<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Cerita sex porno ngentot mesum perek ayam kampus &#187; grepe</title>
	<atom:link href="http://www.ceritasex.cn/tag/grepe/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.ceritasex.cn</link>
	<description>Kumpulan cerita sex, foto bugil, dan film porno</description>
	<lastBuildDate>Wed, 08 Feb 2012 13:12:08 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
		<item>
		<title>Adik Tiriku Pemuasku, Bagian 1</title>
		<link>http://www.ceritasex.cn/adik-tiriku-pemuasku-bagian-1/</link>
		<comments>http://www.ceritasex.cn/adik-tiriku-pemuasku-bagian-1/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 02 Jan 2011 14:15:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cerita Sex</dc:creator>
				<category><![CDATA[kisah nyata]]></category>
		<category><![CDATA[Sedarah]]></category>
		<category><![CDATA[adik]]></category>
		<category><![CDATA[adik tiri]]></category>
		<category><![CDATA[bella]]></category>
		<category><![CDATA[grepe]]></category>
		<category><![CDATA[remas toket]]></category>
		<category><![CDATA[toket]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ceritasex.cn/?p=1785</guid>
		<description><![CDATA[Dari semua pengalaman gue selama ini, yang pertama-tama gue mau cerita adalah pengalaman gue dengan seorang yang bernama Bella, sebutlah seperti itu namanya. (gue pake nama samaran karena ga mau ada orang yang bisa menebak siapa gue sebetulnya) Sesungguhnya si Bella ini adalah adik gue sendiri. Kita satu ayah tapi beda ibu. Dia bertumbuh dan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Dari semua pengalaman gue selama ini, yang pertama-tama gue mau cerita  adalah pengalaman gue dengan seorang yang bernama Bella, sebutlah  seperti itu namanya. (gue pake nama samaran karena ga mau ada orang yang  bisa menebak siapa gue sebetulnya)</p>
<p style="text-align: justify;">Sesungguhnya si Bella ini adalah adik gue sendiri. Kita satu ayah tapi  beda ibu. Dia bertumbuh dan besar di kampung selama ini. Dan pada suatu  saat (gue ga mau sebut tahunnya, takut ketebak ma orang), dia datang ke  kota dimana gue dan kakak perempuan gue tinggal (kakak perempuan gue itu  adalah saudara kandung gue dan dia sudah punya suami, sementara gue  tinggal dirumahnya).</p>
<p style="text-align: justify;">Bella waktu itu baru tamat smp dan mau melanjutkan sekolah ke jenjang  smu sementara gue masih kuliah tingkat skripsi tetapi sudah sambil  bekerja. Dan sejak gue perhatikan kedatangannya, dalam hati gue  berpikir, ini anak kampungan banget sih.</p>
<p style="text-align: justify;">Pokoknya masih polos-polos gitulah. Gue biasa-biasa aja pada permulaan  melihat dia, walaupun yang gue perhatiin dari dia adalah bahwa dia  mempunyai kulit yang cukup putih bersih dan tubuh yang padat walau  tinggi badannya sangat tidak ideal. Tapi tetap menarik untuk dilihat  pada umumnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Dan berlalulah waktu tanpa terasa dirumah kakak gue ini dengan kehadiran  penghuni baru ini. Selayaknya seorang adik, dia memanggil gue dengan  sebutan kakak , tentunya. Si Bella ini tidurnya dengan keponakan gue  yang masih SD. Dan karena jadwal sekolahnya masuk siang jadi kalau  pulang kerja, gue menyempatkan diri untuk menjemput dia (karena tingkat  skripsi jadi hanya kadang-kadang aja ke kampus)dan pulang bareng-bareng  ke rumah.</p>
<p style="text-align: justify;">Oiya, ada beberapa waktu lamanya ketika ibu gue dari kampung juga sempat  tinggal di rumah kakak gue untuk menemani adik gue ini beradaptasi  dengan lingkungan yang baru dialaminya. Dan gue suka memperhatikan kalau  bangun pagi, adik gue ini tidak langsung melakukan aktivitas tetapi dia  menunggu dulu, ibu gue yang suka mengusap-usap telinganya sebagai  ritual pagi yang harus dilakukan dan baru setelah itu dia akan bangun  dan melakukan aktivitas dirumah.</p>
<p style="text-align: justify;">Dan disitulah awal daripada semua cerita ini. Ketika saatnya ibu pulang  ke kampung, kalau pagi-pagi gue bangun untuk siap-siap kerja, gue  perhatikan adik gue ini belum bangun. Paling gue hanya masuk ke kamarnya  dan lihat dia sudah buka mata tapi belum mau bangun (sementara  kebiasaan keponakan gue yang tidur bersamanya adalah, kalau bangun pagi  langsung pergi ke kamar ayah dan ibunya untuk dimanja-manja). Pertamanya  sih, gue biasanya hanya bilang ke dia seperti ini misalnya:”Ayo bangun  Bella, bantu-bantu sana di dapur…” Gue hanya ingetin dia supaya rajin  karena kita hanya menumpang tinggal saja.</p>
<p style="text-align: justify;">Tetapi entah kenapa, suatu pagi terlintas di benak, adik gue ini kasihan  juga karena dia sebetulnya membutuhkan kasih sayang dari orang tua,  setidaknya dari ibu yang biasanya mengelus-elus telinganya ketika dia  terbangun dipagi hari. Dan pada pagi itulah setelah gue selesai mandi  dan pergi ke kamarnya, gue rebahan disamping dia yang selalu posisi  tidurnya dengan gaya tidur samping dan langsung mengelus-elus telinganya  sambil mengatakan:”Kamu pasti kangen diginiin sama ibu ya…” si Bella  membalikkan badannya dan hanya tersenyum senang saja. Lalu selanjutnya,  beberapa hari ke depan, setiap pagi gue datang kekamarnya dan mengelus  telinganya tanpa punya perasaan apa-apa.</p>
