<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Cerita sex porno ngentot mesum perek ayam kampus &#187; maniak seks</title>
	<atom:link href="http://www.ceritasex.cn/tag/maniak-seks/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.ceritasex.cn</link>
	<description>Kumpulan cerita sex, foto bugil, dan film porno</description>
	<lastBuildDate>Wed, 08 Feb 2012 13:12:08 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
		<item>
		<title>Gadis Pemuas : di Dalam Hutan Lebat</title>
		<link>http://www.ceritasex.cn/gadis-pemuas-di-dalam-hutan-lebat/</link>
		<comments>http://www.ceritasex.cn/gadis-pemuas-di-dalam-hutan-lebat/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 09 Dec 2010 13:12:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cerita Sex</dc:creator>
				<category><![CDATA[Gangbang Rame Rame]]></category>
		<category><![CDATA[Orgy]]></category>
		<category><![CDATA[Pemerkosaan]]></category>
		<category><![CDATA[Seks Umum]]></category>
		<category><![CDATA[cerita fantasy]]></category>
		<category><![CDATA[dewi]]></category>
		<category><![CDATA[gadis pemuas]]></category>
		<category><![CDATA[hutan lebat]]></category>
		<category><![CDATA[kontol]]></category>
		<category><![CDATA[maniak seks]]></category>
		<category><![CDATA[memek]]></category>
		<category><![CDATA[nafsu seks]]></category>
		<category><![CDATA[ngentot]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ceritasex.cn/?p=1740</guid>
		<description><![CDATA[Akhirnya lama kelamaan aku mulai sadar, aku merasakan kepalaku sakit sekali karena terbentur batu, kepalaku juga berdarah, aku menyeka darahku dengan punggung tanganku. Lalu aku perlahan bangun dengan sakit yang masih terasa di kepalaku, setelah kondisi badanku sudah tenang, aku baru ingat kalau sebelum aku pingsan aku sedang dikejar-kejar segerombolan orang yang aneh. Kemudian aku [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Akhirnya lama kelamaan aku mulai sadar, aku merasakan kepalaku sakit sekali karena terbentur batu, kepalaku juga berdarah, aku menyeka darahku dengan punggung tanganku. Lalu aku perlahan bangun dengan sakit yang masih terasa di kepalaku, setelah kondisi badanku sudah tenang, aku baru ingat kalau sebelum aku pingsan aku sedang dikejar-kejar segerombolan orang yang aneh. Kemudian aku melihat sekitarku tapi percuma saja karena keadaan yang gelap gulita, karena aku sama sekali tidak mengenakan apa-apa di tubuhku, dinginnya malam menusuk sampai ke tulangku. Aku bingung harus kemana karena aku hanya melihat pohon-pohon tinggi yang menghalangi pandanganku tapi aku bisa mendengar ada suara aliran air karena suasana sangat sepi sekali. Aku memutuskan untuk mencari dimana aliran air itu, jadi aku masuk ke dalam hutan yang lebat.</p>
<p style="text-align: justify;">Ternyata lumayan jauh, tapi akhirnya sampai juga. Karena aku sangat haus, aku tidak memperdulikan lagi betapa dinginnya air sungai itu, setelah beberapa teguk tenggorokanku terasa sangat segar, selain meminum air sungai aku juga mencuci dahiku yang berdarah serta wajahku. Karena tanggung aku sekalian saja membasuh tubuhku juga, tapi akibatnya, setelah selesai aku menggigil karena sangat dingin, aku sedang berpikir bagaimana caranya agar tubuhku hangat.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;mendingan gue lari di tempat aja&#8221;, pikirku. Kemudian aku mulai lari di tempat untuk menghangatkan tubuhku, setelah badanku sudah agak hangat, aku berhenti lari di tempat. Tiba-tiba aku mendengar suara dari semak-semak, aku langsung menoleh ke sumber suara itu dan melihat disana ada sekelompok serigala yang sedang mengintaiku, aku bingung harus bagaimana jadi aku langsung lari dari tempat itu, tentu saja para serigala itu langsung mengejarku ke dalam hutan. Ketika aku sudah terkejar oleh para serigala itu, aku menginjak perangkap jala dan aku langsung tertarik ke atas. Setidaknya aku selamat dari para serigala itu, dan aku bisa beristirahat sebentar.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku bangun ketika aku merasakan tangan dan kakiku diikat, setelah aku membuka mataku rupanya aku tangan dan kakiku diikat di kayu yang sedang digotong oleh 2 orang yang berkulit hitam. Aku merasa seperti hasil buruan yang baru ditangkap oleh mereka, aku hanya menutup mataku dengan pasrah karena aku mengira sebentar lagi aku akan dibunuh dan mungkin dimakan oleh mereka. Tak lama kemudian, tubuhku terasa berhenti bergoyang-goyang, aku membuka mataku melihat orang-orang berdiri mengelilingiku, lalu tubuhku ditaruh secara perlahan, dan ikatan di kaki dan tanganku dilepaskan. Baru aku berpikir untuk menerobos kerumunan orang-orang hitam yang mengelilingiku, tubuhku sudah diangkat oleh 2 orang yang membawaku tadi ke tiang kayu yang sangat besar dan terletak di atas tempat yang seperti panggung. Mereka mendirikanku disana dan mengikat pergelangan tangan dan kakiku lagi di tiang kayu itu, setelah mengikatku kedua orang hitam itu turun dari panggung dan masuk ke sebuah tenda berbentuk aneh yang kuduga tenda itu adalah rumah mereka.</p>
<p style="text-align: justify;">Sementara aku seperti menjadi tontonan di atas panggung oleh orang-orang yang berdiri di depanku. Tubuhku yang putih mulus dapat terlihat jelas oleh mereka, dan karena mereka tidak memakai apa-apa aku bisa melihat penis para lelaki hitam itu mulai menegak karena melihat tubuhku, dan para wanitanya menelusuri setiap senti tubuhku, mulai dari wajah, payudara, perut, selangkangan, paha, sampai kakiku dengan mata mereka. Lalu dari sebuah tenda yang lebih besar dari tenda-tenda yang lain keluar 4 orang, 2 orang adalah orang yang tadi membawaku, 1 orang lagi badannya bungkuk dan membawa tongkat memakai baju dan celana, sedangkan 1 orang yang terakhir badannya tegap dan besar, dan memakai baju dan celana yang sepertinya terbuat dari bulu hewan. Mereka mendekat ke arahku, mereka berdiri disana menatap tubuhku dari kepala sampai kaki.<br />
&#8220;zufubaba,,,,,gikaluno&#8221;.<br />
&#8220;tidak, jangan bunuh aku&#8221;.<br />
&#8220;fagira kohkulune,,,jaemkahuwaeti&#8221;.<br />
&#8220;tidak, jangan makan aku&#8221;.</p>
<p style="text-align: justify;">Karena aku tidak mengerti bahasa mereka, aku mengira mereka akan membunuh dan memakanku, tapi aku kaget ketika pria bungkuk itu berbicara.<br />
&#8220;tenang saja, gadis muda. Kami tidak akan membunuhmu apalagi memakanmu&#8221;.<br />
&#8220;kamu bisa bahasa Indonesia?&#8221;.<br />
&#8220;ya, tapi kita bahas nanti saja&#8221;.<br />
&#8220;zokulafa,,,homura,,,pokeramu&#8221;, kata pria bungkuk itu kepada semua orang, lalu semua orang itu pergi melakukan aktivitas yang lain, sementara 3 orang yang tadi datang bersama si pria bungkuk turun dari panggung dan masuk ke dalam tenda.<br />
&#8220;ayo, nona, mari ikut saya ke rumah saya&#8221;.<br />
&#8220;baik, terima kasih pak&#8221;. Lalu ikatanku dilepas dan dituntun masuk oleh pria bungkuk ke rumahnya, setelah di dalam aku disuguhi minuman dan makanannya lalu mengobrol dengannya.<br />
&#8220;perkenalkan, nama saya Ulfsaar,, saya adalah seorang dukun di desa ini&#8221;.<br />
&#8220;namaku Rasti, ngomong-ngomong ini dimana?&#8221;.<br />
&#8220;ini di pulau Harla, pulau yang sangat terpencil&#8221;.<br />
&#8220;oooh begitu, tadi yang lain pada ngomong apa sih?&#8221;.<br />
<span id="more-1740"></span><br />
&#8220;begini, nak Rasti dianggap dewi kesuburan dan juga dewi kekuatan&#8221;.<br />
&#8220;kok bisa kayak gitu?&#8221;.<br />
&#8220;iya, karena tubuh kamu yang putih mulus dan juga seksi, kepala suku jadi menganggap kamu adalah seorang dewi&#8221;.<br />
&#8220;kepala suku, maksud pak Ulfsaar yang memakai baju tadi?&#8221;.<br />
&#8220;ya, di desa ini yang boleh memakai baju dan celana hanya kepala suku dan juga dukun&#8221;.<br />
&#8220;oohh begitu,,&#8221;.<br />
&#8220;ngomong-ngomong kok kamu bisa sampai kesini?&#8221;.<br />
&#8220;kecelakaan pesawat, untungnya aku ditolong jadinya aku bisa selamat&#8221;.<br />
&#8220;terus, orang yang nolong kamu sekarang dimana?&#8221;.<br />
&#8220;udah meninggal, dibunuh ama orang-orang berkulit hitam yang pake topeng&#8221;.<br />
&#8220;pake topeng? Untung kamu bisa selamat&#8221;.<br />
&#8220;memang kenapa?&#8221;.<br />
&#8220;mereka adalah suku Kupo yang merupakan musuh suku kami yaitu suku Baro. Mereka adalah suku kanibal yang sudah banyak memakan anggota suku kami, jadi kami memutuskan untuk berperang dengan mereka 3 hari lagi&#8221;.<br />
&#8220;ooohh, begitu, untung aku bisa lari, tapi kalian gak kanibal kan?&#8221;.<br />
&#8220;gak, tenang aja kok&#8221;.<br />
&#8220;tenang deh, ngomong-ngomong bahasa indonesia pak Ulfsaar lancar banget?&#8221;.<br />
&#8220;saya punya teman yang tinggal di pulau Jawa&#8221;.<br />
&#8220;ooh, gitu&#8221;.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;nona, boleh gak saya manggil nama kamu, terus pake aku-kamu?&#8221;.<br />
&#8220;boleh kok pak, oh ya aku kan jadi dewi terus gimana?&#8221;.<br />
&#8220;oh ya, aku hampir lupa, ayo aku antar kamu ke sungai buat mandi&#8221;.<br />
&#8220;mandi? Emangnya mau ada apa?&#8221;.<br />
&#8220;kepala suku ingin ngecek kamu dewi beneran atau gak&#8221;.<br />
&#8220;caranya?&#8221;.<br />
&#8220;kamu akan disetubuhi oleh kepala suku, kamu gak keberatan kan?&#8221;.<br />
&#8220;gak kok, aku malah seneng, tapi kenapa gak bapak aja yang ngetes aku?&#8221;, balasku sambil menjilat pipinya.<br />
&#8220;gak boleh, harus kepala suku yang pertama kali mencicipi tubuhmu baru aku dan semua pria dewasa di desa ini&#8221;.<br />
&#8220;semua pria&#8230;.?&#8221;.<br />
&#8220;ya, dan rata-rata semua pria disini mempunyai penis yang ukurannya lebih dari 20 cm&#8221;.<br />
&#8220;waw, tapi aku masih bingung gimana caranya aku dianggap dewi beneran?&#8221;.<br />
&#8220;kepala suku akan menyetubuhimu dalam waktu 2 jam, jika dalam 2 jam kamu gak pingsan, kamu bakal dianggap dewi beneran&#8221;.<br />
&#8220;2 jam?! Kalau gitu aku bisa bener-bener puas donk&#8221;.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;yaudah, aku cek vagina kamu dulu&#8221;, lalu dia jongkok di depan vaginaku, dia melebarkan bibir vaginaku dari 2 jari kirinya, dan memasukkan 2 jari kanannya ke dalam vaginaku dan menggali dalam-dalam di vaginaku.<br />
&#8220;hmm,, vagina kamu sangat sempit, pasti kepala suku bakalan suka, yaudah sekarang kamu mandi dulu&#8221;. Kemudian aku dituntun keluar, orang-orang itu langsung menatapku, aku hanya tersenyum karena aku tidak bisa bahasa mereka. Di sungai, aku membasuh tubuhku yang lusuh dengan air sungai yang jernih dan menyegarkan sementara Ulfsaar menikmati pemandangan tubuh putih wanita cantik yang dibasuh dengan air, mungkin ini pemandangan paling indah yang pernah dilihat olehnya. Setelah mandi, Ulfsaar menuntunku kembali ke desa.<br />
&#8220;Rasti, boleh gak aku ngeremes dada kamu?&#8221;.<br />
&#8220;loh, bukannya harus kepala suku dulu yang merawanin tubuhku?&#8221;.<br />
&#8220;kan cuma ngeremes doang, jadi boleh&#8221;.<br />
&#8220;kalau boleh sih, yaudah silakan&#8221;.<br />
&#8220;makasih, abisnya dada kamu montok banget&#8221;. Lalu dia meremas-remas dadaku dan memelintir kedua putingku selama perjalanan.</p>
<p style="text-align: justify;">Ketika sudah hampir masuk desa, dia berhenti meremas-remas payudaraku. Ternyata para suku Baro sudah menunggu di depan tempat yang seperti panggung itu sementara si kepala suku sudah berdiri di atas panggung itu seperti menantiku.<br />
