<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Cerita sex porno ngentot mesum perek ayam kampus &#187; orgasme</title>
	<atom:link href="http://www.ceritasex.cn/tag/orgasme/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.ceritasex.cn</link>
	<description>Kumpulan cerita sex, foto bugil, dan film porno</description>
	<lastBuildDate>Wed, 08 Feb 2012 13:12:08 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
		<item>
		<title>Bercinta dengan Guru Bahasa Inggris</title>
		<link>http://www.ceritasex.cn/bercinta-dengan-guru-bahasa-inggris/</link>
		<comments>http://www.ceritasex.cn/bercinta-dengan-guru-bahasa-inggris/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 13 Jan 2012 23:58:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cerita Sex</dc:creator>
				<category><![CDATA[Paruh baya]]></category>
		<category><![CDATA[Seks Umum]]></category>
		<category><![CDATA[bercinta]]></category>
		<category><![CDATA[guru]]></category>
		<category><![CDATA[ml]]></category>
		<category><![CDATA[nafsu birahi]]></category>
		<category><![CDATA[ngentot]]></category>
		<category><![CDATA[orgasme]]></category>
		<category><![CDATA[seks]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ceritasex.cn/?p=3299</guid>
		<description><![CDATA[Sejalan dengan waktu, kini aku bisa kuliah di universitas keinginanku. Namaku Jack, sekarang aku tinggal di Yogyakarta dengan fasilitas yang sangat baik sekali. Kupikir aku cukup beruntung bisa bekerja sambil kuliah sehingga aku mempunyai penghasilan tinggi. Berawal dari reuni SMA-ku di Jakarta. Setelah itu aku bertemu dengan guru bahasa inggrisku, kami ngobrol dengan akrabnya. Ternyata [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Sejalan dengan waktu, kini aku bisa kuliah di universitas keinginanku. Namaku Jack, sekarang aku tinggal di Yogyakarta dengan fasilitas yang sangat baik sekali. Kupikir aku cukup beruntung bisa bekerja sambil kuliah sehingga aku mempunyai penghasilan tinggi.</p>
<p style="text-align: justify;">Berawal dari reuni SMA-ku di Jakarta. Setelah itu aku bertemu dengan guru bahasa inggrisku, kami ngobrol dengan akrabnya. Ternyata Ibu Shinta masih segar bugar dan amat menggairahkan. Penampilannya amat menakjubkan, memakai rok mini yang ketat, kaos top tank sehingga lekuk tubuhnya nampak begitu jelas. Jelas saja dia masih muda sebab sewaktu aku SMA dulu dia adalah guru termuda yang mengajar di sekolah kami. Sekolahku itu cuma terdiri dari dua kelas, kebanyakan siswanya adalah wanita. Cukup lama aku ngobrol dengan Ibu Shinta, kami rupanya tidak sadar waktu berjalan dengan cepat sehingga para undangan harus pulang. Lalu kami pun berjalan munuju ke pintu gerbang sambil menyusuri ruang kelas tempatku belajar waktu SMA dulu.</p>
<p style="text-align: justify;">Tiba-tiba Ibu Shinta teringat bahwa tasnya tertinggal di dalam kelas sehinga kami terpaksa kembali ke kelas. Waktu itu kira-kira hampir jam dua belas malam, tinggal kami berdua. Lampu-lampu di tengah lapangan saja yang tersisa. Sesampainya di kelas, Ibu Shinta pun mengambil tasnya kemudian aku teringat akan masa lalu bagaimana rasanya di kelas bersama dengan teman-teman. Lamunanku buyar ketika Ibu Shinta memanggilku.<br />
<span id="more-3299"></span><br />
&#8220;Kenapa Jack&#8221;"Ah.. tidak apa-apa&#8221;, jawabku. (sebetulnya suasana hening dan amat merinding itu membuat hasratku bergejolak apalagi ada Ibu Shinta di sampingku, membuat jantungku selalu berdebar-debar).&#8221;Ayo Jack kita pulang, nanti Ibu kehabisan angkutan&#8221;, kata Ibu Shinta.&#8221;Sebaiknya Ibu saya antar saja dengan mobil saya&#8221;, jawabku dengan ragu-ragu.&#8221;Terima kasih Jack&#8221;.</p>
<p style="text-align: justify;">Tanpa sengaja aku mengutarakan isi hatiku kepada Ibu Shinta bahwa aku suka kepadanya, &#8220;Oh my God what i&#8217;m doing&#8221;, dalam hatiku. Ternyata keadaan berkata lain, Ibu Shinta terdiam saja dan langsung keluar dari ruang kelas. Aku panik dan berusaha minta maaf. Ibu Shinta ternyata sudah cerai dengan suaminya yang bule itu, katanya suaminya pulang ke negaranya. Aku tertegun dengan pernyataan Ibu Shinta. Kami berhenti sejenak di depan kantornya lalu Ibu Shinta mengeluarkan kunci dan masuk ke kantornya, kupikir untuk apa masuk ke dalam kantornya malam-malam begini. Aku semakin penasaran lalu masuk dan bermaksud mengajaknya pulang tapi Ibu Shinta menolak. Aku merasa tidak enak lalu menunggunya, kurangkul pundak Ibu Shinta, dengan cepat Ibu Shinta hendak menolak tetapi ada kejadian yang tak terduga, Ibu Shinta menciumku dan aku pun membalasnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Ohh.., alangkah senangnya aku ini, lalu dengan cepat aku menciumnya dengan segala kegairahanku yang terpendam. Ternyata Ibu Shinta tak mau kalah, ia menciumku dengan hasrat yang sangat besar mengharapkan kehangatan dari seorang pria. Dengan sengaja aku menyusuri dadanya yang besar, Ibu Shinta terengah sehingga ciuman kami bertambah panas kemudian terjadi pergumulan yang sangat seru. Ibu Shinta memainkan tangannya ke arah batang kemaluanku sehingga aku sangat terangsang. Lalu aku meminta Ibu Shinta membuka bajunya, satu persatu kancing bajunya dibukanya dengan lembut, kutatap dengan penuh hasrat. Ternyata dugaanku salah, dadanya yang kusangka kecil ternyata amat besar dan indah, BH-nya berwarna hitam berenda yang modelnya amat seksi.</p>
<p style="text-align: justify;">Karena tidak sabar maka kucium lehernya dan kini Ibu Shinta setengah telanjang, aku tidak mau langsung menelanjanginya, sehingga perlahan-lahan kunikmati keindahan tubuhnya. Aku pun membuka baju sehingga badanku yang tegap dan atletis membangkitkan gairah Ibu Shinta, &#8220;Jack kukira Ibu mau bercinta denganmu sekarang.., Jack, tutup pintunya dulu dong&#8221;, bisiknya dengan suara agak bergetar, mungkin menahan birahinya yang juga mulai naik.</p>
<p style="text-align: justify;">Tanpa disuruh dua kali, secepat kilat aku segera menutup pintu depan. Tentu agar keadaan aman dan terkendali. Setelah itu aku kembali ke Ibu Shinta. Kini aku jongkok di depannya. Menyibak rok mininya dan merenggangkan kedua kakinya. Wuih, betapa mulus kedua pahanya. Pangkalnya tampak menggunduk dibungkus celana dalam warna hitam yang amat minim. Sambil mencium pahanya tanganku menelusup di pangkal pahanya, meremas-remas liang senggamanya dan klitorisnya yang juga besar. Lidahku makin naik ke atas. Ibu Shinta menggelinjang kegelian sambil mendesah halus. Akhirnya jilatanku sampai di pangkal pahanya.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Mau apa kau sshh&#8230; sshh&#8221;, tanyanya lirih sambil memegangi kapalaku erat-erat.&#8221;Ooo&#8230; oh.. oh..&#8221;, desis Ibu Shinta keenakan ketika lidahku mulai bermain-main di gundukan liang kenikmatannya. Tampak dia keenakan meski masih dibatasi celana dalam.</p>
<p style="text-align: justify;">Serangan pun kutingkatkan. Celananya kulepaskan. Sekarang perangkat rahasia miliknya berada di depan mataku. Kemerahan dengan klitoris yang besar sesuai dengan dugaanku. Di sekelilingnya ditumbuhi rambut yang tidak begitu lebat. Lidahku kemudian bermain di bibir kemaluannya. Pelan-pelan mulai masuk ke dalam dengan gerakan-gerakan melingkar yang membuat Ibu Shinta makin keenakan, sampai harus mengangkat-angkat pinggulnya. &#8220;Aahh&#8230; Kau pintar sekali. Belajar dari mana hh&#8230;&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Tanpa sungkan-sungkan Ibu Shinta mencium bibirku. Lalu tangannya menyentuh celanaku yang menonjol akibat batang kemaluanku yang ereksi maksimal, meremas-remasnya beberapa saat. Betapa lembut ciumannya, meski masih polos. Aku segera menjulurkan lidahku, memainkan di rongga mulutnya. Lidahnya kubelit sampai dia seperti hendak tersendak. Semula Ibu Shinta seperti akan memberontak dan melepaskan diri, tapi tak kubiarkan. Mulutku seperti melekat di mulutnya. &#8220;Uh kamu pengalaman sekali ya. Sama siapa? Pacarmu?&#8221;, tanyanya diantara kecipak ciuman yang membara dan mulai liar. Aku tak menjawab. Tanganku mulai mempermainkan kedua payudaranya yang tampak menggairahkan itu. Biar tidak merepotkanku, BH-nya kulepas. Kini dia telanjang dada. Tak puas, segera kupelorotkan rok mininya. Nah kini dia telanjang bulat. Betapa bagus tubuhnya. Padat, kencang dan putih mulus.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Nggak adil. Kamu juga harus telanjang..&#8221; Ibu Shinta pun melucuti kaos, celanaku, dan terakhir celana dalamku. Batang kemaluanku yang tegak penuh segera diremas-remasnya. Tanpa dikomando kami rebah di atas ranjang, berguling-guling, saling menindih. Aku menunduk ke selangkangannya, mencari pangkal kenikmatan miliknya. Tanpa ampun lagi mulut dan lidahku menyerang daerah itu dengan liar. Ibu Shinta mulai mengeluarkan jeritan-jeritan tertahan menahan nikmat. Hampir lima menit kami menikmati permainan itu. Selanjutnya aku merangkak naik. Menyorongkan batang kemaluanku ke mulutnya.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Gantian dong..&#8221; Tanpa menunggu jawabannya segera kumasukkan batang kemaluanku ke mulutnya yang mungil. Semula agak kesulitan, tetapi lama-lama dia bisa menyesuaikan diri sehingga tak lama batang kemaluanku masuk ke rongga mulutnya. &#8220;Justru di situ nikmatnya.., Selama ini sama suami main seksnya gimana?&#8221;, tanyaku sambil menciumi payudaranya. Ibu Shinta tak menjawab. Dia malah mencium bibirku dengan penuh gairah. Tanganku pun secara bergantian memainkan kedua payudaranya yang kenyal dan selangkangannya yang mulai basah. Aku tahu, perempuan itu sudah kepengin disetubuhi. Namun aku sengaja membiarkan dia menjadi penasaran sendiri.</p>
<p style="text-align: justify;">Tetapi lama-lama aku tidak tahan juga, batang kemaluanku pun sudah ingin segera menggenjot liang kenikmatannya. Pelan-pelan aku mengarahkan barangku yang kaku dan keras itu ke arah selangkangannya. Ketika mulai menembus liang kenikmatannya, kurasakan tubuh Ibu Shinta agak gemetar. &#8220;Ohh&#8230;&#8221;, desahnya ketika sedikit demi sedikit batang kemaluanku masuk ke liang kenikmatannya. Setelah seluruh barangku masuk, aku segera bergoyang naik turun di atas tubuhnya. Aku makin terangsang oleh jeritan-jeritan kecil, lenguhan serta kedua payudaranya yang ikut bergoyang-goyang.</p>
<p style="text-align: justify;">Tiga menit setelah kugenjot, Ibu Shinta menjepitkan kedua kakinya ke pinggangku. Pinggulnya dinaikkan. Tampaknya dia akan orgasme. Genjotan batang kemaluanku kutingkatkan. &#8220;Ooo&#8230; ahh&#8230; hmm&#8230; ssshh&#8230;&#8221;, desahnya dengan tubuh menggelinjang menahan kenikmatan puncak yang diperolehnya. Kubiarkan dia menikmati orgasmenya beberapa saat. Kuciumi pipi, dahi, dan seluruh wajahnya yang berkeringat. &#8220;Sekarang Ibu Shinta berbalik. Menungging di atas meja.., sekarang kita main dong di atas meja ok!&#8221; Aku mengatur badannya dan Ibu Shinta menurut. Dia kini bertumpu pada siku dan kakinya. &#8220;Gaya apa lagi ini?&#8221;, tanyanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah siap aku pun mulai menggenjot dan menggoyang tubuhnya dari belakang. Ibu Shinta kembali menjerit dan mendesah merasakan kenikmatan yang tiada taranya, yang mungkin selama ini belum pernah dia dapatkan dari suaminya. Setelah dia orgasme sampai dua kali, kami istirahat.&#8221;Capek?&#8221;, tanyaku. &#8220;Kamu ini aneh-aneh saja. Sampai mau remuk tulang-tulangku&#8221;.&#8221;Tapi kan nikmat Bu..&#8221;, jawabku sambil kembali meremas payudaranya yang menggemaskan.&#8221;Ya deh kalau capek. Tapi tolong sekali lagi, aku pengin masuk agar spermaku keluar. Nih sudah nggak tahan lagi batang kemaluanku. Sekarang Ibu Shinta yang di atas&#8221;, kataku sambil mengatur posisinya.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku terletang dan dia menduduki pinggangku. Tangannya kubimbing agar memegang batang kemaluanku masuk ke selangkangannya. Setelah masuk tubuhnya kunaik-turunkan seirama genjotanku dari bawah. Ibu Shinta tersentak-sentak mengikuti irama goyanganku yang makin lama kian cepat. Payudaranya yang ikut bergoyang-goyang menambah gairah nafsuku. Apalagi diiringi dengan lenguhan dan jeritannya saat menjelang orgasme. Ketika dia mencapai orgasme aku belum apa-apa. Posisinya segera kuubah ke gaya konvensional. Ibu Shinta kurebahkan dan aku menembaknya dari atas. Mendekati klimaks aku meningkatkan frekuensi dan kecepatan genjotan batang kemaluanku. &#8220;Oh Ibu Shinta.., aku mau keluar nih ahh..&#8221; Tak lama kemudian spermaku muncrat di dalam liang kenikmatannya. Ibu Shinta kemudian menyusul mencapai klimaks. Kami berpelukan erat. Kurasakan liang kenikmatannya begitu hangat menjepit batang kemaluanku. Lima menit lebih kami dalam posisi rileks seperti itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Kami berpelukan, berciuman, dan saling meremas lagi. Seperti tak puas-puas merasakan kenikmatan beruntun yang baru saja kami rasakan. Setelah itu kami bangun di pagi hari, kami pergi mencari sarapan dan bercakap-cakap kembali. Ibu Shinta harus pergi mengajar hari itu dan sorenya baru bisa kujemput.</p>
<p style="text-align: justify;">Sore telah tiba, Ibu Shinta kujemput dengan mobilku. Kita makan di mall dan kami pun beranjak pulang menuju tempat parkir. Di tempat parkir itulah kami beraksi kembali, aku mulai menciumi lehernya. Ibu Shinta mendongakkan kepala sambil memejamkan mata, dan tanganku pun mulai meremas kedua buah dadanya. Nafas Ibu Shinta makin terengah, dan tanganku pun masuk di antara kedua pahanya. Celana dalamnya sudah basah, dan jariku mengelus belahan yang membayang. &#8220;Uuuhh.., mmmhh..&#8221;, Ibu Shinta menggelinjang, tapi gairahku sudah sampai ke ubun-ubun dan aku pun membuka dengan paksa baju dan rok mininya.</p>
<p style="text-align: justify;">Aaahh..! Ibu Shinta dengan posisi yang menantang di jok belakang dengan memakai BH merah dan CD merah. Aku segera mencium puting susunya yang besar dan masih terbungkus dengan BH-nya yang seksi, berganti-ganti kiri dan kanan. Tangan Ibu Shinta mengelus bagian belakang kepalaku dan erangannya yang tersendat membuatku makin tidak sabar. Aku menarik lepas celana dalamnya, dan nampaklah bukit kemaluannya. Akupun segera membenamkan kepalaku ke tengah ke dua pahanya. &#8220;Ehhh&#8230;, mmmhh..&#8221;. Tangan Ibu Shinta meremas jok mobilku dan pinggulnya bergetar ketika bibir kemaluannya kucumbui. Sesekali lidahku berpindah ke perutnya dan menjilatinya dengan perlahan.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Ooohh.., aduuuhh..&#8221;. Ibu Shinta mengangkat punggungnya ketika lidahku menyelinap di antara belahan kemaluannya yang masih begitu rapat. Lidahku bergerak dari atas ke bawah dan bibir kemaluannya mulai membuka. Sesekali lidahku membelai klitorisnya yang membuat tubuh Ibu Shinta terlonjak dan nafas Ibu Shinta seakan tersendak. Tanganku naik ke dadanya dan meremas kedua bukit dadanya. Putingnya membesar dan mengeras. Ketika aku berhenti menjilat dan mengulum, Ibu Shinta tergeletak terengah-engah, matanya terpejam. Tergesa aku membuka semua pakaianku, dan kemaluanku yang tegak teracung ke langit-langit, kubelai-belaikan di pipi Ibu Shinta. &#8220;Mmmhh&#8230;, mmmhh.., ooohhm..&#8221;. Ketika Ibu Shinta membuka bibirnya, kujejalkan kepala kemaluanku, kini iapun mulai menyedot. Tanganku bergantian meremas dadanya dan membelai kemaluannya. &#8220;Oouuuh Ibu Shinta.., enaaaak.., teruuuss&#8230;&#8221;, erangku.</p>
<p style="text-align: justify;">Ibu Shinta terus mengisap batang kemaluanku sambil tangannya mengusap liang kenikmatannya yang juga telah banjir karena terangsang menyaksikan batang kemaluanku yang begitu besar dan perkasa baginya. Hampir 20 menit dia menghisap batang kemaluanku dan tak lama terasa sekali sesuatu di dalamnya ingin meloncat ke luar. &#8220;Ibu Shinta.., ooohh.., enaaak.., teruuus&#8221;, teriakku. Dia mengerti kalau aku mau keluar, maka dia memperkuat hisapannya dan sambil menekan liang kenikmatannya, aku lihat dia mengejang dan matanya terpejam, lalu.., &#8220;Creet.., suuurr.., ssuuur..&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Oughh.., Jack.., nikmat..&#8221;, erangnya tertahan karena mulutnya tersumpal oleh batang kemaluanku. Dan karena hisapannya terlalu kuat akhirnya aku juga tidak kuat menahan ledakan dan sambil kutahan kepalanya, kusemburkan maniku ke dalam mulutnya, &#8220;Crooot.., croott.., crooot..&#8221;, banyak sekali maniku yang tumpah di dalam mulutnya.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Aaahkk.., ooough&#8221;, ujarku puas. Aku masih belum merasa lemas dan masih mampu lagi, akupun naik ke atas tubuh Ibu Shinta dan bibirku melumat bibirnya. Aroma kemaluanku ada di mulut Ibu Shinta dan aroma kemaluan Ibu Shinta di mulutku, bertukar saat lidah kami saling membelit. Dengan tangan, kugesek-gesekkan kepala kemaluanku ke celah di selangkangan Ibu Shinta, dan sebentar kemudian kurasakan tangan Ibu Shinta menekan pantatku dari belakang. &#8220;Ohm, masuk.., augh.., masukin&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Perlahan kemaluanku mulai menyeruak masuk ke liang kemaluannya dan Ibu Shinta semakin mendesah-desah. Segera saja kepala kemaluanku terasa tertahan oleh sesuatu yang kenyal. Dengan satu hentakan, tembuslah halangan itu. Ibu Shinta memekik kecil. Aku menekan lebih dalam lagi dan mulutnya mulai menceracau, &#8220;Aduhhh.., ssshh.., iya.., terus.., mmmhh.., aduhhh.., enak.., Jack&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Aku merangkulkan kedua lenganku ke punggung Ibu Shinta, lalu membalikkan kedua tubuh kami sehingga Ibu Shinta sekarang duduk di atas pinggulku. Nampak kemaluanku menancap hingga pangkal di kemaluannya. Tanpa perlu diajari, Ibu Shinta segera menggerakkan pinggulnya, sementara jari-jariku bergantian meremas dan menggosok payudaranya, klitoris dan pinggulnya, dan kamipun berlomba mencapai puncak.</p>
<p style="text-align: justify;">Lewat beberapa waktu, gerakan pinggul Ibu Shinta makin menggila dan iapun membungkukkan tubuhnya dengan bibir kami saling melumat. Tangannya menjambak rambutku, dan akhirnya pinggulnya berhenti menyentak. Terasa cairan hangat membalur seluruh batang kemaluanku. Setelah tubuh Ibu Shinta melemas, aku mendorongnya hingga telentang, dan sambil menindihnya, aku mengejar puncak orgasmeku sendiri. Ketika aku mencapai klimaks, Ibu Shinta tentu merasakan siraman air maniku di liang kenikmatannya, dan iapun mengeluh lemas dan merasakan orgasmenya yang kedua. Sekian lama kami diam terengah-engah, dan tubuh kami yang basah kuyup dengan keringat masih saling bergerak bergesekan, merasakan sisa-sisa kenikmatan orgasme.</p>
<p style="text-align: justify;">TAMAT</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ceritasex.cn/bercinta-dengan-guru-bahasa-inggris/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kekasihku Diperkosa Polisi</title>
		<link>http://www.ceritasex.cn/kekasihku-diperkosa-polisi-2/</link>
		<comments>http://www.ceritasex.cn/kekasihku-diperkosa-polisi-2/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 12 Jan 2012 13:24:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cerita Sex</dc:creator>
				<category><![CDATA[anal seks]]></category>
		<category><![CDATA[Daun Muda]]></category>
		<category><![CDATA[Gangbang Rame Rame]]></category>
		<category><![CDATA[Pemerkosaan]]></category>
		<category><![CDATA[anus]]></category>
		<category><![CDATA[budak seks]]></category>
		<category><![CDATA[isep kontol]]></category>
		<category><![CDATA[ngentot]]></category>
		<category><![CDATA[orgasme]]></category>
		<category><![CDATA[perkosa]]></category>
		<category><![CDATA[seks]]></category>
		<category><![CDATA[vira]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ceritasex.cn/?p=3287</guid>
		<description><![CDATA[Saya pertama kenal Vira ketika melihatnya menjadi model cover di sebuah majalah di Jakarta, kemudian ia juga menjadi bintang sinetron Abad 21. Vira berumur 17 tahun, cantik, kulitnya putih mulus, ramah dan yang paling menarik perhatian orang-orang adalah buah dadanya yang bundar dan padat berisi. Semua orang yang menatap Vira pandangannya akan langsung tertarik ke [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Saya pertama kenal Vira ketika melihatnya menjadi model cover di sebuah majalah di Jakarta, kemudian ia juga menjadi bintang sinetron Abad 21. Vira berumur 17 tahun, cantik, kulitnya putih mulus, ramah dan yang paling menarik perhatian orang-orang adalah buah dadanya yang bundar dan padat berisi. Semua orang yang menatap Vira pandangannya akan langsung tertarik ke arah buah dadanya yang membusung. Tidak terlalu besar memang, tapi sangat proporsional engan tubuh dan wajah Vira. Saya berkenalan dengannya, pertama melalui surat kemudian bertemu, sesekali menelepon dirinya. Lama-kelamaan kita semakin sering bertemu dan percakapan yang ada semakin menjurus ke hal-hal yang pribadi. Akhirnya saya memberanikan diri untuk mengajaknya keluar makan malam. Suatu hari saya memberanikan diri untuk mengajaknya dan ternyata Vira senang sekali mendengar ajakan saya, dan langsung setuju. Saya gelisah sekali menunggu pada saat menjemput Vira di rumahnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah pulang kerja dan berganti pakaian saya menjemput Vira, untuk kemudian makan malam di sebuah restoran. Di sana kami bercakap-cakap panjang lebar, setelah itu dilanjutkan sebuah diskotik untuk sedikit menggoyangkan tubuh dan minum. Di tengah-tengah percakapan di diskotik, Vira mengajak saya untuk kembali ke rumahnya dan melanjutkan sisa malam itu di rumahnya. Bagaimana saya bisa menolak tawaran itu?</p>
<p style="text-align: justify;">Sepanjang perjalanan pulang Vira berkata bahwa ia belum pernah mengalami hari yang menyenangkan seperti yang baru ia alami malam itu, dan ia juga berkata, di rumah nanti giliran dirinya yang akan membuat diri saya tidak akan melupakan malam ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Saya begitu bergairah dan berhasrat untuk lekas-lekas sampai ke rumah Vira, ketika tanpa sadar saya mengendarai mobil melebihi batas maksimal kecepatan di jalan. Tiba-tiba saya tersadar ketika di sebelah kanan sudah ada mobil Polantas yang berusaha menghentikan mobil saya. Saya meminggirkan mobil di tempat parkir sebuah toko dan menunggu Polantas tadi mendekati mobil kami. Ia bertanya hendak ke mana kami sampai-sampai kami membawa mobil itu melebihi batas kecepatan. Rupanya alasan saya tidak masuk akal sehingga Polantas tadi meminta STNK dan SIM saya.<br />
<span id="more-3287"></span><br />
Setelah melihat surat-surat itu Polantas itu menjengukkan kepalanya ke dalam mobil kami dan lama sekali mengamati Vira yang duduk terdiam. &#8220;Anda harus meninggalkan mobil Anda di sini dan ikut saya ke kantor&#8221;, perintah Polantas tadi. Akhirnya sepuluh menit kemudian kami sampai ke sebuah kantor polisi yang terpencil di pinggir kota.</p>
<p style="text-align: justify;">Waktu itu sudah lewat pukul 11 malam, dan dalam kantor polisi itu tidak terdapat siapa pun kecuali seorang Sersan yang bertugas jaga dan Polantas yang membawa kami. Ketika kami masuk, Sersan itu memandangi tubuh Vira dari bawah hingga ke atas, kelihatan sekali ia menyukai Vira. Kami dimasukkan ke dalam sel terpisah, saling berseberangan.</p>
<p style="text-align: justify;">Sepuluh menit kemudian, Polantas yang berumur sekitar 40-an dan berbadan gemuk dan Sersan yang tinggi besar berbadan hitam, dan umurnya kira-kira 45 tahun kembali ke ruang tahanan. Polantas tadi berkata, &#8220;Kalian seharusnya jangan mengemudi sampai melebihi batas kecepatan yang ada. Tapi kita semua bener-benar kagum, soalnya dari semua yang kami tangkap baru kali ini kita dapat orang yang cantik seperti kamu.&#8221; Sersan tadi menimpali, &#8220;Betul sekali, dia bener-bener kualitas nomer satu!&#8221; Saya sangat takut mendengar nada bicara mereka, begitu juga Vira yang terus-menerus ditatap oleh mereka berdua.</p>
<p style="text-align: justify;">Mereka lalu membuka sel Vira dan masuk ke dalam. &#8220;Sekarang denger gadis manis, kalau kamu berkelakuan baik, kita akan lepasin kamu dan pacar kamu itu. Mengerti!&#8221; Sersan tadi langsung memegangi kedua tangan Vira sementara Polantas menarik kaos yang dikenakan Vira ke atas. Dalam sekejap seluruh pakaian Vira berhasil dilucuti tanpa perlawanan berarti dari Vira yang terus dipegangi oleh Sersan. &#8220;Wow, lihat dadanya.&#8221; Vira terus meronta-ronta tanpa hasil, sementara Sersan yang tampaknya sudah bosan dengan perlawanan Vira, melemparkan tubuh Vira hingga jatuh telentang ke atas ranjang besi yang ada di sel Vira. Dan dengan cepat diambilnya borgol dan diborgolnya tangan Vira ke rangka di atas kepala Vira.</p>
<p style="text-align: justify;">Kemudian mereka dengan leluasa menggerayangi tubuh Vira. Mereka meremas-remas dan menarik buah dada Vira, kemudian memilin-milin puting susunya sehingga sekarang buah dada Vira mengeras dan puting susunya mengacung ke atas. Kadang mereka mengigit puting susu Vira, sedangkan Vira hanya bisa meronta dan menjerit tak berdaya.</p>
<p style="text-align: justify;">Saya berdiri di dalam sel di seberang Vira tak berdaya untuk menolong Vira yang sedang dikerubuti oleh dua orang itu. Kedua polisi itu lalu melepaskan pakaian mereka dan terlihat jelas kedua batang kemaluan mereka sudah keras dan tegang dan siap untuk memperkosa Vira. Polantas mempunyai batang kemaluan paling tidak sekitar 25 senti, dan Sersan mempunyai batang kemaluan yang lebih besar dan panjang. Vira menjerit-jerit minta agar mereka berhenti, tapi kedua polisi itu tetap mendekatinya.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Lebih baik kamu tutup mulut kamu atau kita berdua bisa bikin ini lebih menyakitkan daripada yang kamu kira.&#8221; kata Polantas.&#8221;Sekarang mendingan kamu siap-siap buat muasin kita dengan badan kamu yang bagus itu!&#8221;"Dia pasti sempit sekali&#8221;, kata Sersan sambil memasukan jari-jarinya ke lubang kemaluan Vira.Ia menggerakkan jarinya keluar masuk, membuat Vira menggelinjang kesakitan dan berusaha melepaskan diri.&#8221;Betul kan, masih sempit sekali.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Kemudian Polantas tadi naik ke atas ranjang di antara kedua kaki Vira. Kemudian mereka membuka kaki Vira lebar-lebar dan Polantas memasukkan batang kemaluannya ke dalam lubang senggama Vira. Vira mengeluarkan jeritan yang keras sekali, ketika perlahan batang kemaluan Polantas membuka bibir kemaluan, dan masuk senti demi senti tanpa berhenti. Kadang ia menarik sedikit batang kemaluannya untuk kemudian didorongnya lebih dalam lagi ke lubang kemaluan Vira.</p>
<p style="text-align: justify;">Sementara itu, Sersan naik dan mendekati wajah Vira, mengelus-elus wajah Vira dengan batang kemaluannya. Mulai dari dahi, pipi kemudian turun ke bibir. Vira menggeleng-gelengkan kepalanya agar tidak bersentuhan dengan batang kemaluan Sersan yang hitam.&#8221;Ayo dong manis, buka mulut kamu&#8221;, kata Sersan sambil meletakkan batang kemaluannya di bibir Vira.&#8221;Kamu belum pernah ngerasain punya polisi kan?&#8221; Vira tak bergeming.&#8221;Buka!&#8221; bentak Sersan.&#8221;Buka mulut kamu, brengsek!&#8221; Perlahan mulut Vira terbuka sedikit, dan Sersan langsung memasukkan batang kemaluannya ke dalam mulut Vira.</p>
