<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Cerita sex porno ngentot mesum perek ayam kampus &#187; incest</title>
	<atom:link href="http://www.ceritasex.cn/tag/incest/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.ceritasex.cn</link>
	<description>Kumpulan cerita sex, foto bugil, dan film porno</description>
	<lastBuildDate>Wed, 08 Feb 2012 13:12:08 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
		<item>
		<title>Mama dan Tante Rina</title>
		<link>http://www.ceritasex.cn/mama-dan-tante-rina/</link>
		<comments>http://www.ceritasex.cn/mama-dan-tante-rina/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 06 Nov 2011 13:57:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cerita Sex</dc:creator>
				<category><![CDATA[kisah nyata]]></category>
		<category><![CDATA[Sedarah]]></category>
		<category><![CDATA[Seks Umum]]></category>
		<category><![CDATA[binatang]]></category>
		<category><![CDATA[incest]]></category>
		<category><![CDATA[kontol]]></category>
		<category><![CDATA[liar]]></category>
		<category><![CDATA[mama]]></category>
		<category><![CDATA[nafsu binal]]></category>
		<category><![CDATA[ngentot]]></category>
		<category><![CDATA[tante]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ceritasex.cn/?p=3164</guid>
		<description><![CDATA[Namaku Roy, 32 tahun. Saat ini aku tinggal di Bandung. Banyak yang bilang aku ganteng. Kisah yang akan aku tulis ini adalah kisah nyata dari pengalaman sex aku dengan mama dan tante aku. Cerita ini dimulai ketika aku berusia 20 tahun. Saat itu tante Rina datang dan menginap selama beberapa hari di rumah karena suaminya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Namaku Roy, 32 tahun. Saat ini aku tinggal di Bandung. Banyak yang bilang aku ganteng. Kisah yang akan aku tulis ini adalah kisah nyata dari pengalaman sex aku dengan mama dan tante aku.</p>
<p style="text-align: justify;">Cerita ini dimulai ketika aku berusia 20 tahun. Saat itu tante Rina datang dan menginap selama beberapa hari di rumah karena suaminya sedang pergi keluar kota. Dia merasa sepi dan takut tinggal di rumahnya sendirian. Tante Rina berusia 32 tahun. Penampilannya biasa saja. Tinggi badan 160 cm. Ramping. Tapi aku suka bodynya. Buah dada 36B, dan pantatnya besar bulat. Aku suka lihat tante Rina kalau sudah memakai celana panjang ketat sehingga pantatnya sangat membentuk, merangsang. Tante Rina adalah adik kandung Papa aku.</p>
<p style="text-align: justify;">Waktu itu hari aku tidak masuk kuliah. Aku diam di rumah bersama mama dan tante Rina. Pagi itu, jam 10, kulihat mama baru selesai mandi. Mama keluar dari kamar mandi memakai handuk menutupi dada dan setengah pahanya yang putih mulus. Mama berusia 38 tahun. Sangat cantik.</p>
<p style="text-align: justify;">Saat itu entah secara tidak sengaja aku melihat mama membetulkan lilitan handuknya sebelum masuk kamar. Terlihat buah dada mama walau tidak terlalu besar tapi masih bagus bentuknya. Yang terutama jadi perhatian aku adalah memek mama yang dihiasi bulu hitam tidak terlalu lebat berbentuk segitiga rapi. Mungkin karena mama rajin merawatnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Mama sepertinya tidak sadar kalau aku sedang memperhatikannya. Mama langsung masuk kamar. Hati berdebar dan terbayang terus pemandangan tubuh mama tadi. Aku dekati pintu, lalu aku intip dari lubang kunci. Terlihat mama sedang membuka lilitan handuknya lalu mengeringkan rambutnya dengan handuk tersebut. Terlihat tubuh mama sangat menggairahkan. Terutama memek mama yang aku fokuskan. Secara otomatis tangan aku meraba kontol dari luar celana, lalu meremasnya pelan-pelan sambil menikmati keindahan tubuh merangsang mama. Karena sudah tak tahan lagi, aku segera ke kamar mandi dan onani sambil membayangkan menyetubuhi mama. Sampai akhirnya.. Crot! Crot! Crot! Aku orgasme.</p>
<p style="text-align: justify;">Sore harinya, waktu aku sedang tiduran sambil membaca majalah, tiba-tiba terdengar suara mama memanggil aku.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Roy..!&#8221; panggil mama.<br />
&#8220;Ya, Ma&#8230;&#8221; sahut aku sambil bergegas ke kamar mama.<br />
&#8220;Ada apa, Ma?&#8221; tanya aku.<br />
&#8220;Pijitin badan mama, Roy. Pegal rasanya&#8230;&#8221; kata mama sambil tengkurap.<br />
&#8220;Iya, Ma&#8230;&#8221; jawab aku.<br />
<span id="more-3164"></span><br />
Waktu itu mama memakai daster. Aku mulai memijit kaki mama dari betis. Terus sampai naik ke paha. Mama tetap diam merasakan pijitan aku. Karena daster mama agak mengganggu pijitan, maka aku bertanya pada mama, &#8220;Ma, dasternya naikin ya? mengganggu nih&#8230;&#8221; tanya aku.<br />
&#8220;Emang kamu mau mijitan apa aja, Roy?&#8221; tanya mama.<br />
&#8220;Seluruh badan mama,&#8221; jawab aku.<br />
&#8220;Ya sudah, mama buka baju saja,&#8221; kata mama sambil bangkit, lalu melepas dasternya tanpa ragu.<br />
&#8220;Ayo lanjutkan, Roy!&#8221; kata mama sambil kembali tengkurap. Darah aku berdesir melihat mama setengah telanjang di depan mata.<br />
&#8220;Mama tidak malu buka baju depan Roy?&#8221; tanya aku.<br />
&#8220;Malu kenapa? Kan anak kandung mama.. Biasa sajalah,&#8221; jawab mama sambil memejamkan mata.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku berdebar. Tanganku mulai memijit paha mama. Sebetulnya bukan meimijit, istilah yang tepat adalah mengusap agak keras. Aku nikmati usapan tangan aku di paha mama sambil mata terus memandangi pantat mama yang memakai celana dalam merah. Setelah selesai &#8220;memijit&#8221; paha, karena masih ragu, aku tidak memijit pantat mama, tapi langsung naik memijit pinggang mama.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Kok dilewat sih, Roy?&#8221; protes mama sambil menggoyangkan pantatnya.<br />
&#8220;Mm.. Roy takut mama marah&#8230;&#8221; jawab aku.<br />
&#8220;Marah kenapa? Kamu kan emang mama pinta mijitin.. Ayo teruskan!&#8221; pinta mama.</p>
<p style="text-align: justify;">Karena sudah mendapat angin, aku mulai meraba dan agak meremas pantat mama dari luar celana dalamnya. Nyaman rasanya memijit dan meremas pantat mama yang bulat dan padat. kontol aku sudah mulai mengeras. Mama tetap terpejam menikmati pijitan aku. Karena birahi aku sudah naik, aku sengaja memasukkan tangan aku ke celana dalam mama dan terus meremasnya. Mama tetap diam. Aku makin berani.</p>
<p style="text-align: justify;">Jari tengah aku mulai menyusuri belahan pantat mama sampai ke belahan memek mama. Jari aku diam disana. Aku takut mama marah. Tapi mama tetap diam sambil memejamkan mata. Aku mulai menggerakan jari tengah aku di belahan memek mama. Mama tetap diam. Terasa memek mama mulai basah. Dan aku tahu kalau mama agak menggoyang-goyangkan pantatnya, mungkin mama merasa enak menikmati jari aku di belahan memeknya. Itu perkiraan aku.</p>
<p style="text-align: justify;">Karena sudah basah, aku nekad masukkan jari aku ke lubang memek mama. Mama tetap memejamkan mata, tapi pantatnya mulai bergoyang agak cepat.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Roy, kamu ngapain?&#8221; tanya mama sambil membalikkan badannya. Aku kaget dan takut mama marah.<br />
&#8220;Maaf, Ma&#8230;&#8221; kataku tertunduk tidak berani memandang mata mama.<br />
&#8220;Roy tidak tahan menahan nafsu&#8230;&#8221; kataku lagi.<br />
&#8220;Nafsu apa?&#8221; kata mama dengan nada lembut.<br />
&#8220;Sini berbaring dekat mama,&#8221; kata mama sambil menggeserkan badannya. Aku diam tidak mengerti.<br />
&#8220;Sini berbaring Roy,&#8221; ujar mama lagi.<br />
&#8220;Tutup dulu pintu kamar,&#8221; kata mama.<br />
&#8220;Ya, Ma&#8230;&#8221; kataku sambil berdiri dan segera menutup pintu. Kemudian aku berbaring di samping mama.</p>
<p style="text-align: justify;">Mama menatapku sambil membelai rambut aku.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Kenapa bernafsu dengan mama, Roy,&#8221; tanya mama lembut.<br />
&#8220;Mama marahkah?&#8221; tanya aku.<br />
&#8220;Mama tidak marah, Roy.. Jawablah jujur,&#8221; ujar mama.<br />
&#8220;Melihat tubuh mama, Roy tidak tahu kenapa jadi pengen, Ma&#8230;&#8221; kataku. Mama tersenyum.<br />
&#8220;Berarti anak mama sudah mulai dewasa,&#8221; kata mama.<br />
&#8220;Kamu benar-benar mau sayang?&#8221; tanya mama.<br />
&#8220;Maksud mama?&#8221; tanya aku.<br />
&#8220;Dua jam lagi Papa kamu pulang&#8230;&#8221; hanya itu yang keluar dari mulut mama sambil tangannya meraba kontol aku dari luar celana.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku kaget sekaligus senang. Mama mencium bibir aku, dan akupun segera membalasnya. Kami berciuman mesra sambil tangan kami saling meraba dan meremas.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Buka pakaian kamu, Roy,&#8221; kata mama. Aku menurut, dan segera melepas baju dan celana.</p>
<p style="text-align: justify;">Mama juga melepas BH dan celana dalamnya. Mama duduk di tepi tempat tidur, sedangkan aku tetap berdiri.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;kontol kamu besar, Roy&#8230;&#8221; kata mama sambil meraih kontol aku dan meremas serta mengocoknya. Enak rasanya.<br />
&#8220;Kamu udah pernah maen dengan perempuan tidak, sayang?&#8221; tanya mama.<br />
Sambil menikmati enaknya dikocok kontol aku menjawab, &#8220;Belum pernah, Ma.. Mmhh..&#8221;. Mama tersenyum, entah apa artinya.</p>
<p style="text-align: justify;">Lalu mama menarik pantat aku hingga kontol aku hampir mengenai wajahnya. Lalu mama mulai menjilati kontol aku mulai dari batang sampai ke kepalanya. Rasanya sangat nikmat. Lebih nikmat lagi ketika mama memasukkan kontolku ke mulutnya. Hisapan dan permainan lidah mama sangat pandai. Tanganku dengan keras memegang dan meremas rambut mama dengan keras karena merasakan kenikmatan yang amat sangat. Tiba-tiba mama menghentikan hisapannya, tapi tangannya tetap mengocok kontolku perlahan.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Enak sayang?&#8221; tanya mama sambil menengadah menatapku.<br />
&#8220;Iya, Ma.. Enak sekali,&#8221; jawabku dengan suara tertahan.<br />
&#8220;Sini sayang. kontolmu udah besar dan tegang. Sekarang cepat masukkan&#8230;&#8221; ujar mama sambil menarik tanganku.</p>
<p style="text-align: justify;">Mama lalu telentang di tempat tidur sambil membuka lebar pahanya. Tanpa ragu aku naiki tubuh mama. Aku arahkan kontolku ke lubang memeknya. Tangan mama membimbing kontolku ke lubang memeknya.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Ayo, Roy.. Masukkan&#8230;&#8221; ujar mama sambil terus memandang wajahku.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku tekan kontolku. Lalu terasa kepala kontolku memasuki lubang yang basah, licin dan hangat. Lalu batang kontolku terasa memasuki sesuatu yang menjepit, yang entah bagaimana aku menjelaskan rasa nikmatnya.. Secara perlahan aku keluarmasukkan kontolku di memek mama. Aku cium bibir mama. Mamapun membalas ciuman aku sambil menggoyangkan pinggulnya mengimbangi goyangan aku.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Enak, Roy?&#8221; tanya mama.<br />
&#8220;Sangat enak, Ma&#8230;&#8221; jawabku sambil terus menyetubuhi mama. Setelah beberapa menit, aku hentikan gerakan kontol aku.<br />
&#8220;Kenapa mama mau melakukan ini dengan Roy?&#8221; tanyaku. Sambil tersenyum, mata mama kelihatan berkaca-kaca.<br />
&#8220;Karena mama sayang kamu, Roy&#8230;&#8221; jawab mama.<br />
&#8220;Sangat sayang&#8230;&#8221; lanjutnya.<br />
&#8220;Lagipula saat ini mama memang sedang ingin bersetubuh&#8230;&#8221; lanjutnya lagi.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku terdiam. Tak berapa lama aku kembali menggerakan kontol aku menyetubuhi mama.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Roy juga sangat sayang mama&#8230;&#8221; ujarku.<br />
&#8220;Ohh.. Roy.. Enakk.. Mmhh&#8230;&#8221; desah mama ketika aku menyetubuhinya makin keras.<br />
&#8220;Mama mau keluar&#8230;&#8221; desah mama lagi.</p>
<p style="text-align: justify;">Tak lama kurasakan tubuh mama mengejang lalu memeluk aku erat-erat. Goyangan pinggul mama makin keras. Lalu..</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Ohh.. Enak sayangg&#8230;&#8221; desah mama lagi ketika dia mencapai orgasme.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku terus menggenjot kontolku. Lama-lama kurasakan ada dorongan kuat yang akan keluar dari kontol aku. Rasanya sangat kuat. Aku makin keras menggenjot tubuh mama..</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Ma, Roy gak tahann&#8230;&#8221; ujarku sambil memeluk tubuh mama lalu menekan kontolku lebih dalam ke memek mama.<br />
&#8220;Keluarin sayang&#8230;&#8221; ujar mama sambil meremas-remas pantatku.<br />
&#8220;Keluarin di dalam aja sayang biar enak&#8230;&#8221; bisik mama mesra.</p>
<p style="text-align: justify;">Akhirnya, crott.. Crott.. Crott.. Air maniku keluar di dalam memek mama.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Mmhh&#8230;&#8221; desahku. Lalu tubuh kami tergolek lemas berdampingan.<br />
&#8220;Terima kasih ya, Ma&#8230;&#8221; ujar aku sambil mencium bibir mama.<br />
&#8220;Lekas berpakaian, Papa kamu sebentar lagi pulang!&#8221; kata mama.</p>
<p style="text-align: justify;">Lalu kamipun segera berpakaian. Setengah jam kemudian Papa pulang. Mama dan aku bersikap seperti biasa dan terlihat normal.</p>
<p style="text-align: justify;">Malam harinya, sekitar jam 11 malam, ketika mama dan Papa sudah tidur, aku dan tante Rina masih nonton TV. Tante Rina memakai kimono. Sesekali aku lihat paha mulusnya ketika kimononya tersingkap. Tapi tidak ada perasaan apa-apa. Karena sudah biasa melihat seperti itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Tiba-tiba tante Rina bertanya sesuatu yang mengejutkan aku,&#8221;ngapain kamu tadi sore lama-lama berduaan ama mama kamu di kamar?&#8221; tanya tante Rina.<br />
&#8220;Hayo, ngapain..?&#8221; tanya tante Rina lagi sambil tersenyum.<br />
&#8220;Tidak ada apa-apa. Aku mijitin mama, kok&#8230;&#8221; jawabku.<br />
&#8220;Kok lama amat. Sampe lebih dari satu jam,&#8221; tanyanya lagi.<br />
&#8220;Curigaan amat sih, tante?&#8221; kataku sambil tersenyum.<br />
&#8220;Tante hanya merasa aneh saja waktu tante denger ada suara-suara yang gimanaa gitu&#8230;&#8221; ujar tante Rina sambil tersenyum.<br />
&#8220;Kayak suara yang lagi enak&#8230;&#8221; ujar tante Rina lagi.<br />
&#8220;Udah ah.. Kok ngomongnya ngaco ah&#8230;&#8221; ujarku sambil bangkit.<br />
&#8220;Maaf dong, Roy. Tante becanda kok&#8230;&#8221; ujar tante Rina.<br />
&#8220;Kamu mau kemana?&#8221; tanya tante Rina.<br />
&#8220;Mau tidur,&#8221; jawabku pendek.<br />
&#8220;Temenein tante dong, Roy,&#8221; pinta tante.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku kembali duduk dikursi di samping tante Rina.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Ada apa sih tante?&#8221; tanyaku.<br />
&#8220;Tidak ada apa-apa kok. Hanya butuh temen ngobrol saja,&#8221; jawab tante Rina.<br />
&#8220;Kamu sudah punya pacar, Roy?&#8221; tanya tante Rina.<br />
&#8220;Belum tante. Kenapa?&#8221; aku balik bertanya.<br />
&#8220;Kamu tuh ganteng, tinggi. Tapi kenapa belum punya pacar?&#8221; tanya tante lagi.<br />
&#8220;Banyak sih yang ngajak jalan, tapi aku tidak mau,&#8221; jawabku.<br />
&#8220;Apa kamu pernah kissing dengan perempuan, Roy?&#8221; tanya tante Rina pelan sambil wajahnya didekatkan ke wajahku.</p>
<p style="text-align: justify;">Bibir kami hampir bersentuhan. Aku tak menjawab.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Ni tante lagi horny kayaknya&#8230;&#8221; pikir aku.</p>
<p style="text-align: justify;">Tanpa banyak kata, aku cium bibir tante Rina. Tante Rinapun langsung membalas ciumanku dengan hebat. Permainan lidah dan sedotan bibir kami main mainkan.. Sementara tanganku segera masuk ke balik kimono tante Rina. Lalu masuk lagi ke dalam BH-nya. Lalu ku remas-remas buah dadanya dengan mesra sambil ujung jari aku memainkan puting susunya.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Mmhh..&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Suara tante Rina mendesah tertahan karena kami masih tetap berciuman. Tangan tante Rinapun tidak diam. Tangannya meremas kontolku dari luar celana kolorku. kontolku langsung tegang.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Roy, pindah ke kamar tante, yuk?&#8221; pinta tante Rina.<br />
&#8220;Iya tante&#8230;&#8221; jawabku. Lalu kami segera naik ke loteng ke kamar tante Rina.</p>
<p style="text-align: justify;">Setiba di kamar, tante Rina dengan tak sabar segera melepas kimono dan BH serta CD-nya. Akupun segera melepas semua pakaian di tubuh aku.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Ayo Roy, tante sudah gak tahan&#8230;&#8221; ujar tante Rina sambil senyum, lalu merebahkan badannya di kasur.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku segera menindih tubuh telanjang tante Rina. Aku cium bibirnya, pindah ke pipi, leher, lalu turun ke buah dadanya. Aku jilat dan hisap puting susu tante Rina sambil meremas buah dada yang satu lagi.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Ohh.. Mmhh.. Royy.. Kamu pinter amat sih.. Mmhh&#8230;&#8221; desah tante Rina sambil tangannya memegang kepala aku.</p>
<p style="text-align: justify;">Lalu lidahku turun lagi ke perut, lalu ketika mulai turun ke selangkangan, tante Rina segera melebarkan kakinya mengangkang. memek tante Rina bersih tidak berbau. Bulunya hanya sedikit sehing nampak jelas belahan memeknya yang bagus. Aku segera jilati memek tante Rina terutama bagian kelentitnya.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Ohh.. Sayang.. Enakkhh.. Mmhh.. Terus sayang&#8230;&#8221; desah tante Rina sambil badannya mengejang menahan nikmat.</p>
<p style="text-align: justify;">Tak berapa lama tiba-tiba tante Rina mengepitkan kedua pahanya menjepit kepalaku. Tangannya menekan kepalaku ke memeknya.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Oh, Roy.. Tante keluar.. Nikmat sekali.. Ohh&#8230;&#8221; desah tante Rina.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku bangkit, mengusap mulut aku yang basah oleh air memek tante Rina, lalu aku tindih badannya dan kucium bibirnya. Tante Rina langsung membalas ciumanku dengan mesra.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Isep dong kontol Roy, tante&#8230;&#8221; pintaku.</p>
<p style="text-align: justify;">Tante Rina mengangguk sambil tersenyum. Lalu aku kangkangi wajah tante Rina dan ku sodorkan kontolku ke mulutnya. Tante Rina langsung menghisap dan menjilati kontolku dan mengocok dengan tangannya sambil memejamkan matanya. Sangat enak rasanya. Cara menghisap dan menjilat kontolnya lebih pintar dari mama.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Udah tante, Roy udah pengen setubuhi tante&#8230;&#8221; kataku.</p>
<p style="text-align: justify;">Tante Rina melepaskan genggamannya, lalu aku arahkan kontol aku ke memeknya.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Ayo, Roy.. Tante sudah tidak tahan&#8230;&#8221; bisik tante Rina.</p>
<p style="text-align: justify;">Lalu, bless.. sleb.. sleb.. sleb.. kontolku keluar masuk memek tante Rina.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Roy kamu pinter menyenangkan perempuan. Kamu pandai memberikan kenikmatan&#8230;&#8221; kata tante ditengah-tengah persetubuhan kami.<br />
&#8220;Ah, biasa saja, tante&#8230;&#8221; ujarku sambil tersenyum lalu ku kecup bibirnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Selang beberapa lama, tiba-tiba tante Rina mempercepat gerakannya. Kedua tangannya erat mendekap tubuhku.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Roy, terus setubuhi tante.. Mmhh.. Ohh.. Tante mau keluar.. Ohh.. Ohh. Ohh&#8230;&#8221; desahnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Tak lama tubuhnya mengejang. Pahanya erat menjepit pinggulku. Sementara akau terus memompa kontolku di memeknya.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Tente udah keluar, sayang&#8230;&#8221; bisik tante Rina.<br />
&#8220;Kamu hebat.. Kuat&#8230;&#8221; ujar tante Rina.<br />
&#8220;Terus setubuhi tante, Roy.. Puaskan diri kamu&#8230;&#8221; ujarnya lagi.</p>
<p style="text-align: justify;">Tak lama akupun mulai merasakan kalo aku akan segera orgasme. Kupertcepat gerakanku.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Roy mau keluar, Tante&#8230;&#8221; kataku.<br />
&#8220;Jangan keluarkan di dalam, sayang&#8230;&#8221; pinta tante Rina.<br />
&#8220;Cabut dulu&#8230;&#8221; ujar tante Rina.<br />
&#8220;Sini tante isepin&#8230;&#8221; katanya lagi.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku cabut kontolku dari memeknya, lalu aku arahkan ke mulutnya. Tante Rina lalu menghisap kontolku sambil mengocoknya. Tak lama, crott.. crott.. crott.. crott.. Air maniku keluar di dalam mulut tante Rina banyak sekali. Aku tekan kontolku lebih dalam ke dalam mulut tante Rina. Tante Rina dengan tenang menelan air maniku sambil terus mengocok kontolku. Lalu dia menjilati kontolku untuk membersihkan sisa air mani di kontolku. Sangat nikmat rasanya besetubuh dengan tante Rina.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku segera berpakaian. Tante Rina juga segera mengenakan kimononya tanpa BH dan CD.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Kamu hebat, Roy.. Kamu bisa memuaskan tante,&#8221; ujar tante Rina.<br />
&#8220;Kalo tante butuh kamu lagi, kamu mau kan?&#8221; tanya tante sambil memeluk aku.<br />
&#8220;Kapan saja tante mau, Roy pasti kasih,&#8221; kataku sambil mengecup bibirnya.<br />
&#8220;Terima kasih, sayang,&#8221; ujar tante Rina.<br />
&#8220;Roy kembali ke kamar ya, tante? Mau tidur,&#8221; kataku.<br />
&#8220;Iya, sana tidur,&#8221; katanya sambil meremas kontolku mesra. Kukecup bibirnya sekali lagi, lalu aku segera keluar.</p>
<p style="text-align: justify;">Besoknya, setelah Papa pergi ke kantor, mama duduk di sampingku waktu aku makan.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Roy, semalam kamu ngapain di kamar tante Rina sampe subuh?&#8221; tanya mama mengejutkanku.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku terdiam tak bisa berkata apa-apa. Aku sangat takut dimarahi mama. Mama tersenyum. Sambil mencium pipiku, mama berkata,&#8221;Jangan sampai yang lain tahu ya, Roy. Mama akan jaga rahasia kalian. Kamu suka tante kamu itu ya?&#8221; tanya mama. Plong rasanya perasaanku mendengarnya.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Iya, Ma.. Roy suka tante Rina,&#8221; jawabku.<br />
&#8220;Baiklah, mama akan pura-pura tidak tahu tentang kalian&#8230;&#8221; ujar mama.<br />
&#8220;Kalian hati-hatilah&#8230;&#8221; ujar mama lagi.<br />
&#8220;Kenapa mama tidak marah,&#8221; tanya aku.<br />
&#8220;Karena mama pikir kamu sudah dewasa. Bebas melakukan apapun asal mau tanggung jawab,&#8221; ujar mama.<br />
&#8220;Terima kasih ya, Ma&#8230;&#8221; kataku.<br />
&#8220;Roy sayang mama,&#8221; kataku lagi.<br />
&#8220;Roy, tante dan Papa kamu sedang keluar.. Mau bantu mama gak?&#8221; tanya mama.<br />
&#8220;Bantu apa, Ma?&#8221; aku balik tanya.<br />
&#8220;Mama ingin&#8230;&#8221; ujar mama sambil mengusap kontolku.<br />
&#8220;Roy akan lakukan apapun buat mama&#8230;&#8221; kataku. Mama tersenyum.<br />
&#8220;Mama tunggu di kamar ya?&#8221; kata mama. Aku mengangguk..</p>
<p style="text-align: justify;">Sejak saat itu hingga saat ini aku menikah dan punya 2 anak, aku tetap bersetubuh dengan tante Rina kalau ada kesempatan. Walau sudah agak berumur tapi kecantikan dan kemolekan tubuhnya masih tetap menarik. Baik itu di rumah tante Rina kalau tidak ada Om, di rumah aku sendiri, ataupun di hotel.</p>
<p style="text-align: justify;">Sedangkan dengan mama, aku sudah mulai jarang menyetubuhinya atas permintaan mama sendiri dengan alasan tertentu tentunya. Dalam satu bulan hanya 2 kali. Itulah pengalaman kisah nyata aku. Aku tuliskan dengan sebenarnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Namaku Roy, 32 tahun. Saat ini aku tinggal di Bandung. Banyak yang bilang aku ganteng. Kisah yang akan aku tulis ini adalah kisah nyata dari pengalaman sex aku dengan mama dan tante aku.</p>
<p style="text-align: justify;">Cerita ini dimulai ketika aku berusia 20 tahun. Saat itu tante Rina datang dan menginap selama beberapa hari di rumah karena suaminya sedang pergi keluar kota. Dia merasa sepi dan takut tinggal di rumahnya sendirian. Tante Rina berusia 32 tahun. Penampilannya biasa saja. Tinggi badan 160 cm. Ramping. Tapi aku suka bodynya. Buah dada 36B, dan pantatnya besar bulat. Aku suka lihat tante Rina kalau sudah memakai celana panjang ketat sehingga pantatnya sangat membentuk, merangsang. Tante Rina adalah adik kandung Papa aku.</p>
<p style="text-align: justify;">Waktu itu hari aku tidak masuk kuliah. Aku diam di rumah bersama mama dan tante Rina. Pagi itu, jam 10, kulihat mama baru selesai mandi. Mama keluar dari kamar mandi memakai handuk menutupi dada dan setengah pahanya yang putih mulus. Mama berusia 38 tahun. Sangat cantik.</p>
<p style="text-align: justify;">Saat itu entah secara tidak sengaja aku melihat mama membetulkan lilitan handuknya sebelum masuk kamar. Terlihat buah dada mama walau tidak terlalu besar tapi masih bagus bentuknya. Yang terutama jadi perhatian aku adalah memek mama yang dihiasi bulu hitam tidak terlalu lebat berbentuk segitiga rapi. Mungkin karena mama rajin merawatnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Mama sepertinya tidak sadar kalau aku sedang memperhatikannya. Mama langsung masuk kamar. Hati berdebar dan terbayang terus pemandangan tubuh mama tadi. Aku dekati pintu, lalu aku intip dari lubang kunci. Terlihat mama sedang membuka lilitan handuknya lalu mengeringkan rambutnya dengan handuk tersebut. Terlihat tubuh mama sangat menggairahkan. Terutama memek mama yang aku fokuskan. Secara otomatis tangan aku meraba kontol dari luar celana, lalu meremasnya pelan-pelan sambil menikmati keindahan tubuh merangsang mama. Karena sudah tak tahan lagi, aku segera ke kamar mandi dan onani sambil membayangkan menyetubuhi mama. Sampai akhirnya.. Crot! Crot! Crot! Aku orgasme.</p>
<p style="text-align: justify;">Sore harinya, waktu aku sedang tiduran sambil membaca majalah, tiba-tiba terdengar suara mama memanggil aku.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Roy..!&#8221; panggil mama.<br />
&#8220;Ya, Ma&#8230;&#8221; sahut aku sambil bergegas ke kamar mama.<br />
&#8220;Ada apa, Ma?&#8221; tanya aku.<br />
&#8220;Pijitin badan mama, Roy. Pegal rasanya&#8230;&#8221; kata mama sambil tengkurap.<br />
&#8220;Iya, Ma&#8230;&#8221; jawab aku.</p>
<p style="text-align: justify;">Waktu itu mama memakai daster. Aku mulai memijit kaki mama dari betis. Terus sampai naik ke paha. Mama tetap diam merasakan pijitan aku. Karena daster mama agak mengganggu pijitan, maka aku bertanya pada mama, &#8220;Ma, dasternya naikin ya? mengganggu nih&#8230;&#8221; tanya aku.<br />
&#8220;Emang kamu mau mijitan apa aja, Roy?&#8221; tanya mama.<br />
&#8220;Seluruh badan mama,&#8221; jawab aku.<br />
&#8220;Ya sudah, mama buka baju saja,&#8221; kata mama sambil bangkit, lalu melepas dasternya tanpa ragu.<br />
&#8220;Ayo lanjutkan, Roy!&#8221; kata mama sambil kembali tengkurap. Darah aku berdesir melihat mama setengah telanjang di depan mata.<br />
&#8220;Mama tidak malu buka baju depan Roy?&#8221; tanya aku.<br />
&#8220;Malu kenapa? Kan anak kandung mama.. Biasa sajalah,&#8221; jawab mama sambil memejamkan mata.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku berdebar. Tanganku mulai memijit paha mama. Sebetulnya bukan meimijit, istilah yang tepat adalah mengusap agak keras. Aku nikmati usapan tangan aku di paha mama sambil mata terus memandangi pantat mama yang memakai celana dalam merah. Setelah selesai &#8220;memijit&#8221; paha, karena masih ragu, aku tidak memijit pantat mama, tapi langsung naik memijit pinggang mama.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Kok dilewat sih, Roy?&#8221; protes mama sambil menggoyangkan pantatnya.<br />
&#8220;Mm.. Roy takut mama marah&#8230;&#8221; jawab aku.<br />
&#8220;Marah kenapa? Kamu kan emang mama pinta mijitin.. Ayo teruskan!&#8221; pinta mama.</p>
<p style="text-align: justify;">Karena sudah mendapat angin, aku mulai meraba dan agak meremas pantat mama dari luar celana dalamnya. Nyaman rasanya memijit dan meremas pantat mama yang bulat dan padat. kontol aku sudah mulai mengeras. Mama tetap terpejam menikmati pijitan aku. Karena birahi aku sudah naik, aku sengaja memasukkan tangan aku ke celana dalam mama dan terus meremasnya. Mama tetap diam. Aku makin berani.</p>
<p style="text-align: justify;">Jari tengah aku mulai menyusuri belahan pantat mama sampai ke belahan memek mama. Jari aku diam disana. Aku takut mama marah. Tapi mama tetap diam sambil memejamkan mata. Aku mulai menggerakan jari tengah aku di belahan memek mama. Mama tetap diam. Terasa memek mama mulai basah. Dan aku tahu kalau mama agak menggoyang-goyangkan pantatnya, mungkin mama merasa enak menikmati jari aku di belahan memeknya. Itu perkiraan aku.</p>
<p style="text-align: justify;">Karena sudah basah, aku nekad masukkan jari aku ke lubang memek mama. Mama tetap memejamkan mata, tapi pantatnya mulai bergoyang agak cepat.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Roy, kamu ngapain?&#8221; tanya mama sambil membalikkan badannya. Aku kaget dan takut mama marah.<br />
&#8220;Maaf, Ma&#8230;&#8221; kataku tertunduk tidak berani memandang mata mama.<br />
&#8220;Roy tidak tahan menahan nafsu&#8230;&#8221; kataku lagi.<br />
&#8220;Nafsu apa?&#8221; kata mama dengan nada lembut.<br />
&#8220;Sini berbaring dekat mama,&#8221; kata mama sambil menggeserkan badannya. Aku diam tidak mengerti.<br />
&#8220;Sini berbaring Roy,&#8221; ujar mama lagi.<br />
&#8220;Tutup dulu pintu kamar,&#8221; kata mama.<br />
&#8220;Ya, Ma&#8230;&#8221; kataku sambil berdiri dan segera menutup pintu. Kemudian aku berbaring di samping mama.</p>
<p style="text-align: justify;">Mama menatapku sambil membelai rambut aku.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Kenapa bernafsu dengan mama, Roy,&#8221; tanya mama lembut.<br />
&#8220;Mama marahkah?&#8221; tanya aku.<br />
&#8220;Mama tidak marah, Roy.. Jawablah jujur,&#8221; ujar mama.<br />
&#8220;Melihat tubuh mama, Roy tidak tahu kenapa jadi pengen, Ma&#8230;&#8221; kataku. Mama tersenyum.<br />
&#8220;Berarti anak mama sudah mulai dewasa,&#8221; kata mama.<br />
&#8220;Kamu benar-benar mau sayang?&#8221; tanya mama.<br />
&#8220;Maksud mama?&#8221; tanya aku.<br />
&#8220;Dua jam lagi Papa kamu pulang&#8230;&#8221; hanya itu yang keluar dari mulut mama sambil tangannya meraba kontol aku dari luar celana.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku kaget sekaligus senang. Mama mencium bibir aku, dan akupun segera membalasnya. Kami berciuman mesra sambil tangan kami saling meraba dan meremas.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Buka pakaian kamu, Roy,&#8221; kata mama. Aku menurut, dan segera melepas baju dan celana.</p>
