<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Cerita sex porno ngentot mesum perek ayam kampus &#187; mesum</title>
	<atom:link href="http://www.ceritasex.cn/tag/mesum/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.ceritasex.cn</link>
	<description>Kumpulan cerita sex, foto bugil, dan film porno</description>
	<lastBuildDate>Mon, 26 Jul 2010 07:13:35 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0</generator>
		<item>
		<title>Tantangan Mesum Wulan</title>
		<link>http://www.ceritasex.cn/tantangan-mesum-wulan/</link>
		<comments>http://www.ceritasex.cn/tantangan-mesum-wulan/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 01 Apr 2010 22:14:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cerita Sex</dc:creator>
				<category><![CDATA[Daun Muda]]></category>
		<category><![CDATA[Seks Umum]]></category>
		<category><![CDATA[cewek kantoran]]></category>
		<category><![CDATA[kantor]]></category>
		<category><![CDATA[mesum]]></category>
		<category><![CDATA[ngentot]]></category>
		<category><![CDATA[orgasme]]></category>
		<category><![CDATA[seks]]></category>
		<category><![CDATA[wulan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ceritasex.cn/?p=1332</guid>
		<description><![CDATA[Pak Rudy adalah kepala bagian keuangan di tempat aku bekerja. Ia sering datang ke ruanganku untuk menanyakan masalah keaungan dan pembukuan kantor, karena kebetulan aku yang mengurus semuanya. Dia adalah seorang pria berusia sekitar 40 tahunan dan mempunyai wajah yg tampan dan badan yg cukup bagus. Menurut orang orang walaupun dia sudah beristri tapi masih [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Pak Rudy adalah kepala bagian keuangan di tempat aku bekerja. Ia sering datang ke ruanganku untuk menanyakan masalah keaungan dan pembukuan kantor, karena kebetulan aku yang mengurus semuanya. Dia adalah seorang pria berusia sekitar 40 tahunan dan mempunyai wajah yg tampan dan badan yg cukup bagus. Menurut orang orang walaupun dia sudah beristri tapi masih suka menggoda teman wanita sekantor. Hal ini terbukti ketika dia masuk kedalam ruanganku seringkali matanya menatap kebagian dadaku, karena aku memang sesekali memakai pakaian yang agak ketat. Buat aku sendiri tidak ada masalah, aku malah senang kalau tubuhku dikagumi laki-laki, terkadang aku sengaja datang keruangannya untuk menanyakan sesuatu sambil berpura pura menjatuh kan sesuatu. Biasanya matanya melihat kebelahan dadaku sewaktu aku berusaha mengambil sesuatu yang aku jatuhkan tadi. Aku yakin di anya pasti menikmati keadaaan tadi karena kebetulan aku memang mempunyai dada yang cukup indah.</p>
<p style="text-align: justify;">Pada suatu hari aku sedang di ruanganku sendirian sambil membaca salah satu situs porno. Semakin lama aku membacanya tanpa aku sadari aku semakin horni jadinya. Aku kebetulan memakai baju yang belahan dadanya agak terbuka dan longgar. Tak sengaja aku menyenggol gelas minumanku. Lantai dan sebagian rok yang aku pakai menjadi basah. Terpaksa aku mebersihkan lantai yang basah tadi. Tanpa diduga pak Rudi masuk keruanganku. Biasanya dia memang tidak mengetuk pintu ruangan sebelum masuk keruanganku. Dia melihat aku sedang sibuk membersihkan lantai dengan tissue. Aku tidak menyadari kalau waktu membersihkan lantai itu tentunya sambil menunduk, bagian dadaku kelihatan dari belahan bajuku yg agak terbuka dan lebar. Pak Rudi terus menatap ke belahan dadaku tanpa aku sadari. Sepersekian detik kemudian aku baru menyadarinya. Sambil berusaha melupakan kejadian tadi aku berusaha membuka pembicaraan.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Silakan duduk dulu ya Pak, sambil nunggu saya bersihkan lantainya&#8221; senyumku dengan ramah sambil mempersilakannya duduk &#8220;Ada apa Wulan kok sampai basah begitu?&#8221; tanya Pak Rudi. &#8220;Aduh pak, aku nggak sengaja nyenggol gelas minumanku, tumpah dan basah semua deh jadinya&#8221; sahutku. &#8220;Sini deh Bapak bantuin bersihkan lantainya, sambil dia terus berusaha membantu aku yg sedang sibuk membersihkan lantai. Tanpa sengaja kami berhadap hadapan, dan aku juga sengaja semakin menunduk untuk membersihkan lantai, karena aku tahu pak Rudi sedang menatap dadaku. &#8220;Waaahhh..kalo sering sering membantu kamu bersihin lantai mataku bisa sehat lagi lho Wulan&#8221; (Pak Rudi memang memakai kacamata) &#8220;Emangnya bisa sehat kenapa Pak&#8221; sahutku. &#8221; Itu lho&#8221;, dia berkata sambil menunjuk kebelahan dadaku yg terlihat tadi. &#8220;Ahh bapak bisa aja&#8221; sahutku. &#8220;Emangnya Bapak belum pernah lihat yang seperti ini apa?&#8221; tanyaku sambil memegang kedua payudaraku dari luar bajuku. Pak Rudi kaget dgn perkataanku.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Ngeliat punya orang sih sering tapi ngeliat punya dik wulan kan belum pernah&#8221; katanya semakin berani. Aku yg kebetulan emang lagi horni dan sepertinya melihat Pak Rudi yang postur tubuhnya cukup atletis itu membuatku nafsuku semakin memuncak. &#8220;Kan tadi Bapak udah liat punya saya&#8221; kataku. &#8220;Tapi kan dari luar aja Dik&#8221; katanya. &#8220;Jadi Bapak pengen liat semuanya? Coba aja kalo Bapak emang berani&#8221; tantangku. Tanpa kuduga pak Rudi langsung memelukku sambil mencium bibirku. Akupun segera menyambut ciumannya sambil memeluk pak Rudi dengan erat. Pak Rudi semakin kuat mencium bibirku. Akupun membalasnya sambil memasukkan lidahku kedalam mulutnya. Pak Rudi membalas lilitan lidahku. Ternyata pak Rudi jago juga dalam hal kissing. Sambil terus menciumiku tangan pak Rudi mulai membelai dadaku. Akupun semakin terangsang dibuatnya. Akupun membalasnya sambil berusaha meremas bagian depan celananya. Pak Rudi terus mencium bibirku sambil perlahan turun keleherku. Aku semakin mengelinjang dibuatnya karema merasa geli.<br />
<span id="more-1332"></span><br />
Ciumannya terus turun sambil tangannya berusaha membuka kancing bajuku satu persatu. Setelah kancing bajuku terbuka semuanya, Pak Rudi mencium kemabli bibirku dengan gemas sambil meraih pengait BH ku yang ada dibelakang. Terlepaslah BH ku. Pak Rudi menatap dadaku dengan penuh kekaguman. Dadaku memang cukup indah dengan ukuran 36b. Setelah itu langsung mencium kedua payudaraku dengan lembut. Diciumnya seluruh permukaan dadaku kecuali putingnya, yang sudah berdiri mengacung minta dikulum tapi tidak pernah dikulum, setiap kali ciuman dan jilatan Pak Rudi sudah dekat dengan putingku ciuman dan jilatannya turun lagi kepangkal payudaraku dan terus turun sampai ke perut . Aku semakin nefsu dibuatnya. Akupun mulai tak sabar, langsung kubuka juga Baju pak Rudi sambil melemparkannya kelantai. Pak Rudi pun tidak mau kalah sambil tanggannya berusaha melepas rok ku. Rok ku pun terlepas. Tinggallah aku dengan celana dalam yang tersisa. Akupun segera berusaha melepaskan celana yg dipakai oleh pak Rudi.</p>
<p style="text-align: justify;">Kubuka dengan cepat ruisleting celananya, dan kuturankan. Pak Rudipun tinggal memakai celana dalam. Tangan Pak rudi akhirnya memelorotkan celana dalamku. akupun tak mau kalah. Celana dalamnyanya pun kubuka. Pak Rudi kemudian kembali menciumku kearah payudaraku, dan ketika jilatannyamendekati putingku, tangannya terus bergerak kearah vaginaku. Tangan pak Rudi mulai bermain main didalam vaginaku. Vaginaku ternyata sudah basah. Ketika putingku yg sudah berdiri dikulum oleh pak Rudi, jari jari pak Rudi juga bermain main dikelentitku. Hal itu membuat tubuhku melengkung ke atas. &#8220;Aduuhh&#8230;enak sekali pak&#8221; aku mendesah. &#8220;Hayo pak..jangan mempermainkan saya pak ujarku yg sudah semakin pengen dimasukin. sambil meremas sprei dan kepala Pak Rudi. Tanpa menghiraukan teriakanku Pak Rudi terus mengulum kedua puting dan menjilati kedua payudaraku secara bergantian. Tak lama kemudian kurasakan vaginaku bertambah basah dan tubuhku bergetar keras disertai eranganku yang semakin keras, akhirnya aku mencapai orgasmeku yang pertama.</p>
<p style="text-align: justify;">Tubuhku terasa lemas, tapi tampaknya Pak Rudi belum berhenti mencumbuku. Diangkatnya kedua belah kakiku sehingga kepalanya dengan mudah menuju kevaginku dan lidahnya langsung menjilat dan mengulum vaginaku. Vaginaku terus dikulum dan disedot Pak Rudi. Lidahnya terus menjilat menjilat kelentitku. &#8220;Aduuhhh enak sekali Pak: teriakku mulai tidak karuan. &#8220;sayang.. ahh.. aku nggak kuat lagi sayang.. ahh..&#8221; teriakku tanpa sadar memmanggil Pak Rudi dengan sayang terus sedot yang kuat sayang.. ahh..Jilat terus sayang .. ahh.. t.. ahh sayang.. Aku mau.. ahh.. mau dapet lagi sayang.. ahh.. kamu benar-benar hebat sayang&#8221; teriakku histeris memohon, lalu tubuhku mulai bergetar lagi merasakan orgasmeku yang kedua. Pak Rudi mulai memasukkan jarinya ke vaginaku. Tusukannya semakin lama semakin kuat membuat aku serasa terbang di awang awang. Tanpa aku sadari aku berteriak nikmat sambil menjambak jambak rambut Pak Rudi. Akhirnya aku kembali lemas tak berdaya dengan permainan Pak Rudi yang ternyata memang hebat. Akhirnya Pak Rudi mulai mulai tidak tahan juga.</p>
<p style="text-align: justify;">Ia mulai mengatur posisinya dan menusukkna penisnya kedalam lubang vaginaku. &#8220;Okhh.. tunggu dulu Pak.. jangan.. ahh.. stop sayang.. stop.. biar aku istirahat sebentar&#8221; pintaku ke Pak Rudi. Tapi pak Rudi tidak menghiraukannya. Penisnya semakin cepat ditusukkannya kelobang vaginaku sampai akhirnya amblas semuanya. Ia mulai menggoyang goyangkan penisnya sambil memutar adan mengocok penisnya disalam vaginaku. Tak lama kemudian diangkatnya tubuhku hingga posisiku kini dalam pangkuannya, dan dalam posisiku sedang menaik turunkan pantat dan menggoyangkan pinggulku Pak Rudi kemudian meremas kedua payudaraku dengan kuat. Aku mengerang keenakan. Tak lama kemudian Pak Rudi mulai memutar -mutar pantatnya hingga penisnya lebih menggesek dinding vaginaku. &#8220;Aduuh..sayang.. ahh.. Bapak memang hebat ahh.. kamu.. ahh.. Bapak memang hebat.. ohh.. penis Bapak benar-benar. . ahh.. Bapak jago sekali.. hebaattt.. ahh&#8230;teriakku. Aku sudah mau keluar lagi. mau keluar lagi.. ahh.. Aku nggak kuat lagi Pak&#8230;. ahh&#8221; jeritku histeris dan tubuhku mulai bergetar mendapat orgasme yang ketiga.</p>
<p style="text-align: justify;">kurasakan vaginaku semakin banyak mengeluarkan cairan dan terasa berkedut kedut. Lalu tubuhku direbahkan pak rudi dan penisnya semakin cepat keluar masuk vaginaku. Ia terus menggenjot penisnya didalam vaginaku sambil memutar mutar pinggulnya, tubuhku tambah bergetar dengan kencang, goyangan dan kocokan penisnya juga tambah kencang, lalu tangannya memainkan dikelentitku sambil mulutnya melumat dan menyedot nyedot putingku secara bergantian. Tak lama kemudian kurasakan gerakan Pak Rudi semakin cepat . Akhirnya&#8230;. &#8230; &#8220;Akh.. Wulan aku mau keluar Wulan akhh.. aku keluar Wulan&#8221; teriak Pak Rudi disela-sela kuluman mulutnya diputingku sambil terus mengocok penisnya dengan cepat dan kuat dalam liang vaginaku. &#8220;Ahh.. iya Pak .. ahh.. keluarkan saja.. ahh.. aku juga.. ahh.. sudah nggak kuat lagi.. ahh&#8221; teriakku dan kupeluk tubuk Pak Rudi dengan erat. Lalu meledaklah cairan kenikmatan Pak Rudi didalam vaginaku, sehingga vaginaku bertambah basah lagi. Tubuh kami sama-sama bergetar dengan kencang, keringat kami bersatu dan seluruh ruangan dipenuhi oleh suara erangan dan jeritan kenikmatan yang kami dapatkan pada saat bersamaan.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah tubuhku dan Pak Rudi mulai tenang kembali, dilepaskannya penisnya dari vaginaku yang sudah sangat basah, lalu dibersihkannya vaginaku yang penuh dengan cairan kenikmatan kami berdua dengan sedotan dan jilatan, dijilatnta sampai bersih. Aku memejamkan mataku merasakan kenikmatan yang baru saja kudapatkan. Setelah bersih dipeluknya diriku sambil mengecup pipiku. &#8220;Ahh.. terima kasih Pak.. terima kasih . uhh.. rasanya tubuhku ringan sekali bagaikan kapas yang masih terbang diawang-awang, ahh.. nikmat sekali tadi kurasakan, Bapak memang pintar , baru sekali ini kurasakan orgasme beruntun seperti tadi, sampai lemas&#8221; kataku &#8220;Ah kamu bisa aja Wulan.. aku juga tadi nikmat sekali, kedutan dinding vaginamu membuat penisku merasakan seperti diremas-remas, nikmat sekali&#8221; kata Pak Rudi sambil mengusap keringat didahiku sampil mengecup keningku.. Sejak kejadian itu aku dan Pak Rudi semakin sering melakukannya baik itu di kantor maupun diluar kantor.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ceritasex.cn/tantangan-mesum-wulan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sofie, Pramugari Air Asia</title>
		<link>http://www.ceritasex.cn/sofie-pramugari-air-asia/</link>
		<comments>http://www.ceritasex.cn/sofie-pramugari-air-asia/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 01 Apr 2010 22:08:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cerita Sex</dc:creator>
				<category><![CDATA[Foto Mesum]]></category>
		<category><![CDATA[air asia]]></category>
		<category><![CDATA[bugil]]></category>
		<category><![CDATA[mesum]]></category>
		<category><![CDATA[porno]]></category>
		<category><![CDATA[pramugari]]></category>
		<category><![CDATA[sofie]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ceritasex.cn/?p=1325</guid>
		<description><![CDATA[Nikmatnya tubuh pramugari, naik pesawat bonus memek pramugari hehehe&#8230; moncrot terus&#8230;.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Nikmatnya tubuh pramugari, naik pesawat bonus memek pramugari hehehe&#8230; moncrot terus&#8230;.</p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2010/04/sofie-1.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-1326" title="sofie-1" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2010/04/sofie-1-225x300.jpg" alt="" width="225" height="300" /></a></p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2010/04/sofie-2.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-1327" title="sofie-2" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2010/04/sofie-2-225x300.jpg" alt="" width="225" height="300" /></a></p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2010/04/sofie-3.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-1328" title="sofie-3" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2010/04/sofie-3-225x300.jpg" alt="" width="225" height="300" /></a></p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2010/04/sofie-4.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-1329" title="sofie-4" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2010/04/sofie-4-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a></p>
<p><span id="more-1325"></span></p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2010/04/sofie-5.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-1330" title="sofie-5" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2010/04/sofie-5-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a></p>
<p style="text-align: justify;">
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ceritasex.cn/sofie-pramugari-air-asia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tante Lily, Ibu Kost Yang Kesepian</title>
		<link>http://www.ceritasex.cn/tante-lily-ibu-kost-yang-kesepian/</link>
		<comments>http://www.ceritasex.cn/tante-lily-ibu-kost-yang-kesepian/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 07 Mar 2010 01:25:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cerita Sex</dc:creator>
				<category><![CDATA[Paruh baya]]></category>
		<category><![CDATA[Seks Umum]]></category>
		<category><![CDATA[cuki]]></category>
		<category><![CDATA[ibu kost]]></category>
		<category><![CDATA[mesum]]></category>
		<category><![CDATA[ngentot]]></category>
		<category><![CDATA[taboo]]></category>
		<category><![CDATA[tante]]></category>
		<category><![CDATA[tante lily]]></category>
		<category><![CDATA[zaki]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ceritasex.cn/?p=1294</guid>
		<description><![CDATA[Sudah hampir setahun Zaki tinggal di tempat kost bu Lily. Bisa tinggal di tempat kost ini awalnya secara tidak sengaja ketemu bu Lily di pasar. Waktu itu bu Lily kecopetan, trus teriak dan kebetulan Zaki yang ikut menolong menangkap copet dan mengembalikan dompet bu Lily. Trus ngobrol sebentar, kebetulan Zaki lagi cari tempat kost yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Sudah hampir setahun Zaki tinggal di tempat kost bu Lily. Bisa tinggal di tempat kost ini awalnya secara tidak sengaja ketemu bu Lily di pasar. Waktu itu bu Lily kecopetan, trus teriak dan kebetulan Zaki yang ikut menolong menangkap copet dan mengembalikan dompet bu Lily. Trus ngobrol sebentar, kebetulan Zaki lagi cari tempat kost yang baru dan bu Lily mengatakan dia punya tempat kost atau bisa di bilang rumah bedengan yang dikontrakkan, yah jadi deh tinggal di kost-an bu Lily.</p>
<p style="text-align: justify;">Bu Lily lumayan baik terhadap Zaki, kelewat baik malah, karena sampai saat ini Zaki sudah telat bayar kontrak rumah 3 bulan, dan bu Lily masih adem-adem aja. Mungkin masih teringat pertolongan waktu itu. Tapi justru Zaki yang gak enak, tapi mau gimana, lha emang duit lagi seret. akhirnya Zaki lebih banyak menghindar untuk ketemu langsung dengan bu Lily.</p>
<p style="text-align: justify;">Sampai satu hari…… waktu itu masih sore jam 4. Zaki masih tidur-tiduran dengan malasnya di kamarnya. Tempat kost itu berupa kamar tidur dan kamar mandi di dalam. Terdengar pintu kamarnya di ketok… tok..tok..tok.. lalu suara bu Lily yang manggil,”Zack…Zaki… ada di dalem gak?” Sontak Zaki bangun, wah bisa berabe kalo nanyain duit sewa kamar nie, pikir Zaki. Dengan cepat meraih handuk, pura-pura lagi mandi aja ah, ntar juga bu Lily pergi sendiri. Setelah masuk kamar mandi kembali terdengar suara bu Lily,” Zaki lagi tidur ya..?” dan dari kamar mandi Zaki menyahut sedikit teriak,” lagi mandi bu….”</p>
<p style="text-align: justify;">Sesaat tidak ada sahutan, tapi kemudian suara bu Lily jadi dekat,”ya udah mandi aja dulu Zack, ibu tunggu di sini ya…” eh ternyata masuk ke kamar, Zaki tadi gak mengunci pintu. “busyet dah, terpaksa bener-bener harus mandi nie,”pikir Zaki.</p>
<p style="text-align: justify;">Sekitar lima belas menit Zaki di kamar mandi, sengaja mandinya agak dilamain dengan maksud siapa tau bu Lily bosan trus gak jadi nunggu. Tapi rasanya percuma lama-lama toh bu Lily sepertinya masih menunggu. Akhirnya keluar juga Zaki dari kamar mandi, dengan hanya handuk yang melilit di pinggang, tidak pakai celana dalem lagi, maklum tadi gak sempet ambil karena terburu-buru.</p>
<p style="text-align: justify;">Bu Lily tersenyum manis melihat Zaki yang salah tingkah,”lama juga kamu mandi ya Zack…” bu Lily membuka pembicaraan. “pasti bersih banget mandinya ya…” gurau bu Lily sambil sejenak melirik dada bidang Zaki. “ah ibu bisa aja… biasa aja kok bu.., oia ada apa ya bu..?” jawab Zaki sekenanya saja sambil mengambil duduk di pinggiran tempat tidur. Bu Lily mendekat dan duduk di samping Zaki, “Cuma mau ngingetin aja, uang sewa kamarmu dah telat 3 bulan lho… trus mau ngobrol-ngobrol aja sama kamu, kan dah lama gak ngobrol, kamu sie pergi mlulu…”ucap bu Lily. Zaki jadi kikuk,”wahduh… kalo uang sewanya ntar aku bayar cicil boleh gak bu? Soalnya lagi seret nie…” jawab Zaki dengan sedikit memohon.</p>
<p style="text-align: justify;">Bu Lily terlihat sedikit berpikir…”mmmm… boleh deh, tapi jangan lama-lama ya… emang uangmu di pakai untuk apa sie?” terlihat bu Lily sedikit menyelidik. “hmmm… pasti buat cewe mu ya…”dia terlihat kurang senang. “ah nggak juga kok bu….. saya emang lagi ada keperluan,” jawab Zaki hati-hati melihat raut wajah bu Lily yang kurang senang. “huh…laki-laki sama aja, kalo lagi ada maunya, apa aja pasti di kasih pada perempuan yang lagi di dekatinya, hhhh… sama aja dengan suamiku….”keluh bu Lily dengan nada kesal.</p>
<p style="text-align: justify;">Waduh nampaknya bu Lily lagi marahan nie sama suaminya, jangan-jangan amarahnya ditumpahkan pula sama Zaki. Dengan cepat Zaki menjawab,”tapi saya janji kok bu, akan saya lunasi kok…” “hhhhh….”bu Lily menghela nafas,”udahlah Zack, gak apa-apa kok, gak di bayar juga kalo buat kamu ga masalah… ibu Cuma lagi kesel aja sama suamiku, dia cuma perhatiannya sama Marni terus… aku seperti gak dianggap lagi, mentang-mentang Marni jauh lebih muda ya.”</p>
