<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Cerita sex porno ngentot mesum perek ayam kampus &#187; perawan</title>
	<atom:link href="http://www.ceritasex.cn/tag/perawan/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.ceritasex.cn</link>
	<description>Kumpulan cerita sex, foto bugil, dan film porno</description>
	<lastBuildDate>Wed, 08 Feb 2012 13:12:08 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
		<item>
		<title>Ngentot Perawan Di Mobil</title>
		<link>http://www.ceritasex.cn/ngentot-perawan-di-mobil/</link>
		<comments>http://www.ceritasex.cn/ngentot-perawan-di-mobil/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 24 Jun 2011 17:26:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cerita Sex</dc:creator>
				<category><![CDATA[Daun Muda]]></category>
		<category><![CDATA[Foto Mesum]]></category>
		<category><![CDATA[cewek]]></category>
		<category><![CDATA[darah perawan]]></category>
		<category><![CDATA[mesum]]></category>
		<category><![CDATA[ml]]></category>
		<category><![CDATA[mobil]]></category>
		<category><![CDATA[ngentot]]></category>
		<category><![CDATA[perawan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ceritasex.cn/?p=2518</guid>
		<description><![CDATA[Walahhh masih perawan beneran ini cewek.. ada darah perawannya bro.. asoy banget dah yang ngentotin nih cewek&#8230; lucky bastard!!]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Walahhh masih perawan beneran ini cewek.. ada darah perawannya bro.. asoy banget dah yang ngentotin nih cewek&#8230; lucky bastard!!</p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2011/06/ngentot-perawan-1.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-2519" title="ngentot-perawan-1" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2011/06/ngentot-perawan-1-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a></p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2011/06/ngentot-perawan-2.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-2520" title="ngentot-perawan-2" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2011/06/ngentot-perawan-2-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a></p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2011/06/ngentot-perawan-3.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-2521" title="ngentot-perawan-3" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2011/06/ngentot-perawan-3-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a></p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2011/06/ngentot-perawan-4.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-2522" title="ngentot-perawan-4" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2011/06/ngentot-perawan-4-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a></p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2011/06/ngentot-perawan-5.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-2523" title="ngentot-perawan-5" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2011/06/ngentot-perawan-5-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a></p>
<p><span id="more-2518"></span></p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2011/06/ngentot-perawan-6.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-2524" title="ngentot-perawan-6" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2011/06/ngentot-perawan-6-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a></p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2011/06/ngentot-perawan-7.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-2525" title="ngentot-perawan-7" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2011/06/ngentot-perawan-7-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ceritasex.cn/ngentot-perawan-di-mobil/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sepupuku Lisa</title>
		<link>http://www.ceritasex.cn/sepupuku-lisa/</link>
		<comments>http://www.ceritasex.cn/sepupuku-lisa/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 17 Apr 2011 06:19:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cerita Sex</dc:creator>
				<category><![CDATA[Daun Muda]]></category>
		<category><![CDATA[Sedarah]]></category>
		<category><![CDATA[Seks Umum]]></category>
		<category><![CDATA[lisa]]></category>
		<category><![CDATA[ngentot]]></category>
		<category><![CDATA[perawan]]></category>
		<category><![CDATA[sepupu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ceritasex.cn/?p=2192</guid>
		<description><![CDATA[Awal kisah ini terjadi sekitar awal Januari, dimana waktu itu aku sedang sendiri di rumah, sedang asiknya menonton TV tiba-tiba aku di kejutkan oleh suara bel berbunyi. &#8220;Kringg.. kring..&#8221; suara bel berbunyi itu membuat aku terkejut. Kemudian aku membuka pintu, aku melihat seorang gadis berdiri menggunakan baju kaos berwarna putih dan rok mini berwarna hijau [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Awal kisah ini terjadi sekitar awal Januari, dimana waktu itu aku sedang sendiri di rumah, sedang asiknya menonton TV tiba-tiba aku di kejutkan oleh suara bel berbunyi.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Kringg.. kring..&#8221; suara bel berbunyi itu membuat aku terkejut.</p>
<p style="text-align: justify;">Kemudian aku membuka pintu, aku melihat seorang gadis berdiri menggunakan baju kaos berwarna putih dan rok mini berwarna hijau sampai ke lutut, wajahnya cantik dan sedap dipandang mata.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku bertanya, &#8220;Cari siapa dik..?&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Dia balas dengan bertanya, &#8220;Benarkah ini rumah paman Rizal..?&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Aku terkejut, karena nama yang dia sebutkan adalah nama papaku. Kemudian aku bertanya lagi.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Adik ini siapa?&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Dia hanya tersenyum. Senyumannya manis sekali, lalu aku jawab, &#8220;Benar, ini rumah paman Rizal,&#8221; sambungku lagi.</p>
<p style="text-align: justify;">Dan sekali lagi dia tersenyum, manis sekali, membuat hatiku dag dig dug.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku bertanya lagi, &#8220;Adik ini siapa sih..?&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Sambil terseyum dia memperkenalkan dirinya, &#8220;Namaku Lisa,&#8221; kata-katanya terhenti, &#8220;Aku datang kemari disuruh mama untuk menyampaikan sesuatu untuk paman Rizal.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Oh iyah..&#8221; aku sampai lupa mempersilakan dia masuk ke rumah. Lalu kusuruh dia masuk.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Silakan masuk,&#8221; kataku.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku persilakan dia masuk, &#8220;Kan ngga enak bicara di depan pintu, apa lagi tamu.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah berbicara sebenter di depan pintu, dia masuk dan duduk di kursi ruang tamu. Setelah kupersilakan duduk, aku mulai bertanya lagi tentang dia, dan siapa dia bagaimana hubungannya dengan papaku.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Kalau boleh tau, adik ini siapa yah..?&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Hihihi..&#8221; dia tertawa, aku jadi heran, tetapi dia malah tertawa.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Kalau ngga salah, pasti abang ini bang.. Sultan yah?&#8221; sambungnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku terkejut, dari mana dia tahu namaku, lalu aku bertanya, &#8220;Kog adik tau nama abang?&#8221;<br />
<span id="more-2192"></span><br />
Lalu dia tertawa lagi, &#8220;Hihihi..tau dong.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Masa abang lupa sama aku?&#8221; lanjutnya. &#8220;Aku Lisa, bang. Aku anaknya tante Maria,&#8221; celotehnya menjelaskan.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku terkejut, &#8220;..ah.. jadi kamu anaknya tante Maria?&#8221; tambahku.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku jadi termangu. Aku baru ingat kalau tante Maria punya anak, namanya Lisa. Waktu itu aku masih SMP kelas 3 dan Lisa kelas 1 SMP. Kami dulu sering bermain di taman bersama. Waktu itu kami belum tahu tentang apa yang namanya cinta/sex dan kami tidak berjumpa lagi karena waktu itu aku pergi ke Australia sekitar 2 tahun. Sekembalinya dari Autralia aku tidak pernah ke rumahnya karena sibuk sekolah. Sudah kira-kira 3 tahun kami tidak berjumpa, sampai aku mahasiswa tingkat 2, aku tidak ingat namanya lagi, kini bertemu sudah besar dan cantik lagi.</p>
<p style="text-align: justify;">Lalu kubertanya kembali menghamburkan lamunanku sendiri, &#8220;Bagaimana kabar mamamu?&#8221; tanyaku.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Baik..&#8221; jawabnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Kamudian dia mengulangi maksud dan tujuannya. Katanya, papaku diminta mamanya untuk datang ke rumahnya untuk membicarakan sesuatu hal.</p>
<p style="text-align: justify;">Lalu aku balik bertanya dengan penasaran, &#8220;Kira-kira yang akan dibicarakan apa sih..?&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Dia menjawab sambil tersenyum manis nan menggoda. Sambil tersenyum, aku memperhatikan dirinya penasaran.</p>
<p style="text-align: justify;">Tiba-tiba dia bicara, &#8220;Ternyata abang ganteng deh, ternyata mama ngga salah bilang.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Aku jadi salah tingkah dan wajahku memerah karena dipuji. Adik ini ada-ada saja pikirku. Kemudian aku sambut kata-katanya, &#8220;Ternyata tante Maria punya anak cantik juga.&#8221; dia hanya tersenyum saja.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Paman Rizal kemana bang?&#8221; dia bertanya membuka keheningan.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Belum pulang kerja.&#8221; jawabku.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Hmm..&#8221; gumamnya.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Ya udah deh, titip pesen aja gitu tadi, ya bang!&#8221; memastikan.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Iya.. oke.&#8221; jawabku pasti.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Jangan lupa yah..!&#8221; lebih memastikan.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Iya..&#8221; aku tegaskan lagi.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Oke deh.. kalau gitu Lisa pamit dulu yah.. ngga bisa lama-lama nih.. mama bilang jangan lama-lama.&#8221; jelasnya. &#8220;Pamit yah bang!&#8221; tambahnya.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Oke deh,&#8221; mengiyakan. &#8220;Hati-hati yah!&#8221; sambungku seperti cowok-cowok lain pada cewek umumnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Dia hanya tersenyum menjawabnya, &#8220;Iya bang..&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Nah, detik itu jugalah momen itu terjadi. Tidak tahu kenapa dia tiba-tiba menarik tanganku dan mencium pipiku. Bercampur rasa bingung dan asyik di hatiku.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Waduh.. buat apa itu tadi?&#8221; tanyaku bodoh. Dia hanya tersenyum.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Abang ganteng deh,&#8221; jelasnya sambil melepaskan pegangan tangannya.</p>
<p style="text-align: justify;">Nah, itu dia, karena menurutku aji mumpung perlu diterapkan, aku menangkap tangannya dan balik mencium pipinya. Dia menjadi kaget dan aku hanya tersenyum saja, memasang wajah innocent yang jauh dari sempurna. Balas dendam pikirku. Karena kepalang keasyikan dan sudah timbul nafsu. Aku memberanikan diri lagi untuk mencium bibirnya mengusik kediamannya karena kaget pada ciuman pertamaku tadi.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Mumpung rumah sepi.. kesempatan nih..&#8221; pikirku dalam hati.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku memberanikan diri untuk lebih lagi dengan meraba tonjolan yang ada di dadanya yang terbungkus bra dari luar.</p>
<p style="text-align: justify;">Dia mendesah, &#8220;..ahh..hem..&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Tonjolannya agak lumayan kalau tidak salah taksir, kira-kira 32b besarnya. Karena sudah sangat bernafsu, dan ego kelelakianku meningkat, hasrat itu pun timbul. Aku belai tubuhnya perlahan dan terus menaik sampai ke lehernya. Kubuka baju yang dia pakai hingga terlepas. Dan aku terus meraba bongkongnya yang lumayan juga besarnya kalau tidak salah taksir dapurnya kira-kira 61.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Seperti penyanyi saja,&#8221; gumamku dalam hati.</p>
<p style="text-align: justify;">Karena keadaan kurang memungkinkan, kugendong dia ke kamarku sambil kami berciuman terus. Kurebahkan dia di kasur dan kutindih dia. Kubuka perlahan-lahan kaos yang dia pakai dan BH-nya aku buka hingga polos. Terpampang di depanku sebuah pemandangan yang indah, sebuah gunung dua yang sangat indah dengan pucuknya berwarna merah ranum. Aku dengan rakusnya meremas dan mengulum kanan dan kiri. Tanganku dengan aktif terus menjalar ke rok yang dia pakai. Perlahan-lahan aku turunkan hingga terbuka semuanya. Aku melihat kodam (kolor, dalam) warna putih dengan berenda bunga. Kubuka perlahan-lahan dengan sabar, hati-hati dan lembut. Tiba-tiba dia menepis tanganku.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Jangan bang..! Jangan bang..!&#8221; dia memohon, tetapi aku yang sudah dirasuki setan tidak ambil pikir.</p>
<p style="text-align: justify;">Kemudian kucium bibirnya dan kuremas kembali gunungnya. Dia terangsang. Kucoba mengulang kembali, kutarik kodamnya (kolor, dalam) perlahan-lahan. Dia tidak menepis tanganku, terus kubuka dan kuterpana melihat pemandangan yang begitu indah yang tidak bisa dikatakan dengan kata-kata. Aku melihat sebuah kemaluan yang masih gundul yang hanya dikelilingi dengan rambut yang masih belum lebat.</p>
<p style="text-align: justify;">Kusibak hutan yang masih agak gundul. Ada cairan bening yang keluar dari dalam hutannya. Dia sudah terangsang. Kubuka bajuku tergesa-gesa. Pakaianku hanya tinggal kodam (kolor dalam) saja tetapi Ucokku (kejantananku) sudah mau lompat saja, ingin mencari sasaran. Sudah tidak tahan ucokku sehingga aku langsung meraba hutannya. Kusibak (buka) hutannya dan aku menciumnya. Kemudian kujilat semacam daging yang keluar dari kemaluannya. Kujilat terus kelentitnya hingga dia meyilangkan kakinya ke leherku.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Ahh.. ohh.. yaa..&#8221; desahnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Kumasukan jari tanganku satu dan kukorek-korek dalam hutanya. Dia semakin merapatkan kakinya ke leherku sehingga mukaku terbenam dalam hutannya. Aku tidak bisa bernafas. Aku terus hajar hutannya.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Hauhh.. ahh.. yahh.. huhh..&#8221; terdengar suara desahya.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku terus hisap sehingga timbul suara yang entah dia dengar atau tidak. Kemudian perlahan-lahan kakinya agak melonggar sehingga aku bisa nafas dengan bebas kembali. Aku terus menghisap dalam hutannya. Setelah puas kubermain di hutanya, kuhisap lagi gunung kembarnya, kiri dan kanan.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Bang.. aku udah ngga tahan nih.. mau keluar..&#8221; desahnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Kupercepat lagi hisapanku, dia merintih.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Ahh.. oohh.. yahh.. serr..&#8221; dia lemas. Ternyata dia sudah klimaks.</p>
<p style="text-align: justify;">Kubuka kodamku dan kejantananku ini kukeluarkan. Taksiranku, kejantananku kira-kira 18 cm panjangnya kalau sudah tegang. Kubimbing kejantananku (ucok) ke arah hutannya. Kugesek-gesekan kejantananku pada liang kelaminnya, kusodok perlahan-lahan. Awalnya meleset, tidak masuk. Wah, ternyata dia masih perawan. Kucoba lagi perlahan-lahan, tidak juga bisa masuk. Kuberi air ludah ke batang kejantananku agar tambah licin. Kemudian kucoba lagi, hanya masuk ujung kepalanya saja, dia merintih.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Aduh.. sakit bang.. sakit..&#8221; rintihnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku berhenti sejenak, tidak melanjutkan sodokanku, kukulum lagi gunungnya, dadanya terangkat ke atas. Tidak lama dia terangsang lagi, lalu kucoba lagi untuk meyodok (seperti permainan bola billyard). Kusodok terus dengan hati-hati, aku tidak lupa memberi ludahku ke kejantananku. Karena hutannya becek akibat klimaks tadi jadi agak licin sehingga kepala kejantananku bisa masuk dia merintih.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Aduh.. sakit bang..&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Tahan dikit yah.. adikku manis..&#8217;ngga sakit kok.. cuman sebentar aja sakitnya..&#8221; bisikku di daun telinganya.</p>
<p style="text-align: justify;">Dia diam saja. Kusodok lagi, akhirnya masuk juga kepala si ucok, terus kusodok agak keras biar masuk semua.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Slupp.. bless..&#8221; dan akhirnya masuk juga ucokku. Dia menggigit bibirnya menahan sakit. Karena kulihat dia menahan sakit aku berhenti menunggu dia tidak kesakitan lagi. Ucokku masih terbenam dalam hutannya, kulihat dia tidak menggigit bibirnya lagi. Kusodok lagi ucokku perlahan-lahan dan lembut, ternyata dia meresapinya dan kembali terangsang. Kusodok terus.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Ahh.. auuohh.. yahh.. terus bang..&#8221; pintanya karena dia teransang hebat sambil mengoyangkan pinggulnya ke kiri kanan. Rupanya dia sudah tidak kesakitan lagi. Semakin kuat kusodok.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Auoohh.. ahh.. yahh.. uhh.. terus bang!&#8221; kakinya dililitkan ke leherku.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Ahh.. yaa..&#8221; rintihnya lagi, terus kusodok agak keras.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Selupp.. selup..&#8221; suara ucokku keluar masuk, aku juga merasakan ada denyutan dalam hutannya seperti menghisap (menarik) ucokku. Rasanya tidak bisa dikatakan dengan kata-kata.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Yahh.. aouuhh.. yahh..&#8221; suaraku tanpa sadar karena nikmatnya.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Bang.. enak bang.&#8221; kusodok terus.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Uohh.. ahh.. yahh.. teruss bang! Yahh.. yahh.. ngga tahan nih bang..&#8221; dia terus berkicau keenakan, &#8220;oohh.. yahh.. aouuhh.. yaa.. i coming.. yes..&#8221; terus dia berkicau.</p>
<p style="text-align: justify;">Entah apa katanya, aku tidak tahu karena aku juga merasakan sedotan dalam hutanya semakin kuat.</p>
<p style="text-align: justify;">Dia meremas kain penutup tilam sampai koyak. Aku terus meyodok dan terus tidak henti-henti.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Aouhh.. ahh.. yahh.. yaa.. mau keluar nih bang..&#8221; dan, &#8220;Slerr..&#8221; dia keluar, terasa di kepala ucokku. Dia klimaks yang kedua kalinya.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku terus memacu terus mengejar klimaksku, &#8220;Yahh.. aouu.. yahh..&#8221; ada denyutan di kepala ucokku.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Yahh.. ahh..&#8221; aku keluar, kutarik ucokku keluar, kuarahkan ke perutnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Air maniku sampai 3x menyemprot, banyak juga maniku yang keluar, lalu kukecup keningnya.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Terima kasih..&#8221; aku ucapkan.</p>
<p style="text-align: justify;">Kulihat ada bercak darah di sprei tilam, ternyata darah perawanya. Lalu kuajak dia membersihkan diri di kamar mandi, dia mengangguk. Kami mandi bersama. Tiba-tiba ucokku bangkit lagi melihat bongkongnya yang padat dan kenyal itu. Kutarik bokongnya dan kutunggingkan. Kusodok dari belakang.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Aduh..&#8221; gumamnya karena masih agak sempit dan masih terasa ngilu karena baru hilang keperawanannya.</p>
<p style="text-align: justify;">Dia terangsang kembali, kuremas gunung kembarnya, aku berdengus. &#8220;Ahh.. aouhh.. yaa.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Crott.. croott.. crott..&#8221; kukeluarkan maniku dan kutumpahkan di bokongnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Kami terus bermain sampai 3 kali. Aku teringat kalau sebentar lagi mama akan pulang, lalu kusuruh cepat-cepat si Lisa mandi dan mengenakan pakaiannya. Kami tersenyum puas.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Terima kasih yah bang,&#8221; aku tersenyum saja dan aku mencium bibirnya lagi serta membisikkan ke telinganya, &#8220;Kapan-kapan kita main lagi yah!&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Dia hanya tersenyum dan, &#8220;..iya,&#8221; jawabnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah berpakain dan merapihkan diri, kuantar dia ke depan rumah. Dan ciuman manis di bibir tidak lupa dia berikan kepadaku sebelum pergi. Aku hanya bisa melihat dia berjalan pergi dengan langkah yang agak tertatih karena merasakan nyeri di selangkangannya.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Oh.. nikmatnya dunia hari ini.&#8221; pikirku dalam hati sambil menutup pintu.</p>
<p style="text-align: justify;">TAMAT</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ceritasex.cn/sepupuku-lisa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Gejolak Nafsu Dalam Dada</title>
		<link>http://www.ceritasex.cn/gejolak-nafsu-dalam-dada/</link>
		<comments>http://www.ceritasex.cn/gejolak-nafsu-dalam-dada/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 18 Mar 2011 22:36:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cerita Sex</dc:creator>
				<category><![CDATA[Daun Muda]]></category>
		<category><![CDATA[Pemerkosaan]]></category>
		<category><![CDATA[Seks Umum]]></category>
		<category><![CDATA[ayah tiri]]></category>
		<category><![CDATA[diperkosa tapi doyan]]></category>
		<category><![CDATA[marina]]></category>
		<category><![CDATA[ngentot]]></category>
		<category><![CDATA[perawan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ceritasex.cn/?p=2086</guid>
		<description><![CDATA[Marina gadis muda jelita, usianya baru tujuh belas tahun, hidup bersama ibu dan ayah tirinya. Ayah kandungnya telah meninggal dunia delapan tahun yang lalu. Rupanya ayah tirinya yang baru berusia tiga puluh enam tahun itu, telah lama menaruh rasa penasaran untuk mencicipi perawan yang masih ranum itu. Sang ayah tiri meneguk liur setiap menyaksikan pinggang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Marina gadis muda jelita, usianya baru tujuh belas tahun, hidup bersama ibu dan ayah tirinya. Ayah kandungnya telah meninggal dunia delapan tahun yang lalu. Rupanya ayah tirinya yang baru berusia tiga puluh enam tahun itu, telah lama menaruh rasa penasaran untuk mencicipi perawan yang masih ranum itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Sang ayah tiri meneguk liur setiap menyaksikan pinggang pinggul dan pantat Marina yang indah dan seksi, apa lagi bila Marina sedang berjongkok mengepel lantai dengan pakaian seadanya, wah, Daud melotot matanya. Timbullah hasratnya untuk menyaksikan tubuh sang anak tiri yang indah polos tanpa pakaian. Daud mendapat akal, suatu hari ketika Marina dan ibunya sedang keluar rumah, Daud bekerja keras membuat lubang di dinding kamar mandi yang hanya terbuat dari papan.</p>
<p style="text-align: justify;">Suatu hari ketika Marina hendak pergi mandi Daud bersiap menunggu sambil mengintip dari lubang kamar mandi yang telah dibuatnya, Marina memasuki kamar mandi dengan hanya mengenakan handuk melilit di tubuhnya, setelah mengunci pintu kamar mandi dengan tanpa ragu Marina melepaskan handuknya, Daud menelan liurnya menyaksikan pemandangan indah yang terpampang di depan matanya, pemandangan indah yang berasal dari tubuh indah anak tirinya, tubuh yang begitu sekal padat, ramping dan mulus itu membuat gairah Daud bergejolak, apalagi sepasang payudara yang begitu mulus dengan sepasang puting susu berwarna merah jambu menghias indah di puncak payudara yang sekal itu, mata Daud melirik ke arah selangkangan gadis itu tampak bulu-bulu halus indah menghias di sekitar belahan kemaluan perawan itu yang membukit rapat. Semua itu membuat dada Daud bergetar menahan nafsu, membuatnya semakin penasaran ingin menikmati keindahan yang sedang terpampang di depan matanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Daud tahu Marina sering keluar dari kamarnya pada malam hari untuk pipis. Pada malam berikutnya, Daud dengan sabar menunggu. Begitu Marina memasuki kamar mandi, Daud membarenginya dengan memasuki kamar Marina. Daud menunggu dengan jantung berdebar keras, begitu Marina masuk kembali ke dalam kamarnya dan mengunci pintu Daud muncul dari balik lemari, Marina terbelalak, mulutnya menganga, buru-buru Daud meletakkan telunjuk ke mulutnya, isyarat agar Marina jangan berteriak, Marina mundur beberapa langkah dengan ketakutan. Daud maju dan tiba-tiba menyergapnya Marina siap menjerit, tetapi Daud dengan cepat menutup mulutnya.<br />
<span id="more-2086"></span><br />
