<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Cerita sex porno ngentot mesum perek ayam kampus &#187; ngentot</title>
	<atom:link href="http://www.ceritasex.cn/tag/ngentot/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.ceritasex.cn</link>
	<description>Kumpulan cerita sex, foto bugil, dan film porno</description>
	<lastBuildDate>Wed, 08 Feb 2012 13:12:08 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
		<item>
		<title>Cik Mei Lin tetanggaku</title>
		<link>http://www.ceritasex.cn/cik-mei-lin-tetanggaku/</link>
		<comments>http://www.ceritasex.cn/cik-mei-lin-tetanggaku/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 08 Feb 2012 13:12:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cerita Sex</dc:creator>
				<category><![CDATA[Amoy]]></category>
		<category><![CDATA[anal seks]]></category>
		<category><![CDATA[Paruh baya]]></category>
		<category><![CDATA[Seks Umum]]></category>
		<category><![CDATA[selingkuh]]></category>
		<category><![CDATA[Tante Girang]]></category>
		<category><![CDATA[amoy]]></category>
		<category><![CDATA[anus]]></category>
		<category><![CDATA[cina binal]]></category>
		<category><![CDATA[kontol]]></category>
		<category><![CDATA[mei lin]]></category>
		<category><![CDATA[memek]]></category>
		<category><![CDATA[ngentot]]></category>
		<category><![CDATA[ngeseks]]></category>
		<category><![CDATA[perempuan binal]]></category>
		<category><![CDATA[sperma]]></category>
		<category><![CDATA[vagina]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ceritasex.cn/?p=3309</guid>
		<description><![CDATA[Namaku Iwan. Usiaku saat ini 21 th. Aku kuliah di sebuah perguruan tinggi di Jakarta. Sambil kuliah aku bekerja di sebuah perusahaan swasta. Gajinya tidak terlalu besar, tapi lumayanlah untuk menambah uang kuliah. Aku kost tak jauh dari kampus. Kamar kostku berada dilantai atas paling ujung. Sehingga jendela kamarku langsung menghadap ke depan dengan sebuah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Namaku Iwan. Usiaku saat ini 21 th. Aku kuliah di sebuah perguruan tinggi di Jakarta. Sambil kuliah aku bekerja di sebuah perusahaan swasta. Gajinya tidak terlalu besar, tapi lumayanlah untuk menambah uang kuliah. Aku kost tak jauh dari kampus. Kamar kostku berada dilantai atas paling ujung. Sehingga jendela kamarku langsung menghadap ke depan dengan sebuah pintu keluar. Di seberang rumah kostku tinggal sebuah keluarga muda. Aku tidak tahu siapa nama suaminya. Aku hanya tahu istrinya bernama Linda, tapi biasa dipanggil Cik Mei Lin. Dia wanita keturunan cina. Cik Mei Lin berusia sekitar 30 th. Dia sudah punya seorang akan berusia lima tahun. Suami Cik Mei Lin jarang di rumah. Aku tak tahu ia bekerja dimana. Ia pulang hanya sekali seminggu. Bahkan pernah hingga satu bulan tidak pulang. Itu sebabnya Cik Mei Lin lebih sering sendiri di rumahnya bersama anaknya.Kisah ini bermula di pagi hari saat aku bangun tidur. Hari itu aku libur kerja dan tidak ada jadwal kuliah. Saat itu aku melihat Cik Mei Lin sedang menjemur pakaian. Cik Mei Lin mengenakan kaos tipis tanpa lengan.</p>
<p style="text-align: justify;">Kaosnya agak basah, mungkin terkena air sewaktu ia mencuci baju. Dari kamar aku bisa melihat jika Cik Mei Lin tidak memakai bra. Buah dadanya yang montok tercetak jelas lengkap dengan putingnya.Saat itu Cik Mei Lin juga hanya memakai celana pedek ketat yang juga basah. Bongkahan pantatnya yang bulat tercetak jelas. Anehnya tidak ada bayangan segitiga di pantatnya yang sexy. Aku yakin saat itu Cik Mei Lin tidak memakai cd. Aku langsung terangsang melihat pemandangan itu. Ingin sekali aku remas-remas buah dada dan pantat sexy Cik Mei Lin. Sejak itulah aku sering berfantasi bersama tubuh sexy Cik Mei Lin. Aku sering onani sambil membayangkan tubuh Cik Mei. Lama-lama aku tidak puas jika hanya onani sambil membayangkan tubuh Cik Mei Lin. Suatu pagi saat Cik Mei Lin menjemur pakaian aku onani sambil memandang Cik Mei Lin yang lagi-lagi memakai baju tipis dan basah. Kepuasan yang aku rasakan lebih hebat. Semakin lama aku semakin berani. Aku mulai berani bugil di depan Cik Mei Lin. Aku berharap ia melihatku bugil dan terangsang.</p>
<p style="text-align: justify;">Tapi aku tidak berani secara terang-terangan bugil di depan Cik Mei Lin. Aku takut ia marah karena perbuatanku. Aku membuat seolah-olah kejadian itu sebuah kebetulan. Saat Cik Mei Lin sedang menjemur pakaian aku berpura-pura sedang membuka pintu kamarku yang tepat menghadap ke pintu atas rumah Cik Mei Lin. Aku yakin ia pasti akan menoleh kearahku. Dan tepat, saat itu Cik Mei Lin melihat kearahku yang benar-benar bugil. Aku puas sekali&#8230;. Aku jadi ketagihan melakukan hal itu, bugil di depan Cik Mei Lin. Sebenarnya aku berharap Cik Mei Lin akan membalas perbuatanku dengan bugil pula. Kalaupun tidak bugil polos, aku berharap bisa melihat Cik Mei Lin hanya memakai cd dan bra saja. Tapi sayang harapanku tidak tercapai. Aku khawatir Cik Mei Lin mulai marah kepadaku. Akhirnya perlahan-lahan aku mulai menghentikan kebiasaanku itu. Suatu hari aku bertemu Cik Mei Lin di sebuah minimarket. Aku akan membeli sabun mandi dan pasta gigi yang habis. Saat mengambil sabun mandi aku terkejut karena Cik Mei Lin juga akanmengambil sabun mandi. Aku menyapa dengan tersenyum kepadanya. Ia membalas senyumanku.<br />
<span id="more-3309"></span><br />
“Kok nggak pernah telanjang lagi&#8230;.,”kata Cik Mei Lin saat berada tepat di sebelahku. Aku terkejut dengan pertanyaan itu.”Ooh maaf Cik Mei, aku nggak sopan,”jawabku agak takut. “Ah gak papa, aku suka kok lihat kamu bugil,burungmu besar,”balas Cik Mei Lin sambil mendekatkan bibirnya di telingaku. “Entar malem bugil lagi ya, aku tunggu di teras atas,”lanjut Cik Mei Lin. “Boleh, tapi Cik Mei harus bugil juga,”jawabku. Cik Mei Lin tersenyum sambil mengedipkan mata. Sebelum pulang kami saling bertukar nomor hp Malam itu aku sedang santai. Aku bersiap untuk aksi nanti malam, bugil bareng Cik Mei Lin. Tiba-tiba ada sms di hp ku. “Jgn lupa ya nti mlm qt bugil bareng” itu yang dikirimkan Cik Mei Lin di sms-nya. “Ok” jawabku. “Tp jgn dikmrmu ya” lanjut sms itu. “dimana”jawabku. “dikmrku aja, rumahku sdg sepi gak ada siapa2 kamu lngsng msk aja aku tnggu dikmrku” Segera aku bersiap menuju rumah Cik Mei Lin. Sebelumnya aku sempatkan melihat kamar Cik Mei Lin. Aku lihat lampu kamarnya menyala dan gorden jendelanya terbuka.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku bisa melihat dengan jelas Cik Mei Lin yang saat itu hanya memakai cd dan bra. Sexy sekali. Aku tak sabar ingin segera menuju kamar Cik Mei Lin. Aku segera masuk ke rumah Cik Mei. Pintu dan pagarnya tidak terkunci, mungkin segaja. Aku langsung menuju kamar atas, kamar Cik Mei Lin. Pintu kamar Cik Mei tidak dikunci bahkan sedikit terbuka. Saat masuk, aku melihat Cik Mei sedang tiduran di ranjang dan hanya memakai cd dan bra berwarna merah. “Lama banget sich, aku sudah nunggu dari tadi lho,”kata Cik Mei saat aku masuk kamarnya. Aku hanya membalas dengan senyuman. “Eiittt&#8230;.kok masih pake baju&#8230;.”kata Cik Mei. Aku tersenyum mendengarnya dan langsung melucuti pakaianku satu per satu hingga aku benar-benar bugil. kontolku perlahan-lahan mulai bangun dan itu membuat Cik Mei Lin tersenyum. “Wah kontolmu mulai bangun ya,”ujarnya sambil membelai kontolku. Aku merasa nikmat saat tangan Cik Mei Lin mulai menyentuh kontolku. Perlahan-lahan ia mulai membelai dan meremas-remas kontolku yang sudah tegak. “Wowww&#8230;.kontolmu besar ya kalau sudah bangun,”kata Cik Mei.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku hanya tersenyum. kontolku sebetulnya tidak terlalu istimewa, hanya 16 cm. Tapi itu sudah cukup membuat Cik Mei Lan terpesona. Lama-lama Cik Mei tidak puas hanya membelai dan meremas. Ia mulai menjilati dan mengulum kontolku. Ahh&#8230;.nikmat sekali. Bibir sexy Cik Mei Lan mengulum kontolku dengan lahap, seperti menjilati permen lolypop saja. “Ahh&#8230;.Cik Mei&#8230;..ahh&#8230;.ahh&#8230;.nikmat&#8230;”ujarku. Mendengar eranganku Cik Mei Lin semakin bersemangat menjilati kontolku. Ia bahkan menghisap kontolku dengan kuat. Ahh&#8230;..nikmat sekali rasanya. Sambil menghisap kontolku Cik Mei juga membelai dua buah zakarku. Aku hanya merem merasakan kenikmatan itu. Tiba-tiba Cik Mei Lin Menghentikan kulumannya. Ia berdiri dan mencium bibirku. “Sekarang kamu mainin punyaku ya,”katanya. Dengan senang hati aku melakukannya. Sudah sejak lama aku membayangkan bisa meremas-remas buah dada Cik Mei Lin yang montok. Dan sudah lama pula aku membayangkan pantat sexy Cik Mei. Ingin aku menjilati liang vagina dan lubang anusnya. Pasti nikmat sekali.</p>
<p style="text-align: justify;">Selanjutnya Cik Mei Lin mulai melucuti pakaian dalamnya. Mula-mula ia membuka bra merah yang sedari tadi menutupi dua gunung kembarnya. Wow&#8230;.buah dada Cik Mei Lin yang montok kini dengan jelas aku lihat. Ukurannya kira-kira 36 dd. Buah dada putih dengan putingnya yang merah kecoklatan terlihat sangat menantang. Tak sabar aku ingin menjilati puting susu Cik Mei Lin.Aku semakin terpesona saat Cik Mei Lin membuka cd merahnya. Wow&#8230;.rimbunan rambut kemaluan yang lebat terlihat jelas. Kontras dengan paha Cik Mei Lin yang putih. Aku memang sangat suka dengan perempuan yang berjembut lebat. Segera aku peluk tubuh Cik Mei Lin. Tak lupa aku ciumi bibir sexy Cik Mei. Bibir sexy itu aku lumat habis. Perlahan-lahan ciumanku turun ke bawah. Mula-mula leher dan akhirnya ciuman bibirku sampai juga di dua gunung kembar Cik Mei Lin. Aku langsung melumat habis buah dada montok itu. Tak lupa aku jilati dan hisap putingnya yang sudah mengacung. “Ah&#8230;ahh&#8230;.nik..mat&#8230;.”, desah Cik Mei saat ujung lidahku menyentuh puting susunya.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku semakin bersemangat mendengar erangan itu. Lidahku semakin liar menjilati buah dada montok Cik Mei Lin. Erangan dan desahan Cik Mei juga semakin hebat. “Ahh..ahhh&#8230;nikmat sayang&#8230;ahh..hh&#8230;” Jilatan lidahku kini kembali bergerak turun. Setelah buah dada, lidahku mulai menjilati perut, pusar, paha, dan akhirnya lidahku bertemu rimbunan jembut yang lebat. Jembut hitam itu menutupi liang vagina Cik Mei Lin yang sudah basah. Rupanya Cik Mei sudah sangat horny. “Ya&#8230;mainkan lidahmu disitu sayang&#8230;.”desah Cik Mei.Lidahku segera beraksi menyusuri rumbuna jembut Cik Mei Lin yang lebat. Lidahku beraksi menyibat helai demi helai jembut Cik Mei Lin hingga akhirnya ujung lidahku berhasil memasuki liang vagina Ci Mei. Ada cairan keluar dari liang vagina Cik Mei. Aku langsung menghisabnya.”Ahhh&#8230;..ahh&#8230;.nikmat sayang&#8230;.ahhh&#8230;”Cik Mei Lin mendesah keenakan. Tubuh Cik Mei Lin seolah bergetar saat lidahku behasil menemukan biji clitorisnya. Tapi tiba-tiba Cik Mei Lin memintaku menghentikan jilatan lidahku. Rupanya ia ingin berganti permainan.</p>
<p style="text-align: justify;">Ia ingin pula memainkan kontolku. Ia memintaku tidur terlentang di atas ranjang. Kemudian Cik Mei merebahkan tubuhnya diatasku. Ia arahkan vaginanya tepat diatas mukaku. Kami memainkan gaya 69. Cik Mei Lin langsung mengocok kontolku. Sesekali ia juga mengulum dan menjilati kontolku yang sudah berdiri tegak. Ahh….nikmat sekali rasanya. Mulut Cik Mei Lin yang biasanya hanya bisa aku lihat, kini mengulum kontolku. Aku sampai merem melek merasakan nikmatnya lidah Cik Mei Lin yang bermain-main di sekujur kontolku. Aku pun mengimbanginya dengan menjilati vagina Cik Mei Lin. Rambut kemaluannya yang hitam lebat itu terlihat kontras dengan kulitnya yang putih. Segera tercium olehku bau khas vagina. Nafsuku semakin menggelora. Lidahku segera beraksi. Sesekali aku mengigit bibir vagina Cik Mei Lin. “Ahh….ahh…enak Wan..ahh…terus..ahh..terus sayang…..”ujar Cik Mei Lin merasakan jilatanku Tanganku juga tidak tinggal diam. Pantat Cik Mei Lin yang sintal itu aku remas-remas. Kadangkala aku tekan pantat Cik Mei Lin sehingga vaginanya menekan mukaku.</p>
<p style="text-align: justify;">Dan Cik Mei Lin kembali menjerit pelan merasakan kenikmatan di selangkangannya. Terlebih lagi saat aku menjilati clitorisnya. “Wan….ahh…ahh…eennaakkk…terruuss….teruuss..sayyaan ggg…..ahh….”Mendengar desahan Cik Mei Lin aku semakin memperhebat jilatanku. Tapi tiba-tiba Cik Mei Lin memintaku mengentikan jilatanku di vaginanya. Ia juga mencabut kontolku dari mulutnya. “Wan, aku nggak tahan lagi…”ujarnya Ia memintaku tetap tidur terlentang. Selanjutnya Cik Mei Lin berlutut di atasku. Ia genggam kontolku yang tegang dan mengarahkannya tepat di vaginanya. Selanjutnya perlahan-lahan kontolku memasuki liang kenikmatan Cik Mei Lin. “Ahh….Cik Mei…ahh…ahh…”ujarku saat kontolku mulai memasuki vagina Cik Mei Lin. Kenikmatan luar biasa segera aku rasakan. Hingga akhirnya kontolku benar-benar masuk seluruhnya di dalam vagina Cik Mei Lin. Sambil tersenyum Cik Mei Lin membiarkan vaginanya membekap kontolku. Selanjutnya pantatnya mula bergerak naik turun. “Ahh….enaakkk Cik Mei…ahh..nikkmaattt…”desahku “Iya…aku juga..ennaakk Wan..”jawab Cik Mei Lin.</p>
<p style="text-align: justify;">Semakin lama gerakan pantat Cik Mei Lin semakian cepat. Aku mengimbanginya dengan menggerakkan pantatku juga naik turun. Sambil terus menyodokkan kontolku, tanganku juga bekerja meremas-remas buah dada Cik Mei Lin yang bergoyang. Semakin lama gerakan pantat Cik Mei Lin semakin cepat dan tidak beraturan. Matanya terpejam, terlebih saat aku meremas buah dadanya. Mukanya yang putih terlihat memerah. Sambil menjerit pelan ia gerakkan pantatnya naik turun. “Ahh…Wan….ahh….nniikkkmaaatt….ohhh…”jerit Cik Mei Lin pelan. Tiba-tiba Cik Mei Lin rubuh. Tubuhnya menindih tubuhku dengan vagina yang masih terisi kontolku. Ia memelukkan erat-erat sambil menekan pantatnya dalam-dalam. Aku merasakan ada carian hangat menyemprot kontolku. Rupanya Cik Mei Lin orgasme. Beberapa saat kemudian Cik Mei Lin mengangkat pantatnya. Ia tidur terlentang disampingku. Nafasnya yang ngos-ngosan pelahan-lahan mulai teratur kembali. Sambil tersenyum aku remas-remas buah dadanya yang montok itu. Cik Mei Lin membalasnya dengan meremas-remas kontolku yang masih tegang.</p>
<p style="text-align: justify;">“Kenapa sayang, kamu mau main lagi ya,”ujarnya yang aku jawab dengan anggukan kepala Cik Mei Lin tersenyum dan langsung mengambil posisi. Kali ini ia nungging di depanku. Wow, pantatnya yang sexy itu membuat aku tak tahan lagi. Rupanya Cik Mei Lin ingin meraskan hunjaman kontolku dari belakang. Aku segera mengarahkan kontolku ke vagina Cik Mei Lin. Liang nikmat itu terlihat memerah dan basah. Sejenak aku gosok-gosokkan ujung kontolku pada vagina Cik Mei Lin. Ia membalas dengan mengoyng-goyangkan pantatnya. Selanjutnya aku mulai menggerakan pantatku ke depan seiring dengan masukkan kontolku ke dalam laing kenikmatan Cik Mei Lin. “Ohh…Cik Mei….nniikkkmmaatt…..”desahku saat kontolku memasuki vagina Cik Mei Lin. Aku melanjutkan gerakan pantatku maju mundur. kontolku keluar masuk vagina Cik Mei Lin. Kenikmatan luar biasa kembali aku rasakan. kontolku seperti dipijit-pijit. Terlebih lagi Cik Mei Lin mulai menggerakkan pantatnya seperti berputar. Ahh…kontolku seperti dipilin-pilin rasanya. Aku hanya bisa memejamkan mata sambil terus menyodokkan kontolku dalam-dalam.</p>
<p style="text-align: justify;">“Ohh..Cik Mei…ennaakk…ahh…nniikkkmmaattt…..”desahku tak kuasa merasakan kenikmatan vagina Cik Mei Lin “Iya Wan….teerrruuss…ahh……ennaakkk….ahh….terruuss saayyyaanggg….”ujar Cik Mei Lin Aku terus memasukkan kontolku. Kali ini gerakan pantatku lebih kupercepat. Sesekali aku remas-remas pantat Cik Mei Lin yang sexy itu. Tiba-tiba aku meraskan tubuh Cik Mei Lin menegang. Ia menjerit pelan sambil tangannya mencengkeram ujung ranjang. “Ahh…ahh…aakkuu…kkeellluaarrr…ahh…..”jerit Cik Mei Lin sambil matanya terpejam Cik Mei Lin rupanya kembali orgasme. Aku pun merasakan kontolku semakin tegang. Cairan hangat yang menyembur dalam vagina Cik Mei Lin semakin membuat kontolku berdenyut. Dan akhirnya aku tak kuasa menahan spermaku yang ingin segera keluar. Segera aku percepat gerakan kontolku. Semakin lama gerakan kontolku semakin cepat. Akupun tak mampu lagi menahan spermaku lebih lama. Akhirnya . Crroott…crroott…ccrrooott&#8230;&#8230;.spermaku muncrat di dalam vagina Cik Mei Lin, cairan kental putih itu muncrat banyak sekali. Aku setengah berteriak saat spermaku muncrat.</p>
<p style="text-align: justify;">“Ahh..ahh…nniikkkmaatt…ahh….”jeritku pelan Aku diamkan sejenak kontolku di dalam liang vagina Cik Mei Lin. Nikmat sekali. &#8220;Semprotanmu nikmat sekali Wan,&#8221;kata Cik Mei Lin. Selanjutnya aku turun dari ranjang. Aku raih sebotol air mineral sambil mengatur nafasku yang ngos-ngosan. Kemudian aku berbaring di sebelah Cik Mei Lin yang juga rebah di ranjang. “Kami masih kuat Wan,”kata Cik Mei Lin tiba-tiba Aku agak terkejut dengan pertanyaan itu. Cik Mei Lin yang sudah dua kali mencapai puncak. Tapi nampaknya Cik Mei Lin masih ingin melanjutkan permainan. Sehingga aku heran dengan pertanyaan itu. Dalam hati aku kagum juga dengan nafsu Cik Mei Lin yang mengelora. Aku yakin ia masih ingin meneruskan permainan malam ini. “Masih Cik Mei, Kenapa Cik Mei ingin main lagi ya,”ujarku “Iya, tapi permainan yang agak lain,” “Maksud Cik Mei,” “Kamu pernah main anal nggak, kita coba yuk,” ujarnya sambil meremas-remas kontolku yang mulai tegak kembali. Kembali aku terkejut dibuatnya. Cik Mei Lin ingin main analsex. Ia ingin aku menggarap lubang anusnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Tentu aku tidak keberatan. Aku juga ingin sekali merasakan permainan itu. Apalagi yang aku garap adalah pantat Cik Mei Lin yang seksi itu. Cik Mei Lin langsung mengambil posisi. Ia kembali nungging. Vaginanya yang baru saja aku masuki masih tampak merah. Aku langsung mengarahkan kontolku yang kembali tegang tepat di lubang anus Cik Mei Lin. Perlahan-lahan aku gerakan pantatku maju ke depan. Perlahan-lahan pula kontolku mulai masuk ke lubang anus Cik Mei Lin. Sensasi luar biasa langsung aku rasakan. Lubang anus Cik Mei Lin sangat sempit. Lebih sempit daripada vaginanya. Lubang itu juga sangat keset. kontolku agak susah menembusnya. “Ah….Cik Mei anusmu sempit sekali…..” “Iya…Wan….terusin aja…ahh…masukin terruss Wan…ahh…”ujar Cik Mei Lin sambil merem saat aku masukan kontolku ke lubang anusnya. Aku cabut kontolku yang sebagian kepalanya sudah masuk ke anus Cik Mei Lin. Aku coba membasahi anus Cik Mei Lin dengan ludahku. Aku berharap dengan ludahku anus Cik Mei Lin jadi lebih gampang ditembus. Selanjutnya kembali aku masukan kontolku ke lubang anus Cik Mei Lin.</p>