<p style="text-align: justify;">-sedikit penjelasan bahwa bu Lily ini istri pertama dari pak Kardi, sedangkan istri keduanya bu Marni. Dan sekarang sepertinya pak Kardi lebih sering tinggal di rumahnya yang satu lagi bersama bu Marni dan bu Lily tampaknya udah mulai kesepian nie-</p>
<p style="text-align: justify;">“wah kalo masalah keluarga sie aku kurang paham bu…. “jawab Zaki kikuk “gak apa-apa Zack, ibu hanya mau curhat aja sama kamu… boleh kan Zack?” suara bu Lily sendu. Agak lama terdiam, terdengar tarikan nafas bu Lily terasa berat, dan sedikit sesunggukan, waduh lama-lama bisa nangis nie, gawat dong pikir Zaki.</p>
<p style="text-align: justify;">“udah bu jangan terlalu dipikirkan, nanti juga pak Kardi kembali lagi kok, kan ibu juga gak kalah cantiknya sama bu Marni,”Zaki bermaksud menghibur. “ah kamu Zack… emang ibu masih cantik menurutmu?” bu Lily menatap sendu ke arah Zaki, terlihat dua butir air mata mengalir di pipinya. Uhh…. ingin rasanya Zaki menghapus air mata itu, pak Kardi emang keterlaluan masa wanita cantik nan elok seperti ini dianggurin sie, coba Zaki bisa berbuat sesuatu… busyet… Zaki memaki dalam hati… “kenapa otak gwa jadi kotor gini.”<br />
<span id="more-1294"></span><br />
Dengan sedikit gugup Zaki menjawab,”mmm…eee…iya kok bu, ibu masih cantik, kalo masih gadis mungkin aku yang duluan tergoda.” Uupsss …. Maksud hati ingin menghibur, tapi kenapa kata-kata yang menggoda yang keluar dari mulut… gerutu Zaki dalam hati. Zaki jadi panik, jangan-jangan bu Lily marah dengan ucapan Zaki. Tapi ternyata Zaki salah, karena bu Lily tersenyum, manis sekali dengan deretan gigi yang putih dan rapi,”ih Zaki bisa aja menghibur…. Iya juga sie, kalo masih gadis bisa aja tergoda, pantes aja suamiku gak ngelirik aku lagi, bis nya dah tua sie…” rona wajah bu Lily berubah sedih lagi,”kalo menurutmu Zack, apa ibu emang gak menarik lagi…?” sambil berdiri dan memperhatikan tubuhnya kemudian menatap Zaki minta penilaian. Terang aja Zaki makin kikuk,”wah aku mau ngomong apa ya bu…? Takutnya nanti di bilang lancang lho… tapi kalo mau jujur…. Ibu cantik banget, seperti masih 30an deh.” Bu Lily tampaknya senang dengan pujian itu,”hmmm.. kamu ada-ada aja saja… ibu udah 43 lho.. emang Zaki liat dari mananya bisa bilang begitu?”</p>
<p style="text-align: justify;">Zaki jadi cengar cengir,” ….itu penilaian laki-laki lho bu, saya malu bilangin nya.” Bu Lily kembali duduk mendekat, sekarang malah sangat dekat hampir merapat ke Zaki sambil berkata,” ah.. gak perlu malu…. Bilang aja…” Nafas Zaki terasa sesak, badan nya terasa panas dingin menghadapi tatapan bu Lily, matanya indah dengan bulu mata yang lentik, sesaat kemudian Zaki mengalihkan pandangan ke arah tubuh bu Lily mencari alasan penilaian tadi, uups baru deh Zaki memperhatikan bahwa bu Lily memakai baju terusan seperti daster tapi dengan lengan yang berupa tali dan diikat simpul di bahunya. Hmmm .. kulit itu mulus kuning langsat dengan tali baju dan tali bra yang saling bertumpuk di bahu, pandangan Zaki beralih ke bagian depan uupss… terlihat belahan dada yang hmmm… sepertinya buah dada itu lumayan besar. Sentuhan lembut tangan bu Lily di paha Zaki yang masih dibungkus handuk cepat menyadarkan Zaki. Dengan penuh selidik bu Lily bertanya,”lho… kok jadi bengong sie..? apa dong alasannya tadi bilang ibu masih 30an…” Zaki sedikit tergagap karena merasa ketahuan terlalu lama memandangi tubuh bu Lily,”mmm… eeemm.. ibu benar-benar masih cantik, kulitnya masih kencang… masih sangat menggoda…”</p>
<p style="text-align: justify;">Tidak ada jawaban dari mulut bu Lily, hanya pandangan mata yang kini saling beradu, saling tatap untuk beberapa saat… dan seperti ada magnet yang kuat, wajah bu Lily makin mendekat, dengan bibir yang semakin merekah. Zaki pun seakan terbawa suasana, dan tanpa komando lagi, Zaki menyambut bibir merah bu Lily, desahan nafas mulai terasa berat hhhh…hhhh…ciuman terus bertambah dahsyat, bu Lily menjulurkan lidahnya masuk menerobos ke mulut Zaki, dan dibalas dengan lilitan lidah Zaki sehingga lidah tersebut berpilin-pilin dan kemudian deru nafas semakin berat terasa.</p>
<p style="text-align: justify;">Dengan naluri yang alami, tangan Zaki merambat naik ke bahu bu Lily, dengan sekali tarik, terlepas tali pengikat baju di bahu tersebut dan dengan lembut Zaki meraba bahu bu Lily sampai ke lehernya…. Kemudian turun ke arah dada, dengan remasan lembut Zaki meremas payudara yang masih terbungkus bra itu. “hhhhh…hhhh” nafas bu Lily mulai terasa menggebu, nampaknya gairah birahinya mulai memuncak. Jemari lentik bu Lily tak ketinggalan meraba dan mengelus lembut dada Zaki… melingkari pinggang Zaki, mencari lipatan handuk, hendak membukanya…</p>
<p style="text-align: justify;">Uupps…. Zaki tersentak dan sadar….,”ups…hhh… maaf bu… maaf bu… saya terbawa suasana….” Zaki tertunduk tak berani menatap bu Lily sambil merapikan kembali handuknya, baru kemudian dengan sedikit takut melihat ke arah bu Lily.</p>
<p style="text-align: justify;">Terlihat bu Lily pun agak tersentak, tapi tidak berusaha merapikan pakaiannya, sehingga tubuh bagian atas yang hanya tertutup bra itu dibiarkan terbuka. Pemandangan yang menakjubkan. “napa Zack… kita sudah memulainya… dan kamu sudah membangkitkan kembali gairah ibu yang lama terpendam… kamu harus menyelesaikannya Zack…” tatapan bu Lily terlihat semakin sendu… “mmm… ibu gak marah..? gimana nanti kalo ada yang lihat bu… bisa gawat dong… pak Kardi juga bisa marah besar bu…” jawab Zaki.</p>
<p style="text-align: justify;">Tanpa menjawab bu Lily bangkit berdiri, namun karena tidak merapikan pakaiannya, otomatis baju terusan yang dipakai jadi melorot jatuh ke lantai. Zaki terpana melihat tubuh indah itu, sedikit berlemak di perut dan bokongnya namun itu malah menambah seksi lekuk tubuh bu Lily. Kemudian dengan tenang bu Lily melangkah ke arah pintu kamar dan menguncinya. Saat berjalan membelakangi Zaki itu nampak gerakan bokong bu Lily naik turun, dan perasaan Zaki semakin tegang dengan nafsu yang semakin tak tertahankan, demikian juga saat bu Lily berbalik dan melangkah kembali menuju tempat tidur, Zaki tidak melepaskan sedikit pun gerakan bu Lily. Sampai bu Lily berdiri dekat di depan Zaki dan berkata,”kamarnya udah di kunci Zack, dan gak ada yang akan mengganggu&#8230;.” Zaki tidak langsung menjawab, menghidupkan tape dengan suara yang agak besar, setidaknya untuk menyamarkan suara yang ada di ruangan. Bu Lily kembali duduk di pinggiran tempat tidur, dan membuka bra yang digunakannya. Zaki mendekat dan duduk di samping bu Lily… hmmm… nampak payudara itu masih montok dan kenyal, ingin Zaki langsung melahap dengan mulut dan menjilatnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Bu Lily yang memulai gerakan dengan melingkarkan lengannya ke leher Zaki, menarik wajah dan langsung melumat bibir Zaki dengan nafsu yang membara. Zaki membalas dengan tidak kalah sengit, sambil meladeni serangan bibir dan lidah bu Lily, tangan Zaki meremas payudara montok milik bu Lily. Desahan nafas menderu di seputar ruangan, diselingi alunan musik menambah gairah. Setelah beberapa saat, bu Lily mendorong lembut badan Zaki, menyudahi pertempuran mulut dan lidah, dengan nafas yang memburu. Zaki mendorong lembut tubuh bu Lily, berbaring terlentang dengan kaki tetap menjuntai di pinggiran tempat tidur. Dada yang penuh dengan gunung kembar itu seakan menantang dengan puting yang telah tegang. Tanpa menunggu lagi Zaki melaksanakan tugasnya menjelajahi gunung kembar itu mulai dari lembah antara, melingkari dan menuju puncak puting. Dengan gemas Zaki menyedot dan memainkan puting susu itu sambil tangan meremas payudara kembarannya ………………… ”HHHH…. AHHH….MMMH….”suara bu Lily mulai kencang terdengar, desahan-desahan nikmat yang semakin menggairahkan.</p>
<p style="text-align: justify;">Zaki melanjutkan penjelajahan dengan menyusuri lembah payudara menuju perut dan sebentar memainkan lidah pada udel bu Lily yang menggelinjang kegelian. Zaki menghentikan penjelajahan lidah, kemudian dengan cekatan menarik celana dalam bu Lily, melepaskan dan membuang ke lantai. Dengan spontan bu Lily mengangkat kaki ke atas tempat tidur dan memuka lebar pahanya, terlihat gundukan vagina dengan rambut-rambut yang tertata rapi. Zaki mulai kembali aksi dengan menjilati menyusuri paha bu Lily yang halus mulus, terus mendekat ke selangkangan menemui bibir vagina yang mulai mengeluarkan cairan senggama.</p>
<p style="text-align: justify;">Tanpa menunggu lama, Zaki menyapu cairan senggama itu dengan lidahnya dan meneruskan penjelajahan lidah sepanjang bibir vagina bu Lily dan sesekali menggetarkan lidah pada klitorisnya yang membuat bu Lily mengerang kenikmatan,”AHHHH…. MMMMH… HHH… Zack….UHH…”desahan birahi yang memuncak dari bu Lily membuat Zaki semakin bersemangat dan sesekali lidah di julurkan mencoba masuk ke liang senggama yang menanti pemenuhan itu. Setelah beberapa menit Zaki mengeksplorasi liang kewanitaan itu, nampaknya bu Lily tidak sabar lagi menuntut pemenuhan hasrat birahinya,”Zack…. Ayo sayang… masukkin Zack… hhhh…mmmmh.” Suara bu Lily ditingkahi desahan-desahan yang semakin kencang.</p>
<p style="text-align: justify;">Dengan tenang Zaki menyudahi penjelajahan lidah dan bersiap bertempur yang sesungguhnya. Dengan sekali tarik lepaslah handuk yang melilit di pinggang dan bebas mengacung penis dengan bagian kepala yang merah mengkilap. Bu Lily semakin membuka lebar pahanya, besiap menanti pemenuhan terhadap liang wanitanya. Zaki naik ke tempat tidur dan langsung mengarahkan batang penis ke arah vagina bu Lily yang dengan sigap lansung meraih dan meremas batang kemaluan Zaki dan membantu mengarahkannya tepat ke liang vaginanya. Dengan sekali dorongan penis Zaki amblas sampai setengahnya. Zaki menahan gerakan sebentar menikmati prosesi masuknya penis yang disambut desahan bu Lily,” AHHH….TERUSKAN ZACK….AHHH.”</p>
<p style="text-align: justify;">kemudian dengan meresapi masuknya penis sampai sedalam-dalamnya. Setelah dorongan pertama dan batang zakar yang masuk seluruhnya barulah Zaki memompa menaik turunkan pantat dengan irama beraturan seakan mengikuti irama musik yang terasa semakin menggebu dan hot.</p>
<p style="text-align: justify;">Zaki bertumpu pada kedua siku lengan sedangkan bu Lily mencengkam punggung Zaki, meresapi dorongan dan tarikan penis yang bergerak nikmat di liang senggamanya. Suara desahan bercampur aduk dengan alunan musik dan peluh mulai bercucuran di sekujur tubuh,”AH..AH..AH..MMH…MHH…HHHH.” tak hentinya desahan meluncur dari bibir Zaki dan bu Lily. Sesaat Zaki menghentikan gerakan untuk mencoba mengambil nafas segar, bu Lily memeluk Zaki dan menggulingkan badan tanpa melepas penis yang tetap berada di liang vaginanya. Dengan posisi di atas dan setengah berjongkok, bu Lily memompa dan menaikturunkan pantatnya dengan badan bertumpu pada lengan. Sesekali bu Lily memutar pantatnya dan kemudian memasukkan batang zakar Zaki lebih dalam. Zaki tak diam saja, tangan meremas kedua payudara yang menggantung bebas dan menarik-narik puting susu bu Lily.</p>
<p style="text-align: justify;">Suasana makin membara dengan peluh yang bercucuran, sampai saat bu Lily seperti tak sanggup melanjutkan pompaan karena birahi yang hendak mencapai puncak pemenuhan. Dengan sigap Zaki membalikkan posisi, bu Lily kembali berada di bawah, dengan mempercepat tempo dorongan Zaki meneruskan pertempuran. “Zack…AHH..AH..AH..UH…TERUS ZACK…. AHHH…AHH IBU SAMPAI…ZACK….AHHHHHHHHH… MMMMMHHH.”</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah teriakan tertahan bu Lily mengatup bibirnya menikmati orgasme yang didapat, tubuhnya sedikit bergetar. Zaki merasa vagina yang mengalami orgasme itu berkedut-kedut seperti menyedot zakarnya.Zaki menikmatinya dengan memutar –mutar pantatnya dan memasukkan lebih dalam lagi batang zakarnya, dan terasa ada dorongan kuat menyelimuti batang zakarnya, semakin besar dan sesaat Zaki kembali mendorong batangnya dengan cepat dan saat terakhir menarik keluar batanga zakarnya dan melepaskan air maninya di atas perut bu Lily…. Yang dengan cepat meraih penis Zaki dan mengocoknya sampai air mani itu berhenti muncrat, dengan lembut bu Lily mengusap penis yang mulai turun ketegangannya. Zaki membaringkan tubuhnya disamping bu Lily. Terdiam untuk beberapa saat.</p>
<p style="text-align: justify;">Bu Lily bangkit duduk meraih kain di pinggiran tempat tidur dan menyeka sisa air mani di perutnya. Kemudian dengan manja membaringkan tubuhnya diatas Zaki. “makasih ya sayang… ini rahasia kita berdua… I love u Zack,” bisik mesra bu Lily di telinga Zaki.</p>
<p style="text-align: justify;">“mmm…baik bu…”belum sempat Zaki menyelesaikan ucapannya, jari telunjuk bu Lily menempel di bibirnya, “kalo lagi berdua gini jangan pangil ibu dong…”ucap bu Lily manja.</p>
<p style="text-align: justify;">“iya sayang….” Balas Zaki, senyum manis merekah di bibir seksi bu Lily.Setelah itu dengan cepat Zaki dan bu Lily merapikan pakaian, dan sebelum meninggalkan Zaki, bu Lily berbisik mesra,”sayang… tar malem suamiku gak ada di rumah….. aku tunggu di kamar ya… berapa ronde pun dilakoni buat Zaki sayang.” Sambil berpelukan mesra, Zaki menyanggupi ajakan bu Lily.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ceritasex.cn/tante-lily-ibu-kost-yang-kesepian/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Di Balik Kamar Kost</title>
		<link>http://www.ceritasex.cn/di-balik-kamar-kost/</link>
		<comments>http://www.ceritasex.cn/di-balik-kamar-kost/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 09 Jan 2010 10:40:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cerita Sex</dc:creator>
				<category><![CDATA[Daun Muda]]></category>
		<category><![CDATA[Gangbang Rame Rame]]></category>
		<category><![CDATA[Pemerkosaan]]></category>
		<category><![CDATA[Seks Umum]]></category>
		<category><![CDATA[amoy]]></category>
		<category><![CDATA[cina]]></category>
		<category><![CDATA[gangbang]]></category>
		<category><![CDATA[mesum]]></category>
		<category><![CDATA[ngentot]]></category>
		<category><![CDATA[perkosa]]></category>
		<category><![CDATA[salome]]></category>
		<category><![CDATA[seks]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ceritasex.cn/?p=1206</guid>
		<description><![CDATA[Pertama-tama perkenankan saya memperkenalkan diri dulu. Biasa teman-temanku memanggilku Nana (nama lengkap/aslinya ga usah disebut yah), lahir tahun 83. Tubuhku cukup jangkung untuk ukuran wanita, terakhir kuukur 172 cm, dengan berat 48kg dan tiga lingkar tubuh 86/60/90. Rambutku lurus sebahu, wajah lonjong ,dan kulit putih karena aku WNI keturunan. Saat ini masih kuliah di fakultas [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Pertama-tama perkenankan saya memperkenalkan diri dulu. Biasa teman-temanku memanggilku Nana (nama lengkap/aslinya ga usah disebut yah), lahir tahun 83. Tubuhku cukup jangkung untuk ukuran wanita, terakhir kuukur 172 cm, dengan berat 48kg dan tiga lingkar tubuh 86/60/90. Rambutku lurus sebahu, wajah lonjong ,dan kulit putih karena aku WNI keturunan. Saat ini masih kuliah di fakultas sastra di salah satu universitas swasta di Bandung dan ngekost tidak jauh dari kampusku. Aku termasuk gadis yang sering ke salon dan modis, maka aku sudah tidak asing dengan tatapan nakal cowok-cowok di kampus kalau aku memakai pakaian yang ketat atau agak seksi, apalagi ketika ngedugem dimana aku memakai pakaian yang lebih terbuka. Dalam percintaan, secara jujur kuakui aku bukan type yang setia. Aku sudah mempunyai pacar yang sedang kuliah di Amerika sehingga kami jarang bertemu, kami sudah berjalan lebih dari tiga tahun dan aku mencintainya, tapi darah muda dalam diriku melibatkanku dalam beberapa hubungan one night stand dengan teman kuliah maupun teman dugem, bagiku semua itu hanya hubungan badan tanpa merubah perasaanku pada pacarku.</p>
<p style="text-align: justify;">Kisahku ini terjadi pada pertengahan tahun 2004 yang lalu yaitu libur akhir semester. Waktu itu teman kostku sudah banyak yang pulang, di kostku hanya tersisa seorang pria, dan dua wanita termasuk diriku. Yang dua itu tidak pulang karena ikut semester pendek, tapi aku belum pulang karena waktu itu di rumahku tidak ada siapa-siapa berhubung kedua orangtuaku sedang menghadiri pernikahan di kota lain dan kakakku satu-satunya sudah dua tahun yang lalu menikah dan ikut suaminya. Jadi pemikiranku lebih baik kutunda kepulanganku sampai papa dan mamaku pulang 2-3 hari lagi, daripada kesepian di rumah mendingan kuisi waktuku untuk having fun bersama teman-temanku di Bandung. Malam itu aku ngedugem di salah satu tempat dugem di jalan Cihampelas. Teman-temanku mencekoki minuman sementara aku tidak kuat minum, mereka bilang untuk merayakan kenaikan IPK-ku. Aku mabuk sehingga dalam perjalanan pulang dengan mobil Ocha aku numpang ke WC di rumah Risa waktu sampai di rumahnya karena tidak tahan mau muntah. Setelah muntah akupun masih pusing-pusing sehingga terpaksa aku minta Risa untuk menginap di rumahnya semalam saja daripada pulang ke kost dalam keadaan sempoyongan, kan ga enak dilihat.</p>
<p style="text-align: justify;">Singkat cerita akupun menginap di rumah Risa malam itu dan baru terbangun besoknya, hari Minggu jam sebelasan. Kepalaku masih agak berat.<br />
“Lu orang sih, nyuruh gua minum terus, aduh kaya mau mati aja kemarin rasanya tau !” omelku pada Risa.<br />
“Hihihi, gapapa lah Na sekali-kali aja, kan kita baru selesai semester nih !” jawabnya tertawa kecil mengingat keadaanku kemarin.<br />
Akhirnya setelah makan sedikit, Risa mengantarku pulang ke kostku di daerah Sukamekar. Kumasuki pintu gerbang kostku, suasanya sepi seperti beberapa hari terakhir. Di depan pos jaga aku berpapasan dengan Gungun, pegawai/ penjaga kostku yang berusia dua puluhlimaan sedang ngobrol-ngobrol dengan dua orang pemuda yang kira-kira sebaya dengannya, aku tidak tahu siapa mungkin temannya yang penduduk sekitar sini. Aku tersenyum kecil sebagai basa-basi dan mereka membalasnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Terasa sekali mereka memandangi tubuhku yang masih memakai pakaian seksi semalam berupa sebuah rok putih sejengkal di atas lutut dan tank top berdada rendah yang memperlihatkan sedikit belahan dadaku. Aku mempercepat langkahku ke tangga, di dekat tangga akupun berpapasan lagi dengan pegawai kostku yang lain, si Acep yang masih berusia SMA, sekitar enambelas tahun, orangnya agak culun, berambut cepak dan kerempeng, dia sering bertugas membelikan barang pesanan dan mengantar makanan untuk kami, para penghuni disini.<br />
“Eh…Neng, baru pulang yah !” sapanya sambil cengengesan.<br />
Aku hanya menjawab iya saja lalu menaiki tangga, instingku mengatakan kalau dia berusaha mengintip rokku yang mini ketika aku naik, sempat terlihat sekilas olehku ketika sampai di lantai dua dan membelok. Sampai di kamar, aku langsung membuka pakaianku dan masuk ke kamar mandi, langung kubuka shower dan kuguyur tubuhku dengan air dingin, segar sekali rasanya, udara di luar waktu itu lagi panas ditambah lagi panas alkohol masih sedikit terasa dari dalam tubuhku.<br />
<span id="more-1206"></span><br />