&#8220;Jangan menjerit !&#8221; Daud mengancam. Marina semakin ketakutan, badannya gemetar. Daud memeluk gadis yang masih murni itu, menciumi bibirnya bertubi-tubi. Marina terengah-engah.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Jangan takut, nanti kuberi uang,&#8221; kata Daud dengan nafas menggebu-gebu. Bibir Marina terus diciumi, gadis itu memejamkan matanya, merasakan nikmat, dengan mulut terbuka. Tanpa sadar, rontaan Marina mulai melemah, bahkan kedua lengannya memanggut bahu Daud. Sekilas terbayang adegan di buku porno yang pernah dilihatnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Alangkah gembiranya Daud ketika Marina mulai membalas ciuman-ciumanya dengan tak kalah gencarnya.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Pak, Pak jangan&#8230;!&#8221; Walaupun mulutnya berkata jangan, tetapi Marina tidak mengadakan perlawanan ketika gaunnya di lepas. Dalam sekejap, Marina hanya mengenakan beha dan celana dalam saja, itupun tidak bertahan lama.</p>
<p style="text-align: justify;">Daud mencopoti bajunya sendiri. Marina menghambur ke tempat tidur dan menutupi tubuhnya dengan selimut, Marina menghadap tembok, menunggu dengan dada bergetar, di hatinya terjadi pertentangan antara nafsu dan keinginan untuk mempertahankan kehormatannya, namun nafsulah yang menang. Selimut yang menutupi tubuh ditarik, Marina dipeluk dari belakang dan dirasakannya hangatnya pisang ambon Daud mengganjal dan menggesek-gesek di belahan pantatnya, Marina menggigil.</p>
<p style="text-align: justify;">Dengan bernafsu Daud menciumi kuduk Marina, gadis itu menggelinjang-gelinjang, rasa nikmat menyelusup kepori-porinya. Daud membalikkan tubuh Marina hingga terlentang gadis itu meronta hendak melepaskan diri, Daud menindihnya, tangannya meraba-raba bungkahan buah dada Marina. Dada yang ranum dan sehat, yang selama beberapa hari ini mengisi khayalan Daud. Kembali rontaan-rontaan Marina melemah, dirasakannya kenikmatan pada buah dadanya, yang diciumi Daud dengan berganti-gantian. Dada yang kenyal dan masih segar itu bergetar-getar, Daud membuka mulutnya dan melahap putingnya yang merah jambu. Marina menjerit lirih, tetapi segera tenggelam dalam erangan kenikmatan.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Pak, Mmmm.. Mmm.. ja..ngan ssshhh Mmmphh&#8230; sshh&#8230;&#8221; Akhirnya Marina tidak lagi memberontak, dibiarkannya susu kiri dan kanannya dijilati dan dihisap oleh Daud. Aroma harum yang terpancar dari tubuh perawan itu benar-benar menyegarkan, membuat rangsangan birahi Daud semakin naik. Kedua bukit indah Marina semakin mengeras dan membesar, puting yang belum pernah dihisap mulut bayi itu kian indah menawan, Daud terus mengulum dan mengulumnya terus.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Pak, Saya.. takuut,&#8221; Suara Marina mendesah lembut.<br />
&#8220;Jangan takut, tidak apa-apa nanti kuberi uang&#8230;&#8221; dengan napas memburu.<br />
&#8220;Ibu, pak. Nanti ibu bangun.. sshh.. aaah&#8230;&#8221;<br />
&#8220;Aaakh.. ibumu tidak akan bangun sampai besok pagi, ia sudah kuberi obat tidur.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Marina mulai mendesah lebih bergairah ketika tangan Daud mulai bermain di bukit kemaluannya yang membengkak. Daud menekan-nekan bukit indah itu.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Kue apemmu hebat sekali,&#8221; bisik Daud sambil berkali-kali meneguk air liurnya, tangan Daud menguakkan belahan kue apem itu. Marina yang semula mngatupkan pahanya rapat-rapat kini mulai mengendurkannya, bagaimana tidak? Sentuhan-sentuhan tangan Daud yang romantis mendatangkan rasa nikmat bukan kepalang apalagi batang kemaluan lelaki yang tegak itu, menggesek-gesek hangat di paha Marina dan berdenyut-denyut. Sebenarnya Marina ingin sekali menggenggam batang kemaluan yang besarnya luar biasa itu. Sementara itu Daud menggosok-gosokkan tangannya ke bukit kemaluan yang ditumbuhi rambut halus yang baru merintis indah menghiasi bukit itu.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Sssssh&#8230; Mmmmh&#8230; sssh.. aaakh&#8230;&#8221; Mata Marina membeliak-beliak dan pahanyapun membuka. Daud menggesek-gesekkan kepala kontolnya di bibir memek Marina yang masih rapat walau sudah dikangkangkan. Secara naluriah Marina menggenggam batang kontol Daud, ia merasa jengah, keduanya saling berpandangan, Marina malu sekali dan akan menarik kembali tangannya tetapi dicegah oleh Daud, sambil tersenyum, lelaki yang cukup ganteng itu berkata,</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Tidak apa-apa, Marina! Genggamlah sayang, berbuatlah sesuka hatimu!&#8221; Dan dengan dada berdegup Marina tetap menggenggam batang kontol yang keras itu. Daud meram melek, menikmati belaian dan remasan lembut pada batang kontolnya. Sementara itu tangan Daud mulai menjelajahi bagian dalam kemaluan Marina, gadis itu menjerit kecil berkali-kali. Bagian dalam kemaluannya telah basah dan licin, ujung jari Daud menyentuh-nyentuh kelentit Marina. Marina menggelinjang-gelinjang.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Bagaimana Mar?&#8221; tanya Daud.<br />
&#8220;Enaaaaakh&#8230; Paak!&#8221;Jawab Marina.</p>
<p style="text-align: justify;">Daud semangkin gencar menggempur memek Marina dengan jari tangannya. Lalu Daud menundukkan kepalanya ke arah selangkangan Marina. Dipandanginya belahan memek yang begitu indahnya, menampakkan bagian dalamnya yang kemerahan dan licin. Daud menguakkan bibir-bibir kemaluan itu, maka kelihatanlah kelentitnya, mengintip dari balik bibir-bibir kemaluan itu, Daud tidak dapat menahan dirinya lagi, diciumnya kelentit itu dengan penuh nafsu. Marina menjerit kecil.<br />
&#8220;Kenapa Marina ? Sakit?&#8221; tanya Daaud di sela kesibukannya.<br />
Mariana menggelengkan kepalanya sambil mengangkat kakinya. Dengan bernafsu Daud menjilati memek Marina dan lidahnya menerobos menjilati bagian dalam dari kemaluan Marina, melilit dan membelai kelentitnya. Marina semakin tidak tahan menerima gempuran lidah Daud, tiba-tiba dirasakannya dinding bagian dalam kemaluannya berdenyut-denyut serta seluruh tubuhnya terasa menegang dan bersamaan dengan itu ia merasakan sesuatu seperti akan menyembur dari bagian kemaluanya yang paling dalam.<br />
&#8220;Aaaakh&#8230; uuggh&#8230; Paaakk&#8230;&#8221; Marina mendesah seiring menyemburnya air mani dari dasar lubuk kemaluannya. Sementara Daud tetap menjilati kemaluan Marina bahkan Daud menghisap cairan yang licin dan kental yang menyembur dari kemaluan Marina yang masih suci itu, dan menelannya.<br />
&#8220;Sungguh nikmat air mani Mar.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Sementara Marina memandang memelas ke arah Daud, dan Daud mengerti apa yang diingini gadis itu, karena iapun sudah tidak tahan seperti Marina. Batang kemaluan Daud sudah keras sekali. Besar dan sangat panjang. Sedangkan bukit kemaluan Marina sudah berdenyut-denyut ingin sekali dimasuki kontol Daud yang besar. Maka Daud pun mengatur posisinya di atas tubuh Marina. Mata Marina terpejam, menantikan saat-saat mendebarkan itu. Batang kontol Daud mulai menggesek dari sudut ke sudut, menyentuh kelentit Marina. Marina memeluk dan membalas mencium bibir ayah tirinya bertubi-tubi. Dan akhirnya topi baja Daud mulai mencapai mulut lobang kemaluan Marina yang masih liat dan sempit. Dan Daud pun menekan pantatnya. Marina menjerit. Bagaikan kesetanan ia memeluk dengan kuat. Tubuhnya menggigil.<br />
&#8220;Paak, Oukh.. akh&#8230; aaakh&#8230; ooough&#8230; sakit Pak&#8230;&#8221; Marina merintih-rintih, pecahlah sudah selaput daranya. Sedangkan Daud tidak menghiraukanya ia terus saja menyodokkan seluruh batang kemaluannya dengan perlahan dan menariknya dengan perlahan pula, ini dilakukannya berulang kali. Sementara Marina mulai merasakan kenikmatan yang tiada duanya yang pernah dirasakannya.<br />
&#8220;Goyangkan pinggulmu ke kanan dan ke kiri sayang !&#8221; bisik Daud sambil tetap menurun naikkan pantatnya.<br />
&#8220;Eeegh&#8230; yaaaa&#8230; aaaakkhh&#8230; oough&#8230;&#8221; jawab Marina dengan mendesah. Kini Marina menggoyangkan pinggulnya menuruti perintah ayahnya. Dirasakannya kenikmatan yang luar biasa pada dinding-dinding kemaluannya ketika batang kontol Daud mengaduk-aduk lobang memeknya.<br />
&#8220;Teee&#8230;russ&#8230; Paaak&#8230;eeggh&#8230; nikmat&#8230; ooough&#8230;.!&#8221; ceracau Marina. Daud semakin gencar menyodok-nyodok memek Marina, semakin cepat pula goyangan pinggul Marina mengimbanginya hingga&#8230; &#8220;Ouuuughh&#8230; sa.. saya&#8230; mmaaau&#8230; keluar.. Paak&#8230;&#8221;<br />
&#8220;Tahan&#8230; sebentar&#8230; sayang&#8230; ooouggh&#8230;&#8221;<br />
Daud mulai mengejang, diapun hampir mencapai klimaksmya. &#8220;AaaaaGhh&#8230;&#8221; jerit Marina sambil menekan pantat Daud dengan kedua kakinya ketika ia mencapai puncak kenikmatannya. Berbarengan dengan tekanan kaki Marina Daud menyodokkan kontolnya sedalam-dalamnya sambil menggeram kenikmatan, &#8220;Eeegghhhh&#8230;. Ooouugh&#8230;&#8221;<br />
&#8220;Creeeet&#8230; creeet&#8230; creeeeeeeet&#8230;&#8221;<br />
Mengalirlah air mani Daud membasahi lobang kemaluan Marina yang sudah dibanjiri oleh air mani Marina. Merekapun mencapai puncak kenikmatannya. Keduanya terkulai lemas tak berdaya dalam kenikmatan yang luar biasa dengan posisi tubuh Daud masih menindih Marina dan batang kontolnya masih menancap dalam lobang kemaluan Marina.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ceritasex.cn/gejolak-nafsu-dalam-dada/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>ABG korban NAPI</title>
		<link>http://www.ceritasex.cn/abg-korban-napi/</link>
		<comments>http://www.ceritasex.cn/abg-korban-napi/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 27 Jan 2011 22:44:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cerita Sex</dc:creator>
				<category><![CDATA[Daun Muda]]></category>
		<category><![CDATA[Pemerkosaan]]></category>
		<category><![CDATA[abg]]></category>
		<category><![CDATA[kontol]]></category>
		<category><![CDATA[memek]]></category>
		<category><![CDATA[napi]]></category>
		<category><![CDATA[ngentot]]></category>
		<category><![CDATA[perawan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ceritasex.cn/?p=1903</guid>
		<description><![CDATA[Bejo adalah seorang narapidana dari sebuah rutan di suatu kabupaten di Jawa Tengah. Ia masuk penjara karena mencuri dengan kekerasan. Berperawakan sedang, kulit sawo matang, rambut cepak dihiasi sebuah tato banteng di punggungnya. Hukuman yang Bejo terima selama 1 tahun 8 bulan penjara. Namun karena berkelakuan baik, ia mendapat pengurangan hukuman sebanyak 2 bulan. Dalam [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Bejo adalah seorang narapidana dari sebuah rutan di suatu kabupaten di Jawa Tengah. Ia masuk penjara karena mencuri dengan kekerasan. Berperawakan sedang, kulit sawo matang, rambut cepak dihiasi sebuah tato banteng di punggungnya. Hukuman yang Bejo terima selama 1 tahun 8 bulan penjara. Namun karena berkelakuan baik, ia mendapat pengurangan hukuman sebanyak 2 bulan. Dalam rutan tersebut pria itu banyak kenal dekat dengan para penjaga rutan. Bahkan saking dekatnya, ia sering mendapat kepercayaan untuk mengurusi tetek-bengek kebutuhan para penjaga mulai dari beli rokok di warung luar penjara sampai beli makanan di warteg! Memang si Bejo paling pintar mengambil hati para penjaga rutan itu. Namun ia tidak berani disuruh pergi agak jauh dari rutan, karena khawatir, kalau ada kepala rutan mendadak melihat ia sedang berada di luar bisa gawat. Hari kebebasan yang tinggal 1 hari lagi bisa sirna.</p>
<p style="text-align: justify;">Namun hari itu &#8220;mungkin&#8221; merupakan hari keberuntungannya, Bejo diminta oleh salah seorang sipir penjara untuk mengantarkan sebuah bungkusan ke rumah temannya yang berada jauh dari rutan. &#8220;Wah, mas! nanti kalau ketahuan saya tidak ada di tempat bagaimana? &#8220;, tanya Bejo dengan cemas. &#8220;Tenang Jo. bapak lagi keluar daerah 2 hari. Pokoke kamu tenang saja, aku jamin aman&#8221;, jawab si sipir penjara yang paling dekat dengan si napi satu ini. Sambil menghela nafas lega Bejo yang sudah mengganti bajunya dengan baju biasa pergi meninggalkan rutan. Di tengah perjalanan, ia terusik akan isi bungkusan yang dibawanya. Alangkah kagetnya ketika dibuka isinya vcd porno berjumlah 30 lembar. Kebanyakan dari vcd itu merupakan film porno asia terutama Jepang. Mata si Bejo melotot melihat gambar2 sampul vcd itu. Namun segera ia masukkan kembali karena sedang berada dalam angkutan umum. Nafasnya naik turun gara-gara melihat sampul vcd tadi. Terlebih sudah lama ia tidak merasakan kenikmatan tubuh wa nita. &#8220;Sialan mas Surip! aku disuruh mulangin barang ke rumah temennya nggak taunya vcd bf!&#8221;, umpat Bejo dalam hati ,&#8221;Otakku nggak keruan jadinya!&#8221;.</p>
<p style="text-align: justify;">Akhirnya tibalah sang napi ke tempat yang dituju, yang ternyata rumah kos. Orang yang dituju menyewa kamar di belakang rumah kos yang berada di lantai 2. Ternyata teman si sipir penjara tadi hendak pergi keluar. Dengan ramah ia menawarkan Bejo untuk menonton vcd koleksinya yang dipinjam sang sipir. Dengan antusias Bejo menerima tawarannya, sambil tidak melupakan pesan orang itu agar menitipkan kunci kamar kepada pemilik kost setelah ia selesai nonton. Film demi film Bejo tonton dengan penuh nafsu. Selesai menonton, sesuai dengan janjinya ia titipkan kunci kamar kepada pemilik rumah. Waktu menunjukkan pukul 14:00 siang. Di dalam angkot Bejo merasakan nafsu birahinya naik turun. Ia merasa kesal karena gejolak nafsu dalam dirinya belum dapat terlampiaskan. &#8220;Uuuhh! Sial! gara-gara film tadi otakku nggak karu-karuan&#8221;, sesal Bejo. Namun apa daya di dalam angkot yang ditumpanginya hanya berisi 3 orang pria dan 1 orang nenek.<br />
<span id="more-1903"></span><br />
Kemudian satu demi satu penumpang itu turun tinggal ia sendiri. Disaat dirinya sedang tenggelam dalam lamunan joroknya, sang sopir angkot menepikan mobilnya pertanda akan ada penumpang yang naik. Naiklah seorang gadis SMU ke dalam angkot yang ia tumpangi dan duduk dekat pintu keluar masuk angkot. Serta merta mata si Bejo melirik tajam ke arah cewek itu. Diamatinya tubuh gadis itu dengan seksama. Wajahnya lumayan manis dengan rambut sebahu diikat kebelakang, buah dadanya terlihat agak menonjol dari balik seragam OSISnya. Lekukan pinggul dan pantatnya kelihatan padat berisi dibalut rok abu-abu selutut. Otak, mata dan birahinya terasa panas membara. Bayangan akan blue film yang ditontonnya tadi terlintas jelas. Terutama film Jepang dengan adegan seorang siswi SMU yang sedang ditunggangi seorang pria dari belakang. Sadar akan dirinya sedang dipandangi oleh orang asing, gadis itu berusaha menutupi paha dan lututnya dengan tas sekolahnya. Dirinya mulai merasakan kegelisahan dan rasa cemas yang amat sangat karena pria itu terus menatapnya seolah &#8211; olah ingin menerkam.</p>
<p style="text-align: justify;">Namun gadis SMU itu merasa lega karena tujuannya sudah dekat. Segera ia minta turun dan membayar ongkos. Sambil berjalan dengan perasaan was-was, gadis itu bolak-balik menengok kalau pria yang menakutkannya itu ikut turun dan mengikutinya. Dilihat sosok yang dimaksud tidak ada perasaannya kembali lega. Gadis itu berjalan menyusuri jalan setapak dimana kanan kirinya merupakan tanah kosong ditumbuhi pepohonan dan semak rimbun dengan beberapa gubuk kosong yang berdiri . Namun tanpa disadarinya si Bejo sedari tadi menguntitnya dari belakang sambil menjaga jarak dan bersembunyi di balik pepohonan. Sang napi segera mengambil jalan pintas untuk mendahului langkah gadis itu. Dari balik pohon dan semak belukar yang agak lebat Bejo menanti mangsanya mendekat. Begitu gadis SMU itu berjalan melewati lokasi tempat Bejo bersembunyi, pria itu segera bergerak meringkusnya dari belakang. Untuk melumpuhkan mangsanya Bejo menempelkan sebuah pisau yang ia ambil dari tempat kos tadi. Ditempelk annya pisau ke leher gadis itu sambil tangan kirinya menutup mulutnya dan mengancam agar ia tidak berteriak.</p>
<p style="text-align: justify;">Bau harum tubuh gadis itu membuat ia tidak tahan lagi. Diseretnya gadis itu ke dalam rerimbunan pohon dan semak-semak. Gadis yang tidak berdaya itu hanya bisa menangis terisak-isak ketakutan akan keselamatan dirinya. Sampai ditempat yang dirasa Bejo aman, ia segera melaksanakan aksinya. Sambil tetap menempelkan pisaunya ke leher gadis SMU itu, tangan kirinya mulai bergerilya meremas-remas buah dada korbannya dari luar hem putihnya. Tangan gadis kiri gadis itu berusaha mencegah namun urung karena Bejo makin menempelkan pisau yang dipegang itu ke lehernya. &#8220;Ampun pak&#8230;tolong lepaskan saya&#8221;, isak gadis itu memohon. &#8220;Ssshh&#8230;Diam manis, kalau sekali lagi kamu bicara akan kugorok lehermu!&#8221;, hardik Bejo pelan sambil menciumi leher gadis itu. Puas meremas-remas buah dadanya, tangan kirinya bergerak turun meraba dan mengobok-obok selangkangan gadis itu dari balik rok abu-abunya. S edangkan dari belakang ia gesek-gesekkan penisnya yang sudah menegang dalam celana ke belahan pantat gadis itu. Cewek SMU itu hanya bisa menangis pasrah tak berdaya diperlakukan seperti itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Tangan kiri Bejo menarik rok SMU gadis itu keatas kemudian jemarinya segera menyusup kedalam cd dan mulai mengorek-ngorek vaginanya. Gadis itu tersentak karena perlakuan Bejo lagipula seumur hidupnya belum pernah ada tangan kasar pria yang menyentuh liang kewanitaannya. Rintihan dan isak tangis gadis itu membuat birahi Bejo semakin naik. &#8220;AAkkhh&#8230;!&#8221;&#8216;, pekik gadis itu tiba2 karena jatuh telungkup diatas rerumputan tebal akibat didorong Bejo dari belakang. Belum punah rasa kaget dan ketakutannya, kedua belah tangannya ditarik kebelakang oleh Bejo kemudian diikat dengan tali yang sudah dipersiapkannya. Merasa mangsanya tidak mungkin kabur ditancapkannya pisau yang dipegangnya ke tanah. Kemudian pria birahi itu membuka seluruh pakaiannya hingga bugil. Dan nampak penis yang sudah berdiri mengeras mengacung keatas siap bertempur. Dibaliknya tubuh gadis itu. Dengan mata terbelalak ia menatap Bejo yang sudah bugil dengan penis besar sedang mengacung. Mulutnya yang hendak berteria k segera disumpal Bejo dengan sehelai saputangan. Tangan-tangan kasar Bejo membuka paksa seragam putih yang dikenakannya sehingga sobek. Terpampanglah bukit kembar sekepalan tangan terbungkus bra berwarna coklat muda. Dengan sekali tarik putuslah bh itu tinggal buah dada yang terpampang indah dengan puting susu berwarna coklat muda.</p>
<p style="text-align: justify;">Dengan rakus dikulum dan dilumatnya kedua buah dada itu bergantian. Tangan kirinya meremas buah dada sambil sesekali memelintir puting susu gadis itu. Sedangkan tangan kanannya meraba dan mengelus selangkangan gadis itu dari luar rok abu-abunya. Tentu saja tubuh gadis yg belum pernah disentuh oleh pria itu menggelinjang tidak karuan. Apalagi ketika tangan kasar lelaki itu masuk ke dalam roknya serta meraba dan mengelus paha dan vaginanya, membuat tubuhnya bergetar bagaikan tersengat listrik. Lama kelamaan celana dalam gadis itu mulai basah akibat perlakuannya.</p>
<p style="text-align: justify;">Merasa tidak tahan lagi, Bejo membalikkan tubuh siswi SMU itu hingga kembali tengkurap. Ditariknya pinggul ABG itu sehingga posisinya seperti orang bersujud dengan pantat menungging serta tangan terikat ke belakang. Dielus dan diremasnya pantat yang padat dan kenyal itu, sambil sesekali menggosok-gosokkan penisnya ke belahan pantat yang masih terbungkus rok abu-abu SMU. Jerit dan isak tangis yang tertahan akibat mulut yang tersumpal gadis itu makin menjadi-jadi ketika tangan Bejo menyingkap roknya ke atas dan memelorotkan celana dalam putihnya. Dengan mata melotot dipandanginya pantat yang putih bulat serta padat dan kenyal itu. Diremas, dicium, digigit dan dikulumnya pantat itu. Dalam keadaan yang tidak berdaya gadis itu hanya bisa menangis pasrah. Rasa ketakutan yang amat sangat tidak henti-hentinya menyergap dirinya.</p>
<p style="text-align: justify;">Degup jantungnya berdebar kencang ketika pahanya dilebarkan Bejo. Dengan rasa yang berdebar dia menant i apa yang akan dilakukan pria itu selanjutnya. Tiba-tiba ia memekik tertahan ketika merasakan benda kenyal dan besar sedang menggesek belahan pantatnya. Rupanya Bejo sedang melakukan pemanasan berikutnya dengan menggesekkan batang kemaluannya. Dengan nafas memburu ia arahkan penis besar menegang itu ke liang senggama yang lembab, sedangkan tangan kirinya mencengkram erat pinggul siswi SMU itu. Tubuh gadis itu tersentak ketika merasa benda asing dan besar sedang memasuki vaginanya dengan paksa. &#8220;Ssshhh&#8230;.&#8221;, desis mulut Bejo yang sedang melakukan penetrasi. Terasa sempit dan hangat. Butuh usaha yang keras. Senti demi senti hingga setengah dari penisnya perlahan menembus liang kenikmatan ABG itu, hingga akhirnya seluruhnya terbenam masuk. &#8220;SShhh&#8230;ahhh&#8230;&#8221;, desis dan desah nikmat keluar dari mulutnya. Sedangkan tubuh gadis bergetar akibat menahan sakit dan tangis. Nampak darah menetes dari selangkangannya. Jebol sudah keperawanannya.</p>
<p style="text-align: justify;">Dibiarkannya sejenak penisnya yang menancap dalam liang surga itu. Terasa batang kemaluannya seperti sedang diurut oleh liang vagina siswi SMU itu. Perlahan Bejo menggerakkan pantatnya maju mundur sambil mencengkram erat pinggulnya. Irama genjotannya lama kelamaan dipercepat. &#8220;Plak..plak..&#8221;, bunyi benturan pantat gadis itu dengan selangkangannya. Tubuh yang dalam keadaan telungkup menungging itu menggeliat-geliat karena disodok dari belakang. &#8220;Mmmhh&#8230;emmhh&#8230;ehh..hhhh &#8220;, suara sang korban yang hanya bisa merintih. Sedangkan Bejo mengeluarkan desahan dan racauan dari mulutnya sambil memompa dari belakang. &#8220;Ssshh..aahh..nikmat sekali memkmu manis&#8221;, racaunya. Terkadang tangannya meremas kuat kedua belah pantatnya sambil menepok-nepok dengan gemas. Di otaknya terlintas bayangan film porno yang ditontonnya tadi siang.</p>
<p style="text-align: justify;">15 menit berlalu, makin lama sodokan pria itu makin cepat. Penisnya bergetar hebat hendak mengeluarkan lahar panas. Dipeluknya tubuh ABG i tu dari belakang sambil terus memompa dan meremas-remas kedua bukit kembarnya. Bejo merasakan vagina gadis itu makin lama makin basah dan tubuhnya juga menggelinjang hebat. Nampaknya ia akan mencapai klimaksnya. Merasakan hal itu, Bejo makin mempercepat sodokannya. Dibenamkannya dalam-dalam sang penis hingga menyentuh rahim kewanitaan gadis itu. &#8220;Ummpphh&#8230;&#8221;, dengus nafas kencang siswi itu sambil kepalanya mendongak keatas. Tubuhnya melengkung. Dan pada saat yang bersamaan pria pemerkosanya juga mencapai klimaks. Ditancapkannya penis itu dalam-dalam. &#8220;Crrott&#8230;crrottt..&#8221;, pancaran sperma menyembur dari kepala penisnya, bercampur dengan cairan kewanitaan dan darah perawan sang gadis. Tubuh kedua insan berlainan jenis itu ambruk seketika dengan posisi sang pria memeluk siswi ABG itu dari belakang. Senyum puas mengembang dari bibir Bejo, sedangkan cucuran air mata menetes dari mata sayu sang gadis. Agak lama batang kemaluan si Bejo dibiarkan menancap didalam va gina sang korban. Sepertinya ia ingin menikmati momen tersebut berlama-lama.</p>
<p style="text-align: justify;">Waktu terus bergulir, dan sinar matahari mulai meredup seiring datangnya senja. Bejo bangkit berdiri sambil menarik rok abu-abu siswi SMU untuk melap batang kejantanannya yang berlumur air mani bercampur darah. Setelah rapi berpakaian kembali, ia sempat menatap sebentar tubuh yang tertelungkup lemah itu. &#8220;Oh indah dan nikmatnya hari ini&#8221;, kata hatinya sambil tersenyum puas. Ditinggalkannya siswi SMU korban nafsu birahinya dalam keadaan baju dan rok tersingkap awut-awutan. &#8220;Kebabasan aku datang!&#8221;, teriaknya dalam hati sambil berharap hari-hari berikutnya ia dapat kembali menikmati tubuh-tubuh hangat gadis muda.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ceritasex.cn/abg-korban-napi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Larasati, Pertama Kali Aku Selingkuh</title>
		<link>http://www.ceritasex.cn/larasati-pertama-kali-aku-selingkuh/</link>
		<comments>http://www.ceritasex.cn/larasati-pertama-kali-aku-selingkuh/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 12 Jan 2011 10:40:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cerita Sex</dc:creator>
				<category><![CDATA[Daun Muda]]></category>
		<category><![CDATA[Om Senang]]></category>
		<category><![CDATA[Paruh baya]]></category>
		<category><![CDATA[Sedarah]]></category>
		<category><![CDATA[selingkuh]]></category>
		<category><![CDATA[abg]]></category>
		<category><![CDATA[larasati]]></category>
		<category><![CDATA[ngentot]]></category>
		<category><![CDATA[penis]]></category>
		<category><![CDATA[perawan]]></category>
		<category><![CDATA[sma]]></category>
		<category><![CDATA[vagina]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ceritasex.cn/?p=1813</guid>
		<description><![CDATA[Sebenarnya umurku sudah tidak bisa dibilang muda lagi, bahkan bisa dibilang sudah kakek-kakek karena saat ini umurku sudah 58 tahun. Namun demikian banyak orang mengira umurku masih di bawah 40 tahun. Orang-orang di kantorku mengatakan kalau secara fisik aku memang hebat. Otot masih kencang dan wajah hampir tidak ada keriput. Demikian juga isteriku, masih seksi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Sebenarnya umurku sudah tidak bisa dibilang muda lagi, bahkan bisa dibilang sudah kakek-kakek karena saat ini umurku sudah 58 tahun. Namun demikian banyak orang mengira umurku masih di bawah 40 tahun. Orang-orang di kantorku mengatakan kalau secara fisik aku memang hebat. Otot masih kencang dan wajah hampir tidak ada keriput. Demikian juga isteriku, masih seksi dan kenyal, kulitnya juga masih kencang. Yang menunjukkan berapa umurku sebenarnya adalah rambutku yang sudah hampir tidak ada hitamnya lagi. Atas saran isteriku, rambutku aku cat hitam sehingga lengkap sudah penampilanku bagai lelaki yang masih berumur 30-an. Mungkin ini khasiat kami rajin berolah raga. Di samping itu kami selalu menyertakan sayuran atau buah sebanyak mungkin dalam menu makan kami, di samping sumber-sumber protein utama.</p>
