<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Cerita sex porno ngentot mesum perek ayam kampus &#187; gangbang</title>
	<atom:link href="http://www.ceritasex.cn/tag/gangbang/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.ceritasex.cn</link>
	<description>Kumpulan cerita sex, foto bugil, dan film porno</description>
	<lastBuildDate>Mon, 26 Jul 2010 07:13:35 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0</generator>
		<item>
		<title>Model Seksi Digarap Dua Lelaki</title>
		<link>http://www.ceritasex.cn/model-seksi-digarap-dua-lelaki/</link>
		<comments>http://www.ceritasex.cn/model-seksi-digarap-dua-lelaki/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 19 Jun 2010 07:14:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cerita Sex</dc:creator>
				<category><![CDATA[Daun Muda]]></category>
		<category><![CDATA[Gangbang Rame Rame]]></category>
		<category><![CDATA[Pemerkosaan]]></category>
		<category><![CDATA[Seks Umum]]></category>
		<category><![CDATA[kisah nyata]]></category>
		<category><![CDATA[anus]]></category>
		<category><![CDATA[cuki]]></category>
		<category><![CDATA[gangbang]]></category>
		<category><![CDATA[ines]]></category>
		<category><![CDATA[model]]></category>
		<category><![CDATA[ngentot]]></category>
		<category><![CDATA[perkosa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ceritasex.cn/?p=1446</guid>
		<description><![CDATA[Aku, seorang model yunior, diperkenalkan oleh temanku pada seorang fotografer ternama supaya aku bisa diorbitkan menjadi model terkenal. Temanku ngasi tau bahwa om Andi, demikian dia biasanya dipanggil, doyan daun muda. Bagiku gak masalah, asal benar2 dia bisa mendongkrak ratingku sehingga menjadi ternama. Om Andi membuat janjian untuk sesi pemotretan di vilanya di daerah Puncak. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Aku, seorang model yunior, diperkenalkan oleh temanku pada seorang fotografer ternama supaya aku bisa diorbitkan menjadi model terkenal. Temanku ngasi tau bahwa om Andi, demikian dia biasanya dipanggil, doyan daun muda. Bagiku gak masalah, asal benar2 dia bisa mendongkrak ratingku sehingga menjadi ternama.</p>
<p style="text-align: justify;">Om Andi membuat janjian untuk sesi pemotretan di vilanya di daerah Puncak. Pagi2 sekali, pada hari yang telah ditentukan, om andi menjemputku. Bersama dia ikut juga asistennya, Joko, seorang anak muda yang cukup ganteng, kira2 seumuran denganku.</p>
<p style="text-align: justify;">Tugas Joko adalah membantu om Andi pada sesi pemotretan. Mempersiapkan peralatan, pencahayaan, sampe pakaian yang akan dikenakan model. Om Andi sangat profesional mengatur pemotretan, mula2 dengan pakaian santai yang seksi, yang menonjolkan lekuk liku tubuhku yang memang bahenol. Pemotretan dilakukan di luar.</p>
<p style="text-align: justify;">Bajunya dengan potongan dada yang rendah, sehingga toketku yang besar montok seakan2 mau meloncat keluar. Joko terlihat menelan air liurnya melihat toketku yang montok. Pasti dia ngaceng keras, karena kulihat di selangkangan jins nya menggembung. Aku hanya membayangkan berapa besar kontolnya, itu membuat aku jadi blingsatan sendiri.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah itu, om Andi mengajakku melihat hasil pemotretan di laptopnya, dia memberiku arahan bagaimana berpose seindah mungkin. Kemudian sesi ke2, dia minta aku mengenakan lingeri yang juga seksi, minim dan tipis, sehingga aku seakan2 telanjang saja mengenakannya. Pentil dan jembutku yang lebat membayang di kain lingerie yang tipis.</p>
<p style="text-align: justify;">Jokopun kayanya gak bisa konsentrasi melihat tubuhku. Aku yakin kon tolnya sudah ngaceng sekeras2nya. Om Andi mengatur gayaku dan mengambil poseku dengan macam2 gaya tersebut. Tengkurap, telentang, ngangkang dan macem2 pose yang seksi2. Kembali om Joko memberiku arahan setelah membahas hasil pemotretannya.</p>
<p style="text-align: justify;">Sekarang sekitar jam 12 siang, om Andi minta Joko untuk membeli makan siang. Sementara itu aku minta ijin untuk istirahat dikolam renang aja. Om Andi memberiku bikini yang so pasti seksi dan minim untuk dikenakan. Tanpa malu2 segera aku mengenakan bikini itu. Benar saja, bikininya minim sehingga hanya sedikit bagian tubuhku yang tertutupinya. Aku berbaring di dipan dibawah payung. Karena lelah akibat sesi pemotretan yang padat dan angin sepoi2, aku tertidur.</p>
<p style="text-align: justify;">Ditengah tidurku aku merasakan ada sesuatu yang meraba-raba tubuhku, tangan itu mengelus pahaku lalu merambat ke dadaku. Ketika tangan itu menyentuh selangkanganku tiba-tiba mataku terbuka, aku melihat om Andi sedang menggerayangi tubuhku.</p>
<p style="text-align: justify;">“Nes, kamu seksi sekali, om jadi napsu deh ngeliatnya. Om jadi pengen ngentotin Ines, boleh gak Nes. Nanti om bantu kamu untuk jadi model profesional”, katanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Karena sudah diberi tahu temanku, aku tidak terlalu kaget mendengar permintaannya yang to the point.</p>
<p style="text-align: justify;">“Ines sih mau aja om, tapi nanti Joko kalo dateng<br />
gimana”, tanyaku.</p>
<p style="text-align: justify;">Om Andi segera meremas2 toketku begitu mendengar bahwa aku gak keberatan dientot.</p>
<p style="text-align: justify;">“Kamu kan udah sering dientot kan Nes, nanti kalo Joko mau kita main ber 3 aja, asik kan kamunya”, katanya sambil tersenyum.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku diam saja, om Andi berbaring di dipan disebelahku. Segera aku dipeluknya, langsung dia menciumku dengan ganas. Tangannya tetap aktif meremas2 toketku, malah kemudian mulai mengurai tali bra bikiniku yang ada ditengkuk dan dipunggung sehingga toketku pun bebas dari penutup. Dia semakin bernapsu meremas toketku.</p>
<p style="text-align: justify;">“Nes, toket kamu besar dan kenceng, kamu udah napsu ya Nes. Mana pentilnya gede keras begini, pasti sering diisep ya Nes”.</p>
<p style="text-align: justify;">Dia duduk di pinggir dipan dan mulai menyedot toketku, sementara aku meraih kontolnya serta kukocok hingga kurasakan kontol itu makin mengeras. Aku mendesis nikmat waktu tangannya membelai selangkanganku dan menggosok-gosok nonokku dari luar.</p>
<p style="text-align: justify;">“Eenghh.. terus om.. oohh!” desahku sambil meremasi rambut om Andi yang sedang mengisap toketku.<br />
<span id="more-1446"></span><br />
Kepalanya lalu pelan-pelan merambat ke bawah dan berhenti di puserku. Aku mendesah makin tidak karuan ketika lidahnya bermain-main di sana ditambah lagi dengan jarinya yang bergerak keluar masuk nonokku dari samping cd bikini ku. Aku sampai meremas-remas toket dan menggigit jariku sendiri karena tidak kuat menahan rasanya yang geli-geli enak itu hingga akhirnya tubuhku mengejang dan nonokku mengeluarkan cairan hangat.</p>
<p style="text-align: justify;">Dengan merem melek aku menjambak rambut om Andi. Segera tangannya pun mengurai pengikat cd bikiniku sehingga aku sudah telanjang bulat terbaring dihadapannya, siap untuk digarap sepuasnya. Dia segera menyeruput nonokku sampai kurasakan cairanku tidak keluar lagi, barulah om Andi melepaskan kepalanya dari situ, nampak mulutnya basah oleh cairan cintaku.</p>
<p style="text-align: justify;">“Jembut kamu lebat ya Nes, pasti napsu kamu besar. Kamu gak puas kan kalo cuma dientot satu ronde”, katanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Belum beres aku mengatur nafasku yang memburu, mulutku sudah dilumatnya dengan ganas. Kurasakan aroma cairan cintaku sendiri pada mulutnya yang belepotan cairan itu. Aku agak kewalahan dengan lidahnya yang bermain di rongga mulutku. Setelah beberapa menit baru aku bisa beradapatasi, kubalas permainan lidahnya hingga lidah kami saling membelit dan mengisap.</p>
<p style="text-align: justify;">Cukup lama juga kami berpagutan, dia juga menjilati wajahku sampai wajahku basah oleh liurnya.</p>
<p style="text-align: justify;">“Ines ga tahan lagi om, Ines emut kontol om ya” kataku. Om Andi langsung bangkit dan berdiri di sampingku, melepaskan semua yang nempel dibadannya dan menyodorkan kontolnya. kontolnya sudah keras sekali, besar dan panjang. Tipe kontol yang menjadi kegemaranku. Masih dalam posisi berbaring di dipan, kugenggam kontolnya, kukocok dan kujilati sejenak sebelum kumasukkan ke mulut.</p>
<p style="text-align: justify;">Mulutku terisi penuh oleh kontolnya, itu pun tidak menampung seluruhnya paling cuma masuk 3/4nya saja. Aku memainkan lidahku mengitari kepala kontolnya, terkadang juga aku menjilati lubang kencingnya sehingga om Andi bergetar dan mendesah-desah keenakan. Satu tangannya memegangi kepalaku dan dimaju-mundurkannya pinggulnya sehingga aku gelagapan.</p>
<p style="text-align: justify;">“Eemmpp..nngg..!” aku mendesah tertahan karena nyaris kehabisan nafas, namun tidak dipedulikannya.</p>
<p style="text-align: justify;">Kepala kontol itu berkali-kali menyentuh dinding kerongkonganku. Kemudian kurasakan ada cairan memenuhi mulutku. Aku berusaha menelan pejunya itu, tapi karena banyaknya pejunya meleleh di sekitar bibirku. Belum habis semburannya, dia menarik keluar kontolnya, sehingga semburan berikut mendarat disekujur wajahku.</p>
<p style="text-align: justify;">Kuseka wajahku dengan tanganku. Sisa-sisa peju yang<br />
menempel di jariku kujilati sampai habis. Saat itu mendadak pintu pager terbuka dan Joko muncul dari sana, dia melongo melihat kami berdua yang sedang bugil.</p>
<p style="text-align: justify;">“Jok, mau ikutan gak”, tanya om Andi sambil tersenyum.</p>
<p style="text-align: justify;">“Kita makan dulu ya”. Segera kita menyantap makanan yang dibawa Joko<br />
sampai habis.</p>
<p style="text-align: justify;">Sambil makan, kulihat jakunnya Joko turun naik melihat kepolosan tubuhku, meskipun agak gugup matanya terus tertuju ke toketku. Aku mengelus-elus kontolnya dari luar celananya, membuatnya terangsang</p>
<p style="text-align: justify;">Akhirnya Joko mulai berani memegang toketku, bahkan meremasnya. Aku sendiri membantu melepas kancing bajunya dan meraba-raba dadanya.</p>
<p style="text-align: justify;">“Nes, toketnya gede juga ya.. enaknya diapain ya”, katanya sambil terus meremasi toketku.</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam posisi memeluk itupun aku perlahan membuka pakaiannya. Nampaklah kontolnya cukup besar, walaupun tidak sebesar kontol om Andi, tapi kelihatannya lebih panjang. Kugenggam kontolnya, kurasakan kontolnya bergetar dan mengeras. Pelan-pelan tubuhku mulai menurun hingga berjongkok di hadapannya, tanpa basa-basi lagi kumasukkan kontolnya ke mulut, kujilati dan kuemut-emut hingga Joko mengerang keenakan.</p>
<p style="text-align: justify;">“Enak, Jok”, tanya om Andi yang memperhatikan Joko agak grogi menikmati emutanku.</p>
<p style="text-align: justify;">Om Andi lalu mendekati kami dan meraih tanganku untuk mengocok kontolnya. Secara bergantian mulut dan tanganku melayani kedua kontol yang sudah menegang itu. Tidak puas hanya menikmati tanganku, sesaat kemudian om Andi pindah ke belakangku, tubuhku dibuatnya bertumpu pada lutut dan kedua tanganku.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku mulai merasakan kontolnya menyeruak masuk ke dalam nonokku. Seperti biasa, mulutku menganga mengeluarkan desahan meresapi inci demi inci kontolnya memasuki nonokku. Aku dientotnya dari belakang, sambil menyodok, kepalanya merayap ke balik ketiak hingga mulutnya hinggap pada toketku. Aku menggelinjang tak karuan waktu pentil kananku digigitnya dengan gemas, kocokanku pada kontol Joko makin bersemangat.</p>
<p style="text-align: justify;">Rupanya aku telah membuat Joko ketagihan, dia jadi begitu bernafsu memaju-mundurkan pinggulnya seolah sedang ngentot. Kepalaku pun dipeganginya dengan erat sampai kesempatan untuk menghirup udara segar pun aku tidak ada. Akhirnya aku hanya bisa pasrah saja dientot dari dua arah oleh mereka, sodokan dari salah satunya menyebabkan kontol yang lain makin menghujam ke tubuhku. kontol Om Andi menyentuh bagian terdalam dari nonokku dan ketika kontol Joko menyentuh kerongkonganku, belum lagi mereka terkadang memainkan toket atau meremasi pantatku.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku serasa terbang melayang-layang dibuatnya hingga akhirnya tubuhku mengejang dan mataku membelakak, mau menjerit tapi teredam oleh kontol Joko. Bersamaan dengan itu pula entotan Om Andi terasa makin bertenaga. Kami pun nyampe bersamaan, aku dapat merasakan pejunya yang menyembur deras di dalamku, kemudian meleleh keluar lewat selangkanganku.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah nyampe, tubuhku berkeringat, mereka agaknya mengerti keadaanku dan menghentikan kegiatannya.</p>
<p style="text-align: justify;">“Nes, aku pengen ngen totin nonok kamu juga”, kata Joko.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku cuma mengangguk, lalu dia bilang lagi,</p>
<p style="text-align: justify;">“Tapi Ines istirahat aja dulu, kayanya masih cape deh”. Aku turun ke kolam, dan duduk berselonjor di daerah dangkal untuk menyegarkan diriku. Mereka berdua juga ikut turun ke kolam, om Andi duduk di sebelah kiriku dan Joko di kananku. Kami mengobrol sambil memulihkan tenaga, selama itu tangan jahil mereka selalu saja meremas atau mengelus dada, paha, dan bagian sensitif lainnya.</p>
<p style="text-align: justify;">“Nes, aku masukin sekarang aja ya, udah ga tahan daritadi belum rasain nonok kamu” kata Joko mengambil posisi berlutut di depanku.</p>
<p style="text-align: justify;">Dia kemudian membuka pahaku setelah kuanggukan kepala,dia mengarahkan kontolnya yang panjang dan keras itu ke nonokku, tapi dia tidak langsung<br />
menusuknya tapi menggesekannya pada bibir nonokku sehingga aku berkelejotan kegelian dan meremas kontol om andi yang sedang menjilati leher di bawah telingaku.</p>
<p style="text-align: justify;">“Aahh.. Jok, cepet masukin dong, udah kebelet nih!” desahku tak tertahankan.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku meringis saat dia mulai menekan masuk kontolnya. Kini nonokku telah terisi oleh kontolnya yang keras dan panjang itu, yang lalu digerakkan keluar masuk nonokku.</p>
<p style="text-align: justify;">“Wah.. seret banget nonok kamu Nes”, erangnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah 15 menit dia gen tot aku dalam posisi itu, dia melepas kontolnya lalu duduk berselonjor dan manaikkan tubuhku ke kontolnya. Dengan refleks akupun menggenggam kontol itu sambil menurunkan tubuhku hingga kontolnya amblas ke dalam nonokku. Dia memegangi kedua bongkahan pantatku, secara<br />
bersamaan kami mulai menggoyangkan tubuh kami.</p>
<p style="text-align: justify;">Desahan kami bercampur baur dengan bunyi kecipak air kolam, tubuhku tersentak-sentak tak terkendali, kepalaku kugelengkan kesana-kemari, kedua toketku yang terguncang-guncang tidak luput dari tangan dan mulut mereka. Joko<br />
memperhatikan kontolnya sedang keluar masuk di nonokku.</p>
<p style="text-align: justify;">Goyangan kami terhenti sejenak ketika om Andi tiba-tiba mendorong punggungku sehingga pantatku semakin menungging dan toketku makin tertekan ke wajah Joko. om Andi membuka pantatku dan mengarahkan kontolnya ke sana.</p>
<p style="text-align: justify;">“Aduuh.. pelan-pelan om, sakit ” rintihku waktu dia<br />
mendorong masuk kontolnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Bagian bawahku rasanya sesak sekali karena dijejali dua kontol kontol besar. Kami kembali bergoyang, sakit yang tadi kurasakan perlahan-lahan berubah menjadi rasa nikmat. Aku menjerit sejadi-jadinya ketika om Andi menyodok pantatku dengan kasar, kuomeli dia agar lebih lembut dikit. Bukannya mendengar, om Andi malah makin buas menggentotku.</p>
<p style="text-align: justify;">Joko melumat bibirku dan memainkan lidahnya di dalam mulutku agar aku tidak terlalu ribut. Hal itu berlangsung sekitar 20 menit lamanya sampai aku merasakan tubuhku seperti mau meledak, yang dapat kulakukan hanya menjerit panjang dan memeluk Joko erat-erat sampai kukuku mencakar punggungnya. Selama beberapa detik tubuhku menegang sampai akhirnya melemas kembali dalam dekapan Joko.</p>
<p style="text-align: justify;">Namun mereka masih saja memompaku tanpa peduli padaku yang sudah<br />
lemas ini. Erangan yang keluar dari mulutku pun terdengar makin tak bertenaga. Tiba-tiba pelukan mereka terasa makin erat sampai membuatku sulit bernafas, serangan mereka juga makin dahsyat, pentilku disedot kuat-kuat oleh Joko, dan om Andi menjambak rambutku. Aku lalu merasakan peju hangat menyembur di dalam nonok dan pantatku, di air nampak sedikit cairan peju itu melayang-layang. Mereka berdua pun terkulai lemas diantara tubuhku dengan kontol masih tertancap.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah sisa-sisa kenikmatan tadi mereda, akupun mengajak mereka naik ke atas. Sambil mengelap tubuhku yang basah kuyup, aku berjalan menuju kamar mandi. Mereka mengikutiku dan ikut mandi bersama. Disana aku cuma duduk, merekalah yang menyiram, menggosok, dan menyabuniku tentunya sambil menggerayangi. nonok dan toketku paling lama mereka sabuni sampai aku menyindir</p>
<p style="text-align: justify;">“Lho.. kok yang disabun disitu-situ aja sih, mandinya ga beres-beres dong, dingin nih” disambut gelak tawa kami.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah itu, giliran akulah yang memandikan mereka, saat itulah nafsu mereka bangkit lagi, akupun mengemut kontol mereka secara bergantian sehingga langsung saja napsu mereka memuncak. aku segera diseret ke ranjang.</p>
<p style="text-align: justify;">Om Andi mendapat giliran pertama, kelihatannya mereka dia main berdua aja dengan ku. Jembutku yang lebat langsung menjadi sasaran, kemudian salah satu jarinya sudah mengelus2 nonokku. Otomatis aku mengangkangkan pahaku sehingga dia mudah mengakses nonokku lebih lanjut. Segera kontolnya yang besar, panjang dan sangat keras aku genggam dan kocok2.</p>
<p style="text-align: justify;">“Nes, diisep dong”, pintanya. Kepalanya kujilat2 sebentar kemudian kumasukkan ke mulutku. Segera kekenyot pelan2, dan kepalaku mengangguk2 memasukkan kontolnya keluar masuk mulutku, kenyotanku jalan terus.</p>
<p style="text-align: justify;">“Ah, enak Nes, baru diisep mulut atas aja udah nikmat ya, apalagi kalo yg ngisep mulut bawah”, erangnya keenakan.</p>
<p style="text-align: justify;">Tangannya terus saja mengelus2 no nokku yang sudah basah karena napsuku sudah memuncak.</p>
<p style="text-align: justify;">“Nes, kamu udah napsu banget ya, nonok kamu udah basah begini”, katanya lagi. kontolnya makin seru kuisep2nya. Kulihat Joko sedang mengelus2 kontolnya yang sudah ngaceng berat melihat om Andi menggarap aku.</p>
<p style="text-align: justify;">Tiba2 dia mencabut kontolnya dari mulutku dan segera menelungkup diatas badanku. kontolnya diarahkan ke nonokku, ditekannya kepalanya masuk ke nonokku. terasa banget nonokku meregang kemasukan kepala kontol yang besar, dia mulai mengenjotkan kontolnya pelan, keluar masuk nonokku. Tambah lama tambah cepat sehingga akhirnya seluruh kontolnya yang panjang ambles di nonokku.</p>
<p style="text-align: justify;">“Enak om , kontol om bikin nonok Ines sesek, dienjot yang keras om “, rengekku keenakan.</p>
<p style="text-align: justify;">enjotan kontolnya makin cepat dan keras, aku juga makin sering melenguh<br />
kenikmatan, apalagi kalo dia mengenjotkan kontolnya masuk dengan keras, nikmat banget rasanya. Gak lama dientot aku udah merasa mau nyampe,</p>
<p style="text-align: justify;">“om lebih cepet ngenjotnya dong, Ines udah mau nyampe”, rengekku.</p>
<p style="text-align: justify;">“Cepat banget Nes, om belum apa2″ jawabnya sambil mempercepat lagi enjotan kontolnya. A</p>
<p style="text-align: justify;">khirnya aku menjerit keenakan “Om, Ines nyampe mas , aah”, aku menggelepar kenikmatan.</p>
<p style="text-align: justify;">Dia masih terus saja mengenjotkan kon tolnya keluar masuk dengan cepat dan keras. Tiba2 dia mencabut kontolnya dari nonokku.</p>
<p style="text-align: justify;">“Kok dicabut om, kan belum ngecret”, protesku.</p>
<p style="text-align: justify;">Dia diem saja tapi menyuruh aku menungging di pinggir ranjang, rupanya dia mau gaya kontol.</p>
<p style="text-align: justify;">“Om, masukkin dinonok Ines aja ya, kalo dipantat gak asik”, pintaku.</p>
<p style="text-align: justify;">Dia diam saja. Segera kontolnya ambles lagi di nonokku dengan gaya baru ini. Dia berdiri sambil memegang pinggulku. Karena berdiri, enjotan kontolnya keras dan cepat, lebih cepat dari yang tadi, gesekannya makin kerasa di nonokku dan masuknya rasanya lebih dalem lagi,</p>
<p style="text-align: justify;">“Om , nikmat”, erangku lagi.</p>
<p style="text-align: justify;">Jarinya terasa mengelus2 pantatku, tiba2 salah satu jarinya disodokkan ke lubang pantatku, aku kaget sehingga mengejan. Rupanya nonokku ikut berkontraksi meremas kontol besar panjang yang sedang keluar masuk,</p>
<p style="text-align: justify;">“Aah Nes, nikmat banget, empotan nonok kamu kerasa banget”, erangnya sambil terus saja mengenjot nonokku.</p>
<p style="text-align: justify;">Sementara itu sambil mengenjot dia agak menelungkup di punggungku dan tangannya meremas2 toketku, kemudian tangannya menjalar lagi ke i tilku, sambil dientot i tilku dikilik2nya dengan tangannya. Nikmat banget dien tot dengan cara seperti itu.</p>
<p style="text-align: justify;">“Om , nikmat banget ngentot sama om , Ines udah mau nyampe lagi. Cepetan enjotannya om ,” erangku saking nikmatnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Dia sepertinya juga udah mau ngecret, segera dia memegang pinggulku lagi dan mempercepat enjotan kontolnya. Tak lama kemudian,</p>
<p style="text-align: justify;">“Om, Ines mau nyampe lagi, om , cepetan dong enjotannya, aah”, akhirnya aku mengejang lagi keenakan. Gak lama kemudian dia mengentotkan kontolnya dalem2 di nonokku dan terasa pejunya ngecret.</p>
<p style="text-align: justify;">“Aah Nes, nikmat banget”, diapun agak menelungkup diatas punggungku.</p>
<p style="text-align: justify;">Karena lemas, aku telungkup diranjang dan dia masih menindihku, kontolnya tercabut dari nonokku.</p>
<p style="text-align: justify;">“Om , nikmat deh, sekali entot aja Ines bisa nyampe 2 kali. Abis ini giliran Joko ya”, kataku.</p>
<p style="text-align: justify;">“Iya”, jawabnya sambil berbaring disebelahku.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku memeluknya dan dia mengusap2 rambutku. “Kamu pinter banget muasin lelaki ya Nes”, katanya lagi.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku hanya tersenyum, “Om, Ines mau ke kamar mandi, lengket badan rasanya”, aku pun bangkit dari ranjang dan menuju ke kamar mandi.</p>
<p style="text-align: justify;">Selesai membersihkan diri, aku keluar dari kamar mandi telanjang bulat, kulihat om Andi sudah tidak ada dikamar. Joko sudah berbaring diranjang. Aku tersenyum saja dan berbaring disebelahnya. Dia segera mencium bibirku dengan penuh napsu. kontolnya keelus2. Lidahku dan lidahnya saling membelit dan kecupan bibir berbunyi saking hotnya berciuman. Tangannya juga mengarah kepahaku.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku segera saja mengangkangkan pahaku, sehingga dia bisa dengan mudah mengobok2 nonokku. Sambil terus mencium bibirku, tangannya kemudian naik meremas2 toketku. Pentilku diplintir2nya,</p>
<p style="text-align: justify;">“Jok enak, Ines udah napsu lagi nih”, erangku.</p>
<p style="text-align: justify;">Tanganku masih mengocok kontolnya yang sudah keras banget. Kemudian ciumannya beralih ke toketku. Pentilku yang sudah mengeras segera diemutnya dengan penuh napsu,</p>
<p style="text-align: justify;">“Jok , nikmat banget “, erangku.</p>
<p style="text-align: justify;">Diapun menindihku sambil terus menjilati pentilku. Jilatannya turun keperutku, kepahaku dan akhirnya mendarat di nonokku.</p>
<p style="text-align: justify;">“Aah Jok , enak banget, belum dientot aja udah nikmat banget”, erangku.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku menggeliat2 keenakan, tanganku meremas2 sprei ketika dia mulai menjilati nonok dan i tilku. Pahaku tanpa sengaja mengepit kepalanya dan rambutnya kujambak, aku mengejang lagi, aku nyampe sebelum dientot. Dia pinter banget merangsang napsuku. Aku telentang terengah2, sementara dia terus menjilati nonokku yang basah berlendir itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Dia bangun dan kembali mencium bibirku, dia menarik tanganku minta dikocok kontolnya. Dia merebahkan dirinya, aku bangkit menuju selangkangannya dan mulai mengemut kontolnya.</p>
<p style="text-align: justify;">“Nes, kamu pinter banget sih”, dia memuji.</p>
<p style="text-align: justify;">Cukup lama aku mengemut kon tolnya. Sambil mengeluar masukkan di mulutku,<br />
kontolnya kuisep kuat2. Dia merem melek keenakan.</p>
<p style="text-align: justify;">Kemudian aku ditelentangkan dan dia segera menindihku. Aku sudah mengangkangkan pahaku lebar2. Dia menggesek2kan kepala kontolnya di bibir nonokku, lalu dienjotkan masuk,</p>
<p style="text-align: justify;">“Jok , enak”, erangku.</p>
<p style="text-align: justify;">Dia mulai mengenjotkan kon tolnya keluar masuk pelan2 sampai akhirnya blees, kontolnya nancep semua di nonokku.</p>
<p style="text-align: justify;">“Nes, nonokmu sempit banget, padahal barusan kemasukan kontol berkali2ya”, katanya.</p>
<p style="text-align: justify;">“Tapi enak kan, abis kontol kamu gede dan panjang sampe nonok Ines kerasa sempit”, jawabku terengah.</p>
<p style="text-align: justify;">Dia mulai mengenjotkan kontolnya keluar masuk dengan cepat, bibirku diciumnya.</p>