<p style="text-align: justify;">Mama juga melepas BH dan celana dalamnya. Mama duduk di tepi tempat tidur, sedangkan aku tetap berdiri.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;kontol kamu besar, Roy&#8230;&#8221; kata mama sambil meraih kontol aku dan meremas serta mengocoknya. Enak rasanya.<br />
&#8220;Kamu udah pernah maen dengan perempuan tidak, sayang?&#8221; tanya mama.<br />
Sambil menikmati enaknya dikocok kontol aku menjawab, &#8220;Belum pernah, Ma.. Mmhh..&#8221;. Mama tersenyum, entah apa artinya.</p>
<p style="text-align: justify;">Lalu mama menarik pantat aku hingga kontol aku hampir mengenai wajahnya. Lalu mama mulai menjilati kontol aku mulai dari batang sampai ke kepalanya. Rasanya sangat nikmat. Lebih nikmat lagi ketika mama memasukkan kontolku ke mulutnya. Hisapan dan permainan lidah mama sangat pandai. Tanganku dengan keras memegang dan meremas rambut mama dengan keras karena merasakan kenikmatan yang amat sangat. Tiba-tiba mama menghentikan hisapannya, tapi tangannya tetap mengocok kontolku perlahan.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Enak sayang?&#8221; tanya mama sambil menengadah menatapku.<br />
&#8220;Iya, Ma.. Enak sekali,&#8221; jawabku dengan suara tertahan.<br />
&#8220;Sini sayang. kontolmu udah besar dan tegang. Sekarang cepat masukkan&#8230;&#8221; ujar mama sambil menarik tanganku.</p>
<p style="text-align: justify;">Mama lalu telentang di tempat tidur sambil membuka lebar pahanya. Tanpa ragu aku naiki tubuh mama. Aku arahkan kontolku ke lubang memeknya. Tangan mama membimbing kontolku ke lubang memeknya.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Ayo, Roy.. Masukkan&#8230;&#8221; ujar mama sambil terus memandang wajahku.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku tekan kontolku. Lalu terasa kepala kontolku memasuki lubang yang basah, licin dan hangat. Lalu batang kontolku terasa memasuki sesuatu yang menjepit, yang entah bagaimana aku menjelaskan rasa nikmatnya.. Secara perlahan aku keluarmasukkan kontolku di memek mama. Aku cium bibir mama. Mamapun membalas ciuman aku sambil menggoyangkan pinggulnya mengimbangi goyangan aku.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Enak, Roy?&#8221; tanya mama.<br />
&#8220;Sangat enak, Ma&#8230;&#8221; jawabku sambil terus menyetubuhi mama. Setelah beberapa menit, aku hentikan gerakan kontol aku.<br />
&#8220;Kenapa mama mau melakukan ini dengan Roy?&#8221; tanyaku. Sambil tersenyum, mata mama kelihatan berkaca-kaca.<br />
&#8220;Karena mama sayang kamu, Roy&#8230;&#8221; jawab mama.<br />
&#8220;Sangat sayang&#8230;&#8221; lanjutnya.<br />
&#8220;Lagipula saat ini mama memang sedang ingin bersetubuh&#8230;&#8221; lanjutnya lagi.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku terdiam. Tak berapa lama aku kembali menggerakan kontol aku menyetubuhi mama.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Roy juga sangat sayang mama&#8230;&#8221; ujarku.<br />
&#8220;Ohh.. Roy.. Enakk.. Mmhh&#8230;&#8221; desah mama ketika aku menyetubuhinya makin keras.<br />
&#8220;Mama mau keluar&#8230;&#8221; desah mama lagi.</p>
<p style="text-align: justify;">Tak lama kurasakan tubuh mama mengejang lalu memeluk aku erat-erat. Goyangan pinggul mama makin keras. Lalu..</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Ohh.. Enak sayangg&#8230;&#8221; desah mama lagi ketika dia mencapai orgasme.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku terus menggenjot kontolku. Lama-lama kurasakan ada dorongan kuat yang akan keluar dari kontol aku. Rasanya sangat kuat. Aku makin keras menggenjot tubuh mama..</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Ma, Roy gak tahann&#8230;&#8221; ujarku sambil memeluk tubuh mama lalu menekan kontolku lebih dalam ke memek mama.<br />
&#8220;Keluarin sayang&#8230;&#8221; ujar mama sambil meremas-remas pantatku.<br />
&#8220;Keluarin di dalam aja sayang biar enak&#8230;&#8221; bisik mama mesra.</p>
<p style="text-align: justify;">Akhirnya, crott.. Crott.. Crott.. Air maniku keluar di dalam memek mama.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Mmhh&#8230;&#8221; desahku. Lalu tubuh kami tergolek lemas berdampingan.<br />
&#8220;Terima kasih ya, Ma&#8230;&#8221; ujar aku sambil mencium bibir mama.<br />
&#8220;Lekas berpakaian, Papa kamu sebentar lagi pulang!&#8221; kata mama.</p>
<p style="text-align: justify;">Lalu kamipun segera berpakaian. Setengah jam kemudian Papa pulang. Mama dan aku bersikap seperti biasa dan terlihat normal.</p>
<p style="text-align: justify;">Malam harinya, sekitar jam 11 malam, ketika mama dan Papa sudah tidur, aku dan tante Rina masih nonton TV. Tante Rina memakai kimono. Sesekali aku lihat paha mulusnya ketika kimononya tersingkap. Tapi tidak ada perasaan apa-apa. Karena sudah biasa melihat seperti itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Tiba-tiba tante Rina bertanya sesuatu yang mengejutkan aku,&#8221;ngapain kamu tadi sore lama-lama berduaan ama mama kamu di kamar?&#8221; tanya tante Rina.<br />
&#8220;Hayo, ngapain..?&#8221; tanya tante Rina lagi sambil tersenyum.<br />
&#8220;Tidak ada apa-apa. Aku mijitin mama, kok&#8230;&#8221; jawabku.<br />
&#8220;Kok lama amat. Sampe lebih dari satu jam,&#8221; tanyanya lagi.<br />
&#8220;Curigaan amat sih, tante?&#8221; kataku sambil tersenyum.<br />
&#8220;Tante hanya merasa aneh saja waktu tante denger ada suara-suara yang gimanaa gitu&#8230;&#8221; ujar tante Rina sambil tersenyum.<br />
&#8220;Kayak suara yang lagi enak&#8230;&#8221; ujar tante Rina lagi.<br />
&#8220;Udah ah.. Kok ngomongnya ngaco ah&#8230;&#8221; ujarku sambil bangkit.<br />
&#8220;Maaf dong, Roy. Tante becanda kok&#8230;&#8221; ujar tante Rina.<br />
&#8220;Kamu mau kemana?&#8221; tanya tante Rina.<br />
&#8220;Mau tidur,&#8221; jawabku pendek.<br />
&#8220;Temenein tante dong, Roy,&#8221; pinta tante.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku kembali duduk dikursi di samping tante Rina.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Ada apa sih tante?&#8221; tanyaku.<br />
&#8220;Tidak ada apa-apa kok. Hanya butuh temen ngobrol saja,&#8221; jawab tante Rina.<br />
&#8220;Kamu sudah punya pacar, Roy?&#8221; tanya tante Rina.<br />
&#8220;Belum tante. Kenapa?&#8221; aku balik bertanya.<br />
&#8220;Kamu tuh ganteng, tinggi. Tapi kenapa belum punya pacar?&#8221; tanya tante lagi.<br />
&#8220;Banyak sih yang ngajak jalan, tapi aku tidak mau,&#8221; jawabku.<br />
&#8220;Apa kamu pernah kissing dengan perempuan, Roy?&#8221; tanya tante Rina pelan sambil wajahnya didekatkan ke wajahku.</p>
<p style="text-align: justify;">Bibir kami hampir bersentuhan. Aku tak menjawab.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Ni tante lagi horny kayaknya&#8230;&#8221; pikir aku.</p>
<p style="text-align: justify;">Tanpa banyak kata, aku cium bibir tante Rina. Tante Rinapun langsung membalas ciumanku dengan hebat. Permainan lidah dan sedotan bibir kami main mainkan.. Sementara tanganku segera masuk ke balik kimono tante Rina. Lalu masuk lagi ke dalam BH-nya. Lalu ku remas-remas buah dadanya dengan mesra sambil ujung jari aku memainkan puting susunya.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Mmhh..&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Suara tante Rina mendesah tertahan karena kami masih tetap berciuman. Tangan tante Rinapun tidak diam. Tangannya meremas kontolku dari luar celana kolorku. kontolku langsung tegang.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Roy, pindah ke kamar tante, yuk?&#8221; pinta tante Rina.<br />
&#8220;Iya tante&#8230;&#8221; jawabku. Lalu kami segera naik ke loteng ke kamar tante Rina.</p>
<p style="text-align: justify;">Setiba di kamar, tante Rina dengan tak sabar segera melepas kimono dan BH serta CD-nya. Akupun segera melepas semua pakaian di tubuh aku.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Ayo Roy, tante sudah gak tahan&#8230;&#8221; ujar tante Rina sambil senyum, lalu merebahkan badannya di kasur.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku segera menindih tubuh telanjang tante Rina. Aku cium bibirnya, pindah ke pipi, leher, lalu turun ke buah dadanya. Aku jilat dan hisap puting susu tante Rina sambil meremas buah dada yang satu lagi.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Ohh.. Mmhh.. Royy.. Kamu pinter amat sih.. Mmhh&#8230;&#8221; desah tante Rina sambil tangannya memegang kepala aku.</p>
<p style="text-align: justify;">Lalu lidahku turun lagi ke perut, lalu ketika mulai turun ke selangkangan, tante Rina segera melebarkan kakinya mengangkang. memek tante Rina bersih tidak berbau. Bulunya hanya sedikit sehing nampak jelas belahan memeknya yang bagus. Aku segera jilati memek tante Rina terutama bagian kelentitnya.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Ohh.. Sayang.. Enakkhh.. Mmhh.. Terus sayang&#8230;&#8221; desah tante Rina sambil badannya mengejang menahan nikmat.</p>
<p style="text-align: justify;">Tak berapa lama tiba-tiba tante Rina mengepitkan kedua pahanya menjepit kepalaku. Tangannya menekan kepalaku ke memeknya.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Oh, Roy.. Tante keluar.. Nikmat sekali.. Ohh&#8230;&#8221; desah tante Rina.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku bangkit, mengusap mulut aku yang basah oleh air memek tante Rina, lalu aku tindih badannya dan kucium bibirnya. Tante Rina langsung membalas ciumanku dengan mesra.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Isep dong kontol Roy, tante&#8230;&#8221; pintaku.</p>
<p style="text-align: justify;">Tante Rina mengangguk sambil tersenyum. Lalu aku kangkangi wajah tante Rina dan ku sodorkan kontolku ke mulutnya. Tante Rina langsung menghisap dan menjilati kontolku dan mengocok dengan tangannya sambil memejamkan matanya. Sangat enak rasanya. Cara menghisap dan menjilat kontolnya lebih pintar dari mama.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Udah tante, Roy udah pengen setubuhi tante&#8230;&#8221; kataku.</p>
<p style="text-align: justify;">Tante Rina melepaskan genggamannya, lalu aku arahkan kontol aku ke memeknya.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Ayo, Roy.. Tante sudah tidak tahan&#8230;&#8221; bisik tante Rina.</p>
<p style="text-align: justify;">Lalu, bless.. sleb.. sleb.. sleb.. kontolku keluar masuk memek tante Rina.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Roy kamu pinter menyenangkan perempuan. Kamu pandai memberikan kenikmatan&#8230;&#8221; kata tante ditengah-tengah persetubuhan kami.<br />
&#8220;Ah, biasa saja, tante&#8230;&#8221; ujarku sambil tersenyum lalu ku kecup bibirnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Selang beberapa lama, tiba-tiba tante Rina mempercepat gerakannya. Kedua tangannya erat mendekap tubuhku.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Roy, terus setubuhi tante.. Mmhh.. Ohh.. Tante mau keluar.. Ohh.. Ohh. Ohh&#8230;&#8221; desahnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Tak lama tubuhnya mengejang. Pahanya erat menjepit pinggulku. Sementara akau terus memompa kontolku di memeknya.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Tente udah keluar, sayang&#8230;&#8221; bisik tante Rina.<br />
&#8220;Kamu hebat.. Kuat&#8230;&#8221; ujar tante Rina.<br />
&#8220;Terus setubuhi tante, Roy.. Puaskan diri kamu&#8230;&#8221; ujarnya lagi.</p>
<p style="text-align: justify;">Tak lama akupun mulai merasakan kalo aku akan segera orgasme. Kupertcepat gerakanku.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Roy mau keluar, Tante&#8230;&#8221; kataku.<br />
&#8220;Jangan keluarkan di dalam, sayang&#8230;&#8221; pinta tante Rina.<br />
&#8220;Cabut dulu&#8230;&#8221; ujar tante Rina.<br />
&#8220;Sini tante isepin&#8230;&#8221; katanya lagi.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku cabut kontolku dari memeknya, lalu aku arahkan ke mulutnya. Tante Rina lalu menghisap kontolku sambil mengocoknya. Tak lama, crott.. crott.. crott.. crott.. Air maniku keluar di dalam mulut tante Rina banyak sekali. Aku tekan kontolku lebih dalam ke dalam mulut tante Rina. Tante Rina dengan tenang menelan air maniku sambil terus mengocok kontolku. Lalu dia menjilati kontolku untuk membersihkan sisa air mani di kontolku. Sangat nikmat rasanya besetubuh dengan tante Rina.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku segera berpakaian. Tante Rina juga segera mengenakan kimononya tanpa BH dan CD.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Kamu hebat, Roy.. Kamu bisa memuaskan tante,&#8221; ujar tante Rina.<br />
&#8220;Kalo tante butuh kamu lagi, kamu mau kan?&#8221; tanya tante sambil memeluk aku.<br />
&#8220;Kapan saja tante mau, Roy pasti kasih,&#8221; kataku sambil mengecup bibirnya.<br />
&#8220;Terima kasih, sayang,&#8221; ujar tante Rina.<br />
&#8220;Roy kembali ke kamar ya, tante? Mau tidur,&#8221; kataku.<br />
&#8220;Iya, sana tidur,&#8221; katanya sambil meremas kontolku mesra. Kukecup bibirnya sekali lagi, lalu aku segera keluar.</p>
<p style="text-align: justify;">Besoknya, setelah Papa pergi ke kantor, mama duduk di sampingku waktu aku makan.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Roy, semalam kamu ngapain di kamar tante Rina sampe subuh?&#8221; tanya mama mengejutkanku.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku terdiam tak bisa berkata apa-apa. Aku sangat takut dimarahi mama. Mama tersenyum. Sambil mencium pipiku, mama berkata,&#8221;Jangan sampai yang lain tahu ya, Roy. Mama akan jaga rahasia kalian. Kamu suka tante kamu itu ya?&#8221; tanya mama. Plong rasanya perasaanku mendengarnya.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Iya, Ma.. Roy suka tante Rina,&#8221; jawabku.<br />
&#8220;Baiklah, mama akan pura-pura tidak tahu tentang kalian&#8230;&#8221; ujar mama.<br />
&#8220;Kalian hati-hatilah&#8230;&#8221; ujar mama lagi.<br />
&#8220;Kenapa mama tidak marah,&#8221; tanya aku.<br />
&#8220;Karena mama pikir kamu sudah dewasa. Bebas melakukan apapun asal mau tanggung jawab,&#8221; ujar mama.<br />
&#8220;Terima kasih ya, Ma&#8230;&#8221; kataku.<br />
&#8220;Roy sayang mama,&#8221; kataku lagi.<br />
&#8220;Roy, tante dan Papa kamu sedang keluar.. Mau bantu mama gak?&#8221; tanya mama.<br />
&#8220;Bantu apa, Ma?&#8221; aku balik tanya.<br />
&#8220;Mama ingin&#8230;&#8221; ujar mama sambil mengusap kontolku.<br />
&#8220;Roy akan lakukan apapun buat mama&#8230;&#8221; kataku. Mama tersenyum.<br />
&#8220;Mama tunggu di kamar ya?&#8221; kata mama. Aku mengangguk..</p>
<p style="text-align: justify;">Sejak saat itu hingga saat ini aku menikah dan punya 2 anak, aku tetap bersetubuh dengan tante Rina kalau ada kesempatan. Walau sudah agak berumur tapi kecantikan dan kemolekan tubuhnya masih tetap menarik. Baik itu di rumah tante Rina kalau tidak ada Om, di rumah aku sendiri, ataupun di hotel.</p>
<p style="text-align: justify;">Sedangkan dengan mama, aku sudah mulai jarang menyetubuhinya atas permintaan mama sendiri dengan alasan tertentu tentunya. Dalam satu bulan hanya 2 kali. Itulah pengalaman kisah nyata aku. Aku tuliskan dengan sebenarnya.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ceritasex.cn/mama-dan-tante-rina/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tante Sarah Bandung</title>
		<link>http://www.ceritasex.cn/tante-sarah-bandung/</link>
		<comments>http://www.ceritasex.cn/tante-sarah-bandung/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 12 Aug 2011 23:23:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cerita Sex</dc:creator>
				<category><![CDATA[Foto Mesum]]></category>
		<category><![CDATA[Sedarah]]></category>
		<category><![CDATA[Tante Girang]]></category>
		<category><![CDATA[bandung]]></category>
		<category><![CDATA[hubungan sedarah]]></category>
		<category><![CDATA[incest]]></category>
		<category><![CDATA[softcore]]></category>
		<category><![CDATA[tante]]></category>
		<category><![CDATA[tante sarah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ceritasex.cn/?p=2787</guid>
		<description><![CDATA[Hmmm&#8230; emang gak bisa di tawar-tawar lagi bandung emang paris van java tiada duanya di Indonesia. Ini ada foto mesum tante sarah dan keponakannya&#8230; incest nih kayaknya hubungan sedarah, waduh waduh gawat ini&#8230;]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Hmmm&#8230; emang gak bisa di tawar-tawar lagi bandung emang paris van java tiada duanya di Indonesia. Ini ada foto mesum tante sarah dan keponakannya&#8230; incest nih kayaknya hubungan sedarah, waduh waduh gawat ini&#8230;</p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2011/08/tante-sarah-bandung.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-2789" title="tante-sarah-bandung" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2011/08/tante-sarah-bandung-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a></p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2011/08/tante-sarah-bandung-1.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-2790" title="tante-sarah-bandung-1" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2011/08/tante-sarah-bandung-1-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a></p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2011/08/tante-sarah-bandung-2.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-2791" title="tante-sarah-bandung-2" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2011/08/tante-sarah-bandung-2-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a></p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2011/08/tante-sarah-bandung-3.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-2792" title="tante-sarah-bandung-3" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2011/08/tante-sarah-bandung-3-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a></p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2011/08/tante-sarah-bandung-4.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-2788" title="tante-sarah-bandung-4" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2011/08/tante-sarah-bandung-4-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ceritasex.cn/tante-sarah-bandung/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>The Club</title>
		<link>http://www.ceritasex.cn/the-club/</link>
		<comments>http://www.ceritasex.cn/the-club/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 10 Jul 2011 18:35:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cerita Sex</dc:creator>
				<category><![CDATA[Daun Muda]]></category>
		<category><![CDATA[Sedarah]]></category>
		<category><![CDATA[Seks Umum]]></category>
		<category><![CDATA[gadis]]></category>
		<category><![CDATA[incest]]></category>
		<category><![CDATA[klub]]></category>
		<category><![CDATA[kontol]]></category>
		<category><![CDATA[ngentot]]></category>
		<category><![CDATA[orgasme]]></category>
		<category><![CDATA[shelly]]></category>
		<category><![CDATA[telanjang]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ceritasex.cn/?p=2615</guid>
		<description><![CDATA[Joseph telah lama menantikan malam ini. Semua orang selalu membicarakan tentang klub itu tetapi tak seorangpun akan mekatakan secara persisn apa yang ada di dalam klub itu. Banyak issue yang mengatakan bahwa sering diadakan pesta sex liar untuk anggota klub. Pada usia ke 15, ia telah banyak memikirkan masalah sex. Ia juga telah banyak menjumpai [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Joseph telah lama menantikan malam ini. Semua orang selalu membicarakan tentang klub itu tetapi tak seorangpun akan mekatakan secara persisn apa yang ada di dalam klub itu. Banyak issue yang mengatakan bahwa sering diadakan pesta sex liar untuk anggota klub. Pada usia ke 15, ia telah banyak memikirkan masalah sex. Ia juga telah banyak menjumpai para anggota yang susianya sebaya dengannya atau sedikit lebih muda. Malam ini dia berniat untuk mendaftar ke dalam klub itu. akhirnya ia akan menemukan apa yang selama ini diperbincangkan orang. Tak seorangpun akan menceritakan kepadanya tentang maksud mereka masing-masing. Bermacam-Macam pikiran jelek timbul dikepalanya ketika dia sedang duduk menunggu diluar ruang pertemuan itu. Sampai kemudian mereka memanggilnya untuk masuk keruang tersebut. Ruangan pertemuan itu terletak diluar ruang tidur pimpinan club. Ia bisa dengar pergerakan dan tertawa genit yang berlangsung di dalam kamar tersebut. Untuk pertama kali dalam hidupnya dia mendengar suara wanita seperti itu. Ia melihat pada dirinya sendiri.</p>
<p style="text-align: justify;">Ia telah mengenakan pakaian persis seperti apa yang telah diperintahkan; sepasang celana dan kemeja, dan telanjang kaki tanpa mengenakan sepatu. Shelly adiknya yang berusia 13 tahun melihatnya ketika dia pergi dan bertanya mau pergi kemana. Dia hanya mengatakan kepadanya agar tidak mencampuri urusannya dan kemudian pergi tanpa mengatakan apapun kepada adiknya yang cerewet itu. Gagasan untuk melakukan pembuatan itu datang dari para tetangganya. Ia pikir sebaiknya segera bangun dan metinggalkan tempat itu. Akan tetapi sudah terlambat, piintu telah terbuka dimana Ralph. Sang pemimpin muncul dihadapannya. Ia berdiri dengan mengenakan celana pendek memegang topeng Halloween plastik. Ralph kemudia menghampirinya. Buka pakaianmu dan pakai ini.” katanya sambil memberikan topeng itu. Joseph tidak dapat menolak. Tapi dia ragu-ragu untuk melepas semua pakaiannya. Ada orang lain disana yang bisa melihatnya telanjang bulat. Tidak pernah sebelumnya ada orang yang melihatnya telanjang, kecuali, dia duga suatu ketika Shelly pernah mengintipnya, tapi dia adalah adiknya sehingga tidak pernah diperhitungkan.</p>
<p style="text-align: justify;">Ralph melihat keraguannya. &#8220;Jika kamu tidak ingin masuk klub, aku tidak memaksanya.” “Tidak, aku benar-benar ingin masuk,” kata Joseph segera sambil melepas bajunya. Ralph tersenum melihatnya. “Bagus, segera buka pakaianmu dan pakai topeng.” Joseph segera melepas semua pakaiannya, ia tidak ingin mengambil resiko buat keanggotaan klubnya. Kemudian dia berdiri didepan Ralph tanpa sehelai benangpun kecuali topeng. Ralph melihat kebawah kearah lemaluan Joseph dan tersenyum kecil, “Kita akan memperbaikinya segera, ayo masuk kedalam!” Joseph mengikuti sang pemimpin masuk kedalam kamarnya. Laki-laki anggota klub lainnya ikut masuk, Ada 7 orang didalam kamar itu, semuanya hanya memakai celana pendek. Dan dia segera melihat bahwa diatas tempat tidur ada anak lain yang juga memakai topeng, dan selimut menutupi tubuhnya sehingga dia tidak tahu siapa dia. “Ini ujian buatmu!” kata Ralph. Joseph melihat kearah sang pemimpin yang berjalan ke tempat tidur. “Kamu harus lakukan apa yang kita perintahkan. Pertama, kepada semua diruang ini, kalian tidak boleh berbicara apa-apa sampai semuanya selesai.”</p>
<p style="text-align: justify;">Ralph memegang ujung sudut selimut dan pelan-pelan menariknya. Joseph segera dapat melihat kemulusan kulit yang hanya dimiliki seorang gadis. Kemudia ketika ia melihat dengan jelas sepasang bukit dada kecil yang menggairahkan, penisnya pun segera bangkit. Ia merasa batang penisnya menjadi lebih keras dan lebih keras lagi ketika melihat semakin banyak bagian tubuh telanjang anak gadis itu. Gadis cilik itu tiba-tiba merasa malu dan segera menutup sepasang buah dada kecilnya itu dengan lengan tangannya. “Kamu harus tetap terbuka jika kamu ingin masuk kedalam klub.” Kata Ralph yang dapat didengar oleh Joseph dengan jelas. Dan gadis cilik itupun segera menurunkan tangannyanya. Joseph tiba-tiba mernysadari bahwa ia bukan satu-satunya yang akan diproses masuk ke dalam klub malam ini. “Kemari kamu.” Kata Ralph kepada Joseph. Joseph segera mendekat dan berdiri disamping Ralph sehingga langsung berhadapan dengan tubuh telanjang itu. Dari lekukan tubuhnya itu menunjukan dengan bahwa tubuh anak gadis itu baru mulai berkembang.<br />
<span id="more-2615"></span><br />
Joseph benar-benar terpesona melihat tubuh yang sangat menggairahkan ini. Ini adalah juga untuk pertama kalinya ia melihat seorang anak perempuan yang telanjang secara nyata. Ia merasa akan orgasme hanya kerena melihat kemolekan tubuh gadis cilik ini. Ralph cukup waspada dengan keadaan Joseph. Dia tidak mau membiarkan terjadinya kegagalan pada proses upacara ini, maka segera memberi instruksi yang berikutnya nya. “Aku ingin kamu segera orgasme diatas dadanya.” Kedua-duanya Joseph dan anak perempuan saling berpandangan dengan shock. “Well, kamu sudah berjanji akan mengikuti perintah kami, segera lakukan itu!” Joseph memang sudah merasakan bahwa penisnya sudah berdenyut-denyut nikmat sebagai tanda bahwa orgasmenya sudah tidak lama lagi, segera mengangguk kearah sang pemimpin, kemudian kembali melihat kearah tubuh anak gadis cilik yang sangat menggairahkan itu, sambil menggusap-usap batang penisnya. Si gadis cilik cuman bisa diam terbengong-bengong tidak tahu harus melakukan apa. Dan gadis itu mulai tegang dan terangsang melihat anak laki-laki asing yang sedang melakukan onani didepanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Tanpa disadarinya, tanganya mengusap-usap kulit tubuhnya yang mulus, dan beberapa saat kemudian beberapa kali semburan yang cukup kuat dari sperma Joseph menimpa sepasang bukit dadanya yang baru mulai mengembang itu. Kejadian itu membuatnya jijik dan sekaligus menggairahkan perasaan birahi gadis cilik ini. Cairan sperma berwarna putih susu yang kental, liat dan lengket itu sepertinya membuat gairah gadis cilik ini semakin membara, juga kepada anak laki-laki asing yang demikian bergairah sehingga orgasme hanya karena melihat tubuhnya yang telanjang bulat itu. “Ambil sperma itu dan usap-usapkan ke vaginamu sampai kamu juga orgasme.” Perintah Ralph pada gadis cilik itu. Sekali lagi keduanya terkejut dan saling pandang. Gadis cilik itu membuka mulutnya untuk mengatakan sesuatu, tapi segera dipotong Ralph. “Ingat instruksi yang pertama, tidak ada yang boleh bicara!” Pertama-tama gadis cilik itu benar-benar shock, akan tetapi kemudian mulai menhikuti perintah Ralph dengan patuh; meraup cairan sperma didadanya dan mengusapkannya ke vaginanya dan digosok-gosokkannya ke celah-celah vaginanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Dia memang pernah melakukan onani seperti tu, kadang-kadang juga dengan menggunakan minyak baby oil, tapi tidak pernah terbanyang dalam pikirannya bahwa dia akan menggunakan cairan sperma untuk beronani sampai orgasme. Perasaan malu, takut dan bergairah saling berpacu dalam diri gadis cilik ini tapi segera dilupakannya, dia segera berkonsentrasi untuk membuatnya mencapai orgasme tanpa perduli lagi bahwa hal itu bisa membuatnya hamil. Joseph juga benar-benar menikmati proses untuk orgasme gadis cilik itu. Penisnya dengan cepat bangkit lagi. Ia kembali mengocok-kocok batang penisnya lagi, tetapi Ralph segera mencegahnya. Joseph jadi gelisah dengan berkobarnya kembali gairah seksualnya, tapi dia menuruti perintah Ralph sambil menikmati pemandangan menggairahkan dari sesosok gadis cilik dihadapannya itu. Gadis cilik itu sampai menggigit bibirnya untuk menahan agar dia tidak mengeluarkan suara. Gejolak gairah seksualnya benar-benar telah menyelimuti seluruh tubuhnya. Tubuhnya bergetar ketika setapak-demi setapak dia mencapai puncak orgasmenya.</p>
<p style="text-align: justify;">“Perhatikan baik-baik,” kata Ralph kepada Joseph. “Usahakan sekuatnya untuk menahan spermamu sampai waktunya nanti kau masukkan kedalam vaginanya dan jadilah ayah dari anak bayimu.” Pernyataan Ralph semakin meningkatkan gairah seksual gadis cilik itu sehingga akhirnya dibarengi dengan keluhan agak keras, tubuh gadis cilik itu mengejang dan bergetar ketika dia mencapai puncak orgasmenya. Beberapa saat kemudia tiubuh itu tergoleh lemas. “Sekarang aku ingin kamu mengambil keperawanannya seperti juga dirinya mengambil keperjakaanmu.” “Hah?” seru gadis cilik dari balik topengnya. Matanya melotot lebar ketakutan. Joseph tidak berkata apa-apa selain memandang Ralph dengan penuh keraguan. Ralph hanya mengibas-ngibaskan jarinya pada mereka berdua dan berkata lagi, “Kamu benar-benar ingin di menjadi anggota klub, ya kan?” kedua pasang remaja cilik itupun saling pandang dan kemudian mengangguk hapir bersamaan. Gadis cilik segera membuka pahanya, yang memberikan tanda kepada Joseph bahwa dia sudah siap. Joseph melihat vagina cilik itu berkilat basah oleh cairan spermanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Pemandangan itu benar-benar semakin meningkatkan gairahnya, sehingga dengan ragu-ragu diusapnya dengan lembut bagian paling rahasia dari gadis cilik ini. Mereka saling pandang, tapi masing-masing tidak bisa melihat perubahan mimik wajah mereka yang tertutup topeng. Selama ini Joseph tidak pernah menyentuh seorang gadis, ini pengalaman pertamanya bersama gadis cilik ini, demikian pula si perawan cilik ini. Benar-benar detik-detik yang sangat mendebarkan buat keduanya ketika penis Joseph ditempelkan dan ditekan di gerbang liang kecil vagina itu. Tubuh mereka berdua bergetar seiring dengan deru napasnya yang semakin cepat. Sampai Gadis cilik itu mengerang tertahan ketika pelahan-lahan ujung penis Josep yang bulat melesak masuk keliang sempit itu. Joseph juga mengerang pelan ketika merasakan jepitan kuat diujung penisnya. Pemuda itu jadi semakin bersemangat menekan penisnya sampai tiba-tiba dia merasa ujung penisnya menabrak dinding keperawanan gadis cilik itu. gadis cilik ini ternyata juga masih perawan tulen seperti juga dirinya.</p>
<p style="text-align: justify;">Joseph benar-benar berjuang keras, disamping berusaha keras menjebol keperawanan gadis cilik ini, dia juga berusaha sekuat tenaga menahan agar spermanya tidak muncrat dulu sebelum menyelesaikan tugasnya. Ini benar-benar perjuangan sulit buat Joseph, karena jepitan dinding vagina gadis cilik itu begitu kuatnya sehingga menimbulkan kenikmatan yang sangat luar biasa, yang benar benar tidak pernah terbayangkan sebelumnya. Gadis cilik itu juga merasakan perasaan yang serupa. Disamping rasa sakit, dia juga merasakan kenikmatan yang teramat luar biasa sehingga dia tidak mampu lagi menahan diri untuk tidak desisan dan rintihan nikmat yang keluar dari mulutnya. Pinggulnya sampai terangkat-angkat menahan gempuran penis Joseph. Sesaat Joseph menghentikan gerakannya. Dia perlu konsentrasi sejenak untuk segera menyelesaikan tugasnya. Mereka saling pandang tanpa mengucapkan sepatah katapun. Joseph melihat sorot mata gadis cilik ini memohon dengan amat sangat agar dia segera menuntaskan tugasnya. Perawan cilik ini benar-benar sudah pasrah sepenuhnya untuk menyerahkan keperawanannya apapun yang terjadi.</p>
<p style="text-align: justify;">Joseph menarik sedikit ujung penisnya, kemudian dengan tanpa memberikan aba-aba dia tekan dengan cepat dan kuat penisnya, tembuslah benteng keperawanan gadis cilik ini. Pemuda ini tidak tega memandang mata gadis cilik ini, dia yakin pasti gadis ini merasakan kesakitan, tapi ini adalah cara yang terbaik yang bisa diusahakan. Joseph pun terus menekan penisnya sehingga seluruh batang penisnya tenggelam kedalam liang perawan itu. Gadis itu sepertinya sudah tidak perduli lagi dengan rasa sakit yang dideritanya, dengan penuh semangat dipeluknya tubuh pemuda itu, pinggullnya digerakkan kekiri dan kekanan mengimbangi gerakan Joseph, sesaat kemudian keduanya menjerit keras hampir bersamaan ketika keduanya mencapai puncak orgasmenya yang paling dasyat. Joseph merasakan betapa spermanya berkali-kali menyemprot kuat didalam liang perawan itu. Kemudian kedua remaja cilik ini terkulai sambil berpelukan. Mereka dengan jelas mendengar dengan jelas betapa napas pasangannya masih memburu seperti baru selesai lari marathon. Joseph terkejut ketika melihat sekeliling, Ralph sekarang sudah telanjang bulat sedang ngentot adiknya Cathy dengan buasnya, demikian pula anggota klub lainnya juga sedang ngentot dengan pasangannya masing-masing yang dia kenal sebagai keluarga mereka sendiri.</p>
