. kenapa?&#8221;. Gw bilang ya ngga tahu, ndak cocok mungkin. Dia lalu diem ae. Matanya agak tertuju kebawah, trus tiba-tiba senyum2 sendiri.<br />
<span id="more-1126"></span><br />
&#8220;He&#8230;lu udha gila ya? senyum-senyum sendiri.&#8221;, ujar gw agak ketus. Dia tertawa kecil trus bilang kalo ngga ada apa-apa kok. GW jadi penasaran lalu maksa dia untuk bicara, ada apa kok senyum2 kayak orang gila begeto. Dia tetap ndak mau ngomong, maka aku terus paksa dia sambil tak cubit2 supaya mau ngaku. Akhirnya sambil minta ampun dia ngomong, &#8220;Aduh tapi nonik musti janji ngga boleh marah lho.&#8221;. Aku bilang, &#8220;iya wes ayo cepetan bicara.&#8221; Sambil senyum2 simpul begitu, Faizal bilang kalo dia tadi secara tidak sengaja melihat warna celana dalam gw !!!</p>
<p style="text-align: justify;">Waduh rasanya gw langsung merah karena malu. Tapi gw tahan, emang apa warnanya? Faizal tertawa kecil, &#8220;item mbak, persis kayak beha situ!&#8221;. &#8220;He loe kok tahu warna beha gw item?&#8221;. Faizal menjawab, &#8220;lho mbaknya kan pake kaus ketat putih, tipis gitu. kan keliatan mbak.&#8221;. Mukaku tambah memerah rasanya. Aku ingin marah lalu gw omelin si pegawaiku yg cabul ini, tapi entah kenapa tidak bisa keluar. Malah, yg aneh tuh, ada semacam rasa aneh yang mendesir tubuhku. Hm&#8230; Faizal nyerocos lagi, &#8220;tapi sebenarnya cocok mbak. situ cakep putih mulus, kalo pake kaus dan beha item ini keliatan sexy banget.&#8221;, kali ini wajahnya tampak serius, bukan mesum kayak sebelumnya.&#8221;udah ah.&#8221;, tukasku mengalihkan perhatian. Jangan sampai kebablasan nih, pikir gw. Tak lama kemudian datang pembeli lagi. kami lalu keluar dari rumah.</p>
<p style="text-align: justify;">Sehabis melayani, kembali faizal cengar-cengir tersenyum. Gw jadi bingung, &#8220;eh lu beneran udah gila ya? senyum2 sendiri.&#8221;. &#8220;Hahaha&#8230;abis tadi pas saya membungkuk ambil uang kembalian yang jatuh itu, saya ngga sengaja liat lagi mbak!&#8221;, sahutnya enteng sambil cengar-cengir. &#8220;Bukan salah saya lho, lah mbaknya pake rok mini gitu.&#8221;. wew&#8230;ingin banget gw marahi abiz2an, tapi ya&#8230;gimana. gw juga seh yang kurang hati-hati ama aset gw. huh.</p>
<p style="text-align: justify;">Tiba-tiba si pegawai gw yang mesum itu duduk disebelah gw sambil menunjukkan sesuatu. &#8220;Ini lho mbak, liaten.&#8221;. Aku lalu menoleh. yailah&#8230;.ternyata video porno yang diputar di HP dia. Faizal langsung tak cubit dan aku dorong supaya menjauh. &#8220;Lho apik ini mbak.&#8221;, ujarnya ringan sambil terus duduk disebelahku. akhirnya gw tertarik juga nih dan gw tonton juga.</p>
<p style="text-align: justify;">Udah beberapa video Faizal tunjukkan ke gw dan kita lalu tertawa cekikikan sendiri melihat adegan itu. Iseng, Faizal lalu bertanya apa pernah gw melakukan hal itu. Gw membelalakan mata trus gw tampar ringan pipinya.</p>
<p style="text-align: justify;">Eh tiba-tiba dia lalu memegang tanganku dan langsung menciumi bibirku !!! Aku kaget setengah mati. Dengan sekuat tenaga gw dorong dia sampai terjengkang jatuh ke lantai. Gw lalu berdiri sambil marah-marah. Dia nampak shock, lalu duduk disebelah gw sambil meminta maaf karena khilaf. huh, seandainya kalo gw ndak ada rasa suka ama dia, udah gw gampar dan gw panggil pak rt (!).</p>
<p style="text-align: justify;">Dia lalu cerita panjang lebar. Agak2 sara sih, jadi ndak gw tulis disini, intinya dia ingin pacaran ama gadis seperti aku. Gw diem aja, sambil menerawang.</p>
<p style="text-align: justify;">Ingin banget gw bilang kalo gw juga suka ama elo, tapi apa mungkin ya? Tak lama kemudian, Faizal lalu memegang tanganku. GW diem aja. GW tak yakin bisa inget apa yang terjadi, tapi lalu kita udah berciuman bibir. Dia lumat bibir gw dengan penuh gairah. Gw pasrah aja. Abis itu dia menggandeng aku dan gw ditidurkan diatas sofa ruang tamu. Faizal menindihku dan kita berciuman bibir sambil berpelukan.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah puas, dia lalu mencumbui payudara gw sambil diremasnya dengan agak kuat. GW bener2 udah lupa status gw sebagai bos sedangkan dia adalah pegawai. Aku menikmati percumbuan ini karena sejujurnya gw udah lama menyukai dia. GW biarkan dia menikmati payudaraku.</p>
<p style="text-align: justify;">Abis itu dia lalu turun dan memasukkan kepalanya kedalam rok mini aku. Paha gw dijilatin sambil tak lupa memainkan lidahnya dibelahan mq gw yang masih tertutup CD. Aku mengerang ooohh&#8230;geli tapi nikmat. Setelah puas memainkan mq gw sampai becek, dia lalu melepas kaus ketat putih yang aku pake, sekalian bra hitamnya. &#8220;Wah merah mudah. nonik ini benar-benar cantik&#8230;.34B ya non?&#8221;, ujarnya ringan. Gw mengangguk pelan. Lalu dengan rakusnya dia menghisap puting payudara gw secara bergantian, kiri dan kanan. oooohh enggg&#8230; aku mengerang keenakan.</p>
<p style="text-align: justify;">Sambil asyikk menikmati rangsangan di payudara dan puting gw, aku merasakan rok mini gw dilorot pelan-pelan, begitu juga dengan celana dalam aku. Jantungku berdegub dengan sangat kencang, terangsang dan tegang banget. Saat itu aku udah bugil dihadapan dia. Lalu, dengan ganas pula dia menjilati mq aku sambil memaikan clit aq. auh&#8230;sungguh nikmat. GW jepit kepalanya pake paha supaya lebih mantap jilatannya. &#8220;Aduh&#8230;sexy abis deh non ini. mqnya wangi dan basah !&#8221;, ujar Faizal penuh gairah.</p>
<p style="text-align: justify;">Beberapa menit udah berlalu. Setelah merasa cukup, dia lalu melepaskan seluruh pakaian yang dia pakai dan keluarlah senjata andalan para cowok! Gila, ukurannya besar dan hitam. Aku semakin terangsang, diselimuti kenikmatan dan rasa tegang. &#8220;Non, hisap donk?&#8221;, pintanya. Aku lalu jongkok didepan dia dan mulai menjilati penisnya yang besar itu. aouh&#8230;bau nih&#8230;hampir mau muntah rasanya, tapi ntah mengapa aku tetap melakukannya. Aku masukkan pelan-pelan dan aku &#8220;telan&#8221; seluruh penis itu hingga tenggorokan gw terasa penuh, lalu aku hisap dan meng-kocoknya dengan menggoyangkan kepala gw. Faizal mengerang keenakan sambil menjambak rambutku.</p>
<p style="text-align: justify;">Agak lama gw beri servis oral ke pegawaiku ini. Nampaknya dia hendak keluar, lalu meminta gw untuk menghentikan oral yg nikmat itu. Dia lalu menidurkan gw lagi ke sofa dan kami kembali berciuman bibir sambil berpelukan. Dia menggesek-gesekkan penisnya persis diatas belahan meq gw. Oufh&#8230;enak gila !</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Non, sampeyan masih perawan?&#8221;, tanya Faizal sambil terengah-engah. Aku agak kaget dengan pertanyaan itu, lalu dengan pelan aku menggelang. Tidak, aku sudah pernah berhubungan sex dengan mantan pacarku itu. Faizal nampak kecewa, mungkin dipikirnya bakal dapet amoy perawan. Hehehe&#8230; &#8220;Ya ndak papa lah.&#8221;, sahutnya pelan.</p>
<p style="text-align: justify;">Perlahan dia lalu memasukkan penisnya yang besar itu kedalam mq aku. Aouch.. Tubuhku tersentak, agak sakit dan perih. Faizal tetap berusaha memasukkan penisnya dan dengan sedikit paksaan, akhirnya blz&#8230;.aah&#8230;..kami sudah bersetubuh sekarang! &#8220;Oh&#8230;inikah rasanya mq amoy&#8230;basah banget, hanget&#8230;enaknya mbak. ouch!&#8221;. Dia lalu mulai mengkocok penisnya kedalam belahan mq aku. Rasa perih yang aku rasakan tadi lama-lama mulai menghilang dan digantikan oleh rasa geli yang nikmat.</p>
<p style="text-align: justify;">Kami terus bersebutuh samnbil berciuman bibir dan berpelukan. Oh nikmatnya. Setelah beberapa menit mq aku digoyang ama dia, rasanya orgasm udah mulai dekat. GW peluk faizal lebih erat dan kami pun berciuman bibir semakin ganas. Tanganku memegang pantatnya dan menekannya kebawah supaya penisnya lebih masuk, penetrasinya lebih dalam. Tak lama kemudian, aq merasa mq aku berdenyut dan merinding. Akhirnya.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Ahaaaaaaaaaaaaahhhhhhhhhhhhhhhhhh&#8221;. sambil menjerit aku melepaskan rasa nikmat orgasm yang luar biasa ini. Tanganku tetap menekan pantat Faiz agar semakin masuk kedalam penisnya. Mq aku meremas penisnya dengan kuat, berdenyut-denyut sesuai irama orgasm yang aku alami. Faizal menciumi leherku dan ternyata dia juga udah ngga bisa tahan dan kurasakan penisnya berkelojotan didalam mq aku. Oioooooooohh&#8230;terasa aliran &#8220;lahar&#8221; masuk kedalam rahim gw. Kami berdua mengalami orgasm berbarengan sambil berpelukan diatas sofa, membiarkan gejolak orgasm itu mereda&#8230;</p>
<p style="text-align: justify;">&#8212;</p>
<p style="text-align: justify;">Aq duduk diatas pangkuan Faizal, di sofa yang sama tempat kami bercinta dengan nikmat beberapa menit yang lalu. Tidak ada yang bicara, cuman tatapan kosong kedepan. Sesekali faiz membelai-belai punggung gw. Kubiarkan tangannya meremasi payudaraku yang tertutup bra hitam dibalik kaus ketat putih.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8212;</p>
<p style="text-align: justify;">Sejak saat itu, hubungan kami berubah dari bos dan karyawan menjadi pasangan sex. Setiap ada kesempatan, aku selalu diajak Faizal bersetubuh di kantor. Dapur, Sofa, bahkan kamar tidur ayahku pun tidak luput dari lokasi ngesex. Lama-kelamaan, pegawaiku yang lain nampaknya mulai curiga dengan hubungan kami yang mungkin bagi dia terlalu akrab. Dan ini membawa gw pada hal-hal yang tak terduga!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ceritasex.cn/tukang-kirim-galon-air-dengan-nonik-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Dikapal Laut AKu jadi Pelabuhan Nafsu</title>
		<link>http://www.ceritasex.cn/dikapal-laut-aku-jadi-pelabuhan-nafsu/</link>
		<comments>http://www.ceritasex.cn/dikapal-laut-aku-jadi-pelabuhan-nafsu/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 01 Aug 2009 12:09:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cerita Sex</dc:creator>
				<category><![CDATA[Paruh baya]]></category>
		<category><![CDATA[Seks Umum]]></category>
		<category><![CDATA[kisah nyata]]></category>
		<category><![CDATA[selingkuh]]></category>
		<category><![CDATA[emut kontol]]></category>
		<category><![CDATA[gesek gesek]]></category>
		<category><![CDATA[ibu mertua]]></category>
		<category><![CDATA[isep]]></category>
		<category><![CDATA[kontol]]></category>
		<category><![CDATA[memek]]></category>
		<category><![CDATA[menantu mesum]]></category>
		<category><![CDATA[ml di kapal]]></category>
		<category><![CDATA[ngentot]]></category>
		<category><![CDATA[ngentot ibu mertua]]></category>
		<category><![CDATA[penetrasi kontol]]></category>
		<category><![CDATA[peting]]></category>
		<category><![CDATA[seks gila]]></category>
		<category><![CDATA[senggama]]></category>
		<category><![CDATA[vagina]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ceritasex.cn/?p=738</guid>
		<description><![CDATA[Melihat berita di TV tentang pulangnya para TKI dari Malaysia dengan kapal-kapal besar, aku jadi teringat kisahku yang juga terjadi di kapal besar semacam itu. Sekitar lima tahun lalu aku mendapat telegram dari anak perempuanku y ang hendak melahirkan anak pertamanya sebulan lagi. Sudah hampir setahun ia ikut suaminya yang kerja di Irian Jaya dan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Melihat berita di TV tentang pulangnya para TKI dari Malaysia dengan kapal-kapal besar, aku jadi teringat kisahku yang juga terjadi di kapal besar semacam itu. Sekitar lima tahun lalu aku mendapat telegram dari anak perempuanku y ang hendak melahirkan anak pertamanya sebulan lagi. Sudah hampir setahun ia ikut suaminya yang kerja di Irian Jaya dan ia sangat berharap aku dapat menungguinya saat dia melahirkan. Suaminya akan menjemputku dalam waktu 1-2 minggu itu setelah selesai urusan kantornya. Benar saja, dua minggu kemudian menantuku, Bimo, datang. Ia sedang mengurus pekerjaan di Jawa Timur sekitar dua minggu. Setelah selesai, ia menjemputku dan masih sempat menginap selama tiga hari sebelum kapal berangkat dari pelabuhan Tanjung Perak.</p>
<p style="text-align: justify;">Hari H pun tiba. Pagi-pagi diantar anak bungsuku kami berangkat ke Tanjung Perak yang jaraknya sekitar dua jam perjalanan dari kota kami. Sejak suamiku meninggal memang aku jadi sering pergi berkunjung ke anak-anak yang tersebar di beberapa kota. Untuk anakku yang di Irian Jaya ini merupakan kunjunganku yang pertama, maklum jaraknya jauh sekali. Menurut menantuku, lama perjalanan laut sampai 3 hari 2 malam.</p>
<p style="text-align: justify;">Sampai di pelabuhan Bimo segera mengurus tiket yang sudah dipesannya. Kemudian kami naik ke kapal besar itu. Penumpang kapal yang ribuan jumlahnya membuat para pengantar tidak bisa ikut naik, termasuk anak bungsuku. Baru sekali itu aku naik kapal laut. Sungguh mengejutkan karena penumpangnya ribuan orang dan sebagian hanya duduk di dek atau lorong-lorong kapal. Sebagian lagi menempati bangsal seperti kamar asrama dengan tempat tidur raksasa yang muat ratusan orang. Kuikuti langkah Bimo melewati mereka, bahkan terpaksa melangkahi beberapa orang, hingga sampai di bagian ujung kapal yang merupakan deretan kamar. Hanya sekitar 1 0 kamar, itupun ukurannya Cuma sekitar 3&#215;3 meter. Ini kuketahui setelah Bimo membuka pintu kamar dan kami memasukinya.<br />
<span id="more-738"></span><br />
?Ini kamar kita, bu,? kata Bimo sambil masuk lalu menaruh seluruh bawaan kami. Dengan canggung aku masuk. Yang nampak memenuhi hampir separuh ruangan adalah ranjang kayu yang muat dua orang serta meja kecil pendek. Perlahan aku duduk di ranjang dan menyibak gorden di atasnya. Nampak air laut di kaca bulat dan tebal itu. Iiih ternyata kami berada di bawah permukaan laut.
</p>
<p style="text-align: justify;">?Maaf, bu, harga tiket kamar di atas mahal sekali, terpaksa saya pilih yang di sini,? ujar Bimo merasakan kegalauanku.</p>
<p style="text-align: justify;">?Ah, tak apa-apa Bim, daripada harus tidur di dek kapal,? sahutku.</p>
<p style="text-align: justify;">?Sebaiknya kita sekarang mandi dulu saja, bu. Kalau terlambat nanti antrinya lama sekali.?</p>
<p style="text-align: justify;">Benar kata Bimo, sewaktu sampai di deretan kamar mandi (ada 6) sudah ada antrian sekitar 2-3 orang di setiap kamar mandi. Mandi pun harus buru-buru dan biar praktis aku langsung pakai daster saja.</p>
<p style="text-align: justify;">Sekitar jam 2 siang kapal mulai bergerak. Setelah puas melihat-lihat suasana kapal yang dijejali ribuan orang, persis seperti pengungsi, akupun kembali ke kamar. Bimo masuk ke kamar sambil membawa beberapa makanan dan minuman. Sekitar jam 5 sore terdengar bel dibunyikan oleh awak kapal.</p>
<p style="text-align: justify;">?Itu pertanda kita harus antri makan malam, bu,? jelas Bimo. Dan sekali lagi kami harus berbaris antri mengambil nasi dengan lauk sayur dan sedikit ikan laut. Nampan, piring dan sendok aluminium yang kami pakai mengingatkanku akan para napi di penjara. Ternyata beginilah pelayanan kapal laut kita. Selewat jam 7 malam makanan tidak disediakan lagi. Membayangkan bagaimana ribuan nampan, piring dan sendok itu dicuci dengan air yang sangat terbatas aku jadi sulit menelan makanan yang sudah di mulut.</p>
<p style="text-align: justify;">Bimo mengembalikan peralatan makan sementara aku ke kamar mandi untuk cuci dan pipis. Cape sekali ha ri itu dan aku perlu segera tidur malam itu. Kapal yang bergoyang-goyang karena ombak besar membuat kepalaku pening.</p>
<p style="text-align: justify;">?Silahkan ibu tidur dulu. Saya masih perlu menyiapkan laporan untuk kantor,? kata Bimo sambil membuka berkas-berkasnya di meja kecil sambil duduk di lantai kapal yang berkarpet. Aku pun naik ke ranjang mengambil posisi mepet ke dinding kapal. Sekilas terlintas di benakku, ?Aku, janda usia 45 tahun, tidur seranjang dengan menantuku?? Tapi segera kutepis mengingat ini dalam keadaan terpaksa dan sopan santun Bimo selama ini. Untuk menyuruhnya tidur di lantai kapal aku tak tega.</p>
<p style="text-align: justify;">Entah berapa lama terlelap, aku terbangun karena merasa ada sesuatu yang memelukku. Saat kubuka mata, kamar gelap sekali, sementara posisi tubuhku sudah telentang. Segera aku menduga Bimo mau berbuat yang tidak senonoh padaku dan aku siap berontak. Tapi beberapa saat kurasakan tidak ada gerakan dari tubuhnya dan malah terdengar dengkur halusnya. Ternyata Bimo tertidur.</p>
<p style="text-align: justify;">Bagaimana ini? Apa aku harus menyingkirkan tangannya dari atas perut dan dadaku (yang tak berbeha seperti kebiasaanku kalau tidur) serta kakinya yang menindih paha kananku? Aku tak tega membangunkannya dan jadi serba salah dengan posisi yang demikian itu. Aku tak bisa menyalahkannya karena ia tertidur dan ranjang kami termasuk berukuran pas-pasan untuk dua orang. Akhirnya aku pilih diam saja dan bertahan pada posisi itu meski dari gesekan kulit akhirnya kuketahui kalau Bimo saat itu bertelanjang dada. Dan persentuhan paha kami juga menandakan bahwa Bimo tidak memakai celana panjang. Mungkin dia hanya memakai celana pendek atau justru celana dalam saja, pikirku. Aku dag -dig-dug membayangkan dia tidur telanjang.</p>
<p style="text-align: justify;">Kupejamkan mata dan berusaha tidur lagi sambil berharap Bimo melepas pelukannya sehingga aku bisa berguling ke dinding kapal memunggunginya. Namun sampai terkantuk-kantuk harapanku tak terkabul. Sampai aku terlelap lagi tangan dan tubuh kekar Bimo masih menelangkupi dadaku dan pahanya menindih pahaku. Mungkin ia tengah membayangkan tidur dengan istrinya, pikirku. Aku semakin bisa memaklumi dan tidak begitu peduli lagi dengan posisi tidur kami.</p>
<p style="text-align: justify;">Beberapa lama kemudian, aku menggeliat dan terbangun lagi. Kini tubuh kekar Bimo ternyata sudah ada di atasku, menindihku. Bahkan terasa pahaku dikangkangkannya sehingga celana dalamnya tepat di atas celana dalamku karena dasterku sudah tertarik ke atas. Tonjolan penisnya yang tegang terasa sekali. Remasan tangannya di payudaraku, meski masih tertutup daster, membuatku meronta.</p>
<p style="text-align: justify;">?Bimo! Apa-apaan ini? Aku ibu mertuamu, Bim!? Ucapku setengah berteriak takut terdengar kamar sebelah sambil tanganku menolakkan dada telanjangnya.</p>
<p style="text-align: justify;">?Ugh, maaf bu, kukira tadi aku tidur denga istriku? Sudah hampir sebulan aku puasa, bu??</p>
<p style="text-align: justify;">?Iya, tapi jangan dilampiaskan ke aku dong,? kataku jengkel sambil menepis tangannya yang nakal. Sementara selangkanganku tak berkutik terpaksa menerima dan merasakan tekanan penisnya yang terbalut celana dalam.</p>
<p style="text-align: justify;">?Ak? aku cuma ingin memeluk-meluk saja kok, bu? Tidak sampai itu?? jawabnya polos.</p>
<p style="text-align: justify;">?Aku kuatir kamu lupa diri? lalu memperkosaku?? belaku sambil berusaha menyingkirkan pahanya tapi tenagaku tak cukup kuat.</p>
<p style="text-align: justify;">?Sumpah, bu? Aku cuma ingin memeluk-meluk saja dan tidak bakalan memperkosa? Kalau aku mau pasti dari tadi celana dalamku dan ibu sudah kulepas?? balasnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku berhenti berontak sambil memikirkan kata-katanya. Benarkah ini terjadi hanya karena dia sedang bernafsu setelah sebulan tidak ketemu istrinya? Egh.. ugh? kini bukan hanya remasan, tapi malah gigitan kecil yang terasa di putting kananku yang masih tertutup daster. Puting kiriku terasa dipelintir kecil. Greeeng? kurasakan nikmat sesaat. Sudah lama aku tak merasakan kenikmatan ini. Ada keinginan untuk berontak namun ada juga dorongan untuk menikmati kemesraan ini.</p>
<p style="text-align: justify;">?Benar ya, Bim. Janji, tidak boleh copot celana dalam?? tantangku.</p>
<p style="text-align: justify;">?Iya, bu, aku janji tidak akan mencopot celana dalam kita??</p>
<p style="text-align: justify;">Hshhh? hsshh? perlahan aku semakin menikmati cumbuannya. Rasanya ingin mengulang kenikmatan saat suamiku masih ada. Meski agak canggung, pelan-pelan tanganku malah memeluk punggung Bimo yang menaikkan posisinya hingga kepala kami sejajar. Ia mulai mengecup-ngecup wajahku. Aku berusaha melengos tapi tangannya sudah memegang kedua pipiku dan bibirnya mendarat di bibirku. Ufh? bibirku disedotnya, lidahnya memasuki mulutku. Mula-mula aku pasif, tapi lama-lama ikut aktif juga bersilat lidah. Kami saling sedot dan isep lidah dan bibir.</p>
<p style="text-align: justify;">?Bu, dasternya dilepas saja ya,? mendadak Bimo berkata setelah kami lelah berciuman.</p>
<p style="text-align: justify;">?Ingat janjimu, Bim..? kataku.</p>
