<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Cerita sex porno ngentot mesum perek ayam kampus &#187; oral</title>
	<atom:link href="http://www.ceritasex.cn/tag/oral/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.ceritasex.cn</link>
	<description>Kumpulan cerita sex, foto bugil, dan film porno</description>
	<lastBuildDate>Wed, 08 Feb 2012 13:12:08 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
		<item>
		<title>ABG, Sekali Coba Pasti Ketagihan Enaknya</title>
		<link>http://www.ceritasex.cn/abg-sekali-coba-pasti-ketagihan-enaknya/</link>
		<comments>http://www.ceritasex.cn/abg-sekali-coba-pasti-ketagihan-enaknya/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 24 Mar 2011 23:29:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cerita Sex</dc:creator>
				<category><![CDATA[Daun Muda]]></category>
		<category><![CDATA[Foto Mesum]]></category>
		<category><![CDATA[abg]]></category>
		<category><![CDATA[binal]]></category>
		<category><![CDATA[blowjob]]></category>
		<category><![CDATA[isep kontol]]></category>
		<category><![CDATA[mupeng]]></category>
		<category><![CDATA[nafsu]]></category>
		<category><![CDATA[oral]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ceritasex.cn/?p=2111</guid>
		<description><![CDATA[Jangan sekali-kali berani cobain ABG ini karena otong anda dijamin akan ketagihan enaknya ngentot bersama ABG ini]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Jangan sekali-kali berani cobain ABG ini karena otong anda dijamin akan ketagihan enaknya ngentot bersama ABG ini <img src='http://www.ceritasex.cn/wp-includes/images/smilies/icon_razz.gif' alt=':P' class='wp-smiley' /> </p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2011/03/abg-sekali-coba-pasti-ketagihan-1.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-2112" title="abg-sekali-coba-pasti-ketagihan-1" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2011/03/abg-sekali-coba-pasti-ketagihan-1-225x300.jpg" alt="" width="225" height="300" /></a></p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2011/03/abg-sekali-coba-pasti-ketagihan-2.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-2113" title="abg-sekali-coba-pasti-ketagihan-2" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2011/03/abg-sekali-coba-pasti-ketagihan-2-225x300.jpg" alt="" width="225" height="300" /></a></p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2011/03/abg-sekali-coba-pasti-ketagihan-3.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-2114" title="abg-sekali-coba-pasti-ketagihan-3" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2011/03/abg-sekali-coba-pasti-ketagihan-3-225x300.jpg" alt="" width="225" height="300" /></a></p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2011/03/abg-sekali-coba-pasti-ketagihan-4.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-2115" title="abg-sekali-coba-pasti-ketagihan-4" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2011/03/abg-sekali-coba-pasti-ketagihan-4-225x300.jpg" alt="" width="225" height="300" /></a></p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2011/03/abg-sekali-coba-pasti-ketagihan-5.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-2116" title="abg-sekali-coba-pasti-ketagihan-5" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2011/03/abg-sekali-coba-pasti-ketagihan-5-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a></p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2011/03/abg-sekali-coba-pasti-ketagihan-6.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-2117" title="abg-sekali-coba-pasti-ketagihan-6" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2011/03/abg-sekali-coba-pasti-ketagihan-6-225x300.jpg" alt="" width="225" height="300" /></a></p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2011/03/abg-sekali-coba-pasti-ketagihan-7.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-2118" title="abg-sekali-coba-pasti-ketagihan-7" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2011/03/abg-sekali-coba-pasti-ketagihan-7-225x300.jpg" alt="" width="225" height="300" /></a></p>
<p><span id="more-2111"></span></p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2011/03/abg-sekali-coba-pasti-ketagihan-8.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-2119" title="abg-sekali-coba-pasti-ketagihan-8" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2011/03/abg-sekali-coba-pasti-ketagihan-8-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a></p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2011/03/abg-sekali-coba-pasti-ketagihan-9.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-2120" title="abg-sekali-coba-pasti-ketagihan-9" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2011/03/abg-sekali-coba-pasti-ketagihan-9-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a></p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2011/03/abg-sekali-coba-pasti-ketagihan-10.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-2121" title="abg-sekali-coba-pasti-ketagihan-10" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2011/03/abg-sekali-coba-pasti-ketagihan-10-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a></p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2011/03/abg-sekali-coba-pasti-ketagihan-11.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-2122" title="abg-sekali-coba-pasti-ketagihan-11" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2011/03/abg-sekali-coba-pasti-ketagihan-11-225x300.jpg" alt="" width="225" height="300" /></a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ceritasex.cn/abg-sekali-coba-pasti-ketagihan-enaknya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pengaruh Hipnotis</title>
		<link>http://www.ceritasex.cn/pengaruh-hipnotis/</link>
		<comments>http://www.ceritasex.cn/pengaruh-hipnotis/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 04 Nov 2010 08:50:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cerita Sex</dc:creator>
				<category><![CDATA[Gangbang Rame Rame]]></category>
		<category><![CDATA[Paruh baya]]></category>
		<category><![CDATA[Pemerkosaan]]></category>
		<category><![CDATA[gangbang]]></category>
		<category><![CDATA[hipnotis]]></category>
		<category><![CDATA[isep kontol]]></category>
		<category><![CDATA[istri]]></category>
		<category><![CDATA[memek]]></category>
		<category><![CDATA[ngentot]]></category>
		<category><![CDATA[oral]]></category>
		<category><![CDATA[wiwied]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ceritasex.cn/?p=1606</guid>
		<description><![CDATA[Saya sedang asyik memilih-milih dasi yang terpajang di display sebuah department store, ketika saya dikejutkan dengan tepukan tangan di pundak. Dengan refleks saya menoleh ke arah orang yang menepuk pundak saya itu. Betapa terkejutnya saya, sesosok laki-laki bertubuh besar dan tambun berdiri di hadapan saya. Orang ini pasti orang India atau sebangsanya. Kulitnya hitam gelap, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Saya sedang asyik memilih-milih dasi yang terpajang di display sebuah department store, ketika saya dikejutkan dengan tepukan tangan di pundak. Dengan refleks saya menoleh ke arah orang yang menepuk pundak saya itu. Betapa terkejutnya saya, sesosok laki-laki bertubuh besar dan tambun berdiri di hadapan saya. Orang ini pasti orang India atau sebangsanya. Kulitnya hitam gelap, berkumis tebal dan berpenampilan dekil. Ia memperkenalkan dirinya dengan nama Boy. Apakah itu istrimu   orang itu bertanya sambil tangannya menunjuk ke arah Wiwied yang sedang asyik berbicara dengan telepon selulernya. Orang yang ditunjuk oleh laki-laki ini memang Wiwied istri saya, dan saya hanya bisa mengiyakan saja. Entah mengapa saya seperti kerbau yang dicocok hidungnya. Sepertinya pikiran saya tertutup sesuatu. Terbukti dengan begitu mudahnya saya menuruti saja kemauan orang itu untuk diperkenalkan dengan istri saya. Dan sama seperti saya, wiwied pun seperti terpengaruh dan menuruti apa saja yang diminta oleh laki-laki itu. Orang ini ternyata memiliki beberapa orang teman, saya masih sempat menghitung, ada lima orang lagi temannya, masing-masing Josh, Bram, Fai, Yan dan Ali.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah mengobrol beberapa lama, dua orang diantaranya minta tolong kepada Wiwied untuk mengantarkan mereka mengambil barang. Sekali lagi, kami hanya bisa menurut. Aneh memang, untuk orang yang baru beberapa menit berkenalan, bahkan dengan penampilan lusuh seperti itu kami mau saja menuruti permintaan mereka. Mereka bilang tidak perlu mengantar berduaan, sebab mereka juga membawa mobil hingga akhirnya kami pun berpisah. Wiwied pergi dengan Josh dan Bram, sementara saya bersama keempat orang lainnya. Saya tidak ingat lagi persisnya saya dibawa ke mana, yang bisa saya ingat hanyalah saya diminta mengemudikan mobil berputar-putar kota sambil terus-menerus diajak ngobrol oleh mereka. Sementara itu ternyata Josh dan Bram membawa Wiwied ke sebuah motel di pinggiran kota. Josh yang mengemudikan mobil langsung memasukkan mobil ke dalam garasi dan begitu mobil berada di dalam pintu garasi langsung ditutup oleh penjaga motel itu, sementara Bram tampak seperti membereskan urusan administrasi dengan petugas motel sebelum ia pergi meninggalkan mereka bertiga di ruang tamu.</p>
<p style="text-align: justify;">Begitu petugas motel itu pergi, Bram langsung memeluk Wiwied dari belakang. Ia menjatuhkan ciumannya ke tengkuk Wiwied yang jenjang, tengkuk indah itu memang hari itu terpampang tanpa penghalang karena rambut Wiwied memang disanggul ke atas. Entah karena apa, Wiwied hanya manut saja membiarkan dirinya diperlakukan seperti itu. Bahkan lebih dari itu! Bahkan kini kedua laki-laki itu mulai melucuti pakaian Wiwied satu demi satu. Mulai dari blazer, blouse kemudian rok span mini yang dipakai Wiwied kini berceceran di lantai. Kini tinggal bra dan G-string transparan saja yang melekat di tubuhnya. Kedua orang itu tertegun memandangi tubuh wiwied yang setengah telanjang itu, beberapa saat mereka membiarkan istri saya dalam keadaan seperti itu sebelum kemudian Bram memerintahkan Wiwied untuk membuka semua sisa penutup tubuhnya hingga tak lama kemudian istri saya telah benar-benar telanjang bulat. Wiwied juga membuka ikatan sanggulnya hingga kini rambutnya tergerai bebas sampai sedikit di bawah bahunya. Ia hanya berdiri pasrah di hadapan kedua laki-laki itu. Sungguh sangat cantik dia dalam keadaan polos seperti itu. Istri saya yang memiliki wajah baby face dengan kulit yang benar-benar putih bersih, dengan payudara yang boleh dibilang besar (Bra size 34C, cukup besar dengan tinggi badan yang hanya sekitar 162 cm), belahan bukit kembar dengan puting susu coklat kemerahan itu menggelantung bebas dan berguncang lembut mengikuti irama nafasnya. Turun ke bawah terdapat perut yang rata dengan rambut tipis di pangkal pahanya yang tidak begitu lebat hingga samar-samar terlihat belahan bibir bawahnya yang berwarna merah muda.<br />
<span id="more-1606"></span><br />
Kedua orang itu kini tidak sabar lagi, buru-buru mereka melucuti pakaiannya sendiri hingga kini ketiga orang itu sama-sama telanjang bulat. Bram segera membimbing Wiwied ke arah ranjang dan merebahkan tubuh istri saya itu terlentang di kasur. Laki-laki itu segera berbaring di sebelah tubuh istri saya dan membenamkan wajahnya ke dalam belahan payudara Wiwied. Mulutnya dengan gemas menciumi kedua pucuk puting susu Wiwied bergantian. Lidahnya ikut mempermainkan kedua putingnya sambil kedua tangan Bram meremas-remas kedua bukit itu terus-menerus. Sementara itu Josh dengan tak sabaran membuka kedua selangkangan Wiwied lebar-lebar, dan menemukan belahan bibir mungil yang ada diantaranya. Dengan jari-jari tangannya ia membuka belahan bibir itu hingga menganga dan segera menjulurkan lidahnya ke dalam untuk menjilati bagian dalam dinding vaginanya. Tubuh Wiwied menggelinjang dan dari mulutnya keluar suara dan desahan nafas tertahan setiap kali lidah Josh menyapu setiap permukaan dinding yang sekarang mulai basah. Dan ketika lidah Josh menemukan sebongkah daging kecil di bagian atas liang itu dan menggelitiknya, tak tertahankan lagi tubuh Wiwied menggelinjang lebih hebat dan ia mengerang tertahan.</p>
<p style="text-align: justify;">Hanya beberapa saat saja Josh membenamkan wajahnya di selangkangan Wiwied dan ia sudah merasakan bahwa istri saya ini sudah sangat basah. Maka ia tak membuang kesempatan, ketika Bram sedang sibuk menciumi bibir Wiwied dan meremasi kedua payudaranya, Josh dengan tergesa-gesa merenggangkan kaki Wiwied lebar-lebar, dan menekankan kejantanannya ke dalam liang senggama yang sudah sangat siap menerima penetrasi itu. Maka dengan mudah Josh mendorongkan miliknya sampai masuk semua ke dalam vagina Wiwied disertai dengan pekik tertahan yang keluar dari mulut Wiwied, tidak begitu jelas memang karena mulutnya tersumbat mulut Bram. Dengan posisi berlutut kini Josh mulai menggoyang-goyangkan pinggulnya maju mundur menekan bagian bawah perut Wiwied. Ia dengan leluasa memompa tubuh Wiwied yang terlentang di hadapannya. Sementara kedua kaki Wiwied diangkat dan diletakkan di atas pundak Josh, hingga ia bisa menekan lebih dalam lagi dengan posisi seperti ini. Sementara Bram yang mulai merasa tidak leluasa mencumbui Wiwied karena badan Wiwied yang selalu berguncang-guncang mengikuti gerakan pinggul Josh, mengalah dan duduk di sofa sambil menonton adegan itu, sambil sekali-sekali tangannya mempermainkan batang penisnya sendiri yang sudah sejak tadi berdiri tegang.</p>
<p style="text-align: justify;">Hampir sepuluh menit berlalu dari saat Josh melakukan penetrasi pertamanya ketika ia makin mempercepat dan memperkeras goyangan pantatnya hingga makin membuat Wiwied mengerang tak berkesudahan, dan tiba-tiba tubuh lelaki itu mengejang di atas tubuh Wiwied. Ia menyemburkan air maninya ke dalam liang senggama Wiwied dengan derasnya. Beberapa saat kemudian setelah nafasnya mulai teratur kembali, Josh memisahkan diri dari tubuh Wiwied dan berjalan ke arah sofa dan duduk di sisi Bram. Wah, luar biasa tuh cewek. Cantik lagi..!  katanya sambil menyalakan sebatang rokok.  Giliranmu Bram..  katanya sambil menoleh ke arah rekannya. Bram yang sejak tadi sudah tidak sabar, segera berdiri dan berjalan ke arah Wiwied yang terlentang di atas kasur. Bahkan posisinya sampai sekarang belum berubah, kedua belah kakinya masih mengangkang lebar, hingga tampak terlihat jelas sebagian air mani meleleh keluar dari dalam bibir bawahnya yang masih membengkak dan menganga. Bram menarik tubuh Wiwied hingga kini istri saya terduduk di pinggir tempat tidur, wajahnya persis menghadap ke selangkangan Bram yang berdiri di depannya.</p>
<p style="text-align: justify;">Dengan sekali rengkuh ia menarik kepala Wiwied dan mejejalkan batang penisnya ke dalam mulut Wiwied. Istri saya sekarang melakukan oral pada Bram. Wiwied yang memang jago dalam hal satu ini langsung membuat Bram merem melek keenakan. Ia sesekali mengerang,  Aahh  Jago sekali nih cewek nyepongnya, loe musti nyobain Josh!  Bram berkata sambil menoleh ke arah Josh yang sedang duduk terlentang mengumpulkan tenaga. Wiwied yang berada di bawahnya terus memainkan bibir, mulut dan lidahnya untuk mempermainkan batang penis Bram. Caranya ia menghisap kepala penis yang makin lama makin licin dan berubah warna menjadi merah tua keunguan itu pasti tidak pernah dilupakan oleh Bram. Belum lagi kepalanya yang ikut bergerak-gerak maju mundur mensimulasikan gerakan senggama kepada batang penis yang berada di dalam mulutnya itu. Entah sudah berapa lama Wiwied mengulum penis Bram, ketika akhirnya Bram melepaskan diri dan menarik tubuh Wiwied berdiri dan menariknya ke arah meja rias yang berada di ujung ranjang, menghadap cermin. Lalu dari belakang Bram memasukkan batang miliknya ke dalam vagina Wiwied dengan sekali sentakan halus hingga amblas seluruhnya ke dalam. Terasa benar liang itu sangat licin dan hangat. Dan kemudian Bram mulai mengerakkan pinggulnya maju mundur sementara kedua tangannya memegang pinggul Wiwied untuk membantu menggoyangkannya berlawanan dengan arah gerakan pinggul Bram yang maju mundur.</p>
<p style="text-align: justify;">Stamina Bram sungguh bagus, hampir sepuluh menit ia menggerakkan pinggulnya dengan cepat dan disertai hentakan-hentakan kasar. Wiwied benar-benar mengerang-erang tak berkesudahan digagahi dengan cara seperti itu. Nikmat, geli dan kadang-kadang ngilu bercampur jadi satu. Apalagi batang kejantanan Bram termasuk besar hingga terasa sekali benda itu begitu penuh dan menguak lebar vaginanya. Tiba-tiba Bram memisahkan diri dan menarik tubuh Wiwied dan memaksanya berjongkok di hadapannya, ia kemudian menjejalkan kembali batang penisnya ke dalam mulut Wiwied, hampir bersamaan dengan itu Bram memuntahkan air maninya ke dalam mulut Wiwied. Air maninya menyembur dengan deras sekali dan tidak tertampung oleh mulut Wiwied yang mungil hingga meluap keluar, meleleh ke dagu dan menetes ke bawah membasahi belahan payudaranya. Bisa dipastikan sebagian air mani itu pasti telah tertelan oleh Wiwied, dan ketika akhirnya Bram mengeluarkan penisnya dari dalam mulut Wiwied, muntahan air mani itu segera berhamburan keluar dari dalam mulut Wiwied karena memang sangat banyak dan Wiwied tidak sanggup menelan semuanya. Kini wajah bagian bawah Wiwied berlepotan lendir lengket berwarna putih susu.</p>
<p style="text-align: justify;">Sehabis itu, masih dalam keadaan telanjang Josh dan Bram kemudian membimbing Wiwied ke dalam kamar mandi untuk memandikannya. Kedua laki-laki itu membersihkan semua lendir yang berada di selangkangan dan wajah Wiwied sambil memandikannya. Namun kemudian, kedua laki-laki itu sekali lagi menggagahi Wiwied di dalam kamar mandi bergantian. Sekali lagi Wiwied digilir di dalam bath tub dalam keadaan berdiri menghadap tembok kamar mandi pertama oleh Josh, dan ketika Josh selesai mencabut batang penisnya ia langsung digantikan oleh Bram yang juga langsung memasukkan batang kejantanannya dari belakang tanpa pemanasan lagi. Baru sesudah Bram selesai, mereka benar-benar memandikan Wiwied sampai bersih sebelum kemudian mereka kembali berpakaian dan keluar meninggalkan motel itu kembali menemui rekan-rekan mereka yang sedang bersama saya. Kami bertemu kembali di tempat di mana saya dan Wiwied pertama kali bertemu dengan mereka. Dan ketika bertemu Wiwied saya sedikit heran, kok sekarang sanggul istri saya telah terlepas, jepitan rambut besar yang tadinya digunakan untuk menjepit sanggul istri saya itu sekarang hanya digunakan untuk menguncir rambut istri saya ke belakang. Dandanannya juga agak acak-acakan, tidak serapi waktu pergi. Namun ketika mata saya bertemu dengan mata Boy, entah mengapa kecurigaan saya itu langsung sirna.</p>
<p style="text-align: justify;">Singkat kata, akhirnya entah mengapa kami sepakat membawa mereka pulang ke rumah. Sekali lagi aneh, di rumah itu tidak ada siapa-siapa, bahkan pembantu pun tidak tampak batang hidungnya. Saya diajak duduk di ruang tengah oleh Josh dan Bram sementara yang lainnya masuk ke kamar tidur bersama Wiwied, sementara pintu kamar seperti sengaja dibiarkan terbuka lebar. Saya masih sempat mendengar suara Boy yang tanpa sungkan-sungkan meminta Wiwied menanggalkan pakaiannya, serta membuka kunciran rambutnya hingga kini rambutnya tergerai bebas ke bawah. Mereka cukup terkejut ketika melihat Wiwied hanya mengenakan celana dalam G-string transparan warna putih plus bra berenda yang juga transparan dan sama warnanya, jelas kedua potong pakaian dalam itu menunjukkan kemontokan pantat serta payudaranya. Boy dan yang lainnya seperti terperangah dengan kemolekan tubuh Wiwied. Sesaat kemudian Boy mulai memeluk dan menciumi Wiwied dari belakang. Fai yang berjongkok memulai mencium dari paha kemudian ke pantat, sedangkan Bram meremas-remas payudara Wiwied serta menciuminya, sementara Yan memilih duduk di kursi rias sambil menonton ketiga rekannya mengeroyok Wiwied. Tidak tahan hanya melihat Wiwied memakai baju dalam, Fai mulai menarik G-string Wiwied dari belakang dan perlahan-lahan menurunkannya, sehingga sekarang pantat istri saya yang montok jelas terlihat. Pada saat yang sama, Boy melepas bra Wiwied hingga kedua buah payudara istri saya itu menggelantung bebas tanpa penghalang lagi dan segera disambut oleh Bram dengan menjilat-jilat puting susunya.</p>
<p style="text-align: justify;">Sesaat kemudian Boy melepas semua bajunya dan kemudian mengangkat tubuh molek Wiwied ke atas tempat tidur. Sementara yang Fai menyambut tubuh istri saya di atas ranjang. Wiwied terlentang di tempat tidur dengan kaki terbuka lebar, kepalanya sekarang berada di pangkuan Fai. Ia merintih-rintih karena kemudian Boy menjilati dan menghisap klitorisnya. Tampaknya tubuh Wiwied tidak bisa menolak kenikmatan yang diberikan Boy, meskipun saya yakin dia sedang di bawah pengaruh Hipnotis, tak berapa lama kemudian vagina Wiwied yang sekarang sudah cukup basah dengan mudah menerima penis Boy. Kaki Wiwied diangkat, dilingkarkan ke tubuh Boy pada saat dia menggoyang naik turun. Kira-kira lima menit, Boy mempercepat goyangannya dan tiba-tiba mencabut penisnya dari dalam vagina Wiwied.  Tunggu dulu, gue belum mau keluar. Loe terlalu cantik untuk dilewatkan sesaat, jadi harus dinikmati dengan waktu yang cukup lama..  Boy kemudian mengangkat tubuh istri saya dan memposisikannya doggy style dengan perut diganjal bantal dan pantat menghadap ke atas.</p>
<p style="text-align: justify;">Sekarang keindahan pantat Wiwied benar-benar terlihat, tidak satu orang pun yang tidak terangsang melihat Wiwied pada posisi tsb. Tanpa menyia-nyiakan waktu, Boy membimbing penisnya masuk ke dalam vagina Wiwied yang masih basah dan tampak berwarna pink muda. Kedua tangan Boy memegang pantat Wiwied, sedangkan pinggulnya bergoyang-goyang berirama. Sesekali tangan Boy mengelus-elus pantat Wiwied dan sesekali meremas payudara Wiwied dari belakang. Beberapa menit kemudian, Boy kembali mempercepat goyangan pinggulnya, kemudian dia menarik kedua tangan Wiwied. Jadi sekarang persis seperti naik kuda lumping, kedua tangan Wiwied dipegang dari belakang sedangkan pantatnya digoyang seirama. Akhirnya Boy tidak lagi bisa mempertahankan, dia lepaskan spermanya ke dalam vagina Wiwied disertai erangan kenikmatan. Tampak cairan putih kental keluar dari dalam vagina Wiwied seiring dengan dicabutnya penis Boy dari dalam vagina Wiwied, cairan putih tsb mengalir ke pahanya dan menetes di tempat tidur. Beberapa detik kemudian tiba-tiba badan Boy didorong oleh Fai,  Gantian dong, sekarang giliran gue..</p>
<p style="text-align: justify;">Wiwied dibimbing masuk ke dalam kamar mandi yang sekarang sudah penuh dengan air hangat. Fai dengan bersemangat membersihkan tubuh Wiwied, terutama di bagian kemaluannya. Fai yang sudah telanjang bulat dengan penis tegang, meminta Wiwied untuk melakukan oral sex. Wiwied menuruti saja kemauan Fai, bahkan dia memperlakukan Fai seperti suaminya sendiri yaitu dengan menjilati bagian kepala penis dan dilanjutkan dengan  deep troath . Saya sudah menceritakan bagaimana lihainya Wiwied dalam permainan ini, hingga tidak usah dijelaskan lagi bagaimana nikmat yang dirasakan oleh Fai dengan pelayanan Wiwied seperti itu. Masih di dalam kamar mandi, Wiwied kemudian disetubuhi Fai dengan berdiri dari belakang. Kedua tangan Fai meremas-remas payudara Wiwied, sedangkan pinggulnya bergoyang dengan cepat. Goyangan ini bertahan selama hampir sepuluh menit, sebelum akhirnya dicabut. Pada saat bersamaan Wiwied diposisikan berlutut menghadap Fai. Sekali lagi Wiwied melakukan oral sex, tapi kali ini tidak lama. Hanya dengan beberapa isapan, penis Fai menyemburkan isinya ke dalam mulut Wiwied serta wajahnya. Wiwied kembali menelan air mani, kali ini dari penis Fai. Sama seperti tadi, sebagian air mani ini juga meluap keluar dari dalam mulut dan berlepotan di wajahnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Fai kemudian meneruskan membersihkan badan Wiwied dan akhirnya membimbingnya keluar dari bath tub kembali ke ranjang. Boy yang rupanya telah membongkar lemari pakaian kami menemukan koleksi lingerine Wiwied yang memang sering dia pakai terutama pada saat menjelang kami berhubungan intim sebagai  starter . Boy sudah mempersiapkan stoking, gather, G-tring dan bra yang serasi ditambah baju tidur.  Ayo sekarang kamu pakai baju ini dan menunggu kedatangan teman-teman kita yang lain.  perintah Boy pada Wiwied. Boy, Bram dan Josh sekarang duduk berhadapan dengan saya di meja kerja. Mereka mengajak saya ngobrol mengenai perusahaan dotcom disertai business case-nya. Saya sangat terkejut ketika melihat Wiwied dari celah-celah pintu kamar yang terbuka sedikit, dia memakai baju tidur transparan lengkap dengan stoking dan ghater-nya. Dia tampak begitu seksi dan merangsang dengan rambut tergerai acak-acakan. Bram dan Yan berada di samping kiri dan kanan Wiwied sambil menciumi lengan dan meremas-remas payudaranya. Masih dari celah-celah pintu, saya bisa melihat sekarang ketiganya merebahkan diri di tempat tidur. Bram menciumi bibir istri saya sambil meremas payudara sedangkan kepala Yan menghilang di bawah selangkangan Wiwied sambil kedua tangannya dari bawah meremas-remas pantat.</p>