<p style="text-align: justify;">“Enak Jok, aah”, erangku keenakan.</p>
<p style="text-align: justify;">enjotannya makin cepat dan keras, pinggulku sampe bergetar karenanya. Terasa nonokku mulai berkedut2,</p>
<p style="text-align: justify;">“Jok lebih cepet dong, enak banget, Ines udah mau nyampe”, erangku.</p>
<p style="text-align: justify;">“Cepet banget Nes, aku belum apa2″, jawabnya.</p>
<p style="text-align: justify;">“Abisnya kon tol kamu enak banget sih gesekannya”, jawabku lagi.</p>
<p style="text-align: justify;">enjotannya makin keras, setiap ditekan masuk amblesnya dalem banget rasanya. Itu menambah nikmat buat aku</p>
<p style="text-align: justify;">“Terus Jok , enak”. Toketku diremas2 sambil terus mengenjotkan kontolnya keluar masuk.</p>
<p style="text-align: justify;">“Terus Jok , lebih cepat, aah, enak Jok, jangan brenti, aakh…” akhirnya aku mengejang, aku nyampe, nikmat banget rasanya. Padahal dengan om Andi, aku udah nyampe 2 kali, nyampe kali ini masih terasa nikmat banget. Aku memeluk pinggangnya dengan kakiku, sehingga rasanya makin dalem kontolnya nancep. nonokku kudenyut2kan meremas kontolnya sehingga dia melenguh,</p>
<p style="text-align: justify;">“Enak Nes, empotan nonok kamu hebat banget, aku udah mau ngecret, terus diempot Nes”, erangnya</p>
<p style="text-align: justify;">sambil terus mengenjot nonokku. Akhirnya bentengnya jebol juga. Pejunya ngecret didalam nonokku, banyak banget kerasa nyemburnya</p>
<p style="text-align: justify;">“Nes, aakh, aku ngecret Nes, nikmatnya nonok kamu”, erangnya. Dia menelungkup diatas badanku, bibirku diciumnya.</p>
<p style="text-align: justify;">“Trima kasih ya Nes, kamu bikin aku nikmat banget”. Setelah kontolnya mengecil, dicabutnya dari nonokku dan dia berbaring disebelahku. Aku lemes banget walaupun nikmat sekali. Tanpa terasa aku tertidur disebelahnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku terbangun karena merasa ada jilatan di nonokku, ternyata om Andi yang masih pengen ngentotin aku lagi. kulihat kontolnya sudah ngaceng lagi. nonokku dijilatinya dengan penuh napsu. Pahaku diangkatnya keatas supaya nonokku makin terbuka.</p>
<p style="text-align: justify;">“Om , nikmat banget mas jilatannya”, erangku.</p>
<p style="text-align: justify;">Ngantukku sudah hilang karena rasa nikmat itu. Aku meremas2 toketku sendiri untuk menambah nikmatnya jilatan di nonokku. Pentilku kuplintir2 juga. Kemudian itilku diisep2nya sambil sesekali menjilati nonokku, menyebabkan nonokku sudah banjir lagi.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku menggelepar2 ketika i tilku diemutnya. Cukup lama itilku diemutnya sampai akhirnya kakiku dikangkangkan.</p>
<p style="text-align: justify;">“Om, masukin dong om , Ines udah pengen dientot”, rengekku.</p>
<p style="text-align: justify;">Dia langsung menindih tubuhku, kontolnya diarahkan ke nonokku. Begitu kepala kontolnya menerobos masuk,</p>
<p style="text-align: justify;">“Yang dalem om , masukin aja semuanya sekaligus, ayo dong om “, rengekku karena napsuku yang sudah muncak.</p>
<p style="text-align: justify;">Dia langsung mengenjotkan kontolnya dengan keras sehingga sebentar saja kontolnya sudah nancap semuanya dinonokku. Kakiku segera melingkari pinggangnya sehingga kontolnya terasa masuk lebih dalem lagi.</p>
<p style="text-align: justify;">“Ayo om , dienjot dong”, rengekku lagi.</p>
<p style="text-align: justify;">Dia mulai mengenjot nonokku dengan cepat dan keras, uuh nikmat banget rasanya. enjotannya makin cepat dan keras, ini membuat aku menggeliat2 saking nikmatnya,</p>
<p style="text-align: justify;">“Om , enak om , terus om , Ines udah mau nyampe rasanya”, erangku. Dia tidak menjawab malah mempercepat lagi enjotan kontolnya. Toketku diremas2nya, sampe akhirnya aku mengejang lagi,</p>
<p style="text-align: justify;">“om enak, Ines nyampe om , aah”, erangku lemes.</p>
<p style="text-align: justify;">Kakiku yang tadinya melingkari pinggangnya aku turunkan ke ranjang. Dia tidak memperdulikan keadaanku, kontolnya terus saja dienjotkan keluar masuk dengan cepat, napasnya sudah mendengus2. nonokku kudenyut2kan meremas kontolnya. Dia meringis keenakan.</p>
<p style="text-align: justify;">“Nes, terus diempot Nes, nikmat banget rasanya. Terus empotannya biar om bisa ngecret Nes”, pintanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Sementara itu enjotan kon tolnya masih terus gencar merojok nonokku. Toketku kembali diremas2nya, pentilnya diplintir2nya.</p>
<p style="text-align: justify;">“Om , Ines kepengin ngerasain lagi disemprot peju om “, kataku.</p>
<p style="text-align: justify;">Terus saja kontolnya dienjotkan keluar masuk nonokku dengan cepat dan keras, sampai akhirnya,</p>
<p style="text-align: justify;">“Nes, aku mau ngecret Nes, aah”, erangnya dan terasa semburan pejunya mengisi bagian terdalam nonokku. Nikmat banget rasanya disemprot peju anget. Dia ambruk dan memelukku erat2,</p>
<p style="text-align: justify;">“Nes, nikmat banget deh ngen tot ama kamu”, katanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah beristirahat sebentar, aku segera membersihkan diri dan berpakaian. Kami kembali ke Jakarta. Diperjalanan pulang aku hanya terkapar saja dikursi mobil. Lemes banget abis dien tot 2 cowok berkali2.</p>
<p style="text-align: justify;">“Om, jangan lupa orbitin Ines ya”, kataku.</p>
<p style="text-align: justify;">“Jangan kawatir, selama om masih bisa ngerasain empotan nonok kamu, pasti kamu melejit keatas deh. Bener gak Jok”, jawabnya.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ceritasex.cn/model-seksi-digarap-dua-lelaki/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bercinta Dengan Gigolo</title>
		<link>http://www.ceritasex.cn/bercinta-dengan-gigolo/</link>
		<comments>http://www.ceritasex.cn/bercinta-dengan-gigolo/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 18 Mar 2010 22:54:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cerita Sex</dc:creator>
				<category><![CDATA[Gangbang Rame Rame]]></category>
		<category><![CDATA[Paruh baya]]></category>
		<category><![CDATA[Tante Girang]]></category>
		<category><![CDATA[kisah nyata]]></category>
		<category><![CDATA[gangbang]]></category>
		<category><![CDATA[gigolo]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ceritasex.cn/?p=1308</guid>
		<description><![CDATA[Setelah lama berpetualang dengan Hendra, aku perlu juga variasi bermain sex yang lain, dengan ragu-ragu akhirnya kuusulkan ke Hendra untuk memanggil gigolo supaya permainan bertambah menarik. Dengan berat hati Hendra menyetujui dengan syarat aku yang mencari dan dia yang memutuskan atau memilih orangnya. Setelah mencari informasi dari sana sini, akhirnya kudapatkan nomor telepon jaringan gigolo, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Setelah lama berpetualang dengan Hendra, aku perlu juga variasi bermain sex yang lain, dengan ragu-ragu akhirnya kuusulkan ke Hendra untuk memanggil gigolo supaya permainan bertambah menarik. Dengan berat hati Hendra menyetujui dengan syarat aku yang mencari dan dia yang memutuskan atau memilih orangnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah mencari informasi dari sana sini, akhirnya kudapatkan nomor telepon jaringan gigolo, aku tidak mau lewat milist yang banyak menawarkan diri, karena dari pengalaman mereka hanya besar nyali dan nafsu saja, tapi tidak dengan stamina dan variasi permainan. Sesuai dengan kesepakatan dengan seorang GM, akhirnya dia akan mengirim 3 orang untuk kami pilih di tempat kami menginap, uang bukanlah masalah bagi kami.</p>
<p style="text-align: justify;">Pada hari yang sudah ditetapkan, kami check in di Hotel Sahid. Tidak lama kemudian datanglah sang GM dengan membawa 3 anak muda ganteng dan macho, mungkin dibawah 25 tahun. Ketiganya memang kelihatan begitu atletis dan tampan, tapi satu sudah out karena terlalu pendek, sedangkan dua lainnya mampunyai tinggi paling tidak sama denganku, yang menjadi masalah bagiku adalah memilih di antaranya.</p>
<p style="text-align: justify;">Terus terang agak nervous juga aku, karena belum pernah aku membayar untuk urusan sex. Setelah berpikir sejenak akhirnya aku menyuruh mereka bertiga untuk telanjang di hadapan kami, sesaat mereka ragu, tapi akhirnya mau juga setelah kupancing dengan membuka baju atasku hingga terlihat bra merahku. Dari pandangan matanya aku tahu bahwa mereka tertarik denganku, bahkan tanpa dibayar pun aku yakin mereka mau melakukannya. Kupikir hanya orang gila saja yang tidak tertarik dengan postur tubuhku yang putih seperti Cina, tinggi semampai, sexy, dan wajah cantik, paling tidak itulah yang sering dikatakan laki-laki.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Oke, yang tidak terpilih, kalian boleh memegang buah dadaku ini sebelum pergi asal mau telanjang di depanku sekarang.&#8221; kataku menggoda, dengan demikian aku dapat melihat kejantanan mereka saat tegang, itulah yang menjadi pertimbanganku.<br />
Serempak mereka melepas pakaiannya secara bersamaan, telanjang di depanku. Hasilnya cukup mengejutkanku, ternyata disamping memiliki tubuh yang atletis, ternyata mereka mempunyai alat kejantanan yang mengagumkan, aku dibuat takjub karenanya. Rata-rata panjang kejantanan mereka hampir sama, tapi besar diameter dan bentuk kejantanan itu yang berbeda, kalau tidak &#8216;malu&#8217; dengan Hendra mungkin kupilih keduanya langsung.</p>
<p style="text-align: justify;">Pandanganku tertuju pada yang di ujung, alat kejantanannya yang besar, aku membayangkan mungkin mulutku tidak akan cukup untuk mengulumnya, hingga akhirnya kuputuskan untuk memilih dia. Namanya Rio, mahasiswa semester akhir di perguruan tinggi swasta di Jakarta.<br />
&#8220;Rio tinggal di sini, lainnya mungkin lain kali.&#8221; kataku mengakhiri masa pemilihan.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah pilihan diambil, maka dua lainnya segera berpakaian dan menghampiri aku yang masih tidak berbaju. Mula-mula si pendek mendekatiku dan memelukku, tingginya hanya setelingaku. Diciumnya leherku dan tangannya meremas lembut buah dadaku, lalu wajahnya dibenamkan ke dadaku, diusap-usap sejenak sambil tetap meremas-remas menikmati kenyalnya buah dadaku, lalu dia pergi. Berikutnya langsung meremas-remas buah dadaku, jari tangannya menyelinap di balik bra, mempermainkan sejenak sambil mencium pipiku.<br />
&#8220;Mbak mempunyai buah dada dan puting yang bagus.&#8221; bisiknya, kemudian dia pergi, hingga tinggal kami bertiga di kamar, aku, Rio dan Hendra yang dari tadi hanya memperhatikan, tidak ada komentar dari dia kalau setuju atas pilihanku.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Rio, temenin aku mandi ya, biar segar..!&#8221; kataku, sebenarnya agak ragu juga bagaimana untuk memulainya.<br />
&#8220;Ayo Tante, entar Rio mandiin.&#8221; jawabnya.<br />
&#8220;Emang aku udah Tante-Tante..?&#8221; jawabku ketus, &#8220;Panggil aku Lily.&#8221; lanjutku sambil menuju kamar mandi, meninggalkan Hendra sendirian.</p>
<p style="text-align: justify;">Sesampai di kamar mandi, Rio langsung mencium tengkukku, membuatku merinding. Dipeluknya aku dari belakang sambil ciumannya berlanjut ke belakang telingaku hingga leher. Kedua tangannya mulai meraba-raba buah dadaku yang masih terbungkus bra merahku.<br />
&#8220;Rio, kamu nakal..!&#8221; desahku sambil tanganku meraba ke belakang mencari pegangan di antara kedua kaki Rio yang masih telanjang.<br />
&#8220;Abis Mbak menggoda terus sih,&#8221; bisiknya disela-sela ciumannya di telinga.</p>
<p style="text-align: justify;">Tangannya diturunkan ke celana jeans-ku, tanpa menghentikan ciumannya, dia membuka celana jeans-ku, hingga sekarang aku tingal bikini merahku. Ciumannya sudah sampai di pundak, dengan gigitan lembut diturunkan tali bra-ku hingga turun ke lengan, begitu pula yang satunya, sepertinya dia sudah terlatih untuk menelanjangi wanita dengan erotis dan perlahan, semakin perlahan semakin menggoda. Perlahan tapi pasti aku dibuatnya makin terbakar birahi.</p>
<p style="text-align: justify;">Rio mendudukkan tubuhku di meja toilet kamar mandi, dia berlutut di depanku, dicium dan dijilatinya betis hingga paha. Perlahan dia menarik turun celana dalam merah hingga terlepas dari tempatnya, jilatan Rio sungguh lain dari yang pernah kualami, begitu sensual, entah pakai metode apa hingga aku dibuat kelojotan. Kepalanya sudah membenam di antara kedua pahaku, tapi aku belum merasakan sentuhan pada daerah kewanitaanku, hanya kurasakan jilatan di sekitar selangkangan dan daerah anus, aku dibuat semakin kelojotan.</p>
<p style="text-align: justify;">Sepintas kulihat Hendra berdiri di pintu kamar mandi melihat bagaimana Rio menservisku, tapi tidak kuperhatikan lebih lanjut karena jilatan Rio semakin ganas di daerah kewanitaanku, hingga kurasakan jilatan di bibir vaginaku. Lidahnya terasa menari-nari di pintu kenikmatan itu, kupegang kepalanya dan kubenamkan lebih dalam ke vaginaku, entah dia dapat bernapas atau tidak aku tidak perduli, aku ingin mendapat kenikmatan yang lebih. Jilatan lidah Rio sudah mencapai vaginaku, permainan lidahnya memang tiada duanya, saat ini the best dibandingkan lainnya, bahkan dibandingkan dengan suamiku yang selalu kubanggakan permainan sex-nya.<br />
<span id="more-1308"></span><br />
Rio berdiri di hadapanku, kejantanannya yang besar dan tegang hanya berjarak beberapa centimeter dari vaginaku. Sebenarnya aku sudah siap, tapi lagi-lagi dia tidak mau melakukan secara langsung, kembali dia mencium mulutku dan untuk kesekian kalinya kurasakan permainan lidahnya di mulutku terasa meledakkan birahiku, sementara jari tangannya sudah bermain di liang kenikmatanku menggantikan tugas lidahnya. Aku tidak mau melepaskan ciumannya, benar-benar kunikmati saat itu, seperti anak SMU yang baru pertama kali berciuman, tapi kali ini jauh lebih menggairahkan.</p>
<p style="text-align: justify;">Ciuman Rio berpindah ke leherku, terus turun menyusuri dada hingga belahan dadaku. Dengan sekali sentil di kaitan belakang, terlepaslah bra merah dari tubuhku, membuatku telanjang di depannya. Aku siap menerima permainan lidah Rio di buah dadaku, terutama kunantikan permainan di putingku yang sudah mengencang. Dan aku tidak perlu menunggu terlalu lama untuk itu, kembali kurasakan permainan lidah Rio di putingku, dan kembali pula kurasakan sensasi-sensasi baru dari permainan lidah. Aku benar-benar dibuat terbakar, napasku sudah tidak karuan, kombinasi antara permainan lidah di puting dan permainan jari di vaginaku terlalu berlebihan bagiku, aku tidak dapat menahan lebih lama lagi, ingin meledak rasanya.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Rio, pleassee, sekarang ya..!&#8221; pintaku sambil mendorong tubuh atletisnya.<br />
&#8220;Pake kondom Mbak..?&#8221; tanyanya sambil mengusap-usapkan kepala kejantanannya di bibir vaginaku yang sudah basah, sah, sah, sah.<br />
Aku tidak tahu harus menjawab apa, biasanya aku tidak pernah pakai kondom, tapi karena kali ini aku bercinta dengan seorang gigolo, aku harus berhati-hati, meskipun dengan lainnya belum tentu lebih baik. Kalau seandainya dia langsung memasukkan kejantannya ke vaginaku, aku tidak akan keberatan, tapi dengan pertanyaan ini aku jadi bingung. Kulihat ke arah Hendra yang dari tadi memperhatikan, tapi tidak kudapat jawaban dari dia.</p>
<p style="text-align: justify;">Tidak ada waktu lagi, pikirku. Maka tanpa menjawab, kutarik tubuhnya dan dia mengerti isyaratku. Perlahan didorongnya kejantanannya yang sebesar pisang Ambon itu masuk ke liang kenikmatanku, vaginaku terasa melar. Makin dalam batang kejantanannya masuk kurasakan seolah makin membesar, vaginaku terasa penuh ketika Rio melesakkan seluruhnya ke dalam.<br />
&#8220;Aagh.. yess.. ennak Sayang..!&#8221; bisikku sambil memandang ke wajah Rio yang ganteng dan macho, expresinya dingin, tapi aku tahu dia begitu menikmatinya.<br />
&#8220;Pelan ya Sayang..!&#8221; pintaku sambil mencengkeramkan otot vaginaku pada kejantanannya.<br />
Kulihat wajaah Rio menegang, tangan kanannya meremas buah dadaku sedang tangan kirinya meremas pantatku sambil menahan gerakan tubuhku.</p>
<p style="text-align: justify;">Kurasakan kejantanan Rio pelan-pelan ditarik keluar, dan dimasukkan lagi saat setengah batangnya keluar, begitu seterusnya, makin lama makin cepat.<br />
&#8220;Oohh.. yaa.., truss..! Yes.., I love it..!&#8221; desahku, menerima kocokan kejantanan Rio di vaginaku.<br />
Rio dengan irama yang teratur memompa vaginaku, sambil mempermainkan lidahnya di leher dan bibirku. Aku tak bisa lagi mengontrol gerakanku, desahanku semakin berisik terdengar. Rio mengangkat kaki kananku dan ditumpangkan di pundaknya, kurasakan penetrasinya semakin dalam di vaginaku, menyentuh relung vagina yang paling dalam. Kocokan Rio semakin cepat dan keras, diselingi goyangan pantat menambah sensasi yang kurasakan.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Sshhit.., fuck me like a anjing..!&#8221; desahanku sudah ngaco, keringat sudah membasahi tubuhku, begitu juga dengan Rio, menambah pesona sexy pada tubuhnya.<br />
Aku hampir mencapai puncak kenikmatan ketika Rio menghentikan kocokannya, dan memintaku untuk berdiri, tentu saja aku sedikit kecewa, tapi aku percaya kalau dia akan memberikan yang terbaik.<br />
&#8220;Mau dilanjutin di sini atau pindah ke ranjang..?&#8221; tanyanya terus menjilati putingku.</p>
<p style="text-align: justify;">Tanpa menjawab aku langsung membelakanginya dan kubungkukkan badanku, rupanya dia sudah tahu mauku, langsung mengarahkan kejantanannya ke vaginaku. Kuangkat kaki kananku dan dia menahan dengan tangannya, sehingga kejantanannya dapat masuk dengan mudah. Dengan sedikit bimbingan, melesaklah batang kejantanan itu ke vaginaku, dan Rio langsung menyodok dengan keras, terasa sampai menyentuh dinding dalam batas terakhir vaginaku, terdongak aku dibuatnya karena kaget.<br />
&#8220;Aauugghh.., yes.., teruss.., yaa..!&#8221; teriakku larut dalam kenikmatan.</p>
<p style="text-align: justify;">Sodokan demi sodokan kunikmati, Rio menurunkan kakiku, dan kurentangkan lebar sambil tanganku tertumpu pada meja toilet, tangan Rio memegang pinggulku dan menariknya saat dia menyodok ke arahku, begitu seterusnya. Rasanya sudah tidak tahan lagi, ketika tangan Rio meremas buah dadaku dan mempermainkan putingku dengan jari tangannya, sensasinya terlalu berlebihan, apalagi keberadaan Hendra yang dengan setia menyaksikan pertunjukan kami sambil memegang kejantanannya sendiri.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Rio a.. ak.. aku.. sud.. sudah.. nggak ta.. ta.. han..!&#8221; desahku, ternyata Rio langsung menghentikan gerakannya.<br />
&#8220;Jangan dulu Sayang, kamu belum merasakan yang lebih hebat.&#8221; katanya, tapi terlambat, aku sudah mencapai puncak kenikmatan terlebih dahulu.<br />
&#8220;Aaughh.., yess.., yess..!&#8221; teriakku mengiringi orgasme yang kualami, denyutan di vaginaku terasa terganjal begitu besar.<br />
Rio hanya mendesah sesaat sambil tangannya tetap meremas buah dadaku yang ikut menegang.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Ayo Rio, keluarin sekarang, jangan goda aku lagi..!&#8221; pintaku memelas karena lemas.<br />
Rio mengambil handuk dan ditaruhnya di lantai, lalu dia memintaku berlutut, rupanya Rio menginginkan doggie style, kuturuti permintaannya. Sekarang posisiku merangkak di lantai dengan lututku beralaskan tumpukan handuk, menghadap ke pintu ke arah Hendra.</p>
<p style="text-align: justify;">Rio mendatangiku dari belakang, mengatur posisinya untuk memudahkan penetrasi ke vaginaku. Setelah menyapukan kejantanannya yang masih menegang, dengan sekali dorong masuklah semua kejantanan itu ke vaginaku. Meskipun sudah berulang kali terkocok oleh kejantanannya, tidak urung terkaget juga aku dibuatnya. Rio langsung memacu kocokannya dengan cepat seperti piston mobil dengan silindernya pada putaran di atas 3000 rpm, kenikmatan langsung menyelimuti tubuhku.</p>
<p style="text-align: justify;">Rio menarik rambutku ke belakang sehingga aku terdongak tepat mengarah ke Hendra. Berpegangan pada rambutku Rio mempermainkan kocokannya, sesekali pantatnya digoyang ke kiri dan ke kanan, atau turun naik, sehingga vaginaku seperti diaduk-aduk kejantanannya. Dia sungguh pandai menyenangkan hati wanita karena permainannya yang penuh variasi dan diluar dugaan.</p>
<p style="text-align: justify;">Tiba-tiba kudengar teriakan dari Hendra, tepat ketika aku mendongak ke arah dia, menyemprotlah sperma dia dari tempatnya dan tepat mengenai wajah dan rambutku. Ternyata sambil menikmati permainan kami, dia mengocok sendiri kejantanannya alias self service. Rio mengangkat badannya tanpa melepas kejantanannya dariku, kini posisi dia menungging, sehingga kejantanannya makin menancap di vaginaku tanpa menurunkan tempo permainannya. Aku sudah tidak tahan diperlakukan demikian, dan untuk kedua kalinya aku mengalami orgasme hebat dalam waktu yang relatif singkat, sementara Rio masih tetap tegar menantang.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Masih kuat untuk melanjutkan Mbak..?&#8221; tantang dia.<br />
Kalau seandainya dia tidak bertanya seperti itu aku pasti minta waktu istirahat dulu, tapi dengan pertanyaan itu, aku merasa tertantang untuk adu kuat, dan tantangan itu tidak dapat kutolak begitu saja. Sebagai jawaban, kukeluarkan kejantanannya dari tubuhku, kuminta dia rebah di lantai kamar mandi beralas handuk, aku juga ingin ngerjain dia, pikirku.</p>
<p style="text-align: justify;">Tanpa menunggu waktu lebih lama lagi, begitu dia telentang, kukangkangkan kakiku di wajahnya hingga dia dapat merasakan cairan orgasme yang meleleh dari vaginaku. Rasain, pikirku. Tapi aku salah, ternyata dia malah dengan senang hati menghisap vaginaku hingga terasa kering dan kembali mempermainkan lidah mautnya di vaginaku.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Sialan, kalau begini aku bisa keluar lagi dan pasti KO.&#8221; pikirku.<br />
Maka aku langsung berganti posisi. Sekarang aku di atas dia, berarti kendali ada di tanganku dan akan kubuat dia kelojotan mencapai orgasme segera, pikirku lagi. Tanpa membuang waktu lebih lama, kumulai gerakan andalanku, yaitu ber-hula hop di atasnya sehingga aku yakin kejantanannya seperti terpilin-pilin di vaginaku.</p>
<p style="text-align: justify;">Agak kesulitan juga aku ber-hula hop karena terasa kejantanannya yang besar mengganjal di dalam dan mengganggu gerakanku. Semakin kupaksakan semakin nikmat rasanya dan semakin cepat gerakan bergoyangku kenikmatan itu semakin bertambah, maka hula hop-ku semakin cepat dan tambah tidak beraturan. Kuamati wajah Rio yang ganteng bersimbah peluh dan terlihat menegang dalam kenikmatan, tangannya meremas-remas buah dadaku dengan liarnya sambil mempermainkan putingku.</p>
<p style="text-align: justify;">Hampir saja aku orgasme lagi kalau tidak segera kuhentikan gerakanku, tapi ternyata Rio tidak mau berhenti. Ketika aku menghentikan gerakanku, ternyata justru dia menggoyang tubuhku sambil menggerak-gerakkan pinggulnya sehingga vaginaku tetap terkocok dari bawah, dan kembali orgasmeku tidak terbendung lagi untuk kesekian kalinya.</p>
<p style="text-align: justify;">Rio tetap saja mengocok, meski dia tahu aku sedang di puncak kenikmatan birahi. Kali ini aku benar-benar lemes mes mes, tapi Rio tidak juga mengentikan gerakannya. Kutelungkupkan tubuhku di atas tubuhnya, sehingga kami saling berpelukan. Dinginnya AC tidak mampu mengusir panasnya permainan kami, peluh kami sudah menyatu dalam kenikmatan nafsu birahi. Rio memelukku dan mencium mulutku sambil kembali mempermainkan lidahnya, kejantanannya masih keras bercokol di vaginaku, terasa panas sudah, atau mungkin lecet.</p>
<p style="text-align: justify;">Tidak lama kemudian nafsuku bangkit lagi, kuatur posisi kakiku hingga aku dapat menaik-turunkan tubuhku supaya kejantanan Rio bisa sliding lagi. Meskipun kakiku terasa lemas, kupaksakan untuk men-sliding kejantanan Rio yang sepertinya makin lama makin mengeras. Melihatku sudah kecapean, Rio memintaku untuk masuk ke bathtub dan kuturuti keinginannya supaya aku kembali ke posisi doggie. Sebelum memasukkan kejantanannya, Rio membuka kran air hingga keluarlah air dingin dari shower di atas, kemudian dengan mudahnya dia melesakkan kejantanannya ke vaginaku untuk kesekian kalinya.</p>
<p style="text-align: justify;">Bercinta di bawah guyuran air shower membuat tubuhku segar kembali, sepertinya dia dapat membaca kemauan lawan mainnya, kali ini kocokannya bervariasi antara cepat keras dan pelan. Tidak mau kalah, setelah terasa staminaku agak pulih, kuimbangi gerakan sodokan Rio dengan menggoyang-goyangkan pantatku ke kiri dan ke kanan atau maju mundur melawan gerakan tubuh Rio. Dan benar saja, tidak lama kemudian kurasakan cengkeraman tangan Rio di pantatku mengencang, kurasakan kejantanan Rio terasa membesar dan diikuti semprotan dan denyutan yang begitu kuat dari kejantanan Rio.</p>
<p style="text-align: justify;">Vaginaku terasa dihantam kuat oleh gelombang air bah, denyutan dan semprotan itu begitu kuat hingga aku terbawa melambung mencapai puncak kenikmatan yang ke sekian kalinya. Kami orgasme secara bersamaan akhirnya, tubuhku langsung terkulai di bathtub. Kucuran air kurasakan begitu sejuk menerpa tubuhku yang masih berpeluh. Rio mengambil sabun dan menyabuni punggungku serta seluruh tubuhku. Dengan gentle dia memperlakukan aku seperti layaknya seorang lady hingga aku selesai mandi.</p>
