<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Cerita sex porno ngentot mesum perek ayam kampus &#187; ibu kost</title>
	<atom:link href="http://www.ceritasex.cn/tag/ibu-kost/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.ceritasex.cn</link>
	<description>Kumpulan cerita sex, foto bugil, dan film porno</description>
	<lastBuildDate>Wed, 08 Feb 2012 13:12:08 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
		<item>
		<title>Tante Lily, Ibu Kost Yang Kesepian</title>
		<link>http://www.ceritasex.cn/tante-lily-ibu-kost-yang-kesepian/</link>
		<comments>http://www.ceritasex.cn/tante-lily-ibu-kost-yang-kesepian/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 07 Mar 2010 01:25:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cerita Sex</dc:creator>
				<category><![CDATA[Paruh baya]]></category>
		<category><![CDATA[Seks Umum]]></category>
		<category><![CDATA[cuki]]></category>
		<category><![CDATA[ibu kost]]></category>
		<category><![CDATA[mesum]]></category>
		<category><![CDATA[ngentot]]></category>
		<category><![CDATA[taboo]]></category>
		<category><![CDATA[tante]]></category>
		<category><![CDATA[tante lily]]></category>
		<category><![CDATA[zaki]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ceritasex.cn/?p=1294</guid>
		<description><![CDATA[Sudah hampir setahun Zaki tinggal di tempat kost bu Lily. Bisa tinggal di tempat kost ini awalnya secara tidak sengaja ketemu bu Lily di pasar. Waktu itu bu Lily kecopetan, trus teriak dan kebetulan Zaki yang ikut menolong menangkap copet dan mengembalikan dompet bu Lily. Trus ngobrol sebentar, kebetulan Zaki lagi cari tempat kost yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Sudah hampir setahun Zaki tinggal di tempat kost bu Lily. Bisa tinggal di tempat kost ini awalnya secara tidak sengaja ketemu bu Lily di pasar. Waktu itu bu Lily kecopetan, trus teriak dan kebetulan Zaki yang ikut menolong menangkap copet dan mengembalikan dompet bu Lily. Trus ngobrol sebentar, kebetulan Zaki lagi cari tempat kost yang baru dan bu Lily mengatakan dia punya tempat kost atau bisa di bilang rumah bedengan yang dikontrakkan, yah jadi deh tinggal di kost-an bu Lily.</p>
<p style="text-align: justify;">Bu Lily lumayan baik terhadap Zaki, kelewat baik malah, karena sampai saat ini Zaki sudah telat bayar kontrak rumah 3 bulan, dan bu Lily masih adem-adem aja. Mungkin masih teringat pertolongan waktu itu. Tapi justru Zaki yang gak enak, tapi mau gimana, lha emang duit lagi seret. akhirnya Zaki lebih banyak menghindar untuk ketemu langsung dengan bu Lily.</p>
<p style="text-align: justify;">Sampai satu hari…… waktu itu masih sore jam 4. Zaki masih tidur-tiduran dengan malasnya di kamarnya. Tempat kost itu berupa kamar tidur dan kamar mandi di dalam. Terdengar pintu kamarnya di ketok… tok..tok..tok.. lalu suara bu Lily yang manggil,”Zack…Zaki… ada di dalem gak?” Sontak Zaki bangun, wah bisa berabe kalo nanyain duit sewa kamar nie, pikir Zaki. Dengan cepat meraih handuk, pura-pura lagi mandi aja ah, ntar juga bu Lily pergi sendiri. Setelah masuk kamar mandi kembali terdengar suara bu Lily,” Zaki lagi tidur ya..?” dan dari kamar mandi Zaki menyahut sedikit teriak,” lagi mandi bu….”</p>
<p style="text-align: justify;">Sesaat tidak ada sahutan, tapi kemudian suara bu Lily jadi dekat,”ya udah mandi aja dulu Zack, ibu tunggu di sini ya…” eh ternyata masuk ke kamar, Zaki tadi gak mengunci pintu. “busyet dah, terpaksa bener-bener harus mandi nie,”pikir Zaki.</p>
<p style="text-align: justify;">Sekitar lima belas menit Zaki di kamar mandi, sengaja mandinya agak dilamain dengan maksud siapa tau bu Lily bosan trus gak jadi nunggu. Tapi rasanya percuma lama-lama toh bu Lily sepertinya masih menunggu. Akhirnya keluar juga Zaki dari kamar mandi, dengan hanya handuk yang melilit di pinggang, tidak pakai celana dalem lagi, maklum tadi gak sempet ambil karena terburu-buru.</p>
<p style="text-align: justify;">Bu Lily tersenyum manis melihat Zaki yang salah tingkah,”lama juga kamu mandi ya Zack…” bu Lily membuka pembicaraan. “pasti bersih banget mandinya ya…” gurau bu Lily sambil sejenak melirik dada bidang Zaki. “ah ibu bisa aja… biasa aja kok bu.., oia ada apa ya bu..?” jawab Zaki sekenanya saja sambil mengambil duduk di pinggiran tempat tidur. Bu Lily mendekat dan duduk di samping Zaki, “Cuma mau ngingetin aja, uang sewa kamarmu dah telat 3 bulan lho… trus mau ngobrol-ngobrol aja sama kamu, kan dah lama gak ngobrol, kamu sie pergi mlulu…”ucap bu Lily. Zaki jadi kikuk,”wahduh… kalo uang sewanya ntar aku bayar cicil boleh gak bu? Soalnya lagi seret nie…” jawab Zaki dengan sedikit memohon.</p>
<p style="text-align: justify;">Bu Lily terlihat sedikit berpikir…”mmmm… boleh deh, tapi jangan lama-lama ya… emang uangmu di pakai untuk apa sie?” terlihat bu Lily sedikit menyelidik. “hmmm… pasti buat cewe mu ya…”dia terlihat kurang senang. “ah nggak juga kok bu….. saya emang lagi ada keperluan,” jawab Zaki hati-hati melihat raut wajah bu Lily yang kurang senang. “huh…laki-laki sama aja, kalo lagi ada maunya, apa aja pasti di kasih pada perempuan yang lagi di dekatinya, hhhh… sama aja dengan suamiku….”keluh bu Lily dengan nada kesal.</p>
<p style="text-align: justify;">Waduh nampaknya bu Lily lagi marahan nie sama suaminya, jangan-jangan amarahnya ditumpahkan pula sama Zaki. Dengan cepat Zaki menjawab,”tapi saya janji kok bu, akan saya lunasi kok…” “hhhhh….”bu Lily menghela nafas,”udahlah Zack, gak apa-apa kok, gak di bayar juga kalo buat kamu ga masalah… ibu Cuma lagi kesel aja sama suamiku, dia cuma perhatiannya sama Marni terus… aku seperti gak dianggap lagi, mentang-mentang Marni jauh lebih muda ya.”</p>
<p style="text-align: justify;">-sedikit penjelasan bahwa bu Lily ini istri pertama dari pak Kardi, sedangkan istri keduanya bu Marni. Dan sekarang sepertinya pak Kardi lebih sering tinggal di rumahnya yang satu lagi bersama bu Marni dan bu Lily tampaknya udah mulai kesepian nie-</p>
<p style="text-align: justify;">“wah kalo masalah keluarga sie aku kurang paham bu…. “jawab Zaki kikuk “gak apa-apa Zack, ibu hanya mau curhat aja sama kamu… boleh kan Zack?” suara bu Lily sendu. Agak lama terdiam, terdengar tarikan nafas bu Lily terasa berat, dan sedikit sesunggukan, waduh lama-lama bisa nangis nie, gawat dong pikir Zaki.</p>
<p style="text-align: justify;">“udah bu jangan terlalu dipikirkan, nanti juga pak Kardi kembali lagi kok, kan ibu juga gak kalah cantiknya sama bu Marni,”Zaki bermaksud menghibur. “ah kamu Zack… emang ibu masih cantik menurutmu?” bu Lily menatap sendu ke arah Zaki, terlihat dua butir air mata mengalir di pipinya. Uhh…. ingin rasanya Zaki menghapus air mata itu, pak Kardi emang keterlaluan masa wanita cantik nan elok seperti ini dianggurin sie, coba Zaki bisa berbuat sesuatu… busyet… Zaki memaki dalam hati… “kenapa otak gwa jadi kotor gini.”<br />
<span id="more-1294"></span><br />