<p style="text-align: justify;">Kehidupan seksualku juga masih normal, walaupun isteriku yang tiga tahun lebih muda dariku sudah menopause, tapi seminggu tiga-empat kali kami melakukan hubungan sex. Memang harus memakai lubricant gel agar isteriku tidak kesakitan ketika ML karena lendir vaginanya sudah tidak produktif lagi. Tapi semua terasa indah dan bisa kami menikmati. Akupun tak pernah selingkuh. Bagiku isteriku adalah segala-galanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Secara ekonomi hidupku sukses besar. Beberapa perusahaan sudah aku miliki dan semuanya telah berkembang dengan baik. Dalam kehidupan berkeluarga pun aku cukup bahagia. Aku punya isteri masih cantik dan seksi dan dua orang anak laki-laki yang gagah, ganteng, dan cerdas yang kuberi nama Arga Putra Pratama dan Bagas Putra Sentosa. Mereka sudah dewasa dan sedang menyelesaikan program S3 di Royal Melbourne Institute of Technology (RMIT). Di samping anak-anak kandungku, aku juga membiayai dan menghidupi sejumlah anak asuh. Mereka kebanyakan berasal dari anak-anak jalanan, anak yatim, dan anak yatim piatu, di samping ada pula yang berasal dari keluarga lengkap tetapi kurang mampu.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku menerapkan syarat yang ketat bagi anak-anak asuhku. Syarat pertama adalah mereka wajib mengikuti pertemuan anak asuh di rumahku sebulan sekali. Syarat kedua, mereka tidak boleh menjadi anak jalanan, terutama bagi mereka yang berasal dari anak jalanan. Bagi yang tidak punya rumah, termasuk anak jalanan dan yatim piatu, mereka wajib tinggal di rumah asuh yang aku bangun untuk menampung mereka. Setelah mereka lulus sekolah atau perguruan tinggi, jika mau, mereka aku beri pekerjaan di salah satu perusahaanku. Akupun mempersilahkan mereka jika mereka mau mencari pekerjaan sendiri atau membuka usaha sendiri.</p>
<p style="text-align: justify;">Isteriku sendiri yang secara langsung menangani rumah asuh itu. Metode yang diterapkan dalam pengelolaan rumah asuh berdasarkan kebutuhan anak, bukan berdasarkan keinginan kami, selaku penyedia dana dan pengelola rumah asuh. Tak heran anak asuh yang ada di rumah asuh sangat akrab dengan isteriku.</p>
<p style="text-align: justify;">Pertemuan dengan anak-anak asuhku, selain bermanfaat untuk memantau aktivitas mereka, juga bermanfaat untuk mengobati kerinduanku dengan anak-anak kandungku yang tidak lagi pulang di awal bulan seperti waktu SMA dulu, tapi mereka pulang sesuka hati mereka. Memang di era informasi sekarang, komunikasi bisa dilakukan lewat email, chatting dan telepon tetapi terasa tidak puas jika hanya bertemu anak-anakku lewat layar monitor.<br />
<span id="more-1813"></span><br />
Hasil pertemuan itu, aku juga bisa akrab dengan mereka. Hubungan kami lebih sebagai keluarga atau orang tua dengan anak-anaknya daripada pemberi dan penerima dana. Aku dan isteriku biasa bercanda dengan mereka dan mereka tidak lagi sungkan untuk sekedar ngobrol dengan kami. Tak jarang mereka datang di luar jadwal pertemuan untuk sekedar bertemu atau bersalaman dan mencium tangan kami sambil berkata, “Apa kabar Ayah dan Ibunda?” atau “Ayah dan Ibunda sehat kan?” Kalimat-kalimat yang mereka ucapkan cukup sederhana, tetapi dalam artinya bagi kami. Bukan karena merasa dihormati, tetapi kami merasa seolah menemukan kembali anak-anak kami yang seolah hilang dalam kedewasaan mereka.</p>
<p style="text-align: justify;">Suatu hari isteriku diajak teman-temannya jalan-jalan ke Australia. Tentu saja isteriku antusias menanggapi ajakan mereka, karena sekalian menengok Arga dan Bagas anak-anak kami. Dan benar saja (walaupun kalau minta ijin pasti aku berikan) tanpa minta persetujuanku mereka berangkat ke Australia. Setengah delapan pagi mereka pamit. Aku tertawa mengiring kepergian mereka di pintu rumahku.</p>
<p style="text-align: justify;">“Dasar nenek-nenek centil…” gumamku saat dengan manja isteriku pamitan. Dia hanya tersenyum mendengarnya. Sambil tetap tersenyum dia melambaikan tangannya dari balik jendela mobil yang akan membawa ke Bandara Ahmad Yani.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah mereka berangkat kesepian menyergapku. Kulampiaskan rasa sepi dengan berlatih fitness di gym pribadiku yang ada di lantai dua. Setelah warming up dengan cukup, aku memacu treadmill dengan kecepatan agak tinggi sambil mendengarkan musik lewat ipod. Setengah jam aku berpacu di atas treadmill. Keringat yang mengucur deras akibat pacuan treadmill membuat aku gerah. Rupanya aku masih memakai kemeja yang aku pakai waktu mengiring kepergian isteriku. Tanpa berhenti berlari di atas treadmill aku lepas bajuku dan kulempar ke sudut ruang gym lalu kulanjutkan memacu treadmill dengan penuh semangat.</p>
<p style="text-align: justify;">Tiba-tiba dari pantulan cermin di depanku nampak pintu gym pribadiku terbuka dan muncullah seorang gadis dengan seragam putih abu-abu yang sangat kukenal. Dia adalah Laras, anak asuhku yang paling aku banggakan. Selain cantik dia juga cerdas dan cekatan. Rencananya setelah lulus SMA nanti, Laras akan kubiayai untuk kuliah di RMIT agar bisa aku tempatkan di salah satu perusahaanku sebagai manajer setelah lulus kelak. Terlalu sayang kalau anak cerdas dan cekatan seperti Laras tidak mendapatkan pendidikan yang terbaik. Namun aku tak pernah memberi tahu rencana ini kepada siapapun kecuali isteri dan anak-anakku.</p>
<p style="text-align: justify;">“Ayah…” sapanya manja sambil mendekat. “Bunda pergi ya..?”<br />
“Yups” sahutku sambil terus memacu treadmill. “Darimana kamu tahu?”<br />
“Mbak Ayu yang kasi tahu, Yah” kata Laras sambil duduk di shoulder press machine. Ayu adalah pembantuku.<br />
“Baru jam sembilan lebih sedikit kok sudah pulang? Bolos ya..?” kataku sambil senyum<br />
“Tidak ada kata membolos dalam kamus anak Ayah” kata Laras sambil tertawa. “Laras habis uji coba ujian nasional, Ayah. Hari ini hari terakhir uji cobanya, jadi setelah uji coba selesai, Laras langsung kemari.” Kata Laras menjelaskan. “Sayang Laras tidak ketemu Ibunda…” katanya dengan wajahnya berubah jadi sedih.<br />
“Ada perlu sama Ibunda?” tanyaku ketika melihat wajahnya yang sedih<br />
“Kangen sama Ayah dan Ibunda. Dua minggu Laras tidak kemari rasanya lama sekali”</p>
<p style="text-align: justify;">Bangga dan bahagia merembes dalam hatiku ketika mendengar Laras merasa kangen pada kami. Aku tatap mata Laras sambil tersenyum. Laras memang yatim piatu. Orang tuanya bercerai waktu dia masih bayi, dan ibunya meninggal ketika dia baru berumur dua tahun. Saat itulah aku lewat dan melihat orang bergerombol di trotoar sebuah taman kota. Ada dua mobil polisi dan sebuah ambulan. Aku suruh sopir untuk berhenti dan melihat apa yang terjadi. Ternyata ada seorang tunawisma tewas dengan anak masih berumur dua tahun. Segera aku turun dari mobil dan menghampiri perwira polisi yang sedang memberi komando kepada anak buahnya. Ternyata dia mengenal aku sebagai bapak asuh dari anak-anak jalanan. Ketika aku bilang agar anak kecil itu di antar ke rumah asuh-ku , mereka langsung setuju. Sejak saat itu anak tadi aku beri nama Larasati karena tidak ada catatan tentang nama dia yang sebenarnya. Kini, empat belas tahun kemudian, anak itu sudah tumbuh menjadi gadis remaja yang cantik dan ada di depanku. Seandainya aku punya anak perempuan…</p>
<p style="text-align: justify;">“Ayah melamun?” Tanya Laras mengejutkanku<br />
“Ah tidak” kataku sambil senyum “Kamu sudah besar sekarang”<br />
“Kelihatannya Ayah sedih..?” katanya sambil mendekat.<br />
“Enggak… Ayah enggak apa-apa” kataku meyakinkan Laras. “Oh ya! Suruh Ayu menyiapkan makan siang sementara Ayah mandi. Banyak keringat.. lengket nih..” kataku sambil turun dari treadmill.</p>
<p style="text-align: justify;">Laras menghampiri aku dengan membuka tangannya lebar-lebar ingin memeluk.<br />
“Hei… Ayah masih berkeringat… bau lagi!” kataku sambil berusaha menahan pelukan Laras. “Nanti saja peluknya setelah ayah mandi hehehe…”<br />
“Ahhh.. Ayah…” kata Laras sambil merengek. “masa obat kangennya nunggu ayah mandi sih..”</p>
<p style="text-align: justify;">Akhirnya kudekap Laras dengan penuh kasih sayang. Kasih sayang seorang lelaki tua yang merindukan anak perempuannya. Kuangkat wajah Laras dan kucium ubun-ubun dan keningnya. Pelukan Laras makin erat. Kubelai rambut Laras yang dipotong pendek.</p>
<p style="text-align: justify;">“Ih… dada Ayah asin…” kata Laras tiba-tiba sambil tertawa<br />
“Kamu sih… ngotot minta peluk, Ayah sudah bilang, masih berkeringat…” jawabku sambil menjatuhkan kepalan tangan kananku pelan ke atas ubun-ubunnya. “Udah Ayah mandi dulu, setelah mandi kita makan di luar aja…”<br />
“Ayah bau.. asin dan asem jadi satu” kata Laras sambil tertawa ketika berlari menuruni tangga.<br />
“Hahaha… Salah sendiri minta dipeluk” sahutku setengah berteriak. Aku segera mengambil baju yang tadi aku lempar dan turun menuju kamar mandi yang ada di dalam kamarku di lantai satu. Semburan shower benar-benar menyegarkan tubuhku. Selesai mandi aku keluar dengan handuk melilit tubuhku. Ternyata Laras ada di dalam kamarku.<br />
“Hey… ayo keluar dulu. Ayah mau ganti pakaian” kataku.</p>
<p style="text-align: justify;">Laras berdiri sambil tersenyum. Tangannya mengembang dan setengah berlari menubruk aku.</p>
<p style="text-align: justify;">“Aku masih kangen.. aku pengen dipeluk Ayah lagi..” kata Laras sambil memeluk ku. Sekali lagi kubelai rambut Laras yang sedang mengelus-elus dadaku kiriku sambil menyandarkan kepalanya di bahu kananku.<br />
“Berapa sih umur ayah?” katanya sambil menatap dada dan six packs di perutku.<br />
“Emang kenapa dengan umur Ayah?”<br />
“Pengen tahu aja.. Kok badannya masih bagus dan kecang. Juga nggak ada di kerutan wajah Ayah…” suara Laras seperti kagum.<br />
“Tumben nanya-nanya umur… Coba kamu tebak aja”<br />
“Empat puluh sekian”<br />
“Ah.. anak Ayah kok jadi o’on sekarang..” kataku sambil tertawa. “Masa orang berumur empat puluhan sudah punya anak berumur 32 tahun. Emangnya ayah nikah umur berapa?”<br />
“Masa Ayah umurnya lebih dari 50 tahun sih…” jawab Laras. “tuh.. badannya aja masih kenceng dan berotot gini..” kata laras sambil berusaha mencubit dadaku, tapi gagal karena ototnya terlalu penuh dan padat kencang untuk dicubit.<br />
“Nyubitnya aja susah…” katanya lagi.<br />
“Ayah sudah 58 tahun, Laras… Ini semua karena Ayah rajin berolah raga dan selalu makan sayuran dan buah” jawabku.</p>
<p style="text-align: justify;">Kurasakan tangan Laras mengelus-elus punggungku. Sementara tangan satunya mempererat pelukannya. Wajahnya menempel ketat di dadaku. Mulutnya tersenyum damai sambil matanya terpejam. Laras mengelus punggungku dengan ujung kukunya dengan lembut. Ujung kukunya terasa meraba, bukan mengelus dari pangkal leher turun sepanjang tulang belakangku dan berhenti di bagian bawah pinggangku karena terhalang handuk, tapi gerakan ujung kuku Laras tidak berhenti tetapi bermain-main melingkar pinggangku. Gerakan kuku Laras membuat kelaki-lakianku bangkit. Aku angkat wajah Laras. Aku cium lagi ubun-ubun dan keningnya. Laras masih terpejam, tapi bibirnya tidak lagi tersenyum melainkan setengah terbuka.</p>
<p style="text-align: justify;">“Ayaahhh…” Laras melenguh. Tiba-tiba dia menjilat dadaku dan menggigit putingku sambil memainkan lidahnya.<br />
Sesaat aku sadar. Laras adalah anak asuhku dan sudah aku anggap anak sendiri.</p>
<p style="text-align: justify;">“Sudah Laras… Ayah mau pakai pakaian dulu, terus kita makan di resto..” kataku sambil berusaha melepaskan diri dari pelukan Laras. Bagaimanapun juga aku harus menghentikan rangsangan yang sudah hampir menghancurkan akal sehatku. Bukannya melepaskan, Laras malah makin mempererat pelukannya. Bibirnya dan lidahnya terus bermain di dadaku. Tak lagi aku mampu mencegah, penisku langsung ereksi.<br />
“Apakah aku nggak boleh merasakan kasih sayang Ayah?” sahut Laras sambil terus mengigit-gigit dadaku. Lidahnya menjilat-jilat. Aku sudah tak lagi mampu membendung nafsuku. Kuangkat wajah Laras, Kucium keningnya, lalu mata kiri dan kanannya.<br />
“Ahhh.. Ayah… Laras sayang Ayah… Ahhh” Laras mendesah dengan dengusan nafas yang tersengal.</p>
<p style="text-align: justify;">Matanya terbuka sedikit, tapi hanya putih bola matanya yang nampak. Bibirnya yang merekah basah mengkilat mengundangku untuk mengulum dan menghisapnya. Tanpa sadar aku mengecup bibir Laras dan melumatnya dengan lebut. Laras membalas dengan menghisap bibirku. Lidahnya menjulur masuk ke dalam mulutku. Menyapu seluruh relung rongga mulutku dan menggosok-gosok gusiku. Aku hisap lidah Laras sambil aku kaitkan lidahku pada lidahnya. Agak lama kami bermain-main dengan lidah. Kami saling hisap, saling gosok rongga mulut, dan saling mengaitkan lidah. Tanganku meremas pelan payudara Laras dari luar baju seragam. Bra yang dikenakan cukup tipis membuat aku bisa merasakan kenyal dan lembutnya payudara Laras.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku benar-benar dikuasai nafsu sekarang. Kulepas bibirku dari bibirnya, lalu aku susuri lehernya yang jenjang dengan bibir dan lidahku. Kugunakan kedua bibirku untuk menggigit leher Laras. Kemudian kucium dan kuhisap telinga Laras. Aku korek telinganya dengan lidahku sambil sekali-sekali menjilat dan menghisap bagian belakang telinganya. Akibat tindakanku itu Laras menggelinjang. Nafasnya terengah-engah. Mulutnya berkali-kali mengerang melampiaskan nafsunya yang makin meledak.</p>
<p style="text-align: justify;">“Ayaaahhh… sayangi Laras… Yaaahhh…” Laras mendesah.<br />
“Ayyaahh ssaayyang Larasss… sshhh” jawabku sambil terus mencium dan menghisap lehenr dan telinganya.</p>
<p style="text-align: justify;">Tangannya mengapai penisku dari luar handuk lalu meremasnya. Laras kemudian menyibakkan handuk yang aku pakai dan merogoh penisku yang sudah sangat tegang. Handuk yang melilit di pinggangku dilepaskannya. Sejenak dia diam sambil menatap penisku.</p>
<p style="text-align: justify;">“Kenapa sayang..” tanyaku saat Laras berdiam diri.<br />
“Enggak apa-apa… Cuma heran… kok penis Ayah segede ini ternyata…” jawab Laras sambil meraih penisku dan meremas-remas.</p>
<p style="text-align: justify;">Cairan kenal bening sedikit mengalir keluar dari penisku. Laras menggunakan cairan itu untuk mengusap kepala penisku dengan jempolnya yang mungil dan halus. Jempol itu diputar-putar di kepala penisku yang licin karena cairan yang keluar dari ujung penisku. Nikmat sekali rasanya.</p>
<p style="text-align: justify;">“Laraasss.. hhh…” aku mendesah karena nikmat.</p>
<p style="text-align: justify;">Segera aku buka kancing baju seragamnya. Tampak bra ukuran 34-B warna kulit membungkus payudara Laras yang bulat dan kencang. Bra itu terlalu tipis sehingga mencetak bentu payudara Laras dan putingnya. Aku kecup dan jilat pangkal payudaranya, kemudian aku gigit dengan bibirku sambil menghisapnya. Dengan tak sabar segera aku buka baju seragam Laras, lalu aku raih kait bra yang ada di punggung Laras untuk melepasnya. Laras telanjang dada sekarang. Payudaranya bulat indah dengan puting yang mengeras berwarna cokelat muda kemerahan. Kurendahkan tubuhku agar dapat kukecup puting Laras. Laras memeluku sambil mendesis-desis.</p>
<p style="text-align: justify;">Dengan penuh kelembutan aku nikmati sepenuhnya payudara Laras. Dengan cara menghisap, menjilat, dan mengulumnya. Lidahku menelusuri tiap sentimeter payudaranya yang kenyal. Puting yang mengeras aku hisap dan aku pilin dengan lidahku. Erangan demi erangan keluar dari mulut Laras. Erangan yang menggairahkan naluri birahiku.</p>
<p style="text-align: justify;">“Ahhh.. sshhh… Ayaaahh… nikmaatt…terussss…. Aaahhh…” Laras mendesis-desis.</p>
<p style="text-align: justify;">Tangan kanannya menekan kepalaku sementara tangan kirinya meremas dadaku dan memilin putingku. Berganti-ganti payudara kanan dan kirinya aku jilat, aku sedot dan aku gigit pelan-pelan. Setelah puas menghisap payudara Laras, aku arahkan lidahku ke perut Laras. Lidahku menari dengan penuh perasaan di permukaan perut Laras. Agar tak menghalangi aksiku, segera kuraih kancing rok seragam Laras dan membukanya. Aku tarik resletingnya ke bawah. Rok yang dipakai Laras pun melorot dan lepas. Kini Laras hanya memakai celana dalam berwarna kulit senada dengan branya. Lidahku berpindah menari di pusarnya. Perlahan lidahku bergerak ke bawah. Di antara pusar dan karet celana dalamnya aku jilat dan aku sedot dengan bibirku.</p>
<p style="text-align: justify;">Kemudian sambil jongkok, kulihat celana dalam Laras basah di bagian vaginanya. Segera aku gigit perlahan-lahan vagina Laras dari luar celana dalamnya sambil kuletakkan kedua tanganku di pantatnya untuk meremas-remas pantat yang masih kencang dan padat.</p>
<p style="text-align: justify;">“Aahhh Ayaahh…” desah Laras sambil menekan kepalaku ke vaginanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Pinggulnya bergerak maju mundur perlahan. Sambil meremas pantatnya, aku selipkan jariku ke dalam celana dalamnya. Aku usapkan jari-jariku di belahan pantat Laras. Laras menggelinjang lagi sehingga vaginanya menabrak mukaku dengan agak keras karena kepalaku juga ditarik ke arah vaginanya. Segera aku pelorotkan celana dalam Laras ke bawah hingga terlepas. Vagina Laras benar-benar menawan. Vaginanya tebal dan penuh dengan selakang putih bersih di kanan kirinyanya. Bulu-bulu halus yang tumbuh di sekitar vagina masih belum sempurna menambah daya tarik vagina yang baru matang. Ada cairan yang merembes keluar. Rupanya Laras benar-benar telah terangsang. Aku usap bibir vagina luarnya dengan jempol kananku. Cairan vaginanya membuat jempolku dengan licin mengusap vagina Laras. Permainaku aku lanjutkan ke klitoris Laras. Mula-mula aku usap klitoris Laras dengan jempolku, kemudian sambil menekan klitorisnya, jempolku bergerak memutar mengitari klitorisnya. Setelah itu dengan jari dan jempol aku pijit klitoris Laras lalu aku urut dari atas ke bawah.</p>
<p style="text-align: justify;">“Ayahhh.. aku sayang Ayah…” Laras mengerang sambil menggelinjang.<br />
“Iya.. Ayah juga sayang Laras…”</p>
<p style="text-align: justify;">Kupuaskan mataku untuk melihat vagina gadis yang baru mekar ini sambil terus memainkan jempol dan jariku di bibir vagina dan klitorisnya. Dengan jari-jari dan jempol tangan kiriku, kusibak kedua bibir vagina Laras. Tampak bagian dalam vagina laras berwarna merah muda yang terus mengeluarkan cairan sedikit demi sedikit. Jempol kananku kupercepat mengusap mengitari klitoris Laras. Tiba-tiba Laras menjambak rambutku dan menariknya mendekatkan wajahku ke vaginanya. Segera aku hisap vagina Laras. Lidahku perlahan menjilat-jilat vagina dan klitoris Laras seperti kucing mandi.</p>
<p style="text-align: justify;">“Ayah.. uh… nikmat….”</p>
<p style="text-align: justify;">Kujawab lenguhan Laras dengan memainkan lidahku di lubang vaginanya. Lalu dengan cepat aku sedot klitoris Laras sambil memasukkan lidahku ke dalam lubang vaginanya. Kugunakan lidahku untuk menusuk dan mengorek lubang vaginanya. Laras menggerakkan pinggulnya mengikuti gerakan lidah dan mulutku yang melumat vaginanya. Kusedot vaginanya sambil memutar lidahku di klitoris Laras. Jambakan pada rambutku makin kencang. Kepalaku dihentak-hentakkan ke arah vaginanya. Tak kubiarkan gadis yang masih segar ini untuk berlama-lama tersiksa menanti orgasme. Kutusukkan lidahku ke dalam vaginanya sambil kugetarkan dengan cepat. Lalu dan tubuh Laras menggelinjang hebat, dia berdiri sambil meliuk-liuk seolah pohon cemara yang tertiup puting beliung. Kemudian Tubuhnya mengejang kemudian dia melolong keras dan panjang.</p>
<p style="text-align: justify;">“Ayyyaaahh…. Ah…uh…. Aku mau pipis…” teriak Laras sebagai cara menikmati orgasmenya.<br />
“Keluarkan saja sayang… supaya Laras merasakan kenikmatannya” kataku memberi instruksi di sela jikatanku di klitorinya yang makin cepat.<br />
“Tapi Ayah…. Auw..aahhh…” Laras kembali teriak dan mengerang. “nikmat banget… Laras puas… puas Yah…”</p>
<p style="text-align: justify;">Dan… serrr…serrr cairan orgasme Laras mengalir dengan deras. Tubuhnya membungkuk ke depan kemudian mendongak seperti akan terjatuh ke belakang. Tubuh Laras makin mengejang. Kembali cairan orgasme Laras mengucur. Tangan kananku berusaha menopang tubuh Laras yang bergerak liar sambil kejang-kejang. Sedotanku di vaginanya makin intens, menyedot habis cairan orgasmenya sambil menjilat-jilatinya.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah beberapa saat, perlahan aku berdiri. Tanganku tetap menopang tubuh Laras yang kini terkulai lemas dan lututnya menggigil akibat orgasme yang dia alami. Laras memeluku sambil bergayut dengan terpejam dan menggigit bibirnya bawahnya sendiri. Segera aku menenangkan Laras dengan mencium kedua matanya, pipinya, hidungnya dan kemudian aku hisap bibirnya.</p>
<p style="text-align: justify;">“Ayah….” Laras memanggil sambil matanya tetap terpejam.<br />
“Ya sayang…?”<br />
“Ayah sayang Laras..?”<br />
“Tentu, Ayah sayang Laras” jawabku sambil terus menciumi wajahnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Laras mempererat dekapannya untuk menjaga keseimbangan agar tak jatuh. Agar lebih mudah menopangnya, tubuh Laras aku balik sehingga dia membungkuk membelakangi aku. Sambil tetap bertahan untuk berdiri, aku peluk tubuhnya dari belakang. Aku kecup tengkuknya. Aku cium sekujur punggungnya sementara tangan kananku menopang tubuh Laras sedangkan tangan kiriku bermain-main kecil di vaginanya. Penisku yang masih berdiri dengan gagah aku gesek-gesekkan di belahan pantatnya. Tapi rupanya Laras sudah tak mampu berdiri lagi. Segera aku menggendong Laras sambil mencium bibirnya yang menyunggingkan senyuman. Matanya sayu menatapku mesra. Aku baringkan Laras pelan-pelan di tempat tidur tanpa melepaskan hisapan bibirku di bibirnya. Kemudian aku berbaring miring di samping Laras dengan posisi menghadap ke arahnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Sambil menatap gadis muda yang sedang mekar itu. Aku belai wajahnya. Nafasnya sudah tidak tersengal lagi dan mulai teratur. Sementara itu ketegangan penis mulai turun. Aku peluk Laras. Wajahnya aku benamkan di dadaku. Komunikasi tanpa kata-kata ini membuat Laras tersenyum. Tangannya menggapai meraih wajahku lalu menariknya ke arah wajahnya kemudian Laras melumat bibirku. Aku mencoba pasif dengan membalas sekedarnya. Laras menjilat dan menghisap seluruh permukaan wajahku. Lidahnya lincah menari-nari membuat aku tak tahan bersikap pasif. Aku pagut bibir Laras dan menghisapnya kuat-kuat. Laras bangkit menindihku. Kubiarkan aksinya yang liar menjilat sekujur tubuhku. Tangannya meremas penisku dan mengocoknya. Kemudian ujung penisku dijilat dan dikulum sambil disedot. Mula-mula dengan halus dan pelan. Aku benar-benar melayang dibuatnya. Rasa nikmat menjalar dari ujung penis sampai ke sekujur sumsum tulangku.</p>
<p style="text-align: justify;">Penisku perlahan-lahan kembali tegang. Tak tahan dengan perlakuan Laras atas penisku, aku bangkit dan kubalik tubuh Laras sehingga dia ada di bawah kembali. Laras meronta dan protes.</p>
<p style="text-align: justify;">“Ayah kok gitu sih… Biarkan Laras di atas dong… Laras ingin Ayah menikmati aja permainan Laras” katanya sambil berontak.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku ingin sedikit menggoda Laras, oleh karena itu aku tak memberi kesempatan kepada dia untuk berada di atas. Segera aku kulum puting Laras dan mengisapnya sambil memutar-mutar lidahku. Kembali Laras menggelinjang dan tak mampu berontak dan protes lagi.</p>
<p style="text-align: justify;">“Ayah nakal&#8230;” kata Laras sambil melingkarkan tangannya di leherku.</p>
<p style="text-align: justify;">Kepalaku ditekan ke bawah sampai-sampai kepalaku terbenam dalam lembah di antara payudara Laras. Kemudian tangannya mengapai penisku yang sudah sangat tegang. Kubiarkan Laras meremas dan mengocok penisku sambil mengisap payudaranya. Aku ingin menikmati aksi tangannya terhadap penisku. Sekali lagi cairan yang keluar dari ujung penis digunakan Laras untuk mengelus kepala penisku dengan jempolnya. Sambil mengelus kepala penisku Laras mengocok batang penisku.</p>
<p style="text-align: justify;">Mula-mula Laras menggocok maju mundur dengan lembut, lama kelamaan kocokannya diputar ke kiri dan ke kanan dengan cepat seperti orang mengulek sambel. Akan tetapi karena posisi Laras di bawah, dia tidak leluasa dan aku merasa kurang nikmat. Laras minta sekali lagi agar aku yang berada di bawah. Aku jawab permintaan Laras dengan menjepit tubuhnya dengan kakiku dan memeluknya erat-erat. Kemudian aku berguling menjatuhkan diri ke samping kiri sambil mengangkat tubuhnya sehingga dia ada di posisi atas. Rupanya Laras tidak siap ketika aku berguling.</p>
<p style="text-align: justify;">“Auw… Hihihi…” Laras memekik lalu tertawa. “Ayah bener-bener nakal… Masa Laras dibikin kaget sih…”<br />
“Kan Laras tadi yang minta di atas…” sahutku sambil meremas payudaranya dan memelintir putingnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Laras menghentikan jawabanku dengan mengulum mulutku. Lidahnya mencari-cari lidahku. Setelah bertemu lidahku dikait-kait dengan lidahnya. Aku hanya memberi reaksi seperlunya. Aku biarkan Laras bermain-main dengan mulut dan lidahku, Sementara vaginanya digesek-gesekkan ke penisku. Penisku yang sejak tadi tegang dan keras berkali-kali menyodok klitorisnya. Laras bergerak maju mundur sambil mendesis-desis. Karena gesekan vagina dan klitoris Laras, penisku terasa hangat dan basah oleh cairan yang keluar dari vagina Laras.</p>