Selesai mandi, aku keluar dari kamar mandi tanpa mengenakan apapun sambil mengelap rambutku dengan handuk. Kuambil celana dalam kuning dan kupakai. Aku tidak menemukan baju barongku yang biasa kupakai tidur di gantungan di pintu, baru ingat kalau baju itu sudah kutaruh di tempat cucian. Karena malas mencari baju lain di lemari, akupun lantas melempar diriku ke kasur. Biar saja tidur hanya dengan celana dalam, apalagi cuacanya lagi panas, kipas anginnya juga kumatikan. Kututupi tubuhku dengan selimut dan kupeluk guling kesayanganku untuk melanjutkan tidurku yang masih belum puas ditambah masih sedikit pening, maklumlah orang ga kuat minum di suruh minum banyak ya gini nih jadinya. Entah berapa lama aku tertidur lelap sekali sampai kurasakan ada rasa geli pada tubuhku, secara refleks tanganku menepis dan menggulingkan tubuh ke arah lain. Namun perasaan itu datang lagi dengan lebih hebat, kali ini juga kurasakan pada paha dan dadaku seperti ada yang mengenyot. Kali ini aku terbangun dan kaget sekali melihat ternyata benar-benar ada orang yang sedang mengenyot dadaku dan seseorang lainnya sedang menjilati pahaku. Spontan akupun menjerit, namun sebuah tangan membekap mulutku dari belakang. Ketika aku meronta, gerakanku langsung terkunci oleh tangan-tangan yang memegangi kedua tangan dan kakiku.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku mengedip-ngedipkan mata memperjelas pandanganku, aku makin terperanjat dengan keempat wajah menyeringai diatasku, wajah yang tak asing bagiku. Yang dua adalah pegawai kostku, Gungun dan Acep dan dua orang temannya yang kutemui di bawah tadi. Aku tidak habis pikir bagaimana mereka bisa masuk sini, padahal pintu sudah kukunci, tapi sekarang bukan waktunya memikirkan itu, sekarang harusnya memikirkan apa yang harus kulakukan menghadapi situasi ini.<br />
“Halo Neng, maaf yah kita masuk sini diam-diam abis ga tahan liat body Neng yang bahenol !” kata Gungun.<br />
“Emmphh…eemhhh !” aku berusaha berteriak walau mulut masih dibekap sambil meronta ketika Gungun meraba payudaraku.<br />
“Udahlah Neng, ga usah ngelawan terus, disini lagi gak ada siapa-siapa kok !” sahut orang yang membekapku yang berambut agak bergelombang dan matanya besar.</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam situasi makin kritis seperti ini aku mulai berpikir ulang, aku pernah membaca berita tentang pembunuhan di kost, melawan mereka yang sedang kalap mungkin saja malah mencelakakanku, bukankah lebih baik pasrah saja menuruti mereka. Lagipula aku ini kan bukan perawan dan pria yang pernah main denganku bukan hanya pacarku, bedanya cuma mereka sama-sama WNI keturunan dan yang empat ini bukan. Yah, anggap saja tambah pengalaman seks lah, begitu pikirku positif. Yang masih membuatku risau adalah apakah aku sanggup melawan empat orang sekaligus mengingat seumur hidup aku selalu bermain konvensional satu lawan satu. Mungkin sekaranglah waktunya bagiku untuk mencoba rasanya digangbang. Seiring dengan birahiku yang mulai naik, rontaanku pun berangsur-angsur berkurang berganti menjadi kepasrahan. Darahku berdesir dan bulu-buluku merinding ketika tangan-tangan itu menggerayangi tubuhku, ciuman dah jilatan juga menghujani tubuhku. Salah seorang teman Gungun tadi menarik lepas celana dalamku. Keempat orang itu menelan ludah menyaksikan keindahan tubuhku yang sudah telanjang bulat, terutama Acep sepertinya ini baru pertama kali dia melihat tubuh wanita secara nyata.</p>
<p style="text-align: justify;">“Anjrit, jembutnya lebat banget euy !” kata Gungun sambil merabai kemaluanku yang berbulu lebat tapi rapi, karena sering kucukur rapi tepiannya agar tidak keluar-keluar kalau memakai baju renangku yang seksi.<br />
Teman Gungun yang rambutnya gondrong sebahu menciumi payudaraku, digigit dan disedot-sedotnya putingku yang sensitif. Kuncian mereka terhadapku mengendur dan tangan yang membekap mulutku juga sudah lepas. Kepalaku menggeleng-geleng ketika Gungun mau menciumku, tapi dia lalu memegangi kepalaku sehingga aku tak bisa lagi menghindari mulutnya. Rangsangan yang datang bertubi-tubi membuatku semakin horny dan mulutku pun membuka menerima serangan lidah Gungun, mau tak mau aku harus beradaptasi dengan bau mulutnya. Kumainkan lidahku mengimbangi lidahnya yang menari-nari di mulutku. Ketika asyik berciuman dengan Gungun setidaknya ada dua jari yang bermain di vaginaku, aku tidak tahu siapa itu karena aku biasa memejamkan mata kalau berciuman agar lebih menghayati, selain itu tangan yang menggerayangiku ada empat pasang sehingga tidak sempat mengenalinya satu-satu.</p>
<p style="text-align: justify;">Lama juga Gungun menciumiku, itu dia lakukan sambil tangannya menjelajahi lekuk-lekuk tubuhku, hampir lima menit kira-kira, begitu mulutnya lepas aku akhirnya lega bisa kembali menghirup udara segar walau dengan nafas sudah memburu.Ketika kubuka mata, kulihat di sebelah kananku teman Gungun yang matanya besar itu sedang mengenyoti payudaraku dengan rakusnya, dia sudah membuka pakaiannya, aku melihat penisnya yang sudah tegang itu menggantung di selangkangannya, bentuknya panjang dengan kepalanya disunat. Iihhh…geli sekaligus terangsang membayangkan aku harus mengulum dan dimasuki benda itu. Si Acep sedang menjilat dan meraba tubuh bagian sampingku (sekitar perut, paha, dan dada), dia juga masih memakai kaos oblongnya tapi celananya sudah dibuka, penisnya yang juga bersunat lumayan juga untuk seumuran dia. Ternyata yang daritadi mengorek vaginaku adalah si pemuda gondrong, kini dia bahkan mendekatkan wajahnya ke sana dan uuhh…lidahnya menyentuh bibir vaginaku dan terasa menggelitik nikmat tubuhku sampai menggeliat karena itu. Aku bingung apa yang kualami saat itu termasuk perkosaan atau bukan, dibilang ya bisa juga karena awalnya mereka yang memaksa, tapi dibilang tidak juga bisa karena toh aku juga mulai menikmatinya.</p>
<p style="text-align: justify;">“Memeknya enak, wangi loh mmm…ssluurrpp !” sahut si gondrong di bawah sana.<br />
“Oh, ya…nanti juga saya mau nyicipin yah, makannya cepet !” kata Gungun.<br />
“Jangan lama-lama yah, nanti kita kebagiannya bau jigong lu” timpal si mata besar<br />
Kini Acep sudah mencaplok payudaraku dengan mulutnya, walau kelihatan culun jilatannya membuat putingku makin menegang. Gungun juga membuka pakaiannya hingga telanjang. Wah, anunya juga ga kalah gede dari kedua temannya, tinggal milik si gondrong saja yang belum kulihat karena dia masih sibuk menjilat vaginaku. Aku harus mengakui enak sekali diperlakukan seperti ini, dalam seks satu lawan satu aku tidak pernah merasakan bagian-bagian sensitifku dimainkan dalam saat bersamaan.<br />
“Uuhh-eeemm….aaahh !” aku tak tahan untuk tidak mendesah ketika lidah si gondrong menyapu bibir vaginaku, bukan cuma itu, jarinya pun ikut keluar masuk di sana.<br />
Hal itu berlangsung sekitar lima menit lamanya, kemudian Gungun mengambil posisinya.<br />
“Hayo sini, saya juga mau rasain, gantian dong !” katanya menyuruh si gondrong menyingkir.</p>
<p style="text-align: justify;">Langsung Gungun melumat bagian selangkanganku itu dengan bernafsu, tangannya memegangi kedua pahaku sambil mengisap dan menjilat, mulutnya terbenam di kerimbunan bulu kemaluanku, gayanya seperti makan semangka saja. Serangannya lebih mantap dari si gondrong yang cenderung monoton, lidah si Gungun sepertinya agak panjang sehingga ketika menyusup ke dalam vagina benda itu menyentuh klitorisku juga menjilati dinding kemaluanku, kontan akupun makin menggelinjang tak karuan. Ketiga orang lainnya tertawa-tawa dan berkomentar jorok melihat reaksiku, mereka pun makin bersemangat mengerjaiku. Payudaraku sedikit nyeri ketika dipencet-pencet si mata besar dengan gemasnya. Si gondrong yang kini sudah membuka bajunya berlutut di sebelahku memegangi penisnya untuk disodorkan padaku.<br />
“Diisep Neng, enak loh !” suruhnya sambil menggosokkan kepala penis itu ke wajah dan bibirku.<br />
Walau sebenarnya geli dengan kemaluannya yang hitam dengan kepala kemerahan itu, aku tertantang juga untuk mencobanya, maka kugenggam batang itu dengan tangan kiri dan kuawali dengan menyapukan lidah pada kepala penisnya. Dia langsung mendesah keenakan karenanya. Entah kekuatan apa yang membuatku demikian liar, padahal sebelumnya dekat-dekat orang seperti mereka saja aku enggan, apalagi untuk ML.</p>
<p style="text-align: justify;">Awalnya aku sangat tidak nyaman dengan aroma penisnya, namun mau tidak mau aku harus membiasakan diriku. Aku berusaha tidak menghirupnya dan kuemuti dalam mulut sambil sesekali mengocok dengan tangan, kesempatan itulah yang kupakai untuk mengambil udara segar. Sementara rasa geli pada vaginaku kian menjalari tubuhku, rasanya seperti mau pipis. Tubuhku menggelinjang, aku tidak tahan lagi dan mencapai orgasme pertamaku, dari vaginaku keluarlah lendir yang dijilatinya dengan lahap.<br />
“Eh-eh, gantian dong, saya juga mau ngerasain pejunya si Neng !” kata si Acep<br />
Acep menggantikan posisi si Gungun, dia menjilati sisa-sisa cairan kemaluanku. Jilatannya tidak selihai Gungun, maklum karena dia masih hijau, baru pertama kalinya menikmati wanita. Dia lebih suka menyentil-nyentil klitorisku dengan lidahnya yang memberi rasa geli. Sekarang Gungun berlutut di sebelah ku dan meraih tanganku digenggamkan ke penisnya. Keras dan hangat, begitulah kesan pertama begitu jari-jariku melingkari batang itu. Mulailah aku mengocok penis itu dengan tangan kiriku dan yang kanan memegangi milik si gondrong sambil mengoralnya. Si mata besar masih menyusu dengan nikmatnya pada payudaraku, sepertinya dia ketagihan dengan payudaraku yang montok itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Acep tidak lama menjilati vaginaku, posisinya digantikan oleh si mata besar yang tidak sabar menunggu giliran, karena paling kecil diapun mengalah pada temannya. Si mata besar mencium vaginaku dengan bernafsu dan terkesan terburu-buru. Aku dibuatnya semakin bergairah melayani kedua penis yang menodongku, secara bergantian kukocok dan kuoral menirukan apa yang pernah kulihat di film porno di rumah temanku. Rasa jijikku pada penis hitam yang kepalanya seperti jamur itu perlahan-lahan sirna. Gungun mengungkapkan ekspresi nikmatnya dengan meremas payudaraku yang digenggamnya, sedangkan si gondrong sambil menekan-nekan penisnya ke mulutku ketika gilirannya dioral seolah tidak rela melepaskannya. Ditambah lagi Acep sedang asyik memainkan putingku, benda mungil berwarna merah kecoklatan itu dia pilin-pilin dengan jarinya sesekali juga dijilati. Si mata besar pun tidak lama-lama menjilati vaginaku, dia lalu bangkit berlutut diantara kedua pahaku dan menempelkan kepala penisnya di bibir vaginaku.</p>
<p style="text-align: justify;">Kuhentikan sejenak aktivitas terhadap dua penis dalam genggamanku untuk memperhatikan penis si mata besar mendesak memasuki vaginaku. Kutahan nafasku sambil menggigit bibir, proses penetrasi itu kuresapi dalam-dalam. Setelah masuk sebagian dia menghentakkan pinggulnya sehingga penis itu menghujam sampai mentok, spontan aku pun menjerit kecil dan merapatkan pahaku.<br />
“Waaah…enak pisan, sempit oi !” katanya setelah berhasil membobol vaginaku.<br />
Tanpa buang waktu lagi dia menggenjotku, penis itu keluar-masuk vaginaku. Aku meneruskan kocokanku terhadap si gondrong dan Gungun, rasa nikmat yang menjalari tubuhku semakin membuatku bersemangat mengocok kedua penis itu. Si Acep juga makin seru mengisapi payudaraku sampai basah kuyup oleh ludahnya juga oleh ludah orang-orang yang tadi mengisapnya. Tak lama kemudian, ketika aku sedang mengulum penis Gungun, sesuatu yang basah dan hangat menerpa wajah dan leherku dari samping. Ow, ternyata si gondrong sudah keluar, kulepas sejenak penis Gungun dari mulutku, semprotan berikutnya makin membasahi wajahku begitu aku menengok menghadap todongan benda itu.</p>
<p style="text-align: justify;">“Uhh…isepin yah Neng !” lenguhnya seraya menjejali mulutku dengan penisnya.<br />
Dalam mulutku penis itu masih menyemburkan isinya dan itu kuhisapi tanpa memikirkan rasa jijik lagi walaupun baunya yang agak menyengat, mungkin karena saking terangsangnya sampai tidak sadar aku jadi seliar itu. Sampai sejauh ini ponselku yang kutaruh di meja sana sudah berdering sekali dan dua SMS sudah masuk, kubiarkan saja karena tanggung. Aku dapat merasakan penis si gondrong menyusut dalam mulutku dan pemiliknya terengah-engah.<br />
“Yee, payah lu, belum nojos udah ngecrot !” ledek Gungun pada temannya.<br />
“Enak pisan sih anjrit, sampe ga tahan !” balas si gondrong<br />
Sekarang si mata besar mengajak ganti posisi, mereka lalu membalikkan tubuhku hingga telungkup. Akhirnya ganti posisi juga pikirku, aku sudah gerah daritadi berbaring telentang sambil dikerjai mereka, punggungku panas sekali rasanya dan benar saja keringatku sudah membasahi sprei dibawahku tadi. Perutku diangkat dari belakang hingga posisiku seperti merangkak. Kutengokkan kepalaku ke belakang dan kulihat si mata besar kembali memasukkan penisnya ke vaginaku.</p>
<p style="text-align: justify;">Tusukan-tusukan kembali kurasakan, kali ini lebih cepat dan dalam. Di depanku si Acep berlutut minta giliran merasakan mulutku. Akupun membuka mulut mempersilakan batang itu memasukinya. Kuemut benda itu tanpa menghiraukan lagi baunya, tidak terlalu besar tapi cukup keras, namanya juga barang ABG. Aku melirik ke atas melihat anak itu merem-melek menikmati kulumanku, lucu juga reaksinya yang amatiran itu.<br />
“Gimana Cep, asyik ga diemot kontolnya ?”<br />
“Si Acep udah gede euy !”<br />
Celoteh-celoteh yang ditujukan pada si Acep itulah yang sempat kudengar waktu itu. Sambil terus mengoral Acep, akupun selalu menggoyang pantatku mengikuti genjotan si mata besar, terus terang rasanya enak sekali seperti diaduk-aduk. Payudaraku yang menggelayut sedang dipegang-pegang si gondrong yang sedang mengistirahatkan penisnya. Tangan kananku menggenggam penis si Gungun dan mengocoknya pelan.<br />
“Pelan-pelan aja kocoknya Neng, ga pengen cepet-cepet ngecrot sih !” demikian katanya.<br />
Sibuk sekali aku jadinya dan udara sekitarku serasa makin panas karena dikerubuti empat orang ini, mana badannya lumayan bau lagi. Hanya birahi yang meninggilah yang mengalihkanku dari semua itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Sekitar lima belas menit menggenjotku, si mata besar sepertinya mau keluar, kelihatan dari sodokannya yang makin cepat.<br />
“Annjjiiinngg…aaahhh !” lenguhnya panjang diiringi semprotan spermanya di dalam vaginaku yang tak bisa kutolak.<br />
Sialan juga nih orang pikirku, sembarangan main buang di dalam, ga minta ijin atau omong dulu kek padahal gak pake kondom, untung waktu itu aku tidak dalam masa subur, kalo iya kan amit-amit harus hamil sama orang-orang ginian. Begitu penisnya lepas, aku merasa cairan hangat meleleh membasahi paha atasku. Gungun langsung mengambil alih posisinya menusukkan penisnya padaku seolah dapat membaca apa yang ada dalam hati kecilku yang masih ingin digenjot karena belum mencapai klimaks alias tanggung. Si Acep yang masih kuoral nampaknya makin menikmati saja, tanpa sadar dia memaju-mundurkan pinggulnya seakan sedang menyetubuhi mulutku. Dia mengeluarkan spermanya dalam mulutku saat Gungun menggenjotku dengan ganasnya sehingga aku tidak bisa konsentrasi mengisap penis itu, maka cairan itupun meleleh sebagian di pinggir bibirku.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah Acep melepas penisnya yang telah kubersihkan dari mulutku, lengan Gungun mengangkat dadaku sehingga kini aku berlutut, Gungun tidak berhenti menggenjotku sambil menopang tubuhku dengan lengannya yang melingkari perutku. Si mata besar sambil mengistirahatkan senjatanya menggerayangi payudaraku yang membusung dalam posisi itu. Si gondrong memintaku kembali mengoral penisnya yang sudah mulai bangkit lagi, sepertinya dia suka dengan pelayanan mulutku. Kugenggam penisnya yang disodorkan padaku, ih…masih lengket-lengket bekas spermanya tadi, sedikit jijik aku dibuatnya namun juga tak kuasa menolaknya. Serta merta kumasukkan benda itu kemulutku, kujilati sisa-sisa spermanya hingga bersih. Di dalam mulutku benda itu semakin mengeras dan bergetar.<br />
“Pelan-pelan aja Neng, buat persiapan ngejos di bawah nanti !” katanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Tak lama kemudian tubuhku kembali mengejang, seperti ada yang mau meledak di bawah sana. Aku melepas kulumanku untuk melepaskan desahan yang tak bisa kutahan lagi, lendirku pun kembali keluar bersamaan dengan tubuhku. Orgasme kali ini terasa lebih panjang, Gungun masih menggenjot sampai 2-3 menit kemudian hingga akhirnya diapun menghujam penisnya lebih dalam dan mempererat pelukannya. Dia menggeram dan memuntahkan spermanya ke dalam vaginaku, hangat kurasakan di dalam sana. Kami break sebentar sekitar lima menitan. Saat itu Gungun dan Acep memperkenalkan dua orang itu kepadaku, yang gondrong namanya Amad dan yang matanya melotot itu namanya Ifud, memang benar keduanya adalah teman mereka yang tinggal di pemukiman penduduk tak jauh dari sini.</p>
<p style="text-align: justify;">Gungun juga bercerita bagaimana mereka bisa masuk sini. Ternyata mereka iseng mengintipku waktu keluar dari kamar mandi tanpa busana tadi lewat lubang angin diatas pintu kamarku dengan memakai bangku tinggi. Tadinya sih hanya sekedar mau ngintip, tapi tak lama kemudian waktu Amad dan Ifud mau pulang mereka ingin ngintip yang terakhir kali dan menemukanku telah terlelap hanya dengan memakai celana dalam dan selimut yang tersingkap. Situasi kost yang sedang sepi dan nafsu setan mendorong mereka berencana memperkosaku. Maka setelah yakin aku benar-benar tidur, Gungun mencongkel kaca nako yang tepat di sebelah pintu lalu meraih grendel sehingga mereka bisa masuk dan terjadilah seperti ini. Aku sebenarnya marah mendengar semua itu, lancang sekali mereka berbuat begitu, ini kan pemerkosaan namanya, tapi mau marah gimana juga toh aku menikmatinya, salahku juga berpakaian mencolok di depan mereka. Aku menatapi mereka satu-persatu yang memandangi tubuh telanjangku dengan tatapan kesal sekaligus berhasrat. Tidak tau mau omong apa deh, soalnya perasaanku benar-benar campur aduk sih.</p>
<p style="text-align: justify;">“Bentar yah, mau cuci muka dulu” kataku sambil bangkit dan melangkahkan kakiku dengan gontai ke kamar mandi.<br />
Di sana aku mencuci mukaku dari cipratan sperma agar aroma yang menyengat itu hilang. Keluar dari kamar mandi, kembali aku duduk di kasur dikelilingi mereka. Sudah tanggung untuk dihentikan, jadi kuikuti saja deh permainan mereka. Kali ini si Acep yang masih hijau itu minta diajari cipokan.<br />
“Boleh yah Neng, soalnya saya pengen ngerasain dicium cewek itu kayak apa sih, apalagi cewek cakep kaya Neng” pintanya, mukaku memerah karena malu dan juga tersanjung akan pujiannya.<br />
“Cium-cium-cium !” teman-temannya yang lain menyorakinya<br />
“Sssttt…jangan keras-keras dong, ada yang tau gimana !” kataku memperingatkan sehingga mereka mengurangi volumenya.<br />
Aku memejamkan mataku seperti kebiasaanku berciuman menunggu Acep menciumku, pertama-tama aku merasa bahuku dipegang lalu menempellah bibirnya dengan bibirku. Teknik ciumannya benar-benar amatiran, kaku dan membosankansekali, sehingga aku yang berinisiatif memainkan lidahku baru dia mulai bisa membalasnya, aku melingkarkan tangan memeluknya dan percumbuan kami makin panas.</p>
<p style="text-align: justify;">Selama percumbuan itu juga aku merasakan tangan-tangan lain berkeliaran di sekujur tubuhku, mengelusi punggung, paha, payudara, dll. Tidak jelas siapa yang melakukan karena aku memejamkan mata, yang jelas darahku mulai bergolak lagi karena belaian ditambah kometar-komentar jorok mereka. Ada seseorang memelukku dari belakang dan menjilati leherku, oohh&#8230;benar-benar sensasional, demikian rasanya pertama kali dikeroyok. Lama juga aku berciuman sambil digerayangi, nafasku sampai naik-turun ga karuan karenanya. Setelah itu si Amad gondrong meminta jatahnya, dia berbaring telentang dan menyuruhku membenamkan penisnya pada vaginaku. Akupun naik ke atas penisnya, benda itu kugenggam dan kueluskan pada kemaluanku dulu supaya nafsu si Amad mendidih. Kemudian baru aku mulai menjebloskannya perlahan-lahan.<br />
“Ahhh&#8230;eeegghh !” desahku saat memasukkan penis itu, aku memejamkan mata dengan bibir membuka.<br />
Setelah terasa mentok, akupun perlahan menaik-turunkan tubuhku. Amad juga mendesah kenikmatan karena penisnya dihimpit dinding vaginaku.</p>