<p style="text-align: justify;">Saya terkejut ketika Boy mengajak saya masuk ke dalam kamar Wiwied untuk mengambil buku daftar PIN untuk diberikan kepada Boy. Saat masuk ke dalam kamar, saya dapat melihat dengan jelas Bram sedang melepas bra Wiwied dan Yan sedang menarik ke bawah G-string istri saya dengan giginya. Setelah selesai menelanjangi Wiwied, Bram langsung menghisap puting susu Wiwied yang sebelah kiri. Bahkan saya masih inggat, puting susu Wiwied sudah ereksi menjadi bengkak dan meruncing. Tanpa rasa apa-apa saya terus saja berjalan melewati tempat tidur dan langsung membuka laci lemari di samping kiri di mana Wiwied sedang terlentang dan dikerubuti dua orang laki-laki yang juga sudah sama-sama bugil. Dari dalam laci saya mengambil sebuah buku catatan yang berisi PIN kartu kredit saya dan Wiwied. PIN dan kartunya kemudian saya serahkan pada Josh yang menunggu di belakang saya. Ketika saya beranjak melewati tempat tidur lagi untuk keluar dari kamar, Bram menghisap-hisap serta meremas payudara Wiwied, Yan masih dengan beringas menciumi serta menyedot vagina istri saya. Anehnya Wiwied tampak biasa saja, bahkan seperti menikmati kejadian tersebut. Matanya tampak setengah terpejam sementara tangan kirinya meremas-remas kepala Bram yang sedang terbenam di dadanya. Sementara tangan satunya lagi berada di atas kepala Yan. Sesekali dia merintih keenakan karena rangsangan pada klitoris dan payudaranya. Boy dengan sigap menarik saya keluar dari kamar Wiwied, mungkin dia tahu saya mulai curiga dengan perlakuan temannya pada istri saya. Sayup-sayup terdengar mobil meninggalkan rumah, ternyata Josh sedang menuju mesin ATM untuk menarik uang dari kredit card saya dan Wiwied.</p>
<p style="text-align: justify;">Saya dan Boy kembali duduk berhadapan di samping kamar di mana Wiwied sedang disetubuhi. Masih dengan pintu kamar yang terbuka lebar, sehingga tampak dengan jelas bagaimana Wiwied dalam posisi doggy stye sedang menghisap penis Bram sedangkan dari belakang Yan menggoyang-goyangkan pinggulnya sambil kedua tangannya menepuk-nepuk pantat Wiwied. Suara mereka pun terdengar dengan jelas.  Ooh gila.. vagina si Wiwied ini benar-benar basah dan menggigit. Belum pernah sebelumnya saya merasakan yang seenak ini. Mujur benar si Doni mempunyai istri seperti dia, tapi sayangnya saat ini kita yang menikmatinya.. he.. he.. he..  desah Yan.  Hisapannya pun cukup kuat, pandai sekali dia nyepongnya,  balas Bram. Selama lebih setengah jam mereka berdua secara bersama-sama menyetubuhi istri saya, berbagai macam posisi mereka coba. Mulai dari doggy style, women on top, berdiri dan ketika Bram tak bisa bertahan lagi dan menyemburkan maninya ke dalam vagina Wiwied, kemudian mereka bertukar posisi. Kembali dengan doggy style, Kini Yan yang menggasak Wiwied dari belakang, sementara Bram menjejalkan penisnya ke mulut Wiwied untuk dibersihkan, sampai akhirnya diakhiri dengan gaya Wiwied duduk membelakangi Bram yang sesaat kemudian kembali menyemprotkan air mani ke wajah Wiwied. Yan pun juga mengalami klimaks dengan mengeluarkan isinya ke dalam vagina Wiwied. Namun rupanya Yan belum puas, ia menarik kepala Wiwied untuk menghisap penisnya yang mulai loyo. Wiwied menuruti saja permintaan Yan tsb. Dengan wajah yang masih penuh dengan sperma, Wiwied melakukan oral sex lagi beberapa saat sebelum Kedua pria tersebut kemudian membimbing Wiwied masuk ke dalam kamar mandi, Wiwied untuk yang kedua kalinya dibersihkan tubuhnya dari ceceran sperma di vagina maupun di wajahnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Tampaknya Boy dan Ali yang juga menyaksikan aksi tsb dari luar mulai terangsang kembali. Buktinya setelah saling memberi isyarat dengan mata mereka sekarang menuju kamar mandi dan mengeringkan tubuh Wiwied yang sudah bersih dan segar dengan handuk. Bram dan Yan memakai baju kembali dan keluar menemui saya. Sayangnya sekarang pintu kamar tidur ditutup, sehingga saya tidak tahu apa yang terjadi di dalam. Yang jelas, Boy dan Ali pasti kembali menggauli istri saya untuk yang kedua kalinya. Dari pengakuan Wiwied kemudian, saya tahu bahwa pada saat itu Boy langsung mengangkat tubuhnya dan meletakkan di atas sofa yang terdapat di dalam kamar. Boy memposisikan Wiwied menungging dengan tangan berpegangan pada pundak Ali yang duduk di sofa, kemudian Boy memasukkan penisnya dari belakang. Sementara Ali yang duduk menghadap Wiwied menciumi wajah dan payudara Wiwied bergantian. Tak berapa lama kemudian, tubuh Wiwied merosot ke bawah, kepalanya menangkup di selangkangan Ali dengan melakukan oral pada penisnya, sementara Boy tetap menggoyangkan pinggulnya maju mundur dari belakang. Dan ketika telah selesai menyemburkan air maninya kembali ke dalam vagina Wiwied, Ali langsung membopong tubuh istri saya dan memangkunya. Wiwied sekarang duduk di atas pangkuang Ali, dengan mudah batang penis Ali menyelusup ke dalam vagina Wiwied. Namun aneh, Wiwied malah dengan sukarela menggoyangkan pinggulnya naik turun di atas pangkuan Ali dengan kedua belah tangan berpegangan pada pundak Ali. Beberapa lama kemudian Ali membopong tubuh Wiwied yang sudah keletihan itu dan meletakkannya di atas tempat tidur sebelum kemudian menindihnya dan mulai menggerakkan kembali tubuhnya naik turun.</p>
<p style="text-align: justify;">Saat itu Josh melangkah masuk ke dalam kamar, rupanya ia telah pulang dari menguras ATM saya sampai batas limit, dan ketika melihat Ali sedang menggoyangkan tubuhnya di atas tubuh istri saya yang sekarang telungkup di atas tempat tidur ia jadi kembali terbangkit nafsunya, maka ia pun kembali membuka seluruh pakaiannya dan mengocok penisnya hingga menegang, dan ketika Ali selesai, tanpa basa basi Josh pun segera naik di atas tubuh istri saya yang kini telah lemah lunglai. Wiwied hanya pasrah saja tubuhnya dibolak-balik sesuka hati oleh Josh sambil terus disetubuhi sampai pada akhirnya Josh mencabut penisnya dari vagina Wiwied dan menjejalkan ke mulut istri saya, bertepatan dengan memuntahkan air maninya ke dalam mulut Wiwied. Air mani itu muncrat dan berlepotan ke seluruh wajah istri saya setelah sebagian tertelan. Baru sesudah Josh menyelesaikan hajatnya, kelihatannya mereka sudah cukup puas melampiaskan semua nafsu birahinya terhadap istri saya. Setelah mengucapkan terima kasih, keempat sekawan tsb meninggalkan rumah kami sambil membawa G-string dan bra Wiwied yang berwarna putih, perhiasan, dan uang tunai baik yang ada di rumah maupun dari ATM. Boy berkata bahwa dalam waktu satu jam semuanya akan kembali seperti biasa. Sekarang dia meminta saya meneruskan menulis proposal, serta meminta Wiwied untuk tidur agar tidak kecapaian setelah melayani tamu.</p>
<p style="text-align: justify;">Kira-kira satu jam kemudian, saya terbangun dari tidur saya di atas meja kerja. Saya merasa semua kejadian tadi seperti mimpi, untuk membuktikan saya masuk ke dalam kamar, ternyata di situ saya menyaksikan Wiwied sedang terlelap tanpa baju dengan hanya ditutupi selimut. Tampak juga gaun tidur, G-tring hitam, stoking serta gather tercecer di bawah tempat tidur. Makin penasaran, saya periksa tempat tidur Wiwied. Masih ada sisa-sisa sperma di mana-mana. Bahkan banyak juga yang masih melekat di wajah, mulut, rambut dan di selangkangannya. Saat Wiwied terbangun dari tidurnya, dia juga merasakan hal yang sama. Dapat mengingat semua kejadian dengan jelas, tetapi tidak bisa menolak untuk tidak melakukannya. Begitulah, kami kehilangan harta dan harga diri setelah dihipnotis.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ceritasex.cn/pengaruh-hipnotis/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Iryanti, Gadis Warnet</title>
		<link>http://www.ceritasex.cn/iryanti-gadis-warnet/</link>
		<comments>http://www.ceritasex.cn/iryanti-gadis-warnet/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 06 Feb 2010 05:45:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cerita Sex</dc:creator>
				<category><![CDATA[Daun Muda]]></category>
		<category><![CDATA[Seks Umum]]></category>
		<category><![CDATA[selingkuh]]></category>
		<category><![CDATA[chatting]]></category>
		<category><![CDATA[isep kontol]]></category>
		<category><![CDATA[mirc]]></category>
		<category><![CDATA[ngentot]]></category>
		<category><![CDATA[oral]]></category>
		<category><![CDATA[warnet]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ceritasex.cn/?p=1249</guid>
		<description><![CDATA[Namaku Rio, seorang dokter di sebuah rumah sakit di Jakarta Selatan, kisah yang akan kuceritakan ini terjadi saat aku masih bertunangan dengan istriku sekarang ini, dan terjadi berawal dari hal yang sama sekali tidak terduga sedikitpun olehku. Bulan February 2001 lalu aku mengantarkan kawanku Rudy ke bengkel Toyota di jalan ***(edited) Jakarta. Saat tiba di [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Namaku Rio, seorang dokter di sebuah rumah sakit di Jakarta Selatan, kisah yang akan kuceritakan ini terjadi saat aku masih bertunangan dengan istriku sekarang ini, dan terjadi berawal dari hal yang sama sekali tidak terduga sedikitpun olehku.</p>
<p style="text-align: justify;">Bulan February 2001 lalu aku mengantarkan kawanku Rudy ke bengkel Toyota di jalan ***(edited) Jakarta. Saat tiba di bengkel, sudah banyak mobil yang antri menunggu giliran.<br />
Rudy tersenyum kepadaku dan bilang, &#8220;Sorry Yo.., kayaknya loe musti nungguin lama juga nih..&#8221;<br />
Brengsek juga nih pikirku, biar tidak bosan, aku pergi ke warnet di dekat situ, persisnya di sebelah Soto Kudus, persis depan Danar Hadi.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku masuk, disambut oleh seorang cewek yang ternyata adalah yang bertugas menjaga warnet tersebut. Mulanya aku tidak begitu memperhatikannya, berhubung hatiku lagi kesal sekali sama ulah si Rudy tadi. Tapi ketika aku mulai meng-klik mouse dan sedang menunggu connect-nya internet, baru aku perhatikan bahwa cewek penjaga ini punya wajah cukup lumayan dan body yang oke juga. Terus terang, saat itu juga aku terpikat oleh penampilannya, aku jatuh hati pada &#8220;the way she look&#8221;.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku sibuk berpikir dalam hati, bagaimana cara aku berkenalan dengannya? Tapi mungkin memang takdir cara itu datang dengan sendirinya, cewek itu tidak lama kemudian membuka juga internet dan dia duduk persis di belakangku, jadi posisi kami saling memunggungi satu sama lain. Aku sempat menoleh ke belakang, dan kulihat dia membuka situs &#8220;mIRC&#8221;.<br />
&#8220;Kayaknya dia mau chatting nih..,&#8221; pikirku.<br />
Ternyata benar, dia mau chatting, dan aku sempat melihat kalau dia pake &#8220;nick&#8221; yanthie. Langsung saja aku masuk ke &#8220;mIRC&#8221; juga, aku call dia, eeh dia nge-reply.</p>
<p style="text-align: justify;">Kami berkenalan, dan selama chatting itu dia sama sekali tidak sadar kalau Rio yang sedang ngobrol dengannya adalah cowok yang duduk tepat di belakangnya, hihihihi. Pas sejam aku selesai, aku bayar, aku pancing obrolan dengannya, aku tahu sekarang namanya &#8220;Yanti&#8221;, tepatnya &#8220;Iryanti&#8221;. Tampangnya benar-benar membuat aku bergairah.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku lalu keluar, pergi ke bengkel menemui si Rudy, mobilnya sedang dikerjakan. Aku pergi ke telepon kartu di bengkel itu, kutelepon penerangan &#8220;108&#8243;. Kutanyakan nomer telepon warnet itu, setelah kudapat langsung kutelepon, dan aku minta bicara dengan Yanti.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Siapa nih..?&#8221; suara Yanti di seberang sana.<br />
&#8220;Ini Rio, boleh saya kenal kamu..?&#8221; jawabku.<br />
&#8220;Boleh aja, tapi kamu dapat nomer ini darimana..?&#8221; tanya Yanti lagi.<br />
&#8220;Saya yang pernah main di warnet kamu..,&#8221; jawabku.<br />
Dan Oh My God..! Tahu tidak Yanti bilang apa..?<br />
&#8220;Kamu yang tadi chatting di belakang saya khan..?&#8221; katanya.<br />
Mati aku, dia sudah tahu rupanya. Terlanjur malu aku mengaku saja, kalau itu benar aku, dan aku terpesona oleh penampilan dia, tapi aku malu untuk menegur disana, jadi aku pakai cara ini saja.</p>
<p style="text-align: justify;">Yanti tertawa, enak deh suaranya, kuberanikan saja ingin menjemput dia, mau atau tidak. Katanya dia sore ini tidak bisa, karena cowoknya (yang akhirnya kuketahui namanya Joe) menjemput dia.<br />
&#8220;Gimana kalau besok lusa aja..?&#8221; katanya.<br />
&#8220;Oke aja..&#8221; kataku.</p>
<p style="text-align: justify;">Jadilah lusanya aku tidak praktek, jam 17.00 tepat aku sudah sampai di warnet Yanti. Kami terus jalan deh. Di jalan, dasar pikiran nakalku sudah di ubun-ubun, aku tanya sudah berapa lama Yanti pacaran sama Joe, berapa kali pacaran, terakhir aku juga mengaku sudah punya cewek, terus aku tanya mau tidak Yanti jadi cewekku? Yanti kaget.<br />
&#8220;Jadi Yanti ngeduain Joe donk Yo..?&#8221; tanyanya.<br />
&#8220;Iya sama Rio juga ngeduain cewek Rio..&#8221; jawabku sekenanya.<br />
&#8220;Nakal kamu Yo..&#8221; kata Yanti sambil mencubit lenganku.<br />
&#8220;Naaah.., kena nih cewek..!&#8221; pikirku.<br />
<span id="more-1249"></span><br />
Kutangkap tangannya, kupegang kuat, kuhentikan mobilku di depan sebuah bangunan sepi dekat Pasaraya Manggarai, kutarik Yanti ke arahku, kucium bibirnya, Yanti mendorong tubuhku.<br />
&#8220;Hhhmmmhh malu-malu kucing nih..&#8221; pikirku.<br />
Terus kutarik tubuhnya sambil mengeluarkan kata-kata gombalku. Lama kelamaan Yanti tidak menolak lagi, dibalasnya ciumanku, dijulurkannya lidahnya, digigitnya bibirku, kusedot lidahnya, nikmat sekali, urat syarafku terangsang. Kuraba pahanya, terus ke selangkangannya, Yanti mendesah.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Jangan Rio..&#8221; desahnya.<br />
Aku berhenti, kuhidupkan mesin mobil, kuarahkan mobil ke hotel ***(edited) di jalan ***(edited) Jakarta Pusat, aku langsung parkir.<br />
&#8220;Mau ngapain kita kesini Yo..?&#8221; tanya Yanti.<br />
Aku tidak menjawab, kusuruh dia menunggu di mobil, aku masuk ke dalam, aku check in di kamar 104.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah diantar ke kamar, kuhidupkan AC, lalu aku ke mobil.<br />
&#8220;Yan, turun yuuk..!&#8221; kataku.<br />
&#8220;Nggak tau ah, mau ngapain sih Rio..?&#8221; kata Yanti.<br />
Lagi-lagi kukeluarkan jurus mautku, sampai akhirnya Yanti mau juga ikut masuk ke kamar. Di dalam kamar kubuka celana panjangku. Dengan hanya pakai handuk aku ke kamar mandi, saat aku keluar kulihat Yanti sedang nonton TV.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Film apa sih Yan..?&#8221; tanyaku sambil duduk di sebelahnya.<br />
&#8220;Sinetron..,&#8221; jawab Yanti pendek.<br />
Kupandangi wajahnya, Yanti jengah juga dan bilang, &#8220;Ngapain sih ngeliatin gitu Yo..?&#8221;<br />
&#8220;Kamu cantik..&#8221; rayuku.<br />
&#8220;Rio pengen ciuman kayak tadi deh..&#8221; kataku.<br />
Kutarik tubuhnya, Yanti diam saja, kuangkat dagunya, kupandangi lekat-lekat matanya, kucium lembut bibirnya, Yanti memejamkan matanya. Dibalasnya ciumanku, kujulurkan lidahku, Yanti membalasnya, kuhisap, Yanti membalasnya. Pikiranku benar-benar sudah dikuasai gairah memuncak, kuciumi lehernya, kujilati sepuasku.<br />
&#8220;Aaacchh.., Riooo&#8230;&#8221; desahan Yanti membuatku tambah bernafsu.<br />
Aku berdiri di samping tempat tidur sambil tidak lepas memandang wajahnya sedikitpun.</p>
<p style="text-align: justify;">Kubuka bajuku, handuk, terakhir celana dalamku, sengaja tidak kupadamkan lampu, penisku langsung &#8220;tegak-melompat&#8221; keluar &#8220;sarangnya&#8221;. Kulihat Yanti terkesima, kuhampiri dia, kuraih tangannya, kuletakkan di atas penisku, kusuruh dia melakukan gerakan &#8220;mengocok&#8221;.<br />
&#8220;Aaahhh nikmat sekali..&#8221; desahku.</p>
<p style="text-align: justify;">15 menit Yanti melakukan itu, kulepaskan tangannya dari penisku, kutarik wajahnya, kuarahkan ke penisku. Mula-mula Yanti menolak, dengan sedikit paksaan mau juga dia. Masuklah penisku dalam mulut mungilnya. Digerakkannya maju-mundur berulang kali sampai basah kuyup penisku oleh ludahnya, kurasakan spermaku mau keluar, kutarik rambutnya.<br />
&#8220;Stop Yanti..!&#8221; kataku.</p>
<p style="text-align: justify;">Kini kubaringkan dia, kutelanjangi Yanti sampai sehelai benang pun tidak ada lagi di tubuhnya. Kupandangi tubuhnya, tampak di perut kirinya ada tahi lalat cukup besar. Kucium bibirnya, dagunya, turun ke lehernya, dadanya, perutnya, kuhisap pusar dan tahi lalatnya, Yanti menggelinjang geli. Kuteruskan ke selangkangannya, kumasukkan jari tengahku sambil aku terus mencium selangkangannya.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Aaaccchhh Riiiooo niiikkkmaaatnyaaa sayaaanggg&#8230;&#8221; desah Yanti.<br />
Yanti mengangkat pantatnya setinggi-tingginya, kurasakan basah vaginanya. Yanti telah orgasme rupanya. Kini aku menaiki tubuh Yanti, penisku pun sudah amat berdenyut mendambakan pelampiasan pula. Kuarahkan penisku ke vagina Yanti, kuturunkan perlahan pinggulku, tidak sedetikpun kulepaskan pandanganku dari mata Yanti. Kulihat Yanti menggigit bibirnya.<br />
&#8220;Sakiiittt Riiiooo&#8230;&#8221; desahnya.<br />
Kuhentikan sejenak, lalu kuteruskan lagi, Yanti mendesis lagi. Kulihat butiran air mata di sisi matanya.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Sakit saayyyaangg..?&#8221; tanyaku.<br />
&#8220;Iyyaaa Riiiooo, punya kamu besar sekali..&#8221; jawab Yanti meracau.<br />
&#8220;Mana besar sama punya Joe..?&#8221; tanyaku.<br />
&#8220;Besar punya kamu Riooo&#8230; sakit saaayyyaangghhh, perrriiihhh, tapiii niiikmaaatthh sekaliii..&#8221; rintih Yanti.<br />
Akhirnya masuk semua penisku ke dalam vaginanya. Kutarik maju mundur, akibatnya sungguh luar biasa, Yanti menggeram, kedua kakinya menjepit pinggangku sekuatnya, giginya ditanamkan di bahuku, kurasakan pedih. Waaaahhh berdarah nih&#8230; Yanti orgasme kedua kalinya.</p>
<p style="text-align: justify;">Kini kuganti posisiku, Yanti kusuruh menungging, dan dengan nafsu memuncak kutusukkan penisku ke anusnya, kurasakan otot &#8220;spchincter ani&#8221;-nya mencengkram erat penisku. Kugerakkan masuk-keluar penisku, kugenggam payudaranya, Yanti menggenggam tepi tempat tidur.<br />
&#8220;Riiooo&#8230; saaayyyaanngghh&#8230; ciiintaaa&#8230; eeennnaaakkhhh&#8230; Riioooo.. Rioooo&#8230; nikmaaatthh sayaaaanggghh&#8230; terrruuussshhh cinnntaaaa&#8230;&#8221; erang Yanti terus menerus.<br />
Aku benar-benar nikmat, &#8220;Yaaanntiii kuhamili kamuuuu&#8230; badan kamuuu enak bangeeettthh..&#8221; erangku juga.</p>
<p style="text-align: justify;">10 menit kemudian aku tidak tahan lagi, penisku berdenyut kuat, kucengkram erat pinggul Yanti, kusemburkan sperma hangatku dalam vagina Yanti.<br />
&#8220;Aaacchhh nikmat sekali&#8230;&#8221; desahku di telinganya.<br />
Kami pun terkulai lemas.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ceritasex.cn/iryanti-gadis-warnet/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tukang kirim Galon Air dengan Nonik</title>
		<link>http://www.ceritasex.cn/tukang-kirim-galon-air-dengan-nonik/</link>
		<comments>http://www.ceritasex.cn/tukang-kirim-galon-air-dengan-nonik/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 02 Nov 2009 18:04:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cerita Sex</dc:creator>
				<category><![CDATA[Daun Muda]]></category>
		<category><![CDATA[Seks Umum]]></category>
		<category><![CDATA[bercinta]]></category>
		<category><![CDATA[ml]]></category>
		<category><![CDATA[ngentot]]></category>
		<category><![CDATA[nonik]]></category>
		<category><![CDATA[oral]]></category>
		<category><![CDATA[seks]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ceritasex.cn/?p=1041</guid>
		<description><![CDATA[Semasa masa-masa akhir kuliah, gw dah berpikir untuk buka usaha sendiri. Banyak hal yang ingin gw lakukan. Akhirnya, atas bantuan dari ortu, gw membuka usaha air minum galon. Tempatnya di salah satu rumah ortu yang tidak ditinggali. Setelah direnovasi, lalu sedikit interior design, maka siaplah untuk memulai bisnis. Awal-awalnya memang sedikit sulit, tetapi lama-kelamaan usaha [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Semasa masa-masa akhir kuliah, gw dah berpikir untuk buka usaha sendiri. Banyak hal yang ingin gw lakukan. Akhirnya, atas bantuan dari ortu, gw membuka usaha air minum galon. Tempatnya di salah satu rumah ortu yang tidak ditinggali. Setelah direnovasi, lalu sedikit interior design, maka siaplah untuk memulai bisnis. Awal-awalnya memang sedikit sulit, tetapi lama-kelamaan usaha gw semakin berkembang. Posisi gw sebagai kasir dan penerima telp, sedangkan pegawaiku bertugas mengirimkan galon ke pelanggan. Kalau pas ada kuliah, kupercayakan pada seorang pegawaiku yang udah ikut gw sejak awal. Toh selama ini tidak ada masalah.</p>
<p style="text-align: justify;">Ditempat gw, sering banget para pegawai pengirim galon itu keluar masuk. Berganti-ganti orang. Untung ada si Faizal, pegawai yang gw percaya dan udah ikut gw dari awal. Umurnya masih muda, jebolan STM. Dia udah jadi kayak mandor dan wakil gw gitu. Ngatur jadwal pengiriman dan menyimpan uang. Karena sama-sama masih muda, pembicaraan kami ini klop gitu.</p>
<p style="text-align: justify;">Kami sering membagi cerita kalo pas tidak ada kiriman. Semacam curhat-curhatan gitu. Dia ada masalah apa, cerita ama gw, begitu juga sebaliknya. Sering juga kita bercanda cubit-cubitan sampe kadang diliatin para pembantu yang datang bawa galon naek mobil majikannya. Ntah, emangnya ada yang aneh ya?</p>
<p style="text-align: justify;">Lama-lama gw mulai suka ama si Faizal ini. Mungkin benar kata pepatah jawa: tresno jalaran soko kulino. Gw merasa seneng kalo dia ada dikantor, kalo pas ngirim galon sambil kasih perintah ke pegawai lain wow kok keliatannya gagah banget (padahal kan ya biasa aja). Gw jadi suka berdandan kalo ke kantor, biasalah. Make-up tipis plus kaus-kaus yg menarik perhatian cowok. hehehe&#8230;</p>
<p style="text-align: justify;">Siang itu, kebetulan semua kiriman udah jalan. Hanya Faizal yang melakukan semuanya karena pegawaiku yang lain izin pulang kampung. Kita lalu ngobrol-ngobrol menghabiskan waktu. Karena udah akrab banget, obrolan kita lalu nyerempet-nyerempet ke topik-topik &#8220;lampu merah&#8221;.</p>
<p style="text-align: justify;">Awalnya aku agak segan sih, tapi mungkin karena udah kenal banget plus dia enak kalo mancingnya alias ndak vulgar, gw jadinya ngga keberatan menanggapinya. Gw tulis percakapan yang gw ingat aja ya. Faizal tanya apa gw pernah diganggu orang iseng kalo dikampus. Gw heran emange ada apa? Dia jawab, &#8220;lha nonik bajunya seksi-seksi geto&#8221; sambil tertawa kecil. Yeee, cuman kaus gini aja kok. &#8220;Lho iya. tapi tipis and ketat, mbak. kan bikin cenut-cenut.&#8221;. Hehehe&#8230;kita berdua tertawa kecil.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Emang loe suka ya?&#8221;, tanya gw iseng. Faizal ngga jawab tapi jempol kanannya naik tinggi banget. &#8220;plus nonik cuakep kayak artis hong kong.&#8221;. alaaa gombal elo, sahutku ketus. &#8220;Lha dibilang ndak percaya. Nonik pasti udah ada pacar ya?&#8221;. Gw diem sebentar, &#8220;dah putus mas.&#8221;. &#8220;Weleh&#8230;punya cewe kayak nonik diputus. kenapa?&#8221;. Gw bilang ya ngga tahu, ndak cocok mungkin. Dia lalu diem ae. Matanya agak tertuju kebawah, trus tiba-tiba senyum2 sendiri.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;He&#8230;lu udha gila ya? senyum-senyum sendiri.&#8221;, ujar gw agak ketus. Dia tertawa kecil trus bilang kalo ngga ada apa-apa kok. GW jadi penasaran lalu maksa dia untuk bicara, ada apa kok senyum2 kayak orang gila begeto. Dia tetap ndak mau ngomong, maka aku terus paksa dia sambil tak cubit2 supaya mau ngaku. Akhirnya sambil minta ampun dia ngomong, &#8220;Aduh tapi nonik musti janji ngga boleh marah lho.&#8221;. Aku bilang, &#8220;iya wes ayo cepetan bicara.&#8221; Sambil senyum2 simpul begitu, Faizal bilang kalo dia tadi secara tidak sengaja melihat warna celana dalam gw !!!<br />
<span id="more-1041"></span><br />
Waduh rasanya gw langsung merah karena malu. Tapi gw tahan, emang apa warnanya? Faizal tertawa kecil, &#8220;item mbak, persis kayak beha situ!&#8221;. &#8220;He loe kok tahu warna beha gw item?&#8221;. Faizal menjawab, &#8220;lho mbaknya kan pake kaus ketat putih, tipis gitu. kan keliatan mbak.&#8221;. Mukaku tambah memerah rasanya. Aku ingin marah lalu gw omelin si pegawaiku yg cabul ini, tapi entah kenapa tidak bisa keluar. Malah, yg aneh tuh, ada semacam rasa aneh yang mendesir tubuhku. Hm&#8230; Faizal nyerocos lagi, &#8220;tapi sebenarnya cocok mbak. situ cakep putih mulus, kalo pake kaus dan beha item ini keliatan sexy banget.&#8221;, kali ini wajahnya tampak serius, bukan mesum kayak sebelumnya. &#8220;udah ah.&#8221;, tukasku mengalihkan perhatian. Jangan sampai kebablasan nih, pikir gw.
