<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Cerita sex porno ngentot mesum perek ayam kampus &#187; kontol</title>
	<atom:link href="http://www.ceritasex.cn/tag/kontol/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.ceritasex.cn</link>
	<description>Kumpulan cerita sex, foto bugil, dan film porno</description>
	<lastBuildDate>Wed, 08 Feb 2012 13:12:08 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
		<item>
		<title>Cik Mei Lin tetanggaku</title>
		<link>http://www.ceritasex.cn/cik-mei-lin-tetanggaku/</link>
		<comments>http://www.ceritasex.cn/cik-mei-lin-tetanggaku/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 08 Feb 2012 13:12:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cerita Sex</dc:creator>
				<category><![CDATA[Amoy]]></category>
		<category><![CDATA[anal seks]]></category>
		<category><![CDATA[Paruh baya]]></category>
		<category><![CDATA[Seks Umum]]></category>
		<category><![CDATA[selingkuh]]></category>
		<category><![CDATA[Tante Girang]]></category>
		<category><![CDATA[amoy]]></category>
		<category><![CDATA[anus]]></category>
		<category><![CDATA[cina binal]]></category>
		<category><![CDATA[kontol]]></category>
		<category><![CDATA[mei lin]]></category>
		<category><![CDATA[memek]]></category>
		<category><![CDATA[ngentot]]></category>
		<category><![CDATA[ngeseks]]></category>
		<category><![CDATA[perempuan binal]]></category>
		<category><![CDATA[sperma]]></category>
		<category><![CDATA[vagina]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ceritasex.cn/?p=3309</guid>
		<description><![CDATA[Namaku Iwan. Usiaku saat ini 21 th. Aku kuliah di sebuah perguruan tinggi di Jakarta. Sambil kuliah aku bekerja di sebuah perusahaan swasta. Gajinya tidak terlalu besar, tapi lumayanlah untuk menambah uang kuliah. Aku kost tak jauh dari kampus. Kamar kostku berada dilantai atas paling ujung. Sehingga jendela kamarku langsung menghadap ke depan dengan sebuah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Namaku Iwan. Usiaku saat ini 21 th. Aku kuliah di sebuah perguruan tinggi di Jakarta. Sambil kuliah aku bekerja di sebuah perusahaan swasta. Gajinya tidak terlalu besar, tapi lumayanlah untuk menambah uang kuliah. Aku kost tak jauh dari kampus. Kamar kostku berada dilantai atas paling ujung. Sehingga jendela kamarku langsung menghadap ke depan dengan sebuah pintu keluar. Di seberang rumah kostku tinggal sebuah keluarga muda. Aku tidak tahu siapa nama suaminya. Aku hanya tahu istrinya bernama Linda, tapi biasa dipanggil Cik Mei Lin. Dia wanita keturunan cina. Cik Mei Lin berusia sekitar 30 th. Dia sudah punya seorang akan berusia lima tahun. Suami Cik Mei Lin jarang di rumah. Aku tak tahu ia bekerja dimana. Ia pulang hanya sekali seminggu. Bahkan pernah hingga satu bulan tidak pulang. Itu sebabnya Cik Mei Lin lebih sering sendiri di rumahnya bersama anaknya.Kisah ini bermula di pagi hari saat aku bangun tidur. Hari itu aku libur kerja dan tidak ada jadwal kuliah. Saat itu aku melihat Cik Mei Lin sedang menjemur pakaian. Cik Mei Lin mengenakan kaos tipis tanpa lengan.</p>
<p style="text-align: justify;">Kaosnya agak basah, mungkin terkena air sewaktu ia mencuci baju. Dari kamar aku bisa melihat jika Cik Mei Lin tidak memakai bra. Buah dadanya yang montok tercetak jelas lengkap dengan putingnya.Saat itu Cik Mei Lin juga hanya memakai celana pedek ketat yang juga basah. Bongkahan pantatnya yang bulat tercetak jelas. Anehnya tidak ada bayangan segitiga di pantatnya yang sexy. Aku yakin saat itu Cik Mei Lin tidak memakai cd. Aku langsung terangsang melihat pemandangan itu. Ingin sekali aku remas-remas buah dada dan pantat sexy Cik Mei Lin. Sejak itulah aku sering berfantasi bersama tubuh sexy Cik Mei Lin. Aku sering onani sambil membayangkan tubuh Cik Mei. Lama-lama aku tidak puas jika hanya onani sambil membayangkan tubuh Cik Mei Lin. Suatu pagi saat Cik Mei Lin menjemur pakaian aku onani sambil memandang Cik Mei Lin yang lagi-lagi memakai baju tipis dan basah. Kepuasan yang aku rasakan lebih hebat. Semakin lama aku semakin berani. Aku mulai berani bugil di depan Cik Mei Lin. Aku berharap ia melihatku bugil dan terangsang.</p>
<p style="text-align: justify;">Tapi aku tidak berani secara terang-terangan bugil di depan Cik Mei Lin. Aku takut ia marah karena perbuatanku. Aku membuat seolah-olah kejadian itu sebuah kebetulan. Saat Cik Mei Lin sedang menjemur pakaian aku berpura-pura sedang membuka pintu kamarku yang tepat menghadap ke pintu atas rumah Cik Mei Lin. Aku yakin ia pasti akan menoleh kearahku. Dan tepat, saat itu Cik Mei Lin melihat kearahku yang benar-benar bugil. Aku puas sekali&#8230;. Aku jadi ketagihan melakukan hal itu, bugil di depan Cik Mei Lin. Sebenarnya aku berharap Cik Mei Lin akan membalas perbuatanku dengan bugil pula. Kalaupun tidak bugil polos, aku berharap bisa melihat Cik Mei Lin hanya memakai cd dan bra saja. Tapi sayang harapanku tidak tercapai. Aku khawatir Cik Mei Lin mulai marah kepadaku. Akhirnya perlahan-lahan aku mulai menghentikan kebiasaanku itu. Suatu hari aku bertemu Cik Mei Lin di sebuah minimarket. Aku akan membeli sabun mandi dan pasta gigi yang habis. Saat mengambil sabun mandi aku terkejut karena Cik Mei Lin juga akanmengambil sabun mandi. Aku menyapa dengan tersenyum kepadanya. Ia membalas senyumanku.<br />
<span id="more-3309"></span><br />
“Kok nggak pernah telanjang lagi&#8230;.,”kata Cik Mei Lin saat berada tepat di sebelahku. Aku terkejut dengan pertanyaan itu.”Ooh maaf Cik Mei, aku nggak sopan,”jawabku agak takut. “Ah gak papa, aku suka kok lihat kamu bugil,burungmu besar,”balas Cik Mei Lin sambil mendekatkan bibirnya di telingaku. “Entar malem bugil lagi ya, aku tunggu di teras atas,”lanjut Cik Mei Lin. “Boleh, tapi Cik Mei harus bugil juga,”jawabku. Cik Mei Lin tersenyum sambil mengedipkan mata. Sebelum pulang kami saling bertukar nomor hp Malam itu aku sedang santai. Aku bersiap untuk aksi nanti malam, bugil bareng Cik Mei Lin. Tiba-tiba ada sms di hp ku. “Jgn lupa ya nti mlm qt bugil bareng” itu yang dikirimkan Cik Mei Lin di sms-nya. “Ok” jawabku. “Tp jgn dikmrmu ya” lanjut sms itu. “dimana”jawabku. “dikmrku aja, rumahku sdg sepi gak ada siapa2 kamu lngsng msk aja aku tnggu dikmrku” Segera aku bersiap menuju rumah Cik Mei Lin. Sebelumnya aku sempatkan melihat kamar Cik Mei Lin. Aku lihat lampu kamarnya menyala dan gorden jendelanya terbuka.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku bisa melihat dengan jelas Cik Mei Lin yang saat itu hanya memakai cd dan bra. Sexy sekali. Aku tak sabar ingin segera menuju kamar Cik Mei Lin. Aku segera masuk ke rumah Cik Mei. Pintu dan pagarnya tidak terkunci, mungkin segaja. Aku langsung menuju kamar atas, kamar Cik Mei Lin. Pintu kamar Cik Mei tidak dikunci bahkan sedikit terbuka. Saat masuk, aku melihat Cik Mei sedang tiduran di ranjang dan hanya memakai cd dan bra berwarna merah. “Lama banget sich, aku sudah nunggu dari tadi lho,”kata Cik Mei saat aku masuk kamarnya. Aku hanya membalas dengan senyuman. “Eiittt&#8230;.kok masih pake baju&#8230;.”kata Cik Mei. Aku tersenyum mendengarnya dan langsung melucuti pakaianku satu per satu hingga aku benar-benar bugil. kontolku perlahan-lahan mulai bangun dan itu membuat Cik Mei Lin tersenyum. “Wah kontolmu mulai bangun ya,”ujarnya sambil membelai kontolku. Aku merasa nikmat saat tangan Cik Mei Lin mulai menyentuh kontolku. Perlahan-lahan ia mulai membelai dan meremas-remas kontolku yang sudah tegak. “Wowww&#8230;.kontolmu besar ya kalau sudah bangun,”kata Cik Mei.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku hanya tersenyum. kontolku sebetulnya tidak terlalu istimewa, hanya 16 cm. Tapi itu sudah cukup membuat Cik Mei Lan terpesona. Lama-lama Cik Mei tidak puas hanya membelai dan meremas. Ia mulai menjilati dan mengulum kontolku. Ahh&#8230;.nikmat sekali. Bibir sexy Cik Mei Lan mengulum kontolku dengan lahap, seperti menjilati permen lolypop saja. “Ahh&#8230;.Cik Mei&#8230;..ahh&#8230;.ahh&#8230;.nikmat&#8230;”ujarku. Mendengar eranganku Cik Mei Lin semakin bersemangat menjilati kontolku. Ia bahkan menghisap kontolku dengan kuat. Ahh&#8230;..nikmat sekali rasanya. Sambil menghisap kontolku Cik Mei juga membelai dua buah zakarku. Aku hanya merem merasakan kenikmatan itu. Tiba-tiba Cik Mei Lin Menghentikan kulumannya. Ia berdiri dan mencium bibirku. “Sekarang kamu mainin punyaku ya,”katanya. Dengan senang hati aku melakukannya. Sudah sejak lama aku membayangkan bisa meremas-remas buah dada Cik Mei Lin yang montok. Dan sudah lama pula aku membayangkan pantat sexy Cik Mei. Ingin aku menjilati liang vagina dan lubang anusnya. Pasti nikmat sekali.</p>
<p style="text-align: justify;">Selanjutnya Cik Mei Lin mulai melucuti pakaian dalamnya. Mula-mula ia membuka bra merah yang sedari tadi menutupi dua gunung kembarnya. Wow&#8230;.buah dada Cik Mei Lin yang montok kini dengan jelas aku lihat. Ukurannya kira-kira 36 dd. Buah dada putih dengan putingnya yang merah kecoklatan terlihat sangat menantang. Tak sabar aku ingin menjilati puting susu Cik Mei Lin.Aku semakin terpesona saat Cik Mei Lin membuka cd merahnya. Wow&#8230;.rimbunan rambut kemaluan yang lebat terlihat jelas. Kontras dengan paha Cik Mei Lin yang putih. Aku memang sangat suka dengan perempuan yang berjembut lebat. Segera aku peluk tubuh Cik Mei Lin. Tak lupa aku ciumi bibir sexy Cik Mei. Bibir sexy itu aku lumat habis. Perlahan-lahan ciumanku turun ke bawah. Mula-mula leher dan akhirnya ciuman bibirku sampai juga di dua gunung kembar Cik Mei Lin. Aku langsung melumat habis buah dada montok itu. Tak lupa aku jilati dan hisap putingnya yang sudah mengacung. “Ah&#8230;ahh&#8230;.nik..mat&#8230;.”, desah Cik Mei saat ujung lidahku menyentuh puting susunya.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku semakin bersemangat mendengar erangan itu. Lidahku semakin liar menjilati buah dada montok Cik Mei Lin. Erangan dan desahan Cik Mei juga semakin hebat. “Ahh..ahhh&#8230;nikmat sayang&#8230;ahh..hh&#8230;” Jilatan lidahku kini kembali bergerak turun. Setelah buah dada, lidahku mulai menjilati perut, pusar, paha, dan akhirnya lidahku bertemu rimbunan jembut yang lebat. Jembut hitam itu menutupi liang vagina Cik Mei Lin yang sudah basah. Rupanya Cik Mei sudah sangat horny. “Ya&#8230;mainkan lidahmu disitu sayang&#8230;.”desah Cik Mei.Lidahku segera beraksi menyusuri rumbuna jembut Cik Mei Lin yang lebat. Lidahku beraksi menyibat helai demi helai jembut Cik Mei Lin hingga akhirnya ujung lidahku berhasil memasuki liang vagina Ci Mei. Ada cairan keluar dari liang vagina Cik Mei. Aku langsung menghisabnya.”Ahhh&#8230;..ahh&#8230;.nikmat sayang&#8230;.ahhh&#8230;”Cik Mei Lin mendesah keenakan. Tubuh Cik Mei Lin seolah bergetar saat lidahku behasil menemukan biji clitorisnya. Tapi tiba-tiba Cik Mei Lin memintaku menghentikan jilatan lidahku. Rupanya ia ingin berganti permainan.</p>
<p style="text-align: justify;">Ia ingin pula memainkan kontolku. Ia memintaku tidur terlentang di atas ranjang. Kemudian Cik Mei merebahkan tubuhnya diatasku. Ia arahkan vaginanya tepat diatas mukaku. Kami memainkan gaya 69. Cik Mei Lin langsung mengocok kontolku. Sesekali ia juga mengulum dan menjilati kontolku yang sudah berdiri tegak. Ahh….nikmat sekali rasanya. Mulut Cik Mei Lin yang biasanya hanya bisa aku lihat, kini mengulum kontolku. Aku sampai merem melek merasakan nikmatnya lidah Cik Mei Lin yang bermain-main di sekujur kontolku. Aku pun mengimbanginya dengan menjilati vagina Cik Mei Lin. Rambut kemaluannya yang hitam lebat itu terlihat kontras dengan kulitnya yang putih. Segera tercium olehku bau khas vagina. Nafsuku semakin menggelora. Lidahku segera beraksi. Sesekali aku mengigit bibir vagina Cik Mei Lin. “Ahh….ahh…enak Wan..ahh…terus..ahh..terus sayang…..”ujar Cik Mei Lin merasakan jilatanku Tanganku juga tidak tinggal diam. Pantat Cik Mei Lin yang sintal itu aku remas-remas. Kadangkala aku tekan pantat Cik Mei Lin sehingga vaginanya menekan mukaku.</p>
<p style="text-align: justify;">Dan Cik Mei Lin kembali menjerit pelan merasakan kenikmatan di selangkangannya. Terlebih lagi saat aku menjilati clitorisnya. “Wan….ahh…ahh…eennaakkk…terruuss….teruuss..sayyaan ggg…..ahh….”Mendengar desahan Cik Mei Lin aku semakin memperhebat jilatanku. Tapi tiba-tiba Cik Mei Lin memintaku mengentikan jilatanku di vaginanya. Ia juga mencabut kontolku dari mulutnya. “Wan, aku nggak tahan lagi…”ujarnya Ia memintaku tetap tidur terlentang. Selanjutnya Cik Mei Lin berlutut di atasku. Ia genggam kontolku yang tegang dan mengarahkannya tepat di vaginanya. Selanjutnya perlahan-lahan kontolku memasuki liang kenikmatan Cik Mei Lin. “Ahh….Cik Mei…ahh…ahh…”ujarku saat kontolku mulai memasuki vagina Cik Mei Lin. Kenikmatan luar biasa segera aku rasakan. Hingga akhirnya kontolku benar-benar masuk seluruhnya di dalam vagina Cik Mei Lin. Sambil tersenyum Cik Mei Lin membiarkan vaginanya membekap kontolku. Selanjutnya pantatnya mula bergerak naik turun. “Ahh….enaakkk Cik Mei…ahh..nikkmaattt…”desahku “Iya…aku juga..ennaakk Wan..”jawab Cik Mei Lin.</p>
<p style="text-align: justify;">Semakin lama gerakan pantat Cik Mei Lin semakian cepat. Aku mengimbanginya dengan menggerakkan pantatku juga naik turun. Sambil terus menyodokkan kontolku, tanganku juga bekerja meremas-remas buah dada Cik Mei Lin yang bergoyang. Semakin lama gerakan pantat Cik Mei Lin semakin cepat dan tidak beraturan. Matanya terpejam, terlebih saat aku meremas buah dadanya. Mukanya yang putih terlihat memerah. Sambil menjerit pelan ia gerakkan pantatnya naik turun. “Ahh…Wan….ahh….nniikkkmaaatt….ohhh…”jerit Cik Mei Lin pelan. Tiba-tiba Cik Mei Lin rubuh. Tubuhnya menindih tubuhku dengan vagina yang masih terisi kontolku. Ia memelukkan erat-erat sambil menekan pantatnya dalam-dalam. Aku merasakan ada carian hangat menyemprot kontolku. Rupanya Cik Mei Lin orgasme. Beberapa saat kemudian Cik Mei Lin mengangkat pantatnya. Ia tidur terlentang disampingku. Nafasnya yang ngos-ngosan pelahan-lahan mulai teratur kembali. Sambil tersenyum aku remas-remas buah dadanya yang montok itu. Cik Mei Lin membalasnya dengan meremas-remas kontolku yang masih tegang.</p>
<p style="text-align: justify;">“Kenapa sayang, kamu mau main lagi ya,”ujarnya yang aku jawab dengan anggukan kepala Cik Mei Lin tersenyum dan langsung mengambil posisi. Kali ini ia nungging di depanku. Wow, pantatnya yang sexy itu membuat aku tak tahan lagi. Rupanya Cik Mei Lin ingin meraskan hunjaman kontolku dari belakang. Aku segera mengarahkan kontolku ke vagina Cik Mei Lin. Liang nikmat itu terlihat memerah dan basah. Sejenak aku gosok-gosokkan ujung kontolku pada vagina Cik Mei Lin. Ia membalas dengan mengoyng-goyangkan pantatnya. Selanjutnya aku mulai menggerakan pantatku ke depan seiring dengan masukkan kontolku ke dalam laing kenikmatan Cik Mei Lin. “Ohh…Cik Mei….nniikkkmmaatt…..”desahku saat kontolku memasuki vagina Cik Mei Lin. Aku melanjutkan gerakan pantatku maju mundur. kontolku keluar masuk vagina Cik Mei Lin. Kenikmatan luar biasa kembali aku rasakan. kontolku seperti dipijit-pijit. Terlebih lagi Cik Mei Lin mulai menggerakkan pantatnya seperti berputar. Ahh…kontolku seperti dipilin-pilin rasanya. Aku hanya bisa memejamkan mata sambil terus menyodokkan kontolku dalam-dalam.</p>
<p style="text-align: justify;">“Ohh..Cik Mei…ennaakk…ahh…nniikkkmmaattt…..”desahku tak kuasa merasakan kenikmatan vagina Cik Mei Lin “Iya Wan….teerrruuss…ahh……ennaakkk….ahh….terruuss saayyyaanggg….”ujar Cik Mei Lin Aku terus memasukkan kontolku. Kali ini gerakan pantatku lebih kupercepat. Sesekali aku remas-remas pantat Cik Mei Lin yang sexy itu. Tiba-tiba aku meraskan tubuh Cik Mei Lin menegang. Ia menjerit pelan sambil tangannya mencengkeram ujung ranjang. “Ahh…ahh…aakkuu…kkeellluaarrr…ahh…..”jerit Cik Mei Lin sambil matanya terpejam Cik Mei Lin rupanya kembali orgasme. Aku pun merasakan kontolku semakin tegang. Cairan hangat yang menyembur dalam vagina Cik Mei Lin semakin membuat kontolku berdenyut. Dan akhirnya aku tak kuasa menahan spermaku yang ingin segera keluar. Segera aku percepat gerakan kontolku. Semakin lama gerakan kontolku semakin cepat. Akupun tak mampu lagi menahan spermaku lebih lama. Akhirnya . Crroott…crroott…ccrrooott&#8230;&#8230;.spermaku muncrat di dalam vagina Cik Mei Lin, cairan kental putih itu muncrat banyak sekali. Aku setengah berteriak saat spermaku muncrat.</p>
<p style="text-align: justify;">“Ahh..ahh…nniikkkmaatt…ahh….”jeritku pelan Aku diamkan sejenak kontolku di dalam liang vagina Cik Mei Lin. Nikmat sekali. &#8220;Semprotanmu nikmat sekali Wan,&#8221;kata Cik Mei Lin. Selanjutnya aku turun dari ranjang. Aku raih sebotol air mineral sambil mengatur nafasku yang ngos-ngosan. Kemudian aku berbaring di sebelah Cik Mei Lin yang juga rebah di ranjang. “Kami masih kuat Wan,”kata Cik Mei Lin tiba-tiba Aku agak terkejut dengan pertanyaan itu. Cik Mei Lin yang sudah dua kali mencapai puncak. Tapi nampaknya Cik Mei Lin masih ingin melanjutkan permainan. Sehingga aku heran dengan pertanyaan itu. Dalam hati aku kagum juga dengan nafsu Cik Mei Lin yang mengelora. Aku yakin ia masih ingin meneruskan permainan malam ini. “Masih Cik Mei, Kenapa Cik Mei ingin main lagi ya,”ujarku “Iya, tapi permainan yang agak lain,” “Maksud Cik Mei,” “Kamu pernah main anal nggak, kita coba yuk,” ujarnya sambil meremas-remas kontolku yang mulai tegak kembali. Kembali aku terkejut dibuatnya. Cik Mei Lin ingin main analsex. Ia ingin aku menggarap lubang anusnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Tentu aku tidak keberatan. Aku juga ingin sekali merasakan permainan itu. Apalagi yang aku garap adalah pantat Cik Mei Lin yang seksi itu. Cik Mei Lin langsung mengambil posisi. Ia kembali nungging. Vaginanya yang baru saja aku masuki masih tampak merah. Aku langsung mengarahkan kontolku yang kembali tegang tepat di lubang anus Cik Mei Lin. Perlahan-lahan aku gerakan pantatku maju ke depan. Perlahan-lahan pula kontolku mulai masuk ke lubang anus Cik Mei Lin. Sensasi luar biasa langsung aku rasakan. Lubang anus Cik Mei Lin sangat sempit. Lebih sempit daripada vaginanya. Lubang itu juga sangat keset. kontolku agak susah menembusnya. “Ah….Cik Mei anusmu sempit sekali…..” “Iya…Wan….terusin aja…ahh…masukin terruss Wan…ahh…”ujar Cik Mei Lin sambil merem saat aku masukan kontolku ke lubang anusnya. Aku cabut kontolku yang sebagian kepalanya sudah masuk ke anus Cik Mei Lin. Aku coba membasahi anus Cik Mei Lin dengan ludahku. Aku berharap dengan ludahku anus Cik Mei Lin jadi lebih gampang ditembus. Selanjutnya kembali aku masukan kontolku ke lubang anus Cik Mei Lin.</p>
<p style="text-align: justify;">Kali ini kontolku lebih gampang memasukinya. Mungkin karena air ludahku. “Ahh..Wan….ahh…..”ujar Cik Mei Lin saat kontolku mulai menembus duburnya “Ahh….lubang Cik Mei eenak baangeett…..”jawabku Semakin lama kontolku semakin dalam memasuki anus Cik Mei Lin. Dan akhirnya seluruh kontolku masuk ke dalam lubang Cik Mei Lin. Aku diamkan sejenak. Terasa hangat sekali. Lubang anus Cik Mei Lin seperti berdenyut-denyut. Sehingga kontolku seperti dipijit-pijit. Perlahan-lahan aku mulai menggerakkan pantatku, maju mundur sambil memegang pinggang Cik Mei Lin yang sintal. Gerakan pantatku semakin lama semakin hebat. Aku merasakan kenikmatan yang luar biasa. kontolku bergerak keluar masuk lubang anus Cik Mei Lin. Setiap kali kontolku bergerak aku merasakan kenikmatan tiada tara. “Ohh..Cik Mei eeennnaaakkk baannnggettt…..”aku berkata agak sedikit menjerit. “Ohh…iyaa…akuu juuga eennaakkk….teerrruusss…..Waann…”desah Cik Mei Lin yang hanya bisa merem melek merasakan kenikmatan itu. Semakin lama lubang anus Cik Mei Lin semakin licin.</p>
<p style="text-align: justify;">kontolku semakin leluasa maju mundur dan semakin aku menggerakkan kontolku kenikmatan yang aku rasakan semakin hebat. Hingga akhirnya kontolku terasa berdenyut-denyut. Jepitan pantat Cik Mei Lin membuat kontolku menjadi sangat tegang. Dan akhirnya aku tak kuat menahan kontolku yang ingin segera muncrat. “Ahh…Cik Mei aku maauuu keelluaarr…..ahh…ohhh…” “Iyaa..akuu juugaaa….ahhh…ahhh…”jawab Cik Mei Lin sambil menjerit pelan. Rupanya Cik Mei Lin juga orgasme. Akhirnya kontolku benar-benar tak mampu lagi menaham spermaku yang ingin segera muncrat. Crroott..croot..croott….Spermaku muncrat di dalam lubang anus Cik Mei Lin. Banyak juga spermaku yang muncrat. Walau tidak sebanyak yang muncrat pada permainan pertama. Tapi kenikmatan yang aku rasakan lebih hebat. Aku merebahkan tubuhku menindih Cik Mei Lin dari belakang. kontolku masih menancap didalam anus Cik Mei Lin. Aku menciumi punggung dan leher Cik Mei Lin yang putih mulus. Aku mendengar nafas Cik Mei Lin yang terengah-engah seperti orang habis berlari. Nafasku juga ngos-ngosan.</p>
<p style="text-align: justify;">Akhirnya aku cabut kontolku dari pantat Cik Mei Lin. Ia tidur disampingku. Aku rebahkan tubuhku menindih Cik Mei Lin. Kuciumi bibirnya yang seksi itu. “Cik Mei hebat deh….mainnya hot banget….”ujarku “Kamu juga oke banget……lain kali kita main lagi ya…..yang lebih hot”ujar Cik Mei Lin sambil berdiri dan menuju kamar mandi. Aku merasakan tubuhku capek luar biasa. Tanpa terasa tiga jam lebih aku beradu nafsu dengan Cik Mei Lin. Dalam keadaan terlentang tanpa terasa aku tertidur. Sejak saat itu hubunganku dengan Cik Mei Lin semakin akrab. Aku semakin sering tidur dengan Cik Mei Lin. Semua dilakukan saat suami Cik Mei Lin sedang tidak dirumah dan anaknya sudah tidur. Beruntung anaknya tidur di kamar terpisah, jadi tidak menganggu permainan nikmat kami. Cik Mei Lin semakin ketagihan dengan kontolku. Ia bilang kontolku lebih nikmat daripada kontol suaminya. Selain lebih besar dan panjang, kontolku juga disunat. Tidak seperti suaminya yang tidak sunat. “Kontol disunat memang lebih enak daripada yang tidak disunat,”katanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Sebenarnya aku takut Cik Mei Lin hamil. Sebab sudah berkali-kali kontolku muncrat di dalam vagina Cik Mei Lin. Ia tidak mau kalau aku mengeluarkan sperma di luar. Cik Mei Lin juga tidak mau jika aku memakai kondom. “Semprotan kontolmu luar biasa ,”katanya. Tapi untunglah sampai saat ini Cik Mei Lin tidak hamil. Mungkin ia selalu minum pil anti hamil&#8230;..hhhmmmm.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ceritasex.cn/cik-mei-lin-tetanggaku/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ayank, Aku Ingin Pejuh!</title>
		<link>http://www.ceritasex.cn/ayank-aku-ingin-pejuh/</link>
		<comments>http://www.ceritasex.cn/ayank-aku-ingin-pejuh/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 08 Feb 2012 13:03:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cerita Sex</dc:creator>
				<category><![CDATA[Amoy]]></category>
		<category><![CDATA[Daun Muda]]></category>
		<category><![CDATA[Foto Mesum]]></category>
		<category><![CDATA[IGO]]></category>
		<category><![CDATA[amoy]]></category>
		<category><![CDATA[isep kontol]]></category>
		<category><![CDATA[kontol]]></category>
		<category><![CDATA[muncrat]]></category>
		<category><![CDATA[pejuh]]></category>
		<category><![CDATA[sperma]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ceritasex.cn/?p=3301</guid>
		<description><![CDATA[Waooow mantep kan judulnya? ha ha.. karena kamu bilang mantep nih aku kasih hadiah&#8230; selamat menikmati deh foto terpanas hari ini. Amoy cina sambil manja bilang&#8230; &#8220;Ayank, Aku Ingin Pejuh!&#8221; Crooottt crott crotttt tuh sayangg nikmati deh&#8230;]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Waooow mantep kan judulnya? ha ha.. karena kamu bilang mantep nih aku kasih hadiah&#8230; selamat menikmati deh foto terpanas hari ini. Amoy cina sambil manja bilang&#8230; &#8220;Ayank, Aku Ingin Pejuh!&#8221; Crooottt crott crotttt tuh sayangg nikmati deh&#8230;</p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2012/02/yayank-pengen-pejuh-1.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-3303" title="yayank-pengen-pejuh-1" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2012/02/yayank-pengen-pejuh-1-300x213.jpg" alt="" width="300" height="213" /></a></p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2012/02/yayank-pengen-pejuh-2.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-3304" title="yayank-pengen-pejuh-2" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2012/02/yayank-pengen-pejuh-2-233x300.jpg" alt="" width="233" height="300" /></a></p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2012/02/yayank-pengen-pejuh-3.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-3305" title="yayank-pengen-pejuh-3" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2012/02/yayank-pengen-pejuh-3-233x300.jpg" alt="" width="233" height="300" /></a></p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2012/02/yayank-pengen-pejuh-4.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-3306" title="yayank-pengen-pejuh-4" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2012/02/yayank-pengen-pejuh-4-234x300.jpg" alt="" width="234" height="300" /></a></p>
<p><span id="more-3301"></span></p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2012/02/yayank-pengen-pejuh-5.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-3302" title="yayank-pengen-pejuh-5" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2012/02/yayank-pengen-pejuh-5-300x215.jpg" alt="" width="300" height="215" /></a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ceritasex.cn/ayank-aku-ingin-pejuh/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Nikmat Karaoke Membawa Sengsara Bagian 2</title>
		<link>http://www.ceritasex.cn/nikmat-karaoke-membawa-sengsara-bagian-2/</link>
		<comments>http://www.ceritasex.cn/nikmat-karaoke-membawa-sengsara-bagian-2/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 12 Jan 2012 12:11:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cerita Sex</dc:creator>
				<category><![CDATA[Daun Muda]]></category>
		<category><![CDATA[Pemerkosaan]]></category>
		<category><![CDATA[Seks Umum]]></category>
		<category><![CDATA[selingkuh]]></category>
		<category><![CDATA[Toket gede]]></category>
		<category><![CDATA[cuki]]></category>
		<category><![CDATA[klitoris]]></category>
		<category><![CDATA[kontol]]></category>
		<category><![CDATA[memek]]></category>
		<category><![CDATA[ngentot]]></category>
		<category><![CDATA[orgasme]]></category>
		<category><![CDATA[seks]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ceritasex.cn/?p=3272</guid>
		<description><![CDATA[&#8220;Uh.. saatnya untuk sedikit beraksi Ded!&#8221; kata Dedi dalam hati, lalu ia berdiri di belakang Shinta. Perlahan-lahan ia mendekati Shinta sampai kemaluannya menyentuh pantat Shinta. Shinta sedikit terkejut. &#8220;Hey, dia sengaja nggak ya?&#8221; pikirnya ragu. Sambil terus membungkuk, Shinta berpura-pura terus sibuk. Tapi sekarang ia menggerakkan pinggulnya pelan ke belakang sehingga menempel ketat dengan tubuh [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">&#8220;Uh.. saatnya untuk sedikit beraksi Ded!&#8221; kata Dedi dalam hati, lalu ia berdiri di belakang Shinta. Perlahan-lahan ia mendekati Shinta sampai kemaluannya menyentuh pantat Shinta. Shinta sedikit terkejut. &#8220;Hey, dia sengaja nggak ya?&#8221; pikirnya ragu. Sambil terus membungkuk, Shinta berpura-pura terus sibuk. Tapi sekarang ia menggerakkan pinggulnya pelan ke belakang sehingga menempel ketat dengan tubuh Dedi di belakang. Dedi mencoba mengatur nafasnya supaya tidak terdengar memburu. &#8220;Lho?? dia tau nggak sih?&#8221; pikirnya sesak. Shinta merasakan ada sesuatu yang keras menempel di pantatnya. &#8220;Ha ha sepertinya Dedi sedang terangsang. Satu sentuhan lagi lalu kuminta dia pulang..&#8221; batin Shinta riang. Lalu ia seperti membaca sesuatu di layar sambil menggerak-gerakkan pantatnya ke kanan dan ke kiri perlahan.</p>
<p style="text-align: justify;">Dedi benar-benar menikmati keadaan itu.&#8221;Oh ternyata nggak sesulit yang kukira, sebentar lagi kita pasti akan bercinta,&#8221; pikirnya sambil meletakkan tangannya di pinggul Shinta.&#8221;Ok Ded ini sudah aku print-kan, kamu tinggal belanja bahan-bahan saja, ok? kamu kalo keluar nanti tutup kembali ya pintunya aku mau kirim e-mail buat sepupuku dulu di sini,&#8221; kata Shinta sambil berbalik dan menyodorkan selembar kertas.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Aaa? dia menyuruhku pulang? jadi tadi itu cuma khayalan saja?&#8221; kata Dedi sambil mengambil kertas dari hadapannya. Ia berjalan keluar dengan pelan berharap Shinta memanggilnya lagi, ternyata tidak!&#8221;He he berani taruhan, pasti Dedi menyesal kalau pernah meminta obat ke sini,&#8221; batin Shinta sambil tersenyum lalu ia mulai mengetik surat.</p>