<p style="text-align: justify;">?Aku kan janji tidak melepas celana dalam kan, bu?? jawabnya sambil perlahan tangannya menari k dasterku ke atas. Entah kenapa aku tak mampu menolak dan hanya pasrah ketika daster itu dilempar entah kemana, dan kami tinggal berbalut cd. Yang kulakukan kemudian hanya memejamkan mata ketika tubuh kekar itu memelukiku, menghisapi susuku kiri kanan dan menekan-nekan selangkanganku, menjilati sekujur tubuh. Aku menggelinjang kenikmatan sambil mempererat pelukanku di punggungnya. Oooh? aku malah terlena. Tubuh kami basah mandi keringat.</p>
<p style="text-align: justify;">Pantatku mendadak terangkat ketika salah stau jari Bimo mengelus bibir vaginaku yang masih tertutup cd.</p>
<p style="text-align: justify;">?Bim, jangan??</p>
<p style="text-align: justify;">?Aku hanya mengelus dari luar kok, bu??</p>
<p style="text-align: justify;">?Nanti aku jadi terangsang, Bim??</p>
<p style="text-align: justify;">?Nggak apa-apa kan, bu? Saat ini kita saling memuaskan saja deh, bu. Aku akan bikin ibu orgasme tanpa membuka cd ibu??</p>
<p style="text-align: justify;">Benar saja, sejurus kemudian sensasi hebat kurasakan ketika gesekan dan pijatan jemari Bimo di bawah perutku semakin liar. Aku segera merasa ada sesuatu yang mengalir keluar dari vaginaku.</p>
<p style="text-align: justify;">?Ibu sudah basah ya?? Tanya Bimo nakal. Aku jadi malu dan pilih diam saja sambil terus menikmati rabaan gila itu. Ya, aku memang sudah hampir orgasme dan Bimo tahu itu. Serta merta ia memutar posisi tubuhnya hingga mulutnya dapat menjilati cd di bagian selangkanganku. Kakiku dinaikkannya dan tubuhku agak diseret turun, sementara bagian cd-nya tepat di depan wajahku.</p>
<p style="text-align: justify;">Uh? uh? sambil memegang kedua pahaku Bimo memainkan lidahnya sedemikian hebat. Menjilati paha, perut lalu semakin turun hingga tepat di bibir vaginaku. Ia tak canggung menggigit-gigit cd ku dan menekannya dengan lidah sehingga masuk.. Aku semakin basah. Banjir. Ooh? Bim? Bim? Aku mulai mengejan berkejat-kejat, menumpahkan semuanya sampai merembesi cd dan Bimo menghisapinya kuat.</p>
<p style="text-align: justify;">Tangan kananku dipegang Bimo dan ditaruhnya di gelembung cd-nya yang berisi penis tegang itu. Tanganku diremas-remaskannya di benda tumpul lunak-keras yang panjangnya sekitar 20 cm itu. Aku yang semula canggung jadi makin terbiasa, malah akhirnya terbawa nafsu untuk menciuminya meski dari luar cd. Bimo mendesis ketika barangnya kujilat dan kukocok-kocok dari luar.</p>
<p style="text-align: justify;">?Ak? aku mau keluar juga, bu?? erangnya ketika tanganku bergerak lebih kuat dan? sekejap kemudian kurasakan penisnya menekan kuat bergetar-getar memuncratkan isinya di dalam cd. Barang itu terus kuperas habis sampai akhirnya melemas dan tubuh Bimo menggelosoh kecapaian dan dagunya diletakkan di vaginaku. Satu sama! Dia ejakulasi sekali, aku juga orgasme sekali.</p>
<p style="text-align: justify;">?Cape ya, bu?? tanyanya sambil memelukku. Dengan manja aku menyorongkan kepala ke dadanya yang berbulu. Tangannya segera meremas susuku lagi.</p>
<p style="text-align: justify;">?Sudah dulu, Bim?? bisikku sambil menghentikan remasannya.</p>
<p style="text-align: justify;">?Berarti nanti lagi ya, bu?? Aku tak menjawab dan cuma memberinya remasan kecil dipenisnya yang telah mengecil. Oh, nikmatnya seks?</p>
<p style="text-align: justify;">?Ini jam berapa, Bim??</p>
<p style="text-align: justify;">?Paling masih sekitar jam 12 malam, bu? Masih dua hari lagi kita sampai? Aku akan puasi ibu selama dua hari ini? Kita tidak perlu keluar kamar??</p>
<p style="text-align: justify;">Gila, pikirku! Selama 2 hari 2 malam main seks dengan Bimo? Apa aku bisa tahan untuk tidak melepas celana dalam? Mungkin aku masih tahan, tapi Bimo? Namanya juga laki-laki, kalau nafsunya naik pasti main paksa. Bagaimana kalau aku jadi hamil? Sudah lama aku tak minum pil KB lagi. Aku merinding manakala membayangkan dihamili Bimo. Tapi aku tak mau lepas juga dari pelukannya. Tak peduli tubuh kami bersimbah keringat dan seprei ranjang acak-acakan.</p>
<p style="text-align: justify;">Malam pertama itu kami ulangi tiga kali lagi pergumulan nikmat itu. Beruntung malam itu kami masih kuat bertahan tak lepas cd, meski cd yang kami pakai sudah kuyup terkena air mani berkali-kali. Kami tak dengar lagi bel makan pagi karena saat itu masih terlelap. Bangun sekitar jam 10 siang kudapati tubuh kami masih berpelukan. Susuku yang berbeha nomor 36 menempel lekat di dadanya. Cahaya remang-remang dari jendela kaca membuat wajahku memanas, malu. Kalau semalam kami tak saling melihat wajah karena gelap aku masih bisa menahan malu, maka siang ini kami harus bertatap muka. Kuperhatikan Bimo yang terpejam. Gila! Tubuhnya benar-benar seperti Bima dalam pewayangan. Besa r, kekar agak hitam dengan rambut di dadanya. Dadaku berdesir setiap kali rambut itu menerpa putingku. Perlahan kulepaskan diriku dari pelukannya dan dia kudorong sampai telentang. Tonjolan di balik cd-nya dan helai-helai rambut yang mencuat dari cd itu menjanjikan suatu kenikmatan yang?. ah, mestinya tak boleh kubayangkan. Dan beruntung memang semalam aku belum merasakannya kecuali dari luar cd. Aku tak bisa membayangkan barang itu menusukku. Perlahan aku menuruni ranjang.</p>
<p style="text-align: justify;">?Mau kemana, bu?? Mendadak Bimo terbangun dan menarik tubuhku kembali dalam pelukannya.</p>
<p style="text-align: justify;">?Mau mandi, Bim,? jawabku.</p>
<p style="text-align: justify;">?Nanti sajalah, bu, agak sore saja. Hari ini aku mau kita di ranjang ini saja. Kalau ibu lapar bisa makan roti yang sudah kubeli.? Aku tak berdaya ketika Bimo menggulingkan tubuhku kembali ke ranjang. Menelentangkanku lalu memanjat dan menunggangikuku lagi. Ufhh? lagi-lagi tetek montokku jadi bulan-bulanan mulutnya, demikian pula tekanan-tekanan pada vaginaku membuat pahaku semakin terkangkang lebar. Sedikit demi sedikit gairahku meletup lagi, terlebih setelah merasakan tonjolan zakar Bimo menggesek-gesekku dengan ketat.</p>
<p style="text-align: justify;">?Bim, lama-lama aku nggak kuat kalau dirangsang begini terus?? bisikku.</p>
<p style="text-align: justify;">?Kalau nggak kuat ya tinggal dikeluarin saja to, bu,? jawabnya sambil mencucup putingku dan menyedotnya.</p>
<p style="text-align: justify;">?Maksudku, aku takut nanti jadi kepingin buka cd? egghh? jangan keras-keras, Bim?? desahku. Bimo mengurangi tekanan di vaginaku.</p>
<p style="text-align: justify;">?Aku kan sudah janji tak akan buka cd ibu. Tapi kalau ibu dengan sukarela buka sendiri ya bukan salahku lho? hehehe?? guraunya sambi mencium bibirku.</p>
<p style="text-align: justify;">?Untuk variasi, coba deh ibu di atas? tolong diisepin tetekku dong, bu?? pintanya manja. Aku mandah saja ketika ia memelukku lalu menggulingkan tubuhnya hingga telentang dan aku menindihnya. Dibimbingnya kepalaku ke putingnya. Pelan kujilat-jilat lalu kuisap.</p>
<p style="text-align: justify;">?Yang kuat, bu??erangnya sementara tangannya bergerak turun ke arah pantatku. Meremas dan menekan-nekannya sambil mengayun zakarnya ke atas sehingga bertemu dengan vaginaku meski masih terbungkus cd. Sejenak kemudian pahaku dibukanya dengan dua tangan lalu tangan itu mulai mengobok-obok daerah sensitifku itu. Sebentar saja aku kembali basah.</p>
<p style="text-align: justify;">?Bim, oh Bim.. aku mau keluar,? desisku tak tahan. Namun Bimo mendadak menghentikan gerakan tangannya sehingga aku blingsatan.</p>
<p style="text-align: justify;">?Teruskan, Bim,? pintaku sambil meletakkan tangannya di memekku lagi, tapi ia tetap diam.</p>
<p style="text-align: justify;">?Jangan buru-buru, bu. Makin lama makin nikmat kan?? godanya membuatku tak sabar. Nafsuku yang sudah di ubun-ubun minta penuntasan segera tapi Bimo sengaja menggodaku. Entah dapat kekuatan dari mana tiba-tiba aku jadi beringas. Kududuki perut Bimo lalu kuambil tangan kanannya, kupilih telunjuknya lalu kubawa ke arah vaginaku. Kusisipkan jari itu di sela-sela cd ku dan segera kumasuk kan ke liang vagina.</p>
<p style="text-align: justify;">?Bim, tolong kau puasi aku dengan jarimu? Aku nggak tahan lagi?? Kutusuk-tusukkan jari Bimo dalam-dalam. Dan setelah kurasakan ia mulai menggerakkan jarinya keluar masuk, aku lalu meneletangkan tubuh ke belakang, sampai kepalaku bertumpu pada pahanya. Ugh? egh? kunikmati kocokan jari Bimo di vulvaku. Kurasakan cairanku menderas. Mataku membeliak menikmati surga dunia itu. Gilanya, kemudian aku merasa pahaku ditarik ke atas dan? sekarang bukan lagi jari Bimo, melainkan lidahnya yang yang menusuk-nusuk memasuki vaginaku. Ia memang tidak membuka cd-ku, hanya menyibakkan bagian bawahnya lebar-lebar.</p>
<p style="text-align: justify;">?Seeer? cret? suuur?? aku sampai ke klimaks. Pantatku berkejat-kejat mengejan gemetaran dan Bimo menelan semua maniku sampai aku lemas. Ia terus menyedot dan menjilat-jilat. Sungguh edan! Tubuhku terjelepak di pahanya dengan nafas ngos-ngosan. Namun kurasakan jemari Bimo menggantikan lidahnya menusuki lubang memekku. Tidak hanya satu jari, tapi 2 kadang 3 jari masuk bareng!</p>
<p style="text-align: justify;">?Cukup, Bim..? pintaku.</p>
<p style="text-align: justify;">?Belum, bu,? jawabnya sambil terus merangsang klitorisku, ?wanita biasanya bisa mencapai orgasme berkali-kali. Aku mau buktikan itu,? katanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Tak menunggu lama, ucapan Bimo terbukti. Syahwatku memuncak lagi dan cairanku mengucur lagi. Bimo mengerjaiku dengan cara itu sampai aku empat kali orgasme. Apa ia juga melakukan hal ini pada istrinya, anakku?</p>
<p style="text-align: justify;">?Nah, sekarang terbukti aku lebih kuat kan, bu? Aku belum sekalipun buka cd tapi ibu malah memaksaku mengocok vagina ibu??</p>
<p style="text-align: justify;">?Aku benar-benar tak kuat, Bim?Sudah bertahun-tahun aku tak pernah merasakan kenikmatan dan sekarang kamu merangsangnya terus sejak semalaman. Siapa bisa tahan??</p>
<p style="text-align: justify;">?Apa itu berarti ibu tidak mau pakai cd lagi??</p>
<p style="text-align: justify;">?Aku tetap pakai dan kamu juga. Aku takut hamil??</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah empat kali orgasme berturut-turut, tulang-tulangku seperti dilolosi. Pelan kugeser tubuhku turun dari ranjang mengambil cd baru dari tas lalu tanpa sungkan kupakai di depan Bimo.</p>
<p style="text-align: justify;">?Kamu juga harus ganti cd baru, Bim, kan sudah bau bekas sperma kemarin kan..?</p>
<p style="text-align: justify;">`?Iya, iya, bu? sekalian aja nanti waktu mandi. Sekarang aku ingin ibu ganti memuaskanku??</p>
<p style="text-align: justify;">Tangan Bimo menggapaiku dan mendudukkan pantatku tepat di atas zakarnya. Kugoyang-goyang pantatku sampai Bimo mendesis-desis sambil meremasi tetekku. Kupercepat rangsanganku pakai tangan. Kugenggam zakar di balik cd itu dan kukocok-kocok sampai 15 menit barulah kemudian Bimo memelukku erat-erat sambil menyemburkan sperma di dalam cd nya. Setelah habis kuperas, ia memelukku dan menggulirkan tubuh kami ke ranjang. Kami terdiam. Kudengar nafasnya agak memburu. Kami benar-benar capai berpacu dalam birahi.</p>
<p style="text-align: justify;">Bel makan siang berbunyi tapi kami tetap tak beranjak keluar kamar. Kami hanya makan roti dan minum minuman kaleng yang dibeli Bimo, entah apa tapi rasanya agak hangat di badan. Selama ini kami masih bertahan pakai cd.</p>
<p style="text-align: justify;">?Aku akan berusaha sampai ibu buka cd sendiri,? tekadnya sambil mengecup dan menggigit-gigit telingaku, mengecupi wajahku, menciumi bibirku, menjilati dagu, leher, dada, menyedoti tetekku kiri-kanan, turun terus sampai aku menggelinjang ketika lidahnya sampai di perutku, pusar dan terus turun. Menyelip-nyelip di cd di daerah selangkanganku. Menyentuh-nyentuh lubang vagina, menerobos sampai klitorisku dapat diemut dan dimainkan dengan lidahnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Uuffgghh? kurasakan nikmat mengalir dari selangkangan sampai ke kepalaku. Kutekan kepala Bimo keras-keras. ?Aa? aku nggak kuat, Bim? hsshh? hsshhh.. enaaak banget? nikmaaat?? tanpa sadar tanganku beralih ke cdku dan cepat melepasnya. Bimo membantuku melepas cd itu setelah melewati paha. Kini aku bugil gil dengan paha ngangkang dijilati menantuku! Suur? cret?cret? aku orgasme lagi dengan paha ngangkang berkejat-kejat. Mungkin ini yang ke-10 kali sejak kemarin. Dan lagi-lagi Bimo melahapnya dengan ganas, menyedot, mengisapku sampai kering.</p>
<p style="text-align: justify;">?Terbukti, kan, ibu sudah buka cd sendiri,? bisiknya sambil menaikiku lagi hingga bibirnya mencapai bibirku dan selangkangannya menekan vaginaku. ?Sekarang ibu akan kupaksa membuka cdku juga?? desisnya samibl menekan-nekan dan memutar-mutar tonjolan cdnya ke vaginaku. Batang besar yang tercetak di cd itu sekarang masuk memanjang di bibir vaginaku. Digesekkannya naik turun membangkitkan birahiku lagi. Remasan di tetekku dan mungkin pengaruh minuman kaleng tadi mempercepat syahwatku naik lagi.</p>
<p style="text-align: justify;">?Ja?jangan, Bim? Jangan perkosa aku? nanti hamil?? erangku sambil memelukkan pahaku ke pahanya dan tanganku ke punggungnya, tak kuat merasakan rangsangan yang melanda.</p>
<p style="text-align: justify;">?Tidak, bu? tapi ibu sendiri yang bakal minta kuperkosa? Ibu ingin zakarku masuk ke memek ibu, kan??</p>
<p style="text-align: justify;">?Jang? jangan, Bim? eegghhh?? aku harus mengejan lagi hendak mengeluarkan mani. Namun mendadak Bimo berbalik dan membuat posisi 69. Lidahnya kini bebas memasuki vaginaku tanpa halangan cd, sedangkan tonjolan besar zakarnya tepat di depan wajahku yang mau tak mau terpaksa kupegang supaya tidak menekan wajahku terlalu kuat. Berdenyut-denyut benda tumpul kenyal itu di genggamanku. Kukocok-kocok dan, karena ukuran cdnya yang kecil, membuat kepala zakar itu sekarang muncul di perutnya.</p>
<p style="text-align: justify;">?Jilat, bu? isep?? pintanya sambil mengarahkan tonjolan itu ke mulutku. Aku yang sudah tak mampu berpikir jernih perlahan tapi pasti menuruti permintaan gilanya yang belum pernah kulakukan pada suamiku sekalipun. Ufh.. kukulum-kulum kecil ujung penisnya dan membuat benda panjang itu semakin keluar dari cd, seperti ular. Kupegang batang ular itu sementara kepalanya masuk ke mulutku semakin dalam. Semakin dalam dan semakin bergelenyar, berkejut-kejut di mulutku. Agar lebih leluasa, cdnya semakin kuturunkan dan sekejap kemudian tanpa sadar cd itu sudah kulepas dari pahanya! Lagi-lagi Bimo membuktikan keampuhan rangsangannya pada tubuhku. Kocokan zakarnya di mulutku semakin cepat, cepat dan craaat croot crooot! Spermanya kontan memenuhi mulutku, ada yang tertelan, ada yang meleleh keluar dari bibirku? Sementara bibir bawahku pun memancarkan maninya lagi bertubi-tubi? disambut oleh mulut Bimo yang menampungnya sampai tuntas. Tuntas tas, sampai kami berdua terjelepak kecapaiannya di ranjang. Gemuruh dada dan sengal-sengal nafas kami memenuhi udara kamar mesum itu.</p>
<p style="text-align: justify;">?Thanks ya bu. Ibu sudah buka cdku, berarti aku boleh melakukan apa saja dengan penisku pada ibu kan?? tanyanya menggodaku.</p>
<p style="text-align: justify;">?Ta? tapi jangan kau hamili aku, Bim??</p>
<p style="text-align: justify;">?Memang ibu masih bisa hamil??</p>
<p style="text-align: justify;">?Masih, Bim? meski sudah 45 tahun aku masih mens??</p>
<p style="text-align: justify;">?Ya, nanti kita atur sajalah, bu? yang penting aku boleh masukkan penis ke sini kan?? rajuknya sambil mengelus vaginaku dan membawa tanganku memegang penisnya.</p>
<p style="text-align: justify;">?Tap? tapi pelan-pelan saja ya Bim dan? jangan dikeluarkan di dalam?? akhirnya aku memenuhi desakan nafsunya.</p>
<p style="text-align: justify;">?Thanks, bu,? katanya lagi sambil mengecupku dan menunggangiku lagi. Mengangkangkan pahaku lagi lalu memacuku. Bagai joki tak kenal lelah. Aku pun rela jadi kuda pacu lagi. Terlebih setelah merasakan barang panjang itu berkembang lagi bergerak-gerak di selangkanganku. Menusuk-nusuk mencari jalan masuk.</p>
<p style="text-align: justify;">?Bim, egh, Bim? jangan masukkan Bim..? aku masih takut-takut. Tapi Bimo tak peduli dan tetap mengarahkan kepala zakarnya ke vaginaku. Menggosok-gosok pintu lubang, menjujut-jujut mau masuk. Kurapatkan paha, tapi tangan Bimo cepat membukanya lagi, menekan ke kiri-kanan dan bleess? zakar panjang itu ambles ke dalam memekku yang licin penuh lendir mani.</p>
<p style="text-align: justify;">?Bim, gila kamu!? Badanku melenting ke atas memeluknya, merasakan sensasi gila di selangkangan. Yah, akhirnya sambil duduk kunikmati kocokan zakar Bimo yang memaju-mundurkan pantatku. Sakit, nikmat, nafsu syahwat campur jadi satu.</p>
<p style="text-align: justify;">?Bim? Bim? jangan keluarkan di dalam?? aku mengingatkan tapi Bimo malah tambah rapat memeluk pantat belakangku dan menggerakkan pantatnya sendiri maju-mundur, keluar masuk.</p>
<p style="text-align: justify;">?Aku mau sampai tuntas, bu..? bisiknya di sela-sela deru nafasnya.</p>
<p style="text-align: justify;">?Aku bisa hamil, Bim!?</p>
<p style="text-align: justify;">?Aku tak percaya.?</p>
<p style="text-align: justify;">?Serius, Bim!?</p>
<p style="text-align: justify;">?Sekarang kita nikmati saja, bu? hamil urusan nanti.? Gocohannya tambah keras dan aku malah semakin menggigil merasakan nikmat syahwat itu sampai ke ubun-ubun. Ketakutan akan kehamilan pun jadi terlupakan.</p>
<p style="text-align: justify;">Bimo mendorongku telentang ke ranjang dan dia lalu jadi joki piawai. Mengolah gerakan pantatnya, zakarnya keluar masuk, naik turun, mencangkul, menusuk, mengobrak-abrik memekku sampai akhirnya dia menekan sangat keras dan crooot? crooot? crooot? cruuut? cruut? cret?!! Sperma hangat mengaliri rahimku dan akupun mengejan berkejat-kejat lagi menumpahkan mani. Memeluk punggung dan pahanya erat-erat. Kami mencapai puncak bersamaan. Dan ini kali pertama zakarnya bersarang di vaginaku tanpa bisa kularang karena aku juga menginginkan. Resiko hamil kujadikan urusan belakang.</p>
<p style="text-align: justify;">Kenikmatan itu terus kami reguk setelah mandi dan makan malam. Semalaman lagi kami bergumul memanjakan syahwat hingga terdengar sirene kapal memberitahukan bahwa pelabuhan tujuan sudah kelihatan. Namun untuk mencapai pelabuhan itupun masih perlu waktu dua jam lagi dan itupun terus kami gunakan mereguk madu nafsu di kapal itu. Kami biarkan penumpang lain turun lebih dulu supaya mereka tidak melihat tubuh dan wajah kami yang kusut masai pucat pasi kehabisan mani.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah itu dua bulan aku menemani anakku di Irian Jaya, dan dua bulan itu pula kami secara sembunyi-sembunyi terus berzinah. Demikian pula sewaktu Bimo mengantarku pulang ke Jawa Timur, kami memilih naik kapal laut lagi, bahkan kami sempat menginap tiga hari di hotel Surabaya sebelum pulang ke rumah. Tahun depan, aku berharap Bimo mau menjemputku untuk menengok anakku lagi. Setelah merasakan kelelakian Bimo, rasanya aku jadi tak kuat ?puasa? berlama-lama. Aku tak mau dengan laki-laki lain. Dan kukira aku harus segera sterilisasi untuk mencegah kelahiran anakku sekaligus cucuku.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ceritasex.cn/dikapal-laut-aku-jadi-pelabuhan-nafsu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Koleksi Foto Bugil Chika Part 5</title>
		<link>http://www.ceritasex.cn/koleksi-foto-bugil-chika-part-5/</link>
		<comments>http://www.ceritasex.cn/koleksi-foto-bugil-chika-part-5/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 01 Aug 2009 12:03:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cerita Sex</dc:creator>
				<category><![CDATA[Daun Muda]]></category>
		<category><![CDATA[Foto Mesum]]></category>
		<category><![CDATA[abg]]></category>
		<category><![CDATA[bandung]]></category>
		<category><![CDATA[binal]]></category>
		<category><![CDATA[bugil]]></category>
		<category><![CDATA[chika]]></category>
		<category><![CDATA[emut kontol]]></category>
		<category><![CDATA[liar]]></category>
		<category><![CDATA[memek]]></category>
		<category><![CDATA[ngentot]]></category>
		<category><![CDATA[seks]]></category>
		<category><![CDATA[vagina]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ceritasex.cn/?p=717</guid>
		<description><![CDATA[]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2009/08/chika-86.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-723" title="chika-86" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2009/08/chika-86-225x300.jpg" alt="chika-86" width="225" height="300" /></a></p>