</p>
<p style="text-align: justify;">Tak lama kemudian datang pembeli lagi. kami lalu keluar dari rumah. Sehabis melayani, kembali faizal cengar-cengir tersenyum. Gw jadi bingung, &#8220;eh lu beneran udah gila ya? senyum2 sendiri.&#8221;. &#8220;Hahaha&#8230;abis tadi pas saya membungkuk ambil uang kembalian yang jatuh itu, saya ngga sengaja liat lagi mbak!&#8221;, sahutnya enteng sambil cengar-cengir. &#8220;Bukan salah saya lho, lah mbaknya pake rok mini gitu.&#8221;. wew&#8230;ingin banget gw marahi abiz2an, tapi ya&#8230;gimana. gw juga seh yang kurang hati-hati ama aset gw. huh.</p>
<p style="text-align: justify;">Tiba-tiba si pegawai gw yang mesum itu duduk disebelah gw sambil menunjukkan sesuatu. &#8220;Ini lho mbak, liaten.&#8221;. Aku lalu menoleh. yailah&#8230;.ternyata video porno yang diputar di HP dia. Faizal langsung tak cubit dan aku dorong supaya menjauh. &#8220;Lho apik ini mbak.&#8221;, ujarnya ringan sambil terus duduk disebelahku. akhirnya gw tertarik juga nih dan gw tonton juga.</p>
<p style="text-align: justify;">Udah beberapa video Faizal tunjukkan ke gw dan kita lalu tertawa cekikikan sendiri melihat adegan itu. Iseng, Faizal lalu bertanya apa pernah gw melakukan hal itu. Gw membelalakan mata trus gw tampar ringan pipinya.</p>
<p style="text-align: justify;">Eh tiba-tiba dia lalu memegang tanganku dan langsung menciumi bibirku !!! Aku kaget setengah mati. Dengan sekuat tenaga gw dorong dia sampai terjengkang jatuh ke lantai. Gw lalu berdiri sambil marah-marah. Dia nampak shock, lalu duduk disebelah gw sambil meminta maaf karena khilaf. huh, seandainya kalo gw ndak ada rasa suka ama dia, udah gw gampar dan gw panggil pak rt (!).</p>
<p style="text-align: justify;">Dia lalu cerita panjang lebar. Agak2 sara sih, jadi ndak gw tulis disini, intinya dia ingin pacaran ama gadis seperti aku. Gw diem aja, sambil menerawang.</p>
<p style="text-align: justify;">Ingin banget gw bilang kalo gw juga suka ama elo, tapi apa mungkin ya? Tak lama kemudian, Faizal lalu memegang tanganku. GW diem aja. GW tak yakin bisa inget apa yang terjadi, tapi lalu kita udah berciuman bibir. Dia lumat bibir gw dengan penuh gairah. Gw pasrah aja. Abis itu dia menggandeng aku dan gw ditidurkan diatas sofa ruang tamu. Faizal menindihku dan kita berciuman bibir sambil berpelukan.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah puas, dia lalu mencumbui payudara gw sambil diremasnya dengan agak kuat. GW bener2 udah lupa status gw sebagai bos sedangkan dia adalah pegawai. Aku menikmati percumbuan ini karena sejujurnya gw udah lama menyukai dia. GW biarkan dia menikmati payudaraku.</p>
<p style="text-align: justify;">Abis itu dia lalu turun dan memasukkan kepalanya kedalam rok mini aku. Paha gw dijilatin sambil tak lupa memainkan lidahnya dibelahan mq gw yang masih tertutup CD. Aku mengerang ooohh&#8230;geli tapi nikmat.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah puas memainkan mq gw sampai becek, dia lalu melepas kaus ketat putih yang aku pake, sekalian bra hitamnya. &#8220;Wah merah mudah. nonik ini benar-benar cantik&#8230;.34B ya non?&#8221;, ujarnya ringan. Gw mengangguk pelan. Lalu dengan rakusnya dia menghisap puting payudara gw secara bergantian, kiri dan kanan. oooohh enggg&#8230; aku mengerang keenakan.</p>
<p style="text-align: justify;">Sambil asyikk menikmati rangsangan di payudara dan puting gw, aku merasakan rok mini gw dilorot pelan-pelan, begitu juga dengan celana dalam aku. Jantungku berdegub dengan sangat kencang, terangsang dan tegang banget. Saat itu aku udah bugil dihadapan dia. Lalu, dengan ganas pula dia menjilati mq aku sambil memaikan clit aq. auh&#8230;sungguh nikmat. GW jepit kepalanya pake paha supaya lebih mantap jilatannya. &#8220;Aduh&#8230;sexy abis deh non ini. mqnya wangi dan basah !&#8221;, ujar Faizal penuh gairah.</p>
<p style="text-align: justify;">Beberapa menit udah berlalu. Setelah merasa cukup, dia lalu melepaskan seluruh pakaian yang dia pakai dan keluarlah senjata andalan para cowok! Gila, ukurannya besar dan hitam. Aku semakin terangsang, diselimuti kenikmatan dan rasa tegang. &#8220;Non, hisap donk?&#8221;, pintanya. Aku lalu jongkok didepan dia dan mulai menjilati penisnya yang besar itu. aouh&#8230;bau nih&#8230;hampir mau muntah rasanya, tapi ntah mengapa aku tetap melakukannya. Aku masukkan pelan-pelan dan aku &#8220;telan&#8221; seluruh penis itu hingga tenggorokan gw terasa penuh, lalu aku hisap dan meng-kocoknya dengan menggoyangkan kepala gw. Faizal mengerang keenakan sambil menjambak rambutku.</p>
<p style="text-align: justify;">Agak lama gw beri servis oral ke pegawaiku ini. Nampaknya dia hendak keluar, lalu meminta gw untuk menghentikan oral yg nikmat itu. Dia lalu menidurkan gw lagi ke sofa dan kami kembali berciuman bibir sambil berpelukan. Dia menggesek- gesekkan penisnya persis diatas belahan meq gw. Oufh&#8230;enak gila !</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Non, sampeyan masih perawan?&#8221;, tanya Faizal sambil terengah-engah. Aku agak kaget dengan pertanyaan itu, lalu dengan pelan aku menggelang. Tidak, aku sudah pernah berhubungan sex dengan mantan pacarku itu. Faizal nampak kecewa, mungkin dipikirnya bakal dapet amoy perawan. Hehehe&#8230; &#8220;Ya ndak papa lah.&#8221;, sahutnya pelan.</p>
<p style="text-align: justify;">Perlahan dia lalu memasukkan penisnya yang besar itu kedalam mq aku. Aouch.. Tubuhku tersentak, agak sakit dan perih. Faizal tetap berusaha memasukkan penisnya dan dengan sedikit paksaan, akhirnya blz&#8230;.aah&#8230;..kami sudah bersetubuh sekarang! &#8220;Oh&#8230;inikah rasanya mq amoy&#8230;basah banget, hanget&#8230;enaknya mbak. ouch!&#8221;. Dia lalu mulai mengkocok penisnya kedalam belahan mq aku. Rasa perih yang aku rasakan tadi lama-lama mulai menghilang dan digantikan oleh rasa geli yang nikmat.</p>
<p style="text-align: justify;">Kami terus bersebutuh samnbil berciuman bibir dan berpelukan. Oh nikmatnya. Setelah beberapa menit mq aku digoyang ama dia, rasanya orgasm udah mulai dekat. GW peluk faizal lebih erat dan kami pun berciuman bibir semakin ganas. Tanganku memegang pantatnya dan menekannya kebawah supaya penisnya lebih masuk, penetrasinya lebih dalam. Tak lama kemudian, aq merasa mq aku berdenyut dan merinding. Akhirnya.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Ahaaaaaaaaaaaaahhhhhhhhhhhhhhhhhh&#8221;. sambil menjerit aku melepaskan rasa nikmat orgasm yang luar biasa ini. Tanganku tetap menekan pantat Faiz agar semakin masuk kedalam penisnya. Mq aku meremas penisnya dengan kuat, berdenyut-denyut sesuai irama orgasm yang aku alami. Faizal menciumi leherku dan ternyata dia juga udah ngga bisa tahan dan kurasakan penisnya berkelojotan didalam mq aku. Oioooooooohh&#8230;terasa aliran &#8220;lahar&#8221; masuk kedalam rahim gw. Kami berdua mengalami orgasm berbarengan sambil berpelukan diatas sofa, membiarkan gejolak orgasm itu mereda&#8230;</p>
<p style="text-align: justify;">Aq duduk diatas pangkuan Faizal, di sofa yang sama tempat kami bercinta dengan nikmat beberapa menit yang lalu. Tidak ada yang bicara, cuman tatapan kosong kedepan. Sesekali faiz membelai-belai punggung gw. Kubiarkan tangannya meremasi payudaraku yang tertutup bra hitam dibalik kaus ketat putih.</p>
<p style="text-align: justify;">Sejak saat itu, hubungan kami berubah dari bos dan karyawan menjadi pasangan sex. Setiap ada kesempatan, aku selalu diajak Faizal bersetubuh di kantor. Dapur, Sofa, bahkan kamar tidur ayahku pun tidak luput dari lokasi ngesex. Lama-kelamaan, pegawaiku yang lain nampaknya mulai curiga dengan hubungan kami yang mungkin bagi dia terlalu akrab. Dan ini membawa gw pada hal-hal yang tak terduga!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ceritasex.cn/tukang-kirim-galon-air-dengan-nonik/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Dijebak Tapi Enak Bagian 2</title>
		<link>http://www.ceritasex.cn/dijebak-tapi-enak-bagian-2/</link>
		<comments>http://www.ceritasex.cn/dijebak-tapi-enak-bagian-2/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 19 Jul 2009 13:42:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cerita Sex</dc:creator>
				<category><![CDATA[kisah nyata]]></category>
		<category><![CDATA[Paruh baya]]></category>
		<category><![CDATA[Seks Umum]]></category>
		<category><![CDATA[selingkuh]]></category>
		<category><![CDATA[Tante Girang]]></category>
		<category><![CDATA[anal]]></category>
		<category><![CDATA[bercinta]]></category>
		<category><![CDATA[emut kontol]]></category>
		<category><![CDATA[faridha]]></category>
		<category><![CDATA[gangbang]]></category>
		<category><![CDATA[istri muda]]></category>
		<category><![CDATA[ml]]></category>
		<category><![CDATA[ngentot]]></category>
		<category><![CDATA[ngesex]]></category>
		<category><![CDATA[oral]]></category>
		<category><![CDATA[seks]]></category>
		<category><![CDATA[swinger]]></category>
		<category><![CDATA[tukang pasangan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ceritasex.cn/?p=682</guid>
		<description><![CDATA[Namaku Faridha. Orang biasa memanggilku dengan Ridha saja. Aku lahir tahun 1975 di sebuah kota terkenal dengan julukannya, yaitu kota hujan. Aku telah menikah dengan seorang pria keturunan Jawa bernama Mas Hadi. Kami dikarunai seorang anak laki-laki yang kulahirkan di akhir tahun 1999. Oh.. iya, aku menikah dengan Mas Hadi pada tahun 1998, bulan April. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Namaku Faridha. Orang biasa memanggilku dengan Ridha saja. Aku lahir tahun 1975 di sebuah kota terkenal dengan julukannya, yaitu kota hujan. Aku telah menikah dengan seorang pria keturunan Jawa bernama Mas Hadi. Kami dikarunai seorang anak laki-laki yang kulahirkan di akhir tahun 1999. Oh.. iya, aku menikah dengan Mas Hadi pada tahun 1998, bulan April.</p>
<p style="text-align: justify;">Kehidupan kami biasa saja, dari segi ekonomi sampai hubungan suami istri. Aku dan suamiku cukup menikmati kehidupan ini. Suamiku yang kalem dan sedikit pendiam adalah seorang pegawai swasta di kotaku ini. Penghasilan sebulannya cukup untuk menghidupi kami bertiga. Namun kami belum begitu puas. Walau bagaimana kami harus merasakan lebih bukan hanya sekedar cukup.</p>
<p style="text-align: justify;">Karena jabatan suamiku sudah tidak mungkin lagi naik di perusahaannya, untuk menambah penghasilan kami, aku meminta ijin kepada Mas Hadi untuk bekerja, mengingat pendidikanku sebagai seorang Accounting sama sekali tidak kumanfatkan semenjak aku menikah. Pada dasarnya suamiku itu selalu menuruti keinginanku, maka tanpa banyak bicara dia mengijinkan aku bekerja, walaupun aku sendiri belum tahu bekerja di mana, dan perusahaan mana yang akan menerimaku sebagai seorang Accounting, karena aku sudah berkeluarga.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Bukankah kamu punya teman yang anak seorang Direktur di sini?&#8221; kata suamiku di suatu malam setelah kami melakukan hubungan badan.<br />
&#8220;Iya&#8230; si Yanthi, teman kuliah Ridha..!&#8221; kataku.<br />
&#8220;Coba deh, kamu hubungi dia besok. Kali saja dia mau menolong kamu..!&#8221; katanya lagi.<br />
&#8220;Tapi, benar nih.. Mas.. kamu ijinkan saya bekerja..?&#8221;<br />
Mas Hadi mengangguk mesra sambil menatapku kembali.</p>
<p style="text-align: justify;">Sambil tersenyum, perlahan dia dekatkan wajahnya ke wajahku dan mendaratkan bibirnya ke bibirku.<br />
&#8220;Terimakasih.. Mas.., mmhh..!&#8221; kusambut ciuman mesranya.<br />
Dan beberapa lama kemudian kami pun mulai terangsang lagi, dan melanjutkan persetubuhan suami istri untuk babak yang ketiga. Kenikmatan demi kenikmatan kami raih. Hingga kami lelah dan tanpa sadar kami pun terlelap menuju alam mimpi kami masing-masing.
</p>
<p style="text-align: justify;">Perlu kuceritakan di sini bahwa Rendy, anak kami tidak bersama kami. Dia kutitipkan ke nenek dan kakeknya yang berada di lain daerah, walaupun masih satu kota. Kedua orangtuaku sangat menyayangi cucunya ini, karena anakku adalah satu-satunya cucu laki-laki mereka.</p>
<p style="text-align: justify;">Siang itu ketika aku terbangun dari mimpiku, aku tidak mendapatkan suamiku tidur di sisiku. Aku menengok jam dinding. Rupanya suamiku sudah berangkat kerja karena jam dinding itu sudah menunjukkan pukul sembilan pagi. Aku teringat akan percakapan kami semalam. Maka sambil mengenakan pakaian tidurku (tanpa BH dan celana dalam), aku beranjak dari tempat tidur berjalan menuju ruang tamu rumahku, mengangkat telpon yang ada di meja dan memutar nomor telpon Yanti, temanku itu.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Hallo&#8230; ini Yanti..!&#8221; kataku membuka pembicaraan saat kudengar telpon yang kuhubungi terangkat.<br />
&#8220;Iya.., siapa nih..?&#8221; tanya Yanti.<br />
&#8220;Ini.. aku Ridha..!&#8221;<br />
&#8220;Oh Ridha.., ada apa..?&#8221; tanyanya lagi.<br />
&#8220;Boleh nggak sekarang aku ke rumahmu, aku kangen sama kamu nih..!&#8221; kataku.<br />
&#8220;Silakan.., kebetulan aku libur hari ini..!&#8221; jawab Yanti.<br />
&#8220;Oke deh.., nanti sebelum makan siang aku ke rumahmu. Masak yang enak ya, biar aku bisa makan di sana..!&#8221; kataku sambil sedikit tertawa.<br />
&#8220;Sialan luh. Oke deh.., cepetan ke sini.., ditunggu loh..!&#8221;<br />
&#8220;Oke.., sampai ketemu yaa.. daah..!&#8221; kataku sambil menutup gagang telpon itu.<br />
<span id="more-682"></span><br />
Setelah menelepon Yanti, aku berjalan menuju kamar mandi. Di kamar mandi itu aku melepas pakaianku semuanya dan langsung membersihkan tubuhku. Namun sebelumnya aku bermasturbasi sejenak dengan memasukkan jariku ke dalam vaginaku sendiri sambil pikiranku menerawang mengingat kejadian-kejadian yang semalam baru kualami. Membayangkan penis suamiku walau tidak begitu besar namun mampu memberikan kepuasan padaku. Dan ini merupakan kebiasaanku.
</p>
<p style="text-align: justify;">Walaupun aku telah bersuami, namun aku selalu menutup kenikmatan bersetubuh dengan Mas Hadi dengan bermasturbasi, karena kadang-kadang bermasturbasi lebih nikmat.</p>
<p style="text-align: justify;">Singkat cerita, siang itu aku sudah berada di depan rumah Yanti yang besar itu. Dan Yanti menyambutku saat aku mengetuk pintunya.<br />
&#8220;Apa khabar Rida..?&#8221; begitu katanya sambil mencium pipiku.<br />
&#8220;Seperti yang kamu lihat sekarang ini..!&#8221; jawabku.<br />
Setelah berbasa-basi, Yanti membimbingku masuk ke ruangan tengah dan mempersilakan aku untuk duduk.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Sebentar ya.., kamu santailah dahulu, aku ambil minuman di belakang&#8230;&#8221; lalu Yanti meninggalkanku.<br />
Aku segera duduk di sofanya yang empuk. Aku memperhatikan ke sekeliling ruangan ini. Bagus sekali rumahnya, beda dengan rumahku. Di setiap sudut ruang terdapat hiasan-hiasan yang indah, dan pasti mahal-mahal. Foto-foto Yanti dan suaminya terpampang di dinding-dinding. Sandi yang dahulu katanya sempat menaksir aku, yang kini adalah suami Yanti, terlihat semakin ganteng saja. Dalam pikirku berkata, menyesal juga aku acuh tak acuh terhadapnya dahulu. Coba kalau aku terima cintanya, mungkin aku yang akan menjadi istrinya.
