<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Cerita sex porno ngentot mesum perek ayam kampus &#187; pepek</title>
	<atom:link href="http://www.ceritasex.cn/tag/pepek/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.ceritasex.cn</link>
	<description>Kumpulan cerita sex, foto bugil, dan film porno</description>
	<lastBuildDate>Wed, 08 Feb 2012 13:12:08 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
		<item>
		<title>Ngentot ABG (PANAS)</title>
		<link>http://www.ceritasex.cn/ngentot-abg-panas/</link>
		<comments>http://www.ceritasex.cn/ngentot-abg-panas/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 18 Dec 2011 08:58:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cerita Sex</dc:creator>
				<category><![CDATA[Amoy]]></category>
		<category><![CDATA[Daun Muda]]></category>
		<category><![CDATA[Foto Mesum]]></category>
		<category><![CDATA[abg]]></category>
		<category><![CDATA[cuki]]></category>
		<category><![CDATA[hot]]></category>
		<category><![CDATA[memek]]></category>
		<category><![CDATA[ngentot]]></category>
		<category><![CDATA[panas]]></category>
		<category><![CDATA[pepek]]></category>
		<category><![CDATA[pigtail]]></category>
		<category><![CDATA[seks]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ceritasex.cn/?p=3245</guid>
		<description><![CDATA[Hot Hot Hot&#8230; Panas Panas Panas&#8230; ABG yang panas dan hot memeknya sempit bangetttt!!! ajigile kayak lobang semot merah dan sempit banget, masukin kontol aja susah&#8230; jepitannya gak perlu di tanya deh&#8230; soal gaya mau gaya kodok pun dilayani pokoknya HOT &#38; PANAS!!]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Hot Hot Hot&#8230; Panas Panas Panas&#8230; ABG yang panas dan hot memeknya sempit bangetttt!!! ajigile kayak lobang semot merah dan sempit banget, masukin kontol aja susah&#8230; jepitannya gak perlu di tanya deh&#8230; soal gaya mau gaya kodok pun dilayani pokoknya HOT &amp; PANAS!!</p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2011/12/ngentot-abg-1.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-3246" title="ngentot-abg-1" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2011/12/ngentot-abg-1-300x199.jpg" alt="" width="300" height="199" /></a></p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2011/12/ngentot-abg-2.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-3247" title="ngentot-abg-2" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2011/12/ngentot-abg-2-210x300.jpg" alt="" width="210" height="300" /></a></p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2011/12/ngentot-abg-3.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-3248" title="ngentot-abg-3" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2011/12/ngentot-abg-3-300x204.jpg" alt="" width="300" height="204" /></a></p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2011/12/ngentot-abg-4.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-3249" title="ngentot-abg-4" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2011/12/ngentot-abg-4-300x199.jpg" alt="" width="300" height="199" /></a></p>
<p><span id="more-3245"></span></p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2011/12/ngentot-abg-5.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-3250" title="ngentot-abg-5" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2011/12/ngentot-abg-5-300x199.jpg" alt="" width="300" height="199" /></a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ceritasex.cn/ngentot-abg-panas/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kesempatan dalam Kesempitan</title>
		<link>http://www.ceritasex.cn/kesempatan-dalam-kesempitan/</link>
		<comments>http://www.ceritasex.cn/kesempatan-dalam-kesempitan/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 28 Oct 2011 05:03:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cerita Sex</dc:creator>
				<category><![CDATA[Paruh baya]]></category>
		<category><![CDATA[Seks Umum]]></category>
		<category><![CDATA[cuki]]></category>
		<category><![CDATA[kontol]]></category>
		<category><![CDATA[memek]]></category>
		<category><![CDATA[ngecrot]]></category>
		<category><![CDATA[ngentot]]></category>
		<category><![CDATA[orgasme]]></category>
		<category><![CDATA[pepek]]></category>
		<category><![CDATA[seks]]></category>
		<category><![CDATA[yenni]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ceritasex.cn/?p=3027</guid>
		<description><![CDATA[Karena merasa banyak ketidakcocokan, sebelum genap 2 tahun usia perkawinan Ryan dan Yenni, mereka telah mengakhiri perkawinannya dengan bercerai. Berbagai upaya yang dilakukan kedua orang tua mereka agar perceraian itu batal sia-sia. Mereka tetap kukuh dengan keputusannya. Walaupun mereka telah lama saling kenal dan berpacaran sejak kuliah dulu, Ryan dan Yenni adalah pasangan muda yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Karena merasa banyak ketidakcocokan, sebelum genap 2 tahun usia perkawinan Ryan dan Yenni, mereka telah mengakhiri perkawinannya dengan bercerai. Berbagai upaya yang dilakukan kedua orang tua mereka agar perceraian itu batal sia-sia. Mereka tetap kukuh dengan keputusannya.</p>
<p style="text-align: justify;">Walaupun mereka telah lama saling kenal dan berpacaran sejak kuliah dulu, Ryan dan Yenni adalah pasangan muda yang sama-sama masih labil dan mudah terbawa emosi. Ryan sendiri adalah seorang pegawai negeri di sebuah instansi pemerintah daerah yang memiliki karir dan masa depan yang cerah. Begitu pula Yenni yang bekerja sebagai karyawati di sebuah bank BUMN di kota itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Orang tua Ryan adalah pengusaha yang sukses, begitu juga Yenni, ayahnya seorang pejabat teras di lingkungan pemerintahan daerah itu. Mereka terbiasa hidup sebagaimana lingkungan kelasnya yang kelas menengah atas, yang serba ada dan bisa dalam hal material maupun moril.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah melalui proses yang cukup alot, maka Ryanpun menjatuhkan talak tiga kepada Yenni. Ada rasa sesal jauh di lubuk hati mereka, namun jalan itu harus ditempuh karena sama sama tidak ada yang mau kalah. Padahal sesungguhnya awal penyebabnya hanya sepele, Ryan ingin memiliki anak, sementara Yenni merasa belum siap dan menundanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Dulu, saat berpacaran, mereka adalah sejoli yang membuat iri rekan sejawatnya. Ryan yang masih berusia 26 tahun adalah pria yang ganteng dan Yenni yang 24 tahun terkenal sebagai kembang kampusnya karena kecantikannya. Ryan harus berjuang keras menyisihkan para pesaingnya untuk bisa merebut hati Yenni.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah resmi bercerai Yenni kembali kerumah orang tuanya dan Ryanpun balik kerumah ortunya. Yennipun telah berubah status menjadi janda kembang tanpa anak. Predikat itu membuatnya nyaman dan tidak nyaman. Sering ia digoda atau di rayu rekan oleh para pria di kantornya. Mereka, baik yang masih bujangan maupun yang telah bekeluarga ingin sekali bisa mengajak Yenni untuk kencan.</p>
<p style="text-align: justify;">Setidaknya Yenni harus berbesar hati saat ia menyadari bahwa ia masih muda dan cantik yang ditunjang postur tubuh serta wajah yang mudah mengundang para laki-laki untuk mendekatinya.<br />
<span id="more-3027"></span><br />
Secara rutin Yenni rajin ikut perawatan kecantikan dan senam kebugaran tubuh, sehingga ia selalu nampak sehat sekaligus amat sensual berkat kecantikannya tersebut di atas.</p>
<p style="text-align: justify;">Selama ini Yenni bisa menjaga diri dan tidak mempedulikan godaan rekan-rekan prianya. Dia tetap seorang perempuan yang bebas dan tidak terganggu oleh adanya berbagai gunjingan di lingkungan kerjanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Sebelas bulan setelah perceraian, secara tak sengaja Yenni bertemu Ryan di sebuah plaza di kotanya.</p>
<p style="text-align: justify;">“Hai.. Yenn… “, Sapa Ryan.</p>
<p style="text-align: justify;">“Hai.. Juga… “, jawab Yenni agak gugup…</p>
<p style="text-align: justify;">“Lagi ngapain disini Yan?”, tanya Yenni menutupi kegugupannya.</p>
<p style="text-align: justify;">“Ooo.. Sedang jalan-jalan aja”, jawab Ryan.</p>
<p style="text-align: justify;">Lalu mereka bersalaman dan berbincang seperti teman lama. Pada sebuah cafe mereka singgah dan saling berbincang tentang keadaan masing-masing selama ini. Ada keharuan yang dalam yang mereka rasakan dalam pertemuan itu. Bagaimanapun mereka pernah hidup bersama sebagai suami istri dan sudah demikian lama pula mereka berpacaran sebelum menikah.</p>
<p style="text-align: justify;">Semenjak pertemuan itu, Ryan dan Yenni selalu berkomunikasi lewat telpon dan kadang-kadang mereka buat janji untuk ketemu. Dalam suatu pertemuannya, Ryan mengusulkan kepada Yenni untuk rujuk kembali sebab ia telah lelah dengan keadaannya saat ini dan Yennipun sama dengannya.</p>
<p style="text-align: justify;">“Tapi.. Kita kan sudah talak tiga Yan?”, kata Yenni saat itu… “Apa mungkin kita bisa rujuk?”, timpal Yenni.</p>
<p style="text-align: justify;">“Bisa aja Yenn.. Tapi jalannya berat dan panjang.. “, jawab Ryan.</p>
<p style="text-align: justify;">“Menurut ketentuan kamu harus menikah dulu dengan orang lain untuk menghapus talak tiga itu. Kemudian kamu kembali bercerai. Sesudah itu barulah kita bisa rujuk kembali”.</p>
<p style="text-align: justify;">“Wah berat juga… Tapi aku coba minta pendapat orang tuaku dulu ya Yan”, kata Yenni.</p>
<p style="text-align: justify;">“Oke… Baiklah”, jawab Ryan sambil menggenggam mesra tangan Yenni.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah dirundingkan dengan ayah dan ibunya orang tua Yenni merestui maksud anaknya itu. Namun ia harus mencari seseorang yang mau untuk menikahi putrinya untuk sementara. Bagi mereka soal biaya tidak masalah. Atas masukan dari sopir pribadi ayah Yenni, maka dipilihlah seorang lelaki separo baya yang juga merupakan tetangga sopirnya itu, namanya Pak Daud. Seorang duda yang ditinggal mati istrinya sejak 7 tahun yang lalu. Umurnya 40 tahun, sepantaran paman Yenni. Pekerjaannya adalah seorang buruh panggul di terminal kota. Orangnya dikenal jujur dan setia.</p>
<p style="text-align: justify;">Dia menerima tawaran keluarga Yenni untuk menjadi suami anaknya selama 3 hari dengan janji selama itu dia tidak akan menggauli Yenni walaupun statusnya sah selaku suaminya. Orang tua Yenni sama sekali tidak khawatir pada orang setua Pak Daud ini. Keluarga Yenni yakin bahwa Pak Daud akan mematuhi kesepakatan dan tidak akan menjamah putrinya. Untuk itu ayah Yenni memberikan imbalan uang yang cukup besar. Tiga puluh juta rupiah untuk Pak Daud, artinya untuk hidup 5 tahun ke depan Pak Daud tak perlu lagi jadi kuli panggul di terminal kota.</p>
<p style="text-align: justify;">Sesuai kesepakatan dari orang tua Yenni dan Pak Daud maka, dilaksanakanlah akad nikah itu di rumah orang tua Yenni. Sebelum akad nikah terlaksana, Pak Daud lebih dulu diperkenalkan dengan Yenni dan mereka bersalaman. Itulah pertama kalinya Pak Daud melihat Yenny calon pengantinnya yang sangat cantik. Pak Daud merasakan betapa halusnya tangan Yenni. Ia juga melihat wajah Yenni yang sangat cantik bak bidadari. Calon pengantinnya ini seperti bumi dan langit, secara lahir batin sama sekali tidak sebanding dengannya. Pak Daud jadi amat mengagumi sosok Yenni dan tak lepas-lepasnya matanya memandanginya. Dia tak pernah membayangkan bahwa dalam hidupnya yang sehari-harinya sebagai kuli panggul yang penuh derita dunia akan pernah menikahi seorang dewi macam Yenni yang sekarang telah berada di depan haribaannya serta siap untuk dinikahinya.</p>
<p style="text-align: justify;">Sementara itu Yenny juga memperhatikan kehadiran Pak Daud calon ’suaminya’ itu. Dalam hatinya dia mentertawakan dirinya, kenapa dia mesti mengalami lelucon hidup macam ini. Pada awalnya Yenni membayangkan berpikir bahwa Pak Daud akan tampil seperti sosok seorang ayah yang hendak menolong dan melindunginya. Namun kini dia menyaksikan sosok seorang lelaki dalam arti sesungguhnya. Pak Daud dengan usianya yang 40 tahun belum nampak sebagaimana lelaki tua dan jompo.</p>
<p style="text-align: justify;">Dari balik kemeja dan jas yang pinjaman dari ayahnya, Yenni bisa merasakan bahwa Pak Daud masih memiliki tubuh yang sehat dan bugar. Latar belakangnya yang kuli panggul itu membuatnya nampak gagah; tinggi, tegap, padat, dan kekar. Wajahnya hitam dan berkilat sangat menggambarkan kehidupannya yang penuh kasar dan keras. Dan kelelakian Pak Daud kali ini sangat nampak pada matanya yang sejak dia mulai berhadapan dengannya tak pernah lepas-lepasnya memperhatikan dia. Yenni merasa sangat risih dengan pandangan Pak Daud ini. Dia seperti sedang dikuliti hingga telanjang olehnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Matanya yang nampak kemerahan itu semacam menyimpan dendam. Ah… Yaa… Macam dendamnya syahwat birahi. Sepertinya dia hendak menelan bulat-bulat tubuhnya. Yenni agak menyesal dengan pilihan dandanannya. Semula dia ingin nampak cantik di depan para tamunya. Tetapi rupanya jadi boomerang, dandanannya yang membuat dirinya nampak sangat cantik dan sensual ini telah membuat Pak Daud terpesona. Sekarang Yenni merasa ngeri. Dia membayangkan seandainya Pak Daud mengingkari kesepakatannya dan dia tak mau menceraikannya. Lelaki yang kuli panggul hitam, keras dan kasar ini akan berpesta dengan melahapi bagian-bagian tubuhnya yang indah dan serba halus lembut ini. Darah Yenni bergidik membayangkan hal itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Kembali ke Pak Daud, apa yang kini dihadapinya ini sangat menggetarkan jiwanya. Sebagai seorang lelaki yang sehat dan normal, apa yang dia saksikan saat ini telah menyentuh kemudian menggoncangkan hasrat ke-lelakian-nya. Setiap kali matanya memandangi Yenni, darahnya berdesir. Jantungnya berdegup kencang dan bibirnya sepertinya hendak bicara, mengatup dan membuka pelan. Yaaa… Dia memang sedang berbicara.</p>
<p style="text-align: justify;">Dia berbicara kepada hatinya sendiri, “Aku harus tidur dengan istriku ini. Aku berhak untuk tidur dengannya sebelum menceraikannya”, begitulah Pak Daud telah mengukirkan ketetapannya dalam hatinya.</p>
<p style="text-align: justify;">Sesudah semua persiapan telah lengkap dan Penghulu dari KUA hadir, ijab kabul di laksanakan secara sederhana di rumah itu dengan dihadiri oleh kedua orang tua Yenni dan 2 orang saudaranya sebagai saksi-saksi. Dengan lancar Pak Daud mengucapkan ijab kabul itu, lalu sebagaimana yang seharusnya dan secara rutin dilakukannya sebagai bagian dari tugasnya, Pak Penghulu memberikan nasehat kepada mempelai. Dia membacakan apa yang tertulis pada buku nikah tentang Hak dan Kewajiban Pak Daud dan Yenni sebagai suami istri. Pak Daud harus menafkahi Yenni selaku istrinya secara lahir ataupun batin. Dan Yenni harus menunjukkan kesetiaan serta memberikan pelayanan kepada Pak Daud selaku suaminya.</p>
<p style="text-align: justify;">Dan akhirnya resmilah Yenni sebagai istri Pak Daud meskipun untuk sementara. Setidak-tidaknya Pak Daud bersama Yenni akan sepenuhnya berstatus suami istri selama 3 hari sebelum Pak Daud menceraikannya.</p>
<p style="text-align: justify;">Sepanjang upacara ritual itu pikiran Pak Daud tak lepas-lepasnya dari kecantikan Yenni ‘istrinya’. Dia sempat meraba selangkangannya. Bayangan nikmatnya meniduri Yenni membuat kemaluannya menyesak dan terasa sakit dalam celananya. Tangannya sempat meraba selangkangannya untuk membetulkan arah Kontolnya agar mengurangi rasa sesak dan sakitnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah acara makan bersama dan Pak Penghulu serta tamu-tamu yang hadir pulang, maka yang tinggal diruangan makan itu hanyalah Pak Daud dan Yenni. Orang tua Yenni kekamarnya untuk berganti pakaian. Daud memandang Yenni yang duduk berhadapan di meja makan saat itu. Dia tengah berpikir bagaimana cara menyampaikan hasratnya kepada Yenni. Dia menyadari bahwa itu artinya dia membuat masalah. Dia akan mengingkari kesepakatan yang telah dibuatnya, yaitu, tidak akan menggauli Yenni. Namun dia juga melihat adanya peluang sebagaimana sumpah yang telah diucapkan di depan Penghulu tadi, bahwa dia harus menafkahi Yenni selaku istrinya secara lahir ataupun batin. Dia adalah suami yang memiliki Kewajiban dan Hak.</p>
<p style="text-align: justify;">Mata Daud tak juga lepas dari perhatiannya kepada Yenni yang kini telah resmi sebagai ‘istrinya’ itu. Hatinya terus bicara, alangkah mulus dan cantiknya Yenni ‘istriku’ ini. Dia sudah bulatkan tekadnya. Dia akan merasakan kehangatan tubuh Yenni, karena saat itu Yenni syah sebagai istrinya. Dia akan menggaulinya sebagaimana seorang suami pada istrinya. Dia akan melahapi bagian-bagian sensual tubuh Yenni. Dia akan melumati bibirnya. Dia akan menjilati lehernya. Dia akan mengecupi dan membuat cupang-cupang pada dadanya, payudaranya, pentil-pentilnya, tulang rusuknya, pinggulnya, perutnya, selangkangannya, pahanya, betisnya… Uuuccchh… Pokoknya tak akan ada yang terlewat dari pagutan, ciuman maupun jilatannya.</p>
<p style="text-align: justify;">Dia akan sepenuhnya menikmati tubuh Yenni hingga datang saatnya dia menceraikannya nanti. Dia punya waktu 3 hari. Selama itu dia tak akan pergi keluar dari kamarnya. Dia akan terus mengeloni Yenni yang sangat cantik ini. Bahkan mungkin dia bersama Yenni tak sempat untuk menutupi tubuhnya dengan busananya. Dia akan terus telanjang dan selalu siap untu melakukan hubungan sebagaimana suami istri adanya. Dia akan minta para pelayan orang kaya ini untuk menyiapkan kebutuhan makan dan minumnya di kamarnya. Hasrat syahwat birahi macam itulah yang membulatkan tekad dan memperkuat nyali Pak Daud untuk bertindak sebagai lelaki yang telah menjadi suami Yenni.</p>
<p style="text-align: justify;">Lalu ia berkata, “Zus Yenni… Zus dengar kata-kata penghulu tadi khan? Bahwa suami berhak atas tubuh istrinya untuk menggaulinya… ?!”, kata Pak Daud pelan tetapi jelas dan tajam seperti pisau silet.</p>
<p style="text-align: justify;">Yenni memandang heran dan tidak percaya mendengar omongan Pak Daud barusan. Perasaan aneh bercampur kaget bercampur lagi dengan ngeri yang kemudian disusul dengan darahnya yang bergidik dan tubuhnya menggigil gemetar mendengar suara yang keluar dari mulut Pak Daud tadi.</p>
<p style="text-align: justify;">Terpikir oleh Yenni, mungkin sesudah menyaksikan kecantikan dirinya yang mempesona Pak Daud langsung bertekad untuk ingkar dari kesepakatan yang telah dibuatnya bersama keluarganya. Pak Daud tidak mematuhi salah satu klausul-nya yang berbunyi, ‘tidak akan menggauli Yenni, istrinya’.</p>
<p style="text-align: justify;">Yenni menjadi panik. Dia mengerti arah pembicaraan Pak Daud, tetapi dia tetap berharap agar Pak Daud tidak mengingkari apa yang telah dia sepakati. Dengan marah dan ketus Yenni berkali-kali mengingatkan janjinya itu. Tetapi Pak Daud berkilah bahwa janji pada keluarga Yenni tidak seberat sumpahnya di depan Penghulu tadi. Jadi, bagi Pak Daud sepertinya ‘Maju Kena Mundur Kena’, kalau dia menggauli istrinya dia ingkar janji pada keluarga Yenni, tetapi kalau di tidak menggauli istrinya dia melanggar sumpahnya di depan Penghulu. Pak Daud merasa lebih takut pada sumpahnya di depan Penghulu.</p>
<p style="text-align: justify;">Yenni kehilangan akal. Dia tak bisa membantah apa yang disampaikan Pak Daud. Usahanya untuk membujuk Pak Daud agar mematuhi janjinya sia-sia. Pak Daud tetap bersiteguh untuk ‘memberikan nafkah batin’ kepada Yenni, sekaligus mengingatkan kepadanya bahwa merupakan kewajiban seorang istri untuk melayani suaminya. Pak Daud juga mengingatkan dan mengancam, bahwa jika kehendaknya dihalang-halangi maka seumur-umur dia tidak akan menceraikan Yenni dan dia berjanji bahwa keluarga Yenni akan mendapat malu yang besar.</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam kepanikannya Yenni mendatangi orang tuanya dan mengadukan maksud Pak Daud yang tidak sesuai dengan kesepakatan itu. Ayah Yenni menemui Pak Daud dan dengan sangat berang dan jengkel. Dia minta Pak Daud untuk tidak macam-macam atau batal imbalan Rp. 30 jutanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Tapi Daud bersikeras akan haknya saat itu. Pak Daud yakin ‘kartu As’-nya berada di tangannya.</p>
<p style="text-align: justify;">Merasa bahwa posisi keluarganya lemah secara hukum atas apa yang memang menjadi hak Pak Daud, dengan segala duka, marah, jengkel, kesal dan putus asa yang tercampur aduk ayah dan ibu Yenni pergi meninggalkan Yenni dan Pak Daud di rumahnya. Ayah Yenni lebih takut kalau Pak Daud berbuat lebih jauh hingga menyentuh citra keluarga di mata masyarakat umum.</p>
<p style="text-align: justify;">Masih dengan pakaian kebaya pengantinnya Yenni menangis histeris dan berlari menaiki tangga lantai atas menuju ke kamarnya. Hatinya sungguh sakit, kecewa, kecut, dongkol dan kesal. Yenni tak tahu lagi pada siapa dia harus mengadu. Dia merasa sendirian hidup di dunia ini. Kenapa tiba-tiba beban ini mesti dipikul sendiri? Dia menangisi nasibnya yang terlunta-lunta.</p>
<p style="text-align: justify;">Dia menggigil ketakutan pada apa yang kemungkinan akan terjadi. Fisiknya tidak akan mampu melawan fisik Pak Daud. Dan apapun yang terjadi kini ‘kartu As’nya sepenuhnya ada di tangan Pak Daud. Dia menjadi orang yang kalah. Seluruh keluarga Yenni yang selama ini sangat terhormat bagi masyarakat kota ini kini telah kalah sama Pak Daud yang hanya kuli panggul terminal itu. Duuhhh… Kenapa bisa jadi begini…? Bahkan pada saat-saat seperti ini tak seorangpun yang mampu menolongnya. Tidak juga Ryan yang semestinya dia terjun untuk menjadi ‘penolong’nya.</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam keadaan panik dan putus asa dia rebahkan tubuhnya ke sofa di kamarnya. Dia merasa sangat terpukul. Sungguh pukulan yang telak telah menimpa sanubarinya. Dia merasa sangat lelah. Tekanan-tekanan kesepiannya selama ini membuat Yenni mudah lelah dan lumpuh.</p>
<p style="text-align: justify;">Yenni menarik nafas panjangnya untuk mengurangi kepengapan dalam dirinya. Sebelum ini dia pernah mengalami tekanan dalam hidupnya walaupun tidak seberat sekarang. Dengan bernafas panjang dia merasakan darahnya mendingin. Dia bisa lebih relaks.</p>
<p style="text-align: justify;">Satu-satunya cercah harapan sekarang hanyalah bersikap ‘pasrah’. Yenni ingin selekasnya bisa melewati situasi dan perasaan yang demikian berat menindihnya. Que serra serra. Terjadilah apa yang harus terjadi. Bagaimanapun Pak Daud khan manusia juga.</p>
<p style="text-align: justify;">Ahh… Tiba-tiba Yenni sepertinya melihat jalan keluar. Dalam keadaan tak satupun orang yang menolongnya dia dituntun oleh sebuah cahaya. Dia yakini kebenaran cahaya itu. Dan cahaya itu justru datang dari arah Pak Daud. Hatinya juga ikut berharap, mudah-mudahan Pak Daud tidak kasar dan menyakiti dirinya. Itulah kunci utama cahaya itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Aneh, ya… Pak Daud yang pada awalnya menjadi penyebab krisis kini berbalik menjadi harapan bagi Yenni. Ataukah dia sudah menyerah? Dan yang lebih menyakitkan lagi, apakah dia bisa melawannya? Atau apakah ada manfaatnya untuk melawan Pak Daud? Atau, apa sih keberatannya kalau mengikuti saja apa maunya Pak Daud? Bukankah dia juga lelaki yang normal? Ataukah karena dia hanya kuli panggul? Edan!</p>
<p style="text-align: justify;">Secepat itukah Yenni harus mengambil keputusan akhir? Yaaa…, kapan lagi? Bukankah memang waktunya juga terlampau sempit untuk menimbang-nimbang hal yang runyam ini? Yenni harus mengambil sikap dan keputusan secara cepat. Dia merasa tidak perlu meminta pendapat pihak lain. Toh mereka semuanya telah meninggalkannya. Aahhh… Kenapa mesti begini…??</p>
<p style="text-align: justify;">Melihat Yenni menangis sambil berlari ke kamarnya Pak Daud sepertinya mendapatkan dorongan dan panggilan. Dia percaya larinya Yenni adalah untuk menunggunya di kamarnya. Dan sekaranglah saatnya dia harus melakukan kewajiban dan haknya. Dia berdiri dari duduknya dan dengan teguh dia melangkan kakinya menuju anak tangga dan menaikinya untuk menyusul Yenni di kamarnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Dia ketemu pintu kamar yang terbuka. Sepertinya Yenni memang tengah menunggunya. Nampak Yenni duduk menyandarkan kepalanya di sofa yang membelakanginya. Pelan-pelan tanpa menimbulkan suara di kakinya yang menginjak karpet mewah kamar Yenni, Pak Daud datang mendekati ‘istrinya’. Dia datang dari arah punggungnya. Tepat diatas kepala Yenni, sambil tangannya berpegang pada sandaran sofa, Pak Daud menundukkan kepalanya. Dia mencium ubun-ubun Yenni. Hidungnya segera diterpa aroma wangi rambutnya yang seumur-umur belum pernah menciumnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Ah… Ternyata ‘istrinya’ itu tidak nampak kaget atas ciumannya. Yenni sama sekali tidak bergerak. Dia tidak menolak kehadiran dan sentuhan Pak Daud. Adakah dia telah menerima kehadirannya sebagai suaminya? Adakah dia telah memahami hak dan kewajibannya? Adakah dia telah siap untuk melayaninya sebagai istrinya?</p>
<p style="text-align: justify;">“Zus Yenni, kamu jangan takut dan sedih. Aku suamimu akan sepenuhnya hadir demi kebahagiaanmu. Katakan sejujurnya apabila aku salah. Ucapkan kesangsianmu kalau kamu ragu. Lemparkan umpatanmu kalau kamu pandang aku tak pantas berada disisimu. Ayolah, zus Yenni, hadapilah kenyataan hidup ini dengan kecantikan hatimu. Dekatilah kenyataan itu dan terimalah kehadiranku. Mari kita melakukan sesuatu yang Hak dan yang Wajib”.</p>
<p style="text-align: justify;">Sepintas dalam sikapnya yang memang telah pasrah Yenni sempat heran, koq ada kuli panggul bisa ngomong macam itu? Macam filosof campur sastrawan saja. Ah, memang aneh hidup ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Tapi secara jujur Yenni akhirnya membuka sedikit pintunya untuk Pak Daud. Timbul rasa iba pada Pak Daud. Sebagai sesama manusia yang mengaku beradab, dia merasa telah berkonspirasi untuk melecehkan martabatnya yang hanya kuli panggul itu. Dengan sesenggukan dan linangan air matanya dia bersuara pelan, agak serak karena tangisnya,</p>
<p style="text-align: justify;">“Sesungguhnya, Mas, yang aku tangisi dan kesali adalah nasibku sendiri. Dalam situasi yang sangat berat begini, ternyata tak ada seorangpun yang memberikan aku pencerahan. Aku harus mencari sendiri jawabannya”.</p>
<p style="text-align: justify;">Mendengar dari mulut cantik Yenni memanggilnya dengan ‘Mas’, Pak Daud serasa disiram sejuknya mata air dari pegunungan. Dia merasakan betapa tak ada lagi yang menyesakkan hatinya. Kini dia lebih yakin akan tindakannya. Pak Daud bergerak ke depan sofa untuk duduk disamping Yenni. Dia meraih tangan ‘istrinya’ itu. Dia cium punggung tangan yang lembut itu. Nampak warna yang kontras kini ada di atas sofa itu. Yenny yang serba bersih dengan kulitnya yang putih dan halus lembut disamping Pak Daud yang hitam, serba keras dan kasar.</p>
<p style="text-align: justify;">Namun itulah salah satu jenis ‘keindahan sejati’. Keindahan yang bukan lahir dari tangan-tangan manusia. Tetapi keindahan yang lahir dari perjalanan nasib dua anak manusia. Keindahan yang dipaterikan oleh Sang Maha yang tak pernah bisa ditebak maunya. Dia yang selalu memberikan kejutan bagi hamba manusia. Dia yang tak mungkin dihindari. Dia yang tak terlawankan. Dia yang serba mutlak.</p>
<p style="text-align: justify;">Ciuman di punggung tangan Yenni yang juga disertai kecupan kemudian jilatan lidah oleh Pak Daud merembet seiring dengan rembetan syahwat birahinya. Bibir Pak Daud mulai mengulum jari-jari lentik Yenni. Amppuunn…</p>
<p style="text-align: justify;">Perasaan Yenni merinding dan berdesir. Mungkinkah ini terjadi…, beberapa detik yang lalu aku disambar bencana dan kesedihan, tiba-tiba kini datang sebuah sensasi lain yang bertolak belakang terasa sedang merambati sanubariku, demikian angin lembut membisik di telinganya.</p>
<p style="text-align: justify;">Sensasi itu berupa energi yang menggelitik dan membangunkan saraf-saraf libidonya. Sebuah rangkaian isyarat dari libidonya yang membangkitkan hasrat birahi. Kuluman dan jilatan bibir dan lidah Pak Daud langsung menerpa syahwatnya. Yenni merasa seakan dibanting dan kemudian dilemparkan ke orbit nikmat syahwat yang tak bisa diucapkan dalam kata.</p>
<p style="text-align: justify;">Bibir tebal dan lidah kasar Pak Daud yang mengulum dan mejilati jari-jarinya membuat Yenni terbangkit dari lumpuhnya. Bibir dan lidah itu seperti alat kejut pacu jantung. Tubuh dan jiwa Yenni disentak-sentakkan untuk menerima sebuah nalar baru. Seakan bertekuk lutut pada apa yang tak mampu dia hindarkan, Yenni langsung berubah sikap dan cara pandang hidupnya. Yenni melihat cahaya yang beda dari cahaya sebelumnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Yenni kini adalah Yenni yang siap menerima Pak Daud sebagai suaminya yang harus dia layani sebagai layaknya seorang istri yang patuh pada kewajibannya. Yenni mendesah dan melenguh panjang. Dia telah tenggelam dalam hasrat seksual yang sangat tinggi. Sesudah tak terjamah oleh lelaki selama 11 bulan kini Yenni sangat matang untuk menerima kehadiran Pak Daud.</p>
<p style="text-align: justify;">Dengan penuh intens Pak Daud merambatkan bibir dan lidahnya ke lengan-lengan Yenni. Dan pelan-pelan tetapi pasti tangan-tangan kekar Pak Daud menerobos ke kebaya dan memeluki punggung ‘istrinya’, sedikit meremasi belikatnya untuk kemudian dilepaskannya untuk meneruskan rabaannya menuju ke dada. Dia mendengarkan betapa Yenni merintih nikmat saat jari-jarinya menyentuh kemudian memilin kecil puting payudaranya.</p>
<p style="text-align: justify;">Yenni yang juga pelan tetapi pasti telah hanyut dalam nikmat birahi tahu bahwa sudah saatnya dia mesti melepaskan busananya. Dia harus dan ingin membuka jalan untuk bibir dan lidah Pak Daud melata merambahi tubuhnya. Dia lepaskan bros berlian yang jadi kancing-kancing kebayanya itu. Dia lepaskan ikatan tali BHnya. Dia hidangkan susunya yang ranum untuk dikemot-kemot bibir tua Pak Daud. Selanjutnya Yenni hanyalah menunggu sambil merintih dan mendesah nikmat. Tangannya memeluk dan mengelusi kepala ’suaminya’. Yenni meremasi rambut Pak Daud sebagai ungkapan dan penyaluran gelisah birahinya.</p>
<p style="text-align: justify;">Terlintas dalam pikiran Pak Daud untuk meninggalkan cupang-cupang pada seluruh tubuh putih Yenni. Ada semacam nafsu ’sok’ pada diri Pak Daud. Dia ingin pamer kehebatannya sebagai lelaki pada orang lain. Pada ‘istrinya’ dan keluarganya. Yaa… Maklumlah orang macam Pak Daud khan memang tidak memiliki sesuatu yang pantas dia banggakan kepada orang lain.</p>
<p style="text-align: justify;">Jadi yaa… Dengan cupang-cupang itulah yang sedang dia lakukan kini. Dia telah cupangi leher Yenni dan kini dia cupangi pula buah dadanya, rusuknya, dan yang sejak upacara ijab kabul tadi telah menggelisahkan syahwatnya adalah ketiak Yenni. Lidahnya merambah lembah putih ketiak Yenni sambil hidungnya mengendusi aromanya. Bibirnya menyedot lama untuk merasakan asin keringat ‘istrinya’ sekaligus meninggalkan cupang. Dia lakukan itu pada kedua belah ketiaknya.</p>
<p style="text-align: justify;">Bagaimana Yenni menerima hamparan nikmat yang dilayankan oleh Pak Daud. Bagaimana Yenni menjawab tulus telah tersalurnya syahwat yang terpendam 11 bulan. Bagaimana Yenni mengungkapkan ‘thanks’nya kepada Pak Daud atas sensasi-sensasi yang begitu melimpah dari kekerasan dan kekasaran fisiknya. Jawabannya adalah desah, lenguh serta rintihan syahwatnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Dengan desah, lenguh dan rintihan itu Yenni telah mendongkrak semangat Pak Daud menjadi berlipat kali. Dia semakin kiprah dengan jilatan dan kecupannya. Dan pada kelanjutannya Pak Daud membopong Yenni dan memindahkannya ke atas ranjang.</p>
<p style="text-align: justify;">Yenni tak merasakan apa-apa lagi saat tubuhnya dibopong Pak Daud. Dia sedang larut dalam arus birahinya. Bagi Pak Daud yang kuli panggul itu membopong Yenni bukanlah hal yang berat. Otot-otot lengannya nampak mengeluarkan bisepnya saat tubuh Yenni dalam bopongannya.</p>
<p style="text-align: justify;">Arus birahi Yenni menuntun spontan untuk memeluki bahu dan leher Pak Daud. Dengan posisi begitu Pak Daud dengan hati-hati meletakkan tubuh Yenni ke kasur empuk ranjangnya. Dan saat itulah Yenni yang semula memeluki leher kini dia menenggelamkan wajahnya ke leher itu dan menyentuhkan bibirnya. Pak Daud tahu Yenni dalam keadaan sangat haus. Dia merasakan nafas Yenni di lehernya. Juga saat bibir Yenni menyentuh pori-pori lehernya yang membuat Pak Daud kini ganti mengeluarkan desahannya.</p>