<p style="text-align: justify;">Dengan hanya berbalut handuk aku keluar kamar mandi menuju ranjang untuk beristirahat. Kulihat Hendra sudah mengenakan piyama dan duduk di sofa memperhatikanku keluar dari kamar mandi. Expresi di wajah Hendra tidak dapat kutebak, tapi tiada terlihat sinar kemarahan atau cemburu melihat bagaimana aku bercinta dengan Rio di kamar mandi selama lebih dari satu jam. Aku langsung merebahkan tubuhku di ranjang yang hangat, mataku sudah terlalu berat untuk terbuka, masih kudengar sayup-sayup pembicaraan Hendra sebelum aku terlelap dalam tidurku.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Kamu hebat Rio, belum pernah ada yang membuat dia orgasme terlebih dahulu, bahkan setelah bermain dengan dua orang.&#8221; kata Hendra ketika Rio keluar dari kamar mandi.<br />
&#8220;Ah biasa saja Om.&#8221; jawab Rio kalem merendah.<br />
&#8220;Emang dia sering melayani 2 orang sekaligus..?&#8221; lanjut Rio.<br />
&#8220;Ah bukan urusanmu anak muda, oke Rio, tugas kamu sudah selesai, uang kamu ada di sebelah TV dan kamu boleh pergi.&#8221; kata Hendra.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Om, boleh saya usul..?&#8221;<br />
&#8220;Silakan..!&#8221;<br />
&#8220;Kalau saya boleh tinggal dan menemani lebih lama bahkan sampai pagi, biarlah nggak usah ada tambahan bayar overtime, aku jamin dia pasti lebih dari puas.&#8221; usul Rio.<br />
&#8220;Cilaka..,&#8221; pikirku.<br />
Aku tidak tahu apa yang dikatakan Hendra karena sudah terlelap dalam tidur indah.</p>
<p style="text-align: justify;">Entah sudah berapa lama tertidur ketika kurasakan sesuati menggelitik vaginaku. Sambil membuka mata yang masih berat, kulihat kepala sudah terbenam di selangkanganku yang telah tebuka lebar. Ah, Rio mulai lagi, pikirku. Ketika aku menoleh ke sofa mencari Hendra, kulihat dia telanjang duduk di samping Rio yang juga telanjang sambil tersenyum ke arahku. Jadi siapa yang bermain di vaginaku saat ini, terkaget aku dibuatnya. Langsung duduk kutarik rambutnya dan ternyata si Andre, teman Rio yang kusuruh pulang bersama si pendek tadi.</p>
<p style="text-align: justify;">Sebenarnya dia tidak terpilih bukan karena aku tidak tertarik, tapi aku harus memutuskan satu di antara dua yang baik.<br />
&#8220;What the hell going on here..?&#8221; pikirku, tapi tidak sempat terucap karena permainan lidahnya sungguh menggetarkan naluri kewanitaanku.<br />
Kubiarkan Andre bermain di selangkanganku dan kunikmati permainan lidahnya, meskipun tidak sepintar Rio, tapi masih membuatku menggelinjang-gelinjang kenikmatan.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Ugh.., shh..!&#8221; aku mulai mendesis.<br />
Kubenamkan kepala Andre lebih dalam untuk mendapatkan kenikmatan lebih jauh. Andre menjilatiku dengan hebatnya hingga beberapa saat sampai kulihat Rio berdiri dari tempatnya dan menghampiri Andre. Diangkatnya kakiku hingga terpentang dan Rio mengganjal pantatku dengan bantal hingga posisi vaginaku sekarang menantang ke atas.</p>
<p style="text-align: justify;">Rio mengganti posisi Andre, menjilati vaginaku dengan mahirnya, kemudian mereka berganti posisi lagi. Cukup lama juga Rio dan Andre menjilati vaginaku secara simultan. Sensasinya sungguh luar biasa hingga aku larut dalam kenikmatan. Jilatan Andre sudah berpindah ke daerah anusku, ketika Rio menjilati pahaku terus naik dan berhenti untuk bermain di daerah vaginaku.<br />
&#8220;Aahh.., gilaa.., aagh.., shit.. yess..!&#8221; aku terkaget, karena baru kali ini aku dijilati oleh dua laki-laki di daerah kewanitaanku.<br />
Bayangkan dua lidah dengan satu di anus dan satunya di vagina. Keduanya begitu expert dalam permainan lidah. Aku tidak tahu bagaimana menggambarkan dengan kata-kata, sensasi ini terlalu berlebihan bagiku, bahkan terbayang pun tidak pernah.</p>
<p style="text-align: justify;">Dengan penuh gairah mereka bermain di kedua lubangku, aku tidak tahu harus berkata apa selain mendesah dan menjerit dalam kenikmatan birahi. Aku mencari pegangan sebagai pelampiasan rasa histeriaku, tapi tidak kudapatkan hingga akhirnya kuremas-remas sendiri buah dadaku yang ikut menegang. Tidak tahan menahan sensasi yang berlebihan, akhirnya aku mencapai orgasme duluan. Orgasme tercepat selama hidupku, tidak sampai penetrasi dan tidak lebih dari 15 menit, suatu rekor yang tidak perlu dibanggakan.</p>
<p style="text-align: justify;">Mulut Rio tidak pernah beranjak dari vaginaku, disedotnya vaginaku seperti layaknya vacum cleaner.<br />
&#8220;Shit.. Rio.. stop.. stoop..! Please..!&#8221; pintaku menahan malu.<br />
Lidah Rio naik menelusuri perutku dan berhenti di antara kedua bukit di dadaku, lalu mendaki hingga mencapai putingku. Dikulumnya lalu sambil meremas buah dadaku dia mulai mengulum dan mempermainkan putingnya dengan lidah mautnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Belum sempat kurasakan mautnya permainan lidah Rio, aku merasakan Andre telah menyapukan kejantanannya di bibir vaginaku sebentar dan langsung kejantanan Andre tanpa basa basi langsung melesak masuk ke vaginaku. Kurasakan ada perbedaan rasa dengan Rio karena bentuknya memang berbeda. Punya Rio besar dan melengkung ke kiri bawah, agak unik, sedangkan Andre kecil panjang melengkung lurus ke atas, jadi disini kurasakan dua rasa.</p>
<p style="text-align: justify;">Gila, kalau tadi siang kurasakan punya Rio yang banyak menggesek bagian kananku, sekarang kurasakan bagian atas vagina menerima sensasi yang hebat, karena kejantanan Andre mempunyai kepala yang besar, menyodok-nyodok dinding vaginaku. Kedua kakiku dipentangkan dengan lebar oleh Andre, Rio bertambah gairan bergerilya menjelajahi kedua bukit dan menikmati kenyalnya bukit dan putingku yang makin menegang. Tangannya tidak henti meremas dan mengelus kedua bukit di dadaku, sesekali wajahnya dibenamkan di antara kedua bukitku seperti orang gemas.</p>
<p style="text-align: justify;">Andre makin kencang mengocok vaginaku sambil menjilati jari-jari kakiku. Aku menggelinjang makin tidak karuan diperlakukan kedua anak muda ini. Kocokan dan remasan tanganku di kejantanan Rio makin keras mengimbangi permainan mereka.<br />
&#8220;Uugghh.. sshh.. kalian.. me.., me..mang gilaa..!&#8221; teriakku.<br />
Permainan mereka semakin ganas mengerjaiku.</p>
<p style="text-align: justify;">Kutarik tubuh Rio ke atas, kini Rio sudah berlutut di samping kepalaku, kejantanannya yang tegang tepat ke arah wajahku. Segera kulahap kejantanannya, sekarang aku mau mengulumnya karena kejantanan itu terakhir kali masuk di vaginaku, tidak seperti saat pertama tadi, entah dengan siapa sebelum aku. Seperti dugaanku, mulutku ternyata tidak dapat mengulum masuk semua batang kejantanannya, terlalu besar untuk mulut mungilku.</p>
<p style="text-align: justify;">Rio sekarang mengangkangiku, kepalaku di antara kedua kakinya, sementara kejantanannya kembali tertanam di mulutku. Dikocok-kocoknya mulutku dengan penis besarnya seolah berusaha menanamkan semuanya ke dalam, tapi tetap tidak bisa, it&#8217;s too big to my nice mouth, very hard blowjob. Kurasakan kenikmatan yang memuncak, dan kembali aku mengalami orgasme beberapa saat kemudian.<br />
&#8220;Mmgghh.. mmgh.. uugh..!&#8221; teriakku tertahan karena terhalang kejantanan Rio, masih untung tidak tergigit saat aku orgasme.</p>
<p style="text-align: justify;">Tanpa memberiku istirahat, mereka membalikkan tubuhku, kini aku tertumpu pada lutut dan tanganku, doggy style. Andre tetap bertugas di belakang sementara Rio duduk berselonjor di hadapanku. Seperti sebelumnya, Andre langsung tancap gas mengocokku dengan cepat, kurasakan kejantanannya makin dalam melesak ke dalam vaginaku, pinggangku dipegangnya dan gerakkan berlawanan dengan arah kocokannya, sehingga makin masuk ke dalam di vaginaku. Antara sakit dan nikmat sudah sulit dibedakan, dan aku tidak sempat berpikir lebih lama ketika Rio menyodorkan kejantanannya di mulutku kembali.</p>
<p style="text-align: justify;">Kedua lubang tubuhku kini terisi dan kurasakan sensasi yang luar biasa. Dengan terus mengocok, Andre mengelus-elus punggungku, kemudian tangannya menjelajah ke dadaku, dielus dan diremasnya dengan keras keduanya sesekali mempermainkan putingku, kegelian dan kenikmatan bercampur menjadi satu. Tidak ketinggalan Rio memegang rambutku, didorongnya supaya kejantanannya dapat masuk lebih dalam di mulutku.<br />
&#8220;Emmhh.., mhh..!&#8221; desahku sudah tidak keluar lagi, terlalu sibuk dengan kejantanan Rio di mulutku.</p>
<p style="text-align: justify;">Kugoyang-goyangkan badanku, pantatku bergerak berlawanan gerakan Andre dan kepalaku turun naik dengan cepat mengocok Rio.<br />
Tidak lama kemudian, &#8220;Shit.., aku mau keluar..!&#8221; teriak Rio sambil menarik kepalaku ke atas, tapi aku tidak perduli, malah kupercepat kocokan mulutku hingga menyemprotlah sperma Rio dengan deras ke mulutku, semprotannya cukup kencang hingga langsung masuk ke tenggorokanku.<br />
Tanpa ragu lagi kutelan sperma yang ada di mulutku, Rio mengusap sisa sperma di bibir yang tidak tertampung di mulutku.</p>
<p style="text-align: justify;">Kulihat senyum puas di wajah Rio, lalu dia bergeser ke samping, ternyata Hendra sudah berada di samping ranjang, dia kemudian mengganti posisi Rio berselonjor di hadapanku. Tanpa menunggu lebih lama lagi langsung kukulum kejantanan dia yang basah, kurasakan aroma sperma, sepertinya dia habis berejakulasi melihat permainan kami bertiga. Karena ukuran kejantanan Hendra tidak sebesar punya Rio, maka dengan mudah aku melahap semua hingga habis sampai ke pangkal batangnya, dan segera mengocok keluar masuk.</p>
<p style="text-align: justify;">Andre mendorong tubuhku hingga telungkup di ranjang, entah bagaimana posisi dia dengan tubuhku telungkup, dia tetap mengocok vaginaku dengan ganasnya. Hendra hanya dapat mengelus rambutku dan mempermainkan buah dadaku dari bawah. Tidak lama kemudian Andre mencabut kejantanannya, dan langsung berbaring di sebelahku. Aku mengerti maksudnya, sebenarnya harusnya aku yang mengatur dia bukan sebaliknya, tapi toh kuturuti juga.</p>
<p style="text-align: justify;">Kutinggalkan Hendra dan aku menaiki tubuh Andre, kejantanannya masih menegang ke atas, kuatur tubuhku hingga vaginaku pas dengan kejantanannya yang sudah menunggu, lalu kuturunkan pantatku dan bles. Langsung saja aku bergoyang salsa di atasnya. Kini aku pegang kendali, pantatku kuputar-putar sehingga vaginaku terasa diaduk-aduk olehnya. Andre memegangi kedua buah dadaku dan meremasnya. Hendra berdiri di atas ranjang dan menghampiriku, dia menyodorkan kembali kejantanannya, kubalas dengan jilatan dan kuluman.</p>
<p style="text-align: justify;">Ternyata Rio yang sudah recovery tidak mau ketinggalan, dia berdiri di sisi lainnya dan menyodorkan kejantanannya ke arahku. Kini tanganku memegang dua penis yang berbeda, baik dari ukuran, bentuk dan kekerasannya, belum lagi yang tertanam di vaginaku, aku sedang menikmati tiga macam penis sekarang. Kupermainkan Rio dan Hendra secara bergantian di mulutku antara kuluman dan kocokan tangan. Pantatku tidak pernah berhenti bergoyang di atas Andre, sungguh suatu sensasi dan kenikmatan yang sangat berlebihan dan rasanya tidak semua orang dapat menikmatinya.</p>
<p style="text-align: justify;">Beruntungkah aku..? Entahlah, yang jelas sekarang aku sedang melambung dalam lautan kenikmatan birahi tertinggi. Entah sudah berapa banyak cairan vaginaku terkuras keluar. Andre belum juga memperlihatkan tanda-tanda akan orgasme. Aku mengganti gerakanku, kini turun naik sliding di atasnya, kulepas tangan kiriku dari penis Rio dan kuelus kantong pelir Andre untuk menambah rangsangan padanya. Ternyata Andre melawan gerakanku dengan menaik-turunkan pantatnya berlawanan denganku sehingga kejantanannya makin menancap dalam, tangannya tidak pernah melepas remasannya dari buah dadaku.</p>
<p style="text-align: justify;">Rio bergerak ke belakangku, dielusnya punggungku dan elusannya berhenti di lubang anusku. Dengan ludahnya dia mengolesi lubang itu dan mencoba memasukkan jarinya ke dalam, sesaat terlintas di benakku bahwa dia mau anal, berarti double penetration. Aku belum siap untuk itu, tidak seorang pun kecuali suamiku yang mendapatkan anal dariku. Kuangkat tangannya dari anusku, pertanda penolakan dan dia mengerti. Rio berlutut di belakangku, didekapnya tubuhku dari belakang dan tangannya ikut meremas-remas buah dadaku. Sambil menciumi tengkuk dan telingaku, kejantanannya menempel hangat di pantatku, kini dua pasang tangan di kedua buah dadaku.</p>
<p style="text-align: justify;">Karena didekap dari belakang aku tidak dapat bergerak dengan leluasa, akibatnya Andre lebih bebas mengocok vaginaku dari bawah. Aku sudah tidak dapat mengontrol tubuhku lagi, entah sudah berapa kali aku mengalami orgasme, padahal masih dengan Andre. Ada dua lagi penis menunggu giliran menikmati vaginaku, Rio dan Hendra, suamiku.</p>
<p style="text-align: justify;">Tidak lama setelah mengocokku dari bawah, kurasakan badan Andre yang menegang kemudian disusul denyutan keras di vaginaku. Begitu keras dan deras semprotan spermanya hingga aku tersentak kaget menerima sensasi itu hingga aku menyusul orgasme sesaat setelahnya. Begitu nikmat dan nikmat, untung aku sempat mengeluarkan kejantanan Hendra dari mulutku sesaat setelah kurasakan semburan Andre, kalau tidak hampir pasti dia akan tergigit saat aku mengikuti orgasme. Tubuhku langsung melemas, aku langsung terkulai di atas tubuh Andre. Rio sudah melepas dekapannya dan Hendra duduk di samping Andre, sepertinya mereka menunggu giliran.</p>
<p style="text-align: justify;">Napasku sudah ngos-ngosan, aku dapat merasakan degup jantung Andre yang masih kencang, keringat kami sudah bercampur menjadi satu. Kejantanan Andre masih tertanam di vaginaku meskipun sudah melemas hingga akhirnya keluar dengan sendirinya. Rio menawariku lippovitan, penambah energi. Setelah aku berbaring di samping Andre, berarti dia sudah bersiap untuk bertempur denganku, segera kuhabiskan minuman itu, kesegaran memasuki di tubuhku tidak lama kemudian.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Gila kamu Ndre, ternyata tak kalah dengan Rio.&#8221; komentarku.<br />
&#8220;Ah biasa Mbak, kita udah biasa kerjasama kok.&#8221; jawabnya.<br />
&#8220;Makanya kompak kan Mbak, dan Mbak termasuk hebat bisa melayani kami sendiri-sendiri dalam satu hari, dan barusan adalah satu jam 17 menit.&#8221; Rio menimpali.<br />
&#8220;Biasanya kami langsung main bertiga, dan itu tidak lebih lama daripada sendiri-sendiri, paling lama setengah jam sudah KO.&#8221; kembali Andre menambahi.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku ke kamar mandi supaya badan segar, kuguyurkan air hangat di sekujur tubuhku, kusiram rambutku yang tidak karuan bercampur bau sperma. Jarum jam sudah menunjukkan pukul 10.30 malam ketika aku keluar dari kamar mandi. Kulihat mereka duduk di sofa, Rio dan Andre di sofa panjang sementara Hendra di sofa satunya, masih bertelanjang. Ketika aku datang hanya berbalut handuk, ranjang sudah dirapikan, entah apa rencana mereka, pikirku. Persetan yang penting aku dapat menikmati dan kuikuti permainannya.</p>
<p style="text-align: justify;">Rupanya aku terlalu lama dan asyik mandi hingga tidak tahu kalau makanan datang dan sudah tersaji di meja. Aku merasa lapar, maklum habis selesai dengan Rio disambung sama Andre dan aku belum makan sejak tadi siang. Aku duduk di antara Rio dan Andre, yang kemudian disambut tarikan handuk pembalut tubuhku oleh Rio hingga terlepas. Keduanya langsung mencium pipiku kiri kanan dan kusambut remasan di kejantanan mereka yang agak menegang.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Makan dulu yuk..!&#8221; ajakku langsung ke meja.<br />
Kami berempat bertelanjang makan bersama sambil bercerita pengalaman mereka. Aku tidak berani makan terlalu banyak, takut kalau terlalu banyak bergoyang jadi sakit perut, yang penting tidak lapar dan dapat menambah energi nanti, sepertinya mereka melakukan hal yang sama.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah istirahat selesai makan, kembali aku duduk di antara dua anak muda itu. Kali ini mereka langsung mencium leherku di kiri dan kanan sambil meremas-remas dadaku masing-masing satu. Hendra berdiri ke arah kami, dia meminta Rio berpindah tempat, dan dia langsung melakukan hal yang sama, menciumi leherku dan terus turun ke dada, sekarang Andre dan Hendra mengulum putingku di kiri dan kanan.</p>
<p style="text-align: justify;">Rio tidak mau jadi penonton, dia langsung bejongkok di antara kakiku, melebarkannya dan lidahnya mulai menjelajah di vaginaku. Mungkin dia masih mencium aroma sperma Andre karena memang tidak kubersihkan, tapi dia tidak perduli, jilatan demi jilatan menjelajah di vaginaku, dipermainkannya vaginaku dengan lidah dan jari tangannya. Kenikmatan mulai kurasakan, foreplay dengan 3 orang sekaligus, akan mempercepat perjalanan menuju puncak kenikmatan birahi.</p>
<p style="text-align: justify;">Dengan kemahiran permainan lidah Rio, aku sudah terbakar birahi, kepalanya kujepit dengan kedua kakiku supaya lebih merapat di selangkanganku. Aku tidak mau kejadian tadi terulang lagi, layu sebelum birahi.<br />
&#8220;Sshh.., Rio masukin Sayang.., sekarang..!&#8221; pintaku di sela kuluman Andre dan Hendra di dadaku.</p>
<p style="text-align: justify;">Tanpa menunggu kedua kalinya, Rio segera bangkit dan menyapukan kepala kejantanannya ke vaginaku, ternyata Andre mengikuti Rio, dia stand by di sampingnya sambil mementangkan kakiku lebar. Tidak seperti sebelumnya, kali ini Rio langsung mengocokku cepat dan keras, aku langsung menggeliat kaget, tapi segera mulutku dibungkam dengan ciuman bibir oleh Hendra. Andre sambil memegangi kakiku, dia menjilati kedua jari kakiku secara bergantian. Aku ingin menjerit dalam kenikmatan tapi tidak dapat karena lidah Hendra masih menikmati bibirku.</p>
<p style="text-align: justify;">Kocokan Rio bertambah cepat, iramanya susah ditebak karena terlalu banyak improvisasi, aku kewalahan mengikuti iramanya, disamping memang dia expert mempermainkan iramanya, dilain sisi aku juga sibuk menghadapi dua orang lainnya. Hendra minta aku mengulum kejantanannya, maka kusingkirkan Rio dari vaginaku, aku langsung jongkok di depan dia yang duduk di sofa, langsung mengulum penisnya yang sudah tegang.</p>
<p style="text-align: justify;">Rio tidak mau menunggu lebih lama, dengan doggy style dia mulai memasuki vaginaku. Sodokan awal perlahan, tapi selanjutnya makin keras dan cepat. Andre, aku tidak tahu dimana posisi dia, tapi yang kutahu dia stand by di samping Rio. Kugoyang-goyangkan pantatku mengikuti irama Rio, makin lama makin terasa nikmatnya, cukup lama dia mengocokku dengan berbagai variasi gerakan hingga ketika puncak kenikmatan hampir kurengkuh, tiba tiba dia mencabut kejantanannya. Aku mau protes, tapi ketika kutengok ke belakang ternyata Andre sudah bersiap menggantikan posisi Rio, dan sekali dorong tanpa menunggu reaksiku amblaslah kejantanannya ke vaginaku.</p>
<p style="text-align: justify;">Sekali lagi kurasakan perbedaan sensasi dari keduanya. Entahlah aku tidak dapat menentukan mana yang lebih nikmat. Andre langsung menggoyang sambil mengocokku dengan iramanya sendiri. Saat Andre sedang memacuku dengan cepat, tiba-tiba Hendra menyemprotkan spermanya di mulutku, terkaget juga aku, karena terkonsentrasi pada kocokan Andre hingga kurang memperhatikan ke Hendra. Kujilati sisa sperma di kejantanan dia yang tidak terlalu banyak.</p>
<p style="text-align: justify;">Ternyata Rio sudah mengganti posisi Andre, kemudian mereka berganti lagi begitu seterusnya entah sudah berapa kali berganti menggilirku hingga aku sudah tidak dapat membedakan lagi apakah yang mengocok vaginaku Andre atau Rio, keduanya sama-sama nikmat. Mereka tidak memperdulikan sudah berapa kali puncak birahi sudah kurengkuh. Selama aku belum bilang stop, mereka akan terus memacuku ke puncak kenikmatan.</p>
<p style="text-align: justify;">Entah sudah berapa lama dengan doggy style, lututku terasa capek. Aku merangkak naik ke sofa yang ditinggal Hendra, tetap dengan posisi doggy sofa mereka tidak memberiku kesempatan bernapas. Melayani satu Andre atau Rio saja aku sudah kewalahan, apalagi menghadapi mereka berdua secara bersamaan, dan mereka begitu kompak melayani birahiku. Berulang kali mereka mencoba memasukkan kejantanannya ke lubang anus, tapi selalu kutolak dan kutuntun kejantanannya kembali ke vaginaku.</p>
<p style="text-align: justify;">Kunikmati sodokan demi sodokan dari belakang entah dari Rio atau Andre hingga tiba-tiba kurasakan perbedaan yang drastis, begitu kecil dan rasanya seperti hanya masuk separoh saja kocokannya. Aku menoleh kebelakang, ternyata Hendra ikut bergiliran dengan mereka. Ternyata mereka melakukan permainan. Ketika Hendra sedang mengocokku, Rio dan Andre mengundi siapa berikutnya, begitu juga ketika Rio menyodokku, Hendra dan Andre mengundi berikutnya, begitu seterusnya. Aku berharap supaya Hendra tidak pernah menang.</p>
<p style="text-align: justify;">Waktu giliran ternyata ditentukan tidak lebih dari 3 menit untuk orang berikutnya, yang orgasme duluan harus merelakan diri jadi penonton. Entah sudah berapa lama berlangsung, lututku sudah lemas, tapi serangan dari belakang tidak menurun juga, aku heran juga ternyata Hendra dapat sedikit mengimbangi permainan Rio dan Andre. Dan benar dugaanku, tidak lama kemudian ketika si penis kecil sedang mengocokku, kurasakan denyutan-denyutan di dinding vaginaku dan kudengar teriakan Hendra pertanda dia orgasme. Kemudian kembali vaginaku berganti penghuni secara bergantian.</p>
<p style="text-align: justify;">Mereka melakukannya dengan kompak, banyak lagi variasi yang dilakukan mereka kepadaku, baik di ranjang, di meja makan, sambil berdiri menghadap dinding, mereka lebih suka melakukan secara simultan. Ketika aku hampir menghentikan permainan, mereka memberi tanda supaya aku berjongkok di antara mereka dan dengan sedikit bantuan kuluman dan kocokan pada kejantanan mereka secara bergantian, akhirnya menyemprotlah sperma mereka secara hampir bersamaan. Semua memuncrat ke wajah, sebagaian masuk mulut hingga ke tubuhku. Aku sangat menikmati ketika semprotan demi semprotan menerpa wajah dan tubuhku, terasa begitu erotic.</p>
<p style="text-align: justify;">Kami semua rebah di ranjang, jarum jam menunjukkan 01,30 dini hari, berarti sekitar dua jam bercinta dengan tiga orang sekaligus, sungguh permainan yang indah dan jauh memuaskan. Satu persatu tertidur kelelahan masih dalam keadaan telanjang.</p>
<p style="text-align: justify;">Tidak lama mataku terpejam ketika kurasakan ciuman di mulutku, Andre yang sudah menindihku berbisik, &#8220;Boleh nggak aku minta lagi.&#8221; bisiknya pelan di telingaku.<br />
Tanpa menjawab, kubuka kakiku dan dengan mudahnya dia memasukkan kejantanannya ke dalam. Dengan goyangan perlahan seperti menikmati, ternyata tidak lama dia sudah orgasme, ternyata bisa juga dia orgasme dengan cepat, mungkin 15 menit. Kemudian kami kembali tertidur.<br />
Tidak lama kemudian kejadian tadi terulang lagi, kali ini dengan Rio. Dengan cepat pula dia menuntaskan hasratnya. Ketika kami semua terbangun pukul 10 pagi, rasanya aku belum lama tidur, Kulihat Hendra sudah memakai pakaian, sementara Rio dan Andre masih telanjang berbincang dengan Hendra.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Pagi Sayang, bagaimana mimpi indahmu..?&#8221; tanyanya.<br />
&#8220;Terlalu indah untuk sebuah mimpi.&#8221; jawabku yang langsung ke kamar mandi untuk berendam menghilangkan lelah.<br />
Tidak lama kemudian ketika sedang asyik berendam, muncullah Rio dan Andre di pintu kamar mandi yang memang tidak kukunci.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Mau ditemenin mandi Mbak..?&#8221; tanya Andre.<br />
&#8220;Pasti asyik kalau mandi bertiga.&#8221; sambung Rio.<br />
Dan akhirnya sudah dapat diduga, kembali kami melakukan permainan sex bertiga, tapi kali ini dilakukan di kamar mandi, ternyata sensasinya berbeda dari tadi malam. Banyak juga aku belajar variasi baru. Bertiga di kamar mandi, baik itu di bathtub, shower ataupun di meja westafel kamar mandi, sungguh pengalaman yang luar biasa. Cukup lama juga kami bercinta di kamar mandi hingga akhirnya Hendra mengingatkan kami waktu check out.</p>
<p style="text-align: justify;">Pukul 12 siang kami sudah bersiap untuk check out. Ketika Rio dan Andre sedang berpakaian, ternyata Hendra memintaku sekali lagi untuk &#8216;quicky&#8217;. Dengan membuka pakaian seperlunya, kami kembali bercinta disaksikan kedua gigolo itu. Namanya saja quicky, maka tidak sampai sepuluh menit dia sudah menyemprotkan spermanya di vaginaku, dan segera memasukkan kembali kejantanannya di balik celananya dan tanpa membersihkan lebih lanjut. Aku menngenakan kembali celanaku yang merosot tadi, dan kami check out hotel secara bersama-sama, tidak lupa setelah menukar nomer HP masing-masing dengan kenangan yang indah.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ceritasex.cn/bercinta-dengan-gigolo/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Gangbang My Wife</title>
		<link>http://www.ceritasex.cn/gangbang-my-wife/</link>
		<comments>http://www.ceritasex.cn/gangbang-my-wife/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 07 Mar 2010 01:02:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cerita Sex</dc:creator>
				<category><![CDATA[Gangbang Rame Rame]]></category>
		<category><![CDATA[Paruh baya]]></category>
		<category><![CDATA[Seks Umum]]></category>
		<category><![CDATA[Tante Girang]]></category>
		<category><![CDATA[kisah nyata]]></category>