<p style="text-align: justify;">Tanpa dapat menahan diri lagi, Joseph melepas topengnya sambil berseru, “Apa yang sedang terjadi disini?” “Joseph?” jerit tertahan gadis cilik dibawahnya. Suara itu begitu sangat dikenalnya. Dengan penis masih tertanam penuh diliang vagina gadis dibawahnya ini, dia buka topeng gadis ini. Ternyata dia adalah Shelly, adik perempuannya sendiri yang baru berusia 13 tahun. Dia benar-benar tidak memimpikannya untuk berhubungan sex dengan adiknya sendiri. “Shelly!” hanya itu yang bisa muncul dari mulutnya. Kedua bibir mereka kemudian saling berciuman, saling mengunci dan menghisap dengan ganas, tangan-tangan mereka saling mengelus, meraba dan mengusap ketubuh pasangannya. Joseph merasakan penisnya langsung tegang lagi, dan kembali pinggulnya digerakkan naik-turun. Shelly juga menjadi demikian bergairah, bahkan lebih dari tadi ketika pemuda itu memerawaninya. Dipeluknya tubuh kakaknya dengan penuh kasih sayang, dan pinggulnya digerakkan kekiri-kekanan lebih cepat mengimbangi gerakan pinggul kakaknya. Kemudian mereka kembali tenggelam dalam arus birahinya, berhubungan intim dengan ritme yang lebih menggelora.</p>
<p style="text-align: justify;">Shelly sampai orgasme empat kali lagi sebelum Joseph mencapai orgasmenya yang ketiga. Mereka benar-benar lupa akan keadaan sekelilingnya, dimana semua anggota klub juga sedang berhubungan intim dengan pasangannya masing-masing yang sekaligus juga keluarganya mereka sendiri. Tapi Joseph dan shelly melakukannya bukan hanya karena dorongan nafsunya, keduanya juga saling mengasihi dan mencintai sepenuh hatinya. “Ini adalah rahasia terbesar dari klub ini!” kata Joseph kepada adiknya. “Ya.” Jawab Shelly, “Ini juga merupakan rahasia terbesarku, karena akhirnya aku bisa memberikan kasih sayang dan cintaku kepadamu, Joseph.” Katanya sambil mengerling manja dan penuh kasih sayang.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ceritasex.cn/the-club/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>The Fallen Princess 4: Final Target</title>
		<link>http://www.ceritasex.cn/the-fallen-princess-4-final-target/</link>
		<comments>http://www.ceritasex.cn/the-fallen-princess-4-final-target/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 01 Jul 2011 22:13:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cerita Sex</dc:creator>
				<category><![CDATA[anal seks]]></category>
		<category><![CDATA[Daun Muda]]></category>
		<category><![CDATA[Gangbang Rame Rame]]></category>
		<category><![CDATA[Pemerkosaan]]></category>
		<category><![CDATA[Sedarah]]></category>
		<category><![CDATA[Seks Umum]]></category>
		<category><![CDATA[anita]]></category>
		<category><![CDATA[bambang]]></category>
		<category><![CDATA[binal]]></category>
		<category><![CDATA[gangbang]]></category>
		<category><![CDATA[incest]]></category>
		<category><![CDATA[masturbasi]]></category>
		<category><![CDATA[memek]]></category>
		<category><![CDATA[ml]]></category>
		<category><![CDATA[ngentot]]></category>
		<category><![CDATA[penis]]></category>
		<category><![CDATA[renata]]></category>
		<category><![CDATA[vagina]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ceritasex.cn/?p=2551</guid>
		<description><![CDATA[“mmm…hhhmmm…”. Renata tidur terlentang di kasurnya. Tangannya bergerak lemah lembut mengelus-elus bibir vaginanya sendiri. Di malam yang sepi itu, Renata sendirian di kamarnya dan entah kenapa nafsunya sedang tinggi. Setelah ‘memanaskan’ vaginanya, Renata mengambil sebuah dildo. Dildo kesayangan Renata karena bentuknya besar dan panjang mampu membuat orgasmenya benar-benar maksimal. “uuummmhh..”, Renata mengulum bibir bawahnya menikmati [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2011/07/renata.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-2552" title="renata" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2011/07/renata-227x300.jpg" alt="" width="227" height="300" /></a></p>
<p style="text-align: justify;">“mmm…hhhmmm…”. Renata tidur terlentang di kasurnya. Tangannya bergerak lemah lembut mengelus-elus bibir vaginanya sendiri. Di malam yang sepi itu, Renata sendirian di kamarnya dan entah kenapa nafsunya sedang tinggi. Setelah ‘memanaskan’ vaginanya, Renata mengambil sebuah dildo. Dildo kesayangan Renata karena bentuknya besar dan panjang mampu membuat orgasmenya benar-benar maksimal. “uuummmhh..”, Renata mengulum bibir bawahnya menikmati benda tumpul yang terus masuk ke dalam vaginanya. Begitu sudah seluruhnya masuk ke dalam liang vaginanya, Renata menekan tombolnya. “ooohhh !!! Maanhhh !!”, Renata mendesahkan nama Arman. Arman, sang bandar narkoba, kini telah tiada. Tewas ditembak polisi saat penggrebekkan. Renata merasa sangat kehilangan meski Arman hanyalah sampah masyrakat dan wajahnya jelek, tapi Renata sudah terlanjur bertekuk lutut kepada Arman dengan ‘tongkat sakti’nya. Dildo yang sedang mengaduk-aduk vagina Renata itu mempunyai 2 variasi gerakan. Pertama, bergerak ke kanan dan kiri selama 6 detik. Kedua, berputar di poros selama 4 detik lalu kembali ke gerakan pertama, dst.</p>
<p style="text-align: justify;">Saat Renata sedang menikmati dan menghayati gerakan dildo di vaginanya, tiba-tiba pintu kamar Renata terbuka. Renata menarik selimut untuk menutupi bagian bawah tubuhnya. “kak?”. Ternyata yang masuk adalah adik angkatnya, Andre. “kakak lagi ngapain?”. Andre mendengar suara berdengung. Andre melihat mata Renata sayup-sayup dan tubuhnya bergetar. Andre menarik selimut Renata dan menemukan suara dengung itu berasal dari dildo yang menancap di vagina kakaknya. “tu…tuuphh…piint..ttuuhh..”, lirih Renata pelan. “oke..kak..”. Andre menutup dan mengunci pintu kamar Renata lalu berdiri di ujung tempat tidur Renata. Andre pun menonton kakaknya. Memandangi vagina kakaknya yang tertutup pangkal dildo. Andre tersenyum, menatap vagina yang telah menjadi tempat ‘bermukim’ bagi burung mudanya itu selama 2 tahun terakhir. Ya, benar, hubungan Andre dan Renata bukan kakak-adik angkat biasa. Setiap hari selama 2 tahun terakhir, Andre tidak pernah tidur di kamarnya, dia selalu tidur di kamar Renata. Hubungan ini bermula ketika Andre berumur 13 tahun saat masih duduk di kelas 1 SMP.</p>
<p style="text-align: justify;">Sebenarnya, Andre adalah cucu dari pembantu Renata yang sudah lama meninggal. Saat Andre masih berumur 2 tahun, keluarganya hanya tinggal neneknya. Kedua orang tuanya entah kemana, tak ada kabar. Kakeknya pun meninggal dunia saat Andre baru berumur 6 bulan. Kedua orang tua Renata memutuskan untuk mengadopsi Andre karena nenek Andre sudah dianggap seperti keluarga sendiri oleh keluarga Renata. Renata pun tidak keberatan Andre menjadi adiknya. Awalnya, seperti anak kecil lainnya, Andre sering menjahili Renata. Tapi, ketika hormon-hormon Andre mulai bekerja dan membuat Andre jadi memperhatikan lawan jenis, Andre baru sadar kalau kakak angkatnya itu cantik sekali. Dari ‘pengalaman’ bermain internet yang Andre lakukan mulai dari kelas 4 SD (anak sekarang cepat dewasa karena internet, ya kan? hhi), penis kecil Andre sering tegak jika berdekatan dengan Renata yang waktu itu baru kelas 3 SMP. Saat Renata sudah masuk SMA. Andre semakin tergila-gila dengan Renata bahkan Andre sering membayangkan Renata bugil di depannya.</p>
<p style="text-align: justify;">Andre jadi salah tingkah jika di dekat Renata. Renata sebenarnya memperhatikan tingkah adik angkatnya itu, tapi tidak memperhatikannya karena Renata terlalu sibuk membangun reputasi di sekolahnya. Saking memuja-muja kakak angkatnya, dan Renata pun muncul sebagai pasangan Andre di mimpi basahnya saat berumur . “oohh…kak Rena…aahhh”, Andre mengocok penisnya sendiri sambil memegang cd yang ada di ranjang Renata. Andre menempelkan cd Renata ke hidungnya sambil terus mengocok penisnya sendiri. Aroma vagina Renata masih melekat erat di cd itu karena cd itu habis dipakai Renata kemarin dari sore hingga pagi. Pagi itu, Renata terlambat jadi dia mengganti cdnya dan asal membuang cdnya itu ke tempat tidur. Rupanya, sejak mimpi basah, Andre jadi semakin nekat. Andre sering mengendap-endap ke kamar Renata yang sering tak terkunci lalu Andre mengendus-endus cd dan bh Renata sambil onani. “Andre ??!!”. “hah?!”. Andre kaget bukan kepalang, kakaknya berdiri di pintu kamar padahal dia masih memegang cd kakaknya dan menggenggam penisnya.<br />
<span id="more-2551"></span><br />
Andre keringat dingin, dia tahu tidak bisa mengelak lagi, tertangkap basah. Andre hanya bisa menaikkan celananya sementara Renata mengunci pintu kamar. “jadi kamu…yang bikin bh ama cd kakak banyak yang lengket…”. “ng…ng…”. “sini…kamu mesti cerita ke kakak…udah lama kamu gak cerita-cerita ke kakak..”. Renata menuntun Andre duduk di ranjangnya. Tangan Andre gemetaran, takut sekaligus malu. “kenapa nyiumin cd kakak?”. “mm…ng..”. Andre hanya tertunduk malu tak mampu berkata-kata. “ayo…jawab aja..gak apa-apa kok…”, kata Renata sambil mengelus-elus kepala adiknya. “mm…wanginya….enak, kak…”. “oh…jangan-jangan kamu udah mimpi basah ya?”. “i..iya kak..kok..ka…kak tau?”. “ya kalo belom mimpi basah…mana mungkin kamu jadi nekat gini..”. “ng…ka..kak..marah?”. “nggak kok…tenang aja..”. Renata merangkul Andre. “emang kamu mimpi basah ama siapa? jujur ya ama kakak…”. “mm…sama kakak…”. “ha? sama kakak? kok?”. “kakak..cantik…”. “oh..ah kamu Ndre..ada-ada aja…”. “jangan bilang papa mama, kak…”. “iya-iya..”. “Andre janji…gak bakal bayangin kak Rena lagi..”.</p>
<p style="text-align: justify;">Renata tersenyum dan tiba-tiba berjongkok di depan Andre lalu melorotkan celana Andre. Terpampanglah burung muda itu di hadapan Renata yang sudah kehilangan kesuciannya sejak 1 SMA. Renata kaget juga, Andre yang baru kelas 2 SMP sudah mempunyai penis sebesar pacarnya, kira-kira 16 cm. Tadinya, Renata hanya penasaran saja dengan ‘perkembangan’ adiknya. Tapi, setelah melihat ukuran penis adiknya, nafsu pun mulai menguasai pikiran Renata yang sudah menjadi maniak seks waktu itu. “kakak ngapain?!?”. “udah..kamu tenang aja…”. Renata sudah gelap mata, tidak memikirkan lagi yang di depannya adalah adiknya sendiri, penis itu terlalu menggoda bagi Renata untuk ditutup lagi. “eehhh…”, Andre merinding merasakan listrik seperti mengalir di sekujur tubuhnya saat Renata mulai menciumi batang penis Andre. “oohhh..enaakhhh…kakkhhh…ooohh…”. Andre mengerang-erang mengeluh-eluhkan kakaknya yang menjilati burungnya. Renata terlihat sangat menikmati alat kelamin adiknya itu, tak ada yang lupu dari sapuan lidahnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Penis yang baru saja disunat 1 bulan kemarin itu habis diemut-emut dan dijilat-jilat oleh Renata, zakar Andre pun menjadi bulan-bulan Renata. Sekitar penis Andre pun sudah basah kuyup dengan air liur Renata. Andre terus mendesah dan mendongakkan kepalanya. Andre merasa seperti di surga, belom pernah dia rasakan kenikmatan seperti. Geli, hangat, dan nikmat terasa di selangkangan Andre. Andre tak pernah membayangkan kalau oral seks yang dia baca dari internet selama ini akan sangat nikmat, apalagi yang sedang mengoralnya adalah cewek cantik yang merupakan impiannya yaitu kakaknya sendiri. Semakin lama, Renata jadi semakin bersemangat sendiri. “enaakhhh…”, lirih Andre merasakan penisnya basah, hangat, dan nyaman karena seluruh batangnya telah berada di dalam mulut Renata sepenuhnya. Renata menggigit-gigit kepala dan leher penis Andre dengan gemas. Tubuh Andre menggelinjang-gelinjang saat Renata menggunakan lidahnya untuk mengorek-ngorek habis lubang kencing Andre. Andre tak bisa menahan lagi ‘serangan’ lidah Renata dan akhirnya menumpahkan air mani ke dalam mulut wanita untuk pertama kali alias perdana dan wanita itu kakaknya yang sangat cantik.</p>
<p style="text-align: justify;">“aahh..udahhh kakhh…uuuhh…”, Andre minta ampun karena Renata terus mengemut-emut kepala penisnya yang mulai terasa agak ngilu. Setelah yakin sperma Andre sudah benar-benar tak bersisa, Renata pun mengeluarkan penis adiknya itu dari mulutnya. Renata membuka mulutnya, menunjukkan mulutnya yang penuh sperma ke Andre sebelum akhirnya Renata menelan sperma Andre. Renata berdiri dan tersenyum ke Andre. Andre sendiri, masih ngos-ngosan dan bengong masih tak percaya, penisnya baru saja diemuti oleh kakaknya. “gimana, Ndre? enak gak?”. “eh..eh..enakhh..bangethh..kak..”. Renata belum selesai memberi kejutan ke adiknya. Renata melucuti pakaiannya tepat di hadapan Andre. “gimana…bagus gak badan kakak?”, tanya Renata bertolak pinggang lalu berputar-putar bak model sedang memamerkan tubuhnya. “ba..ba..guss..”. Impian Andre terwujud. Kini, kakaknya berdiri di depannya tanpa sehelai benangpun melekat di tubuh kakaknya. Seperti mimpi Andre, tubuh kakaknya sexy, putih mulus, apalagi payudara dan pantatnya, begitu bulat dan terlihat kenyal dan padat.</p>
<p style="text-align: justify;">Renata mendekat ke Andre lalu menuntun tangan Andre ke belakang sehingga kedua tangan Andre tepat berada di kedua bongkahan pantat Renata. Nafas Andre cepat, vagina Renata kini tepat berada di depan matanya. “eits..gak boleh…”. Renata beberapa kali menahan kepala Andre yang maju mendekati vaginanya. “kenapa, kak?”, nafsu sudah membuat Andre tidak canggung lagi. “kakak capek..baru pulang..ntar malem aja ya..”. “sekarang aja deh kak…”. “eh..bandel banget..”. Andre kelihatan sudah tidak sabaran. “kakak janji deh..kalo kamu dateng ke kamar kakak jam 9..kamu boleh ngapain aja…”. “bener kak??”, seperti anak kecil mendapat permen, Andre kelihatan sangat bahagia. “iya…”. Renata melepaskan rangkulan Andre di pinggangnya lalu mendirikan Andre. Renata menaikkan celana Andre. “udah sana…kakak mau istirahat…”. “tapi bener ya kak…ntar malem…Andre boleh ke sini lagi?”. “iya..iya..”. Malam harinya, Andre pun datang ke kamar Renata untuk tidur bersama atau lebih tepatnya meniduri kakak angkatnya. Sejak saat itu, Andre tak pernah tidur di kamarnya lagi.</p>
<p style="text-align: justify;">Dia selalu mengendap-endap ke kamar Renata tanpa sepengetahuan orang tua angkatnya. Renata tidak keberatan ‘menerima’ Andre setiap malam karena penis Andre cukup untuk memuaskan nafsunya yang memang tinggi itu. Dan bagi Andre, tak usah ditanya lagi. Dari pagi sampai sore, yang ada di otak Andre hanyalah Renata dan ingatan tentang betapa nikmatnya menyetubuhi kakaknya itu. Renata mengajari Andre, dan kadang Andre mempraktekkan yang diliatnya di internet ke kakaknya. “OOOUUHHH !!”, Renata melenguh dan menekuk ke atas. Andre mencabut dildo dari vagina kakaknya. Dan tanpa minta izin, Andre langsung menempatkan kepalanya di selangkangan Renata dan langsung menyerang vagina Renata dengan lidahnya. “ouhh..Ndree..mmhhh…”. Renata menggeliat-geliat dan melebarkan kedua pahanya selebar mungkin menerima kehadiran Andre di selangkangannya dengan senang hati meski tiba-tiba. Andre merasa tak perlu lagi minta izin ke Renata untuk melahap daerah pribadi kakaknya itu karena vagina kakaknya sudah seperti menjadi milik Andre. Lidah Andre begitu lihai mengorek-ngorek vagina Renata.</p>
<p style="text-align: justify;">Renata menekan kepala Andre agar tetap di selangkangannya. Renata merasa nikmat luar biasa, Andre sudah mahir sejak ia ajarkan. “Ndreee !!!”, erang Renata, kembali orgasme. Andre tak menyia-nyiakan cairan vagina Renata, diseruputnya hingga habis tak bersisa. Andre merangkak menaiki tubuh Renata lalu mencumbunya. Andre pun membagi cairan vagina itu dengan si pemiliknya melalui mulut. “kamu ngagetin aja…”, kata Renata manja. “hehe…abisnya bosen di kamar..mendingan ke kamar kakak..”. “ya kan bisa ketok dulu…”. “hehe..”. Andre membuka pakaiannya dan berdiri di samping tempat tidur Renata. Renata memiringkan tubuhnya dan menggengam penis Andre lalu membelai dan mengelus-elus penis itu. Renata sama sekali tidak bosan ‘berjumpa’ dengan penis Andre meski kemarin sudah bertemu karena penis yang sedang digenggamnya sekarang ini adalah penis favoritnya setelah penis Arman. Renata mulai menciumi kepala beserta batang penis Andre dengan mesra sementara tangan kanannya meremas-remas zakar Andre dengan lembut. Lidah Renata pun mulai lincah menari-nari di sekujur batang Andre.</p>
<p style="text-align: justify;">Penis Andre itu habis dikulum dan dijilati oleh Renata, basah kuyup oleh air liur. “hmm..enak banget kak…lagi dong kak..hehe..”. “uh..dasar kamu..”. Renata memukul batang penis Andre dengan pelan. “aduh kak…”. Sesuai permintaan adiknya tersayang, Renata pun mengulum penis Andre lagi. “udah belom?”. “udah kak..tar keluar..kan gak seru..hehe”. Andre pun menaiki tubuh Renata. Mereka berdua berciuman lagi. Saling melumat, memagut dan lidah mereka berdua saling mengait dan membelit, satu sama lain tidak ada yang mau mengalah. Wajah Renata diciumi dan dijilati Andre. Seperti tidak ada hari esok bagi Andre, nafsu Andre begitu menggebu-gebu ingin menikmati setiap senti dari tubuh kakaknya. Renata pasrah ditindih, berada di bawah adiknya sendiri, diciumi dan dijilati bertubi-tubi. “hihi..geli..gelii..udah..ahh..Ndree..”. Renata menggelinjang kegelian karena Andre menjilati kupingnya. Andre pun turun ke leher Renata dan mencupangi leher Renata yang sudah banyak bekas cupangannya. Renata memang membolehkan Andre mencupangnya dimana pun ia suka asal jangan di wajah.</p>
<p style="text-align: justify;">Orang tuanya pernah menanyakan noda-noda hitam di leher Renata, dan dengan enteng Renata menjawabnya dicupang oleh pacarnya. Orang tua Renata tidak mempermasalahkan lagi karena keluarga mereka memang bebas. Tapi, mereka tidak tahu yang sebenarnya kalau bekas-bekas di leher Renata itu dibuat oleh anak angkat mereka. Andre membenamkan kepalanya di belahan payudara Renata. Empuk dan hangat sekali terjepit di antara kedua buah payudara Renata yang putih nan montok itu. “fwaahhh…”. Andre pun mengambil nafas. Renata hanya tersenyum melihat kelakuan adiknya itu. Bagai bayi, Andre pun menyedot kedua puting Renata serta menggigitinya dengan gemas secara bergantian. Tangan kanan Andre bergerak menyusup ke selangkangan Renata dan mulai mengobok-obok vagina Renata. “oohh..oohhh…aahh…”. Renata pun dapat orgasme lagi padahal penis adiknya sama sekali belum menyentuh vaginanya. Andre sudah hafal betul titik tertentu di tubuh kakaknya sehingga mudah bagi Andre untuk membuat kakaknya terangsang dan orgasme hanya dengan ‘gerilya’ saja.</p>
<p style="text-align: justify;">Andre membuka dan menaruh kedua kaki Renata melewati pinggangnya. 2 senti kepala penis Andre sudah berada di dalam vagina Renata. Penis sang adik sudah siap menyatu dengan vagina sang kakak. Menyatu untuk menyamakan irama dan bekerja sama untuk mencapai puncak kenikmatan. “ayoo..Ndreee..hh..”, lirih Renata pelan. ‘benda tumpul’ Andre pun mulai menyundul masuk ke dalam liang vagina Renata. Bibir vagina Renata yang sudah beradaptasi dengan benda tumpul yang satu ini pun melebar menyesuaikan diameter penis Andre yang semakin jauh masuk ke dalam liang vagina Renata. Akhirnya penis Andre sudah mengait vagina Renata dengan kuat. Penis Andre terasa hangat dan nyaman sekali berada di tempat yang sempit itu. Andre memegang pinggang Renata dan mulai menggerakkan pinggulnya maju-mundur. Persetubuhan saudara sekandung pun dimulai. Jika alat kelamin mereka sudah bertemu seperti sekarang, mereka berdua sudah melupakan status mereka sebagai kakak adik. Keduanya hanya sepasang manusia yang sedang mengumbar hawa nafsu binatang mereka satu sama lain.</p>
<p style="text-align: justify;">Andre terus menghujami vagina Renata sambil mencumbui leher kakaknya itu. Cumbuan dari Andre membuat Renata semakin panas. Mereka berdua berpelukan erat. Orgasme melanda Renata.  Ia sangat menikmati tusukan-tusukan Andre yang sangat terasa di vaginanya dan Andre pun menikmati liang vagina Renata yang sempit dan hangat itu. Variasi gerakan dan ‘gocekan’ Andre membuat Renata semakin cepat orgasme. Andre sama sekali tidak berpikir untuk mengganti posisi, yang dia pikirkan hanyalah terus menghujami vagina kakaknya tanpa ampun karena sekali penis Andre masuk ke vagina kakaknya, rasanya tidak mau berhenti dan tidak mau keluar dari situ meski hanya untuk berganti posisi. Renata sebenarnya lebih suka berganti-ganti posisi, tapi Renata menyerahkan ke Andre karena Andrelah yang punya ‘tongkat’ untuk mengendalikannya. Dinginnya AC yang bersuhu 19 derajat celcius sama sekali tak berasa bagi mereka. Mereka sama-sama sudah terbakar api birahi, panas dan bahkan mereka berkeringat di dalam ruangan yang dingin. Keduanya sama-sama berpacu mencapai puncak kenikmatan.</p>
<p style="text-align: justify;">Renata mau penis adiknya itu tetap ‘mengganjal’ vaginanya selama mungkin, dan Andre sangat bernafsu membuat kakaknya puas. Tapi, Andre tidak bisa menahan lagi, spermanya sudah terasa ingin keluar di pucuk penisnya. Andre buru-buru mencabut penisnya lalu mengocok penisnya. “AAAKHHH !!!”. Andre menembaki belahan bibir vagina Renata. Meski sudah sering meniduri kakaknya, ada kepuasaan dan kebanggaan sendiri bagi Andre. Bagaimana tidak, baru kelas 3 SMP tapi sudah bisa menyetubuhi cewek cantik yang lebih dewasa darinya dan membuatnya kelelahan meski cewek itu kakaknya sendiri. Sperma Andre menuruni belahan bibir vagina Renata dan masuk ke dalam liang vagina Renata. Andre menghempaskan tubuhnya di samping Renata. Renata pun memalingkan tubuhnya. “hmm…”. Renata tersenyum sambil ngos-ngosan. Andre melayangkan kecupan-kecupan mesra ke bibir Renata. “coba tiap hari papa mama pergi terus ya kak…kan Andre enak bisa bebas ama kakak…hehe..”. “kamu…kalo papa mama pergi terus gak enak kan..gak ada yang ngasih duit…”. Renata mencubit pipi Andre.</p>
<p style="text-align: justify;">“oh iya ya..hehe..kak..Andre pengen nanya…kenapa kakak harus kuliah di luar kota sih? kenapa gak di sini?”. “ya kakak kan bosen..pengen ganti suasana…”. “tapi ntar Andre jadi gak bisa ketemu kakak dong?”. “ya ntar kalo kakak libur…kakak langsung pulang kok..”. Renata mengelus pipi Andre. “kalo Andre pindah bareng kakak aja gimana?”. “kamu kan masih sekolah…kelas 2 lagi…tanggung..mendingan kamu selesain dulu…”. “terus?”. “ya ntar kalo kamu udah lulus…kamu bilang aja ke papa mama mau sekolah di luar kota..ntar kamu tinggal ama kakak deh…”. “oh iya ya..jadi gak sabar pengen tinggal bareng kakak…hehe..”. “iya iya..”. Andre sudah membayangkan tinggal berdua saja dengan kakak angkatnya yang cantik itu. Kebebasan untuk menikmati tubuh indah kakaknya kapan pun dia inginkan tanpa takut ketahuan. “kak..Andre udah kedinginan nih..hehe..”. “huu..dasar kamu…”, kata Renata menoyor kepala Andre. Mereka lewati malam itu dengan penuh kehangatan bagai pengantin baru yang sedang menikmati malam pertama mereka. Andre tidak pernah merasa cukup, dia ingin terus menerus merengkuh kenikmatan dari tubuh kakaknya sehingga sampai 4 ronde mereka bermain dan akhirnya mereka berdua tertidur kelelahan. Beberapa hari kemudian, Renata sudah mendapat rumah kontrakan di dekat kampusnya dan sudah siap untuk pindah. Malam hari sebelum Renata pergi, seperti biasa, Andre menyusup ke dalam kamar Renata. Andre benar-benar memanfaatkan momen terakhir sebelum Renata pergi. Mereka berdua bersetubuh dengan nafsu yang menggebu-gebu 2 kali lipat dari biasanya. Andre benar-benar tak rela kakaknya itu pergi karena berarti tidak ada yang ‘mengeloni’nya lagi setiap malam. Renata pun agak berat hati meninggalkan Andre, mungkin Renata akan rindu dengan ‘kekasih’ mudanya ini. Keesokan harinya, Renata pun berdandan dan sudah siap pergi. Kebetulan hari itu hari Sabtu sehingga Andre tetap di rumah dan bisa melihat kakaknya sebelum meninggalkannya. Setelah berpamitan ke orang tuanya, saatnya Renata berpamitan ke Andre.</p>
<p style="text-align: justify;">“Ndre…kakak pergi dulu ya…”. “iya kak..ati-ati ya…”. Orang tua mereka tak curiga saat Andre memeluk Renata, wajar bagi mereka. Tapi, sebenarnya Andre memeluk Renata begitu erat karena Andre ingin merasakan kehangatan tubuh kakaknya untuk terakhir kali sebelum berpisah dengan kakaknya yang mungkin dalam waktu lama baru bisa bertemu lagi. Barulah, Renata masuk ke dalam mobil dan pergi menuju kota barunya. Dalam perjalanannya, Renata terus mencoba menghubungi Nadya yang tidak pernah ada kabar lagi setelah pemutaran perdana ‘film’nya saat prom nite. “cckiiittt…”. “aduhh…”. kepala Renata membentur dashboard saat dia ngerem mendadak. Sangat kesal dengan mobil yang menyalipnya tiba-tiba, Renata menekan klakson sekuatnya sambil memaki-maki. Mobil itu berhenti. Dengan marah, Renata turun dari mobilnya dan mendekati mobil di depannya. “eh..kalo nyetir yang bener dong lo !!!”. Renata berani karena memang dia tak salah apa-apa. Kaca terbuka, ternyata seorang bapak-bapak yang mengendarainya. “maaf..maaf…saya lagi buru-buru..”.</p>
<p style="text-align: justify;">“gak bisa…TURUN LO !!”. Bapak itu turun. “maaf…”. Berani karena benar memang betul, tapi waktu yang salah bagi Renata. “maaf..maaf..bapak itu bisa nyetir gak..ss..hmmppfffhhh…”. Renata meronta-ronta saat mulutnya dibekap dari belakang. “mmffhhh…”. Matanya mulai berat. Ternyata sapu tangan itu sudah disiram obat tidur. Renata pun terbius sudah, bapak yang menyetir itu membuka pintu mobilnya dan orang yang membius Renata mengangkat Renata dan memasukkan Renata ke dalam mobil. “lo urusin mobil itu…”. “ok…”. Renata terbangun, pusing sekali kepalanya, matanya juga masih berkunang-kunang, pandangan matanya masih kabur. “halo cantik…hehe…”. “gue dimana?”. “di surga..hahaha..”. Akhirnya kesadaran Renata kembali. “SIAPA LO SEMUA?!! LEPASIN GUE !!”, Renata meronta-ronta. Pergelangan tangan dan kakinya serta perutnya terikat ke kursi yang di dudukinya. “percuma aja lo..ngeronta-ronta kayak gitu…tenaga lo masih belom pulih..”. “LEPASIN GUE !! ANJING LO SEMUA !!”. “wahaha…kita dikatain anjing…”. “oh ye..nama die siape sih Jo?”.</p>
<p style="text-align: justify;">“bentar..hmm…namanya Renata Lavisha Putri..”, jawab Johan setelah melihat ktp Renata. “wah..wah..namanya bagus..pas sama mukanya..hehe..”. “TAI LO !!”. “buset..cakep cakep..ngomongnya kasar juga…perlu kita ajarin yang bener nih…”. Johan mendekat dengan sebuah pisau di tangannya. “MAU NGAPAIN LO ??!”. Renata ketakutan dengan pisau itu. Johan merobek baju Renata sekaligus bhnya. “buset…toketnye gede coy..”. “beuh…enak buat disedot…”. “TOLOONGG !!!”, Renata berteriak sekencang-kencangnya sambil terus berusaha melepaskan diri dari kursi. “gila ! suaranye nyaring banget !! Tung..sumpel nape..”. “oke..”. Untung melorotkan celana dan cdnya sendiri, lalu menyumpal mulut Renata dengan cdnya. Benar-benar tidak enak rasanya, disumpal dengan cd yang bau apek itu. “nah..kalo gini kan enak…sepi..wekekek..”. Merasa sudah tanggung, Untung pun melepaskan bajunya sehingga dia sendiri yang telanjang padahal 2 temannya masih lengkap memakai seragam coklat mereka. Bukan pramuka lho, polisi maksudnya. Melihat Johan yang sendirian saja mengenyoti kedua puting Renata, Untung tidak mau kalah.</p>
<p style="text-align: justify;">Untung langsung mengklaim payudara kiri Renata, sementara Johan tidak ada pilihan lain, kini dia hanya bisa menikmati payudara kanan Renata. “mmffhh…eeffhh !!”. Renata menggigit celana dalam yang menyumpal mulutnya. Karena puting Renata yang sangat kenyal itu, Johan dan Untung benar-benar ketagihan menggigitinya. “Jo…gantian napa?”. “nih…”. Bambang yang sudah telanjang menggantikan Johan. Johan menelanjangi dirinya sendiri. Lalu Untung dan Bambang yang dari tadi seperti lintah yang menyedoti puting Renata pun melepaskan payudara Renata. Mereka bertiga berdiri di depan Renata seperti ingin mempertontonkan penis mereka ke Renata. Bagi maniak seks seperti Renata, 3 batang di hadapannya menimbulkan rasa ‘gelitik’ di dalam dirinya. Besar, dan urat-urat di ketiga batang itu benar-benar membuat Renata lupa kalau dia sedang diculik dan sebentar lagi akan diperkosa. Tanpa perlu membayangkan, vagina Renata mengeluarkan cairannya sendiri, siap untuk menerima ‘tamu’. Johan dan Bambang menggosok-gosokkan penis mereka ke lengan dan payudara Renata.</p>
<p style="text-align: justify;">Sementara Untung menggesekkan penisnya ke telapak tangan Renata yang terbuka itu. Gosokan 3 penis itu membuat tubuh Renata menjadi hangat. Vagina Renata semakin banjir. Ikatan tangan dan kaki Renata dibuka karena 3 pria itu tidak sabar ingin melihat tubuh telanjang Renata. Pastilah daerah pribadi gadis secantik ini sangat mengunggah selera, pikir mereka bertiga. Masing-masing ‘ular’ mereka sudah tak sabar ingin merasakan hangatnya gua Renata. Johan membantu Renata berdiri. Bukan Renata kalau masih berontak setelah melihat 3 penis besar itu. Renata sengaja tidak melakukan perlawanan padahal bisa saja dia menendang atau menonjok mereka. Malah Renata seperti membantu mereka dengan mengangkat kedua kakinya bergantian saat Untung melepaskan celananya. “wah..neng..seneng ya kita perkosa? hehehek..”, Untung melecehkan Renata. Ada perasaan malu di dalam hati Renata, tapi mau apa dikata. “liat tuh…pantes aje…udeh basah duluan…”. Johan melihat titik basah di cd Renata tepat di tengah-tengah selangkangannya. Tanpa basa-basi, Bambang yang ada di depan Renata langsung ‘merogoh’ celana dalam Renata.</p>
<p style="text-align: justify;">Johan dan Untung pun mendekat dari samping kanan dan kiri Renata dan ikutan merogoh cd Renata. Mereka bertiga berebutan mengobok-obok vagina Renata. Renata hanya bisa memejamkan matanya sambil mendesah tertahan menikmati 3 pria itu berebutan mengobok-obok alat kelaminnya. “uuuhhh…mmmhhhh…”. Renata bisa mendesah bebas saat Johan mengeluarkan cd yang menyumpal mulut Renata. “teriak nyaring..tapi desahannya merdu euy…jadi makin napsu gue..ekekek..”. Suara desahan Renata memang merdu sekaligus manja sehingga membuat para lelaki semakin bersemangat jika sudah mendengar Renata mendesah. “hhnnnhhh !!”, tubuh Renata menegang. Ketiga tangan pria itu pun terasa hangat karena Renata sedang menyiram tangan mereka dengan cairan vaginanya. Mereka bertiga menjilati tangan mereka masing-masing yang berlumuran cairan vagina Renata. “mm…enak..”. Johan menurunkan celana dalam Renata, satu-satunya pakaian yang masih menempel di tubuh Renata. Kini, 4 orang itu sudah sama-sama telanjang. 2 lubang dari seorang gadis cantik dengan 3 penis yang sudah tak sabar ingin menjelajah ke dalam tubuh gadis cantik itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Bambang mendorong Renata ke meja, Renata menungging dengan setengah badannya berada di meja. “buset nih pantat mulus banget yak…”. Untung mengelus-elus bongkahan pantat Renata yang bulat, padat, kenyal, dan mulus sebelum akhirnya Untung menampar pantat Renata dengan sangat keras. “aawwhh…”, rintih Renata tetap dengan nada suara manjanya sehingga Untung semakin gemas dan menampar pantat Renata berkali-kali sampai pantat Renata pun jadi memerah. Renata merasa pantatnya perih dan panas. “ayo neng…buka mulutnya…a..a..a..amm…hehe…”, ledek Johan ‘menyuap’ Renata dengan penisnya. Johan mulai memompa mulut Renata dengan perlahan. Renata merasa ada benda tumpul yang menyentuh bibir vaginanya. “hmpfh…”. Benda tumpul itu terus masuk ke dalam liang vagina Renata. Mata Renata terbuka lebih lebar, benda tumpul itu terasa besar dan benar-benar membuat vaginanya penuh sesak. Sesak dan sakit Renata rasakan karena benda itu terus masuk sampai akhirnya mentok di dalam liang vaginanya. Awalnya, Renata kira tadi salah satu dari Bambang atau Untung memasukkan penis ke dalam liang vaginanya, tapi yang dia rasakan beda.</p>