<p style="text-align: justify;">Memang Yenni telah terayun dalam gelombang birahi. Ciuman yang meninggalkan cupang-cupang pada tubuhnya membuat Yenni terlempar tinggi dalam orbit syahwatnya. Yenni menjadi demikian haus dan kering tenggorokannya. Dia ingin ada sesuatu yang bisa membasahkan rongga mulutnya. Dengan sedikit menyentuhkan bibirnya ke leher Pak Daud dia bisa merangsang liurnya keluar dari kelenjarnya hingga kering mulutnya terhindari.</p>
<p style="text-align: justify;">Namun saat dia mendengar desah Pak Daud akibat dari sentuhan bibirnya itu, birahinya yang memang telah bangkit langsung terdongkrak. Dia mulai merubah sentuhannya menjadi kecupan kemudian gigitan kecil. Tangannya bergerak menggapai dada Pak Daud kemudian meremasi otot-ototnya yang liat. Dia rogohkan tangannya masuk ke dalam kemeja pengantinnya yang belum dilepaskannya. Yenni menjawab desah Pak Daud dengan rintihan kehausan.</p>
<p style="text-align: justify;">Pak Daud tanggap pada apa yang kini menyergap ‘istrinya’. Dia harus melakukan peranannya selaku ’suami’ dengan sebaik-baiknya. Dia tindih tubuh Yenni untuk kemudian mendekatkan wajahnya ke wajah Yenni. Bibir Pak Daud dengan rakusnya menerkam bibir Yenni. Lidahnya diruyakkan ke mulut Yenni untuk mendapatkan lidah Yenni pula. Gayung bersambut.</p>
<p style="text-align: justify;">Yenni yang demikian kehausan langsung menerkam balik mulut Pak Daud. Dia tak lagi terpikir mengenai bau mulut kuli panggul terminal kota ini, meskipun Pak Daud memang tidak punya masalah dengan bau mulut. Yang dia rasakan kini adalah kenikmatan saling pagut dan lumat antara mulutnya dengan mulut Pak Daud. Lidah dan ludah ’suami istri’ itu saling bertukar. Mereka telah menyatu dalam ketunggalan arus syahwat birahi. Yenni bersama Pak Daud mulai mengarungi samudra nikmatnya pengantin baru. Desah dan lenguh saling bersahutan keluar dari mulut Yenni dan Pak Daud. Sebuah peristiwa Hak dan Kewajiban suami dan istri sedang berlangsung di kamar mewah keluarga orang tua Yenni. Jam dinding yang berdetak-detak tak lagi mengganggu keasyikan dua insan dalam mengarungi nikmatnya nafsu birahi.</p>
<p style="text-align: justify;">Tangan-tangan lentik Yenni nampak tanpa ragu dan tak sabar melepasi kancing kemeja Pak Daud. Begitu terbuka sedikit dan dia melihati gempalnya otot-otot dada suaminya Yenni tak mampu menahan diri. Dia dekatkan bibirnya. Hidungnya mencium bau alami dari keringat tubuh kuli panggul yang kini adalah suaminya ini. Bau itu sangat menyentuh nuraninya. Yenni merasa jauh dari yang serba artifisial dan industri. Dia merasa jatuh ke pangkuan alam yang penuh jujur dan bening.</p>
<p style="text-align: justify;">Yenni merasakan gairah birahi yang beda dengan yang pernah dikenalnya saat bersama Ryan suaminya dulu. Kontras latar belakang baik secara fisik maupun non fisik antara dirinya dengan diri ’suaminya’ membuahkan sensasi sendiri. Dia semakin merasa terangsang secara seksual dalam tindihan tubuh Pak Daud yang kokoh dan kasar itu. Gairah libidonya membakar semangat syahwatnya untuk melakukan apapun yang dia inginkan. Yenni tak lagi tersendat oleh harga diri, martabat, status sosial yang dia cangking dari kerabat besarnya. Yenni ingin jadi Yenni pribadi. Yenni ingin mengekspresikan kehendak syahwatnya secara jujur dan lugas.</p>
<p style="text-align: justify;">Dia tak lagi menunda keinginan syahwatnya. Dengan penuh nafsunya dia mengemoti dada Pak Daud. Dia mencaplok susu Pak Daud. Dia gigit-gigit kecil putingnya. Dia juga pelukkan tangannya ke punggung ’suaminya’ dan mencakar-cakarkan kecil kuku-kukunya ke daging punggungnya yang liat.</p>
<p style="text-align: justify;">Sungguh sebuah karunia dunia yang kini sedang melanda nikmat pada diri Pak Daud. Seorang perempuan secantik dewi tengah nyungsep di dadanya. Pentil susunya sedang dalam lumatan bibir-bibir mungil Yenni yang ‘istrinya’ ini. Kenikmatan tak bertara yang dia baru pertama rasakan seumur hidupnya. Kemaluannya langsung ngaceng membengkak dan menonjol dalam celananya. Dia kini lebih berani untuk menindihkan selangkangannya ke paha istrinya. Dia juga gesek-gesekkan tonjolan itu. Dia ingin tunjukkan betapa organ vitalnya telah demikian haus untuk menyentuhi tubuh Yenni.</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam posisinya yang tertindih, Yenni menerima isyarat syahwat Pak Daud. Dia tahu yang menggesek-gesek pada pahanya adalah Kontol kuli panggul yang kini ’suaminya’ itu. Dia merasakan ada hangat dari tonjolan celana Pak Daud. Dia kembali merasa bahwa akan mengalami sensasi yang lain. Dia akan menjamah dan dijamah Kontol lain dari lelaki lain yang sama sekali tidak dikenalnya sebelum ini. Macam apakah wujudnya? Semacamkah dengan milik Ryan yang bekas suaminya itu? Sebuah dorongan untuk menyibak keingintahuan mendesaki rongga hati Yenni. Dia meng’egos’kan pinggul dan pantatnya. Yenni menjawab isyarat syahwat Pak Daud dengan isyarat pula. Pinggul dan pantatnya menjemput desakan Kontol Pak Daud pada pahanya. Yenni juga mengeluarkan desahan dan rintih panjang. Yenni nampak amat haus dan menuntut untuk dipuaskan oleh Pak Daud.</p>
<p style="text-align: justify;">Pak Daud menjawab tuntutan Yenni dengan nalurinya. Dia bangkit melepaskan emotan bibir Yenni pada puting-puting susunya. Dengan kobaran birahinya dia turun ke selangkangan ‘istrinya’. Tangannya merenggut pinggul untuk merangkul pahanya. Dia mulai dengan menciumi perut Yenni yang langsung merespon dengan menggelinjang dan berteriak dalam desahannya. Kegelian erotis yang luar biasa menyerang Yenni. Jilatan dan sedotan pada pori-pori perut yang sarat dengan saraf-saraf peka membuat Yenni kelojotan dan menggeliat-geliat.</p>
<p style="text-align: justify;">Sementara itu tangan-tangan Pak Daud juga meremasi bongkahan pantatnya yang sungguh indah itu. Yenni benar-benar mendapatkan sensasi seksual yang luar biasa dari lelaki yang baru dikenalnya ini. Demikian birahinya yang mendesak-desaki saraf-saraf peka itu membuat Yenni tak lagi mampu mengontrol gejolak syahwatnya. Dia tak lagi menahan teriakannya. Dia meraung keras seakan hendak memecah kaca-kaca dan menggetarkan kain gorden kamarnya. Dia cabik-cabik bahu Pak Daud. Dia betot gumpalan otot kuli panggulnya. Kemudian dia sorong kepalanya. Yenni sudah sangat ingin Pak Daud merambahkan bibirnya ke vaginanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Pak Daud memang tersorong ke bawah tetapi belum ingin memenuhi tuntutan Yenni. Dia tidak atau belum menyentuh vagina ‘istrinya’ yang kini masih terbungkus celana dalam putih itu. Dia menenggelamkan mukanya ke selangkangan wanita cantik ini. Dia menciumi dan menjilati dengan penuh histeris kedua selangkangan sang dewi ‘istrinya’ itu. Pak Daud ingin menghirupi sebanyak aroma yang menebar dari lembah dan palung-palung selangkangan yang demikian bersih dan memancarkan pesona itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Jangan tanyakan lagi bagaimana gelinjang yang menerjang sanubari Yenni. Pantatnya dia angkat-angkatnya untuk menjemputi bibir Pak Daud dan tangannya meremas jengkel penuh geregetan syahwatnya. Dia jengkel kenapa Pak Daud tidak lekas nyungsep ke lubang kemaluannya. Tetapi dia juga menikmati betapa lidah-lidah dan bibir-bibir Pak Daud menjilati dan mengulum-kulum seluruh kawasan selangkangannya itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Sekali lagi Pak Daud belum ingin menyentuh vagina istrinya. Dari selangkangnya dia sedikit meng’egos’kan wajahnya untuk menyentuhi celana dalam Yenni untuk kemudian cepat menurunkan jilatan dan kecupan bibirnya ke kedua paha Yenni. Uuuhhh… Bagaimana Pak Daud tidak terpana. Paha Yenni ini benar-benar paha yang… Uuhh… Pak Daud tak mampu mengistilahkan. Dia tak kuasa menyebutkannya. Keindahan paha Yenni seakan tak tersentuhnya. Nyaris tak kuat memandanginya. Pak Daud hanya terus mengecupi dan menjilatinya. Sepanjang itu pula hidungnya terus menerus diterpa wangi tubuh ‘istrinya’.</p>
<p style="text-align: justify;">Pak Daud menyadari bahwa tak mungkin membiarkan Yenni terlampau lama disiksa syahwat birahinya. Tak mungkin membiarkan Yenni menunggu dengan kejam permainan libidonya. Pak Daud menyadari bahwa Yenni telah sangat tak tertolongkan. Dia harus cepat dipenuhi tuntutan kehausannya.</p>
<p style="text-align: justify;">Dilepaskannya kancing celana yang pinjaman dari bapak Yenni untuk acara ijab kabul ini. Dia tolak dan perosotkan celana pinjaman itu dan dilepaskannya ke lantai. Dia juga lepaskan sisa kemejanya. Kini Pak Daud menindih tubuh Yenni dengan sepenuhnya telanjang. Kemudian dia mengisyaratkan kepada ‘istrinya’ bahwa dirinya telah lepas busana. Dia naik kembali untuk menerkam susu-susu ranum Yenni. Bibirnya mengemoti puting-putingnya. Dan dia juga membiarkan Kontolnya yang telah demikian keras dan ngaceng lepas untuk menekan paha Yenni.</p>
<p style="text-align: justify;">Yenni merasa Pak Daud mempermainkannya. Syahwat birahinya marah dan mengamuk. Dia betot otot-otot tubuh Pak Daud dengan cakarnya. Dia lampiaskan kemarahan birahinya yang panas membara. Dia teriak dan menangis histeris,</p>
<p style="text-align: justify;">“Mas…, kamu kejam!! Kejam!! Ampuunnn…! Ayyoo.. Masss…! Cepat mas…, kamu telah menyiksa aku masss…!! “. Tangannya juga memukuli bahu ‘suami’nya yang bidang itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Ucapannya yang terakhir ini disertai dengan amuk tubuhnya. Dia bangkit bak singa betina lapar. Dia bangun dengan tangannya cepat mencari untuk menerkam kontol Pak Daud. Dan… Kena!</p>
<p style="text-align: justify;">Tangan itu bisa meraih dan menangkap kemaluan Pak Daud. Tetapi seketika pula dia cepat lepaskan. Yenni sungguh terkaget dan terpana. Dia sama sekali tidak membayangkan akan apa yang sesaat tadi di raihnya. Dia sangat kaget hingga tubuhnya tersentak. Dia mendapatkan kontol yang sangat hewaniah. Kemaluan Pak Daud hampir tak tergenggam oleh telapaknya. Kontol itu hhaahh… Kenapa demikian ukurannya. Sangat besar, keras dan demikian panjangnya. Sangat tak sepadan dan begitu jauh dengan kontol milik Ryan mantan suaminya itu. Yenni berbalik dengan kengerian. Adakah dia harus melayani monster ini?</p>
<p style="text-align: justify;">Tetapi lumatan bibir-bibir nikmat Pak Daud yang ’suaminya’ di puting-puting susunya memberikan jawaban pada syahwat Yenni. Lumatan bibir Pak Daud itu macam api pemicu. Lumatan itu juga disertai gigitan kecil yang sangat pedas. Pedasnya ini merambati saraf-saraf libidonya menuju kawasan yang paling peka di tubuhnya. Kemaluan Yenni tak lagi mau menunggu keraguan pemiliknya. Memek Yenni kini telah demikian membasah oleh cairan birahinya. Dia, kemaluan itu telah menantikan kemaluan gede Pak Daud memasuki gerbangnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Dan Yenni, yang sementara dalam keraguan berada di persimpangan, tanpa dia sadari sepenuhnya kini tangannya bergerak dengan sangat cepat.</p>
<p style="text-align: justify;">Tangan-tangan Yeni merengkuh dan menarik lepas celana dalamnya sendiri. Dia angkat menjulang tungkai kakinya untuk melepas keluar potongan kecil kain putih celana dalamnya itu. Dan kini Yenni telanjang bulat… Dia tunjukkan keindahan kewanitaannya. Dia tampakkan rahasia kemaluannya yang diseputari rambut-rambut halus tipis yang sangat mempesona. Dia pamerkan betapa kelentitnya merebak lebar simetris macam sayap-sayap kupu dengan warna merah bak anggur yang matang siap panen. Duh… Sungguh indahnya kelentit itu…</p>
<p style="text-align: justify;">Pengantin putri ini telah siap memberikan keindahan tubuhnya untuk melayani kebutuhan nafkah batin bagi pengantin prianya. Ketakutan Yenni telah sirna. Dia yakin ’suaminya’ akan membimbingnya dalam menapaki nikmat surga dunia. Dan itulah yang kini sedang dirintis Pak Daud.</p>
<p style="text-align: justify;">Dia menguakkan paha istrinya dan membuka jalan bagi kemaluannya untuk mendekat ke gerbang vagina Yenni. Yenni menutup matanya. Dia ngeri menyaksikan monster itu. Dia hanya percayakan kepada Pak Daud dan menunggu serta merasakan apa yang terjadi.</p>
<p style="text-align: justify;">Agak terkaget saat ujung Kontol Pak Daud menyentuh bibir kemaluannya. Tetapi kaget itu langsung sirna tergantikan rasa gatal sekaligus haus yang sangat. Dia tak sabar lagi untuk merasakan kemaluan Pak Daud menerjangi gerbang vaginanya. Pantatnya naik dan bibir kemaluannya menjemput.</p>
<p style="text-align: justify;">Jerit sakit dan pedih erotis dari mulut Yenni terdengar memenuhi kamarnya. Pak Daud telah mulai menekankan batang kemaluannya ke gerbang kemaluan Yenni. Dia menekan tubuh atletisnya untuk mendorong dan menembus. Dan uucchh… Bagaimana Yenni akan tahan? Kemaluan itu sangat sesak menerobosi vagina Yenni yang demikian sempitnya. Sesudah 11 bulan tak pernah digauli adakah kemaluan ini menyempit? Rasa sakit dan pedih langsung menerpa Yenni. Sakitnya mengingatkan saat kehilangan selaput perawannya dulu. Adakah Pak Daud juga merasakan seakan hendak menyobek selaput perawannya juga yang untuk ke dua kalinya?</p>
<p style="text-align: justify;">Basah birahi dari lubang vagina Yenni tidak banyak membantu. Yenni mengaduh-aduh dalam rintihan dan desahannya meninggalkan iba. Tetapi Pak Daud tak kenal menyerah.</p>
<p style="text-align: justify;">Dia coba lagi dengan tambahan ludahnya untuk pelicin. Tetapi tak juga membuahkan kelancaran. Akhirnya Pak Daud merubah cara. Dia turun ke selangkangannya. Dia hadapkan wajahnya ke vagina Yenni. Dia dekatkan bibirnya. Pak Daud langsung melumatkan mulutnya ke vagina Yenni. Dengan penuh kelembutan dia melumati seperti melumati bibir Yenni. Dengan penuh perasaan dia mengulum sepasang kupu-kupu kelentitnya seperti mengulum lidah di bibir Yenni. Dengan penuh selera dia menghisap cairan-cairan birahi Yenni dan menelannya. Dengan penuh kecapan dia nikmati rasa asinnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Pak Daud berusaha menghilangkan ketegangan ataupun ketakutan ataupun keraguan pada diri Yenni. Dengan cara ini Pak Daud telah membuat lubang vagina Yenni menjadi lebih lemas dan relaks. Dan bagi Yenni sendiri akan membantu mengurangi ketegangan.</p>
<p style="text-align: justify;">Bermenit-menit Pak Daud melakukan olahan pada vagina Yenni hingga dia yakin bahwa Yenni telah siap untuk menerima tusukkan kemaluannya. Dan Yenni… Dia sungguh merasakan kelembutan dan lumatan bibir Pak Daud di vaginanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Dia terbang ke awang nikmat dan terbuai dalam alun syahwat yang tenang tetapi sangat menghanyutkan. Dalam situasi begitu Yenni yang kembali menarik kepala Pak Daud ke atas untuk kembali menusukkan kemaluannya pada vaginanya. Tangan Yenni kini tak ragu untuk menggenggam dan meraih Kontol Pak Daud untuk dituntunnya ke arah lubang vaginanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Dan… Yenni merasakan betapa nikmatnya saat kepala Kontol Pak Daud mulai menguak gerbang vaginanya. Dia mengegoskan pantatnya untuk lebih mendesak dan melincirkannya. Kemudian… Blleezzz… Blezzz… Blezzz… Senti demi senti… Pelannn… Yenni merasakan batang gede penuh otot milik ’suaminya’ itu meretas masuk menembusi dinding peka vaginanya. Dorongan pelan-pelan Pak Daud pada Kontolnya untuk menembusi vaginanya sungguh menjadi sensasi nikmat yang tak terpana. Dia merasakan betapa setiap saraf pekanya berinteraksi dengan kehadiran batang kemaluan Pak Daud itu. Yenni hanya bisa mendesah sambil menutup matanya, merasakan mili demi mili dinding vaginanya mencengkeram menahan gesekan Kontol Pak Daud. Air matanya keluar. Dalam badai nikmatnya Yenni menangis sesenggukan…</p>
<p style="text-align: justify;">Yenni tahu… Puncak nikmat ini harus dia tebus dengan seluruh hidupnya. Dengan membiarkan kenikmatan ini melandanya berarti Yenni harus rela melapas segala milik sebelumnya. Dia tak mungkin kembali kepada Ryan. Dan mungkin dia juga tak diterima ayah-ibunya lagi. Dengan menerima Pak Daud berarti dia berseberangan dengan keluarganya termasuk keluarga Ryan.</p>
<p style="text-align: justify;">Tetapi memang, Yenni sekarang bukan Yenni beberapa jam yang lalu. Dia akan terbuka dan jujur pada siapapun demi kebahagiaan hidupnya. Yenni sekarang adalah Yenni yang sesungguhnya, Yenni yang sejati. Yenni yang akan mengarungi sepenuh hidupnya sejalan dengan keyakinan yang di anutnya. Yenni sekarang adalah ‘nyonya Daud’ yang kuli panggul terminal kota itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Tetapi Yenni merasa sangat mulia. Dia tak perlu khawatir dengan hidup. Siapa sih yang mengaturNya? Siapa sih yang mampu menolakNya? Siapa sih yang mampu menghindariNya?</p>
<p style="text-align: justify;">Tiba-tiba dia merasakan begitu ribuan nikmat sedang merambati tubuhnya. Dari segala arah tubuhnya menggelinjang menerima rambatan nikmat itu. Dia rasakan ada semacam desakan yang menjebol saraf-saraf birahi dari dalam vaginanya. Sesuatu yang tak bisa dihindarinya. Dia tahu orgasmenya akan meledak. Dan kini perasaan nikmat yang tak terhingga membawanya terbang ke awang-awang. Terbang itu semakin tinggi dan semakin tinggi sejalan dengan pompaan Kontol Pak Daud ke dalam kemaluannya. Kini yang dirasakan adalah kelimbungan yang sangat tak terkira.</p>
<p style="text-align: justify;">Dia gemetar hebat. Tangan-tangannya merasakan perlu memegang sesuatu. Jari-jarinya meraba-raba dan mendapatkan tepian seprei kasurnya. Dia langsung meremasinya. Dia seakan ingin mencabik-cabiknya. Dia kini mulai memasuki keadaan trance. Keringatnya nampak mengucur dari dahinya. Nikmat syahwat yang melandanya mengantar kesadaran Yenni melambung dalam orbit birahinya. Dia akan merobeki apapun yang dijamahnya. Daaann… Akhirnyaaa…</p>
<p style="text-align: justify;">Yenni seakan tak mampu menerima kenyataan nikmat itu. Dia hentakan kepalanya ke depan dan ke belakang kemudian juga ke kanan dan ke kiri. Dia seperti bergeleng atau mengangguk dengan cepat hingga rambutnya terlempar ke sana-sini. Itulah saat orgasme Yenni saat turun melandanya. Dada Pak Daud merah karena luka cakaran Yenni. Tapi dia mampu mengabaikannya. Dia sungguh terpana dengan apa yang disaksikannya. Nafsu birahi Yenni seakan ludas tertumpahkan. Dia menyaksikan perempuan yang maksimal dan tanpa hambatan meraih orgasmenya. Dan karena itu pula nafsu syahwat Pak Daud terdongkrak. Dia juga mencapai orgasmenya. Ejakulasinya menyertai orgasme istrinya semenit kemudian.</p>
<p style="text-align: justify;">Dari kemaluannya yang kencang dan menyemprot kuat telah ditumpakannya sperma yang berlimpah-limpah hingga menggenang membasahi sprei. Sperma kuli panggul terminal kota itu ternyata harum dan wangi bagi haribaan diri Yenni. Dalam keadaan menuntaskan orgasmenya Yenni meraup tumpahan sperma suaminya untuk dia lulurkan ke wajahnya, lehernya dan dadanya dengan sepenuh hasrat birahinya. Dia mengendusi aromanya. Yenni mendapatkan perasaan damai di sana.</p>
<p style="text-align: justify;">Pak Daud kagum atas apa yang dilihatnya. Dia melihat kepasrahan Yenni sebagai istrinya telah total diberikan untuk memenuhi kepuasan nafkah batinnya. Dia merasakan ada getaran rasa cinta abadi merambat dalam hatinya. Mungkinkah…? Yeennn… Mungkinkah?? Mungkinkah…?? Ahhh…, segera Pak Daud menepis pikiran ngelanturnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Hari pertama sesudah ijab kabul itu mereka benar-benar tidak keluar kamar. Semua kebutuhan makan dan minum disediakan oleh para pelayannya tanpa mereka berani mempertanyakan apa yang dilakukan pengantin baru ini. Yenni sendiri selalu menampakkan wajah segar dan ayunya setiap memanggil pelayan untuk menyediakan kebutuhannya.</p>
<p style="text-align: justify;">Yenni bersama Pak Daud memenuhi harinya dengan sepenuhnya memadu cinta berasyik masyuk. Mereka melakukan hubungan suami-istri di manapun. Dari ranjang turun ke karpet. Dari karpet pindah ke sofa. Dari sofa pindah lagi ke tepian bak mandi. Bahkan dengan duduk di atas kloset Pak Daud juga memangku Yenni yang begitu ketagihan dalam menikmati kemaluan gedenya dan melakukan gerakan naik-turun secara liar di pangkuannya.</p>
<p style="text-align: justify;">Segala cara dan gaya mereka lakukan untuk memetik nikmat syahwat. Tak ada satu titikpun di tubuh Yenni yang tidak tersapu lidahnya. Dan Yenni sendiri menerima sensasi nikmat yang tak terucapkan saat Pak Daud menciumi pantatnya dan menjilati lubang duburnya. Bagi Yenni apa yang dilakukan Pak Daud itu menjadi pertanda betapa dia mau melakukan apapun demi cintanya pada Yenni.</p>
<p style="text-align: justify;">Bagi Yenni sendiri, Pak Daud memang sosok lelaki yang spektakuler. Dia menyukai setiap detil dari suami barunya itu. Sikapnya yang dewasa, humoris dan bijaksana. Tubuhnya yang padat atletis, bibirnya yang tebal dan seksi. Teknik ciumannya yang maut, tak kalah dengan adegan-adegan intim di film-film romantis Barat. Desahan beratnya yang terdengar sangat merdu di telinga Yenni, dan staminanya yang dahsyat setiap kali mereka bercinta. Jarang sekali Yenni tidak orgasme setiap kali dia bercinta dengan Pak Daud. Beda jauh dengan Ryan, yang tidak seperkasa Pak Daud dalam hal hubungan seksual.</p>
<p style="text-align: justify;">Dan terutama kontolnya yang besar, panjang, dan keras, yang selalu membuatnya tergila-gila.</p>
<p style="text-align: justify;">Tak bisa dipungkiri adanya perkembangan yang sangat beda dari skenario awal. Dari pergumulan penuh hasrat dari pasangan pengantin baru ini, tumbuh pada diri Yenni maupun Pak Daud suatu getaran keabadian. Pada mereka belum saling membuka diri. Tetapi getaran itu tak bisa terpungkiri merambati hati sanubari mereka. Yenni masih menyimpannya dalam-dalam. Dan Pak Daud tergiring dalam sangkar pertanyaan yang tak mampu dijawabnya. Mungkinkah? Mungkinkah…??</p>
<p style="text-align: justify;">Pada hari kedua, orang tua Yenni menelpon. Mereka bilang tak akan pulang kerumah itu sebelum si Daud gila itu pergi dari rumahnya. Yenni tak sempat menjawabnya karena sambungannya telah langsung ditutup. Yenni semakin merasa bahwa dia hidup dikelilingi budaya yang penuh ego. Mereka hanya berpikir dari sudutnya. Mereka seperti orang dagang yang hanya menghitung untung atau rugi.</p>
<p style="text-align: justify;">Kepada pelayan di rumah dia pesan agar kepada semua penelpon yang ingin ketemu dia agar bilang sedang tidak mau diganggu.</p>
<p style="text-align: justify;">Pada hari ke tiga datang 2 orang utusan orang tua Yenni. Utusan tersebut membawa check cash senilai Rp. 30 juta untuk Pak Daud, draft Surat Pernyataan Menceraikan Yenni ber-meterai yang harus ditanda tangani Pak Daud dan surat pengantar yang isinya agar Pak Daud menanda tangani Surat Pernyataan terlampir berikut ucapan terima kasih atas bantuannya dari orang tua Yenni. Juga disebutkan agar Pak Daud selekasnya berpisahan dengan Yenni dan meninggalkan rumahnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Yenni bersama Pak Daud dengan penuh senyum dan lapang dada menanggapi semua kiriman orang tua Yenni tersebut. Kemudian mereka minta waktu untuk menulis jawaban atas surat tersebut. Yenni memanggil pelayan agar membuatkan minuman bagi mereka. Kedua orang utusan orang tua Yenni menunggu di ruang tamu sementara Yenni bersama Pak Daud kembali ke kamarnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Begitu masuk kamr mereka kembali berpagutan. Yenni dan Pak Daud langsung mencebur ke samudra birahi untuk mengarungi nikmatnya syahwat. Keduanya saling melepasi busana lawannya sebelum rebah ke ranjang. Pak Daud menelusurkan bibir dan lidahnya ke kaki-kaki Yenni. Dia menjilati dan menggigiti jari-jari, tumit dan telapak cantiknya Yenni. Aroma sepatu Yenni pada telapaknya menambah rangsangan syahwat Pak Daud.</p>
<p style="text-align: justify;">Lidah Pak Daud yang menyentuhi kaki-kakinya langsung membakar nafsu birahinya. Yenni menarik lengan Pak Daud untuk saling berpelukan. Kali ini Yenni mengambil inisiatip untuk menindih tubuh kekar Pak Daud. Sambil menggigiti dada yang penuh otot dan meremasi perut sixpack suaminya, tangannya meraih kemaluan Pak Daud yang telah siap tegak kaku. Dia arahkan kepalanya ke vaginanya. Dan pelan tetapi pasti… Blezzz… Kemaluan Yenni menelan seluruh batangan Kontol Pak Daud.</p>
<p style="text-align: justify;">Yang terdengar kemudian desah dan rintih keduanya yang saling bersahutan. Mereka langsung mendayung nikmat untuk mencari pelabuhan orgasmenya. Sodokan kontol Pak Daud menusuki ke berbagai arah untuk menyentuhi titik peka di dinding vagina Yenni. Dan Yenni menggerakkan tubuhnya seperti tukang cuci yang sedang menggilas sambil menggeliat-geliatkan pinggul dan pantatnya untuk melumat-lumat nikmat batangan sesak dalam cengkeraman vaginanya yang sempit itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Mereka membiarkan para utusan di bawah untuk menunggunya hingga saat puncak itu datang 20 menit kemudian. Orgasme Yenni mendekati gerbangnya. Sperma Pak Daud siap untuk tumpah. Tangan Yenni kembali mengacak-acak seprei seakan hendak merobek-robeknya. Dan tak terbendung lagi… Puncak nikmat itu datang menerpa mereka berdua. Yang terdengar kemudian adalah mulut Yenni yang meracau…</p>
<p style="text-align: justify;">“Tak kan kulepaskan kamu, Masss… Takkan kulepaskan… Jangan tinggalkan aku Maasss… “.</p>
<p style="text-align: justify;">Itulah kalimat dan kata-kata jawaban Yenni bersama Pak Daud untuk orang tua Yenni. Kalimat dan kata-kata itu tertera pada draft surat yang harus ditanda tangani oleh Pak Daud. Di bawah tulisan itu ditorehkan nama Ny. Yenni Daud. Yenni menanda tangani draft tersebut tepat di atas meterai yang tersedia. Menyertai surat itu, dikembalikan pula check cash Rp. 30 juta untuk Pak Daud. Berdasarkan ketrampilan dan pengalaman yang dimiliknya mereka berdua yakin bisa hidup secara mandiri. Khususnya bagi Pak Daud cara itu dia tempuh paling baik untuk menghindarkan penilaian tidak sehat dari orang tua Yenni.</p>
<p style="text-align: justify;">Demikianlah awal dari kehidupan langgeng suami istri Daud dan Yenni. Mereka tak membicarakan beda umur, beda status, beda tampilan, beda kekayaan. Mereka lebih memilih kejujuran yang bening. Mereka ingin menjadi bagian yang konkrit dari kebenaran semesta. Mereka mampu memilih jalan lurusnya sendiri. Mereka mampu melapaskan diri dari hukum-hukum konvensional yang membelenggu pribadi manusia. Mereka berhasil menjadi diri pribadi.</p>
<p style="text-align: justify;">Sesudah 3 hari berargumentasi dan berdebat dengan lingkungan keluarganya dan keluarga Ryan, mereka ternyata tak bisa lepas dari kenyataan konvensional lingkungannya. Dan oleh karenanya dengan lapang dada pasangan Yenni dan Daud memilih pindah dan tinggal jauh dari kota aslinya. Dia kembali ke alam terbuka di kaki sebuah gunung.</p>
<p style="text-align: justify;">Di kebun sayurnya yang luas ada mata air yang jernih, setiap pagi keduanya mencuci mukanya dari mata air itu. Dari situ mereka mendapatkan matanya selalu bening untuk melihati kenyatan hidup ini. Memang, akhirnya Daud dan Yenni tak banyak memerlukan apa-apa. Dia hanya akan meluruskan hidupnya, menjemput generasi penerusnya dan menempuh kesadaran hakikinya sebagai landasan kehidupannya.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ceritasex.cn/kesempatan-dalam-kesempitan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tante Binal, Sedot Kontol, Ngentot</title>
		<link>http://www.ceritasex.cn/tante-binal-sedot-kontol-ngentot/</link>
		<comments>http://www.ceritasex.cn/tante-binal-sedot-kontol-ngentot/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 09 Oct 2011 21:48:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cerita Sex</dc:creator>
				<category><![CDATA[Foto Mesum]]></category>
		<category><![CDATA[Paruh baya]]></category>
		<category><![CDATA[Tante Girang]]></category>
		<category><![CDATA[Toket gede]]></category>
		<category><![CDATA[blowjob]]></category>
		<category><![CDATA[cuki]]></category>
		<category><![CDATA[isep kontol]]></category>
		<category><![CDATA[kontol]]></category>
		<category><![CDATA[memek]]></category>
		<category><![CDATA[muncrat]]></category>
		<category><![CDATA[ngentot]]></category>
		<category><![CDATA[pepek]]></category>
		<category><![CDATA[sepong]]></category>
		<category><![CDATA[sperma]]></category>
		<category><![CDATA[tante]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ceritasex.cn/?p=2918</guid>
		<description><![CDATA[Duh tante ini&#8230; dah berumur gak mau kalah juga dari ABG, katanya sih bodynya masih kencang.. hmm gak juga sih gak kencang banget tee tapi justru napsuin soalnya nafsu seksnya tinggi banget. Kalau di sedot kontol kayak gini sih semua cowok juga bakal gemetar kakinya teee, kasihan nanti kontolnya muncrat hahaha&#8230; oh ya ni fotonya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Duh tante ini&#8230; dah berumur gak mau kalah juga dari ABG, katanya sih bodynya masih kencang.. hmm gak juga sih gak kencang banget tee tapi justru napsuin soalnya nafsu seksnya tinggi banget. Kalau di sedot kontol kayak gini sih semua cowok juga bakal gemetar kakinya teee, kasihan nanti kontolnya muncrat hahaha&#8230; oh ya ni fotonya sudah ku kecilkan dikit kasihan yang punya inet lemot bisa nangis buka fotonya tante&#8230; Selamat menikmati <img src='http://www.ceritasex.cn/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> </p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2011/10/tante-binal-1.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-2919" title="tante-binal-1" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2011/10/tante-binal-1-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a></p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2011/10/tante-binal-2.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-2920" title="tante-binal-2" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2011/10/tante-binal-2-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a></p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2011/10/tante-binal-3.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-2921" title="tante-binal-3" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2011/10/tante-binal-3-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a></p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2011/10/tante-binal-4.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-2922" title="tante-binal-4" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2011/10/tante-binal-4-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a></p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2011/10/tante-binal-5.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-2923" title="tante-binal-5" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2011/10/tante-binal-5-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a></p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2011/10/tante-binal-6.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-2924" title="tante-binal-6" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2011/10/tante-binal-6-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a></p>
<p><span id="more-2918"></span></p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2011/10/tante-binal-7.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-2925" title="tante-binal-7" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2011/10/tante-binal-7-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a></p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2011/10/tante-binal-8.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-2926" title="tante-binal-8" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2011/10/tante-binal-8-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a></p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2011/10/tante-binal-9.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-2927" title="tante-binal-9" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2011/10/tante-binal-9-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a></p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2011/10/tante-binal-10.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-2928" title="tante-binal-10" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2011/10/tante-binal-10-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a></p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2011/10/tante-binal-11.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-2929" title="tante-binal-11" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2011/10/tante-binal-11-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a></p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2011/10/tante-binal-12.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-2930" title="tante-binal-12" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2011/10/tante-binal-12-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a></p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2011/10/tante-binal-13.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-2931" title="tante-binal-13" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2011/10/tante-binal-13-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a></p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2011/10/tante-binal-14.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-2932" title="tante-binal-14" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2011/10/tante-binal-14-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a></p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2011/10/tante-binal-15.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-2933" title="tante-binal-15" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2011/10/tante-binal-15-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ceritasex.cn/tante-binal-sedot-kontol-ngentot/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Memek Versi Close Up</title>