<p><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2009/08/chika-81.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-718" title="chika-81" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2009/08/chika-81-225x300.jpg" alt="chika-81" width="225" height="300" /></a></p>
<p><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2009/08/chika-82.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-719" title="chika-82" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2009/08/chika-82-300x225.jpg" alt="chika-82" width="300" height="225" /></a></p>
<p><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2009/08/chika-83.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-720" title="chika-83" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2009/08/chika-83-225x300.jpg" alt="chika-83" width="225" height="300" /></a></p>
<p><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2009/08/chika-84.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-721" title="chika-84" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2009/08/chika-84-225x300.jpg" alt="chika-84" width="225" height="300" /></a><br />
<span id="more-717"></span></p>
<p><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2009/08/chika-85.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-722" title="chika-85" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2009/08/chika-85-225x300.jpg" alt="chika-85" width="225" height="300" /></a></p>
<p><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2009/08/chika-87.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-724" title="chika-87" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2009/08/chika-87-225x300.jpg" alt="chika-87" width="225" height="300" /></a></p>
<p><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2009/08/chika-88.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-725" title="chika-88" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2009/08/chika-88-225x300.jpg" alt="chika-88" width="225" height="300" /></a></p>
<p><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2009/08/chika-89.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-726" title="chika-89" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2009/08/chika-89-224x300.jpg" alt="chika-89" width="224" height="300" /></a></p>
<p><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2009/08/chika-90.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-727" title="chika-90" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2009/08/chika-90-225x300.jpg" alt="chika-90" width="225" height="300" /></a></p>
<p><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2009/08/chika-91.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-728" title="chika-91" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2009/08/chika-91-242x300.jpg" alt="chika-91" width="242" height="300" /></a></p>
<p><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2009/08/chika-92.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-729" title="chika-92" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2009/08/chika-92-300x225.jpg" alt="chika-92" width="300" height="225" /></a></p>
<p><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2009/08/chika-93.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-730" title="chika-93" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2009/08/chika-93-267x300.jpg" alt="chika-93" width="267" height="300" /></a></p>
<p><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2009/08/chika-94.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-731" title="chika-94" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2009/08/chika-94-225x300.jpg" alt="chika-94" width="225" height="300" /></a></p>
<p><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2009/08/chika-95.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-732" title="chika-95" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2009/08/chika-95-225x300.jpg" alt="chika-95" width="225" height="300" /></a></p>
<p><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2009/08/chika-96.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-733" title="chika-96" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2009/08/chika-96-300x225.jpg" alt="chika-96" width="300" height="225" /></a></p>
<p><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2009/08/chika-97.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-734" title="chika-97" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2009/08/chika-97-225x300.jpg" alt="chika-97" width="225" height="300" /></a></p>
<p><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2009/08/chika-98.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-735" title="chika-98" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2009/08/chika-98-300x225.jpg" alt="chika-98" width="300" height="225" /></a></p>
<p><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2009/08/chika-100.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-736" title="chika-100" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2009/08/chika-100-225x300.jpg" alt="chika-100" width="225" height="300" /></a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ceritasex.cn/koleksi-foto-bugil-chika-part-5/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Dijebak Tapi Enak Bagian 2</title>
		<link>http://www.ceritasex.cn/dijebak-tapi-enak-bagian-2/</link>
		<comments>http://www.ceritasex.cn/dijebak-tapi-enak-bagian-2/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 19 Jul 2009 13:42:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cerita Sex</dc:creator>
				<category><![CDATA[Paruh baya]]></category>
		<category><![CDATA[Seks Umum]]></category>
		<category><![CDATA[Tante Girang]]></category>
		<category><![CDATA[kisah nyata]]></category>
		<category><![CDATA[selingkuh]]></category>
		<category><![CDATA[anal]]></category>
		<category><![CDATA[bercinta]]></category>
		<category><![CDATA[emut kontol]]></category>
		<category><![CDATA[faridha]]></category>
		<category><![CDATA[gangbang]]></category>
		<category><![CDATA[istri muda]]></category>
		<category><![CDATA[ml]]></category>
		<category><![CDATA[ngentot]]></category>
		<category><![CDATA[ngesex]]></category>
		<category><![CDATA[oral]]></category>
		<category><![CDATA[seks]]></category>
		<category><![CDATA[swinger]]></category>
		<category><![CDATA[tukang pasangan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ceritasex.cn/?p=682</guid>
		<description><![CDATA[Namaku Faridha. Orang biasa memanggilku dengan Ridha saja. Aku lahir tahun 1975 di sebuah kota terkenal dengan julukannya, yaitu kota hujan. Aku telah menikah dengan seorang pria keturunan Jawa bernama Mas Hadi. Kami dikarunai seorang anak laki-laki yang kulahirkan di akhir tahun 1999. Oh.. iya, aku menikah dengan Mas Hadi pada tahun 1998, bulan April. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Namaku Faridha. Orang biasa memanggilku dengan Ridha saja. Aku lahir tahun 1975 di sebuah kota terkenal dengan julukannya, yaitu kota hujan. Aku telah menikah dengan seorang pria keturunan Jawa bernama Mas Hadi. Kami dikarunai seorang anak laki-laki yang kulahirkan di akhir tahun 1999. Oh.. iya, aku menikah dengan Mas Hadi pada tahun 1998, bulan April.</p>
<p style="text-align: justify;">Kehidupan kami biasa saja, dari segi ekonomi sampai hubungan suami istri. Aku dan suamiku cukup menikmati kehidupan ini. Suamiku yang kalem dan sedikit pendiam adalah seorang pegawai swasta di kotaku ini. Penghasilan sebulannya cukup untuk menghidupi kami bertiga. Namun kami belum begitu puas. Walau bagaimana kami harus merasakan lebih bukan hanya sekedar cukup.</p>
<p style="text-align: justify;">Karena jabatan suamiku sudah tidak mungkin lagi naik di perusahaannya, untuk menambah penghasilan kami, aku meminta ijin kepada Mas Hadi untuk bekerja, mengingat pendidikanku sebagai seorang Accounting sama sekali tidak kumanfatkan semenjak aku menikah. Pada dasarnya suamiku itu selalu menuruti keinginanku, maka tanpa banyak bicara dia mengijinkan aku bekerja, walaupun aku sendiri belum tahu bekerja di mana, dan perusahaan mana yang akan menerimaku sebagai seorang Accounting, karena aku sudah berkeluarga.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Bukankah kamu punya teman yang anak seorang Direktur di sini?&#8221; kata suamiku di suatu malam setelah kami melakukan hubungan badan.<br />
&#8220;Iya&#8230; si Yanthi, teman kuliah Ridha..!&#8221; kataku.<br />
&#8220;Coba deh, kamu hubungi dia besok. Kali saja dia mau menolong kamu..!&#8221; katanya lagi.<br />
&#8220;Tapi, benar nih.. Mas.. kamu ijinkan saya bekerja..?&#8221;<br />
Mas Hadi mengangguk mesra sambil menatapku kembali.</p>
<p style="text-align: justify;">Sambil tersenyum, perlahan dia dekatkan wajahnya ke wajahku dan mendaratkan bibirnya ke bibirku.<br />
&#8220;Terimakasih.. Mas.., mmhh..!&#8221; kusambut ciuman mesranya.<br />
Dan beberapa lama kemudian kami pun mulai terangsang lagi, dan melanjutkan persetubuhan suami istri untuk babak yang ketiga. Kenikmatan demi kenikmatan kami raih. Hingga kami lelah dan tanpa sadar kami pun terlelap menuju alam mimpi kami masing-masing.
</p>
<p style="text-align: justify;">Perlu kuceritakan di sini bahwa Rendy, anak kami tidak bersama kami. Dia kutitipkan ke nenek dan kakeknya yang berada di lain daerah, walaupun masih satu kota. Kedua orangtuaku sangat menyayangi cucunya ini, karena anakku adalah satu-satunya cucu laki-laki mereka.</p>
<p style="text-align: justify;">Siang itu ketika aku terbangun dari mimpiku, aku tidak mendapatkan suamiku tidur di sisiku. Aku menengok jam dinding. Rupanya suamiku sudah berangkat kerja karena jam dinding itu sudah menunjukkan pukul sembilan pagi. Aku teringat akan percakapan kami semalam. Maka sambil mengenakan pakaian tidurku (tanpa BH dan celana dalam), aku beranjak dari tempat tidur berjalan menuju ruang tamu rumahku, mengangkat telpon yang ada di meja dan memutar nomor telpon Yanti, temanku itu.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Hallo&#8230; ini Yanti..!&#8221; kataku membuka pembicaraan saat kudengar telpon yang kuhubungi terangkat.<br />
&#8220;Iya.., siapa nih..?&#8221; tanya Yanti.<br />
&#8220;Ini.. aku Ridha..!&#8221;<br />
&#8220;Oh Ridha.., ada apa..?&#8221; tanyanya lagi.<br />
&#8220;Boleh nggak sekarang aku ke rumahmu, aku kangen sama kamu nih..!&#8221; kataku.<br />
&#8220;Silakan.., kebetulan aku libur hari ini..!&#8221; jawab Yanti.<br />
&#8220;Oke deh.., nanti sebelum makan siang aku ke rumahmu. Masak yang enak ya, biar aku bisa makan di sana..!&#8221; kataku sambil sedikit tertawa.<br />
&#8220;Sialan luh. Oke deh.., cepetan ke sini.., ditunggu loh..!&#8221;<br />
&#8220;Oke.., sampai ketemu yaa.. daah..!&#8221; kataku sambil menutup gagang telpon itu.<br />
<span id="more-682"></span><br />
Setelah menelepon Yanti, aku berjalan menuju kamar mandi. Di kamar mandi itu aku melepas pakaianku semuanya dan langsung membersihkan tubuhku. Namun sebelumnya aku bermasturbasi sejenak dengan memasukkan jariku ke dalam vaginaku sendiri sambil pikiranku menerawang mengingat kejadian-kejadian yang semalam baru kualami. Membayangkan penis suamiku walau tidak begitu besar namun mampu memberikan kepuasan padaku. Dan ini merupakan kebiasaanku.
</p>
<p style="text-align: justify;">Walaupun aku telah bersuami, namun aku selalu menutup kenikmatan bersetubuh dengan Mas Hadi dengan bermasturbasi, karena kadang-kadang bermasturbasi lebih nikmat.</p>
<p style="text-align: justify;">Singkat cerita, siang itu aku sudah berada di depan rumah Yanti yang besar itu. Dan Yanti menyambutku saat aku mengetuk pintunya.<br />
&#8220;Apa khabar Rida..?&#8221; begitu katanya sambil mencium pipiku.<br />
&#8220;Seperti yang kamu lihat sekarang ini..!&#8221; jawabku.<br />
Setelah berbasa-basi, Yanti membimbingku masuk ke ruangan tengah dan mempersilakan aku untuk duduk.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Sebentar ya.., kamu santailah dahulu, aku ambil minuman di belakang&#8230;&#8221; lalu Yanti meninggalkanku.<br />
Aku segera duduk di sofanya yang empuk. Aku memperhatikan ke sekeliling ruangan ini. Bagus sekali rumahnya, beda dengan rumahku. Di setiap sudut ruang terdapat hiasan-hiasan yang indah, dan pasti mahal-mahal. Foto-foto Yanti dan suaminya terpampang di dinding-dinding. Sandi yang dahulu katanya sempat menaksir aku, yang kini adalah suami Yanti, terlihat semakin ganteng saja. Dalam pikirku berkata, menyesal juga aku acuh tak acuh terhadapnya dahulu. Coba kalau aku terima cintanya, mungkin aku yang akan menjadi istrinya.
</p>
<p style="text-align: justify;">Sambil terus memandangi foto Sandi, suaminya, terlintas pula dalam ingatanku betapa pada saat kuliah dulu lelaki keturunan Manado ini mencoba menarik perhatianku (aku, Yanti dan Sandi memang satu kampus). Sandi memang orang kaya. Dia adalah anak pejabat pemerintahan di Jakarta. Pada awalnya aku pun tertarik, namun karena aku tidak suka dengan sifatnya yang sedikit sombong, maka segala perhatiannya padaku tidak kutanggapi. Aku takut jika tidak cocok dengannya, karena aku orangnya sangat sederhana.</p>
<p style="text-align: justify;">Lamunannku dikagetkan oleh munculnya Yanti. Sambil membawa minuman, Yanti berjalan ke arah aku duduk, menaruh dua gelas sirup dan mempersilakanku untuk minum.<br />
&#8220;Ayo Rid, diminum dulu..!&#8221; katanya.<br />
Aku mengambil sirup itu dan meminumnya. Beberapa teguk aku minum sampai rasa dahaga yang sejak tadi terasa hilang, aku kembali menaruh gelas itu.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Oh iya, Mas Sandi ke mana?&#8221; tanyaku.<br />
&#8220;Biasa&#8230; Bisnis dia,&#8221; kata Yanti sambil menaruh gelasnya. &#8220;Sebentar lagi juga pulang. Sudah kutelpon koq dia, katanya dia juga kangen sama kamu..!&#8221; ujarnya lagi.
</p>
<p style="text-align: justify;">Yanti memang sampai sekarang belum mengetahui kalau suaminya dahulu pernah naksir aku. Tapi mungkin juga Sandi sudah memberitahukannya.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Kamu menginap yah.. di sini..!&#8221; kata Yanti.<br />
&#8220;Akh&#8230; enggak ah, tidak enak khan..!&#8221; kataku.<br />
&#8220;Loh&#8230; nggak enak gimana, kita kan sahabat. Sandi pun kenal kamu. Lagian aku sudah mempersiapkan kamar untukmu, dan aku pun sedang ambil cuti koq, jadi temani aku ya.., oke..!&#8221; katanya.<br />
&#8220;Kasihan Mas Hadi nanti sendirian..!&#8221; kataku.<br />
&#8220;Aah&#8230; Mas Hadi khan selalu menurut keinginanmu, bilang saja kamu mau menginap sehari di sini menemani aku. Apa harus aku yang bicara padanya..?&#8221;<br />
&#8220;Oke deh kalau begitu.., aku pinjam telponmu ya..!&#8221; kataku.<br />
&#8220;Tuh di sana&#8230;!&#8221; kata Yanti sambil menujuk ke arah telepon.
</p>
<p style="text-align: justify;">Aku segera memutar nomor telpon kantor suamiku. Dengan sedikit berbohong, aku minta ijin untuk menginap di rumah Yanti. Dan menganjurkan Mas Hadi untuk tidur di rumah orangtuaku. Seperti biasa Mas Hadi mengijinkan keinginanku. Dan setelah basa-basi dengan suamiku, segera kututup gagang telpon itu.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Beres..!&#8221; kataku sambil kembali duduk di sofa ruang tamu.<br />
&#8220;Nah.., gitu dong..! Ayo kutunjukkan kamarmu..!&#8221; katanya sambil membimbingku.<br />
Di belakang Yanti aku mengikuti langkahnya. Dari belakang itu juga aku memperhatikan tubuh montoknya. Yanti tidak berubah sejak dahulu. Pantatnya yang terbungkus celana jeans pendek yang ketat melenggak-lenggok. Pinggulnya yang ramping sungguh indah, membuatku iseng mencubit pantat itu.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Kamu masih montok saja, Yan..!&#8221; kataku sambil mencubit pantatnya.<br />
&#8220;Aw.., akh.. kamu. Kamu juga masih seksi saja. Bisa-bisa Mas Sandi nanti naksir kamu..!&#8221; katanya sambil mencubit buah dadaku.<br />
Kami tertawa cekikikan sampai kamar yang dipersiapkan untukku sudah di depan mataku.<br />
&#8220;Nah ini kamarmu nanti..!&#8221; kata Yanti sambil membuka pintu kamar itu.
</p>
<p style="text-align: justify;">Besar sekali kamar itu. Indah dengan hiasan interior yang berseni tinggi. Ranjangnya yang besar dengan seprei yang terbuat dari kain beludru warna biru, menghiasi ruangan ini. Lemari pakaian berukiran ala Bali juga menghiasi kamar, sehingga aku yakin setiap tamu yang menginap di sini akan merasa betah.</p>
<p style="text-align: justify;">Akhirnya di kamar itu sambil merebahkan diri, kami mengobrol apa saja. Dari pengalaman-pengalaman dahulu hingga kejadian kami masing-masing. Kami saling bercerita tentang keluhan-keluhan kami selama ini. Aku pun bercerita panjang mulai dari perkimpoianku sampai sedetil-detilnya, bahkan aku bercerita tentang hubungan bercinta antara aku dan suamiku. Kadang kami tertawa, kadang kami serius saling mendengarkan dan bercerita. Hingga pembicaraan serius mulai kucurahkan pada sahabatku ini, bahwa aku ingin bekerja di perusahan bapaknya yang direktur.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Gampang itu..!&#8221; kata Yanti. &#8220;Aku tinggal menghubungi Papa nanti di Jakarta. Kamu pasti langsung diberi pekerjaan. Papaku kan tahu kalau kamu adalah satu-satunya sahabatku di dunia ini..&#8221; lanjutnya sambil tertawa lepas.<br />
Tentu saja aku senang dengan apa yang dibicarakan oleh Yanti, dan kami pun meneruskan obrolan kami selain obrolan yang serius barusan.
</p>
<p style="text-align: justify;">Tanpa terasa, di luar sudah gelap. Aku pun minta ijin ke Yanti untuk mandi. Tapi Yanti malah mengajakku mandi bersama. Dan aku tidak menolaknya. Karena aku berpikir toh sama-sama wanita.Sungguh di luar dugaan, di kamar mandi ketika kami sama-sama telanjang bulat, Yanti memberikan sesuatu hal yang sama sekali tidak terpikirkan.</p>
<p style="text-align: justify;">Sebelum air yang hangat itu membanjiri tubuh kami, Yanti memelukku sambil tidak henti-hentinya memuji keindahan tubuhku. Semula aku risih, namun rasa risih itu hilang oleh perasaan yang lain yang telah menjalar di sekujur tubuh. Sentuhan-sentuhan tangannya ke sekujur tubuhku membuatku nikmat dan tidak kuasa aku menolaknya. Apalagi ketika Yanti menyentuh bagian tubuhku yang sensitif.</p>
<p style="text-align: justify;">Kelembutan tubuh Yanti yang memelukku membuatku merinding begitu rupa. Buah dadaku dan buah dadanya saling beradu. Sementara bulu-bulu lebat yang berada di bawah perut Yanti terasa halus menyentuh daerah bawah perutku yang juga ditumbuhi bulu-bulu. Namun bulu-bulu kemaluanku tidak selebat miliknya, sehingga terasa sekali kelembutan itu ketika Yanti menggoyangkan pinggulnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Karena suasana yang demikian, aku pun menikmati segala apa yang dia lakukan. Kami benar-benar melupakan bahwa kami sama-sama perempuan. Perasaan itu hilang akibat kenikmatan yang terus mengaliri tubuh. Dan pada akhirnya kami saling berpandangan, saling tersenyum, dan mulut kami pun saling berciuman.</p>
<p style="text-align: justify;">Kedua tanganku yang semuala tidak bergerak kini mulai melingkar di tubuhnya. Tanganku menelusuri punggungnya yang halus dari atas sampai ke bawah dan terhenti di bagian buah pantatnya. Buah pantat yang kencang itu secara refleks kuremas-remas. Tangan Yanti pun demikian, dengan lembut dia pun meremas-remas pantatku, membuatku semakin naik dan terbawa arus suasana. Semakin aku mencium bibirnya dengan bernafsu, dibalasnya ciumanku itu dengan bernafsu pula.</p>
<p style="text-align: justify;">Hingga suatu saat ketika Yanti melepas ciuman bibirnya, lalu mulai menciumi leherku dan semakin turun ke bawah, bibirnya kini menemukan buah dadaku yang mengeras. Tanpa berkata-kata sambil sejenak melirik padaku, Yanti menciumi dua bukit payudaraku secar bergantian. Napasku mulai memburu hingga akhirnya aku menjerit kecil ketika bibir itu menghisap puting susuku. Dan sungguh aku menikmati semuanya, karena baru pertama kali ini aku diciumi oleh seorang wanita.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Akh.., Yaantiii.., oh..!&#8221; jerit kecilku sedikit menggema.<br />
&#8220;Kenapa Rid.., enak ya..!&#8221; katanya di sela-sela menghisap putingku.<br />
&#8220;Iya.., oh.., enaaks&#8230; teruus..!&#8221; kataku sambil menekan kepalanya.<br />
Diberi semangat begitu, Yanti semakin gencar menghisap-hisap putingku, namun tetap lembut dan mesra. Tangan kirinya menahan tubuhku di punggung.