<p style="text-align: justify;">Tiba-tiba ia merasa tubuhnya tertarik ke belakang. Lalu tubuhnya terangkat dalam pelukan seseorang. Shinta mencoba melihat wajah seseorang yang mengangkatnya.&#8221;Hey Ded! ada apaa? eh turunin aku dong.. Dedi! ini nggak lucu ya?!&#8221; kata Shinta.&#8221;Shinta, sorry ya.. aku nggak bisa tahan. Kamu harus nurut, ok? Aku nggak pengen kamu luka,&#8221; kata Dedi dingin sambil membuang tubuh Shinta di sofa. Shinta menggigil ketakutan.&#8221;Dedi, kamu mau apa? jangan ya? Ded..&#8221; pinta Shinta menghiba ketika ia melihat Dedi membuka celana panjangnya. Dedi sudah tak peduli lagi. &#8220;Dengar Shinta, kalau kamu terus bicara aku bakal&#8230;&#8221; Plak! Dedi merasa pipinya panas. Mendadak birahinya berubah menjadi amarah. Dicengkeramnya baju Shinta lalu dengan sekuat tenaga dibukanya dengan paksa sehingga kancing baju itu jatuh berderai ke lantai. Shinta mulai terisak. Ia ingin teriak tapi tak kuasa mengeluarkan suara. Ia didera ketakutan yang amat sangat yang belum pernah ia alami seumur hidupnya.<br />
<span id="more-3272"></span><br />
Dedi menatap payudara yang terbungkus bra warna krem. &#8220;Hoho ternyata 34B. Bagus. Tidak terlalu besar dan akhirnya aku mengetahuinya walaupun dengan cara begini.&#8221; bathin Dedi sambil mengangkat bra itu ke atas. Kedua kakinya menahan tubuh Shinta bagian bawah sementara tangannya memegang kedua tangan Shinta. Ia mulai menjilati payudara itu. Lidahnya bergerak cepat membuat lingkaran yang mengecil di puting Shinta, Lalu ia menyedotnya keras. Shinta mencoba untuk mengontrol dirinya sehingga ia punya tenaga untuk berteriak. Dibiarkannya Dedi menyedot-nyedot puting susunya. Ia berusaha memblok gairah yang mendadak muncul di dirinya.</p>
<p style="text-align: justify;">Dedi benar-benar merasa sangat bergairah. Kemaluannya menegang keras. &#8220;Aku harus membuatnya terangsang supaya aku tidak terlalu kesulitan memasuki dirinya,&#8221; katanya sambil terus mengulum puting Shinta. Lalu bibirnya pindah ke leher. Dengan jilatan-jilatan kecil yang dibuatnya iabergerak ke arah telinga dan bagian dalam telinga Shinta. Hal itu membuat Shinta melenguh pelan lalu dengan cepat menutup mulut lagi. Dedi mendengar lenguhan itu dan itu menambah semangatnya. Dijilatinya lengan Shinta bagian dalam. Shinta meronta kegelian. &#8220;Ah ini akan memakan waktu..&#8221; kata Dedi. Ia melepaskan pegangan tangannya dari tangan Shinta lalu berbalik ke bawah. Kakinya menekan lengan Shinta sementara tangannya memegang kedua kaki Shinta. Shinta melihat ke atas. &#8220;Ahh.. mengapa tubuhku jadi lemas begini,&#8221; pikirnya sambil terisak.</p>
<p style="text-align: justify;">Dedi membuka rok Shinta ke atas. Dilihatnya paha putih bersih di hadapannya yang langsung ia terkam dengan mulutnya. &#8220;Aah harum sekali tubuh ini,&#8221; dijilatinya sampai pangkal paha, kedua paha itu hanya meronta-ronta pelan tertahan oleh kedua tangan kekar Dedi yang sangat menikmati aroma di pangkal paha Shinta. Dedi menggigit pelan pangkal paha itu sambil terus menjilatinya bergantian kiri dan kanan. Shinta terus mencoba menahan reaksi balik dari dalam dirinya. Ia menegangkan kedua pahanya tapi yang terjadi malah ia merenggangkan pahanya. Dedi menangkap itu sebagai isyarat penerimaan. Lalu diturunkan CD Shinta ke bawah lalu dengan rakus, sebelum dibenamkan mulutnya di sana, dirabanya sejenak, &#8220;Hm sudah lembab,&#8221; pikirnya sambil tersenyum. Dedi tidak bisa melihat memek Shinta dengan jelas tapi ia tak mempedulikannya. Lidahnya menerobos ke dalam dengan cepat dijilatinya seluruh dinding memek Shinta. Ditahannya kedua paha Shinta dengan sikunya, lalu jarinya membuka memek itu, sementara jari lainnya mencari klitoris. Dipindahkan lidahnya ke pangkal paha Shinta lagi sambil memijat pelan klitoris Shinta dengan ibu jari dan jarinya.</p>
<p style="text-align: justify;">Dedi merasa sangat tidak leluasa, ia mengangkat kepalanya dan menoleh ke belakang. &#8220;Shinta aku cuma minta kamu jangan berteriak ok? aku mau berdiri sekarang.. kalau kamu mencoba teriak aku bakal menyakiti kamu lebih dari yang kamu bayangkan, ngerti kamu?!&#8221; kata Dedi sambil mengguncang tubuh Shinta pelan. Shinta tak menjawab, ia hanya terisak dan melempar pandangannya ke samping. Dedi tersenyum berdiri dan berlutut di bawah. Ditariknya kedua kaki Shinta, lalu dibukanya lagi memek Shinta. Kali ini ia dapat melihat memek itu dengan jelas. Dijilatinya pelan semakin lama semakin cepat ke arah klitoris.</p>
<p style="text-align: justify;">Shinta terisak lagi, kali ini ia sendiri tak yakin itu refleksi kesedihan atau gairahnya.Shinta terguncang hebat tubuhnya menggigil setiap kali lidah Dedi menyentuh klitorisnya, ia merasa masih bisa menahan dirinya, tapi gerakan lidah Dedi di klitorisnya membuatnya menahan beban yang sangat berat, dengan satu helaan nafas panjang ia memejamkan matanya dan membiarkan dirinya terbawa.</p>
<p style="text-align: justify;">Shinta mulai merasa ada sesuatu yang berasal dari otot kewanitaannya yang berdenyut seirama detak jantungnya, makin lama perasaan itu makin kuat menjalari otot di pangkal pahanya. Tiba-tiba ia merasa perasaan nikmat menjalar cepat dari memeknya, setiap gerakan lidah Dedi yang berirama tetap di klitorisnya menumpukkan perasaan nikmat yang semakin membesar lalu pandangannya mengabur sejenak, nikmat itu berjalan cepat dari memek menyebar ke seluruh tubuhnya, ke otot di daerah pantatnya, menyelusuri otot belakang tubuhnya menghujam dadanya. Ia merasa putingnya menyusut kecil dan mengeras, telinga, hidung, dan matanya seakan tak berfungsi sejenak.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Aduh.. setan! aku orgasme!&#8221; bathin Shinta pelan.Shinta tersengal sengal mengatur nafasnya. &#8220;Hah.. tenagaku habis untuk menahan diri?!&#8221; Shinta mencoba mengangkat tangannya dengan lemah. Dikumpulkannya kekuatan sejenak, lalu ia mencoba berteriak, &#8220;To.. tolong!&#8221; teriaknya pelan.Dedi merasa terkejut, diangkatnya kepalanya, lalu ia berdiri, &#8220;Aku tadi sudah memperingatkan kamu, supaya jangan..&#8221;Ia berkata sambil meraih vas bunga di sampingnya, &#8220;Coba-coba untuk berteriak?! ternyata kamu kurang jelas ya?&#8221; diletakkan vas itu di samping kepala Shinta lalu dipukulnya hingga berkeping-keping, &#8220;Mengerti Shinta?&#8221;"Aw.. iya, ampun Ded,&#8221; kata shinta sambil kembali terisak-isak.</p>
<p style="text-align: justify;">Dedi membuka celana dan celana dalamnya, lalu ia memegang kemaluannya dan mengarahkannya ke wajah Shinta.&#8221;Tidak, Ded jangan&#8230; aku nggak mau, aku&#8230;&#8221; Shinta memejamkan matanya ketika kemaluan Dedi menyentuh pipinya, lalu ke hidung dan matanya dan turun ke bibirnya. Dedi menggeserkan batang kemaluannya dengan perlahan di bibir Shinta. Lalu ia melihat ada cairan bening di kepala kontolnya lalu diarahkan kepala kontolnya ke bibir Shinta. Lalu ia berjalan dua langkah ke belakang, ditariknya kedua kaki Shinta dan dibukanya paha Shinta lebar-lebar, lalu ia mengarahkan kemaluannya ke memek Shinta. Dedi merasa kontolnya melewati ruang yang sempit. Dibenamkan kontolnya sedalam-dalamnya, dibiarkan sejenak, ia mengangkat kepalanya dan melihat wajah Shinta yang berkerut alisnya, lalu diturunkan lagi wajahnya ke samping kepala Shinta, sambil mulai memompa pantatnya dengan irama yang tetap, selang 15 detik Shinta mulai mendesis seirama gerakan pantatnya, lalu ia menaikkan tempo gerakannya sedikit, Shinta mulai gelisah, mulutnya terbuka, &#8220;Oooh.. ooohh..&#8221;lirihnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Dedi menjadi semakin terangsang setelah mendengar desahan di telinganya. Ia berhenti bergerak, lalu mencabut kontolnya keluar, dilihatnya Shinta masih memejamkan mata sambil membuka mulutnya, lalu digesernya tubuh Shinta menjadi setengah terduduk, kakinya menjulur ke lantai. Dengan pelan diangkatnya kedua kaki Shinta, lalu dilingkarkan kedua tangannya melingkari pinggul Shinta. Lalu ia mulai memompa lagi. Pantat Shinta terangkat ke atas oleh tangan Dedi yang melingkar. Shinta merasa tubuhnya dihujami oleh kontol dedi secara kasar, tapi sedikit demi sedikit kenikmatan yang tadi datang lagi membentuk kelompok kecil yang makin membesar, dilemahkan tubuhnya sehingga Dedi bisa mengangkat pinggulnya lebih tinggi. Sementara kedua tangan Shinta berayun-ayun di udara seirama gerakan mereka.</p>
<p style="text-align: justify;">Dedi merasa memek Shinta seakan mengelus-elus seluruh bagian kontolnya, membuat ia merasa geli, memek Shinta terasa sangat hangat dan mencengkeram erat di kontolnya, ia mulai mempercepat gerakannya, dirasakannya tubuh Shinta mulai menegang. Sambil terus memompa ia melihat sekeliling, lalu pandangannya terbentur ke foto perkawinan Shinta dan Boy. Tiba-tiba perasaannya meninggi, ia melihat Shinta tampak anggun dengan baju pengantinnya, lalu dialihkan pandangannya ke bawah dimana Shinta terayun-ayun tak berdaya dan sedang mendaki puncak dengannya.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Ah Shinta kamu cantik sekali..&#8221; katanya.Shinta membuka matanya, menatap sayu ke Dedi, ia berusaha tak menjawab tetapi mulutnya mengeluarkan erangan tak jelas, &#8220;Aah.. a..aah..&#8221; Dedi merasa ia akan orgasme, diangkatnya lagi pinggul Shinta lebih tinggi membuat tubuh Shinta tertekuk di udara, lalu dengan kecepatan penuh ia menggerakkan pantatnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Shinta merasa pandangannya kembali gelap, seluruh tubuhnya mengejang, tubuhnya seakan dihujani oleh kenikmatan badani yang tidak bisa ia ketahui kapan berakhirnya, lalu ia merasa ada cairan hangat menyentuh ujung liang senggamanya dan tubuh Dedi mengejang keras di atasnya, membuat perasaanya sangat aneh, ia tak pernah mengalami sensasi bercinta seperti ini. Sementara Dedi memeluk erat tubuh Shinta, dibiarkan kontolnya menguras spermanya di dalam memek Shinta.Aroma tubuh Shinta menjadi semakin jelas di hidung Dedi ketika ia mengalami orgasme ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Dedi menarik dirinya dan berdiri, sambil memunguti pakaiannya ia berjalan ke arah dapur. Ketika ia menuangkan air ke dalam mulutnya. Tiba-tiba akal sehatnya kembali, cepat-cepat ia memakai pakaiannya dan berlari ke ruang tamu, didapatinya Shinta sedang memeluk kedua kaki sambil melamun.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Shinta.. eh, aku mau..&#8221; kata Dedi gugup, lalu ia melangkah hendak membuka pintu keluar.Shinta memandang Dedi. Lalu memanggil, &#8220;Ded..&#8221;Dedi menoleh ke belakang, Shinta berdiri dan berkata, &#8220;Aku mau bicara nanti, matikan answering machine telepon kamu ok?&#8221;Dedi mengangguk heran lalu berkata, &#8220;Aku minta maaf Shin, karena&#8230;&#8221;Tak selesai perkataannya karena pintu itu terbanting tepat di depan hidungnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Tiga jam kemudian Dedi sedang bersiap untuk pergi keluar kota, ia sudah memesan tiket pesawat.&#8221;Kali ini aku menikmati Bali,&#8221; katanya sambil menatap tiketnya.Tiba-tiba telepon rumahnya berdering, &#8220;Haloo!&#8221; katanya riang.&#8221;Ded.. ini Shinta, aku ingin kamu sekarang ke rumah, puaskan aku lagi, lagi dan setiap saat aku menginginkannya, kalau kamu menolak aku punya rekaman video kejadian tadi siang yang siap disaksikan oleh Boy dan Polisi, aku harap kamu bisa bekerja sama, ok?&#8221; lalu terdengartelepon tertutup.Dedi tak mempercayai pendengarannya, ditatapnya tiket pesawatnya, kepalanya mendadak pusing, ini bukan lagi pemenuhan fantasinya, ia merasa sangat bingung. Dibantingnya koper ke dinding lalu ia ke kamar mandi untuk mencuci wajahnya.&#8221;Tidak..! ini mimpi buruk, ayo bangun Ded, liburan sudah menunggu!&#8221;Ketika berjalan ke wastafel dilihat wajahnya di cermin, &#8220;Ayo, mana wajah predator ini?&#8221;Terpantul wajah yang sama di cermin, namun sekarang adalah wajah budak seksual.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>TAMAT</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ceritasex.cn/nikmat-karaoke-membawa-sengsara-bagian-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hanya Cinta Sesaat</title>
		<link>http://www.ceritasex.cn/hanya-cinta-sesaat/</link>
		<comments>http://www.ceritasex.cn/hanya-cinta-sesaat/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 12 Dec 2011 22:50:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cerita Sex</dc:creator>
				<category><![CDATA[Seks Umum]]></category>
		<category><![CDATA[birahi]]></category>
		<category><![CDATA[eryani]]></category>
		<category><![CDATA[kontol]]></category>
		<category><![CDATA[mesum]]></category>
		<category><![CDATA[ml]]></category>
		<category><![CDATA[ngentot]]></category>
		<category><![CDATA[pegawai]]></category>
		<category><![CDATA[sex]]></category>
		<category><![CDATA[vagina]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ceritasex.cn/?p=3204</guid>
		<description><![CDATA[Namaku Iwan, 23 tahun. Ceritanya aku mulai ketika aku baru saja diterima kerja di sebuah Travel Agent di Ruko kawasan Mangga Dua Jakarta. Terus terang, aku baru saja lulus dari kuliahku di AKPAR di Jogja. Aku baru lulus bulan Juli 98. Terus, aku sudah berusaha melamar kerja di Travel Agent di Jogja, tapi tidak satupun [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Namaku Iwan, 23 tahun. Ceritanya aku mulai ketika aku baru saja diterima kerja di sebuah Travel Agent di Ruko kawasan Mangga Dua Jakarta. Terus terang, aku baru saja lulus dari kuliahku di AKPAR di Jogja. Aku baru lulus bulan Juli 98. Terus, aku sudah berusaha melamar kerja di Travel Agent di Jogja, tapi tidak satupun yang mau menerimaku. Akhirnya aku berkelana ke Jakarta, aku kost di kawasan Kemayoran bersama temanku yang sudah lebih dulu ke Jakarta dan juga lebih dulu bekerja di Jakarta. Sampai akhirnya, bulan Desember aku berhasil bekerja di Travel Agent, tempatku sekarang bekerja.Nah, di hari pertamaku kerja, aku datang pagi-pagi sekali ke kantor. Kata Bos baruku, aku harus datang jam 8.30 pagi, yaa.., aku pergi dari rumah jam 7.00, takut kalau-kalau ada macet di jalan, paling tidak dalam dua jam aku sampai di kantor baruku. Ternyata di luar dugaan, aku tiba pukul 7.30. Sial, aku pikir, tahu begini, lebih baik aku pergi jam delapan. Dan ternyata kantorku juga belum buka. Aku nongkrong saja di depan kantorku. Tidak berapa lama, ada cewek yang sedang membuka rolling door ruko di sebelah kantorku. Ah daripada nongkrong sendirian, lebih bagus nongkrong berdua, pikirku.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Hai.., baru buka kantor ya?&#8221;, tanyaku berbasa-basi.&#8221;Iya..&#8221;, jawabnya ramah.&#8221;Kantor kamu kantor apa sih&#8221;, tanyaku, sebab di depan kantornya, tidak ada satupun papan nama yang menjelaskan nama kantor itu.&#8221;Cargo Agent&#8221;, katanya sambil mendorong pintu kantornya ke samping.Melihat dia kesulitan mendorong pintu, akupun membantu mendorongnya, &#8221; Kamu karyawan baru di kantor sebelah ya..?&#8221;, tanyanya.&#8221;Iya.., eh kenalin, saya Iwan&#8221;.&#8221;Eryani..&#8221;, jawabnya sambil tersenyum.Sebelumnya, aku mau kasih gambaran gimana Eryani ini. Doi kulitnya putih, matanya sipit, rambutnya panjang sebahu, pipi tembem, tingginya sehidungku, atau kira-kira 160 cm,badannya agak berisi, payudaranya berukuran sedang, normal. Aku suka bentuk pinggul, pantat dan betisnya, aduhai sekali.Pagi itu Eryani memakai Blazer Hitam dengan dalaman kaos putih dan rok berbahan kaos selutut dengan belahan samping, menampakkan sedikit pahanya yang putih mulus. Dan juga dia agak bungkuk badannya, kata orang-orang sih, kalau agak bungkuk, nafsunya besar!Dan akhirnya sambil menunggu pintu kantorku buka, akupun ngobrol dengan Yani, dia di kantor itu bekerja sebagai accounting.</p>
<p style="text-align: justify;">Dia yang membawa kunci pintu kantor, sebab dia tinggal di kost-kostan di Mangga Dua juga, dan dia datang selalu jam 8.00 pagi. Eryani orangnya baik, nikmat jadi teman ngobrol. Orangnya cepat akrab dan terbuka. Aku jadi terasa bersemangat ngobrol dengan dia. Apalagi orang-orang kantornya datang tidak on time, orang-orang kantornya baru datang 15 menit kemudian, jadi aku bisa berdua dengannya. Dan dia membuatkan teh panas untukku, apa tidak asyik tuh. Eryani ternyata juga merantau sepertiku, dia berasal dari Pontianak. dia juga dulu kuliah di Jogja sepertiku, dan hal inilah yang membuat kami dapat cepat akrab.Sampai akhirnya jam sudah menunjukkan 8.30, tapi aku belum melihat satupun orang kantorku yang datang. Jadi aku terus ngobrol dengan Eryani. Dari Eryani aku tahu kalau kantorku ternyata buka jam 9.00, dan kunci kantorku selalu dibawa oleh bagian Accounting, Ani namanya, yang juga kost di sekitar Mangga Dua. Ya sudah, aku terus saja ngobrol. Sampai akhirnya jam 9.00 baru aku keluar dari kantornya, sebab, selain kantorku buka jam 9.00, aku juga tidak enak lama-lama gangguin Eryani kerja.<br />
<span id="more-3204"></span><br />
Hari pertama di kantor membuatku stress bukan main. Ternyata banyak yang harus aku pelajari lagi. Siangnya, aku makan siang cepat-cepat, dan kembali bekerja. Sorenya, aku senang sekali, akhirnya jam pulang kantor tiba juga. Aku lewati kantor Eryani, tapi aku malas masuk menyapanya, sebab hari itu aku sudah pusing sekali, ingin cepat-cepat pulang dan tidur!Besoknya, aku pergi dari rumah jam 8.00 dan sampai di kantor sekitar jam 8.30, aku mampir dulu ke kantor Eryani, dan ternyata dia masih sendiri, orang-orang kantornya belum ada yang datang. Akupun mulai bercerita mengenai pengalaman hari pertama kerja. Aku curhat ke dia kalau aku stress sekali di hari pertama. Dia memberi dorongan kepadaku supaya aku tidak mudah menyerah, maju terus pantang mundur. Pokoknya, dia betul-betul memberi support, sehingga aku bisa semangat lagi bekerja, walaupun sore hari pulang kerja aku masih saja suka pusing. Tidak terasa sudah sebulan bekerja, ketika malam minggu, iseng-iseng aku mengajaknya jalan dan makan-makan, pertama dia menolak. Tapi aku maju terus pantang mundur mengajaknya jalan, dengan alasan jalan-jalan untuk menghilangkan stress dan mentraktir dia dengan gaji pertamaku, akhirnya dia mau juga.</p>
<p style="text-align: justify;">Hari sabtu, aku dan dia pulang kerja jam 14.00, kami langsung ke M2M, nonton film yang jam lima sore, terus makan-makan di restoran Pizza. Tadinya dia kelihatan kaku ketika jalan berdua denganku, tapi lama-kelamaan, dia mulai terbiasa, dan saat kugandeng tangannya, dia cuek. Sampai akhirnya jam setengah delapan malam, kuantar dia ke kostnya.Ternyata di luar sedang hujan, dan kami berlari-lari masuk ke dalam bajaj. Saat itu di dalam bajaj, kami berdua menggigil kedinginan basah karena hujan dan terkena angin malam yang dingin sekali. Sampai di kostnya, aku di ajaknya masuk ke kamarnya. Tempat kost Eryani sepi sekali, kata Eryani, kalau hari Sabtu banyak yang pergi, ada yang pulang ke Bandung, ke Bekasi, ke Tangerang dll. Akupun masuk ke kamarnya yang hanya 3&#215;3 itu dengan kamar mandi di dalam. Eryani menyuruhku tinggal dulu sampai hujan reda.Sementara Eryani mandi, aku di kamarnya hanya menonton TV. Selesai mandi, dia mengenakan daster selutut berwarna putih. Aku bisa melihat bayangan badannya di dalam daster, bra dan celana dalam putih yang dikenakannya. Melihat pemandangan indah itu, yang sebelumnya penisku menciut karena kedinginan, tiba-tiba langsung tegap! Aku tidak berkedip memadang Eryani, dan Eryani tahu kalau aku memandangi tubuhnya, dia langsung mengalihkan perhatianku.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Wan, sono dah mandi, entar masuk angin loh..&#8221;.&#8221;Trus, entar abis mandi pakai apa?&#8221;, tanyaku.&#8221;Pake kaosku saja tuh, sama celana pendekku, nih handuknya!&#8221; katanya sambil melempar handuk ke arahku.Jadilah aku mandi dan memakai pakaiannya. Celananya ternyata pendek sekali, aku jadi agak risih memakainya, tapi daripada memakai celana panjangku yang basah karena hujan, lebih baik memakai yang kering. Selesai mandi, dia sudah menyajikan teh hangat dan kue kering. Lumayan untuk menghangatkan badan. Kemudian aku melihat album-album fotonya, aku godain dia melihat foto-fotonya waktu kecil yang punya tompel di pipinya dan sekarang sudah dioperasi.Ketika membolak-balik foto-fotonya, tiba-tiba aku baru sadar, dasternya agak terangkat ketika dia duduk dan memperlihatkan pahanya yang putih itu. Aduh, lagi-lagi penisku tegang dan untungnya masih ketutupan sama album foto Eryani. Akhirnya, karena posisiku tidak enak, album foto kuletakkan saja di lantai, kulihat celanaku sudah menonjol gara-gara penisku yang berdiri tegang. Aku coba rileks saja dan ngobrol apa saja dengan Eryani.</p>
<p style="text-align: justify;">Sementara di luar hujan masih saja deras, jam sudah menunjukkan 10.30. Aku sudah merasa tidak enak sama Eryani, tapi aku stay cool saja. Sementara Eryani sendiri kelihatan sudah mulai mengantuk, tiba-tiba dia merebahkan kepalanya di pahaku.Kuelus-elus rambutnya lembut, dia memejamkan matanya. &#8220;Wan, saya sudah ngantuk nih, lu nginep saja deh disini.., Hoooahh (Eryani menguap), temenin saya yah..&#8221;, katanya sambil masih memejamkan matanya.&#8221;Iya deh&#8221;, kataku sambil terus mengelus-elus rambutnya. Tidak beberapa lama, mungkin karena tidak enak posisinya, dia menggerakkan kepalanya dan tidak sengaja kena penisku (yang masih tegang), &#8220;Ee.., eh.., adik tidur yaa..&#8221; katanya sambil tangannya mengusap penisku, dan ini membuatku sangat terkejut setengah mati.., Kali&#8217; dia tidak sadar, atau sedang mengigau barangkali, pikirku.Aku belum juga mengantuk, dan Eryani terus terlelap, tidur seperti orang mati. Lama-kelamaan, capek juga pahaku menahan kepalanya, segera kugendong badannya (yang ternyata berat setengah mati) ke kasur. Kutidurkan dia di kasur. Tapi, tidak sengaja, dasternya tersikap, dan tampaklah celana dalamnya yang putih dan pahanya yang mulus, membuatku sangat terangsang. Mau kututup pahanya, tapi sayang, kapan lagi aku bisa melihat pemandangan begini. Ini momentnya tepat sekali.</p>
<p style="text-align: justify;">Kuelus pahanya, betul-betul mulus dan lembut. Kucium lembut pahanya, mulai dari lututnya hingga ke atas mendekati selangkangannya. Kulihat Eryani masih terlelap tidak bergeming, akupun mulai berani merenggangkan kakinya, sehingga selangkangannya terbuka, dan kutekuk lututnya, sehingga sekarang selangkangannya sudah betul-betul terbuka. Kucium bagian paha sekitar selangkangannya. Kucium celana dalamnya. Ingin aku merasakan daging di balik celana dalamnya. Dengan hati-hati sekali, kugeser pinggir celana dalam sebelah kiri ke arah kanan. Dan aku mulai terangsang hebat ketika kulihat daging berbentuk bibir berwarna merah kecoklatan itu terlihat. Sambil tanganku menahan pinggir celana dalamnya, kucium lembut vaginanya yang berbulu lebat itu. Nyum.., nikmat sekali rasanya ketika lidahku mulai menjilat-jilat lubang kemaluannya itu. Kujilat-jilat bibir di kiri dan kanannya, kupakai kedua tanganku untuk membuka bibir yang menutupi bagian dalam vaginanya itu dan kemudian mulai menjilati clitorisnya.Kumainkan terus lidahku di daerah sensitif vaginanya. Ternyata, Eryani mulai merasakan kenikmatan permainanku, nafasnya mulai tak beraturan. Terus kujilati vaginanya yang basah itu oleh air liurku. Sampai akhirnya aku merasa ada cairan hangat keluar dari vaginanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Akupun berhenti menjilatnya, lagian leherku juga sakit dengan posisiku yang tengkurap sambil menjilat vaginanya. Sambil berdiri, kulihat penisku masih berdiri dengan gagahnya. Kupikir, kalau aku memasukkan batangku ke vagina Eryani, pasti dia akan terbangun dan mungkin akan mengusirku, itu sama saja dengan memperkosa, jadi terpaksa aku keluarin di kamar mandi. Aku keluar sampai tiga kali di kamar mandi, kalau aku bayangkan enaknya vagina Eryani dan kalau saja aku bisa memasukkan penisku di dalam lubangnya yang hangat.Setelah itu, peniskupun tidur kecapean, tidur di lantai yang beralaskan karpet. Ternyata, aku tidak bisa terlelap tidur, jam 5.00 pagi aku terbangun, dan susah untuk tidur kembali. Kulihat Eryani masih terlelap di tempat tidur. Kuhampiri dia, dan kutatap wajahnya yang polos tanpa make up itu. Wajahnya terlihat cantik ketika tidur. Kukecup pipinya mesra. Dia masih tetap terlelap. Kukecup bibirnya yang agak tebal. Lembut sekali. Kuisap-isap lembut bibirnya, seperti aku mengisap-isap sebuah permen yang kenyal. Birahiku mulai timbul lagi. Sambil terus memainku bibirnya di bibirku, tanganku mulai merayap ke arah payudaranya, kuremas-remas payudara yang padat namun lembut dan kenyal itu. Gila benar nih, aku sudah terangsang sekali. Ingin aku mengulangi perbuatanku tadi malam.</p>
<p style="text-align: justify;">Tapi, tiba-tiba Eryani terbangun, dia mengusap-usap matanya, dan melihatku seperti tak percaya kalau aku sekarang berada di sisinya. Tanpa kusadari, tanganku masih berada di atas payudaranya. Belum sempat dia berkata apa-apa, kukecup lagi bibirnya dengan lembut, &#8220;Selamat pagi Yani&#8221;, kataku. Dia masih belum sadar juga rupanya dan mengguman tak jelas. Kukecup lagi bibirnya, dan kali ini kuisap-isap bibir itu. Eryani sepertinya merasakan kenikmatan (antara sadar dan tidak sadar), dia hanya diam dan menikmati.Sambil kumainkan bibirnya dengan bibirku, aku mulai memainkan tanganku di payudaranya, kuremas-remas lembut payudaranya yang berukuran 32B itu. Sekali, kulepaskan kecupanku di bibirnya, dan kuhujani pipinya dengan kecupanku, dan saat aku kembali mengulum bibirnya, dia mulai membalas permainanku. Aku memberanikan tanganku mengarah ke selangkangannya, dan mulai mengusap-usap selangkangan yang hangat itu. Mula-mula aku mengusap-usap celana dalamnya, dan setelah beberapa lama kami pelukan, mulai kuberanikan memasukkan jariku dari sela-sela celana dalamnya dan menyentuh vaginanya yang basah itu. Aku mainkan jari tengahku di sekitar clitorisnya. Licin sekali rasanya vagina Eryani.</p>
<p style="text-align: justify;">Permainan jariku membuatnya menggelinjang, pinggulnya bergerak-gerak seirama dengan gerakan tanganku. Aku ingin melakukan lebih jauh lagi, dan kuhentikan aktivitasku, sambil kutatap matanya, kutarik daster yang dipakainya ke arah atas, dan dia seakan mengerti dengan maksudku, dia menaikkan pinggulnya sehingga daster dapat dengan mudah melewati pantatnya hingga akhirnya lepas dari tubuhnya.Kulepas kancing BH diantara 2 cupnya. Kini, yang ada di depanku adalah tubuh putih mulus seorang gadis yang hanya mengenakan celana dalam dengan tatapan penuh menantang. Segera kuisap puting payudaranya yang berwarna coklat kemerahan itu, sementara tangan kananku kuselipkan ke dalam celana dalamnya dan kembali kumainkan clitorisnya. Kali ini Eryani betul-betul merasakan terangsang dan keenakan yang luar biasa, ini bisa kurasakan dari nafasnya yang makin tidak teratur dan desahan-desahan kenikmatan. Bentuk buah dada Eryani memang betul-betul bagus, masih kencang dan tidak terlalu kecil.Kemudian, setelah beberapa saat, Eryani merintih kencang, hampir setengah berteriak dan otot-otot badannya seperti mengejang, sepertinya dia telah orgasme.</p>
<p style="text-align: justify;">Dan tak beberapa lama, dia menghembuskan nafas panjang, &#8220;Iwan&#8230;, nikmat banget.., Kamu memang betul-betul..&#8221;, belum selesai dia mengucapkan kata-katanya, segera kukecup bibirnya yang seksi itu.&#8221;Kamu mau merasakan yang lebih hebat lagi..&#8221;, kataku sambil berdiri dan mulai melepaskan pakaianku. Dan ketika celanaku kubuka, penisku yang sejak tadi sudah mendesak di celanaku, langsung menunjuk ke depan, besar, tegang dan siap untuk memasuki liang kewanitaannya. Mata Eryani tidak berkedip melihat tubuhku yang bugil, dan tangannya mengusap-usap penisku.&#8221;Ya ampun.., besarnya..&#8221;, kata Eryani dengan mata tak berkedip. Dia kulum bibirku sambil tangannya terus mengelus-elus barangku yang besar itu. Kemudian, dia mencium penisku.Yan, berani tidak kamu isep?&#8221;, tanyaku menantang. Pertama, dia jilati kepala penisku dengan lidahnya yang mungil. Kemudian, dia mulai berani memasukkan penisku ke dalam mulutnya, walaupun hanya kepala penisku saja, dan dia mulai mengisap maju mundur. Aku merasakan kegelian sekaligus nikmat.Tak beberapa lama, aku mulai bosan dengan hisapannya, aku tahu ini pertama kalinya dia mengisap penis lelaki, dan dia belum begitu mahir melakukannya.</p>
<p style="text-align: justify;">Kemudian, kusuruh dia tidur di tempat tidur, dengan pantat berada di pinggir tempat tidur. Kulepas celana dalammya yang sejak tadi belum dilepas. Dan aku mulai menjilat-jilat vaginanya yang telah kembali menguncup itu. Kujilat cairan putih yang telah mengental di pinggir liang surganya. dia merasakan keenakan dan mulai mendesah keenakan. vaginanya mulai basah kembali oleh ludahku dan kurasakan vaginanya telah membesar.Sebelum dia kembali orgasme, dengan berdiri di atas lututku, aku memasukkan penisku ke dalam vaginanya yang hangat. Belum ada seperempatnya senjataku masuk, dia merasakan pedih. Kusuruh dia memberi air ludahnya di kepala penisku, supaya penisku basah dan mudah masuknya, kemudian kucoba memasukkan lagi, dan dia kembali merintih sakit. Kutenangkan dia dan menyuruhnya untuk rileks, dan aku coba kembali, kali ini aku mencoba menyoblosnya dengan cepat, kutarik pinggulnya ke arahku dan kudorong pantatku ke depan dengan kuat.&#8221;Bless&#8221;. Akhirnya terbenam semua, dan kulihat wajah Eryani yang menahan sakit.</p>