<p style="text-align: justify;">Benda tumpul yang ada di dalam vaginanya tidak seperti yang selama ini Renata kenal. Keras, besar, dan dingin. Renata ingin sekali menengok ke belakang untuk mengetahui benda apa yang sedang ada di dalam tubuhnya, tapi Johan memegangi kepalanya agar bisa terus memompa mulutnya. Benda asing itu mulai bergerak keluar masuk. Ngilu sekali rasanya, Renata jadi sering merapatkan pahanya menahan ngilu. “gila lo Tung..memek orang disodok-sodok pake gituan…”. “bodo ah…demen gue nyiksa cewek cakep kayak gini…”. Tanpa memikirkan Renata, Untung terus menyodok vagina Renata dengan tongkat polisi anti huru-hara yang biasa digunakan untuk memukul massa itu. Meskipun ngilu, Renata masih bisa merasakan nikmat di sela-sela rasa ngilu itu. Kedua paha Renata merapat, dan pantatnya agak terangkat. “enak ya neng…disodok pake tongkat…hehehe…”, Untung meledek Renata yang mengalami orgasme. Vagina Renata akhirnya terasa lega dan plong, tapi penis Untung langsung menggantikan peran tongkat tadi. 2 penis itu seperti berlomba keluar masuk tubuh Renata. Semakin lama semakin cepat ritme 2 penis itu.</p>
<p style="text-align: justify;">“uuhh !! enakkhh !!!”, erang Untung semakin bersemangat. Liang vagina Renata sangat hangat dan sempit. Untung merasa penisnya seperti dipijat-pijat karena dinding vagina Renata begitu erat menjepit penisnya. Bunyi kencang saat selangkangan Untung terus menerus beradu dengan pantat Renata. Tak kuat, Renata menyiram penis Untung yang menyesakki vaginanya dengan cairannya. Untung mencabut ‘tiang’ dari ‘pasak’nya. Cairan vagina Renata langsung meleleh keluar dari tempatnya yang tertahan penis Untung tadi. “he..”. Untung memandangi lubang vagina Renata yang membesar sesuai diameter penisnya tadi. Tapi, beberapa detik kemudian, Untung kaget, lubang vagina itu kembali mengecil ke ukurannya semula. Untung jadi penasaran, dia masukkan lagi penisnya sampai mentok lalu dikeluarkan lagi. Seperti tadi, beberapa detik, lubang vagina Renata kembali mengecil. “gile…memek nih cewek elastis banget…”. “minggir lo ah…memek orang dimaenin dari tadi…gue kan juga pengen…”. Bambang memegang pinggang Renata dan menyiapkan penisnya di depan lubang vagina Renata.</p>
<p style="text-align: justify;">“mmhh…”, desah Renata menikmati penis Bambang yang masuk ke vaginanya dengan sangat perlahan. Johan sudah mencabut penisnya tadi karena sudah tidak tahan menerima serangan mulut Renata. Bambang sengaja mendorong masuk penisnya dengan sangat perlahan, dia ingin Renata benar-benar menikmatinya. “neng Rena…sekarang sepongin punya gue…hehe..”. Untung menampar pipi Renata bolak-balik dengan penisnya sebelum akhirnya menjejali mulut Renata dengan penisnya. Bambang pun mulai menggenjot vagina Renata dengan sangat khidmad dan penuh perasaan seperti sedang menyetubuhi istrinya saja. Sementara Untung dengan kasar mencekoki Renata dengan penisnya. Untung mengeluarkan penisnya saat merasa dia hampir ‘kalah’ dengan permainan mulut Renata yang sangat lihai. “anjriit…sepongan lo mantep banget…kayaknya lo udah biasa nelen kontol ye? hahaha…”. Renata tidak mengindahkan ejekan Untung karena dia sedang menikmati dan menghayati gerakan penis Bambang yang bergerak maju mundur di liang vaginanya. Bambang mengangkat tubuh Renata sedikit dan menyelipkan kedua tangannya melewati lengan Renata untuk menggenggam kedua buah payudara Renata yang memang enak untuk digenggam apalagi diremas.</p>
<p style="text-align: justify;">Renata sampai lupa kalau saat ini dia sedang diperkosa karena Bambang bergerak dengan penuh perasaan, tak asal grasak-grusuk seperti Untung tadi. Ia pun mendapatkan orgasme yang kuat, orgasme yang hanya bisa didapat Renata jika bersenggama dengan Arman atau adiknya, Andre. “Bang..kita sodok bedua aje langsung…”. “bentar…tanggung…”. Bambang mengangkat tubuh Renata sehingga kini mereka berdua sama-sama berdiri tegak, tapi penis Bambang masih kuat mengait vagina Renata. Renata menengok ke belakang, Bambang pun langsung menyosor bibir Renata. Tangan Bambang melingkar di pinggang Renata dari belakang. Bambang tak ingin Renata lepas dari pelukannya karena tubuh Renata sangat hangat dan montok, enak untuk dipeluk. Keduanya begitu menikmati persenggamaan ini, padahal baru kali ini mereka bertemu, tapi sudah seperti lama tidak bertemu. “woy !! sendirian aje…”. “maap..maap…lupa…”. Bambang menarik penisnya keluar dan kini dia tidur di atas tikar yang tadi di gelar Johan. “ayo neng…naek ke sini…”, kata Bambang memukul kedua pahanya seperti ayah yang menyuruh anaknya untuk duduk di pangkuannya.</p>
<p style="text-align: justify;">Penis Bambang jadi seperti tongkat sihir yang menyihir Renata untuk mengikuti perintah Bambang. “kenapa badan gue gerak sendiri? kenapa gue mao?”, pikir Renata dengan hati kecilnya. Renata tidak percaya, badannya seperti bergerak sendiri mendekati Bambang. Apa karena vaginanya menyuruh otak Renata untuk mempersatukan lagi dengan penis Bambang? Renata sama sekali tidak mengerti. Renata menurunkan tubuhnya sambil melirih pelan. Penis Bambang pun sudah kembali berada di dalam liang vagina Renata. Renata mulai menggerakkan pinggulnya maju-mundur dan berputar-putar untuk mengocok penis Bambang. Renata bergoyang liar, tak peduli apapun lagi. “oohh…yak..neng..teruss neng…”. Bambang tersenyum sambil memegangi pinggang Renata yang terus menggoyangkan pinggulnya. Johan mendorong tubuh Renata perlahan sehingga payudara Renata menempel ke wajah Bambang. Johan melebarkan kedua bongkahan pantat Renata. Lubang pantat Renata yang mungil itu pun terlihat, Johan memasukkan 2 ujung jempolnya bersamaan untuk melebarkan lubang pantat Renata.</p>
<p style="text-align: justify;">Kepala penis Johan sudah bersentuhan dengan mulut lubang pantat Renata. “hhmmmhhh….”, lirih Renata saat penis Johan dengan perlahan masuk. Nafas Renata sangat berat rasanya. Di dalam tubuhnya kini tersimpan 2 penis besar. Penuh sesak terasa di bagian bawah tubuh Renata. Bambang dan Johan sama-sama tidak bergerak. Mereka berdua ingin gadis yang sedang mereka ‘kait’ bersama-sama ini beradaptasi dulu dengan kail pancing mereka. Mereka berdua memberi rangsangan-rangsangan kecil ke Renata agar dia merasa nyaman. Bambang menciumi payudara Renata, sedangkan Johan menciumi pundak dan tengkuk leher Renata. Renata menikmati rangsangan-rangsangan Bambang dan Johan yang membuatnya semakin bergairah saja. “ayooo….”, lirih Renata pelan memberi izin ke Bambang dan Johan untuk mulai memompa penisnya. Mendapat lampu hijau dari sang pemilik tubuh yang sedang mereka himpit, Bambang dan Johan mulai menggerakkan penisnya. Seirama, penis Bambang dan Johan keluar masuk bersamaan. Renata seperti berada di atas awan, nikmat sekali rasanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Ditambah lagi, Bambang dan Johan tak berhenti merangsang Renata. Dan kadang mereka membedakan irama genjotan mereka sebelum menyelaraskan irama mereka lagi, Renata pun sampai mendapat 2x orgasme yang maksimal. Desahan tak henti-hentinya keluar dari mulut Renata, Renata sudah ikhlas seikhlas-ikhlasnya merelakan tubuhnya ke Bambang dan Johan. Sedang asik-asiknya mereka bertiga, Untung pun datang merusak suasana. Untung dengan kasar menekan pipi Renata lalu menjejalkan penisnya ke mulut Renata. “mffhh…hmmffhh…”, Renata sebenarnya protes karena Untung sangat kasar dan tiba-tiba padahal dia sedang menikmati disetubuhi oleh Bambang dan Johan, tapi apa mau dikata, Renata tidak bisa berkata apa-apa karena disumpal dengan penis Untung. Renata mengeluarkan teknik kulumannya dan segera ingin Untung orgasme agar penisnya cepat keluar dari mulutnya. “hhh…egghh…OOUUKKHHH !!!”, Untung tak kuasa lagi setelah lama menahan-nahan orgasmenya. Dia ejakulasi ke dalam mulut Renata. Untung tak mau mengeluarkan penisnya dari mulut Renata.</p>
<p style="text-align: justify;">“sial nih orang…gue bikin ngilu lo !!”, pikir Renata. Renata pun menggerakkan lidahnya lagi membelai penis Untung yang sudah mengecil di dalam rongga mulutnya. Sesuai harapan Renata, Untung menahan-nahan ngilu di penisnya dan akhirnya mengeluarkan penisnya dari mulut Renata. Merasa malu karena keok duluan, Untung pun keluar dari kamar itu sambil membawa pakaiannya. “gleek…”. Renata menelan sperma Untung dengan sekali tegukan. Johan dan Bambang mulai lagi. 2 penis itu masuk dengan sangat dalam sampai Renata merasa 2 penis itu hampir bertemu di dalam tubuhnya. Johan dan Bambang benar-benar kuat, mereka berdua masih tenang menggenjot Renata padahal Renata sendiri sudah mendapat orgasme lagi. Biasanya Renata cukup kuat jika soal menahan-nahan klimaks, tapi karena 2 penis yang sedang mengisi liang vagina dan liang anusnya berdiameter besar membuat Renata jadi tak kuasa menahan orgasmenya apalagi 2 penis ini bergerak seirama menambah sensasi nikmat yang dirasakan Renata jadi 2x lipat. “EEGGHHH !!”, Johan menekan penisnya kuat-kuat ke dalam anus Renata.</p>
<p style="text-align: justify;">“OOKKHH !!!”. 2 jenis sperma dari 2 pria yang berbeda sedang berenang masuk ke dalam tubuh Renata. Anus dan vagina Renata terasa hangat, terus menerus diisi sperma. Johan memeluk Renata sehingga Renata kini benar-benar terjepit di antara 2 pria setengah baya dan besar itu. Bambang mengajak Renata berciuman. Renata pun tidak menolak. Sementara Johan menciumi tengkuk leher Renata. Mereka bertiga basah kuyup karena berkeringat sehabis persenggamaan threesome mereka yang panas tadi. Penis Johan dan Bambang sudah seperti hidran air saja, tak henti-hentinya sperma memancar keluar dari 2 penis besar itu. Bahkan Renata sampai orgasme hanya karena ‘tembakan’ Bambang dan Johan. Akhirnya berhenti juga, Renata pun merasa sangat lemas sekali. Meski sudah memuntahkan isinya dan mengecil, penis Bambang dan Johan masih cukup besar untuk tetap ‘nyangkut’ di anus dan vagina Renata. Johan dan Bambang tak pernah merasa senikmat ini dalam bercinta. Begitu puas rasanya. Mungkin karena Renata adalah gadis cantik yang melayani dengan sepenuh hati meski sedang diperkosa.</p>
<p style="text-align: justify;">Sedangkan, Renata tak pernah merasa begitu dikuasai sekaligus dimanja seperti ini karena Johan dan Bambang tidak hanya asal menggenjotnya dengan kuat, mereka juga menjaga baik-baik perasaan dan tubuhnya sehingga Renata pun jadi rela dihimpit mereka. Saat sedang menikmati keheningan malam bersama, Renata menyadari ada beberapa orang yang menyaksikan. Johan bangun lalu membantu Renata duduk di kursi “drep..drep…”. Suara langkah mendekat. “gimana Ren…rasanya?”. “ha?”. Renata pun menoleh ke kanan. Ingin tau siapa yang berbicara. “hai Rena…”. “Anita ??”. Renata kaget melihat Anita berdiri di depannya. “Rena…Rena…lo emang maniak seks…diperkosa malah seneng…”, ejek Anita. “sialan lo…”, kata Renata. Anita mengangkat dagu Renata. “lo tau gak…gue punya rekaman lo…”, Anita tersenyum licik. “ngepet lo Nit…”. Renata ingin berdiri dan mencekik Anita, tapi terlalu lemas, kakinya masih gemetaran karena bagian bawah tubuhnya yang baru saja diudek-udek dengan 2 ‘tongkat’ sakti yang besar tadi. Renata pun jatuh tersungkur di depan Anita sehingga seperti bersujud ke Anita.</p>
<p style="text-align: justify;">“gak usah ampe sujud gitu kali ke gue..”, ledek Anita. “kenapa, Nit? kenapa lo jebak gue?”. “anggep aja ini balesan dari Putri…”. “ha? Putri? lo?”. “ya..gue ama Putri udah sepakat bales dendam ke lo ‘n Nadya…tapi lo mesti bersyukur…Putri gak mau lo ‘n Nadya kenapa-kenapa…jadi Putri cuma nyuruh gue ngerekam lo pas lagi gituan…’n nyebarin kalo lo macem-macem…”. “GUE GAK TAKUT !!”. “haha…jawaban lo sama aja ama Nadya…”. Langkah beberapa orang terdengar. Anita pun mencium salah satu orang yang baru datang itu. “kenapa, Nit?”. “ini…kayak lo dulu jawabannya…”. “Nadya?!”. “hai Ren..”. “kenapa lo…?”. “Nadya sekarang jadi budak gue ‘n Putri…lo inget kan malem prom nite angkatan lo?”. “…”. “itu gara-gara Nadya ngelaporin gue ke polisi…akhirnya sekarang Nadya udah nerima status dia…malu ketemu orang…apa lo mau kayak Nadya?”. “…”. “oh…lo berarti mau kayak Nadya? oke…gue kirim rekaman lo ke ortu ‘n kampus lo kalo gitu biar lo langsung terkenal…lo kan pengen terkenal?”. “jangan !!”. “kalo gitu..lo mesti nurut gue..”. “i…iya…”. “bagus…mulai sekarang…lo jadi budak gue…”. “mm…”.</p>
<p style="text-align: justify;">“mulai sekarang..V lo punya gue ‘n Putri..gue berhak ngelakuin apa aja…kayak V Nadya…”. Anita bergerak ke belakang Nadya lalu mengangkat rok mini Nadya dengan tangan kirinya. Anita elus-elus belahan vagina Nadya. Nadya mulai bernafas berat. “V lo punya gue kan, Nad?”. “iyaah..”. “gue mau apain aja…terserah gue kan?”. “iyaah..Nit…”. Anita menciumi tengkuk leher Nadya sambil terus membelai vaginanya. “oke…guys…”. Ternyata, tidak hanya ada Nadya dan Anita, tapi juga ada 4 orang pria lainnya. Adam, Roy, Untung, dan Yono. Mereka berempat langsung jongkok di dekat Nadya dan langsung berebutan menjilati bagian bawah tubuh Nadya yang tidak tertutup apa-apa itu. 2 orang di depan dan 2 orang di belakang. Nadya mendesah keenakan sambil berpegangan ke Anita. Renata sudah duduk menyaksikan Nadya sedang keenakan dijilati 4 pria sekaligus. Nadya pun menegang dan 4 pria itu langsung berdiri seolah tugas mereka hanya ‘mengubek-ubek’ selangkangan Nadya saja. Cairan vagina Nadya mengalir melalui pahanya. Anita pun mencium bibir Nadya.</p>
<p style="text-align: justify;">“liat, Ren? V lo bakal kayak Nadya..terserah mau gue apain ‘n mau gue kasih siapa…ngerti?”. “i..iya…”. “ok…sekarang lo ikut gue..”. Anita menuntun Renata ke sebuah ruangan gelap. “klekk…ngiik…”. “masuk lo…”. “kleekk..klekk…”, bunyi besi bergerak beberapa kali. “nyalain…”, teriak Anita terdengar jauh. Renata kaget saat lampu menyala. Ternyata dia berada di dalam sebuah sel penjara yang sempit. Dan lebih kaget lagi, sel yang ada di samping kanan dan kiri serta 3 sel yang ada di seberang berpenghuni 2 orang. “wah…ada cewek cakep !!”, teriak pria yang sepertinya narapidana. “silakan bapak-bapak…pake dia sepuasnya !!”, teriak Anita. “aseekk !!”. Semua narapidana itu langsung keluar dari selnya dan berebutan merangseng masuk ke dalam sel Renata. “JANGAANN !!!”, teriak Renata kencang menolak narapidana-narapidana yang sudah tak sabar ingin mencicipi tubuhnya. Dalam waktu singkat, Renata sibuk dengan penis-penis yang besar-besar nan bau itu dalam waktu singkat. Renata pun disetubuhi dan disodomi secara brutal. Para narapidana itu tidak memikirkan keadaan Renata, mereka hanya ingin melepaskan nafsu mereka yang selama ini tak bisa dilampiaskan secara benar. Hampir setiap napi sudah 2 tahun tidak merasakan kehangatan tubuh wanita, jadi tak heran kalau mereka kasar ke Renata. Apalagi wajah Renata yang cantik dan tubuhnya yang montok membuat mereka semakin bernafsu. Dan tentu, semakin mereka bernafsu maka mereka akan semakin kasar dan brutal menyetubuhi Renata.</p>
<p style="text-align: justify;">Anita tersenyum melihat penis sudah mengait anus dan vagina Renata dan mulut Renata yang terus dijejali penis secara bergantian juga 2 tangannya yang sibuk mengocok beberapa penis secara bergantian. Anita pun kembali ke ruangan sebelumnya. Nadya sudah telanjang bulat, pakaiannya sudah berserakan di lantai. Adam dan Roy menciumi tengkuk dan bahu Nadya, Johan dan Untung menciumi lengan Nadya, dan Bambang dan Yono menciumi paha Nadya. “non Anita…boleh kita pake neng Nadya sekarang?”. Rupanya, 6 orang polisi itu menunggu Anita untuk meminta izin menyetubuhi Nadya. “boleh..boleh…silahkan..Nad..layanin mereka ya…”. “okehh…”, jawab Nadya sambil melirih. Anita pun keluar dari kantor polisi itu dan masuk ke dalam mobilnya. Johan, Bambang, Adam, Roy, Untung, dan Yono adalah orang yang waktu itu memperkosa Nadya. Mereka berenam adalah kenalan Sapto dan mereka semua adalah polisi. Nadya waktu itu salah melapor karena dia melapor ke kantor polisi itu, jadi Anita pun tidak ditahan dan akhirnya bisa ‘mengalahkan’ dan menguasai Nadya.</p>
<p style="text-align: justify;">“Put…udah selesai satu lagi…”. “oke, Nit…sekarang kamu pulang ya…”. “oke Put…”. Nadya ditinggal Anita untuk melayani 6 pria itu dan Renata sedang menjalani malam hukumannya sama seperti Nadya dulu sebelum resmi menjadi budak Anita dan Putri. Anita pun sampai di rumah Putri. Dia langsung menuju kamar Putri. Putri membuka pintu kamarnya. Anita pun langsung memeluk Putri dan mencium bibirnya dengan mesra. Anita sudah menganggap Putri sebagai adiknya. Anita menutup pintu kamar dan setelah itu hanya mereka yang tahu.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>BERSAMBUNG &#8230;</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ceritasex.cn/the-fallen-princess-4-final-target/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Rumahku Surgaku..</title>
		<link>http://www.ceritasex.cn/rumahku-surgaku/</link>
		<comments>http://www.ceritasex.cn/rumahku-surgaku/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 19 May 2011 21:46:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cerita Sex</dc:creator>
				<category><![CDATA[kisah nyata]]></category>
		<category><![CDATA[Paruh baya]]></category>
		<category><![CDATA[Sedarah]]></category>
		<category><![CDATA[binal]]></category>
		<category><![CDATA[dewi]]></category>
		<category><![CDATA[incest]]></category>
		<category><![CDATA[kontol]]></category>
		<category><![CDATA[memek]]></category>
		<category><![CDATA[ml]]></category>
		<category><![CDATA[ngentot]]></category>
		<category><![CDATA[seks]]></category>
		<category><![CDATA[seks hubungan darah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ceritasex.cn/?p=2316</guid>
		<description><![CDATA[Namaku boy,aku tinggal di medan. Aku mau menceritakan pengalaman seksku dirumahku sendiri. Kejadian ini baru terjadi dua bulan yang lalu. Aku mempunyai seorang kakak,namanya dewi. Kak dewi orangnya cantik. Dia mempunyai tinggi badan 171cm,kulit putih bersih,dadanya kira2 36 dan pantatnya sangat montok. Aku sangat terangsang jika melihatnya. Suatu hari,tepatnya malam minggu.Waktu itu mama dan papaku [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Namaku boy,aku tinggal di medan. Aku mau menceritakan pengalaman seksku dirumahku sendiri. Kejadian ini baru terjadi dua bulan yang lalu. Aku mempunyai seorang kakak,namanya dewi. Kak dewi orangnya cantik. Dia mempunyai tinggi badan 171cm,kulit putih bersih,dadanya kira2 36 dan pantatnya sangat montok. Aku sangat terangsang jika melihatnya. Suatu hari,tepatnya malam minggu.Waktu itu mama dan papaku sedang pergi.Aku sendiri juga lagi malas dirumah.Lalu aku pergi kerumah teman kuliahku.Jadi dirumah hanya kak dewi sendirian yang lagi nungguin pacarnya.Tapi dasar sial temanku juga lagi keluar.Lalu untuk ngilangin suntuk aku mutar-mutar(jalan2) sendirian.setelah puas jalan jalan aku pun pulang.sampai dirumah kulihat ada kenderaan pacar kak dewi didepan rumah.”aduh..jagain orang pacaran nih..”pikirku.Aku langsung masuk keteras.Tapi aku terkejut.Kulihat kak dewi sedang ditunggangin oleh pacarnya(ngentot).Kubatalkan niatku dan aku terus mengintip permainnan mereka.Aku benar2 terangsang melihat adegan tersebut.</p>
<p style="text-align: justify;">Apalagi melihat kak dewi yang sedang bugil dan mendesah desah.Aku memperhatikan mereka dan mengelus-elus penisku.Terpaksa aku bersolo seks dan memuntahkannya di pot bunga.Lalu aku pergi lagi meninggalkan mereka berdua.setengah jam kemudian aku kembali dan kulihat mereka sedang duduk mesra diruang tengah.Kutegur mereka dan aku langsung masuk kekamarku.dikamar aku terus membayangkan kak dewi.selang beberapa menit aku keluar kamar dan kulihat cowoknya sudah pulang.Kulihat kak dewi masuk kekamarnya.lalu aku duduk sendirian di ruang tengah.Aku benar benar terangsang. Aku lalu bangkit dan masuk kekamar kak dewi. Rupanya kak dewi sedang ganti baju.Dia terkejut melihatku.”ngapain kamu?”tanyanya. “tadi kakak ngapain sama cowok kakak?”aku balik bertanya. Dia hanya diam.”emang kamu tahu?”tanyanya lagi. Aku hanya mengangguk. “Jangan bilang siapa-siapa ya..!”katanya lagi. “oke…tapi kakak harus mau begituan juga sama aku!”ujarku. “kamu mau juga ya…”katanya manja Dia lalu menarikku ketempat tidur. Dibukanya bajunya,lalu dibukanya juga bajuku.</p>
<p style="text-align: justify;">Langsung dilumatnya penisku. Rasanya enak sekali. Diisapnya penisku sampai kusemprotkan spermaku didalam mulutnya. Aku cukup puas atas perlakuannya.Lalu dia menyuruhku menjilati vaginanya .oohh.. ahh.. erangnya. Lalu aku pindah meremas dan menjilati payudaranya. mmhh.. terus…. nggh.. Kujilati payudaranya, perutnya sampai kujilati lagi vaginanya. oh… ah…ena..k… erangnya. Nafsuku naik lagi. Penisku mulai berdiri lagi. Masu..kin aja… pintanya. Lalu kumasukin penisku dan memompanya. Rasanya enak sekali,penisku dijepit oleh otot vaginanya. ahh…. terus…. sayang…. jeritnya. Lalu dibaliknya tubuhku. Dengan posisi diatas,dia menggoyangkan pantatnya turun naik. Tangan ku meremas pantatnya yang montok. Payudaranya bergoyang-goyang. Aku mau keluar… erangku. Tahann… sayang…. ujarnya. Lalu ahh…. agh…. oh… kak dewi mengerang panjang pertanda orgasme. Dia terus bergoyang dan crot.. crot… crot… kusemburkan spermaku didalam vaginanya. Lalu dia mencium bibirku. Kami pun tergeletak bersampingan.</p>
<p style="text-align: justify;">”maksih kak.. betul-betul nikmat”ujarku sambil meremas payudaranya. “iya…. kamu hebat juga”katanya “maukan kakak beginian lagi..?”tanyaku “Kapan aja kamu pengen”ujarnya sambil tersenyum. Aku langsung keluar dan masuk kekamarku.<br />
<span id="more-2316"></span><br />
Aku senang sekali.Aku terus minta jatah sama kak dewi.Kapan ada kesempatan kami pasti melakukannya dengan berbagai macam gaya. Aku juga sudah merasakan pantatnya yang montok. Waktu itu kak dewi lagi haid,jadi kusorong aja pantatnya.Rasanya sama-sama enak kok. Sampai pada suatu hari, Waktu itu aku pulang kuliah,kulihat pintu kamar kak dewi terbuka dan dia berbaring mengenakan handuk. Aku terangsang melihatnya. Aku masuk dan kubuka bajuku lalu kupeluk dan kucumbu.ah… jangan sekarang ! ada mama tuh! Ujarnya. Tapi aku tak perduli dan terus merangsangnya. Akhirnya dia pasrah. Kubuka handuknya dan kujilati payudaranya.Kak dewi mendesah. Lalu dia bangkit,menimpaku sambil berbalik.</p>
<p style="text-align: justify;">Kami melakukan gaya 69, Dikocoknya dan diisapnya penisku .Aku pun menjilati vaginanya sambil meremas pantatnya. Lagi asyik menjilat,tiba2 pintu kamar dibuka. Kami sangat terkejut.Ternyata mama sedang memergoki kami berbuat mesum. Mama masuk dan menutup pintu. Muka mamaku tampak marah melihat perbuatan kami. Aku dan kak dewi hanya bisa terdiam. Matanya menatap kami tajam. ”maafin kami ma!, ini salah boy. Boy yang ngajak kak dewi. Soalnya boy lagi terangsang! ujarku. “Kenapa harus kak dewi ?”tanya mamaku. “Daripada dengan psk lebih baik dengan aku ma!” sambung kak dewi “Lagi pula aku juga mau kok”ujar kak dewi membelaku. “terserah mama mau marah,kami kan udah gede dan punya hasrat seks yang harus disalurkan”ujarku. Mamaku terdiam sejenak “ya..udah terserah kalian.</p>
<p style="text-align: justify;">Tapi perbuatan kalian jangan sampai ketahuan papa!”ujarnya. “satu hal lagi boy,jangan sampai kak dewi hamil”katanya sambil menatapku. “ya…udah sebagai hukumannya mama mau lihat bagaimana kalian melepaskan hasrat seks kalian itu”ujarnya lagi.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku dan kak dewi saling pandang.Lalu kami lanjutkan permainan kami.Aku mulai merangsang kak dewi lagi.Kujilati payudaranya.Lalu kujilati vaginanya.Ah…ssst..mmmh..desahnya. Tanpa lama2 kumasukkan penisku keliang vaginanya dan kugoyang. Akkh…ohh…ngghh…ah..ah…desahnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku makin mempercepat kocokanku. Dan akhhhhhhh……ahhhhh ….akhhkhhh….jeritnya panjang. Kurasakan kak dewi sudah mencapai orgasme. Semakin cepat goyanganku.ck.ckk..ck…suara kocokan penisku divaginanya yang sudah basah bercampur cairan orgasmenya. ”mau keluar nih..”jeritku “dimulut ku aja!”ujarnya sambil menahan sodokan penisku Kucabut penisku. Kak dewi langsung menggenggam penisku dan mengocoknya dalam mulutnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Crott..crot…crot…crot kusemburkan spermaku kemulutnya sebanyak 8 kali. Mulutnya penuh dengan spermaku. Sampai menetes keluar dari sela mulutnya. Dan ditelannya semua. Aku terbaring puas,dan kak dewi menjilati penisku membersihkan sisa sperma. Kulihat mama menggelengkan kepalanya. Lalu mama pergi keluar dari kamar. Aku dan kak dewi hanya tersenyum. Kami akan lebih bebas melakukannya dirumah,walaupun mama mengetahuinya. Kami saling berpelukan dan berciuman. Aku lalu berpakaian dan masuk kekamarku.</p>
<p style="text-align: justify;">Dikamar aku masih memikirkan kejadian tadi. ”Mama tidak melarang aku ngeseks dengan kakakku sendiri. Berarti aku juga bisa ngeseks dengan mama”pikirku. Lagian body mama masih sip abis. Soalnya mamaku ikut fitnes. Walaupun usianya udah 44 tahun tapi masih oke(bukan membanggakan).Lagi pula mama pasti lebih berpengalaman. Aku berpikir lama mengenai ide gilaku ini. Kuputuskan,aku harus bisa merasakan ngeseks dengan mamaku sendiri.</p>
<p style="text-align: justify;">Lalu aku keluar dan masuk kekamar mamaku.Kulihat mamaku berbaring membelakangiku. Kulihat pantatnya yang montok dan pahanya yang mulus. Kubuka bajuku semuanya. Dan sambil menelan ludah aku naik ketempat tidur dalam keadaan bugil. Kupeluk mamaku dari belakang dan kugesek penisku yang sudah tegang. Tiba2 mama terbangun “ngapain kamu,boy?”tanyanya. “pengen ngeseks sama mama”jawabku manja Aku langsung memeluknya dan menciumnya. Mamaku diam saja. Kubuka kimononya. Wow ..mama tidak pakai bh dan cd. Payudaranya besar(lebih besar dari kak dewi.kak dewi aja 36B) dan masih kencang.Vaginanya merah merekah. Pantas papa sayang terus sama mama.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku langsung meremas payudaranya,menjilatinya dan menggigitnya. Mama hanya mendesah kecil. “jilatin anu mama ya….kayak kak dewi tadi…”pintanya sambil meraba vaginanya. Aku lalu menjilati vagina mama sambil memainkan klitorisnya dengan gigi dan lidahku.</p>
<p style="text-align: justify;">Ahh…terus….sayang….okh..e.na.k……desah mama.Kepalaku dijepitnya dengan kedua pahanya dan rambutku dijambaknya.Agar aku terus menjilati vaginanya.10 menit lidahku menari divagina mamaku akhirnya mamaku orgasme juga.</p>
<p style="text-align: justify;">Kurasakan cairan hangat di lidahku.Lalu mama bangkit dan menyuruhku telentang.Mama lalu mengambil baby oil dan mengoleskan kepenisku.Lalu dikulumnya penisku dengan nikmat.ohhh…rasanya benar2 nikmat sampe ubun2. Isapan mama jauh lebih enak dari kak dewi. Aku merasakan kenikmatan yang dahsyat. Mama mengulum semua penisku beserta bah zakarku.Yang paling sensasi kurasakan saat mama mengocok penisku sambil menjilati lubang duburku.Wow benar2 asik dan nikmat.Aku sampai merinding kenikmatan.</p>
<p style="text-align: justify;">Sekitar 10 menitan kesemprotkan spermaku di depan wajah mamaku.Mama ku sibuk menjilati spermaku yang muncrat kemana mana. “wah..benar-benar nikmat ma…”ujarku. “mama jago istong(isap totong)”pujiku “Kamu juga jago jilatannya,mama sampe merinding”ujarnya “Papa kalo jilat kurang nikmat,lagian papa jarang mau jilat”ujarnya lagi “Gimana, mau dilanjutkan?”tanya mamaku “iya dong…aku kan mau ngerasain anunya mama!”ujarku sambil melihat vaginanya. “mama juga mau ngerasain sodokan penismu!”jawabnya manja. Lalu mama mengajakku kekamar mandi,untuk membersihkan vaginanya dan penisku.Kuhidupkan air dibathtub setinggi mata kaki. Kami berdua masuk dan kucumbu mama,kucium bibirnya dan kuremas-remas payudaranya. Kami berdua sangat bernafsu,terutama aku. Padahal aku sudah main sebelumnya dengan kak dewi.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku sudah gak tahan untuk memasukkan penisku kevagina mama. Kutusukkan penisku dan bless..amblas semuanya terbenam. Kurasakan jepitan liang surga mama masih kuat. Kupompa penisku menghujam vagina mama. Kaki mama menjepit sisi bathtub.Ohhh…yeahh….ahhh….jerit mama.Sekitar 3 menit mama minta ganti posisi nyamping dengan posisi kaki belipat kearah samping dan aku menggoyang dari atas menyodok vagina mama. Mama tampak sangat menikmatinya. Lalu mama minta gaya doggie style. Kami bangkit dan mama nungging bertumpuan dengan sisi bathtub.Kusodok vagina mama dari belakang.Mama mendesah campur menjerit kecil. Pantatnya yang montok beradu dengan pangkal pahaku.Kupeluk mamaku dari belakang sambil terus bergoyang perlahan.meremas payudaranya.</p>
<p style="text-align: justify;">”Ma…masukin ke lubang anus ya…”bisikku “pelan2 mama belum pernah ….”jawabnya Kucabut penisku dan kumasukkan pelan pelan kelubang anus mamaku. Mamaku merintih kecil menahan sakit. Lubang anus mama memang belum pernah dijamah. Masih terasa ketat. Kugoyang perlahan-lahan sambil tanganku mengusap-usap bibir vaginannya dari belakang .Oh… ahhhk…… oh… nikmat… mama mendesah.Sekitar 4 menit kucabut penisku kubalikkan tubuh mama dan satu kakinya kuangkat dan kuletakkan diwashtafel.Kumasukkan penisku lagi dan kugoyang lagi.sekitar 1 menit,kuangkat mama dan kutidurkan di lantai kamar mandi.Kakinya mengangkang dan aku mulai mengenjotnya lagi. ahh.. ohhh…. akhh….. mama terus menjerit merasakan nikmatnya.Dan ohhh….. ahh……. mama melenguh sambil memejamkan matanya menikmati orgasmenya.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku terus bergoyang.Lalu aku mengakhiri permainanku dengan semprotan spermaku didalam rahim mama tempat aku dikandung dulu.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku benar-benar puas. Aku mencium mama. “makasih ma…. permainan mama sangat hebat”pujiku “mama mau kan…ngeseks sama boy lagi…?”tanyaku mamaku tersenyum dan mengangguk “asal… jangan tahu papa ya…..!”katanya Aku Cuma tersenyum. Lalu kami mandi bersama dalam bathtub.Malamnya aku terlelap tidur. Esok paginya,aku bangun pukul 7 pagi dan bersiap mandi.Kulihat papa dan kak dewi sedang sarapan,sedangkan mama sedang didapur.Kudatangi mama dan kuremas pantatnya. “aduh…. kamu nakal ya…”ujarnya. Kubuka celanaku dan kukelurkan penisku yang tegang.Kugesekkan ke pantat mamaku.</p>