Dengan sedikit gugup Zaki menjawab,”mmm…eee…iya kok bu, ibu masih cantik, kalo masih gadis mungkin aku yang duluan tergoda.” Uupsss …. Maksud hati ingin menghibur, tapi kenapa kata-kata yang menggoda yang keluar dari mulut… gerutu Zaki dalam hati. Zaki jadi panik, jangan-jangan bu Lily marah dengan ucapan Zaki. Tapi ternyata Zaki salah, karena bu Lily tersenyum, manis sekali dengan deretan gigi yang putih dan rapi,”ih Zaki bisa aja menghibur…. Iya juga sie, kalo masih gadis bisa aja tergoda, pantes aja suamiku gak ngelirik aku lagi, bis nya dah tua sie…” rona wajah bu Lily berubah sedih lagi,”kalo menurutmu Zack, apa ibu emang gak menarik lagi…?” sambil berdiri dan memperhatikan tubuhnya kemudian menatap Zaki minta penilaian. Terang aja Zaki makin kikuk,”wah aku mau ngomong apa ya bu…? Takutnya nanti di bilang lancang lho… tapi kalo mau jujur…. Ibu cantik banget, seperti masih 30an deh.” Bu Lily tampaknya senang dengan pujian itu,”hmmm.. kamu ada-ada aja saja… ibu udah 43 lho.. emang Zaki liat dari mananya bisa bilang begitu?”</p>
<p style="text-align: justify;">Zaki jadi cengar cengir,” ….itu penilaian laki-laki lho bu, saya malu bilangin nya.” Bu Lily kembali duduk mendekat, sekarang malah sangat dekat hampir merapat ke Zaki sambil berkata,” ah.. gak perlu malu…. Bilang aja…” Nafas Zaki terasa sesak, badan nya terasa panas dingin menghadapi tatapan bu Lily, matanya indah dengan bulu mata yang lentik, sesaat kemudian Zaki mengalihkan pandangan ke arah tubuh bu Lily mencari alasan penilaian tadi, uups baru deh Zaki memperhatikan bahwa bu Lily memakai baju terusan seperti daster tapi dengan lengan yang berupa tali dan diikat simpul di bahunya. Hmmm .. kulit itu mulus kuning langsat dengan tali baju dan tali bra yang saling bertumpuk di bahu, pandangan Zaki beralih ke bagian depan uupss… terlihat belahan dada yang hmmm… sepertinya buah dada itu lumayan besar. Sentuhan lembut tangan bu Lily di paha Zaki yang masih dibungkus handuk cepat menyadarkan Zaki. Dengan penuh selidik bu Lily bertanya,”lho… kok jadi bengong sie..? apa dong alasannya tadi bilang ibu masih 30an…” Zaki sedikit tergagap karena merasa ketahuan terlalu lama memandangi tubuh bu Lily,”mmm… eeemm.. ibu benar-benar masih cantik, kulitnya masih kencang… masih sangat menggoda…”</p>
<p style="text-align: justify;">Tidak ada jawaban dari mulut bu Lily, hanya pandangan mata yang kini saling beradu, saling tatap untuk beberapa saat… dan seperti ada magnet yang kuat, wajah bu Lily makin mendekat, dengan bibir yang semakin merekah. Zaki pun seakan terbawa suasana, dan tanpa komando lagi, Zaki menyambut bibir merah bu Lily, desahan nafas mulai terasa berat hhhh…hhhh…ciuman terus bertambah dahsyat, bu Lily menjulurkan lidahnya masuk menerobos ke mulut Zaki, dan dibalas dengan lilitan lidah Zaki sehingga lidah tersebut berpilin-pilin dan kemudian deru nafas semakin berat terasa.</p>
<p style="text-align: justify;">Dengan naluri yang alami, tangan Zaki merambat naik ke bahu bu Lily, dengan sekali tarik, terlepas tali pengikat baju di bahu tersebut dan dengan lembut Zaki meraba bahu bu Lily sampai ke lehernya…. Kemudian turun ke arah dada, dengan remasan lembut Zaki meremas payudara yang masih terbungkus bra itu. “hhhhh…hhhh” nafas bu Lily mulai terasa menggebu, nampaknya gairah birahinya mulai memuncak. Jemari lentik bu Lily tak ketinggalan meraba dan mengelus lembut dada Zaki… melingkari pinggang Zaki, mencari lipatan handuk, hendak membukanya…</p>
<p style="text-align: justify;">Uupps…. Zaki tersentak dan sadar….,”ups…hhh… maaf bu… maaf bu… saya terbawa suasana….” Zaki tertunduk tak berani menatap bu Lily sambil merapikan kembali handuknya, baru kemudian dengan sedikit takut melihat ke arah bu Lily.</p>
<p style="text-align: justify;">Terlihat bu Lily pun agak tersentak, tapi tidak berusaha merapikan pakaiannya, sehingga tubuh bagian atas yang hanya tertutup bra itu dibiarkan terbuka. Pemandangan yang menakjubkan. “napa Zack… kita sudah memulainya… dan kamu sudah membangkitkan kembali gairah ibu yang lama terpendam… kamu harus menyelesaikannya Zack…” tatapan bu Lily terlihat semakin sendu… “mmm… ibu gak marah..? gimana nanti kalo ada yang lihat bu… bisa gawat dong… pak Kardi juga bisa marah besar bu…” jawab Zaki.</p>
<p style="text-align: justify;">Tanpa menjawab bu Lily bangkit berdiri, namun karena tidak merapikan pakaiannya, otomatis baju terusan yang dipakai jadi melorot jatuh ke lantai. Zaki terpana melihat tubuh indah itu, sedikit berlemak di perut dan bokongnya namun itu malah menambah seksi lekuk tubuh bu Lily. Kemudian dengan tenang bu Lily melangkah ke arah pintu kamar dan menguncinya. Saat berjalan membelakangi Zaki itu nampak gerakan bokong bu Lily naik turun, dan perasaan Zaki semakin tegang dengan nafsu yang semakin tak tertahankan, demikian juga saat bu Lily berbalik dan melangkah kembali menuju tempat tidur, Zaki tidak melepaskan sedikit pun gerakan bu Lily. Sampai bu Lily berdiri dekat di depan Zaki dan berkata,”kamarnya udah di kunci Zack, dan gak ada yang akan mengganggu&#8230;.” Zaki tidak langsung menjawab, menghidupkan tape dengan suara yang agak besar, setidaknya untuk menyamarkan suara yang ada di ruangan. Bu Lily kembali duduk di pinggiran tempat tidur, dan membuka bra yang digunakannya. Zaki mendekat dan duduk di samping bu Lily… hmmm… nampak payudara itu masih montok dan kenyal, ingin Zaki langsung melahap dengan mulut dan menjilatnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Bu Lily yang memulai gerakan dengan melingkarkan lengannya ke leher Zaki, menarik wajah dan langsung melumat bibir Zaki dengan nafsu yang membara. Zaki membalas dengan tidak kalah sengit, sambil meladeni serangan bibir dan lidah bu Lily, tangan Zaki meremas payudara montok milik bu Lily. Desahan nafas menderu di seputar ruangan, diselingi alunan musik menambah gairah. Setelah beberapa saat, bu Lily mendorong lembut badan Zaki, menyudahi pertempuran mulut dan lidah, dengan nafas yang memburu. Zaki mendorong lembut tubuh bu Lily, berbaring terlentang dengan kaki tetap menjuntai di pinggiran tempat tidur. Dada yang penuh dengan gunung kembar itu seakan menantang dengan puting yang telah tegang. Tanpa menunggu lagi Zaki melaksanakan tugasnya menjelajahi gunung kembar itu mulai dari lembah antara, melingkari dan menuju puncak puting. Dengan gemas Zaki menyedot dan memainkan puting susu itu sambil tangan meremas payudara kembarannya ………………… ”HHHH…. AHHH….MMMH….”suara bu Lily mulai kencang terdengar, desahan-desahan nikmat yang semakin menggairahkan.</p>
<p style="text-align: justify;">Zaki melanjutkan penjelajahan dengan menyusuri lembah payudara menuju perut dan sebentar memainkan lidah pada udel bu Lily yang menggelinjang kegelian. Zaki menghentikan penjelajahan lidah, kemudian dengan cekatan menarik celana dalam bu Lily, melepaskan dan membuang ke lantai. Dengan spontan bu Lily mengangkat kaki ke atas tempat tidur dan memuka lebar pahanya, terlihat gundukan vagina dengan rambut-rambut yang tertata rapi. Zaki mulai kembali aksi dengan menjilati menyusuri paha bu Lily yang halus mulus, terus mendekat ke selangkangan menemui bibir vagina yang mulai mengeluarkan cairan senggama.</p>
