<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Cerita sex porno ngentot mesum perek ayam kampus &#187; ml</title>
	<atom:link href="http://www.ceritasex.cn/tag/ml/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.ceritasex.cn</link>
	<description>Kumpulan cerita sex, foto bugil, dan film porno</description>
	<lastBuildDate>Mon, 26 Jul 2010 07:13:35 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0</generator>
		<item>
		<title>Perawan Lima Puluh Ribu</title>
		<link>http://www.ceritasex.cn/perawan-lima-puluh-ribu/</link>
		<comments>http://www.ceritasex.cn/perawan-lima-puluh-ribu/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 03 Jan 2010 09:56:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cerita Sex</dc:creator>
				<category><![CDATA[Daun Muda]]></category>
		<category><![CDATA[Pemerkosaan]]></category>
		<category><![CDATA[Seks Umum]]></category>
		<category><![CDATA[abg]]></category>
		<category><![CDATA[budak seks]]></category>
		<category><![CDATA[ml]]></category>
		<category><![CDATA[nafsu]]></category>
		<category><![CDATA[ngentot]]></category>
		<category><![CDATA[perawan]]></category>
		<category><![CDATA[perkosa]]></category>
		<category><![CDATA[sinta]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ceritasex.cn/?p=1180</guid>
		<description><![CDATA[Sinta adalah tetangga sebelahku yang sudah duduk dikelas dua SMA. Usianya 17 tahun tahun dengan wajah oval rambut sebahu kulit putih mulus dengan badan yang begitu langsing namun payudaranya lumayan proporsional, sekitar 34B. Wajahnya cantik dan manis, bahkan kalau tersenyum bagai bidadari.banyak pemuda dikampungku yang ingin mendekatinya, karena dia termasuk salah satu kembang di kampung [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Sinta adalah tetangga sebelahku yang sudah duduk dikelas dua SMA. Usianya 17 tahun tahun dengan wajah oval rambut sebahu kulit putih mulus dengan badan yang begitu langsing namun payudaranya lumayan proporsional, sekitar 34B. Wajahnya cantik dan manis, bahkan kalau tersenyum bagai bidadari.banyak pemuda dikampungku yang ingin mendekatinya, karena dia termasuk salah satu kembang di kampung bahkan di sekolahannya.Sinta adalah seorang gadis pendiam dan jarang sekali bergaul dengan teman sebayanya.Sebenarnya aku sudah mengenal Sinta sejak dia masih duduk di kelas 3 SMP. Waktu itu aku masih ingat betul dan payudaranya belum kelihatan tumbuh. Kedua orang tua Sinta telah porak poranda dan dia diasuh oleh neneknya. Agaknya ini salah satu faktor yang membuat dia memiliki satu kebiasaan buruk yaitu suka mencuri. Satu kebiasaan yang sangat disayangkan untuk cewek yang secantik dan semanis dia, mungkin himpitan ekonomi yang membuatnya menjadi begitu, karena aku tahu betul keadaan ekonomi neneknya tidaklah begitu cukup dengan rumah yang sangat sederhana itu. Sinta sering main ke tempatku bahkan sering sekali masuk ke kamarku untuk bermaun dengan adik sepupuku yang juga cewek yang masih duduk di bangku SD. Mungkin dia sedikit malas bergaul dengan teman sebayanya juga karena rasa minder dengan keadaan dirinya.</p>
<p style="text-align: justify;">Dahulu sewaktu masih SMP seringkali Sinta bermain dikamarku dengan adik sepupuku dan tak jarang pula dia sampai tertidur disana.Kebiasaannya memakai celana pendek dan sering tertidur dikasurku pada siang hari waktu dia masih SMP dulu dengan paha mulusnya yang terlihat jelas cukup membuat otakku berpikiran ngeres, apalagi ketika ia bermain dikamarku pada saat aku menonton televisi tanpa dia sadari sering terlihat CD-nya cukup membuyarkan konsenstrasiku menonton televisi. Sampai sampai aku sering beronani mengandaikan jika aku suatu saat dapat memperkosa atau menikmati dirinya, namun semua itu hanya aku bawa dalam mimpi.</p>
<p style="text-align: justify;">Akhir-akhir ini aku sangat heran dengan seringnya uangku yang aku taruh dalam dompet selalu berkurang alias hilang. Pada awalnya hanya lima rbuan, namun lambat laun jadi terus meningkat menjadi dua puluh ribuan bahkan lima puluh ribuan. Rupanya dugaanku tidak jauh meleset bahwa Sintalah penyebabnya. Aku sudah cukup faham sekali dengan kebiasaan buruknya melaui cerita cerita tetangga tentang dia. Siapa lagi kalau bukan Sinta? dia masih sering masuk ke kamarku dan bermain dengan adik sepupuku disana. dia juga yang sering menghabiskan minuman soft drink di kulkas kamarku yang sudah terbuka tutup botolnya. Tiba tiba ide setan melintas dibenakku.<br />
<span id="more-1180"></span><br />
Aku sengaja membeli sebuah obat perangsang dan aku taruh dalam botol fanta yang telah aku siapakan. siang itu sepulang sekolah seperti biasa Sinta berpura pura mencari adikku, padahal seharusnya dia sudah tahu kalau setiap hari Sabtu dan minggu adikku tidak pernah dirumah alias pergi kerumah neneknya bersama ayah dan ibuku, dan aku tahu apa sebenarnya maksud Sinta masuk kekamarku. Pasti dia akan berlagak menonton televisi sampai aku tertidur siang dan dia akan memulai aksinya mengambil uang dari dompetku pada saat aku tertidur. Namun aku telah menyiapkan semuanya dan dompet kutaruh dalam celana yang aku gantung ditempat yang terlihat.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8221; Siang mas, Anto&#8230;&#8221; sapa Sinta &#8221; Nita mana&#8230;?&#8221; , &#8220;Loh ini kan hari Sabtu masa lupa seh..?&#8221; jawabku.<br />
&#8220;Oh iya ya Sinta lupa mas, berarti sendirian saja donk sekarang..?&#8221; tanyanya sembari membuka kulkas kamarku. Aku hanya mengangguk berpura pura cuek menonton televisi<br />
&#8221; Mas ini buat sinta aja ya fantanya yang masih banyak Nita haus capek pulang dari sekolah nih..kan udah dibuka&#8230;.&#8221;<br />
Sekali lagi aku mengangguk berlagak cuek, namun dalam hatiku aku bersorak kegirangan Kena loh..!!!</p>
<p style="text-align: justify;">Sejurus kemudian aku berpura pura ketiduran seperti biasanya. Selang lima belas menit aku melihat mukanya yang manis dan putih mulai memerah seperti kepanasan, nah ini pasti pertanda dari obat itu yang mulai bekerja. Dan benar saja dugaanku, karena tidak tahan tahan dia segera berkasi merogoh dompetku selang setengah jam kemudian.</p>
<p style="text-align: justify;">Perlahan dia mulai bergerak menuju ke celana yang aku gantungkan dan kubiarkan dulu dia mengambil dompetku. Begitu dia memegang dompetku aku segera terbangun dan membentak dia.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Ooooo&#8230;..jadi kamu ya yang selama ini mengambil uangku hah..????!!!&#8221; bentakku.<br />
Sinta menggeragap, dia tidak menyangka sama sekali rupanya. Wajahnya yang putih dan sudah sedikit kemerahan itu tampak pucat keringatan, SSs..ah betapa cantik dan manisnya wajah itu seperti tampak lebih menggairahkan, dan aku semakin berani karena jebakan ini sebenarnya sudah kupersiapkan dengan matang sebelumnya.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Ehh..anu..mas..anu kok &#8230;sebenernya Sinta&#8230;..&#8221;<br />
&#8220;Sudah jangan banyak alasan!!! dasar kamu ya, kamu tau gak selama ini klo aku selama ini sudah sangat jengkel dengan seringnya uangku yang selalu hilang!! rupanya kamu ya malingnya, ck ck dasar&#8230;!!!&#8221;<br />
Sinta terdiam dan semakin takut ketika aku menatap tajam kewajahnya, dia hanya tertunduk gemetaran.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;aku tidak mau lagi ada maling dirumah ini, sekarang juga aku akan lapor ke pak Rt dan polisi, biar tahu rasa ya kamu dasar maling..!!!&#8221;bentakku dengan ekspresi kuseram seramkan</p>
<p style="text-align: justify;">Sinta langsung memeluk kakiku dan mulai menagis</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;jangan mas.. jangan lapor mas &#8230;. kasihan Sinta mas &#8230;kasihan nenek malu nanti..&#8221;<br />
Aku pura pura pura terdiam dan Sinta masih menangis tertahan memeluk kakiku<br />
&#8221; tolong Sinta mas&#8230; Sinta memang salah.. Sinta ngaku mas&#8230; tapi tolong jangan lapor ke polisi..tolong mas..maafin Sinta&#8230;&#8221; Sinta terus memohon.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Untuk apa kamu mengambil uangku hah..?!&#8221; tanyaku &#8221; Maafin Sinta mas Sinta butuh seragam baru dan buku pelajaran, dan nenek tidak punya uang mas..&#8221; tangisnya sambil memeluk kakiku &#8221; maafin Sinta mas ,&#8230;Sinta janji tidak lagi&#8217;</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;enak saja kamu meminta maaf begitu saja, sudah berapa uangku hilang terus .. ada kalau empat ratus ribu enak saja kamu begiutu saja meminta maaf&#8230;!!&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Sinta hanya terdiam sambil menangis.Tidak beranjak dari kakiku. Aku segera menutup pintu kamarku.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;baiklah aku maafin tapi ada satu syarat yang mesti kamu lakukan..&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Sinta hanya memandangku sejenak penuh harapan. lalu perlahan aku angkat kedua tangannya dan aku dudukkan dia di tepi ranjangku. Aku usap air matanya,dan dia sedikit terkejut dengan sikapku.<br />
&#8220;jadi mas Anto mau maafin Sinta&#8230;?&#8221; aku tersenyum dan menjawab. &#8220;tentu saja Sin, asal mas boleh mencium kamu&#8230;boleh tidak..?&#8221; tanyaku dengan ekspresi lembut.</p>
<p style="text-align: justify;">Sinta menangis sesenggukan dan tertunduk, aku ambilkan air putih yang sudah kupersiapkan untuknya dan sebenarnya air itu juga sudah kucampuri dengan obat perangsang juga. &#8221; Ini, minumlah Sin biar kamu sedikit lebih tenang&#8230;&#8221; Sinta menurut.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;ayo habiskan ya sayang&#8230;&#8221; dan Sinta tidak berani menolaknya.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Sekarang mas cium kamu kamu ya&#8230;?&#8221; Sinta hanya terdiam&#8230;MERDEKA !!! sorakku dalam hati. penisku mulai berdiri ketika aku mulai menciumi bibirnya yang tipis dan merah alami itu. Sinta tidak membalas ciumanku, dia hanya terpejam, hanya saja aku lihat mukanya kini lebih memerah.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku sudah tak tahan lagi&#8230;tubuhnya yang seksi dan kecil itu segera aku banting saja ke kasurku, dan Sinta tentu saja terkejut. &#8221; Mas Anto apa apaan ini&#8230;? Sinta tidak mau mas &#8230;..tolong jangan mas&#8230;.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Ooo jadi kamu mau aku melaporkan saja begitu..??&#8221; Sinta terlihat kebingungan. tanpa membuang waktu aku segera menindihnya dan meremas buah dadanya yang mulai tumbuh dan padat. &#8220;mas&#8230;jangan&#8230;&#8221; rintih Sinta tapi dia tidak berani melakukan perlawanan, dan aku semakin kesetanan, dengan paksa aku segera membuka kaos ketat Sinta dan terlihat buah dada yang terutup Bh hitamnya. Ah ternyata diluar dugaanku&#8230; buah dada itu terlihat jauh lebih putih dan padat dan lebih indah dari bentuk yang selama ini aku bayangkan. Sinta seperti tersadar dan dia langsung menyilangkan kedua tangannya didada. &#8220;mas&#8230;.jangan mas Anto tolong mas&#8230;&#8221; aku tidak perduli ketika kedua tangannya tersilang didada aku segera melorotkan celana kolor pendeknya sekaligus denga CD-nya, Sinta terkejut dengan pergerakanku yang cepat dan kembali dia kebingungan.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Ssshh&#8230;sin..lebih baik kamu diam saja ya sayang, jangan bikin aku marah lagi ya..?&#8221;<br />
Rayuku sembari mencium bawah telinganya . Kurasakan air mata Sinta mengaliri pipiku namun aku semakin tak perduli, tangan Sinta aku silangkan dari dadanya pelan pelan namun dia sedikit menolak, PLAK!!! aku menapar pipinya &#8221; sudah kubilang jangan melawan..!!&#8217;&#8221; Sinta semakin pucat.Kuangkat pelan pelan lagi tangannya dari dadanya yang masih terutup BH itu, kali ini dia tidak berani melawan lagi, aku segera melepas Bh Sinta dan mulai mengulum kedua kedua putingnya yang kemerahan dan masih nampak kecil itu. Kali ini Sinta memejamkan matanya, walaupun tidak berani melawan lagi dia berusaha membanting tubuhnya kekiri dan kekanan, entah karena menahan rangsanganku yang mungkin pertama untuknya atau mungkin karena rasa geli yang tak tertahan karena kumainkan lidahku menyelusuri buah dada dan putingnya. kali ini dia menatap nanar padaku entah apa yang ada dipikirannya entah takut , marah jadi satu dalam hatinya namun aku sudah tidak perduli. persetan dengan semua itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku segera melepas seluruh pakaianku dan Sinta hanya pasrah memandangiku diatas tubuhnya ketika aku melepas baju. Mungkin dia sudah terangsang juga pikirku. tanpa membuang waktu lagi segera kubuka kedua paha kecil mulusnya, namun Sinta agak menolak dan tangannya menutupi vaginanya. Dia menggeleng perlahan sambil melelehkan air matanya dan memohon sekali lagi padaku&#8230;</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Mas Anto&#8230; sudah cukup ya menciumnya&#8230; sinta takut mas&#8230;&#8221;<br />
&#8220;Sinta kan sudah mengijinkan mas Anto menciumi Sinta..&#8221; rajuknya</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Diam kamu&#8230;atau mau kamu aku pukul&#8230;?&#8221; kataku sambil mengepalkan tanganku diwajahnya. Sinta terdiam&#8230;</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Sekarang aku mau mencium inimu&#8230;buka&#8230;!!&#8221; bentakku.</p>
<p style="text-align: justify;">Sinta kebingungan dan tanpa menunggu persetujuannya aku langsung menyibakkan kedua paha kecil miliknya. Luar biasa&#8230;!!!! pekikku dalam hati, bulunya masih jarang sekali, bahkan bentuknya pun lebih kecil dari yang kuduga atau kubayangkan sebelumnya. dan aku segera menjilati bibir vaginanya yang wangi sembari kedua tanganku sesekali memainkan buah dadanya. tatapan Sinta kini terlihat kosong membuat aku semakin liar saja. Vagina Sinta terus aku jilati sehingga terasa mulai asin pertanda bahwa vaginanya mulai basah oleh cairan kewanitaannya, dan jilatanku sekarang kuarahkan bagian klitorisnya. Aku sengaja membuatnya tersiksa dengan rangsangan kenikmatanku, kali ini Sinta tampaknya mulai menyerah. sesekali lidah nakalku mencoba menjulur ke dalam liang senggamanya namun tertahan oleh sesuatu sehinga tidak dapat masuk lagi, Ah Sinta betapa beruntungnya aku&#8230;ternyata kamu memang masih perawan..!!!</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;SSsshh..oouwh..mas jangan mas&#8230;. Sinta &#8230;.awh &#8230;aduuh mas&#8230;Sinta&#8230;&#8221; katanya terbata bata. kali ini dia terpejam seperti terbius rangsanganku. Gerakan badannya mulai terlihat seperti penari erotis yang sedang memamerkan keindahan tubuhnya, sepertinya dia sudah mulai melupakan semuanya tadi dan hanyut dalam permainan asmara.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Mas Anto&#8230;aaaahh..mas Sinta&#8230;&#8221; dia terus melenggokkan tubuhnya ..bahkan semakin berani, mungkin ini juga termasuk dalam obat perngasang yang aku berikan ke dia.. Tiba tiba dan tanpa disangka Sinta menjambak rambutku dan menekan kepalaku sehingga wajahku terbenam diselangkangannya, tubuhnya tergetar hebat dan dia melenguh panjang&#8230; rupanya dia telah mengalami orgasmenya yang pertama.</p>
<p style="text-align: justify;">tanpa membuang waktu lagi aku segera mengarahkan penisku kedalam liang senggamanya. penisku termasuk besar, jadi pada awal mulanya aku sedikt ragu apakah bisa masuk atau tidak ya kira kira..? namun aku segera ingat kata kata joni temanku bahwa sebesar apaun penis lelaki pasti masih dapat masuk ke dalam liang senggama wanita, jadi aku yang sudah tidak tahan lagi untuk segera membobol keperawanan Sinta yang sudah lama aku impikan semakin nekat.</p>
<p style="text-align: justify;">Penisku tegak dan keras mengarah ke liang senggama Sinta, dan tampaknya gadis itu sudah pasrah. Aku sempat melihat dengan jelas cairan kewanitaannya sampai mengalir dibawah vaginanya yang mungil pertanda dia sudah terangsang hebat. Cairan itu mengalir antara anus dan vaginanya. Aku mengusap cairan itu dengan penisku agar lebih licin dalam melesakkannya nanti.</p>
<p style="text-align: justify;">Penisku sudah ada dibibir vagina sinta, gadis itu masih terdiam pasrah, hanya saja setiap kali ketika aku mencoba menekan penisku dia selalu sedikit mundur kebelakang sambil meringis menahan sakit.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Tenanglah sayang&#8230; tidak sakit kok&#8230;.Sssst&#8230;sebentaaar saja ya sayang&#8230;?!!&#8221; bujukku. Aku masih mencoba sabar karena aku tahu dia masih perawan, dan Sinta hanya mngangguk pelan.<br />
Sinta sudah tidak begitu mundur lagi sekarang seperti tadi sehingga aku agak susah mengejarnya. dia mencoba pasrah, namun setiap kali aku mencoba menekan pasti selalu meleset kebawah. Sampai aku jadi bingung, mana yang benar cara memerawani? waktu basah atau kering? kalau basah kenapa licin dan selalu meleset begini..?</p>
<p style="text-align: justify;">setelah sekitar sepuluh menit aku mencoba sambil tanganku terus memepermainkan klitorisnya usahaku mulai membuahkan hasil. Kepala penisku mulai merasakan sebuah lobang yang terasa kecil, aku tidak menyia-nyiakan kesempatan itu terus kutekan penisku dan aku merasakan lobang itu mulai kumasuki perlahan lahan.</p>
<p style="text-align: justify;">Drrt&#8230;Drrrt&#8230;sedikit demi sedikit penisku merangsek vagina perawan milik Sinta yang sempit, oouwh sungguh sensasi yang luar biasa diujung kepala penisku. Dinding vagina yang rapat sekali dan hangat itu mulai bisa kurasakan sedikit demi sedikit menjalari penisku. satu senti&#8230; demi satu senti menjalari penisku..kehangatan dan sensasi itu Aaaah rasanya sulit untuk dilukiskan&#8230;..</p>
<p style="text-align: justify;">Sinta mulai kembali berlinang air mata, rupanya dia sadar kalau mahkotanya telah kurenggut darinya, namun dia sudah tidak bisa berbuat apa apalagi selain mungkin menahan rasa sakit karena persetubuhan pertamanya ini. Aku mengangkat tubuh Sinta dalam posisi kupangku namun berhadapan, tangannya melingkari leherku wajahnya tergolek di bahuku. tubuh kecilnya semakin membuatku ingin segera mengocokkan penisku dalam liang vaginanya yang sempit ini namun karena masih masuk separuh penisku aku masih harus berusaha bersabar. Dalam posisi Sinta diatas pangkuanku secara berhadapan ini aku semakin merasakan jepitan vaginanyadan kali ini tanpa basa basi seperti sebelumnya..kulesakkan dalm dalam penisku dengan cepat.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Aaakhh&#8230;mas &#8230;sakit mas tolong jangan dulu..mas.. aduuuh&#8230;.&#8221; airmata sinta menetes dibahuku. kali ini penisku telah masuk seluruhnya dalam vagina Sinta. terasa hangat dan berdenyut denyut disana, aku benar-benar menikmati sensasi ini. Setelah sekitar satu menit aku mencoba menarik mundur penisku sedikt dan Sinta terjingkat, rupanya rasa perih itu masih ada.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8221; Sekarang coba kamu tahan rasa sakitnya dan coba kamu nikmati ya sayang&#8230;&#8221;<br />
Bisikku ditelinganya, Sinta hanya terdiam pasrah. Setiap kali aku memajukan dan memundurkan penisku perlahan setelah beberapa saat Sinta masih terjingkat jingkat menahan sakitnya tapi justru malah vaginanya menjadi menjepit batang penisku setiap dia terjingkat tanpa dia sadari, ah rasanya sungguh luar biasaaaa&#8230;&#8230;&#8230;</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah melihat ekspresinya yang mulai agak terbiasa aku semakin berani mempercepat gerakan penisku divaginanya dalam posisi duduk berhadapan ini. dan setelah sekitar 20 menit penisku mengacak acak liang vaginanya yang pertama ditembus ini tanpa aku duga Sinta kembali mengalami orgasmenya, gadis ini memeluk tubuhku erat erat sambil meracau tidak keruan. Wajah putih manis oval dengan rambut lurus sebahu dengan hidung mancung bibir tipis dan dagu lancip itu terlihat semakin cantik ketika mengalami orgasme, dan benar benar sangat cantik seperti yang sudah sudah aku lihat ini jauh lebih cantik bahkan bagai bidadari yang sedang kasmaran namun dimabuk asmara.</p>
<p style="text-align: justify;">ekpresi wajah sinta benar benar membuat penisku tidak mau diajak kompromi. selang beberapa saat kemudian aku meyusul Sinta dengan orgasme pertamaku di vagina Sinta yang beberapa saat lalu masih perawan. Croot croot&#8230;serr&#8230;. begitu banyak sperma yang aku keluarkan di liang vagina Sinta, dan aku langsung roboh kebelakang sehinggga tubuh Sinta juga ikut menindihku. Jika ada istilah dunia begitu gemerlap mungkin seperti itulah perasaanku saat itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Sinta langsung terguling lemas disisiku, dan selang beberapa menit gadis itu langsung tertidur pulas. Aku mencoba bangun untuk melihatnya dari agak jauh, darah keperawanan Sinta begitu banyak di sprei putihku masih belum mengering. bahkan sampai di pantat Sinta pun juga ikut terlihat merah terkena darah keperawanannya. Aku memeriksa penisku, ada sedikit selaput dara Sinta yang masih tertinggal dipangkal penisku rupanya, bahkan dipantatku pun juga terkena darah kesuciannya yang telah kurenggut</p>
<p style="text-align: justify;">Aku tersenyum puas melihatnya, aahhh&#8230;gadis cantik nan seksi yang selama ini memenuhi obsesi onaniku telah menjadi kenyataan. impianku telah menjadi kenyataan dengan uang lima puluh ribuan pancinganku. Segera aku mengambil kamera digitalku dan kufoto Sinta cantik seksi yang malang yang sedang tertidur telanjang dari beberapa pose, dan foto ini aku gunakan sebagai ancaman kalau dia berani melaporkan perbuatanku &#8230; akan aku sebar luaskan foto foto ini ke teman sekolah dan kampung. Biar sama sama hancur jika dia ingin mengancurkanku.</p>
<p style="text-align: justify;">Tetapi akhirnya Sinta justru malah ketagihan dan menjadi budak seksku. karena aku juga ikut membantu kebutuhan sekolah dan kuliahnya.tapi justru jujur saja belakangan aku mulai ragu apakah Sinta adalah budak seksku atau justru malah aku yang menjadi budak seksnya, karena semakin hari permainan binal Sinta denganku semakin liar, sampai terkadang aku harus mengkonsumsi obat kuat kuat untuk melayaninya&#8230;..Aah..sungguh pengalaman yang mengagumkan. hubungan kami berlangsung sampai sekitar 3 tahun. Sekarang Sinta telah telah lulus kuliah dan bekerja dliuar kota, dan semua telah menjadi hanyalah sebuah kisah kenangan manis,<br />
karena kabar terakhir yang aku dengar Sinta akan dinikahi oleh bosnya sendiri. Selamat menempuh hidup baru Sinta, selamat tidur kekasih gelapku&#8230;&#8230;&#8230;.. terima kasih atas segala kenangan indah tubuh seksimu dan wajahmu yang memang cantik&#8230;&#8230;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ceritasex.cn/perawan-lima-puluh-ribu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>ABG Lagi di Entot</title>
		<link>http://www.ceritasex.cn/abg-lagi-di-entot/</link>
		<comments>http://www.ceritasex.cn/abg-lagi-di-entot/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 03 Jan 2010 09:53:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cerita Sex</dc:creator>
				<category><![CDATA[Daun Muda]]></category>
		<category><![CDATA[Foto Mesum]]></category>
		<category><![CDATA[abg]]></category>
		<category><![CDATA[memek abg]]></category>
		<category><![CDATA[ml]]></category>
		<category><![CDATA[ngentot]]></category>
		<category><![CDATA[seks]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ceritasex.cn/?p=1171</guid>
		<description><![CDATA[]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2010/01/abg-lagi-di-entot-1.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-1172" title="abg-lagi-di-entot-1" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2010/01/abg-lagi-di-entot-1-300x224.jpg" alt="" width="300" height="224" /></a></p>
<p><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2010/01/abg-lagi-di-entot-2.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-1173" title="abg-lagi-di-entot-2" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2010/01/abg-lagi-di-entot-2-300x227.jpg" alt="" width="300" height="227" /></a></p>
<p><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2010/01/abg-lagi-di-entot-3.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-1174" title="abg-lagi-di-entot-3" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2010/01/abg-lagi-di-entot-3-300x228.jpg" alt="" width="300" height="228" /></a></p>
<p><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2010/01/abg-lagi-di-entot-4.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-1175" title="abg-lagi-di-entot-4" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2010/01/abg-lagi-di-entot-4-300x224.jpg" alt="" width="300" height="224" /></a><br />
<span id="more-1171"></span><br />
<a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2010/01/abg-lagi-di-entot-5.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-1176" title="abg-lagi-di-entot-5" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2010/01/abg-lagi-di-entot-5-300x227.jpg" alt="" width="300" height="227" /></a></p>
<p><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2010/01/abg-lagi-di-entot-6.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-1177" title="abg-lagi-di-entot-6" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2010/01/abg-lagi-di-entot-6-300x227.jpg" alt="" width="300" height="227" /></a></p>
<p><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2010/01/abg-lagi-di-entot-7.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-1178" title="abg-lagi-di-entot-7" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2010/01/abg-lagi-di-entot-7-300x217.jpg" alt="" width="300" height="217" /></a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ceritasex.cn/abg-lagi-di-entot/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Dewi Maniak Seks &#8211; Pesta Ulang Tahun Anaknya Bagian 2</title>
		<link>http://www.ceritasex.cn/dewi-maniak-seks-pesta-ulang-tahun-anaknya-bagian-2/</link>
		<comments>http://www.ceritasex.cn/dewi-maniak-seks-pesta-ulang-tahun-anaknya-bagian-2/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 26 Nov 2009 02:17:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cerita Sex</dc:creator>
				<category><![CDATA[Paruh baya]]></category>
		<category><![CDATA[Seks Umum]]></category>
		<category><![CDATA[Tante Girang]]></category>
		<category><![CDATA[anal seks]]></category>
		<category><![CDATA[anal]]></category>
		<category><![CDATA[anus seks]]></category>
		<category><![CDATA[cuki]]></category>
		<category><![CDATA[dewi]]></category>
		<category><![CDATA[lonte]]></category>
		<category><![CDATA[maniak seks]]></category>
		<category><![CDATA[ml]]></category>
		<category><![CDATA[ngentot]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ceritasex.cn/?p=1068</guid>
		<description><![CDATA[Parmin mencabut batang kemaluannya dari jepitan lubang pantat Hani, sementara Gito mulai memompa kontolnya keluar masuk vagina Hani dengan perlahan-lahan, Hani yang sedang merasakan sisa-sisa kenikmatan itu melenguh dibuatnya. “Oooohhhh….,”Hani melenguh. Sambil memompa Gito menciumi Hani dengan penuh nafsu, dilumatnya bibir Hani, lidahnya menyelusup masuk kedalam mulut Hani mencari-cari lidah Hani, kedua lidah mereka menari [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Parmin mencabut batang kemaluannya dari jepitan lubang pantat Hani, sementara Gito mulai memompa kontolnya keluar masuk vagina Hani dengan perlahan-lahan, Hani yang sedang merasakan sisa-sisa kenikmatan itu melenguh dibuatnya.</p>
<p style="text-align: justify;">“Oooohhhh….,”Hani melenguh.</p>
<p style="text-align: justify;">Sambil memompa Gito menciumi Hani dengan penuh nafsu, dilumatnya bibir Hani, lidahnya menyelusup masuk kedalam mulut Hani mencari-cari lidah Hani, kedua lidah mereka menari dirongga mulut Hani, saling bertautan, Gito mulai menaikkan ritme sodokan-sodokan kontolnya di lubang vagina Hani.</p>
<p style="text-align: justify;">Sementara itu Parmin beranjak kearah Nita, yang saat itu sedang menikmati sisa-sisa kenikmatannya, Parmin lalu menyuruh Nanang untuk mulai mengentot Nita sambil duduk dengan posisi WOT, Parmin membantu Nanang dengan menggendong tubuh Nita dan mengangkangkannya diatas tubuh Nanang, sementara Nanang mengarahkan kepala kontolnya kelubang vagina Nita, diselipkannya kepala kontolnya divagina Nita, ssleeppp…kepala kontolnya terjepit oleh lubang vagina Nita, Nita melenguh saat merasakan kepala kontol Nanang mulai menerobos lubang vaginanya, dengan perlahan-lahan Parmin mulai menurunkan pantat Nita, bbleesss….bleessss…bbleesss….kontol Nanang perlahan-lahan menerobos masuk kedalam lubang memek Nita, dan bbbleeesss…..dengan sekali hentak Parmin menekan pantat Nita kebawah, kontol Nanangpun terbenam seluruhnya didalam lubang nikmat Nita, Nita melenguh keras saat Parmin menghentakkan pantatnya itu.</p>
<p style="text-align: justify;">“Uughhh….kontolmu besar dan panjang…kurasa ujung kepala kontolmu menyentuh dinding rahimku…Aaaarrgghh…,”lenguh Nita.</p>
<p style="text-align: justify;">Parmin lalu mendorong punggung Nita, sehingga tubuh Nita tengkurap diatas tubuh Nanang, lalu ia mulai menyelipkan kontolnya kedalam lubang pantat Nita, Nita menjerit saat merasakan kepala kontol Parmin mulai menyeruak lubang pantatnya, Nita merasakan sakit dilubang pantatnya, tapi ia tidak bisa meronta karena saat itu Nanang sedang memeluknya dengan erat, dengan terpaksa Nita hanya dapat menerima perlakuan Parmin di lubang pantatnya, sambil menahan sakit ia menggigit pundak Nanang, Nanang mendiamkan gigitan Nita karena saat itu ia sedang merasakan kenikmatan yang belum pernah ia alami sebelumnya, kontolnya sedang terjepit dengan erat oleh memek Nita, ditambah dengan aksi Parmin yang sedang meneroboskan kontolnya dilubang pantat Nita sehingga membuat lubang vagina Nita semakin sempit dirasakan oleh Nanang.</p>
<p style="text-align: justify;">“Terus, Min, dorong terus, gila memeknya jadi tambah sempit, berkedut-kedut terus lagi, kontol gw kaya dipijat-pijat,”teriak Nanang yang sedang keenakan merasakan jepitan memek Nita.</p>
<p style="text-align: justify;">“Heeh, ini pantatnya juga sempit, masih perawan, hehehe…empot ayam juga, tenang Bu, nanti juga enak, tanya aja ama bu Hani tuch, ya nggak bu Han,”kata Parmin terkekeh-kekeh.<br />
<span id="more-1068"></span><br />
“Heeh…beetul…Nit, tar juga enak..Ooohhh terus Git, sodok lebih dalam lagi, iyaaahh…,”jawab Hani membetulkan sambil menikmati sodokan-sodokan kontol Gito.
</p>
<p style="text-align: justify;">“Tuch, apa saya bilang Bu,”Parmin berkata lagi, sambil terus menekankan kontolnya lagi, bbleess ….blleess…bbleeesss…perlahan tapi pasti kontol Parmin mulai menyeruak masuk lebih dalam dilubang pantat Nita.</p>
<p style="text-align: justify;">“Hhhmmm….hhhmmmm…,”Nita hanya bisa bergumam merasakan kesakitan saat kontol Parmin menerobos makin dalam dilubang pantatnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Dan….Bbbleeesss….dengan sekali sentakan kuat Parmin mendorong kontolnya, Nita menjerit akibat sentakan Parmin itu,</p>
<p style="text-align: justify;">“Arrgghhhh….sakiiittt….ccabut..kontolmu itu…Uughhh,”jerit Nita.</p>
<p style="text-align: justify;">Parmin yang sedang menikmati jepitan erat lubang pantat Nita di batang kemaluannya itu tidak mau mendengarkan permintaan Nita, tapi dengan kedua tangannya memegangi pinggang Nita Parmin mulai dengan perlahan-lahan memaju mundurkan tubuh Nita, sehingga kontolnya dan kontol Nanang mulai keluar masuk dengan sendirinya dilubang-lubang Nita.</p>
<p style="text-align: justify;">“Min , uenak tenan, nich…ngentot cara begini, betul-betul mantab…kayanya memeknya tambah sempit aja..oooohh…, sedapp…nikmat….,”kata Nanang saat ia mulai merasakan kontolnya keluar masuk memek Nita dengan seretnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Sssrtttt….bbleess…..sssrtttt….bbleess….sssrrrtt….b bblleess…sssrrttt..bbleeess….. kedua kontol mereka keluar masuk perlahan-lahan di kedua lubang Nita.</p>
<p style="text-align: justify;">Lama kelamaan rasa sakit yang dirasakan oleh Nita berangsur menghilang berganti dengan rasa nikmat, Nita sekarang mulai bisa merasakan enaknya pergeseran kedua kontol itu didalam lubang memek dan pantatnya, ia merasakan kedua lubangnya penuh sesak oleh kontol-kontol besar Parmin dan Nanang, sensasi nikmat yang ia rasakan sekarang belum ia alami sebelumnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Sementara itu Udin mulai memposisikan tubuh Dewi untuk menungging, Dewi menuruti kemauan Udin yang ingin kontol* dia dari belakang, pantatnya ia angkat sementara dada dan wajahnya menempel keatas karpet, dengan tidak sabar lagi Udin mulai menyelipkan kepala kontolnya dilubang memek Dewi, setelah dirasakan kepala kontolnya tepat dilubang senggama Dewi, dengan sekali sentakan kuat Udin mendorong maju kontolnya menerobos vagina Dewi.<br />
Bleeessssss……Batang kemaluan Udin menyeruak masuk kedalam vagina Dewi.