<p style="text-align: justify;">Kali ini kontolku lebih gampang memasukinya. Mungkin karena air ludahku. “Ahh..Wan….ahh…..”ujar Cik Mei Lin saat kontolku mulai menembus duburnya “Ahh….lubang Cik Mei eenak baangeett…..”jawabku Semakin lama kontolku semakin dalam memasuki anus Cik Mei Lin. Dan akhirnya seluruh kontolku masuk ke dalam lubang Cik Mei Lin. Aku diamkan sejenak. Terasa hangat sekali. Lubang anus Cik Mei Lin seperti berdenyut-denyut. Sehingga kontolku seperti dipijit-pijit. Perlahan-lahan aku mulai menggerakkan pantatku, maju mundur sambil memegang pinggang Cik Mei Lin yang sintal. Gerakan pantatku semakin lama semakin hebat. Aku merasakan kenikmatan yang luar biasa. kontolku bergerak keluar masuk lubang anus Cik Mei Lin. Setiap kali kontolku bergerak aku merasakan kenikmatan tiada tara. “Ohh..Cik Mei eeennnaaakkk baannnggettt…..”aku berkata agak sedikit menjerit. “Ohh…iyaa…akuu juuga eennaakkk….teerrruusss…..Waann…”desah Cik Mei Lin yang hanya bisa merem melek merasakan kenikmatan itu. Semakin lama lubang anus Cik Mei Lin semakin licin.</p>
<p style="text-align: justify;">kontolku semakin leluasa maju mundur dan semakin aku menggerakkan kontolku kenikmatan yang aku rasakan semakin hebat. Hingga akhirnya kontolku terasa berdenyut-denyut. Jepitan pantat Cik Mei Lin membuat kontolku menjadi sangat tegang. Dan akhirnya aku tak kuat menahan kontolku yang ingin segera muncrat. “Ahh…Cik Mei aku maauuu keelluaarr…..ahh…ohhh…” “Iyaa..akuu juugaaa….ahhh…ahhh…”jawab Cik Mei Lin sambil menjerit pelan. Rupanya Cik Mei Lin juga orgasme. Akhirnya kontolku benar-benar tak mampu lagi menaham spermaku yang ingin segera muncrat. Crroott..croot..croott….Spermaku muncrat di dalam lubang anus Cik Mei Lin. Banyak juga spermaku yang muncrat. Walau tidak sebanyak yang muncrat pada permainan pertama. Tapi kenikmatan yang aku rasakan lebih hebat. Aku merebahkan tubuhku menindih Cik Mei Lin dari belakang. kontolku masih menancap didalam anus Cik Mei Lin. Aku menciumi punggung dan leher Cik Mei Lin yang putih mulus. Aku mendengar nafas Cik Mei Lin yang terengah-engah seperti orang habis berlari. Nafasku juga ngos-ngosan.</p>
<p style="text-align: justify;">Akhirnya aku cabut kontolku dari pantat Cik Mei Lin. Ia tidur disampingku. Aku rebahkan tubuhku menindih Cik Mei Lin. Kuciumi bibirnya yang seksi itu. “Cik Mei hebat deh….mainnya hot banget….”ujarku “Kamu juga oke banget……lain kali kita main lagi ya…..yang lebih hot”ujar Cik Mei Lin sambil berdiri dan menuju kamar mandi. Aku merasakan tubuhku capek luar biasa. Tanpa terasa tiga jam lebih aku beradu nafsu dengan Cik Mei Lin. Dalam keadaan terlentang tanpa terasa aku tertidur. Sejak saat itu hubunganku dengan Cik Mei Lin semakin akrab. Aku semakin sering tidur dengan Cik Mei Lin. Semua dilakukan saat suami Cik Mei Lin sedang tidak dirumah dan anaknya sudah tidur. Beruntung anaknya tidur di kamar terpisah, jadi tidak menganggu permainan nikmat kami. Cik Mei Lin semakin ketagihan dengan kontolku. Ia bilang kontolku lebih nikmat daripada kontol suaminya. Selain lebih besar dan panjang, kontolku juga disunat. Tidak seperti suaminya yang tidak sunat. “Kontol disunat memang lebih enak daripada yang tidak disunat,”katanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Sebenarnya aku takut Cik Mei Lin hamil. Sebab sudah berkali-kali kontolku muncrat di dalam vagina Cik Mei Lin. Ia tidak mau kalau aku mengeluarkan sperma di luar. Cik Mei Lin juga tidak mau jika aku memakai kondom. “Semprotan kontolmu luar biasa ,”katanya. Tapi untunglah sampai saat ini Cik Mei Lin tidak hamil. Mungkin ia selalu minum pil anti hamil&#8230;..hhhmmmm.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ceritasex.cn/cik-mei-lin-tetanggaku/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bercinta dengan Guru Bahasa Inggris</title>
		<link>http://www.ceritasex.cn/bercinta-dengan-guru-bahasa-inggris/</link>
		<comments>http://www.ceritasex.cn/bercinta-dengan-guru-bahasa-inggris/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 13 Jan 2012 23:58:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cerita Sex</dc:creator>
				<category><![CDATA[Paruh baya]]></category>
		<category><![CDATA[Seks Umum]]></category>
		<category><![CDATA[bercinta]]></category>
		<category><![CDATA[guru]]></category>
		<category><![CDATA[ml]]></category>
		<category><![CDATA[nafsu birahi]]></category>
		<category><![CDATA[ngentot]]></category>
		<category><![CDATA[orgasme]]></category>
		<category><![CDATA[seks]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ceritasex.cn/?p=3299</guid>
		<description><![CDATA[Sejalan dengan waktu, kini aku bisa kuliah di universitas keinginanku. Namaku Jack, sekarang aku tinggal di Yogyakarta dengan fasilitas yang sangat baik sekali. Kupikir aku cukup beruntung bisa bekerja sambil kuliah sehingga aku mempunyai penghasilan tinggi. Berawal dari reuni SMA-ku di Jakarta. Setelah itu aku bertemu dengan guru bahasa inggrisku, kami ngobrol dengan akrabnya. Ternyata [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Sejalan dengan waktu, kini aku bisa kuliah di universitas keinginanku. Namaku Jack, sekarang aku tinggal di Yogyakarta dengan fasilitas yang sangat baik sekali. Kupikir aku cukup beruntung bisa bekerja sambil kuliah sehingga aku mempunyai penghasilan tinggi.</p>
<p style="text-align: justify;">Berawal dari reuni SMA-ku di Jakarta. Setelah itu aku bertemu dengan guru bahasa inggrisku, kami ngobrol dengan akrabnya. Ternyata Ibu Shinta masih segar bugar dan amat menggairahkan. Penampilannya amat menakjubkan, memakai rok mini yang ketat, kaos top tank sehingga lekuk tubuhnya nampak begitu jelas. Jelas saja dia masih muda sebab sewaktu aku SMA dulu dia adalah guru termuda yang mengajar di sekolah kami. Sekolahku itu cuma terdiri dari dua kelas, kebanyakan siswanya adalah wanita. Cukup lama aku ngobrol dengan Ibu Shinta, kami rupanya tidak sadar waktu berjalan dengan cepat sehingga para undangan harus pulang. Lalu kami pun berjalan munuju ke pintu gerbang sambil menyusuri ruang kelas tempatku belajar waktu SMA dulu.</p>
<p style="text-align: justify;">Tiba-tiba Ibu Shinta teringat bahwa tasnya tertinggal di dalam kelas sehinga kami terpaksa kembali ke kelas. Waktu itu kira-kira hampir jam dua belas malam, tinggal kami berdua. Lampu-lampu di tengah lapangan saja yang tersisa. Sesampainya di kelas, Ibu Shinta pun mengambil tasnya kemudian aku teringat akan masa lalu bagaimana rasanya di kelas bersama dengan teman-teman. Lamunanku buyar ketika Ibu Shinta memanggilku.<br />
<span id="more-3299"></span><br />
&#8220;Kenapa Jack&#8221;"Ah.. tidak apa-apa&#8221;, jawabku. (sebetulnya suasana hening dan amat merinding itu membuat hasratku bergejolak apalagi ada Ibu Shinta di sampingku, membuat jantungku selalu berdebar-debar).&#8221;Ayo Jack kita pulang, nanti Ibu kehabisan angkutan&#8221;, kata Ibu Shinta.&#8221;Sebaiknya Ibu saya antar saja dengan mobil saya&#8221;, jawabku dengan ragu-ragu.&#8221;Terima kasih Jack&#8221;.</p>
<p style="text-align: justify;">Tanpa sengaja aku mengutarakan isi hatiku kepada Ibu Shinta bahwa aku suka kepadanya, &#8220;Oh my God what i&#8217;m doing&#8221;, dalam hatiku. Ternyata keadaan berkata lain, Ibu Shinta terdiam saja dan langsung keluar dari ruang kelas. Aku panik dan berusaha minta maaf. Ibu Shinta ternyata sudah cerai dengan suaminya yang bule itu, katanya suaminya pulang ke negaranya. Aku tertegun dengan pernyataan Ibu Shinta. Kami berhenti sejenak di depan kantornya lalu Ibu Shinta mengeluarkan kunci dan masuk ke kantornya, kupikir untuk apa masuk ke dalam kantornya malam-malam begini. Aku semakin penasaran lalu masuk dan bermaksud mengajaknya pulang tapi Ibu Shinta menolak. Aku merasa tidak enak lalu menunggunya, kurangkul pundak Ibu Shinta, dengan cepat Ibu Shinta hendak menolak tetapi ada kejadian yang tak terduga, Ibu Shinta menciumku dan aku pun membalasnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Ohh.., alangkah senangnya aku ini, lalu dengan cepat aku menciumnya dengan segala kegairahanku yang terpendam. Ternyata Ibu Shinta tak mau kalah, ia menciumku dengan hasrat yang sangat besar mengharapkan kehangatan dari seorang pria. Dengan sengaja aku menyusuri dadanya yang besar, Ibu Shinta terengah sehingga ciuman kami bertambah panas kemudian terjadi pergumulan yang sangat seru. Ibu Shinta memainkan tangannya ke arah batang kemaluanku sehingga aku sangat terangsang. Lalu aku meminta Ibu Shinta membuka bajunya, satu persatu kancing bajunya dibukanya dengan lembut, kutatap dengan penuh hasrat. Ternyata dugaanku salah, dadanya yang kusangka kecil ternyata amat besar dan indah, BH-nya berwarna hitam berenda yang modelnya amat seksi.</p>
<p style="text-align: justify;">Karena tidak sabar maka kucium lehernya dan kini Ibu Shinta setengah telanjang, aku tidak mau langsung menelanjanginya, sehingga perlahan-lahan kunikmati keindahan tubuhnya. Aku pun membuka baju sehingga badanku yang tegap dan atletis membangkitkan gairah Ibu Shinta, &#8220;Jack kukira Ibu mau bercinta denganmu sekarang.., Jack, tutup pintunya dulu dong&#8221;, bisiknya dengan suara agak bergetar, mungkin menahan birahinya yang juga mulai naik.</p>
<p style="text-align: justify;">Tanpa disuruh dua kali, secepat kilat aku segera menutup pintu depan. Tentu agar keadaan aman dan terkendali. Setelah itu aku kembali ke Ibu Shinta. Kini aku jongkok di depannya. Menyibak rok mininya dan merenggangkan kedua kakinya. Wuih, betapa mulus kedua pahanya. Pangkalnya tampak menggunduk dibungkus celana dalam warna hitam yang amat minim. Sambil mencium pahanya tanganku menelusup di pangkal pahanya, meremas-remas liang senggamanya dan klitorisnya yang juga besar. Lidahku makin naik ke atas. Ibu Shinta menggelinjang kegelian sambil mendesah halus. Akhirnya jilatanku sampai di pangkal pahanya.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Mau apa kau sshh&#8230; sshh&#8221;, tanyanya lirih sambil memegangi kapalaku erat-erat.&#8221;Ooo&#8230; oh.. oh..&#8221;, desis Ibu Shinta keenakan ketika lidahku mulai bermain-main di gundukan liang kenikmatannya. Tampak dia keenakan meski masih dibatasi celana dalam.</p>
<p style="text-align: justify;">Serangan pun kutingkatkan. Celananya kulepaskan. Sekarang perangkat rahasia miliknya berada di depan mataku. Kemerahan dengan klitoris yang besar sesuai dengan dugaanku. Di sekelilingnya ditumbuhi rambut yang tidak begitu lebat. Lidahku kemudian bermain di bibir kemaluannya. Pelan-pelan mulai masuk ke dalam dengan gerakan-gerakan melingkar yang membuat Ibu Shinta makin keenakan, sampai harus mengangkat-angkat pinggulnya. &#8220;Aahh&#8230; Kau pintar sekali. Belajar dari mana hh&#8230;&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Tanpa sungkan-sungkan Ibu Shinta mencium bibirku. Lalu tangannya menyentuh celanaku yang menonjol akibat batang kemaluanku yang ereksi maksimal, meremas-remasnya beberapa saat. Betapa lembut ciumannya, meski masih polos. Aku segera menjulurkan lidahku, memainkan di rongga mulutnya. Lidahnya kubelit sampai dia seperti hendak tersendak. Semula Ibu Shinta seperti akan memberontak dan melepaskan diri, tapi tak kubiarkan. Mulutku seperti melekat di mulutnya. &#8220;Uh kamu pengalaman sekali ya. Sama siapa? Pacarmu?&#8221;, tanyanya diantara kecipak ciuman yang membara dan mulai liar. Aku tak menjawab. Tanganku mulai mempermainkan kedua payudaranya yang tampak menggairahkan itu. Biar tidak merepotkanku, BH-nya kulepas. Kini dia telanjang dada. Tak puas, segera kupelorotkan rok mininya. Nah kini dia telanjang bulat. Betapa bagus tubuhnya. Padat, kencang dan putih mulus.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Nggak adil. Kamu juga harus telanjang..&#8221; Ibu Shinta pun melucuti kaos, celanaku, dan terakhir celana dalamku. Batang kemaluanku yang tegak penuh segera diremas-remasnya. Tanpa dikomando kami rebah di atas ranjang, berguling-guling, saling menindih. Aku menunduk ke selangkangannya, mencari pangkal kenikmatan miliknya. Tanpa ampun lagi mulut dan lidahku menyerang daerah itu dengan liar. Ibu Shinta mulai mengeluarkan jeritan-jeritan tertahan menahan nikmat. Hampir lima menit kami menikmati permainan itu. Selanjutnya aku merangkak naik. Menyorongkan batang kemaluanku ke mulutnya.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Gantian dong..&#8221; Tanpa menunggu jawabannya segera kumasukkan batang kemaluanku ke mulutnya yang mungil. Semula agak kesulitan, tetapi lama-lama dia bisa menyesuaikan diri sehingga tak lama batang kemaluanku masuk ke rongga mulutnya. &#8220;Justru di situ nikmatnya.., Selama ini sama suami main seksnya gimana?&#8221;, tanyaku sambil menciumi payudaranya. Ibu Shinta tak menjawab. Dia malah mencium bibirku dengan penuh gairah. Tanganku pun secara bergantian memainkan kedua payudaranya yang kenyal dan selangkangannya yang mulai basah. Aku tahu, perempuan itu sudah kepengin disetubuhi. Namun aku sengaja membiarkan dia menjadi penasaran sendiri.</p>
<p style="text-align: justify;">Tetapi lama-lama aku tidak tahan juga, batang kemaluanku pun sudah ingin segera menggenjot liang kenikmatannya. Pelan-pelan aku mengarahkan barangku yang kaku dan keras itu ke arah selangkangannya. Ketika mulai menembus liang kenikmatannya, kurasakan tubuh Ibu Shinta agak gemetar. &#8220;Ohh&#8230;&#8221;, desahnya ketika sedikit demi sedikit batang kemaluanku masuk ke liang kenikmatannya. Setelah seluruh barangku masuk, aku segera bergoyang naik turun di atas tubuhnya. Aku makin terangsang oleh jeritan-jeritan kecil, lenguhan serta kedua payudaranya yang ikut bergoyang-goyang.</p>
<p style="text-align: justify;">Tiga menit setelah kugenjot, Ibu Shinta menjepitkan kedua kakinya ke pinggangku. Pinggulnya dinaikkan. Tampaknya dia akan orgasme. Genjotan batang kemaluanku kutingkatkan. &#8220;Ooo&#8230; ahh&#8230; hmm&#8230; ssshh&#8230;&#8221;, desahnya dengan tubuh menggelinjang menahan kenikmatan puncak yang diperolehnya. Kubiarkan dia menikmati orgasmenya beberapa saat. Kuciumi pipi, dahi, dan seluruh wajahnya yang berkeringat. &#8220;Sekarang Ibu Shinta berbalik. Menungging di atas meja.., sekarang kita main dong di atas meja ok!&#8221; Aku mengatur badannya dan Ibu Shinta menurut. Dia kini bertumpu pada siku dan kakinya. &#8220;Gaya apa lagi ini?&#8221;, tanyanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah siap aku pun mulai menggenjot dan menggoyang tubuhnya dari belakang. Ibu Shinta kembali menjerit dan mendesah merasakan kenikmatan yang tiada taranya, yang mungkin selama ini belum pernah dia dapatkan dari suaminya. Setelah dia orgasme sampai dua kali, kami istirahat.&#8221;Capek?&#8221;, tanyaku. &#8220;Kamu ini aneh-aneh saja. Sampai mau remuk tulang-tulangku&#8221;.&#8221;Tapi kan nikmat Bu..&#8221;, jawabku sambil kembali meremas payudaranya yang menggemaskan.&#8221;Ya deh kalau capek. Tapi tolong sekali lagi, aku pengin masuk agar spermaku keluar. Nih sudah nggak tahan lagi batang kemaluanku. Sekarang Ibu Shinta yang di atas&#8221;, kataku sambil mengatur posisinya.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku terletang dan dia menduduki pinggangku. Tangannya kubimbing agar memegang batang kemaluanku masuk ke selangkangannya. Setelah masuk tubuhnya kunaik-turunkan seirama genjotanku dari bawah. Ibu Shinta tersentak-sentak mengikuti irama goyanganku yang makin lama kian cepat. Payudaranya yang ikut bergoyang-goyang menambah gairah nafsuku. Apalagi diiringi dengan lenguhan dan jeritannya saat menjelang orgasme. Ketika dia mencapai orgasme aku belum apa-apa. Posisinya segera kuubah ke gaya konvensional. Ibu Shinta kurebahkan dan aku menembaknya dari atas. Mendekati klimaks aku meningkatkan frekuensi dan kecepatan genjotan batang kemaluanku. &#8220;Oh Ibu Shinta.., aku mau keluar nih ahh..&#8221; Tak lama kemudian spermaku muncrat di dalam liang kenikmatannya. Ibu Shinta kemudian menyusul mencapai klimaks. Kami berpelukan erat. Kurasakan liang kenikmatannya begitu hangat menjepit batang kemaluanku. Lima menit lebih kami dalam posisi rileks seperti itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Kami berpelukan, berciuman, dan saling meremas lagi. Seperti tak puas-puas merasakan kenikmatan beruntun yang baru saja kami rasakan. Setelah itu kami bangun di pagi hari, kami pergi mencari sarapan dan bercakap-cakap kembali. Ibu Shinta harus pergi mengajar hari itu dan sorenya baru bisa kujemput.</p>
<p style="text-align: justify;">Sore telah tiba, Ibu Shinta kujemput dengan mobilku. Kita makan di mall dan kami pun beranjak pulang menuju tempat parkir. Di tempat parkir itulah kami beraksi kembali, aku mulai menciumi lehernya. Ibu Shinta mendongakkan kepala sambil memejamkan mata, dan tanganku pun mulai meremas kedua buah dadanya. Nafas Ibu Shinta makin terengah, dan tanganku pun masuk di antara kedua pahanya. Celana dalamnya sudah basah, dan jariku mengelus belahan yang membayang. &#8220;Uuuhh.., mmmhh..&#8221;, Ibu Shinta menggelinjang, tapi gairahku sudah sampai ke ubun-ubun dan aku pun membuka dengan paksa baju dan rok mininya.</p>
