<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Cerita sex porno ngentot mesum perek ayam kampus &#187; isep kontol</title>
	<atom:link href="http://www.ceritasex.cn/tag/isep-kontol/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.ceritasex.cn</link>
	<description>Kumpulan cerita sex, foto bugil, dan film porno</description>
	<lastBuildDate>Mon, 26 Jul 2010 07:13:35 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0</generator>
		<item>
		<title>Anita, di Setubuhi Ayah Tiri</title>
		<link>http://www.ceritasex.cn/anita-di-setubuhi-ayah-tiri/</link>
		<comments>http://www.ceritasex.cn/anita-di-setubuhi-ayah-tiri/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 26 Jul 2010 07:13:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cerita Sex</dc:creator>
				<category><![CDATA[Daun Muda]]></category>
		<category><![CDATA[Paruh baya]]></category>
		<category><![CDATA[Pemerkosaan]]></category>
		<category><![CDATA[kisah nyata]]></category>
		<category><![CDATA[anak sekolah]]></category>
		<category><![CDATA[ayah tiri]]></category>
		<category><![CDATA[cuki]]></category>
		<category><![CDATA[isep kontol]]></category>
		<category><![CDATA[ngentot]]></category>
		<category><![CDATA[nita]]></category>
		<category><![CDATA[orgasme]]></category>
		<category><![CDATA[perkosa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ceritasex.cn/?p=1503</guid>
		<description><![CDATA[Aku adalah anak tunggal. Ibuku adalah seorang wanita yang disiplin dan agak keras sedangkan ayahku kebalikannya bahkan bisa dikatakan bahwa ayah di bawah bendera ibu. Bisa dikatakan ibulah yang lebih mengatur segala-galanya dalam keluarga. Namun, walaupun ibu keras, di luar rumah aku termasuk cewek bandel dan sering tukar-tukar pacar, tentunya tanpa sepengetahuan ibuku. Tapi suatu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Aku adalah anak tunggal. Ibuku adalah seorang wanita yang disiplin dan agak keras sedangkan ayahku kebalikannya bahkan bisa dikatakan bahwa ayah di bawah bendera ibu. Bisa dikatakan ibulah yang lebih mengatur segala-galanya dalam keluarga. Namun, walaupun ibu keras, di luar rumah aku termasuk cewek bandel dan sering tukar-tukar pacar, tentunya tanpa sepengetahuan ibuku. Tapi suatu saat, pada saat aku duduk di kelas 2 SMA, ibuku pergi mengunjungi nenek yang sakit di kampung. Dia akan tinggal di sana selama 2 minggu. Hatiku bersorak. Aku akan bisa bebas di rumah. Tak akan ada yang memaksa-maksa untuk belajar. Aku juga bebas pulang sore. Kalau Ayah, yah.. dia selalu kerja sampai hampir malam.</p>
<p style="text-align: justify;">Pulang sekolah, aku mengajak pacarku, Anton, ke rumah. Aku sudah beberapa kali mengadakan hubungan kelamin dengannya. Tetapi hubungan tersebut tidak pernah betul-betul nikmat. Selalu dilakukan buru-buru sehingga aku tidak pernah orgasme. Aku penasaran, bagaimana sih nikmatnya orgasme?</p>
<p style="text-align: justify;">Singkat cerita, aku dan Anton sudah berada di ruang tengah. Kami merasa bebas. Jam masih menunjukkan angka 3:00 sedangkan ayah selalu pulang pukul enam lewat. So, cukup waktu untuk memuaskan berahi. Kami duduk di sofa. Anton dengan segera melumat bibirku. Kurasakan hangatnya bibirnya. &#8220;Ah..&#8221; kurangkul tanganku ke lehernya. Ciumannya semakin dalam. Kini lidahnya yang mempermainkan lidahku. Tangannya pun mulai bermain di kedua bukitku. Aku benar-benar terangsang. Aku sudah bisa merasakan bahwa vaginaku sudah mulai basah. Segera kujulurkan tanganku ke perut bawahnya. Aku merasakan bahwa daerah itu sudah bengkak dan keras. Kucoba membuka reitsleting celananya tapi agak susah. Dengan segera Anton membukakannya untukku. Bagai tak ingin membuang waktu, secara bersamaan, aku pun membuka kemeja sekolahku sekaligus BH-ku tapi tanpa mengalihkan perhatianku pada Anton. Kulihat segera sesudah CD Anton lepas, senjatanya sudah tegang, siap berperang.</p>
<p style="text-align: justify;">Kami berpelukan lagi. Kali ini, tanganku bebas memegang burungnya. Tidak begitu besar, tapi cukup keras dan berdiri dengan tegangnya. Kuelus-elus sejenak. Kedua telurnya yang dibungkus kulit yang sangat lembut, sungguh menimbulkan sensasi tersendiri saat kuraba dengan lembut. Penisnya kemerah-merahan, dengan kepala seperti topi baja. Di ujungnya berlubang. Kukuakkan lubang kecil itu, lalu kujulurkan ujung lidahku ke dalam. Anton melenguh. Expresi wajahnya membuatku semakin bergairah. &#8220;Ah..&#8221; kumasukkan saja batang itu ke mulutku. Anton melepaskan celana dalamku lalu mempermainkan vaginaku dengan jarinya. Terasa sentuhan jarinya diantara kedua bibir kemaluanku. Dikilik-kiliknya klitorisku. Aku makin bernafsu. Kuhisap batangnya. Kujilati kepala penisnya, sambil tanganku mempermainkan telurnya dengan lembut. Kadang kugigit kulit telurnya dengan lembut.<br />
<span id="more-1503"></span><br />
&#8220;Nit, pindah di lantai saja yuk, lebih bebas!&#8221;<br />
Tanpa menunggu jawabanku, dia sudah menggendongku dan membaringkanku di lantai berkarpet tebal dan bersih. Dibukanya rok abu-abuku, yang tinggal satu-satunya melekat di tubuhku, demikian juga kemejanya. Sekarang aku dan dia betul-betul bugil. Aku makin menyukai suasana ini. Kutunggu, apa yang akan dilakukannya selanjutnya. Ternyata Anton naik ke atas tubuhku dengan posisi terbalik, 69. Dikangkangkannya pahaku. Selanjutnya yang kurasakan adalah jilatan-jilatan lidahnya yang panas di permukaan vaginaku. Bukan itu saja, klitorisku dihisapnya, sesekali lidahnya ditenggelamkannya ke lubangku. Sementara batangnya tetap kuhisap. Aku sudah tidak tahan lagi.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Ton, ayo masukin saja.&#8221;<br />
&#8220;Sebentar lagi Nitt.&#8221;<br />
&#8220;Ah.. aku nggak tahan lagi, aku mau batangmu, please!&#8221;<br />
Anton memutar haluan. Digosok-gosokannya kepala penisnya sebentar lalu.. &#8220;Bless..&#8221; batang itu masuk dengan mantap. Tak perlu diolesi ludah untuk memperlancar, vaginaku sudah banjir. Amboy, nikmat sekali. Disodok-sodok, maju mundur.. maju mundur. Aku tidak tinggal diam. Kugoyang-goyang juga pantatku. Kadang kakiku kulingkarkan ke pinggangnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Tiba-tiba, &#8220;Ah.. aku keluar..&#8221; Dicabutnya penisnya dan spermanya berceceran di atas perutku.<br />
&#8220;Shit! Sama saja, aku belum puas, dia sudah muntah,&#8221; rungutku dalam hati.<br />
Tapi aku berpikir, &#8220;Ah, tak mengapa, babak kedua pasti ada.&#8221;<br />
Dugaanku meleset. Anton berpakaian.<br />
&#8220;Nit, sorry yah.. aku baru ingat. Hari ini rupanya aku harus latihan band, udah agak telat nih,&#8221; dia berpakaian dengan buru-buru. Aku betul-betul kecewa.<br />
&#8220;Kurang ajar anak ini. Dasar egois, emangnya aku lonte, cuman memuaskan kamu saja.&#8221;<br />
Aku betul-betul kecewa dan berjanji dalam hati tak akan mau main lagi dengannya. Karena kesal, kubiarkan dia pergi. Aku berbaring saja di sofa, tanpa mempedulikan kepergiannya, bahkan aku berbaring dengan membelakanginya, wajahku kuarahkan ke sandaran sofa.</p>
<p style="text-align: justify;">Kemudian aku mendengar suara langkah mendekat.<br />
&#8220;Ngapain lagi si kurang ajar ini kembali,&#8221; pikirku. Tapi aku memasang gaya cuek. Kurasakan pundakku dicolek. Aku tetap cuek.<br />
&#8220;Nita!&#8221;<br />
Oh.. ini bukan suara Anton. Aku bagai disambar petir. Aku masih telanjang bulat.<br />
&#8220;Ayah!&#8221; aku sungguh-sungguh ketakutan, malu, cemas, pokoknya hampir mati.<br />
&#8220;Dasar bedebah, rupanya kamu sudah biasa main begituan yah. Jangan membantah. Ayah lihat kamu bersetubuh dengan lelaki itu. Biar kamu tahu, ini harus dilaporkan sama ibumu.&#8221;<br />
Aku makin ketakutan, kupeluk lutut ayahku, &#8220;Yah.. jangan Yah, aku mau dihukum apa saja, asal jangan diberitahu sama orang lain terutama Mama,&#8221; aku menangis memohon.</p>
<p style="text-align: justify;">Tiba-tiba, ayah mengangkatku ke sofa. Kulihat wajahnya makin melembut.<br />
&#8220;Nit, Ayah tahu kamu tidak puas barusan. Waktu Ayah masuk, Ayah dengar suara-suara desahan aneh, jadi Ayah jalan pelan-pelan saja, dan Ayah lihat dari balik pintu, kamu sedang dientoti lelaki itu, jadi Ayah intip aja sampai siap mainnya.&#8221;<br />
Aku diam aja tak menyahut.<br />
&#8220;Nit, kalau kamu mau Ayah puasin, maka rahasiamu tak akan terbongkar.&#8221;<br />
&#8220;Sungguh?&#8221;<br />
Ayah tak menjawab, tapi mulutnya sudah mencium susuku. Dijilatinya permukaan payudaraku, digigitnya pelan-pelan putingku. Sementara tangannya sudah menjelajahi bagian bawahku yang masih basah. Ayah segera membuka bajunya. Langsung seluruhnya. Aku terkejut. Kulihat penis ayahku jauh lebih besar, jauh lebih panjang dari penis si Anton. Tak tahu aku berapa ukurannya, yang jelas panjang, besar, mendongak, keras, hitam, berurat, berbulu lebat. Bahkan antara pusat dan kemaluannya juga berbulu halus. Beda benar dengan Anton. Melihat ini saja aku sudah bergetar.</p>
<p style="text-align: justify;">Kemudian Aku didudukkannya di sofa. Pahaku dibukanya lebar-lebar. Dia berlutut di hadapanku lalu kepalanya berada diantara kedua pangkal pahaku. Tiba-tiba lidah hangat sudah menggesek ke dalam vaginaku. Aduh, lidah ayahku menjilati vaginaku. Dia menjilat lebih lihai, lebih lembut. Jilatannya dari bawah ke atas berulang-ulang. Kadang hanya klitorisku saja yang dijilatinya. Dihisapinya, bahkan digigit-gigit kecil. Dijilati lagi. Dijilati lagi. &#8220;Oh.. oh.. enak, Yah di situ Yah, enak, nikmat Yah,&#8221; tanpa sadar, aku tidak malu lagi mendesah jorok begitu di hadapan ayahku. Ayah &#8220;memakan&#8221; vaginaku cukup lama. Tiba-tiba, aku merasakan nikmat yang sangat dahsyat, yang tak pernah kumiliki sebelumnya.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Oh.. begini rupanya orgasme, nikmatnya,&#8221; aku tiba-tiba merasa lemas. Ayah mungkin tahu kalau aku sudah orgasme, maka dihentikannya menjilat lubang kewanitaanku. Kini dia berdiri, tepat di hadapan hidungku, penisnya yang besar itu menengadah. Dengan posisi, ayah berdiri dan aku duduk di sofa, kumasukkan batang ayahku ke mulutku. Kuhisap, kujilat dan kugigit pelan. Kusedot dan kuhisap lagi. Begitu kulakukan berulang-ulang. Ayah ikut menggoyangkan pantatnya, sehingga batangnya terkadang masuk terlalu dalam, sehingga bisa kurasakan kepala penisnya menyentuh kerongkonganku. Aku kembali sangat bergairah merasakan keras dan besarnya batang itu di dalam mulutku. Aku ingin segera ayah memasuki lubangku, tapi aku malu memintanya. Lubangku sudah betul-betul ingin &#8220;menelan&#8221; batang yang besar dan panjang.</p>
<p style="text-align: justify;">Tiba-tiba ayah menyeruhku berdiri.<br />
&#8220;Mau main berdiri ini,&#8221; pikirku.<br />
Rupanya tidak. Ayah berbaring di sofa dan mengangkatku ke atasnya.<br />
&#8220;Masukkan Nit!&#8221; ujar Ayah.<br />
Kuraih batang itu lalu kuarahkan ke vaginaku. Ah.. sedikit sakit dan agak susah masuknya, tapi ayah menyodokkan pantatnya ke depan.<br />
&#8220;Aduh pelan-pelan, Ayah.&#8221;<br />
Lalu berhenti sejenak, tapi batang itu sudah tenggelam setengah akibat sodokan ayah tadi. Kugoyang perlahan. Dengan perlahan pula batang itu semakin masuk dan semakin masuk. Ajaibnya semakin masuk, semakin nikmat. Lubang vaginaku betul-betul terasa penuh. Nikmat rasanya. Karena dikuasai nafsu, rasa maluku sudah hilang. Kusetubuhi ayahku dengan rakus. Ekspresi ayahku makin menambah nafsuku. Remasan tangan ayahku di kedua payudaraku semakin menimbulkan rasa nikmat. Kogoyang pantatku dengan irama keras dan cepat.</p>
<p style="text-align: justify;">Tiba-tiba, aku mau orgasme, tapi ayah berkata, &#8220;Stop! Kita ganti posisi. Kamu nungging dulu.&#8221;<br />
&#8220;Mau apa ini?&#8221; pikirku.<br />
Tiba-tiba kurasakan gesekan kepala penis di permukaan lubangku kemudian.. &#8220;Bless..&#8221; batang itu masuk ke lubangku. Yang begini belum pernah kurasakan. Anton tak pernah memperlakukanku begini, begitu juga Muklis, lelaki yang mengambil perawanku. Tapi yang begini ini rasanya selangit. Tak terkatakan nikmatnya. Hujaman-hujaman batang itu terasa menggesek seluruh liang kewanitaanku, bahkan hantaman kepala penis itupun terasa membentur dasar vaginaku, yang membuatku merasa semakin nikmat. Kurasakan sodokan ayah makin keras dan makin cepat. Perasaan yang kudapat pun makin lama makin nikmat. Makin nikmat, makin nikmat, dan makin nikmat.</p>
<p style="text-align: justify;">Tiba-tiba, &#8220;Auh..oh.. oh..!&#8221; kenikmatan itu meladak. Aku orgasme untuk yang kedua kalinya. Hentakan ayah makin cepat saja, tiba-tiba kudengar desahan panjangnya. Seiring dengan itu dicabutnya penisnya dari lubang vaginaku. Dengan gerakan cepat, ayah sudah berada di depanku. Disodorkannya batangnya ke mulutku. Dengan cepat kutangkap, kukulum dan kumaju-mundurkan mulutku dengan cepat. Tiba-tiba kurasakan semburan sperma panas di dalam mulutku. Aku tak peduli. Terus kuhisap dan kuhisap. Sebagian sperma tertelan olehku, sebagian lagi kukeluarkan, lalu jatuh dan meleleh memenuhi daguku. Ayah memelukku dan menciumku, &#8220;Nit, kapan-kapan, kalau nggak ada Mama, kita main lagi yah.&#8221; Aku tak menjawab. Sebagai jawaban, aku menggelayut dalam pelukan ayahku. Yang jelas aku pasti mau. Dengan pacarku aku tak pernah merasakan orgasme. Dengan ayah, sekali main orgasme dua kali. Siapa yang mau menolak?</p>
<p style="text-align: justify;">Sesudah itu asal ada kesempatan, kami melakukannya lagi. Sementara mama masih sering marah, dengan nada tinggi, berusaha mengajarkan disiplin. Biasanya aku diam saja, pura-pura patuh. Padahal suaminya, yang menjadi ayahku itu, sering kugeluti dan kunikmati. Beginilah kisah permainanku dengan ayahku yang pendiam, tetapi sangat pintar di atas ranjang.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ceritasex.cn/anita-di-setubuhi-ayah-tiri/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Iryanti, Gadis Warnet</title>
		<link>http://www.ceritasex.cn/iryanti-gadis-warnet/</link>
		<comments>http://www.ceritasex.cn/iryanti-gadis-warnet/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 06 Feb 2010 05:45:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cerita Sex</dc:creator>
				<category><![CDATA[Daun Muda]]></category>
		<category><![CDATA[Seks Umum]]></category>
		<category><![CDATA[selingkuh]]></category>
		<category><![CDATA[chatting]]></category>
		<category><![CDATA[isep kontol]]></category>
		<category><![CDATA[mirc]]></category>
		<category><![CDATA[ngentot]]></category>
		<category><![CDATA[oral]]></category>
		<category><![CDATA[warnet]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ceritasex.cn/?p=1249</guid>
		<description><![CDATA[Namaku Rio, seorang dokter di sebuah rumah sakit di Jakarta Selatan, kisah yang akan kuceritakan ini terjadi saat aku masih bertunangan dengan istriku sekarang ini, dan terjadi berawal dari hal yang sama sekali tidak terduga sedikitpun olehku. Bulan February 2001 lalu aku mengantarkan kawanku Rudy ke bengkel Toyota di jalan ***(edited) Jakarta. Saat tiba di [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Namaku Rio, seorang dokter di sebuah rumah sakit di Jakarta Selatan, kisah yang akan kuceritakan ini terjadi saat aku masih bertunangan dengan istriku sekarang ini, dan terjadi berawal dari hal yang sama sekali tidak terduga sedikitpun olehku.</p>