<p style="text-align: justify;">Mulut Vira terbuka hingga sekitar 6 senti agar semua batang kemaluan Sersan bisa masuk ke dalam mulutnya. Batang kemaluan Sersan mulai bergerak keluar masuk di mulut Vira, saya melihat tidak semua batang kemaluan Sersan dapat masuk ke mulut Vira, batang kemaluan Sersan terlalu panjang dan besar untuk bisa masuk seluruhnya dalam mulut Vira. Ketika Sersan menarik batang kemaluannya terlihat ada cairan yang keluar dari batang kemaluannya. Julurin lidah kamu!&#8221; Vira membuka mulutnya dan mengeluarkan lidahnya. Sersan kemudian memegang batang kemaluannya dan mengusapkan kepala batang kemaluannya ke lidah Vira, membuat cairan kental yang keluar tadi menempel ke lidah Vira.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;San, dia nggak mungkin bisa masukin punya Sersan ke mulutnya, biar saya coba. Gantian!&#8221; Mereka kemudian bertukar tempat, Sersan sekarang ada di antara kaki Vira dan Polantas berjongkok di dekat wajah Vira. Sersan mulai mendorong batang kemaluannya masuk ke liang senggama Vira. Terlihat sekali dengan susah payah batang kemaluan Sersan yang besar itu membuka bibir kemaluan Vira yang masih sempit. Polantas, mengacungkan batang kemaluannya ke mulut Vira. &#8220;Kamu mungkin nggak bisa masukin punya Sersan ke mulut kamu, tapi kamu musti ngerasain punya saya ini, seluruhnya.&#8221; Dengan kasar ia mendorong batang kemaluannya masuk ke mulut Vira, sampai akhirnya batang kemaluan itu masuk seluruhnya hingga sekarang testis Polantas berada di wajah Vira. Ia kemudian menarik batang kemaluannya sebentar untuk kemudian didorongnya kembali masuk ke tenggorokan Vira. Setelah lima kali, keluar masuk, Polantas sudah tidak bisa lagi menahan orgasmenya.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Saya keluuarrhh. Aaahhh!&#8221; Ia tidak menarik batang kemaluannya keluar dari mulut Vira, batang kemaluannya tampak bergetar berejakulasi di tenggorokan Vira, menyemprotkan sperma masuk ke tenggorokannya. Saya mendengar Vira berusaha menjerit, ketika sperma Sersan mengalir masuk ke perutnya. Terlihat sekali Sersan yang sedang mencapai puncak kenikmatan tidak menyadari Vira meronta-ronta berusaha mencari udara.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Iyya&#8230; yaah! Telleeen semuaa! Aaahhh&#8230; aahhh&#8230; nikhmaattt!&#8221;Ketika selesai ia menarik keluar batang kemaluannya dan Vira langsung megap-megap menghirup udara, dan terbatuk-batuk mengeluarkan sperma yang lengket dan berwarna putih. Vira berusaha meludahkan sperma yang masih ada di mulutnya. Polantas tertawa melihat Vira terbatuk-batuk, &#8220;Kenapa? Nggak suka rasanya? Tenang aja, besok pagi, kamu pasti sudah terbiasa sama itu!&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Sementara Sersan yang masih mengerjai kemaluan Vira sekarang malah memegang pinggul Vira dan membalik tubuh Vira. Vira dengan tubuh berkeringat dan sperma yang menempel di wajahnya tersadar apa yang akan dilakukan Sersan pada dirinya, ketika dirasanya batang kemaluan Sersan mulai menempel di lubang anusnya.&#8221;Jangan Pak, jangan! Ampun Pak, ampun, jangan&#8230;&#8221;"Aaahkk! Jangaaan!&#8221;Vira menjerit-jerit ketika kepala batang kemaluan Sersan berhasil memaksa masuk ke liang anusnya. Wajah Vira pucat merasakan sakit yang amat sangat ketika batang kemaluan Sersan mendorong masuk ke liang anusnya yang kecil. Sersan mendengus-dengus berusaha memasukkan batang kemaluannya ke dalam anus Vira. Perlahan, senti demi senti batang kemaluan itu tenggelam masuk ke anus Vira. Vira terus menjerit-jerit minta ampun ketika perlahan batang kemaluan Sersan masuk seluruhnya ke anusnya. Akhirnya ketika seluruh batang kemaluan Sersan masuk, Vira hanya bisa merintih dan mengerang kesakitan merasakan benda besar yang sekarang masuk ke dalam anusnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Sersan beristirahat sejenak, sebelum mulai bergerak keluar masuk. Kembali Vira menjerit-jerit. Sersan terus bergerak tanpa belas kasihan. Batang kemaluannya bergerak keluar masuk dengan cepat, membuat testisnya menampar-nampar pantat Vira. Sersan tidak peduli mendengar Vira berteriak kesakitan dan menjerit minta ampun ketika sodomi itu berlangsung. Saya melihat berulang kali batang kemaluan Sersan keluar masuk anus Vira tanpa henti. Akhirnya Sersan mencapai orgasme ia menarik batang kemaluannya dan sperma menyemprot keluar menyembur ke punggung Vira, kemudian menyembur ke pantat Vira dan mengalir turun ke pahanya, dan terakhir Sersan kembali memasukkan batang kemaluannya ke anus Vira lagi dan menyemprotkan sisa-sisa spermanya ke dalam anus Vira. Sersan kemudian melepaskan pegangannya dari pinggul Vira dan berdua dengan Polantas mereka keluar dari sel dan menguncinya. Saya masih dapat mendengar Sersan berkata pada Polantas, &#8220;Pantat paling hebat yang pernah ada. Dia bener-bener sempit!&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Dini hari, ketika Vira kelelahan menangis dan merintih, mereka berdua dengan langkah sempoyongan dan dengan botol bir di tangan masuk kembali ke dalam sel Vira. Mereka menendang tubuh Vira agar terbangun dan mereka mulai memperkosanya lagi. Sekarang Polantas menyodomi Vira sementara Sersan berbaring di bawah Vira dan memasukkan batang kemaluannya ke dalam kemaluan Vira. Kemudian mereka berganti posisi. Mereka juga menyiksa Vira dengan memasukkan botol bir ke dalam liang kemaluan dan anusnya sementara batang kemaluan mereka dimasukkan ke mulut Vira. Mereka terus berganti posisi dan Vira terus menerus menjerit dan menjerit hingga akhirnya ia kelelahan dan tak sadarkan diri. Melihat itu polisi-polisi tersebut hanya tertawa terbahak-bahak meninggalkan tubuh Vira yang memar-memar dan belepotan sperma dan bir.</p>
<p style="text-align: justify;">Keesokan paginya, Sersan masuk dan membuka sel kami.&#8221;Kalian boleh pergi.&#8221;Saya membantu Vira mengenakan pakaiannya. Tubuhnya lemah lunglai berbau bir dan sperma-sperma kering masih menempel di tubuhnya. Kami pergi dari kantor polisi itu dan akhirnya sampai ke rumah Vira. Kemudian saya membersihkan tubuh Vira dan menidurkannya. Ketika saya tinggal, saya mendengar ia merintih, &#8220;Jangan Pak, ampun Pak, sakit&#8230; ampuunn&#8230; sakiiit&#8230;&#8221;.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>TAMAT</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ceritasex.cn/kekasihku-diperkosa-polisi-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Nikmat Karaoke Membawa Sengsara Bagian 2</title>
		<link>http://www.ceritasex.cn/nikmat-karaoke-membawa-sengsara-bagian-2/</link>
		<comments>http://www.ceritasex.cn/nikmat-karaoke-membawa-sengsara-bagian-2/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 12 Jan 2012 12:11:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cerita Sex</dc:creator>
				<category><![CDATA[Daun Muda]]></category>
		<category><![CDATA[Pemerkosaan]]></category>
		<category><![CDATA[Seks Umum]]></category>
		<category><![CDATA[selingkuh]]></category>
		<category><![CDATA[Toket gede]]></category>
		<category><![CDATA[cuki]]></category>
		<category><![CDATA[klitoris]]></category>
		<category><![CDATA[kontol]]></category>
		<category><![CDATA[memek]]></category>
		<category><![CDATA[ngentot]]></category>
		<category><![CDATA[orgasme]]></category>
		<category><![CDATA[seks]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ceritasex.cn/?p=3272</guid>
		<description><![CDATA[&#8220;Uh.. saatnya untuk sedikit beraksi Ded!&#8221; kata Dedi dalam hati, lalu ia berdiri di belakang Shinta. Perlahan-lahan ia mendekati Shinta sampai kemaluannya menyentuh pantat Shinta. Shinta sedikit terkejut. &#8220;Hey, dia sengaja nggak ya?&#8221; pikirnya ragu. Sambil terus membungkuk, Shinta berpura-pura terus sibuk. Tapi sekarang ia menggerakkan pinggulnya pelan ke belakang sehingga menempel ketat dengan tubuh [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">&#8220;Uh.. saatnya untuk sedikit beraksi Ded!&#8221; kata Dedi dalam hati, lalu ia berdiri di belakang Shinta. Perlahan-lahan ia mendekati Shinta sampai kemaluannya menyentuh pantat Shinta. Shinta sedikit terkejut. &#8220;Hey, dia sengaja nggak ya?&#8221; pikirnya ragu. Sambil terus membungkuk, Shinta berpura-pura terus sibuk. Tapi sekarang ia menggerakkan pinggulnya pelan ke belakang sehingga menempel ketat dengan tubuh Dedi di belakang. Dedi mencoba mengatur nafasnya supaya tidak terdengar memburu. &#8220;Lho?? dia tau nggak sih?&#8221; pikirnya sesak. Shinta merasakan ada sesuatu yang keras menempel di pantatnya. &#8220;Ha ha sepertinya Dedi sedang terangsang. Satu sentuhan lagi lalu kuminta dia pulang..&#8221; batin Shinta riang. Lalu ia seperti membaca sesuatu di layar sambil menggerak-gerakkan pantatnya ke kanan dan ke kiri perlahan.</p>
<p style="text-align: justify;">Dedi benar-benar menikmati keadaan itu.&#8221;Oh ternyata nggak sesulit yang kukira, sebentar lagi kita pasti akan bercinta,&#8221; pikirnya sambil meletakkan tangannya di pinggul Shinta.&#8221;Ok Ded ini sudah aku print-kan, kamu tinggal belanja bahan-bahan saja, ok? kamu kalo keluar nanti tutup kembali ya pintunya aku mau kirim e-mail buat sepupuku dulu di sini,&#8221; kata Shinta sambil berbalik dan menyodorkan selembar kertas.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Aaa? dia menyuruhku pulang? jadi tadi itu cuma khayalan saja?&#8221; kata Dedi sambil mengambil kertas dari hadapannya. Ia berjalan keluar dengan pelan berharap Shinta memanggilnya lagi, ternyata tidak!&#8221;He he berani taruhan, pasti Dedi menyesal kalau pernah meminta obat ke sini,&#8221; batin Shinta sambil tersenyum lalu ia mulai mengetik surat.</p>
<p style="text-align: justify;">Tiba-tiba ia merasa tubuhnya tertarik ke belakang. Lalu tubuhnya terangkat dalam pelukan seseorang. Shinta mencoba melihat wajah seseorang yang mengangkatnya.&#8221;Hey Ded! ada apaa? eh turunin aku dong.. Dedi! ini nggak lucu ya?!&#8221; kata Shinta.&#8221;Shinta, sorry ya.. aku nggak bisa tahan. Kamu harus nurut, ok? Aku nggak pengen kamu luka,&#8221; kata Dedi dingin sambil membuang tubuh Shinta di sofa. Shinta menggigil ketakutan.&#8221;Dedi, kamu mau apa? jangan ya? Ded..&#8221; pinta Shinta menghiba ketika ia melihat Dedi membuka celana panjangnya. Dedi sudah tak peduli lagi. &#8220;Dengar Shinta, kalau kamu terus bicara aku bakal&#8230;&#8221; Plak! Dedi merasa pipinya panas. Mendadak birahinya berubah menjadi amarah. Dicengkeramnya baju Shinta lalu dengan sekuat tenaga dibukanya dengan paksa sehingga kancing baju itu jatuh berderai ke lantai. Shinta mulai terisak. Ia ingin teriak tapi tak kuasa mengeluarkan suara. Ia didera ketakutan yang amat sangat yang belum pernah ia alami seumur hidupnya.<br />
<span id="more-3272"></span><br />
Dedi menatap payudara yang terbungkus bra warna krem. &#8220;Hoho ternyata 34B. Bagus. Tidak terlalu besar dan akhirnya aku mengetahuinya walaupun dengan cara begini.&#8221; bathin Dedi sambil mengangkat bra itu ke atas. Kedua kakinya menahan tubuh Shinta bagian bawah sementara tangannya memegang kedua tangan Shinta. Ia mulai menjilati payudara itu. Lidahnya bergerak cepat membuat lingkaran yang mengecil di puting Shinta, Lalu ia menyedotnya keras. Shinta mencoba untuk mengontrol dirinya sehingga ia punya tenaga untuk berteriak. Dibiarkannya Dedi menyedot-nyedot puting susunya. Ia berusaha memblok gairah yang mendadak muncul di dirinya.</p>
<p style="text-align: justify;">Dedi benar-benar merasa sangat bergairah. Kemaluannya menegang keras. &#8220;Aku harus membuatnya terangsang supaya aku tidak terlalu kesulitan memasuki dirinya,&#8221; katanya sambil terus mengulum puting Shinta. Lalu bibirnya pindah ke leher. Dengan jilatan-jilatan kecil yang dibuatnya iabergerak ke arah telinga dan bagian dalam telinga Shinta. Hal itu membuat Shinta melenguh pelan lalu dengan cepat menutup mulut lagi. Dedi mendengar lenguhan itu dan itu menambah semangatnya. Dijilatinya lengan Shinta bagian dalam. Shinta meronta kegelian. &#8220;Ah ini akan memakan waktu..&#8221; kata Dedi. Ia melepaskan pegangan tangannya dari tangan Shinta lalu berbalik ke bawah. Kakinya menekan lengan Shinta sementara tangannya memegang kedua kaki Shinta. Shinta melihat ke atas. &#8220;Ahh.. mengapa tubuhku jadi lemas begini,&#8221; pikirnya sambil terisak.</p>
<p style="text-align: justify;">Dedi membuka rok Shinta ke atas. Dilihatnya paha putih bersih di hadapannya yang langsung ia terkam dengan mulutnya. &#8220;Aah harum sekali tubuh ini,&#8221; dijilatinya sampai pangkal paha, kedua paha itu hanya meronta-ronta pelan tertahan oleh kedua tangan kekar Dedi yang sangat menikmati aroma di pangkal paha Shinta. Dedi menggigit pelan pangkal paha itu sambil terus menjilatinya bergantian kiri dan kanan. Shinta terus mencoba menahan reaksi balik dari dalam dirinya. Ia menegangkan kedua pahanya tapi yang terjadi malah ia merenggangkan pahanya. Dedi menangkap itu sebagai isyarat penerimaan. Lalu diturunkan CD Shinta ke bawah lalu dengan rakus, sebelum dibenamkan mulutnya di sana, dirabanya sejenak, &#8220;Hm sudah lembab,&#8221; pikirnya sambil tersenyum. Dedi tidak bisa melihat memek Shinta dengan jelas tapi ia tak mempedulikannya. Lidahnya menerobos ke dalam dengan cepat dijilatinya seluruh dinding memek Shinta. Ditahannya kedua paha Shinta dengan sikunya, lalu jarinya membuka memek itu, sementara jari lainnya mencari klitoris. Dipindahkan lidahnya ke pangkal paha Shinta lagi sambil memijat pelan klitoris Shinta dengan ibu jari dan jarinya.</p>
<p style="text-align: justify;">Dedi merasa sangat tidak leluasa, ia mengangkat kepalanya dan menoleh ke belakang. &#8220;Shinta aku cuma minta kamu jangan berteriak ok? aku mau berdiri sekarang.. kalau kamu mencoba teriak aku bakal menyakiti kamu lebih dari yang kamu bayangkan, ngerti kamu?!&#8221; kata Dedi sambil mengguncang tubuh Shinta pelan. Shinta tak menjawab, ia hanya terisak dan melempar pandangannya ke samping. Dedi tersenyum berdiri dan berlutut di bawah. Ditariknya kedua kaki Shinta, lalu dibukanya lagi memek Shinta. Kali ini ia dapat melihat memek itu dengan jelas. Dijilatinya pelan semakin lama semakin cepat ke arah klitoris.</p>
<p style="text-align: justify;">Shinta terisak lagi, kali ini ia sendiri tak yakin itu refleksi kesedihan atau gairahnya.Shinta terguncang hebat tubuhnya menggigil setiap kali lidah Dedi menyentuh klitorisnya, ia merasa masih bisa menahan dirinya, tapi gerakan lidah Dedi di klitorisnya membuatnya menahan beban yang sangat berat, dengan satu helaan nafas panjang ia memejamkan matanya dan membiarkan dirinya terbawa.</p>
<p style="text-align: justify;">Shinta mulai merasa ada sesuatu yang berasal dari otot kewanitaannya yang berdenyut seirama detak jantungnya, makin lama perasaan itu makin kuat menjalari otot di pangkal pahanya. Tiba-tiba ia merasa perasaan nikmat menjalar cepat dari memeknya, setiap gerakan lidah Dedi yang berirama tetap di klitorisnya menumpukkan perasaan nikmat yang semakin membesar lalu pandangannya mengabur sejenak, nikmat itu berjalan cepat dari memek menyebar ke seluruh tubuhnya, ke otot di daerah pantatnya, menyelusuri otot belakang tubuhnya menghujam dadanya. Ia merasa putingnya menyusut kecil dan mengeras, telinga, hidung, dan matanya seakan tak berfungsi sejenak.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Aduh.. setan! aku orgasme!&#8221; bathin Shinta pelan.Shinta tersengal sengal mengatur nafasnya. &#8220;Hah.. tenagaku habis untuk menahan diri?!&#8221; Shinta mencoba mengangkat tangannya dengan lemah. Dikumpulkannya kekuatan sejenak, lalu ia mencoba berteriak, &#8220;To.. tolong!&#8221; teriaknya pelan.Dedi merasa terkejut, diangkatnya kepalanya, lalu ia berdiri, &#8220;Aku tadi sudah memperingatkan kamu, supaya jangan..&#8221;Ia berkata sambil meraih vas bunga di sampingnya, &#8220;Coba-coba untuk berteriak?! ternyata kamu kurang jelas ya?&#8221; diletakkan vas itu di samping kepala Shinta lalu dipukulnya hingga berkeping-keping, &#8220;Mengerti Shinta?&#8221;"Aw.. iya, ampun Ded,&#8221; kata shinta sambil kembali terisak-isak.</p>
<p style="text-align: justify;">Dedi membuka celana dan celana dalamnya, lalu ia memegang kemaluannya dan mengarahkannya ke wajah Shinta.&#8221;Tidak, Ded jangan&#8230; aku nggak mau, aku&#8230;&#8221; Shinta memejamkan matanya ketika kemaluan Dedi menyentuh pipinya, lalu ke hidung dan matanya dan turun ke bibirnya. Dedi menggeserkan batang kemaluannya dengan perlahan di bibir Shinta. Lalu ia melihat ada cairan bening di kepala kontolnya lalu diarahkan kepala kontolnya ke bibir Shinta. Lalu ia berjalan dua langkah ke belakang, ditariknya kedua kaki Shinta dan dibukanya paha Shinta lebar-lebar, lalu ia mengarahkan kemaluannya ke memek Shinta. Dedi merasa kontolnya melewati ruang yang sempit. Dibenamkan kontolnya sedalam-dalamnya, dibiarkan sejenak, ia mengangkat kepalanya dan melihat wajah Shinta yang berkerut alisnya, lalu diturunkan lagi wajahnya ke samping kepala Shinta, sambil mulai memompa pantatnya dengan irama yang tetap, selang 15 detik Shinta mulai mendesis seirama gerakan pantatnya, lalu ia menaikkan tempo gerakannya sedikit, Shinta mulai gelisah, mulutnya terbuka, &#8220;Oooh.. ooohh..&#8221;lirihnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Dedi menjadi semakin terangsang setelah mendengar desahan di telinganya. Ia berhenti bergerak, lalu mencabut kontolnya keluar, dilihatnya Shinta masih memejamkan mata sambil membuka mulutnya, lalu digesernya tubuh Shinta menjadi setengah terduduk, kakinya menjulur ke lantai. Dengan pelan diangkatnya kedua kaki Shinta, lalu dilingkarkan kedua tangannya melingkari pinggul Shinta. Lalu ia mulai memompa lagi. Pantat Shinta terangkat ke atas oleh tangan Dedi yang melingkar. Shinta merasa tubuhnya dihujami oleh kontol dedi secara kasar, tapi sedikit demi sedikit kenikmatan yang tadi datang lagi membentuk kelompok kecil yang makin membesar, dilemahkan tubuhnya sehingga Dedi bisa mengangkat pinggulnya lebih tinggi. Sementara kedua tangan Shinta berayun-ayun di udara seirama gerakan mereka.</p>
<p style="text-align: justify;">Dedi merasa memek Shinta seakan mengelus-elus seluruh bagian kontolnya, membuat ia merasa geli, memek Shinta terasa sangat hangat dan mencengkeram erat di kontolnya, ia mulai mempercepat gerakannya, dirasakannya tubuh Shinta mulai menegang. Sambil terus memompa ia melihat sekeliling, lalu pandangannya terbentur ke foto perkawinan Shinta dan Boy. Tiba-tiba perasaannya meninggi, ia melihat Shinta tampak anggun dengan baju pengantinnya, lalu dialihkan pandangannya ke bawah dimana Shinta terayun-ayun tak berdaya dan sedang mendaki puncak dengannya.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Ah Shinta kamu cantik sekali..&#8221; katanya.Shinta membuka matanya, menatap sayu ke Dedi, ia berusaha tak menjawab tetapi mulutnya mengeluarkan erangan tak jelas, &#8220;Aah.. a..aah..&#8221; Dedi merasa ia akan orgasme, diangkatnya lagi pinggul Shinta lebih tinggi membuat tubuh Shinta tertekuk di udara, lalu dengan kecepatan penuh ia menggerakkan pantatnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Shinta merasa pandangannya kembali gelap, seluruh tubuhnya mengejang, tubuhnya seakan dihujani oleh kenikmatan badani yang tidak bisa ia ketahui kapan berakhirnya, lalu ia merasa ada cairan hangat menyentuh ujung liang senggamanya dan tubuh Dedi mengejang keras di atasnya, membuat perasaanya sangat aneh, ia tak pernah mengalami sensasi bercinta seperti ini. Sementara Dedi memeluk erat tubuh Shinta, dibiarkan kontolnya menguras spermanya di dalam memek Shinta.Aroma tubuh Shinta menjadi semakin jelas di hidung Dedi ketika ia mengalami orgasme ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Dedi menarik dirinya dan berdiri, sambil memunguti pakaiannya ia berjalan ke arah dapur. Ketika ia menuangkan air ke dalam mulutnya. Tiba-tiba akal sehatnya kembali, cepat-cepat ia memakai pakaiannya dan berlari ke ruang tamu, didapatinya Shinta sedang memeluk kedua kaki sambil melamun.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Shinta.. eh, aku mau..&#8221; kata Dedi gugup, lalu ia melangkah hendak membuka pintu keluar.Shinta memandang Dedi. Lalu memanggil, &#8220;Ded..&#8221;Dedi menoleh ke belakang, Shinta berdiri dan berkata, &#8220;Aku mau bicara nanti, matikan answering machine telepon kamu ok?&#8221;Dedi mengangguk heran lalu berkata, &#8220;Aku minta maaf Shin, karena&#8230;&#8221;Tak selesai perkataannya karena pintu itu terbanting tepat di depan hidungnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Tiga jam kemudian Dedi sedang bersiap untuk pergi keluar kota, ia sudah memesan tiket pesawat.&#8221;Kali ini aku menikmati Bali,&#8221; katanya sambil menatap tiketnya.Tiba-tiba telepon rumahnya berdering, &#8220;Haloo!&#8221; katanya riang.&#8221;Ded.. ini Shinta, aku ingin kamu sekarang ke rumah, puaskan aku lagi, lagi dan setiap saat aku menginginkannya, kalau kamu menolak aku punya rekaman video kejadian tadi siang yang siap disaksikan oleh Boy dan Polisi, aku harap kamu bisa bekerja sama, ok?&#8221; lalu terdengartelepon tertutup.Dedi tak mempercayai pendengarannya, ditatapnya tiket pesawatnya, kepalanya mendadak pusing, ini bukan lagi pemenuhan fantasinya, ia merasa sangat bingung. Dibantingnya koper ke dinding lalu ia ke kamar mandi untuk mencuci wajahnya.&#8221;Tidak..! ini mimpi buruk, ayo bangun Ded, liburan sudah menunggu!&#8221;Ketika berjalan ke wastafel dilihat wajahnya di cermin, &#8220;Ayo, mana wajah predator ini?&#8221;Terpantul wajah yang sama di cermin, namun sekarang adalah wajah budak seksual.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>TAMAT</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ceritasex.cn/nikmat-karaoke-membawa-sengsara-bagian-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Perkosaan Yang Fantastis</title>
		<link>http://www.ceritasex.cn/perkosaan-yang-fantastis/</link>
		<comments>http://www.ceritasex.cn/perkosaan-yang-fantastis/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 16 Nov 2011 19:51:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cerita Sex</dc:creator>
				<category><![CDATA[Paruh baya]]></category>
		<category><![CDATA[Pemerkosaan]]></category>
		<category><![CDATA[Seks Umum]]></category>
		<category><![CDATA[kontol]]></category>
		<category><![CDATA[memek]]></category>
		<category><![CDATA[ngentot]]></category>
		<category><![CDATA[orgasme]]></category>
		<category><![CDATA[perkosa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ceritasex.cn/?p=3175</guid>
		<description><![CDATA[Suatu saat suamiku harus meneruskan S2-nya ke luar negeri untuk tugas perusahaan. Aku mengantar kepergian suamiku sampai di bandara. Demikian sejak itu, aku harus membiasakan hidupnya dengan jadwal tugas suamiku, suatu hari menjelang sore hari, setelah menyediakan makan malam di atas meja, yang pada saat ini harus disiapkan sendiri, sebab pembantuku sedang pulang kampung, karena [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Suatu saat suamiku harus meneruskan S2-nya ke luar negeri untuk tugas perusahaan. Aku mengantar kepergian suamiku sampai di bandara. Demikian sejak itu, aku harus membiasakan hidupnya dengan jadwal tugas suamiku, suatu hari menjelang sore hari, setelah menyediakan makan malam di atas meja, yang pada saat ini harus disiapkan sendiri, sebab pembantuku sedang pulang kampung, karena mendadak ada keluarga dekatnya di kampung yang sakit berat. John teman suamiku orang Italy pada waktu mereka sekolah di Inggris bersama, sedang mendapat tugas di Indonesia sementara ini tinggal dirumah. Telah hampir satu bulan John tinggal bersama kami, istrinya tetap berada di Italy. Seperti biasanya setelah selesai makan bersama, aku kembali kekamar dan karena udara diluar terasa panas aku ingin mengambil shower lalu aku mengambil handuk dan masuk ke kamar mandi untuk berpancur. Letak kamar mandi nyambung dengan kamar tidurnya. Setelah selesai mandi, aku mengeringkan tubuhku dan dengan hanya membungkus tubuhku dengan handuk mandi, aku membuka pintu kamar mandi dan masuk ke dalam kamar tidurku.</p>
<p style="text-align: justify;">Disudut seberang kamar tidur yang tidak tertutup pintunya terlihat John sedang santai dikamarnya, rupanya dia telah selesai makan dan masuk ke kamarnya untuk nonton tv memang dia lebih senang di dalam kamar yang lantainya dilapisi karpet tebal dan udaranya dingin oleh AC. Dengan masih dililit handuk, aku duduk di depan meja rias untuk mengeringkan dan bersisir rambut. Pada saat itu John kulihat dari cerminku mendadak bangkit dari tempat duduknya dan berjalan mondar mandir di dalam ruangan kamarnya, terlihat malam ini John agak gelisah, tidak seperti biasa yang selalu menutup pintu kamarnya, malam ini dia mondar mandir dan sekali-sekali matanya yang biru kecoklatan melihat ke arahku yang sedang duduk menyisir rambutku. Melihat John seperti itu, aku bangkit berdiri dan berjalan menuju pintu untuk menutup pintu kamarku, aku sempat melihat John tersenyum padaku sambil berkata, &#8220;Hai Ratna kau cantik sekali malam ini..!&#8221; Tiba tiba John langsung berdiri melintas kamarnya, tanpa aba-aba salah satu kakinya menahan pintu kamarku lalu tangannya yang kekar mencoba menggapai pinggangku.</p>
<p style="text-align: justify;">Tercium olehku bau alkohol dari mulutnya rupanya John baru saja minum whisky, &#8220;..John sadar.. aku Ratna istri temanmu..!&#8221; John bisa bicara Indonesia, aku mencoba berbalik dan karena eratnya pegangannya di pinggangku, aku terhuyung-huyung dan aku jatuh telentang di lantai yang dilapisi karpet tebal. Kedua kakiku terpentang lebar, sehingga handuk yang tadinya menutupi bagian bawahku tersingkap, yang mengakibatkan bagian bawahku terbuka polos terlihat bagian pahaku yang putih mulus masih agak basah karena belum sempat kering dengan betul. Rupanya minuman keras sangat mempengaruhi pikiran John yang sudah begitu lama tidak kencan dengan wanita, John dengan cepat berjalan ke arahku yang sedang telentang di lantai dan sekarang jongkok diantara kedua kakiku yang terbuka lebar itu. Dengan cepat kepalanya telah berada diantara pangkal pahaku dan tiba-tiba terasa lidahnya yang kasar dan basah itu mulai menjilati pahaku, hal ini menimbulkan perasaan yang sangat geli. Aku mencoba menarik badannya ke atas untuk menghindari serbuannya pada pahaku, akan tetapi tangannya begitu kekar tubuhnya terlihat besar dan atletis menahan tubuhku.<br />
<span id="more-3175"></span><br />
John menunjukan matanya yang jalang, yang membuat aku ketakutan sehingga badanku terdiam dengan kaku. Kedua matanya melotot dengan buas melihat ke arah selangkanganku, kepalanya berada diantara kedua pahaku. Jilatannya makin naik ke atas dan tiba-tiba badanku menjadi kejang ketika bibir John itu terasa menyentuh pinggir dari belahan bibir kemaluanku dari bawah terus naik ke atas dan akhirnya badanku terasa meriang ketika lidah John yang besar basah dan kasar itu menyentuh klitorisku dan menggesek dengan suatu jilatan yang panjang, yang membuat aku terasa terbang melayang-layang bagaikan layang-layang putus ditiup angin.&#8221;Aduuuhh!&#8221; tak terasa keluar keluhan panjang dari mulutku. Tubuhku terus bergetar-getar seperti orang kena setrum dan mataku terbeliak melihat kearah lidah John yang bolak balik menyapu belahan bibir kemaluanku dan dengan tanpa kusadari kedua pahaku makin kubuka lebar, memberikan peluang yang makin besar pada lidah John bermain-main pada belahan kemaluanku. Dengan tak dapat ditahan lagi.</p>
<p style="text-align: justify;">Cairan pelumas mulai membanjiri keluar dari dalam kemaluanku dan dari cairan ini makin membuat John makin giat memainkan lidahnya terus menyapu dari bawah ke atas, mulai dari permukaan lubang anusku naik terus menyapu belahan bibir vaginaku sampai pada puncaknya yaitu pada klitorisku. Ohhh&#8230; dengan cepat vaginaku menjadi basah kuyup oleh cairan nafsu yang keluar terus menerus dari dalam vaginaku. Sejenak aku seakan-akan lupa diri, terbawa oleh nafsu birahi yang melanda.akan tetapi pada saat berikut aku baru sadar akan situasi yang menimpaku.&#8221;Aduuuhh benar-benar gila ini, aku terbuai oleh nafsu karena sentuhan seorang laki laki asing.. aaahh.. tidak.. tidak bisa ini terjadi!&#8221;, dengan cepat aku menarik tubuhku dan mencoba bergulir membalik badan untuk bisa meloloskan diri dari John. Dengan membalik badan, sekarang aku merangkak dengan kedua tangan dan lutut dan rupanya ini suatu gerakan yang salah yang berakibat sangat sangat fatal bagiku karena dengan tiba-tiba terasa sesuatu tenaga yang besar menahan pinggangku dan ketika masih dalam keadaan merangkak itu aku menoleh kepalaku ke belakang.</p>