</p>
<p style="text-align: justify;">Sementara tangan kanannya turun ke bawah menuju kemaluanku. Aku teringat akan suamiku yang sering melakukan hal serupa, namun perbedaannya terasa sekali, Yanti sangat lembut memanjakan tubuhku ini, mungkin karena dia juga wanita.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah tangan itu berada di kemaluanku, dengan lembut sekali dia membelainya. Jarinya sesekali menggesek kelentitku yang masih tersembunyi, maka aku segera membuka pahaku sedikit agar kelentitku yang terasa mengeras itu leluasa keluar.</p>
<p style="text-align: justify;">Ketika jari itu menyentuh kelentitku yang mengeras, semakin asyik Yanti memainkan kelentitku itu, sehingga aku semakin tidak dapat mengendalikan tubuhku. Aku menggelinjang hebat ketika rasa geli campur nikmat menjamah tubuhku. Pori-poriku sudah mengeluarkan keringat dingin, di dalam liang vaginaku sudah terasa ada cairan hangat yang mengalir perlahan, pertanda rangsangan yang sungguh membuatku menjadi nikmat.</p>
<p style="text-align: justify;">Ketika tanganku menekan bagian atas kepalanya, bibir Yanti yang menghisap kedua putingku secara bergantian segera berhenti. Ada keinginan pada diriku dan Yanti mengerti akan keinginanku itu. Namun sebelumnya, kembali dia pada posisi wajahnya di depan wajahku. Tersungging senyuman yang manis.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Ingin yang lebih ya..?&#8221; kata Santi.<br />
Sambil tersenyum aku mengangguk pelan. Tubuhku diangkatnya dan aku duduk di ujung bak mandi yang terbuat dari porselen. Setelah aku memposisikan sedemikian rupa, tangan Yanti dengan cekatan membuka kedua pahaku lebar-lebar, maka vaginaku kini terkuak bebas. Dengan posisi berlutut, Yanti mendekatkan wajahnya ke selangkanganku. Aku menunggu perlakuannya dengan jantung yang berdebar kencang.
</p>
<p style="text-align: justify;">Napasku turun naik, dadaku terasa panas, begitu pula vaginaku yang terlihat pada cermin yang terletak di depanku sudah mengkilat akibat basah, terasa hangat. Namun rasa hangat itu disejukkan oleh angin yang keluar dari kedua lubang hidung Yanti. Tangan Yanti kembali membelai vaginaku, menguakkan belahannya untuk menyentuh kelentitku yang semakin menegang.</p>
<p style="text-align: justify;">Agak lama Yanti membelai-belai kemaluanku itu yang sekaligus mempermainkan kelentitku. Sementara mulutnya menciumi pusar dan sekitarnya. Tentu saja aku menjadi kegelian dan sedikit tertawa. Namun Yanti terus saja melakukan itu.<br />
Hingga pada suatu saat, &#8220;Eiist&#8230; aakh&#8230; aawh&#8230; Yanthhii&#8230; akh&#8230; mmhh&#8230; ssh..!&#8221; begitu suara yang keluar dari mulutku tanpa disadari, ketika mulutnya semakin turun dan mencium vaginaku.<br />
Kedua tangan Yanti memegangi pinggul dan pantatku menahan gerakanku yang menggelinjang nikmat.</p>
<p style="text-align: justify;">Kini ujung lidahnya yang menyentuh kelentitku. Betapa pintar dia mempermainkan ujung lidah itu pada daging kecilku, sampai aku kembali tidak sadar berteriak ketika cairan di dalam vaginaku mengalir keluar.<br />
&#8220;Oohh&#8230; Yantii&#8230; ennaakss&#8230; sekaalii..!&#8221; begitu teriakku.
</p>
<p style="text-align: justify;">Aku mulai menggoyangkan pinggulku, memancing nikmat yang lebih. Yanti masih pada posisinya, hanya sekarang yang dijilati bukan hanya kelentitku tapi lubang vaginaku yang panas itu. Tubuhku bergetar begitu hebat. Gerakan tubuhku mulai tidak karuan. Hingga beberapa menit kemudian, ketika terasa orgasmeku mulai memuncak, tanganku memegang bagian belakang kepalanya dan mendorongnya. Karuan saja wajah Yanti semakin terpendam di selangkanganku.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Hissapp&#8230; Yantiii..! Ooh.., aku.. akuu.. mau.. keluaar..!&#8221; jeritku.<br />
Yanti berhenti menjilat kelentitku, kini dia mencium dan menghisap kuat lubang kemaluanku.<br />
Maka.., &#8220;Yaantii.., aku.. keluaar..! Oh.., aku.. keluar.. nikmaathhs.. ssh..!&#8221; bersamaan dengan teriakku itu, maka aku pun mencapai orgasme.<br />
Tubuhku seakan melayang entah kemana. Wajahku menengadah dengan mata terpejam merasakan berjuta-juta nikmat yang sekian detik menjamah tubuh, hingga akhirnya aku melemas dan kembali pada posisi duduk. Maka Yanti pun melepas hisapannya pada vaginaku.
</p>
<p style="text-align: justify;">Dia berdiri, mendekatkan wajahnya ke hadapan wajahku, dan kembali dia mencium bibirku yang terbuka. Napasku yang tersengal-sengal disumbat oleh mulut Yanti yang menciumku. Kubalas ciuman mesranya itu setelah tubuhku mulai tenang.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Terimakasih Yanti.., enak sekali barusan..!&#8221; kataku sambil tersenyum.<br />
Yanti pun membalas senyumanku. Dia membantuku turun dari atas bak mandi itu.<br />
&#8220;Kamu mau nggak dikeluarin..?&#8221; kataku lagi.<br />
&#8220;Nanti sajalah.., lagian udah gatel nih badanku. Sekarang mending kita mandi..!&#8221; jawabnya sambil menyalakan shower.
</p>
<p style="text-align: justify;">Akhirnya kusetujui usul itu, sebab badanku masih lemas akibat nikmat tadi. Dan rupanya Yanti tahu kalau aku kurang bertenaga, maka aku pun dimandikannya, disabuni, diperlakukan layaknya seorang anak kecil. Aku hanya tertawa kecil. Iseng-iseng kami pun saling menyentuh bagian tubuh kami masing-masing. Begitupula sebaliknya, ketika giliran Yanti yang mandi, aku lah yang menyabuni tubuhnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah selesai mandi, kami pun keluar dari kamar mandi itu secara bersamaan. Sambil berpelukan, pundak kami hanya memakai handuk yang menutup tubuh kami dari dada sampai pangkal paha, dan sama sekali tidak mengenakan dalaman. Aku berjalan menuju kamarku sedang Yanti menuju kamarnya sendiri. Di dalam kamar aku tidak langsung mengenakan baju. Aku masih membayangkan kejadian barusan. Seolah-olah rasa nikmat tadi masih mengikutiku.</p>
<p style="text-align: justify;">Di depan cermin, kubuka kain handuk yang menutupi tubuhku. Handuk itu jatuh terjuntai ke lantai, dan aku mulai memperhatikan tubuh telanjangku sendiri. Ada kebanggaan dalam hatiku. Setelah tadi melihat tubuh telanjang Yanti yang indah, ternyata tubuhku lebih indah. Yanti memang seksi, hanya dia terlalu ramping sehingga sepintas tubuhnya itu terlihat kurus. Sedangkan tubuhku agak montok namun tidak terkesan gemuk.</p>
<p style="text-align: justify;">Entah keturunan atau tidak, memang demikianlah keadaan tubuhku. Kedua payudaraku berukuran 34B dengan puting yang mencuat ke atas, padahal aku pernah menyusui anakku. Sedangkan payudara Yanti berukuran 32 tapi juga dengan puting yang mencuat ke atas juga.</p>
<p style="text-align: justify;">Kuputar tubuhku setengah putaran. Kuperhatikan belahan pantatku. Bukit pantatku masih kencang, namun sudah agak turun, karena aku pernah melahirkan. Berbeda dengan pantat milik Yanti yang masih seperti pantat gadis perawan, seperti pantat bebek.</p>
<p style="text-align: justify;">Kalau kuperhatikan dari pinggir tubuhku, nampak perutku yang ramping. Vaginaku nampak menonjol keluar. Bulu-bulu kemaluanku tidak lebat, walaupun pernah kucukur pada saat aku melahirkan. Padahal kedua tangan dan kedua kakiku tumbuh bulu-bulu tipis, tapi pertumbuhan bulu kemaluanku rupanya sudah maksimal. Lain halnya dengan Yanti, walaupun perutnya lebih ramping dibanding aku, namun kemaluannya tidak menonjol alias rata. Dan daerah itu ditumbuhi bulu-bulu yang lebat namun tertata rapi.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah puas memperhatikan tubuhku sendiri (sambil membandingkan dengan tubuh Yanti), aku pun membuka tasku dan mengambil celana dalam dan Bra-ku. Kemudian kukenakan kedua pakaian rahasiaku itu setelah sekujur tubuhku kulumuri bedak. Namun aku agak sedikit kaget dengan teriakan Yanti dari kamarnya yang tidak begitu jauh dari kamar ini.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Rida..! Ini baju tidurmu..!&#8221; begitu teriaknya.<br />
Maka aku pun mengambil handuk yang berada di lantai. Sambil berjalan kukenakan handuk itu menutupi tubuhku seperti tadi, lalu keluar menuju kamarnya yang hanya beberapa langkah. Pintu kamarnya ternyata tidak dikunci. Karena mungkin Yanti tahu kedatanganku, maka dia mempersilakan aku masuk.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Masuk sini Rid..!&#8221; kataya dari dalam kamar.<br />
Kudorong daun pintu kamarnya. Aku melihat di dalam kamar itu tubuh Yanti yang telanjang merebah di atas kasur. Tersungging senyuman di bibirnya. Karena aku sudah melangkah masuk, maka kuhampiri tubuh telanjang itu.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Kamu belum pake baju, Yan..?&#8221; kataku sambil duduk di tepi ranjang.<br />
&#8220;Akh.., gampang&#8230; tinggal pake itu, tuh..!&#8221; kata Yanti sambil tangannya menunjuk tumpukan gaun tidur yang berada di ujung ranjang.<br />
Lalu dia berkata lagi, &#8220;Kamu sudah pake daleman, ya..?&#8221;<br />
Aku mengangguk, &#8220;Iya..!&#8221;<br />
Kuperhatikan dadanya turun naik. Napasnya terdengar memburu. Apakah dia sedang bernafsu sekarang.., entahlah.<br />
Lalu tangan Yanti mencoba meraihku. Sejenak dia membelai tubuhku yang terbungkus handuk itu sambil berkata, &#8220;Kamu mengairahkan sekali memakai ini..!&#8221;<br />
&#8220;Akh.., masa sih..!&#8221; kataku sambil tersenyum dan sedikit menggeser tubuhku lebih mendekat ke tubuh Yanti.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Benar.., kalo nggak percaya.., emm.. kalo nggak percaya..!&#8221; kata Yanti sedikit menahan kata-katanya.<br />
&#8220;Kalo nggak percaya apa..?&#8221; tanyaku.<br />
&#8220;Kalo nggak percaya..!&#8221; sejenak matanya melirik ke arah belakangku.<br />
&#8220;Kalo nggak percaya tanya saja sama orang di belakangmu&#8230; hi.. hi..!&#8221; katanya lagi.
</p>
<p style="text-align: justify;">Segera aku memalingkan wajahku ke arah belakangku. Dan.., (hampir saja aku teriak kalau mulutku tidak buru-buru kututup oleh tanganku), dengan jelas sekali di belakangku berdiri tubuh lelaki dengan hanya mengenakan celana dalam berwarna putih yang tidak lain adalah Mas Sandi suami Yanti itu. Dengan refleks karena kaget aku langsung berdiri dan bermaksud lari dari ruangan ini. Namun tangan Yanti lebih cepat menangkap tanganku lalu menarikku sehingga aku pun terjatuh dengan posisi duduk lagi di ranjang yang empuk itu.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Mau kemana.. Rida.., udah di sini temani aku..!&#8221; kata Yanti setengah berbisik.<br />
Aku tidak sempat berkata-kata ketika Mas Sandi mulai bergerak berjalan menuju aku. Dadaku mulai berdebar-debar. Ada perasaan malu di dalam hatiku.<br />
&#8220;Halo.., Rida. Lama tidak bertemu ya&#8230;&#8221; suara Mas Sandi menggema di ruangan itu.<br />
Tangannya mendarat di pundakku, dan lama bertengger di situ.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku yang gelagapan tentu saja semakin gelagapan. Namun ketika tangan Yanti dilepaskan dari cengkramannya, pada saat itu tidak ada keinginanku untuk menghindar. Tubuhku terasa kaku, sama sekali aku tidak dapat bergerak. Lidahku pun terasa kelu, namun beberapa saat aku memaksa bibirku berkata-kata.<br />
&#8220;Apa-apaan ini..?&#8221; tanyaku parau sambil melihat ke arah Yanti.<br />
Sementara tangan yang tadi bertengger di bahuku mulai bergerak membelai-belai. Serr.., tubuhku mulai merinding. Terasa bulu-bulu halus di tangan dan kaki berdiri tegak.
</p>
<p style="text-align: justify;">Rupanya Sentuhan tangan Mas Sandi mampu membangkitkan birahiku kembali. Apalagi ketika terasa di bahuku yang sebelah kiri juga didarati oleh tangan Mas Sandi yang satunya lagi. Perasaan malu yang tadi segera sirna. Tubuhku semakin merinding. Mataku tanpa sadar terpejam menikmati dalam-dalam sentuhan tangan Mas Sandi di bahuku itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Pijatan-pijatan kecil di bahuku terasa nyaman dan enak sekali. Aku begitu menikmati apa yang terasa. Hingga beberapa saat kemudian tubuhku melemas. Kepalaku mulai tertahan oleh perut Mas Sandi yang masih berada di belakangku. Sejenak aku membuka mataku, nampak Yanti membelai vaginanya sendiri dengan tangan kanannya, sementara tangan kirinya meremas pelan kedua payudaranya secara bergantian. Tersungging senyuman di bibirnya.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Nikmati Rida..! Nikmati apa yang kamu sekarang rasakan..!&#8221; suara Yanti masih sedikit membisik.<br />
Aku masih terbuai oleh sentuhan kedua tangan Mas Sandi yang mulai mendarat di daerah atas payudarara yang tidak tertutup. Mataku masih terpejam.<br />
&#8220;Ini.. kan yang kamu inginkan. Kupinjamkan suamiku..!&#8221; kata Yanti lagi.<br />
Mataku terbuka dan kembali memperhatikan Yanti yang masih dengan posisinya.<br />
&#8220;Ayo Mas..! Nikmati Rida yang pernah kamu taksir dulu..!&#8221; kata Yanti lagi.<br />
&#8220;Tentu saja Sayang.., asal.. kamu ijinkan..!&#8221; kata suara berat Mas Sandi.
</p>
<p style="text-align: justify;">Tubuhnya dibungkukkan. Kemudian wajahnya ditempelkan di bagian atas kepalaku. Terasa bibirnya mencium mesra daerah itu. Kembali aku memejamkan mata. Bulu-buluku semakin keras berdiri. Sentuhan lembut tangan Mas Sandi benar-benar nikmat. Sangat pintar sekali sentuhan itu memancing gairahku untuk bangkit. Apalagi ketika tangan Mas Sandi sebelah kanan berusaha membuka kain handuk yang masih menutupi tubuhku itu.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Oh.., Mas.., Maas&#8230; jangaan&#8230; Mas..!&#8221; aku hanya dapat berkata begitu tanpa kuasa menahan tindakan Mas Sandi yang telah berhasil membuka handuk dan membuangnya jauh-jauh.<br />
Tinggallah tubuh setengah bugilku. Kini gairahku sudah memuncak dan aku mulai lupa dengan keadaanku. Aku sudah terbius suasana.
</p>
<p style="text-align: justify;">Mas Sandi mulai berlutut, namun masih pada posisi di belakangku. Kembali dia membelai seluruh tubuhku. Dari punggungku, lalu ke perut, naik ke atas, leherku pun kena giliran disentuhnya, dan aku mendesah nikmat ketika leherku mulai dicium mesra oleh Mas Sandi. Sementara desahan-desahan kecil terdengar dari mulut Yanti.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku melirik sejenak ke arah Yanti, rupanya dia sedang masturbasi. Lalu aku memejamkan mata lagi, kepalaku kutengadahkan memberikan ruangan pada leherku untuk diciumi Mas Sandi. Persaanku sudah tidak malu-malu lagi, aku sudah kepalang basah. Aku lupa bahwa aku telah bersuami, dan aku benar-benar akan merasakan apa yang akan kurasakan nanti, dengan lelaki yang bukan suamiku.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Buka ya.. BH-nya, Rida..!&#8221; kata Mas Sandi sambil melepas kancing tali BH-ku dari punggung.<br />
Beberapa detik BH itu terlepas, maka terasa bebas kedua payudaraku yang sejak tadi tertekan karena mengeras. Suara Yanti semakin keras, rupanya dia mencapai orgasmenya. Kembali aku melirik Yanti yang membenamkan jari manis dan jari telunjuknya ke dalam vaginanya sendiri. Nampak dia mengejang dengan mengangkat pinggulnya.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Akh.., nikmaats&#8230; ooh&#8230; nikmaatts.. sekalii..!&#8221; begitu kata-kata yang keluar dari mulutnya.<br />
Dan tidak lama kemudian dia terkulai lemas di ranjang itu. Sementara Mas Sandi sibuk dengan kegiatannya.
</p>
<p style="text-align: justify;">Kini kedua payudaraku sudah diremasi dengan mesra oleh kedua telapak tangannya dari belakang. Sambil terus bibirnya menjilati inci demi inci kulit leherku seluruhnya. Sedang enak-enaknya aku, tiba-tiba ada yang menarik celana dalamku. Aku membuka mataku, rupanya Yanti berusaha untuk melepas celana dalamku itu. Maka kuangkat pantatku sejenak memudahkan celana dalamku dilepas oleh Yanti. Maka setelah lepas, celana dalam itu juga dibuang jauh-jauh oleh Yanti.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku menggeser posisi dudukku menuju ke bagian tengah ranjang itu. Mas Sandi mengikuti gerakanku masih dari belakang, sekarang dia tidak berlutut, namun duduk tepat di belakang tubuhku. Kedua kakinya diselonjorkan, maka pantatku kini berada di antara selangkangan milik Mas Sandi. Terasa oleh pantatku ada tonjolan keras di selangkangan. Rupanya penis Mas Sandi sudah tegang maksimal.</p>
<p style="text-align: justify;">Lalu Yanti membuka lebar-lebar pahaku, sehingga kakiku berada di atas paha Mas Sandi. Lalu dengan posisi tidur telungkup, Yanti mendekatkan wajahnya ke selangkanganku, dan apa yang terjadi&#8230;<br />
&#8220;Awwh&#8230; ooh&#8230; eeisth.. aakh..!&#8221; aku menjerit nikmat ketika kembali kurasakan lidahnya menyapu-nyapu belahan vaginaku, terasa kelentitku semakin menegang, dan aku tidak dapat mengendalikan diri akibat nikmat, geli, enak, dan lain sebagainya menyatu di tubuhku.
</p>
<p style="text-align: justify;">Kembali kepalaku menengadah sambil mulutku terbuka. Maka Mas Sandi tidak menyia-nyiakan kesempatan ini. Dia tahu maksudku. Dari belakang, bibirnya langsung melumat bibirku yang terbuka itu dengan nafsunya. Maka kubalas ciuman itu dengan nafsu pula. Dia menyedot, aku menyedot pula. Terjadilah pertukaran air liur Mas Sandi dengan air liurku. Terciuma aroma rokok pada mulutnya, namun aroma itu tidak mengganggu kenikmatan ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Kedua tangan Mas Sandi semakin keras meremas kedua payudaraku, namun menimbulkan nikmat yang teramat, sementara di bawah Yanti semakin mengasyikkan. Dia terus menjilat dan mencium vaginaku yang telah banjir. Banjir oleh cairan pelicin vaginaku dan air liur Yanti.<br />
&#8220;Mmmhh&#8230; akh&#8230; mmhh..!&#8221; bibirku masih dilumati oleh bibir Mas Sandi.
</p>
<p style="text-align: justify;">Tubuhku semakin panas dan mulai memberikan tanda-tanda bahwa aku akan mencapai puncak kenikmatan yang kutuju. Pada akhirnya, ketika remasan pada payudaraku itu semakin keras, dan Yanti menjilat, mencium dan menghisap vaginaku semakin liar, tubuhku menegang kaku, keringat dingin bercucuran dan mereka tahu bahwa aku sedang menikmati orgasmeku. Aku mengangkat pinggulku, otomatis ciuman Yanti terlepas. Semakin orgasmeku terasa ketika jari telujuk dan jari manis Yanti dimasukkan ke liang vaginaku, kemudian dicabutnya setengah, lalu dimasukkan lagi.</p>
<p style="text-align: justify;">Perlakuan Yanti itu berulang-ulang, yaitu mengeluar-masukkan kedua jarinya ke dalam lubang vaginaku. Tidak dapat diungkapkan dengan kata-kata betapa nikmat dan enak pada saat itu.<br />
&#8220;Aakh&#8230; aawhh&#8230; nikmaatss&#8230; terus.. Yantii.. oooh&#8230; yang cepaat.. akh..!&#8221; teriakku.<br />
Tubuh Mas Sandi menahan tubuhku yang mengejang itu. Jarinya memilin-milin puting susuku. Bibirnya mengulum telingaku sambil membisikkan sesuatu yang membuatku semakin melayang. Bisikan-bisikan yang memujiku itu tidak pernah kudengar dari Mas Hadi, suamiku.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Ayo cantik..! Nikmatilah orgasmemu.., jangan kamu tahan, keluarkan semuanya Sayang..! Nikmatilah.., nikmatilah..! Oh.., kamu cantik sekali jika orgasme..!&#8221; begitu bisikan yang keluar dari mulut Mas Sandi sambil terus mengulum telingaku.<br />
&#8220;Aakh.. Maass, aduh.. Yanti.., nikmaats&#8230; oh&#8230; enaaks.. sekali..!&#8221; teriakku.<br />
Akhirnya tubuh kejangku mulai mengendur, diikuti dengan turunnya kenikmatan orgasmeku itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Perlahan sekali tubuhku turun dan akhirnya terkulai lemas di pangkuan Mas Sandi. Lalu tubuh Yanti mendekapku.<br />
Dia berbisik padaku, &#8220;Ini.. belum seberapanya Sayaang.., nanti akan kamu rasakan punya suamiku..!&#8221; sambil berkata demikian dia mencium keningku.<br />
Mas Sandi beranjak dari duduknya dan berjalan entah ke arah mana, karena pada saat itu mataku masih terpenjam seakan enggan terbuka.