</p>
<p style="text-align: justify;">“Aaaggghhh…pelaann..Din, robek punyaku nanti…kontolmu besar sekali..,”jerit Dewi saat lubang vaginanya diterobos dengan kuat oleh kontol Udin.</p>
<p style="text-align: justify;">“heeh..tenang bu, gak akan robek, tapi yang ada nanti merem-melek sama batangku ini,”jawab Udin.</p>
<p style="text-align: justify;">Udin merasakan jepitan kuat dibatang kontolnya, dan ia merasakan dinding vagina Dewi berkedut-kedut, seolah-olah meremas-remas batang kontolnya, Udin merasakan nikmatnya memek Dewi itu, yang belum pernah dirasakan olehnya tatkala ia menyetubuhi istrinya yang sudah punya 3 anak.</p>
<p style="text-align: justify;">Tak lama berselang Udin mulai memaju-mundurkan kontolnya didalam lubang vagina Dewi sssrttt….blesss…srrrttt…blesss…sssrtttt…bleess….</p>
<p style="text-align: justify;">“Oohh…enak Din, terus…tekan yang dalam..yach…yang kuat..oohh…enak kontolmu Din…,”desah Dewi, yang merasakan nikmatnya sodokan kontol Udin divaginanya.</p>
<p style="text-align: justify;">“Teruss….oohh…lebih cepat..yach…hhhmmm..aaghhh…nikmat…,”kembali Dewi mendesah.</p>
<p style="text-align: justify;">“Uughhh…yach..tekan yang kuat…aaahhh…enak…nikmat…kontolmu,”rintih Hani yang sedang menikmati enjotan Gito.</p>
<p style="text-align: justify;">“Terus..Git, lebih cepat…oohhh…puaskan aku…yachh…aaaghhh…nikmat sekali,”kembali Hani merintih keenakan.</p>
<p style="text-align: justify;">“Uugghh…hhmmmm…sslllrrppp…memek ibu sempit sekali…hhmmm…sslrrrppp,”gumam Gito sambil mulutnya asyik menghisap-hisap payudara Hani bergantian kiri &amp; kanan.</p>
<p style="text-align: justify;">Sementara itu Nita juga sedang merasakan kenikmatan yang luar biasa, dari mulutnya tidak hentinya terdengar erangan-erangan keenakan,</p>
<p style="text-align: justify;">“Ooohhh…enak..sekali…terus enjot kontol kalian…yang dalam tekannya…yaahhh..begitu…lebih cepat…naahh…nikmat sekali…terus…terus…,”erang Nita keenakan dienjot oleh Nanang dan Parmin.</p>
<p style="text-align: justify;">Kedua payudara Nita juga tidak luput dari aksi Nanang, remasan-remasan tangan Nanang dikedua payudara Nita dan ditingkahi dengan hisapan-hisapan serta jilatan-jilatan pada kedua putingnya membuat Nita semakin mengerang kenikmatan.</p>
<p style="text-align: justify;">“Ooohhh…Nang, hisap…terus…hisap…tetekku…yach…yang kuat..oohh..geli enak..,”Nita mengerang lagi.</p>
<p style="text-align: justify;">“hhhmmm… ssslrrppp… hhmmm… ssslllrppp…memek ibu… juga… enak… sekali… sempit… ssllrrppp … hhhmmm,”desah Nanang.</p>
<p style="text-align: justify;">“Ooohh…enak…ooohh…nikmat…,”Parmin merintih keenakan, sambil terus menggenjot kontolnya keluar masuk dalam lubang pantat Nita.</p>
<p style="text-align: justify;">Rintihan, erangan, dan desahan terdengar tanpa henti dari mulut mereka, keringat mereka sudah membanjiri tubuh mereka dan bercampur aduk, bunyi suara ceplakan saat tubuh mereka beradu menambah ramai suasana persetubuhan mereka.</p>
<p style="text-align: justify;">Cairan pelicin semakin banyak keluar dari kemaluan mereka, mempermudah keluar masuk batang kemaluan para lelaki didalam lubang-lubang para wanita, gerakan keluar masuk batang kemaluan para lelaki semakin bertambah cepat, akibatnya membuat para wanita semakin mengerang keenakan.</p>
<p style="text-align: justify;">Mendapat sodokan-sodokan yang bertubi-tubi dari batang kemaluan para lelaki itu membuat para wanita itu mulai goyah, tubuh mereka mulai mengejang dan mengejut-ngejut, puncak kenikmatan para wanita sudah diambang pintu, sementara para lelaki mengalami hal yang sama, puncak kenikmatan mereka hampir mereka rengkuh juga, gerakan para lelaki itu sudah mulai tidak beraturan.</p>
<p style="text-align: justify;">“Ooohh…aaku tidak tahan lagi… aku mau keluar..aahhh..nikmat…enak…,”Hani, Nita dan Dewi mengerang bersamaan, puncak kenikmatan untuk yang kedua kalinya akan mereka raih.</p>
<p style="text-align: justify;">“Oooohhh…aku keluar…Oohh…tekan yang dalaammm….yang kuaat…,’kembali Hani, Nita dan Dewi mengerang bersamaan dan, sssrrrr….ssrrr….sssrr….sssrrr….vagina mereka menyemburkan lahar kenikmatan mereka membasahi batang kemaluan lelaki yang sedang berada dalam lubang mereka.</p>
<p style="text-align: justify;">“Uughhh…hhmmm…aku keluar jugaa….aaagghh…enaaakk..uughh,”Ke empat lelaki itu mengerang secara bersamaan dan menekan dalam-dalam kontol mereka kedalam lubang para wanita itu, dan cccrreeeett….creeettt…ccreeett….ccreeett….kontol mereka memuntahkan lahar kenikmatan didalam lubang para wanita itu hampir berbarengan dengan semburan lahar kenikmatan dari vagina para wanita itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Tubuh mereka semua terlihat mengejut-ngejut seirama dengan muntahnya lahar kenikmatan mereka, nafas mereka terdengar memburu, pancaran puas terbias di wajah mereka. Selang tak lama setelah tetes terakhir lahar kenikmatan mereka menetes dari kemaluan masing-masing, mereka semua akhirnya tergolek kelelahan diatas karpet.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ceritasex.cn/dewi-maniak-seks-pesta-ulang-tahun-anaknya-bagian-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Renita, Bersetubuh Dengan Kakak Ipar.</title>
		<link>http://www.ceritasex.cn/renita-bersetubuh-dengan-kakak-ipar/</link>
		<comments>http://www.ceritasex.cn/renita-bersetubuh-dengan-kakak-ipar/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 13 Nov 2009 23:23:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cerita Sex</dc:creator>
				<category><![CDATA[Paruh baya]]></category>
		<category><![CDATA[Sedarah]]></category>
		<category><![CDATA[kisah nyata]]></category>
		<category><![CDATA[selingkuh]]></category>
		<category><![CDATA[bercinta]]></category>
		<category><![CDATA[bersetubuh]]></category>
		<category><![CDATA[incest]]></category>
		<category><![CDATA[ipar]]></category>
		<category><![CDATA[ml]]></category>
		<category><![CDATA[ngentot]]></category>
		<category><![CDATA[renita]]></category>
		<category><![CDATA[seks]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ceritasex.cn/?p=1058</guid>
		<description><![CDATA[Renita 28 th memiliki postur tubuh yang aduhai, tinggi 160 kulitnya yang putih memiliki payudara cukup besar dan kencang, pinggang yang ramping tanpa ada lemak sedikitpun diperutnya dan yang paling ia banggakan adalah pinggulnya yang sexy dengan bongkahan pantatnya yang bulat menonjol membuat pria manapun menahan napas, Rudi 32 th suami Renita berkerja sebagai salah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Renita 28 th memiliki postur tubuh yang aduhai, tinggi 160 kulitnya yang putih memiliki payudara cukup besar dan kencang, pinggang yang ramping tanpa ada lemak sedikitpun diperutnya dan yang paling ia banggakan adalah pinggulnya yang sexy dengan bongkahan pantatnya yang bulat menonjol membuat pria manapun menahan napas, Rudi 32 th suami Renita berkerja sebagai salah satu direktur disebuah perusahaan besar. Perkawinan mereka baru berumur 2 tahun dan belum dikaruniai anak. Keadaan rumah tangga mereka biasa biasa saja, hanya baru baru ini Rudi selalu sibuk dengan pekerjaannya kadang pulang larut malam bahkan kadang dikirim perusahaannya keluar negeri sampai berminggu minggu. Renita mulai merasakan kesepian, pernah satu kali ia ingin ikut suaminya keluar negeri tetapi suaminya tidak mengijinkan. Renita protes karena tidak punya kawan berbicara, akhirnya Rudi mengusulkan untuk ditemani kakaknya Robert 34 th yang kebetulan dipindahkan oleh perusahaannya kekota mereka tinggal. Robert baru saja cerai dengan istrinya karena ada ketidak cocokkan diantara mereka. Robert mempunyai wajah yang cukup tampan dengan tubuh atletis memiliki sifat easy going mudah bergaul dan mempunyai sifat womenizer. Singkat cerita Robert akan tinggal dirumah mereka sebagai orang ketiga yang akan merubah kehidupan Renita selanjutnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Dihari pertama Robert tinggal dirumah mereka, Robert langsung terpesona akan kecantikan adik iparnya atau lebih tegas lagi ia tergiur oleh kemolekan tubuh adik iparnya yang aduhai itu. Hanya karena ia baru saja bertemu dengan adiknya setelah sekian lama tidak bertemu maka ia lebih menyesuaikan dirinya sebagai layaknya seorang kakak. Rudi tidak menaruh curiga apapun kepada kakaknya bahkan ia meminta kakaknya untuk menemani istrinya jikalau ia keluar kota. Suatu saat ketika Rudi akan mendapatkan tugas kantornya selama dua bulan, malam sebelumnya mereka saling berdebat, rupanya Renita tetap ingin ikut karena dua bulan bukan waktu yang singkat dan Renita yang mempunyai sifat polos dan blak blakan langsung to the point bahwa sudah tiga minggu ia tidak digauli oleh suaminya sekarang mau ditinggal dua bulan. Rudi coba menenangkan istrinya dengan mengimingi akan dibawakan oleh oleh dari belanda, Renita tetap kecewa ia hanya ingin kemesraan dari suaminya, akhirnya dengan terpaksa Rudi menggauli istrinya malam itu tetapi karena pikirannya hanya pada tugasnya saja maka ia dengan tempo singkat ia menggauli istrinya dan Renita pun tidak mendapatkan kepuasan bathin yang ia sangat harapkan dari suaminya.</p>
<p style="text-align: justify;">Pagi hari setelah Rudi berangkat ke airport seperti biasanya Renita menyediakan makan pagi, kali ini hanya untuk kakak iparnya saja dan setelah siap Renita memanggil kakak iparnya untuk sarapan, sebenarnya Robert sudah bangun tetapi ia tahu bahwa adiknya keluar negeri hari ini dan ia mendengar perdebatan mereka tadi malam, maka pagi ini ia akan mencoba hasratnya untuk menguji adik iparnya. Lalu ia menyiapkan suatu perangkap dengan pura pura ketiduran sambil menaruh beberapa majalah porno diserakan dilantai. Benar saja tiba tiba pintunya yang tidak tertutup rapat diketuk oleh Renita &#8220;..Mas Robert sarapan mas..&#8221; Renita memanggil kakak iparnya sembari mendorong pintunya untuk melongok kedalam kamar, ternyata kakak iparnya masih tidur dengan memakai selimut menutupi tubuhnya, &#8220;Mas bangun sarapan..&#8221; Ia melihat Robert begitu nyenyak tidurnya akhirnya berniat untuk membangunkannya sendiri lalu masuk kekamar, ia melihat kelantai banyak sekali majalah yang telah terbuka berserakan, maka sebelum membangunkan kakak iparnya Renita bermaksud membereskan dahulu majalah majalah tersebut tetapi alangkah terkejutnya ketika ia mendapati gambar gambar yang ada didalam majalah tersebut. Tangan Renita bergemetaran hatinya berdegup keras melihat pose pose persetubuhan yang sangat closed up, dengan cepat ia melirik kuatir kakak iparnya tiba tiba bangun, hatinya ragu ragu sebenarnya ia ingin cepat cepat membereskan majalah ini ke raknya tetapi entah mengapa ada suatu hasrat ingin melihat gambar gambar itu lebih jauh, &#8220;..Ah.. satu dua halaman sudah itu cepet cepet ditaruh lagi..&#8221; pikiran Renita yang bercabang, lalu pelan pelan ia buka halaman demi halaman, makin dilihat makin melotot matanya, ia melihat satu wanita sedang disetetubuhi dua kali laki, jantungnya makin berdegup keras selangkangannya terasa gatal vaginanya terasa berdenyut denyut putingnya mengeras birahinya dengan cepat meluap kepermukaan apalagi tadi malam hasrat birahinya tidak tertuntaskan oleh suaminya, kembali ia melirik ketempat tidur<span id="more-1058"></span><br />
&#8220;..Ah mas Robert masih tidur..&#8221; lalu pelan pelan ia dudukdilantai sambil menarik dasternya keatas terlihat celana dalamnya yang menerawang tipis kemudian ia masukan tangannya kedalam cd nya, rupanya Renita ingin menuntaskan birahinya dengan masturbasi sambil menghayalkan gambar gambar tersebut, mulailah Renita menggosok gosok clitorisnya sambil memelototi beberapa pose pose gambar yang merangsang birahinya, Renita begitu terokupasi dengan masturbasinya sampai napasnya tersengal tersengal tiba tiba terdengar deritan tempat tidur, membuat Renita kaget bukan kepalang jantungnya terasa berhenti ketika ia menengok ke tempat tidur Robert masih pura pura tidur tetapi sudah berubah posisi dengan menghadap kedirinya dan yang sangat mengejutkan Renita, Robert sudah tidak berselimut lagi dan hanya memakai celana dalam, rupanya Robert dari tadi memperhatikan Renita sehingga kemaluannyapun berdiri, dan yang dilihat oleh Renita adalah pemandangan yang membuat birahinya semakin tidak menentu, tubuh kakak iparnya yang kekar dadanya yang bidang hanya dibalut sepotong cd dimana terlihat jelas batang kemaluannya tercetak dicelana dalamnya. Tubuh Renita terasa kaku dan berat sekali untuk digerakkan tetapi akhirnya agak lega ketika kakak iparnya terdengar mendengkur tanda masih nyenyak tidur.
</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;..Ohh..Renita kau sungguh cantik..&#8221; mulailah Robert pura pura ngelindur. Renita kaget mendengarnya sejenak ia berhenti melakukan aktifitasnya. &#8220;.. Ohh..seandainya kau istriku akan kupeluk mesra dirimu akan kuciumi seluruh tubuhmu yang begitu sexy..&#8221; Renita benar benar bingung mengapa tiba tibak kakak iparnya melindurkan dirinya tetapi hatinya begitu senang ada seseorang yang menyanjung dirinya walaupun yang menyanjung itu kakak iparnya sendiri. |Tanpa disadari Renita menggunggam sendiri, &#8220;.. Ohh mas Robert seandainya kau suamiku akan kupeluk tubuhmu yang perkasa ini..&#8221; Walaupun suara Renita terdengar lirih tetapi Robert masih dapat mendengarnya, Robert makin berani melakukan aksinya. &#8220;..Ohh..Renita sudah lama aku tidak bergaul dengan wanita seandainya kau bersedia, ingin rasanya aku menyetubuhimu akan kumasukan punyaku ini kevaginamu akan kuberikan kepuasan yang kau dambakan..&#8221; Renita terhenyak darahnya terasa mendidih..mengapa kakak iparnya tahu bahwa ia mendambakan kehangatan seorang laki laki, napsu birahinya semakin menjadi jadi. Vaginanya berdenyut denyut jarinya semakin dalam merogoh lobang kenikmatannya membayangkan ucapan kakak iparnya tersebut. Tiba tiba Robert berbalik lagi kali ini ia mencelentangkan tubuhnya sambil menceloteh memanggil nama |Renita dengan gerakan seperti tidak disengaja ia mengusap usap batang kemaluannya lalu dengan perlahan Robert mencopot cd nya hingga batang kemaluannya mengacung dengan tegar. Renita membelalakkan matanya jantungnya terasa berhenti darahnya berdesir berputar cepat sekali. Tadi malam ia merasakan batang kemaluan suaminya tidak setegar dan sebesar apa yang dilihat sekarang. &#8220;..Ohh Renita lihat batang penisku sudah siap untuk memuasi birahimu, oh seandainya kau diatasku akan kugesek gesekan penisku kevaginamu yang sudah merekah basah itu..&#8221; kembali Robert menyeloteh memancing reaksi Renita, benar saja Renita seperti tersihir tanpa melepaskan pandangannya ke batang kemaluan kakak iparnya ia copot cdnya bahkan sekaligus melepaskan dasternya sehingga Renitapun telanjang tanpa sehelai kain.</p>
<p style="text-align: justify;">Dengan tubuh bugil putih mulus sungguh sangat sexy Renita menaiki tempat tidur sambil mengangkat pantatnya yang sexy buah dadanya yang membusung ikut bergoyang, lalu dengan perlahan ia membuka kedua pahanya sehingga kelihatan vaginanya yang juga membusung, bibirnya terbelah merekah kemerah-merahan diantara bulu bulu kemaluannya yang halus dan sudah kelihatan basah berair. Clitorisnya berwarna merah muda sebesar biji kacang terlihat mencuat keatas diujung bibir vaginanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Renita mulai mengambil posisi berjongkok tepat diantara batang kemaluan Robert yang sudah berdiri tegang. Pikiran Renita sudah begitu kacau napsu birahinya tidak dapat dikuasainya lagi, kata kata kakak iparnya merupakan ajakan yang sangat menggoda kebutuhan sexnya. Renita melihat tubuh kakak iparnya yang sangat perkasa kepala penisnya sudah begitu dekat dengan vaginanya tapi entah mengapa Renita menunggu celotehan kakak iparnya lagi seolah olah menunggu komando untuk pembenaran tindakannya. &#8220;..Ohh..Renita masukin penisku ke vaginamu sayang..&#8221; Robert</p>
<p style="text-align: justify;">memincingkan sebelah matanya tak percaya apa yang dilihatnya, tubuh adik iparnya yang begitu sempurna tanpa sehelai benangpun lalu ia meneruskan celotehannya &#8220;..Ohh akhirnya kau datang dalam mimpiku Ren..pahamu sungguh mulus..&#8221; Robert menaruh kedua tangannya di paha Renita sambil mengelusnya. Renita bergetar hebat sentuhan tangan kakak iparnya menyadarkan seluruh hayalannya. Akhirnya Renita sadar bahwa ia betul betul membutuhkan kehangatan seorang pria dan pria itu berada tepat dihadapannya lalu tanpa sungkan lagi ia membangunkan kakak iparnya &#8220;..Mas Robert.. mas ini Renita bangun mas..&#8221; Lalu Robert membuka matanya dengan mimik pura pura terkejut &#8220;..Ren saya pikir saya sedang mimpi..&#8221; Renitapun tersenyum nakal &#8220;..Mas Robert naksir Renita ya..Renita denger semua yang mas ocehkan tadi lalu Renita turuti apa yang mas perintahkan..&#8221; Robert membalas senyumannya &#8220;.. Tapi belum masuk tuh penisku..&#8221; Renita yang sudah begitu menggebu gebu akhirnya kembali konsentrasi melanjutkan aksinya.</p>
<p style="text-align: justify;">Tetapi Renita tidak langsung memasukkan batang kemaluan kakak iparnya itu kedalam lobang vaginanya yang sudah merekah pasrah untuk menyambut batang penis yang besar itu, melainkan terlebih dahulu menggesek-gesekkan kepala kemaluannya itu diantara belahan vaginanya sehingga kepala yang besar itu basah dan mengkilap oleh cairan lendir yang keluar dari celah-celah vagina wanita itu.<br />
Renita terbuai dengan mata yang terpejam sambil mendesah-desah menahan gejolak nafsu birahi yang terus membara.<br />
&#8220;&#8230;sssssssshhhhh&#8230;maaaassss&#8230;ooooooogggghhhsss. ..!! Bagaikan diguyur air hangat Renita mendesah panjang tubuhnya terasa dialiri jutaan volt kenikmatan napsu birahinya makin terangsang hebat.<br />
Renita mulai menekan kepala penis yang sudah pas berada di posisi mulut lobang vaginanya. Tampak kepala penis Robert masih agak sulit masuk kedalam lobang vaginanya yang walaupun sudah basah dan berair itu karena belum pernah kemasukan penis sebesar punya kakak iparnya itu.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;&#8230;sssleeebbbb&#8230;ssslleeeebbb&#8230;sssslleeeebbb&#8230;b bbllleeeeesssssss&#8230;&#8221; pelan pelan batang penisnya mencoba menyusup lobang vagina Renita yang terasa sekali masih sempit walaupun sudah begitu basah.<br />
&#8220;&#8230;Aaaaaaauuuuuuukkkkkkhhhhhhh&#8230;sssssshhhhh&#8230;ma aaaasssss&#8230;! besaaaar sekaliiii..!!&#8221; &#8220;..Apanya yang besar Renn..?&#8221; Robert memancing reaksi Renita, &#8220;&#8230;Punyanya maass..!!&#8221; &#8220;..Apa namanya..?&#8221; Robert memancing lagi, Renita ragu menjawabnya karena belum pernah selama ia bersetubuh dengan suaminya menyebut nyebut kata kata vulgar, &#8220;..Apa namanya Renn..?&#8221; Robert terus mendesak, &#8220;..Kemaluannya maaas..&#8221; &#8220;..kontol..Renn..namanya kontol..&#8221; Robert menegaskan &#8220;..Apa Renn..?&#8221; akhirnya Renita dapat menyebutnya dengan lirih &#8220;..kontolnya mass besaaar sekali..&#8221; Robert tersenyum puas lalu dengan sekali sentakan mendorong pantatnya keatas, tampak Renita agak tersentak dan mendesah lirih ketika batang penis pria itu menyeruak masuk ke lobang vaginanya .<br />
Matanya terbeliak dengan mulut terbuka sambil kedua tangannya mencengkeram sprei dengan kuat-kuat.Tampak bibir vaginanya yang tebal itu sampai terkuak lebar seperti terkelupas seakan-akan tidak muat untuk menelan besarnya kemaluan kakak iparnya itu.<br />
&#8220;&#8230;Ooooooouuukkkkkhhhhssss&#8230;sssshhhhhh&#8230;maassss &#8230;!..pelaann..pelaann..maasss&#8230;!&#8221;<br />
&#8220;&#8230;hhhhmmmm&#8230;Rennnn memekmu&#8230;sempit sekalii&#8230;ukkkkhhh&#8230;uuuukkkkhhhh&#8230;&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Renita mulai berirama menaik turunkan pantatnya, batang penis Robert masuk merojok lobang vagina Renita tahap demi tahap hingga akhirnya amblas semuanya. Perlahan lahan Robert ikut bergoyang menarik ulur batang kemaluannya yang besar itu, Reni mulai merasakan sensasi yang luar biasa yang bukan main nikmatnya , liang vaginanya yang sudah licin terasa penuh sesak oleh penis kakak iparnya yang besar itu, urat urat batang kemaluannya menggesek nikmat sekali dinding vaginanya yang sudah dilumuri getah birahinya. Tanpa Renita sadari ia mulai menyeloteh diluar kontrol.<br />
&#8220;&#8230;Ohhhhhhhsss&#8230;ssshhh&#8230;enaaaaaak&#8230;seekaliiii. ..punyanya..maaassss..!!&#8230;oooougggghhh&#8230;terruuuu ssss&#8230;maaassss&#8230;teeerrruuusss&#8230;!&#8221;<br />
&#8220;..Terus diapain Renn..?&#8221; lagi lagi Robert ingin Renita menambah kosakatanya, sekarang Renita sudah lebih berani karena sudah terbuai oleh birahinya yang makin menjadi jadi, &#8220;..teruss digoyang kontolnya maass..!!&#8221; &#8220;..Salah Renn namanya kontol*..bilang entotin memeknya Renita..!&#8221; Robert memaksa lagi dengan kata kata baru, Renita merasakan sesuatu yang aneh pada dirinya makin vulgar kata kata yang dipaksakan kakak iparnya untuk diucapkannya makin terangsang napsu birahinya yang sudah menggebu gebu itu.
</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;..Iyyaa..maass entoootin memeknya Renita&#8230;!! Entoootiin&#8230;pake kontol gedenya maaaasss&#8230;!!&#8230;entoootiiiin yang niiikmaaat..!!&#8221;" makin lancar Renita menyeloteh makin beringas Robert menyetubuhi Renita dan Renitapun makin histeris dibuatnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Renita sudah lupa diri bahwa yang menyetubuhi dirinya adalah kakak dari suaminya, yang ada dibenak Renita hanyalah letupan birahi yang harus dituntaskan yang ia tunggu tunggu selama tiga minggu dari suaminya tapi Rudi suaminya sama sekali tidak mempedulikannya sedangkan sekarang ia mendapatkan apa yang ia inginkan justru dari Robert kakak iparnya sendiri, birahinya yang ia pendam sekian lama meletup dipelukan kakak iparnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Akhirnya yang terjadi mereka dengan buas dan ganas saling berpelukan sambil berciuman .Terdengar suara nafas mereka saling memburu kencang, lidah mereka saling mengait dan saling menyedot, saling bergulingan giliran Renita dibawah, Robert mengambil inisiatif menggenjot pinggulnya yang tampak naik turun semakin cepat diantara selangkangan Renita yang makin terbuka lebar, Renitapun mengangkat kedua kakinya sambil ditekuknya, pantatnya ikut diangkat mengharapkan seluruh batang kemaluan kakak iparnya menggesek seluruh syaraf syaraf kenikmatan dirongga vaginanya dan Robertpun semakin mudah menyodokan penisnya yang panjang besar itu keluar masuk sampai menghasilkan suara bedecak-decak seperti suara membecek seiring dengan naik turunnya pantat pria itu.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;&#8230;cccllllleeeeebbbbbbb&#8230;ccccleeeeebbbbb&#8230;cccll eeeeebbbb&#8230;cccleeeeebbbbb&#8230;&#8221;<br />
Robert memperhatikan kearah selangkangan Renita dia melihat vaginanya mencengkeram penisnya erat sekali, ia tersenyum puas bisa menaklukkan vagina adik iparnya ini, yang sudah basah membanjir penuh dengan cairan putih kental sehingga membasahi bulu-bulu jembutnya yang tebal itu dan juga batang kemaluannya. Ia yakin adik iparnya benar benar sudah memasrahkan dirinya untuk disetubuhi kapan saja ia mau,</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;&#8230;oooooouuuuuggghhhhssss&#8230;ooouuugggghhhsss&#8230;ss sshhhh&#8230;maaassss&#8230;!..enaaakkk..sekaliii..kontolm uu&#8230;ini..maass..!<br />
&#8230;teruuuss..maasss&#8230;entoootin..memek Renita yaanggg..ceepaatt&#8230;ouchh&#8230;nikmaaaat..!&#8221;<br />
&#8220;..Ouuuchhh..memekmu sempit seekalii&#8230;Reenn..! terasaaa menyedoot nyedooot..!nikmatnya bukan maiiiin..!!&#8221; Robert mendengus dengus bagai banteng terluka genjotannya makin ganas saja. Mata Robert terlihat lapar menatap payudara Renita yang putih montok dikelilingi bulatan pink ditengahnya terlihat putingnya yang sudah begitu mengeras, tanpa menyia nyiakan kesempatan Robert langsung menomplok dan menyedot menyedot puting susu adik iparnya yang begitu menantang, Tubuh Renita yang menyender dinding setengah duduk setengah celentang menggelinjang hebat..! payudaranya makin dibusungkan bahkan tubuhnya digerakkan kekiri dan kekanan supaya kedua puting buah dadanya yang sudah gatal mendapatkan giliran dari serbuan mulut kakak iparnya ini.<br />
&#8220;&#8230;oooooouuuuuggghhhhssss&#8230;ooouuugggghhhsss&#8230;ss sshhhh&#8230;maaassss&#8230;!..kenyooot teruuusss pentiiiilku..!! &#8230;oooohhh&#8230;maaaasss&#8230;kkaaaauuu&#8230;sunggggguh..pe rkkaaaasssaaaa&#8230;!!.. Reeeniii bisssshhaa ketagihaaaaan.. dientooot..sama..maaasss &#8230;!!&#8221; pikiran Reni sudah tidak jernih lagi, terombang ambing didalam pusaran kenikmatan, terseret didalam pergumulan sex dengan kakak iparnya, jiwanya serasa seenteng kapas melambung tinggi sekali.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Ooooohhhh&#8230;aaaa..aakkhh..aakhuu..ngghha taaahaaann..maaauu..keluaarrr&#8230;maassss&#8230;!&#8221;.. Tubuh Renita mengejang sambil memeluk tubuh Robert erat sekali jiwanya terasa berputar putar merasakan semburan kenikmatan yang dahsyat diklimaksnya yang pertama, &#8220;..Teruuus Renn jangan berhenti aku masih pengen kontol*in memekmu yang lamaaa..! Kamu bisa keluar lagii berkali kaliiii&#8230;!!&#8221; Robert teruss menggenjot tubuh Reni yang hanya pasrah dipelukan kakak iparnya ini.<br />
Lebih dari sejam Robert menyetubuhi Renita tanpa henti, Renita makin lama makin terseret didalam kenikmatan pergumulan sex dengan kakak iparnya yang ia belum pernah rasakan dari suaminya sampai sebegini lamanya dengan segala macam variasi , apalagi waktu Robert memintanya berbalik sambil menungging,
</p>
<p style="text-align: justify;">vaginanya terlihat megap megap disumpal batang penisnya yang besar dari belakang , ia merasakan liang vaginanya menyempit karena tertekuk oleh perutnya sehingga ia merasakan setiap inchi denyutan kenikmatan yang dihasilkan oleh batang penis Robert yang merasuk keliang kenikmatannya, Renita menambah sensasi sensual ini dengan memutar mutar pantatnya yang putih sexy bahkan ketika Robert menyodok penisnya yang besar itu, Renita menyambutnya dengan mendorong keras pantatnya kebelakang sehingga penis Robert yang besar dan panjang itu masuk kelobang vaginanya dalam sekali, menggelitik seluruh rongga kenikmatannya &#8220;..Oooohh&#8230;niiiikmaaat&#8230; sekaaalii&#8230;maass..!! dientot dari belakang&#8230;! urat kontoool maaass.. terasa sekalii menggelitik lobang memeeekku..!!..belum pernah aku rasakan ngentooot beginiii niiikmaaat..!! entoootiiinn.. teruuusss..maaassss&#8230;!!!&#8221; Robert sangat puas mendengarnya lalu ia merunduk memeluk tubuh Renita dari belakang tangannya merogoh keselangkangan Renita, jari2 Robert memainkan clitoris Renita dengan memutar mutarnya, sambil menggenjot dengan beringas penisnya yang besar itu,</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;..uuuuggghhhsss&#8230; aaaaacchhh.. maaaasssss&#8230; yeeeesssss&#8230;!! niiiiikmaaaat..!! mainin teruuuusss&#8230; itiiilku..!! &#8220;..entooootin memeeeekku..!!!&#8221; bagai kesurupan Renita mengeluarkan kata kata vulgar sambil mengerang mengerang dengan liar, tubuhnya yang dalam posisi nungging meliuk meliuk tanpa terkendali rupanya clitorisnya merupakan alat kelamin yang paling sensitif buat Renita, lobang vaginanya yang sudah dihajar begitu rupa oleh penis yang berukuran luar biasa itu ditambah clitorisnya ditekan sambil diputar putar oleh jari Robert, maka sempurnalah puncak kenikmatan yang ia rasakan, tangan Renita mencengkeram sprei erat sekali, dahinya berkerut mulutnya seperti ingin teriak dan mendesis desis seperti orang kepedesan rupanya Renita sedang dilanda kenikmatan yang amat sangat, posisi tubuhnya yang sedang menungging makin ditunggingkan pantatnya keatas memasrahkan vaginanya dihabisi oleh keperkasaan penis kakak iparnya dengan mengharapkan kedatangan gelombang kenikmatan berikutnya yang merupakan pengalaman pertama buat Renita untuk mendapatkan multiple orgasm.</p>
<p style="text-align: justify;">Apa yang terlihat sungguh merupakan pemandangan yang sangat erotiiss..! tubuh mulus Renita menungging meliuk liukdengan liarnya kepalanya bergeleng kekiri dan kekanan buah dadanya bergoyang erotis sekali sementara tangan Robert yang kekar memegang erat pinggang Reni yang ramping itu, pantatnya digenjot cepat sekali batang penisnya yang besar keluar masuk liang vagina begitu dahsyat tanpa ampun, tubuh Reni sampai bergetar hebat terlihat ia mengejut ngejutkan tubuhnya tanda ia sedang mengalami kenikmatan yang maha dahsyat,&#8221;..uuuuggghhhsss&#8230; aaaaacchhh.. yeeeessssss..maaaasssss&#8230; yeeeesssss&#8230;!!&#8221; Renita benar benar melayang kelangit yang ketujuh didalam pergumulan sexnya dengan kakak suaminya ini. &#8220;&#8230;aaaaaaaaaacccchhhh&#8230;!!!!&#8230;terlaaaaluuu..niii iiikmaaaaaaaaaat&#8230;maaaaaassss&#8230;!!!..nggggaaa taahaaannn..akkkhuu.. maaauuu&#8230; keluaaaar&#8230; laaaagiiii&#8230;!!!&#8221; Renita makin histeris mendapatkan klimaks keduanya yang lebih panjang dan lebih nikmat dari yang pertama. Renita benar benar lupa daratan rasa ketagihan nikmatnya merasuk jiwanya ingin rasanya melanjutkan persetubuhannya selama lamanya dengan kakak iparnya karena ia bisa memberikan multiple orgasm yang ia tidak pernah dapatkan dari suaminya.</p>
<p style="text-align: justify;">Tapi tubuh Renita sudah tidak bertenaga lagi lalu ia ambruk ditempat tidur sambil berbalik berbaring napasnya tersengal sengal, rupanya Robert belum juga mengalami ejakulasi terpaksa ia ikut membaringkan dirinya disamping Renita, dengan wajah sayu Renita bertanya &#8220;..Mas belum keluar ya..?&#8221; Robert menggelengkan kepalanya, &#8220;..Jadi Renita masih akan dientot lagi..mas..?&#8221; Renita sudah lancar dengan kosakatanya, Robert mengangguk, &#8220;..Renita masih bisa orgasme lagi ngga..mas..?&#8221; Lalu Robert setengah berbangun berkata sambil membelai rambut Renita dengan mesra &#8220;..Ren kamu masih bisa orgasme 2 X lagi bahkan lebih..ada caranya..&#8221; Tiba tiba Renita menarik batang kemaluan Robert yang masih mengeras, matanya berbinar binar &#8220;..Ajarin Renita ya mas..Renita masih pengen dientot kontol gede mas Robert seharian kalau Renita bisa keluar lagi..keluar lagi..&#8221; &#8220;..Renita jarang klimaks kalau ditiduri sama mas Rudi, mas Rudi pengennya cepet cepet aja, abis keluar langsung tidur..&#8221; Robert tersenyum kecut dalam hati ngedumel &#8220;..Goblok banget adik gua cewek segini sexy dianggurin.. ya udah jangan salahin gua ya..&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Seharian Robert mengajari Renita bagaimana caranya mengayuh sekoci cinta untuk menggapai beberapa pulau berpuncak gunung kenikmatan dan Renita menjadi murid yang cepat tanggap. Satu hari penuh Renita mendapatkan pengalaman luar biasa. Robert merangsang napsu birahinya dengan menyetubuhi dirinya berbagai macam posisi. tidak bisa dihitung sudah berapa kali Renita mengalami orgasme, yang jelas Renita begitu menikmati bahkan mungkin ketagihan disetubuhi batang kemaluan kakak iparnya yang begitu besar dan perkasa.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah kejadian hari itu, setiap ada kesempatan, mereka melakukan permainan sexnya dimana saja, pernah suatu malam Renita setelah berhubungan sex dengan suaminya dan tidak mendapatkan kepuasan yang ia inginkan, setelah suaminya tertidur ia langsung pindah kamar tanpa sepotong pakaian Renita langsung kekamar kakak iparnya minta untuk dipuasi dan seperti biasanya Robert memenuhi keinginannya dengan melumat seluruh tubuhnya tanpa sisa, vaginanya dilahap dengan buas dan seperti biasanya batang kemaluan Robert yang ia gila gilai menggali tak henti henti liang kenikmatannya. Renita dibuat melayang layang diawang awang sampai empat kali orgasm dan baru pindah kembali kekamarnya sekitar jam 4 pagi.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ceritasex.cn/renita-bersetubuh-dengan-kakak-ipar/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menikmati Tubuh Adinda, Menantuku.</title>
		<link>http://www.ceritasex.cn/menikmati-tubuh-adinda-menantuku/</link>
		<comments>http://www.ceritasex.cn/menikmati-tubuh-adinda-menantuku/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 13 Nov 2009 23:19:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cerita Sex</dc:creator>
				<category><![CDATA[Paruh baya]]></category>
		<category><![CDATA[selingkuh]]></category>
		<category><![CDATA[adinda]]></category>
		<category><![CDATA[bercinta]]></category>
		<category><![CDATA[incest]]></category>
		<category><![CDATA[menantu]]></category>
		<category><![CDATA[ml]]></category>
		<category><![CDATA[ngentot]]></category>
		<category><![CDATA[seks]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ceritasex.cn/?p=1055</guid>
		<description><![CDATA[Gairah kelelakian Pak Suryo yang terpendam kepada Adinda memang menuntut karena sang menantu makin dipandang makin menggiurkan saja. Ditahan makin lama makin meluap dan ketika dicoba mengutarakannya dengan memancing-mancing sambil mengobral banyak pemberian nampaknya tidak ada penolakan dari Adinda, dengan sendirinya kelanjutan ke arah hubungan terlarang ini menjadi semakin mulus. Tidak bisa disalahkan, Adinda yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Gairah kelelakian Pak Suryo yang terpendam kepada Adinda memang menuntut karena sang menantu makin dipandang makin menggiurkan saja. Ditahan makin lama makin meluap dan ketika dicoba mengutarakannya dengan memancing-mancing sambil mengobral banyak pemberian nampaknya tidak ada penolakan dari Adinda, dengan sendirinya kelanjutan ke arah hubungan terlarang ini menjadi semakin mulus.</p>
<p style="text-align: justify;">Tidak bisa disalahkan, Adinda yang latar belakangnya binal kalau sudah terlalu dekat apalagi sudah terlalu banyak dibanjiri hadiah sang mertua, maka kesadarannya pun cepat saja jadi buntu ketika itu. Jelas, karena sebenarnya bukan baru dimulai saat itu saja tapi dari awalnya Adinda memang sudah diincar oleh Pak Suryo dan Adinda sendiri juga sudah menaruh perasaan tertarik kepada bossnya yang simpatik ini. Cuma saja karena keburu diserobot duluan oleh Mas Indra yang lebih ngotot maka perasaan hati keduanya sempat tersendat dan sekarang mulai terungkit kembali. Menggelegak semakin hari semakin matang sampai kemudian di suatu sore yang merupakan penentuan ketika Pak Suryo mencoba sedikit nekat untuk menangkap menantu cantik ini dalam pelukannya tapi kali ini disertai dengan menyosor bibir Adinda.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Hffmmm.. hghh..&#8221; Adinda mengejang tersumbat mulutnya oleh lumatan nafsu Pak Suryo tapi begitupun dia tidak berontak. Ada beberapa saat dia ikut terhanyut dalam asyiknya berciuman bergelut lidah dan ketika cukup untuk saling melepas, terlihat air mukanya merah merona.<br />
&#8220;Bapak nekatt..&#8221; komentarnya malu-malu geli.<br />
&#8220;Abisnya kamu ngegemesin Bapak sih..&#8221;
</p>
<p style="text-align: justify;">Itu awal pertama percobaan Pak Suryo. Tentu saja melihat ada lampu hijau seperti ini jelas membuatnya lebih berani lagi. Dia sudah mulai mencari simpati dengan cerita tentang Bu Suryo yang mulai kurang memberinya kebutuhan penyaluran seks. Dan ternyata meskipun tidak terucapkan tapi dari mimik wajah Adinda tertangkap oleh Pak Suryo bahwa sang menantu ini mulai terpengaruh prihatin kepadanya. Terbukti ketika pada kesempatan hari berikutnya dia mengulang lagi memeluk dan mengajak berciuman tapi kali ini sambil sebelah tangannya menggerayangi bagian-bagian kewanitaan Adinda, mulai dari kedua susunya sampai kemudian menyusup ke selangkangan, meremas gemas bukit vaginanya, lagi-lagi tidak ada penolakan dari sang menantu cantik ini. Seperti yang pertama Adinda juga membiarkan sebentar dan ikut terhanyut oleh ajakan berciuman yang hangat bernafsu ini, hanya saja ketika terasa akan terlupa daratan segera dia minta melepas ciuman.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Pak jangan sekarang.. Adinda takut kalo ketauan..&#8221; bisiknya cemas karena sudah terasa jari nakal Pak Suryo menyusup mengorek-ngorek di celah kemaluan di bagian klitorisnya. Mendapat peringatan ini Pak Suryo pun seperti tersadar dan melepaskan Adinda.<br />
&#8220;Heehh.. nanti kalau ada kesempatan Bapak ke kamarmu, ya?&#8221; katanya masih sempat memesan.<br />
Adinda hanya mengiyakan dan segera berlalu dari situ meninggalkan Pak Suryo yang meskipun masih nampak penasaran tapi dalam hatinya lega karena yakin bahwa pada kesempatan berikut tentu dia pasti dapat meniduri menantu cantik ini.<br />
<span id="more-1055"></span><br />
Suatu hari Mas Indra akan dinas keluar kota, pagi-pagi buta itu Adinda sudah kembali naik tidur setelah mengantar Mas Indra cuma sampai di pintu kamar untuk berangkat ke airport. Membanting tubuhnya lemas karena Mas Indra masih sempat mengajaknya bermain cinta sesaat sebelum berangkat.Ketika setengah layap-layap itulah dia dihampiri Pak Suryo yang masuk ke kamarnya tanpa sepengetahuannya. Begitu datang Pak Suryo yang rupanya sudah lama menunggu kesempatan baik ini langsung ikut naik berbaring dan mulai menggerayangi tubuh Adinda yang masih bertelanjang bulat dan hanya menutupi tubuh atasnya dengan sehelai kain. Adinda sempat mengira bahwa itu Mas Indra lagi tapi segera tersadar karena perbedaan yang nyata di antara kedua lelaki itu. Mas Indra agak kecil sedang Pak Suryo yang pendek itu besar gempal tubuhnya. Adinda jadi kaget.<br />
&#8220;Ehh Bapakk?! kaget aku Paak.. kirain siapa.&#8221;<br />
&#8220;Ah masak sama Bapak nggak kenal, kan Bapak sudah pernah bilang mau nyusul ke sini kalo ada kesempatan.&#8221;<br />
&#8220;Abis nggak kedengaran masuknya, tapi Ibu mana Pak?&#8221; kata Adinda yang karena merasa tidak bisa menghindar lagi, dia bergerak bangun maksudnya akan mencuci dulu bekas-bekas dengan Mas Indra.<br />
&#8220;Ibu masih pules, nggak bakalan tau kalau Bapak ke sini..&#8221; tukas Pak Suryo yang rupanya sudah tidak sabaran lagi langsung menahan Adinda bangun.