		<category><![CDATA[doyan kontol]]></category>
		<category><![CDATA[gangbang]]></category>
		<category><![CDATA[istri]]></category>
		<category><![CDATA[lonte]]></category>
		<category><![CDATA[memek]]></category>
		<category><![CDATA[memek cina]]></category>
		<category><![CDATA[ngentot]]></category>
		<category><![CDATA[seks]]></category>
		<category><![CDATA[wife]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ceritasex.cn/?p=1262</guid>
		<description><![CDATA[Whoaaaaaaaaa.. hot banget&#8230; ini kisah nyata lho ada suami yang ingin istrinya di gangbang 3 cowok hehehe. Kata istrinya enak banget bikin ngentot sama 5 cowok bikin ketagihan hehehe dasar memek cina doyan kontol pribumi&#8230;.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Whoaaaaaaaaa.. hot banget&#8230; ini kisah nyata lho ada suami yang ingin istrinya di gangbang 3 cowok hehehe. Kata istrinya enak banget bikin ngentot sama 5 cowok bikin ketagihan hehehe dasar memek cina doyan kontol pribumi&#8230;. <img src='http://www.ceritasex.cn/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> </p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2010/03/gangbang-my-wife-1.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-1263" title="gangbang-my-wife-1" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2010/03/gangbang-my-wife-1-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a></p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2010/03/gangbang-my-wife-2.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-1264" title="gangbang-my-wife-2" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2010/03/gangbang-my-wife-2-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a></p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2010/03/gangbang-my-wife-3.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-1265" title="gangbang-my-wife-3" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2010/03/gangbang-my-wife-3-300x239.jpg" alt="" width="300" height="239" /></a></p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2010/03/gangbang-my-wife-4.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-1266" title="gangbang-my-wife-4" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2010/03/gangbang-my-wife-4-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a></p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2010/03/gangbang-my-wife-5.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-1267" title="gangbang-my-wife-5" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2010/03/gangbang-my-wife-5-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a></p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2010/03/gangbang-my-wife-6.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-1268" title="gangbang-my-wife-6" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2010/03/gangbang-my-wife-6-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a></p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2010/03/gangbang-my-wife-7.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-1269" title="gangbang-my-wife-7" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2010/03/gangbang-my-wife-7-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a></p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2010/03/gangbang-my-wife-8.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-1270" title="gangbang-my-wife-8" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2010/03/gangbang-my-wife-8-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a></p>
<p><span id="more-1262"></span></p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2010/03/gangbang-my-wife-9.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-1271" title="gangbang-my-wife-9" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2010/03/gangbang-my-wife-9-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a></p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2010/03/gangbang-my-wife-10.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-1272" title="gangbang-my-wife-10" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2010/03/gangbang-my-wife-10-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a></p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2010/03/gangbang-my-wife-11.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-1273" title="gangbang-my-wife-11" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2010/03/gangbang-my-wife-11-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a></p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2010/03/gangbang-my-wife-12.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-1274" title="gangbang-my-wife-12" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2010/03/gangbang-my-wife-12-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a></p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2010/03/gangbang-my-wife-13.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-1275" title="gangbang-my-wife-13" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2010/03/gangbang-my-wife-13-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a></p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2010/03/gangbang-my-wife-14.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-1276" title="gangbang-my-wife-14" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2010/03/gangbang-my-wife-14-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a></p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2010/03/gangbang-my-wife-15.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-1277" title="gangbang-my-wife-15" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2010/03/gangbang-my-wife-15-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a></p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2010/03/gangbang-my-wife-16.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-1278" title="gangbang-my-wife-16" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2010/03/gangbang-my-wife-16-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a></p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2010/03/gangbang-my-wife-17.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-1279" title="gangbang-my-wife-17" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2010/03/gangbang-my-wife-17-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a></p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2010/03/gangbang-my-wife-18.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-1280" title="gangbang-my-wife-18" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2010/03/gangbang-my-wife-18-300x233.jpg" alt="" width="300" height="233" /></a></p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2010/03/gangbang-my-wife-19.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-1281" title="gangbang-my-wife-19" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2010/03/gangbang-my-wife-19-300x261.jpg" alt="" width="300" height="261" /></a></p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2010/03/gangbang-my-wife-20.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-1282" title="gangbang-my-wife-20" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2010/03/gangbang-my-wife-20-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ceritasex.cn/gangbang-my-wife/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mencoba 3 Some Dengan Perjaka&#8230;</title>
		<link>http://www.ceritasex.cn/mencoba-3-some-dengan-perjaka/</link>
		<comments>http://www.ceritasex.cn/mencoba-3-some-dengan-perjaka/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 06 Feb 2010 05:52:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cerita Sex</dc:creator>
				<category><![CDATA[Gangbang Rame Rame]]></category>
		<category><![CDATA[Paruh baya]]></category>
		<category><![CDATA[kisah nyata]]></category>
		<category><![CDATA[selingkuh]]></category>
		<category><![CDATA[gangbang]]></category>
		<category><![CDATA[istri]]></category>
		<category><![CDATA[perjaka]]></category>
		<category><![CDATA[threesome]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ceritasex.cn/?p=1251</guid>
		<description><![CDATA[Pengalaman 3 some minggu lalu membuat istriku menjadi pendiam selama beberapa hari. Aku belum pasti apakah dia shock atau malah menikmati atau malu. Malam hari, istriku merebahkan badannya disampingku, kuelus punggungnya dan kuciumi lehernya lembut..” Ma kok sekarang jadi pendiam&#8230;marah ya sayang&#8230;”tanyaku. Dengan pelan pelan dia membalik badannya menghadapku kemudian kucium tipis bibirnya “ Nggak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Pengalaman 3 some minggu lalu membuat istriku menjadi pendiam selama beberapa hari. Aku belum pasti apakah dia shock atau malah menikmati atau malu.</p>
<p style="text-align: justify;">Malam hari, istriku merebahkan badannya disampingku, kuelus punggungnya dan kuciumi lehernya lembut..” Ma kok sekarang jadi pendiam&#8230;marah ya sayang&#8230;”tanyaku. Dengan pelan pelan dia membalik badannya menghadapku kemudian kucium tipis bibirnya “ Nggak kok pa&#8230;Cuma merasa gimana gitu&#8230;..” Matanya berkaca kaca..</p>
<p style="text-align: justify;">“ Lho kok malah nangis&#8230; kenapa sayang..? Jangan marah ya…kamu tahu kan aku tambah sayang banget. Bener lho….aku berharap banget kamu bisa menikmatinya sayang”…Bisikku lembut agak kuatir.</p>
<p style="text-align: justify;">Ok lah nggak papa, kalo kamu nggak bisa menikmati, yang kemarin itu pertama dan terakhir deh… tapi sekali lagi..aku sayang banget sama kamu ma…kalo kamu bisa menikmatinya aku bahagia banget…” Sambil kucium lembut air matanya yang mulai meleleh dipipinya.</p>
<p style="text-align: justify;">“aku sayang banget sama papa…saaayaaaang banget…jujur ketika itu aku memang menikmatinya tapi aku merasa bersalah ke papa dan malu juga, kok aku kelihatan liar&#8230;malu sama papa&#8230;” bisiknya sambil memainkan kancing bajuku, matanya tidak berani menatapku.<br />
“ Lho kenapa sayang&#8230;aku merasakan nikmat yang luar biasa lho.. bener..aku sangat menikmatinya..memang agak kaget juga ketika melihat kamu ganas dan liar kayak gitu&#8230;aauu!!!”<br />
Istriku mencubit dadaku “ aduh !! papa.. jangan gitu dong..jadi malu neehh” istriku cemberut. Cepat cepat kucium bibirnya lembut, “ aku sangat menikmatinya sayang&#8230;jangan kuatir..” bisikku. Tampaknya suasana hati istriku mulai membaik.</p>
<p style="text-align: justify;">“ Kira kira kamu mau nggak kalo kita coba lagi..mmm ?.”bisikku sambil menggelitik telinganya dengan lidah” aaahhh..mmm..kok nggak sabaran sih pa&#8230;kan barusan&#8230;masak lagi&#8230;mmm..aahhh” Bisiknya sambil menggeliat karena geli.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku remas lembut buah dadanya “ Kali ini sama perjaka gimana ? udah ada lho calonnya&#8230;” Istriku mencium leherku “ aah paling ngakunya perjaka&#8230;nggak percaya&#8230;” sambil membalik memunggungiku, sekilas dia tersenyum tapi berusaha menutupinya.</p>
<p style="text-align: justify;">“ Nggak ..ini perjaka beneran kok&#8230;perjaka ting ting..kalo perjaka kan kamu nanti bisa mengulum batangnya.. aku kan pernah bilang kalo nggak keberatan misalnya cowok itu memuncratkan sperma di dalam dengan catatan masih perjaka&#8230;” Kataku berusaha membujuknya.<br />
Istriku menghentikan geliatannya dan memandangku tajam “Aduh rek&#8230; bahasanya kasar bener&#8230;muncrat !!..yang halus dong pa&#8230;mengeluarkan atau apalah istilahnya.<br />
Mmmm.. papa beneran nih.. bener bener pengen nyenengin aku&#8230;? nggak papa aku nelen spermanya&#8230;ato membiarkannya muncrat didalamnya ? “ato membiarkan spermanya mengenai wajahku ? nggak cemburu ?” pertanyaannya bertubi tubi.<br />
“Aku nggak masalah ma selama dia perjaka..Asyik kan dapat perjaka&#8230;hmmm daun muda bok..! “ Kataku menggoda&#8230;<br />
“Aaahh papa !..” cubitannya menyerbu tubuhku..<br />
<span id="more-1251"></span><br />
Wajah Ryan memerah karena malu, wajahnya menunduk jengah ketika istriku mulai menurunkan lingerienya. Aku akui meski umurnya 40 tahun, tubuh istri masih bagus, mulus, bersih, dan putih, paling nggak menurutku sendirilah&#8230;</p>
<p style="text-align: justify;">He..Ryan..bagaimana menurutmu tubuh istriku&#8230;sexy nggak ? “ tanyaku berbisik sekilas di telinganya. Wajah Ryan tambah memerah, menjawab dengan ragu ragu agak serak : Tante cantik sekali om&#8230;cantik sekali&#8230;mmmm apa om nggak marah&#8230;? selain itu saya kan belum pernah gituan. Kalo nggak bisa muasin gimana ? dan mmmm&#8230; saya nggak enak kalo misalnya keluar duluan.”</p>
<p style="text-align: justify;">Udah..kamu santai aja..pokoknya nurut aja ok..? eh&#8230; kamu udah mandi belum, sana mandi dulu..bersihin yang bener senjata kamu. Nggak mau kalo jorok., pake nih minyak wangiku.” Suruhku. “ eh..udah kok om&#8230;saya udah mandi..” katanya pelan. “Mandi lagi aja deh..” Kataku memaksa.</p>
<p style="text-align: justify;">Sambil menunggu Ryan mandi aku mulai merangsang istriku. Kami berciuman lembut, meremas buah dadanya, sambil sesekali menjilat miss Vnya. “ Pa..nanti menurut papa aku cium batangnya dulu apa langsung dimasukin ? tanya istriku ragu ragu. “ Lho yang paling kamu suka yang mana dulu sayang&#8230;tapi baiknya kamu kulum aja batangnya&#8230;kan masih perjaka&#8230;pasti bersih lah..aku nggak keberatan kok tanpa kondom..:kataku sambil menciumi telinganya.</p>
<p style="text-align: justify;">: Aduhhh tanpa kondom ? mmm kalo aku kulum nggak papa pa ? aku kuatir kalo dia nggak kuat terus keluar di mulut&#8230;eh tapi tadi kata papa nggak papa ya keluar di mulut&#8230;” kata istriku gelisah.</p>
<p style="text-align: justify;">“ Nggak papa honey&#8230;atau biar si Ryan nyiumin bagian bawah aku bagian atas&#8230;.eh Ryan..udah selesai mandinya ? “ Tanyaku, terlihat Ryan sedang berdiri canggung agak jauh di depan kamar mandi.</p>
<p style="text-align: justify;">“ Pa&#8230;gila batangnya gede banget ! mana cukup ! “ Bisik istriku tercekat sambil menatap kaget batang Ryan yang mengacung tinggi.</p>
<p style="text-align: justify;">Hehehehe rupanya istriku terkaget kaget melihat batang gede Ryan…sengaja aku pilih perjaka yang berbatang lebih besar dari punyaku. Lah.. buat apa kalo kecil..nanti istriku nggak terkesan.</p>
<p style="text-align: justify;">He..sini Ryan…kamu nurut aja ya kalo tante nyuruh kamu, coba kamu sekarang nyium punya tante, om yang bagian atas dulu..ok ? Jangan sampe kegigit lho !&#8230;pelan pelan aja….bisa nggak ? Tanyaku.<br />
“ ii..ii ya om…: Katanya sambil jongkok, matanya nanar melihat miss V istriku.<br />
Perlahan lidah Ryan menjilat pelan…hmm lumayan juga untuk pemula. Wajah Ryan tampak memerah menahan nafsu.<br />
” uuuhhh..pa..nikmat sekali…” Tangan istriku menekan kepala Ryan agar lebih tenggelam ke belahan pahanya sambil sesekali meremas dan menjambak rambut perjaka itu, sementara tangan satunya memeluk leherku, kami berciuman lembut…bertambah liar…liar..bibir kami bertautan erat, suara kecipak bibir kami makin keras dan “aaaargghhhh..” Istriku menjerit. “ Lho…ma..kok udah orgasme ? cepet banget…?</p>
<p style="text-align: justify;">Istriku melenguh nikmat,” iya pa…abis memang enak sih…rasanya gak ada beban gitu…kalo kemarin jujur aja ada rasa takut. Kalo ini kan masih perjaka…rasanya lebih nyaman..” Kata istriku sambil tersenyum malu.</p>
<p style="text-align: justify;">“Masuk ya pa…please..punya papa dulu dong..shhh” Perlahan aku arahkan batangku ke vagina istriku yang sudah basah kena ludah Ryan. Perlahan lahan aku masukkan. Dengan pandangan takjub Ryan melihat bagaimana batangku keluar masuk, agaknya dia penasaran bagaimana caranya bercinta. Polos juga itu anak…</p>
<p style="text-align: justify;">“He..Ryan jangan bengong aja..tante mau kulum batang kamu. Kalo kamu nggak kuat nggak papa keluarin aja.” aku mengajarinya.</p>
<p style="text-align: justify;">”Aduh papa..kasar banget sih&#8230;” kata istriku sambil meraih dan mengocok batang Ryan yang menegang keras. Aku kedipkan mataku meminta istriku tidak ragu ragu untuk memulai mengulum batang tersebut, sementara aku tetap mengocok pelan vagina istriku.</p>
<p style="text-align: justify;">Sambil mengocok lembut dan mengelus ujung batangnya, istriku berbisik : ” Ryan &#8230;bener belum pernah sama perempuan lain ? kalo belum, tante masukin mulut ya batang kamu&#8230;kalo nggak kuat nggak papa keluarin aja tapi ngomong dulu..ok ? ”</p>
<p style="text-align: justify;">”Ssssh tante&#8230;sshh belum pernah tante&#8230;aduh enak&#8230;” Suara Ryan bergetar hebat.</p>
<p style="text-align: justify;">” Ok tante cium cium ya&#8230;” Sambil menyentuhkan ujung lidahnya ke permukaan batang Ryan membuat tubuh Ryan bergetar lebih hebat lagi. Dengan perlahan batang Ryan mulai masuk ke dalam mulut istriku. Gila…! Menggairahkan sekali.</p>
<p style="text-align: justify;">Dua kali mengulum istriku menghentikan gerakannya sambil memandangku. “ Kenapa ma kok berhenti ? “ Tanyaku heran.</p>
<p style="text-align: justify;">“ Ternyata bener bener enak pa…enak banget “ Sambil mengedipkan matanya istriku kembali mengulum habis batang Ryan.<br />
“ AAhhhhh tante…mau keluar tante…aaahhh “<br />
Dan menyemburlah sperma Ryan ke mulut istriku yang sibuk menelan dan menjilati muncratan sperma dari batang besar tersebut. Saking banyak spermanya sampai ada yang ke rambut, pipi dan mengalir ke leher istriku. Istriku bersemangat menjilati, menyedot, menggigit gigit gemas. Aaaah bener bener indah dan menggairah pemandangan di depanku….luar biasa…! Seluruh sperma Ryan tidak bersisa sama sekali ditelan habis oleh istriku. Nggak heran sih, istriku paling paling ahli di bidang ilmu perkuluman ini. Dulu jaman pacaran aja, nggak lebih dari 10 menit pasti spermaku sudah semburat keluar.</p>
<p style="text-align: justify;">“Gimana sayang rasanya sperma perjaka ? “ Tanyaku sambil mengedip nakal.</p>
<p style="text-align: justify;">“Aaaah papa jahil banget sihh…” Sambil mencium bibirku…uuff …aku terpaksa ikut merasakan sperma perjaka satu ini..Sementara Ryan sudah tergeletak lemas di samping istriku.</p>
<p style="text-align: justify;">“Ayo pa…sekarang papa ganti yang ngeluarin, tapi jangan disemburin lho…biar bisa berkali kali” Bisiknya. Hehehehe memang kalau nggak aku semprotin, aku bisa bercinta nonstop 4-5 kali lagi. Biarin aja sperma itu keluar sendiri, kalo disemburkan nggak bakalan aku bisa nerusin ML ini.</p>
<p style="text-align: justify;">“Didalam aja sayang…keluarin didalam aja” Bisik istriku. Ahh gila enak banget…aku keluarin pelan pelan spermaku…ahhh nikmat banget.</p>
<p style="text-align: justify;">Ryan tampaknya sudah mulai terangsang kembali. Dengan ragu ragu dengan pandangan berharap dia menyentuh dan meremas tangan istriku. “ Udah bisa bangun lagi ? Ayo coba dimasukin yuk….pelan pelan aja ya..sini tante ajarin gimana masuknya “ Kata istriku lembut, dalam hati aku tertawa…goblok banget nih anak…masa gitu aja harus diajarin.</p>
<p style="text-align: justify;">“Papa geser dulu ya….” Dengan mengocok lembut istriku mengarahkan batang Ryan ke vaginanya…tanpa kondom !!&#8230;dengan takjub aku melihat bagaimana batang besar tersebut mulai menyentuh ujung vagina istriku, digesek gesek pelan sehingga membuka labia mayora yang kemerahan dan perlahan masuk….ahhh sexy sekali…Untuk pertama kalinya istriku menikmati batang orang lain tanpa kondom, dan aku sama sekali tidak keberatan.</p>
<p style="text-align: justify;">” Uuhhh ya gitu Ryan…agak ditekan ya biar bisa masuk lebih dalam…yaaa gitu…ahhh besar sekali…papa nikmat pa…ayo Ryan digoyang dong…kamu keluar masukin kayak seperti om lakukan tadi lho….yaaa gitu…uuuff enak sekali…ayo Ryan kamu ciumin dada tante…pelan pelan ya…dijilat aja ya…yang lembut…” Bisik istriku.</p>
<p style="text-align: justify;">Dengan ragu Ryan memandangku. Aku goyangkan kepalaku go ahead !! bak mendapat durian runtuh Ryan menerkam buah dada istriku yang ranum dengan puting merah muda menjulang keras karena terangsang tersebut.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku biarkan istriku menikmati batang Ryan sepuas puasnya. Dengan pandangan sayu seakan mengucapkan terima kasih, nafas istriku bertambah memburu karena menahan kenikmatan, tampaknya dia segera menuju orgasme yang kedua. Kalau ini terjadi artinya luar biasa karena istriku untuk bisa orgasme sering dibantu dengan jari.</p>
<p style="text-align: justify;">“Pa…pa… boleh didalam ya…gimana pa..nggak papa…” Suara istriku terputus putus, orgasmenya sudah mulai menuju puncak hanya menunggu persetujuanku saja untuk mencapainya. Tangannya meremas pantat Ryan, sementara Ryan sibuk melumat buah dada istriku. Aku cium lembut bibirnya yang merekah tersengal sengal “ nikmati saja sayang, keluarkan…keluarkan orgasmemu….teriaklah yang keras. Puaskan dirimu sayang…”bisikku lembut. Sementara Ryan semakin giat mengeluar masukkan batang raksasanya..”Tante saya mau keluar lagi…didalam ya tante…ahhhh…saya keluar….!”</p>
<p style="text-align: justify;">Nafas istriku tersengal sengal hebat, Kakinya mulai menekuk menekan pantat Ryan, makin memburu&#8230;rintihannya mulai mengeras&#8230;dan matanya berkaca kaca&#8230;Tiba tiba tubuhnya menegang, Jarinya menghunjam keras kepunggung Ryan, kepalanya mendongak keatas sambil memejamkan matanya, istriku melenguh keras. Aaahhh.. istriku orgasme dengan seijinku. Air matanya menetes dari sudut matanya…kenapa dia menangis ? Aku kawatir…</p>
<p style="text-align: justify;">Ryan menarik batangnya dan berjalan canggung kekamar mandi. Tampak spermanya yang sudah bercampur dengan spermaku mengalir perlahan keluar dari vagina istriku.<br />
Aku cium lembut bibirnya: “kenapa menangis sayang …?”<br />
“Papa…nikmat sekali…terima kasih rasa nikmatnya seperti kita pertama kali melakukan&#8230;maaf pa&#8230;aku jahat ya&#8230;” Air matanya masih mengalir, aku cium lagi matanya dengan lembut” Ma..aku sayang banget sama kamu&#8230;Ini semua kan untuk kamu&#8230;jadi nikmati dong..jangan nangis&#8230;ok ?</p>
<p style="text-align: justify;">Kami berciuman&#8230;aku remas lembut rambutnya, perlahan aku tindih tubuhnya dan kami menyatu lagi untuk ketiga kalinya&#8230;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ceritasex.cn/mencoba-3-some-dengan-perjaka/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Di Balik Kamar Kost</title>
		<link>http://www.ceritasex.cn/di-balik-kamar-kost/</link>
		<comments>http://www.ceritasex.cn/di-balik-kamar-kost/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 09 Jan 2010 10:40:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cerita Sex</dc:creator>
				<category><![CDATA[Daun Muda]]></category>
		<category><![CDATA[Gangbang Rame Rame]]></category>
		<category><![CDATA[Pemerkosaan]]></category>
		<category><![CDATA[Seks Umum]]></category>
		<category><![CDATA[amoy]]></category>
		<category><![CDATA[cina]]></category>
		<category><![CDATA[gangbang]]></category>
		<category><![CDATA[mesum]]></category>
		<category><![CDATA[ngentot]]></category>
		<category><![CDATA[perkosa]]></category>
		<category><![CDATA[salome]]></category>
		<category><![CDATA[seks]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ceritasex.cn/?p=1206</guid>
		<description><![CDATA[Pertama-tama perkenankan saya memperkenalkan diri dulu. Biasa teman-temanku memanggilku Nana (nama lengkap/aslinya ga usah disebut yah), lahir tahun 83. Tubuhku cukup jangkung untuk ukuran wanita, terakhir kuukur 172 cm, dengan berat 48kg dan tiga lingkar tubuh 86/60/90. Rambutku lurus sebahu, wajah lonjong ,dan kulit putih karena aku WNI keturunan. Saat ini masih kuliah di fakultas [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Pertama-tama perkenankan saya memperkenalkan diri dulu. Biasa teman-temanku memanggilku Nana (nama lengkap/aslinya ga usah disebut yah), lahir tahun 83. Tubuhku cukup jangkung untuk ukuran wanita, terakhir kuukur 172 cm, dengan berat 48kg dan tiga lingkar tubuh 86/60/90. Rambutku lurus sebahu, wajah lonjong ,dan kulit putih karena aku WNI keturunan. Saat ini masih kuliah di fakultas sastra di salah satu universitas swasta di Bandung dan ngekost tidak jauh dari kampusku. Aku termasuk gadis yang sering ke salon dan modis, maka aku sudah tidak asing dengan tatapan nakal cowok-cowok di kampus kalau aku memakai pakaian yang ketat atau agak seksi, apalagi ketika ngedugem dimana aku memakai pakaian yang lebih terbuka. Dalam percintaan, secara jujur kuakui aku bukan type yang setia. Aku sudah mempunyai pacar yang sedang kuliah di Amerika sehingga kami jarang bertemu, kami sudah berjalan lebih dari tiga tahun dan aku mencintainya, tapi darah muda dalam diriku melibatkanku dalam beberapa hubungan one night stand dengan teman kuliah maupun teman dugem, bagiku semua itu hanya hubungan badan tanpa merubah perasaanku pada pacarku.</p>
<p style="text-align: justify;">Kisahku ini terjadi pada pertengahan tahun 2004 yang lalu yaitu libur akhir semester. Waktu itu teman kostku sudah banyak yang pulang, di kostku hanya tersisa seorang pria, dan dua wanita termasuk diriku. Yang dua itu tidak pulang karena ikut semester pendek, tapi aku belum pulang karena waktu itu di rumahku tidak ada siapa-siapa berhubung kedua orangtuaku sedang menghadiri pernikahan di kota lain dan kakakku satu-satunya sudah dua tahun yang lalu menikah dan ikut suaminya. Jadi pemikiranku lebih baik kutunda kepulanganku sampai papa dan mamaku pulang 2-3 hari lagi, daripada kesepian di rumah mendingan kuisi waktuku untuk having fun bersama teman-temanku di Bandung. Malam itu aku ngedugem di salah satu tempat dugem di jalan Cihampelas. Teman-temanku mencekoki minuman sementara aku tidak kuat minum, mereka bilang untuk merayakan kenaikan IPK-ku. Aku mabuk sehingga dalam perjalanan pulang dengan mobil Ocha aku numpang ke WC di rumah Risa waktu sampai di rumahnya karena tidak tahan mau muntah. Setelah muntah akupun masih pusing-pusing sehingga terpaksa aku minta Risa untuk menginap di rumahnya semalam saja daripada pulang ke kost dalam keadaan sempoyongan, kan ga enak dilihat.</p>