		<link>http://www.ceritasex.cn/memek-versi-close-up/</link>
		<comments>http://www.ceritasex.cn/memek-versi-close-up/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 11 Sep 2011 10:06:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cerita Sex</dc:creator>
				<category><![CDATA[Daun Muda]]></category>
		<category><![CDATA[Foto Mesum]]></category>
		<category><![CDATA[abg]]></category>
		<category><![CDATA[memek]]></category>
		<category><![CDATA[pepek]]></category>
		<category><![CDATA[puki]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ceritasex.cn/?p=2816</guid>
		<description><![CDATA[Awas foto high resolution memek ABG BW killer, Selamat menikmati :p]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Awas foto high resolution memek ABG BW killer, Selamat menikmati :p</p>
<p><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2011/09/memek-abg-close-up-1.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-2817" title="<Digimax i5, Samsung #1/>&#8221; src=&#8221;http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2011/09/memek-abg-close-up-1-300&#215;224.jpg&#8221; alt=&#8221;" width=&#8221;300&#8243; height=&#8221;224&#8243; /></a></p>
<p><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2011/09/memek-abg-close-up-2.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-2820" title="<Digimax i5, Samsung #1/>&#8221; src=&#8221;http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2011/09/memek-abg-close-up-2-300&#215;224.jpg&#8221; alt=&#8221;" width=&#8221;300&#8243; height=&#8221;224&#8243; /></a></p>
<p><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2011/09/memek-abg-close-up-3.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-2818" title="<Digimax i5, Samsung #1/>&#8221; src=&#8221;http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2011/09/memek-abg-close-up-3-300&#215;224.jpg&#8221; alt=&#8221;" width=&#8221;300&#8243; height=&#8221;224&#8243; /></a></p>
<p><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2011/09/memek-abg-close-up-4.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-2819" title="<Digimax i5, Samsung #1/>&#8221; src=&#8221;http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2011/09/memek-abg-close-up-4-300&#215;224.jpg&#8221; alt=&#8221;" width=&#8221;300&#8243; height=&#8221;224&#8243; /></a></p>
<p style="text-align: center;"><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2011/09/memek-abg-close-up-5.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-2821" title="<Digimax i5, Samsung #1/>&#8221; src=&#8221;http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2011/09/memek-abg-close-up-5-300&#215;224.jpg&#8221; alt=&#8221;" width=&#8221;300&#8243; height=&#8221;224&#8243; /></a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ceritasex.cn/memek-versi-close-up/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Istriku Threesome</title>
		<link>http://www.ceritasex.cn/istriku-threesome/</link>
		<comments>http://www.ceritasex.cn/istriku-threesome/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 23 Jul 2010 21:31:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cerita Sex</dc:creator>
				<category><![CDATA[Gangbang Rame Rame]]></category>
		<category><![CDATA[Paruh baya]]></category>
		<category><![CDATA[Seks Umum]]></category>
		<category><![CDATA[Tante Girang]]></category>
		<category><![CDATA[cuki]]></category>
		<category><![CDATA[entot]]></category>
		<category><![CDATA[istri]]></category>
		<category><![CDATA[kontol]]></category>
		<category><![CDATA[memek]]></category>
		<category><![CDATA[ngentot]]></category>
		<category><![CDATA[pepek]]></category>
		<category><![CDATA[threesome]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ceritasex.cn/?p=1491</guid>
		<description><![CDATA[Aku seorang suami umur 39 tahun dan istriku berumur 40 tahun. Kami mempunyai anak 2 orang, 1 perempuan dan satu laki-laki. Walaupun kami sudah berumur tapi kehidupan sex kami sangat memuaskan. Kami selalu berhubungan sex. Istrku memang berumur 40 tahun tapi bodynya tanggung sexy dan terawat masih kelihatan seperti umur 30 tahun. Aku berpikir untuk [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Aku seorang suami umur 39 tahun dan istriku berumur 40 tahun. Kami mempunyai anak 2 orang, 1 perempuan dan satu laki-laki. Walaupun kami sudah berumur tapi kehidupan sex kami sangat memuaskan.</p>
<p style="text-align: justify;">Kami selalu berhubungan sex. Istrku memang berumur 40 tahun tapi bodynya tanggung sexy dan terawat masih kelihatan seperti umur 30 tahun.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku berpikir untuk memberikan sesuatu yang lain kepada istriku, yaitu aku ingin kami bercinta dengan satu orang lain, bertiga. Dan ini aku sampaikan kepada istriku sebut saja namanya Rina. Namaku sendiri Ricky. Pertama-tama Rina tidak setuju, tetapi setelah ku bujuk-bujuk kukatakan.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Mah, ini kita lakukan untuk happy kita saja sayang&#8221;.<br />
&#8220;Yah, pah tapikan saya malu bercinta dengan orang yang belum pernah saya kenal&#8221;.<br />
&#8220;OK, sayang lupakan semua, yang penting saat itu kita mencapai kepuasan. Bagaimana sayang?&#8221;, setelah kubujuk akhirnya Rina setuju.<br />
&#8220;Terserah papah ajalah.&#8221;<br />
Aku lalu mencium istrku, dan malam itu kami bercinta dan kami melakukannya sampai pagi.</p>
<p style="text-align: justify;">Waktu berjalan terus, sementara aku terus mencari orang yang cocok untuk kami aja bergabung. Suatu hari aku berkenalan dengan seorang guru instruktur senam di kota kami. Namanya Herman. Orangnya ganteng umurnya masih 26 tahun badanya pun sangat atletis. Beberapa kali pertemuan aku menyampaikan apa rencana kami kepada Herman, dan kulihat dia tidak terkejut.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Biasa Mas, aku pernah melakukan ini dengan pasangan lain,&#8221; cerita herman. Oh aku sangat senag sekali, ternyata Herman sangat berpengalaman. Maka kami ataur rencana, Ini akan kami lakukan disalah satu hotel terkenal dikota kami.</p>
<p style="text-align: justify;">Hari Sabtu siang Rina dan aku ngobrol berdua diruang tamu.<br />
&#8220;Mah, aku kok rasanya kepengen kita tidur dihotel berdua saja malam ini&#8221;, Rina menyambut dengan hangat.<br />
&#8220;Boleh juga tuh Mas, hitung-hitung bulan madu,&#8221; katanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Kami sepakat memilih Hotel &#8220;S&#8221; untuk menginap nanti malam. Sesampai dihotel setelah menyelesaikan administrasi hotel, lalu kami masuk kamar hotel. Rina langsung rebahan diatas tempat tidur yang cukup besar. Sedangkan aku masuk kedalam kamar mandi untuk menelpon Herman, dan kami beri tahu nomor kamar dan jam berapa dia harus datang.</p>
<p style="text-align: justify;">Didalam kamar aku dan Rina ngobrol dan sekali sekali kami berciuman, Aku meremas payudara Rina dari balik bajunya sambil terus menciumi leher jenjangnya. Rina mendesah, &#8220;aaahh&#8230; mas&#8230;..&#8221; sambil berciuman tanganku masuk kebalik baju yang dipakainya.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Mas?&#8230;&#8230; aku mau Mas&#8230;!&#8221; Rok yaand dipakai Rina sudah naik sampai memperlihatkan paha Rina yan mulus dan putih, Dan tanganku mengelus-elus lembut memek Rina dari balik celana dalamnya dan aku merasakan cairan kemaluan istriku sudah mulai keluar&#8230; yah&#8230; oh&#8230;. terus Mas&#8230;.. yahhh&#8230; atatasnya sayang&#8230;&#8221;<br />
<span id="more-1491"></span><br />
Tiba2 pintu diketuk dari luar. Kami buru2 merapihkan pakain kami, biasa Rina sambil ngomel,&#8221;siapa sih, ngegangu aja?&#8221; Aku membuka pintu, Herman sudah didepan pintu dengan kaos ktetnya memperlihatkan tubuhnya yang atletis.<br />
&#8220;Siappa pah?&#8221; tanya istrku dari dalam.<br />
&#8220;Ini kenalkan teman papah, tadi telpon kebetulan dia ada di hotel ini, jadi papah suruh mampir saja.&#8221;<br />
&#8220;Ini Rina istriku,&#8221;<br />
&#8220;Aku Herman mbak,&#8221; sambil menyalami istriku.</p>
<p style="text-align: justify;">Istriku banyak diam, mungkin kesel karena nanggung tadi. Sambil memeluk Rina aku berkata kepada Rina. &#8220;Mah, Herman ini yang akan bergabung dengan kita untuk bercinta. Rina sedikit kaget, tapi setelah kutenangkan dia dapat menerimanya. Sambil ngobrol sekali-kali aku mencium Rina, pertama-tama Rina sanagt risih, tapi lama lama aku dapat merasakan Rina mulai terbiasa, malah membalas ciuman aku.</p>
<p style="text-align: justify;">Herman tersenyum melihat kami berciuman. Aku melihat istriku melirik Herman pada saat kami berciuman. Hernan masih duduk disofa sementara kami duduk dipinggir tempat tidur berpelukan menghadap kesofa dimana Herman duduk. Samil berciuman aku meraba-raba paha mulus istriku. Dan Rina melebarkan kakinya sehingga Herman dapat dengan jelas melihat paha bagian dalam Istriku dan celana dalam Rina. Herman berdiri menghampiri kami dan jongkok didepan kami. Sementara aku dan Rina terus berciuman dan pelan aku membuka satu persatu kancing kemeja Rina, dan terbukalah dadanya dengan BRa warna hitamnya. Tiba-tiba Rina tersentak, Rupanya Herman menciumi paha istriku, Rina menegang jilatan Herman terus merambat keatas menyentuh celana dalam istriku.</p>
<p style="text-align: justify;">Sementara aku sudah melepas beha Rina dan menciumi sambil menjilati puting teteknya. &#8220;ooooohhh&#8230;.. yahhhhhh&#8230; enak enak Her&#8230;&#8230;jilati memek mbak Her&#8230;???&#8221; MUlut istriku terus merengek-rengek meminta Herman untuk menjilat memeknya. Aku merebahkan Rina ditempat tidur sementara kakinya masih menjuntai kebawah dan Herman terus menjilat dan menciumi selangkangan istriku. Rina melebarkan kakinya dan meminta Herman untuk membuka celana dalamnya.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Iyah&#8230;. terus Her&#8230;. buka celana dalam Mbak&#8230;. jilati memek mbak oooohh&#8230;. Mbak mau kontol mu&#8230;&#8230;.&#8221; Herman lalu membuka celana dalam Rina&#8230;.. dan kelihatanlah memek istriku dengan bulu yang rapih terawat dan berkilat, menandakan Rina sudah sangat terangsang.</p>
<p style="text-align: justify;">Istriku sekarang sudah telanjang didepan dua laki-laki yang siap untu memberikan kepuasan kepadanya. Rina tergolek pasrah sementara kakinya tetap menapak di lantai sehingga memeknya menjadi lebih kelihat menonjol keatas. Herman berdiri lalu membuka kaosnya, kelihatan dadanya yang bidang ditumbuhi bulu, Istriku memeandang nanar, Herman juga membuka celana panjangnya. Otomatis Herman hanya memakai celana dalam saja, dan kontolnya yang belum tegang menonjol dan kelihatan jelas dimata istriku. Dan Rina terus melihat kebawah. Sambil berkata &#8220;Her&#8230;?Mbak mau kontol kamu! Puaskan Mbak Her&#8230;&#8230;..&#8221; Rina Bangkit dari tempat tidur lalu jongkok didepan Herman.</p>
<p style="text-align: justify;">Istriku menciumi kontol Herman dengan bernapsu&#8230;.. lalu Rina menurunkan celana dalam Herman, maka kelihatanlah kontol Herman begitu dekatnya denga muka Istriku. Rina menjilati kontol Herman mulai dari pangkal sampai ujungnya. Terus berulang-ulang.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;ohhhhh&#8230;. enak Mbak &#8230;. enak sekali lidah kamu Mbak..&#8221; erang Herman. Istriku memasukan kontol Herman kedalam mulutnya berulang kali. &#8220;Ahhhhh enak&#8230;.. sekali Mbak&#8221; sambil tangan Rina mengocok-ngocok kontol Herman. Lalu Herman menngajak Rina berdiri. Lalu mereka berciuman sambil berdiri shhhhh&#8230;suara ciuman mereka sampai kekupingku aku terpancing, lalu menghampiri mereka. sambil jongkok dibelakang Rina, aku menciumi pantat rina sambil tanggan ku meraba-raba memek sitriku yang sudah basah&#8230;. merekaterus berpelukan sambil berciumana sementara aku menciumu pantat istriku&#8230;&#8230;&#8230;.</p>
<p style="text-align: justify;">Tiba-tiba rina istriku menungging mengapai kembali kontol Herman dan dimasukannya kedalam mulut &#8220;acchhhhhh, Herman mengerang&#8230;. sementara aku menjilati memek Rina dari belaakng, sekali jari-jariku keluar masukan kedalam memek RIna.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;yahhhhh&#8230; terus Mas&#8230; masukkan jarinya Mas&#8230; Rin&#8230; ga tahan&#8230;&#8230; terus&#8230; yang dalam&#8230;&#8230;&#8230; Entot saya&#8230;. her&#8230;.. Mbak Mau kontolmu&#8230; masukkan kontol kamu kedalam memek MBak&#8230;.. aaaccchhh&#8230; ssssssssshhhh..&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Kami berganti posisi. Aku rebahan di kasur sementara istriku menungging sambil menjilati kontol ku&#8230;.. dari belakang Herman sudah siap-siap memasukan kontolnya yang sudah tegang kedalam memek istriku. Heramn mengosok-gosokan kontolnya kebelahan memek istriku.<br />
&#8220;yahhh&#8230;. masukan Her&#8230; Mbak sudah ga kuat&#8230;&#8230;. entot Mbak Her&#8230; Puaskan Mbak&#8230;..&#8221; pelan kepala kontol Herman mulai masuk kedalam memek Rina &#8230;.,</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;sssshhhh&#8230;&#8221; Rina menegang ketika kontol Herman yang sudah tegang pelan-pelan masuk kedalam memeknya istriku. Herman berhenti sebentar, lalu pelan kembali menekan kontolnya masuk kedalam memek Rina kembali .Tubuh istriku bergetar&#8230;. ssshhhhh&#8230;.. ohhhhhh&#8230; enak sekali her&#8230;.. masukan terus yang dalam oooohhhhh hangat&#8230;. kontolmu hangat sekali Her&#8230;&#8230;..&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;yahhh&#8230;Mbak ?&#8230;memekmupun berdenyut Mbakk&#8230;..&#8221; herman pelan menarik keluar kontolnya dan memasukannya kembali. &#8220;Accchhhhh&#8230;.. terus Her&#8230; yang kuat terus&#8230;.. entot Mbak&#8230;&#8230; siram rahim Mbak dengan mani kamu&#8230;..&#8221; Herman semakin memaju kontolnya dan semakain cepat&#8230;&#8230; mbakkk&#8230;. mau keluar Her&#8230;&#8230;&#8230; oh&#8230; mBak ga tahan&#8230;. Mbak ga tahan&#8230;&#8230;.&#8221; istriku menggelepar-gelepar.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Oohhhh&#8230; acccchhhh&#8230;.. saya keluar&#8230;. saya keluar&#8230;.. ahhhhhhhhhhhhhh&#8230;&#8230;&#8230;&#8221; istriku menegang, sementara Herman terus memaju kontolnya keluar masuk memek istriku. Istriku RIna tengkurap ditempaat tidur nafasnya memburu, sementara Herman tetap diatas tubuh Rina dan membiarkan kontolnya tetp tertancap didalam memek istriku sambil merasakan denyutan memek Rina meremas remas kontolnya. Lalu pelan pelan Herman mencabut kontolnya dan kembali memasukannya. Rina tersentak, &#8220;ohhh&#8230;. enak sekali kontolmu Her&#8230; ohhhh&#8230; terus&#8230; Her&#8230;. Mbak mau Lagi&#8230;&#8230; Mbak mau kontol mu lagi&#8230;&#8230;&#8230;.. Mbak mau di entot berdiri&#8230;.. Ayo&#8230;.. Mas entot saya&#8230;. puaskan saya&#8230;&#8230;&#8230; Rina mau kontol kalian berdua&#8230;.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Rina berdiri di peluk Herman dari belakang sementara aku jongkok menjilati memek Istriku yang sudah sanagt basah, sambil menjilati memek nya jariku masukan kedalam. &#8220;Yaahhhh enak Mas&#8230; terus jilati memek Rin&#8230;&#8230;&#8221; Herman dan Rina berciuman&#8230;. sementara aku terus menjilati memek Rina. Kontolku semakin menegang aku sudah ga tahan, lalu aku melebarkan kaki Rina sambil berdiri aku memasukkan kontolku kedalam memeknya. Berdiri adalah posisi favorit istriku. Aku memutar-mutar pantataku sehingga jembutku bergesekan dengan itil bagi atas istriku.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Oohhhh yyahhhhh&#8230;. kena mas&#8230; gesek-gesek terus&#8230; oohhhhh enak mas&#8230;.. kontolnya&#8230;.. ayoh Mas kita keluarkan sama-sama&#8230;&#8230;. rina hampir&#8230;. achhhhh&#8230;&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Rina terus mengoyang-goyangkan pantatnya sambil berciuman dengan Herman sementara aku terus memacu kontolku semakin cepat. Herman terus meremas-remas tetek Istriku.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Aachhhhhh&#8230;. oohhh.. aku keluar mas&#8230;&#8230;. mbak keluar lagi Her&#8230;&#8230; ohh enakks&#8230;&#8221; Seeerrrr. Aku ikut menegang dan Crottttt&#8230;&#8230;&#8230; kami berdua keluar bersama-sama. &#8220;Ohhhhhh&#8230;.&#8221; istriku terkulai dipelukan Herman. &#8220;Achhhh.. ohhh..&#8221; aku mencabut kontolku dari memek Rina, sementara Rina masih terkulai dipelukan Herman. Kedua tangan Rina merangkul lehar Herman. kontol Herman masih sangat tegang karena memang dia belum keluar, &#8220;Sambil berbisik&#8230; Mbak aku mau entot mbak&#8230; aku belum keluar&#8230; ahhh. Apa masih kuat mbak&#8230;?&#8221; tetap merangkul Herman lalu istriku mencium bibir Herman, sambil bergayut dia melingkarkan kakinya kepinggang Herman.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Blessssss&#8230;.&#8221; masuklah kembali kontol Herman kedalam memek Istriku, sambil berdiri mereka berpacu mencapai puncak kenikmatan. &#8220;Yahhhhh&#8230;. enak kontolmu Her&#8230;.. terus masukan yang dalam&#8230; kontolmu hangat&#8230;&#8230; puaskan mbak&#8221; mereka berpacu semakin cepat. &#8220;Her mbak gak kuat mau keluar lagi&#8230;.. achhhhhh&#8230;&#8230;&#8221; &#8220;Iyah mbak aku juga mau oooohohhhh&#8230; achhhhhh&#8230; terus&#8230; mbak keluar&#8230;.. ohhhhhhh crooottttachhhhhhh&#8221;.<br />
Kedua tubuh itu menegang dan berpelukan sangat eratnya.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ceritasex.cn/istriku-threesome/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Di Perkosa Tapi Enak</title>
		<link>http://www.ceritasex.cn/di-perkosa-tapi-enak/</link>
		<comments>http://www.ceritasex.cn/di-perkosa-tapi-enak/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 26 May 2010 21:01:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cerita Sex</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ekshibionis]]></category>
		<category><![CDATA[kisah nyata]]></category>
		<category><![CDATA[Paruh baya]]></category>
		<category><![CDATA[Seks Umum]]></category>
		<category><![CDATA[anak kost]]></category>
		<category><![CDATA[anal]]></category>
		<category><![CDATA[anus]]></category>
		<category><![CDATA[cuki]]></category>
		<category><![CDATA[enak]]></category>
		<category><![CDATA[memek]]></category>
		<category><![CDATA[ngentot]]></category>
		<category><![CDATA[pepek]]></category>
		<category><![CDATA[perkosa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ceritasex.cn/?p=1404</guid>
		<description><![CDATA[Waktu itu aku bersama teman-teman kantor berlibur ke Pangandaran, kami pergi berempat.. Aku, Lina, Mita dan cowoknya Mita.. Edy namanya. Setelah menempuh perjalanan lebih dari 5 jam, akhirnya kami tiba di Pangandaran.. Dan kami langsung menyewa satu bungalow yang terdiri 1 ruang tamu, 2 kamar tidur, 1 kamar mandi dan 1 dapur. Karena kami tiba [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Waktu itu aku bersama teman-teman kantor berlibur ke Pangandaran, kami pergi berempat.. Aku, Lina, Mita dan cowoknya Mita.. Edy namanya. Setelah menempuh perjalanan lebih dari 5 jam, akhirnya kami tiba di Pangandaran.. Dan kami langsung menyewa satu bungalow yang terdiri 1 ruang tamu, 2 kamar tidur, 1 kamar mandi dan 1 dapur. Karena kami tiba sudah larut malam, maka setelah menurunkan barang-barang.. Kami pun langsung masuk ke kamar masing-masing, aku satu kamar bersama Lina, sedangkan Mita satu kamar bersama cowoknya, kamar yang aku tempati terdiri atas dua ranjang yang terpisah, sebuah lemari pakaian dan meja rias dengan kacanya yang besar dan jendela yang menghadap ke laut. Karena capek, lelah dan ngantuk.. Kami pun langsung tidur tanpa ganti baju lagi. Keesokan harinya aku bangun jam 10 pagi dan aku melihat Lina sudah tidak ada ditempat tidurnya, aku pun langsung bangun dan menyisir rambutku yang panjang (sebahu lebih) dan keluar kamar, ternyata tidak ada siapa-siapa..&#8221;Wah pada kemana mereka..&#8221; pikirku, tetapi tiba-tiba HP ku berbunyi, ternyata Lina menelpon.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Sudah bangun non..&#8221; serunya. &#8220;Kalian lagi dimana sih?&#8221; seruku. &#8220;Oh iya.. Sorry, kita lagi pergi cari film nih.. Tadi enggak tega bangunin kamu..&#8221; seru Lina. &#8220;Yaa.. sudah.. Titip makanan yaa..&#8221; sahutku &#8220;Okey non&#8221; lalu hubungan terputus. Kini aku sendirian di bungalow itu, lalu aku pun segera mandi.. Dan menikmati segarnya guyuran air dari shower, setelah mandi akupun memakai CD dan BH warna pink (aku suka yang satu warna) dan memakai kimono, setelah itu aku duduk-duduk disofa tamu sembari mengeringkan rambutku dengan handuk, tiba-tiba aku melihat secarik kertas diatas meja, disitu tertulis &#8216;menyediakan jasa pijat, urut dan lulur&#8217; dan dibawahnya ada nomor teleponnya. &#8220;Ah betapa enaknya dipijat.. Kebetulan badan lagi pegel..&#8221; pikirku sembari membayangkan dipijat oleh si mbok dirumah, lalu aku menelphon nomor itu dan diterima oleh seorang wanita disana, setelah mengutarakan maksudku, akhirnya wanita itu bilang.. Tidak lama lagi akan datang pemijat ke kamar aku, setelah itu akupun duduk menanti.. Tak lama kemudian pintu diketuk dari luar, segera aku bangkit dan membuka pintu.. Dan..</p>
<p style="text-align: justify;">Terkejutlah aku, karena tampak seorang pria dengan baju putih berdiri diambang pintu, lalu. &#8220;Selamat siang neng.. Anu.. Tadi manggil tukang pijat yaa?&#8221; seru pria itu. Tampak pria itu berumur kira-kira 45-an, tidak terlalu tinggi tapi kekar dan berkulit coklat. &#8220;Eh.. nggak.. Anu.. Iya pak..&#8221; sahut aku, &#8220;Anu.. Bapak tukang pijatnya..?&#8221; tanyaku. Pria itu tersenyum lalu, &#8220;Iya neng&#8221;. Wah.. Kini aku rada sedikit panik, tidak menduga kalau tukang pijatnya seorang pria, tapi tanpa aku sadari aku malah mempersilahkan bapak itu masuk, setelah masuk. &#8220;Mau dipijat dimana Neng?&#8221; tanyanya. &#8220;Ngk.. Di.. Kamar aja pak&#8221; sahutku, lalu aku membiarkan bapak itu mengikutiku menuju kamar, tiba didalam kamar, bapak itu segera dengan cekatan membereskan ranjang tidurku, lalu menyuruhku untuk tengkurep diatas ranjang. Aku mengikutinya, dan berbaring tengkurep diatas ranjang.. Lalu terasa tangan si bapak itu yang kasar itu mulai memijat-mijat telapak kaki dan kedua betisku, aku benar-benar merasakan nikmatnya pijatan bapak itu, kemudian.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Maaf neng.. Kimononya dibuka yaa&#8221; serunya, Aku hanya diam saja ketika kimonoku dibuka dan diletak diranjang satunya lagi, kini hanya tinggal CD dan bra saja, setelah memijat betis dan bagian paha.. Si bapak beralih ke punggungku, memang terasa enak pijatan si bapak ini, setelah itu aku merasakan si bapak menuangkan oil ke atas punggungku dan mulai mengosoknya, lalu. &#8220;Maaf yaa Neng&#8221; serunya sembari melepas tali BHku, aku hanya diam saja, kedua tanganku aku taruh dibawa bantal sementara kepalaku menoleh ke arah tembok, terasa geli juga ketika si bapak mulai mengurut bagian samping tubuhku. Lalu terasa tangan si bapak mulai mengurut kebagian bawah dan menyentuh CD ku, lalu &#8220;Maaf yaa neng..&#8221; serunya sembari tangannya menarik CDku kebawah, aku terkejut tapi anehnya aku membiarkan si bapak itu melorotkan CD ku hingga lepas, kini si bapak dengan leluasa mengurut tubuhku bagian belakang yang sudah telanjang itu, lalu si bapak mengosokan oil ke seluruh tubuhku bagian belakang dari pundak sampai ketelapak kaki dan dibawah sinar lampu kamar, aku yakin tubuhku akan tampak mengkilap karena oil itu.</p>
<p><span id="more-1404"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Aku hanya berdiam diri saja.. Dan membiarkan si bapak mengurut bagian dalam pahaku, kedua kaki ku direnggangkan.. Oouhh.. Pasti sekarang dibapak dapat melihat kemaluanku dari belakang.. Pikirku, tapi aku hanya diam saja.. Dan diam-diam merasakan nikmat ketika tangan dibapak menyentuh-nyentuh bibir vaginaku, lalu dibapak naik ke atas tempat tidur dan duduk berlutut diantara kedua paha ku, aku hanya bisa pasrah saja ketika si bapak merenggangkan kedua pahaku lebih lebar lagi dan membiarkan kedua tangan si bapak mengurut-urut bagian pinggir vaginaku.. Gilaa.. Aku terangsang hebat.. Dan setiap jari-jari si bapak menyentuh bibir vagina ku.. Akupun mengelinjang.. Setelah cukup lama, akhirnya si bapak menuangkan oil ke atas pantatku.. Terasa cairan oil itu merambat melewati anus dan terus sampai ke vaginaku, kemudian dengan kedua tangannya.. si bapak mulai mengurut bongkah pantatku, dan aku benar-benar merasakan nikmat dan membiarkan si bapak membuka bongkah pantatku dan pasti dia dapat melihat bentuk kemaluanku dengan jelas dari belakang berikut anus ku.. Oohh</p>
<p style="text-align: justify;">Tiba-tiba terasa jari-jari si bapak mengusap-usap anus ku.. Gilaa.. Aku terangsang hebat.. Apalagi terasa sedikit demi dikit jari telunjuk dibapak itu dicolok-colok ke dalam anus ku.. Bergetar hebat tubuhku.. Dan tanpa aku sadari aku mengangkat pantatku hingga setengah menungging, tiba-tiba kedua tangan si bapak memegang pangkal paha ku dan mengangkat pantatku ke atas, aku menurut saja.. Hingga akhirnya aku menungging dihadapan si bapak itu, kepala ku.. kubenamkan ke atas bantal.. Dan membiarkan si bapak mempermainkan vaginaku dengan jari-jarinya.. Tiba-tiba.. Ooouuhh.. Aku mengeluh panjang ketika terasa jari si bapak menyusup masuk ke dalam anusku.. Terasa sedikit mules ketika jari telunjuk si bapak itu di sodok-sodok keluar masuk lobang pantatku, oohh.. Aku hanya bisa meringis saja dan akupun mengelinjang hebat ketika tangan si bapak yang satunya menyusupkan jarinya ke dalam liang vaginaku.. Gilaa.. Aku merasakan nikmat luar biasa.. Aku hanya pasrah saja dan membiarkan si bapak mengocok-ngocok vagina dan anusku dengan jari-jarinya,</p>
<p style="text-align: justify;">Tanpa sadar aku meluruskan kedua tanganku untuk menopang tubuhku.. Hingga kini posisiku seperti orang merangkak, sementara si bapak tetap duduk berlutut dibelakang. Cukup lama juga jari-jari si bapak menyodok-nyodok liang vaginaku dan lobang pantatku.. Dan aku benar-benar menikmati.. Sehingga tanpa sadar vaginaku sudah basah bercampur dengan oil.. Tiba-tiba aku merasakan ada sesuatu yang menempel dimulut vaginaku, ternyata si bapak telah mengarahkan batang kemaluannya ke bibir vaginaku, aku hanya pasrah dan membiarkan ketika secara pelan-pelan batang kemaluan si bapak mulai ditekan masuk ke dalam vaginaku.. Oohh.. Nikmat.. Tanpa disadari.. Aku mengerak-gerakan pinggulku juga, tubuhku terguncang-guncang ketika si bapak mulai menyodok-nyodok vaginaku dengan batang kemaluannya.. Aahh.. Nggkk.. Ohh.. Aku benar-benar merasakan nikmat.. Dan diam-diam aku mencapai klimaks tanpa sepengetahuan si bapak itu, tiba-tiba si bapak mencabut batang kemaluannya dari vaginaku.. Lalu oohh.. Gilaa.. Terasa ujung batang kemaluan si bapak ditempelkan ke anusku.. Wah dia mau menyodomi aku.. Pikirku memang aku pernah melakukan anal sex.. Tapi ini..</p>
<p style="text-align: justify;">Lalu si bapak menarik kedua tanganku kebelakang dan menyuruh aku membuka belahan pantatku dengan kedua tanganku sendiri.. Kemudian terasa jari-jari si bapak mengolesi anusku dengan oil.. Dan kadang-kadang menyusupkan satu dua jari nya ke dalam.. Kemudian terasa pelan-pelan batang kemaluan si bapak menerobos masuk ke dalam anus ku.. Aakk.. Nggkk.. Aku mengeluh.. Rada sakit dikit.. Tapi setelah semua batang kemaluan si bapak amblas.. Dan ketika si bapak mulai menyodok-nyodok keluar masuk.. Ahh.. Nikmatnya.. Terasa sedikit mules tapi aku benar-benar enjoy anal sex ini.. Tetapi kini aku merasakan kenikmatan yang.. Tidak klimaks-klimaks.. Sampai basah tubuh ku dengan peluh.. Tetapi si bapak tidak kunjung klimaks juga, rasa nikmat.. Mules.. Campur aduk.. Aku hanya bisa meringis-ringis sembari memejamkan mata saja, tetapi akupun tidak tinggal diam.. Jika si bapak menghentikan gerakannya, maka aku langsung mengerakan pinggulku maju-mundur sehingga batang kemaluan si bapak tetap keluar masuk lobang pantatku hingga akhirnya lama kelamaan gerakan si bapak semakin cepat.. Dan terdengar nafasnya yang semakin memburu, rupanya si bapak sudah mau klimaks..</p>
<p style="text-align: justify;">Dan Akupun membuka belahan pantatku semakin lebar dengan kedua tanganku, lalu terdengar si bapak mengerang aahh.. Nggkk.. Lalu ia menjabut batang kemaluannya dari lobang pantatku lalu disemburnya airmaninya kepunggungku crot.. crot.. Terasa ada cairan kental dan hangat membasahi punggungku.. Sampai kerambutku dan akupun seketika rebah telungkup.. Dengan nafas masih memburu.. Dan masih merasakan nyeri di duburku. Setelah itu si bapak.. Pergi ke kamar mandi.. Akupun segera mengambil CD ku dan mengelap air mani si bapak yang belepotan dipunggung ku.. Tiba-tiba aku mendengar suara pintu dibuka.. Akupun segera mengenakan kimonoku dan berjalan keluar kamar.. Ternyata si bapak itu sudah tidak ada.. Loh gimana sih ini orang.. Pikirku.. Ah.. Biar aja kalau enggak mau dibayar.. Lalu akupun menuju kamar mandi.. Terasa lengket punggung ku karena oil tadi, tetapi tiba-tiba ada yang mengetuk pintu.. Akupun segera merapihkan kimonoku dan berpikir.. Pasti si Lina dan kawan-kawan sudah pulang, ketika pintu aku buka tampak seorang ibu-ibu dengan kebaya berdiri diluar.. Lalu&#8230;</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Selamat siang neng.. Neng yang.. Mau dipijet kan?&#8221; seru ibu itu. &#8220;Iya.. Ibu siapa&#8221; tanyaku &#8220;Saya tukang pijatnya neng&#8221; sahutnya.. Gilaa.. Siapa dong bapak tadi.. Walaupun aku terkejut.. Tetapi jujur.. Aku enjoy sekali dengan permainan si bapak itu.. Tapi.. Andaikan tunangan kutahu.. Ah.. Jangan sampailah.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ceritasex.cn/di-perkosa-tapi-enak/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Istri Sakinah</title>
		<link>http://www.ceritasex.cn/istri-sakinah/</link>
		<comments>http://www.ceritasex.cn/istri-sakinah/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 24 Jan 2010 13:08:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cerita Sex</dc:creator>
				<category><![CDATA[kisah nyata]]></category>
		<category><![CDATA[Paruh baya]]></category>
		<category><![CDATA[Seks Umum]]></category>
		<category><![CDATA[selingkuh]]></category>
		<category><![CDATA[Tante Girang]]></category>
		<category><![CDATA[enak]]></category>
		<category><![CDATA[istri]]></category>
		<category><![CDATA[liza]]></category>
		<category><![CDATA[lonte]]></category>
		<category><![CDATA[ngentot.istri]]></category>
		<category><![CDATA[pepek]]></category>
		<category><![CDATA[swinger]]></category>
		<category><![CDATA[tukar pasangan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ceritasex.cn/?p=1230</guid>
