<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Cerita sex porno ngentot mesum perek ayam kampus &#187; incest</title>
	<atom:link href="http://www.ceritasex.cn/tag/incest/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.ceritasex.cn</link>
	<description>Kumpulan cerita sex, foto bugil, dan film porno</description>
	<lastBuildDate>Mon, 26 Jul 2010 07:13:35 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0</generator>
		<item>
		<title>Ibu Kos Mantan Pelacur</title>
		<link>http://www.ceritasex.cn/ibu-kos-mantan-pelacur/</link>
		<comments>http://www.ceritasex.cn/ibu-kos-mantan-pelacur/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 30 Dec 2009 02:23:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cerita Sex</dc:creator>
				<category><![CDATA[Paruh baya]]></category>
		<category><![CDATA[Seks Umum]]></category>
		<category><![CDATA[Tante Girang]]></category>
		<category><![CDATA[ibu kost]]></category>
		<category><![CDATA[incest]]></category>
		<category><![CDATA[seks]]></category>
		<category><![CDATA[taboo]]></category>
		<category><![CDATA[tante]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ceritasex.cn/?p=1148</guid>
		<description><![CDATA[Sebagai Mahasiswa dari daerah, aku masih lugu ekali tentang kehidupan Ibukota Jakarta. Di Jakarta aku tidak punya sanak famili, jadi aku tinggal disebuah rumah kos yang dikelola oleh seorang wanita kira-kira berumur empat puluhan. Wanita itu tidak punya suami dan tidak punya anak. Dia tinggal bersama dua orang pembantunya di rumah yang semegah itu. Aku [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Sebagai Mahasiswa dari daerah, aku masih lugu ekali tentang kehidupan Ibukota Jakarta. Di Jakarta aku tidak punya sanak famili, jadi aku tinggal disebuah rumah kos yang dikelola oleh seorang wanita kira-kira berumur empat puluhan. Wanita itu tidak punya suami dan tidak punya anak. Dia tinggal bersama dua orang pembantunya di rumah yang semegah itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku memilih rumah kos ibu Ratna karena lokasinya dekat dengan Kampusku. Rumah kos itu terdiri dari banyak kamar, yang dihuni oleh Mahasiswa/mahasiswi, pelajar, karyawan swasta, hostess, dan berbagai kalangan profesi. Aku memilih kamar yang paling murah dengan fasilitas yang paling sederhanya, letaknya paling belakang, pojok dekat dengan kamar pembantu. Aku memilih kamar itu, karena sewanya yang paling murah. Jika mengambil kamar dilantai atas, bisa bangkrut aku. Apalagi kamar yang dekat kamarnya ibu Ratna, barangkali jauh lebih mahal. Memang ada dua kamar disamping kamar ibu Ratna, kamar itu dibiarkan kosong, katanya untuk sanak famili yang menginap.</p>
<p style="text-align: justify;">Pergaulan di rumah kos itu tampaknya acuh tak acuh, Lu ya elu, gue ya gue, individualistis sekali. terus terang, aku yang paling minder disana, karena aku yang paling &#8220;kere&#8221;. Walau aku kere, tapi terkadang aku sok pede, sok yakin, sok percaya diri. Diantara penghuni kos, akulah yang paling sering ngobrol dengan Ibu Kos. yang lainnya sibuk enggak punya waktu. bahkan pernah diajak makan bersama diruang makannya yang megah itu. Ternyata dia ramah sekali, lembut, sopan santunnya tinggi sekali, bahkan dia selalu memaklumi aku jika aku terlambat membayar uang kos. Kalau yang lainnya, ada yang sering nunggak bayar kos, dan nasibnya disuruh mengosongkan kamarnya alias disuruh pergi !!! Kabanyakan dari mereka adalah wanita. kayaknya dia tak suka sama wanita. Aku pernah nunggak tujuh bulan, Bu ratna tetap senyum-senyum saja menerima penjelasanku, kenapa aku terlambat. Dan selalu mengatakan Its Okey ?! No Problem !!!. kamu itu kan adik saya ?!. Jawabannya itu lho ? membuat aku GR banget, dan membuat aku bingung, kenapa hanya aku mendapat pelayanan istimewa ? mendapat previlage berlebihan ?</p>
<p style="text-align: justify;">Semua jawaban itu baru terkuak ketika pada suatu malam dengan hujan yang sangat lebat kira-kira pukul 12.00 malam, dimana rumah kos itu sunyi sekali dan sebagian besar penghuninya pulang kampung karena musim liburan panjang. Kamarku yang dibelakang dan pojok, malam itu bocor, gentingnya memang sudah pada enggak karuan, kasurku basah kuyup, aku kuwalahan menghadapi air hujan sialan itu. Aku hanya bisa mojok sambil kedinginan. Dan&#8230;..tiba-tiba pintu diketuk dari luar. Aku membukanya, astaga ! Ibu Ratna yang datang.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8221; Kamarmu bocor ya ?, yuk pindah diatas saja, kasihan kamu kedinginan ya &#8221; Tanya nya. Aku mengangguk dan tanpa pikir panjang lantas bergegas pergi ke kamar atas bersama Ibu kosku. Aku diajaknya ke kamar dia, dan aku diberikan handuk untuk mengeringkan rambutku yang kena bocoran air hujan tadi dikamarku. Aku menuruti perintahnya, disuruhnya sekalia saja aku mandi air hangat di kamar mandi pribadinya, aku nurut saja. Kapan lagi ? kesempatan mendapat pelayanan dengan fasilitas yang sangat OK.</p>
<p style="text-align: justify;">Selesai mandi, aku keluar dari kamar mandi hanya dengan handuk yang melingkar dibagian perutku, hanya untuk menutupi bagian vital tubuhku saja. Begitu aku melihat bu Ratna, aku terkejut sekali, dia sudah ganti pakaian dengan busana tidur yang tipis sekali, dia tidak pakai BH dan bagian bawahnya tampaknya juga begitu, gaun itu transparant sekali diterpa sinar lampu kamar itu yang terang benderang. Dia berdiri dihadapanku, aku sempat gugup dan salah tingkah. Tiba-tiba dia menarik lenganku, aku dipeluknya dan bibirku diciumnya. Kontan saja handuk yang melingkari alat vitalku melorot dan membuat aku bugil. Aku masih terdiam, pasrah saja, gugup tidak tahu apa yang harus kuperbuat. Tanganku ditarik bu ratna, ditempelkannya di teteknya yang besar itu. &#8221; Remas-remas dong sayang ? remas yang mesra ya ?&#8221; pintanya. Aku melakukannya dan kuelus dan kuremas-remas tetek itu. Dia menggeliat-geliat. Posisi kami masih berdiri tegak, alat vitalku berdiri tegak pula besar dan kencang sekali. Bu Ratna melepas pelukannya dan lantas menatapku sambil tersenyum manis sekali.<br />
<span id="more-1148"></span><br />
&#8221; Bingung ya ?&#8221; Tanyanya. Aku menggeleng tersipu. &#8221; jangan takut, enggak ada siapa-siapa disini, tidak ada yang berani naik ke kamarku ini. Kamu suka ?&#8221; Aku mengangguk bego. Bu Ratna menuntunku ke tepi tempat tidurnya. Dia merebahkan tubuhnya dengan kaki menjulur keluar tempat tidur. Posisinya menantang sekali. Lekuk tubuhnya tampak jelas sekali menerawang dari gaun transparan itu. Aku masih berdiri bugil. Ku perhatikan mekinya bu Ratna yang besar dan seksi itu. Dia memberi isyarat agar aku mendekat. Setelah aku duduk disisinya, dia bangkit dan langsung mebuka gaunnya hingga kami sama-sama bugil alias telanjang bulat. Jari jemari bu Ratna mengelus-elus alat vitalku, sambil dia mendesah-desah manrik nafsnya panjang panjang. Dia birahi sekali tampaknya.</p>
<p style="text-align: justify;">Tak lama kemudian dia menjilati alat vitalku, dari mulai biji kemaluanku hingga ke ujung atau kepala kemaluanku. Lantas diisapnya dengan penuh penghayatan. Matanya merem melek. Dikocok-kocoknya alat vitalku, ya karuan saja semakin tegang dan semakin membesar. &#8221; Wah besar sekali ? &#8221; gumannya terkagum kagum melihat alat vitalku. &#8221; Kamu macho banget, jantan sekalii . Tidak salah aku memilih kamu, kamu masih muda punyamu kelas super &#8221; sambungnya sambil mengocok-ngocok kemaluanku.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8221; Kita main di sofa saja ya ? &#8221; Ajaknya mesra. &#8221; Baik bu &#8221; jawabku. &#8221; Jangan panggil aku ibu, panggil saja aku Ratna, begitu kan lebih dekat rasanya &#8220;. Kami pindah ke sofa, aku disuruhnya duduk dengan kaki dibuka lebar. Dia naik diatasku dan langsung memasukkan kemaluan ke dalam lubang mekinya, lalu beraksi dengan gerakan naik turun mengocok-ngocok ******ku. Ku peluk dia, kuciumi teteknya, dia semakin bernafsu. Diluar sementara hujan semakin lebat angin bertiup kencang sekali. malam itu kami larut dalam buaian surga dunia yang indah dan nikmat sekali.</p>
<p style="text-align: justify;">Ratna orangnya nyentrik sekali. Dibagian bahunya ada tato kupu-kupu, gaya hidupnya juga kayak anak muda. Meki ratna pulen sekali rasanya dan dalam. Tubuhnya langsing tinggi, rambutnya sebahu lebat sekali, sama lebatnya seperti bulu mekinya itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Kami masih bertempur habis-habisan diatas sofa. Aku masih dibawah, dia diatas. Goyangannya indah sekali, tampak dia profesional sekali melayani aku.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8221; Kami sering jajan ya ?&#8221; tanyanya. &#8221; Maksud kamu apa ratna ? &#8221; Aku balik bertanya. &#8221; Yah..itu tuh&#8230;sering cari itu tuh&#8230;.wanita &#8220;P&#8221; , sering main dimana kamu ?&#8221; &#8221; Ah&#8230;mana saya punya uang untuk yang begitu &#8221; &#8221; Tapi mainanmu lihay sekali, nyodoknya juga oke banget lho, aku sudah dua kali orgasme, masih belum puas, tapi kamu masih tetap bertahan kuat&#8221; Jelasnya memuji. Aku diam saja, aku masih menjilati teteknya yang besar dan montok itu.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8221; Sekarang kita main di tempat tidur, kamu diatas ya ?&#8221; Pintanya. Kami main diatas ranjang, aku posisi diatas. Aku dipeluknya erat sekali, bibirku dilumat habis oleh bu Ratna. Wah permainanya hot sekali.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8221; Sudah lama aku kesepian, tolong puaskan aku Ron, sepuas-puasnya &#8221; Pintanya. &#8221; Sampai pagi ?&#8221; jawabku. &#8221; Ya bila perlu sampai pagi. Remas tetekku, goyangnya yang kenceng dong ? terus ron&#8230;terus Ron&#8230;semakin kedalam, Oohhh..mentok Ron ! enak banget Ron, ******mu besar banget, sampai menthok banget nih&#8230;? tapi nikmat sekali, jilati tetekku Ron aku sudah mau keluar, bareng ya keluarnya ? &#8221; Pintanya memelas. &#8221; Baik, aku juga sudah mau keluar. Goyangin dong biar aku keluar &#8220;. Secara reflek Ratna menggoyangkan pinggulnya dengan gerakan memutar-mutar seperti penari hula-hula Hawai. Gila banget goyangnya, aku dibuatnya kleenger&#8230;dan aku OOhhh&#8230;.terus rat&#8230;terus&#8230;..nikmat Rat&#8230;mau keluar nih&#8230;.&#8221; Aku juga Ron, nikmat banget ya ? mainanmu itu enak banget&#8230;OOhhh&#8230;Ronyku sayang&#8230;&#8230;peluk aku Ron&#8230;..yang dalam Ron&#8230;..terus&#8230;terus&#8230;.menthok&#8230;..OOHhh&#8230;.Rony aku keluar Ron ??!!!&#8221; Ratna langsung meremas lenganku sekuat kuatnya, dia orgasme dan nikmat sekali tampakya hingga dia meremas lenganku kuat-kuat.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8221; Gila lu ?! pinter banget, kau sudah tiga kali kamu baru keluar &#8221; Kata ratna sambil bangkit dari tempat tidur dan memukulku dengan bantal dengan gaya bercanda. Dia duduk di sofa, kakiya ngangkang, tubuhnya direbahkan disandaran sofa, tampak dia lemas sekali. Mekinya masih tampak memerah, teteknya masih ereksi, karena putingnya tampak besar dan kencang, warnanya pink, indah sekali, sesuai dengan kulitnya yang kuning langsat.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8221; Kamu berbakat jadi Gigolo Ron &#8220;</p>
<p style="text-align: justify;">&#8221; Gigolo ? mana mungkin ? apa modalku ?&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">&#8221; Ya, kamu jadi gigoloku saja !, kita bisa setiap saat begini &#8220;</p>
<p style="text-align: justify;">&#8221; Kamu juga mainnnya hot banget Rat ?! sudah pengalaman sekali, belajar dimana ?&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">&#8221; Belajar ? ya dari pengalaman !. Tahu enggak kamu ? aku tidak bersuami ? kenapa ? karena aku takut mendapat laki-laki hidung belang. Soalnya, semua yang pernah meniduriku adalah laki-laki hidung belang, hanya butuh tubuhku saja. Dulu aku wanita panggilan, klienku orang-orang top, orang VIP, tarifku selangit. Tapi setelah aku diatas tigapuluh lima tahun, pasaranku merosot, dan aku memilih pensiun, kalah saingan dengan yang ABG-ABG &#8221; Jawabnya tegas.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8221; Tapi kamu kaya raya ratna ?! kok tidak pilih suami yang mantap ?&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">&#8221; Kamu khan suamiku &#8221; Jawabnya bercanda.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8221; Kamu sering main dimana ? sering nyabo ya ? &#8220;kata ratna.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8221; Yah&#8230;.kadang-kadang, jika kebelet banget. Dulu sering dengan cewekku, dengan janda tetangga juga pernah, tapi enggak OK, janda kampung ! dengan banci juga pernah, tapi yang paling hot dengan kamu Ratna ?!<br />
&#8221; Ya jelas dong ? aku kan sudah lama banget enggak main, enggak ngerasain ****** ! Tapi mulai malam ini, kamu akan aku ikat, kamu harus jadi pacarku, bila perlu jadi suamiku. Aku jatuh cinta denganmu Rony, sudah lama aku menarih simpati padamu &#8221; Balas Ratna sambil menghampiriku dan memelukku serta melumat bibirku dengan bibirnya. Kami birahi lagi, sambil berpelukan dengan kaki diangkat sebelah dan diposisikan ke sandaran sofa, Ratna menuntun ******ku dan dimasukkan kedalam liang kemaluannya. Dia beraksi lagi, goyangannya membuat aku melayang-layang ke awang-awang. Baru kali ini aku merasakan goyangan yang begitu penuh gairah dan tenaga. Ratna melepas ******ku, dan dengan segera dia naik ke rajang dan posisinya nungging. Waduhhhh&#8230;mekinya tampak besar sekali dan hot, sepontan kumasukkan alat viatlku kedalam meki itu melalui posisi seperti ****** kawin.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8221; Aduhhh Rony, kok enak banget ya ? lebih dalam lagi Ron, Ooohhh mentok &#8230; Ron&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">&#8221; Sama, enak banget punya kamu Ratna, kamu sudah berumur, tapi barangmu pulen sekali &#8220;</p>
<p style="text-align: justify;">&#8221; Aku rawat terus sayang&#8230;apalagi aku jarang main, paling-paling pakai dildo, ya lama-lama bosen juga. Terus Ron..terus goyangnya, sambil remas tetekku, gigit bahuku Ron, OOhhh&#8230;&#8230;aku nikmat banget. Gigitanmu membuat aku semakin nafsu. Ohhh terus Ron&#8230;OOhhh Ron aku keluar, aku keluar lagi, aku kalah Ron ?! &#8221;<br />
Sejak saat itu, aku dan Ratna intim terus. Dia pindah rumah, ke rumahnya yang baru. Begitu juga aku diajaknya disana tinggal serumah. Rumah kosnya dikelola oleh pembantu rumah tangganya. Dirumah barunya Ratna, aku bebas melakukan persetubuhan kapan saja, dengan gaya dan posisi apa saja. Ibu kos ku ini, ibu Ratna ternyata mantan pelacur yang selalu kesepian dan ketagihan sex.</p>
<p style="text-align: justify;">Ada satu hal yang menyakitkan aku, kuliahku gagal, putus ditengah jalan, karena sering aku bolos kuliah, bangun kesiangan kelewat capek lembur semalam suntuk. Tapi aku dan Ratna hidup kumpul kebo bergelimang harta dan uang. Aku disuruhnya mengelola duabelas armada angkot dan kesemuanya pemilikannya diserahkan kepadaku. Aku bukan gigolo, karena aku tidak pernah minta bayaran, aku menyayangi Ratna, karena aku memang betul-betul mencintainya sepenuh hati. Usia kami berbeda jauh, dia sudah berumur empat puluhan, sementara aku masih kepala dua, dia lebih pantas jadi ibuku.Tapi aku sangat sayang dengannya.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ceritasex.cn/ibu-kos-mantan-pelacur/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Renita, Bersetubuh Dengan Kakak Ipar.</title>
		<link>http://www.ceritasex.cn/renita-bersetubuh-dengan-kakak-ipar/</link>