<p style="text-align: justify;">Singkat cerita akupun menginap di rumah Risa malam itu dan baru terbangun besoknya, hari Minggu jam sebelasan. Kepalaku masih agak berat.<br />
“Lu orang sih, nyuruh gua minum terus, aduh kaya mau mati aja kemarin rasanya tau !” omelku pada Risa.<br />
“Hihihi, gapapa lah Na sekali-kali aja, kan kita baru selesai semester nih !” jawabnya tertawa kecil mengingat keadaanku kemarin.<br />
Akhirnya setelah makan sedikit, Risa mengantarku pulang ke kostku di daerah Sukamekar. Kumasuki pintu gerbang kostku, suasanya sepi seperti beberapa hari terakhir. Di depan pos jaga aku berpapasan dengan Gungun, pegawai/ penjaga kostku yang berusia dua puluhlimaan sedang ngobrol-ngobrol dengan dua orang pemuda yang kira-kira sebaya dengannya, aku tidak tahu siapa mungkin temannya yang penduduk sekitar sini. Aku tersenyum kecil sebagai basa-basi dan mereka membalasnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Terasa sekali mereka memandangi tubuhku yang masih memakai pakaian seksi semalam berupa sebuah rok putih sejengkal di atas lutut dan tank top berdada rendah yang memperlihatkan sedikit belahan dadaku. Aku mempercepat langkahku ke tangga, di dekat tangga akupun berpapasan lagi dengan pegawai kostku yang lain, si Acep yang masih berusia SMA, sekitar enambelas tahun, orangnya agak culun, berambut cepak dan kerempeng, dia sering bertugas membelikan barang pesanan dan mengantar makanan untuk kami, para penghuni disini.<br />
“Eh…Neng, baru pulang yah !” sapanya sambil cengengesan.<br />
Aku hanya menjawab iya saja lalu menaiki tangga, instingku mengatakan kalau dia berusaha mengintip rokku yang mini ketika aku naik, sempat terlihat sekilas olehku ketika sampai di lantai dua dan membelok. Sampai di kamar, aku langsung membuka pakaianku dan masuk ke kamar mandi, langung kubuka shower dan kuguyur tubuhku dengan air dingin, segar sekali rasanya, udara di luar waktu itu lagi panas ditambah lagi panas alkohol masih sedikit terasa dari dalam tubuhku.<br />
<span id="more-1206"></span><br />
Selesai mandi, aku keluar dari kamar mandi tanpa mengenakan apapun sambil mengelap rambutku dengan handuk. Kuambil celana dalam kuning dan kupakai. Aku tidak menemukan baju barongku yang biasa kupakai tidur di gantungan di pintu, baru ingat kalau baju itu sudah kutaruh di tempat cucian. Karena malas mencari baju lain di lemari, akupun lantas melempar diriku ke kasur. Biar saja tidur hanya dengan celana dalam, apalagi cuacanya lagi panas, kipas anginnya juga kumatikan. Kututupi tubuhku dengan selimut dan kupeluk guling kesayanganku untuk melanjutkan tidurku yang masih belum puas ditambah masih sedikit pening, maklumlah orang ga kuat minum di suruh minum banyak ya gini nih jadinya. Entah berapa lama aku tertidur lelap sekali sampai kurasakan ada rasa geli pada tubuhku, secara refleks tanganku menepis dan menggulingkan tubuh ke arah lain. Namun perasaan itu datang lagi dengan lebih hebat, kali ini juga kurasakan pada paha dan dadaku seperti ada yang mengenyot. Kali ini aku terbangun dan kaget sekali melihat ternyata benar-benar ada orang yang sedang mengenyot dadaku dan seseorang lainnya sedang menjilati pahaku. Spontan akupun menjerit, namun sebuah tangan membekap mulutku dari belakang. Ketika aku meronta, gerakanku langsung terkunci oleh tangan-tangan yang memegangi kedua tangan dan kakiku.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku mengedip-ngedipkan mata memperjelas pandanganku, aku makin terperanjat dengan keempat wajah menyeringai diatasku, wajah yang tak asing bagiku. Yang dua adalah pegawai kostku, Gungun dan Acep dan dua orang temannya yang kutemui di bawah tadi. Aku tidak habis pikir bagaimana mereka bisa masuk sini, padahal pintu sudah kukunci, tapi sekarang bukan waktunya memikirkan itu, sekarang harusnya memikirkan apa yang harus kulakukan menghadapi situasi ini.<br />
“Halo Neng, maaf yah kita masuk sini diam-diam abis ga tahan liat body Neng yang bahenol !” kata Gungun.<br />
“Emmphh…eemhhh !” aku berusaha berteriak walau mulut masih dibekap sambil meronta ketika Gungun meraba payudaraku.<br />
“Udahlah Neng, ga usah ngelawan terus, disini lagi gak ada siapa-siapa kok !” sahut orang yang membekapku yang berambut agak bergelombang dan matanya besar.</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam situasi makin kritis seperti ini aku mulai berpikir ulang, aku pernah membaca berita tentang pembunuhan di kost, melawan mereka yang sedang kalap mungkin saja malah mencelakakanku, bukankah lebih baik pasrah saja menuruti mereka. Lagipula aku ini kan bukan perawan dan pria yang pernah main denganku bukan hanya pacarku, bedanya cuma mereka sama-sama WNI keturunan dan yang empat ini bukan. Yah, anggap saja tambah pengalaman seks lah, begitu pikirku positif. Yang masih membuatku risau adalah apakah aku sanggup melawan empat orang sekaligus mengingat seumur hidup aku selalu bermain konvensional satu lawan satu. Mungkin sekaranglah waktunya bagiku untuk mencoba rasanya digangbang. Seiring dengan birahiku yang mulai naik, rontaanku pun berangsur-angsur berkurang berganti menjadi kepasrahan. Darahku berdesir dan bulu-buluku merinding ketika tangan-tangan itu menggerayangi tubuhku, ciuman dah jilatan juga menghujani tubuhku. Salah seorang teman Gungun tadi menarik lepas celana dalamku. Keempat orang itu menelan ludah menyaksikan keindahan tubuhku yang sudah telanjang bulat, terutama Acep sepertinya ini baru pertama kali dia melihat tubuh wanita secara nyata.</p>
<p style="text-align: justify;">“Anjrit, jembutnya lebat banget euy !” kata Gungun sambil merabai kemaluanku yang berbulu lebat tapi rapi, karena sering kucukur rapi tepiannya agar tidak keluar-keluar kalau memakai baju renangku yang seksi.<br />
Teman Gungun yang rambutnya gondrong sebahu menciumi payudaraku, digigit dan disedot-sedotnya putingku yang sensitif. Kuncian mereka terhadapku mengendur dan tangan yang membekap mulutku juga sudah lepas. Kepalaku menggeleng-geleng ketika Gungun mau menciumku, tapi dia lalu memegangi kepalaku sehingga aku tak bisa lagi menghindari mulutnya. Rangsangan yang datang bertubi-tubi membuatku semakin horny dan mulutku pun membuka menerima serangan lidah Gungun, mau tak mau aku harus beradaptasi dengan bau mulutnya. Kumainkan lidahku mengimbangi lidahnya yang menari-nari di mulutku. Ketika asyik berciuman dengan Gungun setidaknya ada dua jari yang bermain di vaginaku, aku tidak tahu siapa itu karena aku biasa memejamkan mata kalau berciuman agar lebih menghayati, selain itu tangan yang menggerayangiku ada empat pasang sehingga tidak sempat mengenalinya satu-satu.</p>
<p style="text-align: justify;">Lama juga Gungun menciumiku, itu dia lakukan sambil tangannya menjelajahi lekuk-lekuk tubuhku, hampir lima menit kira-kira, begitu mulutnya lepas aku akhirnya lega bisa kembali menghirup udara segar walau dengan nafas sudah memburu.Ketika kubuka mata, kulihat di sebelah kananku teman Gungun yang matanya besar itu sedang mengenyoti payudaraku dengan rakusnya, dia sudah membuka pakaiannya, aku melihat penisnya yang sudah tegang itu menggantung di selangkangannya, bentuknya panjang dengan kepalanya disunat. Iihhh…geli sekaligus terangsang membayangkan aku harus mengulum dan dimasuki benda itu. Si Acep sedang menjilat dan meraba tubuh bagian sampingku (sekitar perut, paha, dan dada), dia juga masih memakai kaos oblongnya tapi celananya sudah dibuka, penisnya yang juga bersunat lumayan juga untuk seumuran dia. Ternyata yang daritadi mengorek vaginaku adalah si pemuda gondrong, kini dia bahkan mendekatkan wajahnya ke sana dan uuhh…lidahnya menyentuh bibir vaginaku dan terasa menggelitik nikmat tubuhku sampai menggeliat karena itu. Aku bingung apa yang kualami saat itu termasuk perkosaan atau bukan, dibilang ya bisa juga karena awalnya mereka yang memaksa, tapi dibilang tidak juga bisa karena toh aku juga mulai menikmatinya.</p>
<p style="text-align: justify;">“Memeknya enak, wangi loh mmm…ssluurrpp !” sahut si gondrong di bawah sana.<br />
“Oh, ya…nanti juga saya mau nyicipin yah, makannya cepet !” kata Gungun.<br />
“Jangan lama-lama yah, nanti kita kebagiannya bau jigong lu” timpal si mata besar<br />
Kini Acep sudah mencaplok payudaraku dengan mulutnya, walau kelihatan culun jilatannya membuat putingku makin menegang. Gungun juga membuka pakaiannya hingga telanjang. Wah, anunya juga ga kalah gede dari kedua temannya, tinggal milik si gondrong saja yang belum kulihat karena dia masih sibuk menjilat vaginaku. Aku harus mengakui enak sekali diperlakukan seperti ini, dalam seks satu lawan satu aku tidak pernah merasakan bagian-bagian sensitifku dimainkan dalam saat bersamaan.<br />
“Uuhh-eeemm….aaahh !” aku tak tahan untuk tidak mendesah ketika lidah si gondrong menyapu bibir vaginaku, bukan cuma itu, jarinya pun ikut keluar masuk di sana.<br />
Hal itu berlangsung sekitar lima menit lamanya, kemudian Gungun mengambil posisinya.<br />
“Hayo sini, saya juga mau rasain, gantian dong !” katanya menyuruh si gondrong menyingkir.</p>
<p style="text-align: justify;">Langsung Gungun melumat bagian selangkanganku itu dengan bernafsu, tangannya memegangi kedua pahaku sambil mengisap dan menjilat, mulutnya terbenam di kerimbunan bulu kemaluanku, gayanya seperti makan semangka saja. Serangannya lebih mantap dari si gondrong yang cenderung monoton, lidah si Gungun sepertinya agak panjang sehingga ketika menyusup ke dalam vagina benda itu menyentuh klitorisku juga menjilati dinding kemaluanku, kontan akupun makin menggelinjang tak karuan. Ketiga orang lainnya tertawa-tawa dan berkomentar jorok melihat reaksiku, mereka pun makin bersemangat mengerjaiku. Payudaraku sedikit nyeri ketika dipencet-pencet si mata besar dengan gemasnya. Si gondrong yang kini sudah membuka bajunya berlutut di sebelahku memegangi penisnya untuk disodorkan padaku.<br />
“Diisep Neng, enak loh !” suruhnya sambil menggosokkan kepala penis itu ke wajah dan bibirku.<br />
Walau sebenarnya geli dengan kemaluannya yang hitam dengan kepala kemerahan itu, aku tertantang juga untuk mencobanya, maka kugenggam batang itu dengan tangan kiri dan kuawali dengan menyapukan lidah pada kepala penisnya. Dia langsung mendesah keenakan karenanya. Entah kekuatan apa yang membuatku demikian liar, padahal sebelumnya dekat-dekat orang seperti mereka saja aku enggan, apalagi untuk ML.</p>
<p style="text-align: justify;">Awalnya aku sangat tidak nyaman dengan aroma penisnya, namun mau tidak mau aku harus membiasakan diriku. Aku berusaha tidak menghirupnya dan kuemuti dalam mulut sambil sesekali mengocok dengan tangan, kesempatan itulah yang kupakai untuk mengambil udara segar. Sementara rasa geli pada vaginaku kian menjalari tubuhku, rasanya seperti mau pipis. Tubuhku menggelinjang, aku tidak tahan lagi dan mencapai orgasme pertamaku, dari vaginaku keluarlah lendir yang dijilatinya dengan lahap.<br />
“Eh-eh, gantian dong, saya juga mau ngerasain pejunya si Neng !” kata si Acep<br />
Acep menggantikan posisi si Gungun, dia menjilati sisa-sisa cairan kemaluanku. Jilatannya tidak selihai Gungun, maklum karena dia masih hijau, baru pertama kalinya menikmati wanita. Dia lebih suka menyentil-nyentil klitorisku dengan lidahnya yang memberi rasa geli. Sekarang Gungun berlutut di sebelah ku dan meraih tanganku digenggamkan ke penisnya. Keras dan hangat, begitulah kesan pertama begitu jari-jariku melingkari batang itu. Mulailah aku mengocok penis itu dengan tangan kiriku dan yang kanan memegangi milik si gondrong sambil mengoralnya. Si mata besar masih menyusu dengan nikmatnya pada payudaraku, sepertinya dia ketagihan dengan payudaraku yang montok itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Acep tidak lama menjilati vaginaku, posisinya digantikan oleh si mata besar yang tidak sabar menunggu giliran, karena paling kecil diapun mengalah pada temannya. Si mata besar mencium vaginaku dengan bernafsu dan terkesan terburu-buru. Aku dibuatnya semakin bergairah melayani kedua penis yang menodongku, secara bergantian kukocok dan kuoral menirukan apa yang pernah kulihat di film porno di rumah temanku. Rasa jijikku pada penis hitam yang kepalanya seperti jamur itu perlahan-lahan sirna. Gungun mengungkapkan ekspresi nikmatnya dengan meremas payudaraku yang digenggamnya, sedangkan si gondrong sambil menekan-nekan penisnya ke mulutku ketika gilirannya dioral seolah tidak rela melepaskannya. Ditambah lagi Acep sedang asyik memainkan putingku, benda mungil berwarna merah kecoklatan itu dia pilin-pilin dengan jarinya sesekali juga dijilati. Si mata besar pun tidak lama-lama menjilati vaginaku, dia lalu bangkit berlutut diantara kedua pahaku dan menempelkan kepala penisnya di bibir vaginaku.</p>
<p style="text-align: justify;">Kuhentikan sejenak aktivitas terhadap dua penis dalam genggamanku untuk memperhatikan penis si mata besar mendesak memasuki vaginaku. Kutahan nafasku sambil menggigit bibir, proses penetrasi itu kuresapi dalam-dalam. Setelah masuk sebagian dia menghentakkan pinggulnya sehingga penis itu menghujam sampai mentok, spontan aku pun menjerit kecil dan merapatkan pahaku.<br />
“Waaah…enak pisan, sempit oi !” katanya setelah berhasil membobol vaginaku.<br />
Tanpa buang waktu lagi dia menggenjotku, penis itu keluar-masuk vaginaku. Aku meneruskan kocokanku terhadap si gondrong dan Gungun, rasa nikmat yang menjalari tubuhku semakin membuatku bersemangat mengocok kedua penis itu. Si Acep juga makin seru mengisapi payudaraku sampai basah kuyup oleh ludahnya juga oleh ludah orang-orang yang tadi mengisapnya. Tak lama kemudian, ketika aku sedang mengulum penis Gungun, sesuatu yang basah dan hangat menerpa wajah dan leherku dari samping. Ow, ternyata si gondrong sudah keluar, kulepas sejenak penis Gungun dari mulutku, semprotan berikutnya makin membasahi wajahku begitu aku menengok menghadap todongan benda itu.</p>
<p style="text-align: justify;">“Uhh…isepin yah Neng !” lenguhnya seraya menjejali mulutku dengan penisnya.<br />
Dalam mulutku penis itu masih menyemburkan isinya dan itu kuhisapi tanpa memikirkan rasa jijik lagi walaupun baunya yang agak menyengat, mungkin karena saking terangsangnya sampai tidak sadar aku jadi seliar itu. Sampai sejauh ini ponselku yang kutaruh di meja sana sudah berdering sekali dan dua SMS sudah masuk, kubiarkan saja karena tanggung. Aku dapat merasakan penis si gondrong menyusut dalam mulutku dan pemiliknya terengah-engah.<br />
“Yee, payah lu, belum nojos udah ngecrot !” ledek Gungun pada temannya.<br />
“Enak pisan sih anjrit, sampe ga tahan !” balas si gondrong<br />
Sekarang si mata besar mengajak ganti posisi, mereka lalu membalikkan tubuhku hingga telungkup. Akhirnya ganti posisi juga pikirku, aku sudah gerah daritadi berbaring telentang sambil dikerjai mereka, punggungku panas sekali rasanya dan benar saja keringatku sudah membasahi sprei dibawahku tadi. Perutku diangkat dari belakang hingga posisiku seperti merangkak. Kutengokkan kepalaku ke belakang dan kulihat si mata besar kembali memasukkan penisnya ke vaginaku.</p>
<p style="text-align: justify;">Tusukan-tusukan kembali kurasakan, kali ini lebih cepat dan dalam. Di depanku si Acep berlutut minta giliran merasakan mulutku. Akupun membuka mulut mempersilakan batang itu memasukinya. Kuemut benda itu tanpa menghiraukan lagi baunya, tidak terlalu besar tapi cukup keras, namanya juga barang ABG. Aku melirik ke atas melihat anak itu merem-melek menikmati kulumanku, lucu juga reaksinya yang amatiran itu.<br />
“Gimana Cep, asyik ga diemot kontolnya ?”<br />
“Si Acep udah gede euy !”<br />
Celoteh-celoteh yang ditujukan pada si Acep itulah yang sempat kudengar waktu itu. Sambil terus mengoral Acep, akupun selalu menggoyang pantatku mengikuti genjotan si mata besar, terus terang rasanya enak sekali seperti diaduk-aduk. Payudaraku yang menggelayut sedang dipegang-pegang si gondrong yang sedang mengistirahatkan penisnya. Tangan kananku menggenggam penis si Gungun dan mengocoknya pelan.<br />
“Pelan-pelan aja kocoknya Neng, ga pengen cepet-cepet ngecrot sih !” demikian katanya.<br />
Sibuk sekali aku jadinya dan udara sekitarku serasa makin panas karena dikerubuti empat orang ini, mana badannya lumayan bau lagi. Hanya birahi yang meninggilah yang mengalihkanku dari semua itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Sekitar lima belas menit menggenjotku, si mata besar sepertinya mau keluar, kelihatan dari sodokannya yang makin cepat.<br />
“Annjjiiinngg…aaahhh !” lenguhnya panjang diiringi semprotan spermanya di dalam vaginaku yang tak bisa kutolak.<br />
Sialan juga nih orang pikirku, sembarangan main buang di dalam, ga minta ijin atau omong dulu kek padahal gak pake kondom, untung waktu itu aku tidak dalam masa subur, kalo iya kan amit-amit harus hamil sama orang-orang ginian. Begitu penisnya lepas, aku merasa cairan hangat meleleh membasahi paha atasku. Gungun langsung mengambil alih posisinya menusukkan penisnya padaku seolah dapat membaca apa yang ada dalam hati kecilku yang masih ingin digenjot karena belum mencapai klimaks alias tanggung. Si Acep yang masih kuoral nampaknya makin menikmati saja, tanpa sadar dia memaju-mundurkan pinggulnya seakan sedang menyetubuhi mulutku. Dia mengeluarkan spermanya dalam mulutku saat Gungun menggenjotku dengan ganasnya sehingga aku tidak bisa konsentrasi mengisap penis itu, maka cairan itupun meleleh sebagian di pinggir bibirku.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah Acep melepas penisnya yang telah kubersihkan dari mulutku, lengan Gungun mengangkat dadaku sehingga kini aku berlutut, Gungun tidak berhenti menggenjotku sambil menopang tubuhku dengan lengannya yang melingkari perutku. Si mata besar sambil mengistirahatkan senjatanya menggerayangi payudaraku yang membusung dalam posisi itu. Si gondrong memintaku kembali mengoral penisnya yang sudah mulai bangkit lagi, sepertinya dia suka dengan pelayanan mulutku. Kugenggam penisnya yang disodorkan padaku, ih…masih lengket-lengket bekas spermanya tadi, sedikit jijik aku dibuatnya namun juga tak kuasa menolaknya. Serta merta kumasukkan benda itu kemulutku, kujilati sisa-sisa spermanya hingga bersih. Di dalam mulutku benda itu semakin mengeras dan bergetar.<br />
“Pelan-pelan aja Neng, buat persiapan ngejos di bawah nanti !” katanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Tak lama kemudian tubuhku kembali mengejang, seperti ada yang mau meledak di bawah sana. Aku melepas kulumanku untuk melepaskan desahan yang tak bisa kutahan lagi, lendirku pun kembali keluar bersamaan dengan tubuhku. Orgasme kali ini terasa lebih panjang, Gungun masih menggenjot sampai 2-3 menit kemudian hingga akhirnya diapun menghujam penisnya lebih dalam dan mempererat pelukannya. Dia menggeram dan memuntahkan spermanya ke dalam vaginaku, hangat kurasakan di dalam sana. Kami break sebentar sekitar lima menitan. Saat itu Gungun dan Acep memperkenalkan dua orang itu kepadaku, yang gondrong namanya Amad dan yang matanya melotot itu namanya Ifud, memang benar keduanya adalah teman mereka yang tinggal di pemukiman penduduk tak jauh dari sini.</p>
<p style="text-align: justify;">Gungun juga bercerita bagaimana mereka bisa masuk sini. Ternyata mereka iseng mengintipku waktu keluar dari kamar mandi tanpa busana tadi lewat lubang angin diatas pintu kamarku dengan memakai bangku tinggi. Tadinya sih hanya sekedar mau ngintip, tapi tak lama kemudian waktu Amad dan Ifud mau pulang mereka ingin ngintip yang terakhir kali dan menemukanku telah terlelap hanya dengan memakai celana dalam dan selimut yang tersingkap. Situasi kost yang sedang sepi dan nafsu setan mendorong mereka berencana memperkosaku. Maka setelah yakin aku benar-benar tidur, Gungun mencongkel kaca nako yang tepat di sebelah pintu lalu meraih grendel sehingga mereka bisa masuk dan terjadilah seperti ini. Aku sebenarnya marah mendengar semua itu, lancang sekali mereka berbuat begitu, ini kan pemerkosaan namanya, tapi mau marah gimana juga toh aku menikmatinya, salahku juga berpakaian mencolok di depan mereka. Aku menatapi mereka satu-persatu yang memandangi tubuh telanjangku dengan tatapan kesal sekaligus berhasrat. Tidak tau mau omong apa deh, soalnya perasaanku benar-benar campur aduk sih.</p>
<p style="text-align: justify;">“Bentar yah, mau cuci muka dulu” kataku sambil bangkit dan melangkahkan kakiku dengan gontai ke kamar mandi.<br />
Di sana aku mencuci mukaku dari cipratan sperma agar aroma yang menyengat itu hilang. Keluar dari kamar mandi, kembali aku duduk di kasur dikelilingi mereka. Sudah tanggung untuk dihentikan, jadi kuikuti saja deh permainan mereka. Kali ini si Acep yang masih hijau itu minta diajari cipokan.<br />
“Boleh yah Neng, soalnya saya pengen ngerasain dicium cewek itu kayak apa sih, apalagi cewek cakep kaya Neng” pintanya, mukaku memerah karena malu dan juga tersanjung akan pujiannya.<br />
“Cium-cium-cium !” teman-temannya yang lain menyorakinya<br />
“Sssttt…jangan keras-keras dong, ada yang tau gimana !” kataku memperingatkan sehingga mereka mengurangi volumenya.<br />
Aku memejamkan mataku seperti kebiasaanku berciuman menunggu Acep menciumku, pertama-tama aku merasa bahuku dipegang lalu menempellah bibirnya dengan bibirku. Teknik ciumannya benar-benar amatiran, kaku dan membosankansekali, sehingga aku yang berinisiatif memainkan lidahku baru dia mulai bisa membalasnya, aku melingkarkan tangan memeluknya dan percumbuan kami makin panas.</p>
<p style="text-align: justify;">Selama percumbuan itu juga aku merasakan tangan-tangan lain berkeliaran di sekujur tubuhku, mengelusi punggung, paha, payudara, dll. Tidak jelas siapa yang melakukan karena aku memejamkan mata, yang jelas darahku mulai bergolak lagi karena belaian ditambah kometar-komentar jorok mereka. Ada seseorang memelukku dari belakang dan menjilati leherku, oohh&#8230;benar-benar sensasional, demikian rasanya pertama kali dikeroyok. Lama juga aku berciuman sambil digerayangi, nafasku sampai naik-turun ga karuan karenanya. Setelah itu si Amad gondrong meminta jatahnya, dia berbaring telentang dan menyuruhku membenamkan penisnya pada vaginaku. Akupun naik ke atas penisnya, benda itu kugenggam dan kueluskan pada kemaluanku dulu supaya nafsu si Amad mendidih. Kemudian baru aku mulai menjebloskannya perlahan-lahan.<br />
“Ahhh&#8230;eeegghh !” desahku saat memasukkan penis itu, aku memejamkan mata dengan bibir membuka.<br />
Setelah terasa mentok, akupun perlahan menaik-turunkan tubuhku. Amad juga mendesah kenikmatan karena penisnya dihimpit dinding vaginaku.</p>
<p style="text-align: justify;">Gerak naik-turunku semakin cepat sehingga payudaraku ikut bergoncang-goncang. Dengan aku yang memegang kendali, si Amad kelihatan kelabakan, dia mendesah-desah gak karuan. Kelihatan sekali pengalaman seksnya masih dibawahku. Dia julurkan tangannya meraih payudara kiriku, sepertinya dia gemas melihat payudaraku yang juga naik-turun itu. Dua orang lainnya duduk menonton liveshow kami, Gungun sebelumnya telah turun ke bawah untuk memeriksa keadaan dan berjaga-jaga di pos jaga dekat gerbang. Tak lama kemudian si Ifud mendekatiku dan berdiri di sebelah menyodorkan penisnya yang langsung kugenggam. Jadilah aku bergaya woman on top sambil mengocoki penis Ifud. Amad, ternyata tidaklah setangguh yang kukira, tampang boleh sangar kaya preman, tapi dia orgasme dalam waktu yang relatif singkat, isi penisnya tertumpah dalam vaginaku. Aku paling senang ML di saat safe seperti ini, bebas dari rasa was-was walau pasanganku buang di dalam. Tanpa malu-malu lagi, kupanggil si Acep agar menuntaskan birahiku. Aku duduk di kasur membuka kedua pahaku seakan mempersilakan anak itu menusuknya, aku harus membimbing penisnya memasuki vaginaku karena ini pertama kalinya bagi dia.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah kepalanya menekan bibir vaginaku, kusuruh dia mendorong pantatnya.<br />
“Ohhh&#8230;yess !” desahku ketika penis perjaka itu menghujam ke dalam.<br />
Selanjutnya yang kurasakan adalah gesekan-gesekan antara penisnya dengan dinding kemaluanku. Acep pun semakin menikmati persetubuhan pertamanya itu dengan makin cepat menusuk-nusukkan penisnya hingga akhirnya kitapun orgasme bersama atas bimbinganku tentang mengatur tempo genjotan. Sisa waktu sekitar sejam lebih kedepan aku terus disetubuhi mereka baik secara bergilir maupun barengan. Hingga akhirnya kami semua pun kelelahan bersimbah peluh. Wajahku sekali lagi belepotan sperma karena salah seorang membuangnya di sana ketika orgasme. Sejak itu mereka sering memintaku melakukan hal yang sama lagi, terutama Acep dan Gungun. Terkadang memintanya agak memaksa pula. Memang sih awal-awalnya aku cukup menikmati, tapi lama-lama kesal juga karena mereka makin gak tau diri, misalnya pernah satu malam Gungun mengetuk pintu minta jatah lagi, sehingga mengganggu tidurku.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku sampai pernah marah dan mengancam akan melapor ke pemilik kost sehingga mereka agak ngeper, terutama setelah Gungun keceplosan ngomong tentang itu ke pamannya yang menengoknya dari kampung, sehingga pria paruh baya itu juga sempat minta jatah padaku (kalau sempat akan kuceritakan juga). Aku tidak ingin hal ini tercium kemana-mana, apalagi sampai ‘kecelakaan’ gara-gara mereka, maka kuputuskan setelah sewaku habis bulan itu, aku pindah ke kost lain yang agak jauh dari tempat itu hingga saat ini. Terkadang terbesit di benakku ingin mengulangi lagi keroyokan seperti itu, tapi ah&#8230;tidaklah, terlalu berisiko tinggi terhadap imej dan kesehatan nantinya. Bulan September lalu aku sempat bertemu lagi dengan si Gungun ketika sedang berjalan di dekat kost lamaku itu, kelihatannya di baru dari membeli sesuatu.<br />