<p style="text-align: justify;">Bulan February 2001 lalu aku mengantarkan kawanku Rudy ke bengkel Toyota di jalan ***(edited) Jakarta. Saat tiba di bengkel, sudah banyak mobil yang antri menunggu giliran.<br />
Rudy tersenyum kepadaku dan bilang, &#8220;Sorry Yo.., kayaknya loe musti nungguin lama juga nih..&#8221;<br />
Brengsek juga nih pikirku, biar tidak bosan, aku pergi ke warnet di dekat situ, persisnya di sebelah Soto Kudus, persis depan Danar Hadi.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku masuk, disambut oleh seorang cewek yang ternyata adalah yang bertugas menjaga warnet tersebut. Mulanya aku tidak begitu memperhatikannya, berhubung hatiku lagi kesal sekali sama ulah si Rudy tadi. Tapi ketika aku mulai meng-klik mouse dan sedang menunggu connect-nya internet, baru aku perhatikan bahwa cewek penjaga ini punya wajah cukup lumayan dan body yang oke juga. Terus terang, saat itu juga aku terpikat oleh penampilannya, aku jatuh hati pada &#8220;the way she look&#8221;.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku sibuk berpikir dalam hati, bagaimana cara aku berkenalan dengannya? Tapi mungkin memang takdir cara itu datang dengan sendirinya, cewek itu tidak lama kemudian membuka juga internet dan dia duduk persis di belakangku, jadi posisi kami saling memunggungi satu sama lain. Aku sempat menoleh ke belakang, dan kulihat dia membuka situs &#8220;mIRC&#8221;.<br />
&#8220;Kayaknya dia mau chatting nih..,&#8221; pikirku.<br />
Ternyata benar, dia mau chatting, dan aku sempat melihat kalau dia pake &#8220;nick&#8221; yanthie. Langsung saja aku masuk ke &#8220;mIRC&#8221; juga, aku call dia, eeh dia nge-reply.</p>
<p style="text-align: justify;">Kami berkenalan, dan selama chatting itu dia sama sekali tidak sadar kalau Rio yang sedang ngobrol dengannya adalah cowok yang duduk tepat di belakangnya, hihihihi. Pas sejam aku selesai, aku bayar, aku pancing obrolan dengannya, aku tahu sekarang namanya &#8220;Yanti&#8221;, tepatnya &#8220;Iryanti&#8221;. Tampangnya benar-benar membuat aku bergairah.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku lalu keluar, pergi ke bengkel menemui si Rudy, mobilnya sedang dikerjakan. Aku pergi ke telepon kartu di bengkel itu, kutelepon penerangan &#8220;108&#8243;. Kutanyakan nomer telepon warnet itu, setelah kudapat langsung kutelepon, dan aku minta bicara dengan Yanti.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Siapa nih..?&#8221; suara Yanti di seberang sana.<br />
&#8220;Ini Rio, boleh saya kenal kamu..?&#8221; jawabku.<br />
&#8220;Boleh aja, tapi kamu dapat nomer ini darimana..?&#8221; tanya Yanti lagi.<br />
&#8220;Saya yang pernah main di warnet kamu..,&#8221; jawabku.<br />
Dan Oh My God..! Tahu tidak Yanti bilang apa..?<br />
&#8220;Kamu yang tadi chatting di belakang saya khan..?&#8221; katanya.<br />
Mati aku, dia sudah tahu rupanya. Terlanjur malu aku mengaku saja, kalau itu benar aku, dan aku terpesona oleh penampilan dia, tapi aku malu untuk menegur disana, jadi aku pakai cara ini saja.</p>
<p style="text-align: justify;">Yanti tertawa, enak deh suaranya, kuberanikan saja ingin menjemput dia, mau atau tidak. Katanya dia sore ini tidak bisa, karena cowoknya (yang akhirnya kuketahui namanya Joe) menjemput dia.<br />
&#8220;Gimana kalau besok lusa aja..?&#8221; katanya.<br />
&#8220;Oke aja..&#8221; kataku.</p>
<p style="text-align: justify;">Jadilah lusanya aku tidak praktek, jam 17.00 tepat aku sudah sampai di warnet Yanti. Kami terus jalan deh. Di jalan, dasar pikiran nakalku sudah di ubun-ubun, aku tanya sudah berapa lama Yanti pacaran sama Joe, berapa kali pacaran, terakhir aku juga mengaku sudah punya cewek, terus aku tanya mau tidak Yanti jadi cewekku? Yanti kaget.<br />
&#8220;Jadi Yanti ngeduain Joe donk Yo..?&#8221; tanyanya.<br />
&#8220;Iya sama Rio juga ngeduain cewek Rio..&#8221; jawabku sekenanya.<br />
&#8220;Nakal kamu Yo..&#8221; kata Yanti sambil mencubit lenganku.<br />
&#8220;Naaah.., kena nih cewek..!&#8221; pikirku.<br />
<span id="more-1249"></span><br />
Kutangkap tangannya, kupegang kuat, kuhentikan mobilku di depan sebuah bangunan sepi dekat Pasaraya Manggarai, kutarik Yanti ke arahku, kucium bibirnya, Yanti mendorong tubuhku.<br />
&#8220;Hhhmmmhh malu-malu kucing nih..&#8221; pikirku.<br />
Terus kutarik tubuhnya sambil mengeluarkan kata-kata gombalku. Lama kelamaan Yanti tidak menolak lagi, dibalasnya ciumanku, dijulurkannya lidahnya, digigitnya bibirku, kusedot lidahnya, nikmat sekali, urat syarafku terangsang. Kuraba pahanya, terus ke selangkangannya, Yanti mendesah.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Jangan Rio..&#8221; desahnya.<br />
Aku berhenti, kuhidupkan mesin mobil, kuarahkan mobil ke hotel ***(edited) di jalan ***(edited) Jakarta Pusat, aku langsung parkir.<br />
&#8220;Mau ngapain kita kesini Yo..?&#8221; tanya Yanti.<br />
Aku tidak menjawab, kusuruh dia menunggu di mobil, aku masuk ke dalam, aku check in di kamar 104.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah diantar ke kamar, kuhidupkan AC, lalu aku ke mobil.<br />
&#8220;Yan, turun yuuk..!&#8221; kataku.<br />
&#8220;Nggak tau ah, mau ngapain sih Rio..?&#8221; kata Yanti.<br />
Lagi-lagi kukeluarkan jurus mautku, sampai akhirnya Yanti mau juga ikut masuk ke kamar. Di dalam kamar kubuka celana panjangku. Dengan hanya pakai handuk aku ke kamar mandi, saat aku keluar kulihat Yanti sedang nonton TV.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Film apa sih Yan..?&#8221; tanyaku sambil duduk di sebelahnya.<br />
&#8220;Sinetron..,&#8221; jawab Yanti pendek.<br />
Kupandangi wajahnya, Yanti jengah juga dan bilang, &#8220;Ngapain sih ngeliatin gitu Yo..?&#8221;<br />
&#8220;Kamu cantik..&#8221; rayuku.<br />
&#8220;Rio pengen ciuman kayak tadi deh..&#8221; kataku.<br />
Kutarik tubuhnya, Yanti diam saja, kuangkat dagunya, kupandangi lekat-lekat matanya, kucium lembut bibirnya, Yanti memejamkan matanya. Dibalasnya ciumanku, kujulurkan lidahku, Yanti membalasnya, kuhisap, Yanti membalasnya. Pikiranku benar-benar sudah dikuasai gairah memuncak, kuciumi lehernya, kujilati sepuasku.<br />
&#8220;Aaacchh.., Riooo&#8230;&#8221; desahan Yanti membuatku tambah bernafsu.<br />
Aku berdiri di samping tempat tidur sambil tidak lepas memandang wajahnya sedikitpun.</p>
<p style="text-align: justify;">Kubuka bajuku, handuk, terakhir celana dalamku, sengaja tidak kupadamkan lampu, penisku langsung &#8220;tegak-melompat&#8221; keluar &#8220;sarangnya&#8221;. Kulihat Yanti terkesima, kuhampiri dia, kuraih tangannya, kuletakkan di atas penisku, kusuruh dia melakukan gerakan &#8220;mengocok&#8221;.<br />
&#8220;Aaahhh nikmat sekali..&#8221; desahku.</p>
<p style="text-align: justify;">15 menit Yanti melakukan itu, kulepaskan tangannya dari penisku, kutarik wajahnya, kuarahkan ke penisku. Mula-mula Yanti menolak, dengan sedikit paksaan mau juga dia. Masuklah penisku dalam mulut mungilnya. Digerakkannya maju-mundur berulang kali sampai basah kuyup penisku oleh ludahnya, kurasakan spermaku mau keluar, kutarik rambutnya.<br />
&#8220;Stop Yanti..!&#8221; kataku.</p>
<p style="text-align: justify;">Kini kubaringkan dia, kutelanjangi Yanti sampai sehelai benang pun tidak ada lagi di tubuhnya. Kupandangi tubuhnya, tampak di perut kirinya ada tahi lalat cukup besar. Kucium bibirnya, dagunya, turun ke lehernya, dadanya, perutnya, kuhisap pusar dan tahi lalatnya, Yanti menggelinjang geli. Kuteruskan ke selangkangannya, kumasukkan jari tengahku sambil aku terus mencium selangkangannya.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Aaaccchhh Riiiooo niiikkkmaaatnyaaa sayaaanggg&#8230;&#8221; desah Yanti.<br />
Yanti mengangkat pantatnya setinggi-tingginya, kurasakan basah vaginanya. Yanti telah orgasme rupanya. Kini aku menaiki tubuh Yanti, penisku pun sudah amat berdenyut mendambakan pelampiasan pula. Kuarahkan penisku ke vagina Yanti, kuturunkan perlahan pinggulku, tidak sedetikpun kulepaskan pandanganku dari mata Yanti. Kulihat Yanti menggigit bibirnya.<br />
&#8220;Sakiiittt Riiiooo&#8230;&#8221; desahnya.<br />
Kuhentikan sejenak, lalu kuteruskan lagi, Yanti mendesis lagi. Kulihat butiran air mata di sisi matanya.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Sakit saayyyaangg..?&#8221; tanyaku.<br />
&#8220;Iyyaaa Riiiooo, punya kamu besar sekali..&#8221; jawab Yanti meracau.<br />
&#8220;Mana besar sama punya Joe..?&#8221; tanyaku.<br />
&#8220;Besar punya kamu Riooo&#8230; sakit saaayyyaangghhh, perrriiihhh, tapiii niiikmaaatthh sekaliii..&#8221; rintih Yanti.<br />
Akhirnya masuk semua penisku ke dalam vaginanya. Kutarik maju mundur, akibatnya sungguh luar biasa, Yanti menggeram, kedua kakinya menjepit pinggangku sekuatnya, giginya ditanamkan di bahuku, kurasakan pedih. Waaaahhh berdarah nih&#8230; Yanti orgasme kedua kalinya.</p>
<p style="text-align: justify;">Kini kuganti posisiku, Yanti kusuruh menungging, dan dengan nafsu memuncak kutusukkan penisku ke anusnya, kurasakan otot &#8220;spchincter ani&#8221;-nya mencengkram erat penisku. Kugerakkan masuk-keluar penisku, kugenggam payudaranya, Yanti menggenggam tepi tempat tidur.<br />
&#8220;Riiooo&#8230; saaayyyaanngghh&#8230; ciiintaaa&#8230; eeennnaaakkhhh&#8230; Riioooo.. Rioooo&#8230; nikmaaatthh sayaaaanggghh&#8230; terrruuussshhh cinnntaaaa&#8230;&#8221; erang Yanti terus menerus.<br />
Aku benar-benar nikmat, &#8220;Yaaanntiii kuhamili kamuuuu&#8230; badan kamuuu enak bangeeettthh..&#8221; erangku juga.</p>
<p style="text-align: justify;">10 menit kemudian aku tidak tahan lagi, penisku berdenyut kuat, kucengkram erat pinggul Yanti, kusemburkan sperma hangatku dalam vagina Yanti.<br />
&#8220;Aaacchhh nikmat sekali&#8230;&#8221; desahku di telinganya.<br />
Kami pun terkulai lemas.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ceritasex.cn/iryanti-gadis-warnet/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pemerkosaan Bu Misye</title>
		<link>http://www.ceritasex.cn/pemerkosaan-bu-misye/</link>
		<comments>http://www.ceritasex.cn/pemerkosaan-bu-misye/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 02 Jan 2010 05:36:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cerita Sex</dc:creator>
				<category><![CDATA[Paruh baya]]></category>
		<category><![CDATA[Pemerkosaan]]></category>
		<category><![CDATA[Seks Umum]]></category>
		<category><![CDATA[Tante Girang]]></category>
		<category><![CDATA[isep kontol]]></category>
		<category><![CDATA[misye]]></category>
		<category><![CDATA[ngentot]]></category>
		<category><![CDATA[oral seks]]></category>
		<category><![CDATA[perkosa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ceritasex.cn/?p=1166</guid>
		<description><![CDATA[Bu Misye dalam perjalanan pulang dari tempat ia bekerja terpaksa berteduh karena dia tidak membawa jas hujan. Bu Misye berteduh di sebuah bangunan yang belum jadi namun sudah beratap. Setelah menyandarkan motornya Bu Misye mencari tepat duduk dan ternyata ada sebuah kursi panjang. Pakaian yang dikenakan suadah basah semua, Bu Misye sebelumnya berniat untuk tidak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Bu Misye dalam perjalanan pulang dari tempat ia bekerja terpaksa berteduh karena dia tidak membawa jas hujan. Bu Misye berteduh di sebuah bangunan yang belum jadi namun sudah beratap. Setelah menyandarkan motornya Bu Misye mencari tepat duduk dan ternyata ada sebuah kursi panjang. Pakaian yang dikenakan suadah basah semua, Bu Misye sebelumnya berniat untuk tidak berteduh namun karena hujannya semakin lebat dan disertai angin dan petir maka ia memutuskan untuk berteduh, walaupun dalam hatinya cemas karena hari sudah menjelang gelap namun tanda-tanda hujan akan reda belum muncul.</p>
<p style="text-align: justify;">Belum lama duduk datang seorang pemuda tanggung yang juga akan berteduh. Setelah menyandarkan Tiger yang dipakainya, pemuda itu cepat-cepat masuk ke bangunan yang belum jadi tersebut. Bu Misye pertama agak khawatir dengan pemuda tersebut namun akhirnya kekhawatirannya akhirnya hilang karena melihat penampilannya juga keramahannya. Bu Misye melempar senyum dibalas dengan senyum oleh pemuda tersebut.</p>
<p style="text-align: justify;">Pemuda tanggung tersebut berkulit putih bersih dan wajah yang diakui oleh Bu Misye memang tampan. Pemuda tersebut duduk di kursi panjang agak berjauhan letaknya dengan Bu Misye.<br />
&#8220;Cuma sendirian Bu?&#8221; pemuda tersebut memulai pembicaraan.<br />
&#8220;Iya Dik&#8221; Bu Misye menjawab.<br />
&#8220;Adik dari mana?&#8221; lanjutnya.<br />
&#8220;Dari rumah teman, sedang Ibu sendiri dari mana?&#8221; pemuda itu menyambung.<br />
&#8220;Dari tempat kerja Dik&#8221; Bu Misye menjawab.<br />
&#8220;Koq sampai sore Ibu, memang tidak dijemput oleh suami atau putra Ibu?&#8221; pemuda tersebut kembali bertanya.<br />
&#8220;Ndak Dik.. walau udah tua Ibu berusaha sendiri lagian anak-anak Ibu udah berkeluarga semua&#8221; Bu Misye menyahut.<br />
&#8220;Eh Adik masih kuliah kelihatannya, nama Adik siapa biar enak kalau manggilnya&#8221; lanjut Bu Misye, walau dalam hatinya dia agak bingung kenapa harus bertanya namanya.<br />
&#8220;Iwan Ibu, masih kuliah semester pertama, nama Ibu?&#8221; jawab pemuda tersebut.<br />
&#8220;Misye&#8221; jawab Bu Misye.<br />
&#8220;Ibu umurnya berapa koq ngakunya sudah tua?&#8221; Iwan bertanya.<br />
&#8220;Udah hampir limapuluh Dik Iwan&#8221; jawab Bu Misye.<br />
&#8220;Koq masih keliatan lebih muda dari usia Bu Misye lho?&#8221; lanjut Iwan.<br />
<span id="more-1166"></span><br />
Pembicaraan terhenti sebentar. Baju yang dipakai oleh Bu Misye yang basah secara jelas mencetak buah dadanya yang sekal terbungkus oleh BH hitam yang keliatan sangat menantang di usianya. Rambutnya yang teruarai lurus sebahu tampak basah juga. Kulitnya yang putih tampak titik air yang masih membasahinya. Iwan terus memandangi tubuh yang Bu Misye.<br />
&#8220;Tubuh Ibu masih bagus lho, Bu Misye tentu sangat bisa merawat tubuh&#8221; tiba-tiba Iwan memecah kesunyian.<br />
Bu Misye agak kaget dengan pertanyaan Iwan. Dia agak tersinggung dengan pertannyan itu apalagi mata Iwan yang tidak lepas dari dadanya. Anak ini ternyata agak kurang ajar.</p>
<p style="text-align: justify;">Belum lagi keterkejutannya hilang, Iwan berkata lagi, &#8220;Tentu suami Ibu sangat sengan dengan istri yang secantik dan semolek Bu Misye&#8221; Iwan berkata sambil meremas-remas kemaluannya yang masih dibungkus celananya.<br />
Melihat situasi yang kurang baik itu, Bu Misye tidak menjawab, dia langsung berdiri menuju ke motornya walaupun hujan tampaknya semakin menjadi-jadi. Namun tangan Iwan lebih dulu menyahut tangan Bu Misye. Bu Misye semakin marah.<br />
&#8220;Kau mau apa haa?&#8221; hardiknya.<br />
&#8220;Hujan masih lebat, sedang kita cuma berdua.. saya menginginkan Ibu&#8221; sahut Iwan dengan santainya sambil merangkul Bu Misye dari belakang.<br />
&#8220;Menginginkan apa?&#8221; Bu Misye agak berteriak sambil berusaha melepaskan pelukan Iwan.<br />
&#8220;Menginginkan tubuh Ibu..&#8221; Iwan berkata sambil tangannya beraksi menggerayangi tubuh Bu Misye dari belakang.<br />
&#8220;Jangan Dik Iwan.. apa kamu nggak merasa umurku.. sebaya dengan ibumu&#8221; Bu Misye berusaha untuk mengingatkan.<br />