</p>
<p style="text-align: justify;">Sambil terus memandangi foto Sandi, suaminya, terlintas pula dalam ingatanku betapa pada saat kuliah dulu lelaki keturunan Manado ini mencoba menarik perhatianku (aku, Yanti dan Sandi memang satu kampus). Sandi memang orang kaya. Dia adalah anak pejabat pemerintahan di Jakarta. Pada awalnya aku pun tertarik, namun karena aku tidak suka dengan sifatnya yang sedikit sombong, maka segala perhatiannya padaku tidak kutanggapi. Aku takut jika tidak cocok dengannya, karena aku orangnya sangat sederhana.</p>
<p style="text-align: justify;">Lamunannku dikagetkan oleh munculnya Yanti. Sambil membawa minuman, Yanti berjalan ke arah aku duduk, menaruh dua gelas sirup dan mempersilakanku untuk minum.<br />
&#8220;Ayo Rid, diminum dulu..!&#8221; katanya.<br />
Aku mengambil sirup itu dan meminumnya. Beberapa teguk aku minum sampai rasa dahaga yang sejak tadi terasa hilang, aku kembali menaruh gelas itu.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Oh iya, Mas Sandi ke mana?&#8221; tanyaku.<br />
&#8220;Biasa&#8230; Bisnis dia,&#8221; kata Yanti sambil menaruh gelasnya. &#8220;Sebentar lagi juga pulang. Sudah kutelpon koq dia, katanya dia juga kangen sama kamu..!&#8221; ujarnya lagi.
</p>
<p style="text-align: justify;">Yanti memang sampai sekarang belum mengetahui kalau suaminya dahulu pernah naksir aku. Tapi mungkin juga Sandi sudah memberitahukannya.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Kamu menginap yah.. di sini..!&#8221; kata Yanti.<br />
&#8220;Akh&#8230; enggak ah, tidak enak khan..!&#8221; kataku.<br />
&#8220;Loh&#8230; nggak enak gimana, kita kan sahabat. Sandi pun kenal kamu. Lagian aku sudah mempersiapkan kamar untukmu, dan aku pun sedang ambil cuti koq, jadi temani aku ya.., oke..!&#8221; katanya.<br />
&#8220;Kasihan Mas Hadi nanti sendirian..!&#8221; kataku.<br />
&#8220;Aah&#8230; Mas Hadi khan selalu menurut keinginanmu, bilang saja kamu mau menginap sehari di sini menemani aku. Apa harus aku yang bicara padanya..?&#8221;<br />
&#8220;Oke deh kalau begitu.., aku pinjam telponmu ya..!&#8221; kataku.<br />
&#8220;Tuh di sana&#8230;!&#8221; kata Yanti sambil menujuk ke arah telepon.
</p>
<p style="text-align: justify;">Aku segera memutar nomor telpon kantor suamiku. Dengan sedikit berbohong, aku minta ijin untuk menginap di rumah Yanti. Dan menganjurkan Mas Hadi untuk tidur di rumah orangtuaku. Seperti biasa Mas Hadi mengijinkan keinginanku. Dan setelah basa-basi dengan suamiku, segera kututup gagang telpon itu.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Beres..!&#8221; kataku sambil kembali duduk di sofa ruang tamu.<br />
&#8220;Nah.., gitu dong..! Ayo kutunjukkan kamarmu..!&#8221; katanya sambil membimbingku.<br />
Di belakang Yanti aku mengikuti langkahnya. Dari belakang itu juga aku memperhatikan tubuh montoknya. Yanti tidak berubah sejak dahulu. Pantatnya yang terbungkus celana jeans pendek yang ketat melenggak-lenggok. Pinggulnya yang ramping sungguh indah, membuatku iseng mencubit pantat itu.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Kamu masih montok saja, Yan..!&#8221; kataku sambil mencubit pantatnya.<br />
&#8220;Aw.., akh.. kamu. Kamu juga masih seksi saja. Bisa-bisa Mas Sandi nanti naksir kamu..!&#8221; katanya sambil mencubit buah dadaku.<br />
Kami tertawa cekikikan sampai kamar yang dipersiapkan untukku sudah di depan mataku.<br />
&#8220;Nah ini kamarmu nanti..!&#8221; kata Yanti sambil membuka pintu kamar itu.
</p>
<p style="text-align: justify;">Besar sekali kamar itu. Indah dengan hiasan interior yang berseni tinggi. Ranjangnya yang besar dengan seprei yang terbuat dari kain beludru warna biru, menghiasi ruangan ini. Lemari pakaian berukiran ala Bali juga menghiasi kamar, sehingga aku yakin setiap tamu yang menginap di sini akan merasa betah.</p>
<p style="text-align: justify;">Akhirnya di kamar itu sambil merebahkan diri, kami mengobrol apa saja. Dari pengalaman-pengalaman dahulu hingga kejadian kami masing-masing. Kami saling bercerita tentang keluhan-keluhan kami selama ini. Aku pun bercerita panjang mulai dari perkimpoianku sampai sedetil-detilnya, bahkan aku bercerita tentang hubungan bercinta antara aku dan suamiku. Kadang kami tertawa, kadang kami serius saling mendengarkan dan bercerita. Hingga pembicaraan serius mulai kucurahkan pada sahabatku ini, bahwa aku ingin bekerja di perusahan bapaknya yang direktur.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Gampang itu..!&#8221; kata Yanti. &#8220;Aku tinggal menghubungi Papa nanti di Jakarta. Kamu pasti langsung diberi pekerjaan. Papaku kan tahu kalau kamu adalah satu-satunya sahabatku di dunia ini..&#8221; lanjutnya sambil tertawa lepas.<br />
Tentu saja aku senang dengan apa yang dibicarakan oleh Yanti, dan kami pun meneruskan obrolan kami selain obrolan yang serius barusan.
</p>
<p style="text-align: justify;">Tanpa terasa, di luar sudah gelap. Aku pun minta ijin ke Yanti untuk mandi. Tapi Yanti malah mengajakku mandi bersama. Dan aku tidak menolaknya. Karena aku berpikir toh sama-sama wanita.Sungguh di luar dugaan, di kamar mandi ketika kami sama-sama telanjang bulat, Yanti memberikan sesuatu hal yang sama sekali tidak terpikirkan.</p>
<p style="text-align: justify;">Sebelum air yang hangat itu membanjiri tubuh kami, Yanti memelukku sambil tidak henti-hentinya memuji keindahan tubuhku. Semula aku risih, namun rasa risih itu hilang oleh perasaan yang lain yang telah menjalar di sekujur tubuh. Sentuhan-sentuhan tangannya ke sekujur tubuhku membuatku nikmat dan tidak kuasa aku menolaknya. Apalagi ketika Yanti menyentuh bagian tubuhku yang sensitif.</p>
<p style="text-align: justify;">Kelembutan tubuh Yanti yang memelukku membuatku merinding begitu rupa. Buah dadaku dan buah dadanya saling beradu. Sementara bulu-bulu lebat yang berada di bawah perut Yanti terasa halus menyentuh daerah bawah perutku yang juga ditumbuhi bulu-bulu. Namun bulu-bulu kemaluanku tidak selebat miliknya, sehingga terasa sekali kelembutan itu ketika Yanti menggoyangkan pinggulnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Karena suasana yang demikian, aku pun menikmati segala apa yang dia lakukan. Kami benar-benar melupakan bahwa kami sama-sama perempuan. Perasaan itu hilang akibat kenikmatan yang terus mengaliri tubuh. Dan pada akhirnya kami saling berpandangan, saling tersenyum, dan mulut kami pun saling berciuman.</p>
<p style="text-align: justify;">Kedua tanganku yang semuala tidak bergerak kini mulai melingkar di tubuhnya. Tanganku menelusuri punggungnya yang halus dari atas sampai ke bawah dan terhenti di bagian buah pantatnya. Buah pantat yang kencang itu secara refleks kuremas-remas. Tangan Yanti pun demikian, dengan lembut dia pun meremas-remas pantatku, membuatku semakin naik dan terbawa arus suasana. Semakin aku mencium bibirnya dengan bernafsu, dibalasnya ciumanku itu dengan bernafsu pula.</p>
<p style="text-align: justify;">Hingga suatu saat ketika Yanti melepas ciuman bibirnya, lalu mulai menciumi leherku dan semakin turun ke bawah, bibirnya kini menemukan buah dadaku yang mengeras. Tanpa berkata-kata sambil sejenak melirik padaku, Yanti menciumi dua bukit payudaraku secar bergantian. Napasku mulai memburu hingga akhirnya aku menjerit kecil ketika bibir itu menghisap puting susuku. Dan sungguh aku menikmati semuanya, karena baru pertama kali ini aku diciumi oleh seorang wanita.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Akh.., Yaantiii.., oh..!&#8221; jerit kecilku sedikit menggema.<br />
&#8220;Kenapa Rid.., enak ya..!&#8221; katanya di sela-sela menghisap putingku.<br />
&#8220;Iya.., oh.., enaaks&#8230; teruus..!&#8221; kataku sambil menekan kepalanya.<br />
Diberi semangat begitu, Yanti semakin gencar menghisap-hisap putingku, namun tetap lembut dan mesra. Tangan kirinya menahan tubuhku di punggung.
</p>
<p style="text-align: justify;">Sementara tangan kanannya turun ke bawah menuju kemaluanku. Aku teringat akan suamiku yang sering melakukan hal serupa, namun perbedaannya terasa sekali, Yanti sangat lembut memanjakan tubuhku ini, mungkin karena dia juga wanita.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah tangan itu berada di kemaluanku, dengan lembut sekali dia membelainya. Jarinya sesekali menggesek kelentitku yang masih tersembunyi, maka aku segera membuka pahaku sedikit agar kelentitku yang terasa mengeras itu leluasa keluar.</p>
<p style="text-align: justify;">Ketika jari itu menyentuh kelentitku yang mengeras, semakin asyik Yanti memainkan kelentitku itu, sehingga aku semakin tidak dapat mengendalikan tubuhku. Aku menggelinjang hebat ketika rasa geli campur nikmat menjamah tubuhku. Pori-poriku sudah mengeluarkan keringat dingin, di dalam liang vaginaku sudah terasa ada cairan hangat yang mengalir perlahan, pertanda rangsangan yang sungguh membuatku menjadi nikmat.</p>
<p style="text-align: justify;">Ketika tanganku menekan bagian atas kepalanya, bibir Yanti yang menghisap kedua putingku secara bergantian segera berhenti. Ada keinginan pada diriku dan Yanti mengerti akan keinginanku itu. Namun sebelumnya, kembali dia pada posisi wajahnya di depan wajahku. Tersungging senyuman yang manis.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Ingin yang lebih ya..?&#8221; kata Santi.<br />
Sambil tersenyum aku mengangguk pelan. Tubuhku diangkatnya dan aku duduk di ujung bak mandi yang terbuat dari porselen. Setelah aku memposisikan sedemikian rupa, tangan Yanti dengan cekatan membuka kedua pahaku lebar-lebar, maka vaginaku kini terkuak bebas. Dengan posisi berlutut, Yanti mendekatkan wajahnya ke selangkanganku. Aku menunggu perlakuannya dengan jantung yang berdebar kencang.
</p>
<p style="text-align: justify;">Napasku turun naik, dadaku terasa panas, begitu pula vaginaku yang terlihat pada cermin yang terletak di depanku sudah mengkilat akibat basah, terasa hangat. Namun rasa hangat itu disejukkan oleh angin yang keluar dari kedua lubang hidung Yanti. Tangan Yanti kembali membelai vaginaku, menguakkan belahannya untuk menyentuh kelentitku yang semakin menegang.</p>
<p style="text-align: justify;">Agak lama Yanti membelai-belai kemaluanku itu yang sekaligus mempermainkan kelentitku. Sementara mulutnya menciumi pusar dan sekitarnya. Tentu saja aku menjadi kegelian dan sedikit tertawa. Namun Yanti terus saja melakukan itu.<br />
Hingga pada suatu saat, &#8220;Eiist&#8230; aakh&#8230; aawh&#8230; Yanthhii&#8230; akh&#8230; mmhh&#8230; ssh..!&#8221; begitu suara yang keluar dari mulutku tanpa disadari, ketika mulutnya semakin turun dan mencium vaginaku.<br />
Kedua tangan Yanti memegangi pinggul dan pantatku menahan gerakanku yang menggelinjang nikmat.</p>
<p style="text-align: justify;">Kini ujung lidahnya yang menyentuh kelentitku. Betapa pintar dia mempermainkan ujung lidah itu pada daging kecilku, sampai aku kembali tidak sadar berteriak ketika cairan di dalam vaginaku mengalir keluar.<br />
&#8220;Oohh&#8230; Yantii&#8230; ennaakss&#8230; sekaalii..!&#8221; begitu teriakku.
</p>
<p style="text-align: justify;">Aku mulai menggoyangkan pinggulku, memancing nikmat yang lebih. Yanti masih pada posisinya, hanya sekarang yang dijilati bukan hanya kelentitku tapi lubang vaginaku yang panas itu. Tubuhku bergetar begitu hebat. Gerakan tubuhku mulai tidak karuan. Hingga beberapa menit kemudian, ketika terasa orgasmeku mulai memuncak, tanganku memegang bagian belakang kepalanya dan mendorongnya. Karuan saja wajah Yanti semakin terpendam di selangkanganku.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Hissapp&#8230; Yantiii..! Ooh.., aku.. akuu.. mau.. keluaar..!&#8221; jeritku.<br />
Yanti berhenti menjilat kelentitku, kini dia mencium dan menghisap kuat lubang kemaluanku.<br />
Maka.., &#8220;Yaantii.., aku.. keluaar..! Oh.., aku.. keluar.. nikmaathhs.. ssh..!&#8221; bersamaan dengan teriakku itu, maka aku pun mencapai orgasme.<br />
Tubuhku seakan melayang entah kemana. Wajahku menengadah dengan mata terpejam merasakan berjuta-juta nikmat yang sekian detik menjamah tubuh, hingga akhirnya aku melemas dan kembali pada posisi duduk. Maka Yanti pun melepas hisapannya pada vaginaku.
</p>
<p style="text-align: justify;">Dia berdiri, mendekatkan wajahnya ke hadapan wajahku, dan kembali dia mencium bibirku yang terbuka. Napasku yang tersengal-sengal disumbat oleh mulut Yanti yang menciumku. Kubalas ciuman mesranya itu setelah tubuhku mulai tenang.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Terimakasih Yanti.., enak sekali barusan..!&#8221; kataku sambil tersenyum.<br />
Yanti pun membalas senyumanku. Dia membantuku turun dari atas bak mandi itu.<br />
&#8220;Kamu mau nggak dikeluarin..?&#8221; kataku lagi.<br />
&#8220;Nanti sajalah.., lagian udah gatel nih badanku. Sekarang mending kita mandi..!&#8221; jawabnya sambil menyalakan shower.
</p>
<p style="text-align: justify;">Akhirnya kusetujui usul itu, sebab badanku masih lemas akibat nikmat tadi. Dan rupanya Yanti tahu kalau aku kurang bertenaga, maka aku pun dimandikannya, disabuni, diperlakukan layaknya seorang anak kecil. Aku hanya tertawa kecil. Iseng-iseng kami pun saling menyentuh bagian tubuh kami masing-masing. Begitupula sebaliknya, ketika giliran Yanti yang mandi, aku lah yang menyabuni tubuhnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah selesai mandi, kami pun keluar dari kamar mandi itu secara bersamaan. Sambil berpelukan, pundak kami hanya memakai handuk yang menutup tubuh kami dari dada sampai pangkal paha, dan sama sekali tidak mengenakan dalaman. Aku berjalan menuju kamarku sedang Yanti menuju kamarnya sendiri. Di dalam kamar aku tidak langsung mengenakan baju. Aku masih membayangkan kejadian barusan. Seolah-olah rasa nikmat tadi masih mengikutiku.</p>
<p style="text-align: justify;">Di depan cermin, kubuka kain handuk yang menutupi tubuhku. Handuk itu jatuh terjuntai ke lantai, dan aku mulai memperhatikan tubuh telanjangku sendiri. Ada kebanggaan dalam hatiku. Setelah tadi melihat tubuh telanjang Yanti yang indah, ternyata tubuhku lebih indah. Yanti memang seksi, hanya dia terlalu ramping sehingga sepintas tubuhnya itu terlihat kurus. Sedangkan tubuhku agak montok namun tidak terkesan gemuk.</p>
<p style="text-align: justify;">Entah keturunan atau tidak, memang demikianlah keadaan tubuhku. Kedua payudaraku berukuran 34B dengan puting yang mencuat ke atas, padahal aku pernah menyusui anakku. Sedangkan payudara Yanti berukuran 32 tapi juga dengan puting yang mencuat ke atas juga.</p>
<p style="text-align: justify;">Kuputar tubuhku setengah putaran. Kuperhatikan belahan pantatku. Bukit pantatku masih kencang, namun sudah agak turun, karena aku pernah melahirkan. Berbeda dengan pantat milik Yanti yang masih seperti pantat gadis perawan, seperti pantat bebek.</p>
<p style="text-align: justify;">Kalau kuperhatikan dari pinggir tubuhku, nampak perutku yang ramping. Vaginaku nampak menonjol keluar. Bulu-bulu kemaluanku tidak lebat, walaupun pernah kucukur pada saat aku melahirkan. Padahal kedua tangan dan kedua kakiku tumbuh bulu-bulu tipis, tapi pertumbuhan bulu kemaluanku rupanya sudah maksimal. Lain halnya dengan Yanti, walaupun perutnya lebih ramping dibanding aku, namun kemaluannya tidak menonjol alias rata. Dan daerah itu ditumbuhi bulu-bulu yang lebat namun tertata rapi.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah puas memperhatikan tubuhku sendiri (sambil membandingkan dengan tubuh Yanti), aku pun membuka tasku dan mengambil celana dalam dan Bra-ku. Kemudian kukenakan kedua pakaian rahasiaku itu setelah sekujur tubuhku kulumuri bedak. Namun aku agak sedikit kaget dengan teriakan Yanti dari kamarnya yang tidak begitu jauh dari kamar ini.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Rida..! Ini baju tidurmu..!&#8221; begitu teriaknya.<br />
Maka aku pun mengambil handuk yang berada di lantai. Sambil berjalan kukenakan handuk itu menutupi tubuhku seperti tadi, lalu keluar menuju kamarnya yang hanya beberapa langkah. Pintu kamarnya ternyata tidak dikunci. Karena mungkin Yanti tahu kedatanganku, maka dia mempersilakan aku masuk.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Masuk sini Rid..!&#8221; kataya dari dalam kamar.<br />
Kudorong daun pintu kamarnya. Aku melihat di dalam kamar itu tubuh Yanti yang telanjang merebah di atas kasur. Tersungging senyuman di bibirnya. Karena aku sudah melangkah masuk, maka kuhampiri tubuh telanjang itu.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Kamu belum pake baju, Yan..?&#8221; kataku sambil duduk di tepi ranjang.<br />
&#8220;Akh.., gampang&#8230; tinggal pake itu, tuh..!&#8221; kata Yanti sambil tangannya menunjuk tumpukan gaun tidur yang berada di ujung ranjang.<br />
Lalu dia berkata lagi, &#8220;Kamu sudah pake daleman, ya..?&#8221;<br />
Aku mengangguk, &#8220;Iya..!&#8221;<br />
Kuperhatikan dadanya turun naik. Napasnya terdengar memburu. Apakah dia sedang bernafsu sekarang.., entahlah.<br />
Lalu tangan Yanti mencoba meraihku. Sejenak dia membelai tubuhku yang terbungkus handuk itu sambil berkata, &#8220;Kamu mengairahkan sekali memakai ini..!&#8221;<br />
&#8220;Akh.., masa sih..!&#8221; kataku sambil tersenyum dan sedikit menggeser tubuhku lebih mendekat ke tubuh Yanti.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Benar.., kalo nggak percaya.., emm.. kalo nggak percaya..!&#8221; kata Yanti sedikit menahan kata-katanya.<br />
&#8220;Kalo nggak percaya apa..?&#8221; tanyaku.<br />
&#8220;Kalo nggak percaya..!&#8221; sejenak matanya melirik ke arah belakangku.<br />
&#8220;Kalo nggak percaya tanya saja sama orang di belakangmu&#8230; hi.. hi..!&#8221; katanya lagi.
</p>
<p style="text-align: justify;">Segera aku memalingkan wajahku ke arah belakangku. Dan.., (hampir saja aku teriak kalau mulutku tidak buru-buru kututup oleh tanganku), dengan jelas sekali di belakangku berdiri tubuh lelaki dengan hanya mengenakan celana dalam berwarna putih yang tidak lain adalah Mas Sandi suami Yanti itu. Dengan refleks karena kaget aku langsung berdiri dan bermaksud lari dari ruangan ini. Namun tangan Yanti lebih cepat menangkap tanganku lalu menarikku sehingga aku pun terjatuh dengan posisi duduk lagi di ranjang yang empuk itu.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Mau kemana.. Rida.., udah di sini temani aku..!&#8221; kata Yanti setengah berbisik.<br />
Aku tidak sempat berkata-kata ketika Mas Sandi mulai bergerak berjalan menuju aku. Dadaku mulai berdebar-debar. Ada perasaan malu di dalam hatiku.<br />
&#8220;Halo.., Rida. Lama tidak bertemu ya&#8230;&#8221; suara Mas Sandi menggema di ruangan itu.<br />
Tangannya mendarat di pundakku, dan lama bertengger di situ.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku yang gelagapan tentu saja semakin gelagapan. Namun ketika tangan Yanti dilepaskan dari cengkramannya, pada saat itu tidak ada keinginanku untuk menghindar. Tubuhku terasa kaku, sama sekali aku tidak dapat bergerak. Lidahku pun terasa kelu, namun beberapa saat aku memaksa bibirku berkata-kata.<br />
&#8220;Apa-apaan ini..?&#8221; tanyaku parau sambil melihat ke arah Yanti.<br />
Sementara tangan yang tadi bertengger di bahuku mulai bergerak membelai-belai. Serr.., tubuhku mulai merinding. Terasa bulu-bulu halus di tangan dan kaki berdiri tegak.
</p>
<p style="text-align: justify;">Rupanya Sentuhan tangan Mas Sandi mampu membangkitkan birahiku kembali. Apalagi ketika terasa di bahuku yang sebelah kiri juga didarati oleh tangan Mas Sandi yang satunya lagi. Perasaan malu yang tadi segera sirna. Tubuhku semakin merinding. Mataku tanpa sadar terpejam menikmati dalam-dalam sentuhan tangan Mas Sandi di bahuku itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Pijatan-pijatan kecil di bahuku terasa nyaman dan enak sekali. Aku begitu menikmati apa yang terasa. Hingga beberapa saat kemudian tubuhku melemas. Kepalaku mulai tertahan oleh perut Mas Sandi yang masih berada di belakangku. Sejenak aku membuka mataku, nampak Yanti membelai vaginanya sendiri dengan tangan kanannya, sementara tangan kirinya meremas pelan kedua payudaranya secara bergantian. Tersungging senyuman di bibirnya.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Nikmati Rida..! Nikmati apa yang kamu sekarang rasakan..!&#8221; suara Yanti masih sedikit membisik.<br />
Aku masih terbuai oleh sentuhan kedua tangan Mas Sandi yang mulai mendarat di daerah atas payudarara yang tidak tertutup. Mataku masih terpejam.<br />
&#8220;Ini.. kan yang kamu inginkan. Kupinjamkan suamiku..!&#8221; kata Yanti lagi.<br />
Mataku terbuka dan kembali memperhatikan Yanti yang masih dengan posisinya.<br />
&#8220;Ayo Mas..! Nikmati Rida yang pernah kamu taksir dulu..!&#8221; kata Yanti lagi.<br />
&#8220;Tentu saja Sayang.., asal.. kamu ijinkan..!&#8221; kata suara berat Mas Sandi.