&#8220;oh ya, Rasti kepala suku bernama Utha&#8221;. Kemudian dia menuntunku ke atas panggung, lalu menyerahkan tanganku ke Utha dan Ulfsaar turun dari panggung. Genderang drum berbunyi membuat irama musik yang membuatku bersemangat, Utha mulai mengelus-elus kepalaku, kemudian dia mulai melumat bibirku yang mungil dengan bibir tebal dan hitam miliknya, Utha memainkan lidahnya di dalam rongga mulutku, aku membalasnya dengan memainkan lidahku juga sehingga lidah kami saling membelit. Aku berciuman dengannya sangat lama seperti sepasang kekasih yang berpuluh-puluh tahun tidak bertemu. Setelah puas melumat bibirku, Utha melepaskan ciumannya sehingga terlihat ludah kami yang menyatu, kemudian dia mulai menurunkan ciumannya ke leher jenjangku, aku hanya menutup mataku untuk lebih meresapinya.</p>
<p style="text-align: justify;">Ciumannya terus turun hingga sampai di payudaraku yang kenyal, Utha melumat senti demi senti dari bongkahan payudaraku, sementara putingku dihisap-hisap dan digigit kecil yang membuat putingku menjadi sangat keras. Setelah dia mulai menurunkan ciuman dan jilatannya lagi, aku bisa bekas-bekas merah di kulit payudaraku, ciuman Utha sampai di pusarku, dia menggelitikku dengan memainkan lidahnya di sekitar pusarku. Aku melihat orang-orang lain termasuk Ulfsaar sangat serius sekaligus terangsang melihat kepala suku mereka sedang asyik mengerjai tubuh putih seorang cewek muda yang sangat cantik. Akhirnya ciumannya sampai di vaginaku, Utha langsung memainkan klitorisku dengan lidahnya, tubuhku menggelinjang keenakan. Lidah Utha yang kasar membuat jilatannya jadi semakin terasa nikmat yang menjalar di seluruh tubuhku, dan juga dia menjilati bibir vaginaku serta menyentil-nyentil klitorisku dengan lidahnya, karena aku tidak kuat menahan rasa nikmat lagi, 5 menit kemudian aku orgasme.</p>
<p style="text-align: justify;">Cairanku diseruput habis oleh Utha, setelah habis meminum cairanku.<br />
&#8220;lafura zagofamu&#8230;&#8221;.<br />
&#8220;Rasti, kepala suku suka ama cairan kamu, manis banget katanya&#8221;, aku hanya tersenyum. Sepertinya Utha sudah tidak sabar ingin menancapkan batang kejantanannya itu ke dalam vaginaku yang sangat sempit, lalu Utha mulai melepaskan celananya yang hanya berupa sepotong kain itu. Betapa terkejutnya aku, ternyata penis Utha lebih besar dibandingkan penis-penis yang pernah aku &#8216;handle&#8217;, aku mentaksir penis Utha mempunyai panjang 29 cm dan diameternya 10 cm. Pertamanya sih aku agak takut juga melihat penis sebesar itu, tapi aku juga jadi tidak sabar ingin merasakan kenikmatan dari penis perkasa itu. Lalu aku tidur terlentang di atas panggung sehingga vaginaku yang merah merekah terpampang jelas di hadapan orang-orang yang menonton, aku memberi isyarat dengan telunjukku kepada Utha seolah menantangnya untuk segera &#8216;mencoblosku&#8217;.</p>
<p style="text-align: justify;">Sepertinya Utha mengerti maksudku, karena dia langsung meletakkan kepala penisnya itu di depan bibir vaginaku. Dia mulai memasukkan kepala penisnya ke dalam vaginaku secara perlahan, biarpun kelihatan seram dan kekar rupanya dia tidak ingin membuat aku kesakitan mungkin juga karena aku dianggap dewi jadi dia takut kalau aku sampai marah. Seperti yang sudah kuduga, penisnya tidak bisa semuanya masuk ke dalam vaginaku, mungkin hanya 3/4 nya saja. Ketika terasa sudah tak bisa masuk lagi, Utha mulai memompa penisnya, aku merasa vaginaku menjadi bertambah lebar karena diameter penis Utha yang besar. Tapi, lama kelamaan rasa sakit itu hilang seiring dengan rasa nikmat yang semakin menjalar di tubuhku karena urat-urat penis Utha terus menerus bergesekan dengan dinding vaginaku. 15 menit kemudian, aku orgasme untuk yang kedua kalinya tapi Utha masih kelihatan tenang memompa vaginaku dan tentu saja sambil melumat bibir mungilku dan memainkan lidahnya di rongga mulutku, aku hanya bisa membiarkan lidahnya bermain di mulutku dan kubalas membelit lidahnya dengan lidahku.</p>
<p style="text-align: justify;">Sudah sejam, si kepala suku Utha memompa penisnya di dalam vaginaku, aku sudah lebih dari 5 kali orgasme tapi dia belum orgasme. Akhirnya, beberapa menit kemudian aku merasakan urat-urat penisnya berdenyut di dalam vaginaku dan dia juga mempercepat sodokannya. Aku merasakan semburan spermanya sangat hangat dan juga sepertinya dia menyemburkan spermanya ke dalam vaginaku sampai lebih dari 7 kali sempuran sehingga aku merasakan spermanya meleleh keluar dari vaginaku. Setelah semburan spermanya berhenti, Utha beristirahat sebentar dengan penisnya yang sudah mulai mengecil masih tertanam di vaginaku. Kemudian, setelah nafasnya sudah tidak tersengal-sengal, dia mencabut keluar penisnya dari vaginaku, sementara aku yang sudah mengumpulkan tenagaku kembali langsung bangun dan mengulum penis Utha yang berlumuran dengan spermanya serta cairanku sendiri sehingga rasa sperma Utha dan cairanku bercampur sehingga tercipta rasa yang sangat kusukai.</p>
<p style="text-align: justify% ke rumahnya.<br />
"hia,,,pahorutami,,,farhu", kemudian orang-orang itu bersorak gembira.<br />
"Ulfsaar, tolong ceritain dong, tadi ka3B">Sambil kukulum, Utha bertolak pinggang dan menoleh ke Ulfsaar.<br />
&#8220;hia,,,firaniho,,,ukani,,,paemi&#8221;.<br />
&#8220;hia,,,das parehotuma&#8221;. Setelah aku melepaskan kulumanku, Utha langsung turun dari panggung dan masukmu ngomong apaan aja&#8221;.<br />
&#8220;oh ya, aku lupa, gini,, kepala suku udah percaya kalau kamu seorang dewi kesuburan dan kekuatan&#8221;.<br />
&#8220;terus,, apaan lagi?&#8221;.<br />
&#8220;karena kamu udah dianggap dewi, jadi mulai sekarang kalau kepala suku udah selesai menyetubuhi kamu, aku dan semua laki-laki yang mulai umur 18 tahun harus menyetubuhi kamu juga&#8221;.<br />
&#8220;haaahh,, emang ada berapa cowok yang harus aku layani?&#8221;.<br />
&#8220;sekitar 20 orang,, kamu gak apa-apa?&#8221;.<br />
&#8220;gak apa-apa kok, aku malah seneng&#8221;.<br />
&#8220;yaudah Rasti, sekarang aku duluan ya&#8221;. Ternyata penis Ulfsaar tidak sebesar penis Utha, penisnya hanya berukuran 18 cm dan diameternya 5 cm, tapi teknik memompanya lebih bervariasi.</p>
<p style="text-align: justify;">Sudah 1 jam tubuhku digenjot oleh Ulfsaar, sudah beberapa kali aku orgasme, selain tekniknya bervariasi, dia juga menyelingi dengan mencumbuku serta menjilati kedua buah payudaraku. Tak disangka 1/2 jam ke depan, Ulfsaar masih getol memompa penisnya ke dalam vaginaku, sedangkan aku sudah mulai kelelahan akibat orgasme terus menerus. Akhirnya, Ulfsaar menyemburkan spermanya ke dalam vaginaku, aku menutup mataku untuk lebih merasakan hangatnya semburan sperma Ulfsaar di vaginaku. Seperti sebelumnya, aku melakukan &#8216;cleaning service&#8217; ke penis Ulfsaar sambil mengumpulkan tenaga. Setelah penisnya sudah bersih, Ulfsaar mencabut penisnya dari mulutku.<br />
&#8220;nah, Rasti, abis ini kamu bakal terus-terusan disetubuhi, kamu udah siap?&#8221;.<br />
&#8220;aku siap kapan aja kok, asalkan ada selang waktunya&#8221;. Kemudian, Ulfsaar turun dari panggung dan mulailah tubuhku digunakan oleh orang-orang hitam itu untuk memuaskan nafsu mereka dan vaginaku dijadikan tempat pembuangan sperma mereka.</p>
<p style="text-align: justify;">Tubuhku dilanda orgasme terus menerus, tapi aku masih kuat karena masih ada selang waktu antara satu laki-laki dengan laki-laki yang lain sehingga aku bisa mengatur nafas dan mengumpulkan tenaga sebelum melayani laki-laki yang selanjutnya. Penis yang tertanam di vaginaku bermacam-macam ukuran mulai dari kecil, sedang, maupun sangat besar meskipun tidak sebesar penis Utha. Setelah semuanya selesai dan matahari sudah muncul, Ulfsaar memapahku untuk berjalan ke rumahnya, aku berjalan dengan sperma yang menetes dari daerah selangkanganku karena daerah itu benar-benar dibanjiri sperma. Akhirnya, aku sampai di dalam rumah Ulfsaar, kemudian aku dibaringkan di tempat tidurnya, dengan telaten, Ulfsaar membersihkan daerah selangkanganku yang &#8216;kebanjiran&#8217; sperma. Sementara, aku sudah sangat kelelahan sehingga aku menutup mataku dan lalu tidur. Aku membuka mataku dan melihat Ulfsaar sudah tidak ada, aku bangkit dari tempat tidur Ulfsaar dan keluar, ternyata matahari sudah mencuat di atas.</p>
<p style="text-align: justify;">Ketika aku keluar dari rumah, warga sekitar menyapaku dengan bahasa mereka, aku hanya bisa tersenyum karena aku tidak mengerti bahasa mereka. Aku merasa badanku gatal-gatal, aku memutuskan untuk mandi di sungai terdekat, sungai yang ditunjukkan Ulfsaar waktu itu. Ternyata, Ulfsaar sedang melakukan sesuatu di tepi sungai.<br />
&#8220;Ulfsaar, kamu lagi ngapain?&#8221;.<br />
&#8220;oohh, aku lagi bikin ramuan&#8221;.<br />
&#8220;ramuan apaan? Kok aneh gitu sih&#8221;.<br />
&#8220;ini, ramuan buat kamu&#8221;.<br />
&#8220;buat aku?&#8221;.<br />
&#8220;iya, kepala suku ingin minum susu kamu&#8221;.<br />
&#8220;susu aku?? gimana caranya, kan aku belum pernah hamil?&#8221;.<br />
&#8220;makanya, aku bikin ramuan ini, supaya kamu bisa ngeluarin susu&#8221;.<br />
&#8220;terus, ada manfaat lain gak?&#8221;.<br />
&#8220;ada, kulit kamu jadi putih &#8216;n kencang, dan payudaramu tetep kenceng, tapi payudara kamu bisa membesar&#8221;.<br />
&#8220;mantep banget khasiatnya, tapi payudaraku bisa sampai seberapa gede?&#8221;.<br />
&#8220;38C mungkin, kamu gak apa-apa kan?&#8221;.<br />
&#8220;38C?! Ya gak apa-apa, kebetulan aku juga lagi pengen ngegedein dada aku, tapi ada efek negatifnya gak?&#8221;.<br />
&#8220;kalau ramuan ini, gak ada efek negatifnya&#8221;.<br />
&#8220;yaudah, sini aku minum&#8221;. Kemudian aku meminum ramuan itu.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;kok rasanya hambar?&#8221;.<br />
&#8220;iya, sebenarnya rasa ramuan itu pahit, tapi aku tambahin madu biar gak pahit&#8221;.<br />
&#8220;ooh gitu, yaudah aku mandi dulu ya&#8221;. Kemudian, aku mulai membilas tubuh putihku dengan air sungai yang dingin dan menyegarkan itu. Aku sengaja sedikit membilas tubuhku dengan agak menggoda agar Ulfsaar menjadi bernafsu, benar dugaanku Ulfsaar langsung mendekatiku dan mendekap tubuhku dari belakang, lalu menciumi leherku dan sekitar kupingku.<br />
&#8220;udah, mendingan kita mandi bareng aja yuk, mau gak?&#8221;.<br />
&#8220;yaudah, aku buka baju dulu ya&#8221;. Dalam sekejap, Ulfsaar sudah telanjang bulat. Tubuhnya yang hitam dan sudah bungkuk serta penisnya yang sudah menegang itu terpampang jelas di hadapanku. Kemudian, Ulfsaar mendekati tubuh putihku yang tidak terbalut apa-apa dan langsung memelukku, aku juga membalasnya dengan memeluknya. Lalu kami berdua saling mencumbu, sementara kedua tangannya memegangi bongkahan pantatku sambil memasukkan jarinya ke dalam lubang anusku.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Rasti, kayaknya pantat kamu sempit banget ya&#8221;.<br />
&#8220;emang kenapa, bapak mau coba?&#8221;.<br />
&#8220;mau banget sih, tapi harus kepala suku dulu yang merawanin pantat kamu&#8221;.<br />
&#8220;oh ya, aku lupa, yaudah tusuk vaginaku aja&#8221;.<br />
&#8220;tapi sebelumnya, aku mau ngerasain vagina kamu dulu&#8221;.<br />
&#8220;yaudah, aku tiduran dulu&#8221;. Kemudian aku tiduran dan melebarkan kakiku untuk memberikan akses pada Ulfsaar. Tanpa disuruh lagi Ulfsaar langsung membenamkan wajahnya ke selangkanganku, dan langsung menjilati daerah sekitar vaginaku, aku baru sadar kalau lidah Ulfsaar sangat panjang. Ulfsaar menjilati bibir vaginaku mulai dari kiri ke kanan, menjilati klitorisku, dan juga menjilati vaginaku dari atas ke bawah, serta memasukkan lidahnya yang panjang itu ke dalam lubang vaginaku. Aku menggelinjang kesana kemari karena tekstur lidah Ulfsaar yang kasar menambah sensasi nikmat di vaginaku, belum lagi lidahnya bisa masuk ke dalam vaginaku, sehingga lidahnya yang panjang itu bisa menyentuh dinding vaginaku dan pastinya itu menambah kenikmatan.</p>