</p>
<p style="text-align: justify;">Tanpa memberi kesempatan bicara bagi Adinda, dia sudah menyerbu perempuan itu dengan bernafsu. Mencium langsung melumat bibirnya sambil dibarengi remasan-remasan gemas di mana pun bagian tubuh sang menantu yang cantik menggiurkan ini terpegang tangannya. Adinda gelagapan sesaat, tapi lagi-lagi dia mengalah mencoba mengerti emosi nafsu laki-laki setengah umur yang menurut pengakuan kepadanya sudah jarang diberi penyaluran seks oleh istrinya. Pasrah saja dia membiarkan Pak Suryo dan malah ikut mengimbangi lumatan laki-laki itu sama bernafsunya meskipun kelanjutannya agak membuat risih juga karena serbuan-serbuan Pak Suryo benar-benar kelewat rakus. Dari saling bertemu bibir ciuman Pak Suryo menurun melanda kedua susunya, di sini hanya berhenti beberapa saat untuk mengisap kedua puncak bukit kembar itu dan sebentar menjilati putingnya lalu kemudian diteruskan lebih ke bawah melewati perut Adinda yang datar itu sampai kemudian mendarat di vaginanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Ini yang agak terasa kurang sreg bagi Adinda karena Pak Suryo seperti pura-pura lupa bahwa lubang itu masih belum sempat dicucinya, tapi dia enak saja mengerjai bagian itu dengan jilatan-jilatannya bahkan juga disedot-sedotnya. Mau dia mencegah tapi Pak Suryo masih lebih ngotot di situ malah semakin coba ditolak, semakin keras juga Pak Suryo bertahan. Terpaksa Adinda diam saja sampai akhirnya dia sendiri terbawa tidak perduli karena vaginanya yang dikerjai mulut lelaki memang merangsang nafsunya dengan cepat.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Aasshhg.. hngghh.. ssshhhg..&#8221; kontan melintir, bergeliat-geliat dia oleh kilikan jilatan di klitorisnya yang begitu menggelitik geli-geli enak dan sodokan-sodokan ujung lidah di lubangnya yang begitu membuatnya penasaran, sementara Pak Suryo tambah bersemangat memainkan kepintaran mulutnya. Menyosor seolah-olah ingin menyembunyikan wajahnya tenggelam di lubang menganga milik menantunya ini. Padahal Adinda baru saja terpuaskan dalam sanggama bersama Mas Indra, tapi rangsangan sang mertua ini begitu luar biasa menaikkan kembali birahi nafsunya seolah-olah tenaga untuk bercinta datang berlipat ganda. Masih beberapa saat Pak Suryo membakar bara nafsu Adinda, baru ketika dilihatnya sang menantu cantik ini sudah matang dituntut birahinya di situlah Pak Suryo berhenti dan mempersiapkan batangannya. Sudah cukup tegang, tinggal membasahi sedikit dengan ludahnya untuk kemudian dituntun menempel di mulut lubang, langsung ditusuk masuk.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Hhgghh..&#8221; sekali lagi Adinda mengejang kali ini oleh sodokan penis Pak Suryo. Tapi karena sudah cukup siap dia bisa langsung menerima batang yang sebenarnya masih asing baginya. Malah tuntutannya kepingin cepat terpenuhi, dia pun ikut menyambut dengan memutar pantatnya membuat batang Pak Suryo terasa seperti disedot masuk, cepat saja amblas ke mulut vagina yang lapar itu. Tapi begitu tertanam dalam, mulutnya langsung menganga kaku menahan pinggang Pak Suryo agar sodokan jangan berlanjut dan ini dipenuhi Pak Suryo karena memang batangnya sudah tertanam habis. Menunggu sesaat sampai Adinda kelihatan sudah agak mengendor barulah Pak Suryo menyambung dengan gerak memompa keluar masuk penisnya pelan-pelan.</p>
<p style="text-align: justify;">Adinda sendiri masih sedikit tegang wajahnya dalam usaha menyesuaikan diri dengan sodokan-sodokan Pak Suryo tapi cuma sebentar, karena rasa baru yang diterimanya cepat saja membuainya, sama cepat seperti barusan dia dirangsang mulut Pak Suryo di vaginanya. Ada yang luar biasa pada milik mertuanya ini sehingga Adinda mengalihkan pandangannya ke bawah ingin lebih jelas apa yang menjadi penyebabnya. Karena bukan hanya bisa membuat daya rangsangan yang begitu besar dengan teknik mulutnya tapi juga memberi pemenuhan yang pas untuk tuntutannya. Yaitu dari dalamnya batang yang menyumbat lubang vaginanya terasa ukurannya agak berlebih dari yang biasa dialaminya dengan Mas Indra.</p>
<p style="text-align: justify;">Pak Suryo bisa membaca pikiran Adinda. Dia merenggang sedikit dan mencabut batangnya agak panjang memberi kesempatan Adinda memperhatikannya. Meskipun tidak terlalu jelas karena ruangan hanya diterangi lampu dinding kecil tapi masih bisa tertangkap mata Adinda yang begitu melihat langsung meringis wajahnya.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Hhsssh Bapaakk.. dalemm bangett Paak..&#8221; spontan keluar komentar kagumnya memaksudkan penis Pak Suryo yang memang lebih panjang meskipun tidak lebih besar dari milik Mas Indra. Memang, Adinda sudah pernah tidur dengan beberapa lelaki tapi dia mengakui juga ukuran penis sang mertua yang cukup mantap ini.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;He.ehh.. tapi kan nggak sakit?&#8221; kata Pak Suryo sambil menurunkan tubuhnya agak menempel karena khawatir dengan ukuran panjangnya ini Adinda berubah pikiran minta batal sampai di sini. Padahal tidak perlu. Adinda cuma berkomentar bukan berarti ngeri. Justru dia merasa batang itu memberi keasyikan lebih dengan ukurannya yang tidak seperti biasa didapat dari suaminya. Terbukti ketika Pak Suryo mulai menggesek baru dua tiga gerakan ternyata sudah mendapat sambutan menyenangkan dari si cantik yang segera jadi bergairah merangkul leher Pak Suryo berikut kedua kakinya naik membelit paha sebagai tanda bahwa dia menyukai disetubuhi penis Pak Suryo ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Inipun jelas terbaca dari mimik muka Adinda, malah tidak sungkan-sungkan mengutarakannya ketika dipancing Pak Suryo yang karena cukup berpengalaman jelas bisa membaca gelagat Adinda.<br />
&#8220;Gimana rasanya.. sakit nggak?&#8221;<br />
&#8220;Nggak.. enak malah Pak, geli sampe ke dalem-dalem sini.&#8221; jawabnya sambil mengusap-usap perut atasnya.<br />
&#8220;Apanya yang enak?&#8221;<br />
&#8220;Ngg.. kontoll Bapak..&#8221; jawab Adinda genit-genit senang.<br />
Mendengar ini tentu saja Pak Suryo jadi lega dan leluasa sudah dia bermain menggoyang penisnya yang disambut Adinda dengan juga mengimbangi mengocok vaginanya. Masing-masing tenggelam menikmati asyiknya senggama dalam suasana yang cepat sekali akrab, sama-sama lupa tentang status hubungan mereka antara anak menantu dan mertuanya.
</p>
<p style="text-align: justify;">Memang ada perbedaan pada kedua lelaki lawan mainnya ini. Bersama Mas Indra seperti masih ada gengsi-gengsian yang membatasinya kurang begitu saling terbuka, tapi dengan Pak Suryo biarpun baru kali ini, entah mungkin karena Adinda sudah biasa bermanja-manja dengan pengalaman lalunya yang umumnya laki-laki tua berduit dan bersikap kebapakan, maka rasanya dia tidak sungkan-sungkan dan malu lagi mengutarakan apa yang dialaminya saat ini, teristimewa waktu mencapai orgasmenya yang diikuti juga oleh Pak Suryo.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Paak ennakk Paaak.. Iyya.. Duhh Bapaak dalem bangett masuknya Paakk.. Aaa.. dikorek-korek gitu Adinda pengenn kluarrin.. Ayyo Pakk.. adduuh.. Iyya ayyo aaahhgh.. ssshgh.. hghrf.. ennaak punyamu Din.. Bapakk juga kluaarr.. sshmmmh..&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Tapi hubungan lama-lama semakin nekat. Tidak hanya waktu suasana rumah sepi tapi sekalipun suaminya sedang ada di rumah pun Adinda berani juga mencuri-curi waktu bercinta dengan Pak Suryo.Ceritanya hari itu menjelang maghrib Mas Indra sudah berdua dengan Adinda di dalam kamar ketika tidak lama kemudian Pak Suryo pulang dari kerjanya. Seperti biasa Bu Suryo baru akan pulang dari mini marketnya menjelang larut malam. Kedua pasangan muda itu sudah akan bermain cinta, masing-masing sudah saling terangsang dan baru saja akan mulai tiba-tiba terdengar pintu kamar diketok. Spontan Adinda terburu-buru berpakaian dan keluar dari kamar, ternyata Pak Suryo yang ada di depan situ. Dia rupanya akan meminta pijit dari Adinda tapi ketika diberi tahu bahwa Mas Indra sedang ada di kamar, Pak Suryo pun membatalkan niatnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Masuk ke kamar lagi Adinda langsung tersenyum geli kepada Mas Indra.<br />
&#8220;Barusan Bapak yang ngetok pintu. Dia minta tolong dipijitin tapi begitu kukasih tau Mas masih ada di kamar, Bapak jadi batal.&#8221;<br />
&#8220;Oh ya? Ya udah, ke sana aja dulu pijetin Bapak, nanti baru ke sini lagi kan juga masih sore.&#8221;<br />
&#8220;Idih Mas gimana sih. Masak aku musti ke sana duluan, lalu Mas sendiri gimana dong?&#8221;<br />
&#8220;Nggak gitu, soalnya barusan kan Bapak mungkin lagi pegel minta dipijit, kalo kamu nggak ngikutin kan nggak enak jadinya.&#8221;<br />
Mendengar ini Adinda berlagak pasang muka ragu sebentar tapi kemudian beranjak juga.<br />
&#8220;Mas sih bukannya tadi-tadi ngasihnya.. Awas lho kalo aku dateng lagi Mas nggak mau ngasih, aku marah beneran.&#8221; katanya dengan mimik muka cemberut tapi sebenarnya dalam hati girang bukan main.<br />
&#8220;Nggak usah kuatir, pasti Mas kasih kalo kamu abis dari sana.&#8221;<br />
Bukan main, gayanya seperti berat terpaksa tapi sebenarnya inilah yang diharapkan Adinda. Karena begitu menyusul Pak Suryo di kamarnya dia sudah langsung meloncat dan memeluk dengan wajah girang. Pak Suryo sendiri baru selesai membuka bajunya tinggal celana dalam dan masih berdiri di samping tempat tidur ketika itu.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Lo, lo, lo, kok cepet sekali ke sininya. Gimana bilangnya sama Indra?&#8221; tanya Pak Suryo heran.<br />
&#8220;Dinda, bilang aja terus terang barusan Bapak manggil minta dipijetin jadi Mas Indra ngasih ijin ke sini.&#8221;<br />
&#8220;Oh ya? Bukannya Bapak tadi liat kamu lagi kusut, baru mau maen apa udah selesai?&#8221;<br />
&#8220;Tadinya emang mau maen, tapi baru mau dimasukin udah keburu Bapak ngetok pintu..&#8221;<br />
&#8220;Waduh maaf kalo gitu. Lagi kepengen-kepengennya langsung disetop begitu kan penasaran.&#8221;<br />
&#8220;Malah kebeneran Pak.. kan terusannya bisa dapet ini yang lebih mantep lagi.&#8221; kata Adinda sambil menjulurkan tangannya meremasi penis Pak Suryo.<br />
&#8220;Jadi, lobang yang lagi penasaran ini sekarang malah mau dikasih Bapak dulu, ya?&#8221; tanya lagi Pak Suryo dengan membalas meremasi gundukan vagina Adinda.<br />
&#8220;Iya, iya Paak.. di situ yang aku kepengenn sekalli..&#8221; baru diremas sebentar saja, Adinda yang memang sedang terangsang penasaran sudah langsung gemetaran suaranya, &#8220;Ayoo Pak.. buka juga Bappak punya..&#8221; lanjutnya dengan terburu-buru melepas bajunya.
</p>
<p style="text-align: justify;">Pak Suryo menyusul hanya tinggal melepas celana dalamnya tapi Adinda sudah lebih dulu selesai. Dan baru saja penis Pak Suryo bebas Adinda sudah berlutut, menangkap batang itu langsung mencaplok mengisap-isapnya dengan rakus. Diserbu rangsangan begini batang itu cepat saja mengeras dan Adinda seperti tidak ingin membuang-buang waktu. Dia naik duluan menelentang dan mengangkang memasang vaginanya siap untuk segera dimasuki. Sampai di bagian ini semua memang bisa serba cepat tapi pada giliran batang akan dimasukkan mau tidak mau tempo harus diperlambat. Sebab meskipun sudah terbiasa tapi penis ukuran lebih besar dari suaminya ini tetap saja tidak bisa langsung main tancap sekaligus. Perlu hati-hati dan harus ada kerja sama untuk saling menggesek dan memutar membuat lebih licin dalam beberapa waktu, sekalipun rahang Adinda sudah gemetaran kaku menunggu lewatnya masa itu sebelum mendapatkan rasanya. Tapi kalau batang sudah tertancap dalam dan Adinda sudah bisa menyesuaikan ukurannya. Hmmm.. jangan bilang lagi nikmatnya. Langsung gayanya berubah kontras sewaktu mulai dipompa oleh Pak Suryo.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Hhsss.. aduuhh tobatt aku Paak.. hahgh ooghh.. ****** kok dalem sekali Pak.. tobat akuu.. ampun Bapaak, gedee sekalli aduuh.. Pakk..&#8221; Nada suara Adinda merintih-rintih mengaduh ampun tobat, ditambah lagi dengan gayanya yang meliuk-liuk mata terbalik seperti orang kesakitan, yang begini kalau didengar dan dilihat Mas Indra tentu akan menggiris karena mengira istrinya sudah tidak tahan disiksa oleh Pak Suryo. Apalagi kalau bisa melihat lebih jelas bagaimana kewanitaan sang istri yang sering diusapi sayang itu, sekarang sampai sudah dipaksa mekar membulat lantaran menampung besar keliling batang dan itu pun masih harus lagi disodok-sodok kasar seperti tidak mengenal belas kasihan. Tentu, kalau belum mengerti Mas Indra pasti tambah menggiris melihatnya. Padahal kebalikan dari ini justru Adinda sedang tenggelam dalam nikmat yang mengasyikan saat itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Pak Suryo sudah hafal benar gaya Adinda, makin dipompa keras makin dirasakan enak bagi Adinda, dan gaya ini juga malah menimbulkan rangsangan tersendiri bagi Pak Suryo untuk membawanya tiba menuju puncak permainan bersama Adinda. Terlebih kalau Adinda sudah meminta tambahan rangsangan baru di bagian susunya, itu tanda dia sudah akan mendekati orgasmenya. &#8220;Heg.. yaang kerass Pak.. shh iya gittu.. aduh.. ssshgh.. heehh.. ayyo.. ayoo Paak.. aaahgh.. sshgh.. Iyya Pakk Dinda udah keluarr.. aduhh.. hghshh.. hrrgh..&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Seiring remasan tangan Pak Suryo di susunya diperkeras, Adinda pun tiba orgasmenya. Di bagian ini nampaknya lebih sadis lagi. Sebab buah dada yang biasanya diperlakukan Mas Indra dengan gemas-gemas sayang ini di tangan Pak Suryo diremasi tidak tanggung-tanggung lagi. Tidak ubahnya seperti sedang menggilas baju di papan cucian, kedua daging kenyal itu sampai meleot-leot sesekali mencuat putingnya dari sela-sela jari tangan besar Pak Suryo. Malah waktu mengiringi orgasmenya Adinda terlonjak-lonjak dengan dada membusung, di situ seolah-olah tubuhnya terangkat-angkat oleh tarikan Pak Suryo yang mencengkeram kedua bukit daging itu. Pokoknya jika bisa melihat secara keseluruhan bagaimana cara Pak Suryo mengasari istrinya, Mas Indra bisa pingsan dibuatnya. Tapi justru begini yang paling disukai Adinda karena dia merasa seolah-olah seluruh kepuasannya dibetot keluar tanpa tersisa.</p>
<p style="text-align: justify;">Rupanya &#8216;kesadisan&#8217; Pak Suryo belum selesai. Sesaat setelah Adinda selesai berorgasme maka giliran Pak Suryo yang mengambil bagiannya. Tapi menjelang tiba di saat ejakulasinya tiba-tiba dia mencabut batangnya dan langsung tegak berlutut sambil menarik kedua lengan Adinda membawanya terikut bangun duduk. Adinda sempat bingung tapi ketika Pak Suryo menjambak rambutnya dan menarik kepalanya mendekatkan ke penisnya, segera dia mengerti maksud Pak Suryo, apalagi Pak Suryo juga menjelaskan lewat kata-katanya. &#8220;Ayyo Las, isepin Bapak sampe keluarr..&#8221; Tanpa ragu-ragu Adinda langsung mencaplok dan melocok batang itu dengan mulutnya. Tentu tidak bisa semua, hanya tertampung bagian kepalanya saja tapi ini sudah cukup bagi Pak Suryo untuk bisa menyalurkan kepuasannya. Dan begitu kepala batang itu mengembang, sedetik kemudian dia pun menyemburkan cairan maninya tumpah di mulut Adinda. Agak tersekat Adinda dengan semprotan tiba-tiba ini, serasa ingin mencabut kepalanya tapi tangan Pak Suryo menekan kepalanya tidak ingin melepaskan kuluman mulutnya sehingga mani yang tumpah itu pun tertelan semua oleh Adinda. Ini baru pertama kali dia melakukan hal ini sehingga ketika permainan berakhir dan Adinda bisa melepas mulutnya, langsung meringis aneh mukanya.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Kenapa Las, nggak enak ya rasanya?&#8221; tanya Pak Suryo geli.<br />
&#8220;Asin rasanya Pak..&#8221; jawab Adinda terikut geli.<br />
&#8220;Maaf ya? Terpaksa Bapak tumpahin di mulut, soalnya kalo di lobangmu nanti bisa ketauan sama Masmu.&#8221;<br />
&#8220;Nggak pa-pa, sekali-sekali buat pengalaman baru kok..&#8221;<br />
&#8220;Kalo sering-sering emang kenapa?&#8221;<br />
&#8220;Ya bagaimana Bapak.. Emang enak sih dikeluarin pake mulut?&#8221; kata Adinda dengan bergerak bangun untuk ke kamar mandi mencuci bekas-bekas permainan ini.<br />
&#8220;Oo.. sama Adinda sih pasti enak aja.&#8221; jawab Pak Suryo sambil ikut bangun menyusul Adinda.
</p>
<p style="text-align: justify;">Selepas beristirahat sebentar Adinda pun kembali ke kamarnya menemui suaminya. Tentu saja dengan bersandiwara seolah-olah dia tidak ada apa-apa dengan permainan bersama Pak Suryo. Begitu datang dia langsung menubruk Mas Indra dengan gaya tidak sabaran menggerayangi penis Mas Indra. Jelas gaya yang membuat Mas Indra bangga padahal justru yang terjadi kebalikannya, sebab barusan mengalami hal yang paling asyik kemudian turun ke yang biasa. Adinda dalam senggama berikutnya bersama Mas Indra hampir-hampir tidak ada rasanya sama sekali. Hanya gayanya saja yang tetap meyakinkan bahwa dia sudah terpuaskan dengan Mas Indra, tapi kecuali sempat terangsang sedikit Adinda tidak sampai mengalami orgasme dengan suaminya. Meskipun begitu dia tidak penasaran karena sudah terbayang sepeninggal Mas Indra besok pagi ke kantornya, dia akan minta lagi pada mertuanya untuk meluapkan kerinduannya.</p>
<p style="text-align: justify;">Begitu, dalam enak dirasakannya bersetubuh dengan sang mertua yang punya batang panjang bisa mengilik jauh ke dalam rahimnya, Adinda praktis jadi ketagihan untuk mengulang setiap kali ada kesempatan bisa mencuri-curi.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ceritasex.cn/menikmati-tubuh-adinda-menantuku/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tukang kirim Galon Air dengan Nonik</title>
		<link>http://www.ceritasex.cn/tukang-kirim-galon-air-dengan-nonik/</link>
		<comments>http://www.ceritasex.cn/tukang-kirim-galon-air-dengan-nonik/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 02 Nov 2009 18:04:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cerita Sex</dc:creator>
				<category><![CDATA[Daun Muda]]></category>
		<category><![CDATA[Seks Umum]]></category>
		<category><![CDATA[bercinta]]></category>
		<category><![CDATA[ml]]></category>
		<category><![CDATA[ngentot]]></category>
		<category><![CDATA[nonik]]></category>
		<category><![CDATA[oral]]></category>
		<category><![CDATA[seks]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ceritasex.cn/?p=1041</guid>
		<description><![CDATA[Semasa masa-masa akhir kuliah, gw dah berpikir untuk buka usaha sendiri. Banyak hal yang ingin gw lakukan. Akhirnya, atas bantuan dari ortu, gw membuka usaha air minum galon. Tempatnya di salah satu rumah ortu yang tidak ditinggali. Setelah direnovasi, lalu sedikit interior design, maka siaplah untuk memulai bisnis. Awal-awalnya memang sedikit sulit, tetapi lama-kelamaan usaha [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Semasa masa-masa akhir kuliah, gw dah berpikir untuk buka usaha sendiri. Banyak hal yang ingin gw lakukan. Akhirnya, atas bantuan dari ortu, gw membuka usaha air minum galon. Tempatnya di salah satu rumah ortu yang tidak ditinggali. Setelah direnovasi, lalu sedikit interior design, maka siaplah untuk memulai bisnis. Awal-awalnya memang sedikit sulit, tetapi lama-kelamaan usaha gw semakin berkembang. Posisi gw sebagai kasir dan penerima telp, sedangkan pegawaiku bertugas mengirimkan galon ke pelanggan. Kalau pas ada kuliah, kupercayakan pada seorang pegawaiku yang udah ikut gw sejak awal. Toh selama ini tidak ada masalah.</p>
<p style="text-align: justify;">Ditempat gw, sering banget para pegawai pengirim galon itu keluar masuk. Berganti-ganti orang. Untung ada si Faizal, pegawai yang gw percaya dan udah ikut gw dari awal. Umurnya masih muda, jebolan STM. Dia udah jadi kayak mandor dan wakil gw gitu. Ngatur jadwal pengiriman dan menyimpan uang. Karena sama-sama masih muda, pembicaraan kami ini klop gitu.</p>
<p style="text-align: justify;">Kami sering membagi cerita kalo pas tidak ada kiriman. Semacam curhat-curhatan gitu. Dia ada masalah apa, cerita ama gw, begitu juga sebaliknya. Sering juga kita bercanda cubit-cubitan sampe kadang diliatin para pembantu yang datang bawa galon naek mobil majikannya. Ntah, emangnya ada yang aneh ya?</p>
<p style="text-align: justify;">Lama-lama gw mulai suka ama si Faizal ini. Mungkin benar kata pepatah jawa: tresno jalaran soko kulino. Gw merasa seneng kalo dia ada dikantor, kalo pas ngirim galon sambil kasih perintah ke pegawai lain wow kok keliatannya gagah banget (padahal kan ya biasa aja). Gw jadi suka berdandan kalo ke kantor, biasalah. Make-up tipis plus kaus-kaus yg menarik perhatian cowok. hehehe&#8230;</p>
<p style="text-align: justify;">Siang itu, kebetulan semua kiriman udah jalan. Hanya Faizal yang melakukan semuanya karena pegawaiku yang lain izin pulang kampung. Kita lalu ngobrol-ngobrol menghabiskan waktu. Karena udah akrab banget, obrolan kita lalu nyerempet-nyerempet ke topik-topik &#8220;lampu merah&#8221;.</p>
<p style="text-align: justify;">Awalnya aku agak segan sih, tapi mungkin karena udah kenal banget plus dia enak kalo mancingnya alias ndak vulgar, gw jadinya ngga keberatan menanggapinya. Gw tulis percakapan yang gw ingat aja ya. Faizal tanya apa gw pernah diganggu orang iseng kalo dikampus. Gw heran emange ada apa? Dia jawab, &#8220;lha nonik bajunya seksi-seksi geto&#8221; sambil tertawa kecil. Yeee, cuman kaus gini aja kok. &#8220;Lho iya. tapi tipis and ketat, mbak. kan bikin cenut-cenut.&#8221;. Hehehe&#8230;kita berdua tertawa kecil.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Emang loe suka ya?&#8221;, tanya gw iseng. Faizal ngga jawab tapi jempol kanannya naik tinggi banget. &#8220;plus nonik cuakep kayak artis hong kong.&#8221;. alaaa gombal elo, sahutku ketus. &#8220;Lha dibilang ndak percaya. Nonik pasti udah ada pacar ya?&#8221;. Gw diem sebentar, &#8220;dah putus mas.&#8221;. &#8220;Weleh&#8230;punya cewe kayak nonik diputus. kenapa?&#8221;. Gw bilang ya ngga tahu, ndak cocok mungkin. Dia lalu diem ae. Matanya agak tertuju kebawah, trus tiba-tiba senyum2 sendiri.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;He&#8230;lu udha gila ya? senyum-senyum sendiri.&#8221;, ujar gw agak ketus. Dia tertawa kecil trus bilang kalo ngga ada apa-apa kok. GW jadi penasaran lalu maksa dia untuk bicara, ada apa kok senyum2 kayak orang gila begeto. Dia tetap ndak mau ngomong, maka aku terus paksa dia sambil tak cubit2 supaya mau ngaku. Akhirnya sambil minta ampun dia ngomong, &#8220;Aduh tapi nonik musti janji ngga boleh marah lho.&#8221;. Aku bilang, &#8220;iya wes ayo cepetan bicara.&#8221; Sambil senyum2 simpul begitu, Faizal bilang kalo dia tadi secara tidak sengaja melihat warna celana dalam gw !!!<br />
<span id="more-1041"></span><br />
Waduh rasanya gw langsung merah karena malu. Tapi gw tahan, emang apa warnanya? Faizal tertawa kecil, &#8220;item mbak, persis kayak beha situ!&#8221;. &#8220;He loe kok tahu warna beha gw item?&#8221;. Faizal menjawab, &#8220;lho mbaknya kan pake kaus ketat putih, tipis gitu. kan keliatan mbak.&#8221;. Mukaku tambah memerah rasanya. Aku ingin marah lalu gw omelin si pegawaiku yg cabul ini, tapi entah kenapa tidak bisa keluar. Malah, yg aneh tuh, ada semacam rasa aneh yang mendesir tubuhku. Hm&#8230; Faizal nyerocos lagi, &#8220;tapi sebenarnya cocok mbak. situ cakep putih mulus, kalo pake kaus dan beha item ini keliatan sexy banget.&#8221;, kali ini wajahnya tampak serius, bukan mesum kayak sebelumnya. &#8220;udah ah.&#8221;, tukasku mengalihkan perhatian. Jangan sampai kebablasan nih, pikir gw.