		<comments>http://www.ceritasex.cn/renita-bersetubuh-dengan-kakak-ipar/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 13 Nov 2009 23:23:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cerita Sex</dc:creator>
				<category><![CDATA[Paruh baya]]></category>
		<category><![CDATA[Sedarah]]></category>
		<category><![CDATA[kisah nyata]]></category>
		<category><![CDATA[selingkuh]]></category>
		<category><![CDATA[bercinta]]></category>
		<category><![CDATA[bersetubuh]]></category>
		<category><![CDATA[incest]]></category>
		<category><![CDATA[ipar]]></category>
		<category><![CDATA[ml]]></category>
		<category><![CDATA[ngentot]]></category>
		<category><![CDATA[renita]]></category>
		<category><![CDATA[seks]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ceritasex.cn/?p=1058</guid>
		<description><![CDATA[Renita 28 th memiliki postur tubuh yang aduhai, tinggi 160 kulitnya yang putih memiliki payudara cukup besar dan kencang, pinggang yang ramping tanpa ada lemak sedikitpun diperutnya dan yang paling ia banggakan adalah pinggulnya yang sexy dengan bongkahan pantatnya yang bulat menonjol membuat pria manapun menahan napas, Rudi 32 th suami Renita berkerja sebagai salah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Renita 28 th memiliki postur tubuh yang aduhai, tinggi 160 kulitnya yang putih memiliki payudara cukup besar dan kencang, pinggang yang ramping tanpa ada lemak sedikitpun diperutnya dan yang paling ia banggakan adalah pinggulnya yang sexy dengan bongkahan pantatnya yang bulat menonjol membuat pria manapun menahan napas, Rudi 32 th suami Renita berkerja sebagai salah satu direktur disebuah perusahaan besar. Perkawinan mereka baru berumur 2 tahun dan belum dikaruniai anak. Keadaan rumah tangga mereka biasa biasa saja, hanya baru baru ini Rudi selalu sibuk dengan pekerjaannya kadang pulang larut malam bahkan kadang dikirim perusahaannya keluar negeri sampai berminggu minggu. Renita mulai merasakan kesepian, pernah satu kali ia ingin ikut suaminya keluar negeri tetapi suaminya tidak mengijinkan. Renita protes karena tidak punya kawan berbicara, akhirnya Rudi mengusulkan untuk ditemani kakaknya Robert 34 th yang kebetulan dipindahkan oleh perusahaannya kekota mereka tinggal. Robert baru saja cerai dengan istrinya karena ada ketidak cocokkan diantara mereka. Robert mempunyai wajah yang cukup tampan dengan tubuh atletis memiliki sifat easy going mudah bergaul dan mempunyai sifat womenizer. Singkat cerita Robert akan tinggal dirumah mereka sebagai orang ketiga yang akan merubah kehidupan Renita selanjutnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Dihari pertama Robert tinggal dirumah mereka, Robert langsung terpesona akan kecantikan adik iparnya atau lebih tegas lagi ia tergiur oleh kemolekan tubuh adik iparnya yang aduhai itu. Hanya karena ia baru saja bertemu dengan adiknya setelah sekian lama tidak bertemu maka ia lebih menyesuaikan dirinya sebagai layaknya seorang kakak. Rudi tidak menaruh curiga apapun kepada kakaknya bahkan ia meminta kakaknya untuk menemani istrinya jikalau ia keluar kota. Suatu saat ketika Rudi akan mendapatkan tugas kantornya selama dua bulan, malam sebelumnya mereka saling berdebat, rupanya Renita tetap ingin ikut karena dua bulan bukan waktu yang singkat dan Renita yang mempunyai sifat polos dan blak blakan langsung to the point bahwa sudah tiga minggu ia tidak digauli oleh suaminya sekarang mau ditinggal dua bulan. Rudi coba menenangkan istrinya dengan mengimingi akan dibawakan oleh oleh dari belanda, Renita tetap kecewa ia hanya ingin kemesraan dari suaminya, akhirnya dengan terpaksa Rudi menggauli istrinya malam itu tetapi karena pikirannya hanya pada tugasnya saja maka ia dengan tempo singkat ia menggauli istrinya dan Renita pun tidak mendapatkan kepuasan bathin yang ia sangat harapkan dari suaminya.</p>
<p style="text-align: justify;">Pagi hari setelah Rudi berangkat ke airport seperti biasanya Renita menyediakan makan pagi, kali ini hanya untuk kakak iparnya saja dan setelah siap Renita memanggil kakak iparnya untuk sarapan, sebenarnya Robert sudah bangun tetapi ia tahu bahwa adiknya keluar negeri hari ini dan ia mendengar perdebatan mereka tadi malam, maka pagi ini ia akan mencoba hasratnya untuk menguji adik iparnya. Lalu ia menyiapkan suatu perangkap dengan pura pura ketiduran sambil menaruh beberapa majalah porno diserakan dilantai. Benar saja tiba tiba pintunya yang tidak tertutup rapat diketuk oleh Renita &#8220;..Mas Robert sarapan mas..&#8221; Renita memanggil kakak iparnya sembari mendorong pintunya untuk melongok kedalam kamar, ternyata kakak iparnya masih tidur dengan memakai selimut menutupi tubuhnya, &#8220;Mas bangun sarapan..&#8221; Ia melihat Robert begitu nyenyak tidurnya akhirnya berniat untuk membangunkannya sendiri lalu masuk kekamar, ia melihat kelantai banyak sekali majalah yang telah terbuka berserakan, maka sebelum membangunkan kakak iparnya Renita bermaksud membereskan dahulu majalah majalah tersebut tetapi alangkah terkejutnya ketika ia mendapati gambar gambar yang ada didalam majalah tersebut. Tangan Renita bergemetaran hatinya berdegup keras melihat pose pose persetubuhan yang sangat closed up, dengan cepat ia melirik kuatir kakak iparnya tiba tiba bangun, hatinya ragu ragu sebenarnya ia ingin cepat cepat membereskan majalah ini ke raknya tetapi entah mengapa ada suatu hasrat ingin melihat gambar gambar itu lebih jauh, &#8220;..Ah.. satu dua halaman sudah itu cepet cepet ditaruh lagi..&#8221; pikiran Renita yang bercabang, lalu pelan pelan ia buka halaman demi halaman, makin dilihat makin melotot matanya, ia melihat satu wanita sedang disetetubuhi dua kali laki, jantungnya makin berdegup keras selangkangannya terasa gatal vaginanya terasa berdenyut denyut putingnya mengeras birahinya dengan cepat meluap kepermukaan apalagi tadi malam hasrat birahinya tidak tertuntaskan oleh suaminya, kembali ia melirik ketempat tidur<span id="more-1058"></span><br />
&#8220;..Ah mas Robert masih tidur..&#8221; lalu pelan pelan ia dudukdilantai sambil menarik dasternya keatas terlihat celana dalamnya yang menerawang tipis kemudian ia masukan tangannya kedalam cd nya, rupanya Renita ingin menuntaskan birahinya dengan masturbasi sambil menghayalkan gambar gambar tersebut, mulailah Renita menggosok gosok clitorisnya sambil memelototi beberapa pose pose gambar yang merangsang birahinya, Renita begitu terokupasi dengan masturbasinya sampai napasnya tersengal tersengal tiba tiba terdengar deritan tempat tidur, membuat Renita kaget bukan kepalang jantungnya terasa berhenti ketika ia menengok ke tempat tidur Robert masih pura pura tidur tetapi sudah berubah posisi dengan menghadap kedirinya dan yang sangat mengejutkan Renita, Robert sudah tidak berselimut lagi dan hanya memakai celana dalam, rupanya Robert dari tadi memperhatikan Renita sehingga kemaluannyapun berdiri, dan yang dilihat oleh Renita adalah pemandangan yang membuat birahinya semakin tidak menentu, tubuh kakak iparnya yang kekar dadanya yang bidang hanya dibalut sepotong cd dimana terlihat jelas batang kemaluannya tercetak dicelana dalamnya. Tubuh Renita terasa kaku dan berat sekali untuk digerakkan tetapi akhirnya agak lega ketika kakak iparnya terdengar mendengkur tanda masih nyenyak tidur.
</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;..Ohh..Renita kau sungguh cantik..&#8221; mulailah Robert pura pura ngelindur. Renita kaget mendengarnya sejenak ia berhenti melakukan aktifitasnya. &#8220;.. Ohh..seandainya kau istriku akan kupeluk mesra dirimu akan kuciumi seluruh tubuhmu yang begitu sexy..&#8221; Renita benar benar bingung mengapa tiba tibak kakak iparnya melindurkan dirinya tetapi hatinya begitu senang ada seseorang yang menyanjung dirinya walaupun yang menyanjung itu kakak iparnya sendiri. |Tanpa disadari Renita menggunggam sendiri, &#8220;.. Ohh mas Robert seandainya kau suamiku akan kupeluk tubuhmu yang perkasa ini..&#8221; Walaupun suara Renita terdengar lirih tetapi Robert masih dapat mendengarnya, Robert makin berani melakukan aksinya. &#8220;..Ohh..Renita sudah lama aku tidak bergaul dengan wanita seandainya kau bersedia, ingin rasanya aku menyetubuhimu akan kumasukan punyaku ini kevaginamu akan kuberikan kepuasan yang kau dambakan..&#8221; Renita terhenyak darahnya terasa mendidih..mengapa kakak iparnya tahu bahwa ia mendambakan kehangatan seorang laki laki, napsu birahinya semakin menjadi jadi. Vaginanya berdenyut denyut jarinya semakin dalam merogoh lobang kenikmatannya membayangkan ucapan kakak iparnya tersebut. Tiba tiba Robert berbalik lagi kali ini ia mencelentangkan tubuhnya sambil menceloteh memanggil nama |Renita dengan gerakan seperti tidak disengaja ia mengusap usap batang kemaluannya lalu dengan perlahan Robert mencopot cd nya hingga batang kemaluannya mengacung dengan tegar. Renita membelalakkan matanya jantungnya terasa berhenti darahnya berdesir berputar cepat sekali. Tadi malam ia merasakan batang kemaluan suaminya tidak setegar dan sebesar apa yang dilihat sekarang. &#8220;..Ohh Renita lihat batang penisku sudah siap untuk memuasi birahimu, oh seandainya kau diatasku akan kugesek gesekan penisku kevaginamu yang sudah merekah basah itu..&#8221; kembali Robert menyeloteh memancing reaksi Renita, benar saja Renita seperti tersihir tanpa melepaskan pandangannya ke batang kemaluan kakak iparnya ia copot cdnya bahkan sekaligus melepaskan dasternya sehingga Renitapun telanjang tanpa sehelai kain.</p>
<p style="text-align: justify;">Dengan tubuh bugil putih mulus sungguh sangat sexy Renita menaiki tempat tidur sambil mengangkat pantatnya yang sexy buah dadanya yang membusung ikut bergoyang, lalu dengan perlahan ia membuka kedua pahanya sehingga kelihatan vaginanya yang juga membusung, bibirnya terbelah merekah kemerah-merahan diantara bulu bulu kemaluannya yang halus dan sudah kelihatan basah berair. Clitorisnya berwarna merah muda sebesar biji kacang terlihat mencuat keatas diujung bibir vaginanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Renita mulai mengambil posisi berjongkok tepat diantara batang kemaluan Robert yang sudah berdiri tegang. Pikiran Renita sudah begitu kacau napsu birahinya tidak dapat dikuasainya lagi, kata kata kakak iparnya merupakan ajakan yang sangat menggoda kebutuhan sexnya. Renita melihat tubuh kakak iparnya yang sangat perkasa kepala penisnya sudah begitu dekat dengan vaginanya tapi entah mengapa Renita menunggu celotehan kakak iparnya lagi seolah olah menunggu komando untuk pembenaran tindakannya. &#8220;..Ohh..Renita masukin penisku ke vaginamu sayang..&#8221; Robert</p>
<p style="text-align: justify;">memincingkan sebelah matanya tak percaya apa yang dilihatnya, tubuh adik iparnya yang begitu sempurna tanpa sehelai benangpun lalu ia meneruskan celotehannya &#8220;..Ohh akhirnya kau datang dalam mimpiku Ren..pahamu sungguh mulus..&#8221; Robert menaruh kedua tangannya di paha Renita sambil mengelusnya. Renita bergetar hebat sentuhan tangan kakak iparnya menyadarkan seluruh hayalannya. Akhirnya Renita sadar bahwa ia betul betul membutuhkan kehangatan seorang pria dan pria itu berada tepat dihadapannya lalu tanpa sungkan lagi ia membangunkan kakak iparnya &#8220;..Mas Robert.. mas ini Renita bangun mas..&#8221; Lalu Robert membuka matanya dengan mimik pura pura terkejut &#8220;..Ren saya pikir saya sedang mimpi..&#8221; Renitapun tersenyum nakal &#8220;..Mas Robert naksir Renita ya..Renita denger semua yang mas ocehkan tadi lalu Renita turuti apa yang mas perintahkan..&#8221; Robert membalas senyumannya &#8220;.. Tapi belum masuk tuh penisku..&#8221; Renita yang sudah begitu menggebu gebu akhirnya kembali konsentrasi melanjutkan aksinya.</p>
<p style="text-align: justify;">Tetapi Renita tidak langsung memasukkan batang kemaluan kakak iparnya itu kedalam lobang vaginanya yang sudah merekah pasrah untuk menyambut batang penis yang besar itu, melainkan terlebih dahulu menggesek-gesekkan kepala kemaluannya itu diantara belahan vaginanya sehingga kepala yang besar itu basah dan mengkilap oleh cairan lendir yang keluar dari celah-celah vagina wanita itu.<br />
Renita terbuai dengan mata yang terpejam sambil mendesah-desah menahan gejolak nafsu birahi yang terus membara.<br />
&#8220;&#8230;sssssssshhhhh&#8230;maaaassss&#8230;ooooooogggghhhsss. ..!! Bagaikan diguyur air hangat Renita mendesah panjang tubuhnya terasa dialiri jutaan volt kenikmatan napsu birahinya makin terangsang hebat.<br />
Renita mulai menekan kepala penis yang sudah pas berada di posisi mulut lobang vaginanya. Tampak kepala penis Robert masih agak sulit masuk kedalam lobang vaginanya yang walaupun sudah basah dan berair itu karena belum pernah kemasukan penis sebesar punya kakak iparnya itu.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;&#8230;sssleeebbbb&#8230;ssslleeeebbb&#8230;sssslleeeebbb&#8230;b bbllleeeeesssssss&#8230;&#8221; pelan pelan batang penisnya mencoba menyusup lobang vagina Renita yang terasa sekali masih sempit walaupun sudah begitu basah.<br />
&#8220;&#8230;Aaaaaaauuuuuuukkkkkkhhhhhhh&#8230;sssssshhhhh&#8230;ma aaaasssss&#8230;! besaaaar sekaliiii..!!&#8221; &#8220;..Apanya yang besar Renn..?&#8221; Robert memancing reaksi Renita, &#8220;&#8230;Punyanya maass..!!&#8221; &#8220;..Apa namanya..?&#8221; Robert memancing lagi, Renita ragu menjawabnya karena belum pernah selama ia bersetubuh dengan suaminya menyebut nyebut kata kata vulgar, &#8220;..Apa namanya Renn..?&#8221; Robert terus mendesak, &#8220;..Kemaluannya maaas..&#8221; &#8220;..kontol..Renn..namanya kontol..&#8221; Robert menegaskan &#8220;..Apa Renn..?&#8221; akhirnya Renita dapat menyebutnya dengan lirih &#8220;..kontolnya mass besaaar sekali..&#8221; Robert tersenyum puas lalu dengan sekali sentakan mendorong pantatnya keatas, tampak Renita agak tersentak dan mendesah lirih ketika batang penis pria itu menyeruak masuk ke lobang vaginanya .<br />
Matanya terbeliak dengan mulut terbuka sambil kedua tangannya mencengkeram sprei dengan kuat-kuat.Tampak bibir vaginanya yang tebal itu sampai terkuak lebar seperti terkelupas seakan-akan tidak muat untuk menelan besarnya kemaluan kakak iparnya itu.<br />
&#8220;&#8230;Ooooooouuukkkkkhhhhssss&#8230;sssshhhhhh&#8230;maassss &#8230;!..pelaann..pelaann..maasss&#8230;!&#8221;<br />
&#8220;&#8230;hhhhmmmm&#8230;Rennnn memekmu&#8230;sempit sekalii&#8230;ukkkkhhh&#8230;uuuukkkkhhhh&#8230;&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Renita mulai berirama menaik turunkan pantatnya, batang penis Robert masuk merojok lobang vagina Renita tahap demi tahap hingga akhirnya amblas semuanya. Perlahan lahan Robert ikut bergoyang menarik ulur batang kemaluannya yang besar itu, Reni mulai merasakan sensasi yang luar biasa yang bukan main nikmatnya , liang vaginanya yang sudah licin terasa penuh sesak oleh penis kakak iparnya yang besar itu, urat urat batang kemaluannya menggesek nikmat sekali dinding vaginanya yang sudah dilumuri getah birahinya. Tanpa Renita sadari ia mulai menyeloteh diluar kontrol.<br />
&#8220;&#8230;Ohhhhhhhsss&#8230;ssshhh&#8230;enaaaaaak&#8230;seekaliiii. ..punyanya..maaassss..!!&#8230;oooougggghhh&#8230;terruuuu ssss&#8230;maaassss&#8230;teeerrruuusss&#8230;!&#8221;<br />
&#8220;..Terus diapain Renn..?&#8221; lagi lagi Robert ingin Renita menambah kosakatanya, sekarang Renita sudah lebih berani karena sudah terbuai oleh birahinya yang makin menjadi jadi, &#8220;..teruss digoyang kontolnya maass..!!&#8221; &#8220;..Salah Renn namanya kontol*..bilang entotin memeknya Renita..!&#8221; Robert memaksa lagi dengan kata kata baru, Renita merasakan sesuatu yang aneh pada dirinya makin vulgar kata kata yang dipaksakan kakak iparnya untuk diucapkannya makin terangsang napsu birahinya yang sudah menggebu gebu itu.