<p style="text-align: justify;">Terlihat John dengan kedua tangannya merangkul pinggangku dan kepalanya mendekap punggungku tangannya mencoba menarik handuk yang hanya tinggal separoh melilit badanku, badannya yang berat itu menekan tubuhku. Aku mencoba merangkak maju dan berpegang pada tepi tempat tidur untuk mencoba berdiri, akan tetapi tiba-tiba John menekan badannya yang beratnya hampir 80 Kg itu sehingga posisiku yang sudah setengah berlutut, karena beratnya badan John, akhirnya aku tersungkur ke tempat tidur dengan posisi berlutut di pinggir tempat tidur dan separuh badan tertelungkup di atas tempat tidur, di mana badan John menidih badanku. Kedua kaki John berlutut sambil bertumpu di lantai diantara kedua pahaku yang agak terkangkang dan karena posisi badanku yang tertelungkup itu, akhirnya handuk yang setengah melilit dan menutupi badanku lepas, sehingga seluruh tubuhku terbuka dengan lebar. Terdengar John mendesah melihat pinggangku yang ramping serta bongkahan pantatku yang bulat menonjol &#8220;..Oh..Ratna tak kusangka kau begitu sexy..!&#8221; Tubuh John makin dirapatkan ketubuhku, sehingga terasa pantatku tergesek oleh kedua pahanya yang besar dan berbulu.</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam usaha merenggangkan kedua kakiku, tangan John bergerak-gerak diselangkanganku dan tanpa dapat dihindari bagian bawah vaginaku tergesek-gesek oleh jari jarinya yang besar besar itu. &#8220;Ouch..!..stop John..!&#8221; Aku mencoba menyadarinya, kedua tanganku tidak dapat digerakkan karena terhimpit diantara badanku sendiri .Tiba-tiba aku merasakan ada suatu benda kenyal, bulat panas terhimpit pada belahan pantatku dan tiba-tiba aku menyadari akan bahaya yang akan menimpaku, John rupanya sudah mulai beraksi dengan menggesek-gesekan batang kemaluannya pada belahan kenyal pantatku. &#8220;Auooohh.. John.. stop! pleasee..aach..!&#8221; dengan panik aku mencoba menyuruhnya berhenti melakukan aksinya, akan tetapi seruan itu tidak dipedulikan oleh John malahan sekarang terasa gerakan-gerakan menusuk nusuk benda tersebut pada pantatku mula-mula perlahan dan semakin lama semakin gencar saja. Aku menoleh ke kanan, ke arah kaca besar lemari yang persis berada di samping kanan tempat tidur, terlihat batang kemaluan orang asing tersebut telah tegang dan ya ampun..besar sekali..! dan terlihat batang kemaluannya yang merah berurat bagai sosis besar dengan ujungnya berbentuk agak bulat sedang menggesek gesek bagian pantatku. Rupanya Orang asing ini sudah sangat terangsang dan sekarang dia sedang berusaha memperkosaku. Aku benar-benar menjadi panik, bagaimana tidak.. aku akan disetubuhi oleh teman suamiku yang kelihatan sedang kesetanan oleh nafsu birahinya.</p>
<p style="text-align: justify;">Tanpa kusadari sodokan-sodokan batang kemaluan John semakin gencar saja, sehingga aku yang melihat melalui cermin gerakan pantat bule yang bahenol pahanya yang kekar tersebut , benar-benar terpesona karena gerakan tekanan-tekanan ke depan pantatnya benar-benar sangat cepat dan gencar, terasa sekarang serangan-serangan kepala batang kemaluannya tersebut mulai menimbulkan perasaan geli pada belahan pantatku dan kadang-kadang ujung batang kemaluannya menyentuh dengan cepat lubang anusku, menimbulkan perasaan geli yang amat sangat. Terlihat kedua kakinya melangkah ke depan, sehingga sekarang kedua pahanya yang berbulu memepeti kedua pahaku dan gerakan tekanan dan cocolan-cocolan kepala batang kemaluannya mulai terarah menyentuh bibir kemaluanku, aku menjadi bertambah panik, disamping perasaan yang mulai terasa tidak menentu, karena sodokan-sodokan kepala batang kemaluan John menimbulkan perasaan geli dan mulai membangkitkan nafsu birahiku yang sama sekali aku tidak kehendaki.</p>
<p style="text-align: justify;">Akhirnya dengan suatu gerakan dan tekanan yang cepat, John mendorong pantatnya ke depan dengan kuat, sehingga batang kemaluannya yang telah terjepit diantara bibir kemaluanku yang memang telah basah kuyup dan licin itu, akhirnya terdorong masuk dengan kuat dan terbenam separoh kedalam vaginaku, diikuti dengan jeritan panjang kepedihan yang keluar dari mulutku. &#8220;Aaduhh..!&#8221; kepalaku tertengadah ke atas dengan mata yang melotot serta mulut yang terbuka megap-megap kehabisan udara serta kedua tangan mencengkeram dengan kuat pada kasur. Akan tetapi John, tanpa memberikan kesempatan padaku untuk berpikir dan menyadari keadaan yang sedang terjadi, dengan cepat mulai memompa batang kemaluannya dengan gerakan-gerakan yang buas, tanpa mengenal kasihan pada istri temannya yang baru pertama kali ini menerima batang kemaluan yang sedemikian besarnya dalam vaginaku.</p>
<p style="text-align: justify;">Batang kemaluannya yang baru masuk sebagian itu dengan cepat keluar masuk mengaduk-aduk lubang kemaluanku tanpa mempedulikan betapa besar batang kemaluannya dibandingkan dengan daya tampung vaginaku. Walaupun hanya sebagian dari batang kemaluan bule itu yang masuk dari setiap gerakan menyebabkan keseluruhan bibir vaginaku mengembang dan mencengkeram batangnya dan klitorisku yang sudah keluar semuanya dan mengeras ikut tertekan masuk ke dalam, di mana klitorisku terjepit dan tergesek dengan batang kemaluannya yang besar dan berurat itu,&#8221;Ooohh..aku keenakan.. ini tak mungkin terjadi!&#8221; pikirku setengah sadar. &#8220;Aku mulai menikmati disetubuhi oleh teman suamiku, bule lagi? gila!&#8221; sementara perkosaan itu terus berlangsung, desiran darahku terasa mengalir semakin cepat, pikiran warasku perlahan-lahan menghilang kalah oleh permainan kenikmatan yang sedang diberikan oleh keperkasaan batang kemaluannya yang sedang &#8216;menghajar&#8217; liang kenikmatankuku.</p>
<p style="text-align: justify;">Perasaanku seakan-akan terasa melayang-layang di awan-awan dan dari bagian vaginaku terasa mengalir suatu perasaan mengelitik yang menjalar ke seluruh bagian tubuh, membuat perasaan nikmat yang terasa sangat fantastis, membuat mataku terbeliak dan terputar-putar akibat pengaruh batang kemaluan John yang besar begitu tajam dan begitu dahsyat mengaduk-aduk seluruh bagian yang sensitif didalam vaginaku tanpa ada yang tersisa satu milipun. Keseluruhan syaraf syaraf yang bisa menimbulkan kenikmatan dari dinding dalam vaginaku tak lolos dari sentuhan, tekanan, gesekan dan sodokan kepala dan batang kemaluan John yang benar-benar besar itu, rasanya paling kurang tiga kali besarnya tapi seratus kali lebih nikmat dari batang kemaluan suamiku dan cara gerakan pantat bule perkasa ini bergerak memompakan batang kemaluannya keluar masuk ke dalam vaginaku, benar-benar fantastis sangat cepat, membuatku tak sempat mengambil nafas ataupun menyadari apa yang terjadi, hanya rasa nikmat yang menyelubungi seluruh perasaanku, membuat secara total aku tidak dapat mengendalikan diri lagi.</p>
<p style="text-align: justify;">aku mulai menyadari akan hebatnya kenikmatan yang sedang menyelubungi seluruh sudut-sudut yang paling dalam di relung tubuhku akibat sodokan-sodokan batang kemaluan bule dalam rongga vaginaku yang menjepit erat, &#8220;Aaahh.. !&#8221; tiba-tiba aku merasakan sesuatu yang besar, benar-benar besar sedang mulai memaksa masuk ke dalam vaginaku, memaksa bibir vaginaku membuka sebesar-besarnya, rasanya sampai sebatas kemampuan yang bisa kutolerir. Aku menoleh ke arah cermin untuk melihat apa yang sedang memaksa masuk ke dalam vaginaku itu dan.., &#8220;Aaaduuuhh.. gila.. benar-benar fantastis besarnya penis bule ini&#8221; keluhku, terlihat bagian pangkal belakang batang kemaluan John sepanjang kurang lebih 5 cm membengkak, membentuk seperti bonggol, dan dari bagian tersebut sedang mulai dipaksakan masuk, menekan bibir-bibir kemaluanku dan secara perlahan-lahan menerobos masuk ke dalam lubang vaginaku . &#8220;&#8216;Ooohh.. aaampun.. jangan John.. aku akan mati kalau engkau memaksakan benda itu masuk ke dalamku!&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">aku memelas tak berdaya seakan-akan John akan mengerti, akan tetapi sia-sia saja, dengan mata melotot aku melihat benda tersebut mulai menghilang ke dalam kemaluanku, &#8220;Rat.. nanti kalau sudah masuk semuanya dan licin kau akan merasakan kenikmatan yang kamu belum pernah rasakan sebelumnya..!&#8221; John mencoba menenangkanku, kepalaku tertengadah ke atas dan mataku terbalik ke belakang sehingga bagian putihnya saja yang kelihatan, dan sekujur badanku mengejang, bongkahan tersebut terus menerobos masuk ke dalam lubang vaginaku, sampai akhirnya seluruh lubang kenikmatanku dipenuhi oleh kepala, batang kemaluan dan bongkahan pada pangkal batang kemaluan bule tersebut. Oh.. benar-benar terasa sesak dan penuh rongga vaginaku dijelali oleh keseluruhan batang kemaluan bule tsb. Dalam keadaan itu John terus melanjutkan menekan-nekan pantatnya dengan cepat, membuat badanku ikut bergerak-gerak karena belakang batang kemaluannya telah terganjal di dalam lubang kemaluanku akibat bongkahan pada pangkal batang kemaluannya yang besar itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Pantat John tersebut terus bergerak-gerak dengan liarnya, sambil bibirnya menciumi pundakku yang sudah tidak ditutupi handuk, terengah-engah dan mendengus-dengus, hal ini mengakibatkan batang kemaluannya dan bongkahan tersebut mengesek-gesek pada dinding-dinding vaginaku yang sudah sangat sangat kencang dan sensitif mencengkeram, yang menimbulkan perasaan geli dan nikmat yang amat sangat..sehingga kepalaku tergeleng-geleng ke kiri dan ke kanan dengan tak terkendali dan dengan histeris pantatku kutekan ke belakang merespon perasaan nikmat yang diberikan oleh John, yang tak pernah kualami selama ini.&#8221;Ooohh.. tidak..&#8221; pikirku, &#8220;Aku tak pantas mengalami ini.. aku bukan seorang maniak seks! Aku selama ini tidak pernah nyeleweng dengan siapa pun.. ta.taapii.. sekarang.. ooohh seorang bule? aduuuhh! Tapiii.. ooohh.. enaaaknya.. aghh.. akuuu.. tak dapat menahan ini.. agghh.. aku tak menyadari betapa.. nikmaaatnya penis besar dari seorang bule yang perkasa..! aaaaqhh..!&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Akhirnya aku tidak dapat mengendalikan diriku, rasa bersalah kalah oleh kenikmatan yang sedang melanda seluruh tubuhku dari perasaan yang begitu nikmat yang diberikan John padaku, dengan tak sadar lagi aku mendesah mengerang dan mengguman, &#8220;Ooohh..John you&#8217;re cock is so biiig.. so gooood..! enaaakk.. aaaggh! teruuusss.. puasin aku.. Fuuuck meee Jooohn..&#8221; Aku benar-benar sekarang telah berubah menjadi seekor kuda liar, aku betinanya sedang ia kuda jantannya. Perkosaan sudah tidak ada lagi dibenakku, pada saat ini yang yang kuinginkan adalah disetubuhi oleh John senikmat mungkin dan selama mungkin, dan akhirnya aku mengalami orgasme yang pertama yang benar-benar dahsyat, suatu kenikmatan yang tak pernah kualami dengan suamiku selama ini.&#8221;Ooohh.. yaa Ooohh.. puasin lagi aku John Ooohh.. setubuhi aku dengan batang kemaluanmu yang begitu besar dan perkasa!..aaaagghhh&#8230;!&#8221; terasa cairan hangat terus keluar dari dalam tubuhku, membasahi rongga-rongga di dalam lubang kemaluanku. &#8220;Aaagghhh.. ooohh.. benar-benar nikmaaaaat..!&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">keluhku tak percaya, terasa badanku melayang-layang, suatu kenikmatan yang tak terlukiskan. &#8220;Aaagghhh!&#8221; gerakanku yang liar pada saat mengalami orgasme itu agaknya membuat John merasa nikmat juga, disebabkan otot-otot kemaluanku berdenyut-denyut dengan kuat mengempot batang kemaluannya, mungkin pikirnya ini adalah kuda betina terhebat yang pernah dinikmatinya, hangat.. sempit dan sangat liar, batang kemaluan John yang besar itu mulai membengkak, sementara gerakan-gerakan tekanannya makin cepat saja, kelihatan John akan mengalami orgasme, gerakan-gerakan yang liar dari batang penisnya yang besar itu menimbulkan perasaan ngilu dan nikmat pada bagian dalam vaginaku, membuatku kehilangan kontrol dan menimbulkan perasaan gila dalam diriku, pantatku kugerak-gerakkan ke kiri dan ke kanan dengan liar mengimbangi gerakan sodokan John yang makin cepat saja.&#8221;Ooohh.. aaaduuh.. aaaghh! Joooohn..aku mau keluuuuaaar laaaggiii..!!&#8221; lenguhan panjang keluar dari mulutku mengimbangi orgasme kedua yang melandaku. Badanku meliuk-liuk dan bergetar dengan hebat kedua kakiku kurapatkan erat erat , kepalaku tertengadah ke atas dengan mulut terbuka dan kedua tanganku mencengkeram kasur dengan kuat sedangkan kedua otot-otot paha mengejang dengan hebat dan kedua mataku terbeliak dengan bagian putihnya yang kelihatan sementara otot-otot dalam kemaluanku terus berdenyut-denyut dan hal ini juga menimbulkan perasaan nikmat yang luar biasa pada John karena batang kemaluannya terasa dikempot kempot oleh lobang vaginaku yang mengakibatkan dia juga mengalami orgasme dan terasa cairan hangat dan kental yang keluar dari batang kejantanannya, rasanya lebih hangat dan lebih kental dan banyak dari punya suamiku, air mani John serasa dipompakan, tak henti-hentinya ke dalam lobang vaginaku, rasanya langsung ke dalam rahimku banyak sekali.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku dapat merasakan semburan-semburan cairan kental hangat yang kuat, tak putus-putusnya dari air maninya .memompakan benihnya ke dalam kandunganku terus menerus hampir selama 1 menit, mengosongkan air maninya yang tersimpan cukup lama, karena selama ini dia tidak pernah bersetubuh dengan istrinya yang berada jauh dinegaranya. John terus menekan batang kemaluannya sehingga clitorisku ikut tertekan dan hal ini makin memberikan perasaan nikmat yang hebat, yang tak kusangka, tubuhku bergetar lagi merasakan rangsangan dahsyat sampai akhirnya aku mengalami orgasme yang ketiga. Akhirnya aku tertidur dengan nyenyaknya karena letih. Keesokan harinya aku terbangun dengan tubuh yang masih terasa lemas dan terasa tulang-tulangku seakan-akan lepas dari sendi-sendinya, sambil melirik ke arah John yang sedang tertidur lelap kupandangi tubuhnya yang telanjang kekar besar terlihat bulu bulu halus kecoklat coklatan menghias dadanya yang bidang lalu bulu bulu tersebut turun kebawah semakin lebat dan memutari sebuah benda yang tadi malam &#8216;menghajar&#8217; vaginaku, benda itu masih tertidur tetapi ukurannya bukan main seperti penis suamiku yang sudah tegang maximum. Tiba tiba darahku berdesir, vaginaku terasa berdenyut, &#8220;..Oh.. apa yang terjadi pada diriku..?&#8221;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ceritasex.cn/perkosaan-yang-fantastis/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Nita Cantik Istri Teman Kost ku</title>
		<link>http://www.ceritasex.cn/nita-cantik-istri-teman-kost-ku/</link>
		<comments>http://www.ceritasex.cn/nita-cantik-istri-teman-kost-ku/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 01 Nov 2011 03:50:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cerita Sex</dc:creator>
				<category><![CDATA[Paruh baya]]></category>
		<category><![CDATA[Seks Umum]]></category>
		<category><![CDATA[selingkuh]]></category>
		<category><![CDATA[cuki]]></category>
		<category><![CDATA[itil]]></category>
		<category><![CDATA[kontol]]></category>
		<category><![CDATA[kost]]></category>
		<category><![CDATA[memek]]></category>
		<category><![CDATA[ml]]></category>
		<category><![CDATA[ngentot]]></category>
		<category><![CDATA[nita]]></category>
		<category><![CDATA[orgasme]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ceritasex.cn/?p=3122</guid>
		<description><![CDATA[Meskipun tinggal di Jakarta dan digaji besar, aku lebih suka tinggal di perkampungan. Kosku berada di wilayah Jakarta Selatan dekat perbatasan Tangerang. Lokasinya yang nyaman dan tenang, jau dari hiruk pikuk kota, membuatku betah tinggal lama disini sejak tahun 2009. Sudah 7 tahun lebih aku belum pernah pindah. Tetangga-tetangga pun heran mengapa aku betah tinggal [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Meskipun tinggal di Jakarta dan digaji besar, aku lebih suka tinggal di perkampungan. Kosku berada di wilayah Jakarta Selatan dekat perbatasan Tangerang. Lokasinya yang nyaman dan tenang, jau dari hiruk pikuk kota, membuatku betah tinggal lama disini sejak tahun 2009. Sudah 7 tahun lebih aku belum pernah pindah. Tetangga-tetangga pun heran mengapa aku betah tinggal disitu padahal bu kostku terkenal orangnya kolot dan masih memegang tradisi lama. Orangnyapun alim dan tidak suka anak kostnya berbuat macam-macam dan kalau ketahuan sudah pasti diusir dari rumah kostnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Rumah kostku 2 lantai yang disewakan hanya 5 kamar dengan ukuran sedang dan kostnya baik untuk putra maupun putri, yang masih single maupun yang sudah berkeluarga. Kamar mandi untuk anak kost disedakan ada 2 didalam rumah satu dan yang diluar juga ada. Ibu koskupun tinggal disitu cuman tinggal di kamar sebelah dalam bersama anak semata wayangnya Mas Rano.</p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2011/11/nita.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-3123" title="nita" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2011/11/nita-300x191.jpg" alt="" width="300" height="191" /></a></p>
<p style="text-align: justify;">Kejadian ini terjadi sekitar tahun 2005, Rumah kost hanya terisi dua satu untukku dan sebelahnya lagi keluarga Mas Tarno berasal dari Yogyakarta. Mas Tarno umurnya 2 tahun diatasku jadi waktu itu sekitar 26 tahun. Istrinya bernama Nita seumuran denganku. Nita orangnya manis putih tinggi sekitar 165 cm ukuran payudara sekitar 34-an. Mereka sudah dikaruniai satu orang anak masih berumur 2 tahun bernama Rara. Mas Tarno orangnya penggangguran. Jadi untuk keperluan, Nita-lah yang bekerja dari pagi sampai malam di sebuah Supermarket terkenal (supermarket ini sering dikenai sanksi oleh Komisi Pengawas Persaingan Usaha lho!!!….hayo tebak siapa bisa..hahahaha….) sebagai SPG sebuah produk susu untuk balita. Karena keperluannya yang begitu banyak, Nita (menurut pengakuannya) sampai meminta pihak manajemen untuk bisa bekerja 2 shift.<br />
<span id="more-3122"></span><br />
Tentunya keluarga macam ini sering cek-cok. Nita mengganggap Mas Tarno orangnya pemalas bisanya hanya minta duit untuk beli rokok. Padahal jerih payah Nita seharusnya untuk beli susu buat Rara putrinya. Mas Tarno pun sering membalas omelan-omelan Nita dengan tamparan dan tendangan bahkan dilakukan didepan anaknya. Aku sendiri tidak betah melihat pertengkaran itu.<br />
Suatu saat, Mas Tarno dapat pekerjaan sebagai ABK dan tentunya harus meninggalkan keluarganya dalam waktu yang cukup lama. Nita senangnya bukan main mendengarnya. Akan tetapi hal itu tidak berlangsung lama.</p>
<p style="text-align: justify;">Pada malam itu, aku ngobrol dengan Nita dikamarnya sambil nonton TV. Si Rara muter-muter sambil bermain maklum umur segitu masih lucu-cucunya.<br />
“Sekarang sepi ya, Nit….nggak ada Mas Tarno.” kataku<br />
“Lebih baik gini, Ted. Enakan kalo Mas Tarno nggak ada.” Keluh Nita kepadaku.<br />
“Emangnya Kenapa?” tannyaku.<br />
“Mas Tarno tuh kerja nggak kerja tetep nyusahin. wajar khan kalo aku minta duit ke Mas Tarno? Aku khan istrinya. Eh, Dianya marah-marah. Besoknya aku diomelin juga ama ibu mertuaku. Katanya aku nggak boleh minta duitnya dulu biar bisa buat nabung. Gombal!!! Aku nggak percaya Mas Tarno bisa nabung!!!” Dia jawab dengan marah-marah.</p>
<p style="text-align: justify;">“Sabar ya…” Aku mencoba untuk menenangkannya apalagi Rara dah minta bobo’. “Seandainya Mas Tedy yang jadi suamiku mungkin aku tidak akan merana. Mas Tedy dah dapat pekerjaan tetap dan digaji besar sedangkan suamiku, Mas Tarno hanya pekerja kasar di kapal itupun baru sebulan sebelumnya penggangguran.” Keluhnya.</p>
<p style="text-align: justify;">“Udah…jangan berandai-andai….biarkan hidup mengalir saja.” Jawabku sekenanya.“Mas, ….. Tiba-tiba Nita duduk disebelahku mengapit tangganku dan menyandarkan kepalanya. Aku sungguh terkejut. Aku tahu Nita butuh kasih sayang, butuh belaian, butuh perhatian. Bukan tendangan dan tamparan. Aku balas dia dengan pelukan di bahunya. Sayang sekali Wanita semanis Nita disia-siakan oleh laki-laki. Tapi Aku juga laki-laki normal punya nafsu terhadap wanita. Justru inilah kesempatanku untuk mengerjai Nita apalagi ibu kostku menjengguk keluarganya di Surabaya selama seminggu dan baru berangkat kemarin malam dan Mas Rano dapat jatah kerja Shift malam di sebuah Mall. Yuhuyyy…akhirnya kesempatan itu tiba!!!</p>
<p style="text-align: justify;">Kutoleh Nita yang saat itu sedang memakai daster, tanpa basa basi aku langsung merengkuh tubuh Nita yang montok itu kedalam pelukanku dan langsung kucium bibirnya yang tipis itu. Nita memeluk tubuhku erat erat, Nita sangat pandai memainkan lidahnya, terasa hangat sekali ketika lidahnya menyelusup diantara bibirku. Tanganku asyik meremas susu Nita yang tidak seberapa besar tapi kencang, pentilnya kupelintir membuat Nita memejamkan matanya karena geli. Dengan sigap aku menarik daster Nita, dan seperti biasanya Nita sudah tak mengenakan apa apa dibalik dasternya itu ternyata Nita memang sudah merencanakannya tanpa sepengetahuanku. Tubuh Nita benar benar aduhai dan merangsang seleraku, tubuhnya semampai, putih dengan susu yang pas dengan ukuran tubuhnya ditambah memek yang tak berambut mencembung.</p>
<p style="text-align: justify;">“Eh gimana kalo si Rara bangun?” tanyaku. “Tenang aja Mas Tedy, Susu yang diminum Rara tadi dah aku campurin CTM.” Jawabnya dengan gaya yang manja. Benar-benar persiapan yang sempurna. Ketika kubentangkan bibir memeknya, itilnya yang sebesar biji salak langsung menonjol keluar. ketika kusentuh dengan lidahku, Nita langsung menjerit lirih. Aku langsung mencopot baju dan celanaku sehingga kontolku yang sepanjang 12 cm langsung mengangguk angguk bebas. Ketika kudekatkan kontolku ke wajah Nita, dengan sigap pula Nita menggenggamnya dan kemudian mengulumnya. Kulihat bibir Nita yang tebal itu sampai membentuk huruf O karena kontolku yang berdiameter 3 cm itu hampir seluruhnya memadati bibir mungilnya, Nita sepertinya sengaja memamerkan kehebatan kulumannya, karena sambil mengulum kontolku ia berkali kali melirik kearahku.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku hanya dapat menyeringai keenakan dengan servis Nita ini. Mungkin posisiku kurang tepat bagi Nita yang sudah berbaring itu sementara aku sendiri masih berdiri disampingnya, maka Nita melepaskan kulumannya dan menyuruhku berbaring disebelahnya. Setelah aku berbaring dengan agak tergesa gesa Nita merentangkan kedua kakiku dan mulai lagi menjilati bagian peka disekeliling kontolku, mulai dari pelirku, terus naik keatas sampai keNitang kencingku semuanya dijilatinya, bahkan Nita dengan telaten menjilati Nitang duburku yang membuat aku benar benar blingsatan. Aku hanya dapat meremas remas susu Nita serta merojok memeknya dengan jariku. Aku sudah tak tahan dengan kelihaian Nita ini, kusuruh dia berhenti tetapi Nita tak memperdulikanku malahan ia makin lincah mengeluar masukkan kontolku kedalam mulutnya yang hangat itu. Tanpa dapat dicegah lagi air maniku menyembur keluar yang disambut Nita dengan pijatan pijatan lembut dibatang kontolku seakan akan dia ingin memeras air maniku agar keluar sampai tuntas.</p>
<p style="text-align: justify;">Ketika Nita merasa kalau air maniku sudah habis keluar semua, dengan pelan pelan dia melepaskan kulumannya, sambil tersenyum manis ia melirik kearahku. Kulihat ditepi bibirnya ada sisa air maniku yang masih menempel dibibirnya, sementara yang lain rupanya sudah habis ditelan oleh Nita. Nita langsung berbaring disampingku dan berbisik “Mas Tedy diam saja ya, biar saya yang memuaskan Mas !” Aku tersenyum sambil menciumi bibirnya yang masih berlepotan air maniku sendiri itu. Dengan tubuh telanjang bulat Nita mulai memijat badanku yang memang jadi agak loyo juga setelah tegang untuk beberapa waktu itu, pijatan Nita benar benar nyaman, apalagi ketika tangannya mulai mengurut kontolku yang setengah ngaceng itu, tanpa dihisap atau diapa apakan, kontolku ngaceng lagi, mungkin karena memang karena aku masih kepengen main beberapa kali lagi maka nafsuku masih bergelora.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku juga makin bernafsu melihat susu Nita yang pentilnya masih kaku itu, apalagi ketika kuraba memeknya ternyata itilnya juga masih membengkak menandakan kalau Nita juga masih bernafsu hanya saja penampilannya sungguh kalem . Melihat kontolku yang sudah tegak itu, Nita langsung mengangkangi aku dan menepatkan kontolku diantara bibir memeknya, kemudian pelan pelan ia menurunkan pantatnya sehingga akhirnya kontolku habis ditelan memeknya itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah kontolku habis ditelan memeknya, Nita bukannya menaik turunkan pantatnya, dia justru memutar pantatnya pelan pelan sambil sesekali ditekan, aku merasakan ujung kontolku menyentuh dinding empuk yang rupanya leher rahim Nita. Setiap kali Nita menekan pantatnya, aku menggelinjang menahan rasa geli yang sangat terasa diujung kontolku itu. Putaran pantat Nita membuktikan kalau Nita memang jago bersetubuh, kontolku rasanya seperti diremas remas sambil sekaligus dihisap hisap oleh dinding memek Nita. Hebatnya memek Nita sama sekali tidak becek, malahan terasa legit sekali, seolah olah Nita sama sekali tak terangsang oleh permainan ini. Padahal aku yakin seyakin yakinnya bahwa Nita juga sangat bernafsu, karena kulihat dari wajahnya yang memerah, serta susu dan itilnya yang mengeras seperti batu itu. Aku makin lama makin tak tahan dengan gerakan Nita itu, kudorong ia kesamping sehingga aku dapat menindihinya tanpa perlu melepaskan jepitan memeknya. Begitu posisiku sudah diatas, langsung kutarik kontolku dan kutekan sedalam dalamnya memasuki memek Nita.</p>
<p style="text-align: justify;">Nita menggigit bibirnya sambil memejamkan mata, kakinya diangkat tinggi tinggi serta sekaligus dipentangnya pahanya lebar lebar sehingga kontolku berhasil masuk kebagian yang paling dalam dari memek Nita. Rojokanku sudah mulai tak teratur karena aku menahan rasa geli yang sudah memenuhi ujung kontolku, sementara Nita sendiri sudah merintih rintih sambil menggigiti pundakku. Mulutku menciumi susu Nita dan menghisap pentilnya yang kaku itu, ketika Nita memintaku untuk menggigiti susunya, tanpa pikir panjang aku mulai menggigit daging empuk itu dengan penuh gairah, Nita makin keras merintih rintih, kepalaku yang menempel disusunya ditekan keras keras membuatku tak bisa bernafas lagi, saat itulah tanpa permisi lagi kurasakan memek Nita mengejang dan menyemprotkan cairan hangat membasahi seluruh batang kontolku.</p>
<p style="text-align: justify;">Ketika aku mau menarik pantatku untuk memompa memeknya, Nita dengan keras menahan pantatku agar terus menusuk bagian yang paling dalam dari memeknya sementara pantatnya bergoyang terus diatas ranjang merasakan sisa sisa kenikmatannya. Dengan suara agak gemetar merasakan kenikmatannya, Nita menanyaiku apakah aku sudah keluar, ketika aku menggelengkan kepala, Nita menyuruhku mencabut kontolku. Ketika kontolku kucabut, Nita langsung menjilati kontolku sehingga cairan lendir yang berkumpul disitu menjadi bersih. kontolku saat itu warnanya sudah merah padam dengan gagahnya tegas keatas dengan urat uratnya yang melingkar lingkar disekeliling batang kontolnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Nita sesekali menjilati ujung kontolku dan juga buah pelirku. Ketika Nita melihat kontolku sudah bersih dari lendir yang membuat licin itu, dia kembali menyuruhku memasukkan kontolku, tetapi kali ini Nita yang menuntun kontolku bukannya keNitang memeknya melainkan keNitang duburnya yang sempit itu. Aku menggigit bibirku merasakan sempit serta hangatnya Nitang dubur Nita, ketika kontolku sudah menyelusup masuk sampai kepangkalnya, Nita menyuruhku memaju mundurkan kontolku, aku mulai menggerakkan kontolku pelan pelan sekali.</p>
<p style="text-align: justify;">Kurasakan betapa ketatnya dinding dubur Nita menjepit batang kontolku itu, terasa menjalar diseluruh batangnya bahkan terus menjalar sampai keujung kakiku. Benar benar rasa nikmat yang luar biasa, baru beberapa kali aku menggerakkan kontolku, aku menghentikannya karena aku kuatir kalau air maniku memancar, rasanya sayang sekali jika kenikmatan itu harus segera lenyap. Nita menggigit pundakku ketika aku menghentikan gerakanku itu, ia mendesah minta agar aku meneruskan permainanku. Setelah kurasa agak tenang, aku mulai lagi menggerakkan kontolku menyelusuri dinding dubur Nita itu, dasar sudah lama menahan rasa geli, tanpa dikomando lagi air maniku tiba tiba memancar dengan derasnya, aku melenguh keras sekali sementara Nita juga mencengkeram pundakku.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku jadi loyo setelah dua kali memuntahkan air mani yang aku yakin pasti sangat banyak. Tanpa tenaga lagi aku terguling disamping tubuh Nita, kulihat kontolku yang masih setengah ngaceng itu berkilat oleh lendir yang membasahinya. Nita langsung bangun dari tempat tidur, dengan telanjang bulat ia keluar mengambil air dan dibersihkannya kontolku itu, aku tahu kali ini dia tak mau membersihkannya dengan lidah karena mungkin dia kuatir kalau ada kotorannya yang melekat. Setelah itu, disuruhnya aku telungkup agar memudahkan dia memijatku, aku jadi tertidur, disamping karena memang lelah, pijatan Nita benar benar enak, sambil memijat sesekali dia menggigiti punggungku dan pantatku. Aku benar benar puas menghadapi perempuan satu ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku tertidur cukup lama, ketika terbangun badanku terasa segar sekali, karena selama aku tidur tadi Nita terus memijit tubuhku. Ketika aku membalikkan tubuhku, ternyata Nita masih saja telanjang bulat, kontolku mulai ngaceng lagi melihat tubuh Nita yang sintal itu, tanganku meraih susunya dan kuremas dengan penuh gairah, Nitapun mulai meremas remas kontolku yang tegang itu.<br />
