<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Cerita sex porno ngentot mesum perek ayam kampus &#187; istri muda</title>
	<atom:link href="http://www.ceritasex.cn/tag/istri-muda/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.ceritasex.cn</link>
	<description>Kumpulan cerita sex, foto bugil, dan film porno</description>
	<lastBuildDate>Mon, 26 Jul 2010 07:13:35 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0</generator>
		<item>
		<title>Jeng Yati (Another Story)</title>
		<link>http://www.ceritasex.cn/jeng-yati-another-story/</link>
		<comments>http://www.ceritasex.cn/jeng-yati-another-story/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 24 Jan 2010 12:34:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cerita Sex</dc:creator>
				<category><![CDATA[Paruh baya]]></category>
		<category><![CDATA[Pemerkosaan]]></category>
		<category><![CDATA[Seks Umum]]></category>
		<category><![CDATA[Tante Girang]]></category>
		<category><![CDATA[anal seks]]></category>
		<category><![CDATA[selingkuh]]></category>
		<category><![CDATA[asu]]></category>
		<category><![CDATA[cuki]]></category>
		<category><![CDATA[istri muda]]></category>
		<category><![CDATA[jeng yato]]></category>
		<category><![CDATA[ngentot]]></category>
		<category><![CDATA[pepek]]></category>
		<category><![CDATA[satpam]]></category>
		<category><![CDATA[vagina]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ceritasex.cn/?p=1227</guid>
		<description><![CDATA[Karena seringnya pencuri masuk ke perumahan yang kami tempati, maka warga perumahanku secara aklamasi menyewa penjaga malam dan warga boleh boleh saja membantu mereka malam hari. Memang kebetulan rumah yang kutempati di tengah perumahan itu tapi dua rumah di sebelahku belum dihuni sehingga sering kali keempat rumah itu dibuat sebagai tempat persembunyian. Malam itu aku [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Karena seringnya pencuri masuk ke perumahan yang kami tempati, maka warga perumahanku secara aklamasi menyewa penjaga malam dan warga boleh boleh saja membantu mereka malam hari. Memang kebetulan rumah yang kutempati di tengah perumahan itu tapi dua rumah di sebelahku belum dihuni sehingga sering kali keempat rumah itu dibuat sebagai tempat persembunyian.</p>
<p style="text-align: justify;">Malam itu aku terkena influenza berat karena kehujanan sepanjang siang.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Aku masih menyiapkan makanan untuk penjaga malam, mas&#8230;.!!&#8221;, kata istriku yang berpostur tubuh mungil dengan tinggi 155 cm, berwajah menarik seperti bintang Film Mandarin, meskipun kulitnya agak sawo matang dengan rambut pendek, sehingga tampak lebih muda dari usianya yang menginjak 40 tahun.</p>
<p style="text-align: justify;">Malam itu udara sangat panas sehingga dia hanya memakai daster yang lumayan tipis, sehingga memperlihatkan bentuk tubuhnya, utamanya pantat bahenol nya yang empuk itu yang bergoyang saat berjalan, walaupun perutnya tidak ramping lagi, karena sudah dua kali mengandung dan model dasternya berkancing di depan sehingga payudara biarpun tidak besar, tapi padat berisi, yang berukuran 34C agak tersembul dan kedua puting susu nya tampak menonjol dari balik dasternya karena memang dia kalau dirumah hanya memakai camisole tipis saja.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Sudah pukul sepuluh kok belum datang, ya ..!&#8221;, dia bergumam sendiri karena mengira aku sudah tertidur. Beberapa saat kemudian kudengar dua orang bercakap-cakap di luar dan mengetuk pintu rumah pelan. Istriku yang rebahan di sampingkupun bangkit dan entah tersadar atau tidak istriku membetulkan rambutnya dan memoles bibirnya sehingga bibirnya semakin merah.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Lho ????&#8221;, gumannya pelan ketika tersadar dia memoles bibirnya, tapi karena penjaga malam itu terus mengetuk pintu, dia pun tak jadi membersihkan bibirnya yang merah merangsang itu.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Malam, Bu Yati&#8230;!&#8221;, terdengar suara seseorang dan aku mengerti kalau suara itu adalah Pak Diran dan istriku sudah dikenal oleh dua orang petugas jaga tersebut karena sering istriku pulang malam seusai mengajar di kampusnya.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Masuk dulu Pak Diran..!&#8221;, terdengar istriku mempersilahkan penjaga malam itu masuk, sementara kudengar bunyi halilintar yang cukup keras dan hujan tiba-tiba turun dengan derasnya.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Wah hujan ? saya sama Pak Towadi, Bu Yati..!&#8221; katanya. &#8220;Nggak apa-apa,&#8230; masuk saja &#8230; lagian hujan deras, pak&#8230;.!&#8221; kata istriku. &#8220;Selamat malam, Bu Yati..!&#8221; kudengar Pak Towadi memberi salam pada istriku. &#8220;Sebentar tak buatkan kopi ..!&#8221; kata istriku, kemudian kudengar istriku berjalan menuju dapur di belakang rumah.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Di, lihat kamu ngga?!&#8221; terdengar suara bisikan Pak Diran, &#8220;Kamu kacau, Ran?!&#8221; balasan suara bisikan Pak Towadi., &#8220;Kamu lihat, enggak..?&#8221; suara Pak Diran lagi, &#8220;Iya, Ran muncul&#8230;., kayak penghapus ?&#8221; kata Pak Towadi, Rupanya mereka berbisik-bisik mengenai puting susu istriku yang menonjol di balik dasternya, karena malam itu istriku hanya mengenakan camisole di balik dasternya.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Pantatnya bahenol, lagi&#8230;.,&#8221; lanjut bisikan Pak Diran, &#8220;Hus istri orang itu, Ran..!&#8221; kata Pak Towadi, &#8220;Eeh, ini malam Jum&#8217;at, kan..? Pas kuat-kuatnya ilmuku hi hi?!!!&#8221; kudengar Pak Diran tertawa ditahan pelan, &#8220;Dicoba aja.., yok&#8230;, siapa tahu Bu Yati mau&#8230;!&#8221; kata Pak Diran.</p>
<p style="text-align: justify;">Kuingat Pak Towadi orangnya hitam agak tinggi dengan badan kekar dan Pak Diran orangnya tambun pendek, keduanya berumur 50 tahunan lebih, aku bergidik juga mendengar perkataan mereka mengenai istriku tadi, mereka penduduk asli daerah itu, terkenal sangat doyan dengan perempuan, bahkan mereka pernah bercerita saat aku jaga malam, kalau pernah membuat pedagang jamu yang bertubuh bahenol, yang sering keliling dua minggu sekali di daerah tempat tinggalku, pernah dibuat hampir tak dapat berjalan karena digilir mereka berdua, dimana saat itu pedagang jamu itu masih perawan dan sampai saat bercerita malam itu, pedagang jamu itu masih sering meminta kepada mereka berdua untuk menggilirnya, biarpun sekarang sudah bersuami, katanya tak pernah puas dengan suaminya yang masih muda, bahkan pedagang jamu itu pernah meminta mereka berdua datang ke rumahnya.<br />
<span id="more-1227"></span><br />
&#8220;Kalau sudah kena punya kami, pak, &#8230;. Waahhh&#8230;perempuan pasti malas dengan suaminya dan?..suaminya tak berkutik kalau kami ada, dan membiarkan kami tidur bersama istrinya dalam satu kamar bersama suaminya&#8221;, kata Pak Diran terkekeh kekeh malam itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Kemudian kudengar suara bisikan mereka lagi&#8230;.. &#8220;Kamu jangan ngaco, Ran. Sudah nanti kelewatan?!&#8221; kata Pak Towadi &#8220;Keris pusakaku.. ku bawa.. Di&#8230;. Ini ..he he he ?!&#8221; kata Pak Diran, &#8220;kamu jangan, gitu Ran&#8230;, orangnya lagian baik&#8230;, kasihan suaminya nanti, pinginnya sama kamu aja nanti .. !!&#8221; suara Pak Kardi lagi. Karena perasaanku nggak enak akhirnya kuputuskan untuk keluar dan mereka berdua terlihat kaget melihatku, tapi Pak Diran yang membawa keris langsung mencabut kerisnya dan langsung mengarahkan kerisnya padaku dan tiba-tiba gelap menyelimutiku.</p>
<p style="text-align: justify;">Kemudian aku terjaga dan kudapati diriku di tempat tidur kembali, kutoleh pintu kamarku dan kusen kamar dan lantai pintu kulihat seperti membara.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Eeeecch ?&#8230;.eeeeccchhh. &#8230;eeeeecccchhhh &#8230;..!!!! &#8221; kudengar desis istriku dan akupun turun, tubuhku terasa lemas sehingga aku merangkak mendekati pintu kamar dan&#8230;&#8230; seperti terkena listrik beribu ribu volt saat tanganku memegang kunci kamarku hingga aku tersengkur makin lemas seperti karung bersimpuh di depan pintu kamar yang sedikit terbuka itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku tak percaya melihat di ruang tamu dari pintu kamar yang terbuka sedikit itu, kulihat istriku berdiri di depan Pak Diran yang membawa selongsong keris sebesar batang kemaluan orang dewasa lebih besar dari lampu TL 40 watt yang ujungnya di arahkan kepada istriku yang berdiri, sedangkan tangan yang satunya seolah memelintir di ujung lainnya yang berbentuk huruf U memanjang itu. Kedua tangan Pak Diran kini memegang pangkal keris yang melengkung itu dan kedua jarinya memelintir ujung nya dan kulihat istriku yang berdiri, tubuhnya bergetas dan kembali mendesis</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Heeeggghhh ?..oooooohhhhhhh. &#8230;&#8230;ooooooohhh hhhhh&#8230;. ..!!!!!&#8221; Pak Diran bukan lagi seperti memelintir tapi menarik narik kedua ujung keris berbentuk U itu dan terlihat istriku membusungkan dadanya seperti kedua puting susu nya tertarik ke depan. &#8220;Mmm heeeggggh ?..aaaaaaa&#8230; .aaaaduuuuuhhhhh h&#8230;&#8230;!! !!!&#8221; istriku mendesis panjang dan Pak Diran langsung mengulum salah satu ujung U itu dan &#8230;. &#8220;Paaak ?.paaakkkk&#8230; .jaa&#8230;jaaangaaa annnnn ?.paaakkkkk.. &#8230;.!!!!! &#8221; suara desis istriku memelas dan tangan kanan istriku secara refleks memegang payudara kanannya, istriku mendesis-desis kembali&#8230;.. &#8220;Ummmppff?. Paakkkk&#8230;.. jaaa&#8230;.jaaaaang aaaannnn ? paaaakkkk ?..!!!!&#8221; istriku mendesis. Tangan kanan Pak Diran memelintir ujung satunya dan istriku pun memegang kedua payudaranya kembali yang masih terbungkus daster dan camisole nya itu.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;EEecccchhhhhhhgggg hhhhh ??!!!!!!!&#8221; istriku mendesah lagi saat Pak Diran memutar selongsong kerisnya sehingga pangkal keris berbentuk U itu berdiri, sementara jari-jari tangan kanannya mengelus-elus pinggiran lubang keris itu dan kulihat pantat bahenol istriku pun bergetar dengan hebat. Pak Diran semakin cepat mengelus dan bahkan menggosok lubang keris itu dan istriku pun mengerang-erang &#8230;..</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Paaakk ? paaakkk&#8230;.suuu. ..suuuuddaaaaahh ? paaakkk ?jangaaan diteruuuuskaaaaan ?.eeeecchghghghghghg h ??.!!!!!&#8221;, sementara pantatnya pun bergetar hebat dan kedua tangan istriku memegang pantat bahenol nya yang bergetar hebat saat Pak Diran menjilati lubang keris itu dan pantat bahenol istriku meliuk liuk tak karuan, kedua tangannya meramas pantat bahenol nya sendiri yang mulai maju mundur saat Pak Diran menyedot nyedot lubang keris itu dan bahkan lidah Pak Diran menjilati lubang itu dan&#8230;.. &#8220;Mmmppfffhhh hghghghgghghg ?.&#8221; istriku semakin keras mendesis desis, selangkangan nya terangkat angkat dan mendekati ujung selongsong keris ysng tengah disedot sedot dan dijilati lubangnya oleh Pak Diran.</p>
<p style="text-align: justify;">`Paaaak ? sudddaaaah ngngngngngngng hhhheeeghghghghgh??!!!&#8221; istriku mendesis kedua matanya tertutup dan selangkangan nya tertarik ke depan hingga selangkangan nya kini mengesek ngesek sarung keris itu.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Suudddaaaaah paaaak jangaaaaan sudaaah eeeeechghghghg ?.!!!!&#8221; istriku terus mendesis desis. Kemudian Pak Diran menghentikan aksinya. &#8220;Diii&#8230; , elus lubang kerisku ?!!!&#8221; kata Pak Diran kepada Pak Towadi yang dari tadi bengong, sementara di pangkal selangkangan nya sudah menggelembung menunjukkan batang kemaluan nya sudah berdiri tegang. Pak Towadi langsung mengelus lubang keris Pak Diran dan kembali&#8230;. &#8220;Eeeeee&#8230;.. eeeeee&#8230; .eeeeehhhhh. &#8230;.eeeecccchhhg hghghg?..! !!!!&#8221; istriku mendesis.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Enak Bu Yati&#8230;.?&#8221; tanya Pak Diran yang berdiri dihadapannya dan selangkangan istriku masih menempel di sarung keris itu. Istriku ngga menjawab, diam saja&#8230;&#8230; &#8220;Ooooo.. kurang enak rupanya?!!!&#8221; kata Pak Diran kemudian&#8230;. .. &#8220;Jaaa&#8230;.jaaaangaaa nnnn&#8230;.. , paaakkkk&#8230;. ..!!!!&#8221; rintih istriku memelas,</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Singkap dastermu, Buuuu&#8230;&#8230;! !!!&#8221; perintahnya. &#8220;Paaak &#8230;..oooohhhhhh. &#8230;jaaa.. ..jaaangaaannn &#8230;.paakkkk. &#8230;..!!!! &#8221; istriku menghiba. &#8220;Ayooo .. nggak usah malu Buuu&#8230;. atau biar dia yang mencari jalannya sendiri?!&#8221; kata Pak Diran. Seperti diperintah sarung keris itupun menempel di selangkangan istriku saat Pak Diran melepasnya dan&#8230;.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Paak &#8230;.jaaa&#8230;jaaangaa nnnn&#8230;paaaakkkk ?.!!!!&#8221; desis istriku saat sarung itu mulai menggosok selangkangannya kembali, sehingga pantatnya pun bergetar kembali. &#8220;Dii ?malam ini kita nonton dulu ? biar Mbah Gandul yang nyebokin Bu Yati, malam ini punya dia?lihat Dii ? Bu Yati menaikkan dasternya ? rupanya dia sudah kebelet&#8230;.&#8221; Kulihat istriku mendesis-desis dan mengelinjang, sementara kedua tangannya memegang pantat nya sendiri dan menarik ke atas dasternya pelan-pelan, sehingga mulai tersingkap paha mulusnya. Semakin lama pantatnya semakin bergetar cepat dan selangkangannya maju mundur oleh gosokan sarung keris yang di sebut Pak Diran, Mbah Gandul itu. Begitu dasternya tersingkap sampai pangkal pahanya, Mbah Gandul langsung menyusup ke selangkangan istriku dan &#8230;.. &#8220;Mmmmmmpppfff ..eeecchhhh ?..bessaaaar ??oooooohhhhhh. &#8230;.!!!&#8221; desis panjang istriku.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Sudah, Di , kita keluar biar Bu Yati malam ini milik Mbah Gandul?!!!&#8221; kata Pa Diran. &#8220;Bu Yati, titip Mbah Gandul yaa, selamat menikmati, besok baru kami,&#8230; Oh&#8230; ya&#8230;., besok kan ibu pulang malam?.nggak usah pake BH dan celana dalam ya kalau pulang, nanti dibungkus dan serahkan ke saya di pos kalau pulang? biar lebih enak ?he he he&#8230;.!!! &#8221; kata Pak Diran sambil meremas payudara istriku yang berdiri tak berkutik dengan kedua kakinya yang terkangkang. Merekapun keluar meninggalkan istriku yang terbengong.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Mmmpppff &#8230;.oooohhhhh. &#8230;beee.. ..besaaar ?aaamaaatttt. &#8230;!!!!&#8221; rintihnya saat kedua orang itu telah pergi. Istriku pun berusaha duduk di kursi panjang dan rupanya dia berusaha menarik sarung keris itu keluar tapi&#8230;.. &#8220;Mbaaaah uummppfff oooooohhh&#8230; aaammmmpuuunnn. ..mmmbaaaahhh. &#8230;. ?..!!!&#8221; istriku mendesis keras. &#8220;ooocch masuukkk ke daalaaam eeeccchh gilaaa uummpppfff heeecchhh gilaaa ?uuuccch geliiii aaaccch koook giniiii rasanyaaaaa uumppppccchh ennnnaaaaakkkkckccc hhhh??!!!&#8221; dan kulihat istriku mencengkeram erat sandaran kursi dan pantat nya bergetar keras maju mundur di tempat duduknya dan goyangan pantatnya semakin kencang, sementara keringatnya memebanjir dan nafasnya terengah engah</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Eccchhhghghghg mbaaaaah Gaaanduuull ?. akuuuu keluaaaaar ?.!!!&#8221; istriku mengerang saat mencapai orgasme malam itu. Tubuhnya tersungkur miring di kursi panjang dan beberapa saat kemudian kaki nya terkangkang lebar dan tubuhnya bertumpu di kedua tangannya melihat selangkangan nya yang digarap Mbah Gandul kembali itu. Kembali pantatnya bergoyang sementara mulutnya mendesis-desis kenikmatan dan nafasnya memburu keras dan&#8230;. ]</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Mbaaah&#8230;mmmbbaahh hhh&#8230;&#8230; ..aaaa&#8230; aaaakkuuuuu. .keee&#8230;keeeelua aaar lagiiiii ?.!!!!&#8221; dia mengerang saat mencapai orgasme keduanya dan pantat nya tersentak-sentak. Kemudian dia duduk kembali dan berusaha berdiri dan berjalan menuju kamar, akupun cepat-cepat rebahan di tempat tidur&#8230;.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Mas&#8230;maaasss. &#8230; bangun,&#8230;.mass. &#8230;!!!!&#8221; panggil istriku &#8220;Kamu kelihatanya kok kumal dik, tadi&#8230; ku dengar ribut-ribut diluar&#8230;..! !!&#8221; &#8220;Maas ?!!!!!&#8221; kata istriku tersipu-sipu, sambil memelukku..</p>
<p style="text-align: justify;">Selang seminggu kemudian, kembali Pak Diran dan Pak Towari mendapat giliran tugas jaga Dan seperti kebiasaan yang lalu-lalu, mereka pasti akan mampir kerumahku dengan alasan untuk minum kopi. Sudah sejak jam 7 malam aku masuk kekamar, dengan pura-pura badan merasa ngga enak. Begitulah kira-kira jam 9 malam, terdengar ketukan pada pintu depan dan terdengar istriku yang masih nonton TV diruang tamu membuka pintu depan dan terdengar suara Pa Towari dan Pak Diran&#8230; &#8220;Selamat bu Yati&#8230;. apa bapak masih bangun&#8230;?&#8221; &#8220;Ohh&#8230;bapak ngga enak badan dan sudah masuk tidur sejak jam 7 tadi&#8230;!!!&#8221; terdengar sahutan istriku&#8230;..&#8221;Oooo&#8230;maaf mengganggu, tapi saya hanya mampir sebentar untuk mengambil kopi saja&#8230;!!&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Kalau begitu silakan duduk dulu, saya akan menyediakan kopi didapur&#8230;!&#8221; sahut istriku lagi, sambil berjalan masuk kedalam.</p>
<p style="text-align: justify;">Sesaat kemudian kudengar suara langkah kaki menyusul istriku kedapur dan&#8230; &#8220;Bu Yati, nggak bilang suami ibu kan mengenai kejadian yang lalu&#8230;. ?..!!!&#8221; terdengar suara Pak Towadi. Tak terdengar suara jawaban dari istriku. Tak selang kemudian terdengar suara ribut-ribut tertahan dari arah dapur dan&#8230;&#8230;. &#8220;Ooooohhhh.. ..jangan. &#8230;Jangaan paak ?!!!!!&#8221; terdengar suara menghiba &#8220;Kenapa, Bu Yati&#8230;? diam saja bu&#8230;.ntar juga pasti enak kok&#8230;.!!!&#8221; suara Pa Towari kembali. &#8220;Jangan pak, ampuun paaak ?.!!!&#8221; istriku semakin menghiba, kayaknya Pak Towadi semakin mendesaknya, kemudian dengan mengendap-edapa aku turun dari tempat tidur dan mengintip dari celah-celah pintu kamar&#8230;. dan&#8230;.terlihat dengan cepat Pak Towadi melompat dan berdiri diantara kedua kaki istriku yang terkangkang lebar, saat istriku akan mengatupkan kedua kakinya. &#8220;Tutup selambunya, Ran&#8230;!!!&#8221; kata nya ke Pak Diran, dan Pak Diran langsung menutup selambu dan pintu rumah.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Ayo?emut kontolku Bu Yati..&#8221; kata Pak Towadi tiba-tiba sambil mengeluarkan penisnya yang agak kecil lemas tapi panjang berbintil-bintil seperti buah pace mendekati mulut istriku. &#8220;Jaaa&#8230;.jaaangaann nn paaak?.aaampun paaak ??!!!!&#8221; istriku terisak sambil memegang pergelangan tangan Pak Towadi yang menyambak rambutnya dan pantat Pak Towadi maju dan batang kemaluannya yang panjang berbintil-bintil semakin dekat dengan mulut istriku. &#8220;Lepas rambut saya paaak&#8230;!!!&#8221; isak istriku dan Pak Towadi melepas jambakannya dan istriku membuka mulutnya yang sudah dekat dengan penis Pak Towadi dan istriku mengulum penis berbintil Pak Towadi. &#8220;Sedot Bu Yati ?.wwwuhhh Raan Bu Yati pinter nyedot kontolku ?!!!&#8221; kata Pak Towadi ke Pak Diran yang juga mendekati istriku dan &#8220;Sudaaah nanti biar Bu Yati sendiri&#8230;!! !&#8221; katanya, aku tak mengerti maksud kata-kata Pak Diran, kemudian Pak Towadi mencabut penis berbintilnya dari mulut istriku dan mendorong istriku untuk duduk dibangku panjang yang ada di dapur, sementara dia duduk di kiri istriku, sedang Pak Diran dikanan istriku.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Bu Yati? gosok punyakmu sendiri ?!!&#8221; kata Pak Diran sambil memegang tangan kanan istriku ke selangkangan nya sendiri. &#8220;Ayooo ?.!!!&#8221; kata Pak Diran lirihdan mulailah istriku masturbasi menggosok dan mengocok bibir vaginanya sendiri sampai akhirnya bunyi kecepak terdengar dari selangkangannya. .. &#8220;Itilmu Bu Yati&#8230;!!!&#8221; kata Pak Diran dan istriku mengerang sendiri saat memepermainkan kelentiitnya. &#8220;Paaak ?!!!!&#8217; istriku mendesis &#8220;Kenapa, Bu Yati&#8230;?&#8221; tanya Pak Towadi &#8220;Paaaak ?.!&#8217; istriku hanya mendesis &#8220;Ran Bu Yati mulai naik niih&#8230;. ,!!!&#8221; kata Pak Towadi dan Pak Diran pun berdiri dan menuju pintu dan membukanya dan masuk kembali memegang tali dan betapa terkejutnya aku saat Pak Diran menarik Tarzan, kontol herdernya yang setia, yang selalu menemani mereka jaga. Istrikupun terkejut sepertiku dan Pak Diran mengunci pintu kembali dan Pak Towadi memegang istriku yang akan lari. &#8220;Diaam ?&#8221; bentak Pak Towadi &#8220;Jangaan paaak ?..&#8221; istriku akan mengatupkan kakinya tapi Pak Diran sudah berdiri di depan istriku dan menahan kaki istriku dan Tarzan, langsung menyusup di antara kaki Pak Diran yang menahan kaki istriku dan&#8230;&#8230;</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Aaaaaauuuuwwwwwww. &#8230;&#8230;Paaaak ?..!!!!&#8221; suara istriku mengerang saat selangkangan nya yang gundul dijilati Tarzan. Rupanya si Tarzan sudah terlatih merangsang wanita karena istriku memegang pinggang Pak Diran yang berdiri di depan istriku menahan agar kaki istriku tetap terkangkang lebar &#8220;Eeeccch eeh eeeeeecchchh ?..wwwuuucccggghhh paaaaak aaaahhcchhchchc ?&#8221; istriku mengerang ddan mendesis keras karena jilatan Tarzan di selangkangan nya. &#8220;Gimana Bu Yati? Enak Bu Yati?&#8221; kata Pak Diran terkekeh kekeh &#8220;Paaak ampuuunn adduuuuuuccch aaduuucchh mmmppfsss paaaakkkkzzzzz ? eeh eeh eeeh eh eh?.paakk akuuu wwwwwwuucccch ngngngngngng? ..&#8217; istriku mengerang keras dan memegang erat pinggang Pak Diran sedangkan pantat bahenol terangakt angkat saat orgasme ketiganya malam itu meledak dan Tarzan dengan ganasnya terus merangsang kelentit, bibir vagina istriku dan hanya terpaut beberapa menit istriku mengerang kembali saat mencapai orgasmenya yang ke empat dan tubuh istriku pun terjatuh di kursi nafasnya mendengus dengus keringatnya mengalir deras.</p>
<p style="text-align: justify;">tetapi Tarzan, si kontol herder itu terus merangsang istriku dengan jilatan jilatan mautnya di bibir vagina istriku dan kelentit istriku dan istriku pun mengejang dan mengerang kembali saat oergasmenya ke lima meledak. Tubuh istriku benar benar lunglai dan Pak Diran membalikkan tubuh istriku yang terkapar di kursi panjang dan menarik kedua kaki istriku yang tertelungkup di lantai dan bertumpu di kedua lututnya sehingga istriku menungging dan Tarzan rupanya sudah siap dan batang kemaluannnya yang merah sudah membesar dan menegang langsung melompat di punggung istriku dan Pak Towadi mengarahkan batang kemaluan Tarzan ke liang vagina istriku dan &#8220;MMmmppppfffh paaak jangaaaaan akuuu mnmmmn nn nggaaak mauuu mmmmppfffff .uuuucccch ucccchhh ?!!!!!&#8221; istriku mengerang saat batang kemaluan Tarzan menerobos masuk ke liang vagina istriku dan kulihat begitu cepatnya Tarzan mengenjotkan pantatnya sehingga istriku tak lagi dapat mengerang hanya mendesis &#8220;wwwhhh wwwwhhhhhw wwhwhhhwhw ?..!!!!&#8221; dan bunyi kecepak-kecepak di selangkangan istriku semakin keras &#8220;&#8221;wwwwhhhhcchh wwwccchhhh ngngngngng ?.!!!&#8221; istriku mengejan saat orgasme dan terus entah sampai orgasme yang keberapa hingga tampaknya istriku hampir pingsan.</p>
<p style="text-align: justify;">Seminggu sejak kejadian itu, istriku minta pindah dari kompleks perumahan itu dan dengan usahaku akhirnya kami dapat pindah di linkungan baru yang tak tahu mengenai kejadian itu.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ceritasex.cn/jeng-yati-another-story/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Istri yang Selingkuh</title>
		<link>http://www.ceritasex.cn/istri-yang-selingkuh/</link>
		<comments>http://www.ceritasex.cn/istri-yang-selingkuh/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 05 Oct 2009 21:08:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cerita Sex</dc:creator>
				<category><![CDATA[anal seks]]></category>
		<category><![CDATA[selingkuh]]></category>
		<category><![CDATA[anus]]></category>
		<category><![CDATA[birahi]]></category>
		<category><![CDATA[istri haus seks]]></category>
		<category><![CDATA[istri muda]]></category>
		<category><![CDATA[istri selingkuh]]></category>
		<category><![CDATA[ngentot]]></category>
		<category><![CDATA[pantat lobang]]></category>
		<category><![CDATA[wanita haus seks]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ceritasex.cn/?p=966</guid>
		<description><![CDATA[Aku telah menikah lebih dari 8 tahun, istriku Erni adalah seorang wanita yang cantik dan menggairahkan. Semua yang dapat kugambarkan tentang sosoknya hanyalah, aku tak mungkin bisa mendapatkan seorang pasangan hidup sebaik dia. Akhir-akhir ini kesibukanku di kantor membuat kehidupan rumah tanggaku sedikit tergoncang, pagi-pagi sekali sudah berangkat dan pulang sudah larut malam. Erni tak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Aku telah menikah lebih dari 8 tahun, istriku Erni adalah seorang wanita yang cantik dan menggairahkan. Semua yang dapat kugambarkan tentang sosoknya hanyalah, aku tak mungkin bisa mendapatkan seorang pasangan hidup sebaik dia. Akhir-akhir ini kesibukanku di kantor membuat kehidupan rumah tanggaku sedikit tergoncang, pagi-pagi sekali sudah berangkat dan pulang sudah larut malam. Erni tak bekerja, dia hanya mengurus rumah, jadi bisa dikatakan dia sendirian saja di rumah tanpa teman, tanpa pembantu selama kutinggal kerja. Tapi terkadang dia pergi keluar dengan teman- temannya, tapi dia selalu menghubungiku lewat telepon sebelum pergi. Hari Rabu, pekerjaanku di kantor selesai lebih awal, dan ingin pulang dan mengajak Erni keluar untuk menebus semua waktuku untuknya. Aku meninggalkan kantor sebelum jam makan siang dan memberitahukan pada sekretarisku bahwa aku tidak akan kembali ke kantor lagi hari ini. Kupacu mobilku secepatnya agar segera sampai di rumah dan mungkin aku akan mendapatkan kenikmatan siang hari sebelum kami pergi keluar. Saat hampir tiba di rumahku, kulihat ada sebuah mobil yang diparkir di depan. Aku pikir itu mungkin milik temannya. Aku lalu keluar dari mobil dan melangkah masuk ke dalam rumah. Kubuka pintu depan, sengaja aku tak mengeluarkan suara untuk mengejutkannya. Di ruang tengah tak kujumpai siapa pun, lalu aku melangkah ke dapur, tapi tetap tak ada seorang pun kutemui. Mungkin mereka ada di kamar tidur, perempuan bisanya berada di sana untuk mencoba beberapa pakaian barunya. Semakin mendekat ke pintu kudengar suara, kucoba mencermati pendengaranku dan mencoba untuk mendengarkannya dengan seksama. Ini adalah hari dimana aku berharap seharusnya berada di kantor saja. Begitu kuintip dari pinggir pintu yang sedikit terbuka, kusaksikan istriku berada dalam pelukan lelaki lain.</p>
<p style="text-align: justify;">istriku dalam posisi merangkak dengan batang penis lelaki itu terkubur dalam lubang anusnya.. &#8220;Oh *******, lebih keras lagi dong!&#8221; perintah istriku. &#8220;Kamu menyukainya kan, jalang, kamu suka penisku dalam anusmu, iya kan?&#8221; &#8220;Oh ya Bud, kamu tahu itu!&#8221; Aku berdiri mematung di sana tanpa mampu bereaksi, terlalu shock untuk mengatakan atau melakukan sesuatu dan hanya menyaksikan pemandangan mengejutkan ini. Istriku, yang aku bersedia mati untuknya, sedang melakukan anal seks dengan lelaki ini, sebuah hal yang kuinginkan tetapi tak pernah mau dia lakukan bersamaku. Dan sekarang dia melakukannya dengan lelaki ini! Aku terpaku memandangnya mengayunkan bongkahan pantatnya yang indah, kepalanya menggantung ke bawah dan sekujur tubuhnya bermandikan keringat mengisyaratkan pada lelaki ini agar memberinya lebih lagi. Air mata mengaburkan pandanganku dan kedua kakiku seakan direkat pada lantai membuatku tak bisa beranjak dari sana dan menyaksikan keseluruhan peristiwa ini. Serasa hancur hatiku saat lelaki itu menjambak rambutnya dan menarik kepalanya ke belakang dan memanggil istriku dengan sebutan &#8216;jalang&#8217;, dan memaksakan batang penisnya masuk ke dalam lubang anus istriku yang terlihat mengerut.<br />
<span id="more-966"></span><br />
Istriku memohon agar lebih dalam lagi dan pinggulnya menghantam berlawanan dengan pinggang lelaki ini. Dengan tangan kanannya, lelaki itu menjangkau ke bawah tubuh istriku dan menggenggam payudaranya yang sekal, menjepit ujung puting susunya yang kecoklatan dengan keras sekali, jeritan yang keluar dari bibir istriku menandakan bahwa dia merasakan kesakitan. Kami tidak pernah bercinta dengan cara begitu, kami selalu melakukannya dengan penuh cinta, aku tak pernah ingin menyakitinya dan aku tak mengerti bagaimana dia bisa menyukai saat diperlakukan kasar seperti ini. &#8220;Ya Budi, puaskan aku, beri aku apa yang tak dapat diberikan suamiku, kamu tahu betapa senangnya aku saat kamu melakukannya sayang!&#8221; Lelaki ini semakin menarik rambutnya dengan keras dan juga menarik payudaranya ke samping hingga kupikir puting susunya akan terkoyak karenanya, tapi dari bibirnya malah keluar jerit an memohon lagi. Aku harap aku dapat menikmati hal ini dan dapat bergabung dengan mereka, tapi aku tak bisa. Budi, itu nama lelaki ini yang kudengar disebutkan istriku, mengatakan padanya bahwa dia akan meraih orgasmenya, dan dia menarik keluar batang penisnya dari lubang anus istriku.