<p style="text-align: justify;">Hingga pada suatu pagi, gue masuk ke kamarnya dan seperti biasanya  langsung mengelus-elus telinganya, ehhh, ketika dia membalikkan  badannya, tangan gue yang tadinya berada di telinga terturun karena  gerakan tubuhnya menjadi bersentuh dengan payudaranya. Entah kenapa, gue  mengalami perasaan yang berbeda saat itu. Lain banget perasaannya. Ada  sedikit mengalami ketegangan.</p>
<p style="text-align: justify;">Ketegangan pada jantung yang tiba-tiba berdetak lebih cepat. Ketegangan  pada nafas yang sedikit tertahan. Dan ketegangan pada penis gue yang  tiba-tiba menjadi keras. (sebetulnya ga aneh kalau penis pria mengeras  dipagi hari, karena itu memang sudah kodratnya, menurut ilmu kedokteran)<br />
<span id="more-1785"></span><br />
Tapi yang gue rasa aneh adalah ketika gue sudah mulai menikmati semua  ketegangan ini. Dan entah setan darimana yang sudah menunggu kesempatan  ini untuk menjatuhkan iman gue, entah kenapa ketika adik gue telentang  seperti biasanya kalau sudah mulai dielus telinganya, seharusnya gue  memilih mengelus telinga yang terdekat dengan posisi gue disampingnya.  Tapi kali ini, gue bersikap diluar kebiasaan, yaitu dengan mencari  telinga yang justru disebelah kirinya.</p>
<p style="text-align: justify;">Sudah pasti dapat ditebak, dengan posisi kita berdua sama-sama tidur,  tentu saja ketika gue meraih telinga yang disebelah kiri, maka itu  berarti gue harus menjulurkan jangkauan lebih jauh dan itu artinya bahwa  lengan gue akan menindih payudaranya yang terliwati oleh tangan gue.</p>
<p style="text-align: justify;">Dan jujur, itulah sebetulnya yang gue sudah rencanakan dengan tiba-tiba  pada pagi itu. Sementara gue mengelus telinganya, pada saat itu juga,  lengan gue tergesek-gesek oleh payudaranya yang menyembul.</p>
<p style="text-align: justify;">Mungkin bisa dikatakan tidak terlalu montok, tetapi lumayanlah untuk  merasakan bahwa itu adalah payudara perempuan yang sedang ranum-ranumnya  berkembang. Tapi gilanya, itu adalah payudara adik gue sendiri! Adik  tiri, tepatnya!</p>
<p style="text-align: justify;">Kejadian pagi itu, menjadi berulang pada hari-hari selanjutnya.  Kadang-kadang adik gue terlentang kalau dielus telinganya tapi sering  juga dia hanya dalam posisi miring tidurnya, sehingga kalau demikian  yang terjadi maka gue tidak bisa merasakan sentuhan dengan payudaranya.</p>
<p style="text-align: justify;">Tetapi ada kebiasaan baru yang gue dapatkan kalau seandainya adik gue  tidur pada posisi miring: maka karena tidak terlihat oleh dia, gue  sambil tengkurap tidurnya, tangan memegang telinganya, tetapi badan gue  gesek-gesekan ke kasur sambil membayangkan sedang bersenggama dengan  wanita.</p>
<p style="text-align: justify;">Jujur, kalau sudah melakukan gesekan seperti itu, biasanya gue tidak  akan berhenti menggesekan penis gue itu hingga akhirnya benar-benar  orgasme.</p>
<p style="text-align: justify;">Mungkin sensasi yang gue dapatkan karena gue menyentuh telinga seorang wanita, meskipun itu adalah adik gue sendiri. Kejadian sejak saat itu akhirnya menjadi kenikmatan baru gue. Dan itu  bertambah aneh rasanya, kalau gue sedang membonceng adik gue dimotor  ketika jemput dia pulang ke rumah.</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam perjalanan, pasti ada saja situasi yang membuat payudaranya  tersentuh dengan punggung gue, rasanya, badan gue langsung jadi tegang  dan pikiran mendadak menjadi kotor, membayangkan hal yang tidak-tidak  bersama adik gue ini. (dia kalau dibonceng tidak pernah pegangan  dibagian tubuh gue)</p>
<p style="text-align: justify;">Tetapi semua itu hanyalah pikiran didalam hati yang masih jauh untuk  dilaksanakan dalam kenyataan. Hingga pada suatu saat, gue lupa kapan  tepatnya adik gue ini curhat, bahwa dia lagi dekat dengan seorang pria  teman sekolahnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Entah kenapa, waktu mendengar cerita itu, gue pura-pura seneng tapi  dalam hati seperti ada kata penolakan. Menolak kalau menerima kenyataan,  adik gue akan berpacaran dengan seorang pria. Dan kenyataan  selanjutnya, gue mencari tahu siapa cowo yang sedang dekat sama dia.</p>
<p style="text-align: justify;">Waktu gue jemput dia pulang suatu saat (oiya, gue ga selamanya bisa  jemput dia karena terkadang pulang dari kerja langsung ke kampus) gue  tanya apakah ada cowo yang naksir dia, diantara murid-murid sekolah yang  sedang kumpul didekatnya. Dan dia menunjukkan seorang cowo: tinggi,  putih dan cakep (bukan ganteng loh) Lalu langsung timbul perasaan aneh  lagi.</p>