</p>
<p style="text-align: justify;">Entah berapa lama aku terlelap. Ketika kusadar, kubuka mataku perlahan dan mencari-cari Yanti dan Mas Sandi sejenak. Mereka tidak ada di kamar ini, dan rupanya mereka membiarkanku tertidur sendiri. Aku menengok jam dinding. Sudah pukul sepuluh malam. Segera aku bangkit dari posisi tidurku, lalu berjalan menuju pintu kamar. Telingaku mendengar alunan suara musik klasik yang berasal dari ruangan tamu. Dan ketika kubuka pintu kamar itu yang kebetulan bersebelahan dengan ruang tamu, mataku menemukan suatu adegan dimana Yanti dan suaminya sedang melakukan persetubuhan.</p>
<p style="text-align: justify;">Yanti dengan posisi menelentang di sofa sedang ditindih oleh Mas Sandi dari atas. Terlihat tubuh Mas Sandi sedang naik turun. Segera mataku kutujukan pada selangkangan mereka. Jelas terlihat penis Mas Sandi yang berkilat sedang keluar masuk di vagina Yanti. Terdengar pula erangan-erangan yang keluar dari mulut Yanti yang sedang menikmati hujaman penis itu di vaginanya, membuat tubuhku perlahan memanas. Segera saja kuhampiri mereka dan duduk tepat di depan tubuh mereka.</p>
<p style="text-align: justify;">Di sela-sela kenikmatan, Yanti menatapku dan tersenyum. Rupanya Mas Sandi memperhatikan istrinya dan sejenak dia menghentikan gerakannya dan menengok ke belakang, ke arahku.<br />
&#8220;Akh&#8230; Mas.., jangan berhentiii doong..! Oh..!&#8221; kata Yanti.<br />
Dan Mas Sandi kembali berkonsentrasi lagi dengan kegiatannya. Kembali terdengar desahan-desahan nikmat Yanti yang membahana ke seluruh ruangan tamu itu. Aku kembali gelagapan, kembali resah dan tubuhku semakin panas. Dengan refleks tanganku membelai vaginaku sendiri.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Oh.. Ridhaa.., nikmat sekaallii.. loh..! Akuu&#8230; ooh&#8230; mmh..!&#8221; kata Yanti kepadaku.<br />
Aku melihat wajah nikmat Yanti yang begitu cantik. Kepalannya kadang mendongak ke atas, matanya terpejam-pejam. Sesekali dia gigit bibir bawahnya. Kedua tangannya melingkar pada pantat suaminya, dan menarik-narik pantat itu dengan keras sekali. Aku melihat penis Mas Sandi yang besar itu semakin amblas di vagina Yanti. Samakin mengkilat saja penis itu.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Oh Mas.., aku hampiir sampaaii..! Teruus&#8230; Mas&#8230; terus..! Lebih keras lagiih.., oooh&#8230; akh..!&#8221; kata Yanti.<br />
Yanti mengangkat tinggi-tinggi pinggulnya, Mas Sandi terus dengan gerakannya menaik-turunkan tubuhnya dalam kondisi push-up.<br />
&#8220;Maass.., akuuu&#8230; keluaar..! Aakh&#8230; mhh&#8230; nikmaats.., mmh..!&#8221; kata Yanti lagi dengan tubuh yang mengejang.<br />
Rupanya Yanti mencapai orgasmenya. Tangannya yang tadi melingkar di pantat suaminya, kini berpindah melingkar di punggung.</p>
<p style="text-align: justify;">Mas Sandi berhenti bergerak dan membiarkan penis itu menancap dalam di lubang kemaluan Yanti.<br />
&#8220;Owhh&#8230; banyak sekali Sayang.. keluarnya. Hangat sekali memekmu..!&#8221; kata Mas Sandi sambil menciumi wajah istrinya.
</p>
<p style="text-align: justify;">Dapat kubayangkan perasaan Yanti pada saat itu. Betapa nikmatnya dia. Dan aku pun belingsatan dengan merubah-rubah posisi dudukku di depan mereka. Beberapa saat kemudian, Yanti mulai melemas dari kejangnya dan merubah posisinya. Segera dia turun dari sofa ketika Mas Sandi mencabut penis dari lubang kenikmatan itu. Aku melihat dengan jelas betapa besar dan panjang penis Mas Sandi. Dan ini baru pertama kali aku melihatnya, karena waktu tadi di dalam kamar, Mas Sandi masih menutupi penisnya dengan celana dalam.</p>
<p style="text-align: justify;">Dengan segera Yanti menungging. Lalu segera pula Mas Sandi berlutut di depan pantat itu.<br />
&#8220;Giliranmu&#8230; Mas..! Ayoo..!&#8221; kata Yanti.<br />
Tangan Mas Sandi menggenggam penis itu dan mengarahkan langsung ke lubang vagina Yanti. Segera dia menekan pantatnya dan melesaklah penis itu ke dalam vagina istrinya, diikuti dengan lenguhan Yanti yang sedikit tertahan.<br />
&#8220;Owwh&#8230; Maas&#8230; aakh..!&#8221;<br />
&#8220;Aduuh&#8230; Yantii.., jepit Sayangh..!&#8221; kata Mas Sandi.
</p>
<p style="text-align: justify;">Lalu kaki Yanti dirapatkan sedemikian rupa. Dan segera pantat Mas Sandi mulai mundur dan maju.Ufh.., pemandangan yang begitu indah yang kulihat sekarang. Baru kali ini aku menyaksikan sepasang manusia bersetubuh tepat di depanku secara langsung. Semakin mereka mempercepat tempo gerakannya, semakin aku terangsang begitu rupa. Tanganku yang tadi hanya membelai-belai vaginaku, kini mulai menyentuh kelentitku.</p>
<p style="text-align: justify;">Kenikmatan mulai mengaliri tubuhku dan semakin aku tidak tahan, sehingga aku memasukkan jariku ke dalam vaginaku sendiri. Aku sendiri sangat menikmati masturbasiku tanpa lepas pandanganku pada mereka. Belum lagi telingaku jelas mendengar desahan dan rintihan Yanti, aku dapat membayangkan apa yang dirasakan Yanti dan aku sangat ingin sekali merasakannya, merasakan vaginaku pun dimasukkan oleh penis Mas Sandi.</p>
<p style="text-align: justify;">Beberapa saat kemudian Mas Sandi mulai melenguh keras. Kuhentikan kegiatanku dan terus memperhatikan mereka.<br />
&#8220;Aakhh&#8230; Yantii&#8230; nikmaats&#8230; aakh&#8230; aku keluaar..!&#8221; teriak Mas Sandi membahana.<br />
&#8220;Oh&#8230; Maas&#8230; akuu&#8230; juggaa&#8230; akh..!&#8221;<br />
Kedua tubuh itu bersamaan mengejang. Mereka mencapai orgasmenya secara bersama-sama.
</p>
<p style="text-align: justify;">Penis Mas Sandi masih menancap di vagina Yanti sampai akhirnya mereka melemas, dan dari belakang tubuh Yanti, Mas Sandi memeluknya sambil meremas kedua payudara Yanti. Mas Sandi memasukkan semua spermanya ke dalam vagina Yanti.</p>
<p style="text-align: justify;">Lama sekali aku melihat mereka tidak bergerak. Rupanya mereka sangat kelelahan. Di sofa itu mereka tertidur bertumpukan. Tubuh Yanti berada di bawah tubuh Mas Sandi yang menindihnya. Mata mereka terpejam seolah tidak menghiraukan aku yang duduk terpaku di depannya. Hingga aku pun mulai bangkit dari dudukku dan beranjak pergi menuju kamarku. Sesampai di kamar aku baru sadar kalau aku masih telanjang bulat. Maka aku pun balik lagi menuju kamar Yanti di mana celana dalam dan BH yang akan kupakai berada di sana.</p>
<p style="text-align: justify;">Selagi aku berjalan melewati ruang tamu itu, aku melihat mereka masih terkulai di sofa itu. Tanpa menghiraukan mereka, aku terus berjalan memasuki kamar Yanti dan memungut celana dalam dan BH yang ada di lantai. Setelah kukenakan semuanya, kembali aku berjalan menuju kamarku dan sempat sekali lagi aku menengok mereka di sofa itu pada saat aku melewati ruang tamu.</p>
<p style="text-align: justify;">Sesampai di kamar, entah kenapa rasa lelah dan kantukku hilang. Aku menjadi semakin resah membayangkan kejadian yang baru kualami. Pertama ketika aku dimasturbasikan oleh suami istri itu. Dan yang kedua aku terus membayangkan kejadian di mana mereka melakukan persetubuhan yang hebat itu. Keinginanku untuk merasakan penis Mas Sandi sangat besar. Aku mengharapkan sekali Mas Sandi sekarang menghampiri dan menikmatiku. Namun itu mungkin tidak terjadi, karena aku melihat mereka sudah lelah sekali.</p>
<p style="text-align: justify;">Entah sudah berapa kali mereka bersetubuh pada saat aku terlelap tadi. Aku semakin tidak dapat menahan gejolak birahiku sendiri hingga aku merebahkan diri di kasur empuk. Dengan posisi telungkup, aku mulai memejamkan mata dengan maksud agar aku terlelap. Namun semua itu sia-sia. Karena kembali kejadian-kejadian barusan terus membayangiku. Secara cepat aku teringat bahwa tadi ketika mereka bersetubuh, aku melakukan masturbasi sendiri dan itu tidak selesai. Maka tanganku segera kuselipkan di selangkanganku. Aku membelai kembali vaginaku yang terasa panas itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Dan ketika tanganku masuk ke dalam celanaku, aku mulai menyentuh klitorisku. Kembali aku nikmat. Aku tidak kuasa membendung perasaan itu, dan jariku mulai menemukan lubang kemaluanku yang berlendir itu. Dengan berusaha membayangkan Mas Sandi menyetubuhiku, kumasukkan jari tengahku ke dalam lubang itu dalam-dalam. Kelembutan di dalam vaginaku dan gesekan di dinding-dindingnya membuatku mendesah kecil.</p>
<p style="text-align: justify;">Sambil mengeluar-masukkan jari tengahku, aku membayangkan betapa besar dan panjangnya penis Mas Sandi. Beda sekali dengan penis Mas Hadi yang kumiliki. Kemaluan Mas Sandi panjang dan besarnya normal-normal saja. Sedangkan milik Mas Sandi, sudah panjang dan besar, dihiasi oleh urat-uratnya yang menonjol di lingkaran batang kemaluannya. Itu semua kulihat tadi dan kini terbayang di dalam benakku.</p>
<p style="text-align: justify;">Beberapa menit kemudian, ketika ada sesuatu yang lain di dalam vaginaku, semakin kupercepat jari ini kukeluar-masukkan. Sambil terus membayangi Mas Sandi yang menyetubuhiku, dan aku sama sekali tidak membayangkan suamiku sendiri. Setiap bayangan suamiku muncul, cepat-cepat kubuang bayangan itu, hingga kembali Mas Sandi lah yang kubayangkan.</p>
<p style="text-align: justify;">Tanpa sadar, ketika aku akan mencapai orgasme, aku membalikan badan dan aku memasukkan jari telunjuk ke dalam lubang vaginaku. Dalam keadaan telentang aku mengangkangkan selebar mungkin pahaku. Kini dua jariku yang keluar masuk di lubang vaginaku. Maka kenikmatan itu berlanjut hebat sehingga tanpa sadar aku memanggil-manggil pelan nama Mas Sandi.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Akh&#8230; sshh&#8230; Masss&#8230; Sandii&#8230; Okh&#8230; Mass.. Mas.. Sandi.. aakkh..!&#8221; itulah yang keluar dari mulutku.<br />
Seer&#8230; aku merasa kedua jariku hangat sekali dan semakin licin. Aku mengangkat ke atas pinggulku sambil tidak melepas kedua jariku menancap di lubang vaginaku. Beberapa lama tubuhku merinding, mengejang, dan nikmat tidak terkira. Sampai pada akhirnya aku melemas dan pinggulku turun secara cepat ketika kenikmatan itu perlahan berkurang.
</p>
<p style="text-align: justify;">Aku mencabut jari jemariku dan cairan yang menempel di jari-jari itu segera kujilati. Asin campur gurih yang kurasakan di lidahku. Dengat mata yang terpejam-pejam kembali aku membayangkan penis Mas Sandi yang sedang kuciumi, kuhisap, dan kurasakan. Cairan yang asin dan gurih itu kubayangkan sperma Mas Sandi. Ohhh.., nikmatnya semua ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Dan setelah aku puas, barulah kuhentikan hayalan-hayalanku itu. Kutarik selimut yang ada di sampingku dan menutupi sekujur tubuhku yang mulai mendingin. Aku tersenyum sejenak mengingat hal yang barusan, gila&#8230; aku masturbasi dengan membayangkan suami orang lain.</p>
<p style="text-align: justify;">Pagi harinya, ketika aku terjaga dari tidurku dan membuka mataku, aku melihat di balik jendela kamar sudah terang. Jam berapa sekarang, pikirku. Aku menengok jam dinding sudah menunjukkan pukul sepuluh pagi. Aku kaget dan bangkit dari posisi tidurku. Ufh.., lemas sekali badan ini rasanya. Kukenakan celana dalamku. Karena udara sedikit dingin, kubalut tubuhku dengan selimut dan mulai berdiri.</p>
<p style="text-align: justify;">Ketika berdiri, sedikit kugerak-gerakan tubuhku dengan maksud agar rasa lemas itu segera hilang. Lalu dengan gontai aku berjalan menuju pintu kamar dan membuka pintu yang tidak terkunci.</p>
<p style="text-align: justify;">Karena aku ingin pipis, segera aku berjalan menuju kamar mandi, sesampainya di kamar mandi segera kuturunkan celana dalamku dan berjongkok. Keluarlah air hangat urine-ku dari liang vagina. Sangat banyak sekali air kencingku, sampai-sampai aku pegal berjongkok. Beberapa saat kemudian, ketika air kencingku habis, segera kubersihkan vaginaku dan kembali aku mengenakan celana dalamku, lalu kembali pula aku melingkari kain selimut itu, karena hanya kain ini yang dapat kupakai untuk menahan rasa dingin, baju tidur yang akan dipinjamkan oleh Yanti masih berada di kamarnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku keluar dari kamar mandi itu, lalu berjalan menuju ruangan dapur yang berada tidak jauh dari kamar mandi itu, karena tenggorokanku terasa haus sekali. Di dapur itu aku mengambil segelas air dan meminumnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah minum aku berjalan lagi menuju kamarku. Namun ketika sampai di pintu kamar, sejenak pandangan mataku menuju ke arah ruang tamu. Di sana terdapat Mas Sandi sedang duduk di sofa sambil menghisap sebatang rokok. Matanya memandangku tajam, namun bibirnya memperlihatkan senyumnya yang manis. Dengan berbalut kain selimut di tubuhku, aku menghampiri Mas Sandi yang memperhatikan aku. Lalu aku duduk di sofa yang terletak di depannya. Aku membalas tatapan Mas Sandi itu dengan menyunggingkan senyumanku.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Yanti mana..?&#8221; tanyaku padanya membuka pembicaraan.<br />
&#8220;Sedang ke warung sebentar, katanya sih mau beli makanan..!&#8221; jawabnya.<br />
&#8220;Mas Sandi tidak kerja hari ini..?&#8221;<br />
&#8220;Tidak akh.., malas sekali hari ini. Lagian khan aku tak mau kehilangan kesempatan..!&#8221; sambil berkata demikian dengan posisi berlutut dia menghampiriku.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah tepat di depanku, segera tangannya melepas kain selimut yang membungkusi tubuhku. Lalu dengan cepat sekali dia mulai meraba-raba tubuhku dari ujung kaki sampai ujung pahaku. Diperlakukan demikian tentu saja aku geli. Segera bulu-bulu tubuhku berdiri.<br />
&#8220;Akh&#8230; Mas..! Gellii..!&#8221; kataku.<br />
Mas Sandi tidak menghiraukan kata-kataku itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Kini dia mulai mendaratkan bibirnya ke seluruh kulit kakiku dari bawah sampai ke atas. Perlakuannya itu berulang-ulang, sehingga menciptakan rasa geli campur nikmat yang membuatku terangsang. Lama sekali perlakuan itu dilakukan oleh Mas Sandi, dan aku pun semakin terangsang.<br />
&#8220;Akh&#8230; Mas..! Oh.., mmh..!&#8221; aku memegang bagian belakang kepala Mas Sandi dan menariknya ketika mulut lelaki itu mencium vaginaku.<br />
Semakin aku mengangkangkan pahaku, dengan mesranya lidah Mas Sandi mulai menjilat kemaluanku itu. Tubuhku mulai bergerak-gerak tidak beraturan, merasakan nikmat yang tiada tara di sekujur tubuhku.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku membuang kain selimut yang masih menempel di tubuhku ke lantai, sementara Mas Sandi masih dengan kegiatannya, yaitu menciumi dan menjilati vaginaku. Aku menengadah menahan nikmat, kedua kakiku naik di tumpangkan di kedua bahunya, namun tangan Mas Sandi menurunkannya dan berusaha membuka lebar-lebar kedua pahaku itu. Karuan saja selangkanganku semakin terkuak lebar dan belahan vaginaku semakin membelah.<br />
&#8220;Akh.. Mas..! Shh.. nikmaats..! Terus Mass..!&#8221; rintihku.
</p>
<p style="text-align: justify;">Kedua tangan Mas Sandi ke atas untuk meremas payudaraku yang terasa sudah mengeras, remasan itu membuatku semakin nikmat saja, dan itu membuat tubuhku semakin menggelinjang. Segera aku menambah kenikmatanku dengan menguakkan belahan vaginaku, jariku menyentuh kelentitku sendiri. Oh.., betapa nikmat yang kurasakan, liang kemaluanku sedang disodok oleh ujung lidah Mas Sandi, kedua payudaraku diremas-remas, dan kelentitku kusentuh dan kupermainkan. Sehingga beberapa detik kemudian terasa tubuhku mengejang hebat disertai perasaan nikmat teramat sangat dikarenakan aku mulai mendekati orgasmeku.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Oh&#8230; Mas..! Aku&#8230; aku&#8230; akh.., nikmaats&#8230; mhh..!&#8221; bersamaan dengan itu aku mencapai klimaksku.<br />
Tubuhku melayang entah kemana, dan sungguh aku sangat menikmatinya. Apalagi ketika Mas Sandi menyedot keras lubang kemaluanku itu. Tahu bahwa aku sudah mencapai klimaks, Mas Sandi menghentikan kegiatannya dan segera memelukku, mecium bibirku.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Kamu sungguh cantik, Ridha.., aku cinta padamu..!&#8221; sambil berkata demikian, dengan pinggulnya dia membuka kembali pahaku, dan terasa batang kemaluannya menyentuh dinding kemaluannku.<br />
Segera tanganku menggenggam kemaluan itu dan mengarahkan langsung tepat ke liang vaginaku.<br />
&#8220;Lakukan Mas..! Lakukan sekarang..! Berikan cintamu padaku sekarang..!&#8221; kataku sambil menerima setiap ciuman di bibirku.</p>
<p style="text-align: justify;">Mas Sandi dengan perlahan memajukan pinggulnya, maka terasa di liang vaginaku ada yang melesak masuk ke dalamnya. Gesekan itu membuatku kembali menengadah, sehingga ciumanku terlepas. Betapa panjang dan besar kurasakan. Sampai aku merasakan ujung kemaluan itu menyentuh dinding rahimku.<br />
&#8220;Suamimu sepanjang inikah..?&#8221; tanyanya.<br />
Aku menggelengkan kepala sambil terus menikmati melesaknya penis itu di liang vaginaku.