&#8220;Justru itu saya suka&#8221; Iwan menyahut.<br />
Tangan kirinya merangkul Bu Misye dari belakang, tangan kananya berusaha menyingkap rok yang dipakai Bu Misye setelah tersingkap ke atas Iwan mengeluarkan penisnya yang sudah keras berdiri. Tak ketinggalan CD yang dipakai oleh Bu Misye dipelorotkan ke bawah.</p>
<p style="text-align: justify;">Tangan Iwan meraba-raba memek Bu Misye yang ditumbuhi oleh jembut yang rimbun. Jarinya berusaha masuk ke lubang kenikmatan Bu Misye.<br />
&#8220;Dik Iwan.. To.. long.. hentika.. ka.. ka.. ka.. mu nggak se.. harusnya mela.. kuka.. ini.. Dik Iwan Iwan..&#8221; Bu Misye berusaha mengingatkan lagi dengan terbata-bata.<br />
&#8220;Ah.. Jangan.. Dik Iwan.. Ibu.. sudah tua.. ingat..&#8221; tambahnya lagi.<br />
Iwan tidak menggubris kata-kata Bu Misye jarinya sudah masuk ke vagina Bu Misye dan bermain-main di dalamnya. Kemudian Iwan berusaha membalikkan tubuh Bu Misye, setelah itu dengan kasar Iwan mendorong tubuh molek itu sehingga jatuh terjerebab ke tanah. Dengan posisi duduk mengkangkang Bu Misye berusaha bangkit lagi dari duduknya. Pahanya yang mulus tersingkap sampai ke pangkalnya. Pakaian bagian atas acak-acakkan tampak sebagian kutang warna hitam yang seolah tak mampu menahan volume buah dada indah Bu Misye.</p>
<p style="text-align: justify;">Belum sempat berdiri Iwan berkata sambil melepaskan celana dan bajunya, &#8220;Bu Misye, anda berteriakpun tak akan ada orang yang mendengar.. tempat ini agak jauh dari rumah penduduk sebaiknya Bu Misye tidak usah macam-macam&#8221;<br />
&#8220;Aku tak kan sudi melayani kamu.. anak muda&#8221; Bu Misye setengah berteriak.<br />
&#8220;Sudah jangan banyak bicara lepaskan pakaianmu.. cepat.. daripada aku menyakiti Ibu&#8221; sahut Iwan sambil melepaskan celana dalamnya, tampak batang kontolnya yang sudah mengacung keras.</p>
<p style="text-align: justify;">Airmata Bu Misye mulai berlinang. Dia merasa sangat ketakutan dan galau hatinya. Dia merasa tak berharga dihadapan anak muda yang pantas menjadi anaknya. Dia juga merasa menyesal berteduh di tempat itu, dia merasa juga menyesali pakaian kerja yang sering ia kenakan. Rok yang terlalu tinggi dan baju yang transparan yang memperlihatkan BHnya yang seakan tidak muat menahan buah dadanya, sehingga membuat para lelaki yang menatapnya seolah menelanjanginya. Namun dalam hatinya berkata juga bahwa baru sekarang dia melihat kemaluan lelaki yang besar, ****** suaminya tidak sebesar itu. Darahnya berdesir kencang.<br />
Belum hilang keterpanaannya sudah dikejutkan oleh suara Iwan lagi, &#8220;Cepatt! Sudah nggak tahan nih..&#8221;<br />
Karena dilanda ketakutan, dengan perlahan tangan Bu Misye melepas satu persatu kancing bajunya. Tampaklah payudaranya yang dibungkus oleh BH hitam.<br />
&#8220;Cepat lepas kutangmu!&#8221; bentak Iwan.</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam hati Bu Misye berkata anak muda memang nggak sabaran. Setelah melepas BHnya, tumpahlah payudara Bu Misye yang masih tampak sekal dan menggairahkan, puting susunya yang coklat kehitam-hitaman tampak menantang sekali.<br />
Iwan jongkok di dekat Bu Misye tangannya mulai menggerayangi payudara Bu Misye.<br />
&#8220;Uh.. ah.. ah..&#8221; rintih Bu Misye ketika tangan Iwan memilin milin putingnya.<br />
Tidak puas memilin-milin mulut Iwan mulai mendarat di pucuk anggur itu. Lidahnya menari-nari dan ketika dihisap keras-keras Bu Misye hanya bisa menggigit bibir bagian bawah dan memejamkan matanya. Setelah puas dengan buah dada Bu Misye Iwan bangkit kemudian mendekatkan kontolnya yang besar tersebut ke mulut wanita paruh baya yang lemah itu.<br />
&#8220;Hisap.. Bu Misye&#8221; perintahnya.<br />
&#8220;Cepatt!&#8221; bentak Iwan ketika Bu Misye belum juga melakukan apa yang ia kehendaki.</p>
<p style="text-align: justify;">Akhirnya Bu Misye mengulum batang zakar. Pertama dia melakukan hampir saja dia muntah karena selama hidupnya dia baru melakukan beberapa kali dengan suaminya. Bu Misye seakan tidak percaya apa yang dia lakukan sekarang, dia di tempatnya bekerja adalah orang yang dihormati sedang di kampungnya dia juga orang yang disegani Ibu-Ibu. Namun pada saat ini dia sedang melakukan hal yang jorok hingga tentu kehormatannya sebagai wanita hilang sama sekali.</p>
<p style="text-align: justify;">Iwan dengan kasar memaju mundurkan kontolnya sehingga terdengar suara nyaring menggairahkan. Setelah puas Iwan bangkit lagi kemudian di mengambil posisi ditengah-tengah di antara kaki mulus Bu Misye.<br />
Sambil mengelus-elus kontolnya yang sudah sangat keras, Iwan berkata, &#8220;Bu Misye lebarkan lagi agar lebih mudah&#8221;<br />
Hal yang sangat mendebarkan bagi Bu Misye akan terjadi dengan perlahan Bu Misye membuka lebar kakinya sehingga tampaklah memeknya yang tampak merekah dengan bibirnya yang agak menggelambir. Perlahan dan pasti Iwan menuntun kontolnya memasuki lobang kenikmatan Bu Misye. Iwan merasakan kehangatan memek Bu Misye dan kekencangannya seakan meremas rudal Iwan. Sebaliknya Bu Misye yang sedari tadi dengan berdebar menantikan hal tersebut seakan terhenti detak jantungnya ketika ia mulai ditusuk oleh anak muda ini. Seakan merobek barang paling berharga yang dimilikinya.</p>
<p style="text-align: justify;">Ketika Iwan mulai mempercepat genjotannya tampaknya Bu Misye juga sudah mulai melambung ke awan. Sementara diluar hujan seakan belum mau berhenti. Iwan semakin mempercepat genjotannya. Buah dada Bu Misye tergoncang-goncang kesana-kemari. Bu Misye yang semula pasif sedikit memberi perlawanan dengan menggoyangkan pantatnya. Tangannya mengepal memukul lantai, kepalanya bergoyang menahan hawa birahi yang semakin meninggi.</p>
<p style="text-align: justify;">Akhirnya Bu Misye tidak kuat menahan cairan yang semula ia bendung-bendung, lobang memek Bu Misye mengerut kencang ketika dia mencapai puncak. Bu Misye malu kenapa dia bisa orgame padahal ia tidak menginginkan itu. Yang lebih membuat dia bertambah malu adalah Iwan seakan mengetahui hal tersebut. Iwan tersenyum sambil terus mempercepat genjotannya. Dalam hatinya dia berkata ternyata kau juga merasakan kenikmatan juga. Dan tampaknya Iwan juga akan sampai ke puncak. Dan terdengar lenguhan panjang Iwan ketika batang kontolnya ia tancapkan dalam-dalam sambil merangkul erat Bu Misye keluarlah cairan sperma membanjiri lobang memek Bu Misye.</p>
<p style="text-align: justify;">Iwan terkulai lemas diatas tubuh telanjang Bu Misye jiwa mereka seolah melayang sejenak.<br />
Setelah itu Iwan bangkit dan mengambil pakaiannya sambil berkata, &#8220;Bu Misye berpakaianlah, tampaknya hujan sudah mulai reda, memek Ibu ueenak sekali, terima kasih ya Bu Misye&#8221;.<br />
Bu Misye menatap Iwan dalam hatinya bercampur antara marah, gundah, galau. Namun satu hal yang dia tidak pungkiri bahwa dia juga menikmati perkosaan yang dilakukan Iwan.</p>
<p style="text-align: justify;">Akhirnya Bu Misye memunguti pakaian kemudian mengenakannya kembali. Mereka berjalan ke arah motor mereka tanpa bersuara.<br />
Tampaknya hujan sudah reda. Bu Misye menghidupkan mesin motornya, namun ia dihentikan lagi oleh Iwan.<br />
Iwan berkata, &#8220;Bu Misye saya minta maaf akan kelancangan saya, saya tidak bisa menahan gejolak nafsu saya..&#8221;<br />
Bu Misye tak menjawab. Ia hanya menatap wajah Iwan dengan mata yang berkaca-kaca. Iwan diam kemudian Iwan mendekatkan wajahnya dan ciuman hangat ia daratkan ke bibir Bu Misye. Pertama Bu Misye diam namun akhirnya Bu Misye membalas ciuman tersebut. Lidah mereka saling bertautan. Sejenak kemudian Bu Misye tersadar dan melepaskan ciuman tersebut kemudian melajukan kendaraannya.</p>
<p style="text-align: justify;">Iwan hanya terdiam terpaku kemudian menaiki kendaraannya ke arah yang berlawanan. Bu Misye menerobos hujan rintik-rintik dengan perasaan yang sebenarnya terpuaskan.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ceritasex.cn/pemerkosaan-bu-misye/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ngentotin Mimi Yang Doyan Kontol</title>
		<link>http://www.ceritasex.cn/ngentotin-mimi-yang-doyan-kontol/</link>
		<comments>http://www.ceritasex.cn/ngentotin-mimi-yang-doyan-kontol/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 01 Oct 2009 08:27:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cerita Sex</dc:creator>
				<category><![CDATA[Daun Muda]]></category>
		<category><![CDATA[amoy]]></category>
		<category><![CDATA[cewek panggilan]]></category>
		<category><![CDATA[cina]]></category>
		<category><![CDATA[doyan kontol]]></category>
		<category><![CDATA[gadis bugil]]></category>
		<category><![CDATA[isep kontol]]></category>
		<category><![CDATA[lonte cina]]></category>
		<category><![CDATA[mimi]]></category>
		<category><![CDATA[ngentot]]></category>
		<category><![CDATA[ngentotin mimi]]></category>
		<category><![CDATA[pelacur]]></category>
		<category><![CDATA[perek cina]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ceritasex.cn/?p=899</guid>
		<description><![CDATA[Mimi memang doyang kontol apalagi yang panjang gede dan berurat mimi doyan banget sampai mimi isap kontol itu muncrat spermanya didalam memek mimi achhhhhh&#8230;&#8230;&#8230;]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Mimi memang doyang kontol apalagi yang panjang gede dan berurat mimi doyan banget sampai mimi isap kontol itu muncrat spermanya didalam memek mimi achhhhhh&#8230;&#8230;&#8230;</p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2009/10/ngentotin-mimi-1.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-900" title="ngentotin mimi 1" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2009/10/ngentotin-mimi-1-300x163.jpg" alt="ngentotin mimi 1" width="300" height="163" /></a></p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2009/10/ngentotin-mimi-2.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-901" title="ngentotin mimi 2" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2009/10/ngentotin-mimi-2-300x158.jpg" alt="ngentotin mimi 2" width="300" height="158" /></a></p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2009/10/ngentotin-mimi-3.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-902" title="ngentotin mimi 3" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2009/10/ngentotin-mimi-3-300x189.jpg" alt="ngentotin mimi 3" width="300" height="189" /></a></p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2009/10/ngentotin-mimi-4.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-903" title="ngentotin mimi 4" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2009/10/ngentotin-mimi-4-300x179.jpg" alt="ngentotin mimi 4" width="300" height="179" /></a></p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2009/10/ngentotin-mimi-5.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-904" title="ngentotin mimi 5" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2009/10/ngentotin-mimi-5-300x259.jpg" alt="ngentotin mimi 5" width="300" height="259" /></a></p>
<p><span id="more-899"></span></p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2009/10/ngentotin-mimi-6.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-905" title="ngentotin mimi 6" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2009/10/ngentotin-mimi-6-300x203.jpg" alt="ngentotin mimi 6" width="300" height="203" /></a></p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2009/10/ngentotin-mimi-7.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-906" title="ngentotin mimi 7" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2009/10/ngentotin-mimi-7-300x283.jpg" alt="ngentotin mimi 7" width="300" height="283" /></a></p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2009/10/ngentotin-mimi-8.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-907" title="ngentotin mimi 8" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2009/10/ngentotin-mimi-8-300x267.jpg" alt="ngentotin mimi 8" width="300" height="267" /></a></p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2009/10/ngentotin-mimi-9.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-908" title="ngentotin mimi 9" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2009/10/ngentotin-mimi-9-300x170.jpg" alt="ngentotin mimi 9" width="300" height="170" /></a></p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2009/10/ngentotin-mimi-10.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-909" title="ngentotin mimi 10" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2009/10/ngentotin-mimi-10-300x238.jpg" alt="ngentotin mimi 10" width="300" height="238" /></a></p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2009/10/ngentotin-mimi-11.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-910" title="ngentotin mimi 11" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2009/10/ngentotin-mimi-11-300x164.jpg" alt="ngentotin mimi 11" width="300" height="164" /></a></p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2009/10/ngentotin-mimi-12.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-911" title="ngentotin mimi 12" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2009/10/ngentotin-mimi-12-300x225.jpg" alt="ngentotin mimi 12" width="300" height="225" /></a></p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2009/10/ngentotin-mimi-13.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-912" title="ngentotin mimi 13" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2009/10/ngentotin-mimi-13-300x154.jpg" alt="ngentotin mimi 13" width="300" height="154" /></a></p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2009/10/ngentotin-mimi-14.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-913" title="ngentotin mimi 14" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2009/10/ngentotin-mimi-14-300x213.jpg" alt="ngentotin mimi 14" width="300" height="213" /></a></p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2009/10/ngentotin-mimi-15.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-914" title="ngentotin mimi 15" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2009/10/ngentotin-mimi-15-300x222.jpg" alt="ngentotin mimi 15" width="300" height="222" /></a></p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2009/10/ngentotin-mimi-16.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-915" title="ngentotin mimi 16" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2009/10/ngentotin-mimi-16-300x219.jpg" alt="ngentotin mimi 16" width="300" height="219" /></a></p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2009/10/ngentotin-mimi-17.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-916" title="ngentotin mimi 17" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2009/10/ngentotin-mimi-17-186x300.jpg" alt="ngentotin mimi 17" width="186" height="300" /></a></p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2009/10/ngentotin-mimi-18.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-917" title="ngentotin mimi 18" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2009/10/ngentotin-mimi-18-300x225.jpg" alt="ngentotin mimi 18" width="300" height="225" /></a></p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2009/10/ngentotin-mimi-19.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-918" title="ngentotin mimi 19" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2009/10/ngentotin-mimi-19-300x225.jpg" alt="ngentotin mimi 19" width="300" height="225" /></a></p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2009/10/ngentotin-mimi-20.