<p style="text-align: justify;">Gerak naik-turunku semakin cepat sehingga payudaraku ikut bergoncang-goncang. Dengan aku yang memegang kendali, si Amad kelihatan kelabakan, dia mendesah-desah gak karuan. Kelihatan sekali pengalaman seksnya masih dibawahku. Dia julurkan tangannya meraih payudara kiriku, sepertinya dia gemas melihat payudaraku yang juga naik-turun itu. Dua orang lainnya duduk menonton liveshow kami, Gungun sebelumnya telah turun ke bawah untuk memeriksa keadaan dan berjaga-jaga di pos jaga dekat gerbang. Tak lama kemudian si Ifud mendekatiku dan berdiri di sebelah menyodorkan penisnya yang langsung kugenggam. Jadilah aku bergaya woman on top sambil mengocoki penis Ifud. Amad, ternyata tidaklah setangguh yang kukira, tampang boleh sangar kaya preman, tapi dia orgasme dalam waktu yang relatif singkat, isi penisnya tertumpah dalam vaginaku. Aku paling senang ML di saat safe seperti ini, bebas dari rasa was-was walau pasanganku buang di dalam. Tanpa malu-malu lagi, kupanggil si Acep agar menuntaskan birahiku. Aku duduk di kasur membuka kedua pahaku seakan mempersilakan anak itu menusuknya, aku harus membimbing penisnya memasuki vaginaku karena ini pertama kalinya bagi dia.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah kepalanya menekan bibir vaginaku, kusuruh dia mendorong pantatnya.<br />
“Ohhh&#8230;yess !” desahku ketika penis perjaka itu menghujam ke dalam.<br />
Selanjutnya yang kurasakan adalah gesekan-gesekan antara penisnya dengan dinding kemaluanku. Acep pun semakin menikmati persetubuhan pertamanya itu dengan makin cepat menusuk-nusukkan penisnya hingga akhirnya kitapun orgasme bersama atas bimbinganku tentang mengatur tempo genjotan. Sisa waktu sekitar sejam lebih kedepan aku terus disetubuhi mereka baik secara bergilir maupun barengan. Hingga akhirnya kami semua pun kelelahan bersimbah peluh. Wajahku sekali lagi belepotan sperma karena salah seorang membuangnya di sana ketika orgasme. Sejak itu mereka sering memintaku melakukan hal yang sama lagi, terutama Acep dan Gungun. Terkadang memintanya agak memaksa pula. Memang sih awal-awalnya aku cukup menikmati, tapi lama-lama kesal juga karena mereka makin gak tau diri, misalnya pernah satu malam Gungun mengetuk pintu minta jatah lagi, sehingga mengganggu tidurku.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku sampai pernah marah dan mengancam akan melapor ke pemilik kost sehingga mereka agak ngeper, terutama setelah Gungun keceplosan ngomong tentang itu ke pamannya yang menengoknya dari kampung, sehingga pria paruh baya itu juga sempat minta jatah padaku (kalau sempat akan kuceritakan juga). Aku tidak ingin hal ini tercium kemana-mana, apalagi sampai ‘kecelakaan’ gara-gara mereka, maka kuputuskan setelah sewaku habis bulan itu, aku pindah ke kost lain yang agak jauh dari tempat itu hingga saat ini. Terkadang terbesit di benakku ingin mengulangi lagi keroyokan seperti itu, tapi ah&#8230;tidaklah, terlalu berisiko tinggi terhadap imej dan kesehatan nantinya. Bulan September lalu aku sempat bertemu lagi dengan si Gungun ketika sedang berjalan di dekat kost lamaku itu, kelihatannya di baru dari membeli sesuatu.<br />
“Neng, udah lama yah !” sapanya sambil senyum cengengesan.<br />
Aku membalas dengan senyum kecil saja sambil terus melangkah agak jutek.<br />
“Siapa tuh Na ? masa lu kenal sama yang gituan ?” tanya seorang temanku yang jalan bareng.<br />
“Ohh, itu cuma babu di kost lama gua, masih inget gua juga dia yah” jawabku santai.<br />
“Naksir ke lu kali” timpal temanku yang lain disusul tawa kami.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ceritasex.cn/di-balik-kamar-kost/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Gadis Cantik Bermata Sipit</title>
		<link>http://www.ceritasex.cn/gadis-cantik-bermata-sipit/</link>
		<comments>http://www.ceritasex.cn/gadis-cantik-bermata-sipit/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 02 Jan 2010 05:39:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cerita Sex</dc:creator>
				<category><![CDATA[Seks Umum]]></category>
		<category><![CDATA[selingkuh]]></category>
		<category><![CDATA[amoy]]></category>
		<category><![CDATA[birahi]]></category>
		<category><![CDATA[cina]]></category>
		<category><![CDATA[mesum]]></category>
		<category><![CDATA[nafsu]]></category>
		<category><![CDATA[ngentot]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ceritasex.cn/?p=1168</guid>
		<description><![CDATA[Tiga bulan pertama ada temanku yang baru dimutasi di kantor, mulanya biasa-biasa saja. Namanya Ahung, ciri-ciri orangnya adalah wanita keturunan, mata sipit, tinggi kurang lebih 167 cm, berat 50 kg, bibir sensual, ramah, murah senyum, senang memakai rok mini dan sepatu hak tinggi, kulit bersih, rambut sebahu dan wajah tidak kalah dengan Titi Dj. Aku [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Tiga bulan pertama ada temanku yang baru dimutasi di kantor, mulanya biasa-biasa saja. Namanya Ahung, ciri-ciri orangnya adalah wanita keturunan, mata sipit, tinggi kurang lebih 167 cm, berat 50 kg, bibir sensual, ramah, murah senyum, senang memakai rok mini dan sepatu hak tinggi, kulit bersih, rambut sebahu dan wajah tidak kalah dengan Titi Dj. Aku biasa pergi makan siang bersama manajernya yang juga rekan sekerjaku. Kebetulan sang manager juga seorang wanita dimana dalam perusahaan tempat aku bekerja adalah fifty-fifty antara pribumi dan keturunan.</p>
<p style="text-align: justify;">Ketika makan siang bersama (saat itu kira-kira 6 orang) dengan kendaraanku menuju salah satu rumah makan di daerah Sabang. Saat memilih meja, aku langsung menuju meja tapi aku agak terburu-buru atau si Ahung yang terburu-buru sehingga terjadi tabrakan tanpa sengaja antara aku dan Ahung. Hidungnya yang tidak begitu mancung menempel pada hidungku yang mancung sekali. Tubuhnya tinggi bila dibanding wanita biasa kira-kira 170 cm plus sepatu, soalnya tubuhku juga sekitar itu, secara reflek aku memeluknya karena takut terjatuh. Dalam dekapanku terasa harum parfum mahal yang membuat darahku berdesir mengalirkan hawa nafsu hingga ke ubun-ubun.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah makan siang kamipun kembali ke kantor dengan tidak membawa hubungan serius setelah kecelakaan tadi. Kira-kira setengah jam akan berakhir jam kantor aku hubungi dia lewat telepon untuk mengajak nonton dan kebetulan filmnya bagus sekali. Eh, ternyata dia setuju kalau nontonnya hanya berdua saja.</p>
<p style="text-align: justify;">Selama dalam perjalanan dari kantor ke tempat tujuan kami ngobrol ngalor-ngidul tidak karuan sambil tertawa dan kutanya apakah dia sudah punya pacar? dijawab baru putus tiga bulan yang lalu, makanya dia memutuskan untuk mutasi ke tempatku sambil mengepulkan asap rokoknya. Kupikir dia ini sedang labil dan kebetulan sekali aku mau mendekatinya, kuparkir kendaraanku di halaman pelataran parkir Jakarta Theatre.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah membeli karcis dan makanan kecil kami masuk ke dalam gedung yang masih sepi. Aku mengambil posisi di tengah dan kebetulan boleh memilih tempat. Sesaat filmpun dimulai, tanganku mulai menyentuh tangannya. Dia masih membiarkan, mulailah pikiran kotorku, kuremas secara halus, dia hanya membalas dengan halus. Kudekatkan wajahku ke telinganya, nafasku mulai masuk melalui lubang telinganya yang sedikit terhalang oleh rambutnya yang harum.</p>
<p style="text-align: justify;">Kuberanikan untuk mencium leher, dia hanya mendesah, &#8220;aahh.&#8221;, kuarahkan ke pipi lalu ke mulutnya. Pertama kali dia menutup mulutnya, tetapi tidak kuasa untuk membukanya juga karena aku terus menempelkan mulutku pada bibirnya. Tanganku tetap meremas jemari tangannya lalu pindah ke leher dan sebelah lagi ke pinggang. Lama-kelamaan naik ke buah dada yang masih terbungkus oleh pakaian seragam kantor. Lidahku mulai memainkan lidahnya begitu pula sebaliknya. Kuperhatikan matanya mulai terpejam, jemarinya mulai agak kuat meremas tubuhku. Kami tidak memperhatikan lagi film yang sedang diputar, kami sedang asyik melakukan adegan sendiri.<br />
<span id="more-1168"></span><br />
Aku raba kebagian paha tetapi terhalang oleh stokingnya yang panjang sampai perut, sudah tidak sabar aku untuk meraba kemaluannya. Dia menarik tanganku agar jangan meraba barangnya, kuraba terus akhirnya dia mengalah, kubisikkan untuk melepaskan stockingnya. Kami lepas semua permainan sejenak, hanya untuk melepas stocking yang dia pakai. Setelah itu kembali lagi ke permainan semula, kurogoh dengan tanganku yang kekar dan berbulu selangkangannya yang masih terbungkus dengan CD-nya, tanganku mulai ke pinggulnya. Eh., ternyata dia memakai CD yang diikat di samping. Kubuka secara perlahan agar memudahkan untuk melanjutkan ke vaginanya, yang terdengar hanya suara nafas kami berdua. Sampailah aku ke permukaan pusar lalu turun ke bawah. Betapa kagetnya aku saat meraba-raba, ternyata bulunya hanya sedikit. Kulepas mulutku dari mulutnya dan bertanya padanya, &#8220;Hung., bulunya dicukur ya&#8221;, bukan jawaban yang aku terima tetapi tamparan kecil mendarat di pipiku, &#8220;plak..&#8221;. Kulanjutkan lagi sampai akhirnya film sudah akan selesai.</p>
<p style="text-align: justify;">Kubisikkan lagi, &#8220;Saya ikatkan lagi ya Hung&#8221;, tidak dijawab, lalu kuikatkan kembali. Filmpun berakhir kita semua bubar dan kamipun keluar dari gedung bioskop. Melangkah di anak tangga ke tujuh dia menarikku lalu membisikkan, &#8220;Bud., talinya lepas&#8221;, buru-buru aku pepet samping kiri pinggulnya agar orang tidak menyangka, turun lagi ke anak tangga kesembilan, eh dia membisikkan lagi, &#8220;Bud satunya juga, kamu sih ngikatnya nggak kencang&#8221;. &#8220;Sorry dech&#8221;, kataku. Akhirnya dia menuruni tangga dengan merapatkan kaki dan memegang samping kiri karena roknya mau terlepas, cepat-cepat aku mengambil mobil sementara dia berdiri menunggu. &#8220;Sampai juga akhirnya.&#8221;, kita berdua hanya cekikikan saja.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Mau kemana lagi kita sekarang&#8221;, kataku.<br />
&#8220;Terserah aja soalnya mau pulang males, lagi ribut sama Mama&#8221;<br />
Lalu kupercepat laju kendaraanku menuju Pondok Tirta di Halim, langsung masuk ke kamar, ngoborol-ngobrol sebentar. Kemudian aku ke kamar mandi untuk memasang kondom dan kembali lagi terus kuciumi dia sampai tidak bisa bernafas. &#8220;Eeeggh&#8221;, sambil mencabut mulutnya, mulailah aku menciumnya secara perlahan sambil membuka baju dan BH-nya. Payudaranya tidak terlalu besar dan tidak terlalu kecil, tetapi putingnya masuk ke dalam. Kuciumi payudaranya.<br />
&#8220;Ssshh&#8221;, sambil menjambak rambutku. Kumainkan lidahku di putingnya, sementara yang satu lagi mencari putingya yang bebas. Kuturunkan roknya lalu celana dalamnya dan kubaringkan ke tempat tidur sambil terus memainkan puting susunya dengan mulutku. Dan ternyata bulu vaginanya hanya sedikit dan halus. Kubelai-belai meski hanya sedikit. Lalu kumainkan clitorisnya yang sudah basah. Dia agak kaget. Kuperhalus lagi permainkanku. Mau kumasukan jemariku ke vaginanya tapi, &#8220;aauu, sakit Bud&#8221;, lho anak ini masih perawan rupanya, pikirku.</p>
<p style="text-align: justify;">Kujilati terus puting susunya sambil kubuka seluruh pakaianku. Kini tampaklah dua insan manusia tanpa benang sehelaipun. Dia memperhatikan penisku sejenak, lalu tertawa.<br />
&#8220;Kenapa&#8221;, kataku.<br />
&#8220;Kayak penjahat yang di film-film&#8221;, katanya.<br />
Lalu pelan-pelan kugeser pahanya agar merenggang dan kuatur posisi untuk siap menerobos lubang vaginanya. &#8220;Eeeggh&#8230;, egghh&#8221;, belum bisa juga. Dua kali baru kepalanya saja yang masuk. Aku tidak kehilangan akal. Kujilat terus puting susunya dan secara perlahan kutekan pantatku agar masuk seluruh penisku, dan &#8220;bleess&#8221;, barulah masuk seluruhnya penisku ke dalam vaginanya, lalu mulai kuayunkan secara perlahan, makin lama makin cepat ayunan pantatku dan kurasakan seluruh persendianku mau copot.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Ssshh&#8230;, oooh my God&#8221;, katanya aku setop permainan sementara karena aku mau keluar jadi kuhentikan sesaat. Eh, dia malah membalikkan tubuhku, kuatur posisi penisku agar tepat di lubang vaginanya, dan &#8220;Bleeess&#8221;, masuk lagi penisku dalam lumatan vaginanya yang masih kencang. Dia menaik-turunkan badannya. &#8220;Ssshh&#8230;, sshh&#8230;, aahh&#8221;, mulutku disumpalnya dengan susunya dan putingnya yang sudah menegang sempurna.</p>
<p style="text-align: justify;">Lima menit kemudian dia menjambak rambutku dan mejatuhkan tubuhnya ke tubuhku.<br />
&#8220;Bud&#8230;, aakkh&#8230;, Bud&#8230;, ssshh&#8221;, rupanya dia mencapai klimaks dan aku merasakan kejutan dari lubang vaginanya. Air maniku menyemprot ke dalam liang vaginanya kira-kira empat atau lima kali semprotan.</p>
<p style="text-align: justify;">Akhirnya kami berdua lemas dan bermandikan keringat. Sesaat tubuhnya masih menindih tubuhku dan kurasakan air maniku mulai mengalir dari lubang vaginanya menuju keluar melalui batang penisku. Kuciumi dia dengan mesra, dia menggeser ke kasur, kuambil sebatang rokok untuk kuhisap. Ternyata dia juga menghisapnya sambil memijat-mijat penisku.<br />
&#8220;Jangan di kepalanya&#8221;, kataku.<br />
&#8220;Emangnya kenapa?&#8221;, katanya.<br />
&#8220;Ngilu.., tau nggak&#8221;.<br />
Kutanya secara perlahan, &#8220;Hung&#8230;&#8221;.<br />
&#8220;hhmm&#8221;, katanya.<br />
&#8220;Cowok kamu dulu suka begini nggak..&#8221;.<br />
&#8220;Nggak berani&#8221;, katanya.<br />
&#8220;Jadi ini yang pertama&#8221;, aku bilang, dia hanya mengangguk.<br />
Aku tidak memperhatikan kalau di penisku itu ada tetesan darah dari vaginanya. Dia berjalan menuju kamar mandi, lalu berteriak kecil, &#8220;aauuuu&#8230;&#8221;.<br />
&#8220;Kenapa..&#8221;, kataku.<br />
&#8220;Kencingnya sakit&#8221;, katanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Kemudian kami mandi berdua, tanpa terasa sudah jam delapan tiga puluh malam, kami memesan makan malam dan disantap tanpa busana. Setelah santap malam kujilati lagi puting susunya sampai menegang kembali. Tapi saat aku meminta untuk mengulum penisku dia hanya menggeleng. Kuraba vaginanya yang mulai basah lagi. Kubalikkan dia, kuarahkan penisku ke liang vaginanya dari belakang. &#8220;aauu&#8221;, katanya kaget. Lalu dia memintaku berbalik dengan posisi telentang sedang dia mulai menaiki tubuhku sambil susunya disodorkan untuk dilumat lagi. Kuarahkan lagi tanpa melihat di mana posisi lubangnya dan &#8220;Bless&#8221;, dia mulai mengayunkan tubuhnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Lima menit kemudian tubuhnya kembali mengejang dan, &#8220;Aahh&#8230;, Bud&#8221;, sambil merapatkan tubuhnya ke tubuhku. Kini giliranku yang tidak bisa bernafas karena tertutup rambut. Kuhentakkan pantatku kuat-kuat dan kuayunkan pantatku dan, air maniki keluar untuk yang kedua kalinya. Kami istirahat sejenak lalu mandi air hangat lagi dan kutengok jam tanganku sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Lalu kuantarkan dia pulang ke rumahnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Keesokan harinya kami bekerja seperti biasanya antara atasan dan bawahan tetapi dia menghubungiku. &#8220;Bud&#8230;, masih sakit kalau pipis, tuh sampai tadi pagi juga sakit&#8221;. Aku bilang nggak apa-apa. tapi nikmat kan? Mau nambah, dia bilang nanti.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ceritasex.cn/gadis-cantik-bermata-sipit/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Cerita Dewi &#8211; Andi, Anak Buah Suaminya</title>
		<link>http://www.ceritasex.cn/cerita-dewi-andi-anak-buah-suaminya/</link>
		<comments>http://www.ceritasex.cn/cerita-dewi-andi-anak-buah-suaminya/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 31 Oct 2009 03:41:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cerita Sex</dc:creator>
				<category><![CDATA[Paruh baya]]></category>
		<category><![CDATA[selingkuh]]></category>
		<category><![CDATA[cuki]]></category>
		<category><![CDATA[dewi]]></category>
		<category><![CDATA[mesum]]></category>
		<category><![CDATA[ngentot]]></category>
		<category><![CDATA[seksi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ceritasex.cn/?p=1025</guid>
		<description><![CDATA[Malam itu Dewi terlihat sedang menonton TV diruangan keluarga dengan hanya mengenakan daster warna putih berbahan satin, Dewi terlihat cantik dan sexy mengenakan daster itu, belahan payudaranya yang putih dan mulus terlihat jelas sekali karena daster satu talinya itu berbentuk V, sementara dibalik dasternya Dewi tidak mengenakan BH dan CD, kedua putingnya yang berwana merah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Malam itu Dewi terlihat sedang menonton TV diruangan keluarga dengan hanya mengenakan daster warna putih berbahan satin, Dewi terlihat cantik dan sexy mengenakan daster itu, belahan payudaranya yang putih dan mulus terlihat jelas sekali karena daster satu talinya itu berbentuk V, sementara dibalik dasternya Dewi tidak mengenakan BH dan CD, kedua putingnya yang berwana merah mudapun terlihat menonjol di dasternya itu sementara bayangan hitam yang tipis diselangkangannya terbayang dengan jelas.</p>
<p style="text-align: justify;">Dewi memang masih muda umurnya sekarang ini baru 30tahun, dia menikah dengan suaminya pada saat ia berumur 20, sementara suaminya seorang duda beranak satu berumur 40tahun. Anak tirinya Doni sekarang ini berumur 18tahun. Sampai saat ini Dewi belum dapat memberikan keturunan kepada suaminya, mungkin ini yang membuat tubuh Dewi tetap sexy terutama kedua buah payudaranya yang masih kencang.</p>
<p style="text-align: justify;">Hari ini suaminya memang pulang terlambat karena harus menjamu tamunya dan Doni sendiri menginap dirumah temannya, saat ini Dewi sendirian dirumah.</p>
<p style="text-align: justify;">Malam semakin larut, hawa dingin karena hujan dan kesepian tanpa ada yang menemani ngobrol membuat Dewi mulai mengantuk, tanpa terasa Dewi mulai tertidur diatas sofa.</p>
<p style="text-align: justify;">Jam didinding mulai menunjukkan tepat jam 1, sementara Dewi yang terlelap dalam tidurnya tidak menyadari daster yang menutupi tubuhnya sudah tidak menutupi tubuhnya secara sempurna, tali dasternya sudah tidak dipundaknya melainkan sudah berada ditangannya, ini membuat kedua payudaranya terlihat dengan jelas, sementara dibagian bawah sudah terangkat sehingga lembah kenikmatannya yang tertutupi oleh rambut hitampun terlihat dengan jelas.</p>
<p style="text-align: justify;">Saat itu diluar Nampak sebuah mobil memasuki pekarangan rumah Dewi, dari dalam mobil turun seorang pemuda berbadan atletis, pemuda ini kemudian membuka pintu belakang mobil, si pemudapun terlihat memasukkan setengah badannya kedalam mobil, selang tak lama si pemuda dengan agak setengah menyeret membantu keluar seorang pria setengah baya dalam kondisi mabuk sekali, setelah pria setengah baya itu berada diluar mobil, pemuda itu mulai memapah pria tersebut kearah pintu rumah Dewi sambil tak lupa menutup pintu mobil dan menguncinya.</p>
<p style="text-align: justify;">Sampai didepan pintu, pemuda itu mengeluarkan kunci pintu dan membuka pintu itu sambil tetap memapah pria tersebut, sesampainya didalam pemuda itu tak lupa menutup pintu rumah dan menguncinya kembali, kemudian pemuda itu memapah pria tersebut menuju kamar tidur, saat berjalan menuju kamar tidur pemuda itu menghentikan langkahnya diruangan keluarga, matanya terbelalak melihat pemandangan yang membangkitkan birahi, dia melihat kedua payudara Dewi yang putih dan mulus juga lembah kenikmatannya yang tertutupi oleh rambut hitam, melihat itu semua sipemudapun menelan air liurnya berkali-kali sementara, bagian bawah tubuhnya perlahan-lahan mulai begrerak.<br />
<span id="more-1025"></span><br />
Tanpa membuang waktu lagi pemuda itu dengan cepat memapah tubuh bossnya yang mabuk berat kearah kamar tidur, yang memang tidak terlalu berjauhan dengan ruang keluarga, setelah merabhkan tubuh bossnya dan membuka sepatunya, pemuda itu keluar dari ruang tidur dan menutup pintunya, kemudian dia kembali menuju keruangan keluarga dimana Dewi masih terlelap dalam tidurnya, sesampainya didepan Dewi tanpa membuang waktu lagi pemuda itu mulai melepaskan baju, sepatu, celana dan celana dalamnya, sehingga tubuh atletisnya tidak mengenakan sehelai benangpun. Tampak kontol pemuda itu sudah berdiri dengan tegak sekali.