<p style="text-align: justify;">Sepertinya, perasaan ini adalah perasaan cemburu. Gue yakin banget. Itu  adalah perasaan cemburu. Kalau itu memang perasaan cemburu, apakah ini  berarti tanpa gue sadari, gue sudah mencintai adik gue sendiri? Atau  sedikitnya, menyukai dia? Ada perasaan gue tidak mau kehilangan dia.  Lalu apa yang harus gue lakukan?</p>
<p style="text-align: justify;">Seperti biasanya pada pagi selanjutnya, ritual memegang telinga  dilakukan kembali. Tetapi pagi itu, tekad gue sudah bulat. Kali ini akan  berbeda dari pagi-pagi sebelumnya. Ketika gue rebahan disampingnya,  seperti biasanya dia tidur gaya menyamping.</p>
<p style="text-align: justify;">Dia tidak terlentang ketika gue mengelus telinganya, sehingga rencana  yang sudah disusun sebelumnya berganti. Hanya sebentar gue mengelus  telinganya, dan sebagai gantinya, jari tangan gue sekarang menekan-nekan  bagian pundaknya, sambil seakan-akan sedang memijit dengan lembut.</p>
<p style="text-align: justify;">Nafas gue langsung memburu dengan tindakan gue ini. Jantung serasa mau  copot karena ini tindakan yang tidak biasa dilakukan pada adik gue ini.  Pertama, dia hanya diam saja, tetapi lama-kelamaan dia sudah mulai  menggelinjang dengan pijitan gue ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Gilanya, gue juga mendekatkan mulut gue ketelinganya dan bilang:”Enak ya  ‘de…” dan dia hanya menjawab singkat:”Heeh…” Sebelum ponakan gue masuk  kamar dan melihat kejadian yang diluar kebiasaan ini, gue langsung  hentikan pijitan kecil ini dengan harapan besok akan dilanjutkan. Dan itulah yang terjadi kemudian, besok paginya, gue kembali datang ke  kamarnya dan hanya sebentar untuk mengelus telinganya dan langsung  memijit tubuhnya lagi dari samping.</p>
<p style="text-align: justify;">Tetapi kali ini, gue sudah lebih berani lagi untuk memijit langsung  dengan memasukkan tangan gue kedalam kaosnya. Tentu saja dia menjadi  kaget, karena tentunya berbeda kalau dipijit ada kaos yang menjadi  penghalang dan dipijit tangan langsung ketemu dengan kulit.</p>
<p style="text-align: justify;">Tapi dengan sigap gue bisikkan, “Biar ga seret tangan gue memijitnya…”,  Alasan yang masuk akal!!! Dan bertambah berdegup jantung ini waktu mijit  dan kena bagian bra. Seakan-akan pengen langsung buka aja bra-nya biar  sensasinya semakin gila.</p>
<p style="text-align: justify;">Jujur gue harus bilang, adik gue ini permukaan kulitnya, sangatlah  mulus. Dan karena dia membelakangi gue dia tidak tahu sambil memijitnya,  gue tengkurap dan menggesek-gesekkan penis gue ke kasur, hingga  akhirnya gue orgasme seperti biasanya. Kalau sudah seperti itu, gue akan  dengan cepat-cepat keluar kamar. Nafsu seakan langsung reda kalau sudah  tertumpah sperma ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Hingga pada suatu pagi, petualangan gue semakin bertambah derajatnya.  Karena sudah terbiasa dengan memijit bagian punggung, gue sekarang sudah  mulai pelan-pelan menyusuri bagian depan tubuhnya. Dengan posisi dia  tidur tengkurap, itu pasti susah dijangkau.</p>
<p style="text-align: justify;">Tetapi dengan posisi tidur miring, maka segalanya menjadi mudah. Dan  yang terjadi adalah, pelan-pelan gue memijit dia seperti biasanya, naik  turun pundak-punggung-pinggang. Dan setelah cukup dirasa waktunya, gue  mulai memijit bagian pinggang samping dan mulai naik ke ketiaknya.</p>
<p style="text-align: justify;">Pertama-tama dia merasa kegelian, tetapi lama-kelamaan dia terbiasa juga  dengan sentuhan gue ini. Dan ketika dia sudah terbiasa, tangan gue  mulai merambah kebagian yang lainnya. Sudah mulai berani lagi maju  kebagian depannya, yaitu kebagian perut.</p>
<p style="text-align: justify;">Berputar-putar memijit bagian perutnya (lebih tepatnya sih, seperti  hanya mengelus saja) dan mulai berani naik kebagian yang lebih atas  lagi, dan sudah bisa ditebak, tangan gue akan bertemu dengan payudaranya  disana.</p>
<p style="text-align: justify;">Bayangkan, kalau sebelumnya, gue pernah merasakan bersentuhan dengan  payudaranya, itu hanya sebatas sentuhan lengan saja dan dipisahkan  dengan baju atau kaus yang melekat ditubuhnya, tetapi sekarang, jemari  tangan seorang kakak akan dengan sengaja memulai petualangannya untuk  menyentuh bagian payudara dari adiknya sendiri. Tepatnya, adik tirinya! Kebiasaan gue yang paling baik adalah, selalu sabar. Jangan  terburu-buru. Gue akan melihat dulu bagaimana reaksi dari adik gue ini  ketika tangan gue perlahan sudah mulai naik kebagian atas tubuhnya,  yaitu kebagian payudaranya. Rasanya tidak masuk akal kalau dia tidak  merasakan pergerakan tangan gue yang sudah mulai kelihatan aneh.</p>