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-919" title="ngentotin mimi 20" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2009/10/ngentotin-mimi-20-300x225.jpg" alt="ngentotin mimi 20" width="300" height="225" /></a></p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2009/10/ngentotin-mimi-21.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-920" title="ngentotin mimi 21" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2009/10/ngentotin-mimi-21-300x225.jpg" alt="ngentotin mimi 21" width="300" height="225" /></a></p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2009/10/ngentotin-mimi-22.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-921" title="ngentotin mimi 22" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2009/10/ngentotin-mimi-22-300x225.jpg" alt="ngentotin mimi 22" width="300" height="225" /></a></p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2009/10/ngentotin-mimi-23.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-922" title="ngentotin mimi 23" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2009/10/ngentotin-mimi-23-300x225.jpg" alt="ngentotin mimi 23" width="300" height="225" /></a></p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2009/10/ngentotin-mimi-24.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-923" title="ngentotin mimi 24" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2009/10/ngentotin-mimi-24-300x225.jpg" alt="ngentotin mimi 24" width="300" height="225" /></a></p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2009/10/ngentotin-mimi-25.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-924" title="ngentotin mimi 25" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2009/10/ngentotin-mimi-25-247x300.jpg" alt="ngentotin mimi 25" width="247" height="300" /></a></p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2009/10/ngentotin-mimi-26.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-925" title="ngentotin mimi 26" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2009/10/ngentotin-mimi-26-300x262.jpg" alt="ngentotin mimi 26" width="300" height="262" /></a></p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2009/10/ngentotin-mimi-27.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-926" title="ngentotin mimi 27" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2009/10/ngentotin-mimi-27-300x225.jpg" alt="ngentotin mimi 27" width="300" height="225" /></a></p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2009/10/ngentotin-mimi-28.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-927" title="ngentotin mimi 28" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2009/10/ngentotin-mimi-28-300x225.jpg" alt="ngentotin mimi 28" width="300" height="225" /></a></p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2009/10/ngentotin-mimi-29.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-928" title="ngentotin mimi 29" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2009/10/ngentotin-mimi-29-300x225.jpg" alt="ngentotin mimi 29" width="300" height="225" /></a></p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2009/10/ngentotin-mimi-30.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-929" title="ngentotin mimi 30" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2009/10/ngentotin-mimi-30-300x225.jpg" alt="ngentotin mimi 30" width="300" height="225" /></a></p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2009/10/ngentotin-mimi-31.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-930" title="ngentotin mimi 31" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2009/10/ngentotin-mimi-31-300x225.jpg" alt="ngentotin mimi 31" width="300" height="225" /></a></p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2009/10/ngentotin-mimi-32.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-931" title="ngentotin mimi 32" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2009/10/ngentotin-mimi-32-300x211.jpg" alt="ngentotin mimi 32" width="300" height="211" /></a></p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2009/10/ngentotin-mimi-33.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-932" title="ngentotin mimi 33" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2009/10/ngentotin-mimi-33-300x225.jpg" alt="ngentotin mimi 33" width="300" height="225" /></a></p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2009/10/ngentotin-mimi-34.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-933" title="ngentotin mimi 34" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2009/10/ngentotin-mimi-34-300x213.jpg" alt="ngentotin mimi 34" width="300" height="213" /></a></p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2009/10/ngentotin-mimi-35.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-934" title="ngentotin mimi 35" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2009/10/ngentotin-mimi-35-300x228.jpg" alt="ngentotin mimi 35" width="300" height="228" /></a></p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2009/10/ngentotin-mimi-36.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-935" title="ngentotin mimi 36" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2009/10/ngentotin-mimi-36-300x251.jpg" alt="ngentotin mimi 36" width="300" height="251" /></a></p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2009/10/ngentotin-mimi-37.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-936" title="ngentotin mimi 37" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2009/10/ngentotin-mimi-37-300x225.jpg" alt="ngentotin mimi 37" width="300" height="225" /></a></p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2009/10/ngentotin-mimi-38.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-937" title="ngentotin mimi 38" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2009/10/ngentotin-mimi-38-300x197.jpg" alt="ngentotin mimi 38" width="300" height="197" /></a></p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2009/10/ngentotin-mimi-39.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-938" title="ngentotin mimi 39" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2009/10/ngentotin-mimi-39-300x225.jpg" alt="ngentotin mimi 39" width="300" height="225" /></a></p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2009/10/ngentotin-mimi-40.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-939" title="ngentotin mimi 40" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2009/10/ngentotin-mimi-40-300x210.jpg" alt="ngentotin mimi 40" width="300" height="210" /></a></p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2009/10/ngentotin-mimi-41.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-940" title="ngentotin mimi 41" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2009/10/ngentotin-mimi-41-300x225.jpg" alt="ngentotin mimi 41" width="300" height="225" /></a></p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2009/10/ngentotin-mimi-42.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-941" title="ngentotin mimi 42" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2009/10/ngentotin-mimi-42-300x225.jpg" alt="ngentotin mimi 42" width="300" height="225" /></a></p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2009/10/ngentotin-mimi-43.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-942" title="ngentotin mimi 43" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2009/10/ngentotin-mimi-43-300x225.jpg" alt="ngentotin mimi 43" width="300" height="225" /></a></p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2009/10/ngentotin-mimi-44.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-943" title="ngentotin mimi 44" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2009/10/ngentotin-mimi-44-300x225.jpg" alt="ngentotin mimi 44" width="300" height="225" /></a></p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2009/10/ngentotin-mimi-45.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-944" title="ngentotin mimi 45" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2009/10/ngentotin-mimi-45-300x225.jpg" alt="ngentotin mimi 45" width="300" height="225" /></a></p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2009/10/ngentotin-mimi-46.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-945" title="ngentotin mimi 46" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2009/10/ngentotin-mimi-46-300x225.jpg" alt="ngentotin mimi 46" width="300" height="225" /></a></p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2009/10/ngentotin-mimi-47.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-946" title="ngentotin mimi 47" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2009/10/ngentotin-mimi-47-300x225.jpg" alt="ngentotin mimi 47" width="300" height="225" /></a></p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2009/10/ngentotin-mimi-48.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-947" title="ngentotin mimi 48" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2009/10/ngentotin-mimi-48-300x225.jpg" alt="ngentotin mimi 48" width="300" height="225" /></a></p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2009/10/ngentotin-mimi-49.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-948" title="ngentotin mimi 49" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2009/10/ngentotin-mimi-49-300x225.jpg" alt="ngentotin mimi 49" width="300" height="225" /></a></p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2009/10/ngentotin-mimi-50.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-949" title="ngentotin mimi 50" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2009/10/ngentotin-mimi-50-300x225.jpg" alt="ngentotin mimi 50" width="300" height="225" /></a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ceritasex.cn/ngentotin-mimi-yang-doyan-kontol/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tetanggaku Nakal Bagian 2</title>
		<link>http://www.ceritasex.cn/tetanggaku-nakal-bagian-2/</link>
		<comments>http://www.ceritasex.cn/tetanggaku-nakal-bagian-2/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 30 Sep 2009 06:56:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cerita Sex</dc:creator>
				<category><![CDATA[Paruh baya]]></category>
		<category><![CDATA[Sedarah]]></category>
		<category><![CDATA[Tante Girang]]></category>
		<category><![CDATA[bugil]]></category>
		<category><![CDATA[desahan]]></category>
		<category><![CDATA[incest]]></category>
		<category><![CDATA[isep kontol]]></category>
		<category><![CDATA[jilat memek]]></category>
		<category><![CDATA[memek]]></category>
		<category><![CDATA[ngentot]]></category>
		<category><![CDATA[tante]]></category>
		<category><![CDATA[telanjang]]></category>
		<category><![CDATA[teriak]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ceritasex.cn/?p=880</guid>
		<description><![CDATA[Kupercepat laju mobilku sebelum gelap dan di kota terdekat aku pun mencari sebuah hotel. Begitu dapat aku langsung turun memesan sebuah kamar sementara Tante menunggu di mobil. Dan setelah kembali ke mobil untuk mengajak Tante turun sempat kubuktikan dulu padanya tentang lampu mobil sebelahku yang memang padam itu. Berdua masuk ke kamar, setelah mandi dan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Kupercepat laju mobilku sebelum gelap dan di kota terdekat aku pun mencari sebuah hotel. Begitu dapat aku langsung turun memesan sebuah kamar sementara Tante menunggu di mobil. Dan setelah kembali ke mobil untuk mengajak Tante turun sempat kubuktikan dulu padanya tentang lampu mobil sebelahku yang memang padam itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Berdua masuk ke kamar, setelah mandi dan makan malam kamipun bersantai dengan ngobrol sampai kemudian Tante mengajakku untuk pergi tidur. Kamar yang kupesan memang hanya satu tapi dilengkapi dua tempat tidur sebagaimana biasanya bentuk kamar hotel. Melihat dari keadaan ini Tante Juliet tidak mengira bahwa aku betul-betul serius dengan keinginanku untuk mengulang lagi kenangan lama. Dia baru saja mengganti baju tidur dan baru akan mulai mengancingnya ketika aku keluar dari kencing di kamar mandi langsung mendekat memeluknya dari belakang. Aku sendiri hanya mengenakan handuk berlilit pinggang setelah membuka bajuku di kamar mandi.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Gimana Tan, masih boleh dikasih Sony nggak..&#8221; bisikku meminta di telinganya tapi sambil mengecup leher bawah telinganya diikuti kedua tanganku mulai meremasi masing-masing susunya. Tersenyum geli dia karena sudah sampai di situ pun dia masih mengira aku cuma bercanda menggoda.<br />
&#8220;Apanya yang enak sih sama orang yang udah gembrot dan tua gini, Son..&#8221; tanyanya penasaran.<br />
&#8220;Buat Sony sih nggak ada bedanya, malah Sony kangen deh Tan..&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Sambil bicara begitu kubuka lagi satu kancing daster tidurnya yang baru terpasang, sehingga bagian depan tubuhnya terbuka berikut kedua susunya yang bebas karena Tante sengaja tidur tanpa memakai kutang, untuk kemudian tanganku berlanjut meremasi susu telanjangnya itu. Tante membiarkan saja tapi dia bertanya mengujiku dengan nada setengah ragu kepadaku.<br />
<span id="more-880"></span><br />
&#8220;Masak sih kangen sama Tante? Kan kamu biasanya sama cewek-cewek cakep, yang masih muda lagi langsing-langsing badannya..?&#8221; katanya lagi.<br />
&#8220;Justru melulu sama yang begituan, Sony malah bosan.. Sony suka sama Tante yang montok.. &#8221;<br />
&#8220;Kamu bisa aja..&#8221;<br />
&#8220;Lho bener Tan. Montoknya Tante ini yang bikin enak, mantep rasanya. Apalagi yang ini.. Hmm.. Sekarang tambah montok berarti tambah enak lagi rasanya..&#8221; kali ini sebelah tanganku sudah kujulurkan ke bawah meremas-remas gemas gundukan vaginanya.
</p>
<p style="text-align: justify;">Tante Juliet merengek senang, sekarang baru dia percaya dengan keseriusanku. Apalagi ketika dia juga membalas menjulurkan tangannya ke belakang, di situ dia mendapatkan bahwa di balik handuk itu aku sudah tidak mengenakan celana dalam lagi. Tanpa diminta lagi dia sendiri membuka lagi daster tidur sekaligus juga celana dalamnya sendiri untuk bersama-sama telanjang bulat naik ke tempat tidur.</p>
<p style="text-align: justify;">Wanita berwajah cantik diusianya mencapai 32 tahun ini memang sudah mekar tubuhnya, tapi tubuhnya masih cukup kencang lagi mulus sehingga montoknya berkesan sexy yang punya daya tarik tersendiri. Dan aku juga jujur mengatakan bahwa aku merindukan kemontokannya, karena baru saja melihat dia terbuka sudah langsung terangsang gairah kelelakianku. Sebab dia belum lagi merebah penuh, masih duduk di tengah pembaringan untuk mengurai gelung rambutnya, sudah kuburu tidak sabaran lagi. Kusosor sebelah susunya, sebelah lagi kuremas-remas gemas, dengan rakus mulutku mengenyot-ngenyot bagian puncaknya, mengisap, mengulum dan menggigit-gigit putingnya.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Ehngg.. Gelli Soon.. Iya, iya, nanti Tante kasih.. Deh.. &#8221; merengek kegelian dia karena serangan mendadakku.<br />
&#8220;Abis gemes sih Tan.. &#8221; sahutku cepat dan kembali lagi menyerbu bagian dadanya.