</p>
<p style="text-align: justify;">Tubuhnya dibungkukkan. Kemudian wajahnya ditempelkan di bagian atas kepalaku. Terasa bibirnya mencium mesra daerah itu. Kembali aku memejamkan mata. Bulu-buluku semakin keras berdiri. Sentuhan lembut tangan Mas Sandi benar-benar nikmat. Sangat pintar sekali sentuhan itu memancing gairahku untuk bangkit. Apalagi ketika tangan Mas Sandi sebelah kanan berusaha membuka kain handuk yang masih menutupi tubuhku itu.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Oh.., Mas.., Maas&#8230; jangaan&#8230; Mas..!&#8221; aku hanya dapat berkata begitu tanpa kuasa menahan tindakan Mas Sandi yang telah berhasil membuka handuk dan membuangnya jauh-jauh.<br />
Tinggallah tubuh setengah bugilku. Kini gairahku sudah memuncak dan aku mulai lupa dengan keadaanku. Aku sudah terbius suasana.
</p>
<p style="text-align: justify;">Mas Sandi mulai berlutut, namun masih pada posisi di belakangku. Kembali dia membelai seluruh tubuhku. Dari punggungku, lalu ke perut, naik ke atas, leherku pun kena giliran disentuhnya, dan aku mendesah nikmat ketika leherku mulai dicium mesra oleh Mas Sandi. Sementara desahan-desahan kecil terdengar dari mulut Yanti.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku melirik sejenak ke arah Yanti, rupanya dia sedang masturbasi. Lalu aku memejamkan mata lagi, kepalaku kutengadahkan memberikan ruangan pada leherku untuk diciumi Mas Sandi. Persaanku sudah tidak malu-malu lagi, aku sudah kepalang basah. Aku lupa bahwa aku telah bersuami, dan aku benar-benar akan merasakan apa yang akan kurasakan nanti, dengan lelaki yang bukan suamiku.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Buka ya.. BH-nya, Rida..!&#8221; kata Mas Sandi sambil melepas kancing tali BH-ku dari punggung.<br />
Beberapa detik BH itu terlepas, maka terasa bebas kedua payudaraku yang sejak tadi tertekan karena mengeras. Suara Yanti semakin keras, rupanya dia mencapai orgasmenya. Kembali aku melirik Yanti yang membenamkan jari manis dan jari telunjuknya ke dalam vaginanya sendiri. Nampak dia mengejang dengan mengangkat pinggulnya.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Akh.., nikmaats&#8230; ooh&#8230; nikmaatts.. sekalii..!&#8221; begitu kata-kata yang keluar dari mulutnya.<br />
Dan tidak lama kemudian dia terkulai lemas di ranjang itu. Sementara Mas Sandi sibuk dengan kegiatannya.
</p>
<p style="text-align: justify;">Kini kedua payudaraku sudah diremasi dengan mesra oleh kedua telapak tangannya dari belakang. Sambil terus bibirnya menjilati inci demi inci kulit leherku seluruhnya. Sedang enak-enaknya aku, tiba-tiba ada yang menarik celana dalamku. Aku membuka mataku, rupanya Yanti berusaha untuk melepas celana dalamku itu. Maka kuangkat pantatku sejenak memudahkan celana dalamku dilepas oleh Yanti. Maka setelah lepas, celana dalam itu juga dibuang jauh-jauh oleh Yanti.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku menggeser posisi dudukku menuju ke bagian tengah ranjang itu. Mas Sandi mengikuti gerakanku masih dari belakang, sekarang dia tidak berlutut, namun duduk tepat di belakang tubuhku. Kedua kakinya diselonjorkan, maka pantatku kini berada di antara selangkangan milik Mas Sandi. Terasa oleh pantatku ada tonjolan keras di selangkangan. Rupanya penis Mas Sandi sudah tegang maksimal.</p>
<p style="text-align: justify;">Lalu Yanti membuka lebar-lebar pahaku, sehingga kakiku berada di atas paha Mas Sandi. Lalu dengan posisi tidur telungkup, Yanti mendekatkan wajahnya ke selangkanganku, dan apa yang terjadi&#8230;<br />
&#8220;Awwh&#8230; ooh&#8230; eeisth.. aakh..!&#8221; aku menjerit nikmat ketika kembali kurasakan lidahnya menyapu-nyapu belahan vaginaku, terasa kelentitku semakin menegang, dan aku tidak dapat mengendalikan diri akibat nikmat, geli, enak, dan lain sebagainya menyatu di tubuhku.
</p>
<p style="text-align: justify;">Kembali kepalaku menengadah sambil mulutku terbuka. Maka Mas Sandi tidak menyia-nyiakan kesempatan ini. Dia tahu maksudku. Dari belakang, bibirnya langsung melumat bibirku yang terbuka itu dengan nafsunya. Maka kubalas ciuman itu dengan nafsu pula. Dia menyedot, aku menyedot pula. Terjadilah pertukaran air liur Mas Sandi dengan air liurku. Terciuma aroma rokok pada mulutnya, namun aroma itu tidak mengganggu kenikmatan ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Kedua tangan Mas Sandi semakin keras meremas kedua payudaraku, namun menimbulkan nikmat yang teramat, sementara di bawah Yanti semakin mengasyikkan. Dia terus menjilat dan mencium vaginaku yang telah banjir. Banjir oleh cairan pelicin vaginaku dan air liur Yanti.<br />
&#8220;Mmmhh&#8230; akh&#8230; mmhh..!&#8221; bibirku masih dilumati oleh bibir Mas Sandi.
</p>
<p style="text-align: justify;">Tubuhku semakin panas dan mulai memberikan tanda-tanda bahwa aku akan mencapai puncak kenikmatan yang kutuju. Pada akhirnya, ketika remasan pada payudaraku itu semakin keras, dan Yanti menjilat, mencium dan menghisap vaginaku semakin liar, tubuhku menegang kaku, keringat dingin bercucuran dan mereka tahu bahwa aku sedang menikmati orgasmeku. Aku mengangkat pinggulku, otomatis ciuman Yanti terlepas. Semakin orgasmeku terasa ketika jari telujuk dan jari manis Yanti dimasukkan ke liang vaginaku, kemudian dicabutnya setengah, lalu dimasukkan lagi.</p>
<p style="text-align: justify;">Perlakuan Yanti itu berulang-ulang, yaitu mengeluar-masukkan kedua jarinya ke dalam lubang vaginaku. Tidak dapat diungkapkan dengan kata-kata betapa nikmat dan enak pada saat itu.<br />
&#8220;Aakh&#8230; aawhh&#8230; nikmaatss&#8230; terus.. Yantii.. oooh&#8230; yang cepaat.. akh..!&#8221; teriakku.<br />
Tubuh Mas Sandi menahan tubuhku yang mengejang itu. Jarinya memilin-milin puting susuku. Bibirnya mengulum telingaku sambil membisikkan sesuatu yang membuatku semakin melayang. Bisikan-bisikan yang memujiku itu tidak pernah kudengar dari Mas Hadi, suamiku.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Ayo cantik..! Nikmatilah orgasmemu.., jangan kamu tahan, keluarkan semuanya Sayang..! Nikmatilah.., nikmatilah..! Oh.., kamu cantik sekali jika orgasme..!&#8221; begitu bisikan yang keluar dari mulut Mas Sandi sambil terus mengulum telingaku.<br />
&#8220;Aakh.. Maass, aduh.. Yanti.., nikmaats&#8230; oh&#8230; enaaks.. sekali..!&#8221; teriakku.<br />
Akhirnya tubuh kejangku mulai mengendur, diikuti dengan turunnya kenikmatan orgasmeku itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Perlahan sekali tubuhku turun dan akhirnya terkulai lemas di pangkuan Mas Sandi. Lalu tubuh Yanti mendekapku.<br />
Dia berbisik padaku, &#8220;Ini.. belum seberapanya Sayaang.., nanti akan kamu rasakan punya suamiku..!&#8221; sambil berkata demikian dia mencium keningku.<br />
Mas Sandi beranjak dari duduknya dan berjalan entah ke arah mana, karena pada saat itu mataku masih terpenjam seakan enggan terbuka.
</p>
<p style="text-align: justify;">Entah berapa lama aku terlelap. Ketika kusadar, kubuka mataku perlahan dan mencari-cari Yanti dan Mas Sandi sejenak. Mereka tidak ada di kamar ini, dan rupanya mereka membiarkanku tertidur sendiri. Aku menengok jam dinding. Sudah pukul sepuluh malam. Segera aku bangkit dari posisi tidurku, lalu berjalan menuju pintu kamar. Telingaku mendengar alunan suara musik klasik yang berasal dari ruangan tamu. Dan ketika kubuka pintu kamar itu yang kebetulan bersebelahan dengan ruang tamu, mataku menemukan suatu adegan dimana Yanti dan suaminya sedang melakukan persetubuhan.</p>
<p style="text-align: justify;">Yanti dengan posisi menelentang di sofa sedang ditindih oleh Mas Sandi dari atas. Terlihat tubuh Mas Sandi sedang naik turun. Segera mataku kutujukan pada selangkangan mereka. Jelas terlihat penis Mas Sandi yang berkilat sedang keluar masuk di vagina Yanti. Terdengar pula erangan-erangan yang keluar dari mulut Yanti yang sedang menikmati hujaman penis itu di vaginanya, membuat tubuhku perlahan memanas. Segera saja kuhampiri mereka dan duduk tepat di depan tubuh mereka.</p>
<p style="text-align: justify;">Di sela-sela kenikmatan, Yanti menatapku dan tersenyum. Rupanya Mas Sandi memperhatikan istrinya dan sejenak dia menghentikan gerakannya dan menengok ke belakang, ke arahku.<br />
&#8220;Akh&#8230; Mas.., jangan berhentiii doong..! Oh..!&#8221; kata Yanti.<br />
Dan Mas Sandi kembali berkonsentrasi lagi dengan kegiatannya. Kembali terdengar desahan-desahan nikmat Yanti yang membahana ke seluruh ruangan tamu itu. Aku kembali gelagapan, kembali resah dan tubuhku semakin panas. Dengan refleks tanganku membelai vaginaku sendiri.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Oh.. Ridhaa.., nikmat sekaallii.. loh..! Akuu&#8230; ooh&#8230; mmh..!&#8221; kata Yanti kepadaku.<br />
Aku melihat wajah nikmat Yanti yang begitu cantik. Kepalannya kadang mendongak ke atas, matanya terpejam-pejam. Sesekali dia gigit bibir bawahnya. Kedua tangannya melingkar pada pantat suaminya, dan menarik-narik pantat itu dengan keras sekali. Aku melihat penis Mas Sandi yang besar itu semakin amblas di vagina Yanti. Samakin mengkilat saja penis itu.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Oh Mas.., aku hampiir sampaaii..! Teruus&#8230; Mas&#8230; terus..! Lebih keras lagiih.., oooh&#8230; akh..!&#8221; kata Yanti.<br />
Yanti mengangkat tinggi-tinggi pinggulnya, Mas Sandi terus dengan gerakannya menaik-turunkan tubuhnya dalam kondisi push-up.<br />
&#8220;Maass.., akuuu&#8230; keluaar..! Aakh&#8230; mhh&#8230; nikmaats.., mmh..!&#8221; kata Yanti lagi dengan tubuh yang mengejang.<br />
Rupanya Yanti mencapai orgasmenya. Tangannya yang tadi melingkar di pantat suaminya, kini berpindah melingkar di punggung.</p>
<p style="text-align: justify;">Mas Sandi berhenti bergerak dan membiarkan penis itu menancap dalam di lubang kemaluan Yanti.<br />
&#8220;Owhh&#8230; banyak sekali Sayang.. keluarnya. Hangat sekali memekmu..!&#8221; kata Mas Sandi sambil menciumi wajah istrinya.
</p>
<p style="text-align: justify;">Dapat kubayangkan perasaan Yanti pada saat itu. Betapa nikmatnya dia. Dan aku pun belingsatan dengan merubah-rubah posisi dudukku di depan mereka. Beberapa saat kemudian, Yanti mulai melemas dari kejangnya dan merubah posisinya. Segera dia turun dari sofa ketika Mas Sandi mencabut penis dari lubang kenikmatan itu. Aku melihat dengan jelas betapa besar dan panjang penis Mas Sandi. Dan ini baru pertama kali aku melihatnya, karena waktu tadi di dalam kamar, Mas Sandi masih menutupi penisnya dengan celana dalam.</p>
<p style="text-align: justify;">Dengan segera Yanti menungging. Lalu segera pula Mas Sandi berlutut di depan pantat itu.<br />
&#8220;Giliranmu&#8230; Mas..! Ayoo..!&#8221; kata Yanti.<br />
Tangan Mas Sandi menggenggam penis itu dan mengarahkan langsung ke lubang vagina Yanti. Segera dia menekan pantatnya dan melesaklah penis itu ke dalam vagina istrinya, diikuti dengan lenguhan Yanti yang sedikit tertahan.<br />
&#8220;Owwh&#8230; Maas&#8230; aakh..!&#8221;<br />
&#8220;Aduuh&#8230; Yantii.., jepit Sayangh..!&#8221; kata Mas Sandi.
</p>
<p style="text-align: justify;">Lalu kaki Yanti dirapatkan sedemikian rupa. Dan segera pantat Mas Sandi mulai mundur dan maju.Ufh.., pemandangan yang begitu indah yang kulihat sekarang. Baru kali ini aku menyaksikan sepasang manusia bersetubuh tepat di depanku secara langsung. Semakin mereka mempercepat tempo gerakannya, semakin aku terangsang begitu rupa. Tanganku yang tadi hanya membelai-belai vaginaku, kini mulai menyentuh kelentitku.</p>
<p style="text-align: justify;">Kenikmatan mulai mengaliri tubuhku dan semakin aku tidak tahan, sehingga aku memasukkan jariku ke dalam vaginaku sendiri. Aku sendiri sangat menikmati masturbasiku tanpa lepas pandanganku pada mereka. Belum lagi telingaku jelas mendengar desahan dan rintihan Yanti, aku dapat membayangkan apa yang dirasakan Yanti dan aku sangat ingin sekali merasakannya, merasakan vaginaku pun dimasukkan oleh penis Mas Sandi.</p>
<p style="text-align: justify;">Beberapa saat kemudian Mas Sandi mulai melenguh keras. Kuhentikan kegiatanku dan terus memperhatikan mereka.<br />
&#8220;Aakhh&#8230; Yantii&#8230; nikmaats&#8230; aakh&#8230; aku keluaar..!&#8221; teriak Mas Sandi membahana.<br />
&#8220;Oh&#8230; Maas&#8230; akuu&#8230; juggaa&#8230; akh..!&#8221;<br />
Kedua tubuh itu bersamaan mengejang. Mereka mencapai orgasmenya secara bersama-sama.
</p>
<p style="text-align: justify;">Penis Mas Sandi masih menancap di vagina Yanti sampai akhirnya mereka melemas, dan dari belakang tubuh Yanti, Mas Sandi memeluknya sambil meremas kedua payudara Yanti. Mas Sandi memasukkan semua spermanya ke dalam vagina Yanti.</p>
<p style="text-align: justify;">Lama sekali aku melihat mereka tidak bergerak. Rupanya mereka sangat kelelahan. Di sofa itu mereka tertidur bertumpukan. Tubuh Yanti berada di bawah tubuh Mas Sandi yang menindihnya. Mata mereka terpejam seolah tidak menghiraukan aku yang duduk terpaku di depannya. Hingga aku pun mulai bangkit dari dudukku dan beranjak pergi menuju kamarku. Sesampai di kamar aku baru sadar kalau aku masih telanjang bulat. Maka aku pun balik lagi menuju kamar Yanti di mana celana dalam dan BH yang akan kupakai berada di sana.</p>
<p style="text-align: justify;">Selagi aku berjalan melewati ruang tamu itu, aku melihat mereka masih terkulai di sofa itu. Tanpa menghiraukan mereka, aku terus berjalan memasuki kamar Yanti dan memungut celana dalam dan BH yang ada di lantai. Setelah kukenakan semuanya, kembali aku berjalan menuju kamarku dan sempat sekali lagi aku menengok mereka di sofa itu pada saat aku melewati ruang tamu.</p>
<p style="text-align: justify;">Sesampai di kamar, entah kenapa rasa lelah dan kantukku hilang. Aku menjadi semakin resah membayangkan kejadian yang baru kualami. Pertama ketika aku dimasturbasikan oleh suami istri itu. Dan yang kedua aku terus membayangkan kejadian di mana mereka melakukan persetubuhan yang hebat itu. Keinginanku untuk merasakan penis Mas Sandi sangat besar. Aku mengharapkan sekali Mas Sandi sekarang menghampiri dan menikmatiku. Namun itu mungkin tidak terjadi, karena aku melihat mereka sudah lelah sekali.</p>
<p style="text-align: justify;">Entah sudah berapa kali mereka bersetubuh pada saat aku terlelap tadi. Aku semakin tidak dapat menahan gejolak birahiku sendiri hingga aku merebahkan diri di kasur empuk. Dengan posisi telungkup, aku mulai memejamkan mata dengan maksud agar aku terlelap. Namun semua itu sia-sia. Karena kembali kejadian-kejadian barusan terus membayangiku. Secara cepat aku teringat bahwa tadi ketika mereka bersetubuh, aku melakukan masturbasi sendiri dan itu tidak selesai. Maka tanganku segera kuselipkan di selangkanganku. Aku membelai kembali vaginaku yang terasa panas itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Dan ketika tanganku masuk ke dalam celanaku, aku mulai menyentuh klitorisku. Kembali aku nikmat. Aku tidak kuasa membendung perasaan itu, dan jariku mulai menemukan lubang kemaluanku yang berlendir itu. Dengan berusaha membayangkan Mas Sandi menyetubuhiku, kumasukkan jari tengahku ke dalam lubang itu dalam-dalam. Kelembutan di dalam vaginaku dan gesekan di dinding-dindingnya membuatku mendesah kecil.</p>
<p style="text-align: justify;">Sambil mengeluar-masukkan jari tengahku, aku membayangkan betapa besar dan panjangnya penis Mas Sandi. Beda sekali dengan penis Mas Hadi yang kumiliki. Kemaluan Mas Sandi panjang dan besarnya normal-normal saja. Sedangkan milik Mas Sandi, sudah panjang dan besar, dihiasi oleh urat-uratnya yang menonjol di lingkaran batang kemaluannya. Itu semua kulihat tadi dan kini terbayang di dalam benakku.</p>
<p style="text-align: justify;">Beberapa menit kemudian, ketika ada sesuatu yang lain di dalam vaginaku, semakin kupercepat jari ini kukeluar-masukkan. Sambil terus membayangi Mas Sandi yang menyetubuhiku, dan aku sama sekali tidak membayangkan suamiku sendiri. Setiap bayangan suamiku muncul, cepat-cepat kubuang bayangan itu, hingga kembali Mas Sandi lah yang kubayangkan.</p>
<p style="text-align: justify;">Tanpa sadar, ketika aku akan mencapai orgasme, aku membalikan badan dan aku memasukkan jari telunjuk ke dalam lubang vaginaku. Dalam keadaan telentang aku mengangkangkan selebar mungkin pahaku. Kini dua jariku yang keluar masuk di lubang vaginaku. Maka kenikmatan itu berlanjut hebat sehingga tanpa sadar aku memanggil-manggil pelan nama Mas Sandi.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Akh&#8230; sshh&#8230; Masss&#8230; Sandii&#8230; Okh&#8230; Mass.. Mas.. Sandi.. aakkh..!&#8221; itulah yang keluar dari mulutku.<br />
Seer&#8230; aku merasa kedua jariku hangat sekali dan semakin licin. Aku mengangkat ke atas pinggulku sambil tidak melepas kedua jariku menancap di lubang vaginaku. Beberapa lama tubuhku merinding, mengejang, dan nikmat tidak terkira. Sampai pada akhirnya aku melemas dan pinggulku turun secara cepat ketika kenikmatan itu perlahan berkurang.
</p>
<p style="text-align: justify;">Aku mencabut jari jemariku dan cairan yang menempel di jari-jari itu segera kujilati. Asin campur gurih yang kurasakan di lidahku. Dengat mata yang terpejam-pejam kembali aku membayangkan penis Mas Sandi yang sedang kuciumi, kuhisap, dan kurasakan. Cairan yang asin dan gurih itu kubayangkan sperma Mas Sandi. Ohhh.., nikmatnya semua ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Dan setelah aku puas, barulah kuhentikan hayalan-hayalanku itu. Kutarik selimut yang ada di sampingku dan menutupi sekujur tubuhku yang mulai mendingin. Aku tersenyum sejenak mengingat hal yang barusan, gila&#8230; aku masturbasi dengan membayangkan suami orang lain.</p>
<p style="text-align: justify;">Pagi harinya, ketika aku terjaga dari tidurku dan membuka mataku, aku melihat di balik jendela kamar sudah terang. Jam berapa sekarang, pikirku. Aku menengok jam dinding sudah menunjukkan pukul sepuluh pagi. Aku kaget dan bangkit dari posisi tidurku. Ufh.., lemas sekali badan ini rasanya. Kukenakan celana dalamku. Karena udara sedikit dingin, kubalut tubuhku dengan selimut dan mulai berdiri.</p>
<p style="text-align: justify;">Ketika berdiri, sedikit kugerak-gerakan tubuhku dengan maksud agar rasa lemas itu segera hilang. Lalu dengan gontai aku berjalan menuju pintu kamar dan membuka pintu yang tidak terkunci.</p>
<p style="text-align: justify;">Karena aku ingin pipis, segera aku berjalan menuju kamar mandi, sesampainya di kamar mandi segera kuturunkan celana dalamku dan berjongkok. Keluarlah air hangat urine-ku dari liang vagina. Sangat banyak sekali air kencingku, sampai-sampai aku pegal berjongkok. Beberapa saat kemudian, ketika air kencingku habis, segera kubersihkan vaginaku dan kembali aku mengenakan celana dalamku, lalu kembali pula aku melingkari kain selimut itu, karena hanya kain ini yang dapat kupakai untuk menahan rasa dingin, baju tidur yang akan dipinjamkan oleh Yanti masih berada di kamarnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku keluar dari kamar mandi itu, lalu berjalan menuju ruangan dapur yang berada tidak jauh dari kamar mandi itu, karena tenggorokanku terasa haus sekali. Di dapur itu aku mengambil segelas air dan meminumnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah minum aku berjalan lagi menuju kamarku. Namun ketika sampai di pintu kamar, sejenak pandangan mataku menuju ke arah ruang tamu. Di sana terdapat Mas Sandi sedang duduk di sofa sambil menghisap sebatang rokok. Matanya memandangku tajam, namun bibirnya memperlihatkan senyumnya yang manis. Dengan berbalut kain selimut di tubuhku, aku menghampiri Mas Sandi yang memperhatikan aku. Lalu aku duduk di sofa yang terletak di depannya. Aku membalas tatapan Mas Sandi itu dengan menyunggingkan senyumanku.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Yanti mana..?&#8221; tanyaku padanya membuka pembicaraan.<br />
&#8220;Sedang ke warung sebentar, katanya sih mau beli makanan..!&#8221; jawabnya.<br />
&#8220;Mas Sandi tidak kerja hari ini..?&#8221;<br />
&#8220;Tidak akh.., malas sekali hari ini. Lagian khan aku tak mau kehilangan kesempatan..!&#8221; sambil berkata demikian dengan posisi berlutut dia menghampiriku.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah tepat di depanku, segera tangannya melepas kain selimut yang membungkusi tubuhku. Lalu dengan cepat sekali dia mulai meraba-raba tubuhku dari ujung kaki sampai ujung pahaku. Diperlakukan demikian tentu saja aku geli. Segera bulu-bulu tubuhku berdiri.<br />
&#8220;Akh&#8230; Mas..! Gellii..!&#8221; kataku.<br />
Mas Sandi tidak menghiraukan kata-kataku itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Kini dia mulai mendaratkan bibirnya ke seluruh kulit kakiku dari bawah sampai ke atas. Perlakuannya itu berulang-ulang, sehingga menciptakan rasa geli campur nikmat yang membuatku terangsang. Lama sekali perlakuan itu dilakukan oleh Mas Sandi, dan aku pun semakin terangsang.<br />
&#8220;Akh&#8230; Mas..! Oh.., mmh..!&#8221; aku memegang bagian belakang kepala Mas Sandi dan menariknya ketika mulut lelaki itu mencium vaginaku.<br />
Semakin aku mengangkangkan pahaku, dengan mesranya lidah Mas Sandi mulai menjilat kemaluanku itu. Tubuhku mulai bergerak-gerak tidak beraturan, merasakan nikmat yang tiada tara di sekujur tubuhku.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku membuang kain selimut yang masih menempel di tubuhku ke lantai, sementara Mas Sandi masih dengan kegiatannya, yaitu menciumi dan menjilati vaginaku. Aku menengadah menahan nikmat, kedua kakiku naik di tumpangkan di kedua bahunya, namun tangan Mas Sandi menurunkannya dan berusaha membuka lebar-lebar kedua pahaku itu. Karuan saja selangkanganku semakin terkuak lebar dan belahan vaginaku semakin membelah.<br />
&#8220;Akh.. Mas..! Shh.. nikmaats..! Terus Mass..!&#8221; rintihku.