</p>
<p style="text-align: justify;">Tak lama kemudian datang pembeli lagi. kami lalu keluar dari rumah. Sehabis melayani, kembali faizal cengar-cengir tersenyum. Gw jadi bingung, &#8220;eh lu beneran udah gila ya? senyum2 sendiri.&#8221;. &#8220;Hahaha&#8230;abis tadi pas saya membungkuk ambil uang kembalian yang jatuh itu, saya ngga sengaja liat lagi mbak!&#8221;, sahutnya enteng sambil cengar-cengir. &#8220;Bukan salah saya lho, lah mbaknya pake rok mini gitu.&#8221;. wew&#8230;ingin banget gw marahi abiz2an, tapi ya&#8230;gimana. gw juga seh yang kurang hati-hati ama aset gw. huh.</p>
<p style="text-align: justify;">Tiba-tiba si pegawai gw yang mesum itu duduk disebelah gw sambil menunjukkan sesuatu. &#8220;Ini lho mbak, liaten.&#8221;. Aku lalu menoleh. yailah&#8230;.ternyata video porno yang diputar di HP dia. Faizal langsung tak cubit dan aku dorong supaya menjauh. &#8220;Lho apik ini mbak.&#8221;, ujarnya ringan sambil terus duduk disebelahku. akhirnya gw tertarik juga nih dan gw tonton juga.</p>
<p style="text-align: justify;">Udah beberapa video Faizal tunjukkan ke gw dan kita lalu tertawa cekikikan sendiri melihat adegan itu. Iseng, Faizal lalu bertanya apa pernah gw melakukan hal itu. Gw membelalakan mata trus gw tampar ringan pipinya.</p>
<p style="text-align: justify;">Eh tiba-tiba dia lalu memegang tanganku dan langsung menciumi bibirku !!! Aku kaget setengah mati. Dengan sekuat tenaga gw dorong dia sampai terjengkang jatuh ke lantai. Gw lalu berdiri sambil marah-marah. Dia nampak shock, lalu duduk disebelah gw sambil meminta maaf karena khilaf. huh, seandainya kalo gw ndak ada rasa suka ama dia, udah gw gampar dan gw panggil pak rt (!).</p>
<p style="text-align: justify;">Dia lalu cerita panjang lebar. Agak2 sara sih, jadi ndak gw tulis disini, intinya dia ingin pacaran ama gadis seperti aku. Gw diem aja, sambil menerawang.</p>
<p style="text-align: justify;">Ingin banget gw bilang kalo gw juga suka ama elo, tapi apa mungkin ya? Tak lama kemudian, Faizal lalu memegang tanganku. GW diem aja. GW tak yakin bisa inget apa yang terjadi, tapi lalu kita udah berciuman bibir. Dia lumat bibir gw dengan penuh gairah. Gw pasrah aja. Abis itu dia menggandeng aku dan gw ditidurkan diatas sofa ruang tamu. Faizal menindihku dan kita berciuman bibir sambil berpelukan.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah puas, dia lalu mencumbui payudara gw sambil diremasnya dengan agak kuat. GW bener2 udah lupa status gw sebagai bos sedangkan dia adalah pegawai. Aku menikmati percumbuan ini karena sejujurnya gw udah lama menyukai dia. GW biarkan dia menikmati payudaraku.</p>
<p style="text-align: justify;">Abis itu dia lalu turun dan memasukkan kepalanya kedalam rok mini aku. Paha gw dijilatin sambil tak lupa memainkan lidahnya dibelahan mq gw yang masih tertutup CD. Aku mengerang ooohh&#8230;geli tapi nikmat.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah puas memainkan mq gw sampai becek, dia lalu melepas kaus ketat putih yang aku pake, sekalian bra hitamnya. &#8220;Wah merah mudah. nonik ini benar-benar cantik&#8230;.34B ya non?&#8221;, ujarnya ringan. Gw mengangguk pelan. Lalu dengan rakusnya dia menghisap puting payudara gw secara bergantian, kiri dan kanan. oooohh enggg&#8230; aku mengerang keenakan.</p>
<p style="text-align: justify;">Sambil asyikk menikmati rangsangan di payudara dan puting gw, aku merasakan rok mini gw dilorot pelan-pelan, begitu juga dengan celana dalam aku. Jantungku berdegub dengan sangat kencang, terangsang dan tegang banget. Saat itu aku udah bugil dihadapan dia. Lalu, dengan ganas pula dia menjilati mq aku sambil memaikan clit aq. auh&#8230;sungguh nikmat. GW jepit kepalanya pake paha supaya lebih mantap jilatannya. &#8220;Aduh&#8230;sexy abis deh non ini. mqnya wangi dan basah !&#8221;, ujar Faizal penuh gairah.</p>
<p style="text-align: justify;">Beberapa menit udah berlalu. Setelah merasa cukup, dia lalu melepaskan seluruh pakaian yang dia pakai dan keluarlah senjata andalan para cowok! Gila, ukurannya besar dan hitam. Aku semakin terangsang, diselimuti kenikmatan dan rasa tegang. &#8220;Non, hisap donk?&#8221;, pintanya. Aku lalu jongkok didepan dia dan mulai menjilati penisnya yang besar itu. aouh&#8230;bau nih&#8230;hampir mau muntah rasanya, tapi ntah mengapa aku tetap melakukannya. Aku masukkan pelan-pelan dan aku &#8220;telan&#8221; seluruh penis itu hingga tenggorokan gw terasa penuh, lalu aku hisap dan meng-kocoknya dengan menggoyangkan kepala gw. Faizal mengerang keenakan sambil menjambak rambutku.</p>
<p style="text-align: justify;">Agak lama gw beri servis oral ke pegawaiku ini. Nampaknya dia hendak keluar, lalu meminta gw untuk menghentikan oral yg nikmat itu. Dia lalu menidurkan gw lagi ke sofa dan kami kembali berciuman bibir sambil berpelukan. Dia menggesek- gesekkan penisnya persis diatas belahan meq gw. Oufh&#8230;enak gila !</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Non, sampeyan masih perawan?&#8221;, tanya Faizal sambil terengah-engah. Aku agak kaget dengan pertanyaan itu, lalu dengan pelan aku menggelang. Tidak, aku sudah pernah berhubungan sex dengan mantan pacarku itu. Faizal nampak kecewa, mungkin dipikirnya bakal dapet amoy perawan. Hehehe&#8230; &#8220;Ya ndak papa lah.&#8221;, sahutnya pelan.</p>
<p style="text-align: justify;">Perlahan dia lalu memasukkan penisnya yang besar itu kedalam mq aku. Aouch.. Tubuhku tersentak, agak sakit dan perih. Faizal tetap berusaha memasukkan penisnya dan dengan sedikit paksaan, akhirnya blz&#8230;.aah&#8230;..kami sudah bersetubuh sekarang! &#8220;Oh&#8230;inikah rasanya mq amoy&#8230;basah banget, hanget&#8230;enaknya mbak. ouch!&#8221;. Dia lalu mulai mengkocok penisnya kedalam belahan mq aku. Rasa perih yang aku rasakan tadi lama-lama mulai menghilang dan digantikan oleh rasa geli yang nikmat.</p>
<p style="text-align: justify;">Kami terus bersebutuh samnbil berciuman bibir dan berpelukan. Oh nikmatnya. Setelah beberapa menit mq aku digoyang ama dia, rasanya orgasm udah mulai dekat. GW peluk faizal lebih erat dan kami pun berciuman bibir semakin ganas. Tanganku memegang pantatnya dan menekannya kebawah supaya penisnya lebih masuk, penetrasinya lebih dalam. Tak lama kemudian, aq merasa mq aku berdenyut dan merinding. Akhirnya.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Ahaaaaaaaaaaaaahhhhhhhhhhhhhhhhhh&#8221;. sambil menjerit aku melepaskan rasa nikmat orgasm yang luar biasa ini. Tanganku tetap menekan pantat Faiz agar semakin masuk kedalam penisnya. Mq aku meremas penisnya dengan kuat, berdenyut-denyut sesuai irama orgasm yang aku alami. Faizal menciumi leherku dan ternyata dia juga udah ngga bisa tahan dan kurasakan penisnya berkelojotan didalam mq aku. Oioooooooohh&#8230;terasa aliran &#8220;lahar&#8221; masuk kedalam rahim gw. Kami berdua mengalami orgasm berbarengan sambil berpelukan diatas sofa, membiarkan gejolak orgasm itu mereda&#8230;</p>
<p style="text-align: justify;">Aq duduk diatas pangkuan Faizal, di sofa yang sama tempat kami bercinta dengan nikmat beberapa menit yang lalu. Tidak ada yang bicara, cuman tatapan kosong kedepan. Sesekali faiz membelai-belai punggung gw. Kubiarkan tangannya meremasi payudaraku yang tertutup bra hitam dibalik kaus ketat putih.</p>
<p style="text-align: justify;">Sejak saat itu, hubungan kami berubah dari bos dan karyawan menjadi pasangan sex. Setiap ada kesempatan, aku selalu diajak Faizal bersetubuh di kantor. Dapur, Sofa, bahkan kamar tidur ayahku pun tidak luput dari lokasi ngesex. Lama-kelamaan, pegawaiku yang lain nampaknya mulai curiga dengan hubungan kami yang mungkin bagi dia terlalu akrab. Dan ini membawa gw pada hal-hal yang tak terduga!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ceritasex.cn/tukang-kirim-galon-air-dengan-nonik/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tetanggaku Nakal Bagian 1</title>
		<link>http://www.ceritasex.cn/tetanggaku-nakal-bagian-1/</link>
		<comments>http://www.ceritasex.cn/tetanggaku-nakal-bagian-1/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 30 Sep 2009 06:53:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cerita Sex</dc:creator>
				<category><![CDATA[Paruh baya]]></category>
		<category><![CDATA[Sedarah]]></category>
		<category><![CDATA[Tante Girang]]></category>
		<category><![CDATA[selingkuh]]></category>
		<category><![CDATA[anal]]></category>
		<category><![CDATA[brondong manis]]></category>
		<category><![CDATA[cuki]]></category>
		<category><![CDATA[kontol]]></category>
		<category><![CDATA[laso]]></category>
		<category><![CDATA[memek]]></category>
		<category><![CDATA[ml]]></category>
		<category><![CDATA[ngentot]]></category>
		<category><![CDATA[peret]]></category>
		<category><![CDATA[seks]]></category>
		<category><![CDATA[susu]]></category>
		<category><![CDATA[tante]]></category>
		<category><![CDATA[tante juliet]]></category>
		<category><![CDATA[toket]]></category>
		<category><![CDATA[vagina]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ceritasex.cn/?p=878</guid>
		<description><![CDATA[Suatu ketika rumahnya sedang kosong cuma tinggal Tante Juliet bertiga dengan anak asuhnya yang masih berumur 3 tahun dan pembantunya. Tante Juliet meneleponku untuk meminta tolong membetulkan kran kamar mandinya. Tentu saja kupenuhi karena aku baginya sudah dianggap seperti keluarga di rumahnya dengan sendirinya cepat saja kupenuhi permintaan itu. Aku datang dengan segera tapi kran [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Suatu ketika rumahnya sedang kosong cuma tinggal Tante Juliet bertiga dengan anak asuhnya yang masih berumur 3 tahun dan pembantunya. Tante Juliet meneleponku untuk meminta tolong membetulkan kran kamar mandinya. Tentu saja kupenuhi karena aku baginya sudah dianggap seperti keluarga di rumahnya dengan sendirinya cepat saja kupenuhi permintaan itu. Aku datang dengan segera tapi kran rusak ternyata hanya alasan saja melainkan diminta untuk menemani sambil membantu memijiti kakinya yang katanya sedang kram. Di ruang tengah Tante waktu itu duduk di sofa panjang sedang menonton acara telenovela di televisi.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Abis kalo nggak pake alesan betulin keran nanti nggak enak didengar keluargamu. Sini dong Son, Sony bisa bantuin mijetin kaki Tante, nggak? kaki Tante agak keram sedikit..&#8221; begitu katanya menyambutku dan langsung meminta bantuanku.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku mengangguk dan mendekat berlutut di depannya akan mulai memijit sebelah kakinya di bagian bawah tapi rupanya bukan di situ. &#8220;Oo bukan di situ Son.. Di sini, di selangkangan ini. Nggak apa ya Tante begini, nggak usah kikuk, Sony kan udah kayak anak Tante sendiri. &#8221; katanya sambil menyingkap roknya ke atas menunjukkan daerah yang harus kupijit yaitu di selangkangan pahanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Tidak tanggung-tanggung, rok itu disingkap sampai di atas celana dalamnya sehingga mau tak mau terpandang juga gundukan vaginanya menerawang dari balik kain tipis celana dalamnya itu. Tentu saja, biarpun sudah dipesan lebih dulu agar aku tidak usah kikuk-kikuk, tidak urung mukaku langsung berubah merah malu dengan pemandangan yang seronok ini. Tante seperti tidak mengerti apa yang kurasakan, dia menyuruh aku mendekat masuk di tengah selangkangannya dan mengambil kedua tanganku, meletakan di masing-masing paha atasnya persis di tepi gundukan bukit vaginanya. Dia minta bagian yang katanya sering pegal itu kutekan pelan-pelan dan waktu kumulai agak bergetaran juga tanganku mengerjainya sementara Tante Juliet memejamkan matanya pura-pura menikmati pijitanku. Padahal sungguh, aku sama sekali tidak tahu bahwa aku sedang diperangkap olehnya.<br />
<span id="more-878"></span><br />
&#8220;Iya di situ sering pegel Son, tapi ntar dulu.. Kurang pas yang itu, Tante naikin kaki dulu.. Ya.. &#8220;katanya. Berikutnya dengan alasan kurang puas Tante menaikan kedua telapaknya ke atas tepi sofa di mana dia sekarang minta aku memijit lebih ke dalam lagi sehingga boleh dibilang aku hanya memijit-mijit otot seputar kemaluannya saja. Pikiranku mulai terganggu karena bagaimanapun meremas-remas tepi bukit yang sedang terkangkang menganga ini mau tidak mau membuat nafasku memburu juga. Maklum, meskipun masih remaja tapi aku sudah kenal tidur dengan perempuan sehingga jelas mengenal rasa yang bisa diberikan bukit menggembung di depanku. Apalagi dalam pemandangan yang merangsang seperti ini. Nah, di tengah-tengah kecamuk lamunan seperti ini Tante semakin jauh menggodaku.
</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Ngomong-ngomong Sony udah pernah maen ama cewek, belum?&#8221; katanya agak genit. &#8220;Ngg.. Maen cewek maksud Tante pacaran?&#8221; kataku balik bertanya pura-pura tidak mengerti. &#8220;Maksudnya tidur sama cewek, ngerasain ininya,&#8221; katanya sambil menunjuk vaginanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Ditanya begini wajahku merah lagi, jadi gugup aku menjawab, &#8220;Ngmm.. Belum pernah Tan..&#8221; jawabku berbohong. Mungkin aku salah menjawab begini karena kesempatan ini justru dipakai tante makin menggodaku.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Ah masak sih, coba Tante pegang dulu..&#8221; begitu selesai bicara dia sudah menarikku lebih dekat lagi dengan menjulurkan kedua tangannya, satu dipakai untuk menggantol di leherku menahan tubuhnya tegak dari sandaran sofa, satu lagi dipakai untuk meraba jendulan penisku.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Tante pengen tau kalo bangunnya cepet berarti betul belum pernah..&#8221; lanjutnya lagi. Entah artinya yang sengaja dibolak-balik atau memang ini bagian dari kelihaiannya membujukku, namanya aku masih berdarah muda biarpun sudah terbiasa menghadapi perempuan tapi dirangsang dalam suasana begini tentu saja cepat batangku naik mengeras. Kalau sudah sampai di sini sudah lebih gampang lagi buat dia.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Wihh, memang cepet bener bangunnya.. Tapi coba Son, Tante kok jadi penasaran kayaknya ada yang aneh punyamu..&#8221; katanya tanpa menunggu persetujuanku dia sudah langsung bekerja membuka celanaku membebaskan penisku. Aku sulit menolak karena kupikir dia betul-betul sekedar penasaran ingin melihat keluarbiasaan penisku. Memang, waktu batangku terbuka bebas matanya setengah heran setengah kagum melihat ukuran penisku.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Buukan maen Sonyy.. Keras banget punyamu..&#8221; katanya memuji kagum tapi justru melihat yang begini makin memburu niatnya ingin cepat menjeratku.&#8221;Tapi masak sih yang begini belum pernah dipake ke cewek. Kalo gitu sini Tante kenalin rasa sedikit, deket lagi biar bisa Tante tempelin di sini..&#8221; lanjutnya, lagi-lagi tanpa menunggu komentarku dia memegang batangku dan menarikku lebih merapat kepadanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Apa yang dimaksudkannya adalah dengan sebelah tangan bekerja cepat sekedar menyingkap sebelah kaki celana dalamnya membebaskan vaginanya, lalu sebelah lagi membawa penisku menempelkan kepala batangku di mulut lubang vaginanya. Di situ digosok-gosokannya ujung penisku di celah liangnya beberapa saat dulu baru kemudian menguji perasaanku.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Gimana, enak nggak digosok-gosokin gini?&#8221; katanya tambah super genit. Tentu, jangan bilang lagi kalau sudah begini aku yang sudah tegang dengan sinar mata redup sudah sulit untuk melepaskan diri, berat rasanya menolak kesempatan seperti ini. Aku cuma mengiyakan dengan mengangguk dan Tante Juliet meningkat lebih jauh lagi.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Kalo gitu Sony yang nyoba sendiri biar bisa tahu gimana rasanya, tapi tunggu Tante buka aja sekalian supaya nggak ngalangin..&#8221; lanjutnya dengan cepat melepas celana dalamnya untuk kemudian kembali lagi pada posisi mengangkangnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Menggosok-gosokan sendiri ujung kepala penisku di mulut lubang vaginanya yang menganga tambah membuatku semakin tegang dalam nafsu, tapi untuk menyesapkan masuk ke dalam aku masih tidak berani sebelum mendapat ijinnya. Padahal itu justru yang diinginkan tante hanya saja mengira aku benar-benar masih hijau dia masih memakai siasat halus untuk menyeretku masuk.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Ahh.. Kedaleman gosokinnya..&#8221; katanya menjerit geli memaksudkan aku agak terlalu menusuk. Padahal rasanya aku masih mengikuti sesuai anjurannya, tapi ini memang akal dia untuk masuk di siasat berikut, &#8220;Tapi gini, supaya nggak keset sini Tante basahin dulu punyamu. &#8221; katanya mengajak aku bangun berdiri.</p>
<p style="text-align: justify;">Kali ini apa yang dimaksudkannya adalah dia langsung mengambil penisku dan mulai menjilati seputar batangku, sambil sesekali mengulum kepalanya. Kalau sudah sampai di sini rasanya aku bisa menebak ke mana kelanjutannya. Dan memang, ketika dirasanya batangku sudah cukup basah licin dia pun menarik lagi tubuhku berlutut dan kembali memasang vaginanya siap untuk kumasuki. Dalam keadaan seperti itu aku betul-betul sudah buntu pikiranku, terlupa bahwa dia adalah istri dari Mas Fadli-kakak angkatku. Rangsangan nafsu sudah menuntut kelelakianku untuk tersalurkan lewat dia.</p>
<p style="text-align: justify;">Sehingga sekalipun Tante Juliet tidak lagi menyuruh dengan kata-katanya, aku sudah tahu apa yang akan kulakukan. Ujung penis mulai kusesapkan di lubang vaginanya segera kuikuti dengan gerakan membor untuk menusuk lebih dalam. Tante sendiri meskipun mimik mukanya agak tegang, dia ikut membantu dengan jari-jari tangannya lebih menguakkan bibir vaginanya menjadi semakin menganga, untuk lebih memudahkan usaha masuk batangku. Tapi baru saja terjepit setengah, tiba-tiba Jul anak asuhnya datang mengganggu konsentrasi teristimewa bagi Tante Juliet. Si kecil yang belum mengerti apa-apa ini naik ke sofa langsung menunggangi perut Tante seolah-olah ingin ikut bergabung dengan kami.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Nanti dulu Dek, Mama lagi dicuntik Mas Sony.. Adek maen dulu sana, ya?&#8221; agak kerepotan Tante membujuk SonJul untuk menyingkir dan kembali bermain, sementara aku sendiri tetap sibuk membor dan menggesek keluar masuk penisku untuk menanam sisa batang yang masih belum masuk. Di atas dia repot meredam kelincahan SonJul, sedang di bawah dia juga repot menyambut batangku. Sesekali merintih memintaku jangan terlalu kuat menyodokkan penisku.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Aashh.. Sonn.. Pelan Son.. Memek mama sakit.. Jangan dicuntik keras-kerass..&#8221; erangnya. Untung berhasil Tante Juliet membujuk SonJul tepat pada saat seluruh batangku habis terbenam. Lega wajahnya ketika SonJul sudah mau turun kembali bermain.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Naa, sekarang Mama Adek mau maen sama Mas Sony dulu, ya? Ayo Mas Son.. Pindah ke bawah dulu, Mama Adek juga pengen ikutan ngerasain enaknya.. &#8221; Tanpa melepas kemaluan masing-masing kami pun berpindah ke karpet, Tante Juliet yang di bagian bawah. Di situ begitu posisi terasa pas kami segera menikmati asyik gelut kedua kemaluan denganku memompa dan Tante Juliet mengocok vaginanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Nikmat sanggama mulai meresap dan meskipun di tengah-tengah asyik itu SonJul juga sering datang mengganggu, tapi kami sudah tidak peduli karena masing-masing sedang berpacu menuju puncak kepuasan. Dan ini ternyata bisa tercapai secara bersamaan. Agak terganggu dengan adanya SonJul lagipula suasana kurang begitu bebas, tapi toh cukup memuaskan akhir permainan itu bagi kami berdua. Kelanjutan hubungan kami memang sulit mencari kesempatan yang lowong seperti itu lagi. Setelah yang pertama ini masih sempat dua kali kami melakukan hubungan badan tapi kemudian terputus.</p>
<p style="text-align: justify;">Ada satu keasyikan tersendiri yang kurasakan jika sedang bercinta dengan Tante Juliet yang bertubuh montok ini. Enak rasanya bergelut dengan daging tebalnya, seperti menari-nari di atas kasur empuk berbantalkan susunya yang juga montok dan besar itu. Rasanya dalam sejarah percintaanku dengan para wanita yang kesemuanya cantik-cantik lagi berlekak-lekuk padat menggiurkan, maka cuma dengan dia satu-satunya yang berbeda. Tapi, inilah yang kusebut asyik tadi. Aku sama sekali tidak merasa menyesal dan justru selalu merindukan untuk mengulang kenangan bersama dia, hanya saja kesempatan sudah sulit sekali untuk didapat.</p>
<p style="text-align: justify;">Kesempatan kali keempat kudapat tiga tahun setelah itu yaitu ketika aku diminta mengantar Tante Juliet untuk menghadiri upacara perkawinan seorang keluarga mereka di Las Vegas. Waktu itu rencananya aku hanya mengantar saja dan setelah acara selesai akan pulang langsung ke LA ke tempat kuliahku, tapi rupanya Tante Juliet berubah pikiran ingin pulang menumpang lagi denganku. Mau tak mau aku pun berputar melewati Washington, DC untuk mengantarkan Tante Juliet ke rumahnya dulu sebelum ke LA. Tante memang rupanya tidak ingin berlama-lama dalam kunjungannya, itu sebabnya SonJul tidak diajak serta dan ditinggal bersama pembantu serta suaminya di rumah.</p>
<p style="text-align: justify;">Begitu, dalam perjalanan yang cuma kami berdua di mobil kami pun ngobrol dengan akrab, dengan Tante Juliet yang lebih banyak bertanya-tanya tentang keadaanku sementara aku sendiri sibuk mengemudi. Sampai kemudian menyinggung tentang kegiatan seksku, Tante Juliet memang bisa menduga bahwa aku tentu sudah banyak pengalaman galang-gulung dengan perempuan.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Ngomong-ngomong soal kita dulu kalo sekarang Sony udah kenal banyak cewek cakep pasti kamu nyesel kenapa bikin gitu sama Tante waktu hari itu, ya nggak Son?&#8221; &#8220;Nyesel sih enggak Tan, gimanapun kan Tante yang pertama kali ngenalin rasa sama Sony. Apalagi Sony juga punya kenangan manis dari Tante..&#8221; jawabku menyinggung hubungan intimku waktu itu dengannya.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Tapi itu kan duluu.. Sekarang dibanding-bandingin sama kenalan-kenalanmu yang lebih muda pasti kamu mikir-mikir lagi, kok mau-maunya aku sama Tante model gitu. Itupun waktu dulu, sekarang apalagi.. Tambah nggak nafsu liatnya, ya nggak?&#8221; Aku langsung menoleh dengan tidak enak hati. &#8220;Jangan bilang gitu Tan, Sony nggak pernah nyesel soal yang dulu. Malah kalo masih boleh dikasih sih sekarang pun Sony juga masih mau kok.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Jangan menghibur, ngeliat apanya sama Tante kok berani bilang gitu?&#8221; &#8220;Lho kenyataan dong.. Tante emang sekarang gemukan tapi manisnya nggak kurang. Malah tambah ngerangsang deh..&#8221; jawabku memuji apa adanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Karena memang, sekalipun dia sekarang terlihat lebih gemuk dibanding dulu tapi wajahnya masih tetap terlihat manis. &#8220;Ngerangsang apanya Son?&#8221; tanyanya penasaran. &#8220;Ya ngerangsang pengen dikasih kayak dulu lagi. Soalnya tambah montok kan tambah enak rasanya.&#8221; jawabku dengan membuktikan langsung meraba-raba buah dadanya yang besar itu, Tante Juliet langsung menggelinjang kegelian.<br />
&#8220;Aaa.. Kamu emang pinter ngerayu, bikin orang jadi ngira beneran aja.&#8221; katanya mencandaiku.
</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Lho Sony serius kok, kalo masih kepengen ngulang sama Tante. Makanya tadi Sony nanya, kalo emang masih boleh dikasih sekarang juga Sony belokin nyari hotel, nih?&#8221; Lagi-lagi dia tertawa geli mendengar candaku. &#8220;Yang bilang nggak boleh siapa. Tapi dikasiHPun kamu pasti nggak selera lagi, kan percuma.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Ya udah, kalo nggak percaya.. Tapi ngomong-ngomong sebentar lagi udah gelap, Sony lupa kalo lampu mobil kemaren mati sebelah belum sempat diganti. Gimana kalo kita nyari hotel aja Tan, besok baru terusin lagi.&#8221; kataku mengajukan usul karena kebetulan memang lampu mobilku padam sebelah. Sebetulnya ada cadangan tapi ini kupakai alasan untuk mengajaknya menginap. &#8220;Duh kamu kok sembrono sih Son.. Ayo cari penginepan aja kalo gitu, dipaksa nerusin nanti malah bahaya di jalan..&#8221;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ceritasex.cn/tetanggaku-nakal-bagian-1/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Yuli Namaku</title>
		<link>http://www.ceritasex.cn/yuli-namaku/</link>
		<comments>http://www.ceritasex.cn/yuli-namaku/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 30 Sep 2009 06:14:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cerita Sex</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sedarah]]></category>
		<category><![CDATA[Seks Umum]]></category>
		<category><![CDATA[Tante Girang]]></category>
		<category><![CDATA[bugil]]></category>
		<category><![CDATA[cuki]]></category>
		<category><![CDATA[ml]]></category>
		<category><![CDATA[ngentot]]></category>
		<category><![CDATA[perek]]></category>
		<category><![CDATA[seks]]></category>
		<category><![CDATA[tante enak]]></category>
		<category><![CDATA[tante yuli]]></category>
		<category><![CDATA[yuli]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ceritasex.cn/?p=856</guid>
		<description><![CDATA[Yuli, 29 tahun, adalah seorang ibu rumah tangga dengan 2 orang anak 3 dan 5 tahun. Suaminya, Herman, 36 tahun, adalah karyawan dari salah satu perusahaan swasta besar di Bandung. Perawakan Yuli sebetulnya biasa saja seperti kebanyakan. Yang membuatnya menarik adalah bentuk tubuhnya yang sangat terawat. Buah dadanya tidak terlalu besar, tapi enak untuk dipandang, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Yuli, 29 tahun, adalah seorang ibu rumah tangga dengan 2 orang anak 3 dan 5 tahun. Suaminya, Herman, 36 tahun, adalah karyawan dari salah satu perusahaan swasta besar di Bandung. Perawakan Yuli sebetulnya biasa saja seperti kebanyakan. Yang membuatnya menarik adalah bentuk tubuhnya yang sangat terawat. Buah dadanya tidak terlalu besar, tapi enak untuk dipandang, sesuai dengan pinggangnya yang ramping dan pinggulnya yang bulat.</p>
<p style="text-align: justify;">Kehidupan rumah tangga mereka sangat harmonis. Dengan 2 anak yang sedang lucu-lucunya, ditambah dengan posisi Herman yang cukup tinggi di perusahaannya, membuat mereka menjadi keluarga yang cukup di hormati di lingkungan kompleks mereka tinggal. Yuli pada dasarnya adalah istri yang sangat setia kepada suaminya. Tidak pernah ada niat berkhianat terhadap Herman dalam hati Yuli karena dia sangat mencintai suaminya. Tapi ada satu peristiwa yang menjadi awal berubahnya cara berpikir Yuli tentang cinta..</p>
<p style="text-align: justify;">Suatu siang, Yuli sedang mengasuh anaknya di depan rumah. Dikarenakan kedua anaknya waktu itu berlari jauh dari rumah, maka Yuli langsung mengejar mereka. Tapi tanpa disengaja, kakinya menginjak sesuatu sampai akhirnya Yuli terjatuh. Lututnya memar, agak mengeluarkan darah. Yuli langsung berjongkok dan meringis menahan sakit. Pada waktu itu, Darmawan, anak tetangga depan rumah Yuli kebetulan lewat mau pulang ke rumahnya. Ketika melihat Yuli sedang jongkok sambil meringis memegang lututnya, Darmawan langsung lari ke arah Yuli.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Kenapa tante?&#8221; tanya Darmawan.<br />
&#8220;Aduh, lutut saya luka karena jatuh, Wan&#8230;&#8221; ujar Yuli sambil meringis.<br />
&#8220;Bantu saya berdiri, Wan&#8230;&#8221; kata Yuli.<br />
&#8220;Iya tante,&#8221; kata Darmawan sambil memegang tangan Yuli dan dibimbingnya bediri.<br />
&#8220;Wan, tolong bawa anak-anak saya kemari.. Anterin ke rumah saya, ya&#8230;&#8221; kata Yuli.<br />
&#8220;Iya tante,&#8221; kata Darmawan sambil segera menghampiri anak-anak Yuli.</p>
<p style="text-align: justify;">Sementara Yuli segera pulang ke rumahnya sambil tertatih-tatih. Waktu Darmawan mengantarkan anak-anak Yuli ke rumahnya, Yuli sedang duduk di kursi depan sambil memegangi lututnya.<br />
<span id="more-856"></span><br />
&#8220;Ada obat merah tidak, tante?&#8221; tanya Darmawan.<br />
&#8220;Ada di dalam, Wan,&#8221; kata Yuli.<br />
&#8220;Kita ke dalam saja&#8230;&#8221; kata Yuli lagi sambil bangkit dan tertatih-tatih masuk ke dalam rumah.
</p>
<p style="text-align: justify;">Darmawan dan anak-anaknya mengikuti dari belakang.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Ma, Donny ngantuk,&#8221; kata anaknya kepada Yuli.<br />
&#8220;Tunggu sebentar ya, Wan. Saya mau antar mereka dulu ke kamar. Sudah waktunya anak-anak tidur siang,&#8221; kata Yuli sambil bangkit dan tertatih-tatih mengantar anak-anaknya ke kamar tidur.
</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah mengantar mereka tidur, Yuli kembali ke tengah rumah.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Mana obat merahnya, tante?&#8221; tanya Darmawan.<br />
&#8220;Di atas sana, Wan&#8230;&#8221; kata Yuli sambil menunjuk kotak obat.
</p>
<p style="text-align: justify;">Darmawan segera bangkit dan menuju kotak obat untuk mengambil obat merah dan kapas. Tak lama Darmawan segera kembali dan mulai mengobati lutut Yuli.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Maaf ya, tante.. Saya lancang,&#8221; kata Darmawan.<br />
&#8220;Tidak apa-apa kok, Wan. Tante senang ada yang menolong,&#8221; kata Yuli sambil tersenyum.