</p>
<p style="text-align: justify;">Perlahan-lahan pemuda itu mulai duduk disamping Dewi, kedua tangannya mulai meremas-remas kedua payudara Dewi, dengan penuh nafsu pemuda itu mulai menjilati putting susu Dewi dan kadang-kadang ditimpali dengan hisapan-hisapan, mulut bekerja tanganpun tidak mau ketinggalan, tangan yang satu meremas-remas payudara Dewi, dan yang satunya mulai mengelus-elus lembah kenikmatan Dewi, saat tangannya mulai menyentuh vagina Dewi, dia merasakan Vagina Dewi sudah basah, nampaknya Dewi sedang bermimpi dientot, kemudian pemuda itu mulai memasukkan jari tengahnya kedalam lubang Dewi yang sudah basah itu, dengan gerakan perlahan-lahan dikeluar masukkan jarinya itu dimemek Dewi. Seluruh aksinya itu membuat Dewi mulai mendesah keenakan, entah karena akibat aksi sipemuda atau karena dia sedang menikmati mimpinya.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah merasakan memek Dewi semakin basah pemuda itu kemudian mengeluarkan jari tangannya, lalu ia mulai mengangkangkan kedua kaki Dewi dan mengarahkan kontolnya kememek Dewi, dengan perlahan-lahan sipemuda mulai mendesakkan kontolnya kelubang memek Dewi, sipemuda tidak mau terburu-buru memasukkan kontolnya dia takut Dewi terbangun, perlahan-lahan batang kontol sipemuda mulai masuk kedalam lubang memek Dewi, ia merasakan memek Dewi sangat sempit sekali, nampaknya memek Dewi jarang dipakai atau kemaluan suaminya kecil sehingga lubang memek Dewi masih sempit, sedikit demi sedikit kontolnya mulai terbenam dilubang memek Dewi, dengan gerakan perlahan sipemuda mulai menurunkan tubuhnya sehingga posisinya mulai menindih tubuh Dewi dan kedua tangannya mulai diselipkan ketubuh Dewi.</p>
<p style="text-align: justify;">Sambil memeluk tubuh Dewi dengan cukup erat dan bibirnya mulai mengulum bibir Dewi, sipemuda membenamkan kontolnya dalam-dalam kedalam lubang memek Dewi, akibat gerakan itu Dewi tersentak dan terbangun dari tidurnya, matanya terbelalak saat melihat wajah sipemuda, tapi Dewi tidak bisa berteriak karena mulutnya sedang dilumat oleh sipemuda, Dewi merasakan bukan hanya mulutnya saja yand sedang dilumat tapi memeknya pun sedang disumpal oleh kontol sipemuda ini, dan Dewi mulai merasakan sipemuda menggerakkan kontolnya dilubang memeknya.</p>
<p style="text-align: justify;">Bless…sleep…bleess…sleppp…bleess….sleeeppp..</p>
<p style="text-align: justify;">Terlihat Mata Dewi yang tadinya terbelalak karena kaget perlahan-lahan mulai meredup sayu, nampaknya Dewi mulai merasakan kenikmatan dientot oleh sipemuda, Dewi mengenali sipemuda sebagai Andi salah seorang bawahan suaminya, yang dia tidak mengerti bagaimana Andi bisa masuk kedalam rumahnya dan bagaimana Andi bisa dengan bebasnya memasukkan kontolnya kedalam lubang memeknya, tetapi Dewi tidak mau berpikir banyak tentang hal itu yang ada dalam benaknya sekarang ini adalah menikmati sodokan kontol Andi.</p>
<p style="text-align: justify;">“hmmhh….hhhmmmhhh….hhmmmhhhh” terdengar desahan dari mulut Dewi yang masih dilumat oleh Andi, karena AndI takut kalau ia lepaskan lumatannya Dewi akan berteriak.</p>
<p style="text-align: justify;">Mata Dewi mulai merem melek menikmati sodokan-sodokan kontol Andi yang besar kalau dibandingkan dengan suaminya, melihat Dewi mulai menikmati entotannya Andi mulai berani melepaskan lumatan dibibir Dewi dan mulai menjilati leher dan telinga Dewi, aksinya ini semakin membuat desahan-desahan Dewi semakin menjadi.</p>
<p style="text-align: justify;">“Ouuhhh……ssshhhhh…..aaahhhhh….Annddiiii…..kon toool llmuuuu…eenaakk sekali dan besar sshhhh…aaahhhh…” Dewi mendesah kenikmatan menikmati entotan Andi.</p>
<p style="text-align: justify;">“Hmmhhhh…..slrrppp…..hmmmm….memek ibu juga eenaaakkk…oohhhh….sslrrpppp….seempiitt sekali … ooohhhh….slllrrpppp…..” Andi melenguh keenakan merasakan memek Dewi yang masih sempit sambil tetap menghisap-hisap payudara Dewi.</p>
<p style="text-align: justify;">Dewi merasakan kenikmatan duniawi yang belum pernah ia alami sebelumnya, selama pernikahannya dengan suaminya belum pernah dia merasakan nikmatnya dientot, selama ini suaminya selalu mencapai kepuasan terlebih dahulu, sementara ia sendiri belum mencapai kepuasan, jangankan untuk mencapai klimaks, untuk merasakan keenakan saja Dewi belum pernah merasakannya, berbeda dengan saat ini saat memeknya disodok-sodok oleh kontol Andi yang memang dalam ukuran saja lebih besar dan lebih panjang dari punya suaminya, apalagi Andi masih muda.</p>
<p style="text-align: justify;">Kedua insan ini sudah tidak ingat apa-apa lagi selain menikmati persetubuhan mereka yang semakin menggila, Andi semakin cepat mengeluar masukkan kontolnya didalam lubang memek Dewi yang semakin basah, sementara Dewi sendiri dengan semangat 45 menggoyangkan pantatnya mengimbangi gerakan Andi, keringat sudah mengalir dari kedua tubuh mereka.</p>
<p style="text-align: justify;">“Ouughhh … Andi ….teruussss….ooughhh… enaaakkkk….sekaalliii….oughhhh….tekaaaann yang dalam, Oughhh….puaskaannn…akuuuu…..yaaahhh,…aaaahhhh”. Lenguhan Dewi semakin menjadi.</p>
<p style="text-align: justify;">Andi mengikuti kemauan Dewi dengan menekan lebih dalam kontolnya dilubang memek Dewi, ia merasakan ujung kepala kontolnya menyentuh bagian paling dalam memek Dewi.</p>
<p style="text-align: justify;">“Aaagghhh…akuuu..sudah tidak tahan laaagiiii…ouugghhhh…Anddiiiiii……aku mau keluar…ough enaaaaakkkk sekali kontollmuuuu…..aaaagghhhhhh…..Andi ….akuuu…keluaaarrrrr……… aaaaghhhhhhh.” Dewi mengerang.</p>
<p style="text-align: justify;">Srrr…..cccreeet….ssssrrrrr…….. akhirnya Dewi mencapai puncak kenikmatannya, tubuhnya mengejang saat ia mencapai kepuasannya, vaginanya berdenyut-denyut saat mengeluarkan lahar kenikmatannya, Andi sendiri merasakan vagina Dewi seperti meremas-remas kontolnya, Andipun lalu menekan lebih dalam kontolnya dan membiarkan kontolnya terbenam sebentar didalam lubang memek Dewi.</p>
<p style="text-align: justify;">Dewi memeluk erat-erat Andi, sementara kakinya ia kaitkan dengan erat dibelakang pinggul Andi, sehingga kontolnya Andi semakin terbenam dimemeknya, beberapa saat kemudian Dewi melepaskan pelukan dan kaitan kakinya ditubuh Andi, sementara diwajahnya terpancar kepuasan.</p>
<p style="text-align: justify;">“Andi kamu betul-betul hebat, selama ini belum pernah saya mengalami nikmatnya mengentot,” Dewi berbisik ditelinga Andi.</p>
<p style="text-align: justify;">“Saya juga merasa enak kontol* ibu, memek ibu sangat sempit. “ Andi menimpali bisikan Dewi, sambil dengan perlahan-lahan mulai memaju mundurkan lagi kontolnya.</p>
<p style="text-align: justify;">“Hmmm…aahh..kamu belum keluar.” Dewi bertanya, karena ia merasakan kontol Andi masih keras. “Hmm..aku pikir kamu sudah selesai”.</p>
<p style="text-align: justify;">“Belum, ibu masih mau lagi?” tanya Andi.</p>
<p style="text-align: justify;">“Hmmm…memang kamu bisa buat aku puas lagi.” Dewi balik bertanya.</p>
<p style="text-align: justify;">“He..he..kita coba saja, apa saya bisa buat ibu puas lagi atau tidak.” Jawab Andi sambil mulai mempercepat gerakannya, sementara tangannya mulai meremas-remas kedua bukit payudara Dewi.</p>
<p style="text-align: justify;">“Kita tukar posisi, biar aku yang menggenjot kontolmu, sekarang kamu duduk.” Dewi menimpalinya, karena ia sendiri tidak mau membuang kesempatan ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Andi kemudian menarik tubuh Dewi tanpa melepaskan kontolnya dari lubang memek Dewi, dengan sedikit berputar Andipun lalu duduk disofa, sementara posisi Dewi sekarang sudah dipangkuannya, dengan posisi ini Andi lebih leluasa untuk bermain di susunya Dewi, kedua tangannya dengan penuh nafsu meremas-remas kedua bukit kembar Dewi, mulutnyapun ikutan beraksi, kedua putting susu Dewi bergiliran dijilati dan dikulum serta dihisap-hisap oleh Dewi, aksi Andi ini perlahan-lahan mulai membangkitkan kembali birahi Dewi, dengan perlahan-lahan Dewi mulai menaikturunkan pinggulnya, gesekan-gesekan kontol Andi didinding memeknya membuat birahinya kembali memuncak dengan cepat.</p>
<p style="text-align: justify;">“Ouuughhh….Andiiiii……hiisaaaapppp….tteeeteeek kku…. .ooughhhh…yyaaachhh….begitu… aaaghhhh… kontolmu enak sekaaaliii…” Dewi mengerang sambil mempercepat gerakan naik turunnya.</p>
<p style="text-align: justify;">“Klo mau keluar kamuuuuu….kkassiih…tahuuu…yaachhhh…..” Dewi berbisik di telinga Andi.</p>
<p style="text-align: justify;">“Hmmhhh…ssslllrpppp…..hhmmmmhh….ok…..aaaagghh hhh., …….” Andi menjawab sambil tetap menghisap-hisap tetek Dewi.</p>
<p style="text-align: justify;">Sleeppp…..blesss…sleeppp….bleesss….slleeepppp….ble essss….. kontol Andi terlihat keluar masuk dalam lubang memek Dewi dengan cepatnya, karena Dewi pinggul Dewi naik turun dengan cepat.</p>
<p style="text-align: justify;">Dewi betul-betul menikmati persetubuhannya ini, gerakkannya semakin cepat dan semakin tak beraturan, lenguhan-lenguhan kenikmatan mereka berduapun semakin kerap terdengar, menikmati persetubuhan ini mereka berdua lupa dengan status mereka, dalam pikiran mereka hanya satu bagaimana mencapai kepuasan persetubuhan ini.</p>
<p style="text-align: justify;">“Ouughhh…Andiiiiii……akkuuuu….mauuuuu,……keelll uuaaa rrr…lagi…oooohhhhh….aaaagghhh enaaaakkkkk sssekkaaaaallliiii…..kontolmuuuu…” Dewi mengerang saat ia merasa bahwa ia akan mencapai lagi puncak kenikmatannya.</p>
<p style="text-align: justify;">Sementara itu Andi juga merasa bahwa ia akan mencapai puncak kenikmatannya, Andipun membantu Dewi yang akan mencapai puncak kenikmatannya dengan memegang pinggul Dewi dan membantu menggerakkan pinggul Dewi naik turun dengan cepat.</p>
<p style="text-align: justify;">“Ouuughhhhh…Buuu….aaakkkuuuu jugaaa…mau kelluaaaarrr…..aaaagghhhhhh….. memek ibuuuu… enaaakkk sekaaalliiiii……ooougghhhh….buuuu…aku gak taaahhaaannn…laagi.” Andipun mengerang merasakan puncak orgasmenya yang sudah diujung kepala kontolnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Creeetttt….creeeettt….sssrrr…..ccreeettt……..</p>
<p style="text-align: justify;">kontol Andi menyemprotkan airmaninya didalam lubang memek Dewi, berbarengan dengan memek Dewi menyemprotkan lahar kenikmatannya, Dewi merasakan hangatnya sperma Andi didinding lubang memeknya, sementara Andi merasakan hangat dibatang kontolnya karena disiram oleh lahar kenikmatan Dewi.</p>
<p style="text-align: justify;">Keduanya berpelukan dengan erat menikmati saat-saat terakhir puncak kenikmatan dari persetubuhan mereka, kedua bibir mereka berpagutan dengan mesra, Dewi sendiri dengan perlahan-lahan menggoyangkan pinggulnya menikmati sisa-sisa kenikmatan dari kontol Andi.</p>
<p style="text-align: justify;">Tak lama berselang Dewi beranjak dari pangkuan Andi, dari lubang memeknya terlihat cairan putih mulai mengalir perlahan, sementara kontol Andi yang mulai mengkerut tampak mengkilat karena cairan kenikmatan Dewi, keduanya kemudian beranjak menuju kekamar mandi untuk membersihkan diri.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah membersihkan diri keduanya kembali keruangan keluarga dan mulai mengenakan pakaian mereka, lalu Andi berpamitan pulang, ditimpali oleh Dewi dengan kecupan mesra dibibirnya, dan bisikan mesra ditelinganya, “ Terimakasih yach, atas malam yang indah ini”</p>
<p style="text-align: justify;">Dibalas oleh Andi dengan senyuman dan kata-kata yang menggoda,” Kalau ibu ingin kenikmatan lagi, hubungi saya saja”</p>
<p style="text-align: justify;">Dewipun tersenyum atas godaan Andi ini,” Pasti, “</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah Andi pulang, Dewi menuju kamar tidurnya, malam ini Dewi tidur dengan lelap dimulutnya terukir senyum kepuasan.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ceritasex.cn/cerita-dewi-andi-anak-buah-suaminya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Cerita Dewi &#8211; Dokter Kandungan</title>
		<link>http://www.ceritasex.cn/cerita-dewi-dokter-kandungan/</link>
		<comments>http://www.ceritasex.cn/cerita-dewi-dokter-kandungan/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 31 Oct 2009 03:36:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cerita Sex</dc:creator>
				<category><![CDATA[Paruh baya]]></category>
		<category><![CDATA[selingkuh]]></category>
		<category><![CDATA[dewi]]></category>
		<category><![CDATA[dokter]]></category>
		<category><![CDATA[maniak seks]]></category>
		<category><![CDATA[mesum]]></category>
		<category><![CDATA[ngentot]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ceritasex.cn/?p=1022</guid>
		<description><![CDATA[Malam itu terlihat Dewi sedang berada disebuah tempat praktek Dokter Kandungan, setelah kejadian-kejadian yang dialaminya dengan Andi dan Sugito (baca: Dewi-Andi &#38; Dewi-Sugito). Dewi takut suatu saat nanti dirinya hamil karena sperma laki-laki lain, dan kalau nanti ia sampai hamil pasti suaminya akan mengetahui perbuatannya bersenggama dengan orang lain. Hari ini kebetulan suaminya sedang pergi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Malam itu terlihat Dewi sedang berada disebuah tempat praktek Dokter Kandungan, setelah kejadian-kejadian yang dialaminya dengan Andi dan Sugito (baca: Dewi-Andi &amp; Dewi-Sugito). Dewi takut suatu saat nanti dirinya hamil karena sperma laki-laki lain, dan kalau nanti ia sampai hamil pasti suaminya akan mengetahui perbuatannya bersenggama dengan orang lain.</p>
<p style="text-align: justify;">Hari ini kebetulan suaminya sedang pergi keluar kota selama 2minggu, Dewi yang memang sedang menunggu waktu yang tepat untuk mendatangi dokter kandungan, akhirnya memutuskan untuk mendatangi tempat praktek dokter kandungan, ia ingin cepat-cepat berkonsultasi dengan dokter kandungan untuk memastikan alat kontrasepsi apa yang cocok untuk dia, karena Dewi ingin segera merasakan kepuasan bersenggama kembali, hampir lebih dari 2 minggu, Dewi tidak dapat menikmati sodokan-sodokan kontol-kontol perkasa yang dapat memberikan kepuasan kepada dirinya, karena ia takut akan hamil.</p>
<p style="text-align: justify;">“bu Dewi,”</p>
<p style="text-align: justify;">Dewi mendengar namanya dipanggil.</p>
<p style="text-align: justify;">“Yach, betul,” Dewi menjawab, dan menengok kearah siempunya suara yang ternyata suster di tempat praktek ini.</p>
<p style="text-align: justify;">“Sekarang giliran ibu,” kata suster tersebut, “mari ikut saya, bu.!!”</p>
<p style="text-align: justify;">“Oh..yach,” jawab Dewi, sambil berdiri dan mengikuti suster itu menuju keruangan praktek.</p>
<p style="text-align: justify;">Dewi baru menyadari tempat praktek dokter kandungan yang tadi lumayan penuh dengan pasien, sekarang telah kosong, Dewi menyadari bahwa ia adalah pasien terakhir.</p>
<p style="text-align: justify;">“Dok, ini ibu Dewi pasien terakhir kita malam ini,” Kata suster itu kepada lelaki yang berada didalam ruangan praktek itu</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam hati Dewi membatin,”masih muda nih dokter, dan wajahnya lumayan ganteng,” Dewi memperkirakan dokter ini seumuran dia.</p>
<p style="text-align: justify;">“Malam, dok,” Dewi menyapa si dokter.</p>
<p style="text-align: justify;">“Malam, juga Bu! Silahkan duduk bu! Apa yang bisa saya bantu??,” si dokter menjawab sambil bertanya dan mempersilahkan Dewi duduk.</p>
<p style="text-align: justify;">Sebelum sempat Dewi menjawab pertanyaan sang dokter, ia mendengar si suster berkata,” Dok, ibu Dewikan pasien terakhir, dan saya kebetulan ada keperluan keluarga, boleh saya pulang lebih dulu,”</p>
<p style="text-align: justify;">“Oh..ok, “ jawab si dokter sambil beranjak dari tempat duduknya.</p>
<p style="text-align: justify;">“Sebentar yach bu,” kata si dokter ke Dewi, lalu dokter itu keluar dari ruangan mengikuti si suster.</p>
<p style="text-align: justify;">Tak lama kemudian dokter itu kembali dan berkata kepada Dewi,” maaf yach bu, soalnya saya harus mengunci pintu depan, kalau tidak nanti ada orang dating lagi untuk berobat atau berkonsultasi, padahal ibu Dewi-kan pasien saya terakhir apalagi suster saya sudah pulang”</p>
<p style="text-align: justify;">“Oh..gak apa-apa kok,” balas Dewi</p>
<p style="text-align: justify;">“Nach, sekarang apa keluhan ibu, mudah-mudahan saya bisa bantu,” tanya si dokter.</p>
<p style="text-align: justify;">“Begini dok, saya ingin memakai alat kontrasepsi, tapi saya tidak mau kalau suami saya itu memekai kondom, jadi kira-kira alat kontrasepsi apa yang bagus untuk saya,” Dewi menjelaskan maksud tujuannya datang ketempat praktek ini.<br />
<span id="more-1022"></span><br />
“Oh itu, memang ibu dan suami sudah tidak berkeinginan untuk mempunyai anak lagi, ngomong-ngomong sudah punya berapa anak?” tanya sang dokter lagi.