</p>
<p style="text-align: justify;">Kedua tangan Mas Sandi ke atas untuk meremas payudaraku yang terasa sudah mengeras, remasan itu membuatku semakin nikmat saja, dan itu membuat tubuhku semakin menggelinjang. Segera aku menambah kenikmatanku dengan menguakkan belahan vaginaku, jariku menyentuh kelentitku sendiri. Oh.., betapa nikmat yang kurasakan, liang kemaluanku sedang disodok oleh ujung lidah Mas Sandi, kedua payudaraku diremas-remas, dan kelentitku kusentuh dan kupermainkan. Sehingga beberapa detik kemudian terasa tubuhku mengejang hebat disertai perasaan nikmat teramat sangat dikarenakan aku mulai mendekati orgasmeku.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Oh&#8230; Mas..! Aku&#8230; aku&#8230; akh.., nikmaats&#8230; mhh..!&#8221; bersamaan dengan itu aku mencapai klimaksku.<br />
Tubuhku melayang entah kemana, dan sungguh aku sangat menikmatinya. Apalagi ketika Mas Sandi menyedot keras lubang kemaluanku itu. Tahu bahwa aku sudah mencapai klimaks, Mas Sandi menghentikan kegiatannya dan segera memelukku, mecium bibirku.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Kamu sungguh cantik, Ridha.., aku cinta padamu..!&#8221; sambil berkata demikian, dengan pinggulnya dia membuka kembali pahaku, dan terasa batang kemaluannya menyentuh dinding kemaluannku.<br />
Segera tanganku menggenggam kemaluan itu dan mengarahkan langsung tepat ke liang vaginaku.<br />
&#8220;Lakukan Mas..! Lakukan sekarang..! Berikan cintamu padaku sekarang..!&#8221; kataku sambil menerima setiap ciuman di bibirku.</p>
<p style="text-align: justify;">Mas Sandi dengan perlahan memajukan pinggulnya, maka terasa di liang vaginaku ada yang melesak masuk ke dalamnya. Gesekan itu membuatku kembali menengadah, sehingga ciumanku terlepas. Betapa panjang dan besar kurasakan. Sampai aku merasakan ujung kemaluan itu menyentuh dinding rahimku.<br />
&#8220;Suamimu sepanjang inikah..?&#8221; tanyanya.<br />
Aku menggelengkan kepala sambil terus menikmati melesaknya penis itu di liang vaginaku.
</p>
<p style="text-align: justify;">Beberapa saat kemudian sudah amblas semua seluruh batang kemaluan Mas Sandi. Aku pun sempat heran, kok bisa batang penis yang panjang dan besar itu masuk seluruhnya di vaginaku. Segera aku melipatkan kedua kakiku di belakang pantatnya. Sambil kembali mencium bibirku dengan mesra, Mas Sandi mendiamkan sejenak batang penisnya terbenam di vaginaku, hingga suatu saat dia mulai menarik mundur pantatku perlahan dan memajukannya lagi, menariknya lagi, memajukannya lagi, begitu seterusnya hingga tanpa disadari gerakan Mas Sandi mulai dipercepat. Karuan saja batang penis yang kudambakan itu keluar masuk di vaginaku. Vagina yang seharusnya hanya dapat dinikmati oleh suamiku, Mas Hadi.</p>
<p style="text-align: justify;">Di alam kenikmatan, pikiranku menerawang. Aku seorang perempuan yang sudah bersuami tengah disetubuhi oleh orang lain, yang tidak punya hak sama sekali menikmati tubuhku, dan itu sangat di luar dugaanku. Seolah-olah aku sudah terjebak di antara sadar dan tidak sadar aku sangat menikmati perselingkuhan ini. Betapa aku sangat mengharapkan kepuasan bersetubuh dari lelaki yang bukan suamiku. Ini semua akibat Yanti yang memberi peluang seakan sahabatku itu tahu bahwa aku membutuhkan ini semua.</p>
<p style="text-align: justify;">Beberapa menit berlalu, peluh kami sudah bercucuran. Sampailah aku pada puncak kenikmatan yang kudambakan. Orgasmeku mulai terasa dan sungguh aku sangat menikmatinya. Menikmati orgasmeku oleh laki-laki yang bukan suamiku, manikmati orgasme oleh suami sahabatku. Dan aku tidak menduga kalau rahimku pun menampung air sperma yang keluar dari penis lelaki selain suamiku.</p>
<p style="text-align: justify;">Singkat kisahku, kini aku sudah bekerja di salah satu perusahaan milik bapaknya Yanti. Dengan demikian kehiduapanku selanjutnya mulai membaik. Ini semua berkat bantuan dari sahabatku Yanti. Namun sekarang tercipta problema baru yang mengganggu pikiranku. Penghianatanku terhadap Mas Hadi tidak berhenti sampai di sini.</p>
<p style="text-align: justify;">Gairah seksku tidak dapat tertahankan. Aku dapat melayani suamiku hingga beberapa kali. Dan jika aku tidak merasa puas, kulampiaskan gejolakku itu dengan Mas Sandi, bahkan kalau Mas Sandi tidak ada, aku mencari kepuasan seksku dengan siapa saja yang mau. Dan untungnya hingga kini suamiku tidak mengetahuinya, tapi apa mungkin dia telah mengetahuinya..? Aku tidak perduli.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ceritasex.cn/dijebak-tapi-enak-bagian-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Di Blowjob Sampe Ngecrot Di Mulut (Isep Kontol)</title>
		<link>http://www.ceritasex.cn/di-blowjob-sampe-ngecrot-di-mulut-isep-kontol/</link>
		<comments>http://www.ceritasex.cn/di-blowjob-sampe-ngecrot-di-mulut-isep-kontol/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 11 Jul 2009 16:59:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cerita Sex</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bokep 3gp]]></category>
		<category><![CDATA[blowjob]]></category>
		<category><![CDATA[deepthroat]]></category>
		<category><![CDATA[emut kontol]]></category>
		<category><![CDATA[isep kontol]]></category>
		<category><![CDATA[muncrat]]></category>
		<category><![CDATA[oral]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ceritasex.cn/?p=585</guid>
		<description><![CDATA[Lumayan bagus untuk ukuran video amatir sayang banget nggak ada suaranya, Download disini aja cuy http://rapidshare.com/files/254637151/blowjob-sampe-ngecrot-di-mulut.3gp]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2009/07/blowjob-sampe-ngecrot-di-mulut.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-586" title="blowjob-sampe-ngecrot-di-mulut" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2009/07/blowjob-sampe-ngecrot-di-mulut-300x245.jpg" alt="blowjob-sampe-ngecrot-di-mulut" width="300" height="245" /></a></p>
<p style="text-align: justify;">Lumayan bagus untuk ukuran video amatir sayang banget nggak ada suaranya, Download disini aja cuy <a href="http://rapidshare.com/files/254637151/blowjob-sampe-ngecrot-di-mulut.3gp" target="_blank">http://rapidshare.com/files/254637151/blowjob-sampe-ngecrot-di-mulut.3gp</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ceritasex.cn/di-blowjob-sampe-ngecrot-di-mulut-isep-kontol/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Terangsang untuk pertama kalinya di usia 19 tahun</title>
		<link>http://www.ceritasex.cn/terangsang-untuk-pertama-kalinya-di-usia-19-tahun/</link>
		<comments>http://www.ceritasex.cn/terangsang-untuk-pertama-kalinya-di-usia-19-tahun/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 30 Jun 2009 10:19:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cerita Sex</dc:creator>
				<category><![CDATA[Daun Muda]]></category>
		<category><![CDATA[abg]]></category>
		<category><![CDATA[dita]]></category>
		<category><![CDATA[oral]]></category>
		<category><![CDATA[petting]]></category>
		<category><![CDATA[putri]]></category>
		<category><![CDATA[seks]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ceritasex.cn/?p=518</guid>
		<description><![CDATA[Namaku Dita Putri ,usia saat ini 20 asli Bandung,tinggal di daerah Setiabudi Regency, dan saat ini kuliah sastra inggris semester 4 di salah satu pts Bandung, kata temen2 kampusku aku termasuk cewek cantik dan beruntung, kenapa? karena bentuk tubuhku(kata temen)bisa dibilang proporsional dan bikin terangsang kaum cowo(semua ini kata temen2 deketku seperti si Nita,Asni,Ruri) tapi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Namaku Dita Putri ,usia saat ini 20 asli Bandung,tinggal di daerah Setiabudi Regency, dan saat ini kuliah sastra inggris semester 4 di salah satu pts Bandung, kata temen2 kampusku aku termasuk cewek cantik dan beruntung, kenapa? karena bentuk tubuhku(kata temen)bisa dibilang proporsional dan bikin terangsang kaum cowo(semua ini kata temen2 deketku seperti si Nita,Asni,Ruri) tapi sampai sekarang aku belum punya pacar karena ga boleh sama ortu.o ya,di rumah kami tinggal berlima aku dua bersaudara adikku cewek dan aku dan kedua orang tuaku satu lagi pembantu sekaligus sopir pribadi keluargaku sebut saja mang Sardi(maaf,nama samaran)(dia itu usia nya hampir seusia papahku yaitu sekira 50 tahunan)jadi genap berlima semuanya..</p>
<p style="text-align: justify;">kejadian aneh dan mengasikan itu terjadi kira2 beberapa bulan lalu saat bulan puasa, waktu itu hari jum&#8217;at (tanggalnya lupa) kami di rumah hanya berdua yaitu saya sama mang Sardi, sedangkan mamah-papah sama si Danti(nama adikku yg masih smp itu) sedang ke Bogor (berangkat hari jum&#8217;at subuh setelah makan sahur) karena papah serah terima jabatan di Pemda Bogor dan mereka menginap selama 3 hari,sedangkan saya mesti kuliah semester pendek, jadi ga bisa ikut, dan di rumah ditemani supir kami mang Sardi karena disuruh papah jagain aku. Jadi resmi di rumah yg besar ini(karena saat nulis email ini lagi dirumah) kami berdua, saya dan mang Sardi di ruang bawah. setelah keberangkatan mereka dan makan sahur saya kembali lanjutkan tidur sementara mang Sardi beres2 ruang bawah, nah kejadian anehnya ini berawal ketika saya mau mandi di ruang bawah (karena sowernya deket ruang tamu) saat itu saya mau kuliah jam 8.00, sedangkan saat bangun jam 7.00 saya agak santai saat itu karena selain jarak kampusku deket juga ada mobil civic grand kesayanganku itu yg selalu menemani kemanapun.</p>
<p style="text-align: justify;">saat mau mandi saya langsung buka daster seperti biasa kalo pake daster saya selalu tidak pake BH dan CD, jadi hanya baju tidur aja, demi kesehatan, begitu menurut mamaku&#8230;asal tau aja kalo tubuhku seperti yg dikatakan temen2ku itu betul2 proporsional dg ukuran BH 34A dan pinggul yg agak bulat serta kulitku yang putih mulus tanpa cacat kalo disamain, kata teman2ku aku ini mirip2 sedikit dengan Putri Patricia artis sinetron itu(bukan geer lho) , setelah telanjang gitu saya mencoba buka kran sower tapi ga keluar air alias macet dan saya agak jengkel sambil setengah teriak panggil mang Sardi&#8230;..&#8221;mang Sardiiii&#8230;.kesini cepat&#8221;,dan dg spontan dia datang tergopoh2, saya lupa saat itu udah telanjang dan pintu ga dikunci, begitu dateng dia, langsung mukanya merah padam karena melihat saya telanjang bulat di hadapannya, saya pun malu spontan tanganku menyambar kain daster di gantungan dan bilang ke dia kalo sower ga jalan, lalu dia terbata2 bilang gini &#8220;maaf neng,mamang lupa bukain jet pump di dapur, lalu saya suruh dia &#8220;cepet mang bukain udah dingin nih!!&#8221;<br />
<span id="more-518"></span><br />
lalu dia menganguk dan setengah berlari dia ke dapur, setelah menyala sowernya itu lalu aku semprotkan sower air panas ke bathtub dan aku langsung agak loncat ke bathtub tanpa ada rasa lupa mengunci pintu toilet tersebut, dan setelah aku selesai mandi aku lupa kalo aku juga ga bawa handuk lalu aku panggil mang Sardi tapi saat itu posisiku masih didalam bathtub berbusa tentu saja telanjang, tak lama dia datang dan dengan meminta ijin dia masuk ke toilet dengan hati2 sekali, &#8220;mang tolong bawain handuk bunga2 yg warna merah di kamar&#8221; begitu kataku saat itu, dia menganguk dan langsung ke kamarku lalu saya tersenyum sendirian melihat tingkah laku mang Sardi barusan yg hati2 sekali dan malu2 tertunduk itu, sekilas ada hasrat untuk mengerjainya waktu itu, ga berapa lama dia muncul bawa handuk lalu aku keluar dari bathtub dengan posisi membelakangi dia sehingga yg dia lihat punggung mulusku saat itu(tentu saja saat itu saya masih telanjang bulat) dengan suara agak gemetar dia bilang gini &#8220;sudah ya neng ini handuknya!&#8221; lalu saya bilang &#8220;bentar dulu mang, mendingan mamang yg menghanduki saya biar tahu sekali2 rasanya menghanduki cewe(begitu awalnya saya mengerjainya,o ya asal tau aja kalo mang Sardi itu adalah duda tanpa anak sejak 7 tahun lalu)
</p>
<p style="text-align: justify;">semula dia keliatan kikuk dan ragu2 melakukannya (saya tahu karena liat cermin didepanku walaupun membelakangi dia) dengan wajah tertunduk dan mimik muka yg malu2 lalu dia mengusapkan handuk ke punggungku yg masih berbusa sabun, dan cukup lama dia mengusap2 punggungku&#8230;lalu saya bilang &#8220;seluruhnya donk mang, dari rambut ke kaki paling bawah&#8221; dan &#8220;iya&#8230;eee..iya neng sebentar&#8221; dia terbata2 jawabnya. Sekilas saya sempet tertawa kecil karena merasa seneng udah kerjain dia, lalu dia mengusapkan handuk dari rambut ke leher, lembut sekali, bahu punggung dan di posisi pinggang dan bokong (belahan anus) agak lama menghandukinya, sekilas terasa seperti diusap2 lembut dan ada rasa enak ketika dia menghanduki daerah deket anus, lalu ke paha belakang dan terakhir di kaki bawah. Saat itu terlintas saya mau menyudahinya karena mungkin waktu sudah jam 7.30 pikirku, namun entah setan apa yg merasuki aku saat itu sehingga ada pikiran nakal lagi mau mengerjainya lebih, dan secara refleks aku berbalik badan dan saat itu kontan dia terbelalak kaget dengan posisi tubuh telanjangku menghadap dia yg masih memegang handukku itu lalu dia tertunduk dan aku langsung berkata seperti ini &#8220;mamang sekarang membersihkan dan menghanduki bagian depan ya mang!!&#8221; begitu suruhku sambil agak setengah ketawa(habis ga tahan tingkah laku dia yg kikuk itu)</p>
<p style="text-align: justify;">lalu diapun menghanduki badan bagian depanku mulai dari rambut lalu wajah (aku tertawa kecil saat dia handuki wajahku) tapi yg aku tahu dia tetap tertunduk, dan setelah wajah ke leher lalu (aku agak deg2an saat itu)dia menghanduki bagian dada kiri kananku agak lama(sejenak dia agak terhenti saat menghanduki daerah dada) dan saat itu juga aku berhenti ketawa2 kecil dan ada rasa aneh yg belum pernah dirasakan saat mang Sardi menghanduki dadaku, soalnya selama ini kalo sama sendiri rasanya biasa2 aja, tapi pas sama orang lain yg menghandukinya jadi agak lain rasanya, ada perasaan enak dan nikmat sementara saya seperti dibius saja terpejam beberapa saat tanpa sadar berkata seperti ini &#8220;hmmm&#8230;.hmmm&#8230;hmmm&#8221; kontan saja mang Sardi bertanya &#8220;kenapa neng?neng Dita marah ya sama mamang?&#8221;&#8230;dia mencoba untuk menegakan kepalanya yang agak melihat ke wajahku yg lebih jangkung dari dia, dan dia semakin berani malah saat itu menatap wajahku ,aku menggeleng dan berkata &#8220;ngga mang&#8230;saya ga marah cuman&#8230;&#8221; aku ga meneruskan kata2ku saat itu&#8230;.lalu dia tanya lagi &#8220;cuman apa neng? bilang sama mamang?&#8221; suaranya seperti ketakutan kalo2 saya akan memarahinya..lalu saya teruskan kata2ku &#8220;cuman ada perasaan enak di elus2 gitu mang!!&#8221; jawabku polos saat itu tanpa ada rasa malu kalo ternyata saat itu adalah pertama kali terangsang secara seksual, gilanya lagi oleh pembantu sekaligus sopirku mang Sardi!!!</p>
<p style="text-align: justify;">Mang Sardi malah senyum setelah saya ungkapkan kepolosanku itu lalu berkata gini &#8220;nah&#8230;neng&#8230;mamang tau sebenarnya kalo neng Dita ini mau mengerjain mamang ya&#8230;dan ternyata malahan neng Dita sendiri yang mulai terangsang!!!&#8221; begitu katanya dengan logat sunda yang kental sambil tetap tangannya memutar-mutar dadaku kiri kanan dengan handuk, padahal kalo saya lihat udah kering dadaku itu, justru yg masih basah adalah bagian perut dan kemaluanku yg agak masih jarang bulu2nya hanya bulu halus seperti rambut, lalu saya memegang tangan mang Sardi dua2nya dan berkata &#8220;cukup mang, Dita kesiangan nih kuliah udah telat dari tadi&#8221;, lalu mamang menganguk dan melilitkan handuk itu ke tubuh saya seperti saat dia melilitkan handuk ke tubuh saya saat SD&#8230;..dan sebelum dia keluar saya menarik tangan kirinya sambil berkata &#8220;jangan bilang sama mamah-papah ya, diem aja nanti deh pulang kuliah dihandukin lagi sama mamang seperti tadi, mau ga?&#8221; kataku cepet2, dia cuman menganguk.</p>
<p style="text-align: justify;">Lalu pas di tempat kuliah saya ga bisa konsentrasi, kepengen cepet pulang selain lapar karena puasa juga kepengen cepet mandi dan dihanduki lagi sama mang Sardi.. Setelah selesai kuliah kira2 jam 12.30 aku bergegas pulang dan sampe di rumah jam 13.00 langsung menuju kamar dan ganti pake daster dengan maksud mau mandi siang sambil membawa handuk saya lihat mang Sardi terbengong-bengong dengan tingkah lakuku itu dan sambil tersenyum saya berkata seperti ini ke dia &#8220;mamang handukin lagi Dita ya mang?&#8221; dia menganguk setengah tersenyum dan bilang gini &#8220;neng Dita mandi aja dulu nanti kalo udah selesai panggil mamang, pasti deh mamang nyamperin ke toilet&#8221; saya menganguk dan mandi, setelah selesai mandi saya panggil dia dan langsung masuk ke toilet tanpa permisi dan sepintas dia menyambar handukku dan tanpa basa basi saya keluar dari bathtub dan dia menghampiri, kali ini saya langsung menghadapnya dengan telanjang badan tanpa membelakanginya seperti pagi hari tadi, lalu dia langsung menghanduki rambutku yg basah kuyup oleh air dan saat itu kami tidak bicara satu sama lain hanya mungkin kata hati kami masing2 bicara sementara dia handukin rambut leher dan pundak saya , malah terpejam(mungkin saya sedikit menikmatinya) dan yg paling mendebarkan saat mang Sardi menghanduki dadaku kiri kanan itu benar2 lebih mendebarkan ketimbang di pagi hari itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Dan saat bermenit-menit mang Sardi mengusap dadaku kiri kanan dengan handuk tiba2 dia nyeletuk seperti ini &#8220;neng Dita, kalo diusapnya tidak pake handuk seperti ini akan lebih nikmat!!!&#8221; lalu aku jawab &#8220;maksud mamang???langsung pake tangan mamang gitu!!!&#8221; dia menganguk seolah minta restu dariku, lalu saya pun menganguk tanda setuju&#8230;.dan ternyata jauh dari pikiranku lebih nikmat langsung dielus pake tangan mang Sardi ketimbang dielus memakai handuk, sesaat tangan kiri dulu lalu kemudian tangan kanannya menyusul meremas lembut sambil sesekali melintir seperti memainkan volume radio tapeku. Dan benar saja nikmat sekali rasanya apalagi ini baru pertama kalinya seorang laki2 menyentuh langsung dengan telapak tangan ke dadaku dan lama-lama makin mengeras saja payudaraku saat itu, tidak sadar ternyata seperti mau pipis rasanya dan geli, nikmat, asik, enak campur aduk jadi satu saat mang Sardi terus mengelus buah dadaku yg belum pernah dielus itu, ternyata kejadianya hampir 1/4 jam kala dia mengelus dadaku ini. Semakin lama semakin tak sadar sambil terpejam saya merapatkan badan ke tubuh mang Sardi dan dia mundur ke belakang, punggungnya menyentuh dinding toilet dan saya terus semakin merapatkannya sambil tetap dia mengelus2 halus buah dada ini kiri kanan, dan posisi itu yang saya ingat, menimbulkan semacam gesekan benda yang mengeras hangat di balik sarungnya(o ya, saya lupa saat itu dia memakai kaos oblong dan kain sarung karena pulang Jum&#8217;atan di masjid depan rumahku) mungkin dia ga pake celana kolor karena dari gesekan tubuhku ini terasa sekali semacam kemaluan laki2(yg selama ini saya tau dari film dan cerita2 temen2)</p>