</p>
<p style="text-align: justify;">Istriku memutar tubuhnya dengan cepat dan menaruh batang penisnya yang masih berlumuran cairan dari lubang anusnya sendiri itu ke dalam mulutnya, mulut yang sama yang aku suka menciumnya selama 8 tahun terakhir ini, 10 tahun jika kuhitung sejak kami pertama berkencan sewaktu kuliah dulu. Hampir saja aku muntah begitu dia menelan penis kotornya itu ke dalam mulutnya dan menghisap spermanya begitu lelaki ini menyemburkan spermanya dengan hebat hingga tumpah sampai ke dagunya. &#8220;Benar begitu penghisap penisku, hisap terus jalang, telan spermaku pelacurku.&#8221; Ingin rasanya kubunuh lelaki itu, bagaimana mungkin dia bisa memanggil wanita secantik ini dengan sebutan kotor begitu. Bagaimana bisa istriku membiarkannya memanggilnya dengan sebutan itu. Seperti seorang bodoh saja saat aku melihat dan mendengarkan aksi mereka saat istriku menyelesaikan hisapannya pada batang penis lelaki ini. Dengan kasar dia menarik wajah istriku mendekat padanya untuk mencium bibirnya yang penuh. Memasukkan lidahnya ke dalam mulutnya saat istriku dengan senang menghisapnya. Tangan lelaki itu berada pada bongkahan pantat istriku.</p>
<p style="text-align: justify;">menekan tubuhnya agar merapat saat mereka berciuman layaknya sepasang remaja yang sedang dimabuk cinta. Akhirnya aku baru bisa bergerak, dan aku berbalik lalu melangkah ke ruang keluarga kami, duduk di atas sofa sambil memegangi kepalaku, kedua sikuku bertumpu pada paha. Air mata meleleh membasahi wajahku mengingat segala peristiwa mengejutkan yang baru saja kusaksikan. Memikirkan tentang bagaimana dan apa yang membuat Erni melakukan perbuatan terkutuk ini padaku. Aku selalu memperlakukannya dengan penuh cinta dan kasih sayang, kami mempunyai kehidupan seks yang indah, setidaknya itu menurutku. Aku selalu melihatnya mendapatkan orgasme setiap kali kami bercinta. Dia tak pernah menuntut padaku bahwa dia menginginkan lagi dan aku pasti akan memenuhinya. Apa yang membuatnya melakukan ini. Aku pikir aku akan melihat mereka keluar dari dalam kamar sebentar lagi, tapi aku salah. Aku tak ingin melihat apa yang mereka lakukan, tapi ada sesuatu dari dalam diriku yang mendorongku untuk kembali ke kamar itu. Saat aku kembali mengintip dari balik pintu, kedua kaki istriku berada di bahu lelaki ini dan dia sekarang sedang menyetubuhi vaginanya.</p>
<p style="text-align: justify;">lubang yang sama dimana kudapatkan kenikmatan selama 10 tahun. Tak dapat kupercaya pendengaranku akan kata-kata hina yang keluar dari mulut manis istriku. &#8220;Oh ya, puaskan aku dengan penismu, isi mulutku lagi dengan spermamu. Lebih keras Budi, berikan yang aku mau, lebih keras lagi *******!!&#8221; Belum pernah kudengar dia berkata seperti ini sebelumnya. &#8220;Ya jalang, milik siapa vagina lezat ini?&#8221; &#8220;Oh milikmu Budi, semuanya milikmu sayang.&#8221; Setiap kata yang terucap seakan sebilah belati yang menghunjam ke hatiku, merobeknya menjadi berkeping- keping seiring pinggul istriku bergoyang mengiringi hentakan lelaki ini dengan gairah yang belum pernah kulihat darinya. Sebuah pemikiran melintas dalam benakku, aku senang, senang karena sampai dengan saat ini kami belum mempunyai seorang anak yang akan menemukan bahwa ibunya adalah seorang pelacur! &#8220;Siapa yang dapat memuaskanmu, siapa yang mampu memenuhi keinginanmu?&#8221; &#8220;Kamu Budi, hanya kamu yang bisa memberiku!&#8221; Apa yang harus kulakukan, pergi, tetap di sini, melabrak mereka, atau hanya menghajar lelaki ini? Tak kulakukan apa pun, selain hanya melihat. Mungkin jika aku lebih dari seorang pria, atau setidaknya lebih dari seorang pria yang tega.</p>
<p style="text-align: justify;">aku akan melakukan sesuatu daripada hanya berdiri saja di sini. Seharusnya kulabrak mereka, menghajar mereka berdua, atau apa pun, tapi aku hanya menyaksikan perbuatan mereka dengan hati yang hancur berkeping- keping. Nafsu istriku b egitu besar dan lelaki itu memuaskannya, mereka bersetubuh seperti sepasang binatang di atas ranjang cinta kami. Bed covernya sudah sangat kusut seperti kedua pakaian mereka yang tercampak di lantai dalam pergulatan birahi mereka berdua. Kusaksikan batang penisnya yang keras ditarik hampir keluar seluruhnya dan dilesakkannya kembali dengan hentakan yang mampu membuat pinggul istriku terangkat dengan kedua pahanya yang terpentang lebar untuk menerima seluruh batang keras milik lelaki itu ke dalam vaginanya. &#8220;Puaskan aku sayang, berikan penismu padaku. Jangan coba berhenti, jangan pernah berhenti!&#8221; Kembali mereka berciuman dengan begitu bernafsu. Pinggul mereka saling menghantam berulang kali. Mereka tak menyadari kehadiranku di belakang mereka yang sebenarnya bahkan hanya dengan menolehkan kepalanya saja mereka akan dapat melihatku yang sedang berdiri mengintip dari balik pintu.</p>
<p style="text-align: justify;">Tapi mereka sedang sibuk dengan kegiatannya yang lebih penting sekarang, pendakian untuk sebuah orgasme lagi. Sudah cukup apa yang kusaksikan, lebih dari apa yang ingin kulihat. Aku bebalik dan keluar dari rumah. Kukendarai mobil di bawah sinar mentari yang cerah sampai mataku terbakar, dari sinar mentari dan dari air mata. Kejadian yang baru saja kusaksikan berputar dalam benakku. Aku berhenti pada sebuah kafe dan memesan segelas minuman yang paling keras. Kutatap jam di dinding hingga jarum jam menunjukkan pukul 7 malam, kembali ke mobilku dan pulang ke rumah kami, jika masih bisa disebut rumah kami sekarang. Baru saja aku masuk ke dalam, aku langsung bertemu dengan Erni, dia hendak mencium bibirku, tapi kulengoskan mukaku. &#8220;Ada yang salah, sayang?&#8221; tanyanya. &#8220;Nggak, hanya capai saja!&#8221; Kami melangkah ke meja makan dan saling berbincang sebentar, aku lebih pendiam daripada biasanya, dan dia berlagak seolah tak ada apa pun yang terjadi hari ini. Kuselesaikan makan malamku dan beranjak untuk mandi, berharap aku mampu mencuci ingatan mengerikan tentang istriku yang berselingkuh dengan lelaki lain dari benakku, tapi itu tak terjadi.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku naik ke pembaringan, tak dapat tidur dengan nyenyak karena ingatan akan istriku yang bertingkah seperti seorang pelacur yang haus akan batang penis sedang memuaskan lelaki ******* yang bernama Budi. Memberinya apa yang seharusnya hanya untukku. Rasanya jarum jam tak akan pernah beranjak ke pukul 6 pagi agar aku dapat pergi dari sini dan merenung. ***** Hari ini seakan berlalu dengan sangat lambat, akhirnya jam 11 siang tiba. Kukendarai mobilku dan kembali ke rumah. Kembali kulihat mobil Budi terparkir di depan rumah. Kemarahanku sekarang sudah melampaui batasnya. Dengan tergesa aku mesuk ke dalam rumah dan menemukan mereka berdua sedang bergulat di atas ranjang kami lagi. Dengan marah kuteriakkan padanya agar menjauh dari istriku dan mengusirnya keluar dari rumahku. Budi hanya tertawa dan dengan batang penis yang masih berlumuran dengan cairan istriku, dia mengenakan pakaiannya, sedangkan Erni berusaha untuk menjelaskan semuanya. Tak ada satu pun kata- kata yang ingin kudengar dari mulutnya. Setelah Budi pergi, kemudian Erni menemuiku di meja makan.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Erni, kenapa kamu lakukan semua ini? Apa yang terjadi?&#8221; &#8220;Penyebabnya kamu! Kamu nggak pernah ada, kamu nggak pernah memperhatikanku, mengajakku keluar. Yang kamu lakukan hanya kerja, kerja, kerja! Persetan dengan semua itu. Aku menginginkan lebih dari itu dan Budi memberinya.&#8221; &#8220;Aku dapat memberimu lebih Erni, Aku akan memaafkanmu jika kamu menghentikan semua kegilaan ini. Aku tidak bisa hidup tanpa kamu!&#8221; Dia memandang tajam ke arahku. &#8220;Kamu boleh berkata sesukamu, aku tidak peduli. Kenyataannya kamu membuatku muak, kamu bukan seorang lelaki. Seorang lelaki akan membunuh pria yang berselingkuh dengan istrinya, tetapi kamu bahkan tak melakukan apa-apa. Kamu pecundang!&#8221; &#8220;Tolong jangan lakukan ini Erni, kamu tahu betapa aku mencintaimu.&#8221; &#8220;Persetan dengan kamu!&#8221; dia meneriakiku, lalu menelepon Budi. &#8220;Budi, jemput aku, sekarang juga!&#8221; dan membanting teleponnya. Dia masuk ke dalam kamar dan tak lama kemudian keluar dengan membawa koper, lalu pergi untuk menunggu jemputan Budi. Lelaki ******* ini datang tak lama berselang..</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ceritasex.cn/istri-yang-selingkuh/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Petualangan Isteriku Disebuah Pesta Pantai</title>
		<link>http://www.ceritasex.cn/petualangan-isteriku-disebuah-pesta-pantai/</link>
		<comments>http://www.ceritasex.cn/petualangan-isteriku-disebuah-pesta-pantai/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 19 Jul 2009 14:11:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cerita Sex</dc:creator>
				<category><![CDATA[Seks Umum]]></category>
		<category><![CDATA[Tante Girang]]></category>
		<category><![CDATA[selingkuh]]></category>
		<category><![CDATA[budak nafsu]]></category>
		<category><![CDATA[cewek nakal]]></category>
		<category><![CDATA[gatel]]></category>
		<category><![CDATA[istri muda]]></category>
		<category><![CDATA[istri orang]]></category>
		<category><![CDATA[ml]]></category>
		<category><![CDATA[nafsu]]></category>
		<category><![CDATA[ngentot]]></category>
		<category><![CDATA[pengen di entot]]></category>
		<category><![CDATA[pesta sex]]></category>
		<category><![CDATA[seks rame rame]]></category>
		<category><![CDATA[sex party]]></category>
		<category><![CDATA[swinger]]></category>
		<category><![CDATA[tukar pasangan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ceritasex.cn/?p=688</guid>
		<description><![CDATA[Sekitar satu minggu yang lalu isteriku, Dayu dan aku diundang hadir ke sebuah beach resort bersama dengan rekan-rekan kerjanya. Isteriku bekerja pada bagian marketing di sebuah perusahaan besar yang sangat sukses beberapa tahun belakangan, dan hal tersebut berimbas pada kesejahteraan karyawannya yang semakin naik dan beberapa bonus juga, salah satunya adalah perjalanan ke resort kali [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Sekitar satu minggu yang lalu isteriku, Dayu dan aku diundang hadir ke sebuah beach resort bersama dengan rekan-rekan kerjanya. Isteriku bekerja pada bagian marketing di sebuah perusahaan besar yang sangat sukses beberapa tahun belakangan, dan hal tersebut berimbas pada kesejahteraan karyawannya yang semakin naik dan beberapa bonus juga, salah satunya adalah perjalanan ke resort kali ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku sangat bergairah untuk pergi, meskipun dia merasa khawatir bertemu dengan rekan-rekan kerja isteriku. Kantor Dayu bekerja sangatlah berkultur informal, dan kadang Dayu cerita padaku tentang semua godaan dan cubitan yang berlangsung selama jam kerja. Aku bekerja pada sebuah firma hukum, yang sangat disiplin dan professional, dan bercanda apalagi saling goda merupakan hal yang tak bisa ditolerir dalam perusahaan. Dan hal itu mempengaruhi sikap dan perilakuku dalam keseharian, aku menjadi seorang yang tegas dan formal. Aku tak begitu yakin bisa berbaur dengan rekan kerja Dayu nanti.</p>
<p style="text-align: justify;">Dayu sendiri adalah seorang wanita periang dan mudah bergaul. Berumur 30 tahun, potongan rambut pendek seleher dan berwajah manis. Dia agak sedikit pendek dibawah rata-rata, pahanya ramping yang bermuara pada pinggang dengan pantat yang kencang. Sosok mungilnya berhiaskan sepasang payudara yang lumayan besar dan namun bulat kencang meskipun tanpa memakai penyangga bra. Kami berjumpa dibangku kuliah dan menjadi dekat dalam waktu singkat lalu menikah tak lama setelah kami lulus. Dia tak begitu berpengalaman dalam hal seks, meskipun aku bukanlah lelaki pertama yang berhubungan seks dengannya.</p>
<p style="text-align: justify;">Kala hari perjalanan itu tiba, kami mengenderai mobil menuju resort tersebut. Dalam perjalanan kesana Dayu menceritakan kalau dia telah membeli sebuah bikini baru untuk akhir pekan kali ini.<br />
<span id="more-688"></span><br />
&#8220;Mau pamer tubuh ke orang-orang, ya?&#8221; candaku padanya.<br />
&#8220;Mungkin,&#8221; jawabnya dengan tersenyum.<br />
&#8220;Maksudmu?&#8221; tanyaku penasaran. Dayu yang kutahu tak begitu suka mempertontonkan tubuhnya, aku selalu merasa sulit untuk sekedar memaki pakaian renang yang minim.<br />
&#8220;Nggak ada, bukan apa-apa&#8221; Dayu tertawa menggoda suaminya. &#8220;Sudah pernah kubilang padamu kan kalau dikantor kita senang bercanda dan saling menggoda. Liburan ini pasti tak ada bedanya, hanya tempat dan suasananya yang beda untuk sedikit genit didepan para pria.&#8221;<br />
&#8220;Kamu juga genit di depan teman-teman priamu?&#8221; tanya Wisnu gusar.<br />
&#8220;Bukan cuma aku, sayang. Semua teman wanitaku juga melakukannya kok,&#8221; jawab Dayu menjelaskan. &#8220;Cuma sedikit genit, menggoda dan bercanda. Kamu tahu, kadang saling bercanda mmm… yeah bercanda agak jorok, seks dan juga sedikit tontonan.&#8221;<br />
&#8220;Tunggu, apa?&#8221; suara Wisnu agak meninggi. &#8220;Tontonan? Kamu mempertontonkan tubuhmu ke teman-teman priamu?&#8221;<br />
&#8220;Oh, sayang, ini bukan sungguh-sungguh,&#8221; jawab Dayu. &#8220;Cuma menggoda kok. Hanya sedikit menyingkap baju, kadang sedikit memberi bonus dengan memperlihatkan dada sebentar.&#8221;
</p>
<p style="text-align: justify;">Aku terhenyak, isteriku memperlihatkan payudaranya pada pria lain? Pria lain di kantornya? Ini bukan seperti sosok Dayu yang kukenal selama ini. Hanya seberapa dekat dia dengan teman kerja prianya? Kepalaku dipenuhi oleh pikiran yang berkecamuk tak karuan hingga akhirnya kami tiba di resort.</p>
<p style="text-align: justify;">Segera kuparkir kendaraan kami. Begitu memasuki lobby dengan bawaan kami, sekelompok orang melambai ke arah Dayu untuk mendekat. Mereka adalah beberapa orang dari rekan-rekan kerjanya dan Dayu memperkenalkanku. Alan, Dave, Eddie, Gary adalah nama taman-teman prianya dan yang wanitanya Sasha, Kristin, Melly dan Nina.</p>
<p style="text-align: justify;">Mereka berkata pada Dayu kalau semua orang harus bertemu di kolam renang pribadi dan minum-minum dulu sebelum berikutnya pergi ke pantai. Kami setuju untuk menyusul mereka secepatnya setelah menaruh bawaan dikamar dan berganti pakaian.</p>
<p style="text-align: justify;">Baru saja mereka beranjak, Alan sudah beraksi dengan mencubit pinggul Dayu yang langsung memekik kegelian dan mendorong tubuh Alan menjauh. Aku sangat terkejut mendapati hal tersebut dan hampir saja teriak marah, tapi mereka semua mulai tertawa, termasuk Dayu, jadi aku pikir inilah sebagian dari cara mereka saling menggoda dan bercanda. Aku tak mau dianggap seorang yang kolot dan tak bisa berbaur di lima menit pertama kehadiranku, jadi aku hanya diam saja membiarkan.</p>
<p style="text-align: justify;">Kami menuju ke kamar kami dan mulai berganti pakaian dengan pakaian renang. Dayu masuk ke kamar mandi untuk berganti pakaian dan kemudian keluar dengan sebuah handuk membalut tubuhnya. Aku ingin melihat apa yang dipakainya dibalik handuk tersebut, tapi dia langsung memotongku sebelum mampu berkata sepatah kata &#8220;Ayo, kita turun!&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Kuraih sebuah buku dan berjalan mengikutinya menuju kolam renang. Kantor Dayu pasti sudah menyewa seluruh kolam tersebut, karena ada logo perusahaan pada semua handuk dan pada tulisan selamat datang. Ada sekitar lima puluhan orang di area kola mini. Kebanyakan dari mereka adalah pria, dan yang membuatku kecewa, kebanyakan dari mereka terlihat muda dan menarik. Para wanitanya juga tak ada yang mengecewakan. Kebanyakan mereka hanya berbikini minim memperlihatkan keindahan tubuh muda mereka.</p>
<p style="text-align: justify;">Baru saja aku hendak bertanya dimanakah teman-temannya yang tadi, saat kulihat isteriku sedang membuka handuk penutup tubuhnya. Apa yang terpampang dihadapanku sangat membuatku terpaku, dibalik handuk tersebut dia memakai sebuah bikini warna merah tua dan… sangat minim. Bagian atasnya hanya menutup sebagian depan dari payudaranya, dan tali penahannya yang terkalung dileher jenjangnya terlihat seakan siap untuk dilepas. Sedangkan bagian bawah hampir menyerupai thong, memperlihatkan keindahan paha dan bongkahan pantatnya. Dia terlihat begitu menawan.</p>
<p style="text-align: justify;">Tak heran dia menutupinya dengan handuk saat dikamar tadi, pikirku. Dia tahu kalau aku pasti akan meributkan apa yang dipakainya. Baru saja aku hendak berkomentar namun terpotong oleh sebuah teriakan dari seberang kolam, &#8220;Hey, lihat Dayu!&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Dan langsung disusul oleh riuh rendah suara yang diiringi siulan nakal dari para pria di area kolam tersebut. Dayu hanya tertawa riang lalu melakukan sebuah pose, memperlihatkan perutnya yang rata dan kemulusan pahanya sambil mengoleskan sun-block ke tubuhnya. Dia menoleh ke arahku dan berkata, &#8220;Lihat kan? Hanya menggoda saja!&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Aku hanya mengangguk dan terdiam. Aku harapdia mengatakan sesuatu tentang betapa terbukanya pakaian renang yang dia pakai ini tapi itu bukan sesuatu yang perlu dipermasalahkan, ini tetap hanya sebuah bikini. Jika para pria ingin memandangi tubuh isteriku, apa salahnya dengan itu? Bahkan aku bisa merasa bangga akan hal tersebut.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku rebah di atas bangku malas dan mulai membuka buku yang kubawa sedangkan Dayu berjalan menghampiri teman-temannya. Aku berencana menghabiskan waktu dengan membaca, namun mataku terus melayang ke arah dimana isteriku berada. Setiap kali aku melihat Dayu, dia tengah asik bercanda dengan teman prianya. Akhirnya kuputuskan untuk berhenti membaca, dan hanya memperhatikan setiap tingkah lakunya sambil terus pura-pura membaca bukuku.</p>
<p style="text-align: justify;">Di salah satu sudut kolam tersebut ada bar yang menyuguhkan berbagai macam minuman dan sudah berulang kali aku kesana untuk sebotol bir dingin. Kelihatannya minumannya sudah dipersiapkan dalam jumlah dan ragam yang banyak untuk membuat pesta ini berjalan meriah. Kuamati Dayu sudah berulang kali pergi ke sana untuk segelas margaritas dan entah sudah berapa banyak orang yang pergi mengambilkan minuman untuknya. Namun yang jelas dia semakin bertambah mabuk seiring berjalannya waktu. Ditambah lagi para pria yang mendorongnya dan juga para wanita lainnya untuk minum lebih banyak lagi. Pada suatu kesempatan Dave menantang Dayu untuk berlomba menghabiskan minuman dalam gelas mereka, yang tentu saja dimenangkan Dave dengan mudah, melihat kondisi Dayu sudah lebih dari sekedar mabuk.</p>
<p style="text-align: justify;">Baru saja aku mulai kembali membaca, Dayu datang menghampiri. Dia baru saja keluar dari dalam kolam dan tubuhnya basah kuyup. Dengan kain penutup tubuh yang dia kenakan menempel erat disetiap lekuk tubuhnya, membuat dia semakin terlihat menggoda.<br />
&#8220;Hai, sayang,&#8221; sapanya. &#8220;Sudah lebih santai?&#8221;<br />
&#8220;Yeah,&#8221; jawab Wisnu. &#8220;Kamu sendiri, bisa bersenang-senang?&#8221;<br />
&#8220;Oh, ya,&#8221; dia tersenyum manja. &#8220;Aku sudah agak mabuk.&#8221;
</p>
<p style="text-align: justify;">Itu terlihat jelas, tapi aku tak mau lebih mendesaknya. Dayu mengeringkan tubuhnya dengan handuknya, lalu melangkah kembali ke teman-temannya.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku kembali pada bacaanku, hingga tiba-tiba saja kudengar suara jeritan. Dengan cepat aku menoleh ke arah suara tersebut, tepat disaat kulihat Melly yang tengah menutupi payudara telanjangnya dengan tangannya. Salah satu dari pria tersebut menarik lepas penutup dadanya dan sekarang tengah berlari dipinggiran kolam dengan menenteng penutup dada tersebut. Melly mengejarnya, dengan lengan menyilang menutupi dadanya hingga si pria berhenti lalu menangkap tubuh Melly dan menariknya bersamanya menceburkan diri ke dalam kolam.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku dengar sebuah suara jeritan lagi dan salah seorang wanita yang tak kukenal sekarang juga tak berpenutup dada. Alih-alih menutupi payudaranya, kali ini si wanita hanya membiarkan saja pria yang menarik lepas penutup dadanya itu berlari menjauh dan dia terus mengobrol dengan temannya seakan tak terjadi apapun.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku memandang sekeliling untuk mencari Dayu. Dia sedang sedang mengobrol dengan seorang pria di kolam yang dangkal. Kuperhatikan Alan sedang berenang ke arahnya dari belakang dan muncul tepat dibelakangnya lalu menyentakkan tali penahan penutup dadanya di leher. Penutup dada Dayu tertarik erat menekan daging bulat kenyal tersebut dan tiba-tiba saja payudaranya terayun meloncat lepas dari penutupnya. Dia memekik dan tubuhnya berbalik ke belakang untuk memukul Alan. Alan mengangkat penutup dada tersebut tinggi ke atas, Dayu hanya tertawa keras lalu melompat mencoba merebutnya. Nampak payudaranya terayun seiring tiap lompatannya, puting merah mudanya terlihat jelas mencuat keras membuat seluruh pria dikolam tersebut bersorak riuh.</p>
<p style="text-align: justify;">Dave bergerak ke belakang Dayu lalu menangkap pinggangnya dan mengangkatnya tinggi tinggi agar bisa meraih penutup dada yang dipegangi Alan. Dayu rebut penutup dada tersebut dari tangan Alan lalu mengibaskannya pada Alan dengan tertawa genit. Dayu mulai memakai kembali penutup dadanya, namun masih kalah cepat dengan tangan Alan yang menjulur ke arahnya untuk meremas payudara telanjangnya yang sebelah kiri. Kembali Dayu memekik dan menepis tangan Alan untuk menjauh.</p>
<p style="text-align: justify;">Rupanya para wanita tak membiarkan begitu saja dengan perbuatan para pria terhadap penutup dada mereka. Beberapa menit setelah Dave membantu Dayu tadi, nampak Melly berjalan mengendap dibelakang Dave yang sekarang berdiri di depan Bar lalu menarik turun celana renang yang dipakai Dave. Sebuah batang penis yang besar menyembul keluar dan seluruh wanita menjerit riuh tak terkecuali Dayu. Dave hanya tertawa keras dan mulai mengejar Melly yang berlari mengitari tepian kolam. Dengan konyol Dave berlari mengejr dan mengibas-ngibaskan batang penisnya ke arah Melly yang berlari, menjerit dan tertawa.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah beberapa menit kemudian, Dayu keluar dari kolam renang dan berjalan ke arahku. Sebelum dia mampu mengucap sepatah kata, aku sudah memberondongnya dengan pertanyaan tentang apa yang sedang terjadi disana.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Oh, sayang, bukan apa-apa. Mereka hanya bersenang-senang, itu saja,&#8221; jawab Dayu.<br />
&#8220;Aku rasa melihatmu telanjang dada dan juga menyentuh dadamu bukan sekedar bercanda atapun senang-senang!&#8221; kataku ketus.<br />
&#8220;Sayang, jangan terlalu kolot begitu. Lagipula aku sudah memakai penutup dadaku lagi. Lihat para pria itu, mereka melepas beberapa penutup dada teman wanitaku yang lainnya lagi dan sebagian dari para merka, mereka tak ambil pusing untuk memakainya lagi.&#8221;
</p>
<p style="text-align: justify;">Dia berhasil memojokkanku. Beberapa teman wanitanya sekarang sudah mondar-mandir dengan telanjang dada, terkadang salah seorang pria akan mendekat untuk sekedar menyentuh atau meremas payudara mereka.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Lagipula,&#8221; Dayu membungkuk dan tiba-tiba memelankan suaranya, &#8220;Bukankah ini membuatmu terangsang melihat para pria melirikku? Mengintip dadaku dan menyentuhnya sedikit?&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Aku jadi terdiam karena memang itu kenyataannya. Aku merasakan rangsangan setelah melihat para pria tersebut menggoda isterinku, namun aku juga merasakan cemburu yang sangat besar.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Semua hanya coba bersenang-senang dan tak ada yang dirugikan,&#8221; sambung Dayu lagi. &#8220;Coba pikirkan saja betapa nakalnya isterimu ini, membiarkan para pria melihat dadanya dan menyentuhnya.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Aku menganggukkan kepala pelan dan dia tersenyum lebar lalu melangkah pergi. Aku merasa harus mengucapkan sesuatu, namun moment tersebut telah musnah. Lagipula, jika para pria berlaku seperti itu pada semua wanita di sini, tak ada alasan bagiku untuk merasa marah. Aku coba lagi untuk konsentrasi pada buku yang kubawa, namun tak berapa lama rasa kantuk melanda. Aku ambil kacamatku lalu dengan cepat terlelap.</p>
<p style="text-align: justify;">Saat aku terbangun, suasana menjadi sangat riuh di dalam kolam. Kebanyakan para wanita yang berada disana sudah tak memakai penutup dada lagi, termasuk Kristin yang tengah berjalan lewat di depan tempatku berada. Kristin berbadan lebih tinggi dibandingkan Dayu, tapi payudaranya lebih kecil. Dadanya terekspos bebas, dan penutup dadanya terlihat menggantung dilehernya, mungkin hasil usil beberapa pria yang melepaskan pengaitnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku masih merasa ngantuk namun sudah terjaga, dan dengan kaca mata yang menutupi mataku terlihat aku masih tertidur. Aku sapukan pandangan ke seantero area kolam untuk mencari istriku dan kusaksikan suasana sudah semakin memanas, beberapa pasang pria wanita bahkan terlihat saling bercumbu di dalam kolam renang tanpa mempedulikan sekeliling lagi.</p>
<p style="text-align: justify;">Akhirnya kutemukan keberadaan Dayu, yang sedang duduk dipinggir kolam dengan kakinya masuk ke dalam air. Alan menemaninya di dalam kolam, lengannya bertumpu di atas paha Dayu. Keduanya terlihat asik ngobrol dengan wajah yang hampir bersentuhan. Ekspresi wajah Dayu terlihat jengah, sedangkan Alan terlihat sedang merajuk tentang sesuatu. Sebentar-sebentar terdengar suara tawa renyah pecah dari mulut Dayu, terdengar jelas kalau dia masih dalam kondisi mabuk.</p>
<p style="text-align: justify;">Beberapa menit berselang, terlihat Dayu mengangkat lengannya dan mengangkat salah satu tali penahan penutup dadanya dibahunya kemudian pelan-pelan dia turunkan dari bahunya. Alan mengucapkan sesuatu yang kembali membuat tawa isteriku pecah. Kemuadian dia memegang tangan Dayu dan menariknya masuk ke dalam air diantara kedua pahanya. Brengsek, umpatku dalam hati. Apa Alan sudah membuat isteriku menyentuh batang penisnya?</p>
<p style="text-align: justify;">Dayu memekik terkejut pada awalnya lalu kembali dia tertawa. Dia tetap membiarkan tangannya berada di dalam air, lalu mulailah terlihat dia menggerakkan tangannya. Kembali Alan mengucapkan sesuatu dan Dayu tertawa lagi, lalu dia angkat tangannya dari dalam air dan menurunkan tali penahan penutup dadanya yang satu lagi dari bahunya. Dia memandang sekilas kearahku, dan aku terdiam tak berani bergerak. Aku pasti telah membuatnya yakin kalau aku masih tertidur lelap karena kemudian dia menoleh kembali pada Alan.</p>
<p style="text-align: justify;">Penutup dadanya sekarang hanya bergantung ditahan hanya oleh daging bulat payudaranya saja. Alan sekarang memandanginya tanpa sungkan-sungkan lagi dan mengobrol dengan penuh semangat. Aku tak tahu apa yang tengah dia ucapkan, tapi melihat isteriku yang terlihat melakukan setiap apapun yang Alan pinta, itu pasti sebuah paduan sempurna dari sebuah humor dan rayuan. Beberapa saat berikutnya kembali tangan Dayu masuk ke dalam air. Kali ini dia terlihat menahan nafas. Apapun yang dia pegang di dalam air tersebut, itu membuatnya terkesan. Alan tertawa dan membisikkan sesuatu yang membuat tawa Dayu lebih pecah dengan kerasnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Kembali Dayu mengangkat tangannya dari dalam air kemudian meremas kedua lengannya rapat-rapat. Belahan daging payudaranya terangkat sedikit, cukup untuk membuat penutup dadanya sedikit lebih turun lagi, membuat putingnya sekarang terekspos di hadapan mata Alan. Putingnya yang merekah terlihat sangat keras dan mencuat menggiurkan dari bulat kenyalnya payudaranya yang indah.</p>
<p style="text-align: justify;">Menyaksikan hal itu membuatku sangat terkejut sekaligus merasa api birahiku berkobar hebat, batang penisku langsung tebangun dan ereksi penuh. Aku tak bisa percayai kalau isteriku telah mengekspos dirinya dihadapan seorang pria seperti itu, dan aku tak bisa percaya kalau diriku sendiri merasa terangsang karena melihat kejadian tersebut. Apa yang salah dengan diriku?</p>
<p style="text-align: justify;">Alan sangat menikmati waktunya mengamati keindahan payudara Dayu untuk bebeapa waktu, kemudian dia membungkuk mendekat ke arah Dayu dan membisikkan sesuatu di telinganya. Dayu tertawa genit dan kembali tangannya bergerak masuk ke air. Keduanya diam tak berbicara untuk beberapa saat sedangkan tangan Dayu bergerak naik turun di dalam air. Terlihat nyata kalau Dayu tengah mengocok batang penis Alan. Beberapa detik kemudian Dayu menoleh ke arahku dengan ragu-ragu. Aku yakin jika dia melihatku bergerak, maka dia akan langsung menghentikan apapun yang tengah dia lakukan itu, tapi aku tetap diam tak bergerak. Aku merasa seberapa besar rasa cemburu dalam dadaku, maka sebesar itu pula keinginanku untuk melihat apa yang akan terjadi berikutnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah memastikan kalau aku masih tetap tertidur, Dayu turun dari tepian kolam lalu masuk ke dalam air. Sekarang dia berdiri berhadapan dengan Alan, penutup dadanya menempel diperutnya. Kedua tangannya kembali masuk ke dalam air lalu keduanya nampak sedikit menggeliat untuk beberapa saat. Aku hanya mampu menebak apa yang tengah mereka lakukan hingga celana renang Alan tiba-tiba saja muncul dari dalam air disamping tubuhnya. Dayu telah melepaskannya!</p>
<p style="text-align: justify;">Keduanya tertawa berbarengan, lalu kembali Dayu memasukkan tangannya kedalam air. Nafas Alan mulai terlihat berat dan tatapan matanya terpaku pada payudara indah milik isteriku. Dayu hanya tertawa genit atas tatapan mata Alan pada payudaranya tersebut dan bahkan beberapa kali nampak dia sedikit menggoyangkan dadanya untuk memberikan sedikit tontonan pada Alan.</p>
<p style="text-align: justify;">Dayu mulai menggerakkan tangannya naik turun dengan cepat dan semakin bertambah cepat, sementara itu Atatapan mata Alan tak pernah lepas dari payudara isteriku. Tiba-tiba Alan memejamkan matanya rapat-rapat dan menggigit bibir bawahnya. Dayu melihat ke bawah dan menatap air seakan terhipnotis saat Alan mulai menggelinjang. Setelah beberapa saat dia berhenti menggelinjang dan membuaka matanya kembali. Lalu Alan membisikkan sesuatu padanya yang membuat Dayu menjerit dengan nada genit marah dan mendorong Alan menjauh. Alan tertawa dan menggenggam celana renangnya, sedangkan Dayu memakai penutup dadanya kembali.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku sudah tak yakin lagi apakah yang mampu membuatku terkejut lagi, menyaksikan isteriku memasturbasi pria lain didepan mataku ataukah kenyataan bahwa tak ada seorangpun yang memperhatikannya. Melihat sekeliling, kusaksikan begitu banyak orang yang saling mencumbu, dan aku rasa mereka berdua merasa sangat yakin kalau tak ada seseorangpun yang memperhatikan apa yang mereka perbuat. Aku bertanya kalau diriku masih seorang pria lugu dan kolot lagi sekarang, benarkah begitu? Benakku menjawab, masih, namun batang penisku yang ereksi berkata tidak.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah setengah jam berikutnya, Kristin berdiri, masih bertelanjang dada mengumumkan bahwa saatnya untuk pergi ke pantai telah tiba. Perusahaan telah menyewa beberapa van untuk mengangkut semua orang disana dan tidak memperbolehkan memakai mobil sendiri.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku pura-pura baru bangun dari tidurku saat Dayu berjalan mendekatiku. Dia masih agak mabuk, jika tak mau dikatakan mabuk dan kuputuskan untuk melihat apakah dia akan mengungkapkan semuanya. &#8220;Ada yang terjadi lagi saat aku tertidur?&#8221;<br />
&#8220;Tak begitu banyak, sayang,&#8221; jawabnya.<br />
&#8220;Ada lagi yang mencuri lepas penutup dada?&#8221; desakku.<br />
&#8220;Kenapa?&#8221; tanya istriku dengan nada menggoda. &#8220;Apa kamu ingin dengar tentang itu?&#8221;<br />
&#8220;Mungkin,&#8221; jawabku, meskipun dengan cara penyampaiannya itu membuatku terdengar sangat ingin mendengarnya.<br />
&#8220;Well, tak ada lagi yang mencuri lepas penutup dada, tapi Alan masih ingin melihat payudaraku dan dia terus merajuk. Jadi kupikir dia juga sudah melihatnya, aku memberinya sedikit bonus lagi.&#8221;<br />
&#8220;Oh,&#8221; jawabku.<br />
&#8220;Jadi kuturunkan sedikit penutup dadaku dan membiarkan dia melihatnya. Tapi hanya itu saja. Tak apa-apa kan sayang? Kamu tak marah padaku karena sudah memperlihatkan payudaraku sebentar pada teman priaku?&#8221; jawabnya dengan nada merajuk.<br />
&#8220;Aku rasa begitu&#8230;&#8221; jawabku datar. Aku sedang membayangkan dia memasturbasi Alan.