</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;..Iyyaa..maass entoootin memeknya Renita&#8230;!! Entoootiin&#8230;pake kontol gedenya maaaasss&#8230;!!&#8230;entoootiiiin yang niiikmaaat..!!&#8221;" makin lancar Renita menyeloteh makin beringas Robert menyetubuhi Renita dan Renitapun makin histeris dibuatnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Renita sudah lupa diri bahwa yang menyetubuhi dirinya adalah kakak dari suaminya, yang ada dibenak Renita hanyalah letupan birahi yang harus dituntaskan yang ia tunggu tunggu selama tiga minggu dari suaminya tapi Rudi suaminya sama sekali tidak mempedulikannya sedangkan sekarang ia mendapatkan apa yang ia inginkan justru dari Robert kakak iparnya sendiri, birahinya yang ia pendam sekian lama meletup dipelukan kakak iparnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Akhirnya yang terjadi mereka dengan buas dan ganas saling berpelukan sambil berciuman .Terdengar suara nafas mereka saling memburu kencang, lidah mereka saling mengait dan saling menyedot, saling bergulingan giliran Renita dibawah, Robert mengambil inisiatif menggenjot pinggulnya yang tampak naik turun semakin cepat diantara selangkangan Renita yang makin terbuka lebar, Renitapun mengangkat kedua kakinya sambil ditekuknya, pantatnya ikut diangkat mengharapkan seluruh batang kemaluan kakak iparnya menggesek seluruh syaraf syaraf kenikmatan dirongga vaginanya dan Robertpun semakin mudah menyodokan penisnya yang panjang besar itu keluar masuk sampai menghasilkan suara bedecak-decak seperti suara membecek seiring dengan naik turunnya pantat pria itu.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;&#8230;cccllllleeeeebbbbbbb&#8230;ccccleeeeebbbbb&#8230;cccll eeeeebbbb&#8230;cccleeeeebbbbb&#8230;&#8221;<br />
Robert memperhatikan kearah selangkangan Renita dia melihat vaginanya mencengkeram penisnya erat sekali, ia tersenyum puas bisa menaklukkan vagina adik iparnya ini, yang sudah basah membanjir penuh dengan cairan putih kental sehingga membasahi bulu-bulu jembutnya yang tebal itu dan juga batang kemaluannya. Ia yakin adik iparnya benar benar sudah memasrahkan dirinya untuk disetubuhi kapan saja ia mau,</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;&#8230;oooooouuuuuggghhhhssss&#8230;ooouuugggghhhsss&#8230;ss sshhhh&#8230;maaassss&#8230;!..enaaakkk..sekaliii..kontolm uu&#8230;ini..maass..!<br />
&#8230;teruuuss..maasss&#8230;entoootin..memek Renita yaanggg..ceepaatt&#8230;ouchh&#8230;nikmaaaat..!&#8221;<br />
&#8220;..Ouuuchhh..memekmu sempit seekalii&#8230;Reenn..! terasaaa menyedoot nyedooot..!nikmatnya bukan maiiiin..!!&#8221; Robert mendengus dengus bagai banteng terluka genjotannya makin ganas saja. Mata Robert terlihat lapar menatap payudara Renita yang putih montok dikelilingi bulatan pink ditengahnya terlihat putingnya yang sudah begitu mengeras, tanpa menyia nyiakan kesempatan Robert langsung menomplok dan menyedot menyedot puting susu adik iparnya yang begitu menantang, Tubuh Renita yang menyender dinding setengah duduk setengah celentang menggelinjang hebat..! payudaranya makin dibusungkan bahkan tubuhnya digerakkan kekiri dan kekanan supaya kedua puting buah dadanya yang sudah gatal mendapatkan giliran dari serbuan mulut kakak iparnya ini.<br />
&#8220;&#8230;oooooouuuuuggghhhhssss&#8230;ooouuugggghhhsss&#8230;ss sshhhh&#8230;maaassss&#8230;!..kenyooot teruuusss pentiiiilku..!! &#8230;oooohhh&#8230;maaaasss&#8230;kkaaaauuu&#8230;sunggggguh..pe rkkaaaasssaaaa&#8230;!!.. Reeeniii bisssshhaa ketagihaaaaan.. dientooot..sama..maaasss &#8230;!!&#8221; pikiran Reni sudah tidak jernih lagi, terombang ambing didalam pusaran kenikmatan, terseret didalam pergumulan sex dengan kakak iparnya, jiwanya serasa seenteng kapas melambung tinggi sekali.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Ooooohhhh&#8230;aaaa..aakkhh..aakhuu..ngghha taaahaaann..maaauu..keluaarrr&#8230;maassss&#8230;!&#8221;.. Tubuh Renita mengejang sambil memeluk tubuh Robert erat sekali jiwanya terasa berputar putar merasakan semburan kenikmatan yang dahsyat diklimaksnya yang pertama, &#8220;..Teruuus Renn jangan berhenti aku masih pengen kontol*in memekmu yang lamaaa..! Kamu bisa keluar lagii berkali kaliiii&#8230;!!&#8221; Robert teruss menggenjot tubuh Reni yang hanya pasrah dipelukan kakak iparnya ini.<br />
Lebih dari sejam Robert menyetubuhi Renita tanpa henti, Renita makin lama makin terseret didalam kenikmatan pergumulan sex dengan kakak iparnya yang ia belum pernah rasakan dari suaminya sampai sebegini lamanya dengan segala macam variasi , apalagi waktu Robert memintanya berbalik sambil menungging,
</p>
<p style="text-align: justify;">vaginanya terlihat megap megap disumpal batang penisnya yang besar dari belakang , ia merasakan liang vaginanya menyempit karena tertekuk oleh perutnya sehingga ia merasakan setiap inchi denyutan kenikmatan yang dihasilkan oleh batang penis Robert yang merasuk keliang kenikmatannya, Renita menambah sensasi sensual ini dengan memutar mutar pantatnya yang putih sexy bahkan ketika Robert menyodok penisnya yang besar itu, Renita menyambutnya dengan mendorong keras pantatnya kebelakang sehingga penis Robert yang besar dan panjang itu masuk kelobang vaginanya dalam sekali, menggelitik seluruh rongga kenikmatannya &#8220;..Oooohh&#8230;niiiikmaaat&#8230; sekaaalii&#8230;maass..!! dientot dari belakang&#8230;! urat kontoool maaass.. terasa sekalii menggelitik lobang memeeekku..!!..belum pernah aku rasakan ngentooot beginiii niiikmaaat..!! entoootiiinn.. teruuusss..maaassss&#8230;!!!&#8221; Robert sangat puas mendengarnya lalu ia merunduk memeluk tubuh Renita dari belakang tangannya merogoh keselangkangan Renita, jari2 Robert memainkan clitoris Renita dengan memutar mutarnya, sambil menggenjot dengan beringas penisnya yang besar itu,</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;..uuuuggghhhsss&#8230; aaaaacchhh.. maaaasssss&#8230; yeeeesssss&#8230;!! niiiiikmaaaat..!! mainin teruuuusss&#8230; itiiilku..!! &#8220;..entooootin memeeeekku..!!!&#8221; bagai kesurupan Renita mengeluarkan kata kata vulgar sambil mengerang mengerang dengan liar, tubuhnya yang dalam posisi nungging meliuk meliuk tanpa terkendali rupanya clitorisnya merupakan alat kelamin yang paling sensitif buat Renita, lobang vaginanya yang sudah dihajar begitu rupa oleh penis yang berukuran luar biasa itu ditambah clitorisnya ditekan sambil diputar putar oleh jari Robert, maka sempurnalah puncak kenikmatan yang ia rasakan, tangan Renita mencengkeram sprei erat sekali, dahinya berkerut mulutnya seperti ingin teriak dan mendesis desis seperti orang kepedesan rupanya Renita sedang dilanda kenikmatan yang amat sangat, posisi tubuhnya yang sedang menungging makin ditunggingkan pantatnya keatas memasrahkan vaginanya dihabisi oleh keperkasaan penis kakak iparnya dengan mengharapkan kedatangan gelombang kenikmatan berikutnya yang merupakan pengalaman pertama buat Renita untuk mendapatkan multiple orgasm.</p>
<p style="text-align: justify;">Apa yang terlihat sungguh merupakan pemandangan yang sangat erotiiss..! tubuh mulus Renita menungging meliuk liukdengan liarnya kepalanya bergeleng kekiri dan kekanan buah dadanya bergoyang erotis sekali sementara tangan Robert yang kekar memegang erat pinggang Reni yang ramping itu, pantatnya digenjot cepat sekali batang penisnya yang besar keluar masuk liang vagina begitu dahsyat tanpa ampun, tubuh Reni sampai bergetar hebat terlihat ia mengejut ngejutkan tubuhnya tanda ia sedang mengalami kenikmatan yang maha dahsyat,&#8221;..uuuuggghhhsss&#8230; aaaaacchhh.. yeeeessssss..maaaasssss&#8230; yeeeesssss&#8230;!!&#8221; Renita benar benar melayang kelangit yang ketujuh didalam pergumulan sexnya dengan kakak suaminya ini. &#8220;&#8230;aaaaaaaaaacccchhhh&#8230;!!!!&#8230;terlaaaaluuu..niii iiikmaaaaaaaaaat&#8230;maaaaaassss&#8230;!!!..nggggaaa taahaaannn..akkkhuu.. maaauuu&#8230; keluaaaar&#8230; laaaagiiii&#8230;!!!&#8221; Renita makin histeris mendapatkan klimaks keduanya yang lebih panjang dan lebih nikmat dari yang pertama. Renita benar benar lupa daratan rasa ketagihan nikmatnya merasuk jiwanya ingin rasanya melanjutkan persetubuhannya selama lamanya dengan kakak iparnya karena ia bisa memberikan multiple orgasm yang ia tidak pernah dapatkan dari suaminya.</p>
<p style="text-align: justify;">Tapi tubuh Renita sudah tidak bertenaga lagi lalu ia ambruk ditempat tidur sambil berbalik berbaring napasnya tersengal sengal, rupanya Robert belum juga mengalami ejakulasi terpaksa ia ikut membaringkan dirinya disamping Renita, dengan wajah sayu Renita bertanya &#8220;..Mas belum keluar ya..?&#8221; Robert menggelengkan kepalanya, &#8220;..Jadi Renita masih akan dientot lagi..mas..?&#8221; Renita sudah lancar dengan kosakatanya, Robert mengangguk, &#8220;..Renita masih bisa orgasme lagi ngga..mas..?&#8221; Lalu Robert setengah berbangun berkata sambil membelai rambut Renita dengan mesra &#8220;..Ren kamu masih bisa orgasme 2 X lagi bahkan lebih..ada caranya..&#8221; Tiba tiba Renita menarik batang kemaluan Robert yang masih mengeras, matanya berbinar binar &#8220;..Ajarin Renita ya mas..Renita masih pengen dientot kontol gede mas Robert seharian kalau Renita bisa keluar lagi..keluar lagi..&#8221; &#8220;..Renita jarang klimaks kalau ditiduri sama mas Rudi, mas Rudi pengennya cepet cepet aja, abis keluar langsung tidur..&#8221; Robert tersenyum kecut dalam hati ngedumel &#8220;..Goblok banget adik gua cewek segini sexy dianggurin.. ya udah jangan salahin gua ya..&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Seharian Robert mengajari Renita bagaimana caranya mengayuh sekoci cinta untuk menggapai beberapa pulau berpuncak gunung kenikmatan dan Renita menjadi murid yang cepat tanggap. Satu hari penuh Renita mendapatkan pengalaman luar biasa. Robert merangsang napsu birahinya dengan menyetubuhi dirinya berbagai macam posisi. tidak bisa dihitung sudah berapa kali Renita mengalami orgasme, yang jelas Renita begitu menikmati bahkan mungkin ketagihan disetubuhi batang kemaluan kakak iparnya yang begitu besar dan perkasa.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah kejadian hari itu, setiap ada kesempatan, mereka melakukan permainan sexnya dimana saja, pernah suatu malam Renita setelah berhubungan sex dengan suaminya dan tidak mendapatkan kepuasan yang ia inginkan, setelah suaminya tertidur ia langsung pindah kamar tanpa sepotong pakaian Renita langsung kekamar kakak iparnya minta untuk dipuasi dan seperti biasanya Robert memenuhi keinginannya dengan melumat seluruh tubuhnya tanpa sisa, vaginanya dilahap dengan buas dan seperti biasanya batang kemaluan Robert yang ia gila gilai menggali tak henti henti liang kenikmatannya. Renita dibuat melayang layang diawang awang sampai empat kali orgasm dan baru pindah kembali kekamarnya sekitar jam 4 pagi.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ceritasex.cn/renita-bersetubuh-dengan-kakak-ipar/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menikmati Tubuh Adinda, Menantuku.</title>
		<link>http://www.ceritasex.cn/menikmati-tubuh-adinda-menantuku/</link>
		<comments>http://www.ceritasex.cn/menikmati-tubuh-adinda-menantuku/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 13 Nov 2009 23:19:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cerita Sex</dc:creator>
				<category><![CDATA[Paruh baya]]></category>
		<category><![CDATA[selingkuh]]></category>
		<category><![CDATA[adinda]]></category>
		<category><![CDATA[bercinta]]></category>
		<category><![CDATA[incest]]></category>
		<category><![CDATA[menantu]]></category>
		<category><![CDATA[ml]]></category>
		<category><![CDATA[ngentot]]></category>
		<category><![CDATA[seks]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ceritasex.cn/?p=1055</guid>
		<description><![CDATA[Gairah kelelakian Pak Suryo yang terpendam kepada Adinda memang menuntut karena sang menantu makin dipandang makin menggiurkan saja. Ditahan makin lama makin meluap dan ketika dicoba mengutarakannya dengan memancing-mancing sambil mengobral banyak pemberian nampaknya tidak ada penolakan dari Adinda, dengan sendirinya kelanjutan ke arah hubungan terlarang ini menjadi semakin mulus. Tidak bisa disalahkan, Adinda yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Gairah kelelakian Pak Suryo yang terpendam kepada Adinda memang menuntut karena sang menantu makin dipandang makin menggiurkan saja. Ditahan makin lama makin meluap dan ketika dicoba mengutarakannya dengan memancing-mancing sambil mengobral banyak pemberian nampaknya tidak ada penolakan dari Adinda, dengan sendirinya kelanjutan ke arah hubungan terlarang ini menjadi semakin mulus.</p>
<p style="text-align: justify;">Tidak bisa disalahkan, Adinda yang latar belakangnya binal kalau sudah terlalu dekat apalagi sudah terlalu banyak dibanjiri hadiah sang mertua, maka kesadarannya pun cepat saja jadi buntu ketika itu. Jelas, karena sebenarnya bukan baru dimulai saat itu saja tapi dari awalnya Adinda memang sudah diincar oleh Pak Suryo dan Adinda sendiri juga sudah menaruh perasaan tertarik kepada bossnya yang simpatik ini. Cuma saja karena keburu diserobot duluan oleh Mas Indra yang lebih ngotot maka perasaan hati keduanya sempat tersendat dan sekarang mulai terungkit kembali. Menggelegak semakin hari semakin matang sampai kemudian di suatu sore yang merupakan penentuan ketika Pak Suryo mencoba sedikit nekat untuk menangkap menantu cantik ini dalam pelukannya tapi kali ini disertai dengan menyosor bibir Adinda.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Hffmmm.. hghh..&#8221; Adinda mengejang tersumbat mulutnya oleh lumatan nafsu Pak Suryo tapi begitupun dia tidak berontak. Ada beberapa saat dia ikut terhanyut dalam asyiknya berciuman bergelut lidah dan ketika cukup untuk saling melepas, terlihat air mukanya merah merona.<br />
&#8220;Bapak nekatt..&#8221; komentarnya malu-malu geli.<br />
&#8220;Abisnya kamu ngegemesin Bapak sih..&#8221;
</p>
<p style="text-align: justify;">Itu awal pertama percobaan Pak Suryo. Tentu saja melihat ada lampu hijau seperti ini jelas membuatnya lebih berani lagi. Dia sudah mulai mencari simpati dengan cerita tentang Bu Suryo yang mulai kurang memberinya kebutuhan penyaluran seks. Dan ternyata meskipun tidak terucapkan tapi dari mimik wajah Adinda tertangkap oleh Pak Suryo bahwa sang menantu ini mulai terpengaruh prihatin kepadanya. Terbukti ketika pada kesempatan hari berikutnya dia mengulang lagi memeluk dan mengajak berciuman tapi kali ini sambil sebelah tangannya menggerayangi bagian-bagian kewanitaan Adinda, mulai dari kedua susunya sampai kemudian menyusup ke selangkangan, meremas gemas bukit vaginanya, lagi-lagi tidak ada penolakan dari sang menantu cantik ini. Seperti yang pertama Adinda juga membiarkan sebentar dan ikut terhanyut oleh ajakan berciuman yang hangat bernafsu ini, hanya saja ketika terasa akan terlupa daratan segera dia minta melepas ciuman.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Pak jangan sekarang.. Adinda takut kalo ketauan..&#8221; bisiknya cemas karena sudah terasa jari nakal Pak Suryo menyusup mengorek-ngorek di celah kemaluan di bagian klitorisnya. Mendapat peringatan ini Pak Suryo pun seperti tersadar dan melepaskan Adinda.<br />
&#8220;Heehh.. nanti kalau ada kesempatan Bapak ke kamarmu, ya?&#8221; katanya masih sempat memesan.<br />
Adinda hanya mengiyakan dan segera berlalu dari situ meninggalkan Pak Suryo yang meskipun masih nampak penasaran tapi dalam hatinya lega karena yakin bahwa pada kesempatan berikut tentu dia pasti dapat meniduri menantu cantik ini.<br />
<span id="more-1055"></span><br />
Suatu hari Mas Indra akan dinas keluar kota, pagi-pagi buta itu Adinda sudah kembali naik tidur setelah mengantar Mas Indra cuma sampai di pintu kamar untuk berangkat ke airport. Membanting tubuhnya lemas karena Mas Indra masih sempat mengajaknya bermain cinta sesaat sebelum berangkat.Ketika setengah layap-layap itulah dia dihampiri Pak Suryo yang masuk ke kamarnya tanpa sepengetahuannya. Begitu datang Pak Suryo yang rupanya sudah lama menunggu kesempatan baik ini langsung ikut naik berbaring dan mulai menggerayangi tubuh Adinda yang masih bertelanjang bulat dan hanya menutupi tubuh atasnya dengan sehelai kain. Adinda sempat mengira bahwa itu Mas Indra lagi tapi segera tersadar karena perbedaan yang nyata di antara kedua lelaki itu. Mas Indra agak kecil sedang Pak Suryo yang pendek itu besar gempal tubuhnya. Adinda jadi kaget.<br />
&#8220;Ehh Bapakk?! kaget aku Paak.. kirain siapa.&#8221;<br />
&#8220;Ah masak sama Bapak nggak kenal, kan Bapak sudah pernah bilang mau nyusul ke sini kalo ada kesempatan.&#8221;<br />
&#8220;Abis nggak kedengaran masuknya, tapi Ibu mana Pak?&#8221; kata Adinda yang karena merasa tidak bisa menghindar lagi, dia bergerak bangun maksudnya akan mencuci dulu bekas-bekas dengan Mas Indra.<br />
&#8220;Ibu masih pules, nggak bakalan tau kalau Bapak ke sini..&#8221; tukas Pak Suryo yang rupanya sudah tidak sabaran lagi langsung menahan Adinda bangun.