		<description><![CDATA[Liburan sekolah yang lalu kami membuat acara di puncak, disamping untuk mempererat persahabatan juga sekaligus memberikan refreshing pada anak anak setelah ujian sekolah. Kami bertetangga 6 keluarga berangkat bersama sama dengan 8 mobil dan menginap di villa yang besar dengan 3 paviliun dan 8 kamar tidur. Hari Sabtu kami berangkat bersama sama, jalanan arah Puncak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Liburan sekolah yang lalu kami membuat acara di puncak, disamping untuk mempererat persahabatan juga sekaligus memberikan refreshing pada anak anak setelah ujian sekolah. Kami bertetangga 6 keluarga berangkat bersama sama dengan 8 mobil dan menginap di villa yang besar dengan 3 paviliun dan 8 kamar tidur. Hari Sabtu kami berangkat bersama sama, jalanan arah Puncak sudah macet sejak keluar dari pintu toll, setelah berjuang dengan kemacetan 5 jam sampailah kami di Villa yang kami sewa tersebut, untunglah tidak terlalu jauh sehingga tidak perlu tersiksa lebih lama dijepit kemacetan. Masing masing keluarga menempati kamar masing masing dan sisanya dipakai anak anak atau siapa saja yang ingin tidur disitu. Disamping 6 keluarga, ada juga yang mengajak adik, paman maupun keluarga lainnya, jadi diluar anak anak ada 19 orang dewasa atau remaja. Para Bapak mempersiapkan acara barbeque untuk nanti malam sementara ibu-ibu mempersiapkan makanan baik yang sudah kita bawa dalam keadaan matang maupun yang harus dimasak terlebih dahulu, sementara anak anak bermain di halaman dan kolam renang.</p>
<p style="text-align: justify;">Kami bertetangga sudah saling mengenal dengan baik sehingga tidak ada perasaan apa apa ketika kami melakukan liburan bersama dan ini bukanlah yang pertama kali tapi sudah beberapa kali. Bahkan ketika kami semua bermain di kolam pada sore harinya, tak ada yang aneh, semua berjalan seperti biasa, saling engejek, saling menggoda, saling bersenda gurau, meski terkadang gurauannya mpet ke arah sensitif. Maklum kami semua masih se-usia antara 30 ? 35 tahun, yang paling kami yakin tidak lebih dari 40 tahun, yaitu Mas Surya, tapi penampilan dan postur tubuhnya terlihat sama dengan kami semua. Malamnya kami mengadakan barbeque sambil bermain catur, gaple, atau permainan apapun untuk melepas ketegangan dan bersantai sambil ngobrol mengenai segala hal. Jarum jam sudah menunjukkan pukul 12 tengah malam, sementara bapak-bapak lainnya asik bermain gaple, kami berempat berdiskusi dibawah indahnya bulan dan bintang malam. Tanpa kusadari paviliun sudah sepi, rupanya anak anak maupun ibu ibu sudah pada tidur, mungkin kelelahan.</p>
<p style="text-align: justify;">Hanya istriku Lily, Kiki dan seorang pembantu yang sedang di dapur, membuat kopi untuk kami yang begadang, setelah kopi dan the terhidang mereka menghilang masuk ke kamar. Satu persatu mereka menghilang masuk kamar, tingal 6 orang yang masih tahan begadang, untuk melepaskan penat aku jalan jalan di sekitar Villa sambil memandang kerlap kerlip lampu di bawah, sungguh indah di malam maupun siang hari, pantesan banyak orang ingin punya villa di daerah puncak. Aku menuju Paviliun C tempat kamar kami yang letaknya di ujung, agak jauh dari bangunan induk, kami satu paviliun dengan keluarga Mas Surya, dengan menahan dingin kututup rapat sweaterku, sendirian berjalan dikeremangan lampu taman. Paviliun C terlihat gelap, ?Rupanya mereka sudah tidur?, pikirku. Sebelum masuk paviliun aku mengitari bangunan itu, duduk di ayunan di pojok taman bermain yang gelap dan disinari sinar rembulan, kuhisap asap rokokku dalam dalam dan kuhembuskan sekuat kuatnya, dalam hati mengagumi arsitektur bangunan yang artistik. Tiba tiba aku dikejutkan oleh suara langkah di belakangku, ternyata istriku belum tidur dan menyusulku duduk di sampingku.</p>
<p style="text-align: justify;">Kursi besi itu terasa dingin, istriku merapatkan tubuhnya padaku, sambil memandangi hiasan di langit yang indah, kupeluk rapat untuk memberikan kehangatan padanya. Tanpa kata kata kami saling berpelukan dalam keremangan malam tanpa cahaya lampu, tanpa bicara kami akhirnya berciuman, begitu bergairah di keheningan malam, tangan istriku sudah mengusap selangkanganku dan kubalas dengan belaian lembut di dadanya, sweater nya terasa tebal mengganggu remasanku, apalagi bra-nya yang rapat menutup buah dadanya. Kuselipkan tanganku di balik sweater, terasa hangat tubuhnya, kuraba dan kuremas buah dadanya, tanpa permisi dengan sekali sentil terlepaslah bra yang menyangga buah dadanya. Kami masih saling melumat bibir, tangannya dengan trampil membuka resliting celanaku dan mengeluarkan kejantananku, langsung mengocoknya. Kubalas dengan remasan buah dadanya penuh gairah. ?Jangan disini, ntar dilihat orang orang? bisikku ?Nggak, terlalu gelap untuk dilihat dari sana? balas istriku sambil melepaskan ciumannya dan berlutut di bawahku.</p>
<p style="text-align: justify;">Dinginnya malam sudah tidak kami hiraukan, kejantananku sudah berada dalam jilatan dan kulumannya, aku tidak berani mendesah, takut terdengar mereka yang masih begadang. ?Udah lama aku tidak melakukannya di luar? bisiknya disela sela kulumannya. Aku tidak bisa melihat bagaimana kejantananku keluar masuk mulut istriku tersayang. Tak lama kemudian dia berdiri dan menarikku ke meja besi di depan kami, dia menarik turun celana jeans-nya hingga lutut lalu telentang di atas meja itu, aku yakin dia merasa dingin di atas meja itu tapi tak dihiraukannya. Kuangkat kakinya dan kujilati vaginanya, dia menggeliat tanpa berani bersuara, ditariknya kepalaku sebagai pertanda untuk segera mulai. Kunaikkan kakinya di pundakku dan kusapukan penisku ke vaginanya yang sudah basah, perlahan kudorong masuk penis tegangku hingga semua tertanam ke dalam. Dalam keremangan malam kulihat istriku menggigit bibirnya, dia menikmati kocokanku tanpa suara, aku tahu itu siksaan baginya bercinta tanpa desahan. Kocokanku makin cepat, dia meremas remas buah dadanya, terkadang menggigit sendiri jari tangannya untuk menahan desahannya. Aku masih mengenakan pakaian, hanya penisku yang keluar dari lubang celanaku. Kami berganti posisi, dia berdiri dan telungkup di meja sementara aku mengocoknya dari belakang, dinginnya malam tak mampu menghentikan kami, perlahan dingin berganti dengan panasnya gairah kami. Kupegang pinggulnya dan kusodokkan penisku dengan keras, kembali dia menggigit bibir bawahnya menahan nikmat. Kami berpindah kembali ke ayunan, dia nungging dan kami bercinta dogie style, baru kali ini kami bercinta sambil ber-ayun, setiap kali kusodokkan penisku dengan keras, kursi itu berayun dan kembali, begitu seterusnya hingga istriku tak perlu melakukan gerakan maju mundur. Hampir setengah jam kami bercinta di dinginnya malam udara puncak, tak ada desah dan jerit kenikmatan, hanya keringat kami yang mulai menetes. Tiba tiba kudengar suara orang bercakap mendekati kami, spontan kami menghentikan permainan dan membetulkan letak pakaian kami.<br />
<span id="more-1230"></span><br />
Untunglah mereka tidak melihat ke arah taman hingga tak mengetahui keberadaan kami di taman. Masih dalam keadaan penuh nafsu dan gairah, kami putuskan untuk melanjutkan di kamar, paviliun itu masih gelap. Kubuka kamar kami, ternyata tempat tidur kami sudah dipenuhi anak anak yang tidur berangkulan di balik selimut karena kedinginan. Istriku kemudian membuka kamar sebelahnya yang tidak terkunci, kamar keluarga Mas Surya, ternyata Mas Surya dan istrinya, Eliz sudah tidur juga, berangkulan di balik selimutnya. Di kejauhan kulihat beberapa orang masih begadang di depan bangunan induk, dengan agak jengkel istriku duduk di sofa ruang tamu, aku tahu aku harus menghiburnya atau menuntaskan birahinya. Kubuka celanaku dan menyodorkan penisku yang masih basah cairan vaginanya ke mulutnya, dia langsung menyambut dengan kuluman penuh nafsu. Tak lama kemudian kami kembali bergumulan penuh nafsu, celanaku sudah terlepas begitu juga celananya, kami bercinta dengan mengenakan sweater. Sedikit kesadaranku timbul, kukunci pintu depan dan belakang, begitu juga kamar anak anak aku kunci dari luar. Kubiarkan kamar Mas Surya, toh mereka sudah tidur lelap.</p>
<p style="text-align: justify;">Permainan kami berlanjut, kami bercinta di sofa maupun di karpet ruang tamu, tanpa kami sadari satu persatu pakaian kami terlepas dari tubuh kami, telanjang kami bercinta dengan nafsu yang menggelora, sesekali istriku berani mendesah ketika kukocok vaginanya dengan keras, seakan lupa bahwa ada Mas Surya dan istrinya di kamar itu. Duapuluh menit sudah berlalu, aku duduk di sofa sementara istriku duduk dipangkuanku turun naik dan bergoyang pinggul, mengocok dengan liarnya, kukulum dan kusedot serta kupermainkan putingnya dengan lidahku, dia menggelinjang nikmat, diremasnya rambutku. Goyangannya makin menggairahkan, seakan meremas penisku yang tertanam di vaginanya. Aku tak tahan lebih lama lagi menahan gairahnya, kemudian menyemprotlah spermaku di vaginanya, belum habis denyutan penisku menyemprotkan sperma ketika kurasakan remasan kuat dari dinding vagina istriku, dia mengikutiku mencapai puncak kenikmatan beberapa detik kemudian, kami saling berdenyut dan saling berpelukan penuh nikmat. Akhirnya kamipun terkulai telanjang di sofa ruang tamu, napas kami bersatu dalam birahi yang indah. Sebelum kami tertidur di sofa, kami kenakan kembali pakaian kami dan tertidur di sofa ruang tamu. Keesokan paginya semua berjalan seperti biasa, sebagaian besar berangkat ke daerah Agrowisata bersama anak anak, sementara aku dan istriku tinggal di villa dan mas Surya pergi men-servis mobil yang sempat ngadat saat macet. Karena tidurku kurang nyenyak, setelah mandi dan bersih bersih maka aku lanjutkan tidur di kamarku yang semalam dipakai anak anak. Jam dinding berbunyi 10 kali pertanda pukul 10 pagi, belum lelap tidurku sayup sayup kudengar pembicaraan istriku dengan seorang wanita yang tidak aku tahu pasti siapa dia. ?Mbak Lily, aku mau tanya, pribadi nih, boleh enggak ??</p>
<p style="text-align: justify;">kata wanita itu yang ternyata mbak Eliz. ?Ada apa sih mbak, kok kelihatan serius amat ?? tanya istriku ?Jangan marah ya, janji ya,?anu mbak?..aduh gimana nih susah ngomongnya? Mbak Eliz terdengar canggung. ?Emangnya ada apa sih ?? ?Anu mbak emmm&#8230;. semalam permainan mbak begitu menggairahkan dan liar, aku dan Mas Sur jadi menikmatinya sampai habis, setelah itu kami melakukannya di kamar meski tidak selama dan seheboh permainan mbak? ?Hah ? kok mbak Eliz?..?jawab istriku, ada nada kaget disuaranya. ?Iya mbak, maaf ya mbak, ketika aku dengar ada suara agak berisik aku terbangun, dan lebih kaget lagi ketika kulihat Mbak Lily dan Mas Hendra sedang begituan? ?Seberapa lama mbak lihat ?? tanya istriku penasaran ?Sejak mbak Lily mengulum Mas Hendra? jawabnya, berarti itu baru permulaan, cukup lama dia melihat permainan kami ?Lalu, aku melihat bagaimana Mas Hendra menjilati mbak, sepertinya mbak begitu menikmati gitu, aku jadi pingin deh digituin, tapi Mas Sur nggak pernah mau melakukannya? mbak Eliz melanjutkan. ?Emang mbak melihat kami bersama dengan Mas Surya ?? Tanya istriku penasaran ?Ketika aku sedang melihat kalian di lantai, saat itulah Mas Sur bangun dan kami melihat kalian berdua sambil dia memelukku, terus terang aku salut sama suami mbak, bisa bermain lama begitu dan banyak posisi, dan ?.. dan?.. dan?.. jangan marah ya mbak, aku ?aku ?. melihat punya Mas Hendra begitu besar, meski dalam keremangan aku bisa melihatnya, sampai sampai saat aku bermain dengan Mas Sur kubayangkan punya Mas Hendra yang besar itu, entah bagaimana rasanya barang sebesar itu, tak terbayang deh, enak kali mbak ya sampai mbak menggeliat kelojotan kayak gitu, jangan marah ya mbak aku kan cuma mengatakan perasaanku apa adanya? ada nada kagum dan ragu ragu dari suara mbak Eliz. Aku tak tahu bagaimana mbak Eliz bisa bercerita begitu polos dan terus terang tanpa basa basi seperti itu. ?Emang punya Mas Sur nggak gede ?? pancing istriku ?</p>
<p style="text-align: justify;">Entahlah mbak, tapi punya Mas Hendra kelihatan begitu besar dan ah nggak tau lah mbak? ?Mbak Eliz pingin merasakannya ?? pancing istriku penuh selidik, aku yakin dia sudah mulai keluar isengnya. ?Jangan marah mbak, aku Cuma berkhayal saja kok, lagian aku kan nggak mungkin selingkuh dengan suami teman sendiri, ntar aku dikira apa? mbak Eliz terdengar canggung. ?Bagaimana kalo kuijinkan? benar sudah keluar gairah liarnya ?Maksud mbak ?? Eliz terdengar kaget ?Ya kamu ngerasain yang kamu bayangkan, dari pada cuma dibayangkan dan membuatku berpikir yang negatif, lebih baik di wujudkan saja, iya kan? istriku sudah mulai nakal ?Mbak ijinin aku sama suami mbak ? ah mbak pasti bergurau nih,ah udahlah mbak, anggap pembicaraan ini nggak ada, sekedar iseng? Mbak Eliz mulai gugup. ?Mbak, tolong jawab dengan jujur, aku serius nih, mbak Eliz mau apa enggak ?? Mereka terdiam, hanya pancuran air cucian piring yang kudengar, tiba tiba kudengar suara gelas jatuh berantakan, rupanya ada yang nervous. ?Mbak beneran nih ? Mas Hendra sendiri gimana ?? tanyanya kaget dan penasaran ?Udahlah, masalah itu serahkan padaku, jawab dulu kamu mau apa enggak ? Mereka terdiam lagi. ?Entahlah mbak, aku jadi malu nih? dia ragu ragu. ?kalau Mas Hendra mau dan mbak nggak keberatan, &#8230;.ya&#8230;.aku sih&#8230;. emmm&#8230; malu ah? ?Ya jelas mau dong, dikasih enak kok nggak mau? tegas istriku ?Sekarang mbak mau apa enggak ? soal suami mbak biar aku yang atasi, serahkan saja padaku, trust me, kalo emang oke ntar aku bilang ke mas Hendra? lanjut istriku meyakinkan mbak Eliz, entah apa yang ada dibenaknya. Tak kudengar pembicaraan lebih lanjut, sepertinya mbak Eliz masih ragu atau malu untuk meng-iyakan tawaran istriku. ?Tapi jangan bilang bilang mas Sur ya mbak? kata mbak Eliz berarti setuju tanpa meng-iyakan. ?Gila apa, emang kita mau cari perkara? suara istriku meninggi ?Temanin ya mbak? ?Ini orang, udah diijinin masih minta ditemenin lagi, kayak perawan aja? kata istriku sewot ?Bukan gitu mbak, aku kan canggung kalo langsung ke kamar mas Hendra, ntar dikira ngajak selingkuh lagi, padahal kan seijin mbak?</p>
<p style="text-align: justify;">Ya udah deh, kalo gitu kita keroyok aja mas Hendra rame rame, kita main bertiga aja, buruan ntar suamimu keburu datang dari servis mobil? jawab istriku. Mendengar pembicaraan mereka kejantananku perlahan menegang, apalagi ketika membayangkan mbak Eliz yang cantik dan mulus. Wanita keturunan Aceh itu umurnya 1 ? 2 tahun lebih muda dari istriku, tingginya sedikit dibawah istriku, mungkin 160, tapi body-nya sungguh menggetarkan birahi laki laki yang melihatnya, apalagi dadanya yang terlihat menonjol menantang, perkiraanku pasti tidak lebih kecil dari 36B, kulitnya yang putih mulus bak pualam, sungguh beruntung aku kalau memang ini terjadi, ingin rasanya aku segera menikmati tubuh sexy-nya. Tak lama kemudian kudengar langkah menuju ke kamar, aku pura pura tidur pulas ketika mereka masuk kamar dan mendekati tempat tidur, ranjang bergoyang ketika mereka naik. Kudengar mereka berbisik bisik sebentar, tanpa bicara lagi tiba tiba istriku langsung menciumku, pura pura kaget kubalas kuluman bibir istriku. Sambil mencium susu dia meremas remas kejantananku yang menegang dibalik celana pendek, kuremas buah dadanya dibalik sweater-nya, kejantananku makin menegang, aku masih menunggu sentuhan tangan lembut mbak Eliz, kulepas sweater-nya hingga tampak bra ungu yang tak lama kemudian tanggal dari tubuhnya. Sekilas kulirik mbak Eliz hanya berdiri mematung melihat kami berciuman. Tak lama kemudian kami sudah sama sama telanjang bulat berpelukan dan berciuman didepan mbak Eliz yang masih berdiri di ujung ranjang. Aku khawatir mbak Eliz berubah pikiran, maka kuhentikan ciumanku dan menghampirinya, dia mundur selangkah menjauhiku, tampak keragu raguan di sikapnya, untunglah istriku membantunya, didekatinya mbak Eliz diraihnya tangannya dan dituntun ke arah kejantananku yang menegang. Ragu ragu dia egangnya tapi istriku berhasil memaksanya untuk meremas kejantananku, dia dangku dengan sorot mata kagum, aku suka dengan cara pandangnya yang penuh gairah itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Ketika mbak Eliz mulai meremas dan mengocok, kutarik tubuhnya dalam pelukanku yang telanjang, bisa kurasakan buah dadanya yang mengganjal di dadaku. Istriku ikutan memelukku, kini dua wanita cantik dalam pelukanku, satu telanjang dan satunya masih berpakaian. Tanpa membuang kesempatan lebih lama, kucium pipi mbak Eliz yang mulus itu dan terus bergeser ke bibir manisnya, mulanya agak canggung dia melayani ciuman bibirku tapi kemudian dibalasnya ciumanku dengan tak kalah gairahnya, dilumatnya bibirku seakan tak mau melepaskan lagi. Tanganku mulai menyusuri dadanya, kuremas dengan lembut buah dadanya, seperti dugaanku, begitu montok dan kenyal, membuatku makin gemas untuk meremas remas. Remasan dan kocokan empat tangan di kejantananku makin liar, seliar ciuman dan remasanku pada buah dada mbak Eliz. Kulepas kaosnya, terlihatlah buah dada montoknya yang masih terbungkus bra merah berenda, sungguh sexy dan terlihat begitu padat, aku menelan ludah melihat kemontokan tubuh nan sexy itu, segera kudaratkan ciumanku ke leher mbak Eliz, dia menggelinjang dan mulai mendesis pelan, remasanku makin leluasa menggerayangi kedua bukit yang menantang, kuselipkan tanganku di sela bra-nya, begitu didapati putingnya segera kupermainkan dengan nakal, gelinjang mbak Eliz makin menjadi, desisnya makin jelas terdengar. Istriku yang dari tadi memelukku dari belakang bergeser ke belakang mbak Eliz, ternyata dia melepas bra merah itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Tadaaaaaaaaa? kata istriku setelah menarik bra mbak Eliz. Aku kembali terpesona melihat buah dadanya yang polos padat menggantung di dadanya, belum hilang kagumku, istriku ternyata sudah melorotkan celana pendek sekaligus celana dalamnya, untuk kesekian kalinya aku melongo melihat ke-sexy-an tubuh telanjang tetanggaku ini, rambut pubicnya yang tertata rapi membentuk segitiga, begitu indah. Tangan mbak Eliz dari tadi tak pernah lepas dari kejantananku, bibir dan lidahku kembali menyusuri leher jenjangnya dan lidahku langsung menuju ke puncak bukit yang kemerahan, dengan liar kupermainkan putting yang kecil menantang, kukulum dan kusedot putingnya sambil mempermainkan dengan lidahku, geliat dan desis mbak Eliz bertambah berani, rambutnya yang panjang tergerai bebas saat dia menengadah dan mendesah. Puas melumat kedua bukit mulusnya, ciumanku turun ke perut dan berhenti di kangannya. Lidahku menyusuri kedua paha hingga lututnya, sengaja aku tak menyentuh daerah vaginanya, ingin kupermainkan dia lebih lama lagi, ingin kulihat dia menggeliat seperti cacing kepanasan. Dugaanku benar, dia kelocotan dilanda birahi, berulang kali tanganku dituntun ke daerah vaginanya, tapi aku tak mau melanjutkan. ?Pleeeeeeeaaassssse??pleaaaaaaassssse? desahnya yang membuat aku tak tega mempermainkan lebih lama lagi. Kutuntun dia ke arah ranjang dan kutelentangkan, kini tubuh telanjang dan sexy mbak Eliz telentang penuh pasrah, aku menikmati saat saat seperti ini. Kutindih tubuh montok itu, kami kembali berciuman sebentar sebelum akhirnya aku jongkok di antara kedua kakinya.</p>
<p style="text-align: justify;">“Ini yang kamu mau bukan ?” kata istriku yang dari tadi telanjang berdiri menonton suaminya sedang mencumbu mbak Eliz, istri tetangga. Lidahku menyusuri pahanya yang mulus, lalu berhenti di selangkangannya. Aku mulai menjilati bibir vaginanya, dia menggeliat dan menjerit tertahan ketika lidahku menyentuh klitorisnya, tangannya digigitnya untuk menahan jeritannya. Istriku yang duduk di sampingnya tersenyum melihatnya, lidahku menari nari di vaginanya, sesekali kusedot liang vaginanya, tak jarang cairan vaginanya tertelan mulutku. Mbak Eliz menggeliat tanpa kontrol, pahanya menjepit kepalaku, tapi tak kuhiraukan. Dua jari tanganku sudah mengocok liang vaginanya sembari lidahku menyapu klitorisnya, dia menjerit penuh nikmat. “Aaaaauuuuuggghhhh… .. yessss…yessss… . trussss” jeritnya lepas sambil meremas remas rambutku, seakan lupa bahwa dia sedang menikmati suami orang. “Aaagghhh…sssshhhhhh… sssshhhh…yesss… yesss…. yaaa…aku keluaaaaaaaar” jeritnya tertahan, ternyata dia sudah orgasme hanya dengan jilatan lidah. Aku tak mempedulikannya, terus kujilati dan kukocokkan jari tanganku.</p>
<p style="text-align: justify;">“Aaaaghhh…. ssssssudah….. ssssssudah….. pleeeeeeaaaase” dia memohonku menghentikan jilatanku, tapi aku tak mau berhenti begitu saja. “Mas, udah mas, kasih dia istirahat dulu” celetuk istriku. Dengan berat hati aku beranjak dari selangkangan mbak Eliz, telentang diantara kedua wanita itu, istriku segera bergeser ke selangkanganku, diremasnya kejantananku dan langsung dikulumnya, tak lama kemudian kejantananku sudah meluncur keluar masuk mulutnya. Kakiku diangkatnya dan dia menjilati kantong bola hingga ke lubang anusku, aku mendesis sambil meraba dan meremas remas buah dada mbak Eliz yang masih telentang di sampingku. Mbak Eliz memiringkan tubuhnya, kini dia dipelukanku, kepalanya disandarkan di bahu ketika istriku sedang menjilati penisku. Mbak Eliz mulai kembali menciumi wajahku, terus beralih ke leher dan dadaku, dikulumnya putingku, aku menggeliat nikmat mendapat perlakuan kedua wanita cantik ini secara bersamaan. “Mbak, aku duluan ya” pintanya pada istriku ketika ciumannya sudah sampai di perut. “You are my guest, terserah, asal mau berbagi ini” jawab istriku sambil menyodorkan penisku ke muka mbak Eliz. Dia meraih penisku dan engocoknya dengan tangannya, sepertinya dia agak ragu untuk mengulum penisku. “Terlalu besar mbak, nggak muat nih” katanya kemudian “Coba aja dulu, ntar akan masuk sendiri” jawab istriku masih asik menjilati pangkal paha dan kantong bolaku. Mbak Eliz mulai menjilati kepala penisku, lidahnya berputar putar di ujung penis, lalu turun ke batangnya hingga pangkalnya, terus naik lagi ke ujung, kepala kedua wanita itu berimpit di selangkanganku. Wonderful, dua wanita cantik bermain dengan kejantananku, I’m flying to heaven. Jari tanganku mengocok vagina mbak Eliz yang basah, dia menjilat sambil mendesis. “Ya gitu terus masukin, pelan pelan saja” istriku seakan mengajari mbak Eliz, dan kepala penisku sudah berada di mulutnya. Kulihat dia kesulitan untuk memasukkan batangnya, istriku segera mengambil alih, diraihnya penisku dan langsung dimasukkan ke mulutnya dengan lahapnya, dia mengocok penuh gairah, lalu dikembalikan lagi ke mbak Eliz, seperti anak kecil yang mengembalikan permainan yang dipinjamnya. Mbak Eliz berusaha untuk memasukkan sebanyak mungkin penisku ke rongga mulutnya, hanya setengah yang bisa dia kulum, istriku menjilati batang penis yang tidak tertampung, penisku mulai meluncur keluar masuk mulut mbak Eliz, kocokan jariku di vaginanya makin cepat, desahnya tertahan penisku. Mbak Eliz ber anjak menaiki tubuhku, sepertinya dia ingin segera merasakan penisku di vaginanya, tapi istriku mencegahnya. “Jangan posisi ini dulu, pelan pelan saja, santai saja” kata istriku meminta Eliz telentang di sampingku.</p>
<p style="text-align: justify;">Segera kunaiki dan kutindih tubuhnya, kucium dan kujilati leher mulusnya, istriku dengan setia menuntun kejantananku ke vagina mbak Eliz, perlahan lahan kudorong masuk menguak liang sempit di selangkangannya. “Aaaaagghhhhh… .. pe…lan……. pe…lan…. mas, sakiiiiiiiit, besar bangeeeet” desahnya seperti seorang perawan yang baru bercinta. “Santai saja mbak, nggak usah tegang, mas jangan kasar dong” kata istriku yang selalu bertindak sebagai sutradara dan pengatur laku. Kudorong penisku memasuki liang sempit itu sebentar lalu kutarik lagi perlahan lahan, kudorong lagi dan kutarik lagi, makin lama makin dalam penisku melesak kedalam liang vaginanya, hingga akhirnya semua penisku masuk dalam vaginanya, kudiamkan sejenak dan kunikmati expresi di wajahnya yang bersemu merah. Mbak Eliz menggigit bibirnya, entah sakit entah nikmat, padahal liang vaginanya sudah basah, tangannya mencengkeram pantatku dengan kencangnya. Dia menahan tubuhku ketika aku mulai gerakan menarik, kudiamkan lagi sambil menciumi lehernya, buah dadanya masih terasa mengganjal di dadaku.</p>
<p style="text-align: justify;">“Gila gede banget, penuh rasanya mas, tak kusangka bisa sepenuh ini” bisiknya ditelingaku. Istriku mulai mengelus kantong bola-ku, membuatku menggelinjang di tas tubuh mbak Eliz, dia memelukku lebih erat lagi. Perlahan aku mulai menarik dan mendorong penisku, makin lama makin cepat hingga akhirnya aku bisa mengocok mbak Eliz dengan gerakan normal, desahan nikmat keluar dari mulut manisnya membuatku makin bernafsu menggoyangkan pantatku. Dia ikutan menggoyangkan pantatnya mengimbangiku, rupanya sudah bisa menyesuaikan diri. Aku berlutut sambil mengocoknya, kuamati wajah mbak Eliz yang sedang dilanda birahi, wajah cantiknya makin cantik ketika dia mendesah, membuatku semakin bernafsu. “Egh.. egh.. egh…. enak mas, trus massssss…yessss… fuck me..yess” desahnya lepas seirama kocokanku. Buah dada montok mbak Eliz berguncang guncang, diremasnya sendiri kedua bukitnya itu sambil dia mempermainkan putingnya. Istriku meletakkan kedua kaki mbak Eliz ke pundakku, membuat penisku makin melesak ke dalam. “Ouhh…yaa.. makasih mbak,…trus masss” desahnya makin merasakan kenikmatannya, makin cepat kocokanku makin liar dia mendesah.</p>
<p style="text-align: justify;">“Gimana ? enak mbak ?” goda istriku sambil mengelus elus rambutnya. “Ufff&#8230; bu.. bukan enak lagii&#8230;. tooooop deh” jawabnya di sela sela desahan sambil meremas remas buah dadanya sendiri. “Enak mana sama suami mbak ?” tanyaku keceplosan, tak seharusnya aku membandingkan seperti ini. “Tau ahh” “Enak mana ?” desakku sambil menyodoknya keras “Aaaauugghhhh. .. ssss&#8230; en.. nak&#8230; i&#8230;. nniii” jawaban atau desahannya, tentu saja dia akan menjawab begitu, mana mungkin dia menjawab lain kalau sedang menikmati yang ini. “Aaagghhh…shit… shit…yessss” teriaknya sambil mencengkeram erat lenganku, dan bersamaan dengan itu kurasakan remasan otot vaginanya pada penisku, dia mencapai orgasme lagi, tak lebih sepuluh menit aku mengocoknya.  Kuhentikan gerakanku sejenak untuk merasakan denyutan vagina mbak Eliz yang cukup kuat. Wajahnya makin cantik lagi dikala orgasme, semu kemerahan terlihat jelas di raut mukanya yang putih, sungguh berbeda dengan keseharian biasanya. Tubuh mbak Eliz langsung melemas seiring dengan habisnya denyutan itu, aku ingin mengocoknya lagi tapi istriku sudah menarik lenganku meminta giliran. Aku telentang di samping tubuh mbak Eliz yang masih ngos-ngosan, istriku langsung mengatur posisinya di atasku dan melesaklah penisku ke vaginanya, vagina kedua di pagi itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Jujur saja kurasakan vagina mbak Eliz lebih nikmat dibandingkan istriku, tapi gerakan dan goyangan istriku jauh lebih erotik dari mbak Eliz, dia langsung naik turun dan bergoyang pinggul di atasku, aku dan istriku sama sama mendesah nikmat. Kuraih dan kuremas buah dadanya yang menggantung indah, lebih kecil dari punya mbak Eliz, tapi sama sama padat dan kenyal. Kupeluk tubuh istriku sambil mengocoknya dari bawah, dia mendesah dekat telingaku, kami saling berdekapan erat. Mbak Eliz sepertinya tak tahan melihat permainan kami, dia lalu mencium pipiku di sisi lain, kuraih tubuhnya, kuremas buah dadanya lalu kupeluk, sungguh nikmat memeluk dua wanita yang cantik dan sexy, sambil tetap mengocoknya. Istriku kembali duduk di atas penisku sambil bergoyang pinggul. “Mbak di atas sana gih” perintah istriku sambil menjulurkan lidah memberi kode untuk dijilati vaginanya. Mereka saling berpandangan lalu tersenyum, mbak eliz segera membuka kakinya tepat di atas mukaku, segera kusambut dengan lidahku. Kedua wanita ini saling mendesah di atasku, mereka saling berhadapan dan berpegangan tangan, ada kepuasan tersendiri bisa memberikan kenikmatan pada dua wanita cantik secara bersamaan, meski aku tidak bisa melihat expresi wajah keduanya, pandangan dan mukaku tertutup pantat mbak Eliz. Tiba tiba mereka turun secara bersamaan, aku kecewa, tetapi segera kekecewaanku berganti dengan kenikmatan lagi, ternyata berganti posisi, istriku di atas kepalaku sedangkan mbak Eliz pada penisku. Goyangan mbak Eliz tidak seliar istriku, tapi tetap saja nikmat, kembali mereka mendesah bersama sama. “Dari belakang mbak” usul istriku tak lama kemudian “Doggie ??” Tanya mbak Eliz yang masih turun naik di atas penisku. Tanpa menjawab istriku langsung turun dan nungging di sebelahku, diikuti dengan mbak Eliz nungging di sebelahnya, kini aku harus memilih diantara dua vagina yang menantang. Kuamati mereka sejenak, baru sekarang kusadari kalau pantat mbak Eliz begitu sintal dan padat, indah dipandang, apalagi kalau digoyang. Tanpa piker panjang, aku berdiri di belakang mbak Eliz.</p>
<p style="text-align: justify;">kusapukan sebentar lalu kudorong perlahan masuk hingga semua penisku tertanam ke vaginanya. agghhhh… . pelaaaaan” desahnya ketika penisku menguak liang vaginanya. Istriku mandangku sambil tersenyum, tapi tak kupedulikan, aku sedang konsentrasi menikmati mbak Eliz. Penisku mulai meluncur keluar masuk vaginanya, kupegang pantatnya yang padat berisi, kutarik dan kudorong seirama kocokanku, mbak Eliz mendesah lebih liar. Buah dadanya ber-ayun ayun dengan bebasnya, kuraih dan kuremas dengan gemas penuh nafsu, kupermainkan putingnya, membuat dia makin mendesah dan mulai berani menggoyangkan pantat mengimbangiku, kenikmatanku bertambah apalagi ketika istriku memelukku dari belakang dan mengelus dadaku sambil menciumi tengkuk dan punggungku. Kocokanku pada mbak Eliz makin cepat dan liar, ketika istriku nungging di sebelahnya meminta giliran, agak berat aku melepas mbak Eliz yang sedang dalam birahi tinggi, tapi aku tak bisa mengabaikan istriku. Kugeser tubuhku di belakang istriku, dengan sekali dorong melesaklah penisku ke vaginanya, langsung kukocok dengan cepat dan keras, aku tahu kesukaannya, makin liar makin suka dia. “Mbak keluarnya di aku saja ya” pinta mbak Eliz yang disambut senyuman oleh istriku di sela desahannya. “Boleh asal setelah itu dibersihkan dengan mulut” jawab istriku nakal sambil mendesah nikmat “Dengan mulut mbak ??” tanyanya heran “Iyyaaaa, mau nggak ???” jawab istriku dengan nada tinggi, aku yang mendengarnya jadi tambah bernafsu, kuhentakkan makin keras penisku ke vaginanya.</p>
<p style="text-align: justify;">“Mmmmm…iya deh” jawab mbak Eliz sambil mengangkat dua jarinya lalu bergeser ke belakangku dan memeluk seperti yang dilakukan istriku tadi. “Janji”. Belum sempat mbak Eliz memberi jawaban, terdengar deru mobil melintas di depan pavilliun, Mas Surya telah dating. Sebelum kami sempat berpikir harus berbuat apa, istriku sudah mengambil inisiatif. “Kalian lanjutkan saja, Mas Surya biar aku yang tangani, believe me” katanya langsung menarik keluar penisku dan turun dari ranjang, dikenakannya kaos dan celana pendeknya tanpa mengenakan pakaian dalam, entah sengaja atau terburu buru aku tak tahu. “Ingat janjimu mbak” teriaknya sesaat sebelum pintu kamar tertutup. Sepeninggal dia aku dan mbak Eliz saling berpandangan seperti tak tahu harus berbuat apa. Masih tetap telanjang, kami mengintip ke jendela dari balik tirai, melihat keadaan, kulihat istriku berbicara dengan Mas Surya yang baru keluar dari mobil, digandengnya Mas Surya menuju kolam renang, tanpa berganti pakaian renang istriku langsung mencebur ke kolam, Mas Surya melepas pakaiannya, dengan memakai celana dalam dia mengikuti istriku masuk ke kolam, aku yakin Mas Surya akan segera tahu kalau istriku tidak memakai bra begitu kaosnya basah, putingnya pasti membayang di balik kaos basah itu, aku tidak tahu dengan pikiran Mbak Eliz. Membayangkan mereka berdua gairahku kembali naik, aku bergeser ke belakang mbak Eliz yang masih asik mengintip mereka. Kupeluk dan kuremas buah dadanya dari belakang, dia tidak memberi respon. Kubuka kakinya, dia menurut saja, ku usap usapkan penisku ke pantatnya lalu kusapukan penisku ke vaginanya, dia menoleh ke arahku dan kubalas dengan senyuman. Tubuhnya menegang ketika penisku meluncur masuk ke liang vaginanya, dia mendesah tapi matanya tetap tertuju pada istriku dan suaminya di kolam sana, aku tak peduli apa yang ada di benaknya. Kukocok dia dengan cepat, tangannya meremas tirai jendela, kami bercinta dengan berdiri, sambil memegang pantat dan meremas buah dadanya kukocok makin cepat, dia mendesah lepas, seakan melupakan mereka yang ada di kolam.</p>
<p style="text-align: justify;">“Aduh mas, enak mas, terussss” desahnya lagi, tangannya tertumpu pada bingkai jendela, aku menyukai pandangan pantatnya yang mulus, sintal, padat berisi, apalagi saat bergoyang ketika kukocok, begitu indah dan menggairahkan. Khawatir kami lepas kontrol dan tirainya tertarik, kami pindah ke sofa, sayup sayup kudengar tawa dan canda dari kolam. Mbak Eliz duduk di sofa, aku berlutut di antara kedua kakinya yang terbuka, kupeluk dan kuciumi bibir dan lehernya, dia memegang penisku, mengocoknya sejenak lalu menyapukan ke vaginanya, masih saling melumat bibir, penisku kembali memenuhi rongga vagina mbak Eliz, dia melepaskan lumatannya ketika semuanya sudah berada dalam vaginanya, dipandanginya mataku dengan sorot penuh gairah. “Cumbui aku sesuka Mas Hendra, fuck me as you like, puaskan aku mas” bisiknya, ada nada marah pada suaranya, mungkin dia cemburu dengan yang di kolam, tapi aku tak peduli, yang penting aku bisa menikmati tubuh sexy mbak Eliz sebanyak yang aku bisa. Kami saling memeluk dan mengocok, berbagai posisi kami lakukan dari meja, karpet lantai hingga kembali ke ranjang dengan segala posisi yang ada di imajinasi kami, entah sudah berapa kali dia mengalami orgasme, tapi selalu berulang dan berulang lagi.</p>