</p>
<p style="text-align: justify;">Kami mengemasi handuk kami dan kemudian berjalan mengikuti yang lain menuju ke area parkir. Kami masuk ke dalam van yang semua orang di dalamnya tak kukenal lalu mulailah kami berangkat menuju ke pantai. Jalanan yang dilalui sangat jelek dan membuat van yang kami tumpangi terlonjak-lonjak, namun aku tak begitu merasakannya karena aku tengah fokus pada usaha untuk mengingat apa yang kusaksikan pada Dayu dan Alan tadi.</p>
<p style="text-align: justify;">Saat tiba di pantai, kuperhatikan kalau perusahaan juga sudah mengeset sebuah erena untuk permainan bola voli lengkap dengan net-nya dan segera saja Kristin dan Nana sudah berinisiatif untuk memuali sebuah pertandingan. Kuputuskan untuk rebah diatas pasir saja dan melihat, berusaha untuk menata perasaan dan melegakan himpitan dalam dada, sedangkan Dayu langsung bergabung dalam permainan. Kedua team terbagi dalam kelompok wanita dan pria. Sebenarnya pertandingan tersebut menyenangkan untuk disaksikan karena para pemainnya ternyata lumayan mahir dan juga karena para wanita terlihat begitu menawan saat melompat dalam balutan bikini minim mereka. Seiring jalannya pertandingan, suasana semakin bertambah panas, kata-kata jorokdan ejekan penuh sendau gurau terus bersahutan.</p>
<p style="text-align: justify;">Sekarang tibalah saatnya bagi isteriku untuk serve. &#8220;Siap-siap guys, kali ini kalian ak akan bisa mengemblikan!&#8221; teriaknya.<br />
&#8220;Kamu mau bertaruh untuk penutup dadamu?&#8221; teriak Eddie membalas.</p>
<p style="text-align: justify;">Langsung terdengar riuh rendah suara menyambut dari para penontonnya. Dayu terdiam beberapa saat, mimik wajahnya menggambarkan ekspresi yang sangat seksi kemudian belas menyahut, &#8220;Kalau kamu tak bisa mengembalikannya, kamu harus melepas celanamu!&#8221;<br />
&#8220;Ok, tapi itu tak akan terjadi sayang!&#8221; balas Eddie.
</p>
<p style="text-align: justify;">Dayu merespon dengan melempar bola ditangannya tinggi-tinggi dan mengirimkan sebuah serve yang sangat kuat. Aku tak yakin berapa banyak rekan kerjanya yang tahu, kalau dia saat kuliah dulu termasuk andalan dalam team bola voli. Bola tersebut mengarah sangat sesuai dengan yang dia inginkan, mendarat dengan tajam diantara dua pemain yang paling payah.</p>
<p style="text-align: justify;">Para wanita bersorak menyambutnya sedangkan para pria terlihat menepuk kepalnya sambil mengerang kesal. Eddie bersiul dan menghadap ke arah Dayu, kemudian mencengkeram celananya kemudian menurunkannya. Batang penisnya tak sepanjang milik Dave namun jauh lebih besar. Benar-benar cukup besar untuk mengundang siulan dan teriakan dari para wanita. Dayu menatapnya dengan senyum birahi tergambar pada wajahnya. Belum pernah diamenatap bang penisku dengan ekspresi seperti itu sebelumnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Dayu bersiap untuk serve berikutnya dan berteriak pada seorang pria yang tak kukenal, &#8220;Hey, Don! Mau bertaruh yang sama juga?&#8221;<br />
Doni melihat ke arah Eddie, lalu beralih ke dada isteriku dan kemudian menjawab, &#8220;Tentu saja!&#8221;
</p>
<p style="text-align: justify;">Dayu memberikan sebuah serve penuh tenaga lagi, namun kali ini para pria sudah lebih siap menyambutnya. Salah seorang pria melompat menyambut datangnya bola, bola tersebut melayang cukup tinggi bagi Dave untuk menyambutnya dengan smash yang keras. Para wanita terlihat terkejut dengan serangan tersebut, dan begitu bola mendarat mulus diatas pasir, para pria berteriak menyambutnya, &#8220;Lepas! Lepas!&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Dayu menutup wajahnya dengan kedua telapak tanganna, dia tertawa malu, lalu tangannya bergerak kebelakang tubuhnya untuk melepaskan penutup dadanya. Dia menahannya didada untuk beberpa saatdan kemudian melepas kain penutup dada tersebut ke samping. Payudara bulat indahnya yang dihiasi putting merah mencuat terpampang jelas tanpa penghalang lagi. Para pria mulai bersiut dan berteriak menyambutnya, sedangkan Dayu tampak memerah wajahnya dan tertawa.</p>
<p style="text-align: justify;">Dayu memainkan sisa pertandingan dengan bertelanjang dada, membuat semua orang mendapatkan sebuah tontonan indah. Setiap kali dia berlari atau melompat untuk mengembalikan bola, payudaranya akan memantul dengan seksi. Kuperhatikan semua selangkangan para pria terlihat menonjol karena ereksinya melihat semua gerakan isteriku, khususunya Eddie.</p>
<p style="text-align: justify;">Tak lama kemudian game tersebut berakhir dengan kemenangan dipihak team isteriku. Dayu dia berjalan memungut penutup dadanya, tapi tak memakainya kembali. Lalu dia berjalan menghampiri Eddie, yang baru saja mengambil celananya. Kuamati dia agak merentangkan punggungnya ke belakang, membuat payudaranya lebih menonjol kedepan. Mereka mulai mengobrolkan sesuatu, dan kuperhatikan pandangan isteriku lebih sering tertuju pada batang penis besarnya Eddie dan mata Eddie seakan juga tak mau lepas dari dada isteriku.</p>
<p style="text-align: justify;">Eddie mengucapkan sesuatu, lalu mendorongkan batang penisnya kearah isteriku. Dayu tertawa genit dan menggelengkan kepalanya, tapi pandangannya tak beralih dari batang penis tersebut. Eddie tetap pada posisinya, tak bergerak dan setelah beberapa lama tangan isteriku menggapai ke depan dan menggenggam batang penis milik Eddie. Dia memeganginya sejenak, kemudian dia sedikit menggoyangkannya dan dia tertawa senang.</p>
<p style="text-align: justify;">Eddie juga tertawa, kemudian tangannya terjulur kedepan dan menarik bagian depan dari kain penutup selangkangan yang dipakai Dayu. Dia membungkuk kedepan untuk mengintip vagina isteriku, sedangkan Dayu menjerit malu namun tak berusaha menghentikannya.</p>
<p style="text-align: justify;">Tiba-tiba saja Eddie menyentakkannya turun hingga ke pergelangan kaki isteriku. Dayu menjerit, membuat semua orang menoleh ke arahnya dan menyaksikan vaginanya yang dihiasi rambut tercukur rapi terekspos penuh. Tubuh indah isteriku telah telanjang seutuhnya sekarang, dan ekspresi malunya semakin membuatnya terlihat sangat cantik.</p>
<p style="text-align: justify;">Dengan cepat Dayu menaikkan penutup tubuh bawahnya dengan diiringi sorakan para pria, namun dia tak memakai kembali penutup dadanya. Matahari sudah mulai beranjak ke peraduannya sekarang, lalu Kristin meminta semua orang untuk kembali ke resort, semuanya diminta untuk berkumpul kembali di hot tub jam 10 nanti.</p>
<p style="text-align: justify;">Kami mulai berkemas dan berjalan menuju mobil, kami berjalan dengan santai dan saat kami tiba ke tempat parkir, yang tersisa hanya sebuah mini-van kecil dan orang yang masih ada berjumlah delapan orang. Iseriku adalah satu-satunya wanita dikelompuk ini dan pria yang kukenal dalam grup ini hanyalah Gary dan Dave. Garry naik ke kursi pengemudi dan menyuruh kita semua untuk segera masuk ke dalam mobil.</p>
<p style="text-align: justify;">Barusaja aku hendak menyuruh isteriku agar duduk di kursi belakang, namun Dave yang berada dikursi depan berkata, &#8220;Hey, Dayu, duduk disini saja, kupangku! Biar semuanya cukup.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Dayu sama sekali tak melirikku untuk meminta persetujuan. &#8220;Oke,&#8221; dia tertawa manja, &#8220;Tapi jangan macam-macam!&#8221; Kemudian dia naik ke pangkuan Dave, dengan masih hanya memakai penutup tubuh bawahnya saja. Para pria yang lainnya dengan cepat saling berebut naikke kursi tengah, membuatku terpaksa duduk jauh dibelakang.</p>
<p style="text-align: justify;">Semua orang kecuali aku dan Gary sudah dalam keadaan lumayan mabuk. Aku duduk dibelakang, disamping seorang pria yang keadaannya sudah mabuk berat, dan berbicara tentang sepak bola dengan suara yang sangat keras. Semua orang nampak asik dengan topik yang diangkat pria ini, jadi ada empat orang pria yang mabuk saling teriak satu sama lainnya dalam mini-van ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku tak begitu ingin ikut masuk dalam pembicaraan mereka, karena aku ingin konsentrasi mengawasi isteriku yang berada di depan. Aku tak mau Dave mengambil kesempatan dlam situasi ini. Sudut pandangnku sangat kurang menguntungkan dan aku harus membungkuk ke depan untuk dapat melihat apa yang terjadi dikursi depan.</p>
<p style="text-align: justify;">Pada awalnya kulihat isteriku nampak bersandar ke tubuh Dave di belakangnya, yang berusaha memasang sabuk pengaman ke tubuh mereka berdua. Itu membuatnya harus meraih kedepan dan tangannya menyentuh payudara Dayu karenanya. Dave melakukannya lebih lama dari yang seharusnya, tapi Dayu hanya membiarkannya saja.</p>
<p style="text-align: justify;">Kami mulai memasuki jalanan yang jelek, membuat mini-van ini melompat-lompat dan yang berada didalamnya terguncang. Ditengah guncangan yang terjadi itu kuamati tangan Dave yang semula berada di dada Dayu bergeser ke pahanya. Keduanya asik mengobrol dan tertawa-tawa, tapi karena keberadaanku di belakang dan ditambah pula suar berisik para pria mabuk ini yang membicarakan sepak bola dengan sura yang keras membuatku dapat mendengar apa yang tengah dibcarakan Dayu dengan Dave.</p>
<p style="text-align: justify;">Satu dari pria mabuk ini menoleh padaku dan bertanya tentang team sepak boal favoritku. Aku berusaha untuk tetapa fokus pada kejadian di kursi depan, tapi aku tak ingin menarik perhatian para pria mabuk ini. Jadi kujawab pertanyaaan pria tersebut dan mulai masuk dalam perbicangan tentang sepak bola ini. Jalanan yang kami lalui bertambah semakin parah, dan aku harus susah payah menjaga posisiku agar tetap stabil dan pada perbincangan tersebut.</p>
<p style="text-align: justify;">Saat akhirnya aku bisa melirik ke arah depan lagi, keperhatikan Dayu dan Dave sudah tak memakai sabuk pengaman lagi. Tak ada yang kelihatan aneh. Tangan Dave masih berada dipinggang isteriku, meskipun sekarang posisi duduk Dayu agak lebih naik di pangkuan Dave dan terguncang naik turun. Kupikir guncangan tersebut disebabkan oleh buruknya kondisi jalan, namun saat mobil berhenti dilampu merah, kuperhatikan tubuh Dayu tetap bergerak naik turun. Aku tak bisa melihat ekspresi keduanya dan tiba-tiba saja sebuah prasangka buruk menyergap otakku, mungkin saat ini Dave sedang menyetubuhinya. Kecurigaanku semakin besar saat kuamati mereka berdua sama sekali diam tak saling bicara.</p>
<p style="text-align: justify;">Disisa perjalanan aku membungkuk ke depan dan mengamati tubuh isteriku terayun naik turun, menerka-nerka tentang kemungkinan kemungkin yang terjadi dikursi depan. Setelah sekitar dua puluh menitan, mobil berbelok arah dan sudah tampak resort di depan.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku yang paling terakhir keluar dari dalam mobil dan aku bergegas menyusul Dayu yang sudah berjalan didepan bersama Dave dan Gary. Saat akhirnya aku berhasil menyusulnya, kuperhatikan kalau wajahnya tampak memerah dan dia sedikit berkeringat.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Hey,&#8221; kataku, saat semua pria sudah berjalan menjauh didepan. &#8220;Apa yang sudah terjadi dikursi depan tadi?&#8221;<br />
&#8220;Apa? Apa yang sudah kamu lihat?&#8221; tanyanya, terdengar terkejut namun juga bersemangat.<br />
&#8220;Aku tak bisa melihat, tapi kuperhatikan kalau Dave terlihat sangat menikmati keadaannya,&#8221; jawabku mencoba berkilah.<br />
&#8220;Jangan marah, sayang, kami hanya bercanda saja,&#8221; dia mulai menjelaskan. &#8220;Dave terus mengeluh tentang celananya yang sangat sesak, jadi aku menyuruhnya untuk menurunkannya sedikit kalau dia mau. Sebenarnya aku cuma bercanda dan bermaksud menggodanya saja. Aku tak bermaksud agar dia benar-benar melakukannya, tapi dia sungguh-sungguh melakukannya. Andai saja kamu melihat betapa batang penisnya sungguh sangat besar &#8221; terangnya dengan suara pelan namun punuh gairah<br />
&#8220;Sayang, batang penisnya itu sungguh besar. Aku menggeseknya dengan pantatku beberapa saat. Lalu dia sepertinya menarik penutup tubuh bawahku kesamping dan kepala penisnya menyelinap masuk ke dalam bibir vaginaku begitu saja. Aku rasa itu tak sengaja. Dan kamu tahu kondisi jalannya yang sangat parah kan? Tubuhku jadi terangkat naik turun dan itu membuat batang penisnya semakin masuk bertambah dalam, hingga akhirnya… kamu mungkin tak percaya sayang, batang penisnya jadi masuk semuanya! Tapi baru sebentar saja aku merasakan vaginaku terisi penuh, mobilnya menghantam gundukan yang besar dan batang penisnya jadi tercabut keluar begitu saja, lalu kubetulkan lagi penutup tubuh bawahku dan selesai, itu saja.&#8221;
</p>
<p style="text-align: justify;">Ekspresi wajahnya jadi bergairah dan menghiba disaat yang bersamaan. &#8220;Tak apa-apa kan sayang? Bukan masalah besar kan? Ini benar-benar kecelakaan dan lagipula dia tak sampai keluar.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Aku sama sekali tak mampu bicara. Isteriku telah berterus terang dengan sangat gamblang kalau dia baru saja menyetubuhi seorang pria. Tapi apa yang bisa kuperbuat? Aku tak mungkin membuat keributan besar di resort ini, di hadapan semua orang.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Yah&#8230; kalau dia tak sampai keluar, kurasa itu tak maslah,&#8221; akhirnya jawabku lirih.<br />
&#8220;Kamu sungguh suami yang sangat pengertian sayang!&#8221; teriaknya senang sambil memelukku. &#8220;Ayo, kita cari sesuatu untuk makan malam!&#8221;
</p>
<p style="text-align: justify;">Dinner berlalu tanpa ada kejadian berarti. Kami makan sandwich di kamar hotel. Aku lebih diam sekarang, berharap Dayu akan meminta maaf atau mngucapkan sesuatu tapi dia sepertinya terlihat menghindar terus.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku berbaring di atas ranjang, bermaksud untuk mengistirahatkan mataku sebentar, tapi aku pasti telah jatuh tertidur. Saat aku bangun, jam sudah menunjukkan pukul 10:30, dan Dayu sudah tak berada di dalam kamar. Aku bergegas turun menuju emperan belakang hotel.</p>
<p style="text-align: justify;">Orang-orang sudah ramai di sekitar hot tub, minum dan tertawa. Dayu memang sudah berada disana, dia pasti sudah pergi dulu saat aku tertidur tadi. Beberap wanita sudah tak memakai penutup dada lagi, dan telah banyak yang saling bercumbu dengan terang-terangan. Susana ini seperti layaknya pesta saat kuliah dulu, bukan sebuah pesta kantor.</p>
<p style="text-align: justify;">Dayu berjalan menghampiriku, dia sudah dalam keadaan mabuk dan langsung memberiku sebuah pelukan hangat.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Sayang, tak apa-apa kan kalau aku lepaskan semua penutup tubuhku?&#8221; tanyanya.<br />
&#8220;Apa?&#8221; aku sangat terkejut. &#8220;Semuanya?&#8221;<br />
&#8220;Ayolah sayang, bukan masalah besar kan?,&#8221; jawabnya. &#8220;Semua orang sudah melihat payudaraku, dan beberapa orang juga sudah melihatku telanjang saat Eddie menurunkan penutup tubuh bawahku. Orang lain juga sudah telanjang, kita semua disini memang datang kesini untuk bersenang-senang dan merasa nyaman.&#8221;
</p>
<p style="text-align: justify;">Dayu tak menunggu responku, dia hanya berbalik dan berjalan menuju hot-tub dan mulai melepas pentup dadanya. Saat para pria mulai bersiul padanya, dia menurunkan penutup tubuh bagian bawahnya, memperlihatkan pantatnya yang bulat dan kencang. Para pria yang berada dihadapannya mendapatkan pemandangan menawan dari vaginanya, dan semua orang menatap ke arahnya saat dengan perlahan dia mulai turun dan masuk ke dalam hot tub.</p>
<p style="text-align: justify;">Dayu menyusup diantara wanita lain yang juga bertelanjang dada dan kemudian duduk, menurunkan tubuhnya hingga hanya bahunya yang nampak menyembul dari atas permukaan air. Setidaknya dia membiarkan air menutupi tubuhnya, pikirku.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku berjalan menuju ke bar di dekat situ dan minum beberapa botol bir dingin lalu berbincang dengan para pria yang berada di sana. Perhatianku tertuju pada sekelompok orang di sebuah sudut didekatku dan kulihat Melly berada dalam kelompok tersebut. Dia bertelanjang dada, payudaranya yang kecil namun terlihat kencang tersebut nampak indah dihiasi putting yang lebih besar dari milik isteriku dan mencuat keras. Terlihat dia sangat semangat bicara dan itu membuat semua pria disekelilingnya tertawa. Tiba-tiba saja dia menurunkan bagian depan dari penutup tubuh bawahnya dan memperlihatkan vaginanya yang tercukur bersih. Para lelaki tersebut riuh menyambutnya dan mata mereka melahap dengan rakus pemandangan indah dan gratis dihadapan mereka.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku fokuskan perhatianku untuk berusaha mendengar apa yang mereka perbincangkan. &#8220;Rasanya sungguh hebat!&#8221; kudengar Melly berkata sambil menaikkan lagi penutup tubuh bawahnya. &#8220;Sekali kamu di wax, kamu tak akan bisa berhenti lagi! Suruh kekasih kalian untuk mencobanya.&#8221;<br />
&#8220;Yeah, kalau kamu bilang begitu,&#8221; salah seorang pria berkata. &#8220;Maksudku, itu memang terlihat bagus. Aku akan bilang kekasihku tentang ini.&#8221;<br />
&#8220;Mungkin dia akan lebih merasa yakin kalau kamu melakukannya lagi,&#8221; canda salah seorang pria. Pria yang lainnya tertawa dengan riuh menimpalinya.
</p>
<p style="text-align: justify;">Melly memutar bola matanya dengan seksi. &#8220;Ini, lihat yang baik,&#8221; katanya lalu menurunkan penutup tubuh bawahnya tersebut hingga ke mata kakinya. Sekarang telanjang bulat, dia tersenyum sambil menggoyanggan pinggulnya yang disambut engan siulan nakal para pria.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku sedang terpesona dengan tubuh kencang milik Melly saat telingaku mendengar seseorang dari arah hot tub berteriak, &#8220;Ini terlalu penuh!&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Hey Dayu, duduk dipangkuanku sini!&#8221; kata Eddie. &#8220;Biar yang lain kebagian tempat!&#8221;<br />
Isteriku tertawa manja. &#8220;Tapi orang-orang akan bisa melihat dadaku!&#8221;<br />
&#8220;Bagus kan!&#8221; balas Dave, diiringi suara tawa orang-orang.<br />
&#8220;Ayolah, lagipula kami sudah pernah melihat semuanya tadi,&#8221; jawab Eddie.
</p>
<p style="text-align: justify;">Dayu tertawa lalu berdiri, mengangkat payudaranya dari dalam air. Dia berjalan melintas dan duduk dipangkuan Eddie, terlihat payudaranya terguncang saat dia duduk.</p>
<p style="text-align: justify;">Eddie merangkulnya dan memegangi kedua daging payudara isteriku dengan telapak tangannya. &#8220;Nah, begini&#8221; katanya, &#8220;sekarang tak seorangpun yang bisa melihat payudara Dayu!&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Semua orang tertawa, termasuk isteriku.</p>
<p style="text-align: justify;">Lalu mereka kembali asik mengobrol lagi, namun perhatianku tetp tertuju pada isteriku dan Eddie. Tangannya tetap tak dia singkirkan dari dada isteriku, dan tak beberapa lama kemudian tangannya mulai bergerak meremas dan membelai. Dayu bersandar ke belakang dan membisikkan sesuatu ke telinga Eddie, dan kemudian tangan Eddie mulai memilin putingnya dengan lembut. Dayu tersenyum lebar dan mengatur posisi tubuhnya hingga Eddie lebih leluasa meremas dan membelai payudaranya.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku baru saja hendak melangkah mendekati isteriku saat Nina berjalan mendekatiku dan mulai bicara. Aku tak mau bersikap kasar, kudengar dengan seksama saat dia yang kondisinya sudah mabuk tersebut muali bicara betapa cantik baiknya isteriku dan bagaimana senangnya dia bisa bekerja bersama Dayu dikantor. Aku terus berusaha melirik kea rah isteriku dan Eddie tapi Nina menghalangi pandanganku. Setelah beberap lama aku menyerah dan mengalihkan seluruh perhatianku pada Nina. Dia terlihat sangat menarik dengan rambut ikalnya yang panjang dan postur tubuh yang menyerupai seorang model. Dia mengenakan pakaian renang one-piece warna hitam yang terlihat tak mampu menampung payudaranya yang begitu besar. Aku merasa nyaman memandanginya, karena keadaannya yang mabuk jadi dia tak akan menyadarinya, atau mungkin juga karena keadaanku yang sudah agak mabuk. Dia terus bicara tentang dirinya.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Kamu mau melihatnya?&#8221; tiba-tiba dia bertanya padaku, menyentakkanku dari lamunan.<br />
&#8220;Mm, melihat… nya?&#8221; jawabku, mencoba menutupi kalau aku tadi tak memperhatikannya<br />
&#8220;Anting pusarku! Kamu mau melihatnya?&#8221; dia mengulangi.<br />
&#8220;Uh, tentu,&#8221; jawabku. Aku tak begitu yakin bagaimana cara dia memperlihatkannya padaku, karena itu berada dibalik pakaiannya, dan pada awalnya dia berusaha menyingkapkan pakaian renangnya untuk memperlihatkan pusarnya padaku. Tapi pakaiannya tersebut sangat ketat. Setelah beberapa saat dia kemudian menyerah, dan yang membuatku terkejut, dia mulai menurunkan tali penahan dari bahunya. Dia turunkan hingga pinggangnya, mengekspos payudaranya yang besar dan perutnya yang kencang.
</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Lihat kan?&#8221; katanya sambil menunjuk anting di pusarnya. &#8220;Aku rasa agak kebesaran ukurannya.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Aku sedang berusaha agar terlihat memperhatikan antingnya, tapi mulutku menjawab dengan terbata-bata dengan mataku yang tak mau lepas dari dadanya.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Aw, kamu sangat manis,&#8221; jawabnya. &#8220;Dayu sangat beruntung memilikimu!&#8221; Kemudian dia melangkah pergi, dengan dadanya masih terekspos, meninggalkanku berpikir ada apa dengan orang-orang ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Tiba-tiba aku kembali teringat akan isteriku dan Eddie, lalu aku menoleh tepat disaat kulihat Dayu sedang mengangkat tubuhnya dari pangkuan Eddie. Keduanya terlihat berat nafasnya dan Eddie tersenyum dengan lebar. Dia bangkit dan mengangkat tubuhnya dari dalam tub dan sekarang kulihat dia telanjang bulat, batang penis besarnya terayun-ayun diselangkangannya. Bayangan tubuh telanjang isteriku diatas pangkuannya segera membuatku merasa resah dan khawatir kalau pria ini sudah menyetubuhi isteriku seperti halnya Dave.</p>
<p style="text-align: justify;">Kulihat ke arah isteriku lagi dan kulihat dia tengah duduk di dalam hot tub dan asik mengobrol dengan salah seorang wanita yang bertelanjang dada. Wanita tersebut menunjuk ke arah Eddie dan Dayu mengangguk, lalu keduanya menjerit genit dan tertawa keras.</p>
<p style="text-align: justify;">Di titik ini aku merasa sudah terlambat untuk berbuat sesuatu, dan hanya berdiri saja disana melihat semua yang tengah terjadi. Aku mulai merasa aneh dan takut kalau aku tak lagi memusingkan ini semua. Tanpa memberitahu isteriku, aku putuskan untuk kembali ke kamar. Aku rasa kalau dia melihatku pergi, dia akan sadar kalau aku sudah marah.</p>
<p style="text-align: justify;">Oh, ternyata aku salah. Aku tak bisa memejamkan mata dan sangat resah. Tiga jam berikutnya Dayu akhirnya masuk ke dalam kamar. Dia masih telanjang bulat dan tangannya memegangi pakaian renangnya. Setelah dia mandi dan kemudian menyusulku naik ke atas ranjang,merebahkan tubuhnya dengan punggungnya menghadap ke arahku.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku berharap dia akan mengucapkan sesuatu, tapi tak terdengar apapun kecuali kesunyian. Setelah beberapa lama, aku merasa takut kalau dia jatuh tertidur akhirnya aku bicara. &#8220;Jadi, apa yang sudah terjadi di hot tub?&#8221; bisikku.</p>
<p style="text-align: justify;">Dia membalikkan tubuh dan memandangi ekspresi wajahku. Tangannya bergerak ke dalam celanaku dan mulai membelai batang penisku saat dia mulai bicara.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Oh, jangan marah sayang, tapi aku memang agak terbawa suasana. Saat aku mulai masuk ke dalam hot tub, Eddie bergurau dengan mengatakan kalau sudah tak ada tempat lagi bagi kita semua dan dia menyuruhku untuk duduk di atas pangkuannya. Jadi aku pindah untuk duduk di atas pangkuannya agar semuanya mendapat tempat. Dia mulai bermain dengan payudaraku dan itu sangat membuatku terangsang. Jadi kubiarkan dia melakukannya lebih lama lagi. Kemudian dia menarikku lebih merapat dan aku jadi tahu kalau dia tak memakai apapun lagi, tapi sebelum aku sempat bereaksi, dia sudah lebih dulu mendorong batang besarnya masuk ke vaginaku!&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Dia mulai mengocoknya keluar masuk dan itu terasa sungguh indah, itulah kenapa kubiarkan saja dia melakukannya. Dan kurasa para pria lainnya juga tahu yang sedang terjadi, karena kemudian semuanya yang berada di hot tub memandangi kami berdua tanpa berkedip. Aku jadi merasa malu dan berpikir untuk menghentikannya, tapi kemudian kurasakan dia menusukkan seluruh batang penisnya ke dalam vaginaku dengan keras dan kurasakan batangnya itu berdenyut. Kamu tidak marah, kan? Aku benar-benar tak merencanakan dia keluar di dalam tapi itu sudah terlambat.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Dia berhenti beberapa saat.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Itu&#8230; bukanlah semua yang terjadi,&#8221; ucapnya agak ragu.<br />
&#8220;Sayang, berapa pria yang memasukkan batang penis mereka ke dalam vaginamu?&#8221; tanyaku, tak berharap dia menjawabnya.<br />
&#8220;Yeah, sebenarnya semuanya, setidaknya sekali saja,&#8221; jawabnya. &#8220;Tapi itu salah satu bagian dari game yang berlangsung!&#8221;<br />
&#8220;SEBUAH GAME?&#8221; tanyaku dengan nada cukup keras, dan kocokan tangannya pada batang penisku semakin bertambah cepat dan keras.
</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Ya, setelah beberapa lama kemudian,&#8221; sambungnya, &#8220;Kami semua sudah benar-benar mabuk. Maksudku sangat, sangat mabuk. Dan berikutnya hanya tinggal Kristin, Melly, Nina dan aku saja yang berada dalam hot tub bersama dengan semua pria. Dan beberapa pria mulai berdebat tentang batang penis siapa yang paling besar. Lalu Melly menyarankan biar para wanita saja yang memutuskan. &#8220;</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Kemudian para pria mulai melepas celana mereka dan membiarkan para wanita melihatnya. Sayang, aku tak tahu apakah aku memang sudah sangat mabuk atau bagaimana, tapi kulihat mereka semua sangat besar! Bahkan yang paling kecilpun terlihat masih agak lebih besar dibanding milikmu ini. &#8220;</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Kami mulai penilaiannya, tapi kemudian Eddie kelepasan bicara kalau dia sudah menyetubuhiku, dan itu jadi tak adil lagi karena aku sudah tahu lebih banyak dibandingkan yang lainnya. Dan Dave juga mengatakan kalau dia juga sudah melakukannya denganku, meskipun tidak sampai keluar. Lalu Gary mengatakan bahwa dia dan Melly juga sudah bersetubuh saat dipantai. Hingga akhirnya Kristin memutuskan agar adilnya, semua pria harus memasukkan tiap batang penis mereka ke dalam vagina tiap wanita, jadi para wanita akan tahu semua bagaimana rasanya. Bukan bersetubuh atau yang lainnya, hanya memasukkannya sebentar. Dengan begitu akan adil bagi penilaian para wanita. Kamu pikir juga begitu kan, sayang?&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam kondisi normal pasti akan kutolak penjelasan logikanya, tapi perbuatan tangannya pada batang penisku sudah berefek, dan aku hanya mampu menelan ludah lalu mengangguk.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Jadi kami semua akhirnya setuju dan para pria mulai mengambil gilirannya. Aku mendapatkan Alan untuk pertama kalinya, dia masukkan batang penisnya ke dalam vaginaku dan mulai mengocoknya keluar masuk beberapa kali, agar aku bisa merasakan dan membuat penilaian. Batang penisnya terasa lebih besar dari ukuran aslinya saat aku berhasil membuatnya orgasme.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Aku tahu itu! Dayu terlalu mabuk untuk mengingat kebohongannya diawal tadi.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Dan berikutnya Eddie lagi dan kemudian Gary. Mereka berdua menusukkan batang penisnya untuk beberapa saat agar aku bisa melakukan penilaian pada batang penis mereka. &#8220;</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Lalu akhirnya giliran Dave. Dia yang paling akhir, dan dia berbisik ditelingaku kalau tak adil jika kami tak menyelesaikan apa yang sudah kami awali di dalam mobil sebelumnya. Kemudian dia mulai memasukkan batang penisnya ke dalam vaginaku. Dialah yang paling besar, itu sudah pasti dan juga paling keras! Dan aku sudah merasa sangat terangsang setelah beberapa pria sebelumnya, dan aku adalah wanita yang terakhir bagi Dave. Jadi aku membiarkan dia menyetubuhiku agak lebih lama dibandingkan yang lainnya. Para wanita lainnya juga melakukan hal yang sama pada pria yang mendapatkan giliran terakhir dengan mereka, jadi aku rasa itu bukan masalah dan masih adil penilaiannya. Kami semua seolah saling berlomba bersetubuh untuk beberapa waktu lamanya hingga akhirnya kurasakan spermanya menyembur hebat dalam vaginaku. &#8220;</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Itu semua yang terjadi, sayang. Bukan masalah besar, kan?&#8221;<br />
&#8220;Bukan,&#8221; nafasku tecekat ditenggorokan saat aku orgasme, lebih hebat dari yang pernah kurasakan seumur hidupku. Aku tiba-tiba merasa menyesalinya, karena itu membuatku terlihat menikamti menyaksikan isteriku sendiri disetubuhi oleh sekelompok pria yang mereka semua dalah rekan kerjanya sendiri. Padahal sesungguhnya aku harus merasa marah karenanya.