<p style="text-align: justify;">Tanpa menunggu lama, Zaki menyapu cairan senggama itu dengan lidahnya dan meneruskan penjelajahan lidah sepanjang bibir vagina bu Lily dan sesekali menggetarkan lidah pada klitorisnya yang membuat bu Lily mengerang kenikmatan,”AHHHH…. MMMMH… HHH… Zack….UHH…”desahan birahi yang memuncak dari bu Lily membuat Zaki semakin bersemangat dan sesekali lidah di julurkan mencoba masuk ke liang senggama yang menanti pemenuhan itu. Setelah beberapa menit Zaki mengeksplorasi liang kewanitaan itu, nampaknya bu Lily tidak sabar lagi menuntut pemenuhan hasrat birahinya,”Zack…. Ayo sayang… masukkin Zack… hhhh…mmmmh.” Suara bu Lily ditingkahi desahan-desahan yang semakin kencang.</p>
<p style="text-align: justify;">Dengan tenang Zaki menyudahi penjelajahan lidah dan bersiap bertempur yang sesungguhnya. Dengan sekali tarik lepaslah handuk yang melilit di pinggang dan bebas mengacung penis dengan bagian kepala yang merah mengkilap. Bu Lily semakin membuka lebar pahanya, besiap menanti pemenuhan terhadap liang wanitanya. Zaki naik ke tempat tidur dan langsung mengarahkan batang penis ke arah vagina bu Lily yang dengan sigap lansung meraih dan meremas batang kemaluan Zaki dan membantu mengarahkannya tepat ke liang vaginanya. Dengan sekali dorongan penis Zaki amblas sampai setengahnya. Zaki menahan gerakan sebentar menikmati prosesi masuknya penis yang disambut desahan bu Lily,” AHHH….TERUSKAN ZACK….AHHH.”</p>
<p style="text-align: justify;">kemudian dengan meresapi masuknya penis sampai sedalam-dalamnya. Setelah dorongan pertama dan batang zakar yang masuk seluruhnya barulah Zaki memompa menaik turunkan pantat dengan irama beraturan seakan mengikuti irama musik yang terasa semakin menggebu dan hot.</p>
<p style="text-align: justify;">Zaki bertumpu pada kedua siku lengan sedangkan bu Lily mencengkam punggung Zaki, meresapi dorongan dan tarikan penis yang bergerak nikmat di liang senggamanya. Suara desahan bercampur aduk dengan alunan musik dan peluh mulai bercucuran di sekujur tubuh,”AH..AH..AH..MMH…MHH…HHHH.” tak hentinya desahan meluncur dari bibir Zaki dan bu Lily. Sesaat Zaki menghentikan gerakan untuk mencoba mengambil nafas segar, bu Lily memeluk Zaki dan menggulingkan badan tanpa melepas penis yang tetap berada di liang vaginanya. Dengan posisi di atas dan setengah berjongkok, bu Lily memompa dan menaikturunkan pantatnya dengan badan bertumpu pada lengan. Sesekali bu Lily memutar pantatnya dan kemudian memasukkan batang zakar Zaki lebih dalam. Zaki tak diam saja, tangan meremas kedua payudara yang menggantung bebas dan menarik-narik puting susu bu Lily.</p>
<p style="text-align: justify;">Suasana makin membara dengan peluh yang bercucuran, sampai saat bu Lily seperti tak sanggup melanjutkan pompaan karena birahi yang hendak mencapai puncak pemenuhan. Dengan sigap Zaki membalikkan posisi, bu Lily kembali berada di bawah, dengan mempercepat tempo dorongan Zaki meneruskan pertempuran. “Zack…AHH..AH..AH..UH…TERUS ZACK…. AHHH…AHH IBU SAMPAI…ZACK….AHHHHHHHHH… MMMMMHHH.”</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah teriakan tertahan bu Lily mengatup bibirnya menikmati orgasme yang didapat, tubuhnya sedikit bergetar. Zaki merasa vagina yang mengalami orgasme itu berkedut-kedut seperti menyedot zakarnya.Zaki menikmatinya dengan memutar –mutar pantatnya dan memasukkan lebih dalam lagi batang zakarnya, dan terasa ada dorongan kuat menyelimuti batang zakarnya, semakin besar dan sesaat Zaki kembali mendorong batangnya dengan cepat dan saat terakhir menarik keluar batanga zakarnya dan melepaskan air maninya di atas perut bu Lily…. Yang dengan cepat meraih penis Zaki dan mengocoknya sampai air mani itu berhenti muncrat, dengan lembut bu Lily mengusap penis yang mulai turun ketegangannya. Zaki membaringkan tubuhnya disamping bu Lily. Terdiam untuk beberapa saat.</p>
<p style="text-align: justify;">Bu Lily bangkit duduk meraih kain di pinggiran tempat tidur dan menyeka sisa air mani di perutnya. Kemudian dengan manja membaringkan tubuhnya diatas Zaki. “makasih ya sayang… ini rahasia kita berdua… I love u Zack,” bisik mesra bu Lily di telinga Zaki.</p>
<p style="text-align: justify;">“mmm…baik bu…”belum sempat Zaki menyelesaikan ucapannya, jari telunjuk bu Lily menempel di bibirnya, “kalo lagi berdua gini jangan pangil ibu dong…”ucap bu Lily manja.</p>
<p style="text-align: justify;">“iya sayang….” Balas Zaki, senyum manis merekah di bibir seksi bu Lily.Setelah itu dengan cepat Zaki dan bu Lily merapikan pakaian, dan sebelum meninggalkan Zaki, bu Lily berbisik mesra,”sayang… tar malem suamiku gak ada di rumah….. aku tunggu di kamar ya… berapa ronde pun dilakoni buat Zaki sayang.” Sambil berpelukan mesra, Zaki menyanggupi ajakan bu Lily.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ceritasex.cn/tante-lily-ibu-kost-yang-kesepian/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ibu Kos Mantan Pelacur</title>
		<link>http://www.ceritasex.cn/ibu-kos-mantan-pelacur/</link>
		<comments>http://www.ceritasex.cn/ibu-kos-mantan-pelacur/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 30 Dec 2009 02:23:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cerita Sex</dc:creator>
				<category><![CDATA[Paruh baya]]></category>
		<category><![CDATA[Seks Umum]]></category>
		<category><![CDATA[Tante Girang]]></category>
		<category><![CDATA[ibu kost]]></category>
		<category><![CDATA[incest]]></category>
		<category><![CDATA[seks]]></category>
		<category><![CDATA[taboo]]></category>
		<category><![CDATA[tante]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ceritasex.cn/?p=1148</guid>
		<description><![CDATA[Sebagai Mahasiswa dari daerah, aku masih lugu ekali tentang kehidupan Ibukota Jakarta. Di Jakarta aku tidak punya sanak famili, jadi aku tinggal disebuah rumah kos yang dikelola oleh seorang wanita kira-kira berumur empat puluhan. Wanita itu tidak punya suami dan tidak punya anak. Dia tinggal bersama dua orang pembantunya di rumah yang semegah itu. Aku [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Sebagai Mahasiswa dari daerah, aku masih lugu ekali tentang kehidupan Ibukota Jakarta. Di Jakarta aku tidak punya sanak famili, jadi aku tinggal disebuah rumah kos yang dikelola oleh seorang wanita kira-kira berumur empat puluhan. Wanita itu tidak punya suami dan tidak punya anak. Dia tinggal bersama dua orang pembantunya di rumah yang semegah itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku memilih rumah kos ibu Ratna karena lokasinya dekat dengan Kampusku. Rumah kos itu terdiri dari banyak kamar, yang dihuni oleh Mahasiswa/mahasiswi, pelajar, karyawan swasta, hostess, dan berbagai kalangan profesi. Aku memilih kamar yang paling murah dengan fasilitas yang paling sederhanya, letaknya paling belakang, pojok dekat dengan kamar pembantu. Aku memilih kamar itu, karena sewanya yang paling murah. Jika mengambil kamar dilantai atas, bisa bangkrut aku. Apalagi kamar yang dekat kamarnya ibu Ratna, barangkali jauh lebih mahal. Memang ada dua kamar disamping kamar ibu Ratna, kamar itu dibiarkan kosong, katanya untuk sanak famili yang menginap.</p>