“Yuk kita ke kamar mandi” ajakku<br />
“Sapa takut…..”<br />
Aku menarik tangan Nita keluar kamar sambil bugil tapi aku sempatkan menyambar 2 buah handuk kemudian berjalan mengendap masuk , takut ketahuan tetangga sebelah rumah dan mengunci pintu kamar mandinya dari dalam. ” Nit…kamu seksi banget..” desisku sambil lebih mendekatinya, dan langsung mencium bibirnya yang ranum. Nita membalas ciumanku dengan penuh gairah, dan aku mendorong tubuhnya ke dinding kamar mandi.</p>
<p style="text-align: justify;">Tanganku membekap dadanya dan memainkan putingnya. Nita mendesah pelan. Ia menciumku makin dalam. Kujilati putingnya yang mengeras dan ia melenguh nikmat. Aku ingat, pacarku paling suka kalau aku berlama-lama di putingnya. Tapi kali ini tidak ada waktu, karena sudah menjelang pagi. Nita mengusap biji pelirku. Kunaikan tubuh Nita ke bak mandi. Kuciumi perutnya dan kubuka pahanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Bulu kemaluannya rapi sekali. Kujilati liangnya dengan nikmat, sudah sangat basah sekali. ia mengelinjang dan kulihat dari cermin, ia meraba putingnya sendiri, dan memilin-milinnya dengan kuat. Kumasukan dua jari tanganku ke dalam liangnya, dan ia menjerit tertahan. Ia tersenyum padaku, tampak sangat menyukai apa yg kulakukan. Jari telunjuk dan tengahku menyolok-nyolok ke dalam liangnya, dan jempolku meraba-raba kasar klitorisnya. Ia makin membuka pahanya, membiarkan aku melakukan dengan leluasa. Semakin aku cepat menggosok klitorisnya, semakin keras desahannya. Sampai-sampai aku khawatir akan tetangga sebelah rumah dengar karena dinding kamar mandi bersebelahan tepat dengan dinding rumha tetangga. Lalu tiba-tiba ia meraih kepalaku, dan seperti menyuruhku menjilati liangnya..</p>
<p style="text-align: justify;">” Ahhh…ahhh….Mas…Arghhhh..uhhh….Maaasss….” ia mendesah-desah girang ketika lidahku menekan klitorisnya kuat2. Dan jari-jariku makin mengocok liangnya. Semenit kemudian, Nita benar-benar orgasme, dan membuat mulutku basah kuyub dengan cairannya. Ia tersenyum lalu mengambil jari2ku yang basah dan menjilatinya sendiri dengan nikmat.</p>
<p style="text-align: justify;">Ia lalu mendorongku duduk di atas toilet yg tertutup, Ia duduk bersimpuh dan mengulum kontolku yang belum tegak benar. Jari-jarinya dengan lihay mengusap-ngusap bijiku dan sesekali menjilatnya. Baru sebentar saja, aku merasa akan keluar. Jilatan dan isapannya sangat kuat, memberikan sensasi aneh antara ngilu dan nikmat. Nita melepaskan pagutannya, dan langsung duduk di atas pangkuanku.</p>
<p style="text-align: justify;">Ia bergerak- gerak sendiri mengocok kontolku dengan penuh gairah. Dadanya naik turun dengan cepat, dan sesekali kucubit putingnya dengan keras. Ia tampak sangat menyukai sedikit kekerasan. Maka dari itu, aku memutuskan untuk berdiri dan mengangkat tubuhnya sehingga sekarang posisiku berdiri, dengan kakinya melingkar di pinggangku.</p>
<p style="text-align: justify;">Kupegang pantatnya yang berisi dan mulai kukocok dengan kasar. Nita tampak sangat menyukainya. Ia mendesah-desah tertahan dan mendorong kepalaku ke dadanya. Karena gemas, kugigit dengan agak keras putingnya. Ia melenguh ,” Oh…gitu Mas..gigit seperti itu…aghhh…”</p>
<p style="text-align: justify;">Kugigit dengan lebih keras puting kirinya, dan kurasakan asin sedikit di lidahku. Tapi tampaknya Nita makin terangsang.kontolku terus memompa liangnya dengan cepat, dan kurasakan liangnya semakin menyempit… kontolku keluar masuk liangnya dengan lebih cepat, dan tiba-tiba mata Nita merem melek, dan ia semakin menggila, lenguhan dan desahannya semakin kencang hingga aku harus menutup mulutnya dengan sebelah tangannku. ” Ah Maass…Ehmm… Arghh…Arghhh…Ohhhhh uhhhhhh…” Nita orgasme untuk kesekian kalinya dan terkulai ke bahuku.</p>
<p style="text-align: justify;">Karena aku masih belum keluar, aku mencabut kontolku dari liangnya yang banjir cairannya, dan membalikan tubuhnya menghadap toilet. Biasa kalau habis minum staminaku memang suka lebih gila. Nita tampak mengerti maksudku, ia menunggingkan pantatnya, dan langsung kutusuk kontolku ke liangnya dari belakang. Ia mengeram senang, dan aku bisa melihat seluruh tubuhnya dari cermin di depan kami. Ia tampak terangsang, seksi dan acak-acakan.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku mulai memompa liangnya dengan pelan, lalu makin cepat, dan tangan kiriku meraih puting payudaranya, dan memilinnya dengan kasar, sementara tangan kananku sesekali menepuk keras pantatnya. kontolku makin cepat menusuk2 liangnya yang semakin lama semakin terasa licin. Tanganku berpindah-pindah, kadang mengusap-ngusap klitorisnya dengan cepat. Badan Nita naik turun sesuai irama kocokanku, dan kontolku semakin tegang dan terus menghantam liangnya dari belakang. Ia mau orgasme lagi, rupanya, karena wajahnya menegang dan ia mengarahkan tanganku mengusap klitorisnya dengan lebih cepat. kontolku terasa makin becek oleh cairan liangnya.</p>
<p style="text-align: justify;">“Nita..aku juga mau keluar nih….”<br />
” oh tahan dulu…kasih aku….kontolmu….tahan!!!!<br />
“Nita langsung membalikan tubuhnya, dan mencaplok kontolku dengan rakus. Ia mengulumnya naik turun dengan cepat seperti permen, dan dalam itungan detik, menyemprotlah cairan maniku ke dalam mulutnya.<br />
” ArGGGhhhh!! Oh yes !! ” erangku tertahan.</p>
<p style="text-align: justify;">Nita menyedot kontolku dengan nikmat, menyisakan sedikit rasa ngilu pada ujung kontolku, tapi ia tidak peduli, tangan kirinya menekan pelirku dan kanannya mengocok kontolku dengan gerakan makin pelan. Kakiku lemas dan aku terduduk di kursi toilet yg tertutup. Nita berlutut dan menjilati seluruh kontolku dengan rakus.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah Nita menjilat bersih kontolku, ia memakaikan handukku, lalu memakai handuknya sendiri. Ia memberi isyarat agar aku tidak bersuara, lalu perlahan-lahan membuka pintu kamar mandi. Setelah yakin aman, ia keluar dan aku mengikutinya dari belakang. Setelah kejadian itu aku sama Nita semakin gila-gilaan dalam bermain seks sampai dengan ibu kosku kembali dari Surabaya tentunya aku hanya bisa melakukannya di malam hari.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ceritasex.cn/nita-cantik-istri-teman-kost-ku/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Heru Sahabat Suamiku</title>
		<link>http://www.ceritasex.cn/heru-sahabat-suamiku/</link>
		<comments>http://www.ceritasex.cn/heru-sahabat-suamiku/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 29 Oct 2011 01:55:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cerita Sex</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ekshibionis]]></category>
		<category><![CDATA[Seks Umum]]></category>
		<category><![CDATA[selingkuh]]></category>
		<category><![CDATA[binal]]></category>
		<category><![CDATA[cuki]]></category>
		<category><![CDATA[istri]]></category>
		<category><![CDATA[memek]]></category>
		<category><![CDATA[ml]]></category>
		<category><![CDATA[nenen]]></category>
		<category><![CDATA[ngentot]]></category>
		<category><![CDATA[orgasme]]></category>
		<category><![CDATA[seks liar]]></category>
		<category><![CDATA[seksi]]></category>
		<category><![CDATA[wanita binal]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ceritasex.cn/?p=3045</guid>
		<description><![CDATA[Heru, 32 th, adalah teman sekantor suamiku yang sebaya dengannya sedangkan aku berumur 28 th. Mereka sering bermain tenis bersama, entah mengapa setiap Heru datang kerumah menjemput suamiku ia selalu menyapaku dengan senyumnya yang khas, sorotan matanya yang dalam selalu memandangi diriku sedemikian rupa apalagi sewaktu aku memakai daster yang agak menerawang tatapannya seakan menembus [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Heru, 32 th, adalah teman sekantor suamiku yang sebaya dengannya sedangkan aku berumur 28 th. Mereka sering bermain tenis bersama, entah mengapa setiap Heru datang kerumah menjemput suamiku ia selalu menyapaku dengan senyumnya yang khas, sorotan matanya yang dalam selalu memandangi diriku sedemikian rupa apalagi sewaktu aku memakai daster yang agak menerawang tatapannya seakan menembus menjelajahi seluruh tubuhku.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku benar benar dibuat risih oleh perlakuannya, sejujurnya aku merasakansesuatu yang aneh pada diriku, walaupun aku telah menikah 2 tahun yang lalu dengan suamiku, aku merasakan ada suatu getaran dilubuk hatiku ditatap sedemikian rupa oleh Heru. Suatu hari suamiku pergi keluar kota selama 4 hari. Pas di hari minggu Heru datang kerumah maksud hati ingin mengajak suamiku bermain tenis, pada waktu itu aku sedang olahraga dirumah dengan memakai hot pant ketat dan kaos diatas perut.</p>
<p style="text-align: justify;">Ketika kubuka pintu untuknya ia terpana melihat liku liku tubuhku yang seksi tercetak jelas di kaos dan celana pendekku yang serba ketat itu. Darahku berdesir merasakan tatapannya yang tajam itu. Kukatakan padanya suamiku keluar kota sejak 2 hari lalu, dia hanya diam terpaku dengan senyumannya yang khas tidak terlihat adanya kekecewaan diraut mukanya, tiba-tiba ia berkata &#8220;..Hesty mau tidak gantiin suamimu, main tenis dengan saya..&#8221; Giliran aku yang terpana selama menikah belum pernah aku pergi keluar dengan laki laki selain suamiku tetapi terus terang aku senang mendengar ajakannya, dimataku Heru merupakan figure yang cukup &#8216;gentleman&#8217;.</p>
<p style="text-align: justify;">Sementara aku masih ragu-ragu tiba tiba dengan yakin ia berkata &#8220;..Cepet ganti pakaian aku tunggu disini..&#8221; Entah apa yang mendorongku untuk menerima ajakannya aku langsung mengangguk sambil berlari kekamarku untuk mengganti pakaian. Dikamar Aku termangu hatiku dagdigdug seperti anak SMU sedang berpacaran lalu aku melihat diriku dicermin kupilih baju baju tenisku lalu ketemukan rok tenis putihku yang supermini lalu kupakai dengan blous &#8216;you can see&#8217; setelah itu kupakai lagi sweater, wouw.. cukup seksi juga aku ini.., setelah itu aku pakai sepatu olahragaku lalu cepat cepat aku temui Heru didepan pintu &#8220;..Ayo Her aku sudah siap..&#8221; Heru hanya melongo melihat pakaianku. Jakunnya terlihat naik turun.</p>
<p style="text-align: justify;">Singkat kata aku bermain tenis dengannya dengan penuh ceria, kukejar bola yang dipukulnya, rok miniku berkibar, tanpa sungkan aku biarkan matanya menatap celana dalamku, ada perasaan bangga dan gairah setiap matanya menatap pantatku yang padat bulat ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Saking hotnya aku mengejar bola tanpa kuduga aku jatuh terkilir, Heru menghampiriku lalu mengajakku pulang. Setiba di rumah, kuajak Heru untuk mampir dan ia menerimanya dengan senang hati. Heru memapahku sampai ke kamar, lalu membantuku duduk di ranjang. Dengan manja kuminta ia mengambilkan aku minuman di dapur, Heru mengambilkan minuman dan kembali ke kamar mendapatkan aku telah melepas sweater dan sedang memijat betisku sendiri. Ia agak tersentak melihatku, karena aku telah menanggalkan sweaterku sekarang tinggal memakai blous &#8220;you can see&#8221; longgar yang membuat ketiak dan buah dadaku yang putih mulus itu mengintip nakal, posisi kakiku juga menarik rokmini olahragaku hingga pahaku yang juga putih mulus itu terbuka untuk menggoda matanya.<br />
<span id="more-3045"></span><br />
Tampak sekali ia menahan diri dan mengalihkan pandangan saat memberikan minuman kepadaku. Memang &#8220;gentleman&#8221; pria ini. penampilannya agak kaku tetapi disertai sikap yang lembut, kombinasi yang tak kudapatkan dari suamiku, ditambah berbagai macam kecocokan di antara kami. Mungkin inilah yang mendorongku untuk melakukan sesuatu hal yang seharusnya tidak dilakukan oleh seorang wanita yang sudah bersuami. Aku menggeser posisiku mendekatinya, lalu kucium pipinya sebagai ucapan terimakasihku. Heru terkejut, namun tak berusaha menghindar bahkan ia menggerakan wajahnya sehingga bibirku beradu dengan bibirnya. Kewanitaanku bangkit walaupun aku tahu ini adalah salah tetapi tanpa kusadari ia mencium bibirku beberapa saat sebelum akhirnya aku merespon dengan hisapan lembut pada bibir bawahnya yang basah.</p>
<p style="text-align: justify;">Kami saling menghisap bibir beberapa saat sampai akhirnya aku yang lebih dulu melepas ciuman hangat kami. &#8220;Her..&#8221; kataku ragu. Kami saling menatap beberapa saat. Komunikasi tanpa kata-kata akhirnya memberijawaban dan keputusan yang sama dalam hati kami, lalu hampir berbarengan, wajah kami sama-sama maju dan kembali saling berciuman dengan mesra dan hangat, saling menghisap bibir, lalu lama kelamaan, entah siapa yang memulai, aku dan Heru saling menghisap lidah dan ciuman pun semakin bertambah panas dan bergairah.</p>
<p style="text-align: justify;">Ciuman dan hisapan berlanjut terus, sementara tangan Heru mulai beralih dari betisku, merayap ke pahaku dan membelainya dengan lembut. Darahku semakin berdesir. Mataku terpejam. Entah bagaimana pria bukan suamiku ini bisa menyentuh ragaku selembut ini, semakin kupejamkan mataku semakin melayang perasaanku, dan menikmati kelembutan yang memancing gairah ini. Kembali Heru yang melepas bibirnya dari bibirku. Namun kali ini, dengan lembut namun tegas, ia mendorong tubuhku sambil satu tangannya masih terus membelai pahaku, membuat kedua tanganku yang menahanku pada posisi duduk tak kuasa melawan dan akupun terbaring pasrah menikmati belaiannya, sementara ia sendiri membaringkan tubuhnya miring di sisiku.</p>
<p style="text-align: justify;">Heru mengambil inisiatif mencium bibirku kembali, yang serta merta kubalas dengan hisapan pada lidahnya. Mungkin saat itu gairahku semakin menggelegak akibat tangannya yang mulai beralih dari pahaku ke selangkanganku, membelai barang milikku yang paling sensitif yang masih terbalut celana dalam itu dengan lembut namun pasti.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Mmhh.. Heruu..sudah terlalu jauh Her..&#8221; desahku di sela-sela ciuman panas kami. Aku agak lega saat tangan kekarnya meninggalkan selangkanganku, namun ia mulai menarik blousku hingga terlepas dari jepitan rokku, lalu ia loloskan dari kepalaku. Buah dadaku yang montok dan puting susuku membayang menggoda dari BH-ku yang tipis dan seksi, membuatnya semakin penasaran. Ia kembali mencium bibirku, namun kali ini lidahnya mulai berpindah-pindah ke telinga dan leherku, untuk kembali lagi ke bibir dan lidahku.</p>
<p style="text-align: justify;">Permainannya yang lembut dan tak tergesa-gesa ini membuatku terpancing menjadi semakin bergairah, sampai akhirnya ia mulai memainkan tangannya meraba-raba dadaku dan sesekali menyelipkan jarinya ke balik BH menggesek-gesek putingku yang saat itu sudah tegak mengacung. Tanpa kusadari aku mulai memainkan kaos bajunya, dan setelah bajunya kusingkap terlihat tampilan otot di tubuhnya. Aku melihat dada bidang dan perut sixpacknya di depan mataku. Tak lama ia pun memutuskan untuk mengalihkan godaan bibirnya ke buah dadaku yang masih terbalut BHku.</p>
<p style="text-align: justify;">Diciumi buah dadaku sementara tangannya merogoh ke balik punggungku untuk melepas kait BH-ku. Sama sekali tidak ada protes dariku iapun melempar BH-ku ke lantai sambil tidak buang waktu lagi mulai menjilati putingku yang memang sudah menginginkan ini dari tadi. &#8220;Ooohh.. sshh.. aachh.. Heruu..&#8221; desahku langsung terlontar tak tertahankan begitu lidahnya yang basah dan kasar menggesek putingku yang terasa sangat peka.</p>
<p style="text-align: justify;">Heru menjilati dan menghisap dada dan putingku di sela-sela desah dan rintihku yang sangat menikmati gelombang rangsangan demi rangsangan yang semakin lama semakin menggelora ini, &#8220;..Oooh Heru suuddhaah.. Herr.. stoop..!!&#8221; tetapi Heru terus saja merangsangku bahkan tangannya mulai melepas celananya, sehingga kini ia benar-benar telanjang bulat. Penisnya yang besar dan berotot mengacung tegang, karuan aku terbelalak melihatnya, besar dan perkasa lebih perkasa dari penis suamiku, vaginaku tiba tiba berdenyut tak karuan. Oh..tak kupikirkan akibat dari keisenganku tadi yang hanya ingin mencium pipinya saja sekarang sudah berlanjut sedemikian jauh.</p>
<p style="text-align: justify;">Heru melepas putingku lalu bangkit berlutut mengangkangi betisku. Ia menarik rokku dan membungkukkan badannya menciumi pahaku. Kembali bibirnya yang basah dan lidahnya yang kasar menghantarkan rangsangan hebat yang merebak ke seluruh tubuhku pada setiap sentuhannya di pahaku. Apalagi ketika lidahnya menggoda selangkanganku dengan jilatannya yang sesekali melibas pinggiran CD ku, semili lagi menyentuh bibir vaginaku. Yang bisa kulakukan hanya mendesah dan merintih pasrah melawan gejolak birahi, rasa penasaranku menginginkan lebih dari itu tapi akal sehatku masih menyatakan bahwa ini perbuatan yang salah.</p>
<p style="text-align: justify;">Akhirnya, dengan menyibakkan celana dalamku, Heru mengalihkan jilatannya kerambut kemaluanku yang telah begitu basah penuh lendir birahi. &#8220;ggaahh.. Heeruu..stoop..ohh..&#8221; bagaikan terkena setrum rintihanku langsung menyertai ledakan kenikmatan yang kurasakan saat lidah Heru melalap vaginaku dari bawah sampai ke atas, menyentuh klitorisku.</p>
<p style="text-align: justify;">Kini kami sama-sama telanjang bulat. Tubuh kekar berotot Heru berlutut di depanku. Lobang vaginaku terasa panas, basah dan berdenyut-denyut melihat batang penisnya yang tegang besar kekar berotot berbeda dengan punya suamiku yang lebih kecil. Oohh..betul betul luar biasa napsu birahiku makin mengebu gebu. Entah mengapa aku begitu terangsang melihat batang kemaluan yang bukan punya suamiku.Oooh begitu besar dan perkasa, pikiranku bimbang karena aku tahu sebentar lagi aku akan disetubuhi oleh sahabat suamiku, anehnya gelora napsu birahiku terus mengelegak.</p>
<p style="text-align: justify;">Kupasrahkan diriku ketika Heru membuka kakiku hingga mengangkang lebar lebar, lalu Heru menurunkan pantatnya dan menuntun penisnya ke bibir vaginaku. Kerongkonganku tercekat saat kepala penis Heru menembus vaginaku.&#8221;Hngk! Besaar..sekalii..Heer..&#8221; Walau telah basah berlendir, tak urung penisnya yang demikian besar kekar berotot begitu seret memasuki liang vaginaku yang belum pernah merasakan sebesar ini, membuatku menggigit bibir menahan kenikmatan hebat bercampur sedikit rasa sakit.</p>
<p style="text-align: justify;">Tanpa terburu-buru, Heru kembali menjilati dan menghisap putingku yang masih mengacung dengan lembut, kadang menggodaku dengan menggesekkan giginya pada putingku, tak sampai menggigitnya, lalu kembali menjilati dan menghisap putingku, membuatku tersihir oleh kenikmatan tiada tara, sementara setengah penisnya bergerak perlahan dan lembut menembus vaginaku. Ia menggerak-gerakkan pantatnya maju mundur dengan perlahan, memancing gairahku semakin bergelora dan lendir birahi semakin banyak meleleh di vaginaku, melicinkan jalan masuk penis berotot ini ke dalam liang kenikmatanku tahap demi tahap.</p>
<p style="text-align: justify;">Lidahnya yang kasar dan basah berpindah-pindah dari satu puting ke puting yang lain, membuat kepalaku terasa semakin melayang didera kenikmatan yang semakin bergairah. Akhirnya napsu birahikulah yang menang laki laki perkasa ini benar benar telah menyeretku kepusaran kenikmatan menghisap seluruh pikiran jernihku dan yang timbul adalah rangsangan dahsyat yang membuatku ingin mengarungi permainan seks dengan sahabat suamiku ini lebih dalam.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Ouuch.. sshh.. aachh.. teruuss.. heeruu.. masukin penismu yang dalaam..!! oouch.. niikmaat.. heerr..!! Baru kali ini lobang vaginaku merasakan ukuran dan bentuk penis yang bukan milik suamiku, yang sama sekali baru ..besaar dan perkasaa.., aku merasakan suatu rangsangan yang hebat didalam diriku. Seluruh rongga vaginaku terasa penuuh, kurasakan begitu nikmatnya dinding vaginaku digesek batang penisnya yang keras dan besaar..!</p>
<p style="text-align: justify;">Akhirnya seluruh batang kemaluannya yang kekar besar itu tertelan kedalam lorong kenikmatanku, memberiku kenikmatan hebat, seakan bibir vaginaku dipaksa meregang, mencengkeram otot besar dan keras ini. Melepas putingku, Heru mulai memaju-mundurkan pantatnya perlahan, &#8220;..oouch.. niikmaat.. heeruu..!!&#8221; aku pun tak kuasa lagi untuk tidak merespon kenikmatan ini dengan membalas menggerakan pantatku maju-mundur dan kadang berputar menyelaraskan gerakan pantatnya, dan akhirnya napasku semakin tersengal-sengal diselingi desah desah penuh kenikmatan.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;hh.. sshh.. hh.. Heerruu.. oohh ..suungguuhh.. niikmmaat sahyangghh..&#8221; Heru membalas dengan pertanyaan &#8220;Ohh.. Hestyy nikmatan mana dengan penis suamimu..?&#8221; otakku benar benar terhipnotis oleh kenikmatan yang luar biasa..! jawabanku benar benar diluar kesadaranku &#8220;Ohh ssh Heruu. penismu besaar sekalii..! jauh lebih nikmaat ..!! Heru makin gencar melontarkan pertanyaan aneh aneh, &#8220;..hh..Hesty lagi diapain memekmu sama kontolnya Heru..?&#8221; aku bingung menjawabnya, &#8220;Bilang lagi dientot..!&#8221; Heru memaksaku untuk mengulangnya, tapi dasar aku lagi terombang ambing oleh buaian birahi akupun tidak malu malu lagi mengulangnya &#8220;hh.. hh.. sshh.. mmhh..lagi dientot sayaang..&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Terus menerus kami saling memberi kenikmatan, sementara lidah Heru kembali menari di putingku yang memang gatal memohon jilatan lidah kasarnya. Aku benar benar menikmati permainannya sambil meremas-remas rambutnya. Rasa kesemutan berdesir dan setruman nikmat makin menjadi jadi merebak berpusat dari vagina dan putingku, keseluruh tubuhku hingga ujung jariku. Kenikmatan menggelegak ini merayap begitu dahsyat sehingga terasa seakan tubuhku melayang. Penisnya yang dahsyat semakin cepat dan kasar menggenjot vaginaku dan menggesek-gesek dinding vaginaku yang mencengkeram erat.</p>
<p style="text-align: justify;">Hisapan dan jilatannya pada putingku pun semakin cepat dan bernapsu. Aku begitu menikmatinya sampai akhirnya seluruh tubuhku terasa penuh setruman birahi yang intensitasnya terus bertambah seakan tanpa henti hingga akhirnya seluruh tubuhku bergelinjang liar tanpa bisa kukendalikan saat kenikmatan gairah ini meledak dalam seluruh tubuhku. Desahanku sudah berganti dengan erangan erangan liar kata kataku semakin vulgar. &#8220;Ahh.. Ouchh.. entootin terus sayaang.. genjoott.. habis memekku..!! genjoott.. kontolmu sampe mentok..!!&#8221; Ooohh.. Herruu.. bukan maiin.. eennaaknyaa.. ngeentoot denganmu..!!&#8221; mendengar celotehanku, Heru yang kalem berubah menjadi semakin beringas seperti banteng ketaton dan yang membuat aku benar benar takluk adalah staminanya yang bukan maiin perkasaa.., tidak pernah kudapatkan seperti ini dari suamiku.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku benar benar sudah lupa siapa diriku yang sudah bersuami ini, yang aku rasakan sekarang adalah perasaan yang melambung tinggi sekali yang ingin kunikmati sepuas puasnya yang belum pernah kurasakan dengan suamiku. Heru mengombang ambingkan diriku di lautan kenikmatan yang maha luas, seakan akan tiada tepinya.</p>
<p style="text-align: justify;">Akhirnya aku tidak bisa lagi menahan gelombang kenikmatan melanda seluruh tubuhku yang begitu dahsyatnya menggulung diriku &#8220;Ngghh.. nghh .. nghh.. Heruu.. Akku mau keluaar..!!&#8221; pekikanku meledak menyertai gelinjang liar tubuhku sambil memeluk erat tubuhnya mencoba menahan kenikmatan dalam tubuhku, Heru mengendalikan gerakannya yang tadinya cepat dan kasar itu menjadi perlahan sambil menekan batang kemaluannya dalam dalam dengan memutar mutar keras sekalii.. Clitorisku yang sudah begitu mengeras habis digencetnya. &#8220;..aacchh.. Heruu.. niikmaat.. tekeen.. teruuss.. itilkuu..!!&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Ledakan kenikmatan orgasmeku terasa seperti &#8216;forever&#8217; menyemburkan lendir orgasme dalam vaginaku, kupeluk tubuh Heru erat sekali wajahnya kuciumi sambil mengerang mengerang dikupingnya sementara Heru terus menggerakkan sambil menekan penisnya secara sangat perlahan, di mana setiap mili penisnya menggesek dinding vaginaku menghasilkan suatu kenikmatan yang luar biasa yang kurasakan dalam tubuhku yang tidak bisa kulontarkan dengan kata kata.</p>
<p style="text-align: justify;">Beberapa detik kenikmatan yang terasa seperti &#8216;forever&#8217; itu akhirnya berakhir dengan tubuhku yang terkulai lemas dengan penis Heru masih di dalam vaginaku yang masih berdenyut-denyut di luar kendaliku. Tanpa tergesa-gesa, Heru mengecup bibir, pipi dan leherku dengan lembut dan mesra, sementara kedua lengan kekarnya memeluk tubuh lemasku dengan erat, membuatku benar-benar merasa aman, terlindung dan merasa sangat disayangi. Ia sama sekali tidak menggerakkan penisnya yang masih besar dan keras di dalam vaginaku. Ia memberiku kesempatan untuk mengatur napasku yang terengah-engah.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah aku kembali &#8220;sadar&#8221; dari ledakan kenikmatan klimaks yang memabukkan tadi, aku pun mulai membalas ciumannya, memancing Heru untuk kembali memainkan lidahnya pada lidahku dan menghisap bibir dan lidahku semakin liar. Sekarang aku tidak canggung lagi bersetubuh dengan teman suamiku ini. Gairahku yang sempat menurun tampak semakin terpancing dan aku mulai kembali menggerak-gerakkan pantatku perlahan-lahan, menggesekkan penisnya pada dinding vaginaku. Respon gerakan pantatku membuatnya semakin liar dan aku semakin berani melayani gairahnya yang memang tampaknya makin liar saja.</p>
<p style="text-align: justify;">Genjotan penisnya pada vaginaku mulai cepat, kasar dan liar. Aku benar-benar tidak menyangka bisa terangsang lagi, biasanya setelah bersetubuh dengan suamiku setelah klimax rasanya malas sekali untuk bercumbu lagi tapi kali ini Heru memberiku pengalaman baru walau sudah mengalami klimax yang maha dahsyat tadi tapi aku bisa menikmati rangsangannya lagi oleh genjotan penisnya yang semakin bernapsu, semakin cepat, semakin kasar, hingga akhirnya ledakan lendir birahiku menetes lagi bertubi-tubi dari dalam vaginaku.</p>
<p style="text-align: justify;">Lalu Heru memintaku untuk berbalik, ooh ini gaya yang paling kusenangi &#8220;doggy style&#8221; dengan gaya nungging aku bisa merasakan seluruh alur alur batang kemaluan suamiku dan sekarang aku akan merasakan batang yang lebih besar lebih perkasa oohh..! dengan cepat aku berbalik sambil merangkak dan menungging kubuka kakiku lebar, kutatap mukanya sayu sambil memelas &#8220;..Yeess..Herr..masukin kontol gedemu dari belakang kelobang memekku..&#8221; Heru pun menatap liar dan yang ditatap adalah bokongku yang sungguh seksi dimatanya, bongkahan pantatku yang bulat keras membelah ditengah dimana bibir vaginaku sudah begitu merekah basah dibagian labia dalamku memerah mengkilat berlumuran lendir birahiku mengintip liang kenikmatanku yang sudah tidak sabar ingin melahap batang kemaluannya yang sungguh luar biasa itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Sambil memegang batang penisnya disodokannya ketempat yang dituju ”Bleess..&#8221; ..Ooohh.. Heruu.. teruss.. Herr.. yang.. dalaam..!! mataku mendelik merasakan betapa besaar dan panjaang batang penisnya menyodok liang kenikmatanku, urat urat kemaluannya terasa sekali menggesek rongga vaginaku yang menyempit karena tertekuk tubuhku yang sedang menungging ini. Hambatan yang selalu kuhadapi dengan suamiku didalam gaya &#8216;doggy style&#8217; ini adalah pada waktu aku masih dalam tahap &#8216;menanjak&#8217; suamiku sudah terlalu cepat keluar, suamiku hanya bisa bertahan kurang dari dua menit.</p>