<p style="text-align: justify;">Tetapi tidak masuk akal juga, kalau seorang wanita sudah membiarkan  tangan laki-laki lain menjamahnya sudah semakin jauh, meskipun itu  adalah kakaknya sendiri, lalu kemudian tiba-tiba menolaknya dengan  drastis. Dan yang terjadi kemudian adalah, penolakan terjadi juga  terhadap tangan ini dengan dikibaskannya dengan pelan tangan gue oleh  adik gue dan kemudian dia mengambil posisi tengkurap, yang artinya,  cukup sampai disini usahamu kakakku. Yang bisa gue lakukan hanya  mengeluarkan tangan gue dari dalam kaosnya, dan kemudian kembali memijit  punggungnya dari luar sebentar saja dan selanjutnya keluar dari kamar.</p>
<p style="text-align: justify;">Oiya, gue terkadang merasa bersyukur juga karena selama ini, kakak gue  dan suaminya, apalagi keponakan gue yang masih kecil itu, tidak menaruh  curiga dengan kegiatan gue tiap pagi di kamar dimana adik gue tidur,  karena pasti mereka berpikir, gue adalah kakak yang baik, yang tidak  mungkin berpikiran macam-macam. Tapi yang gue ingat pada pagi selanjutnya adalah, usaha untuk bisa  melangkah lebih jauh tetap dengan gigih gue lakukan. Singkat cerita,  jemari tangan gue dari posisi perut, sudah menunjukkan tanda-tanda akan  segera naik kebagian atas. Dan anehnya, adik gue seperti tidak lagi  perduli, entah dia menikmati juga pergerakan jemari gue yang mengusap  tubuhnya dengan lembut, atau entah dia juga merasa tidak enak kalau  melawan kehendak kakaknya yang sudah kebawa nafsu kotor ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Hingga akhirnya, jemari tangan gue sudah mulai tiba dibagian  payudaranya, tetapi tentu saja payudaranya tertutup dengan bra yang  dikenakannya.</p>
<p style="text-align: justify;">Bagi gue itu tidak penting! Yang penting adalah, adik sudah mengetahui  apa rencana gue terhadap dirinya dan menangkap sinyal yang telah gue  berikan selama ini kenapa tiap pagi gue menjadi rajin masuk kedalam  kamarnya, dan kalau dia sudah tidak menampik tangan gue, itu berarti dia  sudah setuju untuk gue gerayangin seluruh tubuhnya tanpa syarat apapun  juga.</p>
<p style="text-align: justify;">Itulah yang terjadi, gue tidak berhenti menelan air liur gue ketika gue  sudah mulai menjelajahi payudara sebelah kanannya. Meskipun tertutup  bra, tetapi sensasinya sampai bikin gue pusing ketika gue meremasnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Gue tidak bisa melihat bagaimana reaksi wajah adik gue ketika gue  menekan dengan lembut payudaranya karena dia berposisi tidur menyamping.  Tapi gue bisa memastikan, tubuh gue seakan melayang dengan tindakan gue  yang tidak senonoh ini. Apalagi ketika gue kemudian berpindah lagi  untuk menekan payudaranya yang lain.</p>
<p style="text-align: justify;">Dari sentuhan lembut, pelan-pelan mulai agak meremas dengan keras dan  itulah kali pertamanya gue mendengar suara adik gue yang mulai  mendesah-desah. Sepertinya, gayung bersambut dengan positif dan ini  menambah semangat gue untuk melakukan aksi nikmat selanjutnya.  Logikanya, kalau dia tidak menikmati, atau hanya sekedar terpaksa, tidak  mungkin dia akan mendesah.</p>
<p style="text-align: justify;">Karena mendesah bagi gue artinya adalah, dia menikmati semua sentuhan  ini. Tidak puas hanya membelai dan meremas dengan bra menjadi  pemisahnya, maka jemari tangan gue sudah mulai menyelusup masuk kedalam  payudara yang sebelumnya tersembunyi itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Ketika itu terjadi, wowww…rasanya, jantung gue sudah mau copot saja.  (ini bukan kali pertama gue menyentuh payudara wanita, tetapi kalau itu  adalah payudara adik sendiri, disinilah sensasi yang tak terkatakan  dapat dirasakan) Pertamanya, dia agak menggelinjang ketika jemari gue  menyentuh putingnya. Entah karena kaget atau mungkin karena kenikmatan.</p>
<p style="text-align: justify;">Tapi yang pasti gue tidak akan membuang waktu lagi untuk segera  menggesek-gesekan penis gue kekasur sambil terus mulai meremas-remas  payudaranya.</p>
<p style="text-align: justify;">Semakin cepat gue menggesek penis dikasur, semakin kuat gue meremas  payudaranya. Dan ketika tiba waktunya untuk orgasme, gue benar-benar  menikmati semuanya itu dengan puas tetapi dengan masih sejuta penasaran  yang lain yang seakan muncul: apakah hanya sejauh ini? Apakah gue cukup  puas dengan masturbasi sendiri sambil menyentuh bagian tubuh dari adik  sendiri? Anehnya, ketika gue punya kesempatan menjemput dia pulang dari sekolah,  sepanjang perjalanan pulang di motor, kita berdua seakan-akan pura-pura  tidak tahu apa yang terjadi setiap paginya dengan hubungan kita berdua.</p>
<p style="text-align: justify;">Justru yang dibicarakan oleh adikku itu adalah tentang cowo yang sedang  terus mengejarnya. Dan setiap mendengar cerita itu, tiba-tiba saja  muncul perasaan aneh didalam perasaan gue ini, yaitu perasaan nafsu  birahi untuk bisa melakukan sesuatu yang lebih lagi terhadap adik gue  ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Dan itu memang terjadi pada suatu pagi selanjutnya. Kalau yang  sudah-sudah, gue membiarkan dia dalam posisi tidur samping dan gue akan  menggerayangi tubuhnya dengan puas tanpa kita berdua harus bertatapan  muka (gue pikir-pikir, itu pasti cara teraman yang dilakukan adik gue  supaya kita berdua tidak menjadi malu kalau sampai bertatapan muka  ketika terjadinya perbuatan ini) tapi pagi itu, gue langsung menariknya  dengan pelan agak tidur dengan posisi terlentang.</p>