<p style="text-align: justify;">“ma…ayo.. dong…”bujukku “gak..ah…ntar dilihat papa!”tolaknya “please…..”rayuku “isap aja ya….”tawar mamaku “ya..deh..!”sahutku lalu mama jongkok dan mengisap penisku.Mataku meram melek menahan nikmatnya.Sampai kusemburkan lahar hangat kemulut mama.Lalu aku mandi dan berangkat kuliah.Dikampus aku rasanya pengen cepat pulang. Pukul 2 siang aku tiba dirumah.Kupanggil kak dewi dan mama kekamarku. “Gimana….kalo kita main bertiga”usulku “hah..!!!”jawab mama dan kak dewi serentak.</p>
<p style="text-align: justify;">“Aduh.. nih…anak.. nafsu amat ya…”ujar mamaku “kayaknya asyik juga tuh.”sahut kak dewi Kak dewi langsung membuka bajunya.Dan menimpaku.Bibirku dilumatnya sambil tangannya melucuti pakaianku. Mama akhirnya membuka bajunya dan ikut bergabung. Mama langsung mengisap penisku sambil menjilatinya.S edangkan aku menjilati vagina kak dewi.Lalu kusuruh mama tidur telentang sambil mengangkang.Kujilati vagina mama dan kak dewi menjilati dan meremas remas payudara mama. sssst….. enaaak…. ahhh….. erang mama.</p>
<p style="text-align: justify;">Lalu gantian,kujilati vagina kak dewi dan mama menjilati payudara kak dewi. Aku mulai memasukkan penisku kevagina kak dewi dan memompanya. Sedangkan mama menjilati payudara kak dewi sambil menggosok2 vaginanya sendiri.aahhh…ohhh..oh….kak dewi menjerit kecil berbarengan dengan deru napasnya yang tidak teratur.Kupercepat goyanganku.Aku harus membuat kak dewi orgasme terlebih dahulu .<br />
Beberapa saat kemudian kak dewi mengerang puas ah.a.h..ah.</p>
<p style="text-align: justify;">ah.ah.ahhhhhhhhhhhh.. ha.. sambil nafasnya agak tersenggal.Penisku terasa dijepit otot vagina kak dewi yang yang berkontraksi.Kucabut penisku dan kutarik mamaku.Lalu kumasukkan penisku ke liang surganya dan kugoyang.Mama ku hanya mendesah kecil.Aku menikmati goyanganku.Aku lalu membalikkan tubuh mama keatas.Mama bergoyang bagai menaiki kuda.Tanganku meremas-remas pantat mama dan membantunya turun naik. oooo… ahhhh….. yehhh…… erang mama sambil memejamkan matanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Payudaranya bergantung dan bergoyang. ohhhhh…ahhhhhhhhh….. kudengar erangan mamaku sambil memejamkan mata dan menahan ludah.Kurasakan mama sudah orgasme.Kupeluk mama dan kubalikkan badannya.Kak dewi langsung mendekat dan menjilati payudara mama.Aku langsung menggenjot mamaku lagi dengan posisi mama telentang.Sekitar dua menitan, kurasakan aku mau mencapai puncak.Langsung kucabut penisku dan kusemburkan ke mulut kak dewi dan mama.</p>
<p style="text-align: justify;">Mereka berebutan.spermaku muncrat kewajah mereka berdua.Aku lalu terduduk lemas.Kulihat mama dan kak dewi saling menjilati spermaku yang muncrat kewajah mereka.Setelah 10 menit kak dewi keluar dari kamarku.Dan aku memainkan satu ronde lagi dengan mamaku.Dan kuakhiri dengan semburan sperma didalam lubang anusnya.Setelah itu mama keluar dan mandi.</p>
<p style="text-align: justify;">Sekarang aku benar-benar betah dirumah,kapan saja ada saja yang melayaniku(mama dan kak dewi).Hampir tiap pagi aku mendapat jatah istong dari mama.Tapi semua udah kuatur.Kalo siang aku mainnya sama mama,dan kalo malam malam lagi pengen,aku mainnya sama kak dewi.Tapi kadang ngak tentu juga,yang mana aja.Kalo papa gak ada kami main bertiga.Apalagi kalo papa keluar kota kami makin bebas tidur sama.Bahkan aku pernah bolos kuliah karena kecapekan melayani mama dan kak dewi.Kejadian ini membuatku betah dirumah.Rumahku bagaikan surga bagiku.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ceritasex.cn/rumahku-surgaku/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mbak Narsih Part 3 (Tamat)</title>
		<link>http://www.ceritasex.cn/mbak-narsih-part-3-tamat/</link>
		<comments>http://www.ceritasex.cn/mbak-narsih-part-3-tamat/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 07 May 2011 20:52:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cerita Sex</dc:creator>
				<category><![CDATA[Paruh baya]]></category>
		<category><![CDATA[Seks Umum]]></category>
		<category><![CDATA[selingkuh]]></category>
		<category><![CDATA[Tante Girang]]></category>
		<category><![CDATA[binal]]></category>
		<category><![CDATA[cuki]]></category>
		<category><![CDATA[haus sex]]></category>
		<category><![CDATA[hot]]></category>
		<category><![CDATA[incest]]></category>
		<category><![CDATA[mbak narsih]]></category>
		<category><![CDATA[narsih]]></category>
		<category><![CDATA[ngentot]]></category>
		<category><![CDATA[seks]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ceritasex.cn/?p=2294</guid>
		<description><![CDATA[Dalam serial sebelumnya, kita sudah tau bagaimana watak Mbak Narsih. Mudah marah, perfeksionis dalam urusan kebersihan rumah tangga, dan sekarang baru aku tau, kalo beliau itu juga eksibisionist, suka menggoda dengan memamerkan tubuhnya yang seksi. Meskipun sifatnya itu hanya di dalam rumah saja. Sudah sebelas hari Mas Pras belum pulang. Selama itu pula aku bersikap [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Dalam serial sebelumnya, kita sudah tau bagaimana watak Mbak Narsih. Mudah marah, perfeksionis dalam urusan kebersihan rumah tangga, dan sekarang baru aku tau, kalo beliau itu juga eksibisionist, suka menggoda dengan memamerkan tubuhnya yang seksi. Meskipun sifatnya itu hanya di dalam rumah saja. Sudah sebelas hari Mas Pras belum pulang. Selama itu pula aku bersikap sangat hati-hati, tidak ingin kena marah lagi. Aku ingin memelihara suasana damai dengan Mbak Narsih. Setelah kejadian “santap siang” itu sikap beliau baik. Tapi aku tetap hormat dan takut. Beliau juga tak pernah bicara soal itu. Seolah-olah tak pernah terjadi. Aku tidak berani lagi mengintip-ngintip. Aku tau diri dan berusaha menghormati Mas Pras. Aku juga sudah kepengin ketemu Mas Pras. Beliau janji mau mencarikan aku sekolah, sudah 3 bulan aku tidak bersekolah. “Masmu kok belum pulang ya Kun?” matanya memandang ke pintu. Keliatan kalo beliau sudah kangen sekali kepada suaminya. Lampu Petromax semakin redup, butuh dipompa lagi. Aku menurunkan lampu itu dan memompanya. “Sudah sebelas hari, Mbak.” Jawabku sambil memompa lampu menjadi semakin terang lagi.</p>
<p style="text-align: justify;">“Kamu hitung, to Kun?” Mbak Narsih heran. Ternyata aku peduli dg Mas Pras. Sekarang dia melihat aku yang masih memompa lampu. “Aku kasih tanda tuh di kalender.” Alasan sebenarnya aku memberi tanda karena ingin mendapat kepastian, kapan aku bisa masuk sekolah lagi. Aku menunjuk kalender di dinding kamar tamu. Mbak Narsih berdiri mendekat dan memperhatikan dengan cermat kalender itu. “Kok kamu tulis DM. DM, DM, apa sih artinya” Mbak Narsih menatapku heran. Aku terkejut, addduuh! Itu artinya kan “damai”. Tapi aku harus ngomong apa??? Kemungkinan ini tak kuduga sebelumnya. Sambil mencantelkan lampu aku berpikir keras mau jawab apa. Sialnya karena silau dan gugup, tak juga mau nyantel-nyanthel kolong lampu ini ke tempatya. “Ayooo, apa Kun?” Mbak Narsih tak sabar menunggu jawabanku. Daripada aku bohong kena marah lagi, yaaa lebih baik…. “Artinya damai, Mbak.” Aku menjawab lirih sambil melepaskan pelan-pelan lampu yang sudah nyantel itu. Karena aku melihat ke atas Mbak Narsih tidak tahu pucatnya wajahku. “Daa….mai?” Mbak Narsih mengerenyitkan dahinya. “ Damai gimana maksudmu, Kun?”</p>
<p style="text-align: justify;">“Mmm….” Sambil memijit-mijit tengkukku yang tidak pegal aku memandang Mbak Narsih malu-malu. “Ayo, awas kalau bohong!” beliau berdiri berkacak pinggang. Wah, gawat! “Maaakk….sud saaaayaa, ya damai dengan Mbak Narsih.” Akhirnya aku memilih jalan lurus. “Lho, aku kan selalu damai sama kamu?” sekarang beliau duduk di dekatku dan memandang lurus mataku. “Apa aku kamu anggap musuhmu?” “Bukan begitu, Mbak.” Aku beringsut mundur, secara reflek aku takut. “Justru aku senang selama sebelas hari ini Mbak Narsih tidak marah sama aku. Aku merasa bahagia, kok Mbak.” “Kenapa mundur-mundur, takut ya? Kalau tidak salah kenapa takut?” nada uaranya tidak galak lagi. “Siapa takut, Mbak. Ini, aku berani maju.” Aku mendekat lagi bahkan lebih mepet. Mbak Narsih tersenyum geli melihat sikapku. “Uuuu….cah nakal. “ dipijitnya hidungku dengan gemes.”Aduuuu Mbak, sakit” malam itu suasana terasa mesra dan menyenangkan. Sampai jam sebelas malam kami berdua ngobrol akrab. Sepertinya Mbak Narsih menunggu Mas Pras, tapi beliau tidak bilang apa-apa.<br />
<span id="more-2294"></span><br />
Mbak Narsih sudah menguap dan masuk ke kamar tidurnya. Petromax saya matikan kuganti lampu tempel. Aku pun masuk kamar, segera tidur nyenyak dengan mimpi indah. Aku tidak tahu bahwa jam dua belas malam Mas Pras datang. Dalam mimpiku aku bertemu cewek cantik. Cewek yg belum kukenal itu tanpa malu-malu mendekati aku dan menciumi aku. Bajuku dibuka lalu celana ku diturunkan. Aku sekarang tinggal memakai celana dalam. Dalam alunan musik dangdut cewek itu meluk-liuk kan tubuhnya mengikuti irama sambil melepas pakaiannya satu persatu. Kemaluanku menjadi tegang. Apalagi saat dia mendekat dan mengelus-elus penisku dengan lembut, rasanya nikmat sekali Tiba-tiba aku merasa sesuatu yang berat menimpa badanku dan kemaluanku terasa basah dan hangat. Kurasakan nafas hangat dan berat menyapu wajahku. Aku terbangun! Mataku menatap kabur pada bayangan di atas wajahku di kamar ku yang gelap itu. Beberapa saat pandanganku menjadi jelas bahwa itu wajah Mbak Narsih. Aku bermaksud membuka mulut dan bertanya tetapi mulutku dibekap. “Ssssst……..!” beliau menyuruh aku diam.</p>
<p style="text-align: justify;">Badanku yang kecil itu merasakan beban yang lumayan berat dari tubuh wanita dewasa itu. Beliau jongkok dan bergerak naik turun. Penisku merasakan kehangatan di dalam lubang Mbak Narsih. Ternyata apa yang terasa dalam mimpiku itu adalah kenyataan. Kini dengan sadar kurasakan kenikmatan itu. Nafas nya yang memburu menandakan beliau sedang dilanda nafsu birahi yang hebat. “Kuuuun……puasi akuuuu……. “ beliau merebahkan diri di atas tubuhku dan berbisik di telingaku. Aku berusaha menahan berat tubuhnya. Badannya panas sekali. Bau keringatnya yang khas menyeruak membangkitkan nafsuku. Kudorong tubuhnya ke samping, kini aku berhadap-hadapan dengan beliau dalam posisi miring. Susunya yang bulat putih itu kuremas-remas, terasa hangat dan kenyal. Telapak tanganku terlalu kecil untuk memegang payudaranya yang padat bulat itu. sambil kusodok lubangnya dengan penuh semangat. Setelah beberapa saat posisi seperti itu kurang nyaman rasanya. “Kamu……ssshhh. …kamu… di….ooouuh…di … atasssss….Kun…..” segera kuturuti perrmintaan beliau.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku merasa lebih leluasa melancarkan gerakanku. Kini aku mendengar music dangdut yang kudengar dalam mimpi tadi. Mbak Narsih menyalakan radio kecilku, yang gelombangnya tak pernah pindah dari radio swasta spesial dangdut. Kapan pula beliau masuk kamarku? Pertanyaan yang tak perlu dijawab, karena situasinya dalam keadaan “perang”. Di kamarku yang remang-remang, kulihat di bawahku sesosok wanita cantik, yang berhari-hari aku rindukan kehangatan tubuhnya. Mbak Narsih merindukan kehangatan suaminya, dan aku ketagihan merasakan kehangatan tubuhnya. Meskipun keinginan itu menggebu, tapi aku tak berani meminta. Aku anak kecil. Aku hanya numpang hidup. Pokoknya aku di posisi yang lemah. Kini tiba-tiba saja kesempatan itu datang. Setelah memperoleh kesadaran penuh, timbullah dorongan hasrat yang sangat kuat. Aliran darahku terasa semakin cepat. O, Mbak Narsih, …… kamu adalah mimpi terindahku setiap malam. tusukanku semakin mantap. Kurasakan sudut-sudut liang rahimnya yang hangat.</p>
<p style="text-align: justify;">Memperoleh serangan balik yang dahsyat, Mbak Narsih memutar-mutar pantatnya. Pandangan matanya liar, mulutnya menganga, kadang-kadang menyeringai menahan kenikmatan yang merambati ujung-ujung syarafnya. Wajah cantiknya berubah ganas dan buas. tetapi wajah itu tidak membuat aku takut, malah semakin terangsang. Aku sudah lupa, bahwa wanita cantik yang menggeliat-geliat di bawahku adalah wanita yang seharusnya kuhormati. Karena begitu bersemangat sampai tempat tidurku yang sempit itu berkereyotan menimbulkan suara berisik. “Sssshh…. Jangan berisik….Kkkuuunnnh….hhffff….nan…ti…Mas Prassss…..bang…bang…ngun..” tersengal-sengal Mbak Narsih memberitahu aku. Hah? Ada Mas Pras? Edan tenan. Aku kaget sekali. Tak terasa gerakanku melambat dan berhenti. “Ayooo….. kenapa….terusss…keburu bangun dia….” Diangkat-angkatnya pantatnya. Kembali kulancarkan seranganku semakin cepat. Kurebahkan tubuhku di dada nya yang putih dan empuk itu. Kini jelas kulihat wajahnya. Rambutnya awut-awutan. Napasnya yang panas menerpa wajahku. “Mas Pras sudah pulang Mbak?” tanpa menghentikan gerakan aku bertanya</p>
<p style="text-align: justify;">“Sudah, Kun….. ah Masmu payah.” Kuhisap-hisap putingnya sambil kuremas bukit empuk yang putih itu. Tak tahan diisap dipeluknya tubuhku erat, sambil mencurahkan keluhan hatinya “Aku belum apa-apa……Masmu sudah keluar…..langsung loyo dan tidur” “Aku nggak bisa tidur, lalu nyetel radiomu. “ beliau berhenti ngomong lalu mencium bibirku. Kami berciuman dalam kesunyian malam dan iringan irama dangdut. Suara radio ini dimaksudkan untuk menutupi “kegaduhan” di kamarku ini. Setelah bibir kami lepas. Aku turun dari tempat tidur diikuti Mbak Narsih. Beliau langsung berdiri membelakangiku, pantatnya yang besar itu disodorkannya. Sudut kemaluannya yang gelap itu kontras dengan bokongnya yang putih. Kuarahkan penisku ke sana. Karena terlalu naik, tangan beliau membantu menuntun ujung tongkolku ke arah yang tepat. Lagi-lagi kurasakan kehangatan yang nikmat itu. Kubenamkan semakin dalam. Lubang itu terasa lebih sesak sekarang. Belum pernah aku dalam posisi begini. Batangku yang panjang terasa bisa masuk lebih dalam. Mbak Narsih merintih keenakan.</p>
<p style="text-align: justify;">“Terusssss…….,Kun…..cepet ke…..aahhh ….cepet….ayo kamu juga keuarkan…..” Aku pun sampai di ujung perjalanan, makin lama makin cepat. Lubang Mbak Narsih kali ini sudah becek sekali dan……”Kuuun…..aaaahhhhhhh……..” dipeluknya aku dengan sangat erat dan penisku terasa dijepit oleh benda lembut dan hangat yg berkedut-kedut. Kubenamkan dalam-dalam kemaluanku dan memancarkan cairan hangat ke liang senggama Mbak Narsih. Serrr….serrr…..ser…. Mbaaaakkkk……. Aduuuu…..aku keluar.” Beberapa saat kemudian beliau menghentikan semua gerakan , terduduk lemas di tepi tempat tidur. Setelah memperoleh kekuatan kembali, beliau beranjak keluar, menuju ke kamar mandi. Aku duduk di sofa kamar tamu menunggu beliau keluar dari kamar mandi. Masih bertelanjang, Mbak Narsih kembali ke kamarnya. Aku segera mencuci “peralatanku” dan kembali ke kamarku. Aku duduk di tepi tempat tidur dan merenung. Ada apa ini? Kucoba untuk merangkai-rangkai berbagai kemungkinan. Mas Pras tengah malam pulang. Pasti beliau sangat lelah. Mbak Narsih yang lama menunggu kedatangan sang suami, mungkin minta “oleh-oleh”.</p>
<p style="text-align: justify;">Karena factor kelelahan atau sebab lain, tugas Mas Pras belum tuntas. Wanita yang haus ini sudah lama berpuasa, tentu nafsunya berkobar-kobar. Ibaratnya bertepuk sebelah tangan, Mas Pras masih lelah. Lalu tidak mampu memberi kepuasan. Kira-kira begitu. Akibatnya, karena tidak puas, ibaratnya makan belum kenyang, lalu nambah. Mungkin, beliau ke kamarku, mempermainkan burungku, sehingga tegang. Begitu bisa dipakai, segera dimasukkan dan dipompa. Saat itulah aku terbangun. Aku juga tidak tahu penyebab sebenarnya. Aku tidak berani bertanya. Hanya saja badanku terasa pegal-pegal sekarang. Aku jatuh tertidur dan….. bangun kesiangan. Aku takut keduluan Mbak Narsih. Segera aku bangun dan km dapur menyalakan kompor. Merebus air dan mencuci beras. Untung, beliau masih tidur. Kalau kedapatan aku bangun kesiangan, semua pekerjaan pasti beliau selesaikan dengan cepat dan rapi. Aku bisa mati langkah dan siap didiamkan berhari-hari. Lega rasanya. Sampai aku selesai mencuci pakaian dan nasi sudah masak mereka belum bangun.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku ambil uang belanja di lemari dapur dan beli sayur ke warung. Pulang dari warung Mbak Narsih dan Mas Pras sudah bangun. Aku menyapa dengan sopan, “Mas,tadi malam ya pulangnya?” “Heeh, gawekna kopi, le !” Mas Pras minta aku buatkan kopi. Kuseduh kopi kental tanpa gula. Itu minuman favorit nya. Kutaruh beberapa bongkah gula jawa di mangkuk kecil. “Wah, pinter kamu Kun. Uenake.. kopi pait karo ngemut gula jawa.” Katanya sambil menyeruput kopi hitam itu. “O, iyaa… kamu jadi sekolah nggak?” Aku tersenyum gembira, “ Jadi, Mas. Besok Senin Mas Pras masih di rumah?” “Pokoknya sudah kuberikan dananya dibawa mbakyumu. Minta saja. “ maksudku kuminta Mas Pras antar aku cari sekolahan, tapi mungkin beliau sudah harus kerja lagi. Ya, sudah nggak apa-apa Yang penting aku pasti sekolah. “Kenapa harus sama Mas-mu, malu ya dianter mbakyumu” tanya Mbak Narsih, biasa nadanya galak, aku sudah terbiasa dengan sifatnya itu. “Mboten, Mbak “ aku menjawab sopan dan menyatakan bahwa diantar Mbak Narsih aku juga mau Karena semua pekerjaaan pai itu sudah kelar.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku kembali ke kamar, untuk…..tidur. Lelah sekali badanku setelah “berjuang keras” semalam. Dari kamar kudengar mereka terus berbincang-bincang. “Dik, keliatannya berat badanmu tambah ya?” kudengar suara Mas Pras yang nge-bas. “Kok tau?” “Itu rokmu pada kesempitan.” “Mas Pras, sekarang harus percaya. Harus yakin.” Sepertinya Mbak Narsih serius. “Maksudmu kamu bener-bener bisa hamil?” masih datar suara Masku. “Biar aja apa kata dokter, apa kata tabib, sinshe boleh berteori, Aku sudah berhenti 2 bulan lho Mas. Lihat, nih perutku. Lho, …tambah lebar. Wudelku…tambah monyong.” Kubayangkan, pasti Mbak Narsih, membuka roknya dan memamerkan perutnya yang putih mulus itu. “Dik Narsih,……. Sungguh bahagia aku hari ini…..akhirnya aku bisa….oh…” tak ada lagi suara mereka bicara. Pasti mereka……kalau nggak berciuman ya berpelukan. “Makanya, jangan lama-lama perginya, Mas” itu suara Mbak Narsih. Lalu sepi lagi. Peristiwa selanjutnya aku tak tahu, karena aku tidur sampai siang. Tiga gari Mas Pras di rumah. Pagi itu dia harus berangkat.</p>
<p style="text-align: justify;">Jam lima pagi, kernetnya datang memberi tahu kalau muatan sudah dinaikkan. Sudah ditutup deklit ,tinggal berangkat. “Kun, kamu cari sekolah yang deket-deket saja. Ngirit . Kalau bisa ar yang masuk siang, Biar ada yang membantu mBakyumu. Dia hamil, Kun. Aga Mbakyumu jangan sampai kelelahan.” Mas Pras berpesan sambil mengacak-acak rambutku dengan mesra. “Inggih, Mas.” Saya antar sambil membawakan koper berisi pakaian Mas Pras ke truk yang sudah diparkir di ujung gang. Lik Tarjo, kernet setia, memarkir truk itu di situ. Pagi itu juga aku diajak Mbak Narsih mencari sekolah buat aku. Aku pakai seragam SMP Negeri Dua Jogja, dan Mbak Narsih …….. ya ampun….. cantik banget. Pakaiannya sederhana, tapi cocok sekali dengan kulitnya dan tubuhnya yang tinggi semampai. Rambutnya yang agak kemerahan, menambah cantik wajahnya yang oval dihiasi biabir tipis, hidung bangir dan bulu mata yang lentk. Aku malu pada diriku sendiri, yang kecil dan hitam. Biar orang pada bilang aku hitam manis, tetap saja aku ini hitam. Ada sebuah SMP Swasta di jalan Raden Patah.</p>
<p style="text-align: justify;">Masuk siang. Tidak jauh dari rumahku. Di kantor SMP itu Mbak Narsih menjadi pusat perhatian para guru, terutama bapak-bapak guru. Kalau kepergok Mbak Narsih mereka sedang memandangi dengan kagum, mereka terenyum ramah. Yang tidak enak kalau mareka melihat aku, pasti dengan pandangan curiga. Kalau adiknya kok tidak mirip. Kakaknya cantik, adiknya jelek, gelap lagi. Tetapi kalau pembantunya kok selalu digandeng . Mungkin begitu yang mereka pikirkan. Saat wawancara kulihat Bapak Gur yang berkaca mata minus itu berkali-kali melirik ke belahan dada, Mbak Narsih yang terlihat , karena bajunya berkerah lebar dan rendah. Kalau Mbak Narsih tertawa, dadanya terguncang-guncang, Bapak Guru itu ikut-ikutan tertawa. Tetapi matanya selalu ke dada itu lagi. Dasar lelaki. (Eh, aku laki-laki juga, ya) Aku tidak peduli. Yang penting aku sekarang sekolah lagi. Bulan Juli, aku sekolah lagi. Sementara itu perut Mbak Narsih sudah semakin besar. Banyak pekerjaan yang tidak bisa dikerjakan lagi. Satu-satunya yang wajib dikerjakan adalah mengepel lantai.</p>
<p style="text-align: justify;">Menurut Bulik Saodah tetangga depanku, itu baik untuk proses persalinan nanti. Jam sebelas pagi, semua pekerjaan harus sudah selesai. Karena jam setengah dua belas harus berangkat sekolah. Jalan kaki lewat Pengapon, lewat Pasar Kobong, sampai sekolah sekitar setengah jam. Praktis tenagaku sudah terkuras habis paginya. Di sekolah tinggal sisa-sisa tenaga. Erring aku berjuang keras melawan rasa mengantuk yang tak tertahan saat jam pelajaran. Sisi baiknya mengulang di kelas yang sama terasa amat mudah. Apalagi SMP swasta itu menurut penilaianku levelnya jauh di bawah SMP ku di Jogja. Senang sekali bisa bersekolah lagi. Karena aku dikira anak pandai, banyak yang suka bertanya peer. Kalo ulangan pada minta contekan. Pokoknya seru, deh. Pulang sekolah sampai di rumah hampir maghrib. Melihat rumah gelap, yang pertama kulakukan adalah menyalakan lampu pompa. Aku kasihan sama Mbak Narsih. Beliau nggak bisa menyalakan lampu Petromax. Masih berpakain seragam, kutengok keadaan dapur, jemuran dan kamar mandi untuk mengetahui mana yang belum beres.</p>
<p style="text-align: justify;">Tetapi semua sudah rapi, kecuali air di kamar mandi kosong. Aku menimba air memenuhi bak mandi. “Wis Kun, nanti saja ngisinya. Kamu lelah.” Lemut sekali beliau menyapaku. “Cuma untuk mandi aku, kok Mbak.” Aku segera mandi. Rutinitas seperti itu terjadi setiap hari. Aku biasa mengerjakan peer dan belajar sampai malam. Jarang aku bisa ngobrol-ngobrol lagi. Aku benar-benar tenggelam dengan situasi baruku. Banyak guru yang kukenal baik dan mereka suka padaku. Sebenarnya aku biasa-biasa saja. Tetapi karena banyak teman yang bodoh dan nakal, maka di situ aku dianggap anak yang sopan dan pandai. Aku semakin merasa diterima . Aku sebenarnya melupakan sesuatu karena kesibukan sekolahku itu. Mbak Narsih. Dengan pertnya yang semakin membesar beliau sering menemani aku mengerjakan peer atau belajar. Sering beliau mengajak bicara, tetapi aku menjawab seperlunya, karena aku konsentrasi ke pelajaran. Saat itu sedang banyak ulangan. Aku sedang tenggelam dalam keasyikan belajar. Kuakui aku memang kutu buku. Matematika adalah pelajaran favoritku.</p>
<p style="text-align: justify;">Seperti biasa, beliau duduk di sampingku, aku sibuk menulis dan mngerjakan soak-soal atau menjawab peer. Aku heran, kenapa sejak tadi Mbak Narsih tidak bertanya. Aku merasa ada yang tidak wajar. “Mbak, kalau sudah ngantuk sare dulu, to?” aku berbasa-basi sambil menoleh. Aku terkejut melihat mata beliau basah. Air matanya mengalir di piinya yang sekarang tampak tembem. “Mbak,……………….kenapa?” aku menghentikan aktifitasku. “Nggak apa-apa. teruslah belajar, kamu memang anak rajin, tekun dan baik.” Jawabnya diserati isak tangis tertahan. Apa maksudnya, ya? “Kamu dan Mas Pras sama saja, ya. Semua sibuk.” Kini tangisnya pecah. Aku bingung. Sebagai anak-anak aku belum bisa memahami perlunya memberi perhatian pada orang tua. Tetapi kini aku sadar, bahwa selama ini, aku melupakan kehadiran Mbak Narsih. Hatiku tersentuh oleh isak tangisnya. Secara naluriah kupegang tangannya. Kugenggam erat. “Mbak……. Maafkan Kun. Aku bener-bener keterlaluan. Aku salah, Mbak…..” tak bisa kulanjutkan kata-kataku. Dadaku penuh keharuan. Mataku jadi panas dan basah.</p>
<p style="text-align: justify;">Kupeluk beliau dengan penuh perasaan menyesal. Mbak Narsih tetap menangis dan sikapnya pasif sekali. Kucium tangannya, kuciumi pipinya diaaaam saja. Aku menjadi serba salah. Karena malam semakin larut dan Mbak Narsih tidak juga masuk kamar, masih tetap duduk di sofa. Aku ambil inisiatif. Kuambil selimut dan bantal. Kurebahkan beliau di sofa. Menurut saja. Kuselimuti diam saja. Malam itu aku menunggui beliau tidur di sofa, aku tidur di karpet di bawah sofa. Subuh pagi aku dibangunkan, disuruh mengantar ke kamar mandi. Kutuntun beliau. Tanpa menutup pintu beliau langsung mengangkat daster dan jongkok. Soorrrrrrr…. Aku jadi tau, bahwa orang hamil itu suka bermanja-manja. Suka minta yang aneh-aneh. Mulai hari itu aku lebih banyak memperhatikan keadaan beliau. “Kun, aku pengin dimandiin seperti waktu aku sakit dulu itu, lho” “Baik, Mbak.” Aku siapkan air hangat dan lap pel. Kumasukkan kursi kayu ke kamar mandi. Tanpa ada rasa malu sedikitpun beliau langsung telanjang di hadapanku. Lucu juga melihat bentuk tubuhnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Perut maju, pantat semakin lebar. Putting susu jadi hitam dan lebar kini bongkahan bukit kembar yang putih itu semakin melebar saja. Kupandangi semuanya itu dengan pebuh kekaguman. Apa bisa orang hamil itu “digituin” ya? Aku berpikiran ngeres. Badanku terasa panas dan penisku semakin mengeras. Kini beliau sudah duduk. Segera kuguyur tubuhnya dengan air hangat. Tibunya kini bercahaya bagai dilapisi kaca. Kusabuni punggungnya. Pantatnya,. Penginnya aku menyabuni bagian depan. Susunya sangat menantang untuk disentuh, tapi aku masih jaim. Mbak Narsih rupanya tidak sabar dengan sikapku yang sok jaim itu. Dipegangnya tanganku yang membawa sabun. Di arahkan ke dadanya. Saat kusabuni, benda kembar itu terayun-ayun. Aku tau beliau paling suka kalau sambil diremes, Bener juga, beliau mendongak ke atas menahan nikmat. Kini tangaku berada diperut beliau. Aku jongkok di hadapan beliau. Kemaluan beliau Nampak jelas. Ditumbuhi rambut jarang. Kusabun perutnya dulu, makin lama makin turun. Akhirnya sampailah jariku di tepi “hutan” Tak sabar jariku segera menyentuh si merah kecil.</p>
<p style="text-align: justify;">Begitu kena sentuhan, desisnya semakin jelas terdengar. Ketika aku berdiri mengambilkan sabun, tiba-tiba langkahku tertahan karena celanaku diturunkan, padahal aku sedang tidak mengenakan CD. “Kamu duduk di situ.” Mbak Narsih berdiri. Aku duduk di kursi dengan batang tegak teracung. Mbak Narsih pelan-pelan mengarahkan pantatnya dan duduk dipangkuanku. “Lho, Mbak…….nggak apa-apa?” tapi sebagai jawaban pantat nan putih itu semakin turun. Satu tangan beliau memegang penisku mengarahkan ke lubangnya. Masuknya “si hitam” ke lubang kenikmatan itu disertai desisan yang punya lubang. “Oohhhh….sssssh” Pantat beliau naik turun diiringi bunyi crop…crop….crop….. “Enak…..banget Kuuuun…..hhh….hhh…..hhhh…..” Aku mengambil gayung lalu kuguyur badannya yang penuh sabun itu. Aliran air hangat itu menambah nikmat persetubuhan aneh itu. Kuguyur lagi sambil kugosok punggung dan pundaknya. Begitu terus menerus sambil aktif naik turun beliau tetap kumandikan. Dari pantulan cermin di kamar mandi, kulihat susunya terayun-ayun indah saat pantatnya aktif naik turun.</p>
<p style="text-align: justify;">Kedua tanganku meraih kedua bukit kembar itu. Kubelai-belai dan kupelintir puting hitam besar itu. “Aaaahhhh……terussss….kamu pinter….Kun…..” gerakan naik turunnya melemah, kelelahan juga akhirnya. Sekarang Mbak Narsih duduk di bibir bak mandi yang cukup rendah dan lebar. dibukanya lebar-lebar kedua pahanya. Lubang kenikmatannya yang sudah amburadul itu menganga. Sikunya bertelekan di tembok. Sambil berdiri kumasukkan lagi “tongkat ajaib” yang disukai Mbak Narsih itu. Dalam posisi tengadah seperti itu kukira lubang itu akan semakin lebar dan kendor. Tetapi aneh, malah tambah seret dan menggigit. Kamar mandi itu menjadi ajang “pertempuran aneh” Perutnya yang membuncit bergoyang-goyang saat kusodok-sodok. Baru tau aku sekarang. Ternyata orang hamil, masih suka “main”, Menurutku malah lebih “hot” “Kuuuuunnn….. jangan …..tinggalkan Mbak Narsih……” “Tidak lagi…Mbak.” “Addduuuuu……kono kuwi Kun…….enaaaaakkkkk…….” “Mbaaaaak……. Tempikmu…..anget banget, Mbak……..” “Teruussss……yang dalam…..dalam…….” “Mbaaaakkkk…..aku nggak tahan lagi…….ayo Mbaak.”</p>
<p style="text-align: justify;">“Ooohhhh….ssshhh……aku….aku……juga……hampiiiiirr …….Ku uun” Mbak Narsih memutar-mutar pantatnya dan aku menghunjam semakin dalam. Gelombang kenikmatan datang bergulung-gulung…….nafas kami berdua terpantul berisik oleh dinding kamar mandi beratap seng. Keringatku membanjir demikian pula Mbak Narsih. Bau sabun wangi yang bercampur bau keringat menimbulkan suasana aneh yang sangat merangsang. Akhirnya tak kuat lagi kami menahan datagnya tsunami kenikmatan itu. Pancaran spermaku terasa deras menyemprot dinding rahim beliau yang juga banjir. Karena licin, tubuh Mbak Narsih kepleset nyemplung utuh ke bak mandi. Untung bak mandinya rendah dan berisi penuh air, sehingga tidak terasa sakit. Kubantu untuk mentas. Kini aku sendiri mandi jebar-jebur membersihkan diri. Mbak Narsih membantu menggosok punggungku. Handuk kita pakai berdua. Masih bugil, kutuntun Mbak Narsih ke kamarnya. Beliau tidak ambil ganti pakaian malah tiduran. Aku ditariknya untuk ikut tidur. Padahal sudah jam setengah sembilan pagi. “Kun……..bawa sini manukmu……”</p>
<p style="text-align: justify;">“Mau apa Mbak…..” Tak banyak bicara…. Segera mulutnya menciumi burungku yang kini tegang lagi. Melihat benda ini bertambah panjang dengan cepat, tak sabar Mbak Narsih memasukkan ke dalam mulutnya. Aku jadi berkelojotan. Rasanya geli-geli nikmat….. “Kun, puasi aku. Kamu biarkan Mbak Narsih kesepian sejak kamu sekolah. Ayo hari ini kamu nggak boleh masuk.” Adduuh, padahal ada ulangan dan aku sudah belajar mati-matian. Memang benar-benar gila sex wanita satu ini. Pagi itu aku melayani beliau sampai jam sebelas. Belum belanja, belum masak. Pagi yang melelahkan. Seharian beliau bermanja-manja. Makan minta disuapi. Mandi harus ditunggui. Mengingat pesan Mas Pras, ku rela tidak masuk hari itu.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ceritasex.cn/mbak-narsih-part-3-tamat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Diperkosa Ayah Mertua</title>
		<link>http://www.ceritasex.cn/diperkosa-ayah-mertua/</link>
		<comments>http://www.ceritasex.cn/diperkosa-ayah-mertua/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 24 Mar 2011 23:31:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cerita Sex</dc:creator>
				<category><![CDATA[Paruh baya]]></category>
		<category><![CDATA[Pemerkosaan]]></category>
		<category><![CDATA[Seks Umum]]></category>
		<category><![CDATA[selingkuh]]></category>
		<category><![CDATA[enak]]></category>
		<category><![CDATA[incest]]></category>
		<category><![CDATA[kontol]]></category>
		<category><![CDATA[memek]]></category>
		<category><![CDATA[ngentot]]></category>
		<category><![CDATA[novianti]]></category>
		<category><![CDATA[perkosa]]></category>
		<category><![CDATA[seks]]></category>
		<category><![CDATA[vagina]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ceritasex.cn/?p=2124</guid>