<p style="text-align: justify;">Aaahh..! Ibu Shinta dengan posisi yang menantang di jok belakang dengan memakai BH merah dan CD merah. Aku segera mencium puting susunya yang besar dan masih terbungkus dengan BH-nya yang seksi, berganti-ganti kiri dan kanan. Tangan Ibu Shinta mengelus bagian belakang kepalaku dan erangannya yang tersendat membuatku makin tidak sabar. Aku menarik lepas celana dalamnya, dan nampaklah bukit kemaluannya. Akupun segera membenamkan kepalaku ke tengah ke dua pahanya. &#8220;Ehhh&#8230;, mmmhh..&#8221;. Tangan Ibu Shinta meremas jok mobilku dan pinggulnya bergetar ketika bibir kemaluannya kucumbui. Sesekali lidahku berpindah ke perutnya dan menjilatinya dengan perlahan.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Ooohh.., aduuuhh..&#8221;. Ibu Shinta mengangkat punggungnya ketika lidahku menyelinap di antara belahan kemaluannya yang masih begitu rapat. Lidahku bergerak dari atas ke bawah dan bibir kemaluannya mulai membuka. Sesekali lidahku membelai klitorisnya yang membuat tubuh Ibu Shinta terlonjak dan nafas Ibu Shinta seakan tersendak. Tanganku naik ke dadanya dan meremas kedua bukit dadanya. Putingnya membesar dan mengeras. Ketika aku berhenti menjilat dan mengulum, Ibu Shinta tergeletak terengah-engah, matanya terpejam. Tergesa aku membuka semua pakaianku, dan kemaluanku yang tegak teracung ke langit-langit, kubelai-belaikan di pipi Ibu Shinta. &#8220;Mmmhh&#8230;, mmmhh.., ooohhm..&#8221;. Ketika Ibu Shinta membuka bibirnya, kujejalkan kepala kemaluanku, kini iapun mulai menyedot. Tanganku bergantian meremas dadanya dan membelai kemaluannya. &#8220;Oouuuh Ibu Shinta.., enaaaak.., teruuuss&#8230;&#8221;, erangku.</p>
<p style="text-align: justify;">Ibu Shinta terus mengisap batang kemaluanku sambil tangannya mengusap liang kenikmatannya yang juga telah banjir karena terangsang menyaksikan batang kemaluanku yang begitu besar dan perkasa baginya. Hampir 20 menit dia menghisap batang kemaluanku dan tak lama terasa sekali sesuatu di dalamnya ingin meloncat ke luar. &#8220;Ibu Shinta.., ooohh.., enaaak.., teruuus&#8221;, teriakku. Dia mengerti kalau aku mau keluar, maka dia memperkuat hisapannya dan sambil menekan liang kenikmatannya, aku lihat dia mengejang dan matanya terpejam, lalu.., &#8220;Creet.., suuurr.., ssuuur..&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Oughh.., Jack.., nikmat..&#8221;, erangnya tertahan karena mulutnya tersumpal oleh batang kemaluanku. Dan karena hisapannya terlalu kuat akhirnya aku juga tidak kuat menahan ledakan dan sambil kutahan kepalanya, kusemburkan maniku ke dalam mulutnya, &#8220;Crooot.., croott.., crooot..&#8221;, banyak sekali maniku yang tumpah di dalam mulutnya.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Aaahkk.., ooough&#8221;, ujarku puas. Aku masih belum merasa lemas dan masih mampu lagi, akupun naik ke atas tubuh Ibu Shinta dan bibirku melumat bibirnya. Aroma kemaluanku ada di mulut Ibu Shinta dan aroma kemaluan Ibu Shinta di mulutku, bertukar saat lidah kami saling membelit. Dengan tangan, kugesek-gesekkan kepala kemaluanku ke celah di selangkangan Ibu Shinta, dan sebentar kemudian kurasakan tangan Ibu Shinta menekan pantatku dari belakang. &#8220;Ohm, masuk.., augh.., masukin&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Perlahan kemaluanku mulai menyeruak masuk ke liang kemaluannya dan Ibu Shinta semakin mendesah-desah. Segera saja kepala kemaluanku terasa tertahan oleh sesuatu yang kenyal. Dengan satu hentakan, tembuslah halangan itu. Ibu Shinta memekik kecil. Aku menekan lebih dalam lagi dan mulutnya mulai menceracau, &#8220;Aduhhh.., ssshh.., iya.., terus.., mmmhh.., aduhhh.., enak.., Jack&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Aku merangkulkan kedua lenganku ke punggung Ibu Shinta, lalu membalikkan kedua tubuh kami sehingga Ibu Shinta sekarang duduk di atas pinggulku. Nampak kemaluanku menancap hingga pangkal di kemaluannya. Tanpa perlu diajari, Ibu Shinta segera menggerakkan pinggulnya, sementara jari-jariku bergantian meremas dan menggosok payudaranya, klitoris dan pinggulnya, dan kamipun berlomba mencapai puncak.</p>
<p style="text-align: justify;">Lewat beberapa waktu, gerakan pinggul Ibu Shinta makin menggila dan iapun membungkukkan tubuhnya dengan bibir kami saling melumat. Tangannya menjambak rambutku, dan akhirnya pinggulnya berhenti menyentak. Terasa cairan hangat membalur seluruh batang kemaluanku. Setelah tubuh Ibu Shinta melemas, aku mendorongnya hingga telentang, dan sambil menindihnya, aku mengejar puncak orgasmeku sendiri. Ketika aku mencapai klimaks, Ibu Shinta tentu merasakan siraman air maniku di liang kenikmatannya, dan iapun mengeluh lemas dan merasakan orgasmenya yang kedua. Sekian lama kami diam terengah-engah, dan tubuh kami yang basah kuyup dengan keringat masih saling bergerak bergesekan, merasakan sisa-sisa kenikmatan orgasme.</p>
<p style="text-align: justify;">TAMAT</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ceritasex.cn/bercinta-dengan-guru-bahasa-inggris/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kekasihku Diperkosa Polisi</title>
		<link>http://www.ceritasex.cn/kekasihku-diperkosa-polisi-2/</link>
		<comments>http://www.ceritasex.cn/kekasihku-diperkosa-polisi-2/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 12 Jan 2012 13:24:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cerita Sex</dc:creator>
				<category><![CDATA[anal seks]]></category>
		<category><![CDATA[Daun Muda]]></category>
		<category><![CDATA[Gangbang Rame Rame]]></category>
		<category><![CDATA[Pemerkosaan]]></category>
		<category><![CDATA[anus]]></category>
		<category><![CDATA[budak seks]]></category>
		<category><![CDATA[isep kontol]]></category>
		<category><![CDATA[ngentot]]></category>
		<category><![CDATA[orgasme]]></category>
		<category><![CDATA[perkosa]]></category>
		<category><![CDATA[seks]]></category>
		<category><![CDATA[vira]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ceritasex.cn/?p=3287</guid>
		<description><![CDATA[Saya pertama kenal Vira ketika melihatnya menjadi model cover di sebuah majalah di Jakarta, kemudian ia juga menjadi bintang sinetron Abad 21. Vira berumur 17 tahun, cantik, kulitnya putih mulus, ramah dan yang paling menarik perhatian orang-orang adalah buah dadanya yang bundar dan padat berisi. Semua orang yang menatap Vira pandangannya akan langsung tertarik ke [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Saya pertama kenal Vira ketika melihatnya menjadi model cover di sebuah majalah di Jakarta, kemudian ia juga menjadi bintang sinetron Abad 21. Vira berumur 17 tahun, cantik, kulitnya putih mulus, ramah dan yang paling menarik perhatian orang-orang adalah buah dadanya yang bundar dan padat berisi. Semua orang yang menatap Vira pandangannya akan langsung tertarik ke arah buah dadanya yang membusung. Tidak terlalu besar memang, tapi sangat proporsional engan tubuh dan wajah Vira. Saya berkenalan dengannya, pertama melalui surat kemudian bertemu, sesekali menelepon dirinya. Lama-kelamaan kita semakin sering bertemu dan percakapan yang ada semakin menjurus ke hal-hal yang pribadi. Akhirnya saya memberanikan diri untuk mengajaknya keluar makan malam. Suatu hari saya memberanikan diri untuk mengajaknya dan ternyata Vira senang sekali mendengar ajakan saya, dan langsung setuju. Saya gelisah sekali menunggu pada saat menjemput Vira di rumahnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah pulang kerja dan berganti pakaian saya menjemput Vira, untuk kemudian makan malam di sebuah restoran. Di sana kami bercakap-cakap panjang lebar, setelah itu dilanjutkan sebuah diskotik untuk sedikit menggoyangkan tubuh dan minum. Di tengah-tengah percakapan di diskotik, Vira mengajak saya untuk kembali ke rumahnya dan melanjutkan sisa malam itu di rumahnya. Bagaimana saya bisa menolak tawaran itu?</p>
<p style="text-align: justify;">Sepanjang perjalanan pulang Vira berkata bahwa ia belum pernah mengalami hari yang menyenangkan seperti yang baru ia alami malam itu, dan ia juga berkata, di rumah nanti giliran dirinya yang akan membuat diri saya tidak akan melupakan malam ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Saya begitu bergairah dan berhasrat untuk lekas-lekas sampai ke rumah Vira, ketika tanpa sadar saya mengendarai mobil melebihi batas maksimal kecepatan di jalan. Tiba-tiba saya tersadar ketika di sebelah kanan sudah ada mobil Polantas yang berusaha menghentikan mobil saya. Saya meminggirkan mobil di tempat parkir sebuah toko dan menunggu Polantas tadi mendekati mobil kami. Ia bertanya hendak ke mana kami sampai-sampai kami membawa mobil itu melebihi batas kecepatan. Rupanya alasan saya tidak masuk akal sehingga Polantas tadi meminta STNK dan SIM saya.<br />
<span id="more-3287"></span><br />
Setelah melihat surat-surat itu Polantas itu menjengukkan kepalanya ke dalam mobil kami dan lama sekali mengamati Vira yang duduk terdiam. &#8220;Anda harus meninggalkan mobil Anda di sini dan ikut saya ke kantor&#8221;, perintah Polantas tadi. Akhirnya sepuluh menit kemudian kami sampai ke sebuah kantor polisi yang terpencil di pinggir kota.</p>
<p style="text-align: justify;">Waktu itu sudah lewat pukul 11 malam, dan dalam kantor polisi itu tidak terdapat siapa pun kecuali seorang Sersan yang bertugas jaga dan Polantas yang membawa kami. Ketika kami masuk, Sersan itu memandangi tubuh Vira dari bawah hingga ke atas, kelihatan sekali ia menyukai Vira. Kami dimasukkan ke dalam sel terpisah, saling berseberangan.</p>
<p style="text-align: justify;">Sepuluh menit kemudian, Polantas yang berumur sekitar 40-an dan berbadan gemuk dan Sersan yang tinggi besar berbadan hitam, dan umurnya kira-kira 45 tahun kembali ke ruang tahanan. Polantas tadi berkata, &#8220;Kalian seharusnya jangan mengemudi sampai melebihi batas kecepatan yang ada. Tapi kita semua bener-benar kagum, soalnya dari semua yang kami tangkap baru kali ini kita dapat orang yang cantik seperti kamu.&#8221; Sersan tadi menimpali, &#8220;Betul sekali, dia bener-bener kualitas nomer satu!&#8221; Saya sangat takut mendengar nada bicara mereka, begitu juga Vira yang terus-menerus ditatap oleh mereka berdua.</p>
<p style="text-align: justify;">Mereka lalu membuka sel Vira dan masuk ke dalam. &#8220;Sekarang denger gadis manis, kalau kamu berkelakuan baik, kita akan lepasin kamu dan pacar kamu itu. Mengerti!&#8221; Sersan tadi langsung memegangi kedua tangan Vira sementara Polantas menarik kaos yang dikenakan Vira ke atas. Dalam sekejap seluruh pakaian Vira berhasil dilucuti tanpa perlawanan berarti dari Vira yang terus dipegangi oleh Sersan. &#8220;Wow, lihat dadanya.&#8221; Vira terus meronta-ronta tanpa hasil, sementara Sersan yang tampaknya sudah bosan dengan perlawanan Vira, melemparkan tubuh Vira hingga jatuh telentang ke atas ranjang besi yang ada di sel Vira. Dan dengan cepat diambilnya borgol dan diborgolnya tangan Vira ke rangka di atas kepala Vira.</p>
<p style="text-align: justify;">Kemudian mereka dengan leluasa menggerayangi tubuh Vira. Mereka meremas-remas dan menarik buah dada Vira, kemudian memilin-milin puting susunya sehingga sekarang buah dada Vira mengeras dan puting susunya mengacung ke atas. Kadang mereka mengigit puting susu Vira, sedangkan Vira hanya bisa meronta dan menjerit tak berdaya.</p>
<p style="text-align: justify;">Saya berdiri di dalam sel di seberang Vira tak berdaya untuk menolong Vira yang sedang dikerubuti oleh dua orang itu. Kedua polisi itu lalu melepaskan pakaian mereka dan terlihat jelas kedua batang kemaluan mereka sudah keras dan tegang dan siap untuk memperkosa Vira. Polantas mempunyai batang kemaluan paling tidak sekitar 25 senti, dan Sersan mempunyai batang kemaluan yang lebih besar dan panjang. Vira menjerit-jerit minta agar mereka berhenti, tapi kedua polisi itu tetap mendekatinya.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Lebih baik kamu tutup mulut kamu atau kita berdua bisa bikin ini lebih menyakitkan daripada yang kamu kira.&#8221; kata Polantas.&#8221;Sekarang mendingan kamu siap-siap buat muasin kita dengan badan kamu yang bagus itu!&#8221;"Dia pasti sempit sekali&#8221;, kata Sersan sambil memasukan jari-jarinya ke lubang kemaluan Vira.Ia menggerakkan jarinya keluar masuk, membuat Vira menggelinjang kesakitan dan berusaha melepaskan diri.&#8221;Betul kan, masih sempit sekali.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Kemudian Polantas tadi naik ke atas ranjang di antara kedua kaki Vira. Kemudian mereka membuka kaki Vira lebar-lebar dan Polantas memasukkan batang kemaluannya ke dalam lubang senggama Vira. Vira mengeluarkan jeritan yang keras sekali, ketika perlahan batang kemaluan Polantas membuka bibir kemaluan, dan masuk senti demi senti tanpa berhenti. Kadang ia menarik sedikit batang kemaluannya untuk kemudian didorongnya lebih dalam lagi ke lubang kemaluan Vira.</p>
<p style="text-align: justify;">Sementara itu, Sersan naik dan mendekati wajah Vira, mengelus-elus wajah Vira dengan batang kemaluannya. Mulai dari dahi, pipi kemudian turun ke bibir. Vira menggeleng-gelengkan kepalanya agar tidak bersentuhan dengan batang kemaluan Sersan yang hitam.&#8221;Ayo dong manis, buka mulut kamu&#8221;, kata Sersan sambil meletakkan batang kemaluannya di bibir Vira.&#8221;Kamu belum pernah ngerasain punya polisi kan?&#8221; Vira tak bergeming.&#8221;Buka!&#8221; bentak Sersan.&#8221;Buka mulut kamu, brengsek!&#8221; Perlahan mulut Vira terbuka sedikit, dan Sersan langsung memasukkan batang kemaluannya ke dalam mulut Vira.</p>
<p style="text-align: justify;">Mulut Vira terbuka hingga sekitar 6 senti agar semua batang kemaluan Sersan bisa masuk ke dalam mulutnya. Batang kemaluan Sersan mulai bergerak keluar masuk di mulut Vira, saya melihat tidak semua batang kemaluan Sersan dapat masuk ke mulut Vira, batang kemaluan Sersan terlalu panjang dan besar untuk bisa masuk seluruhnya dalam mulut Vira. Ketika Sersan menarik batang kemaluannya terlihat ada cairan yang keluar dari batang kemaluannya. Julurin lidah kamu!&#8221; Vira membuka mulutnya dan mengeluarkan lidahnya. Sersan kemudian memegang batang kemaluannya dan mengusapkan kepala batang kemaluannya ke lidah Vira, membuat cairan kental yang keluar tadi menempel ke lidah Vira.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;San, dia nggak mungkin bisa masukin punya Sersan ke mulutnya, biar saya coba. Gantian!&#8221; Mereka kemudian bertukar tempat, Sersan sekarang ada di antara kaki Vira dan Polantas berjongkok di dekat wajah Vira. Sersan mulai mendorong batang kemaluannya masuk ke liang senggama Vira. Terlihat sekali dengan susah payah batang kemaluan Sersan yang besar itu membuka bibir kemaluan Vira yang masih sempit. Polantas, mengacungkan batang kemaluannya ke mulut Vira. &#8220;Kamu mungkin nggak bisa masukin punya Sersan ke mulut kamu, tapi kamu musti ngerasain punya saya ini, seluruhnya.&#8221; Dengan kasar ia mendorong batang kemaluannya masuk ke mulut Vira, sampai akhirnya batang kemaluan itu masuk seluruhnya hingga sekarang testis Polantas berada di wajah Vira. Ia kemudian menarik batang kemaluannya sebentar untuk kemudian didorongnya kembali masuk ke tenggorokan Vira. Setelah lima kali, keluar masuk, Polantas sudah tidak bisa lagi menahan orgasmenya.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Saya keluuarrhh. Aaahhh!&#8221; Ia tidak menarik batang kemaluannya keluar dari mulut Vira, batang kemaluannya tampak bergetar berejakulasi di tenggorokan Vira, menyemprotkan sperma masuk ke tenggorokannya. Saya mendengar Vira berusaha menjerit, ketika sperma Sersan mengalir masuk ke perutnya. Terlihat sekali Sersan yang sedang mencapai puncak kenikmatan tidak menyadari Vira meronta-ronta berusaha mencari udara.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Iyya&#8230; yaah! Telleeen semuaa! Aaahhh&#8230; aahhh&#8230; nikhmaattt!&#8221;Ketika selesai ia menarik keluar batang kemaluannya dan Vira langsung megap-megap menghirup udara, dan terbatuk-batuk mengeluarkan sperma yang lengket dan berwarna putih. Vira berusaha meludahkan sperma yang masih ada di mulutnya. Polantas tertawa melihat Vira terbatuk-batuk, &#8220;Kenapa? Nggak suka rasanya? Tenang aja, besok pagi, kamu pasti sudah terbiasa sama itu!&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Sementara Sersan yang masih mengerjai kemaluan Vira sekarang malah memegang pinggul Vira dan membalik tubuh Vira. Vira dengan tubuh berkeringat dan sperma yang menempel di wajahnya tersadar apa yang akan dilakukan Sersan pada dirinya, ketika dirasanya batang kemaluan Sersan mulai menempel di lubang anusnya.&#8221;Jangan Pak, jangan! Ampun Pak, ampun, jangan&#8230;&#8221;"Aaahkk! Jangaaan!&#8221;Vira menjerit-jerit ketika kepala batang kemaluan Sersan berhasil memaksa masuk ke liang anusnya. Wajah Vira pucat merasakan sakit yang amat sangat ketika batang kemaluan Sersan mendorong masuk ke liang anusnya yang kecil. Sersan mendengus-dengus berusaha memasukkan batang kemaluannya ke dalam anus Vira. Perlahan, senti demi senti batang kemaluan itu tenggelam masuk ke anus Vira. Vira terus menjerit-jerit minta ampun ketika perlahan batang kemaluan Sersan masuk seluruhnya ke anusnya. Akhirnya ketika seluruh batang kemaluan Sersan masuk, Vira hanya bisa merintih dan mengerang kesakitan merasakan benda besar yang sekarang masuk ke dalam anusnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Sersan beristirahat sejenak, sebelum mulai bergerak keluar masuk. Kembali Vira menjerit-jerit. Sersan terus bergerak tanpa belas kasihan. Batang kemaluannya bergerak keluar masuk dengan cepat, membuat testisnya menampar-nampar pantat Vira. Sersan tidak peduli mendengar Vira berteriak kesakitan dan menjerit minta ampun ketika sodomi itu berlangsung. Saya melihat berulang kali batang kemaluan Sersan keluar masuk anus Vira tanpa henti. Akhirnya Sersan mencapai orgasme ia menarik batang kemaluannya dan sperma menyemprot keluar menyembur ke punggung Vira, kemudian menyembur ke pantat Vira dan mengalir turun ke pahanya, dan terakhir Sersan kembali memasukkan batang kemaluannya ke anus Vira lagi dan menyemprotkan sisa-sisa spermanya ke dalam anus Vira. Sersan kemudian melepaskan pegangannya dari pinggul Vira dan berdua dengan Polantas mereka keluar dari sel dan menguncinya. Saya masih dapat mendengar Sersan berkata pada Polantas, &#8220;Pantat paling hebat yang pernah ada. Dia bener-bener sempit!&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Dini hari, ketika Vira kelelahan menangis dan merintih, mereka berdua dengan langkah sempoyongan dan dengan botol bir di tangan masuk kembali ke dalam sel Vira. Mereka menendang tubuh Vira agar terbangun dan mereka mulai memperkosanya lagi. Sekarang Polantas menyodomi Vira sementara Sersan berbaring di bawah Vira dan memasukkan batang kemaluannya ke dalam kemaluan Vira. Kemudian mereka berganti posisi. Mereka juga menyiksa Vira dengan memasukkan botol bir ke dalam liang kemaluan dan anusnya sementara batang kemaluan mereka dimasukkan ke mulut Vira. Mereka terus berganti posisi dan Vira terus menerus menjerit dan menjerit hingga akhirnya ia kelelahan dan tak sadarkan diri. Melihat itu polisi-polisi tersebut hanya tertawa terbahak-bahak meninggalkan tubuh Vira yang memar-memar dan belepotan sperma dan bir.</p>