“Neng, udah lama yah !” sapanya sambil senyum cengengesan.<br />
Aku membalas dengan senyum kecil saja sambil terus melangkah agak jutek.<br />
“Siapa tuh Na ? masa lu kenal sama yang gituan ?” tanya seorang temanku yang jalan bareng.<br />
“Ohh, itu cuma babu di kost lama gua, masih inget gua juga dia yah” jawabku santai.<br />
“Naksir ke lu kali” timpal temanku yang lain disusul tawa kami.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ceritasex.cn/di-balik-kamar-kost/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Dewi Maniak Seks &#8211; Pesta Ulang Tahun Anaknya Bagian 4</title>
		<link>http://www.ceritasex.cn/dewi-maniak-seks-pesta-ulang-tahun-anaknya-bagian-4/</link>
		<comments>http://www.ceritasex.cn/dewi-maniak-seks-pesta-ulang-tahun-anaknya-bagian-4/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 26 Nov 2009 02:24:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cerita Sex</dc:creator>
				<category><![CDATA[Gangbang Rame Rame]]></category>
		<category><![CDATA[Paruh baya]]></category>
		<category><![CDATA[Pemerkosaan]]></category>
		<category><![CDATA[Tante Girang]]></category>
		<category><![CDATA[anal seks]]></category>
		<category><![CDATA[anal]]></category>
		<category><![CDATA[cuki]]></category>
		<category><![CDATA[dewi]]></category>
		<category><![CDATA[gangbang]]></category>
		<category><![CDATA[hani]]></category>
		<category><![CDATA[lonte]]></category>
		<category><![CDATA[ngentot]]></category>
		<category><![CDATA[nita]]></category>
		<category><![CDATA[pelacur]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ceritasex.cn/?p=1072</guid>
		<description><![CDATA[Saat Hani sedang sibuk mengulum-ngulum kontol Dedi dan Anto, Nita juga melakukan hal yang sama terhadap batang kemaluan Roni dan Doni, kontol Roni dan Doni bergiliran keluar masuk di mulut Nita, batang kemaluan mereka semakin menegang dan mengeras. Tak lama berselang Doni berjongkok dibelakang Nita yang sedang asyik mengulum-ngulum kontol Roni, dipeluknya Nita dari belakang, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Saat Hani sedang sibuk mengulum-ngulum kontol Dedi dan Anto, Nita juga melakukan hal yang sama terhadap batang kemaluan Roni dan Doni, kontol Roni dan Doni bergiliran keluar masuk di mulut Nita, batang kemaluan mereka semakin menegang dan mengeras.</p>
<p style="text-align: justify;">Tak lama berselang Doni berjongkok dibelakang Nita yang sedang asyik mengulum-ngulum kontol Roni, dipeluknya Nita dari belakang, kedua tangan Doni meraih dan mulai meremas kedua payudara Nita yang ranum, kadang-kadang diselingi dengan pilinan-pilinan di kedua putingnya, sementara batang kemaluannya ia selipkan kebawah dan digesek-gesekkannya kebibir vagina Nita yang mulai membasah oleh cairan pelicinnya, tidak hanya itu saja yang dilakukan oleh Doni, ia juga mulai menciumi dan menjilati tengkuk dan punggung Nita, Nita mendesah lirih mendapat serangan dari Doni ini, nafsu birahinya semakin memuncak meminta untuk dituntaskan, selomotannya dikontol Roni semakin bertambah cepat diselingi dengan hisapan-hisapan kuat sehingga membuat Roni mengerang keenakan diperlakukan seperti itu oleh Nita.</p>
<p style="text-align: justify;">Doni yang merasakan vagina Nita yang sudah semakin basah, kemudian ia merebahkan dirinya lalu perlahan-lahan ia menggeserkan tubuhnya kebawah tubuh Nita yang sedang berjongkok, Nita yang merasakan gesekan paha Doni di kedua kakinya mengarahkan tangannya untuk menggapai kontol Doni, setelah posisi kontol Doni tepat dibawah lubang vaginanya, Nita mulai mengoles-oleskan kepala kontol Doni di kelentitnya, lalu Nita mulai menyelipkan kepala kontol Doni dilubang memeknya, ssleeeppp…..kepala kontol Doni mulai terjepit oleh vagina Nita, sambil tidak melepaskan permainan mulutnya di kontol Roni, Nita mulai menurunkan pantatnya perlahan-lahan, Nita merasakan kontol Doni mulai menerobos masuk kedalam lubang senggamanya, kedutan batang kemaluan Doni dapat dirasakan oleh dinding lubang vaginanya, matanya terbeliak saat kontol Doni mulai menyeruak masuk dilubang vaginanya, mulutnya menggumam tidak jelas karena tersumpal oleh kontol Roni.</p>
<p style="text-align: justify;">Doni merasakan memek Nita betul-betul sempit, batang kemaluannya terjepit dengan erat oleh dinding vagina Nita, Doni merasakan hangatnya lubang senggama Nita dan ia juga merasakan dinding vagina Nita berdenyut-denyut seolah-olah sedang meremas-remas kontolnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Blleeess…..bleeeesss….bleessss…kontol Doni sedikit demi sedikit mulai tertelan didalam lubang senggama Nita, sambil menikmati eratnya jepitan memek Nita, Doni mengelus-elus punggung dan pantat Nita, sambil mulutnya mengeluarkan suara lenguhan saat merasakan kontolnya yang semakin lama semakin dalam menerobos memek Nita, bleesss…bleesss…akhirnya kontol Doni terbenam seluruhnya didalam rongga memek Nita, setelah mendiamkan sesaat Nita mulai menaik turunkan pantatnya perlahan-lahan, Nita merasakan batang kemaluan Doni yang besar sedang menggeser-geser dinding vaginanya dengan ketat sekali, rasanya berbeda dengan yang ia rasakan saat dientot oleh suaminya ataupun Nanang, Doni tidak dapat melihat mimik muka Nita yang sedang keenakan itu, karena posisi Nita yang membelakanginya, Roni yang melihat raut wajah Nita yang sedang merasakan keenakan itumenjadi bertambah nafsu, sambil tangan kirinya memegangi bagian belakang kepala Nita, tangan kanannya mulai beraksi meremas-remas payudara Nita dan memilin-milin putingnya, Nita semakin keenakan dibuatnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Lenguhan dan desahan Nita sering terdengar, hampir bersahutan dengan lenguhan dan desahan Hani yang saat itu juga sedang menikmati sodokan Dedi dan Anto, kedua wanita itu betul-betul menikmati persetubuhan mereka ini.</p>
<p style="text-align: justify;">“Ooougghh…hhhmmmppp…sssllrppp…eeenak…hhmmpp..slrrp p…kontol kalian…besar…hhmm ..ssllrppp…,”desah Nita sambil tetap mengulum-ngulum kontol Roni.</p>
<p style="text-align: justify;">Doni membantu gerakan naik turun Nita dengan memegangi pinggang Nita, lalu mendorong naik dan menarik turun tubuh Nita, semakin lama semakin cepat gerakan tangan Doni, dan kedua bukit kembar Nita terombang-ambing naik turun, menambah gemas ingin meremas bagi yang melihatnya.</p>
<p style="text-align: justify;">“Shhh…ooohh…hhmmpp…sllrppp…sssshh…ooohhhh…eenak…te russ…ooohh..hhmmm..sllrpp.. makin cepat..oohh…sshhh..aahhh…hhhmmmppp..sslrrpp…,”Nita merintih keenakan.</p>
<p style="text-align: justify;">“Remas ….oohh….hhmm..tetekku…ssllrrpp…hhmm..ssshh…aahhh…y ang kuat…pilin..sslrrpp… sshh..aaahh…putingnya..oohh…yah..gitu..ssllrrpp…oo ohh..enak…nikmat…,”Nita merintih lagi.<br />
<span id="more-1072"></span><br />
Roni meremas-remas kedua payudara Nita bergantian kiri dan kanan sambil diselingi dengan pilinan-pilinan di kedua putingnya yang semakin mencuat, selang tak lama Roni kemudian berlutut dan mulai menciumi bibir Nita dengan bernafsu, lidahnya menjulur masuk kedalam rongga mulut Nita mencari lidah Nita, kedua lidah mereka mulai menari bersama didalam rongga mulut Nita, saling bertautan, saling bersentuhan, nafas mereka berdua semakin memburu penuh nafsu, tangan Roni perlahan-lahan merayap turun kebawah mengarah keselangkangan Nita, yang dituju oleh Roni adalah kelentit Nita, jari tangannya mulai menyentuh kelentit Nita, dengan lembut kelentit Nita mulai digesek-geseknya, kemudian kelentit Nita dijepit oleh kedua jari tangannya, setelah kelentit Nita terjepit oleh kedua ttangannya, Roni mulai menggerakkan jari-jari tangannya dengan lembut, kelentit Nita semakin menyembul keluar akibat perlakuan jari tangan Roni, terlihat tubuh Nita bergetar hebat menikmati sensasi permainan tangan Roni dipadu dengan sodokan-sodokan kontol Doni, pantatnya kadang-kadang mengejut-ngejut, erangan dan desahannya semakin sering terdengar dari mulutnya, apalagi mulut Roni mulai menghisap-hisap kedua puting susunya kiri dan kanan bergantian, matanya merem melek menikmati terpaan gelombang birahinya yang semakin membesar.
</p>
<p style="text-align: justify;">“Oooohhh….ssshhh…aaahh…ooohhh…sshhh..aahhh…enak…te rus….enak…nikmat…sshh.. ahhh…yang kuat …ssshh…aaahhh..yang dalam…ooohh…,”Nita melenguh keenakan.</p>
<p style="text-align: justify;">“hisap tetekku…ooohh..sssh…enakk…yang kuat…hhhmmm…sshh…aahhh…,”kembali Nita melenguh.</p>
<p style="text-align: justify;">Selang tak lama, seiring dengan menekan pantatnya kebawah sekali Nitapun memeluk tubuh Roni dengan erat, tubuhnya mengejang, pantatnya mengejut-ngejut, kakinya yang tadi sedang dalam posisi jongkok sekarang bersimpuh tidak kuat menahan serangan gelombang birahinya yang telah mencapai titik klimaksnya, terlihat kedua kakinya bergetar dengan hebat, dan ssssrrrrrr……sssssrrr……ssssssrrrr….. lahar kenikmatannya menyembur dengan kuat membasahi kontol Doni, pelukannya ditubuh Roni semakin erat, dari mulutnya keluar lenguhan panjang, matanya terpejam.</p>
<p style="text-align: justify;">“Oooogghhhh..aku keluar…enak sekali…ooohhh…aahhh..ssshhh..aaahhh…,”lenguh Nita.</p>
<p style="text-align: justify;">Doni merasakan dinding vagina Nita berdenyut kencang seirama dengan semburan-semburan lahar kenikmatannya yang memyirami kontolnya, Roni yang merasakan pelukan Nita ditubuhnya semakin erat, semakin mempercepat gerakan-gerakan jari tangannya di kelentit Nita.</p>
<p style="text-align: justify;">“Ooohh..nikmat sekali …ooohh…enak sekali …ooohh…aku betul-betul puas…ooohh,”Nita mendesah menikmati puncak klimaksnya yang baru saja ia raih.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah pelukan Nita ditubuhnya mulai mengendur Roni mulai menciumi bibir Nita dengan lembut, mereka berpagutan dengan lembut, tangan Ronipun beralih kepunggung Nita dan mengusap-usap lembut punggung Nita, sementara Doni menimpali dengan meremas-remas kedua bongkah pantat Nita dengan lembut.</p>
<p style="text-align: justify;">Sementara itu saat Nita berhasil merengkuh puncak kenikmatannya, Hanipun berhasil mencapai puncak klimaksnya, jerit kenikmatan mereka terdengar hampir bersamaan, dan ini adalah yang untuk ketiga kalinya mereka berhasil meraih puncak kenikmatan mereka, hal yang belum pernah mereka alami selama ini, untuk satu kali saja mereka berhasil meraih puncak kepuasannya hampir tidak pernah mereka alami, apalagi sampai tiga kali seperti sekarang ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Keempat anak muda ini memberikan kesempatan kepada Hani dan Nita untuk menikmati sisa-sisa kenikmatan yang baru saja mereka raih, hanya Roni dan Anto saja yang menciumi bibir Hani dan Nita dengan lembut, untuk sekedar menambah sensasi kenikmatan yang baru saja Hani dan Nita raih.</p>
<p style="text-align: justify;">Nafas Hani dan Nita mulai terdengar normal kembali, vagina mereka sudah berhenti berkedut, lahar kenikmatan merekapun sudah berhenti menyembur. Mereka berenam terlihat mulai merubah posisi mereka, nampaknya mereka akan memulai babak baru persetubuhan mereka.</p>
<p style="text-align: justify;">Tanpa melakukan oral seks lagi, mereka langsung melakukan babak persetubuhan itu, Anto dan Roni segera merebahkan tubuh mereka diatas karpet, Hani dan Nita menaiki tubuh mereka dan meraih batang-batang kemaluan mereka, kemudian menyelipkan batang-batang kemaluan tersebut dilubang vagina mereka, sssleeeppp….ssleeppp … kontol Anto terjepit vagina Hani dan kontol Roni terjepit vagina Nita, dengan waktu hampir bersamaan Hani dan Nita mulai menurunkan pantat mereka, bbleeess…..bleeesss….bbleessss…. perlahan-lahan kontol Anto dan Roni mulai menerobos masuk sedikit demi sedikit dilubang senggama Hani dan Nita, akhirnya batang kemaluan Anto dan Roni tidak terlihat lagi, seluruh batang kemaluan mereka tertelan didalam gelapnya lubang senggama Hani dan Nita.</p>
<p style="text-align: justify;">Dedi dan Doni yang sedang berjongkok dibelakang Hani dan Nita melihat semua proses penerobosan batang kemaluan Anto dan Roni, mulai bergerak setelah melihat kedua kontol teman mereka itu tenggelam dilubang kehangatan Hani dan Nita, mereka berbarengan mengarahkan pedang wasiat mereka kelubang pantat Hani dan Nita, diselipkan kepala kemaluan mereka dilubang pantat Hani dan Nita, sslleeeppp….ssleeeeppp… Hani dan Nita terpekik saat kepala kontol mereka mulai menerobos lubang pantat itu, karena kepala kontol yang barusan menerobos masuk itu lebih besar dari kepunyaan Parmin, rasa perih mereka alami lagi tapi tidak seperih saat pertama kali lubang mereka diterobos oleh Parmin, bblleeeess….bbleeesss…. bleesss… bleeess… Dedi dan Doni hampir berbarengan mendorong masuk batang-batang mereka kedalam lubang pantat Hani dan Nita.</p>
<p style="text-align: justify;">Tiba-tiba tangan Doni dan Dedi yang sedang memegangi pinggang Nita dan Hani, menarik kuat-kuat pinggang Hani dan Nita, akibatnya batang-batang kemaluan mereka terbenam seluruhnya didalam lubang pantat Nita dan Hani.</p>
<p style="text-align: justify;">“Aiiii…ooougghh…..pelan…,”Hani dan Nita menjerit bersamaan.</p>
<p style="text-align: justify;">Sssrrrtttt…bbleeess….sssrtttt…bleesss….. kontol keempat anak muda itu mulai keluar masuk didalam lubang-lubang Hani dan Nita seirama dengan gerakan tangan Doni dan Dedi yang mendorong dan menarik tubuh kedua wanita itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Tubuh Hani dan Nita bergerak maju mundur, kedua payudara merekapun bergoyang maju mundur, Anto dan Roni yang melihat ini mulai mengangkat kepala mereka, kedua tangan mereka mulai memegangi payudara yang sedang berguncang itu, sambil meremas-remas payudara itu mereka mulai menjilati puting-puting payudara tersebut dan kadang-kadang dihisap-hisap puting-puting tersebut. Suara decakan dan hisapan terdengar dari mulut Anto dan Roni, bersahutan dengan suara rintihan keenakan Hani dan Nita, menambah suasana menjadi ramai, nafsu birahi Gito cs yang menyaksikan aksi mereka dari tadi semakin bertambah, batang-batang kemaluan mereka berempat sudah menegang lagi, secara bersamaan mereka berempat beranjak menghampiri mereka berenam yang sedang asyik masyuk bersenggama.</p>
<p style="text-align: justify;">Parmin dan Gito berlutut disamping kiri dan kanan Nita, sementara Nanang dan Udin berlutut disamping kiri dan kanan Hani, batang-batang kemaluan mereka yang tegak berdiri disodorkan kepada kedua wanita itu, Hani dan Nita segera meraih batang-batang kemaluan itu, secara bergiliran Hani dan Nita mulai meng-oral batang-batang kemaluan tersebut, saat sedang meng-oral batang kemaluan yang satu yang satunya mereka kocok-kocok dengan tangan mereka, Gito cs dibuat melenguh-lenguh menikmati permainan mulut dan tangan kedua wanita itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Dewi terlihat sedang duduk diruangan tamu, ia sudah tidak sibuk lagi dengan teleponnya, nampaknya ia sedang menunggu kedatangan orang.</p>
<p style="text-align: justify;">Saat Hani dan Nita sedang sibuk melayani nafsu birahi kedelapan lelaki itu, sebuah mobil masuk kepekarangan rumah Dewi, Dewi yang melihat sinar lampu mobil tersebut segera beranjak kepintu rumahnya lalu ia membuka pintu rumahnya, Dewi hanya menjulurkan kepalanya untuk melihat siapa yang datang, karena saat itu Dewi tidak mengenakan sehelai benangpun, Dewi melihat 7 anak muda turun dari mobil tersebut, senyum simpul tersungging di wajahnya, tenaga baru sudah datang batinnya berkata.</p>
<p style="text-align: justify;">Yang datang memang teman-temannya Doni yang tadi Dewi teleponin, ke 7 anak muda itu terperanjat saat mereka melangkah masuk kedalam rumah, mereka melihat pemandangan yang tidak pernah mereka bayangkan sebelumnya, mereka melihat tubuh Dewi yang tidak tertutupi oleh sehelai benangpun. Tidak pernah terlintas dalam pikiran mereka akan menyaksikan mamihnya Doni telanjat bulat, apalagi mereka tidak menyangka mamihnya Doni masih muda dan sexy, mereka memang untuk pertama kalinya datang bertandang kerumah Doni, berbeda dengan Roni, Dedi dan Anto yang sering bermain kerumah Doni, pendulum mereka mulai bergerak naik, darah muda mereka berdesir melihat kedua payudara Dewi yang ranum, turun kebawah mereka melihat gundukan semak hitam diselangkangan Dewi, wajah Dewi yang cantik, tubuh yang sexy dan senyum simpul yang tersungging membuat gairah birahi ke 7 anak muda itu bergelora, saat ke 7 anak muda itu sedang terpesona oleh tubuh Dewi, sebuah mobil kembali masuk kedalam pekarangan rumah, dari mobil itu turun 2 wanita sexy dan cantik, usia mereka seumuran dengan Dewi dan kedua teman Dewi yang saat ini sedang menikmati persetubuhan.</p>
<p style="text-align: justify;">Kedua wanita itupun melangkahkan kakinya kearah pintu depan, saat kaki mereka melangkah kedalam rumah merekapun sama terperanjatnya dengan ke 7 anak muda tadi, Ke 7 anak muda itu tidak menyadari kehadiran 2 wanita ini, mereka masih terperangah melihat pemandangan didepan mata mereka.</p>
<p style="text-align: justify;">Kedua wanita itu adalah teman Dewi bernama Siska dan Rina, umur mereka memang hampir seumuran dengan Dewi, mereka sama cantiknya dengan Dewi ataupun Hani dan Nita, mereka berdua juga mempunyai tubuh yang sama-sama sexy seperti tubuh Dewi, Hani dan Nita, yang membedakan mereka adalah keduanya tidak mempunyai suami, mereka berdua adalah wanita simpanan entah pejabat entah orang kaya.</p>
<p style="text-align: justify;">Persamaan yang paling nyata dari kelima wanita ini adalah mereka membutuhkan kontol-kontol perkasa yang dapat memuaskan libido seks mereka yang tidak pernah mereka dapatkan dari pasangan mereka masing-masing.</p>
<p style="text-align: justify;">Ke 9 orang ini masih terkejut dengan apa yang dilihat oleh mereka saat ini, tapi Dewi yang menjadi pusat perhatian ini nampaknya tidak memperdulikan kekagetan mereka, setelah mengunci pintu rumahnya, Dewi mengajak mereka semua keruangan keluarga dimana saat itu Hani dan Nita sedang dikeroyok.</p>
<p style="text-align: justify;">Mata ke 9 orang yang baru datang ini semakin terbelalak melihat pemandangan diruangan keluarga, batang-batang kemaluan ke 7 anak muda yang baru datang itu semakin mengeras, celana mereka semakin menggembung, Dewi yang dari tadi selalu memperhatikan celana ke 7 anak muda itu menjadi tersenyum, sementara Siska dan Rina juga mulai terangsang melihat pemandangan itu dan mendengar suara desahan dan lenguhan Hani dan Nita yang sedang keenakan menerima sodokan-sodokan kontol.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ceritasex.cn/dewi-maniak-seks-pesta-ulang-tahun-anaknya-bagian-4/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Dewi Maniak Seks &#8211; Pesta Ulang Tahun Anaknya Bagian 3</title>
		<link>http://www.ceritasex.cn/dewi-maniak-seks-pesta-ulang-tahun-anaknya-bagian-3/</link>
		<comments>http://www.ceritasex.cn/dewi-maniak-seks-pesta-ulang-tahun-anaknya-bagian-3/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 26 Nov 2009 02:21:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cerita Sex</dc:creator>
				<category><![CDATA[Paruh baya]]></category>
		<category><![CDATA[Pemerkosaan]]></category>
		<category><![CDATA[Tante Girang]]></category>
		<category><![CDATA[anal seks]]></category>
		<category><![CDATA[anus]]></category>
		<category><![CDATA[dewi]]></category>
		<category><![CDATA[gangbang]]></category>
		<category><![CDATA[ngentot]]></category>
		<category><![CDATA[pesta seks]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ceritasex.cn/?p=1070</guid>
		<description><![CDATA[Setelah badai nafsunya mereda Dewi beranjak menuju kamar mandi untuk membersihkan Vaginanya dari sisa-sisa sperma Udin, melihat Dewi beranjak Hani dan Nita mengikutinya, dikamar mandi sambil membersihkan tubuh dan vaginanya masing-masing mereka merencanakan untuk melakukan persetubuhan dengan mereka lagi, nampaknya mereka betul-betul ketagihan merasakan sodokan-sodokan batang kemaluan para lelaki itu, selesai mereka membersihkan diri, Hani [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Setelah badai nafsunya mereda Dewi beranjak menuju kamar mandi untuk membersihkan Vaginanya dari sisa-sisa sperma Udin, melihat Dewi beranjak Hani dan Nita mengikutinya, dikamar mandi sambil membersihkan tubuh dan vaginanya masing-masing mereka merencanakan untuk melakukan persetubuhan dengan mereka lagi, nampaknya mereka betul-betul ketagihan merasakan sodokan-sodokan batang kemaluan para lelaki itu, selesai mereka membersihkan diri, Hani dan Nita kembali keruang keluarga sementara Dewi menuju ke dapur untuk membuat minuman, Hani dan Nita menyuruh para lelaki itu untuk membersihkan batang kemaluan mereka sebelum mereka memulai ronde selanjutnya, dengan gesit para lelaki itu menuju kekamar mandi bersamaan.</p>
<p style="text-align: justify;">Di dapur Dewi yang sedang membuat minuman tidak menyadari, bahwa saat itu anaknya Doni sudah berada di garasi bersama dengan 3 temannya, mereka memasukkan mobil kedalam garasi saat Dewi sedang berada didalam kamar mandi, sementara para lelaki tidak mendengar suara mobil datang karena suara musik di ruangan keluarga agak lumayan keras sehingga menutupi suara mobil Doni. Nampaknya Doni merencanakan sesuatu dengan ketiga temannya, karena kepulangan Doni lebih awal dari yang ia bilang ke Dewi. Doni mengetahui bahwa Dewi pernah melakukan seks dengan ketiga temannya yang saat sekarang ini bersama dia, dan dia mendengar cerita mereka saat mereka menyetubuhi Dewi, Doni tertarik untuk melakukan ramai-ramai bersama temannya sebelum pesta ulang tahunnya besok dimulai.</p>
<p style="text-align: justify;">Tapi Doni tidak mengetahui bahwa saat itu Dewi baru saja selesai pesta seks, ketika Doni membuka pintu garasi yang menghubungkan dengan dapur, Doni terkejut dengan pemandang yang ada dihadapannya, ia melihat tubuh Dewi yang tidak mengenakan sehelai kainpun sedang menyiapkan minuman, Doni tidak mau banyak berpikir kenapa Dewi bertelanjang bulat dan suara musik terdengar mengalun dari ruangan keluarga, yang saat ini ada dalam pikiran Doni dan ketiga temannya yang menyaksikan pemandangan itu adalah ‘Pucuk Dicinta Ulam Tiba’, keinginan mereka bakalan terwujudkan malam ini yaitu menyetubuhi Dewi beramai-ramai.</p>
<p style="text-align: justify;">“Ehhh…apa-apaan ini, siapa?…,”Dewi berkata setengah terkejut saat Doni memeluknya dari belakang.</p>
<p style="text-align: justify;">“Ssttt…Mih, Ini Doni..,”jawab Doni, sambil melanjutkan dengan menciumi tengkuk Dewi dan kedua tangannya meremas-remas kedua bukit kembar Dewi.</p>
<p style="text-align: justify;">“Ooohh…Don, kukira siapa, oooohhh….jangan disini, kita didalam saja,”Dewi mendesah mendapat serangan Doni, dan ia melepaskan tangan Doni dari kedua bukit kembarnya, Dewipun membalikkan badannya berhadapan dengan Doni.</p>
<p style="text-align: justify;">Dewi tambah terkejut saat tubuhnya berhadapan dengan Doni, karena bukan hanya Doni yang datang tapi ada ketiga temannya Doni yang pernah melakukan seks dengan dia, dengan sedikit salah tingkah Dewi mencoba menutupi kedua payudaranya dan selangkangannya, tapi hal itu dicegah oleh Doni, kedua tangan Dewi dipegang oleh Doni sambil Doni membisikkan sesuatu ketelinga Dewi, mendengar itu muka Dewi menjadi merah, tapi otaknya berpikir dengan cepat, pesta malam ini akan menjadi tambah seru karena kedatangan tenaga baru dan muda, dengan cepat diajaknya ke 4 anak muda ini kedalam sambil tidak lupa untuk menyuruh mereka membawa minuman yang sudah dibuatnya tadi.</p>
<p style="text-align: justify;">Doni dan ketiga temannya terperanjat saat sampai diruangan keluarga begitu pula dengan Gito cs, yang menyambut kedatangan mereka dengan penuh gembira hanyalah Nita &amp; Hani, jalan pikiran mereka hampir sama dengan Dewi, yaitu kedatangan tenaga baru yang masih muda.</p>
<p style="text-align: justify;">Hani dan Nita langsung menyambut keempat anak muda itu, dengan gesit mereka melucuti baju mereka satu persatu sehingga keempatnya sekarang sama-sama telanjang bulat, Nita dan Hani berdecak kagum melihat keempat batang kemaluan mereka yang sudah berdiri tegak dan ukurannya hampir sama, tapi yang jelas kepunyaan keempat anak muda ini lebih besar dan panjang daripada kepunyaan Gito cs, dengan bernafsu Hani dan Nita mulai menyerbu keempat batang kemaluan itu, Hani memegang 2 batang begitu juga dengan Nita, lalu mereka mulai menyelomoti kontol-kontol tersebut, yang satu diselomoti dan dikulum-kulum yang satunya dikocok-kocok dan diremas-remas lembut oleh tangan Hani dan Nita.<br />
<span id="more-1070"></span><br />
Gito cs asyik menonton ‘live show’ yang dilakukan oleh Hani dan Nita serta keempat anak muda itu, sementara itu Dewi berpikir tentang mengundang sisa teman-teman Doni untuk datang malam ini, ia mempunyai rencana untuk membuat pesta ulang tahun Doni dirayakan tepat jam 12 malam, lalu ia membisikkan sesuatu ketelinga Doni, dijawab oleh Doni dengan anggukan, kemudian Doni membisikkan sesuatu ketelinga Dewi, Dewi mengangguk dan langsung mengambil HP Doni, Dewi beranjak meninggalkan ruangan menuju ke dapur, di dapur terlihat Dewi sibuk berbicara di HP Doni.