<p style="text-align: justify;">Supaya dia tak lama-lama merasakan sakit, segera kumaju-mundurkan penisku di dalam liang vaginanya. Terasa hangat dan ketat sekali vagina Eryani ini. Lama-kelamaan, genjotan penisku mulai lancar, dan aku sampai memejamkan mataku merasakan keistimewaan vagina Eryani.Kami saling mendesah dan merintih keenakan. Saking cepatnya aku menggenjot, sampai kasur yang ditidurinya ikut bergerak hebat. Lama-kelamaan aku tak tahan lagi, segera kutarik keluar penisku dan mulai menembakkan isinya ke paha Eryani dan ke kasur, aku kocok penisku sendiri dan aku merasakan sensasi yang sangat dahsyat, seluruh tubuhku mengejang, hingga akhirnya seluruh cairan spermaku sudah habis, tapi aku belum merasa capek.Segera aku ke kamar mandi dan membersihkan penisku, dan aku kembali lagi menggenjot Eryani. Kali ini, penisku bertahan lama sekali, hingga Eryani orgasme, aku belum keluar juga. Sampai akhirnya Eryani orgasme yang ketiga kalinya, baru aku ikut Orgasme. Setelah itu, kami berdua tidur dengan nyenyak dengan tubuh telanjang.</p>
<p style="text-align: justify;">Saat ini aku masih sering memikirkan kejadian itu, kok bisa-bisanya dengan mudah aku dapat merengut kegadisan Eryani, mungkin juga memang aku sedang lucky. Tapi, yang penting setelah saat itu aku dapat bebas ber-making love dengan Eryani. Kami berdua suka melakukan eksperimen, mencoba gaya-gaya baru, yang kami lihat dari film BF berdua di kamar Eryani. Eryani mudah sekali terangsang kalau aku sudah mengisap payudara dan vaginanya, apalagi kalau lagi sedang menonton BF. Supaya permainan kami aman, aku dan Eryani suka membeli persediaan kondom.Satu hal yang aku perhatikan, Eryani semakin hebat dalam melakukan hubungan seks, dia mulai pintar melakukan oral seks dan mulai bebas mengeluarkan suaranya ketika dia orgasme, padahal kami melakukannya di kamar kostnya yang hanya di batasi sebuah tembok dengan kamar sebelahnya, dia dengan enaknya berteriak setiap kali dia mencapai orgasme. Pokoknya, hidup serasa nikmat setiap kali aku berhubunga dengannya, apalagi kami dalam berhubungan badan sama-sama gilanya, hampir setiap hari, biasanya sepulang kerja aku mampir ke kostnya dan sebelum pulang pasti dia minta &#8220;ditusuk&#8221; (itu istilah kami berdua).</p>
<p style="text-align: justify;">Pernah suatu saat, aku tidak masuk kerja karena ada urusan keluarga, dan malamnya dia menelepon supaya aku besok datang jam 7.00 ke kantor, karena dia kangen untuk ditusuk dan dia punya surprise untukku.Besoknya, jam 7 pagi aku datang dan dia sudah menunggu di dalam kantornya. Rolling door kantor dibukanya sedikit, dan di dalam kantor, begitu aku masuk, tanpa ba-bi-bu, dia langsung mengulum bibirku, dan menyuruhku duduk, sementara dia duduk di atas meja.Lalu dia menyuruhku menebak, kejutan apa yang dia siapkan untukku. Tentu saja aku tidak tahu, dan aku jawab saja asal-asalan, sampai akhirnya dia kesal sendiri, dan dibukanya rok mini yang dipakainya, tampaklah selangkanganya yang tanpa mengenakan celana dalam dan bersih dari rambut.Ternyata dia mencukur habis semua bulu vaginanya. Aku tentu saja senang melihatnya dan penisku kontan langsung berdiri sampai celanaku terasa sesak sekali. Seperti biasa, sebelum minta ditusuk, dia ingin vaginanya dijilat-jilat dulu olehku. Dan akupun mulai menciumi bibir-bibir vagina yang berwarna kemerahan.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku suka sekali dengan bau khas vaginanya, yang membuatku ingin terus mencium vaginanya. Kujilat-jilat bagian dalam bibirnya, dan mulai kujilat clitorisnya. Kadang kuvariasikan dengan isapan-isapan di clitorisnya. Tidak beberapa lama, setelah vaginanya basah, aku mulai membuka ritsluitingku dan memasukkan penisku ke dalam vaginanya.Kami berdua bercinta atas meja di dalam kantornya. Dia tidak cukup sekali orgasme, dia selalu minta nambah, dan aku selalu dapat memenuhi keinginannya itu. Aku merasa seksi sekali bercinta dengannya di atas meja, apalagi ketika kami melakukan gaya doggy style. Aku dan Eryani di atas meja masih dengan berpakaian lengkap. Kemudian aku duduk di kursi, dan dia menindihku dari atas.Pagi itu, kami sangat puas sekali, sebab selain di kamar kostnya, making love di kantor Eryani baru kali ini kami lakukan dan tidak ketahuan siapa-siapa. Tapi, tentu saja making love di kantor tidak kami lakukan terlalu sering, sebab aku tidak terlalu suka pergi pagi-pagi sekali dari rumah ke kantor.Sampai akhirnya, akhir bulan April, kantor Eryani bangkut, karena ada masalah keuangan dengan penanam modalnya, sehingga semua karyawannya diberhentikan.</p>
<p style="text-align: justify;">Dan ketika Eryani sibuk mencari-cari pekerjaan, tiba-tiba dia mendapat panggilan pekerjaan dari kokonya di Penang.Akhirnya tanggal 26 Mei, Eryani pergi ke Penang. Terus terang, aku merasa sedih sekali atas kepergiannya, dan aku tahu diapun juga merasakan demikian. Tapi apa dayaku, kalau untuk mengawininya, aku belum cukup modal.Jadi, tidak ada alasan bagiku untuk bisa menahannya terus di Jakarta. Sampai saat kepergiaannya, di bandara aku memeluknya dan memberikan ciuman selamat tinggal, sebab dia akan lama sekali tinggal di Penang, dan mungkin tidak akan kembali lagi ke Jakarta. Kalaupun dia balik ke Indonesia, dia akan balik ke Pontianak, tempat ayah ibunya berada.</p>
<p style="text-align: justify;">TAMAT</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ceritasex.cn/hanya-cinta-sesaat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>TANTE ANNE</title>
		<link>http://www.ceritasex.cn/tante-anne/</link>
		<comments>http://www.ceritasex.cn/tante-anne/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 12 Dec 2011 22:18:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cerita Sex</dc:creator>
				<category><![CDATA[anal seks]]></category>
		<category><![CDATA[Ekshibionis]]></category>
		<category><![CDATA[Paruh baya]]></category>
		<category><![CDATA[Sedarah]]></category>
		<category><![CDATA[Seks Umum]]></category>
		<category><![CDATA[selingkuh]]></category>
		<category><![CDATA[Tante Girang]]></category>
		<category><![CDATA[amoy]]></category>
		<category><![CDATA[anus]]></category>
		<category><![CDATA[chinese]]></category>
		<category><![CDATA[kontol]]></category>
		<category><![CDATA[memek]]></category>
		<category><![CDATA[ngentot]]></category>
		<category><![CDATA[sex liar]]></category>
		<category><![CDATA[tante anne]]></category>
		<category><![CDATA[vagina]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ceritasex.cn/?p=3195</guid>
		<description><![CDATA[Cerita ini terjadi saat aku masih berusia 16 tahun, dan masih bersekolah di salah satu SMA di Medan. Namaku Chris, aku peranakan  Canada-Chinese. Papaku berasal dari Canada, dan Mamaku Chinese  Indonesia. Kata teman-teman wajahku sih lumayan ganteng, ehmm. Tinggiku 180 cm, nggak begitu tinggi dibandingkan dengan Papa yang 185 cm. Aku lahir di Canada, tapi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Cerita ini terjadi saat aku masih berusia 16 tahun, dan masih bersekolah di salah satu SMA di Medan. Namaku Chris, aku peranakan  Canada-Chinese. Papaku berasal dari Canada, dan Mamaku Chinese  Indonesia. Kata teman-teman wajahku sih lumayan ganteng, ehmm. Tinggiku 180 cm, nggak begitu tinggi dibandingkan dengan Papa yang 185 cm. Aku lahir di Canada, tapi sewaktu umur 10 tahun, Papa ditugaskan ke Medan, Indonesia. Jadi aku juga ikut, dan bersekolah di sana. Mula-mula terasa asing juga kota ini bagiku. Tapi lama kelamaan aku juga dapat terbiasa. Terus terang, pemikiranku lebih condong kepada pemikiran-pemikiran Timur, mungkin karena didikan Mama yang keras. Biarpun di negara-negara Barat sudah biasa terjadi hubungan seks remaja, namun aku belum pernah melakukannya dengan pacarku, well&#8230; at least pada saat itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Hari kedua di Jakarta, aku minta diantar oleh supir ke rumah Tante Anne. Rumahnya ter nggak jumpa. Wajahnya masih saja sama seperti yang dulu, seakan dia tidak bertambah tua sedikitpun. &#8220;Oh yah&#8230; tuh supirnya disuruh pulang saja Chris&#8230; ntar kamu bawa saja mobil Tante kalau mau pulang&#8221;, aku pun mengiyakan, dan menyuruh pulang supirnya.&#8221;Wah&#8230; besar sekali rumahnya yah Tante&#8221;, kataku sewaktu kami memasuki ruang tamu. Aku dengar dari Mama sih, katanya suaminya Tante Anne ini anak salah seorang konglomerat Jakarta, jadi nggak heran kalau rumahnya semewah ini. Setelah itu kami ngobrol-ngobrol, dia menanyakan keadaan Mama, Papa dan kakek. Tante Anne juga sudah lama tidak bertemu dengan Mama. Lumayan lama kami ngobrol, setelah itu dia mengajakku untuk makan malam.&#8221;Makan dulu yuk Chris&#8230; tuh sudah disiapin makanannya sama si Ning&#8221;, katanya menunjuk ke pembantunya yang sedang menghidangkan makanan di meja makan.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Kita nggak nunggu Om Joe?&#8221; aku menanyakan suaminya.&#8221;Oh&#8230; nggak usah, Om mu nggak pulang malam ini katanya&#8221;,&#8221;Oh&#8230; ok deh&#8221;, kataku sambil beranjak ke ruang makan. Rumah sebesar ini cuma dihuni sendirian dengan pembantunya. Berani juga Tanteku ini.&#8221;Kamu berani pulang entar Chris? sudah malem loh ini&#8221;, katanya sambil melirik ke jam dinding yang sudah menunjukkan jam 7 lewat 30 menit.&#8221;Ah berani kok Tante&#8230;&#8221;"Hmm&#8230; mending kamu tidur di sini saja deh malem ini&#8230; tuh ada kamar kosong di atas.&#8221;"Umm&#8230; iyah deh&#8230; ntar aku telepon ke Kakek kalau gitu&#8221;, dalam hati, aku mengira bahwa Tanteku ini menyuruhku menginap karena dia takut sendirian di rumah, sama sekali tidak ada pikiran negatif dalam otakku sewaktu aku mengiyakan tawarannya.Sehabis makan, aku pun menelepon ke rumah kakek, dan memberitahu bahwa hari ini aku menginap di rumah Tante Anne.&#8221;Oh iyah&#8230; kalau kamu mau mandi air panas, pakai saja kamar mandi Tante. Ntar kamu pakai saja bajunya Om Joe. Yuk sini!&#8221;"He&#8230; eh&#8221;, aku mengangguk sambil mengikutinya.</p>
<p style="text-align: justify;">Kamar mandi yang dimaksud terletak di dalam kamarnya. Kamarnya benar-benar mewah dan besar. Dengan tempat tidur ukuran double di tengah-tengah ruangan, mini theatre set, dan sebuah kamar mandi di sudut ruangan.&#8221;Nih&#8230; coba&#8230; bisa pakai nggak kamu?&#8221; dia memberikan T-shirt dan celana pendek kepadaku.&#8221;Bisa kayaknya&#8221;, aku pun mengambil pakaian itu dan membawanya ke kamar mandi. Sehabis dari kamar mandi, aku sempat sedikit kaget melihat Tante Anne. Dia mengenakan baju tidur tipis, tidur tengkurap di atas tempat tidur. Kelihatan dengan jelas celana dalamnya, tapi aku tidak melihat tali BH di punggungnya. Terangsang juga aku melihat pemandangan seperti itu. Kelihatannya ia tertidur saat menonton TV. TV-nya masih menyala. Aku berjalan ke arah TV, bermaksud mematikannya. Melihat adegan panas yang sedang berlangsung di TV, mendadak aku terdiam pas di depan TV. Kulihat ke belakang, Tante Anne masih tidur. Aku berdiri menonton dulu, sekedar iseng. 5 menit lagi ah baru kumatikan, begitu pikiranku saat itu.<br />
<span id="more-3195"></span><br />
&#8220;Hey&#8230;&#8221; saat aku sedang asyik menonton, tiba-tiba terdengar teguran halus Tante Anne, diikuti oleh tawa tertahannya. Aku benar-benar malu sekali waktu itu. Aku berbalik ke belakang sambil tersenyum malu-malu. Waktu aku berbalik, kulihat Tante Anne sudah duduk tegak di atas tempat tidur. Samar-samar terlihat puting susunya dari balik baju tidurnya yang tipis.&#8221;Kirain Tante sudah tidur&#8230; hehe&#8221;, kataku asal-asalan sambil berjalan hendak keluar dari kamar.&#8221;Chris&#8230; bisa tolong pijitin badan Tante? Pegel nih semua&#8221;, terdengar suara helaan nafas panjang, dan suara kain jatuh ke lantai. Saat aku berbalik hendak menjawab, kulihat Tante Anne sudah kembali tidur tengkurap di tempat tidur, tapi kali ini tanpa baju tidur, satu-satunya yang masih dikenakannya adalah celana dalamnya.&#8221;Ya&#8230;&#8221; hanya itu saja yang bisa keluar dari mulutku. Aku pun berjalan ke arah Tante Anne. Sedikit canggung, kuletakkan tanganku di atas bahunya. &#8220;Engghh&#8230;&#8221; terdengar dia mengerang perlahan.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Om Joe kapan pulangnya Tante?&#8221; kuatir juga aku ketauan oleh suaminya.&#8221;Emm&#8230; mungkin minggu depan&#8230; nggak tau deh&#8230; kalau Om mu sih&#8230; jarang di rumah. Mungkin seminggu pulang sekali&#8221;, dalam hatiku merasa kasihan juga kepada Tante Anne. Pantas saja dia merasa kesepian. &#8220;Fhhuuuhh&#8230;&#8221; kembali terdengar helaan nafas panjang. &#8220;Kamu sudah punya pacar Chris?&#8221; tanyanya memecah keheningan.&#8221;Yah&#8230; di Medan.&#8221;"Hehehe&#8230; cantik nggak Chris?&#8221; Tante Anne memang dari dulu senang bercanda. Sangat berbeda dengan ibuku yang kadang bersikap agak tertutup, Tante Anne adalah penganut kebebasan Barat. Aku hanya tersenyum saja menjawab pertanyaannya. &#8220;Turun dikit Chris!&#8221; aku pun menurunkan pijatanku dari bahu ke punggungnya. &#8220;Kamu duduk saja di atas pantat Tante&#8230; supaya bisa lebih kuat pijitannya.&#8221;Aku yang semula mengambil posisi duduk di sampingnya, sekarang duduk di atas pantatnya. &#8220;Unghh&#8230; berat kamu&#8221;, mendengus tertahan dia waktu kududuk di atasnya.&#8221;Hehehe&#8230; tapi katanya suruh duduk di sini&#8221;, cuek saja aku melanjutkan pijatanku.</p>
<p style="text-align: justify;">Penisku sudah terasa menegang sekali, sesekali kutekan kuat-kuat penisku ke pantat Tante Anne. Walaupun aku masih memakai celana lengkap, namun sudah terasa nikmat dan hangat sewaktu penisku kutekan ke pantatnya.&#8221;Iiihh&#8230; nakal ya&#8230; bilangin Mama kamu lho&#8221;, katanya sewaktu merasakan penisku menekan-nekan pantatnya.&#8221;Sudah belom Tante? sudah cape nih&#8221;, kataku setelah beberapa menit memijat punggungnya.&#8221;Iyah&#8230; kamu berdiri dulu deh&#8230; Tante mau balik&#8221;, aku berdiri, dan Tante Anne sekarang berbalik posisi. Sekarang aku bisa melihat wajahnya yang cantik dengan jelas, payudaranya yang masih kencang itu berdiri tegak di hadapanku. Puting susunya yang merah kecoklatan terlihat begitu menantang. Aku sampai terbengong beberapa detik dibuatnya.&#8221;Hey&#8230; pijit bagian depan dong sekarang&#8221;, katanya.Aku duduk di atas pahanya, kuremas dengan lembut kedua payudaranya. Lalu kupuntir-puntir puting susunya dengan jari-jariku. &#8220;Ihh&#8230; geli&#8230; hihihihi&#8230;&#8221; dia cekikikan. Aku benar-benar sudah tidak bisa mengendalikan nafsuku lagi.</p>
<p style="text-align: justify;">Sekarang ini yang ada dalam otakku hanyalah bagaimana memuaskan Tante Anne, memberinya kepuasan yang selama ini jarang ia dapatkan dari suaminya. Rasa kasihan akan Tante Anne yang telah lama merindukan kehangatan laki-laki bercampur dengan nafsuku sendiri yang sudah menggelora. Aku menarik celana dalamnya dengan agak kasar. Kulihat dia hanya diam saja sambil memejamkan matanya pasrah. Kuakui inilah pertama kalinya aku melihat wanita telanjang secara nyata. Tapi agaknya aku tidak begitu canggung, sepertinya aku melakukan semuanya dengan begitu alamiah. Tante Anne membuka lebar kedua pahanya begitu celana dalamnya kulepas. Kulihat dengan jelas vaginanya dengan bulu-bulu halus yang dicukur dengan rapi membentuk segitiga di sekitarnya. &#8220;Sudah sering beginian yah kamu Chris?&#8221; tanyanya heran juga melihat aku begitu mantap.&#8221;Ehh&#8230; nggak kok&#8230; baru sekali Tante&#8221;, nafasku sudah memburu, kata-kata pun sudah sulit kuucapkan dengan tenang. Kulihat nafas Tante Anne juga sudah mulai memburu, berkali-kali ia menarik nafas panjang untuk menenangkan diri.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Jilatin dong Chris!&#8221; katanya memelas. Mulanya aku ragu-ragu juga, tapi kudekatkan juga kepalaku ke vaginanya. Tidak ada bau tidak enak sama sekali, Tante Anne rajin menjaga kebersihan vaginanya aku kira. Kujulurkan lidahku menjilati dari bawah menuju ke pusar. Beberapa menit aku bermain-main dengan vaginanya. Tante Anne hanya bisa mengerang dan menggelinjang kecil menahan nikmat. Kulihat ia meremas sendiri buah dadanya dan memuntir-muntir sendiri puting susunya. Aku berdiri sebentar, melepaskan semua pakaianku. Bengong dia melihat penisku yang 18 cm itu. Aku cuma tersenyum kepadanya, dan melanjutkan menjilati vaginanya. Beberapa saat kemudian ia meronta dengan kuat.&#8221;aahh&#8230; ohh God&#8230; aargghh&#8230;&#8221; bagaikan gila, dia menjepit kepalaku dengan pahanya, lalu menekan kepalaku supaya menempel lebih kuat lagi ke vaginanya dengan dua tangannya. Aku susah bernafas dibuatnya.&#8221;Lagi&#8230; arghh&#8230; clitorisnya Chriss&#8230; ssshh&#8230; yah&#8230; yah&#8230; lagi&#8230; oooohh&#8230;&#8221; semakin menggila lagi dia ketika aku mengulum clitorisnya, dan memainkannya dengan lidahku di dalam mulut.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku memasukkan lidahku sedalam-dalamnya ke dalam lubang vaginanya. Bau cairan kewanitaan semakin keras tercium. vaginanya benar-benar sudah basah. Tiba-tiba dia menjambak rambutku dengan kuat, dan menggerakkan kepalaku naik turun di vaginanya dengan cepat dan kasar. Lalu ia menegang, dan tenang. Saat itu juga aku merasa cairan hangat semakin banyak mengalir keluar dari vaginanya. Aku jilati semuanya.&#8221;Ohh&#8230; God&#8230; bener-benar hebat kamu Chris&#8230; lemas Tante&#8230; aahh&#8230; nggak kuat lagi deh untuk berdiri&#8230; shitt&#8230; sudah lama nggak begini&#8221;, dia terbujur lemas setelah 1/2 jam yang melelahkan itu. Aku cuma tersenyum. Perlahan kutarik kedua kakinya ke tepi tempat tidur, kubuka pahanya selebar-lebarnya dan kujatuhkan kakinya ke lantai. Vaginanya sekarang terbuka lebar. Nampaknya ia masih terbayang-bayang atas peristiwa tadi dan belum sadar atas apa yang kulakukan sekarang padanya. Begitu ia sadar penisku sudah menempel di bibir vaginanya.&#8221;Ohh&#8230;&#8221; ia cuma bisa menjerit tertahan.</p>
<p style="text-align: justify;">Lalu ia pura-pura meronta tidak mau. Aku juga tidak tahu bagaimana cara memasukkan penisku ke dalam vaginanya. Aku sering lihat di film-film, dan mereka melakukannya dengan mudah. Tapi ini sungguh berbeda. Lubangnya sangat kecil, mana mungkin bisa masuk pikirku. Tiba-tiba kurasakan tangan Tante Anne memegang penisku dan membimbing penisku ke vaginanya.&#8221;Tekan di sini Chris&#8230; pelan-pelan yah&#8230; punya kamu gede banget sih&#8221;, pelan ia membantuku memasukkan penisku ke dalam vaginanya. Belum sampai seperempat bagian yang masuk ia sudah menjerit kesakitan.&#8221;Aahh&#8230; sakitt&#8230; oooh&#8230; pelan-pelan Chris&#8230; aduuh&#8230;.&#8221; tangan kirinya masih menggenggam penisku, menahan laju masuknya agar tidak terlalu deras. Sementara tangan kanannya meremas-remas kain sprei, kadang memukul-mukul tempat tidur. Aku merasakan penisku diurut-urut di dalam vaginanya. Aku berusaha untuk memasukkan lebih dalam lagi, tapi tangan Tante Anne membuat penisku susah untuk masuk lebih ke dalam lagi. Aku menarik tangannya dari penisku, lalu kupegang erat-erat pinggulnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Kemudian kudorong penisku masuk sedikit lagi. Aduhh&#8230; sakkkitt&#8230; ooohh&#8230; ssshh&#8230; lagi&#8230; lebih dalam Chriss&#8230; aahh&#8221;, kembali Tante Anne mengerang dan meronta. Aku juga merasakan kenikmatan yang luar biasa, tak sabar lagi kupegang erat pinggulnya supaya ia berhenti meronta, lalu kudorong sekuatnya penisku ke dalam. Kembali Tante Anne menjerit dan meronta dengan buas. Aku diam sejenak, menunggu dia supaya agak tenang. &#8220;Goyang dong Chris&#8221;, dia sudah bisa tersenyum sekarang. Aku menggoyang penisku keluar masuk di dalam vaginanya. Tante Anne terus membimbingku dengan menggerakkan pinggulnya seirama dengan goyanganku. Lama juga kami bertahan di posisi seperti itu. Kulihat dia hanya mendesis, sambil memejamkan mata.Tiba-tiba kurasakan vaginanya menjepit penisku dengan sangat kuat. Tubuh Tante Anne mulai menggelinjang, nafasnya mulai tak karuan, dan tangannya meremas-remas payudaranya sendiri.&#8221;Ohh&#8230; ooohh&#8230; Tante sudah mau keluar nih&#8230; sshh&#8230; aahh&#8221;, goyangan pinggulnya sekarang sudah tidak beraturan.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Kamu masih lama nggak Chris? Kita keluar bareng saja yuk&#8230;. aahh&#8221;, tak menjawab, aku mempercepat goyanganku. &#8220;Aahh&#8230; shitt&#8230; Tante keluar Chrisss&#8230; ooohh&#8230; gile&#8221;, dia menggelinjang dengan hebat, kurasakan cairan hangat keluar membasahi pahaku. Aku semakin bersemangat menggenjot. Aku juga merasa bahwa aku bakal keluar tidak lama lagi.&#8221;Aahh&#8230; sshh&#8230;&#8221; kusemprotkan saja cairanku ke dalam vaginanya. Lalu kucabut penisku, dan terduduk di lantai.&#8221;Kamu hebat&#8230; sudah lama Tante nggak pernah klimaks.&#8221;"aah&#8230; capek Tante.&#8221;"Mandi lagi yuk&#8230; lengket-lengket nih jadinya&#8221;, ia berjalan ke kamar mandi dan aku mengikutinya. Kami saling membersihkan tubuh di bawah siraman shower. Setelah mandi, kami tidur-tiduran tanpa busana, berciuman, sambil ngobrol macem-macem. VCD porno yang tadi sudah habis rupanya. Tante Anne menggantinya dengan VCD yang lain.&#8221;Eh&#8230; yang ini bagus loh Chris&#8221;, lalu ia menghidupkannya. Filmnya tentang seorang gadis yang diperkosa, sedikit sadis menurutku, tapi sangat merangsang sekali.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Tante sudah lama kepengen coba yang seperti itu Chris&#8230; kalau Om mu sih&#8230; nggak ada seninya&#8230; taunya cuman goyang, nembak, tidur&#8230; susah juga hahaha&#8230; kamu mau coba nggak?&#8221; dia tersenyum melihatku.&#8221;Hehehe&#8230; terserah&#8230;&#8221;"Ok!&#8221; lalu ia berjalan ke lemarinya. Sewaktu ia membukanya, aku terkejut juga melihat begitu banyak Sex Stuff seperti vibrator, tali, handcuff, dan banyak lagi.&#8221;Wah&#8230; banyak amat peralatannya Tante&#8221;, kataku bercanda.&#8221;He eh&#8230; yah beginilah&#8230; soalnya Om kamu jarang pulang sih. Tante kan butuh seks juga. Yah&#8230; terpaksa harus bermain dengan fantasi sendiri.&#8221;"Hehehe&#8221;, aku cuma tertawa kecil. Kulihat ia mengambil tali dari lemari.&#8221;Nih&#8230; kerjain Tante seperti yang di film itu dong Chris!&#8221; ia melemparkan tali itu kepadaku dan berjalan ke arah tempat tidur. Tempat tidur itu bergaya Eropa pertengahan, mempunyai pagar rendah berjeruji di sisi atas dan bawah. Ia memegang pagar berjeruji itu. Aku mengikat tangannya di jeruji itu, ia sekarang membungkuk membelakangiku dengan tangan terikat.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku berjongkok dan mulai menjilati vaginanya untuk pemanasan.&#8221;Sssh&#8230; oouhh&#8230;&#8221; kembali kudengar erangannya. Setelah beberapa saat vaginanya mulai basah. &#8220;Pakai vibrator Chris!&#8221; aku berjalan ke lemari dan mengambil vibrator yang berbentuk seperti penis manusia itu. Hati-hati kumasukkan vibrator itu ke dalam vaginanya, lalu kugeser switch ke posisi &#8220;low&#8221;. Terdengar vibrator itu mulai berdengung halus.&#8221;Ouuh&#8230; aahh&#8230;&#8221; kelihatannya Tante Anne sangat menikmati permainan.Tempo permainan sangat lambat kali ini. Ia menggelinjang sedikit mengiringi dengungan halus vibrator. Sambil sebelah tanganku memegangi vibrator supaya tidak lepas dari vaginanya, aku memberinya tepukan di paha, memberinya tanda agar ia membuka pahanya selebar-lebarnya. &#8220;Jilat anus Tante Chris!&#8221; kembali ia memberi komando. Aku mulai menjilati pahanya yang putih dan jenjang, perlahan berpindah ke anus. Bosan menjilati anusnya, aku berdiri, memeluknya dari belakang, dan meremas payudaranya dengan sebelah tanganku yang masih bebas. Beberapa saat kemudian ia orgasme.</p>
<p style="text-align: justify;">Lalu ia menyuruhku memasukkan penisku ke dalam lubang anusnya. Aku sempat terkejut mendengarnya. Menurutku pasti akan sakit sekali penisku dijepit oleh lubang anusnya. Tetapi Tante Anne terus-terusan meminta dengan suara yang memelas.&#8221;Tante sudah pernah nyoba?&#8221; tanyaku ragu-ragu.&#8221;Pernah&#8230; pakai vibrator&#8230; cobain saja deh&#8230; lebih sempit loh di sini&#8230; Tante kepingin nyoba dimasukin 2 lubang sekaligus.&#8221;"Ok!&#8221; aku kembali membungkuk, kujilat bagian sekitar anusnya untuk melicinkannya. Kulihat Tante Anne merintih-rintih ketika vibrator kugoyang agak cepat, tetapi ia tidak bisa banyak meronta karena tangannya masih terikat kuat ke jeruji tempat tidur. Setelah merasa jalan masuk cukup licin aku pun mengambil ancang-ancang, kugesek-gesekkan dulu kepala penisku di sekitar anusnya.&#8221;Yahh.. langsung saja Chriss&#8221;, Tante Anne yang sudah tidak sabar, memundur-mundurkan pantatnya agar penisku bisa segera masuk ke dalam lubang anusnya. Kutarik vibrator yang masih saja berdengung itu dari belakang, supaya pantat Tante Anne makin menempel ke kepala penisku.</p>
<p style="text-align: justify;">Akibatnya vibrator itu melesak makin dalam ke vaginanya Tante Anne. &#8220;Aahh&#8230; ooohh&#8230; sshh&#8230;&#8221; semakin menggila saja dia. Pelan kudorong kepala penisku ke dalam lubang anusnya.Kepala penisku terasa sedikit pedih, aku menghentikan dorongannya sejenak. &#8220;Oooohh&#8230; yahh&#8230; terussss&#8230; deeper Chriss&#8230;.&#8221;"Sssshh&#8230; oooohh&#8230;&#8221; aku hanya bisa mendesis menahan pedih yang bercampur nikmat ketika penisku masuk kira-kira setengah bagian ke dalam lubang anusnya. Menurutku masuk melalui lubang anus tidak begitu nikmat, karena tidak ada cairan yang melicinkannya. Tapi kulihat Tante Anne bagaikan sedang terbang sekarang. Nikmat sekali katanya. Kukira itu karena dua lubangnya sedang terisi. Tante Anne terus saja menggoyang-goyang pinggulnya kebelakang supaya penisku dapat masuk lebih dalam ke dalam lubang anusnya. Aku tidak dapat menahan lagi goyangannya, kubenamkan sekuat tanaga penisku ke dalam anusnya. Rasanya seperti penisku sedang di massage dengan kuat di dalam. Tanpa sadar, karena menahan nikmat tanganku menggoyang-goyangkan vibrator itu dengan kencang.</p>
<p style="text-align: justify;">Tempo permainan berubah menjadi liar sekarang. Tangan Tante Anne mencengkeram jeruji tampat tidur dan menggoyangnya karena nikmat yang tak terkira. Aku mencoba menggoyang penisku di dalam anusnya. Memang sedikit pedih karena kurangnya cairan pelicin di dalam anusnya, tapi aku tidak peduli lagi. Sesekali kugunakan tangan kiriku untuk meremas payudaranya yang tergantung-gantung itu. Beberapa saat kemudian aku merasa mau orgasme.&#8221;Aahh&#8230; oouuhh&#8230; Tante sudah mau keluar belum?&#8221; tanyaku dengan nafas memburu.&#8221;Engggh&#8230; sssssh&#8230; iyah&#8230;&#8221;Kurasakan Tante Anne semakin menggila menggoyang pinggulnya. Kemudian dia tubuhnya menegang, kemudian terkulai lemas. Aku pun merasa maniku sudah di ujung-ujungnya. Kupercepat goyangan, kuremas payudaranya dengan kasar, dan kukocok vibratornya lebih cepat lagi. Kulihat Tante Anne menjerit-jerit, tapi ia tak bisa berbuat banyak karena tangannya terikat dengan kuat.&#8221;Arrrgghh&#8230; ooohh&#8230;&#8221; seiring dengan eranganku, kusemprotkan maniku ke dalam anusnya. Kali ini kurasakan maniku keluar banyak sekali.</p>
<p style="text-align: justify;">Lalu kucabut penisku dari dalam anusnya, dan kucabut vibrator dari vaginanya. Sekilas kulihat vagina dan anusnya merah sekali dan sedikit membengkak. Kubuka ikatan tangannya dan dia memeluk serta menciumiku. Lalu kami berdua tertidur di lantai.Pengalaman ini tak akan pernah kulupakan. Sampai sekarang kami kadang-kadang masih melakukannya. Tante Anne benar-benar seorang seks maniak yang tak bisa puas, setiap kali berhubungan selalu ada saja cara-cara baru yang ia ajarkan. Kukira ini juga mempengaruhi tingkah laku seksualku. Sampai sekarang aku senang melakukan hubungan seks dengan fantasi tinggi, seperti menggunakan tali, cambuk, handcuff, dan sebagainya. Aku menjadi senang menyiksa lawan mainku. Sepertinya puncak kenikmatanku sulit tercapai kalau aku tidak melakukannya.</p>
<p style="text-align: justify;">TAMAT</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ceritasex.cn/tante-anne/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Binalnya Tante Ida</title>
		<link>http://www.ceritasex.cn/binalnya-tante-ida/</link>
		<comments>http://www.ceritasex.cn/binalnya-tante-ida/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 16 Nov 2011 20:00:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cerita Sex</dc:creator>
				<category><![CDATA[Paruh baya]]></category>
		<category><![CDATA[Pemerkosaan]]></category>
		<category><![CDATA[Seks Umum]]></category>
		<category><![CDATA[Tante Girang]]></category>
		<category><![CDATA[bercinta]]></category>
		<category><![CDATA[binal]]></category>
		<category><![CDATA[bokep]]></category>
		<category><![CDATA[cuki]]></category>
		<category><![CDATA[isep kontol]]></category>
		<category><![CDATA[kontol]]></category>
		<category><![CDATA[ml]]></category>
		<category><![CDATA[ngentot]]></category>
		<category><![CDATA[seks]]></category>
		<category><![CDATA[tante ida]]></category>
		<category><![CDATA[vagina]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ceritasex.cn/?p=3177</guid>