<p style="text-align: justify;">Selanjutnya tanpa takut ataupun malu, gue langsung menindihnya dengan  tubuh gue diatas tubuhnya dan langsung gue beraksi. Suasana pagi yang  masih gelap tanpa adanya lampu sangat menunjang aksi seperti ini karena  sesungguhnya, kita berdua tidak dengan jelas bisa saling memandang.</p>
<p style="text-align: justify;">Gue langsung mencium bagian lehernya dengan lembut sembari tangan gue  langsung masuk kebagian tubuhnya. Sebenarnya rencana gue hanya  sederhana, seperti yang sudah-sudah, gue harus orgasme karena  menggesek-gesekan penis gue ini. Tapi kalau sebelumnya gue menggesekkan  penis ini di kasur tapi kali ini gue harus gesekkan diatas bagian tubuh  adik gue ini. Dan gue mencari posisi yang pas hanya untuk urusan penis  yang diarahkan kebagian selangkangannya. Gue tidak butuh tangan masuk  kedalam payudaranya tetapi cukup hanya meremas dari luar, tetapi yang  penting, penis gue yang sudah menegang itu digesek-gesekan kebagian  selangkangannya saja. Itu sudah menambah sensasi nikmatnya seks gue ke  jenjang yang lebih tinggi lagi. Selama perbuatan ini berlangsung,  samar-samar gue melihat tampang adik gue seperti menutup matanya dengan  terpaksa (mungkin untuk menghindari tatapan langsung dengan gue) tetapi  dia tidak dapat menutupi mulutnya yang perlahan mendesah-desah menikmati  gesekan penis gue diatas vaginanya yang tertutup oleh short yang  dikenakannya.</p>
<p style="text-align: justify;">Gue sangat puas dengan kejadian saat itu, karena sebetulnya secara  terbuka, adik gue sudah memberikan tanda, bahwa dia tidak keberatan  dengan aksi gue selama ini dan bahkan mungkin menikmatinya dengan  sangat.</p>
<p style="text-align: justify;">Dan itulah memang perangkap setan: kita tidak pernah puas dengan apa  yang sudah didapatkan tetapi malah penasaran untuk mencoba ke jenjang  yang lebih tinggi. Dan kesempatan untuk merasakan sesuatu yang lebih nikmat lagi datang  pada gue dan adik. Itu bermula ketika kakak ipar gue harus tugas luar  kota. Seperti biasanya, keponakan gue akan pindah tidur bersama ibunya  dan itu berarti bahwa adik gue akan tidur sendiri.</p>
<p style="text-align: justify;">Sepanjang hari gue sudah merencanakan untuk melakukan aksi yang lebih  hebat lagi. Walaupun jujur, gue tidak berharap banyak kalau rencana dan  aksi ini akan berlangsung mulus. Ketika malam tiba, jantung gue berdetak  dengan cepat karena menanti kapan saatnya seluruh penghuni akan  tertidur dengan lelap, khususnya kakak dan keponakan.</p>
<p style="text-align: justify;">Sedikit-sedikit mata melihat kearah jarum jam sambil berpikir kapan  waktu yang tepat. Mungkin karena saking tegangnya, malam itu entah  kenapa, gue jatuh tertidur dengan lelapnya. Ketika bangun pagi, di otak  langsung muncul harus kekamar adik.</p>
<p style="text-align: justify;">Tetapi ketika gue membuka gagang pintunya, ternyata terkunci dari dalam.  Dan baru mengertilah gue selama ini, kalau pintu biasanya tidak  terkunci, itu karena keponakan gue sudah bangun dan pindah kekamar orang  tuanya. Sementara kali ini terkunci karena adik gue masih tidur.</p>
<p style="text-align: justify;">Tapi gue membaca kejadian ini sebagai petunjuk bahwa, bisa saja adik gue  tidak mau memberikan kesempatan untuk gue agar bisa masuk kekamarnya  dan itu artinya suatu tanda yang buruk bagi gue secara pribadi.</p>
<p style="text-align: justify;">Gue bertanya, apa iya adik gue memang tidak menginginkan kehadiran gue  dikamarnya? Apa iya selama ini dia terpaksa menerima aksi bejat gue?  Atau mungkin dia sudah sadar bahwa semua ini adalah tidak etis dan dosa?  Sempat kacau perasaan ini sepanjang hari itu sambil menebak-nebak apa  yang sebetulnya sedang terjadi.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Bersambung&#8230;</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ceritasex.cn/adik-tiriku-pemuasku-bagian-1/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Video Cewek Manado Dibius Dulu Baru di Entot</title>
		<link>http://www.ceritasex.cn/video-cewek-manado-dibius-dulu-baru-di-entot/</link>
		<comments>http://www.ceritasex.cn/video-cewek-manado-dibius-dulu-baru-di-entot/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 23 Dec 2009 22:05:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cerita Sex</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bokep 3gp]]></category>
		<category><![CDATA[Bokep Download]]></category>
		<category><![CDATA[Daun Muda]]></category>
		<category><![CDATA[Pemerkosaan]]></category>