</p>
<p style="text-align: justify;">Anto dan Dedi yang saat itu sedang menikmati permainan tangan dan mulut Hani mengimbangi permainan Hani dengan meremas-remas payudara Hani dan memilin-milin puting susunya Hani, Hani menikmati remasan-remasan tangan mereka di kedua payudaranya serta pilinan-pilinan di kedua putingnya, membuat ia semakin bernafsu mengulum-ngulum kedua batang kemaluan Anto dan Dedi, kedua batang kemaluan Anto dan Dedi bergantian dikulum-kulum oleh Hani, saat Hani mengulum dan menyelomoti serta menjilati kontol Anto tangannya sibuk meremas dan mengocok-ngocok kontol Dedi, begitu juga sebaliknya saat mulut Hani sibuk dengan kontol Dedi tangannya sibuk mempermainkan kontol Anto, Anto dan Dedi betul-betul menikmati permainan Hani, batang kemaluan mereka semakin menegang dan mengeras, nafsu Anto dan Dedi tidak dapat dibendung lagi dengan bersamaan mereka mengangkat tubuh Hani untuk berdiri, lalu kedua anak muda ini mulai menyerang Hani, Anto diatas dan Dedi dibawah, Anto dengan bernafsu mulai menciumi, menjilati, menghisap-hisap kedua payudara Hani bergantian antara kiri dan kanan, sementara Dedi berjongkok sibuk menjilati kelentit Hani dan menghisap-hisapnya, serangan mereka membuat Hani mendesah keenakan, tubuhnya gemetar menahan laju nikmat yang sangat luar biasa.</p>
<p style="text-align: justify;">“Ooohh…hisap tetekku…ooohh itilku juga hisap yang kuat….aaahhh…enak,”desah Hani.</p>
<p style="text-align: justify;">“remas-remas tetekku…yaahh..terus…oohh..hisapp…remas…ooohh,”Han i mendesah lagi.</p>
<p style="text-align: justify;">“Ooohhh…hisap itilku…yaahh..enakk..terus..kocok memekku dengan jari..yah …hhmmm..aaahh.. terus…puaskan aku…hhhmm..aahhh…,”lagi-lagi Hani mendesah-desah keenakan.</p>
<p style="text-align: justify;">Kemaluan Hani semakin basah akibat perlakuan kedua anak muda itu, cairan pelicinnya semakin banyak keluar, membasahi jari-jari Dedi yang sedang keluar masuk di lubang memek Hani, gerakan jari tangan Dedi semakin cepat keluar masuk dilubang memek Hani, tubuh Hani meliuk-liuk menahan arus nikmat yang luar biasa, pantatnya terlihat mengejut-ngejut saat Dedi menghisap kelentitnya serta mengocok lubang vaginanya, desahan-desahan nikmat keluar tanpa henti dari mulut Hani, kepalanya mendongak dengan mata terpejam.</p>
<p style="text-align: justify;">Anto dan Dedi merasakan batang kemaluannya semaklin mengeras saja mendengar desahan Hani, mereka kemudian menghentikan aksinya, kemudian mereka menyuruh Hani merangkak, Anto lalu berlutut tepat dihadapan Hani dan segera menyodorkan kontolnya kemulut Hani yang langsung disambut oleh Hani dengan penuh nafsu, sambil tangannya memegangi kepala Hani, Anto menekankan dan menarik kepala Hani sehingga kontolnya keluar masuk mulut Hani, bibir Hani menjepit kuat batang kemaluan Anto, kadang-kadang karena terlalu menekan kebawah kepala kontolnya menyentuh anak tekak Hani, sehingga membuat Hani tersedak, sementara Anto mulai beraksi di mulut Hani, Dedi berjongkok dibelakang Hani dan mengarahkan kepala kontolnya kearah lubang vagina Hani, ssleeeppp…diselipkannya kepala kontolnya tepat dilubang memek Hani.</p>
<p style="text-align: justify;">Dedi mulai mendorong masuk kontolnya perlahan-lahan kedalam lubang memek Hani, bleess….. bleesss….bleesss… sedikit demi sedikit batang kemaluannya mulai terbenam didalam lubang senggama Hani, Dedi merasakan memek Hani sangat menjepit erat kontolnya, Hani sendiri merasakan memeknya menjadi penuh sesak oleh kontol Dedi, Dedi mendiamkan sebentar kontolnya yang baru masuk setengahnya, ia merasakan memek Hani seperti meremas-remas kontolnya, nampaknya otot dinding vagina Hani sedang bekerja hendak menyesuaikan dengan ukuran batang kemaluan Dedi.</p>
<p style="text-align: justify;">“Terus jangan berhenti…tekan lebih dalam lagi kontolmu..Ooohhh..enak sekali … kontolmu… hhhmmmm…..ssllrppp….oouughhhh,” Hani merintih sambil melahap kontol Antol lagi.</p>
<p style="text-align: justify;">Mendengar itu Dedi lalu mendorong lagi kontolnya untuk masuk lebih dalam bleesss….blesss….blesss…perlahan-lahan batang kemaluan Dedi akhirnya masuk semua kedalam lubang senggama Hani.</p>
<p style="text-align: justify;">“Uugghhh…gila To, memeknya sempit sekali, kayanya jarang dipake nih ama lakinya….,”Dedi berkata kepada Anto.</p>
<p style="text-align: justify;">“Tar giliran, gw masih asyik dengan sepongannya…gila ..ahli banget dia nyepong kontol nich,” Anto menjawab.</p>
<p style="text-align: justify;">Tangan Anto kemudian beralih meremas-remas payudara Hani yang mulai bergoyang kedepan dan kebelakang seirama dengan sodokan-sodokan Dedi yang mulai mengeluar masukkan kontolnya dilubang memek Hani.</p>
<p style="text-align: justify;">Hani dibuat merem melek oleh mereka berdua, desahan dan rintihan keenakan semakin sering keluar dari mulutnya yang sibuk menyepong kontol Anto, tubuhnya gemetar menahan arus kenikmatan yang menerjang dengan kuat, Hani merasakan lubang vaginanya berdenyut semakin cepat secepat sodokan-sodokan kontol Dedi, tubuhnya mulai bergetar hebat, paha dan pantatnya mulai mengejut-ngejut, menyambut datangnya puncak kenikmatannya, tak lama berselang Hani melenguh panjang, vaginanya berdenyut-denyut menyemburkan lahar kenikmatannya.</p>
<p style="text-align: justify;">Sssssrrr…..ssssrrrrr….sssssrrrrr….sssrrr….vagina Hani menyemburkan lahar kenikmatannya menyirami batang kemaluan Dedi.</p>
<p style="text-align: justify;">“Ooooohhh…..aaakku..keluaar…eenak..sekali…aaahhh…. ssshhh..ooohh…hhmmm..aahh,” lenguh Hani.</p>
<p style="text-align: justify;">Tubuh Hani bergetar dengan hebat, terlihat pantatnya mengejut-ngejut seirama dengan keluarnya cairan kenikmatannya, kepalanya mendongak matanya terpejam, tangannya mencengkram paha Anto dengan kuat.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ceritasex.cn/dewi-maniak-seks-pesta-ulang-tahun-anaknya-bagian-3/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ngentot Cewek Jepang Yang Seksi</title>
		<link>http://www.ceritasex.cn/ngentot-cewek-jepang-yang-seksi/</link>
		<comments>http://www.ceritasex.cn/ngentot-cewek-jepang-yang-seksi/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 14 Oct 2009 02:57:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cerita Sex</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bokep Download]]></category>
		<category><![CDATA[Daun Muda]]></category>
		<category><![CDATA[Gangbang Rame Rame]]></category>
		<category><![CDATA[gangbang]]></category>
		<category><![CDATA[jepang]]></category>
		<category><![CDATA[kawai]]></category>
		<category><![CDATA[ngentot]]></category>
		<category><![CDATA[seks]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ceritasex.cn/?p=985</guid>
		<description><![CDATA[Ceritanya sensual dan bikin horny banget, cewek jepang doyan ngentot di entot sama cowok cowok jepang sampai orgasme lalu di gangbang hmmmm mantap deh pokoknya putih mulus menggairahkan&#8230;&#8230; Download Klik]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Ceritanya sensual dan bikin horny banget, cewek jepang doyan ngentot di entot sama cowok cowok jepang sampai orgasme lalu di gangbang hmmmm mantap deh pokoknya putih mulus menggairahkan&#8230;&#8230;</p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.ceritasex.cn/member-vip/Ngentot-Cewek-Jepang-Yang-Seksi.wmv" target="_self">Download Klik</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ceritasex.cn/ngentot-cewek-jepang-yang-seksi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
<enclosure url="http://www.ceritasex.cn/member-vip/Ngentot-Cewek-Jepang-Yang-Seksi.wmv" length="21906149" type="video/x-ms-wmv" />
		</item>
		<item>
		<title>Antara aku, anty istriku dan wanita panggilan</title>
		<link>http://www.ceritasex.cn/antara-aku-anty-istriku-dan-wanita-panggilan/</link>
		<comments>http://www.ceritasex.cn/antara-aku-anty-istriku-dan-wanita-panggilan/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 01 Oct 2009 08:32:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cerita Sex</dc:creator>
				<category><![CDATA[Daun Muda]]></category>
		<category><![CDATA[Gangbang Rame Rame]]></category>
		<category><![CDATA[Seks Umum]]></category>
		<category><![CDATA[kisah nyata]]></category>
		<category><![CDATA[ayam kampus]]></category>
		<category><![CDATA[birahi]]></category>
		<category><![CDATA[gangbang]]></category>
		<category><![CDATA[istri]]></category>
		<category><![CDATA[mahasiswi]]></category>
		<category><![CDATA[main gertiga]]></category>
		<category><![CDATA[ngentot]]></category>
		<category><![CDATA[pelacur]]></category>
		<category><![CDATA[pemuas syahwat]]></category>
		<category><![CDATA[seks]]></category>
		<category><![CDATA[threesome]]></category>
		<category><![CDATA[wanita panggilan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ceritasex.cn/?p=955</guid>
		<description><![CDATA[Istriku memang luar biasa, dengan paras cantik dan tubuh yang luar biasa sexy. Sungguh beruntung aku menikahinya dulu, seperti cerita yang sudah aku ceritakan di cerita sebelumnya, aku menikahi anty dengan status janda dengan satu anak, namun meskipun sudah memilikii anak tapi tubuh istriku sangat sempurna, bahkan tidak tampak seperti yang sudah punya anak. Pernikahan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Istriku memang luar biasa, dengan paras cantik dan tubuh yang luar biasa sexy. Sungguh beruntung aku menikahinya dulu, seperti cerita yang sudah aku ceritakan di cerita sebelumnya, aku menikahi anty dengan status janda dengan satu anak, namun meskipun sudah memilikii anak tapi tubuh istriku sangat sempurna, bahkan tidak tampak seperti yang sudah punya anak.</p>
<p style="text-align: justify;">Pernikahan kami saat itu masih berusia kurang lebih sekitar 6 bulan, dan eksplorasi sex sudah kami lakukan dengan berbagai macam variasi, memuaskan dan senyum selalu mewarnai suasana setelah kami berhubungan sex. Namun suatu hari, saat kami melakukan hubungan sex di salah satu villa di daerah lembang, waktu itu kami melakukannya di kamar atas dan pada saat melakukan gaya dengan doggy style, menghadap kaca dan pintu yang dibiarkan terbuka agar udara segar bisa masuk, pemandangan sangat indah, bukit-bukit dan beberapa villa lainnya, waktu itu di salah satu villa ada sekelompok anak abg yang sedang menginap juga berpasangan sepertinya, sambil mendesah anty melihat sepasang dari anak abg tadi sedang berciuman di teras villa dimana anak laki2 nya meremas tete anak perempuannya, sambil terengah dan mendesah anty berbicara “akhh,. Sayang..ahkhh, liat mereka sayang..akhhh&#8230; mereka melakukannya diluar villa,, awhh” “iya sayang,, awhhhh…” aku jawab tanpa memperhatikan anak abg tadi, yang aku perhatikan hanya pantat istriku yang sangat indah. Sampai akhir nya istriku mengalami big O dan menjerit nikmat, kemudian diikuti aku yang mendapat big O, dan aku keluarkan di mulut istriku, dikulumnya sampai bersih dan membuat ko***lku ngilu.</p>
<p style="text-align: justify;">Tapi bukan cerita sex itu yang akan aku ceritakan, setelah aktifitas sex yang tadi aku ceritakan, aku memeluk istriku erat dan seperti biasa kami berbincang dan bercanda, lalu pandangan istriku menatap mataku dan berkata “ sayang, apa yang sudah aku berikan buat kmu?”, aku terheran mendengarkan istriku “ hah? Kamu sudah berikan segalanya buatku sayang, cinta, sayang, kesetiaan dan banyak lainnya”. Istriku hanya tersenyum, kemudian menciumku dan saat itu kulihat istriku menitikan air mata dan kemudian kembali menjawab “ aku menikah denganmu setelah aku menikah dengan orang lain terlebih dahulu Edwin, kamu tidak pernah merasakan tubuh lain selain tubuhku ini, sementara aku pernah menikmati dan dinimati orang lain”. Kemudian kurasakan istriku memeluku lebih erat “ aku hanya ingin adil win, aku ingin kamu merasakan juga tubuh orang lain agar bsa merasakan tubuhku lebih nikmat lagi, karena aku merasakan bahwa kamu lebih memuaskanku daripada mantan suamiku”. Saat itu aku berfikir bahwa istriku ingin aku membandingkan pelayanan sex nya dengan orang lain, “tidak anty-ku sayang, aku hanya ingin kamu, dan aku tidak ingin merasakan tubuh yang orang lain” sebelum aku selesai berucap, anty sudah memotongku “ please sayang, aku yang ingin, lakukan lah agar aku merasa lega karena seperti hutangku terbayar”. Saat itu kami terus membahas mengenai keinginan anty agar aku berhubungan sex dengan orang lain, alasan demi alasan di utarakan sampai suatu ketika “ gini deh sayang, kmu melakukan sex dengan orang lain selain aku dan agar kamu ga ngerasa risih, aku akan menyaksikan kamu melakukannya agar kamu tahu bahwa aku tidak akn merasa cemburu dan keberatan akan semuanya” anty menjawab dengan wajah ceria dan memanja sambil mencium bibirku setelah berucap seperti itu, “ hmm ga tau ya sayang, aku ga yakin” jawabku sambil tatapanku mentap wajah memanja istriku saat itu, ga tega rasanya. “ kita coba deh ya sayang, sebentar aku telpon seseorang “ anty menjawab sambil berdiri mengambil handphone, berdiri tanpa mengenakan baju dalam hati aku berkata, “bagaimana bsa aku mendapat kepuasan dari orang lain apabila istriku saja memiliki tubuh yang sempurna seperti ini”.<br />
<span id="more-955"></span><br />
“udah melamunnya sayang?” istriku berucap sambil menindihku dan menciumi bibirku. “gini sayang, aku udah telpon seseorang biar dikirim seorang gadis panggilan kesini besok pagi” anty berbicara sambil terus menciumiku, kemudian aku menghentikan ciumannya dan berkata “ secepat ini sayang? Kenapa ga***” belum selesai bicara anty menciumku dalam dan berkata “ mumpung kita lagi berlibur dan anak kita lagi sama c nenek, coba aja dulu kalo ga bsa juga ya ga masalah kan”. Aku bingung dan mencari alasan “ kok gadis panggilan sayang?”, “sayang, dia ini bukan gadis panggilan sembarangan, nanti kamu liat aja sendiri namanya tiffany dan sengaja gadis panggilan agar lebih professional so aku ga perlu takut kamu bakalan selingkuh sama dia dibelakangku, hehe” istriku senyum kecil seolah ini semua masalah yang sepele. –skip-<br />
Keesokan harinya pagi hari, aku membuka mataku tanpa ada istriku, biasanya aku terbangun pagi hari karna istriku sudah menghisap ko***lku. Heran, kemudian aku bangun dari tempat tidur mencari istriku yang ternyata sedang menyiapkan makanan buat sarapanku “morning honey, knapa ga bangunin aku” sambil memeluk istriku dan menciuminya dari belakang saat dia menata meja makan, waktu itu istriku masih memakai silk kimono pendek, g-string dan tanpa bra. “karna kamu butuh istirahat sayang, udah kita sarapan yuk” sambil tangan kananya meraih tengkuk aku dan membalas ciuman mesraku.<br />
Setelah selesai sarapan kami mandi dan seperti biasa jika kami mandi bersama maka sex on the bathroom rajin kami lakukan. Setelah selesai, dan saat itu kami belum mengenakan pakaian lengkap, hanya kimono dan pakaian dalam kami,</p>
<p style="text-align: justify;">tiba-tiba ada yang membunyikan bel “nah itu dia dateng sayang, c’mon kta samperin yuk” istriku berkata sambil menarik tanganku menuju ruang tamu. “ hallo pagi, dengan ibu anty ?” sesorang yang berparas cantik, putih dengan rambut yang diikat, memakai kaca mata hitam, tinggi badannya kira-kira 170 cm, dengan lekuk tubuh yang terlihat jelas di bajunya yang menggunakan kaos tank-top yang di bungkus dengan cardigans, celana jeans selutut dan sandal teplek yang berkesan santai. “ iya saya anty, dan ini suami saya Edwin “, “hallo saya tiffany” sambil mengulurkan tangannya, dan aku jabat tangannya itu, lembut. Ngobrol-ngobrol di balkon atas sambil menikmati hot chocholate, ternyata tiffany ini berusia 22 tahun, dan seorang mahasiswa di salah satu akademi sekretasis di bandung, menjadi high class call girl baru sekitar 6 bulan ini. –skip-<br />
Rencananya kita akan melakukan hubungan sex didepan istriku sendiri nanti menjelang sore, siang itu kami hanya mengakrabkan diri sambil berkeliling di area villa dan jalan-jalan ke daerah wisata setempat, di jalan istriku mulai bicara menyerempet2 “ fan, suamiku ini hebat loh sambil mengusap pahaku “ saat itu aku hanya senyum saja, “oh iya? Beruntung juga dong mbak anty bsa dapetin suami yang hebat “ sambil tersenyum dan matanya melihatku di spion tengah mobil, saat itu fanny sudah tidak mengenakan baju yang tadi pagi dia pakai, dia hanya menggunakan hot pants, dan baju longgar sehingga bisa tergambar tete nya yang berukuran besar (kira-kira sama dengan istriku) dan masih menantang, dan saat pembicaraan itu, fanny yang asalnya bersender di jok belakang kemudian beranjak mendekati kami, dan mulai mengusap pahaku “oh my god” anak ini berani banget dalam hatiku, saat aku menoleh ternyata fany sedang mencium tengkuk istriku, sangat-sangat dan sangat liar “ fan, cukup fan dilihat orang nanti” kata anty sambil tersenggal merasakan ciuman ditengkuknya, biasanya istriku suka banget ciumi aku saat di mobil tanpa perduli ada orang yang memperhatikan kami. Fanny kemudian menghentikan nya dan sambil tersenyum “ iya deh, okay. Kita tunggu sampai di villa yah” tapi tangan nya masih memegang pahaku dan ternyata sudah mengelus ko***lku dari luar celana pendek yang aku kenakan.</p>
<p style="text-align: justify;">Ketika kita sudah kembali ke villa, dan masuk ke rumah, fanny sudah mulai berlaku nakal, di mengempaskan badannya di sofa ruang tamu, mengangkat kaki nya seraya di rapatkan “ gimana pantatku ga kalah sama mbak anty kan mas “ aku dan istriku tersenyum, anty berbisik di telingaku “ cobain yah sayang”. “kalian koq malah bisik2” fanny mendekati kami dan tiba-tiba dia menciumku di depan istriku sendiri, mulanya aku hanya diam saja sambil melihat ke arah istriku yang tersenyum sambil mengisyaratkan “ go ahead…” aku lalu membalas ciumannya dengan penuh nafsuv (secara gitu kucing di kasih daging), tangan anty melingkat di pundaku, sementara tangan ku sudah mulai meremas bongkahan pantat nya yang masih kencang. “emh..emhkk, akh” desahan mulai terdengar dari mulut mungil fanny ketika aku menciumi lehernya yang jenjang, sementara istriku memperhatikanku di sofa. Fanny yang memang ditugaskan oleh istriku untuk memuaskanku, mulai memegang ko***lku yang sudah mengeras dan langsung dikeluarkannya “ emh, besar mas…emhh..akhh..slruppp” tanpa menunggu lama anty menghisap dan menjilat ko***lku, dan nakalnya fanny dia menghisap ko***lku sambil meremas tete dan sesekali mengusap-ngusap me**knya sendiri sambil matanya menatap dalam kepada istriku. Saat itu istriku mulai ga keruan duduknya, gelisah kuperhatikan istriku mulai menyentuh tubuhnya sendiri, meski hanya dari luar bajunya, tapi short dress yang biasa dipakai istriku sangat tipis, lekuk tubuhnya yang tetap terindah buatku menjadi semakin terlihat. Aku mengangkat tubuh fanny, aku buka baju longgar nya dan kuturunkan hot pants nya, terlihatlah bra renda yang sexy dengan g-string yang juga berenda dan dua-dua nya berwarna merah, aku balikan tubuh fanny dan aku posisikan dia menungging sambiil berpegangan ke meja, kemudian aku mulai menciumi pantatnya sambil aku mainkan jariku di belahan me**knya yang masih tertutup g-string, aku melihat istriku dengan tanpa merasa risih mulai meremas tete nya dan mulai memainkan jarinya di me**k dan mendesah-mendesah kecil.<br />
Perlahan aku menurunkan g-string yang dipakai fanny, aku lihat me**k yang putih, mulus, indah. Tak heran aku dia menjadi high class call girl, aku keluarkan lidahku dan mulai ku jilat lembut permukaan me**knya, fany mendesah tertahan “awhhh,,,sshhh…akhhh mas, akhh” fany menggigit bibirnya sendiri sambil menatap anty istriku yang juga mulai menikmati suasana ini, anty dengan mata memejam, meremas tete nya dan mulai memainkan i**lnya, karena g-string istriku sudah di kepinggirkan. Semakin lama jilatanku di me**k fany semakin liar, tak sadar aku menjilati lubang pantatnya dan ternyata fanny merasakan kenikmatan yang diinginkannya “ nah, itu mass. Awhhh..akhhh” lidahku mulai membasahi lubangnya dan kutekan di lubangnya fany menjerit “akkhhhhhh,, mas….akhhhh” setelah basah, aku mulai menghentikan jilatanku, berdiri di belakang pantat fany yang ga kalah bulat disbanding dengan istriku, aku mengarahkan ko***lku ke lubang me**knya, ketika kumasukan ternyata lubang me**knya masih sempit, fany memekin “awhhhh,,,,hupphh,,,ehh…aaaaahhhhhhh” semua batang ko***lku kumasukan kedalam lubang me**k fany, ku tarik pelan-pelan dan ku masukan lagi secara tiba-tiba dan sekaligus “ awwwwwhhhhhhhh,,,,,” fany menjerit-jerit saat me**knya ku e*e, dengan irama yang kuatur cepat, pelan, istriku tersenyum sambil mengocok me**knya sendiri memakai dua jari nya, sungguh aku sangat horny saat melihat istriku masturbasi. Setelah puas dengan doggy style aku mengangkat tubuh fanny dan kubaringkan di sofa tepat di hadapan istriku, aku tarik bra nya sampai terlepas dan tete nya sunguh membuatku ingin meremasnya. Ku angkat kakinya ke atas dan kubuka selangkangannya, lalu aku kembali mengarahkan ko***lku ke lubang me**knya, kali ini aku masukan perlahan sampai setengah batang ko***lku masuk, dan kemudian aku tekan kuat sekali sampai fany menggelinjang “awhhhh,… mbak anty,,, ahhh,,,, ahhh mass edwinn” fany semakin gelagapan dan mulai menjambak rambutku, tanganku tak berhenti meremas tete fany yang sangat indah. Istriku yang berada dekat dengan kepala fany yang terbaring di sofa, kemudian berdiri, melepaskan short dress nya dan di ikuti melepas bra warna hitam dan g-string nya, kemudian membuka belahan me**knya dia mainkan i**lnya kasar sekali, fany yang melihat istriku dengan tubuh nya yang sangat sexy kemudian menarik tangan istriku dan berkata “ sini mbak sama fany aja” istriku kemudian menaiki sofa dan berjongkok di atas wajah fany, dan berhadapan denganku yang sedang meng**e fany, sambil aku berciuman nfasu dengan istriku aku tetap menge*e fany dengan kasar, dan fany yang sangat merasakan nikmat, melampiaskannya dengan menciumi i**l istriku dan lubang pantat istriku. Tak lama dalam posisi itu fany menjerit “ awh mas,, awhhh.. fany keluar mas..akh.” ternyata fany mengalami big O nya yang pertama. Tubuhnya mengejang hebat, tanpa kami hiraukan aku terus menggenjot me**knya dan istriku terus menggoyangkan pantat nya di muka fany. Istriku tersenyum menantang kepadaku, kemudian mengangkat tubuhnya, aku berdirikan fany, kemudian aku duduk di sofa, dan fany duduk di pangkuanku memasukan ko***lku kedalam me**knya “ akhhhhhh” fany memejamkan mata saat ko***lku kembali masuk ke lubang nikmatnya, hebatnya istriku, yang mulai berjongkok di bawah, dan menciumi biji-biji ko***lku, serta menjilati lubang pantat fany yang membuat fany semakin kasar menduduki ko***lku “ awhh, mash…mbak anty.. kkkalliiaann,,, memang gilaa” sambil terus menaik turunkan pantatnya yang semakin kasar, sampai kemudian dia menjerit “awwwwwhhhhhhhhhhhh… mbakkk antyyyy ennaakkkk “ ternyata istriku menyimpan jari telunjuknya searah ko***lku sehingga saat fany menduduki ko***lku sekaligus tanpa disadari jari telunjuk anty masuk ke dalam pantat fany.<br />
Setelah posisi duduk aku berbaring di sofa namun fany tetap naik dan turun di atas ko***lku, istriku menyudahi memasukan jarinya ke dalam pantat fany, dan mulai duduk jongkok di wajahku, sambil berkata “puasin aku juga yah sayang” duduknya maju mundur dan sesekali mengocokan me**knya menggunakan jari di depan wajahku, fany yang merasa nikmatnya berkurang setelah istriku menyudahi memasukan jari di pantatnya, mulai memasukan jarinya sendiri di pantat nya. Sungguh gadis yang nakal ternyata fany. Agar semua mendapat kepuasan, akhirnya aku perintahkan mereka menunggin di sofa berepegangan di sandaran sofa nya, dan kemudan aku e*e mereja bergiliran, fany aku e*e dengan kasar, kemudian istriku, kembali lagi kef any, dan indah nya kulihat mereka berciuman yang membuatku sangat bernafsu. Tak lama istriku mendapatkan big O nya dia menjerit dan mengejang “ akh sayang,, sayang.. aku dulu sayang,, akhhh,,,akhhh..akhhhhhhhhhhhh” fany yang belum mendapat big O ke2 nya aku hajar terus dengan kasar, dan istriku mengocokoan jari nya di pantannya fany “ akhh… awhhhhh,, mass Edwin,… mbak…. Teruss.. ahhh…..ahhhh,” dan kembali me**knya merapat, menegang, tubuhnya bergetar, dan menjerit nikmat “ akhhhh,, masss….mmmhhhh….akhhhhh,, fanyyyy keeluuuuarrr maasss,,, akkhhhhhhhhhhh”. Fany melenguh dan meski me**knya menjadi sangat banjir aku terus e*e dan tak lama kemudia aku yang big O “ aku keluar sayang, aku keluar…” , “ keluarin di mulut kami sayang “ istriku menjawab dengan masih mengocokan jarinya di pantat fany, aku cabut ko***lku ku kocokan dengan tangan dan lalu “ akkhhhhh….shhhh…akhhh” aku keluarkan cairan hangat dan kental di wajah fany dan istriku. Kami terkulai lemas di sofa ruang tamu dan kami tertidur. Begitu bangun kami mandi terpisah, dan malam harinya kami tidak melakukan hubungan seks, kami mengobrol di ruangan yang tadi siang kami pakai untuk melakukan seks yang tidak pernah aku sangka sama sekali.