<p style="text-align: justify;">Keesokan paginya, Sersan masuk dan membuka sel kami.&#8221;Kalian boleh pergi.&#8221;Saya membantu Vira mengenakan pakaiannya. Tubuhnya lemah lunglai berbau bir dan sperma-sperma kering masih menempel di tubuhnya. Kami pergi dari kantor polisi itu dan akhirnya sampai ke rumah Vira. Kemudian saya membersihkan tubuh Vira dan menidurkannya. Ketika saya tinggal, saya mendengar ia merintih, &#8220;Jangan Pak, ampun Pak, sakit&#8230; ampuunn&#8230; sakiiit&#8230;&#8221;.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>TAMAT</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ceritasex.cn/kekasihku-diperkosa-polisi-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Nikmat Karaoke Membawa Sengsara Bagian 2</title>
		<link>http://www.ceritasex.cn/nikmat-karaoke-membawa-sengsara-bagian-2/</link>
		<comments>http://www.ceritasex.cn/nikmat-karaoke-membawa-sengsara-bagian-2/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 12 Jan 2012 12:11:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cerita Sex</dc:creator>
				<category><![CDATA[Daun Muda]]></category>
		<category><![CDATA[Pemerkosaan]]></category>
		<category><![CDATA[Seks Umum]]></category>
		<category><![CDATA[selingkuh]]></category>
		<category><![CDATA[Toket gede]]></category>
		<category><![CDATA[cuki]]></category>
		<category><![CDATA[klitoris]]></category>
		<category><![CDATA[kontol]]></category>
		<category><![CDATA[memek]]></category>
		<category><![CDATA[ngentot]]></category>
		<category><![CDATA[orgasme]]></category>
		<category><![CDATA[seks]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ceritasex.cn/?p=3272</guid>
		<description><![CDATA[&#8220;Uh.. saatnya untuk sedikit beraksi Ded!&#8221; kata Dedi dalam hati, lalu ia berdiri di belakang Shinta. Perlahan-lahan ia mendekati Shinta sampai kemaluannya menyentuh pantat Shinta. Shinta sedikit terkejut. &#8220;Hey, dia sengaja nggak ya?&#8221; pikirnya ragu. Sambil terus membungkuk, Shinta berpura-pura terus sibuk. Tapi sekarang ia menggerakkan pinggulnya pelan ke belakang sehingga menempel ketat dengan tubuh [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">&#8220;Uh.. saatnya untuk sedikit beraksi Ded!&#8221; kata Dedi dalam hati, lalu ia berdiri di belakang Shinta. Perlahan-lahan ia mendekati Shinta sampai kemaluannya menyentuh pantat Shinta. Shinta sedikit terkejut. &#8220;Hey, dia sengaja nggak ya?&#8221; pikirnya ragu. Sambil terus membungkuk, Shinta berpura-pura terus sibuk. Tapi sekarang ia menggerakkan pinggulnya pelan ke belakang sehingga menempel ketat dengan tubuh Dedi di belakang. Dedi mencoba mengatur nafasnya supaya tidak terdengar memburu. &#8220;Lho?? dia tau nggak sih?&#8221; pikirnya sesak. Shinta merasakan ada sesuatu yang keras menempel di pantatnya. &#8220;Ha ha sepertinya Dedi sedang terangsang. Satu sentuhan lagi lalu kuminta dia pulang..&#8221; batin Shinta riang. Lalu ia seperti membaca sesuatu di layar sambil menggerak-gerakkan pantatnya ke kanan dan ke kiri perlahan.</p>
<p style="text-align: justify;">Dedi benar-benar menikmati keadaan itu.&#8221;Oh ternyata nggak sesulit yang kukira, sebentar lagi kita pasti akan bercinta,&#8221; pikirnya sambil meletakkan tangannya di pinggul Shinta.&#8221;Ok Ded ini sudah aku print-kan, kamu tinggal belanja bahan-bahan saja, ok? kamu kalo keluar nanti tutup kembali ya pintunya aku mau kirim e-mail buat sepupuku dulu di sini,&#8221; kata Shinta sambil berbalik dan menyodorkan selembar kertas.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Aaa? dia menyuruhku pulang? jadi tadi itu cuma khayalan saja?&#8221; kata Dedi sambil mengambil kertas dari hadapannya. Ia berjalan keluar dengan pelan berharap Shinta memanggilnya lagi, ternyata tidak!&#8221;He he berani taruhan, pasti Dedi menyesal kalau pernah meminta obat ke sini,&#8221; batin Shinta sambil tersenyum lalu ia mulai mengetik surat.</p>
<p style="text-align: justify;">Tiba-tiba ia merasa tubuhnya tertarik ke belakang. Lalu tubuhnya terangkat dalam pelukan seseorang. Shinta mencoba melihat wajah seseorang yang mengangkatnya.&#8221;Hey Ded! ada apaa? eh turunin aku dong.. Dedi! ini nggak lucu ya?!&#8221; kata Shinta.&#8221;Shinta, sorry ya.. aku nggak bisa tahan. Kamu harus nurut, ok? Aku nggak pengen kamu luka,&#8221; kata Dedi dingin sambil membuang tubuh Shinta di sofa. Shinta menggigil ketakutan.&#8221;Dedi, kamu mau apa? jangan ya? Ded..&#8221; pinta Shinta menghiba ketika ia melihat Dedi membuka celana panjangnya. Dedi sudah tak peduli lagi. &#8220;Dengar Shinta, kalau kamu terus bicara aku bakal&#8230;&#8221; Plak! Dedi merasa pipinya panas. Mendadak birahinya berubah menjadi amarah. Dicengkeramnya baju Shinta lalu dengan sekuat tenaga dibukanya dengan paksa sehingga kancing baju itu jatuh berderai ke lantai. Shinta mulai terisak. Ia ingin teriak tapi tak kuasa mengeluarkan suara. Ia didera ketakutan yang amat sangat yang belum pernah ia alami seumur hidupnya.<br />
<span id="more-3272"></span><br />
Dedi menatap payudara yang terbungkus bra warna krem. &#8220;Hoho ternyata 34B. Bagus. Tidak terlalu besar dan akhirnya aku mengetahuinya walaupun dengan cara begini.&#8221; bathin Dedi sambil mengangkat bra itu ke atas. Kedua kakinya menahan tubuh Shinta bagian bawah sementara tangannya memegang kedua tangan Shinta. Ia mulai menjilati payudara itu. Lidahnya bergerak cepat membuat lingkaran yang mengecil di puting Shinta, Lalu ia menyedotnya keras. Shinta mencoba untuk mengontrol dirinya sehingga ia punya tenaga untuk berteriak. Dibiarkannya Dedi menyedot-nyedot puting susunya. Ia berusaha memblok gairah yang mendadak muncul di dirinya.</p>
<p style="text-align: justify;">Dedi benar-benar merasa sangat bergairah. Kemaluannya menegang keras. &#8220;Aku harus membuatnya terangsang supaya aku tidak terlalu kesulitan memasuki dirinya,&#8221; katanya sambil terus mengulum puting Shinta. Lalu bibirnya pindah ke leher. Dengan jilatan-jilatan kecil yang dibuatnya iabergerak ke arah telinga dan bagian dalam telinga Shinta. Hal itu membuat Shinta melenguh pelan lalu dengan cepat menutup mulut lagi. Dedi mendengar lenguhan itu dan itu menambah semangatnya. Dijilatinya lengan Shinta bagian dalam. Shinta meronta kegelian. &#8220;Ah ini akan memakan waktu..&#8221; kata Dedi. Ia melepaskan pegangan tangannya dari tangan Shinta lalu berbalik ke bawah. Kakinya menekan lengan Shinta sementara tangannya memegang kedua kaki Shinta. Shinta melihat ke atas. &#8220;Ahh.. mengapa tubuhku jadi lemas begini,&#8221; pikirnya sambil terisak.</p>
<p style="text-align: justify;">Dedi membuka rok Shinta ke atas. Dilihatnya paha putih bersih di hadapannya yang langsung ia terkam dengan mulutnya. &#8220;Aah harum sekali tubuh ini,&#8221; dijilatinya sampai pangkal paha, kedua paha itu hanya meronta-ronta pelan tertahan oleh kedua tangan kekar Dedi yang sangat menikmati aroma di pangkal paha Shinta. Dedi menggigit pelan pangkal paha itu sambil terus menjilatinya bergantian kiri dan kanan. Shinta terus mencoba menahan reaksi balik dari dalam dirinya. Ia menegangkan kedua pahanya tapi yang terjadi malah ia merenggangkan pahanya. Dedi menangkap itu sebagai isyarat penerimaan. Lalu diturunkan CD Shinta ke bawah lalu dengan rakus, sebelum dibenamkan mulutnya di sana, dirabanya sejenak, &#8220;Hm sudah lembab,&#8221; pikirnya sambil tersenyum. Dedi tidak bisa melihat memek Shinta dengan jelas tapi ia tak mempedulikannya. Lidahnya menerobos ke dalam dengan cepat dijilatinya seluruh dinding memek Shinta. Ditahannya kedua paha Shinta dengan sikunya, lalu jarinya membuka memek itu, sementara jari lainnya mencari klitoris. Dipindahkan lidahnya ke pangkal paha Shinta lagi sambil memijat pelan klitoris Shinta dengan ibu jari dan jarinya.</p>
<p style="text-align: justify;">Dedi merasa sangat tidak leluasa, ia mengangkat kepalanya dan menoleh ke belakang. &#8220;Shinta aku cuma minta kamu jangan berteriak ok? aku mau berdiri sekarang.. kalau kamu mencoba teriak aku bakal menyakiti kamu lebih dari yang kamu bayangkan, ngerti kamu?!&#8221; kata Dedi sambil mengguncang tubuh Shinta pelan. Shinta tak menjawab, ia hanya terisak dan melempar pandangannya ke samping. Dedi tersenyum berdiri dan berlutut di bawah. Ditariknya kedua kaki Shinta, lalu dibukanya lagi memek Shinta. Kali ini ia dapat melihat memek itu dengan jelas. Dijilatinya pelan semakin lama semakin cepat ke arah klitoris.</p>
<p style="text-align: justify;">Shinta terisak lagi, kali ini ia sendiri tak yakin itu refleksi kesedihan atau gairahnya.Shinta terguncang hebat tubuhnya menggigil setiap kali lidah Dedi menyentuh klitorisnya, ia merasa masih bisa menahan dirinya, tapi gerakan lidah Dedi di klitorisnya membuatnya menahan beban yang sangat berat, dengan satu helaan nafas panjang ia memejamkan matanya dan membiarkan dirinya terbawa.</p>
<p style="text-align: justify;">Shinta mulai merasa ada sesuatu yang berasal dari otot kewanitaannya yang berdenyut seirama detak jantungnya, makin lama perasaan itu makin kuat menjalari otot di pangkal pahanya. Tiba-tiba ia merasa perasaan nikmat menjalar cepat dari memeknya, setiap gerakan lidah Dedi yang berirama tetap di klitorisnya menumpukkan perasaan nikmat yang semakin membesar lalu pandangannya mengabur sejenak, nikmat itu berjalan cepat dari memek menyebar ke seluruh tubuhnya, ke otot di daerah pantatnya, menyelusuri otot belakang tubuhnya menghujam dadanya. Ia merasa putingnya menyusut kecil dan mengeras, telinga, hidung, dan matanya seakan tak berfungsi sejenak.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Aduh.. setan! aku orgasme!&#8221; bathin Shinta pelan.Shinta tersengal sengal mengatur nafasnya. &#8220;Hah.. tenagaku habis untuk menahan diri?!&#8221; Shinta mencoba mengangkat tangannya dengan lemah. Dikumpulkannya kekuatan sejenak, lalu ia mencoba berteriak, &#8220;To.. tolong!&#8221; teriaknya pelan.Dedi merasa terkejut, diangkatnya kepalanya, lalu ia berdiri, &#8220;Aku tadi sudah memperingatkan kamu, supaya jangan..&#8221;Ia berkata sambil meraih vas bunga di sampingnya, &#8220;Coba-coba untuk berteriak?! ternyata kamu kurang jelas ya?&#8221; diletakkan vas itu di samping kepala Shinta lalu dipukulnya hingga berkeping-keping, &#8220;Mengerti Shinta?&#8221;"Aw.. iya, ampun Ded,&#8221; kata shinta sambil kembali terisak-isak.</p>
<p style="text-align: justify;">Dedi membuka celana dan celana dalamnya, lalu ia memegang kemaluannya dan mengarahkannya ke wajah Shinta.&#8221;Tidak, Ded jangan&#8230; aku nggak mau, aku&#8230;&#8221; Shinta memejamkan matanya ketika kemaluan Dedi menyentuh pipinya, lalu ke hidung dan matanya dan turun ke bibirnya. Dedi menggeserkan batang kemaluannya dengan perlahan di bibir Shinta. Lalu ia melihat ada cairan bening di kepala kontolnya lalu diarahkan kepala kontolnya ke bibir Shinta. Lalu ia berjalan dua langkah ke belakang, ditariknya kedua kaki Shinta dan dibukanya paha Shinta lebar-lebar, lalu ia mengarahkan kemaluannya ke memek Shinta. Dedi merasa kontolnya melewati ruang yang sempit. Dibenamkan kontolnya sedalam-dalamnya, dibiarkan sejenak, ia mengangkat kepalanya dan melihat wajah Shinta yang berkerut alisnya, lalu diturunkan lagi wajahnya ke samping kepala Shinta, sambil mulai memompa pantatnya dengan irama yang tetap, selang 15 detik Shinta mulai mendesis seirama gerakan pantatnya, lalu ia menaikkan tempo gerakannya sedikit, Shinta mulai gelisah, mulutnya terbuka, &#8220;Oooh.. ooohh..&#8221;lirihnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Dedi menjadi semakin terangsang setelah mendengar desahan di telinganya. Ia berhenti bergerak, lalu mencabut kontolnya keluar, dilihatnya Shinta masih memejamkan mata sambil membuka mulutnya, lalu digesernya tubuh Shinta menjadi setengah terduduk, kakinya menjulur ke lantai. Dengan pelan diangkatnya kedua kaki Shinta, lalu dilingkarkan kedua tangannya melingkari pinggul Shinta. Lalu ia mulai memompa lagi. Pantat Shinta terangkat ke atas oleh tangan Dedi yang melingkar. Shinta merasa tubuhnya dihujami oleh kontol dedi secara kasar, tapi sedikit demi sedikit kenikmatan yang tadi datang lagi membentuk kelompok kecil yang makin membesar, dilemahkan tubuhnya sehingga Dedi bisa mengangkat pinggulnya lebih tinggi. Sementara kedua tangan Shinta berayun-ayun di udara seirama gerakan mereka.</p>
<p style="text-align: justify;">Dedi merasa memek Shinta seakan mengelus-elus seluruh bagian kontolnya, membuat ia merasa geli, memek Shinta terasa sangat hangat dan mencengkeram erat di kontolnya, ia mulai mempercepat gerakannya, dirasakannya tubuh Shinta mulai menegang. Sambil terus memompa ia melihat sekeliling, lalu pandangannya terbentur ke foto perkawinan Shinta dan Boy. Tiba-tiba perasaannya meninggi, ia melihat Shinta tampak anggun dengan baju pengantinnya, lalu dialihkan pandangannya ke bawah dimana Shinta terayun-ayun tak berdaya dan sedang mendaki puncak dengannya.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Ah Shinta kamu cantik sekali..&#8221; katanya.Shinta membuka matanya, menatap sayu ke Dedi, ia berusaha tak menjawab tetapi mulutnya mengeluarkan erangan tak jelas, &#8220;Aah.. a..aah..&#8221; Dedi merasa ia akan orgasme, diangkatnya lagi pinggul Shinta lebih tinggi membuat tubuh Shinta tertekuk di udara, lalu dengan kecepatan penuh ia menggerakkan pantatnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Shinta merasa pandangannya kembali gelap, seluruh tubuhnya mengejang, tubuhnya seakan dihujani oleh kenikmatan badani yang tidak bisa ia ketahui kapan berakhirnya, lalu ia merasa ada cairan hangat menyentuh ujung liang senggamanya dan tubuh Dedi mengejang keras di atasnya, membuat perasaanya sangat aneh, ia tak pernah mengalami sensasi bercinta seperti ini. Sementara Dedi memeluk erat tubuh Shinta, dibiarkan kontolnya menguras spermanya di dalam memek Shinta.Aroma tubuh Shinta menjadi semakin jelas di hidung Dedi ketika ia mengalami orgasme ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Dedi menarik dirinya dan berdiri, sambil memunguti pakaiannya ia berjalan ke arah dapur. Ketika ia menuangkan air ke dalam mulutnya. Tiba-tiba akal sehatnya kembali, cepat-cepat ia memakai pakaiannya dan berlari ke ruang tamu, didapatinya Shinta sedang memeluk kedua kaki sambil melamun.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Shinta.. eh, aku mau..&#8221; kata Dedi gugup, lalu ia melangkah hendak membuka pintu keluar.Shinta memandang Dedi. Lalu memanggil, &#8220;Ded..&#8221;Dedi menoleh ke belakang, Shinta berdiri dan berkata, &#8220;Aku mau bicara nanti, matikan answering machine telepon kamu ok?&#8221;Dedi mengangguk heran lalu berkata, &#8220;Aku minta maaf Shin, karena&#8230;&#8221;Tak selesai perkataannya karena pintu itu terbanting tepat di depan hidungnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Tiga jam kemudian Dedi sedang bersiap untuk pergi keluar kota, ia sudah memesan tiket pesawat.&#8221;Kali ini aku menikmati Bali,&#8221; katanya sambil menatap tiketnya.Tiba-tiba telepon rumahnya berdering, &#8220;Haloo!&#8221; katanya riang.&#8221;Ded.. ini Shinta, aku ingin kamu sekarang ke rumah, puaskan aku lagi, lagi dan setiap saat aku menginginkannya, kalau kamu menolak aku punya rekaman video kejadian tadi siang yang siap disaksikan oleh Boy dan Polisi, aku harap kamu bisa bekerja sama, ok?&#8221; lalu terdengartelepon tertutup.Dedi tak mempercayai pendengarannya, ditatapnya tiket pesawatnya, kepalanya mendadak pusing, ini bukan lagi pemenuhan fantasinya, ia merasa sangat bingung. Dibantingnya koper ke dinding lalu ia ke kamar mandi untuk mencuci wajahnya.&#8221;Tidak..! ini mimpi buruk, ayo bangun Ded, liburan sudah menunggu!&#8221;Ketika berjalan ke wastafel dilihat wajahnya di cermin, &#8220;Ayo, mana wajah predator ini?&#8221;Terpantul wajah yang sama di cermin, namun sekarang adalah wajah budak seksual.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>TAMAT</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ceritasex.cn/nikmat-karaoke-membawa-sengsara-bagian-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Nikmat Karaoke Membawa Sengsara Bagian 1</title>
		<link>http://www.ceritasex.cn/nikmat-karaoke-membawa-sengsara-bagian-1/</link>
		<comments>http://www.ceritasex.cn/nikmat-karaoke-membawa-sengsara-bagian-1/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 18 Dec 2011 09:00:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cerita Sex</dc:creator>
				<category><![CDATA[Gangbang Rame Rame]]></category>
		<category><![CDATA[kisah nyata]]></category>
		<category><![CDATA[Sedarah]]></category>
		<category><![CDATA[Seks Umum]]></category>
		<category><![CDATA[anna]]></category>
		<category><![CDATA[erotis]]></category>
		<category><![CDATA[gairah]]></category>
		<category><![CDATA[gangbang]]></category>
		<category><![CDATA[karaoke]]></category>
		<category><![CDATA[ngentot]]></category>
		<category><![CDATA[orgy]]></category>
		<category><![CDATA[Pemerkosaan]]></category>
		<category><![CDATA[sensual]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ceritasex.cn/?p=3252</guid>