</p>
<p style="text-align: justify;">Beberapa saat kemudian sudah amblas semua seluruh batang kemaluan Mas Sandi. Aku pun sempat heran, kok bisa batang penis yang panjang dan besar itu masuk seluruhnya di vaginaku. Segera aku melipatkan kedua kakiku di belakang pantatnya. Sambil kembali mencium bibirku dengan mesra, Mas Sandi mendiamkan sejenak batang penisnya terbenam di vaginaku, hingga suatu saat dia mulai menarik mundur pantatku perlahan dan memajukannya lagi, menariknya lagi, memajukannya lagi, begitu seterusnya hingga tanpa disadari gerakan Mas Sandi mulai dipercepat. Karuan saja batang penis yang kudambakan itu keluar masuk di vaginaku. Vagina yang seharusnya hanya dapat dinikmati oleh suamiku, Mas Hadi.</p>
<p style="text-align: justify;">Di alam kenikmatan, pikiranku menerawang. Aku seorang perempuan yang sudah bersuami tengah disetubuhi oleh orang lain, yang tidak punya hak sama sekali menikmati tubuhku, dan itu sangat di luar dugaanku. Seolah-olah aku sudah terjebak di antara sadar dan tidak sadar aku sangat menikmati perselingkuhan ini. Betapa aku sangat mengharapkan kepuasan bersetubuh dari lelaki yang bukan suamiku. Ini semua akibat Yanti yang memberi peluang seakan sahabatku itu tahu bahwa aku membutuhkan ini semua.</p>
<p style="text-align: justify;">Beberapa menit berlalu, peluh kami sudah bercucuran. Sampailah aku pada puncak kenikmatan yang kudambakan. Orgasmeku mulai terasa dan sungguh aku sangat menikmatinya. Menikmati orgasmeku oleh laki-laki yang bukan suamiku, manikmati orgasme oleh suami sahabatku. Dan aku tidak menduga kalau rahimku pun menampung air sperma yang keluar dari penis lelaki selain suamiku.</p>
<p style="text-align: justify;">Singkat kisahku, kini aku sudah bekerja di salah satu perusahaan milik bapaknya Yanti. Dengan demikian kehiduapanku selanjutnya mulai membaik. Ini semua berkat bantuan dari sahabatku Yanti. Namun sekarang tercipta problema baru yang mengganggu pikiranku. Penghianatanku terhadap Mas Hadi tidak berhenti sampai di sini.</p>
<p style="text-align: justify;">Gairah seksku tidak dapat tertahankan. Aku dapat melayani suamiku hingga beberapa kali. Dan jika aku tidak merasa puas, kulampiaskan gejolakku itu dengan Mas Sandi, bahkan kalau Mas Sandi tidak ada, aku mencari kepuasan seksku dengan siapa saja yang mau. Dan untungnya hingga kini suamiku tidak mengetahuinya, tapi apa mungkin dia telah mengetahuinya..? Aku tidak perduli.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ceritasex.cn/dijebak-tapi-enak-bagian-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Koleksi Foto Bugil Chika Part 3</title>
		<link>http://www.ceritasex.cn/koleksi-foto-bugil-chika-part-3/</link>
		<comments>http://www.ceritasex.cn/koleksi-foto-bugil-chika-part-3/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 19 Jul 2009 13:18:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cerita Sex</dc:creator>
				<category><![CDATA[Daun Muda]]></category>
		<category><![CDATA[Foto Mesum]]></category>
		<category><![CDATA[bandung]]></category>
		<category><![CDATA[bugil]]></category>
		<category><![CDATA[cewek bandung]]></category>
		<category><![CDATA[cewek panggilan]]></category>
		<category><![CDATA[chika]]></category>
		<category><![CDATA[emut kontol]]></category>
		<category><![CDATA[lonte]]></category>
		<category><![CDATA[ngentot]]></category>
		<category><![CDATA[perek]]></category>
		<category><![CDATA[seksi]]></category>
		<category><![CDATA[sensual]]></category>
		<category><![CDATA[ttm]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ceritasex.cn/?p=658</guid>
		<description><![CDATA[]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2009/07/chika-41.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-659" title="chika-41" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2009/07/chika-41-225x300.jpg" alt="chika-41" width="225" height="300" /></a></p>
<p><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2009/07/chika-42.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-660" title="chika-42" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2009/07/chika-42-300x225.jpg" alt="chika-42" width="300" height="225" /></a></p>
<p><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2009/07/chika-43.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-661" title="chika-43" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2009/07/chika-43-300x225.jpg" alt="chika-43" width="300" height="225" /></a></p>
<p><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2009/07/chika-44.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-662" title="chika-44" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2009/07/chika-44-225x300.jpg" alt="chika-44" width="225" height="300" /></a></p>
<p><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2009/07/chika-45.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-663" title="chika-45" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2009/07/chika-45-225x300.jpg" alt="chika-45" width="225" height="300" /></a><br />
<span id="more-658"></span><br />
<a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2009/07/chika-46.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-664" title="chika-46" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2009/07/chika-46-224x300.jpg" alt="chika-46" width="224" height="300" /></a></p>
<p><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2009/07/chika-47.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-665" title="chika-47" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2009/07/chika-47-225x300.jpg" alt="chika-47" width="225" height="300" /></a></p>
<p><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2009/07/chika-48.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-666" title="chika-48" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2009/07/chika-48-225x300.jpg" alt="chika-48" width="225" height="300" /></a></p>
<p><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2009/07/chika-49.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-667" title="chika-49" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2009/07/chika-49-225x300.jpg" alt="chika-49" width="225" height="300" /></a></p>
<p><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2009/07/chika-50.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-668" title="chika-50" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2009/07/chika-50-225x300.jpg" alt="chika-50" width="225" height="300" /></a></p>
<p><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2009/07/chika-51.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-669" title="chika-51" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2009/07/chika-51-300x225.jpg" alt="chika-51" width="300" height="225" /></a></p>
<p><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2009/07/chika-52.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-670" title="chika-52" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2009/07/chika-52-225x300.jpg" alt="chika-52" width="225" height="300" /></a></p>
<p><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2009/07/chika-53.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-671" title="chika-53" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2009/07/chika-53-225x300.jpg" alt="chika-53" width="225" height="300" /></a></p>
<p><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2009/07/chika-54.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-672" title="chika-54" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2009/07/chika-54-225x300.jpg" alt="chika-54" width="225" height="300" /></a></p>
<p><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2009/07/chika-55.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-673" title="chika-55" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2009/07/chika-55-225x300.jpg" alt="chika-55" width="225" height="300" /></a></p>
<p><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2009/07/chika-56.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-674" title="chika-56" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2009/07/chika-56-225x300.jpg" alt="chika-56" width="225" height="300" /></a></p>
<p><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2009/07/chika-57.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-675" title="chika-57" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2009/07/chika-57-225x300.jpg" alt="chika-57" width="225" height="300" /></a></p>
<p><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2009/07/chika-58.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-676" title="chika-58" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2009/07/chika-58-225x300.jpg" alt="chika-58" width="225" height="300" /></a></p>
<p><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2009/07/chika-59.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-677" title="chika-59" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2009/07/chika-59-300x225.jpg" alt="chika-59" width="300" height="225" /></a></p>
<p><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2009/07/chika-60.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-678" title="chika-60" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2009/07/chika-60-225x300.jpg" alt="chika-60" width="225" height="300" /></a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ceritasex.cn/koleksi-foto-bugil-chika-part-3/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Malam Panas dengan Mbak Shinta</title>
		<link>http://www.ceritasex.cn/malam-panas-dengan-mbak-shinta/</link>
		<comments>http://www.ceritasex.cn/malam-panas-dengan-mbak-shinta/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 18 Jul 2009 17:15:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cerita Sex</dc:creator>
				<category><![CDATA[Paruh baya]]></category>
		<category><![CDATA[Seks Umum]]></category>
		<category><![CDATA[Tante Girang]]></category>
		<category><![CDATA[kisah nyata]]></category>
		<category><![CDATA[selingkuh]]></category>
		<category><![CDATA[binal]]></category>
		<category><![CDATA[emut kontol]]></category>
		<category><![CDATA[gairah panas]]></category>
		<category><![CDATA[malam panas]]></category>
		<category><![CDATA[mbak shinta]]></category>
		<category><![CDATA[ngentot]]></category>
		<category><![CDATA[shinta]]></category>
		<category><![CDATA[wanita binal]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ceritasex.cn/?p=646</guid>
		<description><![CDATA[Namaku Ferry aku adalah seorang laki-laki berumur 20 tahun, setiap harinya sibuk kuliah dan juga sebagai manager pada satu perusahaan keluarga. Aku berasal dari Medan lebih tepatnya Chinese Medan, penampilanku mungkin tidak terlalu rupawan tapi cukup enak dilihat, secara fisik tidak kurus lebih tepatnya bertubuh gempal bayangkan saja seperti Wayne Rooney. Ohh.. yaa… My lovely [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Namaku Ferry aku adalah seorang laki-laki berumur 20 tahun, setiap harinya sibuk kuliah dan juga sebagai manager pada satu perusahaan keluarga. Aku berasal dari Medan lebih tepatnya Chinese Medan, penampilanku mungkin tidak terlalu rupawan tapi cukup enak dilihat, secara fisik tidak kurus lebih tepatnya bertubuh gempal bayangkan saja seperti Wayne Rooney.</p>
<p style="text-align: justify;">Ohh.. yaa… My lovely namanya Shinta berumur 35 tahun, yaa… memang dia sudah berkeluarga dan sudah punya dua orang anak. Tapi setiap laki-laki yang belum tahu pasti mengira dia masih remaja, tidak kelihatan sedikit pun wajah seorang ibu yang sudah mulai termakan usia, bahkan sampai sekarang pun aku masih tidak menyangka dia sudah punya dua orang anak. Dia tinggal dengan keluarganya di pulau Borneo. Karena aku tidak mahir untuk menggambarkan ukuran2 tubuh, aku gambarkan saja dia sangat mirip artis Bella Safira.</p>
<p style="text-align: justify;">Awal cerita kita berkenalan adalah ketika kita sama2 sedang dalam satu tread di XX dan saling memberikan komentar, lama kelamaan semakin sering ngobrol sampai akhirnya kita bertukar nomer HP. Sebuah perkenalan yang aneh memang tapi sangat berbekas, hingga akhirnya timbul rasa suka satu sama lain. Bukan karena nafsu semata tapi memang dia wanita yang sangat anggun dan hati ini telah berhasil direbutnya. Semakin hari hubungan kami berdua semakin dekat hingga tidak ada lagi kecanggungan untuk saling berterus terang bahwa kita telah sama sama saling menyukai. Namun karena kita terpisah begitu jauh aku di Jakarta dan dia di Kalimantan maka komunikasi cuma berlangsung lewat Hp dan chat.</p>
<p style="text-align: justify;">Hingga saat yang kami nantikan tiba, minggu lalu dia dapat tugas di Jakarta, waaahhh&#8230; mendengar hal itu aku sangat senang tapi juga deg-degan karena ini pertemua pertama kami. Hari sabtu kemarin tepatnya dia datang ke Jakarta dan menginap disalah satu hotel dibilangan Kuningan. Siang harinya ketika aku sedang ngantor tiba-tiba ada panggilan masuk di Hp ku dan ternyata mbak shinta yang menelepon. ”Sayang aku udah di hotel nih, tar mlm km ada waktu?? Kalo ada kamu main ya ke sini, aku kangen&#8230;..” setelah mendengar itu aku sempat bingung mau jawab apa, tapi karena aku sendiri memang sangat ingin bertemu aku jawab ”iya.. tar mlm aku kesana”<br />
<span id="more-646"></span><br />
Setelah menerima telp dari mbak Shinta..rasanya waktu berjalan sangat lambat&#8230; hampir tidak sabar aku menunggu saat pertemuan kami tapi akhirnya malampun tiba, bergegas aku menuju hotel dimana mbak shinta menginap. Setibanya di lobby hotel aku menelepon mbak Shinta dan mengabarkan bahwa aku sudah menunggu di lobby&#8230; mbak Shinta minta agar aku menunggu sebentar karena dia akan segera turun&#8230;sembari menunggu Mbak Shinta datang perasaanku rasanya tidak karuan..berdebar debar dan tegang sekali..aku mencoba untuk menenangkan diri dengan memainkan gadget ditangan &#8230; tiba tiba aku tersentak&#8230;dipintu lift yang terbuka aku lihat keluar seorang perempuan cantik yang berjalan dengan anggun mengenakan celana jins hitam dan atasan kaos yang juga berwarna hitam.. dandanan yang sederhana namun terlihat berkelas sekali&#8230; dan dia mirip sekali dengan mbak Shinta yang aku kenal selama ini lewat foto&#8230; hatiku bertanya tanya ..dia kah kekasih ku&#8230;duhaii&#8230;cantik sekali tidak terlihat sedikitpun bahwa dia sebenarnya adalah seorang ibu dari dua orang anak yang sudah lumayan besar&#8230;
</p>
<p style="text-align: justify;">aku jadi grogi ketika dengan gayanya yang anggun dia berjalan mendekati aku&#8230; sambil tersenyum dia mendekat dan menyapa.. hai sayang&#8230; Ferry kan?? Sedikit gugup aku membalas&#8230;iyaa.. mbak Shinta&#8230; sambil tidak melepaskan senyum dari wajahnya mbak Shinta menyodorkan tangan untuk menyalami aku..dan kemudia mencium kedua pipiku..hmmm tercium aroma yang manis sekali&#8230;ahhh mbak Shinta belom apa-apa.. aku dah hampir mabok dibuat nya&#8230;ternyata dia belum makan malam, maka kuajak mbak Shinta turun dan makan di resto dekat lobby hotel, ketika aku tanya ”Sayang mau makan apa??” truz dia menjawab ”Apa aja deh, yank” truz langsung bilang ”Kamu pesan yang ada kambingnya aja yank&#8230; kan kata orang daging kambing bisa menaikkan libido&#8230;” tak mau kalah langsung aku bilang ”Kalo ketemu kamu gak usah makan daging kambing jg uda naik nh&#8230;. hehehheee&#8230;.” tidak terasa kami makan diselingi canda tawa, sampai akhirnya kita selesai makan dan dia mengajakku untuk mampir ke kamarnya. Sesampainya di kamar kami ngobrol sejenak, tiba-tiba mbak Shinta ijin ke kamar mandi.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku menunggu sambil menonton acara tv, cukup lama aku menunggu tiba-tiba mbak shinta keluar dengan busana super minim, dia cuma memakai baju tidur yang sangat tipis hingga dapat mencetak tiap lekuk tubuhnya yang indah. Sedikit canggung aku melihatnya, tapi kami tetap melanjutkan ngobrol namun perasaan aku sudah gak karu-karuan &#8230;. tidak terasa ngobrol cerita ini dan itu sudah larut malam. Aku berniat berpamitan dengannya ”Yank, ud larut malam nih&#8230;. Aku pulang dulu ya&#8230;.” truz dia menjawab ”Yakin kamu mau pulang sekarang???” aku tahu maksud hatinya, aku jadi ragu..karena aku pernah menanamkan dalam hati aku bahwa aku hanya akan memberikan keperjakaanku pada istri ku kelak. Ragu-ragu aku jawab ”Iya&#8230;. ” kemudian aku pun melangkah ke arah pintu, tiba-tiba ketika pintu hampir terbuka, mbak Shinta memelukku dari belakang dan mengatakan ”Sayang jangan pulang&#8230; temenin aku malam ini&#8230;” dan ketika aku membalikkan badanku untuk menjawab ucapannya bibirku langsung dilumat olehnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Tanpa terasa akupun ikut dalam permainan bibirnya itu, karena ini adalah pengalaman pertama rasanya darahku berjalan begitu cepat. Eeeemmmmuuuaacchhh&#8230;.mmuuaacchh&#8230; mmuuaacchh&#8230;.. aku benar-benar tidak diberi kesempatan untuk menjawab. Cukup lama kita saling berciuman hingga tangan Shinta sekarang mulai aktif menjelajahi setiap lekuk tubuhku. Hingga pada selangkanganku, aku merasakan Shinta mulai mencuri-curi untuk membelai kejantananku&#8230;.. Aku pun merasakan penisku mulai merespon dan mulai menegang. Lama-kelamaan tangan Shinta sudah benar-benar memainkan penisku meskipun masih terbalut celana jeans yang aku pakai. Baru pertama kali aku merasakan mendapat perlakuan seperti ini dari seorang wanita, tiba-tiba aku didorong hingga terduduk di sofa. Lalu Shinta mengatakan ”Aku buka ya celananya&#8230;..” dan lagi-lagi belum sempat aku menjawab dia sudah berusaha membuka kancing celanaku dan mulai menariknya turun beserta dengan CD yang kupakai. Waaahhhhh&#8230;.. benar-benar malu rasanya, tapi mbak Shinta malah terlihat begitu senang dan tampak sedikit kaget melihat penisku yang sudah mulai menegang itu. Secara ukuran penisku mungkin tidak terlalu panjang, cukup sama dengan orang Indonesia kebanyakan.</p>
<p style="text-align: justify;">tapi yang istimewa adalah diameternya dan kepala penisnya yang lumayan besar dan sangat merah itu plus urat-urat yang cukup besar ukurannya. Tanpa ragu Shinta mulai menggenggam penisku dengan lembut dan mulai mengocokya naik turun. Tak hanya itu saja sekarang mbak Shinta mulai sedikit demi sedikit menjilati kepala penisku. Aaaahhhhk&#8230; Sensasi yang sangat luar biasa, kemudia mbak Shinta mulai berusaha mendorong masuk semua penisku ke dalam mulutnya dan menahannya sesaat. Terkadang aku pun menahan kepalanya agar menahan agak lama dimulutnya Hhhuuuuhhhh&#8230;.Hhuuu&#8230;. benar-benar nikmat rasanya, mbak Shinta terus melakukannya berulang kali hingga penis dan selangkanganku basah dengan air liurnya&#8230; Setelah puas memainkan penisku mbak Shinta menarik tanganku untuk berdiri dan menuntunku ke ranjang, lalu melepas bajuku, setelah itu tanganku kembali dituntunnya dan kali ini tanganku dituntun ke arah buah dadanya, sambil membisikkan pelan ”Remas yankk&#8230;..Remas yang lembut&#8230;” tanpa pikir panjang aku langsung mulai meremas buah dadanya yang cukup besar dan sangat padat, dengan puting berwarna merah kecoklatan.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku merasakan ketika meremas putingnya sudah mulai mengeras dan terdengar suara nafas mbak Shinta yang mulai tidak beraturan Sssssttt&#8230;. Hhhhhaaahh&#8230;. sambil terus mengatakan ”terus yank&#8230;.jangan berhenti&#8230;.” Kini aku tidak hanya meremas tapi sudah mulai menciumin putingnya dan sedikit menggigit-gigit kecil. Aku melihat mbak Shinta sangat menikmatinya, aku merasakan mbak Shinta mulai mendorong kepalaku agar aku tidak menghentikan jilatan pada putingnya. Setelah puas bermain dengan putingnya, aku pun memberikan kecupan diseluruh bagian tubuhnya sambil tanganku mulai mengelus gundukan daging di selangkangannya, ciuman aku mulai dari kening, lalu turun ke pipi, trus tidak ketinggalan di bibirnya aku melihat mbak Shinta terlihat sangat senang dan menikmatinya. Setelah puas dengan bibirnya aku pun turun menciumi lehernya yang jenjang, terus turun pada buah dadanya&#8230;. terdengar suara menahan kenikamtan dari mbak Shinta Ooooohhhww&#8230;Sssssstt&#8230;Ooohhh&#8230;.Eemmmmmhhh&#8230;Ooo ooohhhh&#8230; terus fer&#8230;.. sayang..akhhhh iya&#8230;jilatin terus sayang&#8230;disitu enak sekali&#8230;owwhhhh kamu pinter sayang&#8230;Aku pun merasakan tangan yang berada diselangkangan sudah mulai basah.</p>
<p style="text-align: justify;">lalu ciuman aku turunkan di sekitar selangkangannya&#8230; Lalu pelan-pelan kuturunkan G-String yang dipakainya hingga terlihatlah vaginanya yang ditumbuhi bulu-bulu tipis disekitarnya, tanpa menunggu aba-aba dari mbak Shinta aku langsung mulai memainkan lidahku di vaginanya. Terdengar Shinta sedikit menjerit Ahhhhkkkkk&#8230;&#8230;. terus yankkkkk&#8230;&#8230;. Uuuuuuhhhh&#8230;&#8230;&#8230;&#8230; enak sayang&#8230;owwhhhh masukin lidah kamu di lobangnya sayang&#8230;.yahh begitu&#8230;.mainin terus lidah kamu sayang&#8230;uhhhh&#8230;.jilat juga clitorisnya fer..terus fer..okhhhhh&#8230;enak banget sich fer&#8230;Aku pun terus melanjutkan jilatan dan sesekali memainkan klitorisnya dengan jari jariku hingga tampak mbak Shinta bener bener konak tubuhnya mengejang dan tersentak sentak menahan kenikmatan&#8230; Melihat hal itu aku semakin bersemangat memasukkan jari telunjukku ke dalam liang vaginanya yang telah basah dari tadi, sedikit ku tekan agak dalam sampai sampai shinta menjambak rambutku sambil menggigit bibir bawahnya , kemudian aku mulai mengocok naik turun hingga mbak Shinta menjerit Uuuuhhhkkkk&#8230;Ssssttt&#8230;Ooooooohhhhkk&#8230;..fer..ena k sekali sayang&#8230;owwhhh mbak mau keluar fer&#8230; owwhhhh&#8230;</p>
<p style="text-align: justify;">dan tiba tiba tubuh mbak Shinta makin mengejang dan aku merasakan ada cairan hangat yang mengalir di tanganku, ternyata mbak shinta sudah mendapatkan klimaks pertamanya. Setelah mengatur nafas sejenak, mbak Shinta lalu mendorongku ke ranjang dan mulai mengulum penisku yang mulai menegang kembali, aduhhh rasanya bener benar enak di jilatin oleh mbak Shinta. Setelah puas memainkan penisku dimulutnya, Shinta membuka lebar kedua kakinya sambil memegangi penisku untuk diarahkan di vaginanya dengan posisi WOT. Setelah pas arahnya Shinta mulai menurunkan badannya, awalnya terasa sangat susah karena ukuran kepala penisku yang cukup besar. Tapi setelah terus dicoba akhirnya penisku tenggelam dalam vagina Shinta. Ohhh&#8230;. God&#8230;&#8230; enak benar vagina mbak shinta.. aku belum pernah selama ini merasakan kenikmatan seperti ini.. ”Akhirnya hilanglah keperjakaanku hari ini.” pikirku, Sementara mbak Shinta aku lihat sangat menikmati sekali dan dengan bernafsu mbak Shinta mulai menaik-turunkan badannya, lama kelamaan semakin cepat, aduuhhh gila&#8230;.bener- bener enak meqinya mbak Shinta. Woooowwww&#8230;.. tiba tiba aku merasakan seperti ada yang akan meledak dari penisku.</p>