		<description><![CDATA[Aku sedang berlibur di kota Bandung, nginap dirumah Om ku adik mama yang paling kecil. Mereka memang 7 bersaudara dan mamaku yang paling tua, aku saat itu berumur 20 tahun dan omku berumur 35 tahun. Istri om ku, tante Ida berumur 27 tahun, orangnya sangat cantik dan mempunyai tubuh yang mungil tapi padat. Pantatnya bebar-benar [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Aku sedang berlibur di kota Bandung, nginap dirumah Om ku adik mama yang paling kecil. Mereka memang 7 bersaudara dan mamaku yang paling tua, aku saat itu berumur 20 tahun dan omku berumur 35 tahun. Istri om ku, tante Ida berumur 27 tahun, orangnya sangat cantik dan mempunyai tubuh yang mungil tapi padat. Pantatnya bebar-benar montok dengan pinggang yang ramping dan perut yang datar, maklum mereka belum mempunyai anak, biarpun sudah kawin hampir 3 tahun. Akan tetapi tante Ida yang cantik itu, orangnya sangat judes, dia tidak memandang mata keluargaku, maklum kami hanya biasa-biasa saja, sedangkan tante Ida datang dari keluarga yang sangat kaya di kota Surabaya, dia hanya 2 bersaudara dan Ida adik perempuannya yang berumur 22 tahun, masih kuliah di ITB dan tinggal dirumah om dan tante Ida di Bandung. Selama aku berada dirumah om ku ini, hampir setiap hari tante Ida mengomel saja, karena dia memang sangat benci kalau aku menginap dirumah mereka. Disamping aku memang termasuk anak yang bandel, biarpun secara postur tubuh, aku sudah kelihatan sangat dewasa, karena tinggi badanku 175 cm dengan tubuh yang berotot, tante Ida curiga saja dan menganggap aku sering menerima duit dari om ku, pada hal sangat jarang om ku memberi aku duit.</p>
<p style="text-align: justify;">Saat ini aku nginap di rumah mereka, sebenarnya hanya terpaksa saja, karena aku sedang berlibur di Bandung dan ibuku memberitahukan kepada om ku yang memaksa aku tinggal dirumahnya. Hari ini entah mengapa aku merasa suntuk banget sendirian, kemarin sore sebelum om ku pulang dari kantor, tante Ida marah-marah dan menunjukan muka cemberut terhadap saya. Saat itu rumah berada dalam keadaan sepi, om sudah pergi kekantor, Mbak Ani adik tante Ida sedang pergi kuliah, Bik Suti lagi pergi ke pasar, dan tante Ida katanya mau pergi ke arisan. Tadi sebelum pergi dengan nada yang setengah membentak, tante Ida menyuruh saya menjaga rumah. &#8220;Dari pada BT sendiri, mending nonton BF aja di kamar,&#8221; pikirku. TV mulai kunyalakan, kuambil CD porno yang kemarin kupinjam ditempat persewahan dekat rumah, adegan-adegan panas nampak di layar. Mendengar desahan-desahan artis BF yang cantik dan bahenol tersebut membuat aku terangsang. Dengan lincahnya tanganku melucuti celana beserta CD-ku sendiri. Burungku yang sedari tadi tegak mengacung kukocok perlahan.</p>
<p style="text-align: justify;">Film yang kutonton itu cukup panas, sehingga aku menjadi semakin bergairah. Kutanggalkan pakaian yang masih melekat, akhirnya tubuhku tanpa ada penutup sekalipun. Kocokan tanganku semakin cepat seiring dengan makin panasnya adegan yang kutonton. Kurasakan ada getaran dalam kontolku yang ingin meyeruak keluar. Aku mau orgasme, tiba-tiba… &#8220;Anton.. apa yang kamu lakukan!!&#8221; teriak sebuah suara yang aku kenal. &#8220;Ooooohh… Tante…?!&#8221; aku kaget setengah mati dan sangat bingung sekali saat itu. Tak kusangka tante Ida yang katanya mau pergi arisan bisa kembali secepat itu. Tanpa sadar aku bangkit berdiri dan kudekati tante Ida yang cantik tapi judes itu, yang masih berdiri dalam keadaan kaget dengan mata membelalak melihat keadaanku yang telanjang bulat dengan kontolku yang panjang dan besar dalam keadaan tegang itu. Tiba-tiba entah setan mana yang mendorongku, secara refleks saja aku menyergap dan mendekap tubuh tante Ida yang mungil padat itu. Badannya yang mungil dan tingginya yang hanya sampai sebahu dari ku, ku bekap dengan kuat dan kutarik agak keatas, sehingga tante Ida hanya berdiri dengan ujung jari kakinya saja dengan kepala agak tertengadah keatas, karena kaget. Dengan cepat kucium dan kulumat bibir tipisnya yang seksi.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Eeeehhhh… ppppffffff…!!! badan tante Ida seketika mengejang dan agak menggeliat menerima perlakuan yang tidak pernah dia sangka akan berani aku lakukan itu dan sesaat kemudian dia mulai memberontak dengan hebat, sehingga ciumanku terlepas….<br />
<span id="more-3177"></span><br />
&#8220;Anton.. jangan kurang ajar.. berani benar kau ini.. ingat, Toonnn.. Aku ini istri om mu…!!! Cepat lepas… nanti kulaporkan kau ke om mu…&#8221; teriak tante Ida dengan suara garang mencoba mengancamku. Aku tak lagi peduli, salah tante Ida sendiri sih, orang mau orgasme kok diganggu. Dengan buasnya aku jilat belakang telinga dan tengkuknya, kedua payudaranya yang biarpun tidak terlalu besar, tapi padat itu langsung kuramas-ramas dengan buas, sampai tante Ida menjerit-jerit. Disamping nafsuku yang memang sudah menggila itu, ada juga rasa ingin balas dendam dan mau mengajar adat padanya atas perlakuan dan pandangannya yang sangat menghina padaku. Dia mencoba berteriak, tapi dengan cepat aku segera menciumnya lagi. Ada kali 10 menit aku melakukan hal itu, sementara tante Ida terus meronta-ronta, dan mengancamku serta mencaci maki, entah apa saja yang dikatakannya, aku sudah tidak memperdulikannya lagi.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku terus menyerangnya dengan buas dan mengelus-elus dan meramas-ramas seluruh tubuhnya sambil terus mencium mulutnya dengan rakus. Dia tidak dapat melepaskan diri dari dekapanku, karena memang tubuhku yang tinggi 175 cm dengan badan yang atletis dan berotot, tidak sebanding dengan tubuh tante Ida yang 155 cm dan mungil itu. Akibat seranganku yang bertubi-tubi itu, lama kelamaan kurasakan tidak ada lagi perlawanan dari tante Ida, entah karena dia sudah lelah atau mungkin dia mulai terangsang juga. Merasa sudah tidak ada perlawanan lagi dari tante Ida, kontolku yang panjang dan besar yang sudah sangat tegang itu kugosok-gosok pada perutnya dan kemudian kuraih tangannya yang mungil dan kuelus-elus ke kontolku, tangan mungilnya kugosok-gosok, mengocok kontolku yang mulai mengeras. Tubuhnya terasa mengejang, akan tetapi kedua matanya masih terpejam, dan tidak ada perlawanan darinya. Kemudian ketika dengan perlahan kubuka baju tante Ida, dia dengan lemah masih mencoba menahan tanganku, akan tetapi tanganku yang satu mengunci kedua tangannya dan tanganku yang lain membuka satu demi satu kancing-kancing blusnya, dan perlahan-lahan mempertontonkan keindahan tubuh di balik kain itu. Setelah berhasil membuka blus dan BH-nya, kuturunkan ciumanku menuju ke payudara tante Ida yang padat berisi…</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Tooonnnn… aaammmpuunn… Toonnnnn… iiii.. iiingaaattttt.. Tooonnn..!!!&#8221; Kucium dan kulumat putingnya yang berwarna kecoklatan itu. Terkadang kugigit dan kupuntir putingnya, sementara kusingkap roknya dan jari-jariku mulai mengelus-elus kemaluannya yang masih tertutup CD. &#8220;Iiiiiiiiii…..ooohhhhhhh…..aaaagggghhhhhh……..ssssshhhhhhh……..Toooonnnnn……! !!!!&#8221; akibat perlakuanku itu, kayaknya tante Ida mulai terangsang juga, itu terasa dari tubuhnya yang mengejang kaku dan dengusan nafasnya makin terdengar kuat. Aku makin memperhebat seranganku dan tiba-tiba tubuh tante Ida bergetar dengan kuat dan…….. &#8220;Aaaahhhhhh..Toooonnnn…jaaa..jaaa angaaannn….Tooonnnn……iiii…ngaaaatttt.. Tooo nnn… oooohhhhhhh…………aaaaaggggghhh…aaaaggghhh .aaaaggggggggghhhhh…!!!!!&#8221; akhirnya, disertai tubuhnya yang mengejang dan menggeliat-geliat kuat, serta kedua tangannya mendekap punggung ku….Seerrr.. cairan kewanitaan tante Ida membasahi CD nya sekalian jemariku. Setelah masa orgasmenya berlalu, terasa badan tante Ida melemas terkulai dalam dekapanku dan kedua matanya masih terpejam rapat, entah perasaan apa yang sedang bergelora dalam tubuhnya, puas, malu atau putus asa akibat perlakuanku terhadap nya , sehingga dia mencapai orgasme itu. Tarikan nafasnya masih terengah-engah.</p>
<p style="text-align: justify;">Kami terdiam sejenak, sementara tubuh tante Ida bersandar lemas dalam dekapanku dengan mata. Jemari lentik tante Ida masih menggenggam kontolku yang masih tegak mengacung. Akhirnya secara perlahan-lahan kepala tante Ida menengadah keatas dan terlihat pandangan matanya yang sayu menatapku, sehingga menambah kecantikan wajahnya dan secara lembut terdengar suaranya… &#8220;Oooohhhh….Toonnnn, apa yang kau perbuat pada tantemu ini…….?????&#8221; &#8220;Eeeehhmmm…maafkan Anton tante….Anton lupa diri….abis tante tadi masuk tiba-tiba selagi Anton akan mencapai klimaks….salah tante sendiri sihhh…….lagi pula…tante amat cantik sihhh…..!!!!!!&#8221; sahutku mencari-cari alasan sekenanya. Sekarang kayaknya tante Ida sudah pasrah dan sambil tanganya masih menggenggam kontolku katanya lagi.. &#8220;Tooonnnn…..punya kamu gede amat yaaaa…????. Punya Om mu nggak sampai segede ini..!!&#8221; &#8220;Aaahhhhh, tante…apa betull…?????!&#8221; memang kontol ku panjangnya 20 cm dan gede juga dengan kepalanya yang bulat besar, apalagi kalau lagi sangat bernafsu begini. Jemari lentik tante Ida yang tadinya hanya menggenggam saja, kini mulai memainkan kontolku dengan manja. Seperti mendapat mainan baru, tangan tante Ida tak mau lepas dari situ.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Taaannnnn…., kok diiiii…..dii…diamin aja, dikocok dong, Taannn…. biar enaaakkk….!!!!&#8221; &#8220;Ton, Ton.. kamu keburu nafsu aja….aaaaggghhh….!!!&#8221;, perlahan-lahan kedua tanganku menekan bahu tante Ida, sehingga tubuh tante Ida berjongkok dan sesaat kemudian kepalanya telah sejajar dengan selangkanganku. Kedua tangannya segera menggenggam kontolku dan kemudian tante Ida mulai menjilati kepala kontolku dengan lidahnya. Bergetar seluruh tubuhku menerima rangsang dari mulut tante Ida. Dijilatnya seluruh batang kemaluanku, mulai dari pangkal sampai ujung. Tak ada bagian yang terlewat dari sapuan lidahnya. Dikocoknya kontolku didalam mulutnya, tapi tak semuanya bisa masuk. Mungkin hanya 3/4 nya saja yang dapat masuk ke mulut tante Ida. Kurasakan dinding tenggorokan tante Ida menyentuh kepala kontolku. Sungguh sensasi sangat luar biasa menjalar ke seluruh tubuhku. Cukup lama juga tante Ida mengulum kontolku. Kurasakan batang kontolku mulai membesar dan makin mengeras. Dari dalam kurasakan ada sesuatu yang memaksa untuk keluar.</p>
<p style="text-align: justify;">Merasa aku akan keluar, tante Ida semakin cepat mengocok batang kemaluanku. &#8220;Taaannnnn..ah..aohh.. taaannn.. Anton mo keluar,…….aaauuugghhhh…..taaannnn..!!!!!!!&#8221; Akhirnya..Croott..croott..croottt.. Hampir sepuluh kali cairan itu menyembur dari ujung kontolku. Diminumnya air maniku dengan, dijilatinya semua, sampai tak ada lagi cairan yang tersisa. Meskipun sudah keluar tetapi kontolku tetap saja masih tegar, meski tak seberapa keras lagi. Melihat itu, tante Ida mencium-cium kepala kontolku dan menjilat-jilatnya hingga bersih. Kemudian kutarik berdiri tubuh tante Ida dan kudorong ke tempat tidur, sehingga tante Ida terlentang diatas tempat tidur. Dengan cepat kulucuti rok sekalian CD nya, sehingga sekarang tante Ida terlentang diatas tempat tidur dengan tubuhnya yang mungil tapi padat itu berada dalam keadaan telanjang bulat. Tante Ida hanya menatap ku dengan pandangan yang sayu dan terlihat pasrah. Aku naik keatas tempat tidur dan kedua kakinya kupentang lebar-lebar dan aku berjongkok diantara kedua pahanya yang terpentang membuka lebar kemaluannya yang telah licin, siap untuk diterobos.</p>
<p style="text-align: justify;">Kupegang batang kontolku dan kugosok-gosok sepanjang bibir kemaluannya, sambil kutekan-tekan pelahan. Merasakan gesekan-gesekan lembut vagina tante Ida, kontolku mulai mengeras kembali. Ku ambil tangan tante Ida dan ku tempatkan pada batang kontolku, segera digengamnya kontolku dan diarahkan ke lubang kemaluannya. Dengan sedikit gerakan menekan, kepala kontolku perlahan-lahan mulai masuk setengah ke lobang kemaluan tante Ida. Terasa lobang kemaluan tante Ida sangat sempit mencengkeram batang kemaluanku. Dinding kemaluan tante membungkus rapat batang kemaluanku, kutekan lagi dan tubuh tante Ida menggeliat… &#8220;Oooooohhhhhh… Toooonnnn… bee.. beeeesaaarrrr aaaaa.. maaaattttt.. pe.. peeelaaan… pee laaan… Tooooonnnnn… ooooohhhhh..!!!!!&#8221; tante Ida merintih perlahan. Secara pelan dan hati-hati aku menekan batang kemaluanku makin dalam… terus… terus…. ooohhhhhh… eeeenna aaak… benaaarrrr… terasa jepitan kuat dinding kemaluan tante Ida yang menjepit rapat batang kemaluanku. Perasaanku terasa melayang-layang dilanda kenikmatan yang tidak terlukisakan ini…..</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Taaaaannnnn……ooohhhhhh…..eeee euuuuunnaaaakkkkkkkk…taannnnn….!!!!&#8221; Dengan kedua paha yang terkangkang lebar-lebar dan kedua tangannya berpegang pada pinggangku, tante Ida memandang ku dengan tatapan sayu, terlihat sangat cantik dan menawan, sehingga aku yang sedang bertumpu diatasnya perasaanku terasa menggila, melihat dan merasakan wanita cantik dan ayu yang berbadan mungil tapi padat ini, terlentang pasrah dibawahku, menerima seluruh perlakuanku. Kugerakan perlahan-lahan pinggulku menekan kebawah, sehingga kontolku  terbenam makin dalam kelobang kemaluannya, dalam….. dalam….. terus…… terus….. daannnn….. ….kemudian……ujung kepala kontolku terasa mentok, karena beberapa kali tubuh tante Ida mengejang ketika aku mencoba menekan lebih kuat, aku kemudian mulai menarik keluar dan selanjutnya memompa keluar masuk. Dengan bersemangat aku mulai menaik-turunkan tubuhku. Gerakan naik-turun yang terkadang diselingi dengan gerakan memutar, sungguh merupakan sensasi yang sangat luar biasa. Apalagi posisi kedua paha tante Ida terkangkang lebar-lebar, membuat tikaman-tikamanku terasa jauh didalam dasar lobang kemaluannya.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku dapat melihat payudara tante Ida bergerak-gerak keatas kebawah setiap kali aku menekan masuk kontolku dalam-dalam sehingga kedua selangkangan kami berhimpit rapat-rapat. Kemudian kurasakan otot-otot kemaluan tante Ida dengan kuat menyedot kontolku. Semakin lama kurasa semakin kuat saja kemaluan tante Ida menjepit kontolku. Kulihat wajah tante Ida nampak makin memerah menahan orgasme keduanya yang akan melandanya sebentar lagi. &#8220;Aaaaaaddduuuuuhhhhh….Toooonnn.. Aaaagggghhhhhh.. Oouggg.. hhaa..hhaa…Toooonn …taaannnn…teeeee…maaa…. Maaauuuu…keee… keeeeluaraarrrr lagi, Toonnnnn…!!!!!!!.&#8221; Dan….. Seeeeerrrr…..kurasakan cairan hangat membasahi kontolku. Sementara nafsuku sudah sangat memuncak menuntut penyelesaiannya, aku sudah tidak bisa lagi bertindak halus, tanpa banyak bicara, segera saja kupompa pantatku dengan cepat dan gencar, mendapat serangan yang agak kasar dan tiba-tiba itu tante Ida menjerit-jerit kesakitan. Meskipun lobang kemaluan tante Ida telah basah dan licin banget, tapi tetap saja terasa seret untuk ukuran kontolku yang besar.</p>
<p style="text-align: justify;">Tak kuhiraukan lagi suara tante Ida yang menjerit-jerit kesakitan, yang ada dipikiranku saat itu adalah aku ingin segera mengakhiri permainan ini dan merasakan nikmat yang akan datang padaku. Kurasakan otot-otot kontolku mulai berdenyut-denyut dengan kerasnya, ada sesuatu yang berusaha untuk keluar dari batang kontolku. Kucoba untuk menahannya selama mungkin agar tidak segera keluar, tapi jepitan dinding kemaluan tante Ida akhirnya meruntuhkan pertahananku. &#8220;Aaaaaauuddddduuhhhh… taaannnnnn… teeeee… oooooohhhhh…..!!!!&#8221; keluhan panjang penuh kenikmatan keluar dari mulut ku disertai dengan …croott.. croott….croooootttt….semburan..maniku menyemprot dengan kuat, mengisi relung-relung terdalam lobang kemaluan tante Ida, kemudian badanku tertelungkup lemas menidih badan mungi tante Ida, sementara kuubiarkan kontolku tetap didalam kemaluan tante Ida untuk merasakan sisa-sisa orgasmeku. Kurasakan kemaluan tante Ida tetap saja berdenyur-denyut, meski tak sekuat tadi. &#8220;Taannnn, terima kasih ya, udah mau temenin Anton main.!!!!&#8221; kataku dengan manja.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Kamu, tuh, Ton, kalau lagi nafsu jangan main maksa dong, masak tantemu sendiri kamu perkosa juga…..!!!!&#8221; &#8220;Iiihhhhh…tante…..tapi tante senang juga….kaannnn …..????&#8221; &#8220;Iya.. siiihhh….!!!!!&#8221; kata tante Ida malu-malu. Sejak saat itu sikap tante Ida terhadapku berobah seratus persen, biarpun sikap kami ini tetap terjaga dihadapan om dan adik tante Ida. Aku dan tante Ida sering berhubungan sex bersama kalau rumah lagi sepi. Aku makin merasa sayang saja terhadap tante Ida, apalagi tante Ida melayani nafsu sex saya dengan rela dan sepenuh hati.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ceritasex.cn/binalnya-tante-ida/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Perkosaan Yang Fantastis</title>
		<link>http://www.ceritasex.cn/perkosaan-yang-fantastis/</link>
		<comments>http://www.ceritasex.cn/perkosaan-yang-fantastis/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 16 Nov 2011 19:51:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cerita Sex</dc:creator>
				<category><![CDATA[Paruh baya]]></category>
		<category><![CDATA[Pemerkosaan]]></category>
		<category><![CDATA[Seks Umum]]></category>
		<category><![CDATA[kontol]]></category>
		<category><![CDATA[memek]]></category>
		<category><![CDATA[ngentot]]></category>
		<category><![CDATA[orgasme]]></category>
		<category><![CDATA[perkosa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ceritasex.cn/?p=3175</guid>
		<description><![CDATA[Suatu saat suamiku harus meneruskan S2-nya ke luar negeri untuk tugas perusahaan. Aku mengantar kepergian suamiku sampai di bandara. Demikian sejak itu, aku harus membiasakan hidupnya dengan jadwal tugas suamiku, suatu hari menjelang sore hari, setelah menyediakan makan malam di atas meja, yang pada saat ini harus disiapkan sendiri, sebab pembantuku sedang pulang kampung, karena [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Suatu saat suamiku harus meneruskan S2-nya ke luar negeri untuk tugas perusahaan. Aku mengantar kepergian suamiku sampai di bandara. Demikian sejak itu, aku harus membiasakan hidupnya dengan jadwal tugas suamiku, suatu hari menjelang sore hari, setelah menyediakan makan malam di atas meja, yang pada saat ini harus disiapkan sendiri, sebab pembantuku sedang pulang kampung, karena mendadak ada keluarga dekatnya di kampung yang sakit berat. John teman suamiku orang Italy pada waktu mereka sekolah di Inggris bersama, sedang mendapat tugas di Indonesia sementara ini tinggal dirumah. Telah hampir satu bulan John tinggal bersama kami, istrinya tetap berada di Italy. Seperti biasanya setelah selesai makan bersama, aku kembali kekamar dan karena udara diluar terasa panas aku ingin mengambil shower lalu aku mengambil handuk dan masuk ke kamar mandi untuk berpancur. Letak kamar mandi nyambung dengan kamar tidurnya. Setelah selesai mandi, aku mengeringkan tubuhku dan dengan hanya membungkus tubuhku dengan handuk mandi, aku membuka pintu kamar mandi dan masuk ke dalam kamar tidurku.</p>
<p style="text-align: justify;">Disudut seberang kamar tidur yang tidak tertutup pintunya terlihat John sedang santai dikamarnya, rupanya dia telah selesai makan dan masuk ke kamarnya untuk nonton tv memang dia lebih senang di dalam kamar yang lantainya dilapisi karpet tebal dan udaranya dingin oleh AC. Dengan masih dililit handuk, aku duduk di depan meja rias untuk mengeringkan dan bersisir rambut. Pada saat itu John kulihat dari cerminku mendadak bangkit dari tempat duduknya dan berjalan mondar mandir di dalam ruangan kamarnya, terlihat malam ini John agak gelisah, tidak seperti biasa yang selalu menutup pintu kamarnya, malam ini dia mondar mandir dan sekali-sekali matanya yang biru kecoklatan melihat ke arahku yang sedang duduk menyisir rambutku. Melihat John seperti itu, aku bangkit berdiri dan berjalan menuju pintu untuk menutup pintu kamarku, aku sempat melihat John tersenyum padaku sambil berkata, &#8220;Hai Ratna kau cantik sekali malam ini..!&#8221; Tiba tiba John langsung berdiri melintas kamarnya, tanpa aba-aba salah satu kakinya menahan pintu kamarku lalu tangannya yang kekar mencoba menggapai pinggangku.</p>
<p style="text-align: justify;">Tercium olehku bau alkohol dari mulutnya rupanya John baru saja minum whisky, &#8220;..John sadar.. aku Ratna istri temanmu..!&#8221; John bisa bicara Indonesia, aku mencoba berbalik dan karena eratnya pegangannya di pinggangku, aku terhuyung-huyung dan aku jatuh telentang di lantai yang dilapisi karpet tebal. Kedua kakiku terpentang lebar, sehingga handuk yang tadinya menutupi bagian bawahku tersingkap, yang mengakibatkan bagian bawahku terbuka polos terlihat bagian pahaku yang putih mulus masih agak basah karena belum sempat kering dengan betul. Rupanya minuman keras sangat mempengaruhi pikiran John yang sudah begitu lama tidak kencan dengan wanita, John dengan cepat berjalan ke arahku yang sedang telentang di lantai dan sekarang jongkok diantara kedua kakiku yang terbuka lebar itu. Dengan cepat kepalanya telah berada diantara pangkal pahaku dan tiba-tiba terasa lidahnya yang kasar dan basah itu mulai menjilati pahaku, hal ini menimbulkan perasaan yang sangat geli. Aku mencoba menarik badannya ke atas untuk menghindari serbuannya pada pahaku, akan tetapi tangannya begitu kekar tubuhnya terlihat besar dan atletis menahan tubuhku.<br />
<span id="more-3175"></span><br />
John menunjukan matanya yang jalang, yang membuat aku ketakutan sehingga badanku terdiam dengan kaku. Kedua matanya melotot dengan buas melihat ke arah selangkanganku, kepalanya berada diantara kedua pahaku. Jilatannya makin naik ke atas dan tiba-tiba badanku menjadi kejang ketika bibir John itu terasa menyentuh pinggir dari belahan bibir kemaluanku dari bawah terus naik ke atas dan akhirnya badanku terasa meriang ketika lidah John yang besar basah dan kasar itu menyentuh klitorisku dan menggesek dengan suatu jilatan yang panjang, yang membuat aku terasa terbang melayang-layang bagaikan layang-layang putus ditiup angin.&#8221;Aduuuhh!&#8221; tak terasa keluar keluhan panjang dari mulutku. Tubuhku terus bergetar-getar seperti orang kena setrum dan mataku terbeliak melihat kearah lidah John yang bolak balik menyapu belahan bibir kemaluanku dan dengan tanpa kusadari kedua pahaku makin kubuka lebar, memberikan peluang yang makin besar pada lidah John bermain-main pada belahan kemaluanku. Dengan tak dapat ditahan lagi.</p>
<p style="text-align: justify;">Cairan pelumas mulai membanjiri keluar dari dalam kemaluanku dan dari cairan ini makin membuat John makin giat memainkan lidahnya terus menyapu dari bawah ke atas, mulai dari permukaan lubang anusku naik terus menyapu belahan bibir vaginaku sampai pada puncaknya yaitu pada klitorisku. Ohhh&#8230; dengan cepat vaginaku menjadi basah kuyup oleh cairan nafsu yang keluar terus menerus dari dalam vaginaku. Sejenak aku seakan-akan lupa diri, terbawa oleh nafsu birahi yang melanda.akan tetapi pada saat berikut aku baru sadar akan situasi yang menimpaku.&#8221;Aduuuhh benar-benar gila ini, aku terbuai oleh nafsu karena sentuhan seorang laki laki asing.. aaahh.. tidak.. tidak bisa ini terjadi!&#8221;, dengan cepat aku menarik tubuhku dan mencoba bergulir membalik badan untuk bisa meloloskan diri dari John. Dengan membalik badan, sekarang aku merangkak dengan kedua tangan dan lutut dan rupanya ini suatu gerakan yang salah yang berakibat sangat sangat fatal bagiku karena dengan tiba-tiba terasa sesuatu tenaga yang besar menahan pinggangku dan ketika masih dalam keadaan merangkak itu aku menoleh kepalaku ke belakang.</p>
<p style="text-align: justify;">Terlihat John dengan kedua tangannya merangkul pinggangku dan kepalanya mendekap punggungku tangannya mencoba menarik handuk yang hanya tinggal separoh melilit badanku, badannya yang berat itu menekan tubuhku. Aku mencoba merangkak maju dan berpegang pada tepi tempat tidur untuk mencoba berdiri, akan tetapi tiba-tiba John menekan badannya yang beratnya hampir 80 Kg itu sehingga posisiku yang sudah setengah berlutut, karena beratnya badan John, akhirnya aku tersungkur ke tempat tidur dengan posisi berlutut di pinggir tempat tidur dan separuh badan tertelungkup di atas tempat tidur, di mana badan John menidih badanku. Kedua kaki John berlutut sambil bertumpu di lantai diantara kedua pahaku yang agak terkangkang dan karena posisi badanku yang tertelungkup itu, akhirnya handuk yang setengah melilit dan menutupi badanku lepas, sehingga seluruh tubuhku terbuka dengan lebar. Terdengar John mendesah melihat pinggangku yang ramping serta bongkahan pantatku yang bulat menonjol &#8220;..Oh..Ratna tak kusangka kau begitu sexy..!&#8221; Tubuh John makin dirapatkan ketubuhku, sehingga terasa pantatku tergesek oleh kedua pahanya yang besar dan berbulu.</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam usaha merenggangkan kedua kakiku, tangan John bergerak-gerak diselangkanganku dan tanpa dapat dihindari bagian bawah vaginaku tergesek-gesek oleh jari jarinya yang besar besar itu. &#8220;Ouch..!..stop John..!&#8221; Aku mencoba menyadarinya, kedua tanganku tidak dapat digerakkan karena terhimpit diantara badanku sendiri .Tiba-tiba aku merasakan ada suatu benda kenyal, bulat panas terhimpit pada belahan pantatku dan tiba-tiba aku menyadari akan bahaya yang akan menimpaku, John rupanya sudah mulai beraksi dengan menggesek-gesekan batang kemaluannya pada belahan kenyal pantatku. &#8220;Auooohh.. John.. stop! pleasee..aach..!&#8221; dengan panik aku mencoba menyuruhnya berhenti melakukan aksinya, akan tetapi seruan itu tidak dipedulikan oleh John malahan sekarang terasa gerakan-gerakan menusuk nusuk benda tersebut pada pantatku mula-mula perlahan dan semakin lama semakin gencar saja. Aku menoleh ke kanan, ke arah kaca besar lemari yang persis berada di samping kanan tempat tidur, terlihat batang kemaluan orang asing tersebut telah tegang dan ya ampun..besar sekali..! dan terlihat batang kemaluannya yang merah berurat bagai sosis besar dengan ujungnya berbentuk agak bulat sedang menggesek gesek bagian pantatku. Rupanya Orang asing ini sudah sangat terangsang dan sekarang dia sedang berusaha memperkosaku. Aku benar-benar menjadi panik, bagaimana tidak.. aku akan disetubuhi oleh teman suamiku yang kelihatan sedang kesetanan oleh nafsu birahinya.</p>
<p style="text-align: justify;">Tanpa kusadari sodokan-sodokan batang kemaluan John semakin gencar saja, sehingga aku yang melihat melalui cermin gerakan pantat bule yang bahenol pahanya yang kekar tersebut , benar-benar terpesona karena gerakan tekanan-tekanan ke depan pantatnya benar-benar sangat cepat dan gencar, terasa sekarang serangan-serangan kepala batang kemaluannya tersebut mulai menimbulkan perasaan geli pada belahan pantatku dan kadang-kadang ujung batang kemaluannya menyentuh dengan cepat lubang anusku, menimbulkan perasaan geli yang amat sangat. Terlihat kedua kakinya melangkah ke depan, sehingga sekarang kedua pahanya yang berbulu memepeti kedua pahaku dan gerakan tekanan dan cocolan-cocolan kepala batang kemaluannya mulai terarah menyentuh bibir kemaluanku, aku menjadi bertambah panik, disamping perasaan yang mulai terasa tidak menentu, karena sodokan-sodokan kepala batang kemaluan John menimbulkan perasaan geli dan mulai membangkitkan nafsu birahiku yang sama sekali aku tidak kehendaki.</p>
<p style="text-align: justify;">Akhirnya dengan suatu gerakan dan tekanan yang cepat, John mendorong pantatnya ke depan dengan kuat, sehingga batang kemaluannya yang telah terjepit diantara bibir kemaluanku yang memang telah basah kuyup dan licin itu, akhirnya terdorong masuk dengan kuat dan terbenam separoh kedalam vaginaku, diikuti dengan jeritan panjang kepedihan yang keluar dari mulutku. &#8220;Aaduhh..!&#8221; kepalaku tertengadah ke atas dengan mata yang melotot serta mulut yang terbuka megap-megap kehabisan udara serta kedua tangan mencengkeram dengan kuat pada kasur. Akan tetapi John, tanpa memberikan kesempatan padaku untuk berpikir dan menyadari keadaan yang sedang terjadi, dengan cepat mulai memompa batang kemaluannya dengan gerakan-gerakan yang buas, tanpa mengenal kasihan pada istri temannya yang baru pertama kali ini menerima batang kemaluan yang sedemikian besarnya dalam vaginaku.</p>
<p style="text-align: justify;">Batang kemaluannya yang baru masuk sebagian itu dengan cepat keluar masuk mengaduk-aduk lubang kemaluanku tanpa mempedulikan betapa besar batang kemaluannya dibandingkan dengan daya tampung vaginaku. Walaupun hanya sebagian dari batang kemaluan bule itu yang masuk dari setiap gerakan menyebabkan keseluruhan bibir vaginaku mengembang dan mencengkeram batangnya dan klitorisku yang sudah keluar semuanya dan mengeras ikut tertekan masuk ke dalam, di mana klitorisku terjepit dan tergesek dengan batang kemaluannya yang besar dan berurat itu,&#8221;Ooohh..aku keenakan.. ini tak mungkin terjadi!&#8221; pikirku setengah sadar. &#8220;Aku mulai menikmati disetubuhi oleh teman suamiku, bule lagi? gila!&#8221; sementara perkosaan itu terus berlangsung, desiran darahku terasa mengalir semakin cepat, pikiran warasku perlahan-lahan menghilang kalah oleh permainan kenikmatan yang sedang diberikan oleh keperkasaan batang kemaluannya yang sedang &#8216;menghajar&#8217; liang kenikmatankuku.</p>