<p style="text-align: justify;">saat saya terpejam begitu lama2 dia berani menjulurkan lidahnya ke leher saya waktu itu, semula saya mau menghindar tapi tak kuasa untuk menghindarinya dan mencoba untuk menikmatinya, agak geli karena berkumis tapi lucunya posisi dia mendongkak ke atas karena saya lebih jangkung dari dia dan agak berjinjit kakinya dan dia menjilati leher kebawah lalu pundak dan akhirnya di dada, ini lebih nikmat rasanya ketimbang pake tangan dan ga sadar saya mengeluarkan suara&#8221;SSSSTT&#8230;AHHH&#8230; AHHH&#8230;. HMMMMMM&#8221;mungkin begitu seingatku saat itu.dan itu adalah nikmat dari segala nikmat menurutku saat itu, lalu lama2 dia seperti mau berjongkok dan ternyata berjongkok lidahnya menciumi perutku, udel, lalu ke kemaluan ku yang masih jarang berbulu ini,dan ahhhhh&#8230;.saya tak sadar bersuara agak keras saat dia menciumi kemaluanku ini, karena saat itu benar2 baru pertama kali diciumin seperti itu sama laki2.nikmat sekali rasanya&#8230;.Lalu terdengar telepon berdering, buru2 saya melepaskan pelukan mang Sardi di pinggang dan berlari ke ruang tengah sambil telanjang bulat dan agak basah tubuhku saat itu, basah karena air mandi dan liur mang Sardi, ternyata papah dari Bogor telepon mengabari kalo beliau sudah sampe disana, dan setelah telepon ditutup saya membalikan badan ternyata mang Sardi sudah ada dibelakangku, dia mengikutiku sejak tadi berlari ke ruang tamu ini, dan dia bertanya dari siapa teleponnya,saya jawab dari papah di Bogor, lalu mang Sardi menyuruh saya berpakaian lagi sambil menyodorkan daster yang tadi ditanggalkan di toilet, lalu aku pakaikan dasterku saat itu dan masuk kamar.</p>
<p style="text-align: justify;">Sepintas saya liat jam 3.30 sore hari lalu aku tertidur di kasur sampe terbangun dengan ketukan di pintu kamar &#8220;neng bangun neng udah magrib&#8221;begitu terdengar suara mang Sardi di balik pintu kamar, lalu aku ke bawah dan makan di meja makan sementara mang Sardi di dapur, lalu aku panggil, untuk makan sama2 di meja makan, semula dia menolak tapi akhirnya mau juga. Setelah makan, badan merasa gerah dan aku bermaksud untuk mandi lagi tepat jam 7.00 malam hari, lalu aku lihat mang Sardi sedang nonton tivi dan aku sengaja ajakin dia untuk sama2 ke toilet, semula dia menolak dengan alasan kalo nanti ketauan sama papah, tapi aku jawab papah di Bogor ini, jadi ga usah takut, akhirnya dia mau juga aku ajak ke toilet, entah kenapa saat itu pikiranku bener2 ngeres sejak mang Sardi siang harinya menciumi sekujur tubuhku.Setelah berada di toilet langsung saja aku masuk ke bathtub sementara mang Sardi saya suruh semburin air hangat yg keluar dari sower untuk disiramin ke sekujur tubuhku (tentu saja aku dalam keadaan telanjang bulat saat itu, ga ada suara , hening, yg terdengar hanya gemericik air disiramin diatas tubuh ini, sambil aku tiduran di bathub menikmati aliran air mang Sardi sepintas terlihat hanya memandang tubuh telanjangku, tapi aku pura2 ga liat, khawatir dia kabur ke luar toilet kalo tahu saya pandangin dia.</p>
<p style="text-align: justify;">Dan entah kenapa setelah air itu penuh di bathtub, aku punya ide gila untuk mengajak dia mandi bareng2, tapi tentu saja dia menolak(asal tau saja kalo mang Sardi ini orangnya loyal bgt sama keluarga kami)setelah tau dia menolak secara halus akhirnya saya ga kehabisan akal, saya menyuruh dia untuk menyabuni seluruh badan ini, seperti yg dilakukan mang Sardi disaat saya kecil, dan dia setuju. Lalu mulailah dia menyabuni mulai dari rambut,leher,bahu,punggung dada kiri kanan,dan berhenti di pinggang, saya tanya &#8220;kenapa mamang berhenti??&#8221;lalu dia jawab &#8220;takut dosa neng,neng Dita kan anak majikan saya neng!!!, nanti saya dikejar2 perasaan itu terus&#8221; saya mengerti dari raut mukanya dan menjawab seperti ini &#8220;mamang ga usah takut, kan kita cuman berdua, lagipula kalo Dita lakukan sama orang lain ga mungkin, soalnya mamang tau sendiri sifat mamah seperti apa ke Dita!!,sejak mamang ciumin tubuh Dita tadi siang jadi suka terbayang2 sama Dita mang&#8221; begitu penjelasanku polos saat itu, dan dia berkata&#8221;iya neng, mamang juga tadi siang bener2 khilaf, dan mamang pun udah lama ga seperti ini apalagi neng Dita sekarang ini tambah cantik,putih mulus jauh sekali dibandingkan dengan istri mamang dulu&#8221;katanya sedih&#8221;lalu tanpa sadar saya berusaha untuk menghiburnya dengan refleks memeluknya dan ga terasa saya malah memegang kemaluannya diluar celananya dan terasa sekali sudah mengeras,tidak terlalu besar tapi saat itu benar2 pertama kali saya memegangnya, walaupun mang Sardi itu usianya 50 tahunan tapi masih keras sekali kemaluannya itu, terasa saat dipegang.</p>
<p style="text-align: justify;">Dan dia malah balas memelukku saat itu dalam keadaan basah kuyup dengan siraman sower kami saling memeluk sehingga baju oblong yang dipake sama mang Sardi ikut basah juga akhirnya secara diam2 saya bukakan kaos oblongnya sementara dia diam saja, dan terlihatlah dadanya yang berbulu dan kelihatan masih tegap, lebih tegap dibandingkan dengan tubuh papah, dia diam saja saat saya mencoba mengelus dadanya itu(seperti pada film2 porno yang saya tonton sama temen2 kampus) saya sempat bergetar kala mengelus dada yg berbulu itu, lalu secara spontan dia membelai rambut saya yg basah dan tangannya itu dua2nya mengelus pipiku lembut sekali saya cuman terpejam seakan dielus sama papah yg selama ini sibuk dengan pekerjaan kantornya. Dan sesaat terdiam saat dia memegang bahu saya dan turun tangannya ke dada yg kiri sementara tangan kanannya mengelus paha dan kemaluan saya, saya sempat diam dan malah memaju mundurkan tubuh saat itu seakan menikmati setiap belaiannya itu, sambil tetap mata ini terpejam dan secara refleks malah saya memeluknya erat sekali.</p>
<p style="text-align: justify;">Dan tak lama dengan posisi memeluk sambil berdiri itu saya secara perlahan membuka gesper kulitnya seraya menurunkan celana panjang mang Sardi saat itu, dan setelah saya menurunkan celananya yg basah tersiram sower itu kemudian saya juga menurunkan celana kolor nya itu perlahan dan terlihatlah kemaluan laki2nya begitu mengkilat yang baru pertama kali saya lihat secara nyata dan asli di usia saya yang saat itu 19 tahun(sekarang udah 20 tahun), dan setelah terlihat itu dadaku tambah bergetar tak karuan ketika saya mencoba untuk memegangnya secara perlahan, dan dalam gengnggaman saya saat itu begitu hangat kemaluannya dan berdenyut seperti seekor burung, tapi menambah penasaran untuk berbuat lebih jauh tanpa memikirkan lagi yang namanya logika mana majikan mana pembantu.</p>
<p style="text-align: justify;">Mang Sardi saat itu juga sepintas saya lihat memejamkan mata yang pada akhirnya kami saling membelai, dimana mang Sardi membelai kemaluan saya yg semakin basah dan hangat, sementara saya pun membelai kejantanan mang Sardi yg hangat itu, lama2 saya secara naluri mengocok2nya seperti di film dan mang sardi seperti menikmati kocokan itu hampir sekira 15 menit saya mengocoknya sementara saya telah mencapai puncak kenikmatan ketika mang Sardi memasukan jarinya maju mundur ke dalam kemaluan saya. Dan seperti mau pipis tapi enak dan nikmat rasanya ketika tubuh saya bergetar dan mengeluarkan suara mungkin seperti ini ini yang saya ingat &#8220;AAAhhhhhh..mmmmm.m.mmmmm..mm. .ennaakk mmaamang&#8221;sambil terus tanganku mengocok2 kejantanannnya itu, dan beberapa saat setelah saya merasa di puncak kenikmatan mang Sardi mengeluarkan pipis berwarna putih kental dan hangat belepotan di tanganku waktu itu yg akhirnya saya tau dari buku kalo itu adalah cairan sperma laki-laki, setelah itu dia melepaskan tangannya dari kemaluanku dan saya pun melepaskan kocokan di burungnya dan membersihkan tanganku yg penuh sperma dengan air sower, lalu mang Sardi menyuruhku memakai handuk dan tidur. Akupun naik ke atas dan ganti daster lalu tidur.</p>
<p style="text-align: justify;">Selintas di jam dinding kamarku jam 9.30 malam, saya ga bisa tidur sama sekali, yg terlintas di bayanganku saat itu hanyalah kejadian demi kejadian hari itu yang betul2 pengalaman mengasikan yg dilakukan kami berdua yaitu saya dengan mang Sardi, dan setelah kejadian itu kami seringkali melakukannya disaat adeku dan ortuku tidak ada di rumah, terkadang mang Sardi saya ajak pura2 mengantarku pake mobil kesayanganku atau mobil papah dan kami melakukannya di berbagai tempat seperti dago, Lembang, Pangalengan dan tempat2 sejuk lainnya, tentu saja cari tempat yang aman tidak diketahui banyak orang, tapi sampai saat ini saya masih tulen perawan karena menurut mang Sardi, asal jangan dimasukin burungnya mamang, neng Dita akan tetap perawan, demikian tuturnya, lama-kelamaan saya jadi jatuh cinta sama mang Sardi yang terpaut jauh usia diatasku, karena mungkin saya mencari figur papah yg selama ini kerap sibuk dinas di pekerjaannya.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ceritasex.cn/terangsang-untuk-pertama-kalinya-di-usia-19-tahun/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>ML sama pacar (video amatir)</title>
		<link>http://www.ceritasex.cn/ml-sama-pacar-video-amatir/</link>
		<comments>http://www.ceritasex.cn/ml-sama-pacar-video-amatir/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 20 Jun 2009 15:59:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cerita Sex</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bokep 3gp]]></category>
		<category><![CDATA[3gp]]></category>
		<category><![CDATA[amatir]]></category>
		<category><![CDATA[blowjob]]></category>
		<category><![CDATA[bokep]]></category>
		<category><![CDATA[cuki]]></category>
		<category><![CDATA[mendesah]]></category>
		<category><![CDATA[ml]]></category>
		<category><![CDATA[ngentot]]></category>
		<category><![CDATA[oral]]></category>
		<category><![CDATA[pacaran]]></category>
		<category><![CDATA[sepong]]></category>
		<category><![CDATA[video]]></category>
		<category><![CDATA[woman on top]]></category>
		<category><![CDATA[wot]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ceritasex.cn/?p=448</guid>
		<description><![CDATA[Inilah gunanya punya pacar, bisa buat enakin kontol hehehe.. ni video amatir bagus juga soalnya ceweknya bikin napsu cuy, palagi pas ngentot dia mendesah desah aduh jadi kontolku tegang Download video disini]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Inilah gunanya punya pacar, bisa buat enakin kontol hehehe.. ni video amatir bagus juga soalnya ceweknya bikin napsu cuy, palagi pas ngentot dia mendesah desah aduh jadi kontolku tegang <img src='http://www.ceritasex.cn/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> </p>
<p><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2009/06/ml-sama-pacar.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-449" title="ml-sama-pacar" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2009/06/ml-sama-pacar-265x300.jpg" alt="ml-sama-pacar" width="265" height="300" /></a></p>
<p><a href="http://rapidshare.com/files/246689328/ML-sama-pacar.3gp" target="_blank">Download video disini</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ceritasex.cn/ml-sama-pacar-video-amatir/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Siska, ABG yang doyan ngentot</title>
		<link>http://www.ceritasex.cn/siska-abg-yang-doyang-ngentot/</link>
		<comments>http://www.ceritasex.cn/siska-abg-yang-doyang-ngentot/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 19 Jun 2009 15:09:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cerita Sex</dc:creator>
				<category><![CDATA[Daun Muda]]></category>
		<category><![CDATA[Foto Mesum]]></category>
		<category><![CDATA[abg]]></category>
		<category><![CDATA[kondom]]></category>
		<category><![CDATA[ngentot]]></category>
		<category><![CDATA[oral]]></category>
		<category><![CDATA[sex]]></category>
		<category><![CDATA[siska]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ceritasex.cn/?p=413</guid>
		<description><![CDATA[Gitu dong&#8230;&#8230; meskipun ABG doyan ngentot tetap safe pake kondom&#8230;&#8230;]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2009/06/siska-1.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-414" title="siska-1" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2009/06/siska-1-300x203.jpg" alt="siska-1" width="300" height="203" /></a></p>
<p><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2009/06/siska-2.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-415" title="siska-2" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2009/06/siska-2-300x202.jpg" alt="siska-2" width="300" height="202" /></a></p>
<p><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2009/06/siska-3.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-416" title="siska-3" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2009/06/siska-3-300x202.jpg" alt="siska-3" width="300" height="202" /></a></p>
<p><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2009/06/siska-4.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-417" title="siska-4" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2009/06/siska-4-300x203.jpg" alt="siska-4" width="300" height="203" /></a></p>
<p>Gitu dong&#8230;&#8230; meskipun ABG doyan ngentot tetap safe pake kondom&#8230;&#8230; <img src='http://www.ceritasex.cn/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ceritasex.cn/siska-abg-yang-doyang-ngentot/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kisah Eliza 09 : Petaka Akibat Mengintip</title>
		<link>http://www.ceritasex.cn/kisah-eliza-09-petaka-akibat-mengintip/</link>
		<comments>http://www.ceritasex.cn/kisah-eliza-09-petaka-akibat-mengintip/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 04 Jun 2009 07:09:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cerita Sex</dc:creator>
				<category><![CDATA[Daun Muda]]></category>
		<category><![CDATA[Pemerkosaan]]></category>
		<category><![CDATA[Seks Umum]]></category>
		<category><![CDATA[abg]]></category>
		<category><![CDATA[amoy]]></category>
		<category><![CDATA[anak sekolah]]></category>
		<category><![CDATA[ayam kampus]]></category>
		<category><![CDATA[cina]]></category>
		<category><![CDATA[cuki]]></category>
		<category><![CDATA[eliza]]></category>
		<category><![CDATA[isep kontol]]></category>
		<category><![CDATA[jenny]]></category>
		<category><![CDATA[lonte]]></category>
		<category><![CDATA[ngentot]]></category>
		<category><![CDATA[oral]]></category>
		<category><![CDATA[penis]]></category>
		<category><![CDATA[perkosa]]></category>
		<category><![CDATA[vera]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ceritasex.cn/?p=306</guid>
		<description><![CDATA[Hari ini hari Kamis, pelajaran di sekolahku berlangsung seperti biasa setelah sempat libur tiga hari lamanya karena ada penyelenggaraan bazar di sekolahku. Pagi ini semua berlangsung seperti biasa, hanya aku dan Jenny saling tersenyum penuh arti kalau tanpa sengaja kami beradu pandang ataupun bersenggolan tangan. Hal ini sering terjadi karena kami memang duduk bersebelahan. Bahkan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Hari ini hari Kamis, pelajaran di sekolahku berlangsung seperti biasa setelah sempat libur tiga hari lamanya karena ada penyelenggaraan bazar di sekolahku. Pagi ini semua berlangsung seperti biasa, hanya aku dan Jenny saling tersenyum penuh arti kalau tanpa sengaja kami beradu pandang ataupun bersenggolan tangan. Hal ini sering terjadi karena kami memang duduk bersebelahan. Bahkan kadang diam diam aku dan Jenny mencuri curi saling menggenggam tangan di bawah meja. Ya, kejadian di depan rumah Jenny pada akhir liburan kemarin memang mengubah total hubunganku dengan Jenny.</p>
<p style="text-align: justify;">Istirahat pertama tadi kulewatkan bersama Jenny di kantin. Sherly juga ikut nimbrung, dan kami bertiga sudah saling tahu semuanya, hingga tak ada rasa canggung sedikitpun di antara kami bertiga. Kini aku dan Jenny sedan ada di dalam kelas, dan setengah jam lagi adalah waktunya istirahat ke dua. kebetulan aku merasa ingin ke toilet. “Jen, aku ke toilet dulu nih”, bisikku. “Aku ikut sayang”, kata Jenny, membuatku tersenyum geli. “Gila kamu yah? Ya.. terserah kamu sih”, kataku. Lalu aku berdiri dan melangkah ke depan diikuti oleh Jenny.</p>
<p style="text-align: justify;">Hampir bersamaan kami berkata, “Pak, kami ijin ke belakang dulu”. Setelah mendapat ijin dari pak Gatot, aku dan Jenny segera keluar dari kelas, menuju ke toilet, toilet putri tentunya. Tepat sebelum masuk ke toilet, aku menghentikan langkah. “Jen, kamu dengar nggak? Itu…”, aku berbisik agak ragu, sambil menunjuk ke gudang di sebelah toilet ini. Jenny memandangku heran, lalu ia melangkah ke arah pintu gudang itu. “Jennn”, aku berbisik kaget sambil menarik Jenny, karena pintu itu memang agak terbuka, kuatirnya Jenny akan terlihat oleh orang yang ada di dalamnya.</p>
<p style="text-align: justify;">“Apa sih El?”, tanya Jenny heran. “Jen, hati hati dong… kamu kan bisa kelihatan oleh mereka yang di dalam? Sebaiknya kita dengarkan diam diam deh”, bisikku lagi. Kemudian kami berdua menajamkan pendengaran, dan tak lama kemudian aku mendengar suara lenguhan perempuan. Lenguhan perempuan yang mungkin sekali sedang keenaan karena disetubuhi oleh laki laki. Aku dan Jenny saling pandang, kulihat muka Jenny memerah. Sedangkan keadaanku sendiri kelihatannya tak jauh beda, karena mukaku rasanya panas, jantungku juga berdegup kencang.</p>
<p style="text-align: justify;">“El, siapa ya yang lagi asyik nih siang siang gini?”, tanya Jenny dengan bingung. Aku mengangkat bahu, dan Jenny dengan hati hati mengintip melalui pintu. Aku juga cukup penasaran dan ikut mengintip. Beberapa saat kemudian aku cukup shock. Aku melihat Vera yang telanjang bulat, sedang bergumul dengan dua siswa laki laki yang tak aku kenal, yang masih memakai seragam sekolah, tapi sudah tak memakai celana panjang abu abunya. Apakah dua siswa itu teman sekelasnya?<br />
<span id="more-306"></span><br />
Dengan cepat aku menahan nafas. Aku mulai mencoba memperhatikan Vera. Ia sedang meliuk liukkan tubuhnya di atas tubuh temannya yang rebahan di atas meja yang sudah ditata itu, mungkin sekali Vera sedang mengendarai penis temannya itu. Benar benar pemandangan yang kontras, Vera yang begitu putih menggeliat di atas tubuh temannya yang jadi terlihat begitu hitam. Aku makin tertegun melihat Vera juga terlihat asyik mengoral penis dari seorang lagi yang berdiri di sampingnya. Pemandangan ini membuat gairahku naik, melihat Vera dengan pipinya yang begitu putih, menggembung karena mulutnya menampung penis temannya yang pasti amat hitam itu.