</p>
<p style="text-align: justify;">Tanpa memberi kesempatan bicara bagi Adinda, dia sudah menyerbu perempuan itu dengan bernafsu. Mencium langsung melumat bibirnya sambil dibarengi remasan-remasan gemas di mana pun bagian tubuh sang menantu yang cantik menggiurkan ini terpegang tangannya. Adinda gelagapan sesaat, tapi lagi-lagi dia mengalah mencoba mengerti emosi nafsu laki-laki setengah umur yang menurut pengakuan kepadanya sudah jarang diberi penyaluran seks oleh istrinya. Pasrah saja dia membiarkan Pak Suryo dan malah ikut mengimbangi lumatan laki-laki itu sama bernafsunya meskipun kelanjutannya agak membuat risih juga karena serbuan-serbuan Pak Suryo benar-benar kelewat rakus. Dari saling bertemu bibir ciuman Pak Suryo menurun melanda kedua susunya, di sini hanya berhenti beberapa saat untuk mengisap kedua puncak bukit kembar itu dan sebentar menjilati putingnya lalu kemudian diteruskan lebih ke bawah melewati perut Adinda yang datar itu sampai kemudian mendarat di vaginanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Ini yang agak terasa kurang sreg bagi Adinda karena Pak Suryo seperti pura-pura lupa bahwa lubang itu masih belum sempat dicucinya, tapi dia enak saja mengerjai bagian itu dengan jilatan-jilatannya bahkan juga disedot-sedotnya. Mau dia mencegah tapi Pak Suryo masih lebih ngotot di situ malah semakin coba ditolak, semakin keras juga Pak Suryo bertahan. Terpaksa Adinda diam saja sampai akhirnya dia sendiri terbawa tidak perduli karena vaginanya yang dikerjai mulut lelaki memang merangsang nafsunya dengan cepat.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Aasshhg.. hngghh.. ssshhhg..&#8221; kontan melintir, bergeliat-geliat dia oleh kilikan jilatan di klitorisnya yang begitu menggelitik geli-geli enak dan sodokan-sodokan ujung lidah di lubangnya yang begitu membuatnya penasaran, sementara Pak Suryo tambah bersemangat memainkan kepintaran mulutnya. Menyosor seolah-olah ingin menyembunyikan wajahnya tenggelam di lubang menganga milik menantunya ini. Padahal Adinda baru saja terpuaskan dalam sanggama bersama Mas Indra, tapi rangsangan sang mertua ini begitu luar biasa menaikkan kembali birahi nafsunya seolah-olah tenaga untuk bercinta datang berlipat ganda. Masih beberapa saat Pak Suryo membakar bara nafsu Adinda, baru ketika dilihatnya sang menantu cantik ini sudah matang dituntut birahinya di situlah Pak Suryo berhenti dan mempersiapkan batangannya. Sudah cukup tegang, tinggal membasahi sedikit dengan ludahnya untuk kemudian dituntun menempel di mulut lubang, langsung ditusuk masuk.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Hhgghh..&#8221; sekali lagi Adinda mengejang kali ini oleh sodokan penis Pak Suryo. Tapi karena sudah cukup siap dia bisa langsung menerima batang yang sebenarnya masih asing baginya. Malah tuntutannya kepingin cepat terpenuhi, dia pun ikut menyambut dengan memutar pantatnya membuat batang Pak Suryo terasa seperti disedot masuk, cepat saja amblas ke mulut vagina yang lapar itu. Tapi begitu tertanam dalam, mulutnya langsung menganga kaku menahan pinggang Pak Suryo agar sodokan jangan berlanjut dan ini dipenuhi Pak Suryo karena memang batangnya sudah tertanam habis. Menunggu sesaat sampai Adinda kelihatan sudah agak mengendor barulah Pak Suryo menyambung dengan gerak memompa keluar masuk penisnya pelan-pelan.</p>
<p style="text-align: justify;">Adinda sendiri masih sedikit tegang wajahnya dalam usaha menyesuaikan diri dengan sodokan-sodokan Pak Suryo tapi cuma sebentar, karena rasa baru yang diterimanya cepat saja membuainya, sama cepat seperti barusan dia dirangsang mulut Pak Suryo di vaginanya. Ada yang luar biasa pada milik mertuanya ini sehingga Adinda mengalihkan pandangannya ke bawah ingin lebih jelas apa yang menjadi penyebabnya. Karena bukan hanya bisa membuat daya rangsangan yang begitu besar dengan teknik mulutnya tapi juga memberi pemenuhan yang pas untuk tuntutannya. Yaitu dari dalamnya batang yang menyumbat lubang vaginanya terasa ukurannya agak berlebih dari yang biasa dialaminya dengan Mas Indra.</p>
<p style="text-align: justify;">Pak Suryo bisa membaca pikiran Adinda. Dia merenggang sedikit dan mencabut batangnya agak panjang memberi kesempatan Adinda memperhatikannya. Meskipun tidak terlalu jelas karena ruangan hanya diterangi lampu dinding kecil tapi masih bisa tertangkap mata Adinda yang begitu melihat langsung meringis wajahnya.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Hhsssh Bapaakk.. dalemm bangett Paak..&#8221; spontan keluar komentar kagumnya memaksudkan penis Pak Suryo yang memang lebih panjang meskipun tidak lebih besar dari milik Mas Indra. Memang, Adinda sudah pernah tidur dengan beberapa lelaki tapi dia mengakui juga ukuran penis sang mertua yang cukup mantap ini.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;He.ehh.. tapi kan nggak sakit?&#8221; kata Pak Suryo sambil menurunkan tubuhnya agak menempel karena khawatir dengan ukuran panjangnya ini Adinda berubah pikiran minta batal sampai di sini. Padahal tidak perlu. Adinda cuma berkomentar bukan berarti ngeri. Justru dia merasa batang itu memberi keasyikan lebih dengan ukurannya yang tidak seperti biasa didapat dari suaminya. Terbukti ketika Pak Suryo mulai menggesek baru dua tiga gerakan ternyata sudah mendapat sambutan menyenangkan dari si cantik yang segera jadi bergairah merangkul leher Pak Suryo berikut kedua kakinya naik membelit paha sebagai tanda bahwa dia menyukai disetubuhi penis Pak Suryo ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Inipun jelas terbaca dari mimik muka Adinda, malah tidak sungkan-sungkan mengutarakannya ketika dipancing Pak Suryo yang karena cukup berpengalaman jelas bisa membaca gelagat Adinda.<br />
&#8220;Gimana rasanya.. sakit nggak?&#8221;<br />
&#8220;Nggak.. enak malah Pak, geli sampe ke dalem-dalem sini.&#8221; jawabnya sambil mengusap-usap perut atasnya.<br />
&#8220;Apanya yang enak?&#8221;<br />
&#8220;Ngg.. kontoll Bapak..&#8221; jawab Adinda genit-genit senang.<br />
Mendengar ini tentu saja Pak Suryo jadi lega dan leluasa sudah dia bermain menggoyang penisnya yang disambut Adinda dengan juga mengimbangi mengocok vaginanya. Masing-masing tenggelam menikmati asyiknya senggama dalam suasana yang cepat sekali akrab, sama-sama lupa tentang status hubungan mereka antara anak menantu dan mertuanya.
</p>
<p style="text-align: justify;">Memang ada perbedaan pada kedua lelaki lawan mainnya ini. Bersama Mas Indra seperti masih ada gengsi-gengsian yang membatasinya kurang begitu saling terbuka, tapi dengan Pak Suryo biarpun baru kali ini, entah mungkin karena Adinda sudah biasa bermanja-manja dengan pengalaman lalunya yang umumnya laki-laki tua berduit dan bersikap kebapakan, maka rasanya dia tidak sungkan-sungkan dan malu lagi mengutarakan apa yang dialaminya saat ini, teristimewa waktu mencapai orgasmenya yang diikuti juga oleh Pak Suryo.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Paak ennakk Paaak.. Iyya.. Duhh Bapaak dalem bangett masuknya Paakk.. Aaa.. dikorek-korek gitu Adinda pengenn kluarrin.. Ayyo Pakk.. adduuh.. Iyya ayyo aaahhgh.. ssshgh.. hghrf.. ennaak punyamu Din.. Bapakk juga kluaarr.. sshmmmh..&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Tapi hubungan lama-lama semakin nekat. Tidak hanya waktu suasana rumah sepi tapi sekalipun suaminya sedang ada di rumah pun Adinda berani juga mencuri-curi waktu bercinta dengan Pak Suryo.Ceritanya hari itu menjelang maghrib Mas Indra sudah berdua dengan Adinda di dalam kamar ketika tidak lama kemudian Pak Suryo pulang dari kerjanya. Seperti biasa Bu Suryo baru akan pulang dari mini marketnya menjelang larut malam. Kedua pasangan muda itu sudah akan bermain cinta, masing-masing sudah saling terangsang dan baru saja akan mulai tiba-tiba terdengar pintu kamar diketok. Spontan Adinda terburu-buru berpakaian dan keluar dari kamar, ternyata Pak Suryo yang ada di depan situ. Dia rupanya akan meminta pijit dari Adinda tapi ketika diberi tahu bahwa Mas Indra sedang ada di kamar, Pak Suryo pun membatalkan niatnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Masuk ke kamar lagi Adinda langsung tersenyum geli kepada Mas Indra.<br />
&#8220;Barusan Bapak yang ngetok pintu. Dia minta tolong dipijitin tapi begitu kukasih tau Mas masih ada di kamar, Bapak jadi batal.&#8221;<br />
&#8220;Oh ya? Ya udah, ke sana aja dulu pijetin Bapak, nanti baru ke sini lagi kan juga masih sore.&#8221;<br />
&#8220;Idih Mas gimana sih. Masak aku musti ke sana duluan, lalu Mas sendiri gimana dong?&#8221;<br />
&#8220;Nggak gitu, soalnya barusan kan Bapak mungkin lagi pegel minta dipijit, kalo kamu nggak ngikutin kan nggak enak jadinya.&#8221;<br />
Mendengar ini Adinda berlagak pasang muka ragu sebentar tapi kemudian beranjak juga.<br />
&#8220;Mas sih bukannya tadi-tadi ngasihnya.. Awas lho kalo aku dateng lagi Mas nggak mau ngasih, aku marah beneran.&#8221; katanya dengan mimik muka cemberut tapi sebenarnya dalam hati girang bukan main.<br />
&#8220;Nggak usah kuatir, pasti Mas kasih kalo kamu abis dari sana.&#8221;<br />
Bukan main, gayanya seperti berat terpaksa tapi sebenarnya inilah yang diharapkan Adinda. Karena begitu menyusul Pak Suryo di kamarnya dia sudah langsung meloncat dan memeluk dengan wajah girang. Pak Suryo sendiri baru selesai membuka bajunya tinggal celana dalam dan masih berdiri di samping tempat tidur ketika itu.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Lo, lo, lo, kok cepet sekali ke sininya. Gimana bilangnya sama Indra?&#8221; tanya Pak Suryo heran.<br />
&#8220;Dinda, bilang aja terus terang barusan Bapak manggil minta dipijetin jadi Mas Indra ngasih ijin ke sini.&#8221;<br />
&#8220;Oh ya? Bukannya Bapak tadi liat kamu lagi kusut, baru mau maen apa udah selesai?&#8221;<br />
&#8220;Tadinya emang mau maen, tapi baru mau dimasukin udah keburu Bapak ngetok pintu..&#8221;<br />
&#8220;Waduh maaf kalo gitu. Lagi kepengen-kepengennya langsung disetop begitu kan penasaran.&#8221;<br />
&#8220;Malah kebeneran Pak.. kan terusannya bisa dapet ini yang lebih mantep lagi.&#8221; kata Adinda sambil menjulurkan tangannya meremasi penis Pak Suryo.<br />
&#8220;Jadi, lobang yang lagi penasaran ini sekarang malah mau dikasih Bapak dulu, ya?&#8221; tanya lagi Pak Suryo dengan membalas meremasi gundukan vagina Adinda.<br />
&#8220;Iya, iya Paak.. di situ yang aku kepengenn sekalli..&#8221; baru diremas sebentar saja, Adinda yang memang sedang terangsang penasaran sudah langsung gemetaran suaranya, &#8220;Ayoo Pak.. buka juga Bappak punya..&#8221; lanjutnya dengan terburu-buru melepas bajunya.
</p>
<p style="text-align: justify;">Pak Suryo menyusul hanya tinggal melepas celana dalamnya tapi Adinda sudah lebih dulu selesai. Dan baru saja penis Pak Suryo bebas Adinda sudah berlutut, menangkap batang itu langsung mencaplok mengisap-isapnya dengan rakus. Diserbu rangsangan begini batang itu cepat saja mengeras dan Adinda seperti tidak ingin membuang-buang waktu. Dia naik duluan menelentang dan mengangkang memasang vaginanya siap untuk segera dimasuki. Sampai di bagian ini semua memang bisa serba cepat tapi pada giliran batang akan dimasukkan mau tidak mau tempo harus diperlambat. Sebab meskipun sudah terbiasa tapi penis ukuran lebih besar dari suaminya ini tetap saja tidak bisa langsung main tancap sekaligus. Perlu hati-hati dan harus ada kerja sama untuk saling menggesek dan memutar membuat lebih licin dalam beberapa waktu, sekalipun rahang Adinda sudah gemetaran kaku menunggu lewatnya masa itu sebelum mendapatkan rasanya. Tapi kalau batang sudah tertancap dalam dan Adinda sudah bisa menyesuaikan ukurannya. Hmmm.. jangan bilang lagi nikmatnya. Langsung gayanya berubah kontras sewaktu mulai dipompa oleh Pak Suryo.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Hhsss.. aduuhh tobatt aku Paak.. hahgh ooghh.. ****** kok dalem sekali Pak.. tobat akuu.. ampun Bapaak, gedee sekalli aduuh.. Pakk..&#8221; Nada suara Adinda merintih-rintih mengaduh ampun tobat, ditambah lagi dengan gayanya yang meliuk-liuk mata terbalik seperti orang kesakitan, yang begini kalau didengar dan dilihat Mas Indra tentu akan menggiris karena mengira istrinya sudah tidak tahan disiksa oleh Pak Suryo. Apalagi kalau bisa melihat lebih jelas bagaimana kewanitaan sang istri yang sering diusapi sayang itu, sekarang sampai sudah dipaksa mekar membulat lantaran menampung besar keliling batang dan itu pun masih harus lagi disodok-sodok kasar seperti tidak mengenal belas kasihan. Tentu, kalau belum mengerti Mas Indra pasti tambah menggiris melihatnya. Padahal kebalikan dari ini justru Adinda sedang tenggelam dalam nikmat yang mengasyikan saat itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Pak Suryo sudah hafal benar gaya Adinda, makin dipompa keras makin dirasakan enak bagi Adinda, dan gaya ini juga malah menimbulkan rangsangan tersendiri bagi Pak Suryo untuk membawanya tiba menuju puncak permainan bersama Adinda. Terlebih kalau Adinda sudah meminta tambahan rangsangan baru di bagian susunya, itu tanda dia sudah akan mendekati orgasmenya. &#8220;Heg.. yaang kerass Pak.. shh iya gittu.. aduh.. ssshgh.. heehh.. ayyo.. ayoo Paak.. aaahgh.. sshgh.. Iyya Pakk Dinda udah keluarr.. aduhh.. hghshh.. hrrgh..&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Seiring remasan tangan Pak Suryo di susunya diperkeras, Adinda pun tiba orgasmenya. Di bagian ini nampaknya lebih sadis lagi. Sebab buah dada yang biasanya diperlakukan Mas Indra dengan gemas-gemas sayang ini di tangan Pak Suryo diremasi tidak tanggung-tanggung lagi. Tidak ubahnya seperti sedang menggilas baju di papan cucian, kedua daging kenyal itu sampai meleot-leot sesekali mencuat putingnya dari sela-sela jari tangan besar Pak Suryo. Malah waktu mengiringi orgasmenya Adinda terlonjak-lonjak dengan dada membusung, di situ seolah-olah tubuhnya terangkat-angkat oleh tarikan Pak Suryo yang mencengkeram kedua bukit daging itu. Pokoknya jika bisa melihat secara keseluruhan bagaimana cara Pak Suryo mengasari istrinya, Mas Indra bisa pingsan dibuatnya. Tapi justru begini yang paling disukai Adinda karena dia merasa seolah-olah seluruh kepuasannya dibetot keluar tanpa tersisa.</p>
<p style="text-align: justify;">Rupanya &#8216;kesadisan&#8217; Pak Suryo belum selesai. Sesaat setelah Adinda selesai berorgasme maka giliran Pak Suryo yang mengambil bagiannya. Tapi menjelang tiba di saat ejakulasinya tiba-tiba dia mencabut batangnya dan langsung tegak berlutut sambil menarik kedua lengan Adinda membawanya terikut bangun duduk. Adinda sempat bingung tapi ketika Pak Suryo menjambak rambutnya dan menarik kepalanya mendekatkan ke penisnya, segera dia mengerti maksud Pak Suryo, apalagi Pak Suryo juga menjelaskan lewat kata-katanya. &#8220;Ayyo Las, isepin Bapak sampe keluarr..&#8221; Tanpa ragu-ragu Adinda langsung mencaplok dan melocok batang itu dengan mulutnya. Tentu tidak bisa semua, hanya tertampung bagian kepalanya saja tapi ini sudah cukup bagi Pak Suryo untuk bisa menyalurkan kepuasannya. Dan begitu kepala batang itu mengembang, sedetik kemudian dia pun menyemburkan cairan maninya tumpah di mulut Adinda. Agak tersekat Adinda dengan semprotan tiba-tiba ini, serasa ingin mencabut kepalanya tapi tangan Pak Suryo menekan kepalanya tidak ingin melepaskan kuluman mulutnya sehingga mani yang tumpah itu pun tertelan semua oleh Adinda. Ini baru pertama kali dia melakukan hal ini sehingga ketika permainan berakhir dan Adinda bisa melepas mulutnya, langsung meringis aneh mukanya.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Kenapa Las, nggak enak ya rasanya?&#8221; tanya Pak Suryo geli.<br />
&#8220;Asin rasanya Pak..&#8221; jawab Adinda terikut geli.<br />
&#8220;Maaf ya? Terpaksa Bapak tumpahin di mulut, soalnya kalo di lobangmu nanti bisa ketauan sama Masmu.&#8221;<br />
&#8220;Nggak pa-pa, sekali-sekali buat pengalaman baru kok..&#8221;<br />
&#8220;Kalo sering-sering emang kenapa?&#8221;<br />
&#8220;Ya bagaimana Bapak.. Emang enak sih dikeluarin pake mulut?&#8221; kata Adinda dengan bergerak bangun untuk ke kamar mandi mencuci bekas-bekas permainan ini.<br />
&#8220;Oo.. sama Adinda sih pasti enak aja.&#8221; jawab Pak Suryo sambil ikut bangun menyusul Adinda.