<p style="text-align: justify;">Perasaanku seakan-akan terasa melayang-layang di awan-awan dan dari bagian vaginaku terasa mengalir suatu perasaan mengelitik yang menjalar ke seluruh bagian tubuh, membuat perasaan nikmat yang terasa sangat fantastis, membuat mataku terbeliak dan terputar-putar akibat pengaruh batang kemaluan John yang besar begitu tajam dan begitu dahsyat mengaduk-aduk seluruh bagian yang sensitif didalam vaginaku tanpa ada yang tersisa satu milipun. Keseluruhan syaraf syaraf yang bisa menimbulkan kenikmatan dari dinding dalam vaginaku tak lolos dari sentuhan, tekanan, gesekan dan sodokan kepala dan batang kemaluan John yang benar-benar besar itu, rasanya paling kurang tiga kali besarnya tapi seratus kali lebih nikmat dari batang kemaluan suamiku dan cara gerakan pantat bule perkasa ini bergerak memompakan batang kemaluannya keluar masuk ke dalam vaginaku, benar-benar fantastis sangat cepat, membuatku tak sempat mengambil nafas ataupun menyadari apa yang terjadi, hanya rasa nikmat yang menyelubungi seluruh perasaanku, membuat secara total aku tidak dapat mengendalikan diri lagi.</p>
<p style="text-align: justify;">aku mulai menyadari akan hebatnya kenikmatan yang sedang menyelubungi seluruh sudut-sudut yang paling dalam di relung tubuhku akibat sodokan-sodokan batang kemaluan bule dalam rongga vaginaku yang menjepit erat, &#8220;Aaahh.. !&#8221; tiba-tiba aku merasakan sesuatu yang besar, benar-benar besar sedang mulai memaksa masuk ke dalam vaginaku, memaksa bibir vaginaku membuka sebesar-besarnya, rasanya sampai sebatas kemampuan yang bisa kutolerir. Aku menoleh ke arah cermin untuk melihat apa yang sedang memaksa masuk ke dalam vaginaku itu dan.., &#8220;Aaaduuuhh.. gila.. benar-benar fantastis besarnya penis bule ini&#8221; keluhku, terlihat bagian pangkal belakang batang kemaluan John sepanjang kurang lebih 5 cm membengkak, membentuk seperti bonggol, dan dari bagian tersebut sedang mulai dipaksakan masuk, menekan bibir-bibir kemaluanku dan secara perlahan-lahan menerobos masuk ke dalam lubang vaginaku . &#8220;&#8216;Ooohh.. aaampun.. jangan John.. aku akan mati kalau engkau memaksakan benda itu masuk ke dalamku!&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">aku memelas tak berdaya seakan-akan John akan mengerti, akan tetapi sia-sia saja, dengan mata melotot aku melihat benda tersebut mulai menghilang ke dalam kemaluanku, &#8220;Rat.. nanti kalau sudah masuk semuanya dan licin kau akan merasakan kenikmatan yang kamu belum pernah rasakan sebelumnya..!&#8221; John mencoba menenangkanku, kepalaku tertengadah ke atas dan mataku terbalik ke belakang sehingga bagian putihnya saja yang kelihatan, dan sekujur badanku mengejang, bongkahan tersebut terus menerobos masuk ke dalam lubang vaginaku, sampai akhirnya seluruh lubang kenikmatanku dipenuhi oleh kepala, batang kemaluan dan bongkahan pada pangkal batang kemaluan bule tersebut. Oh.. benar-benar terasa sesak dan penuh rongga vaginaku dijelali oleh keseluruhan batang kemaluan bule tsb. Dalam keadaan itu John terus melanjutkan menekan-nekan pantatnya dengan cepat, membuat badanku ikut bergerak-gerak karena belakang batang kemaluannya telah terganjal di dalam lubang kemaluanku akibat bongkahan pada pangkal batang kemaluannya yang besar itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Pantat John tersebut terus bergerak-gerak dengan liarnya, sambil bibirnya menciumi pundakku yang sudah tidak ditutupi handuk, terengah-engah dan mendengus-dengus, hal ini mengakibatkan batang kemaluannya dan bongkahan tersebut mengesek-gesek pada dinding-dinding vaginaku yang sudah sangat sangat kencang dan sensitif mencengkeram, yang menimbulkan perasaan geli dan nikmat yang amat sangat..sehingga kepalaku tergeleng-geleng ke kiri dan ke kanan dengan tak terkendali dan dengan histeris pantatku kutekan ke belakang merespon perasaan nikmat yang diberikan oleh John, yang tak pernah kualami selama ini.&#8221;Ooohh.. tidak..&#8221; pikirku, &#8220;Aku tak pantas mengalami ini.. aku bukan seorang maniak seks! Aku selama ini tidak pernah nyeleweng dengan siapa pun.. ta.taapii.. sekarang.. ooohh seorang bule? aduuuhh! Tapiii.. ooohh.. enaaaknya.. aghh.. akuuu.. tak dapat menahan ini.. agghh.. aku tak menyadari betapa.. nikmaaatnya penis besar dari seorang bule yang perkasa..! aaaaqhh..!&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Akhirnya aku tidak dapat mengendalikan diriku, rasa bersalah kalah oleh kenikmatan yang sedang melanda seluruh tubuhku dari perasaan yang begitu nikmat yang diberikan John padaku, dengan tak sadar lagi aku mendesah mengerang dan mengguman, &#8220;Ooohh..John you&#8217;re cock is so biiig.. so gooood..! enaaakk.. aaaggh! teruuusss.. puasin aku.. Fuuuck meee Jooohn..&#8221; Aku benar-benar sekarang telah berubah menjadi seekor kuda liar, aku betinanya sedang ia kuda jantannya. Perkosaan sudah tidak ada lagi dibenakku, pada saat ini yang yang kuinginkan adalah disetubuhi oleh John senikmat mungkin dan selama mungkin, dan akhirnya aku mengalami orgasme yang pertama yang benar-benar dahsyat, suatu kenikmatan yang tak pernah kualami dengan suamiku selama ini.&#8221;Ooohh.. yaa Ooohh.. puasin lagi aku John Ooohh.. setubuhi aku dengan batang kemaluanmu yang begitu besar dan perkasa!..aaaagghhh&#8230;!&#8221; terasa cairan hangat terus keluar dari dalam tubuhku, membasahi rongga-rongga di dalam lubang kemaluanku. &#8220;Aaagghhh.. ooohh.. benar-benar nikmaaaaat..!&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">keluhku tak percaya, terasa badanku melayang-layang, suatu kenikmatan yang tak terlukiskan. &#8220;Aaagghhh!&#8221; gerakanku yang liar pada saat mengalami orgasme itu agaknya membuat John merasa nikmat juga, disebabkan otot-otot kemaluanku berdenyut-denyut dengan kuat mengempot batang kemaluannya, mungkin pikirnya ini adalah kuda betina terhebat yang pernah dinikmatinya, hangat.. sempit dan sangat liar, batang kemaluan John yang besar itu mulai membengkak, sementara gerakan-gerakan tekanannya makin cepat saja, kelihatan John akan mengalami orgasme, gerakan-gerakan yang liar dari batang penisnya yang besar itu menimbulkan perasaan ngilu dan nikmat pada bagian dalam vaginaku, membuatku kehilangan kontrol dan menimbulkan perasaan gila dalam diriku, pantatku kugerak-gerakkan ke kiri dan ke kanan dengan liar mengimbangi gerakan sodokan John yang makin cepat saja.&#8221;Ooohh.. aaaduuh.. aaaghh! Joooohn..aku mau keluuuuaaar laaaggiii..!!&#8221; lenguhan panjang keluar dari mulutku mengimbangi orgasme kedua yang melandaku. Badanku meliuk-liuk dan bergetar dengan hebat kedua kakiku kurapatkan erat erat , kepalaku tertengadah ke atas dengan mulut terbuka dan kedua tanganku mencengkeram kasur dengan kuat sedangkan kedua otot-otot paha mengejang dengan hebat dan kedua mataku terbeliak dengan bagian putihnya yang kelihatan sementara otot-otot dalam kemaluanku terus berdenyut-denyut dan hal ini juga menimbulkan perasaan nikmat yang luar biasa pada John karena batang kemaluannya terasa dikempot kempot oleh lobang vaginaku yang mengakibatkan dia juga mengalami orgasme dan terasa cairan hangat dan kental yang keluar dari batang kejantanannya, rasanya lebih hangat dan lebih kental dan banyak dari punya suamiku, air mani John serasa dipompakan, tak henti-hentinya ke dalam lobang vaginaku, rasanya langsung ke dalam rahimku banyak sekali.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku dapat merasakan semburan-semburan cairan kental hangat yang kuat, tak putus-putusnya dari air maninya .memompakan benihnya ke dalam kandunganku terus menerus hampir selama 1 menit, mengosongkan air maninya yang tersimpan cukup lama, karena selama ini dia tidak pernah bersetubuh dengan istrinya yang berada jauh dinegaranya. John terus menekan batang kemaluannya sehingga clitorisku ikut tertekan dan hal ini makin memberikan perasaan nikmat yang hebat, yang tak kusangka, tubuhku bergetar lagi merasakan rangsangan dahsyat sampai akhirnya aku mengalami orgasme yang ketiga. Akhirnya aku tertidur dengan nyenyaknya karena letih. Keesokan harinya aku terbangun dengan tubuh yang masih terasa lemas dan terasa tulang-tulangku seakan-akan lepas dari sendi-sendinya, sambil melirik ke arah John yang sedang tertidur lelap kupandangi tubuhnya yang telanjang kekar besar terlihat bulu bulu halus kecoklat coklatan menghias dadanya yang bidang lalu bulu bulu tersebut turun kebawah semakin lebat dan memutari sebuah benda yang tadi malam &#8216;menghajar&#8217; vaginaku, benda itu masih tertidur tetapi ukurannya bukan main seperti penis suamiku yang sudah tegang maximum. Tiba tiba darahku berdesir, vaginaku terasa berdenyut, &#8220;..Oh.. apa yang terjadi pada diriku..?&#8221;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ceritasex.cn/perkosaan-yang-fantastis/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Diperkosa Ayah Mertua</title>
		<link>http://www.ceritasex.cn/diperkosa-ayah-mertua-2/</link>
		<comments>http://www.ceritasex.cn/diperkosa-ayah-mertua-2/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 07 Nov 2011 07:54:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cerita Sex</dc:creator>
				<category><![CDATA[Paruh baya]]></category>
		<category><![CDATA[Pemerkosaan]]></category>
		<category><![CDATA[Sedarah]]></category>
		<category><![CDATA[Seks Umum]]></category>
		<category><![CDATA[selingkuh]]></category>
		<category><![CDATA[enak]]></category>
		<category><![CDATA[kontol]]></category>
		<category><![CDATA[memek]]></category>
		<category><![CDATA[ngentot]]></category>
		<category><![CDATA[nikmat]]></category>
		<category><![CDATA[peacur]]></category>
		<category><![CDATA[perkosa]]></category>
		<category><![CDATA[seks]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ceritasex.cn/?p=3168</guid>
		<description><![CDATA[Namaku Novianti. Usiaku telah menginjak kepala tiga. Sudah menikah setahun lebih dan baru mempunyai seorang bayi laki-laki. Suamiku berusia hanya lebih tua satu tahun dariku. Kehidupan kami dapat dikatakan sangat bahagia. Memang kami berdua kawin dalam umur agak terlambat sudah diatas 30 tahun. Selewat 40 hari dari melahirkan, suamiku masih takut untuk berhubungan seks. Mungkin [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Namaku Novianti. Usiaku telah menginjak kepala tiga. Sudah menikah setahun lebih dan baru mempunyai seorang bayi laki-laki. Suamiku berusia hanya lebih tua satu tahun dariku. Kehidupan kami dapat dikatakan sangat bahagia. Memang kami berdua kawin dalam umur agak terlambat sudah diatas 30 tahun. Selewat 40 hari dari melahirkan, suamiku masih takut untuk berhubungan seks. Mungkin dia masih teringat pada waktu aku menjerit-jerit pada saat melahirkan, memang dia juga turut masuk ke ruang persalinan mendampingi saya waktu melahirkan. Di samping itu aku memang juga sibuk benar dengan si kecil, baik siang maupun malam hari. Si kecil sering bangun malam-malam, nangis dan aku harus menyusuinya sampai dia tidur kembali. Sementara suamiku semakin sibuk saja di kantor, maklum dia bekerja di sebuah kantor Bank Pemerintah di bagian Teknologi, jadi pulangnya sering terlambat. Keadaan ini berlangsung dari hari ke hari, hingga suatu saat terjadi hal baru yang mewarnai kehidupan kami, khususnya kehidupan pribadiku sendiri. Ketika itu kami mendapat kabar bahwa ayah mertuaku yang berada di Amerika bermaksud datang ke tempat kami.</p>
<p style="text-align: justify;">Memang selama ini kedua mertuaku tinggal di Amerika bersama dengan anak perempuan mereka yang menikah dengan orang sana. Dia datang kali ini ke Indonesia sendiri untuk menyelesaikan sesuatu urusan. Ibu mertua nggak bisa ikut karena katanya kakinya sakit. Ketika sampai waktu kedatangannya, kami menjemput di airport, suamiku langsung mencari-cari ayahnya. Suamiku langsung berteriak gembira ketika menemukan sosok seorang pria yang tengah duduk sendiri di ruang tunggu. Orang itu langsung berdiri dan menghampiri kami. Ia lalu berpelukan dengan suamiku. Saling melepas rindu. Aku memperhatikan mereka. Ayah mertuaku masih nampak muda diumurnya menjelang akhir 50-an, meski kulihat ada beberapa helai uban di rambutnya. Tubuhnya yang tinggi besar, dengan kulit gelap masih tegap dan berotot. Kelihatannya ia tidak pernah meninggalkan kebiasaannya berolah raga sejak dulu. Beliau berasal dari belahan Indonesia Timur dan sebelum pensiun ayah mertua adalah seorang perwira angkatan darat. &#8220;Hei nak Novi. Apa khabar&#8230;!&#8221;, sapa ayah mertua padaku ketika selesai berpelukan dengan suamiku.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Ayah, apa kabar? Sehat-sehat saja kan? Bagaimana keadaan Ibu di Amerika..?&#8221; balasku. &#8220;Oh&#8230;Ibu baik-baik saja. Beliau nggak bisa ikut, karena kakinya agak sakit, mungkin keseleo&#8230;.&#8221; &#8220;Ayo kita ke rumah&#8221;, kata suamiku kemudian. Sejak adanya ayah di rumah, ada perubahan yang cukup berarti dalam kehidupan kami. Sekarang suasana di rumah lebih hangat, penuh canda dan gelak tawa. Ayah mertuaku orangnya memang pandai membawa diri, pandai mengambil hati orang. Dengan adanya ayah mertua, suamiku jadi lebih betah di rumah. Ngobrol bersama, jalan-jalan bersama. Akan tetapi pada hari-hari tertentu, tetap saja pekerjaan kantornya menyita waktunya sampai malam, sehingga dia baru sampai kerumah di atas jam 10 malam. Hal ini biasanya pada hari-hari Senin setiap minggu. Sampai terjadilah peristiwa ini pada hari Senin ketiga sejak kedatangan ayah mertua dari Amerika. Sore itu aku habis senam seperti biasanya. Memang sejak sebulan setelah melahirkan, aku mulai giat lagi bersenam kembali, karena memang sebelum hamil aku termasuk salah seorang yang amat giat melakukan senam dan itu biasanya kulakukan pada sore hari.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah merasa cukup kuat lagi, sekarang aku mulai bersenam lagi, disamping untuk melemaskan tubuh, juga kuharapkan tubuhku bisa cepat kembali ke bentuk semula yang langsing, karena memang postur tubuhku termasuk tinggi kurus akan tetapi padat. Setelah mandi aku langsung makan dan kemudian meneteki si kecil di kamar. Mungkin karena badan terasa penat dan pegal sehabis senam, aku jadi mengantuk dan setelah si kecil kenyang dan tidur, aku menidurkan si kecil di box tempat tidurnya. Kemudian aku berbaring di tempat tidur. Saking sudah sangat mengantuk, tanpa terasa aku langsung tertidur. Bahkan aku pun lupa mengunci pintu kamar. Setengah bermimpi, aku merasakan tubuhku begitu nyaman. Rasa penat dan pegal-pegal tadi seperti berangsur hilang&#8230; Bahkan aku merasakan tubuhku bereaksi aneh. Rasa nyaman sedikit demi sedikit berubah menjadi sesuatu yang membuatku melayang-layang. Aku seperti dibuai oleh hembusan angin semilir yang menerpa bagian-bagian peka di tubuhku. Tanpa sadar aku menggeliat merasakan semua ini sambil melenguh perlahan.<br />
<span id="more-3168"></span><br />
Dalam tidurku, aku bermimpi suamiku sedang membelai-belai tubuhku dan kerena memang telah cukup lama kami tidak berhubungan badan, sejak kandunganku berumur 8 bulan, yang berarti sudah hampir 3 bulan lamanya, maka terasa suamiku sangat agresif menjelajahi bagian-bagian sensitif dari sudut tubuhku. Tiba-tiba aku sadar dari tidurku&#8230; tapi kayaknya mimpiku masih terus berlanjut. Malah belaian, sentuhan serta remasan suamiku ke tubuhku makin terasa nyata. Kemudian aku mengira ini perbuatan suamiku yang telah kembali dari kantor. Ketika aku membuka mataku, terlihat cahaya terang masih memancar masuk dari lobang angin dikamarku, yang berarti hari masih sore. Lagian ini kan hari Senin, seharusnya dia baru pulang agak malam, jadi siapa ini yang sedang mencumbuku&#8230; Aku segera terbangun dan membuka mataku lebar-lebar. Hampir saja aku menjerit sekuat tenaga begitu melihat orang yang sedang menggeluti tubuhku. Ternyata&#8230; dia adalah mertuaku sendiri. Melihat aku terbangun, mertuaku sambil tersenyum, terus saja melanjutkan kegiatannya menciumi betisku.</p>
<p style="text-align: justify;">Sementara dasterku sudah terangkat tinggi-tinggi hingga memperlihatkan seluruh pahaku yang putih mulus. &#8220;Yah&#8230;!! Stop&#8230;.jangan&#8230;. Yaaahhhh&#8230;!!?&#8221; jeritku dengan suara tertahan karena takut terdengar oleh Si Inah pembantuku. &#8220;Nov, maafkan Bapak&#8230;. Kamu jangan marah seperti itu dong, sayang&#8230;.!!&#8221; Ia malah berkata seperti itu, bukannya malu didamprat olehku. &#8220;Ayah nggak boleh begitu, cepat keluar, saya mohon&#8230;.!!&#8221;, pintaku menghiba, karena kulihat tatapan mata mertuaku demikian liar sambil tangannya tak berhenti menggerayang ke sekujur tubuhku. Aku mencoba menggeliat bangun dan buru-buru menurunkan daster untuk menutupi pahaku dan beringsut-ingsut menjauhinya dan mepet ke ujung ranjang. Akan tetapi mertuaku makin mendesak maju menghampiriku dan duduk persis di sampingku. Tubuhnya mepet kepadaku. Aku semakin ketakutan. &#8220;Nov&#8230; Kamu nggak kasihan melihat Bapak seperti ini? Ayolah, Bapak kan sudah lama merindukan untuk bisa menikmati badan Novi yang langsing padat ini&#8230;.!!!!&#8221;, desaknya. &#8220;Jangan berbicara begitu.</p>
<p style="text-align: justify;">Ingat Yah&#8230; aku kan menantumu&#8230;. istri Toni anakmu?&#8221;, jawabku mencoba menyadarinya. &#8220;Jangan menyebut-nyebut si Toni saat ini, Bapak tahu Toni belum lagi menggauli nak Novi, sejak nak Novi habis melahirkan&#8230; Benar-benar keterlaluan tu anak&#8230;.!!, lanjutnya. Rupanya entah dengan cara bagaimana dia bisa memancing hubungan kita suami istri dari Toni. Ooooh&#8230;. benar-benar bodoh si Toni, batinku, nggak tahu kelakuan Bapaknya. Mertuaku sambil terus mendesakku berkata bahwa ia telah berhubungan dengan banyak wanita lain selain ibu mertua dan dia tak pernah mendapatkan wanita yang mempunyai tubuh yang semenarik seperti tubuhku ini. Aku setengah tak percaya mendengar omongannya. Ia hanya mencoba merayuku dengan rayuan murahan dan menganggap aku akan merasa tersanjung. Aku mencoba menghindar&#8230; tapi sudah tidak ada lagi ruang gerak bagiku di sudut tempat tidur. Ketika kutatap wajahnya, aku melihat mimik mukanya yang nampaknya makin hitam karena telah dipenuhi nafsu birahi. Aku mulai berpikir bagaimana caranya untuk menurunkan hasrat birahi mertuaku yang kelihatan sudah menggebu-gebu.</p>
<p style="text-align: justify;">Melihat caranya, aku sadar mertuaku akan berbuat apa pun agar maksudnya kesampaian. Kemudian terlintas dalam pikiranku untuk mengocok kemaluannya saja, sehingga nafsunya bisa tersalurkan tanpa harus memperkosa aku. Akhirnya dengan hati-hati kutawarkan hal itu kepadanya. &#8220;Yahh&#8230; biar Novi mengocok Ayah saja ya&#8230; karena Novi nggak mau ayah menyetubuhi Novi&#8230; Gimana&#8230;?&#8221; Mertuaku diam dan tampak berpikir sejenak. Raut mukanya kelihatan sedikit kecewa namun bercampur sedikit lega karena aku masih mau bernegosiasi. &#8220;Baiklah..&#8221;, kata mertuaku seakan tidak punya pilihan lain karena aku ngotot tak akan memberikan apa yang dimintanya. Mungkin inilah kesalahanku. Aku terlalu yakin bahwa jalan keluar ini akan meredam keganasannya. Kupikir biasanya lelaki kalau sudah tersalurkan pasti akan surut nafsunya untuk kemudian tertidur. Aku lalu menarik celana pendeknya. Ugh! Sialan, ternyata dia sudah tidak memakai celana dalam lagi. Begitu celananya kutarik, batangnya langsung melonjak berdiri seperti ada pernya. Aku sangat kaget dan terkesima melihat batang kemaluan mertuaku itu&#8230;.</p>
<p style="text-align: justify;">Oooohhhh&#8230;&#8230; benar-benar panjang dan besar. Jauh lebih besar daripada punya Toni suamiku. Mana hitam lagi, dengan kepalanya yang mengkilap bulat besar sangat tegang berdiri dengan gagah perkasa, padahal usianya sudah tidak muda lagi. Tanganku bergerak canggung. Bagaimananpun baru kali ini aku memegang kontol orang selain milik suamiku, mana sangat besar lagi sehingga hampir tak bisa muat dalam tanganku. Perlahan-lahan tanganku menggenggam batangnya. Kudengar lenguhan nikmat keluar dari mulutnya seraya menyebut namaku. &#8220;Ooooohhh&#8230;..sssshhhh&#8230;..Noviii&#8230;eee..eeenaaak. .. betulll..!!!&#8221; Aku mendongak melirik kepadanya. Nampak wajah mertuaku meringis menahan remasan lembut tanganku pada batangnya. Aku mulai bergerak turun naik menyusuri batangnya yang besar panjang dan teramat keras itu. Sekali-sekali ujung telunjukku mengusap moncongnya yang sudah licin oleh cairan yang meleleh dari liangnya. Kudengar mertuaku kembali melenguh merasakan ngilu akibat usapanku. Aku tahu dia sudah sangat bernafsu sekali dan mungkin dalam beberapa kali kocokan ia akan menyemburkan air maninya.</p>
<p style="text-align: justify;">Sebentar lagi tentu akan segera selesai sudah, pikirku mulai tenang. Dua menit, tiga&#8230; sampai lima menit berikutnya mertuaku masih bertahan meski kocokanku sudah semakin cepat. Kurasakan tangan mertuaku menggerayangi ke arah dadaku. Aku kembali mengingatkan agar jangan berbuat macam-macam. &#8220;Nggak apa-apa &#8230;..biar cepet keluar..&#8221;, kata mertuaku memberi alasan. Aku tidak mengiyakan dan juga tidak menepisnya karena kupikir ada benarnya juga. Biar cepat selesai, kataku dalam hati. Mertuaku tersenyum melihatku tidak melarangnya lagi. Ia dengan lembut dan hati-hati mulai meremas-remas kedua payudara di balik dasterku. Aku memang tidak mengenakan kutang kerena habis menyusui si kecil tadi. Jadi remasan tangan mertua langsung terasa karena kain daster itu sangat tipis. Sebagai wanita normal, aku merasakan kenikmatan juga atas remasan ini. Apalagi tanganku masih menggenggam batangnya dengan erat, setidaknya aku mulai terpengaruh oleh keadaan ini. Meski dalam hati aku sudah bertekad untuk menahan diri dan melakukan semua ini demi kebaikan diriku juga.</p>
<p style="text-align: justify;">Karena tentunya setelah ini selesai dia tidak akan berbuat lebih jauh lagi padaku. &#8220;Novi sayang.., buka ya? Sedikit aja..&#8221;, pinta mertuaku kemudian. &#8220;Jangan Yah. Tadi kan sudah janji nggak akan macam-macam..&#8221;, ujarku mengingatkan. &#8220;Sedikit aja. Ya?&#8221; desaknya lagi seraya menggeser tali daster dari pundakku sehingga bagian atas tubuhku terbuka. Aku jadi gamang dan serba salah. Sementara bagian dada hingga ke pinggang sudah telanjang. Nafas mertuaku semakin memburu kencang melihatku setengah telanjang. &#8220;Oh.., Novii kamu benar-benar cantik sekali&#8230;.!!!&#8221;, pujinya sambil memilin-milin dengan hati-hati puting susuku, yang mulai basah dengan air susu. Aku terperangah. Situasi sudah mulai mengarah pada hal yang tidak kuinginkan. Aku harus bertindak cepat. Tanpa pikir panjang, langsung kumasukkan batang kemaluan mertuaku ke dalam mulutku dan mengulumnya sebisa mungkin agar ia cepat-cepat selesai dan tidak berlanjut lebih jauh lagi. Aku sudah tidak mempedulikan perbuatan mertuaku pada tubuhku. Aku biarkan tangannya dengan leluasa menggerayang ke sekujur tubuhku, bahkan ketika kurasakan tangannya mulai mengelus-elus bagian kemaluanku pun aku tak berusaha mencegahnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku lebih berkonsentrasi untuk segera menyelesaikan semua ini secepatnya. Jilatan dan kulumanku pada batang kontolnya semakin mengganas sampai-sampai mertuaku terengah-engah merasakan kelihaian permainan mulutku. Aku tambah bersemangat dan semakin yakin dengan kemampuanku untuk membuatnya segera selesai. Keyakinanku ini ternyata berakibat fatal bagiku. Sudah hampir setengah jam, aku belum melihat tanda-tanda apapun dari mertuaku. Aku jadi penasaran, sekaligus merasa tertantang. Suamiku pun yang sudah terbiasa denganku, bila sudah kukeluarkan kemampuan seperti ini pasti takkan bertahan lama. Tapi kenapa dengan mertuaku ini? Apa ia memakai obat kuat? Saking penasarannya, aku jadi kurang memperhatikan perbuatan mertuaku padaku. Entah sejak kapan daster tidurku sudah terlepas dari tubuhku. Aku baru sadar ketika mertuaku berusaha menarik celana dalamku dan itu pun terlambat! Begitu menengok ke bawah, celana itu baru saja terlepas dari ujung kakiku. Aku sudah telanjang bulat! Ya ampun, kenapa kubiarkan semua ini terjadi.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku menyesal kenapa memulainya. Ternyata kejadiannya tidak seperti yang kurencanakan. Aku terlalu sombong dengan keyakinanku. Kini semuanya sudah terlambat. Berantakan semuanya! Pekikku dalam hati penuh penyesalan. Situasi semakin tak terkendali. Lagi-lagi aku kecolongan. Mertuaku dengan lihainya dan tanpa kusadari sudah membalikkan tubuhku hingga berlawanan dengan posisi tubuhnya. Kepalaku berada di bawahnya sementara kepalanya berada di bawahku. Kami sudah berada dalam posisi enam sembilan! Tak lama kemudian kurasakan sentuhan lembut di seputar selangkanganku. Tubuhku langsung bereaksi dan tanpa sadar aku menjerit lirih. Suka tidak suka, mau tidak mau, kurasakan kenikmatan cumbuan mertuaku di sekitar itu. Akh luar biasa! Aku menjerit dalam hati sambil menyesali diri. Aku marah pada diriku sendiri, terutama pada tubuhku sendiri yang sudah tidak mau mengikuti perintah pikiran sehatku. Tubuhku meliuk-liuk mengikuti irama permainan lidah mertuaku. Kedua pahaku mengempit kepalanya seolah ingin membenamkan wajah itu ke dalam selangkanganku.</p>
<p style="text-align: justify;">Kuakui ia memang pandai membuat birahiku memuncak. Kini aku sudah lupa dengan siasat semula. Aku sudah terbawa arus. Aku malah ingin mengimbangi permainannya. Mulutku bermain dengan lincah. Batangnya kukempit dengan buah dadaku yang membusung penuh dan kenyal. Maklum, masih menyusui. Sementara kontol itu bergerak di antara buah dadaku, mulutku tak pernah lepas mengulumnya. Tanpa kusadari kami saling mencumbu bagian vital masing-masing selama lima belas menit. Aku semakin yakin kalau mertuaku memakai obat kuat. Ia sama sekali belum memperlihatkan tanda-tanda akan keluar, sementara aku sudah mulai merasakan desiran-desiran kuat bergerak cepat ke arah pusat kewanitaanku. Jilatan dan hisapan mulut mertuaku benar-benar membuatku tak berdaya. Aku semakin tak terkendali. Pinggulku meliuk-liuk liar. Tubuhku mengejang, seluruh aliran darah serasa terhenti dan aku tak kuasa untuk menahan desakan kuat gelombang lahar panas yang mengalir begitu cepat. &#8220;Oooohhhhh&#8230;&#8230;.aaaa&#8230;.aaaaa&#8230;&#8230;aaauugghhhhhhh hh..!!!!!&#8221; aku menjerit lirih begitu aliran itu mendobrak pertahananku.</p>
<p style="text-align: justify;">Kurasakan cairan kewanitaanku menyembur tak tertahankan. Tubuhku menggelepar seperti ikan terlempar ke darat merasakan kenikmatan ini. Aku terkulai lemas sementara batang kontol mertuaku masih berada dalam genggamanku dan masih mengacung dengan gagahnya, bahkan terasa makin kencang saja. Aku mengeluh karena tak punya pilihan lain. Sudah kepalang basah. Aku sudah tidak mempunyai cukup tenaga lagi untuk mempertahankan kehormatanku, aku hanya tergolek lemah tak berdaya saat mertuaku mulai menindih tubuhku. Dengan lembut ia mengusap wajahku dan berkata betapa cantiknya aku sekarang ini. &#8220;Noviii&#8230;..kau sungguh cantik. Tubuhmu indah dan langsing tapi padat berisi.., mmpphh..!!!&#8221;, katanya sambil menciumi bibirku, mencoba membuka bibirku dengan lidahnya. Aku seakan terpesona oleh pujiannya. Cumbu rayunya begitu menggairahkanku. Aku diperlakukan bagai sebuah porselen yang mudah pecah. Begitu lembut dan hati-hati. Hatiku entah mengapa semakin melambung tinggi mendengar semua kekagumannya terhadap tubuhku. Wajahku yang cantik, tubuhku yang indah dan berisi.</p>