<p style="text-align: justify;">Ciuman Laras berhenti, bibir dan lidahnya menyusuri wajahku, mencium telingaku dan leherku. Gerakan lidahnya lincah sekali berpindah menyusuri kulit dadaku. Bibirnya mengecup dan menghisap-hisap putingku, sambil terus menggesekkan vagina dan klitorisnya di penisku. Kini Laras duduk sambil terus bergerak maju mundur sambil menekan penisku dengan vagina dan klitorisnya. Gerakan Laras makin cepat. Dia nampak merasakan nikmatnya gesekan vagina dan klitorisnya dengan penisku. Matanya terpejam sementara bibirnya mendesis dan mengerang. Kubantu Laras memenuhi kenikmatan yang diperolehnya dengan meremas-remas payudaranya serta memutar-mutar putingnya.</p>
<p style="text-align: justify;">“Aahh.. Ayah… Nikmat sekali…” kata Laras sambil mempercepat gerakkannya.</p>
<p style="text-align: justify;">Tubuhnya melengkung bungkuk ke depan, lengannya bertumpu pada dadaku. Mukanya menunduk dengan mata terpejam. Bibir bawahnya digigit sendiri. Sesekali Laras mendongak ke belakang, lalu membungkuk lagi. Kugunakan tangan kananku untuk meremas payudara Laras dan memilin putingnya, tangan kiriku meremas-remas pantat Laras. Sesekali aku oleskan jariku ke bagian luar anusnya setelah aku basahi dengan ludahku, dan setiap jariku mengoles anusnya, Laras memekik. Gerakan Laras makin cepat dan liar. Rupanya dia segera akan mendapatkan orgasme lagi.</p>
<p style="text-align: justify;">“Ayah… ah…ah..uh.. Laras mau pipis lagi…”</p>
<p style="text-align: justify;">Kembali tubuh laras mengejang beberapa saat, cairan vaginanya keluar dengan deras kembali. Pantatnya menekan ke bawah menjepit penisku dengan kedua bibir vaginanya. Klitorisnya terasa berdenyut-denyut kenyal. Laras yang lemas tak berdaya menjatuhkan diri di dadaku kemudian memeluku lalu dengan gemas diciumnya leher dan dadaku. Aku diamkan Laras untuk beristirahat. Sambil membelai dan menciumi kening dan matanya. Bagaimanapun juga dua kali orgasme tentu membuatnya lelah. Perlahan-lahan Laras membuka matanya dan tersenyum.</p>
<p style="text-align: justify;">“Ayah… Ayah hebat…” kata Laras dibarengi senyum. “aku bisa keluar dua kali tanpa bersetubuh”</p>
<p style="text-align: justify;">Sepertinya Laras merasakan penisku kini kembali tegang dan terasa mengganjal tertindih tubuhnya, walau tadi sempat menurun kekerasannya tapi belum sampai benar-benar lembek,. Aku peluk Laras sambil mengelus punggungnya. Beberapa saat kemudian Laras mencium lagi leherku sambil disedot dan dijilat. Penisku yang mengganjal vaginanya kembali tergesek-gesek karena Laras mulai menggoyangkan pinggulnya. Gerakannya mula-mula pelan dan tidak teratur, lama kelamaan gerakanya kurasakan memutar ke kiri, kemudian ke kanan. Hal ini membuat penisku terasa nikmat.</p>
<p style="text-align: justify;">“Ah… Laras…” aku mendesah. Aku tidak bisa melanjutkan perkataanku karena Laras segera mencium bibirku dan melumatnya.<br />
“Ayah nggak boleh boleh nakal lagi… Ayah harus nurut sama Laras. Laras nggak boleh dibalik di bawah lagi..” kata Laras sambil terus menggoyangkan pinggulnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku hanya menggangguk sambil mendesah menikmati gerakan dan gesekan vagina Laras di penisku. Laras kembali duduk sambil terus menggesekkan vaginanya di penisku. Kemudia, tanpa dikomando Laras mundur ke belakang kemudian bersimpuh di antara kedua lututku dan meraih penisku, lalu dikocoknya sambil kembali mengelus kepala penisku yang basah karena cairan orgasmenya sendiri dengan jempolnya. Tiba-tiba Laras sudah mengulum penisku. Lidahnya berusaha menari di dalam rongga mulutnya yang penuh dengan penisku. Usaha Laras untuk memuaskanku dengan oral cukup keras. Dia berusaha memasukkan semua penisku ke dalam mulutnya yang tentu saja tak akan bisa. baru separo saja penisku sudah memenuhi rongga mulutnya. Berkali-kali Laras hampir tersedak karena penisku menyodok tenggorokannya dan masuk ke dalam kerongkongannya. Aku merasakan kenikmatan yang luar biasa ketika penisku masuk dalam kerongkongannya. Serasa dijepit dan dikocok benda lunak yang kenyal.</p>
<p style="text-align: justify;">Walaupun aku merasakan kenikmatan yang luar biasa dengan cara Laras meng-oral penisku aku merasa kasihan juga melihat dia berkali-kali hampir tersedak, aku raih lengan Laras dan aku tarik tubuhnya. Laras menggelengkan kepalanya sebagai tanda menolak dan ingin bertahan dengan posisinya.</p>
<p style="text-align: justify;">“Aku juga pengen cium vagina Laras..” kataku, tapi Laras tetap bergeming, asyik dengan penisku.</p>
<p style="text-align: justify;">Lama-kelamaan pertahananku hampir jebol. Kocokan mulut dan kerongkongan Laras membuat penisku berdenyut-denyut. Segera aku duduk dan meraih badan Laras.</p>
<p style="text-align: justify;">“Laras… Ayah udah ga kuat…” Kataku sambil meraih kedua lengan Laras. Penisku yang terlepas dari mulutnya tampak keras dan ujungnya berwarna kemerah-merahan.<br />
“Ayah belum ejakulasi. Aku mau…“ protes Laras tak berlanjut karma aku aku lumat bibirnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Segera aku posisikan Laras di bawah lagi dan dengan lembut aku cium dan aku hisap payudaranya. Kemudian aku tindih Laras sambil terus mengulum dan memainkan putingnya. Laras mendesis, dan aku bergerak menyusuri tubuhnya dengan lidahku. Saat sampai di vaginanya, dengan rakus aku hisap cairan yang merembes keluar. Lidahku kembali memainkan klitorisnya lalu memasuki liang vaginanya secara berganti-ganti. Laras menjerit kecil. Kepalaku dijepit dengan kedua pahanya sambil ditekan dengan kedua tangannya. Laras kembali terangsang hebat. Aku ingin memasukkan penisku ke dalam vaginanya</p>
<p style="text-align: justify;">Aku segera bangkit dan kembali menindih tubuh Laras. Penisku yang sudah sangat tegang berada di bibir vaginanya. Perlahan aku gesekkan kepala penisku di klitorisnya. Laras mendesis sambil memejamkan mata. Dengan perlahan gesekan penisku bergeser ke bawah dan ujungnya masuk ke dalam vagina Laras. Laras menggigit bibirnya sambil meringis. Aku tarik kembali penisku dan pelan-pelan kembali aku masukkan. Walaupun liang vagina Laras sudah sangat basah, ternyata sulit juga penisku melakukan penetrasi. Vagina Laras masih sempit, atau kemungkinan besar masih perawan. Tusukan penisku kuhentikan. Laras membuka matanya dan tersenyum.</p>
<p style="text-align: justify;">“Ayah… Pelan-pelan masukinnya ya…” kata Laras sambil mengelus dan meremas dadaku.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku jawab permintaan Laras dengan mendorong penisku sedikit lagi. Laras menahan nafas sambil berjengit. Sekarang sudah seperempat bagian yang masuk ke dalam vagina Laras. Aku cium dan aku kulum puting Laras. Laras membuka matanya. Kembali aku lihat senyuman Laras.</p>
<p style="text-align: justify;">“Masukin lagi Yah… Tapi pelan-pelan ya…”<br />
“Ya sayang… Ayah akan pelan-pelan masukinnya. Sakit ya..?” tanyaku sambil mendorong kembali penisku. Kini sudah separo yang masuk.<br />
“Enggak sakit…” kata Laras sambil menggelengkan kepalanya. “Laras ingin Ayah masukin semuanya ke dalam… Auw…sshhh” Laras kembali memekik kecil ketika penisku aku tarik keluar perlahan dan aku masukkan lagi.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku tahu Laras kesakitan ketika penisku maju memasuki vaginanya lebih dalam lagi. Air matanya meleleh, tapi hebatnya, dia masih menyunggingkan senyuman. Aku kocok penisku pelan-pelan yang baru masuk setengahnya.</p>
<p style="text-align: justify;">“Ayo&#8230; masukin lagi Yah… biar tuntas…” Laras kembali memintaku untuk memasukkan penisku lebih dalam.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku kasihan melihat dia meringis kesakitan ketika penisku keluar masuk, walaupun baru setengah bagian. Aku luruskan tangan kananku agar bisa menopang tubuhku dengan posisi setengah tegak. Dengan demikian satu tanganku bisa leluasa mengelus vaginanya. Aku pijit-pijit dengan lembut klitoris Laras, kemudian jempolku aku putar-putar di klitorisnya. Laras melingkarkan kedua kakinya dipinggangku, dan tanpa aku duga, dia angkat pinggulnya dengan keras dan cepat sambil menekan pantatku dengan kedua telapak kakinya sehingga penisku masuk semuanya.</p>
<p style="text-align: justify;">“Aaww…” Laras menjerit kesakitan sendiri akibat tindakannya itu. Wajahnya memerah menahan sakit.<br />
“”Laras… Sakit ya…?” kataku sambil mencium bibirnya untuk menenangkan. “Ayah akan pelan-pelan supaya sakitnya hilang dan berganti dengan nikmat.”</p>
<p style="text-align: justify;">Laras berusaha tersenyum walapun masih terlihat ekspresi kesakitannya. Aku diam sejenak agar vagina Laras menyesuaikan diri dengan penisku. Kemudian perlahan aku angkat penisku sampai keluar tiga per empatnya, lalu aku dorong masuk lagi. Laras masih menahan nyeri, terlihat dia menggigit bibir sambil meringis. Air matanya merembes keluar lagi. Aku tarik lagi penisku, lalu aku masukkan lagi berulang-ulang dengan pelan. Laras membuka matanya menatapku. Kuberi Laras senyuman yang dia balas dengan rangkulan mesra dan mencium bibirku. Gerakan penisku makin mantap keluar masuk vaginanya walaupun dengan kecepatan tidak sampai maksimal. Laras mulai menggoyangkan pinggulnya dan mendesah.</p>
<p style="text-align: justify;">“Ayah… terus…”<br />
“Nggak sakit kan sayang…” bisikku di telinga Laras sambil menjilatinya.</p>
<p style="text-align: justify;">Laras tersenyum menatapku, kemudian diraihnya kepalaku lalu bibirku dilumat dan disedot. Lidahnya menari di dalam rongga mulutku. setelah yakin Laras tidak kesakitan lagi, aku percepat gerakan penisku sedangkan Laras juga makin mantap memutar pinggulnya. Kakinya tetap melingkar di pinggangku, sementara telapak kakinya yang ada di atas pantatku menghentak-hentakkan pinggulku hingga makin dalam tusukkan penisku di vaginanya. Laras terlihat sangat menikmati persetubuhan ini. Berkali-kali dia mendesah dan mengerang karena nikmat. Matanya kadang menatapku sambil tersenyum lalu terpejam menikmati tusukkan penisku di vaginanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku juga sangat menikmati goyangan pantat Laras. Vaginanya terasa sempit dan licin, sehingga menambah rasa nikmat yang muncul di batang penisku. Vagina Laras seperti mempunyai jari yang meremas penisku. Remasan vagina Laras makin nikmat ketika dia memutar pinggulnya. Penisku serasa disedot dan dipijit vagina Laras. Kaki Laras makin erat menjepit pinggangku dari sisi kanan dan kiri, sementara telapak kakinya makin kencang menghentakkan pantatku.</p>
<p style="text-align: justify;">Kemudian aku mengambil posisi agak tegak dengan meluruskan tanganku yang bertumpu di springbed. Kembali aku pompa vagina Laras sambil bertumpu dengan jari kakiku seperti orang push up. Akibatnya, tusukkan penisku makin mantap dan makin dalam. Laras berkali-kali menjerit dan mengerang karena keluar masuknya penisku. Tangan Laras berusaha menggapai kepalaku. setelah didapatkan, kepalaku ditarik. Aku menjatuhkan diri perlahan sambil bibirku mengulum putingnya, lalu Laras memelukku dengan erat sambil meraih kepalaku kemudian menciumi wajahku. Bibirnya dengan ganas dan liar melumat dan menyedot bibirku, sementara goyangan pinggul Laras dan hentakan penisku di vaginanya makin cepat, bibir Laras dengan cepat mengulum telingaku hingga aku menggelinjang nikmat. Lidahnya menyusup di dalam daun telingaku dan mengkorek-korek lubang telingaku. Kurasakan vagina Laras sudah sangat basah dan semakin licin sehingga penisku makin mudah keluar masuk di dalamnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Kurasakan kaitan kaki Laras makin erat, hentakan telapak kakinya dipantatku makin keras, tetapi tidak langsung dilepas seperti tadi, melainkan waktu penisku menghujam di vaginanya, Laras menekan pinggulku akan lama dan tentu saja penis agak lama juga berdiam diri di dalam vagina Laras. Yang kurasakan saat penisku berdiam di dalam vagina Laras beberpa detik, terasa vaginanya makin hangat dan makin basah, hingga sampai suatu saat Laras memekik sambil mengangkat pantatnya tinggi-tinggi. Penisku amblas seluruhnya di dalam vagina Laras. Apalagi ditambah tekanan telapak kaki Laras di pinggulku juga makin kencang. Pelukan Laras makin erat. Tiba-tiba kuku tangan kanannya yang tajam mencengkeram pundak kiriku sementara tangan kirinya mengkait erat leherku.</p>
<p style="text-align: justify;">“Ayah… Sshh… Nikmat sekali Ayah… Laras pipis lagi…” teriak Laras di sela-sela orgasme yang ketiga.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku percepat kocokan penisku untuk menyempurnakan orgasme Laras. Mulutku mencari-cari putingnya lalu menghisapnya dengan kuat. Laras melenguh panjang lalu diam lemas tak bergerak.</p>
<p style="text-align: justify;">“Kita istirahat dulu ya, Sayang… Laras capek kan..?” kataku sambil menciumi wajahnya lalu berhenti dengan membiarkan penisku tetap di dalam vagina Laras.<br />
“Nggak mau…” Laras merengek manja.</p>
<p style="text-align: justify;">Di tengah kelelahannya, tangan Laras kembali memelukku dengan kencang. Bibir dan lidahnya menyusuri muka dan leherku, sedangkankan kedua kakinya kembali melingkar pinggangku dengan erat. Rupanya Laras tak ingin aku berhenti mempompakan penisku di vaginanya. Kembali aku ayunkan pantatku untuk memompa vagina Laras.</p>
<p style="text-align: justify;">“Ayah belum apa-apa, kan?” katanya lagi.</p>
<p style="text-align: justify;">Penisku yang belum tercabut dari vaginanya digoyang dan dikocok vagina Laras. Gerakan pinggul Laras tak seganas tadi, lebih lebih lembut dan pelan tapi terasa sangat nikmat. Dengan semangat dan bergairah aku pompakan penisku ke dalam vaginanya, dan kembali Laras mengerang sambil meremas rambutku. Berkali-kali bibirnya mencari bibirku kemudian melumat dan menyedot. Lidahnya mengait lidahku. Kami saling hisap dan saling menggoyangkan pinggul.<br />
Kembali aku mengambil posisi agak tegak dengan meluruskan kedua lenganku. Lalu aku raih kaki Laras satu per satu dan aku angkat ke depan dadaku lalu kurapatkan kedua kakinya kemudian aku tekuk lututnya. Dengan posisi ini, vagina Laras menyempit dan terasa lebih menjepit penisku. demikian pula gesekan penisku di vagina Laras lebih terasa. Laras berkali-kali mengerang dan menjerit.</p>
<p style="text-align: justify;">“Ayah… Laras nikmat sekali… Sshh… Aahhh…” kata Laras di sela desahannya. “Ayah nikmat nggak…?”<br />
“Iyaahh… nikmat sekali sayang…” sahutku.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku memompa vagina Laras dengan cara cepat dan pelan berganti-ganti. Kadang aku mengujamkan dengan keras penisku, kadang aku tarik dengan cepat tapi tidak sampai lepas kemudian aku hujamkan lagi dengan cepat dan keras. Erangan, teriakan dan desahan Laras makin sering dan makin keras terdengar. Hal ini membuat aku makin bergairan menusuk-nusukkan penisku. Apalagi kemudian badan Laras meliuk-liuk ke kakan dank e kiri seperti ular yang mengejar mangsanya. Aku percepat gerakan pinggulku memompa Laras lalu aku pelankan lagi.</p>
<p style="text-align: justify;">“Ssshhh… Ayah nakal…ahhh…”<br />
“Laras suka…?”<br />
“Suka… Nikmat sekali Yah…” sahut Laras. “Aahhh… Ayah juga suka..? Aahhh… Ayah juga nikmat?” tanya Laras kemudian<br />
“iyaaahhh… Ayah suka… ssshhh… Nikmat sekali sayang…”</p>
<p style="text-align: justify;">Aku mencari klitorisnya dengan jari tangan kananku sementara tangan kiriku menahan kedua kakinya agar tetap tertekuk dan rapat di depan dadaku. Kemudian, aku elus klitoris Laras sambil terus mengocok penisku. Reaksi Laras sungguh luar biasa ketika jari dan jempolku mengelus dan memijit klitoris Laras yang tegang dan licin terkena cairan yang terus-menerus merembes keluar dari vaginanya. Erangannya makin keras. Pinggulnya bergoyang makin hebat. Tiba-tiba dengan kuat kedua tangannya mencengkeram tanganku yang mengesek-gesek klitorisnya sampai kuku-kuku tangannya menghujam ke dalam kulit lenganku. Rasa sakit dan perih akibat luka terkena tusukan kuku Laras lak kuhiraukan. Jari dan jempolku teruis mengelus dan meijit klitoris Laras dengan cepat.</p>
<p style="text-align: justify;">Tubuh Laras meliuk-liuk tak karuan, kadang ke kanan dan ke kiri, lalu melengkung ke belakang, lalu membungkuk ke depan, lalu ke belakang lagi, ke depan lagi dan seterusnya. Akhirnya terdengar jeritan Laras yang sangat keras disertai gerakan tubuhnya yang mengejang dengan kuat sambil melengkung ke belakang. Kepalanya mendongkak, pinggulnya bergetar hebat sampai aku dapat merasakan penisku seperti dipijat dan digetarkan, lalu vagina Laras terasa sangat basah dan hangat. Selanjutnya aku melepas kedua kaki Laras yang tertekuk dan rapat di depan dadaku. Kaki Laras kembali membelit pinggangku. Selanjutnya aku peluk Laras sambil menggeser tubuhku sehingga pangkal penisku berada di bagian atas vaginanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Ini aku maksudkan agar pangkal penisku berada di bagian atas vaginanya sehingga klitoris Laras makin merasakan tekanan penisku. Genjotanku makin aku perkuat dan percepat. Jeritan Laras makin menjadi, gerakannya makin liar, sementara vaginanya makin kuat mencengkeram dan menggetarkan penisku. Vaginanya seolah memijat dan menghisap penisku. Penisku serasa diremas kemudian dipilin dengan benda yang sangat kenyal, licin dan hangat. Akibatnya penisku pun berdenyut-denyut. Rasa nikmat yang luar biasa mulai aku rasakan di ujung penisku, lalu perlahan menjalar menuju pangkalnya. Rasa nikmat itu kembali mengalir dari pangkal penisku dan dengan cepat menuju ujungnya.</p>
<p style="text-align: justify;">“Laras… sshhhh… Ayah mau keluarrrr…” Kataku mengeksperesikan kenikmatan yang aku rasakan.</p>
<p style="text-align: justify;">Laras menjawab dengan mengaitkan kakinya kembali ke pinggangku kemudian menariknya sehingga penisku menghujam makin dalam. Aku tekan vagina Laras dengan penisku dalam-dalam kemudian aku peluk Laras sambil kucari bibirnya lalu melumat dan menghisapnya kuat-kuat saat spermaku muncrat di dalam vagina. Laras memekik kecil karena semprotan spermaku mengenai dinding liang vaginanya.</p>
<p style="text-align: justify;">“Oh… Ayah… nikmat sekali…”<br />
“Iya sayang… nikmat sekali….&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Kemudian kami terkulai dengan posisi aku menindih tubuh Laras. Laras masih berusaha menciumi wajahku dan menghisap bibirku. Kubuka mataku dan menatap mata Laras. Kami tersenyum puas lalu kembali Laras mencium bibirku.</p>
<p style="text-align: justify;">“Ayah cabut ya…?” kataku<br />
“Jangan dulu… Laras masih ingin penis Ayah ada di dalam” jawab Laras. Maka aku biarkan sejenak penisku sampai mengendur dan mengecil di dalam vagina Laras. Beberapa saat kemudian aku berguling ke samping kiri Laras.<br />
“Ayah puas…?” Tanya Laras samil memelukku.<br />
“Puas sekali, Sayang…” jawabku.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku balas pekukan Laras dengan meletakkan tangan kiriku sebagai bantal kepala Laras sedangkan tanganku membelai wajahnya. Laras menelusupkan wajahnya di dadaku.</p>
<p style="text-align: justify;">“Laras puas nggak..?” Tanyaku balik.</p>
<p style="text-align: justify;">Laras tidak menjawab. Dia hanya tersenyum sambil memejamkan mata kemudian menggigit putingku. Kami beristirahat sambil tiduran berpelukan. Perlahan kesadaran nalarku pulih. Aku menengok jam weker didital yang ada di atas nakas. Jam 14.36. Berarti sudah hampir sore. Aku lirik Laras yang meringkuk dalam pelukanku, ternyata dia sudah tidur.<br />
Perlahan aku angkat kepala Laras dan aku meletakkan batal di bawah kepalanya, lalu aku bangun menuju kamar mandi. Tiba-tiba aku melihat pintu kamarku sedikit terbuka dan ada seorang di balik pintu. Sepertinya seorang perempuan. Orang itu dengan cepat menghilang dari pintu. Aku kejar orang itu sambil menyarungkan handuk di pinggangku. Sampai di pintu aku tidak melihat siapa-siapa. Yang jelas bukan isteriku, tubuh orang itu lebih pendek dari isteriku.</p>
<p style="text-align: justify;">Ah… Siapa dia? Pembantuku kah? Di rumah ini hanya ada aku dua orang pembantu, seorang tukang kebun, seorang sopir, dua orang satpam dan Laras. Selain Laras, wanita di rumah ini hanya Ayu yang bertugas memasak dan Wiwid yang bertugas membersihkan rumah. Siapa dia? Ayu atau Wiwid? Aku tidak mungkin mengejar wanita itu lebih jauh. Aku segera menutup pintu dan menguncinya. Aku kembali ke tempat tidur.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku berbaring di samping Laras kembali. Aku tatap Laras yang tidur dengan nyenyak. Aku mencoba mengingat peristiwa yang aku alami dari pagi sampai sore ini. Apa yang baru saja aku lakukan? Menyetubuhi Laras, anak asuhku yang paling aku banggakan? Kenapa Laras mau dengan mudah menyerahkan kegadisannya? Mengapa Laras sangat ahli memanjakan nafsuku? Darimana dia belajar hubungan sex? Apa..? Kenapa..? Bagaimana…? Berbagai pertanyaan muncul di kepalaku dan tak satupun dapat aku jawab.</p>
<p style="text-align: justify;">Berbagai pertanyaan yang berkecamuk membuat aku ingat isteriku. Marahkah dia jika tahu? Ah, tentu saja isteriku akan marah jika tahu aku sudah menyetubuhi Laras. Haruskah aku menyesal…? Menyesal setelah menikmati tubuh perawan yang baru tumbuh? Perawan yang mempercayakan hidupnya kepadaku karena aku sudah mengangkat dia sebagai anak asuhku… Sungguh pengecutnya aku kalau sampai hal itu terjadi. Aku tak akan menyesali persetubuhan ini.</p>
<p style="text-align: justify;">“Baiklah Laras… aku akan bertanggung jawab atas perbuatanku&#8230;”</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ceritasex.cn/larasati-pertama-kali-aku-selingkuh/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Nikmatnya Perawan</title>
		<link>http://www.ceritasex.cn/nikmatnya-perawan/</link>
		<comments>http://www.ceritasex.cn/nikmatnya-perawan/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 15 Nov 2010 23:33:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cerita Sex</dc:creator>
				<category><![CDATA[Daun Muda]]></category>
		<category><![CDATA[Orgy]]></category>
		<category><![CDATA[Seks Umum]]></category>
		<category><![CDATA[cuki]]></category>
		<category><![CDATA[dina]]></category>
		<category><![CDATA[memek]]></category>
		<category><![CDATA[ngentot]]></category>
		<category><![CDATA[perawan]]></category>
		<category><![CDATA[seks]]></category>
		<category><![CDATA[vela]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ceritasex.cn/?p=1677</guid>
		<description><![CDATA[Budi dan Indra duduk di ruang tamu, sementara Dina dan Vella berada di dapur membuat kopi dan cemilan buat mereka. Budi menceritakan petualangan dia dan Dina semalamnya kepada Indra, cerita yg membuat Indra terus-menerus menelan ludah membayangkannya. Sementara dari dapur terdengar suara tawa cekikian Dina dan Vella, Budi dan Indra hanya tersenyum mendengarnya, sepertinya Dina [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Budi dan Indra duduk di ruang tamu, sementara Dina dan Vella berada di dapur membuat kopi dan cemilan buat mereka. Budi menceritakan petualangan dia dan Dina semalamnya kepada Indra, cerita yg membuat Indra terus-menerus menelan ludah membayangkannya. Sementara dari dapur terdengar suara tawa cekikian Dina dan Vella, Budi dan Indra hanya tersenyum mendengarnya, sepertinya Dina juga bercerita di dapur.</p>
<p style="text-align: justify;">Dina dan Vella keluar dari dapur sambil menenteng mampan yg berisi gorengan dan minuman, mereka berempat mengobrol dan bercanda ria penuh tawa di ruang tamu sambil menyaksikan tontonan di TV. Dina beranjak naik dari sofa panjang dan pindah duduk ke pangkuan Budi yg duduk di sofa ukuran duduk satu orang, meninggalkan Vella dan Indra berdua di sofa panjang tempat dia kehilangan perawannya sore semalam. Dina merebahkan dirinya ke pangkuan Budi yg langsung memeluk pinggangnya .Budi menyingkap baju kaos Dina dan memasukkan ke dua tangannya sehingga dia bisa mengelus perut Dina yg rata dan mulus, Rambut Dina yg harum di depan wajahnya juga disingkap kesamping oleh Budi, terlihat leher Dina yg putih dan jenjang, dikecup2 Budi hingga belakang daun telinganya. Dina memeremkan matanya menikmati elusan tangan Budi dan rasa geli nikmat kecupan Budi di lehernya.</p>
<p style="text-align: justify;">“hm,.. ah…” Dina mendesah lembut menahan geli2 nikmat saat Budi memainkan Lidahnya di daun telinganya.</p>
<p style="text-align: justify;">Dina berusaha menghindarkan kepalanya dari wajah Budi, Dina mencondongkan tubuhnya kedepan dan membalikan kepalanya mencari lidah Budi yg tadi bermain di telinganya, Dina lalu mencium bibir Budi dan memasukkan lidahnya ke mulut Budi, mereka berdua berciuman penuh nafsu. Tangan Dina merangkul leher Budi, dan yg satu lagi membelai dan menekan2 selangkangan Budi sedangkan tangan Budi yg di dalam kaos Dina mulai merengsek naik membelai buah dada Dina yg masih terbungkus bra, tangan budi menyusup masuk dalam bra Dina dan meremas buah dada kirinya dan memainkan puting Dina dengan Jarinya. Tangan kiri Budi menyingkap rok Dina dan mengelus paha Dina yg putih mulus, beringsut2 naik hingga selangkangan Dina dan membelai lembut vagina Dina yg masih terbungkus celana dalam.</p>