</p>
<p style="text-align: justify;">Darmawan mulai memegang lutut Yuli dan mulai memberikan obat merah pada lukanya.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Aduh, perih&#8230;&#8221; kata Yuli sambil agak menggerakkan lututnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Secara bersamaan rok Yuli agak tersingkap sehingga sebagian paha mulusnya nampak di depan mata Darmawan. Darmawan terkesiap melihatnya. Tapi Darmawan pura-pura tak melihatnya. Tapi tetap saja paha mulus yuli menggoda mata Darmawan untuk melirik walau kadang-kadang. Hati Darmawan agak berdebar.. Biasanya dia hanya bisa melihat dari kejauhan saja lekuk-lekuk tubuh Yuli. Atau kadang-kadang hanya kebetulan saja melihat Yuli memakai celana pendek.</p>
<p style="text-align: justify;">Darmawan biasanya hanya bisa membayangkan saja tubuh Yuli sambil onani. Tapi kini, di depan mata sendiri, paha mulus Yuli sangat jelas terlihat. Yuli sepertinya sadar kalau mata Darmawan sesekali melirik ke arah pahanya. Segera Yuli merapikan duduknya dan juga menutup pahanya. Darmawanpun sepertinya terkesima dengan sikap Yuli tersebut. Darmawan menjadi malu sendiri..</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Sudah saya berikan obat merah, tante&#8230;&#8221; kata Darmawan.<br />
&#8220;Iya, terima kasih,&#8221; kata Yuli sambil tersenyum.<br />
&#8220;Sekarang sudah mulai tidak terasa sakit lagi,&#8221; ujar Yuli lagi sambil tetap tersenyum.
</p>
<p style="text-align: justify;">Darmawan, 16 tahun, adalah anak tetangga depan rumah Yuli. Masih duduk di bangku SMP kelas 3. Seperti kebanyakan anak laki-laki tanggung lainnya, Darmawan adalah sosok anak laki-laki yang sudah mulai mengalami masa puber.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Kenapa kamu nunduk terus, Wan?&#8221; tanya Yuli.<br />
&#8220;Tidak apa-apa, tante&#8230;&#8221; ujar Darmawan sambil sekilas menatap mata Yuli lalu menunduk lagi sambil tersenyum malu.<br />
&#8220;Ayo, ada apa?&#8221; tanya Yuli lagi sambil tersenyum.<br />
&#8220;Anu, tante.. Maaf, mungkin tadi sempat marah karena tadi saya sempat melihat secara tidak sengaja&#8230;&#8221; kata Darmawan sambil tetap menunduk.<br />
&#8220;Lihat apa?&#8221; tanya Yuli pura-pura tidak mengerti.<br />
&#8220;Lihat.. Mm.. Lihat ini tante,&#8221; kata Darmawan sambil tangannya mengusap-ngusap pahanya sendiri. Yuli tersenyum mendengarnya.<br />
&#8220;Tidak apa-apa kok, Wan,&#8221; kata Yuli.<br />
&#8220;Kan hanya melihat.. Bukan memegang,&#8221; kata Yuli lagi sambil tetap tersenyum.<br />
&#8220;Lagian, saya tidak keberatan kok kamu melihat paha tante tadi,&#8221; kata Yuli lagi sambil tetap tersenyum.<br />
&#8220;Kamu kan tadi sedang menolong saya memberikan obat,&#8221; kata Yuli.<br />
&#8220;Benar tante tidak marah?&#8221; tanya Darmawan sambil menatap Yuli.
</p>
<p style="text-align: justify;">Yuli menggelengkan kepalanya sambil tetap tersenyum. Darmawanpun jadi ikut tersenyum.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Tante sangat cantik kalau tersenyum,&#8221; kata Darmawan mulai berani.<br />
&#8220;Ihh, kamu tuh masih kecil sudah pintar merayu&#8230;&#8221; kata Yuli.<br />
&#8220;Saya berkata jujur loh, tante,&#8221; kata Darmawan lagi.<br />
&#8220;Kamu sudah makan, Wan?&#8221; tanya Yuli.<br />
&#8220;Belum tante. Saya pulang dari rumah teman tadi belum makan,&#8221; kata Darmawan.<br />
&#8220;Makan disini saja, ya.. Temani saya makan siang,&#8221; ajak Yuli.<br />
&#8220;Baik tante, terima kasih,&#8221; kata Darmawan.
</p>
<p style="text-align: justify;">Mereka menikmati makan siang di meja makan bulat kecil. Ketika sedang menikmati makan, tanpa sengaja kaki Darmawan menyentuk kaki Yuli. Darmawan kaget, lalu segera menarik kakinya.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Maaf tante, saya tidak sengaja,&#8221; kata Darmawan.<br />
&#8220;Tidak apa-apa kok, Wan&#8230;&#8221; kata Yuli sambil matanya nenatap Darmawan dengan pandangan yang berbeda.
</p>
<p style="text-align: justify;">Ketika kaki Darmawan menyentuh kakinya, seperti terasa ada sesuatu yang berdesir dari kaki yang tersentuh sampai ke hati. Yuli merasakan sesuatu yang lain akan kejadian tak sengaja itu.. Tiba-tiba Yuli merasakan ada sesuatu keinginan tertentu muncul yang membuat perasaannya tidak menentu. Sentuhan kaki Darmawan terasa begitu hangat dan membangkitkan suatu perasaan aneh..</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Kamu sudah punya pacar, Wan?&#8221; tanya Yuli sambil menatap Darmawan.<br />
&#8220;Belum tante,&#8221; kata Darmawan sambil tersenyum.<br />
&#8220;Lagian saya tidak tahu caranya mendapatkan perempuan,&#8221; ujar Darmawan lagi sambil tetap tersenyum. Yulipun ikut tersenyum.<br />
&#8220;Pernah tidak kamu punya keinginan tertentu terhadap perempuan?&#8221; tanya Yuli lagi.<br />
&#8220;Keinginan apa tante?&#8221; tanya Darmawan. Yuli tersenyum.<br />
&#8220;Kita habiskan dulu makannya. Nanti kita bicara&#8230;&#8221; kata Yuli.
</p>
<p style="text-align: justify;">Selesai makan, mereka duduk-duduk di ruang tengah.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Kamu ada sesuatu yang harus diselesaikan di rumah tidak saat ini?&#8221; tanya Yuli.<br />
&#8220;Tidak ada, tante,&#8221; kata Darmawan.<br />
&#8220;Tadi tante mau tanya apa?&#8221; kata Darmawan penasaran.<br />
&#8220;Begini, apakah kamu suka kepada wanita tertentu? Maksud saya suka kepada tubuh wanita?&#8221; tanya Yuli.<br />
&#8220;Kita bicara jujur saja, ya.. Saya tidak akan bicara pada siapa-siapa kok,&#8221; kata Yuli lagi.<br />
&#8220;Kamu juga mau kan jaga rahasia pembicaraan kita?&#8221; kata Yuli lagi.<br />
&#8220;Iya, tante,&#8221; kata Darmawan.<br />
&#8220;Kalau begitu jawablah pertanyaan tante tadi&#8230;&#8221; kata Yuli sambil tersenyum.<br />
&#8220;Ya, saya suka melihat perempuan yang tubuhnya bagus. Saya juga suka tante karena tante cantik dan tubuhnya bagus,&#8221; kata Darmawan tanpa ragu.<br />
&#8220;Maksudnya tubuh bagus apa,&#8221; tanya Yuli lagi. Darmawan agak ragu untuk menjawab.<br />
&#8220;Ayolah&#8230;&#8221; kata Yuli sambil memegang tangan Darmawan. Tangan Darmawan bergetar.. Yuli tersenyum.<br />
&#8220;Mm.. Saya pernah.. Pernah lihat majalah Playboy, juga.. Juga.. Juga saya pernah lihat VCD porno.. Mm.. Mm.. Saya lihat banyak perempuan tubuhnya bagus&#8230;&#8221; kata Darmawan dengan nafas tersendat.<br />
&#8220;Oh, ya? Di VCD itu kamu lihat apa saja,&#8221; kata Yuli pura-pura tidak tahu, sambil terus menggenggam tangan Darmawan yang terus gemetar.<br />
&#8220;Mm.. Lihat orang sedang begituan&#8230;&#8221; kata Darmawan.<br />
&#8220;Begituan apa?&#8221; tanya Yuli lagi.<br />
&#8220;Ya, lihat orang sedang bersetubuh&#8230;&#8221; kata Darmawan.
</p>
<p style="text-align: justify;">Yuli kembali tersenyum, tapi dengan nafas yang agak memburu menahan sesuatu di dadanya.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Kamu suka tidak film begitu?&#8221; tanya Yuli.<br />
&#8220;Iya suka, tante?&#8221; kata Darmawan sambil menunduk.<br />
&#8220;Mau coba seperti di film, tidak?&#8221; kata Yuli.
</p>
<p style="text-align: justify;">Darmawan diam sambil tetap menunduk. Tangannya makin gemetar. Yuli mendekatkan tubuhnya ke tubuh Darmawan. Wajahnya di dekatkan ke wajah Darmawan.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Mau tidak?&#8221; tanya Yuli setengah berbisik.</p>
<p style="text-align: justify;">Darmawan tetap diam dan gemetar. Wajahnya agak tertunduk. Yuli membelai pipi anak tanggung tersebut. Lalu diciumnya pipi Darmawan. Darmawan tetap diam dan makin gemetar. Yuli terus menciumi wajah Darmawan, lalu akhirnya dilumatnya bibir Darmawan.. Lama-lama Darmawanpun mulai terangsang nafsunya. Dengan pasti dibalasnya ciuman Yuli.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Masukkan tangan kamu ke sini&#8230;&#8221; kata Yuli dengan nafas memburu sambil memegang tangan Darmawan dan mengarahkannya ke dalam baju Yuli.<br />
&#8220;Masukkan tangan kamu ke dalam BH saya, Wan.. Pegang buah dada saya,&#8221; kata Yuli sambil tangannya meremas ****** Darmawan dari luar celana.
</p>
<p style="text-align: justify;">Sementara tangan Darmawan sudah masuk ke dalam BH Yuli dan mulai meremas-remas buah dada Yuli.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Mmhh.. Terus sayang&#8230;&#8221; kata Yuli.<br />
&#8220;Tangan saya pegal, tante&#8230;&#8221; kata Darmawan polos.<br />
&#8220;Uhh.. Kita pindah ke kamar, yuk&#8230;&#8221; ajak Yuli sambil menarik tangan Darmawan. Sesampainya di dalam kamar..<br />
&#8220;Buka pakaian kamu, Wan&#8230;&#8221; ujar Yulipun melepas seluruh pakaiannya sendiri.<br />
&#8220;Iya, tante&#8230;&#8221; kata Darmawan.
</p>
<p style="text-align: justify;">Yuli setelah melepas seluruh pakaiannya, segera naik dan telentang di tempat tidur. Darmawan terkesima melihat tubuh telanjang Yuli. Seumur-umur Darmawan, baru kali ini dia melihat tubuh telanjang wanita di depan mata. Apalagi wanita tersebut adalah wanita yang sering di bayangkannya bila onani. ****** Darmawan langsung tegang dan tegak..</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Naik sini, Wan&#8230;&#8221; kata Yuli.<br />
&#8220;Iya, tante&#8230;&#8221; kata Darmawan.<br />
&#8220;Sini naik ke atas tubuh saya&#8230;&#8221; kata Yuli sambil mengangkangkan pahanya.
</p>
<p style="text-align: justify;">Darmawan segera menaiki tubuh telanjang Yuli. Yuli langsung melumat bibir Darmawan dan Darmawanpun langsung membalasnyanya dengan hebat. Sementara satu tangan Darmawan meremas buah dada Yuli yang tidak terlalu besar. Sementara ****** Darmawan sesekali mengenai belahan memek Yuli.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Ohh.. Mmhh.. Terus remas.. Terus&#8230;&#8221; desah Yuli sambil memegang tangan Darmawan yang sedang meremas buah dadanya, dan tangan mereka bersamaan meremas buah dadanya.<br />
&#8220;Ohh.. Sshh&#8230;&#8221; kata Yuli. Darmawanpun dengan bernafsu terus meremas dan menciumi serta menjilati buah dada Yuli.<br />
&#8220;Wan, jilati memek ya, sayang&#8230;&#8221; pinta Yuli.<br />
&#8220;Tapi saya tidak tahu caranya, tante,&#8221; kata Darmawan polos.
</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Sekarang dekatkan saja wajah kamu ke memek, lalu kamu jilati belahannya&#8230;&#8221; kata Yuli setengah memaksa dengan menekan kepala Darmawan ke arah memeknya.</p>
<p style="text-align: justify;">Darmawan langsung menuruti permintaan Yuli. Dijilatinya belahan memek Yuli sampai tubuh Yuli mengejang menahan nikmat.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Ohh.. Mm.. Ohh.. Terus jilat, sayang&#8230;&#8221; desah Yuli sambil meremas kepala Darmawan.<br />
&#8220;Wan, kamu jilati bagian atas sini&#8230;&#8221; kata Yuli sambil jarinya mengelus kelentitnya.
</p>
<p style="text-align: justify;">Lalu lidah Darmawan menjilati habis kelentit Yuli.. Yuli kembali menggelepar merasakan nikmat yang teramat sangat.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Teruss.. Sshh.. Ohh&#8230;&#8221; desah Yuli sambil badannya semakin mengejang.</p>
<p style="text-align: justify;">Pahanya rapat menjepit kepala Darmawan. Sementara tangannya semakin menekan kepala Darmawan ke memeknya. Tak lama..</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Ohh&#8230;&#8221; desah Yuli panjang. Yuli orgasme.<br />
&#8220;Sudah, Wan.. Naik sini,&#8221; kata Yuli.
</p>
<p style="text-align: justify;">Darmawan lalu menaiki tubuh Yuli. Yuli lalu mengelap mulut Darmawan yang basah oleh cairan memeknya. Yuli tersenyum, lalu mengecup bibir Darmawan.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Mau tidak ****** kamu saya hisap,&#8221; kata Yuli.<br />
&#8220;Mau tante,&#8221; kata Darmawan bersemangat.<br />
&#8220;Bangkitlah.. Sinikan ****** kamu,&#8221; kata Yuli sambil tangannya meraih ****** Darmawan yang tegang dan tegak.
</p>
<p style="text-align: justify;">Darmawan lalu mengangkangi wajah Yuli. Yuli segera mengulum ****** Darmawan. Tidak hanya itu, ****** Darmawan lalu dijilat, dihisap, lalu dikocoknya silih berganti. Darmawan tubuhnya mengejang menahan rasa nikmat yang teramat sangat. Tangannya berpegangan pada pinggiran ranjang.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Ohh.. Tantee.. Enaakk&#8230;&#8221; jerit kecil Darmawan sambil memompa kontolnya di mulut Yuli.<br />
&#8220;Masukkin ke memek, sayang&#8230;&#8221; kata Yuli setelah dia beberapa lama menghisap ****** Darmawan.
</p>
<p style="text-align: justify;">Darmawan lalu mengangkangi Yuli. Sementara tangan Yuli memegang dan membimbing ****** Darmawan ke lubang memeknya.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Ayo tekan sedikit, sayang&#8230;&#8221; kata Yuli.</p>
<p style="text-align: justify;">Darmawan berusaha menekan kontolnya ke lubang memek Yuli sampai akhirnya.. Bless.. Bless.. Bless.. ****** Darmawan berhasil masuk dan mulai memompa memek Yuli. Darmawan merasakan suatu kenikmatan yang tiada tara pada batang kontolnya.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Bagaimana rasanya, Wan?&#8221; tanya Yuli sambil tersenyum dan menggoyang pantatnya.<br />
&#8220;Ohh.. Sangat enakk, tanttee&#8230;&#8221; kata Darmawan tersendat sambil memompa kontolnya keluar masuk memek Yuli.
</p>
<p style="text-align: justify;">Yuli tersenyum.. Setelah beberapa lama memompa kontolnya, tiba-tiba tubuh Darmawan mengejang. Gerakannya makin cepat. Yuli karena sudah mengerti langsung meremas pantat Darmawan dan menekankannya ke memeknya. Tak lama.. Crott.. Croott.. Croott.. Croott..</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Ohh.. Hohh&#8230;&#8221; desah Darmawan. Tubuhnya lemas dan lunglai di atas tubuh Yuli.<br />
&#8220;Udah keluar? Bagaimana rasanya?&#8221; tanya tante Yuli sambil memeluk Darmawan.<br />
&#8220;Sangat enak, tante&#8230;&#8221; kata Darmawan.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ceritasex.cn/yuli-namaku/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Petualangan Isteriku Disebuah Pesta Pantai</title>
		<link>http://www.ceritasex.cn/petualangan-isteriku-disebuah-pesta-pantai/</link>
		<comments>http://www.ceritasex.cn/petualangan-isteriku-disebuah-pesta-pantai/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 19 Jul 2009 14:11:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cerita Sex</dc:creator>
				<category><![CDATA[Seks Umum]]></category>
		<category><![CDATA[Tante Girang]]></category>
		<category><![CDATA[selingkuh]]></category>
		<category><![CDATA[budak nafsu]]></category>
		<category><![CDATA[cewek nakal]]></category>
		<category><![CDATA[gatel]]></category>
		<category><![CDATA[istri muda]]></category>
		<category><![CDATA[istri orang]]></category>
		<category><![CDATA[ml]]></category>
		<category><![CDATA[nafsu]]></category>
		<category><![CDATA[ngentot]]></category>
		<category><![CDATA[pengen di entot]]></category>
		<category><![CDATA[pesta sex]]></category>
		<category><![CDATA[seks rame rame]]></category>
		<category><![CDATA[sex party]]></category>
		<category><![CDATA[swinger]]></category>
		<category><![CDATA[tukar pasangan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ceritasex.cn/?p=688</guid>
		<description><![CDATA[Sekitar satu minggu yang lalu isteriku, Dayu dan aku diundang hadir ke sebuah beach resort bersama dengan rekan-rekan kerjanya. Isteriku bekerja pada bagian marketing di sebuah perusahaan besar yang sangat sukses beberapa tahun belakangan, dan hal tersebut berimbas pada kesejahteraan karyawannya yang semakin naik dan beberapa bonus juga, salah satunya adalah perjalanan ke resort kali [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Sekitar satu minggu yang lalu isteriku, Dayu dan aku diundang hadir ke sebuah beach resort bersama dengan rekan-rekan kerjanya. Isteriku bekerja pada bagian marketing di sebuah perusahaan besar yang sangat sukses beberapa tahun belakangan, dan hal tersebut berimbas pada kesejahteraan karyawannya yang semakin naik dan beberapa bonus juga, salah satunya adalah perjalanan ke resort kali ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku sangat bergairah untuk pergi, meskipun dia merasa khawatir bertemu dengan rekan-rekan kerja isteriku. Kantor Dayu bekerja sangatlah berkultur informal, dan kadang Dayu cerita padaku tentang semua godaan dan cubitan yang berlangsung selama jam kerja. Aku bekerja pada sebuah firma hukum, yang sangat disiplin dan professional, dan bercanda apalagi saling goda merupakan hal yang tak bisa ditolerir dalam perusahaan. Dan hal itu mempengaruhi sikap dan perilakuku dalam keseharian, aku menjadi seorang yang tegas dan formal. Aku tak begitu yakin bisa berbaur dengan rekan kerja Dayu nanti.</p>
<p style="text-align: justify;">Dayu sendiri adalah seorang wanita periang dan mudah bergaul. Berumur 30 tahun, potongan rambut pendek seleher dan berwajah manis. Dia agak sedikit pendek dibawah rata-rata, pahanya ramping yang bermuara pada pinggang dengan pantat yang kencang. Sosok mungilnya berhiaskan sepasang payudara yang lumayan besar dan namun bulat kencang meskipun tanpa memakai penyangga bra. Kami berjumpa dibangku kuliah dan menjadi dekat dalam waktu singkat lalu menikah tak lama setelah kami lulus. Dia tak begitu berpengalaman dalam hal seks, meskipun aku bukanlah lelaki pertama yang berhubungan seks dengannya.</p>
<p style="text-align: justify;">Kala hari perjalanan itu tiba, kami mengenderai mobil menuju resort tersebut. Dalam perjalanan kesana Dayu menceritakan kalau dia telah membeli sebuah bikini baru untuk akhir pekan kali ini.<br />
<span id="more-688"></span><br />
&#8220;Mau pamer tubuh ke orang-orang, ya?&#8221; candaku padanya.<br />
&#8220;Mungkin,&#8221; jawabnya dengan tersenyum.<br />
&#8220;Maksudmu?&#8221; tanyaku penasaran. Dayu yang kutahu tak begitu suka mempertontonkan tubuhnya, aku selalu merasa sulit untuk sekedar memaki pakaian renang yang minim.<br />
&#8220;Nggak ada, bukan apa-apa&#8221; Dayu tertawa menggoda suaminya. &#8220;Sudah pernah kubilang padamu kan kalau dikantor kita senang bercanda dan saling menggoda. Liburan ini pasti tak ada bedanya, hanya tempat dan suasananya yang beda untuk sedikit genit didepan para pria.&#8221;<br />
&#8220;Kamu juga genit di depan teman-teman priamu?&#8221; tanya Wisnu gusar.<br />
&#8220;Bukan cuma aku, sayang. Semua teman wanitaku juga melakukannya kok,&#8221; jawab Dayu menjelaskan. &#8220;Cuma sedikit genit, menggoda dan bercanda. Kamu tahu, kadang saling bercanda mmm… yeah bercanda agak jorok, seks dan juga sedikit tontonan.&#8221;<br />
&#8220;Tunggu, apa?&#8221; suara Wisnu agak meninggi. &#8220;Tontonan? Kamu mempertontonkan tubuhmu ke teman-teman priamu?&#8221;<br />
&#8220;Oh, sayang, ini bukan sungguh-sungguh,&#8221; jawab Dayu. &#8220;Cuma menggoda kok. Hanya sedikit menyingkap baju, kadang sedikit memberi bonus dengan memperlihatkan dada sebentar.&#8221;
</p>
<p style="text-align: justify;">Aku terhenyak, isteriku memperlihatkan payudaranya pada pria lain? Pria lain di kantornya? Ini bukan seperti sosok Dayu yang kukenal selama ini. Hanya seberapa dekat dia dengan teman kerja prianya? Kepalaku dipenuhi oleh pikiran yang berkecamuk tak karuan hingga akhirnya kami tiba di resort.</p>
<p style="text-align: justify;">Segera kuparkir kendaraan kami. Begitu memasuki lobby dengan bawaan kami, sekelompok orang melambai ke arah Dayu untuk mendekat. Mereka adalah beberapa orang dari rekan-rekan kerjanya dan Dayu memperkenalkanku. Alan, Dave, Eddie, Gary adalah nama taman-teman prianya dan yang wanitanya Sasha, Kristin, Melly dan Nina.</p>
<p style="text-align: justify;">Mereka berkata pada Dayu kalau semua orang harus bertemu di kolam renang pribadi dan minum-minum dulu sebelum berikutnya pergi ke pantai. Kami setuju untuk menyusul mereka secepatnya setelah menaruh bawaan dikamar dan berganti pakaian.</p>
<p style="text-align: justify;">Baru saja mereka beranjak, Alan sudah beraksi dengan mencubit pinggul Dayu yang langsung memekik kegelian dan mendorong tubuh Alan menjauh. Aku sangat terkejut mendapati hal tersebut dan hampir saja teriak marah, tapi mereka semua mulai tertawa, termasuk Dayu, jadi aku pikir inilah sebagian dari cara mereka saling menggoda dan bercanda. Aku tak mau dianggap seorang yang kolot dan tak bisa berbaur di lima menit pertama kehadiranku, jadi aku hanya diam saja membiarkan.</p>
<p style="text-align: justify;">Kami menuju ke kamar kami dan mulai berganti pakaian dengan pakaian renang. Dayu masuk ke kamar mandi untuk berganti pakaian dan kemudian keluar dengan sebuah handuk membalut tubuhnya. Aku ingin melihat apa yang dipakainya dibalik handuk tersebut, tapi dia langsung memotongku sebelum mampu berkata sepatah kata &#8220;Ayo, kita turun!&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Kuraih sebuah buku dan berjalan mengikutinya menuju kolam renang. Kantor Dayu pasti sudah menyewa seluruh kolam tersebut, karena ada logo perusahaan pada semua handuk dan pada tulisan selamat datang. Ada sekitar lima puluhan orang di area kola mini. Kebanyakan dari mereka adalah pria, dan yang membuatku kecewa, kebanyakan dari mereka terlihat muda dan menarik. Para wanitanya juga tak ada yang mengecewakan. Kebanyakan mereka hanya berbikini minim memperlihatkan keindahan tubuh muda mereka.</p>
<p style="text-align: justify;">Baru saja aku hendak bertanya dimanakah teman-temannya yang tadi, saat kulihat isteriku sedang membuka handuk penutup tubuhnya. Apa yang terpampang dihadapanku sangat membuatku terpaku, dibalik handuk tersebut dia memakai sebuah bikini warna merah tua dan… sangat minim. Bagian atasnya hanya menutup sebagian depan dari payudaranya, dan tali penahannya yang terkalung dileher jenjangnya terlihat seakan siap untuk dilepas. Sedangkan bagian bawah hampir menyerupai thong, memperlihatkan keindahan paha dan bongkahan pantatnya. Dia terlihat begitu menawan.</p>
<p style="text-align: justify;">Tak heran dia menutupinya dengan handuk saat dikamar tadi, pikirku. Dia tahu kalau aku pasti akan meributkan apa yang dipakainya. Baru saja aku hendak berkomentar namun terpotong oleh sebuah teriakan dari seberang kolam, &#8220;Hey, lihat Dayu!&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Dan langsung disusul oleh riuh rendah suara yang diiringi siulan nakal dari para pria di area kolam tersebut. Dayu hanya tertawa riang lalu melakukan sebuah pose, memperlihatkan perutnya yang rata dan kemulusan pahanya sambil mengoleskan sun-block ke tubuhnya. Dia menoleh ke arahku dan berkata, &#8220;Lihat kan? Hanya menggoda saja!&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Aku hanya mengangguk dan terdiam. Aku harapdia mengatakan sesuatu tentang betapa terbukanya pakaian renang yang dia pakai ini tapi itu bukan sesuatu yang perlu dipermasalahkan, ini tetap hanya sebuah bikini. Jika para pria ingin memandangi tubuh isteriku, apa salahnya dengan itu? Bahkan aku bisa merasa bangga akan hal tersebut.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku rebah di atas bangku malas dan mulai membuka buku yang kubawa sedangkan Dayu berjalan menghampiri teman-temannya. Aku berencana menghabiskan waktu dengan membaca, namun mataku terus melayang ke arah dimana isteriku berada. Setiap kali aku melihat Dayu, dia tengah asik bercanda dengan teman prianya. Akhirnya kuputuskan untuk berhenti membaca, dan hanya memperhatikan setiap tingkah lakunya sambil terus pura-pura membaca bukuku.</p>
<p style="text-align: justify;">Di salah satu sudut kolam tersebut ada bar yang menyuguhkan berbagai macam minuman dan sudah berulang kali aku kesana untuk sebotol bir dingin. Kelihatannya minumannya sudah dipersiapkan dalam jumlah dan ragam yang banyak untuk membuat pesta ini berjalan meriah. Kuamati Dayu sudah berulang kali pergi ke sana untuk segelas margaritas dan entah sudah berapa banyak orang yang pergi mengambilkan minuman untuknya. Namun yang jelas dia semakin bertambah mabuk seiring berjalannya waktu. Ditambah lagi para pria yang mendorongnya dan juga para wanita lainnya untuk minum lebih banyak lagi. Pada suatu kesempatan Dave menantang Dayu untuk berlomba menghabiskan minuman dalam gelas mereka, yang tentu saja dimenangkan Dave dengan mudah, melihat kondisi Dayu sudah lebih dari sekedar mabuk.</p>
<p style="text-align: justify;">Baru saja aku mulai kembali membaca, Dayu datang menghampiri. Dia baru saja keluar dari dalam kolam dan tubuhnya basah kuyup. Dengan kain penutup tubuh yang dia kenakan menempel erat disetiap lekuk tubuhnya, membuat dia semakin terlihat menggoda.<br />
&#8220;Hai, sayang,&#8221; sapanya. &#8220;Sudah lebih santai?&#8221;<br />
&#8220;Yeah,&#8221; jawab Wisnu. &#8220;Kamu sendiri, bisa bersenang-senang?&#8221;<br />
&#8220;Oh, ya,&#8221; dia tersenyum manja. &#8220;Aku sudah agak mabuk.&#8221;
</p>
<p style="text-align: justify;">Itu terlihat jelas, tapi aku tak mau lebih mendesaknya. Dayu mengeringkan tubuhnya dengan handuknya, lalu melangkah kembali ke teman-temannya.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku kembali pada bacaanku, hingga tiba-tiba saja kudengar suara jeritan. Dengan cepat aku menoleh ke arah suara tersebut, tepat disaat kulihat Melly yang tengah menutupi payudara telanjangnya dengan tangannya. Salah satu dari pria tersebut menarik lepas penutup dadanya dan sekarang tengah berlari dipinggiran kolam dengan menenteng penutup dada tersebut. Melly mengejarnya, dengan lengan menyilang menutupi dadanya hingga si pria berhenti lalu menangkap tubuh Melly dan menariknya bersamanya menceburkan diri ke dalam kolam.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku dengar sebuah suara jeritan lagi dan salah seorang wanita yang tak kukenal sekarang juga tak berpenutup dada. Alih-alih menutupi payudaranya, kali ini si wanita hanya membiarkan saja pria yang menarik lepas penutup dadanya itu berlari menjauh dan dia terus mengobrol dengan temannya seakan tak terjadi apapun.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku memandang sekeliling untuk mencari Dayu. Dia sedang sedang mengobrol dengan seorang pria di kolam yang dangkal. Kuperhatikan Alan sedang berenang ke arahnya dari belakang dan muncul tepat dibelakangnya lalu menyentakkan tali penahan penutup dadanya di leher. Penutup dada Dayu tertarik erat menekan daging bulat kenyal tersebut dan tiba-tiba saja payudaranya terayun meloncat lepas dari penutupnya. Dia memekik dan tubuhnya berbalik ke belakang untuk memukul Alan. Alan mengangkat penutup dada tersebut tinggi ke atas, Dayu hanya tertawa keras lalu melompat mencoba merebutnya. Nampak payudaranya terayun seiring tiap lompatannya, puting merah mudanya terlihat jelas mencuat keras membuat seluruh pria dikolam tersebut bersorak riuh.</p>
<p style="text-align: justify;">Dave bergerak ke belakang Dayu lalu menangkap pinggangnya dan mengangkatnya tinggi tinggi agar bisa meraih penutup dada yang dipegangi Alan. Dayu rebut penutup dada tersebut dari tangan Alan lalu mengibaskannya pada Alan dengan tertawa genit. Dayu mulai memakai kembali penutup dadanya, namun masih kalah cepat dengan tangan Alan yang menjulur ke arahnya untuk meremas payudara telanjangnya yang sebelah kiri. Kembali Dayu memekik dan menepis tangan Alan untuk menjauh.</p>
<p style="text-align: justify;">Rupanya para wanita tak membiarkan begitu saja dengan perbuatan para pria terhadap penutup dada mereka. Beberapa menit setelah Dave membantu Dayu tadi, nampak Melly berjalan mengendap dibelakang Dave yang sekarang berdiri di depan Bar lalu menarik turun celana renang yang dipakai Dave. Sebuah batang penis yang besar menyembul keluar dan seluruh wanita menjerit riuh tak terkecuali Dayu. Dave hanya tertawa keras dan mulai mengejar Melly yang berlari mengitari tepian kolam. Dengan konyol Dave berlari mengejr dan mengibas-ngibaskan batang penisnya ke arah Melly yang berlari, menjerit dan tertawa.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah beberapa menit kemudian, Dayu keluar dari kolam renang dan berjalan ke arahku. Sebelum dia mampu mengucap sepatah kata, aku sudah memberondongnya dengan pertanyaan tentang apa yang sedang terjadi disana.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Oh, sayang, bukan apa-apa. Mereka hanya bersenang-senang, itu saja,&#8221; jawab Dayu.<br />
&#8220;Aku rasa melihatmu telanjang dada dan juga menyentuh dadamu bukan sekedar bercanda atapun senang-senang!&#8221; kataku ketus.<br />
&#8220;Sayang, jangan terlalu kolot begitu. Lagipula aku sudah memakai penutup dadaku lagi. Lihat para pria itu, mereka melepas beberapa penutup dada teman wanitaku yang lainnya lagi dan sebagian dari para merka, mereka tak ambil pusing untuk memakainya lagi.&#8221;
</p>
<p style="text-align: justify;">Dia berhasil memojokkanku. Beberapa teman wanitanya sekarang sudah mondar-mandir dengan telanjang dada, terkadang salah seorang pria akan mendekat untuk sekedar menyentuh atau meremas payudara mereka.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Lagipula,&#8221; Dayu membungkuk dan tiba-tiba memelankan suaranya, &#8220;Bukankah ini membuatmu terangsang melihat para pria melirikku? Mengintip dadaku dan menyentuhnya sedikit?&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Aku jadi terdiam karena memang itu kenyataannya. Aku merasakan rangsangan setelah melihat para pria tersebut menggoda isterinku, namun aku juga merasakan cemburu yang sangat besar.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Semua hanya coba bersenang-senang dan tak ada yang dirugikan,&#8221; sambung Dayu lagi. &#8220;Coba pikirkan saja betapa nakalnya isterimu ini, membiarkan para pria melihat dadanya dan menyentuhnya.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Aku menganggukkan kepala pelan dan dia tersenyum lebar lalu melangkah pergi. Aku merasa harus mengucapkan sesuatu, namun moment tersebut telah musnah. Lagipula, jika para pria berlaku seperti itu pada semua wanita di sini, tak ada alasan bagiku untuk merasa marah. Aku coba lagi untuk konsentrasi pada buku yang kubawa, namun tak berapa lama rasa kantuk melanda. Aku ambil kacamatku lalu dengan cepat terlelap.</p>
<p style="text-align: justify;">Saat aku terbangun, suasana menjadi sangat riuh di dalam kolam. Kebanyakan para wanita yang berada disana sudah tak memakai penutup dada lagi, termasuk Kristin yang tengah berjalan lewat di depan tempatku berada. Kristin berbadan lebih tinggi dibandingkan Dayu, tapi payudaranya lebih kecil. Dadanya terekspos bebas, dan penutup dadanya terlihat menggantung dilehernya, mungkin hasil usil beberapa pria yang melepaskan pengaitnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku masih merasa ngantuk namun sudah terjaga, dan dengan kaca mata yang menutupi mataku terlihat aku masih tertidur. Aku sapukan pandangan ke seantero area kolam untuk mencari istriku dan kusaksikan suasana sudah semakin memanas, beberapa pasang pria wanita bahkan terlihat saling bercumbu di dalam kolam renang tanpa mempedulikan sekeliling lagi.</p>
<p style="text-align: justify;">Akhirnya kutemukan keberadaan Dayu, yang sedang duduk dipinggir kolam dengan kakinya masuk ke dalam air. Alan menemaninya di dalam kolam, lengannya bertumpu di atas paha Dayu. Keduanya terlihat asik ngobrol dengan wajah yang hampir bersentuhan. Ekspresi wajah Dayu terlihat jengah, sedangkan Alan terlihat sedang merajuk tentang sesuatu. Sebentar-sebentar terdengar suara tawa renyah pecah dari mulut Dayu, terdengar jelas kalau dia masih dalam kondisi mabuk.</p>
<p style="text-align: justify;">Beberapa menit berselang, terlihat Dayu mengangkat lengannya dan mengangkat salah satu tali penahan penutup dadanya dibahunya kemudian pelan-pelan dia turunkan dari bahunya. Alan mengucapkan sesuatu yang kembali membuat tawa isteriku pecah. Kemuadian dia memegang tangan Dayu dan menariknya masuk ke dalam air diantara kedua pahanya. Brengsek, umpatku dalam hati. Apa Alan sudah membuat isteriku menyentuh batang penisnya?</p>
<p style="text-align: justify;">Dayu memekik terkejut pada awalnya lalu kembali dia tertawa. Dia tetap membiarkan tangannya berada di dalam air, lalu mulailah terlihat dia menggerakkan tangannya. Kembali Alan mengucapkan sesuatu dan Dayu tertawa lagi, lalu dia angkat tangannya dari dalam air dan menurunkan tali penahan penutup dadanya yang satu lagi dari bahunya. Dia memandang sekilas kearahku, dan aku terdiam tak berani bergerak. Aku pasti telah membuatnya yakin kalau aku masih tertidur lelap karena kemudian dia menoleh kembali pada Alan.</p>
<p style="text-align: justify;">Penutup dadanya sekarang hanya bergantung ditahan hanya oleh daging bulat payudaranya saja. Alan sekarang memandanginya tanpa sungkan-sungkan lagi dan mengobrol dengan penuh semangat. Aku tak tahu apa yang tengah dia ucapkan, tapi melihat isteriku yang terlihat melakukan setiap apapun yang Alan pinta, itu pasti sebuah paduan sempurna dari sebuah humor dan rayuan. Beberapa saat berikutnya kembali tangan Dayu masuk ke dalam air. Kali ini dia terlihat menahan nafas. Apapun yang dia pegang di dalam air tersebut, itu membuatnya terkesan. Alan tertawa dan membisikkan sesuatu yang membuat tawa Dayu lebih pecah dengan kerasnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Kembali Dayu mengangkat tangannya dari dalam air kemudian meremas kedua lengannya rapat-rapat. Belahan daging payudaranya terangkat sedikit, cukup untuk membuat penutup dadanya sedikit lebih turun lagi, membuat putingnya sekarang terekspos di hadapan mata Alan. Putingnya yang merekah terlihat sangat keras dan mencuat menggiurkan dari bulat kenyalnya payudaranya yang indah.</p>
<p style="text-align: justify;">Menyaksikan hal itu membuatku sangat terkejut sekaligus merasa api birahiku berkobar hebat, batang penisku langsung tebangun dan ereksi penuh. Aku tak bisa percayai kalau isteriku telah mengekspos dirinya dihadapan seorang pria seperti itu, dan aku tak bisa percaya kalau diriku sendiri merasa terangsang karena melihat kejadian tersebut. Apa yang salah dengan diriku?</p>
<p style="text-align: justify;">Alan sangat menikmati waktunya mengamati keindahan payudara Dayu untuk bebeapa waktu, kemudian dia membungkuk mendekat ke arah Dayu dan membisikkan sesuatu di telinganya. Dayu tertawa genit dan kembali tangannya bergerak masuk ke air. Keduanya diam tak berbicara untuk beberapa saat sedangkan tangan Dayu bergerak naik turun di dalam air. Terlihat nyata kalau Dayu tengah mengocok batang penis Alan. Beberapa detik kemudian Dayu menoleh ke arahku dengan ragu-ragu. Aku yakin jika dia melihatku bergerak, maka dia akan langsung menghentikan apapun yang tengah dia lakukan itu, tapi aku tetap diam tak bergerak. Aku merasa seberapa besar rasa cemburu dalam dadaku, maka sebesar itu pula keinginanku untuk melihat apa yang akan terjadi berikutnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah memastikan kalau aku masih tetap tertidur, Dayu turun dari tepian kolam lalu masuk ke dalam air. Sekarang dia berdiri berhadapan dengan Alan, penutup dadanya menempel diperutnya. Kedua tangannya kembali masuk ke dalam air lalu keduanya nampak sedikit menggeliat untuk beberapa saat. Aku hanya mampu menebak apa yang tengah mereka lakukan hingga celana renang Alan tiba-tiba saja muncul dari dalam air disamping tubuhnya. Dayu telah melepaskannya!</p>
<p style="text-align: justify;">Keduanya tertawa berbarengan, lalu kembali Dayu memasukkan tangannya kedalam air. Nafas Alan mulai terlihat berat dan tatapan matanya terpaku pada payudara indah milik isteriku. Dayu hanya tertawa genit atas tatapan mata Alan pada payudaranya tersebut dan bahkan beberapa kali nampak dia sedikit menggoyangkan dadanya untuk memberikan sedikit tontonan pada Alan.</p>
<p style="text-align: justify;">Dayu mulai menggerakkan tangannya naik turun dengan cepat dan semakin bertambah cepat, sementara itu Atatapan mata Alan tak pernah lepas dari payudara isteriku. Tiba-tiba Alan memejamkan matanya rapat-rapat dan menggigit bibir bawahnya. Dayu melihat ke bawah dan menatap air seakan terhipnotis saat Alan mulai menggelinjang. Setelah beberapa saat dia berhenti menggelinjang dan membuaka matanya kembali. Lalu Alan membisikkan sesuatu padanya yang membuat Dayu menjerit dengan nada genit marah dan mendorong Alan menjauh. Alan tertawa dan menggenggam celana renangnya, sedangkan Dayu memakai penutup dadanya kembali.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku sudah tak yakin lagi apakah yang mampu membuatku terkejut lagi, menyaksikan isteriku memasturbasi pria lain didepan mataku ataukah kenyataan bahwa tak ada seorangpun yang memperhatikannya. Melihat sekeliling, kusaksikan begitu banyak orang yang saling mencumbu, dan aku rasa mereka berdua merasa sangat yakin kalau tak ada seseorangpun yang memperhatikan apa yang mereka perbuat. Aku bertanya kalau diriku masih seorang pria lugu dan kolot lagi sekarang, benarkah begitu? Benakku menjawab, masih, namun batang penisku yang ereksi berkata tidak.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah setengah jam berikutnya, Kristin berdiri, masih bertelanjang dada mengumumkan bahwa saatnya untuk pergi ke pantai telah tiba. Perusahaan telah menyewa beberapa van untuk mengangkut semua orang disana dan tidak memperbolehkan memakai mobil sendiri.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku pura-pura baru bangun dari tidurku saat Dayu berjalan mendekatiku. Dia masih agak mabuk, jika tak mau dikatakan mabuk dan kuputuskan untuk melihat apakah dia akan mengungkapkan semuanya. &#8220;Ada yang terjadi lagi saat aku tertidur?&#8221;<br />
&#8220;Tak begitu banyak, sayang,&#8221; jawabnya.<br />
&#8220;Ada lagi yang mencuri lepas penutup dada?&#8221; desakku.<br />
&#8220;Kenapa?&#8221; tanya istriku dengan nada menggoda. &#8220;Apa kamu ingin dengar tentang itu?&#8221;<br />
&#8220;Mungkin,&#8221; jawabku, meskipun dengan cara penyampaiannya itu membuatku terdengar sangat ingin mendengarnya.<br />
&#8220;Well, tak ada lagi yang mencuri lepas penutup dada, tapi Alan masih ingin melihat payudaraku dan dia terus merajuk. Jadi kupikir dia juga sudah melihatnya, aku memberinya sedikit bonus lagi.&#8221;<br />
&#8220;Oh,&#8221; jawabku.<br />
&#8220;Jadi kuturunkan sedikit penutup dadaku dan membiarkan dia melihatnya. Tapi hanya itu saja. Tak apa-apa kan sayang? Kamu tak marah padaku karena sudah memperlihatkan payudaraku sebentar pada teman priaku?&#8221; jawabnya dengan nada merajuk.<br />
&#8220;Aku rasa begitu&#8230;&#8221; jawabku datar. Aku sedang membayangkan dia memasturbasi Alan.