</p>
<p style="text-align: justify;">Selepas beristirahat sebentar Adinda pun kembali ke kamarnya menemui suaminya. Tentu saja dengan bersandiwara seolah-olah dia tidak ada apa-apa dengan permainan bersama Pak Suryo. Begitu datang dia langsung menubruk Mas Indra dengan gaya tidak sabaran menggerayangi penis Mas Indra. Jelas gaya yang membuat Mas Indra bangga padahal justru yang terjadi kebalikannya, sebab barusan mengalami hal yang paling asyik kemudian turun ke yang biasa. Adinda dalam senggama berikutnya bersama Mas Indra hampir-hampir tidak ada rasanya sama sekali. Hanya gayanya saja yang tetap meyakinkan bahwa dia sudah terpuaskan dengan Mas Indra, tapi kecuali sempat terangsang sedikit Adinda tidak sampai mengalami orgasme dengan suaminya. Meskipun begitu dia tidak penasaran karena sudah terbayang sepeninggal Mas Indra besok pagi ke kantornya, dia akan minta lagi pada mertuanya untuk meluapkan kerinduannya.</p>
<p style="text-align: justify;">Begitu, dalam enak dirasakannya bersetubuh dengan sang mertua yang punya batang panjang bisa mengilik jauh ke dalam rahimnya, Adinda praktis jadi ketagihan untuk mengulang setiap kali ada kesempatan bisa mencuri-curi.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ceritasex.cn/menikmati-tubuh-adinda-menantuku/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Cerita Dewi &#8211; Doni, Anak Tirinya</title>
		<link>http://www.ceritasex.cn/cerita-dewi-doni-anak-tirinya/</link>
		<comments>http://www.ceritasex.cn/cerita-dewi-doni-anak-tirinya/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 31 Oct 2009 03:48:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cerita Sex</dc:creator>
				<category><![CDATA[Paruh baya]]></category>
		<category><![CDATA[Sedarah]]></category>
		<category><![CDATA[bercinta]]></category>
		<category><![CDATA[dewi]]></category>
		<category><![CDATA[ibu muda]]></category>
		<category><![CDATA[incest]]></category>
		<category><![CDATA[ngentot]]></category>
		<category><![CDATA[nonton bf]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ceritasex.cn/?p=1029</guid>
		<description><![CDATA[Jam di dinding menunjukkan pukul 10 pagi, Dewi baru saja beranjak bangun dari tempat tidurnya dan menuju kamar mandinya yang terletak didalam kamar tidurnya, setelah menggosok gigi dan mencuci mukanya, iapun keluar dari kamar tidurnya menuju kedapur untuk membuat sarapan. Setibanya di dapur Dewi melihat Doni anak tirinya sedang membuat kopi, saat itu Doni hanya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Jam di dinding menunjukkan pukul 10 pagi, Dewi baru saja beranjak bangun dari tempat tidurnya dan menuju kamar mandinya yang terletak didalam kamar tidurnya, setelah menggosok gigi dan mencuci mukanya, iapun keluar dari kamar tidurnya menuju kedapur untuk membuat sarapan. Setibanya di dapur Dewi melihat Doni anak tirinya sedang membuat kopi, saat itu Doni hanya memakai celana boxer saja, Dewipun menyapa Doni sesaat ia berada disamping Doni.</p>
<p style="text-align: justify;">“Kamu tidak sekolah, Don??” Dewi bertanya.</p>
<p style="text-align: justify;">“Eh, mami, mami lupa yach!!, kan kemarin hari terakhir aku ujian, jadi hari ini libur sampai pengumuman hasil ujian,” jawab Doni.</p>
<p style="text-align: justify;">“baru bangun mih??, Doni balik bertanya, “mau kubuatkan kopi”</p>
<p style="text-align: justify;">“Heeh, boleh tuch, “ jawab Dewi.</p>
<p style="text-align: justify;">Dewi memperhatikan tubuh anak tirinya ini, Doni mempunyai tubuh yang sangat atletis, dadanya bidang dan berotot, Dewi tahu Doni sering sekali berolahraga, tingginya sekitar 180 cm, berbeda dengan ayahnya yang pendek, dari samping Dewi mengagumi tubuh anak tirinya ini, saat pandangan mata Dewi jatuh di boxer Doni, ia melihat tonjolan di celana boxer Doni, melihat itu Dewi menelan ludahnya, dan ia tahu bahwa Doni saat ini tidak mengenakan celana dalamnya dan kontolnya sedang tegang-tegangnya, dari balik celana boxernya Dewi tahu juga bahwa Doni mempunyai kontol yang besar dan panjang.</p>
<p style="text-align: justify;">“Mih, nich kopinya,” Doni berkata.</p>
<p style="text-align: justify;">“Eehh..iyach, makasih, Don!” sahut Dewi.</p>
<p style="text-align: justify;">Doni tidak mengetahui bahwa dari tadi mamihnya memandangi tonjolan di celananya dengan penuh nafsu.</p>
<p style="text-align: justify;">“Papih, kapan pulang, mih??” Doni bertanya</p>
<p style="text-align: justify;">“Masih lama,” Dewi menjawab.</p>
<p style="text-align: justify;">“Ooohh, aku kekamar dulu yach, mih!” lanjut Doni, “mo chatting dulu ama temenku”</p>
<p style="text-align: justify;">“Heeh, “ Dewi mengiyakan.</p>
<p style="text-align: justify;">Seperginya Doni, Dewi merasakan lubang senggamanya berdenyut-denyut, ingin merasakan kembali sodokan-sodokan kontol-kontol yang besar, sambil menikmati kopinya, tangan kanannya mulai mengelus-elus vaginanya, sementara pikirannya membayangkan pemandangan tadi, membayangkan seandainya kontol Doni dielus-eluskan di itilnya dan dibibir memeknya. Batinnya menjerit memanggil nama Doni sambil merasakan sentuhan tangannya di memek dan itilnya, lubang senggamanya mulai basah karena gelora birahinya yang mulai bangkit, Dewi sendiri merasa heran sendiri kenapa sekarang ini birahinya cepat sekali terangsang, sekarang ini Dewi merasa selalu kehausan ingin dipuaskan, libido seksnya semakin meninggi dibandingkan dengan sebelum ia pernah mendapatkan kepuasan dari suaminya.</p>
<p style="text-align: justify;">Semakin lama elusan tangannya semakin cepat, gairahnya semakin memuncak, lubang senggamanya semakin gatal ingin digaruk kontol besar, gairah birahinya ingin cepat dipuaskan, batinnya berkecamuk antara ingin dientot oleh Doni merasakan kontol Doni mengaduk-aduk lubang senggamanya dengan ketakutan seandainya Doni tidak mau lalu melaporkan hal itu ke papihnya atas kelakuan dia.</p>
<p style="text-align: justify;">Tapi nampaknya nafsu birahinya yang menang, akhirnya Dewi melangkah menuju kamar anak tirinya, sesampainya didepan pintu kamar Doni, dengan perlahan-lahan Dewi membuka pintu kamar Doni, Dewi terkejut melihat pemandangan di depan matanya, Dewi melihat Doni sedang telanjang dan duduk diatas karpet membelakangi pintu, sementara kedua telinga Doni tertutup oleh earphone dan dilayar komputer Dewi melihat adegan seks, rupanya Doni sedang menonton film BF, dan Dewi juga melihat Doni sedang mengelus-elus kontolnya yang sudah ngaceng, melihat ini semua membuat birahi Dewi semakin memuncak, Dewipun melangkah masuk kekamar Doni lalu menutup pintunya, didekatinya Doni dari arah belakang, Doni yang sedang asyik tidak mengetahui bahwa Mamihnya sedang menyaksikan perbuatannya itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah menanggalkan dasternya, Dewi kemudian mendekati Doni, dipeluknya tubuh Doni, diciuminya tengkuk dan telinga Doni, kedua payudaranya ia tempelkan dipunggung Doni, sambil berbisik,</p>
<p style="text-align: justify;">“Doonn,.. sini mamih bantuin,” Dewi mendesah lirih sambil tangan kanannya meraih kontol Doni lalu mengelus-elusnya.</p>
<p style="text-align: justify;">“Eehh…Mih, oouughh…ssshhhh…aachhh” Doni terperanjat kaget akan perbuatan Dewi, tapi ia menikmati sentuhan tangan Dewi yang halus di kontolnya, kagetnya hilang berganti dengan kenikmatan.<br />
<span id="more-1029"></span><br />
Aksi Dewi semakin bertambah, dari tengkuk dan telinga ciumannya menjalar kedepan kedada Doni, dijilatinya kedua puting Doni bergantian, sementara tangannya semakin gencar mengelus-elus kontol Doni, membuat Doni semakin mengerang keenakan, lenguhan-lenguhan kenikmatan keluar dari mulut Doni, Dewi lalu mendorong tubuh Doni sehingga telentang diatas karpet, ciuman dan jilatan Dewi semakin menggila dari dada turun keperut, dari perut turun ke selangkangan Doni, Doni semakin menggelinjang mendapatkan serangan Dewi, tubuh Doni melenting menikmati jilatan Dewi ditubuhnya.
</p>
<p style="text-align: justify;">“Aaghhhh….Miiihh, eenaaakkkkk….Aaaaaggghh” Doni mengerang keenakan ketika kontolnya dijilati dan dikulum-kulum oleh Dewi.</p>
<p style="text-align: justify;">Sllrrppp….sssllrrpppp….. Dewi asyik menjilati dan mengulum-ngulum kontol Doni.</p>
<p style="text-align: justify;">“Miihhh, aakkuu gak taahhaann…ouughh..aakkuu..mau keluaar nich..ooughh” Doni merintih.</p>
<p style="text-align: justify;">Mendengar Doni mau keluar Dewi semakin cepat mengulum-ngulum kontol Doni, tak lama kemudian,</p>
<p style="text-align: justify;">Creettt…creeettt..cccreeettt…kontol Doni menyemburkan lahar kenikmatannya didalam mulut Dewi.</p>
<p style="text-align: justify;">“Ougghh..” Dewi tersedak akibat tembakan sperma dari kontol Doni</p>
<p style="text-align: justify;">“Gleekkk..ssllrppp….gleekkk..sslrrppp” terdengar Dewi menelan sperma Doni sambil menghisap-hisap kontol Doni, membuat Doni semakin merem-melek, kontolnya mengedut-ngedut semakin kencang.</p>
<p style="text-align: justify;">Sesaat kemudian kontol Doni berhenti mengedut-ngedut, Dewipun puas mendapatkan sperma perjaka, dan Dewi kaget melihat bahwa kontol Doni tetap keras meskipun barusan telah mengeluarkan sperma, Dewi tidak merasakan kontol Doni yang sedang dalam genggamannya akan mengecil.</p>
<p style="text-align: justify;">“kamu puas, Don” Dewi bertanya lirih.</p>
<p style="text-align: justify;">“Iyach, Mih, “ Doni menjawab</p>
<p style="text-align: justify;">“kamu masih pengen khan,” kembali Dewi bertanya</p>
<p style="text-align: justify;">“heeh” Doni mendesah</p>
<p style="text-align: justify;">Kemudian Dewi berjongkok diatas tubuh Doni, kontol Doni ia arahkan kelubang memeknya yang sudah basah dari tadi. Dioles-oleskannya kepala kontol Doni di itilnya, Dewi merasakan geli-geli nikmat saat itilnya tersentuh oleh kepala kontol Doni, sementara Doni sendiri menggelinjang kegelian saat kepala kontolnya menyentuh itil mamihnya, belum pernah Doni merasakan sensasi seperti ini, biasanya kontolnya itu ia kocok sendiri kalau lagi tegang karena nonton BF, jadi Doni belum pernah merasakan kontolnya itu bersentuhan dengan itil apalagi sampai merasakan dijepit memek.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah puas mengoles-ngoleskan kontol Doni, Dewi mulai menyelipkan kepala kontol Doni dibelahan memeknya, Dewi melenguh saat kepala kontol Doni mulai terjepit dilubang senggamanya, Dewi merasakan lubang senggamanya penuh sesak oleh kepala kontol Doni, perlahan-lahan Dewi mulai menurunkan pantatnya,</p>
<p style="text-align: justify;">Sleepp…Bleeessss….</p>
<p style="text-align: justify;">“Uuugghhh….” Dewi melenguh saat kontol Doni mulai menerobos masuk dalam lubang senggamanya,</p>
<p style="text-align: justify;">“Doni sayang, kontolmu besar sekali, sesak memekku dibuatnya,” lanjut Dewi sambil mulai menekan pantatnya lagi.</p>
<p style="text-align: justify;">Bleeesss…..</p>
<p style="text-align: justify;">“aaagghhh….Mih, sempit sekali memekmu,” Doni mengerang merasakan kontolnya yang terjepit erat oleh memek Dewi.</p>
<p style="text-align: justify;">“bukan memekku yang sempit sayang, tapi kontolmu yang besar, ooohhhhh, enak sekali kontolmu ini,” Dewi mengerang manja, sambil menekan lagi pantatnya kebawah perlahan-lahan,</p>
<p style="text-align: justify;">Bleesss….bleessss…..</p>
<p style="text-align: justify;">Dan,</p>
<p style="text-align: justify;">“Uuuugghhhh….,” Dewi menjerit lirih, saat kepala kontol Doni menyentuh dinding rahimnya,<br />
Sensasi nikmat yang Dewi rasakan kali ini berbeda dengan sensasi nikmat yang pernah ia dapatkan sebelumnya, lubang senggamanya betul-betul penuh sesak oleh jejalan kontol Doni, ini membuat dinding vaginanya berkedut-kedut sendiri, sementara Doni merasakan batang kontolnya seperti dipijat-pijat oleh dinding vagina Dewi, yang membuat ia merem melek.
</p>
<p style="text-align: justify;">Kemudian Dewi mulai mengangkat turunkan pantatnya perlahan-lahan, tangannya bertumpu di dada Doni, Dewi merasakan batang kontol Doni menggesek dengan erat dinding vaginanya, memeknya yang sudah basah tidak terlalu berpengaruh karena besarnya kontol Doni, gesekan-gesekan didinding vaginanya sangat terasa ketat sekali, Donipun merasakan yang sama, apalagi persetubuhan ini adalah kali pertama buat Doni, Doni merasakan perbedaan yang sangat besar antara gesekan tangan dia dibandingkan dengan gesekan memek mamih tirinya ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Keduanya mulai melenguh, mendesah dan merintih menikmati persetubuhan ini, gerakan naik turun Dewi semakin lancar seiring semakin membasahnya lubang kenikmatannya, cairan-cairan kenikmatan dari kedua kemaluan mereka semakin banyak, sehingga memudahkan pergeseran kelamin mereka.</p>
<p style="text-align: justify;">Keirngat mulai mengalir dari kedua tubuh mereka, goyangan Dewi yang semakin cepat membuat kedua bukit payudaranya bergoyang naik turun, pemandangan ini membuat Doni semakin bernafsu, Donipun bangkit dari posisi telentangnya, dipeluknya tubuh Dewi, mulutnya bergantian menghisap-hisap kedua payudara Dewi, membuat puting susu Dewi semakin mengeras, perbuatan Doni merubah gaya naik turun Dewi menjadi maju mundur, kuluman dan hisapan Doni di kedua payudaranya membuat Dewi semakin bernafsu, lenguhan-lenguhan kenikmatannya semakin terdengar.</p>
<p style="text-align: justify;">Dengan posisi duduk seperti ini itil Dewi lebih sering bersentuhan dengan batang kontol Doni, sehingga menambah sensasi kenikmatan Dewi semakin menjadi, gerakan maju mundur Dewi bertambah cepat, mengimbangi kuluman dan hisapan Doni dikedua payudaranya. Kedua tangan Doni yang tadinya hanya memeluk Dewi, mulai beraksi juga, Doni mulai meremas-remas kedua bongkah pantat Dewi, sambil meremas-remas Donipun membantu menekan pantat Dewi bertepatan dengan gerakan maju Dewi, sehingga membuat kontolnya masuk lebih dalam kedalam memek Dewi, aksi Doni ini membuat Dewi mengerang karena sodokan kontol Doni didinding rahimnya semakin terasa.</p>
<p style="text-align: justify;">“Aaagghhh…ssshhhh….ooouucchhhh…terussss..Doon , yaachhh..hisaaappp..teeetekku,”erang Dewi.</p>
<p style="text-align: justify;">“Hhmmmm…sssllrrppp…hhmmmhhmm..ssssllrppp,” Doni mengiyakan permintaan mamihnya.</p>
<p style="text-align: justify;">“Yaaacchh… teeekaaann…paantatkuu…ooucchhh…aaaagghhh…,” lagi-lagi Dewi mengerang saat Doni menekan pantatnya membantu gerakan majunya.</p>
<p style="text-align: justify;">Tak lama kemudian,</p>
<p style="text-align: justify;">“Miiihhhh, hhmmmhh…sssllrpp….aaakkkuu..ssslrpp….mauu..keluaar r..laaagiiii..,” Doni melenguh, sambil mulutnya tetap menghisap-hisap tetek Dewi.</p>
<p style="text-align: justify;">“Taaahhaan…sebeentaarrr..ssaaayaang….kita saamaaan…keeluarnya,” jawab Dewi.</p>
<p style="text-align: justify;">“Slllllrrrpppp….aaaaacchh…aaaaakkkuuu tiddak..ssslrpppppp…” Doni melenguh lagi dan,</p>
<p style="text-align: justify;">Creeetttt…..creeetttt….cccreeeetttt..</p>
<p style="text-align: justify;">kontol Doni menembakkan spermanya dalam lubang senggama Dewi,</p>
<p style="text-align: justify;">“Aaagghhhhh….miiihhh…aaaku kelluaaar…meemek mamihhh enaaakk sekaliii…aaaagghhh..,” Doni mengerang keenakan saat kontolnya memuntahkan sperma dilubang kemaluan Dewi.</p>
<p style="text-align: justify;">Dewi merasakan semburan hangat didinding rahimnya, dan Dewi juga merasakan kontol Doni berdenyut-denyut, merasakan ini semua Dewi semakin mempercepat gerakannya, iapun mendorong tubuh Doni sehingga telentang lagi, dipeluknya tubuh Doni, bibirnya memagut bibir Doni yang, pantatnya digerakkan naik turun dengan cepat, nampaknya Dewi tidak mau kehilangan kesempatan untuk merengkuh kenikmatannya.</p>
<p style="text-align: justify;">“Hmmmhhh….sslllrpp….hhmmmhh…ssllrppp….,” rintihan nikmat keluar dari kedua mulut Dewi dan Doni yang sedang berpagutan.</p>
<p style="text-align: justify;">Tak lama kemudian, gerakan Dewi semakin tidak beraturan dan bertambah cepat, lalu dengan sekali hentakkan Dewi menekan pantatnya dalam-dalam,</p>
<p style="text-align: justify;">“Aaaggghhh….Dooonnn…mamiihhh keluaaar jugaaaa..ooohhhh..eenak kontol besaaarmu ini,” Dewi melenguh.</p>
<p style="text-align: justify;">Ssssrrrr….sssssrrrrr…..sssssrrrr…… lubang senggama Dewi menyemburkan lahar kenikmatan yang menyirami batang kontol Doni.</p>
<p style="text-align: justify;">Doni merasakan pijatan-pijatan kuat dibatang kontolnya, saat lubang vagina Dewi memuntahkan lahar kenikmatannya.</p>
<p style="text-align: justify;">Sambil menikmati sisa-sisa kenikmatannya, Dewi menciumi Doni dengan mesra, keduanya berpagutan dengan mesra, beberapa saat kemudian setelah gairah nafsu mereka mereda, Dewi mengangkat pantatnya, kontol Doni yang mulai mengecilpun terlepas dari jepitan memeknya, Nampak kontol Doni mengkilat oleh sperma dan cairan kenikmatan dari memeknya, Dewipun merebahkan tubuhnya disamping Doni.</p>
<p style="text-align: justify;">“Makasih yach, sayang, kamu telah memberikan Mamih kepuasan,” Dewi berkata sambil mengecup pipi Doni.</p>
<p style="text-align: justify;">“Aku juga, Mih, “ kata Doni sambil memeluk Dewi dan memberikan kecupan ringan dibibir Dewi.</p>
<p style="text-align: justify;">Keduanya kemudian berpelukan sambil memejamkan mata mereka, di bibir mereka tersungging senyum kepuasan.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ceritasex.cn/cerita-dewi-doni-anak-tirinya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tetanggaku Nakal Bagian 2</title>
		<link>http://www.ceritasex.cn/tetanggaku-nakal-bagian-2/</link>
		<comments>http://www.ceritasex.cn/tetanggaku-nakal-bagian-2/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 30 Sep 2009 06:56:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cerita Sex</dc:creator>
				<category><![CDATA[Paruh baya]]></category>
		<category><![CDATA[Sedarah]]></category>
		<category><![CDATA[Tante Girang]]></category>
		<category><![CDATA[bugil]]></category>
		<category><![CDATA[desahan]]></category>
		<category><![CDATA[incest]]></category>
		<category><![CDATA[isep kontol]]></category>
		<category><![CDATA[jilat memek]]></category>
		<category><![CDATA[memek]]></category>
		<category><![CDATA[ngentot]]></category>
		<category><![CDATA[tante]]></category>
		<category><![CDATA[telanjang]]></category>
		<category><![CDATA[teriak]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ceritasex.cn/?p=880</guid>
		<description><![CDATA[Kupercepat laju mobilku sebelum gelap dan di kota terdekat aku pun mencari sebuah hotel. Begitu dapat aku langsung turun memesan sebuah kamar sementara Tante menunggu di mobil. Dan setelah kembali ke mobil untuk mengajak Tante turun sempat kubuktikan dulu padanya tentang lampu mobil sebelahku yang memang padam itu. Berdua masuk ke kamar, setelah mandi dan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Kupercepat laju mobilku sebelum gelap dan di kota terdekat aku pun mencari sebuah hotel. Begitu dapat aku langsung turun memesan sebuah kamar sementara Tante menunggu di mobil. Dan setelah kembali ke mobil untuk mengajak Tante turun sempat kubuktikan dulu padanya tentang lampu mobil sebelahku yang memang padam itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Berdua masuk ke kamar, setelah mandi dan makan malam kamipun bersantai dengan ngobrol sampai kemudian Tante mengajakku untuk pergi tidur. Kamar yang kupesan memang hanya satu tapi dilengkapi dua tempat tidur sebagaimana biasanya bentuk kamar hotel. Melihat dari keadaan ini Tante Juliet tidak mengira bahwa aku betul-betul serius dengan keinginanku untuk mengulang lagi kenangan lama. Dia baru saja mengganti baju tidur dan baru akan mulai mengancingnya ketika aku keluar dari kencing di kamar mandi langsung mendekat memeluknya dari belakang. Aku sendiri hanya mengenakan handuk berlilit pinggang setelah membuka bajuku di kamar mandi.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Gimana Tan, masih boleh dikasih Sony nggak..&#8221; bisikku meminta di telinganya tapi sambil mengecup leher bawah telinganya diikuti kedua tanganku mulai meremasi masing-masing susunya. Tersenyum geli dia karena sudah sampai di situ pun dia masih mengira aku cuma bercanda menggoda.<br />
&#8220;Apanya yang enak sih sama orang yang udah gembrot dan tua gini, Son..&#8221; tanyanya penasaran.<br />
&#8220;Buat Sony sih nggak ada bedanya, malah Sony kangen deh Tan..&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Sambil bicara begitu kubuka lagi satu kancing daster tidurnya yang baru terpasang, sehingga bagian depan tubuhnya terbuka berikut kedua susunya yang bebas karena Tante sengaja tidur tanpa memakai kutang, untuk kemudian tanganku berlanjut meremasi susu telanjangnya itu. Tante membiarkan saja tapi dia bertanya mengujiku dengan nada setengah ragu kepadaku.<br />
<span id="more-880"></span><br />
&#8220;Masak sih kangen sama Tante? Kan kamu biasanya sama cewek-cewek cakep, yang masih muda lagi langsing-langsing badannya..?&#8221; katanya lagi.<br />
&#8220;Justru melulu sama yang begituan, Sony malah bosan.. Sony suka sama Tante yang montok.. &#8221;<br />
&#8220;Kamu bisa aja..&#8221;<br />
&#8220;Lho bener Tan. Montoknya Tante ini yang bikin enak, mantep rasanya. Apalagi yang ini.. Hmm.. Sekarang tambah montok berarti tambah enak lagi rasanya..&#8221; kali ini sebelah tanganku sudah kujulurkan ke bawah meremas-remas gemas gundukan vaginanya.