</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Aku rasa kamu menyukainya,&#8221; jawabnya lirih. Lalu dia membalikkan tubuhnya dan menarik selimut ke atas. &#8220;Selamat tidur, sayang, I love you&#8221;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ceritasex.cn/petualangan-isteriku-disebuah-pesta-pantai/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Dijebak Tapi Enak Bagian 2</title>
		<link>http://www.ceritasex.cn/dijebak-tapi-enak-bagian-2/</link>
		<comments>http://www.ceritasex.cn/dijebak-tapi-enak-bagian-2/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 19 Jul 2009 13:42:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cerita Sex</dc:creator>
				<category><![CDATA[Paruh baya]]></category>
		<category><![CDATA[Seks Umum]]></category>
		<category><![CDATA[Tante Girang]]></category>
		<category><![CDATA[kisah nyata]]></category>
		<category><![CDATA[selingkuh]]></category>
		<category><![CDATA[anal]]></category>
		<category><![CDATA[bercinta]]></category>
		<category><![CDATA[emut kontol]]></category>
		<category><![CDATA[faridha]]></category>
		<category><![CDATA[gangbang]]></category>
		<category><![CDATA[istri muda]]></category>
		<category><![CDATA[ml]]></category>
		<category><![CDATA[ngentot]]></category>
		<category><![CDATA[ngesex]]></category>
		<category><![CDATA[oral]]></category>
		<category><![CDATA[seks]]></category>
		<category><![CDATA[swinger]]></category>
		<category><![CDATA[tukang pasangan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ceritasex.cn/?p=682</guid>
		<description><![CDATA[Namaku Faridha. Orang biasa memanggilku dengan Ridha saja. Aku lahir tahun 1975 di sebuah kota terkenal dengan julukannya, yaitu kota hujan. Aku telah menikah dengan seorang pria keturunan Jawa bernama Mas Hadi. Kami dikarunai seorang anak laki-laki yang kulahirkan di akhir tahun 1999. Oh.. iya, aku menikah dengan Mas Hadi pada tahun 1998, bulan April. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Namaku Faridha. Orang biasa memanggilku dengan Ridha saja. Aku lahir tahun 1975 di sebuah kota terkenal dengan julukannya, yaitu kota hujan. Aku telah menikah dengan seorang pria keturunan Jawa bernama Mas Hadi. Kami dikarunai seorang anak laki-laki yang kulahirkan di akhir tahun 1999. Oh.. iya, aku menikah dengan Mas Hadi pada tahun 1998, bulan April.</p>
<p style="text-align: justify;">Kehidupan kami biasa saja, dari segi ekonomi sampai hubungan suami istri. Aku dan suamiku cukup menikmati kehidupan ini. Suamiku yang kalem dan sedikit pendiam adalah seorang pegawai swasta di kotaku ini. Penghasilan sebulannya cukup untuk menghidupi kami bertiga. Namun kami belum begitu puas. Walau bagaimana kami harus merasakan lebih bukan hanya sekedar cukup.</p>
<p style="text-align: justify;">Karena jabatan suamiku sudah tidak mungkin lagi naik di perusahaannya, untuk menambah penghasilan kami, aku meminta ijin kepada Mas Hadi untuk bekerja, mengingat pendidikanku sebagai seorang Accounting sama sekali tidak kumanfatkan semenjak aku menikah. Pada dasarnya suamiku itu selalu menuruti keinginanku, maka tanpa banyak bicara dia mengijinkan aku bekerja, walaupun aku sendiri belum tahu bekerja di mana, dan perusahaan mana yang akan menerimaku sebagai seorang Accounting, karena aku sudah berkeluarga.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Bukankah kamu punya teman yang anak seorang Direktur di sini?&#8221; kata suamiku di suatu malam setelah kami melakukan hubungan badan.<br />
&#8220;Iya&#8230; si Yanthi, teman kuliah Ridha..!&#8221; kataku.<br />
&#8220;Coba deh, kamu hubungi dia besok. Kali saja dia mau menolong kamu..!&#8221; katanya lagi.<br />
&#8220;Tapi, benar nih.. Mas.. kamu ijinkan saya bekerja..?&#8221;<br />
Mas Hadi mengangguk mesra sambil menatapku kembali.</p>
<p style="text-align: justify;">Sambil tersenyum, perlahan dia dekatkan wajahnya ke wajahku dan mendaratkan bibirnya ke bibirku.<br />
&#8220;Terimakasih.. Mas.., mmhh..!&#8221; kusambut ciuman mesranya.<br />
Dan beberapa lama kemudian kami pun mulai terangsang lagi, dan melanjutkan persetubuhan suami istri untuk babak yang ketiga. Kenikmatan demi kenikmatan kami raih. Hingga kami lelah dan tanpa sadar kami pun terlelap menuju alam mimpi kami masing-masing.
</p>
<p style="text-align: justify;">Perlu kuceritakan di sini bahwa Rendy, anak kami tidak bersama kami. Dia kutitipkan ke nenek dan kakeknya yang berada di lain daerah, walaupun masih satu kota. Kedua orangtuaku sangat menyayangi cucunya ini, karena anakku adalah satu-satunya cucu laki-laki mereka.</p>
<p style="text-align: justify;">Siang itu ketika aku terbangun dari mimpiku, aku tidak mendapatkan suamiku tidur di sisiku. Aku menengok jam dinding. Rupanya suamiku sudah berangkat kerja karena jam dinding itu sudah menunjukkan pukul sembilan pagi. Aku teringat akan percakapan kami semalam. Maka sambil mengenakan pakaian tidurku (tanpa BH dan celana dalam), aku beranjak dari tempat tidur berjalan menuju ruang tamu rumahku, mengangkat telpon yang ada di meja dan memutar nomor telpon Yanti, temanku itu.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Hallo&#8230; ini Yanti..!&#8221; kataku membuka pembicaraan saat kudengar telpon yang kuhubungi terangkat.<br />
&#8220;Iya.., siapa nih..?&#8221; tanya Yanti.<br />
&#8220;Ini.. aku Ridha..!&#8221;<br />
&#8220;Oh Ridha.., ada apa..?&#8221; tanyanya lagi.<br />
&#8220;Boleh nggak sekarang aku ke rumahmu, aku kangen sama kamu nih..!&#8221; kataku.<br />
&#8220;Silakan.., kebetulan aku libur hari ini..!&#8221; jawab Yanti.<br />
&#8220;Oke deh.., nanti sebelum makan siang aku ke rumahmu. Masak yang enak ya, biar aku bisa makan di sana..!&#8221; kataku sambil sedikit tertawa.<br />
&#8220;Sialan luh. Oke deh.., cepetan ke sini.., ditunggu loh..!&#8221;<br />
&#8220;Oke.., sampai ketemu yaa.. daah..!&#8221; kataku sambil menutup gagang telpon itu.<br />
<span id="more-682"></span><br />
Setelah menelepon Yanti, aku berjalan menuju kamar mandi. Di kamar mandi itu aku melepas pakaianku semuanya dan langsung membersihkan tubuhku. Namun sebelumnya aku bermasturbasi sejenak dengan memasukkan jariku ke dalam vaginaku sendiri sambil pikiranku menerawang mengingat kejadian-kejadian yang semalam baru kualami. Membayangkan penis suamiku walau tidak begitu besar namun mampu memberikan kepuasan padaku. Dan ini merupakan kebiasaanku.
</p>
<p style="text-align: justify;">Walaupun aku telah bersuami, namun aku selalu menutup kenikmatan bersetubuh dengan Mas Hadi dengan bermasturbasi, karena kadang-kadang bermasturbasi lebih nikmat.</p>
<p style="text-align: justify;">Singkat cerita, siang itu aku sudah berada di depan rumah Yanti yang besar itu. Dan Yanti menyambutku saat aku mengetuk pintunya.<br />
&#8220;Apa khabar Rida..?&#8221; begitu katanya sambil mencium pipiku.<br />
&#8220;Seperti yang kamu lihat sekarang ini..!&#8221; jawabku.<br />
Setelah berbasa-basi, Yanti membimbingku masuk ke ruangan tengah dan mempersilakan aku untuk duduk.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Sebentar ya.., kamu santailah dahulu, aku ambil minuman di belakang&#8230;&#8221; lalu Yanti meninggalkanku.<br />
Aku segera duduk di sofanya yang empuk. Aku memperhatikan ke sekeliling ruangan ini. Bagus sekali rumahnya, beda dengan rumahku. Di setiap sudut ruang terdapat hiasan-hiasan yang indah, dan pasti mahal-mahal. Foto-foto Yanti dan suaminya terpampang di dinding-dinding. Sandi yang dahulu katanya sempat menaksir aku, yang kini adalah suami Yanti, terlihat semakin ganteng saja. Dalam pikirku berkata, menyesal juga aku acuh tak acuh terhadapnya dahulu. Coba kalau aku terima cintanya, mungkin aku yang akan menjadi istrinya.
</p>
<p style="text-align: justify;">Sambil terus memandangi foto Sandi, suaminya, terlintas pula dalam ingatanku betapa pada saat kuliah dulu lelaki keturunan Manado ini mencoba menarik perhatianku (aku, Yanti dan Sandi memang satu kampus). Sandi memang orang kaya. Dia adalah anak pejabat pemerintahan di Jakarta. Pada awalnya aku pun tertarik, namun karena aku tidak suka dengan sifatnya yang sedikit sombong, maka segala perhatiannya padaku tidak kutanggapi. Aku takut jika tidak cocok dengannya, karena aku orangnya sangat sederhana.</p>
<p style="text-align: justify;">Lamunannku dikagetkan oleh munculnya Yanti. Sambil membawa minuman, Yanti berjalan ke arah aku duduk, menaruh dua gelas sirup dan mempersilakanku untuk minum.<br />
&#8220;Ayo Rid, diminum dulu..!&#8221; katanya.<br />
Aku mengambil sirup itu dan meminumnya. Beberapa teguk aku minum sampai rasa dahaga yang sejak tadi terasa hilang, aku kembali menaruh gelas itu.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Oh iya, Mas Sandi ke mana?&#8221; tanyaku.<br />
&#8220;Biasa&#8230; Bisnis dia,&#8221; kata Yanti sambil menaruh gelasnya. &#8220;Sebentar lagi juga pulang. Sudah kutelpon koq dia, katanya dia juga kangen sama kamu..!&#8221; ujarnya lagi.
</p>
<p style="text-align: justify;">Yanti memang sampai sekarang belum mengetahui kalau suaminya dahulu pernah naksir aku. Tapi mungkin juga Sandi sudah memberitahukannya.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Kamu menginap yah.. di sini..!&#8221; kata Yanti.<br />
&#8220;Akh&#8230; enggak ah, tidak enak khan..!&#8221; kataku.<br />
&#8220;Loh&#8230; nggak enak gimana, kita kan sahabat. Sandi pun kenal kamu. Lagian aku sudah mempersiapkan kamar untukmu, dan aku pun sedang ambil cuti koq, jadi temani aku ya.., oke..!&#8221; katanya.<br />
&#8220;Kasihan Mas Hadi nanti sendirian..!&#8221; kataku.<br />
&#8220;Aah&#8230; Mas Hadi khan selalu menurut keinginanmu, bilang saja kamu mau menginap sehari di sini menemani aku. Apa harus aku yang bicara padanya..?&#8221;<br />
&#8220;Oke deh kalau begitu.., aku pinjam telponmu ya..!&#8221; kataku.<br />
&#8220;Tuh di sana&#8230;!&#8221; kata Yanti sambil menujuk ke arah telepon.
</p>
<p style="text-align: justify;">Aku segera memutar nomor telpon kantor suamiku. Dengan sedikit berbohong, aku minta ijin untuk menginap di rumah Yanti. Dan menganjurkan Mas Hadi untuk tidur di rumah orangtuaku. Seperti biasa Mas Hadi mengijinkan keinginanku. Dan setelah basa-basi dengan suamiku, segera kututup gagang telpon itu.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Beres..!&#8221; kataku sambil kembali duduk di sofa ruang tamu.<br />
&#8220;Nah.., gitu dong..! Ayo kutunjukkan kamarmu..!&#8221; katanya sambil membimbingku.<br />
Di belakang Yanti aku mengikuti langkahnya. Dari belakang itu juga aku memperhatikan tubuh montoknya. Yanti tidak berubah sejak dahulu. Pantatnya yang terbungkus celana jeans pendek yang ketat melenggak-lenggok. Pinggulnya yang ramping sungguh indah, membuatku iseng mencubit pantat itu.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Kamu masih montok saja, Yan..!&#8221; kataku sambil mencubit pantatnya.<br />
&#8220;Aw.., akh.. kamu. Kamu juga masih seksi saja. Bisa-bisa Mas Sandi nanti naksir kamu..!&#8221; katanya sambil mencubit buah dadaku.<br />
Kami tertawa cekikikan sampai kamar yang dipersiapkan untukku sudah di depan mataku.<br />
&#8220;Nah ini kamarmu nanti..!&#8221; kata Yanti sambil membuka pintu kamar itu.
</p>
<p style="text-align: justify;">Besar sekali kamar itu. Indah dengan hiasan interior yang berseni tinggi. Ranjangnya yang besar dengan seprei yang terbuat dari kain beludru warna biru, menghiasi ruangan ini. Lemari pakaian berukiran ala Bali juga menghiasi kamar, sehingga aku yakin setiap tamu yang menginap di sini akan merasa betah.</p>
<p style="text-align: justify;">Akhirnya di kamar itu sambil merebahkan diri, kami mengobrol apa saja. Dari pengalaman-pengalaman dahulu hingga kejadian kami masing-masing. Kami saling bercerita tentang keluhan-keluhan kami selama ini. Aku pun bercerita panjang mulai dari perkimpoianku sampai sedetil-detilnya, bahkan aku bercerita tentang hubungan bercinta antara aku dan suamiku. Kadang kami tertawa, kadang kami serius saling mendengarkan dan bercerita. Hingga pembicaraan serius mulai kucurahkan pada sahabatku ini, bahwa aku ingin bekerja di perusahan bapaknya yang direktur.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Gampang itu..!&#8221; kata Yanti. &#8220;Aku tinggal menghubungi Papa nanti di Jakarta. Kamu pasti langsung diberi pekerjaan. Papaku kan tahu kalau kamu adalah satu-satunya sahabatku di dunia ini..&#8221; lanjutnya sambil tertawa lepas.<br />
Tentu saja aku senang dengan apa yang dibicarakan oleh Yanti, dan kami pun meneruskan obrolan kami selain obrolan yang serius barusan.
</p>
<p style="text-align: justify;">Tanpa terasa, di luar sudah gelap. Aku pun minta ijin ke Yanti untuk mandi. Tapi Yanti malah mengajakku mandi bersama. Dan aku tidak menolaknya. Karena aku berpikir toh sama-sama wanita.Sungguh di luar dugaan, di kamar mandi ketika kami sama-sama telanjang bulat, Yanti memberikan sesuatu hal yang sama sekali tidak terpikirkan.</p>
<p style="text-align: justify;">Sebelum air yang hangat itu membanjiri tubuh kami, Yanti memelukku sambil tidak henti-hentinya memuji keindahan tubuhku. Semula aku risih, namun rasa risih itu hilang oleh perasaan yang lain yang telah menjalar di sekujur tubuh. Sentuhan-sentuhan tangannya ke sekujur tubuhku membuatku nikmat dan tidak kuasa aku menolaknya. Apalagi ketika Yanti menyentuh bagian tubuhku yang sensitif.</p>
<p style="text-align: justify;">Kelembutan tubuh Yanti yang memelukku membuatku merinding begitu rupa. Buah dadaku dan buah dadanya saling beradu. Sementara bulu-bulu lebat yang berada di bawah perut Yanti terasa halus menyentuh daerah bawah perutku yang juga ditumbuhi bulu-bulu. Namun bulu-bulu kemaluanku tidak selebat miliknya, sehingga terasa sekali kelembutan itu ketika Yanti menggoyangkan pinggulnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Karena suasana yang demikian, aku pun menikmati segala apa yang dia lakukan. Kami benar-benar melupakan bahwa kami sama-sama perempuan. Perasaan itu hilang akibat kenikmatan yang terus mengaliri tubuh. Dan pada akhirnya kami saling berpandangan, saling tersenyum, dan mulut kami pun saling berciuman.</p>
<p style="text-align: justify;">Kedua tanganku yang semuala tidak bergerak kini mulai melingkar di tubuhnya. Tanganku menelusuri punggungnya yang halus dari atas sampai ke bawah dan terhenti di bagian buah pantatnya. Buah pantat yang kencang itu secara refleks kuremas-remas. Tangan Yanti pun demikian, dengan lembut dia pun meremas-remas pantatku, membuatku semakin naik dan terbawa arus suasana. Semakin aku mencium bibirnya dengan bernafsu, dibalasnya ciumanku itu dengan bernafsu pula.</p>
<p style="text-align: justify;">Hingga suatu saat ketika Yanti melepas ciuman bibirnya, lalu mulai menciumi leherku dan semakin turun ke bawah, bibirnya kini menemukan buah dadaku yang mengeras. Tanpa berkata-kata sambil sejenak melirik padaku, Yanti menciumi dua bukit payudaraku secar bergantian. Napasku mulai memburu hingga akhirnya aku menjerit kecil ketika bibir itu menghisap puting susuku. Dan sungguh aku menikmati semuanya, karena baru pertama kali ini aku diciumi oleh seorang wanita.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Akh.., Yaantiii.., oh..!&#8221; jerit kecilku sedikit menggema.<br />
&#8220;Kenapa Rid.., enak ya..!&#8221; katanya di sela-sela menghisap putingku.<br />
&#8220;Iya.., oh.., enaaks&#8230; teruus..!&#8221; kataku sambil menekan kepalanya.<br />
Diberi semangat begitu, Yanti semakin gencar menghisap-hisap putingku, namun tetap lembut dan mesra. Tangan kirinya menahan tubuhku di punggung.
</p>
<p style="text-align: justify;">Sementara tangan kanannya turun ke bawah menuju kemaluanku. Aku teringat akan suamiku yang sering melakukan hal serupa, namun perbedaannya terasa sekali, Yanti sangat lembut memanjakan tubuhku ini, mungkin karena dia juga wanita.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah tangan itu berada di kemaluanku, dengan lembut sekali dia membelainya. Jarinya sesekali menggesek kelentitku yang masih tersembunyi, maka aku segera membuka pahaku sedikit agar kelentitku yang terasa mengeras itu leluasa keluar.</p>
<p style="text-align: justify;">Ketika jari itu menyentuh kelentitku yang mengeras, semakin asyik Yanti memainkan kelentitku itu, sehingga aku semakin tidak dapat mengendalikan tubuhku. Aku menggelinjang hebat ketika rasa geli campur nikmat menjamah tubuhku. Pori-poriku sudah mengeluarkan keringat dingin, di dalam liang vaginaku sudah terasa ada cairan hangat yang mengalir perlahan, pertanda rangsangan yang sungguh membuatku menjadi nikmat.</p>
<p style="text-align: justify;">Ketika tanganku menekan bagian atas kepalanya, bibir Yanti yang menghisap kedua putingku secara bergantian segera berhenti. Ada keinginan pada diriku dan Yanti mengerti akan keinginanku itu. Namun sebelumnya, kembali dia pada posisi wajahnya di depan wajahku. Tersungging senyuman yang manis.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Ingin yang lebih ya..?&#8221; kata Santi.<br />
Sambil tersenyum aku mengangguk pelan. Tubuhku diangkatnya dan aku duduk di ujung bak mandi yang terbuat dari porselen. Setelah aku memposisikan sedemikian rupa, tangan Yanti dengan cekatan membuka kedua pahaku lebar-lebar, maka vaginaku kini terkuak bebas. Dengan posisi berlutut, Yanti mendekatkan wajahnya ke selangkanganku. Aku menunggu perlakuannya dengan jantung yang berdebar kencang.
</p>
<p style="text-align: justify;">Napasku turun naik, dadaku terasa panas, begitu pula vaginaku yang terlihat pada cermin yang terletak di depanku sudah mengkilat akibat basah, terasa hangat. Namun rasa hangat itu disejukkan oleh angin yang keluar dari kedua lubang hidung Yanti. Tangan Yanti kembali membelai vaginaku, menguakkan belahannya untuk menyentuh kelentitku yang semakin menegang.</p>
<p style="text-align: justify;">Agak lama Yanti membelai-belai kemaluanku itu yang sekaligus mempermainkan kelentitku. Sementara mulutnya menciumi pusar dan sekitarnya. Tentu saja aku menjadi kegelian dan sedikit tertawa. Namun Yanti terus saja melakukan itu.<br />
Hingga pada suatu saat, &#8220;Eiist&#8230; aakh&#8230; aawh&#8230; Yanthhii&#8230; akh&#8230; mmhh&#8230; ssh..!&#8221; begitu suara yang keluar dari mulutku tanpa disadari, ketika mulutnya semakin turun dan mencium vaginaku.<br />
Kedua tangan Yanti memegangi pinggul dan pantatku menahan gerakanku yang menggelinjang nikmat.</p>
<p style="text-align: justify;">Kini ujung lidahnya yang menyentuh kelentitku. Betapa pintar dia mempermainkan ujung lidah itu pada daging kecilku, sampai aku kembali tidak sadar berteriak ketika cairan di dalam vaginaku mengalir keluar.<br />
&#8220;Oohh&#8230; Yantii&#8230; ennaakss&#8230; sekaalii..!&#8221; begitu teriakku.
</p>
<p style="text-align: justify;">Aku mulai menggoyangkan pinggulku, memancing nikmat yang lebih. Yanti masih pada posisinya, hanya sekarang yang dijilati bukan hanya kelentitku tapi lubang vaginaku yang panas itu. Tubuhku bergetar begitu hebat. Gerakan tubuhku mulai tidak karuan. Hingga beberapa menit kemudian, ketika terasa orgasmeku mulai memuncak, tanganku memegang bagian belakang kepalanya dan mendorongnya. Karuan saja wajah Yanti semakin terpendam di selangkanganku.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Hissapp&#8230; Yantiii..! Ooh.., aku.. akuu.. mau.. keluaar..!&#8221; jeritku.<br />
Yanti berhenti menjilat kelentitku, kini dia mencium dan menghisap kuat lubang kemaluanku.<br />
Maka.., &#8220;Yaantii.., aku.. keluaar..! Oh.., aku.. keluar.. nikmaathhs.. ssh..!&#8221; bersamaan dengan teriakku itu, maka aku pun mencapai orgasme.<br />
Tubuhku seakan melayang entah kemana. Wajahku menengadah dengan mata terpejam merasakan berjuta-juta nikmat yang sekian detik menjamah tubuh, hingga akhirnya aku melemas dan kembali pada posisi duduk. Maka Yanti pun melepas hisapannya pada vaginaku.
</p>
<p style="text-align: justify;">Dia berdiri, mendekatkan wajahnya ke hadapan wajahku, dan kembali dia mencium bibirku yang terbuka. Napasku yang tersengal-sengal disumbat oleh mulut Yanti yang menciumku. Kubalas ciuman mesranya itu setelah tubuhku mulai tenang.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Terimakasih Yanti.., enak sekali barusan..!&#8221; kataku sambil tersenyum.<br />
Yanti pun membalas senyumanku. Dia membantuku turun dari atas bak mandi itu.<br />
&#8220;Kamu mau nggak dikeluarin..?&#8221; kataku lagi.<br />
&#8220;Nanti sajalah.., lagian udah gatel nih badanku. Sekarang mending kita mandi..!&#8221; jawabnya sambil menyalakan shower.
</p>
<p style="text-align: justify;">Akhirnya kusetujui usul itu, sebab badanku masih lemas akibat nikmat tadi. Dan rupanya Yanti tahu kalau aku kurang bertenaga, maka aku pun dimandikannya, disabuni, diperlakukan layaknya seorang anak kecil. Aku hanya tertawa kecil. Iseng-iseng kami pun saling menyentuh bagian tubuh kami masing-masing. Begitupula sebaliknya, ketika giliran Yanti yang mandi, aku lah yang menyabuni tubuhnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah selesai mandi, kami pun keluar dari kamar mandi itu secara bersamaan. Sambil berpelukan, pundak kami hanya memakai handuk yang menutup tubuh kami dari dada sampai pangkal paha, dan sama sekali tidak mengenakan dalaman. Aku berjalan menuju kamarku sedang Yanti menuju kamarnya sendiri. Di dalam kamar aku tidak langsung mengenakan baju. Aku masih membayangkan kejadian barusan. Seolah-olah rasa nikmat tadi masih mengikutiku.</p>
<p style="text-align: justify;">Di depan cermin, kubuka kain handuk yang menutupi tubuhku. Handuk itu jatuh terjuntai ke lantai, dan aku mulai memperhatikan tubuh telanjangku sendiri. Ada kebanggaan dalam hatiku. Setelah tadi melihat tubuh telanjang Yanti yang indah, ternyata tubuhku lebih indah. Yanti memang seksi, hanya dia terlalu ramping sehingga sepintas tubuhnya itu terlihat kurus. Sedangkan tubuhku agak montok namun tidak terkesan gemuk.</p>
<p style="text-align: justify;">Entah keturunan atau tidak, memang demikianlah keadaan tubuhku. Kedua payudaraku berukuran 34B dengan puting yang mencuat ke atas, padahal aku pernah menyusui anakku. Sedangkan payudara Yanti berukuran 32 tapi juga dengan puting yang mencuat ke atas juga.</p>
<p style="text-align: justify;">Kuputar tubuhku setengah putaran. Kuperhatikan belahan pantatku. Bukit pantatku masih kencang, namun sudah agak turun, karena aku pernah melahirkan. Berbeda dengan pantat milik Yanti yang masih seperti pantat gadis perawan, seperti pantat bebek.</p>
<p style="text-align: justify;">Kalau kuperhatikan dari pinggir tubuhku, nampak perutku yang ramping. Vaginaku nampak menonjol keluar. Bulu-bulu kemaluanku tidak lebat, walaupun pernah kucukur pada saat aku melahirkan. Padahal kedua tangan dan kedua kakiku tumbuh bulu-bulu tipis, tapi pertumbuhan bulu kemaluanku rupanya sudah maksimal. Lain halnya dengan Yanti, walaupun perutnya lebih ramping dibanding aku, namun kemaluannya tidak menonjol alias rata. Dan daerah itu ditumbuhi bulu-bulu yang lebat namun tertata rapi.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah puas memperhatikan tubuhku sendiri (sambil membandingkan dengan tubuh Yanti), aku pun membuka tasku dan mengambil celana dalam dan Bra-ku. Kemudian kukenakan kedua pakaian rahasiaku itu setelah sekujur tubuhku kulumuri bedak. Namun aku agak sedikit kaget dengan teriakan Yanti dari kamarnya yang tidak begitu jauh dari kamar ini.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Rida..! Ini baju tidurmu..!&#8221; begitu teriaknya.<br />
Maka aku pun mengambil handuk yang berada di lantai. Sambil berjalan kukenakan handuk itu menutupi tubuhku seperti tadi, lalu keluar menuju kamarnya yang hanya beberapa langkah. Pintu kamarnya ternyata tidak dikunci. Karena mungkin Yanti tahu kedatanganku, maka dia mempersilakan aku masuk.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Masuk sini Rid..!&#8221; kataya dari dalam kamar.<br />
Kudorong daun pintu kamarnya. Aku melihat di dalam kamar itu tubuh Yanti yang telanjang merebah di atas kasur. Tersungging senyuman di bibirnya. Karena aku sudah melangkah masuk, maka kuhampiri tubuh telanjang itu.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Kamu belum pake baju, Yan..?&#8221; kataku sambil duduk di tepi ranjang.<br />
&#8220;Akh.., gampang&#8230; tinggal pake itu, tuh..!&#8221; kata Yanti sambil tangannya menunjuk tumpukan gaun tidur yang berada di ujung ranjang.<br />
Lalu dia berkata lagi, &#8220;Kamu sudah pake daleman, ya..?&#8221;<br />
Aku mengangguk, &#8220;Iya..!&#8221;<br />
Kuperhatikan dadanya turun naik. Napasnya terdengar memburu. Apakah dia sedang bernafsu sekarang.., entahlah.<br />
Lalu tangan Yanti mencoba meraihku. Sejenak dia membelai tubuhku yang terbungkus handuk itu sambil berkata, &#8220;Kamu mengairahkan sekali memakai ini..!&#8221;<br />
&#8220;Akh.., masa sih..!&#8221; kataku sambil tersenyum dan sedikit menggeser tubuhku lebih mendekat ke tubuh Yanti.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Benar.., kalo nggak percaya.., emm.. kalo nggak percaya..!&#8221; kata Yanti sedikit menahan kata-katanya.<br />
&#8220;Kalo nggak percaya apa..?&#8221; tanyaku.<br />
&#8220;Kalo nggak percaya..!&#8221; sejenak matanya melirik ke arah belakangku.<br />
&#8220;Kalo nggak percaya tanya saja sama orang di belakangmu&#8230; hi.. hi..!&#8221; katanya lagi.
</p>
<p style="text-align: justify;">Segera aku memalingkan wajahku ke arah belakangku. Dan.., (hampir saja aku teriak kalau mulutku tidak buru-buru kututup oleh tanganku), dengan jelas sekali di belakangku berdiri tubuh lelaki dengan hanya mengenakan celana dalam berwarna putih yang tidak lain adalah Mas Sandi suami Yanti itu. Dengan refleks karena kaget aku langsung berdiri dan bermaksud lari dari ruangan ini. Namun tangan Yanti lebih cepat menangkap tanganku lalu menarikku sehingga aku pun terjatuh dengan posisi duduk lagi di ranjang yang empuk itu.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Mau kemana.. Rida.., udah di sini temani aku..!&#8221; kata Yanti setengah berbisik.<br />
Aku tidak sempat berkata-kata ketika Mas Sandi mulai bergerak berjalan menuju aku. Dadaku mulai berdebar-debar. Ada perasaan malu di dalam hatiku.<br />
&#8220;Halo.., Rida. Lama tidak bertemu ya&#8230;&#8221; suara Mas Sandi menggema di ruangan itu.<br />
Tangannya mendarat di pundakku, dan lama bertengger di situ.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku yang gelagapan tentu saja semakin gelagapan. Namun ketika tangan Yanti dilepaskan dari cengkramannya, pada saat itu tidak ada keinginanku untuk menghindar. Tubuhku terasa kaku, sama sekali aku tidak dapat bergerak. Lidahku pun terasa kelu, namun beberapa saat aku memaksa bibirku berkata-kata.<br />
&#8220;Apa-apaan ini..?&#8221; tanyaku parau sambil melihat ke arah Yanti.<br />
Sementara tangan yang tadi bertengger di bahuku mulai bergerak membelai-belai. Serr.., tubuhku mulai merinding. Terasa bulu-bulu halus di tangan dan kaki berdiri tegak.
</p>
<p style="text-align: justify;">Rupanya Sentuhan tangan Mas Sandi mampu membangkitkan birahiku kembali. Apalagi ketika terasa di bahuku yang sebelah kiri juga didarati oleh tangan Mas Sandi yang satunya lagi. Perasaan malu yang tadi segera sirna. Tubuhku semakin merinding. Mataku tanpa sadar terpejam menikmati dalam-dalam sentuhan tangan Mas Sandi di bahuku itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Pijatan-pijatan kecil di bahuku terasa nyaman dan enak sekali. Aku begitu menikmati apa yang terasa. Hingga beberapa saat kemudian tubuhku melemas. Kepalaku mulai tertahan oleh perut Mas Sandi yang masih berada di belakangku. Sejenak aku membuka mataku, nampak Yanti membelai vaginanya sendiri dengan tangan kanannya, sementara tangan kirinya meremas pelan kedua payudaranya secara bergantian. Tersungging senyuman di bibirnya.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Nikmati Rida..! Nikmati apa yang kamu sekarang rasakan..!&#8221; suara Yanti masih sedikit membisik.<br />
Aku masih terbuai oleh sentuhan kedua tangan Mas Sandi yang mulai mendarat di daerah atas payudarara yang tidak tertutup. Mataku masih terpejam.<br />
&#8220;Ini.. kan yang kamu inginkan. Kupinjamkan suamiku..!&#8221; kata Yanti lagi.<br />
Mataku terbuka dan kembali memperhatikan Yanti yang masih dengan posisinya.<br />
&#8220;Ayo Mas..! Nikmati Rida yang pernah kamu taksir dulu..!&#8221; kata Yanti lagi.<br />
&#8220;Tentu saja Sayang.., asal.. kamu ijinkan..!&#8221; kata suara berat Mas Sandi.
</p>
<p style="text-align: justify;">Tubuhnya dibungkukkan. Kemudian wajahnya ditempelkan di bagian atas kepalaku. Terasa bibirnya mencium mesra daerah itu. Kembali aku memejamkan mata. Bulu-buluku semakin keras berdiri. Sentuhan lembut tangan Mas Sandi benar-benar nikmat. Sangat pintar sekali sentuhan itu memancing gairahku untuk bangkit. Apalagi ketika tangan Mas Sandi sebelah kanan berusaha membuka kain handuk yang masih menutupi tubuhku itu.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Oh.., Mas.., Maas&#8230; jangaan&#8230; Mas..!&#8221; aku hanya dapat berkata begitu tanpa kuasa menahan tindakan Mas Sandi yang telah berhasil membuka handuk dan membuangnya jauh-jauh.<br />
Tinggallah tubuh setengah bugilku. Kini gairahku sudah memuncak dan aku mulai lupa dengan keadaanku. Aku sudah terbius suasana.
</p>
<p style="text-align: justify;">Mas Sandi mulai berlutut, namun masih pada posisi di belakangku. Kembali dia membelai seluruh tubuhku. Dari punggungku, lalu ke perut, naik ke atas, leherku pun kena giliran disentuhnya, dan aku mendesah nikmat ketika leherku mulai dicium mesra oleh Mas Sandi. Sementara desahan-desahan kecil terdengar dari mulut Yanti.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku melirik sejenak ke arah Yanti, rupanya dia sedang masturbasi. Lalu aku memejamkan mata lagi, kepalaku kutengadahkan memberikan ruangan pada leherku untuk diciumi Mas Sandi. Persaanku sudah tidak malu-malu lagi, aku sudah kepalang basah. Aku lupa bahwa aku telah bersuami, dan aku benar-benar akan merasakan apa yang akan kurasakan nanti, dengan lelaki yang bukan suamiku.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Buka ya.. BH-nya, Rida..!&#8221; kata Mas Sandi sambil melepas kancing tali BH-ku dari punggung.<br />
Beberapa detik BH itu terlepas, maka terasa bebas kedua payudaraku yang sejak tadi tertekan karena mengeras. Suara Yanti semakin keras, rupanya dia mencapai orgasmenya. Kembali aku melirik Yanti yang membenamkan jari manis dan jari telunjuknya ke dalam vaginanya sendiri. Nampak dia mengejang dengan mengangkat pinggulnya.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Akh.., nikmaats&#8230; ooh&#8230; nikmaatts.. sekalii..!&#8221; begitu kata-kata yang keluar dari mulutnya.<br />
Dan tidak lama kemudian dia terkulai lemas di ranjang itu. Sementara Mas Sandi sibuk dengan kegiatannya.
</p>
<p style="text-align: justify;">Kini kedua payudaraku sudah diremasi dengan mesra oleh kedua telapak tangannya dari belakang. Sambil terus bibirnya menjilati inci demi inci kulit leherku seluruhnya. Sedang enak-enaknya aku, tiba-tiba ada yang menarik celana dalamku. Aku membuka mataku, rupanya Yanti berusaha untuk melepas celana dalamku itu. Maka kuangkat pantatku sejenak memudahkan celana dalamku dilepas oleh Yanti. Maka setelah lepas, celana dalam itu juga dibuang jauh-jauh oleh Yanti.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku menggeser posisi dudukku menuju ke bagian tengah ranjang itu. Mas Sandi mengikuti gerakanku masih dari belakang, sekarang dia tidak berlutut, namun duduk tepat di belakang tubuhku. Kedua kakinya diselonjorkan, maka pantatku kini berada di antara selangkangan milik Mas Sandi. Terasa oleh pantatku ada tonjolan keras di selangkangan. Rupanya penis Mas Sandi sudah tegang maksimal.</p>
<p style="text-align: justify;">Lalu Yanti membuka lebar-lebar pahaku, sehingga kakiku berada di atas paha Mas Sandi. Lalu dengan posisi tidur telungkup, Yanti mendekatkan wajahnya ke selangkanganku, dan apa yang terjadi&#8230;<br />
&#8220;Awwh&#8230; ooh&#8230; eeisth.. aakh..!&#8221; aku menjerit nikmat ketika kembali kurasakan lidahnya menyapu-nyapu belahan vaginaku, terasa kelentitku semakin menegang, dan aku tidak dapat mengendalikan diri akibat nikmat, geli, enak, dan lain sebagainya menyatu di tubuhku.