<p style="text-align: justify;">“Ah..ah….” Dina menikmati perbuatan kedua tangan Budi yg memberikan desiran2 hangat nikmat pada tubuhnya, terlebih2 remasan dan permainan jari budi pada putingnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Indra dan vella tertegun menyaksikan pemandangan aksi Budi dan Dina, yg sepertinya sangat nikmat, mereka lalu saling berpandangan, Indra lalu memeluk dan mencium Vella dengan penuh hasrat dan dibalas oleh Vella penuh nafsu. Tangan Indra langsung beraksi menyusup ke dalam kaos Vella dan membelai2 perut dan paha Vella. Tangan Indra mulai melakukan aksinya mengelus buah dada Vella yg masih terbungkus bra dan jari2nya menekan2 daging buah dada montok Vella yg menyembul tidak tertutup branya. Vella merasakan nikmatnya tekanan jari2 Indra pada buah dadanya, bener adanya seperti yg diceritakan Dina padanya bahwa sentuhan tangan pria pada tubuhnya memberikan sensasi aneh yg nikmat sekali, Vella merasa darah dalam tubuhnya berdesir kencang dan membuat dadanya berdebar2 cepat akibat sensasi nikmat yg di timbulkan dari bagian vaginanya yg dia rasakan saat tangan Indra membelai bibir vaginanya. Tangan Indra rupanya sudah naik dari paha ke vagina Vella, jari telunjuk dan jempolnya menyingkap bawahan celana dalam Vella dan jari tengahnya memainkan bibir lubang vaginanya. Vella merasakan Vagina mulai terasa lembab seperti setiap kali dia melakukan masturbasi, hanya saja kali ini terasa lebih nikmat. Ciuman Indra sekali ini terasa sangat nikmat olehnya apalagi saat lidah dan bibir Indra bergeser ke leher dan tengkuknya memberikan dia sebuah sensasi geli2 nikmat yg dia rasakan menjalari seluruh tubuhnya.<br />
<span id="more-1677"></span><br />
Dina menyingkap membuka baju kaosnya dan branya, kali ini dia memutar tubuhnya menghadap ke Budi, lalu dia sodorkan putingnya ke mulut Budi yg langsung menyambut dengan permainan lidahnya. Kedua tangan Dina memeluk erat kepala budi dan menekan kepala Budi ke buah dadanya.Dina memejamkan matanya menikmati permainan lidah Budi yg memberikan dia rasa hangat geli2 nikmat di dadanya. Kedua tangan Budi lalu membuka resluting rok Dina dan manarik turun beserta celana dalamnya dari kaki Dina, tangan budi meremas pantat Dina yg empuk dan tangan yg satu lagi bergerak naik meremas buah dada Dina. Budi menikamati sekali puting Dina yg kecil dengan lidahnya, sesekali dia gigit lembut dan mengeser2 giginya di puting Dina, Kedua tangannya juga merasakan buah dada dan pantat Dina yg empuk, sepertinya tidak bakalan membuatnya bosan untuk meremas terus kedua2nya. Tangan Dina melepaskan pelukan di kepala Budi dan bergerak turun membuka kancing kemeja Budi satu persatu dan menyingkap lepas kemeja Budi.Tangan Budi melepaskan remasan di pantat dan buah dada Dina lalu turun ke bawah melepaskan ikat pinggang dan kancing celana jeansnya. Budi kesulitan melorotkan seluruh celananya dengan posisi Dina yg masih duduk di pangkuannya. Dina tahu akan hal itu, dia lalu berdiri dan membantu Budi melepaskannya berikut celana dalam Budi. Mereka berdua telah telanjang polos, Dina melihat zakar Budi sudah berdiri tegak menantangnya, dia lalu berlutut di hadapan selangkangan Budi, dan mulai memegang dan mengelus zakar Budi yg ingin segera dia lahap, Dina lalu memasukkan zakar Budi ke dalam mulutnya dan memainkan lidahnya pada zakar Budi, Dina merasa suka sekali saat zakar Budi dalam mulutnya yg memberikan denyutan dan sensasi nikmat tersendiri dalam mulutnya, Dina menggerakkan kepalanya naik turun agar dia bisa merasakan gesekan kepala zakar budi dalam dinding mulutnya hingga tenggorokannya, hm.. sensasi denyutan zakar Budi dalam mulutnya terasa enak sekali baginya.</p>
<p style="text-align: justify;">“oh.. ah …teruskan sa..yang…. “ Budi melenguh menikmati hangatnya permainan oral Dina pada zakarnya, sensasi nikmat yg dirasakan menjalari seluruh tubuhnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Budi melihat di depannya Vella melepaskan baju dan branya sukarela sendiri, tidak seperti yg dia alami bersama Dina semalam, yg harus melalui bujuk rayuannya. Budi yg awalnya merem menikmati oral Dina terbelalak melihat pemandangan indah di depannya. Buah dada Vella yg besar, lebih besar dua kali dari milik Dina dan putih mulus dengan puting merah muda yg sama kecilnya dengan milik Dina terlihat oleh Budi. Indra yg juga baru selesai membuka kemejanya juga terbelalak mengagumi indahnya buah dada vella, Indra tidak menunggu Vella selesai membuka roknya langsung memeluk Vella dan mengincar putingnya, dicium lalu dimainkan dengan lidahnya. Vella merasakan sensasi geli2 hangat yg nikmat sekali saat lidah Indra memainkan putingnya, Vella makin mengelinjang nikmat saat merasakan tangan Indra yg meremas2 buah dadanya. Vella merasa sekujur tubuhnya geli2 nikmat berdesir dan membuat jantungnya berdebar2 menikmati desiran tersebut, seakan2 jantungnya siap2 meletup.</p>
<p style="text-align: justify;">“oh… ah.. ah…..dssh… Oh.. In..dra… eee..nak..sss.. seka..li “ Vella mendesah kuat.</p>
<p style="text-align: justify;">Dina yg mendengar desahan kuat Vella melepaskan zakar Budi dari mulutnya dan memalingkan wajahnya melihat kearah Vella yg sedang meronta2 lembut dalam pelukan Indra yg masih sedang mengelumi puting Vella, terlihat olehnya mata Vella yg merem melek sepertinya sangat menikmati. Dina tersenyum membayangkan Dirinya semalam yg juga pertama kali merasakan nikmat tersebut, dia berpaling kembali ke Budi, kali ini dia naik keatas Sofa dan mendorong Budi rebah lebih kedalam sandaran kursi sofa. Dina menyodorkan vaginanya ke wajah Budi, dia ingin menikmati sensasi oral Budi, lidah Budi memainkan bibir vagina Dina dan kelentitnya sementara tangannya menahan pantat Dina agar vaginanya tetap pada posisi mulutnya, sementara tangan yg lain bergerak mengelus2 vagina Dina, lalu Budi memasukkan jari tengahnya ke dalam lubang vagina Dina dan membuat gerakan keluar masuk, membuat Dina makin mengelinjang dan mendesah kuat merasakan sensasi hangatnya lidah dan denyut jari Budi di vaginanya.</p>
<p style="text-align: justify;">“Dsshs… oh.. ah.. ah…terus.. Bud..teee..russ..”</p>
<p style="text-align: justify;">Indra mengangkat wajahnya dari dada Vella dan berdiri memandangi tubuh setengah telanjang vella, buah dada Vella yg besar dan lunak tumpah ke samping tubuhnya tertahan lengannya, mata vella masih tertutup menikmati sisa sensasi permainan lidahnya. Indra lalu membungkuk melepaskan rok serta celana dalam Vella yg direlakan langsung oleh Vella tanpa perlawanan, lalu dia juga melepaskan celana serta celana dalamnya sekaligus. Vella membuka matanya pelan dan tertegun melihat zakar Indra yg tegak lurus ke depan di antara kedua paha Indra. Zakar Indra panjang lurus menantangnya, besar dan panjang menurut Vella yg baru pertama kali melihat zakar pria dewasa, dia lalu menaikan badannya menjadi posisi duduk dan kali ini wajahnya sudah dekat dengan zakar Indra, diraihnya zakar Indra, dielus2 olehnya dan mencoba membuat gerakan mengocok dan meremas lembut zakar Indra, benar adanya seperti yg diceritakan Dina padanya gengaman tangannya ke zakar Indra memberikan sensasi unik tersendiri baginya, denyutan zakar Indra yg dirasakan telapak tangannya memberikan desiran2 yg menggairahkan dia, membuatnya semakin bernafsu. Indra berdiri memandangi perbuatan Vella pada zakarnya yg memberikan kenikmatan saat tangan Vella mengocok zakarnya, kedua tangannya membelai2 rambut Vella lalu dia lalu mendorong kepala Vella ke arahnya agar zakarnya masuk kedalam mulut Vella yg dia lihat agak ragu2 . Vella merasakan kepalanya yg terdorong ke arah zakar Indra tidak memberontak dan dia buka mulutnya menerima zakar Indra masuk ke dalam mulutnya, Vella merasakan sensasi nikmat gesekan kepala zakar di dinding atas mulutnya, denyutan batang zakar Indra di lidahnya membuatnya lalu memainkan lidahnya pada zakar Indra. Dina yg merasakan sensasi denyutan hangat zakar Indra dalam mulutnya melepaskan gengaman tangannya dari zakar Indra, tangannya lalu melingkar dan mendorong pantat Indra agar zakar Indra lebih masuk lagi dalam mulutnya, dia merasakan sendiri kenikmatan dari cerita Dina padanya tentang nikmatnya oral mereka semalam. Vella merasa geli2 nikmat saat kepala zakar Indra menggesek dinding atas mulutnya, sehingga dia terus melakukan gerakan keluar masuk zakar Indra di mulutnya, dia merasakan makin dalam masuk kepala zakar Indra dalam mulutnya hingga terasa di tenggorokkannya terasa nikmat sekali sensasinya.</p>
<p style="text-align: justify;">“oh.. sshhs…ah.. ah…” Indra mendesah nikmat.</p>
<p style="text-align: justify;">Dina memalingkan wajahnya melihat ke arah Indra dan tersenyum melihat mulut Indra yg menganga mendesah nikmat. Dina lalu beranjak turun dan mencari celana Budi di lantai lalu merogoh keluar kotak kondom, dia menyobek dua, satu di lemparkan ke arah sofa panjang. Dina lalu merobek pembungkus kondom tersebut dan berjongkok di depan zakar Budi, Dina lalu mencium dan mengulum zakar Budi agar lebih keras lagi lalu dia pakaikan kondom tersebut menyelubungi zakar Budi, Dina lalu berdiri berbalik membelakangi Budi, diraihnya zakar Budi, lalu dia duduk dan mengarahkan zakar Budi masuk ke dalam lubang vaginanya.</p>
<p style="text-align: justify;">“hmp..ah…” Dina mendesah lembut saat dia merasakan zakar Budi masuk kedalam lubang Vaginanya, hangat dan nikmat sekali berdenyut2 dalam dinding vaginanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Dina memeremkan matanya menikmati sensasi dan desiran2 yg merangsang seluruh tubuhnya yg berasal dari vaginanya dan mejalar ke seluruh tubuhnya. Dina melakukan gerakan naik turun teratur, terkadang memutar diatas pangkuan Budi, dia merasa sepertinya lebih enak posisinya diatas, dia yg mengatur ritme naik turun dan memutar pinggulnya mencari posisi yg paling nikmat dia rasakan dari zakar Budi, dia menekan mundur agar zakar Budi bisa lebih masuk lagi dalam Lubang vaginanya, hm.. Dina merasa nikmat sekali. Dina yg awalnya merem menikmati denyutan zakar pada dinding Lubang vaginanya pelan membuka matanya melihat ke arah Vella dan Indra, matanya terbelalak melihat zakar Indra yg panjang, sepertinya lebih panjang 5 centi dari milik Budi, terlihat olehnya saat Vella yg melepaskan zakar Indra dari mulutnya, zakar Indra sepertinya tidak tegak lurus keatas seperti milik Budi saat menegang, tetapi lurus ke depan, sepertinya terlalu panjang hingga tidak mampu untuk tegak lurus, Dina terus memandangi zakar Indra, dia membayangkan nikmatnya jika zakar itu yg masuk ke dalam vaginanya saat ini, dengan ukuran Budi sekarang saja sudah nikmat sekali dia rasakan dalam vaginanya apalagi jika zakar Indra yg masuk dalam vaginanya,.. hm… dia kembali menutup matanya merasakan sensasi nikmat dalam lubang vaginanya sambil membayangkan terus jika zakar Indra yg berada dalam vaginanya saat ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Vella berdiri lalu rebah tidur ke atas sofa degan kedua kakinya mengangkang terbuka sehingga terlihat bibir merah muda vaginanya yg menutupi lubangnya, dengan bulu2 yg juga halus tersisir rapi membelah di tengah. Indra tahu bahwa Vella ingin dioral olehnya, dia lalu membungkuk dan mulai menjilati bulu2 halus vagina Vella pelan2 dia turun ke bawah menjilati kelentit Vella lalu turun ke bibir vaginanya dan lubang duburnya lalu bergerak kembali lagi ke atas lalu turun kembali, berulang2. Vella merasakan nikmat sekali saat lidah Indra menyentuh kelentit dan bibir vaginanya , hangat dan rasa geli2 yg ditimbulkan oleh permainan lidah Indra seakan2 terjadi dalam pembuluh darah seluruh tubuhnya, Vella merasakan sensasi ini memang sangat berbeda saat dia melakukan masturbasi, memang nikmat sekali saat di oral oleh lidah pria, persis seperti yg diceritakan Dina padanya, inilah rasa dahsyat yg di gambarkan Dina.</p>
<p style="text-align: justify;">“ah.. ah… aw.. agrh…terus.. terus.. dra.. eeenakk “ Vella memekik nikmat , dan tambah mengelinjang seluruh tubuhnya menahan nikmat yg dia rasakan saat tangan Indra kembali meremas2 buah dadanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Budi yg mengintip melalui samping punggung Dina dapat melihat Indra yg meremas2 buah dada montok Vella, dia lalu meremas2 buah dada Dina yg lunak dan lembut, mulus,.. sambil membayangkan jikalau buah dada besar vella yg diremas saat ini, Budi membayangkan sambil berkali2 menelen ludahnya.Budi merasakan cengkraman dinding vagina pada zakarnya berdenyut2 hangat dan nikmat, gerakan naik turun Dina yg membuat gesekan zakarnya dengan bibir lunak vagina Dina terasa nikmat sekali, membuatnya terus mendesah nikmat.</p>
<p style="text-align: justify;">Indra menghentikan permainan lidahnya pada vagina Vella dan berdiri memandangi tubuh polos Vella yg memang sangat aduhai merangsang, dia lalu berlutut memunguti kondom yg di sofa dan merobek bungkusannya, dia lalu membungkus zakarnya dengan kondom tersebut. Mata Vella masih merem merasakan sisa sensasi nikmat permainan lidah Indra pada vaginanya saat Indra naik memeluk tubuhnya, kemudian dia merasakan ada sesuatu yg memasuki lubang vaginanya, hm.. menimbulkan rasa nikmat sekali, lalu lenyap saat dia rasakan sesuatu itu keluar kemudian timbul lagi, sepertinya Indra mulai memasukkan zakarnya ke dalam lubang vaginanya, Vella merasakan hangat kepala zakar Indra saat memasuki lubang vaginanya, saat zakar Indra makin menekan masuk dia merasa nikmat sekali. Indra merasakan agak susah memasukkan zakarnya ke dalam lubang vagina Vella, terasa rapat sekali, dia melakukannya pelan2 sedikit demi sedikit dia memasukkan zakarnya, saat separuh zakarnya masuk dia melihat Vella meringis, sepertinya selaput perawan telah di sobek oleh zakarnya, dia menarik mundur zakarnya lalu kemudian dia menekan masuk lagi, dan menekan masuk lagi hingga habis batang zakarnya ke dalam lubang vagina Vella, Indra merasakan cengkraman kuat dan rapat dinding vagina Vella yg menimbulkan kehangatan berdenyut pada zakarnya, rasanya nikmat sekali, Indra sengaja tidak mengenjot cepat , tetapi dia membuat gerakan keluar masuk zakarnya pelan saja, dia sangat menikmati sensasi cengkraman dinding vagina Vella, hm.. begini rupanya nikmatnya perawan, Indra menutup matanya menikmati.</p>
<p style="text-align: justify;">“ ah.. ah… ah…” Vella mendesah nikmat setiap kali Indra melakukan gerakan maju mundur zakarnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Vella memeremkan matanya menikmati sensasi yg ditimbulkan zakar Indra dalam lubang vaginanya, sebelumnya dia merasa perih saat zakar Indra merobek selaput perawannya, tetapi kemudian sensasi hangat yg dan berdenyut zakar Indra membuat hilang rasa perih tersebut berganti nikmat geli yg dia rasakan menjalari seluruh badannya, sensasi nikmat tersebut menjalar dari vaginanya keseluruh tubuhnya membuat dia terus menerus mengelinjang nikmat. Vella memeluk erat Indra dan mereka berciuman penuh nafsu.</p>
<p style="text-align: justify;">Dina yg sedari tadi melihat Indra yg memasukkan zakarnya ke lubang vagina Vella membuatnya makin terangsang, dan dia makin mempercepat genjotannya pada zakar Budi. Dina merasakan nikmat di vaginanya semakin meletup2 dan siap2 meledak semakin mempercepat gerakannya dan berusaha menahan agar sensasi nikmat di vaginanya tidak meledak, dia terus mendesah dan mengerang menahan sensasi tersebut. Dina tidak sanggup lagi menahannya dan akhirnya sensasi nikmat tersebut meledak dan menjalari sekujur tubuhnya membuat dia memekik kenikmatan.</p>
<p style="text-align: justify;">“ah.. ah.. ah..arghhh….a…..a…..” Dina mengerang menikmati orgasmenya.<br />
‘”oh.. argh…” Budi juga mengerang dan menembakan spermanya dalam vaginanya Dina dan tertahan oleh kondom sehingga tidak tumpah dalam lubang vagina Dina.</p>
<p style="text-align: justify;">Dina naik dan melepaskan kondom Budi lalu merebahkan tubuhnya ke Budi yg memeluknya dan mencium lembut pundak Dina, mereka berdua sekarang berpelukan duduk di sofa menikmati pemandangan sensual Indra yg sedang mengenjot Vella. Indra yg awalnya melakukan gerakan maju mundur pelan kini makin mempercepat gerakannya,tangan Indra meremas2 buah dada Vella dan mencium leher Vella. Indra merasakan seluruh desiran nikmat darahnya seakan2 telah berkumpul di zakarnya siap2 meledak, Indra mengerang dan mendesah menahan rasa geli dalam aliran darahnya berkumpul di zakarnya, Indra semakin mempercepat gerakannya dan mencoba agar sensasi nikmat di zakarnya tetap bertahan, tetapi dia tak sanggup lagi akhirnya dia tembakkan spermanya.<br />
“orgh.. ah….ah…”, Indra mengerang kenikmatan.</p>
<p style="text-align: justify;">Indra lalu mencabut zakarnya dan melepaskan kondomnya yg diterisi oleh spermanya. Indra lalu rebah dan memeluk Vella sambil menciumnya. Dina lalu mengajak Vella ke kamar mandi dalam kamarnya, sedangkan Budi dan Indra bergantian membersihkan diri di kamar mandi tamu depan. Suara tawa cekikikan terdengar dari pintu kamar Dina. Budi lalu duduk bersama Indra , Budi lalu mengutaran keinginan dia untuk meniduri Vella dan mengajak Indra untuk melakukan aksi swinger, Indra setuju sekali&#8230;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ceritasex.cn/nikmatnya-perawan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Skandal Keluarga</title>
		<link>http://www.ceritasex.cn/skandal-keluarga/</link>
		<comments>http://www.ceritasex.cn/skandal-keluarga/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 03 Nov 2010 22:18:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cerita Sex</dc:creator>
				<category><![CDATA[Daun Muda]]></category>
		<category><![CDATA[kisah nyata]]></category>
		<category><![CDATA[Paruh baya]]></category>
		<category><![CDATA[selingkuh]]></category>
		<category><![CDATA[amoy]]></category>
		<category><![CDATA[cici]]></category>
		<category><![CDATA[cici mesum]]></category>
		<category><![CDATA[cina]]></category>
		<category><![CDATA[ngentot]]></category>
		<category><![CDATA[ngentot supir]]></category>
		<category><![CDATA[perawan]]></category>
		<category><![CDATA[seks]]></category>
		<category><![CDATA[supir]]></category>
		<category><![CDATA[vivi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ceritasex.cn/?p=1595</guid>
		<description><![CDATA[Cerita ini merupakan sharing kisah nyata dari seorang teman. Kejadiannya sih udah cukup lama. Cuman baru ingat sekarang pas ketemu orangnya jadi boleh saya coba bagi. Cuman kagak terlalu detail sih. Hehehe&#8230;udah lupa. Siang itu&#8230; Vivi baru aja pulang dari sekolah. Dia lagi sebal, karena tidak seorangpun yang menjemputnya. Padahal biasanya dia selalu ada yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Cerita ini merupakan sharing kisah nyata dari seorang teman. Kejadiannya sih udah cukup lama. Cuman baru ingat sekarang pas ketemu orangnya jadi boleh saya coba bagi. Cuman kagak terlalu detail sih. Hehehe&#8230;udah lupa.</p>
<p style="text-align: justify;">Siang itu&#8230; Vivi baru aja pulang dari sekolah. Dia lagi sebal, karena tidak seorangpun yang menjemputnya. Padahal biasanya dia selalu ada yang menjemput, khususnya supir keluarganya. Sudah ditelpon berkali-kali, mulai dari HP maminya, HP supirnya, telepon rumah, tetapi tidak ada yang mengangkat. Akhirnya dia putuskan untuk pulang naik taksi.</p>
<p style="text-align: justify;">Sesampainya di rumah, Vivi segera masuk kedalam dan mencari supir keluarganya. Hendak didamprat. Hehehe&#8230;Biasa. Putri tunggal selalu judes dan manja. Dia melihat mobil yang biasa dibawa sang supir terparkir didalam garasi. Hal itu membuat dia semakin kesal. Dia berpikir sang supir pasti ketiduran.</p>
<p style="text-align: justify;">Dengan emosi dia segera menuju kekamar belakang tempat supirnya biasa beristirahat. Namun dia tidak menemukan siapapun disana. Bahkan, pembantu-pembantunya yang lain juga kok pada &#8220;menghilang&#8221;. Setelah mencari kesana kemari tanpa hasil, Vivi akhirnya sedikit reda emosinya. Dia lalu naik ke atas dan menuju kekamarnya. Setelah mengganti baju seragamnya dengan pakaian yang lebih nyaman, dia segera merebahkan tubuhnya ke ranjang.</p>
<p style="text-align: justify;">Selama beberapa waktu, diatas ranjang Vivi cuman bisa balik kiri, balik kanan. uh&#8230;nampaknya dia tidak bisa tertidur. Biar udara dikamarnya cukup sejuk, ada sesuatu yang menghalanginya tertidur. Entah kenapa dia merasa ada yang mengganjal didalam hati.</p>
<p style="text-align: justify;">Kemudian dia mendengar suara pintu kamar ortunya dibuka. &#8220;Wah, mami dirumah to&#8230;&#8221;, demikian pikirnya. Dia lalu meloncat turun dari ranjang dan keluar dari kamar. Vivi hendak &#8220;mengajukan&#8221; keluhan karena tidak seorangpun yang menjemputnya dari sekolah.</p>
<p style="text-align: justify;">Begitu dia keluar kamar, wah&#8230;dia cuman melihat sang supir keluar dari kamar ortunya dan menuju ke tangga. Melihat ada Vivi disana, supir itu nampak terkejut. Dengan cepat Vivi menanyakan, kenapa kok tadi dia tidak dijemput.</p>
<p style="text-align: justify;">Yudi, sang supir, sedikit gelagapan dengan pertanyaan itu. Intinya dia minta maaf karena tidak bisa menjemput karena ada sedikit keperluan. Lalu dia buru-buru pamit dan turun ke bawah. Vivi bahkan tidak sempat bertanya untuk apa dia ada didalam kamar ortunya.</p>
<p style="text-align: justify;">Curiga kalo Yudi mengambil sesuatu dari dalam kamar tersebut, Vivi segera menuju kesana dan masuk kedalam. Wah, ternyata didalam ada maminya yang sedang tertidur pulas. Vivi jadi berpikir macam2. Jangan-jangan ada sesuatu antara maminya dengan Yudi. Dengan perasaan tegang, dia mengawasi isi dari kamar tersebut.</p>
<p style="text-align: justify;">Hatinya semakin gundah. Di lantai kamar nampak berserakan kaus dan rok yang biasa dipakai maminya. Juga tergeletak sepotong bra hitam dan CD hitam. Duh. Masa sih maminya selingkuh dengan Pak Yudi? Demikian pikirnya.<br />
<span id="more-1595"></span><br />
Tiba-tiba mata Vivi berkaca-kaca. Dia sungguh tidak menyangka, kalo maminya sangat mungkin ada affair dengan Pak Yudi, supirnya sendiri. Bibirnya bergetar, menahan tangis yang bisa meledak kapan saja.</p>
<p style="text-align: justify;">Akhirnya, karena tidak kuat menahan perasaannya, dia segera berlari kedalam kamarnya sendiri dan menangis sejadi-jadinya. Hatinya terasa hancur. Maminya, yang selama ini selalu memberi nasehat tentang kesetiaan, tanggung-jawab dan moral ternyata tak lebih dari seorang wanita yang selingkuh terhadap papinya. Vivi merasa sangat kesal dan perasaannya remuk redam.</p>
<p style="text-align: justify;">Sudah beberapa hari ini Vivi bersikap dingin kepada maminya. Jika diajak bicara, Vivi cuman jawab seadanya, itupun dengan nada datar. Tentu sang ibunda merasa sedih, apalagi dia tidak mengetahui alasan yang sebenarnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Minggu demi minggu pun berlalu. Namun rasa kesal dan dendam dihati Vivi masih belum juga hilang. Dia lalu bertekat ingin memergoki secara langsung saat maminya berselingkuh dengan Pak Yudi.</p>
<p style="text-align: justify;">Akhirnya datang juga saatnya. Waktu itu, sekitar bulan November beberapa tahun yang lalu. Sepulang dari sekolah, dia lalu mengendap-endap naik kelantai atas dan berjalan menuju ke kamar ortunya. Jantung berdegub semakin kencang, mendengar suara rintihan maminya dari dalam kamar. Vivi lalu menempelkan kupingnya ke pintu kamar. Selain suara maminya, dia juga mendengar desahan penuh nafsu dari seorang lelaki. Ya, dia mengenali suara itu. Itu suara Pak Yudi !</p>
<p style="text-align: justify;">GUBRAK!!!</p>
<p style="text-align: justify;">Vivi membuka pintu kamar ortunya dengan keras sampai membentuk tembok kamar bagian dalam. Dia lalu menatap tajam kearah ranjang dengan penuh emosi. &#8220;Duh&#8221;, katanya jantungnya serasa ingin copot, berdegub terlalu keras.</p>
<p style="text-align: justify;">Dia melihat maminya sedang terlentang tanpa busana diranjang. Supirnya, Pak Yudi sedang asyik menyetubuhinya dari atas. Mereka masih dalam posisi berpelukan dan berciuman bibir saat Vivi tiba-tiba menyeruak masuk.</p>
<p style="text-align: justify;">Ibunda Vivi tentu sangat kaget namun tidak bisa berbuat apa-apa. Semua sudah terlambat. Namun Pak Yudi masih terlihat tenang, serasa tidak terjadi apa-apa. Dia masih asyik menggoyang tubuh maminya Vivi dengan santai, seakan memang sengaja ingin menunjukkan hal itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Saya tidak tahu persis apa yang terjadi dengan maminya Silvi+Pak Yudi (karena tidak ada ceritanya). Yang pasti, setelah melihat itu, Vivi segera kembali kedalam kamar, menangis dengan keras.</p>
<p style="text-align: justify;">Besok paginya, saat Vivi bangun, diamelihat maminya sudah berdiri ditepi ranjang, membelai kepalanya dengan lembut. Dengan perasaan muak, dia membuang muka dan segera turun dari ranjang. Sambil menangis, maminya ingin mengajaknya berbicara namun Vivi tidak menghiraukannya. Didalam hatinya sudah tidak ada lagi yang namanya respek/hormat. Yang ada hanyalah perasaan kesal, kecewa dan dendam.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Pak Yudi, kenapa kamu affair sama mami?&#8221;, tanya Vivi ketus. Saat itu, mereka sedang didalam mobil, sepulangnya Vivi dari sekolah. Awalnya, Pak Yudi tidak menanggapi pertanyaan anak majikannya itu. Namun, karena terus didesak dengan nada yang ketus, akhirnya Pak Yudi menjawab juga.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Lha, mami kamu yang mau kok.&#8221;, ujarnya enteng. &#8220;Bohong ! Ga mungkin mami mau sama orang kayak kamu!&#8221;, sahut Vivi ketus. Pak Yudi terkekeh.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Terserah nik. Mau percaya ya udah, ga percaya ya udah. Tapi lah wong begitu kenyataannya.&#8221;, ujar Yudi. &#8220;Coba kamu pikir lah nik. Mana berani saya menggoda mami kamu kalo dia nggak kasih tanda dulu.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Maksudmu?&#8221;, tanya Vivi lagi, masih dengan nada ketus. &#8220;Ya mami kamu yang mau sama saya. Saya cuman melayani kemauan ibu saja. Soalnya mami kamu kan ada kebutuhan, sedang bapak ngga bisa kasih.&#8221;, ujar Yudi.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Awalnya mami kamu bilang cuman mau &#8216;pegang2&#8242; saja. ya saya sih nurut aja sama mami kamu. Ga tahunya kita maen beneran. Eh, Trus mami kamu ketagihan ama saya.&#8221;, ujarnya lagi, sambil tertawa ringan. &#8220;Mungkin saya ini menarik dimata mamimu.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Yudi memang cukup ganteng. Usianya masih muda, sekitar 23 tahun. Badannya cukup tegap dan berkulit gelap, mungkin karena dulu dia pernah sebagai pekerja kasar seperti kuli bangunan / kuli angkut barang di pasar induk (berjemur).</p>