</p>
<p style="text-align: justify;">Tante Juliet merengek senang, sekarang baru dia percaya dengan keseriusanku. Apalagi ketika dia juga membalas menjulurkan tangannya ke belakang, di situ dia mendapatkan bahwa di balik handuk itu aku sudah tidak mengenakan celana dalam lagi. Tanpa diminta lagi dia sendiri membuka lagi daster tidur sekaligus juga celana dalamnya sendiri untuk bersama-sama telanjang bulat naik ke tempat tidur.</p>
<p style="text-align: justify;">Wanita berwajah cantik diusianya mencapai 32 tahun ini memang sudah mekar tubuhnya, tapi tubuhnya masih cukup kencang lagi mulus sehingga montoknya berkesan sexy yang punya daya tarik tersendiri. Dan aku juga jujur mengatakan bahwa aku merindukan kemontokannya, karena baru saja melihat dia terbuka sudah langsung terangsang gairah kelelakianku. Sebab dia belum lagi merebah penuh, masih duduk di tengah pembaringan untuk mengurai gelung rambutnya, sudah kuburu tidak sabaran lagi. Kusosor sebelah susunya, sebelah lagi kuremas-remas gemas, dengan rakus mulutku mengenyot-ngenyot bagian puncaknya, mengisap, mengulum dan menggigit-gigit putingnya.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Ehngg.. Gelli Soon.. Iya, iya, nanti Tante kasih.. Deh.. &#8221; merengek kegelian dia karena serangan mendadakku.<br />
&#8220;Abis gemes sih Tan.. &#8221; sahutku cepat dan kembali lagi menyerbu bagian dadanya.
</p>
<p style="text-align: justify;">Melihat begini Tante Juliet mengurungkan merebahkan badannya, untuk sementara bertahan dalam posisi duduk itu seperti tidak tega menunda ketidaksabaranku. Air mukanya berseri-seri senang, sebelah tangannya membelai-belai sayang kepalaku dan sebelah lagi lurus ke belakang menopang duduknya, ditungguinya aku melampiaskan rinduku masih pada kedua susunya yang montok dan besar itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Seperti anak kecil yang asyik sendiri bermain dengan balonnya, begitu juga aku sibuk mengerjai bergantian kedua daging bulat gemuk itu untuk memuaskan lewat rasa mulut dan remasan gemasku. Sampai berkecapan suara mulut rakusku dan sampai meleyot-leyot terpencet, terangkat-angkat dan jatuh terayun-ayun, membuat Tante Juliet kadang meringis merintih atau merengek mengerang saking kelewat gemas bernafsu aku dengan keasykanku, tapi begitupun dia tidak mencegah kesibukanku itu. Baru setelah dirasanya aku mereda, diapun bersiap-siap untuk memberikan tuntutan kerinduanku yang berikutnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Ini karena dilihatnya aku sudah cukup puas bermain di atas dan sudah ingin berlanjut ke bawah, yaitu sementara mulutku masih tetap sibuk tapi tangan yang sebelah mulai kujulurkan meraba selangkangannya, segera Tante Juliet pun merubah posisi untuk memberi keleluasaan bagiku. Tubuhnya direbahkan ke belakang sambil meluruskan kedua kakinya yang duduk terlipat menjepit selangkangannya, langsung dibukanya sekali agar aku bisa mencapai vaginanya. Mulutku masih terus mengejar menempel di sebelah susunya tapi tanganku sekarang sudah bisa memegang penuh bukit vaginanya. Bukit daging tebal setangkup tanganku yang ditumbuhi bulu-bulu keriting halus ini langsung kuremas-remas gemas, darah kelelakianku pun tambah mengalir deras.</p>
<p style="text-align: justify;">Keasyikan yang baru menarik perhatian baru juga, berpindah dulu aku ke tengah selangkangannya yang kudesak agar lebih mengangkang sebelum kutarik kepalaku dari susunya. Tante mengira aku sudah akan mulai memasukinya, dia sempat menyambar batangku yang sudah tegang dan melocok-locok dengan tangannya sebentar. Seperti ingin lebih mengencangkan lagi tapi ada terasa bahwa dia juga merindukan batangku, bisa terbaca dari remasan gemasnya yang menarik-narik penisku.</p>
<p style="text-align: justify;">Begitu posisiku terasa pas, aku pun memindahkan mulutku turun menggeser ke bawah dengan cara menciumi lewat perutnya sampai kemudian tiba di atas vaginanya yang terkangkang. Di sini konsentrasiku terpusat dengan mengusap-usap dan memperhatikan dulu bentuk vaginanya. Ini untuk pertama kali aku mendapat kesempatan melihat jelas kemaluannya yang sudah pernah tiga kali kumasuki, tapi karena waktunya sempit tidak sempat kulihat dengan nyata.</p>
<p style="text-align: justify;">Betul-betul suatu pemandangan yang merangsang sekali. Bukit segitiga yang menjendul dengan dagingnya yang tebal itu ditumbuhi bulu-bulu yang begitu lebat, tidak cukup menutupi bagian celah lubang yang diapit pipi kanan kirinya. Tepi bukit itu persis seperti pipi bayi yang montok menggembung, saking tebalnya sehingga menjepit bibir vagina hanya terkuak sedikit meskipun pahanya sudah kukangkangkan lebar-lebar. Penasaran kukuakkan bibir vaginanya dengan jari-jariku untuk melihat lebih ke dalam, tapi belum lagi jelas, Tante Juliet sudah menegurku dengan muka malu-malu merengek geli.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Ahahngg.. Sony mau ngeliat apa di dalem situ sih Son..?&#8221; katanya sambil meringis.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku tidak menyahut tapi sebelum dia berubah pikiran untuk mencegahku, langsung saja kusosorkan mulutku ke tengah lubang yang baru kukuakkan itu.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Ssshh Sonyy.. Ahh.. Ammpuunn.. Sonn!&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Betul juga. Tante Juliet menjerit malu, tangannya refleks ingin menolak kepalaku tapi sudah terlambat. Sebab begitu menempel sudah cepat kusambung dengan menjilat dan menyedot-nyedot tengah lubangnya. Adu ngotot berlangsung hanya sesaat karena Tante kemudian menyerah, menganga dengan wajah tegang dia ketika geli-geli enak permainan mulutku mulai menyengat dia.</p>
<p style="text-align: justify;">Untuk berikutnya aku sendiri mulai meresap enaknya mengisap vagina montok yang baru pertama kudapat darinya. Lagi-lagi ada keasyikkan tersendiri, karena tidak seperti dengan milik cewek lain yang pernah tidur denganku, umumnya celah lubang mereka terasa kecil karena tepi kanan kirinya tidak setebal ini. Milik Tante Juliet justru penampilannya kelihatan sempit tapi kalau dikuakan malah jadi merekah lebar dan dalam. Disosor mulutku yang mengisap rakus, seperti hampir tenggelam wajahku di situ dengan pipiku bertemu pipi vaginanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Di bagian inipun untuk beberapa lama kupuaskan diriku dengan menyedot menjilat-jilat tengah lubangnya, sesekali menyodok-nyodokkan ujung lidah kaku lebih ke dalam, membuatnya mengejang sampai membusung dadanya. Atau juga menggigit-gigit klitoris, menarik-nariknya serta menjilati cepat membuatnya menggelinjang kegelian. Serupa dengan puting susunya, bagian inipun sudah mengeras tanda dia sudah terangsang naik berahinya, tapi Tante Juliet juga tetap membiarkan aku bermain sepuas-puasnya untuk melampiaskan rinduku. Ketika kurasa sudah cukup lama aku mengecap asyik lewat mulutku dan sudah cukup matang dia kubawa terangsang, barulah aku mulai memasukkan penisku ke dalam vaginanya. Di sini baru giliran Tante untuk ikut melampiaskan rindunya kepadaku terasa dari sambutannya yang hangat.</p>
<p style="text-align: justify;">Seperti pengalaman yang kuingat, Tante Juliet bukan type histeris dengan gaya merintih-rintih dan menggeliat-geliat erotis, tapi dalam keadaan saat ini tidak urung meluap juga gejolak rindunya lewat caranya tersendiri kepadaku. Yaitu seiring putaran vagina laparnya menyambut masuknya penisku, tubuhku pun ditarik menindihnya langsung didekapnya erat mengajakku berciuman. Yang ini juga sama hangatnya karena begitu menempel langsung dilumat sepenuh nafsunya. Berikutnya kami yang sama saling merindukan seolah tidak ingin melepaskan dekapan menyatu ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Seluruh permukaan tubuh depan melekat erat dengan bagian atas kedua bibir saling melumat ketat sedang bagian bawah kedua kemaluan pun bergelut hangat. Aku yang memainkan penisku memompa keluar masuk diimbangi vaginanya yang diputar mengocok-ngocok. Ini baru namanya bersetubuh atau menyatukan tubuh kami, karena hampir sepanjang permainan kami melekat seperti itu. Hanya sekali kami menunda sebentar untuk menarik nafas dan kesempatan ini kupakai dengan mengangkat tubuhku dan melihat bagaimana bentuk wanita montok dalam keadaan sedang kusetubuhi ini. Ternyata suatu pemandangan yang mengasyikkan sekaligus makin melonjakkan gairah kejantananku. Di bawah kulihat vaginanya diputar bernafsu, seolah kesenangan mendapat tandingan yang cocok dengannya.</p>
<p style="text-align: justify;">Memperhatikan vagina di bawah itu bagaikan mulut bayi berpipi montok yang kehausan menyedot-nyedot botol susunya sudah menambah rangsangan tersendiri, apalagi melihat keseluruhan goyangan tubuh Tante Juliet. Seluruh daging tubuhnya ikut bergerak teristimewa kedua susunya yang berputaran berayun-ayun tambah menaikkan lagi rangsang kejantananku, sampai aku tidak tahan dan kembali turun menghimpit dia karena sudah terasa akan tiba di saat ejakulasiku. Pada saat yang sama Tante Juliet juga sudah merasa akan tiba di orgasmenya, dia yang mengajak lebih dulu dengan menyambung lumatan bibir tadi untuk menyalurkannya dalam permainan ketat seperti ini.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Hghh ayyo Soon.. Nnghoog.. Hrrhg..&#8221; dengan satu erang tenggorokkan dia membuka orgasmenya disusul olehku hanya selang beberapa detik kemudian.</p>
<p style="text-align: justify;">Kami sama mengejang dan sempat menunda sebentar ketika masuk di puncak permainan, tapi segera berlanjut lagi melumat dengan lebih ketat seolah saling menggigit bibir selama masa orgasme itu. Baru setelah mereda dan berhenti, yang tinggal hanya nafas turun naik kelelahan dan tubuh terasa lemas. Cukup luar biasa, karena meskipun tidak berganti posisi atau gaya tapi permainan terasa nikmat dengan akhir yang memuaskan. Malah seluruh tubuh sudah terasa banjir keringat saking serunya berkonsentrasi dalam melampiaskan kerinduan lama kami. Untuk itu aku begitu melepaskan diri hanya duduk di sebelahnya agar keringat di punggungku tidak membasahi sprei tempat tidur.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Gimana Son rasanya barusan..?&#8221; Tante Juliet mengujiku sambil tangannya mengusap menyeka-nyeka keringat di punggungku. Aku berputar menghadap dia.<br />
&#8220;Makanya Sony tadi ngotot minta, soalnya udah yakin duluan memek montok Tante ini bakal ngasih enak.. &#8221; jawabku dengan meremas mencubit-cubit vaginanya.<br />
&#8220;Udah enak, puas lagi.. Tapi Tante sendiri, gimana rasanya sama Sony?&#8221; balik aku bertanya padanya. Mendapat pujianku air mukanya bersinar senang, ganti dia memujiku.<br />
&#8220;Sama kamu sih nggak usah ditanya lagi, Son. Dulu aja kalau nggak sayangin kamu masih muda sekali, udah mau terus-terusan Tante ngajakin kamu.&#8221;<br />
&#8220;Oya? Kok tadi diajak masih kayak ogah-ogahan?&#8221;<br />
&#8220;Bukan ogah-ogahan, tapi takut ketagihan sama Sony..&#8221; jawabnya bercanda sambil tertawa.<br />
&#8220;Kalau tante mau, Sony mau kok married ama tante..&#8221; kataku.<br />
&#8220;Akh.. Apa Son.. Kamu becanda ya.. Tante kan udah punya suami..&#8221; katanya.<br />
&#8220;Tante nggak usah bohong deh.. Mas Fadli kan nggak bisa normal lagi tante.. Sony tahu kalau Mas Fadli sekarang punya penyakit impoten.. Ya kan tante..&#8221; kataku.<br />
&#8220;Kamu tahu darimana Son.. Tapi tante akui kalau Mas Fadli nggak bisa bikin tante puas..&#8221; katanya sambil menangis.<br />
&#8220;Nah.. Gimana tante suka kan ama Sony.. Selama ini hubungan Sony dengan cewek-cewek lain itu hanya sekedar fun aja kok tan.. Sony sebenarnya cinta ama tante dari pertama pertemuan kita dulu..&#8221; kataku sambil mengecup bibirnya.<br />
&#8220;Son.. Benarkah ucapanmu itu.. Sony benar mencintai tante yang udah tua ini..?&#8221; tanyanya.<br />
&#8220;Ya tante, Sony cinta ama tante dan Sony mau married ama tante..&#8221; kataku sambil meluk tubuh dia.<br />
&#8220;Oh.. Son.. Tante juga suka ama kamu..&#8221; katanya sambil memeluk tubuhku.<br />
&#8220;I Love You Juliet..&#8221; kataku.<br />
&#8220;I Love You too Sony..&#8221; katanya.
</p>
<p style="text-align: justify;">Lalu, kami berpelukan erat dan bahagia menyertai kami berdua.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ceritasex.cn/tetanggaku-nakal-bagian-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Adik Suami, Pemuas Nafsuku Part 1 (True Story)</title>
		<link>http://www.ceritasex.cn/adik-suami-pemuas-nafsuku-part-1-true-story/</link>
		<comments>http://www.ceritasex.cn/adik-suami-pemuas-nafsuku-part-1-true-story/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 17 Jul 2009 20:27:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cerita Sex</dc:creator>
				<category><![CDATA[Paruh baya]]></category>
		<category><![CDATA[Tante Girang]]></category>
		<category><![CDATA[kisah nyata]]></category>
		<category><![CDATA[selingkuh]]></category>
		<category><![CDATA[cuki]]></category>
		<category><![CDATA[emut kontol]]></category>
		<category><![CDATA[incest]]></category>
		<category><![CDATA[istri]]></category>
		<category><![CDATA[milf]]></category>
		<category><![CDATA[ngentot]]></category>
		<category><![CDATA[ngentot ipar]]></category>
		<category><![CDATA[seks hubungan darah]]></category>
		<category><![CDATA[susu]]></category>
		<category><![CDATA[susu besar]]></category>
		<category><![CDATA[wita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ceritasex.cn/?p=616</guid>
		<description><![CDATA[Pengalaman nyata ini terjadi kurang lebih 19 tahun yang lalu. Panggil saja aku Wita (nama samaran). Saat itu usiaku 24 tahun dan sudah mempunyai 2 anak yang masih balita. Untuk mengisi waktu aku bekerja sebagai salah satu manager pada perusahaan yang berkantor di kawasan Kebayoran Baru. Banyak orang mengatakan diriku cantik. Dengan tinggi badan 161 [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Pengalaman nyata ini terjadi kurang lebih 19 tahun yang lalu. Panggil saja aku Wita (nama samaran). Saat itu usiaku 24 tahun dan sudah mempunyai 2 anak yang masih balita. Untuk mengisi waktu aku bekerja sebagai salah satu manager pada perusahaan yang berkantor di kawasan Kebayoran Baru. Banyak orang mengatakan diriku cantik. Dengan tinggi badan 161 cm, berat badan 48 kg aku masih kelihatan seperti gadis remaja.</p>
<p style="text-align: justify;">Sejak masih remaja nafsu seksku memang tinggi. Keperawananku telah direnggut oleh seorang pria mantan pacar pertamaku, saat aku berusia 17 tahun. Semasa pacaran dengan suamiku yang sekarang, sebut saja namanya Zali, kami berdua telah sering melakukan hubungan seks. Untungnya hubungan seks yang cukup kami berdua lakukan sebelum menikah itu tidak sampai membuahkan hasil. Aku bersyukur walau Zali mendapatkan diriku yang sudah tidak perawan lagi, ia tetap bertanggung jawab menikahiku.</p>
<p style="text-align: justify;">Kecintaan suami terhadap kedua orang tuanya, menyebabkan kami sekeluarga tinggal di rumah mertua. Di rumah mertua juga masih tinggal empat orang adik ipar, dimana dua diantaranya adalah adik ipar laki-laki yang sudah dewasa. Pekerjaan yang digeluti suami, menyebabkan suamiku sering melakukan tugas dinas ke luar kota.</p>
<p style="text-align: justify;">Suatu hari, sekitar bulan Mei, suamiku mendapat tugas ke daerah untuk jangka waktu dua bulan. Beberapa hari sebelum keberangkatannya, tanpa diduga ia bertanya kepadaku, &#8220;Mam, seandainya Papa pergi untuk waktu yang cukup lama, apakah Mama tahan nggak ngeseks?&#8221; Aku terkejut mendengar pertanyaan suamiku itu, &#8220;Nggak lah Pap..&#8221; Namun suamiku tetap mendesakku, dan selanjutnya berkata, &#8220;Papa nggak keberatan kok jika Mama mau selingkuh dengan pria lain, asalkan Mama mau dan pria itu sehat, Papa mengenalnya dan Mama jujur.&#8221;  Aku menjawab, &#8220;Mana mungkin lah Pap, siapa sih yang mau sama aku.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Kemudian suamiku menawarkan beberapa nama antara lain bosku, teman-teman prianya dan terakhir salah satu adik kandungnya (sebut saja namanya Ary, usianya lebih muda satu tahun dariku). Walaupun aku mencoba mengelak untuk menjawabnya, ternyata suamiku tetap merayuku untuk berselingkuh dengan pria lain. Pada akhirnya ia menawarkan aku untuk berselingkuh dengan Ary. Terus terang, Ary memang adik iparku yang paling ganteng bahkan lebih ganteng dari suamiku. Selain itu, Ary sering membantuku dan dekat dengan kedua anakku. Perasaanku agak berdebar mendengar tawaran ini dan saat itu pikiranku tergoda dan mengkhayal jika hal ini benar-benar terjadi.<br />
<span id="more-616"></span><br />
Kemudian aku mencoba mencari tahu alasan suami menawarkan adiknya, Ary, sebagai pasangan selingkuhku. Tanpa kuduga dan bak halilintar di tengah hari bolong, suamiku bercerita bahwa sebelumnya tanpa sepengetahuanku ia pernah berselingkuh dengan adik kandungku yang berusia 19 tahun saat adikku tinggal bersama kami di kota M. Pengakuan suamiku itu menimbulkan kemarahanku. Kuberondong suamiku dengan beberapa pertanyaan, kenapa tega berbuat itu dan apa alasannya. Dengan memohon maaf dan memohon pengertianku, suamiku memberikan alasan bahwa hal itu dilakukan selain karena lupa diri, juga sebenarnya untuk menebus kekecewaannya karena tidak mendapatkan perawanku pada malam pengantin. Aku mencoba menanggapi alasannya, &#8220;Kenapa Papa dulu mau menikahiku..&#8221; Suamiku hanya menjawab bahwa ia benar-benar mencintaiku. Mendengar alasan tersebut, aku terdiam dan dapat menerima kenyataan itu, walau yang agak kusesalkan kenapa ia lakukan dengan adik kandungku. Selanjutnya suamiku berkata, &#8220;Itulah Mam mengapa Papa menawarkan Ary sebagai teman selingkuh Mama, tak lain sebagai penebus kesalahan Papa dan juga agar skor menjadi 1-1,&#8221; sambil ia memeluk dan menciumiku dengan penuh kasih sayang.