<p style="text-align: justify;">5 menit kemudian, tubuhku mengejang ke atas menandakan tubuhku mengalami orgasme.<br />
&#8220;aaakkkhhh,,,,aku,,,keluaaar!!&#8221;. Ulfsaar tidak membuang waktu lagi, cairanku langsung diseruput habis olehnya, dan juga setelah cairanku habis diminum olehnya, Ulfsaar masih menyedot-nyedot vaginaku hingga tetes terakhir, setelah cairan vaginaku benar-benar habis diminumnya, Ulfsaar bangun.<br />
&#8220;kamu kayak orang aus aja, sampai disedot-sedot kayak gitu&#8221;.<br />
&#8220;abisnya, cairan kamu manis banget kayak madu&#8221;.<br />
&#8220;ah, kamu berlebihan&#8221;.<br />
&#8220;bener kok, aku jadi ketagihan, boleh lagi gak?&#8221;.<br />
&#8220;boleh kok, pokoknya tubuhku boleh diapain aja ama kamu&#8221;.<br />
&#8220;yaudah,,, aku jilatin vaginamu lagi ya&#8221;.<br />
&#8220;tapi sekarang kamu yang tiduran, soalnya aku juga pengen ngerasain penis kamu&#8221;. Lalu, Ulfsaar tiduran di atas tanah dan aku tidur di atas tubuhnya dan mengambil posisi 69 sehingga vaginaku di depan mukanya, dan juga penis Ulfsaar menantang tegak di depan wajahku. Langsung aja, aku masukkan penis Ulfsaar ke dalam mulutku, sementara vaginaku sudah mulai dijilati lagi oleh Ulfsaar.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku mulai menjilati batang penisnya, kepala penisnya, dan buah zakarnya. 4 menit kemudian, aku orgasme lagi dan cairanku diminum oleh Ulfsaar sampai habis.<br />
&#8220;yuk, Rasti, aku udah gak tahan pengen nusuk kamu&#8221;.<br />
&#8220;yaudah, kamu tetep tiduran aja, biar aku yang kerja duluan nanti baru kamu&#8221;. Aku berdiri di atas penisnya, dan mulai menurunkan tubuhku secara perlahan, dengan tuntunan tanganku, penis Ulfsaar menerobos masuk ke dalam vaginaku. Aku menggerakkan tubuhku naik turun, dan juga kadang-kadang aku menurunkan tubuhku agar aku bisa mencumbu Ulfsaar. Setiap 30 menit, kami berganti posisi, dan setelah 1 1/2 jam kami bersetubuh akhirnya penis Ulfsaar mulai berdenyut, aku memintanya untuk menyemburkan spermanya di dalam mulutku. Setelah penisnya dicabut, aku langsung mengulum penisnya. Kuemut kepala penisnya, kusentil-sentil lubang kencingnya dan kadang-kadang kujilati buah zakarnya, akhirnya hadiah yang kutunggu-tunggu keluar juga.</p>
<p style="text-align: justify;">Sperma hangat Ulfsaar langsung menyemprot ke dalam mulutku yang langsung kutelan habis, setelah habis aku masih mengulum penisnya untuk mendapatkan sisa-sisa sperma yang ada di lubang kencingnya. Kemudian aku melepaskan penisnya yang sudah mulai mengecil, dan aku melihat suatu barang di tepi sungai.<br />
&#8220;Ulfsaar, benda apa itu?&#8221;.<br />
&#8220;aku tidak tau, aku menemukannya di pantai&#8221;.<br />
&#8220;ah, itu tasku&#8221;, dengan segera aku menghampiri tasku, tapi tidak ada baju karena semua bajuku ada di koper bukan di tas. Tasku hanya berisi pil pencegah kehamilan, hpku, dan alat-alat kosmetikku. Tapi, sayangnya hpku rusak karena terendam air, hilang sudah harapanku untuk bisa pulang.<br />
&#8220;Rasti, kita balik ke kampung yuk&#8221;.<br />
&#8220;emangnya, mau ada apaan lagi?&#8221;.<br />
&#8220;habis ini, kepala suku bakal merawanin anus kamu, dan setelah itu semua laki-laki akan menyodok anus kamu&#8221;.<br />
&#8220;kalau gitu, aku minum obat dulu ya, biar aku gak hamil&#8221;.<br />
&#8220;oo, yaudah&#8221;. Kemudian aku merogoh tas kecilku dan menemukan obat, ternyata selain pil pencegah kehamilanku, ada pil obat kuat milik Mang Ucup waktu itu yang bisa membuatku segar terus menerus meskipun aku terus menerus orgasme.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Ulfsaar, abis aku minum obat ini, aku bakal pingsan, kamu gendong aku balik ke pemukiman ya&#8221;.<br />
&#8220;yaudah, ok&#8221;. Kemudian, aku minum obat kuat Mang Ucup dan juga pil pencegah kehamilanku. Dalam waktu 5 menit, kepalaku pusing dan langsung pingsan, aku sudah tidak sadarkan diri. Dan sebentar lagi tubuhku akan menjadi sarana pelampiasan nafsu suku Baro.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ceritasex.cn/gadis-pemuas-di-dalam-hutan-lebat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Dewi Maniak Seks &#8211; Pesta Ulang Tahun Anaknya Bagian 2</title>
		<link>http://www.ceritasex.cn/dewi-maniak-seks-pesta-ulang-tahun-anaknya-bagian-2/</link>
		<comments>http://www.ceritasex.cn/dewi-maniak-seks-pesta-ulang-tahun-anaknya-bagian-2/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 26 Nov 2009 02:17:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cerita Sex</dc:creator>
				<category><![CDATA[anal seks]]></category>
		<category><![CDATA[Paruh baya]]></category>
		<category><![CDATA[Seks Umum]]></category>
		<category><![CDATA[Tante Girang]]></category>
		<category><![CDATA[anal]]></category>
		<category><![CDATA[anus seks]]></category>
		<category><![CDATA[cuki]]></category>
		<category><![CDATA[dewi]]></category>
		<category><![CDATA[lonte]]></category>
		<category><![CDATA[maniak seks]]></category>
		<category><![CDATA[ml]]></category>
		<category><![CDATA[ngentot]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ceritasex.cn/?p=1068</guid>
		<description><![CDATA[Parmin mencabut batang kemaluannya dari jepitan lubang pantat Hani, sementara Gito mulai memompa kontolnya keluar masuk vagina Hani dengan perlahan-lahan, Hani yang sedang merasakan sisa-sisa kenikmatan itu melenguh dibuatnya. “Oooohhhh….,”Hani melenguh. Sambil memompa Gito menciumi Hani dengan penuh nafsu, dilumatnya bibir Hani, lidahnya menyelusup masuk kedalam mulut Hani mencari-cari lidah Hani, kedua lidah mereka menari [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Parmin mencabut batang kemaluannya dari jepitan lubang pantat Hani, sementara Gito mulai memompa kontolnya keluar masuk vagina Hani dengan perlahan-lahan, Hani yang sedang merasakan sisa-sisa kenikmatan itu melenguh dibuatnya.</p>
<p style="text-align: justify;">“Oooohhhh….,”Hani melenguh.</p>
<p style="text-align: justify;">Sambil memompa Gito menciumi Hani dengan penuh nafsu, dilumatnya bibir Hani, lidahnya menyelusup masuk kedalam mulut Hani mencari-cari lidah Hani, kedua lidah mereka menari dirongga mulut Hani, saling bertautan, Gito mulai menaikkan ritme sodokan-sodokan kontolnya di lubang vagina Hani.</p>
<p style="text-align: justify;">Sementara itu Parmin beranjak kearah Nita, yang saat itu sedang menikmati sisa-sisa kenikmatannya, Parmin lalu menyuruh Nanang untuk mulai mengentot Nita sambil duduk dengan posisi WOT, Parmin membantu Nanang dengan menggendong tubuh Nita dan mengangkangkannya diatas tubuh Nanang, sementara Nanang mengarahkan kepala kontolnya kelubang vagina Nita, diselipkannya kepala kontolnya divagina Nita, ssleeppp…kepala kontolnya terjepit oleh lubang vagina Nita, Nita melenguh saat merasakan kepala kontol Nanang mulai menerobos lubang vaginanya, dengan perlahan-lahan Parmin mulai menurunkan pantat Nita, bbleesss….bleessss…bbleesss….kontol Nanang perlahan-lahan menerobos masuk kedalam lubang memek Nita, dan bbbleeesss…..dengan sekali hentak Parmin menekan pantat Nita kebawah, kontol Nanangpun terbenam seluruhnya didalam lubang nikmat Nita, Nita melenguh keras saat Parmin menghentakkan pantatnya itu.</p>
<p style="text-align: justify;">“Uughhh….kontolmu besar dan panjang…kurasa ujung kepala kontolmu menyentuh dinding rahimku…Aaaarrgghh…,”lenguh Nita.</p>
<p style="text-align: justify;">Parmin lalu mendorong punggung Nita, sehingga tubuh Nita tengkurap diatas tubuh Nanang, lalu ia mulai menyelipkan kontolnya kedalam lubang pantat Nita, Nita menjerit saat merasakan kepala kontol Parmin mulai menyeruak lubang pantatnya, Nita merasakan sakit dilubang pantatnya, tapi ia tidak bisa meronta karena saat itu Nanang sedang memeluknya dengan erat, dengan terpaksa Nita hanya dapat menerima perlakuan Parmin di lubang pantatnya, sambil menahan sakit ia menggigit pundak Nanang, Nanang mendiamkan gigitan Nita karena saat itu ia sedang merasakan kenikmatan yang belum pernah ia alami sebelumnya, kontolnya sedang terjepit dengan erat oleh memek Nita, ditambah dengan aksi Parmin yang sedang meneroboskan kontolnya dilubang pantat Nita sehingga membuat lubang vagina Nita semakin sempit dirasakan oleh Nanang.</p>
<p style="text-align: justify;">“Terus, Min, dorong terus, gila memeknya jadi tambah sempit, berkedut-kedut terus lagi, kontol gw kaya dipijat-pijat,”teriak Nanang yang sedang keenakan merasakan jepitan memek Nita.</p>
<p style="text-align: justify;">“Heeh, ini pantatnya juga sempit, masih perawan, hehehe…empot ayam juga, tenang Bu, nanti juga enak, tanya aja ama bu Hani tuch, ya nggak bu Han,”kata Parmin terkekeh-kekeh.<br />
<span id="more-1068"></span><br />
“Heeh…beetul…Nit, tar juga enak..Ooohhh terus Git, sodok lebih dalam lagi, iyaaahh…,”jawab Hani membetulkan sambil menikmati sodokan-sodokan kontol Gito.
</p>
<p style="text-align: justify;">“Tuch, apa saya bilang Bu,”Parmin berkata lagi, sambil terus menekankan kontolnya lagi, bbleess ….blleess…bbleeesss…perlahan tapi pasti kontol Parmin mulai menyeruak masuk lebih dalam dilubang pantat Nita.</p>
<p style="text-align: justify;">“Hhhmmm….hhhmmmm…,”Nita hanya bisa bergumam merasakan kesakitan saat kontol Parmin menerobos makin dalam dilubang pantatnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Dan….Bbbleeesss….dengan sekali sentakan kuat Parmin mendorong kontolnya, Nita menjerit akibat sentakan Parmin itu,</p>
<p style="text-align: justify;">“Arrgghhhh….sakiiittt….ccabut..kontolmu itu…Uughhh,”jerit Nita.</p>
<p style="text-align: justify;">Parmin yang sedang menikmati jepitan erat lubang pantat Nita di batang kemaluannya itu tidak mau mendengarkan permintaan Nita, tapi dengan kedua tangannya memegangi pinggang Nita Parmin mulai dengan perlahan-lahan memaju mundurkan tubuh Nita, sehingga kontolnya dan kontol Nanang mulai keluar masuk dengan sendirinya dilubang-lubang Nita.</p>
<p style="text-align: justify;">“Min , uenak tenan, nich…ngentot cara begini, betul-betul mantab…kayanya memeknya tambah sempit aja..oooohh…, sedapp…nikmat….,”kata Nanang saat ia mulai merasakan kontolnya keluar masuk memek Nita dengan seretnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Sssrtttt….bbleess…..sssrtttt….bbleess….sssrrrtt….b bblleess…sssrrttt..bbleeess….. kedua kontol mereka keluar masuk perlahan-lahan di kedua lubang Nita.</p>
<p style="text-align: justify;">Lama kelamaan rasa sakit yang dirasakan oleh Nita berangsur menghilang berganti dengan rasa nikmat, Nita sekarang mulai bisa merasakan enaknya pergeseran kedua kontol itu didalam lubang memek dan pantatnya, ia merasakan kedua lubangnya penuh sesak oleh kontol-kontol besar Parmin dan Nanang, sensasi nikmat yang ia rasakan sekarang belum ia alami sebelumnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Sementara itu Udin mulai memposisikan tubuh Dewi untuk menungging, Dewi menuruti kemauan Udin yang ingin kontol* dia dari belakang, pantatnya ia angkat sementara dada dan wajahnya menempel keatas karpet, dengan tidak sabar lagi Udin mulai menyelipkan kepala kontolnya dilubang memek Dewi, setelah dirasakan kepala kontolnya tepat dilubang senggama Dewi, dengan sekali sentakan kuat Udin mendorong maju kontolnya menerobos vagina Dewi.<br />
Bleeessssss……Batang kemaluan Udin menyeruak masuk kedalam vagina Dewi.