<p style="text-align: justify;">Vivi terdiam. Papinya memang jarang pulang dirumah. Suara bising lalu-lintas samar-samar masih terdengar. Tak lama kemudian, mereka sampai dirumah. Vivi segera masuk kedalam rumah, sedang Yudi membuka bagasi mobil dan mengambil barang-barang bawaan Vivi dari sekolah tadi. Cukup banyak barangnya, soalnya semuanya itu adalah untuk keperluan bazaar di sekolah.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah meletakkan tumpukan barang-barang tersebut digarasi, Yudi menunggu Vivi diruang tamu bawah, menunggu kepastian mau disimpan dimana peralatan masak tersebut. Setelah ditunggu selama beberapa menit, nampaknya tidak ada tanda-tanda Vivi turun dari atas. Tak sabar menunggu, dia lalu beranjak dari kursi dan naik keatas menuju ke kamarnya Vivi.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah pamit dan masuk kedalam kamar, Yudi melihat Vivi sedang duduk termenung ditepi ranjang. Dia masih memakai seragam sekolahnya. Kondisi mental Vivi saat itu sedang hancur. Dia tidak tahu lagi tentang panutan hidup.</p>
<p style="text-align: justify;">Yudi lalu ikutan duduk disampingnya. Entah kenapa tiba-tiba ada keinginan dari dirinya untuk menikmati Vivi juga. Dia lalu mengajak Vivi bercakap-cakap.</p>
<p style="text-align: justify;">Perlahan tapi pasti, Yudi merasa &#8220;pertahahan&#8221; Vivi semakin mengendor. Dia sudah bisa bercanda, walau masih dalam takaran yang minim.</p>
<p style="text-align: justify;">Saya tidak tahu bagaimana ceritanya, yang pasti kemudian Yudi sudah berhasil menciumi Vivi. Tangannya pun bergerilya, meremasi payudara gadis cantik ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Yudi lalu pelan-pelan membuka kancing kemeja seragam sekolah Vivi. Tak ada reaksi penolakan. Yudi semakin bersemangat. Setelah berhasil melepas kemejanya, dia lalu memeluk Vivi dan menciuminya dengan penuh nafsu. Vivi cuman diam saja sambil memejamkan mata, membiarkan tubuhnya dijamah oleh supirnya ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Tak puas sampai disini, Yudi lalu melepas bra putih yang dipakai oleh Vivi. Setelah itu, dia segera menyedot puting payudara Vivi dengan penuh nafsu. Bagi Vivi, ini adalah pertama kalinya seorang lelaki menyentuh tubuhnya. Dia belum pernah pacaran.</p>
<p style="text-align: justify;">Beberapa menit kemudian, yang bisa diceritakan adalah Vivi sudah dalam keadaan bugil. Yudi juga demikian. Segera direbahkannya Vivi keranjang dan Yudi pun mulai mempraktekkan keahliannya. Dijilat dan disedotnya vagina Vivi yang masih perawan itu dengan penuh gairah. Vivi cuman mengerang kecil, menahan rasa nikmat untuk pertama kalinya.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah Yudi merasakan vagina Vivi sudah siap, dia lalu melepas celana dalamnya dan menyembulah senjata andalannya. Ukurannya yang cukup besar membuat vivi terbelalak.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Tenang saja. Mami kamu menyukai anuku ini lho. Aku jamin kamu juga bakal suka.&#8221;, ujar yudi enteng, menyeringai.</p>
<p style="text-align: justify;">Dia lalu menggesek-gesekkan penisnya yang kokoh itu pas dibelahan vagina Vivi yang semakin basah. Vivi melenguh. Dia baru pertama kali ini melihat penis seorang lelaki dan lagi penis tersebut sekarang sedang digesekkan ke alat vitalnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Karena sudah tidak sabar ingin menyetubuhi Vivi, Yudi lalu memposisikan penisnya pas didepan lubang kenikmatan tersebut dan mendorongnya. Vivi tersentar kedepan, dia merasakan sakit divaginanya. Yudi lalu mencoba untuk menusuknya sekali lagi namun gagal.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Kamu masih perawan ya nik?&#8221;, tanya Yudi penuh harap. Vivi mengangguk dengan lemah. Kita bisa melihat sebuah senyum penuh kemenangan merias wajah Yudi. &#8220;Sip nik. Nanti sakit bentar aja kok, abis itu pasti minta lagi. Hahaha&#8221;, tawa Yudi.</p>
<p style="text-align: justify;">Dia lalu dengan segera menusukkan penisnya kedalam vagina Vivi yang masih sempit itu. Vivi berteriak kesakitan saat alat kelamin Yudi yang kokoh itu mulai masuk dan membelah vaginanya. Erangan kesakitan Vivi malah menambah nafsu supirnya itu. Lalu dengan sodokan penuh tenaga, Yudi memasukkan seluruh penisnya kedalam vagina gadis amoy ini.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Oh&#8230;&#8221;, erangan penuh nikmat dari Yudi diiringi oleh teriakan kesakitan oleh Vivi. Meleleh-lah air mata gadis cantik ini. Hatinya semakin kacau. Dia tidak menyangka bisa berbuat sampai sejauh ini. Dia tidak menyangka bahwa lelaki pertamanya, lelaki yang merenggut keperawanannya adalah supirnya sendiri.</p>
<p style="text-align: justify;">Yudi dengan ganas mengkocok penisnya didalam vagina Vivi. Dia merasa di &#8220;surga&#8221; dunia, menyetubuhi seorang gadis cantik yang masih perawan. Diciumnya bibir Vivi dengan penuh gairah. Vivi cuman diam sambil mengerutkan dahi menahan sakit divaginanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Namun setelah beberapa waktu kemudian, perlahan-lahan Vivi merasakan ada yang aneh. Rasa sakitnya berangsur-angsur menghilang dan dia merasakan sebuah sensasi kenikmatan yang semakin lama semakin kuat. Yudi terus menyetubuhi gadis ini dengan penuh gairah.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Uh&#8230;kamu seksi sekali nik. Sama putihnya kayak mami kamu&#8230;uh&#8230;tapi lebih enak.&#8221;, ujar Yudi. Vivi cuman diam saja. Dia semakin menikmati dirinya disetubuhi dengan kasar oleh supirnya ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Menit demi menit berlalu. Tiba-tiba Vivi merasakan ada denyutan yang menggelora dari dalam tubuhnya. Dia tidak tahu apa itu, tetapi gelora itu semakin lama semakin kuat. Erangan sensual semakin terdengar keras keluar dari mulutnya. Yudi keliatannya mengerti. Dia semakin kerasa mengkocok penisnya didalam vagina Vivi sambil kedua tangannya meremas dengan gemas payudara Vivi yang putih itu.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;oh&#8230;oh&#8230;mas&#8230;ah&#8230;&#8221;, erang Vivi, semakin intens. Akhirnya, dengan sebuah sentakan kebelakang, vagina Vivi mencengkeram dengan keras penis Yudi yang sedang berada didalam. Vivi memeluk Yudi dengan erat sambil menyambut datangnya orgasme dia yang pertama.</p>
<p style="text-align: justify;">Beberapa detik kemudian, gelora kenikmatan itupun menurun. Mata Vivi masih terpejam, merasakan nikmatnya orgasm yang baru saja dia dapatkan. Yudi tidak tinggal diam. Dia lalu mengkocok dengan keras penisnya didalam vagina Vivi. Saking kerasnya, sampai payudara Vivi bergoyang kedepan dan kebelakang mengikuti irama gerakan sang supir itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Tanpa menunggu terlalu lama, Yudi lalu mencabut penisnya dan mengkocoknya. Dia lalu mengerang dengan penuh nikmat sambil menyemprotkan spermanya. Selama beberapa detik dia menikmati sensasi seksual tersebut. Setelah selesai, dia pun merebahkan dirinya keranjang. Nafasnya masih tersengal-sengal. Vivi diam saja sambil menoleh ke samping, memandangi supirnya.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Enak kan non? Makanya mami kamu sampe ketagihan&#8230;&#8221;, ujar yudi sambil senyum. Vivi diam saja sambil membersihkan ceceran sperma disekujur tubuhnya, diwarnai oleh merahnya darah yang keluar dari vaginanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Yudi lalu mengenakan pakaiannya dan keluar dari kamar, meninggalkan Vivi sendiri didalam sambil menangis, menyesal atas apa yang sudah terjadi.</p>
<p style="text-align: justify;">Sejak saat itu, Yudi semakin betah bekerja di keluarnya Vivi. Dia dapat dengan mudah mendapatkan seks gratis. Dari maminya Vivi, dia mendapat uang sebagai balas jasanya. Sedangkan dengan Vivi, dia bisa mendapatkan seks kapanpun dengan seorang gadis muda yang cantik.</p>
<p style="text-align: justify;">Sampai suatu saat, Vivi akhirnya hamil. Rekan-rekan dapat membayangkan betapa murkanya sang ayah dan ibunya. Sidang keluarga segera digelar dan terbongkar bahwa Yudi adalah sang ayah dari bayi yang dikandung didalam rahim Vivi.</p>
<p style="text-align: justify;">Walau Yudi bersedia bertanggung-jawab, namun orang tua Vivi tidak bisa menerimanya. Karena kesal tidak mendapat restu menikah dengan Vivi, Yudi akhirnya membongkar juga skandal dengan sang ibunda. Tambah nggak karuan deh.</p>
<p style="text-align: justify;">Orang tua Vivi akhirnya bercerai. Karena sebenarnya pihak yang kaya adalah dari maminya Silvi, ayah Vivi diberi pembagian harta gono-gini dan keluar dari rumah. Yudi dipecat dengan tidak hormat dari pekerjaannya.</p>
<p style="text-align: justify;">Cerita paling santer yang saya dengar adalah Vivi dibawa ke luar negeri untuk menggugurkan kandungannya. Setelah itu, dia melanjutkan studi SMA-nya yang tertinggal di luar negeri juga.</p>
<p style="text-align: justify;">Terakhir saya ketemu dengan Vivi beberapa hari yang lalu. Wajahnya nampak segar. Tubuhnya sedikit gemuk, namun justru menambah keseksiannya. Hehehe&#8230; Dia sekarang sudah bekerja di sebuah perusahaan asing di LN.</p>
<p style="text-align: justify;">Dia berkata bahwa pengalaman buruknya adalah sebuah pelajaran. Dia berharap tidak ada seorang gadis pun didunia ini yang melakukan kesalahan setotol itu. Hm&#8230;baguslah. Let&#8217;s hope !!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ceritasex.cn/skandal-keluarga/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ritaku Tercinta &#8211; Chapter One</title>
		<link>http://www.ceritasex.cn/ritaku-tercinta-chapter-one/</link>
		<comments>http://www.ceritasex.cn/ritaku-tercinta-chapter-one/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 03 Oct 2010 22:17:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cerita Sex</dc:creator>
				<category><![CDATA[kisah nyata]]></category>
		<category><![CDATA[Seks Umum]]></category>
		<category><![CDATA[bersetubuh]]></category>
		<category><![CDATA[birahi]]></category>
		<category><![CDATA[kontol]]></category>
		<category><![CDATA[memek]]></category>
		<category><![CDATA[nafsu]]></category>
		<category><![CDATA[ngentot]]></category>
		<category><![CDATA[penis]]></category>
		<category><![CDATA[perawan]]></category>
		<category><![CDATA[rita]]></category>
		<category><![CDATA[sekretaris]]></category>
		<category><![CDATA[seks]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ceritasex.cn/?p=1529</guid>
		<description><![CDATA[Aku baru saja merekrut sekretaris baru karena sekretarisku yang lama sudah malas-malasan dan kurang profesional, apalagi setelah dia menikah. Oh ya, hampir lupa, aku bekerja di sebuah perusahaan swasta yang sedang naik daun, tepatnya di sebuah bank swasta. Tak kuduga, sekretaris baruku itu memang bukan saja masih perawan, tapi rajin, pintar dan yang paling penting [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Aku baru saja merekrut sekretaris baru karena sekretarisku yang lama sudah malas-malasan dan kurang profesional, apalagi setelah dia menikah. Oh ya, hampir lupa, aku bekerja di sebuah perusahaan swasta yang sedang naik daun, tepatnya di sebuah bank swasta. Tak kuduga, sekretaris baruku itu memang bukan saja masih perawan, tapi rajin, pintar dan yang paling penting lagi adalah bodinya yang montok dan parasnya yang cantik, dengan kulit putih bersih tanpa cela. Dari pandangan mata pertama kali ketika kuwawancarai aku langsung terpikat dan dari sorot matanya serta sikapnya terhadapku, aku juga faham jika dia suka padaku.</p>
<p style="text-align: justify;">Wah, cocok deh, rasanya pada minggu pertama hari-hari di kantor begitu indah dan rasanya sangat cepat berjalan. Namanya Indah Rita Purwati, oh&#8230; rasanya kerjaku semakin bersemangat. Setiap kali dia datang ke kamar kerjaku membawa surat atau minumanku, aku mulai menancapkan busur-busur asmaraku dari mulai menggenggam tangannya, mencium hidung dan keningnya tetapi masih cukup sopan, jangan sampai dia kaget atau marah. Tapi aku yakin, dia pun ingin diperlakukan demikian karena ternyata dia tak menolak bahkan kerjanya semakin rajin dan cekatan bahkan tak pernah bolos (termasuk ketika datang matahari, eh datang bulan). Kupikir tak apa, malah aku senang, toh aku belum mau pakai, yang penting bisa mencium bibirnya, hidungnya, keningnya dan dari hari ke hari kami semakin tenggelam dalam asmara. Ketika itu, tahun 1982, dia sudah punya pacar bahkan pacarnya terus memintanya untuk segera menikah. Herannya, menurut pengakuannya, dia semakin benci dan tidak berniat kawin dengan pacarnya itu. Weleh-weleh- weleh, rupanya jerat cintaku telah merasuki jiwanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Sampai suatu hari (3 bulan kemudian), aku memberanikan diri untuk mengajaknya pergi ke luar kota di hari minggu, karena tidak mungkin kami mencurahkan cinta kasih kami di kantor. Dia setuju dan berjanji untuk menungguku di sebuah pasar swalayan tak jauh dari rumahnya. Maka ketika mobil kami meluncur di toll Jagorawi menuju Bogor dan kemudian ke Pelabuhan Ratu Sukabumi, hati kami semakin berbunga-bunga sebab kami akan dapat mencurahkan segalanya tanpa takut diketahui orang atau pegawai lain di kantor maklum kedudukanku sebagai kepala cabang bank swasta terkemuka di samping sudah beristeri dan beranak dua.<br />
&#8220;Rit&#8230;.&#8221; kataku pelan ketika mobilku keluar pintu toll.<br />
&#8220;Ada apa Pak?&#8221; Rita menjawab manis, sambil melirikku.<br />
&#8220;Sekarang jangan panggil bapak, panggil saja Papah, biar nanti orang mengira kita ini suami-isteri. &#8221; Dia mencubit pahaku sambil tersenyum manja, dan tangannya kutahan untuk tetap memegang pahaku, dia mendelik manja tapi juga setuju.<br />
&#8220;Pah&#8230; kamu nakal deh&#8221;, sambil mencubit sekali lagi pahaku. Wah, rasanya aku seperti terbang ke langit mendengar Rita mengatakan &#8220;Papah&#8221; seperti yang kuminta. Sebaliknya, aku pun mulai saat itu memanggil Rita dengan sebutan &#8220;Mamah&#8221; dan kami saling memagut cinta sepanjang perjalanan ke Pelabuhan Ratu itu, laksana sepasang sejoli yang sedang mabuk cinta atau pengantin baru yang akan ber-&#8221;honey-moon&#8221; , sehingga tak terasa mobilku sudah memasuki halaman Hotel Samudera Beach. Pelabuan Ratu yang berada di tepi Samudra Hindia dengan ombaknya yang terkenal garang. Laksana suami isteri, aku dan Rita masuk dan menuju &#8220;reception desk&#8221; untuk check-in minta satu kamar yang menghadap ke laut lepas. Petugas resepsi dengan ramah dan tanpa rewel (mungkin karena aku ber-Mamah-Papah dan terlihat sebagai suami isteri yang sangat serasi, sama ganteng dan cantiknya) segera memberikan kunci kamar, sambil minta seorang room-boy mengantar kami ke ruangan hotel di lantai tiga kalau aku tak salah.</p>
<p style="text-align: justify;">Segera kututup pintu kamar, di-lock sekaligus dan pesan supaya kami tidak diganggu karena mau beristirahat. Aku dan Rita duduk berhadapan di pinggir tempat tidur sambil tersenyum mesra penuh kemenangan. Akhirnya, angan-angan yang selalu kuimpikan untuk berdua-duaan dengan Rita ternyata terlaksana juga. Kukecup hidungnya, keningnya, telinganya, Rita menggelinjang geli. Kusodorkan mulutku untuk meraih mulutnya, dia terpejam manja dan ketika bibir kami bersentuhan dan kuulurkan lidahku ke bibirnya, ternyata dia langsung menyedot dan melumat lidahku dalam-dalam. &#8220;Ooohhgghh, Paahh&#8221;, Rita mulai terangsang dan merebahkan badannya, aku segera saja menggumulinya dan menaiki badannya, Rita melenguh dan terpejam, kemaluanku bergesekan dengan selangkangannya dan bau harum parfumnya semakin merangsang nafsuku. &#8220;Paahh, kita buka pakaiannya dulu, nanti lecek.&#8221; Oh, harum sekali mulutnya, kulumat habis wajahnya, kupingnya, jidatnya dan mulutnya. &#8220;Paahh, bandel nih, kita buka dulu bajunya!&#8221; Aku masih terengah-engah menahan nafsuku yang membara, kemaluanku semakin menegang menggesek selangkangannya. &#8220;OK Mahh&#8230; yuuk dibuka dulu.&#8221;</p>
<p><span id="more-1529"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Karena sudah sama-sama ngebet, kami saling membukakan pakaian dan setelah T-Shirt-nya kulepas, terlihat sepasang gunung menyembul putih, dan mulus sekali. Kami berpandangan setelah tak selembar benang pun menempel. Kudekap Rita yang mulus, putih, harum itu, kujilati semuanya sambil berdiri, sementara kemaluanku sudah tegang memerah, apalagi ketika Rita mulai meraba dan meremas batang kemaluanku. Kutelentangkan dia di tempat tidur. Oh&#8230; betapa mulusnya badan Rita, sempurna sekali seperti bidadari. Pinggulnya yang montok, buah dadanya yang putih kencang dengan puting merona merah dan kemaluannya yang dijalari rambut kemaluan yang tidak terlalu lebat jelas menampakkan bentuknya yang sempurna tanpa cacat, dan kelentit yang merah terlihat rapi dan belum menonjol keluar karena memang Rita masih perawan. Kujilati dari ujung kaki sampai ujung jidatnya yang mulus, naik ke atas, berhenti lama di bawah kemaluannya. Kumainkan lidahku di antara selangkangannya, Rita melenguh, terus kukulum-kulum kemaluannya, klitorisnya yang merah dan beraroma harum, tambah lama tambah merambah ke dalam lubang kemaluannya yang merah.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Ogghh, Paahh, geliii.., terusss Pahh, ogghh, tapi jangan terlalu dalam Pahh&#8230;, saakiiit.&#8221; &#8220;Yaa, sayanggg&#8221;, sambil terus lidah dan mulutku mengulum kemaluan dan kelentitnya yang mulai terasa agak asin karena cairan kemaluan Rita mulai keluar.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Ogghh, Paah&#8230;, adduuhh, Paahh, gelii, Pahh, Mamah kayaak maauu&#8230; ogghh.&#8221; Aku terus menjilati seluruh kemaluannya dengan membabi buta, kuhirup seluruh cairannya yang wangi itu, sekali-kali lubang pantatnya kujilati dan Rita menggelinjang dan merintih setiap kali kujilat pantatnya. Penisku semakin tegang dan keras, urat-uratnya terlihat jelas menegang, aku tahan terus supaya tidak ejakulasi duluan. Aku ingin memuaskan Ritaku yang tentunya baru merasakan kenikmatan surga dunia ini bersama lelaki yang dicintainya. &#8220;Paahh, eemmggghh.., teruss&#8230; Paahh, geellii&#8230;, oooggghh&#8230;, Pappaahh jaahhaatt!&#8221; aku masih saja terus melumat, memamah, menggigit-gigit kecil lubang kemaluan dan klitorisnya yang merah dan beraroma wangi, dan pantat Rita semakin cepat naik turun sepertinya mau agar lidahku semakin masuk ke lubang kemaluannya. &#8220;Paahh, naik Paahh, udaahh donnkk, Mamahh nggak tahaan&#8221;, sambil menarik tanganku. Matanya terpejam ayam, buah dadanya yang putih, mulus dan mengkel terlihat naik turun. Aku menaiki badannya dan penisku yang sudah seperti besi terasa menggesek bulu kemaluannya dan menempel hangat disela-sela kemaluannya yang semakin basah oleh ludahku dan cairan vaginanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Kuremas dan kuhisap buah dadanya, kukulum puting susunya yang merah muda, terasa sedap dan manis. Rita menggelinjang dan semakin melenguh. &#8220;Maahh, masukin yaa, penis Papah&#8221;, dia mengangguk sambil tetap terpejam. Kubidikan penisku yang sudah keras itu kelubang kemaluannya, dan kujajaki sedikit-sedikit lubangnya, maklum Rita masih perawan, aku tak ingin menyakitinya. &#8220;PPPaahh, masukkaan cepatt&#8230; Mamah nggak tahan Paah aahh&#8230;&#8221; Kutancapkan penisku lebih dalam, Rita merintih nikmat, pantatku naik turun untuk mencari lubang kemaluannya yang masih belum tertembus penis itu, Rita terus menggoyangkan pantatnya naik turun sambil terus merintih. &#8220;Maahh, penis Papahh udahh masuukk, oogghh mahh, vaginanya lezat, menyedot-nyedottt. .. penis&#8230;&#8221; aku mulai merasakan kenikmatan yang luar biasa, karena disamping Rita masih perawan, vaginanya juga punya keistimewaan yang sering disebut &#8220;empot-empot ayam&#8221; itu. Tambah lama, penisku tambah melesak jauh ke dalam vagina Rita dan ada beberapa tetes darah sebagai tanda keperawanannya diberikan kepadaku, boss-nya, kekasih barunya. Oh, betapa bahagianya hati ini. &#8220;Paahh, saakkiitt, Paahh, tapi enaak, oooggghh.. Paahh, terus, goyang paahh&#8230;, oooghh, cepeetiinn paahh&#8230;&#8221; Aku semakin mempercepat goyangan pantatku naik turun dan penisku sudah bisa masuk semuanya ke lubang kemaluan Rita. Aku bangun dan duduk sambil kupeluk Rita untuk duduk berhadap-hadapan dengan tidak melepaskan penisku. Rita duduk di pangkuanku dengan kaki melonjor ke belakang pantatku. Penisku terus menancap di vaginanya dan Rita mulai menaik-turunkan pantatnya. &#8220;Paahh, oggghh&#8230; pahh&#8221;, sambil melumat bibirku dan menggigitnya. &#8220;mmaahh,oogghh, aememmhh&#8230; maahh, goyang terusss&#8230;, Papah mau keluarrrr.&#8221; Rita semakin beraksi menaik turunkan pinggulnya yang bahenol dan putih bersih dan aku pun meladeninya dengan menaik-turunkan pantat dan penisku semakin kencang juga.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Pppaahh&#8230; Papahh harus tanggung jawab yaa, kalau Rita hamil&#8221;, ucapnya di sela-sela nafasnya yang semakin ngos-ngosan.<br />
&#8220;Ritaa&#8230; emmhhggg, sayang Pappaahh&#8230; biarin mengandung anak Papaah&#8221;, manjanya. Aku mengangguk saja sebab aku sangat mencintainya.<br />
&#8220;Paahh&#8230; oogghh&#8230; emmgghh&#8230; Ritaa mauuu&#8230; keluaarrr&#8230; oomhh.&#8221; &#8220;Papahh.. jugaa&#8230; sayanggg&#8230;. &#8220;jawabku sambil telentang agi sedangkan Rita tetap nongkrong berada di atas badanku dan vagina serta pantatnya naik turun semakin cepat melumat habis batang penisku.<br />
&#8220;Paahh&#8230; Mamahh&#8230; oooghh&#8230; sssakittt, oooggghh&#8230; tapiii.. ennaakk&#8221;, ketika kubalikkan badannya dan kutancapkan penisku dari belakang. Kugenjot terus penisku keluar masuk lubang kemaluannya sambil kuremas-remas pinggulnya yang mulus dan montok seperti gitar itu, Rita semakin merintih, aku juga semakin tersengal-sengal menahan nafasku dan penisku yang semakin liar. Waktu sudah berjalan sekitar 50 menit sejak kami masuk kamar. Kuat juga pikirku, mungkin berkat latihan yogaku yang cukup teratur, sehingga bisa menahan emosi dan cukup nafas. Aku memang rada jago juga dalam bermain asmara di ranjang.<br />
&#8220;Terruusss.. . Paahh&#8230; eemmhh&#8230; ogghh&#8230; Paahh&#8230; Paahh, ggghh&#8230; Mamahh maaooo keluaarr&#8230; oogghh&#8230; bareng Paahh.&#8221; Kucabut dulu penisku dan Rita kuminta untuk telentang kembali dan lantas kutindih lagi sebab aku ingin menatap dan menciumi wajah kekasihku ketika kami sama-sama ejakulasi. Kutancapkan kembali penisku ke vaginanya yang terlihat semakin memerah, kujilati dulu lendir-lendir di kemaluannya sampai lumat dan kutelan dengan nikmat. Dia menggeliat,<br />
&#8220;Cepat dong masukan lagi penisnya Pah!&#8221; dan,<br />
&#8220;Bbbleess&#8221;, oh nikmat sekali rasanya vagina perawanku tercinta ini. Aku seperti di awang-awang, saling mencintai dan dicintai. Kugoyang terus pantatku semakin lama semakin kencang dan penisku keluar masuk vaginanya dengan gagah, Rita terus melenguh kenikmatan sambil tangannya memilin-milin puting susuku semakin membawa nikmat. Rita semakin menggila goyangannya mengimbangi keluar masuk penisku ke vaginanya, penisku terasa disedot-sedot dan dijepit dengan daging lunak yang ngepres sekali. Keringat kami semakin bercucuran dan semakin membangkitkan gairah cinta, kemudian tiba pada puncak gairah cinta dan surga dunia kami yang paling indah, paling berkesan sekali disaksikan laut kidul, dan kami berdua serempak berteriak dan mengejang, &#8220;Paahh&#8230; Maahh&#8230; oogghh&#8230; mauuu keluuuarrr.. . ogghh&#8230; baarrrreeengg. .. yuuu&#8230;, oooghh&#8230; sayaang.&#8221; Kami sama-sama mengejang, mengerang, merengkuh apa pun yang bisa direngkuh, sebuah klimaks dua manusia yang saling mencintai dan baru dipertemukan, meskipun sudah agak telat karena aku sudah berkeluarga.</p>
<p style="text-align: justify;">Sejak itu, aku terus memadu kasih kapan dan di mana saja (kebanyakan di luar kota) sampai Rita kawin dan keluar dari perusahaanku. Anak-anaknya adalah anak-anakku juga bahkan wajahnya mirip wajahku dan kadang-kadang kami masih bertemu memadu kasih karena kami tidak bisa melupakan saat-saat indah itu. Kapan akan berakhir perselingkuhan ini, kami tidak tahu sebab cinta kami sangat mendalam. Rita telah keluar dari kantor cabang bank yang kupimpin di bilangan Slipi, karena dia dipaksa kawin dengan seorang laki-laki yang tidak dicintainya. Namun sebagai anak yang patuh sama orang tua, terpaksa harus mengikuti keinginan orangtuanya dan ikut bersama suaminya setelah itu ke Bandung, karena suaminya bertugas di kantor pajak Jawa Barat. Sebulan sebelum menikah dia kuajak ke Singapore untuk operasi selaput dara, karena aku tidak ingin Ritaku bermasalah dengan suaminya pada malam pengantinnya. Kami menginap di sebuah hotel di kawasan Orchard Road yang ramai dan penuh pertokoan selama tiga malam dan satu malam lainnya aku menungguinya di Rumah Sakit Elizabeth yang terkenal dan langsung ditangani oleh dr. Lie Tek Shih, spesialis operasi plastik, kenalan lama saya. Malam sebelum operasi selaput dara, kami menumpahkan seluruh kasih sayang semalam suntuk di hotel bintang empat itu, dan malam itu merupakan malam yang ke 24 (karena Rita rajin mencatat setiap pertemuan kami) kami memadu kasih dan terlarut dalam kebersamaan yang tiada tara sejak yang pertama di &#8220;Samudera Beach&#8221; Pelabuhan Ratu.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Papah&#8221;, Rita bersender manja di dadaku di kamar hotel itu.<br />