</p>
<p style="text-align: justify;">Aku mencoba merenung, dan dalam benakku muncul niat untuk melakukannya. Pertama, jelas aku menuruti harapan suami. Kedua, kenapa kesempatan itu harus kusia-siakan, karena selain ada ijin dari suami, juga akan ada pria lain yang mengisi kesepianku, lebih-lebih dapat memenuhi kebutuhan seksku yang selalu menggebu-gebu dan sangat tinggi. Sempat kubayangkan wajah Ary yang selama ini kuketahui masih perjaka. Ketampanannya yang ditunjang oleh fisiknya yang tegap dan gagah. Kubayangkan tentunya akan sangat membahagiakan diriku. Bermodalkan khayalan ini kuberanikan berkata kepada suamiku, &#8220;Boleh aja Pap, asal Ary mau..&#8221; Mendengar perkataanku tersebut, suamiku langsung memelukku dan akhirnya kami berdua melanjutkan permainan seks yang sangat memuaskan.</p>
<p style="text-align: justify;">Sehari setelah suamiku berangkat ke luar kota, aku mulai berpikir mencari strategi bagaimana mendekati Ary. Selain memancing perhatian Ary di rumah, kutemukan jalan keluar yaitu minta tolong dijemput pulang dari kantor. Waktu kerja di kantorku dibagi dalam dua shift, yaitu shift pagi (08:00 &#8211; 14:30) dan shift siang (14:30 &#8211; 21:00). Rute pengantaran selalu berganti-ganti, karenanya jika aku mendapat giliran terakhir, pasti sampai rumah agak terlambat. Hal ini aku keluhkan kepada kedua mertuaku. Mendengar keluhanku ini, kedua mertuaku menyarankan agar setiap kali pulang dari dinas siang, tidak perlu ikut mobil antaran, nanti Ary yang akan disuruh menjemputku. Hatiku begitu gembira mendengar saran ini, karena inilah yang kutunggu-tunggu untuk lebih dekat pada Ary. Sampai kedua kali Ary datang menjemputku dengan motornya, sikapnya padaku masih biasa-biasa saja, walau dalam perjalanan pulang di atas motor, kupeluk erat-erat pinggangnya dan sekali-kali sengaja kusentuh penisnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Suatu hari, pembantu rumah tanggaku terserang penyakit. Karena aku dinas siang, mertuaku menyuruhku membawanya ke rumah sakit bersama Ary. Sambil menunggu giliran pembantuku dipanggil dokter, aku dan Ary mengobrol. Dalam obrolan itu, Ary menanyakan beberapa hal antara lain berapa lama suamiku dinas di luar kota, dan apa aku tidak kesepian ditinggal cukup lama. Pertanyaan terakhir ini cukup mengejutkan diriku, dan bertanya sendiri dalam hati apa maksudnya. Tanpa sungkan aku memberanikan diri menjawab untuk memancing reaksinya. &#8220;Yakh sudah tentu kesepian donk Ri, apalagi kalau lama tidak disiram-siram.&#8221; sambil aku tersenyum genit. Entah benar-benar lugu atau berpura-pura, Ary menanggapinya, &#8220;Apanya yang disiram-siram..&#8221; Kujawab saja, &#8220;Masa sih nggak ngerti, ibarat pohon kalau lama nggak disiram bisa layu kan..&#8221; Ary hanya terdiam dan tidak banyak komentar, namun aku yakin bahwa Ary tentunya mengerti apa yang kuisyaratkan kepadanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Selesai urusan pembantuku, kami semua kembali ke rumah. Seperti biasa jam 14:00 aku sudah dijemput kendaraan kantor. Sekitar jam 16:00 aku menerima telepon dari Ary. Selain mengatakan akan menjemputku pulang, ia juga menyinggung kembali kata-kataku tentang &#8216;siram menyiram&#8217;. Kukatakan padanya, &#8220;Coba aja terjemahkan sendiri..&#8221; Sambil tertawa di telepon, Ary berkata, &#8220;Iya deh nanti Ary yang siram..&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Tepat jam 21:00, Ary sudah datang menjemputku dengan motornya. Dalam perjalanan, kutempelkan tubuhku erat-erat dengan melingkarkan tanganku di pinggangnya. Aku mencoba memancing reaksi Ary dengan menyentuhkan jari-jari tanganku ke penisnya. Kurasakan penisnya menjadi keras. Saat berada di depan Taman Ria Remaja Senayan, Ary membelokan motornya masuk. Aku sedikit kaget, dan mencoba bertanya, &#8220;Ri, kok berhenti di sini sih..?&#8221; Ary menjawab, &#8220;Nggak apa-apa kan, sekali-kali mampir cuci pemandangan, sekalian ngobrol lagi soal siram-siraman.&#8221; Aku mengangguk dan menjawab, &#8220;Iya boleh juga Ri..&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah parkir motor, tanpa sungkan, Ary menggandeng pinggangku sambil berjalan, dan aku tak merasa risih mendapat perlakuan ini. Setelah berhenti sebentar membeli dua cup coca cola dan popcorn, sambil bergandengan aku dibawa Ary ke tempat yang agak gelap dan sepi. Dalam perjalanan, kulihat beberapa pasangan yang sedang asyik masyuk bercinta, yang mebuat nafsu seksku naik.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah mendapat tempat yang strategis, tidak ada orang di kiri kanan, kami berdua duduk bersebelahan dengan rapat. Kemudian Ary membuka pembicaraan dengan kembali mengulangi pertanyaannya. &#8220;Berapa lama Mas Zali tugas di luar kota.?&#8221;<br />
Kujawab, &#8220;Yah.. katanya sih dua bulanan, memang kenapa Ri?<br />
&#8220;Apa Wita nggak akan kesepian begitu cukup lama ditinggal Mas Zali?&#8221; kata Ary.<br />
&#8220;Yah tentunya normal dong kesepian, apalagi nggak disiram-siram.&#8221; kuulangi jawaban yang sama sambil kupandang wajah Ary dengan ekspresi menggoda. Tiba-tiba Ary meletakkan tangannya di pundakku dan dengan beraninya menarik wajahku. Kemudian ia mencium pipi dan melumat bibirku dengan penuh nafsu. Diriku seperti terbang, kulayani lumatan bibirnya dengan penuh nafsu pula. Sambil berciuman, dengan lirih Ary bertanya, &#8220;Oh Wita sangat cantik, boleh nggak Ary mengisi kesepian Wita?&#8221;<br />
Sebagai jawaban kubisikkan di telinganya, &#8220;Oh.. Ri, boleh saja, Wita memang kesepian dan butuh orang yang dapat memuaskan..&#8221;
</p>
<p style="text-align: justify;">Sambil berciuman, tangan Ary membuka kancing bajuku dan memasukkan tangannya di balik kutangku sambil meremas-remas buah dadaku dan memilin-milin puting susuku. Tubuhku menggelinjang menahan rangsangan tangannya. Kemudian tangannya terus turun ke bawah, dari balik rokku dan celana dalamku yang sudah basah, ia memasukkan jari-jari tangannya mempermainkan klitorisku. Nafsuku semakin naik, dengan lirih aku mengerang, &#8220;Oh.. oh Ri, aduh Ary pinter sekali.. oh.. puaskan Wita Ri.. Oh..&#8221; Dengan semangat Ary mempermainkan vaginaku sambil kadang-kadang ia melumat bibirku. Tubuhku terasa terbang menikmati permainan jari-jari tangannya di vaginaku. Kurasakan satu dan akhirnya dua jari Ary masuk ke dalam lubang vaginaku. &#8220;Oh.. Ri.. aduh.. enaknya Ri.. oh terus Ri..&#8221; aku mengerang menahan kenikmatan. Mendengar eranganku, kedua jari tangan Ary makin mengocok lubang vaginaku dengan gerakan yang sangat merangsang. Dan akhirnya, beberapa menit kemudian karena tak tahan, aku mencapai orgasme. &#8220;Oh Ri, aagh.. Wita keluar Ri..&#8221; Kujilati seluruh permukaan wajah Ary dan kulumat bibirnya dengan nafsuku yang masih tinggi. Ary masih tetap memainkan kedua jarinya di dalam vaginaku. Begitu hebatnya permainan kedua jari tangan Ary yang menyentuh daerah-daerah sensitif di dalam lubang vaginaku, membuatku orgasme sampai tiga kali.</p>
<p style="text-align: justify;">Kelihatannya Ary begitu bernafsu dan saat itu ia mengajakku bersetubuh.<br />
&#8220;Wita.. boleh nggak Ary masukkan lontong Ary ke dalam apem Wita?&#8221;<br />
Walau aku sebenarnya juga menginginkannya, namun aku khawatir dan sadar akan bahaya kalau ketahuan satpam Taman Ria. Kujawab saja, &#8220;Jangan di sini Ri, bahaya kalau ketahuan satpam, nanti di rumah saja ya Yang..&#8221;<br />
&#8220;Benar nih jangan bohong ya.. dan bagaimana caranya?&#8221; tanya Ary.<br />
Kujawab saja, &#8220;Nanti kamar nggak dikunci, masuk aja Ri, yang penting jangan ketahuan orang rumah.&#8221;
</p>
<p style="text-align: justify;">Akhirnya Ary setuju dengan tawaranku itu. Mengingat waktu sudah menunjukkan jam 22:10 kami berdua sepakat pulang. Sebelum meninggalkan tempat, sambil berdiri kami berdua berpelukan erat, saling melumat bibir dan lidah. Sambil bergandengan mesra, tanpa khawatir kalau ada orang yang kenal melihatnya, kami berdua berjalan menuju parkir motor. Dalam perjalanan pulang, kupeluk erat tubuh Ary, sambil jari-jari tangan kananku membelai dan meremas-remas lontongnya dari balik celananya.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ceritasex.cn/adik-suami-pemuas-nafsuku-part-1-true-story/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Lusi, liarnya saudara tiriku&#8230;</title>
		<link>http://www.ceritasex.cn/lusi-liarnya-saudara-tiriku/</link>
		<comments>http://www.ceritasex.cn/lusi-liarnya-saudara-tiriku/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 05 Apr 2009 03:09:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cerita Sex</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sedarah]]></category>
		<category><![CDATA[incest]]></category>
		<category><![CDATA[lusy]]></category>
		<category><![CDATA[memek]]></category>
		<category><![CDATA[ngentot]]></category>
		<category><![CDATA[ngewe]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ceritasex.cn/?p=32</guid>
		<description><![CDATA[Sebelum aku cerita, kenalkan dulu namaku Ben. Ceritaku ini dimulai, waktu aku SMA kelas 3, waktu itu aku baru sebulan tinggal sama ayah tiriku. Ibu menikah dengan orang ini karena karena tidak tahan hidup menjanda lama-lama. Yang aku tidak sangka-sangka ternyata ayah tiriku punya 2 anak cewek yang keren dan seksi habis, yang satu sekolahnya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Sebelum aku cerita, kenalkan dulu namaku Ben. Ceritaku ini dimulai, waktu aku SMA kelas 3, waktu itu aku baru sebulan tinggal sama ayah tiriku. Ibu menikah dengan orang ini karena karena tidak tahan hidup menjanda lama-lama. Yang aku tidak sangka-sangka ternyata ayah tiriku punya 2 anak cewek yang keren dan seksi habis, yang satu sekolahnya sama denganku, namanya Lusi dan yang satunya lagi sudah kuliah, namanya Riri. Si Lusi cocok sekali kalau dijadikan bintang iklan obat pembentuk tubuh, nah kalau si Riri paling cocok untuk iklan BH sama suplemen payudara.</p>
<p style="text-align: justify;">Sejak pertama aku tinggal, aku selalu berangan-angan bahwa dapat memiliki mereka, tapi angan-angan itu selalu buyar oleh berbagai hal. Dan siang ini kebetulan tidak ada orang di rumah selain aku dengan Lusi, ini juga aku sedang kecapaian karena baru pulang sekolah. &#8220;Lus! entar kalau ada perlu sama aku, aku ada di kamar,&#8221; teriakku dari kamar. Aku mulai menyalakan komputerku dan karena aku sedang suntuk, aku mulai dech surfing ke situs-situs porno kesayanganku, tapi enggak lama kemudian Lusi masuk ke kamar sambil bawa buku, kelihatannya dia mau tanya pelajaran. &#8220;Ben, kemaren kamu udah nyatet Biologi belom, aku pinjem dong!&#8221; katanya dengan suara manja. Tanpa memperdulikan komputerku yang sedang memutar film BF via internet, aku mengambilkan dia buku di rak bukuku yang jaraknya lumayan jauh dengan komputerku.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Lus..! nich bukunya, kemarenan aku udah nyatet,&#8221; kataku. Lusi tidak memperhatikanku tapi malah memperhatikan film BF yang sedang di komputerku. &#8220;Lus.. kamu bengong aja!&#8221; kataku pura-pura tidak tahu. &#8220;Eh.. iya, Ben kamu nyetel apa tuh! aku bilangin bonyok loh!&#8221; kata Lusi. &#8220;Eeh&#8230; kamu barusan kan juga liat, aku tau kamu suka juga kan,&#8221; balas aku. &#8220;Mending kita nonton sama-sama, tenang aja aku tutup mulut kok,&#8221; ajakku berusaha mencari peluang. &#8220;Bener nich, kamu kagak bilang?&#8221; katanya ragu. &#8220;Suwer dech!&#8221; kataku sambil mengambilkan dia kursi.</p>
<p style="text-align: justify;">Lusi mulai serius menonton tiap adegan, sedangkan aku serius untuk terus menatap tubuhnya. &#8220;Lus, sebelum ini kamu pernah nonton bokep kagak?&#8221; tanyaku. &#8220;Pernah, noh aku punya VCD-nya,&#8221; jawabnya. Wah gila juga nich cewek, diam-diam nakal juga. &#8220;Kalau ML?&#8221; tanyaku lagi. &#8220;Belom,&#8221; katanya, &#8220;Tapi&#8230; kalo sendiri sich sering.&#8221; Wah makin berani saja aku, yang ada dalam pikiranku sekarang cuma ML sama dia. Bagaimana caranya si &#8220;Beni Junior&#8221; bisa puas, tidak peduli saudara tiri, yang penting nafsuku hilang.</p>
<p style="text-align: justify;">Melihat dadanya yang naik-turun karena terangsang, aku jadi semakin terangsang, dan batang kemaluanku pun makin tambah tegang. &#8220;Lus, kamu terangsang yach, ampe napsu gitu nontonnya,&#8221; tanyaku memancing. &#8220;Iya nic Ben, bentar yach aku ke kamar mandi dulu,&#8221; katanya. &#8220;Eh&#8230; ngapain ke kamar mandi, nih liat!&#8221; kataku menunjuk ke arah celanaku. &#8220;Kasihanilah si Beni kecil,&#8221; kataku. &#8220;Pikiran kamu jangan yang tidak-tidak dech,&#8221; katanya sambil meninggalkan kamarku. &#8220;Tenang aja, rumah kan lagi sepi, aku tutup mulut dech,&#8221; kataku memancing.</p>
<p style="text-align: justify;">Dan ternyata tidak ia gubris, bahkan terus berjalan ke kamar mandi sambil tangan kanannya meremas-remas buah dadanya dan tangan kirinya menggosok-gosok kemaluannya, dan hal inilah yang membuatku tidak menyerah. Kukejar terus dia, dan sesaat sebelum masuk kamar mandi, kutarik tangannya, kupegang kepalanya lalu kemudian langsung kucium bibirnya. Sesaat ia menolak tapi kemudian ia pasrah, bahkan menikmati setiap permainan lidahku. &#8220;Kau akan aku berikan pengalaman yang paling memuaskan,&#8221; kataku, kemudian kembali melanjutkan menciumnya. Tangannya membuka baju sekolah yang masih kami kenakan dan juga ia membuka BH-nya dan meletakkan tanganku di atas dadanya, kekenyalan dadanya sangat berbeda dengan gadis lain yang pernah kusentuh.</p>
<p style="text-align: justify;">Perlahan ia membuka roknya, celanaku dan celana dalamnya. &#8220;Kita ke dalam kamar yuk!&#8221; ajaknya setelah kami berdua sama-sama bugil, &#8220;Terserah kaulah,&#8221; kataku, &#8220;Yang penting kau akan kupuaskan.&#8221; Tak kusangka ia berani menarik penisku sambil berciuman, dan perlahan-lahan kami berjalan menuju kamarnya. &#8220;Ben, kamu tiduran dech, kita pake &#8217;69&#8242; mau tidak?&#8221; katanya sambil mendorongku ke kasurnya. Ia mulai menindihku, didekatkan vaginanya ke mukaku sementara penisku diemutnya, aku mulai mencium-cium vaginanya yang sudah basah itu, dan aroma kewanitaannya membuatku semakin bersemangat untuk langsung memainkan klitorisnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Tak lama setelah kumasukkan lidahku, kutemukan klitorisnya lalu aku menghisap, menjilat dan kadang kumainkan dengan lidahku, sementara tanganku bermain di dadanya. Tak lama kemudian ia melepaskan emutannya. &#8220;Jangan hentikan Ben&#8230; Ach&#8230; percepat Ben, aku mau keluar nich! ach&#8230; ach&#8230; aachh&#8230; Ben&#8230; aku ke.. luar,&#8221; katanya berbarengan dengan menyemprotnya cairan kental dari vaginanya. Dan kemudian dia lemas dan tiduran di sebelahku.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Lus, sekali lagi yah, aku belum keluar nich,&#8221; pintaku. &#8220;Bentar dulu yach, aku lagi capek nich,&#8221; jelasnya. Aku tidak peduli kata-katanya, kemudian aku mulai mendekati vaginanya. &#8220;Lus, aku masukkin sekarang yach,&#8221; kataku sambil memasukkan penisku perlahan-lahan. Kelihatannya Lusi sedang tidak sadarkan diri, dia hanya terpejam coba untuk beristirahat. Vagina Lusi masih sempit sekali, penisku dibuat cuma diam mematung di pintunya. Perlahan kubuka dengan tangan dan terus kucoba untuk memasukkannya, dan akhirnya berhasil penisku masuk setengahnya, kira-kira 7 cm.</p>