</p>
<p style="text-align: justify;">“yach begitulah, saat ini kami mempunyai satu anak, “ jawab Dewi sedikit berbohong, karena tidak mungkin ia menjelaskan kedokter bahwa ia ingin lebih puas dalam menikmati kontol-kontol perkasa tanpa takut akan hamil.</p>
<p style="text-align: justify;">“Baru satu?? Memang tidak berkeinginan nambah, bu??” si dokter memastikan.</p>
<p style="text-align: justify;">“Hmmhh…betul,” Dewi menjawab sambil tersenyum.</p>
<p style="text-align: justify;">“Lalu ibu mau yang sementara atau selamanya,” tanya sidokter.</p>
<p style="text-align: justify;">“maksudnya??” Dewi balik bertanya.</p>
<p style="text-align: justify;">“Begini loh, Bu!. Kalau sementara saya sarankan ibu untuk menggunakan spiral, tapi kalau ibu dan suami ingin untuk selamanya tidak mempunyai anak lagi, yach! Saya menyarankan ibu untuk disteril, maksud saya saluran indung telur ibu harus saya tutup rapat, jadi kalau ibu berhubungan dengan suami, sperma suami ibu tidak dapat lagi menerobos kesaluran indung telur ibu, dengan begitu saya jamin tidak ada satupun indung telur ibu yang dapat dibuahi oleh sperma suami ibu,” jelas sang dokter panjang lebar.</p>
<p style="text-align: justify;">“Ooohhh…begitu,” gumam Dewi,” Kalau gitu saya pilih yang sementara saja, siapa tahu nanti kita ingin mempunyai anak”</p>
<p style="text-align: justify;">“Ibu mengambil keputusan yang tepat, nach sekarang ibu silahkan berbaring disana, saya akan mempersiapkan peralatannya,” kata si dokter sambil menunjuk kearah ranjang.</p>
<p style="text-align: justify;">“Bajunya dan CDnya tolong dilepas, Bu!!, terus ibu kenakan ini” lanjut sidokter sambil memberikan jubah berwarna biru muda.</p>
<p style="text-align: justify;">“wah, bu!! terbalik pakai jubahnya,” dokter itu berkata sambil tersenyum saat melihat Dewi mengenakan jubah itu dengan bagian yang terbukanya berada didepan.</p>
<p style="text-align: justify;">“Bagian yang terbukanya itu untuk dibelakang, kalau ibu pakai seperti itu nanti saya gak akan selesai-selesai memasang alat kontrasepsinya, karena mata saya akan melihat kedada ibu terus,” lanjut sidokter sambil bercanda ke Dewi.</p>
<p style="text-align: justify;">“Ohhh…he..he..dokter bisa aja,” Dewi tersipu malu mendengar guyonan si dokter, sambil membetulkan jubah tersebut, kemudian iapun berbaring diranjang.</p>
<p style="text-align: justify;">Dewi bingung melihat ranjang tersebut karena panjang ranjang tersebut tidak sepanjang ranjang-ranjang yang biasa ada ditempat-tempat praktek dokter, panjang ranjang ini hanya sampai sebatas pantatnya saja, sehingga kedua kakinya terjuntai kebawah, Dewipun melihat adanya keanehan dengan ranjang ini, dimana disamping kiri dan kanan kedua kakinya ada bantalan cekung dan letaknya lebih tinggi dari ranjangnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah selesaimempersiapkan peralatannya, sang dokter menghampiri ranjang tersebut, melihat posisi rebahan Dewi diatas ranjang, dokter itupun tersenyum simpul,</p>
<p style="text-align: justify;">“Ibu, baru pertama kali yach datang kedokter kandungan??,” tanya sidokter tersenyum.</p>
<p style="text-align: justify;">Tanpa menunggu jawaban Dewi, sang dokterpun mulai mengangkat kaki Dewi satu persatu dan menempatkan dibantalan cekung yang berada disamping kiri kanan kaki Dewi itu, perbuatan sidokter membuat Dewi terhenyak, Dewi tahu dengan posisinya dimana kedua kakinya terangkat dan terbuka lebar ini, kemaluannya akan Nampak jelas didepan sidokter, mukanyapun menjadi merah karena menahan malu, melihat Dewi yang tersipu-sipu malu dan wajahnya menjadi merah, sidokter hanya tersimpul dan diapun merasa yakin sekali bahwa ini adalah kunjungan yang pertama Dewi ke dokter kandungan.</p>
<p style="text-align: justify;">“Maaf, yach, Bu,” sidokter berkata saat jari jemarinya mulai menyentuh bibir vagina Dewi.</p>
<p style="text-align: justify;">“Hhmmmhh….,” Dewi hanya bisa mengangguk, karena menahan malu dan perasaan yang aneh saat jari-jari sidokter menyentuh bibir vaginanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Kedua jari tangan kiri sidokter mencoba untuk sedikit membuka lubang vagina Dewi dari sebelah atas, sehingga kelentit Dewi tersentuh oleh telapak tangan sidokter, sementara tangan kanan sidokter mencoba untuk memasukkan peralatan hampir seperti corong, agak lumayan lama sidokter berkutat untuk memasukkan alat itu kelubang vagina Dewi, sementara Dewi merasakan geli yang aneh dan nikmat saat kelentitnya tergesek-gesek oleh tangan sidokter, akibatnya gelora birahi Dewi mulai bangkit, memeknya mulai basah.</p>
<p style="text-align: justify;">“Ouugghhh…..ssshhhh,” Dewi menjerit lirih saat merasakan alat yang seperti corong berdiameter 3cm terbenam di dalam lubang senggamanya, pantatnya terangkat sedikit, kedua tangannya mencengkram pinggiran ranjang dengan erat.</p>
<p style="text-align: justify;">“Maaf..bu.!! sakit…!! Tahan sebentar yach, saya akan mulai memasang spiralnya,” kata sidokter.</p>
<p style="text-align: justify;">Si dokter merasa heran dengan kondisi lubang vagina Dewi yang masih sempit ini, dalam hatinya ia berkata, “gila nich ibu, udah keluar satu anak, tapi masih sempit begini, sepertinya juga jarang dipakai oleh suaminya,”, sambil tangannya memijat-mijat pelan kedua belah bibir vagina Dewi dengan tujuan untuk membuat rileks otot-otot vagina Dewi, saat ia sedang memijat-mijat itu dari corong kacanya itu ia melihat lubang vagina Dewi yang berwarna merah muda itu berkedut-kedut, belum pernah selama ia praktek melhat kejadian ini, karena sudah berpengalaman ia mengetahui bahwa tebakannya itu betul, memek Dewi jarang dipakai oleh suaminya, karena hanya dengan alat yang teronggok diam saja memek Dewi sudah basah.</p>
<p style="text-align: justify;">“Hhhhmmmm…sssshhhh….hhhmmmm…..ssshhhh..” Dewi merintih lirih menikmati pijatan-pijatan lembut dibibir vaginanya dan merasakan sumpalan alat dilubang senggamanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Mendengar lirihan Dewi, sidokter semakin yakin dengan tebakannya itu, dalam hatinya membatin,”kalau kuentot mau tidak yach ini ibu???, atau malah nanti dia marah??..”</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah melihat cengkraman dinding vagina Dewi dialatnya mulai mengendur, sidokterpun mulai mengambil spiral berbentuk T dan penjepitnya, lalu melalui corong tadi ia mulai memasukkan spiral tersebut menggunakan penjepit, karena corong itu terbuat dari kaca ia bisa melihat keadaan didalam lubang vagina Dewi, setelah tepat disasaran, iapun sedikit menekan penjepitnya kemudian ia melepaskan jepitan di spiral tersebut dan menarik keluar jepitannya, sambil memegangi kedua bibir vagina Dewi, sidokter memastikan spiral tersebut terpasang dengan benar, kemudian dengan perlahan-lahan corong itu ia tarik keluar dari lubang vagina Dewi, gesekan yang ditimbulkannya membuat Dewi mengerang lirih.<br />
Setelah terlepas, sidokter kembali memijat-mijat vagina Dewi, sebetulnya pijatan-pijatan itu tidak perlu dilakukan, dan belum pernah ia lakukan selama ia praktek, saat ini ia lakukan karena ia terangsang dengan bentuk vagina Dewi, dalam hatinya ia juga merasa heran kenapa saat ini ia terangsang ingin melakukan persetubuhan dengan pasiennya. Dewi sendiri yang dari tadi birahinya sudah bergejolak, merasakan pijatan-pijatan lembut yang saat ini sedang dilakukan oleh sang dokter semakin membuat birahinya membara, erangan-erangannya semakin sering terdengar, tubuhnyapun menggelinjang-gelinjang karena geli dan nikmat.
</p>
<p style="text-align: justify;">“Oh..baru pijatan tangannya saja sudah membuatku melayang-layang, apalagi kalau dia sodok aku dengan kontolnya, Oh gila betul rangsangan ini,” Dewi berkata dalam hatinya.</p>
<p style="text-align: justify;">Tangan Dewi yang tadi sedang mencengkram ranjang mulai beralih kepayudaranya sendiri, dari balik jubahnya iapun mulai meremas-remas kedua bukit kembarnya, merasa kurang puas karena terhalang oleh BH dan jubah yang masih menutupi tubuhnya, Dewi kemudian melucuti semuanya sehingga sekarang Dewi telanjang bulat didepan sang dokter, tangannya kembali meremas-remas kedua bukit kembarnya itu, mulutnya mendesis-desis menandakan Dewi sedang menikmati semua itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Sang Dokter yang melihat aksi Dewi melucuti jubah dan Bhnya serta aksi remasan tangan Dewi dikedua bukit kembarnya itu tersenyum simpul, “nampaknya ia mulai terangsang dengan pijatan-pijatanku,”, lalu tanpa menghentikan pijatannya, ia pun mulai menciumi kelentit Dewi yang mulai terlihat dan mengeras, tidak hanya diciumi saja, tapi ia jilati dan hisap-hisap kelentit Dewi yang membuat Dewi semakin menggelinjang merasakan kenikmatan permainan lidah sidokter, aksi sidokter semakin menggila, jari tengah salah satu tangan yang sedang memijat-mijat itu mulai menerobos lubang kenikmatan Dewi, dengan gerakan perlahan-lahan sidokter mulai mengeluar-masukkan jari tangannya itu, akibatnya lubang vagina Dewi semakin basah, erangan-erangan Dewipun semakin sering terdengar. Pantatnya semakin sering terangkat seolah menyambut sodokan jari tangan sidokter, kepalanya bergoyang kekiri kekanan, tubuhnya kadang-kadang melenting, Dewi betul-betul menikmati serangan-serangan sang dokter dikemaluannya.</p>
<p style="text-align: justify;">“Ouughhhh….dddoookkk….eenaaaakkk…aakhhuuu…mau..kel luaarr…ssshhh…aagghhhh..”Dewi merintih-rintih kenikmatan.</p>
<p style="text-align: justify;">Ssssrr……ssssrrrr….ssssrrrr…… memek Dewi memuntahkan lahar kenikmatannya.</p>
<p style="text-align: justify;">Tubuh Dewi mengejang, sang dokter merasakan hangatnya air kenikmatan Dewi yang membasahi jari tangannya.</p>
<p style="text-align: justify;">“Enak, Bu!!,” tanya sidokter.</p>
<p style="text-align: justify;">“Iyaachh…”Dewi menjawab dengan nafas yang masih tersengal-sengal, matanya terpejam menikmati sisa-sisa kenikmatan yang baru saja ia rengkuh.</p>
<p style="text-align: justify;">Tanpa buang waktu lebih lama lagi, sang dokterpun mulai melucuti seluruh pakaiannya, sehingga sekarang iapun telanjang bulat, Nampak kontolnya sudah berdiri dengan tegak, ukurannya lumayan besar dan panjang, diapun mulai mengelus-eluskan kontolnya dibibir vagina Dewi, membuat Dewi menggelinjang, dengan pelan-pelan sang dokterpun menyelipkan kepala kontolnya di lubang memek Dewi, setelah merasa tepat disasaran sang dokterpun mulai melesakkan kontolnya kedalam lubang memek Dewi, setahap demi setahap.</p>
<p style="text-align: justify;">Sleeepp….bleeessss….bleessss…..</p>
<p style="text-align: justify;">kontol sang dokter mulai terbenam seluruhnya dalam lubang kemaluan Dewi, Dewi yang merasakan kontol dokter itu mulai memasuki lubang senggamanya, mendesis lirih. Hatinya membatin,”lumayan besar juga kontolnya, tapi tidak sebesar punyanya pak Sugito”.</p>
<p style="text-align: justify;">“Ssshhh….aaaaghhhh..dook…kontolmu besar juga…. sssshhhh….puaskan aku dengan kontolmu ssshhhh…”desis Dewi.</p>
<p style="text-align: justify;">Dengan perlahan-lahan Sang dokter mulai mengeluar-masukkan kontolnya didalam lubang senggama Dewi, kedua tangannya berpegangan dipaha Dewi, lama-lama gerakan maju-mundur sang dokter semakin cepat, keringatpun mulai mengalir dikedua tubuh mereka, udara dingin didalam ruangan praktek karena AC tidak menghalangi keluarnya keringat mereka. Erangan Dewi dan sang dokter semakin terdengar, lenguhan-lenguhan nikmat keluar dari kedua mulut mereka.</p>
<p style="text-align: justify;">“Ouughhh…dookkk…teeruusss…ssooddokkk .memekkuuuu…dengaaannn kkonttolmu..ituuu… aaaggghhhh…” Dewi mengerang kenikmatan menikmati sodokan kontol sang dokter di lubang senggamanya.</p>
<p style="text-align: justify;">“Hhhhmmmm…aaaaghhh…memekmuuu…benaaarr-benaar..sseeemmpitt enaaakkk… oouughhh … koontooolllkuuu…teerjeppiitt…bbeetulll… “ Sang Dokterpun melenguh keenakan merasakan jepitan dinding vagina Dewi dibatang kontolnya..</p>
<p style="text-align: justify;">“Teekkaaannn…lebih daaalllaamm…dookk.. yaaahh..begituu..ssshhhhh…oouughhh…,” rintih Dewi meminta sang dokter untuk menekan lebih dalam, yang dituruti oleh sang dokter, dengan hentakan-hentakan yang lebih dalam, hingga kontolnya terbenam sampai pangkalnya saat sang dokter mendorong masuk kontolnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Tak lama kemudian nampak gerakan sang dokter bertambah cepat dan mulai tak beraturan, sementara itu tubuh Dewipun semakin sering terlihat melenting dan pantatnya semakin sering terangkat berbarengan dengan sodokan kontol sang dokter, lenguhan dan erangan mereka bertambah kencang terdengar dan saling bersahutan, nampaknya kedua insan ini akan merengkuh puncak kenikmatan persetubuhan mereka.</p>
<p style="text-align: justify;">“Ouughhh…doookkk…aaaakkkkuuu…kkeeelluuarrr,” Dewi mengerang tubuhnya melenting.</p>
<p style="text-align: justify;">“Akkkhhuuu…juuggaaa…mmaaauuu….ooouugghhhh..” sang dokterpun melenguh, dan menekan dalam-dalam kontolnya didalam lubang senggama Dewi, lalu terdiam.</p>
<p style="text-align: justify;">Creeetttt…..ssssrrrr…..ccrreeeettt…..ssssrrrr…..</p>
<p style="text-align: justify;">Kedua kemaluan mereka akhirnya memuntahkan lahar kenikmatan berbarengan, sand dokter merasakan batang kontolnya tersiram oleh hangatnya lendir kenikmatan Dewi dan ia juga merasakan dinding vagina Dewi berkedut-kedut meremas-remas batang kontolnya, Dewi sendiri merasakan dinding rahimnya tersemprot oleh cairan hangat sperma sang dokter dan Dewi sendiri merasakan pada dinding vaginanya batang kontol sang dokter berdenyut-denyut.</p>
<p style="text-align: justify;">Kemudian sang dokter mencabut batang kontolnya dari jepitan vagina Dewi setelah ia merasakan remasan-remasan dinding vagina Dewi berhenti dan kontolnya mulai mengecil, saat kontolnya tercabut dari lubang kenikmatan Dewi, terlihat olehnya cairan spermanya bercampur dengan lendir kenikmatan Dewi mulai mengalir perlahan dan menetes jatuh keatas lantai.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah nafas mereka kembali normal, mereka mengenakan pakaian mereka kembali, kemudian sang dokter memberi tahu Dewi bahwa spiral yang ia pasang itu bisa bertahan untuk 5 tahun, tetapi alangkah bagusnya setiap 3-6 bulan sekali harus diperiksa, untuk memastikan letaknya tidak berubah atau lebih parahnya terlepas. Dewi mengangguk tanda mengerti dalam hati Dewi berkata ,”pasti aku akan balik lagi, untuk menikmati sodokan-sodokan kontolmu lagi,”</p>
<p style="text-align: justify;">Sebelumpulang Dewi bertanya berapa biaya yang harus dibayar olehnya, yang dijawab oleh dokter itu dengan senyuman dan kecupan ringan dibibir Dewi, gratis!!! bisiknya</p>
<p style="text-align: justify;">Dewipun pulang dengan tersenyum simpul, dalam hatinya ia membatin bertambah satu lagi koleksi kontol yang bisa membuat puasku, yang bisa menghilangkan dahaga batinku. Dan sekarang ia tidak akan takut hamil bila melakukan persetubuhan dengan siapapun.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ceritasex.cn/cerita-dewi-dokter-kandungan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Birahi Adik Iparku yang Tertunda</title>
		<link>http://www.ceritasex.cn/birahi-adik-iparku-yang-tertunda/</link>
		<comments>http://www.ceritasex.cn/birahi-adik-iparku-yang-tertunda/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 05 Oct 2009 21:05:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cerita Sex</dc:creator>
				<category><![CDATA[Paruh baya]]></category>
		<category><![CDATA[selingkuh]]></category>
		<category><![CDATA[adik ipar]]></category>
		<category><![CDATA[birahi]]></category>
		<category><![CDATA[mesum]]></category>
		<category><![CDATA[ngentot]]></category>
		<category><![CDATA[yeyen]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ceritasex.cn/?p=964</guid>
		<description><![CDATA[&#8220;Masak apa Yen?&#8221; kataku sedikit mengejutkan adik iparku, yang saat itu sedang berdiri sambil memotong-motong tempe kesukaanku di meja dapur. &#8220;Ngagetin aja sih, hampir aja kena tangan nih,&#8221; katanya sambil menunjuk ibu jarinya dengan pisau yang dipegangnya. &#8220;Tapi nggak sampe keiris kan?&#8221; tanyaku menggoda. &#8220;Mbak Ratri mana Mas, kok nggak sama-sama pulangnya?&#8221; tanyanya tanpa menolehku. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">&#8220;Masak apa Yen?&#8221; kataku sedikit mengejutkan adik iparku, yang saat itu sedang berdiri sambil memotong-motong tempe kesukaanku di meja dapur. &#8220;Ngagetin aja sih, hampir aja kena tangan nih,&#8221; katanya sambil menunjuk ibu jarinya dengan pisau yang dipegangnya. &#8220;Tapi nggak sampe keiris kan?&#8221; tanyaku menggoda. &#8220;Mbak Ratri mana Mas, kok nggak sama-sama pulangnya?&#8221; tanyanya tanpa menolehku. &#8220;Dia lembur, nanti aku jemput lepas magrib,&#8221; jawabku. &#8220;Kamu nggak ke kampus?&#8221; aku balik bertanya. &#8220;Tadi sebentar, tapi nggak jadi kuliah. Jadinya pulang cepat.&#8221; &#8220;Aauww,&#8221; teriak Yeyen tiba-tiba sambil memegangi salah satu jarinya. Aku langsung menghampirinya, dan kulihat memang ada darah menetes dari jari telunjuk kirinya. &#8220;Sini aku bersihin,&#8221; kataku sambil membungkusnya dengan serbet yang aku raih begitu saja dari atas meja makan. Yeyen nampak meringis saat aku menetesinya dengan Betadine, walau lukanya hanya luka irisan kecil saja sebenarnya. Beberapa saat aku menetesi jarinya itu sambil kubersihkan sisa-sisa darahnya. Yeyen nampak terlihat canggung saat tanganku terus membelai-belai jarinya. &#8220;Udah ah Mas,&#8221; katanya berusaha menarik jarinya dari genggamanku. Aku pura-pura tak mendengar, dam masih terus mengusapi jarinya dengan tanganku. Aku kemudian membimbing dia untuk duduk di kursi meja makan, sambil tanganku tak melepaskan tangannya.</p>
<p style="text-align: justify;">Sedangkan aku berdiri persis di sampingnya. &#8220;Udah nggak apa-apa kok Mas, Makasih ya,&#8221; katanya sambil menarik tangannya dari genggamanku. Kali ini ia berhasil melepaskannya. &#8220;Makanya jangan ngelamun dong. Kamu lagi inget Ma si Novan ya?&#8221; godaku sambil menepuk-nepuk lembut pundaknya. &#8220;Yee, nggak ada hubungannya, tau,&#8221; jawabnya cepat sambil mencubit punggung lenganku yang masih berada dipundaknya. Kami memang akrab, karena umurku dengan dia hanya terpaut 4 tahun saja. Aku saat ini 27 tahun, istriku yang juga kakak dia 25 tahun, sedangkan adik iparku ini 23 tahun. &#8220;Mas boleh tanya nggak. Kalo cowok udah deket Ma temen cewek barunya, lupa nggak sih Ma pacarnya sendiri?&#8221; tanyanya tiba-tiba sambil menengadahkan mukanya ke arahku yang masih berdiri sejak tadi. Sambil tanganku tetap meminjat-mijat pelan pundaknya, aku hanya menjawab, &#8220;Tergantung.&#8221; &#8220;Tergantung apa Mas?&#8221; desaknya seperti penasaran. &#8220;Tergantung, kalo si cowok ngerasa temen barunya itu lebih cantik dari pacarnya, ya bisa aja dia lupa Ma pacarnya,&#8221; jawabku sekenanya sambil terkekeh. &#8220;Kalo Mas sendiri gimana? Umpamanya gini, Mas punya temen cewek baru, trus tu cewek ternyata lebih cantik dari pacar Mas.<br />
<span id="more-964"></span><br />
Mas bisa lupa nggak Ma cewek Mas?&#8221; tanya dia. &#8220;Hehe,&#8221; aku hanya ketawa kecil aja mendengar pertanyaan itu. &#8220;Yee, malah ketawa sih,&#8221; katanya sedikit cemberut. &#8220;Ya bisa aja dong. Buktinya sekarang aku deket Ma kamu, aku lupa deh kalo aku udah punya istri,&#8221; jawabku lagi sambil tertawa. &#8220;Hah, awas lho ya. Ntar Yeyen bilangan lho Ma Mbak Ratri,&#8221; katanya sambil menahan tawa. &#8220;Gih bilangin aja, emang kamu lebih cantik dari Mbak kamu kok,&#8221; kataku terbahak, sambil tanganku mengelus-ngelus kepalanya. &#8220;Huu, Mas nih ditanya serius malah becanda.&#8221; &#8220;Lho, aku emang serius kok Yen,&#8221; kataku sedikit berpura-pura serius. Kini belaian tanganku di rambutnya, sudah berubah sedikit menjadi semacam remasan-remasan gemas. Dia tiba-tiba berdiri. &#8220;Yeyen mo lanjutin masak lagi nih Mas. Makasih ya dah diobatin,&#8221; katanya. Aku hanya membiarkan saja dia pergi ke arah dapur kembali. Lama aku pandangi dia dari belakang, sungguh cantik dan sintal banget body dia. Begitu pikirku saat itu. Aku mendekati dia, kali ini berpura-pura ingin membantu dia. &#8220;Sini biar aku bantu,&#8221; kataku sambil meraih beberapa lembar tempe dari tangannya. Yeyen seolah tak mau dibantu, ia berusaha tak melepaskan tempe dari tangannya.