<p style="text-align: justify;">Rasanya tak pernah habis kureguk kenikmatan dari mbak Eliz. Suara canda dari kolam sudah tak terdengar lagi, kami terlalu asik mengarungi lautan kenikmatan hingga tak perhatikan sejak kapan terhenti. Tubuhku untuk kesekian kalinya di atas tubuh mbak Eliz, mengocok dan menggoyang dengan penuh gairah dan nafsu, kakinya dikaitkan di atas pinggangku, kami saling mereguk kenikmatan, hingga sampailah aku ke puncak kenikmatan sexual, tubuhku menegang. “Keluarin di dalam Mas” bisiknya, dan sedetik kemudian menyemprotlah spermaku di rahim istri tetanggaku yang cantik ini. “Aaaaaaauuuuuggghhhh” dia menjerit spontan ketika semprotan pertama menghantam dinding rahim dan vaginanya, tubuhnya ikut menegang dan sebelum denyutanku habis vaginanya ikutan berdenyut lemah, kami orgasme hampir bersamaan, saling memeluk erat, napas kami menderu seiring deru birahi kami. Aku langsung lunglai di atas tubuh dan pelukan mbak Eliz, kurasakan detak jantungnya yang berpacu cepat. Kami berpelukan dan saling mendekap tanpa kata, seakan menikmati saat saat nikmat yang baru saja kami gapai. “Udah dulu ya saying, ntar suamimu tahu” kataku memecahkan keheningan, kuberanikan memanggil kata saying, mengingat saat nikmat yang baru saja kami lalui. “Thanks mas, ini the best sex I have ever had” katanya masih di pelukanku. “Mas Hendra bukan satu satunya selain suamiku, aku memang beberapa kali selingkuh sama teman, tolong pegang rahasia ini ya Mas, tapi inilah yang terbaik dan punya Mas Hendra adalah yang terbesar yang pernah aku tahu selama ini, paling asik deh” katanya pelan tapi mengagetkanku. Sungguh beruntung laki laki yang telah menikmati tubuh sexy dan wajah cantik ini. “Mas Surya tahu ?” tanyaku sambil menutupi kekagetanku.</p>
<p style="text-align: justify;">“Entahlah Mas, mungkin juga sudah tahu tapi dia belum memergoki secara langsung sih, mau Tanya juga nggak berani dia karena aku juga tahu dia sering selingkuh, bahkan sekali tertangkap basah” Mbak Eliz terdiam sejenak. “Kehidupan keluarga kami sih nggak ada masalah, selama masalah itu tidak dibawa ke rumah, dan kita juga nggak pernah mengungkit ungkit masalah itu, it just fun, selama ini kami happy-happy saja kok, nothing wrong with my family. Aku berkata sejujurnya bahwa inilah yang terbaik yang pernah aku alami, aku jadi pingin lagi lain waktu, terserah Mas Hendra apa dengan mbak Lily atau Cuma kita berdua, aku sih oke oke saja, yang penting kita bisa menjaga keluarga kita masing masing” lanjutnya, dia menciumku, lalu turun dan berpakaian. Kami lalu ke ruang tamu, kubuka tirai kamar pertanda kami sudah selesai, kolam renang terlihat sepi, dia membuatkan aku kopi lalu nonton TV bareng sambil menunggu kedatangan istriku dan suaminya yang entah sekarang dimana atau lagi ngapain. Sesekali kami berciuman dan kucuri remasan buah dadanya. “Kamu belum memenuhi janjimu”, kataku asal. “Yang mana ?” “Sebelum istriku keluar” “Emang dia pernah melakukannya ? “Bukan pernah lagi tapi setiap kali kami selesai bercinta” jawabku, melihat keadaan masih aman, kutarik mbak Eliz ke dapur, aku bersandar di dinding dan kulorotkan celanaku hingga lutut dan kuminta dia jongkok. Agak ragu sebentar tapi akhirnya dia menurut, kembali bibir dan lidahnya menyusuri kejantananku, tak lama kemudian penisku sudah keluar masuk bibir mungilnya, makin lama makin menegang dan membesar. Kupegang rambutnya dan kukocokkan penisku di mulutnya. “Eeeegghhh…eeehhhmmm, gila, tak muat mulutku Mas” Penisku makin cepat keluar masuk mulutnya, tak lebih dari tiga menit kemudian kusemprotkan spermaku ke mulutnya, tak banyak memang, tapi aku sudah bisa merasakan orgasme di mulutnya. Dia berusaha menarik keluar, tapi kutahan kepalanya, dan tertelanlah spermaku itu, dia seperti mau muntah tapi tak kupedulikan, takkan kulepas sebelum aku yakin dia sudah menelannya, kuusap usapkan penisku yang sudah lemas itu ke mukanya, dia menikmatinya.</p>
<p style="text-align: justify;">Kami kembali ke ruang tamu menunggu kedatangan mereka, sepuluh menit kemudian muncullah Mas Surya dari balik pintu, sendirian dan masih mengenakan celana dalamnya yang sud ah agak kering, berarti cukup lama dia keluar dari kolam renang, dia terlihat agak terkejut melihat kami berdua di ruangan itu. “Eh, kirain kalian ikut Tea Walk” sapanya agak kaku langsung masuk ke kamarnya. Aku dan mbak Eliz saling berpandangan, dia kemudian menyusul suaminya ke kamar meninggalkan aku sendirian di ruang tamu. Cukup lama aku sendirian menunggu istriku sebelum akhirnya dia dating menenteng pakaiannya, hanya berbalut handuk dan rambutnya basah, padahal dia sudah lama keluar dari kolam. Dia tersenyum dan langsung masuk kamar, kususul dan kutarik handuknya hingga terlepas, ternyata dia tidak mengenakan apa apa dibaliknya, kupeluk dan kudorong dia ke ranjang yang baru saja aku pakai bercinta dengan mbak Eliz. Sambil berpelukan dia mulai bercerita apa yang telah terjadi. Ternyata dia membohongi Mas Surya bahwa kami ikut Tea Walk dan di kolam renang tak hentinya Mas Sur memandangi tubuhnya, sering tertangkap basah matanya memandang nakal ke arah buah dadanya yang memang menonjol di balik kaos basahnya, bahkan tak jarang Mas Surya berusaha menggodanya tapi istriku pura pura tak tahu. Mungkin karena merasa usahanya tidak mendapat respon, maka dia i ngin segera ke Pavilliun, entah mau ngapain. Saat Mas Surya bilas di kamar mandi sebelah kolam, istriku menerobos masuk, langsung memeluk dan menciumnya, tentu saja Mas Surya kaget tapi segera membalas dengan penuh nafsu. Ketika istriku memegang kejantanannya yang sudah menegang di balik celana dalamnya yang masih basah, dia terkejut karena tidak sebesar yang dibayangkan, agak kecewa juga dia, apalagi ibandingkan punyaku, tapi ketika dikeluarkannnya ternyata bentuknya yang lurus ke depan, berbeda dengan penisku, dia langsung bergairah, karena bentuk seperti itulah kesukaannya. Istriku langsung jongkok di depan Mas Surya, menjilati sebentar kepala dan batang kemaluannya, lalu mengulumnya, penis kecil Mas Surya masuk semua ke mulutnya hingga hidungnya bisa menyentuh rambut pubic-nya.</p>
<p style="text-align: justify;">Mas Surya mendesis dan meremas rambut basah istriku sambil mengocokkan penisnya di mulutnya. Mata Mas Surya menatap tajam penuh kagum ketika istriku melepas pakaian basahnya, sama sama telanjang kembali mereka berpelukan dan berciuman, tangan Mas Surya tiada hentinya meremas buah dada istriku, begitu juga mulutnya seakan tak mau melepaskan putingnya. Mulanya dia menolak ketika istriku minta jilatan di vaginanya, tapi istriku tak peduli, dia memaksa posisi 69 sehingga ketika dia mengulum penis Mas Surya, vaginanya tepat di atas mukanya. Diawali dengan kocokan jari di vagina, tatapi akhirnya lidah Mas Surya mampir juga di vaginanya, bahkan menari nari pada klitoris istriku. Mendapat jilatan di gina, kuluman dan kocokan istriku makin menjadi, membuat Mas Surya sering kali entikan jilatannya untuk merasakan nikmatnya kuluman istriku pada penisnya. Akhirnya mereka bercinta di kamar mandi, dengan hanya beralaskan handuk, istriku engocok Mas Surya yang telentang di bawahnya, tangannya tak pernah bosan menjelajahi kedua bukitnya. Ada rasa aneh ketika penis Mas Surya memasuki liang vagina istriku, tidak biasanya dia merasakan penis yang kecil seperti itu, tapi lama kelamaan dia bisa menikmati juga gerakan liar dari penis itu di vaginanya, ada kenikmatan berbeda antara ukuran besar dan kecil. Mereka kemudian berganti posisi, gantian istriku telentang, Mas Surya menindih dan mengocoknya, seperti kata istrinya, permainan suaminya tidak terlalu banyak improvisasi, justru istriku yang banyak mengambil inisiatif, kedua kakinya di tumpangkan ke bahu Mas Surya, penisnya lebih dalam masuk ke vagina istriku, tidak lebih dari 7 kocokan kemudian, Mas Surya menyemprotkan spermanya dalam vagina istriku, tanpa permisi lagi, seenaknya saja dia menyemburkan cairannya di dalam, denyutannya cukup kuat untuk membuat istriku menjerit kaget bercampur nikmat, lalu tubuh Mas Surya melemas terkulai di atas tubuh istriku, agak kecewa juga dia karena belum mencapai orgasme tapi Mas Surya sudah selesai terlebih dahulu, dan sialnya lagi dia tidak berhasil membangkitkan kembali gairah Mas Surya, tubuhnya semakin berat menindih badannya,</p>
<p style="text-align: justify;">apalagi di atas lantai yang keras. “Kamu memang hebat, pintar dan liar” bisik Mas Surya ketika istriku mendorong tubuhnya turun. “Baru segitu aja sudah memuji, kamu akan kaget bagaimana istrimu mendapatkan kenikmatan dari suamiku di sana” teriak batin istriku, tapi dia menutupi dengan senyuman. “Ingin aku mengulangi lagi di tempat dan suasana yang lebih nyaman, entah kapan, kalau kamu nggak keberatan” lanjut Mas Surya ketika mereka mengenakan kembali pakaiannya. “Boleh asal Mas dengan syarat dan aturan main yang kutetapkan, ntar aku kasih tahu bila saatnya tiba, kalau bisa ketika di puncak ini” jawab istriku nakal. Akhirnya mereka berdua keluar kamar mandi, istriku melihat tirai sudah terbuka pertanda kami sudah selesai dan keadaan aman, tugas sudah diselesaikan dengan baik. Ketika menuju Pavilliun, istriku teringat k alau celana dalamnya tertinggal di kamar mandi, segera dia kembali, langsung saja dia masuk. Ternyata si Bobby salah satu adik tetanggaku yang baru tamat kuliah berada di dalam, mereka berdua sama sama kaget, apalagi terlihat Bobby memegang celana dalam istriku sambil meremas selangkangannya. “Ada apa Bob ?” Tanya istriku menutupi kekagetannya “Aku tahu yang mbak lakukan sama Mas Surya barusan, aku sudah intip sejak Mbak mengikutinya masuk sini, jadi aku tahu semuanya” kata Bobby dengan pandangan nakal “Lalu ?” Tanya istriku menyelidik “Apa Mas Hendra atau mbak Eliz tahu ? bagaimana kalau mereka mengetahuinya ?” ada nada ancaman. “Jangan bilang mereka ya Bob, please” kata istriku pura pura terkejut dan takut untuk mengetahui apa maunya “Aku akan tutup mulut kalau ada imbalannya” Bobby berkata dengan angkernya “OK, berapa yang kamu mau asal keep this secret” tantang istriku “Aku nggak butuh duit dari mbak meski aku tidak punya duit, aku Cuma minta hal yang sama dengan Mas Surya” jawab Bobby, tentu saja mengagetkan istriku. “Bobby !!!, apa maksudmu” Tanya istriku pura pura bodoh “Ya apa yang mbak lakukan sama Mas Sur, aku minta yang sama, tapi aku nggak maksa kok, terserah mbak Lily saja” jawab Bobby enteng menggoda.</p>
<p style="text-align: justify;">Bobby sebenarnya tampan, hitam manis dan badannya atletis karena dia punya hobby aerobik, sebenarnya bisa saja istriku melayani kemauan Bobby, toh beberapa gigolo yang kami booking banyak yang usianya tak beda dari dia, bahkan lebih muda, masih kuliah lagi, tapi istriku tak mau merusak hubungan dengan kakaknya, ada rasa segan. Istriku terdiam mempertimbangkan, sebenarnya bukan takut dia cerita ke aku atau mbak Eliz, tapi lebih banyak pada etika berteman dan bertetangga. “Mbak gak rugi deh, aku masih perjaka kok, belum pernah melakukan yang gituan, paling juga onani” bujuk Bobby “Bobby, kalau kamu benar masih perjaka, mbak malah nggak mau melayani, sebaiknya kamu berikan pada orang yang kamu cintai, istrimu kelak, tapi mbak akan memberi imbalan tutup mulutmu dengan cara mbak sendiri dan mbak jamin kamu pasti menyukainya, tapi yang pasti bukan yang satu itu, asal kamu melupakan semua yang pernah terjadi di sini, baik antara aku dan Mas Surya maupun aku sama kamu, tidak pernah terjadi apa apa disini, oke ?” istriku yang nakal mencoba bernegosiasi sambil mendekati Bobby.</p>
<p style="text-align: justify;">Dia masih terdiam ketika istriku memeluk dan mencium kedua pipinya, terasa jantungnya yang berdetak kencang, apalagi ketika istriku mendekapnya erat, buah dadanya menempel rapat di dada Bobby. Dia diam saja dan membalas ketika bibir Bobby melumat bibirnya, tangan istriku segera menjelajah di selangkangan Bobby ketika Bobby mulai menjamah buah dadanya. “Aku belum pernah melakukan ini” katanya terbata bata, tangannya agak gemetaran ketika meremas buah dada istriku. Istriku bersandar di dinding, dia nurut saja ketika Bobby melepas kaosnya, bahkan dia mulai mendesis ketika Bobby meremas dan mengulum kedua buah dada dan putingnya. Terasa kaku dan kasar remasan dan kuluman Bobby, tapi istriku menikmati permainan perjaka ini, dibiarkannya Bobby menikmati seluruh tubuhnya, bibirnya, lidahnya, elusannya, tak sejengkalpun tubuh istriku luput dari jamahannya, kecuali bagian selangkangan yang masih tertutup celana pendek. Berulang kali Bobby berusaha melepasnya tapi istriku selalu menolak, dan terus mencoba lagi hingga akhirnya istriku menyerah. “OK, kamu boleh melakukannya tapi tetap tidak yang satu itu” tegas istriku, dan tak lama kemudian istriku kembali telanjang di kamar itu, di depan orang yang berbeda, konyolnya lagi kini dia telanjang di depan orang yang masih berpakaian lengkap dan bersepatu cats. Rupanya Bobby Cuma mengelus dan menciumi paha dan pantat istriku, dia tidak melakukan jilatan di vagina maupun sentuhan di klitoris seperti perkiraan istriku semula. Bobby paling suka menciumi pipi, leher dan melumat bibir istriku, juga meremas dan mengulum kedua buah dadanya. Sambil saling melumat bibir, istriku membuka resliting celana Bobby dan mengeluarkan kejantanannya, terkaget dia mendapati kenyataan bahwa penis Bobby cukup besar, mungkin sama dengan punyaku, dia jongkok di depan Bobby dan mengocok dengan tangannya. “It’s show time” kata istriku, lalu dia mulai menjilati sekujur penis Bobby, jilatan nakalnya menjelajah ke seluruh bagian kejantanannya, membuat Bobby mendesis desis dan meremas rambut istriku.</p>
<p style="text-align: justify;">“Oooooooohhhhh… . sssssssshhhhhh” desisan keluar dari mulutnya ketika istriku memasukkan penis itu ke mulutnya, penis yang besar itu makin tegang dan membesar dalam genggaman dan kocokan mulut istriku. Kalau tidak mengingat siapa Bobby dan hubungan baik dengan kakaknya, ingin rasanya memasukkan penisnya ke vagina, untuk melampiaskan birahi yang tidak elesaikan dengan Mas Surya tadi. Sambil mengocok dengan mulut, tanpa setahu Bobby istriku mempermainkan jarinya di klitoris, dia memerlukan sesuatu di vaginanya, ingin rasanya mengajak ber-69 supaya sama sama nikmat. Belum lima menit istriku mengocoknya, tiba tiba Bobby teriak dan langsung menyemprotkan spermanya di mulut istriku, segera ditariknya keluar penisnya hingga beberapa semprotan sperma mengenai muka dan rambutnya, dimasukkannya kembali penis Bobby ke mulutnya, beberapa tetesan masih keluar mengisi mulut istriku, banyak juga sperma yang disemprotkan Bobby, maklum baru pertama kali melakukan seperti ini. Istriku bukannya mengeluarkan penis dari mulutnya ketika semprotannya habis, tapi justru mempermainkan dengan lidahnya, kontan saja Bobby teriak kegelian dan mencabut dengan paksa penisnya dari mulut istriku. “Gimana ? puas nggak ?” goda istriku sambil mengusap sisa sperma yang ada di bibirnya. “Gila, 100% mbak” jawab Bobby dengan nada puas “Udah keluar sana, mbak mau mandi bersihin spermamu yang ada di tubuh mbak ini, lagian ntar mereka tahu” kata istriku sambil berdiri dan menyalakan shower. “Aku di sini aja mbak, sambil lihat mbak mandi” kata Bobby “Ah nggak nggak nggak bisa, ini diluar perjanjian” jawab istriku ketus, sebenarnya dia khawatir kalau Bobby bisa segera recovery dan minta kelanjutannya, kan bisa berabe, maklum masih darah muda, disamping itu dia juga takut terhanyut emosi dan nafsu birahi dengan melayani permintaan Bobby untuk bercinta. Akhirnya Bobby keluar dan istriku melanjutkan mandi, itulah sebabnya ketika dia dating dengan menenteng pakaian, rambutnya basah dan hanya berbalut handuk. Mendengar ceritanya barusan, kuceritakan juga pengakuan dari Mbak Eliz tentang keluarga yang saling selingkuh.</p>
<p style="text-align: justify;">kulihat pandangan isriku berbinar, entah apa yang ada dalam pikirannya. Nafsuku naik kembali ingin aku menuntaskan birahi istriku yang tak terselesaikan, tapi dia menolak. “Jangan sekarang Pa, ntar aja, aku ingin ngerjain Mas Surya, kita bertiga, Papa setuju kan” pinta istriku, tak ada alasan bagiku untuk menolak karena dia sudah membantuku dengan mbak Eliz. “Sekarang kita harus pikirkan bagaimana menyingkirkan mbak Eliz sementara, Papa ada ide nggak ?” kata istriku. “Aku bisa aja mengajak mbak Eliz jalan jalan keluar, tapi kalau kamu minta kita bertiga ya kita harus pikirkan lagi alasannya” jawabku “Kita pikir nanti deh, sekarang kita keluar cari makan, sekarang sudah hampir jam 1 saatnya makan, siapa tahu kita dapat ide” usul istriku setelah kami saling terdiam berpikir beberapa lama. Setelah berpakaian sewajarnya kami keluar kamar, ternyata Mas Surya dan istrinya sudah berada di teras depan Pavilliun, kami saling menyapa seolah tidak pernah terjadi apa apa diantara kami, semuanya berjalan normal separti biasa, tak ada rasa canggung ataupun segan, padahal diantara kami sudah saling menikmati pasangan masing masing.</p>
<p style="text-align: justify;">Bedanya, kini seringkali mbak Eliz memandangku dengan sorot mata yang penuh gairah, dan kubalas dengan senyum penuh arti, tentu hal ini hanya kami berdua yang tahu. Mungkin juga hal yang sama dilakukan Mas Sur dan istriku. Kami berempat ke Bangunan utama yang letaknya di depan melintas kolam renang, berbaur dan ngobrol dengan penjaga dan mereka yang tidak ikut Tea Walk, ternyata 3 orang tidak ikut termasuk Bobby. Anak anak dan lainnya belum pada dating, mungkin mereka langsung makan siang. “Pa, sepertinya susah menyingkirkan mbak Eliz, nggak ada alasan yang kuat, agaimana kalau kita ajak aja mereka bersamaan, kita berempat” usul istriku ketika kami berdua di dapur. “Aku sih oke saja, toh kita sudah sering melakukannya, tapi gimana ngajaknya ?” tanyaku “Serahkan padaku, panggil mbak Eliz kemari” jawab istriku meyakinkan, kutinggalkan istriku yang sedang membuat bandrek untuk kami semua, aku bergabung kembali dengan mereka di teras, dan mbak Eliz segera ke dapur setelah kuberi tahu. Kulihat mereka berbicara serius sambil berbisik, terkadang tertawa renyah, entah apa yang dibicarakan, aku yakin istriku sedang me-lobby mbak Eliz dan percaya cara lobby istriku yang seringkali membawa hasil. Tak lama kemudian kuhampiri mereka, ingin tahu hasilnya. “Mulanya dia keberatan kalau suaminya ikutan, apalagi dengan aku, tapi setelah kubujuk akhirnya dia mau, asal aku yang memberitahu ke Mas Surya. Pa tahu nggak, ternyata dia pernah melakukannya dengan dua laki laki……” Percakapan kami terhenti ketika salah seorang pembantu mendekat. “Aku yakin Mas Surya akan menyetujui rencana ini, dia bukan halangan yang berarti” lanjutnya setelah pembantu itu pergi. Kami bergabung kembali sambil membawa beberapa cangkir Bandrek, kulihat mbak Eliz duduk di samping suaminya dengan pandangan penuh Tanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Kami terlalu asyik ngobrol sehingga istriku sepertinya agak kesulitan mencari kesempatan membicarakan rencananya dengan Mas Surya. “Mas Surya, bisa Bantu aku sebentar” pinta istriku lalu meninggalkan kami menuju Pavilliun, Mas Surya mengikutinya, kulihat mbak Eliz memandangku dan kubalas dengan senyuman dan anggukan. Entah yang lainnya curiga atau enggak, kenapa istriku minta bantuan Mas Surya dan bukan aku, suaminya. “Mungkin istriku perlu bantuan lagi” kataku seraya beranjak meninggalkan ruangan. “Aku ikut Mas” kata mbak Eliz mengikutiku. “Aku nggak yakin apakah Mas Surya mau menyetujui rencana istri Mas, aku juga masih ragu apakah bisa melihat kenyataan suamiku sedang mencumbu istri Mas” kata Eliz ketika kami melintas dekat kolam renang. “Aku yakin kamu pasti bisa, terbukti kamu makin bergairah ketika melihat suamimu sedang bermain dengan istriku di kolam renang tadi pagi” jawabku meyakinkannya. Pavilliun C seperti sebelumnya terlihat sepi, tirai kamar tertutup repat, kami curiga, kuberi tanda pada mbak Eliz untuk masuk dengan cara mengendap endap, sayup sayup kudengar desahan istriku dari kamar Mas Surya yang sedikit terbuka.</p>
<p style="text-align: justify;">Berdua kami mendekati dan mengintip apa yang sedang terjadi, kami melihat Mas  Surya sedang berlutut di depan istriku yang duduk di tepi ranjang, keduanya tidak mengenakan celana lagi, istriku sedang menggeliat menerima jilatan dari suami mbak Eliz, tangannya meremas remas rambut Mas Surya, aku yakin istriku sudah memberikan kuluman penis padanya. Kurasakan mbak Eliz menggenggam tanganku erat, entah dia cemburu atau makin bergairah. “dia tak pernah melakukannya padaku” bisik mbak Eliz, kuberi tanda supaya tidak bersuara. Sambil menjilati vaginanya, tangan Mas Surya menjelajah ke daerah dada istriku yang ternyata sudah tidak mengenakan bra, desah istriku terdengar tertahan. Kuelus pundak mbak Eliz, untuk menenangkan gejolak emosinya, melihat suaminya memberi istriku apa yang belum pernah diberikan padanya. Dia membalas dengan elusan dan remasan di selangkanganku, kejantananku makin menegang. Mbak Eliz menarikku ke samping, aku bersandar di dinding, dia langsung melorotkan celana pendekku dan berlutut di antara kedua kakiku, dipegang dan dikocoknya sebentar kejantananku yang sudah menegang lalu dijilatinya dengan penuh nafsu, tak lama kemudian kejantananku sudah keluar masuk mulut mbak Eliz.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku tidak berani mendesah, sementara di dalam kamar desahan istriku masih terdengar penuh gairah meskipun lirih. Kukocok mulut mbak Eliz, dia jauh lebih bergairah mengulumku dibandingkan sebelumnya, mungkin karena cemburu atau dendam, makin cepat aku mengocoknya. Aku tak berani terlalu bernafsu, perhatianku sesekali tertuju keluar, takut kalau ada yang lewat pasti bisa melihat kami karena tirai ruang tamu belum sempat kami tutup. Desahan istriku sudah berubah, aku hapal betul desahan itu, pasti Mas Surya sudah melesakkan penisnya ke vagina istriku. Sungguh berani mereka melakukannya tanpa melihat situasi, sungguh nekat tanpa perhitungan, pikirku. Kuminta mbak Eliz untuk pindah ke dapur, tapi dia tak mau, sepertinya ada rasa cemburu dan menikmati mendengar istriku mendesah bersama suaminya, ternyata aku mengalami hal yang sama, makin mendesah istriku makin aku bernafsu mengocokmulutnya. Ingin rasanya kulesakkan segera penisku ke vagina mbak Eliz, tapi keadaan tidak memungkinkan, mbak Eliz tetap menolak ketika kuberi isyarat untuk pindah ke kamarku, dia masih menikmati desahan istriku yang kini sudah bergantian dengan desahan suaminya dari dalam kamar, jilatan dan kulumannya tak henti dari penisku. Mbak Eliz melepaskan penisku, dia merangkak mengintip ke dalam kamar, begitu juga aku. Dugaanku benar, kami lihat Mas Surya sedang menindih tubuh istriku sambil menciumi lehernya, pantatnya turun naik mengocok vaginanya, sementara kaki istriku menjepit pinggang Mas Surya, mereka saling memeluk erat mengunci. Mbak Eliz diam saja ketika kusingkapkan rok-nya, begitu asyik dia melihat suaminya sedang bersetubuh dengan istriku, aku tertegun sejenak melihat celana dalamnya hijau tua yang menutupi pantatnya, lebih tepat menghiasi pantatnya karena hanya seutas tali, celana dalam model String, sungguh sexy pantatnya yang mulus dan padat berhias itu. Tak perlu membukanya, hanya menyisihkan tali itu sudah cukup bagi penisku untuk mencapai vaginanya. Kuciumi dan kujilat pantatnya, dari lubang anus hingga ke vaginanya, dia menungging makin tinggi pantatnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Mbak Eliz diam saja ketika kusapukan kepala penis ke vaginanya yang sudah basah, perlahan sekali aku mendorong masuk penisku, takut kalau mbak Eliz menjerit, tapi tak luput juga dia menjerit kecil ketika penisku tertanam semua dan menyentuh dinding dalam vaginanya. Untungnya jeritan kecil itu tertutup desah mereka hingga belum menyadari keberadaan kami di luar kamar. Pelan pelan mulai kukocok mbak Eliz dari belakang, dogie style, aku bisa merasakan dia kurang enjoy karena harus bercinta tanpa desahan sedikitpun, tapi tetap menolak untuk berpindah ke kamar. Disamping itu aku harus tetap waspada dengan keadaan di luar, sebenarnya ini terlalu ceroboh, tak pernah aku melakukan seceroboh ini, tapi setelah beberapa menit berlalu, aku mulai menikmati ketegangan ini, baik ketegangan dari dalam kamar maupun dari luar. Seringkali mbak Eliz menengok ke dalam kamar ketika kukocok, terutama ketika desahan istriku meninggi, aku tak tahu posisi apa di dalam. Tiba tiba terdengar jerit orgasme dari Mas Surya, cepat juga padahal belum 10 menit mereka bercinta, mungkin karena terburu buru.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku tak tahu harus berbuat apa, ingin menyelesaikan tapi takut mereka segera keluar, akirnya kucabut penisku dari mbak Eliz, dia tidak protes berarti setuju untuk menghentikannya. Kami merapikan pakaian dan duduk di ruang tamu menunggu mereka keluar. Tak lama kemudian Mas Surya dan istriku keluar kamar, tampak expresi terkejut dari Mas Surya tapi istriku hanya senyum senyum saja mengetahui keberadaan kami. “Eh.. Mas Hendra, udah lama ?” terlihat kegugupan pada pertanyaannya. “Cukup lama untuk mengetahui Mas dan mbak Lily di kamar” jawab istrinya ketus tanpa memandang ke arah suaminya, aku yakin cuma pura pura saja untuk memperkuat posisinya. “Kami hanya……” “Berdua dengan mbak Lily dan memuaskannya” potong istrinya tetap dengan nada tinggi. Mas Surya diam saja, memandang ke arahku seakan meminta bantuan, karena tidak tahu hasil pembicaraanku dengannya sebelumnya maka aku tak berani komentar dan kualihkan pandanganku keluar, istriku juga diam dan duduk di sebelahku melihat perlakuan mbak Eliz pada suaminya, kami semua terdiam.</p>
<p style="text-align: justify;">Mbak Eliz berdiri, menggandeng tanganku dan istriku, kami bertiga masuk kamar yang tadi dipakai Mas Surya dan istriku, pintu sengaja tidak ditutup, tanpa mempedulikan suaminya lagi dia memeluk dan menciumku. Mbak Eliz langsung jongkok di depanku dan mengeluarkan kejantananku, dijilati dan dikulum seperti yang dia lakukan tadi, kutarik istriku ke pelukanku dan kami berciuman sementara penisku sudah meluncur nikmat di mulut mbak Eliz. Cukup demonstratif dia mengulumku di depan suaminya, sambil memeluk dan berciuman dengan istriku, kupegang rambut mbak Eliz dan mengocoknya. Mbak Eliz mendorongku hingga telentang di ranjang, setelah melepas rok dan celana dalam mininya, segera membuat posisi 69 di atasku, seolah dia juga ingin memberikan apa yang belum pernah diberikan pada suaminya, kusambut vaginanya dengan jilatan lidah penuh gairah, dan dia mulai mendesah lepas penuh kenikmatan. Istriku lalu ikutan mbak Eliz mengulum penisku secara bergantian, dua lidah wanita cantik bekerja di daerah kejantananku, membuatku mendesis desis nikmat.</p>
<p style="text-align: justify;">Mas Surya berdiri di depan pintu melihat istriku dan istrinya menjilati kejantananku yang jauh lebih besar dari punya-nya. Dia tidak berani masuk, mungkin ada perasaan bersalah. Desah kenikmatan dan gairah mbak Eliz sungguh jauh lebih menggairahkan dibanding tadi, seolah dia ingin memamerkan kenikmatannya pada suaminya, bahwa dia bisa mendapatkan kenikmatan yang lebih dari orang lain, suami dari wanita yang tadi disetubuhinya. Mbak Eliz turun dari tubuhku, dikocoknya penisku yang masih dalam kuluman istriku, dia memandang suaminya sejenak lalu naik ke atasku, kembali dia menoleh ke suaminya sebelum menyapukan penisku ke vaginanya dan desahan keras keluar dari mulutnya tanpa tertahan ketika penisku masuk ke vaginanya. “AAAAauuuugggghhhhhh… ssssssshhhhh… yessss…enak Massssss”, desahnya sambil bergoyang pinggul dan turun naik di atasku sambil melepas kaos dan bra-nya. Kuraih dan kuremas buah dadanya yang bergoyang goyang. Aku tak berani melihat ke arah Mas Surya, ada rasa kasihan dan perasaan bersalah mempermainkan dia seperti ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Istriku beralih ke kepalaku, aku menolak ketika dia mau engangkangiku karena masih ada sisa sperma Mas Surya di vaginanya. Kutarik tubuh mbak Eliz dalam pelukanku dan kudekap erat tubuh telanjangnya di depan suaminya, dia mengimbangi dengan menggoyangkan pantatnya ketika aku mulai mengocoknya dari bawah, desahan demi desahan nikmat keluar dari mulutnya, kami saling melumat bibir, istriku mengelus kantong bolaku membuat aku makin bergairah mengocok. Kami berganti posisi, dogie style menghadap ke Mas Surya sesuai permintaan istrinya, istriku memelukku dari belakang, ternyata dia sudah ikutan telanjang, bauh dadanya di gesek gesekkan ke punggungku sementara tangannya memegang penisku, yang sedang keluar masuk vagina mbak Eliz. Sungguh nikmat dan ada sensasi yang tak terlukiskan bercinta dengan wanita di depan suaminya yang tak berdaya. Aku mengocok dan menjamah seluruh badan mbak Eliz, tapi masih tetap tak berani memandang ke arah mas Surya, pandanganku justru aku fokuskan ke tubuh mulus mbak Eliz. “Ouuuuhhhh…yesss… yaaa…fuck me harder…yessss… trus mas…ya…enak masss” desahnya demonstratif dan kuturuti dengan kocokan yang makin cepat dan keras, terkadang kuhentakkan penisku ke vaginanya membuat dia menjerit dalam kenikmatan yang tinggi. Tak lama kemudian kurasakan tubuh mbak Eliz menegang, dia lalu menjerit keras bersamaan denyutan dan remasan vaginanya pada penisku. Mbak Eliz mencapai orgasme yang tertunda dari tadi, kudiamkan sejenak menikmati remasan vaginanya lalu kuteruskan lagi, dia menggeliat, kutarik rambutnya kebelakang hingga kepalanya terdongak dan kukocok dengan keras. Aku tak mau menghentikan meskipun dia sudah orgasme, puncak kenikmatan sudah di depan mata, desahan mbak Eliz tak kuhiraukan lagi, kocokanku makin cepat dan tidak beraturan, hingga akhirnya menyemprotlah spermaku di vaginanya. Aku dan mbak Eliz teriak hampir bersamaan, semburan spermaku membuat mbak Eliz menggelinjang nikmat menerimanya, dia menoleh ke arahku dengan senyuman puas, lalu dicabutnya penisku dari vaginanya. Tangannya meraih penisku, dipegangnya dan menoleh ke arah suaminya lalu dimasukkan ke mulutnya, dia mengulum penisku yang masih banyak spermanya, dikulum dan dijilatinya seperti membersihkan sperma dari penisku, aku kembali mendesis tak menyangka mendapatkan kenikmatan ini. Kuraih buah dada mbak Eliz dan kuremas remas saat dia menjilati dan mengulum. Kami sama sama telentang dalam kelelahan yan g nikmat. Istriku yang masih telanjang turun dari ranjang dan mendekati Mas Surya. “sekarang giliran kita” katanya sembari meremas remas di selangkangannya yang disambut dengan remasan di dada. “jangan di sini, kurang aman, kita keluar saja, cari hotel yang lebih enak” usulku sembari turun dari ranjang mengambil pakaian, kulemparkan kaos dan rok mbak Eliz tanpa pakaian dalam. Dia mengenakannya kembali sambil tersenyum ketika mengetahui tidak ada bra dan celana dalam di situ. Pasangan Surya-Eliz sudah masuk perangkap kami. Berempat kami meninggalkan Villa, tentu saja tak ada yang curiga akan kepergian<br />