		<description><![CDATA[Kejadian ini terjadi karena saya dan pacar saya, Anna, pergi berkaraoke baik beramai-ramai dengan teman-teman kami maupun hanya kami berdua. Suatu hari saya diberitahu oleh teman saya bahwa ada sebuah tempat karaoke di Kelapa Gading yang memutarkan lagu-lagu karaoke dengan gambar-gambar wanita telanjang. Karena penasaran dan ingin mengetahui lebih lanjut saya mengajak Anna untuk pergi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Kejadian ini terjadi karena saya dan pacar saya, Anna, pergi berkaraoke baik beramai-ramai dengan teman-teman kami maupun hanya kami berdua. Suatu hari saya diberitahu oleh teman saya bahwa ada sebuah tempat karaoke di Kelapa Gading yang memutarkan lagu-lagu karaoke dengan gambar-gambar wanita telanjang. Karena penasaran dan ingin mengetahui lebih lanjut saya mengajak Anna untuk pergi berkaraoke di tempat tersebut.</p>
<p style="text-align: justify;">Saat malam minggu, sekitar jam 22.30 saya mengajak Anna untuk berkaraoke di tempat tersebut dan Anna pun tidak keberatan, sebelumnya saya telah memberitahukan Anna situasi dan keadaannya. Sesampai di sana saya langsung membooking sebuah ruangan VIP, kami terpaksa membooking ruangan untuk sepuluh orang karena ruangan itu yang paling kecil. Lalu kami pun diantar oleh seorang wanita menuju ke ruangan yang telah kami booking. Sesampainya di ruangan, wanita tersebut menawarkan minuman dan makanan. Kami hanya memesan minuman dan makanan kecil saja, kacang garing, karena baru sejam yang lalu kami makan. Setelah menerima orderan, wanita tersebut langsung ke luar. Sementara itu kami berdua mulai memilih lagu yang ingin kami nyanyikan maupun hanya untuk didengar. Dua buah lagu telah selesai kami nyanyikan dan pintu terbuka kembali dan masuklah wanita tadi sambil membawa pesanan kami.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah lama menunggu, kami merasa penasaran karena gambar-gambar yang hot belum juga muncul di layar TV dan ternyata gambar-gambar hot itu baru mulai muncul setelah jam 23.30 WIB. Melihat gambar-gambar wanita telanjang itu membuat saya mulai tinggi nafsu seksnya. Saya mulai merapatkan duduk saya dengan Anna dan mulai melingkarkan tangan saya di pinggangnya. Anna rupanya peka akan perubahan keadaan yang terjadi dan ia pun mulai menyandarkan tubuhnya ke dada saya sambil terus bernyanyi. Saya sudah sulit berkonsentrasi dengan teks-teks yang tertulis di layar TV, tangan saya pun mulai menjalankan tugasnya.<br />
<span id="more-3252"></span><br />
Pertama saya mulai meraba-raba punggungnya dan kemudian perlahan tapi pasti tangan saya mulai berpindah ke bagian depan, tangan saya mulai menyentuh gumpalan daging yang terbungkus rapi oleh BH berenda yang agak tipis. Saya mulai meremas-remas ke dua gumpalan daging dengan bernafsu, Anna mulai mengeluarkan desahan-desahan lembut yang menggoda. Desahan Anna itu semakin membuat nafsu seks saya semakin meningkat dan segera tangan saya menyelinap di balik kaosnya yang ketat dan langsung saya lepaskan cantelan BH di punggungnya yang mulus. &#8220;Kunci dulu pintunya sayang, entar kalo ada yang masuk gimana&#8221;, kata Anna, bergegas aku menghampiri pintu dan mencari kuncinya. Pintunya tidak berkunci, segera saya berputar otak. Sofa yang ada di dekat pintu saya dorong hingga menempel dengan pintu, lumayan pintu itu tidak dapat langsung terbuka karena terganjal oleh sebuah sofa.</p>
<p style="text-align: justify;">Langsung saya balik ke sofa tempat saya duduk semula dan mulai melepaskan kaos dan beha yang dikenakan Anna. Kali ini Anna tidak keberatan dengan tindakan saya malah membantu saya melepaskan kaos yang dikenakannya. Begitu kaos dan BH itu terlepas saya melihat dua buah gumpalan daging yang sangat menggemaskan, ukurannya tidak terlalu besar tapi sangat proporsional dengan tubuh Anna yang ramping. Walaupun sering melihat Anna telanjang bulat, akan tetapi saya selalu terpesona jika melihat buah dada Anna yang indah dan sekal itu. Tak kubiarkan diriku terpesona terlalu lama, langsung kuraih buah dada Anna yang sudah menantang untuk diremas-remas dan dihisap-hisap. Desahan halus kembali terdengar ketika tanganku mulai meremas-remas buah dadanya dan disertai dengan hisapan maupun jilatan. &#8220;Ahh&#8230; ahh&#8230; ahh&#8230;, nikmat, nikmat, teruskan sayang jangan dilepaskan hisapannya&#8221;, Anna bergumam dengan penuh nafsu.</p>
<p style="text-align: justify;">Melihat Anna yang sudah mulai tinggi nafsunya, segera tangan saya pun berpindah ke paha. Tangan saya pun mulai menyusup di bawah rok mininya dan mulai meraba-raba paha yang putih mulus, sampai tangan saya meyentuh CD-nya yang juga berenda. Segera saya pelorotkan CD itu dan tangan saya pun kembali bergerilya di pahanya sampai di sebuah bukit kecil yang tandus, Anna baru saja mencukur habis bulu rambut kemaluannya, sehingga saya dapat dengan leluasa menemukan celah di bukit itu. Segera tangan saya mulai menyusup masuk ke dalam celah dan mulai memainkan clitorisnya yang empuk dan legit. Tubuh Anna mulai bergetar sambil terus mengeluarkan suara desahan-desahan nikmat, ahh&#8230; ahh&#8230; ahh&#8230;, nikmat sayang, nikmat sekali, sambil disertai dorongan pantat Anna. Saya pun semakin bernafsu untuk meremas-remas kemaluannya.</p>
<p style="text-align: justify;">Tiba-tiba Anna bangkit dari duduknya sambil berkata, &#8220;Mas mau lihat saya menari striptease tidak?&#8221; Walaupun agak sedikit kaget karena Anna tiba-tiba berdiri mendadak, segera aku menganggukkan kepala pertanda setuju dengan usulnya. Anna pun kembali mengenakan seluruh pakaiannya dan mulai memilih lagu yang akan menemaninya menari-nari.</p>
<p style="text-align: justify;">Anna mulai berdiri di tengah-tengah ruangan dan ketika lagu mulai dilantunkan, tubuh Anna mulai meliuk-liuk mengikuti irama lagu. Anna meliuk-liukkan tubuh yang sintal dengan lemas dan menggairahkan, Anna sesekali meremas-remas buah dadanya dan juga terkadang meraba-raba kemaluannya sambil menjulurkan lidahnya. Satu lagu berlalu, Anna pun mulai menanggalkan kaos dan BH-nya, sambil terus meliuk-liukkan tubuhnya. Saya sebenarnya sudah tidak dapat menahan nafsu seks saya lagi, apalagi melihat buah dada Anna bergoyang-goyang dengan indahnya. Melihat saya yang mulai blingsatan karena nafsu, Anna semakin hot meliuk-liukkan tubuhnya yang sintal dan tiba-tiba ia melepaskan rok mininya terus melemparkannya ke saya. &#8220;Buka, buka, buka CD-nya&#8221;, kataku. Mendengar teriakanku Anna semakin kerasukan dan ia semakin bernafsu meliuk-liukkan badannya sambil terus meremas-remas buah dadanya supaya saya semakin bernafsu.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah puas melakukan gerakan-gerakan yang merangsang, Anna membelakangiku dan mulai memelorotkan CD secara perlahan-lahan yang semakin membuat nafsuku tidak tertahankan lagi. Segera saya tubruk tubuhnya dan kuremas-remas buah dadanya dari belakang. Tanganku dengan cepat menarik lepas CD-nya yang masih menempel di kakinya dan tanganku langsung menyusup ke celah di bukitnya yang tandus. Anna pun menjerit kenikmatan, &#8220;Aahh&#8230; ahh&#8230; ahh&#8230; nikmat, nikmat sekali teruskan, teruskan ahh, ahh, ohh&#8230; Mas, Anna sudah tidak tahan nich pingin ngerasain tusukan pedang Mas yang kuat dan perkasa&#8221;, katanya. &#8220;Ok, Anna&#8221;, segera kulepaskan baju dan celana jeans yang kukenakan.</p>
<p style="text-align: justify;">Tiba-tiba aku teringat bahwa aku membawa seutas tali dan penutup mata yang akan kugunakan untuk mengikat tangan Anna dan juga menutupi kedua matanya. Segera kusampaikan gagasanku itu sambil terus merangsangnya dengan remasan-remasan di buah dadanya maupun di kemaluannya. Anna mengangguk-angguk tanda ia menyetujui gagasanku itu, segera aku mendudukkan tubuh Anna kembali di sofa dan saya pun mulai mengikat kedua tangannya di sofa dan kemudian matanya pun kututupi dengan selembar kain. Nafsuku benar-benar memuncak melihat Anna yang dalam keadaan telanjang bulat, terikat dan tertutup matanya. Melihat Anna yang sudah tidak berdaya dan pasrah, saya pun langsung membuka CD yang kukenakan dan mengacunglah penis yang keras dan gagah.</p>
<p style="text-align: justify;">Ketika saya ingin mendekat ke tubuh Anna yang sedang duduk bersandar dengan pasrahnya, tiba-tiba tubuh saya disergap dari belakang oleh tiga laki-laki yang kekar dan langsung mulut saya dibekap dengan sebuah gumpalan kain. Tubuh saya didudukkan di sofa berseberangan (sofa di ruangan itu berbentuk huruf U) dengan tubuh telanjang Anna dan tubuh saya pun diikat dengan kuat dan erat. &#8220;Sorry yach, gue pinjem dulu wanita lu, lu nontonin aje kami bertiga menikmati tubuh wanita lu, ok.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Selesai membereskan aku hingga tak berdaya, ketiga laki-laki itu mulai menghampiri tubuh Anna yang masih telanjang dan duduk bersandar dengan pasrahnya menunggu untuk disetubuhi.</p>
<p style="text-align: justify;">Melihat tubuh Anna yang telanjang bulat tanpa seutas benang, dengan buah dadanya yang sekal dan menantang serta bukit kemaluannya yang tandus telah membuat nafsu seks ketiga laki-laki itu meninggi. Mereka pun lalu melakukan undian terlebih dahulu untuk menentukan siapa yang berhak menikmati Anna terlebih dahulu. Ternyata yang menang adalah laki-laki yang agak kekar dan berkulit gelap, ia tersenyum menyeringai dan segera menghampiri Anna dan mulai meremas-remas buah dadanya. Anna tidak menyadari bahwa yang meremas-remas buah dadanya bukanlah saya lagi, Anna hanya mengeluarkan lenguhan-lenguhan nikmat, &#8220;Ahh, ahh, ahh, nikmat, nikmat sayang terus, terus, hisap, hisap sayang.&#8221; Mendengar permintaan Anna untuk menghisap buah dadanya, langsung laki-laki itu menghisap-hisap buah dada Anna yang menantang.</p>
<p style="text-align: justify;">Hisapan dan jilatan laki-laki itu semakin membuat Anna bernafsu, terlihat dari tubuhnya yang mengejang-ngejang dan juga puting susunya tampak menegang. Anna sudah tidak dapat lagi menahan nafsunya, &#8220;Ayo sayang masukkan barangmu, cepat sayang, ahh, ahh, aah, aku sudah tidak tahan lagi nich&#8221;, seru Anna. Permintaan Anna segera disambut dengan tusukan kemaluan laki-laki itu yang berukuran cukup besar, panjangnya sekitar 17 cm dan tebalnya sekitar 4 cm. Mulanya ujung kemaluan laki-laki itu hanya menempel di kemaluan Anna dan perlahan tapi pasti ia mulai menggoyangkan pantatnya sehingga kemaluannya mulai menusuk ke dalam kemaluan Anna. Setelah yakin kemaluannya pada arah yang benar, langsung laki-laki itu menghentakkan pantatnya dengan keras sehingga amblaslah seluruh kemaluannya ke dalam kemaluan Anna. Ahh&#8230; ah&#8230; ahh, ooohh, nikmat sayang, nikmat, ohh&#8230; nikmatnya.&#8221; Desahan Anna semakin membuat laki-laki itu mempercepat gerakan pantatnya sehingga juga semakin membuat Anna menjerit nikmat.</p>
<p style="text-align: justify;">Melihat temannya sedang asyik menikmati tubuh telanjang Anna, membuat kedua laki-laki yang lainnya menjadi tidak tahan juga. Mereka pun akhirnya menghampiri dan mulai ikut menikmati tubuh Anna dengan meremas-remas dan menjilati serta menghisap buah dada Anna. Karena nafsu sexnya yang sudah memuncak, Anna tidak menyadari bahwa yang menikmati tubuhnya tidak hanya satu orang melainkan tiga orang. Anna hanya terus mengeluarkan suara desahan-desahan nikmat, sampai suatu saat tubuh Anna tiba-tiba mengejang dengan kuat yang menandakan bahwa ia telah mencapai puncak kenikmatan yang ternyata dibarengi oleh tembakan dari kemaluan si laki-laki itu. Satu menit tubuh Anna mengejang-ngejang dengan nikmat dan kemudian tubuh Anna pun mulai melemas.</p>
<p style="text-align: justify;">Bersambung&#8230;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ceritasex.cn/nikmat-karaoke-membawa-sengsara-bagian-1/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ngentot ABG (PANAS)</title>
		<link>http://www.ceritasex.cn/ngentot-abg-panas/</link>
		<comments>http://www.ceritasex.cn/ngentot-abg-panas/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 18 Dec 2011 08:58:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cerita Sex</dc:creator>
				<category><![CDATA[Amoy]]></category>
		<category><![CDATA[Daun Muda]]></category>
		<category><![CDATA[Foto Mesum]]></category>
		<category><![CDATA[abg]]></category>
		<category><![CDATA[cuki]]></category>
		<category><![CDATA[hot]]></category>
		<category><![CDATA[memek]]></category>
		<category><![CDATA[ngentot]]></category>
		<category><![CDATA[panas]]></category>
		<category><![CDATA[pepek]]></category>
		<category><![CDATA[pigtail]]></category>
		<category><![CDATA[seks]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ceritasex.cn/?p=3245</guid>
		<description><![CDATA[Hot Hot Hot&#8230; Panas Panas Panas&#8230; ABG yang panas dan hot memeknya sempit bangetttt!!! ajigile kayak lobang semot merah dan sempit banget, masukin kontol aja susah&#8230; jepitannya gak perlu di tanya deh&#8230; soal gaya mau gaya kodok pun dilayani pokoknya HOT &#38; PANAS!!]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Hot Hot Hot&#8230; Panas Panas Panas&#8230; ABG yang panas dan hot memeknya sempit bangetttt!!! ajigile kayak lobang semot merah dan sempit banget, masukin kontol aja susah&#8230; jepitannya gak perlu di tanya deh&#8230; soal gaya mau gaya kodok pun dilayani pokoknya HOT &amp; PANAS!!</p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2011/12/ngentot-abg-1.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-3246" title="ngentot-abg-1" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2011/12/ngentot-abg-1-300x199.jpg" alt="" width="300" height="199" /></a></p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2011/12/ngentot-abg-2.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-3247" title="ngentot-abg-2" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2011/12/ngentot-abg-2-210x300.jpg" alt="" width="210" height="300" /></a></p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2011/12/ngentot-abg-3.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-3248" title="ngentot-abg-3" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2011/12/ngentot-abg-3-300x204.jpg" alt="" width="300" height="204" /></a></p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2011/12/ngentot-abg-4.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-3249" title="ngentot-abg-4" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2011/12/ngentot-abg-4-300x199.jpg" alt="" width="300" height="199" /></a></p>
<p><span id="more-3245"></span></p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2011/12/ngentot-abg-5.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-3250" title="ngentot-abg-5" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2011/12/ngentot-abg-5-300x199.jpg" alt="" width="300" height="199" /></a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ceritasex.cn/ngentot-abg-panas/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Gairah Tante Vivi Bagian 1</title>
		<link>http://www.ceritasex.cn/gairah-tante-vivi-bagian-1/</link>
		<comments>http://www.ceritasex.cn/gairah-tante-vivi-bagian-1/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 18 Dec 2011 08:47:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cerita Sex</dc:creator>
				<category><![CDATA[Paruh baya]]></category>
		<category><![CDATA[Seks Umum]]></category>
		<category><![CDATA[selingkuh]]></category>
		<category><![CDATA[Tante Girang]]></category>
		<category><![CDATA[erotis]]></category>
		<category><![CDATA[gairah]]></category>
		<category><![CDATA[ml]]></category>
		<category><![CDATA[ngentot]]></category>
		<category><![CDATA[tante]]></category>
		<category><![CDATA[vivi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ceritasex.cn/?p=3243</guid>
		<description><![CDATA[Tante Vivi menyuruhku datang malam ini ke rumahnya. Sebenarnya agak malas juga dan khawatir, bagaimanapun saya lebih senang mengajak Selva, pacarku untuk menemani, ini membuatku ragu-ragu untuk berangkat.9.15 malam: Aku masih ragu-ragu&#8230;, berangkat&#8230;, tidak&#8230;, berangkat&#8230;, tidak.9.25 malam: Akhirnya Tante Vivi tanpa kuduga benar-benar menelepon, kebetulan aku sendiri yang menerima.&#8221;Lho&#8230;, Ar&#8230;, kok kamu belum berangkat, bisa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Tante Vivi menyuruhku datang malam ini ke rumahnya. Sebenarnya agak malas juga dan khawatir, bagaimanapun saya lebih senang mengajak Selva, pacarku untuk menemani, ini membuatku ragu-ragu untuk berangkat.9.15 malam: Aku masih ragu-ragu&#8230;, berangkat&#8230;, tidak&#8230;, berangkat&#8230;, tidak.9.25 malam: Akhirnya Tante Vivi tanpa kuduga benar-benar menelepon, kebetulan aku sendiri yang menerima.&#8221;Lho&#8230;, Ar&#8230;, kok kamu belum berangkat, bisa dateng tidak Ar?..&#8221;, tanyanya kendengaran agak kecewa.&#8221;Mm&#8230;, gimana ya Tante&#8230;, agak gerimis nih di sini&#8230;&#8221;, sahutku beralasan.&#8221;Masa iya Ar&#8230;, yaah&#8230;, kalo gitu Tante jemput aja yaa&#8230;&#8221;, balasnya seolah tak mau kalah. Aku jadi blingsatan dibuatnya.&#8221;Waah&#8230;, tidak usah deh Tante&#8230;, okelah saya ke sana sekarang Tante&#8230;, mm Selva saya ajak ya Tante&#8230;&#8221;, sahutku kemudian. Aku pikir ke sana malm-malam mau tidak mau akhirnya pasti harus nginap. Kalau ada Selva kan aku tidak begitu risih, masa aku bawa Selva pulang malam-malam. Tapi&#8230;&#8221;iih&#8230;, jangan Ar&#8230;, Selva jangan diajak&#8230;, mm pokoknya ke sini aja dulu Ar&#8230;, yaa&#8230;, Tante tunggu&#8230;, Klik&#8221;.</p>