<p style="text-align: justify;">Tetapi Heru sudah lebih dari 15 menit menggarapku dengan gaya &#8216;doggy style&#8217; ini tanpa ada tanda tanda mengendur. Oh bukan maiin..! bagai kesurupan aku menggeleng gelengkan kepalaku, aku benar benar dalamkeadaan ekstasi, eranganku sudah berubah menjadi pekikan pekikan kenikmatan, tubuhku kuayun ayunkan maju mundur, ketika kebelakang kusentakan keras sekali menyambut sodokannya sehingga batang penis yang besaar dan panjaang itu lenyap tertelan oleh kerakusan lobang vaginaku. kenikmatanku bukan lagi pada tahap &#8220;menanjak&#8221; tapi sudah berada di awang-awang di puncak gunung kenikmatan yang tertinggi.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Hngk.. ngghh..Heruu..akuu mau keluaar lagii.. aargghh..!!&#8221; aku melenguh panjang menyertai klimaksku yang kedua yang kubuat semakin nikmat dengan mendorong pantatku ke belakang keras sekali menancapkan penisnya yang besar sedalam-dalamnya di dalam vaginaku, sambil kukempot kempotkan vaginaku serasa ingin memeras batang kemaluannya untuk mendapatkan seluruh kenikmatan semaksimum mungkin.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah mengejang beberapa detik diterjang gelombang kenikmatan, tubuhku melemas dipelukan Heru yang menindih tubuhku dari belakang. Berat memang tubuhnya, namun Heru menyadari itu dan segera menggulingkan dirinya, rebah di sisiku. Tubuhku yang telanjang bulat bermandikan keringat terbaring pasrah di ranjang, penuh dengan rasa kepuasan yang maha nikmat yang belum pernah aku rasakan sebelumnya dengan suamiku.</p>
<p style="text-align: justify;">Heru memeluk tubuhku dan mengecup pipiku, membuatku merasa semakin nyaman dan puas. &#8220;Hesty aku belum keluar sayang..! tolongin aku isepin kontolku sayaang..!&#8221; Aku benar benar terkejut aku sudah dua kali klimaks tapi Heru belum juga keluar, bukan main perkasanya. biasanya malah suamiku lebih dulu dari aku klimaksnya kadang kadang aku malah tidak bisa klimaks dengan suamiku karena suamiku suka terburu buru.</p>
<p style="text-align: justify;">Merasa aku telah diberi kepuasan yang luar biasa darinya maka tanpa sungkan lagi kuselomot batang kemaluannya kujilat jilat buah zakarnya bahkan selangkangannya ketika kulihat Heru menggeliat geliat kenikmatan, &#8220;..Ohh yess Hes.. nikmat sekalii.. teruss hes.. lumat kontolku iseep yang daleemm.. ohh.. heestyy.. saayaangg..!!&#8221; Heru mengerang penuh semangat membuatku semakin gairah saja menyelomot batang kemaluannya yang besar, untuk makin merangsang dirinya aku merangkak dihadapannya tanpa melepaskan batang kemaluannya dari mulutku, kutunggingkan pantatku kuputar putar sambil kuhentak hentakan kebelakang, benar saja melihat gerakan erotisku Heru makin mendengus dengus bagai kuda jantan liar, dan tidak kuperkirakan yang tadinya aku hanya ingin merangsang Heru untuk bisa cepat ejakulasinya malah aku merasakan birahiku bangkit lagi vaginaku terasa berdenyut denyut clitorisku mengeras lagi.</p>
<p style="text-align: justify;">Ohh.. beginikah multiple orgasme yang banyak dibicarakan teman temanku? Selomotanku makin beringas, batang yang besar itu yang menyumpal mulutku tak kupedulikan lagi kepalaku naik turun cepat sekali, Heru menggelinjang hebat, akhirnya kurasakan vaginaku ingin melahap kembali batang kemaluannya yang masih perkasa ini, dengan cepat aku lepas penisnya dari mulutku langsung aku merangkak ke atas tubuhnya kuraih batang kemaluannya lalu kududuki sembari ku tuju ke vaginaku yang masih lapar itu. Bleess.. aachh..aku merasakan bintang bintang di langit kembali bermunculan.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;..Ooohh..Hesty..kau sungguuh sexxxyy.. masuukin kontolku..!!&#8221; Heru memujiku setinggi langit melihat begitu antutiasnya aku meladeninya bahkan bisa kukatakan baru pertama kali inilah aku begitu antusias, begitu beringas bagai kuda betina liar melayani kuda jantan yang sangat perkasa ini. &#8220;..Yess.. Heruu.. yeess.. kumasukkan kontolmu yang perkasa ini..!&#8221; kuputar-putar pinggulku dengan cepatnya sekali kali kuangkat pantatku lalu kujatuhkan dengan derass sehingga batang penis yang besar itu melesak dalaam sekali..</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;..aachh.. Heestyy.. putaar.. habiisiin kontoolku.. eennakk.. sekaallii..!!&#8221; giliran Heru merintih mengerang bahkan mengejang-ngejangkan tubuhnya, tidak bisa kulukiskan betapa nikmatnya perasaanku, tubuhku terasa seringan kapas jiwaku serasa diombang ambing di dalam lautan kenikmatan yang maha luas kucurahkan seluruh tenagaku dengan memutar menggenjot bahkan menekan keras sekali pantatku, kali ini aku yang berubah menjadi ganas dan jalang, bagaikan kuda betina liar aku putar pinggulku dan bagai penari perut meliuk meliuk begitu cepat.</p>
<p style="text-align: justify;">Batang kemaluannya kugenjot dan kupelintir habiss.. bahkan kukontraksikan otot-otot vaginaku sehingga penis yang besar itu terasa bagai dalam vacum cleaner terhisap dan terkenyot didalam liang vaginaku. Dan yang terjadi adalah benar benar membuatku bangga sekali, Heru bagai Layang-layang putus menggelinjang habis kadang mengejangkan tubuhnya sambil meremas pantatku keras sekali, sekali-kali ingin melepaskan tubuhku darinya tapi tidak kuberikan kesempatan itu bahkan kutekan lagi pantatku lebih keras, batang penisnya melesak seluruhnya bahkan rambut kemaluannya sudah menyatu dengan rambut kemaluanku, clitorisku yang lapar akan birahi sudah mengacung keras makin merah membara tergencet batang kemaluannya. Badanku sedikit kumiringkan ke belakang, buah zakarnya kuraih dan kuremas-remas, &#8220;..Ooohh.. aachh.. yeess.. Heess.. yeess..!!&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Heru membelalakan matanya sama sekali tidak menyangka aku menjadi begitu beringass..begitu liaar.. menunggangi tubuhnya, lalu Heru bangkit, dengan posisi duduk ia menyelomot buah dadaku&#8230; aachh tubuhku semakin panaas.. kubusungkan kedua buah dadaku. &#8220;..selomot.. pentilku.. dua. duanya.. Herr..yeess..!! &#8230;sshh.. &#8230;oohh..!! mataku menjadi berkunang kunang, &#8220;..Ooohh.. Hestyy.. nikmatnya bukan main posisi ini..! batang kontolku melesak dalam sekali menembus memekmu..!&#8221; Heru mendengus-dengus kurasakan batang penisnya mengembung pertanda spermanya setiap saat akan meletup, &#8220;..Ohh.. sshh..aahh.. Heruu ..keluaar.. bareeng..sayaannghh..!! jiwaku terasa berputar putar..! &#8220;..yess..Hess..aku… keluarkan diluar apa didalam..?&#8221;. &#8220;..Ohh.. Heru kontoolmu.. jaangaahhn..dicabuut..keluarin.. didalaam..!!</p>
<p style="text-align: justify;">Tiba tiba bagaikan disetrum jutaan volt kenikmatan tubuhku bergetar hebat sekalii..! dan tubuhku mengejang ketika kurasakan semburan dahsyat di dalam rahimku, &#8220;..aachh. jepiit kontoolku.. yeess.. sshh.. oohh.. nikmaatnya.. memekmu Hestyy..!!&#8221; Heru memuncratkan air maninya di dalam rongga vaginaku, terasa kental dan banyak sekali. Akupun mengelinjang hebat sampai lupa daratan &#8220;..Nggkkh.. sshh.. uugghh.. Heerru.. teekeen kontoolmu.. sampe mentookkhh.. sayaahng.. aarrgghh..!! gelombang demi gelombang kenikmatan menggulung jiwaku, ooh benar benar tak kusangka makin sering klimaks makin luar biaasaa rasa nikmatnya jiwaku serasa terbetot keluar terombang ambing dalam lautan kenikmatan yang maha luas. Kutekan kujepit kekepit seluruh tubuhnya mulai batang penisnya pantatnya pinggangnya bahkan dadanya yang kekar kupeluk erat sekali.</p>
<p style="text-align: justify;">Seluruh tetes air maninya kuperas dari batang kemaluannya yang sedang terjepit menyatu di dalam liang vaginaku. aarrgghh.. Nikmatnya sungguh luar biaasaa!! Oohh Heru aku kuatir akan ketagihan dengan batang penismu yang maha dahsyat ini!! Akhirnya perlahan lahan kesadaranku pulih kembali, klimaks yang ketiga ini membuat tubuhku terasa lemas sekali, Heru sadar akan keterbatasan tenagaku, akhirnya ia membaringkan tubuhku di dadanya yang kekar, aku merasakan kenyamanan yang luar biasa, kepuasanku terasa sangat dihargainya. Tiga kali klimaks bukanlah hal yang mudah bagiku untuk mendapatkannya didalam satu kali permainan seks.</p>
<p style="text-align: justify;">Heru telah menaklukan diriku luaar.. dalaam..!! akan kukenang kejadian ini selama hidupku. Tiba tiba Heru melihat jam lalu dengan muka sedih ia mengatakan kepadaku bahwa ia harus menemui seseorang 10 menit lagi, akupun tak kuasa menahannya, aku hanya mengangguk tak berdaya.</p>
<p style="text-align: justify;">Sepeninggal Heru dari rumah, aku termenung sendirian di ranjang. Suatu kejadian yang sama sekali tak terpikir olehku mulai merebak dalam kesadaranku. Aku telah menikmati perbuatan seks dengan sahabat suamiku bahkan harus kuakui, aku betul betul menikmati kedahsyatan permainan seks dengan sahabat suamiku itu. Tetapi aku telah mengkhianati suamiku. Aku mulai merasakan sesuatu yang salah, sementara di lain pihak, aku sangat menikmatinya dan sangat mengharapkan Heru melakukannya lagi terhadapku.</p>
<p style="text-align: justify;">Hati dan akal sehat terpecah dan menyeretku ke dua arah yang berlawanan. Pergumulan batin terjadi membuatku limbung. Akhirnya kuputuskan untuk mencoba melupakan Heru. Setelah beberapa minggu dalam kondisi seperti ini, hatiku makin tidak menentu, makin kucoba melupakannya makin terbayang seluruh kejadian hari itu, aku masih merasakan tubuhnya yang kekar berotot, berkeringat napasnya yang mendengus dengus terngiang sayup sayup terdengar suaranya memanggilku &#8216;sayang&#8217;. Seminggu kemudian, aku dengar Heru berhenti bertugas di kantor suamiku. Entah itu keinginannya sendiri atau memang ia dialih tugaskan, aku tidak tahu.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ceritasex.cn/heru-sahabat-suamiku/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kesempatan dalam Kesempitan</title>
		<link>http://www.ceritasex.cn/kesempatan-dalam-kesempitan/</link>
		<comments>http://www.ceritasex.cn/kesempatan-dalam-kesempitan/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 28 Oct 2011 05:03:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cerita Sex</dc:creator>
				<category><![CDATA[Paruh baya]]></category>
		<category><![CDATA[Seks Umum]]></category>
		<category><![CDATA[cuki]]></category>
		<category><![CDATA[kontol]]></category>
		<category><![CDATA[memek]]></category>
		<category><![CDATA[ngecrot]]></category>
		<category><![CDATA[ngentot]]></category>
		<category><![CDATA[orgasme]]></category>
		<category><![CDATA[pepek]]></category>
		<category><![CDATA[seks]]></category>
		<category><![CDATA[yenni]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ceritasex.cn/?p=3027</guid>
		<description><![CDATA[Karena merasa banyak ketidakcocokan, sebelum genap 2 tahun usia perkawinan Ryan dan Yenni, mereka telah mengakhiri perkawinannya dengan bercerai. Berbagai upaya yang dilakukan kedua orang tua mereka agar perceraian itu batal sia-sia. Mereka tetap kukuh dengan keputusannya. Walaupun mereka telah lama saling kenal dan berpacaran sejak kuliah dulu, Ryan dan Yenni adalah pasangan muda yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Karena merasa banyak ketidakcocokan, sebelum genap 2 tahun usia perkawinan Ryan dan Yenni, mereka telah mengakhiri perkawinannya dengan bercerai. Berbagai upaya yang dilakukan kedua orang tua mereka agar perceraian itu batal sia-sia. Mereka tetap kukuh dengan keputusannya.</p>
<p style="text-align: justify;">Walaupun mereka telah lama saling kenal dan berpacaran sejak kuliah dulu, Ryan dan Yenni adalah pasangan muda yang sama-sama masih labil dan mudah terbawa emosi. Ryan sendiri adalah seorang pegawai negeri di sebuah instansi pemerintah daerah yang memiliki karir dan masa depan yang cerah. Begitu pula Yenni yang bekerja sebagai karyawati di sebuah bank BUMN di kota itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Orang tua Ryan adalah pengusaha yang sukses, begitu juga Yenni, ayahnya seorang pejabat teras di lingkungan pemerintahan daerah itu. Mereka terbiasa hidup sebagaimana lingkungan kelasnya yang kelas menengah atas, yang serba ada dan bisa dalam hal material maupun moril.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah melalui proses yang cukup alot, maka Ryanpun menjatuhkan talak tiga kepada Yenni. Ada rasa sesal jauh di lubuk hati mereka, namun jalan itu harus ditempuh karena sama sama tidak ada yang mau kalah. Padahal sesungguhnya awal penyebabnya hanya sepele, Ryan ingin memiliki anak, sementara Yenni merasa belum siap dan menundanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Dulu, saat berpacaran, mereka adalah sejoli yang membuat iri rekan sejawatnya. Ryan yang masih berusia 26 tahun adalah pria yang ganteng dan Yenni yang 24 tahun terkenal sebagai kembang kampusnya karena kecantikannya. Ryan harus berjuang keras menyisihkan para pesaingnya untuk bisa merebut hati Yenni.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah resmi bercerai Yenni kembali kerumah orang tuanya dan Ryanpun balik kerumah ortunya. Yennipun telah berubah status menjadi janda kembang tanpa anak. Predikat itu membuatnya nyaman dan tidak nyaman. Sering ia digoda atau di rayu rekan oleh para pria di kantornya. Mereka, baik yang masih bujangan maupun yang telah bekeluarga ingin sekali bisa mengajak Yenni untuk kencan.</p>
<p style="text-align: justify;">Setidaknya Yenni harus berbesar hati saat ia menyadari bahwa ia masih muda dan cantik yang ditunjang postur tubuh serta wajah yang mudah mengundang para laki-laki untuk mendekatinya.<br />
<span id="more-3027"></span><br />
Secara rutin Yenni rajin ikut perawatan kecantikan dan senam kebugaran tubuh, sehingga ia selalu nampak sehat sekaligus amat sensual berkat kecantikannya tersebut di atas.</p>
<p style="text-align: justify;">Selama ini Yenni bisa menjaga diri dan tidak mempedulikan godaan rekan-rekan prianya. Dia tetap seorang perempuan yang bebas dan tidak terganggu oleh adanya berbagai gunjingan di lingkungan kerjanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Sebelas bulan setelah perceraian, secara tak sengaja Yenni bertemu Ryan di sebuah plaza di kotanya.</p>
<p style="text-align: justify;">“Hai.. Yenn… “, Sapa Ryan.</p>
<p style="text-align: justify;">“Hai.. Juga… “, jawab Yenni agak gugup…</p>
<p style="text-align: justify;">“Lagi ngapain disini Yan?”, tanya Yenni menutupi kegugupannya.</p>
<p style="text-align: justify;">“Ooo.. Sedang jalan-jalan aja”, jawab Ryan.</p>
<p style="text-align: justify;">Lalu mereka bersalaman dan berbincang seperti teman lama. Pada sebuah cafe mereka singgah dan saling berbincang tentang keadaan masing-masing selama ini. Ada keharuan yang dalam yang mereka rasakan dalam pertemuan itu. Bagaimanapun mereka pernah hidup bersama sebagai suami istri dan sudah demikian lama pula mereka berpacaran sebelum menikah.</p>
<p style="text-align: justify;">Semenjak pertemuan itu, Ryan dan Yenni selalu berkomunikasi lewat telpon dan kadang-kadang mereka buat janji untuk ketemu. Dalam suatu pertemuannya, Ryan mengusulkan kepada Yenni untuk rujuk kembali sebab ia telah lelah dengan keadaannya saat ini dan Yennipun sama dengannya.</p>
<p style="text-align: justify;">“Tapi.. Kita kan sudah talak tiga Yan?”, kata Yenni saat itu… “Apa mungkin kita bisa rujuk?”, timpal Yenni.</p>
<p style="text-align: justify;">“Bisa aja Yenn.. Tapi jalannya berat dan panjang.. “, jawab Ryan.</p>
<p style="text-align: justify;">“Menurut ketentuan kamu harus menikah dulu dengan orang lain untuk menghapus talak tiga itu. Kemudian kamu kembali bercerai. Sesudah itu barulah kita bisa rujuk kembali”.</p>
<p style="text-align: justify;">“Wah berat juga… Tapi aku coba minta pendapat orang tuaku dulu ya Yan”, kata Yenni.</p>
<p style="text-align: justify;">“Oke… Baiklah”, jawab Ryan sambil menggenggam mesra tangan Yenni.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah dirundingkan dengan ayah dan ibunya orang tua Yenni merestui maksud anaknya itu. Namun ia harus mencari seseorang yang mau untuk menikahi putrinya untuk sementara. Bagi mereka soal biaya tidak masalah. Atas masukan dari sopir pribadi ayah Yenni, maka dipilihlah seorang lelaki separo baya yang juga merupakan tetangga sopirnya itu, namanya Pak Daud. Seorang duda yang ditinggal mati istrinya sejak 7 tahun yang lalu. Umurnya 40 tahun, sepantaran paman Yenni. Pekerjaannya adalah seorang buruh panggul di terminal kota. Orangnya dikenal jujur dan setia.</p>
<p style="text-align: justify;">Dia menerima tawaran keluarga Yenni untuk menjadi suami anaknya selama 3 hari dengan janji selama itu dia tidak akan menggauli Yenni walaupun statusnya sah selaku suaminya. Orang tua Yenni sama sekali tidak khawatir pada orang setua Pak Daud ini. Keluarga Yenni yakin bahwa Pak Daud akan mematuhi kesepakatan dan tidak akan menjamah putrinya. Untuk itu ayah Yenni memberikan imbalan uang yang cukup besar. Tiga puluh juta rupiah untuk Pak Daud, artinya untuk hidup 5 tahun ke depan Pak Daud tak perlu lagi jadi kuli panggul di terminal kota.</p>
<p style="text-align: justify;">Sesuai kesepakatan dari orang tua Yenni dan Pak Daud maka, dilaksanakanlah akad nikah itu di rumah orang tua Yenni. Sebelum akad nikah terlaksana, Pak Daud lebih dulu diperkenalkan dengan Yenni dan mereka bersalaman. Itulah pertama kalinya Pak Daud melihat Yenny calon pengantinnya yang sangat cantik. Pak Daud merasakan betapa halusnya tangan Yenni. Ia juga melihat wajah Yenni yang sangat cantik bak bidadari. Calon pengantinnya ini seperti bumi dan langit, secara lahir batin sama sekali tidak sebanding dengannya. Pak Daud jadi amat mengagumi sosok Yenni dan tak lepas-lepasnya matanya memandanginya. Dia tak pernah membayangkan bahwa dalam hidupnya yang sehari-harinya sebagai kuli panggul yang penuh derita dunia akan pernah menikahi seorang dewi macam Yenni yang sekarang telah berada di depan haribaannya serta siap untuk dinikahinya.</p>
<p style="text-align: justify;">Sementara itu Yenny juga memperhatikan kehadiran Pak Daud calon ’suaminya’ itu. Dalam hatinya dia mentertawakan dirinya, kenapa dia mesti mengalami lelucon hidup macam ini. Pada awalnya Yenni membayangkan berpikir bahwa Pak Daud akan tampil seperti sosok seorang ayah yang hendak menolong dan melindunginya. Namun kini dia menyaksikan sosok seorang lelaki dalam arti sesungguhnya. Pak Daud dengan usianya yang 40 tahun belum nampak sebagaimana lelaki tua dan jompo.</p>
<p style="text-align: justify;">Dari balik kemeja dan jas yang pinjaman dari ayahnya, Yenni bisa merasakan bahwa Pak Daud masih memiliki tubuh yang sehat dan bugar. Latar belakangnya yang kuli panggul itu membuatnya nampak gagah; tinggi, tegap, padat, dan kekar. Wajahnya hitam dan berkilat sangat menggambarkan kehidupannya yang penuh kasar dan keras. Dan kelelakian Pak Daud kali ini sangat nampak pada matanya yang sejak dia mulai berhadapan dengannya tak pernah lepas-lepasnya memperhatikan dia. Yenni merasa sangat risih dengan pandangan Pak Daud ini. Dia seperti sedang dikuliti hingga telanjang olehnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Matanya yang nampak kemerahan itu semacam menyimpan dendam. Ah… Yaa… Macam dendamnya syahwat birahi. Sepertinya dia hendak menelan bulat-bulat tubuhnya. Yenni agak menyesal dengan pilihan dandanannya. Semula dia ingin nampak cantik di depan para tamunya. Tetapi rupanya jadi boomerang, dandanannya yang membuat dirinya nampak sangat cantik dan sensual ini telah membuat Pak Daud terpesona. Sekarang Yenni merasa ngeri. Dia membayangkan seandainya Pak Daud mengingkari kesepakatannya dan dia tak mau menceraikannya. Lelaki yang kuli panggul hitam, keras dan kasar ini akan berpesta dengan melahapi bagian-bagian tubuhnya yang indah dan serba halus lembut ini. Darah Yenni bergidik membayangkan hal itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Kembali ke Pak Daud, apa yang kini dihadapinya ini sangat menggetarkan jiwanya. Sebagai seorang lelaki yang sehat dan normal, apa yang dia saksikan saat ini telah menyentuh kemudian menggoncangkan hasrat ke-lelakian-nya. Setiap kali matanya memandangi Yenni, darahnya berdesir. Jantungnya berdegup kencang dan bibirnya sepertinya hendak bicara, mengatup dan membuka pelan. Yaaa… Dia memang sedang berbicara.</p>
<p style="text-align: justify;">Dia berbicara kepada hatinya sendiri, “Aku harus tidur dengan istriku ini. Aku berhak untuk tidur dengannya sebelum menceraikannya”, begitulah Pak Daud telah mengukirkan ketetapannya dalam hatinya.</p>
<p style="text-align: justify;">Sesudah semua persiapan telah lengkap dan Penghulu dari KUA hadir, ijab kabul di laksanakan secara sederhana di rumah itu dengan dihadiri oleh kedua orang tua Yenni dan 2 orang saudaranya sebagai saksi-saksi. Dengan lancar Pak Daud mengucapkan ijab kabul itu, lalu sebagaimana yang seharusnya dan secara rutin dilakukannya sebagai bagian dari tugasnya, Pak Penghulu memberikan nasehat kepada mempelai. Dia membacakan apa yang tertulis pada buku nikah tentang Hak dan Kewajiban Pak Daud dan Yenni sebagai suami istri. Pak Daud harus menafkahi Yenni selaku istrinya secara lahir ataupun batin. Dan Yenni harus menunjukkan kesetiaan serta memberikan pelayanan kepada Pak Daud selaku suaminya.</p>
<p style="text-align: justify;">Dan akhirnya resmilah Yenni sebagai istri Pak Daud meskipun untuk sementara. Setidak-tidaknya Pak Daud bersama Yenni akan sepenuhnya berstatus suami istri selama 3 hari sebelum Pak Daud menceraikannya.</p>
<p style="text-align: justify;">Sepanjang upacara ritual itu pikiran Pak Daud tak lepas-lepasnya dari kecantikan Yenni ‘istrinya’. Dia sempat meraba selangkangannya. Bayangan nikmatnya meniduri Yenni membuat kemaluannya menyesak dan terasa sakit dalam celananya. Tangannya sempat meraba selangkangannya untuk membetulkan arah Kontolnya agar mengurangi rasa sesak dan sakitnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah acara makan bersama dan Pak Penghulu serta tamu-tamu yang hadir pulang, maka yang tinggal diruangan makan itu hanyalah Pak Daud dan Yenni. Orang tua Yenni kekamarnya untuk berganti pakaian. Daud memandang Yenni yang duduk berhadapan di meja makan saat itu. Dia tengah berpikir bagaimana cara menyampaikan hasratnya kepada Yenni. Dia menyadari bahwa itu artinya dia membuat masalah. Dia akan mengingkari kesepakatan yang telah dibuatnya, yaitu, tidak akan menggauli Yenni. Namun dia juga melihat adanya peluang sebagaimana sumpah yang telah diucapkan di depan Penghulu tadi, bahwa dia harus menafkahi Yenni selaku istrinya secara lahir ataupun batin. Dia adalah suami yang memiliki Kewajiban dan Hak.</p>
<p style="text-align: justify;">Mata Daud tak juga lepas dari perhatiannya kepada Yenni yang kini telah resmi sebagai ‘istrinya’ itu. Hatinya terus bicara, alangkah mulus dan cantiknya Yenni ‘istriku’ ini. Dia sudah bulatkan tekadnya. Dia akan merasakan kehangatan tubuh Yenni, karena saat itu Yenni syah sebagai istrinya. Dia akan menggaulinya sebagaimana seorang suami pada istrinya. Dia akan melahapi bagian-bagian sensual tubuh Yenni. Dia akan melumati bibirnya. Dia akan menjilati lehernya. Dia akan mengecupi dan membuat cupang-cupang pada dadanya, payudaranya, pentil-pentilnya, tulang rusuknya, pinggulnya, perutnya, selangkangannya, pahanya, betisnya… Uuuccchh… Pokoknya tak akan ada yang terlewat dari pagutan, ciuman maupun jilatannya.</p>
<p style="text-align: justify;">Dia akan sepenuhnya menikmati tubuh Yenni hingga datang saatnya dia menceraikannya nanti. Dia punya waktu 3 hari. Selama itu dia tak akan pergi keluar dari kamarnya. Dia akan terus mengeloni Yenni yang sangat cantik ini. Bahkan mungkin dia bersama Yenni tak sempat untuk menutupi tubuhnya dengan busananya. Dia akan terus telanjang dan selalu siap untu melakukan hubungan sebagaimana suami istri adanya. Dia akan minta para pelayan orang kaya ini untuk menyiapkan kebutuhan makan dan minumnya di kamarnya. Hasrat syahwat birahi macam itulah yang membulatkan tekad dan memperkuat nyali Pak Daud untuk bertindak sebagai lelaki yang telah menjadi suami Yenni.</p>
<p style="text-align: justify;">Lalu ia berkata, “Zus Yenni… Zus dengar kata-kata penghulu tadi khan? Bahwa suami berhak atas tubuh istrinya untuk menggaulinya… ?!”, kata Pak Daud pelan tetapi jelas dan tajam seperti pisau silet.</p>
<p style="text-align: justify;">Yenni memandang heran dan tidak percaya mendengar omongan Pak Daud barusan. Perasaan aneh bercampur kaget bercampur lagi dengan ngeri yang kemudian disusul dengan darahnya yang bergidik dan tubuhnya menggigil gemetar mendengar suara yang keluar dari mulut Pak Daud tadi.</p>
<p style="text-align: justify;">Terpikir oleh Yenni, mungkin sesudah menyaksikan kecantikan dirinya yang mempesona Pak Daud langsung bertekad untuk ingkar dari kesepakatan yang telah dibuatnya bersama keluarganya. Pak Daud tidak mematuhi salah satu klausul-nya yang berbunyi, ‘tidak akan menggauli Yenni, istrinya’.</p>
<p style="text-align: justify;">Yenni menjadi panik. Dia mengerti arah pembicaraan Pak Daud, tetapi dia tetap berharap agar Pak Daud tidak mengingkari apa yang telah dia sepakati. Dengan marah dan ketus Yenni berkali-kali mengingatkan janjinya itu. Tetapi Pak Daud berkilah bahwa janji pada keluarga Yenni tidak seberat sumpahnya di depan Penghulu tadi. Jadi, bagi Pak Daud sepertinya ‘Maju Kena Mundur Kena’, kalau dia menggauli istrinya dia ingkar janji pada keluarga Yenni, tetapi kalau di tidak menggauli istrinya dia melanggar sumpahnya di depan Penghulu. Pak Daud merasa lebih takut pada sumpahnya di depan Penghulu.</p>
<p style="text-align: justify;">Yenni kehilangan akal. Dia tak bisa membantah apa yang disampaikan Pak Daud. Usahanya untuk membujuk Pak Daud agar mematuhi janjinya sia-sia. Pak Daud tetap bersiteguh untuk ‘memberikan nafkah batin’ kepada Yenni, sekaligus mengingatkan kepadanya bahwa merupakan kewajiban seorang istri untuk melayani suaminya. Pak Daud juga mengingatkan dan mengancam, bahwa jika kehendaknya dihalang-halangi maka seumur-umur dia tidak akan menceraikan Yenni dan dia berjanji bahwa keluarga Yenni akan mendapat malu yang besar.</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam kepanikannya Yenni mendatangi orang tuanya dan mengadukan maksud Pak Daud yang tidak sesuai dengan kesepakatan itu. Ayah Yenni menemui Pak Daud dan dengan sangat berang dan jengkel. Dia minta Pak Daud untuk tidak macam-macam atau batal imbalan Rp. 30 jutanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Tapi Daud bersikeras akan haknya saat itu. Pak Daud yakin ‘kartu As’-nya berada di tangannya.</p>
<p style="text-align: justify;">Merasa bahwa posisi keluarganya lemah secara hukum atas apa yang memang menjadi hak Pak Daud, dengan segala duka, marah, jengkel, kesal dan putus asa yang tercampur aduk ayah dan ibu Yenni pergi meninggalkan Yenni dan Pak Daud di rumahnya. Ayah Yenni lebih takut kalau Pak Daud berbuat lebih jauh hingga menyentuh citra keluarga di mata masyarakat umum.</p>
<p style="text-align: justify;">Masih dengan pakaian kebaya pengantinnya Yenni menangis histeris dan berlari menaiki tangga lantai atas menuju ke kamarnya. Hatinya sungguh sakit, kecewa, kecut, dongkol dan kesal. Yenni tak tahu lagi pada siapa dia harus mengadu. Dia merasa sendirian hidup di dunia ini. Kenapa tiba-tiba beban ini mesti dipikul sendiri? Dia menangisi nasibnya yang terlunta-lunta.</p>
<p style="text-align: justify;">Dia menggigil ketakutan pada apa yang kemungkinan akan terjadi. Fisiknya tidak akan mampu melawan fisik Pak Daud. Dan apapun yang terjadi kini ‘kartu As’nya sepenuhnya ada di tangan Pak Daud. Dia menjadi orang yang kalah. Seluruh keluarga Yenni yang selama ini sangat terhormat bagi masyarakat kota ini kini telah kalah sama Pak Daud yang hanya kuli panggul terminal itu. Duuhhh… Kenapa bisa jadi begini…? Bahkan pada saat-saat seperti ini tak seorangpun yang mampu menolongnya. Tidak juga Ryan yang semestinya dia terjun untuk menjadi ‘penolong’nya.</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam keadaan panik dan putus asa dia rebahkan tubuhnya ke sofa di kamarnya. Dia merasa sangat terpukul. Sungguh pukulan yang telak telah menimpa sanubarinya. Dia merasa sangat lelah. Tekanan-tekanan kesepiannya selama ini membuat Yenni mudah lelah dan lumpuh.</p>
<p style="text-align: justify;">Yenni menarik nafas panjangnya untuk mengurangi kepengapan dalam dirinya. Sebelum ini dia pernah mengalami tekanan dalam hidupnya walaupun tidak seberat sekarang. Dengan bernafas panjang dia merasakan darahnya mendingin. Dia bisa lebih relaks.</p>
<p style="text-align: justify;">Satu-satunya cercah harapan sekarang hanyalah bersikap ‘pasrah’. Yenni ingin selekasnya bisa melewati situasi dan perasaan yang demikian berat menindihnya. Que serra serra. Terjadilah apa yang harus terjadi. Bagaimanapun Pak Daud khan manusia juga.</p>