</p>
<p style="text-align: justify;">Lenguhan tertahan dari Vera, membuat aku makin merasa lemas, dan aku memutuskan berhenti mengintip dan menarik tangan Jenny. Selain itu aku juga takut ketahuan kalau berlama lama mengintip. Jenny mengikutiku masuk ke WC. Aku mencoba mengatur nafasku yang memburu. Kemudian aku masuk ke dalam salah satu dari tiga kamar di WC ini. Tapi ketika aku akan menutup pintu, aku terkejut melihat Jenny sudah menerobos masuk, dan mengunci pintu kamar WC ini. Dan Jenny memandangku dengan tatapan yang membuat aku bergidik.</p>
<p style="text-align: justify;">“Jen… kamu mmph…”, kata kataku tertahan karena Jenny sudah melumat bibirku dengan sangat bernafsu. Tak butuh waktu lama, aku terlarut dan memejamkan mataku. Aku memeluk Jenny, membalas lumatan bibirnya dengan sepenuh hati. Entah sejak kapan, aku sudah tinggal mengenakan bra, seragam sekolahku sudah dibuang Jenny ke pojok kamar WC ini. Aku balas membuka kancing bajunya, dan beberapa saat kemudian kami berdua sudah telanjang dada dan saling meremasi payudara kami berdua.</p>
<p style="text-align: justify;">“Eliza…”, desah Jenny. Aku tersipu malu ketika Jenny menatapku dengan sayu. “Eliza… aku juga ingin kamu…”, guman Jenny. Kemudian dengan bernafsu Jenny melucuti sabuk yang mengikat rok seragamku di pinggangku, dan dengan cekatan ia sudah melorotkan rok seragamku. Untung lantai WC ini kering, jadi aku tak perlu mengkuatirkan rok seragamku akan basah. Tapi aku sudah harus mendesah hebat, karena celana dalamku sudah dilorotkan oleh Jenny, dan tanpa berkata apa apa Jenny langsung melumat bibir vaginaku.</p>
<p style="text-align: justify;">“Ohh… Jeeeen… ssshhh…”, aku merintih dan mendesah, tanganku sampai harus kutekankan pada dinding karena aku melemas tanpa daya. Jenny dengan kejam terus mengoralku. Kini lidahnya sudah melesak memenuhi liang vaginaku, dan lidah itu bergerak seakan mengorek dinding liang vaginaku. Tentu saja aku makin menggelinjang, tapi Jenny memeluk kedua pahaku dengan kuat, jadi aku tak bisa kemana mana, hanya bisa pasrah sampai Jenny puas mencumbui liang vaginaku.</p>
<p style="text-align: justify;">“Jeeen…”, aku mengeluh ketika kurasakan cairan cintaku membanjir. Aku orgasme hebat dan tubuhku mengejang tak karuan. Jenny terus menyeruput semua cairan cintaku sampai habis, baru kemudian ia melepaskan dekapannya pada kedua pahaku. Aku langsung ambruk ke depan dan tertahan oleh Jenny. “Eliza…”, Jenny mendesah, dan ia membelai rambutku dengan mesra. Nafasku masih tersengal sengal dengan kepalaku yang kurebahkan di pundak Jenny.</p>
<p style="text-align: justify;">“Kamu gila Jen…”, gerutuku ketika aku sudah mulai bisa mengatur nafasku. Jenny tersenyum manis sekali, membuatku ikut tersenyum pada temanku yang cantik ini. Dengan lembut Jenny menyeka vaginaku dengan tissue yang ia ambil dari baju seragamnya. Aku menggigit bibir, ketika usapan lembut dari tissue yang dilakukan Jenny pada bibir vaginaku, membuatku kembali terangsang. Tubuhku rasanya bergetar.</p>
<p style="text-align: justify;">“Udah dong Jen…”, keluhku ketika Jenny dengan nakal melesakkan tissue itu sedikit ke dalam liang vaginaku. “Iya deh El”, kata Jenny sambil tersenyum menggoda. Aku duduk di WC duduk ini, dan menuntaskan keinginanku buang air kecil. Setelah itu aku mengambil tissue yang kubasahi, dan menyeka liang vaginaku. Jenny dengan nakal menaikkan celana dalamku dan membelai pahaku. Aku cuma bisa menggeleng gelengkan kepala, dan aku mencari baju seragam sekolahku dan memakainya. Lalu kuangkat rok seragam sekolahku, dan kupasang ikat pinggangku.</p>
<p style="text-align: justify;">“Jen.. kita kembali ke kelas yuk”, aku mengajak Jenny, yang mengangguk saja. Kami keluar dari WC ini dan kembali ke kelas. “Lama sekali kalian”, tegur pak Gatot. “Maaf pak, tadi saya sakit perut”, aku mencoba mencari alasan. “Saya juga pak”, Jenny ikut memberikan alasan. “Ya sudah, sana duduk”, kata pak Gatot. Kami segera duduk, dan diam diam aku tersenyum geli. Ketika aku melihat Jenny, ternyata ia juga sedang menahan senyum.</p>
<p style="text-align: justify;">Akhirnya bel istirahat kedua berbunyi. Aku dan Jenny sudah akan keluar menuju ke kantin, ketika tiba tiba aku melihat pak Edy masuk. “Eliza, selesai istirahat, temui saya di ruangan saya. Ada yang perlu saya tanyakan berkaitan dengan bazar kemarin”, kata pak Edy. “Iya pak”, jawabku dengan malas, tapi aku berusaha tetap terdengar sopan. Sebal sekali aku melihat senyuman liciknya, dan aku segera menuju ke kantin, dan memang aku jadi kehilangan mood untuk bercanda dengan Jenny ataupun Sherly, tapi aku berusaha untuk tetap menanggapi obrolan maupun canda tawa mereka.</p>
<p style="text-align: justify;">Ketika bel tanda istirahat berakhir berbunyi, aku segera berpamitan, “Sherly, Jenny, aku tinggal dulu ya. Jen, titip pesan sama pak Warno, aku mesti menemui pak Edy nih”. Mereka mengangguk dan aku segera naik ke atas, bersiap menerima nasib buruk. Aku memasuki ruangan pak Edy dengan perasaan kalut. “Silakan duduk Eliza”, kata pak Edy sok ramah. Aku hanya mengangguk, malas menjawab wali kelasku yang bejat ini. Ia beranjak ke arah pintu ruangan ini, melihat keluar sebentar, lalu masuk dan mengunci pintu itu. Aku tahu aku sudah kembali berada dalam kekuasaannya.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku hanya diam ketika pak Edy yang sudah duduk di hadapanku memandangiku. Risih sekali rasanya dipandangi seperti ini, seakan aku sedang ditelanjangi dan ditaksir berapa nilai tubuhku ini. Benar benar merendahkan sekali. Aku hanya bisa berharap, nasib sialku hari ini cepat berlalu. Pak Edy yang dari tadi memandangiku tiba tiba berkata, “Eliza.. kamu cantik sekali”.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku tercekat, dan menunduk. Aku merinding mendengar pujian yang tak sepantasnya dilakukan oleh seorang wali kelas terhadap muridnya. “Pak, apa tidak ada perlu penting? Kalau tidak ada, biarkan saya kembali ke kelas, saya kan harus mengikuti pelajaran”, kataku pelan. Pak Edy terkekeh dan menjawab, “Tentu saja saya ada perlu sama kamu Eliza”. Berkata begitu, ia berdiri dan mendekatiku. Aku tahu, aku akan segera mengalami pelecehan oleh wali kelasku ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku diam saja ketika pak Edy mulai meremasi payudaraku. Ia melanjutkan mencumbuiku, menyibakkan rambutku yang hari ini aku ikat, dan mencium belakang leherku. Bagaimanapun jijiknya, rasa terangsang mulai merambati tubuhku. Aku menggigit bibir mencoba bertahan untuk tidak mendesah. Tapi cumbuan yang kuterima makin bertubi tubi. Kurasakan jilatan pada bagian belakang telingaku kanan dan kiri, sementara tangan pak Edy makin nakal, membuka kancing baju seragam sekolahku dan menyusup ke dalam meremasi payudaraku yang masih terbungkus bra ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Akhirnya aku tak tahan lagi dan mendesah perlahan ketika jari tangan pak Edy berhasil menemukan puting payudaraku. Tekanan yang dilakukan pak Edy pada puting payudaraku ditambah kecupannya pada leherku, membuatku menggelinjang. Aku mencoba mengalihkan tangan pak Edy, tapi aku segera menghentikan niatku karena ancaman pak Edy. “Eliza, jangan coba coba melawan, atau bapak panggil pak Girno dan yang lain untuk menemani bapak”, bisik pak Edy di telingaku. Aku langsung lemas dan pasrah, kubiarkan guru bejat ini menikmati diriku.</p>
<p style="text-align: justify;">Tak lama kemudian baju seragam sekolahku sudah tergeletak di lantai, demikian juga bra dan ikat rambutku. “Eliza, kamu lebih cantik kalau rambutmu dibiarkan tergerai seperti ini”, kata pak Edy dengan bernafsu. Ia mengangkatku berdiri, lalu membuka sabukku, melucuti rok dan celana dalamku. Kini aku sudah polos, tinggal mengenakan sepatu sekolah ini. Dengan nafas memburu pak Edy mendekap tubuhku dan membawaku ke sofa. Setelah aku terbaring di sana, pak Edy segera melebarkan pahaku, dan mulai mencoba memasukkan penisnya ke dalam liang vaginaku. Tapi yang terjadi kemudian sungguh membuat aku hampir tak kuat menahan tawa.</p>
<p style="text-align: justify;">Pak Edy tak mampu melesakkan penisnya ke dalam liang vaginaku. Aku sempat merasakan terjangan penis yang terlalu lunak, rupanya pak Edy belum ereksi sempurna. Padahal terlihat jelas ia sudah sangat bernafsu melumat tubuhku. Aku mencoba memikirkan hal lain supaya tak sampai tertawa di depan wali kelasku ini. Kurang lebih dua kali pak Edy mencoba lagi, dan akhirnya… sleb…</p>
<p style="text-align: justify;">Dengan wajah puas pak Edy kini mulai memaju mundurkan pinggulnya. Aku tak begitu merasakan sedang disetubuhi, karena penis ini lunak, dan pendek. Tapi aku mencoba berpura pura terpengaruh, dan aku sengaja menggigit bibirku. “Oh… enak ya Eliza”, ejek pak Edy dengan percaya diri. Aku terpaksa pura pura mengangguk, sambil tetap menggigit bibir. Belum lagi aku merasakan apa apa, tiba tiba penis pak Edy sudah berkedut, dan menyemburkan spermanya dalam liang vaginaku.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah pak Edy puas dan menarik penisnya dari liang vaginaku, aku memejamkan mataku, sekalian mengistirahatkan tubuhku. Aku tak bergerak sama sekali dari posisi tubuhku terakhir saat pak Edy menarik lepas penisnya tadi. Kalau ada laki laki yang melihat cewek yang putih mulus seperti aku, sedang mengkangkang dalam keadaan telanjang seperti ini, pasti aku akan diperkosanya habis habisan. Aku tenang saja, toh tak ada orang di sini, setidaknya itu menurutku. Juga sekalian untuk membiarkan sperma pak Edy keluar mengalir dari liang vaginaku.</p>
<p style="text-align: justify;">Tapi tiba tiba kurasakan vaginaku tertempel sesuatu, yang tak mungkin jari tangan pak Edy, karena kurasakan begitu hangat, dan besar juga. Itu kepala penis! Aku langsung membuka mataku lebar lebar, dan jantungku serasa berhenti. Ya ampun, dia ini kan laki laki yang tadi dioral Vera di gudang? Dan aku makin terkejut ketika di sebelahku sudah berdiri seorang laki laki seumurku, dengan penisnya yang sudah berdiri tegak sekali mengacung ke arah mulutku. Kemungkinan besar dia juga laki laki yang tadi rebahan di gudang dan ditindih oleh Vera .</p>
<p style="text-align: justify;">Belum sempat aku berbuat sesuatu, liang vaginaku sudah terbelah oleh penis laki laki di depanku. “Aaammpphhh…”, aku merintih, tapi segera disumbat oleh penis laki laki yang memang sudah jelas menginginkan servis oralku. Kedua pergelangan tanganku dicengkeram erat, aku sempat berhasil melihat pelakunya, yang ternyata adalah pak Edy! Benar benar biadab, ia memberikan aku pada dua siswa yang sama sekali tak aku kenal ini. Entah apa yang ada di pikiran wali kelasku yang bejat ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Kini aku merasakan liang vaginaku begitu penuh, dan aku menggeliat perlahan ketika kurasakan liang vaginaku diaduk aduk oleh penis pemerkosaku ini. Aku tak berani terlalu banyak bergerak, karena liang vaginaku terasa begitu penuh, apalagi penis itu terasa panjang sekali dan menancap begitu dalam. Aku merasa sedikit menderita dengan keluar masuknya penis itu di liang vaginaku ini. Sedangkan mulutku harus terbuka lebar, dan akhirnya aku pasrah, menjepitkan bibirku pada penis yang sedang maju mundur menikmati sempitnya rongga mulutku.</p>
<p style="text-align: justify;">Penis yang sedang kuoral ini panjang juga, berulang kali kepala penis ini seakan ingin melesak masuk kedalam tenggorokanku, bahkan sebelum bibirku mengulum sampai ke pangkal penis ini. Entah kenapa, aku menginginkan penis ini mengaduk tenggorokanku, dan aku sedikit mendongak, memberikan jalan pada penis ini untuk menembus rongga tenggorokanku. Keringat mulai membasahi tubuhku, karena gairahku sudah mulai naik. Aku berulang kali mendesah dan merintih tertahan.</p>
<p style="text-align: justify;">Rasa sakit yang tadi sempat sedikit melanda liang vaginaku, sudah berubah menjadi rasa yang teramat nikmat. Aku mulai menggeliat keenakan. Dengan liang vaginaku yang teraduk aduk sedemikian rupa oleh sebuah penis yang besar dan panjang, sementara tenggorokanku juga teraduk aduk tak karuan, dan ketidak berdayaan dari aku untuk menggerakkan tanganku yang dicengkeram pak Edy, aku tahu sebentar lagi aku harus pasrah dilanda orgasme yang dahsyat.</p>
<p style="text-align: justify;">Kini vaginaku sudah berdenyut hebat. Aku pun makin menggeliat, mengerang dan melenguh tertahan, penuh kenikmatan. Dan penis itu masih mengaduk liang vaginaku dengan liar tanpa ampun. Akhirnya aku melenguh, ”Nggmm…”. Lenguhanku tersumbat ketika tenggorokanku terbuntu oleh kepala penis yang melesak seenaknya, membuat aku tak tahan lagi dan mengejang tak karuan, kedua betisku melejang sejadi jadinya. Aku merasa cairan cintaku membanjir tak karuan, entah sudah sebasah liang vaginaku.</p>
<p style="text-align: justify;">Pinggangku sudah tertekuk ke atas karena aku tak kuasa menerima nikmatnya orgasme ini, dan dengan pose seperti ini tubuhku pasti terlihat sexy sekali oleh pemerkosaku yang beruntung mendapatkan liang vaginaku ini. Melihat aku orgasme, bukannya berhenti, pemerkosaku ini makin bersemangat mengaduk liang vaginaku. Bahkan ia memajukan tubuhnya hingga tusukan penisnya makin terasa saja. Ternyata ia menginginkan kedua payudaraku. Kedua tangannya meraih sepasang payudaraku ini, dan ia meremas payudaraku dengan sepuas puasnya. Tentu saja aku yang masih dilanda orgasme makin keenakan.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku akhirnya mengalami multi orgasme, tubuhku terus mengejang hebat sampai aku kelelahan, orgasme yang susul menyusul terus melandaku. Aku sudah tak bisa merintih lagi, hanya membiarkan tubuhku bergerak diluar kontrolku. Sudah lebih dari satu menit tubuhku tersentak sentak diterjang badai orgasme, dan belum ada tanda tanda pemerkosa liang vaginaku itu akan berejakulasi. Aku mulai menderita dalam kenikmatan yang amat sangat ini, keringatku makin bercucuran membasahi sekujur tubuhku. Aku menatap pemerkosa vaginaku dengan sayu, berharap ia mengerti dan mau memberiku kesempatan istirahat, karea aku tak bisa berkata apapun dengan penis yang sedang memperkosa mulutku ini.</p>
<p style="text-align: justify;">“Break dulu, nanti dia bisa pingsan”, kata pak Edy tiba tiba, dan mereka berdua berhenti memompa tubuhku. Semua penis yang memompa tubuhku berhenti bergerak, demikian juga payudaraku terbebas dari remasan yang sangat membuatku menderita keenakan ini. Tapi penis yang besar itu masih berada dalam liang vaginaku, dan kurasakan denyutan denyutan yang begitu merangsangku. Cuma setidaknya keadaan ini sudah lebih baik buatku, karena multi orgasme yang membuat vaginaku begitu ngilu ini mulai mereda, hingga rasa tersiksa karena kejangnya otot otot di vaginaku dan sekitarnya, termasuk betisku, otomatis juga berkurang.</p>
<p style="text-align: justify;">Juga dengan berhentinya gerakan penis di dalam mulutku tepat saat kepala penis itu tidak sedang menerjang rongga tenggorokanku, memberiku kesempatan untuk mengambil nafas. Pak Edy juga sudah melepaskan cengkeraman pada kedua pergelangan tanganku, hingga aku bisa mengistirahatkan tanganku yang pegal karena tertarik kencang ke belakang selama beberapa menit. Selagi aku mencoba memulihkan tenaga yang rasanya terkuras habis ini, wali kelas sialan ini memperkenalkan pemerkosaku satu per satu, hal yang harusnya sama sekali tidak penting untuk kudengarkan, tapi toh aku tak bisa berbuat apa apa selain terpaksa mendengarkan pak Edy.</p>
<p style="text-align: justify;">“Eliza, kenalkan, ini Dedi, kelas 2G, sebelah kelas kamu”, kata pak Edy sambil menepuk pundak pemerkosa mulutku. Aku melihat Dedi, ia benar benar tidak tampan, bahkan cenderung mengerikan dengan bekas luka di hidungnya. Wajahnya sama sekali tidak ramah. Ya ampun, orang seperti ini ada di kelas sebelahku? Aku memang penghuni kelas 2H. Dan pak Edy bergerak ke arah pemerkosa vaginaku. “Kalau ini Pandu, kelas 2G juga”, kata pak Edy. Aku hanya bisa mengarahkan pandanganku ke arah Pandu karena mulutku tertahan oleh penis Dedi yang kokoh ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Pandu juga sama sekali tidak tampan, malah sedikit tongos. Orang orang seperti ini harusnya membuatku jijik atau sedikitnya aku malas berdekatan dengan mereka. Tapi kini mereka sudah mendapatkan tubuhku berkat bantuan wali kelasku yang bejat ini. Ingin aku berteriak pada pak Edy, aku ini kan anak murid kelasnya, mengapa dia tega memberikan aku pada anak murid kelas sebelah seperti ini?</p>
<p style="text-align: justify;">Kini pak Edy bertanya pada Pandu, “Gimana Pandu? Eliza ini lebih enak dari Vera kan?”. Pandu cengengesan menjijikkan dan menjawab, “Pak Edy memang hebat, bisa memberikan kami amoy secantik Eliza ini. Dan memang benar, Eliza ini memeknya lebih rapat jauh dari Vera!”. Dedi menyambung, “Ndu, nanti loe cepetan ngecrot, gua juga mau coba memek amoy cantik ini!”. Aku memejamkan mata, rasanya terhina sekali mendengar pujian yang sebenarnya amat melecehkanku ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Dan beberapa saat kemudian, ronde kedua pemerkosaan terhadap diriku dimulai. Pandu mulai menggenjot liang vaginaku lagi. Dedi tak mau kalah, ia menerjangkan penisnya melesak ke dalam rongga tenggorokanku. Kembali aku harus melayani kedua pemerkosaku ini, siswa sekolah ini, yang seangkatan denganku. Kini liang vaginaku sudah begitu basah, dan hunjaman penis itu sudah tak begitu menyiksaku lagi sejak awal. Sedangkan tenggorokanku juga basah oleh air liurku sendiri dan cairan pelumas penis Dedi.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku merasakan Pandu menjejalkan penisnya dalam dalam di tiap hunjaman yang dilakukannya, kelihatannya ia sedang mencari kenikmatannya sendiri untuk segera berejakulasi. Tapi aku cukup menderita juga atas apa yang dilakukannya, karena sesekali kurasakan dinding rahimku seperti tersodok kepala penis Pandu. Aku mengerang tertahan menahan sakit yang bercampur nikmat ini. Entah apa bedanya dengan ronde pertama tadi, kali ini baru beberapa menit, Pandu mulai mengerang, dan penisnya kurasakan berkedut hebat di dalam liang vaginaku.</p>
<p style="text-align: justify;">“Oh.. Elizaaa…”, erang Pandu, tubuhnya bergetar hebat, dan kurasakan liang vaginaku disirami spermanya yang amat hangat, dan banyak. Aku hanya diam, memang aku terangsang, tapi aku belum sampai orgasme. Mendadak dengan cepat Dedi menarik lepas penisnya yang sejak tadi bersarang di dalam mulutku, dan begitu Pandu menarik lepas penisnya dari liang vaginaku, Dedi segera mengambil posisi untuk mendapatkan servis liang vaginaku. Aku benar benar merasa seperti pelacur di dalam ruangan ini.</p>
<p style="text-align: justify;">“Ngghhh&#8230;”, aku melenguh perlahan ketika liang vaginaku yang sempat merasa sedikit lega setelah Pandu menarik lepas penisnya tadi, kini kembali terisi penis Dedi yang sempat kuperhatikan tadi, kira kira berukuran 16 cm, dengan diameter sekitar 4 cm. Dan selagi Dedi mulai memompa liang vaginaku, Pandu berjalan ke arah kepalaku, dan kuperhatikan penisnya yang masih belum begitu layu. Ternyata sesuai dugaanku, penis itu panjang dan besar. Kira kira panjangnya hampir 20 cm, dan diameternya mungkin nyaris 5 cm. Pantas saja tadi aku sampai tak kuasa menahan nikmat yang melanda selangkanganku.</p>
<p style="text-align: justify;">Kini penis itu sudah ada di depan mulutku. Terbiasa menghadapi gangbang ataupun perkosaan yang menimpa diriku, dengan tanpa sadar aku membuka mulutku, membiarkan penis yang masih belepotan sperma Pandu dan cairan cintaku sendiri itu melesak masuk, dan aku seakan tahu tugasku untuk membersihkan penis itu. Selagi Dedi terus memompa liang vaginaku dengan bersemangat, aku mengulum penis Pandu, menjilat seluruh permukaan kulit penis yang sudah mulai mengecil perlahan ini, dan menyeruput semua sisa sperma yang masih belepotan di sana. Kutelan campuran semua cairan itu, dan aku sengaja menjepit penis itu dengan bibirku, kujepit dengan agak kuat. Sampai ke kepala penisnya, aku mencucup dengan kuat, membuat Pandu melolong keenakan. Tapi aku tak mau melepaskannya.</p>
<p style="text-align: justify;">“Aaargghh… sudah Elizaaa…”, erang Pandu. Ia menggigil keenakan, dan setelah ia mengeluarkan suara seperti sedang disembelih, baru aku melepaskan cucupanku pada kepala penisnya. Pandu langsung roboh ke lantai, ia merintih dan mengerang keenakan. Kini aku tinggal berkonsentrasi pada Dedi. Tapi rupanya pak Edy ingin servis oralku juga, ia sudah menyodorkan penisnya di depan mulutku. Maka aku terpaksa membuka mulutku, menerima penis pak Edy yang mini ini, yang memang masih belepotan sperma.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku melakukan hal yang sama seperti yang aku lakukan pada penis Pandu tadi, dan pak Edy juga melolong keenakan sampai akhirnya ketika aku melepaskan kulumanku, pak Edy juga roboh tak berdaya di sebelah Pandu. Tapi kini aku sudah terangsang hebat, sodokan demi sodokan yang sejak tadi kuterima membuat vaginaku terasa begitu ngilu. Memang penis Dedi tak sebesar penis Pandu, tapi cukup untuk memaksaku menderita dalam kenikmatan ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku mulai menggeliat dilanda kenikmatan ini, dan perlahan aku mendesah. “Sssh… oooh”, aku makin keras mendesah. Vaginaku serasa akan meledak dipompa habis habisan oleh Dedi, dan akhirnya aku orgasme di ronde kedua ini. “Nggghhhh.. nggghhhh…”, kini aku melenguh sejadi jadinya karena mulutku bebas tak tersumbat oleh penis seperti tadi. Pinggangku kembali tertekuk ke atas, tubuhku tersentak sentak tak karuan dan mengejang hebat, kedua betisku melejang tak karuan. Untungnya Dedi sendiri juga sedang mengerang, ia akan segera orgasme.</p>
<p style="text-align: justify;">“Ooooh… Elizaaa… memekmu… enaaaak…”, erang Dedi. Tubuhnya tersentak beberapa kali saat penisnya menyemprotkan sperma ke dalam liang vaginaku. Ia menarik lepas penisnya dari jepitan liang vaginaku, dan dengan gontai ia berjalan, hendak mendapatkan servis oral dariku. Orgasmeku sudah mereda, dan aku membuka mulutku begitu penis itu sudah ada di depan mulutku. kuberikan perlakuan yang sama kepada penis Dedi seperti tadi aku memperlakukan penis Pandu dan pak Edy.</p>
<p style="text-align: justify;">Dedi pun tak kuasa bertahan, ia mengerang dan melolong tak kuasa menahan nikmat. Begitu aku melepaskan kulumanku, Dedi juga roboh di sebelah pak Edy. Aku sendiri terbaring lemas dan keadaanku tak lebih baik dari mereka. Entah dosa apa aku harus melayani tiga lelaki bejat ini di sekolah. Entah apa lagi yang kelak terjadi, mungkin Pandu dan Dedi akan mencari kesempatan untuk memperkosaku lagi.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku mencoba bangkit dari sofa ini, dan mengambil tissue di atas meja. Aku menyeka bibir liang vaginaku dan sekitarnya yang belepotan sperma dan cairan cintaku. Aku kembali mengambil tissue agak banyak, dan menyeka keringat yang membasahi sekujur tubuhku. Tanpa berkata apa apa aku mengambil celana dalamku dan mengenakan di tubuhku menutup liang vaginaku. Juga aku mengenakan bra, baju dan rok seragam sekolahku. Dengan pandangan benci aku menatap pak Edy. “Sekarang biarkan saya kembali ke kelas pak!”, kataku ketus.</p>
<p style="text-align: justify;">“Tunggu Eliza”, kata pak Edy dengan buru buru. Ia berdiri dan memakai celana yang tadi ia lepas untuk memperkosaku. Demikian juga dengan Pandu dan Dedi juga sudah mengenakan celana mereka semua. Lalu Pandu dan Dedi duduk di kedua ujung sofa, sedangkan pak Edy membimbing aku untuk duduk di tengah mereka. Kedua lenganku didekap dari samping tubuhku oleh satu lengan mereka, sedangkan tangan mereka yang menganggur mulai meremasi payudaraku.</p>
<p style="text-align: justify;">“Eliza, Pandu dan Dedi ini adalah anak teman bapak. Tadi bapak melihat kamu mengintip ke gudang saat Pandu dan Dedi sedang bermain dengan Vera. Karena bapak takut kamu menyebarkan ke teman lain, bapak terpaksa membungkam mulut kamu dengan mengatur kejadian ini”, kata pak Edy tanpa merasa bersalah. Aku makin muak pada wali kelasku ini. Perlu apa juga aku menyebarkan kepada teman teman tentang aib yang dilakukan Vera? Toh aku sendiri juga sudah bukan gadis yang suci.</p>
<p style="text-align: justify;">“Oh iya Eliza. Tadi kamu mengintip dengan Jenny kan”, tanya pak Edy sambil tersenyum menjijikkan. Kata katanya membuat aku serasa disambar petir. “Apa maksud bapak?”, dengan panik aku bertanya setengah membentak. Kedua siswa bejat yang masih asyik meremasi payudaraku ini tertawa mengerikan. “Sederhana Eliza, Jenny juga harus dibungkam. Kalau kamu tak ingin bapak menyeret kamu ke rumah kosong di sebelah mess untuk melayani seluruh penghuni mess sekolah ini, kamu harus bisa bawa Jenny ke UKS, sabtu malam besok ini. Tempat kamu pertama kali bermain cinta di sekolah ini”, kata pak Edy.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku langsung lemas, diiringi tawa mereka. Aku tak tahu apa yang harus aku lakukan. Setelah beberapa remasan keras pada kedua payudaraku hingga aku menggeliat, dua siswa bejat itu melepaskanku. Aku segera berdiri, dan menuju ke pintu keluar setelah membenahi baju seragamku yang sedikit awut awutan. Tepat ketika aku membuka kunci pintu ruangan ini, pak Edy kembali mengingatkan, “Eliza, ingat, besok Sabtu jam delapan malam, bapak tunggu kamu dan Jenny di ruang UKS”.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku tak menjawab, dan keluar dari ruangan laknat ini. Dalam perjalanan menuju ke kelas, aku berpikir keras, apa yang harus aku lakukan. Aku belum bisa mengambil keputusan sampai akhirnya aku masuk ke kelas. Aku mengetuk pintu kelas dahulu. “Permisi pak Warno, maaf saya tadi dipanggil pak Edy”, aku memberikan keterangan. Pak Warno tersenyum dan menyilakan aku masuk, “Ya Eliza, bapak sudah diberitahu Jenny. Silakan duduk”. Aku berjalan ke tempat duduk sambil melamun. Ketika aku sudah duduk di sebelah Jenny, aku dikagetkan oleh cubitan Jenny. “Eliza.. kamu cantik deh kalau rambutmu dibiarin tergerai gini. Tadi kok nggak digerai gini sih waktu sama aku?”, goda Jenny. Aku hanya tersenyum malu. Tapi aku juga dalam kegundahan yang amat sangat, entah Jenny tahu atau tidak.</p>
<p style="text-align: justify;">Jenny sama sekali tak tahu, bahwa aku harus memutuskan, apakah aku akan menyerahkan Jenny kepada orang orang bejat itu, atau aku yang menyerahkan diri untuk dibantai di rumah kosong oleh sekitar 60 orang. Entah apa kalaupun kemudian aku yang menyerahkan diriku, apakah Jenny pasti dibiarkan lolos? Rasanya juga tak mungkin. Tapi kalau aku menyerahkan Jenny pada mereka, apakah nanti Jenny akan membenciku? Keduanya adalah pilihan yang sangat sulit bagiku. Dan aku jadi melamun sampai akhirnya bel pulang sekolah berbunyi…</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ceritasex.cn/kisah-eliza-09-petaka-akibat-mengintip/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