</p>
<p style="text-align: justify;">“Aaaggghhh…pelaann..Din, robek punyaku nanti…kontolmu besar sekali..,”jerit Dewi saat lubang vaginanya diterobos dengan kuat oleh kontol Udin.</p>
<p style="text-align: justify;">“heeh..tenang bu, gak akan robek, tapi yang ada nanti merem-melek sama batangku ini,”jawab Udin.</p>
<p style="text-align: justify;">Udin merasakan jepitan kuat dibatang kontolnya, dan ia merasakan dinding vagina Dewi berkedut-kedut, seolah-olah meremas-remas batang kontolnya, Udin merasakan nikmatnya memek Dewi itu, yang belum pernah dirasakan olehnya tatkala ia menyetubuhi istrinya yang sudah punya 3 anak.</p>
<p style="text-align: justify;">Tak lama berselang Udin mulai memaju-mundurkan kontolnya didalam lubang vagina Dewi sssrttt….blesss…srrrttt…blesss…sssrtttt…bleess….</p>
<p style="text-align: justify;">“Oohh…enak Din, terus…tekan yang dalam..yach…yang kuat..oohh…enak kontolmu Din…,”desah Dewi, yang merasakan nikmatnya sodokan kontol Udin divaginanya.</p>
<p style="text-align: justify;">“Teruss….oohh…lebih cepat..yach…hhhmmm..aaghhh…nikmat…,”kembali Dewi mendesah.</p>
<p style="text-align: justify;">“Uughhh…yach..tekan yang kuat…aaahhh…enak…nikmat…kontolmu,”rintih Hani yang sedang menikmati enjotan Gito.</p>
<p style="text-align: justify;">“Terus..Git, lebih cepat…oohhh…puaskan aku…yachh…aaaghhh…nikmat sekali,”kembali Hani merintih keenakan.</p>
<p style="text-align: justify;">“Uugghh…hhmmmm…sslllrrppp…memek ibu sempit sekali…hhmmm…sslrrrppp,”gumam Gito sambil mulutnya asyik menghisap-hisap payudara Hani bergantian kiri &amp; kanan.</p>
<p style="text-align: justify;">Sementara itu Nita juga sedang merasakan kenikmatan yang luar biasa, dari mulutnya tidak hentinya terdengar erangan-erangan keenakan,</p>
<p style="text-align: justify;">“Ooohhh…enak..sekali…terus enjot kontol kalian…yang dalam tekannya…yaahhh..begitu…lebih cepat…naahh…nikmat sekali…terus…terus…,”erang Nita keenakan dienjot oleh Nanang dan Parmin.</p>
<p style="text-align: justify;">Kedua payudara Nita juga tidak luput dari aksi Nanang, remasan-remasan tangan Nanang dikedua payudara Nita dan ditingkahi dengan hisapan-hisapan serta jilatan-jilatan pada kedua putingnya membuat Nita semakin mengerang kenikmatan.</p>
<p style="text-align: justify;">“Ooohhh…Nang, hisap…terus…hisap…tetekku…yach…yang kuat..oohh..geli enak..,”Nita mengerang lagi.</p>
<p style="text-align: justify;">“hhhmmm… ssslrrppp… hhmmm… ssslllrppp…memek ibu… juga… enak… sekali… sempit… ssllrrppp … hhhmmm,”desah Nanang.</p>
<p style="text-align: justify;">“Ooohh…enak…ooohh…nikmat…,”Parmin merintih keenakan, sambil terus menggenjot kontolnya keluar masuk dalam lubang pantat Nita.</p>
<p style="text-align: justify;">Rintihan, erangan, dan desahan terdengar tanpa henti dari mulut mereka, keringat mereka sudah membanjiri tubuh mereka dan bercampur aduk, bunyi suara ceplakan saat tubuh mereka beradu menambah ramai suasana persetubuhan mereka.</p>
<p style="text-align: justify;">Cairan pelicin semakin banyak keluar dari kemaluan mereka, mempermudah keluar masuk batang kemaluan para lelaki didalam lubang-lubang para wanita, gerakan keluar masuk batang kemaluan para lelaki semakin bertambah cepat, akibatnya membuat para wanita semakin mengerang keenakan.</p>
<p style="text-align: justify;">Mendapat sodokan-sodokan yang bertubi-tubi dari batang kemaluan para lelaki itu membuat para wanita itu mulai goyah, tubuh mereka mulai mengejang dan mengejut-ngejut, puncak kenikmatan para wanita sudah diambang pintu, sementara para lelaki mengalami hal yang sama, puncak kenikmatan mereka hampir mereka rengkuh juga, gerakan para lelaki itu sudah mulai tidak beraturan.</p>
<p style="text-align: justify;">“Ooohh…aaku tidak tahan lagi… aku mau keluar..aahhh..nikmat…enak…,”Hani, Nita dan Dewi mengerang bersamaan, puncak kenikmatan untuk yang kedua kalinya akan mereka raih.</p>
<p style="text-align: justify;">“Oooohhh…aku keluar…Oohh…tekan yang dalaammm….yang kuaat…,’kembali Hani, Nita dan Dewi mengerang bersamaan dan, sssrrrr….ssrrr….sssrr….sssrrr….vagina mereka menyemburkan lahar kenikmatan mereka membasahi batang kemaluan lelaki yang sedang berada dalam lubang mereka.</p>
<p style="text-align: justify;">“Uughhh…hhmmm…aku keluar jugaa….aaagghh…enaaakk..uughh,”Ke empat lelaki itu mengerang secara bersamaan dan menekan dalam-dalam kontol mereka kedalam lubang para wanita itu, dan cccrreeeett….creeettt…ccreeett….ccreeett….kontol mereka memuntahkan lahar kenikmatan didalam lubang para wanita itu hampir berbarengan dengan semburan lahar kenikmatan dari vagina para wanita itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Tubuh mereka semua terlihat mengejut-ngejut seirama dengan muntahnya lahar kenikmatan mereka, nafas mereka terdengar memburu, pancaran puas terbias di wajah mereka. Selang tak lama setelah tetes terakhir lahar kenikmatan mereka menetes dari kemaluan masing-masing, mereka semua akhirnya tergolek kelelahan diatas karpet.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ceritasex.cn/dewi-maniak-seks-pesta-ulang-tahun-anaknya-bagian-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Dewi Maniak Seks &#8211; Pesta Ulang Tahun Anaknya Bagian 1</title>
		<link>http://www.ceritasex.cn/dewi-maniak-seks-pesta-ulang-tahun-anaknya-bagian-1/</link>
		<comments>http://www.ceritasex.cn/dewi-maniak-seks-pesta-ulang-tahun-anaknya-bagian-1/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 26 Nov 2009 02:13:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cerita Sex</dc:creator>
				<category><![CDATA[anal seks]]></category>
		<category><![CDATA[Paruh baya]]></category>
		<category><![CDATA[Pemerkosaan]]></category>
		<category><![CDATA[Seks Umum]]></category>
		<category><![CDATA[Tante Girang]]></category>
		<category><![CDATA[anus]]></category>
		<category><![CDATA[cuki]]></category>
		<category><![CDATA[dewi]]></category>
		<category><![CDATA[hani]]></category>
		<category><![CDATA[lonte]]></category>
		<category><![CDATA[lonte cina]]></category>
		<category><![CDATA[maniak seks]]></category>
		<category><![CDATA[ngentot]]></category>
		<category><![CDATA[nita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ceritasex.cn/?p=1066</guid>
		<description><![CDATA[Siang itu Dewi sedang kedatangan dua temannya, Nita dan Hani, ada kesamaan pada mereka bertiga, yaitu mempunyai suami yang jauh lebih tua dari umur mereka dan mereka bertiga lahir ditahun yang sama. Yang membuat perbedaan diantara mereka adalah anak tiri, dimana anak tiri Nita dan Hani tidak ikut dengan mereka tetapi anak tiri mereka ikut [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Siang itu Dewi sedang kedatangan dua temannya, Nita dan Hani, ada kesamaan pada mereka bertiga, yaitu mempunyai suami yang jauh lebih tua dari umur mereka dan mereka bertiga lahir ditahun yang sama. Yang membuat perbedaan diantara mereka adalah anak tiri, dimana anak tiri Nita dan Hani tidak ikut dengan mereka tetapi anak tiri mereka ikut dengan ibunya masing-masing, selain itu Dewi menikah dengan seorang Duda, sementara kedua temannya menikah dengan suami orang, dan suami mereka sekarang telah menceraikan istri-istri tuanya. Nita dan Hani hampir mempunyai sifat yang sama yaitu tipe wanita yang tidak mau sengsara, yang mereka pedulikan hanyalah harta kekayaan dari suami-suami mereka, mereka menikah juga tidak didasari dengan cinta.</p>
<p style="text-align: justify;">Sudah dari dulu Nita dan Hani selalu mengajak Dewi untuk pergi bersama, mencari batang-batang kemaluan yang besar dan panjang untuk memuaskan birahi mereka dan Dewi selalu menolak ajakan itu. Tapi itu dulu, semenjak Dewi sudah beberapa kali merasakan kenikmatan atas sodokan-sodokan dari batang kemaluan lelaki yang panjang dan besar, Dewi selalu merindukan batang-batang kemaluan lelaki yang besar dan panjang.</p>
<p style="text-align: justify;">Topik pembicaraan mereka siang ini tidak jauh berbeda dari dulu, yaitu tidak jauh dari selangkangan lelaki, hanya sekarang Dewi juga ikut aktif, dulu Dewi hanya sekedar pendengar setia sambil tersenyum simpul, kalau sekarang Dewi aktif bercerita tentang pengalaman-pengalaman seksnya, membuat kedua temannya ini melongo mendengar cerita Dewi itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Tak satupun kejadian yang telah dialami oleh Dewi yang disembunyikan termasuk ketika Dewi menikmati permainan seks dengan Doni-anak tirinya dan juga ketika bersetubuh dengan ketiga teman Doni, Nita dan Hani hanya dapat menelan ludah mendengar cerita Dewi itu, birahi mereka mulai bangkit mendengar cerita Dewi, apalagi ketika Dewi menceritakan melakukan seks dengan tiga lelaki sekaligus, yang belum pernah mereka alami selama ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Tak terasa waktu berlalu, jam di dinding telah menunjukkan pukul 12 siang, perut mereka mulai meronta minta diisi, Dewi berinisiatip hendak menyediakan makanan untuk kedua temannya ini, Nita dan Hani mengikuti langkah Dewi kedapur, obrolan kembali berlanjut sambil sibuk menyiapkan makanan.</p>
<p style="text-align: justify;">Tak lama kemudian makan siangpun tersaji, obrolanpun mereka lanjutkan di meja makan sambil menikmati makan siang mereka, penasaran dengan cerita Dewi, Hani dan Nita mengusulkan ke Dewi agar mereka bisa untuk ikut menikmati batang-batang kemaluan lelaki yang panjang dan besar, mereka berdiskusi tentang bagaimana caranya untuk membuat hal itu terjadi, sedang asyiknya mereka menyusun rencana, mereka mendengar suara kunci yang terbuka dari arah pintu depan, Dewi tahu bahwa yang pulang itu adalah Doni anak tirinya, dan tebakan Dewi betul adanya, selang tak lama wajah Doni terlihat oleh mereka, Donipun memanggutkan kepala dan tersenyum kepada Hani dan Nita, lalu ia menghampiri Dewi.<br />
<span id="more-1066"></span><br />
“Mih, sabtu ini kan aku Ulang Tahun, boleh tidak aku undang teman-temanku kesini untuk merayakannya,” tanya Doni sesampainya dihadapan Dewi.
</p>
<p style="text-align: justify;">“Oh, iyah, hampir Mamih lupa, berapa orang, terus apa saja yang harus Mamih sediakan,” Dewi bertanya balik ke Doni.</p>
<p style="text-align: justify;">“Ah, gak banyak kok Mih, paling sepuluh orang termasuk aku sebelas jadinya, kayanya gak usah repot-repot dech, beli makanan jadi aja Mih,” jawab Doni.</p>
<p style="text-align: justify;">“Yach klo cuman sebanyak itu sich, Mamih siapin sendiri aja, gak usah beli, paling kita beli kue ulang tahunnya dan minumannya saja,” balas Dewi.</p>
<p style="text-align: justify;">“Ah kebetulan Sabtu ini, suamiku gak ada, dia pergi keluar kota, jadi aku bantuin kamu aja, Wi,” sahut Nita.</p>
<p style="text-align: justify;">“Iyah, aku juga bantuin kamu dech, Wi, mumpung lakiku juga belon pulang,” Hani ikut nimbrung juga.</p>
<p style="text-align: justify;">“Oh, iyach, Don, kenalin ini teman Mamih, ini tante Nita dan yang itu tante Hani, “ kata Dewi.</p>
<p style="text-align: justify;">“Serius kalian mo bantuin, yach klo gitu sich, aku seneng-seneng aja ada yang bantuin,” lanjut Dewi.</p>
<p style="text-align: justify;">“Doni,” kata Doni menyebutkan namanya sambil menjabat tangan Hani dan Nita.</p>
<p style="text-align: justify;">“Waduh, makasih banyak, Mih, dan tante makasih juga yach udah mau bantuin mamih,” Doni berkata kepada mereka.</p>
<p style="text-align: justify;">“Doni, kekamar yach, mo istirahat,” lanjut Doni dan Donipun beranjak meninggalkan mereka.</p>
<p style="text-align: justify;">Sepeninggal Doni, mereka bertiga tersenyum genit, dan mereka mulai merencanakan acara tersebut, dalam benak mereka berharap mudah-mudahan yang diundang Doni adalah teman laki-lakinya semua, kalau yang datang semuanya adalah lelaki maka pesta yang akan mereka adakan itu pasti akan lebih meriah, dan mereka merencanakan akan membuat pesta ulang tahun itu menjadi pesta seks, tapi kemudian Dewi tersadar bahwa kemungkinan besar rencana itu tidak dapat dilaksanakan karena suaminya sedang berada di Jakarta, kembali ketiganya memutar otak untuk dapat melaksanakan niat mereka itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Sorenya Nita dan Hani berpamitan sambil membawa PR kerumah masing-masing tentang bagaimana caranya membuat pesta itu terjadi sesuai dengan harapan mereka dan menyingkirkan suami Dewi untuk sementara waktu, mereka bertiga berjanji untuk saling memberi kabar jika salah satu dari mereka telah menemukan akal untuk hal tersebut.</p>
<p style="text-align: justify;">Sampai 2 hari menjelang hari H, mereka bertiga belum menemukan jalan untuk menyingkirkan suaminya Dewi, tapi nampaknya dewi seks berpihak pada mereka bertiga, nampaknya dewi seks memberikan jalan kepada mereka untuk melakukan acara pesta seks yang sudah mereka rencanakan itu, karena saat suaminya pulang kerumah ia memberitahu Dewi bahwa besok dirinya harus berangkat dengan pak Erwin untuk meninjau lokasi proyek mereka. Mendengar berita ini Dewi bersorak girang dalam hatinya, tak sabar ia ingin segera memberitahukan kabar ini kepada kedua temannya.</p>
<p style="text-align: justify;">Keesokan harinya sepeninggal suaminya, Dewi menghubungi kedua temannya dan memberitahukan berita gembira ini, kedua temannya yang mendengar berita ini bersorak kegirangan dan mereka berjanji untuk datang kerumah Dewi hari ini dan mereka merencanakan akan bermalam dirumah Dewi sampai hari Minggu.</p>
<p style="text-align: justify;">Siangnya setelah Hani dan Nita tiba dirumah Dewi, mereka bertiga pergi berbelanja untuk keperluan acara besok, selesai belanja mereka langsung pulang, setibanya dirumah mereka melihat Doni sedang nonton TV.</p>
<p style="text-align: justify;">“Don, Mamih ada yang lupa nich,” kata Dewi.</p>
<p style="text-align: justify;">“Apa yang mamih lupa?” Doni bertanya.</p>
<p style="text-align: justify;">“Kamu undang teman-temanmu itu jam berapa?” tanya Dewi.</p>