</p>
<p style="text-align: justify;">Kami mengemasi handuk kami dan kemudian berjalan mengikuti yang lain menuju ke area parkir. Kami masuk ke dalam van yang semua orang di dalamnya tak kukenal lalu mulailah kami berangkat menuju ke pantai. Jalanan yang dilalui sangat jelek dan membuat van yang kami tumpangi terlonjak-lonjak, namun aku tak begitu merasakannya karena aku tengah fokus pada usaha untuk mengingat apa yang kusaksikan pada Dayu dan Alan tadi.</p>
<p style="text-align: justify;">Saat tiba di pantai, kuperhatikan kalau perusahaan juga sudah mengeset sebuah erena untuk permainan bola voli lengkap dengan net-nya dan segera saja Kristin dan Nana sudah berinisiatif untuk memuali sebuah pertandingan. Kuputuskan untuk rebah diatas pasir saja dan melihat, berusaha untuk menata perasaan dan melegakan himpitan dalam dada, sedangkan Dayu langsung bergabung dalam permainan. Kedua team terbagi dalam kelompok wanita dan pria. Sebenarnya pertandingan tersebut menyenangkan untuk disaksikan karena para pemainnya ternyata lumayan mahir dan juga karena para wanita terlihat begitu menawan saat melompat dalam balutan bikini minim mereka. Seiring jalannya pertandingan, suasana semakin bertambah panas, kata-kata jorokdan ejekan penuh sendau gurau terus bersahutan.</p>
<p style="text-align: justify;">Sekarang tibalah saatnya bagi isteriku untuk serve. &#8220;Siap-siap guys, kali ini kalian ak akan bisa mengemblikan!&#8221; teriaknya.<br />
&#8220;Kamu mau bertaruh untuk penutup dadamu?&#8221; teriak Eddie membalas.</p>
<p style="text-align: justify;">Langsung terdengar riuh rendah suara menyambut dari para penontonnya. Dayu terdiam beberapa saat, mimik wajahnya menggambarkan ekspresi yang sangat seksi kemudian belas menyahut, &#8220;Kalau kamu tak bisa mengembalikannya, kamu harus melepas celanamu!&#8221;<br />
&#8220;Ok, tapi itu tak akan terjadi sayang!&#8221; balas Eddie.
</p>
<p style="text-align: justify;">Dayu merespon dengan melempar bola ditangannya tinggi-tinggi dan mengirimkan sebuah serve yang sangat kuat. Aku tak yakin berapa banyak rekan kerjanya yang tahu, kalau dia saat kuliah dulu termasuk andalan dalam team bola voli. Bola tersebut mengarah sangat sesuai dengan yang dia inginkan, mendarat dengan tajam diantara dua pemain yang paling payah.</p>
<p style="text-align: justify;">Para wanita bersorak menyambutnya sedangkan para pria terlihat menepuk kepalnya sambil mengerang kesal. Eddie bersiul dan menghadap ke arah Dayu, kemudian mencengkeram celananya kemudian menurunkannya. Batang penisnya tak sepanjang milik Dave namun jauh lebih besar. Benar-benar cukup besar untuk mengundang siulan dan teriakan dari para wanita. Dayu menatapnya dengan senyum birahi tergambar pada wajahnya. Belum pernah diamenatap bang penisku dengan ekspresi seperti itu sebelumnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Dayu bersiap untuk serve berikutnya dan berteriak pada seorang pria yang tak kukenal, &#8220;Hey, Don! Mau bertaruh yang sama juga?&#8221;<br />
Doni melihat ke arah Eddie, lalu beralih ke dada isteriku dan kemudian menjawab, &#8220;Tentu saja!&#8221;
</p>
<p style="text-align: justify;">Dayu memberikan sebuah serve penuh tenaga lagi, namun kali ini para pria sudah lebih siap menyambutnya. Salah seorang pria melompat menyambut datangnya bola, bola tersebut melayang cukup tinggi bagi Dave untuk menyambutnya dengan smash yang keras. Para wanita terlihat terkejut dengan serangan tersebut, dan begitu bola mendarat mulus diatas pasir, para pria berteriak menyambutnya, &#8220;Lepas! Lepas!&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Dayu menutup wajahnya dengan kedua telapak tanganna, dia tertawa malu, lalu tangannya bergerak kebelakang tubuhnya untuk melepaskan penutup dadanya. Dia menahannya didada untuk beberpa saatdan kemudian melepas kain penutup dada tersebut ke samping. Payudara bulat indahnya yang dihiasi putting merah mencuat terpampang jelas tanpa penghalang lagi. Para pria mulai bersiut dan berteriak menyambutnya, sedangkan Dayu tampak memerah wajahnya dan tertawa.</p>
<p style="text-align: justify;">Dayu memainkan sisa pertandingan dengan bertelanjang dada, membuat semua orang mendapatkan sebuah tontonan indah. Setiap kali dia berlari atau melompat untuk mengembalikan bola, payudaranya akan memantul dengan seksi. Kuperhatikan semua selangkangan para pria terlihat menonjol karena ereksinya melihat semua gerakan isteriku, khususunya Eddie.</p>
<p style="text-align: justify;">Tak lama kemudian game tersebut berakhir dengan kemenangan dipihak team isteriku. Dayu dia berjalan memungut penutup dadanya, tapi tak memakainya kembali. Lalu dia berjalan menghampiri Eddie, yang baru saja mengambil celananya. Kuamati dia agak merentangkan punggungnya ke belakang, membuat payudaranya lebih menonjol kedepan. Mereka mulai mengobrolkan sesuatu, dan kuperhatikan pandangan isteriku lebih sering tertuju pada batang penis besarnya Eddie dan mata Eddie seakan juga tak mau lepas dari dada isteriku.</p>
<p style="text-align: justify;">Eddie mengucapkan sesuatu, lalu mendorongkan batang penisnya kearah isteriku. Dayu tertawa genit dan menggelengkan kepalanya, tapi pandangannya tak beralih dari batang penis tersebut. Eddie tetap pada posisinya, tak bergerak dan setelah beberapa lama tangan isteriku menggapai ke depan dan menggenggam batang penis milik Eddie. Dia memeganginya sejenak, kemudian dia sedikit menggoyangkannya dan dia tertawa senang.</p>
<p style="text-align: justify;">Eddie juga tertawa, kemudian tangannya terjulur kedepan dan menarik bagian depan dari kain penutup selangkangan yang dipakai Dayu. Dia membungkuk kedepan untuk mengintip vagina isteriku, sedangkan Dayu menjerit malu namun tak berusaha menghentikannya.</p>
<p style="text-align: justify;">Tiba-tiba saja Eddie menyentakkannya turun hingga ke pergelangan kaki isteriku. Dayu menjerit, membuat semua orang menoleh ke arahnya dan menyaksikan vaginanya yang dihiasi rambut tercukur rapi terekspos penuh. Tubuh indah isteriku telah telanjang seutuhnya sekarang, dan ekspresi malunya semakin membuatnya terlihat sangat cantik.</p>
<p style="text-align: justify;">Dengan cepat Dayu menaikkan penutup tubuh bawahnya dengan diiringi sorakan para pria, namun dia tak memakai kembali penutup dadanya. Matahari sudah mulai beranjak ke peraduannya sekarang, lalu Kristin meminta semua orang untuk kembali ke resort, semuanya diminta untuk berkumpul kembali di hot tub jam 10 nanti.</p>
<p style="text-align: justify;">Kami mulai berkemas dan berjalan menuju mobil, kami berjalan dengan santai dan saat kami tiba ke tempat parkir, yang tersisa hanya sebuah mini-van kecil dan orang yang masih ada berjumlah delapan orang. Iseriku adalah satu-satunya wanita dikelompuk ini dan pria yang kukenal dalam grup ini hanyalah Gary dan Dave. Garry naik ke kursi pengemudi dan menyuruh kita semua untuk segera masuk ke dalam mobil.</p>
<p style="text-align: justify;">Barusaja aku hendak menyuruh isteriku agar duduk di kursi belakang, namun Dave yang berada dikursi depan berkata, &#8220;Hey, Dayu, duduk disini saja, kupangku! Biar semuanya cukup.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Dayu sama sekali tak melirikku untuk meminta persetujuan. &#8220;Oke,&#8221; dia tertawa manja, &#8220;Tapi jangan macam-macam!&#8221; Kemudian dia naik ke pangkuan Dave, dengan masih hanya memakai penutup tubuh bawahnya saja. Para pria yang lainnya dengan cepat saling berebut naikke kursi tengah, membuatku terpaksa duduk jauh dibelakang.</p>
<p style="text-align: justify;">Semua orang kecuali aku dan Gary sudah dalam keadaan lumayan mabuk. Aku duduk dibelakang, disamping seorang pria yang keadaannya sudah mabuk berat, dan berbicara tentang sepak bola dengan suara yang sangat keras. Semua orang nampak asik dengan topik yang diangkat pria ini, jadi ada empat orang pria yang mabuk saling teriak satu sama lainnya dalam mini-van ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku tak begitu ingin ikut masuk dalam pembicaraan mereka, karena aku ingin konsentrasi mengawasi isteriku yang berada di depan. Aku tak mau Dave mengambil kesempatan dlam situasi ini. Sudut pandangnku sangat kurang menguntungkan dan aku harus membungkuk ke depan untuk dapat melihat apa yang terjadi dikursi depan.</p>
<p style="text-align: justify;">Pada awalnya kulihat isteriku nampak bersandar ke tubuh Dave di belakangnya, yang berusaha memasang sabuk pengaman ke tubuh mereka berdua. Itu membuatnya harus meraih kedepan dan tangannya menyentuh payudara Dayu karenanya. Dave melakukannya lebih lama dari yang seharusnya, tapi Dayu hanya membiarkannya saja.</p>
<p style="text-align: justify;">Kami mulai memasuki jalanan yang jelek, membuat mini-van ini melompat-lompat dan yang berada didalamnya terguncang. Ditengah guncangan yang terjadi itu kuamati tangan Dave yang semula berada di dada Dayu bergeser ke pahanya. Keduanya asik mengobrol dan tertawa-tawa, tapi karena keberadaanku di belakang dan ditambah pula suar berisik para pria mabuk ini yang membicarakan sepak bola dengan sura yang keras membuatku dapat mendengar apa yang tengah dibcarakan Dayu dengan Dave.</p>
<p style="text-align: justify;">Satu dari pria mabuk ini menoleh padaku dan bertanya tentang team sepak boal favoritku. Aku berusaha untuk tetapa fokus pada kejadian di kursi depan, tapi aku tak ingin menarik perhatian para pria mabuk ini. Jadi kujawab pertanyaaan pria tersebut dan mulai masuk dalam perbicangan tentang sepak bola ini. Jalanan yang kami lalui bertambah semakin parah, dan aku harus susah payah menjaga posisiku agar tetap stabil dan pada perbincangan tersebut.</p>
<p style="text-align: justify;">Saat akhirnya aku bisa melirik ke arah depan lagi, keperhatikan Dayu dan Dave sudah tak memakai sabuk pengaman lagi. Tak ada yang kelihatan aneh. Tangan Dave masih berada dipinggang isteriku, meskipun sekarang posisi duduk Dayu agak lebih naik di pangkuan Dave dan terguncang naik turun. Kupikir guncangan tersebut disebabkan oleh buruknya kondisi jalan, namun saat mobil berhenti dilampu merah, kuperhatikan tubuh Dayu tetap bergerak naik turun. Aku tak bisa melihat ekspresi keduanya dan tiba-tiba saja sebuah prasangka buruk menyergap otakku, mungkin saat ini Dave sedang menyetubuhinya. Kecurigaanku semakin besar saat kuamati mereka berdua sama sekali diam tak saling bicara.</p>
<p style="text-align: justify;">Disisa perjalanan aku membungkuk ke depan dan mengamati tubuh isteriku terayun naik turun, menerka-nerka tentang kemungkinan kemungkin yang terjadi dikursi depan. Setelah sekitar dua puluh menitan, mobil berbelok arah dan sudah tampak resort di depan.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku yang paling terakhir keluar dari dalam mobil dan aku bergegas menyusul Dayu yang sudah berjalan didepan bersama Dave dan Gary. Saat akhirnya aku berhasil menyusulnya, kuperhatikan kalau wajahnya tampak memerah dan dia sedikit berkeringat.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Hey,&#8221; kataku, saat semua pria sudah berjalan menjauh didepan. &#8220;Apa yang sudah terjadi dikursi depan tadi?&#8221;<br />
&#8220;Apa? Apa yang sudah kamu lihat?&#8221; tanyanya, terdengar terkejut namun juga bersemangat.<br />
&#8220;Aku tak bisa melihat, tapi kuperhatikan kalau Dave terlihat sangat menikmati keadaannya,&#8221; jawabku mencoba berkilah.<br />
&#8220;Jangan marah, sayang, kami hanya bercanda saja,&#8221; dia mulai menjelaskan. &#8220;Dave terus mengeluh tentang celananya yang sangat sesak, jadi aku menyuruhnya untuk menurunkannya sedikit kalau dia mau. Sebenarnya aku cuma bercanda dan bermaksud menggodanya saja. Aku tak bermaksud agar dia benar-benar melakukannya, tapi dia sungguh-sungguh melakukannya. Andai saja kamu melihat betapa batang penisnya sungguh sangat besar &#8221; terangnya dengan suara pelan namun punuh gairah<br />
&#8220;Sayang, batang penisnya itu sungguh besar. Aku menggeseknya dengan pantatku beberapa saat. Lalu dia sepertinya menarik penutup tubuh bawahku kesamping dan kepala penisnya menyelinap masuk ke dalam bibir vaginaku begitu saja. Aku rasa itu tak sengaja. Dan kamu tahu kondisi jalannya yang sangat parah kan? Tubuhku jadi terangkat naik turun dan itu membuat batang penisnya semakin masuk bertambah dalam, hingga akhirnya… kamu mungkin tak percaya sayang, batang penisnya jadi masuk semuanya! Tapi baru sebentar saja aku merasakan vaginaku terisi penuh, mobilnya menghantam gundukan yang besar dan batang penisnya jadi tercabut keluar begitu saja, lalu kubetulkan lagi penutup tubuh bawahku dan selesai, itu saja.&#8221;
</p>
<p style="text-align: justify;">Ekspresi wajahnya jadi bergairah dan menghiba disaat yang bersamaan. &#8220;Tak apa-apa kan sayang? Bukan masalah besar kan? Ini benar-benar kecelakaan dan lagipula dia tak sampai keluar.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Aku sama sekali tak mampu bicara. Isteriku telah berterus terang dengan sangat gamblang kalau dia baru saja menyetubuhi seorang pria. Tapi apa yang bisa kuperbuat? Aku tak mungkin membuat keributan besar di resort ini, di hadapan semua orang.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Yah&#8230; kalau dia tak sampai keluar, kurasa itu tak maslah,&#8221; akhirnya jawabku lirih.<br />
&#8220;Kamu sungguh suami yang sangat pengertian sayang!&#8221; teriaknya senang sambil memelukku. &#8220;Ayo, kita cari sesuatu untuk makan malam!&#8221;
</p>
<p style="text-align: justify;">Dinner berlalu tanpa ada kejadian berarti. Kami makan sandwich di kamar hotel. Aku lebih diam sekarang, berharap Dayu akan meminta maaf atau mngucapkan sesuatu tapi dia sepertinya terlihat menghindar terus.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku berbaring di atas ranjang, bermaksud untuk mengistirahatkan mataku sebentar, tapi aku pasti telah jatuh tertidur. Saat aku bangun, jam sudah menunjukkan pukul 10:30, dan Dayu sudah tak berada di dalam kamar. Aku bergegas turun menuju emperan belakang hotel.</p>
<p style="text-align: justify;">Orang-orang sudah ramai di sekitar hot tub, minum dan tertawa. Dayu memang sudah berada disana, dia pasti sudah pergi dulu saat aku tertidur tadi. Beberap wanita sudah tak memakai penutup dada lagi, dan telah banyak yang saling bercumbu dengan terang-terangan. Susana ini seperti layaknya pesta saat kuliah dulu, bukan sebuah pesta kantor.</p>
<p style="text-align: justify;">Dayu berjalan menghampiriku, dia sudah dalam keadaan mabuk dan langsung memberiku sebuah pelukan hangat.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Sayang, tak apa-apa kan kalau aku lepaskan semua penutup tubuhku?&#8221; tanyanya.<br />
&#8220;Apa?&#8221; aku sangat terkejut. &#8220;Semuanya?&#8221;<br />
&#8220;Ayolah sayang, bukan masalah besar kan?,&#8221; jawabnya. &#8220;Semua orang sudah melihat payudaraku, dan beberapa orang juga sudah melihatku telanjang saat Eddie menurunkan penutup tubuh bawahku. Orang lain juga sudah telanjang, kita semua disini memang datang kesini untuk bersenang-senang dan merasa nyaman.&#8221;
</p>
<p style="text-align: justify;">Dayu tak menunggu responku, dia hanya berbalik dan berjalan menuju hot-tub dan mulai melepas pentup dadanya. Saat para pria mulai bersiul padanya, dia menurunkan penutup tubuh bagian bawahnya, memperlihatkan pantatnya yang bulat dan kencang. Para pria yang berada dihadapannya mendapatkan pemandangan menawan dari vaginanya, dan semua orang menatap ke arahnya saat dengan perlahan dia mulai turun dan masuk ke dalam hot tub.</p>
<p style="text-align: justify;">Dayu menyusup diantara wanita lain yang juga bertelanjang dada dan kemudian duduk, menurunkan tubuhnya hingga hanya bahunya yang nampak menyembul dari atas permukaan air. Setidaknya dia membiarkan air menutupi tubuhnya, pikirku.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku berjalan menuju ke bar di dekat situ dan minum beberapa botol bir dingin lalu berbincang dengan para pria yang berada di sana. Perhatianku tertuju pada sekelompok orang di sebuah sudut didekatku dan kulihat Melly berada dalam kelompok tersebut. Dia bertelanjang dada, payudaranya yang kecil namun terlihat kencang tersebut nampak indah dihiasi putting yang lebih besar dari milik isteriku dan mencuat keras. Terlihat dia sangat semangat bicara dan itu membuat semua pria disekelilingnya tertawa. Tiba-tiba saja dia menurunkan bagian depan dari penutup tubuh bawahnya dan memperlihatkan vaginanya yang tercukur bersih. Para lelaki tersebut riuh menyambutnya dan mata mereka melahap dengan rakus pemandangan indah dan gratis dihadapan mereka.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku fokuskan perhatianku untuk berusaha mendengar apa yang mereka perbincangkan. &#8220;Rasanya sungguh hebat!&#8221; kudengar Melly berkata sambil menaikkan lagi penutup tubuh bawahnya. &#8220;Sekali kamu di wax, kamu tak akan bisa berhenti lagi! Suruh kekasih kalian untuk mencobanya.&#8221;<br />
&#8220;Yeah, kalau kamu bilang begitu,&#8221; salah seorang pria berkata. &#8220;Maksudku, itu memang terlihat bagus. Aku akan bilang kekasihku tentang ini.&#8221;<br />
&#8220;Mungkin dia akan lebih merasa yakin kalau kamu melakukannya lagi,&#8221; canda salah seorang pria. Pria yang lainnya tertawa dengan riuh menimpalinya.
</p>
<p style="text-align: justify;">Melly memutar bola matanya dengan seksi. &#8220;Ini, lihat yang baik,&#8221; katanya lalu menurunkan penutup tubuh bawahnya tersebut hingga ke mata kakinya. Sekarang telanjang bulat, dia tersenyum sambil menggoyanggan pinggulnya yang disambut engan siulan nakal para pria.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku sedang terpesona dengan tubuh kencang milik Melly saat telingaku mendengar seseorang dari arah hot tub berteriak, &#8220;Ini terlalu penuh!&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Hey Dayu, duduk dipangkuanku sini!&#8221; kata Eddie. &#8220;Biar yang lain kebagian tempat!&#8221;<br />
Isteriku tertawa manja. &#8220;Tapi orang-orang akan bisa melihat dadaku!&#8221;<br />
&#8220;Bagus kan!&#8221; balas Dave, diiringi suara tawa orang-orang.<br />
&#8220;Ayolah, lagipula kami sudah pernah melihat semuanya tadi,&#8221; jawab Eddie.
</p>
<p style="text-align: justify;">Dayu tertawa lalu berdiri, mengangkat payudaranya dari dalam air. Dia berjalan melintas dan duduk dipangkuan Eddie, terlihat payudaranya terguncang saat dia duduk.</p>
<p style="text-align: justify;">Eddie merangkulnya dan memegangi kedua daging payudara isteriku dengan telapak tangannya. &#8220;Nah, begini&#8221; katanya, &#8220;sekarang tak seorangpun yang bisa melihat payudara Dayu!&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Semua orang tertawa, termasuk isteriku.</p>
<p style="text-align: justify;">Lalu mereka kembali asik mengobrol lagi, namun perhatianku tetp tertuju pada isteriku dan Eddie. Tangannya tetap tak dia singkirkan dari dada isteriku, dan tak beberapa lama kemudian tangannya mulai bergerak meremas dan membelai. Dayu bersandar ke belakang dan membisikkan sesuatu ke telinga Eddie, dan kemudian tangan Eddie mulai memilin putingnya dengan lembut. Dayu tersenyum lebar dan mengatur posisi tubuhnya hingga Eddie lebih leluasa meremas dan membelai payudaranya.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku baru saja hendak melangkah mendekati isteriku saat Nina berjalan mendekatiku dan mulai bicara. Aku tak mau bersikap kasar, kudengar dengan seksama saat dia yang kondisinya sudah mabuk tersebut muali bicara betapa cantik baiknya isteriku dan bagaimana senangnya dia bisa bekerja bersama Dayu dikantor. Aku terus berusaha melirik kea rah isteriku dan Eddie tapi Nina menghalangi pandanganku. Setelah beberap lama aku menyerah dan mengalihkan seluruh perhatianku pada Nina. Dia terlihat sangat menarik dengan rambut ikalnya yang panjang dan postur tubuh yang menyerupai seorang model. Dia mengenakan pakaian renang one-piece warna hitam yang terlihat tak mampu menampung payudaranya yang begitu besar. Aku merasa nyaman memandanginya, karena keadaannya yang mabuk jadi dia tak akan menyadarinya, atau mungkin juga karena keadaanku yang sudah agak mabuk. Dia terus bicara tentang dirinya.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Kamu mau melihatnya?&#8221; tiba-tiba dia bertanya padaku, menyentakkanku dari lamunan.<br />
&#8220;Mm, melihat… nya?&#8221; jawabku, mencoba menutupi kalau aku tadi tak memperhatikannya<br />
&#8220;Anting pusarku! Kamu mau melihatnya?&#8221; dia mengulangi.<br />
&#8220;Uh, tentu,&#8221; jawabku. Aku tak begitu yakin bagaimana cara dia memperlihatkannya padaku, karena itu berada dibalik pakaiannya, dan pada awalnya dia berusaha menyingkapkan pakaian renangnya untuk memperlihatkan pusarnya padaku. Tapi pakaiannya tersebut sangat ketat. Setelah beberapa saat dia kemudian menyerah, dan yang membuatku terkejut, dia mulai menurunkan tali penahan dari bahunya. Dia turunkan hingga pinggangnya, mengekspos payudaranya yang besar dan perutnya yang kencang.
</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Lihat kan?&#8221; katanya sambil menunjuk anting di pusarnya. &#8220;Aku rasa agak kebesaran ukurannya.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Aku sedang berusaha agar terlihat memperhatikan antingnya, tapi mulutku menjawab dengan terbata-bata dengan mataku yang tak mau lepas dari dadanya.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Aw, kamu sangat manis,&#8221; jawabnya. &#8220;Dayu sangat beruntung memilikimu!&#8221; Kemudian dia melangkah pergi, dengan dadanya masih terekspos, meninggalkanku berpikir ada apa dengan orang-orang ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Tiba-tiba aku kembali teringat akan isteriku dan Eddie, lalu aku menoleh tepat disaat kulihat Dayu sedang mengangkat tubuhnya dari pangkuan Eddie. Keduanya terlihat berat nafasnya dan Eddie tersenyum dengan lebar. Dia bangkit dan mengangkat tubuhnya dari dalam tub dan sekarang kulihat dia telanjang bulat, batang penis besarnya terayun-ayun diselangkangannya. Bayangan tubuh telanjang isteriku diatas pangkuannya segera membuatku merasa resah dan khawatir kalau pria ini sudah menyetubuhi isteriku seperti halnya Dave.</p>
<p style="text-align: justify;">Kulihat ke arah isteriku lagi dan kulihat dia tengah duduk di dalam hot tub dan asik mengobrol dengan salah seorang wanita yang bertelanjang dada. Wanita tersebut menunjuk ke arah Eddie dan Dayu mengangguk, lalu keduanya menjerit genit dan tertawa keras.</p>
<p style="text-align: justify;">Di titik ini aku merasa sudah terlambat untuk berbuat sesuatu, dan hanya berdiri saja disana melihat semua yang tengah terjadi. Aku mulai merasa aneh dan takut kalau aku tak lagi memusingkan ini semua. Tanpa memberitahu isteriku, aku putuskan untuk kembali ke kamar. Aku rasa kalau dia melihatku pergi, dia akan sadar kalau aku sudah marah.</p>
<p style="text-align: justify;">Oh, ternyata aku salah. Aku tak bisa memejamkan mata dan sangat resah. Tiga jam berikutnya Dayu akhirnya masuk ke dalam kamar. Dia masih telanjang bulat dan tangannya memegangi pakaian renangnya. Setelah dia mandi dan kemudian menyusulku naik ke atas ranjang,merebahkan tubuhnya dengan punggungnya menghadap ke arahku.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku berharap dia akan mengucapkan sesuatu, tapi tak terdengar apapun kecuali kesunyian. Setelah beberapa lama, aku merasa takut kalau dia jatuh tertidur akhirnya aku bicara. &#8220;Jadi, apa yang sudah terjadi di hot tub?&#8221; bisikku.</p>
<p style="text-align: justify;">Dia membalikkan tubuh dan memandangi ekspresi wajahku. Tangannya bergerak ke dalam celanaku dan mulai membelai batang penisku saat dia mulai bicara.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Oh, jangan marah sayang, tapi aku memang agak terbawa suasana. Saat aku mulai masuk ke dalam hot tub, Eddie bergurau dengan mengatakan kalau sudah tak ada tempat lagi bagi kita semua dan dia menyuruhku untuk duduk di atas pangkuannya. Jadi aku pindah untuk duduk di atas pangkuannya agar semuanya mendapat tempat. Dia mulai bermain dengan payudaraku dan itu sangat membuatku terangsang. Jadi kubiarkan dia melakukannya lebih lama lagi. Kemudian dia menarikku lebih merapat dan aku jadi tahu kalau dia tak memakai apapun lagi, tapi sebelum aku sempat bereaksi, dia sudah lebih dulu mendorong batang besarnya masuk ke vaginaku!&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Dia mulai mengocoknya keluar masuk dan itu terasa sungguh indah, itulah kenapa kubiarkan saja dia melakukannya. Dan kurasa para pria lainnya juga tahu yang sedang terjadi, karena kemudian semuanya yang berada di hot tub memandangi kami berdua tanpa berkedip. Aku jadi merasa malu dan berpikir untuk menghentikannya, tapi kemudian kurasakan dia menusukkan seluruh batang penisnya ke dalam vaginaku dengan keras dan kurasakan batangnya itu berdenyut. Kamu tidak marah, kan? Aku benar-benar tak merencanakan dia keluar di dalam tapi itu sudah terlambat.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Dia berhenti beberapa saat.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Itu&#8230; bukanlah semua yang terjadi,&#8221; ucapnya agak ragu.<br />
&#8220;Sayang, berapa pria yang memasukkan batang penis mereka ke dalam vaginamu?&#8221; tanyaku, tak berharap dia menjawabnya.<br />
&#8220;Yeah, sebenarnya semuanya, setidaknya sekali saja,&#8221; jawabnya. &#8220;Tapi itu salah satu bagian dari game yang berlangsung!&#8221;<br />
&#8220;SEBUAH GAME?&#8221; tanyaku dengan nada cukup keras, dan kocokan tangannya pada batang penisku semakin bertambah cepat dan keras.