</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Udah ah, nggak usah Mas,&#8221; katanya sambil menarik tempe yang sudah aku pegang sebagian. Saat itu, tanpa kami sadari ternyata cukup lama tangan kami saling menggenggam. Yeyen nampak ragu untuk menarik tangannya dari genggamanku. Aku melihat mata dia, dan tanpa sengaja pandangan kami saling bertabrakan. Lama kami saling berpandangan. Perlahan mukaku kudekatkan ke muka dia. Dia seperti kaget dengan tingkahku kali ini, tetapi tak berusaha sedikit pun menghindar. Kuraih kepala dia, dan kutarik sedikit agar lebih mendekat ke mukaku. Hanya hitungan detik saja, kini bibiku sudah menyentuh bibirnya. &#8220;Maafin aku Yen,&#8221; bisiku sambil terus berusaha mengulum bibir adik iparku ini. Yeyen tak menjawab, tak juga memberi respon atas ciumanku itu. Kucoba terus melumati bibir tipisnya, tetapi ia belum memberikan respon juga. Tanganku masih tetap memegang bagian belakang kepala dia, sambil kutekankan agar mukanya semakin rapat saja dengan mukaku. Sementara tangaku yang satu, kini mulai kulingkarkan ke pinggulnya dan kupeluk dia. &#8220;Sshh,&#8221; Yeyen seperti mulai terbuai dengan jilatan demi jilatan lidahku yang terus menyentuh dan menciumi bibirnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Seperti tanpa ia sadari, kini tangan Yeyen pun sudah melingkar di pinggulku. Dan lumatanku pun sudah mulai direspon olehnya, walau masih ragu-ragu. &#8220;Sshh,&#8221; dia mendesah lagi. Mendengar itu, bibirku semakin ganas saja menjilati bibir Yeyen. Perlahan tapi pasti, kini dia pun mulai mengimbangi ciumanku itu. Sementara tangaku dengan liar meremas-remas rambutnya, dan yang satunya mulai meremas-remas pantat sintal adik iparku itu. &#8220;Aahh, mass,&#8221; kembali dia mendesah. Mendengar desahan Yeyen, aku seperti semakin gila saja melumati dan sesekali menarik dan sesekali mengisap-isap lidahnya. Yeyen semakin terlihat mulai terangsang oleh ciumanku. Ia sesekali terlihat menggelinjang sambil sesekali juga terdengar mendesah. &#8220;Mas, udah ya Mas,&#8221; katanya sambil berusaha menarik wajahnya sedikit menjauh dari wajahku. Aku menghentikan ciumanku. Kuraih kedua tangannya dan kubimbing untuk melingkarkannya di leherku. Yeyen tak menolak, dengan sangat ragu-ragu sekali ia melingkarkannya di leherku. &#8220;Yeyen takut Mas,&#8221; bisiknya tak jauh dari ditelingaku. &#8220;Takut kenapa, Yen?&#8221; kataku setengah berbisik. &#8220;Yeyen nggak mau nyakitin hati Mbak Ratri Mas,&#8221; katanya lebih pelan.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku pandangi mata dia, ada keseriusan ketika ia mengatakan kalimat terakhir itu. Tapi, sepertinya aku tak lagi memperdulikan apa yang dia takutkan itu. Kuraih dagunya, dan kudekatkan lagi bibirku ke bibirnya. Yeyen dengan masih menatapku tajam, tak berusaha berontak ketika bibir kami mulai bersentuhan kembali. Kucium kembali dia, dan dia pun perlahan-lahan mulai membalas ciumanku itu. Tanganku mulai meremas-remas kembali rambutnya. Bahkan, kini semakin turun dan terus turun hingga berhenti persis di bagian pantatnya. Pantanya hanya terbalut celana pendek tipis saja saat aku mulai meremas-remasnya dengan nakal. &#8220;Aahh, Mas,&#8221; desahnya. Mendengar desahannya, tanganku semakin liar saja memainkan pantat adik iparku itu. Sementara tangaku yang satunya, masih berusaha mencari-cari payudaranya dari balik kaos oblongnya. Ah, akhirnya kudapati juga buah dadanya yang mulai mengeras itu. Dengan posisi kami berdiri seperti itu, batang penisku yang sudah menegang dari tadi ini, dengan mudah kugesek-gesekan persis di mulut vaginanya. Kendati masih sama-sama terhalangi oleh celana kami masing-masing, tetapi Yeyen sepertinya dapat merasakan sekali tegangnya batang kemaluanku itu.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Aaooww Mas,&#8221; ia hanya berujar seperti itu ketika semakin kuliarkan gerakan penisku persis di bagian vaginanya. Tanganku kini sudah memegang bagian belakang celana pendeknya, dan perlahan-lahan mulai kuberanikan diri untuk mencoba merosotkannya. Yeyen sepertinya tak protes ketika celana yang ia kenakan semakin kulorotkan. Otakku semakin ngeres saja ketika seluruh celananya sudah merosot semuanya di lantai. Ia berusaha menaikan salah satu kakinya untuk melepaskan lingkar celananya yang masih menempel di pergelangan kakinya. Sementara itu, kami masih terus berpagutan seperti tak mau melepaskan bibir kami masing-masing. Dengan posisi Yeyen sudah tak bercelana lagi, gerakan-gerakan tanganku di bagian pantatnya semakin kuliarkan saja. Ia sesekali menggelinjang saat tanganku meremas-remasnya. Untuk mempercepat rangsangannya, aku raih salah satu tanganya untuk memegang batang zakarku kendati masih terhalang oleh celana jeansku. Perlahan tangannya terus kubimbing untuk membukakan kancing dan kemudian menurunkan resleting celanaku. Aku sedikit membantu untuk mempermudah gerakan tangannya. Beberapa saat kemudian, tangannya mulai merosotkan celanaku.</p>
<p style="text-align: justify;">Dan oleh tanganku sendiri, kupercepat melepaskan celana yang kupakai, sekaligus celana dalamnya. Kini, masih dalam posisi berdiri, kami sudah tak lagi memakai celana. Hanya kemejaku yang menutupi bagian atas badanku, dan bagian atas tubuh Yeyen pun masih tertutupi oleh kaosnya. Kami memang tak membuka itu. Tanganku kembali membimbing tangan Yeyen agar memegangi batang zakarku yang sudah menegang itu. Kini, dengan leluasa Yeyen mulai memainkan batang zakarku dan mulai mengocok-ngocoknya perlahan. Ada semacam tegangan tingi yang kurasakan saat ia mengocok dan sesekali meremas-remas biji pelerku itu. &#8220;Oohh,&#8221; tanpa sadar aku mengerang karena nikmatnya diremas-remas seperti itu. &#8220;Mas, udah Mas. Yeyen takut Mas,&#8221; katanya sambil sedikit merenggangkan genggamannya di batang kemaluanku yang sudah sangat menegang itu. &#8220;Aahh,&#8221; tapi tiba-tiba dia mengerang sejadinya saat salah satu jariku menyentuh klitorisnya. Lubang vagina Yeyen sudah sangat basah saat itu. Aku seperti sudah kerasukan setan, dengan liar kukeluar-masukan salah satu jariku di lubang vaginanya. &#8220;Aaooww, mass, een, naakk..&#8221; katanya mulai meracau. Mendengar itu, birahiku semakin tak terkendali saja</p>
<p style="text-align: justify;">Perlahan kuraih batang kemaluanku dari genggamannya, dan kuarahkan sedikit demi sedikit ke lubang kemaluan Yeyen yang sudah sangat basah. &#8220;Aaoww, aaouuww,&#8221; erangnya panjang saat kepala penisku kusentuh-sentukan persis di klitorisnya. &#8220;Please, jangan dimasukin Mas,&#8221; pinta Yeyen, saat aku mencoba mendorong batang zakarku ke vaginanya. &#8220;Nggak Papa Yen, sebentaar aja,&#8221; pintaku sedikit berbisik ditelinganya. &#8220;Yeyen takut Mas,&#8221; katanya berbisik sambil tak sedikit pun ia berusaha menjauhkan vaginanya dari kepala kontolku yang sudah berada persis di mulut guanya. Tangan kiri Yeyen mulai meremas-remas pantatku, Sementara tangan kanannya seperti tak mau lepas dari batang kemaluanku itu. Untuk sekedar membuatnya sedikit tenang, aku sengaja tak langsung memasukan batang kemaluanku. Aku hanya meminta ia memegangi saja. &#8220;Pegang aja Yen,&#8221; kataku pelan. Yeyen yang saat itu sebenarnya sudah terlihat bernafsu sekali, hanya mengangguk pelan sambil menatapku tajam. Remasan demi remasan jemari yeyen di batang zakarku, dan sesekali di buah zakarnya, membuatku kelojotan. &#8220;Aku udah gak tahan banget Yen,&#8221; bisikku pelan. &#8220;Yeyen takut banget Mas,&#8221; katanya sambil mengocok-ngocok lembut kemaluanku itu.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Aahh,&#8221; aku hanya menjawabnya dengan erangan karena nikmatnya dikocok-kocok oleh tangan lembut adik iparku itu. Kembali kami saling berciuman, sementara tangan kami sibuk dengan aktivitasnya masing-masing. Saat bersamaan dengan ciuman kami yang semakin memanas, aku mencoba kembali untuk mengarahkan kepala kontolku ke lubang vaginanya. Saat ini, Yeyen tak berontak lagi. Kutekan pantat dia agar semakin maju, dan saat bersamaan juga, tangan Yeyen yang sedang meremas-remas pantatku perlahan-lahan mulai mendorongnya maju pantatku. &#8220;Kita sambil duduk, sayang,&#8221; ajaku sambil membimbing dia ke kursi meja makan tadi. Aku mengambil posisi duduk sambil merapatkan kedua pahaku. Sementara Yeyen kududukan di atas kedua pahaku dengan posisi pahanya mengangkang. Sambil kutarik agar dia benar-benar duduk di pahaku, tanganku kembali mengarahkan batang kemaluanku yang posisinya tegak berdiri itu agar pas dengan lubang vagina Yeyen. Ia sepertinya mengerti dengan maksudku, dengan lembut ia memegang batang kemaluanku sambil berupaya mengepaskan posisi lubang vaginanya dengan batang kemaluanku. Dan bless, perlahan-lahan batang kemaluanku menusuk lubang vagina Yeyen.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Aahh, aaooww, mass,&#8221; Yeyen mengerang sambil kelojotan badannya. Kutekan pinggulnya agar dia benar-benar menekan pantatnya. Dengan demikian, batang kontolku pun akan melesak semuanya masuk ke lubang vaginanya. &#8220;Yeenn,&#8221; kataku. &#8220;Aooww, ter, russ mass.., aahh..&#8221; pantatnya terus memutar seperti inul sedang ngebor. &#8220;Ohh, nik, nikmat banget mass..&#8221; katanya lagi sambil bibirnya melumati mukaku. Hampir seluruh bagian mukanku saat itu ia jilati. Untuk mengimbangi dia, aku pun menjilati dan mengisap-isap puting susunya. Darahku semakin mendidih rasanya saat pantatnya terus memutar-mutar mengimbangi gerakan naik-turun pantatku. &#8220;Mass, Yee, Yeeyeen mau,&#8221; katanya terputus. Aku semakin kencang menaik-turunkan gerakan pantatku. &#8220;Aaooww mass, please mass&#8221; erangnya semakin tak karuan. &#8220;Yee, Yeyeen mauu, kee, kkeeluaarr mass,&#8221; ia semakin meracau. Namun tiba-tiba, &#8220;Krriingg..&#8221; &#8220;Aaooww, Mas ada yang datang Mas..&#8221; bisik Yeyen sambil tanpa hentinya mengoyang-goyangkan pantatnya. &#8220;Yenn,&#8221; suara seseorang memanggil dari luar. &#8220;Cepetan buka Yenn, aku kebelet nih,&#8221; suara itu lagi, yang tak lain adalah suara Ratri kakaknya sekaligus istriku. &#8220;Hah, Mbak Ratri Mas,&#8221; katanya terperanjat.</p>
<p style="text-align: justify;">Yeyen seperti tersambar petir, ia langsung pucat dan berdiri melompat meraih celana dalam dan celana pendeknya yang tercecer di lantai dapur. Sementara aku tak lagi bisa berkata apa-apa, selain secepatnya meraih celana dan memakainya. Sementara itu suara bel dan teriakan istriku terus memanggil. &#8220;Yeenn, tolong dong cepet buka pintunya. Mbak pengen ke air nih,&#8221; teriak istriku dari luar sana. Yeyen yang terlihat panik sekali, buru-buru memakai kembali celananya, sambil berteriak, &#8220;Sebentarr, sebentar Mbak..&#8221; &#8220;Mas buruan dipake celananya,&#8221; Yeyen masih sempet menolehku dan mengingatkanku untuk secepatnya memakai celana. Ia terus berlari ke arah pintu depan, setelah dipastikan semuanya beres, ia membuka pintu. Aku buru-buru berlari ke arah ruang televisi dan langsung merebahkan badan di karpet agar terlihat seolah-olah sedang ketiduran. &#8220;Gila,&#8221; pikirku. &#8220;Huu, lama banget sih buka pintunya? Orang dah kebelet kayak gini,&#8221; gerutu istriku kepada Yeyen sambil terus menyelong ke kamar mandi. &#8220;Iya sori, aku ketiduran Mbak,&#8221; kata Yeyen begitu istriku sudah keluar dari kamar mandi. &#8220;Haa, leganyaa,&#8221; katanya sambil meraih gelas dan meminum air yang disodorkan oleh adiknya.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Mas Jeje mana Yen?&#8221; &#8220;Tuh ketiduran dari tadi pulang ngantor di situ,&#8221; kata Yeyen sambil menunjuk aku yang sedang berpura-pura tidur di karpet depan televisi. &#8220;Ya ampun, Mas kok belum ganti baju sih?&#8221; kata istriku sambil mengoyang-goyangkan tubuhku dengan maksud membangunkan. &#8220;Pindah ke kamar gih Mas,&#8221; katanya lagi. Aku berpura-pura ngucek-ngucek mata, agar kelihatan baru bangun beneran. Aku tak langsung masuk kamar, tapi menyolong ke dapur mengambil air minum. &#8220;Lho katanya pulang ntar abis magrib, kok baru jam setengah lima udah pulang? Kamu pulang pake apa?&#8221; tanyaku berbasa-basi pada istriku. &#8220;Nggak jadi rapatnya Mas. Pake taksi barusan,&#8221; jawab dia. &#8220;Lho, kamu lagi masak toh Yen? Kok belum kelar gini dah ditinggal tidur sih?&#8221; kata istriku kepada Yeyen setelah melihat irisan-irisan tempe berserakan di meja dapur. &#8220;Mana berantakan, lagi,&#8221; katanya lagi. &#8220;Iya tadi emang lagi mo masak. Tapi nggak tahan ngantuk. Jadi kutinggal tidur aja deh,&#8221; Yeyen berusaha menjawab sewajarnya sambil senyum-senyum. Sore itu, tanpa mengganti pakaiannya dulu, akhirnya istrikulah yang melanjutkan masak. Yeyen membantu seperlunya. Sementara itu, aku hanya cengar-cengir sendiri saja sambil duduk di kursi yang baru saja kupakai berdua dengan Yeyen bersetubuh, walau belum sempat mencapai puncaknya. &#8220;Waduh, kasihan Yeyen. Dia hampir aja sampai klimaksnya padahal barusan, eh keburu datang nih mbaknya,&#8221; kataku sambil nyengir melihat mereka berdua yang lagi masak.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ceritasex.cn/birahi-adik-iparku-yang-tertunda/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Perawan Bandung</title>
		<link>http://www.ceritasex.cn/perawan-bandung/</link>
		<comments>http://www.ceritasex.cn/perawan-bandung/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 05 Aug 2009 21:46:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cerita Sex</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bokep 3gp]]></category>
		<category><![CDATA[Bokep Download]]></category>
		<category><![CDATA[Daun Muda]]></category>
		<category><![CDATA[3gp]]></category>
		<category><![CDATA[mesum]]></category>
		<category><![CDATA[ngentot]]></category>
		<category><![CDATA[perawan]]></category>
		<category><![CDATA[perawan bandung]]></category>
		<category><![CDATA[video]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ceritasex.cn/?p=794</guid>
		<description><![CDATA[Aduh&#8230;.. hari gini masih ada juga ya cewek yang masih perawan? rasanya gimana tuh kayak di sedot-sedot kali ya!! hehehe&#8230; yang jelas pasti sempit banget kayak lubang semut Silahkan download videonya gan!]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2009/08/perawan-bandung.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-835" title="perawan bandung" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2009/08/perawan-bandung-300x203.jpg" alt="perawan bandung" width="300" height="203" /></a></p>
<p style="text-align: justify;">Aduh&#8230;.. hari gini masih ada juga ya cewek yang masih perawan? rasanya gimana tuh kayak di sedot-sedot kali ya!! hehehe&#8230; yang jelas pasti sempit banget kayak lubang semut <img src='http://www.ceritasex.cn/wp-includes/images/smilies/icon_razz.gif' alt=':P' class='wp-smiley' /> </p>
<p><a href="http://rapidshare.com/files/264153187/Perawan_Bandung.3gp" target="_blank">Silahkan download videonya gan!</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ceritasex.cn/perawan-bandung/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tergila-gila Penis Bengkok</title>
		<link>http://www.ceritasex.cn/tergila-gila-penis-bengkok/</link>
		<comments>http://www.ceritasex.cn/tergila-gila-penis-bengkok/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 01 Aug 2009 13:04:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cerita Sex</dc:creator>
				<category><![CDATA[Seks Umum]]></category>
		<category><![CDATA[selingkuh]]></category>
		<category><![CDATA[ayu]]></category>
		<category><![CDATA[bengkok]]></category>
		<category><![CDATA[binal]]></category>
		<category><![CDATA[buah dada]]></category>
		<category><![CDATA[cewek gairah tinggi]]></category>
		<category><![CDATA[doyan kontol]]></category>
		<category><![CDATA[kontol]]></category>
		<category><![CDATA[mesum]]></category>
		<category><![CDATA[ngentot]]></category>
		<category><![CDATA[penis]]></category>
		<category><![CDATA[penis bengkok]]></category>
		<category><![CDATA[seks]]></category>
		<category><![CDATA[susu]]></category>
		<category><![CDATA[toket]]></category>
		<category><![CDATA[toket gede]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ceritasex.cn/?p=754</guid>