		<category><![CDATA[bius]]></category>
		<category><![CDATA[grepe]]></category>
		<category><![CDATA[manado]]></category>
		<category><![CDATA[perkosa]]></category>
		<category><![CDATA[seks]]></category>
		<category><![CDATA[toket]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ceritasex.cn/?p=1128</guid>
		<description><![CDATA[Wah parah nih beraninya bius dulu baru grepe grepe hahaha&#8230; download disini videnya]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2009/12/cewek-manado-bius-dulu-baru-dikerjain.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-1129" title="cewek-manado-bius-dulu-baru-dikerjain" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2009/12/cewek-manado-bius-dulu-baru-dikerjain-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a></p>
<p>Wah parah nih beraninya bius dulu baru grepe grepe hahaha&#8230; <a href="http://rapidshare.com/files/325040691/cewek-manado-bius-dulu-baru-dikerjain.3gp" target="_blank">download disini videnya</a> <img src='http://www.ceritasex.cn/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ceritasex.cn/video-cewek-manado-dibius-dulu-baru-di-entot/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pemerkosaan Marie di villa Puncak</title>
		<link>http://www.ceritasex.cn/pemerkosaan-marie-di-villa-puncak/</link>
		<comments>http://www.ceritasex.cn/pemerkosaan-marie-di-villa-puncak/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 25 May 2009 04:20:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cerita Sex</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pemerkosaan]]></category>
		<category><![CDATA[grepe]]></category>
		<category><![CDATA[Marie]]></category>
		<category><![CDATA[ngentot]]></category>
		<category><![CDATA[orgasme]]></category>
		<category><![CDATA[perkosa]]></category>
		<category><![CDATA[vila]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ceritasex.cn/?p=226</guid>
		<description><![CDATA[Namaku Marie, usiaku 26 tahun dan bekerja di salah satu bank swasta di Bekasi. Ketika bencana itu terjadi, usiaku baru 24 tahun. Saat itu aku sedang menghabiskan weekend di sebuah villa di kawasan Puncak. Aku memang hanya sendiri. Tiada tujuan lain selain menghilangkan kepenatan di segarnya udara Puncak tanpa gangguan siapa pun. Tragisnya kesendirianku itu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Namaku Marie, usiaku 26 tahun dan bekerja di salah satu bank swasta di Bekasi. Ketika bencana itu terjadi, usiaku baru 24 tahun. Saat itu aku sedang menghabiskan weekend di sebuah villa di kawasan Puncak. Aku memang hanya sendiri. Tiada tujuan lain selain menghilangkan kepenatan di segarnya udara Puncak tanpa gangguan siapa pun. Tragisnya kesendirianku itu justru menghilangkan satu-satunya harta yang paling berharga bagiku, kegadisanku.</p>
<p style="text-align: justify;">Ceritanya sore itu aku berendam di air hangat. Kira-kira jarum jam menunjukkan pukul tujuh lima belas menit petang hari. Udara dingin Puncak yang sejak tadi siang diguyur gerimis membuatku enggan bangun dari bathub. Kubersihkan tubuhku dengan sabun cair sampai pada kemaluanku yang masih bisa kubanggakan karena aku belum sekalipun melakukan hubungan badan. Karena air bath tub sudah agak dingin kuputuskan untuk mengakhiri acara mandiku.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku berdiri di depan cermin kamar mandi sambil menghanduki rambutku yang basah. Kupandangi tubuh telanjangku di cermin besar yang dapat memuat bayangan tubuhku secara penuh itu. aku tersenyum sendiri memandang wajah indoku yang bersih dari jerawat. Omaku memang asli Belanda. Lalu aku alihkan pandanganku pada dua buah payudaraku yang bulat dan gempal. Ukurannya 36, dengan tinggi badan yang 173 cm dan berat 54 kg. Aku usap-usap kedua payudaraku yang tegang kedinginan. Pandanganku kemudian beralih pada satu-satunya bagian terpeka, kemaluanku yang ditumbuhi bulu-bulu yang tak lebat. Jelas telihat bagian gemuk itu terbelah di tengahnya. Ah.. inilah hartaku yang termahal, pikirku sambil membelainya.</p>
<p style="text-align: justify;">Tiba-tiba seseorang membuka pintu dari depan. Aku tersentak kaget karena seharusnya tak ada orang lain di villa ini. Seorang pemuda berbadan tegap segera menerobos masuk. Lalu ia segera menyeretku keluar kamar mandi. Aku berusaha berontak tapi tenagaku tak cukup untuk melawan tenaga pria itu.</p>
<p style="text-align: justify;">?Hallo Nona manis, boleh kami mampir sebentar??, sapa pemuda lain yang telah menunggu di kamar tidur.<br />
?S.. siapa kalian? Pergi! Pergi dari sini!?, rontaku.<br />
Pemuda yang menyeretku tadi telah memasung kedua tanganku di kedua tiang penyangga atap. Posisiku terpasung tapi kakiku masih bebas tak terikat.<br />
?Tenang, Nona manis. Namaku adalah Leo?, kata pemuda yang mengikatku.<br />
Wajahnya bersih dan tampan, nampak seperti anak orang kaya.<br />