</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Ya, setelah beberapa lama kemudian,&#8221; sambungnya, &#8220;Kami semua sudah benar-benar mabuk. Maksudku sangat, sangat mabuk. Dan berikutnya hanya tinggal Kristin, Melly, Nina dan aku saja yang berada dalam hot tub bersama dengan semua pria. Dan beberapa pria mulai berdebat tentang batang penis siapa yang paling besar. Lalu Melly menyarankan biar para wanita saja yang memutuskan. &#8220;</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Kemudian para pria mulai melepas celana mereka dan membiarkan para wanita melihatnya. Sayang, aku tak tahu apakah aku memang sudah sangat mabuk atau bagaimana, tapi kulihat mereka semua sangat besar! Bahkan yang paling kecilpun terlihat masih agak lebih besar dibanding milikmu ini. &#8220;</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Kami mulai penilaiannya, tapi kemudian Eddie kelepasan bicara kalau dia sudah menyetubuhiku, dan itu jadi tak adil lagi karena aku sudah tahu lebih banyak dibandingkan yang lainnya. Dan Dave juga mengatakan kalau dia juga sudah melakukannya denganku, meskipun tidak sampai keluar. Lalu Gary mengatakan bahwa dia dan Melly juga sudah bersetubuh saat dipantai. Hingga akhirnya Kristin memutuskan agar adilnya, semua pria harus memasukkan tiap batang penis mereka ke dalam vagina tiap wanita, jadi para wanita akan tahu semua bagaimana rasanya. Bukan bersetubuh atau yang lainnya, hanya memasukkannya sebentar. Dengan begitu akan adil bagi penilaian para wanita. Kamu pikir juga begitu kan, sayang?&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam kondisi normal pasti akan kutolak penjelasan logikanya, tapi perbuatan tangannya pada batang penisku sudah berefek, dan aku hanya mampu menelan ludah lalu mengangguk.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Jadi kami semua akhirnya setuju dan para pria mulai mengambil gilirannya. Aku mendapatkan Alan untuk pertama kalinya, dia masukkan batang penisnya ke dalam vaginaku dan mulai mengocoknya keluar masuk beberapa kali, agar aku bisa merasakan dan membuat penilaian. Batang penisnya terasa lebih besar dari ukuran aslinya saat aku berhasil membuatnya orgasme.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Aku tahu itu! Dayu terlalu mabuk untuk mengingat kebohongannya diawal tadi.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Dan berikutnya Eddie lagi dan kemudian Gary. Mereka berdua menusukkan batang penisnya untuk beberapa saat agar aku bisa melakukan penilaian pada batang penis mereka. &#8220;</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Lalu akhirnya giliran Dave. Dia yang paling akhir, dan dia berbisik ditelingaku kalau tak adil jika kami tak menyelesaikan apa yang sudah kami awali di dalam mobil sebelumnya. Kemudian dia mulai memasukkan batang penisnya ke dalam vaginaku. Dialah yang paling besar, itu sudah pasti dan juga paling keras! Dan aku sudah merasa sangat terangsang setelah beberapa pria sebelumnya, dan aku adalah wanita yang terakhir bagi Dave. Jadi aku membiarkan dia menyetubuhiku agak lebih lama dibandingkan yang lainnya. Para wanita lainnya juga melakukan hal yang sama pada pria yang mendapatkan giliran terakhir dengan mereka, jadi aku rasa itu bukan masalah dan masih adil penilaiannya. Kami semua seolah saling berlomba bersetubuh untuk beberapa waktu lamanya hingga akhirnya kurasakan spermanya menyembur hebat dalam vaginaku. &#8220;</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Itu semua yang terjadi, sayang. Bukan masalah besar, kan?&#8221;<br />
&#8220;Bukan,&#8221; nafasku tecekat ditenggorokan saat aku orgasme, lebih hebat dari yang pernah kurasakan seumur hidupku. Aku tiba-tiba merasa menyesalinya, karena itu membuatku terlihat menikamti menyaksikan isteriku sendiri disetubuhi oleh sekelompok pria yang mereka semua dalah rekan kerjanya sendiri. Padahal sesungguhnya aku harus merasa marah karenanya.
</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Aku rasa kamu menyukainya,&#8221; jawabnya lirih. Lalu dia membalikkan tubuhnya dan menarik selimut ke atas. &#8220;Selamat tidur, sayang, I love you&#8221;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ceritasex.cn/petualangan-isteriku-disebuah-pesta-pantai/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Dijebak Tapi Enak Bagian 2</title>
		<link>http://www.ceritasex.cn/dijebak-tapi-enak-bagian-2/</link>
		<comments>http://www.ceritasex.cn/dijebak-tapi-enak-bagian-2/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 19 Jul 2009 13:42:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cerita Sex</dc:creator>
				<category><![CDATA[Paruh baya]]></category>
		<category><![CDATA[Seks Umum]]></category>
		<category><![CDATA[Tante Girang]]></category>
		<category><![CDATA[kisah nyata]]></category>
		<category><![CDATA[selingkuh]]></category>
		<category><![CDATA[anal]]></category>
		<category><![CDATA[bercinta]]></category>
		<category><![CDATA[emut kontol]]></category>
		<category><![CDATA[faridha]]></category>
		<category><![CDATA[gangbang]]></category>
		<category><![CDATA[istri muda]]></category>
		<category><![CDATA[ml]]></category>
		<category><![CDATA[ngentot]]></category>
		<category><![CDATA[ngesex]]></category>
		<category><![CDATA[oral]]></category>
		<category><![CDATA[seks]]></category>
		<category><![CDATA[swinger]]></category>
		<category><![CDATA[tukang pasangan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ceritasex.cn/?p=682</guid>
		<description><![CDATA[Namaku Faridha. Orang biasa memanggilku dengan Ridha saja. Aku lahir tahun 1975 di sebuah kota terkenal dengan julukannya, yaitu kota hujan. Aku telah menikah dengan seorang pria keturunan Jawa bernama Mas Hadi. Kami dikarunai seorang anak laki-laki yang kulahirkan di akhir tahun 1999. Oh.. iya, aku menikah dengan Mas Hadi pada tahun 1998, bulan April. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Namaku Faridha. Orang biasa memanggilku dengan Ridha saja. Aku lahir tahun 1975 di sebuah kota terkenal dengan julukannya, yaitu kota hujan. Aku telah menikah dengan seorang pria keturunan Jawa bernama Mas Hadi. Kami dikarunai seorang anak laki-laki yang kulahirkan di akhir tahun 1999. Oh.. iya, aku menikah dengan Mas Hadi pada tahun 1998, bulan April.</p>
<p style="text-align: justify;">Kehidupan kami biasa saja, dari segi ekonomi sampai hubungan suami istri. Aku dan suamiku cukup menikmati kehidupan ini. Suamiku yang kalem dan sedikit pendiam adalah seorang pegawai swasta di kotaku ini. Penghasilan sebulannya cukup untuk menghidupi kami bertiga. Namun kami belum begitu puas. Walau bagaimana kami harus merasakan lebih bukan hanya sekedar cukup.</p>
<p style="text-align: justify;">Karena jabatan suamiku sudah tidak mungkin lagi naik di perusahaannya, untuk menambah penghasilan kami, aku meminta ijin kepada Mas Hadi untuk bekerja, mengingat pendidikanku sebagai seorang Accounting sama sekali tidak kumanfatkan semenjak aku menikah. Pada dasarnya suamiku itu selalu menuruti keinginanku, maka tanpa banyak bicara dia mengijinkan aku bekerja, walaupun aku sendiri belum tahu bekerja di mana, dan perusahaan mana yang akan menerimaku sebagai seorang Accounting, karena aku sudah berkeluarga.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Bukankah kamu punya teman yang anak seorang Direktur di sini?&#8221; kata suamiku di suatu malam setelah kami melakukan hubungan badan.<br />
&#8220;Iya&#8230; si Yanthi, teman kuliah Ridha..!&#8221; kataku.<br />
&#8220;Coba deh, kamu hubungi dia besok. Kali saja dia mau menolong kamu..!&#8221; katanya lagi.<br />
&#8220;Tapi, benar nih.. Mas.. kamu ijinkan saya bekerja..?&#8221;<br />
Mas Hadi mengangguk mesra sambil menatapku kembali.</p>
<p style="text-align: justify;">Sambil tersenyum, perlahan dia dekatkan wajahnya ke wajahku dan mendaratkan bibirnya ke bibirku.<br />
&#8220;Terimakasih.. Mas.., mmhh..!&#8221; kusambut ciuman mesranya.<br />
Dan beberapa lama kemudian kami pun mulai terangsang lagi, dan melanjutkan persetubuhan suami istri untuk babak yang ketiga. Kenikmatan demi kenikmatan kami raih. Hingga kami lelah dan tanpa sadar kami pun terlelap menuju alam mimpi kami masing-masing.
</p>
<p style="text-align: justify;">Perlu kuceritakan di sini bahwa Rendy, anak kami tidak bersama kami. Dia kutitipkan ke nenek dan kakeknya yang berada di lain daerah, walaupun masih satu kota. Kedua orangtuaku sangat menyayangi cucunya ini, karena anakku adalah satu-satunya cucu laki-laki mereka.</p>
<p style="text-align: justify;">Siang itu ketika aku terbangun dari mimpiku, aku tidak mendapatkan suamiku tidur di sisiku. Aku menengok jam dinding. Rupanya suamiku sudah berangkat kerja karena jam dinding itu sudah menunjukkan pukul sembilan pagi. Aku teringat akan percakapan kami semalam. Maka sambil mengenakan pakaian tidurku (tanpa BH dan celana dalam), aku beranjak dari tempat tidur berjalan menuju ruang tamu rumahku, mengangkat telpon yang ada di meja dan memutar nomor telpon Yanti, temanku itu.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Hallo&#8230; ini Yanti..!&#8221; kataku membuka pembicaraan saat kudengar telpon yang kuhubungi terangkat.<br />
&#8220;Iya.., siapa nih..?&#8221; tanya Yanti.<br />
&#8220;Ini.. aku Ridha..!&#8221;<br />
&#8220;Oh Ridha.., ada apa..?&#8221; tanyanya lagi.<br />
&#8220;Boleh nggak sekarang aku ke rumahmu, aku kangen sama kamu nih..!&#8221; kataku.<br />
&#8220;Silakan.., kebetulan aku libur hari ini..!&#8221; jawab Yanti.<br />
&#8220;Oke deh.., nanti sebelum makan siang aku ke rumahmu. Masak yang enak ya, biar aku bisa makan di sana..!&#8221; kataku sambil sedikit tertawa.<br />
&#8220;Sialan luh. Oke deh.., cepetan ke sini.., ditunggu loh..!&#8221;<br />
&#8220;Oke.., sampai ketemu yaa.. daah..!&#8221; kataku sambil menutup gagang telpon itu.<br />
<span id="more-682"></span><br />
Setelah menelepon Yanti, aku berjalan menuju kamar mandi. Di kamar mandi itu aku melepas pakaianku semuanya dan langsung membersihkan tubuhku. Namun sebelumnya aku bermasturbasi sejenak dengan memasukkan jariku ke dalam vaginaku sendiri sambil pikiranku menerawang mengingat kejadian-kejadian yang semalam baru kualami. Membayangkan penis suamiku walau tidak begitu besar namun mampu memberikan kepuasan padaku. Dan ini merupakan kebiasaanku.
</p>
<p style="text-align: justify;">Walaupun aku telah bersuami, namun aku selalu menutup kenikmatan bersetubuh dengan Mas Hadi dengan bermasturbasi, karena kadang-kadang bermasturbasi lebih nikmat.</p>
<p style="text-align: justify;">Singkat cerita, siang itu aku sudah berada di depan rumah Yanti yang besar itu. Dan Yanti menyambutku saat aku mengetuk pintunya.<br />
&#8220;Apa khabar Rida..?&#8221; begitu katanya sambil mencium pipiku.<br />
&#8220;Seperti yang kamu lihat sekarang ini..!&#8221; jawabku.<br />
Setelah berbasa-basi, Yanti membimbingku masuk ke ruangan tengah dan mempersilakan aku untuk duduk.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Sebentar ya.., kamu santailah dahulu, aku ambil minuman di belakang&#8230;&#8221; lalu Yanti meninggalkanku.<br />
Aku segera duduk di sofanya yang empuk. Aku memperhatikan ke sekeliling ruangan ini. Bagus sekali rumahnya, beda dengan rumahku. Di setiap sudut ruang terdapat hiasan-hiasan yang indah, dan pasti mahal-mahal. Foto-foto Yanti dan suaminya terpampang di dinding-dinding. Sandi yang dahulu katanya sempat menaksir aku, yang kini adalah suami Yanti, terlihat semakin ganteng saja. Dalam pikirku berkata, menyesal juga aku acuh tak acuh terhadapnya dahulu. Coba kalau aku terima cintanya, mungkin aku yang akan menjadi istrinya.
</p>
<p style="text-align: justify;">Sambil terus memandangi foto Sandi, suaminya, terlintas pula dalam ingatanku betapa pada saat kuliah dulu lelaki keturunan Manado ini mencoba menarik perhatianku (aku, Yanti dan Sandi memang satu kampus). Sandi memang orang kaya. Dia adalah anak pejabat pemerintahan di Jakarta. Pada awalnya aku pun tertarik, namun karena aku tidak suka dengan sifatnya yang sedikit sombong, maka segala perhatiannya padaku tidak kutanggapi. Aku takut jika tidak cocok dengannya, karena aku orangnya sangat sederhana.</p>
<p style="text-align: justify;">Lamunannku dikagetkan oleh munculnya Yanti. Sambil membawa minuman, Yanti berjalan ke arah aku duduk, menaruh dua gelas sirup dan mempersilakanku untuk minum.<br />
&#8220;Ayo Rid, diminum dulu..!&#8221; katanya.<br />
Aku mengambil sirup itu dan meminumnya. Beberapa teguk aku minum sampai rasa dahaga yang sejak tadi terasa hilang, aku kembali menaruh gelas itu.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Oh iya, Mas Sandi ke mana?&#8221; tanyaku.<br />
&#8220;Biasa&#8230; Bisnis dia,&#8221; kata Yanti sambil menaruh gelasnya. &#8220;Sebentar lagi juga pulang. Sudah kutelpon koq dia, katanya dia juga kangen sama kamu..!&#8221; ujarnya lagi.
</p>
<p style="text-align: justify;">Yanti memang sampai sekarang belum mengetahui kalau suaminya dahulu pernah naksir aku. Tapi mungkin juga Sandi sudah memberitahukannya.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Kamu menginap yah.. di sini..!&#8221; kata Yanti.<br />
&#8220;Akh&#8230; enggak ah, tidak enak khan..!&#8221; kataku.<br />
&#8220;Loh&#8230; nggak enak gimana, kita kan sahabat. Sandi pun kenal kamu. Lagian aku sudah mempersiapkan kamar untukmu, dan aku pun sedang ambil cuti koq, jadi temani aku ya.., oke..!&#8221; katanya.<br />
&#8220;Kasihan Mas Hadi nanti sendirian..!&#8221; kataku.<br />
&#8220;Aah&#8230; Mas Hadi khan selalu menurut keinginanmu, bilang saja kamu mau menginap sehari di sini menemani aku. Apa harus aku yang bicara padanya..?&#8221;<br />
&#8220;Oke deh kalau begitu.., aku pinjam telponmu ya..!&#8221; kataku.<br />
&#8220;Tuh di sana&#8230;!&#8221; kata Yanti sambil menujuk ke arah telepon.
</p>
<p style="text-align: justify;">Aku segera memutar nomor telpon kantor suamiku. Dengan sedikit berbohong, aku minta ijin untuk menginap di rumah Yanti. Dan menganjurkan Mas Hadi untuk tidur di rumah orangtuaku. Seperti biasa Mas Hadi mengijinkan keinginanku. Dan setelah basa-basi dengan suamiku, segera kututup gagang telpon itu.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Beres..!&#8221; kataku sambil kembali duduk di sofa ruang tamu.<br />
&#8220;Nah.., gitu dong..! Ayo kutunjukkan kamarmu..!&#8221; katanya sambil membimbingku.<br />
Di belakang Yanti aku mengikuti langkahnya. Dari belakang itu juga aku memperhatikan tubuh montoknya. Yanti tidak berubah sejak dahulu. Pantatnya yang terbungkus celana jeans pendek yang ketat melenggak-lenggok. Pinggulnya yang ramping sungguh indah, membuatku iseng mencubit pantat itu.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Kamu masih montok saja, Yan..!&#8221; kataku sambil mencubit pantatnya.<br />
&#8220;Aw.., akh.. kamu. Kamu juga masih seksi saja. Bisa-bisa Mas Sandi nanti naksir kamu..!&#8221; katanya sambil mencubit buah dadaku.<br />
Kami tertawa cekikikan sampai kamar yang dipersiapkan untukku sudah di depan mataku.<br />
&#8220;Nah ini kamarmu nanti..!&#8221; kata Yanti sambil membuka pintu kamar itu.
</p>
<p style="text-align: justify;">Besar sekali kamar itu. Indah dengan hiasan interior yang berseni tinggi. Ranjangnya yang besar dengan seprei yang terbuat dari kain beludru warna biru, menghiasi ruangan ini. Lemari pakaian berukiran ala Bali juga menghiasi kamar, sehingga aku yakin setiap tamu yang menginap di sini akan merasa betah.</p>
<p style="text-align: justify;">Akhirnya di kamar itu sambil merebahkan diri, kami mengobrol apa saja. Dari pengalaman-pengalaman dahulu hingga kejadian kami masing-masing. Kami saling bercerita tentang keluhan-keluhan kami selama ini. Aku pun bercerita panjang mulai dari perkimpoianku sampai sedetil-detilnya, bahkan aku bercerita tentang hubungan bercinta antara aku dan suamiku. Kadang kami tertawa, kadang kami serius saling mendengarkan dan bercerita. Hingga pembicaraan serius mulai kucurahkan pada sahabatku ini, bahwa aku ingin bekerja di perusahan bapaknya yang direktur.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Gampang itu..!&#8221; kata Yanti. &#8220;Aku tinggal menghubungi Papa nanti di Jakarta. Kamu pasti langsung diberi pekerjaan. Papaku kan tahu kalau kamu adalah satu-satunya sahabatku di dunia ini..&#8221; lanjutnya sambil tertawa lepas.<br />
Tentu saja aku senang dengan apa yang dibicarakan oleh Yanti, dan kami pun meneruskan obrolan kami selain obrolan yang serius barusan.
</p>
<p style="text-align: justify;">Tanpa terasa, di luar sudah gelap. Aku pun minta ijin ke Yanti untuk mandi. Tapi Yanti malah mengajakku mandi bersama. Dan aku tidak menolaknya. Karena aku berpikir toh sama-sama wanita.Sungguh di luar dugaan, di kamar mandi ketika kami sama-sama telanjang bulat, Yanti memberikan sesuatu hal yang sama sekali tidak terpikirkan.</p>
<p style="text-align: justify;">Sebelum air yang hangat itu membanjiri tubuh kami, Yanti memelukku sambil tidak henti-hentinya memuji keindahan tubuhku. Semula aku risih, namun rasa risih itu hilang oleh perasaan yang lain yang telah menjalar di sekujur tubuh. Sentuhan-sentuhan tangannya ke sekujur tubuhku membuatku nikmat dan tidak kuasa aku menolaknya. Apalagi ketika Yanti menyentuh bagian tubuhku yang sensitif.</p>
<p style="text-align: justify;">Kelembutan tubuh Yanti yang memelukku membuatku merinding begitu rupa. Buah dadaku dan buah dadanya saling beradu. Sementara bulu-bulu lebat yang berada di bawah perut Yanti terasa halus menyentuh daerah bawah perutku yang juga ditumbuhi bulu-bulu. Namun bulu-bulu kemaluanku tidak selebat miliknya, sehingga terasa sekali kelembutan itu ketika Yanti menggoyangkan pinggulnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Karena suasana yang demikian, aku pun menikmati segala apa yang dia lakukan. Kami benar-benar melupakan bahwa kami sama-sama perempuan. Perasaan itu hilang akibat kenikmatan yang terus mengaliri tubuh. Dan pada akhirnya kami saling berpandangan, saling tersenyum, dan mulut kami pun saling berciuman.</p>
<p style="text-align: justify;">Kedua tanganku yang semuala tidak bergerak kini mulai melingkar di tubuhnya. Tanganku menelusuri punggungnya yang halus dari atas sampai ke bawah dan terhenti di bagian buah pantatnya. Buah pantat yang kencang itu secara refleks kuremas-remas. Tangan Yanti pun demikian, dengan lembut dia pun meremas-remas pantatku, membuatku semakin naik dan terbawa arus suasana. Semakin aku mencium bibirnya dengan bernafsu, dibalasnya ciumanku itu dengan bernafsu pula.</p>
<p style="text-align: justify;">Hingga suatu saat ketika Yanti melepas ciuman bibirnya, lalu mulai menciumi leherku dan semakin turun ke bawah, bibirnya kini menemukan buah dadaku yang mengeras. Tanpa berkata-kata sambil sejenak melirik padaku, Yanti menciumi dua bukit payudaraku secar bergantian. Napasku mulai memburu hingga akhirnya aku menjerit kecil ketika bibir itu menghisap puting susuku. Dan sungguh aku menikmati semuanya, karena baru pertama kali ini aku diciumi oleh seorang wanita.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Akh.., Yaantiii.., oh..!&#8221; jerit kecilku sedikit menggema.<br />
&#8220;Kenapa Rid.., enak ya..!&#8221; katanya di sela-sela menghisap putingku.<br />
&#8220;Iya.., oh.., enaaks&#8230; teruus..!&#8221; kataku sambil menekan kepalanya.<br />
Diberi semangat begitu, Yanti semakin gencar menghisap-hisap putingku, namun tetap lembut dan mesra. Tangan kirinya menahan tubuhku di punggung.
</p>
<p style="text-align: justify;">Sementara tangan kanannya turun ke bawah menuju kemaluanku. Aku teringat akan suamiku yang sering melakukan hal serupa, namun perbedaannya terasa sekali, Yanti sangat lembut memanjakan tubuhku ini, mungkin karena dia juga wanita.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah tangan itu berada di kemaluanku, dengan lembut sekali dia membelainya. Jarinya sesekali menggesek kelentitku yang masih tersembunyi, maka aku segera membuka pahaku sedikit agar kelentitku yang terasa mengeras itu leluasa keluar.</p>
<p style="text-align: justify;">Ketika jari itu menyentuh kelentitku yang mengeras, semakin asyik Yanti memainkan kelentitku itu, sehingga aku semakin tidak dapat mengendalikan tubuhku. Aku menggelinjang hebat ketika rasa geli campur nikmat menjamah tubuhku. Pori-poriku sudah mengeluarkan keringat dingin, di dalam liang vaginaku sudah terasa ada cairan hangat yang mengalir perlahan, pertanda rangsangan yang sungguh membuatku menjadi nikmat.</p>
<p style="text-align: justify;">Ketika tanganku menekan bagian atas kepalanya, bibir Yanti yang menghisap kedua putingku secara bergantian segera berhenti. Ada keinginan pada diriku dan Yanti mengerti akan keinginanku itu. Namun sebelumnya, kembali dia pada posisi wajahnya di depan wajahku. Tersungging senyuman yang manis.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Ingin yang lebih ya..?&#8221; kata Santi.<br />
Sambil tersenyum aku mengangguk pelan. Tubuhku diangkatnya dan aku duduk di ujung bak mandi yang terbuat dari porselen. Setelah aku memposisikan sedemikian rupa, tangan Yanti dengan cekatan membuka kedua pahaku lebar-lebar, maka vaginaku kini terkuak bebas. Dengan posisi berlutut, Yanti mendekatkan wajahnya ke selangkanganku. Aku menunggu perlakuannya dengan jantung yang berdebar kencang.
</p>
<p style="text-align: justify;">Napasku turun naik, dadaku terasa panas, begitu pula vaginaku yang terlihat pada cermin yang terletak di depanku sudah mengkilat akibat basah, terasa hangat. Namun rasa hangat itu disejukkan oleh angin yang keluar dari kedua lubang hidung Yanti. Tangan Yanti kembali membelai vaginaku, menguakkan belahannya untuk menyentuh kelentitku yang semakin menegang.</p>
<p style="text-align: justify;">Agak lama Yanti membelai-belai kemaluanku itu yang sekaligus mempermainkan kelentitku. Sementara mulutnya menciumi pusar dan sekitarnya. Tentu saja aku menjadi kegelian dan sedikit tertawa. Namun Yanti terus saja melakukan itu.<br />
Hingga pada suatu saat, &#8220;Eiist&#8230; aakh&#8230; aawh&#8230; Yanthhii&#8230; akh&#8230; mmhh&#8230; ssh..!&#8221; begitu suara yang keluar dari mulutku tanpa disadari, ketika mulutnya semakin turun dan mencium vaginaku.<br />
Kedua tangan Yanti memegangi pinggul dan pantatku menahan gerakanku yang menggelinjang nikmat.</p>
<p style="text-align: justify;">Kini ujung lidahnya yang menyentuh kelentitku. Betapa pintar dia mempermainkan ujung lidah itu pada daging kecilku, sampai aku kembali tidak sadar berteriak ketika cairan di dalam vaginaku mengalir keluar.<br />
&#8220;Oohh&#8230; Yantii&#8230; ennaakss&#8230; sekaalii..!&#8221; begitu teriakku.
</p>
<p style="text-align: justify;">Aku mulai menggoyangkan pinggulku, memancing nikmat yang lebih. Yanti masih pada posisinya, hanya sekarang yang dijilati bukan hanya kelentitku tapi lubang vaginaku yang panas itu. Tubuhku bergetar begitu hebat. Gerakan tubuhku mulai tidak karuan. Hingga beberapa menit kemudian, ketika terasa orgasmeku mulai memuncak, tanganku memegang bagian belakang kepalanya dan mendorongnya. Karuan saja wajah Yanti semakin terpendam di selangkanganku.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Hissapp&#8230; Yantiii..! Ooh.., aku.. akuu.. mau.. keluaar..!&#8221; jeritku.<br />
Yanti berhenti menjilat kelentitku, kini dia mencium dan menghisap kuat lubang kemaluanku.<br />
Maka.., &#8220;Yaantii.., aku.. keluaar..! Oh.., aku.. keluar.. nikmaathhs.. ssh..!&#8221; bersamaan dengan teriakku itu, maka aku pun mencapai orgasme.<br />
Tubuhku seakan melayang entah kemana. Wajahku menengadah dengan mata terpejam merasakan berjuta-juta nikmat yang sekian detik menjamah tubuh, hingga akhirnya aku melemas dan kembali pada posisi duduk. Maka Yanti pun melepas hisapannya pada vaginaku.
</p>
<p style="text-align: justify;">Dia berdiri, mendekatkan wajahnya ke hadapan wajahku, dan kembali dia mencium bibirku yang terbuka. Napasku yang tersengal-sengal disumbat oleh mulut Yanti yang menciumku. Kubalas ciuman mesranya itu setelah tubuhku mulai tenang.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Terimakasih Yanti.., enak sekali barusan..!&#8221; kataku sambil tersenyum.<br />
Yanti pun membalas senyumanku. Dia membantuku turun dari atas bak mandi itu.<br />
&#8220;Kamu mau nggak dikeluarin..?&#8221; kataku lagi.<br />
&#8220;Nanti sajalah.., lagian udah gatel nih badanku. Sekarang mending kita mandi..!&#8221; jawabnya sambil menyalakan shower.
</p>
<p style="text-align: justify;">Akhirnya kusetujui usul itu, sebab badanku masih lemas akibat nikmat tadi. Dan rupanya Yanti tahu kalau aku kurang bertenaga, maka aku pun dimandikannya, disabuni, diperlakukan layaknya seorang anak kecil. Aku hanya tertawa kecil. Iseng-iseng kami pun saling menyentuh bagian tubuh kami masing-masing. Begitupula sebaliknya, ketika giliran Yanti yang mandi, aku lah yang menyabuni tubuhnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah selesai mandi, kami pun keluar dari kamar mandi itu secara bersamaan. Sambil berpelukan, pundak kami hanya memakai handuk yang menutup tubuh kami dari dada sampai pangkal paha, dan sama sekali tidak mengenakan dalaman. Aku berjalan menuju kamarku sedang Yanti menuju kamarnya sendiri. Di dalam kamar aku tidak langsung mengenakan baju. Aku masih membayangkan kejadian barusan. Seolah-olah rasa nikmat tadi masih mengikutiku.</p>
<p style="text-align: justify;">Di depan cermin, kubuka kain handuk yang menutupi tubuhku. Handuk itu jatuh terjuntai ke lantai, dan aku mulai memperhatikan tubuh telanjangku sendiri. Ada kebanggaan dalam hatiku. Setelah tadi melihat tubuh telanjang Yanti yang indah, ternyata tubuhku lebih indah. Yanti memang seksi, hanya dia terlalu ramping sehingga sepintas tubuhnya itu terlihat kurus. Sedangkan tubuhku agak montok namun tidak terkesan gemuk.</p>
<p style="text-align: justify;">Entah keturunan atau tidak, memang demikianlah keadaan tubuhku. Kedua payudaraku berukuran 34B dengan puting yang mencuat ke atas, padahal aku pernah menyusui anakku. Sedangkan payudara Yanti berukuran 32 tapi juga dengan puting yang mencuat ke atas juga.</p>
<p style="text-align: justify;">Kuputar tubuhku setengah putaran. Kuperhatikan belahan pantatku. Bukit pantatku masih kencang, namun sudah agak turun, karena aku pernah melahirkan. Berbeda dengan pantat milik Yanti yang masih seperti pantat gadis perawan, seperti pantat bebek.</p>
<p style="text-align: justify;">Kalau kuperhatikan dari pinggir tubuhku, nampak perutku yang ramping. Vaginaku nampak menonjol keluar. Bulu-bulu kemaluanku tidak lebat, walaupun pernah kucukur pada saat aku melahirkan. Padahal kedua tangan dan kedua kakiku tumbuh bulu-bulu tipis, tapi pertumbuhan bulu kemaluanku rupanya sudah maksimal. Lain halnya dengan Yanti, walaupun perutnya lebih ramping dibanding aku, namun kemaluannya tidak menonjol alias rata. Dan daerah itu ditumbuhi bulu-bulu yang lebat namun tertata rapi.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah puas memperhatikan tubuhku sendiri (sambil membandingkan dengan tubuh Yanti), aku pun membuka tasku dan mengambil celana dalam dan Bra-ku. Kemudian kukenakan kedua pakaian rahasiaku itu setelah sekujur tubuhku kulumuri bedak. Namun aku agak sedikit kaget dengan teriakan Yanti dari kamarnya yang tidak begitu jauh dari kamar ini.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Rida..! Ini baju tidurmu..!&#8221; begitu teriaknya.<br />
Maka aku pun mengambil handuk yang berada di lantai. Sambil berjalan kukenakan handuk itu menutupi tubuhku seperti tadi, lalu keluar menuju kamarnya yang hanya beberapa langkah. Pintu kamarnya ternyata tidak dikunci. Karena mungkin Yanti tahu kedatanganku, maka dia mempersilakan aku masuk.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Masuk sini Rid..!&#8221; kataya dari dalam kamar.<br />
Kudorong daun pintu kamarnya. Aku melihat di dalam kamar itu tubuh Yanti yang telanjang merebah di atas kasur. Tersungging senyuman di bibirnya. Karena aku sudah melangkah masuk, maka kuhampiri tubuh telanjang itu.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Kamu belum pake baju, Yan..?&#8221; kataku sambil duduk di tepi ranjang.<br />
&#8220;Akh.., gampang&#8230; tinggal pake itu, tuh..!&#8221; kata Yanti sambil tangannya menunjuk tumpukan gaun tidur yang berada di ujung ranjang.<br />
Lalu dia berkata lagi, &#8220;Kamu sudah pake daleman, ya..?&#8221;<br />
Aku mengangguk, &#8220;Iya..!&#8221;<br />
Kuperhatikan dadanya turun naik. Napasnya terdengar memburu. Apakah dia sedang bernafsu sekarang.., entahlah.<br />
Lalu tangan Yanti mencoba meraihku. Sejenak dia membelai tubuhku yang terbungkus handuk itu sambil berkata, &#8220;Kamu mengairahkan sekali memakai ini..!&#8221;<br />
&#8220;Akh.., masa sih..!&#8221; kataku sambil tersenyum dan sedikit menggeser tubuhku lebih mendekat ke tubuh Yanti.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Benar.., kalo nggak percaya.., emm.. kalo nggak percaya..!&#8221; kata Yanti sedikit menahan kata-katanya.<br />
&#8220;Kalo nggak percaya apa..?&#8221; tanyaku.<br />
&#8220;Kalo nggak percaya..!&#8221; sejenak matanya melirik ke arah belakangku.<br />
&#8220;Kalo nggak percaya tanya saja sama orang di belakangmu&#8230; hi.. hi..!&#8221; katanya lagi.