		<description><![CDATA[Jam 10.00 Ayu sampai di hotel Nusantara Jl. Pasarkembang yang letaknya di sebelah selatan Stasiun Tugu Yogyakarta. Setelah mengurus administrasi pada resepsionis, ia segera mendapatkan kunci kamar no.21.&#8221;Selamat beristirahat Tante,&#8221; kata petugas resepsionis dengan mata tak berkedip memandangi buah dada Ayu yang pagi itu dibalut T-Shirt putih dan CD merah. Sehingga nampak kontras dipandang. Tapi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Jam 10.00 Ayu sampai di hotel Nusantara Jl. Pasarkembang yang letaknya di sebelah selatan Stasiun Tugu Yogyakarta. Setelah mengurus administrasi pada resepsionis, ia segera mendapatkan kunci kamar no.21.&#8221;Selamat beristirahat Tante,&#8221; kata petugas resepsionis dengan mata tak berkedip memandangi buah dada Ayu yang pagi itu dibalut T-Shirt putih dan CD merah. Sehingga nampak kontras dipandang. Tapi justru itulah yang membuat mata pemuda petugas resepsionis tak berkedip memandangi pentil Ayu.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah membuka pintu kamar, Ayu langsung duduk di sofa yang ada luar kamar tidur dengan wajah grogi. Dadanya berdegup kencang. Sampai detik ini perempuan Bali beranak satu itu masih bingung, kenapa ia bisa mempunyai keberanian seperti itu. &#8220;Apa yang telah membuatku nekat seperti ini?&#8221;, batinnya sembari matanya memandangi sekeliling kamar hotel yang ia pesan pagi tadi. Ia pun segera merebahkan dirinya ke sofa. Rok jeans yang dipakainya tersingkap ke atas membuat pahanya yang putih mulus kelihatan. Tiba-tiba ada suara ketukan pintu. Ayu segera bangun. Namun ia tidak langsung membukakan pintu. Ia nampak grogi dan segera membenahi rambutnya yang sedikit acak-acakan. Ia ingin terlihat cantik dan sexy di hadapan Yogi. Suara ketukan pintu kembali terdengar. &#8220;Saya membawa makanan yang Tante pesan&#8221;, terdengar suara dari luar.</p>
<p style="text-align: justify;">Wajah Ayu kembali tenang. Setelah pelayan hotel keluar, Ayu segera merebahkan kembali tubuhnya di atas sofa. Ia coba memejamkan matanya. Namun tiba-tiba terdengar HP nya berbunyi. Tertanyata ada SMS dari Yogi. &#8220;Sayang, kamu sudah tak sabar menungguku ya?&#8221;, begitu bunyi SMS itu. &#8220;Dasar Mas Yogi ini pandai mempermainkan nafsuku&#8221;, batinnya dengan wajah tak sabar. Tiba-tiba kembali terdengar suara HP. Ternyata masih SMS dari Yogi. &#8220;Kamu sudah siap mereguk kenikmatan bersamaku kan?&#8221;.</p>
<p><span id="more-754"></span></p>
<p style="text-align: justify;">SMS itu membuat nafsu sex Ayu memuncak. Tanpa sadar tangan kanannya meraba paha dan terus ke selangkangannya. Sedang tangan kirinya mempermainkan ke dua buah dadanya. Mata Ayu nampak merem-melek merasakan kenikmatan rabaan tangannya. Sesekali keluar desahan nikmat dari bibirnya. Di tengah kenikmatan yang ia rasakan, kembali terdengar suara ketukan pintu. &#8220;Ini pasti Mas Yogi&#8221;, batin Ayu dengan wajah gembira. Ia segera bergegas membuka pintu. Benar saja, di balik pintu berdiri laki-laki 40th yang ia tunggu sejak tadi. Belum sempat Yogi mengunci pintu kamar, Ayu segera menghujani bibir Yogi dengan ciuman. &#8220;Sabar sayang, pintunya kan belum ditutup. Bagaimana kalau ada pegawai hotel yang melihat&#8221;, kata Yogi coba mengingatkan.</p>
<p style="text-align: justify;">Rupanya nafsu Ayu sudah sampai puncak. Ia terus menghujani bibir Yogi dengan ciuman dan jilatan lidahnya. &#8220;Ayo mas, memek Ayu sudah pengin nih..?, rengek Ayu sembari berjalan menuju sofa. Ia sengaja duduk dengan sedikit menyingkapkan roknya ke atas sehingga CD pink nya kelihatan dengan jelas.Ternyata perlakuan dan rengekkan Ayu mampu membangkitkan nafsu Yogi. Setelah mengunci pintu kamar, ia segera menghampiri Ayu. Belum sempat ia duduk, Ayu sudah menyambutnya dengan ciuman dan jilatan penuh nafsu. Bibir Yogi habis dilumatnya. Ayu pun menjulurkan lidahnya. Yogi tahu apa yang diinginkan Ayu. Dengan cepat dihisapnya lidah Ayu. &#8220;Oh&#8230;.puasin Ayu ya&#8230; mas&#8230;&#8221;, desah Ayu memohon. &#8220;Iya sayang, hari ini kamu pasti puas&#8221;, jawab Yogi sembari membuka T-Shirt Ayu. Tanpa menunggu lama lagi, Ayu segera memelorotkan rok jeans yang menempel ditubuhnya. Sehingga sekarang ia tinggal memakai bra dan cd saja.<br />
Mulut mereka masih saling cium dan saling jilat. Sesekali lidah mereka bergelut, kadang di mulut Yogi dan kemudian pindah ke mulut Ayu. Tangan Yogi tak mau tinggal diam. Ia segera membuka pengait bra Ayu. Sehingga menyembullah pentil Ayu yang masih kencang itu. &#8220;Waow.., pentilmu indah sayang..&#8221;, puji Yogi sembari menatap mata Ayu dengan mesra. &#8220;Ich..mas Yogi nakal. Ayo dong, mau diapain pentil Ayu&#8221;, kata Ayu sembari mempermainkan puting sebelah kanan dengan jari-jarinya.</p>
<p style="text-align: justify;">Tiba-tiba Yogi berjalan menuju ke kamar tanpa mempedulikan permintaan Ayu. Rupanya ia ingin membuat Ayu penasaran. Ia merebahkan dirinya di atas kasur dengan kaki masih di lantai. Tak mau nafsunya hilang, Ayu segera menyusul. Ia naik ke atas perut Yogi. Lalu ia membungkuk dan menyorongkon pentilnya ke mulut Yogi. Dengan sigap mulut Yogi segere melumat pentil kanan Ayu. Dikulumnya seluruh pentil Ayu yang memang kecil itu. &#8220;Pentilmu seperti pentil gadis 17th&#8221;, kata Yogi kemudian. Tangan kanan Yogi mempermainkan puting pentil ayu yang sebalah kiri. Sedang lidahnya menjilat dan menggigit puting Ayu yang sebelah kanan.<br />
&#8220;Ayo mas, jilatin terus&#8230;..jaaannggannn&#8230;. lepaskan lidahmu dari pentilku&#8221;, erang Ayu dengan mata merem melek merasakan kenikmatan yang diperolehnya.
</p>
<p style="text-align: justify;">Bosan dengan puting, tangan kanan Yogi pun turun. Ia raba dengan lembut paha bagian dalam Ayu. Lalu tangannya segera masuk ke dalam cd Ayu. Awalnya ia raba pantat Ayu, lalu berbalik menuju ke memek Ayu. &#8220;Mas.., mainkan memek Ayu mas&#8230;mem&#8230;.mek Ayu sudah berde&#8230;nyut&#8230;&#8221;, pinta Ayu tak kuat menahan gejolak nafsu yang menghinggapi sekujur tubuhnya.Yogi segera bangun. Disuruhnya Ayu berdiri tepat dihadapannya. Ayu tahu apa yang diinginkan Yogi. Ia cepat membuka cd nya. Nampak lah memek Ayu yang berwarna kemerah-merahan. Ditengahnya terlihat menyembul keluar daging sebesar kacang. &#8220;Tuh.., klitorismu sudah pengin di jilat&#8221;, kata Yogi menggoda.Tanpa menunggu waktu lama, Ayu segera menyorongkan memeknya tepat ke mulut Yogi. Mulanya Yogi menjilati bulu-bulu tipis yang tumbuh disekitar memek Ayu. Setelah puas lidahnya segera mencari sasaran lain. Dijilatinya bagian luar memek Ayu. Setelah itu lidahnya menjilati memek bagian dalam.</p>
<p style="text-align: justify;">Dirasakannya ada cairan sedikit asin yang masuk ke dalam mulutnya. Rupanya memek Ayu sudah basah sejak tadi. &#8220;Masukkan lidahmu mas&#8230;ko&#8230;cokkkk mem&#8230;mekkku pakai lidahmu&#8221;"&#8221;,&#8217; pinta Ayu dengan suara penuh nafsu. Yogi pun menuruti permintaan itu. Ia segera menjulurkan lidahnya masuk kedalam memek Ayu. Lalu lidahnya berputar-putar di dalam memek Ayu. Sesekali digigitnya klitoris yang menyembul. Perlakuan itu membuat Ayu jadi blingsatan. Ia mendapatkan kepuasan yang sulit diungkapkan dengan kata-kata. &#8220;Oughh&#8230;mas.. enak&#8230;sek&#8230;.kali&#8230;., terus&#8230;jangan berhenti&#8230;&#8221;, erang Ayu sembari memaju-mundurkan pantatnya ke arah mulut Yogi. Yogi tak mau berlama-lama dengan permaina itu. Ia ingin segera menuntaskan nafsu Ayu. Ia memasukkan dua jarinya ke dalam memek Ayu yang sudah semakin basah. Dikocoknya memek Ayu dengan jarinya. Sementara lidahnya menjilat dan menggigit klitoris Ayu. &#8220;Mas&#8230;.Ayu nggak..tttaa&#8230;hhhhannn&#8230; Ayu mmmma&#8230;.uuuu kel&#8230;.luuuu&#8230;ar&#8230;..&#8221;, teriak Ayu liar. Gerakan pantat Ayu semakin cepat. Tak lama kemudian tubuhnya menegang dan syur&#8230;.syur&#8230;.keluarlah cairan kenikmatan dari memeknya ke mulut Yogi. Ayu segera mengambil posisi duduk berhadapan dengan Yogi. Dengan penuh nafsu di kulumnya bibir Yogi yang berisi cairan kenikmatannya sendiri. &#8220;,Hhh..h&#8230;nikmat sekali Mas&#8221;, desahnya. &#8220;Ayu..tak mau berhenti Mas. Ayu&#8230;ingin lagi&#8221;, katanya memohon. Setelah berkata seperti itu Ayu lalu mendorong tubuh Yogi. Sehingga Yogi kembali dalam posisi tidur dengan ke dua kakinya masih dilantai. Lalu Ayu kembali duduk di atas perut Yogi yang sudah sedikit buncit. Maklum sudah 40th. Ke dua tangan Yogi segera membuka kancing baju Yogi satu per satu. Sesekali dengan nakal jarinya mempermainkan puting Yogi. Setelah baju Yogi terbuka, dengan tak sabar Ayu menjilati puting Yogi. Bergantian kiri dan kanan. &#8220;Oh&#8230;lidahmu nakal sayang&#8221;, rintih Yogi kemudian. Lalu lidah Ayu menyelusuri seluruh permukaan dada Yogi. kemudian turun dan terus turun hingga sampai ke penis Yogi yang sudah menegang. &#8220;Inilah yang membuat memek Ayu ketagihan&#8221;, goda Ayu sembari mengelus-elus penis Yogi dari luar celana. Tangannya membuka resluiting celana Yogi dengan lincah. Lalu Ayu turun dari tempat tidur. Kemudian ditariknya celana Yogi.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah itu Ayu segera berlutut dan mencium buah zakar Yogi. Sementara tangannya mengocok penis Yogi dengan keras. Penis Yogi semakin tegang. Dalam posisi tegang seperti itu, nampak jelas bahwa penisnya bengkok ke kanan. &#8220;Benda jelek dan bengkok kayak gini kok dicari&#8221;, goda Ayu masih terus mengocok penis Yogi. &#8220;Tapi kamu suka kan&#8230;?, ujar Yogi sembari mendingakkan kepalanya. Terlihatlah mulut dan lidah Ayu yang sedang mempermainkan buah zakarnya. &#8220;Ayo sayang, cium dan jilati benda yang bengkok itu&#8221;, pinta Yogi. Ayu segera menuruti permintaan itu. Ia mempermainkan lidahnya diseluruh permukaan kulit penis Yogi. Sesekali ia sengaja menggigit penis itu dengan gemas. Ia juga menyelingi dengan menjilat lubang penis Yogi. Perlakukan itu membuat Yogi blingsatan. Lalu ia menyuruh Ayu untuk naik ketempat tidur. Ayu tahu, Yogi memintanya naik ke tempat tidur karena Yogi ingin menjilati memeknya lagi. Itulah sebenarnya yang ditunggu oleh Ayu. Karena ia masih ingin memperoleh orgasme lagi. Sehingga posisi mereka sekarang adalah 69. Posisi yang sangat disenangi oleh banyak orang. &#8220;Cepat puasi memek ku dengan lidahmu sayang&#8230;.&#8221;, pinta Ayu begitu memeknya sudah berada tepat dihadapan mulut Yogi.</p>
<p style="text-align: justify;">Sementara ia sendiri tidak berhenti menjilat dan menggigit penis bengkok Yogi. Dengan ganas Yogi segera melumat memek Ayu. Dari selangkangan sampai lubang memek Ayu ia telusuri dengan lidahnya. &#8220;Mas&#8230;.nikmat&#8230;banget mas&#8230;teruskan&#8230;..jjaa&#8230;ngan&#8230;..ber&#8230;hhhennnti i&#8230;,&#8221; rintih Ayu kenikmatan. Gerakan lidah Yogi semakin menggila. Seluruh permukaan memek Ayu habis dilumatnya. Tiba-tiba Yogi menghentikan jilatannya. &#8220;Bagaimana sayang? Enak&#8230;?, tanya Yogi kemudian. &#8220;Please..jangan berhenti Mas, jilati&#8230;gigit&#8230; memek Ayu sampai habis Mas&#8230;.&#8221;, begitulah jawaban Ayu dengan liar. Yogi segera melakukan apa yang jadi permintaan Ayu. Lidahnya kembali menjilati seluruh memek Ayu dengan penuh nafsu. &#8220;Ooohh&#8230;enak se..kkka&#8230;..liiii sayang&#8230;Ayu mmmaa&#8230;uu..kel&#8230;..llllluuuuuu&#8230;..aaaaaarrrrr&#8221;, rintih Ayu nikmat. Yogi mempercepat gerakan lidahnya di lubang memek Ayu. Lidahnya ia maju mundurkan layaknya penis. &#8220;Ayuu&#8230;..ngggak&#8230;ku&#8230;&#8230;&#8230;aaaa&#8230;&#8230;.aaaatttt. &#8230;&#8230;say&#8230;..yyyyaaaa&#8230;ng&#8230;. Oughhh&#8230;..e&#8230;..nnnnaaaa&#8230;&#8230;nakkkkkk, Aaa..yyyyyuuu&#8230;..kkkkeeee&#8230;&#8230;llllluuuuu&#8230;&#8230;aa aaaarrrrr&#8230;&#8230;.&#8221;, jerit Ayu keras sekali.<br />
Kembali Ayu memperoleh orgasme. Cairan kenikmatannya kembali memenuhi mulut Yogi. Seperti orgasme yang pertama, kali ini Ayu pun ingin menelan dan merasakan cairan kenikmatannya sendiri. &#8220;Bagi ke Ayu dong sayang..&#8221;, pintanya manja. Ia segera mengulum mulut Yogi. Maka cairan kenikmatan Ayu pun mereka bagi berdua.
</p>
<p style="text-align: justify;">Dengan sisa-sisa tenaga yang masih ada, Ayu kembali mengulum penis Yogi yang rupanya sudah mulai mengendor tegangannya. Namun berkat kelihaian lidahnya, dalam waktu singkat penis Yogi sudah kembali tegak. Namun karena bengkok penis Yogi tidak bisa berdiri lurus. Tanpa diminta Ayu kembali mengambil posisi di atas Yogi. Lalu ia menuntun penis itu menuju lubang memeknya yang masih ngilu. &#8220;Kamu tidak istirahat dulu sayang?&#8221;, tanya Yogi heran. &#8220;Untuk benda antik ini memekku tak akan pernah bosan. &#8220;Bikin memekku ketagihan dan bikin memekku tergila-gila&#8221;, jawab Ayu sembari menurunkan pantatnya ketika penis Yogi sudah memasuki lubang memeknya. Namun ternyata penis Yogi tidak bisa masuk ke dalam lobang memeknya. Ayu baru ingat jika penis kesayangannya itu bengkok ke kanan. Ayu segera memiringkan posisinya agak ke kiri. Dengan posisi itu penis Yogi dapat masuk dengan penuh ke lubang memeknya. Blllesssss begitu suara pertemuan dua alat kenikmatan milik Ayu dan Yogi. Ayu segera menggerakkan pantatnya naik turun.</p>
<p style="text-align: justify;">Gerakan itu diimbangi Yogi dengan gerakan gangsing (berputar).Rupanya Ayu sangat menikmati gerakan yang dilakukan Yogi. &#8220;Mas&#8230;.penismu memang nikmat&#8230;.ayo&#8230;lebih&#8230;.keras sayang&#8230;&#8230;&#8221;, erang Ayu kenikmatan.<br />
Tiba-tiba ia membungkukkan badannya dan mulutnya segera mencari mulut Yogi. Begitu ketemu, mulut mereka berdua kembali beradu. Lidah mereka kembali bergelut dan saling memilin. Bosan dengan mulut Yogi, Ayu segera berpindah ke puting susu Yogi. Dijilatnya ke dua puting susu itu bergantian. &#8220;Terus sayang&#8230;oughhh&#8230;.Ayu&#8230;.jjjiii&#8230;.llllaaa&#8230;tann nn&#8230;mu&#8230;eeennnaa&#8230;.kkkkk:, erang Yogi tak kuat menahan sensasi kenikmatan yang ditimbulkan oleh jilatan lidah Ayu ke kedua puting susunya. Yogi segera memeluk tubuh Ayu dengan arat. Lalu ia melakukan gerakan berguling. Sehingga posisi mereka berubah menjadi Yogi di atas dan Ayu di bawah. Yogi segera memompa memek Ayu dengan penuh semangat. &#8220;Oughhh yang keras sayang&#8230;.jjjangaaannnnn ber&#8230;.hhhennnn&#8230;..tttttiiii&#8221;,rintih Ayu kemudian. Rintihan itu semakin membuat Yogi bersemangat. Nafsunya juga makin meningkat. Sekarang gerakannya tidak hanya maju mundur. Ia kembali mengeluarkan senjata rahasianya berupa gerakan gangsing (berputar). Ayu merasakan seluruh isi memeknya diaduk-aduk dengan penis Yogi. &#8220;Aaahhhh, ayoo&#8230;..hab&#8230;bi&#8230;.si&#8230;mem&#8230;..mekkk&#8230;ku..ough &#8230;ennnakkkkbanget&#8230;saya<br />
Yogi semakin mengintensifkan gerakannya. Ia tak mempedulikan keringatnya yang mengucur membasahi tubuhnya. Bahkan ke dua tangannya tak mau tinggal diam. Kedua pentil Ayu menjadi sasaran nafsunya yang memuncak. &#8220;Ayu&#8230;.nggak&#8230;.kkkuuu&#8230;.aaaaattt.. lllaaa..ggggiii..Ayu&#8230;kkkkeeee&#8230;..lllluuuu&#8230;arr ..&#8221;, teriak Ayu dengan liarnya. &#8220;Aku jjuu&#8230;gggga&#8230;.ssaa&#8230;.yyyyaaaanngggg&#8230; kita ke&#8230;llluuaa&#8230;..rrr sama-sama&#8230;&#8221;. jawab Yogi sembari mempercepat gerakannya.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Ough&#8230;..pennn&#8230;nisss&#8230;mu&#8230;en..nak&#8230;.ba..nget .., Ayu kkkkee&#8230;llluuu&#8230;aaarrrr:, jerit Ayu kenikmatan.<br />
&#8220;Aku&#8230; jjju&#8230;ggaa&#8230; creeeett&#8230;creeet&#8230;..&#8221;, begitulah suara air mani Yogi yang tumpah memasuki lubang memek Ayu. Tak lama kemudian tubuh Ayu nampak lunglai terbaring disamping tubuh Yogi. &#8220;Kamu puas sayang?&#8221;, tanya Yogi sembari mengecup kening Ayu. Ayu hanya tersenyum. Ia membalas kecupan itu dengan jilatan di mulut dan leher Yogi.<br />
&#8220;Kapan kita bisa memadu kenikmatan lagi Mas?&#8217;, tanya Ayu sendu. &#8220;Jujur mas, aku masih ingin mereguk kenikmatan bersamamu&#8221;, lanjutnya kemudian.
</p>
<p style="text-align: justify;">Akhirnya mereka berdua berjanji suatu saat, bila ada kesempatan akan kembali bertemu. Entah di Bali atau di Yogya.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ceritasex.cn/tergila-gila-penis-bengkok/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