		<description><![CDATA[Namaku Novianti. Usiaku telah menginjak kepala tiga. Sudah menikah setahun lebih dan baru mempunyai seorang bayi laki-laki. Suamiku berusia hanya lebih tua satu tahun dariku. Kehidupan kami dapat dikatakan sangat bahagia. Memang kami berdua kawin dalam umur agak terlambat sudah diatas 30 tahun. Selewat 40 hari dari melahirkan, suamiku masih takut untuk berhubungan seks. Mungkin [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Namaku Novianti. Usiaku telah menginjak kepala tiga. Sudah menikah setahun lebih dan baru mempunyai seorang bayi laki-laki. Suamiku berusia hanya lebih tua satu tahun dariku. Kehidupan kami dapat dikatakan sangat bahagia. Memang kami berdua kawin dalam umur agak terlambat sudah diatas 30 tahun. Selewat 40 hari dari melahirkan, suamiku masih takut untuk berhubungan seks. Mungkin dia masih teringat pada waktu aku menjerit-jerit pada saat melahirkan, memang dia juga turut masuk ke ruang persalinan mendampingi saya waktu melahirkan. Di samping itu aku memang juga sibuk benar dengan si kecil, baik siang maupun malam hari. Si kecil sering bangun malam-malam, nangis dan aku harus menyusuinya sampai dia tidur kembali. Sementara suamiku semakin sibuk saja di kantor, maklum dia bekerja di sebuah kantor Bank Pemerintah di bagian Teknologi, jadi pulangnya sering terlambat. Keadaan ini berlangsung dari hari ke hari, hingga suatu saat terjadi hal baru yang mewarnai kehidupan kami, khususnya kehidupan pribadiku sendiri.</p>
<p style="text-align: justify;">Ketika itu kami mendapat kabar bahwa ayah mertuaku yang berada di Amerika bermaksud datang ke tempat kami. Memang selama ini kedua mertuaku tinggal di Amerika bersama dengan anak perempuan mereka yang menikah dengan orang sana. Dia datang kali ini ke Indonesia sendiri untuk menyelesaikan sesuatu urusan. Ibu mertua nggak bisa ikut karena katanya kakinya sakit. Ketika sampai waktu kedatangannya, kami menjemput di airport, suamiku langsung mencari-cari ayahnya. Suamiku langsung berteriak gembira ketika menemukan sosok seorang pria yang tengah duduk sendiri di ruang tunggu. Orang itu langsung berdiri dan menghampiri kami. Ia lalu berpelukan dengan suamiku. Saling melepas rindu. Aku memperhatikan mereka. Ayah mertuaku masih nampak muda diumurnya menjelang akhir 50-an, meski kulihat ada beberapa helai uban di rambutnya. Tubuhnya yang tinggi besar, dengan kulit gelap masih tegap dan berotot. Kelihatannya ia tidak pernah meninggalkan kebiasaannya berolah raga sejak dulu.</p>
<p style="text-align: justify;">Beliau berasal dari belahan Indonesia Timur dan sebelum pensiun ayah mertua adalah seorang perwira angkatan darat. &#8220;Hei nak Novi. Apa khabar&#8230;!&#8221;, sapa ayah mertua padaku ketika selesai berpelukan dengan suamiku. &#8220;Ayah, apa kabar? Sehat-sehat saja kan? Bagaimana keadaan Ibu di Amerika..?&#8221; balasku. &#8220;Oh&#8230;Ibu baik-baik saja. Beliau nggak bisa ikut, karena kakinya agak sakit, mungkin keseleo&#8230;.&#8221; &#8220;Ayo kita ke rumah&#8221;, kata suamiku kemudian. Sejak adanya ayah di rumah, ada perubahan yang cukup berarti dalam kehidupan kami. Sekarang suasana di rumah lebih hangat, penuh canda dan gelak tawa. Ayah mertuaku orangnya memang pandai membawa diri, pandai mengambil hati orang. Dengan adanya ayah mertua, suamiku jadi lebih betah di rumah. Ngobrol bersama, jalan-jalan bersama. Akan tetapi pada hari-hari tertentu, tetap saja pekerjaan kantornya menyita waktunya sampai malam, sehingga dia baru sampai kerumah di atas jam 10 malam. Hal ini biasanya pada hari-hari Senin setiap minggu. Sampai terjadilah peristiwa ini pada hari Senin ketiga sejak kedatangan ayah mertua dari Amerika.</p>
<p style="text-align: justify;">Sore itu aku habis senam seperti biasanya. Memang sejak sebulan setelah melahirkan, aku mulai giat lagi bersenam kembali, karena memang sebelum hamil aku termasuk salah seorang yang amat giat melakukan senam dan itu biasanya kulakukan pada sore hari. Setelah merasa cukup kuat lagi, sekarang aku mulai bersenam lagi, disamping untuk melemaskan tubuh, juga kuharapkan tubuhku bisa cepat kembali ke bentuk semula yang langsing, karena memang postur tubuhku termasuk tinggi kurus akan tetapi padat. Setelah mandi aku langsung makan dan kemudian meneteki si kecil di kamar. Mungkin karena badan terasa penat dan pegal sehabis senam, aku jadi mengantuk dan setelah si kecil kenyang dan tidur, aku menidurkan si kecil di box tempat tidurnya. Kemudian aku berbaring di tempat tidur. Saking sudah sangat mengantuk, tanpa terasa aku langsung tertidur. Bahkan aku pun lupa mengunci pintu kamar. Setengah bermimpi, aku merasakan tubuhku begitu nyaman. Rasa penat dan pegal-pegal tadi seperti berangsur hilang&#8230; Bahkan aku merasakan tubuhku bereaksi aneh.</p>
<p style="text-align: justify;">Rasa nyaman sedikit demi sedikit berubah menjadi sesuatu yang membuatku melayang-layang. Aku seperti dibuai oleh hembusan angin semilir yang menerpa bagian-bagian peka di tubuhku. Tanpa sadar aku menggeliat merasakan semua ini sambil melenguh perlahan. Dalam tidurku, aku bermimpi suamiku sedang membelai-belai tubuhku dan kerena memang telah cukup lama kami tidak berhubungan badan, sejak kandunganku berumur 8 bulan, yang berarti sudah hampir 3 bulan lamanya, maka terasa suamiku sangat agresif menjelajahi bagian-bagian sensitif dari sudut tubuhku. Tiba-tiba aku sadar dari tidurku&#8230; tapi kayaknya mimpiku masih terus berlanjut. Malah belaian, sentuhan serta remasan suamiku ke tubuhku makin terasa nyata. Kemudian aku mengira ini perbuatan suamiku yang telah kembali dari kantor. Ketika aku membuka mataku, terlihat cahaya terang masih memancar masuk dari lobang angin dikamarku, yang berarti hari masih sore. Lagian ini kan hari Senin, seharusnya dia baru pulang agak malam, jadi siapa ini yang sedang mencumbuku&#8230; Aku segera terbangun dan membuka mataku lebar-lebar.<br />
<span id="more-2124"></span><br />
Hampir saja aku menjerit sekuat tenaga begitu melihat orang yang sedang menggeluti tubuhku. Ternyata&#8230; dia adalah mertuaku sendiri. Melihat aku terbangun, mertuaku sambil tersenyum, terus saja melanjutkan kegiatannya menciumi betisku. Sementara dasterku sudah terangkat tinggi-tinggi hingga memperlihatkan seluruh pahaku yang putih mulus. &#8220;Yah&#8230;!! Stop&#8230;.jangan&#8230;. Yaaahhhh&#8230;!!?&#8221; jeritku dengan suara tertahan karena takut terdengar oleh Si Inah pembantuku. &#8220;Nov, maafkan Bapak&#8230;. Kamu jangan marah seperti itu dong, sayang&#8230;.!!&#8221; Ia malah berkata seperti itu, bukannya malu didamprat olehku. &#8220;Ayah nggak boleh begitu, cepat keluar, saya mohon&#8230;.!!&#8221;, pintaku menghiba, karena kulihat tatapan mata mertuaku demikian liar sambil tangannya tak berhenti menggerayang ke sekujur tubuhku. Aku mencoba menggeliat bangun dan buru-buru menurunkan daster untuk menutupi pahaku dan beringsut-ingsut menjauhinya dan mepet ke ujung ranjang. Akan tetapi mertuaku makin mendesak maju menghampiriku dan duduk persis di sampingku. Tubuhnya mepet kepadaku. Aku semakin ketakutan.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Nov&#8230; Kamu nggak kasihan melihat Bapak seperti ini? Ayolah, Bapak kan sudah lama merindukan untuk bisa menikmati badan Novi yang langsing padat ini&#8230;.!!!!&#8221;, desaknya. &#8220;Jangan berbicara begitu. Ingat Yah&#8230; aku kan menantumu&#8230;. istri Toni anakmu?&#8221;, jawabku mencoba menyadarinya. &#8220;Jangan menyebut-nyebut si Toni saat ini, Bapak tahu Toni belum lagi menggauli nak Novi, sejak nak Novi habis melahirkan&#8230; Benar-benar keterlaluan tu anak&#8230;.!!, lanjutnya. Rupanya entah dengan cara bagaimana dia bisa memancing hubungan kita suami istri dari Toni. Ooooh&#8230;. benar-benar bodoh si Toni, batinku, nggak tahu kelakuan Bapaknya. Mertuaku sambil terus mendesakku berkata bahwa ia telah berhubungan dengan banyak wanita lain selain ibu mertua dan dia tak pernah mendapatkan wanita yang mempunyai tubuh yang semenarik seperti tubuhku ini. Aku setengah tak percaya mendengar omongannya. Ia hanya mencoba merayuku dengan rayuan murahan dan menganggap aku akan merasa tersanjung. Aku mencoba menghindar&#8230; tapi sudah tidak ada lagi ruang gerak bagiku di sudut tempat tidur.</p>
<p style="text-align: justify;">Ketika kutatap wajahnya, aku melihat mimik mukanya yang nampaknya makin hitam karena telah dipenuhi nafsu birahi. Aku mulai berpikir bagaimana caranya untuk menurunkan hasrat birahi mertuaku yang kelihatan sudah menggebu-gebu. Melihat caranya, aku sadar mertuaku akan berbuat apa pun agar maksudnya kesampaian. Kemudian terlintas dalam pikiranku untuk mengocok kemaluannya saja, sehingga nafsunya bisa tersalurkan tanpa harus memperkosa aku. Akhirnya dengan hati-hati kutawarkan hal itu kepadanya. &#8220;Yahh&#8230; biar Novi mengocok Ayah saja ya&#8230; karena Novi nggak mau ayah menyetubuhi Novi&#8230; Gimana&#8230;?&#8221; Mertuaku diam dan tampak berpikir sejenak. Raut mukanya kelihatan sedikit kecewa namun bercampur sedikit lega karena aku masih mau bernegosiasi. &#8220;Baiklah..&#8221;, kata mertuaku seakan tidak punya pilihan lain karena aku ngotot tak akan memberikan apa yang dimintanya. Mungkin inilah kesalahanku. Aku terlalu yakin bahwa jalan keluar ini akan meredam keganasannya. Kupikir biasanya lelaki kalau sudah tersalurkan pasti akan surut nafsunya untuk kemudian tertidur. Aku lalu menarik celana pendeknya.</p>
<p style="text-align: justify;">Ugh! Sialan, ternyata dia sudah tidak memakai celana dalam lagi. Begitu celananya kutarik, batangnya langsung melonjak berdiri seperti ada pernya. Aku sangat kaget dan terkesima melihat batang kemaluan mertuaku itu&#8230;. Oooohhhh&#8230;&#8230; benar-benar panjang dan besar. Jauh lebih besar daripada punya Toni suamiku. Mana hitam lagi, dengan kepalanya yang mengkilap bulat besar sangat tegang berdiri dengan gagah perkasa, padahal usianya sudah tidak muda lagi. Tanganku bergerak canggung. Bagaimananpun baru kali ini aku memegang kontol orang selain milik suamiku, mana sangat besar lagi sehingga hampir tak bisa muat dalam tanganku. Perlahan-lahan tanganku menggenggam batangnya. Kudengar lenguhan nikmat keluar dari mulutnya seraya menyebut namaku. &#8220;Ooooohhh&#8230;..sssshhhh&#8230;..Noviii&#8230;eee..eeena aak. .. betulll..!!!&#8221; Aku mendongak melirik kepadanya. Nampak wajah mertuaku meringis menahan remasan lembut tanganku pada batangnya. Aku mulai bergerak turun naik menyusuri batangnya yang besar panjang dan teramat keras itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Sekali-sekali ujung telunjukku mengusap moncongnya yang sudah licin oleh cairan yang meleleh dari liangnya. Kudengar mertuaku kembali melenguh merasakan ngilu akibat usapanku. Aku tahu dia sudah sangat bernafsu sekali dan mungkin dalam beberapa kali kocokan ia akan menyemburkan air maninya. Sebentar lagi tentu akan segera selesai sudah, pikirku mulai tenang. Dua menit, tiga&#8230; sampai lima menit berikutnya mertuaku masih bertahan meski kocokanku sudah semakin cepat. Kurasakan tangan mertuaku menggerayangi ke arah dadaku. Aku kembali mengingatkan agar jangan berbuat macam-macam. &#8220;Nggak apa-apa &#8230;..biar cepet keluar..&#8221;, kata mertuaku memberi alasan. Aku tidak mengiyakan dan juga tidak menepisnya karena kupikir ada benarnya juga. Biar cepat selesai, kataku dalam hati. Mertuaku tersenyum melihatku tidak melarangnya lagi. Ia dengan lembut dan hati-hati mulai meremas-remas kedua payudara di balik dasterku. Aku memang tidak mengenakan kutang kerena habis menyusui si kecil tadi. Jadi remasan tangan mertua langsung terasa karena kain daster itu sangat tipis.</p>
<p style="text-align: justify;">Sebagai wanita normal, aku merasakan kenikmatan juga atas remasan ini. Apalagi tanganku masih menggenggam batangnya dengan erat, setidaknya aku mulai terpengaruh oleh keadaan ini. Meski dalam hati aku sudah bertekad untuk menahan diri dan melakukan semua ini demi kebaikan diriku juga. Karena tentunya setelah ini selesai dia tidak akan berbuat lebih jauh lagi padaku. &#8220;Novi sayang.., buka ya? Sedikit aja..&#8221;, pinta mertuaku kemudian. &#8220;Jangan Yah. Tadi kan sudah janji nggak akan macam-macam..&#8221;, ujarku mengingatkan. &#8220;Sedikit aja. Ya?&#8221; desaknya lagi seraya menggeser tali daster dari pundakku sehingga bagian atas tubuhku terbuka. Aku jadi gamang dan serba salah. Sementara bagian dada hingga ke pinggang sudah telanjang. Nafas mertuaku semakin memburu kencang melihatku setengah telanjang. &#8220;Oh.., Novii kamu benar-benar cantik sekali&#8230;.!!!&#8221;, pujinya sambil memilin-milin dengan hati-hati puting susuku, yang mulai basah dengan air susu. Aku terperangah. Situasi sudah mulai mengarah pada hal yang tidak kuinginkan. Aku harus bertindak cepat.</p>
<p style="text-align: justify;">Tanpa pikir panjang, langsung kumasukkan batang kemaluan mertuaku ke dalam mulutku dan mengulumnya sebisa mungkin agar ia cepat-cepat selesai dan tidak berlanjut lebih jauh lagi. Aku sudah tidak mempedulikan perbuatan mertuaku pada tubuhku. Aku biarkan tangannya dengan leluasa menggerayang ke sekujur tubuhku, bahkan ketika kurasakan tangannya mulai mengelus-elus bagian kemaluanku pun aku tak berusaha mencegahnya. Aku lebih berkonsentrasi untuk segera menyelesaikan semua ini secepatnya. Jilatan dan kulumanku pada batang kontolnya semakin mengganas sampai-sampai mertuaku terengah-engah merasakan kelihaian permainan mulutku. Aku tambah bersemangat dan semakin yakin dengan kemampuanku untuk membuatnya segera selesai. Keyakinanku ini ternyata berakibat fatal bagiku. Sudah hampir setengah jam, aku belum melihat tanda-tanda apapun dari mertuaku. Aku jadi penasaran, sekaligus merasa tertantang. Suamiku pun yang sudah terbiasa denganku, bila sudah kukeluarkan kemampuan seperti ini pasti takkan bertahan lama. Tapi kenapa dengan mertuaku ini? Apa ia memakai obat kuat?</p>
<p style="text-align: justify;">Saking penasarannya, aku jadi kurang memperhatikan perbuatan mertuaku padaku. Entah sejak kapan daster tidurku sudah terlepas dari tubuhku. Aku baru sadar ketika mertuaku berusaha menarik celana dalamku dan itu pun terlambat! Begitu menengok ke bawah, celana itu baru saja terlepas dari ujung kakiku. Aku sudah telanjang bulat! Ya ampun, kenapa kubiarkan semua ini terjadi. Aku menyesal kenapa memulainya. Ternyata kejadiannya tidak seperti yang kurencanakan. Aku terlalu sombong dengan keyakinanku. Kini semuanya sudah terlambat. Berantakan semuanya! Pekikku dalam hati penuh penyesalan. Situasi semakin tak terkendali. Lagi-lagi aku kecolongan. Mertuaku dengan lihainya dan tanpa kusadari sudah membalikkan tubuhku hingga berlawanan dengan posisi tubuhnya. Kepalaku berada di bawahnya sementara kepalanya berada di bawahku. Kami sudah berada dalam posisi enam sembilan! Tak lama kemudian kurasakan sentuhan lembut di seputar selangkanganku. Tubuhku langsung bereaksi dan tanpa sadar aku menjerit lirih. Suka tidak suka, mau tidak mau, kurasakan kenikmatan cumbuan mertuaku di sekitar itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Akh luar biasa! Aku menjerit dalam hati sambil menyesali diri. Aku marah pada diriku sendiri, terutama pada tubuhku sendiri yang sudah tidak mau mengikuti perintah pikiran sehatku. Tubuhku meliuk-liuk mengikuti irama permainan lidah mertuaku. Kedua pahaku mengempit kepalanya seolah ingin membenamkan wajah itu ke dalam selangkanganku. Kuakui ia memang pandai membuat birahiku memuncak. Kini aku sudah lupa dengan siasat semula. Aku sudah terbawa arus. Aku malah ingin mengimbangi permainannya. Mulutku bermain dengan lincah. Batangnya kukempit dengan buah dadaku yang membusung penuh dan kenyal. Maklum, masih menyusui. Sementara kontol itu bergerak di antara buah dadaku, mulutku tak pernah lepas mengulumnya. Tanpa kusadari kami saling mencumbu bagian vital masing-masing selama lima belas menit. Aku semakin yakin kalau mertuaku memakai obat kuat. Ia sama sekali belum memperlihatkan tanda-tanda akan keluar, sementara aku sudah mulai merasakan desiran-desiran kuat bergerak cepat ke arah pusat kewanitaanku. Jilatan dan hisapan mulut mertuaku benar-benar membuatku tak berdaya.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku semakin tak terkendali. Pinggulku meliuk-liuk liar. Tubuhku mengejang, seluruh aliran darah serasa terhenti dan aku tak kuasa untuk menahan desakan kuat gelombang lahar panas yang mengalir begitu cepat. &#8220;Oooohhhhh&#8230;&#8230;.aaaa&#8230;.aaaaa&#8230;&#8230;aaauugghhh hhhh hh..!!!!!&#8221; aku menjerit lirih begitu aliran itu mendobrak pertahananku. Kurasakan cairan kewanitaanku menyembur tak tertahankan. Tubuhku menggelepar seperti ikan terlempar ke darat merasakan kenikmatan ini. Aku terkulai lemas sementara batang kontol mertuaku masih berada dalam genggamanku dan masih mengacung dengan gagahnya, bahkan terasa makin kencang saja. Aku mengeluh karena tak punya pilihan lain. Sudah kepalang basah. Aku sudah tidak mempunyai cukup tenaga lagi untuk mempertahankan kehormatanku, aku hanya tergolek lemah tak berdaya saat mertuaku mulai menindih tubuhku. Dengan lembut ia mengusap wajahku dan berkata betapa cantiknya aku sekarang ini. &#8220;Noviii&#8230;..kau sungguh cantik. Tubuhmu indah dan langsing tapi padat berisi.., mmpphh..!!!&#8221;, katanya sambil menciumi bibirku, mencoba membuka bibirku dengan lidahnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku seakan terpesona oleh pujiannya. Cumbu rayunya begitu menggairahkanku. Aku diperlakukan bagai sebuah porselen yang mudah pecah. Begitu lembut dan hati-hati. Hatiku entah mengapa semakin melambung tinggi mendengar semua kekagumannya terhadap tubuhku. Wajahku yang cantik, tubuhku yang indah dan berisi. Payudaraku yang membusung penuh dan menggantung indah di dada. Permukaan agak menggembung, pinggul yang membulat padat berisi menyambung dengan buah pantatku yang `bahenol’. Diwajah mertuaku kulihat memperlihatkan ekspresi kekaguman yang tak terhingga saat matanya menatap nanar ke arah lembah bukit di sekitar selangkanganku yang baru numbuh bulu-bulu hitam pendek, dengan warna kultiku yang putih mulus. Kurasakan tangannya mengelus paha bagian dalam. Aku mendesis dan tanpa sadar membuka kedua kakiku yang tadinya merapat. Mertuaku menempatkan diri di antara kedua kakiku yang terbuka lebar. Kurasakan kepala kontolnya yang besar ditempelkan pada bibir kemaluanku. Digesek-gesek, mulai dari atas sampai ke bawah. Naik turun.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku merasa ngilu bercampur geli dan nikmat. Cairan yang masih tersisa di sekitar itu membuat gesekannya semakin lancar karena licin. Aku terengah-engah merasakannya. Kelihatannya ia sengaja melakukan itu. Apalagi saat moncong kontolnya itu menggesek-gesek kelentitku yang sudah menegang. Mertuaku menatap tajam melihat reaksiku. Aku balas menatap seolah memintanya untuk segera memasuki diriku secepatnya. Ia tahu persis apa yang kurasakan saat itu. Namun kelihatannya ia ingin melihatku menderita oleh siksaan nafsuku sendiri. Kuakui memang aku sudah tak tahan untuk segera menikmati batang kontolnya dalam memekku. Aku ingin segera membuatnya `KO’. Terus terang aku sangat penasaran dengan keperkasaannya. Kuingin buktikan bahwa aku bisa membuatnya cepat-cepat mencapai puncak kenikmatan. &#8220;Yah..?&#8221; panggilku menghiba. &#8220;Apa sayang&#8230;&#8221;, jawabnya seraya tersenyum melihatku tersiksa. &#8220;Cepetan..yaaahhhhh&#8230;&#8230;.!!!&#8221; &#8220;Sabar sayang. Kamu ingin Bapak berbuat apa&#8230;&#8230;.?&#8221; tanyanya pura-pura tak mengerti.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku tak menjawab. Tentu saja aku malu mengatakannya secara terbuka apa keinginanku saat itu. Namun mertuaku sepertinya ingin mendengarnya langsung dari bibirku. Ia sengaja mengulur-ulur dengan hanya menggesek-gesekan kontolnya. Sementara aku benar-benar sudah tak tahan lagi mengekang birahiku. &#8220;Novii&#8230;.iiii&#8230; iiiingiiinnnn aaa&#8230;aaayahhhh&#8230;.se&#8230;.se.. seeegeeeraaaa ma&#8230; masukin..!!!&#8221;, kataku terbata-bata dengan terpaksa. Aku sebenarnya sangat malu mengatakan ini. Aku yang tadi begitu ngotot tidak akan memberikan tubuhku padanya, kini malah meminta-minta. Perempuan macam apa aku ini!? &#8220;Apanya yang dimasukin&#8230;&#8230;.!!&#8221;, tanyanya lagi seperti mengejek. &#8220;Aaaaaaggggkkkkkhhhhh&#8230;..ya&#8230;yaaaahhhh. Ja&#8230;..ja&#8230;.Jaaangan siksa Noviiii..!!!&#8221; &#8220;Bapak tidak bermaksud menyiksa kamu sayang&#8230;&#8230;!!&#8221; &#8220;Oooooohhhhhh.., Yaaaahhhh&#8230; Noviii ingin dimasukin kontol ayah ke dalam memek Novi&#8230;&#8230; uugghhhh..!!!&#8221; Aku kali ini sudah tak malu-malu lagi mengatakannya dengan vulgar saking tak tahannya menanggung gelombang birahi yang menggebu-gebu.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku merasa seperti wanita jalang yang haus seks. Aku hampir tak percaya mendengar ucapan itu keluar dari bibirku sendiri. Tapi apa mau dikata, memang aku sangat menginginkannya segera. &#8220;Baiklah sayang. Tapi pelan-pelan ya&#8221;, kata mertuaku dengan penuh kemenangan telah berhasil menaklukan diriku. &#8220;Uugghh..&#8221;, aku melenguh merasakan desakan batang kontolnya yang besar itu. Aku menunggu cukup lama gerakan kontol mertuaku memasuki diriku. Serasa tak sampai-sampai. Selain besar, kontol mertuaku sangat panjang juga. Aku sampai menahan nafas saat batangnya terasa mentok di dalam. Rasanya sampai ke ulu hati. Aku baru bernafas lega ketika seluruh batangnya amblas di dalam. Mertuaku mulai menggerakkan pinggulnya perlahan-lahan. Satu, dua dan tiga tusukan mulai berjalan lancar. Semakin membanjirnya cairan dalam liang memekku membuat kontol mertuaku keluar masuk dengan lancarnya. Aku mengimbangi dengan gerakan pinggulku. Meliuk perlahan. Naik turun mengikuti irama tusukannya. Gerakan kami semakin lama semakin meningkat cepat dan bertambah liar. Gerakanku sudah tidak beraturan karena yang penting bagiku tusukan itu mencapai bagian-bagian peka di dalam relung kewanitaanku. Dia tahu persis apa yang kuinginkan.</p>
<p style="text-align: justify;">Ia bisa mengarahkan batangnya dengan tepat ke sasaran. Aku bagaikan berada di awang-awang merasakan kenikmatan yang luar biasa ini. Batang mertuaku menjejal penuh seluruh isi liangku, tak ada sedikitpun ruang yang tersisa hingga gesekan batang itu sangat terasa di seluruh dinding vaginaku. &#8220;Aduuhh.. auuffhh.., nngghh..!!!&#8221;, aku merintih, melenguh dan mengerang merasakan semua kenikmatan ini. Kembali aku mengakui keperkasaan dan kelihaian mertuaku di atas ranjang. Ia begitu hebat, jantan dan entah apalagi sebutan yang pantas kuberikan padanya. Toni suamiku tidak ada apa-apanya dibandingkan ayahnya yang bejat ini. Yang pasti aku merasakan kepuasan tak terhingga bercinta dengannya meski kusadari perbuatan ini sangat terlarang dan akan mengakibatkan permasalahan besar nantinya. Tetapi saat itu aku sudah tak perduli dan takkan menyesali kenikmatan yang kualami. Mertuaku bergerak semakin cepat. Kontolnya bertubi-tubi menusuk daerah-daerah sensitive. Aku meregang tak kuasa menahan desiran-desiran yang mulai berdatangan seperti gelombang mendobrak pertahananku.</p>
<p style="text-align: justify;">Sementara mertuaku dengan gagahnya masih mengayunkan pinggulnya naik turun, ke kiri dan ke kanan. Eranganku semakin keras terdengar seiring dengan gelombang dahsyat yang semakin mendekati puncaknya. Melihat reaksiku, mertuaku mempercepat gerakannya. Batang kontolnya yang besar dan panjang itu keluar masuk dengan cepatnya seakan tak memperdulikan liangku yang sempit itu akan terkoyak akibatnya. Kulihat tubuh mertuaku sudah basah bermandikan keringat. Aku pun demikian. Tubuhku yang berkeringat nampak mengkilat terkena sinar lampu kamar. Aku mencoba meraih tubuh mertuaku untuk mendekapnya. Dan disaat-saat kritis, aku berhasil memeluknya dengan erat. Kurengkuh seluruh tubuhnya sehingga menindih tubuhku dengan erat. Kurasakan tonjolan otot-ototnya yang masih keras dan pejal di sekujur tubuhku. Kubenamkan wajahku di samping bahunya. Pinggul kuangkat tinggi-tinggi sementara kedua tanganku menggapai buah pantatnya dan menarik kuat-kuat. Kurasakan semburan demi semburan memancar kencang dari dalam diriku. Aku meregang seperti ayam yang baru dipotong.</p>
<p style="text-align: justify;">Tubuhku mengejang-ngejang di atas puncak kenikmatan yang kualami untuk kedua kalinya saat itu. &#8220;Yaaaah.., ooooohhhhhhh.., Yaaaahhhhh..eeee&#8230;eeennnaaaakkkkkkkk&#8230;!!!&#8221; Hanya itu yang bisa keluar dari mulutku saking dahsyatnya kenikmatan yang kualami bersamanya. &#8220;Sayang nikmatilah semua ini. Bapak ingin kamu dapat merasakan kepuasan yang sesungguhnya belum pernah kamu alami&#8230;.&#8221;, bisik ayah dengan mesranya. &#8220;Bapak sayang padamu, Bapak cinta padamu&#8230;. Bapak ingin melampiaskan kerinduan yang menyesak selama ini..&#8221;, lanjutnya tak henti-henti membisikan untaian kata-kata indah yang terdengar begitu romantis. Aku mendengarnya dengan perasaan tak menentu. Kenapa ini datangnya dari lelaki yang bukan semestinya kusayangi. Mengapa kenikmatan ini kualami bersama mertuaku sendiri, bukan dari anaknya yang menjadi suamiku&#8230;????. Tanpa terasa air mata menitik jatuh ke pipi. Mertuaku terkejut melihat ini. Ia nampak begitu khawatir melihatku menangis. &#8220;Novi sayang, kenapa menangis?&#8221; bisiknya buru-buru.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Maafkan Bapak kalau telah membuatmu menderita..&#8221;, lanjutnya seraya memeluk dan mengelus-elus rambutku dengan penuh kasih sayang. Aku semakin sedih merasakan ini. Tetapi ini bukan hanya salahnya. Aku pun berandil besar dalam kesalahan ini. Aku tidak bisa menyalahkannya saja. Aku harus jujur dan adil menyikapinya. &#8220;Bapak tidak salah. Novi yang salah..&#8221;, kataku kemudian. &#8220;Tidak sayang. Bapak yang salah&#8230;&#8221;, katanya besikeras. &#8220;Kita, Yah. Kita sama-sama salah&#8221;, kataku sekaligus memintanya untuk tidak memperdebatkan masalah ini lagi. &#8220;Terima kasih sayang&#8221;, kata mertuaku seraya menciumi wajah dan bibirku. Kurasakan ciumannya di bibirku berhasil membangkitkan kembali gairahku. Aku masih penasaran dengannya. Sampai saat ini mertuaku belum juga mencapai puncaknya. Aku seperti mempunyai utang yang belum terbayar. Kali ini aku bertekad keras untuk membuatnya mengalami kenikmatan seperti apa yang telah ia berikan kepadaku. Aku tak sadar kenapa diriku jadi begitu antusias untuk melakukannya dengan sepenuh hati.</p>
<p style="text-align: justify;">Biarlah terjadi seperti ini, toh mertuaku tidak akan selamanya berada di sini. Ia harus pulang ke Amerika. Aku berjanji pada diriku sendiri, ini merupakan yang terakhir kalinya. Timbulnya pikiran ini membuatku semakin bergairah. Apalagi sejak tadi mertuaku terus-terusan menggerakan kontolnya di dalam memekku. Tiba-tiba saja aku jadi beringas. Kudorong tubuh mertuaku hingga terlentang. Aku langsung menindihnya dan menicumi wajah, bibir dan sekujur tubuhnya. Kembali kuselomoti batang kontolnya yang tegak bagai tiang pancang beton itu. Lidahku menjilat-jilat, mulutku mengemut-emut. Tanganku mengocok-ngocok batangnya. Kulirik kewajah mertuaku kelihatannya menyukai perubahanku ini. Belum sempat ia akan mengucapkan sesuatu, aku langsung berjongkok dengan kedua kaki bertumpu pada lutut dan masing-masing berada di samping kiri dan kanan tubuh mertuaku. Selangkanganku berada persis di atas batangnya. &#8220;Akh sayang!&#8221; pekik mertuaku tertahan ketika batangnya kubimbing memasuki liang memekku. Tubuhku turun perlahan-lahan, menelan habis seluruh batangnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Selanjutnya aku bergerak seperti sedang menunggang kuda. Tubuhku melonjak-lonjak seperti kuda binal yang sedang birahi. Aku tak ubahnya seperti pelacur yang sedang memberikan kepuasan kepada hidung belang. Tetapi aku tak perduli. Aku terus berpacu. Pinggulku bergerak turun naik, sambil sekali-sekali meliuk seperti ular. Gerakan pinggulku persis seperti penyanyi dangdut dengan gaya ngebor, ngecor, patah-patah, bergetar dan entah gaya apalagi. Pokoknya malam itu aku mengeluarkan semua jurus yang kumiliki dan khusus kupersembahkan kepada ayah mertuaku sendiri! &#8220;Ooohh&#8230; oohhhh&#8230; oooouugghh.. Noviiiii.., luar biasa&#8230;..!!!&#8221; jerit mertuaku merasakan hebatnya permainanku. Pinggulku mengaduk-aduk lincah, mengulek liar tanpa henti. Tangan mertuaku mencengkeram kedua buah dadaku, diremas dan dipilin-pilin, sehingga air susuku keluar jatuh membasahi dadanya. Ia lalu bangkit setengah duduk. Wajahnya dibenamkan ke atas dadaku. Menjilat-jilat seluruh permukaan dadaku yang berlumuran air susuku dan akhirnya menciumi putting susuku. Menghisapnya kuat-kuat sambil meremas-remas menyedot air susuku sebanyak-banyaknya.</p>
<p style="text-align: justify;">Kami berdua saling berlomba memberi kepuasan. Kami tidak lagi merasakan dinginnya udara meski kamarku menggunakan AC. Tubuh kami bersimbah peluh, membuat tubuh kami jadi lengket satu sama lain. Aku berkutat mengaduk-aduk pinggulku. Mertuaku menggoyangkan pantatnya. Kurasakan tusukan kontolnya semakin cepat seiring dengan liukan pinggulku yang tak kalah cepatnya. Permain kami semakin meningkat dahsyat. Sprei ranjangku sudah tak karuan bentuknya, selimut dan bantal serta guling terlempar berserakan di lantai akibat pergulatan kami yang bertambah liar dan tak terkendali. Kurasakan mertuaku mulai memperlihatkan tanda-tanda. Aku semakin bersemangat memacu pinggulku untuk bergoyang. Mungkin goyangan pinggulku akan membuat iri para penyanyi dangdut saat ini. Tak selang beberapa detik kemudian, aku pun merasakan desakan yang sama. Aku tak ingin terkalahkan kali ini. Kuingin ia pun merasakannya. Tekadku semakin kuat. Aku terus memacu sambil menjerit-jerit histeris. Aku sudah tak perduli suaraku akan terdengar kemana-mana. Kali ini aku harus menang! Upayaku ternyata tidak percuma.</p>
<p style="text-align: justify;">Kurasakan tubuh mertuaku mulai mengejang-ngejang. Ia mengerang panjang. Menggeram seperti harimau terluka. Aku pun merintih persis kuda betina binal yang sedang birahi. &#8220;Eerrgghh.. ooooo&#8230;.ooooooo&#8230;..oooooouugghhhhhh..!!!!&#8221; mertuaku berteriak panjang. Tubuhnya menghentak-hentak liar. Tubuhku terbawa goncangannya. Aku memeluknya erat-erat agar jangan sampai terpental oleh goncangannya. Mendadak aku merasakan semburan dahsyat menyirami seluruh relung vaginaku. Semprotannya begitu kuat dan banyak membanjiri liangku. Akupun rasanya tidak kuat lagi menahan desakan dalam diriku. Sambil mendesakan pinggulku kuat-kuat, aku berteriak panjang saat mencapai puncak kenikmatan berbarengan dengan ayah mertuaku. Tubuh kami bergulingan di atas ranjang sambil berpelukan erat. Saking dahsyatnya, tubuh kami terjatuh dari ranjang. Untunglah ranjang itu tidak terlalu tinggi dan permukaan lantainya tertutup permadani tebal yang empuk sehingga kami tidak sampai terkilir atau terluka. &#8220;Oooooogggghhhhhhh.. yaahh..,nik&#8230;.nikkkk nikmaatthh&#8230;. yaaahhhh..!!!!&#8221; jeritku tak tertahankan.</p>
<p style="text-align: justify;">Tulang-tulangku serasa lolos dari persendiannya. Tubuhku lunglai, lemas tak bertenaga terkuras habis dalam pergulatan yang ternyata memakan waktu lebih dari 2 jam! Gila! Jeritku dalam hati. Belum pernah rasanya aku bercinta sampai sedemikian lamanya. Aku hanya bisa memeluknya menikmati sisa-sisa kepuasan. Perasaanku tiba-tiba terusik. Sepertinya aku mendengar sesuatu dari luar pintu kamar, kayaknya si Inah&#8230;. Karena mendengar suara ribut-ribut dari kamar, rupanya ia datang untuk mengintip&#8230;. tapi aku sudah terlalu lelah untuk memperhatikannya dan akhirnya tertidur dalam pelukan mertuaku, melupakan semua konsekuensi dari peristiwa di sore ini di kemudian hari&#8230;..</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ceritasex.cn/diperkosa-ayah-mertua/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ibu Kos Mantan Pelacur</title>