</p>
<p style="text-align: justify;">Besok harinya fany di jemput seseorang, dan ternyata dia itu pacarnya sendiri, dan anehnya pacarnya tau apa yg dilakukan fany di villa ini. Itupun aku tau dari obrolan kami semalam. Istriku merasa puas dengan apa yang terjadi, dia merasa sekarang kami sama-sama pernah berhubungan dengan orang lain, menjadikan kehidupan seks kami lebih hangat, 3 some yang saya lakukan hanya terjadi saat itu saja, dan tidak berlanjut. Itulah cerita aku dan istriku yang berksplorasi bersama fany, sang mahasiswa di lembang bandung.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ceritasex.cn/antara-aku-anty-istriku-dan-wanita-panggilan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Gadis Pemuas : Tukang Sapu Sekolah</title>
		<link>http://www.ceritasex.cn/gadis-pemuas-tukang-sapu-sekolah/</link>
		<comments>http://www.ceritasex.cn/gadis-pemuas-tukang-sapu-sekolah/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 01 Oct 2009 08:29:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cerita Sex</dc:creator>
				<category><![CDATA[Daun Muda]]></category>
		<category><![CDATA[Gangbang Rame Rame]]></category>
		<category><![CDATA[bercinta]]></category>
		<category><![CDATA[bugil]]></category>
		<category><![CDATA[gadis pemuas]]></category>
		<category><![CDATA[gadis sma]]></category>
		<category><![CDATA[gangbang]]></category>
		<category><![CDATA[ngentot]]></category>
		<category><![CDATA[seks]]></category>
		<category><![CDATA[seks party]]></category>
		<category><![CDATA[sma]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ceritasex.cn/?p=952</guid>
		<description><![CDATA[Sudah seminggu aku melayani Mang Ucup, setiap hari sehabis pulang sekolah malam harinya dan jika sabtu minggu, Mang Ucup dan aku janjian untuk bertemu di tempat yang biasa menjadi tempat pergumulanku dengan Mang Ucup yaitu gudang sekolah. Semenjak aku sering melayani Mang Ucup di gudang sekolah, Mang Ucup jadi lebih rajin membersihkan gudang sehingga gudang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Sudah seminggu aku melayani Mang Ucup, setiap hari sehabis pulang sekolah malam harinya dan jika sabtu minggu, Mang Ucup dan aku janjian untuk bertemu di tempat yang biasa menjadi tempat pergumulanku dengan Mang Ucup yaitu gudang sekolah. Semenjak aku sering melayani Mang Ucup di gudang sekolah, Mang Ucup jadi lebih rajin membersihkan gudang sehingga gudang sekolah menjadi bersih dan Mang Ucup mendapat pujian dari kepala sekolah karena gudang sekolah jadi lebih bersih, peribahasa &#8220;sambil menyelam minum air&#8221; mungkin tepat untuk Mang Ucup karena selain menjalankan tugasnya, dia juga bisa menikmati tubuhku setiap malam.</p>
<p style="text-align: justify;">Meskipun Mang Ucup sudah berumur 60 tahun, kulitnya hitam, rambutnya beruban, giginya banyak yang ompong, tapi aku sayang kepadanya karena penisnya bisa membuatku ketagihan, bahkan karena terlalu ketagihan aku tetap bersetubuh dengan Mang Ucup meskipun aku sedang ulangan. Untungnya ulanganku bisa kukerjakan dengan baik sehingga aku yakin raporku bagus yang akan kuterima 1 minggu lagi, dan tentu saja selama 1 minggu aku melayani Mang Ucup setiap malam. Benar dugaanku, raporku bagus dan aku naik kelas, aku sangat senang melihat nilaiku yang bagus. Malam harinya, setelah aku selesai melayani Mang Ucup.<br />
&#8220;sayang, selamat ya, kamu naik kelas&#8221;.<br />
&#8220;iya dong, siapa dulu, Rasti gitu loh, oh ya, untuk ngerayain, Mang Ucup mau gak nginep di rumah aku selama 1 minggu?&#8221;.<br />
&#8220;mau banget, tapi di rumah kamu emangnya gak ada orang?&#8221;.<br />
&#8220;gak ada, makanya aku minta abang nemenin aku, mau gak?&#8221;.<br />
&#8220;pasti abang mau dong,,,&#8221;.<br />
&#8220;oh ya Mang, bawa temen ya, biar tambah rame&#8221;.<br />
&#8220;ok sayangku,,&#8221;.<br />
Lalu dia mengantarku pulang, dan seperti biasa aku berciuman dengan Mang Ucup sebelum dia pergi, kemudian aku masuk ke dalam rumah.<br />
<span id="more-952"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Di dalam rumah, Mbok Parti sedang mengepak bajunya ke dalam kopernya.<br />
&#8220;mbok, mau pulang ke kampung mbok ya?&#8221;.<br />
&#8220;iya, kayak biasa,,,&#8221;.<br />
&#8220;oh iya ya, besok kan udah mulai liburan sekolah ya&#8221;.<br />
&#8220;ya non, kan jarang-jarang Mbok punya waktu kumpul ama keluarga&#8221;.<br />
&#8220;terus kapan mbok mau berangkat?&#8221;.<br />
&#8220;subuh non, supaya nyampe sana gak terlalu siang&#8221;.<br />
&#8220;yaudah mbok, besok mbok berangkatnya gak usah bangunin aku soalnya aku capek&#8221;.<br />
&#8220;ok non,,&#8221;, lalu aku pergi ke kamarku dan langsung tidur. Paginya aku bangun pada pukul 9 pagi, lalu aku mandi membersihkan tubuhku yang tadi malam habis dinikmati oleh Mang Ucup. Setelah mandi, aku membuat sarapan dan aku makan tanpa sehelai benangpun yang membalut tubuhku. Sambil menunggu Mang Ucup dan temannya datang, aku menonton vcd porno dan tentu saja 2 dildo yang bisa bergerak ke segala arah sudah tertanam di vagina dan anusku. Tidak terlalu lama, kudengar bunyi motor Mang Ucup yang sudah kukenal, untungnya sistem keamanan rumahku sudah kumatikan sehingga alarm tidak menyala ketika Mang Ucup dan temannya mendekati pintu gerbang rumahku.</p>
<p style="text-align: justify;">Lalu kubuka pintu gerbang otomatisku dengan remote dari ruang tamu dan tak lama kemudian terdengar bunyi ketokan di pintu rumahku. Seperti biasanya, ide gilaku muncul, aku ingin menemui mereka tanpa memakai apapun dan dengan dildo yang masih tertanam di vagina dan anusku, aku berjalan ke pintu dahulu lalu baru kumasukkan 2 dildo tadi di vagina dan anusku kemudian aku membuka pintu rumahku. Betapa kagetnya mereka ketika melihatku telanjang dengan dildo yang menancap di kedua lubangku, tapi Mang Ucup hanya kaget sebentar, dia langsung melumat bibirku dan membelit lidahku, setelah puas mencumbuku dia berdiri di sampingku dan memaju mundurkan 2 dildo yang tertanam di vagina dan anusku, sementara teman Mang Ucup hanya bengong melihat cewek cantik yang telanjang sedang dimainkan oleh temannya yang sudah tua itu.<br />
&#8220;yad, ayo ikutan sini bengong aja lo,,,&#8221;. Dengan ragu-ragu si teman Mang Ucup mendekatiku.<br />
&#8220;gak apa-apa neng kalau abang ikutan?&#8221;.<br />
&#8220;nnngggg,,,,ak a,,,pa-a,,,,pa&#8221;.<br />
&#8220;tuh kan gak apa-apa, udah nih pegang mainannya&#8221;. Lalu Mang Ucup ke belakang dan memainkan dildo yang tertanam di anusku dengan tangan kanannya dan tangan kirinya meraba dada kiriku dari belakang, sementara teman Mang Ucup mulai menggerakkan dildo yang ada di dalam vaginaku.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku hanya bisa mendesah dan meliuk-liukkan badanku karena sangat nikmat, 8 menit kemudian aku orgasme tapi cairanku tertahan oleh dildo sehingga vaginaku terasa hangat oleh cairanku dan setiap kali dildo menyeruak masuk ke dalam vaginaku, cairanku meleleh keluar dari sela-sela vaginaku mengalir ke pahaku. Lalu Mang Ucup menyuruh temannya untuk berhenti dan tiduran, kemudian aku disuruh untuk menduduki wajah teman Mang Ucup. Di saat vaginaku tepat berada diatas wajah teman Mang Ucup, Mang Ucup mencabut dildo yang ada di vaginaku sehingga cairanku langsung tumpah ke mulut teman Mang Ucup yang sudah terbuka lebar. Cairanku yang tadi tertahan di dalam vaginaku kini sudah habis diminum teman Mang Ucup hingga tak bersisa.<br />
&#8220;gimana Yad, manis kan cairan vagina si neng satu ini?&#8221;.<br />
&#8220;ini mah bukan manis doang tapi juga legit banget. Neng, boleh gak minta lagi?&#8221;.<br />
&#8220;pasti boleh dong,,,silahkan minum sesuka hati abang&#8221;. Lalu aku menekan vaginaku ke wajah teman Mang Ucup yang langsung menjilati dengan antusias, dia menjilati bibir vaginaku dari bawah ke atas yang membuatku geli sekaligus nikmat, dan ketika lidahnya mengenai klitorisku, tubuhku bergetar karena rasa nikmat dan geli bertambah.<br />
&#8220;gile, klitoris neng manisnya minta ampun&#8221;.<br />
&#8220;uda,,,&#8221;, belum selesai kata-kataku, mulutku sudah dilumat oleh Mang Ucup yang memainkan lidahnya di dalam rongga mulutku.</p>
<p style="text-align: justify;">10 menit kemudian aku orgasme dan cairanku langsung mengalir deras ke mulut teman Mang Ucup yang terbuka lebar. Teman Mang Ucup sepertinya sangat ketagihan dengan cairanku karena dia sampai memegangi pinggulku seolah tidak mau berhenti meminum cairanku.<br />
&#8220;udah dong bang, masa dijilatin terus, pegel nih&#8221;.<br />
&#8220;tau lo Yad, kan kasihan si Rasti kecape&#8217;an&#8221;.<br />
&#8220;sory deh neng, abisnya vagina neng manis banget sih abang jadi lupa diri deh&#8221;.<br />
&#8220;gak apa-apa kok bang, waktu pertama kali, Mang Ucup juga ketagihan, oh ya ngomong-ngomong aku belum tau nama abang&#8221;. Lalu aku dan teman Mang Ucup berdiri dan saling memperkenalkan diri.<br />
&#8220;kenalin, nama saya Yadi,,&#8221;.<br />
&#8220;aku Rasti, aku boleh gak manggil abang Mang Yadi?&#8221;.<br />
&#8220;pasti boleh dong buat neng cantik, ngomong-ngomong neng Rasti kok mau sih vaginanya abang jilatin, padahal kan belum kenal?&#8221;.<br />
&#8220;yang penting abang suka kan?&#8221;.<br />
&#8220;suka banget neng, soalnya abang gak pernah ngerasain vagina cewek muda &#8216;n cantik kayak neng&#8221;.</p>
<p style="text-align: justify;">Mang Yadi berumur 61 tahun, wajahnya lebih kelihatan tua dari Mang Ucup, kulitnya hitam, kepalanya botak, dan tubuhnya kurus.<br />
&#8220;Mang Yadi, Mang Ucup, langsung yuk ke kamarku, udah gak tahan nih pengen ditusuk&#8221;.<br />
&#8220;yuk,,,&#8221;. Lalu kami bertiga masuk ke kamarku, sesampainya kami di kamarku aku langsung tiduran di kasur dan membuka kakiku lebar untuk membuat Mang Yadi dan Mang Ucup semakin tergoda. Tentu saja karena disuguhi pemandangan seperti itu, mereka langsung mendekati tubuh putih mulusku yang terbaring pasrah menanti mereka di ranjang. Mereka berdua tiduran di sampingku, lalu Mang Ucup mengenyot dada kananku dan Mang Yadi melahap dada kiriku sedangkan tangan mereka meraba-raba secara halus daerah selangkanganku, dan mereka bergantian memasukkan jari-jari mereka ke dalam vaginaku untuk mengorek-ngorek vaginaku. 7 menit kemudian, cairanku mengalir deras keluar dari vaginaku, lalu secara bersamaan mereka memasukkan 2 jari mereka ke dalam vaginaku dan mengorek-ngorek cairanku yang ada di dalam vaginaku dan sekitar vaginaku. Setelah 2 jari mereka berlumur cairan vaginaku, kemudian mereka memasukkan 2 jari mereka yang berlumur cairanku ke dalam mulutku sehingga aku bisa merasakan rasa cairan vaginaku yang ternyata manis, kujilati cairanku sendiri sampai tak bersisa di jari mereka.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;ternyata cairanku bener-bener manis ya&#8221;.<br />
&#8220;emangnya neng baru nyobain cairan neng sendiri ya?&#8221;.<br />
&#8220;udah pernah sih, tapi dulu gak semanis kayak gini, kayaknya gara-gara obat pencegah kehamilanku deh&#8221;.<br />
&#8220;yaudah neng, kami buka baju dulu ya&#8221;. Lalu mereka membuka baju dan celana mereka, kemudian aku melihat benda yang berdiri tegak di tengah-tengah selangkangan mereka. Aku sudah biasa melihat penis Mang Ucup, jadinya aku lebih fokus pada penis Mang Yadi yang ukurannya lebih besar dari penis Mang Ucup. Aku takjub melihat penis Mang Yadi karena panjangnya 21 cm, sedangkan diameternya 10 cm.<br />
&#8220;mang Yadi, padahal udah kakek-kakek kok penisnya bisa mantap kayak gitu?&#8221;.<br />
&#8220;abang sering ke Mak Erot, hasilnya ya begini&#8221;.<br />
&#8220;oohh, pantes aja penis abang super kayak gitu&#8221;.<br />
&#8220;udah,, udah, ngobrolnya, mendingan kita mulai. Yad, lo gue kasih memeknya duluan deh, biar gue pantatnya aja&#8221;. Lalu Mang Yadi tidur terlentang, sementara aku sudah mengambil posisi di atas badan Mang Yadi, kemudian dengan perlahan aku memasukkan penis Mang Yadi yang besar itu ke dalam vaginaku yang sudah lapar akan penis.
</p>
<p style="text-align: justify;">Aku tak menyangka kalau penis Mang Yadi dari ujung kepalanya sampai pangkalnya bisa masuk ke dalam vaginaku meskipun sekarang vaginaku benar-benar terasa penuh. Lalu aku mulai menggoyangkan tubuhku untuk menghilangkan rasa sakit yang ditimbulkan penis Mang Yadi, dan akhirnya rasa sakit itu mulai hilang. Kemudian, dari belakang Mang Ucup mendorong tubuhku ke depan sehingga posisiku tidur di atas badan Mang Yadi dan dadaku tepat di wajah Mang Yadi, dan tentu saja Mang Yadi langsung melahap payudaraku yang putih mulus dan montok. Lalu kurasakan benda tumpul yang menyeruak masuk ke dalam anusku, ternyata Mang Ucup sudah menanamkan penisnya ke dalam anusku. Mereka menungguku agar terbiasa dulu, setelah aku sudah mulai merasa nikmat, mereka mulai memompa penis mereka di dalam 2 lubangku. Aku sangat merasa nikmat karena diobok-obok 2 penis yang ukurannya besar ditambah lagi ketika penis Mang Ucup sedang masuk, penis Mang Yadi, dan sebaliknya, sementara payudaraku dilumat habis oleh Mang Yadi.</p>
<p style="text-align: justify;">9 menit kemudian tubuhku mengejang yang menandakan aku orgasme, tapi cairanku tertahan oleh penis besar Mang Yadi yang mengisi vaginaku sehingga setiap kali Mang Yadi menggenjot vaginaku terdengar bunyi &#8220;cplok,,,cplok&#8221;, sementara Mang Ucup sedang asik menikmati jepitan anusku yang sangat sempit. Sampai 1 jam lamanya mereka terus memompa penis mereka tanpa henti, akhirnya keduanya menyemburkan sperma ke dalam vagina dan anusku hampir secara bersamaan. Setelah mereka selesai menyemburkan sperma mereka, Mang Ucup ambruk menindih tubuhku sehingga tubuhku yang masih muda dan putih mulus dibuat sandwich oleh 2 kakek yang hitam dan sudah keriput.<br />
&#8220;wah neng Rasti, vagina neng peret banget, enak eui&#8221;.<br />
&#8220;siapa dulu, Rasti gitu loh&#8221;.<br />
&#8220;tapi neng, gak papa abang buang di dalem?&#8221;.<br />
&#8220;gak apa-apa kok, tenang aja Mang Yadi, pokoknya sperma Mang Yadi ama Mang Ucup aku terima di mana aja abang mau&#8221;.<br />
&#8220;gimana Yad, pacar gue mantep kan?&#8221;.<br />
&#8220;tadinye gue kirain pacar lo nenek-nenek, taunya cewek bohai banget kayak gini&#8221;.<br />
&#8220;nah Mang Ucup, Mang Yadi, kalian nginep disini kan?&#8221;.<br />
&#8220;iya dong sayang, abang ama Yadi bakal nemenin kamu sampai hari minggu&#8221;.<br />
&#8220;nah, karena kalian bakal nemenin aku, sebagai imbalannya, aku akan menjadi mainan sex kalian&#8221;.<br />
&#8220;berarti neng bakal ngelayanin kita kapan aja?&#8221;.<br />
&#8220;kapanpun dan dimanapun Mang Yadi &#8216;n Mang Ucup mau,,,&#8221;.<br />
&#8220;asik,,, kalo gini caranya abang mau deh tinggal disini terus-terusan&#8221;. Kemudian kami tertawa bersama-sama dengan penis Mang Yadi masih menancap di dalam vaginaku, dan penis Mang Ucup masih tertanam di dalam anusku.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Mang Ucup ama Mang Yadi kan baru dateng, mendingan aku buatin makanan ya,,,&#8221;.<br />
&#8220;boleh juga tuh sayang,, jadi laper, yuk&#8221;. Lalu Mang Ucup mencabut penisnya dan turun dari ranjang kemudian aku juga turun dari ranjang dan langsung pergi menuju ke dapur untuk memasakkan makanan bagi dua kekasih tuaku. Setelah aku sudah selesai memasak, aku hidangkan makanan di meja makan lalu kami bertiga duduk di kursi.<br />
&#8220;wuih, sayang, makanannya enak-enak nih&#8221;.<br />
&#8220;iya dong, makanannya harus enak, kan buat 2 orang yang paling aku sayang&#8221;.<br />
&#8220;neng Rasti emang mantap deh, udah baik, cantik, bohai, hebat di ranjang, bisa masak juga lagi, coba neng Rasti jadi istri abang, pasti abang seneng tiap hari&#8221;.<br />
&#8220;yaudah bang, selama 1 minggu ini kalian anggep aku istri ya, ok?&#8221;.<br />
&#8220;ok, sayang&#8221;. Lalu kami bertiga makan semua makanan yang sudah kumasak, setelah makan Mang Yadi bertanya-tanya kepadaku dan Mang Ucup tentang bagaimana caranya sampai Mang Ucup bisa menikmati tubuhku setiap malam.<br />
&#8220;gile lo Cup, enak banget lo ye, tiap malem ada yang bikin lo anget&#8221;.<br />
&#8220;hehehe, lagian waktu itu gue ajak gak mau&#8221;.<br />
&#8220;tadinya gue pikir, pacar lo itu paling-paling penjaga kantin,, eh gak taunya cewek cantik &#8216;n sexy banget&#8221;.<br />
&#8220;oh ya sayang, tau gak kenapa aku ngajak Mang Yadi?&#8221;.<br />
&#8220;karena penisnya gede?&#8221;.<br />
&#8220;ada lagi selain itu,,&#8221;.<br />
&#8220;apaan dong sayang?&#8221;.<br />
&#8220;soalnya dia punya obat rahasia dan hanya dia yang punya&#8221;.<br />
&#8220;wah, obat apa, ada hubungannya ama sex kan?&#8221;.<br />
&#8220;yah, gimana sih sayang, udah pasti ada kaitannya dong, nih lihat ya&#8221;.</p>
<p style="text-align: justify;">Lalu Mang Ucup dan Mang Yadi bangun dari kursi mereka kemudian masing-masing meminum obat, setelah meminum obat penis mereka langsung berdiri tegak.<br />
&#8220;wow, Mang Yadi, itu obat apa?&#8221;.<br />
&#8220;ini obat bikinan abang&#8221;.<br />
&#8220;iya sayang, keluarga Mang Yadi punya resep rahasia&#8221;.<br />
&#8220;ooh gitu, terus fungsi obat ini apa?&#8221;.<br />
&#8220;obat ini bikin ****** gak bisa tidur, terus ngaceng, udah gitu bikin peju gak bisa abis&#8221;.<br />
&#8220;keren banget, oh ya, fungsi obat ini sampe kapan?&#8221;.<br />
&#8220;sampai besok siang,,,&#8221;.<br />
&#8220;wow, aku bisa pingsan kalau kayak gini,,,&#8221;.<br />
&#8220;tenang aja non, Mang Yadi juga punya obat kuat buat cewek&#8221;.<br />
&#8220;fungsinya apa?&#8221;.<br />
&#8220;bikin tenaga kamu gak abis-abis, &#8216;n bikin badan kamu seger terus jadinya kamu bisa ngelayanin kita sampe besok siang&#8221;.<br />
&#8220;ok, karena aku udah sah jadi istri angkat kalian, aku akan melayani kalian sampai kalian puas, sini obatnya&#8221;. Lalu aku minum obat dari Mang Yadi, setelah meminum obat itu tubuhku panas, vaginaku terasa gatal, tapi badanku terasa sangat segar.<br />
&#8220;yuk, tubuhku udah siap melayani kalian berdua&#8221;. Kemudian kami bertiga menuju ke kamarku, dan mereka langsung menggarap tubuhku seperti binatang buas, tapi kini Mang Ucup yang mengaduk-aduk vaginaku sementara Mang Yadi mengobok-obok anusku. Benar-benar manjur obat dari Mang Yadi, soalnya sudah beberapa kali orgasme tapi badanku tetap segar seperti tidak terjadi apa-apa, sedangkan Mang Yadi dan Mang Ucup lebih cepat mencapai orgasme dan menyemburkan lahar putih mereka ke dalam vagina dan anusku, tapi penis mereka tetap berdiri, tentu saja, mereka mengaduk-aduk vagina dan anusku lagi tanpa henti. Kami hanya berhenti beberapa kali untuk makan dan itu pun hanya sebentar, setelah itu tubuhku kembali digarap Mang Yadi dan Mang Ucup tanpa ampun.
</p>
<p style="text-align: justify;">Ternyata obat Mang Yadi benar-benar dahsyat karena sudah jam 12 siang, badanku masih terasa segar meskipun badanku penuh sperma Mang Yadi dan Mang Ucup, sedangkan entah sudah berapa kali Mang Yadi dan Mang Ucup menyemburkan lahar putih mereka baik ke dalam lubang anus, vagina, dan anusku maupun ke tubuhku, mulai dari rambut, wajah, tangan, payudara, perut, paha, betis, sampai ujung kakiku sudah dilumuri sperma sehingga kini seolah-olah aku memakai baju dari sperma. Setelah semburan sperma Mang Yadi dan Mang Ucup yang ke 53 kali menerpa tubuhku, efek obat itu habis dan badan kami langsung lemas, lalu kami tertidur pulas dengan Mang Yadi dan Mang Ucup mengapit tubuhku tapi penis mereka sudah mengecil dan keluar dari vagina dan anusku. Sepertinya, dalam waktu seminggu aku akan berada dalam surga dunia di rumahku, karena udah penis Mang Yadi dan Mang Ucup, sekarang malah ditambah obat yang bikin penis mereka gak bisa tidur. Betapa senangnya diriku, seminggu ke depan ada 2 orang yang akan menyetubuhiku terus menerus.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ceritasex.cn/gadis-pemuas-tukang-sapu-sekolah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