&#8220;Apa sayang?&#8221; jawabku sambil mencium rambutnya yang harum.<br />
&#8220;Mamah&#8230; Mamah nggak mau kawin dan meninggalkan Papah&#8221;, rengeknya manja.<br />
&#8220;Memangnya kenapa sayang?&#8221; jawabku sambil mengusap sayang payudaranya yang putih ranum.<br />
&#8220;Mamah nggak cinta sama calon suami pilihan Bapak, lagi pula Mamah nggak mau meninggalkan Papah sendirian di Jakarta.&#8221; Matanya terlihat mulai berkaca-kaca, &#8220;Mamah sangat sayaang sekali sama Papah, Mamah cintaa sekali sama Papah, Mamah tak rela tubuh dan segala milik Mamah dijamah dan dimiliki orang lain selain Papah, achh&#8230; kenapa Tuhan mempertemukan kita baru sekarang? setelah Papah punya isteri dan anak?&#8221; Rita terus bergumam sambil membelai dadaku dan sesekali mempermainkan puting susuku yang semakin keras.<br />
&#8220;Mahh, sudahlah, itu sudah diatur dari sananya begitu, kalau dipikir, Papah pun nggak rela kamu dijamah laki-laki lain, Papah tak kuasa membayangkan bagaimana malam pengantinmu nanti, tapi semuanya sudah akan menjadi kenyataan yang tidak mungkin kita robah.&#8221; Aku menciumi seluruh mukanya dengan segenap kasing sayang, seakan kami tidak ingin terpisahkan, air mata kami berlinangan campur menjadi satu dalam kesenduan dan kemesraan yang tak pernah berakhir setiap kali kami memadu kasih.<br />
&#8220;Papaahh, nikmatilah Ritamu sepuasmu Pahh, sebelum orang lain menjamah tubuhku.&#8221; Rita menarik tanganku ke buah dadanya dan merebahkan badannya ke kasur empuk sebuah double-bed. Aku beringsut mendekatinya, sambil kurebahkan badanku di samping tubuhnya yang putih mulus dan seksi itu. Kuusap-usap penuh mesra dan kasih sayang buah dadanya yang putih ranum dengan putingnya yang merona merah. Kujulurkan mulut dan lidahku ke puting buah dada kirinya yang menurutnya cepat membuat rangsangan berahinya timbul.<br />
&#8220;Paahh&#8230;, gelliii&#8230; sayaang&#8230; oooggghh, Paahh&#8230;, naikin Mamaahh&#8230; Paahh&#8230;&#8221; Matanya merem ayam dan dadanya semakin turun naik.<br />
&#8220;Iyyaa, yaanng&#8230;&#8221; aku segera menindihi badannya, dan penisku mulai kembali tegang. Tiba-tiba Rita membalikkan badannya dan mendadak merenggangkan kedua kakiku. Tak sampai satu menit, Rita sudah mengulum penisku yang semakin mengeras dan mengkilat kepalanya sampai batangnya amblas semua ke dalam mulutnya.<br />
&#8220;Oogghh, Paahh, sudah assiiinnn, Papah sudah ngiler nih, tapi nikmat kok, Mamah suka?&#8221; Aku semakin merem melek,<br />
&#8220;Ogghh, Mmaahh, geellii, sayaang, nikmaatt, ogghh.&#8221; Rita mengenyot biji pelirku dan menggigit-gigit sayang, hingga aku menggelinjang geli dan nikmat. Rita memang pintar, hebat, telaten dan cantik. Aku terkadang tak suka dan tak rela dia nanti ditiduri dan dijamah lelaki lain, walaupun itu suaminya. Aku terpikir untuk menggodanya.<br />
&#8220;Mah, apa nanti suamimu juga dijilati begini?&#8221; Rita berhenti melumat dan menjilat penis dan buah pelirku sejenak. Matanya mendelik dan mencubit pantatku keras sekali.<br />
&#8220;Jangan menyakiti hati Mamah ya Pah, Mamah sumpah nggak akan seperti ini, seperti main sama Papah, meskipun nanti lelaki itu resmi jadi suamiku&#8221;, Rita iseng mengusap-usap penisku penuh sayang sambil nyerocos lagi.<br />
&#8220;Percaya dech pah, Rita cuma cinta sama Papah, paling-paling kalau main nanti sama dia sekedar karena kewajiban, biar saja kayak gedebong pisang.&#8221;<br />
&#8220;Benar ya Mah, Papah nggak rela kalau kamu main sama dia dirasain, terus ikut goyang dan melenguh, Papah pasti merasakannya&#8221; , kataku menimpali.<br />
&#8220;Nggak bakal sayang, Mamah hanya manja dan menikmati semua kalau ngewe sama Papah, percaya dech sayang.&#8221; Rita kembali naik di atas badanku dan penisku terus diusap-usapnya dan sesekali dikocoknya persis di bagian kepalanya, sehingga langsung tegang dan berdiri perkasa menampakkan otot-ototnya. Rita mengangkat sedikit pantatnya ke atas dan menyelipkan penisku yang semakin perkasa ke lubang kemaluannya yang mulai basah dan licin. Penisku nggak begitu panjang memang, paling sekitar 15 sentimeter, tapi kerasnya seperti besi, dan Rita selalu menikmati klimaks dengan sangat bahagia bahkan bisa berkali-kali klimaks dalam setiap kali berhubungan denganku. Pantatnya mulai bekerja naik turun dan pantatku juga mengimbanginya dengan menekan-nekan ke atas, sehingga Rita semakin merem melek keasyikan. &#8220;Ppaahh, aagggghh&#8230; terus teken sayaang&#8230; Mamaahh eennnaakk adduuhh Paahh.., oogghh.., Mamaahh, cintaa.. yaangg&#8230;&#8221; Selalu saja Rita nyerocos mulutnya kalau lagi keasyikan vaginanya melumat penisku. Vaginanya mulai lagi menyedot-nyedot penisku dengan &#8220;empot ayamnya&#8221; yang tak bisa kulupakan.<br />
&#8220;mmaahh&#8230;. ooogghh&#8230; aduuhh, Maahh, nikmaat, sayaang.. teruuuss Maahh, goyaanng.&#8221; Aku mulai merasakan kenikmatan yang luar biasa. Kuremas-remas buah dada dan putingnya, hingga dia kegelian dan semakin kencang menaik-turunkan pantatnya, sampai bunyi gesekan penis dan vaginanya semakin terdengar. Rita membalikkan badannya dan membelakangiku tapi dengan posisi tetap di atas tubuhku tanpa mengeluarkan penisku dari kemaluannya. Aku paling bernafsu kalau melihat pantat Rita yang putih mulus dan bahenol turun naik di depan mataku sambil vaginanya terus menghisap-hisap batang penisku sampai amblas semuanya ke dasar kemaluannya. Tiba-tiba, &#8220;Pppaahh, oggghh, Papaahh, Mamahh maooo keluaarr&#8230;. ooghh&#8230; Papaahh&#8230; aa.. aa&#8230; aagghh aaggghh, Mamaahh duluaannn Pahh&#8230;.&#8221; Rita terkulai lemas sambil menyubit keras pantatku dan berbalik kembali menindih tubuhku, sambil memegang penisku yang masih berdiri tegak dan belepotan lendirnya. &#8220;Bandel nich&#8230; ayo cepeten masukin lagi, Mamah yang di bawah!&#8221; perintahnya manja sambil menciumi wajahku. Kedua tubuh kami mandi keringat, rasanya puas sekali setiap bersetubuh dengan Ritaku sayang.<br />
Aku tersenyum puas, aku memang nggak egois, biar Ritaku dulu yang terkulai lemas menikmati klimaksnya, aku bisa menyusul kemudian dan Rita selalu melayaniku dengan penuh kasih sayang dan kesabaran. Kubalikkan tubuhnya, kujilati dengan kulumat lendir-lendir di vaginanya, kujilat, kugigit sayang klitoris dan vaginanya, dia menggelinjang kegelian. Kutelan semua lendir Ritaku, sementara itu penisku masih berdiri tegak.<br />
&#8220;Cepat masukin penisnya sayang, Mamah mau bobo nich.., lemas, ngantuk&#8221;, kicaunya. Setelah kubersihkan vaginanya dengan handuk kecil, kumasukkan lagi penisku, aduh ternyata lubang vaginanya menyempit kering lagi, menambah nikmat terasa di penisku.<br />
&#8220;Mmaahh, eennaak&#8230; Maahh, oogghh, sempit lagi Maahh&#8230;&#8221; sambil terus kutekan ke atas dan ke bawah penisku.<br />
Aku sedikit mengangkat badanku tanpa mencabut penisku yang terbenam penuh di vagina Rita, kemudian kaki kanan Rita kuangkat ke atas dan aku duduk setengah badan dengan tumpuan kedua dengkulku. Rita memiringkan sedikit badannya dengan posisi kaki kanannya kuangkat ke atas. Dengan posisi demikian, kusodok terus penisku ke luar dan ke dalam lubang vaginanya yang merah basah. Rita mulai melenguh kembali dan aku semakin bernafsu menusukkan penisku sampai dasar vaginanya. &#8220;Ooggghh, Maahh, ooogghh.. nikmat sekali sayang&#8221;, lenguhku sambil memejamkan mataku merasakan kenikmatan vagina Rita yang menyut-menyut dan menyedot-nyedot. &#8220;Paahh.. Mamah enaak lagi, ooogghh&#8230; Paahh&#8221;, dia mulai melenguh lagi keenakan. Aku semakin bersemangat menusukkan penisku yang semakin tegang dan rasanya air maniku sudah naik ke ujung penisku untuk kusemburkan di dalam kemaluan Rita yang hangat membara. Kubalikkan tubuhnya supaya tengkurap dan dengan bertumpu pada kedua dengkulnya aku mau bersenggama dengan doggy style, supaya penisku bisa kutusukkan ke vaginanya dari belakang sambil melihat pinggul dan pantatnya yang putih dan indah. Dalam posisi senggama menungging begitu, aku dan Rita merasakan kenikmatan yang sangat sempurna dan dahsyat. Apalagi aku merasakan lubang vaginanya semakin sempit menjepit batang penisku dan sedotannya semakin menjadi-jadi. &#8220;Paahh&#8230; teruuuss genjoott.. Paahh&#8230;&#8221; Rita mulai mengerang lagi keenakan dan pantatnya semakin mundur maju sehingga lubang vaginanya terlihat jelas melahap semua batang penisku. &#8220;Blleesss, shhoottt&#8230; bleesss&#8230; srooottt, sreett crreeckkk&#8230; &#8221; gesekan penisku dan vaginanya semakin asyik terdengar bercampur lenguhan yang semakin nyaring dari dua anak manusia yang saling dilanda cinta.<br />
&#8220;Maahh, ooggghh&#8230; adduuuhh, Yaangg&#8230; emghh, Papah enaakk, ooghh!&#8221; aku tergoncang-goncang dan dengkulku semakin lemas menahan kenikmatan dan nafsuku yang semakin menggelegak. Sementara itu keringatku semakin bercucuran membasahi kasur meskipun AC cukup dingin di kamar hotel itu.<br />
&#8220;Paahh, ooogghh, teruuusss tusuuk Paahh&#8230;&#8221; Rita merintih-rintih ke asyikan, kelihatannya akan klimaks lagi. Rupanya Rita nggak mau tahu kalau posisi persetubuhan saat itu akan berakhir 2-1 untuk kemenanganku, dan entah akan menghasilkan skor berapa sampai pagi hari nanti, soalnya mumpung ketemu sebelum dia dikawinkan. Rita memintaku untuk telentang lagi dan sementara dia berada jongkok di depanku, sehingga vaginanya yang merah basah sampai ke bulu-bulunya terlihat jelas di depan mataku. Aku memberi kode agar Rita mendekatkan vaginanya ke mukaku. Sesaat kemudian vaginanya sudah ditindihkan di mulutku dan kulumat habis cairan asin bercampur manis yang ada di selangkangan dan mulut vagina dan bulunya. Kujilati habis dan kutelan dalam-dalam. Rita melenguh keasyikan sambil menggoyangkan pinggulnya ke atas ke bawah dan membenamkan vaginanya ke mukaku.<br />
&#8220;Paahh&#8230;, ooghh, Paahh&#8230;, nikmaatt, yaangg&#8230; teruusss, aduuuhh&#8230;, ooggghh, eemmhh, gilaa&#8230;, emmhh&#8221;, mulai ramai lagi dia dengan lenguhannya yang semakin menambah semangatku untuk terus melumat, menjilat, menggigit-gigit kecil kemaluan dan klitorisnya, lidahku terus menggapai-gapai ke dalam kemaluannya dan sesekali menjilat lubang pantatnya, sehingga dia menggeliat dan melenguh keenakan. Lenguhan Rita kalau sedang senggama itu tak bisa kulupakan sampai saat ini.<br />
Ritaku adalah isteriku yang sesungguhnya, meskipun secara resmi tidak dapat dilakukan karena keadaan kami masing-masing. Terkadang kami bingung apakah cinta kasih kami akan terus tanpa akhir sampai takdir memisahkan kami berdua? Rita kembali kuminta celentang, karena sudah kebiasaanku kalau aku klimaks harus melihat wajahnya dan mendengar lenguhannya di depan mataku, dan rasanya semua perasaan cintaku dan spermaku tumpah ruah di dalam vaginanya kalau aku ejakulasi sambil berada di atas tubuhnya yang mulus montok, terkadang sambil meremah buah dadanya yang putih padat.<br />
Kumasukkan lagi segera penisku yang sekeras besi dan berwarna coklat mengkilap itu kelubang vaginanya, &#8220;Blleeeessss. &#8221; Aku sudah tak tahan lagi menahan gumpalan spermaku di ujung penisku. Kugenjot penisku keluar masuk vaginanya sampai ke ujung batang penisku, sehingga rambut kemaluan kami terasa bergesekan membuat semakin geli dan nikmat rasanya. Kuangkat kaki kanan Rita ke atas, sehingga aku semakin mudah dan bernafsu memaju mundurkan pinggulku dan penisku, Rita meringis dan melenguh keenakan. &#8220;Paahh&#8230; teruuss Paahh&#8230; oogghh, penis Papah eaakk&#8230; ooggghh, eeemmhh&#8230; emmhh&#8230; aduuuhh.&#8221; Keringat kami semakin bercucuran membasahi sprei, masa bodoh sudah bayar mahal ini. Aku semakin bernafsu menyodok dan menarik batang penisku dari vagina Rita yang semakin licin tapi tetap sempit seperti perawan.<br />
&#8220;Oooggghh&#8230; Maahh&#8230; ooggghh&#8230; Maahh&#8230; ikut goyang dong Sayaang&#8230;, oooghh&#8230; Papaahh maauu keluuuaarr.. .&#8221; aku semakin gila saja dibuatnya, keringat semakin bercucuran, nikmat dan nikmat sekali setiap bersetubuh dengan Ritaku sayang. Air maniku rasanya tinggal menunggu komando saja untuk disemprotkan habis-habisan kelubang vagina Rita. &#8220;Paahh, aduuuhh, bareng yuuu.. Paahh&#8230; Mamah mmoo keluaarr lagi&#8221;, Rita minta aku menindihnya dan menciumnya. Segera kutimpa dia dari atas sambil melumat mulut, bibir dan lidahnya. &#8220;Ooogghh&#8230; yuu&#8230; baraeeng.. Paahh&#8230; aiiaaogghh.. . aduhh.. yuu Maahh.. Paahh&#8230;&#8221; badan kami saling meregang, berpelukan erat seakan tak mau lepas lagi. Air maniku kusemprotkan dalam-dalam ke lubang vagina Rita, rasanya nggak ada lagi tersisa. Kami terkulai lemas dalam pelukan hangat dan puas sekali. Sesekali penisku kutusukan ke dalam vaginanya, Rita menggelinjang geli dan melenguh &#8220;Paahh&#8230; udaahh&#8230; Mamahh geli&#8230;&#8221; matanya terpejam puas. Kuciumi dia, kubersihkan lagi vaginanya dengan jilatan lidah dan mulutku, ketimbang pakai handuk. Vaginanya tetap harum, manis dan wangi laksana melati.<br />
Sepulang dari Singapore, aku dan Rita masih selalu bertemu di beberapa motel di Jakarta dan sekitar Botabek. Aku seakan tidak rela melepas kekasihku untuk dikawinkan dengan lelaki lain. Tapi memang tidak ada jalan lain, sebab meskipun Rita telah menyatakan keikhlasannya untuk menjadi isteri keduaku, namun aku juga sangat cinta keluarga terutama anak-anakku yang masih butuh perhatian. Rita sangat maklum hal itu, namun dia juga tidak bisa menolak keinginan orangtuanya untuk segera menikah mengingat hal itu bagi seorang wanita adalah sesuatu yang harus mempunyai kepastian karena usianya yang semakin meningkat. Waktu itu Rita sudah berusia hampir 26 tahun dan untuk wanita seusia itu pantas untuk segera berumah tangga.<br />
Tanpa terasa hari pernikahan Rita sudah tinggal tersisa satu bulan lagi, bahkan undangan pesta pernikahan sudah mulai dicetak, dan dia memberitahukan aku bahwa resepsi pernikahannya akan diselenggarakan di Balai Kartini. Hatiku semakin merasa kesepian, dari hari ke hari aku semakin sentimentil dan sering marah-marah termasuk kepada Rita. Aku begitu tak rela dan rasanya merasa cemburu dan dikalahkan oleh seorang laki-laki lain calon suami Rita yang sebenarnya tidak dia cintai. Tapi itulah sebuah kenyataan pahit yang harus kutelan. Itulah adat ketimuran kita, adat leluhur dan moyang kita. Barangkali kalau aku dan Rita hidup di sebuah negara berkebudayaan barat, hal ini tidak bakalan terjadi, sebab Rita bisa menentukan pilihannya sendiri untuk hidup bahagia bersamaku di sebuah flat tanpa bisik-bisik tetangga dan handai-taulan di sekitar kita.<br />
Tanpa terasa pula aku sudah menjalin cinta dan berhubungan intim dengan Rita hampir empat tahun lamanya, seperti layaknya suami isteri tanpa seorang pun yang mengetahui dan hebatnya Rita tidak sampai mengandung karena kami menggunakan cara kalender yang ketat sehingga kami bersenggama jika Rita dalam keadaan tidak subur.<br />
Pada suatu sore, Rita meneleponku minta diantarkan untuk mengukur gaun pengantinnya di sebuah rumah mode langganannya di kawasan Slipi. Kebetulan aku sedang agak rindu pada dia. Kujemput dia di sebuah toko di Blok M selanjutnya kami meluncur ke arah Semanggi untuk menuju ke Slipi. Di mobil dia agak diam, tidak seperti biasanya.<br />
&#8220;Rit, kok tumben nggak bersuara&#8221;, kataku memecah hening.<br />
Dia menatap mukaku perlahan, tetap tanpa senyum. Air matanya terlihat samar di pelupuk matanya.<br />
&#8220;Mah, kenapa sayang? kok kelihatannya bersedih&#8221;, kataku sekali lagi.<br />
Dia tetap menunduk dan air matanya mulai meluncur menetes di tanganku yang sedang mengelus mukanya.<br />
&#8220;Bertambah dekat hari pernikahanku, aku bertambah sedih Pah&#8221;, ujarnya.<br />
&#8220;Mamah membayangkan malam pengantin yang sama sekali tidak Mamah harapkan terjadi dengan lelaki lain. Sayang sekali kamu sudah milik orang lain. Kenapa kita baru dipertemukan sekarang?&#8221; Rita berceloteh setengah bergumam. Aku merasa iba, sekaligus juga mengasihani diriku yang tidak mampu berbuat banyak untuk membahagiakannya.<br />
Kugenggam tangannya erat-erat seolah tak ingin terlepaskan. Tanpa terasa, mobilku sudah memasuki pekarangan rumah mode yang ditunjukan Rita. Hampir setengah jam aku menunggu di mobil sambil tiduran, mesin dan pendingin mobilku sengaja tak kumatikan. Laser disk dengan lagu &#8220;Love will lead you back&#8221; mengalun sayup menambah suasana sendu yang menyelimuti perasaanku. Aku dikejutkan Rita yang masuk mobil dan membanting pintunya. Setelah berada di jalan raya kutanya dia mau ke mana lagi dan dia menjawab terserahku. Kuarahkan mobilku kembali ke jembatan Semanggi dan belok kiri ke jalan Jenderal Sudirman dan masuk ke Hotel Sahid. Sementara aku mengurus check-in di Reception Desk, Rita menungguku di lobby hotel. Kemudian kami naik lift menuju kamar hotel di lantai dua.<br />
&#8220;Pah, Mamah serahkan segalanya untukmu, Mamah khawatir sebentar lagi Mamah dipingit, nggak boleh keluar sendirian lagi, maklum tradisi kuno kejawen masih ketat.&#8221; Tanpa malu-malu lagi karena kami memang sudah seperti suami isteri, dia membuka satu persatu pakaian yang melekat di badannya sehingga kemontokan tubuhnya yang tak bisa kulupakan terlihat jelas di hadapanku. Tanpa malu-malu pula dia mulai memelorotkan celana panjang sampai celana dalamku, sehingga batang penisku yang masih tiduran terbangun. Tanpa menungguku membuka baju dan kaus singlet, Rita sudah membenamkan batang penisku ke mulutnya dan melumatnya dalam-dalam. Aku mulai merasakan kenikmatan yang luar biasa dan batang penisku mulai mengembang besar dan keras seperti besi.<br />
&#8220;Ogghh&#8230; Maahh&#8230;, isep terus yaang oooghh, aduuuuhh&#8230; gelli&#8221;, aku mulai melenguh nikmat dan Rita semakin cepat mengulum penisku dengan memaju-mundurkan mulutnya, penisku semakin terasa menegang dan aliran darah terasa panas di batang penisku dan Rita semakin semangat melumat habis batang penisku. &#8220;Oggghh, Paahh, enaakkk asiiin.. Paahh.&#8221; Wah, batang penisku makin terasa senut-senut dan tegang sekali rasanya cairan spermaku sudah berkumpul di ujung kepala penisku yang semakin merah mengkilat dikulum habis Rita. Aku minta Rita menghentikan hisapannya dulu, kalau tidak rasanya spermaku sudah mau muncrat di mulutnya.<br />
&#8220;Ooogghh, Maahh, sudah dulu doong, Papaahh moo&#8230; keluaar!&#8221; Rita menuruti eranganku dan beranjak rebah dan telentang di tempat tidur. Aku mengambil nafas dalam-dalam untuk menahan muncratnya spermaku. Aku ikut naik ke tempat tidur dan kutenggelamkan mukaku ke tengah selangkangannya yang mulus putih tiada cela tepat di depan kemaluannya yang merekah merah. Kujulurkan lidahku untuk kemudian dengan meliuk-liuk memainkan kelentitnya, turun ke bawah menjilat sekilas lubang pantatnya. Rita melenguh kegelian dan mulai menaik-turunkan pantatnya yang putih dan gempal.<br />
Kutarik ke atas lidahku dan kujilat langit-langit vaginanya yang mulai basah dan terasa manis dan asin. Kutegangkan lidahku agar terasa seperti penis, terus kutekan lebih dalam menyapu langit-langit vagina Rita. Rita semakin memundur-majukan pinggulnya sehingga lidahku menembus lubang vaginanya semakin dalam. Aku sebenarnya ingat bahwa hasil operasi selaput daranya tempo hari di Singapore bisa jebol lagi, tapi aku tak peduli kalau kenikmatan bersenggama dengan Rita telah memuncak ke ubun-ubunku. &#8220;Paahh&#8230; ooghh&#8230; wooowww&#8230; ooghh.. paahh, terus paahh&#8230; enaakkk&#8230; paahh lidahnya kayaak kontoooll&#8230; &#8221; Goyangan pinggul Rita semakin menggila, aku pun tambah semangat membabi buta memainkan lidah dan mulutku melumat habis vagina dan klitorisnya sampai cairan Rita semakin banyak mengalir. Kuhisap dan kutelan habis cairan vagina Rita yang asin manis itu sehingga lubang vaginanya selalu bersih kemerahan. Rita terus menyodok-nyodokkan vaginanya ke mukaku sehingga lidahku terbenam semakin dalam di lubang vaginanya, sampai mulai terasa pegal rasanya lidahku terus kutegangkan seperti penis. &#8220;Paahh&#8230; sudah naik sayaang, Mamah sudah nggak tahan, masukkan penisnya sayang.&#8221; Rita menarik tanganku ke atas supaya aku segera menaikkan badanku di atas badannya.<br />
Penisku memang sudah terasa panas dan tegang sekali. Rita tak sabar memegang penisku dan menuntunnya ke lubang vaginanya yang sudah basah karena lendir kemaluan bercampur ludahku. Maka &#8220;bleeess&#8221;, &#8220;Ogghh&#8230; Paahh&#8230; tekan terus sayaang, Mamah udaahh rinduu&#8230; oogghh emmgghh&#8230; Paah&#8230; terus goyaag sayaang&#8230;. ooghh..&#8221; Pantat Rita mulai bergerak naik turun dengan liar dan penisku sebentar masuk sebentar keluar dari lubang vaginanya yang menyedot-nyedot lagi. Kunaikkan kaki kanannya dan dengan posisi setengah miring dan posisiku setengan duduk aku sodok vagina Rita dari belakang. Aku semakin bernafsu kalau melihat pantat dan pinggul Rita yang putih. Penisku semakin ganas dan tegang menyodok mantap vaginanya dari belakang.<br />
Rita membalikkan tubuhnya sehingga menungging membelakangiku dan penisku tak kucabut dari vaginanya. &#8220;Paahh.. teruuss dooong, Mamaah nikmaa&#8230; ogghh&#8230; teruuusss&#8230; sodoook sayaang&#8230; ogghh&#8230; Paahh&#8230;. aaoggghh&#8230; uuuggghh&#8230;&#8221; Pantatnya semakin menggila mundur maju dan aku pun semakin menggila menyodokkan penisku sampai rasanya mau patah. Memang setiap senggama sama Rita rasanya habis-habisan. Kutumpahkan semua kemampuan dan keperkasaanku untuk membahagiakan Ritaku. Dia pun demikian, tidak ada yang tersisakan kalau kami bersenggama. Harus habis-habisan supaya puas. Keringat kami membanjiri sprei hotel seperti habis mandi.<br />
&#8220;Mmaahh&#8230; oooghh, teruuusss goyaang&#8230; oooggghh.. Maahh&#8230; Papaahh mooo keluaarr&#8230; gila Maahh&#8230; vaginanyaa.. . oooghh&#8230; nikmaat&#8230; sekalii&#8230;&#8221; Aku mulai ribut dan Rita melenguh semakin panjang. Mungkin tamu kamar sebelah mendengar lengkingan dan lenguhan kami.<br />
Masa bodoh! &#8220;Pahh&#8230; emmghh&#8230; oogghh&#8230; Paapaahh&#8230; adduuuhh.. Paahh&#8230; adduuhh&#8230; Mamaahh&#8230; mmooo kelluuaarr.. . emmggg&#8230; addduhh&#8230; Paahh aduuhh&#8230; Paahh&#8230; adduuhh&#8221;, Kugenjot terus penisku keluar masuk, vagina Rita yang semakin banjir dengan cairan vaginanya, terus kugenjot penisku sampai pegel aku tak peduli. Keringat kami terus membanjiri sprei.<br />
Kuminta Rita telentang kembali karena dengkulku mulai lemas. Dia tersenyum sambil tetap memejamkan matanya. Oh, cantiknya bidadariku, rasanya ingin kukeluarkan seluruh isi penisku untuknya. Rita baru sadar bahwa hasil operasi selaput daranya mungkin jebol lagi. Rita bilang masa bodoh, yang penting semuanya telah diberikan buat Papah. Biar saja suaminya curiga atau marah atau bahkan kalau mau cerai sekalipun kalau tahu dia nggak perawan lagi. Kali ini kami nggak menunggu waktu ketika Rita sedang tidak subur, karena Rita ingin mengandung anakku dan orang tidak akan curiga karena Rita akan punya suami. Memang kasihan nasib suami Rita nanti, tapi bukan salah kami karena dia merebut cinta kami, ya kan ?<br />
&#8220;Cepat pah masukan lagi ach&#8230; jangan mikirin orang lain!&#8221; Tuh kan betapa dia nggak ambil peduli tentang hari pernikahannya dan calon suaminya, sebab bagi dia akulah suami sesungguhnya dalam hati sanubarinya. Bleess&#8230;, &#8220;Ooogghh&#8230; Paahh, enaak&#8230; Paahh&#8230; aaoogghh.. uuhhgg.. uuughh&#8230; genjot terus Paah&#8221;, Aku tekan penisku sekuat-kuatnya sampai tembus semuanya ke lubang paling dalam vaginanya sampai terasa mentok. &#8220;Ooogghh&#8230; mmaahh&#8230; nikmaattt&#8230; istrikuu&#8230; sayaangg&#8230; oooggghh&#8230; aagghh&#8230; eemmgghh&#8230;&#8221; aku setengah berdiri lagi dengan tumpuan ke dua dengkulku dan kurenggangkan kedua kaki Rita, kusodokkan terus penisku keluar masuk vaginanya, bleeesss&#8230; sreeett&#8230; blleeess&#8230; sreeet&#8230;, vaginanya menimbulkan suara yang semakin memancing gairah kami berdua. Rita memejamkan dan mengigit-gigit bibirnya dan mencakar-cakar punggung dan tanganku ketika mulai meregang.<br />
&#8220;Ooooggghh.. . Paappaahh&#8230; emmggg&#8230; ooggghh&#8230; aduuuhh&#8230; Mamaah moo keeluuuuarr. . oooghh.. Paahh&#8230; teruuuss&#8230; saayyaang, keluuaarriiinn barreenng oogghh&#8221;,<br />
&#8220;Hayyyoo&#8230; Maahh&#8230; oogghh&#8230; hayoo&#8230; baarr&#8230; ooghh&#8230; reenng&#8230; Maahh&#8230; ooooghh&#8221;, teriakanku tak kalah serunya. Kami menggelepar, meregang, mengejang bersama-sama, serasa nafasku mau copot dan Rita melenguh panjang sambil merasakan cairan air maniku tertumpah ruah di lubang kemaluannya, terasa nikmat dan hangat katanya. Biasanya sehabis merasakan klimaks yang sangat dahsyat Rita selalu memukul dan mencubit sayang badanku, terus kelelahan mau tidur sehingga terbaring lunglai dengan keringat bercucuran. Aku selalu memeluk dan menciumi keningnya, hidungnya, mulutnya, rambutnya sampai ke pantatnya, biasanya dia menggelinjang dan marah-marah karena geli. Jika Rita sudah terpuaskan dan tertidur, aku rasanya lelaki yang sangat berbahagia di dunia ini&#8230;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ceritasex.cn/ritaku-tercinta-chapter-one/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Karyawanku Yang Beruntung</title>