<p style="text-align: justify;">Payudaraku yang membusung penuh dan menggantung indah di dada. Permukaan agak menggembung, pinggul yang membulat padat berisi menyambung dengan buah pantatku yang `bahenol’. Diwajah mertuaku kulihat memperlihatkan ekspresi kekaguman yang tak terhingga saat matanya menatap nanar ke arah lembah bukit di sekitar selangkanganku yang baru numbuh bulu-bulu hitam pendek, dengan warna kultiku yang putih mulus. Kurasakan tangannya mengelus paha bagian dalam. Aku mendesis dan tanpa sadar membuka kedua kakiku yang tadinya merapat. Mertuaku menempatkan diri di antara kedua kakiku yang terbuka lebar. Kurasakan kepala kontolnya yang besar ditempelkan pada bibir kemaluanku. Digesek-gesek, mulai dari atas sampai ke bawah. Naik turun. Aku merasa ngilu bercampur geli dan nikmat. Cairan yang masih tersisa di sekitar itu membuat gesekannya semakin lancar karena licin. Aku terengah-engah merasakannya. Kelihatannya ia sengaja melakukan itu. Apalagi saat moncong kontolnya itu menggesek-gesek kelentitku yang sudah menegang. Mertuaku menatap tajam melihat reaksiku.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku balas menatap seolah memintanya untuk segera memasuki diriku secepatnya. Ia tahu persis apa yang kurasakan saat itu. Namun kelihatannya ia ingin melihatku menderita oleh siksaan nafsuku sendiri. Kuakui memang aku sudah tak tahan untuk segera menikmati batang kontolnya dalam memekku. Aku ingin segera membuatnya `KO’. Terus terang aku sangat penasaran dengan keperkasaannya. Kuingin buktikan bahwa aku bisa membuatnya cepat-cepat mencapai puncak kenikmatan. &#8220;Yah..?&#8221; panggilku menghiba. &#8220;Apa sayang&#8230;&#8221;, jawabnya seraya tersenyum melihatku tersiksa. &#8220;Cepetan..yaaahhhhh&#8230;&#8230;.!!!&#8221; &#8220;Sabar sayang. Kamu ingin Bapak berbuat apa&#8230;&#8230;.?&#8221; tanyanya pura-pura tak mengerti. Aku tak menjawab. Tentu saja aku malu mengatakannya secara terbuka apa keinginanku saat itu. Namun mertuaku sepertinya ingin mendengarnya langsung dari bibirku. Ia sengaja mengulur-ulur dengan hanya menggesek-gesekan kontolnya. Sementara aku benar-benar sudah tak tahan lagi mengekang birahiku. &#8220;Novii&#8230;.iiii&#8230; iiiingiiinnnn aaa&#8230;aaayahhhh&#8230;.se&#8230;.se.. seeegeeeraaaa ma&#8230; masukin..!!!&#8221;, kataku terbata-bata dengan terpaksa.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku sebenarnya sangat malu mengatakan ini. Aku yang tadi begitu ngotot tidak akan memberikan tubuhku padanya, kini malah meminta-minta. Perempuan macam apa aku ini!? &#8220;Apanya yang dimasukin&#8230;&#8230;.!!&#8221;, tanyanya lagi seperti mengejek. &#8220;Aaaaaaggggkkkkkhhhhh&#8230;..ya&#8230;yaaaahhhh. Ja&#8230;..ja&#8230;.Jaaangan siksa Noviiii..!!!&#8221; &#8220;Bapak tidak bermaksud menyiksa kamu sayang&#8230;&#8230;!!&#8221; &#8220;Oooooohhhhhh.., Yaaaahhhh&#8230; Noviii ingin dimasukin kontol ayah ke dalam memek Novi&#8230;&#8230; uugghhhh..!!!&#8221; Aku kali ini sudah tak malu-malu lagi mengatakannya dengan vulgar saking tak tahannya menanggung gelombang birahi yang menggebu-gebu. Aku merasa seperti wanita jalang yang haus seks. Aku hampir tak percaya mendengar ucapan itu keluar dari bibirku sendiri. Tapi apa mau dikata, memang aku sangat menginginkannya segera. &#8220;Baiklah sayang. Tapi pelan-pelan ya&#8221;, kata mertuaku dengan penuh kemenangan telah berhasil menaklukan diriku. &#8220;Uugghh..&#8221;, aku melenguh merasakan desakan batang kontolnya yang besar itu. Aku menunggu cukup lama gerakan kontol mertuaku memasuki diriku.</p>
<p style="text-align: justify;">Serasa tak sampai-sampai. Selain besar, kontol mertuaku sangat panjang juga. Aku sampai menahan nafas saat batangnya terasa mentok di dalam. Rasanya sampai ke ulu hati. Aku baru bernafas lega ketika seluruh batangnya amblas di dalam. Mertuaku mulai menggerakkan pinggulnya perlahan-lahan. Satu, dua dan tiga tusukan mulai berjalan lancar. Semakin membanjirnya cairan dalam liang memekku membuat kontol mertuaku keluar masuk dengan lancarnya. Aku mengimbangi dengan gerakan pinggulku. Meliuk perlahan. Naik turun mengikuti irama tusukannya. Gerakan kami semakin lama semakin meningkat cepat dan bertambah liar. Gerakanku sudah tidak beraturan karena yang penting bagiku tusukan itu mencapai bagian-bagian peka di dalam relung kewanitaanku. Dia tahu persis apa yang kuinginkan. Ia bisa mengarahkan batangnya dengan tepat ke sasaran. Aku bagaikan berada di awang-awang merasakan kenikmatan yang luar biasa ini. Batang mertuaku menjejal penuh seluruh isi liangku, tak ada sedikitpun ruang yang tersisa hingga gesekan batang itu sangat terasa di seluruh dinding vaginaku.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Aduuhh.. auuffhh.., nngghh..!!!&#8221;, aku merintih, melenguh dan mengerang merasakan semua kenikmatan ini. Kembali aku mengakui keperkasaan dan kelihaian mertuaku di atas ranjang. Ia begitu hebat, jantan dan entah apalagi sebutan yang pantas kuberikan padanya. Toni suamiku tidak ada apa-apanya dibandingkan ayahnya yang bejat ini. Yang pasti aku merasakan kepuasan tak terhingga bercinta dengannya meski kusadari perbuatan ini sangat terlarang dan akan mengakibatkan permasalahan besar nantinya. Tetapi saat itu aku sudah tak perduli dan takkan menyesali kenikmatan yang kualami. Mertuaku bergerak semakin cepat. Kontolnya bertubi-tubi menusuk daerah-daerah sensitive. Aku meregang tak kuasa menahan desiran-desiran yang mulai berdatangan seperti gelombang mendobrak pertahananku. Sementara mertuaku dengan gagahnya masih mengayunkan pinggulnya naik turun, ke kiri dan ke kanan. Eranganku semakin keras terdengar seiring dengan gelombang dahsyat yang semakin mendekati puncaknya. Melihat reaksiku, mertuaku mempercepat gerakannya. Batang kontolnya yang besar dan panjang itu keluar masuk dengan cepatnya seakan tak memperdulikan liangku yang sempit itu akan terkoyak akibatnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Kulihat tubuh mertuaku sudah basah bermandikan keringat. Aku pun demikian. Tubuhku yang berkeringat nampak mengkilat terkena sinar lampu kamar. Aku mencoba meraih tubuh mertuaku untuk mendekapnya. Dan disaat-saat kritis, aku berhasil memeluknya dengan erat. Kurengkuh seluruh tubuhnya sehingga menindih tubuhku dengan erat. Kurasakan tonjolan otot-ototnya yang masih keras dan pejal di sekujur tubuhku. Kubenamkan wajahku di samping bahunya. Pinggul kuangkat tinggi-tinggi sementara kedua tanganku menggapai buah pantatnya dan menarik kuat-kuat. Kurasakan semburan demi semburan memancar kencang dari dalam diriku. Aku meregang seperti ayam yang baru dipotong. Tubuhku mengejang-ngejang di atas puncak kenikmatan yang kualami untuk kedua kalinya saat itu. &#8220;Yaaaah.., ooooohhhhhhh.., Yaaaahhhhh..eeee&#8230;eeennnaaaakkkkkkkk&#8230;!!!&#8221; Hanya itu yang bisa keluar dari mulutku saking dahsyatnya kenikmatan yang kualami bersamanya. &#8220;Sayang nikmatilah semua ini. Bapak ingin kamu dapat merasakan kepuasan yang sesungguhnya belum pernah kamu alami&#8230;.&#8221;, bisik ayah dengan mesranya.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Bapak sayang padamu, Bapak cinta padamu&#8230;. Bapak ingin melampiaskan kerinduan yang menyesak selama ini..&#8221;, lanjutnya tak henti-henti membisikan untaian kata-kata indah yang terdengar begitu romantis. Aku mendengarnya dengan perasaan tak menentu. Kenapa ini datangnya dari lelaki yang bukan semestinya kusayangi. Mengapa kenikmatan ini kualami bersama mertuaku sendiri, bukan dari anaknya yang menjadi suamiku&#8230;????. Tanpa terasa air mata menitik jatuh ke pipi. Mertuaku terkejut melihat ini. Ia nampak begitu khawatir melihatku menangis. &#8220;Novi sayang, kenapa menangis?&#8221; bisiknya buru-buru. &#8220;Maafkan Bapak kalau telah membuatmu menderita..&#8221;, lanjutnya seraya memeluk dan mengelus-elus rambutku dengan penuh kasih sayang. Aku semakin sedih merasakan ini. Tetapi ini bukan hanya salahnya. Aku pun berandil besar dalam kesalahan ini. Aku tidak bisa menyalahkannya saja. Aku harus jujur dan adil menyikapinya. &#8220;Bapak tidak salah. Novi yang salah..&#8221;, kataku kemudian. &#8220;Tidak sayang. Bapak yang salah&#8230;&#8221;, katanya besikeras. &#8220;Kita, Yah. Kita sama-sama salah&#8221;, kataku sekaligus memintanya untuk tidak memperdebatkan masalah ini lagi.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Terima kasih sayang&#8221;, kata mertuaku seraya menciumi wajah dan bibirku. Kurasakan ciumannya di bibirku berhasil membangkitkan kembali gairahku. Aku masih penasaran dengannya. Sampai saat ini mertuaku belum juga mencapai puncaknya. Aku seperti mempunyai utang yang belum terbayar. Kali ini aku bertekad keras untuk membuatnya mengalami kenikmatan seperti apa yang telah ia berikan kepadaku. Aku tak sadar kenapa diriku jadi begitu antusias untuk melakukannya dengan sepenuh hati. Biarlah terjadi seperti ini, toh mertuaku tidak akan selamanya berada di sini. Ia harus pulang ke Amerika. Aku berjanji pada diriku sendiri, ini merupakan yang terakhir kalinya. Timbulnya pikiran ini membuatku semakin bergairah. Apalagi sejak tadi mertuaku terus-terusan menggerakan kontolnya di dalam memekku. Tiba-tiba saja aku jadi beringas. Kudorong tubuh mertuaku hingga terlentang. Aku langsung menindihnya dan menicumi wajah, bibir dan sekujur tubuhnya. Kembali kuselomoti batang kontolnya yang tegak bagai tiang pancang beton itu. Lidahku menjilat-jilat, mulutku mengemut-emut. Tanganku mengocok-ngocok batangnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Kulirik kewajah mertuaku kelihatannya menyukai perubahanku ini. Belum sempat ia akan mengucapkan sesuatu, aku langsung berjongkok dengan kedua kaki bertumpu pada lutut dan masing-masing berada di samping kiri dan kanan tubuh mertuaku. Selangkanganku berada persis di atas batangnya. &#8220;Akh sayang!&#8221; pekik mertuaku tertahan ketika batangnya kubimbing memasuki liang memekku. Tubuhku turun perlahan-lahan, menelan habis seluruh batangnya. Selanjutnya aku bergerak seperti sedang menunggang kuda. Tubuhku melonjak-lonjak seperti kuda binal yang sedang birahi. Aku tak ubahnya seperti pelacur yang sedang memberikan kepuasan kepada hidung belang. Tetapi aku tak perduli. Aku terus berpacu. Pinggulku bergerak turun naik, sambil sekali-sekali meliuk seperti ular. Gerakan pinggulku persis seperti penyanyi dangdut dengan gaya ngebor, ngecor, patah-patah, bergetar dan entah gaya apalagi. Pokoknya malam itu aku mengeluarkan semua jurus yang kumiliki dan khusus kupersembahkan kepada ayah mertuaku sendiri! &#8220;Ooohh&#8230; oohhhh&#8230; oooouugghh.. Noviiiii.., luar biasa&#8230;..!!!&#8221; jerit mertuaku merasakan hebatnya permainanku.</p>
<p style="text-align: justify;">Pinggulku mengaduk-aduk lincah, mengulek liar tanpa henti. Tangan mertuaku mencengkeram kedua buah dadaku, diremas dan dipilin-pilin, sehingga air susuku keluar jatuh membasahi dadanya. Ia lalu bangkit setengah duduk. Wajahnya dibenamkan ke atas dadaku. Menjilat-jilat seluruh permukaan dadaku yang berlumuran air susuku dan akhirnya menciumi putting susuku. Menghisapnya kuat-kuat sambil meremas-remas menyedot air susuku sebanyak-banyaknya. Kami berdua saling berlomba memberi kepuasan. Kami tidak lagi merasakan dinginnya udara meski kamarku menggunakan AC. Tubuh kami bersimbah peluh, membuat tubuh kami jadi lengket satu sama lain. Aku berkutat mengaduk-aduk pinggulku. Mertuaku menggoyangkan pantatnya. Kurasakan tusukan kontolnya semakin cepat seiring dengan liukan pinggulku yang tak kalah cepatnya. Permain kami semakin meningkat dahsyat. Sprei ranjangku sudah tak karuan bentuknya, selimut dan bantal serta guling terlempar berserakan di lantai akibat pergulatan kami yang bertambah liar dan tak terkendali. Kurasakan mertuaku mulai memperlihatkan tanda-tanda.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku semakin bersemangat memacu pinggulku untuk bergoyang. Mungkin goyangan pinggulku akan membuat iri para penyanyi dangdut saat ini. Tak selang beberapa detik kemudian, aku pun merasakan desakan yang sama. Aku tak ingin terkalahkan kali ini. Kuingin ia pun merasakannya. Tekadku semakin kuat. Aku terus memacu sambil menjerit-jerit histeris. Aku sudah tak perduli suaraku akan terdengar kemana-mana. Kali ini aku harus menang! Upayaku ternyata tidak percuma. Kurasakan tubuh mertuaku mulai mengejang-ngejang. Ia mengerang panjang. Menggeram seperti harimau terluka. Aku pun merintih persis kuda betina binal yang sedang birahi. &#8220;Eerrgghh.. ooooo&#8230;.ooooooo&#8230;..oooooouugghhhhhh..!!!!&#8221; mertuaku berteriak panjang. Tubuhnya menghentak-hentak liar. Tubuhku terbawa goncangannya. Aku memeluknya erat-erat agar jangan sampai terpental oleh goncangannya. Mendadak aku merasakan semburan dahsyat menyirami seluruh relung vaginaku. Semprotannya begitu kuat dan banyak membanjiri liangku. Akupun rasanya tidak kuat lagi menahan desakan dalam diriku.</p>
<p style="text-align: justify;">Sambil mendesakan pinggulku kuat-kuat, aku berteriak panjang saat mencapai puncak kenikmatan berbarengan dengan ayah mertuaku. Tubuh kami bergulingan di atas ranjang sambil berpelukan erat. Saking dahsyatnya, tubuh kami terjatuh dari ranjang. Untunglah ranjang itu tidak terlalu tinggi dan permukaan lantainya tertutup permadani tebal yang empuk sehingga kami tidak sampai terkilir atau terluka. &#8220;Oooooogggghhhhhhh.. yaahh..,nik&#8230;.nikkkk nikmaatthh&#8230;. yaaahhhh..!!!!&#8221; jeritku tak tertahankan. Tulang-tulangku serasa lolos dari persendiannya. Tubuhku lunglai, lemas tak bertenaga terkuras habis dalam pergulatan yang ternyata memakan waktu lebih dari 2 jam! Gila! Jeritku dalam hati. Belum pernah rasanya aku bercinta sampai sedemikian lamanya. Aku hanya bisa memeluknya menikmati sisa-sisa kepuasan. Perasaanku tiba-tiba terusik. Sepertinya aku mendengar sesuatu dari luar pintu kamar, kayaknya si Inah&#8230;. Karena mendengar suara ribut-ribut dari kamar, rupanya ia datang untuk mengintip&#8230;. tapi aku sudah terlalu lelah untuk memperhatikannya dan akhirnya tertidur dalam pelukan mertuaku, melupakan semua konsekuensi dari peristiwa di sore ini di kemudian hari&#8230;..</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ceritasex.cn/diperkosa-ayah-mertua-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mama dan Tante Rina</title>
		<link>http://www.ceritasex.cn/mama-dan-tante-rina/</link>
		<comments>http://www.ceritasex.cn/mama-dan-tante-rina/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 06 Nov 2011 13:57:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cerita Sex</dc:creator>
				<category><![CDATA[kisah nyata]]></category>
		<category><![CDATA[Sedarah]]></category>
		<category><![CDATA[Seks Umum]]></category>
		<category><![CDATA[binatang]]></category>
		<category><![CDATA[incest]]></category>
		<category><![CDATA[kontol]]></category>
		<category><![CDATA[liar]]></category>
		<category><![CDATA[mama]]></category>
		<category><![CDATA[nafsu binal]]></category>
		<category><![CDATA[ngentot]]></category>
		<category><![CDATA[tante]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ceritasex.cn/?p=3164</guid>
		<description><![CDATA[Namaku Roy, 32 tahun. Saat ini aku tinggal di Bandung. Banyak yang bilang aku ganteng. Kisah yang akan aku tulis ini adalah kisah nyata dari pengalaman sex aku dengan mama dan tante aku. Cerita ini dimulai ketika aku berusia 20 tahun. Saat itu tante Rina datang dan menginap selama beberapa hari di rumah karena suaminya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Namaku Roy, 32 tahun. Saat ini aku tinggal di Bandung. Banyak yang bilang aku ganteng. Kisah yang akan aku tulis ini adalah kisah nyata dari pengalaman sex aku dengan mama dan tante aku.</p>
<p style="text-align: justify;">Cerita ini dimulai ketika aku berusia 20 tahun. Saat itu tante Rina datang dan menginap selama beberapa hari di rumah karena suaminya sedang pergi keluar kota. Dia merasa sepi dan takut tinggal di rumahnya sendirian. Tante Rina berusia 32 tahun. Penampilannya biasa saja. Tinggi badan 160 cm. Ramping. Tapi aku suka bodynya. Buah dada 36B, dan pantatnya besar bulat. Aku suka lihat tante Rina kalau sudah memakai celana panjang ketat sehingga pantatnya sangat membentuk, merangsang. Tante Rina adalah adik kandung Papa aku.</p>
<p style="text-align: justify;">Waktu itu hari aku tidak masuk kuliah. Aku diam di rumah bersama mama dan tante Rina. Pagi itu, jam 10, kulihat mama baru selesai mandi. Mama keluar dari kamar mandi memakai handuk menutupi dada dan setengah pahanya yang putih mulus. Mama berusia 38 tahun. Sangat cantik.</p>
<p style="text-align: justify;">Saat itu entah secara tidak sengaja aku melihat mama membetulkan lilitan handuknya sebelum masuk kamar. Terlihat buah dada mama walau tidak terlalu besar tapi masih bagus bentuknya. Yang terutama jadi perhatian aku adalah memek mama yang dihiasi bulu hitam tidak terlalu lebat berbentuk segitiga rapi. Mungkin karena mama rajin merawatnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Mama sepertinya tidak sadar kalau aku sedang memperhatikannya. Mama langsung masuk kamar. Hati berdebar dan terbayang terus pemandangan tubuh mama tadi. Aku dekati pintu, lalu aku intip dari lubang kunci. Terlihat mama sedang membuka lilitan handuknya lalu mengeringkan rambutnya dengan handuk tersebut. Terlihat tubuh mama sangat menggairahkan. Terutama memek mama yang aku fokuskan. Secara otomatis tangan aku meraba kontol dari luar celana, lalu meremasnya pelan-pelan sambil menikmati keindahan tubuh merangsang mama. Karena sudah tak tahan lagi, aku segera ke kamar mandi dan onani sambil membayangkan menyetubuhi mama. Sampai akhirnya.. Crot! Crot! Crot! Aku orgasme.</p>
<p style="text-align: justify;">Sore harinya, waktu aku sedang tiduran sambil membaca majalah, tiba-tiba terdengar suara mama memanggil aku.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Roy..!&#8221; panggil mama.<br />
&#8220;Ya, Ma&#8230;&#8221; sahut aku sambil bergegas ke kamar mama.<br />
&#8220;Ada apa, Ma?&#8221; tanya aku.<br />
&#8220;Pijitin badan mama, Roy. Pegal rasanya&#8230;&#8221; kata mama sambil tengkurap.<br />
&#8220;Iya, Ma&#8230;&#8221; jawab aku.<br />
<span id="more-3164"></span><br />
Waktu itu mama memakai daster. Aku mulai memijit kaki mama dari betis. Terus sampai naik ke paha. Mama tetap diam merasakan pijitan aku. Karena daster mama agak mengganggu pijitan, maka aku bertanya pada mama, &#8220;Ma, dasternya naikin ya? mengganggu nih&#8230;&#8221; tanya aku.<br />
&#8220;Emang kamu mau mijitan apa aja, Roy?&#8221; tanya mama.<br />
&#8220;Seluruh badan mama,&#8221; jawab aku.<br />
&#8220;Ya sudah, mama buka baju saja,&#8221; kata mama sambil bangkit, lalu melepas dasternya tanpa ragu.<br />
&#8220;Ayo lanjutkan, Roy!&#8221; kata mama sambil kembali tengkurap. Darah aku berdesir melihat mama setengah telanjang di depan mata.<br />
&#8220;Mama tidak malu buka baju depan Roy?&#8221; tanya aku.<br />
&#8220;Malu kenapa? Kan anak kandung mama.. Biasa sajalah,&#8221; jawab mama sambil memejamkan mata.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku berdebar. Tanganku mulai memijit paha mama. Sebetulnya bukan meimijit, istilah yang tepat adalah mengusap agak keras. Aku nikmati usapan tangan aku di paha mama sambil mata terus memandangi pantat mama yang memakai celana dalam merah. Setelah selesai &#8220;memijit&#8221; paha, karena masih ragu, aku tidak memijit pantat mama, tapi langsung naik memijit pinggang mama.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Kok dilewat sih, Roy?&#8221; protes mama sambil menggoyangkan pantatnya.<br />
&#8220;Mm.. Roy takut mama marah&#8230;&#8221; jawab aku.<br />
&#8220;Marah kenapa? Kamu kan emang mama pinta mijitin.. Ayo teruskan!&#8221; pinta mama.</p>
<p style="text-align: justify;">Karena sudah mendapat angin, aku mulai meraba dan agak meremas pantat mama dari luar celana dalamnya. Nyaman rasanya memijit dan meremas pantat mama yang bulat dan padat. kontol aku sudah mulai mengeras. Mama tetap terpejam menikmati pijitan aku. Karena birahi aku sudah naik, aku sengaja memasukkan tangan aku ke celana dalam mama dan terus meremasnya. Mama tetap diam. Aku makin berani.</p>
<p style="text-align: justify;">Jari tengah aku mulai menyusuri belahan pantat mama sampai ke belahan memek mama. Jari aku diam disana. Aku takut mama marah. Tapi mama tetap diam sambil memejamkan mata. Aku mulai menggerakan jari tengah aku di belahan memek mama. Mama tetap diam. Terasa memek mama mulai basah. Dan aku tahu kalau mama agak menggoyang-goyangkan pantatnya, mungkin mama merasa enak menikmati jari aku di belahan memeknya. Itu perkiraan aku.</p>
<p style="text-align: justify;">Karena sudah basah, aku nekad masukkan jari aku ke lubang memek mama. Mama tetap memejamkan mata, tapi pantatnya mulai bergoyang agak cepat.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Roy, kamu ngapain?&#8221; tanya mama sambil membalikkan badannya. Aku kaget dan takut mama marah.<br />
&#8220;Maaf, Ma&#8230;&#8221; kataku tertunduk tidak berani memandang mata mama.<br />
&#8220;Roy tidak tahan menahan nafsu&#8230;&#8221; kataku lagi.<br />
&#8220;Nafsu apa?&#8221; kata mama dengan nada lembut.<br />
&#8220;Sini berbaring dekat mama,&#8221; kata mama sambil menggeserkan badannya. Aku diam tidak mengerti.<br />
&#8220;Sini berbaring Roy,&#8221; ujar mama lagi.<br />
&#8220;Tutup dulu pintu kamar,&#8221; kata mama.<br />
&#8220;Ya, Ma&#8230;&#8221; kataku sambil berdiri dan segera menutup pintu. Kemudian aku berbaring di samping mama.</p>
<p style="text-align: justify;">Mama menatapku sambil membelai rambut aku.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Kenapa bernafsu dengan mama, Roy,&#8221; tanya mama lembut.<br />
&#8220;Mama marahkah?&#8221; tanya aku.<br />
&#8220;Mama tidak marah, Roy.. Jawablah jujur,&#8221; ujar mama.<br />
&#8220;Melihat tubuh mama, Roy tidak tahu kenapa jadi pengen, Ma&#8230;&#8221; kataku. Mama tersenyum.<br />
&#8220;Berarti anak mama sudah mulai dewasa,&#8221; kata mama.<br />
&#8220;Kamu benar-benar mau sayang?&#8221; tanya mama.<br />
&#8220;Maksud mama?&#8221; tanya aku.<br />
&#8220;Dua jam lagi Papa kamu pulang&#8230;&#8221; hanya itu yang keluar dari mulut mama sambil tangannya meraba kontol aku dari luar celana.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku kaget sekaligus senang. Mama mencium bibir aku, dan akupun segera membalasnya. Kami berciuman mesra sambil tangan kami saling meraba dan meremas.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Buka pakaian kamu, Roy,&#8221; kata mama. Aku menurut, dan segera melepas baju dan celana.</p>
<p style="text-align: justify;">Mama juga melepas BH dan celana dalamnya. Mama duduk di tepi tempat tidur, sedangkan aku tetap berdiri.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;kontol kamu besar, Roy&#8230;&#8221; kata mama sambil meraih kontol aku dan meremas serta mengocoknya. Enak rasanya.<br />
&#8220;Kamu udah pernah maen dengan perempuan tidak, sayang?&#8221; tanya mama.<br />
Sambil menikmati enaknya dikocok kontol aku menjawab, &#8220;Belum pernah, Ma.. Mmhh..&#8221;. Mama tersenyum, entah apa artinya.</p>
<p style="text-align: justify;">Lalu mama menarik pantat aku hingga kontol aku hampir mengenai wajahnya. Lalu mama mulai menjilati kontol aku mulai dari batang sampai ke kepalanya. Rasanya sangat nikmat. Lebih nikmat lagi ketika mama memasukkan kontolku ke mulutnya. Hisapan dan permainan lidah mama sangat pandai. Tanganku dengan keras memegang dan meremas rambut mama dengan keras karena merasakan kenikmatan yang amat sangat. Tiba-tiba mama menghentikan hisapannya, tapi tangannya tetap mengocok kontolku perlahan.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Enak sayang?&#8221; tanya mama sambil menengadah menatapku.<br />
&#8220;Iya, Ma.. Enak sekali,&#8221; jawabku dengan suara tertahan.<br />
&#8220;Sini sayang. kontolmu udah besar dan tegang. Sekarang cepat masukkan&#8230;&#8221; ujar mama sambil menarik tanganku.</p>
<p style="text-align: justify;">Mama lalu telentang di tempat tidur sambil membuka lebar pahanya. Tanpa ragu aku naiki tubuh mama. Aku arahkan kontolku ke lubang memeknya. Tangan mama membimbing kontolku ke lubang memeknya.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Ayo, Roy.. Masukkan&#8230;&#8221; ujar mama sambil terus memandang wajahku.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku tekan kontolku. Lalu terasa kepala kontolku memasuki lubang yang basah, licin dan hangat. Lalu batang kontolku terasa memasuki sesuatu yang menjepit, yang entah bagaimana aku menjelaskan rasa nikmatnya.. Secara perlahan aku keluarmasukkan kontolku di memek mama. Aku cium bibir mama. Mamapun membalas ciuman aku sambil menggoyangkan pinggulnya mengimbangi goyangan aku.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Enak, Roy?&#8221; tanya mama.<br />
&#8220;Sangat enak, Ma&#8230;&#8221; jawabku sambil terus menyetubuhi mama. Setelah beberapa menit, aku hentikan gerakan kontol aku.<br />
&#8220;Kenapa mama mau melakukan ini dengan Roy?&#8221; tanyaku. Sambil tersenyum, mata mama kelihatan berkaca-kaca.<br />
&#8220;Karena mama sayang kamu, Roy&#8230;&#8221; jawab mama.<br />
&#8220;Sangat sayang&#8230;&#8221; lanjutnya.<br />
&#8220;Lagipula saat ini mama memang sedang ingin bersetubuh&#8230;&#8221; lanjutnya lagi.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku terdiam. Tak berapa lama aku kembali menggerakan kontol aku menyetubuhi mama.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Roy juga sangat sayang mama&#8230;&#8221; ujarku.<br />
&#8220;Ohh.. Roy.. Enakk.. Mmhh&#8230;&#8221; desah mama ketika aku menyetubuhinya makin keras.<br />
&#8220;Mama mau keluar&#8230;&#8221; desah mama lagi.</p>
<p style="text-align: justify;">Tak lama kurasakan tubuh mama mengejang lalu memeluk aku erat-erat. Goyangan pinggul mama makin keras. Lalu..</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Ohh.. Enak sayangg&#8230;&#8221; desah mama lagi ketika dia mencapai orgasme.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku terus menggenjot kontolku. Lama-lama kurasakan ada dorongan kuat yang akan keluar dari kontol aku. Rasanya sangat kuat. Aku makin keras menggenjot tubuh mama..</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Ma, Roy gak tahann&#8230;&#8221; ujarku sambil memeluk tubuh mama lalu menekan kontolku lebih dalam ke memek mama.<br />
&#8220;Keluarin sayang&#8230;&#8221; ujar mama sambil meremas-remas pantatku.<br />
&#8220;Keluarin di dalam aja sayang biar enak&#8230;&#8221; bisik mama mesra.</p>
<p style="text-align: justify;">Akhirnya, crott.. Crott.. Crott.. Air maniku keluar di dalam memek mama.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Mmhh&#8230;&#8221; desahku. Lalu tubuh kami tergolek lemas berdampingan.<br />
&#8220;Terima kasih ya, Ma&#8230;&#8221; ujar aku sambil mencium bibir mama.<br />
&#8220;Lekas berpakaian, Papa kamu sebentar lagi pulang!&#8221; kata mama.</p>
<p style="text-align: justify;">Lalu kamipun segera berpakaian. Setengah jam kemudian Papa pulang. Mama dan aku bersikap seperti biasa dan terlihat normal.</p>
<p style="text-align: justify;">Malam harinya, sekitar jam 11 malam, ketika mama dan Papa sudah tidur, aku dan tante Rina masih nonton TV. Tante Rina memakai kimono. Sesekali aku lihat paha mulusnya ketika kimononya tersingkap. Tapi tidak ada perasaan apa-apa. Karena sudah biasa melihat seperti itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Tiba-tiba tante Rina bertanya sesuatu yang mengejutkan aku,&#8221;ngapain kamu tadi sore lama-lama berduaan ama mama kamu di kamar?&#8221; tanya tante Rina.<br />
&#8220;Hayo, ngapain..?&#8221; tanya tante Rina lagi sambil tersenyum.<br />
&#8220;Tidak ada apa-apa. Aku mijitin mama, kok&#8230;&#8221; jawabku.<br />
&#8220;Kok lama amat. Sampe lebih dari satu jam,&#8221; tanyanya lagi.<br />
&#8220;Curigaan amat sih, tante?&#8221; kataku sambil tersenyum.<br />
&#8220;Tante hanya merasa aneh saja waktu tante denger ada suara-suara yang gimanaa gitu&#8230;&#8221; ujar tante Rina sambil tersenyum.<br />
&#8220;Kayak suara yang lagi enak&#8230;&#8221; ujar tante Rina lagi.<br />
&#8220;Udah ah.. Kok ngomongnya ngaco ah&#8230;&#8221; ujarku sambil bangkit.<br />
&#8220;Maaf dong, Roy. Tante becanda kok&#8230;&#8221; ujar tante Rina.<br />
&#8220;Kamu mau kemana?&#8221; tanya tante Rina.<br />
&#8220;Mau tidur,&#8221; jawabku pendek.<br />
&#8220;Temenein tante dong, Roy,&#8221; pinta tante.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku kembali duduk dikursi di samping tante Rina.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Ada apa sih tante?&#8221; tanyaku.<br />
&#8220;Tidak ada apa-apa kok. Hanya butuh temen ngobrol saja,&#8221; jawab tante Rina.<br />
&#8220;Kamu sudah punya pacar, Roy?&#8221; tanya tante Rina.<br />
&#8220;Belum tante. Kenapa?&#8221; aku balik bertanya.<br />
&#8220;Kamu tuh ganteng, tinggi. Tapi kenapa belum punya pacar?&#8221; tanya tante lagi.<br />
&#8220;Banyak sih yang ngajak jalan, tapi aku tidak mau,&#8221; jawabku.<br />
&#8220;Apa kamu pernah kissing dengan perempuan, Roy?&#8221; tanya tante Rina pelan sambil wajahnya didekatkan ke wajahku.</p>
<p style="text-align: justify;">Bibir kami hampir bersentuhan. Aku tak menjawab.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Ni tante lagi horny kayaknya&#8230;&#8221; pikir aku.</p>
<p style="text-align: justify;">Tanpa banyak kata, aku cium bibir tante Rina. Tante Rinapun langsung membalas ciumanku dengan hebat. Permainan lidah dan sedotan bibir kami main mainkan.. Sementara tanganku segera masuk ke balik kimono tante Rina. Lalu masuk lagi ke dalam BH-nya. Lalu ku remas-remas buah dadanya dengan mesra sambil ujung jari aku memainkan puting susunya.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Mmhh..&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Suara tante Rina mendesah tertahan karena kami masih tetap berciuman. Tangan tante Rinapun tidak diam. Tangannya meremas kontolku dari luar celana kolorku. kontolku langsung tegang.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Roy, pindah ke kamar tante, yuk?&#8221; pinta tante Rina.<br />
&#8220;Iya tante&#8230;&#8221; jawabku. Lalu kami segera naik ke loteng ke kamar tante Rina.</p>
<p style="text-align: justify;">Setiba di kamar, tante Rina dengan tak sabar segera melepas kimono dan BH serta CD-nya. Akupun segera melepas semua pakaian di tubuh aku.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Ayo Roy, tante sudah gak tahan&#8230;&#8221; ujar tante Rina sambil senyum, lalu merebahkan badannya di kasur.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku segera menindih tubuh telanjang tante Rina. Aku cium bibirnya, pindah ke pipi, leher, lalu turun ke buah dadanya. Aku jilat dan hisap puting susu tante Rina sambil meremas buah dada yang satu lagi.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Ohh.. Mmhh.. Royy.. Kamu pinter amat sih.. Mmhh&#8230;&#8221; desah tante Rina sambil tangannya memegang kepala aku.</p>