<p style="text-align: justify;">“Oh, jam 12 siang, soalnya biar pas waktunya dengan waktu makan siang,”jawab Doni.</p>
<p style="text-align: justify;">“Terus, berapa orang laki-laki dan berapa orang perempuan,”Dewi kembali bertanya.</p>
<p style="text-align: justify;">“Oh, klo itu sich, yang Doni suruh dating semuanya teman laki-laki Doni,”Doni menjawab kembali.</p>
<p style="text-align: justify;">“Memangnya kamu tidak punya teman perempuan, makanya tidak ada teman perempuanmu yang diundang?,” kembali Dewi bertanya</p>
<p style="text-align: justify;">“Ada sich, Mih. Cuman gak asyik aja klo ada teman perempuanku, gak rame, gak heboh,”jawab Doni.</p>
<p style="text-align: justify;">“Eh, Mamih juga perempuan, berarti kehadiran mamih tidak diinginkan juga dong?” canda Dewi.</p>
<p style="text-align: justify;">“Yach, itu sich lain mih,”jawab Doni.</p>
<p style="text-align: justify;">“Och, yach mih, aku mau pergi dulu kerumah temanku, pulangku pasti malam, gak usah mamih tungguin yach,” lanjut Doni, yang segera beranjak setelah di iyakan oleh Dewi.</p>
<p style="text-align: justify;">Sepeninggal Doni, mereka bertiga sibuk didapur menyiapkan bahan-bahan untuk besok, sambil asyik merencanakan tindakan apa yang harus mereka lakukan besok, karena sibuk dan asyik dengan rencana-rencana mereka.</p>
<p style="text-align: justify;">Jam di dinding menunjukkan pukul 6 sore saat mereka mendengar suara bel pintu, Dewi beranjak kedepan untuk melihat siapa yang datang bertamu, saat pintu dibuka, ternyata yang datang adalah Parmin.</p>
<p style="text-align: justify;">“Ada apa pak Parmin?” tanya Dewi.</p>
<p style="text-align: justify;">“Ini Bu, saya mau mengembalikan pinjaman saya yang kemarin,”jawab Parmin.</p>
<p style="text-align: justify;">“Oh, memang pak Parmin sudah ada uangnya,” tanya Dewi lagi, sambil berpikir untuk mengundang Parmin agar datang nanti malam dan mengajak Sugito, Dewi berpikir pasti teman2nya ingin merasakan sodokan-sodokan satpam ini.</p>
<p style="text-align: justify;">“Sudah Bu, sudah soalnya hari ini saya dapat rejeki,” jawab Parmin.</p>
<p style="text-align: justify;">“Oh ya sudah, ngomong-ngomong Pak Parmin nanti malam tugas tidak,”tanya Dewi.</p>
<p style="text-align: justify;">“Memang kenapa Bu?”Parmin balik bertanya.</p>
<p style="text-align: justify;">“Klo tidak tugas bagaimana klo pak Parmin nanti malam datang yach sekitar jam 8an gitu, sambil ajak pak Gito,”jawab Dewi genit.</p>
<p style="text-align: justify;">“Oh bisa, bisa Bu, nanti malam saya akan datang sama pak Gito, hanya kita berdua aja Bu,”Parmin mengiyakan sambil bertanya.</p>
<p style="text-align: justify;">“Memang ada siapa lagi,”tanya Dewi</p>
<p style="text-align: justify;">“Klo yang tidak tugas nanti malam sich ada 2 orang lagi, Nanang dan Udin,”jawab Parmin.</p>
<p style="text-align: justify;">“Yach, udah sekalian mereka juga suruh datang,”sahut Dewi cepat.</p>
<p style="text-align: justify;">“Klo gitu saya permisi dulu Bu, saya mau kasih tahu mereka,”pamit Parmin.</p>
<p style="text-align: justify;">Dewi bergegas masuk sepeninggal Parmin, lalu ia ceritakan hal tersebut kepada teman-temannya, Hani dan Nita menyambut gembira hal tersebut, lalu mereka cepat-cepat membenahi dapur dan menyiapkan makanan kecil dan minuman untuk pesta kecil mereka nanti malam, selesai itu mereka betiga membersihkan diri mereka dan bersiap-siap untuk menyambut tamu-tamu yang akan memberikan mereka kepuasan.</p>
<p style="text-align: justify;">Jam berdentang 7 kali saat bel pintu dirumah Dewi berbunyi, Dewi bergegas menuju kepintu depan, pintu dibuka Dewi melihat 4 sosok lelaki dihadapannya, Dewi tersenyum melihat yang siapa yang datang ini, lalu ia mempersilahkan ke 4nya untuk masuk dan langsung diajaknya keruangan keluarga dimana Hani dan Nita sedang menunggu kehadiran mereka juga.</p>
<p style="text-align: justify;">Dewi memperkenalkan mereka kepada Hani dan Nita, yang disambut dengan genit oleh Hani dan Nita, merekapun terlibat pembicaraan sambil menikmati makanan dan minuman, sambil diselingi dengan rabaan dan remasan-remasan genit ketiga wanita ini kepada para lelaki, ke 4 lelaki ini tidak pernah membayangkan dalam hidupnya mereka akan mengalami hal ini, 3 wanita yang jelas-jelas lebih cantik dan seksi daripada istri mereka dirumah bertingkah laku genit kepada mereka, dan tangan mereka meraba-raba serta meremas-remas batang kemaluan mereka dari balik celana yang mereka pakai, aksi ke 3 wanita ini telah membuat birahi mereka mendidih.</p>
<p style="text-align: justify;">Gito yang sedang menikmati remasan dan rabaan tangan Hani, mulai melakukan aksi balik, tangannya mulai meremas-remas payudara Hani, mulutnya mulai melumat bibir Hani, aksi balas Gito membuat Hani mendesah, Parmin melakukan hal yang sama kepada Nita, mulutnya melumat bibir Nita dengan penuh nafsu, kedua tangannya beraksi melucuti pakaian atas Nita yang dilanjut dengan membuka Branya, terlihat kedua payudara Nita yang masih mengkal menggantung dengan indahnya, kedua putingnya yang berwarna merah muda sedikit mencuat, dengan tidak sabar Parmin memnyerbu kedua payudara itu, remasan-remasan penuh nafsu dilakukannya kebukit kembar Nita diselingi dengan pilinan-pilinan dikedua putingnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Nanang dan Udin yang sedang menikmati tangan lembut Dewi, menyaksikan kedua temannya sudah beraksi dan saat mereka melihat Parmin melucuti pakaian dan bra Nita, kemudian terpampang dengan jelas dikedua mata mereka bukit kembar Nita, mereka menjadi penasaran ingin segera melihat bukitm kembar Dewi. Keduanya bekerja sama melucuti pakaian Dewi termasuk dengan bra dan celana dalam Dewi, akhirnya Dewi dibuat telanjang bulat oleh mereka, setelah selesai dengan melucuti pakaian Dewi, mereka melepaskan pakaian mereka dengan tergesa-gesa, dengan keadaan telanjang bulat mereka mulai menyerbu Dewi, Nanang menerkam bagian atas Dewi dengan penuh nafsu, dia melumat bibir Dewi yang disambut dengan penuh nafsu oleh Dewi, sementara tangan Nanang beraksi dikedua payudara Dewi, remasan-remasan tangan Nanang dan pilinan-pilinan dikedua putingnya membuat Dewi mendesah apalagi Udin juga mulai beraksi dibagian bawah tubuhnya, Udin dengan penuh nafsu menjilati vagina Dewi dan menghisap-hisap kelentit Dewi.</p>
<p style="text-align: justify;">Gito menghentikan serangannya, ia mulai melucuti pakaian yang dikenakan oleh Hani sehingga tubuh mulus dan putih Hani terpampang dengan jelas dikedua mata Gito, Hani juga membalas dengan melucuti semau pakaian Gito, saat celana dalam Gito terlepas, Hani melihat batang kemaluan Gito yang sudah berdirti tegak dengan gagahnya, dibandingkan dengan kepunyaan suaminya memang sangat berbeda, Gito kemudian merebahkan tubuhnya diatas karpet, Hani dengan posisi merangkak mulai menyerbu batang kemaluan Gito, dikulum-kulum dan dijilatinya barang pusaka Gito itu dengan penuh nafsu, sambil menikmati selomotan dan jilatan Hani dikontolnya, tangan Gito tidak tinggal diam, kedua tangannya mulai menyerang payudara dan vagina Hani, tangan kirinya asyik meremas-remas payudara Hani bergantian sambil ditingkahi dengan pilinan-pilinan dikedua putingnya, tangan kanannya dengan lembut menggesek-gesek vagina dan kelentit Hani, kadang-kadang jari tengahnya menerobos kedalam lubang vagina Hani lalu dikocok-kocokkan keluar masuk dilubang vagina Dewi.</p>
<p style="text-align: justify;">Parminpun tidak mau kalah oleh teman-temannya, ia segera melucuti pakaian Nita dan pakaiannya sendiri, setelah tubuh Nita tidak tertutupi oleh sehelai kainpun begitu pula dengan tubuhnya yang sudah polos, Parmin segera merangkak keatas tubuh Nita, ia mulai menjilati vagina dan kelentit Nita, Nita juga mulai membalas aksi Parmin dengan penuh nafsu batang kemaluan Parmin diselomoti dan dijilatinya, Parmin melenguh menikmati sedotan-sedotan mulut Nita dibatang kemaluannya, iapun mengimbanginya dengan melesakkan kedua jarinya kedalam lubang vagina Nita, dan mengocok-ngocokannya keluar masuk lubang vagina Nita, dari mulut Nita yang sedang penuh oleh jejalan batang kemaluan Parmin terdengar erangan dan lenguhan, Nita betul-betul menikmati sensasi permainan mulut dan tangan Parmin divaginanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Saat itu Dewi dengan penuh nafsu sedang menikmati batang kemaluan Nanang, mulutnya mengulum-ngulum kontol Nanang, tangan kirinya mengelus-ngelus biji pelernya, sementara tangan kanannya meremas-remas rambut Udin yang masih asyik bermain dengan vaginanya, kadang-kadang terlihat pantat Dewi terangkat menyambut hisapan mulut Udin serta sodokan jari tangan Udin divaginanya, lenguhan dan erangan terdengar keluar dari mulut Dewi, Nanang merasakan kenikmatan yang tiada duanya, ia betul-betul menikmati selomotan dan jilatan Dewi dikontolnya, tangan kirinya memegang kepala Dewi, kadang-kadang mendorong kepala Dewi akibatnya kontolnya hampir masuk semuanya didalam mulut Dewi dan membuat Dewi tersedak, sementara tangan kanannya meremas-remas kedua payudara Dewi bergantian kiri dan kanan, dan ditingkahi dengan memilin-milin kedua putingnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Kemaluan Hani semakin basah mendapatkan serangan Gito yang bertubi-tubi, Hani sudah tidak sabar lagi ingin merasakan sodokan-sodokan kontol Gito dilubang senggamanya, dengan segera Hani merangkak diatas tubuh Gito dan mulai mengarahkan kontol Gito yang sudah semakin tegang itu kelubang senggamanya, dioles-oleskannya kepala kontol Gito dengan kelentitnya, kemudian Hani menyelipkan kepala kontol Gito di lubang vaginanya, sleepp….dengan perlahan-lahan Hani mulai menurunkan pantatnya, batang kemaluan Gito mulai menerobos lubang senggama Hani, bleesss…sedikit-demi sedikit kontol Gito mulai menyeruak masuk, bleeess…Hani menurunkan pantatnya lagi, Hani merasakan memeknya agak sedikit sakit akibat kontol Gito yang lebih besar daripada kepunyaan suaminya, bleess….kembali Hani menurunkan pantatnya, Gito merasakan memek Hani begitu erat menjepit batang kemaluannya, dan bleessss…dengan sekali hentakan kuat Hani menekan pantatnya kebawah, batang kemaluan Gito melesak lebih dalam lagi dirongga vagina Hani, Gito merasakan ujung kepala kontoknya bersentuhan dengan dinding rahim Hani begitu pula Hani merasakan dinding rahimya tersentuh agak kuat oleh kepala kontol Gito, keduanya melenguh….Uuuughhhh…</p>
<p style="text-align: justify;">Hani mendiamkan sebentar gerakannya, ia merebahkan tubuhnya ketubuh Gito sementara mulutnya mulai menciumi mulut Gito, dibalas oleh Gito dengan penuh nafsu, Gito meneroboskan lidahnya kedalam mulut Hani mencari lidah Hani, lidah mereka bertautan dirongga mulut Hani, tangan Gito mengelus-ngelus punggung Hani dan kedua bongkah pantat Hani, kadang-kadang tangannya meremas-remas kedua bongkah pantat Hani, tingkah mereka tidak luput dari pandangan Parmin yang sedang asyik menjilati kemaluan Nita, karena posisi mereka tepat berhadapan dengan kepala Parmin, Parmin melihat jelas sekali tahap demi tahap saat kontol Gito menerobos masuk kedalam lubang vagina Hani, lalu saat ia melihat tangan Gito meremas-remas pantat Hani, Parmin melihat lubang pantat Hani, ia ingat pengalamannya sewaktu mengentot lubang pantat Dewi, dan sekarang ia juga ingin memerawani lubang pantat Hani, Parmin segera menghentikan aksinya, ia beranjak dari posisinya kemudian Parmin berlutut dibelakang Hani, dibasahinya batang kemaluannya dengan air ludahnya, lalu ia selipkan kepala kontolnya dilubang pantat Hani, ssleepp … kepala kontol Parmin mulai terselip dilubang pantat Hani, Hani menjerit merasakan sakit saat lubang pantatnya mulai diterobos oleh kepala kontol Parmin, Hanipun meronta agar kepala kontol Parmin terlepas dari lubang pantatnya tapi percuma karena Gito yang melihat Parmin mendekati Hani dari belakang sudah mengetahui apa yang hendak dilakukan oleh Parmin, kedua tangannya memeluk erat Hani sehingga Hani tidak dapat bergerak.</p>
<p style="text-align: justify;">“Saakit….aaargghh….cabut kontolmu dari lubang pantatku…Ooogghh,”jerit Hani.</p>
<p style="text-align: justify;">“ssssttt..tenang Bu, sekarang sakit tapi lama-lama pasti ibu akan keenakan,” kata Parmin sambil mulai melesakkan batang kemaluannya dilubang pantat Hani perlahan-lahan, bleeesss…bleesss…blessss…bleessss.</p>
<p style="text-align: justify;">“Sakkiiittt….Ugghhh….sakiitt…..sudah aku tidak kuat…sakit sekali..”jeritan Hani terdengar kembali saat batang kemaluan Parmin semakin masuk kedalam lubang pantatnya.</p>
<p style="text-align: justify;">“Uughh…tenang Bu, nanti pasti juga ibu ketagihan,”kata Parmin lalu dengan sekali hentakan ia dorong batang kemaluannya, bbleesssss…..seluruh batang kemaluannya tertelan di lubang pantat Hani, “Uuughhh,…gila…sempit sekali nich lubang pantatnya, Bu, belom pernah dientot lubang pantatnya yach,”Parmin mengerang sambil bertanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Hani tidak dapat menjawab karena menahan sakit yang luar biasa, Gito merasa kasihan melihat Hani, dengan lembut ia menciumi Hani, dengan berpegangan pada pinggang Hani, Parmin mulai menggerakkan tubuh Hani kedepan dan kebelakang perlahan-lahan, sehingga membuat batang kemaluannya keluar masuk dengan sendirinya dilubang pantat Hani, tapi bukan batang kemaluannya saja yang secara otomatis keluar masuk, kontol Gitopun dengan sendirinya keluar masuk dilubang vagina Hani.</p>
<p style="text-align: justify;">Lama-lama isak tangis Hani berganti menjadi erangan dan desahan, rasa sakit perlahan-lahan berganti menjadi rasa nikmat yang luar biasa, dari yang tadinya hanya diam saja sekarang Hani mulai membantu gerakan Parmin yang memaju-mundurkan tubuhnya, kedua payudaranya yang bergelantungan didepan wajah Gito bergoyang seiring dengan gerakan tubuhnya yang maju mundur, dengan penuh nafsu Gito menjilati dan mengulum-ngulum kedua payudara Hani bergantian kiri-kanan, dan ditingkahi dengan hisapan-hisapan kuat dikedua putingnya, menambah sensasi kenikmatan Hani.</p>