<p style="text-align: justify;">Merasakan hal itu aku langsung menarik mbak Shinta kebawah sehingga sekarang posisi berubah menjadi MOT, mulai dengan hentakan pelan, mbak Shinta kulihat memejamkan matanya sambil menahan nikmat, hingga akhirnya aku mulai mnghentakkan penisku maju-mundur dengan cepat dan semakin cepat sampai mbak Shinta berteriak pelan Ooooohhh&#8230;yaaa&#8230;.terruuss&#8230;.yannk&#8230;terruss&#8230;. . aku uda mau keluar lagi&#8230; Hingga akhirnya Oooohhh&#8230; SSsssstttt&#8230;.. aku merasakan penisku seperti dicengkram dengan kuat oleh meqinya mbak Shinta badannya Mbak Shinta kembali mengejang dan terasa cairan hangat itu keluar kembali dan ternyata mbak Shinta mendapatkan klimaks keduanya. Setelah berhenti sejenak aku menarik tubuh bak Shinta untuk turun dari ranjang dan aku balikkan badannya membelakangi aku kemudian aku memasukkan penisku dari belakang. Mulai kugoyangkan penisku maju mundur secara beraturan. Semakin lama semakin cepat hingga aku merasakan ada yang sudah mau keluar dari penisku&#8230;.</p>
<p style="text-align: justify;">Lalu cepat-cepat aku keluarkan penisku dari vagina mbak Shinta dan dia pun sudah siap menampung cairan spermaku, aku kocok sedikit penisku tepat didepan mulut mbak Shinta lalu&#8230; Hhhhoooooohhhhhhhh&#8230;&#8230;&#8230;. Ssssstt&#8230;.. Tumpahlah seluruh cairan spermaku dimulut indah mbak Shinta, dan tanpa merasa jijik Mbak Shinta menelan semua sperma yang tumpah kedalam mulutnya dengan lahap dan bernafsu&#8230;bahkan kemudian sisa sisa sperma yang ada di penis aku juga dengan bernafsu dijilatinnya sampai habis tidak bersisa&#8230;. Setetah kegiatan hebat dan penuh kenikmatan itu kami berdua langsung menuju kamar mandi untuk saling membersihkan tubuh masing-masing dan saat aku melihat jam, HHHHaaaahhhhhhhhh&#8230;&#8230; Sudah jam 2 pagi, karena sudah sangat larut aku memutuskan untuk menginap disana ”Untung tadi sudah sempat bawa baju dan perlengkapan ngantor besok, sudah feeling kalo bakal kejadian kayak gini. Heheheeheeeeeee&#8230;&#8230;” Hingga sekarang aku masih menunggu kesempatan ketemu selanjutnya&#8230;.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ceritasex.cn/malam-panas-dengan-mbak-shinta/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Koleksi Foto Bugil Chika Part 2</title>
		<link>http://www.ceritasex.cn/koleksi-foto-bugil-chika-part-2/</link>
		<comments>http://www.ceritasex.cn/koleksi-foto-bugil-chika-part-2/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 18 Jul 2009 17:10:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cerita Sex</dc:creator>
				<category><![CDATA[Daun Muda]]></category>
		<category><![CDATA[Foto Mesum]]></category>
		<category><![CDATA[bugil]]></category>
		<category><![CDATA[cewek bandung]]></category>
		<category><![CDATA[chika]]></category>
		<category><![CDATA[emut kontol]]></category>
		<category><![CDATA[foto seks]]></category>
		<category><![CDATA[gadis bandung]]></category>
		<category><![CDATA[gambar porno]]></category>
		<category><![CDATA[seksi]]></category>
		<category><![CDATA[sensual]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ceritasex.cn/?p=624</guid>
		<description><![CDATA[]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2009/07/chika-21.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-625" title="chika-21" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2009/07/chika-21-225x300.jpg" alt="chika-21" width="225" height="300" /></a></p>
<p><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2009/07/chika-22.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-626" title="chika-22" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2009/07/chika-22-225x300.jpg" alt="chika-22" width="225" height="300" /></a></p>
<p><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2009/07/chika-23.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-627" title="chika-23" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2009/07/chika-23-300x225.jpg" alt="chika-23" width="300" height="225" /></a></p>
<p><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2009/07/chika-24.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-628" title="chika-24" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2009/07/chika-24-225x300.jpg" alt="chika-24" width="225" height="300" /></a></p>
<p><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2009/07/chika-25.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-629" title="chika-25" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2009/07/chika-25-300x225.jpg" alt="chika-25" width="300" height="225" /></a><br />
<span id="more-624"></span><br />
<a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2009/07/chika-26.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-630" title="chika-26" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2009/07/chika-26-225x300.jpg" alt="chika-26" width="225" height="300" /></a></p>
<p><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2009/07/chika-27.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-631" title="chika-27" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2009/07/chika-27-225x300.jpg" alt="chika-27" width="225" height="300" /></a></p>
<p><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2009/07/chika-28.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-632" title="chika-28" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2009/07/chika-28-225x300.jpg" alt="chika-28" width="225" height="300" /></a></p>
<p><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2009/07/chika-29.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-633" title="chika-29" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2009/07/chika-29-225x300.jpg" alt="chika-29" width="225" height="300" /></a></p>
<p><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2009/07/chika-30.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-634" title="chika-30" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2009/07/chika-30-225x300.jpg" alt="chika-30" width="225" height="300" /></a></p>
<p><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2009/07/chika-31.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-635" title="chika-31" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2009/07/chika-31-300x225.jpg" alt="chika-31" width="300" height="225" /></a></p>
<p><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2009/07/chika-32.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-636" title="chika-32" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2009/07/chika-32-225x300.jpg" alt="chika-32" width="225" height="300" /></a></p>
<p><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2009/07/chika-33.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-637" title="chika-33" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2009/07/chika-33-300x292.jpg" alt="chika-33" width="300" height="292" /></a></p>
<p><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2009/07/chika-34.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-638" title="chika-34" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2009/07/chika-34-300x225.jpg" alt="chika-34" width="300" height="225" /></a></p>
<p><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2009/07/chika-35.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-639" title="chika-35" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2009/07/chika-35-225x300.jpg" alt="chika-35" width="225" height="300" /></a></p>
<p><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2009/07/chika-36.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-640" title="chika-36" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2009/07/chika-36-300x225.jpg" alt="chika-36" width="300" height="225" /></a></p>
<p><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2009/07/chika-37.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-641" title="chika-37" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2009/07/chika-37-300x225.jpg" alt="chika-37" width="300" height="225" /></a></p>
<p><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2009/07/chika-38.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-642" title="chika-38" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2009/07/chika-38-300x225.jpg" alt="chika-38" width="300" height="225" /></a></p>
<p><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2009/07/chika-39.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-643" title="chika-39" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2009/07/chika-39-225x300.jpg" alt="chika-39" width="225" height="300" /></a></p>
<p><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2009/07/chika-40.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-644" title="chika-40" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2009/07/chika-40-225x300.jpg" alt="chika-40" width="225" height="300" /></a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ceritasex.cn/koleksi-foto-bugil-chika-part-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ganasnya Gairah Birahi Tanteku</title>
		<link>http://www.ceritasex.cn/ganasnya-gairah-birahi-tanteku/</link>
		<comments>http://www.ceritasex.cn/ganasnya-gairah-birahi-tanteku/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 17 Jul 2009 20:37:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cerita Sex</dc:creator>
				<category><![CDATA[Daun Muda]]></category>
		<category><![CDATA[Paruh baya]]></category>
		<category><![CDATA[Sedarah]]></category>
		<category><![CDATA[Tante Girang]]></category>
		<category><![CDATA[abg]]></category>
		<category><![CDATA[birahi]]></category>
		<category><![CDATA[cuki]]></category>
		<category><![CDATA[emut]]></category>
		<category><![CDATA[emut kontol]]></category>
		<category><![CDATA[gairah]]></category>
		<category><![CDATA[ml]]></category>
		<category><![CDATA[ngentot]]></category>
		<category><![CDATA[nikmat]]></category>
		<category><![CDATA[sedot kontol]]></category>
		<category><![CDATA[seks]]></category>
		<category><![CDATA[sepong]]></category>
		<category><![CDATA[sepong kontol]]></category>
		<category><![CDATA[tante]]></category>
		<category><![CDATA[tante yus]]></category>
		<category><![CDATA[tante yustina]]></category>
		<category><![CDATA[vivi]]></category>
		<category><![CDATA[yustina]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ceritasex.cn/?p=622</guid>
		<description><![CDATA[Sesaat lamanya aku hanya berdiri di depan pintu gerbang sebuah rumah mewah tetapi berarsitektur gaya Jawa kuno. Hampir separuh bagian rumah di depanku itu adalah terbuat dari kayu jati tua yang super awet. Di depan terdapat sebuah pendopo kecil dengan lampu gantung kristalnya yang antik. Lantai keramik dan halaman yang luas dengan pohon-pohon perindangnya yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Sesaat lamanya aku hanya berdiri di depan pintu gerbang sebuah rumah mewah tetapi berarsitektur gaya Jawa kuno. Hampir separuh bagian rumah di depanku itu adalah terbuat dari kayu jati tua yang super awet. Di depan terdapat sebuah pendopo kecil dengan lampu gantung kristalnya yang antik. Lantai keramik dan halaman yang luas dengan pohon-pohon perindangnya yang tumbuh subur memayungi seantero lingkungannya. Aku masih ingat, di samping rumah berlantai dua itu terdapat kolam ikan Nila yang dicampur dengan ikan Tombro, Greskap, dan Mujair. Sementara ikan Geramah dipisah, begitu juga ikan Lelenya. Dibelakang sana masih dapat kucium adanya peternakan ayam kampung dan itik. Tante Yustina memang seorang arsitek kondang dan kenamaan.</p>
<p style="text-align: justify;">Enam tahun aku tinggal di sini selama sekolah SMU sampai D3-ku, sebelum akhirnya aku lulus wisuda pada sebuah sekolah pelayaran yang mengantarku keliling dunia. Kini hampir tujuh tahun aku tidak menginjakkan kakiku di sini. Sama sekali tidak banyak perubahan pada rumah Tante Yus. Aku bayangkan pula si Vivi yang dulu masih umur lima tahun saat kutinggalkan, pasti kini sudah besar, kelas enam SD.</p>
<p style="text-align: justify;">Kulirik jarum jam tanganku, menunjukkan pukul 23:35 tepat. Masih sesaat tadi kudengar deru lembut taksi yang mengantarku ke desa Kebun Agung, sleman yang masih asri suasana pedesaannya ini. Suara jangkrik mengiringi langkah kakiku menuju ke pintu samping. Sejenak aku mencari-cari dimana dulu Tante Yus meletakkan anak kuncinya. Tanganku segera meraba-raba ventilasi udara di atas pintu samping tersebut. Dapat. Aku segera membuka pintu dan menyelinap masuk ke dalam.</p>
<p style="text-align: justify;">Sejenak aku melepas sepatu ket dan kaos kakinya. Hmm, baunya harum juga. Hanya remang-remang ruangan samping yang ada. Sepi. Aku terus saja melangkah ke lantai dua, yang merupakan letak kamar-kamar tidur keluarga. Aku dalam hati terus-menerus mengagumi figur Tante Yus. Walau hidup menjada, sebagai single parents, toh dia mampu mengurusi rumah besar karyanya sendiri ini. Lama sekali kupandangi foto Tante Yus dan Vivi yang di belakangnya aku berdiri dengan lugunya. Aku hanya tersenyum.</p>
<p style="text-align: justify;">Kuperhatikan celah di bawah pintu kamar Vivi sudah gelap. Aku terus melangkah ke kamar sebelahnya. Kamar tidur Tante Yus yang jelas sekali lampunya masih menyala terang. Rupanya pintunya tidak terkunci. Kubuka perlahan dan hati-hati. Aku hanya melongo heran. Kamar ini kosong melompong. Aku hanya mendesah panjang. Mungkin Tante Yus ada di ruang kerjanya yang ada di sebelah kamarnya ini. Sebentar aku menaruh tas ransel parasit dan melepas jaket kulitku. Berikutnya kaos oblong Jogja serta celana jeans biruku. Kuperhatikan tubuhku yang hitam ini kian berkulit gelap dan hitam saja. Tetapi untungnya, di tempat kerjaku pada sebuah kapal pesiar itu terdapat sarana olah raga yang komplit, sehingga aku kian tumbuh kekar dan sehat.<br />
<span id="more-622"></span><br />
Tidak perduli dengan kulitku yang legam hitam dengan rambut-rambut bulu yang tumbuh lebat di sekujur kedua lengan tangan dan kakiku serta dadaku yang membidang sampai ke bawahnya, mengelilingi pusar dan terus ke bawah tentunya. Air. Ya aku hanya ingin merasakan siraman air shower dari kamar mandi Tante Yus yang bisa hangat dan dingin itu.<br />
Aku hendak melepas cawat hitamku saat kudengar sapaan yang sangat kukenal itu dari belakangku, &#8220;Andrew..? Kaukah itu..?&#8221;
</p>
<p style="text-align: justify;">Aku segera memutar tubuhku. Aku sedikit terkejut melihat penampilan Tante Yus yang agak berbeda. Dia berdiri termangu hanya mengenakan kemeja lengan panjang dan longgar warna putih tipis tersebut dengan dua kancing baju bagian atasnya yang terlepas. Sehingga aku dapat melihat belahan buah dadanya yang kuakui memang memiliki ukuran sangat besar sekali dan sangat kencang, serta kenyal. Aku yakin, Tante Yus tidak memakai BH, jelas dari bayangan dua bulatan hitam yang samar-samar terlihat di ujung kedua buah dadanya itu. Rambutnya masih lebat dipotong sebatang bahunya. Kulit kuning langsat dan bersih sekali dengan warna cat kukunya yang merah muda.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Ngg.., selamat malam Tante Yus&#8230; maaf, keponakanmu ini datang dan untuk berlibur di sini tanpa ngebel dulu. Maaf pula, kalau tujuh tahun lamanya ini tidak pernah datang kemari. Hanya lewat surat, telpon, kartu pos, e-mail.., sekali lagi, saya minta maaf Tante. Saya sangat merindukan Tante..!&#8221; ucapku sambil kubiarkan Tante Yus mendekatiku dengan wajah haru dan senangnya.<br />
&#8220;Ouh Andrew&#8230; ouh..!&#8221; bisik Tante Yus sambil menubrukku dan memelukku erat-erat sambil membenamkan wajahnya pada dadaku yang membidang kasar oleh rambut.<br />
Aku sejenak hanya membalas pelukannya dengan kencang pula, sehingga dapat kurasakan desakan puting-puting dua buah dadanya Tante Yus.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Kau pikir hanya kamu ya, yang kangen berat sama Tante, hmm..? Tantemu ini melebihi kangennya kamu padaku. Ngerti nggak..? Gila kamu Andrew..!&#8221; imbuhnya sambil memandangi wajahku sangat dekat sekali dengan kedua tangannya yang tetap melingkarkan pada leherku, sambil kemudian memperhatikan kondisi tubuhku yang hanya bercawat ini.<br />
Tante Yustina tersenyum mesra sekali. Aku hanya menghapus air matanya. Ah Tante Yus&#8230;<br />
&#8220;Ya, untuk itulah aku minta maaf pada Tante&#8230;&#8221;<br />
&#8220;Tentu saja, kumaafkan..&#8221; sahutnya sambil menghela nafasnya tanpa berkedip tetap memandangiku, &#8220;Kamu tambah gagah dan ganteng Andrew. Pasti di kapal, banyak crew wanita yang bule itu jatuh cinta padamu. Siapa pacarmu, hmm..?&#8221;<br />
&#8220;Belum punya Tan. Aku masih nabung untuk membina rumah tangga dengan seorang, entah siapa nanti. Untuk itu, aku mau minta Tante bikinkan aku desain rumah&#8230;&#8221;<br />
&#8220;Bayarannya..?&#8221; tanya Tante Yus cepat sambil menyambar mulutku dengan bibir tipis Tante Yus yang merah.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku terkejut, tetapi dalam hati senang juga. Bahkan tidak kutolak Tante Yus untuk memelukku terus menerus seperti ini. Tapi sialnya, batang kemaluanku mulai merinding geli untuk bangkit berdiri. Padahal di tempat itu, perut Tante Yus menekanku. Tentu dia dapat merasakan perubahan kejadiannya.<br />
&#8220;Aku&#8230; ngg&#8230;&#8221;<br />
&#8220;Ahh, kamu Andrew. Tante sangat kangen padamu, hmm&#8230; ouh Andrew&#8230; hmm..!&#8221; sahut Tante Yus sambil menerkam mulutku dengan bibirnya.<br />
Aku sejenak terkejut dengan serbuan ganas mulut Tante Yus yang kian binal melumat-lumat mulutku, mendasak-desaknya ke dalam dengan buas. Sementara jemari kedua tangannya menggerayangi seluruh bagian kulit tubuhku, terutama pada bagian punggung, dada, dan selangkanganku. Tidak karuan lagi, aku jadi terangsang. Kini aku berani membalas ciuman buas Tante Yus. Nampaknya Tante Yus tidak mau mengalah, dia bahkan tambah liar lagi. Kini mulut Tante Yus merayap turun ke bawah, menyusuri leherku dan dadaku. Beberapa cupangan yang meninggalkan warna merah menghiasi pada leher dan dadaku. Kini dengan liar Tante Yus menarik cawatku ke bawah setelah jongkok persis di depan selangkanganku yang sedikit terbuka itu. Tentu saja, batang kemaluanku yang sebenarnya telah meregang berdiri tegak itu langsung memukul wajahnya yang cantik jelita.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Ouh, gila benar. Tititmu sangat besar dan kekar, An. Ouh&#8230; hmmm..!&#8221; seru bergairah Tante Yus sambil memasukkan batang kejantananku ke dalam mulutnya, dan mulailah dia mengulum-ngulum, yang seringkali dibarengi dengan mennyedot kuat dan ganas.<br />
Sementara tangan kanannya mengocok-ngocok batang kejantananku, sedang jemari tangan kirinya meremas-remas buah kemaluanku. Aku hanya mengerang-ngerang merasakan sensasi yang nikmat tiada taranya. Bagaimana tidak, batang kemaluanku secara diam-diam di tempat kerjaku sana, kulatih sedemikian rupa, sehingga menjadi tumbuh besar dan panjang. Terakhir kuukur, batang kejantanan ini memiliki panjang 25 sentimeter dengan garis lingkarnya yang hampir 20 senti. Rambut kemaluan sengaja kurapikan.
</p>
<p style="text-align: justify;">Tante Yus terus menerus masih aktif mengocok-ngocok batang kemaluanku. Remasan pada buah kemaluanku membuatku merintih-rintih kesakitan, tetapi nikmat sekali. Bahkan dengan gilanya Tante Yus kadangkala memukul-mukulkan batang kemaluanku ini ke seluruh permukaan wajahnya. Aku sendiri langsung tidak mampu menahan lebih lama puncak gairahku. Dengan memegangi kepala Tante Yus, aku menikam-nikamkan batang kejantananku pada mulut Tante Yus. Tidak karuan lagi, Tante Yus jadi tersendak-sendak ingin muntah atau batuk. Air matanya malah telah menetes, karena batang kejantananku mampu mengocok sampai ke tenggorokannya.</p>
<p style="text-align: justify;">Pada satu kesempatan, aku berhasil mencopot kemejanya. Aku sangat terkejut saat melihat ukuran buah dadanya. Luar biasa besarnya. Keringat benar-benar telah membasahi kedua tubuh kami yang sudah tidak berpakaian lagi ini. Dengan ganas, kedua tangan Tante Yus kini mengocok-ngocok batang kemaluanku dengan genggamannya yang sangat erat sekali. Tetapi karena sudah ada lumuran air ludah Tante Yus, kini jadi licin dan mempercepat proses ejakulasiku.<br />
&#8220;Crooot&#8230; cret.. croot&#8230; creeet..!&#8221; menyemprot air maniku pada mulut Tante Yus.<br />
Saat spremaku muncrat, Tante Yus dengan lahap memasukkan batang kemaluanku kembali ke dalam mulutnya sambil mengurut-ngurutnya, sehingga sisa-sisa air maniku keluar semua dan ditelan habis oleh Tante Yus.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Ouhh&#8230; ouh.. auh Tante&#8230; ouh..!&#8221; gumamku merasakan gairahku yang indah ini dikerjai oleh Tante Yus.<br />
&#8220;Hmmm&#8230; Andrew&#8230; ouh, banyak sekali air maninya. Hmmm.., lezaat sekali. Lezat. Ouh&#8230; hmmm..!&#8221; bisik Tante Yus menjilati seluruh bagian batang kemaluanku dan sisa-sisa air maninya.<br />
Sejenak aku hanya mengolah nafasku, sementara Tante Yus masih mengocok-ngocok dan menjilatinya.<br />
&#8220;Ayo, Andrew&#8230; kemarilah Sayang.., kemarilah Baby..!&#8221; pintanya sambil berbaring telentang dan membuka kedua belah pahanya lebar-lebar.
</p>
<p style="text-align: justify;">Aku tanpa membuang waktu lagi, terus menyerudukkan mulutku pada celah vagina Tante Yus yang merekah ingin kuterkam itu. Benar-benat lezat. Vagina Tante Yus mulai kulumat-lumat tanpa karuan lagi, sedangkan lidahku menjilat-jilat deras seluruh bagiang liang vaginanya yang dalam. Berulang kali aku temukan kelentitnya lewat lidahku yang kasar. Rambut kemaluan Tante Yus memang lebat dan rindang. Cupangan merah pun kucap pada seluruh bagian daging vagina Tante Yus yang menggairahkan ini. Tante Yus hanya menggerinjal-gerinjal kegelian dan sangat senang sekali nampaknya. Kulirik tadi, Tante Yus terus-menerus melakukan remasan pada buah dadanya sendiri sambil sesekali memelintir puting-putingnya. Berulang kali mulutnya mendesah-desah dan menjerit kecil saat mulutku menciumi mulut vaginanya dan menerik-narik daging kelentitnya.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Ouh Andrew&#8230; lakukan sesukamu.. ouh.., lakukan, please..!&#8221; pintanya mengerang-erang deras.<br />
Selang sepuluh menit kemuadian, aku kini merayap lembut menuju perutnya, dan terus merapat di seluruh bagian buah dadanya. Dengan ganas aku menyedot-nyedot puting payudaranya. Tetapi air susunya sama sekali tidak keluar, hanya puting-puting itu yang kini mengeras dan memanjang membengkak total. Di buah dadanya ini pula aku melukiskan cupanganku banyak sekali. Berulang kali jemariku memilin-milin gemas puting-puting susu Tante Yus secara bergantian, kiri kanan. Aku kini tidak tahan lagi untuk menyetubuhi Tanteku. Dengan bergegas, aku membimbing masuk batang kemaluanku pada liang vaginanya.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Ooouhkk.. yeaaah&#8230; ayoo.. ayooo&#8230; genjot Andrew..!&#8221; teriak Tante Yus saat merasakan batang kejantananku mulai menikam-nikam liar mulut vaginanya.<br />
Sambil menopang tubuhku yang berpegangan pada buah dadanya, aku semakin meningkatkan irama keluar masuk batang kemaluanku pada vagina Tante Yus. Wanita itu hanya berpegangan pada kedua tanganku yang sambil meremas-remas kedua buah dadanya.<br />
&#8220;Blesep&#8230; sleeep&#8230; blesep..!&#8221; suara senggama yang sangat indah mengiringi dengan alunan lembut.<br />
Selang dua puluh menit puncak klimaks itu kucapai dengan sempurna, &#8220;Creeet&#8230; croot&#8230; creeet..!&#8221;<br />
&#8220;Ouuuhhhkk.. aooouhkk&#8230; aaahhk..,&#8221; seru Tante Yus menggelepar-gelepar lunglai.<br />
&#8220;Tante&#8230; ouhhh..!&#8221; gumamku merasakan keletihanku yang sangat terasa di seluruh bagian tubuhku.<br />
Dengan batang kemaluan yang masih tetap menancap erat pada vagiana Tante Yus, kami jatuh tertidur. Tante Yus berada di atasku.