?Dan aku Syam. Kami hanya mampir untuk bersenang-senang Nona?, lanjut pemuda jangkung yang tadi menyeretku.<br />
Tubuhnya lebih kurus daripada Leo tapi wajahnya juga sedap dipandang, walaupun terkesan agak beringas.<br />
?Ma.. mau apa kalian? Tidak sopan!?, bentakku.<br />
?Ha.. galak juga, Leo. Heh perawan! Siapa namamu??, bentak Syam mencengkeram rahangku hingga terasa sakit.<br />
?Sabar Syam, tanya baik-baik. Nona manis, siapa nama dari tubuh aduhai ini??, kata Leo mengelus-elus pinggangku.<br />
Syam melepaskan cengkeramannya. Rahangku terasa sangat ngilu.<br />
?M.. Marie. Tolong kalian segera keluar dari villa ini, aku mohon?, rengekku.<br />
<span id="more-226"></span><br />
?Enak saja! Kami sudah masuk, mana mungkin keluar tanpa membawa hasil?, jawab Syam yang lebih cepat marah.<br />
Leo menepuk bahu Syam. Syam mundur beberapa langkah.<br />
?Marie.. kami mampir khusus untuk menikmati kecantikanmu. Lihatlah, kau memiliki tubuh yang sangat sensual. Juga wajah yang cantik, sayang kalau tidak dinikmati. Syam! Lihatlah bibir nona Marie ini, bukankah sangat sexy??, kata si Leo sambil segera menyerang bibirku.
</p>
<p style="text-align: justify;">Syam hanya tersenyum membiarkan Leo memagut bibirku dengan rakus. Tercium bau alkohol dari mulutnya. Aku ingin meronta tapi mulutku telah dijejali dengan lidah Leo. Kakiku menendang-nendang tapi tenaga Leo lebih kuat. Tangan kanannya mencengkeram leherku mencegahku menghindar dari pagutannya. Sedang telapak tangan kirinya digosok-gosokkan ke permukaan kemaluanku dengan kasar. Lidahnya terus menjilat-jilat menghisap-hisap lidahku dengan rakusnya. Darahku serasa naik antara rasa sakit dan nikmat. Tapi aku masih waras, kutekuk kakiku sehingga mengenai kejantanannya yang mulai tegang. Leo mengaduh kesakitan. Ia nampak misuh-misuh dan ingin memukulku tapi Syam mencegahnya. Leo menunduk sambil memegangi kejantanannya. Syam mendekatiku sambil membuka kaos yang pakainya. Nampak dada bidangnya yang ditumbuhi bulu-bulu halus.</p>
<p style="text-align: justify;">?Sabarlah sayang, akan terasa indah bila kau mau menikmatinya?, kata Syam.<br />
Lalu lelaki jangkung itu mencium bibirku dengan lembut menggigit bibir bawahku perlahan-lahan lalu menyodokkan lidahnya menyusuri benda-benda yang bisa dijangkaunya. Ternyata Syam tidak sekasar yang kukira. Kelembutannya mencumbu bibirku membuatku bagai diperlakukan seperti seorang kekasih. Darahku mendesir-desir. Lidahku pun menyambut lidah Syam yang meminta-minta. Tangan Syam menggerayangi punggungku dan terus turun ke bawah lalu berlabuh di bokongku. Diremas-remasnya mengikuti desah nafas Syam yang sudah mulai naik turun. Jemari tangan itu mengitari bokongku. Jemarinya bermain di bibir vaginaku dengan lembut. Jiwaku rasanya mau terbang. Aku mengharapkan sentuhan itu lebih lama. Tapi tidak, Syam segera mengalihkan jemarinya kembali ke bokongku. Tanpa kusadari Syam menyuntikkan sesuatu, aku tak tahu itu apa. Hanya belum sampai hitungan kesepuluh kepalaku terasa berat. Mataku berkunang-kunang.</p>
<p style="text-align: justify;">Terdengar tawa kedua pemuda itu sayup-sayup. Rupaya mereka telah menyuntikkan semacam obat perangsang ke dalam tubuhku. Tubuhku terasa kejang. Darahku naik ke ubun-ubun. Hawa dingin terasa menjadi panas. Aku menggeliat-geliat menahan birahiku yang melaju tanpa rem. Bibirku mendehem-dehem. Kemaluanku terasa hangat, payudaraku nampak bengkak dengan sendirinya. Gelora birahiku melonjak-lonjak. Seperti ada kekuatan yang mendorongku untuk segera bercinta dengan mereka, ingin agar mereka segera menggerayangiku, mencumbuku, ohhh&#8230; Bajingan! Mereka hanya tertawa-tawa melihatku bersimbah keringat, berkelojotan menahan birahiku. Apa mereka tak tahu aku ingin segera mereka sentuh&#8230;<br />
?Syamm&#8230; Leo&#8230; kenapa kalian hanya diam saja&#8230; kemarilah.. aku&#8230; ingin&#8230;?<br />
Tawa mereka semakin lebar.<br />
?Syam, tadi dia menolak sekarang?! Ha&#8230;ha..?<br />
?Ayo Leo, bidadari kita ini sudah tak sabar rupanya?</p>
<p style="text-align: justify;">Samar-samar kulihat keduanya membuka semua pakaian yang melekat di tubuh masing-masing. Nampak penis-penis yang besar menegang menantang. Kemudian keduanya mengundi siapa dulu yang menggarapku. Ternyata Syam. Ia mendekatiku dan kembali mencumbu bibirku, tubuhnya menempel erat di tubuhku. Sehingga dadanya yang bidang menempel dengan kedua payudaraku yang telah menegang. Tangannya meremas-remas bokongku yang montok lalu membelai-belai selakangku yang telah tersendal-sendal oleh penisnya yang mengacung-acung. Ohh.. bagai terbang ke awan. Kemudian iapun menurun dan mendapati kedua payudaraku. Matanya berbinar-binar. Diciuminya dadaku hingga terasa hangat nafasnya lalu dimasukkannya nipples-ku ke dalam mulutnya. Aku mendesah-desah ketika nipples-ku dijilat-jilat lalu dihisap kuat-kuat oleh lidah lincahnya.<br />
?Oah&#8230; auh.. Syamm&#8230;?