<p style="text-align: justify;">Ahh… Tiba-tiba Yenni sepertinya melihat jalan keluar. Dalam keadaan tak satupun orang yang menolongnya dia dituntun oleh sebuah cahaya. Dia yakini kebenaran cahaya itu. Dan cahaya itu justru datang dari arah Pak Daud. Hatinya juga ikut berharap, mudah-mudahan Pak Daud tidak kasar dan menyakiti dirinya. Itulah kunci utama cahaya itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Aneh, ya… Pak Daud yang pada awalnya menjadi penyebab krisis kini berbalik menjadi harapan bagi Yenni. Ataukah dia sudah menyerah? Dan yang lebih menyakitkan lagi, apakah dia bisa melawannya? Atau apakah ada manfaatnya untuk melawan Pak Daud? Atau, apa sih keberatannya kalau mengikuti saja apa maunya Pak Daud? Bukankah dia juga lelaki yang normal? Ataukah karena dia hanya kuli panggul? Edan!</p>
<p style="text-align: justify;">Secepat itukah Yenni harus mengambil keputusan akhir? Yaaa…, kapan lagi? Bukankah memang waktunya juga terlampau sempit untuk menimbang-nimbang hal yang runyam ini? Yenni harus mengambil sikap dan keputusan secara cepat. Dia merasa tidak perlu meminta pendapat pihak lain. Toh mereka semuanya telah meninggalkannya. Aahhh… Kenapa mesti begini…??</p>
<p style="text-align: justify;">Melihat Yenni menangis sambil berlari ke kamarnya Pak Daud sepertinya mendapatkan dorongan dan panggilan. Dia percaya larinya Yenni adalah untuk menunggunya di kamarnya. Dan sekaranglah saatnya dia harus melakukan kewajiban dan haknya. Dia berdiri dari duduknya dan dengan teguh dia melangkan kakinya menuju anak tangga dan menaikinya untuk menyusul Yenni di kamarnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Dia ketemu pintu kamar yang terbuka. Sepertinya Yenni memang tengah menunggunya. Nampak Yenni duduk menyandarkan kepalanya di sofa yang membelakanginya. Pelan-pelan tanpa menimbulkan suara di kakinya yang menginjak karpet mewah kamar Yenni, Pak Daud datang mendekati ‘istrinya’. Dia datang dari arah punggungnya. Tepat diatas kepala Yenni, sambil tangannya berpegang pada sandaran sofa, Pak Daud menundukkan kepalanya. Dia mencium ubun-ubun Yenni. Hidungnya segera diterpa aroma wangi rambutnya yang seumur-umur belum pernah menciumnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Ah… Ternyata ‘istrinya’ itu tidak nampak kaget atas ciumannya. Yenni sama sekali tidak bergerak. Dia tidak menolak kehadiran dan sentuhan Pak Daud. Adakah dia telah menerima kehadirannya sebagai suaminya? Adakah dia telah memahami hak dan kewajibannya? Adakah dia telah siap untuk melayaninya sebagai istrinya?</p>
<p style="text-align: justify;">“Zus Yenni, kamu jangan takut dan sedih. Aku suamimu akan sepenuhnya hadir demi kebahagiaanmu. Katakan sejujurnya apabila aku salah. Ucapkan kesangsianmu kalau kamu ragu. Lemparkan umpatanmu kalau kamu pandang aku tak pantas berada disisimu. Ayolah, zus Yenni, hadapilah kenyataan hidup ini dengan kecantikan hatimu. Dekatilah kenyataan itu dan terimalah kehadiranku. Mari kita melakukan sesuatu yang Hak dan yang Wajib”.</p>
<p style="text-align: justify;">Sepintas dalam sikapnya yang memang telah pasrah Yenni sempat heran, koq ada kuli panggul bisa ngomong macam itu? Macam filosof campur sastrawan saja. Ah, memang aneh hidup ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Tapi secara jujur Yenni akhirnya membuka sedikit pintunya untuk Pak Daud. Timbul rasa iba pada Pak Daud. Sebagai sesama manusia yang mengaku beradab, dia merasa telah berkonspirasi untuk melecehkan martabatnya yang hanya kuli panggul itu. Dengan sesenggukan dan linangan air matanya dia bersuara pelan, agak serak karena tangisnya,</p>
<p style="text-align: justify;">“Sesungguhnya, Mas, yang aku tangisi dan kesali adalah nasibku sendiri. Dalam situasi yang sangat berat begini, ternyata tak ada seorangpun yang memberikan aku pencerahan. Aku harus mencari sendiri jawabannya”.</p>
<p style="text-align: justify;">Mendengar dari mulut cantik Yenni memanggilnya dengan ‘Mas’, Pak Daud serasa disiram sejuknya mata air dari pegunungan. Dia merasakan betapa tak ada lagi yang menyesakkan hatinya. Kini dia lebih yakin akan tindakannya. Pak Daud bergerak ke depan sofa untuk duduk disamping Yenni. Dia meraih tangan ‘istrinya’ itu. Dia cium punggung tangan yang lembut itu. Nampak warna yang kontras kini ada di atas sofa itu. Yenny yang serba bersih dengan kulitnya yang putih dan halus lembut disamping Pak Daud yang hitam, serba keras dan kasar.</p>
<p style="text-align: justify;">Namun itulah salah satu jenis ‘keindahan sejati’. Keindahan yang bukan lahir dari tangan-tangan manusia. Tetapi keindahan yang lahir dari perjalanan nasib dua anak manusia. Keindahan yang dipaterikan oleh Sang Maha yang tak pernah bisa ditebak maunya. Dia yang selalu memberikan kejutan bagi hamba manusia. Dia yang tak mungkin dihindari. Dia yang tak terlawankan. Dia yang serba mutlak.</p>
<p style="text-align: justify;">Ciuman di punggung tangan Yenni yang juga disertai kecupan kemudian jilatan lidah oleh Pak Daud merembet seiring dengan rembetan syahwat birahinya. Bibir Pak Daud mulai mengulum jari-jari lentik Yenni. Amppuunn…</p>
<p style="text-align: justify;">Perasaan Yenni merinding dan berdesir. Mungkinkah ini terjadi…, beberapa detik yang lalu aku disambar bencana dan kesedihan, tiba-tiba kini datang sebuah sensasi lain yang bertolak belakang terasa sedang merambati sanubariku, demikian angin lembut membisik di telinganya.</p>
<p style="text-align: justify;">Sensasi itu berupa energi yang menggelitik dan membangunkan saraf-saraf libidonya. Sebuah rangkaian isyarat dari libidonya yang membangkitkan hasrat birahi. Kuluman dan jilatan bibir dan lidah Pak Daud langsung menerpa syahwatnya. Yenni merasa seakan dibanting dan kemudian dilemparkan ke orbit nikmat syahwat yang tak bisa diucapkan dalam kata.</p>
<p style="text-align: justify;">Bibir tebal dan lidah kasar Pak Daud yang mengulum dan mejilati jari-jarinya membuat Yenni terbangkit dari lumpuhnya. Bibir dan lidah itu seperti alat kejut pacu jantung. Tubuh dan jiwa Yenni disentak-sentakkan untuk menerima sebuah nalar baru. Seakan bertekuk lutut pada apa yang tak mampu dia hindarkan, Yenni langsung berubah sikap dan cara pandang hidupnya. Yenni melihat cahaya yang beda dari cahaya sebelumnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Yenni kini adalah Yenni yang siap menerima Pak Daud sebagai suaminya yang harus dia layani sebagai layaknya seorang istri yang patuh pada kewajibannya. Yenni mendesah dan melenguh panjang. Dia telah tenggelam dalam hasrat seksual yang sangat tinggi. Sesudah tak terjamah oleh lelaki selama 11 bulan kini Yenni sangat matang untuk menerima kehadiran Pak Daud.</p>
<p style="text-align: justify;">Dengan penuh intens Pak Daud merambatkan bibir dan lidahnya ke lengan-lengan Yenni. Dan pelan-pelan tetapi pasti tangan-tangan kekar Pak Daud menerobos ke kebaya dan memeluki punggung ‘istrinya’, sedikit meremasi belikatnya untuk kemudian dilepaskannya untuk meneruskan rabaannya menuju ke dada. Dia mendengarkan betapa Yenni merintih nikmat saat jari-jarinya menyentuh kemudian memilin kecil puting payudaranya.</p>
<p style="text-align: justify;">Yenni yang juga pelan tetapi pasti telah hanyut dalam nikmat birahi tahu bahwa sudah saatnya dia mesti melepaskan busananya. Dia harus dan ingin membuka jalan untuk bibir dan lidah Pak Daud melata merambahi tubuhnya. Dia lepaskan bros berlian yang jadi kancing-kancing kebayanya itu. Dia lepaskan ikatan tali BHnya. Dia hidangkan susunya yang ranum untuk dikemot-kemot bibir tua Pak Daud. Selanjutnya Yenni hanyalah menunggu sambil merintih dan mendesah nikmat. Tangannya memeluk dan mengelusi kepala ’suaminya’. Yenni meremasi rambut Pak Daud sebagai ungkapan dan penyaluran gelisah birahinya.</p>
<p style="text-align: justify;">Terlintas dalam pikiran Pak Daud untuk meninggalkan cupang-cupang pada seluruh tubuh putih Yenni. Ada semacam nafsu ’sok’ pada diri Pak Daud. Dia ingin pamer kehebatannya sebagai lelaki pada orang lain. Pada ‘istrinya’ dan keluarganya. Yaa… Maklumlah orang macam Pak Daud khan memang tidak memiliki sesuatu yang pantas dia banggakan kepada orang lain.</p>
<p style="text-align: justify;">Jadi yaa… Dengan cupang-cupang itulah yang sedang dia lakukan kini. Dia telah cupangi leher Yenni dan kini dia cupangi pula buah dadanya, rusuknya, dan yang sejak upacara ijab kabul tadi telah menggelisahkan syahwatnya adalah ketiak Yenni. Lidahnya merambah lembah putih ketiak Yenni sambil hidungnya mengendusi aromanya. Bibirnya menyedot lama untuk merasakan asin keringat ‘istrinya’ sekaligus meninggalkan cupang. Dia lakukan itu pada kedua belah ketiaknya.</p>
<p style="text-align: justify;">Bagaimana Yenni menerima hamparan nikmat yang dilayankan oleh Pak Daud. Bagaimana Yenni menjawab tulus telah tersalurnya syahwat yang terpendam 11 bulan. Bagaimana Yenni mengungkapkan ‘thanks’nya kepada Pak Daud atas sensasi-sensasi yang begitu melimpah dari kekerasan dan kekasaran fisiknya. Jawabannya adalah desah, lenguh serta rintihan syahwatnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Dengan desah, lenguh dan rintihan itu Yenni telah mendongkrak semangat Pak Daud menjadi berlipat kali. Dia semakin kiprah dengan jilatan dan kecupannya. Dan pada kelanjutannya Pak Daud membopong Yenni dan memindahkannya ke atas ranjang.</p>
<p style="text-align: justify;">Yenni tak merasakan apa-apa lagi saat tubuhnya dibopong Pak Daud. Dia sedang larut dalam arus birahinya. Bagi Pak Daud yang kuli panggul itu membopong Yenni bukanlah hal yang berat. Otot-otot lengannya nampak mengeluarkan bisepnya saat tubuh Yenni dalam bopongannya.</p>
<p style="text-align: justify;">Arus birahi Yenni menuntun spontan untuk memeluki bahu dan leher Pak Daud. Dengan posisi begitu Pak Daud dengan hati-hati meletakkan tubuh Yenni ke kasur empuk ranjangnya. Dan saat itulah Yenni yang semula memeluki leher kini dia menenggelamkan wajahnya ke leher itu dan menyentuhkan bibirnya. Pak Daud tahu Yenni dalam keadaan sangat haus. Dia merasakan nafas Yenni di lehernya. Juga saat bibir Yenni menyentuh pori-pori lehernya yang membuat Pak Daud kini ganti mengeluarkan desahannya.</p>
<p style="text-align: justify;">Memang Yenni telah terayun dalam gelombang birahi. Ciuman yang meninggalkan cupang-cupang pada tubuhnya membuat Yenni terlempar tinggi dalam orbit syahwatnya. Yenni menjadi demikian haus dan kering tenggorokannya. Dia ingin ada sesuatu yang bisa membasahkan rongga mulutnya. Dengan sedikit menyentuhkan bibirnya ke leher Pak Daud dia bisa merangsang liurnya keluar dari kelenjarnya hingga kering mulutnya terhindari.</p>
<p style="text-align: justify;">Namun saat dia mendengar desah Pak Daud akibat dari sentuhan bibirnya itu, birahinya yang memang telah bangkit langsung terdongkrak. Dia mulai merubah sentuhannya menjadi kecupan kemudian gigitan kecil. Tangannya bergerak menggapai dada Pak Daud kemudian meremasi otot-ototnya yang liat. Dia rogohkan tangannya masuk ke dalam kemeja pengantinnya yang belum dilepaskannya. Yenni menjawab desah Pak Daud dengan rintihan kehausan.</p>
<p style="text-align: justify;">Pak Daud tanggap pada apa yang kini menyergap ‘istrinya’. Dia harus melakukan peranannya selaku ’suami’ dengan sebaik-baiknya. Dia tindih tubuh Yenni untuk kemudian mendekatkan wajahnya ke wajah Yenni. Bibir Pak Daud dengan rakusnya menerkam bibir Yenni. Lidahnya diruyakkan ke mulut Yenni untuk mendapatkan lidah Yenni pula. Gayung bersambut.</p>
<p style="text-align: justify;">Yenni yang demikian kehausan langsung menerkam balik mulut Pak Daud. Dia tak lagi terpikir mengenai bau mulut kuli panggul terminal kota ini, meskipun Pak Daud memang tidak punya masalah dengan bau mulut. Yang dia rasakan kini adalah kenikmatan saling pagut dan lumat antara mulutnya dengan mulut Pak Daud. Lidah dan ludah ’suami istri’ itu saling bertukar. Mereka telah menyatu dalam ketunggalan arus syahwat birahi. Yenni bersama Pak Daud mulai mengarungi samudra nikmatnya pengantin baru. Desah dan lenguh saling bersahutan keluar dari mulut Yenni dan Pak Daud. Sebuah peristiwa Hak dan Kewajiban suami dan istri sedang berlangsung di kamar mewah keluarga orang tua Yenni. Jam dinding yang berdetak-detak tak lagi mengganggu keasyikan dua insan dalam mengarungi nikmatnya nafsu birahi.</p>
<p style="text-align: justify;">Tangan-tangan lentik Yenni nampak tanpa ragu dan tak sabar melepasi kancing kemeja Pak Daud. Begitu terbuka sedikit dan dia melihati gempalnya otot-otot dada suaminya Yenni tak mampu menahan diri. Dia dekatkan bibirnya. Hidungnya mencium bau alami dari keringat tubuh kuli panggul yang kini adalah suaminya ini. Bau itu sangat menyentuh nuraninya. Yenni merasa jauh dari yang serba artifisial dan industri. Dia merasa jatuh ke pangkuan alam yang penuh jujur dan bening.</p>
<p style="text-align: justify;">Yenni merasakan gairah birahi yang beda dengan yang pernah dikenalnya saat bersama Ryan suaminya dulu. Kontras latar belakang baik secara fisik maupun non fisik antara dirinya dengan diri ’suaminya’ membuahkan sensasi sendiri. Dia semakin merasa terangsang secara seksual dalam tindihan tubuh Pak Daud yang kokoh dan kasar itu. Gairah libidonya membakar semangat syahwatnya untuk melakukan apapun yang dia inginkan. Yenni tak lagi tersendat oleh harga diri, martabat, status sosial yang dia cangking dari kerabat besarnya. Yenni ingin jadi Yenni pribadi. Yenni ingin mengekspresikan kehendak syahwatnya secara jujur dan lugas.</p>
<p style="text-align: justify;">Dia tak lagi menunda keinginan syahwatnya. Dengan penuh nafsunya dia mengemoti dada Pak Daud. Dia mencaplok susu Pak Daud. Dia gigit-gigit kecil putingnya. Dia juga pelukkan tangannya ke punggung ’suaminya’ dan mencakar-cakarkan kecil kuku-kukunya ke daging punggungnya yang liat.</p>
<p style="text-align: justify;">Sungguh sebuah karunia dunia yang kini sedang melanda nikmat pada diri Pak Daud. Seorang perempuan secantik dewi tengah nyungsep di dadanya. Pentil susunya sedang dalam lumatan bibir-bibir mungil Yenni yang ‘istrinya’ ini. Kenikmatan tak bertara yang dia baru pertama rasakan seumur hidupnya. Kemaluannya langsung ngaceng membengkak dan menonjol dalam celananya. Dia kini lebih berani untuk menindihkan selangkangannya ke paha istrinya. Dia juga gesek-gesekkan tonjolan itu. Dia ingin tunjukkan betapa organ vitalnya telah demikian haus untuk menyentuhi tubuh Yenni.</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam posisinya yang tertindih, Yenni menerima isyarat syahwat Pak Daud. Dia tahu yang menggesek-gesek pada pahanya adalah Kontol kuli panggul yang kini ’suaminya’ itu. Dia merasakan ada hangat dari tonjolan celana Pak Daud. Dia kembali merasa bahwa akan mengalami sensasi yang lain. Dia akan menjamah dan dijamah Kontol lain dari lelaki lain yang sama sekali tidak dikenalnya sebelum ini. Macam apakah wujudnya? Semacamkah dengan milik Ryan yang bekas suaminya itu? Sebuah dorongan untuk menyibak keingintahuan mendesaki rongga hati Yenni. Dia meng’egos’kan pinggul dan pantatnya. Yenni menjawab isyarat syahwat Pak Daud dengan isyarat pula. Pinggul dan pantatnya menjemput desakan Kontol Pak Daud pada pahanya. Yenni juga mengeluarkan desahan dan rintih panjang. Yenni nampak amat haus dan menuntut untuk dipuaskan oleh Pak Daud.</p>
<p style="text-align: justify;">Pak Daud menjawab tuntutan Yenni dengan nalurinya. Dia bangkit melepaskan emotan bibir Yenni pada puting-puting susunya. Dengan kobaran birahinya dia turun ke selangkangan ‘istrinya’. Tangannya merenggut pinggul untuk merangkul pahanya. Dia mulai dengan menciumi perut Yenni yang langsung merespon dengan menggelinjang dan berteriak dalam desahannya. Kegelian erotis yang luar biasa menyerang Yenni. Jilatan dan sedotan pada pori-pori perut yang sarat dengan saraf-saraf peka membuat Yenni kelojotan dan menggeliat-geliat.</p>
<p style="text-align: justify;">Sementara itu tangan-tangan Pak Daud juga meremasi bongkahan pantatnya yang sungguh indah itu. Yenni benar-benar mendapatkan sensasi seksual yang luar biasa dari lelaki yang baru dikenalnya ini. Demikian birahinya yang mendesak-desaki saraf-saraf peka itu membuat Yenni tak lagi mampu mengontrol gejolak syahwatnya. Dia tak lagi menahan teriakannya. Dia meraung keras seakan hendak memecah kaca-kaca dan menggetarkan kain gorden kamarnya. Dia cabik-cabik bahu Pak Daud. Dia betot gumpalan otot kuli panggulnya. Kemudian dia sorong kepalanya. Yenni sudah sangat ingin Pak Daud merambahkan bibirnya ke vaginanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Pak Daud memang tersorong ke bawah tetapi belum ingin memenuhi tuntutan Yenni. Dia tidak atau belum menyentuh vagina ‘istrinya’ yang kini masih terbungkus celana dalam putih itu. Dia menenggelamkan mukanya ke selangkangan wanita cantik ini. Dia menciumi dan menjilati dengan penuh histeris kedua selangkangan sang dewi ‘istrinya’ itu. Pak Daud ingin menghirupi sebanyak aroma yang menebar dari lembah dan palung-palung selangkangan yang demikian bersih dan memancarkan pesona itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Jangan tanyakan lagi bagaimana gelinjang yang menerjang sanubari Yenni. Pantatnya dia angkat-angkatnya untuk menjemputi bibir Pak Daud dan tangannya meremas jengkel penuh geregetan syahwatnya. Dia jengkel kenapa Pak Daud tidak lekas nyungsep ke lubang kemaluannya. Tetapi dia juga menikmati betapa lidah-lidah dan bibir-bibir Pak Daud menjilati dan mengulum-kulum seluruh kawasan selangkangannya itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Sekali lagi Pak Daud belum ingin menyentuh vagina istrinya. Dari selangkangnya dia sedikit meng’egos’kan wajahnya untuk menyentuhi celana dalam Yenni untuk kemudian cepat menurunkan jilatan dan kecupan bibirnya ke kedua paha Yenni. Uuuhhh… Bagaimana Pak Daud tidak terpana. Paha Yenni ini benar-benar paha yang… Uuhh… Pak Daud tak mampu mengistilahkan. Dia tak kuasa menyebutkannya. Keindahan paha Yenni seakan tak tersentuhnya. Nyaris tak kuat memandanginya. Pak Daud hanya terus mengecupi dan menjilatinya. Sepanjang itu pula hidungnya terus menerus diterpa wangi tubuh ‘istrinya’.</p>
<p style="text-align: justify;">Pak Daud menyadari bahwa tak mungkin membiarkan Yenni terlampau lama disiksa syahwat birahinya. Tak mungkin membiarkan Yenni menunggu dengan kejam permainan libidonya. Pak Daud menyadari bahwa Yenni telah sangat tak tertolongkan. Dia harus cepat dipenuhi tuntutan kehausannya.</p>
<p style="text-align: justify;">Dilepaskannya kancing celana yang pinjaman dari bapak Yenni untuk acara ijab kabul ini. Dia tolak dan perosotkan celana pinjaman itu dan dilepaskannya ke lantai. Dia juga lepaskan sisa kemejanya. Kini Pak Daud menindih tubuh Yenni dengan sepenuhnya telanjang. Kemudian dia mengisyaratkan kepada ‘istrinya’ bahwa dirinya telah lepas busana. Dia naik kembali untuk menerkam susu-susu ranum Yenni. Bibirnya mengemoti puting-putingnya. Dan dia juga membiarkan Kontolnya yang telah demikian keras dan ngaceng lepas untuk menekan paha Yenni.</p>
<p style="text-align: justify;">Yenni merasa Pak Daud mempermainkannya. Syahwat birahinya marah dan mengamuk. Dia betot otot-otot tubuh Pak Daud dengan cakarnya. Dia lampiaskan kemarahan birahinya yang panas membara. Dia teriak dan menangis histeris,</p>
<p style="text-align: justify;">“Mas…, kamu kejam!! Kejam!! Ampuunnn…! Ayyoo.. Masss…! Cepat mas…, kamu telah menyiksa aku masss…!! “. Tangannya juga memukuli bahu ‘suami’nya yang bidang itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Ucapannya yang terakhir ini disertai dengan amuk tubuhnya. Dia bangkit bak singa betina lapar. Dia bangun dengan tangannya cepat mencari untuk menerkam kontol Pak Daud. Dan… Kena!</p>
<p style="text-align: justify;">Tangan itu bisa meraih dan menangkap kemaluan Pak Daud. Tetapi seketika pula dia cepat lepaskan. Yenni sungguh terkaget dan terpana. Dia sama sekali tidak membayangkan akan apa yang sesaat tadi di raihnya. Dia sangat kaget hingga tubuhnya tersentak. Dia mendapatkan kontol yang sangat hewaniah. Kemaluan Pak Daud hampir tak tergenggam oleh telapaknya. Kontol itu hhaahh… Kenapa demikian ukurannya. Sangat besar, keras dan demikian panjangnya. Sangat tak sepadan dan begitu jauh dengan kontol milik Ryan mantan suaminya itu. Yenni berbalik dengan kengerian. Adakah dia harus melayani monster ini?</p>
<p style="text-align: justify;">Tetapi lumatan bibir-bibir nikmat Pak Daud yang ’suaminya’ di puting-puting susunya memberikan jawaban pada syahwat Yenni. Lumatan bibir Pak Daud itu macam api pemicu. Lumatan itu juga disertai gigitan kecil yang sangat pedas. Pedasnya ini merambati saraf-saraf libidonya menuju kawasan yang paling peka di tubuhnya. Kemaluan Yenni tak lagi mau menunggu keraguan pemiliknya. Memek Yenni kini telah demikian membasah oleh cairan birahinya. Dia, kemaluan itu telah menantikan kemaluan gede Pak Daud memasuki gerbangnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Dan Yenni, yang sementara dalam keraguan berada di persimpangan, tanpa dia sadari sepenuhnya kini tangannya bergerak dengan sangat cepat.</p>
<p style="text-align: justify;">Tangan-tangan Yeni merengkuh dan menarik lepas celana dalamnya sendiri. Dia angkat menjulang tungkai kakinya untuk melepas keluar potongan kecil kain putih celana dalamnya itu. Dan kini Yenni telanjang bulat… Dia tunjukkan keindahan kewanitaannya. Dia tampakkan rahasia kemaluannya yang diseputari rambut-rambut halus tipis yang sangat mempesona. Dia pamerkan betapa kelentitnya merebak lebar simetris macam sayap-sayap kupu dengan warna merah bak anggur yang matang siap panen. Duh… Sungguh indahnya kelentit itu…</p>
<p style="text-align: justify;">Pengantin putri ini telah siap memberikan keindahan tubuhnya untuk melayani kebutuhan nafkah batin bagi pengantin prianya. Ketakutan Yenni telah sirna. Dia yakin ’suaminya’ akan membimbingnya dalam menapaki nikmat surga dunia. Dan itulah yang kini sedang dirintis Pak Daud.</p>
<p style="text-align: justify;">Dia menguakkan paha istrinya dan membuka jalan bagi kemaluannya untuk mendekat ke gerbang vagina Yenni. Yenni menutup matanya. Dia ngeri menyaksikan monster itu. Dia hanya percayakan kepada Pak Daud dan menunggu serta merasakan apa yang terjadi.</p>
<p style="text-align: justify;">Agak terkaget saat ujung Kontol Pak Daud menyentuh bibir kemaluannya. Tetapi kaget itu langsung sirna tergantikan rasa gatal sekaligus haus yang sangat. Dia tak sabar lagi untuk merasakan kemaluan Pak Daud menerjangi gerbang vaginanya. Pantatnya naik dan bibir kemaluannya menjemput.</p>
<p style="text-align: justify;">Jerit sakit dan pedih erotis dari mulut Yenni terdengar memenuhi kamarnya. Pak Daud telah mulai menekankan batang kemaluannya ke gerbang kemaluan Yenni. Dia menekan tubuh atletisnya untuk mendorong dan menembus. Dan uucchh… Bagaimana Yenni akan tahan? Kemaluan itu sangat sesak menerobosi vagina Yenni yang demikian sempitnya. Sesudah 11 bulan tak pernah digauli adakah kemaluan ini menyempit? Rasa sakit dan pedih langsung menerpa Yenni. Sakitnya mengingatkan saat kehilangan selaput perawannya dulu. Adakah Pak Daud juga merasakan seakan hendak menyobek selaput perawannya juga yang untuk ke dua kalinya?</p>
<p style="text-align: justify;">Basah birahi dari lubang vagina Yenni tidak banyak membantu. Yenni mengaduh-aduh dalam rintihan dan desahannya meninggalkan iba. Tetapi Pak Daud tak kenal menyerah.</p>
<p style="text-align: justify;">Dia coba lagi dengan tambahan ludahnya untuk pelicin. Tetapi tak juga membuahkan kelancaran. Akhirnya Pak Daud merubah cara. Dia turun ke selangkangannya. Dia hadapkan wajahnya ke vagina Yenni. Dia dekatkan bibirnya. Pak Daud langsung melumatkan mulutnya ke vagina Yenni. Dengan penuh kelembutan dia melumati seperti melumati bibir Yenni. Dengan penuh perasaan dia mengulum sepasang kupu-kupu kelentitnya seperti mengulum lidah di bibir Yenni. Dengan penuh selera dia menghisap cairan-cairan birahi Yenni dan menelannya. Dengan penuh kecapan dia nikmati rasa asinnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Pak Daud berusaha menghilangkan ketegangan ataupun ketakutan ataupun keraguan pada diri Yenni. Dengan cara ini Pak Daud telah membuat lubang vagina Yenni menjadi lebih lemas dan relaks. Dan bagi Yenni sendiri akan membantu mengurangi ketegangan.</p>
<p style="text-align: justify;">Bermenit-menit Pak Daud melakukan olahan pada vagina Yenni hingga dia yakin bahwa Yenni telah siap untuk menerima tusukkan kemaluannya. Dan Yenni… Dia sungguh merasakan kelembutan dan lumatan bibir Pak Daud di vaginanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Dia terbang ke awang nikmat dan terbuai dalam alun syahwat yang tenang tetapi sangat menghanyutkan. Dalam situasi begitu Yenni yang kembali menarik kepala Pak Daud ke atas untuk kembali menusukkan kemaluannya pada vaginanya. Tangan Yenni kini tak ragu untuk menggenggam dan meraih Kontol Pak Daud untuk dituntunnya ke arah lubang vaginanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Dan… Yenni merasakan betapa nikmatnya saat kepala Kontol Pak Daud mulai menguak gerbang vaginanya. Dia mengegoskan pantatnya untuk lebih mendesak dan melincirkannya. Kemudian… Blleezzz… Blezzz… Blezzz… Senti demi senti… Pelannn… Yenni merasakan batang gede penuh otot milik ’suaminya’ itu meretas masuk menembusi dinding peka vaginanya. Dorongan pelan-pelan Pak Daud pada Kontolnya untuk menembusi vaginanya sungguh menjadi sensasi nikmat yang tak terpana. Dia merasakan betapa setiap saraf pekanya berinteraksi dengan kehadiran batang kemaluan Pak Daud itu. Yenni hanya bisa mendesah sambil menutup matanya, merasakan mili demi mili dinding vaginanya mencengkeram menahan gesekan Kontol Pak Daud. Air matanya keluar. Dalam badai nikmatnya Yenni menangis sesenggukan…</p>
<p style="text-align: justify;">Yenni tahu… Puncak nikmat ini harus dia tebus dengan seluruh hidupnya. Dengan membiarkan kenikmatan ini melandanya berarti Yenni harus rela melapas segala milik sebelumnya. Dia tak mungkin kembali kepada Ryan. Dan mungkin dia juga tak diterima ayah-ibunya lagi. Dengan menerima Pak Daud berarti dia berseberangan dengan keluarganya termasuk keluarga Ryan.</p>
<p style="text-align: justify;">Tetapi memang, Yenni sekarang bukan Yenni beberapa jam yang lalu. Dia akan terbuka dan jujur pada siapapun demi kebahagiaan hidupnya. Yenni sekarang adalah Yenni yang sesungguhnya, Yenni yang sejati. Yenni yang akan mengarungi sepenuh hidupnya sejalan dengan keyakinan yang di anutnya. Yenni sekarang adalah ‘nyonya Daud’ yang kuli panggul terminal kota itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Tetapi Yenni merasa sangat mulia. Dia tak perlu khawatir dengan hidup. Siapa sih yang mengaturNya? Siapa sih yang mampu menolakNya? Siapa sih yang mampu menghindariNya?</p>
<p style="text-align: justify;">Tiba-tiba dia merasakan begitu ribuan nikmat sedang merambati tubuhnya. Dari segala arah tubuhnya menggelinjang menerima rambatan nikmat itu. Dia rasakan ada semacam desakan yang menjebol saraf-saraf birahi dari dalam vaginanya. Sesuatu yang tak bisa dihindarinya. Dia tahu orgasmenya akan meledak. Dan kini perasaan nikmat yang tak terhingga membawanya terbang ke awang-awang. Terbang itu semakin tinggi dan semakin tinggi sejalan dengan pompaan Kontol Pak Daud ke dalam kemaluannya. Kini yang dirasakan adalah kelimbungan yang sangat tak terkira.</p>
<p style="text-align: justify;">Dia gemetar hebat. Tangan-tangannya merasakan perlu memegang sesuatu. Jari-jarinya meraba-raba dan mendapatkan tepian seprei kasurnya. Dia langsung meremasinya. Dia seakan ingin mencabik-cabiknya. Dia kini mulai memasuki keadaan trance. Keringatnya nampak mengucur dari dahinya. Nikmat syahwat yang melandanya mengantar kesadaran Yenni melambung dalam orbit birahinya. Dia akan merobeki apapun yang dijamahnya. Daaann… Akhirnyaaa…</p>
<p style="text-align: justify;">Yenni seakan tak mampu menerima kenyataan nikmat itu. Dia hentakan kepalanya ke depan dan ke belakang kemudian juga ke kanan dan ke kiri. Dia seperti bergeleng atau mengangguk dengan cepat hingga rambutnya terlempar ke sana-sini. Itulah saat orgasme Yenni saat turun melandanya. Dada Pak Daud merah karena luka cakaran Yenni. Tapi dia mampu mengabaikannya. Dia sungguh terpana dengan apa yang disaksikannya. Nafsu birahi Yenni seakan ludas tertumpahkan. Dia menyaksikan perempuan yang maksimal dan tanpa hambatan meraih orgasmenya. Dan karena itu pula nafsu syahwat Pak Daud terdongkrak. Dia juga mencapai orgasmenya. Ejakulasinya menyertai orgasme istrinya semenit kemudian.</p>