</p>
<p style="text-align: justify;">Kembali kepalaku menengadah sambil mulutku terbuka. Maka Mas Sandi tidak menyia-nyiakan kesempatan ini. Dia tahu maksudku. Dari belakang, bibirnya langsung melumat bibirku yang terbuka itu dengan nafsunya. Maka kubalas ciuman itu dengan nafsu pula. Dia menyedot, aku menyedot pula. Terjadilah pertukaran air liur Mas Sandi dengan air liurku. Terciuma aroma rokok pada mulutnya, namun aroma itu tidak mengganggu kenikmatan ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Kedua tangan Mas Sandi semakin keras meremas kedua payudaraku, namun menimbulkan nikmat yang teramat, sementara di bawah Yanti semakin mengasyikkan. Dia terus menjilat dan mencium vaginaku yang telah banjir. Banjir oleh cairan pelicin vaginaku dan air liur Yanti.<br />
&#8220;Mmmhh&#8230; akh&#8230; mmhh..!&#8221; bibirku masih dilumati oleh bibir Mas Sandi.
</p>
<p style="text-align: justify;">Tubuhku semakin panas dan mulai memberikan tanda-tanda bahwa aku akan mencapai puncak kenikmatan yang kutuju. Pada akhirnya, ketika remasan pada payudaraku itu semakin keras, dan Yanti menjilat, mencium dan menghisap vaginaku semakin liar, tubuhku menegang kaku, keringat dingin bercucuran dan mereka tahu bahwa aku sedang menikmati orgasmeku. Aku mengangkat pinggulku, otomatis ciuman Yanti terlepas. Semakin orgasmeku terasa ketika jari telujuk dan jari manis Yanti dimasukkan ke liang vaginaku, kemudian dicabutnya setengah, lalu dimasukkan lagi.</p>
<p style="text-align: justify;">Perlakuan Yanti itu berulang-ulang, yaitu mengeluar-masukkan kedua jarinya ke dalam lubang vaginaku. Tidak dapat diungkapkan dengan kata-kata betapa nikmat dan enak pada saat itu.<br />
&#8220;Aakh&#8230; aawhh&#8230; nikmaatss&#8230; terus.. Yantii.. oooh&#8230; yang cepaat.. akh..!&#8221; teriakku.<br />
Tubuh Mas Sandi menahan tubuhku yang mengejang itu. Jarinya memilin-milin puting susuku. Bibirnya mengulum telingaku sambil membisikkan sesuatu yang membuatku semakin melayang. Bisikan-bisikan yang memujiku itu tidak pernah kudengar dari Mas Hadi, suamiku.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Ayo cantik..! Nikmatilah orgasmemu.., jangan kamu tahan, keluarkan semuanya Sayang..! Nikmatilah.., nikmatilah..! Oh.., kamu cantik sekali jika orgasme..!&#8221; begitu bisikan yang keluar dari mulut Mas Sandi sambil terus mengulum telingaku.<br />
&#8220;Aakh.. Maass, aduh.. Yanti.., nikmaats&#8230; oh&#8230; enaaks.. sekali..!&#8221; teriakku.<br />
Akhirnya tubuh kejangku mulai mengendur, diikuti dengan turunnya kenikmatan orgasmeku itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Perlahan sekali tubuhku turun dan akhirnya terkulai lemas di pangkuan Mas Sandi. Lalu tubuh Yanti mendekapku.<br />
Dia berbisik padaku, &#8220;Ini.. belum seberapanya Sayaang.., nanti akan kamu rasakan punya suamiku..!&#8221; sambil berkata demikian dia mencium keningku.<br />
Mas Sandi beranjak dari duduknya dan berjalan entah ke arah mana, karena pada saat itu mataku masih terpenjam seakan enggan terbuka.
</p>
<p style="text-align: justify;">Entah berapa lama aku terlelap. Ketika kusadar, kubuka mataku perlahan dan mencari-cari Yanti dan Mas Sandi sejenak. Mereka tidak ada di kamar ini, dan rupanya mereka membiarkanku tertidur sendiri. Aku menengok jam dinding. Sudah pukul sepuluh malam. Segera aku bangkit dari posisi tidurku, lalu berjalan menuju pintu kamar. Telingaku mendengar alunan suara musik klasik yang berasal dari ruangan tamu. Dan ketika kubuka pintu kamar itu yang kebetulan bersebelahan dengan ruang tamu, mataku menemukan suatu adegan dimana Yanti dan suaminya sedang melakukan persetubuhan.</p>
<p style="text-align: justify;">Yanti dengan posisi menelentang di sofa sedang ditindih oleh Mas Sandi dari atas. Terlihat tubuh Mas Sandi sedang naik turun. Segera mataku kutujukan pada selangkangan mereka. Jelas terlihat penis Mas Sandi yang berkilat sedang keluar masuk di vagina Yanti. Terdengar pula erangan-erangan yang keluar dari mulut Yanti yang sedang menikmati hujaman penis itu di vaginanya, membuat tubuhku perlahan memanas. Segera saja kuhampiri mereka dan duduk tepat di depan tubuh mereka.</p>
<p style="text-align: justify;">Di sela-sela kenikmatan, Yanti menatapku dan tersenyum. Rupanya Mas Sandi memperhatikan istrinya dan sejenak dia menghentikan gerakannya dan menengok ke belakang, ke arahku.<br />
&#8220;Akh&#8230; Mas.., jangan berhentiii doong..! Oh..!&#8221; kata Yanti.<br />
Dan Mas Sandi kembali berkonsentrasi lagi dengan kegiatannya. Kembali terdengar desahan-desahan nikmat Yanti yang membahana ke seluruh ruangan tamu itu. Aku kembali gelagapan, kembali resah dan tubuhku semakin panas. Dengan refleks tanganku membelai vaginaku sendiri.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Oh.. Ridhaa.., nikmat sekaallii.. loh..! Akuu&#8230; ooh&#8230; mmh..!&#8221; kata Yanti kepadaku.<br />
Aku melihat wajah nikmat Yanti yang begitu cantik. Kepalannya kadang mendongak ke atas, matanya terpejam-pejam. Sesekali dia gigit bibir bawahnya. Kedua tangannya melingkar pada pantat suaminya, dan menarik-narik pantat itu dengan keras sekali. Aku melihat penis Mas Sandi yang besar itu semakin amblas di vagina Yanti. Samakin mengkilat saja penis itu.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Oh Mas.., aku hampiir sampaaii..! Teruus&#8230; Mas&#8230; terus..! Lebih keras lagiih.., oooh&#8230; akh..!&#8221; kata Yanti.<br />
Yanti mengangkat tinggi-tinggi pinggulnya, Mas Sandi terus dengan gerakannya menaik-turunkan tubuhnya dalam kondisi push-up.<br />
&#8220;Maass.., akuuu&#8230; keluaar..! Aakh&#8230; mhh&#8230; nikmaats.., mmh..!&#8221; kata Yanti lagi dengan tubuh yang mengejang.<br />
Rupanya Yanti mencapai orgasmenya. Tangannya yang tadi melingkar di pantat suaminya, kini berpindah melingkar di punggung.</p>
<p style="text-align: justify;">Mas Sandi berhenti bergerak dan membiarkan penis itu menancap dalam di lubang kemaluan Yanti.<br />
&#8220;Owhh&#8230; banyak sekali Sayang.. keluarnya. Hangat sekali memekmu..!&#8221; kata Mas Sandi sambil menciumi wajah istrinya.
</p>
<p style="text-align: justify;">Dapat kubayangkan perasaan Yanti pada saat itu. Betapa nikmatnya dia. Dan aku pun belingsatan dengan merubah-rubah posisi dudukku di depan mereka. Beberapa saat kemudian, Yanti mulai melemas dari kejangnya dan merubah posisinya. Segera dia turun dari sofa ketika Mas Sandi mencabut penis dari lubang kenikmatan itu. Aku melihat dengan jelas betapa besar dan panjang penis Mas Sandi. Dan ini baru pertama kali aku melihatnya, karena waktu tadi di dalam kamar, Mas Sandi masih menutupi penisnya dengan celana dalam.</p>
<p style="text-align: justify;">Dengan segera Yanti menungging. Lalu segera pula Mas Sandi berlutut di depan pantat itu.<br />
&#8220;Giliranmu&#8230; Mas..! Ayoo..!&#8221; kata Yanti.<br />
Tangan Mas Sandi menggenggam penis itu dan mengarahkan langsung ke lubang vagina Yanti. Segera dia menekan pantatnya dan melesaklah penis itu ke dalam vagina istrinya, diikuti dengan lenguhan Yanti yang sedikit tertahan.<br />
&#8220;Owwh&#8230; Maas&#8230; aakh..!&#8221;<br />
&#8220;Aduuh&#8230; Yantii.., jepit Sayangh..!&#8221; kata Mas Sandi.
</p>
<p style="text-align: justify;">Lalu kaki Yanti dirapatkan sedemikian rupa. Dan segera pantat Mas Sandi mulai mundur dan maju.Ufh.., pemandangan yang begitu indah yang kulihat sekarang. Baru kali ini aku menyaksikan sepasang manusia bersetubuh tepat di depanku secara langsung. Semakin mereka mempercepat tempo gerakannya, semakin aku terangsang begitu rupa. Tanganku yang tadi hanya membelai-belai vaginaku, kini mulai menyentuh kelentitku.</p>
<p style="text-align: justify;">Kenikmatan mulai mengaliri tubuhku dan semakin aku tidak tahan, sehingga aku memasukkan jariku ke dalam vaginaku sendiri. Aku sendiri sangat menikmati masturbasiku tanpa lepas pandanganku pada mereka. Belum lagi telingaku jelas mendengar desahan dan rintihan Yanti, aku dapat membayangkan apa yang dirasakan Yanti dan aku sangat ingin sekali merasakannya, merasakan vaginaku pun dimasukkan oleh penis Mas Sandi.</p>
<p style="text-align: justify;">Beberapa saat kemudian Mas Sandi mulai melenguh keras. Kuhentikan kegiatanku dan terus memperhatikan mereka.<br />
&#8220;Aakhh&#8230; Yantii&#8230; nikmaats&#8230; aakh&#8230; aku keluaar..!&#8221; teriak Mas Sandi membahana.<br />
&#8220;Oh&#8230; Maas&#8230; akuu&#8230; juggaa&#8230; akh..!&#8221;<br />
Kedua tubuh itu bersamaan mengejang. Mereka mencapai orgasmenya secara bersama-sama.
</p>
<p style="text-align: justify;">Penis Mas Sandi masih menancap di vagina Yanti sampai akhirnya mereka melemas, dan dari belakang tubuh Yanti, Mas Sandi memeluknya sambil meremas kedua payudara Yanti. Mas Sandi memasukkan semua spermanya ke dalam vagina Yanti.</p>
<p style="text-align: justify;">Lama sekali aku melihat mereka tidak bergerak. Rupanya mereka sangat kelelahan. Di sofa itu mereka tertidur bertumpukan. Tubuh Yanti berada di bawah tubuh Mas Sandi yang menindihnya. Mata mereka terpejam seolah tidak menghiraukan aku yang duduk terpaku di depannya. Hingga aku pun mulai bangkit dari dudukku dan beranjak pergi menuju kamarku. Sesampai di kamar aku baru sadar kalau aku masih telanjang bulat. Maka aku pun balik lagi menuju kamar Yanti di mana celana dalam dan BH yang akan kupakai berada di sana.</p>
<p style="text-align: justify;">Selagi aku berjalan melewati ruang tamu itu, aku melihat mereka masih terkulai di sofa itu. Tanpa menghiraukan mereka, aku terus berjalan memasuki kamar Yanti dan memungut celana dalam dan BH yang ada di lantai. Setelah kukenakan semuanya, kembali aku berjalan menuju kamarku dan sempat sekali lagi aku menengok mereka di sofa itu pada saat aku melewati ruang tamu.</p>
<p style="text-align: justify;">Sesampai di kamar, entah kenapa rasa lelah dan kantukku hilang. Aku menjadi semakin resah membayangkan kejadian yang baru kualami. Pertama ketika aku dimasturbasikan oleh suami istri itu. Dan yang kedua aku terus membayangkan kejadian di mana mereka melakukan persetubuhan yang hebat itu. Keinginanku untuk merasakan penis Mas Sandi sangat besar. Aku mengharapkan sekali Mas Sandi sekarang menghampiri dan menikmatiku. Namun itu mungkin tidak terjadi, karena aku melihat mereka sudah lelah sekali.</p>
<p style="text-align: justify;">Entah sudah berapa kali mereka bersetubuh pada saat aku terlelap tadi. Aku semakin tidak dapat menahan gejolak birahiku sendiri hingga aku merebahkan diri di kasur empuk. Dengan posisi telungkup, aku mulai memejamkan mata dengan maksud agar aku terlelap. Namun semua itu sia-sia. Karena kembali kejadian-kejadian barusan terus membayangiku. Secara cepat aku teringat bahwa tadi ketika mereka bersetubuh, aku melakukan masturbasi sendiri dan itu tidak selesai. Maka tanganku segera kuselipkan di selangkanganku. Aku membelai kembali vaginaku yang terasa panas itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Dan ketika tanganku masuk ke dalam celanaku, aku mulai menyentuh klitorisku. Kembali aku nikmat. Aku tidak kuasa membendung perasaan itu, dan jariku mulai menemukan lubang kemaluanku yang berlendir itu. Dengan berusaha membayangkan Mas Sandi menyetubuhiku, kumasukkan jari tengahku ke dalam lubang itu dalam-dalam. Kelembutan di dalam vaginaku dan gesekan di dinding-dindingnya membuatku mendesah kecil.</p>
<p style="text-align: justify;">Sambil mengeluar-masukkan jari tengahku, aku membayangkan betapa besar dan panjangnya penis Mas Sandi. Beda sekali dengan penis Mas Hadi yang kumiliki. Kemaluan Mas Sandi panjang dan besarnya normal-normal saja. Sedangkan milik Mas Sandi, sudah panjang dan besar, dihiasi oleh urat-uratnya yang menonjol di lingkaran batang kemaluannya. Itu semua kulihat tadi dan kini terbayang di dalam benakku.</p>
<p style="text-align: justify;">Beberapa menit kemudian, ketika ada sesuatu yang lain di dalam vaginaku, semakin kupercepat jari ini kukeluar-masukkan. Sambil terus membayangi Mas Sandi yang menyetubuhiku, dan aku sama sekali tidak membayangkan suamiku sendiri. Setiap bayangan suamiku muncul, cepat-cepat kubuang bayangan itu, hingga kembali Mas Sandi lah yang kubayangkan.</p>
<p style="text-align: justify;">Tanpa sadar, ketika aku akan mencapai orgasme, aku membalikan badan dan aku memasukkan jari telunjuk ke dalam lubang vaginaku. Dalam keadaan telentang aku mengangkangkan selebar mungkin pahaku. Kini dua jariku yang keluar masuk di lubang vaginaku. Maka kenikmatan itu berlanjut hebat sehingga tanpa sadar aku memanggil-manggil pelan nama Mas Sandi.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Akh&#8230; sshh&#8230; Masss&#8230; Sandii&#8230; Okh&#8230; Mass.. Mas.. Sandi.. aakkh..!&#8221; itulah yang keluar dari mulutku.<br />
Seer&#8230; aku merasa kedua jariku hangat sekali dan semakin licin. Aku mengangkat ke atas pinggulku sambil tidak melepas kedua jariku menancap di lubang vaginaku. Beberapa lama tubuhku merinding, mengejang, dan nikmat tidak terkira. Sampai pada akhirnya aku melemas dan pinggulku turun secara cepat ketika kenikmatan itu perlahan berkurang.
</p>
<p style="text-align: justify;">Aku mencabut jari jemariku dan cairan yang menempel di jari-jari itu segera kujilati. Asin campur gurih yang kurasakan di lidahku. Dengat mata yang terpejam-pejam kembali aku membayangkan penis Mas Sandi yang sedang kuciumi, kuhisap, dan kurasakan. Cairan yang asin dan gurih itu kubayangkan sperma Mas Sandi. Ohhh.., nikmatnya semua ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Dan setelah aku puas, barulah kuhentikan hayalan-hayalanku itu. Kutarik selimut yang ada di sampingku dan menutupi sekujur tubuhku yang mulai mendingin. Aku tersenyum sejenak mengingat hal yang barusan, gila&#8230; aku masturbasi dengan membayangkan suami orang lain.</p>
<p style="text-align: justify;">Pagi harinya, ketika aku terjaga dari tidurku dan membuka mataku, aku melihat di balik jendela kamar sudah terang. Jam berapa sekarang, pikirku. Aku menengok jam dinding sudah menunjukkan pukul sepuluh pagi. Aku kaget dan bangkit dari posisi tidurku. Ufh.., lemas sekali badan ini rasanya. Kukenakan celana dalamku. Karena udara sedikit dingin, kubalut tubuhku dengan selimut dan mulai berdiri.</p>
<p style="text-align: justify;">Ketika berdiri, sedikit kugerak-gerakan tubuhku dengan maksud agar rasa lemas itu segera hilang. Lalu dengan gontai aku berjalan menuju pintu kamar dan membuka pintu yang tidak terkunci.</p>
<p style="text-align: justify;">Karena aku ingin pipis, segera aku berjalan menuju kamar mandi, sesampainya di kamar mandi segera kuturunkan celana dalamku dan berjongkok. Keluarlah air hangat urine-ku dari liang vagina. Sangat banyak sekali air kencingku, sampai-sampai aku pegal berjongkok. Beberapa saat kemudian, ketika air kencingku habis, segera kubersihkan vaginaku dan kembali aku mengenakan celana dalamku, lalu kembali pula aku melingkari kain selimut itu, karena hanya kain ini yang dapat kupakai untuk menahan rasa dingin, baju tidur yang akan dipinjamkan oleh Yanti masih berada di kamarnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku keluar dari kamar mandi itu, lalu berjalan menuju ruangan dapur yang berada tidak jauh dari kamar mandi itu, karena tenggorokanku terasa haus sekali. Di dapur itu aku mengambil segelas air dan meminumnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah minum aku berjalan lagi menuju kamarku. Namun ketika sampai di pintu kamar, sejenak pandangan mataku menuju ke arah ruang tamu. Di sana terdapat Mas Sandi sedang duduk di sofa sambil menghisap sebatang rokok. Matanya memandangku tajam, namun bibirnya memperlihatkan senyumnya yang manis. Dengan berbalut kain selimut di tubuhku, aku menghampiri Mas Sandi yang memperhatikan aku. Lalu aku duduk di sofa yang terletak di depannya. Aku membalas tatapan Mas Sandi itu dengan menyunggingkan senyumanku.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Yanti mana..?&#8221; tanyaku padanya membuka pembicaraan.<br />
&#8220;Sedang ke warung sebentar, katanya sih mau beli makanan..!&#8221; jawabnya.<br />
&#8220;Mas Sandi tidak kerja hari ini..?&#8221;<br />
&#8220;Tidak akh.., malas sekali hari ini. Lagian khan aku tak mau kehilangan kesempatan..!&#8221; sambil berkata demikian dengan posisi berlutut dia menghampiriku.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah tepat di depanku, segera tangannya melepas kain selimut yang membungkusi tubuhku. Lalu dengan cepat sekali dia mulai meraba-raba tubuhku dari ujung kaki sampai ujung pahaku. Diperlakukan demikian tentu saja aku geli. Segera bulu-bulu tubuhku berdiri.<br />
&#8220;Akh&#8230; Mas..! Gellii..!&#8221; kataku.<br />
Mas Sandi tidak menghiraukan kata-kataku itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Kini dia mulai mendaratkan bibirnya ke seluruh kulit kakiku dari bawah sampai ke atas. Perlakuannya itu berulang-ulang, sehingga menciptakan rasa geli campur nikmat yang membuatku terangsang. Lama sekali perlakuan itu dilakukan oleh Mas Sandi, dan aku pun semakin terangsang.<br />
&#8220;Akh&#8230; Mas..! Oh.., mmh..!&#8221; aku memegang bagian belakang kepala Mas Sandi dan menariknya ketika mulut lelaki itu mencium vaginaku.<br />
Semakin aku mengangkangkan pahaku, dengan mesranya lidah Mas Sandi mulai menjilat kemaluanku itu. Tubuhku mulai bergerak-gerak tidak beraturan, merasakan nikmat yang tiada tara di sekujur tubuhku.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku membuang kain selimut yang masih menempel di tubuhku ke lantai, sementara Mas Sandi masih dengan kegiatannya, yaitu menciumi dan menjilati vaginaku. Aku menengadah menahan nikmat, kedua kakiku naik di tumpangkan di kedua bahunya, namun tangan Mas Sandi menurunkannya dan berusaha membuka lebar-lebar kedua pahaku itu. Karuan saja selangkanganku semakin terkuak lebar dan belahan vaginaku semakin membelah.<br />
&#8220;Akh.. Mas..! Shh.. nikmaats..! Terus Mass..!&#8221; rintihku.
</p>
<p style="text-align: justify;">Kedua tangan Mas Sandi ke atas untuk meremas payudaraku yang terasa sudah mengeras, remasan itu membuatku semakin nikmat saja, dan itu membuat tubuhku semakin menggelinjang. Segera aku menambah kenikmatanku dengan menguakkan belahan vaginaku, jariku menyentuh kelentitku sendiri. Oh.., betapa nikmat yang kurasakan, liang kemaluanku sedang disodok oleh ujung lidah Mas Sandi, kedua payudaraku diremas-remas, dan kelentitku kusentuh dan kupermainkan. Sehingga beberapa detik kemudian terasa tubuhku mengejang hebat disertai perasaan nikmat teramat sangat dikarenakan aku mulai mendekati orgasmeku.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Oh&#8230; Mas..! Aku&#8230; aku&#8230; akh.., nikmaats&#8230; mhh..!&#8221; bersamaan dengan itu aku mencapai klimaksku.<br />
Tubuhku melayang entah kemana, dan sungguh aku sangat menikmatinya. Apalagi ketika Mas Sandi menyedot keras lubang kemaluanku itu. Tahu bahwa aku sudah mencapai klimaks, Mas Sandi menghentikan kegiatannya dan segera memelukku, mecium bibirku.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Kamu sungguh cantik, Ridha.., aku cinta padamu..!&#8221; sambil berkata demikian, dengan pinggulnya dia membuka kembali pahaku, dan terasa batang kemaluannya menyentuh dinding kemaluannku.<br />
Segera tanganku menggenggam kemaluan itu dan mengarahkan langsung tepat ke liang vaginaku.<br />
&#8220;Lakukan Mas..! Lakukan sekarang..! Berikan cintamu padaku sekarang..!&#8221; kataku sambil menerima setiap ciuman di bibirku.</p>
<p style="text-align: justify;">Mas Sandi dengan perlahan memajukan pinggulnya, maka terasa di liang vaginaku ada yang melesak masuk ke dalamnya. Gesekan itu membuatku kembali menengadah, sehingga ciumanku terlepas. Betapa panjang dan besar kurasakan. Sampai aku merasakan ujung kemaluan itu menyentuh dinding rahimku.<br />
&#8220;Suamimu sepanjang inikah..?&#8221; tanyanya.<br />
Aku menggelengkan kepala sambil terus menikmati melesaknya penis itu di liang vaginaku.
</p>
<p style="text-align: justify;">Beberapa saat kemudian sudah amblas semua seluruh batang kemaluan Mas Sandi. Aku pun sempat heran, kok bisa batang penis yang panjang dan besar itu masuk seluruhnya di vaginaku. Segera aku melipatkan kedua kakiku di belakang pantatnya. Sambil kembali mencium bibirku dengan mesra, Mas Sandi mendiamkan sejenak batang penisnya terbenam di vaginaku, hingga suatu saat dia mulai menarik mundur pantatku perlahan dan memajukannya lagi, menariknya lagi, memajukannya lagi, begitu seterusnya hingga tanpa disadari gerakan Mas Sandi mulai dipercepat. Karuan saja batang penis yang kudambakan itu keluar masuk di vaginaku. Vagina yang seharusnya hanya dapat dinikmati oleh suamiku, Mas Hadi.</p>
<p style="text-align: justify;">Di alam kenikmatan, pikiranku menerawang. Aku seorang perempuan yang sudah bersuami tengah disetubuhi oleh orang lain, yang tidak punya hak sama sekali menikmati tubuhku, dan itu sangat di luar dugaanku. Seolah-olah aku sudah terjebak di antara sadar dan tidak sadar aku sangat menikmati perselingkuhan ini. Betapa aku sangat mengharapkan kepuasan bersetubuh dari lelaki yang bukan suamiku. Ini semua akibat Yanti yang memberi peluang seakan sahabatku itu tahu bahwa aku membutuhkan ini semua.</p>
<p style="text-align: justify;">Beberapa menit berlalu, peluh kami sudah bercucuran. Sampailah aku pada puncak kenikmatan yang kudambakan. Orgasmeku mulai terasa dan sungguh aku sangat menikmatinya. Menikmati orgasmeku oleh laki-laki yang bukan suamiku, manikmati orgasme oleh suami sahabatku. Dan aku tidak menduga kalau rahimku pun menampung air sperma yang keluar dari penis lelaki selain suamiku.</p>
<p style="text-align: justify;">Singkat kisahku, kini aku sudah bekerja di salah satu perusahaan milik bapaknya Yanti. Dengan demikian kehiduapanku selanjutnya mulai membaik. Ini semua berkat bantuan dari sahabatku Yanti. Namun sekarang tercipta problema baru yang mengganggu pikiranku. Penghianatanku terhadap Mas Hadi tidak berhenti sampai di sini.</p>
<p style="text-align: justify;">Gairah seksku tidak dapat tertahankan. Aku dapat melayani suamiku hingga beberapa kali. Dan jika aku tidak merasa puas, kulampiaskan gejolakku itu dengan Mas Sandi, bahkan kalau Mas Sandi tidak ada, aku mencari kepuasan seksku dengan siapa saja yang mau. Dan untungnya hingga kini suamiku tidak mengetahuinya, tapi apa mungkin dia telah mengetahuinya..? Aku tidak perduli.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ceritasex.cn/dijebak-tapi-enak-bagian-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Dijebak Tapi Enak Bagian 1</title>
		<link>http://www.ceritasex.cn/dijebak-tapi-enak-bagian-1/</link>
		<comments>http://www.ceritasex.cn/dijebak-tapi-enak-bagian-1/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 19 Jul 2009 13:35:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cerita Sex</dc:creator>
				<category><![CDATA[Paruh baya]]></category>
		<category><![CDATA[Pemerkosaan]]></category>
		<category><![CDATA[Seks Umum]]></category>
		<category><![CDATA[selingkuh]]></category>
		<category><![CDATA[anal]]></category>
		<category><![CDATA[birahi]]></category>
		<category><![CDATA[brondong]]></category>
		<category><![CDATA[cuki]]></category>
		<category><![CDATA[esek esek]]></category>
		<category><![CDATA[gangbang]]></category>
		<category><![CDATA[istri muda]]></category>
		<category><![CDATA[kontol]]></category>
		<category><![CDATA[memek]]></category>
		<category><![CDATA[milf]]></category>
		<category><![CDATA[nafsu]]></category>
		<category><![CDATA[ngentot]]></category>
		<category><![CDATA[perkosa]]></category>
		<category><![CDATA[pesta sex]]></category>
		<category><![CDATA[seks]]></category>
		<category><![CDATA[swinger]]></category>
		<category><![CDATA[tante]]></category>
		<category><![CDATA[Tante Girang]]></category>
		<category><![CDATA[tasha]]></category>
		<category><![CDATA[vagina]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ceritasex.cn/?p=680</guid>
		<description><![CDATA[Sebut saja namaku Tasha. Agustus kemarin baru saja aku merayakan ulang tahunku yang ke 36. Sebuah perayaan ulang tahun yang sangat berkesan buatku, karenanya aku tidak tahan untuk tidak meceritakannya di situs ini. Situs ini kukenal secara tidak sengaja ketika pada suatu ketika aku online di sebuah warnet, ternyata begitu layar Internet Explorer terbuka langsung [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Sebut saja namaku Tasha. Agustus kemarin baru saja aku merayakan ulang tahunku yang ke 36. Sebuah perayaan ulang tahun yang sangat berkesan buatku, karenanya aku tidak tahan untuk tidak meceritakannya di situs ini. Situs ini kukenal secara tidak sengaja ketika pada suatu ketika aku online di sebuah warnet, ternyata begitu layar Internet Explorer terbuka langsung masuk ke situs ini. Terus terang cerita-cerita di situs ini sangat menggugah hasratku, meskipun aku tahu ada beberapa cerita yang jelas-jelas hanya karangan belaka. Namun aku merasa agak ‘minder’ untuk menceritakan pengalamanku yang begitu-begitu saja, sampai akhirnya aku mengalami hal yang sangat berkesan di ulang tahunku kemarin.</p>
<p style="text-align: justify;">Sebagai ibu rumah tangga dengan suami yang luar biasa sibuk, aku sering merasa jenuh di rumah. Pergaulanku pun tidak terlalu luas. Aku bukan tipe wanita yang senang kumpul-kumpul, ke kafe, hura-hura dan sebagainya. Hiburanku paling hanya TV, telepon dan komputer. Aku sering chating untuk menghilangkan kejenuhanku. Dari chat itulah aku mulai mengenal yang namanya perselingkuhan. Kepulangan suamiku yang hanya empat-lima hari dalam sebulan jelas membuatku sepi akan kasih sayang. Dan tentunya sepi pelayanan. Tapi mungkin aku juga terpengaruh oleh teman-teman chatku. Sebelum kenal chating, aku tidak begitu perduli dengan kesepianku. Namun setelah banyak bergaul di chat, aku mulai merasa bahwa selama ini hasrat birahiku tak pernah terpenuhi.</p>
<p style="text-align: justify;">Ronny adalah pria pertama yang berselingkuh denganku. Usianya lima tahun lebih muda dariku dan sudah menikah. Tubuhnya cukup ideal dan aku puas setiap berkencan dengannya. Namun kami tidak bisa sering-sering karena istri Ronny bukan tipe wanita yang bisa dibohongi. Setelah Ronny aku pun semakin membuka diri dengan menggunakan nick chat yang bikin penasaran. Beberapa pria mulai sering mengisi kekosongan birahiku. Ada Ferry, manager sebuah perusahaan kontraktor berusia 30 tahun yang lihai memancing birahiku. Lalu ada Dhani yang seumuran denganku yang tidak pernah puas dengan pelayanan istrinya. Dan masih ada beberapa lagi.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku mulai mengenal daun muda ketika berkenalan dengan Chris, mahasiswa salah satu PTS di Jakarta yang usianya lebih muda 15 tahun dariku. Waktu itu aku agak segan berkenalan dengannya karena usianya yang terpaut jauh sekali denganku. Namun Chris memberiku pengalaman lain. Suatu ketika dia datang ke rumahku saat rumahku sedang sepi. Dan dengan gairah mudanya yang menggelegak, Chris memberikan sensasi tersendiri padaku. Apalagi dengan ‘Mr. Happy’ miliknya yang king size. That was great.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku pun jadi tertarik dengan daun-daun muda yang bertebaran di chat room. Sampai akhirnya aku mengoleksi sekitar 20 daun muda dengan usia antara 17-25 tahun yang keep contact denganku. Memang baru 4 orang dari mereka yang sempat berkencan denganku, namun yang lainnya tetap aku kontak via telepon. Hingga akhirnya menjelang ulang tahunku Agustus kemarin aku punya rencana yang belum pernah aku lakukan sebelumnya. Aku mengontak 8 daun muda yang kupilih untuk merayakan ulang tahun bersamaku. Pilihan pertama jatuh pada Felix, siswa kelas 3 di salah satu SMU yang cukup terkenal di Jakarta Selatan.<br />
<span id="more-680"></span><br />
“Halo tante..”, sapanya ceria ketika aku menghubungi HP-nya.<br />
“Ya sayang, Sabtu ini ada acara nggak?”, tanyaku tanpa basa-basi.<br />
“Ya biasa tante, paginya sekolah dulu”, jawabnya sedikit manja.<br />
“Tapi sorenya free kan, tante ada acara nih..”, tanpa kesulitan Felix menyanggupi undanganku.
</p>
<p style="text-align: justify;">Selanjutnya Arga, mahasiswa salah satu PTS di Depok. Tanpa kesulitan pula Arga menyanggupi undanganku. Kemudian Frans, salah seorang instruktur di pusat kebugaran milik seorang binaragawan ternama di negeri ini. Frans juga menyanggupi. Aku senyum-senyum sendiri membayangkan tubuh Frans yang tegap berotot dan ukuran Mr. Happynya yang.. wow! Aku pernah sekali berkencan dengannya dan aku takjub dengan Mr. Happy miliknya yang panjangnya 3 kali Nokia 8850 milikku. Selanjutnya Dodi, siswa SMU di salah satu sekolah swasta yang cukup elit di bilangan Jakarta Selatan. Lalu Stanley, mahasiswa PTS ternama di daerah Grogol dengan sepupunya Jonathan yang juga kuliah di tempat yang sama. Lantas Rhino, gitaris di salah satu kafe di daerah Selatan. Dan terakhir tentu saja Chris, daun muda pertamaku.</p>
<p style="text-align: justify;">Hari yang kunantikan pun tiba, tepatnya sehari sebelum ulang tahunku. Pagi-pagi sekali aku menitipkan Juliet, anakku yang duduk di bangku SMP, ke rumah kakakku. Aku beralasan ada reuni SMA weekend ini. Setelah itu aku mampir ke salah satu bakery di bilangan Hayam Wuruk untuk mengambil kue ulang tahun pesananku. Kemudian aku langsung check in di suite room salah satu hotel berbintang di daerah Thamrin. Di kamar aku segera re-check daun-daun mudaku untuk memastikan kehadiran mereka. Semua beres, mereka akan hadir sekitar jam 5 sore.</p>
<p style="text-align: justify;">Sekarang baru jam 11 siang. Cukup lama juga sampai jam 5 sore nanti. Sambil tiduran di ranjang aku membayangkan apa yang akan terjadi nanti. Kok malah jadi horny. Aku mondar-mandir di kamar tak karuan. Untuk mengusir kejenuhan aku turun ke bawah, sekalian mencicipi makan siang di restoran hotel tersebut. Di salah satu meja, aku melihat 5 orang wanita seusiaku dan 1 orang pria yang wajahnya masih cute sekali. Mungkin masih kuliah atau sekolah. Mereka makan sambil ngobrol dan tertawa-tawa. Sama sekali tak menyadari kehadiranku, sampai akhirnya salah seorang dari wanita-wanita itu beradu pandang denganku. Dia memberitahu yang lain, dan si cute melambai ke arahku. Aku tersenyum dan membalas lambaiannya.</p>
<p style="text-align: justify;">Selesai makan, aku mendapat selembar memo dari salah seorang pelayan. Aku membaca isi pesannya, “DANIEL, 0856885&#8212; PLZ CALL ME”. Aku tersenyum. Sampai di kamar, aku menghubungi nomor tersebut.<br />
“Halo..” terdengar ribut sekali di ujung sana.<br />
“Halo, Daniel?” tanyaku.<br />
“Ya, siapa nih?” tanya si pemilik suara itu lagi.<br />
“Aku dapet memo dari kamu..”<br />
“Ohh.. iya, nama kamu siapa?” kami berkenalan, dan ternyata Daniel adalah si cute yang aku lihat di resto bersama 5 wanita tadi. Dan aku surprise sekali setelah mengetahui bahwa Daniel juga sedang merayakan ulang tahunnya hari ini. Dia juga surprise setelah kubilang bahwa aku juga akan merayakan ulang tahun di sini. Kemudian Daniel mengundangku untuk merayakan ulang tahun di kamar yang disewanya di bawah. Kebetulan! Sambil mengisi waktu nggak ada salahnya pemanasan dulu.