</p>
<p style="text-align: justify;">Leo yamg mulai tak sabar segera melepaskan kedua ikatan tanganku. Lalu ia ikut bergabung dengan melumat bibirku dari arah samping. Tanganku menjambak-jambak rambut Syam sambil meladeni Leo. Kini gerakannya lebih lembut walau tak selembut Syam. Sepuluh menit kemudian mereka melepaskan mulutnya dari tubuhku. Aku terkulai di lantai memandangi kedua payudaraku yang terasa sangat berat membengkak, nampak beberapa bekas gigitan Syam.</p>
<p style="text-align: justify;">Samar-samar terlihat Leo berdiri diatas tubuhku. Ia mengacung-acungkan penisnya yang besar menegang dan memintaku untuk mengulumnya. Aku bangkit dari tidurku dan tak berapa lama penis berkulit kecoklatan itu telah masuk ke dalam mulutku. Leo mengelus-elus rambutku sambil terus menyodokkan penisnya ke dalam mulutku. Aku mengulumnya, lidahku menyapu semua bagian benda panjang itu. Leo mengocok-ngocoknya berirama hinga ujungnya menyemburkan cairan sperma.<br />
?Syam! Aku keluar Syam! Keluar&#8230;, aarrghh&#8230;?, teriak Leo.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku ingin memuntahkannya tapi Leo mencegahnyanya dengan terus menyodokkan penisnya.<br />
?Telan sayang, telan&#8230;?, terdengar suara Syam yang telah meremas-remas kemaluanku yang terasa lengket dari belakang.<br />
Perlahan-lahan Syam menuntunku untuk menungging. Kakiku bertumpu pada lutut sedang tanganku berpegangan pada kedua paha Leo. Aku tak tahu apa yang diperbuat Syam. Yang kurasakan hanya nikmatnya penis Leo. Tak kuduga tiba-tiba terasa ada benda asing yang masuk ke dalam lubang vaginaku.<br />
?Aaaah&#8230;?, teriakku tertahan.
</p>
<p style="text-align: justify;">Gigiku menggigit penis Leo nenahan rasa nyeri di lubang kewanitaanku itu. Leo berjingkat-jingkat menahan rasa sakit sambil misuh-misuh. Tapi Syam bagai tak peduli terus berusaha menerobos tirai-tirai kewanitaanku. Hingga akhirnya jebol, darah mengucur sampai pada pahaku. Aku menangis tersendat-sendat tapi Syam semakin asyik memainkan penisnya di memekku. Memasukkannya beberapa senti lalu mengeluarkannya, belum sampai keluar sudah disodokkannya lagi. Sperma muncrat ke dalam lubang vaginaku. Dalam tangis jiwaku seakan melayang. Sejujurnya aku sangat menikmatinya saat itu. Terasa sangat indah ketika Syam menggoyang-goyangkan penisnya di dalam lubang vaginaku.</p>
<p style="text-align: justify;">Sekitar pukul sepuluh malam. Keringatku mengucur deras. Aku telentang di lantai. Di sampingku nampak Syam yang juga terengah-engah. Tapi Leo ternyata belum puas. Dicumbunya kelaminku dengan lidahnya. Licah menyusuri dinding-dinding vaginaku menghisap-hisap klitorisku dengan gemas. Mataku berkejap-kejap menahan nikmat yang tercipta. Selakanganku mengatup mencengkeram kepala Leo agar tak pergi dari kemaluanku. Sepuluh menit kemudian Leo memasukkan jari tengahnya dengan mudah ke dalam lubang memekku. Untuk kedua kalinya pertahananku jebol. Cairan kewanitaanku muncrat membasahi telunjuk Leo. Ditariknya jari tengah Leo yang bersarung di memekku. Tanpa rasa jijik dijilatnya jari tengah yang berlumuran cairan kewanitaanku itu dengan senyum kepuasan.</p>
<p style="text-align: justify;">Terdengar suara orang ronda diluar melintas di depan villa. Maka dengan tergesa-gesa Syam dan Leo mengenakan pakaiannya lalu melompat dari jendela kamarku meninggalkanku dalam keadaan sangat lemah. Aku berusaha menjerit memanggil-manggil penjaga ronda keliling itu. Tapi suaraku bagai tersumbat. Belum sampai sepuluh hitungan pandanganku telah gelap gulita.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ceritasex.cn/pemerkosaan-marie-di-villa-puncak/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