<p style="text-align: justify;">Pergaulan di rumah kos itu tampaknya acuh tak acuh, Lu ya elu, gue ya gue, individualistis sekali. terus terang, aku yang paling minder disana, karena aku yang paling &#8220;kere&#8221;. Walau aku kere, tapi terkadang aku sok pede, sok yakin, sok percaya diri. Diantara penghuni kos, akulah yang paling sering ngobrol dengan Ibu Kos. yang lainnya sibuk enggak punya waktu. bahkan pernah diajak makan bersama diruang makannya yang megah itu. Ternyata dia ramah sekali, lembut, sopan santunnya tinggi sekali, bahkan dia selalu memaklumi aku jika aku terlambat membayar uang kos. Kalau yang lainnya, ada yang sering nunggak bayar kos, dan nasibnya disuruh mengosongkan kamarnya alias disuruh pergi !!! Kabanyakan dari mereka adalah wanita. kayaknya dia tak suka sama wanita. Aku pernah nunggak tujuh bulan, Bu ratna tetap senyum-senyum saja menerima penjelasanku, kenapa aku terlambat. Dan selalu mengatakan Its Okey ?! No Problem !!!. kamu itu kan adik saya ?!. Jawabannya itu lho ? membuat aku GR banget, dan membuat aku bingung, kenapa hanya aku mendapat pelayanan istimewa ? mendapat previlage berlebihan ?</p>
<p style="text-align: justify;">Semua jawaban itu baru terkuak ketika pada suatu malam dengan hujan yang sangat lebat kira-kira pukul 12.00 malam, dimana rumah kos itu sunyi sekali dan sebagian besar penghuninya pulang kampung karena musim liburan panjang. Kamarku yang dibelakang dan pojok, malam itu bocor, gentingnya memang sudah pada enggak karuan, kasurku basah kuyup, aku kuwalahan menghadapi air hujan sialan itu. Aku hanya bisa mojok sambil kedinginan. Dan&#8230;..tiba-tiba pintu diketuk dari luar. Aku membukanya, astaga ! Ibu Ratna yang datang.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8221; Kamarmu bocor ya ?, yuk pindah diatas saja, kasihan kamu kedinginan ya &#8221; Tanya nya. Aku mengangguk dan tanpa pikir panjang lantas bergegas pergi ke kamar atas bersama Ibu kosku. Aku diajaknya ke kamar dia, dan aku diberikan handuk untuk mengeringkan rambutku yang kena bocoran air hujan tadi dikamarku. Aku menuruti perintahnya, disuruhnya sekalia saja aku mandi air hangat di kamar mandi pribadinya, aku nurut saja. Kapan lagi ? kesempatan mendapat pelayanan dengan fasilitas yang sangat OK.</p>
<p style="text-align: justify;">Selesai mandi, aku keluar dari kamar mandi hanya dengan handuk yang melingkar dibagian perutku, hanya untuk menutupi bagian vital tubuhku saja. Begitu aku melihat bu Ratna, aku terkejut sekali, dia sudah ganti pakaian dengan busana tidur yang tipis sekali, dia tidak pakai BH dan bagian bawahnya tampaknya juga begitu, gaun itu transparant sekali diterpa sinar lampu kamar itu yang terang benderang. Dia berdiri dihadapanku, aku sempat gugup dan salah tingkah. Tiba-tiba dia menarik lenganku, aku dipeluknya dan bibirku diciumnya. Kontan saja handuk yang melingkari alat vitalku melorot dan membuat aku bugil. Aku masih terdiam, pasrah saja, gugup tidak tahu apa yang harus kuperbuat. Tanganku ditarik bu ratna, ditempelkannya di teteknya yang besar itu. &#8221; Remas-remas dong sayang ? remas yang mesra ya ?&#8221; pintanya. Aku melakukannya dan kuelus dan kuremas-remas tetek itu. Dia menggeliat-geliat. Posisi kami masih berdiri tegak, alat vitalku berdiri tegak pula besar dan kencang sekali. Bu Ratna melepas pelukannya dan lantas menatapku sambil tersenyum manis sekali.<br />
<span id="more-1148"></span><br />
&#8221; Bingung ya ?&#8221; Tanyanya. Aku menggeleng tersipu. &#8221; jangan takut, enggak ada siapa-siapa disini, tidak ada yang berani naik ke kamarku ini. Kamu suka ?&#8221; Aku mengangguk bego. Bu Ratna menuntunku ke tepi tempat tidurnya. Dia merebahkan tubuhnya dengan kaki menjulur keluar tempat tidur. Posisinya menantang sekali. Lekuk tubuhnya tampak jelas sekali menerawang dari gaun transparan itu. Aku masih berdiri bugil. Ku perhatikan mekinya bu Ratna yang besar dan seksi itu. Dia memberi isyarat agar aku mendekat. Setelah aku duduk disisinya, dia bangkit dan langsung mebuka gaunnya hingga kami sama-sama bugil alias telanjang bulat. Jari jemari bu Ratna mengelus-elus alat vitalku, sambil dia mendesah-desah manrik nafsnya panjang panjang. Dia birahi sekali tampaknya.</p>
<p style="text-align: justify;">Tak lama kemudian dia menjilati alat vitalku, dari mulai biji kemaluanku hingga ke ujung atau kepala kemaluanku. Lantas diisapnya dengan penuh penghayatan. Matanya merem melek. Dikocok-kocoknya alat vitalku, ya karuan saja semakin tegang dan semakin membesar. &#8221; Wah besar sekali ? &#8221; gumannya terkagum kagum melihat alat vitalku. &#8221; Kamu macho banget, jantan sekalii . Tidak salah aku memilih kamu, kamu masih muda punyamu kelas super &#8221; sambungnya sambil mengocok-ngocok kemaluanku.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8221; Kita main di sofa saja ya ? &#8221; Ajaknya mesra. &#8221; Baik bu &#8221; jawabku. &#8221; Jangan panggil aku ibu, panggil saja aku Ratna, begitu kan lebih dekat rasanya &#8220;. Kami pindah ke sofa, aku disuruhnya duduk dengan kaki dibuka lebar. Dia naik diatasku dan langsung memasukkan kemaluan ke dalam lubang mekinya, lalu beraksi dengan gerakan naik turun mengocok-ngocok ******ku. Ku peluk dia, kuciumi teteknya, dia semakin bernafsu. Diluar sementara hujan semakin lebat angin bertiup kencang sekali. malam itu kami larut dalam buaian surga dunia yang indah dan nikmat sekali.</p>
<p style="text-align: justify;">Ratna orangnya nyentrik sekali. Dibagian bahunya ada tato kupu-kupu, gaya hidupnya juga kayak anak muda. Meki ratna pulen sekali rasanya dan dalam. Tubuhnya langsing tinggi, rambutnya sebahu lebat sekali, sama lebatnya seperti bulu mekinya itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Kami masih bertempur habis-habisan diatas sofa. Aku masih dibawah, dia diatas. Goyangannya indah sekali, tampak dia profesional sekali melayani aku.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8221; Kami sering jajan ya ?&#8221; tanyanya. &#8221; Maksud kamu apa ratna ? &#8221; Aku balik bertanya. &#8221; Yah..itu tuh&#8230;sering cari itu tuh&#8230;.wanita &#8220;P&#8221; , sering main dimana kamu ?&#8221; &#8221; Ah&#8230;mana saya punya uang untuk yang begitu &#8221; &#8221; Tapi mainanmu lihay sekali, nyodoknya juga oke banget lho, aku sudah dua kali orgasme, masih belum puas, tapi kamu masih tetap bertahan kuat&#8221; Jelasnya memuji. Aku diam saja, aku masih menjilati teteknya yang besar dan montok itu.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8221; Sekarang kita main di tempat tidur, kamu diatas ya ?&#8221; Pintanya. Kami main diatas ranjang, aku posisi diatas. Aku dipeluknya erat sekali, bibirku dilumat habis oleh bu Ratna. Wah permainanya hot sekali.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8221; Sudah lama aku kesepian, tolong puaskan aku Ron, sepuas-puasnya &#8221; Pintanya. &#8221; Sampai pagi ?