</p>
<p style="text-align: justify;">Melihat begini Tante Juliet mengurungkan merebahkan badannya, untuk sementara bertahan dalam posisi duduk itu seperti tidak tega menunda ketidaksabaranku. Air mukanya berseri-seri senang, sebelah tangannya membelai-belai sayang kepalaku dan sebelah lagi lurus ke belakang menopang duduknya, ditungguinya aku melampiaskan rinduku masih pada kedua susunya yang montok dan besar itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Seperti anak kecil yang asyik sendiri bermain dengan balonnya, begitu juga aku sibuk mengerjai bergantian kedua daging bulat gemuk itu untuk memuaskan lewat rasa mulut dan remasan gemasku. Sampai berkecapan suara mulut rakusku dan sampai meleyot-leyot terpencet, terangkat-angkat dan jatuh terayun-ayun, membuat Tante Juliet kadang meringis merintih atau merengek mengerang saking kelewat gemas bernafsu aku dengan keasykanku, tapi begitupun dia tidak mencegah kesibukanku itu. Baru setelah dirasanya aku mereda, diapun bersiap-siap untuk memberikan tuntutan kerinduanku yang berikutnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Ini karena dilihatnya aku sudah cukup puas bermain di atas dan sudah ingin berlanjut ke bawah, yaitu sementara mulutku masih tetap sibuk tapi tangan yang sebelah mulai kujulurkan meraba selangkangannya, segera Tante Juliet pun merubah posisi untuk memberi keleluasaan bagiku. Tubuhnya direbahkan ke belakang sambil meluruskan kedua kakinya yang duduk terlipat menjepit selangkangannya, langsung dibukanya sekali agar aku bisa mencapai vaginanya. Mulutku masih terus mengejar menempel di sebelah susunya tapi tanganku sekarang sudah bisa memegang penuh bukit vaginanya. Bukit daging tebal setangkup tanganku yang ditumbuhi bulu-bulu keriting halus ini langsung kuremas-remas gemas, darah kelelakianku pun tambah mengalir deras.</p>
<p style="text-align: justify;">Keasyikan yang baru menarik perhatian baru juga, berpindah dulu aku ke tengah selangkangannya yang kudesak agar lebih mengangkang sebelum kutarik kepalaku dari susunya. Tante mengira aku sudah akan mulai memasukinya, dia sempat menyambar batangku yang sudah tegang dan melocok-locok dengan tangannya sebentar. Seperti ingin lebih mengencangkan lagi tapi ada terasa bahwa dia juga merindukan batangku, bisa terbaca dari remasan gemasnya yang menarik-narik penisku.</p>
<p style="text-align: justify;">Begitu posisiku terasa pas, aku pun memindahkan mulutku turun menggeser ke bawah dengan cara menciumi lewat perutnya sampai kemudian tiba di atas vaginanya yang terkangkang. Di sini konsentrasiku terpusat dengan mengusap-usap dan memperhatikan dulu bentuk vaginanya. Ini untuk pertama kali aku mendapat kesempatan melihat jelas kemaluannya yang sudah pernah tiga kali kumasuki, tapi karena waktunya sempit tidak sempat kulihat dengan nyata.</p>
<p style="text-align: justify;">Betul-betul suatu pemandangan yang merangsang sekali. Bukit segitiga yang menjendul dengan dagingnya yang tebal itu ditumbuhi bulu-bulu yang begitu lebat, tidak cukup menutupi bagian celah lubang yang diapit pipi kanan kirinya. Tepi bukit itu persis seperti pipi bayi yang montok menggembung, saking tebalnya sehingga menjepit bibir vagina hanya terkuak sedikit meskipun pahanya sudah kukangkangkan lebar-lebar. Penasaran kukuakkan bibir vaginanya dengan jari-jariku untuk melihat lebih ke dalam, tapi belum lagi jelas, Tante Juliet sudah menegurku dengan muka malu-malu merengek geli.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Ahahngg.. Sony mau ngeliat apa di dalem situ sih Son..?&#8221; katanya sambil meringis.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku tidak menyahut tapi sebelum dia berubah pikiran untuk mencegahku, langsung saja kusosorkan mulutku ke tengah lubang yang baru kukuakkan itu.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Ssshh Sonyy.. Ahh.. Ammpuunn.. Sonn!&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Betul juga. Tante Juliet menjerit malu, tangannya refleks ingin menolak kepalaku tapi sudah terlambat. Sebab begitu menempel sudah cepat kusambung dengan menjilat dan menyedot-nyedot tengah lubangnya. Adu ngotot berlangsung hanya sesaat karena Tante kemudian menyerah, menganga dengan wajah tegang dia ketika geli-geli enak permainan mulutku mulai menyengat dia.</p>
<p style="text-align: justify;">Untuk berikutnya aku sendiri mulai meresap enaknya mengisap vagina montok yang baru pertama kudapat darinya. Lagi-lagi ada keasyikkan tersendiri, karena tidak seperti dengan milik cewek lain yang pernah tidur denganku, umumnya celah lubang mereka terasa kecil karena tepi kanan kirinya tidak setebal ini. Milik Tante Juliet justru penampilannya kelihatan sempit tapi kalau dikuakan malah jadi merekah lebar dan dalam. Disosor mulutku yang mengisap rakus, seperti hampir tenggelam wajahku di situ dengan pipiku bertemu pipi vaginanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Di bagian inipun untuk beberapa lama kupuaskan diriku dengan menyedot menjilat-jilat tengah lubangnya, sesekali menyodok-nyodokkan ujung lidah kaku lebih ke dalam, membuatnya mengejang sampai membusung dadanya. Atau juga menggigit-gigit klitoris, menarik-nariknya serta menjilati cepat membuatnya menggelinjang kegelian. Serupa dengan puting susunya, bagian inipun sudah mengeras tanda dia sudah terangsang naik berahinya, tapi Tante Juliet juga tetap membiarkan aku bermain sepuas-puasnya untuk melampiaskan rinduku. Ketika kurasa sudah cukup lama aku mengecap asyik lewat mulutku dan sudah cukup matang dia kubawa terangsang, barulah aku mulai memasukkan penisku ke dalam vaginanya. Di sini baru giliran Tante untuk ikut melampiaskan rindunya kepadaku terasa dari sambutannya yang hangat.</p>
<p style="text-align: justify;">Seperti pengalaman yang kuingat, Tante Juliet bukan type histeris dengan gaya merintih-rintih dan menggeliat-geliat erotis, tapi dalam keadaan saat ini tidak urung meluap juga gejolak rindunya lewat caranya tersendiri kepadaku. Yaitu seiring putaran vagina laparnya menyambut masuknya penisku, tubuhku pun ditarik menindihnya langsung didekapnya erat mengajakku berciuman. Yang ini juga sama hangatnya karena begitu menempel langsung dilumat sepenuh nafsunya. Berikutnya kami yang sama saling merindukan seolah tidak ingin melepaskan dekapan menyatu ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Seluruh permukaan tubuh depan melekat erat dengan bagian atas kedua bibir saling melumat ketat sedang bagian bawah kedua kemaluan pun bergelut hangat. Aku yang memainkan penisku memompa keluar masuk diimbangi vaginanya yang diputar mengocok-ngocok. Ini baru namanya bersetubuh atau menyatukan tubuh kami, karena hampir sepanjang permainan kami melekat seperti itu. Hanya sekali kami menunda sebentar untuk menarik nafas dan kesempatan ini kupakai dengan mengangkat tubuhku dan melihat bagaimana bentuk wanita montok dalam keadaan sedang kusetubuhi ini. Ternyata suatu pemandangan yang mengasyikkan sekaligus makin melonjakkan gairah kejantananku. Di bawah kulihat vaginanya diputar bernafsu, seolah kesenangan mendapat tandingan yang cocok dengannya.</p>
<p style="text-align: justify;">Memperhatikan vagina di bawah itu bagaikan mulut bayi berpipi montok yang kehausan menyedot-nyedot botol susunya sudah menambah rangsangan tersendiri, apalagi melihat keseluruhan goyangan tubuh Tante Juliet. Seluruh daging tubuhnya ikut bergerak teristimewa kedua susunya yang berputaran berayun-ayun tambah menaikkan lagi rangsang kejantananku, sampai aku tidak tahan dan kembali turun menghimpit dia karena sudah terasa akan tiba di saat ejakulasiku. Pada saat yang sama Tante Juliet juga sudah merasa akan tiba di orgasmenya, dia yang mengajak lebih dulu dengan menyambung lumatan bibir tadi untuk menyalurkannya dalam permainan ketat seperti ini.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Hghh ayyo Soon.. Nnghoog.. Hrrhg..&#8221; dengan satu erang tenggorokkan dia membuka orgasmenya disusul olehku hanya selang beberapa detik kemudian.</p>
<p style="text-align: justify;">Kami sama mengejang dan sempat menunda sebentar ketika masuk di puncak permainan, tapi segera berlanjut lagi melumat dengan lebih ketat seolah saling menggigit bibir selama masa orgasme itu. Baru setelah mereda dan berhenti, yang tinggal hanya nafas turun naik kelelahan dan tubuh terasa lemas. Cukup luar biasa, karena meskipun tidak berganti posisi atau gaya tapi permainan terasa nikmat dengan akhir yang memuaskan. Malah seluruh tubuh sudah terasa banjir keringat saking serunya berkonsentrasi dalam melampiaskan kerinduan lama kami. Untuk itu aku begitu melepaskan diri hanya duduk di sebelahnya agar keringat di punggungku tidak membasahi sprei tempat tidur.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Gimana Son rasanya barusan..?&#8221; Tante Juliet mengujiku sambil tangannya mengusap menyeka-nyeka keringat di punggungku. Aku berputar menghadap dia.<br />
&#8220;Makanya Sony tadi ngotot minta, soalnya udah yakin duluan memek montok Tante ini bakal ngasih enak.. &#8221; jawabku dengan meremas mencubit-cubit vaginanya.<br />
&#8220;Udah enak, puas lagi.. Tapi Tante sendiri, gimana rasanya sama Sony?&#8221; balik aku bertanya padanya. Mendapat pujianku air mukanya bersinar senang, ganti dia memujiku.<br />
&#8220;Sama kamu sih nggak usah ditanya lagi, Son. Dulu aja kalau nggak sayangin kamu masih muda sekali, udah mau terus-terusan Tante ngajakin kamu.&#8221;<br />
&#8220;Oya? Kok tadi diajak masih kayak ogah-ogahan?&#8221;<br />
&#8220;Bukan ogah-ogahan, tapi takut ketagihan sama Sony..&#8221; jawabnya bercanda sambil tertawa.<br />
&#8220;Kalau tante mau, Sony mau kok married ama tante..&#8221; kataku.<br />
&#8220;Akh.. Apa Son.. Kamu becanda ya.. Tante kan udah punya suami..&#8221; katanya.<br />
&#8220;Tante nggak usah bohong deh.. Mas Fadli kan nggak bisa normal lagi tante.. Sony tahu kalau Mas Fadli sekarang punya penyakit impoten.. Ya kan tante..&#8221; kataku.<br />
&#8220;Kamu tahu darimana Son.. Tapi tante akui kalau Mas Fadli nggak bisa bikin tante puas..&#8221; katanya sambil menangis.<br />
&#8220;Nah.. Gimana tante suka kan ama Sony.. Selama ini hubungan Sony dengan cewek-cewek lain itu hanya sekedar fun aja kok tan.. Sony sebenarnya cinta ama tante dari pertama pertemuan kita dulu..&#8221; kataku sambil mengecup bibirnya.<br />
&#8220;Son.. Benarkah ucapanmu itu.. Sony benar mencintai tante yang udah tua ini..?&#8221; tanyanya.<br />
&#8220;Ya tante, Sony cinta ama tante dan Sony mau married ama tante..&#8221; kataku sambil meluk tubuh dia.<br />
&#8220;Oh.. Son.. Tante juga suka ama kamu..&#8221; katanya sambil memeluk tubuhku.<br />
&#8220;I Love You Juliet..&#8221; kataku.<br />
&#8220;I Love You too Sony..&#8221; katanya.
</p>
<p style="text-align: justify;">Lalu, kami berpelukan erat dan bahagia menyertai kami berdua.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ceritasex.cn/tetanggaku-nakal-bagian-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Servis Plus Tante Kost</title>
		<link>http://www.ceritasex.cn/servis-plus-tante-kost/</link>
		<comments>http://www.ceritasex.cn/servis-plus-tante-kost/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 25 Aug 2009 09:27:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cerita Sex</dc:creator>
				<category><![CDATA[Paruh baya]]></category>
		<category><![CDATA[Seks Umum]]></category>
		<category><![CDATA[Tante Girang]]></category>
		<category><![CDATA[enak.ngentot]]></category>
		<category><![CDATA[isep kontol]]></category>
		<category><![CDATA[kost.servis]]></category>
		<category><![CDATA[kulum]]></category>
		<category><![CDATA[plus plus]]></category>
		<category><![CDATA[tante]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ceritasex.cn/?p=844</guid>
		<description><![CDATA[Cerita ini terjadi beberapa bulan yang lalu. Waktu itu saya harus dinas ke Surabaya, dari kantor saya mendapat tiket kereta api Argo Bromo, karena kereta api akan sampai di Surabaya pada pukul 04.00 pagi, maka saya hubungi teman saya yang kost dekat kantor untuk dapat istirahat sambil menunggu jam kantor. Seperti biasa saya sampai di [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Cerita ini terjadi beberapa bulan yang lalu. Waktu itu saya harus dinas ke Surabaya, dari kantor saya mendapat tiket kereta api Argo Bromo, karena kereta api akan sampai di Surabaya pada pukul 04.00 pagi, maka saya hubungi teman saya yang kost dekat kantor untuk dapat istirahat sambil menunggu jam kantor.</p>
<p style="text-align: justify;">Seperti biasa saya sampai di kost teman saya jam 04.45, saya langsung menuju ke kamar teman saya di lantai II, untungnya terdapat dipan tambahan yang dapat saya pakai untuk istirahat. Saya langsung tidur lagi karena sangat ngantuk dan saya baru ke kantor nanti siang setelah istirahat makan. Jam 09.00 saya baru bangun, teman saya sudah tidak ada lagi di kamarnya berangkat kerja, juga teman kostnya yang lain. Lalu saya turun ke lantai I untuk mandi, karena kebetulan kamar mandi di lantai II lagi rusak dan masih dibetulkan.</p>
<p style="text-align: justify;">Selesai mandi (hanya menggunakan handuk dililitkan di badan) saya keluar dari kamar mandi menuju lantai II. Pada saat mau naik tangga saya dipanggil ibu kost teman saya, &#8220;Mas, itu sudah disiapkan kopinya, silakan langsung di minum, mumpung masih hangat&#8221;, ibu kost teman saya itu umurnya kira-kira 30 tahun lebih sedikit, langsung saja saya menuju ke meja makan yang dimaksud dan duduk untuk minum kopi yang sudah disediakan. Ibu kost itu juga menemani saya di meja makan minum kopi. Sambil mijit-mijit pundaknya ibu kost bertanya.<br />
+ &#8220;Kopinya cukup manis nggak Mas?&#8221;<br />
-&#8221;Sudah kok bu, pas banget, tetapi ibu kok kelihatan sakit?&#8221;<br />
+ &#8220;Iya nich pundak ibu agak sakit&#8221;,<br />
-&#8221;Biasa dipijit nggak bu?&#8221;<br />
+ &#8220;Iya sich, tapi pembantu ibu lagi ke pasar.&#8221;<br />
-&#8221;Kalau mau saya bisa bantuin pijit sebentar Bu supaya bisa agak baikan?&#8221;<br />
&#8220;Boleh.&#8221;<br />
<span id="more-844"></span><br />
Lalu saya pijat pundaknya sebentar, kelihatannya sich nggak terlalu banyak masalah dengan pundaknya. Dia bilang:<br />
+ &#8220;Wah nikmat juga ya pijatan Mas ini, sebenarnya pinggang ibu juga agak keseleo sedikit&#8221;,<br />
+ &#8220;Ibu mau dipijitin pinggangnya, tapi kalau pijit pinggang harus sambil tidur karena posisinya susah kalau sambil berdiri.&#8221;<br />
+ &#8220;Boleh saja kalau Mas nggak keberatan kita ke kamar ibu saja ya?&#8221;<br />
-&#8221;Yuuk.&#8221;<br />
Sambil saya ikuti langkahnya menuju kamar dia.</p>
<p style="text-align: justify;">Sampai di kamar langsung saja dia tidur tengkurap di tengah tempat tidur, saya jadi bingung bagaimana caranya mijit dia, rupanya dia mengerti kebingungan saya dia bilang &#8220;Mas langsung saja naik di tempat tidur dan pijitin ibu, kalau butuh body lotion itu ada di meja rias ibu.&#8221; Saya ambil body lotion yang dimaksud dan menuju ke tempat tidurnya sambil saya bilang &#8220;Bu, bajunya tolong di buka bagian atasnya supaya saya bisa pijit pinggang ibu.&#8221; Langsung dia bangun lagi dari tempat tidurnya dan melepas dasternya ternyata di balik dasternya itu sudah tidak ada apa-apa lagi alias bugil. Saya hanya bisa bengong saja melihat pemandangan yang aduhai ini, bodinya termasuk lumayan bagus, dengan payudaranya yang tidak terlalu besar dan putingnya yang tegak menantang berwarna coklat kemerahan, dan bulunya yang di potong pendek dan rapi berbentuk segitiga, dan pantatnya yang aduhai bentuknya, walaupun wajahnya tidak terlalu cantik, tetapi bodinya yang yahud bikin tegang penis saya. Sampai jakun saya naik turun melihat pemandangan tersebut. Dia tersenyum saja melihat saya bengong melihati dia.<br />
+ &#8220;Mass, jangan bengong achh, cepet bantuin ibu.&#8221;<br />
+ &#8220;Mas, cepet saja tuh handuk di lepas, lihat tuch yang di dalam sudah pingin nongol lihat temennya&#8221;, karena saya hanya pakai handuk yang dililitkan tentu saja penis saya yang sudah tegang berat nongol dari lilitan dan kelihatan penis saya. Melihat saya masih bengong saja, dia dekati saya sambil menarik lilitan handuk saya, begitu handuk saya lepas penis saya langsung mengacung.<br />
+ &#8220;Mas, gede juga ya penisnya&#8221;, sambil dipijit-pijit dengan lembut dan dia jilati penis saya dan sekali-sekali memasukkan penis saya ke mulutnya sampai 1/2 nya, saya sudah nggak bisa mikir apa-apa lagi karena rasanya nikmat banget, saya sudah nggak sabar lagi saya raih payudaranya dengan dua tangan, dan saya angkat badannya yang masih jongkok ke ranjang.