<p style="text-align: justify;">Dari kemaluannya yang kencang dan menyemprot kuat telah ditumpakannya sperma yang berlimpah-limpah hingga menggenang membasahi sprei. Sperma kuli panggul terminal kota itu ternyata harum dan wangi bagi haribaan diri Yenni. Dalam keadaan menuntaskan orgasmenya Yenni meraup tumpahan sperma suaminya untuk dia lulurkan ke wajahnya, lehernya dan dadanya dengan sepenuh hasrat birahinya. Dia mengendusi aromanya. Yenni mendapatkan perasaan damai di sana.</p>
<p style="text-align: justify;">Pak Daud kagum atas apa yang dilihatnya. Dia melihat kepasrahan Yenni sebagai istrinya telah total diberikan untuk memenuhi kepuasan nafkah batinnya. Dia merasakan ada getaran rasa cinta abadi merambat dalam hatinya. Mungkinkah…? Yeennn… Mungkinkah?? Mungkinkah…?? Ahhh…, segera Pak Daud menepis pikiran ngelanturnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Hari pertama sesudah ijab kabul itu mereka benar-benar tidak keluar kamar. Semua kebutuhan makan dan minum disediakan oleh para pelayannya tanpa mereka berani mempertanyakan apa yang dilakukan pengantin baru ini. Yenni sendiri selalu menampakkan wajah segar dan ayunya setiap memanggil pelayan untuk menyediakan kebutuhannya.</p>
<p style="text-align: justify;">Yenni bersama Pak Daud memenuhi harinya dengan sepenuhnya memadu cinta berasyik masyuk. Mereka melakukan hubungan suami-istri di manapun. Dari ranjang turun ke karpet. Dari karpet pindah ke sofa. Dari sofa pindah lagi ke tepian bak mandi. Bahkan dengan duduk di atas kloset Pak Daud juga memangku Yenni yang begitu ketagihan dalam menikmati kemaluan gedenya dan melakukan gerakan naik-turun secara liar di pangkuannya.</p>
<p style="text-align: justify;">Segala cara dan gaya mereka lakukan untuk memetik nikmat syahwat. Tak ada satu titikpun di tubuh Yenni yang tidak tersapu lidahnya. Dan Yenni sendiri menerima sensasi nikmat yang tak terucapkan saat Pak Daud menciumi pantatnya dan menjilati lubang duburnya. Bagi Yenni apa yang dilakukan Pak Daud itu menjadi pertanda betapa dia mau melakukan apapun demi cintanya pada Yenni.</p>
<p style="text-align: justify;">Bagi Yenni sendiri, Pak Daud memang sosok lelaki yang spektakuler. Dia menyukai setiap detil dari suami barunya itu. Sikapnya yang dewasa, humoris dan bijaksana. Tubuhnya yang padat atletis, bibirnya yang tebal dan seksi. Teknik ciumannya yang maut, tak kalah dengan adegan-adegan intim di film-film romantis Barat. Desahan beratnya yang terdengar sangat merdu di telinga Yenni, dan staminanya yang dahsyat setiap kali mereka bercinta. Jarang sekali Yenni tidak orgasme setiap kali dia bercinta dengan Pak Daud. Beda jauh dengan Ryan, yang tidak seperkasa Pak Daud dalam hal hubungan seksual.</p>
<p style="text-align: justify;">Dan terutama kontolnya yang besar, panjang, dan keras, yang selalu membuatnya tergila-gila.</p>
<p style="text-align: justify;">Tak bisa dipungkiri adanya perkembangan yang sangat beda dari skenario awal. Dari pergumulan penuh hasrat dari pasangan pengantin baru ini, tumbuh pada diri Yenni maupun Pak Daud suatu getaran keabadian. Pada mereka belum saling membuka diri. Tetapi getaran itu tak bisa terpungkiri merambati hati sanubari mereka. Yenni masih menyimpannya dalam-dalam. Dan Pak Daud tergiring dalam sangkar pertanyaan yang tak mampu dijawabnya. Mungkinkah? Mungkinkah…??</p>
<p style="text-align: justify;">Pada hari kedua, orang tua Yenni menelpon. Mereka bilang tak akan pulang kerumah itu sebelum si Daud gila itu pergi dari rumahnya. Yenni tak sempat menjawabnya karena sambungannya telah langsung ditutup. Yenni semakin merasa bahwa dia hidup dikelilingi budaya yang penuh ego. Mereka hanya berpikir dari sudutnya. Mereka seperti orang dagang yang hanya menghitung untung atau rugi.</p>
<p style="text-align: justify;">Kepada pelayan di rumah dia pesan agar kepada semua penelpon yang ingin ketemu dia agar bilang sedang tidak mau diganggu.</p>
<p style="text-align: justify;">Pada hari ke tiga datang 2 orang utusan orang tua Yenni. Utusan tersebut membawa check cash senilai Rp. 30 juta untuk Pak Daud, draft Surat Pernyataan Menceraikan Yenni ber-meterai yang harus ditanda tangani Pak Daud dan surat pengantar yang isinya agar Pak Daud menanda tangani Surat Pernyataan terlampir berikut ucapan terima kasih atas bantuannya dari orang tua Yenni. Juga disebutkan agar Pak Daud selekasnya berpisahan dengan Yenni dan meninggalkan rumahnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Yenni bersama Pak Daud dengan penuh senyum dan lapang dada menanggapi semua kiriman orang tua Yenni tersebut. Kemudian mereka minta waktu untuk menulis jawaban atas surat tersebut. Yenni memanggil pelayan agar membuatkan minuman bagi mereka. Kedua orang utusan orang tua Yenni menunggu di ruang tamu sementara Yenni bersama Pak Daud kembali ke kamarnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Begitu masuk kamr mereka kembali berpagutan. Yenni dan Pak Daud langsung mencebur ke samudra birahi untuk mengarungi nikmatnya syahwat. Keduanya saling melepasi busana lawannya sebelum rebah ke ranjang. Pak Daud menelusurkan bibir dan lidahnya ke kaki-kaki Yenni. Dia menjilati dan menggigiti jari-jari, tumit dan telapak cantiknya Yenni. Aroma sepatu Yenni pada telapaknya menambah rangsangan syahwat Pak Daud.</p>
<p style="text-align: justify;">Lidah Pak Daud yang menyentuhi kaki-kakinya langsung membakar nafsu birahinya. Yenni menarik lengan Pak Daud untuk saling berpelukan. Kali ini Yenni mengambil inisiatip untuk menindih tubuh kekar Pak Daud. Sambil menggigiti dada yang penuh otot dan meremasi perut sixpack suaminya, tangannya meraih kemaluan Pak Daud yang telah siap tegak kaku. Dia arahkan kepalanya ke vaginanya. Dan pelan tetapi pasti… Blezzz… Kemaluan Yenni menelan seluruh batangan Kontol Pak Daud.</p>
<p style="text-align: justify;">Yang terdengar kemudian desah dan rintih keduanya yang saling bersahutan. Mereka langsung mendayung nikmat untuk mencari pelabuhan orgasmenya. Sodokan kontol Pak Daud menusuki ke berbagai arah untuk menyentuhi titik peka di dinding vagina Yenni. Dan Yenni menggerakkan tubuhnya seperti tukang cuci yang sedang menggilas sambil menggeliat-geliatkan pinggul dan pantatnya untuk melumat-lumat nikmat batangan sesak dalam cengkeraman vaginanya yang sempit itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Mereka membiarkan para utusan di bawah untuk menunggunya hingga saat puncak itu datang 20 menit kemudian. Orgasme Yenni mendekati gerbangnya. Sperma Pak Daud siap untuk tumpah. Tangan Yenni kembali mengacak-acak seprei seakan hendak merobek-robeknya. Dan tak terbendung lagi… Puncak nikmat itu datang menerpa mereka berdua. Yang terdengar kemudian adalah mulut Yenni yang meracau…</p>
<p style="text-align: justify;">“Tak kan kulepaskan kamu, Masss… Takkan kulepaskan… Jangan tinggalkan aku Maasss… “.</p>
<p style="text-align: justify;">Itulah kalimat dan kata-kata jawaban Yenni bersama Pak Daud untuk orang tua Yenni. Kalimat dan kata-kata itu tertera pada draft surat yang harus ditanda tangani oleh Pak Daud. Di bawah tulisan itu ditorehkan nama Ny. Yenni Daud. Yenni menanda tangani draft tersebut tepat di atas meterai yang tersedia. Menyertai surat itu, dikembalikan pula check cash Rp. 30 juta untuk Pak Daud. Berdasarkan ketrampilan dan pengalaman yang dimiliknya mereka berdua yakin bisa hidup secara mandiri. Khususnya bagi Pak Daud cara itu dia tempuh paling baik untuk menghindarkan penilaian tidak sehat dari orang tua Yenni.</p>
<p style="text-align: justify;">Demikianlah awal dari kehidupan langgeng suami istri Daud dan Yenni. Mereka tak membicarakan beda umur, beda status, beda tampilan, beda kekayaan. Mereka lebih memilih kejujuran yang bening. Mereka ingin menjadi bagian yang konkrit dari kebenaran semesta. Mereka mampu memilih jalan lurusnya sendiri. Mereka mampu melapaskan diri dari hukum-hukum konvensional yang membelenggu pribadi manusia. Mereka berhasil menjadi diri pribadi.</p>
<p style="text-align: justify;">Sesudah 3 hari berargumentasi dan berdebat dengan lingkungan keluarganya dan keluarga Ryan, mereka ternyata tak bisa lepas dari kenyataan konvensional lingkungannya. Dan oleh karenanya dengan lapang dada pasangan Yenni dan Daud memilih pindah dan tinggal jauh dari kota aslinya. Dia kembali ke alam terbuka di kaki sebuah gunung.</p>
<p style="text-align: justify;">Di kebun sayurnya yang luas ada mata air yang jernih, setiap pagi keduanya mencuci mukanya dari mata air itu. Dari situ mereka mendapatkan matanya selalu bening untuk melihati kenyatan hidup ini. Memang, akhirnya Daud dan Yenni tak banyak memerlukan apa-apa. Dia hanya akan meluruskan hidupnya, menjemput generasi penerusnya dan menempuh kesadaran hakikinya sebagai landasan kehidupannya.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ceritasex.cn/kesempatan-dalam-kesempitan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tetangga Depan Rumah</title>
		<link>http://www.ceritasex.cn/tetangga-depan-rumah/</link>
		<comments>http://www.ceritasex.cn/tetangga-depan-rumah/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 25 Oct 2011 08:04:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cerita Sex</dc:creator>
				<category><![CDATA[Paruh baya]]></category>
		<category><![CDATA[Seks Umum]]></category>
		<category><![CDATA[selingkuh]]></category>
		<category><![CDATA[binal]]></category>
		<category><![CDATA[gairah]]></category>
		<category><![CDATA[istri]]></category>
		<category><![CDATA[istri tetangga]]></category>
		<category><![CDATA[liar]]></category>
		<category><![CDATA[mesum]]></category>
		<category><![CDATA[ngentot]]></category>
		<category><![CDATA[orgasme]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ceritasex.cn/?p=2971</guid>
		<description><![CDATA[Cerita panas ini terjadi beberapa waktu lalu, memang sebenarnya cerita panas ini termasuk ga lazim, namun cerita seks semacam ini seru banget lo, karena awalnya hanya gurauan sekarang menjadi kisah panas yang sangat menarik, mungkin bagi anda para suami yang menginginkan hal panas maksudnya dalam seks bisa mencoba hal ini. Cerita tersebut berawal dari istriku [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Cerita panas ini terjadi beberapa waktu lalu, memang sebenarnya cerita panas ini termasuk ga lazim, namun cerita seks semacam ini seru banget lo, karena awalnya hanya gurauan sekarang menjadi kisah panas yang sangat menarik, mungkin bagi anda para suami yang menginginkan hal panas maksudnya dalam seks bisa mencoba hal ini. Cerita tersebut berawal dari istriku saat akan tidur, yang mengatakan bahwa evi tetangga depan rumah aq ternyata mempunyai suami yang impoten, aq agak terkejut tidak menyangka sama sekali, karna dilihat dari postur suaminya yang tinggi tegap rasanya tdk mungkin, memang yg aku tau mereka telah berumah tangga sekitar 5 tahun tapi blm dikaruniai seorang anakpun.</p>
<p style="text-align: justify;">“bener pah, td evi cerita sendiri sm mama” kata istriku seolah menjawab keraguanku,“wah, kasian banget ya mah, jadi dia gak bisa mencapai kepuasan dong mah?” pancingku“iya” sahut istriku singkat.</p>
<p style="text-align: justify;">pikiran aku kembali menerawang ke sosok yg diceritakan istriku, tetangga depan rumahku yang menurutku sangat cantik dan seksi, aku suka melihatnya kala pagi dia sedang berolahraga di depan rumahku yang tentunya di dpn rumahku jg, kebetulan tempat tinggal aku berada di cluster yang cukup elite, sehingga tidak ada pagar disetiap rumah, dan jalanan bisa dijadikan tempat olahraga, aku perkirakan tingginya 170an dan berat mungkin 60an, tinggi dan berisi, kadang saat dia olahraga pagi aku sering mencuri pandang pahanya yang putih dan mulus karena hanya mengenakan celana pendek, pinggulnya yg besar sungguh kontras dengan pinggangnya yang ramping, dan yang sering bikin aku pusing adalah dia selalu mengenakan kaos tanpa lengan, sehingga saat dia mengangkat tangan aku dapat melihat tonjolan buah dadanya yg keliatannya begitu padat bergotang mengikuti gerakan tubuhnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Satu hal lagi yang membuat aku betah memandangnya adalah bulu ketiaknya yang lebat, ya lebat sekali, aku sendiri tidak mengerti kenapa dia tidak mencukur bulu ketiaknya, tapi jujur aja aku justru paling bernafsu saat melihat bulu ketiaknya yang hitam, kontras dengan tonjoilan buah dadanya yg sangat putih mulus. tapi ya aku hanya bisa memandang saja karna bagaimanapun juga dia adalah tetanggaku dan suaminya adalah teman aku. namun cerita istriku yang mengatakan suaminya impoten jelas membuat aku menghayal gak karuan, dan entah ide dari mana, aku langsung bicara ke istriku yang keliatannya sudah mulai pulas.</p>
<p style="text-align: justify;">“mah” panggilku pelan<br />
“hem” istriku hanya menggunam saja<br />
“gimana kalau kita kerjain evi”<br />
“hah?” istriku terkejut dan membuka matanya<br />
“maksud papa?”<br />
Aku agak ragu juga menyampaikannya, tapi karna udah terlanjur juga akhirnya aku ungkapkan juga ke istriku,<br />
“ya, kita kerjain evi, sampai dia gak tahan menahan nafsunya”<br />
“buat apa? dan gimana caranya?” uber istriku<br />
lalu aku uraikan cara2 memancing birahi evi, bisa dengan seolah2 gak sengaja melihat, nbaik melihat senjata aku atau saat kamu ml, istriku agak terkejut juga<br />
<span id="more-2971"></span><br />
apalagi setelah aku uraikan tujuan akhirnya aku menikmati tubuh evi, dia marah dan tersinggung</p>
<p style="text-align: justify;">“papa sudah gila ya, mentang2 mama sudah gak menarik lagi!” ambek istriku tapi untunglah setelah aku beri penjelasan bahwa aku hanya sekedar fun aja dan aku hanya mengungkapkan saja tanpa bermaksud memaksa mengiyakan rencanaku, istriku mulai melunak dan akhirnya kata2 yang aku tunggu dari mulutnya terucap.</p>
<p style="text-align: justify;">“oke deh pah, kayanya sih seru juga, tapi inget jangan sampai kecantol, dan jangan ngurangin jatah mama” ancam istriku.<br />
aku seneng banget dengernya, aku langsung cium kening istriku. “so pasti dong mah, lagian selama ini kan mama sendiri yang gak mau tiap hari” sahutku.</p>
<p style="text-align: justify;">“kan lumayan buat ngisi hari kosong saat mama gak mau main” kataku bercanda istriku hanya terdiam cemberut manja.. mungkin juga membenarkan libidoku yang terlalu tinggi dan libidonya yang cenderung rendah.</p>
<p style="text-align: justify;">keesokan paginya, kebetulan hari Sabtu , hari libur kerja, setelah kompromi dgn istriku, kami menjalankan rencana satu, pukul 5.30 pagi istriku keluar berolahraga dan tentunya bertemu dengan evi, aku mengintip mereka dari jendela atas rumah aku dengan deg2an, setelah aku melihat mereka ngobrol serius, aku mulai menjalankan aksiku, aku yakin istriku sedang membicarakan bahwa aku bernafsu tinggi dan kadang tidak sanggup melayani, dan sesuai skenario aku harus berjalan di jendela sehingga mereka melihat aku dalam keadaan telanjang dengan senjata tegang, dan tidak sulit buatku karena sedari tadi melihat evi berolahraga saja senjataku sudah menegang kaku, aku buka celana pendekku hingga telanjang, senjataku berdiri menunjuk langit2, lalu aku berjalan melewati jendela sambil menyampirkan handuk di pundakku seolah2 mau mandi, aku yakin mereka melihat dengan jelas karena suasana pagi yang blm begitu terang kontras dengan keadaan kamarku yang terang benderang. tapi untuk memastikannya aku balik kembali berpura2 ada yang tertinggal dan lewat sekali lagi, sesampai dikamar mandiku, aku segera menyiram kepalaku yang panas akibat birahiku yang naik, hemm segarnya, ternyata siraman air dingin dapat menetralkan otakku yg panas.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah mandi aku duduk diteras berteman secangkir kopi dan koran, aku melihat mereka berdua masih mengobrol. Aku mengangguk ke evi yg kebetulan melihat aku sbg pertanda menyapa, aku melihat roma merah diwajahnya, entah apa yg dibicarakan istriku saat itu. Masih dengan peluh bercucuran istriku yg masih keliatan seksi jg memberikan jari jempolnya ke aku yang sedang asik baca koran, pasti pertanda bagus pikirku, aku segera menyusul istriku dan menanyakannya<br />
“gimana mah?” kejarku<br />
istriku cuma mesem aja,<br />
” kok jadi papa yg nafsu sih” candanya<br />
aku setengah malu juga, akhirnya istriku cerita juga, katanya wajah evi keliatan horny saat dengar bahwa nafsu aku berlebihan, apalagi pas melihat aku lewat dengan senjata tegang di jendela, roman mukanya berubah.<br />
“sepertinya evi sangat bernafsu pah” kata istriku.<br />
“malah dia bilang mama beruntung punya suami kaya papa, tidak seperti dia yang cuma dipuaskan oleh jari2 suaminya aja”<br />
“oh” aku cuma mengangguk setelah tahu begitu,<br />
“trus, selanjutnya gimana mah? ” pancing aku<br />
“yah terserah papa aja, kan papa yg punya rencana”<br />
aku terdiam dengan seribu khayalan indah,<br />
“ok deh, kita mikir dulu ya mah”<br />
aku kembali melanjutkan membaca koran yg sempat tertunda, baru saja duduk aku melihat suami evi berangkat kerja dengan mobilnya dan sempat menyapaku<br />
“pak, lagi santai nih, yuk berangkat pak” sapanya akrab<br />
aku menjawab sapaannya dengan tersenyum dan lambaian tangan.<br />
“pucuk dicinta ulam tiba” pikirku, ini adalah kesempatan besar, evi di rumah sendiri, tapi gimana caranya? aku memutar otak, konsentrasiku tidak pada koran tapi mencari cara untuk memancing gairah evi dan menyetubuhinya, tapi gimana? gimana? gimana?</p>
<p style="text-align: justify;">sedang asiknya mikir, tau2 orang yang aku khayalin ada di dpn mataku,“wah, lagi nyantai nih pak, mbak yeni ada pak?” sapanya sambil menyebut nama istriku “eh mbak evi, ada di dalam mbak, masuk aja” jawabku setengah gugup evi melangkah memasuki rumahku, aku cuma memperhatikan pantatnya yang bahenol bergoyang seolah memanggilku untuk meremasnya.</p>
<p style="text-align: justify;">aku kembali hanyut dengan pikiranku, tapi keberadaan evi di rumahku jelas membuat aku segera beranjak dari teras dan masuk ke rumah juga, aku ingin melihat mereka, ternyata mereka sedang asik ngobrol di ruang tamu, obrolan mereka mendadak terhenti setelah aku masuk,</p>
<p style="text-align: justify;">“hayo, pagi2 sudah ngegosip! pasti lagi ngobrolin yg seru2 nih” candaku mereka berdua hanya tersenyum.</p>
<p style="text-align: justify;">aku segera masuk ke kamar dan merebahkan tubuhku, aku menatap langit2 kamar, dan akhirnya mataku tertuju pada jendela kamar yang hordengnya terbuka, tentunya mereka bisa melihat aku pikirku, karena di kamar posisinya lebih terang dari diruang tamu, tentunya mereka bisa melihat aku, meskipun aku tidak bisa melihat mereka mengobrol? reflek aku bangkit dari tempat tidur dan menggeser sofa kesudut yg aku perkirakan mereka dapat melihat, lalu aku lepas celana pendekku dan mulai mengocok senjataku, ehmm sungguh nikmat, aku bayangkan evi sedang melihatku ngocok dan sedang horny, senjataku langsung kaku.</p>
<p style="text-align: justify;">tapi tiba2 saja pintu kamarku terbuka, istriku masuk dan langsung menutup kembali pintu kamar. “pa, apa2an sih pagi2 udah ngocok, dari ruang tamu kan kelihatan” semprot istriku “hah?, masa iya? tanyaku pura2 bego.</p>
<p style="text-align: justify;">“evi sampai malu dan pulang tuh” cerocosnya lagi, aku hanya terdiam, mendengar evi pulang mendadak gairahku jadi drop, aku kenakan kembali celanaku. sampai siang aku sama sekali belum menemukan cara untuk memancingnya, sampai istriku pergi mau arisan aku cuma rebahan di kamar memikirkan cara untuk menikmati tubuh evi, ” pasti lagi mikirin evi nih, bengong terus, awas ya bertindak sendiri tanpa mama” ancam istriku “mama mau arisan dulu sebentar” aku cuma mengangguk aja,</p>
<p style="text-align: justify;">5 menit setelah istriku pergi, aku terbangun karna di dpn rumah terdengar suara gaduh, aku keluar dan melihat anakku yg laki bersama teman2nya ada di teras rumah evi dengan wajah ketakutan, aku segera menghampirinya, dan ternyata bola yang dimainkan anakku dan teman2nya mengenai lampu taman rumah evi hingga pecah, aku segera minta maaf ke evi dan berjanji akan menggantinya, anakku dan teman2nya kusuruh bermain di lapangan yg agak jauh dari rumah. “mbak evi, aku pamit dulu ya, mau beli lampu buat gantiin” pamitku</p>
<p style="text-align: justify;">“eh gak usah pak, biar aja, namanya juga anak2, lagian aku ada lampu bekasnya yg dari developer di gudang, kalau gak keberatan nanti tolong dipasang yang bekasnya aja” aku lihat memang lampu yang pecah sudah bukan standar dr developer, tapi otakku jd panas melihat cara bicaranya dengan senyumnya dan membuat aku horny sendiri. “kalau gitu mbak tolong ambil lampunya, nanti aku pasang” kataku “wah aku gak sampe pak, tolong diambilin didalam” senyumnya.</p>
<p style="text-align: justify;">kesempatan datang tanpa direncanakan, aku mengangguk mengikuti langkahnya, lalu evi menunjukan gudang diatas kamar mandinya, ternyata dia memanfaatkan ruang kosong diatas kamar mandinya untuk gudang. “wah tinggi mbak, aku gak sampe, mbak ada tangga?” tanyaku “gak ada pak, kalau pake bangku sampe gak” tanyanya “coba aja” kataku.</p>
<p style="text-align: justify;">Evi berjalan ke dapur mengambil bangku, lambaian pinggulnya yang bulat seolah memanggilku untuk segera menikmatinya, meskipun tertutup rapat, namun aku bisa membayangkan kenikmatan di dalam dasternya. lamunanku terputus setelah evi menaruh bangku tepat didepanku, aku segera naik, tapi ternyata tanganku masih tak sampai meraih handle pintu gudang,<br />
“gak sampe mba” kataku</p>
<p style="text-align: justify;">aku lihat evi agak kebingungan, “dulu naruhnya gimana mbak? ” tanyaku “dulu kan ada tukang yang naruh, mereka punya tangga” “kalau gitu aku pinjem tangga dulu ya mba sama tetangga” aku segera keluar mencari pinjaman tangga, tapi aku sudah merencanakan hal gila, setelah dapat pinjaman tangga aluminium, aku ke rumah dulu, aku lepaskan celana dalamku, hingga aku hanya mengenakan celana pendek berbahan kaos, aku kembali ke rumah evi dgn membawa tangga, akhirnya aku berhasil mengambil lampunya. dan langsung memasangnya, tapi ternyata dudukan lampunya berbeda, lampu yang lama lebih besar, aku kembali ke dalam rumah dan mencari dudukan lampu yg lamanya, tp sudah aku acak2 semua tetapi tidak ketemu jg, aku turun dan memanggil evi, namun aku sama sekali tak melihatnya atau sahutannya saat kupanggil, “pasti ada dikamar: pikirku “wah bisa gagal rencanaku memancingnya jika evi dikamar terus”</p>
<p style="text-align: justify;">aku segera menuju kamarnya, namun sebelum mengetuknya niat isengku timbul, aku coba mengintip dari lubang kunci dan ternyata….</p>
<p style="text-align: justify;">Aku dapat pemandangan bagus, aku lihat evi sedang telanjang bulat di atas tempat tidurnya, jari2nya meremas buah dadanya sendiri, sedangkan tangan yang satunya menggesek2 klitorisnya, aku gemetar menahan nafsu, senjataku langsung membesar dan mengeras, andai saja tangan aku yang meremas buah dadanya… sedang asik2nya mengkhayal tiba2 evi berabjak dari tempat tidurnya dan mengenakan pakaian kembali, mungkin dia inget ada tamu, aku segera lari dan pura2 mencari kegudang, senjataku yang masih tegang aku biarkan menonjol jelas di celana pendekku yang tanpa cd. “loh, nyari apalgi pak?” aku lihat muka evi memerah, ia pasti melihat tonjolan besar di celanaku</p>
<p style="text-align: justify;">“ini mbak, dudukannya lain dengan lampu yang pecah” aku turun dari tangga dan menunjukan kepadanya, aku pura2 tidak tahu keadaan celanaku, evi tampak sedikit resah saat bicara.</p>
<p style="text-align: justify;">“jadi gimana ya pak? mesti beli baru dong” suara evi terdengar serak, mungkin ia menahan nafsu melihat senjataku dibalik celana pendekku, apalagi dia tadi sedang masturbasi.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku pura2 berfikir, padahal dalam hati aku bersorak karena sudah 60% evi aku kuasai, tapi bener sih aku lagi mikir, tapi mikir gimana cara supaya masuk dalam kamarnya dan menikmati tubuhnya yang begitu sempurna?? “kayanya dulu ada pak. coba aku yang cari” suara evi mengagetkan lamunanku, lalu ia menaiki tangga, dan sepertinya evi sengaja memancingku, aku dibawah jelas melihat paha gempalnya yang putih mulus tak bercela, dan ternyata evi sama sekali tidak mengenakan celana dalam, tapi sepertinya evi cuek aja, semakin lama diatas aku semakin tak tahan, senjataku sudah basah oleh pelumas pertanda siap melaksanakan tugasnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah beberapa menit mencari dan tidak ada juga, evi turun dari tangga, tapi naas buat dia ( Atau malah sengaja : ia tergelincir dari anak tangga pertama, tidak tinggi tapi lumayan membuatbya hilang keseimbangan, aku reflek menangkap tubuhnya dan memeluknya dari belakang, hemmm sungguh nikmat sekali, meskipun masih terhalang celana dalam ku dan dasternya tapi senjataku dapat merasakan kenyalnya pantat evi, dan aku yakin evi pun merasakan denyutan hangat dipantatnya, “makasih pak” evi tersipu malu dan akupun berkata maaf berbarengan dgn ucapan makasihnya “gak papa kok, tapi kok tadi seperti ada yg ngeganjel dipantatku ya”?” sepertinya evi mulai berani, akupun membalasnya dgn gurauan,</p>
<p style="text-align: justify;">“oh itu pertanda senjata siap melaksanakan tugas”</p>
<p style="text-align: justify;">“tugas apa nih?” evi semakin terpancing aku pun sudah lupa janji dgn istriku yang ga boleh bertindak tanpa sepengetahuannya, aku sudah dikuasai nafsu.</p>
<p style="text-align: justify;">“tugas ini mbak!” kataku langsung merangkulnya dalam pelukanku</p>
<p style="text-align: justify;">aku langsung melumat bibirnya dengan nafsu ternyata evipun dengan buas melumat bibirku juga, mungkin iapun menunggu keberanianku, ciuman kami panas membara, lidah kami saling melilit seperti ular, tangan evi langsung meremas senjataku, mungkin baru ini dia melihat senjata yang tegang sehingga evi begitu liar meremasnya, aku balas meremas buah dadanya yang negitu kenyal, meskipun dari luar ali bisa pastiin bahwa evi tidak mengenakn bra, putingnya langsung mencuat, aku pilin pelan putingnya, tanganku yang satu meremas bongkahan pantatnya yang mulus, cumbuan kami semakin panas bergelora<br />
tapi tiba2</p>
<p style="text-align: justify;">“sebentar mas!” evi berlari ke depan ternyata ia mengunci pintu depan, aku cuma melongo dipanggil dengan mas yang menunjukan keakraban</p>
<p style="text-align: justify;">“sini mas!” ia memanggilku masuk kekamarnya</p>
<p style="text-align: justify;">aku segera berlari kecil menuju kamarnya, evi langsung melepas dasternya, dia bugil tanpa sehelai benangpun di depan mataku. sungguh keindahan yang benar2 luar biasa, aku terpana sejenak melihat putih mulusnya badan evi. bulu kemaluannya yang lebat menghitam kontras dengan kulitnya yg bersih. lekuk pinggangnya sungguh indah.</p>
<p style="text-align: justify;">tapi hanya sekejab saja aku terpana, aku langsung melepas kaos dan celana pendekku, senjataku yang dari tadi mengeras menunjuk keatas, tapi ternyata aku kalah buas dengan evi. dia langsung berjongkok di depanku yang masih berdiri dan melumat senjataku dengan rakusnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Lidahnya yang lembut terasa hangat menggelitik penisku, mataku terpejam menikmati cumbuannya, sungguh benar2 liar, mungkin karna evi selama ini tidak pernah melihat senjata yang kaku dan keras, kadang ia mengocoknya dengan cepat, aliran kenikmatan menjalari seluruh tubuhku, aku segera menariknya keatas, lalu mencium bibirnya, nafasnya yang terasa wangi memompa semangatku untuk terus melumat bibirnya, aku dorong tubuhnya yang aduhai ke ranjangnya, aku mulai mengeluarkan jurusku, lidahku kini mejalari lehernya yang jenjang dan putih, tanganku aktif meremas2 buah dadanya lembut, putingnya yang masih kecil dan agak memerah aku pillin2, kini dari mataku hanya berjarak sekian cm ke bulu ketiaknya yang begitu lebat, aku hirup aromanya yang khas, sungguh wangi. lidahku mulai menjalar ke ketiak dan melingkari buah dadanya yang benar2 kenyal.</p>
<p style="text-align: justify;">Dan saat lidahku yang hangat melumat putingnya evi semakin mendesah tak karuan, rambutku habis dijambaknya, kepalaku terus ditekan ke buah dadanya. aku semakin semangat, tidak ada sejengkal tubuh evi yang luput dari sapuan lidahku, bahkan pinggul pantat dan pahanya juga, apalagi saat lidahku sampai di kemaluannya yang berbulu lebat, setelah bersusah payah meminggirkan bulunya yang lebat, lidahku sampai juga ke klitorisnya, kemaluannya sudah basah, aku lumat klitnya dengan lembut, evi semakin hanyut, tangannya meremas sprey pertanda menahan nikmat yang aku berikan, lidahku kini masuk ke dalam lubang kemaluannya, aku semakin asik dengan aroma kewanitaan evi yang begitu wangi dan menambah birahiku.</p>