&#8221; jawabku. &#8221; Ya bila perlu sampai pagi. Remas tetekku, goyangnya yang kenceng dong ? terus ron&#8230;terus Ron&#8230;semakin kedalam, Oohhh..mentok Ron ! enak banget Ron, ******mu besar banget, sampai menthok banget nih&#8230;? tapi nikmat sekali, jilati tetekku Ron aku sudah mau keluar, bareng ya keluarnya ? &#8221; Pintanya memelas. &#8221; Baik, aku juga sudah mau keluar. Goyangin dong biar aku keluar &#8220;. Secara reflek Ratna menggoyangkan pinggulnya dengan gerakan memutar-mutar seperti penari hula-hula Hawai. Gila banget goyangnya, aku dibuatnya kleenger&#8230;dan aku OOhhh&#8230;.terus rat&#8230;terus&#8230;..nikmat Rat&#8230;mau keluar nih&#8230;.&#8221; Aku juga Ron, nikmat banget ya ? mainanmu itu enak banget&#8230;OOhhh&#8230;Ronyku sayang&#8230;&#8230;peluk aku Ron&#8230;..yang dalam Ron&#8230;..terus&#8230;terus&#8230;.menthok&#8230;..OOHhh&#8230;.Rony aku keluar Ron ??!!!&#8221; Ratna langsung meremas lenganku sekuat kuatnya, dia orgasme dan nikmat sekali tampakya hingga dia meremas lenganku kuat-kuat.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8221; Gila lu ?! pinter banget, kau sudah tiga kali kamu baru keluar &#8221; Kata ratna sambil bangkit dari tempat tidur dan memukulku dengan bantal dengan gaya bercanda. Dia duduk di sofa, kakiya ngangkang, tubuhnya direbahkan disandaran sofa, tampak dia lemas sekali. Mekinya masih tampak memerah, teteknya masih ereksi, karena putingnya tampak besar dan kencang, warnanya pink, indah sekali, sesuai dengan kulitnya yang kuning langsat.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8221; Kamu berbakat jadi Gigolo Ron &#8220;</p>
<p style="text-align: justify;">&#8221; Gigolo ? mana mungkin ? apa modalku ?&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">&#8221; Ya, kamu jadi gigoloku saja !, kita bisa setiap saat begini &#8220;</p>
<p style="text-align: justify;">&#8221; Kamu juga mainnnya hot banget Rat ?! sudah pengalaman sekali, belajar dimana ?&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">&#8221; Belajar ? ya dari pengalaman !. Tahu enggak kamu ? aku tidak bersuami ? kenapa ? karena aku takut mendapat laki-laki hidung belang. Soalnya, semua yang pernah meniduriku adalah laki-laki hidung belang, hanya butuh tubuhku saja. Dulu aku wanita panggilan, klienku orang-orang top, orang VIP, tarifku selangit. Tapi setelah aku diatas tigapuluh lima tahun, pasaranku merosot, dan aku memilih pensiun, kalah saingan dengan yang ABG-ABG &#8221; Jawabnya tegas.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8221; Tapi kamu kaya raya ratna ?! kok tidak pilih suami yang mantap ?&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">&#8221; Kamu khan suamiku &#8221; Jawabnya bercanda.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8221; Kamu sering main dimana ? sering nyabo ya ? &#8220;kata ratna.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8221; Yah&#8230;.kadang-kadang, jika kebelet banget. Dulu sering dengan cewekku, dengan janda tetangga juga pernah, tapi enggak OK, janda kampung ! dengan banci juga pernah, tapi yang paling hot dengan kamu Ratna ?!<br />
&#8221; Ya jelas dong ? aku kan sudah lama banget enggak main, enggak ngerasain ****** ! Tapi mulai malam ini, kamu akan aku ikat, kamu harus jadi pacarku, bila perlu jadi suamiku. Aku jatuh cinta denganmu Rony, sudah lama aku menarih simpati padamu &#8221; Balas Ratna sambil menghampiriku dan memelukku serta melumat bibirku dengan bibirnya. Kami birahi lagi, sambil berpelukan dengan kaki diangkat sebelah dan diposisikan ke sandaran sofa, Ratna menuntun ******ku dan dimasukkan kedalam liang kemaluannya. Dia beraksi lagi, goyangannya membuat aku melayang-layang ke awang-awang. Baru kali ini aku merasakan goyangan yang begitu penuh gairah dan tenaga. Ratna melepas ******ku, dan dengan segera dia naik ke rajang dan posisinya nungging. Waduhhhh&#8230;mekinya tampak besar sekali dan hot, sepontan kumasukkan alat viatlku kedalam meki itu melalui posisi seperti ****** kawin.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8221; Aduhhh Rony, kok enak banget ya ? lebih dalam lagi Ron, Ooohhh mentok &#8230; Ron&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">&#8221; Sama, enak banget punya kamu Ratna, kamu sudah berumur, tapi barangmu pulen sekali &#8220;</p>
<p style="text-align: justify;">&#8221; Aku rawat terus sayang&#8230;apalagi aku jarang main, paling-paling pakai dildo, ya lama-lama bosen juga. Terus Ron..terus goyangnya, sambil remas tetekku, gigit bahuku Ron, OOhhh&#8230;&#8230;aku nikmat banget. Gigitanmu membuat aku semakin nafsu. Ohhh terus Ron&#8230;OOhhh Ron aku keluar, aku keluar lagi, aku kalah Ron ?! &#8221;<br />
Sejak saat itu, aku dan Ratna intim terus. Dia pindah rumah, ke rumahnya yang baru. Begitu juga aku diajaknya disana tinggal serumah. Rumah kosnya dikelola oleh pembantu rumah tangganya. Dirumah barunya Ratna, aku bebas melakukan persetubuhan kapan saja, dengan gaya dan posisi apa saja. Ibu kos ku ini, ibu Ratna ternyata mantan pelacur yang selalu kesepian dan ketagihan sex.</p>
<p style="text-align: justify;">Ada satu hal yang menyakitkan aku, kuliahku gagal, putus ditengah jalan, karena sering aku bolos kuliah, bangun kesiangan kelewat capek lembur semalam suntuk. Tapi aku dan Ratna hidup kumpul kebo bergelimang harta dan uang. Aku disuruhnya mengelola duabelas armada angkot dan kesemuanya pemilikannya diserahkan kepadaku. Aku bukan gigolo, karena aku tidak pernah minta bayaran, aku menyayangi Ratna, karena aku memang betul-betul mencintainya sepenuh hati. Usia kami berbeda jauh, dia sudah berumur empat puluhan, sementara aku masih kepala dua, dia lebih pantas jadi ibuku.Tapi aku sangat sayang dengannya.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ceritasex.cn/ibu-kos-mantan-pelacur/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Intan Ibu Kostku</title>
		<link>http://www.ceritasex.cn/intan-ibu-kostku/</link>
		<comments>http://www.ceritasex.cn/intan-ibu-kostku/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 05 Apr 2009 13:44:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cerita Sex</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tante Girang]]></category>
		<category><![CDATA[ibu kost]]></category>
		<category><![CDATA[intan]]></category>
		<category><![CDATA[kost]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ceritasex.cn/?p=50</guid>
		<description><![CDATA[Nama saya adalah Aldo. Saya merupakan mahasiswa tingkat akhir di sebuah perguruan tinggi di kota Bogor. Saya memiliki pengalaman yang tak akan saya lupakan seumur hidup saya. Kejadian itu terjadi pada waktu saya masih kuliah di tingkat 1 semester ke-2. Saat itu saya tinggal di sebuah rumah yang oleh pemiliknya disewakan untuk kost kepada mahasiswa. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Nama saya adalah Aldo. Saya merupakan mahasiswa tingkat akhir di sebuah perguruan tinggi di kota Bogor. Saya memiliki pengalaman yang tak akan saya lupakan seumur hidup saya. Kejadian itu terjadi pada waktu saya masih kuliah di tingkat 1 semester ke-2.</p>