</p>
<p style="text-align: justify;">Langsung saya ciumi bibirnya yang langsung tanggap dengan mengeluarkan lidahnya, saya mainkan lidahnya dengan lidah saya sambil tangan saya bergerilya memegang payudaranya, dan tangannya rupanya tidak mau kalah, karena dia juga memegang penis saya sambil di urut-urut. Lalu saya putar posisi 69, saya ciumi mulai dari bibirnya, terus turun ke payudaranya, waktu saya jilat pentilnya yang sudah keras dia juga jilat pentil saya, rasanya nikmat sekali. Terus saya turun ke pusarnya, dan pelan-pelan menyusuri kakinya yang sudah celentang, saya jilati dari pusar sampai ke pahanya dan pelan-pelan balik lagi ke bulunya yang rapi dan ke paha satunya lagi dan kembali ke vaginanya yang sudah basah.</p>
<p style="text-align: justify;">Saya nggak mendengarkan desahannya karena dia juga melakukan yang sama untuk saya, dia jilat habis penis saya sampai ke zakar dengan sedikit di gigit-gigit, rasanya nikmat banget, lama juga saya lakukan 69 itu.<br />
+ &#8220;Mass, shh, shh, udach acchh, nggak kuat lagi, masukin dong, achh.&#8221;<br />
Saya langsung balik badan dan arahkan penis saya ke vaginanya yang sudah basah, bless, terasa hangat dan licin, langsung saya kocok keras-keras penis saya. Terdengar ritihannya lagi<br />
+ &#8220;Mass, shh, shh aduhh, achh&#8221;, saya lihat mukanya makin memerah dengan sedikit mengerut di dahinya, rupanya dia menahan kenikmatan yang dialami. Kemudian dia berhenti goyang dan mendorong badan saya dan dibalik, rupanya dia ingin main di atas. Sambil goyang-goyang dia pegang payudaranya yang berayun-ayun seirama dengan goyangannya, tiba-tiba dia sorongkan payudaranya ke muka saya. + &#8220;Mass, diisep dong&#8221;, rupanya dia mau klimaks, saya hisap payudaranya sambil saya remas yang satunya, gerakan dia lebih menggila lagi sambil mendesah-desah &#8220;Sshh, scchh, aduhh, acchh&#8221;, lalu dia memeluk saya &#8220;Mass, aku keluar acchh&#8221;, saya peluk dia sambil mencium pipinya, lalu saya cabut penis saya yang basah kena cairannya, karena saya belum selesai dan dia sudah kelelahan saya sikat dia dari belakang dengan doggy style, pelan-pelan saya masukan dan keluarkan penis saya, sampai hampir keluar semua, rupanya gerakan saya yang panjang-panjang ini juga dinikmati olehnya, karena saya dengar desahannya &#8220;Shh, shh, achh, achh&#8221;, nggak lama kemudian saya juga keluar &#8220;sruut, srruut sruut, sruut&#8221;, nggak pakai tanya saya keluarkan saja di dalam habis nikmat. Setelah itu saya rebahan di ranjangnya. Kemudian mandi lagi bersamanya.
</p>
<p style="text-align: justify;">Sejak itu saya jadi senang kalau di tugaskan ke Surabaya oleh kantor. Sekarang ini saya lagi siap-siap guna nanti malam berangkat ke Surabaya lagi dan saya sudah telepon dia untuk siap-siap manuver lagi.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ceritasex.cn/servis-plus-tante-kost/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Di Blowjob Sampe Ngecrot Di Mulut (Isep Kontol)</title>
		<link>http://www.ceritasex.cn/di-blowjob-sampe-ngecrot-di-mulut-isep-kontol/</link>
		<comments>http://www.ceritasex.cn/di-blowjob-sampe-ngecrot-di-mulut-isep-kontol/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 11 Jul 2009 16:59:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cerita Sex</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bokep 3gp]]></category>
		<category><![CDATA[blowjob]]></category>
		<category><![CDATA[deepthroat]]></category>
		<category><![CDATA[emut kontol]]></category>
		<category><![CDATA[isep kontol]]></category>
		<category><![CDATA[muncrat]]></category>
		<category><![CDATA[oral]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ceritasex.cn/?p=585</guid>
		<description><![CDATA[Lumayan bagus untuk ukuran video amatir sayang banget nggak ada suaranya, Download disini aja cuy http://rapidshare.com/files/254637151/blowjob-sampe-ngecrot-di-mulut.3gp]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2009/07/blowjob-sampe-ngecrot-di-mulut.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-586" title="blowjob-sampe-ngecrot-di-mulut" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2009/07/blowjob-sampe-ngecrot-di-mulut-300x245.jpg" alt="blowjob-sampe-ngecrot-di-mulut" width="300" height="245" /></a></p>
<p style="text-align: justify;">Lumayan bagus untuk ukuran video amatir sayang banget nggak ada suaranya, Download disini aja cuy <a href="http://rapidshare.com/files/254637151/blowjob-sampe-ngecrot-di-mulut.3gp" target="_blank">http://rapidshare.com/files/254637151/blowjob-sampe-ngecrot-di-mulut.3gp</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ceritasex.cn/di-blowjob-sampe-ngecrot-di-mulut-isep-kontol/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kisah Eliza 09 : Petaka Akibat Mengintip</title>
		<link>http://www.ceritasex.cn/kisah-eliza-09-petaka-akibat-mengintip/</link>
		<comments>http://www.ceritasex.cn/kisah-eliza-09-petaka-akibat-mengintip/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 04 Jun 2009 07:09:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cerita Sex</dc:creator>
				<category><![CDATA[Daun Muda]]></category>
		<category><![CDATA[Pemerkosaan]]></category>
		<category><![CDATA[Seks Umum]]></category>
		<category><![CDATA[abg]]></category>
		<category><![CDATA[amoy]]></category>
		<category><![CDATA[anak sekolah]]></category>
		<category><![CDATA[ayam kampus]]></category>
		<category><![CDATA[cina]]></category>
		<category><![CDATA[cuki]]></category>
		<category><![CDATA[eliza]]></category>
		<category><![CDATA[isep kontol]]></category>
		<category><![CDATA[jenny]]></category>
		<category><![CDATA[lonte]]></category>
		<category><![CDATA[ngentot]]></category>
		<category><![CDATA[oral]]></category>
		<category><![CDATA[penis]]></category>
		<category><![CDATA[perkosa]]></category>
		<category><![CDATA[vera]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ceritasex.cn/?p=306</guid>
		<description><![CDATA[Hari ini hari Kamis, pelajaran di sekolahku berlangsung seperti biasa setelah sempat libur tiga hari lamanya karena ada penyelenggaraan bazar di sekolahku. Pagi ini semua berlangsung seperti biasa, hanya aku dan Jenny saling tersenyum penuh arti kalau tanpa sengaja kami beradu pandang ataupun bersenggolan tangan. Hal ini sering terjadi karena kami memang duduk bersebelahan. Bahkan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Hari ini hari Kamis, pelajaran di sekolahku berlangsung seperti biasa setelah sempat libur tiga hari lamanya karena ada penyelenggaraan bazar di sekolahku. Pagi ini semua berlangsung seperti biasa, hanya aku dan Jenny saling tersenyum penuh arti kalau tanpa sengaja kami beradu pandang ataupun bersenggolan tangan. Hal ini sering terjadi karena kami memang duduk bersebelahan. Bahkan kadang diam diam aku dan Jenny mencuri curi saling menggenggam tangan di bawah meja. Ya, kejadian di depan rumah Jenny pada akhir liburan kemarin memang mengubah total hubunganku dengan Jenny.</p>
<p style="text-align: justify;">Istirahat pertama tadi kulewatkan bersama Jenny di kantin. Sherly juga ikut nimbrung, dan kami bertiga sudah saling tahu semuanya, hingga tak ada rasa canggung sedikitpun di antara kami bertiga. Kini aku dan Jenny sedan ada di dalam kelas, dan setengah jam lagi adalah waktunya istirahat ke dua. kebetulan aku merasa ingin ke toilet. “Jen, aku ke toilet dulu nih”, bisikku. “Aku ikut sayang”, kata Jenny, membuatku tersenyum geli. “Gila kamu yah? Ya.. terserah kamu sih”, kataku. Lalu aku berdiri dan melangkah ke depan diikuti oleh Jenny.</p>
<p style="text-align: justify;">Hampir bersamaan kami berkata, “Pak, kami ijin ke belakang dulu”. Setelah mendapat ijin dari pak Gatot, aku dan Jenny segera keluar dari kelas, menuju ke toilet, toilet putri tentunya. Tepat sebelum masuk ke toilet, aku menghentikan langkah. “Jen, kamu dengar nggak? Itu…”, aku berbisik agak ragu, sambil menunjuk ke gudang di sebelah toilet ini. Jenny memandangku heran, lalu ia melangkah ke arah pintu gudang itu. “Jennn”, aku berbisik kaget sambil menarik Jenny, karena pintu itu memang agak terbuka, kuatirnya Jenny akan terlihat oleh orang yang ada di dalamnya.</p>
<p style="text-align: justify;">“Apa sih El?”, tanya Jenny heran. “Jen, hati hati dong… kamu kan bisa kelihatan oleh mereka yang di dalam? Sebaiknya kita dengarkan diam diam deh”, bisikku lagi. Kemudian kami berdua menajamkan pendengaran, dan tak lama kemudian aku mendengar suara lenguhan perempuan. Lenguhan perempuan yang mungkin sekali sedang keenaan karena disetubuhi oleh laki laki. Aku dan Jenny saling pandang, kulihat muka Jenny memerah. Sedangkan keadaanku sendiri kelihatannya tak jauh beda, karena mukaku rasanya panas, jantungku juga berdegup kencang.</p>
<p style="text-align: justify;">“El, siapa ya yang lagi asyik nih siang siang gini?”, tanya Jenny dengan bingung. Aku mengangkat bahu, dan Jenny dengan hati hati mengintip melalui pintu. Aku juga cukup penasaran dan ikut mengintip. Beberapa saat kemudian aku cukup shock. Aku melihat Vera yang telanjang bulat, sedang bergumul dengan dua siswa laki laki yang tak aku kenal, yang masih memakai seragam sekolah, tapi sudah tak memakai celana panjang abu abunya. Apakah dua siswa itu teman sekelasnya?<br />
<span id="more-306"></span><br />
Dengan cepat aku menahan nafas. Aku mulai mencoba memperhatikan Vera. Ia sedang meliuk liukkan tubuhnya di atas tubuh temannya yang rebahan di atas meja yang sudah ditata itu, mungkin sekali Vera sedang mengendarai penis temannya itu. Benar benar pemandangan yang kontras, Vera yang begitu putih menggeliat di atas tubuh temannya yang jadi terlihat begitu hitam. Aku makin tertegun melihat Vera juga terlihat asyik mengoral penis dari seorang lagi yang berdiri di sampingnya. Pemandangan ini membuat gairahku naik, melihat Vera dengan pipinya yang begitu putih, menggembung karena mulutnya menampung penis temannya yang pasti amat hitam itu.