</p>
<p style="text-align: justify;">Family room yang disewa Daniel penuh dengan balon aneka warna. Kelima wanita yang kulihat tadi ada di situ. Salah satunya adalah adik maminya Daniel, dan yang lain teman-temannya. Rupanya Daniel ‘dipelihara’ sebagai gigolo oleh kelima wanita tersebut. Candra, adik maminya Daniel adalah wanita pertama yang mengenalkan anak itu ke dalam dunia seks. Lalu ada Shinta dan Melly, teman kerja Candra, serta Yuni dan Liana, teman aerobik Candra. Dan hari itu mereka berlima sepakat untuk merayakan ulang tahun Daniel di kamar tersebut sejak tadi malam. Tepat jam 12 tadi malam Daniel menirima suapan kue ulang tahun dari mulut wanita-wanita itu secara bergantian, dan jam 5 pagi tadi mereka baru selesai melepas birahi bersama.</p>
<p style="text-align: justify;">Acara kali ini semacam games, dimana Daniel dalam keadaan telanjang bulat diikat dengan mata tertutup atas ranjang dengan penis yang tegak. Kemudian secara acak kelima wanita itu memasukkan penis Daniel ke dalam vagina mereka, dan saat itu Daniel harus menebak, siapa yang sedang menindihnya. Kalau benar, Daniel diperbolehkan melepaskan ikatannya dan melepas birahinya dengan wanita yang tertebak. Tapi kalau salah, wanita tersebut akan menyodorkan vaginanya ke mulut Daniel, dan anak itu harus memuaskannya dengan lidahnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Mr. Bond<br />
View Public Profile<br />
Send a private message to Mr. Bond<br />
Find More Posts by Mr. Bond<br />
Add Mr. Bond to Your Contacts</p>
<p style="text-align: justify;">18-07-2006, 04:15 PM    #2<br />
Mr. Bond<br />
[DS] Enthusiast</p>
<p style="text-align: justify;">Join Date: Jul 2006<br />
Posts: 144<br />
Thanks: 0<br />
Thanked 12 in 9 Posts
</p>
<p style="text-align: justify;">&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8211;</p>
<p style="text-align: justify;">Aku menyaksikan permainan yang seru itu di salah satu kursi di situ. Ramai sekali mereka bermain. Kadang aku senyum-senyum ketika Daniel salah menebak. Anak itu lihai sekali melakukan oral sex, sudah 3 wanita yang klimaks akibat permainan lidahnya. Aku menikmati permainan itu, yang ujung-ujungnya mereka kembali berpesta sex berenam. Candra mengajakku bergabung. Sebetulnya aku agak keberatan, karena aku belum pernah melakukan hubungan seks dengan melibatkan wanita lain. Namun aku ngiler juga melihat tubuh Daniel yang cukup oke itu, apalagi dengan penisnya yang wow!</p>
<p style="text-align: justify;">Lumayan juga buat pemanasan. Aku sempat dua kali klimaks di pesta mereka. Yang pertama dengan Daniel, dan yang kedua..ehm, saat oral sex dengan Liana. Jujur saja, awalnya aku agak jengah ketika merasakan kulit tubuhku bersentuhan dengan kulit wanita-wanita itu, apalagi saat menyentuh bagian-bagian sensitif. Namun gairah birahi yang menyala-nyala dapat membuatku melupakan semua rasa risau tersebut. Akhirnya aku sangat menikmati juga bermain dengan wanita-wanita itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Sayangnya menjelang jam 5 aku harus selesai lebih awal, kerena sebentar lagi orang-orang yang akan merayakan ulang tahunku akan datang. Padahal aku baru saja menikmati permainan mereka. Aku pun pamit, namun sebelum kembali ke kamar aku mengundang mereka ke kamarku untuk bergabung dengan pesta ulang tahunku nanti malam. Mereka setuju, terutama kelima wanita tersebut karena mendengar ada 8 daun muda yang kuundang untuk memuaskan hasratku.<br />
Masih kurang lima menit, aku menunggu sendirian di kamar yang luas tersebut. Frans yang pertama kali datang. Pria bertubuh tegap itu langsung mencium bibirku sambil mengucap happy birthday. Dengan gaya jantannya Frans bermaksud menggendong tubuhku seperti biasa, namun aku menahannya.</p>
<p style="text-align: justify;">“Ntar Frans, tunggu yang lain..”, kataku.<br />
Wajah Frans terlihat bingung.<br />
Aku pun menjelaskan rencana ulang tahunku kepadanya. Pria itu tertawa terbahak-bahak.<br />
“Gila.. tante maniak banget ya, emang kuat?”, goda Frans.<br />
Aku tersenyum. Tak lama kemudian Chris datang. Anak itu terkejut mendapati ada pria lain di kamar itu. Aku pun kembali menjelaskan rencanaku kepadanya. Chris sampai geleng-geleng. Lalu Felix dan Dodi datang secara bersamaan dengan raut wajah keduanya yang sama-sama bingung. Chris dan Frans tertawa-tawa melihat kebingungan mereka. Kemudian Stanley dan Jonathan juga datang bersamaan, namun mereka tidak terlalu kaget karena aku sering bermain bertiga dengan mereka. Lalu Arga, dan terakhir Rhino.
</p>
<p style="text-align: justify;">Lengkaplah sudah. Aku mengajak mereka ke sauna untuk mandi bersama. Aku melihat beberapa dari mereka agak risih. Mungkin mereka tidak terbiasa berada dalam satu ruangan dengan sesama pria dalam keadaan telanjang. Hanya Stanley, Jonathan, Frans dan Chris yang bisa menguasai keadaan. Yang lain masih terlihat agak nervous. Selesai bersauna, aku mengeluarkan anggur yang kubawa dari rumah tadi. Anggur itu sudah kucampur dengan obat perangsang dan obat kuat konsentrasi tinggi. Aku jamin siapa pun yang meminumnya mudah sekali terangsang dan dapat bertahan lama. Aku memberikan mereka satu persatu. Kemudian kita ngobrol-ngobrol di atas ranjang sambil minum. Oya, semenjak dari sauna tadi, tak satu pun tubuh kami yang ditutupi pakaian. Kami sudah bertelanjang bulat.</p>
<p style="text-align: justify;">Kami terus ngobrol-ngobrol sambil aku menunggu reaksi obat tersebut. Sekitar setengah jam kemudian mereka mulai menunjukkan gejala-gejala terangsang. Beberapa bahkan penisnya mulai mengeras. Aku mencoba membakar gairah mereka dengan menjamahi tubuhku sendiri. Sambil minum kuusap-usapkan tanganku ke seluruh tubuh, kumainkan payudaraku, dan kuusapi permukaan vaginaku. Aku tertawa dalam hati. Dari tingkah laku dan ekspresinya, jelas sekali kalau birahi mereka sudah naik ke kepala. Namun tak ada yang berani memulai, sampai Chris yang duduk di dekat kakiku memberanikan diri menyentuhku. Frans ikut-ikutan menjamah tubuhku, disambung Felix, dan akhirnya semua bergumul menyentuhku. Ah great! The party has just begun.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku asyik berciuman dengan Frans dengan panuh nafsu, sementara Arga dan Dodi menjilati kedua payudaraku. Tangan kiriku asyik mengocok penis Felix sedangkan yang kanan dengan lincah memuaskan Chris. Lidah Jonathan menari lincah di perutku, memberikan sensasi kenikmatan tersendiri. Sementara Stanley dan Rhino melengkapi kenikmatan dengan menjelajahi daerah di bawah perut dengan lidah dan jari-jari mereka. Ahh.. baru kali ini aku merasakan gejolak yang luar biasa. Setiap jengkal tubuhku rasanya dimanja dengan sentuhan mereka. Kami pun bertukar-tukar posisi.<br />
Hampir dua jam kami melakukan fore-play tersebut. Chris yang pertama berhasrat menembus lubang vaginaku. Sambil bersandar di dada Frans yang bidang, sementara Stanley dan Felix asyik mencumbui tubuhku yang terawat, aku menerima kenikmatan yang diberikan Chris. Ahh.. anak itu hebat sekali memainkan temponya. Penisnya yang memang berukuran besar terasa memenuhi vaginaku. Setelah Chris, gantian Jonathan yang menghujamkan penisnya yang bertindik mutiara itu ke dalam vaginaku.</p>
<p style="text-align: justify;">“Ahh.. ahh.. terus Jo.. aaahhh..”, aku mulai mendesah merasakan bola mutiara itu memijit-mijit dinding vaginaku.<br />
Uhh.. nikmat sekali. Daun mudaku yang satu ini memang kreatif sekali mendandani penisnya. Suatu kali saat aku berkencan dengannya, Jonathan memasang sepuluh anting-anting kecil yang terbuat dari silikon di sekeliling leher penisnya. Hasilnya..wow, aku mengalami multi orgasme hingga 17 kali berturut-turut. Saat itu hampir aku kehabisan nafas.</p>
<p style="text-align: justify;">Seperti biasa saat aku main dengan Jonathan, Stanley kumat gilanya. Penis Jonathan yang berdiameter 5 cm itu sudah hampir memenuhi vaginaku, Stanley menambahnya dengan menghujamkan penisnya yang berukuran kurang lebih sama dengan Jonathan ke dalam vaginaku. Akkhhh.. nikmatnya! Aku sampai menggigit tangan Felix yang sedang memelukku.<br />
“Ahh.. ahh.. ooohhh..”, birahiku semakin memuncak. Saat itu Rhino langsung menyumpal mulutku dengan penisnya yang belum disunat itu. Mmm.. nikmat sekali.<br />
Aku mengulum dan memainkan ujung penis Rhino yang kenyal. I like this.. aku menggigitinya seperti permen karet. Anak itu mengerang keasyikan. Aku merasa birahiku semakin memuncak. Dan..ahhh, aku pun mencapai orgasmeku. Jonathan dan Stanley mencabut penis mereka pelan-pelan. Kemudian gantian Stanley yang memasukkan penisnya yang basah itu ke dalam mulutku.</p>
<p style="text-align: justify;">Di bawah, Frans kembali bergumul dengan vaginaku. Lidahnya lincah menari-nari membangkitkan kembali gairahku hingga birahiku kembali naik. Lantas dituntaskannya dengan penis supernya tersebut. Ahhh.. nikmatnya. Kami terus berpesta, bergumul dan berganti-ganti posisi. Tanpa terasa malam hampir mencapai pukul 12. Artinya sebentar lagi hari ulang tahunku akan tiba. Saat itu segenap kepuasan telah menyelimuti kami dari pesta sejak sore tadi. Tubuh-tubuh macho itu tergeletak melepas ketegangannya di tengah-tengah tubuhku, sambil kami bercumbu-cumbu kecil.<br />
Akhirnya alarm handphoneku yang sengaja kupasang, berbunyi. Now it&#8217;s the time!
</p>
<p style="text-align: justify;">Tepat jam 12 aku mengeluarkan kue ulang tahun yang kubeli tadi siang dari dalam lemari es. Kuletakkan di atas meja. Kedelapan daun mudaku berdiri mengelilingi meja tersebut. Acara potong kue pun dimulai. Potongan pertama kuletakkan di atas cawan, kemudian kuberikan pada Chris yang berdiri di sebelahku. Kusuapkan sepotong ke mulutnya dengan mulutku. Kemudian potongan kedua kuberikan pada Frans dengan cara yang sama. Lalu berturut-turut Stanley, Jonathan, Arga, Dodi, Rhino dan terakhir Felix.</p>
<p style="text-align: justify;">Kami pun berpesta dengan kue itu dan tentunya beberapa botol anggur yang telah kuberi obat perangsang tadi. Selesai makan, atas ide Frans aku diminta berbaring di atas meja, kemudian tubuhku dibaluri sisa krim dari kue dan sedikit disirami anggur. Kemudian dengan buas, kedelapan daun mudaku melumat tubuhku dengan lidah mereka. Ahh.. nikmat sekali rasanya. Aku merasa seperti ratu yang dimanja gundik-gundiknya.</p>
<p style="text-align: justify;">Mr. Bond<br />
View Public Profile<br />
Send a private message to Mr. Bond<br />
Find More Posts by Mr. Bond<br />
Add Mr. Bond to Your Contacts</p>
<p style="text-align: justify;">18-07-2006, 04:17 PM    #3<br />
Mr. Bond<br />
[DS] Enthusiast</p>
<p style="text-align: justify;">Join Date: Jul 2006<br />
Posts: 144<br />
Thanks: 0<br />
Thanked 12 in 9 Posts
</p>
<p style="text-align: justify;">&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8211;</p>
<p style="text-align: justify;">Mereka tak hanya menjilati, tapi juga mencumbui seluruh permukaan kulitku. Sshh.. oohhh.. Felix memang pintar sekali menjelajahi payudaraku. Anak itu berduet dengan Arga melumat payudara dan puting susuku. Frans, Rhino dan Chris asyik berebutan mengeroyok vagina dan pantatku. Uhhh.. rasanya vaginaku ingin meleleh dibuatnya.<br />
Sudah 8 kali aku orgasme dengan permainan ini, namun mereka terus asyik melumat tubuhku tanpa henti. Gila, obat perangsang pemberian salah seorang temanku itu memang top banget.</p>
<p style="text-align: justify;">“Sshhh.. ooohhh..”, untuk yang ke-9 kalinya aku mencapai orgasme.<br />
Karena tak tahan aku pun bangkit. Tubuhku sudah basah oleh air liur mereka. Aku melirik ke jam di handphoneku. 00:57. Sebentar lagi Daniel dan tante-tantenya akan kemari.<br />
“Sebentar ya sayang..”, aku menyingkir sedikit dari daun-daun mudaku untuk mengirim SMS ke Daniel.<br />
Tak lama kemudian anak itu membalas. Yup, confirm! Mereka sedang di lift dan sebentar lagi akan tiba.<br />
“Ok sayang.. kalian semua betul-betul hebat. Tante senang sekali merayakan pesta ulang tahun seperti ini. Nah.. sebagai imbalan, tante punya surprise buat kalian semua..”, cetusku sambil senyum-senyum.<br />
Kedelapan pria itu saling berpandangan dengan bingung.<br />
“Wah, surprise apalagi nih tante?”, tanya Chris.<br />
Aku mengecup bibir anak itu.<br />
“Liat aja bentar lagi”, jawabku.<br />
Baru saja aku meyelesaikan kalimatku, pintu kamar berbunyi. Aku segera memakai kimono dan menghampiri pintu.<br />
“Happy birthday Tasha..”<br />
Daniel dan tante-tantenya berteriak ribut mengejutkan semua pria yang ada di dalam kamarku. Aku mempersilakan masuk dan mengenalkan mereka. Melihat kedelapan daun mudaku yang tanpa busana, kelima wanita itu langsung menanggalkan pakaian mereka tanpa basa-basi.<br />
“Oke semua, this is the real party.. Enjoy it!”, seruku pada mereka.<br />
Bagai pasukan yang dikomando, mereka langsung mencari pasangan dan memilih tempat masing-masing untuk melepas birahinya. Aku menghampiri Daniel yang masih berpakaian lengkap.<br />
“Sayang.. sekarang saatnya kita berduaan. Biar saja mereka berpesta, tante ingin menikmati tubuh kamu sendirian.. mmm.. mmm..”, desahku seraya mencium bibir Daniel.
</p>
<p style="text-align: justify;">Pria macho itu langsung menggendong tubuhku dan membawaku ke bathroom. Daniel mendudukkanku di atas meja wastafel, dan kami pun melanjutkan ciuman kami. Tanganku lincah melucuti kemeja yang membungkus tubuh Daniel. Anak itu juga melepas kimono yang kupakai. My God! Untuk kesekian kali aku mengagumi tubuh kekar Daniel yang putih itu. Aku mendekap tubuhnya hingga dadanya menempel ketat di payudaraku. Ssshh.. hangat sekali. Daniel menciumi leher dan bahuku habis-habisan. Gairahku kembali naik.</p>
<p style="text-align: justify;">Dengan lembut Daniel mendorong tubuhku hingga setengah berbaring di atas wastafel tersebut. Kemudian dengan liar anak itu menjelajahi tubuhku dengan lidahnya. Ahhh.. dia pintar sekali mencumbui puting susuku. Sementara sebelah tangannya mengusap-usap permukaan kemaluanku. Kedua tanganku sampai meremas rambut Daniel untuk menahan kenikmatanku. Daniel membasahi jari-jarinya dengan lidahnya, kemudian dimasukannya jari tengahnya yang kekar itu ke dalam lubang vaginaku.</p>
<p style="text-align: justify;">“Sshhh.. ooohhh..”, aku mendesah merasakan kenikmatan itu.<br />
Daniel melirik ke wajahku yang sedang berekspresi seperti orang ketagihan. Bibir, lidah dan giginya tak henti-henti mencumbui puting susuku. Daniel memang lihai sekali memainkan tempo. Tak sampai lima belas menit, jari-jari Daniel berhasil membuatku klimaks. Aku memeluk dan mencium anak itu.
</p>
<p style="text-align: justify;">Kemudian gantian aku yang turun ke bawah untuk menikmati penisnya yang aduhai itu. Gila, masih lemesnya aja segini, gimana udah tegang nanti. Penis Daniel yang tidak disunat itu terlihat lucu dengan daging lebih di ujungnya. Dengan lincah aku menjilati sekeliling penis anak itu. Daniel meremas rambutku dengan penuh nafsu. Lidahku mulai menjelajahi batang penisnya yang besar itu. Uhhh.. gila besar sekali. Sampai pegel lidahku menjilatinya. Sesekali Daniel menggesek-gesekkan batang penisnya itu ke mulutku dengan geMas. Aku semakin liar saja melumatnya. Pelan-pelan aku mulai melahap penis Daniel. Mmm.. mmm.. enak sekali. Aku mengulum ujung penis Daniel yang kenyal, dan menarik-nariknya seperti permen karet. Anak itu sempat bergidik menahan nikmat. Sambil mengulum ujungnya, kedua tanganku memainkan batang penisnya yang sudah basah oleh air liurku itu. Lidahku semakin lincah dan liar.</p>
<p style="text-align: justify;">Akhirnya penis Daniel mencapai ukuran klimaksnya. Dan.. wow betul-betul fantastis. Aku mengukurnya dengan jariku. Gila, nyaris dua jengkal tanganku. Kayaknya tadi waktu party bareng tante-tantenya nggak segede ini. Makan apa sih ni anak. Penis Daniel sudah keras, kepalanya sudah menyembul dari balik kulitnya dan urat-urat yang perkasa mulai menghiasi sekeliling batang penisnya. Daniel mengusap-usapkan penisnya ke sekujur wajahku. Ahhh.. nikmat sekali. Sebentar lagi aku akan merasakan kejantanannya.</p>
<p style="text-align: justify;">Sambil berpegangan di wastafel, aku siap dengan posisi nungging. Perlahan-lahan Daniel menyelipkan batang penis jumbonya itu ke dalam liang vaginaku. Aahhh.. aku merasa seperti seorang perawan yang baru menikmati malam pertama. Penis Daniel terasa sulit menembus vaginaku. Pelan-pelan Daniel menusukkan semakin dalam, dan.. akhirnya penis Daniel amblas ke dalam vaginaku. Uhhh.. rasanya ketat sekali di dalam.</p>
<p style="text-align: justify;">“Shh.. tante.. lubangnya sempit banget sih.. enak banget nih..ahhh..”, Daniel mendesah di telingaku.<br />
Pelan-pelan Daniel mulai memaju-mundurkan penisnya. Ohh..ohhh..ooohhh.. nikmat sekali. Sementara kedua tangannya yang kekar meremas payudaraku.<br />
“Aahhh.. ahh.. Daniel.. aahhh.. enak sekali sayang.. aahhh..”, Aku merasakan tubuhku akan meledak menahan rasa nikmat yang luar biasa.<br />
Baru kali ini aku merasa seperti ini. Dan tak lama kemudian aku pun mencapai klimaks. Ahhh.. Daniel mencabut batang penisnya dari vaginaku. Gila, anak itu masih cool aja. Masih dalam posisi berdiri, aku memeluk tubuh kekarnya, sambil menciumi dadanya yang bidang.<br />
“Gila, kamu hebat sayang.. mmmhhh..”, desahku seraya melumat bibirnya.<br />
Daniel lalu menggendong tubuhku dan dia mulai melumat payudara dan puting susuku. Ahhh.. asyik sekali.<br />
“Tante.. aku mau sambil berdiri ya..”, desahnya.<br />
Aku mengangguk. Tanpa kesulitan Daniel kembali meyelipkan batang penisnya yang masih keras ke dalam vaginaku yang sudah becek. Oohhh.. kami bermain dengan posisi berdiri. Berat badanku membuat penis Daniel menancap semakin dalam. Nikmat sekali rasanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Entah berapa kali aku dan Daniel saling melepas nafsu di kamar mandi itu. Tubuhku sampai lemas karena terlalu sering orgasme. Daniel yang masih stay cool duduk di atas toilet, sementara aku duduk di pangkuannya sambil merebahkan tubuhku di dadanya yang bidang.<br />
“Hhh.. kamu gila sayang, hebat banget sih..”, cetusku sambil mencubit hidung Daniel.<br />
Anak itu tersenyum sambil mengusap rambutku.<br />
“Tante juga hebat.. gila tadi tante party sama cowo-cowo itu ya?”, tanya Daniel sedikit takjub.<br />
Aku mengangguk manja. Anak itu sampai geleng-geleng.<br />
“Kamu juga sering kan party bareng tante-tantemu itu? Hayo ngaku..”, celetukku dengan nada bercanda.</p>
<p style="text-align: justify;">Daniel tertawa. Sambil melepas lelah aku berbagi cerita dengan Daniel. Aku sampai geleng-geleng mendengar ceritanya. Di usianya yang masih semuda itu ternyata pengalaman seksualnya jauh lebih banyak daripadaku. Dengan segala kelebihan fisik yang dimilikinya, anak itu seringkali menyelesaikan persoalan dengan rayuan dan pesona bercintanya. Mulai dari teman sekelasnya yang rela membuatkan PR-nya dan Daniel membayarnya dengan memberi kenikmatan birahi pada si cewe itu. Kemudian tantenya yang kepergok berselingkuh di salah satu restoran, juga merelakan tubuhnya dipuaskan Daniel sebagai imbalan tutup mulut. Bahkan sampai wali kelasnya yang menurutnya memang cantik itu, rela membubuhkan nilai 9 di raport Daniel dengan imbalan pelayanan birahi yang memuaskan dari anak itu.<br />
“Tante, kita keluar yuk, kayaknya pada berisik banget deh..”, ajak Daniel tiba-tiba.<br />
Aku mengangguk setuju. Sejak tadi memang di luar kamar mandi tersebut berisik sekali. Suara lenguhan, desahan sampai jeritan manja sayup-sayup terdengar saat aku berpacu nafsu dengan Daniel di kamar mandi tadi.</p>
<p style="text-align: justify;">Betapa terkejutnya aku ketika keluar dari kamar mandi melihat pemandangan yang selama ini hanya dapat aku nikmati lewat blue film. Para daun mudaku tersebar di berbagai sudut asyik berbagi kenikmatan dengan tante-tantenya Daniel.<br />
Jonathan dan Stanley yang selalu kompak asyik memuaskan Shinta di salah satu sofa. Arga, Rhino dan Dodi juga sibuk menggumuli Melly, yang paling cantik dan seksi di antara wanita-wanita itu. Sementara Candra bagai seorang ratu tergolek di atas ranjang, sementara Chris dan Felix dengan buas menggeluti tubuhnya yang memang mulus. Si macho-ku Frans rupanya yang jadi favorit sampai Yuni dan Liana berebut menikmati Mr. King-nya. Aku geleng-geleng melihatnya seraya memeluk tubuh Daniel yang ada di sebelahku. Inikah yang namanya orgy? Betul-betul gila. Aku tak menyangka kalau pesta ulang tahunku menjadi sefantastis ini.
</p>
<p style="text-align: justify;">Aku dan Daniel pun bergabung dengan mereka. Entah berapa jam lamanya aku larut dalam pesta gila itu. Kami berganti-ganti pasangan seenaknya. Entah sudah berapa kali kami orgasme. Namun khasiat obat perangsang yang kubawa itu memang luar biasa. Stamina kami seperti tak ada habis-habisnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Pesta gila itu akhirnya terhenti oleh Candra yang punya ide untuk bikin games. Wanita itu ingin membuat game seperti yang dilakukannya pada Daniel sore tadi sebagai hadiah ulang tahunku. Tentu saja aku setuju. Dengan posisi nungging, aku berlutut di atas ranjang. Kepalaku rebah di atas bantal, mataku tertutup, sementara kedua tanganku diikat. Kedua pahaku kubuka lebar-lebar. Permainan pun dimulai. Pria-pria yang ada di situ secara acak akan memasukkan batang penisnya ke dalam vaginaku. Jika aku bisa menebak siapa yang sedang beraksi, aku boleh melepas ikatanku dan melapas hasratku dengan pria tersebut. Namun jika aku salah menebak, aku harus mengulum penis pria tersebut sampai dia orgasme.</p>
<p style="text-align: justify;">Suasanya sunyi senyap. Penis pertama mulai menyusup perlahan ke dalam lubang vaginaku. Aku berharap penisnya Jonathan, karena mudah sekali mengenalinya. Perlahan penis itu terus masuk ke dalam liang vaginaku. Ups.. tidak ada aksesoris apa-apa. Berarti bukan Jonathan. Siapa ya? Aku jadi penasaran. Penis itu sudah amblas seluruhnya kedalam vaginaku. Ughh.. nikmatnya. Tapi siapa ya? Aku melakukan kegel untuk memancing desahan pria itu. Sial, nggak bersuara. Yang ada malah suara Shinta, Melly, Candra, Yuni dan Liana yang berah-uh-ah-uh mengacaukanku. Ah.. aku betul-betul bingung.</p>
<p style="text-align: justify;">“Stanley?” tebakku.<br />
Wanita-wanita itu cekikikan. Sang pria sama sekali tak bersuara. Tiba-tiba tubuh pria tersebut menunduk hingga aku bisa merasakan dengusan nafasnya. Dibukanya tutup mataku.<br />
“Aww.. Chris!”, teriakku.
</p>
<p style="text-align: justify;">Gimana aku nggak bisa ngenalin sih. Dasar. Mereka semua tertawa. Sebagai konsekuensi, aku harus mengulum penisnya sampai anak itu orgasme. Permainan terus berlanjut. Berkali-kali aku gagal. Mungkin ada sekitar 7 kali aku tidak bisa menebak. Padahal kadang salah seorang dari mereka beraksi lebih dari satu kali. Tapi aku tetap tidak mengenali. Sialnya Jonathan malah melepas aksesoris yang menjadi ciri khasnya. Huh.. Tapi aku senang. Bukan Tasha namaku kalau tidak mengenali penis si macho, Frans. Aku langsung menjerit keasyikan begitu tahu tebakanku tepat. Dengan cool Frans melepaskan ikatanku dan kami melepas birahi dengan ditonton oleh yang lain. Setelah orgasme, permainan dilanjutkan.</p>
<p style="text-align: justify;">Berikutnya ketebak lagi. Gimana nggak, siapa lagi yang penisnya bisa membuatku merasa seperti perawan. Ughhh.. nikmat sekali saat penis super besar itu amblas di dalam vaginaku. Aku yang memang sudah bisa menebak mencoba mengulur waktu sebentar. Nikmat sekali penis ini. Aku melakukan kegel berkali-kali, hingga tiba-tiba penis itu memuntahkan spermanya yang kental di dalam vaginaku. Si pemilik penis mengerang menahan nikmat. Aku bisa mendengar suara gumaman heran orang-orang yang ada di situ.</p>
<p style="text-align: justify;">“Gotcha Daniel!”, seruku sambil tersenyum penuh kemenangan.<br />
Yang lain berteriak heboh. Daniel pun langsung membuka tutup mata dan tali yang mengikatku.<br />
“Tante curang ih..”, rajuknya manja.<br />
Aku tertawa dan memeluk tubuh anak itu. Kami pun bercumbu sambil disaksikan yang lain. Tak butuh waktu lama untuk mengembalikan birahi Daniel setelah aku ‘mencuri’ spermanya tadi. Dengan gayanya yang buas, Daniel membuat kami orgasme bersama.</p>
<p style="text-align: justify;">Permainan itu berlangsung sampai menjelang pagi. Setelah semua selesai, Daniel dan tante-tantenya pamit untuk kembali ke kamarnya. Sementara aku juga mau istirahat. Kami pun tertidur pulas sekali. Lewat jam dua belas kami baru bangun. Satu persatu daun mudaku pamit pulang, hingga akhirnya aku sendirian di kamar yang besar itu.<br />
Sambil berdiri di pintu, aku menyaksikan pemandangan kamar yang berantakan. Botol-botol minuman berserakan di mana-mana, begitu juga krim-krim bekas kue. Posisi kursi, meja dan sofa sudah nggak jelas, ranjang apalagi sudah mawut-mawutan. Tapi aku merasa puas sekali. Betul-betul pesta ulang tahun yang berkesan. Dan yang lebih berkesan lagi aku dapat daun muda baru, Daniel.
</p>
<p style="text-align: justify;">Sejak kejadian itu, aku menjadi akrab dengan Daniel dan juga tante-tantenya. Aku jadi bersahabat karib dengan Candra. Dan dari mereka juga aku mulai mengenal kehidupan malam. Petualangan sex-ku pun makin beragam. Aku mulai sering ikut acara-acara gila yang diadakan Candra dan teman-temannya.</p>
<p style="text-align: justify;">Februari kemarin, aku bercerai dengan suamiku. Toh aku pikir ada atau nggak ada suami sama saja. Dia jarang sekali di rumah. Hak asuh Juliet pun kuserahkan dengan ikhlas pada suamiku. Dan kini aku semakin bebas tanpa adanya suami dan anak. Aku bisa keluar rumah sesukaku dan ikut acara-acara gilanya Candra. Bahkan tak jarang aku menjadi tuan rumah untuk acara-acara tersebut, karena rumah peninggalan suamiku ini memang besar sekali. Aku pun juga bebas mengundang daun-daun mudaku ke rumah untuk memuaskanku kapan saja aku mau.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ceritasex.cn/dijebak-tapi-enak-bagian-1/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Dukun Cabul dan Ibu Rumah Tangga</title>
		<link>http://www.ceritasex.cn/dukun-cabul-dan-ibu-rumah-tangga/</link>
		<comments>http://www.ceritasex.cn/dukun-cabul-dan-ibu-rumah-tangga/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 11 Jul 2009 15:50:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cerita Sex</dc:creator>
				<category><![CDATA[Paruh baya]]></category>
		<category><![CDATA[Seks Umum]]></category>
		<category><![CDATA[selingkuh]]></category>
		<category><![CDATA[birahi]]></category>
		<category><![CDATA[dukun cabul]]></category>
		<category><![CDATA[ibu muda]]></category>
		<category><![CDATA[istri muda]]></category>
		<category><![CDATA[istri orang]]></category>
		<category><![CDATA[mesum]]></category>
		<category><![CDATA[nafsu]]></category>
		<category><![CDATA[ngentot]]></category>
		<category><![CDATA[ngentotin istri orang]]></category>
		<category><![CDATA[perkosa]]></category>
		<category><![CDATA[seks]]></category>
		<category><![CDATA[vivi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ceritasex.cn/?p=576</guid>
		<description><![CDATA[Vivi tidak bisa menerima sikap dan tindakan Ardi akhir-akhir ini yang ia lihat sudah melupakan dan membiarkan keluarganya. Tindakan ini dilihat Vivi saat Ardi akan pergi ke luar kota untuk meninjau perusahaannya di kota lain. Vivi menduga pasti Ardi telah melakukan suatu perselingkuhan dan menyeleweng dikarenakan Ardi tidak lagi memberikan nafkah batin untuk Vivi, sedangkan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Vivi tidak bisa menerima sikap dan tindakan Ardi akhir-akhir ini yang ia lihat sudah melupakan dan membiarkan keluarganya. Tindakan ini dilihat Vivi saat Ardi akan pergi ke luar kota untuk meninjau perusahaannya di kota lain. Vivi menduga pasti Ardi telah melakukan suatu perselingkuhan dan menyeleweng dikarenakan Ardi tidak lagi memberikan nafkah batin untuk Vivi, sedangkan Ardi selalu pergi ke luar kota setiap minggu dengan begitu hubungan seks-nya dengan istrinya pasti tersalur, sedang saat ini Ardi telah lupa akan kewajibannya. Siapa wanita yang telah merebut Ardi dari tangannya, Vivi tidak mengetahui. Oleh sebab itu Vivi sering merenung dan berpikir apakah selama ini ia tidak melayani kebutuhan dan kesenangan suaminya, namun semua itu ia rasa tidak mungkin dan sepengetahuannya ia selalu melayani dan melaksanakan kesenangan dan kesukaan suaminya. Sedang kalau ia lihat bentuk tubuhnya yang mungkin telah berubah? namun ia sadari tidak mungkin juga, Vivi menyadari ia dan Ardi telah berumah tangga kurang lebih 6 tahun dan dikaruniai 2 orang anak yang paling besar berumur 5 tahun, mustahil bentuk tubuhnya akan menyebabkan Ardi berpaling.</p>
<p style="text-align: justify;">Di depan cermin sering Vivi mengamati tubuhnya, ia pun rajin senam dan melangsingkan tubuhnya, namun apa gerangan Ardi berubah dan tidak mau menjamahnya? Secara fisik Vivi memang seorang ibu rumah tangga yang telah beranak dua, namun jika melihat tubuh dan kulitnya banyak membuat gadis yang iri karena bentuk tubuhnya amat serasi dan menggiurkan setiap lelaki yang menatapnya. Umur Vivi baru 32 tahun, di saat itu ia butuh pelampiasan birahi jika malam hari menjelang, namun sikap Ardi telah membuatnya menjadi tidak percaya diri. Atas saran teman karibnya yang juga ibu rumah tangga dan wanita karir, maka Vivi disarankan untuk meminta tolong pada seorang dukun sakti yang bisa mengembalikan suami dan membuat Ardi bertekuk lutut kembali. Ini telah lama di coba Lusi, dulunya suaminya juga menyeleweng. Namun atas bantuan dukun itu suaminya telah melupakan wanita simpanannya.<br />
<span id="more-576"></span><br />
Dengan saran dan nasehat dari karibnya itu Vivi memberanikan diri untuk datang ke tempat dukun itu walaupun jaraknya agak jauh kurang lebih 2 jam perjalanan dengan mobilnya. Dengan bantuan Lusi, Vivi mengemudikan Balenonya ke tempat dukun itu. Mereka berangkat pagi harinya. Sesampai di gubuk dukun yang memang terpencil di sebuah kampung itu, Vivi memarkirkan mobilnya di samping gubuk itu. Lalu Lusi mengetuk pintu gubuk itu dan dengan adanya sahutan dari dalam mempersilakan mereka berdua masuk, di dalam telah ada dukun itu yang duduk dengan sambil menghisap rokoknya.<br />
&#8220;Ooo&#8230; Bu Lusi? ada apa Bu? ada yang bisa saya bantu?&#8221; dukun itu berbasa basi.<br />
&#8220;Eee&#8230; ini Mbah, teman saya ini ada masalah dengan suaminya, namun ia ingin suaminya seperti sedia kala lagi&#8230;&#8221; jawab Lusi.<br />
Lalu Lusi memperkenalkan sang dukun yang bernama Mbah Dudu itu kepada Vivi. Sambil berjabat tangan Mbah Dudu mempersilakan kedua wanita itu untuk duduk bersila di lantai gubuknya itu. Sepintas Vivi merasa agak risih dari mulai ia memasuki gubuk itu. Ada perasaan tidak enak namun karena keinginannya mengembalikan suaminya ia tidak mengambil pusing semuanya. Tanpa ia sadari dari saat ia masuk dan bersalaman dengan Vivi mata mbah dukun itu tidak henti-hentinya memandang ke arah Vivi. Lalu ia memanggil Vivi untuk maju selangkah ke arahnya, dan Vivi diperintahkan untuk memasukkan tangannya ke dalam wajan yang berisi air kembang, lalu Mbah Dudu membakar menyan dan membaca mantranya.