</p>
<p style="text-align: justify;">Karena kelelahanku yang sangat menguasai seluruh jaringan tubuhku, aku benar-benar mampu tertidur dengan pulas dan tenang. Entah sudah berapa lama aku tertidur pulas, yang jelas saat kubangun udara dingin segera menyergapku. Sial. Aku sadar, ini di desa dekat Merapi, tentu saja dingin. Tidak berapa lama jam dinding berdentang lima sampai enam kali. Jam enam pagi..! Dengan agak malas aku beranjak berdiri, tetapi tidak kulihat Tante Yus ada di kamar ini. Sepi dan kosong. Dimana dia..? Aku terus mencoba ingin tahu. Dalam keadaan bugil ini, aku melangkah mendekati meja lampu. Secarik kertas kutemukan dengan tulisan dari tangan Tante Yustina.</p>
<p style="text-align: justify;">Andrew sayang, Tante kudu buru-buru ke Jakarta pagi ini. Udah dijemput. Ada pameran di sana. Tolong jaga rumah dan Vivi. Ttd, Yustina.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku menghela nafas dalam-dalam. Gila, setelah menikmati diriku, dia minggat. Tetapi tidak apa-apa, aku dapat beristirahat total di sini, ditemani Vivi. Eh, tapi dimana dia..? Aku segera mengambil selembar handuk putih kecil yang segera kulilitkan pada tubuh bawahku. Tanpa membuang waktu lagi aku segera menyusuri rumah, dari ruang ke ruang dari kamar ke kamar. Tetapi sosok bocah SD itu tidak kelihatan sama sekali. Aku hampir putus asa, tetapi mendadak aku mendengar suara gemericik air pancuran dari kamar mandi ruang tamu di depan sana. Vivi. Ya itu pasti dia. Aku segera memburu.</p>
<p style="text-align: justify;">Kubuka pintu kamar tamu yang luas dan asri ini. Benar. Kulihat pintu kamar mandinya tidak ditutup, ada bayangan orang di situ yang sedang mandi sambil bernyanyi melagukan Westlife. Edan, anak SD nyanyinya begitu. Aku hanya tersenyum saja. Perlahan aku mendekati gawang pintu. Aku seketika hanya menelan ludahku sendiri. Vivi berdiri membelakangiku masih asyik bergoyang-goyang sambil menggosok seluruh tubuhnya yang telanjang bulat itu dengan sabun. Rambut panjangnya tumbuh lurus dan hitam sebatas pinggang. Berkulit kuning langsat dan nampaknya halus sekali. Kusadari dia telah tumbuh lebih dewasa.</p>
<p style="text-align: justify;">Air shower masih menyiraminya dengan hangat. Pantatnya sungguh indah bergerak-gerak penuh gairah. Hanya aku belum lihat buah dadanya. Tanpa kuduga, Vivi membalikkan badannya. Aku yang melamun, seketika terkejut bukan main, takut dan khawatir membuatnya kaget lalu marah besar. Ternyata tidak.<br />
&#8220;Mas..? Mas Andrew..?&#8221; bertanya Vivi tidak percaya dengan wajah senang bercampur kaget.<br />
Aku hanya menghela nafas lega. Dapat kuperhatikan kini, buah dadanya Vivi telah tumbuh cukup besar. Puting-putingnya hitam memerah kelam dan tampak menonjol indah. Kira-kira buah dadanya ya, sekitar seperti tutup gelas itu. Seperti belum tumbuh, tetapi kok terlihat sudah memiliki daging menonjolnya. Sedangkan rambut kemaluannya sama sekali belum tumbuh. Masih bersih licin.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Hai vivi, apa kabarnya..?&#8221; tanyaku mendekat.<br />
Vivi hanya tersenyum, &#8220;Masih ingat ketika kita renang bersama di rumahku dulu..? Kita berdua kan..? Hmm..?&#8221; sambungku meraih bahunya.<br />
Air terus menyirami tubuhnya, dan kini juga tubuhku. Vivi mengangguk ingat.<br />
&#8220;Ya. Ngg.., bagaimana kalau kita mandi bareng lagi Mas. Vivi kangen&#8230; mas andrew.. ouh..!&#8221; ujarnya memeluk pinggangku.<br />
Aku mengangkut tubuhnya yang setinggi dadaku ini dengan erat.<br />
&#8220;Tentu saja, yuk..!&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Aku menurunkan Vivi.<br />
&#8220;Kapan Mas datangnya..?&#8221;<br />
&#8220;Tadi malam. Vivi lagi tidur ya..?&#8221;<br />
&#8220;Hm.. Mh..!&#8221;<br />
Aku melepas handukku yang kini basah. Saat kulepas handukku, Vivi tampak kaget melihat rambut kemaluanku yang tumbuh rapih. Segera saja tangannya menjamah buah kemaluan dan bantang kejantananku.<br />
&#8220;Ouh.., Mas sudah punya rambut lebat ya. Vivi belum Mas..,&#8221; ujarnya sambil memperhatikan vaginanya yang kecil.<br />
Tentu saja aku jadi geli, batang kemaluanku diraba-raba dan ditimang-timang jemari tangan mungil Vivi yang nakal ini.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Itu karena Vivi masih kecil. Nanti pasti juga memiliki rambut kemaluan. Hmm..?&#8221; ucapku sambil membelai wajahnya yang manis sekali.<br />
Vivi hanya tersipu. Sialnya, aku kini jadi kian geli saat Vivi menarik-narik batang kejantananku dengan candanya.<br />
&#8220;Ihhh.., kenyal sekali&#8230; ouh.., seperti belalai ya Mas..!&#8221;<br />
Aku jadi terangsang. Gila.<br />
&#8220;Belalai ini bisa akan jadi tumbuh besar dan panjang lho. Vivi mau lihat..?&#8221;<br />
&#8220;Iya Mas.., gimana tuh..?&#8221;<br />
&#8220;Vivi mesti mengulum, menghisap-hisap dan menyedotnya dengan kuat sekali batang zakar ini. Gimana..? Enak kok..!&#8221; kataku merayu dengan hati yang berdebar-debar kencang.<br />
Vivi sejenak berpikir, lalu tanpa menoleh ke arahku lagi, dia memasukkan ujung batang kejantananku ke dalam mulutnya. Wow..! Gadis kecil ini langsung melakukan perintahku, lebih-lebih aku mengarahkan juga untuk mengocok-ngocok batang kemaluanku ini, Vivi menurut saja, dia malah kegirangan senang sekali. Dianggapnya batang ku adalah barang mainan baginya.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Iya Mas. Tambah besar sekali dan panjang..!&#8221; serunya kembali melumat-lumatkan batang kejantananku dan mengocok keras batangnya.<br />
Sekarang Vivi kuajari lagi untuk meremas buah kemaluanku. Aku membayangkan semua itu bahwa Tante Yus yang melakukan. Indah sekali sensasinya. Tetapi nyatanya aku tengah dipompa nafsu seksku dari bocah cilik ini. Edan, sepupuku lagi. Tetapi apa boleh buat. Aku lagi kebelet sekali kini. Yang ada hanyalah Vivi yang lugu dan bodoh tetapi mengasyikan sekali. Batang kejantananku kini benar-benar telah tumbuh sempurna keras dan panjangnya. Vivi kian senang. Aku kian tidak tahan.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Teruskan Vi, teruskan&#8230; ya.., ya&#8230; lebih keras dan kenceng&#8230; lakukanlah Sayang..!&#8221; perintahku sambil mengerang-erang.<br />
Setelah hampir lima belas menit kemudian, air maniku muncrat tepat di dalam mulut Vivi yang tengah menghisap batang kemaluanku.<br />
&#8220;Creeet&#8230; crooot.. creet.. cret..!&#8221;<br />
&#8220;Hup.. mhhhp..!&#8221; teriak kaget Vivi mau melepaskan batang kemaluanku.<br />
Tetapi secepat itu pula dia kutahan untuk tetap memasukkan batang kemaluanku di dalam mulutnya.<br />
&#8220;Telan semua spermanya Vi. Itu namanya sperma. Enak sekali kok, bergizi tinggi. Telan semuanya, ya.. yaaa&#8230; begitu&#8230; terus bersihkan sisa-sisanya dari batangnya Mas..!&#8221; perintahku yang dituruti dengan sedikit enggan.<br />
Tetapi lama kelamaan Vivi tampak keasyikan mencari-cari sisa air maniku.<br />
&#8220;Enak sekali Mas. Tapi kental dan baunya, hmm.., seperti air tajin saat Mama nanak nasi..! Enak pokoknya..! Lagi dong Mas, keluarkan spermanya..!&#8221;<br />
Gila. Gila betul. Aku masih mencoba mengatur jalannya nafasku, Vivi minta spermaku lagi..? Edan anak ini.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Baik, tapi kini Vivi ikuti perintahku ya..! Nanti tambah asyik, tapi sakit. Gimana..?&#8221;<br />
&#8220;Kalau enak dan asyik, mauh. Nggak papa sakit dikit. Tapi spermanya ada lagi khan..?&#8221;<br />
Aku mengangguk. Vivi mulai kubaringkan sambil kubuka kedua belahan pahanya yang mulus itu untuk melingkari di pinggangku. Vivi memperhatikan saja. Air dari shower masih mengucuri kami dengan dingin setelah tadi sempat kuganti ke arah cool.<br />
&#8220;Auuuh, aduh.. Mas..!&#8221; teriak vivi kaget saat aku memasukkan batang kejantananku ke dalam liang vaginanya yang jelas-jelas sangat sempit itu.<br />
Tetapi aku tidak perduli lagi. Kukocok vagina Vivi dengan deras dan kencang sambil kuremas-remas buah dadanya yang kecil, serta menarik-narik puting-puting buah dadanya dengan gemas sekali. Vivi semakin menjerit-jerit kesakitan dan tubuhnya semakin menggerinjal-gerinjal hebat.<br />
&#8220;Sakiiit.. auuuh Mas.., Mas hentikan saja&#8230; sakiiit, perih sekali Mas, periiihhh&#8230; ouuuh akkkh&#8230; aouuuhkkk..!&#8221; menjerit-jerit mulut manisnya itu yang segera saja kuredam dengan melumat-lumat mulutnya.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Blesep.. blesep&#8230; slebb..!&#8221; suara persetubuhkan kami kian indah dengan siraman shower di atas kami.<br />
Aku semakin edan dan garang. Gerakan tubuhku semakin kencang dan cepat. Dapat kurasakan gesekan batang kemaluanku yang berukuran raksasa ini mengocok liang vaginan Vivi yang super rapat sempitnya. Dari posisi ini, aku ganti dengan posisi Vivi yang menungging, aku menyodok vaginanya dari belakang. Lalu ke posisi dia kupangku, sedangkan aku yang bergerak mengguncangkan tubuhnya naik, lalu kuterima dengan menikam ke atas menyambut vaginanya yang melelehkan darah.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Tidak Masss&#8230; ouh sakit.. uhhk&#8230; huuuk&#8230; ouhhh&#8230; sakiiit..!&#8221; tangisnya sejadi-jadinya.<br />
Tetapi aku tidak perduli, sepuluh posisi kucobakan pada tubuh bugil mungil Vivi. Bahkan Vivi nyaris pingsan. Tetapi disaat gadis itu hendak pingsan, puncak ejakulasiku datang.<br />
&#8220;Creeet&#8230; crooot.. sreeet&#8230; crreeet..!&#8221; muncratnya air mani yang memenuhi liang vaginanya Vivi bercampur dengan darahnya.<br />
Vivi jatuh pingsan. Aku hanya mengatur nafasku saja yang tidak karuan. Lemas. Vivi pingsan saat aku memasangkan kembali batang kemaluanku ke posisi dia, kugendong di depan dengan dadanya merapat pada dadaku. Pelan-pelan kujatuh menggelosor ke bawah dengan batang kemaluanku yang masih menancap erat di vaginanya.
</p>
<p style="text-align: justify;">Itulah pengalamanku dengan Tante Yus dan putrinya Vivi yang keduanya memang binal itu. Teriring salam untuk Vivi.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ceritasex.cn/ganasnya-gairah-birahi-tanteku/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Adik Suami, Pemuas Nafsuku Part 1 (True Story)</title>
		<link>http://www.ceritasex.cn/adik-suami-pemuas-nafsuku-part-1-true-story/</link>
		<comments>http://www.ceritasex.cn/adik-suami-pemuas-nafsuku-part-1-true-story/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 17 Jul 2009 20:27:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cerita Sex</dc:creator>
				<category><![CDATA[Paruh baya]]></category>
		<category><![CDATA[Tante Girang]]></category>
		<category><![CDATA[kisah nyata]]></category>
		<category><![CDATA[selingkuh]]></category>
		<category><![CDATA[cuki]]></category>
		<category><![CDATA[emut kontol]]></category>
		<category><![CDATA[incest]]></category>
		<category><![CDATA[istri]]></category>
		<category><![CDATA[milf]]></category>
		<category><![CDATA[ngentot]]></category>
		<category><![CDATA[ngentot ipar]]></category>
		<category><![CDATA[seks hubungan darah]]></category>
		<category><![CDATA[susu]]></category>
		<category><![CDATA[susu besar]]></category>
		<category><![CDATA[wita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ceritasex.cn/?p=616</guid>
		<description><![CDATA[Pengalaman nyata ini terjadi kurang lebih 19 tahun yang lalu. Panggil saja aku Wita (nama samaran). Saat itu usiaku 24 tahun dan sudah mempunyai 2 anak yang masih balita. Untuk mengisi waktu aku bekerja sebagai salah satu manager pada perusahaan yang berkantor di kawasan Kebayoran Baru. Banyak orang mengatakan diriku cantik. Dengan tinggi badan 161 [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Pengalaman nyata ini terjadi kurang lebih 19 tahun yang lalu. Panggil saja aku Wita (nama samaran). Saat itu usiaku 24 tahun dan sudah mempunyai 2 anak yang masih balita. Untuk mengisi waktu aku bekerja sebagai salah satu manager pada perusahaan yang berkantor di kawasan Kebayoran Baru. Banyak orang mengatakan diriku cantik. Dengan tinggi badan 161 cm, berat badan 48 kg aku masih kelihatan seperti gadis remaja.</p>
<p style="text-align: justify;">Sejak masih remaja nafsu seksku memang tinggi. Keperawananku telah direnggut oleh seorang pria mantan pacar pertamaku, saat aku berusia 17 tahun. Semasa pacaran dengan suamiku yang sekarang, sebut saja namanya Zali, kami berdua telah sering melakukan hubungan seks. Untungnya hubungan seks yang cukup kami berdua lakukan sebelum menikah itu tidak sampai membuahkan hasil. Aku bersyukur walau Zali mendapatkan diriku yang sudah tidak perawan lagi, ia tetap bertanggung jawab menikahiku.</p>
<p style="text-align: justify;">Kecintaan suami terhadap kedua orang tuanya, menyebabkan kami sekeluarga tinggal di rumah mertua. Di rumah mertua juga masih tinggal empat orang adik ipar, dimana dua diantaranya adalah adik ipar laki-laki yang sudah dewasa. Pekerjaan yang digeluti suami, menyebabkan suamiku sering melakukan tugas dinas ke luar kota.</p>
<p style="text-align: justify;">Suatu hari, sekitar bulan Mei, suamiku mendapat tugas ke daerah untuk jangka waktu dua bulan. Beberapa hari sebelum keberangkatannya, tanpa diduga ia bertanya kepadaku, &#8220;Mam, seandainya Papa pergi untuk waktu yang cukup lama, apakah Mama tahan nggak ngeseks?&#8221; Aku terkejut mendengar pertanyaan suamiku itu, &#8220;Nggak lah Pap..&#8221; Namun suamiku tetap mendesakku, dan selanjutnya berkata, &#8220;Papa nggak keberatan kok jika Mama mau selingkuh dengan pria lain, asalkan Mama mau dan pria itu sehat, Papa mengenalnya dan Mama jujur.&#8221;  Aku menjawab, &#8220;Mana mungkin lah Pap, siapa sih yang mau sama aku.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Kemudian suamiku menawarkan beberapa nama antara lain bosku, teman-teman prianya dan terakhir salah satu adik kandungnya (sebut saja namanya Ary, usianya lebih muda satu tahun dariku). Walaupun aku mencoba mengelak untuk menjawabnya, ternyata suamiku tetap merayuku untuk berselingkuh dengan pria lain. Pada akhirnya ia menawarkan aku untuk berselingkuh dengan Ary. Terus terang, Ary memang adik iparku yang paling ganteng bahkan lebih ganteng dari suamiku. Selain itu, Ary sering membantuku dan dekat dengan kedua anakku. Perasaanku agak berdebar mendengar tawaran ini dan saat itu pikiranku tergoda dan mengkhayal jika hal ini benar-benar terjadi.<br />
<span id="more-616"></span><br />
Kemudian aku mencoba mencari tahu alasan suami menawarkan adiknya, Ary, sebagai pasangan selingkuhku. Tanpa kuduga dan bak halilintar di tengah hari bolong, suamiku bercerita bahwa sebelumnya tanpa sepengetahuanku ia pernah berselingkuh dengan adik kandungku yang berusia 19 tahun saat adikku tinggal bersama kami di kota M. Pengakuan suamiku itu menimbulkan kemarahanku. Kuberondong suamiku dengan beberapa pertanyaan, kenapa tega berbuat itu dan apa alasannya. Dengan memohon maaf dan memohon pengertianku, suamiku memberikan alasan bahwa hal itu dilakukan selain karena lupa diri, juga sebenarnya untuk menebus kekecewaannya karena tidak mendapatkan perawanku pada malam pengantin. Aku mencoba menanggapi alasannya, &#8220;Kenapa Papa dulu mau menikahiku..&#8221; Suamiku hanya menjawab bahwa ia benar-benar mencintaiku. Mendengar alasan tersebut, aku terdiam dan dapat menerima kenyataan itu, walau yang agak kusesalkan kenapa ia lakukan dengan adik kandungku. Selanjutnya suamiku berkata, &#8220;Itulah Mam mengapa Papa menawarkan Ary sebagai teman selingkuh Mama, tak lain sebagai penebus kesalahan Papa dan juga agar skor menjadi 1-1,&#8221; sambil ia memeluk dan menciumiku dengan penuh kasih sayang.
</p>
<p style="text-align: justify;">Aku mencoba merenung, dan dalam benakku muncul niat untuk melakukannya. Pertama, jelas aku menuruti harapan suami. Kedua, kenapa kesempatan itu harus kusia-siakan, karena selain ada ijin dari suami, juga akan ada pria lain yang mengisi kesepianku, lebih-lebih dapat memenuhi kebutuhan seksku yang selalu menggebu-gebu dan sangat tinggi. Sempat kubayangkan wajah Ary yang selama ini kuketahui masih perjaka. Ketampanannya yang ditunjang oleh fisiknya yang tegap dan gagah. Kubayangkan tentunya akan sangat membahagiakan diriku. Bermodalkan khayalan ini kuberanikan berkata kepada suamiku, &#8220;Boleh aja Pap, asal Ary mau..&#8221; Mendengar perkataanku tersebut, suamiku langsung memelukku dan akhirnya kami berdua melanjutkan permainan seks yang sangat memuaskan.</p>
<p style="text-align: justify;">Sehari setelah suamiku berangkat ke luar kota, aku mulai berpikir mencari strategi bagaimana mendekati Ary. Selain memancing perhatian Ary di rumah, kutemukan jalan keluar yaitu minta tolong dijemput pulang dari kantor. Waktu kerja di kantorku dibagi dalam dua shift, yaitu shift pagi (08:00 &#8211; 14:30) dan shift siang (14:30 &#8211; 21:00). Rute pengantaran selalu berganti-ganti, karenanya jika aku mendapat giliran terakhir, pasti sampai rumah agak terlambat. Hal ini aku keluhkan kepada kedua mertuaku. Mendengar keluhanku ini, kedua mertuaku menyarankan agar setiap kali pulang dari dinas siang, tidak perlu ikut mobil antaran, nanti Ary yang akan disuruh menjemputku. Hatiku begitu gembira mendengar saran ini, karena inilah yang kutunggu-tunggu untuk lebih dekat pada Ary. Sampai kedua kali Ary datang menjemputku dengan motornya, sikapnya padaku masih biasa-biasa saja, walau dalam perjalanan pulang di atas motor, kupeluk erat-erat pinggangnya dan sekali-kali sengaja kusentuh penisnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Suatu hari, pembantu rumah tanggaku terserang penyakit. Karena aku dinas siang, mertuaku menyuruhku membawanya ke rumah sakit bersama Ary. Sambil menunggu giliran pembantuku dipanggil dokter, aku dan Ary mengobrol. Dalam obrolan itu, Ary menanyakan beberapa hal antara lain berapa lama suamiku dinas di luar kota, dan apa aku tidak kesepian ditinggal cukup lama. Pertanyaan terakhir ini cukup mengejutkan diriku, dan bertanya sendiri dalam hati apa maksudnya. Tanpa sungkan aku memberanikan diri menjawab untuk memancing reaksinya. &#8220;Yakh sudah tentu kesepian donk Ri, apalagi kalau lama tidak disiram-siram.&#8221; sambil aku tersenyum genit. Entah benar-benar lugu atau berpura-pura, Ary menanggapinya, &#8220;Apanya yang disiram-siram..&#8221; Kujawab saja, &#8220;Masa sih nggak ngerti, ibarat pohon kalau lama nggak disiram bisa layu kan..&#8221; Ary hanya terdiam dan tidak banyak komentar, namun aku yakin bahwa Ary tentunya mengerti apa yang kuisyaratkan kepadanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Selesai urusan pembantuku, kami semua kembali ke rumah. Seperti biasa jam 14:00 aku sudah dijemput kendaraan kantor. Sekitar jam 16:00 aku menerima telepon dari Ary. Selain mengatakan akan menjemputku pulang, ia juga menyinggung kembali kata-kataku tentang &#8216;siram menyiram&#8217;. Kukatakan padanya, &#8220;Coba aja terjemahkan sendiri..&#8221; Sambil tertawa di telepon, Ary berkata, &#8220;Iya deh nanti Ary yang siram..&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Tepat jam 21:00, Ary sudah datang menjemputku dengan motornya. Dalam perjalanan, kutempelkan tubuhku erat-erat dengan melingkarkan tanganku di pinggangnya. Aku mencoba memancing reaksi Ary dengan menyentuhkan jari-jari tanganku ke penisnya. Kurasakan penisnya menjadi keras. Saat berada di depan Taman Ria Remaja Senayan, Ary membelokan motornya masuk. Aku sedikit kaget, dan mencoba bertanya, &#8220;Ri, kok berhenti di sini sih..?&#8221; Ary menjawab, &#8220;Nggak apa-apa kan, sekali-kali mampir cuci pemandangan, sekalian ngobrol lagi soal siram-siraman.&#8221; Aku mengangguk dan menjawab, &#8220;Iya boleh juga Ri..&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah parkir motor, tanpa sungkan, Ary menggandeng pinggangku sambil berjalan, dan aku tak merasa risih mendapat perlakuan ini. Setelah berhenti sebentar membeli dua cup coca cola dan popcorn, sambil bergandengan aku dibawa Ary ke tempat yang agak gelap dan sepi. Dalam perjalanan, kulihat beberapa pasangan yang sedang asyik masyuk bercinta, yang mebuat nafsu seksku naik.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah mendapat tempat yang strategis, tidak ada orang di kiri kanan, kami berdua duduk bersebelahan dengan rapat. Kemudian Ary membuka pembicaraan dengan kembali mengulangi pertanyaannya. &#8220;Berapa lama Mas Zali tugas di luar kota.?&#8221;<br />
Kujawab, &#8220;Yah.. katanya sih dua bulanan, memang kenapa Ri?<br />
&#8220;Apa Wita nggak akan kesepian begitu cukup lama ditinggal Mas Zali?&#8221; kata Ary.<br />
&#8220;Yah tentunya normal dong kesepian, apalagi nggak disiram-siram.&#8221; kuulangi jawaban yang sama sambil kupandang wajah Ary dengan ekspresi menggoda. Tiba-tiba Ary meletakkan tangannya di pundakku dan dengan beraninya menarik wajahku. Kemudian ia mencium pipi dan melumat bibirku dengan penuh nafsu. Diriku seperti terbang, kulayani lumatan bibirnya dengan penuh nafsu pula. Sambil berciuman, dengan lirih Ary bertanya, &#8220;Oh Wita sangat cantik, boleh nggak Ary mengisi kesepian Wita?&#8221;<br />
Sebagai jawaban kubisikkan di telinganya, &#8220;Oh.. Ri, boleh saja, Wita memang kesepian dan butuh orang yang dapat memuaskan..&#8221;
</p>
<p style="text-align: justify;">Sambil berciuman, tangan Ary membuka kancing bajuku dan memasukkan tangannya di balik kutangku sambil meremas-remas buah dadaku dan memilin-milin puting susuku. Tubuhku menggelinjang menahan rangsangan tangannya. Kemudian tangannya terus turun ke bawah, dari balik rokku dan celana dalamku yang sudah basah, ia memasukkan jari-jari tangannya mempermainkan klitorisku. Nafsuku semakin naik, dengan lirih aku mengerang, &#8220;Oh.. oh Ri, aduh Ary pinter sekali.. oh.. puaskan Wita Ri.. Oh..&#8221; Dengan semangat Ary mempermainkan vaginaku sambil kadang-kadang ia melumat bibirku. Tubuhku terasa terbang menikmati permainan jari-jari tangannya di vaginaku. Kurasakan satu dan akhirnya dua jari Ary masuk ke dalam lubang vaginaku. &#8220;Oh.. Ri.. aduh.. enaknya Ri.. oh terus Ri..&#8221; aku mengerang menahan kenikmatan. Mendengar eranganku, kedua jari tangan Ary makin mengocok lubang vaginaku dengan gerakan yang sangat merangsang. Dan akhirnya, beberapa menit kemudian karena tak tahan, aku mencapai orgasme. &#8220;Oh Ri, aagh.. Wita keluar Ri..&#8221; Kujilati seluruh permukaan wajah Ary dan kulumat bibirnya dengan nafsuku yang masih tinggi. Ary masih tetap memainkan kedua jarinya di dalam vaginaku. Begitu hebatnya permainan kedua jari tangan Ary yang menyentuh daerah-daerah sensitif di dalam lubang vaginaku, membuatku orgasme sampai tiga kali.</p>
<p style="text-align: justify;">Kelihatannya Ary begitu bernafsu dan saat itu ia mengajakku bersetubuh.<br />
&#8220;Wita.. boleh nggak Ary masukkan lontong Ary ke dalam apem Wita?&#8221;<br />
Walau aku sebenarnya juga menginginkannya, namun aku khawatir dan sadar akan bahaya kalau ketahuan satpam Taman Ria. Kujawab saja, &#8220;Jangan di sini Ri, bahaya kalau ketahuan satpam, nanti di rumah saja ya Yang..&#8221;<br />
&#8220;Benar nih jangan bohong ya.. dan bagaimana caranya?&#8221; tanya Ary.<br />
Kujawab saja, &#8220;Nanti kamar nggak dikunci, masuk aja Ri, yang penting jangan ketahuan orang rumah.&#8221;
</p>
<p style="text-align: justify;">Akhirnya Ary setuju dengan tawaranku itu. Mengingat waktu sudah menunjukkan jam 22:10 kami berdua sepakat pulang. Sebelum meninggalkan tempat, sambil berdiri kami berdua berpelukan erat, saling melumat bibir dan lidah. Sambil bergandengan mesra, tanpa khawatir kalau ada orang yang kenal melihatnya, kami berdua berjalan menuju parkir motor. Dalam perjalanan pulang, kupeluk erat tubuh Ary, sambil jari-jari tangan kananku membelai dan meremas-remas lontongnya dari balik celananya.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ceritasex.cn/adik-suami-pemuas-nafsuku-part-1-true-story/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