<p style="text-align: justify;">Saat itu saya tinggal di sebuah rumah yang oleh pemiliknya disewakan untuk kost kepada mahasiswa. Saya tinggal bersama 2 orang mahasiswa lain yang keduanya merupakan kakak kelas saya. Pemilik rumah kos itu adalah seorang Dosen yang kebetulan sedang studi di Jepang untuk mendapatkan gelar Doktor. Ia telah tinggal di Jepang kurang lebih 6 bulan dari rencana 3 tahun ia di sana.</p>
<p style="text-align: justify;">Agar rumahnya tetap terawat maka ia menyewakan beberapa kamar kepada mahasiswa yang kebetulan kuliah di dekat rumah itu. Yang menjadi Ibu kost-ku adalah istri dari Dosen yang pergi ke Jepang tersebut. Namanya sebut saja Intan. Aku sering menyebut ia Ibu Intan. Umurnya kira-kira sekitar 30 tahunan dengan seorang anak umur 4 tahun yang sekolah di TK nol kecil. Jadi di rumah itu tinggal Ibu Intan dengan seorang anaknya, seorang pembantu rumah tangga yang biasa kami panggil Bi Ana, kira-kira berumur 50 tahunan, aku dan kakak kelasku bernama Kardi dan Jun.</p>
<p style="text-align: justify;">Ibu Intan memiliki tubuh yang lumayan. Aku dan kedua kakak kelasku sering mengintip dia apabila sedang mandi. Kadang kami juga sering mencuri-curi pandang ke paha mulusnya apabila kami dan Ibu nonton tivi bareng. Ibu Intan sering memakai rok apabila dirumah sehingga kadang-kadang secara tidak sadar sering menyingkapkan paha putihnya yang mulus. Ibu Intan memiliki tinggi kurang lebih sekitar 165 cm dengan bodinya yang langsing dan putih mulus serta payudara yang indah tapi tak terlalu besar kira-kira berukuran 34 B (menurut nomer dikutangnya yang aku liat di jemuran). Ibu Intan memiliki wajah yang lumayan imut (mirip anak-anak). Dia sangat baik kepada kami, apabila dia menagih uang listrik dan uang telepon dia meminta dengan sopan dan halus sehingga kami merasa betah tinggal di rumahnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Pada suatu malam (sekitar bulan maret), kebetulan kedua kakak kelasku lagi ada tugas lapangan yang membuat mereka mesti tinggal di sana selama sebulan penuh. Sedangkan anak Bu Intan yang bernama Devi lagi tinggal bersama kakeknya selama seminggu. Praktis yang tinggal di rumah itu cuma aku dan Ibu Intan, sedangkan Bi Ana tinggal di sebuah rumah kecil di halaman belakang yang terpisah dari rumah utama yang dikost-kan. Malam itu kepalaku sedikit pusing akibat tadi siang di kampus ada ujian Kalkulus. Soal ujian yang sulit dan penuh dengan hitungan yang rumit membuat kepalaku sedikit mumet. Untuk menghilangkan rasa pusing itu, malamnya aku memutar beberapa film bokep yang kupinjam dari teman kuliahku. &#8220;Lumayan lah, mungkin bisa ngilangin pusingku&#8221;, pikirku. Aku memang biasa nonton bokep di komputerku di kamar kosku apabila kepala pusing karena kuliah.</p>
<p><span id="more-50"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Pada saat piringan kedua disetel, tiba-tiba aku dikagetkan oleh suara pintu kamarku terbuka. &#8220;Hayo Aldo, nonton apaan kamu?&#8221; Ibu Intan berkata padaku. &#8220;Astaga, aku lupa menutup pintu kamar&#8221; gerutuku dalam hati. Ibu Intan telah masuk ke kamarku dan memergoki aku sedang nonton film bokep. Aku jadi salah tingkah sekaligus malu. &#8220;Anu bu, aku cuma..&#8221; jawabku terbata-bata. &#8220;Boleh Ibu ikut nonton?&#8221; katanya bertanya padaku &#8220;Boleh..&#8221; jawabku seakan tak percaya kalo dia akan nonton film bokep bareng aku. &#8220;Dah lama nih Ibu ga nonton film kaya&#8217; gini. Kamu sering nonton ya?&#8221; katanya menggodaku. &#8220;Ah, gak bu..&#8221; jawabku &#8220;Hmm.. bagus juga adegannya&#8221; dia berkata sambil memandang adegan yang berlangsung.</p>
<p style="text-align: justify;">Akhirnya kami sama-sama menonton film bokep tersebut. Kadang-kadang dia meremas-remas payudaranya sendiri yang membuat kemaluanku berdiri tegak. Dia memakai daster putih malam itu kontras dengan kutang dan celana dalam warna hitam. Kadang aku melirik dia dengan sesekali memperhatikan dia yang sesekali memegang kemaluannya dan menggoyangkan pinggulnya seperti cewe yang sedang menahan kencing. Pemandangan itu membuat darahku mendesir dan membuat batang kejantananku berontak dengan sengit di dalam celana dalamku. Tiba-tiba dia bertanya, &#8220;Do, kamu pernah melakukan seperti yang di film tadi ga?&#8221; Aku terkejut mendengar kata-kata itu terlontar dari mulutnya. Belum&#8221; jawabku. &#8220;Ah masa?&#8221; tanya dia seakan tak percaya. &#8220;Bener bu, sumpah.. aku masih perjaka kok&#8221; jawabku. &#8220;Kalo pacarmu ke kamarmu ngapain aja? ayo ngaku&#8221; tanyanya sambil tersenyum kecil. &#8220;Ah ga ngapa-ngapain kok bu, paling cuma diskusi masalah kuliah&#8221; jawabku. &#8220;Yang bener.. trus kalian ampe buka-bukaan baju ngapain? emang Ibu a tau.. ayo ngaku aja, Ibu dah tau kok&#8221; tanyanya sambil mencubit pipiku.</p>
<p style="text-align: justify;">Wajahku jadi merah padam mendengar dia berkata seperti itu, ternyata ia sering ngintipin aku ama pacarku. &#8220;Iya deh.. aku emang sering bermesraan sama pacarku tapi ga sampai ML, paling jauh cuma oral dan petting aja&#8221; jawabku jujur. &#8220;Ohh..&#8221;, katanya seakan tak percaya. Akhirnya kita terdiam kembali menikmati film bokep. Akhirnya film itu selesai juga juga. &#8220;Do, kamu bisa mijit ga&#8221;, tanyanya. &#8220;Dikit-dikit sih bisa, emang kenapa bu?&#8221; &#8220;Ibu agak pegel-pegel dikit nih abis senam aerobik tadi sore. Bi Ana yang biasa mijetin dah tidur kecapekan kerja seharian, bisa kan?&#8221; &#8220;Boleh, sekarang bu?&#8221; &#8220;Ya sekarang lah, di kamar Ibu yah.. ayo&#8221;.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku mengikuti Ibu Intan dari belakang menuju ke kamarnya. Baru pertama kali ini aku masuk ke kamar Ibu kosku itu. Kamarnya cukup luas dengan kamar mandi di dalam, kasur pegas lengkap dengan ranjang model eropa. Di sebelahnya ada meja rias, lemari pakaian dan meja kerja suaminya. Kamar yang indah. &#8220;Ini minyaknya&#8221;, Bu Intan menyerahkan sebotol minyak khusus buat memijat. Minyak yang harum, pikirku. Aku emang belum pernah mijat tapi saat ini aku harus bisa. Ibu Intan kemudian membuka dasternya, hanya tinggal kutang dan celana dalam hitam yang terbuat dari sutera. Melihat pemandangan ini aku hanya bisa melongok takjub, tubuhnya yang putih mulus tepat berdiri di hadapanku.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Ayo mo mijit ga? Jangan bengong gitu&#8221;. Aku terhentak kaget. Aku lupa kalo saat itu aku mo mijit dia. Akhirnya dia berbaring telungkup dia atas kasur. Aku mulai melumuri punggungnya dengan minyak tersebut. Aku mulai memijit dengan lembut. Kulitnya lembut sekali selembut sutera, kayanya dia sering melakukan perawatan tubuh, pikirku dalam hati. &#8220;Ahh.. enak juga pijatanmu Do, aku suka.. lembut sekali. &#8221; Aku memijat dari bahunya sampai mendekati pantat, berulang-ulang terus. &#8220;Do, tolong buka kutangku. Tali kutangnya ga nyaman, ganggu pijatannya&#8221; katanya menyuruh aku tuk membuka kutangnya. Aku membuka tali kutangnya dan Ibu Intan kemudian melepas kutangnya. Sesekali aku memijat sambil menggelitik daerah belakang telinganya. &#8220;Ssshh.. ahh..