</p>
<p style="text-align: justify;">Lenguhan tertahan dari Vera, membuat aku makin merasa lemas, dan aku memutuskan berhenti mengintip dan menarik tangan Jenny. Selain itu aku juga takut ketahuan kalau berlama lama mengintip. Jenny mengikutiku masuk ke WC. Aku mencoba mengatur nafasku yang memburu. Kemudian aku masuk ke dalam salah satu dari tiga kamar di WC ini. Tapi ketika aku akan menutup pintu, aku terkejut melihat Jenny sudah menerobos masuk, dan mengunci pintu kamar WC ini. Dan Jenny memandangku dengan tatapan yang membuat aku bergidik.</p>
<p style="text-align: justify;">“Jen… kamu mmph…”, kata kataku tertahan karena Jenny sudah melumat bibirku dengan sangat bernafsu. Tak butuh waktu lama, aku terlarut dan memejamkan mataku. Aku memeluk Jenny, membalas lumatan bibirnya dengan sepenuh hati. Entah sejak kapan, aku sudah tinggal mengenakan bra, seragam sekolahku sudah dibuang Jenny ke pojok kamar WC ini. Aku balas membuka kancing bajunya, dan beberapa saat kemudian kami berdua sudah telanjang dada dan saling meremasi payudara kami berdua.</p>
<p style="text-align: justify;">“Eliza…”, desah Jenny. Aku tersipu malu ketika Jenny menatapku dengan sayu. “Eliza… aku juga ingin kamu…”, guman Jenny. Kemudian dengan bernafsu Jenny melucuti sabuk yang mengikat rok seragamku di pinggangku, dan dengan cekatan ia sudah melorotkan rok seragamku. Untung lantai WC ini kering, jadi aku tak perlu mengkuatirkan rok seragamku akan basah. Tapi aku sudah harus mendesah hebat, karena celana dalamku sudah dilorotkan oleh Jenny, dan tanpa berkata apa apa Jenny langsung melumat bibir vaginaku.</p>
<p style="text-align: justify;">“Ohh… Jeeeen… ssshhh…”, aku merintih dan mendesah, tanganku sampai harus kutekankan pada dinding karena aku melemas tanpa daya. Jenny dengan kejam terus mengoralku. Kini lidahnya sudah melesak memenuhi liang vaginaku, dan lidah itu bergerak seakan mengorek dinding liang vaginaku. Tentu saja aku makin menggelinjang, tapi Jenny memeluk kedua pahaku dengan kuat, jadi aku tak bisa kemana mana, hanya bisa pasrah sampai Jenny puas mencumbui liang vaginaku.</p>
<p style="text-align: justify;">“Jeeen…”, aku mengeluh ketika kurasakan cairan cintaku membanjir. Aku orgasme hebat dan tubuhku mengejang tak karuan. Jenny terus menyeruput semua cairan cintaku sampai habis, baru kemudian ia melepaskan dekapannya pada kedua pahaku. Aku langsung ambruk ke depan dan tertahan oleh Jenny. “Eliza…”, Jenny mendesah, dan ia membelai rambutku dengan mesra. Nafasku masih tersengal sengal dengan kepalaku yang kurebahkan di pundak Jenny.</p>
<p style="text-align: justify;">“Kamu gila Jen…”, gerutuku ketika aku sudah mulai bisa mengatur nafasku. Jenny tersenyum manis sekali, membuatku ikut tersenyum pada temanku yang cantik ini. Dengan lembut Jenny menyeka vaginaku dengan tissue yang ia ambil dari baju seragamnya. Aku menggigit bibir, ketika usapan lembut dari tissue yang dilakukan Jenny pada bibir vaginaku, membuatku kembali terangsang. Tubuhku rasanya bergetar.</p>
<p style="text-align: justify;">“Udah dong Jen…”, keluhku ketika Jenny dengan nakal melesakkan tissue itu sedikit ke dalam liang vaginaku. “Iya deh El”, kata Jenny sambil tersenyum menggoda. Aku duduk di WC duduk ini, dan menuntaskan keinginanku buang air kecil. Setelah itu aku mengambil tissue yang kubasahi, dan menyeka liang vaginaku. Jenny dengan nakal menaikkan celana dalamku dan membelai pahaku. Aku cuma bisa menggeleng gelengkan kepala, dan aku mencari baju seragam sekolahku dan memakainya. Lalu kuangkat rok seragam sekolahku, dan kupasang ikat pinggangku.</p>
<p style="text-align: justify;">“Jen.. kita kembali ke kelas yuk”, aku mengajak Jenny, yang mengangguk saja. Kami keluar dari WC ini dan kembali ke kelas. “Lama sekali kalian”, tegur pak Gatot. “Maaf pak, tadi saya sakit perut”, aku mencoba mencari alasan. “Saya juga pak”, Jenny ikut memberikan alasan. “Ya sudah, sana duduk”, kata pak Gatot. Kami segera duduk, dan diam diam aku tersenyum geli. Ketika aku melihat Jenny, ternyata ia juga sedang menahan senyum.</p>
<p style="text-align: justify;">Akhirnya bel istirahat kedua berbunyi. Aku dan Jenny sudah akan keluar menuju ke kantin, ketika tiba tiba aku melihat pak Edy masuk. “Eliza, selesai istirahat, temui saya di ruangan saya. Ada yang perlu saya tanyakan berkaitan dengan bazar kemarin”, kata pak Edy. “Iya pak”, jawabku dengan malas, tapi aku berusaha tetap terdengar sopan. Sebal sekali aku melihat senyuman liciknya, dan aku segera menuju ke kantin, dan memang aku jadi kehilangan mood untuk bercanda dengan Jenny ataupun Sherly, tapi aku berusaha untuk tetap menanggapi obrolan maupun canda tawa mereka.</p>
<p style="text-align: justify;">Ketika bel tanda istirahat berakhir berbunyi, aku segera berpamitan, “Sherly, Jenny, aku tinggal dulu ya. Jen, titip pesan sama pak Warno, aku mesti menemui pak Edy nih”. Mereka mengangguk dan aku segera naik ke atas, bersiap menerima nasib buruk. Aku memasuki ruangan pak Edy dengan perasaan kalut. “Silakan duduk Eliza”, kata pak Edy sok ramah. Aku hanya mengangguk, malas menjawab wali kelasku yang bejat ini. Ia beranjak ke arah pintu ruangan ini, melihat keluar sebentar, lalu masuk dan mengunci pintu itu. Aku tahu aku sudah kembali berada dalam kekuasaannya.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku hanya diam ketika pak Edy yang sudah duduk di hadapanku memandangiku. Risih sekali rasanya dipandangi seperti ini, seakan aku sedang ditelanjangi dan ditaksir berapa nilai tubuhku ini. Benar benar merendahkan sekali. Aku hanya bisa berharap, nasib sialku hari ini cepat berlalu. Pak Edy yang dari tadi memandangiku tiba tiba berkata, “Eliza.. kamu cantik sekali”.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku tercekat, dan menunduk. Aku merinding mendengar pujian yang tak sepantasnya dilakukan oleh seorang wali kelas terhadap muridnya. “Pak, apa tidak ada perlu penting? Kalau tidak ada, biarkan saya kembali ke kelas, saya kan harus mengikuti pelajaran”, kataku pelan. Pak Edy terkekeh dan menjawab, “Tentu saja saya ada perlu sama kamu Eliza”. Berkata begitu, ia berdiri dan mendekatiku. Aku tahu, aku akan segera mengalami pelecehan oleh wali kelasku ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku diam saja ketika pak Edy mulai meremasi payudaraku. Ia melanjutkan mencumbuiku, menyibakkan rambutku yang hari ini aku ikat, dan mencium belakang leherku. Bagaimanapun jijiknya, rasa terangsang mulai merambati tubuhku. Aku menggigit bibir mencoba bertahan untuk tidak mendesah. Tapi cumbuan yang kuterima makin bertubi tubi. Kurasakan jilatan pada bagian belakang telingaku kanan dan kiri, sementara tangan pak Edy makin nakal, membuka kancing baju seragam sekolahku dan menyusup ke dalam meremasi payudaraku yang masih terbungkus bra ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Akhirnya aku tak tahan lagi dan mendesah perlahan ketika jari tangan pak Edy berhasil menemukan puting payudaraku. Tekanan yang dilakukan pak Edy pada puting payudaraku ditambah kecupannya pada leherku, membuatku menggelinjang. Aku mencoba mengalihkan tangan pak Edy, tapi aku segera menghentikan niatku karena ancaman pak Edy. “Eliza, jangan coba coba melawan, atau bapak panggil pak Girno dan yang lain untuk menemani bapak”, bisik pak Edy di telingaku. Aku langsung lemas dan pasrah, kubiarkan guru bejat ini menikmati diriku.</p>
<p style="text-align: justify;">Tak lama kemudian baju seragam sekolahku sudah tergeletak di lantai, demikian juga bra dan ikat rambutku. “Eliza, kamu lebih cantik kalau rambutmu dibiarkan tergerai seperti ini”, kata pak Edy dengan bernafsu. Ia mengangkatku berdiri, lalu membuka sabukku, melucuti rok dan celana dalamku. Kini aku sudah polos, tinggal mengenakan sepatu sekolah ini. Dengan nafas memburu pak Edy mendekap tubuhku dan membawaku ke sofa. Setelah aku terbaring di sana, pak Edy segera melebarkan pahaku, dan mulai mencoba memasukkan penisnya ke dalam liang vaginaku. Tapi yang terjadi kemudian sungguh membuat aku hampir tak kuat menahan tawa.</p>
<p style="text-align: justify;">Pak Edy tak mampu melesakkan penisnya ke dalam liang vaginaku. Aku sempat merasakan terjangan penis yang terlalu lunak, rupanya pak Edy belum ereksi sempurna. Padahal terlihat jelas ia sudah sangat bernafsu melumat tubuhku. Aku mencoba memikirkan hal lain supaya tak sampai tertawa di depan wali kelasku ini. Kurang lebih dua kali pak Edy mencoba lagi, dan akhirnya… sleb…</p>
<p style="text-align: justify;">Dengan wajah puas pak Edy kini mulai memaju mundurkan pinggulnya. Aku tak begitu merasakan sedang disetubuhi, karena penis ini lunak, dan pendek. Tapi aku mencoba berpura pura terpengaruh, dan aku sengaja menggigit bibirku. “Oh… enak ya Eliza”, ejek pak Edy dengan percaya diri. Aku terpaksa pura pura mengangguk, sambil tetap menggigit bibir. Belum lagi aku merasakan apa apa, tiba tiba penis pak Edy sudah berkedut, dan menyemburkan spermanya dalam liang vaginaku.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah pak Edy puas dan menarik penisnya dari liang vaginaku, aku memejamkan mataku, sekalian mengistirahatkan tubuhku. Aku tak bergerak sama sekali dari posisi tubuhku terakhir saat pak Edy menarik lepas penisnya tadi. Kalau ada laki laki yang melihat cewek yang putih mulus seperti aku, sedang mengkangkang dalam keadaan telanjang seperti ini, pasti aku akan diperkosanya habis habisan. Aku tenang saja, toh tak ada orang di sini, setidaknya itu menurutku. Juga sekalian untuk membiarkan sperma pak Edy keluar mengalir dari liang vaginaku.</p>
<p style="text-align: justify;">Tapi tiba tiba kurasakan vaginaku tertempel sesuatu, yang tak mungkin jari tangan pak Edy, karena kurasakan begitu hangat, dan besar juga. Itu kepala penis! Aku langsung membuka mataku lebar lebar, dan jantungku serasa berhenti. Ya ampun, dia ini kan laki laki yang tadi dioral Vera di gudang? Dan aku makin terkejut ketika di sebelahku sudah berdiri seorang laki laki seumurku, dengan penisnya yang sudah berdiri tegak sekali mengacung ke arah mulutku. Kemungkinan besar dia juga laki laki yang tadi rebahan di gudang dan ditindih oleh Vera .</p>
<p style="text-align: justify;">Belum sempat aku berbuat sesuatu, liang vaginaku sudah terbelah oleh penis laki laki di depanku. “Aaammpphhh…”, aku merintih, tapi segera disumbat oleh penis laki laki yang memang sudah jelas menginginkan servis oralku. Kedua pergelangan tanganku dicengkeram erat, aku sempat berhasil melihat pelakunya, yang ternyata adalah pak Edy! Benar benar biadab, ia memberikan aku pada dua siswa yang sama sekali tak aku kenal ini. Entah apa yang ada di pikiran wali kelasku yang bejat ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Kini aku merasakan liang vaginaku begitu penuh, dan aku menggeliat perlahan ketika kurasakan liang vaginaku diaduk aduk oleh penis pemerkosaku ini. Aku tak berani terlalu banyak bergerak, karena liang vaginaku terasa begitu penuh, apalagi penis itu terasa panjang sekali dan menancap begitu dalam. Aku merasa sedikit menderita dengan keluar masuknya penis itu di liang vaginaku ini. Sedangkan mulutku harus terbuka lebar, dan akhirnya aku pasrah, menjepitkan bibirku pada penis yang sedang maju mundur menikmati sempitnya rongga mulutku.</p>
<p style="text-align: justify;">Penis yang sedang kuoral ini panjang juga, berulang kali kepala penis ini seakan ingin melesak masuk kedalam tenggorokanku, bahkan sebelum bibirku mengulum sampai ke pangkal penis ini. Entah kenapa, aku menginginkan penis ini mengaduk tenggorokanku, dan aku sedikit mendongak, memberikan jalan pada penis ini untuk menembus rongga tenggorokanku. Keringat mulai membasahi tubuhku, karena gairahku sudah mulai naik. Aku berulang kali mendesah dan merintih tertahan.</p>
<p style="text-align: justify;">Rasa sakit yang tadi sempat sedikit melanda liang vaginaku, sudah berubah menjadi rasa yang teramat nikmat. Aku mulai menggeliat keenakan. Dengan liang vaginaku yang teraduk aduk sedemikian rupa oleh sebuah penis yang besar dan panjang, sementara tenggorokanku juga teraduk aduk tak karuan, dan ketidak berdayaan dari aku untuk menggerakkan tanganku yang dicengkeram pak Edy, aku tahu sebentar lagi aku harus pasrah dilanda orgasme yang dahsyat.</p>
<p style="text-align: justify;">Kini vaginaku sudah berdenyut hebat. Aku pun makin menggeliat, mengerang dan melenguh tertahan, penuh kenikmatan. Dan penis itu masih mengaduk liang vaginaku dengan liar tanpa ampun. Akhirnya aku melenguh, ”Nggmm…”. Lenguhanku tersumbat ketika tenggorokanku terbuntu oleh kepala penis yang melesak seenaknya, membuat aku tak tahan lagi dan mengejang tak karuan, kedua betisku melejang sejadi jadinya. Aku merasa cairan cintaku membanjir tak karuan, entah sudah sebasah liang vaginaku.</p>
<p style="text-align: justify;">Pinggangku sudah tertekuk ke atas karena aku tak kuasa menerima nikmatnya orgasme ini, dan dengan pose seperti ini tubuhku pasti terlihat sexy sekali oleh pemerkosaku yang beruntung mendapatkan liang vaginaku ini. Melihat aku orgasme, bukannya berhenti, pemerkosaku ini makin bersemangat mengaduk liang vaginaku. Bahkan ia memajukan tubuhnya hingga tusukan penisnya makin terasa saja. Ternyata ia menginginkan kedua payudaraku. Kedua tangannya meraih sepasang payudaraku ini, dan ia meremas payudaraku dengan sepuas puasnya. Tentu saja aku yang masih dilanda orgasme makin keenakan.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku akhirnya mengalami multi orgasme, tubuhku terus mengejang hebat sampai aku kelelahan, orgasme yang susul menyusul terus melandaku. Aku sudah tak bisa merintih lagi, hanya membiarkan tubuhku bergerak diluar kontrolku. Sudah lebih dari satu menit tubuhku tersentak sentak diterjang badai orgasme, dan belum ada tanda tanda pemerkosa liang vaginaku itu akan berejakulasi. Aku mulai menderita dalam kenikmatan yang amat sangat ini, keringatku makin bercucuran membasahi sekujur tubuhku. Aku menatap pemerkosa vaginaku dengan sayu, berharap ia mengerti dan mau memberiku kesempatan istirahat, karea aku tak bisa berkata apapun dengan penis yang sedang memperkosa mulutku ini.</p>
<p style="text-align: justify;">“Break dulu, nanti dia bisa pingsan”, kata pak Edy tiba tiba, dan mereka berdua berhenti memompa tubuhku. Semua penis yang memompa tubuhku berhenti bergerak, demikian juga payudaraku terbebas dari remasan yang sangat membuatku menderita keenakan ini. Tapi penis yang besar itu masih berada dalam liang vaginaku, dan kurasakan denyutan denyutan yang begitu merangsangku. Cuma setidaknya keadaan ini sudah lebih baik buatku, karena multi orgasme yang membuat vaginaku begitu ngilu ini mulai mereda, hingga rasa tersiksa karena kejangnya otot otot di vaginaku dan sekitarnya, termasuk betisku, otomatis juga berkurang.</p>
<p style="text-align: justify;">Juga dengan berhentinya gerakan penis di dalam mulutku tepat saat kepala penis itu tidak sedang menerjang rongga tenggorokanku, memberiku kesempatan untuk mengambil nafas. Pak Edy juga sudah melepaskan cengkeraman pada kedua pergelangan tanganku, hingga aku bisa mengistirahatkan tanganku yang pegal karena tertarik kencang ke belakang selama beberapa menit. Selagi aku mencoba memulihkan tenaga yang rasanya terkuras habis ini, wali kelas sialan ini memperkenalkan pemerkosaku satu per satu, hal yang harusnya sama sekali tidak penting untuk kudengarkan, tapi toh aku tak bisa berbuat apa apa selain terpaksa mendengarkan pak Edy.</p>