<p style="text-align: justify;">Lalu lidahku turun lagi ke perut, lalu ketika mulai turun ke selangkangan, tante Rina segera melebarkan kakinya mengangkang. memek tante Rina bersih tidak berbau. Bulunya hanya sedikit sehing nampak jelas belahan memeknya yang bagus. Aku segera jilati memek tante Rina terutama bagian kelentitnya.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Ohh.. Sayang.. Enakkhh.. Mmhh.. Terus sayang&#8230;&#8221; desah tante Rina sambil badannya mengejang menahan nikmat.</p>
<p style="text-align: justify;">Tak berapa lama tiba-tiba tante Rina mengepitkan kedua pahanya menjepit kepalaku. Tangannya menekan kepalaku ke memeknya.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Oh, Roy.. Tante keluar.. Nikmat sekali.. Ohh&#8230;&#8221; desah tante Rina.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku bangkit, mengusap mulut aku yang basah oleh air memek tante Rina, lalu aku tindih badannya dan kucium bibirnya. Tante Rina langsung membalas ciumanku dengan mesra.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Isep dong kontol Roy, tante&#8230;&#8221; pintaku.</p>
<p style="text-align: justify;">Tante Rina mengangguk sambil tersenyum. Lalu aku kangkangi wajah tante Rina dan ku sodorkan kontolku ke mulutnya. Tante Rina langsung menghisap dan menjilati kontolku dan mengocok dengan tangannya sambil memejamkan matanya. Sangat enak rasanya. Cara menghisap dan menjilat kontolnya lebih pintar dari mama.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Udah tante, Roy udah pengen setubuhi tante&#8230;&#8221; kataku.</p>
<p style="text-align: justify;">Tante Rina melepaskan genggamannya, lalu aku arahkan kontol aku ke memeknya.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Ayo, Roy.. Tante sudah tidak tahan&#8230;&#8221; bisik tante Rina.</p>
<p style="text-align: justify;">Lalu, bless.. sleb.. sleb.. sleb.. kontolku keluar masuk memek tante Rina.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Roy kamu pinter menyenangkan perempuan. Kamu pandai memberikan kenikmatan&#8230;&#8221; kata tante ditengah-tengah persetubuhan kami.<br />
&#8220;Ah, biasa saja, tante&#8230;&#8221; ujarku sambil tersenyum lalu ku kecup bibirnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Selang beberapa lama, tiba-tiba tante Rina mempercepat gerakannya. Kedua tangannya erat mendekap tubuhku.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Roy, terus setubuhi tante.. Mmhh.. Ohh.. Tante mau keluar.. Ohh.. Ohh. Ohh&#8230;&#8221; desahnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Tak lama tubuhnya mengejang. Pahanya erat menjepit pinggulku. Sementara akau terus memompa kontolku di memeknya.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Tente udah keluar, sayang&#8230;&#8221; bisik tante Rina.<br />
&#8220;Kamu hebat.. Kuat&#8230;&#8221; ujar tante Rina.<br />
&#8220;Terus setubuhi tante, Roy.. Puaskan diri kamu&#8230;&#8221; ujarnya lagi.</p>
<p style="text-align: justify;">Tak lama akupun mulai merasakan kalo aku akan segera orgasme. Kupertcepat gerakanku.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Roy mau keluar, Tante&#8230;&#8221; kataku.<br />
&#8220;Jangan keluarkan di dalam, sayang&#8230;&#8221; pinta tante Rina.<br />
&#8220;Cabut dulu&#8230;&#8221; ujar tante Rina.<br />
&#8220;Sini tante isepin&#8230;&#8221; katanya lagi.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku cabut kontolku dari memeknya, lalu aku arahkan ke mulutnya. Tante Rina lalu menghisap kontolku sambil mengocoknya. Tak lama, crott.. crott.. crott.. crott.. Air maniku keluar di dalam mulut tante Rina banyak sekali. Aku tekan kontolku lebih dalam ke dalam mulut tante Rina. Tante Rina dengan tenang menelan air maniku sambil terus mengocok kontolku. Lalu dia menjilati kontolku untuk membersihkan sisa air mani di kontolku. Sangat nikmat rasanya besetubuh dengan tante Rina.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku segera berpakaian. Tante Rina juga segera mengenakan kimononya tanpa BH dan CD.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Kamu hebat, Roy.. Kamu bisa memuaskan tante,&#8221; ujar tante Rina.<br />
&#8220;Kalo tante butuh kamu lagi, kamu mau kan?&#8221; tanya tante sambil memeluk aku.<br />
&#8220;Kapan saja tante mau, Roy pasti kasih,&#8221; kataku sambil mengecup bibirnya.<br />
&#8220;Terima kasih, sayang,&#8221; ujar tante Rina.<br />
&#8220;Roy kembali ke kamar ya, tante? Mau tidur,&#8221; kataku.<br />
&#8220;Iya, sana tidur,&#8221; katanya sambil meremas kontolku mesra. Kukecup bibirnya sekali lagi, lalu aku segera keluar.</p>
<p style="text-align: justify;">Besoknya, setelah Papa pergi ke kantor, mama duduk di sampingku waktu aku makan.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Roy, semalam kamu ngapain di kamar tante Rina sampe subuh?&#8221; tanya mama mengejutkanku.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku terdiam tak bisa berkata apa-apa. Aku sangat takut dimarahi mama. Mama tersenyum. Sambil mencium pipiku, mama berkata,&#8221;Jangan sampai yang lain tahu ya, Roy. Mama akan jaga rahasia kalian. Kamu suka tante kamu itu ya?&#8221; tanya mama. Plong rasanya perasaanku mendengarnya.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Iya, Ma.. Roy suka tante Rina,&#8221; jawabku.<br />
&#8220;Baiklah, mama akan pura-pura tidak tahu tentang kalian&#8230;&#8221; ujar mama.<br />
&#8220;Kalian hati-hatilah&#8230;&#8221; ujar mama lagi.<br />
&#8220;Kenapa mama tidak marah,&#8221; tanya aku.<br />
&#8220;Karena mama pikir kamu sudah dewasa. Bebas melakukan apapun asal mau tanggung jawab,&#8221; ujar mama.<br />
&#8220;Terima kasih ya, Ma&#8230;&#8221; kataku.<br />
&#8220;Roy sayang mama,&#8221; kataku lagi.<br />
&#8220;Roy, tante dan Papa kamu sedang keluar.. Mau bantu mama gak?&#8221; tanya mama.<br />
&#8220;Bantu apa, Ma?&#8221; aku balik tanya.<br />
&#8220;Mama ingin&#8230;&#8221; ujar mama sambil mengusap kontolku.<br />
&#8220;Roy akan lakukan apapun buat mama&#8230;&#8221; kataku. Mama tersenyum.<br />
&#8220;Mama tunggu di kamar ya?&#8221; kata mama. Aku mengangguk..</p>
<p style="text-align: justify;">Sejak saat itu hingga saat ini aku menikah dan punya 2 anak, aku tetap bersetubuh dengan tante Rina kalau ada kesempatan. Walau sudah agak berumur tapi kecantikan dan kemolekan tubuhnya masih tetap menarik. Baik itu di rumah tante Rina kalau tidak ada Om, di rumah aku sendiri, ataupun di hotel.</p>
<p style="text-align: justify;">Sedangkan dengan mama, aku sudah mulai jarang menyetubuhinya atas permintaan mama sendiri dengan alasan tertentu tentunya. Dalam satu bulan hanya 2 kali. Itulah pengalaman kisah nyata aku. Aku tuliskan dengan sebenarnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Namaku Roy, 32 tahun. Saat ini aku tinggal di Bandung. Banyak yang bilang aku ganteng. Kisah yang akan aku tulis ini adalah kisah nyata dari pengalaman sex aku dengan mama dan tante aku.</p>
<p style="text-align: justify;">Cerita ini dimulai ketika aku berusia 20 tahun. Saat itu tante Rina datang dan menginap selama beberapa hari di rumah karena suaminya sedang pergi keluar kota. Dia merasa sepi dan takut tinggal di rumahnya sendirian. Tante Rina berusia 32 tahun. Penampilannya biasa saja. Tinggi badan 160 cm. Ramping. Tapi aku suka bodynya. Buah dada 36B, dan pantatnya besar bulat. Aku suka lihat tante Rina kalau sudah memakai celana panjang ketat sehingga pantatnya sangat membentuk, merangsang. Tante Rina adalah adik kandung Papa aku.</p>
<p style="text-align: justify;">Waktu itu hari aku tidak masuk kuliah. Aku diam di rumah bersama mama dan tante Rina. Pagi itu, jam 10, kulihat mama baru selesai mandi. Mama keluar dari kamar mandi memakai handuk menutupi dada dan setengah pahanya yang putih mulus. Mama berusia 38 tahun. Sangat cantik.</p>
<p style="text-align: justify;">Saat itu entah secara tidak sengaja aku melihat mama membetulkan lilitan handuknya sebelum masuk kamar. Terlihat buah dada mama walau tidak terlalu besar tapi masih bagus bentuknya. Yang terutama jadi perhatian aku adalah memek mama yang dihiasi bulu hitam tidak terlalu lebat berbentuk segitiga rapi. Mungkin karena mama rajin merawatnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Mama sepertinya tidak sadar kalau aku sedang memperhatikannya. Mama langsung masuk kamar. Hati berdebar dan terbayang terus pemandangan tubuh mama tadi. Aku dekati pintu, lalu aku intip dari lubang kunci. Terlihat mama sedang membuka lilitan handuknya lalu mengeringkan rambutnya dengan handuk tersebut. Terlihat tubuh mama sangat menggairahkan. Terutama memek mama yang aku fokuskan. Secara otomatis tangan aku meraba kontol dari luar celana, lalu meremasnya pelan-pelan sambil menikmati keindahan tubuh merangsang mama. Karena sudah tak tahan lagi, aku segera ke kamar mandi dan onani sambil membayangkan menyetubuhi mama. Sampai akhirnya.. Crot! Crot! Crot! Aku orgasme.</p>
<p style="text-align: justify;">Sore harinya, waktu aku sedang tiduran sambil membaca majalah, tiba-tiba terdengar suara mama memanggil aku.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Roy..!&#8221; panggil mama.<br />
&#8220;Ya, Ma&#8230;&#8221; sahut aku sambil bergegas ke kamar mama.<br />
&#8220;Ada apa, Ma?&#8221; tanya aku.<br />
&#8220;Pijitin badan mama, Roy. Pegal rasanya&#8230;&#8221; kata mama sambil tengkurap.<br />
&#8220;Iya, Ma&#8230;&#8221; jawab aku.</p>
<p style="text-align: justify;">Waktu itu mama memakai daster. Aku mulai memijit kaki mama dari betis. Terus sampai naik ke paha. Mama tetap diam merasakan pijitan aku. Karena daster mama agak mengganggu pijitan, maka aku bertanya pada mama, &#8220;Ma, dasternya naikin ya? mengganggu nih&#8230;&#8221; tanya aku.<br />
&#8220;Emang kamu mau mijitan apa aja, Roy?&#8221; tanya mama.<br />
&#8220;Seluruh badan mama,&#8221; jawab aku.<br />
&#8220;Ya sudah, mama buka baju saja,&#8221; kata mama sambil bangkit, lalu melepas dasternya tanpa ragu.<br />
&#8220;Ayo lanjutkan, Roy!&#8221; kata mama sambil kembali tengkurap. Darah aku berdesir melihat mama setengah telanjang di depan mata.<br />
&#8220;Mama tidak malu buka baju depan Roy?&#8221; tanya aku.<br />
&#8220;Malu kenapa? Kan anak kandung mama.. Biasa sajalah,&#8221; jawab mama sambil memejamkan mata.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku berdebar. Tanganku mulai memijit paha mama. Sebetulnya bukan meimijit, istilah yang tepat adalah mengusap agak keras. Aku nikmati usapan tangan aku di paha mama sambil mata terus memandangi pantat mama yang memakai celana dalam merah. Setelah selesai &#8220;memijit&#8221; paha, karena masih ragu, aku tidak memijit pantat mama, tapi langsung naik memijit pinggang mama.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Kok dilewat sih, Roy?&#8221; protes mama sambil menggoyangkan pantatnya.<br />
&#8220;Mm.. Roy takut mama marah&#8230;&#8221; jawab aku.<br />
&#8220;Marah kenapa? Kamu kan emang mama pinta mijitin.. Ayo teruskan!&#8221; pinta mama.</p>
<p style="text-align: justify;">Karena sudah mendapat angin, aku mulai meraba dan agak meremas pantat mama dari luar celana dalamnya. Nyaman rasanya memijit dan meremas pantat mama yang bulat dan padat. kontol aku sudah mulai mengeras. Mama tetap terpejam menikmati pijitan aku. Karena birahi aku sudah naik, aku sengaja memasukkan tangan aku ke celana dalam mama dan terus meremasnya. Mama tetap diam. Aku makin berani.</p>
<p style="text-align: justify;">Jari tengah aku mulai menyusuri belahan pantat mama sampai ke belahan memek mama. Jari aku diam disana. Aku takut mama marah. Tapi mama tetap diam sambil memejamkan mata. Aku mulai menggerakan jari tengah aku di belahan memek mama. Mama tetap diam. Terasa memek mama mulai basah. Dan aku tahu kalau mama agak menggoyang-goyangkan pantatnya, mungkin mama merasa enak menikmati jari aku di belahan memeknya. Itu perkiraan aku.</p>
<p style="text-align: justify;">Karena sudah basah, aku nekad masukkan jari aku ke lubang memek mama. Mama tetap memejamkan mata, tapi pantatnya mulai bergoyang agak cepat.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Roy, kamu ngapain?&#8221; tanya mama sambil membalikkan badannya. Aku kaget dan takut mama marah.<br />
&#8220;Maaf, Ma&#8230;&#8221; kataku tertunduk tidak berani memandang mata mama.<br />
&#8220;Roy tidak tahan menahan nafsu&#8230;&#8221; kataku lagi.<br />
&#8220;Nafsu apa?&#8221; kata mama dengan nada lembut.<br />
&#8220;Sini berbaring dekat mama,&#8221; kata mama sambil menggeserkan badannya. Aku diam tidak mengerti.<br />
&#8220;Sini berbaring Roy,&#8221; ujar mama lagi.<br />
&#8220;Tutup dulu pintu kamar,&#8221; kata mama.<br />
&#8220;Ya, Ma&#8230;&#8221; kataku sambil berdiri dan segera menutup pintu. Kemudian aku berbaring di samping mama.</p>
<p style="text-align: justify;">Mama menatapku sambil membelai rambut aku.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Kenapa bernafsu dengan mama, Roy,&#8221; tanya mama lembut.<br />
&#8220;Mama marahkah?&#8221; tanya aku.<br />
&#8220;Mama tidak marah, Roy.. Jawablah jujur,&#8221; ujar mama.<br />
&#8220;Melihat tubuh mama, Roy tidak tahu kenapa jadi pengen, Ma&#8230;&#8221; kataku. Mama tersenyum.<br />
&#8220;Berarti anak mama sudah mulai dewasa,&#8221; kata mama.<br />
&#8220;Kamu benar-benar mau sayang?&#8221; tanya mama.<br />
&#8220;Maksud mama?&#8221; tanya aku.<br />
&#8220;Dua jam lagi Papa kamu pulang&#8230;&#8221; hanya itu yang keluar dari mulut mama sambil tangannya meraba kontol aku dari luar celana.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku kaget sekaligus senang. Mama mencium bibir aku, dan akupun segera membalasnya. Kami berciuman mesra sambil tangan kami saling meraba dan meremas.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Buka pakaian kamu, Roy,&#8221; kata mama. Aku menurut, dan segera melepas baju dan celana.</p>
<p style="text-align: justify;">Mama juga melepas BH dan celana dalamnya. Mama duduk di tepi tempat tidur, sedangkan aku tetap berdiri.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;kontol kamu besar, Roy&#8230;&#8221; kata mama sambil meraih kontol aku dan meremas serta mengocoknya. Enak rasanya.<br />
&#8220;Kamu udah pernah maen dengan perempuan tidak, sayang?&#8221; tanya mama.<br />
Sambil menikmati enaknya dikocok kontol aku menjawab, &#8220;Belum pernah, Ma.. Mmhh..&#8221;. Mama tersenyum, entah apa artinya.</p>
<p style="text-align: justify;">Lalu mama menarik pantat aku hingga kontol aku hampir mengenai wajahnya. Lalu mama mulai menjilati kontol aku mulai dari batang sampai ke kepalanya. Rasanya sangat nikmat. Lebih nikmat lagi ketika mama memasukkan kontolku ke mulutnya. Hisapan dan permainan lidah mama sangat pandai. Tanganku dengan keras memegang dan meremas rambut mama dengan keras karena merasakan kenikmatan yang amat sangat. Tiba-tiba mama menghentikan hisapannya, tapi tangannya tetap mengocok kontolku perlahan.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Enak sayang?&#8221; tanya mama sambil menengadah menatapku.<br />
&#8220;Iya, Ma.. Enak sekali,&#8221; jawabku dengan suara tertahan.<br />
&#8220;Sini sayang. kontolmu udah besar dan tegang. Sekarang cepat masukkan&#8230;&#8221; ujar mama sambil menarik tanganku.</p>
<p style="text-align: justify;">Mama lalu telentang di tempat tidur sambil membuka lebar pahanya. Tanpa ragu aku naiki tubuh mama. Aku arahkan kontolku ke lubang memeknya. Tangan mama membimbing kontolku ke lubang memeknya.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Ayo, Roy.. Masukkan&#8230;&#8221; ujar mama sambil terus memandang wajahku.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku tekan kontolku. Lalu terasa kepala kontolku memasuki lubang yang basah, licin dan hangat. Lalu batang kontolku terasa memasuki sesuatu yang menjepit, yang entah bagaimana aku menjelaskan rasa nikmatnya.. Secara perlahan aku keluarmasukkan kontolku di memek mama. Aku cium bibir mama. Mamapun membalas ciuman aku sambil menggoyangkan pinggulnya mengimbangi goyangan aku.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Enak, Roy?&#8221; tanya mama.<br />
&#8220;Sangat enak, Ma&#8230;&#8221; jawabku sambil terus menyetubuhi mama. Setelah beberapa menit, aku hentikan gerakan kontol aku.<br />
&#8220;Kenapa mama mau melakukan ini dengan Roy?&#8221; tanyaku. Sambil tersenyum, mata mama kelihatan berkaca-kaca.<br />
&#8220;Karena mama sayang kamu, Roy&#8230;&#8221; jawab mama.<br />
&#8220;Sangat sayang&#8230;&#8221; lanjutnya.<br />
&#8220;Lagipula saat ini mama memang sedang ingin bersetubuh&#8230;&#8221; lanjutnya lagi.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku terdiam. Tak berapa lama aku kembali menggerakan kontol aku menyetubuhi mama.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Roy juga sangat sayang mama&#8230;&#8221; ujarku.<br />
&#8220;Ohh.. Roy.. Enakk.. Mmhh&#8230;&#8221; desah mama ketika aku menyetubuhinya makin keras.<br />
&#8220;Mama mau keluar&#8230;&#8221; desah mama lagi.</p>
<p style="text-align: justify;">Tak lama kurasakan tubuh mama mengejang lalu memeluk aku erat-erat. Goyangan pinggul mama makin keras. Lalu..</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Ohh.. Enak sayangg&#8230;&#8221; desah mama lagi ketika dia mencapai orgasme.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku terus menggenjot kontolku. Lama-lama kurasakan ada dorongan kuat yang akan keluar dari kontol aku. Rasanya sangat kuat. Aku makin keras menggenjot tubuh mama..</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Ma, Roy gak tahann&#8230;&#8221; ujarku sambil memeluk tubuh mama lalu menekan kontolku lebih dalam ke memek mama.<br />
&#8220;Keluarin sayang&#8230;&#8221; ujar mama sambil meremas-remas pantatku.<br />
&#8220;Keluarin di dalam aja sayang biar enak&#8230;&#8221; bisik mama mesra.</p>
<p style="text-align: justify;">Akhirnya, crott.. Crott.. Crott.. Air maniku keluar di dalam memek mama.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Mmhh&#8230;&#8221; desahku. Lalu tubuh kami tergolek lemas berdampingan.<br />
&#8220;Terima kasih ya, Ma&#8230;&#8221; ujar aku sambil mencium bibir mama.<br />
&#8220;Lekas berpakaian, Papa kamu sebentar lagi pulang!&#8221; kata mama.</p>
<p style="text-align: justify;">Lalu kamipun segera berpakaian. Setengah jam kemudian Papa pulang. Mama dan aku bersikap seperti biasa dan terlihat normal.</p>
<p style="text-align: justify;">Malam harinya, sekitar jam 11 malam, ketika mama dan Papa sudah tidur, aku dan tante Rina masih nonton TV. Tante Rina memakai kimono. Sesekali aku lihat paha mulusnya ketika kimononya tersingkap. Tapi tidak ada perasaan apa-apa. Karena sudah biasa melihat seperti itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Tiba-tiba tante Rina bertanya sesuatu yang mengejutkan aku,&#8221;ngapain kamu tadi sore lama-lama berduaan ama mama kamu di kamar?&#8221; tanya tante Rina.<br />
&#8220;Hayo, ngapain..?&#8221; tanya tante Rina lagi sambil tersenyum.<br />
&#8220;Tidak ada apa-apa. Aku mijitin mama, kok&#8230;&#8221; jawabku.<br />
&#8220;Kok lama amat. Sampe lebih dari satu jam,&#8221; tanyanya lagi.<br />
&#8220;Curigaan amat sih, tante?&#8221; kataku sambil tersenyum.<br />
&#8220;Tante hanya merasa aneh saja waktu tante denger ada suara-suara yang gimanaa gitu&#8230;&#8221; ujar tante Rina sambil tersenyum.<br />
&#8220;Kayak suara yang lagi enak&#8230;&#8221; ujar tante Rina lagi.<br />
&#8220;Udah ah.. Kok ngomongnya ngaco ah&#8230;&#8221; ujarku sambil bangkit.<br />
&#8220;Maaf dong, Roy. Tante becanda kok&#8230;&#8221; ujar tante Rina.<br />
&#8220;Kamu mau kemana?&#8221; tanya tante Rina.<br />
&#8220;Mau tidur,&#8221; jawabku pendek.<br />
&#8220;Temenein tante dong, Roy,&#8221; pinta tante.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku kembali duduk dikursi di samping tante Rina.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Ada apa sih tante?&#8221; tanyaku.<br />
&#8220;Tidak ada apa-apa kok. Hanya butuh temen ngobrol saja,&#8221; jawab tante Rina.<br />
&#8220;Kamu sudah punya pacar, Roy?&#8221; tanya tante Rina.<br />
&#8220;Belum tante. Kenapa?&#8221; aku balik bertanya.<br />
&#8220;Kamu tuh ganteng, tinggi. Tapi kenapa belum punya pacar?&#8221; tanya tante lagi.<br />
&#8220;Banyak sih yang ngajak jalan, tapi aku tidak mau,&#8221; jawabku.<br />
&#8220;Apa kamu pernah kissing dengan perempuan, Roy?&#8221; tanya tante Rina pelan sambil wajahnya didekatkan ke wajahku.</p>
<p style="text-align: justify;">Bibir kami hampir bersentuhan. Aku tak menjawab.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Ni tante lagi horny kayaknya&#8230;&#8221; pikir aku.</p>
<p style="text-align: justify;">Tanpa banyak kata, aku cium bibir tante Rina. Tante Rinapun langsung membalas ciumanku dengan hebat. Permainan lidah dan sedotan bibir kami main mainkan.. Sementara tanganku segera masuk ke balik kimono tante Rina. Lalu masuk lagi ke dalam BH-nya. Lalu ku remas-remas buah dadanya dengan mesra sambil ujung jari aku memainkan puting susunya.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Mmhh..&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Suara tante Rina mendesah tertahan karena kami masih tetap berciuman. Tangan tante Rinapun tidak diam. Tangannya meremas kontolku dari luar celana kolorku. kontolku langsung tegang.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Roy, pindah ke kamar tante, yuk?&#8221; pinta tante Rina.<br />
&#8220;Iya tante&#8230;&#8221; jawabku. Lalu kami segera naik ke loteng ke kamar tante Rina.</p>
<p style="text-align: justify;">Setiba di kamar, tante Rina dengan tak sabar segera melepas kimono dan BH serta CD-nya. Akupun segera melepas semua pakaian di tubuh aku.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Ayo Roy, tante sudah gak tahan&#8230;&#8221; ujar tante Rina sambil senyum, lalu merebahkan badannya di kasur.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku segera menindih tubuh telanjang tante Rina. Aku cium bibirnya, pindah ke pipi, leher, lalu turun ke buah dadanya. Aku jilat dan hisap puting susu tante Rina sambil meremas buah dada yang satu lagi.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Ohh.. Mmhh.. Royy.. Kamu pinter amat sih.. Mmhh&#8230;&#8221; desah tante Rina sambil tangannya memegang kepala aku.</p>
<p style="text-align: justify;">Lalu lidahku turun lagi ke perut, lalu ketika mulai turun ke selangkangan, tante Rina segera melebarkan kakinya mengangkang. memek tante Rina bersih tidak berbau. Bulunya hanya sedikit sehing nampak jelas belahan memeknya yang bagus. Aku segera jilati memek tante Rina terutama bagian kelentitnya.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Ohh.. Sayang.. Enakkhh.. Mmhh.. Terus sayang&#8230;&#8221; desah tante Rina sambil badannya mengejang menahan nikmat.</p>
<p style="text-align: justify;">Tak berapa lama tiba-tiba tante Rina mengepitkan kedua pahanya menjepit kepalaku. Tangannya menekan kepalaku ke memeknya.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Oh, Roy.. Tante keluar.. Nikmat sekali.. Ohh&#8230;&#8221; desah tante Rina.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku bangkit, mengusap mulut aku yang basah oleh air memek tante Rina, lalu aku tindih badannya dan kucium bibirnya. Tante Rina langsung membalas ciumanku dengan mesra.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Isep dong kontol Roy, tante&#8230;&#8221; pintaku.</p>
<p style="text-align: justify;">Tante Rina mengangguk sambil tersenyum. Lalu aku kangkangi wajah tante Rina dan ku sodorkan kontolku ke mulutnya. Tante Rina langsung menghisap dan menjilati kontolku dan mengocok dengan tangannya sambil memejamkan matanya. Sangat enak rasanya. Cara menghisap dan menjilat kontolnya lebih pintar dari mama.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Udah tante, Roy udah pengen setubuhi tante&#8230;&#8221; kataku.</p>
<p style="text-align: justify;">Tante Rina melepaskan genggamannya, lalu aku arahkan kontol aku ke memeknya.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Ayo, Roy.. Tante sudah tidak tahan&#8230;&#8221; bisik tante Rina.</p>
<p style="text-align: justify;">Lalu, bless.. sleb.. sleb.. sleb.. kontolku keluar masuk memek tante Rina.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Roy kamu pinter menyenangkan perempuan. Kamu pandai memberikan kenikmatan&#8230;&#8221; kata tante ditengah-tengah persetubuhan kami.<br />
&#8220;Ah, biasa saja, tante&#8230;&#8221; ujarku sambil tersenyum lalu ku kecup bibirnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Selang beberapa lama, tiba-tiba tante Rina mempercepat gerakannya. Kedua tangannya erat mendekap tubuhku.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Roy, terus setubuhi tante.. Mmhh.. Ohh.. Tante mau keluar.. Ohh.. Ohh. Ohh&#8230;&#8221; desahnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Tak lama tubuhnya mengejang. Pahanya erat menjepit pinggulku. Sementara akau terus memompa kontolku di memeknya.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Tente udah keluar, sayang&#8230;&#8221; bisik tante Rina.<br />
&#8220;Kamu hebat.. Kuat&#8230;&#8221; ujar tante Rina.<br />
&#8220;Terus setubuhi tante, Roy.. Puaskan diri kamu&#8230;&#8221; ujarnya lagi.</p>
<p style="text-align: justify;">Tak lama akupun mulai merasakan kalo aku akan segera orgasme. Kupertcepat gerakanku.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Roy mau keluar, Tante&#8230;&#8221; kataku.<br />
&#8220;Jangan keluarkan di dalam, sayang&#8230;&#8221; pinta tante Rina.<br />
&#8220;Cabut dulu&#8230;&#8221; ujar tante Rina.<br />
&#8220;Sini tante isepin&#8230;&#8221; katanya lagi.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku cabut kontolku dari memeknya, lalu aku arahkan ke mulutnya. Tante Rina lalu menghisap kontolku sambil mengocoknya. Tak lama, crott.. crott.. crott.. crott.. Air maniku keluar di dalam mulut tante Rina banyak sekali. Aku tekan kontolku lebih dalam ke dalam mulut tante Rina. Tante Rina dengan tenang menelan air maniku sambil terus mengocok kontolku. Lalu dia menjilati kontolku untuk membersihkan sisa air mani di kontolku. Sangat nikmat rasanya besetubuh dengan tante Rina.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku segera berpakaian. Tante Rina juga segera mengenakan kimononya tanpa BH dan CD.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Kamu hebat, Roy.. Kamu bisa memuaskan tante,&#8221; ujar tante Rina.<br />
&#8220;Kalo tante butuh kamu lagi, kamu mau kan?&#8221; tanya tante sambil memeluk aku.<br />
&#8220;Kapan saja tante mau, Roy pasti kasih,&#8221; kataku sambil mengecup bibirnya.<br />
&#8220;Terima kasih, sayang,&#8221; ujar tante Rina.<br />
&#8220;Roy kembali ke kamar ya, tante? Mau tidur,&#8221; kataku.<br />
&#8220;Iya, sana tidur,&#8221; katanya sambil meremas kontolku mesra. Kukecup bibirnya sekali lagi, lalu aku segera keluar.</p>
<p style="text-align: justify;">Besoknya, setelah Papa pergi ke kantor, mama duduk di sampingku waktu aku makan.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Roy, semalam kamu ngapain di kamar tante Rina sampe subuh?&#8221; tanya mama mengejutkanku.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku terdiam tak bisa berkata apa-apa. Aku sangat takut dimarahi mama. Mama tersenyum. Sambil mencium pipiku, mama berkata,&#8221;Jangan sampai yang lain tahu ya, Roy. Mama akan jaga rahasia kalian. Kamu suka tante kamu itu ya?&#8221; tanya mama. Plong rasanya perasaanku mendengarnya.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Iya, Ma.. Roy suka tante Rina,&#8221; jawabku.<br />
&#8220;Baiklah, mama akan pura-pura tidak tahu tentang kalian&#8230;&#8221; ujar mama.<br />
&#8220;Kalian hati-hatilah&#8230;&#8221; ujar mama lagi.<br />
&#8220;Kenapa mama tidak marah,&#8221; tanya aku.<br />
&#8220;Karena mama pikir kamu sudah dewasa. Bebas melakukan apapun asal mau tanggung jawab,&#8221; ujar mama.<br />
&#8220;Terima kasih ya, Ma&#8230;&#8221; kataku.<br />
&#8220;Roy sayang mama,&#8221; kataku lagi.<br />
&#8220;Roy, tante dan Papa kamu sedang keluar.. Mau bantu mama gak?&#8221; tanya mama.<br />
&#8220;Bantu apa, Ma?&#8221; aku balik tanya.<br />
&#8220;Mama ingin&#8230;&#8221; ujar mama sambil mengusap kontolku.<br />
&#8220;Roy akan lakukan apapun buat mama&#8230;&#8221; kataku. Mama tersenyum.<br />
&#8220;Mama tunggu di kamar ya?&#8221; kata mama. Aku mengangguk..</p>
<p style="text-align: justify;">Sejak saat itu hingga saat ini aku menikah dan punya 2 anak, aku tetap bersetubuh dengan tante Rina kalau ada kesempatan. Walau sudah agak berumur tapi kecantikan dan kemolekan tubuhnya masih tetap menarik. Baik itu di rumah tante Rina kalau tidak ada Om, di rumah aku sendiri, ataupun di hotel.</p>