<p style="text-align: justify;">“Ooohhh..enak sekali…aaaghh…terus…hisap tetekku…yach…tekan lebih dalam…,”Hani mengerang-ngerang kenikmatan, tubuhnya ia mundurkan lebih kuat membuat kedua kontol Gito dan Parmin melesak lebih dalam.</p>
<p style="text-align: justify;">“Enak betul memek ibu, gak kalah enak ama punya bu Dewi, aaghh kontolku seperti diremas-remas,” Gito mengerang merasakan keenakan saat dinding vagina Dewi mencengkram erat batang kemaluannya dan berdenyut-denyut.</p>
<p style="text-align: justify;">“Iyach lubang pantatnya sama-sama masih perawan sama seperti punya bu Dewi, enak kurasa…kontolku juga kaya diremas-remas nich,”erang Parmin bersamaan dengan erangan Gito, Parmin merasakan ketatnya lubang pantat Hani menjepit kontolnya, juga dinding lubang pantatnya yang berdenyut-denyut.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;</p>
<p style="text-align: justify;">Saat Parmin mulai melesakkan kontolnya kelubang pantat Hani, Nita yang ditinggal begitu saja segera menghampiri Nanang, didorongnya tubuh Nanang hingga bersandar di sofa, lalu ia berdiri mengangkangi kepala Nanang yang tergolek diatas sandaran sofa, kaki kanannya ia angkat keatas dan dipijakkannya diatas sandaran sofa, kedua tangannya menguakkan lubang vaginanya, terpampang di mata Nanang pemandangan yang menakjubkan yang belum pernah ia lihat selama ini, kelentit Nita terlihat oleh Nanang dengan jelas sementara vagina Nita yang berwarna merah muda terlihat jelas oleh Nanang, tanpa membuang waktu lagi dan Nanang tahu bahwa Nita ingin vagina dan kelentinya dijilati dan dihisap, Nanang mulai menjulurkan lidahnya dan mulai menjilati vagina Nita sambil ditingkahi dengan hisapan-hisapan dikelentitnya, tangan Nanang mulai beraksi juga, kedua jari tengah dan jari manis tangan kanannya mulai menerobos masuk kedalam lubang vagina Nita, tangan kirinya mulai mengelus-ngelus lubang pantat Nita, Nita melenguh menerima serangan ini, pantatnya ia maju mundurkan perlahan-lahan, Nanang menekan bagian dalam vagina Nita tepat dibelakang kelentitnya saat ia menghisap-hisap kelentitnya, kadang-kadang kedua jarinya mengocok vagina Nita.</p>
<p style="text-align: justify;">“Oohhh…terus…hisap itilku..yang kuaat…aaaghh…enak…terus…tekan…yach..kocok lagi…ochh enak sekali…,”Nita mengerang merasakan sensasi kenikmatan permainan tangan dan mulut Nanang.</p>
<p style="text-align: justify;">“Hhhmm…ssslllrrppp…memek ibu wangi dan cairannya ini gurih…ssslrrpppp…,”gumam Nanang sambil asyik menghisap-hisap kelentit Nita dan menelan cairan-cairan pelicin yang keluar dair vagina Nita.</p>
<p style="text-align: justify;">Kocokan-kocokan tangannya semakin dipercepat keluar masuk dalam lubang vagina Nita yang semakin basah oleh cairan pelicinnya, kadang-kadang ia tekan bagian belakang kelentitnya saat ia menghisap kuat-kuat kelentitnya, tubuh Nita gemetar dibuatnya, lenguhannya semakin sering terdengar, matanya merem-melek menikmati permainan Nanang, kedua tangan Nita mulai meremasi kedua payudaranya sendiri.</p>
<p style="text-align: justify;">kontol</p>
<p style="text-align: justify;">Dewi sendiri yang ditinggalkan oleh Nanang juga mulai meremasi kedua payudaranya dengan kedua tangannya sambil menikmati permainan Udin dilubang vaginanya, tubuhnya kadang-kadang melenting menikmati serangan Udin, kedua kakinya yang menopang saat tubuhnya melenting terlihat gemetar, Dewi merasakan nikmat yang luar biasa dengan permainan Udin, kedua jari tangan Udin keluar masuk dengan cepat, kadang-kadang Udin memutar-mutar jari tangannya yang sedang berada didalam vagina Dewi kekiri-kekanan, atau kadang-kadang Udin menekan keatas-kebawah kedua jari tangan saat kedua jari tangannya berada didalam vagina Dewi, sementara hisapan dan jilatannya dikelentit Dewi tidak berhenti saat Udin melakukan aksi tangannya itu, Dewi dibuat merem melek oleh Udin, lenguhan dan desahannya sering terdengar, bersahutan dengan suara Nita dan Hani yang sama-sama sedang menikmati serangan-serangan dilubang senggama mereka.</p>
<p style="text-align: justify;">“Oohh…terus Din, enak betul..hisap terus kelentitku…Ooohh…yach…kocok memekku yach…,”lenguh Dewi.</p>
<p style="text-align: justify;">“Hhhhmmm…ssllrppp..memek ibu..enak..wangi…,”Udin bergumam, sambil mulutnya tetap menghisap kelentit Dewi.</p>
<p style="text-align: justify;">Aksi Udin semakin menggila, jempol kirinya ia masukkan kedalam lubang pantat Dewi dan saat jempolnya sudah masuk semuanya didalam lubang pantat Dewi, ia gerakkan jempolnya keatas-kebawah, aksinya ini menambah sensasi kenikmatan buat Dewi, tangan kanan Dewi menekan belakang kepala Udin, pantatnya terangkat, kaki dan tubuhnya terlihat gemetar merasakan kenikmatan permainan Udin.</p>
<p style="text-align: justify;">“Oooohh..Din, terus..terus…enak…yach…,”terdengar Dewi mengerang lagi.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;</p>
<p style="text-align: justify;">Sementara Hani yang sedang dikeroyok berdua mulai mendekati titik kenikmatannya, puncak kenikmatannya sudah diambang pintu, erangannya semakin sering terdengar, tubuhnya mengejang-ngejang, keringatnya sudah membanjir menjadi satu dengan keringat Gito dan Parmin.</p>
<p style="text-align: justify;">“Ooohhh…teruss…sodok memekku dengan kontol kalian, lebih kuat dan lebih dalam, yach…oohh kalian betul-betul enak, aku tidak kuat lagi, Ooohh…aku mau keluar …tekan lebih dalam….aarrghh yach…begitu..teruss..lebih cepat lebih dalam…aaagghh..aku keluar,” Hani mengerang keenakan, tubuhnya mengejang-ngejang dan gemetar, saat meraih puncak kenikmatannya…ssssrrrrrr….sssrrrrrr..lubang vaginanya menyemprotkan lahar kenikmatannya menyirami kontol Gito yang berada didalam lubang vaginanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Hani memeluk Gito erat, tubuhnya meregang menikmati peraihan puncak kenikmatannya, matanya terbeliak keatas sehingga hanya bola putihnya saja yang terlihat, mulutnya ternganga sementara kepalanya mendongak keatas.</p>
<p style="text-align: justify;">kontol</p>
<p style="text-align: justify;">Saat Hani sedang meregang menyambut puncak kenikmatannya, Nita juga hendak meraih puncak kenikmatannya, tubuhnya mulai agak limbung, kedua kakinya gemetar, tangan kanannya meraih belakang kepala Nanang, tangan kirinya memegang erat sandaran kepala sofa, tubuhnya mengejang, pantatnya menekan kebawah lalu mengejut-ngejut, ssssrrrr…..sssrrr…sssrrr…cairan kenikmatannya menyembur keluar menyiram mulut dan muka Nanang, merasakan itu Nanang semakin kuat menghisap kelentit Nita, sementara jari tangannya ia dorong lebih dalam dan digerakkan keatas-kebawah, bagian depan dan belakang jari tangannya bergantian bersentuhan dengan dinding vagina Nita.</p>
<p style="text-align: justify;">“Oouuhh…aku keluar….oooh…enak…hisap kuat-kuat itilku….yaaachhh…,”Nita mengerang, puncak kenikmatannya berhasil ia rengkuh, tubuhnya mengejang, pantatnya mengejut-ngejut saat vaginanya menyemburkan cairan kenikmatan, matanya terpejam merasakan sensasi kenikmatan yang berhasil ia capai, kepalanya terdongak kebelakang.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;</p>
<p style="text-align: justify;">Saat kedua temannya sedang meregang keenakan, Dewi juga merasakan hal yang sama, tubuhnya saat itu juga sedang meregang menyambut puncak kenikmatan yang berhasil ia rengkuh, pantatnya semakin terangkat keatas, kedua kakinya gemetaran, kedua tangannya menjambak rambut Udin, sementara tubuhnya melenting ditopang oleh kepala dan kedua kakinya, mulutnya melenguh kuat saat vaginanya mulai menyemburkan lahar kenikmatannya, pantatnya mengejut-ngejut seirama dengan semburan lahar kenikmatan dari lubang vaginanya, ssrrrrr…..ssssrrrr….ssssrrrrrr….</p>
<p style="text-align: justify;">“Din, aaku keluaar…ooohhh…enak….sekali..hisap yang kuat Din, yach aaarggg…,”Dewi melenguh menyambut puncak kenikmatannya.</p>
<p style="text-align: justify;">Dari wajah ketiga wanita itu terlihat senyum kepuasan, pipi mereka merona merah, nafas mereka terdengar memburu, tubuh mereka masih gemetar, terlihat pantat mereka masih mengejut-ngejut lemah seirama dengan semburan lahar kenikmatan dari lubang vagina mereka yang mulai mereda.</p>
<p style="text-align: justify;">Keempat lelaki itu mendiamkan sejenak aksi mereka, mereka merasakan kedutan-kedutan dilubang vagina mereka yang perlahan mulai mereda. Mereka berempat saling bertukar pandangan dan dimulut mereka tersungging senyuman, mereka berempat berpikir bahwa ini baru awal dari permainan seks selanjutnya dan mereka akan merasakan satu demi satu tubuh para wanita ini.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ceritasex.cn/dewi-maniak-seks-pesta-ulang-tahun-anaknya-bagian-1/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Cerita Dewi &#8211; Dokter Kandungan</title>
		<link>http://www.ceritasex.cn/cerita-dewi-dokter-kandungan/</link>
		<comments>http://www.ceritasex.cn/cerita-dewi-dokter-kandungan/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 31 Oct 2009 03:36:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cerita Sex</dc:creator>
				<category><![CDATA[Paruh baya]]></category>
		<category><![CDATA[selingkuh]]></category>
		<category><![CDATA[dewi]]></category>
		<category><![CDATA[dokter]]></category>
		<category><![CDATA[maniak seks]]></category>
		<category><![CDATA[mesum]]></category>
		<category><![CDATA[ngentot]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ceritasex.cn/?p=1022</guid>
		<description><![CDATA[Malam itu terlihat Dewi sedang berada disebuah tempat praktek Dokter Kandungan, setelah kejadian-kejadian yang dialaminya dengan Andi dan Sugito (baca: Dewi-Andi &#38; Dewi-Sugito). Dewi takut suatu saat nanti dirinya hamil karena sperma laki-laki lain, dan kalau nanti ia sampai hamil pasti suaminya akan mengetahui perbuatannya bersenggama dengan orang lain. Hari ini kebetulan suaminya sedang pergi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Malam itu terlihat Dewi sedang berada disebuah tempat praktek Dokter Kandungan, setelah kejadian-kejadian yang dialaminya dengan Andi dan Sugito (baca: Dewi-Andi &amp; Dewi-Sugito). Dewi takut suatu saat nanti dirinya hamil karena sperma laki-laki lain, dan kalau nanti ia sampai hamil pasti suaminya akan mengetahui perbuatannya bersenggama dengan orang lain.</p>
<p style="text-align: justify;">Hari ini kebetulan suaminya sedang pergi keluar kota selama 2minggu, Dewi yang memang sedang menunggu waktu yang tepat untuk mendatangi dokter kandungan, akhirnya memutuskan untuk mendatangi tempat praktek dokter kandungan, ia ingin cepat-cepat berkonsultasi dengan dokter kandungan untuk memastikan alat kontrasepsi apa yang cocok untuk dia, karena Dewi ingin segera merasakan kepuasan bersenggama kembali, hampir lebih dari 2 minggu, Dewi tidak dapat menikmati sodokan-sodokan kontol-kontol perkasa yang dapat memberikan kepuasan kepada dirinya, karena ia takut akan hamil.</p>
<p style="text-align: justify;">“bu Dewi,”</p>
<p style="text-align: justify;">Dewi mendengar namanya dipanggil.</p>
<p style="text-align: justify;">“Yach, betul,” Dewi menjawab, dan menengok kearah siempunya suara yang ternyata suster di tempat praktek ini.</p>
<p style="text-align: justify;">“Sekarang giliran ibu,” kata suster tersebut, “mari ikut saya, bu.!!”</p>
<p style="text-align: justify;">“Oh..yach,” jawab Dewi, sambil berdiri dan mengikuti suster itu menuju keruangan praktek.</p>
<p style="text-align: justify;">Dewi baru menyadari tempat praktek dokter kandungan yang tadi lumayan penuh dengan pasien, sekarang telah kosong, Dewi menyadari bahwa ia adalah pasien terakhir.</p>
<p style="text-align: justify;">“Dok, ini ibu Dewi pasien terakhir kita malam ini,” Kata suster itu kepada lelaki yang berada didalam ruangan praktek itu</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam hati Dewi membatin,”masih muda nih dokter, dan wajahnya lumayan ganteng,” Dewi memperkirakan dokter ini seumuran dia.</p>
<p style="text-align: justify;">“Malam, dok,” Dewi menyapa si dokter.</p>
<p style="text-align: justify;">“Malam, juga Bu! Silahkan duduk bu! Apa yang bisa saya bantu??,” si dokter menjawab sambil bertanya dan mempersilahkan Dewi duduk.</p>
<p style="text-align: justify;">Sebelum sempat Dewi menjawab pertanyaan sang dokter, ia mendengar si suster berkata,” Dok, ibu Dewikan pasien terakhir, dan saya kebetulan ada keperluan keluarga, boleh saya pulang lebih dulu,”</p>
<p style="text-align: justify;">“Oh..ok, “ jawab si dokter sambil beranjak dari tempat duduknya.</p>
<p style="text-align: justify;">“Sebentar yach bu,” kata si dokter ke Dewi, lalu dokter itu keluar dari ruangan mengikuti si suster.</p>
<p style="text-align: justify;">Tak lama kemudian dokter itu kembali dan berkata kepada Dewi,” maaf yach bu, soalnya saya harus mengunci pintu depan, kalau tidak nanti ada orang dating lagi untuk berobat atau berkonsultasi, padahal ibu Dewi-kan pasien saya terakhir apalagi suster saya sudah pulang”</p>
<p style="text-align: justify;">“Oh..gak apa-apa kok,” balas Dewi</p>
<p style="text-align: justify;">“Nach, sekarang apa keluhan ibu, mudah-mudahan saya bisa bantu,” tanya si dokter.</p>
<p style="text-align: justify;">“Begini dok, saya ingin memakai alat kontrasepsi, tapi saya tidak mau kalau suami saya itu memekai kondom, jadi kira-kira alat kontrasepsi apa yang bagus untuk saya,” Dewi menjelaskan maksud tujuannya datang ketempat praktek ini.<br />
<span id="more-1022"></span><br />
“Oh itu, memang ibu dan suami sudah tidak berkeinginan untuk mempunyai anak lagi, ngomong-ngomong sudah punya berapa anak?” tanya sang dokter lagi.