</p>
<p style="text-align: justify;">Tidak berapa lama kemudian ia buka matanya dan berkata bahwa mata hati suaminya telah dipengaruhi oleh wanita simpanan Ardi dan membuat Ardi melupakan keluarganya. Atas saran mbah dukun supaya Ardi kembali maka Vivi harus memakai jimat yang akan dibuatkannya, asal Vivi mau menjalani syarat-syaratnya dan itu semua terpulang kepada Vivi. Karena besarnya keinginan agar Ardi kembali, maka Vivi menyanggupi segala syarat-syaratnya. Setelah itu sang dukun berkata bahwa besoknya Vivi akan mendapatkan jimat itu dan akan dipasangkan ke tubuh Vivi dan akan dibuatkan malam ini. Mbah Dudu adalah lelaki asal Nias yang telah lama memiliki ilmu yang amat sakti. Tidak sedikit orang yang telah dibantunya. Mbah Dudu tinggal seorang diri di gubuk itu dan tidak memiliki istri. Umurnya telah beranjak tua yaitu 70 tahun namun fisik dan sosoknya tidak menggambarkan ketuaan. Selanjutnya Vivi minta diri dan menitipkan amlop untuk memenuhi syarat-syaratnya, dan berjanji besok akan datang. Lalu Lusi minta diri kepada Mbah Dudu, lalu mereka pulang ke rumah dan besok Vivi harus mengambil jimatnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Besok hari yang telah ditentukan, Vivi minta Lusi membantu menemaninya ke tempat dukun itu, namun karena adanya kesibukan di kantornya maka Lusi tidak dapat menemani. Dan berangkatlah Vivi mengendarai Balenonya seorang diri ke tempat dukun itu. Lebih kurang 1,5 jam perjalanan Vivi, sampailah di gubuk itu dan memarkirkan mobilnya di samping gubuk, sedangkan hari saat itu telah mendung dan berangin sepertinya hari akan hujan. Lalu Vivi mengetuk pintu gubuk dan kemudian pintu itu dibuka Dudu dari dalam dan mempersilakan masuk. Lalu Vivi masuk ke gubuk dan duduk di lantai. Lalu Mbah Dudu meminta Vivi untuk langsung ke depan dan menerima saran dan cara-cara memakai jimat itu. Vivi diharuskan untuk berbaring dan memakai kain sarung lalu menelentangkan diri, karena jimat itu akan dipasangkan pada tubuh Vivi yang biasa di sentuh suaminya. Lalu Vivi minta ijin untuk memakai sarung yang dipinjamkan sang dukun di kamar yang telah tersedia.</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam kamar itu, hanya ada satu dipan kayu yang telah lama dan saat itu Vivi membuka seluruh pakaianya, sedang BH dan CD-nya tetap terpasang pada tubuhnya. Sesaat kemudian sang dukun memasuki kamar itu dan minta Vivi berbaring di dipan itu. Vivi menuruti kata dukun itu, lalu Mbah Dudu memulai melakukan aktifitasnya dengan memasangkan cairan jimat itu mula-mula ke kulit muka Vivi lalu turun ke leher jenjang dan ke dada yang masih tertutup BH. Sesampai pada dada Vivi sang dukun menyadari adanya getaran birahinya mulai datang dan lalu di sekitar dada Vivi ia oleskan cairan itu, tangan sang dukun masuk ke dalam dada yang terbungkus BH. Di dalam BH itu tangan Dudu memilin dan memilintir puting susu Vivi, dengan cara itu Vivi secara naluri seksnya terbangkit dan membiarkan tindakan sang dukun yang memang kelewatan dari tugasnya itu, Vivi hanya diam. Lalu sang dukun membuka pengait BH Vivi dan melemparkan BH itu ke sudut kaki dipan itu dan terpampanglah sepasang dada montok yang putih mulus kemerahan karena gairah yang dipancing Mbah Dudu itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Di sekitar dada itu sang dukun mengoleskan jimatnya berulang-ulang sampai Vivi merasa tidak kuat menahan nafsunya. Lalu sang dukun tangannya turun ke perut dan ke selangkangan Vivi. Di situ tangan sang dukun memasuki selangkangan Vivi, tindakan ini membuat Vivi protes,<br />
&#8220;Jangan! saya mau diapakan Mbah?&#8221; tanyanya.<br />
&#8220;Ooo&#8230; ini adalah pengobatannya, Lusi pun dulunya begini juga,&#8221; jawab mbah dukun sambil mengatur nafasnya yang terasa sesak menahan gejolak nafsu. Di lubang kemaluan Vivi, jari tangan sang dukun terus mengorek-ngorek isi kemaluan Vivi sehingga Vivi merasakan ia akan menumpahkan air surgawinya saat itu. Sambil membuka kain sarung yang melilit tubuh Vivi sang dukun lalu menurunkan CD yang menutup lubang kemaluan Vivi itu. Lalu ia letakkan CD Vivi di samping dipan yang beralaskan bludu usang itu. Sesaat kemudian Vivi telah telanjang bulat dan jari tangan sang dukun tidak henti-hentinya beraksi di sekitar daerah sensitif tubuh Vivi. Sedang jimatnya telah dioleskan pada seluruh bagian-bagian tubuh Vivi.
</p>
<p style="text-align: justify;">Lalu tibalah saat untuk memasukkan keampuhan jimatnya, maka sang dukun minta kepada Vivi untuk mau bersengggama karena jimat itu tidak akan bisa dipakai jika Vivi tidak melakukan senggama dengan dukun itu. Karena Vivi telah merasa kepalang basah dan ingin niatnya kesampaian maka ia ijinkan sang dukun melakukan persenggamaan. Lalu tangan sang dukun membuka paha Vivi yang mulus terawat itu. Lalu ia buka lubang kemaluan Vivi dengan tangannya dan memainkan klitoris Vivi dan kembali Vivi histeris ingin dituntaskan nafsu yang telah sampai di kepalanya, ditambah telah beberapa bulan tidak berhubungan seks dengan suaminya. Mbah dukun yang telah sama-sama-sama bugil dengan Vivi lalu memasukkan batang kemaluannya yang cukup besar itu dan kuat ke dalam lubang kemaluan Vivi yang telah dibasahi air kewanitaan Vivi yang tampaknya siap untuk melakukan penetrasi ke dalam lubang kemaluan yang telah basah itu. Setelah dipaksakan agak keras lalu batang kemaluan yang tegak menantang masuk seluruhnya ke dalam lubang kemaluan Vivi, dan Mbah Dudu melakukan gerakan maju mundur, sedang tangannya tidak henti-hentinya memilin dan menekan pinggul padat Vivi itu. Buah dada Vivi tidak luput dari jelajahan tangan sang dukun.</p>
<p style="text-align: justify;">Lebih kurang 30 menit lubang kemaluan Vivi digenjot dengan paksa lalu sang dukun barulah sampai klimaks dengan menumpahkan air maninya ke dalam lubang kemaluan itu sebanyak-banyaknya. Sedangkan air yang keluar dari lubang kemaluan Vivi itu ia oleskan ke lidah Vivi untuk kasiat bahwa Vivi tidak bisa dilupakan suaminya. Dalam persenggamaan itu Vivi sempat orgasme 3 kali, itu pun saat ia terengah-engah di saat batang kemaluan sang dukun mengaduk-aduk isi kemaluanya tadi. Sejam kemudian barulah permainan itu selesai setelah sang dukun minta permainan dilakukan 2 kali. Setelah itu Vivi minta diri pulang dan membawa yang akan ia pakaikan di rumahnya saat mandi. Mbah dukun mengatakan ada jimat yang akan dipasang di dalam kamar Vivi namun belum siap, dan mbah dukun berjanji akan mengantarkannya ke rumah Vivi 2 hari lagi.</p>
<p style="text-align: justify;">Tepat 2 hari kemudian sang dukun mendatangi rumah Vivi yang megah. Saat itu suami Vivi belum pulang dari luar kota dan di rumah saat itu hanya ada ia dan seorang pembantunya yang sedang menjaga anak-anaknya. Sang dukun berkata, &#8220;Bu Vivi, jimat ini akan saya pasangkan pada kamar Ibu nanti malam,&#8221; sedangkan Vivi merasa khawatir, bagaimana jika suaminya pulang. Namun karena kesaktiannya, sang dukun berkata, &#8220;Bu Vivi nggak usah khawatir, suami Ibu pulang lusa, sedang ia sekarang menurut penglihatan saya sedang di Lampung,&#8221; kata sang dukun. Lalu bagaimana ia menerangkan kepada pembantunya karena adanya kehadiran dukun tua itu? Lalu ia hanya berkata bahwa familinya dari kampung dan menumpang barang 1 hari di rumahnya. Lalu Vivi mempersilakan sang dukun untuk istirahat di sebuah kamar yang memang diperuntukkan untuk tamu. Lalu sang dukun memasuki kamar yang telah disediakan.</p>
<p style="text-align: justify;">Malam harinya saat akan memasangkan jimat di kamar Vivi, dilakukan pada pukul 9.00 malam, sedang pembantunya telah tidur di kamar belakang, tempat kamar tidur pembantu memang jauh di belakang dan tidak mengganggu ke rumah induk tempat kamar Vivi berada. Di dalam kamar itu sang dukun melakukan ritualnya dengan membaca mantera, lalu ia membakar menyan, sedang Vivi duduk diam melihat apa yang dilakukan sang dukun dari atas tempat tidurnya. Lalu sang dukun berkata, &#8220;Sebaiknya jimat ini kita pasangkan pada saat tepat jam 12.00 malam nanti, berarti masih ada waktu 3 jam lagi, Bu Vivi&#8230;&#8221; katanya. &#8220;Sekarang sebaiknya kita ngomong-ngomong saja dulu menunggu waktu,&#8221; kata sang dukun. &#8220;Baiklah Mbah,&#8221; lalu Vivi mempersilakan sang dukun keluar kamar. Bagaimanapun ia merasa berat hati untuk membawa dukun itu ke dalam kamar pribadinya. Sang dukun berkata, &#8220;Tidak usah keluar&#8230; Bu Vivi&#8230; di sini saja.&#8221; Lalu sang dukun berdiri dari duduknya dan menuju ke arah Vivi duduk dan mbah dukun itu juga duduk di samping Vivi. Lalu tangannya menggapai tangan Vivi dan berkata, &#8220;Sebaiknya kita berdua melakukan seperti saat Ibu di gubuk saya, sebab jika tidak para jin yang membantu saya akan lari dan tidak mau menolong Ibu,&#8221; kata mbah dukun. Vivi hanya bergidik, bulu kuduknya merinding. Haruskah ia mengulangi kesalahan saat ia harus bersenggama dengan dukun itu di gubuknya? Namun karena adanya pengaruh dan keinginan Vivi maka ia biarkan sang dukun mengulangi perbuatan maksiat itu di kamarnya, saat itu Vivi memang merasa menjadi seorang wanita sempurna karena ia telah mendapatkan siraman batin dari dukun tua itu meskipun tidak ia dapatkan dari suaminya.</p>
<p style="text-align: justify;">Lebih kurang 2 jam mereka berdua mengayuh samudera kenikmatan bersama sang dukun dan membuat Vivi orgasme berulang-ulang dan membuat lubang kemaluannya sampai lecet karena kebuasan batang kemaluan dukun yang sangat besar itu. Lalu tepat pada jam 12 malam barulah jimat itu terpasang pada bawah ranjang Vivi dan menjelang pagi mereka terus melakukan hubungan seksual dengan menggebu-gebu. Lalu Vivi tertidur dan tidak menyadari hari telah pagi dan sang dukun telah pergi, sedang Vivi merasa tubuhnya pegal-pegal dan tulangnya serasa mau lolos. Sejak saat itu memang jimat pemberian sang dukun ada perubahan pada diri suami Vivi dan ia sangat berterima kasih dan lalu ia mendatangi sang dukun. Sedang sang dukun cuma minta Vivi tidak melupakannya, dengan cara Vivi harus 2 kali dalam sebulan datang untuk memberikan jatah hubungan seks kepada sang dukun seperti Lusi juga melakukan hal yang sama. Memang setelah itu Vivi selalu rajin mendatangi sang dukun dan terkadang sang dukun yang datang ke rumah Vivi untuk minta jatah senggamanya. Memang sebagai dukun ilmu hitam, Mbah Dudu harus mensenggamai pasiennya, karena dengan demikian si pasien akan mampu disembuhkan dan ilmu sang dukun dapat dipelihara.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ceritasex.cn/dukun-cabul-dan-ibu-rumah-tangga/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Aku adalah Istri yang digoda untuk selingkuh</title>
		<link>http://www.ceritasex.cn/aku-adalah-istri-yang-digoda-untuk-selingkuh/</link>
		<comments>http://www.ceritasex.cn/aku-adalah-istri-yang-digoda-untuk-selingkuh/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 28 Jun 2009 21:56:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cerita Sex</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pemerkosaan]]></category>
		<category><![CDATA[Seks Umum]]></category>
		<category><![CDATA[Tante Girang]]></category>
		<category><![CDATA[emut kontol]]></category>
		<category><![CDATA[enaknya istri orang]]></category>
		<category><![CDATA[ibu muda]]></category>
		<category><![CDATA[istri]]></category>
		<category><![CDATA[istri muda]]></category>
		<category><![CDATA[milf]]></category>
		<category><![CDATA[ngentot]]></category>
		<category><![CDATA[ngentotin istri orang]]></category>
		<category><![CDATA[oral seks]]></category>
		<category><![CDATA[orgasme]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ceritasex.cn/?p=491</guid>
		<description><![CDATA[Nama saya Diana. Saya sedang bingung sekali saat ini. Saya tidak tahu harus berbuat apa. Karenanya saya akan mencoba menceritakan sedikit pengalaman hidup saya yang baru saya hadapi baru-baru ini. Saya berumur 27 tahun. Saya sudah berkeluarga dan sudah mempunyai anak satu. Saya menikah dengan seorang pria bernama Niko. Niko adalah suami yang baik. Kami [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Nama saya Diana. Saya sedang bingung sekali saat ini. Saya tidak tahu harus berbuat apa. Karenanya saya akan mencoba menceritakan sedikit pengalaman hidup saya yang baru saya hadapi baru-baru ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Saya berumur 27 tahun. Saya sudah berkeluarga dan sudah mempunyai anak satu. Saya menikah dengan seorang pria bernama Niko. Niko adalah suami yang baik. Kami hidup berkecukupan. Niko adalah seorang pengusaha yang sedang meniti karir.</p>
<p style="text-align: justify;">Selama kami menikah kehidupan seks kami menurut saya normal saja. Saya tidak tahu apa yang dimaksud dengan orgasme. Tahulah, saya dari keluarga yang kolot. Memang di SMA saya mendapat pelajaran seks, tetapi itu hanya sebatas teori saja. Saya tidak tahu apa yang dinamakan orgasme.</p>
<p style="text-align: justify;">Saya memang menikmati seks. Saat kami melakukannya saya merasakan nikmat. Tetapi tidak berlangsung lama. Suami saya mengeluarkan spermanya hanya dalam 5 menit. Kemudian kami berbaring saja. Selama ini saya sangka itulah seks. Bahkan sampai anak kami lahir dan kini usianya sudah mencapai dua tahun. Dia seorang anak laki-laki yang lucu.</p>
<p style="text-align: justify;">Di rumah kami tidak mempunyai pembantu. Karenanya saya yang membersihkan semua rumah dibantu oleh Roy. Roy adalah pria yang rajin. Secara fisik dia lebih ganteng dari suami saya. Suatu ketika saat saya membersihkan kamar Roy, tidak sengaja saya melihat buku Penthouse miliknya. Saya terkejut mengetahui bahwa Roy yang saya kira alim ternyata menyenangi membaca majalah &#8216;begituan&#8217;.</p>
<p style="text-align: justify;">Lebih terkejut lagi ketika saya membaca isinya. Di Penthouse ada bagian bernama Penthouse Letter yang isinya adalah cerita tentang fantasi ataupun pengalaman seks seseorang. Saya seorang tamatan perguruan tinggi juga yang memiliki kemampuan bahasa Inggris yang cukup baik.</p>
<p style="text-align: justify;">Saya tidak menyangka bahwa ada yang namanya oral seks. Dimana pria me&#8217;makan&#8217; bagian yang paling intim dari seorang wanita. Dan wanita melakukan hal yang sama pada mereka. Sejak saat itu, saya sering secara diam-diam masuk ke kamar Roy untuk mencuri-curi baca cerita yang ada pada majalah tersebut.</p>
<p style="text-align: justify;">Suatu ketika saat saya sibuk membaca majalah itu, tidak saya sadari Roy datang ke kamar. Ia kemudian menyapa saya. Saya malu setengah mati. Saya salting dibuatnya. Tapi Roy tampak tenang saja. Ketika saya keluar dari kamar ia mengikuti saya.</p>
<p style="text-align: justify;">Saya duduk di sofa di ruang TV. Ia mengambil minum dua gelas, kemudian duduk disamping saya. Ia memberikan satu gelas kepada saya. Saya heran, saya tidak menyadari bahwa saya sangat haus saat itu. Kemudian ia mengajak saya berbicara tentang seks. Saya malu-malu meladeninya. Tapi ia sangat pengertian. Dengan sabar ia menjelaskan bila ada yang masih belum saya ketahui.</p>
<p style="text-align: justify;">Tanpa disadari ia telah membuat saya merasa aneh. Excited saya rasa. Kini tangannya menjalari seluruh tubuh saya. Saya berusaha menolak. Saya berkata bahwa saya adalah istri yang setia. Ia kemudian memberikan argumentasi bahwa seseorang baru dianggap tidak setia bila melakukan coitus. Yaitu dimana sang pria dan wanita melakukan hubungan seks dengan penis pada liang kewanitaan.<br />
<span id="more-491"></span><br />
Ia kemudian mencium bagian kemaluan saya. Saya mendorong kepalanya. Tangannya lalu menyingkap daster saya, sementara tangan yang lain menarik lepas celana dalam saya. Ia lalu melakukan oral seks pada saya. Saya masih mencoba untuk mendorong kepalanya dengan tangan saya. Tetapi kedua tangannya memegang kedua belah tangan saya. Saya hanya bisa diam. Saya ingin meronta, tapi saya merasakan hal yang sangat lain.
</p>
<p style="text-align: justify;">Tidak lama saya merasakan sesuatu yang belum pernah saya alami seumur hidup saya. Saya mengerang pelan. Kemudian dengan lembut menyuruhnya untuk berhenti. Ia masih belum mau melepaskan saya. Tetapi kemudian anak saya menangis, saya meronta dan memaksa ingin melihat keadaan anak saya. Barulah ia melepaskan pegangannya. Saya berlari menemui anak saya dengan beragam perasaan bercampur menjadi satu.</p>
<p style="text-align: justify;">Ketika saya kembali dia hanya tersenyum. Saya tidak tahu harus bagaimana. Ingin saya menamparnya kalau mengingat bahwa sebenarnya ia memaksa saya pada awalnya. Tetapi niat itu saya urungkan. Toh ia tidak memperkosa saya. Saya lalu duduk di sofa kali ini berusaha menjaga jarak. Lama saya berdiam diri.</p>
<p style="text-align: justify;">Ia yang kemudian memulai pembicaraan. Katanya bahwa saya adalah seorang wanita baru. Ya, saya memang merasakan bahwa saya seakan-akan wanita baru saat itu. Perasaan saya bahagia bila tidak mengingat suami saya. Ia katakan bahwa perasaan yang saya alami adalah orgasme. Saya baru menyadari betapa saya telah sangat kehilangan momen terindah disetiap kesempatan bersama suami saya.</p>
<p style="text-align: justify;">Hari kemudian berlalu seperti biasa. Hingga suatu saat suami saya pergi keluar kota lagi dan anak saya sedang tidur. Saya akui saya mulai merasa bersalah karena sekarang saya sangat ingin peristiwa itu terulang kembali. Toh, ia tidak berbuat hal yang lain.</p>
<p style="text-align: justify;">Saya duduk di sofa dan menunggu dia keluar kamar. Tapi tampaknya dia sibuk belajar di kamar. Mungkin dia akan menghadapi mid-test atau semacamnya. Saya lalu mencari akal supaya dapat berbicara dengannya. Saya kemudian memutuskan untuk mengantarkan minuman kedalam kamar.</p>
<p style="text-align: justify;">Disana ia duduk di tempat tidur membaca buku kuliahnya. Saya katakan supaya dia jangan lupa istirahat sambil meletakkan minuman diatas meja belajarnya. Ketika saya permisi hendak keluar, ia berkata bahwa ia sudah selesai belajar dan memang hendak istirahat sejenak. Ia lalu mengajak saya ngobrol. Saya duduk ditempat tidur lalu mulai berbicara dengannya.</p>
<p style="text-align: justify;">Tidak saya sadari mungkin karena saya lelah seharian, saya sambil berbicara lantas merebahkan diri diatas tempat tidurnya. Ia meneruskan bicaranya. Terkadang tangannya memegang tangan saya sambil bicara. Saat itu pikiran saya mulai melayang teringat kejadian beberapa hari yang lalu.</p>
<p style="text-align: justify;">Melihat saya terdiam dia mulai menciumi tangan saya. Saat saya sadar, tangannya telah berada pada kedua belah paha saya, sementara kepalanya tenggelam diantara selangkangan saya. Oh, betapa nikmatnya. Kali ini saya tidak melawan sama sekali. Saya menutup mata dan menikmati momen tersebut.</p>
<p style="text-align: justify;">Nafas saya semakin memburu saat saya merasakan bahwa saya mendekati klimaks. Tiba-tiba saya merasakan kepalanya terangkat. Saya membuka mata bingung atas maksud tujuannya berhenti. Mata saya terbelalak saat memandang ia sudah tidak mengenakan bajunya. Mungkin ia melepasnya diam-diam saat saya menutup mata tadi.</p>
<p style="text-align: justify;">Tidak tahu apa yang harus dilakukan saya hanya menganga saja seperti orang bodoh. Saya lihat ia sudah tegang. Oh, betapa saya ingin semua berakhir nikmat seperti minggu lalu. Tangan kirinya kembali bermain diselangkangan saya sementara tubuhnya perlahan-lahan turun menutupi tubuh saya.</p>
<p style="text-align: justify;">Perasaan nikmat kembali bangkit. Tangan kanannya lalu melolosi daster saya. Saya telanjang bulat kini kecuali bra saya. Tangan kirinya meremasi buah dada saya. Saya mengerang sakit. Tangan saya mendorong tangannya, saya katakan apa sih maunya. Dia hanya tersenyum.</p>
<p style="text-align: justify;">Saya mendorongnya pelan dan berusaha untuk bangun. Mungkin karena intuisinya mengatakan bahwa saya tidak akan melawan lagi, ia meminggirkan badannya. Dengan cepat saya membuka kutang saya, lalu rebah kembali. Ia tersenyum setengah tertawa. Dengan sigap ia sudah berada diatas tubuh saya kembali dan mulai mengisapi puting susu saya sementara tangan kanannya kembali memberi kehidupan diantara selangkangan saya dan tangan kirinya mengusapi seluruh badan saya.</p>
<p style="text-align: justify;">Selama kehidupan perkawinan saya dengan Niko, ia tidak pernah melakukan hal-hal seperti ini saat kami melakukan hubungan seks. Seakan-akan seks itu adalah buka, mulai, keluar, selesai. Saya merasakan diri saya bagaikan mutiara dihadapan Roy.</p>
<p style="text-align: justify;">Kemudian Roy mulai mencium bibir saya. Saya balas dengan penuh gairah. Sekujur tubuh saya terasa panas sekarang. Kemudian saya rasakan alatnya mulai mencari-cari jalan masuk. Dengan tangan kanan saya, saya bantu ia menemukannya. Ketika semua sudah pada tempatnya, ia mulai mengayuh perahu cinta kami dengan bersemangat.</p>
<p style="text-align: justify;">Kedua tangannya tidak henti-hentinya mengusapi tubuh dan dada saya. Saya hanya bisa memejamkan mata saya. Aduh, nikmatnya bukan kepalang. Tangannya lalu mengalungkan kedua tangan saya pada lehernya. Saya membuka mata saya. Ia menatap mata saya dengan sejuta arti. Kali ini saya tersenyum. Ia balas tersenyum. Mungkin karena gemas melihat saya, bibirnya lantas kembali memagut.</p>
<p style="text-align: justify;">Oh, saya merasakan waktunya telah tiba. Kedua tangan saya menarik tubuhnya agar lebih merapat. Dia tampaknya mengerti kondisi saya saat itu. Ini dibuktikannya dengan mempercepat laju permainan. Ahh, saya mengerang pelan. Kemudian saya mendengar nafasnya menjadi berat dan disertai erangan saya merasakan kemaluan saya dipenuhi cairan hangat.</p>
<p style="text-align: justify;">Sejak saat itu, saya dan dia selalu menunggu kesempatan dimana suami saya pergi keluar kota untuk dapat mengulangi perbuatan terkutuk itu. Betapa nafsu telah mengalahkan segalanya. Setiap kali akan bercinta, saya selalu memaksanya untuk melakukan oral seks kepada saya. Tanpa itu, saya tidak dapat hidup lagi. Saya benar-benar memerlukannya.</p>
<p style="text-align: justify;">Dia juga sangat pengertian. Walaupun dia sedang malas melakukan hubungan seks, dia tetap bersedia melakukan oral seks kepada saya. Saya benar-benar merasa sangat dihargai olehnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Ceritanya dulu suami saya Niko punya komputer. Kemudian oleh Roy disarankan agar berlangganan internet. Menurutnya juga dapat dipakai untuk berbisnis. Suami saya setuju saja. Pernah Roy melihat saya memandangi Niko saat dia menggunakan internet, kemudian dia tanya kepada saya, apa saya kepingin tahu.</p>
<p style="text-align: justify;">Niko yang mendengar lalu menyuruh Roy untuk mengajari saya menggunakan komputer dan internet. Pertama-tama saya suka karena banyak yang menarik. Hanya tinggal tekan tombol saja. Bagus sekali. Tetapi saya mulai bosan karena saya kurang mengerti mau ngapain lagi.</p>
<p style="text-align: justify;">Saat itulah Roy lalu menunjukkan ada yang namanya Newsgroup di internet. Saat pertama kali baca saya terkejut sekali. Banyak berita dan pendapat yang menarik. Tetapi waktu saya tidak terlalu banyak. Saya harus mengurus anak saya. Dia baru dua tahun. Saya sayang sekali kepadanya. Kalau sudah tersenyum dapat menghibur saya walaupun dalam keadaan sedih.</p>
<p style="text-align: justify;">Saya tidak mengerti program ini. Hanya Roy ajarkan kalau mau menulis tekan tombol ini. Terus begini, terus begini, dan seterusnya. Tetapi saya tidak cerita-cerita sama dia kalau kemarin saya sudah kirim berita ke Newsgroup. Takut dia marah sama saya. Saya hanya bingung mau cerita sama siapa. Masalahnya saya benar-benar sudah terjerumus. Saya tidak tahu bagaimana harus menghentikannya.</p>
<p style="text-align: justify;">Kini saya bagaikan memiliki dua suami. Saya diperlakukan dengan baik oleh keduanya. Saya tahu suami saya sangat mencintai saya. Saya juga sangat mencintai suami saya. Tetapi saya tidak bisa melupakan kenikmatan yang telah diperkenalkan oleh Roy kepada saya.</p>
<p style="text-align: justify;">Suami saya tidak pernah curiga sebab Roy tidak berubah saat suami saya ada di rumah. Tetapi bila Niko sudah pergi keluar kota, dia memperlakukan saya sebagaimana istrinya. Dia bahkan pernah memaksa untuk melakukannya di kamar kami. Saya menolak dengan keras. Biar bagaimana saya akan merasa sangat bersalah bila melakukannya ditempat tidur dimana saya dan Niko menjalin hubungan yang berdasarkan cinta.</p>
<p style="text-align: justify;">Saya katakan dengan tegas kepada Roy bahwa dia harus menuruti saya. Dia hanya mengangguk saja. Saya merasa aman sebab dia tunduk kepada seluruh perintah saya. Saya tidak pernah menyadari bahwa saya salah. Benar-benar salah.</p>
<p style="text-align: justify;">Suatu kali saya disuruh untuk melakukan oral seks kepadanya. Saya benar benar terkejut. Saya tidak dapat membayangkan apa yang harus saya lakukan atas &#8216;alat&#8217;nya. Saya menolak, tetapi dia terus memaksa saya. Karena saya tetap tidak mau menuruti kemauannya, maka akhirnya ia menyerah.</p>
<p style="text-align: justify;">Kejadian ini berlangsung beberapa kali, dengan akhir dia mengalah. Hingga terjadi pada suatu hari dimana saat saya menolak kembali dia mengancam untuk tidak melakukan oral seks kepada saya. Saya bisa menikmati hubungan seks kami bila dia telah melakukan oral seks kepada saya terlebih dahulu.</p>
<p style="text-align: justify;">Saya tolak, karena saya pikir dia tidak serius. Saya berpikir bahwa dia masih menginginkan seks sebagaimana saya menginginkannya. Ternyata dia benar-benar melakukan ancamannya. Dia bahkan tidak mau melakukan hubungan seks lagi dengan saya. Saya bingung sekali. Saya membutuhkan cara untuk melepaskan diri dari kerumitan sehari-hari. Bagi saya, seks merupakan alat yang dapat membantu saya menghilangkan beban pikiran.</p>
<p style="text-align: justify;">Selama beberapa hari saya merasa seperti dikucilkan. Dia tetap berbicara dengan baik kepada saya. Tetapi setiap kali saya berusaha mengajaknya untuk melakukan hubungan seks dia menolak. Saya tidak tahu harus berbuat apa. Saya berusaha semampu saya untuk merayunya, tetapi dia tetap menolak.</p>
<p style="text-align: justify;">Saya bingung, apa saya tidak cukup menarik. Wajah saya menurut saya cukup cantik. Pada masa-masa kuliah, banyak sekali teman pria saya yang berusaha mencuri perhatian saya. Teman wanita saya bilang bibir saya sensual sekali. Saya tidak mengerti bibir sensual itu bagaimana. Yang saya tahu saya tidak ambil pusing untuk hal-hal seperti itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Saya tidak diijinkan terlalu banyak keluar rumah oleh orang tua saya kecuali untuk keperluan les ataupun kursus. Saya orangnya supel dan tidak pilih-pilih dalam berteman. Mungkin hal ini yang (menurut saya pribadi)menyebabkan banyak teman pria yang mendekati saya.</p>
<p style="text-align: justify;">Sesudah melahirkan, saya tetap melanjutkan aktivitas senam saya. Dari sejak masa kuliah saya senang senam. Saya tahu saya memiliki tubuh yang menarik, tidak kalah dengan yang masih muda dan belum menikah. Kulit saya putih bersih, sebab ibu saya mengajarkan bagaimana cara merawat diri.</p>
<p style="text-align: justify;">Bila saya berjalan dengan suami saya, selalu saja pria melirik kearah saya. Suami saya pernah mengatakan bahwa dia merasa sangat beruntung memiliki saya. Saya juga merasa sangat beruntung memiliki suami seperti dia. Niko orangnya jujur dan sangat bertanggung jawab. Itu yang sangat saya sukai darinya. Saya tidak hanya melihat dari fisik seseorang, tetapi lebih dari pribadinya.</p>
<p style="text-align: justify;">Tetapi Roy sendiri menurut saya sangatlah ganteng. Mungkin itu pula sebabnya, banyak teman wanitanya yang datang kerumah. Katanya untuk belajar. Mereka biasa belajar di teras depan rumah kami. Roy selain ganteng juga pintar menurut saya. Tidaklah sulit baginya untuk mencari wanita cantik yang mau dengannya.</p>
<p style="text-align: justify;">Saya merasa saya ditinggalkan. Roy tidak pernah mengajak saya untuk melakukan hubungan seks lagi. Dia sekarang bila tidak belajar dikamar, lebih banyak menghabiskan waktunya dengan teman-teman wanitanya. Saya kesepian sekali dirumah. Untung masih ada anak saya yang paling kecil yang dapat menghibur.</p>
<p style="text-align: justify;">Hingga suatu saat saya tidak dapat menahan diri lagi. Malam itu, saat Roy masuk ke kamarnya setelah menonton film, saya mengikutinya dari belakang. Saya katakan ada yang perlu saya bicarakan. Anak saya sudah tidur saat itu. Dia duduk di tempat tidurnya. Saya bilang saya bersedia melakukannya hanya saya tidak tahu apa yang harus saya perbuat.</p>
<p style="text-align: justify;">Dengan gesit dia membuka seluruh celananya dan kemudian berbaring. Dia katakan bahwa saya harus menjilati penisnya dari atas hingga bawah. Walaupun masih ragu-ragu, saya lakukan seperti yang disuruh olehnya. Penisnya mendadak &#8216;hidup&#8217; begitu lidah saya menyentuhnya. Kemudian saya disuruh membasahi seluruh permukaan penisnya dengan menggunakan lidah saya.</p>
<p style="text-align: justify;">Dengan bantuan tangan saya, saya jilati semua bagian dari penisnya sebagaimana seorang anak kecil menjilati es-krim. Tidak lama kemudian, saya disuruh memasukkan penisnya kedalam mulut saya. Saya melonjak kaget. Saya bilang, dia sendiri tidak memasukkan apa apa kedalam mulutnya saat melakukan oral seks kepada saya, kenapa saya harus dituntut melakukan hal yang lebih.</p>
<p style="text-align: justify;">Dia berkata bahwa itu disebabkan karena memang bentuk genital dari pria dan wanita berbeda. Jadi bukan masalah apa-apa. Dia bilang bahwa memang oral seks yang dilakukan wanita terhadap pria menuntut wanita memasukkan penis pria kedalam mulutnya. Sebenarnya saya juga sudah pernah baca dari majalah-majalah Penthouse miliknya, saya hanya berusaha menghindar sebab saya merasa hal ini sangatlah tidak higienis.</p>
<p style="text-align: justify;">Karena khawatir saya tidak memperoleh apa yang saya inginkan, saya menuruti kemauannya. Kemudian saya disuruh melakukan gerakan naik dan turun sebagaimana bila sedang bercinta, hanya bedanya kali ini, penisnya berada di dalam mulut saya, bukan pada liang senggama saya.</p>
<p style="text-align: justify;">Selama beberapa menit saya melakukan hal itu. Saya perlahan-lahan menyadari, bahwa oral seks tidaklah menjijikkan seperti yang saya bayangkan. Dulu saya membayangkan akan mencium atau merasakan hal-hal yang tidak enak. Sebenarnya hampir tidak terasa apa-apa. Hanya cairan yang keluar dari penisnya terasa sedikit asin. Masalah bau, seperti bau yang umumnya keluar saat pria dan wanita berhubungan seks.</p>
<p style="text-align: justify;">Tangannya mendorong kepala saya untuk naik turun semakin cepat. Saya dengar nafasnya semakin cepat, dan gerakan tangannya menyebabkan saya bergerak semakin cepat juga. Kemudian menggeram pelan, saya tahu bahwa dia akan klimaks, saya berusaha mengeluarkan alatnya dari mulut saya, tetapi tangannya menekan dengan keras. Saya panik. Tidak lama mulut saya merasakan adanya cairan hangat, karena takut muntah, saya telan saja dengan cepat semuanya, jadi tidak terasa apa-apa.</p>
<p style="text-align: justify;">Saat dia sudah tenang, dia kemudian melepaskan tangannya dari kepala saya. Saya sebenarnya kesal karena saya merasa dipaksa. Tetapi saya diam saja. Saya takut kalau dia marah, semua usaha saya menjadi sia-sia saja. Saya bangkit dari tempat tidur untuk pergi berkumur. Dia bilang bahwa saya memang berbakat. Berbakat neneknya, kalau dia main paksa lagi saya harus hajar dia.</p>
<p style="text-align: justify;">Sesudah nafasnya menjadi tenang, dia melakukan apa yang sudah sangat saya tunggu-tunggu. Dia melakukan oral seks kepada saya hampir 45 menit lebih. Aduh nikmat sekali. Saya orgasme berulang-ulang. Kemudian kami mengakhirinya dengan bercinta secara ganas.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ceritasex.cn/aku-adalah-istri-yang-digoda-untuk-selingkuh/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>SISKA, First Time Gangbang ANAL</title>
		<link>http://www.ceritasex.cn/siska-first-time-gangbang-anal/</link>
		<comments>http://www.ceritasex.cn/siska-first-time-gangbang-anal/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 15 May 2009 05:10:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cerita Sex</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pemerkosaan]]></category>
		<category><![CDATA[Seks Umum]]></category>
		<category><![CDATA[Tante Girang]]></category>
		<category><![CDATA[anal]]></category>
		<category><![CDATA[gangbang]]></category>
		<category><![CDATA[ibu muda]]></category>
		<category><![CDATA[istri muda]]></category>
		<category><![CDATA[maniak seks]]></category>
		<category><![CDATA[ngentot]]></category>
		<category><![CDATA[siska]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ceritasex.cn/?p=134</guid>
		<description><![CDATA[Pada awalnya kehidupan rumah tangga siska berjalan normal,Dia menikah hampir 3 tahun dan sudah dikaruniai 1 orang putra. tapi satu kejadian telah membuat arah kehidupan wanita itu berubah total. Peristiwa itu terjadi 3 bulan yang lalu saat Siska sendirian dirumah,dia didatangi 2 orang lelaki yang mengaku sahabat suaminya, mereka memperkenalkan diri tedy dan paul,pada awalnya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Pada awalnya kehidupan rumah tangga siska berjalan normal,Dia menikah hampir 3 tahun dan sudah dikaruniai 1 orang putra. tapi satu kejadian telah membuat arah kehidupan wanita itu berubah total. Peristiwa itu terjadi 3 bulan yang lalu saat Siska sendirian dirumah,dia didatangi 2 orang lelaki yang mengaku sahabat suaminya, mereka memperkenalkan diri tedy dan paul,pada awalnya mereka berlaku sopan dan bercerita tentang masa remaja suaminya siska percaya semua perkataan mereka namun 1/2 jam kemudian perilaku mereka mulai berubah,pembicaraan 2 lelaki itu mulai menyinggung masalah seks,belum lagi tedy yg dengan santainya menghidupkan vcd dan menyetel film porno.Makin siska salah tingkah lalu paul duduk mendekati siska dan dg santainya dia merangkul bahu siska,<br />
&#8220;santai aja sis,gak usah gelisah gitu nanti kami yg akan memuaskan kamu&#8221; bisik paul sambil meremas pundak siska, sehingga bulu kuduk siska meremang.paul menarik tangan siska dan diletakkan diatas pahanya,tanpa terasa tangan siska meremas paha paul setiap ada adegan yg merangsang.Merasa mendapat angin paul mulai mengelus-elus paha siska,&#8221;sudah lama aku ingin bercinta denganmu sis,waktu aku lihat kamu bersetubuh dg suamimu&#8221;bisik paul seraya mulai mengecup leher siska. &#8220;Jangan paul&#8221; siska berusaha mengelak,tapi paul tak perduli pada penolakan itu,dia terus mengecup leher siska.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;ahh..paul&#8221; desah siska tak tertahan lagi.paul makin agresif merangsang siska,Tedy yg sedari tadi hanya diam saja mulai ikut serta. melihat siska sudah semakin pasrah mereka semakin menjadi.tangan paul menyusup kedalam rok siska dan mulai menyentuh vagina siska yg masih dibalut cd,sedang tedy mulai meremas payudara siska yg berukuran 34b.keadaan itu semakin membuat birahi siska mengelegak. &#8220;agghhh..paul..ted..ohhh&#8221;desah siska semakin keras.tedy menyingkap blouse dan bra siska,bukit kenyal itu langsung dilahapnya dengan rakus,paul pun mulai memasukkan tangannya kedalam cd siska meraba-raba vagina yg sudah basah itu.siska makin tak terkendali menghadapi serangan 2 lelaki itu.paul dan tedy melucuti seluruh pakaiannya lalu tubuh siska yg sudah polos dibaringkan diatas meja tamu.<br />
<span id="more-134"></span><br />
tedy melumat bibir siska dengan amat bernafsu,sementara paul menjilati vagina siska,lidahnya bergerak-gerak liar didalam vagina siska bersamaan dengan itu tedy mulai menganyang payudara siska sehingga puting susu siska menjadi memerah.diperlakukan seperti itu membuat siska hilang akal sehatnya,mulutnya mengerang-erang,tangannya meremas-remas kepala paul &#8220;aahhhh..paul.ted&#8230;shsssh&#8221;. siska mengangkat pinggulnya saat paul menyedot vaginanya kuat-kuat.tak berapa lama kemudian siska merasakan kenikmatan yg makin memuncak,&#8221;aahhh&#8230;aaakkkuuu..oohhhh&#8221;jerit siska keras-keras sambil menghentakkan pinggulnya kuat-kuat,siska mencapai orgasmenya tubuhnya lemas lunglai kenikmatan menjalar keseluruh tubuhnya,satu hal yg tak didapatnya dari suaminya sendiri. paul dan tedy membiarkan siska beristirahat namun hal itu tak lama.kali ini mereka ingin menyantap tubuh siska bulat-bulat,tedy kembali memagut susu siska tangannya aktif meremas-remas buah dada mengkal itu,sementara paul merentangkan paha siska jari tangannya menusuk vagina siska dan mengoreknya penuh nafsu,siska menjerit kenikmatan.</p>
<p style="text-align: justify;">lalu dirasakannya suatu benda menyentuh bibirnya saat siska membuka matanya ternyata kemaluan Tedy sudah berada tepat dibibirnya,siska mengelengkan kepala menolak kemauan lelaki itu,tapi tedy menahan kepalanya.&#8221;jilat sis&#8221; ucap tedy tegas.siska tak bisa menolak diapun mulai menjilati batang kemaluan tedy yg sudah keras itu,tedy mendesah menikmati jilatan siska, lama kelamaan siska mulai terbiasa kepala zakar tedypun mulai dimasukkan kedalam mulutnya dan tedypun mengerakkannya keluar masuk,siska menjadi gelagapan saat tedy makin beringas mengocok mulutnya dan akhirnya&#8230;..tedy mencapai klimaks air maniny a menyembur kedalam mulut siska dan sebagian membasahi wajahnya ,siska sampai tersedak karenannya dia meludah membuang sisa sperma dalam mulutnya. sesaat siska terduduk disofa dia meneguk minum untuk menghilangkan sisa sperma tedy.<br />
Lalu paul mulai merebahkan siska kembali dia kembali membuka paha siska lebih lebar dan ujung kemaluannya mulai menyentuh vagina siska yg sudah basah. &#8220;Auugggghhh..paul..pelan.dong&#8221;jerit siska lirih saat ****** paul mulai melesk masuk kedalam rongga vaginanya.paul mulai memaju mundurkan pantatnya siskapun mengoyang pinggulnya mengimbangi tusukan paul.&#8221;aaahhh&#8230;ooohhh..sssh&#8221;desah siska dengan mata terpejam,dia benar-benar tenggelam dalam kenikmatan birahi lelaki itu.