<p style="text-align: justify;">Sedangkan dengan mama, aku sudah mulai jarang menyetubuhinya atas permintaan mama sendiri dengan alasan tertentu tentunya. Dalam satu bulan hanya 2 kali. Itulah pengalaman kisah nyata aku. Aku tuliskan dengan sebenarnya.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ceritasex.cn/mama-dan-tante-rina/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Dari Pemerkosaan Menjadi Skandal Perselingkuhan</title>
		<link>http://www.ceritasex.cn/dari-pemerkosaan-menjadi-skandal-perselingkuhan/</link>
		<comments>http://www.ceritasex.cn/dari-pemerkosaan-menjadi-skandal-perselingkuhan/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 06 Nov 2011 13:48:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cerita Sex</dc:creator>
				<category><![CDATA[anal seks]]></category>
		<category><![CDATA[Gangbang Rame Rame]]></category>
		<category><![CDATA[Paruh baya]]></category>
		<category><![CDATA[Pemerkosaan]]></category>
		<category><![CDATA[Seks Umum]]></category>
		<category><![CDATA[selingkuh]]></category>
		<category><![CDATA[anal]]></category>
		<category><![CDATA[anus]]></category>
		<category><![CDATA[cuki]]></category>
		<category><![CDATA[hardcore]]></category>
		<category><![CDATA[istri]]></category>
		<category><![CDATA[kontol]]></category>
		<category><![CDATA[memek]]></category>
		<category><![CDATA[ngentot]]></category>
		<category><![CDATA[sex]]></category>
		<category><![CDATA[skandal]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ceritasex.cn/?p=3162</guid>
		<description><![CDATA[Gila, hanya kata itu yang ada dalam benakku saat mengingat kisah pemerkosaan dari para pembantuku yang hingga kini menjadi skandal perselingkuhan. Aku dibuat liar oleh mereka, sungguh ini bukan kehendakku tapi aku sangat menikmatinya. Cerita panas yang sampai kini menjadi rahasia dalam rumah tanggaku. Di dalam ruangan itu terlihat sunyi beberapa dari mereka tidak sanggup [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Gila, hanya kata itu yang ada dalam benakku saat mengingat kisah pemerkosaan dari para pembantuku yang hingga kini menjadi skandal perselingkuhan. Aku dibuat liar oleh mereka, sungguh ini bukan kehendakku tapi aku sangat menikmatinya. Cerita panas yang sampai kini menjadi rahasia dalam rumah tanggaku.</p>
<p style="text-align: justify;">Di dalam ruangan itu terlihat sunyi beberapa dari mereka tidak sanggup melihat dua orang suami istri terbujur kaku, sedangkan di sampingnya terdapat anak yang masih berusia 11 tahun yang sedang menangisi ke dua orang tuanya, karena merasa kasihan aku meminta izin suamiku untuk menemuinya, setelah mendapat izin aku lalu menghampiri anak tersebut berharap dapat menenangkan hati anak tersebut, “Al..” panggilku pelan sambil duduk di sampingnya, “sudah jangan nagis lagi, biarkan kedua orang tuamu beristirahat”</p>
<p style="text-align: justify;">Anak itu tetap menangis, beberapa detik dia memandangku dan tidak lama kemudian dia langsung memelukku dengan air mata yang bergelinang,“tante, hiks…hiks… Aldi ga mau sendirian, Aldi mau mama, papa…” dengan penuh rasa kasih sayang aku mengelus punggungnya berharap dapat meringankan bebannya, “tante… bangunin mama,”katanya sambil memukul pundakku, aku semakin tak kuasa mendengar tangisnya, sehingga air matakupun ikut jatuh,“Aldi, jangan sedih lagi ya? Hhmm… kan masih ada tante sama om,” aku melihat ke belakang ke arah suamiku sambil memberikan kode, suami ku mengangguk bertanda dia setuju dengan usulku, “mulai sekarang Aldi boleh tinggal bersama tante dan om, gi mana?” tawarku sambil memeluk erat kepalahnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Sebelum lebih jauh mohon izinkan aku untuk memperkenalkan diri, namaku Lisa usia 25 tahun aku menikah di usia muda karena kedua orang tuaku yang menginginkannya, kehidupan keluargaku sangaatlah baik, baik itu dari segi ekonomi maupun dari segi hubungan intim, tetapi seperti pepata yang mengatakan tidak ada gading yang tak retak, begitu juga dengan hidupku walaupun aku memiliki suami yang sangat mencintaiku tetapi selama 4 tahun kami menikah kami belum juga dikaruniai seorang anak sehingga kehidupan keluarga kami terasa ada yang kurang, tetapi untungnya aku memiki seorang suami yang tidak perna mengeluh karena tidak bisanya aku memberikan anak untuknya untuk membalas budi baik kakakku, aku dan suamiku memutuskan untuk merawat anaknya Aldi karena kami pikir apa salah menganggap Aldi sebagai anak sendiri dari pada aku dan suamiku harus mengangkat anak dari orang lain.</p>
<p style="text-align: justify;">Sudah satu minggu Aldi tinggal bersama kami, perlahan ia mulai terbiasa dengan kehidupannya yang baru, aku dan suamiku juga meresa sangat senang sekali karena semenjak kehadirannya kehidupan kami menjadi lebih berwarna, suamiku semakin bersemangat saat bekerja dan sedangkan aku kini memiliki kesibukan baru yaitu merawat Aldi,“Bi…. tolong ambilin tasnya Aldi dong di kamar saya,” kataku memanggil bi Mar<br />
<span id="more-3162"></span><br />
Hari ini adalah hari pertama Aldi bersekolah sehingga aku sangat bersemangat sekali, setelah semuanya sudah beres aku meminta pak Rojak untuk mengantarkan Aldi ke sekolahnya yang baru, beberapa saat Aldi terseyum ke arahku sebelum dia berangkat ke sekolah. Seperti pada umumnya ibu rumah tangga, aku berencana menyiapkan makanan yang special untuk Aldi sehingga aku memutuskan untuk memasak sesuatu di dapur, tetapi saat aku melangkah ke dapur tiba-tiba kakiku terasa kaku saat melihat kehadiran pak Isa yang sedang melakukan hubungan intim dengan mba Ani, mereka yang tidak menyadari kehadiranku masih asyik dengan permainan mereka,“Hmm… APA-APAAN INI?” bentakku ke pada mereka, mendengar suaraku mereka terlihat tanpak kaget melihat ke hadiranku, “kalian benar-benar tidak bermoral, memalukan sekali!”</p>
<p style="text-align: justify;">Mereka tanpak terdiam sambil merapikan kembali pakaian mereka masing-masing, beberapa saat aku melihat penis pak Isa yang terlihat masih sangat tegang, sebenarnya aku sangat terkejut melihat ukuran penis pak Isa yang besar dan berurat, berbeda sekali dengan suamiku,“maafin kami Bu,” kini Ani membuka mulutnya, sedangkan pak Isa masih terdiam,“Maaf… kamu benar-benar wanita murahan, kamu tahu kan pak Isa itu sudah punya istri kenapa kamu masih juga menggoda pak Isa, kamu itu cantik kenapa tidak mencari yang sebaya denganmu?” emosiku semakin memuncak saat mengingat bi Mar istri dari pak Isa, “saya tidak menyangka ternyata anda yang sangat saya hormati ternyata tidak lebih dari binatang, betapa teganya anda menghianati istri anda sendiri,” beberapa kali aku menggelengkan kepalahku, sambil menunjuk ke arahnya,</p>
<p style="text-align: justify;">“maaf Bu ini semua salah saya, jangan salahkan Ani” kata pak Mar yang membela Ani,“mulai sekarang kalian saya PECAT, dan jangan perna menyentuh ataupun menginjak rumah ini, KELUAR KALIAN SEMUA!!” bentakku</p>
<p style="text-align: justify;">Mendengar perkataanku Ani terlihat pucat tidak menyangkah kalau kelakuan bisa membuatnya kehilangan pekerjaan, sedangkan pak Isa terlihat tenang-tenang saja malahan pak Isa tanpak terseyum sinis,“he..he… Ibu yakin dengan keputusan Ibu,” pak Isa tertawa mendengar perkataanku, perlahan pak Isa mendekatiku, “jangan perna main-main dengan saya Bu,” ancamnya dengan sangat sigap pak Isa menangkap kedua tanganku,“apa-apaan ini lepaskan saya, atau saya akan berteriak,” aku mencoba mengancam balik mereka yang sedang mencoba mengikat kedua tanganku,“teriak saja Bu, tidak akan ada orang yang mendengar,” timpal Ani sambil membantu pak Isa mengikat kedua tanganku,Apa yang di katakan Ani ada benarnya juga, tetapi walaupun begitu aku tidak mau menyerah begitu saja dengan susah paya aku berusaha melepaskan diri tapi sayangnya tenagaku kalah besar dari mereka berdua, tanpa bisa berbuat apa-apa aku hanya dapat mengikuti mereka saat membawaku ke dalam kamar pak Isa. Sesampai di kamar aku di tidurkan di atas kasur yang tipis, sedangkan Ani mengambil sebuah Hp dan ternyata Hp itu di gunakan untuk merekamku, sehingga kehawatiranku semakin menjadi-jadi.“kalian biadab, tidak tau terimakasih anjing kalian!” air mataku tidak dapat kubendung lagi saat jari-jemari pak Isa mulai merabahi pahaku yang putih,</p>
<p style="text-align: justify;">“ja-jangan, mau apa kalian lepaskan saya ku mohon jangan ganggu saya,” kataku di sela-sela isak tangis,“siapa suruh ikut campur urusan saya, he…he… maaf bu ternyata hari ini adalah hari keberuntungan saya, dan hari yang sil bagi Ibu,” semakin lama aku merasa tangannya semakin dalam memasuki dasterku,</p>
<p style="text-align: justify;">“tidak di sangkah impian saya akhirnya terkabul juga,”” sambungnya sambil meremasi paha bagian dalamku,“makanya Bu jangan suka ikut campur urusan orang,” kini giliran Ani yang menceramahiku,“ya, saya ngaku salah tolong lepasin saya,” kini aku hanya dapat memohon agar mereka sedikit iba melihatku, tetapi sayangnya apa yang kuharapkan tidak terjadi, pak Isa tanpa semakin buas memainkan diriku</p>
<p style="text-align: justify;">Aku hanya dapat melihat pasrah saat dasterku terlepas dari tubuhku, kedua payudaraku yang memang sudah tidak tertutupi apa-apa lagi dapat dia nikmati, jari-jarinya yang kasar mulai memainkan selangkanganku,“sslluupss…sslluuppss… hhmm…. ayo Bu puaskan saya?” pinta pak Isa, sambil mengulum payudaraku beberapa kali lidahnya menyapu putting susuku yang mulai mengeras,</p>
<p style="text-align: justify;">“ko’ memeknya basah bu, he…he…” memang harus diakui, tubuhku tidak dapat membohonginya walaupun bibirku berkata tidak,“wa…wa… Ibukan sudah punya suami ko’ masih juga menggoda laki orang lain, ga malu ya Bu,” Ani melotottiku seolah-olah ingin membalas perkataanku tadi, “dasar wanita munafik, sekarang Ibu tau kan kenapa saya menyukai pak Isa,”bentak Ani kepadaku, sehingga membuat hatiku terasa amat sakit mendengarnya,“aahhkk… pak, hhmm…. pak sudah jangan di terusin…” kataku dengan kaki yang tidak dapat diam saat jarinya menyelusup kedalam vaginaku yang sudah banjir, perlahan kurasakan jari telunjuknya menyelusuri belahan vaginaku,“oo… enak ya? he…he…” pa Isa tertawa melihatku yang sudah semakin terangsang, leherku terasa basah saat lidah pak Isa menjilati leherku yang jenjang.</p>
<p style="text-align: justify;">Dengan sangat kasarnya pak Isa menarik celana dalamku, sehingga vaginaku yang tidak di tumbuhi rambut sehelaipun terlihat olehnya, aku memang sangat rajin mencukur rambut vaginaku agar terlihat lebih bersi dan seksi.</p>
<p style="text-align: justify;">Ani berjongkok di sela-sela kakiku, kamera Hp di arahkan persis di depan vaginaku yang kini sudah tidak ditutupi oleh sehelai kain, tanpa memikirkan perasaanku pak Isa membuka bibir vaginaku sehingga bagian dalam vaginaku dapat di rekam jelas oleh Ani, beberapa kali jari telunjuk pak Isa menggesek clitorisku,“ohk pak plisss.. jangan…? saya malu…” aku merasa sangat malu sekali di perlakukan seperti itu, baru kali ini aku bertelanjang di depan orang lain bukan suamiku sendiri,“Ha…ha… malu kenapa Bu? anjing aja tidak malu ga pake baju masa ibu malu si…” katanya yang semakin merendahkan derajatku, setelah puas mempertontonkan vaginaku di depan kamera, pak Isa bertukar posisi dengan Ani untuk memegangi kakiku sedangkan pak Isa berjongkok tepat di bawa vaginaku.</p>
<p style="text-align: justify;">Dengan sangat lembut pak Isa menciumi pahaku kiri dan kanan secara bergantian, semakin lama jilatannya semakin ke atas menyentuh pinggiran vaginaku,“aahkk… sudah pak, rasanya sangat geli hhmm…” aku berusaha sekuat tenaga mengatupkan kedua kakiku tetapi usahaku sia-sia saja, dengan sangat rakus pak Isa menjilati vaginaku yang berwarna pink, sedangkan Ani tanpa puas melihat ke adaanku yang tak berdaya,“nikmatin aja Bu, he..he.. saya dulu sama seperti ibu selalu menolak tapi ujung-ujungnya malah ketagihan” kata Ani tanpa melepaskan pegangannya terhadap kakiku.</p>
<p style="text-align: justify;">Semakin lama aku semakin tidak tahan, tiba-tiba aku merasa tubuhku seperti di aliri listrik dengan tegangan yang tinggi, kalau seandainya Ani tidak memegang kakiku dengan sangat erat mungkin saat ini wajah pak Isa sudah menerima tendanganku, mataku terbelalak saat orgasme melandah tubuhku dengan sangat hebat, cairan vaginaku meleleh keluar dari dalam vaginaku, sehingga tubuhku terasa lemas,“ha…ha… bagaimana Bu, mau yang lebih enak….” pak Isa tertawa puas, aku hanya dapat menggelengkan kepalaku karena aku sudah tidak mampu lagi untuk mengeluarkan suara dari mulutku, perlahan pak Isa berdiri sambil memposisikan penisnya tepat di depan vaginaku.</p>
<p style="text-align: justify;">“aahkk… sakit…” aku memikik saat kepala penisnya menerobos liang vaginaku, “uuhk… hhmm… pelan-pelan pak…” pintaku sambil menarik napas menahan rasa sakit yang amat sangat di vaginaku karena ukuran penis pak Isa jauh lebih besar dari penis suamiku,“tahan Bu, bentar lagi juga enak ko’ “ kata Ani yang kini melepaskan ikatan di tanganku, setelah ikatanku terlepas Ani kembali merekam adegan panas yang kulakukan,</p>
<p style="text-align: justify;">Dengan sangat cepat pak Isa menyodok vaginaku sehingga terdengar suara “plokkss….ploskkss…” saat penisnya mentok ke dalam vaginaku yang mungil,<br />
“aahhkk… aahhkk… aaahh… oooo…”semakin cepat sodokannya suaraku semakin lantang terdengar,“oh yeeaa… enak Bu, hhmm… ternyata memek Ibu masih sempit sekali walaupun sudah perna menikah,” katanya memujiku, tetapi mendengar pujiannya aku tidak merasa bangga melainkan aku meresa jijik terhadap diriku sendiri,Aku merasa vaginaku seperti di masuki benda yang sangat besar yang mencoba mengorek isi dalam vaginaku, rasanya memang sangat sakit sekali tetapi di sisi lain aku merasa sangat menikamati perkosaan rehadap diriku, selama ini aku belum perna merasakan hal seperti ini dari suamiku sendiri,“ayo sayang, bilang kalau kontol saya enak…” dengan sangat kasar pak Isa meremasi kedua payudaraku,“ti-tidak…. ahk… hhmm…” aku di buat merem melek olehnya,“ha..ha.. kamu mau jujur atau tidak, kalau tidak hhmm… saya akan adukan semua ini kepada suamimu, ha…ha…” katanya mengancamku dengan tawa yang sangat menjijikan,“ja-jangan pak,” aku memohon ke padanya, karena takut dengan ancamannya akhirnya aku menyerah juga “iya, aahhkk… aku suka…” kataku dengan suara yang hampir tidak terdengar,</p>
<p style="text-align: justify;">“APA… SAYA TIDAAK MENDENGAR?” pak Isa berteriak dengan sangat kencang sehingga gendang telingaku terasa mau pecah mendengar teriakannya,“IYA PAK, ENAK SEKALI SAYA SUKA SAMA kontol BAPAK….aahhk…uuhhkk!!” dengan sekuat tenaga aku berusaha tegar dan berharap semuanya cepat berlalu,<br />
Setelah berapa menit kemudian tubuhku kembali merasa tersengat oleh aliran listrik saat aku kembali mengalami orgasme yang ke dua kalinya,</p>
<p style="text-align: justify;">Dengan sangat kasarnya pak Isa menarik tubuhku sehingga aku berposisi menungging, pantatku yang bulat dan padat menghadap dirinya,“hhmm… indah sekali pantatmu sayang” katanya sambil meremasi bongkahan pantatku,“pak, saya mohon cepat lakukan,”“ha..ha.. kenapa Bu, sudah ga tahan” berkali-kali pantatku menerima pukulan darinya, sebenarnya aku tidak menyangka dengan kata-kataku tadi bisa membuatku semakin renda di mata mereka, sebenarnya aku hanya bermaksud agar semua permainan ini segera berakhir tapi sayangnya pak Isa tidak menginginkan itu,</p>
<p style="text-align: justify;">“tenang Bu, santai saja dulu?”<br />
Pak Isa sangat pintar memainkan tubuhku, dengan sangat lembut jari kasarnya menyelusuri belahan pantatku dari atas hingga ke bawah belahan vagianaku, gerakan itu di lakukan berkali-kali sehingga pantatku semakin terlihat membusung ke belakang,“ohhkk… pak, hhhmm….” ku pejamkan mataku saat jarinya mulai menerobos lubang anusku, dengan gerakan yang sangat lembut jarinya keluar masuk dari dalam anusku, “ahhkk….ooo… ssstt…uuuuu… pak” ternyata rintihanku membuat pak Isa semakin mempercepat gerakan jarinya,<br />
pak Isa dengan rakusnya kembali menjilati vaginaku dari belakang sedangkan jari-jarinya masih aktif mengocok anusku. Pada saat aku sangat terangsang tiba-tiba kami mendengar suara ketukan yang kuyakini itu adalah pak Rojak yang baru pulang dari mengantar Aldi.</p>
<p style="text-align: justify;">“Pak Rojak tolongin saya…” kataku berharap ia bisa membantuku untuk lepas dari pelecehan yang ku alami, dengan santainya Ani membukakan pintu tanpa rasa takut kalau pak Rojak mengadukan kejadian ini ke pada suamiku, pak Rojak tanpak kaget saat melihat keadaanku yang sedang di gagahi oleh pak Isa,</p>
<p style="text-align: justify;">“pak, tolong ku mohon,” kataku memelas,“Wa…wa…. apa-apaan ini, “ beberapa kali pak Rojak menggelengkan kepalahnya dengan mata yang tak henti-hentinya memandangi tubuh mulusku,“Udah pak, jangan sok mau jadi pahlawan kalau bapak mau embat aja, dia sudah menjadi budaknya saya,” pak Isa mulai membujuk pak Rojak dan aku hanya bisa berharap pak Rojak tidak memperdulikan tawaran pak Isa,</p>
<p style="text-align: justify;">“kenapa bengong? sini ikutan!” ajaknya lagi“jangan pak saya mohon tolongin saya,” aku mengiba ke pada pak Rojak, tetapi pak Isa tidak mau kalah kedua jarinya membuka bibir vaginaku,“bapak liat ni, memeknya sudah basa banget… wanita ini munafik” pak Rojak terdiam seperti ada yang sedang di piirkannya,</p>
<p style="text-align: justify;">“memeknya masih sempit lo, apa lagi anusnya kayaknya masih perawan,” bujuk pak Isa berharap pak Rojak mau bergabung dengannya untuk menikmati tubuhku,Akhirnya pak Rojak tidak tahan melihat vaginaku yang becek terpampang di depannya,</p>
<p style="text-align: justify;">“hhmm… oke lah tapi boolnya buat saya ya, ” tubuhku semakin terasa lemas, kini aku sudah tidak tau harus meminta tolong ke pada siapa lagi, perlahan pak Rojak mendekatiku,“sekarang Ibu dudukin kontol saya, cepat…” perintah pa Isa sambil tidur telentang dengan penis yang mengancung ke atas, dengan sangat pelan aku menuduki penis pak Isa “eennnggkk…. “ aku menggigit bibir bawahku saat kepala penis pak Isa kembali menembus vaginaku, perlahan penis itu amblas ke dalam vaginaku, dengan sangat erat pak Isa memeluk pinggangku agar tidak dapat bergerak.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah melepas semua pakaian yang ada di tubuhnya, pak Rojak mendekatiku dengan penis berada di depan anusku beberapa kali pak rojak menamparkan penisnya ke pantatku,“pak sakit… aahhkk… aahkk… ja-jangan pak saya belum pernah” aku berusaha melepaskan diri saat pak Rojak mulai berusaha memasuki anusku, sempat beberapa kali ia gagal meembus anusku yang memang masih perawan.</p>
<p style="text-align: justify;">“ha…ha… ayo dong Pak, masak kalah sama cewek si…” kata pak Isa mmemanas-manasi pak Rojak agar segera membobol anusku, pak rojak yang mendengar perkataan pak Isa menjadi lebih beringas dari sebelumnya,“AAAAAA….” aku berteriak sekencang-kencangnya saat penis pa Rojak berhasil menerobos anusku, tanpa memberikan aku nafas ia menekan penisnya semakin dalam, “aahkk…. oohhkk… pak, hhmm…” aku merintih ke sakitan saat pak Rojak mulai memaju mundurkan penisnya di dalam anusku.“gi mana pak? Enak kan?” tanya pak Isa yang kini ikutan memaju mundurkan penisnya di dalam vaginaku,“eehhkknngg… mantab pak, enak banget he….he… hhmm….” semakin lama kedua pria tersebut semakin mempercepat tempo permainan kami.</p>
<p style="text-align: justify;">Sudah beberapa menit berlalu kedua orang pria ini belum juga menunjukan kalau mereka ingin ejakulasi, sedangkan diriku sedah beberapa kali mengalami orgasme yang hebat sehingga tubuhku terasa terguncang oleh orgasmeku sendiri. Setelah beberapa menit aku mengalami orgasme tiba-tiba pak Isa menunjukan bahwa dia juga ingin mencapai klimaks. Dengan sekuat tenaga pak Isa semakin menenggelamkan penisnya ke dalam vaginaku dalam hitungan beberapa detik kurasakan cairan hangat membasahi rahimku.</p>
<p style="text-align: justify;">“aahkk… enak…. hhmm…” gumamnya saat menyemburkan sperma terakhirnya, setelah puas menodaiku pak Isa melepas penisnya di dalam vaginaku begitu juga dengan pak Rojak yang melepaskan penisnya di dalam anusku,“buka mulutmu cepetan,” perintah pak Rojak sambil menarik wajahku agar menghadap ke arah penisnya yang terlihat berdeyut-deyut, aku sangat kaget sekali saat pak Rojak memuntahkan spermanya ke arah wajahku, sehingga wajahku ternodai oleh sperma pak Rojak,Kini aku benar-benar sudah tidak memiliki tenaga sedikitpun, untuk mengangkat tubuhku saja terasa sangat berat sekali, sedangkan mereka tanpa puas memandangku yang sedang berpose mengangkang di depan mereka karena kedua kakiku kembali dipegangi Ani, sperma yang tadi di muntahkan pak Isa terasa mengalir keluar dari dalam vaginaku,</p>
<p style="text-align: justify;">********<br />
Aku duduk di atas sofa sambil melihat anak angkatku Aldi yang sedang di temani suamiku belajar, wajah mereka terlihat sangat cerah sekali bertanda bahwa mereka sangat bahagia, entah kenapa tiba-tiba di pikiranku terlintas kembali apa yang terjadi tadi pagi yang menimpa diriku, semakin aku berusaha melupakannya rasanya ingatan itu semakin menghantuiku, aku tidak bisa membayangkan kalau sampai suamiku mengetahui kalau aku di perkosa oleh ketiga pembantuku sendiri,“hhmm… gi mana Aldi sudah negerti belom” kataku sambil mengucek rambutnya yang sedang sibuk menghitung soal yang di berikan suamiku, “ya sudah kalau begitu mama bikinin minuman dulu ya, buat kalian,” kataku yang di sambut dengan teriakan mereka berdua.</p>
<p style="text-align: justify;">Baru satu langkah aku keluar dari kamar tiba-tiba pergelangan tanganku terasa sakit saat pak Rojak menarik tanganku,“bapak apaan sih!?” bentakku dengan suara yang sangat pelan,“ssstt… jangan berisik…” kata pak Rojak dengan jari telunjuk di bibirnya, “nanti suami dan anak mu dengar, hhmm… bapak cuman mau ini Bu,” katanya lagi sambil mencubit payudaraku, dengan sigap aku mundur ke belakang,“jangan main-main pak,” beberapa kali aku memandang pintu kamarku yang tidak tertutup rapat, tetapi pak Rojak tidak kehabisan akal dia balik mengancamku dengan mengatakan akan membongkar semua rahasiaku ke pada suamiku, sehingga nyaliku menjadi ciut,</p>
<p style="text-align: justify;">“oke, hhmm… kalau begitu bapak ikut saya” kataku dengan suara yang bergetar, karena sudah tidak tahu lagi harus melakukan apa, dia terseyum puas melihatku tak berdaya dengan permintaanya,“maaf Bu, saya inginnya di sini bukan di tempat lain,” katanya dengan suara yang cukup jelas, setelah berkata seperti itu pak Rojak langsung memelukku dengan erat sehingga aku sulit bernafas, “hhmm… bauh tubuh ibu benar-benar menggoda saya,” perlahanku rasakan lidahnya menjulur ke leherku“pak ku mohon, jangan di sini” pintaku ke padanya,</p>
<p style="text-align: justify;">Pak Rojak yang mengerti kekhawatiranku langsung membalik tubuhku menghadap daun pintu kamarku yang sedikit terbuka,“Ibu bisa bayangkan kalau sampai orang yang sedang di dalam kamar Ibu mengetahui apa yang sedang Ibu lakukan,” ancamnya sambil menarik rambutku sehingga aku harus menutup mulutku dengan telapak tanganku agar suara terikanku tidak terdengar oleh suami dan anakku,“Pak ku mohon jangan di sini,” aku hanya bisa menurut saja saat pak Rojak menyuruhku untuk menungging dengan tangan yang menyentuh lantai, sedangkan wajahku menghadap ke celah pintu kamarku yang terbuka.</p>
<p style="text-align: justify;">“tahan ya Bu,” katanya sambil menyingkap dasterku, sehingga celana dalamku yang berwarna hitam terpampang di depan matanya, dengan sangat kasar pak Rojak meremas kedua buah pantatku yang padat sehingga aku tak tahan untuk tidak mendesah,“aahkk.. pak hhmm.. ja-jangan di sini pak,” pak Rojak diam saja tidak mendengar kata-kataku melainkan pak Rojak semakin membuatku terangsang dengan mengelus belahan vaginaku dari belakang,“kalau kamu tidak mau ketahuan jangan bicara,” bentak pak Rojak sambil memukul pantatku“ta-tapi pak, oohhkk… aku ga kuat,” kataku dengan suara yang sangat pelan, “ku mohon pak mengertilah,”Pak Rojak seolah-olah tidak mau tahu, kini dengan rakusnya pak Rojak menjilati vaginaku yang masih tertutup celana dalamku, sehingga aku merasa celana dalamku tampak semakin basah oleh air liurnya. Setelah puas menciumi vaginaku pak Rojak memintaku untuk membuka celana dalamku sendiri masih dengan posisi menungging. Sangat sulit bagiku untuk melepaskan celana dalamku dengan posisi menungging belum lagi aku harus bekonsentrasi agar suaraku tidak keluar dengan keras walaupun pada akhirnya aku berhasil menurunkan celana dalamku sampai ke lutut,</p>
<p style="text-align: justify;">“hhuuu… mantab….” katanya sambil merabahi vaginaku dari belakang, “kamu mau tahukan gimana rasanya ngentot di depan suamimu sendiri,” katanya lagi sambil menunjuk ke arah suamiku yang sedang mengajari anaku Aldi,“pak, ja-jangan…” aku sangat takut sekali kalau suamiku melihat ke arahku, tiba-tiba aku di kejutkan dengan jari telunjuk pak Rojak yang langsung memasuki vaginaku sehingga aku terpekik cukup keras,“sayang… ada apa?” kata suamiku dari dalam, saat mendengar suaraku.“aahkk… tidak pa, cuman hhmm.. tadi ada tikus lewat,” jawabku asal-asalan agar suamiku tidak curiga ke padaku, tetapi untungnya suamiku tidak melihat ke arahku, dalam ke adaan terjepit seperti ini pak Rojak masih asyik mempermainkan vaginaku dari belakang,</p>
<p style="text-align: justify;">“ada tikus??” katanya lagi seolah-olah tidak percaya, “apa perlu papa yang usir,” mendengar tawarannya nafasku teras berhenti tetapi untungnya aku masih banyak akal,“aahhgg… ga usah hhmm.. pa…” kataku terputus-putus menahan rasa nikmat yang di berikan pak Rojak kepadaku, untungnya suamiku tidak curiga dengan suaraku,“asyikan Bu, ngobrol dengan suami sambil di mainin memeknya,” aku memandangnya dengan wajah yang memerah karena nafsuku sudah di puncak, “ko’ diam cepat ajak suami Ibu ngobrol,” mendengar perkataanya aku langsung melotot ke arahnya, “Ibu mau kalau suami Ibu tau apa yang sekarang Ibu lakuin,” mendengar ancamannya aku kembali terdiam,<br />
Dengan sangat terpaksa aku kembali mengajak suamiku mengobrol, walaupun di dalam hati aku merasa was-was takut kalau suamiku menyadari suaraku yang berubah menjadi desahan,“paaa… ma-mau minum apa?” tanyaku yang kini sedang diperkosa oleh pak Rojak, tanpa kusadari pak Rojak sudah memposisikan penisnya di depan ibir vaginaku sehingga beberapa kali aku terpanjat saat pak rojak menghantamkan penisnya dengan sangat keras ke dalam vaginaku,“terserah mama saja… papa sama Aldi ikut aja,”“iya ma, apa aja asalkan enak,” sambung Aldi,</p>
<p style="text-align: justify;">Waktu demi waktu telah berlalu sehingga sampai akhirnya sikapku berubah menjadi sedikit liar dan mulai menyukai cara pak Rojak memperkosaku walaupun pada awalnya hatiku terasa miris sekali di perlakukan seperti ini,“aahk…. pak hhmm.. enak,” aku melenggu panjang saat orgasme melandahku, kini perkosaan yang ku alami berganti dengan perselingkuhanku dengan pembantuku,“ohhk… memek istri majikan ternyata enak sekali, ahhkk…” katanya yang terus-terusan menggoyang penisnya di dalam vaginaku,<br />
“pak… aahhkk… eehkk… aku, hhmm… ingin keluarrr, uuhhkk…” kali ini suaraku terdengar sangat manja</p>
<p style="text-align: justify;">Beberapa menit kemudian kami mengerang bersamaan saat kenikmatan melanda kami berdua, setelah merasa puas aku dan pak Rojak kembali merapikan pakaian kami masing-masing, sebelum pak Rojak pergi meninggalkanku sempat terlihat seyumannya yang tersungging di bibirnya. Setelah membuatkan minuman aku kembali ke kamarku menemui anak dan suamiku, mereka terlihat tanpak senang sekali melihatku hadir dengan membawa minuman dan makanan kecil,“ini di minum dulu, nanti baru di lanjutin lagi,” kataku sambil meletakan cangkir dan piring di atas meja kecil yang di gunakan Aldi untuk belajar,“makasi mama…” kata Aldi yang langsung saja menyambar minuman yang baru ku bikin, entah kenapa setiap kali melihat Aldi hatiku terasa menjadi damai, dan semua masalah seperti terlupakan,Aku merasa sedikit aneh, saat suamiku memandangku dengan tatapan mencurigakan sehingga aku memberanikan diri untuk bertanya ke padanya,“ada pa, ko memandang mama seperti itu” kataku sambil mengupas jeruk untuk Aldi yang sedang menulis,</p>
<p style="text-align: justify;">suamiku mendekatkan mulutnya ke telingaku, “hhmm.. sayang ko’ kamu bau hhmm… gitulah…” mendengar pertanyaannya jantungku terasa berhenti,“bau, bau apa pa?” tanyaku untuk memastikan apa maksud dari pertanyaan suamiku,<br />
“kamu tadi ko’ lama ma,” kami terdiam beberapa saat, “mama abis dari kamar mandi ya, hhmmm… papa jadi curiga ni,” katanya sambil tertawa memandangku, mendengar perkataanya aku menjadi sedikit lega,“Iya ni pa, abis kangen si…” kataku manja sambil mencubit penis suamiku,Setelah yakin Aldi tertidur pulas, suamiku mengjakku untuk melayaninya semalaman suntuk. Tubuhku memang terasa lelah karena seharian harus mengalami orgasme, tetapi di sisi lain aku sangat senang karena suamiku tidak mencurigai aku karena bau tubuhku seperti bau orang yang habis bercinta.</p>
<p style="text-align: justify;">Hampir tiap hari aku merengkuh kenikmatan bersama para pembantuku, kenikmatan yangh tidak aku dapatkan dari suamiku yang membuat aku semakin liar.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ceritasex.cn/dari-pemerkosaan-menjadi-skandal-perselingkuhan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