<p style="text-align: justify;">Tapi sedang asik2nya aku mencumbu vaginanya, evi tiba2 bangun dan langsung mendorongku terlentang, lalu dengan sekali sentakan pantatnya yang bulat dan mulus langsung berada diatas perutku, tangannya langsung menuntun senjataku, lalu perlahan pantatnya turun, kepala kemaluanku mulai menyeruak masuk kedalam kemaluannya yang basah, namun meskipun basah aku merasakan jepitan kemaluannya sangat ketat. mungkin karna selama ini hanya jari saja yang masuk kedalam vaginanya, centi demi centi senjataku memasuki vaginanya berbarengan dengan pantat evi yang turun, sampai akhirnya aku merasakan seluruh batang senjataku tertanam dalam vaginanya, sungguh pengalaman indah, aku merasakan nikmat yang luar biasa dengan ketatnya vaginanya meremas otot2 senjataku, evi terdiam sejenak menikmati penuhnya senjataku dalam kemaluannya, tapi tak lama.</p>
<p style="text-align: justify;">Pantatnya yang bahenl dan mulus nulaik bergoyang, kadang ke depan ke belakang, kadang keatas ke bawah, peluh sudah bercucuran di tubuh kami, tanganku tidak tinggal diam memberikan rangsangan pada dua buah dadanya yang besar, dan goyangan pinggul evi semakin lama semakin cepat dan tak beraturan, senjataku seperti diurut dengan lembut, aku mencoba menahan ejakulasiku sekuat mungkin, dan tak lama berselang, aku merasakan denyutan2 vagina evi di batang senjataku semakin menguat dan akhirnya evi berteriak keras melepas orgasmenya, giginya menancap keras dibahuku…</p>
<p style="text-align: justify;">evi orgasme, aku merasakan hangat di batang senjataku, akhirnya tubuhnya yang sintal terlungkup diatas tubuhku, senjataku masih terbenam didalam kemaluannya,aku biarkan dia sejenak menikmati sisa2 orgasmenya setelah beberapa menit aku berbisik ditelinganya, “mba, langsung lanjut ya? aku tanggung nih” evi tersenyum dan bangkit dari atas tubuhku, ia duduk dipinggir ranjang, “makasih ya mas, baru kali ini aku mengalami orgasme yang luar biasa” ia kembali melumat bibirku.aku yang masih terlentang menerima cumbuan evi yang semakin liar, benar2 liar, seluruh tubuhku dijilatin dengan rakusnya, bahkan lidahnya yang nakal menyedot dan menjilat putingku, sungguh nikmat, aliran daraku seperti mengalir dengan cepat, akhirnya aku ambil kendali, dengan gaya konvensional aku kemabli memasukkan senjataku dalam kemaluannya, sudah agak mudah tapi tetap masih ketat menjepit senjataku, pantatku bergerak turun naik, sambil lidahku mengisap buah dadanya bergantian, aku liat wajah evi yang cantik memerah pertanda birahinya kembali naik, aku atur tempo permainan, aku ingin sebisa mungkin memberikan kepuasan lebih kepadanya, entah sudah berapa gaya yang aku lakukan, dan entah sudah berapa kali evi orgasme, aku tdk menghitungnya, aku hanya inget terakhir aku oake gaya doggy yang benar2 luar biasa, pantatnya yang besar memberikan sensasi tersendiri saat aku menggerakkan senjataku keluar masuk. dan memang aku benar2 tak sanggup lagi menahan spermaku saat doggy, aku pacu sekencang mungkin, pantat evi yang kenyal bergoyang seirama dengan hentakanku,tapi aku masih ingat satu kesadaran “mbak diluar atau didalam?” tanyaku parau terbawa nafsu sambil terus memompa senjataku</p>
<p style="text-align: justify;">Evipun menjawab dengan serak akibat nafsunya ” Didalam aja mas, aku lagi gak subur” dan tak perlu waktu lama, selang beberapa detik setelah evi menjawab aku hentakan keras senjataku dalam vaginanya, seluruh tubuhku meregang kaku, aliran kenikmatan menuju penisku dan memeuntahkan laharnya dalam vagina evi, ada sekitar sepuluh kedutan nikmat aku tumpahkan kedalam vaginanya, sementara evi aku lihat menggigit sprey dihadapannya, mungkin iapun mengalami orgasme yg kesekian kalinya.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ceritasex.cn/tetangga-depan-rumah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Nikmatnya Interview Birahi – Bagian 2</title>
		<link>http://www.ceritasex.cn/nikmatnya-interview-birahi-%e2%80%93-bagian-2/</link>
		<comments>http://www.ceritasex.cn/nikmatnya-interview-birahi-%e2%80%93-bagian-2/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 24 Oct 2011 08:56:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cerita Sex</dc:creator>
				<category><![CDATA[Paruh baya]]></category>
		<category><![CDATA[Seks Umum]]></category>
		<category><![CDATA[selingkuh]]></category>
		<category><![CDATA[birahi]]></category>
		<category><![CDATA[istri]]></category>
		<category><![CDATA[kontol]]></category>
		<category><![CDATA[memek]]></category>
		<category><![CDATA[mesum]]></category>
		<category><![CDATA[ngentot]]></category>
		<category><![CDATA[orgasme]]></category>
		<category><![CDATA[penis]]></category>
		<category><![CDATA[seks]]></category>
		<category><![CDATA[vagina]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ceritasex.cn/?p=2953</guid>
		<description><![CDATA[&#8230; Punya Adi suamiku walaupun panjang tapi tak sekeras ini. Setelah pak Bowo yakin penisnya siap tempur dia merenggangkan pelukannya dan tangannya bertumpu dipahaku. “Pak… sudah ya su engggghhhhhh” Pak Bowo sedikit menarik penisnya tapi rasanya di vaginaku yang baru orgasme itu luar biasa. Mataku terbelalak merasakannya begitu pak Bowo kembali memasukkan penisnya, walaupun pelan2 [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2011/10/interview-birahi.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-2954" title="interview-birahi" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2011/10/interview-birahi-300x199.jpg" alt="" width="300" height="199" /></a></p>
<p style="text-align: justify;">&#8230; Punya Adi suamiku walaupun panjang tapi tak sekeras ini. Setelah pak Bowo yakin penisnya siap tempur dia merenggangkan pelukannya dan tangannya bertumpu dipahaku. “Pak… sudah ya su engggghhhhhh” Pak Bowo sedikit menarik penisnya tapi rasanya di vaginaku yang baru orgasme itu luar biasa.</p>
<p style="text-align: justify;">Mataku terbelalak merasakannya begitu pak Bowo kembali memasukkan penisnya, walaupun pelan2 tapi membuatku tak sadar menggeliat punggungku naik ke atas, kepalaku menengadah.. mulutku menganga tanpa suara. Pak Bowo berkali2 melakukan itu dengan perlahan2 hingga akhirnya dia sesekali menyentakkan pantatnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku pun dibuatnya melolong2 nikmat. Sedikit2 walaupun agak lama vaginaku akhirnya bisa beradaptasi. Dan akhirnya aku pasrah digenjot keras dengan lancar oleh Pak Bowo.</p>
<p style="text-align: justify;">Ketika aku orgasme lagi pak Bowo memberiku kesempatan menikmatinya sambil menekan dalam2 kontolnya. Aduhh rasanya aku terbang diawang. “Aku genjot lagi ya sayang..”…aku entot kamu ya Lhonte cantik…aku tunggangi ya kamu isterinya Adi yang cantik ini…Mmmm..enaknya memek mu Mila.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku yang pasrah menerima ciumannya sambil membiarkan pak Bowo mengenjot lagi. Kembali pelan2 dan akhirnya cepat. Bunyi pahaku beradu dengan pahanya menutupi suaraku yang mengerang nikmat makin keenakan. Lagi2 aku kembali orgasme dihentak batang kejatanan Pak Bowo yang besar panjang berurat itu.<br />
<span id="more-2953"></span><br />
Kali ini pak Bowo mengalungkan kakiku dipundaknya, sehingga pantatku terangkat dan kini dia menggenjotku dengan sepenuh tenaga. Aku berteriak2 merasakan ini, dan dengan cepat aku orgasme lagi tapi pak bowo tidak memberiku ampun walaupun aku sudah berteriak dengan keras.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku merasakan ada air yang mengocor deras, aku nggak tau apa itu orgasme apa aku terkencing2 aku gak tau. Pak bowo melepaskan ku. Dia menuju mejanya dan meminum air putihnya. Dan memberiku juga seteguk air. “Pak sudah ya….” Kataku. Aku yang lemas, memohonnya untuk berhenti tapi tak kuasa saat Pak Bowo membalikkanku, dan akhirnya akupun di doggy style. Lagi2 aku gak kuat menahan serangannya. Tapi Pak bowo belum juga menyudahinya. Aku akui dia luar biasa. Setelah beberapa saat dia menjambak rambutku dari belakang sambil memukul2 pantatku dan kemudian keluar lah lahar panas itu di vaginaku.</p>
<p style="text-align: justify;">Pak bowo memelukku dari belakang sambil meremas2 dadaku. Setelah beberapa lama pak bowo melepaskan aku dan kamipun tidur di sofa bersama2 berpelukan dan berciuman. Ciuman Pak Bowo hangat sekali. Dia pun membuka jilbabku kemudian menjilati leherku sambil memegang dadaku lagi.</p>
<p style="text-align: justify;">“Mila, jadi kamu mau kerja di sini apa nggak ?” “Aku menggelengkan kepala” Pak Bowo tersenyum. “Jadi tadinya kamu Cuma mau ngerjain aku, dan kamu pikir setelah kamu sepong ya udah selesai gitu aja?” “Iya tapi bapak tadi memperkosa aku” Dia tertawa, aku pun tertawa, menyadari bahwa akhirnya pun aku mau.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku pun bercerita sebetulnya rencanaku Cuma membuatnya jera, tapi yahhhh aku yang salah pasang perangkap singa rupanya, akhirnya aku sendiri jadi korbannya. “Kamu enak nggak tadi Mila?” Aku malu dengan pertanyaan Pak Bowo dan mencubit penisnya. “Duhh… kena semprot Pak?” kami tertawa terbahak2 melihat tanganku basah dengan spermanya yang masih muncrat2. Pak Bowo mengajakku duduk dan dipertontonkan penis yang tadi memperkosaku yang masih tegang dan berdenyut denyut itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Dipeluknya aku dan didudukkannya aku dipahanya lagi dengan membelakanginya, kali ini aku tidak menolak saat penisnya yang besar panjang berurat dimasukkan ke vaginaku. “Jangan dibiarin muncrat diluar ya sayang?”…..Oughhh…enak teunan tempek isteri Pak Adi ini…Mmmm…kamu suka ya Lhonte cantik dengan kontol besar ku. “Iya paaaak”. “Jangan Panggil aku pak.. Mas saja ya?” aku pun mengangguk dan menciumi laki2 yang sudah menggagahi aku dengan benar2 gagah. “Mil……………” “Iya Mas……..”</p>
<p style="text-align: justify;">“Coba kamu goyang2 dikit” Sambil bergoyang aku tanya “Kenapa Mas?” “emmm goyanganmu enak sayang” Aku memeluknya menciumnya dan menggoyangkan pantatku. “Mas…..kok keras lagi?” “Tanggung jawab dong” aku melotot ke Mas Bowo sambil mencubitnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Mas Bowo memainkan kedua putting susuku sambil berkata “Puasin aku sayang” Aku bergoyang2 lagi. Dengan sisa tenaga yang ada. Aku teringat goyangan Inul dan mencobanya pada mas Bowo. “awww pinterjuga nih isteri cantik Pak Aditya. Apa itu Mil?” Aku mulai goyang ngebor lagi.</p>
<p style="text-align: justify;">Mas Bowo menggigit bibirnya sendiri dan meremas dadaku “Enak sayang…………..” mendapat pujian seperti itu aku makin semangat goyang, padahal goyang begini sebetulnya malah membuat penis mas Bowo mengaduk2 vaginaku. Aku mencoba bertahan tapi aku ambrol juga. Mas Bowo merebahkan aku, dan dengan nafas yang memburu dia pun menggenjotku lagi hingga tak lama dia pun orgasme juga.</p>
<p style="text-align: justify;">Kami berciuman, aku juga menjilati Mas Bowo. Mas Bowo juga begitu dan dengan sengaja dia mencupangi leherku. Setelah cukup lama Mas Bowo bangkit. Dia mengambil tissue dan membersihkan diri. Aku berpakaian cepat2 dan memilih membersihkan di toilet saja. Ingin aku jika ada kamar mandi, kenapa gak mandi sama dia saja. Ahhh akhirnya aku begini lagi pikir ku. Ya sudah lah biarin.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah bersih, aku kembali kedalam kantornya, dan berniat pamit pulang. Mas Bowo mau mengantarkan aku pulang. Aku terima saja, maklum aku kelelahan. Kami menggunakan mobilku.</p>
<p style="text-align: justify;">Mas Bowo yang nyetir, dan dia cukup senang dengan kondisi mobilku yang berkaca gelap. Dia meminta aku merebahkan kepalaku di pahanya. Sehingga dia bisa nyetir sambil merogoh2 susuku. Sampai dekat sekolah anakku, jam masih menunjukkan jam 3 kuang 15 menit. Mas Bowo bilang kalau itu waktu yang cukup untuk permainan terakhir. Aku menolak, karena aku sudah amat lelah. Mas Bowo mengatakan, kalau dia Cuma minta di sepong. Akhirnya aku turuti juga permintaan itu. Setelah kejadian itu aku selalu mengkhayali Pak Bowo yang menyetubuhi diriku. Kadang saat aku bersenggama dengan suamiku, aku selalu membayangkan keperkasaan Pak Bowo kontolnya yang besar panjang berurat memadati liang vaginaku yang sempit ini.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>TAMAT</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ceritasex.cn/nikmatnya-interview-birahi-%e2%80%93-bagian-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Aku Nikmati Istriku Digauli Orang Bagian 3</title>
		<link>http://www.ceritasex.cn/aku-nikmati-istriku-digauli-orang-bagian-3/</link>
		<comments>http://www.ceritasex.cn/aku-nikmati-istriku-digauli-orang-bagian-3/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 18 Sep 2011 12:27:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cerita Sex</dc:creator>
				<category><![CDATA[Paruh baya]]></category>
		<category><![CDATA[Seks Umum]]></category>
		<category><![CDATA[selingkuh]]></category>
		<category><![CDATA[jilat memek]]></category>
		<category><![CDATA[kontol]]></category>
		<category><![CDATA[ngentot]]></category>
		<category><![CDATA[orgasme]]></category>
		<category><![CDATA[seks]]></category>
		<category><![CDATA[vagina]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ceritasex.cn/?p=2901</guid>
		<description><![CDATA[Kegaduhan oleh desah dan rintihan histeris berkesinambungan memenuhi kamar hotel itu. Keringatku semakin deras mengucur. Kini jilatan Ramon berubah menjadi tusukkan-tusukkan lidah yang berusaha menembusi rongga vagina Surti bak ikan moa yang mencari sarangnya. Secara reflek dan otomatis istriku meregangkan pahanya sehingga Ramon menjadi leluasa melumatkan bibir dan lidahnya untuk menembusi vaginanya. Bahkan tangan Ramon [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Kegaduhan oleh desah dan rintihan histeris berkesinambungan memenuhi kamar hotel itu. Keringatku semakin deras mengucur. Kini jilatan Ramon berubah menjadi tusukkan-tusukkan lidah yang berusaha menembusi rongga vagina Surti bak ikan moa yang mencari sarangnya. Secara reflek dan otomatis istriku meregangkan pahanya sehingga Ramon menjadi leluasa melumatkan bibir dan lidahnya untuk menembusi vaginanya. Bahkan tangan Ramon kini juga sedikit mengangkat tungkai kaki kanan Surti sampai bibirnya benar-benar mampu menyedoti seluruh bibir vaginanya. Tetapi sesaat kemudian.. Tiba-tiba Ramon menghentikan serangannya dan bangkit.</p>
<p style="text-align: justify;">Dia bangun naik ke bantal dan merangkulkan tangan kanannya ke bahu Surti untuk kemudian kembali melumati bibir isteriku. Sementara itu tangan kiri Surti jatuh ke pinggul Ramon dekat dengan kemaluan Ramon yang sejak tadi sudah lepas dari CD-Jourdan-nya.</p>
<p style="text-align: justify;">Dengan sedikit menggulirkan badannya tangan Surti sudah langsung menyentuh kemaluan Ramon yang gede dan panjang itu. Agak kaget Surti menyentuhnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Mungkin dia tidak membayangkan bahwa penis Ramon segede itu. Aku sendiri juga demikian. Hal itu tidak sesuai yang tertera di iklannya. Aku kira alat vital itu setidaknya berukuran 20 cm dengan bulatan yang 5 atau 6 cm. Aku deg-deg-an melihat adegan itu. Apa yang akan terjadi nanti. Sementara Ramon sendiri rupanya sudah juga sangat terhanyut. Sudahlah.. &#8216;que sera-sera&#8217;.. Terjadilah apa yang akan terjadi..</p>
<p style="text-align: justify;">Ternyata Surti menjadi sangat bergairah. Dengan tetap melayani pagutan bibir Ramon pada bibirnya dia raih kemaluan Ramon itu. Jari-jari lentiknya mengurut-urutnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Sungguh suatu pemandangan yang sangat erotis dan penuh sensasi. Kelembutan jari-jari putri ningrat itu mengelusi batang kemaluan kasar penuh otot milik si Ramon.</p>
<p style="text-align: justify;">Surti napak demikian merasakan bagaimana batang itu dalam genggamannya. Dia rasakan gede panjangnya. Dia rasakan kerasnya. Dia rasa-rasakan denyut-denyutnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku pastikan Surti sedang berusaha melupakan bayangan pada suaminya, aku, yang tak mungkin memberikan pesona erotik yang saat ini sedang dalam rengkuhannya.</p>
<p style="text-align: justify;">Surtii.., aku relaa.. Koq, begitu tangis hatiku yang juga sensasi birahi yang melanda aku. Ya.. Suatu paradoks sedang melanda diri dan kepribadianku.</p>
<p style="text-align: justify;">Tangan Surti terus mengurut-urut penis itu dengan gemas sementara bibir dan lidahnya terus merespon aktif lumatan bibir Ramon.</p>
<p style="text-align: justify;">Kali ini Ramon menunjukkan kehendaknya. Ditariknya tubuh Surti hingga menindih tubuhnya. Dia sorong kebawah kepala dan bibir Surti agar menciumi lehernya, agar juga merambati dadanya. Dia remasi rambut Surti untuk membangkitan gairahnya. Dia ganti yang mengerang untuk memacu libido istriku. Ramon ingin istriku melakukan sebagaimana dia telah lakukan padanya pula. Dia ingin Surti menciumi seluruh tubuhnya. Dan Surti, istriku ini.., dia melakukan hal yang tak pernah dia lakukan kepadaku.<br />
<span id="more-2901"></span><br />
Dia seakan berubah jadi cheetah Afrika yang lapar. Mungkin dia benar-benar telah mabuk tenggelam dalam birahinya, dengan ganasnya dia gigit dan lumati dada Ramon hingga kuyup dengan air ludahnya. Bulu-bulu halus di dada itu membuat Surti bak ular kobra yang meliuk-liuk melata di bukit savanna yang penuh rerumputan itu. Ohh.. Surtii.., istrikuu.. Oouuhh.. Ternyata kk.. Kamu.. Bb.. Bisaa.. Y.. Yyaa..</p>
<p style="text-align: justify;">Orgasme pertama..<br />
Ciumannya merangsek liar ke perut. Puser Ramon dijilati dan di kecupinya. Rambatan bibirnya terus menelusur ke bawah hingga daerah kemaluannya. Nampak penis Ramon mencuat tegak kaku mengganjal hingga ke bahunya. Tangan Surti menyibak rambut-rambutnya itu kemudian menenggelamkan wajah cantiknya ke belantara jembut di selangkangan Ramon. Terdengar kecipak bibir lembutnya pada setiap melepaskan kecupan-kecupannya.</p>
<p style="text-align: justify;">Erangan Ramon, &#8220;Ampun Jeng.., ampuunn..&#8221; membuat Surti tak menghitung nilainya lagi sebagai perempuan darah biru. Kepalanya terkadang bergeleng-geleng cepat saat menyedot-nyedot selangkangan kanan maupun kiri milik Ramon itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Dengan tangan kirinya yang terus menahan kemaluan menuju ke arah perut itu, bibir dan lidah istriku ini merambat ke bola-bola pelir Ramon. Dikulumnya, dijilati dan diisep-isepnya dengan penuh rakus.</p>
<p style="text-align: justify;">Emosi syahwatku terseret kesetanan. Kuperosotkan sendiri celanaku. Kubetot penisku dari CD. Tanganku mengocokinya dengan bergegas-gegas. Aku ditimpa ledakan nafsuku sendiri. Dalam bara iri dan cemburuku apa yang dilakukan istriku pada Ramon dan apa yang Ramon terima dari lahapan istriku pada penisnya membuat aku tergetar.</p>
<p style="text-align: justify;">Ah.. Sangat paradoks.. Iri dan cemburuku berbarengan dengan dorongan syahwatku untuk mengeluarkan desahan juga,<br />
&#8220;Terus Surtii.. Teruss.., Masmu ini, suamimu, pengin menyaksikan kamu melahapi seluruh tubuh Ramon, Surtii.., teruus..&#8221;.</p>
<p style="text-align: justify;">Ternyata Surti memberi lebih banyak. Dia angkat tungkai kaki Ramon hingga posisi pahanya menempel ke dadanya. Dengan demikian arah anal Ramon menjadi terbuka. Kini dengan hidung, bibir dan lidah Surti berusaha &#8220;nyungsep&#8221; ke lubang anal itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Dia jilati bukit kecil dibawah pangkal kemaluan Ramon dan.. Berusaha untuk terus ke bawah lagi. Ramon dibuat &#8220;kelimpungan&#8221;. Kegatalan syahwatnya melanda dengan hebat. Dia mengangkat lebih tinggi pantatnya hingga Surti benar-benar bisa menjilat dan menyedoti anusnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Ah, sungguh pemandangan yang sama sekali tak terbayangkan olehku sebelumnya. Lihatlah, Surti si perempuan jelita itu benar-benar menampilkan ke-jalangannya. Dengan berbungkuk-bungkuk dia terus menggerakkan kepalanya mengikuti rambatan lidah dan bibirnya merengkuh kerutan-kerutan anus Ramon.</p>
<p style="text-align: justify;">Kini suara erang Ramon berpadu dengan nafas memburu Surti. Dan.. Oh, rupanya Surti diburu oleh birahinya. Dia merubah posisi. Dia tarik kembali dan rebahkan kaki Ramon untuk ditindihnya. Dengan mulutnya yang kini menyerang kemaluan Ramon dengan mengkulum dan mengisapinya, vaginanya digosok-gosokkannya ke dengkul Ramon.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku menyaksikan betapa istriku ini sepertinya ahli bagaimana membawa pria terbang ke awang-awang. Aku heran darimana dia belajar. Mungkinkah dari BF atau VCD yang sering kami tonton bersama?! Dan yang lebih heran lagi keahliannya itu tak pernah dia berikan untukku yang suaminya. Ah, Surtikuu..</p>
<p style="text-align: justify;">Secara khusus aku menyaksikan bagaimana perlakuan bibir dan lidah Surti pada kemaluan Ramon.<br />
Lidahnya merambati pangkal hingga batangnya, kemudian saat mencapai kepalanya tangannya menggerakkan agar posisi kepala itu dalam jangkauan jilatan sebelum akhirnya seluruh bibirnya mencaplok kepala yang memenuhi mulutnya itu. Dia lakukan hal itu ber-ulang-ulang sehingga Ramon jadi kelojotan.</p>
<p style="text-align: justify;">Sesudah itu dia konsentrasikan mulutnya untuk memompa dan sekaligus tubuhnya terus bergoyang menggeliat menekan dan menggosok-gosokkan vaginanya pada tonjolan lutut Ramon dengan frekwensi yang cepat sekali.</p>
<p style="text-align: justify;">Ketika kecepatannya semakin bertambah Surti mengeluarkan erangan erotis yang menandai hadirnya kenikmatan yang melanda seluruh saraf-sarafnya. Rasanya Surti sedang sekarat menjemput orgasmenya. Dan benar. Dengan raungan bak cheetah yang lapar tadi, Surti meraih orgasmenya. Si jelita itu menggeram. Tangannya yang cantik dengan jari-jarinya yang lentik meraih seprei dan apa saja yang bisa diraihnya, menarik-narik acak-acakan seakan hendak merobek-robeknya.</p>
<p style="text-align: justify;">Hal itu berlangsung sekitar 30 detik sebelum akhirnya dia rebah. Rubuh. Sepi. Kecuali tarikan nafas-nafas yang panjang dari kedua insan itu. Hebat.</p>
<p style="text-align: justify;">Ternyata Surti bisa mendapatkan orgasmenya sebelum kemaluan Ramon menembusi vaginanya. Orgasme itu dia raih berkat obsesi dan timbunan syahwat yang selama ini tak tersalurkan.</p>
<p style="text-align: justify;">Dengan perasaan yang semakin iri, cemburu dan penasaran, merasakan ketidak mampuanku, aku sendiri langsung duduk terjengkang ke lantai. Penisku mengangguk-angguk. Tanpa kuharapkan sebelumnya, spermaku yang tak mampu kutahan muncrat-muncrat.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku juga mendapatkan orgasmeku. Beberapa saat mereka diam. Aku juga ikut diam.</p>
<p style="text-align: justify;">Surti setengah merem kemudian melek melihat langit-langit. Menerawang jauh akan apa yang baru terjadi. Dia merasakan betapa birahi yang melandanya membuat dia lupa segalanya. Sepintas dia menengok ke pintu kamarku. Ke arahku. Yang nampak pasti hanyalah celah yang gelap. Aku sendiri juga dalam posisi terbengong-bengong.</p>
<p style="text-align: justify;">Mereka berdua menggunakan jeda ini untuk istirahat sejenak. Surti turun, tetap telanjang, menuju ke lemari es yang tersedia. Dia buka dan ambil minuman dingin kalengan. Diambilnya 1 lagi untuk Ramon. Mereka istirahat di tepian tempat tidur. Masih sempat istriku mencium bibir Ramon sambil saling melepaskan senyuman. Aku jadi ikut haus. Aku juga perlu minum. Kuikuti langkah Surti. Kuambil minuman kalengan dari lemari es di kamarku.</p>
<p style="text-align: justify;">Etape 2..<br />
Tidak sulit bagi Ramon untuk kembali memulai pertarungan baru. Dia professional dan sangat kreatif disamping inovatif. Sesudah sejenak istirahat, sementara istriku masih duduk ditepian tempat tidur, dia yang belum menikmati datangnya orgasme secara aktif memulai dengan turun dan merebahkan diri tepat di bawah kaki Surti di karpet kamar yang bersih itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Dia renggut kaki yang ranum dan bersih itu. Dia jilati telapak kakinya, kecupi dan kulum jari-jarinya yang lentik dengan kuku-kukunya yang dicat kemerahan.</p>
<p style="text-align: justify;">Kontan sepertinya kena sengatan listrik ribuan watt, istriku menjerit histeris dan berguling ke kasur. Kemudian Ramon dengan buasnya menggigiti tumitnya yang mungil bak telur puyuh itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Jilatannya liar menjalar menuju betis-betisnya di tungkai kanan dan kiri. Kembali Surti berguling-guling menahan erotismenya. Nafas istriku terdengar ngos-ngosan menahan derita nikmat syahwatnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Dengan cepat diraihnya kepala Ramon agar melepaskan kakinya. Tetapi itu tidak sungguh-sungguh. Dia bukannya menarik, tetapi lebih tepat justru menahan dengan cara meremasi kepala itu. Istriku ini nggak akan melewatkan setiap sensasi erotik yang sedang dia alaminya.</p>
<p style="text-align: justify;">Dari betisnya, Ramon menggulingkan tubuh Surti hingga posisinya setengah tengkurap. Dia kejar lipatan lutut bagian belakangnya dengan jilatan dan gigitan kembali. Kembali aliran listrik menjalari tubuh Surti. Dia mengerang dengan setengah menangis karena nikmatnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Sekali lagi aku ingat diriku yang egois ini. Apa yang dilakukan Ramon tak pernah sedikitpun terpikir olehku. Aku jelas telah kehilangan momentum yang sangat penting bagiku di depan istriku ini. Dasar pecundang..</p>
<p style="text-align: justify;">Ciuman Ramon kembali menjalar merambati pahanya. Serasa berjuta semut-semut menyerang Surti saat bulu-bulu kumis dan rambut-rambut tajam di pipi Ramon merambah pahanya yang sangat halus itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Ciuman Ramon melaju menuju arah belakang pangkal pahanya. Surti berusaha bangun kemudian terjerembab, lagi-lagi bangun dan kembali terjerembab. Rupanya itu disebabkan tak mampunya menahan gelora syahwatnya yang terdongkrak akibat ulah Ramon ini. Perasaannya bagai dipermainkan gelombang samudra. Kini Ramonlah yang membangunkan Surti.</p>
<p style="text-align: justify;">Ah, tidak. Bukan membangunkan tetapi menarik pinggul Surti hingga berposisi menungging. Hal ini adalah sebagai kelanjutan ciuman dari arah belakang pangkal pahanya yang merambat ke gundukkan pantat Surti. Dengan posisi ini Ramon menjadi leluasa untuk meneruskan ciuman dan jilatannya lebih ke atas menuju anus istriku.</p>
<p style="text-align: justify;">Dengan bertumpu siku tangannya pada kasur serta menaruh kepalanya pada bantal Surti menungging sempurna.</p>
<p style="text-align: justify;">Ramon dengan ganas menjilati bokong dan dubur Surti. Hal ini mungkin untuk mengimbangi istriku yang sebelumnya juga menjilati pantatnya. Aku lihat bagaimana Surti menerima ini dengan amat tersanjung. Dia melenguh seperti anak lembu. Tangannya menggapai-gapai ke belakang berusaha meraih kepala Ramon. Dan saat didapatnya, ditariknya kepala itu agar tenggelam lebih dalam ke pantatnya. Duhh.. Pasangan yang saling mengerti iramanya gejolak syahwat.</p>
<p style="text-align: justify;">Ternyata situasi berikutnya ini membuat Surti lebih tenang. Dia nampak sangat menikmati apa yang Ramon berikan. Dan Ramon terus bergerak..</p>
<p style="text-align: justify;">Direbahkannya kembali tubuh Surti dan ditelentangkannya. Diangkatnya lutut istriku agar melipat dengan telapaknya duduk di kasur. Ramon menggeser tubuhnya untuk merangkul paha itu dan mulai dengan menjilatinya.</p>
<p style="text-align: justify;">Gerakan Surti menjadi lebih terkendali lagi saat bibir Ramon menangkap bibir vaginanya. Kini dengan halus dan penuh belaian Ramon menjilati vagina Surti. Yang kudengar adalah rintihan yang sayup-sayup keluar dari mulut isteriku. Surti menikmati belaian lidah Ramon di vaginanya. Terkadang berteriak kecil. Mungkin lidah itu menyentuh G Spot-nya.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Bersambung&#8230;</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ceritasex.cn/aku-nikmati-istriku-digauli-orang-bagian-3/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