</p>
<p style="text-align: justify;">“yach begitulah, saat ini kami mempunyai satu anak, “ jawab Dewi sedikit berbohong, karena tidak mungkin ia menjelaskan kedokter bahwa ia ingin lebih puas dalam menikmati kontol-kontol perkasa tanpa takut akan hamil.</p>
<p style="text-align: justify;">“Baru satu?? Memang tidak berkeinginan nambah, bu??” si dokter memastikan.</p>
<p style="text-align: justify;">“Hmmhh…betul,” Dewi menjawab sambil tersenyum.</p>
<p style="text-align: justify;">“Lalu ibu mau yang sementara atau selamanya,” tanya sidokter.</p>
<p style="text-align: justify;">“maksudnya??” Dewi balik bertanya.</p>
<p style="text-align: justify;">“Begini loh, Bu!. Kalau sementara saya sarankan ibu untuk menggunakan spiral, tapi kalau ibu dan suami ingin untuk selamanya tidak mempunyai anak lagi, yach! Saya menyarankan ibu untuk disteril, maksud saya saluran indung telur ibu harus saya tutup rapat, jadi kalau ibu berhubungan dengan suami, sperma suami ibu tidak dapat lagi menerobos kesaluran indung telur ibu, dengan begitu saya jamin tidak ada satupun indung telur ibu yang dapat dibuahi oleh sperma suami ibu,” jelas sang dokter panjang lebar.</p>
<p style="text-align: justify;">“Ooohhh…begitu,” gumam Dewi,” Kalau gitu saya pilih yang sementara saja, siapa tahu nanti kita ingin mempunyai anak”</p>
<p style="text-align: justify;">“Ibu mengambil keputusan yang tepat, nach sekarang ibu silahkan berbaring disana, saya akan mempersiapkan peralatannya,” kata si dokter sambil menunjuk kearah ranjang.</p>
<p style="text-align: justify;">“Bajunya dan CDnya tolong dilepas, Bu!!, terus ibu kenakan ini” lanjut sidokter sambil memberikan jubah berwarna biru muda.</p>
<p style="text-align: justify;">“wah, bu!! terbalik pakai jubahnya,” dokter itu berkata sambil tersenyum saat melihat Dewi mengenakan jubah itu dengan bagian yang terbukanya berada didepan.</p>
<p style="text-align: justify;">“Bagian yang terbukanya itu untuk dibelakang, kalau ibu pakai seperti itu nanti saya gak akan selesai-selesai memasang alat kontrasepsinya, karena mata saya akan melihat kedada ibu terus,” lanjut sidokter sambil bercanda ke Dewi.</p>
<p style="text-align: justify;">“Ohhh…he..he..dokter bisa aja,” Dewi tersipu malu mendengar guyonan si dokter, sambil membetulkan jubah tersebut, kemudian iapun berbaring diranjang.</p>
<p style="text-align: justify;">Dewi bingung melihat ranjang tersebut karena panjang ranjang tersebut tidak sepanjang ranjang-ranjang yang biasa ada ditempat-tempat praktek dokter, panjang ranjang ini hanya sampai sebatas pantatnya saja, sehingga kedua kakinya terjuntai kebawah, Dewipun melihat adanya keanehan dengan ranjang ini, dimana disamping kiri dan kanan kedua kakinya ada bantalan cekung dan letaknya lebih tinggi dari ranjangnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah selesaimempersiapkan peralatannya, sang dokter menghampiri ranjang tersebut, melihat posisi rebahan Dewi diatas ranjang, dokter itupun tersenyum simpul,</p>
<p style="text-align: justify;">“Ibu, baru pertama kali yach datang kedokter kandungan??,” tanya sidokter tersenyum.</p>
<p style="text-align: justify;">Tanpa menunggu jawaban Dewi, sang dokterpun mulai mengangkat kaki Dewi satu persatu dan menempatkan dibantalan cekung yang berada disamping kiri kanan kaki Dewi itu, perbuatan sidokter membuat Dewi terhenyak, Dewi tahu dengan posisinya dimana kedua kakinya terangkat dan terbuka lebar ini, kemaluannya akan Nampak jelas didepan sidokter, mukanyapun menjadi merah karena menahan malu, melihat Dewi yang tersipu-sipu malu dan wajahnya menjadi merah, sidokter hanya tersimpul dan diapun merasa yakin sekali bahwa ini adalah kunjungan yang pertama Dewi ke dokter kandungan.</p>
<p style="text-align: justify;">“Maaf, yach, Bu,” sidokter berkata saat jari jemarinya mulai menyentuh bibir vagina Dewi.</p>
<p style="text-align: justify;">“Hhmmmhh….,” Dewi hanya bisa mengangguk, karena menahan malu dan perasaan yang aneh saat jari-jari sidokter menyentuh bibir vaginanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Kedua jari tangan kiri sidokter mencoba untuk sedikit membuka lubang vagina Dewi dari sebelah atas, sehingga kelentit Dewi tersentuh oleh telapak tangan sidokter, sementara tangan kanan sidokter mencoba untuk memasukkan peralatan hampir seperti corong, agak lumayan lama sidokter berkutat untuk memasukkan alat itu kelubang vagina Dewi, sementara Dewi merasakan geli yang aneh dan nikmat saat kelentitnya tergesek-gesek oleh tangan sidokter, akibatnya gelora birahi Dewi mulai bangkit, memeknya mulai basah.</p>
<p style="text-align: justify;">“Ouugghhh…..ssshhhh,” Dewi menjerit lirih saat merasakan alat yang seperti corong berdiameter 3cm terbenam di dalam lubang senggamanya, pantatnya terangkat sedikit, kedua tangannya mencengkram pinggiran ranjang dengan erat.</p>
<p style="text-align: justify;">“Maaf..bu.!! sakit…!! Tahan sebentar yach, saya akan mulai memasang spiralnya,” kata sidokter.</p>
<p style="text-align: justify;">Si dokter merasa heran dengan kondisi lubang vagina Dewi yang masih sempit ini, dalam hatinya ia berkata, “gila nich ibu, udah keluar satu anak, tapi masih sempit begini, sepertinya juga jarang dipakai oleh suaminya,”, sambil tangannya memijat-mijat pelan kedua belah bibir vagina Dewi dengan tujuan untuk membuat rileks otot-otot vagina Dewi, saat ia sedang memijat-mijat itu dari corong kacanya itu ia melihat lubang vagina Dewi yang berwarna merah muda itu berkedut-kedut, belum pernah selama ia praktek melhat kejadian ini, karena sudah berpengalaman ia mengetahui bahwa tebakannya itu betul, memek Dewi jarang dipakai oleh suaminya, karena hanya dengan alat yang teronggok diam saja memek Dewi sudah basah.</p>
<p style="text-align: justify;">“Hhhhmmmm…sssshhhh….hhhmmmm…..ssshhhh..” Dewi merintih lirih menikmati pijatan-pijatan lembut dibibir vaginanya dan merasakan sumpalan alat dilubang senggamanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Mendengar lirihan Dewi, sidokter semakin yakin dengan tebakannya itu, dalam hatinya membatin,”kalau kuentot mau tidak yach ini ibu???, atau malah nanti dia marah??..”</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah melihat cengkraman dinding vagina Dewi dialatnya mulai mengendur, sidokterpun mulai mengambil spiral berbentuk T dan penjepitnya, lalu melalui corong tadi ia mulai memasukkan spiral tersebut menggunakan penjepit, karena corong itu terbuat dari kaca ia bisa melihat keadaan didalam lubang vagina Dewi, setelah tepat disasaran, iapun sedikit menekan penjepitnya kemudian ia melepaskan jepitan di spiral tersebut dan menarik keluar jepitannya, sambil memegangi kedua bibir vagina Dewi, sidokter memastikan spiral tersebut terpasang dengan benar, kemudian dengan perlahan-lahan corong itu ia tarik keluar dari lubang vagina Dewi, gesekan yang ditimbulkannya membuat Dewi mengerang lirih.<br />
Setelah terlepas, sidokter kembali memijat-mijat vagina Dewi, sebetulnya pijatan-pijatan itu tidak perlu dilakukan, dan belum pernah ia lakukan selama ia praktek, saat ini ia lakukan karena ia terangsang dengan bentuk vagina Dewi, dalam hatinya ia juga merasa heran kenapa saat ini ia terangsang ingin melakukan persetubuhan dengan pasiennya. Dewi sendiri yang dari tadi birahinya sudah bergejolak, merasakan pijatan-pijatan lembut yang saat ini sedang dilakukan oleh sang dokter semakin membuat birahinya membara, erangan-erangannya semakin sering terdengar, tubuhnyapun menggelinjang-gelinjang karena geli dan nikmat.
</p>
<p style="text-align: justify;">“Oh..baru pijatan tangannya saja sudah membuatku melayang-layang, apalagi kalau dia sodok aku dengan kontolnya, Oh gila betul rangsangan ini,” Dewi berkata dalam hatinya.</p>
<p style="text-align: justify;">Tangan Dewi yang tadi sedang mencengkram ranjang mulai beralih kepayudaranya sendiri, dari balik jubahnya iapun mulai meremas-remas kedua bukit kembarnya, merasa kurang puas karena terhalang oleh BH dan jubah yang masih menutupi tubuhnya, Dewi kemudian melucuti semuanya sehingga sekarang Dewi telanjang bulat didepan sang dokter, tangannya kembali meremas-remas kedua bukit kembarnya itu, mulutnya mendesis-desis menandakan Dewi sedang menikmati semua itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Sang Dokter yang melihat aksi Dewi melucuti jubah dan Bhnya serta aksi remasan tangan Dewi dikedua bukit kembarnya itu tersenyum simpul, “nampaknya ia mulai terangsang dengan pijatan-pijatanku,”, lalu tanpa menghentikan pijatannya, ia pun mulai menciumi kelentit Dewi yang mulai terlihat dan mengeras, tidak hanya diciumi saja, tapi ia jilati dan hisap-hisap kelentit Dewi yang membuat Dewi semakin menggelinjang merasakan kenikmatan permainan lidah sidokter, aksi sidokter semakin menggila, jari tengah salah satu tangan yang sedang memijat-mijat itu mulai menerobos lubang kenikmatan Dewi, dengan gerakan perlahan-lahan sidokter mulai mengeluar-masukkan jari tangannya itu, akibatnya lubang vagina Dewi semakin basah, erangan-erangan Dewipun semakin sering terdengar. Pantatnya semakin sering terangkat seolah menyambut sodokan jari tangan sidokter, kepalanya bergoyang kekiri kekanan, tubuhnya kadang-kadang melenting, Dewi betul-betul menikmati serangan-serangan sang dokter dikemaluannya.</p>
<p style="text-align: justify;">“Ouughhhh….dddoookkk….eenaaaakkk…aakhhuuu…mau..kel luaarr…ssshhh…aagghhhh..”Dewi merintih-rintih kenikmatan.</p>
<p style="text-align: justify;">Ssssrr……ssssrrrr….ssssrrrr…… memek Dewi memuntahkan lahar kenikmatannya.</p>
<p style="text-align: justify;">Tubuh Dewi mengejang, sang dokter merasakan hangatnya air kenikmatan Dewi yang membasahi jari tangannya.</p>
<p style="text-align: justify;">“Enak, Bu!!,” tanya sidokter.</p>
<p style="text-align: justify;">“Iyaachh…”Dewi menjawab dengan nafas yang masih tersengal-sengal, matanya terpejam menikmati sisa-sisa kenikmatan yang baru saja ia rengkuh.</p>
<p style="text-align: justify;">Tanpa buang waktu lebih lama lagi, sang dokterpun mulai melucuti seluruh pakaiannya, sehingga sekarang iapun telanjang bulat, Nampak kontolnya sudah berdiri dengan tegak, ukurannya lumayan besar dan panjang, diapun mulai mengelus-eluskan kontolnya dibibir vagina Dewi, membuat Dewi menggelinjang, dengan pelan-pelan sang dokterpun menyelipkan kepala kontolnya di lubang memek Dewi, setelah merasa tepat disasaran sang dokterpun mulai melesakkan kontolnya kedalam lubang memek Dewi, setahap demi setahap.</p>
<p style="text-align: justify;">Sleeepp….bleeessss….bleessss…..</p>
<p style="text-align: justify;">kontol sang dokter mulai terbenam seluruhnya dalam lubang kemaluan Dewi, Dewi yang merasakan kontol dokter itu mulai memasuki lubang senggamanya, mendesis lirih. Hatinya membatin,”lumayan besar juga kontolnya, tapi tidak sebesar punyanya pak Sugito”.</p>
<p style="text-align: justify;">“Ssshhh….aaaaghhhh..dook…kontolmu besar juga…. sssshhhh….puaskan aku dengan kontolmu ssshhhh…”desis Dewi.</p>
<p style="text-align: justify;">Dengan perlahan-lahan Sang dokter mulai mengeluar-masukkan kontolnya didalam lubang senggama Dewi, kedua tangannya berpegangan dipaha Dewi, lama-lama gerakan maju-mundur sang dokter semakin cepat, keringatpun mulai mengalir dikedua tubuh mereka, udara dingin didalam ruangan praktek karena AC tidak menghalangi keluarnya keringat mereka. Erangan Dewi dan sang dokter semakin terdengar, lenguhan-lenguhan nikmat keluar dari kedua mulut mereka.</p>
<p style="text-align: justify;">“Ouughhh…dookkk…teeruusss…ssooddokkk .memekkuuuu…dengaaannn kkonttolmu..ituuu… aaaggghhhh…” Dewi mengerang kenikmatan menikmati sodokan kontol sang dokter di lubang senggamanya.</p>
<p style="text-align: justify;">“Hhhhmmmm…aaaaghhh…memekmuuu…benaaarr-benaar..sseeemmpitt enaaakkk… oouughhh … koontooolllkuuu…teerjeppiitt…bbeetulll… “ Sang Dokterpun melenguh keenakan merasakan jepitan dinding vagina Dewi dibatang kontolnya..</p>
<p style="text-align: justify;">“Teekkaaannn…lebih daaalllaamm…dookk.. yaaahh..begituu..ssshhhhh…oouughhh…,” rintih Dewi meminta sang dokter untuk menekan lebih dalam, yang dituruti oleh sang dokter, dengan hentakan-hentakan yang lebih dalam, hingga kontolnya terbenam sampai pangkalnya saat sang dokter mendorong masuk kontolnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Tak lama kemudian nampak gerakan sang dokter bertambah cepat dan mulai tak beraturan, sementara itu tubuh Dewipun semakin sering terlihat melenting dan pantatnya semakin sering terangkat berbarengan dengan sodokan kontol sang dokter, lenguhan dan erangan mereka bertambah kencang terdengar dan saling bersahutan, nampaknya kedua insan ini akan merengkuh puncak kenikmatan persetubuhan mereka.</p>
<p style="text-align: justify;">“Ouughhh…doookkk…aaaakkkkuuu…kkeeelluuarrr,” Dewi mengerang tubuhnya melenting.</p>
<p style="text-align: justify;">“Akkkhhuuu…juuggaaa…mmaaauuu….ooouugghhhh..” sang dokterpun melenguh, dan menekan dalam-dalam kontolnya didalam lubang senggama Dewi, lalu terdiam.</p>
<p style="text-align: justify;">Creeetttt…..ssssrrrr…..ccrreeeettt…..ssssrrrr…..</p>
<p style="text-align: justify;">Kedua kemaluan mereka akhirnya memuntahkan lahar kenikmatan berbarengan, sand dokter merasakan batang kontolnya tersiram oleh hangatnya lendir kenikmatan Dewi dan ia juga merasakan dinding vagina Dewi berkedut-kedut meremas-remas batang kontolnya, Dewi sendiri merasakan dinding rahimnya tersemprot oleh cairan hangat sperma sang dokter dan Dewi sendiri merasakan pada dinding vaginanya batang kontol sang dokter berdenyut-denyut.</p>
<p style="text-align: justify;">Kemudian sang dokter mencabut batang kontolnya dari jepitan vagina Dewi setelah ia merasakan remasan-remasan dinding vagina Dewi berhenti dan kontolnya mulai mengecil, saat kontolnya tercabut dari lubang kenikmatan Dewi, terlihat olehnya cairan spermanya bercampur dengan lendir kenikmatan Dewi mulai mengalir perlahan dan menetes jatuh keatas lantai.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah nafas mereka kembali normal, mereka mengenakan pakaian mereka kembali, kemudian sang dokter memberi tahu Dewi bahwa spiral yang ia pasang itu bisa bertahan untuk 5 tahun, tetapi alangkah bagusnya setiap 3-6 bulan sekali harus diperiksa, untuk memastikan letaknya tidak berubah atau lebih parahnya terlepas. Dewi mengangguk tanda mengerti dalam hati Dewi berkata ,”pasti aku akan balik lagi, untuk menikmati sodokan-sodokan kontolmu lagi,”</p>