kami berempat, tak lama kemudian Carnival kami sudah berada dalam antrian kemacetan jalanan di puncak.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku dan mbak Eliz di depan sementara Mas Surya dengan istriku duduk di jok paling di belakang karena jok tengah memang di lepas, membuat ruangan menjadi lebih lapang, kaca film yang gelap ditambah tirai tertutup rapat sungguh cocok dengan keadaan kami yang sama sama dibakar birahi, dari kaca spion dalam bisa kulihat Mas Surya berciuman dengan istriku, tangannya meremas remas kedua buah dadanya. Melihat suaminya berciuman di belakang, mbak Eliz menggapai penisku dan meremasnya, jalanan macet tidak memerlukan konsentrasi penuh, aku bisa menikmati remasan mbak Eliz sambil memandang istriku dan Mas Surya di belakang. Remasan Mas Sur berganti dengan kuluman di putting istriku, dia mulai mendesah menikmati kuluman suami mbak Eliz, tangannya meraih penis dan meremasnya. Kubelokkan Carnival menuju salah satu warung sate, kudengar suara protes dari belakang ketika mengetahui mobil sudah parkir di depan warung itu, kami keluar saling bergandengan, tentu orang tidak menyangka kalau yang digandeng itu bukan pasangan resminya, sama sama mesra, buah dada mbak Eliz yang montok tanpa bra terlihat jelas bagiku, entah orang lain. Selama makan mbak Eliz memperlakukanku layaknya suaminya begitu juga istriku terhadap mas Surya, Mas Surya sepertinya sudah menikmati permainan ini. Sungguh sulit mendapatkan hotel atau villa yang masih kosong saat liburan seperti ini, dari hotel, cottage maupun orang sekitar yang biasa menyewakan villa, semuanya penuh, fully occupied. Setelah melewati Puncak Pass akhirnya kami mendapatkan kamar yang masih kosong, dengan terpaksa kami ambil kamar yang suite dengan 3 kamar yang harganya minta ampun mahalnya, apalagi hanya untuk dipakai dalam waktu yang tidak lama, sekedar pelampiasan nafsu liar kami, tapi uang bukanlah masalah kalau hati lagi senang, kami hanya ingin segera mencapai tempat dan melampiaskan hasrat masing masing. Kutinggalkan Mas Surya dan istriku yang sedang menyelesaikan administrasinya, aku langsung menggandeng mbak Eliz menuju kamar mengikuti Room Boy. Kami duduk di sofa menunggu kedatangan mereka, mbak Eliz duduk di pangkuanku lalu merosot bersimpuh di depanku sambil melepas celana pendekku, dia meraih kejantananku dan mengusap usapkan di wajah sambil menciuminya dengan gemas. “Ini penis kok segede ini, enak deh, sungguh beruntung mbak Lily tiap hari bisa merasakannya” komentarnya sambil mulai menjilati kepala penisku. “Kamu juga beruntung telah merasakannya” jawabku Dia tidak menjawab karena mulutnya sudah penuh terisi penisku, meski hanya setengahnya yang bisa dia kulum, tapi dia berusaha dengan mempermainkan lidahnya di dalam rongga mulutnya. Mbak Eliz sedang asyik mengocokku ketika suaminya datang menggandeng istriku. “Wah sudah mulai duluan nih, udah nggak tahan ya” goda istriku. Tanpa menunggu jawaban kami, istriku menghampiriku, kami berciuman, Mas Surya memeluknya dari belakang, menyelipkan tangannya ke dalam kaos istriku dan meremas remas kedua buah dadanya sambil mencium tengkuknya membuat istriku menggeliat. Mbak Eliz hanya tersenyum sambil tetap mengulum penisku melihatnya, Mas Surya melepas kaos istriku, buah dadanya yang padat menantang langsung kukulum, tak kupedulikan tangan Mas Surya yang sedang meremasnya. Istriku menggeliat dan mendesah mendapat kuluman dan ciuman di tengkuk. Dia duduk di sampingku dan Mas Surya duduk di antara kedua kakinya, bersebelahan dengan istrinya. Kedua suami istri itu memainkan mulut dan lidahnya di daerah kenikmatan kami dengan cara yang berbeda, istriku melumat bibirku, sambil menikmati permainan lidah Mas Surya yang sedang lincah bergerak liar di vaginanya, kepala Mas Surya seolah tertancap di selangkangan istriku, begitu juga mbak Eliz yang kepalanya terjepit di antara kakiku..</p>
<p style="text-align: justify;">Tak lama Mas Surya dalam jepitan selangkangan istriku, dia lalu berlutut, melepas pakaian dan menyapukan penisnya ke vagina Lily, dengan sekali dorong masuklah penisnya mengisi liang kenikmatannya dan langsung mengocok cepat, membuat istriku mulai mendesah. Melihat suaminya sudah duluan menikmati istriku, mbak Eliz berdiri melepas semua pakaiannya hingga telanjang, lalu ke pangkuanku, menyodorkan kedua buah dadanya ke mukaku yang langsung kusambut dengan kuluman penuh gairah, perlahan dia menurunkan tubuhnya, perlahan pula penisku memenuhi vaginanya. Kupeluk tubuh telanjangnya yang sexy ketika semua penisku tertanam ke dalam, dia membalas pelukanku dengan rapat sambil menggoyangkan pantatnya. “Ouh yaaa…yaaaa…enak masssss” desahnya bersautan dengan desahan istriku yang sedang menerima kocokan Mas Surya. Aku diam menerima kocokan mbak Eliz sambil mengulum kedua bukit montoknya, satu tangan meremas mbak Eliz sedang tangan lainnya meremas buah dada istriku, sama sama kenyal dan padat meski punya mbak Eliz lebih besar dan montok.</p>
<p style="text-align: justify;">Mereka berganti posisi meniru kami, kedua wanita bergoyang di pangkuan pasangan masing masing, desah dan jeritannya seolah berpacu dalam birahi, kukulum dan kusedot putting mbak Eliz, dia menggelinjang dengan jeritan nikmat tanpa menghentikan goyangannya, terkadang kedua wanita saling berpandangan dan tersenyum nikmat, tangannya saling berpegangan. Mas Surya membenamkan kepalanya di antara kedua bukit di depannya, istriku meremas rambutnya. Istriku memandang mbak Eliz lalu mengangguk memberi isyarat, tiba tiba secara bersamaan mereka berdiri, kami tidak sempat protes, ternyata mereka bertukar tempat kembali ke suaminya masing masing. Sementara istriku harus menyesuaikan kembali dengan ukuran penisku pelan pelan melesakkan ke vaginanya, Mbak Eliz langsung melesakkan penis suaminya ke vaginanya dan bergoyang dengan liarnya. Istriku memelukku setelah berhasil memasukkan semua penisku ke vaginanya. “Gila, sepertinya jauh lebih besar dari biasanya, terasa pennnnnnnuh” bisiknya sambil mendesah “Lebih enak kan, dia gimana ?” balasku berbisik “Punya Papa lebih besar tapi dia lebih keras dan tegang lurus, sama sama enak sih” Kuraih dan kuremas buah dada mbak Eliz yang bergoyang goyang di depan muka suaminya, kupermainkan putingnya membuat dia menggeliat dan mendesah sambil pantatnya turun naik di pangkuan sang suami. Kubiarkan istriku turun naik di pangkuanku sambil memandangi wajah mbak Eliz yang makin cantik menggairahkan terbakar nafsu. “Aku mau ngerjain mbak Eliz, biar dia merasakan two in one dengan suaminya” bisikku pada istriku tak lama kemudian, dia memandangku dan turun dari pangkuan. Aku berdiri di belakang mbak Eliz, sepertinya dia belum menyadari kehadiranku, kupeluk dari belakang, kudekap erat dan kuremas buah dadanya sambil menciumi tengkuknya, dia menggelinjang hebat, apalagi bersamaan dengan kuluman suaminya pada putingnya, desahannya berubah menjadi jeritan liar nan nikmat menggairahkan. “Aaaaaagggghhh… sssssshhhh… ehhhhhmmmmm” sambil menggoyang goyangkan kepalanya, rambut indahnya tergerai menutupi wajahnya yang kemudian disibakkan suaminya. Aku berdiri di atas sofa, posisi penisku sejajar kepala mbak Eliz, kusodorkan penisku yang tegang ke mulutnya, dia meraih dan mengocoknya.</p>
<p style="text-align: justify;">kulihat mbak Eliz memandang ke arah suaminya sebelum akhirnya memasukkan penisku ke mulutnya, tanpa mengentikan goyangan pinggulnya. Penisku segera keluar masuk mulut mbak Eliz, tepat di muka suaminya yang sedang meremas remas kedua buah dadanya, kini mbak Eliz mendapat dua penis di atas dan dibawah. Istriku hanya berdiri tersenyum melihat kami bertiga dan memandangku saat merasakan nikmatnya kuluman mbak Eliz. Kupegang rambut indah mbak Eliz yang tergerai di mukanya dan kukocokkan penisku ke mulutnya membuat dia tidak bisa bebas bergerak kecuali hanya bergoyang pinggul. Aku sudah tak mempedulikan lagi inya, yang hanya menonton bagaimana penisku mengisi mulut istrinya tercinta. Hanya beberapa menit kami mengeroyok mbak Eliz, ternyata sensasinya terlalu tinggi baginya, tak lama kemudian kurasakan cengkramannya pada penisku mengeras , gerakannya tidak beraturan dan, “Ooooouuugghhhh… yesssss…yaaaa… yaaaaaaa. .. oh Massssss” jeritnya orgasme, dia menggeliat di pangkuan suaminya sambil tetap mencengkeram penisku. Tubuh mbak Eliz melunglai memeluk suaminya, aku turun dan kucium pipinya yang masih bersandar di bahu sang suami, napasnya masih menderu, sempat kudengar dia berucap “terima kasih Mas”, entah ditujukan ke aku atau suaminya. “Giliranku” kata Lily, aku duduk di samping Mas Surya yang masih memangku istrinya. Lily berlutut di selangkanganku dan memasukkan penisku ke mulutnya, mbak Eliz turun dari suaminya, menggenggam dan mengocok penisnya yang masih tegang dan basah karena vaginanya, dikulumnya penis itu seakan membersihkan dari cairannya. Istriku sambil mengulumku meraih penis Mas Surya yang masih dalam kuluman istrinya, lalu mengocoknya setelah ditinggalkan mbak Eliz ke kamar mandi. Mas Surya beralih ke belakang istriku, mengatur posisinya bersiap untuk doggie. Tak lama kemudian istriku sudah menerima kocokannya dari belakang, dengan liarnya menghentakkan tubuhnya ke tubuh istriku yang masih bergairah mengulumku, sesekali kulumannya terlepas karena sodokan keras Mas Surya. Desahannya tertahan penisku yang ada di mulutnya, gerakan Mas Surya makin ganas, ditariknya rambut istriku dan menyodoknya dengan keras, tubuh istriku terdongak karena sodokannya, tapi dia tidak pedulikan, sodokan kerasnya tidak melemah, semakin istriku menggeliat nikmat membuatnya semakin bersemangat.</p>
<p style="text-align: justify;">Sambil mengocok, tangannya tak pernah lepas dari tubuh istriku, dielusnya punggung dan pantatnya lalu diremasnya kedua buah dadanya yang menggantung bebas. Dengan cepat istriku sudah bisa menyesuaikan dengan gaya permainan liar Mas Surya, kembali dia mengulum penisku, kupegang dan kuelus rambutnya, sesekali kutekan ke arah penis supaya masuk ke mulutnya sebanyak mungkin, meski dia tidak pernah bisa memasukkan semuanya. Kami berganti posisi, istriku duduk di pangkuanku, tapi sebelum dia memasukkan penisku ke vaginanya, Mas Surya sudah mendahului menyapukan kepala penisnya, dan melesak kembali ke vaginanya. Istriku menoleh ke Mas Surya, dia hanya membalas dengan senyuman, kini Mas Surya mengocok istriku yang duduk di pangkuanku. Dia mendesis di pelukanku menerima kembali kocokan Mas Surya. “Mbak suaminya nakal nih, merebut jatah suamiku” teriak istriku sambil mendesah ketika melihat mbak Eliz keluar kamar mandi. Mbak Eliz terlihat makin cantik dengan rambutnya yang tergerai basah dan hanya berbalut handuk, buah dadanya makin kelihatan montok berisi tertutup handuk putih. “Biarin aja, itulah balasan kalau kalian menggoda istri orang, tetangga lagi, bikin mereka kapok mas” jawab mbak Eliz mencium suaminya lalu duduk di sampingku. Tak kuperhatikan buah dada istriku yang berayun-ayun di mukaku, kutarik tubuh mbak Eliz mendekat, kulempar handuk penutup tubuhnya, aroma wangi tercium dari tubuh segarnya ketika kucium leher dan bibirnya, kami saling mengulum sambil aku memangku istriku yang menerima kocokan Mas Surya. “Pindah ke kamar yuk, disini kurang bebas” usul mbak Eliz Tanpa menunggu jawaban, kudorong istriku turun dari pangkuanku lalu kutuntun mbak Eliz menuju kamar, sekilas masih kulihat Mas Surya meneruskan kocokannya terhadap istriku, dia menyetubuhi istriku dari belakang sama sama berdiri, berpelukan dan berciuman. Sesampai di kamar, kurebahkan tubuh telanjang mbak Eliz dan langsung kutindih, kususuri tubuhnya yang segar sehabis mandi, terasa lebih menggairahkan, aku paling menyukai membenamkan mukaku di antara kedua bukit di dadanya yang montok. Tak lama kemudian istriku dan Mas Surya masuk kamar, ketika kami sedang ber-69 dengan mbak Eliz di atas, mereka langsung mengambil posisi doggie. Istriku mengatur posisi tubuhnya hingga kepalanya di antara kakiku dan bisa mengulumku bergantian dengan mbak Eliz ketika suaminya mengocoknya dari belakang, aku tak bisa melihat dengan jelas, tapi bisa merasakan ketika dua mulut dan dua lidah sedang berada di kejantananku baik secara bersamaan maupun bergantian, terasa kenikmatan yang berlebihan.</p>
<p style="text-align: justify;">Ranjang serasa bergoyang ketika kudengar jeritan nikmat istriku akibat hentakan kuat dari Mas Surya, kulihat dari celah paha mbak Eliz, Mas Surya menjambak rambut istriku hingga dia terdongak ke belakang dan menyodoknya dengan keras, buah dada istriku berayun-ayun tak beraturan karena sodokan itu. “Mas, gantian dong” pinta mbak Eliz pada suaminya, tanpa menunggu jawaban dia langsung turun dan nungging di samping istriku. Mas Surya melepaskan istriku dan bergeser di belakang istrinya, langsung penisnya melesak ke vagina mbak Eliz dengan kecepatan tinggi seperti yang dia lakukan pada istriku, kontan mbak Eliz menjerit seperti terkaget menerima perlakuan suaminya yang kasar itu, tapi tak ada tanda protes, justru kulihat expresi kenikmatan di wajahnya yang cantik. Kuraih buah dadanya yang montok berayun ayun dan kuremas sambil kupermainkan putingnya, membuat mbak Eliz makin histeris dalam desahannya. Istriku yang ditinggal Mas Surya, beralih ke atasku, mengatur posisinya sebelum akhirnya melesakkan penisku ke liang vaginanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Jeritan nikmat keluar dari mulutnya saat penisku menerobos masuk. Setelah terdiam sesaat, mulailah goyangan pinggulnya di atasku, penisku terasa di remas remas, gerakan istriku semakin liar, kunikmati sambil meremas remas buah dada mbak Eliz yang sedang mendapat kocokan dari suaminya. Melihat istriku bergoyang liar dan menggairahkan, Mas Surya rupanya tergoda juga untuk kembali menikmati istriku yang memang lebih liar dibandingkan istrinya, ditinggalkannya istrinya yang sedang mendesah nikmat, tak dipedulikannya suara protes dan kecewa dari mbak Eliz. Dia berdiri di samping Lily yang sedang terbakar kenikmatan, menyodorkan penisnya yang masih basah dari mbak Eliz ke mulutnya, istriku segera meraih penis itu dan langsung mengulumnya sambil tetap bergoyang pinggul dan turun naik di atasku. Penis mas Surya yang tidak terlalu besar segera masuk semua ke mulutnya tanpa hambatan, dia tidak mengalami kesulitan meng-handle dua penis secara bersamaan. Kedua penis mengocoknya di atas dan dibawah secara bersamaan, mbak Eliz yang cemberut segera kutarik dalam dekapanku, dia merebahkan kepalanya di dadaku sambil memandangi penis suaminya meluncur di mulut istriku.</p>
<p style="text-align: justify;">Mbak Eliz berlutut di sisi istriku, kedua wanita itu bergantian mengulum dan menjilati penis Mas Surya dengan rakusnya. Kami berimprovisasi dengan berbagai gaya dan posisi di semua tempat di kamar itu, sepertinya sudah menjadi kodrat bahwa aku lebih sering menikmati mbak Elis dan mas surya lebih menyukai istriku. Tak ada aturan, yang capek boleh berhenti yang masih kuat silahkan melanjutkan, permainan selalu bervariasi, kadang MMF, FFM atau MMFF. Anehnya, Mas Surya yang tadi cepat orgasme, dengan berame rame seperti ini justru bisa bertahan lebih lama, bahkan istriku sempat dibuat kewalahan. Kami saling mereguk dan memberi kenikmatan yang seolah tak pernah habis dinikmati. Selama di kamar tak seutas benang menutupi tubuh kami, bahkan ketika Room Boy mengantar makan malam, hanya Mas Surya yang berbalut handuk yang menerimanya, karena aku lagi sibuk mereguk kenikmatan dengan istriku dan istrinya. Setelah memberi tahu teman teman di Villa bahwa mungkin kami pulang pagi karena terjebak kemacetan di Cianjur, malam itu kami habiskan dengan pesta penuh nafsu seakan there is no tomorrow. Kami bebas melakukan dengan siapa saja, dimana saja, posisi apa saja, its wild sex, meski cuma kami berempat. Yang paling mengesankan adalah bercinta bertukar pasangan di keremangan malam yang dingin di udara terbuka, karena tempat kami memang jauh di pojok yang jarang dilewati orang.</p>
<p style="text-align: justify;">Dinginnya angin malam tak mampu mengusir gairah nafsu kami yang memang sedang memuncak. Keesokan harinya kami kembali ke Villa pukul 11 pagi, beberapa pertanyaan muncul mengiringi kedatangan kami, karena memang hp kami matikan untuk menghindari gangguan. Tak ada yang curiga dengan apa yang telah kami lakukan semalam, bahkan beberapa ibu ibu kasihan melihat kami yang kelihatan kurang tidur dan capek, mereka mengira kita kecapekan karena terjebak macet sehingga menginap di Cianjur, padahal itu jauh dari realita, justru kami kurang tidur dan capek karena nikmat. Akhirnya kami kembali membaur dengan tetangga lainnya, terhadap Mas Surya dan mbak Eliz kami bersikap sewajarnya seperti tidak terjadi apa apa, begitu juga mereka, tidak ada perubahan sikap kami pada mereka, paling tidak didepan banyak orang. Sesekali aku masih bisa mencuri cium ataupun pelukan ataupun rabaan dari Mbak Eliz saat berdua, istriku hanya tersenyum saja melihat tingkah lakuku itu. Kami masih berkeinginan untuk melakukannya lagi di lain waktu dan kesempatan, tak perlu menunggu liburan atau di puncak. Kalau ada peminat yang serius bisa kirim email, tak tunggu&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ceritasex.cn/istri-sakinah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jeng Yati (Another Story)</title>
		<link>http://www.ceritasex.cn/jeng-yati-another-story/</link>
		<comments>http://www.ceritasex.cn/jeng-yati-another-story/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 24 Jan 2010 12:34:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cerita Sex</dc:creator>
				<category><![CDATA[anal seks]]></category>
		<category><![CDATA[Paruh baya]]></category>
		<category><![CDATA[Pemerkosaan]]></category>
		<category><![CDATA[Seks Umum]]></category>
		<category><![CDATA[selingkuh]]></category>
		<category><![CDATA[Tante Girang]]></category>
		<category><![CDATA[asu]]></category>
		<category><![CDATA[cuki]]></category>
		<category><![CDATA[istri muda]]></category>
		<category><![CDATA[jeng yato]]></category>
		<category><![CDATA[ngentot]]></category>
		<category><![CDATA[pepek]]></category>
		<category><![CDATA[satpam]]></category>
		<category><![CDATA[vagina]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ceritasex.cn/?p=1227</guid>
		<description><![CDATA[Karena seringnya pencuri masuk ke perumahan yang kami tempati, maka warga perumahanku secara aklamasi menyewa penjaga malam dan warga boleh boleh saja membantu mereka malam hari. Memang kebetulan rumah yang kutempati di tengah perumahan itu tapi dua rumah di sebelahku belum dihuni sehingga sering kali keempat rumah itu dibuat sebagai tempat persembunyian. Malam itu aku [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Karena seringnya pencuri masuk ke perumahan yang kami tempati, maka warga perumahanku secara aklamasi menyewa penjaga malam dan warga boleh boleh saja membantu mereka malam hari. Memang kebetulan rumah yang kutempati di tengah perumahan itu tapi dua rumah di sebelahku belum dihuni sehingga sering kali keempat rumah itu dibuat sebagai tempat persembunyian.</p>
<p style="text-align: justify;">Malam itu aku terkena influenza berat karena kehujanan sepanjang siang.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Aku masih menyiapkan makanan untuk penjaga malam, mas&#8230;.!!&#8221;, kata istriku yang berpostur tubuh mungil dengan tinggi 155 cm, berwajah menarik seperti bintang Film Mandarin, meskipun kulitnya agak sawo matang dengan rambut pendek, sehingga tampak lebih muda dari usianya yang menginjak 40 tahun.</p>
<p style="text-align: justify;">Malam itu udara sangat panas sehingga dia hanya memakai daster yang lumayan tipis, sehingga memperlihatkan bentuk tubuhnya, utamanya pantat bahenol nya yang empuk itu yang bergoyang saat berjalan, walaupun perutnya tidak ramping lagi, karena sudah dua kali mengandung dan model dasternya berkancing di depan sehingga payudara biarpun tidak besar, tapi padat berisi, yang berukuran 34C agak tersembul dan kedua puting susu nya tampak menonjol dari balik dasternya karena memang dia kalau dirumah hanya memakai camisole tipis saja.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Sudah pukul sepuluh kok belum datang, ya ..!&#8221;, dia bergumam sendiri karena mengira aku sudah tertidur. Beberapa saat kemudian kudengar dua orang bercakap-cakap di luar dan mengetuk pintu rumah pelan. Istriku yang rebahan di sampingkupun bangkit dan entah tersadar atau tidak istriku membetulkan rambutnya dan memoles bibirnya sehingga bibirnya semakin merah.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Lho ????&#8221;, gumannya pelan ketika tersadar dia memoles bibirnya, tapi karena penjaga malam itu terus mengetuk pintu, dia pun tak jadi membersihkan bibirnya yang merah merangsang itu.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Malam, Bu Yati&#8230;!&#8221;, terdengar suara seseorang dan aku mengerti kalau suara itu adalah Pak Diran dan istriku sudah dikenal oleh dua orang petugas jaga tersebut karena sering istriku pulang malam seusai mengajar di kampusnya.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Masuk dulu Pak Diran..!&#8221;, terdengar istriku mempersilahkan penjaga malam itu masuk, sementara kudengar bunyi halilintar yang cukup keras dan hujan tiba-tiba turun dengan derasnya.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Wah hujan ? saya sama Pak Towadi, Bu Yati..!&#8221; katanya. &#8220;Nggak apa-apa,&#8230; masuk saja &#8230; lagian hujan deras, pak&#8230;.!&#8221; kata istriku. &#8220;Selamat malam, Bu Yati..!&#8221; kudengar Pak Towadi memberi salam pada istriku. &#8220;Sebentar tak buatkan kopi ..!&#8221; kata istriku, kemudian kudengar istriku berjalan menuju dapur di belakang rumah.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Di, lihat kamu ngga?!&#8221; terdengar suara bisikan Pak Diran, &#8220;Kamu kacau, Ran?!&#8221; balasan suara bisikan Pak Towadi., &#8220;Kamu lihat, enggak..?&#8221; suara Pak Diran lagi, &#8220;Iya, Ran muncul&#8230;., kayak penghapus ?&#8221; kata Pak Towadi, Rupanya mereka berbisik-bisik mengenai puting susu istriku yang menonjol di balik dasternya, karena malam itu istriku hanya mengenakan camisole di balik dasternya.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Pantatnya bahenol, lagi&#8230;.,&#8221; lanjut bisikan Pak Diran, &#8220;Hus istri orang itu, Ran..!&#8221; kata Pak Towadi, &#8220;Eeh, ini malam Jum&#8217;at, kan..? Pas kuat-kuatnya ilmuku hi hi?!!!&#8221; kudengar Pak Diran tertawa ditahan pelan, &#8220;Dicoba aja.., yok&#8230;, siapa tahu Bu Yati mau&#8230;!&#8221; kata Pak Diran.</p>
<p style="text-align: justify;">Kuingat Pak Towadi orangnya hitam agak tinggi dengan badan kekar dan Pak Diran orangnya tambun pendek, keduanya berumur 50 tahunan lebih, aku bergidik juga mendengar perkataan mereka mengenai istriku tadi, mereka penduduk asli daerah itu, terkenal sangat doyan dengan perempuan, bahkan mereka pernah bercerita saat aku jaga malam, kalau pernah membuat pedagang jamu yang bertubuh bahenol, yang sering keliling dua minggu sekali di daerah tempat tinggalku, pernah dibuat hampir tak dapat berjalan karena digilir mereka berdua, dimana saat itu pedagang jamu itu masih perawan dan sampai saat bercerita malam itu, pedagang jamu itu masih sering meminta kepada mereka berdua untuk menggilirnya, biarpun sekarang sudah bersuami, katanya tak pernah puas dengan suaminya yang masih muda, bahkan pedagang jamu itu pernah meminta mereka berdua datang ke rumahnya.<br />
<span id="more-1227"></span><br />
&#8220;Kalau sudah kena punya kami, pak, &#8230;. Waahhh&#8230;perempuan pasti malas dengan suaminya dan?..suaminya tak berkutik kalau kami ada, dan membiarkan kami tidur bersama istrinya dalam satu kamar bersama suaminya&#8221;, kata Pak Diran terkekeh kekeh malam itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Kemudian kudengar suara bisikan mereka lagi&#8230;.. &#8220;Kamu jangan ngaco, Ran. Sudah nanti kelewatan?!&#8221; kata Pak Towadi &#8220;Keris pusakaku.. ku bawa.. Di&#8230;. Ini ..he he he ?!&#8221; kata Pak Diran, &#8220;kamu jangan, gitu Ran&#8230;, orangnya lagian baik&#8230;, kasihan suaminya nanti, pinginnya sama kamu aja nanti .. !!&#8221; suara Pak Kardi lagi. Karena perasaanku nggak enak akhirnya kuputuskan untuk keluar dan mereka berdua terlihat kaget melihatku, tapi Pak Diran yang membawa keris langsung mencabut kerisnya dan langsung mengarahkan kerisnya padaku dan tiba-tiba gelap menyelimutiku.</p>
<p style="text-align: justify;">Kemudian aku terjaga dan kudapati diriku di tempat tidur kembali, kutoleh pintu kamarku dan kusen kamar dan lantai pintu kulihat seperti membara.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Eeeecch ?&#8230;.eeeeccchhh. &#8230;eeeeecccchhhh &#8230;..!!!! &#8221; kudengar desis istriku dan akupun turun, tubuhku terasa lemas sehingga aku merangkak mendekati pintu kamar dan&#8230;&#8230; seperti terkena listrik beribu ribu volt saat tanganku memegang kunci kamarku hingga aku tersengkur makin lemas seperti karung bersimpuh di depan pintu kamar yang sedikit terbuka itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku tak percaya melihat di ruang tamu dari pintu kamar yang terbuka sedikit itu, kulihat istriku berdiri di depan Pak Diran yang membawa selongsong keris sebesar batang kemaluan orang dewasa lebih besar dari lampu TL 40 watt yang ujungnya di arahkan kepada istriku yang berdiri, sedangkan tangan yang satunya seolah memelintir di ujung lainnya yang berbentuk huruf U memanjang itu. Kedua tangan Pak Diran kini memegang pangkal keris yang melengkung itu dan kedua jarinya memelintir ujung nya dan kulihat istriku yang berdiri, tubuhnya bergetas dan kembali mendesis</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Heeeggghhh ?..oooooohhhhhhh. &#8230;&#8230;ooooooohhh hhhhh&#8230;. ..!!!!!&#8221; Pak Diran bukan lagi seperti memelintir tapi menarik narik kedua ujung keris berbentuk U itu dan terlihat istriku membusungkan dadanya seperti kedua puting susu nya tertarik ke depan. &#8220;Mmm heeeggggh ?..aaaaaaa&#8230; .aaaaduuuuuhhhhh h&#8230;&#8230;!! !!!&#8221; istriku mendesis panjang dan Pak Diran langsung mengulum salah satu ujung U itu dan &#8230;. &#8220;Paaak ?.paaakkkk&#8230; .jaa&#8230;jaaangaaa annnnn ?.paaakkkkk.. &#8230;.!!!!! &#8221; suara desis istriku memelas dan tangan kanan istriku secara refleks memegang payudara kanannya, istriku mendesis-desis kembali&#8230;.. &#8220;Ummmppff?. Paakkkk&#8230;.. jaaa&#8230;.jaaaaang aaaannnn ? paaaakkkk ?..!!!!&#8221; istriku mendesis. Tangan kanan Pak Diran memelintir ujung satunya dan istriku pun memegang kedua payudaranya kembali yang masih terbungkus daster dan camisole nya itu.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;EEecccchhhhhhhgggg hhhhh ??!!!!!!!&#8221; istriku mendesah lagi saat Pak Diran memutar selongsong kerisnya sehingga pangkal keris berbentuk U itu berdiri, sementara jari-jari tangan kanannya mengelus-elus pinggiran lubang keris itu dan kulihat pantat bahenol istriku pun bergetar dengan hebat. Pak Diran semakin cepat mengelus dan bahkan menggosok lubang keris itu dan istriku pun mengerang-erang &#8230;..</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Paaakk ? paaakkk&#8230;.suuu. ..suuuuddaaaaahh ? paaakkk ?jangaaan diteruuuuskaaaaan ?.eeeecchghghghghghg h ??.!!!!!&#8221;, sementara pantatnya pun bergetar hebat dan kedua tangan istriku memegang pantat bahenol nya yang bergetar hebat saat Pak Diran menjilati lubang keris itu dan pantat bahenol istriku meliuk liuk tak karuan, kedua tangannya meramas pantat bahenol nya sendiri yang mulai maju mundur saat Pak Diran menyedot nyedot lubang keris itu dan bahkan lidah Pak Diran menjilati lubang itu dan&#8230;.. &#8220;Mmmppfffhhh hghghghgghghg ?.&#8221; istriku semakin keras mendesis desis, selangkangan nya terangkat angkat dan mendekati ujung selongsong keris ysng tengah disedot sedot dan dijilati lubangnya oleh Pak Diran.</p>
<p style="text-align: justify;">`Paaaak ? sudddaaaah ngngngngngngng hhhheeeghghghghgh??!!!&#8221; istriku mendesis kedua matanya tertutup dan selangkangan nya tertarik ke depan hingga selangkangan nya kini mengesek ngesek sarung keris itu.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Suudddaaaaah paaaak jangaaaaan sudaaah eeeeechghghghg ?.!!!!&#8221; istriku terus mendesis desis. Kemudian Pak Diran menghentikan aksinya. &#8220;Diii&#8230; , elus lubang kerisku ?!!!&#8221; kata Pak Diran kepada Pak Towadi yang dari tadi bengong, sementara di pangkal selangkangan nya sudah menggelembung menunjukkan batang kemaluan nya sudah berdiri tegang. Pak Towadi langsung mengelus lubang keris Pak Diran dan kembali&#8230;. &#8220;Eeeeee&#8230;.. eeeeee&#8230; .eeeeehhhhh. &#8230;.eeeecccchhhg hghghg?..! !!!!&#8221; istriku mendesis.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Enak Bu Yati&#8230;.?&#8221; tanya Pak Diran yang berdiri dihadapannya dan selangkangan istriku masih menempel di sarung keris itu. Istriku ngga menjawab, diam saja&#8230;&#8230; &#8220;Ooooo.. kurang enak rupanya?!!!&#8221; kata Pak Diran kemudian&#8230;. .. &#8220;Jaaa&#8230;.jaaaangaaa nnnn&#8230;.. , paaakkkk&#8230;. ..!!!!&#8221; rintih istriku memelas,</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Singkap dastermu, Buuuu&#8230;&#8230;! !!!&#8221; perintahnya. &#8220;Paaak &#8230;..oooohhhhhh. &#8230;jaaa.. ..jaaangaaannn &#8230;.paakkkk. &#8230;..!!!! &#8221; istriku menghiba. &#8220;Ayooo .. nggak usah malu Buuu&#8230;. atau biar dia yang mencari jalannya sendiri?!&#8221; kata Pak Diran. Seperti diperintah sarung keris itupun menempel di selangkangan istriku saat Pak Diran melepasnya dan&#8230;.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Paak &#8230;.jaaa&#8230;jaaangaa nnnn&#8230;paaaakkkk ?.!!!!&#8221; desis istriku saat sarung itu mulai menggosok selangkangannya kembali, sehingga pantatnya pun bergetar kembali. &#8220;Dii ?malam ini kita nonton dulu ? biar Mbah Gandul yang nyebokin Bu Yati, malam ini punya dia?lihat Dii ? Bu Yati menaikkan dasternya ? rupanya dia sudah kebelet&#8230;.&#8221; Kulihat istriku mendesis-desis dan mengelinjang, sementara kedua tangannya memegang pantat nya sendiri dan menarik ke atas dasternya pelan-pelan, sehingga mulai tersingkap paha mulusnya. Semakin lama pantatnya semakin bergetar cepat dan selangkangannya maju mundur oleh gosokan sarung keris yang di sebut Pak Diran, Mbah Gandul itu. Begitu dasternya tersingkap sampai pangkal pahanya, Mbah Gandul langsung menyusup ke selangkangan istriku dan &#8230;.. &#8220;Mmmmmmpppfff ..eeecchhhh ?..bessaaaar ??oooooohhhhhh. &#8230;.!!!&#8221; desis panjang istriku.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Sudah, Di , kita keluar biar Bu Yati malam ini milik Mbah Gandul?!!!&#8221; kata Pa Diran. &#8220;Bu Yati, titip Mbah Gandul yaa, selamat menikmati, besok baru kami,&#8230; Oh&#8230; ya&#8230;., besok kan ibu pulang malam?.nggak usah pake BH dan celana dalam ya kalau pulang, nanti dibungkus dan serahkan ke saya di pos kalau pulang? biar lebih enak ?he he he&#8230;.!!! &#8221; kata Pak Diran sambil meremas payudara istriku yang berdiri tak berkutik dengan kedua kakinya yang terkangkang. Merekapun keluar meninggalkan istriku yang terbengong.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Mmmpppff &#8230;.oooohhhhh. &#8230;beee.. ..besaaar ?aaamaaatttt. &#8230;!!!!&#8221; rintihnya saat kedua orang itu telah pergi. Istriku pun berusaha duduk di kursi panjang dan rupanya dia berusaha menarik sarung keris itu keluar tapi&#8230;.. &#8220;Mbaaaah uummppfff oooooohhh&#8230; aaammmmpuuunnn. ..mmmbaaaahhh. &#8230;. ?..!!!&#8221; istriku mendesis keras. &#8220;ooocch masuukkk ke daalaaam eeeccchh gilaaa uummpppfff heeecchhh gilaaa ?uuuccch geliiii aaaccch koook giniiii rasanyaaaaa uumppppccchh ennnnaaaaakkkkckccc hhhh??!!!&#8221; dan kulihat istriku mencengkeram erat sandaran kursi dan pantat nya bergetar keras maju mundur di tempat duduknya dan goyangan pantatnya semakin kencang, sementara keringatnya memebanjir dan nafasnya terengah engah</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Eccchhhghghghg mbaaaaah Gaaanduuull ?. akuuuu keluaaaaar ?.!!!&#8221; istriku mengerang saat mencapai orgasme malam itu. Tubuhnya tersungkur miring di kursi panjang dan beberapa saat kemudian kaki nya terkangkang lebar dan tubuhnya bertumpu di kedua tangannya melihat selangkangan nya yang digarap Mbah Gandul kembali itu. Kembali pantatnya bergoyang sementara mulutnya mendesis-desis kenikmatan dan nafasnya memburu keras dan&#8230;. ]</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Mbaaah&#8230;mmmbbaahh hhh&#8230;&#8230; ..aaaa&#8230; aaaakkuuuuu. .keee&#8230;keeeelua aaar lagiiiii ?.!!!!&#8221; dia mengerang saat mencapai orgasme keduanya dan pantat nya tersentak-sentak. Kemudian dia duduk kembali dan berusaha berdiri dan berjalan menuju kamar, akupun cepat-cepat rebahan di tempat tidur&#8230;.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Mas&#8230;maaasss. &#8230; bangun,&#8230;.mass. &#8230;!!!!&#8221; panggil istriku &#8220;Kamu kelihatanya kok kumal dik, tadi&#8230; ku dengar ribut-ribut diluar&#8230;..! !!&#8221; &#8220;Maas ?!!!!!&#8221; kata istriku tersipu-sipu, sambil memelukku..</p>
<p style="text-align: justify;">Selang seminggu kemudian, kembali Pak Diran dan Pak Towari mendapat giliran tugas jaga Dan seperti kebiasaan yang lalu-lalu, mereka pasti akan mampir kerumahku dengan alasan untuk minum kopi. Sudah sejak jam 7 malam aku masuk kekamar, dengan pura-pura badan merasa ngga enak. Begitulah kira-kira jam 9 malam, terdengar ketukan pada pintu depan dan terdengar istriku yang masih nonton TV diruang tamu membuka pintu depan dan terdengar suara Pa Towari dan Pak Diran&#8230; &#8220;Selamat bu Yati&#8230;. apa bapak masih bangun&#8230;?&#8221; &#8220;Ohh&#8230;bapak ngga enak badan dan sudah masuk tidur sejak jam 7 tadi&#8230;!!!&#8221; terdengar sahutan istriku&#8230;..&#8221;Oooo&#8230;maaf mengganggu, tapi saya hanya mampir sebentar untuk mengambil kopi saja&#8230;!!&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Kalau begitu silakan duduk dulu, saya akan menyediakan kopi didapur&#8230;!&#8221; sahut istriku lagi, sambil berjalan masuk kedalam.</p>