<p style="text-align: justify;">Sekali lagi seolah disengaja Tante Vivi langsung memutuskan hubungan. Sialan pikirku, dia mengerjaiku, ngapain malam-malam ke sana kaya tidak ada waktu siang atau pagi kek. Aku jadi kesal, ngapain Selva kemarin cerita kalau aku banyak ngerti masalah Komputer. Wuueek&#8230;, kaya pakar wae&#8230;, sekarang baru kena getahnya. Akhirnya dengan perasaan malas, malam itu benar-benar agak gerimis, badanku sampai kedinginan terkena rintik air gerimis malam yang dingin.Sekitar pukul 10.00 malam: Aku sampai juga di tempat Tante Vivi, suasana di komplek perumahan itu sudah sepi sekali, aku membuka pintu pagar yang sengaja belum dikunci dan kumasukkan sepeda motor ke dalam.Belum sempat aku mengetuk pintu, ternyata Tante Vivi rupanya sudah mengetahui kedatanganku. Mungkin ia mendengar deru suara motorku ketika datang tadi.&#8221;aahh&#8230;, akhirnya dateng juga kamu Ar&#8230;&#8221;, katanya ramah dari balik pintu depan.&#8221;Iya&#8230;, Tante&#8230;&#8221;, sahutku berusaha ramah, bagaimanapun aku masih setengah kesal, sudah datang malam-malam kehujanan lagi.&#8221;Agak gerimis ya Ar&#8230;&#8221;, tanyanya seolah tak mau tau.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Hsii&#8230;&#8221;, Tanpa sadar aku terbersin.&#8221;Eehh&#8230;, kamu Flu Ar&#8230;&#8221;, tanyanya kemudian.Aku mengusap wajah dan hidungku yang setengah lembab terkena air gerimis. Tante Vivi menarik tanganku masuk ke dalam dan menutup pintu. &#8220;Klik&#8230;&#8221;, sekaligus menguncinya. Aku tak begitu memperhatikannya karena aku sendiri kuatir dengan kondisiku yang terasa agak meriang. Kuusap berulang kali wajahku yang dingin. Lalu tiba-tiba kurasakan sebuah telapak tangan yang hangat dan lembut membantu ikut mengusap pipi kananku. &#8220;Pipimu dingin sekali Ar&#8230;, kamu pasti masuk angin yaa&#8230;, Tante bikinin susu jahe anget yaa&#8230;&#8221;, sahutnya lembut. Aku menoleh dan astaga wajahnya itu begitu dekat sekali dengan mukaku. &#8220;Duh&#8230;, cantiknya&#8221;. Kulitnya yang putih mulus dan halus, matanya yang hitam bulat sedikit sipit dengan bentuk alisnya yang hitam memanjang tanpa celak, hidungnya yang kecil bangir, dan bentuk bibirnya yang menawan tanpa lipstik. Terlihat sedikit tebal dan begitu ranum. Sexy sekali bibirnya. Tante Vivi tersenyum kecil melihatku setengah melongo.<br />
<span id="more-3243"></span><br />
&#8220;Kamu duduk dulu Ar&#8230;, Tante ke belakang dulu&#8230;&#8221;, sahutnya pelan. Tanpa menunggu jawabanku, ia membalikkan tubuh dan bergegas berjalan melintasi ruang tengah menuju ke belakang. Tubuhnya yang tingginya mungkin sekitar 160 cm kelihatan begitu seksi ramping dan padat. Sempat kulihat langkah kakinya yang berjalan sangat elok, saat itu kuingat jelas ia memakai celana Jeans putih ketat serta memakai baju kemeja halus berwarna merah muda dan dibiarkan berada di luar celana. Baju yang dikenakannya seperti umumnya baju kemeja sekarang yang relatif panjang, membuat celana jeans yang dikenakannya tertutup sampai ke atas paha. Namun karena sifatnya yang lemas, membuat bajunya itu seolah menempel ketat pada bentuk tubuhnya yang memang sangat seksi dan montok. Pinggulnya yang bulat padat bergoyang indah kekiri dan kanan. Begitu gemulai bagai penari Jaipong. Kuhempaskan pantatku dengan perasaan lelah di atas sofa empuk ruang tamunya. Aku memandang ke sekeliling ruangan tamunya yang cukup mewah. Lukisan besar pemandangan alam bergaya naturalis tergantung di atas tembok persis di belakang tempat dudukku.</p>
<p style="text-align: justify;">Selebihnya berupa lukisan-lukisan naturalis sederhana yang berbingkai kecil dan sedang tentang suasana kehidupan pulau Bali. Aku tak begitu tertarik dengan lukisan, sehingga aku tak sampai mengamati lama-lama. Sepuluh menit kemudian, Tante Vivi muncul dengan segelas besar susu jahe yang masih kelihatan panas, karena asapnya masih terlihat mengepul. Dengan wajah cerah dan senyum manis bibirnya yang menggemaskan, mau tak mau aku jadi ikutan senang.&#8221;Waah&#8230;, asiik nih kelihatannya&#8230;, wangi lagi baunya&#8230;, mm..&#8221;, kataku spontan.&#8221;Pelan-pelan Ar&#8230;, masih panas&#8230;&#8221;, sahutnya pendek, sambil memberikan minuman jahe itu kepadaku. Lalu tanpa risih ia duduk di sebelahku. Aku jadi deg-degan juga.&#8221;Gimana kuliah Selva Ar&#8230;, kapan nih rencana mau majunya&#8230;&#8221;, tanya Tante Vivi kemudian.&#8221;Entah Tante&#8230;, setahu saya sih bulan depan ini dia harus menyelesaikan seluruh asistensi skripsinya. Soal maju ujian skripsi saya kurang tau Tante..&#8221;, sahutku polos. &#8220;iih.., kamu ini gimana sih Ar&#8230;, pacarnya sendiri kok tidak tahu, asyiik pacaran aja yaa rupanya&#8230;&#8221;, ujar Tante Vivi setengah bercanda.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;aah&#8230;, Tau aja Tante&#8230;, tidak salah&#8230;&#8221;, sahutku sambil ketawa nyaring.&#8221;Kamu menyukai dia Ar&#8230;&#8221;, tanya Tante Vivi kemudian, seolah setengah malas menanggapi candaku.&#8221; Waah&#8230;, Tante ini gimana sih&#8230;, ya jelas dong Tante&#8230;, lagipula sekarang kami sudah sangat serius menjalin hubungan ini&#8230;, saya mencintainya Tante&#8230;&#8221;, sahutku sedikit serius.Tante Vivi tersenyum kepadaku, giginya yang putih bersih terawat kelihatan indah, serasi dengan bentuk bibirnya yang tak terlalu lebar.&#8221;Tidak Ar&#8230;, Tante khan cuman nanya&#8230;, soalnya Tante lihat Selva sayang sekali sama kamu&#8230;&#8221;, ujarnya kemudian.&#8221;Jangan kuatir deh Tante&#8230;&#8221;, sahutku pelan sambil mulutku mulai menyeruput wedang susu jahe bikinannya itu. Terasa sedikit pedas di bibir namun hangat manis di lidah dan kerongkonganku.&#8221;Komputernya di taruh mana Tante&#8230;&#8221;, tanyaku tanpa memandangnya sambil terus seteguk demi seteguk menghabiskan minumanku.&#8221;Tuh&#8230;, di kamar kerja Tante&#8230;&#8221;,sahutnya pendek. Sejenak aku meletakkan minuman dan memandang Tante Vivi yang berada di sebelahku.&#8221;Lalu tunggu apalagi nih&#8230;&#8221;, ujarku setengah bercanda.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Apanya&#8230;?&#8221;, tanya Tante Vivi seakan tak mengerti. Pandangan matanya kelihatan sedikit bingung.&#8221;Lhoh&#8230;, katanya pengen diker&#8230;, eeh diajarin&#8230;&#8221;, lanjutku. Hampir aja aku kelepasan ngomong ngeres, jantungku sampai kaget sendiri dag-dig-dug tidak karuan. Untung tidak kebablasan ngomomg.&#8221;ooh&#8230;, iya.., aduuh Tante sampai kaget&#8230;, Yuk ke kamar Ar&#8230;&#8221;, sahutnya sambil mencolek lenganku. Kami berdiri dan berjalan beriringan ke tempat yang ia maksud. Kami melintasi ruangan tengah yang lebih lapang dan mewah. Kulihat sebuah meja pendek tempat dudukan pesawat Televisi ukuran besar mungkin sekitar 51 inchi lengkap dengan satu set sound systemnya sekaligus berada di sebelah kiri ruang itu. Sedangkan kami menuju ke sebuah ruangan di sebelah kanan yang pintunya sudah setengah terbuka. Tante Vivi menyilahkanku masuk duluan. &#8220;Masuk Ar&#8230;, sorry ruangannya agak berantakan&#8230;&#8221;, ujarnya sambil memberi jalan. Aku masuk dulu kedalam ruangan diikuti Tante Vivi. Ruangan atau kamar itu cukup besar berukuran 5 x 7 meter dan pada umumnya tampak rapi walau masih ada sedikit acak-cakan karena di atas lantai persis di depan tempatku berdiri yang terhampar sebuah karpet berukuran sedang tampak berserakan beberapa majalah wanita yang halamannya masih terbuka disana-sini.</p>
<p style="text-align: justify;">Di depannya ada sebuah meja kerja yang cukup besar, dan di atas meja terdapat beberapa buah buku kecil dan agenda kerja, selain itu terlihat 2 kardus besar dan beberapa kardus kecil yang aku sudah hapal bentuk dan cirinya, apalagi pada kardus besar yang berbentuk kotak itu terdapat tulisan besar GoldStar Monitor. Ketika aku menengok ke sebelah kiri, waah&#8230;, ternyata di situ terdapat sebuah ranjang berukuran sedang. Kasurnya jelas Spring Bed yang terlihat dari ukurannya yang tebal, tertutup dengan sprei berwarna merah jambu. Bantalnya bertumpuk rapi di sisi kiri dan kanan tempat tidur. Di sebelah kiri tempat tidur terdapat sebuah meja kecil dan seperangkat mini stereo. &#8220;Waduuh&#8230;, ini tempat kerja apa kamar Tante&#8230;?&#8221;, tanyaku heran dan kagum. Bagiku ruangan selapang ini terlalu besar untuk kamar tidur. Kamarku sendiri yang berukuran 3&#215;4 meter aja menurutku sudah gede, apalagi sebesar ini.&#8221;Dua-duanya Ar&#8230;, ya kamar kerja ya&#8230;, tempat tidur&#8230;, mm&#8230;, Tante khan cuman sendirian di rumah ini Ar&#8230;&#8221;, sahut Tante Vivi yang berada di sebelah kananku.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Sendirian&#8230;, maksud Tante?&#8221;, tanyaku kepadanya tak mengerti.&#8221;Lhoh&#8230;, apa Selva tidak pernah bilang sama kamu&#8230;, Tante khan&#8230;, sudah bercerai Ar&#8230;&#8221;, sahutnya kemudian. Kedengaran sekali kalimat terakhir yang diucapkannya sedikit terpatah-patah. Astaga&#8230;, seruku dalam hati. Pantas, seolah baru menyadari. Selama ini aku tak pernah ingat apalagi menanyakan tentang suami Tante Vivi ini. Jadi selama ini Tante Vivi itu seorang Janda. Ya ampuun&#8230;, kenapa aku tak menyadari sejak semula. Semenjak pertama kali aku datang ke sini bersama Selva, memang aku tak melihat orang lain lagi selain Inem pembantunya. Waktu itu kupikir suaminya sedang bekerja. Pantas ketika aku datang tadi hanya Tante Vivi sendirian yang menyambutku. Jadii&#8230;, hatiku jadi setengah grogi juga. Aku jadi teringat tentang beberapa kisah nyata di majalah yang pernah kubaca tentang kehidupan seorang janda muda, terutama sekali mengenai soal seks. Pada umumnya katanya mereka sangat mudah dirayu dan tak jarang juga pintar merayu. Jangan-jangan&#8230;, pikirku mulai ngeres lagi.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;ooh&#8230;, maaf Tante saya baru tahu sekarang&#8230;&#8221;, ujarku lirih sejenak kemudian. Tante Vivi tersenyum kecil.&#8221; Udahlah Ar&#8230;, itu masa lalu&#8230;, tidak usah diungkit lagi&#8230;&#8221;, ujarnya setengah menghindar. Terlihat ada setetes air menggenang di pelupuk kedua matanya yang indah. Sedetik kemudian ia sengaja memalingkan mukanya dari tatapanku, mungkin ia tak ingin terlihat sedih di depanku. Kemudian ia berjalan ke depan dan setengah berjongkok memunguti semua majalah yang masih berserakan di atas karpet, spontan aku segera menyusul hendak membantunya.&#8221;Sini Ari bantu Tante&#8230;&#8221;, kataku pendek. Tanpa menoleh ke arahnya aku langsung nimbrung mengumpulkan majalah yang masih tersisa.&#8221;iih sudah Ar&#8230;, tidak usah&#8230;, kok kamu ikutan repot&#8230;&#8221;,sahutnya. Kali ini wajahnya kulihat sudah cerah kembali. Bibirnya yang ranum setengah terbuka menyunggingkan sebuah senyuman manis. Manis sekali. Aku sempat terpana selama 2 detik. &#8221; Tante tidak menikah lagi&#8230;?&#8221;, tanyaku padanya tanpa sadar. Sedikit kaget juga aku dengan pertanyaanku, jangan-janga ia marah atau sedih kembali.</p>
<p style="text-align: justify;">Namun ternyata tidak, sambil tetap tersenyum ia balik bertanya.&#8221;Siapa yang mau sama aku Ar&#8230;?&#8221;"aah&#8230;, Ari kira banyak Tante&#8230;&#8221;"Siapaa&#8230;?&#8221;"Ari juga mau Tante&#8230;&#8221;, kataku cuek, karena maksudku memang bercanda. Ia mendelik lalu sambil setengah ketawa tangannya mencubit lenganku sekaligus mendorongku ke samping.&#8221;Hik&#8230;, hik&#8230;, kamu ini ada-ada aja Ar&#8230;, jangan nyindir gitu dong Ar, memangnya gampang cari laki-laki jaman sekarang&#8230;&#8221;, ujarnya. Lalu kulihat ia terduduk diam seribu bahasa. Aku jadi heran sekaligus geli melihatnya melamun sambil memegangi majalah.&#8221;Kenapa Tante&#8230; &#8220;, tanyaku padanya. Tante Vivi sedikit kaget mendengar pertanyaanku. Namun sambil tersenyum kecut ia hanya menjawab pendek.&#8221;Sudahlah Ar&#8230;, jangan bicara masalah itu&#8230;&#8221;. Akupun tak mengubernya walau sebenarnya masih penasaran apa yang sebenarnya terjadi dulu dengan perceraiannya.Singkat cerita, malam itu aku hanya menghabiskan waktu sekitar 20 menit untuk merakit komputer barunya. Untung saja Tante Vivi membeli komputer jenis Build Up sehingga aku tak perlu untuk memeriksa 2 kali, cuman periksa tegangan input, tinggal sambung kabel ke monitor dan CPU, pasang external modem, pasang speaker aktifnya ke output soundcard, sambung ke stavolt&#8230;, sudah beres.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Sudah beres Tante&#8230;, mm&#8230;, mau sambung ke internet&#8230;?&#8221;, tanyaku puas. Agak keringetan juga rasanya mukaku, walau cuman sekedar sambung sana-sini.&#8221;aah masa&#8230;?, secepat itu Ar&#8230;?&#8221;, tanya Tante Vivi yang sejak tadi juga tak pernah beranjak dari sebelah kananku, asyik melihatku bekerja.&#8221;Lha&#8230;, iya&#8230;, gampang khan&#8230;&#8221;, sahutku pendek. Kupandangi wajah cantiknya yang setengah melongo seolah tak yakin.&#8221;Makanya dicoba dulu dong Tante&#8230;, biar tidak nanya-nanya lagi&#8230;, mana nih stop kontaknya&#8221;, tanyaku kemudian.&#8221;iih&#8230;, hik&#8230;, hik&#8230;, gitu aja sewot&#8230;, jahat kamu Ar&#8230;, hik&#8230;, hik&#8230;, ehem&#8230;, itu ada di belakang meja sebelah bawah Ar&#8230;&#8221;, jawabnya sambil setengah tertawa kecil.Aku melongok ke bawah meja&#8230;, astaga di bawah situ berarti mestinya aku harus merangkak di situ&#8230;, sejenak aku melongo.&#8221;Kenapa Ar&#8230;?&#8221;"Ooh tidak Papa Tante..&#8221;. Akhirnya mau tak mau akhirnya aku harus merangkak masuk ke bawah meja kerjanya yang cukup besar itu sambil tangan kananku menarik kabel power CPU-nya ke bawah. Pengap juga di bawah situ karena memang agak remang, maklum penerangan di kamar ini hanya cuma menggunakan sebuah lampu bohlam sekitar 100 Watt, sinarnya kurang kuat di bawah sini.</p>
<p style="text-align: justify;">Sedang lampu meja kerja terpaksa dimatikan untuk stroom komputer. Setelah terpasang ke stop kontak, sambil setengah merangkak mundur aku langsung membalikkan tubuh dan astaga&#8230;, aku terhenyak kaget karena melihat Tante Vivi ikut juga melongok membungkuk ke bawah meja, tanpa disengaja kedua mataku menyaksikan pemandangan vulgar yang luar biasa indah. Woow, Tante Vivi dengan posisi tubuh seperti itu membuat baju kemejanya yang sedikit gombrong dan karena jenis kainnya yang sangat lemas membuatnya jadi melorot ke bawah pas dibagian dada, apalagi kancing kemejanya yang sedikit rendah, membuat kedua bulatan payudaranya yang sangat besar dan berwarna putih terlihat menggantung bak buah semangka, diantara keremangan aku masih dapat melihat dengan sangat jelas betapa indah kedua bongkah susunya yang kelihatan begitu sangat montok dan kencang. Samar kulihat kedua puting mungilnya yang berwarna merah kecoklatan. &#8220;Yaa aammpuunn&#8230;&#8221;, bisikku lirih tanpa sadar, &#8220;Ia tidak pake Behaa&#8230;&#8221; Tante Vivi semula tak menyadari apa yang terjadi dan apa yang sedang kupelototi, 5 detik saja&#8230;, bagiku itu sudah cukup lama.</p>
<p style="text-align: justify;">Tante Vivi seolah baru menyadari ia menjerit lirih.&#8221;iih&#8230;&#8221;, serunya lirih. Masih dalam posisi membungkuk, tangan kanannya reflek menarik bajunya sampai ke atas leher, setengah pucat ia memandangku lalu berdiri dan mundur 1 langkah. Sudah telanjur, percuma kalau malu, akhirnya dengan cuek aku merangkak ke luar dan berdiri di hadapannya, sambil senyam-senyum seolah tidak salah, akhirnya aku minta maaf juga kepadanya. &#8220;Maaf Tante&#8230;, sa&#8230;, Ari tidak sengaja&#8230;&#8221;, ujarku cuek. Tante Vivi masih dengan sedikit pucat, akhirnya hanya bisa tersenyum kecil. Wajahnya kelihatan memerah.&#8221;Sudahlah&#8230;, Ar&#8230;&#8221;, sahutnya pendek. Dalam hati aku berbisik, lumayan dapat tontonan susu gede gratiss.</p>
<p style="text-align: justify;">Bersambung&#8230;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ceritasex.cn/gairah-tante-vivi-bagian-1/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Istri-Istri Pamanku Bagian 6 (TAMAT)</title>
		<link>http://www.ceritasex.cn/istri-istri-pamanku-bagian-6-tamat/</link>
		<comments>http://www.ceritasex.cn/istri-istri-pamanku-bagian-6-tamat/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 18 Dec 2011 08:24:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cerita Sex</dc:creator>
				<category><![CDATA[Paruh baya]]></category>
		<category><![CDATA[Sedarah]]></category>
		<category><![CDATA[Seks Umum]]></category>
		<category><![CDATA[selingkuh]]></category>
		<category><![CDATA[Tante Girang]]></category>
		<category><![CDATA[birahi]]></category>
		<category><![CDATA[istri]]></category>
		<category><![CDATA[istri pamanku]]></category>
		<category><![CDATA[mesum]]></category>
		<category><![CDATA[nafsu]]></category>
		<category><![CDATA[ngentot]]></category>
		<category><![CDATA[porno]]></category>
		<category><![CDATA[seks]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ceritasex.cn/?p=3229</guid>
		<description><![CDATA[Pinggulku menghentak semakin cepat dan cepat. Tubuh Bi Laha terguncang kesana kemari, dan gelinjangnya tampak sudah tak karuan. Tiba-tiba pahanya menjepit keras, dan pinggulnya yang sedari tadi berputar-putar liar itu diangkat tinggi-tinggi dan.., &#8220;Oooh&#8230; bibi keluar.. bibi keluaarrr&#8230; nggg&#8230;&#8221; Terdengar suara Bi Laha merengek panjang. Tangannya menjambak rambutku dan serta mencakar pundakku. atanya membelalak dan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Pinggulku menghentak semakin cepat dan cepat. Tubuh Bi Laha terguncang kesana kemari, dan gelinjangnya tampak sudah tak karuan. Tiba-tiba pahanya menjepit keras, dan pinggulnya yang sedari tadi berputar-putar liar itu diangkat tinggi-tinggi dan.., &#8220;Oooh&#8230; bibi keluar.. bibi keluaarrr&#8230; nggg&#8230;&#8221; Terdengar suara Bi Laha merengek panjang. Tangannya menjambak rambutku dan serta mencakar pundakku. atanya membelalak dan mulutnya meringis. Otot wajahnya tegang seperti orang yang tengah melahirkan. Ketika itu juga penisku terasa hangat disemprot oleh cairan orgasme Bi Laha. Dan dinding vaginanya seperti menyempit meremas-remas penisku. {{aahh, Rafiii&#8230; aahh aku.. aku juga keluaarrr&#8230; Nuke menghempaskan tubuhnya ke tembok. Gagang teleponnya terjatuh ke lantai.}} Suara apa itu? Seperti keluar dari gagang telepon yang tergeletak di sisi kepala Bi Laha yang kini terbaring lemas, seperti orang yang kehilangan tulang-belulang. Ah, mungkin cuma imajinasiku saja. Aku menghentikan aktifitasku, dan menikmati keindahan wajah isteri pamanku yang sedang mengalami orgasmenya.</p>