		<link>http://www.ceritasex.cn/ibu-kos-mantan-pelacur/</link>
		<comments>http://www.ceritasex.cn/ibu-kos-mantan-pelacur/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 30 Dec 2009 02:23:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cerita Sex</dc:creator>
				<category><![CDATA[Paruh baya]]></category>
		<category><![CDATA[Seks Umum]]></category>
		<category><![CDATA[Tante Girang]]></category>
		<category><![CDATA[ibu kost]]></category>
		<category><![CDATA[incest]]></category>
		<category><![CDATA[seks]]></category>
		<category><![CDATA[taboo]]></category>
		<category><![CDATA[tante]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ceritasex.cn/?p=1148</guid>
		<description><![CDATA[Sebagai Mahasiswa dari daerah, aku masih lugu ekali tentang kehidupan Ibukota Jakarta. Di Jakarta aku tidak punya sanak famili, jadi aku tinggal disebuah rumah kos yang dikelola oleh seorang wanita kira-kira berumur empat puluhan. Wanita itu tidak punya suami dan tidak punya anak. Dia tinggal bersama dua orang pembantunya di rumah yang semegah itu. Aku [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Sebagai Mahasiswa dari daerah, aku masih lugu ekali tentang kehidupan Ibukota Jakarta. Di Jakarta aku tidak punya sanak famili, jadi aku tinggal disebuah rumah kos yang dikelola oleh seorang wanita kira-kira berumur empat puluhan. Wanita itu tidak punya suami dan tidak punya anak. Dia tinggal bersama dua orang pembantunya di rumah yang semegah itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku memilih rumah kos ibu Ratna karena lokasinya dekat dengan Kampusku. Rumah kos itu terdiri dari banyak kamar, yang dihuni oleh Mahasiswa/mahasiswi, pelajar, karyawan swasta, hostess, dan berbagai kalangan profesi. Aku memilih kamar yang paling murah dengan fasilitas yang paling sederhanya, letaknya paling belakang, pojok dekat dengan kamar pembantu. Aku memilih kamar itu, karena sewanya yang paling murah. Jika mengambil kamar dilantai atas, bisa bangkrut aku. Apalagi kamar yang dekat kamarnya ibu Ratna, barangkali jauh lebih mahal. Memang ada dua kamar disamping kamar ibu Ratna, kamar itu dibiarkan kosong, katanya untuk sanak famili yang menginap.</p>
<p style="text-align: justify;">Pergaulan di rumah kos itu tampaknya acuh tak acuh, Lu ya elu, gue ya gue, individualistis sekali. terus terang, aku yang paling minder disana, karena aku yang paling &#8220;kere&#8221;. Walau aku kere, tapi terkadang aku sok pede, sok yakin, sok percaya diri. Diantara penghuni kos, akulah yang paling sering ngobrol dengan Ibu Kos. yang lainnya sibuk enggak punya waktu. bahkan pernah diajak makan bersama diruang makannya yang megah itu. Ternyata dia ramah sekali, lembut, sopan santunnya tinggi sekali, bahkan dia selalu memaklumi aku jika aku terlambat membayar uang kos. Kalau yang lainnya, ada yang sering nunggak bayar kos, dan nasibnya disuruh mengosongkan kamarnya alias disuruh pergi !!! Kabanyakan dari mereka adalah wanita. kayaknya dia tak suka sama wanita. Aku pernah nunggak tujuh bulan, Bu ratna tetap senyum-senyum saja menerima penjelasanku, kenapa aku terlambat. Dan selalu mengatakan Its Okey ?! No Problem !!!. kamu itu kan adik saya ?!. Jawabannya itu lho ? membuat aku GR banget, dan membuat aku bingung, kenapa hanya aku mendapat pelayanan istimewa ? mendapat previlage berlebihan ?</p>
<p style="text-align: justify;">Semua jawaban itu baru terkuak ketika pada suatu malam dengan hujan yang sangat lebat kira-kira pukul 12.00 malam, dimana rumah kos itu sunyi sekali dan sebagian besar penghuninya pulang kampung karena musim liburan panjang. Kamarku yang dibelakang dan pojok, malam itu bocor, gentingnya memang sudah pada enggak karuan, kasurku basah kuyup, aku kuwalahan menghadapi air hujan sialan itu. Aku hanya bisa mojok sambil kedinginan. Dan&#8230;..tiba-tiba pintu diketuk dari luar. Aku membukanya, astaga ! Ibu Ratna yang datang.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8221; Kamarmu bocor ya ?, yuk pindah diatas saja, kasihan kamu kedinginan ya &#8221; Tanya nya. Aku mengangguk dan tanpa pikir panjang lantas bergegas pergi ke kamar atas bersama Ibu kosku. Aku diajaknya ke kamar dia, dan aku diberikan handuk untuk mengeringkan rambutku yang kena bocoran air hujan tadi dikamarku. Aku menuruti perintahnya, disuruhnya sekalia saja aku mandi air hangat di kamar mandi pribadinya, aku nurut saja. Kapan lagi ? kesempatan mendapat pelayanan dengan fasilitas yang sangat OK.</p>
<p style="text-align: justify;">Selesai mandi, aku keluar dari kamar mandi hanya dengan handuk yang melingkar dibagian perutku, hanya untuk menutupi bagian vital tubuhku saja. Begitu aku melihat bu Ratna, aku terkejut sekali, dia sudah ganti pakaian dengan busana tidur yang tipis sekali, dia tidak pakai BH dan bagian bawahnya tampaknya juga begitu, gaun itu transparant sekali diterpa sinar lampu kamar itu yang terang benderang. Dia berdiri dihadapanku, aku sempat gugup dan salah tingkah. Tiba-tiba dia menarik lenganku, aku dipeluknya dan bibirku diciumnya. Kontan saja handuk yang melingkari alat vitalku melorot dan membuat aku bugil. Aku masih terdiam, pasrah saja, gugup tidak tahu apa yang harus kuperbuat. Tanganku ditarik bu ratna, ditempelkannya di teteknya yang besar itu. &#8221; Remas-remas dong sayang ? remas yang mesra ya ?&#8221; pintanya. Aku melakukannya dan kuelus dan kuremas-remas tetek itu. Dia menggeliat-geliat. Posisi kami masih berdiri tegak, alat vitalku berdiri tegak pula besar dan kencang sekali. Bu Ratna melepas pelukannya dan lantas menatapku sambil tersenyum manis sekali.<br />
<span id="more-1148"></span><br />
&#8221; Bingung ya ?&#8221; Tanyanya. Aku menggeleng tersipu. &#8221; jangan takut, enggak ada siapa-siapa disini, tidak ada yang berani naik ke kamarku ini. Kamu suka ?&#8221; Aku mengangguk bego. Bu Ratna menuntunku ke tepi tempat tidurnya. Dia merebahkan tubuhnya dengan kaki menjulur keluar tempat tidur. Posisinya menantang sekali. Lekuk tubuhnya tampak jelas sekali menerawang dari gaun transparan itu. Aku masih berdiri bugil. Ku perhatikan mekinya bu Ratna yang besar dan seksi itu. Dia memberi isyarat agar aku mendekat. Setelah aku duduk disisinya, dia bangkit dan langsung mebuka gaunnya hingga kami sama-sama bugil alias telanjang bulat. Jari jemari bu Ratna mengelus-elus alat vitalku, sambil dia mendesah-desah manrik nafsnya panjang panjang. Dia birahi sekali tampaknya.</p>
<p style="text-align: justify;">Tak lama kemudian dia menjilati alat vitalku, dari mulai biji kemaluanku hingga ke ujung atau kepala kemaluanku. Lantas diisapnya dengan penuh penghayatan. Matanya merem melek. Dikocok-kocoknya alat vitalku, ya karuan saja semakin tegang dan semakin membesar. &#8221; Wah besar sekali ? &#8221; gumannya terkagum kagum melihat alat vitalku. &#8221; Kamu macho banget, jantan sekalii . Tidak salah aku memilih kamu, kamu masih muda punyamu kelas super &#8221; sambungnya sambil mengocok-ngocok kemaluanku.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8221; Kita main di sofa saja ya ? &#8221; Ajaknya mesra. &#8221; Baik bu &#8221; jawabku. &#8221; Jangan panggil aku ibu, panggil saja aku Ratna, begitu kan lebih dekat rasanya &#8220;. Kami pindah ke sofa, aku disuruhnya duduk dengan kaki dibuka lebar. Dia naik diatasku dan langsung memasukkan kemaluan ke dalam lubang mekinya, lalu beraksi dengan gerakan naik turun mengocok-ngocok ******ku. Ku peluk dia, kuciumi teteknya, dia semakin bernafsu. Diluar sementara hujan semakin lebat angin bertiup kencang sekali. malam itu kami larut dalam buaian surga dunia yang indah dan nikmat sekali.</p>
<p style="text-align: justify;">Ratna orangnya nyentrik sekali. Dibagian bahunya ada tato kupu-kupu, gaya hidupnya juga kayak anak muda. Meki ratna pulen sekali rasanya dan dalam. Tubuhnya langsing tinggi, rambutnya sebahu lebat sekali, sama lebatnya seperti bulu mekinya itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Kami masih bertempur habis-habisan diatas sofa. Aku masih dibawah, dia diatas. Goyangannya indah sekali, tampak dia profesional sekali melayani aku.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8221; Kami sering jajan ya ?&#8221; tanyanya. &#8221; Maksud kamu apa ratna ? &#8221; Aku balik bertanya. &#8221; Yah..itu tuh&#8230;sering cari itu tuh&#8230;.wanita &#8220;P&#8221; , sering main dimana kamu ?&#8221; &#8221; Ah&#8230;mana saya punya uang untuk yang begitu &#8221; &#8221; Tapi mainanmu lihay sekali, nyodoknya juga oke banget lho, aku sudah dua kali orgasme, masih belum puas, tapi kamu masih tetap bertahan kuat&#8221; Jelasnya memuji. Aku diam saja, aku masih menjilati teteknya yang besar dan montok itu.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8221; Sekarang kita main di tempat tidur, kamu diatas ya ?&#8221; Pintanya. Kami main diatas ranjang, aku posisi diatas. Aku dipeluknya erat sekali, bibirku dilumat habis oleh bu Ratna. Wah permainanya hot sekali.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8221; Sudah lama aku kesepian, tolong puaskan aku Ron, sepuas-puasnya &#8221; Pintanya. &#8221; Sampai pagi ?&#8221; jawabku. &#8221; Ya bila perlu sampai pagi. Remas tetekku, goyangnya yang kenceng dong ? terus ron&#8230;terus Ron&#8230;semakin kedalam, Oohhh..mentok Ron ! enak banget Ron, ******mu besar banget, sampai menthok banget nih&#8230;? tapi nikmat sekali, jilati tetekku Ron aku sudah mau keluar, bareng ya keluarnya ? &#8221; Pintanya memelas. &#8221; Baik, aku juga sudah mau keluar. Goyangin dong biar aku keluar &#8220;. Secara reflek Ratna menggoyangkan pinggulnya dengan gerakan memutar-mutar seperti penari hula-hula Hawai. Gila banget goyangnya, aku dibuatnya kleenger&#8230;dan aku OOhhh&#8230;.terus rat&#8230;terus&#8230;..nikmat Rat&#8230;mau keluar nih&#8230;.&#8221; Aku juga Ron, nikmat banget ya ? mainanmu itu enak banget&#8230;OOhhh&#8230;Ronyku sayang&#8230;&#8230;peluk aku Ron&#8230;..yang dalam Ron&#8230;..terus&#8230;terus&#8230;.menthok&#8230;..OOHhh&#8230;.Rony aku keluar Ron ??!!!&#8221; Ratna langsung meremas lenganku sekuat kuatnya, dia orgasme dan nikmat sekali tampakya hingga dia meremas lenganku kuat-kuat.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8221; Gila lu ?! pinter banget, kau sudah tiga kali kamu baru keluar &#8221; Kata ratna sambil bangkit dari tempat tidur dan memukulku dengan bantal dengan gaya bercanda. Dia duduk di sofa, kakiya ngangkang, tubuhnya direbahkan disandaran sofa, tampak dia lemas sekali. Mekinya masih tampak memerah, teteknya masih ereksi, karena putingnya tampak besar dan kencang, warnanya pink, indah sekali, sesuai dengan kulitnya yang kuning langsat.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8221; Kamu berbakat jadi Gigolo Ron &#8220;</p>
<p style="text-align: justify;">&#8221; Gigolo ? mana mungkin ? apa modalku ?&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">&#8221; Ya, kamu jadi gigoloku saja !, kita bisa setiap saat begini &#8220;</p>
<p style="text-align: justify;">&#8221; Kamu juga mainnnya hot banget Rat ?! sudah pengalaman sekali, belajar dimana ?&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">&#8221; Belajar ? ya dari pengalaman !. Tahu enggak kamu ? aku tidak bersuami ? kenapa ? karena aku takut mendapat laki-laki hidung belang. Soalnya, semua yang pernah meniduriku adalah laki-laki hidung belang, hanya butuh tubuhku saja. Dulu aku wanita panggilan, klienku orang-orang top, orang VIP, tarifku selangit. Tapi setelah aku diatas tigapuluh lima tahun, pasaranku merosot, dan aku memilih pensiun, kalah saingan dengan yang ABG-ABG &#8221; Jawabnya tegas.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8221; Tapi kamu kaya raya ratna ?! kok tidak pilih suami yang mantap ?&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">&#8221; Kamu khan suamiku &#8221; Jawabnya bercanda.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8221; Kamu sering main dimana ? sering nyabo ya ? &#8220;kata ratna.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8221; Yah&#8230;.kadang-kadang, jika kebelet banget. Dulu sering dengan cewekku, dengan janda tetangga juga pernah, tapi enggak OK, janda kampung ! dengan banci juga pernah, tapi yang paling hot dengan kamu Ratna ?!<br />
&#8221; Ya jelas dong ? aku kan sudah lama banget enggak main, enggak ngerasain ****** ! Tapi mulai malam ini, kamu akan aku ikat, kamu harus jadi pacarku, bila perlu jadi suamiku. Aku jatuh cinta denganmu Rony, sudah lama aku menarih simpati padamu &#8221; Balas Ratna sambil menghampiriku dan memelukku serta melumat bibirku dengan bibirnya. Kami birahi lagi, sambil berpelukan dengan kaki diangkat sebelah dan diposisikan ke sandaran sofa, Ratna menuntun ******ku dan dimasukkan kedalam liang kemaluannya. Dia beraksi lagi, goyangannya membuat aku melayang-layang ke awang-awang. Baru kali ini aku merasakan goyangan yang begitu penuh gairah dan tenaga. Ratna melepas ******ku, dan dengan segera dia naik ke rajang dan posisinya nungging. Waduhhhh&#8230;mekinya tampak besar sekali dan hot, sepontan kumasukkan alat viatlku kedalam meki itu melalui posisi seperti ****** kawin.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8221; Aduhhh Rony, kok enak banget ya ? lebih dalam lagi Ron, Ooohhh mentok &#8230; Ron&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">&#8221; Sama, enak banget punya kamu Ratna, kamu sudah berumur, tapi barangmu pulen sekali &#8220;</p>
<p style="text-align: justify;">&#8221; Aku rawat terus sayang&#8230;apalagi aku jarang main, paling-paling pakai dildo, ya lama-lama bosen juga. Terus Ron..terus goyangnya, sambil remas tetekku, gigit bahuku Ron, OOhhh&#8230;&#8230;aku nikmat banget. Gigitanmu membuat aku semakin nafsu. Ohhh terus Ron&#8230;OOhhh Ron aku keluar, aku keluar lagi, aku kalah Ron ?! &#8221;<br />
Sejak saat itu, aku dan Ratna intim terus. Dia pindah rumah, ke rumahnya yang baru. Begitu juga aku diajaknya disana tinggal serumah. Rumah kosnya dikelola oleh pembantu rumah tangganya. Dirumah barunya Ratna, aku bebas melakukan persetubuhan kapan saja, dengan gaya dan posisi apa saja. Ibu kos ku ini, ibu Ratna ternyata mantan pelacur yang selalu kesepian dan ketagihan sex.</p>
<p style="text-align: justify;">Ada satu hal yang menyakitkan aku, kuliahku gagal, putus ditengah jalan, karena sering aku bolos kuliah, bangun kesiangan kelewat capek lembur semalam suntuk. Tapi aku dan Ratna hidup kumpul kebo bergelimang harta dan uang. Aku disuruhnya mengelola duabelas armada angkot dan kesemuanya pemilikannya diserahkan kepadaku. Aku bukan gigolo, karena aku tidak pernah minta bayaran, aku menyayangi Ratna, karena aku memang betul-betul mencintainya sepenuh hati. Usia kami berbeda jauh, dia sudah berumur empat puluhan, sementara aku masih kepala dua, dia lebih pantas jadi ibuku.Tapi aku sangat sayang dengannya.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ceritasex.cn/ibu-kos-mantan-pelacur/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Renita, Bersetubuh Dengan Kakak Ipar.</title>
		<link>http://www.ceritasex.cn/renita-bersetubuh-dengan-kakak-ipar/</link>
		<comments>http://www.ceritasex.cn/renita-bersetubuh-dengan-kakak-ipar/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 13 Nov 2009 23:23:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cerita Sex</dc:creator>
				<category><![CDATA[kisah nyata]]></category>
		<category><![CDATA[Paruh baya]]></category>
		<category><![CDATA[Sedarah]]></category>
		<category><![CDATA[selingkuh]]></category>
		<category><![CDATA[bercinta]]></category>
		<category><![CDATA[bersetubuh]]></category>
		<category><![CDATA[incest]]></category>
		<category><![CDATA[ipar]]></category>
		<category><![CDATA[ml]]></category>
		<category><![CDATA[ngentot]]></category>
		<category><![CDATA[renita]]></category>
		<category><![CDATA[seks]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ceritasex.cn/?p=1058</guid>
		<description><![CDATA[Renita 28 th memiliki postur tubuh yang aduhai, tinggi 160 kulitnya yang putih memiliki payudara cukup besar dan kencang, pinggang yang ramping tanpa ada lemak sedikitpun diperutnya dan yang paling ia banggakan adalah pinggulnya yang sexy dengan bongkahan pantatnya yang bulat menonjol membuat pria manapun menahan napas, Rudi 32 th suami Renita berkerja sebagai salah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Renita 28 th memiliki postur tubuh yang aduhai, tinggi 160 kulitnya yang putih memiliki payudara cukup besar dan kencang, pinggang yang ramping tanpa ada lemak sedikitpun diperutnya dan yang paling ia banggakan adalah pinggulnya yang sexy dengan bongkahan pantatnya yang bulat menonjol membuat pria manapun menahan napas, Rudi 32 th suami Renita berkerja sebagai salah satu direktur disebuah perusahaan besar. Perkawinan mereka baru berumur 2 tahun dan belum dikaruniai anak. Keadaan rumah tangga mereka biasa biasa saja, hanya baru baru ini Rudi selalu sibuk dengan pekerjaannya kadang pulang larut malam bahkan kadang dikirim perusahaannya keluar negeri sampai berminggu minggu. Renita mulai merasakan kesepian, pernah satu kali ia ingin ikut suaminya keluar negeri tetapi suaminya tidak mengijinkan. Renita protes karena tidak punya kawan berbicara, akhirnya Rudi mengusulkan untuk ditemani kakaknya Robert 34 th yang kebetulan dipindahkan oleh perusahaannya kekota mereka tinggal. Robert baru saja cerai dengan istrinya karena ada ketidak cocokkan diantara mereka. Robert mempunyai wajah yang cukup tampan dengan tubuh atletis memiliki sifat easy going mudah bergaul dan mempunyai sifat womenizer. Singkat cerita Robert akan tinggal dirumah mereka sebagai orang ketiga yang akan merubah kehidupan Renita selanjutnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Dihari pertama Robert tinggal dirumah mereka, Robert langsung terpesona akan kecantikan adik iparnya atau lebih tegas lagi ia tergiur oleh kemolekan tubuh adik iparnya yang aduhai itu. Hanya karena ia baru saja bertemu dengan adiknya setelah sekian lama tidak bertemu maka ia lebih menyesuaikan dirinya sebagai layaknya seorang kakak. Rudi tidak menaruh curiga apapun kepada kakaknya bahkan ia meminta kakaknya untuk menemani istrinya jikalau ia keluar kota. Suatu saat ketika Rudi akan mendapatkan tugas kantornya selama dua bulan, malam sebelumnya mereka saling berdebat, rupanya Renita tetap ingin ikut karena dua bulan bukan waktu yang singkat dan Renita yang mempunyai sifat polos dan blak blakan langsung to the point bahwa sudah tiga minggu ia tidak digauli oleh suaminya sekarang mau ditinggal dua bulan. Rudi coba menenangkan istrinya dengan mengimingi akan dibawakan oleh oleh dari belanda, Renita tetap kecewa ia hanya ingin kemesraan dari suaminya, akhirnya dengan terpaksa Rudi menggauli istrinya malam itu tetapi karena pikirannya hanya pada tugasnya saja maka ia dengan tempo singkat ia menggauli istrinya dan Renita pun tidak mendapatkan kepuasan bathin yang ia sangat harapkan dari suaminya.</p>
<p style="text-align: justify;">Pagi hari setelah Rudi berangkat ke airport seperti biasanya Renita menyediakan makan pagi, kali ini hanya untuk kakak iparnya saja dan setelah siap Renita memanggil kakak iparnya untuk sarapan, sebenarnya Robert sudah bangun tetapi ia tahu bahwa adiknya keluar negeri hari ini dan ia mendengar perdebatan mereka tadi malam, maka pagi ini ia akan mencoba hasratnya untuk menguji adik iparnya. Lalu ia menyiapkan suatu perangkap dengan pura pura ketiduran sambil menaruh beberapa majalah porno diserakan dilantai. Benar saja tiba tiba pintunya yang tidak tertutup rapat diketuk oleh Renita &#8220;..Mas Robert sarapan mas..&#8221; Renita memanggil kakak iparnya sembari mendorong pintunya untuk melongok kedalam kamar, ternyata kakak iparnya masih tidur dengan memakai selimut menutupi tubuhnya, &#8220;Mas bangun sarapan..&#8221; Ia melihat Robert begitu nyenyak tidurnya akhirnya berniat untuk membangunkannya sendiri lalu masuk kekamar, ia melihat kelantai banyak sekali majalah yang telah terbuka berserakan, maka sebelum membangunkan kakak iparnya Renita bermaksud membereskan dahulu majalah majalah tersebut tetapi alangkah terkejutnya ketika ia mendapati gambar gambar yang ada didalam majalah tersebut. Tangan Renita bergemetaran hatinya berdegup keras melihat pose pose persetubuhan yang sangat closed up, dengan cepat ia melirik kuatir kakak iparnya tiba tiba bangun, hatinya ragu ragu sebenarnya ia ingin cepat cepat membereskan majalah ini ke raknya tetapi entah mengapa ada suatu hasrat ingin melihat gambar gambar itu lebih jauh, &#8220;..Ah.. satu dua halaman sudah itu cepet cepet ditaruh lagi..&#8221; pikiran Renita yang bercabang, lalu pelan pelan ia buka halaman demi halaman, makin dilihat makin melotot matanya, ia melihat satu wanita sedang disetetubuhi dua kali laki, jantungnya makin berdegup keras selangkangannya terasa gatal vaginanya terasa berdenyut denyut putingnya mengeras birahinya dengan cepat meluap kepermukaan apalagi tadi malam hasrat birahinya tidak tertuntaskan oleh suaminya, kembali ia melirik ketempat tidur<span id="more-1058"></span><br />
&#8220;..Ah mas Robert masih tidur..&#8221; lalu pelan pelan ia dudukdilantai sambil menarik dasternya keatas terlihat celana dalamnya yang menerawang tipis kemudian ia masukan tangannya kedalam cd nya, rupanya Renita ingin menuntaskan birahinya dengan masturbasi sambil menghayalkan gambar gambar tersebut, mulailah Renita menggosok gosok clitorisnya sambil memelototi beberapa pose pose gambar yang merangsang birahinya, Renita begitu terokupasi dengan masturbasinya sampai napasnya tersengal tersengal tiba tiba terdengar deritan tempat tidur, membuat Renita kaget bukan kepalang jantungnya terasa berhenti ketika ia menengok ke tempat tidur Robert masih pura pura tidur tetapi sudah berubah posisi dengan menghadap kedirinya dan yang sangat mengejutkan Renita, Robert sudah tidak berselimut lagi dan hanya memakai celana dalam, rupanya Robert dari tadi memperhatikan Renita sehingga kemaluannyapun berdiri, dan yang dilihat oleh Renita adalah pemandangan yang membuat birahinya semakin tidak menentu, tubuh kakak iparnya yang kekar dadanya yang bidang hanya dibalut sepotong cd dimana terlihat jelas batang kemaluannya tercetak dicelana dalamnya. Tubuh Renita terasa kaku dan berat sekali untuk digerakkan tetapi akhirnya agak lega ketika kakak iparnya terdengar mendengkur tanda masih nyenyak tidur.
</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;..Ohh..Renita kau sungguh cantik..&#8221; mulailah Robert pura pura ngelindur. Renita kaget mendengarnya sejenak ia berhenti melakukan aktifitasnya. &#8220;.. Ohh..seandainya kau istriku akan kupeluk mesra dirimu akan kuciumi seluruh tubuhmu yang begitu sexy..&#8221; Renita benar benar bingung mengapa tiba tibak kakak iparnya melindurkan dirinya tetapi hatinya begitu senang ada seseorang yang menyanjung dirinya walaupun yang menyanjung itu kakak iparnya sendiri. |Tanpa disadari Renita menggunggam sendiri, &#8220;.. Ohh mas Robert seandainya kau suamiku akan kupeluk tubuhmu yang perkasa ini..&#8221; Walaupun suara Renita terdengar lirih tetapi Robert masih dapat mendengarnya, Robert makin berani melakukan aksinya. &#8220;..Ohh..Renita sudah lama aku tidak bergaul dengan wanita seandainya kau bersedia, ingin rasanya aku menyetubuhimu akan kumasukan punyaku ini kevaginamu akan kuberikan kepuasan yang kau dambakan..&#8221; Renita terhenyak darahnya terasa mendidih..mengapa kakak iparnya tahu bahwa ia mendambakan kehangatan seorang laki laki, napsu birahinya semakin menjadi jadi. Vaginanya berdenyut denyut jarinya semakin dalam merogoh lobang kenikmatannya membayangkan ucapan kakak iparnya tersebut. Tiba tiba Robert berbalik lagi kali ini ia mencelentangkan tubuhnya sambil menceloteh memanggil nama |Renita dengan gerakan seperti tidak disengaja ia mengusap usap batang kemaluannya lalu dengan perlahan Robert mencopot cd nya hingga batang kemaluannya mengacung dengan tegar. Renita membelalakkan matanya jantungnya terasa berhenti darahnya berdesir berputar cepat sekali. Tadi malam ia merasakan batang kemaluan suaminya tidak setegar dan sebesar apa yang dilihat sekarang. &#8220;..Ohh Renita lihat batang penisku sudah siap untuk memuasi birahimu, oh seandainya kau diatasku akan kugesek gesekan penisku kevaginamu yang sudah merekah basah itu..&#8221; kembali Robert menyeloteh memancing reaksi Renita, benar saja Renita seperti tersihir tanpa melepaskan pandangannya ke batang kemaluan kakak iparnya ia copot cdnya bahkan sekaligus melepaskan dasternya sehingga Renitapun telanjang tanpa sehelai kain.</p>
<p style="text-align: justify;">Dengan tubuh bugil putih mulus sungguh sangat sexy Renita menaiki tempat tidur sambil mengangkat pantatnya yang sexy buah dadanya yang membusung ikut bergoyang, lalu dengan perlahan ia membuka kedua pahanya sehingga kelihatan vaginanya yang juga membusung, bibirnya terbelah merekah kemerah-merahan diantara bulu bulu kemaluannya yang halus dan sudah kelihatan basah berair. Clitorisnya berwarna merah muda sebesar biji kacang terlihat mencuat keatas diujung bibir vaginanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Renita mulai mengambil posisi berjongkok tepat diantara batang kemaluan Robert yang sudah berdiri tegang. Pikiran Renita sudah begitu kacau napsu birahinya tidak dapat dikuasainya lagi, kata kata kakak iparnya merupakan ajakan yang sangat menggoda kebutuhan sexnya. Renita melihat tubuh kakak iparnya yang sangat perkasa kepala penisnya sudah begitu dekat dengan vaginanya tapi entah mengapa Renita menunggu celotehan kakak iparnya lagi seolah olah menunggu komando untuk pembenaran tindakannya. &#8220;..Ohh..Renita masukin penisku ke vaginamu sayang..&#8221; Robert</p>
<p style="text-align: justify;">memincingkan sebelah matanya tak percaya apa yang dilihatnya, tubuh adik iparnya yang begitu sempurna tanpa sehelai benangpun lalu ia meneruskan celotehannya &#8220;..Ohh akhirnya kau datang dalam mimpiku Ren..pahamu sungguh mulus..&#8221; Robert menaruh kedua tangannya di paha Renita sambil mengelusnya. Renita bergetar hebat sentuhan tangan kakak iparnya menyadarkan seluruh hayalannya. Akhirnya Renita sadar bahwa ia betul betul membutuhkan kehangatan seorang pria dan pria itu berada tepat dihadapannya lalu tanpa sungkan lagi ia membangunkan kakak iparnya &#8220;..Mas Robert.. mas ini Renita bangun mas..&#8221; Lalu Robert membuka matanya dengan mimik pura pura terkejut &#8220;..Ren saya pikir saya sedang mimpi..&#8221; Renitapun tersenyum nakal &#8220;..Mas Robert naksir Renita ya..Renita denger semua yang mas ocehkan tadi lalu Renita turuti apa yang mas perintahkan..&#8221; Robert membalas senyumannya &#8220;.. Tapi belum masuk tuh penisku..&#8221; Renita yang sudah begitu menggebu gebu akhirnya kembali konsentrasi melanjutkan aksinya.</p>
<p style="text-align: justify;">Tetapi Renita tidak langsung memasukkan batang kemaluan kakak iparnya itu kedalam lobang vaginanya yang sudah merekah pasrah untuk menyambut batang penis yang besar itu, melainkan terlebih dahulu menggesek-gesekkan kepala kemaluannya itu diantara belahan vaginanya sehingga kepala yang besar itu basah dan mengkilap oleh cairan lendir yang keluar dari celah-celah vagina wanita itu.<br />
Renita terbuai dengan mata yang terpejam sambil mendesah-desah menahan gejolak nafsu birahi yang terus membara.<br />
&#8220;&#8230;sssssssshhhhh&#8230;maaaassss&#8230;ooooooogggghhhsss. ..!! Bagaikan diguyur air hangat Renita mendesah panjang tubuhnya terasa dialiri jutaan volt kenikmatan napsu birahinya makin terangsang hebat.<br />
Renita mulai menekan kepala penis yang sudah pas berada di posisi mulut lobang vaginanya. Tampak kepala penis Robert masih agak sulit masuk kedalam lobang vaginanya yang walaupun sudah basah dan berair itu karena belum pernah kemasukan penis sebesar punya kakak iparnya itu.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;&#8230;sssleeebbbb&#8230;ssslleeeebbb&#8230;sssslleeeebbb&#8230;b bbllleeeeesssssss&#8230;&#8221; pelan pelan batang penisnya mencoba menyusup lobang vagina Renita yang terasa sekali masih sempit walaupun sudah begitu basah.<br />
&#8220;&#8230;Aaaaaaauuuuuuukkkkkkhhhhhhh&#8230;sssssshhhhh&#8230;ma aaaasssss&#8230;! besaaaar sekaliiii..!!&#8221; &#8220;..Apanya yang besar Renn..?&#8221; Robert memancing reaksi Renita, &#8220;&#8230;Punyanya maass..!!&#8221; &#8220;..Apa namanya..?&#8221; Robert memancing lagi, Renita ragu menjawabnya karena belum pernah selama ia bersetubuh dengan suaminya menyebut nyebut kata kata vulgar, &#8220;..Apa namanya Renn..?&#8221; Robert terus mendesak, &#8220;..Kemaluannya maaas..&#8221; &#8220;..kontol..Renn..namanya kontol..&#8221; Robert menegaskan &#8220;..Apa Renn..?&#8221; akhirnya Renita dapat menyebutnya dengan lirih &#8220;..kontolnya mass besaaar sekali..&#8221; Robert tersenyum puas lalu dengan sekali sentakan mendorong pantatnya keatas, tampak Renita agak tersentak dan mendesah lirih ketika batang penis pria itu menyeruak masuk ke lobang vaginanya .<br />
Matanya terbeliak dengan mulut terbuka sambil kedua tangannya mencengkeram sprei dengan kuat-kuat.Tampak bibir vaginanya yang tebal itu sampai terkuak lebar seperti terkelupas seakan-akan tidak muat untuk menelan besarnya kemaluan kakak iparnya itu.<br />
&#8220;&#8230;Ooooooouuukkkkkhhhhssss&#8230;sssshhhhhh&#8230;maassss &#8230;!..pelaann..pelaann..maasss&#8230;!&#8221;<br />
&#8220;&#8230;hhhhmmmm&#8230;Rennnn memekmu&#8230;sempit sekalii&#8230;ukkkkhhh&#8230;uuuukkkkhhhh&#8230;&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Renita mulai berirama menaik turunkan pantatnya, batang penis Robert masuk merojok lobang vagina Renita tahap demi tahap hingga akhirnya amblas semuanya. Perlahan lahan Robert ikut bergoyang menarik ulur batang kemaluannya yang besar itu, Reni mulai merasakan sensasi yang luar biasa yang bukan main nikmatnya , liang vaginanya yang sudah licin terasa penuh sesak oleh penis kakak iparnya yang besar itu, urat urat batang kemaluannya menggesek nikmat sekali dinding vaginanya yang sudah dilumuri getah birahinya. Tanpa Renita sadari ia mulai menyeloteh diluar kontrol.<br />
&#8220;&#8230;Ohhhhhhhsss&#8230;ssshhh&#8230;enaaaaaak&#8230;seekaliiii. ..punyanya..maaassss..!!&#8230;oooougggghhh&#8230;terruuuu ssss&#8230;maaassss&#8230;teeerrruuusss&#8230;!&#8221;<br />
&#8220;..Terus diapain Renn..?&#8221; lagi lagi Robert ingin Renita menambah kosakatanya, sekarang Renita sudah lebih berani karena sudah terbuai oleh birahinya yang makin menjadi jadi, &#8220;..teruss digoyang kontolnya maass..!!&#8221; &#8220;..Salah Renn namanya kontol*..bilang entotin memeknya Renita..!&#8221; Robert memaksa lagi dengan kata kata baru, Renita merasakan sesuatu yang aneh pada dirinya makin vulgar kata kata yang dipaksakan kakak iparnya untuk diucapkannya makin terangsang napsu birahinya yang sudah menggebu gebu itu.