<p style="text-align: justify;">Sesaat kemudian kudengar suara langkah kaki menyusul istriku kedapur dan&#8230; &#8220;Bu Yati, nggak bilang suami ibu kan mengenai kejadian yang lalu&#8230;. ?..!!!&#8221; terdengar suara Pak Towadi. Tak terdengar suara jawaban dari istriku. Tak selang kemudian terdengar suara ribut-ribut tertahan dari arah dapur dan&#8230;&#8230;. &#8220;Ooooohhhh.. ..jangan. &#8230;Jangaan paak ?!!!!!&#8221; terdengar suara menghiba &#8220;Kenapa, Bu Yati&#8230;? diam saja bu&#8230;.ntar juga pasti enak kok&#8230;.!!!&#8221; suara Pa Towari kembali. &#8220;Jangan pak, ampuun paaak ?.!!!&#8221; istriku semakin menghiba, kayaknya Pak Towadi semakin mendesaknya, kemudian dengan mengendap-edapa aku turun dari tempat tidur dan mengintip dari celah-celah pintu kamar&#8230;. dan&#8230;.terlihat dengan cepat Pak Towadi melompat dan berdiri diantara kedua kaki istriku yang terkangkang lebar, saat istriku akan mengatupkan kedua kakinya. &#8220;Tutup selambunya, Ran&#8230;!!!&#8221; kata nya ke Pak Diran, dan Pak Diran langsung menutup selambu dan pintu rumah.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Ayo?emut kontolku Bu Yati..&#8221; kata Pak Towadi tiba-tiba sambil mengeluarkan penisnya yang agak kecil lemas tapi panjang berbintil-bintil seperti buah pace mendekati mulut istriku. &#8220;Jaaa&#8230;.jaaangaann nn paaak?.aaampun paaak ??!!!!&#8221; istriku terisak sambil memegang pergelangan tangan Pak Towadi yang menyambak rambutnya dan pantat Pak Towadi maju dan batang kemaluannya yang panjang berbintil-bintil semakin dekat dengan mulut istriku. &#8220;Lepas rambut saya paaak&#8230;!!!&#8221; isak istriku dan Pak Towadi melepas jambakannya dan istriku membuka mulutnya yang sudah dekat dengan penis Pak Towadi dan istriku mengulum penis berbintil Pak Towadi. &#8220;Sedot Bu Yati ?.wwwuhhh Raan Bu Yati pinter nyedot kontolku ?!!!&#8221; kata Pak Towadi ke Pak Diran yang juga mendekati istriku dan &#8220;Sudaaah nanti biar Bu Yati sendiri&#8230;!! !&#8221; katanya, aku tak mengerti maksud kata-kata Pak Diran, kemudian Pak Towadi mencabut penis berbintilnya dari mulut istriku dan mendorong istriku untuk duduk dibangku panjang yang ada di dapur, sementara dia duduk di kiri istriku, sedang Pak Diran dikanan istriku.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Bu Yati? gosok punyakmu sendiri ?!!&#8221; kata Pak Diran sambil memegang tangan kanan istriku ke selangkangan nya sendiri. &#8220;Ayooo ?.!!!&#8221; kata Pak Diran lirihdan mulailah istriku masturbasi menggosok dan mengocok bibir vaginanya sendiri sampai akhirnya bunyi kecepak terdengar dari selangkangannya. .. &#8220;Itilmu Bu Yati&#8230;!!!&#8221; kata Pak Diran dan istriku mengerang sendiri saat memepermainkan kelentiitnya. &#8220;Paaak ?!!!!&#8217; istriku mendesis &#8220;Kenapa, Bu Yati&#8230;?&#8221; tanya Pak Towadi &#8220;Paaaak ?.!&#8217; istriku hanya mendesis &#8220;Ran Bu Yati mulai naik niih&#8230;. ,!!!&#8221; kata Pak Towadi dan Pak Diran pun berdiri dan menuju pintu dan membukanya dan masuk kembali memegang tali dan betapa terkejutnya aku saat Pak Diran menarik Tarzan, kontol herdernya yang setia, yang selalu menemani mereka jaga. Istrikupun terkejut sepertiku dan Pak Diran mengunci pintu kembali dan Pak Towadi memegang istriku yang akan lari. &#8220;Diaam ?&#8221; bentak Pak Towadi &#8220;Jangaan paaak ?..&#8221; istriku akan mengatupkan kakinya tapi Pak Diran sudah berdiri di depan istriku dan menahan kaki istriku dan Tarzan, langsung menyusup di antara kaki Pak Diran yang menahan kaki istriku dan&#8230;&#8230;</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Aaaaaauuuuwwwwwww. &#8230;&#8230;Paaaak ?..!!!!&#8221; suara istriku mengerang saat selangkangan nya yang gundul dijilati Tarzan. Rupanya si Tarzan sudah terlatih merangsang wanita karena istriku memegang pinggang Pak Diran yang berdiri di depan istriku menahan agar kaki istriku tetap terkangkang lebar &#8220;Eeeccch eeh eeeeeecchchh ?..wwwuuucccggghhh paaaaak aaaahhcchhchchc ?&#8221; istriku mengerang ddan mendesis keras karena jilatan Tarzan di selangkangan nya. &#8220;Gimana Bu Yati? Enak Bu Yati?&#8221; kata Pak Diran terkekeh kekeh &#8220;Paaak ampuuunn adduuuuuuccch aaduuucchh mmmppfsss paaaakkkkzzzzz ? eeh eeh eeeh eh eh?.paakk akuuu wwwwwwuucccch ngngngngngng? ..&#8217; istriku mengerang keras dan memegang erat pinggang Pak Diran sedangkan pantat bahenol terangakt angkat saat orgasme ketiganya malam itu meledak dan Tarzan dengan ganasnya terus merangsang kelentit, bibir vagina istriku dan hanya terpaut beberapa menit istriku mengerang kembali saat mencapai orgasmenya yang ke empat dan tubuh istriku pun terjatuh di kursi nafasnya mendengus dengus keringatnya mengalir deras.</p>
<p style="text-align: justify;">tetapi Tarzan, si kontol herder itu terus merangsang istriku dengan jilatan jilatan mautnya di bibir vagina istriku dan kelentit istriku dan istriku pun mengejang dan mengerang kembali saat oergasmenya ke lima meledak. Tubuh istriku benar benar lunglai dan Pak Diran membalikkan tubuh istriku yang terkapar di kursi panjang dan menarik kedua kaki istriku yang tertelungkup di lantai dan bertumpu di kedua lututnya sehingga istriku menungging dan Tarzan rupanya sudah siap dan batang kemaluannnya yang merah sudah membesar dan menegang langsung melompat di punggung istriku dan Pak Towadi mengarahkan batang kemaluan Tarzan ke liang vagina istriku dan &#8220;MMmmppppfffh paaak jangaaaaan akuuu mnmmmn nn nggaaak mauuu mmmmppfffff .uuuucccch ucccchhh ?!!!!!&#8221; istriku mengerang saat batang kemaluan Tarzan menerobos masuk ke liang vagina istriku dan kulihat begitu cepatnya Tarzan mengenjotkan pantatnya sehingga istriku tak lagi dapat mengerang hanya mendesis &#8220;wwwhhh wwwwhhhhhw wwhwhhhwhw ?..!!!!&#8221; dan bunyi kecepak-kecepak di selangkangan istriku semakin keras &#8220;&#8221;wwwwhhhhcchh wwwccchhhh ngngngngng ?.!!!&#8221; istriku mengejan saat orgasme dan terus entah sampai orgasme yang keberapa hingga tampaknya istriku hampir pingsan.</p>
<p style="text-align: justify;">Seminggu sejak kejadian itu, istriku minta pindah dari kompleks perumahan itu dan dengan usahaku akhirnya kami dapat pindah di linkungan baru yang tak tahu mengenai kejadian itu.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ceritasex.cn/jeng-yati-another-story/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>ABG di tempat kos</title>
		<link>http://www.ceritasex.cn/abg-di-tempat-kos/</link>
		<comments>http://www.ceritasex.cn/abg-di-tempat-kos/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 01 Aug 2009 12:54:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cerita Sex</dc:creator>
				<category><![CDATA[Daun Muda]]></category>
		<category><![CDATA[Seks Umum]]></category>
		<category><![CDATA[abg]]></category>
		<category><![CDATA[ayu]]></category>
		<category><![CDATA[cuki]]></category>
		<category><![CDATA[kontol.ngentod]]></category>
		<category><![CDATA[memek]]></category>
		<category><![CDATA[om ngentot abg]]></category>
		<category><![CDATA[pepek]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ceritasex.cn/?p=745</guid>
		<description><![CDATA[Crita ini terjadi ketika aku kos dirumah sepasang suami istri yang sudah lanjut usia. Rumahnya besar, mereka tinggal dirumah utama model kuno, aku kos di paviliunnya. Cuma rumah model kuno yang ada paviliunnya. Bapak kos masi punya anak prempuan yang seragam sekolahnya biru. Anak2 laennya dah keluar rumah semuanya. anak bungsunya ini sepertinya dimanja banget, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Crita ini terjadi ketika aku kos dirumah sepasang suami istri yang sudah lanjut usia. Rumahnya besar, mereka tinggal dirumah utama model kuno, aku kos di paviliunnya. Cuma rumah model kuno yang ada paviliunnya. Bapak kos masi punya anak prempuan yang seragam sekolahnya biru. Anak2 laennya dah keluar rumah semuanya. anak bungsunya ini sepertinya dimanja banget, gak perna ditegur sehingga kalakuannya agak liar. Kalo malem minggu pasti ngilang dari rumah, gak tau kemana. Ya memang bukan urusanku, kan bukan keluargaku. Ayu nama tu anak abege. Manis juga orangnya, item manis gitu, toketnya baru numbuh, kliatan nonjol<br />
didadanya. pantatnya rada gede sehingga dia jalan, pinggulnya bergoyang kekiri kekanan, napsuin juga ngeliatnya. Yang menarik, ayu ada kumis tipisnya diatas bibirnya yang tipis, yg menantang untuk dikulum2. Biasanya prempuan yang kumisan, jembutnya lebat. aku jadi penasaran, abege seumuran ayu kaya apa lebatnya jembutnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Sampe suatu malem, aku lagi dikamar, brosing situs kegemaranku pake laptopku. Tiba2 terdengar ketokan dipintu. &#8220;Om, Ayu bole masuk gak&#8221;. Ayu rupanya, nekat juga ida nyamperin aku ke kamarku. Aku membuka pintu, Ayu pake tanktop ketat dan celana pendek yang ketat dan pendek banget. Kliatan sekali ayu gak pake bra, sehingga bentuk toketnya yang umut tercetak jelas dibalik tanktop ketatnya. kon tolku langusng melonjak bangun disuguhi pemandangan yang merangsang seperti itu. &#8220;O Ayu, masuk deh&#8221;. Ayu masuk dan pintu kamar kututup, banyak nyamuk kalo enggak, alesanku. Ayu duduk diranjang dan aku balik duduk di mejaku yang terletak disebelah ranjang. Halaman yang lagi terbuka segera tertutup, baiknya gambar ngen tot yang lagi kunikmati sedah aku tutup sebelumnya. &#8220;Ada apa Yu, apa yang bisa om bantu&#8221;. Kedengarannya gombal ya, tapi itu adalah ucapan standarku kalo ketemu klien, jadi kebawa deh waktu ngomong ma siapa aja, termasuk Ayu. Ayu kan bakal jadi klienku buat urusan kenikmatan he he. &#8220;Ini om, ada PR mesti buat karangan bahsa Inggris, om kan jago bahasa inggrisnya, bantuin bikinin dong om&#8221;,<br />
Ayu merengek. &#8220;Upahnya apa?&#8221; &#8220;Om maunya apa, om minta apa juga Ayu turuti deh&#8221;. Wah nantang ni anak, dasar anak liar, ya gak apa memang aku suka kok ma anak liar, palagi kalo napsunya besar. Harusnya Ayu napsunya besar, berdasar pengalamanku, prempuan kalo ada kumisnya, biasanya bulu badannya termasuk jembutnya lebat dan napsunya besar kalo lagi maen, minta nambah terus. &#8220;Sini om liat, om bantuin tapi tetep Ayu yang mesti nyelesaian sendiri, om bantu kasi idenya. Buat PR nya disini aja biar bisa selesai&#8221;. &#8220;Mau om, bikin dikamar om, Ayu ganggu gak?&#8221; &#8220;Buat abege secantik dan seseksi kamu apa si yang gak?&#8221; &#8220;Mangnya Ayu seksi ya om&#8221;. &#8220;Iyalah&#8221;. &#8220;Om terangsang dong&#8221;, wah to the point banget ni aka. &#8220;La iya<br />
lah, om kan lelaki normal, siapa yang nahan deket2 abege cantik dan seksi kaya kamu gini&#8221;. Aku memberinya ide, Ayu nulis ideku, sembari becanda, aku membantunya sehingga draftnya selsai. &#8220;tinggal Ayu nulis ulang ja kan, selesai deh tugas om, sekarang mana upahnya&#8221;.<br />
<span id="more-745"></span><br />
Aku duduk disebelahnya diranjang. &#8220;Yu, om bole nanya gak?&#8221; &#8220;Om mo nanya apa? Pasti mo nanya Ayu dah punya pacar belon kan?&#8221; &#8220;Kok tau si Yu&#8221;. &#8220;Ya tau lah, Ayu dah punya pacar om&#8221;. Wah hebat baru usia segini dah punya pacar. &#8220;Kalo malming, Ayu suka gak kliatan tu lagi ditempat pacar ya&#8221;. &#8220;Iya om, abis kalo Ayu bawa pacar kemari, pasti rese banget bonyok Ayu, makanya Ayu ke tempat kosnya pacar Ayu aja&#8221;. &#8220;Temen sekolah kamu?&#8221; &#8220;Bukan om, pacar Ayu anak kedokteran, canggih kan&#8221;.<br />
Ayu tersenyum manis sekali. &#8220;Trus kamu ngapain ja ditempat pacar kamu, gak pulang lagi&#8221;. &#8220;Ya ngapain lagi om, kalo lelaki dan prempuan sekamar&#8221;. &#8220;Enak dong Yu&#8221;. &#8220;Bukan enak lagi om, nikmat banget. Makanya Ayu jadi ketagihan&#8221;. &#8220;Kamu dia yang mrawanin&#8221;. &#8220;Iya om&#8221;. &#8220;Kalo maen brapa ronde&#8221;. &#8220;Seringnya 3 ronde, kalo dianya napsu banget 4 ronde om. Cuma ronde pertamanya Ayu emut sampe ngecret dimulut Ayu&#8221;. &#8220;Kamu telen ya pejuku&#8221;. &#8220;Iya om, dia bilang peju tu protein tinggi, jadi gak bahaya, malah bagus buat kesehatan. Maklum de om anak kedokteran&#8221;. &#8220;Besar gak Yu dia punya&#8221;. &#8220;Besar om, segini&#8221;. Ayu memeragakan ukuran kon tol pacarnya<br />
dengen mempertemukan jempol dan telunjuknya. &#8220;Panjang gak&#8221;. &#8220;Panjang om, segini, dia memeragakan panjangnya pake jengkalan tangannya yang mungil. Dia ngecretnya diluar ya Yu&#8221;. &#8220;enggk om didlaem, kalo diluar mana nikmat&#8221;. &#8220;Kamu gak takut hamil&#8221;. &#8220;Di kasi obat om, kalo ayu lagi subur, dia ajarin ayu ngitung masa subur&#8221;. &#8220;wah canggih dong kamu ya, akarang lagi gak subur&#8221;. &#8220;Justru lagi subur om, ayu lebi suka kalo maen lagi subur om, napsu ayu cepet banget naeknya&#8221;. Gila juga ni akan pikirku, tapi masabodo lah, aku pengen banget ngerjain ayu malem ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku mencium tengkuknya. &#8220;Geli om&#8221;, Ayu menggelinjang. &#8220;Wangi kamu Yu, jadi merangsang banget deh&#8221;, kucium sekali lagi tengkuknya. &#8220;Ooom, geli, daripada nyiumin tengkuk mending juga cium bibir Ayu ja&#8221;, katanya sambil menoleh kearahku. Aku tidak menyia2kan kesempatan yang diberikan Ayu, segera bibir mungkilnya kusambar dengan bibiku dan kulumat dengan penuh napsu. ayu mengimbangi ciumanku yang ganas, dia malah menjulurkan lidahnya kedalam mulutku, kubelit dengan lidahku dan kekulum lidahnya. Sementara itu tanganku mulai memerah toketnya yang baru numbuh itu, pentilnya yang juga imut mulai mengeras. &#8220;Ooom, diremes langsung ja om, ayu pengen diemut de pentilnya&#8221;. Segera tanktopnya kulepas, Ayu mengangkat tanggannya keatas, mempermudah aku melepas tanktopnya. Toket mungkilnya tampak menonjol dengan pentilnya yang juga imut dan<br />
berwarna pink. Ayu kurebahkan diranjang, segera aku meniumi toketnya dan akhirnya pentilnya mulai kujilat2 dan akhirnya kuemut. Toketnya kumasukkan sebanyak2nya kemulutku dan kusedot dngan ganas. &#8220;Oom, ganas amat si ngemutnya, enak om, teruss om&#8221;, Ayu mulai merintih kenikmatan. Aku meraba2 perutnya, trus membuka kancing clananya dan ritsluitingnya. aku merogo kedalam ke selangkangannya. agak susah karena celananya ketat juga, teraba jembutnya yang rupanya bener, lumayan lebat. &#8220;Yu, jembut kamu lebat ya, buat abege seumur kamu<br />
segitu mah lebat Yu&#8221;. &#8220;Tapi om suka kan ngeliatnya, celana Ayu dilepas sekalian om, ayu dah pengen om&#8221;. Segera celana pendeknya kulepas, Ayu gak make cd, sehingga yang pertama kulihat adalah jembutnya yang lumayan lebat itu. Ayu mengangkangkan kakinya, dibalik kerimbunan jembutnya nampak me meknya yang berwarna pink, kayanya masi rapet sekali, walaupun pacarnya pasti sudah sering mengobok2 me mek Ayu dengan kon tolku yan ayu bilang besar panjang itu, dan akhirnya menumpahkan pejuku 2-4 kali kedalem me mek Ayu selama mreka maen.<br />
me meknya kuraba pelan dengan jari, trus keatas kearah it ilnya, kugesek it ilnya pelan, &#8220;Om yang cepet geseknya om, nikmat banget om, om pinter banget ngerangsang napsunya Ayu, trus om, Ayu dah pengen om&#8221;. &#8220;Pengen apaan Yu&#8221;. &#8220;Pengen dimasukin kon tol om, ayo dong om, ayu dah gak tahan ni, dah pengen diobok2 pake kon tol om&#8221;. Aku gak memperdulikan rengekan ayu, malah aku mulai menjilati it il Ayu yang membuat Ayu menggelinjang makin hebat. Gila bener ni abege, walaupun baru seumur dia, tapi liarnya sama kaya abege yang lebih tua dari dia,<br />
yang sering aku en totin. Ketika it ilnya kuemut2, Ayu makin menggila erangannya. aku memasukkan jari tengahku kedalam me meknya, terasa sekali cengkeraman me mek ayu ke jari tengahku. Gimana kalo kon tolku yang masuk ya rasanya cengkeranman me meknya, pikirku. Jariku menyusuri bagian dalem sebelah atas me meknya Ayu. Sampe ketemu daging yang agak menonjol, terus kugaruk2kan jariku disitu. Ini membuat Ayu gak terkendali lagi, dia menggeliat kekanan kekiri sambil berteriak2,<br />
&#8220;Om jahat ih, om jangan siksa Ayu kaya gini dong, om gak tahan lagi ni Ayu, jangan dikilik pake jari dong om, pake kon tol om aja, ayo dong om&#8221;, katanya sambil mengacak2 rambutku yang sedang berasa diselangkangannya. Dia juga menarik2 bahuku, supaya segera menancapkan kon tolku dime meknya. akhirnya Ayu gak nahan, badannya mengejang, pahanya dirapatkan sehingga kepalaku terjepit ketat diantara pahanya sampe aku sesek napas jadinya. ayu telah klimax, itu akibat<br />
garukan jariku pada g spotnya, diserang 3 in 1 gitu Ayu langsung nyerah, dia klimax. &#8220;Aduh om, pinter banget si, biasanya pacar ayu yang ngecret duluan, om bisa bikin ayu ngecret duluan&#8221;. Memang dari me meknya menyembur cairan kentel ketika dia klimax, seperti kalo lelaki ngecret. &#8220;Om ayu lemes deh, nikmat banget deh om, padahal belon dien tot ya om&#8221;.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku bangun dan melepas semua yang menempel dibadanku. ayu terbelalak melihat kon tolku yang sudah maksimal kerasnya. &#8220;Om, gede banget kon tolku. Rasanya kon tol pacar Ayu dah besar, kon tol om lebi besar lagi, lebi panjang juga lagi&#8221;. Ayu duduk dan segera meremes kon tolku dengan gemesnya, &#8220;Ih dah keras banget om, masukin dong om, yu pengen ngerasain kon tol gede om kluar masuk me mek Ayu&#8221;. Ayu segera mulai menjilati kepala kon tolku, dan tak lama kemudian dimasukkan<br />
kedalam mulutnya. Terasa hangat sekali emutannya. &#8220;Om, gede amat, cuma muat kepalanya ja dimulut yu&#8221;, dia menreuskan emutannya. Batangnya dikcoknya pelan2. &#8220;Om, kluarin pejuku dimulut yu ya, Ayu pengen minum peju om, biar om ngen totnya bisa lama&#8221;. Aku diam saja menikmati emutan dan kocokannya. Kepalanya kembali dijilat2 sebentar kemudian dimasukkan lagi ke mulutnya. Dikenyot pelan2, dan kepalanya mengangguk2 memasukkan kon tolku keluar masuk mulutnya. aku<br />
mengenjotkan kon tolku pelan, &#8220;Ah, enak Yu, baru diisep mulut atas aja udah nikmat ya, apalagi kalo yg ngisep mulut bawah&#8221;, erangku keenakan. Tanganku terus saja mengelus2 me meknya yang sudah basah karena napsunya sudah sangat memuncak. &#8220;Yu, kamu udah napsu banget ya, me mek kamu udah basah begini&#8221;, kataku lagi. kon tolku makin seru diisep2nya. &#8220;Om, mulut Ayu dah pegel, kok om belum ngecret juga ya&#8221;. &#8220;Om pengen ngecretnya dime mek ayu ja&#8221;. &#8220;Masukin ja ya om&#8221;. dia mencabut kon tolku dari mulutnya dan aku segera menelungkup diatas<br />
badannya .</p>
<p style="text-align: justify;">kon tol kuarahkan ke me meknya, kutekannya kepalanya masuk ke<br />
me meknya. terasa banget me meknya meregang kemasukan kepala kon tol yang besar, aku mulai mengenjotkan kon tolku pelan, keluar masuk me meknya. Tambah lama tambah cepat sehingga akhirnya seluruh kon tolku yang panjang ambles di me meknya. &#8220;Enak om, kon tol om bikin me mek Ayu sesek, dienjot yang keras om&#8221;, rengeknya keenakan. Enjotan kon tolku makin cepat dan keras, ayu makin sering melenguh kenikmatan, apalagi kalo aku mengenjotkan kon tolku masuk dengan keras, sampe mentok rasanya. Gak lama dienjot ayu udah merasa mau nyampe, &#8220;Om lebih cepet ngenjotnya dong, Ayu udah mau nyampe&#8221;, rengeknya. &#8220;Cepat banget Yu, aku belum apa2&#8243; jawabku sambil mempercepat lagi enjotan kon tolku.<br />
Akhirnya ayu menjerit keenakan &#8220;Oom, Ayu nyampe oom, aah&#8221;, ayu menggelepar2 kenikmatan. Aku masih terus saja mengenjotkan kon tolku keluar masuk dengan cepat dan keras.</p>
<p style="text-align: justify;">Tiba2 aku mencabut kon tolku dari me meknya. &#8220;Kok dicabut om, kan belum ngecret&#8221;, protesnya. Aku diem saja tapi menyuruh ayu menungging di pinggir ranjang, aku mau gaya dogi. Segera kon tolku ambles lagi di me meknya dengan gaya baru ini. Aku berdiri sambil memegang pinggulnya. Karena berdiri, enjotan kon tolku keras dan cepat, lebih cepat dari yang tadi, gesekannya makin kerasa di me meknya dan masuknya rasanya lebih dalem lagi, &#8220;Om, nikmat&#8221;, erangnya lagi. Jariku mengelus2 pantatnya, tiba2 salah satu jari kusodokkan ke lubang pantatnya, ayu kaget sehingga<br />
mengejan. Rupanya me meknya ikut berkontraksi meremas kon tol besar panjangku yang sedang keluar masuk, &#8220;Aah Yu, nikmat banget, empotan me mek kamu kerasa banget&#8221;, erangku sambil terus saja mengenjot me meknya. Sementara itu sambil mengenjot aku agak menelungkup di punggungnya dan tangannya meremas2 toketnya, kemudian tanganku menjalar lagi ke it ilnya, sambil kuenjot it ilnya kukilik2.
</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Om, nikmat banget dien tot sama om, Ayu udah mau nyampe lagi. Cepetan entannya om,&#8221; erangnya saking nikmatnya. Aku juga udah mau ngecret, segera aku memegang pinggulnya lagi dan mempercepat enjotan kon tolku. Tak lama kemudian, &#8220;Om Ayu mau nyampe lagi, oom, cepetan dong enjotannya, aah&#8221;, akhirnya ayu mengejang lagi keenakan. Gak lama kemudian aku mengenjotkan kon tolku dalem2 di me meknya dan pejuku ngecret. &#8220;Aah Yu, nikmat banget&#8221;, akupun agak menelungkup diatas punggungnya. Karena lemas, ayu telungkup diranjang dan aku masih menindihnya, kon tolku tercabut dari me meknya. &#8220;Om, nikmat deh, sekali enjot aja Ayu bisa nyampe 2 kali&#8221;, katanya. Aku tak menjawab, berbaring disebelahnya diranjangku yang sempit. Aku memeluknya dan mengusap2 rambutku. &#8220;Kamu pinter banget muasin lelaki ya Yu&#8221;, kataku lagi. Ayu hanya tersenyum, &#8220;Om, Ayu mau ke kamar mandi, lengket badan rasanya&#8221;, ayupun bangkit dari ranjang dan menuju ke kamar mandi yang berasa didalam kamarku.</p>
<p style="text-align: justify;">Selesai membersihkan diri, ayu keluar dari kamar mandi telanjang bulat, dia kaget melihat kon tolku masi saja berdiri dengan kerasnya. &#8220;Om, hebt amat, dah ngecret masi ja ngaceng keras kaya gitu. Om kuat ya. Kata temen ayu yang pernah dien tot ma om om yang kon tolnya juga gede panjang, dia ampe lemes ngeladenin napsu si om, gak ada puasnya. Ayu juga dong ya om, Ayu pengen om en totin ampe Ayu lemes&#8221;. Aku tersenyum saja dan Ayu berbaring disebelahku. Aku kembali mencium<br />
bibirnya dengan penuh napsu. kon tolku dielus2nya. Lidahku dan lidahnya saling membelit dan kecupan bibir berbunyi saking hotnya berciuman. Tanganku juga mengarah kepahanya. Ayu segera saja mengangkangkan pahanya, sehingga aku bisa dengan mudah mengobok2 me meknya. Sambil terus mencium bibirnya, tanganku kemudian naik meremas2 toketnya. pentilnya kuplintir2, &#8220;Om enak, Ayu udah napsu lagi om&#8221;, erangnya sambil mengocok kon tolku yang masi keras banget. Kemudian ciumanku beralih ke toketnya. pentilnya yang sudah mengeras segera kuemut dengan penuh napsu, &#8220;Om, nikmat om&#8221;, erangnya. Akupun menindihnya sambil terus menjilati pentilnya. Jilatanku turun keperutnya, kepahanya dan akhirnya<br />
mendarat di me meknya. &#8220;Aah om, enak banget om&#8221;, erangnya. Ayu kembali menggeliat2 keenakan, tangannya meremas2 sprei ketika aku mulai menjilati me mek dan it ilnya. pahanya tanpa sengaja mengepit kepalaku dan rambutku dijambak, ayu mengejang lagi, ayu kembali nyampe sebelum dien tot. Ayu telentang terengah2, sementara aku terus menjilati me meknya yang basah berlendir itu. Aku bangun dan kembali mencium bibirnya, aku menarik tangannya minta mengocok kon tolku. Aku merebahkan dirinya, ayu bangkit menuju selangkanganku dan mulai<br />
mengemut kon tolku. &#8220;Yu, kamu pinter banget sih&#8221;. Cukup lama ayu mengemut kon tolku. Sambil mengeluar masukkan di mulutnya, kon tolku diisep kuat2. Aku jadi merem melek keenakan. Kemudian ayu kutelentangkan dan aku segera menindihnya. Ayu sudah mengangkangkan pahanya lebar2. Aku menggesek2kan kepala kon tolku di bibir me meknya, lalu kuenjotkan masuk, &#8220;Om, enak&#8221;, erangnya. Aku mulai mengenjotkan kon tolku keluar masuk pelan2 sampai akhirnya blees, kon tolku nancep semua di me meknya. &#8220;Yu, me mekmu sempit banget, padahal barusan kemasukan kon tol ya&#8221;, kataku. &#8220;Tapi enak kan om, abis kon tol om gede<br />
banget sampe me mek Ayu kerasa sempit&#8221;, jawabnya terengah. Aku mulai mengenjotkan kon tolku keluar masuk dengan cepat, bibirnya kucium. &#8220;Enak om, aah&#8221;, erangnya keenakan. Enjotanku makin cepat dan keras, pinggulnya sampe bergetar karenanya. Terasa me meknya mulai berkedut2, &#8220;Om lebih cepet om, enak banget, Ayu udah mau nyampe om&#8221;, erangnya. &#8220;Cepet banget Yu, aku belum apa2&#8243;, jawabku. &#8220;Abisnya kon tol om enak banget sih gesekannya&#8221;, jawabnya lagi.</p>
<p style="text-align: justify;">Enjotanku makin keras, setiap kutekan masuk amblesnya dalem banget rasanya. Itu menambah nikmat buat ayu. &#8220;Terus om, enak&#8221;. toketnya kuremas2 sambil terus mengenjotkan kon tolku keluar masuk. &#8220;Terus om, lebih cepat om, aah, enak om, jangan brenti, aakh&#8230;&#8221; akhirnya ayu mengejang, ayu nyampe. Ayu memeluk pinggangku dengan kakinya, sehingga rasanya makin dalem kon tolku nancepnya. me meknya dikedut2kan meremas kon tolku sehingga aku melenguh, &#8220;Enak Yu,<br />
empotan me mek kamu hebat banget, aku udah mau ngecret, terus diempot Yu&#8221;, erangku sambil terus mengenjot me meknya. Akhirnya bentengku jebol juga. pejuku ngecret dalam me meknya, banyak banget kerasa nyemburnya &#8220;Yu, aakh, aku ngecret Yu, nikmatnya me mek kamu&#8221;, erangku. Aku menelungkup diatas badannya, bibirnya kucium. &#8220;Trima kasih ya Yu, kamu bikin aku nikmat banget&#8221;. Setelah kon tolku mengecil, kucabut dari me meknya dan aku berbaring disebelahnya. Ayu lemes banget walaupun nikmat sekali. &#8220;Yu, kamu tu masi muda banget tapi ngen totin<br />
kamu gak kalah nikmatna ma ngen totin abege yang lebi tua dari kamu, kamu liar banget deh&#8221;. &#8220;Om puas gak, mana lebi nikmat, ngen totin Ayu pa abege yang biasa om en totin&#8221;. &#8220;Nikmat ma kamu Yu, om baru skali ngen totin abege seumur kamu&#8221;. &#8220;Ayu mau kok om kalo om en totin tiap malem, abis jauh lebi nikmat dien tot om katimbang pacar Ayu&#8221;. Tanpa terasa akhirnya ayu tertidur disebelahku.</p>
<p style="text-align: justify;">Ayu terbangun karena kujilati me meknya, me meknya kujilati dengan penuh napsu. pahanya kuangkatnya keatas supaya me meknya makin terbuka. &#8220;Om, nikmat banget om jilatannya&#8221;, erangnya. Ayu meremas2 toketnya sendiri untuk menambah nikmatnya jilatan di me meknya. pentilnya kuplintir2 juga. &#8220;Om, subuh2 gini sudah ngasi enak ke Ayu&#8221;, lenguhmya. Kemudian it ilnya kuisep2 sambil sesekali menjilati me meknya, menyebabkan me meknya sudah banjir lagi. Ayu menggelepar2 ketika<br />
it ilnya kuemut. Cukup lama it ilnya kuemut sampai akhirnya kakinya kuturunkan lagi keranjang, ayu mengangkangkan pahanya karena dia tau sebentar lagi pasti kon tolku masuk. &#8220;Om, masukin dong om, Ayu udah pengen dien tot&#8221;, rengeknya. Aku langsung menindih tubuhnya, kon tol kuarahkan ke me meknya. Begitu kepala kon tolku menerobos masuk, &#8220;Yang dalem om, masukin aja semuanya sekaligus, ayo dong om&#8221;, rengeknya karena napsunya yang sudah muncak. Aku langsung mengenjotkan kon tolku dengan keras sehingga sebentar saja kon tolku sudah nancap semuanya dime meknya. Kakinya segera melingkari pinggangku sehingga kon tolku terasa masuk lebih dalem lagi. &#8220;Ayo om, dienjot dong&#8221;, rengeknya lagi. Aku mulai mengenjot me meknya dengan cepat dan keras, uuh nikmat banget rasanya pagi2 gini ngen tot. enjotanku makin cepat dan keras, ini membuat ayu menggeliat2 saking<br />
nikmatnya, &#8220;Om, enak om, terus om, Ayu udah mau nyampe rasanya&#8221;, erangnya. Aku tidak menjawab malah mempercepat lagi enjotan kon tolku. toketnya kuremas2, sampe akhirnya ayu mengejang lagi, &#8220;Om enak, Ayu nyampe om, aah&#8221;, erangnya lemes. Kakinya yang tadinya melingkari pinggangku diturunkan ke ranjang. Aku tidak memperdulikan keadaannya, kon tol terus saja kuenjotkan keluar masuk dengan cepat, napasku sudah mendengus2. me meknya berdenyut2 meremas kon tolku. Aku meringis keenakan. &#8220;Yu, terus diempot Yu, nikmat banget rasanya, Terus<br />
empotannya biar aku bisa ngecret Yu&#8221;, pintaku. Sementara itu enjotan kon tolku masih terus gencar merojok me meknya. toketnya kembali kuremas2, pentilnya kuplintir2. &#8220;Om, Ayu kepengin ngerasain lagi disemprot peju om&#8221;, katanya. Terus saja kon tol kuenjotkan keluar masuk me meknya dengan cepat dan keras, sampai akhirnya, &#8220;Yu, aku mau ngecret Yu, aah&#8221;, erang dan semburan pejuku mengisi bagian terdalam me meknya. Aku ambruk dan memeluknya erat2, &#8220;Yu, nikmat banget deh ngen tot sama kamu&#8221;, katanya. Setelah beristirahat sebentar, ayu segera membersihkan diri dan berpakaian dan keluar dari kamarku.</p>
<p style="text-align: justify;">Malemnya, Ayu ketagihan rupanya, dateng lagi ke kamarku. &#8220;Om, Ayu jadi ketagihan kon tol om ni, ngen tot lagi yuk om&#8221;. Saat itu ayu hanya pake daster saja. Ayu langsung masuk kamar mandiku dan ketika keluar dia cuma pake daleman yang model bikini tipis. Segera dia berbaring disebelahku yang cuma mengenakan cd saja. kon tolku ngaceng dengan kerasnya sehingga keluar dari bagian atas cdku yang minim. Aku<br />
merangkul dan mencium bibirnya &#8220;Yu, ladeni om melem ini ya sayang, kamu napsuin sekali pake daleman bikini Yu, om udah mau nancep nih&#8221;, kataku. Segera Ayu meremas2 kon tolku yang keluar CDku, keras sekali ngacengnya. makanya CDnya langsung dilepasnya. kon tolku langsung tegak menjulang, besar, panjang dan keras. Ayu segera menjilati kepala kon tolku dan dimasukannya kepalanya kemulutnya. Diisep2 dan dikeluarmasukkan di mulutnya. Aku terengah2 keenakan, &#8220;nikmat<br />
banget Yu isepannya, aku udah mau diisep mulut bawah kamu&#8221;, kataku. Ayu segera kutelentangkan dan bra serta CDnya kuurai ikatannya.<br />
Aku menaiki ayu dan menggesekkan kepala kon tolku ke me meknya yang sudah basah ketika ayu ngisep kon tolku tadi. Aku tidak langsung menancapkan kon tolku ke me meknya, malah kugesekkan ke it ilnya. Ayu menggeliat2 jadinya, &#8220;Om masukin aja, katanya sudah mau diempot me mek Ayu&#8221;, rengeknya. Akupun menekan kon tolku masuk ke me meknya. Terasa banget kepala kon tolku yang besar meregangkan me meknya dan mendesak masuk. Nikmat banget rasanya. Ayu mendesis2 keenakan. Aku terus menekan kon tolku sehingga akhirnya nancep semuanya dime meknya. &#8220;Aah oom, enak banget kon tol om&#8221;, erangnya. Akupun mulai<br />
mengenjotkan kon tolku keluar masuk dengan pelan, makin lama makin cepat. Ayu hanya bisa merintih2 keenakan &#8220;Om nikmat banget om, terusin enjotannya om, yang cepet, yang keras dong ngenjotnya&#8221;, rengenya lagi. Makin lama enjotannya makin cepet, ayu mengejang2kan me meknya sehingga gantian aku yang mendesis2 keenakan, &#8220;Yu, kerasa banget empotan me mek kamu&#8221;. &#8220;Ayu mau kok tiap malem empot kon tol oom&#8221;, katanya. Aku tidak menjawab, hanya enjotan kuterus dilakukan<br />
dengan cepat dan keras. &#8220;Mau ya om&#8221;, rengeknya lagi. &#8220;enak banget deh dien tot sama oom, sssh&#8221;. Napasnya mulai memburu, toketnya kuremas2nya, pentilnya yang udah keras kuplintir2 manambah kenikmatan buat ayu. Ayu mengejang2kan me meknya mengempot kon tolku yang terus keluar masuk dengan cepat dan keras.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Om, ssh, enak om, terus oom, ssh, Ayu udah mau nyampe om, ssh&#8221;, erangnya. &#8220;Sebentar lagi Yu, aku juga udah ngerasa mau ngecret nih, ssh&#8221;, jawabku terengah. Aku setengah membungkuk dan mengemut pentilnya. Ayu makin napsu jadinya, rambutku diremas2, &#8220;Om, engh, ngecretin pejuku dong oom, Ayu pengen ngerasain lagi disemprot peju anget, cepetan oom, Ayu udah mau nyampe, aakh&#8221;, katanya<br />
menggelinjang keenakan. Enjotan kon tolku makin bertubi2. Ayu merintih2 keenakan jadinya, me meknya jadi mengejang2 dengan sendirinya meremas kon tolku yang terus nyodok keluar masuk. &#8220;Om, enak banget&#8221;, erangnya sambil menjepitkan kakinya di pinggangku, sehingga enjotannya makin terasa nancep dalem sekali di me meknya. Ayu memeluk badannya erat2, &#8220;Om, nikmat banget kon tol om&#8221;, rintihnya.