<p style="text-align: justify;">Pipi ranum perempuan itu kini tampak memerah, buah dadanya mulai naik turun dengan irama teratur. Pelan-pelan wajah cantik itu membuka matanya, lalu dengan lembut ia mencium keningku dan dengan penuh kasih sayang memelukku erat.&#8221;Terima kasih sayang, terima kasih.&#8221; Bi Laha memandangku dengan mata berbinar. &#8220;Kamu sudah menghilangkan dahaga bibi selama ini..&#8221; &#8220;Sama-sama bi&#8230;, bibi juga merupakan perempuan diatas 30 yang tercantik dan terseksi yang pernah saya lihat. Ini kali pertama saya tidur dengan wanita seusia bibi. Dan&#8230;&#8221; Aku mencium bibirnya lembut. &#8220;Tingkah dan tubuh bibi nggak beda dengan perawan.&#8221; Perempuan itu tergelak, lalu mencubit pinggangku. &#8220;Dasar perayu, ayo kasih bibi satu menit untuk membersihkan diri, lalu giliran kamu bibi puaskan.&#8221; Ia mencabut penisku yang masih tegang dari vaginanya, lalu membimbingku ke kamar mandi. &#8220;Punyamu itu benar-benar mengerikan lho Fi..&#8221; Komentarnya ketika menyiramkan air dingin di tubuh kami berdua. Air dingin itu mendadak seakan memberi tenaga baru bagi kita berdua.</p>
<p style="text-align: justify;">Kesegarannya terasa mengalir dari ujung rambut hingga ujung kaki. Setelah mengeringkan tubuh, perempuan itu menarik tubuhku ke dalam pelukannya. Penisku yang sempat layu, kembali menegang menempel di perut mulusnya. &#8220;Hmm..&#8221; Ia bergumam kagum. &#8220;Si besar-mu itu sudah siap rupanya?&#8221; Aku mengangguk. &#8220;Kamu mau main di mana Fi? Di kamar bibi..?&#8221; Aku menggeleng &#8220;Ngga bi.., ini kamar Mang Iyus, saya nggak mau, bau kamar ini mengingatkan saya kalau bibi isteri paman saya dan itu membuat saya cemburu..&#8221; Bi Laha tersenyum bahagia mendengar kata-kataku itu, mukanya berbinar-binar persis seperti remaja yang sedang kasmaran. Ia pun mulai menggesek-gesekkan perutnya ke penisku membuat cairan bening itu keluar lagi membasahi pusar. &#8220;Kalau begitu kita main di sofa lagi ya..?&#8221; Tanpa menunggu jawaban, ia membimbingku menuju sofa. Gagang telepon itu masih tergeletak di sana. Sambil duduk, aku meraih gagang itu untuk kuletakkan kembali di tempatnya, namun Bi Laha mencegah. &#8220;Jangan. Biarkan disitu. Bibi ngga mau diganggu oleh telepon dari pamanmu.<br />
<span id="more-3229"></span><br />
Malam ini, kamulah suami bibi dan seorang isteri yang baik akan melakukan apa saja untuk menyenangkan suaminya&#8230; ya nggak yang..?&#8221; {{Benar firasatku. Mereka akan memulai lagi permainan panasnya! Tapi tak kusangka Laha sedemikian marahnya pada suamiku, ehm, suami kami. Seperti kemarahan yang terakumulasi lalu meletus dengan dahsyatnya. Oh kedengarannya mereka sudah mulai. Laha mulai mengerang dan merintih, wah sedang diapakan dia?? Hmh.. betapa beruntungnya kau Laha.. Semoga aku sempat mencicipi pemuda itu sebelum pulang ke Bandung!! Nuke melihat jam di dinding, sudah 20 menit sejak suaminya pergi ke dokter. Ahh, mudah-mudahan antreannya panjang. Lampu di kamar tengah itu padam. Nuke terbaring di atas kasur busa sambil menempelkan gagang telepon erat-erat di kupingnya. Tubuhnya telanjang bulat.}} Sehabis menggosok-gosokkan jemariku di lipatan vaginanya, dengan gemas kuraih tubuh telanjang isteri pamanku itu dan kududukkan di pangkuanku dengan posisi saling berhadapan. Kakinya yang mulus itu mengangkang sehingga bagian bawah penisku menempel tepat di belahan vaginanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Dadanya yang busung tepat berada di depan mulutku. Dengan segera kubenamkan mulutku di belahan buah dadanya. &#8220;Emm.. &#8220;, Bi Laha menggelinjang genit &#8220;Kamu suka sekali sama susu Bibi ya..?&#8221; Sambil mulai menyedot putingnya aku mengangguk. Bi Laha mulai bergumam seperti orang terserang demam sambil memeluk leherku. Pantatnya digerakkannya maju mundur sehingga vaginanya menggesek-gesek batang penisku. Tak sampai 3 menit bergumul, Bi Laha sudah terangsang kembali. Kasihan Bibiku ini. Begitu lamanya ia menahan dahaga sehingga akibatnya, cepat sekali perempuan itu terangsang. &#8220;Ooohh Fiii.. bibi ngga tahan&#8230; &#8221; Tiba-tiba dengan cepat tangannya menangkap penisku, ia mengangkat pantatnya sedikit lalu menyelipkan kepala penisku di bibir vaginanya. Pelan-pelan, ia menurunkan pantatnya sehingga batang besar itu melesak ke dalam vaginanya yang, my god, sudah basah itu. &#8220;Aah.. sss&#8230; aahh..&#8221; Bi Laha mulai mendesis-desis merasakan kenikmatan di dinding vaginanya. Hmm, agak terlalu cepat prosesnya, pikirku. Lalu kuhentikan gerak pantat perempuan itu sehingga penis yang baru masuk seperempatnya itu tertahan di dalam.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Ohh&#8230; kok ditahan &#8216;yang..?&#8221; Bi Laha bertanya dengan nada kecewa. &#8220;Nggak, saya ingin cara lain bi.. bibi ngga keberatan kan..?&#8221;. Tiba-tiba perempuan itu tersenyum malu dan melepaskan penisku dari jepitan vaginanya. Ia lalu merebahkan tubuhnya di atas tubuhku sambil memelukku mesra. &#8220;Maaf &#8216;yang, bibi lupa sasma kamu. Bibi memang egois. Bibi cuma memikirkan bagaimana untuk secepatnya orgasme lagi.. Maklum, anak perawan..&#8221; Kami berdua tergelak. Bi Laha, Bi Laha.. sayang kau isteri orang.&#8221;Oke, kamu mau bibi ngapain supaya puas&#8230;&#8221;"Coba bibi berlutut di depan saya..&#8221; Bi Laha tersenyum dan berlutut tepat diantara dua pahaku. Penisku kini tepat berada di dadanya yang montok.&#8221;Terus.. ngapain..?&#8221; Katanya polos.&#8221;Tutup mata bibi dan buka mulut.. saya ingin mencium bibir bibi sambil berlutut..&#8221;"Uuuhh.. macem-macem.. &#8221; Ujarnya manja, sambil menutup mata dan membuka mulutnya.&#8221;Mulutnya kurang lebar bi.. saya ingin menjilat lidah bibi..&#8221;{{Apa yang kau inginkan Rafi..? Jangan-jangan ia ingin agar Laha memasukkan&#8230;}}&#8221;mm! mm!&#8221; Bi Laha menjerit-jerit kaget ketika kumasukkan penisku ke dalam mulutnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Ia terbelalak melihat batang besar itu bergerak keluar masuk rongga mulutnya. Tampak ia agak jijik dan risih sehingga beberapa kali tampak hendak meludahkan penis itu keluar. Namun, tanganku dengan kokoh menahan kepalanya untuk memaksa mencicipinya.&#8221;Maaf bi, saya paling suka kalau penis saya dikulum. Saya takut kalau minta, bibi malah nggak mau. Nah, terpaksa saya agak maksa. Tapi rasanya nikmat kan?&#8221;"Mmmm&#8230;!&#8221; Bi Laha menggumam keras sambil memperlihatkan ekspresi berpura-pura marah. Tapi, ia mulai menggerakkan kepalanya naik-turun tanpa paksaan. Nafasnya juga ikut memburu. Rupanya dengan mengulum penisku ia semakin terangsang birahinya.&#8221;Yaahh.. begitu Bi.. tapi giginya jangan kena batang saya dong Bi.. sakiit.. Naahh begitu.. aouhh.. aahh..&#8221; {{Nuke memasukkan jari telunjuknya ke dalam mulut, lalu mengulumnya. Oh Rafiii, kau benar laki-laki penuh fantasi. Benar dugaanku, kau memang menginginkan penismu dikulum dan dihisap. Oooh nasib, kenapa Bi Laha selalu yang ditakdirkan untuk mendapat sesuatu pertama kali?</p>
<p style="text-align: justify;">Perempuan itu kemudian meremas buah dadanya dengan keras. Telunjuknya serasa berubah menjadi penis besar milik keponakan suaminya itu, walaupun ia tak pernah melihat bentuk aslinya. Tiba-tiba ia merasa batinnya seakan mengucapkan sumpah, &#8220;Aku harus mendapatkan pemuda itu, apapun resikonya!&#8221;}} &#8220;Bii.. sekarang sambil masuk keluar, lidah bibi digoyang dong.. supaya kena urat sebelah bawah yang deket kepala.. yaahh.. yaah.. gituuu.. addouww.. Bii.. ennakk.. aahh..&#8221; Aku mulai menggelinjang-gelinjang. Tubuhku kini bersandar dengan santai di sofa dan hanya pinggulku yang bergoyang-goyang mengikuti irama keluar-masuk mulut isteri pamanku itu. Bi Laha memang orang yang cepat belajar. Terbukti tanpa petunjuk, ia mulai mengembangkan sendiri teknik-teknik oral seks. Seperti yang sedang ia lakukan saat ini, Bi Laha tengah menyedot sambil sesekali menggigit urat sensitif di bawah kepala penisku. Lalu, ia juga mengecup dan mencubit-cubit dengan bibirku batang penisku dari arah kepala sampai kedua bola di pangkalnya. Dan yang gila, ia kini bisa mengkombinasikan antara kuluman dan kocokan tangan.</p>
<p style="text-align: justify;">Penisku digenggamnya di bagian atas lalu diturunkannya ke pangkal batang. Ketika bagian kepala penisku keluar dari ujung genggamannya, mulutnya langsung menyambut untuk dikulum. Demikian seterusnya. Aku hanya bisa berkata &#8220;Biii.. bibiii&#8230; ennnaakkk.. aahh..&#8221; seraya membelai-belai punggungnya yang putih mulus itu. Kadang-kadang belaianku itu mendekati belahan pantatnya, yang sesekali kuremas gemas. {{Hebat kau Laha, aku iri padamu. Kau bisa membuat pemuda itu mengerang keenakan dengan sedotan dan hisapanmu. Itu berarti, kau ahli memuaskan lelaki.}} Aku mencabut penisku dari mulutnya lalu mengecup bibirnya mesra. &#8220;Terima kasih Bi&#8230;, Bibi memang baik sekali&#8230;&#8221; &#8220;Tapi, kamu kan belum keluar &#8216;yang..?&#8221; &#8220;Hehe.. nanti juga keluar sendiri.. bi.. pinjam susunya dong..&#8221; Aku meletakkan penis besarku di belahan buah dada bibiku yang montok itu. Seakan sudah berpengalaman, perempuan itu menjepit penisku dengan buah dada kiri kanannya, lalu pelan-pelan mulai bergerak naik turun. &#8220;Oaah&#8230; Oaahh.. Biii.. Bibiii jepitan susunya nikmat bangeeett.. penis saya rasanya diremes-remes.. aahh&#8230;&#8221;.</p>
<p style="text-align: justify;">{{Nuke mengangkat kedua pahanya sehingga dengkulnya nyaris menyentuh buah dadanya, lalu ia memasukkan jari tengahnya ke dalam liang vaginanya. aahh, aku tak tahan lagi mendengar permainan mereka. Aku ingin cepat-cepat orgasme lagi. Dan perempuan itu mulai memutar-mutarkan jarinya di liang lembab itu. Rafi, Laha, kalian memang gila. Belum pernah aku mendengar kisah persetubuhan sepanas kalian. Apalagi yang sedang kalian lakukan sekarang. Menjepit penis dengan kedua buah dada? Lalu, si lelaki menggerakkan penisnya maju mundur? Ohh benar-benar sensasional! Tiba-tiba didengarnya suara pemuda itu berkata, &#8220;Bii.. saya ngga tahan lagi.. bibi benar-benar merangsang birahi saya.. Coba sekarang bibi berdiri menungging. Pegang dudukan sofa ini..&#8221; &#8220;Begini Fi..?&#8221;"Yak&#8230; betul. Kakinya dibuka agak lebar.. yak. Fuuuhh.. Pantat bibi seksi sekaliii..&#8221; Terdengar suara pemuda itu seperti memuja sesuatu. &#8220;Kalau bibi goyang seperti ini, kamu suka?&#8221; Laha mulai menggoda dengan nada senang. Tentu saja senang. Siapa yang tak senang dipuji? Tanpa sadar Nuke berkata ketus dalam hati.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;&#8216;Yang.. kamu mau masukin dari belakang?&#8221;"Yak.. ini satu lagi kesukaan saya.. bibi pernah melakukannya?&#8221;"Boro-borooo..&#8221; Nuke tersenyum masam mendengar jawaban Laha. Perempuan itu benar. Kang Iyus adalah lelaki tanpa fantasi. Baginya seks adalah suatu kewajiban. Bukan alat untuk mencapai kenikmatan. Nuke pun mulai bisa mengerti mengapa isteri tua suaminya itu nekad berselingkuh dengan keponakannya sendiri. Tiba-tiba terdengat suara Laha merintih-rintih. &#8220;Sakit bi&#8230;?&#8221; Oh, pemuda itu mulai memasukkan penisnya dari belakang! Ow, pasti nikmat sekali..!}} &#8220;Sedikit.. sss&#8230; pelan-pelan ya yang..?&#8221; Bi Laha mencengkeram kain dudukan sofa itu seraya menggigit bibir. Rupanya ia merasa sakit menerima peneterasi dari arah belakang untuk pertama kalinya. Baru separuh penisku memasuki vaginanya. Aku membelai pantat yang sedang menungging itu, terus ke arah punggung, lalu ke bawah menyambut buah dadanya yang bergelantungan. Kepalanya menengok kebelakang ingin melihat bagaimana penis besarku memasuki vaginanya.&#8221;Coba dorong lagi Fi.. sedikit-sedikit ya..?&#8221; Aku mengangguk dan mendesakkan penisku semakin dalam.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Yaahh.. iyyyaahh.. RAFiii&#8230; auh.. panjang sekali punyamu yang&#8230;&#8221; Perempuan itu menjerit ketika seluruh penisku amblas tertanam dalam vaginanya yang becek itu. Lalu mulailah aku menikmati posisi kesukaanku itu. Kuhentakkan keras-keras pinggulku ke pantat Bi Laha. Setiap hentakan menyebabkan pantatnya bergetar dan buah dadanya berayun keras. Setiap hentakan itu juga menyebabkan mulut seksi perempuan berusia 30-an itu menjerit dan meringis. Lalu tempelkan perut dan dadaku di punggung mulusnya. Tangan kananku mulai meremas-remas kedua buah dadanya serta memilin putingnya, sedang tangan kiriku mengocok tonjolan daging di pangkal vagina yang dipenuhi oleh bulu-bulu keriting itu. &#8220;aahh.. aahh.. nikmat sekali yang&#8230; posisi ini ennnaakk&#8230;&#8221; Hampir 5 menit kami bergumul dalam posisi menungging. Tiba-tiba kurasakan desiran itu bergerak cepat dari ujung kepala, turun ke dada, melewati perut, dan terus ke selangkangan&#8230; Otot-ototku mulai menegang. &#8220;Biii.. bibi&#8230; Saya mau keluar biii..&#8221;"Ya sayang.. ayo sayang.. bibi juga mau keluar.. bibi juga mauuu..&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">{{Ooohh Rafiii, aku jugaa&#8230; Nuke mempercepat tusukan jari tengah di vaginanya. Terdengar suara mobil suaminya memasuki halaman. Nuke tak peduli.}}</p>
<p style="text-align: justify;">Aku mendekatkan kepalaku ke kepalanya, Bi Laha menengok dan menyambut ciumanku dari belakang. Kami saling memagut sambil terus merasakan gesekan-gesekan di kelamin kami yang semakin cepat, kocokanku di klitorisnya yang semakin liar, remasanku di buah dadanya yang semakin keras, ciuman kami yang semakin buas diiringi &#8220;mmhh&#8230; mmhh..&#8221; yang semakin keras dan sering. Tiba-tiba otot-otot tubuh kami menegang, lalu semakin menegang, semakin menegang, lalu&#8230;&#8221;Bibiii saya keluaar&#8230; aahh&#8230;&#8221; &#8220;Bibi juga sayang, bibi jugaa&#8230; nnggg&#8230;&#8221; {{Tubuh Nuke meregang, lalu ia menusukkan jemarinya dalam-dalam. Dan.. aaouuuhh&#8230; aku orgasme.. aku orgasmeee! Gila! Untuk kedua kalinya! Terdengar suara pintu mobil dibuka. Nuke melompat, menutup telepon, membawa kasur busa dan menghilang ke balik kamar tidurnya.}}</p>
<p style="text-align: justify;">Malam itu, atas permintaannya aku menyetubuhi bibiku sekali lagi di atas meja makan. Untuk membalas hutang tadi siang, begitu alasannya dengan nada gurau. Sesudah itu kamipun tidur berpelukan dengan mesra di kamarku sambil bertelanjang bulat. Sebelum tidur kami mengucapkan beberapa kata cinta dan berciuman lamaa sekali.</p>
<p style="text-align: justify;">TAMAT</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ceritasex.cn/istri-istri-pamanku-bagian-6-tamat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Istri-Istri Pamanku Bagian 5</title>
		<link>http://www.ceritasex.cn/istri-istri-pamanku-bagian-5/</link>
		<comments>http://www.ceritasex.cn/istri-istri-pamanku-bagian-5/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 18 Dec 2011 08:17:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cerita Sex</dc:creator>
				<category><![CDATA[Paruh baya]]></category>
		<category><![CDATA[Sedarah]]></category>
		<category><![CDATA[selingkuh]]></category>
		<category><![CDATA[bercinta]]></category>
		<category><![CDATA[bibi]]></category>
		<category><![CDATA[birahi]]></category>
		<category><![CDATA[cuki]]></category>
		<category><![CDATA[istri]]></category>
		<category><![CDATA[memek]]></category>
		<category><![CDATA[ngentot]]></category>
		<category><![CDATA[seks]]></category>
		<category><![CDATA[tante]]></category>
		<category><![CDATA[vagina]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ceritasex.cn/?p=3226</guid>
		<description><![CDATA[Aku merasakan kecanggungan Bi Laha ketika menggenggam penisku. Seakan-akan tengah menimbang-nimbang &#8220;Mau diapakan benda ini?&#8221; &#8220;Dikocok dong Bi&#8230;&#8221; bisikku memohon. Seketika itu juga tangan Bi Laha mulai bergerak-gerak di dalam celana dalamku. &#8220;Iya bi.. iyaahh.. lebih cepat bi.. lebih cepaat.&#8221; Tampaknya untuk soal kocok mengocok, Bi Laha lumayan berpengalaman. Ia juga tahu tempat sensitif pria [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Aku merasakan kecanggungan Bi Laha ketika menggenggam penisku. Seakan-akan tengah menimbang-nimbang &#8220;Mau diapakan benda ini?&#8221; &#8220;Dikocok dong Bi&#8230;&#8221; bisikku memohon. Seketika itu juga tangan Bi Laha mulai bergerak-gerak di dalam celana dalamku. &#8220;Iya bi.. iyaahh.. lebih cepat bi.. lebih cepaat.&#8221; Tampaknya untuk soal kocok mengocok, Bi Laha lumayan berpengalaman. Ia juga tahu tempat sensitif pria di urat sebelah bawah kepala penis. Seraya mengocok naik-turun, jempolnya mempermainkan urat itu membuat mataku terbeliak dan pinggulku berputar-putar. &#8220;Enak bi.. aahh.. ennnaak..&#8221; Lalu tanganku melepaskan remasan di pantatnya, dan kusentakkan tali celana dalam nilonnya. Maka terlepaslah penutup terakhir tubuh sintal isteri Mang Iyus itu. Dengan sigap kuletakkan jari tengahku di belahan vagina Bi Laha. Kusibakkan hutan lebat keriting itu, lalu jariku mencari-cari tonjolan kecil di bagian atas vaginanya.&#8221;aahh&#8230; sss&#8230; aahh.. agak keatas Fi.. agak keatas.. iyaah.. Yang ituuu.. yang ituuu.. ouuuh&#8230;&#8221; Kembali tangan kanan Bi Laha memeluk leherku, sementara tangan kirinya semakin cepat mengocok penisku.</p>
<p style="text-align: justify;">(&#8220;Oh Rafii, kocokanmu begitu nikmat di klitorisku. Auhh, dasar anak nakal! Sempat-sempatnya kau sentil daging itu. Ooohh.. bagaimana kocokanku sayang? Enak? Kalau mendengar erangan dan goyangan pinggulmu, aku yakin kamu menyukainya. Dan lagi, tanganku sudah terasa basah oleh cairan bening yang keluar dari lubang penismu. Ah, kenapa tiba-tiba aku jadi amat menginginkan cairan manimu?&#8221;)</p>