</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;enak..sis&#8221;tanya paul &#8220;he&#8230;eh..eennaakkk&#8230;paul..ough. paul terus mengayunkan pinggulnya semakin lama semakin cepat,mulutnya menjilat daun telinga siska sembari meremas-remas susu siska yg bergoyang-goyang.keringat mulai membasahi tubuh mereka berdua birahi keduanya makin mengelegak sampai akhirnya tubuh siska tak mampu lagi menahan letusannya.&#8221;aaakkkhh..paul..tekan..paul..aagh..nik mat..sssekalii..&#8221;jerit siska,tubuhnya mengejang vaginanya berdenyut mengeluarkan cairan yg membasahi seluruh rongga vagina dan zakar paul,siska terkulai lemas tapi paul terus memacu siska dengan penuh nafsu sehingga tubuh siska mengelepar-gelepar,satu waktu paul mengganti posisi, siska berada diatas dan dg buas paul menyentakkan pinggulnya keatas sehingga siska makin takluk dibuatnya,selagi itu tedy yg sedari tadi hanya menonton mulai ikut nimbrung dari belakang siska dipeluknya dipagutnya leher siska sembari menganyang susu siska dg tangannya,siska menegadah pasrah mulutnya langsung dilumat oleh tedy sedang pinggulnya terus bergoyang mengimbangi sodokan paul,payudaranya diremas-remas dg kuat oleh kedua lelaki itu.tedy yg merasa kurang puas meminta berubah posisi paul duduk disofa,siska pun merangkak dilantai lalu paul menyuruhnya menghisap zakar yg tegang mengkilat itu,segera siska mengulum ****** paul dg buas sementara itu tedy mulai mengosok-gosokkan zakarnya yg begitu besar kebibir vagina siska,tubuh siska bergetar saat tedy mulai menusukkan zakarnya,birahi siska terbakar dirinya menjadi sangat binal dikeroyok 2 batang lelaki yg memasuki tubuhnya.batang kemaluan paul dilumatnya dengan amat bernafsu,&#8221;terus..sis..aku..gak..tahan..nihh&#8221;erang paul</p>
<p style="text-align: justify;">siska sadar paul akan menyemburkan peju kedalam mulutnya tapi kali ini siska sdh lebih siap,selang kemudian sperma paul menyembur kedalam mulut siska,sebagian menetes kedagu siska sebagian lagi tertelan oleh ibu muda itu.Paul beranjak pergi meninggalkan siska yg sedang digarap tedy sambil merangkak.hujaman tedy membuat siska merintih kembali apalagi jari tedy mulai menuuk anus siska yg sempit.rintihan siska makin membuat tedy bernafsu mengoyak kedua lobang siska tsb.saat siska m akin menikmatinya tiba-tiba tedy mencabut zakarnya, &#8220;kenapa dicabut ted&#8221;ujar siska heran,tapi tedy tak menjawab dia malah meludahi anus siska lalu tedy mulai menggosok-gosokkan zakarnya keanus siska,baru siska sadar,ternyata tedy akan menyodomi dirinya.<br />
&#8220;jangan..disitu..tedd..please&#8230;&#8221;siska menghiba meminta tedy tak menyodomi anusnya Tedy tak menggubrisnya dia tetap mengosok-gosokkan zakarnya kelubang anus siska,tiba-tiba siska merasakan kepala zakar tedy mulai menembus anusnya,perlahan tapi pasti sedikit demi sedikit batang tedy membelah anus siska dan tenggelam seluruhnya, &#8220;aaddduuuhhhh.ssaakkkkiittt..&#8221;.jerit siska pasrah. &#8220;sabar..sis&#8230;nanti akan terbiasa &#8221; bujuk tedy sambil mencium tengkuk siska. tubuh siska yg separuh tengkurap disofa membuat tedy leluasa menyodomi ibu muda itu,siska mencengkeram bantal mulutnya menggigit tepi sofa untuk menahan sakit yg amat sangat.&#8221;aaaauhhh&#8230;rr.uaahh&#8221;erangan siska saat tedy makin beringas menghajar anusnya tangan tedy meremas-remas pantat siska yg besar itu,setiap tedy menyentak terasa zakrnya menyentuh dasar anus siska .siska hanya megap-megap saat tedy makin buas menyodomi lubang anusnya,paul yg sudah kembali bugar kembali bergabung menganyang siska.
</p>
<p style="text-align: justify;">mereka merubah posisi tedy rebah diatas sofa tubuh siska ditarik diatasnya sambil melumat susu siska,tedy membuka lebar paha siska dan zakarnya ganti ditancapkan kevagina siska,paul yg berada dibelakang langsung mendorong siska hingga tengkurap diatas tubuh tedy,lalu paul mulai membuka lubang pantat siska,menyadari apa yg akan menimpanya siska hanya pasrah,saat zakar paul mulai menyusup masuk kedalam anusnya, siska hanya mengerang pel an.lalu kedua lelaki itu mulai menganyang kedua lubang siska dg buasnya,siska yg terjepit kedua lelaki itu mandesah-desah pasrah,rasa nikmat bercampur sakit membaur menjadi satu.beberapa saat kemudian mereka kembali merubah posisi sekarang ganti paul yg berada dibawah dg zakar tetap tertancap keanus siska,lalu tedy yg berada diatas membuka paha siska dan langsung menghujamkan zakarnya kevagina siska,posisi itu makin membuat siska tak berdaya karena bukan hanya kedua lubangnya yg diganyang tapi payudaranya pun digarap mereka,paul memagut leher siska sedang tangannya meremas susu siska belum lagi Tedy yg menghisap-hisap susunya,siska sdh tak mampu lagi menahan gempuran mereka berdua,hantaman zakar tedy semakin buas membuat zakar paul makin dalam terbenam dalam anusnya,shg satu saat siska merasa tubuhnya meledak sambil berteriak histeris siska merasakan vaginanya menyemburkan cairan yg dibarengi keluarnya air susu dari payudaranya.lalu tedy mencabut zakarnya demikian juga paul.</p>
<p style="text-align: justify;">paul menarik tangan siska dan memintanya mengocok zakarnya dg tangan,siska yg sudah lemas menurut saja,dia mulai mengocok zakar paul sedang tedy mencengkeram rahang siska lalu lelaki itu meludahkan air liurnya kedalam mulut siska,paul pun ikut meludahi mulut siska kemudian ketika mulut siska sudah penuh dg air ludah tedy mengarahkan zakarnya kemulut siska lelaki itu pun menyemprotkan spermanya kedalam mulut siska,siska membuka mulutnya lebar-lebar dan sperma tedy memenuhi mulutnya sebagian jatuh kelehernya,sesaat kemudian paul melakukan hal serupa keduanya menjadikan mulut siska sebagai tempat penampungan sperma mereka,saat paul selesai menuntaskan orgasmenya siska menelan sperma kedua lelaki itu yg bercampur air ludah keduanya.<br />
Usai semuanya tertelan siska tampak kelelahan hampir 2 jam dia diganyang kedua lelaki tsb,tedy mendekati siska dia mengecup kening siska lalu tangannya meraih salah satu payudara siska dan meremasnya paulpun melakukan hal yg serupa siska tampak lelah membiarka susunya diremas-remas kedua lelaki itu,lama-kelamaan remasan keduanya makin kuat dan kasar lalu mereka menarik susu siska kesamping paul kekanan dan tedy kekiri
</p>
<p style="text-align: justify;">siska menjerit kesakitan &#8220;ahhhhsssssssssaaaakkkkiiiitttttttttttt&#8230;ouhkkkkk kkkkkkkkk&#8221; hampir 5 menit siska merasakan siksaan pada payudaranya sebelum akhirnya mereka menghentikannya lalu dg penuh nafsu mereka menyedot susu siska bersma-sama sambil meremas kuat-kuat sampai akhirnya dari puting susu siska keluar air susunya tedy terus meremasnya sampai seluruh air susu siska tertumpah keluar,wajah siska tampak pucat menahan sakit sedang payudaranya tampak memar &#8220;terima kasih sis,lain kali kami akan kembali bersama teman kami untuk menikmati tubuhmu&#8221; usai bicara mereka berdua meningalkan siska sendiri dg tubuh lemas dan penuh ceceran sperma dan air susunya sendiri,payudara siska tampak memerah, lubang anusnya tampak sudah melebar.Ibu muda itu beranjak kekmar mandi membersihkan tubuhnya,beruntung suaminya baru pulang 3 hari lagi. kejadian inilah yg membuat siska berubah menjadi wanita yg maniak seks.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ceritasex.cn/siska-first-time-gangbang-anal/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ibu Muda</title>
		<link>http://www.ceritasex.cn/ibu-muda/</link>
		<comments>http://www.ceritasex.cn/ibu-muda/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 28 Apr 2009 18:41:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cerita Sex</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tante Girang]]></category>
		<category><![CDATA[ibu]]></category>
		<category><![CDATA[ibu muda]]></category>
		<category><![CDATA[istri muda]]></category>
		<category><![CDATA[tante]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ceritasex.cn/?p=81</guid>
		<description><![CDATA[Sebut saja namaku Dandy 30 tahun, 170/65 berparas seperti kebanyakan orang pribumi dan kata orang aku orangnya manis, atletis, hidung mancung, bertubuh sexy karena memang aku suka olah raga. Aku bekerja sebagai karyawan di salah satu perusahaan besar di kota Surabaya dan statusku married. Perlu pembaca ketahui bahwa sebelum aku bekerja di Surabaya ini, aku [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Sebut saja namaku Dandy 30 tahun, 170/65 berparas seperti kebanyakan orang pribumi dan kata orang aku orangnya manis, atletis, hidung mancung, bertubuh sexy karena memang aku suka olah raga. Aku bekerja sebagai karyawan di salah satu perusahaan besar di kota Surabaya dan statusku married. Perlu pembaca ketahui bahwa sebelum aku bekerja di Surabaya ini, aku adalah tergolong salah satu orang yang minder dan kuper karena memang lingkungan keluarga mendidik aku sangat disiplin dalam segala hal. Dan aku bersyukur sekali karena setelah keluar dari rumah (baca:bekerja), banyak sekali kenyataan hidup yang penuh dengan “warna-warni” serta “pernah-pernik”nya. Kisah ini berawal terjadi sebagai dampak seringnya aku main chatting di kantor di saat kerjaan lagi kosong. Mulai muda aku adalah termasuk seorang penggemar sex education, karena buat aku sex adalah sesuatu yang indah jika kita bisa menerjemahkannya dalam bentuk visualnya. Dan memang mulai SD, SMP sampai SMA hidup aku selalu dikelilingi cewek-cewek yang cakep karena memang aku bisa menjadi “panutan” buat mereka, itu terbukti dengan selalu terpilihnya aku menjadi ketua osis selama aku menempuh pendidikan.</p>
<p style="text-align: justify;">Kembali pada ceritaku, dunia chatting adalah ‘accses’ untuk mengenal banyak wanita dengan segala status yang mereka miliki; mulai ABG, mahasiswi, ibu muda sampai wanita sebaya, di luar jam kantor. Dan mulai dari sinilah aku mulai mengenal apa itu “kehidupan sex having fun”. Suatu hari aku chatting dengan menggunakan nickname yang menantang kaum hawa untuk pv aku, hingga masuklah seorang ibu muda yang berumur 32 tahun sebut saja namanya Via. Via yang bekerja di salah satu perusahaan swasta sebagai sekretaris dengan paras yang cantik dengan bentuk tubuh yang ideal (itu semua aku ketahui setelah Via sering kirim foto Via email aku). Kegiatan kantor aku tidak akan lengkap tanpa online sama dia setiap jam kantor dan dari sini Via sering curhat tentang kehidupan rumah tangganya. Karena kita berdua sudah sering online, Dia tidak segan-segan menceritakan kehidupan sexnya yang cenderung tidak bisa menikmati dan meraih kepuasan. Kami berdua share setiap kesempatan online atau mungkin aku sempatkan untuk call dia. Hingga suatu hari, kami putuskan untuk jumpa darat sepulang jam kantor, aku lupa tanggal berapa tapi yang pasti hari pertemuan kami tentukan bersama hari Jum’at. Setelah menentukan dimana aku mau jemput, sepulang kantor aku langsung kendarai mobil butut starletku untuk meluncur di tempat yang janjikan. Dengan perasaan deg-deg an, sepanjang perjalanan aku berfikir secantik apakah Via yang usianya lebih tua dari aku 2 tahun. Dan pikiranku terasa semakin amburadul ketika aku bener-bener ketemu dengan Via. Wow! Aku berdecak kagum dengan kecantikan Via, tubuhnya yang sexy dengan penampilannya yang anggun membuat setiap kaum adam berdesir melihatnya. Tidak terlihat dia seorang ibu muda dengan 3 orang anak, Via adalah sosok cewek favorite aku. Mulai dari wajahnya, dadanya, pinggulnya dan alamak.. pantatnya yang sexy membuat aku menelan ludahku dalam-dalam saat membayangkan bagaimana jika aku bisa bercinta dengan Via. Tanpa pikir panjang dan menutupi kegugupan aku. Aku memancing untuk menawarkan pergi ke salah satu motel di sudut kota (yang aku tahu dari temanku). Sepanjang perjalanan menuju hotel, jantungku berdetak kencang setiap melirik paras Via yang cantik sekali dan aku membayangkan jika aku dapat menikmati bibirnya yang tipis.. Dan sepanjang itu juga “adik kecilku” mulai bangkit dari tidurnya. Tidak lama sampailah kami di salah satu Motel, aku langsung memasukan mobilku ke dalam salah satu kamar 102.</p>
<p style="text-align: justify;">Di dalam kamar aku sangat grogi sekali bertatapan dengan wajah Via.. “Met kenal Dandy,” Via membuka obrolan. “hey Via..,” aku jawab dengan gugup. Aku benar-benar tidak percaya dengan yang aku hadapi, seorang ibu rumah tangga yang cantik sekali, sampai sempat aku berfikir hanya suami yang bego jika tidak bisa menyayangi wanita secantik Via. Kami berbicara hanya sekedar intermezo saja karena memang kami berdua tampak gugup saat pertemuan pertama tersebut. Sedangkan jantungku berdetak keras dibareng “adik kecilku” yang sudah meronta ingin unjuk gigi. “Dandy meskipun kita di sini, tidak apa-apakan jika kita tidak bercinta,” kata Via. Aku tidak menjawab sepatah katapun, dengan lembut aku gapai lengannya untuk duduk di tepi ranjang. Dengan lembut pula aku rangkul dia untuk rebahan di ranjang dan tanpa terasa jantungku berdetak keras, bagaikan dikomando aku menciumi leher Via yang terlihat sangat bersih dan putih. “Via kamu sangat cantik sayang..,” aku berbisik. “Dann.. jangan please..,” desahan Via membuat aku terangsang. Lidahku semakin nakal menjelajahi leher Via yang jenjang. “Akhh Dandy..”</p>
<p><span id="more-81"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Tanpa terasa tanganku mulai nakal untuk menggerayangi susu Via yang aku rasakan mulai mengencang mengikuti jilatan lidahku dibalik telinganya. “Ooohh.. Danddyy..” Via mulai mengikuti rangsangan yang aku lakukan di dadanya. Aku semakin berani untuk melakukan yang lebih jauh.. “Via, aku buka jas kamu ya, biar tidak kusut..,” pintaku. Via hanya mengikuti pergerakan tanganku untuk memreteli jasnya, sampai akhirnya dia hanya mengenakan tanktop warna hitam. Dadaku semakin naik turun, ketika pundaknya yang putih nampak dengan jelas dimukaku. Setelah jas Via terbuka, aku berusaha naik di tubuh dia, aku ciumi bibir Via yang tipis, lidahku menjelajahi bibirnya dan memburu lidah Via yang mulai terangsang dengan aktivitas aku. Tanganku yang nakal mulai menarik tanktop warna hitam dan.. Wow.. tersembul puting yang kencang.. Tanpa pikir panjang aku melepas lumatan di bibir Via untuk kemudian mulai melepas BH dan menjilati puting Via yang berwana kecoklatan. Satu dua kali hisapan membuat puting Via berdiri dengan kencang.. sedangkan tangan kananku memilin puting Via yang lain nya. “Ooohh Danndyy.. kamu nakal sekali sayang..,” rintih Via. Dan saat aku mulai menegang.. “Tok.. tok.. tok.. room service.” Ahh.. sialan pikirku, menganggu saja roomboys ini. Aku meraih uang 50.000-an dikantong kemejaku dengan harapan supaya dia cepat pergi.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah roomboy’s pergi, aku tidak memberikan kesempatan untuk Via bangkit dari pinggir. Parfum Via yang harum menambah gairah aku untuk semakin berani menjelajahi seluruh tubuhnya. Dengan bekal pengetahuan sex yang aku ketahui (baik dari majalah, film BF maupun obrolan-obrolan teman kantor), aku semakin berani berbuat lebih jauh dengan Via. Aku beranikan diri untuk mulai membuka CD yang digunakan Via, dan darahku mendesir saat melihat rambut-rambut kemaluan yang sangat lebat di bagian nonok Via. Tanpa berfikir lama, aku langsung menjilati, menghisap dan sesekali memasukkan lidahku ke dalam lubang nonok Via. “Oohh.. Dan.. nikmat.. sayang,” Via merintih kenikmatan setiap lidahku menghujam lubang nonoknya dan sesekali menekan kepalaku untuk tidak melepaskan kenikmatan itu. Dan disaat dia sedang menikmati jilatan lidahku, telunjuk jari kiriku aku masukkan dalam lubang nonok dan aku semakin tahu jika dia lebih bisa menikmati jika diperlakukan seperti itu. Terbukti Via menggeliat dan mendesah disetiap gerakan jari  keluar masuk. “Aakkhh Dann.. kamu memang pintar sayang..,” desah Via. Disaat kocokkan jariku semakin cepat, Via sudah mulai memperlihatkan ciri-ciri orang yang mau orgasme dan sesat kemudian.. “Dann.. sayang.. aku nggak tahan.. oohh.. Dan.. aku mau..” visa menggelinjang hebat sambil menggapit kedua pahanya sehingga kepalaku terasa sesak dibuatnya. “Daann.. ookkhh.. aakuu keluaarr.. crut-crut-crut.” Via merintih panjang saat nonoknya memuntahkan cairan kental dan bersamaan dengan itu, aku membuka mulut aku lebar-lebar, sehingga carian lendir birahi itu tidak ada yang menetes sedikitpun dalam mulutku.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku biarkan Via terlentang menikmati orgasmenya yang pertama, sambil membuka semua pakaian yang aku kenakan, aku memperhatikan Via begitu puas dengan foreplay aku tadi, itu terlihat dari raut wajahnya yang begitu berbinar-binar. Tanpa memberi waktu panjang, aku segera menghampiri tubuhnya yang masih lemas dan menarik pinggulnya dipinggir ranjang, dan tanpa pikir panjang ******ku yang berukuran 19 cm dengan bentuk melengkung, langsung menghujam celah kenikmatan Via dan sontak meringis.. “Aaakhh.. Dandy..,” desah Via saat ******ku melesak kedalam lubang nonoknya. “Dandyy.. ****** kamu besar sekali.. aakkh..” Aku merasakan setiap gapitan bibir nonoknya yang begitu seret, sampai aku berfikir suami macam apa yang tidak bisa merasakan kenikmatan lubang senggama Via ini? Aku berpacu dengan nafsu, keringatku bercucuran seperti mandi dan menetes diwajah Via yang mulai aku rasakan sangat menikmati permainan ini. “Danddyy.. sudah.. sayang.. akhh..” sembari berteriak panjang aku rasakan denyutan bibir nonok mengapit batang ******ku. Dan aku rasakan cairan hangat mulai meleleh dari nonok Via. Aku tidak mempedulikan desahan Via yang semakin menjadi, aku hanya berusaha memberikan kepuasan bercinta, yang kata Via belum pernah merasakan selama berumah tangga. Setiap gerakan maju mundur penisku, selalu membuat tubuh Via menggelinjang hebat karena memang bentuk ******ku agak bengkok ke kiri.</p>
<p style="text-align: justify;">Tiba-tiba Via mendekap tubuhku erat dan aku tahu itu tanda dia mencapai orgasme yang kedua kalinya. ******ku bergerak keluar masuk dengan cepat dan.. “Dann.. aku.. mau.. keluarr lagi.. aakk.. Kamu hebat sayang, aku.. nggak tahan..,” seiring jertian itu, aku merasakan cairan hangat meleleh di sepanjang batang ******ku dan aku biarkan sejenak ******ku dalam nonoknya. Sesaat kemudian aku melepas ******ku dan mengarahkan ke mulut Via yang masih terlentang. Aku biarkan dia oral ******ku. “Ahh..,” sesekali aku merintih saat giginya mengenai kepala ******ku. Disaat dia asik menikmati batang ******ku, jariku yang nakal, mulai menelusuri dinding nonok Via yang mulai basah lagi. “Creek.. crekk.. crek..,” bunyi jariku keluar masuk di lubang nonok Via. “Ohh.. Dandy.. enak sekali sayang..” 1.. 2.. 3.. 4.. 5.. jariku masuk bersamaan ke lubang nonok Via. Aku kocok keluar masuk.., sampai akhirnya aku nggak tahan lagi untuk mulai memasukkan ******ku, untuk menggantikan 5 jariku yang sudah “memperkosa” lubang kewanitaannya.</p>
<p style="text-align: justify;">Dan.. “Ohh.. sayang aku keluar lagi..” Orgasme yang ketiga diraih oleh Via dalam permainan itu dan aku langsung meneruskan inisiatif menindih tubuh Via, berkali-kali aku masukkan sampai mentok. “Aaakhh.. sayang.. enak sekali.. ohh..,” rintih Via. Bagaikan orang mandi, keringatku kembali berkucuran, menindih Via.. “Sayang aku boleh keluarin di dalam..,” aku tanya Via. “Jangan.. aku nggak mau, entar aku hamil,” jelas Via. “Nggak deh sayang jangan khawatir..,” rengekku. “Jangan Dandyy.. aku nggak mau..,” rintihan Via membuat aku semakin bernafsu untuk memberikan orgasme yang berikutnya. “Akhh.. oohh.. Dandy.. sayang keluarin peju kamu sayang.. aakkhh..,” Via memintaku. “Kamu jangan tunggu aku keluar Dandy.. please,” pinta Via.</p>
<p style="text-align: justify;">Disaat aku mulai mencapai klimaks, Via meminta berganti posisi diatas. “Dandy aku pengen di atas..” Aku melepas ******ku dan langsung terlentang. Via bangkit dan langsung menancapkan ******ku dalam-dalam di lubang nonoknya. “Akhh gila, ****** kamu hebat banget Dandy asyik.. oohh.. enak..,” Via merintih sambil menggoyangkan pinggulnya. “Aduhh enak Dandy.. “ Goyangan pinggul Via membuat gelitikan halus di ******ku.. “Via.. Via.. akh..,” aku mengerang kenikmatan saat Via menggoyang pinggulnya. “Dandy.. aku mau keluar sayang..,” sambil merintih panjang, Via menekankan dalam-dalam tubuhnya hingga ******ku “hilang” ditelan nonoknya dan bersamaan dengan itu aku sudah mulai merasakan klimaks sudah diujung kepala. “Via.. Via.. ahh..” Aku biarkan pejuku muncrat di dalam nonoknya. “Croot.. croot..” semburan pejuku langsung muncrat dengan derasnya dalam lubang Via, tetapi tiba-tiba Via berdiri. “Aakhh Dandy nakal..” Dan Via berlari berhamburan ke kamar mandi untuk segera mencuci pejuku yang baru keluar dalam nonoknya, karena memang dia tidak menggunakan pernah menggunakan KB.</p>
<p style="text-align: justify;">Permainan itu berakhir dengan penuh kenikmatan dalam diri kami berdua, karena baru saat bercinta denganku, dia mengalami multi orgasme yang tidak bisa digambarkan dengan kata-kata. “Dandy, kapan kamu ada waktu lagi untuk lakukan ini semua sayang,” tanya Via. Aku menjawab lirih, “Terserah Via deh, aku akan selalu sediakan waktu buatmu.” “Makasih sayang.. kamu telah memberikan apa yang selama ini tidak aku dapatkan dari suami aku,” puji Via. “Dann.. kamu hebat sekali dalam bercinta.. aku suka style kamu,” sekali lagi puji Via. Pertemuan pertama ini kita akhiri dengan perasaan yang tidak bisa digambarkan dengn kata-kata, dan hanya kami berdua yang bisa rasakan itu. Aku memang termasuk orang yang selalu berusaha membuat pasanganku puas dan aku mempuyai fantasi sex yang tinggi sehingga tidak sedikit abg, mahasiswi dan ibu muda yang hubungi aku untuk sekedar membantu memberikan kepuasan buat mereka.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ceritasex.cn/ibu-muda/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