&#8221; dia mendesah apabila daerah belakang telinganya kugelitik dan apabila lehernya kupijat dengan halus. &#8220;Do, tolong pijat juga kakiku ya..&#8221; katanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku mulai meminyaki kakinya yang panjang dan ramping. Sungguh kaki yang indah. Putih, bersih, mulus, tanpa cacat dengan sedikit bulu-bulu halus di betis. Pikiranku mulai omes, aku sedikit kehilangan konsentrasi ketika memijat bagian kakinya. &#8220;Do, tolong pijat sampai ke pangkal paha ya..&#8221; pintanya sambil memejamkan mata. Ketika tanganku memijat bagian pangkal pahanya, dia memejamkan mata sambil mendesah seraya menggigit bibir pertanda dia mulai &#8220;panas&#8221; akibat pijatanku. Aku mulai nakal dengan memijat-mijat sambil sesekali menggelitik daerah-daerah sensitifnya seperti leher dan pangkal pahanya. Dia mulai menggeliat tak karuan yang membuat kejantananku berontak dengan keras di celana dalamku.</p>
<p style="text-align: justify;">Tiba-tiba dia berkata, &#8220;Do, bisa mijit daerah yang lain ga?&#8221; &#8220;Daerah yang mana bu?&#8221; Tiba-tiba dia membalikkan badannya seraya membimbing kedua tanganku ke atas payudaranya. Posisi badannya sekarang adalah telentang. Dia hampir telanjang bulat, hanya tinggal segitiga pengamannya saja yang belum terlepas dari tempatnya. Aku tertegun melihat pemandangan itu. Payudaranya yang indah membulat menantang seperti sepasang gunung kembar lengkap dengan puncaknya yang kecoklatan. Aku meremasnya dengan lebut sambil sesekali melakukan &#8220;summit attack&#8221; dengan jari jemariku mempermainkan putingnya. Seperti memutar tombol radio ketika mencari gelombang.</p>
<p style="text-align: justify;">Ia mulai menggelinjang tak karuan. &#8220;Ahh.. oohh.. sshh&#8221;, dia mendesah sambil membenamkan kepalaku menuju payudaranya. &#8220;Do.. Jilatin payudaraku Do.. cepat..&#8221;. Aku mengabulkan permintaannya dengan memainkan lidahku diatas putingnya. Lidahku bergerak sangat cepat mempermainkan putingnya secara bergantian seperti penari samba yang sedang bergoyang di atas panggung. &#8220;Oohh.. yyess.. uukkhh..&#8221; Dia terus mendesah sambil mencengkramkan tangannya di pundakku. Dia memeluku dengan erat. Semakin cepat aku meminkan lidahku semakin keras desahannya. Lidahku mulai naik ke daerah leher dan bergerilya di sana. Bergerak terus ke belakang telinga sambil tanganku memainkan putingnya. Dia terus mendesah dan dengan sangat terlatih membuka baju dan celanaku. Sekarang yang kupakai hanya celana dalam yang menutupi rudal Scud-ku. Kami mulai berpelukan dan berciuman dengan ganasnya. Ternyata dia sangat ahli dalam mencium. Bibirnya yang lembut dan lidah kami yang saling berpagutan membuatku serasa melayang seperti lalat.</p>
<p style="text-align: justify;">Dia mulai menciumi leherku dan sesekali menggigit kupingku. Aku semakin rakus dengan menjilatinya dari mulai leher sampai ujung kaki. &#8220;Aahh..&#8221;, aku mendesah ketika tangannya menyusup ke markasku mencari rudalku, mengenggamnya dan mengocoknya dengan tangannya yang lembut.</p>
<p style="text-align: justify;">Dengan bantuan kakinya dia menarik celana dalamku sehingga celana dalamku terlepas. Aku telah telanjang bulat. Terlihat seorang prajurit lengkap dengan topi bajanya berdiri tegak siap untuk melaksanakan tugas yang diberikan oleh atasannya. &#8220;Oohh.. auhh.. sshh..&#8221;, dia terus memainkan prajuritku dengan tangannya.</p>
<p style="text-align: justify;">Tanganku mulai membuka celana dalamnya yang telah basah oleh cairan pelumas yang keluar dari dalam lobang vaginanya. Terlihat sebuah pemandangan yang indah ketiga segitiga pengaman itu terlepas. Sebuah pemandangan yang sangat indah di daerah selangkangan. Jembutnya yang rapi terurus dan vaginanya yang berwarna merah muda membuat darahku mendesir dan kejantananku semakin menegang. &#8220;Oohh.. nikmaatt.. truss..&#8221;, dia berkata sambil mendesah ketika lidahku menggelitik daging kecil di atas lobang vaginanya. &#8220;Oohh.. sshh.. Yess.. truuss..&#8221; Semakin cepat aku memainkan lidahku semakin cepat juga dia mengocok kontolku. Aku terus mempercepat ritme lidahku, badannya semakin bergerak tak terkontrol. Tanpa sadar tangannya membenamkan kepalaku ke selangkangannya, aku hampir tak bisa bernapas. Aku mencium aroma khas vagina yang harum yang membuat lidahku terus menjilati klitorisnya. &#8220;Ohh.. Ssshh.. Ukhh&#8221;, dia terus mendesah. &#8220;Do.. ahh.. lebih cepat.. ukhh.. aku mo keluar nih..&#8221; &#8220;Ahh..&#8221;, terdengar lenguhan panjang dari bibirnya yang mungil. &#8220;Aukhh..&#8221;, tiba-tiba badannya menegang hebat.</p>
<p style="text-align: justify;">Kedua tangannya menggenggam kepalaku dengan erat dan vaginanya semakin basah oleh cairan yang keluar. Dia mengalami orgasme klitoris, yaitu orgasme yang dihasilkan akibat perlakuan pada kelentitnya. &#8220;Do, nikmat sekali.. Aku tak menyangka kamu pandai bersilat lidah&#8221;, katanya sambil napasnya terengah-engah. Ketika aku siap untuk menembakkan rudalku, tiba-tiba ia berkata, &#8220;Do, aku punya sebuah permainan untukmu&#8221;. &#8220;Permainan apa?&#8221; tanyaku. &#8220;Pokoknya kamu ikut aja, permainan yang mengasyikkan. Mau?&#8221; tanyanya. &#8220;Oke..&#8221;, jawabku.</p>
<p style="text-align: justify;">Dia mengambil sebuah slayer dan menutup mataku, kemudian menyuruhku berbaring terlentang dan mengikut kedua tanganku dengan selendang yang telah ia siapkan. Kedua tanganku dan kakiku diikat ke empat penjuru ranjang sehingga aku tak bisa bergerak. Yang bisa aku gerakkan cuma pinggulku dan lidahku. Aku pun tak bisa melihat apa yang dia lakukan padaku karena mataku tetutup oleh slayer yang dia ikatkan. Aku seperti seorang tawanan. Aku hanya bisa merasakan saja. Tiba-tiba aku merasakan lidahnya mulai bergerilya dari mulai ujung kakiku. Trus bergerak ke pangkal paha. &#8220;Ahh&#8221;, aku mendesah kecil. Lidahnya terus bergerak ke ke atas menuju perutku, terus menjilati daerah dadaku. &#8220;Oohh.. Ssshh..&#8221;, aku mulai mendesah keenakan. Lidahnya terus naik ke leherku dan mencium bibirku. Kemudian lidahnya mulai turun kembali. &#8220;Ohh.. yyeess.. uukkhh..&#8221;, aku mendesah hebat ketika lidahnya bermain di daerah antara lubang anus dan biji pelerku. &#8220;Aahh..&#8221;, aku terus mendesah ketika dia mulai menjilati batang kemaluanku dari mulai pangkal sampai kepalanya, terus menerus, membuat tubuhku berkeringat hebat menahan rasa yang amat sangat nikmat.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Panjang juga ya punya kamu&#8221;, Ibu Intan berkata padaku seraya mengulum penisku masuk ke dalam mulutnya. &#8220;Ahh.. eenaakk.. sshh&#8221;, aku mendesah ketika batang kejantananku mulai keluar masuk mulutnya. Sesekali dia menghisapnya dengan lembut. Dia terus mengulum penisku dan semakin lama semakin cepat. Dia memang ahli, pikirku. Tidak seperti kuluman pacarku yang masih minim pengalaman. Ibu Intan merupakan pengulum yang mahir. &#8220;Aahh.. ahh.. ah.. aahh.. sshh.. teruss&#8221;, aku memintanya supaya mempercepat kulumannya. Ingin rasanya menerkam dia dan menembakkan rudalku tapi apa daya kedua kaki dan tanganku terikat dengan mataku tertutup.</p>