<p style="text-align: justify;">Putaran pinggul Bi Laha semakin liar mengikuti kocokanku pada klitorisnya. Erangan dan desahannya sudah menjadi teriakan-teriakan kecil. Ia sudah tak peduli kalau orang lain akan mendengar. Dengan satu tangan yang masih bebas, kulepaskan celana dalam CK-ku sehingga Bi Laha semakin bebas mengocok penisku. &#8220;Fi&#8230; kita berdua telanjang bulat Fi.. kita berdua, bibi dan keponakan, telanjang bulat di ruang tamu..&#8221; Desahnya sambil memejamkan mata dan tersenyum manja. Lalu kuhentikan kocokanku, dan kuletakkan ujung jari tengah dan telunjuk di pintu vaginanya. Pelan-pelan kudesakkan kedua jariku ke dalam liang yang sudah teramat basah itu.&#8221;Eeehh&#8230;&#8221; Isteri pamanku itu mengerang lalu menggigit pundakku dengan gemas, kerika kuputar-putar jemariku seraya mendesakkannya lebih kedalam. Lalu mendadak kuhentikan gerak jemariku itu dan berkata,&#8221;Bi.. bibi yakin mau melakukan ini?&#8221;"Ohh ke.. kenapa kamu tanya itu yang..? sss&#8230;&#8221; tanyanya dengan pandangan sayu seraya mendesis dan menyorong-nyorongkan selangkangannya dengan harapan jemariku melesak semakin dalam.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Emm, ingat omongan bibi sebelum ini? Bibi bilang ini kesalahan terbesar?&#8221;"Kamu tahu maksud bibi mengatakan itu?&#8221; Aku menggeleng. Perlahan, senyum nakal mengembang di bibir perempuan itu. &#8220;Adalah kesalahan besar kalau bibi menolak penismu yang&#8230; aahh&#8230;&#8221; Kutusukkan kedua jariku sehingga melesak masuk ke dalam vagina basah itu sehingga pemiliknya menjerit walau belum habis berkata-kata. Mata Bi Laha membelalak, mulutnya menganga seakan sedang mengalami keterkejutan yang amat sangat. Rasakan! Senyumku dalam hati. Inilah upah berpura-pura. Bi Laha, Bi laha. Aku tahu bibi menginginkan ini sejak perjumpaan pertama. Aku tahu penolakan-penolakanmu itu tak sepenuh hati. (&#8220;Ouuuhh.. ini gilaa.. Ini gilaa..! vaginaku ditusuk oleh jari-jari lelaki! Suatu perbuatan yang selama ini cuma ada di perbincangan ibu-ibu arisan. Itupun diucapkan dengan nada heran bercampur tak percaya. Namun sekarang aku mengalaminya! Dan aku tak merasa heran. Malah merasa biasa. Yang ada cuma kegelian dan kegatalan yang semakin terasa berputar-putar di vaginaku. Ohh, apakah aku akan orgasme? Secepat itukah? Hmh, kalau saja suamiku tahu apa yang kualami hari ini. Ia akan sadar bahwa apa yang diberikannya selama 15 tahun itu tak ada apa-apanya!&#8221;)<br />
<span id="more-3226"></span><br />
Pelan-pelan kugerakkan jemariku keluar masuk vagina Bi Laha. Gerakan itu semakin lama semakin cepat. Dan ruangan itu kembali dipenuhi oleh jeritan-jeritan Bi Laha yang semakin menggila bercampur dengan kecipak vaginanya yang sudah banjir tak keruan. Sambil terus menusuk-nusukkan jemariku di selangkangannya, pelan-pelan kubaringkan tubuh isteri pamanku itu di atas sofa. Bi Laha merebahkan tubuhnya seraya membuka selangkangannya. Tusukan dan putaran jemari di vagina perempuan itu semakin kupercepat. Pinggulnya kini bergerak naik turun seakan tengah mengimbangi tusukan-tusukan penis lelaki. Aku mencium pangkal lengan mulusnya yang membentang ke atas mencengkram pegangan sofa. Lalu bibirku menelusuri lengan itu ke arah ketiaknya. Sambil mengecup dan sesekali menggigit, bibirku akhirnya sampai pada ketiaknya yang disuburi oleh rambut lebat. Harum ketiaknya membuat penisku semakin berdenyut di tengah kocokan tangan Bi Laha. Lalu bibirku mengecup dan menarik-narik rambut ketiaknya dengan buas, &#8220;Haahh.. haahh.. Fiii.. geliii&#8230;&#8221; Perempuan itu mendadak menjerit liar. Ah, rupanya ketiak merupakan salah satu &#8216;titik lemah&#8217; yang dapat memicu keliaran dan kebinalan birahinya.</p>
<p style="text-align: justify;">Kriiing&#8230; telepon sialan! Kalau itu pamanku, ia benar-benar laki-laki yang menyebalkan! Makiku dalam hati.</p>
<p style="text-align: justify;">Bi Laha menggeser pinggulnya berusaha meraih gagang telepon. Pinggulnya terus bergerak-gerak mengisyaratkanku untuk terus mengocok dan menusuk vaginanya dengan jariku.&#8221;Haloo.. Haloo..&#8221; Bi Laha sama sekali tak berusaha menyembunyikan nafasnya yang tersengal-sengal. Gila, nekat sekali dia. &#8220;Haloo&#8230;&#8221; Ia mulai meninggikan suaranya. Setelah beberapa saat tak mendengar jawaban, Bi Laha menggeletakkan begitu saja gagang telepon di atas sofa. &#8220;Siapa itu bi? Mang Iyus?&#8221;"Tauk, nggak ada suaranya..&#8221; katanya seraya memeluk leherku dan mencium bibirku dengan kekangenan yang luar biasa.&#8221;Fiii..&#8221; Desahnya manja, &#8220;Bibi mau.., masukin penismu sekarang dong&#8230; please&#8230;&#8221; Wah hebat. Bibiku ini sudah menggunakan terminologi Inggris! Please, katanya.&#8221;Sabar sebentar ya bii..&#8221; ujarku tersenyum sambil mengeluarkan jemariku dari vaginanya. Lalu menggeser tubuh sintal Bi Laha sehingga terduduk bersandar di sofa. Kakinya menggelosor ke lantai dengan sedikit mengangkang.&#8221;Mau diapain yang&#8230;?&#8221;"Sshh.. nikmatin saja bi..&#8221; Aku mulai menciumi dan menyedot kedua buah dada montoknya. Lalu pelan-pelan bibirku mulai menyusuri perutnya yang semulus marmer itu ke arah selangkangan. Menyadari arah bibirku, perempuan itu mengepitkan kedua pahanya dan menahan kepalaku.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Fi.. jangan Fi&#8230; jangan ke situ.. bibi Risih..&#8221;"Hmm.. kenapa risih bi..? Kan penis dan tangan saya sudah pernah masuk ke vagina bibi?&#8221;"Dasar bandel.., bibi risih.. soalnya kalau kamu cium disitu.. kamu akan lihat semuanya.. bibi.. bibi malu..&#8221; {{Jantung Nuke nyaris terlompat dari dadanya mendengar percakapan yang baru saja didengarnya. Ia masih memegang gagang telepon di rumahnya. Baru saja ia memberanikan diri untuk menelepon isteri tua suaminya untuk menjelaskan keadaan yang sebenarnya. Sebagai isteri muda, ia merasa tak nikmat menjadi penyebab pertengkaran suaminya dengan perempuan itu. Namun, entah mengapa, ketika isteri pertama suaminya itu menjawab teleponnya dengan nafas tersengal, Nuke merasa keberaniannya hilang. Ia juga merasa ada sesuatu yang luar biasa tengah terjadi pada perempuan itu. Dan Rafi, keponakan suaminya yang sedang berlibur itu, ternyata sudah pernah menyetubuhi Laha. Juga, anak muda itu pernah memasukkan jarinya ke dalam anu-nya Laha! Oh, haruskah ia menceritakan ini pada suaminya? Pantaskah ia menguping perbuatan mereka? Pelan-pelan, Nuke kembali mendekatkan gagang telepon itu ke telinganya.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Ngga apa-apa bi.. ngga usah malu.. vagina perempuan kan sama dimana-mana?&#8221; Terdengar suara lelaki itu berusaha menenangkan Laha. Oh, akankah keponakan suaminya itu berhasil mencium anu bibinya sendiri? Tanpa sadar, Nuke menggigit bibir dengan perasaan tegang.&#8221;Fii! Please.. ganti kata-kata penis dan vagina itu! Bibi risih mendengarnya..&#8221; Terdengar lelaki itu tertawa. &#8220;Oke.. gimana kalau penis dan vagina? Sound better?&#8221; Lalu terdengar suara orang berciuman. Nuke menelan ludah, dan menyilangkan kedua pahanya. Lama tak terdengar suara apa-apa. Oh, apa yang sedang mereka lakukan? Tiba-tiba Nuke terperanjat oleh jeritan Laha.&#8221;Fiii.. jangaann.. pleaasee.. bibi maluuu..&#8221; Terdengar suaranya seperti orang hendak menangis. &#8220;aa Fii, jangan dipaksa dong&#8230; oh.. ooohh.. oohh&#8230;&#8221; Lalu yang ada di telinga Nuke adalah rintihan dan erangan Laha penuh kenikmatan. Gila pemuda itu. Kelihatannya ia berhasil mencium dan menjilat anu-nya Laha. Oh, seperti apakah rasanya? Pasti luar biasa, karena suara perempuan itu tak melawan lagi dan cuma melolong-lolong keenakan.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Ooohh.. Fiii.. nikmat bangeeet&#8230; Yah.. yah.. iyaahh&#8230; sedot daging yang atas sayang.. yah itu.. itu.. aahh.. sedot terus Fiii&#8230; sedot terruuusss&#8230;&#8221; Nuke mulai menggesek-gesekkan kedua pahanya. Ada perasaan geli dan gatal mengalir ke selangkangannya. Tiba-tiba ia terperanjat ketika mendengar suara Mang Iyus tepat di belakangnya.&#8221;Gimana Nuk? Sudah bicara dengan Laha?&#8221; Nuke menutupi bulatan tempat bicara pada gagang telepon, takut suara suaminya terdengar oleh pasangan yang tengah asyik masyuk di ujung sana.&#8221;mm belum, teleponnya masih bicara&#8221;, katanya berbohong. Tampak suaminya menghela nafas. Nuke merasa kasihan melihat wajah suaminya itu. Lelaki malang, ia tak tahu isteri pertamanya kini tengah asyik bergumul dengan keponakannya sendiri.&#8221;Kalau begitu, ayo kita antar ibu ke dokter.&#8221;"Emm, Kang Iyus saja deh yang nganter. Nuke mau coba telepon teh Laha dulu, nggak enak rasanya.&#8221; Suaminya hanya mengangkat bahu dan berlalu. Setelah mobil suaminya melesat keluar, Nuke buru-buru mengganti kebayanya dengan daster, tanpa beha, tanpa celana dalam. Lalu dengan segera meletakkan gagang telepon itu kembali di telinganya.}}</p>
<p style="text-align: justify;">Bi Laha mengangkat kedua paha dan menyandarkannya di pundakku. Lidahku dengan rakus menjilat daging merah yang terletak di antara dua bibir vaginanya. Kedua bibir itu sudah terbuka lebar dikuak oleh kedua tanganku. Rasa asin dilidahku makin merangsang birahiku. Sesekali aku memasukkan lidahku ke dalam lubang vagina itu dikombinasikan dengan sedotan-sedotanku pada vagina Bi Laha. Perempuan itu menghentakkan pinggulnya sambil menjilati bibirnya sendiri. Tangannya menekan kepalaku dengan keras di selangkangannya. {{Erangan dan rintihan Laha, membuat selangkangan Nuke semakin dipenuhi oleh rasa geli dan gatal. Brengsek. Kenapa aku jadi penasaran dengan permainan mereka? Bagaimana akhirnya? Hmm seperti apakah lelaki bernama Rafi itu?&#8221;Ohh Fii.. lidah kamu seperti penis.. nikmat banget keluar-masuk seperti itu.. bibi rasanya sudah nggak tahan.. tolong masukin penis raksasamu sekarang dong Fiii.. please&#8230;&#8221; Penis raksasa? Gila juga isteri tua suamiku itu, kata Nuke dalam hati. Kok dia nggak malu minta-minta dimasukin seperti itu ya? Sial, aku malah jadi penasaran. Seperti apa sih si Rafi itu? Dan, mm, sebesar apa sih penisnya?</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Fii.. ayo dong.. bibi hampir keluar nihh.. hentikan sedotanmu sayang.. ayoo..&#8221; Huh, nafsu perempuan itu ternyata besar juga. Pantas dia tak tahan oleh godaan keponakannya sendiri. Apalagi anu-suaminya sedang ada masalah. Oh, tak terasa sudah hampir 6 bulan saat terakhir aku merasakan sentuhan Kang Iyus. Tiba-tiba perempuan itu merasa iri pada Laha. Bagaimanapun, isteri tua suaminya itu berani mengambil keputusan! Nuke mengakui. Tiba-tiba terdengar suara gemerisik di sambungan telepon itu. &#8220;Aduh, telepon sialan, ngganggu saja!&#8221; Terdengar makian Laha begitu jelas di telepon. Oh, rupanya perempuan itu kini terbaring dan kepalanya menindih gagang telepon yang masih tergeletak di sofa. Nuke berharap cemas semoga telepon itu tidak diputus. Lalu terdengar suara kecupan dan erangan. Oh mereka mulai lagi berciuman dengan bernafsu. Syukur mereka tetap tak peduli dengan teleponnya. Aku bisa membayangkan seorang pemuda tengah merayap di atas tubuh Laha, lalu perempuan itu membuka lebar-lebar pahanya, lalu lelaki itu menempelkan penisnya di pintu vagina isteri tua suamiku itu, lalu mendorong pelan-pelan pinggulnya.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8221; Yah Fii.. Yah&#8230; pelan-pelan Fii.. ouhh besarnyaa..&#8221; Laha mulai merintih-rintih. Nuke menggesek-gesekkan pahanya. Berkali-kali ia menelan ludah. Jantungnya berdegup cepat. Oh, lelaki itu mulai memasukkan penisnya ke dalam vagina Laha! Tangan isteri muda itu menyelip ke dalam selangkangannya. Ada kelembaban yang hangat terasa di sana.&#8221;Uhh.. Fii stop dulu sayang.. ssakiiit&#8230; hh.. hh.. hh..&#8221; Nuke sempat bergidik mendengar rintihan Laha. Seberapa besar punya-mu Rafi? Oh, kenapa aku jadi tak sabar ingin bertemu dengan pemuda itu? Nuke, jangan gila! Kau kan tidak berharap pemuda itu melakukan apa yang diperbuatnya pada Laha kepadamu? Nuke tidak tahu jawabnya. Andaikan ia tahu pun ia tak mau menjawabnya. Suara nafas Laha jelas sekali di telepon. Kentara sekali ia tengah menenangkan dirinya menahan sakit dan nikmat karena dimasuki penis keponakannya yang besar itu.&#8221;Yang.. bibi sudah siap.. ayo.. masukkan semuanya.. yahh.. iyyaahh..&#8221; Oh, gila, gila.. penis besar itu pasti sudah masuk semua! Oh, terbayang nikmatnya. Terbayang rasa kesemutan dan pegal itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Nuke teringat kala pertama kali suaminya merenggut keperawanannya. sss.. Ohh.. Isteri muda itu mulai menekan-nekan vaginanya dari luar daster. Lalu mulailah terdengar suara kecupan, suara erangan pasangan kasmaran itu yang seirama dengan bunyi sofa berderit-derit. &#8221; Ahh.. terus Fi.. teruuus.. lebih cepat.. Lebih cepaat..&#8221; Jerit Laha. Dan suara derit pun terdengar lebih cepat. Oh, bisa kubayangkan pinggul lelaki itu naik-turun dengan cepat. Juga bisa kubayangkan suara vagina Laha berkecipak dihunjam dengan keras oleh benda besar milik keponakan suamiku itu. &#8220;Yahh.. sedot yang keras Fi.. sedot yang keraas.. gigit puting bibi sayang.. gigit puting bibiii.&#8221; Oh, tiba-tiba Nuke mengeluh, bisakah aku seberuntung perempuan itu?}} Leherku terasa hampir patah dipeluk oleh Bi Laha. Ia memintaku untuk menyedot buah dadanya sekuatku, menjilat putingnya secepatku, dan memompakan pinggulku sekerasnya. Tak kalah dengan tangannya, kedua kakinya merangkul erat pinggangku. Hentakan pinggulku membuat buah dada isteri pamanku itu berguncang-guncang keras.</p>
<p style="text-align: justify;">Mulutnya yang seksi terus menganga menghamburkan jeritan-jeritan birahi. Kaki indahnya yang masih mengenakan sepatu hak tinggi hitam itu, kini terangkat di udara seakan menyambut tusukan-tusukan penisku. Keringat sudah membasahi seluruh tubuh membuat kulit kami terlihat mengkilat dan licin bila digesekkan satu sama lain. Otot tubuh Bi Laha tiba-tiba menegang. Oh, apakah ia akan mencapai puncaknya? Padahal aku belum apa-apa. Aku masih ingin lebih lama menikmati pergumulan ini.{{Nafas Nuke mulai memburu. Jantungnya berpacu dengan gesekan tangan di selangkangannya. aah, permainan panas Laha dengan anak muda itu benar-benar membuat vaginaku becek gila-gilaan. Beruntung rumah ini kosong, pikir perempuan berusia 20 tahun itu seraya menyingsingkan dasternya sehingga vagina polos tak berbulu itu langsung menyentuh bantalan kursi. Sejak remaja ia telah mencukur habis bulu kemaluannya. Terasa lebih bersih, demikian alasannya. Lalu dengan cepat ditempelkannya jari tengah pada tonjolan daging di ujung atas bibir vaginanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Kini, jantung Nuke berpacu dengan kocokan jari di klitorisnya. Ia mendesah, mendesis, seraya memegang gagang telepon itu dengan kuping dan pundaknya. Tangannya yang satu tengah membuka kancing dasternya dan menyelinap cepat mencari buah dada berukuran 34 itu. Ohh, nikmatnya sentuhan-sentuhan di buah dada, puting dan vaginaku. Pasti lebih nikmat lagi kalau tangan keponakan suamiku itu yang melakukannya. Ahh, sss, pemuda brengsek. Kenapa kau tidak menginap disini?&#8221;Fii.. kamu.. hh.. sudah mau keluar&#8230; hh.. sayang..?&#8221; Suara Laha terdengar serak dan terputus-putus. Nuke mempercepat putaran dan pelintiran di klitorisnya. Mulutnya menganga, rintihannya mulai terdengar keras. Tiba-tiba ia merasa seakan-akan vaginanya dipenuhi oleh penis keponakan suaminya itu, yang memompa dengan keras. aahh. &#8220;Belum Fii..? Kamu belum mau keluar? Ooohh bibi sudah nggak tahan sayang.. bibi mau keluar.. nggak apa-apa ya bibi duluan..&#8221; Nuke mempercepat putarannya. Tangan satunya kini memilin dan menarik-narik putingnya dengan keras. Ia seakan bisa merasakan pompaan penis pemuda itu pada vagina Laha semakin cepat dan semakin cepat.. dinding vaginanya mulai berdenyut cepat, nafasnya semakin cepat.</p>
<p style="text-align: justify;">Bersambung&#8230;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ceritasex.cn/istri-istri-pamanku-bagian-5/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ekspresi Ngentot</title>
		<link>http://www.ceritasex.cn/ekspresi-ngentot/</link>
		<comments>http://www.ceritasex.cn/ekspresi-ngentot/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 13 Dec 2011 23:22:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cerita Sex</dc:creator>
				<category><![CDATA[Foto Mesum]]></category>
		<category><![CDATA[Paruh baya]]></category>
		<category><![CDATA[ekspresi]]></category>
		<category><![CDATA[kenikmatan]]></category>
		<category><![CDATA[mesum]]></category>
		<category><![CDATA[ngentot]]></category>
		<category><![CDATA[seks]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ceritasex.cn/?p=3219</guid>
		<description><![CDATA[Wew&#8230; coba tebak ini ekspresi wajah kenikmatan ngentot atau ekspresi kesakitan? kok gak jelas gitu ya hehehe&#8230;]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Wew&#8230; coba tebak ini ekspresi wajah kenikmatan ngentot atau ekspresi kesakitan? kok gak jelas gitu ya hehehe&#8230;</p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2011/12/ekspresi-kenikmatan-ngentot-1.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-3221" title="ekspresi-kenikmatan-ngentot-1" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2011/12/ekspresi-kenikmatan-ngentot-1-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a></p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2011/12/ekspresi-kenikmatan-ngentot-2.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-3222" title="ekspresi-kenikmatan-ngentot-2" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2011/12/ekspresi-kenikmatan-ngentot-2-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a></p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2011/12/ekspresi-kenikmatan-ngentot-3.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-3223" title="ekspresi-kenikmatan-ngentot-3" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2011/12/ekspresi-kenikmatan-ngentot-3-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a></p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2011/12/ekspresi-kenikmatan-ngentot-4.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-3224" title="ekspresi-kenikmatan-ngentot-4" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2011/12/ekspresi-kenikmatan-ngentot-4-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a></p>
<p><span id="more-3219"></span></p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2011/12/ekspresi-kenikmatan-ngentot-5.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-3220" title="ekspresi-kenikmatan-ngentot-5" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2011/12/ekspresi-kenikmatan-ngentot-5-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ceritasex.cn/ekspresi-ngentot/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