<p style="text-align: justify;">Sebelumpulang Dewi bertanya berapa biaya yang harus dibayar olehnya, yang dijawab oleh dokter itu dengan senyuman dan kecupan ringan dibibir Dewi, gratis!!! bisiknya</p>
<p style="text-align: justify;">Dewipun pulang dengan tersenyum simpul, dalam hatinya ia membatin bertambah satu lagi koleksi kontol yang bisa membuat puasku, yang bisa menghilangkan dahaga batinku. Dan sekarang ia tidak akan takut hamil bila melakukan persetubuhan dengan siapapun.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ceritasex.cn/cerita-dewi-dokter-kandungan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>SISKA, First Time Gangbang ANAL</title>
		<link>http://www.ceritasex.cn/siska-first-time-gangbang-anal/</link>
		<comments>http://www.ceritasex.cn/siska-first-time-gangbang-anal/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 15 May 2009 05:10:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cerita Sex</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pemerkosaan]]></category>
		<category><![CDATA[Seks Umum]]></category>
		<category><![CDATA[Tante Girang]]></category>
		<category><![CDATA[anal]]></category>
		<category><![CDATA[gangbang]]></category>
		<category><![CDATA[ibu muda]]></category>
		<category><![CDATA[istri muda]]></category>
		<category><![CDATA[maniak seks]]></category>
		<category><![CDATA[ngentot]]></category>
		<category><![CDATA[siska]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ceritasex.cn/?p=134</guid>
		<description><![CDATA[Pada awalnya kehidupan rumah tangga siska berjalan normal,Dia menikah hampir 3 tahun dan sudah dikaruniai 1 orang putra. tapi satu kejadian telah membuat arah kehidupan wanita itu berubah total. Peristiwa itu terjadi 3 bulan yang lalu saat Siska sendirian dirumah,dia didatangi 2 orang lelaki yang mengaku sahabat suaminya, mereka memperkenalkan diri tedy dan paul,pada awalnya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Pada awalnya kehidupan rumah tangga siska berjalan normal,Dia menikah hampir 3 tahun dan sudah dikaruniai 1 orang putra. tapi satu kejadian telah membuat arah kehidupan wanita itu berubah total. Peristiwa itu terjadi 3 bulan yang lalu saat Siska sendirian dirumah,dia didatangi 2 orang lelaki yang mengaku sahabat suaminya, mereka memperkenalkan diri tedy dan paul,pada awalnya mereka berlaku sopan dan bercerita tentang masa remaja suaminya siska percaya semua perkataan mereka namun 1/2 jam kemudian perilaku mereka mulai berubah,pembicaraan 2 lelaki itu mulai menyinggung masalah seks,belum lagi tedy yg dengan santainya menghidupkan vcd dan menyetel film porno.Makin siska salah tingkah lalu paul duduk mendekati siska dan dg santainya dia merangkul bahu siska,<br />
&#8220;santai aja sis,gak usah gelisah gitu nanti kami yg akan memuaskan kamu&#8221; bisik paul sambil meremas pundak siska, sehingga bulu kuduk siska meremang.paul menarik tangan siska dan diletakkan diatas pahanya,tanpa terasa tangan siska meremas paha paul setiap ada adegan yg merangsang.Merasa mendapat angin paul mulai mengelus-elus paha siska,&#8221;sudah lama aku ingin bercinta denganmu sis,waktu aku lihat kamu bersetubuh dg suamimu&#8221;bisik paul seraya mulai mengecup leher siska. &#8220;Jangan paul&#8221; siska berusaha mengelak,tapi paul tak perduli pada penolakan itu,dia terus mengecup leher siska.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;ahh..paul&#8221; desah siska tak tertahan lagi.paul makin agresif merangsang siska,Tedy yg sedari tadi hanya diam saja mulai ikut serta. melihat siska sudah semakin pasrah mereka semakin menjadi.tangan paul menyusup kedalam rok siska dan mulai menyentuh vagina siska yg masih dibalut cd,sedang tedy mulai meremas payudara siska yg berukuran 34b.keadaan itu semakin membuat birahi siska mengelegak. &#8220;agghhh..paul..ted..ohhh&#8221;desah siska semakin keras.tedy menyingkap blouse dan bra siska,bukit kenyal itu langsung dilahapnya dengan rakus,paul pun mulai memasukkan tangannya kedalam cd siska meraba-raba vagina yg sudah basah itu.siska makin tak terkendali menghadapi serangan 2 lelaki itu.paul dan tedy melucuti seluruh pakaiannya lalu tubuh siska yg sudah polos dibaringkan diatas meja tamu.<br />
<span id="more-134"></span><br />
tedy melumat bibir siska dengan amat bernafsu,sementara paul menjilati vagina siska,lidahnya bergerak-gerak liar didalam vagina siska bersamaan dengan itu tedy mulai menganyang payudara siska sehingga puting susu siska menjadi memerah.diperlakukan seperti itu membuat siska hilang akal sehatnya,mulutnya mengerang-erang,tangannya meremas-remas kepala paul &#8220;aahhhh..paul.ted&#8230;shsssh&#8221;. siska mengangkat pinggulnya saat paul menyedot vaginanya kuat-kuat.tak berapa lama kemudian siska merasakan kenikmatan yg makin memuncak,&#8221;aahhh&#8230;aaakkkuuu..oohhhh&#8221;jerit siska keras-keras sambil menghentakkan pinggulnya kuat-kuat,siska mencapai orgasmenya tubuhnya lemas lunglai kenikmatan menjalar keseluruh tubuhnya,satu hal yg tak didapatnya dari suaminya sendiri. paul dan tedy membiarkan siska beristirahat namun hal itu tak lama.kali ini mereka ingin menyantap tubuh siska bulat-bulat,tedy kembali memagut susu siska tangannya aktif meremas-remas buah dada mengkal itu,sementara paul merentangkan paha siska jari tangannya menusuk vagina siska dan mengoreknya penuh nafsu,siska menjerit kenikmatan.</p>
<p style="text-align: justify;">lalu dirasakannya suatu benda menyentuh bibirnya saat siska membuka matanya ternyata kemaluan Tedy sudah berada tepat dibibirnya,siska mengelengkan kepala menolak kemauan lelaki itu,tapi tedy menahan kepalanya.&#8221;jilat sis&#8221; ucap tedy tegas.siska tak bisa menolak diapun mulai menjilati batang kemaluan tedy yg sudah keras itu,tedy mendesah menikmati jilatan siska, lama kelamaan siska mulai terbiasa kepala zakar tedypun mulai dimasukkan kedalam mulutnya dan tedypun mengerakkannya keluar masuk,siska menjadi gelagapan saat tedy makin beringas mengocok mulutnya dan akhirnya&#8230;..tedy mencapai klimaks air maniny a menyembur kedalam mulut siska dan sebagian membasahi wajahnya ,siska sampai tersedak karenannya dia meludah membuang sisa sperma dalam mulutnya. sesaat siska terduduk disofa dia meneguk minum untuk menghilangkan sisa sperma tedy.<br />
Lalu paul mulai merebahkan siska kembali dia kembali membuka paha siska lebih lebar dan ujung kemaluannya mulai menyentuh vagina siska yg sudah basah. &#8220;Auugggghhh..paul..pelan.dong&#8221;jerit siska lirih saat ****** paul mulai melesk masuk kedalam rongga vaginanya.paul mulai memaju mundurkan pantatnya siskapun mengoyang pinggulnya mengimbangi tusukan paul.&#8221;aaahhh&#8230;ooohhh..sssh&#8221;desah siska dengan mata terpejam,dia benar-benar tenggelam dalam kenikmatan birahi lelaki itu.
</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;enak..sis&#8221;tanya paul &#8220;he&#8230;eh..eennaakkk&#8230;paul..ough. paul terus mengayunkan pinggulnya semakin lama semakin cepat,mulutnya menjilat daun telinga siska sembari meremas-remas susu siska yg bergoyang-goyang.keringat mulai membasahi tubuh mereka berdua birahi keduanya makin mengelegak sampai akhirnya tubuh siska tak mampu lagi menahan letusannya.&#8221;aaakkkhh..paul..tekan..paul..aagh..nik mat..sssekalii..&#8221;jerit siska,tubuhnya mengejang vaginanya berdenyut mengeluarkan cairan yg membasahi seluruh rongga vagina dan zakar paul,siska terkulai lemas tapi paul terus memacu siska dengan penuh nafsu sehingga tubuh siska mengelepar-gelepar,satu waktu paul mengganti posisi, siska berada diatas dan dg buas paul menyentakkan pinggulnya keatas sehingga siska makin takluk dibuatnya,selagi itu tedy yg sedari tadi hanya menonton mulai ikut nimbrung dari belakang siska dipeluknya dipagutnya leher siska sembari menganyang susu siska dg tangannya,siska menegadah pasrah mulutnya langsung dilumat oleh tedy sedang pinggulnya terus bergoyang mengimbangi sodokan paul,payudaranya diremas-remas dg kuat oleh kedua lelaki itu.tedy yg merasa kurang puas meminta berubah posisi paul duduk disofa,siska pun merangkak dilantai lalu paul menyuruhnya menghisap zakar yg tegang mengkilat itu,segera siska mengulum ****** paul dg buas sementara itu tedy mulai mengosok-gosokkan zakarnya yg begitu besar kebibir vagina siska,tubuh siska bergetar saat tedy mulai menusukkan zakarnya,birahi siska terbakar dirinya menjadi sangat binal dikeroyok 2 batang lelaki yg memasuki tubuhnya.batang kemaluan paul dilumatnya dengan amat bernafsu,&#8221;terus..sis..aku..gak..tahan..nihh&#8221;erang paul</p>
<p style="text-align: justify;">siska sadar paul akan menyemburkan peju kedalam mulutnya tapi kali ini siska sdh lebih siap,selang kemudian sperma paul menyembur kedalam mulut siska,sebagian menetes kedagu siska sebagian lagi tertelan oleh ibu muda itu.Paul beranjak pergi meninggalkan siska yg sedang digarap tedy sambil merangkak.hujaman tedy membuat siska merintih kembali apalagi jari tedy mulai menuuk anus siska yg sempit.rintihan siska makin membuat tedy bernafsu mengoyak kedua lobang siska tsb.saat siska m akin menikmatinya tiba-tiba tedy mencabut zakarnya, &#8220;kenapa dicabut ted&#8221;ujar siska heran,tapi tedy tak menjawab dia malah meludahi anus siska lalu tedy mulai menggosok-gosokkan zakarnya keanus siska,baru siska sadar,ternyata tedy akan menyodomi dirinya.<br />
&#8220;jangan..disitu..tedd..please&#8230;&#8221;siska menghiba meminta tedy tak menyodomi anusnya Tedy tak menggubrisnya dia tetap mengosok-gosokkan zakarnya kelubang anus siska,tiba-tiba siska merasakan kepala zakar tedy mulai menembus anusnya,perlahan tapi pasti sedikit demi sedikit batang tedy membelah anus siska dan tenggelam seluruhnya, &#8220;aaddduuuhhhh.ssaakkkkiittt..&#8221;.jerit siska pasrah. &#8220;sabar..sis&#8230;nanti akan terbiasa &#8221; bujuk tedy sambil mencium tengkuk siska. tubuh siska yg separuh tengkurap disofa membuat tedy leluasa menyodomi ibu muda itu,siska mencengkeram bantal mulutnya menggigit tepi sofa untuk menahan sakit yg amat sangat.&#8221;aaaauhhh&#8230;rr.uaahh&#8221;erangan siska saat tedy makin beringas menghajar anusnya tangan tedy meremas-remas pantat siska yg besar itu,setiap tedy menyentak terasa zakrnya menyentuh dasar anus siska .siska hanya megap-megap saat tedy makin buas menyodomi lubang anusnya,paul yg sudah kembali bugar kembali bergabung menganyang siska.
</p>
<p style="text-align: justify;">mereka merubah posisi tedy rebah diatas sofa tubuh siska ditarik diatasnya sambil melumat susu siska,tedy membuka lebar paha siska dan zakarnya ganti ditancapkan kevagina siska,paul yg berada dibelakang langsung mendorong siska hingga tengkurap diatas tubuh tedy,lalu paul mulai membuka lubang pantat siska,menyadari apa yg akan menimpanya siska hanya pasrah,saat zakar paul mulai menyusup masuk kedalam anusnya, siska hanya mengerang pel an.lalu kedua lelaki itu mulai menganyang kedua lubang siska dg buasnya,siska yg terjepit kedua lelaki itu mandesah-desah pasrah,rasa nikmat bercampur sakit membaur menjadi satu.beberapa saat kemudian mereka kembali merubah posisi sekarang ganti paul yg berada dibawah dg zakar tetap tertancap keanus siska,lalu tedy yg berada diatas membuka paha siska dan langsung menghujamkan zakarnya kevagina siska,posisi itu makin membuat siska tak berdaya karena bukan hanya kedua lubangnya yg diganyang tapi payudaranya pun digarap mereka,paul memagut leher siska sedang tangannya meremas susu siska belum lagi Tedy yg menghisap-hisap susunya,siska sdh tak mampu lagi menahan gempuran mereka berdua,hantaman zakar tedy semakin buas membuat zakar paul makin dalam terbenam dalam anusnya,shg satu saat siska merasa tubuhnya meledak sambil berteriak histeris siska merasakan vaginanya menyemburkan cairan yg dibarengi keluarnya air susu dari payudaranya.lalu tedy mencabut zakarnya demikian juga paul.</p>
<p style="text-align: justify;">paul menarik tangan siska dan memintanya mengocok zakarnya dg tangan,siska yg sudah lemas menurut saja,dia mulai mengocok zakar paul sedang tedy mencengkeram rahang siska lalu lelaki itu meludahkan air liurnya kedalam mulut siska,paul pun ikut meludahi mulut siska kemudian ketika mulut siska sudah penuh dg air ludah tedy mengarahkan zakarnya kemulut siska lelaki itu pun menyemprotkan spermanya kedalam mulut siska,siska membuka mulutnya lebar-lebar dan sperma tedy memenuhi mulutnya sebagian jatuh kelehernya,sesaat kemudian paul melakukan hal serupa keduanya menjadikan mulut siska sebagai tempat penampungan sperma mereka,saat paul selesai menuntaskan orgasmenya siska menelan sperma kedua lelaki itu yg bercampur air ludah keduanya.<br />
Usai semuanya tertelan siska tampak kelelahan hampir 2 jam dia diganyang kedua lelaki tsb,tedy mendekati siska dia mengecup kening siska lalu tangannya meraih salah satu payudara siska dan meremasnya paulpun melakukan hal yg serupa siska tampak lelah membiarka susunya diremas-remas kedua lelaki itu,lama-kelamaan remasan keduanya makin kuat dan kasar lalu mereka menarik susu siska kesamping paul kekanan dan tedy kekiri
</p>
<p style="text-align: justify;">siska menjerit kesakitan &#8220;ahhhhsssssssssaaaakkkkiiiitttttttttttt&#8230;ouhkkkkk kkkkkkkkk&#8221; hampir 5 menit siska merasakan siksaan pada payudaranya sebelum akhirnya mereka menghentikannya lalu dg penuh nafsu mereka menyedot susu siska bersma-sama sambil meremas kuat-kuat sampai akhirnya dari puting susu siska keluar air susunya tedy terus meremasnya sampai seluruh air susu siska tertumpah keluar,wajah siska tampak pucat menahan sakit sedang payudaranya tampak memar &#8220;terima kasih sis,lain kali kami akan kembali bersama teman kami untuk menikmati tubuhmu&#8221; usai bicara mereka berdua meningalkan siska sendiri dg tubuh lemas dan penuh ceceran sperma dan air susunya sendiri,payudara siska tampak memerah, lubang anusnya tampak sudah melebar.Ibu muda itu beranjak kekmar mandi membersihkan tubuhnya,beruntung suaminya baru pulang 3 hari lagi. kejadian inilah yg membuat siska berubah menjadi wanita yg maniak seks.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ceritasex.cn/siska-first-time-gangbang-anal/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