<p style="text-align: justify;">Tiba-tiba ada sesuatu di dalam penisku yang ingin mendesk keluar. &#8220;Ahh.. sshh.. Bu, aku mo keluarr&#8221;, kataku Mendengar itu, semakin cepat ritme kulumannya dan membuatku tak tahan lagi untuk mengeluarkan spermaku. &#8220;Aaahh..&#8221;, aku mengerang hebat dan tubuhku mengejang serta gelap sesaat ketika cairan itu mendesak keluar dan muncat di dalam mulut Bu Intan. Aku seperti melayang ke awang-awang, rasanya nikmat sekali ingin aku teriak enak. &#8220;Enak juga punyamu Do, protein tinggi&#8221;, katanya seraya menjilatai sperma yang tumpah.</p>
<p style="text-align: justify;">Tiba-tiba aku tak merasakan apa-apa. Tak lama kemudian aku mencium aroma khas vagina di depan hidungku. Ternyata Bu Intan meletakkan vaginanya tepat di mulutku dan dengan cepat aku mulai memainkan lidahku. &#8220;Sshh.. truuss.. ahh.. eennaakk..&#8221;, ia mendesah ketika lidahku memainkan kembali daging kecil miliknya. Semakin ia mendesah semakin aku terangsang. Tak lama kemudian prajurit kecilku kembali menegang hebat. &#8220;Aahh.. sshh.. Ukkhh.. yess&#8221;, ia semakin hebat mendesah membuat rudalku telah mencapai ereksi yang maksimal akibat desahannya yang erotis. Lama kelamaan vaginya semakin basah kuyup oleh cairan yang keluar akibat terangsang hebat. &#8220;Aku ga tahan lagi Do&#8221;, katanya seraya mengangkat vaginanya dari mulutku.</p>
<p style="text-align: justify;">Dia memindahkan vaginanya dari mulutku dan entah kemana dia memindahkannya karena mataku tertutup oleh slayer yang dia ikatkan kepadaku. Tiba-tiba aku merasakan kemaluanku digenggam oleh tangannya dan dituntun untuk masuk ke dalam sutau lubang hangat sempit dan basah oleh cairan pelumas. Ahh.. baru pertama kali ini aku merasakan nikmatnya vagina. Meskipun Ibu Intan bukan perawan tapi yang kurasakan sempit juga juga vaginanya. Dengan perlahan Ibu Intan mulai membenamkan kemaluanku ke dalam vaginanya sehingga seluruh kemaluanku habis ditelan oleh vaginanya. Aku merasakan nikmat dan geli yang luar biasa ketika kemaluanku masuk ke dalam vaginanya. Posisiku telentang dengan Bu Intan duduk di atas kemaluanku persis seperti seorang koboi yang sedang bermain rodeo.</p>
<p style="text-align: justify;">Dengan perlahan tapi pasti, Ibu Intan mulai memainkan pinggulnya naik turun secara perlahan. &#8220;Aaahh.. uuhh&#8221;, desahku ketika Ibu Intan memainkan pinggulnya naik turun secara perlahan dan sesekali memutarkan pinggulnya. Itu membuat diriku seperti melayang ke udara. Aku pun mulai menggoyangkan pantatku naik turun. &#8220;Do.. giiillaa.. enaakk ssekali..&#8221;, teriak bu Intan. Aku tak mampu untuk berkata-kata lagi. Aku hanya bisa mendesah dan mendesah. Lama kelamaan Ibu Intan mulai mempercepat ritme goyangannya, naik turun dan sesekali memutarkan pinggulnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Tak mau kalah, aku pun mulai mempercepat sodokanku. &#8220;oohh.. yess.. ohh..&#8221;, desah Ibu Intan. &#8220;Ahh.. uhh.. goyang terruss buu&#8221;, kataku. &#8220;Enaakk.. Doo.. tolong cepetin sodokanmu Do..&#8221;, katanya. Sodokanku semakin cepat dan semakin cepat pula Ibu Intan menggoyangkan pinggulnya. &#8220;Ohh.. shit.. oohh.. nnikkmmat..&#8221;, Ibu Intan berteriak seraya menjambak rambutku.</p>
<p style="text-align: justify;">Dia mulai membuka slayerku. Aku bisa melihat pemandangan yang sungguh menakjubkan sekaligus menggairahkan di depanku. Tubuh Ibu Intan yang bergoyang membuat rambutnya acak-acakan dan seluruh tubuhnya penuh dengan keringat. Payudaranya yang putih bersih dengan putingnya yang kecoklatan ikut bergoyang seirama dengan goyangan pinggulnya yang mengocok kemaluanku. Mukanya yang manis dengan mata yang sesekali merem melek, mulutnya yang mendesah dan sesekali mengeram serta wajahnya yang dipenuhi keringat membuat ia keliatan seksi dan menggairahkan. &#8220;Ahh.. shit.. oh.. god.. ohh.. enak..&#8221;, desahnya. Aku melihat Ibu Intan yang setiap hari terlihat lembut ternyata memiliki sisi yang sangat menggairahkan dan terlihat haus akan sex. Ibu Intan pandai memainkan ritme goyangannya, kadang dia melambatkan goyangan pinggulnya kadang dengan tiba-tiba mempercepatnya. Aku hanya bisa mengikuti perrmainannya dan aku sangat menikmatinya.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Aaahh..!&#8221;, aku berteriak keenakan ketika aku merasakan diantara goyangannya yang mengocok kemaluanku, vaginanya seperti menghisap kemaluanku. &#8220;Mampus kamu Do.. tapi enak kan? Itu namanya &#8220;hisapan maut&#8221;.. Ibu mempelajarinya melalui senam Keggel..&#8221;, katanya sambil memandangku dengan liar. Aku semakin mempercepat sodokanku dan Ibu Intan pun mempercepat goyangannya naik turun dan berputar secara bergantian sesekali dilakukannya hisapan maut yang membuat seluruh tulang dalam tubuhku seperti terlepas dari persendiannya. Ibu Intan mulai menciumi leherku dan bibirku.</p>
<p style="text-align: justify;">Kami semain &#8220;panas&#8221; dan lidah kami saling berpagutan sementara sodokan kemaluanku dan goyang pinggulnya semakin lama semakin cepat. &#8220;Uhh.. ahh.. shh.. ahh..&#8221;, aku mendesah. Ibu Intan semakin ganas menciumiku seraya aku mempercepat sodokannya. Aku merasakan sesuatu akan keluar mendesak dari penisku. &#8220;Bu Intan.. ahh.. uhh.. shh.. akkuu mauu kkeluarr..&#8221;, kataku. &#8220;Ibu juga.. ahh.. tahann.. kita keluarin sama-sama.. sshh ahh..&#8221;. &#8220;Aku ga tahan lagi bu..&#8221;.</p>
<p style="text-align: justify;">Tiba-tiba Ibu Intan berteriak panjang. &#8220;Aaahh..&#8221; sambil memelukku dengan sangat erat. &#8220;Aaahh..&#8221;. bersamaan dengannya aku merasakan penisku memuntahkan cairan hangat di dalam vaginanya.Kami berciuman dan kurasakan tubuhnya dan tubuhku mengejang hebat menahan kenikmatan yang amat sangat. Gelap sesaat yang diiringi kenikmatan yang luar biasa membuat tubuhku seperti melayang jauh ke awang-awang. Nikmatnya melebihi masturbasi yang sesekali aku lakukan.</p>
<p style="text-align: justify;">Kami sama-sama terkulai lemas dengan napas yang terengah-engah seperti dua olahragawan yang telah balap lari. Ibu Intan menatapku sambil tersenyum manis. Aku hanya terdiam menatap langit-langit. &#8220;Do, kamu nyesel ga ML sama Ibu?&#8221;, tanya Ibu Intan kepadaku. &#8220;Nggak bu..&#8221;. &#8220;Terus kenapa kamu termenung begitu?&#8221;. &#8220;Aku cuma bingung, aku kan mengeluarkan sperma di dalam vagina Ibu, aku cuma khawatir nanti Ibu hamil gara-gara saya&#8221; &#8220;Ha.. ha.. ha.. jadi itu yang kamu khawatirkan?&#8221; &#8220;Iya bu. &#8221; &#8220;Tenang aja, Ibu teratur ko minum pil kb. Jadi kamu ga perlu khawatir?&#8221;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ceritasex.cn/intan-ibu-kostku/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