<p style="text-align: justify;">“Eliza, kenalkan, ini Dedi, kelas 2G, sebelah kelas kamu”, kata pak Edy sambil menepuk pundak pemerkosa mulutku. Aku melihat Dedi, ia benar benar tidak tampan, bahkan cenderung mengerikan dengan bekas luka di hidungnya. Wajahnya sama sekali tidak ramah. Ya ampun, orang seperti ini ada di kelas sebelahku? Aku memang penghuni kelas 2H. Dan pak Edy bergerak ke arah pemerkosa vaginaku. “Kalau ini Pandu, kelas 2G juga”, kata pak Edy. Aku hanya bisa mengarahkan pandanganku ke arah Pandu karena mulutku tertahan oleh penis Dedi yang kokoh ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Pandu juga sama sekali tidak tampan, malah sedikit tongos. Orang orang seperti ini harusnya membuatku jijik atau sedikitnya aku malas berdekatan dengan mereka. Tapi kini mereka sudah mendapatkan tubuhku berkat bantuan wali kelasku yang bejat ini. Ingin aku berteriak pada pak Edy, aku ini kan anak murid kelasnya, mengapa dia tega memberikan aku pada anak murid kelas sebelah seperti ini?</p>
<p style="text-align: justify;">Kini pak Edy bertanya pada Pandu, “Gimana Pandu? Eliza ini lebih enak dari Vera kan?”. Pandu cengengesan menjijikkan dan menjawab, “Pak Edy memang hebat, bisa memberikan kami amoy secantik Eliza ini. Dan memang benar, Eliza ini memeknya lebih rapat jauh dari Vera!”. Dedi menyambung, “Ndu, nanti loe cepetan ngecrot, gua juga mau coba memek amoy cantik ini!”. Aku memejamkan mata, rasanya terhina sekali mendengar pujian yang sebenarnya amat melecehkanku ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Dan beberapa saat kemudian, ronde kedua pemerkosaan terhadap diriku dimulai. Pandu mulai menggenjot liang vaginaku lagi. Dedi tak mau kalah, ia menerjangkan penisnya melesak ke dalam rongga tenggorokanku. Kembali aku harus melayani kedua pemerkosaku ini, siswa sekolah ini, yang seangkatan denganku. Kini liang vaginaku sudah begitu basah, dan hunjaman penis itu sudah tak begitu menyiksaku lagi sejak awal. Sedangkan tenggorokanku juga basah oleh air liurku sendiri dan cairan pelumas penis Dedi.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku merasakan Pandu menjejalkan penisnya dalam dalam di tiap hunjaman yang dilakukannya, kelihatannya ia sedang mencari kenikmatannya sendiri untuk segera berejakulasi. Tapi aku cukup menderita juga atas apa yang dilakukannya, karena sesekali kurasakan dinding rahimku seperti tersodok kepala penis Pandu. Aku mengerang tertahan menahan sakit yang bercampur nikmat ini. Entah apa bedanya dengan ronde pertama tadi, kali ini baru beberapa menit, Pandu mulai mengerang, dan penisnya kurasakan berkedut hebat di dalam liang vaginaku.</p>
<p style="text-align: justify;">“Oh.. Elizaaa…”, erang Pandu, tubuhnya bergetar hebat, dan kurasakan liang vaginaku disirami spermanya yang amat hangat, dan banyak. Aku hanya diam, memang aku terangsang, tapi aku belum sampai orgasme. Mendadak dengan cepat Dedi menarik lepas penisnya yang sejak tadi bersarang di dalam mulutku, dan begitu Pandu menarik lepas penisnya dari liang vaginaku, Dedi segera mengambil posisi untuk mendapatkan servis liang vaginaku. Aku benar benar merasa seperti pelacur di dalam ruangan ini.</p>
<p style="text-align: justify;">“Ngghhh&#8230;”, aku melenguh perlahan ketika liang vaginaku yang sempat merasa sedikit lega setelah Pandu menarik lepas penisnya tadi, kini kembali terisi penis Dedi yang sempat kuperhatikan tadi, kira kira berukuran 16 cm, dengan diameter sekitar 4 cm. Dan selagi Dedi mulai memompa liang vaginaku, Pandu berjalan ke arah kepalaku, dan kuperhatikan penisnya yang masih belum begitu layu. Ternyata sesuai dugaanku, penis itu panjang dan besar. Kira kira panjangnya hampir 20 cm, dan diameternya mungkin nyaris 5 cm. Pantas saja tadi aku sampai tak kuasa menahan nikmat yang melanda selangkanganku.</p>
<p style="text-align: justify;">Kini penis itu sudah ada di depan mulutku. Terbiasa menghadapi gangbang ataupun perkosaan yang menimpa diriku, dengan tanpa sadar aku membuka mulutku, membiarkan penis yang masih belepotan sperma Pandu dan cairan cintaku sendiri itu melesak masuk, dan aku seakan tahu tugasku untuk membersihkan penis itu. Selagi Dedi terus memompa liang vaginaku dengan bersemangat, aku mengulum penis Pandu, menjilat seluruh permukaan kulit penis yang sudah mulai mengecil perlahan ini, dan menyeruput semua sisa sperma yang masih belepotan di sana. Kutelan campuran semua cairan itu, dan aku sengaja menjepit penis itu dengan bibirku, kujepit dengan agak kuat. Sampai ke kepala penisnya, aku mencucup dengan kuat, membuat Pandu melolong keenakan. Tapi aku tak mau melepaskannya.</p>
<p style="text-align: justify;">“Aaargghh… sudah Elizaaa…”, erang Pandu. Ia menggigil keenakan, dan setelah ia mengeluarkan suara seperti sedang disembelih, baru aku melepaskan cucupanku pada kepala penisnya. Pandu langsung roboh ke lantai, ia merintih dan mengerang keenakan. Kini aku tinggal berkonsentrasi pada Dedi. Tapi rupanya pak Edy ingin servis oralku juga, ia sudah menyodorkan penisnya di depan mulutku. Maka aku terpaksa membuka mulutku, menerima penis pak Edy yang mini ini, yang memang masih belepotan sperma.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku melakukan hal yang sama seperti yang aku lakukan pada penis Pandu tadi, dan pak Edy juga melolong keenakan sampai akhirnya ketika aku melepaskan kulumanku, pak Edy juga roboh tak berdaya di sebelah Pandu. Tapi kini aku sudah terangsang hebat, sodokan demi sodokan yang sejak tadi kuterima membuat vaginaku terasa begitu ngilu. Memang penis Dedi tak sebesar penis Pandu, tapi cukup untuk memaksaku menderita dalam kenikmatan ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku mulai menggeliat dilanda kenikmatan ini, dan perlahan aku mendesah. “Sssh… oooh”, aku makin keras mendesah. Vaginaku serasa akan meledak dipompa habis habisan oleh Dedi, dan akhirnya aku orgasme di ronde kedua ini. “Nggghhhh.. nggghhhh…”, kini aku melenguh sejadi jadinya karena mulutku bebas tak tersumbat oleh penis seperti tadi. Pinggangku kembali tertekuk ke atas, tubuhku tersentak sentak tak karuan dan mengejang hebat, kedua betisku melejang tak karuan. Untungnya Dedi sendiri juga sedang mengerang, ia akan segera orgasme.</p>
<p style="text-align: justify;">“Ooooh… Elizaaa… memekmu… enaaaak…”, erang Dedi. Tubuhnya tersentak beberapa kali saat penisnya menyemprotkan sperma ke dalam liang vaginaku. Ia menarik lepas penisnya dari jepitan liang vaginaku, dan dengan gontai ia berjalan, hendak mendapatkan servis oral dariku. Orgasmeku sudah mereda, dan aku membuka mulutku begitu penis itu sudah ada di depan mulutku. kuberikan perlakuan yang sama kepada penis Dedi seperti tadi aku memperlakukan penis Pandu dan pak Edy.</p>
<p style="text-align: justify;">Dedi pun tak kuasa bertahan, ia mengerang dan melolong tak kuasa menahan nikmat. Begitu aku melepaskan kulumanku, Dedi juga roboh di sebelah pak Edy. Aku sendiri terbaring lemas dan keadaanku tak lebih baik dari mereka. Entah dosa apa aku harus melayani tiga lelaki bejat ini di sekolah. Entah apa lagi yang kelak terjadi, mungkin Pandu dan Dedi akan mencari kesempatan untuk memperkosaku lagi.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku mencoba bangkit dari sofa ini, dan mengambil tissue di atas meja. Aku menyeka bibir liang vaginaku dan sekitarnya yang belepotan sperma dan cairan cintaku. Aku kembali mengambil tissue agak banyak, dan menyeka keringat yang membasahi sekujur tubuhku. Tanpa berkata apa apa aku mengambil celana dalamku dan mengenakan di tubuhku menutup liang vaginaku. Juga aku mengenakan bra, baju dan rok seragam sekolahku. Dengan pandangan benci aku menatap pak Edy. “Sekarang biarkan saya kembali ke kelas pak!”, kataku ketus.</p>
<p style="text-align: justify;">“Tunggu Eliza”, kata pak Edy dengan buru buru. Ia berdiri dan memakai celana yang tadi ia lepas untuk memperkosaku. Demikian juga dengan Pandu dan Dedi juga sudah mengenakan celana mereka semua. Lalu Pandu dan Dedi duduk di kedua ujung sofa, sedangkan pak Edy membimbing aku untuk duduk di tengah mereka. Kedua lenganku didekap dari samping tubuhku oleh satu lengan mereka, sedangkan tangan mereka yang menganggur mulai meremasi payudaraku.</p>
<p style="text-align: justify;">“Eliza, Pandu dan Dedi ini adalah anak teman bapak. Tadi bapak melihat kamu mengintip ke gudang saat Pandu dan Dedi sedang bermain dengan Vera. Karena bapak takut kamu menyebarkan ke teman lain, bapak terpaksa membungkam mulut kamu dengan mengatur kejadian ini”, kata pak Edy tanpa merasa bersalah. Aku makin muak pada wali kelasku ini. Perlu apa juga aku menyebarkan kepada teman teman tentang aib yang dilakukan Vera? Toh aku sendiri juga sudah bukan gadis yang suci.</p>
<p style="text-align: justify;">“Oh iya Eliza. Tadi kamu mengintip dengan Jenny kan”, tanya pak Edy sambil tersenyum menjijikkan. Kata katanya membuat aku serasa disambar petir. “Apa maksud bapak?”, dengan panik aku bertanya setengah membentak. Kedua siswa bejat yang masih asyik meremasi payudaraku ini tertawa mengerikan. “Sederhana Eliza, Jenny juga harus dibungkam. Kalau kamu tak ingin bapak menyeret kamu ke rumah kosong di sebelah mess untuk melayani seluruh penghuni mess sekolah ini, kamu harus bisa bawa Jenny ke UKS, sabtu malam besok ini. Tempat kamu pertama kali bermain cinta di sekolah ini”, kata pak Edy.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku langsung lemas, diiringi tawa mereka. Aku tak tahu apa yang harus aku lakukan. Setelah beberapa remasan keras pada kedua payudaraku hingga aku menggeliat, dua siswa bejat itu melepaskanku. Aku segera berdiri, dan menuju ke pintu keluar setelah membenahi baju seragamku yang sedikit awut awutan. Tepat ketika aku membuka kunci pintu ruangan ini, pak Edy kembali mengingatkan, “Eliza, ingat, besok Sabtu jam delapan malam, bapak tunggu kamu dan Jenny di ruang UKS”.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku tak menjawab, dan keluar dari ruangan laknat ini. Dalam perjalanan menuju ke kelas, aku berpikir keras, apa yang harus aku lakukan. Aku belum bisa mengambil keputusan sampai akhirnya aku masuk ke kelas. Aku mengetuk pintu kelas dahulu. “Permisi pak Warno, maaf saya tadi dipanggil pak Edy”, aku memberikan keterangan. Pak Warno tersenyum dan menyilakan aku masuk, “Ya Eliza, bapak sudah diberitahu Jenny. Silakan duduk”. Aku berjalan ke tempat duduk sambil melamun. Ketika aku sudah duduk di sebelah Jenny, aku dikagetkan oleh cubitan Jenny. “Eliza.. kamu cantik deh kalau rambutmu dibiarin tergerai gini. Tadi kok nggak digerai gini sih waktu sama aku?”, goda Jenny. Aku hanya tersenyum malu. Tapi aku juga dalam kegundahan yang amat sangat, entah Jenny tahu atau tidak.</p>
<p style="text-align: justify;">Jenny sama sekali tak tahu, bahwa aku harus memutuskan, apakah aku akan menyerahkan Jenny kepada orang orang bejat itu, atau aku yang menyerahkan diri untuk dibantai di rumah kosong oleh sekitar 60 orang. Entah apa kalaupun kemudian aku yang menyerahkan diriku, apakah Jenny pasti dibiarkan lolos? Rasanya juga tak mungkin. Tapi kalau aku menyerahkan Jenny pada mereka, apakah nanti Jenny akan membenciku? Keduanya adalah pilihan yang sangat sulit bagiku. Dan aku jadi melamun sampai akhirnya bel pulang sekolah berbunyi…</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ceritasex.cn/kisah-eliza-09-petaka-akibat-mengintip/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tante Anita Gatel Emut Kontol</title>
		<link>http://www.ceritasex.cn/tante-anita-gatel-emut-kontol/</link>
		<comments>http://www.ceritasex.cn/tante-anita-gatel-emut-kontol/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 02 Jun 2009 08:41:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cerita Sex</dc:creator>
				<category><![CDATA[Foto Mesum]]></category>
		<category><![CDATA[anita]]></category>
		<category><![CDATA[deepthroat]]></category>
		<category><![CDATA[doyan pejuh]]></category>
		<category><![CDATA[emut kontol]]></category>
		<category><![CDATA[gag]]></category>
		<category><![CDATA[isep kontol]]></category>
		<category><![CDATA[milf]]></category>
		<category><![CDATA[oral]]></category>
		<category><![CDATA[sperma muncrat]]></category>
		<category><![CDATA[tante]]></category>
		<category><![CDATA[tante anita]]></category>
		<category><![CDATA[Tante Girang]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ceritasex.cn/?p=288</guid>
		<description><![CDATA[MILF alias Tante anita satu ini emang gatel memeknya tapi dia doyan banget sepongin kontol sampe deepthroat lu masukin aja kontol lu sampe dalam di mulutnya dia doyan sepong isep jilat emut kontol lu pada sampe muncrat sperma lu, cari aja tante anita di jakarta yaaaaaaa hehehe&#8230;.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2009/06/tante-anita-1.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-289" title="tante-anita-1" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2009/06/tante-anita-1-300x225.jpg" alt="tante-anita-1" width="300" height="225" /></a></p>
<p><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2009/06/tante-anita-2.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-290" title="tante-anita-2" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2009/06/tante-anita-2-300x225.jpg" alt="tante-anita-2" width="300" height="225" /></a></p>
<p><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2009/06/tante-anita-3.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-291" title="tante-anita-3" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2009/06/tante-anita-3-300x225.jpg" alt="tante-anita-3" width="300" height="225" /></a></p>
<p><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2009/06/tante-anita-4.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-292" title="tante-anita-4" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2009/06/tante-anita-4-300x225.jpg" alt="tante-anita-4" width="300" height="225" /></a><br />
<span id="more-288"></span><br />
<a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2009/06/tante-anita-5.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-293" title="tante-anita-5" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2009/06/tante-anita-5-300x225.jpg" alt="tante-anita-5" width="300" height="225" /></a></p>
<p><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2009/06/tante-anita-6.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-294" title="tante-anita-6" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2009/06/tante-anita-6-300x224.jpg" alt="tante-anita-6" width="300" height="224" /></a></p>
<p style="text-align: justify;">MILF alias Tante anita satu ini emang gatel memeknya tapi dia doyan banget sepongin kontol sampe deepthroat lu masukin aja kontol lu sampe dalam di mulutnya dia doyan sepong isep jilat emut kontol lu pada sampe muncrat sperma lu, cari aja tante anita di jakarta yaaaaaaa hehehe&#8230;.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ceritasex.cn/tante-anita-gatel-emut-kontol/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>15</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