</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;..Iyyaa..maass entoootin memeknya Renita&#8230;!! Entoootiin&#8230;pake kontol gedenya maaaasss&#8230;!!&#8230;entoootiiiin yang niiikmaaat..!!&#8221;" makin lancar Renita menyeloteh makin beringas Robert menyetubuhi Renita dan Renitapun makin histeris dibuatnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Renita sudah lupa diri bahwa yang menyetubuhi dirinya adalah kakak dari suaminya, yang ada dibenak Renita hanyalah letupan birahi yang harus dituntaskan yang ia tunggu tunggu selama tiga minggu dari suaminya tapi Rudi suaminya sama sekali tidak mempedulikannya sedangkan sekarang ia mendapatkan apa yang ia inginkan justru dari Robert kakak iparnya sendiri, birahinya yang ia pendam sekian lama meletup dipelukan kakak iparnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Akhirnya yang terjadi mereka dengan buas dan ganas saling berpelukan sambil berciuman .Terdengar suara nafas mereka saling memburu kencang, lidah mereka saling mengait dan saling menyedot, saling bergulingan giliran Renita dibawah, Robert mengambil inisiatif menggenjot pinggulnya yang tampak naik turun semakin cepat diantara selangkangan Renita yang makin terbuka lebar, Renitapun mengangkat kedua kakinya sambil ditekuknya, pantatnya ikut diangkat mengharapkan seluruh batang kemaluan kakak iparnya menggesek seluruh syaraf syaraf kenikmatan dirongga vaginanya dan Robertpun semakin mudah menyodokan penisnya yang panjang besar itu keluar masuk sampai menghasilkan suara bedecak-decak seperti suara membecek seiring dengan naik turunnya pantat pria itu.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;&#8230;cccllllleeeeebbbbbbb&#8230;ccccleeeeebbbbb&#8230;cccll eeeeebbbb&#8230;cccleeeeebbbbb&#8230;&#8221;<br />
Robert memperhatikan kearah selangkangan Renita dia melihat vaginanya mencengkeram penisnya erat sekali, ia tersenyum puas bisa menaklukkan vagina adik iparnya ini, yang sudah basah membanjir penuh dengan cairan putih kental sehingga membasahi bulu-bulu jembutnya yang tebal itu dan juga batang kemaluannya. Ia yakin adik iparnya benar benar sudah memasrahkan dirinya untuk disetubuhi kapan saja ia mau,</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;&#8230;oooooouuuuuggghhhhssss&#8230;ooouuugggghhhsss&#8230;ss sshhhh&#8230;maaassss&#8230;!..enaaakkk..sekaliii..kontolm uu&#8230;ini..maass..!<br />
&#8230;teruuuss..maasss&#8230;entoootin..memek Renita yaanggg..ceepaatt&#8230;ouchh&#8230;nikmaaaat..!&#8221;<br />
&#8220;..Ouuuchhh..memekmu sempit seekalii&#8230;Reenn..! terasaaa menyedoot nyedooot..!nikmatnya bukan maiiiin..!!&#8221; Robert mendengus dengus bagai banteng terluka genjotannya makin ganas saja. Mata Robert terlihat lapar menatap payudara Renita yang putih montok dikelilingi bulatan pink ditengahnya terlihat putingnya yang sudah begitu mengeras, tanpa menyia nyiakan kesempatan Robert langsung menomplok dan menyedot menyedot puting susu adik iparnya yang begitu menantang, Tubuh Renita yang menyender dinding setengah duduk setengah celentang menggelinjang hebat..! payudaranya makin dibusungkan bahkan tubuhnya digerakkan kekiri dan kekanan supaya kedua puting buah dadanya yang sudah gatal mendapatkan giliran dari serbuan mulut kakak iparnya ini.<br />
&#8220;&#8230;oooooouuuuuggghhhhssss&#8230;ooouuugggghhhsss&#8230;ss sshhhh&#8230;maaassss&#8230;!..kenyooot teruuusss pentiiiilku..!! &#8230;oooohhh&#8230;maaaasss&#8230;kkaaaauuu&#8230;sunggggguh..pe rkkaaaasssaaaa&#8230;!!.. Reeeniii bisssshhaa ketagihaaaaan.. dientooot..sama..maaasss &#8230;!!&#8221; pikiran Reni sudah tidak jernih lagi, terombang ambing didalam pusaran kenikmatan, terseret didalam pergumulan sex dengan kakak iparnya, jiwanya serasa seenteng kapas melambung tinggi sekali.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Ooooohhhh&#8230;aaaa..aakkhh..aakhuu..ngghha taaahaaann..maaauu..keluaarrr&#8230;maassss&#8230;!&#8221;.. Tubuh Renita mengejang sambil memeluk tubuh Robert erat sekali jiwanya terasa berputar putar merasakan semburan kenikmatan yang dahsyat diklimaksnya yang pertama, &#8220;..Teruuus Renn jangan berhenti aku masih pengen kontol*in memekmu yang lamaaa..! Kamu bisa keluar lagii berkali kaliiii&#8230;!!&#8221; Robert teruss menggenjot tubuh Reni yang hanya pasrah dipelukan kakak iparnya ini.<br />
Lebih dari sejam Robert menyetubuhi Renita tanpa henti, Renita makin lama makin terseret didalam kenikmatan pergumulan sex dengan kakak iparnya yang ia belum pernah rasakan dari suaminya sampai sebegini lamanya dengan segala macam variasi , apalagi waktu Robert memintanya berbalik sambil menungging,
</p>
<p style="text-align: justify;">vaginanya terlihat megap megap disumpal batang penisnya yang besar dari belakang , ia merasakan liang vaginanya menyempit karena tertekuk oleh perutnya sehingga ia merasakan setiap inchi denyutan kenikmatan yang dihasilkan oleh batang penis Robert yang merasuk keliang kenikmatannya, Renita menambah sensasi sensual ini dengan memutar mutar pantatnya yang putih sexy bahkan ketika Robert menyodok penisnya yang besar itu, Renita menyambutnya dengan mendorong keras pantatnya kebelakang sehingga penis Robert yang besar dan panjang itu masuk kelobang vaginanya dalam sekali, menggelitik seluruh rongga kenikmatannya &#8220;..Oooohh&#8230;niiiikmaaat&#8230; sekaaalii&#8230;maass..!! dientot dari belakang&#8230;! urat kontoool maaass.. terasa sekalii menggelitik lobang memeeekku..!!..belum pernah aku rasakan ngentooot beginiii niiikmaaat..!! entoootiiinn.. teruuusss..maaassss&#8230;!!!&#8221; Robert sangat puas mendengarnya lalu ia merunduk memeluk tubuh Renita dari belakang tangannya merogoh keselangkangan Renita, jari2 Robert memainkan clitoris Renita dengan memutar mutarnya, sambil menggenjot dengan beringas penisnya yang besar itu,</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;..uuuuggghhhsss&#8230; aaaaacchhh.. maaaasssss&#8230; yeeeesssss&#8230;!! niiiiikmaaaat..!! mainin teruuuusss&#8230; itiiilku..!! &#8220;..entooootin memeeeekku..!!!&#8221; bagai kesurupan Renita mengeluarkan kata kata vulgar sambil mengerang mengerang dengan liar, tubuhnya yang dalam posisi nungging meliuk meliuk tanpa terkendali rupanya clitorisnya merupakan alat kelamin yang paling sensitif buat Renita, lobang vaginanya yang sudah dihajar begitu rupa oleh penis yang berukuran luar biasa itu ditambah clitorisnya ditekan sambil diputar putar oleh jari Robert, maka sempurnalah puncak kenikmatan yang ia rasakan, tangan Renita mencengkeram sprei erat sekali, dahinya berkerut mulutnya seperti ingin teriak dan mendesis desis seperti orang kepedesan rupanya Renita sedang dilanda kenikmatan yang amat sangat, posisi tubuhnya yang sedang menungging makin ditunggingkan pantatnya keatas memasrahkan vaginanya dihabisi oleh keperkasaan penis kakak iparnya dengan mengharapkan kedatangan gelombang kenikmatan berikutnya yang merupakan pengalaman pertama buat Renita untuk mendapatkan multiple orgasm.</p>
<p style="text-align: justify;">Apa yang terlihat sungguh merupakan pemandangan yang sangat erotiiss..! tubuh mulus Renita menungging meliuk liukdengan liarnya kepalanya bergeleng kekiri dan kekanan buah dadanya bergoyang erotis sekali sementara tangan Robert yang kekar memegang erat pinggang Reni yang ramping itu, pantatnya digenjot cepat sekali batang penisnya yang besar keluar masuk liang vagina begitu dahsyat tanpa ampun, tubuh Reni sampai bergetar hebat terlihat ia mengejut ngejutkan tubuhnya tanda ia sedang mengalami kenikmatan yang maha dahsyat,&#8221;..uuuuggghhhsss&#8230; aaaaacchhh.. yeeeessssss..maaaasssss&#8230; yeeeesssss&#8230;!!&#8221; Renita benar benar melayang kelangit yang ketujuh didalam pergumulan sexnya dengan kakak suaminya ini. &#8220;&#8230;aaaaaaaaaacccchhhh&#8230;!!!!&#8230;terlaaaaluuu..niii iiikmaaaaaaaaaat&#8230;maaaaaassss&#8230;!!!..nggggaaa taahaaannn..akkkhuu.. maaauuu&#8230; keluaaaar&#8230; laaaagiiii&#8230;!!!&#8221; Renita makin histeris mendapatkan klimaks keduanya yang lebih panjang dan lebih nikmat dari yang pertama. Renita benar benar lupa daratan rasa ketagihan nikmatnya merasuk jiwanya ingin rasanya melanjutkan persetubuhannya selama lamanya dengan kakak iparnya karena ia bisa memberikan multiple orgasm yang ia tidak pernah dapatkan dari suaminya.</p>
<p style="text-align: justify;">Tapi tubuh Renita sudah tidak bertenaga lagi lalu ia ambruk ditempat tidur sambil berbalik berbaring napasnya tersengal sengal, rupanya Robert belum juga mengalami ejakulasi terpaksa ia ikut membaringkan dirinya disamping Renita, dengan wajah sayu Renita bertanya &#8220;..Mas belum keluar ya..?&#8221; Robert menggelengkan kepalanya, &#8220;..Jadi Renita masih akan dientot lagi..mas..?&#8221; Renita sudah lancar dengan kosakatanya, Robert mengangguk, &#8220;..Renita masih bisa orgasme lagi ngga..mas..?&#8221; Lalu Robert setengah berbangun berkata sambil membelai rambut Renita dengan mesra &#8220;..Ren kamu masih bisa orgasme 2 X lagi bahkan lebih..ada caranya..&#8221; Tiba tiba Renita menarik batang kemaluan Robert yang masih mengeras, matanya berbinar binar &#8220;..Ajarin Renita ya mas..Renita masih pengen dientot kontol gede mas Robert seharian kalau Renita bisa keluar lagi..keluar lagi..&#8221; &#8220;..Renita jarang klimaks kalau ditiduri sama mas Rudi, mas Rudi pengennya cepet cepet aja, abis keluar langsung tidur..&#8221; Robert tersenyum kecut dalam hati ngedumel &#8220;..Goblok banget adik gua cewek segini sexy dianggurin.. ya udah jangan salahin gua ya..&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Seharian Robert mengajari Renita bagaimana caranya mengayuh sekoci cinta untuk menggapai beberapa pulau berpuncak gunung kenikmatan dan Renita menjadi murid yang cepat tanggap. Satu hari penuh Renita mendapatkan pengalaman luar biasa. Robert merangsang napsu birahinya dengan menyetubuhi dirinya berbagai macam posisi. tidak bisa dihitung sudah berapa kali Renita mengalami orgasme, yang jelas Renita begitu menikmati bahkan mungkin ketagihan disetubuhi batang kemaluan kakak iparnya yang begitu besar dan perkasa.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah kejadian hari itu, setiap ada kesempatan, mereka melakukan permainan sexnya dimana saja, pernah suatu malam Renita setelah berhubungan sex dengan suaminya dan tidak mendapatkan kepuasan yang ia inginkan, setelah suaminya tertidur ia langsung pindah kamar tanpa sepotong pakaian Renita langsung kekamar kakak iparnya minta untuk dipuasi dan seperti biasanya Robert memenuhi keinginannya dengan melumat seluruh tubuhnya tanpa sisa, vaginanya dilahap dengan buas dan seperti biasanya batang kemaluan Robert yang ia gila gilai menggali tak henti henti liang kenikmatannya. Renita dibuat melayang layang diawang awang sampai empat kali orgasm dan baru pindah kembali kekamarnya sekitar jam 4 pagi.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ceritasex.cn/renita-bersetubuh-dengan-kakak-ipar/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menikmati Tubuh Adinda, Menantuku.</title>
		<link>http://www.ceritasex.cn/menikmati-tubuh-adinda-menantuku/</link>
		<comments>http://www.ceritasex.cn/menikmati-tubuh-adinda-menantuku/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 13 Nov 2009 23:19:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cerita Sex</dc:creator>
				<category><![CDATA[Paruh baya]]></category>
		<category><![CDATA[selingkuh]]></category>
		<category><![CDATA[adinda]]></category>
		<category><![CDATA[bercinta]]></category>
		<category><![CDATA[incest]]></category>
		<category><![CDATA[menantu]]></category>
		<category><![CDATA[ml]]></category>
		<category><![CDATA[ngentot]]></category>
		<category><![CDATA[seks]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ceritasex.cn/?p=1055</guid>
		<description><![CDATA[Gairah kelelakian Pak Suryo yang terpendam kepada Adinda memang menuntut karena sang menantu makin dipandang makin menggiurkan saja. Ditahan makin lama makin meluap dan ketika dicoba mengutarakannya dengan memancing-mancing sambil mengobral banyak pemberian nampaknya tidak ada penolakan dari Adinda, dengan sendirinya kelanjutan ke arah hubungan terlarang ini menjadi semakin mulus. Tidak bisa disalahkan, Adinda yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Gairah kelelakian Pak Suryo yang terpendam kepada Adinda memang menuntut karena sang menantu makin dipandang makin menggiurkan saja. Ditahan makin lama makin meluap dan ketika dicoba mengutarakannya dengan memancing-mancing sambil mengobral banyak pemberian nampaknya tidak ada penolakan dari Adinda, dengan sendirinya kelanjutan ke arah hubungan terlarang ini menjadi semakin mulus.</p>
<p style="text-align: justify;">Tidak bisa disalahkan, Adinda yang latar belakangnya binal kalau sudah terlalu dekat apalagi sudah terlalu banyak dibanjiri hadiah sang mertua, maka kesadarannya pun cepat saja jadi buntu ketika itu. Jelas, karena sebenarnya bukan baru dimulai saat itu saja tapi dari awalnya Adinda memang sudah diincar oleh Pak Suryo dan Adinda sendiri juga sudah menaruh perasaan tertarik kepada bossnya yang simpatik ini. Cuma saja karena keburu diserobot duluan oleh Mas Indra yang lebih ngotot maka perasaan hati keduanya sempat tersendat dan sekarang mulai terungkit kembali. Menggelegak semakin hari semakin matang sampai kemudian di suatu sore yang merupakan penentuan ketika Pak Suryo mencoba sedikit nekat untuk menangkap menantu cantik ini dalam pelukannya tapi kali ini disertai dengan menyosor bibir Adinda.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Hffmmm.. hghh..&#8221; Adinda mengejang tersumbat mulutnya oleh lumatan nafsu Pak Suryo tapi begitupun dia tidak berontak. Ada beberapa saat dia ikut terhanyut dalam asyiknya berciuman bergelut lidah dan ketika cukup untuk saling melepas, terlihat air mukanya merah merona.<br />
&#8220;Bapak nekatt..&#8221; komentarnya malu-malu geli.<br />
&#8220;Abisnya kamu ngegemesin Bapak sih..&#8221;
</p>
<p style="text-align: justify;">Itu awal pertama percobaan Pak Suryo. Tentu saja melihat ada lampu hijau seperti ini jelas membuatnya lebih berani lagi. Dia sudah mulai mencari simpati dengan cerita tentang Bu Suryo yang mulai kurang memberinya kebutuhan penyaluran seks. Dan ternyata meskipun tidak terucapkan tapi dari mimik wajah Adinda tertangkap oleh Pak Suryo bahwa sang menantu ini mulai terpengaruh prihatin kepadanya. Terbukti ketika pada kesempatan hari berikutnya dia mengulang lagi memeluk dan mengajak berciuman tapi kali ini sambil sebelah tangannya menggerayangi bagian-bagian kewanitaan Adinda, mulai dari kedua susunya sampai kemudian menyusup ke selangkangan, meremas gemas bukit vaginanya, lagi-lagi tidak ada penolakan dari sang menantu cantik ini. Seperti yang pertama Adinda juga membiarkan sebentar dan ikut terhanyut oleh ajakan berciuman yang hangat bernafsu ini, hanya saja ketika terasa akan terlupa daratan segera dia minta melepas ciuman.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Pak jangan sekarang.. Adinda takut kalo ketauan..&#8221; bisiknya cemas karena sudah terasa jari nakal Pak Suryo menyusup mengorek-ngorek di celah kemaluan di bagian klitorisnya. Mendapat peringatan ini Pak Suryo pun seperti tersadar dan melepaskan Adinda.<br />
&#8220;Heehh.. nanti kalau ada kesempatan Bapak ke kamarmu, ya?&#8221; katanya masih sempat memesan.<br />
Adinda hanya mengiyakan dan segera berlalu dari situ meninggalkan Pak Suryo yang meskipun masih nampak penasaran tapi dalam hatinya lega karena yakin bahwa pada kesempatan berikut tentu dia pasti dapat meniduri menantu cantik ini.<br />
<span id="more-1055"></span><br />
Suatu hari Mas Indra akan dinas keluar kota, pagi-pagi buta itu Adinda sudah kembali naik tidur setelah mengantar Mas Indra cuma sampai di pintu kamar untuk berangkat ke airport. Membanting tubuhnya lemas karena Mas Indra masih sempat mengajaknya bermain cinta sesaat sebelum berangkat.Ketika setengah layap-layap itulah dia dihampiri Pak Suryo yang masuk ke kamarnya tanpa sepengetahuannya. Begitu datang Pak Suryo yang rupanya sudah lama menunggu kesempatan baik ini langsung ikut naik berbaring dan mulai menggerayangi tubuh Adinda yang masih bertelanjang bulat dan hanya menutupi tubuh atasnya dengan sehelai kain. Adinda sempat mengira bahwa itu Mas Indra lagi tapi segera tersadar karena perbedaan yang nyata di antara kedua lelaki itu. Mas Indra agak kecil sedang Pak Suryo yang pendek itu besar gempal tubuhnya. Adinda jadi kaget.<br />
&#8220;Ehh Bapakk?! kaget aku Paak.. kirain siapa.&#8221;<br />
&#8220;Ah masak sama Bapak nggak kenal, kan Bapak sudah pernah bilang mau nyusul ke sini kalo ada kesempatan.&#8221;<br />
&#8220;Abis nggak kedengaran masuknya, tapi Ibu mana Pak?&#8221; kata Adinda yang karena merasa tidak bisa menghindar lagi, dia bergerak bangun maksudnya akan mencuci dulu bekas-bekas dengan Mas Indra.<br />
&#8220;Ibu masih pules, nggak bakalan tau kalau Bapak ke sini..&#8221; tukas Pak Suryo yang rupanya sudah tidak sabaran lagi langsung menahan Adinda bangun.
</p>
<p style="text-align: justify;">Tanpa memberi kesempatan bicara bagi Adinda, dia sudah menyerbu perempuan itu dengan bernafsu. Mencium langsung melumat bibirnya sambil dibarengi remasan-remasan gemas di mana pun bagian tubuh sang menantu yang cantik menggiurkan ini terpegang tangannya. Adinda gelagapan sesaat, tapi lagi-lagi dia mengalah mencoba mengerti emosi nafsu laki-laki setengah umur yang menurut pengakuan kepadanya sudah jarang diberi penyaluran seks oleh istrinya. Pasrah saja dia membiarkan Pak Suryo dan malah ikut mengimbangi lumatan laki-laki itu sama bernafsunya meskipun kelanjutannya agak membuat risih juga karena serbuan-serbuan Pak Suryo benar-benar kelewat rakus. Dari saling bertemu bibir ciuman Pak Suryo menurun melanda kedua susunya, di sini hanya berhenti beberapa saat untuk mengisap kedua puncak bukit kembar itu dan sebentar menjilati putingnya lalu kemudian diteruskan lebih ke bawah melewati perut Adinda yang datar itu sampai kemudian mendarat di vaginanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Ini yang agak terasa kurang sreg bagi Adinda karena Pak Suryo seperti pura-pura lupa bahwa lubang itu masih belum sempat dicucinya, tapi dia enak saja mengerjai bagian itu dengan jilatan-jilatannya bahkan juga disedot-sedotnya. Mau dia mencegah tapi Pak Suryo masih lebih ngotot di situ malah semakin coba ditolak, semakin keras juga Pak Suryo bertahan. Terpaksa Adinda diam saja sampai akhirnya dia sendiri terbawa tidak perduli karena vaginanya yang dikerjai mulut lelaki memang merangsang nafsunya dengan cepat.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Aasshhg.. hngghh.. ssshhhg..&#8221; kontan melintir, bergeliat-geliat dia oleh kilikan jilatan di klitorisnya yang begitu menggelitik geli-geli enak dan sodokan-sodokan ujung lidah di lubangnya yang begitu membuatnya penasaran, sementara Pak Suryo tambah bersemangat memainkan kepintaran mulutnya. Menyosor seolah-olah ingin menyembunyikan wajahnya tenggelam di lubang menganga milik menantunya ini. Padahal Adinda baru saja terpuaskan dalam sanggama bersama Mas Indra, tapi rangsangan sang mertua ini begitu luar biasa menaikkan kembali birahi nafsunya seolah-olah tenaga untuk bercinta datang berlipat ganda. Masih beberapa saat Pak Suryo membakar bara nafsu Adinda, baru ketika dilihatnya sang menantu cantik ini sudah matang dituntut birahinya di situlah Pak Suryo berhenti dan mempersiapkan batangannya. Sudah cukup tegang, tinggal membasahi sedikit dengan ludahnya untuk kemudian dituntun menempel di mulut lubang, langsung ditusuk masuk.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Hhgghh..&#8221; sekali lagi Adinda mengejang kali ini oleh sodokan penis Pak Suryo. Tapi karena sudah cukup siap dia bisa langsung menerima batang yang sebenarnya masih asing baginya. Malah tuntutannya kepingin cepat terpenuhi, dia pun ikut menyambut dengan memutar pantatnya membuat batang Pak Suryo terasa seperti disedot masuk, cepat saja amblas ke mulut vagina yang lapar itu. Tapi begitu tertanam dalam, mulutnya langsung menganga kaku menahan pinggang Pak Suryo agar sodokan jangan berlanjut dan ini dipenuhi Pak Suryo karena memang batangnya sudah tertanam habis. Menunggu sesaat sampai Adinda kelihatan sudah agak mengendor barulah Pak Suryo menyambung dengan gerak memompa keluar masuk penisnya pelan-pelan.</p>
<p style="text-align: justify;">Adinda sendiri masih sedikit tegang wajahnya dalam usaha menyesuaikan diri dengan sodokan-sodokan Pak Suryo tapi cuma sebentar, karena rasa baru yang diterimanya cepat saja membuainya, sama cepat seperti barusan dia dirangsang mulut Pak Suryo di vaginanya. Ada yang luar biasa pada milik mertuanya ini sehingga Adinda mengalihkan pandangannya ke bawah ingin lebih jelas apa yang menjadi penyebabnya. Karena bukan hanya bisa membuat daya rangsangan yang begitu besar dengan teknik mulutnya tapi juga memberi pemenuhan yang pas untuk tuntutannya. Yaitu dari dalamnya batang yang menyumbat lubang vaginanya terasa ukurannya agak berlebih dari yang biasa dialaminya dengan Mas Indra.</p>
<p style="text-align: justify;">Pak Suryo bisa membaca pikiran Adinda. Dia merenggang sedikit dan mencabut batangnya agak panjang memberi kesempatan Adinda memperhatikannya. Meskipun tidak terlalu jelas karena ruangan hanya diterangi lampu dinding kecil tapi masih bisa tertangkap mata Adinda yang begitu melihat langsung meringis wajahnya.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Hhsssh Bapaakk.. dalemm bangett Paak..&#8221; spontan keluar komentar kagumnya memaksudkan penis Pak Suryo yang memang lebih panjang meskipun tidak lebih besar dari milik Mas Indra. Memang, Adinda sudah pernah tidur dengan beberapa lelaki tapi dia mengakui juga ukuran penis sang mertua yang cukup mantap ini.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;He.ehh.. tapi kan nggak sakit?&#8221; kata Pak Suryo sambil menurunkan tubuhnya agak menempel karena khawatir dengan ukuran panjangnya ini Adinda berubah pikiran minta batal sampai di sini. Padahal tidak perlu. Adinda cuma berkomentar bukan berarti ngeri. Justru dia merasa batang itu memberi keasyikan lebih dengan ukurannya yang tidak seperti biasa didapat dari suaminya. Terbukti ketika Pak Suryo mulai menggesek baru dua tiga gerakan ternyata sudah mendapat sambutan menyenangkan dari si cantik yang segera jadi bergairah merangkul leher Pak Suryo berikut kedua kakinya naik membelit paha sebagai tanda bahwa dia menyukai disetubuhi penis Pak Suryo ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Inipun jelas terbaca dari mimik muka Adinda, malah tidak sungkan-sungkan mengutarakannya ketika dipancing Pak Suryo yang karena cukup berpengalaman jelas bisa membaca gelagat Adinda.<br />
&#8220;Gimana rasanya.. sakit nggak?&#8221;<br />
&#8220;Nggak.. enak malah Pak, geli sampe ke dalem-dalem sini.&#8221; jawabnya sambil mengusap-usap perut atasnya.<br />
&#8220;Apanya yang enak?&#8221;<br />
&#8220;Ngg.. kontoll Bapak..&#8221; jawab Adinda genit-genit senang.<br />
Mendengar ini tentu saja Pak Suryo jadi lega dan leluasa sudah dia bermain menggoyang penisnya yang disambut Adinda dengan juga mengimbangi mengocok vaginanya. Masing-masing tenggelam menikmati asyiknya senggama dalam suasana yang cepat sekali akrab, sama-sama lupa tentang status hubungan mereka antara anak menantu dan mertuanya.
</p>
<p style="text-align: justify;">Memang ada perbedaan pada kedua lelaki lawan mainnya ini. Bersama Mas Indra seperti masih ada gengsi-gengsian yang membatasinya kurang begitu saling terbuka, tapi dengan Pak Suryo biarpun baru kali ini, entah mungkin karena Adinda sudah biasa bermanja-manja dengan pengalaman lalunya yang umumnya laki-laki tua berduit dan bersikap kebapakan, maka rasanya dia tidak sungkan-sungkan dan malu lagi mengutarakan apa yang dialaminya saat ini, teristimewa waktu mencapai orgasmenya yang diikuti juga oleh Pak Suryo.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Paak ennakk Paaak.. Iyya.. Duhh Bapaak dalem bangett masuknya Paakk.. Aaa.. dikorek-korek gitu Adinda pengenn kluarrin.. Ayyo Pakk.. adduuh.. Iyya ayyo aaahhgh.. ssshgh.. hghrf.. ennaak punyamu Din.. Bapakk juga kluaarr.. sshmmmh..&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Tapi hubungan lama-lama semakin nekat. Tidak hanya waktu suasana rumah sepi tapi sekalipun suaminya sedang ada di rumah pun Adinda berani juga mencuri-curi waktu bercinta dengan Pak Suryo.Ceritanya hari itu menjelang maghrib Mas Indra sudah berdua dengan Adinda di dalam kamar ketika tidak lama kemudian Pak Suryo pulang dari kerjanya. Seperti biasa Bu Suryo baru akan pulang dari mini marketnya menjelang larut malam. Kedua pasangan muda itu sudah akan bermain cinta, masing-masing sudah saling terangsang dan baru saja akan mulai tiba-tiba terdengar pintu kamar diketok. Spontan Adinda terburu-buru berpakaian dan keluar dari kamar, ternyata Pak Suryo yang ada di depan situ. Dia rupanya akan meminta pijit dari Adinda tapi ketika diberi tahu bahwa Mas Indra sedang ada di kamar, Pak Suryo pun membatalkan niatnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Masuk ke kamar lagi Adinda langsung tersenyum geli kepada Mas Indra.<br />
&#8220;Barusan Bapak yang ngetok pintu. Dia minta tolong dipijitin tapi begitu kukasih tau Mas masih ada di kamar, Bapak jadi batal.&#8221;<br />
&#8220;Oh ya? Ya udah, ke sana aja dulu pijetin Bapak, nanti baru ke sini lagi kan juga masih sore.&#8221;<br />
&#8220;Idih Mas gimana sih. Masak aku musti ke sana duluan, lalu Mas sendiri gimana dong?&#8221;<br />
&#8220;Nggak gitu, soalnya barusan kan Bapak mungkin lagi pegel minta dipijit, kalo kamu nggak ngikutin kan nggak enak jadinya.&#8221;<br />
Mendengar ini Adinda berlagak pasang muka ragu sebentar tapi kemudian beranjak juga.<br />
&#8220;Mas sih bukannya tadi-tadi ngasihnya.. Awas lho kalo aku dateng lagi Mas nggak mau ngasih, aku marah beneran.&#8221; katanya dengan mimik muka cemberut tapi sebenarnya dalam hati girang bukan main.<br />
&#8220;Nggak usah kuatir, pasti Mas kasih kalo kamu abis dari sana.&#8221;<br />
Bukan main, gayanya seperti berat terpaksa tapi sebenarnya inilah yang diharapkan Adinda. Karena begitu menyusul Pak Suryo di kamarnya dia sudah langsung meloncat dan memeluk dengan wajah girang. Pak Suryo sendiri baru selesai membuka bajunya tinggal celana dalam dan masih berdiri di samping tempat tidur ketika itu.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Lo, lo, lo, kok cepet sekali ke sininya. Gimana bilangnya sama Indra?&#8221; tanya Pak Suryo heran.<br />
&#8220;Dinda, bilang aja terus terang barusan Bapak manggil minta dipijetin jadi Mas Indra ngasih ijin ke sini.&#8221;<br />
&#8220;Oh ya? Bukannya Bapak tadi liat kamu lagi kusut, baru mau maen apa udah selesai?&#8221;<br />
&#8220;Tadinya emang mau maen, tapi baru mau dimasukin udah keburu Bapak ngetok pintu..&#8221;<br />
&#8220;Waduh maaf kalo gitu. Lagi kepengen-kepengennya langsung disetop begitu kan penasaran.&#8221;<br />
&#8220;Malah kebeneran Pak.. kan terusannya bisa dapet ini yang lebih mantep lagi.&#8221; kata Adinda sambil menjulurkan tangannya meremasi penis Pak Suryo.<br />
&#8220;Jadi, lobang yang lagi penasaran ini sekarang malah mau dikasih Bapak dulu, ya?&#8221; tanya lagi Pak Suryo dengan membalas meremasi gundukan vagina Adinda.<br />
&#8220;Iya, iya Paak.. di situ yang aku kepengenn sekalli..&#8221; baru diremas sebentar saja, Adinda yang memang sedang terangsang penasaran sudah langsung gemetaran suaranya, &#8220;Ayoo Pak.. buka juga Bappak punya..&#8221; lanjutnya dengan terburu-buru melepas bajunya.
</p>
<p style="text-align: justify;">Pak Suryo menyusul hanya tinggal melepas celana dalamnya tapi Adinda sudah lebih dulu selesai. Dan baru saja penis Pak Suryo bebas Adinda sudah berlutut, menangkap batang itu langsung mencaplok mengisap-isapnya dengan rakus. Diserbu rangsangan begini batang itu cepat saja mengeras dan Adinda seperti tidak ingin membuang-buang waktu. Dia naik duluan menelentang dan mengangkang memasang vaginanya siap untuk segera dimasuki. Sampai di bagian ini semua memang bisa serba cepat tapi pada giliran batang akan dimasukkan mau tidak mau tempo harus diperlambat. Sebab meskipun sudah terbiasa tapi penis ukuran lebih besar dari suaminya ini tetap saja tidak bisa langsung main tancap sekaligus. Perlu hati-hati dan harus ada kerja sama untuk saling menggesek dan memutar membuat lebih licin dalam beberapa waktu, sekalipun rahang Adinda sudah gemetaran kaku menunggu lewatnya masa itu sebelum mendapatkan rasanya. Tapi kalau batang sudah tertancap dalam dan Adinda sudah bisa menyesuaikan ukurannya. Hmmm.. jangan bilang lagi nikmatnya. Langsung gayanya berubah kontras sewaktu mulai dipompa oleh Pak Suryo.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Hhsss.. aduuhh tobatt aku Paak.. hahgh ooghh.. ****** kok dalem sekali Pak.. tobat akuu.. ampun Bapaak, gedee sekalli aduuh.. Pakk..&#8221; Nada suara Adinda merintih-rintih mengaduh ampun tobat, ditambah lagi dengan gayanya yang meliuk-liuk mata terbalik seperti orang kesakitan, yang begini kalau didengar dan dilihat Mas Indra tentu akan menggiris karena mengira istrinya sudah tidak tahan disiksa oleh Pak Suryo. Apalagi kalau bisa melihat lebih jelas bagaimana kewanitaan sang istri yang sering diusapi sayang itu, sekarang sampai sudah dipaksa mekar membulat lantaran menampung besar keliling batang dan itu pun masih harus lagi disodok-sodok kasar seperti tidak mengenal belas kasihan. Tentu, kalau belum mengerti Mas Indra pasti tambah menggiris melihatnya. Padahal kebalikan dari ini justru Adinda sedang tenggelam dalam nikmat yang mengasyikan saat itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Pak Suryo sudah hafal benar gaya Adinda, makin dipompa keras makin dirasakan enak bagi Adinda, dan gaya ini juga malah menimbulkan rangsangan tersendiri bagi Pak Suryo untuk membawanya tiba menuju puncak permainan bersama Adinda. Terlebih kalau Adinda sudah meminta tambahan rangsangan baru di bagian susunya, itu tanda dia sudah akan mendekati orgasmenya. &#8220;Heg.. yaang kerass Pak.. shh iya gittu.. aduh.. ssshgh.. heehh.. ayyo.. ayoo Paak.. aaahgh.. sshgh.. Iyya Pakk Dinda udah keluarr.. aduhh.. hghshh.. hrrgh..&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Seiring remasan tangan Pak Suryo di susunya diperkeras, Adinda pun tiba orgasmenya. Di bagian ini nampaknya lebih sadis lagi. Sebab buah dada yang biasanya diperlakukan Mas Indra dengan gemas-gemas sayang ini di tangan Pak Suryo diremasi tidak tanggung-tanggung lagi. Tidak ubahnya seperti sedang menggilas baju di papan cucian, kedua daging kenyal itu sampai meleot-leot sesekali mencuat putingnya dari sela-sela jari tangan besar Pak Suryo. Malah waktu mengiringi orgasmenya Adinda terlonjak-lonjak dengan dada membusung, di situ seolah-olah tubuhnya terangkat-angkat oleh tarikan Pak Suryo yang mencengkeram kedua bukit daging itu. Pokoknya jika bisa melihat secara keseluruhan bagaimana cara Pak Suryo mengasari istrinya, Mas Indra bisa pingsan dibuatnya. Tapi justru begini yang paling disukai Adinda karena dia merasa seolah-olah seluruh kepuasannya dibetot keluar tanpa tersisa.</p>
<p style="text-align: justify;">Rupanya &#8216;kesadisan&#8217; Pak Suryo belum selesai. Sesaat setelah Adinda selesai berorgasme maka giliran Pak Suryo yang mengambil bagiannya. Tapi menjelang tiba di saat ejakulasinya tiba-tiba dia mencabut batangnya dan langsung tegak berlutut sambil menarik kedua lengan Adinda membawanya terikut bangun duduk. Adinda sempat bingung tapi ketika Pak Suryo menjambak rambutnya dan menarik kepalanya mendekatkan ke penisnya, segera dia mengerti maksud Pak Suryo, apalagi Pak Suryo juga menjelaskan lewat kata-katanya. &#8220;Ayyo Las, isepin Bapak sampe keluarr..&#8221; Tanpa ragu-ragu Adinda langsung mencaplok dan melocok batang itu dengan mulutnya. Tentu tidak bisa semua, hanya tertampung bagian kepalanya saja tapi ini sudah cukup bagi Pak Suryo untuk bisa menyalurkan kepuasannya. Dan begitu kepala batang itu mengembang, sedetik kemudian dia pun menyemburkan cairan maninya tumpah di mulut Adinda. Agak tersekat Adinda dengan semprotan tiba-tiba ini, serasa ingin mencabut kepalanya tapi tangan Pak Suryo menekan kepalanya tidak ingin melepaskan kuluman mulutnya sehingga mani yang tumpah itu pun tertelan semua oleh Adinda. Ini baru pertama kali dia melakukan hal ini sehingga ketika permainan berakhir dan Adinda bisa melepas mulutnya, langsung meringis aneh mukanya.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Kenapa Las, nggak enak ya rasanya?&#8221; tanya Pak Suryo geli.<br />
&#8220;Asin rasanya Pak..&#8221; jawab Adinda terikut geli.<br />
&#8220;Maaf ya? Terpaksa Bapak tumpahin di mulut, soalnya kalo di lobangmu nanti bisa ketauan sama Masmu.&#8221;<br />
&#8220;Nggak pa-pa, sekali-sekali buat pengalaman baru kok..&#8221;<br />
&#8220;Kalo sering-sering emang kenapa?&#8221;<br />
&#8220;Ya bagaimana Bapak.. Emang enak sih dikeluarin pake mulut?&#8221; kata Adinda dengan bergerak bangun untuk ke kamar mandi mencuci bekas-bekas permainan ini.<br />
&#8220;Oo.. sama Adinda sih pasti enak aja.&#8221; jawab Pak Suryo sambil ikut bangun menyusul Adinda.
</p>
<p style="text-align: justify;">Selepas beristirahat sebentar Adinda pun kembali ke kamarnya menemui suaminya. Tentu saja dengan bersandiwara seolah-olah dia tidak ada apa-apa dengan permainan bersama Pak Suryo. Begitu datang dia langsung menubruk Mas Indra dengan gaya tidak sabaran menggerayangi penis Mas Indra. Jelas gaya yang membuat Mas Indra bangga padahal justru yang terjadi kebalikannya, sebab barusan mengalami hal yang paling asyik kemudian turun ke yang biasa. Adinda dalam senggama berikutnya bersama Mas Indra hampir-hampir tidak ada rasanya sama sekali. Hanya gayanya saja yang tetap meyakinkan bahwa dia sudah terpuaskan dengan Mas Indra, tapi kecuali sempat terangsang sedikit Adinda tidak sampai mengalami orgasme dengan suaminya. Meskipun begitu dia tidak penasaran karena sudah terbayang sepeninggal Mas Indra besok pagi ke kantornya, dia akan minta lagi pada mertuanya untuk meluapkan kerinduannya.</p>
<p style="text-align: justify;">Begitu, dalam enak dirasakannya bersetubuh dengan sang mertua yang punya batang panjang bisa mengilik jauh ke dalam rahimnya, Adinda praktis jadi ketagihan untuk mengulang setiap kali ada kesempatan bisa mencuri-curi.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ceritasex.cn/menikmati-tubuh-adinda-menantuku/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