</p>
<p style="text-align: justify;">Akhirnya, &#8220;Akh, Ayu nyampe oom, aakh&#8221;, ayu kelojotan saking nikmatnya. me meknya kembali mengejang dengan keras meremas kon tolku sehingga akupun gak bisa bertahan lebih lama lagi, &#8220;Yu, aku ngecret, aakh&#8221;, erangnya. Terasa sekali semburan pejuku yang dahsyat di me meknya. Nikmat tapi lemes banget jadinya. &#8220;Aduh oom, nikmat banget oom, boleh ya oom Ayu tinta dien tot tiap malem&#8221;, rengeknya lagi. Aku hanya memeluknya terengah2 kecapaian.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah isitirahat, aku mencabut kon tolku yang sudah lemes dari me meknya, kon tolku berlumuran pejuku dan lendir me meknya. &#8220;Yu, mandi yuk&#8221;, ajakku. Ayupun bangun dan mengikutiku ke kamar mandi. Aku mengambil minuman dari lemari es dan satu diberikan ke aku. Ayu segera minum minuman itu sampe habis, sedikit menyegarkan setelah dienjot abis2an. Dikamar mandi kami saling menyabuni, toketnya menjadi sasaran remasan tanganku, ayupun gak mau kalah meremas<br />
kon tolku sambil dikocok2. Hebatnya gak lama kemudian kon tolku mulai keras lagi. &#8220;Om kuat amat sih, baru ngecret sekarang udah mulai ngaceng lagi, abis mandi pasti Ayu dien tot lagi ya om&#8221;, katanya. &#8220;abis tangan kamu nakal sih, jadi buat ngendorin mesti ditancep dime mek kamu lagi&#8221;, jawabku tersenyum. Tambah lama makin keraslah kon tolku sehingga ngaceng sempurna. Ayu kutunggingkan, ayu bertumpu ditembok kamar mandi, kakinya kurenggangkan dan Aku jongkok dibelakangnya. me meknya kujilat dari belakang, ayu kegelian dan napsunya makin berkobar, &#8220;Om, Ayu pengen ngerasain lagi kon tol om keluar masuk di me mek Ayu&#8221;, erangnya keenakan karena jilatanku sudah menyentuh2 it ilnya. Aku berdiri lagi dan<br />
mengarahkan kepala kon tol kon tolku ke me meknya dari belakang. Aku menekan kepala kon tolku masuk ke me meknya dan mulai kuenjot pelan, sampai akhirnya seluruh kon tolku nancep di me meknya. Aku mempercepat enjotan kon tolku keluar masuk sambil tanganku memeluknya dari belakang dan mengkilik2 it ilnya. Diserang seperti itu ayu jadi kelojotan keenakan. Gak lama dienjot dengan cara seperti itu, aku menggelinjang dan mengejang2, &#8220;Om, Ayu nyampe om, pinter amat om ngenjot me mek Ayu, sebentar aja Ayu sudah nyampe&#8221;, katanya terengah. Ayu mulai<br />
mengejangkan me meknya untuk meremas2 kon tolku, aku terus saja mengenjotkan kon tolku keluar masuk mengimbangi empotan me meknya, &#8220;Yu, kamu luar biasa deh, ahli banget kamu muasin om&#8221;, katakua. &#8220;Makanya oom, tiap malem Ayu mau kok ngempot kon tol oom sampe ngecret&#8221;, jawabnya terengah karena enjotan kon tolku makin cepat dan keras saja. Aku terus mengkilik2 it ilnya sambil mengenjotkan kon tolku keluar masuk. Napsunya kembali naik lagi, &#8220;Om terus om, enak banget<br />
dien tot sambil dikilik it ilnya, aakh&#8221;, erangnya lagi.Cukup lama aku mengenjot me meknya dari belakang sampai akhirnya ayu nyampe lagi, bersamaan dengan ngecretnya aku. &#8220;Aduh om, kuat banget sih, Ayu sampe lemes deh, tiap ronde Ayu selalu 2 kali nyampe baru om ngecret. Nikmat banget om&#8221;, rengeknya lagi setelah aku mencabut kon tolku lagi.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku menghidupkan shower lagi untuk membersihkan tubuh kami. Setelah itu, kami saling mengeringkan badan. Keluar dari kamar mandi langsung ayu merebahkan diri diranjang, sementara aku keluar, katanya untuk<br />
mengambil minuman. Ayu sudah ngantuk banget ketika aku kembali membawa 2 cangkir minuman coklat hangat, sesudah diminum ayu langsung tertidur.</p>
<p style="text-align: justify;">Ayu terbangun sudah pagi, segar setelah semalem dien tot 2 ronde, ketika Ayu bangun, aku masih tertidur disebelahnya. kon tolku dielus2, diremas pelan2, sampe aku terbangun. Begitu juga kon tolku. &#8220;Sarapan paginya kon tol lagi ya Yu&#8221;, kataku tersenyum. kon tolku yang sudah mengeras dikocok2nya biar tambah keras, ujung kon tolku dijilatin, sekali2 digigit pelan2. Aku merem melek keenakan, &#8220;Pagi gini udah nikmat, Yu&#8221;. kon tolku dimasukkan kemulutnya, cuma muat kepalanya saja saking gedenya dan diemut2 dengan keras, kepalanya mengangguk2 mengeluar masukkan<br />
kon tolku di mulutnya. Aku merubah posisi menjadi 69 dan mulai menjilati pahanya bagian dalem, kemudian jilatannya mengarah keme meknya yang penuh jembut lebat itu. &#8220;Ni jembut lebat ya Yu, pantes aja kamu binal banget kalo dien tot&#8221;, kataku sambil menjilati me meknya. Ayu gak tahan kalo it ilnya mulai dijilati, apalagi diisep2, langsung aja me meknya menjadi basah. &#8220;Yu, udah napsu lagi ya, me mek kamu udah basah banget. Bener kan, cewek yang jembutnya lebat napsunya besar banget, dikilik sebentar aja udah siap dien tot&#8221;, kataku sambil mengkilik it ilnya dengan jari.</p>
<p style="text-align: justify;">Ayu menjadi kelojotan keenakan, isepan ke kon tolku menjadi brenti. &#8220;Om, Ayu udah pengen dien tot lagi om&#8221;, rengeknya. Aku bangun, pahanya dikangkangkan, dan aku menempelkan kepala kon tolku di me meknya. Kakinya kutekuk kedada dan aku mulai menancapkan kon tolku ke me meknya. &#8220;Masukin semuanya om, biar nikmat&#8221;, erangnya terengah2. Aku mulai mengenjotkan kon tolku keluar masuk sehingga sebentar saja sudah nancep delam sekali di me meknya. Aku terus mengenjotkan kon tolku keluar masuk. Ayu merintih2 keenakan, &#8220;Om, nikmat banget om, terus om,<br />
enjot yang keras&#8221;. Tiba2 aku menarik kon tolku sehingga tinggal kepalanya yang terjepit dime meknya, kon tolku hanya digerakkan pelan. Ayu jadi blingsatan, &#8220;Masukin lagi dong om, om nakal ih, ayo dong om dimasukin semua lagi&#8221;, rengeknya. Tiba2 aku mengenjotkan lagi kon tolku sehingga nancep semua, &#8220;Aakh, enak banget om&#8221;. Belum hilang rasa enaknya, aku sudah menarik kon tolku sehingga tinggal kepalanya saja yang nancep di me meknya, kugerak2kan pelan sampai ayu mulai merengek2 dan tiba2 kuenjotkan lagi sehingga nancep semuanya di me meknya. Berulang2 aku<br />
melakukan cara itu sehingga akhirnya ayu nyerah duluan, &#8220;Om masukin semuanya oom, Ayu nyampe, aakh&#8221;, ayu mengejang, me meknya terasa meremas2 kon tolku.</p>
<p style="text-align: justify;">Ayu terengah2 keenakan, kakinya diletakkan diranjang, aku mulai lagi mengenjotkan kon tolku keluar masuk me meknya, segera napsunya bangkit lagi. Ayu menggeliat2 keenakan, tak lupa me meknya dikejang2kan untuk mengempot kon tolku. Akupun meringis keenakan, &#8220;Terus diempot Yu, nikmat banget&#8221;. Tiba2 aku berhenti mengenjotkan kon tolku, ayu kupeluk dan aku berguling sehingga sekarang ayu yang diatas. Segera ayu yang ambil alih komando, pantatnya dienjotkan keatas kebawah,<br />
mengocok kon tolku yang masih perkasa. toketnya yang berguncang2 seirama naik turunnya pantatnya kuremas2 dengan gemas, pentilnya kuplintir2nya sekalian. &#8220;Ngen tot gaya apa aja sama om, sama nikmatnya ya om&#8221;, katanya sambil mempercepat enjotan pantatnya. &#8220;Yu, om udah pengen ngecret Yu, kita berbalik lagi ya&#8221;, kataku sambil memeluknya kembali dan berguling sehingga sekarang aku yang diatas kembali. Aku mulai mengenjotkan kon tolku keluar masuk dengan cepat dan keras, ayu makin terengah2 keenakan, &#8220;terus om, Ayu udah mau nyampe lagi,<br />
bareng lagi ya om&#8221;, katanya. Akhirnya kembali ayu mengejang2 nyampe, sehingga me meknya kembali meremas2 kon tolku. Akupun gak bisa bertahan lagi, sambil mengejotkan kon tolku dalem2 aku ngecret, &#8220;Yu, enak Yu, aakh&#8221;. pejuku kembali berhamburan dime meknya. Ayu heran juga kayanya stok pejuku gak ada batesnya, setiap ngecret selalu keluarnya banyak. Setelah selesai semuanya, kami kembali membersihkan diri dikamar mandi.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ceritasex.cn/abg-di-tempat-kos/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Nilaiku ditentukan oleh keperkasaanku</title>
		<link>http://www.ceritasex.cn/nilaiku-ditentukan-oleh-keperkasaanku/</link>
		<comments>http://www.ceritasex.cn/nilaiku-ditentukan-oleh-keperkasaanku/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 22 Jun 2009 13:16:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cerita Sex</dc:creator>
				<category><![CDATA[Seks Umum]]></category>
		<category><![CDATA[Tante Girang]]></category>
		<category><![CDATA[cuki]]></category>
		<category><![CDATA[dosen]]></category>
		<category><![CDATA[dosen hot]]></category>
		<category><![CDATA[dosen mesum]]></category>
		<category><![CDATA[dosen napsu]]></category>
		<category><![CDATA[dosen ngentot]]></category>
		<category><![CDATA[erni]]></category>
		<category><![CDATA[ibu erni]]></category>
		<category><![CDATA[lonte]]></category>
		<category><![CDATA[mahasiswa]]></category>
		<category><![CDATA[ngentot]]></category>
		<category><![CDATA[ngewe]]></category>
		<category><![CDATA[pepek]]></category>
		<category><![CDATA[seks]]></category>
		<category><![CDATA[tante enak]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ceritasex.cn/?p=456</guid>
		<description><![CDATA[Aku dilahirkan di kota M di propinsi Jawa Timur, kota yang panas karena terletak di dataran rendah. Selain tinggi badan seukuran orang-orang bule, kata temanku wajahku lumayan. Mereka bilang aku hitam manis. Sebagai laki-laki, aku juga bangga karena waktu SMA dulu aku banyak memiliki teman-teman perempuan. Walaupun aku sendiri tidak ada yang tertarik satupun di [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Aku dilahirkan di kota M di propinsi Jawa Timur, kota yang panas karena terletak di dataran rendah. Selain tinggi badan seukuran orang-orang bule, kata temanku wajahku lumayan. Mereka bilang aku hitam manis. Sebagai laki-laki, aku juga bangga karena waktu SMA dulu aku banyak memiliki teman-teman perempuan. Walaupun aku sendiri tidak ada yang tertarik satupun di antara mereka. Mengenang saat-saat dulu aku kadang tersenyum sendiri, karena walau bagaimanapun kenangan adalah sesuatu yang berharga dalam diri kita. Apalagi kenangan manis.</p>
<p style="text-align: justify;">Sekarang aku belajar di salah satu perguruan tinggi swasta di kota S, mengambil jurusan ilmu perhotelan. Aku duduk di tingkat akhir. Sebelum berangkat dulu, orangtuaku berpesan harus dapat menyelesaikan studi tepat pada waktunya. Maklum, keadaan ekonomi orangtuaku juga biasa-biasa saja, tidak kaya juga tidak miskin. Apalagi aku juga memiliki 3 orang adik yang nantinya juga akan kuliah seperti aku, sehingga perlu biaya juga. Aku camkan kata-kata orangtuaku. Dalam hati aku akan berjanji akan memenuhi permintaan mereka, selesai tepat pada waktunya.</p>
<p style="text-align: justify;">Tapi para pembaca, sudah kutulis di atas bahwa segala sesuatu yang terjadi padaku tanpa aku dapat menyadarinya, sampai saat ini pun aku masih belum dapat menyelesaikan studiku hanya gara-gara satu mata kuliah saja yang belum lulus, yaitu mata kuliah yang berhubugan dengan hitung berhitung. Walaupun sudah kuambil selama empat semester, tapi hasilnya belum lulus juga. Untuk mata kuliah yang lain aku dapat menyelesaikannya, tapi untuk mata kuliah yang satu ini aku benar-benar merasa kesulitan.</p>
<p style="text-align: justify;">“Coba saja kamu konsultasi kepada dosen pembimbing akademis..,” kata temanku Andi ketika kami berdua sedang duduk-duduk dalam kamar kost.<br />
“Sudah, Di. Tapi beliau juga lepas tangan dengan masalahku ini. Kata beliau ini ditentukan oleh dirimu sendiri.” kataku sambil menghisap rokok dalam-dalam.<br />
“Benar juga apa yang dikatakan beliau, Gi, semua ditentukan dari dirimu sendiri.” sahut Andi sambil termangu, tangannya sibuk memainkan korek api di depannya.<br />
Lama kami sibuk tenggelam dalam pikiran kami masing-masing, sampai akhirnya Andi berkata, “Gini saja, Gi, kamu langsung saja menghadap dosen mata kuliah itu, ceritakan kesulitanmu, mungkin beliau mau membantu.” kata Andi.<br />
<span id="more-456"></span><br />
Mendengar perkataan Andi, seketika aku langsung teringat dengan dosen mata kuliah yang menyebalkan itu. Namanya Ibu Eni, umurnya kira-kira 35 tahun. Orangnya lumayan cantik, juga seksi, tapi banyak temanku begitu juga aku mengatakan Ibu Eni adalah dosen killer, banyak temanku yang dibuat sebal olehnya. Maklum saja Ibu Eni belum berkeluarga alias masih sendiri, perempuan yang masih sendiri mudah tersinggung dan sensitif.</p>
<p style="text-align: justify;">“Waduh, Di, bagaimana bisa, dia dosen killer di kampus kita..,” kataku bimbang.<br />
“Iya sih, tapi walau bagaimanapun kamu harus berterus terang mengenai kesulitanmu, bicaralah baik-baik, masa beliau tidak mau membantu..,” kata Andi memberi saran.<br />
Aku terdiam sejenak, berbagai pertimbangan muncul di kepalaku. Dikejar-kejar waktu, pesan orang tua, dosen wanita yang killer.<br />
Akhirnya aku berkata, “Baiklah Di, akan kucoba, besok aku akan menghadap beliau di kampus.”<br />
“Nah begitu dong, segala sesuatu harus dicoba dulu,” sahut Andi sambil menepuk-nepuk pundakku.
</p>
<p style="text-align: justify;">Siang itu aku sudah duduk di kantin kampus dengan segelas es teh di depanku dan sebatang rokok yang menyala di tanganku. Sebelum bertemu Ibu Eni aku sengaja bersantai dulu, karena bagaimanapun nanti aku akan gugup menghadapinya, aku akan menenangkan diri dulu beberapa saat. Tanpa aku sadari, tiba-tiba Andi sudah berdiri di belakangku sambil menepuk pundakku, sesaat aku kaget dibuatnya.</p>
<p style="text-align: justify;">“Ayo Gi, sekarang waktunya. Bu Eni kulihat tadi sedang menuju ke ruangannya, mumpung sekarang tidak mengajar, temuilah beliau..!” bisik Andi di telingaku.<br />
“Oke-oke..,” kataku singkat sambil berdiri, menghabiskan sisa es teh terakhir, kubuang rokok yang tersisa sedikit, kuambil permen dalam saku, kutarik dalam-dalam nafasku.<br />
Aku langsung melangkahkan kaki.<br />
“Kalau begitu aku duluan ya, Gi. Sampai ketemu di kost,” sahut Andi sambil meninggalkanku.<br />
Aku hanya dapat melambaikan tangan saja, karena pikiranku masih berkecamuk bimbang, bagaimana aku harus menghadapai Ibu Eni, dosen killer yang masih sendiri itu.
</p>
<p style="text-align: justify;">Perlahan aku berjalan menyusupi lorong kampus, suasana sangat lengang saat itu, maklum hari Sabtu, banyak mahasiswa yang meliburkan diri, lagipula kalau saja aku tidak mengalami masalah ini lebih baik aku tidur-tiduran saja di kamar kost, ngobrol dengan teman. Hanya karena masalah ini aku harus bersusah-susah menemui Bu Eni, untuk dapat membantuku dalam masalah ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Kulihat pintu di ujung lorong. Memang ruangan Bu Eni terletak di pojok ruangan, sehingga tidak ada orang lewat simpang siur di depan ruangannya. Kelihatan sekali keadaan yang sepi.<br />
Pikirku, “Mungkin saja perempuan yang belum bersuami inginnya menyendiri saja.”<br />
Perlahan-lahan kuketuk pintu, sesaat kemudian terdengar suara dari dalam, “Masuk..!”<br />
Aku langsung masuk, kulihat Bu Eni sedang duduk di belakang mejanya sambil membuka-buka map. Kutup pintu pelan-pelan. Kulihat Bu Eni memandangku sambil tersenyum, sesaat aku tidak menyangka beliau tersenyum ramah padaku. Sedikit demi sedikit aku mulai dapat merasa tenang, walaupun masih ada sedikit rasa gugup di hatiku.</p>
<p style="text-align: justify;">“Silakan duduk, apa yang bisa Ibu bantu..?” Bu Eni langsung mempersilakan aku duduk, sesaat aku terpesona oleh kecantikannya.<br />
Bagaimana mungkin dosen yang begitu cantik dan anggun mendapat julukan dosen killer. Kutarik kursi pelan-pelan, kemudian aku duduk.<br />
“Oke, Yogi, ada apa ke sini, ada yang bisa Ibu bantu..?” sekali lagi Bu Eni menanyakan hal itu kepadaku dengan senyumnya yang masih mengembang.<br />
Perlahan-lahan kuceritakan masalahku kepada Bu Eni, mulai dari keinginan orangtua yang ingin aku agak cepat menyelesaikan studiku, sampai ke mata kuliah yang saat ini aku belum dapat menyelesaikannya.
</p>
<p style="text-align: justify;">Kulihat Bu Eni dengan tekun mendengarkan ceritaku sambil sesekali tersenyum kepadaku. Melihat keadaan yang demikian aku bertambah semangat bercerita, sampai pada akhirnya dengan spontan aku berkata, “Apa saja akan kulakukan Bu Eni, untuk dapat menyelesaikan mata kuliah ini. Mungkin suatu saat membantu Ibu membersihkan rumah, contohnya mencuci piring, mengepel, atau yah, katakanlah mencuci baju pun aku akan melakukannya demi agar mata kuliah ini dapat saya selesaikan. Saya mohon sekali, berikanlah keringanan nilai mata kuliah Ibu pada saya.”</p>
<p style="text-align: justify;">Mendengar kejujuran dan perkataanku yang polos itu, kulihat Bu Eni tertawa kecil sambil berdiri menghampiriku, tawa kecil yang kelihatan misterius, dimana aku tidak dapat mengerti apa maksudnya.<br />
“Apa saja Yogi..?” kata Bu Eni seakan menegaskan perkataanku tadi yang secara spontan keluar dari mulutku tadi dengan nada bertanya.<br />
“Apa saja Bu..!” kutegaskan sekali lagi perkataanku dengan spontan.</p>
<p style="text-align: justify;">Sesaat kemudian tanpa kusadari Bu Eni sudah berdiri di belakangku, ketika itu aku masih duduk di kursi sambil termenung. Sejenak Bu Eni memegang pundakku sambil berbisik di telingaku.<br />
“Apa saja kan Yogi..?”<br />
Aku mengangguk sambil menunduk, saat itu aku belum menyadari apa yang akan terjadi. Tiba-tiba saja dari arah belakang, Bu Eni sudah menghujani pipiku dengan ciuman-ciuman lembut, sebelum sempat aku tersadar apa yang akan terjadi. Bu Eni tiba-tiba saja sudah duduk di pangkuanku, merangkul kepalaku, kemudian melumatkan bibirnya ke bibirku. Saat itu aku tidak tahu apa yang harus kulakukan, seketika kedua tangan Bu Eni memegang kedua tanganku, lalu meremas-remaskan ke payudaranya yang sudah mulai mengencang.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku tersadar, kulepaskan mulutku dari mulutnya.<br />
“Bu, haruskah kita..”<br />
Sebelum aku menyelesaikan ucapanku, telunjuk Bu Eni sudah menempel di bibirku, seakan menyuruhku untuk diam.<br />
“Sudahlah Yogi, inilah yang Ibu inginkan..”<br />
Setelah berkata begitu, kembali Bu Eni melumat bibirku dengan lembut, sambil membimbing kedua tanganku untuk tetap meremas-remas payudaranya yang montok karena sudah mengencang.
</p>
<p style="text-align: justify;">Akhirnya timbul hasrat kelelakianku yang normal, seakan terhipnotis oleh reaksi Bu Eni yang menggairahkan dan ucapannya yang begitu pasrah, kami berdua tenggelam dalam hasrat seks yang sangat menggebu-gebu dan panas. Aku membalas melumat bibirnya yang indah merekah sambil kedua tanganku terus meremas-remas kedua payudaranya yang masih tertutup oleh baju itu tanpa harus dibimbing lagi. Tangan Bu Eni turun ke bawah perutku, kemudian mengusap-usap kemaluanku yang sudah mengencang hebat. Dilanjutkan kemudian satu-persatu kancing-kancing bajuku dibuka oleh Bu Eni, secara reflek pula aku mulai membuka satu-persatu kancing baju Bu Eni sambil terus bibirku melumat bibirnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah dapat membuka bajunya, begitu pula dengan bajuku yang sudah terlepas, gairah kami semakin memuncak, kulihat kedua payudara Bu Eni yang memakai BH itu mengencang, payudaranya menyembul indah di antara BH-nya. Kuciumi kedua payudara itu, kulumat belahannya, payudara yang putih dan indah. Kudengar suara Bu Eni yang mendesah-desah merasakan kenikmatan yang kuberikan. Kedua tangan Bu Eni mengelus-elus dadaku yang bidang. Lama aku menciumi dan melumat kedua payudaranya dengan kedua tanganku yang sesekali meremas-remas dan mengusap-usap payudara dan perutnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Akhirnya kuraba tali pengait BH di punggungnya, kulepaskan kancingnya, setelah lepas kubuang BH ke samping. Saat itu aku benar-benar dapat melihat dengan utuh kedua payudara yang mulus, putih dan mengencang hebat, menonjol serasi di dadanya. Kulumat putingnya dengan mulutku sambil tanganku meremas-remas payudaranya yang lain. Puting yang menonjol indah itu kukulum dengan penuh gairah, terdengar desahan nafas Bu Eni yang semakin menggebu-gebu.<br />
“Oh.., oh.., Yogi.. teruskan.., teruskan Yogi..!” desah Bu Eni dengan pasrah dan memelas.<br />
Melihat kondisi seperti itu, kejantananku semakin memuncak. Dengan penuh gairah yang mengebu-gebu, kedua puting Bu Eni kukulum bergantian sambil kedua tanganku mengusap-usap punggungnya, kedua puting yang menonjol tepat di wajahku. Payudara yang mengencang keras.</p>
<p style="text-align: justify;">Lama aku melakukannya, sampai akhirnya sambil berbisik Bu Eni berkata, “Angkat aku ke atas meja Yogi.., ayo angkat aku..!”<br />
Spontan kubopong tubuh Bu Eni ke arah meja, kududukkan, kemudian dengan reflek aku menyingkirkan barang-barang di atas meja. Map, buku, pulpen, kertas-kertas, semua kujatuhkan ke lantai dengan cepat, untung lantainya memakai karpet, sehingga suara yang ditimbulkan tidak terlalu keras.</p>
<p style="text-align: justify;">Masih dalam keadaan duduk di atas meja dan aku berdiri di depannya, tangan Bu Eni langsung meraba sabukku, membuka pengaitnya, kemudian membuka celanaku dan menjatuhkannya ke bawah. Serta-merta aku segera membuka celana dalamku, dan melemparkannya ke samping.<br />
Kulihat Bu Eni tersenyum dan berkata lirih, “Oh.. Yogi.., betapa jantannya kamu.. kemaluanmu begitu panjang dan besar.. Oh.. Yogi, aku sudah tak tahan lagi untuk merasakannya.”<br />
Aku tersenyum juga, kuperhatikan tubuh Bu Eni yang setengah telanjang itu.
</p>
<p style="text-align: justify;">Kemudian sambil kurebahkan tubuhnya di atas meja dengan posisi aku berdiri di antara kedua pahanya yang telentang dengan rok yang tersibak sehingga kelihatan pahanya yang putih mulus, kuciumi payudaranya, kulumat putingnya dengan penuh gairah, sambil tanganku bergerilya di antara pahanya. Aku memang menginginkan pemanasan ini agak lama, kurasakan tubuh kami yang berkeringat karena gairah yang timbul di antara aku dan Bu Eni. Kutelusuri tubuh Bu Eni yang setengah telanjang dan telentang itu mulai dari perut, kemudian kedua payudaranya yang montok, lalu leher. Kudengar desahan-desahan dan rintihan-rintihan pasrah dari mulut Bu Eni.</p>
<p style="text-align: justify;">Sampai ketika Bu Eni menyuruhku untuk membuka roknya, perlahan-lahan kubuka kancing pengait rok Bu Eni, kubuka restletingnya, kemudian kuturunkan roknya, lalu kujatuhkan ke bawah. Setelah itu kubuka dan kuturunkan juga celana dalamnya. Seketika hasrat kelelakianku semakin menggebu-gebu demi melihat tubuh Bu Eni yang sudah telanjang bulat, tubuh yang indah dan seksi, dengan gundukan daging di antara pahanya yang ditutupi oleh rambut yang begitu rimbun.<br />
Terdengar Bu Eni berkata pasrah, “Ayolah Yogi.., apa yang kau tunggu..? Ibu sudah tak tahan lagi.”</p>
<p style="text-align: justify;">Kurasakan tangan Bu Eni menggenggam kemaluanku, menariknya untuk lebih mendekat di antara pahanya. Aku mengikuti kemauan Bu Eni yang sudah memuncak itu, perlahan tapi pasti kumasukkan kemaluanku yang sudah mengencang keras layaknya milik kuda perkasa itu ke dalam vagina Bu Eni. Kurasakan milik Bu Eni yang masih agak sempit. Akhirnya setelah sedikit bersusah payah, seluruh batang kemaluanku amblas ke dalam vagina Bu Eni.<br />
Terdengar Bu Eni merintih dan mendesah, “Oh.., oh.., Yogi.. terus Yogi.. jangan lepaskan Yogi.. aku mohon..!”<br />
Tanpa pikir panjang lagi disertai hasratku yang sudah menggebu-gebu, kugerakkan kedua pantatku maju-mundur dengan posisi Bu Eni yang telentang di atas meja dan aku berdiri di antara kedua pahanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Mula-mula teratur, seirama dengan goyangan-goyangan pantat Bu Eni. Sering kudengar rintihan-rintihan dan desahan Bu Eni karena menahan kenikmatan yang amat sangat. Begitu juga aku, kuciumi dan kulumat kedua payudara Bu Eni dengan mulutku.<br />
Kurasakan kedua tangan Bu Eni meremas-remas rambutku sambil sesekali merintih, “Oh.. Yogi.. oh.. Yogi.. jangan lepaskan Yogi, kumohon..!”<br />
Mendengar rintihan Bu Eni, gairahku semakin memuncak, goyanganku bertambah ganas, kugerakkan kedua pantatku maju-mundur semakin cepat.<br />
Terdengar lagi suara Bu Eni merintih, “Oh.. Yogi.. kamu memang perkasa.., kau memang jantan.. Yogi.. aku mulai keluar.. oh..!”<br />
“Ayolah Bu.., ayolah kita mencapai puncak bersama-sama, aku juga sudah tak tahan lagi,” keluhku.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah berkata begitu, kurasakan tubuhku dan tubuh Bu Eni mengejang, seakan-akan terbang ke langit tujuh, kurasakan cairan kenikmatan yang keluar dari kemaluanku, semakin kurapatkan kemaluanku ke vagina Bu Eni. Terdengar keluhan dan rintihan panjang dari mulut Bu Eni, kurasakan juga dadaku digigit oleh Bu Eni, seakan-akan nmenahan kenikmatan yang amat sangat.<br />
“Oh.. Yogi.. oh.. oh.. oh..”<br />
Setelah kukeluarkan cairan dari kemaluanku ke dalam vagina Bu Eni, kurasakan tubuhku yang sangat kelelahan, kutelungkupkan badanku di atas badan Bu Eni dengan masih dalam keadan telanjang, agak lama aku telungkup di atasnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah kurasakan kelelahanku mulai berkurang, aku langsung bangkit dan berkata, “Bu, apakah yang sudah kita lakukan tadi..?”<br />
Kembali Bu Eni memotong pembicaraanku, “Sudahlah Yogi, yang tadi itu biarlah terjadi karena kita sama-sama menginginkannya, sekarang pulanglah dan ini alamat Ibu, Ibu ingin cerita banyak kepadamu, kamu mau kan..?”<br />
Setelah berkata begitu, Bu Eni langsung menyodorkan kartu namanya kepadaku. Kuterima kartu nama yang berisi alamat itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Sejenak kutermangu, kembali aku dikagetkan oleh suara Bu Eni, “Yogi, pulanglah, pakai kembali pakaianmu..!”<br />
Tanpa basa-basi lagi, aku langsung mengenakan pakaianku, kemudian membuka pintu dan keluar ruangan. Dengan gontai aku berjalan keluar kampus sambil pikiranku berkecamuk dengan kejadian yang baru saja terjadi antara aku dengan Bu Eni. Aku telah bermain cinta dengan dosen killer itu. Bagaimana itu bisa terjadi, semua itu diluar kehendakku. Akhirnya walau bagaimanapun nanti malam aku harus ke rumah Bu Eni.
</p>
<p style="text-align: justify;">Kudapati rumah itu begitu kecil tapi asri dengan tanaman dan bunga di halaman depan yang tertata rapi, serasi sekali keadannya. Langsung kupencet bel di pintu, tidak lama kemudian Bu Eni sendiri yang membukakan pintu, kulihat Bu Eni tersenyum dan mempersilakan aku masuk ke dalam. Kuketahui ternyata Bu Eni hidup sendirian di rumah ini. Setelah duduk, kemudian kami pun mengobrol. Setelah sekian lama mengobrol, akhirnya kuketahui bahwa Bu Eni selama ini banyak dikecewakan oleh laki-laki yang dicintainya. Semua laki-laki itu hanya menginginkan tubuhnya saja bukan cintanya. Setelah bosan, laki-laki itu meninggalkan Bu Eni. Lalu dengan jujur pula dia memintaku selama masih menyelesaikan studi, aku dimintanya untuk menjadi teman sekaligus kekasihnya. Akhirnya aku mulai menyadari bahwa posisiku tidak beda dengan gigolo.</p>
<p style="text-align: justify;">Kudengar Bu Eni berkata, “Selama kamu masih belum wisuda, tetaplah menjadi teman dan kekasih Ibu. Apa pun permintaanmu kupenuhi, uang, nilai mata kuliahmu agar lulus, semua akan Ibu penuhi, mengerti kan Yogi..?”<br />
Selain melihat kesendirian Bu Eni tanpa ada laki-laki yang dapat memuaskan hasratnya, aku pun juga mempertimbangkan kelulusan nilai mata kuliahku. Akhirnya aku pun bersedia menerima tawarannya.
</p>
<p style="text-align: justify;">Akhirnya malam itu juga aku dan Bu Eni kembali melakukan apa yang kami lakukan siang tadi di ruangan Bu Eni, di kampus. Tetapi bedanya kali ini aku tidak canggung lagi melayani Bu Eni dalam bercinta. Kami bercinta dengan hebat malam itu, 3 kali semalam, kulihat senyum kepuasan di wajah Bu Eni. Walau bagaimanapun dan entah sampai kapan, aku akan selalu melayani hasrat seksualnya yang berlebihan, karena memang ada jaminan mengenai kelulusan mata kuliahku yang tidak lulus-lulus itu dari dulu.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ceritasex.cn/nilaiku-ditentukan-oleh-keperkasaanku/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