<p><span id="more-32"></span></p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Jangan Ben&#8230; entar aku hamil!&#8221; katanya tanpa berontak. &#8220;Kamu udah mens belom?&#8221; tanyaku. &#8220;Udah, baru kemaren, emang kenapa?&#8221; katanya. Sambil aku masukkan penisku yang setengah, aku jawab pertanyaannya, &#8220;Kalau gitu kamu kagak bakal hamil.&#8221; &#8220;Ach&#8230; ach&#8230; ahh&#8230;! sakit Ben, a.. ach&#8230; ahh, pelan-pelan, aa&#8230; aach&#8230; aachh&#8230;!&#8221; katanya berteriak nikmat. &#8220;Tenang aja cuma sebentar kok, Lus mending doggy style dech!&#8221; kataku tanpa melepaskan penis dan berusaha memutar tubuhnya. Ia menuruti kata-kataku, lalu mulai kukeluar-masukkan penisku dalam vaginanya dan kurasa ia pun mulai terangsang kembali, karena sekarang ia merespon gerakan keluar-masukku dengan menaik-turunkan pinggulnya.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Ach&#8230; a&#8230; aa ach&#8230;&#8221; teriaknya. &#8220;Sakit lagi Ben&#8230; a.. aa&#8230; ach&#8230;&#8221; &#8220;Tahan aja, cuma sebentar kok,&#8221; kataku sambil terus bergoyang dan meremas-remas buah dadanya. &#8220;Ben,. ach pengen&#8230; ach.. a&#8230; keluar lagi Ben&#8230;&#8221; katanya. &#8220;Tunggu sebentar yach, aku juga pengen nich,&#8221; balasku. &#8220;Cepetan Ben, enggak tahan nich,&#8221; katanya semakin menegang. &#8220;A&#8230; ach&#8230; aachh&#8230;! yach kan keluar.&#8221; &#8220;Aku juga Say&#8230;&#8221; kataku semakin kencang menggenjot dan akhirnya setidaknya enam tembakan spermaku di dalam vaginanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Kucabut penisku dan aku melihat seprei, apakah ada darahnya atau tidak? tapi tenyata tidak. &#8220;Lus kamu enggak perawan yach,&#8221; tanyaku. &#8220;Iya Ben, dulu waktu lagi masturbasi nyodoknya kedaleman jadinya pecah dech,&#8221; jelasnya. &#8220;Ben ingat loh, jangan bilang siapa-siapa, ini rahasia kita aja.&#8221;"Oh tenang aja aku bisa dipercaya kok, asal lain kali kamu mau lagi.&#8221; &#8220;Siapa sih yang bisa nolak &#8216;Beni Junior&#8217;,&#8221; katanya mesra.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah saat itu setidaknya seminggu sekali aku selalu melakukan ML dengan Lusi, terkadang aku yang memang sedang ingin atau terkadang juga Lusi yang sering ketagihan, yang asyik sampai saat ini kami selalu bermain di rumah tanpa ada seorang pun yang tahu, kadang tengah malam aku ke kamar Lusi atau sebaliknya, kadang juga saat siang pulang sekolah kalau tidak ada orang di rumah.</p>
<p style="text-align: justify;">Kali ini kelihatannya Lusi lagi ingin, sejak di sekolah ia terus menggodaku, bahkan ia sempat membisikkan kemauannya untuk ML siang ini di rumah, tapi malangnya siang ini ayah dan ibu sedang ada di rumah sehingga kami tak jadi melakukan ini. Aku menjanjikan nanti malam akan main ke kamarnya, dan ia mengiyakan saja, katanya asal bisa ML denganku hari ini ia menurut saja kemauanku.</p>
<p style="text-align: justify;">Ternyata sampai malan ayahku belum tidur juga, kelihatannya sedang asyik menonton pertandingan bola di TV, dan aku pun tidur-tiduran sambil menunggu ayahku tertidur, tapi malang malah aku yang tertidur duluan. Dalam mimpiku, aku sedang dikelitiki sesuatu dan berusaha aku tahan, tapi kemudian sesuatu menindihku hingga aku sesak napas dan kemudian terbangun.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Lusi! apa Ayah sudah tidur?&#8221; tanyaku melihat ternyata Lusi yang menindihiku dengan keadaan telanjang. &#8220;kamu mulai nakal Ben, dari tadi aku tunggu kamu, kamu tidak datang-datang juga. kamu tau, sekarang sudah jam dua, dan ayah telah tidur sejak jam satu tadi,&#8221; katanya mesra sambil memegang penisku karena ternyata celana pendekku dan CD-ku telah dibukanya. &#8220;Yang nakal tuh kamu, Bukannya permisi atau bangunin aku kek,&#8221; kataku. &#8220;kamu tidak sadar yach, kamu kan udah bangun, tuh liat udah siap kok,&#8221; katanya sambil memperlihatkan penisku. &#8220;Aku emut yach.&#8221; Emutanya kali ini terasa berbeda, terasa begitu menghisap dan kelaparan. &#8220;Lus jangan cepet-cepet dong, kasian &#8216;Beni Junior&#8217; dong!&#8221; &#8220;Aku udah kepengen berat Ben!&#8221; katanya lagi. &#8220;Mending seperti biasa, kita pake posisi &#8217;69&#8242; dan kita sama-sama enak,&#8221; kataku sembil berputar tanpa melepaskan emutannya kemudian sambil terus diemut. Aku mulai menjilat-jilat vaginanya yang telah basah sambil tanganku memencet-mencet payudaranya yang semakin keras, terus kuhisap vaginanya dan mulai kumasukkan lidahku untuk mencari-cari klitorisnya. &#8220;Aach&#8230; achh&#8230;&#8221; desahnya ketika kutemukan klitorisnya. &#8220;Ben! kamu pinter banget nemuin itilku, a.. achh.. ahh..&#8221; &#8220;kamu juga makin pinter ngulum &#8216;Beni&#8217; kecil,&#8221; kataku lagi. &#8220;Ben, kali ini kita tidak usah banyak-banyak yach, aa.. achh..&#8221; katanya sambil mendesah. &#8220;Cukup sekali aja nembaknya, taapi&#8230; sa.. ma.. ss.. sa&#8230; ma&#8230; maa ac&#8230; ach&#8230;&#8221; katanya sambil menikmati jilatanku. &#8220;Tapi Ben aku.. ma.. u.. keluar nich! Ach.. a&#8230; aahh&#8230;&#8221; katanya sambil menegang kemudian mengeluarkan cairan dari vaginanya.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Kayaknya kamu harus dua kali dech!&#8221; kataku sambil merubah posisi. &#8220;Ya udah dech, tapi sekarang kamu masukin yach,&#8221; katanya lagi. &#8220;Bersiaplah akan aku masukkan ini sekarang,&#8221; kataku sambil mengarahkan penisku ke vaginanya. &#8220;Siap-siap yach!&#8221; &#8220;Ayo dech,&#8221; katanya. &#8220;Ach&#8230; a&#8230; ahh&#8230;&#8221; desahnya ketika kumasukkan penisku. &#8220;Pelan-pelan dong!&#8221; &#8220;Inikan udah pelan Lus,&#8221; kataku sambil mulai bergoyang. &#8220;Lus, kamu udah terangsang lagi belon?&#8221; tanyaku. &#8220;Bentar lagi Ben,&#8221; katanya mulai menggoyangkan pantatnya untuk mengimbangiku, dan kemudian dia menarik kepalaku dan memitaku untuk sambil menciumnya.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Sambil bercumbu dong Ben!&#8221; Tanpa disuruh dua kali aku langsung mncumbunya, dan aku betul-betul menikmati permainan lidahnya yang semakin mahir. &#8220;Lus kamu udah punya pacar belom?&#8221; tanyaku.&#8221;Aku udah tapi baru abis putus,&#8221; katanya sambil mendesah. &#8220;Ben pacar aku itu enggak tau loh soal benginian, cuma kamu loh yang beginian sama aku.&#8221; &#8220;Ach yang bener?&#8221; tanyaku lagi sambil mempercepat goyangan. &#8220;Ach.. be.. ner.. kok Ben, a.. aa&#8230; ach.. achh,&#8221; katanya terputus-putus. &#8220;Tahan aja, atau kamu mau udahan?&#8221; kataku menggoda. &#8220;Jangan udahan dong, aku baru kamu bikin terangsang lagi, kan kagak enak kalau udahan, achh&#8230; aa&#8230; ahh&#8230; aku percepat yach Ben,&#8221; katanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Kemudian mempercepat gerakan pinggulnya. &#8220;Kamu udah ngerti gimana enaknya, bentar lagi kayaknya aku bakal keluar dech,&#8221; kataku menyadari bahwa sepermaku sudah mengumpul di ujung. &#8220;Achh&#8230; ach&#8230; bentar lagi nih.&#8221; &#8220;Tahan Ben!&#8221; katanya sambil mengeluarkan penisku dari vaginanya dan kemudian menggulumnya sambil tanganya mamainkan klitorisnya. &#8220;Aku juga Ben, bantu aku cari klitorisku dong!&#8221; katanya menarik tanganku ke vaginanya. Sambil penisku terus dihisapnya kumainkan klitorisnya dengan tanganku dan&#8230; &#8220;Achh&#8230; a&#8230; achh&#8230; achh&#8230; ahh&#8230;&#8221; desahku sambil menembakkan spermaku dalam mulutnya. &#8220;Aku juga Ben&#8230;&#8221; katanya sambil menjepit tanganku dalam vaginanya. &#8220;Ach&#8230; ah&#8230; aa.. ach&#8230;&#8221; desahnya.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Aku tidur di sini yach, nanti bangunin aku jam lima sebelum ayah bagun,&#8221; katanya sambil menutup mata dan kemudian tertidur, di sampingku. Tepat jam lima pagi aku bangun dan membangunkanya, kemudian ia bergegas ke kamar madi dan mempersiapkan diri untuk sekolah, begitu juga dengan aku. Yang aneh siang ini tidak seperti biasanya Lusi tidak pulang bersamaku karena ia ada les privat, sedangkan di rumah cuma ada Mbak Riri, dan anehnya siang-siang begini Mbak Riri di rumah memakai kaos ketat dan rok mini seperti sedang menunggu sesuatu.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Siang Ben! baru pulang? Lusi mana?&#8221; tanyanya. &#8220;Lusi lagi les, katanya bakal pulang sore,&#8221; kataku, &#8220;Loh Mbak sendiri kapan pulang? katanya dari Solo yach?&#8221; &#8220;Aku pulang tadi malem jam tigaan,&#8221; katanya. &#8220;Ben, tadi malam kamu teriak sendirian di kamar ada apa?&#8221; Wah gawat sepertinya Mbak Riri dengar desahannya Lusi tadi malam. &#8220;Ach tidak kok, cuma ngigo,&#8221; kataku sambil berlalu ke kamar. &#8220;Ben!&#8221; panggilnya, &#8220;Temenin Mbak nonton VCD dong, Mbak males nich nonton sendirian,&#8221; katanya dari kamarnya. &#8220;Bentar!&#8221; kataku sambil berjalan menuju kamarnya, &#8220;Ada film apa Mbak?&#8221; tanyaku sesampai di kamarnya. &#8220;Liat aja, nanti juga tau,&#8221; katanya lagi. &#8220;Mbak lagi nungguin seseorang yach?&#8221; tanyaku. &#8220;Mbak, lagi nungguin kamu kok,&#8221; katanya datar, &#8220;Tuh liat filmnya udah mulai.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Loh inikan&#8230;?&#8221; kataku melihat film BF yang diputarnya dan tanpa meneruskan kata-kataku karena melihat ia mendekatiku. Kemudian ia mulai mencium bibirku. &#8220;Mbak tau kok yang semalam,&#8221; katanya, &#8220;Kamu mau enggak ngelayanin aku, aku lebih pengalaman dech dari Lusi.&#8221; Wah pucuk di cinta ulam tiba, yang satu pergi datang yang lain. &#8220;Mbak, aku kan adik yang berbakti, masak nolak sich,&#8221; godaku sambil tangan kananku mulai masuk ke dalam rok mininya menggosok-gosok vaginanya, sedangkan tangan kiriku masuk ke kausnya dan memencet-mencet payudaranya yang super besar. &#8220;Kamu pinter dech, tapi sayang kamu nakal, pinter cari kesempatan,&#8221; katanya menghentikan ciumannya dan melepaskan tanganku dari dada dan vaginanya. &#8220;Mbak mau ngapain, kan lagi asyik?&#8221; tanyaku.&#8221;Kamu kagak sabaran yach, Mbak buka baju dulu terus kau juga, biar asikkan?&#8221; katanya sambil membuka bajunya.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku juga tak mau ketinggalan, aku mulai membuka bajuku sampai pada akhirnya kami berdua telanjang bulat. &#8220;Tubuh Mbak bagus banget,&#8221; kataku memperhatikan tubuhnya dari atas sampai ujung kaki, benar-benar tidak ada cacat, putih mulus dan sekal. Ia langsung mencumbuku dan tangan kanannya memegang penisku, dan mengarahkan ke vaginanya sambil berdiri. &#8220;Aku udah enggak tahan Ben,&#8221; katanya. Kuhalangi penisku dengan tangan kananku lalu kumainkan vaginanya dengan tangan kiriku. &#8220;Nanti dulu ach, beginikan lebih asik.&#8221; &#8220;Ach&#8230; kamu nakal Ben! pantes si Lusi mau,&#8221; katanya mesra.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Ben&#8230;! Mbak&#8230;! lagi dimana kalian?&#8221; terdengar suara Lusi memanggil dari luar. &#8220;Hari ini guru lesnya tidak masuk jadi aku dipulangin, kalian lagi dimana sich?&#8221; tanyanya sekali lagi. &#8220;Masuk aja Lus, kita lagi pesta nich,&#8221; kata Mbak Riri. &#8220;Mbak! Entar kalau Lusi tau gimana?&#8221; tanyaku. &#8220;Ben jangan panggil Mbak, panggil aja Riri,&#8221; katanya dan ketika itu aku melihat Lusi di pintu kamar sedang membuka baju. &#8220;Rir, aku ikut yach!&#8221; pinta Lusi sambil memainkan vaginanya. &#8220;Ben kamu kuat nggak?&#8221; tanya Riri. &#8220;Tenang aja aku kuat kok, lagian kasian tuch Lusi udah terangsang,&#8221; kataku. &#8220;Lus cepet sinih emut &#8216;Beni Junior&#8217;,&#8221; ajakku.</p>
<p style="text-align: justify;">Tanpa menolak Lusi langsung datang mengemut penisku. &#8220;Mending kita tiduran, biar aku dapet vaginamu,&#8221; kataku pada Riri. &#8220;Ayo dech!&#8221; katanya kemudian mengambil posisi. Riri meletakkan vaginanya di atas kepalaku, dan kepalanya menghadap vagina Lusi yang sedang mengemut penisku. &#8220;Lus, aku maenin vaginamu,&#8221; katanya. Tanpa menunggu jawaban dari Lusi ia langsung bermain di vaginanya.Permainan ini berlangsung lama sampai akhirnya Riri menegangkan pahanya, dan&#8230; &#8220;Ach&#8230; a&#8230; aach&#8230; aku keluar&#8230;&#8221; katanya sambil menyemprotkan cairan di vaginanya.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Sekarang ganti Lusi yach,&#8221; kataku. Kemudian aku bangun dan mengarahkan penisku ke vaginanya dan masuk perlahan-lahan. &#8220;Ach&#8230; aach&#8230;&#8221; desah Lusi. &#8220;Kamu curang, Lusi kamu masukin, kok aku tidak?&#8221; katanya. &#8220;Abis kamu keluar duluan, tapi tenang aja, nanti abis Lusi keluar kamu aku masukin, yang penting kamu merangsang dirimu sendiri,&#8221; kataku. &#8220;Yang cepet dong goyangnya!&#8221; keluh Lusi. Kupercepat goyanganku, dan dia mengimbanginya juga. &#8220;Kak, ach&#8230; entar lagi gant&#8230; a&#8230; ach.. gantian yach, aku.. mau keluar ach&#8230; aa&#8230; a&#8230; ach&#8230;!&#8221; desahnya, kemudian lemas dan tertidur tak berdaya.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Ayo Ben tunggu apa lagi!&#8221; kata Riri sambil mengangkang mampersilakan penisku untuk mencoblosnya. &#8220;Aku udah terangsang lagi.&#8221; Tanpa menunggu lama aku langsung mencoblosnya dan mencumbunya. &#8220;Gimana enak penisku ini?&#8221; tanyaku. &#8220;Penis kamu kepanjangan,&#8221; katanya, &#8220;tapi enak!&#8221;. &#8220;Kayaknya kau nggak lama lagi dech,&#8221; kataku. &#8220;Sama, aku juga enggak lama lagi,&#8221; katanya, &#8220;Kita keluarin sama-sama yach!&#8221; terangnya. &#8220;Di luar apa di dalem?&#8221; tanyaku lagi. &#8220;Ach&#8230; a&#8230; aach&#8230; di.. dalem&#8230; aja&#8230;&#8221; katanya tidak jelas karena sambil mendesah. &#8220;Maksudku, ah.. ach.. di dalem aja&#8230; aah&#8230; ach&#8230; bentar lagi&#8230;&#8221; &#8220;Aku&#8230; keluar&#8230; ach&#8230; achh&#8230; ahh&#8230;&#8221; desahku sambil menembakkan spermaku. &#8220;Ach&#8230; aach&#8230; aku&#8230; ach.. juga&#8230;&#8221; katanya sambil menegang dan aku merasakan cairan membasahi penisku dalam vaginanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Akhirnya kami bertiga tertidur di lantai dan kami bangun pada saat bersamaan. &#8220;Ben aku mandi dulu yach, udah sore nich.&#8221; &#8220;Aku juga ach,&#8221; kataku. &#8220;Ben, Lus, lain kali lagi yach,&#8221; pinta Riri. &#8220;Itu bisa diatur, asal lagi kosong kayak gini, ya nggak Ben!&#8221; kata Lusi. &#8220;Kapan aja kalian mau aku siap,&#8221; kataku. &#8220;Kalau gitu kalian jangan mandi dulu, kita main lagi yuk!&#8221; kata Riri mulai memegang penisku.</p>
<p style="text-align: justify;">Akhirnya kami main lagi sampai malam dan kebetulan ayah dan ibu telepon dan mengatakan bahwa mereka pulangnya besok pagi, jadi kami lebih bebas bermain, lagi dan lagi. Kemudian hari selanjutya kami sering bermain saat situasi seperti ini, kadang tengah malam hanya dengan Riri atau hanya Lusi. Oh bapak tiri, ternyata selain harta banyak, kamu juga punya dua anak yang siap menemaniku kapan saja, ohh nikmatnya hidup ini.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ceritasex.cn/lusi-liarnya-saudara-tiriku/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