</p>
<p style="text-align: justify;">Segera aku memalingkan wajahku ke arah belakangku. Dan.., (hampir saja aku teriak kalau mulutku tidak buru-buru kututup oleh tanganku), dengan jelas sekali di belakangku berdiri tubuh lelaki dengan hanya mengenakan celana dalam berwarna putih yang tidak lain adalah Mas Sandi suami Yanti itu. Dengan refleks karena kaget aku langsung berdiri dan bermaksud lari dari ruangan ini. Namun tangan Yanti lebih cepat menangkap tanganku lalu menarikku sehingga aku pun terjatuh dengan posisi duduk lagi di ranjang yang empuk itu.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Mau kemana.. Rida.., udah di sini temani aku..!&#8221; kata Yanti setengah berbisik.<br />
Aku tidak sempat berkata-kata ketika Mas Sandi mulai bergerak berjalan menuju aku. Dadaku mulai berdebar-debar. Ada perasaan malu di dalam hatiku.<br />
&#8220;Halo.., Rida. Lama tidak bertemu ya&#8230;&#8221; suara Mas Sandi menggema di ruangan itu.<br />
Tangannya mendarat di pundakku, dan lama bertengger di situ.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku yang gelagapan tentu saja semakin gelagapan. Namun ketika tangan Yanti dilepaskan dari cengkramannya, pada saat itu tidak ada keinginanku untuk menghindar. Tubuhku terasa kaku, sama sekali aku tidak dapat bergerak. Lidahku pun terasa kelu, namun beberapa saat aku memaksa bibirku berkata-kata.<br />
&#8220;Apa-apaan ini..?&#8221; tanyaku parau sambil melihat ke arah Yanti.<br />
Sementara tangan yang tadi bertengger di bahuku mulai bergerak membelai-belai. Serr.., tubuhku mulai merinding. Terasa bulu-bulu halus di tangan dan kaki berdiri tegak.
</p>
<p style="text-align: justify;">Rupanya Sentuhan tangan Mas Sandi mampu membangkitkan birahiku kembali. Apalagi ketika terasa di bahuku yang sebelah kiri juga didarati oleh tangan Mas Sandi yang satunya lagi. Perasaan malu yang tadi segera sirna. Tubuhku semakin merinding. Mataku tanpa sadar terpejam menikmati dalam-dalam sentuhan tangan Mas Sandi di bahuku itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Pijatan-pijatan kecil di bahuku terasa nyaman dan enak sekali. Aku begitu menikmati apa yang terasa. Hingga beberapa saat kemudian tubuhku melemas. Kepalaku mulai tertahan oleh perut Mas Sandi yang masih berada di belakangku. Sejenak aku membuka mataku, nampak Yanti membelai vaginanya sendiri dengan tangan kanannya, sementara tangan kirinya meremas pelan kedua payudaranya secara bergantian. Tersungging senyuman di bibirnya.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Nikmati Rida..! Nikmati apa yang kamu sekarang rasakan..!&#8221; suara Yanti masih sedikit membisik.<br />
Aku masih terbuai oleh sentuhan kedua tangan Mas Sandi yang mulai mendarat di daerah atas payudarara yang tidak tertutup. Mataku masih terpejam.<br />
&#8220;Ini.. kan yang kamu inginkan. Kupinjamkan suamiku..!&#8221; kata Yanti lagi.<br />
Mataku terbuka dan kembali memperhatikan Yanti yang masih dengan posisinya.<br />
&#8220;Ayo Mas..! Nikmati Rida yang pernah kamu taksir dulu..!&#8221; kata Yanti lagi.<br />
&#8220;Tentu saja Sayang.., asal.. kamu ijinkan..!&#8221; kata suara berat Mas Sandi.
</p>
<p style="text-align: justify;">Tubuhnya dibungkukkan. Kemudian wajahnya ditempelkan di bagian atas kepalaku. Terasa bibirnya mencium mesra daerah itu. Kembali aku memejamkan mata. Bulu-buluku semakin keras berdiri. Sentuhan lembut tangan Mas Sandi benar-benar nikmat. Sangat pintar sekali sentuhan itu memancing gairahku untuk bangkit. Apalagi ketika tangan Mas Sandi sebelah kanan berusaha membuka kain handuk yang masih menutupi tubuhku itu.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Oh.., Mas.., Maas&#8230; jangaan&#8230; Mas..!&#8221; aku hanya dapat berkata begitu tanpa kuasa menahan tindakan Mas Sandi yang telah berhasil membuka handuk dan membuangnya jauh-jauh.<br />
Tinggallah tubuh setengah bugilku. Kini gairahku sudah memuncak dan aku mulai lupa dengan keadaanku. Aku sudah terbius suasana.
</p>
<p style="text-align: justify;">Mas Sandi mulai berlutut, namun masih pada posisi di belakangku. Kembali dia membelai seluruh tubuhku. Dari punggungku, lalu ke perut, naik ke atas, leherku pun kena giliran disentuhnya, dan aku mendesah nikmat ketika leherku mulai dicium mesra oleh Mas Sandi. Sementara desahan-desahan kecil terdengar dari mulut Yanti.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku melirik sejenak ke arah Yanti, rupanya dia sedang masturbasi. Lalu aku memejamkan mata lagi, kepalaku kutengadahkan memberikan ruangan pada leherku untuk diciumi Mas Sandi. Persaanku sudah tidak malu-malu lagi, aku sudah kepalang basah. Aku lupa bahwa aku telah bersuami, dan aku benar-benar akan merasakan apa yang akan kurasakan nanti, dengan lelaki yang bukan suamiku.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Buka ya.. BH-nya, Rida..!&#8221; kata Mas Sandi sambil melepas kancing tali BH-ku dari punggung.<br />
Beberapa detik BH itu terlepas, maka terasa bebas kedua payudaraku yang sejak tadi tertekan karena mengeras. Suara Yanti semakin keras, rupanya dia mencapai orgasmenya. Kembali aku melirik Yanti yang membenamkan jari manis dan jari telunjuknya ke dalam vaginanya sendiri. Nampak dia mengejang dengan mengangkat pinggulnya.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Akh.., nikmaats&#8230; ooh&#8230; nikmaatts.. sekalii..!&#8221; begitu kata-kata yang keluar dari mulutnya.<br />
Dan tidak lama kemudian dia terkulai lemas di ranjang itu. Sementara Mas Sandi sibuk dengan kegiatannya.
</p>
<p style="text-align: justify;">Kini kedua payudaraku sudah diremasi dengan mesra oleh kedua telapak tangannya dari belakang. Sambil terus bibirnya menjilati inci demi inci kulit leherku seluruhnya. Sedang enak-enaknya aku, tiba-tiba ada yang menarik celana dalamku. Aku membuka mataku, rupanya Yanti berusaha untuk melepas celana dalamku itu. Maka kuangkat pantatku sejenak memudahkan celana dalamku dilepas oleh Yanti. Maka setelah lepas, celana dalam itu juga dibuang jauh-jauh oleh Yanti.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku menggeser posisi dudukku menuju ke bagian tengah ranjang itu. Mas Sandi mengikuti gerakanku masih dari belakang, sekarang dia tidak berlutut, namun duduk tepat di belakang tubuhku. Kedua kakinya diselonjorkan, maka pantatku kini berada di antara selangkangan milik Mas Sandi. Terasa oleh pantatku ada tonjolan keras di selangkangan. Rupanya penis Mas Sandi sudah tegang maksimal.</p>
<p style="text-align: justify;">Lalu Yanti membuka lebar-lebar pahaku, sehingga kakiku berada di atas paha Mas Sandi. Lalu dengan posisi tidur telungkup, Yanti mendekatkan wajahnya ke selangkanganku, dan apa yang terjadi&#8230;<br />
&#8220;Awwh&#8230; ooh&#8230; eeisth.. aakh..!&#8221; aku menjerit nikmat ketika kembali kurasakan lidahnya menyapu-nyapu belahan vaginaku, terasa kelentitku semakin menegang, dan aku tidak dapat mengendalikan diri akibat nikmat, geli, enak, dan lain sebagainya menyatu di tubuhku.
</p>
<p style="text-align: justify;">Kembali kepalaku menengadah sambil mulutku terbuka. Maka Mas Sandi tidak menyia-nyiakan kesempatan ini. Dia tahu maksudku. Dari belakang, bibirnya langsung melumat bibirku yang terbuka itu dengan nafsunya. Maka kubalas ciuman itu dengan nafsu pula. Dia menyedot, aku menyedot pula. Terjadilah pertukaran air liur Mas Sandi dengan air liurku. Terciuma aroma rokok pada mulutnya, namun aroma itu tidak mengganggu kenikmatan ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Kedua tangan Mas Sandi semakin keras meremas kedua payudaraku, namun menimbulkan nikmat yang teramat, sementara di bawah Yanti semakin mengasyikkan. Dia terus menjilat dan mencium vaginaku yang telah banjir. Banjir oleh cairan pelicin vaginaku dan air liur Yanti.<br />
&#8220;Mmmhh&#8230; akh&#8230; mmhh..!&#8221; bibirku masih dilumati oleh bibir Mas Sandi.
</p>
<p style="text-align: justify;">Tubuhku semakin panas dan mulai memberikan tanda-tanda bahwa aku akan mencapai puncak kenikmatan yang kutuju. Pada akhirnya, ketika remasan pada payudaraku itu semakin keras, dan Yanti menjilat, mencium dan menghisap vaginaku semakin liar, tubuhku menegang kaku, keringat dingin bercucuran dan mereka tahu bahwa aku sedang menikmati orgasmeku. Aku mengangkat pinggulku, otomatis ciuman Yanti terlepas. Semakin orgasmeku terasa ketika jari telujuk dan jari manis Yanti dimasukkan ke liang vaginaku, kemudian dicabutnya setengah, lalu dimasukkan lagi.</p>
<p style="text-align: justify;">Perlakuan Yanti itu berulang-ulang, yaitu mengeluar-masukkan kedua jarinya ke dalam lubang vaginaku. Tidak dapat diungkapkan dengan kata-kata betapa nikmat dan enak pada saat itu.<br />
&#8220;Aakh&#8230; aawhh&#8230; nikmaatss&#8230; terus.. Yantii.. oooh&#8230; yang cepaat.. akh..!&#8221; teriakku.<br />
Tubuh Mas Sandi menahan tubuhku yang mengejang itu. Jarinya memilin-milin puting susuku. Bibirnya mengulum telingaku sambil membisikkan sesuatu yang membuatku semakin melayang. Bisikan-bisikan yang memujiku itu tidak pernah kudengar dari Mas Hadi, suamiku.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Ayo cantik..! Nikmatilah orgasmemu.., jangan kamu tahan, keluarkan semuanya Sayang..! Nikmatilah.., nikmatilah..! Oh.., kamu cantik sekali jika orgasme..!&#8221; begitu bisikan yang keluar dari mulut Mas Sandi sambil terus mengulum telingaku.<br />
&#8220;Aakh.. Maass, aduh.. Yanti.., nikmaats&#8230; oh&#8230; enaaks.. sekali..!&#8221; teriakku.<br />
Akhirnya tubuh kejangku mulai mengendur, diikuti dengan turunnya kenikmatan orgasmeku itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Perlahan sekali tubuhku turun dan akhirnya terkulai lemas di pangkuan Mas Sandi. Lalu tubuh Yanti mendekapku.<br />
Dia berbisik padaku, &#8220;Ini.. belum seberapanya Sayaang.., nanti akan kamu rasakan punya suamiku..!&#8221; sambil berkata demikian dia mencium keningku.<br />
Mas Sandi beranjak dari duduknya dan berjalan entah ke arah mana, karena pada saat itu mataku masih terpenjam seakan enggan terbuka.
</p>
<p style="text-align: justify;">Entah berapa lama aku terlelap. Ketika kusadar, kubuka mataku perlahan dan mencari-cari Yanti dan Mas Sandi sejenak. Mereka tidak ada di kamar ini, dan rupanya mereka membiarkanku tertidur sendiri. Aku menengok jam dinding. Sudah pukul sepuluh malam. Segera aku bangkit dari posisi tidurku, lalu berjalan menuju pintu kamar. Telingaku mendengar alunan suara musik klasik yang berasal dari ruangan tamu. Dan ketika kubuka pintu kamar itu yang kebetulan bersebelahan dengan ruang tamu, mataku menemukan suatu adegan dimana Yanti dan suaminya sedang melakukan persetubuhan.</p>
<p style="text-align: justify;">Yanti dengan posisi menelentang di sofa sedang ditindih oleh Mas Sandi dari atas. Terlihat tubuh Mas Sandi sedang naik turun. Segera mataku kutujukan pada selangkangan mereka. Jelas terlihat penis Mas Sandi yang berkilat sedang keluar masuk di vagina Yanti. Terdengar pula erangan-erangan yang keluar dari mulut Yanti yang sedang menikmati hujaman penis itu di vaginanya, membuat tubuhku perlahan memanas. Segera saja kuhampiri mereka dan duduk tepat di depan tubuh mereka.</p>
<p style="text-align: justify;">Di sela-sela kenikmatan, Yanti menatapku dan tersenyum. Rupanya Mas Sandi memperhatikan istrinya dan sejenak dia menghentikan gerakannya dan menengok ke belakang, ke arahku.<br />
&#8220;Akh&#8230; Mas.., jangan berhentiii doong..! Oh..!&#8221; kata Yanti.<br />
Dan Mas Sandi kembali berkonsentrasi lagi dengan kegiatannya. Kembali terdengar desahan-desahan nikmat Yanti yang membahana ke seluruh ruangan tamu itu. Aku kembali gelagapan, kembali resah dan tubuhku semakin panas. Dengan refleks tanganku membelai vaginaku sendiri.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Oh.. Ridhaa.., nikmat sekaallii.. loh..! Akuu&#8230; ooh&#8230; mmh..!&#8221; kata Yanti kepadaku.<br />
Aku melihat wajah nikmat Yanti yang begitu cantik. Kepalannya kadang mendongak ke atas, matanya terpejam-pejam. Sesekali dia gigit bibir bawahnya. Kedua tangannya melingkar pada pantat suaminya, dan menarik-narik pantat itu dengan keras sekali. Aku melihat penis Mas Sandi yang besar itu semakin amblas di vagina Yanti. Samakin mengkilat saja penis itu.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Oh Mas.., aku hampiir sampaaii..! Teruus&#8230; Mas&#8230; terus..! Lebih keras lagiih.., oooh&#8230; akh..!&#8221; kata Yanti.<br />
Yanti mengangkat tinggi-tinggi pinggulnya, Mas Sandi terus dengan gerakannya menaik-turunkan tubuhnya dalam kondisi push-up.<br />
&#8220;Maass.., akuuu&#8230; keluaar..! Aakh&#8230; mhh&#8230; nikmaats.., mmh..!&#8221; kata Yanti lagi dengan tubuh yang mengejang.<br />
Rupanya Yanti mencapai orgasmenya. Tangannya yang tadi melingkar di pantat suaminya, kini berpindah melingkar di punggung.</p>
<p style="text-align: justify;">Mas Sandi berhenti bergerak dan membiarkan penis itu menancap dalam di lubang kemaluan Yanti.<br />
&#8220;Owhh&#8230; banyak sekali Sayang.. keluarnya. Hangat sekali memekmu..!&#8221; kata Mas Sandi sambil menciumi wajah istrinya.
</p>
<p style="text-align: justify;">Dapat kubayangkan perasaan Yanti pada saat itu. Betapa nikmatnya dia. Dan aku pun belingsatan dengan merubah-rubah posisi dudukku di depan mereka. Beberapa saat kemudian, Yanti mulai melemas dari kejangnya dan merubah posisinya. Segera dia turun dari sofa ketika Mas Sandi mencabut penis dari lubang kenikmatan itu. Aku melihat dengan jelas betapa besar dan panjang penis Mas Sandi. Dan ini baru pertama kali aku melihatnya, karena waktu tadi di dalam kamar, Mas Sandi masih menutupi penisnya dengan celana dalam.</p>
<p style="text-align: justify;">Dengan segera Yanti menungging. Lalu segera pula Mas Sandi berlutut di depan pantat itu.<br />
&#8220;Giliranmu&#8230; Mas..! Ayoo..!&#8221; kata Yanti.<br />
Tangan Mas Sandi menggenggam penis itu dan mengarahkan langsung ke lubang vagina Yanti. Segera dia menekan pantatnya dan melesaklah penis itu ke dalam vagina istrinya, diikuti dengan lenguhan Yanti yang sedikit tertahan.<br />
&#8220;Owwh&#8230; Maas&#8230; aakh..!&#8221;<br />
&#8220;Aduuh&#8230; Yantii.., jepit Sayangh..!&#8221; kata Mas Sandi.
</p>
<p style="text-align: justify;">Lalu kaki Yanti dirapatkan sedemikian rupa. Dan segera pantat Mas Sandi mulai mundur dan maju.Ufh.., pemandangan yang begitu indah yang kulihat sekarang. Baru kali ini aku menyaksikan sepasang manusia bersetubuh tepat di depanku secara langsung. Semakin mereka mempercepat tempo gerakannya, semakin aku terangsang begitu rupa. Tanganku yang tadi hanya membelai-belai vaginaku, kini mulai menyentuh kelentitku.</p>
<p style="text-align: justify;">Kenikmatan mulai mengaliri tubuhku dan semakin aku tidak tahan, sehingga aku memasukkan jariku ke dalam vaginaku sendiri. Aku sendiri sangat menikmati masturbasiku tanpa lepas pandanganku pada mereka. Belum lagi telingaku jelas mendengar desahan dan rintihan Yanti, aku dapat membayangkan apa yang dirasakan Yanti dan aku sangat ingin sekali merasakannya, merasakan vaginaku pun dimasukkan oleh penis Mas Sandi.</p>
<p style="text-align: justify;">Beberapa saat kemudian Mas Sandi mulai melenguh keras. Kuhentikan kegiatanku dan terus memperhatikan mereka.<br />
&#8220;Aakhh&#8230; Yantii&#8230; nikmaats&#8230; aakh&#8230; aku keluaar..!&#8221; teriak Mas Sandi membahana.<br />
&#8220;Oh&#8230; Maas&#8230; akuu&#8230; juggaa&#8230; akh..!&#8221;<br />
Kedua tubuh itu bersamaan mengejang. Mereka mencapai orgasmenya secara bersama-sama.
</p>
<p style="text-align: justify;">Penis Mas Sandi masih menancap di vagina Yanti sampai akhirnya mereka melemas, dan dari belakang tubuh Yanti, Mas Sandi memeluknya sambil meremas kedua payudara Yanti. Mas Sandi memasukkan semua spermanya ke dalam vagina Yanti.</p>
<p style="text-align: justify;">Lama sekali aku melihat mereka tidak bergerak. Rupanya mereka sangat kelelahan. Di sofa itu mereka tertidur bertumpukan. Tubuh Yanti berada di bawah tubuh Mas Sandi yang menindihnya. Mata mereka terpejam seolah tidak menghiraukan aku yang duduk terpaku di depannya. Hingga aku pun mulai bangkit dari dudukku dan beranjak pergi menuju kamarku. Sesampai di kamar aku baru sadar kalau aku masih telanjang bulat. Maka aku pun balik lagi menuju kamar Yanti di mana celana dalam dan BH yang akan kupakai berada di sana.</p>
<p style="text-align: justify;">Selagi aku berjalan melewati ruang tamu itu, aku melihat mereka masih terkulai di sofa itu. Tanpa menghiraukan mereka, aku terus berjalan memasuki kamar Yanti dan memungut celana dalam dan BH yang ada di lantai. Setelah kukenakan semuanya, kembali aku berjalan menuju kamarku dan sempat sekali lagi aku menengok mereka di sofa itu pada saat aku melewati ruang tamu.</p>
<p style="text-align: justify;">Sesampai di kamar, entah kenapa rasa lelah dan kantukku hilang. Aku menjadi semakin resah membayangkan kejadian yang baru kualami. Pertama ketika aku dimasturbasikan oleh suami istri itu. Dan yang kedua aku terus membayangkan kejadian di mana mereka melakukan persetubuhan yang hebat itu. Keinginanku untuk merasakan penis Mas Sandi sangat besar. Aku mengharapkan sekali Mas Sandi sekarang menghampiri dan menikmatiku. Namun itu mungkin tidak terjadi, karena aku melihat mereka sudah lelah sekali.</p>
<p style="text-align: justify;">Entah sudah berapa kali mereka bersetubuh pada saat aku terlelap tadi. Aku semakin tidak dapat menahan gejolak birahiku sendiri hingga aku merebahkan diri di kasur empuk. Dengan posisi telungkup, aku mulai memejamkan mata dengan maksud agar aku terlelap. Namun semua itu sia-sia. Karena kembali kejadian-kejadian barusan terus membayangiku. Secara cepat aku teringat bahwa tadi ketika mereka bersetubuh, aku melakukan masturbasi sendiri dan itu tidak selesai. Maka tanganku segera kuselipkan di selangkanganku. Aku membelai kembali vaginaku yang terasa panas itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Dan ketika tanganku masuk ke dalam celanaku, aku mulai menyentuh klitorisku. Kembali aku nikmat. Aku tidak kuasa membendung perasaan itu, dan jariku mulai menemukan lubang kemaluanku yang berlendir itu. Dengan berusaha membayangkan Mas Sandi menyetubuhiku, kumasukkan jari tengahku ke dalam lubang itu dalam-dalam. Kelembutan di dalam vaginaku dan gesekan di dinding-dindingnya membuatku mendesah kecil.</p>
<p style="text-align: justify;">Sambil mengeluar-masukkan jari tengahku, aku membayangkan betapa besar dan panjangnya penis Mas Sandi. Beda sekali dengan penis Mas Hadi yang kumiliki. Kemaluan Mas Sandi panjang dan besarnya normal-normal saja. Sedangkan milik Mas Sandi, sudah panjang dan besar, dihiasi oleh urat-uratnya yang menonjol di lingkaran batang kemaluannya. Itu semua kulihat tadi dan kini terbayang di dalam benakku.</p>
<p style="text-align: justify;">Beberapa menit kemudian, ketika ada sesuatu yang lain di dalam vaginaku, semakin kupercepat jari ini kukeluar-masukkan. Sambil terus membayangi Mas Sandi yang menyetubuhiku, dan aku sama sekali tidak membayangkan suamiku sendiri. Setiap bayangan suamiku muncul, cepat-cepat kubuang bayangan itu, hingga kembali Mas Sandi lah yang kubayangkan.</p>
<p style="text-align: justify;">Tanpa sadar, ketika aku akan mencapai orgasme, aku membalikan badan dan aku memasukkan jari telunjuk ke dalam lubang vaginaku. Dalam keadaan telentang aku mengangkangkan selebar mungkin pahaku. Kini dua jariku yang keluar masuk di lubang vaginaku. Maka kenikmatan itu berlanjut hebat sehingga tanpa sadar aku memanggil-manggil pelan nama Mas Sandi.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Akh&#8230; sshh&#8230; Masss&#8230; Sandii&#8230; Okh&#8230; Mass.. Mas.. Sandi.. aakkh..!&#8221; itulah yang keluar dari mulutku.<br />
Seer&#8230; aku merasa kedua jariku hangat sekali dan semakin licin. Aku mengangkat ke atas pinggulku sambil tidak melepas kedua jariku menancap di lubang vaginaku. Beberapa lama tubuhku merinding, mengejang, dan nikmat tidak terkira. Sampai pada akhirnya aku melemas dan pinggulku turun secara cepat ketika kenikmatan itu perlahan berkurang.
</p>
<p style="text-align: justify;">Aku mencabut jari jemariku dan cairan yang menempel di jari-jari itu segera kujilati. Asin campur gurih yang kurasakan di lidahku. Dengat mata yang terpejam-pejam kembali aku membayangkan penis Mas Sandi yang sedang kuciumi, kuhisap, dan kurasakan. Cairan yang asin dan gurih itu kubayangkan sperma Mas Sandi. Ohhh.., nikmatnya semua ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Dan setelah aku puas, barulah kuhentikan hayalan-hayalanku itu. Kutarik selimut yang ada di sampingku dan menutupi sekujur tubuhku yang mulai mendingin. Aku tersenyum sejenak mengingat hal yang barusan, gila&#8230; aku masturbasi dengan membayangkan suami orang lain.</p>
<p style="text-align: justify;">Pagi harinya, ketika aku terjaga dari tidurku dan membuka mataku, aku melihat di balik jendela kamar sudah terang. Jam berapa sekarang, pikirku. Aku menengok jam dinding sudah menunjukkan pukul sepuluh pagi. Aku kaget dan bangkit dari posisi tidurku. Ufh.., lemas sekali badan ini rasanya. Kukenakan celana dalamku. Karena udara sedikit dingin, kubalut tubuhku dengan selimut dan mulai berdiri.</p>
<p style="text-align: justify;">Ketika berdiri, sedikit kugerak-gerakan tubuhku dengan maksud agar rasa lemas itu segera hilang. Lalu dengan gontai aku berjalan menuju pintu kamar dan membuka pintu yang tidak terkunci.</p>
<p style="text-align: justify;">Karena aku ingin pipis, segera aku berjalan menuju kamar mandi, sesampainya di kamar mandi segera kuturunkan celana dalamku dan berjongkok. Keluarlah air hangat urine-ku dari liang vagina. Sangat banyak sekali air kencingku, sampai-sampai aku pegal berjongkok. Beberapa saat kemudian, ketika air kencingku habis, segera kubersihkan vaginaku dan kembali aku mengenakan celana dalamku, lalu kembali pula aku melingkari kain selimut itu, karena hanya kain ini yang dapat kupakai untuk menahan rasa dingin, baju tidur yang akan dipinjamkan oleh Yanti masih berada di kamarnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku keluar dari kamar mandi itu, lalu berjalan menuju ruangan dapur yang berada tidak jauh dari kamar mandi itu, karena tenggorokanku terasa haus sekali. Di dapur itu aku mengambil segelas air dan meminumnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah minum aku berjalan lagi menuju kamarku. Namun ketika sampai di pintu kamar, sejenak pandangan mataku menuju ke arah ruang tamu. Di sana terdapat Mas Sandi sedang duduk di sofa sambil menghisap sebatang rokok. Matanya memandangku tajam, namun bibirnya memperlihatkan senyumnya yang manis. Dengan berbalut kain selimut di tubuhku, aku menghampiri Mas Sandi yang memperhatikan aku. Lalu aku duduk di sofa yang terletak di depannya. Aku membalas tatapan Mas Sandi itu dengan menyunggingkan senyumanku.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Yanti mana..?&#8221; tanyaku padanya membuka pembicaraan.<br />
&#8220;Sedang ke warung sebentar, katanya sih mau beli makanan..!&#8221; jawabnya.<br />
&#8220;Mas Sandi tidak kerja hari ini..?&#8221;<br />
&#8220;Tidak akh.., malas sekali hari ini. Lagian khan aku tak mau kehilangan kesempatan..!&#8221; sambil berkata demikian dengan posisi berlutut dia menghampiriku.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah tepat di depanku, segera tangannya melepas kain selimut yang membungkusi tubuhku. Lalu dengan cepat sekali dia mulai meraba-raba tubuhku dari ujung kaki sampai ujung pahaku. Diperlakukan demikian tentu saja aku geli. Segera bulu-bulu tubuhku berdiri.<br />
&#8220;Akh&#8230; Mas..! Gellii..!&#8221; kataku.<br />
Mas Sandi tidak menghiraukan kata-kataku itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Kini dia mulai mendaratkan bibirnya ke seluruh kulit kakiku dari bawah sampai ke atas. Perlakuannya itu berulang-ulang, sehingga menciptakan rasa geli campur nikmat yang membuatku terangsang. Lama sekali perlakuan itu dilakukan oleh Mas Sandi, dan aku pun semakin terangsang.<br />
&#8220;Akh&#8230; Mas..! Oh.., mmh..!&#8221; aku memegang bagian belakang kepala Mas Sandi dan menariknya ketika mulut lelaki itu mencium vaginaku.<br />
Semakin aku mengangkangkan pahaku, dengan mesranya lidah Mas Sandi mulai menjilat kemaluanku itu. Tubuhku mulai bergerak-gerak tidak beraturan, merasakan nikmat yang tiada tara di sekujur tubuhku.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku membuang kain selimut yang masih menempel di tubuhku ke lantai, sementara Mas Sandi masih dengan kegiatannya, yaitu menciumi dan menjilati vaginaku. Aku menengadah menahan nikmat, kedua kakiku naik di tumpangkan di kedua bahunya, namun tangan Mas Sandi menurunkannya dan berusaha membuka lebar-lebar kedua pahaku itu. Karuan saja selangkanganku semakin terkuak lebar dan belahan vaginaku semakin membelah.<br />
&#8220;Akh.. Mas..! Shh.. nikmaats..! Terus Mass..!&#8221; rintihku.
</p>
<p style="text-align: justify;">Kedua tangan Mas Sandi ke atas untuk meremas payudaraku yang terasa sudah mengeras, remasan itu membuatku semakin nikmat saja, dan itu membuat tubuhku semakin menggelinjang. Segera aku menambah kenikmatanku dengan menguakkan belahan vaginaku, jariku menyentuh kelentitku sendiri. Oh.., betapa nikmat yang kurasakan, liang kemaluanku sedang disodok oleh ujung lidah Mas Sandi, kedua payudaraku diremas-remas, dan kelentitku kusentuh dan kupermainkan. Sehingga beberapa detik kemudian terasa tubuhku mengejang hebat disertai perasaan nikmat teramat sangat dikarenakan aku mulai mendekati orgasmeku.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Oh&#8230; Mas..! Aku&#8230; aku&#8230; akh.., nikmaats&#8230; mhh..!&#8221; bersamaan dengan itu aku mencapai klimaksku.<br />
Tubuhku melayang entah kemana, dan sungguh aku sangat menikmatinya. Apalagi ketika Mas Sandi menyedot keras lubang kemaluanku itu. Tahu bahwa aku sudah mencapai klimaks, Mas Sandi menghentikan kegiatannya dan segera memelukku, mecium bibirku.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Kamu sungguh cantik, Ridha.., aku cinta padamu..!&#8221; sambil berkata demikian, dengan pinggulnya dia membuka kembali pahaku, dan terasa batang kemaluannya menyentuh dinding kemaluannku.<br />
Segera tanganku menggenggam kemaluan itu dan mengarahkan langsung tepat ke liang vaginaku.<br />
&#8220;Lakukan Mas..! Lakukan sekarang..! Berikan cintamu padaku sekarang..!&#8221; kataku sambil menerima setiap ciuman di bibirku.</p>
<p style="text-align: justify;">Mas Sandi dengan perlahan memajukan pinggulnya, maka terasa di liang vaginaku ada yang melesak masuk ke dalamnya. Gesekan itu membuatku kembali menengadah, sehingga ciumanku terlepas. Betapa panjang dan besar kurasakan. Sampai aku merasakan ujung kemaluan itu menyentuh dinding rahimku.<br />
&#8220;Suamimu sepanjang inikah..?&#8221; tanyanya.<br />
Aku menggelengkan kepala sambil terus menikmati melesaknya penis itu di liang vaginaku.
</p>
<p style="text-align: justify;">Beberapa saat kemudian sudah amblas semua seluruh batang kemaluan Mas Sandi. Aku pun sempat heran, kok bisa batang penis yang panjang dan besar itu masuk seluruhnya di vaginaku. Segera aku melipatkan kedua kakiku di belakang pantatnya. Sambil kembali mencium bibirku dengan mesra, Mas Sandi mendiamkan sejenak batang penisnya terbenam di vaginaku, hingga suatu saat dia mulai menarik mundur pantatku perlahan dan memajukannya lagi, menariknya lagi, memajukannya lagi, begitu seterusnya hingga tanpa disadari gerakan Mas Sandi mulai dipercepat. Karuan saja batang penis yang kudambakan itu keluar masuk di vaginaku. Vagina yang seharusnya hanya dapat dinikmati oleh suamiku, Mas Hadi.</p>
<p style="text-align: justify;">Di alam kenikmatan, pikiranku menerawang. Aku seorang perempuan yang sudah bersuami tengah disetubuhi oleh orang lain, yang tidak punya hak sama sekali menikmati tubuhku, dan itu sangat di luar dugaanku. Seolah-olah aku sudah terjebak di antara sadar dan tidak sadar aku sangat menikmati perselingkuhan ini. Betapa aku sangat mengharapkan kepuasan bersetubuh dari lelaki yang bukan suamiku. Ini semua akibat Yanti yang memberi peluang seakan sahabatku itu tahu bahwa aku membutuhkan ini semua.</p>
<p style="text-align: justify;">Beberapa menit berlalu, peluh kami sudah bercucuran. Sampailah aku pada puncak kenikmatan yang kudambakan. Orgasmeku mulai terasa dan sungguh aku sangat menikmatinya. Menikmati orgasmeku oleh laki-laki yang bukan suamiku, manikmati orgasme oleh suami sahabatku. Dan aku tidak menduga kalau rahimku pun menampung air sperma yang keluar dari penis lelaki selain suamiku.</p>
<p style="text-align: justify;">Singkat kisahku, kini aku sudah bekerja di salah satu perusahaan milik bapaknya Yanti. Dengan demikian kehiduapanku selanjutnya mulai membaik. Ini semua berkat bantuan dari sahabatku Yanti. Namun sekarang tercipta problema baru yang mengganggu pikiranku. Penghianatanku terhadap Mas Hadi tidak berhenti sampai di sini.</p>
<p style="text-align: justify;">Gairah seksku tidak dapat tertahankan. Aku dapat melayani suamiku hingga beberapa kali. Dan jika aku tidak merasa puas, kulampiaskan gejolakku itu dengan Mas Sandi, bahkan kalau Mas Sandi tidak ada, aku mencari kepuasan seksku dengan siapa saja yang mau. Dan untungnya hingga kini suamiku tidak mengetahuinya, tapi apa mungkin dia telah mengetahuinya..? Aku tidak perduli.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ceritasex.cn/dijebak-tapi-enak-bagian-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