		<link>http://www.ceritasex.cn/karyawanku-yang-beruntung/</link>
		<comments>http://www.ceritasex.cn/karyawanku-yang-beruntung/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 04 Apr 2010 20:07:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cerita Sex</dc:creator>
				<category><![CDATA[Daun Muda]]></category>
		<category><![CDATA[Seks Umum]]></category>
		<category><![CDATA[amoy]]></category>
		<category><![CDATA[cece]]></category>
		<category><![CDATA[cina]]></category>
		<category><![CDATA[linda]]></category>
		<category><![CDATA[ngentot]]></category>
		<category><![CDATA[orgasme]]></category>
		<category><![CDATA[perawan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ceritasex.cn/?p=1347</guid>
		<description><![CDATA[Siang itu, aq ke toko bersama temen kuliah aq. Sebut saja namanya Silvy. Anaknya cantik dan centil. Rambutnya disemir highlight. &#8220;wah&#8230;ada nonik nonik cantik nih!&#8221;, goda faizal sambil bersiul-siul. Tiga karyawan aq yang lain cuman senyum-senyum. Maklum, yang tiga ini keliatannya ngga kegatelan kayak si faizal itu. huh! Sesampainya didalam, silvi bilang kalo si faizal [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Siang itu, aq ke toko bersama temen kuliah aq. Sebut saja namanya Silvy. Anaknya cantik dan centil. Rambutnya disemir highlight. &#8220;wah&#8230;ada nonik nonik cantik nih!&#8221;, goda faizal sambil bersiul-siul. Tiga karyawan aq yang lain cuman senyum-senyum. Maklum, yang tiga ini keliatannya ngga kegatelan kayak si faizal itu. huh!</p>
<p style="text-align: justify;">Sesampainya didalam, silvi bilang kalo si faizal lumayan ganteng juga, kayak indra brugman. whahahahaha&#8230;.gw ngakak abis. indra gedubrag kali ya. kamu demen ama dia ya? silvy cuman mencibir&#8230;ih ngga lah. kan cuman komen aja, kok. Hihihi&#8230;komen apa komen, nik Awas ya lu sampe ada macem-macem ama dia, sahutku ketus. Dia bengong, lalu bertanya emangnya ada apa. &#8220;Ya pokoknya gitu deh.&#8221;. temen gw itu terdiam, trus ho-oh sambil bingung.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;ah&#8230;gue tahu!&#8221;, pekik dia tiba-tiba. &#8220;Dia tuh salah satu budak loe kan?&#8221; gubrak! kaget gw dibilang begitu. Weleh&#8230;ini anak tahu dari mana ya? Ngga lah..ngapain juga, sahut gw enteng. Alaaa, ngaku aja&#8230;gue kan tahu elo, balas Silvy dengan gayanya yang centil dan sok imut ^^.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Tapi aneh juga ya. cowok jadi budak seks elo. apa ngga kebalik tuh?&#8221;, tanya dia. Kebalik gimana? &#8220;ya mestinya elo yang jadi budaknya dia. mungkin aja elo merasa yang memperbudak, padahal dia tetap dapat keuntungan toh?&#8221;, tukas Silvia sambil tertawa centil. Gw cuman bisa melengos aja.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;wah loe gila lin. kalo dia mulut ember gimane coba? malu la&#8230;&#8221;, ujarnya. ah biarin. tapi kayaknya dia bisa dipercaya kok, sahutku ringan. Dia lalu manggut-manggut. mungkin keenakan kali ya bisa ngewe ama elo? katanya genit. Hahaha&#8230;gw cuman tertawa kecil. Sama-sama enak lah yaow!</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;napa loe pengen coba?&#8221;, tanyaku kecil. Xixixixi&#8230;ngga lah. &#8220;tapi gw penasaran deh. katanya itunya gedhe yach!&#8221;, tanyanya penuh antusias. Hahaha&#8230;gw cuman ketawa. liat aja sendiri. &#8220;Yeee&#8230;. gitu aja ngga mau bilang. sebel deh.&#8221;, ujarnya sewot.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Hoi, jadi ngga ntar akhir minggu kita jalan2 ke tretes?&#8221;, tanyaku. Ho-oh dunk! kenapa? kamu ga bisa? Ngga, ya bisalah, sahutku, kan kita mau cari koko-koko disana hihihi&#8230;</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Ahhhh! aku ada ide!&#8221;, pekik silvy. &#8220;Gimana kalo ngajak di faizal itu? Dia kan bisa nyetir, sering nganterin kamu kuliah kan? kita butuh disupirin nih, ga nyupir sendiri. juga kan lebih nyaman plus aman kalo ada cowok yang ikut. betul ga?&#8221;.</p>
<p style="text-align: justify;">gw diem sejenak. &#8220;ah&#8230;elo pasti kegatelan pengen diewe ama tukang gw itu kan?. Silvy tertawa, &#8220;siapa takut!&#8221;. lagi-lagi gw cuman melengos aja. &#8220;kenapa ngga ngajak pacarmu sih? kan enak.&#8221;. Dia mengeleng.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;aduuuuh jeng lina, itu kan ladies night, buat kita berdua, BFF. ga enak lah ngajak hanhan.&#8221;. Wew, lah trus kamu mau tanggung akomodasinya? penginapan, makanan dan uang saku. Itu kan musti diperhitungkan, sahutku. Dia mengangguk.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah berunding, akhirnya kita sepakat mengajak faizal ke Tretes untuk berlibur, tentunya dia jadi supir. Akomodasinya ditanggung berdua (maklumm, dia juga anak bos hihihi). Dan, Kok ya pas, masih ada kamar tersisa untuk dibooking, padahal termasuk libur panjang hari kejepit ^^, tapi kamarnya faizal dapatnya paling pojok. wkwkwkwk&#8230;namanya juga kamar sisa yang ga laku</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;pokoknya aku ikut!&#8221; Aku dan Silvy terbengong melihat adik perempuan silvy, merajuk ingin ikut. Padahal kita hanya booking 2 kamar. Pas mau nambah udah ngga bisa, penuh!</p>
<p style="text-align: justify;">Akhirnya, daripada ribut-ribut, Linda (adiknya silvy) diputuskan boleh ikut. Dengan gembira dia segera mempersiapkan koper dan kemudian berangkat bersama-sama.<br />
<span id="more-1347"></span><br />
Karena kita berangkatnya pagi, sampai disana masih siang. Setelah cek-in, kita segera membenahi kopor. Untung dapat kamar yang ranjangnya king-size, jadi dibuat bertiga masih bisa, walaupun agak sempit. Tapi gw ga yakin itu king-size beneran, kok terasa lebih kecilan ya dari ranjang gw.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah agak sorean&#8230;, kita bertiga berencana untuk berenang. Bikini two piece sudah melekat di tubuh kita, dibalut kemeja tipis putih. Kita emang sengaja pakai yang seragam biar menarik perhatian koko-koko gitu lho wkwkwkwk&#8230;</p>
<p style="text-align: justify;">Tiba-tiba&#8230; &#8220;tit tit&#8230;tit tit&#8221; ada sebuah SMS masuk ke hp gw. Isinya, &#8220;Ayo non. sekarang aja ya. mas udah ngga tahan nih&#8230;&#8221;. Wew&#8230;si faizal toh. Segera aku tunjukin ke Silvy dan dia langsung tertawa genit. Linda ingin tahu juga apa isi sms itu tetapi aq larang. bisa berabe uey ^_^.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;gimana?&#8221; tanyaku. Silvy cuman mengangkat bahu, &#8220;ya terserah sih. lagian aku ya ngga begitu mood berenang.&#8221;. Linda terlihat kaget dengan jawaban cece-nya. Loh aku ya ga mau kalo berenang sendirian, ujarnya sewot.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;gini aja. kamu berenang dulu. Cece ama ce Lina ada urusan bentar. nanti kita susul.&#8221;, bujuk Silvy. Aq mengangguk.</p>
<p style="text-align: justify;">Janji ya? IYA! Linda lalu mengambil handuk dan keluar untuk berenang, olahraga kesukaannya. In the meantime, aq reply sms-nya faiz, &#8220;sini aja kalo berani!&#8221;. wkwkwk&#8230;</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;lho ada mbak Silvy. Katanya mau berenang?&#8221;, tanya Faizal heran. Aq diam saja sambil duduk diranjang. Silvy terlihat sekali salah tingkah, mungkin gugup dia.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Ya dah. saya keluar dulu aja, mbak. permisi.&#8221;, pamitnya ke aq. Eit! mas. ga papa. dia mau ikutan kok!, ujarku pelan.</p>
<p style="text-align: justify;">Wew&#8230;pembaca bisa bayangkan betapa lebar mata faizal melotot kaget! kayak mau copot aja matanya. ^_^</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;serius nih mbak?&#8221;. Sambil tersenyum Silvy menganggukkan kepala. Woooo.. Aseeeeeeeeeeeeeeeeeeek! Teriaknya kegirangan! Dua mq cina sekaligus! waaaaaaa mimpi apa aku! waaaaaaaaaaaaaaa!</p>
<p style="text-align: justify;">Wew&#8230;kayak dapet lotere aja mas&#8230;</p>
<p style="text-align: justify;">Faizal lalu duduk di ranjang. Aq ama silvy diam aja. Tegang nih! hihihi&#8230; &#8220;yang mana dulu tak bikin kelojotan nih?&#8221;, ujarnya santai. Aq spontan nunjuk Sylvy, yang dibalas dengan pelototan mata.</p>
<p style="text-align: justify;">Tidak membuang waktu Faizal lalu memeluk tubuhnya Silvy dan merebahkannya keatas ranjang. Diciuminya bibir Silvy yang tipis itu dengan penuh gairah. Aq lihat silvy diam saja. Mungkin masih belum biasa dengan cowok seperti faizal. Aq duduk disebelahnya sambil melihat mereka bercumbu.</p>
<p style="text-align: justify;">Faizal lalu menjilati leher Silvy sambil mulai melepas kemeja putih tipis yang dipakai. Tangannya meremasi payudara Sylvi yang ranum itu dengan nafsu. Awalnya Silvy selalu menepis, tetapi lama-lama dia membiarkan payudaranya diremas-remas begitu oleh Faizal.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah agak lama, faizal lalu melepas ikatan bra bikini hitam yang dipakai Silvy. Dipandanginya sebentar kedua buah dada yang indah putih itu. Lalu dengan ganas dia menjilati puting sebelah kanan Silvy. &#8220;Ssstt&#8230;ah&#8230;.&#8221; erang Silvy keenakan. Kedua tangan temenku itu udah mulai memeluk kepala faizal dan tampak sangat menikmati putingnya disedot-sedot karyawan gw itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Tak tahan dengan gejolak, aku pun mulai menyedot puting kiri Silvy. Dia semakin keras mengerang keenakan. Kami berdua terus mencumbui kedua puting Silvy dan membuatnya semakin bergairah.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah beberapa menit memberikan rangsangan seksual kepada Silvy, Faizal lalu rebah, terlentang. &#8220;Ayo mbak, gantian dunk.&#8221;, ujarnya genit.</p>
<p style="text-align: justify;">Silvy membalasnya dengan menyedot puting kanan si Faizal itu sambil membelai- belai penisnya. Aq tak mau kalah, gw juga sedot puting kiri Faizal sambil memainkan penisnya juga. Faizal cuman mengerang &#8220;ah&#8230;enaknya .ssssst&#8221; merasakan dirinya dicumbui oleh dua gadis chinese yang cantik. wkwkwk&#8230;</p>
<p style="text-align: justify;">setelah cukup puas, Faizal menghentikan kami dan menyuruhku melepas CD yang dia pakai. Dengan perlahan gw lepas celana dalam hitam dia yang cukup seksi itu. Dan&#8230;wow&#8230;!</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Lebih gedhe dari punya hanhan toh?&#8221;, kataku sambil ketawa. Silvy cuman tersenyum genit. Kita berdua lalu rebutan menjilati penis hitam yang berukuran cukup besar itu. Sangat pas dengan bentuk tubuh Faizal yang atletis.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;stt&#8230;.sss&#8230;ah&#8230;.aduh mbak&#8230;sss&#8221;, erang faizal keenakan, merasakan penisnya bergantian dikulum, dijilat, dikocok dan diremas-remas oleh aq dan Silvy. Cukup lama kami memainkan penisnya si Faizal itu sampai dia meminta berhenti, takut muncrat. Hehehe&#8230;</p>
<p style="text-align: justify;">Dia lalu bangun dan menarikku keranjang. Dengan ganas dia melucuti seluruh pakaianku dan membiarkan aku tidur terlentang tanpa sehelai benang pun. Diangkatnya kedua lenganku keatas lalu dijilatinya kedua payudaraku dengan penuh nafsu. Silvy duduk disamping aq sambil tangannya mengkocok penis Faizal. Aq dan Faizal berciuman cukup lama sambil kedua tangannya bergerilya meremasi dan memainkan payudara serta putingku.</p>
<p style="text-align: justify;">Saat dia menjilati leherku, aku bisikin, &#8220;ayo mas, masukin. saya udah ga tahan.&#8221;. Dia cuman nyengir sebentar tetapi terus mencumbui aku tanpa memasukkan penisnya yang besar itu. oh! aq tersiksa betul dengan gairah yang meledak-ledak ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Faizal kemudian menindihku dan menggesek-gesekkan penisnya pas di belahan mqku. auh&#8230;ini orang bener2 tahu cara menggoda cewek. Aq sudah ngga tahan, setiap gerakan menusuknya sengaja aq cari sela yang pas supaya bisa masuk. Setelah beberapa kali meleset, akhirnya dia menusukkan penisnya yang besar kedalam mq aq.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Ouhhhhhhh&#8230;..mas&#8230;sshhh&#8230;&#8221;, erangku penuh nikmat. Sekilas kulihat Silvy mengerang sendiri dan mencumbui dirinya.</p>
<p style="text-align: justify;">Faizal menggenjotku dengan kasar. Ouh&#8230;terasa agak sakit karena ukuran penisnya yang cukup besar, kayak sesak gitu mq aq. Tapi enak&#8230;st&#8230;terusin mas&#8230; Dia menciumi bibirku dan kami berpelukan sambil aq digenjot dengan ganas. Setelah beberapa menit aq merasakan kenikmatan, tiba-tiba faizal menghentikan genjotan kasarnya dan mencabut penisnya.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Aduh&#8230;kok dikeluarin. ayo masukin lagi mas&#8230;ayo&#8230;&#8221;, pintaku. Duh&#8230;udah ga kayak bos ama karyawan deh. Betul omongan Silvy, ini yang jadi budak seks siapa ya? Aku tahan pantatnya supaya penisnya ngga dikeluarin, tapi faizal menepis tanganku dengan lembut dan mencabut penisnya dari mq aku.</p>
<p style="text-align: justify;">Dia lalu mencium Silvy dengan penuh nafsu. Ah, rupanya gantian di Silvy toh&#8230; Ya udah, aku mengalah ^_^ hihihi&#8230; Faisal lalu merebah terlentang dan Silvy ditariknya keatas badannya. Dia lalu memposisikan penisnya dan bleb&#8230;langsung masuk kedalam mq Silvy.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Auuuuuuuuh&#8230;sakit&#8230;mas&#8230;&#8221;, erang Silvy. Rupanya mq-nya belum terbiasa dimasukin penis segede itu. Ndak papa, mbak. lama-lama nanti enak. Tanya mbak Lina kalo ngga percaya. Dia sekarang ketagihan ama penis jawa aku hahahaha&#8230; sahut Faizal enteng sambil tertawa lebar.</p>
<p style="text-align: justify;">Faizal memegang pinggul Silvy dan menggoyangnya maju mundur. Payudara Silvy yang cukup besar, sekitar 34C terlihat sangat seksi dengan posisi digenjot seperti itu. Aq yang sudah horny lalu merengkuh kepala Silvy dan menciumi bibirnya. Dia awalnya kaget, tapi lalu membalas ciuman aq. Yah&#8230;seumur-umur nih baru kali ini maen ala lesbi. Hehehe&#8230;tapi udahlah&#8230;namanya juga lagi horny</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah cukup puas, Faizal lalu merebahkan Silvy dan menggenjotnya lagi dengan ganas, kali ini dalam posisi misionaris. Wah aku baru tahu kalo Silvy itu ribut banget saat ngesex ya. Wkwkwk&#8230;Erangannya begitu erotis, mungkin dia betul-betul &#8220;lepas&#8221;, kalo aq seh masih ada rasa &#8220;segan&#8221; gitu lho&#8230; maklum, aq kan bos. hahaha..</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;cklek&#8230; cklek&#8230;&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Aduh&#8230;cece ini gimana seh. Katanya mau nyusul. Ditunggu lama ngga datang-datang. sebel lho aku.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">WADOOOOOOOOOOOOOOH!</p>
<p style="text-align: justify;">Linda tiba-tiba nongol masuk kedalam kamar. &#8220;Ya ampun cece&#8230;Ya ampunnn&#8230;&#8221;, Teriaknya kaget melihat aq dan Silvy dengan asyik berhubungan seks dengan Faizal.</p>
<p style="text-align: justify;">Aq kuaget setengah mati, begitu juga dengan Faizal dan Silvy. Faizal segera mencabut penisnya sedang Silvy berusaha menutupi badannya dengan apapun yang bisa diraihnya.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Aku laporin mama!&#8221;, teriak Linda. Dia lalu berusaha keluar kamar. Tiba-tiba Faizal meloncat turun dari ranjang dan menyergap Linda, lalu menariknya hingga duduk diatas ranjang. &#8220;jangan mas&#8230;jangan&#8230;.&#8221;, teriak Linda, dia nampak shock, begitu juga Aq dan Silvy. &#8220;mas jangan apa-apain adikku lho&#8230;maaaaaaas!&#8221;, teriak Silvy ikutan histeris. Aq diam terpaku tidak tahu harus bagaimana.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;tenang aja mbak. tenang semua! aku bukan pemerkosa kok&#8230;!&#8221;, hardik Faizal dengan tegas, menghentikan teriakan dan histeris kami bertiga.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Mbak linda tenang saja. Cece kalian itu tidak saya perkosa kok. Mereka yang mau sama saya. Saya cowok baek-baek, bukan pemerkosa.&#8221;, ujar Faizal setelah beberapa waktu. Linda melengos.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Mana handphonemu?&#8221;, pinta Faizal ke Linda. Awalnya Linda menolak menyerahkan handphonenya, tetapi setelah dibentak Faizal, dengan gemetar dia memberikan HP itu kepada karyawan aq. Faizal lalu memberikan HP itu ke Silvy. Nih hp adikmu. Jaga jangan sampai dia lapor orang tua kalian. Bisa berabe, baik saya maupun kalian.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Ngapain kamu sama cece? emang ga ada cewe lain ya?&#8221;, ujar Linda tiba-tiba, telunjuknya mengarah ke Faizal dengan sangat ketus. Faizal terkekeh, lha cece kamu yang mau kok. Kita semua manusia, mbak. Punya kebutuhan dan keinginan terpendam, tambahkan sambil tertawa lebar. Aq ama Silvy tersenyum kecut.</p>
<p style="text-align: justify;">Faizal lalu berdiri dalam posisi telanjang begitu dan dia mengunci pintu kamar. Ugh&#8230;sexy abis lah. &#8220;Non Linda diam saja, saya ngga akan apa-apain kalau emang situ ga mau. Tapi kalo mau sih ya&#8230;lebih bagus.&#8221;, ujar Faizal sekenaknya sambil tertawa kecil.</p>
<p style="text-align: justify;">Dia lalu duduk diranjang dan kembali memeluk Silvy. Namun Silvy nampaknya udah kehilangan mood dan dia menepis pelukan Faizal. Sedikit kecewa, dia lalu menuju ke aq dan mencium bibirku. Aq biarin aja. Merasa ada angin segar, dia langsung menarikku dan merebahkan aku keatas ranjang dan kami kembali bersetubuh. Ouhf&#8230; enaknya penis besar itu mengkocok mq aq.</p>
<p style="text-align: justify;">Aq betul-betul menikmati genjotan Faizal yang kasar ini. Tangannya terus meremasi payudara aq sambil bibirnya melumat bibir aq dan menjilati leherku. &#8220;Ouhs&#8230;terus mas&#8230;sssh&#8230;enak banget&#8230;ahhh&#8221;, erangku penuh gairah. Silvy dan Linda duduk diam mengamati aktifitas kami berdua.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah agak lama, aku merasakah gelombang orgasm akan datang. &#8220;sss&#8230;.aku mau keluar mas&#8230;essstt&#8230;ahh&#8230;&#8221;, bisikku ke Faizal. Dia mengangguk kecil lalu menggenjotku dengan lebih keras. Ah&#8230;sedikit sakit tapi betul-betul semakin nikmat dan&#8230;&#8221;MAs&#8230;mas&#8230;Aaaaaaaaaaaaaaaaaah&#8221;, aq berteriak lepas, kali ini betul-betul lepas. Oh my god! Mq aku berkontraksi dengan kuat, meremas penis karyawan aq itu. Tubuhku kelojotan dan Faizal susah payah menahan tubuhku supaya penisnya tidak tercabut akibat orgasm aq ini. Tubuhku bergetar selama beberapa detik, ouhhhh sungguh kenikmatan yang luar biasa.</p>
<p style="text-align: justify;">Faizal lalu mencabut penisnya dari mq aq. wow&#8230;masih tegang kuat perkasa! Dia lalu kembali merengkuh lengan Silvy dan merebahkannya keranjang. Ah, kali ini Silvy tidak menolak. Aq lalu berdiri dan rebahan disisi yang lain supaya tidak mengganggu posisi mereka.</p>
<p style="text-align: justify;">Singkat cerita, Silvy kembali digenjot dengan ganas oleh Faizal. Erangan-erangan erotis penuh kenikmatan keluar dari mulut Silvy. Sampai Faizal harus menciumnya dengan kuat agar erangan erotis itu tidak terlalu keras dan kedengaran keluar kamar. Hehehehe&#8230;Kulihat LInda diam saja melihat cece-nya digaulli cowok hitam itu. Mungkin ini pertama kalinya dia melihat hal seperti ini. Hm&#8230; Cara maen Faizal ini memang kasar, kayak dipuas-puasin gitu seperti pemerkosa beneran. Tapi ntah kenapa, aq dan Silvy menyukainya!</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah beberapa menit diperkosa, Silvy mengerang dengan sangat keras tanda dia mengalami orgasm yang sangat kuat. Tubuhnya gemetaran persis seperti aq tadi. Kemudian Faizal memcabut penisnya dan membiarkan Silvy kecapaian sehabis dipake. Silvy memindahkan posisi tubuhnya dan tiduran persis disamping aq. Nafasnya tersengal-sengal, matanya terpejam kecapaian, tetapi wajahnya nampak puas. Kayaknya dia baru kali ini merasakan kenikmatan orgasm.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;masih bisa ta mas?&#8221;, tanyaku genit. Faizal cuman menyeringai. Dia belum ejakulasi setelah memakai dua ce chinese cantik ini. Wew&#8230;minum obat apa ya?</p>
<p style="text-align: justify;">Lalu kulihat Faizal, yang masih telanjang bulat dengan penis hitam besar yang mengacung kedepan itu, mendekati Linda. Aku kaget dan menggoyang badannnya Silvy supaya dia tahu apa yang terjadi.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Mas jangan ganggu adikku!&#8221;, ujar Silvy lemas, dia masih dikuasi oleh kenikmatan orgasmnya. Faizal menjawab ngga kok. Selama dia mau kan ya gapapa. Kalo dia juga ikutan kedalam geng kita ini, maka dia ngga akan lapor orang tua kalian kan? Artinya, kamu dan saya aman-aman aja. Hm&#8230;masuk akal juga pemikirannya.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Tapi&#8230;&#8221;, Silvy masih berusaha menahan Faizal tetapi dia sendiri juga takut kalo tingkah lakunya ini dilaporkan adiknya ke orang tuanya. Bisa berabe! Inilah yang disebut sebagai dilema!</p>
<p style="text-align: justify;">Faizal dengan tenang berdiri didepan Linda dan membiarkan penisnya yang besar itu mengacung persis didepan mulut cewek putih cantik itu. Linda menutup matanya dengan kuat, seakan berusaha menolak. Tapi aq lalu berpikir, kalo emang Linda ga mau, ngapain dia diam saja. Dia bisa saja pergi kan? Saat itu aq betul-betul heran!</p>
<p style="text-align: justify;">Karyawan aq itu lalu berjalan kebelakangnya Linda. Dia lalu mulai menciumi pipi gadis itu. Linda menolak. Faizal cuman tersenyum aja. Dia lalu melepas kemeja putih tipis yang dipake Linda, dengan sedikit perlawanan. Faizal lalu menciumi punggung Linda dan menjilatinya dari bawah keatas. Tangannya berusaha meremas payudara gadis itu tetapi masih mendapat perlawanan sengit. Aku dan Silvy cuman bisa menonton sambil merasa gundah dan dilema.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah agak lama, aq bisa melihat nafasnya Linda semakin tidak teratur. Faizal lalu berhasil menyusupkan lengannya dari belakang kedepan dan mulai meremasi payudara Linda sambil terus menciumi tengkuk dan punggungnya.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Ahhh..sshh&#8230;.&#8221;, sebuah erangan kecil keluar dari mulut adik temenku yang masih SMA kelas 3 itu. Payudaranya yang mungil tetapi sexy diremasi dengan cukup kuat oleh Faizal. Mata Linda terpenjam dan bibirnya mulai digigit! ouh&#8230;sudah mulai jatuh nih cewek!</p>
<p style="text-align: justify;">Faizal lalu menghentikan serangan erotisnya dan berpindah kedepan. Dilepasnya bra bikini hitam yang dipakai oleh Linda itu TANPA perlawanan. Lalu dengan ganas dilahapnya kedua payudara Linda. Dijilatinya puting berwarna merah muda itu sambil memilin-milin putingnya yang lain. &#8220;auh&#8230;mas&#8230;.shhhhhhhhhh&#8221;, erang Linda semakin keras. Yap, this girl has fall! Ternyata dia sudah terangsang melihat aq dan Silvy disetubuhi oleh cowok jawa ini dan sekarang nampaknya adalah giliran dia! Seandainya dia tadi tidak melihat adegan seks kami bertiga, dia tentu tidak akan jatuh semudah ini! Aduuuuh&#8230;</p>
<p style="text-align: justify;">Merasa sudah cukup, Faizal lalu menggendong adik Silvy itu keranjang dan dengan segera menindihnya. Faizal melumat bibir tipis gadis SMA kelas 3 itu dengan penuh nafsu sambil penisnya digosok-gosokkan ke daerah vaginanya. Kulihat Silvy meneteskan airmata. Dia tidak tahu harus berbuat apa. kasihan!</p>
<p style="text-align: justify;">Tak lama kemudian, kulihat Faizal menarik celana dalam bikini hitam Linda dan melemparkannya ke lantai. Vagina Linda nampak sangat indah, tidak begitu lebat rambutnya. Linda nampak pasrah. Faizal lalu menyentuh vaginanya Linda. Wah&#8230; Mbaknya udah terangsang ya. basah basah basah&#8230;.memeqnya, godanya genit, meniru sebuah lagu dangdut.</p>
<p style="text-align: justify;">Dia lalu kembali menindih Linda dan menciumnya dengan penuh nafsu. Linda hanya pasrah dan kulihat sesekali membalas ciuman bibir Faizal. Penis karyawan aq itu digesek-gesekkan persis dibelahan vagina Linda sambil kedua tangannya meremasi payudara ranum milik adik temen aq itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Aq ngga begitu tahu apa yang terjadi, tetapi nampaknya gerakan gesek-menggesek itu cukup efektif untuk pelan-pelan membelah vagina Linda agar tidak terlalu sakit. Aq lihat lama-lama, penis hitam besar itu semakin menghilang, masuk kedalam liang vagina Linda. Linda semakin tidak bisa mengontrol dirinya, kenikmatan (sekaligus rasa sakit mungkin ya) betul-betul telah menguasainya, ditambah faizal tidak henti-hentinya melumat puting dan meremas payudara gadis itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Tak lama kemudian, nampaknya penis Faizal telah dengan penuh masuk kedalam vagina Linda dan mereka kemudian semakin ganas bersetubuh. &#8220;ahh&#8230;sssss&#8230;auh auh&#8230;&#8221;, erang Linda merasakan tubuhnya dinikmati oleh karyawan aq ini. Faizal nampak sangat berpengalaman menggauli cewe dari gayanya, sedangkan Linda cuman diam pasrah tubuhnya betul-betul dinikmati dengan kasar oleh Faizal.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah lewat beberapa menit, Linda nampak semakin liar dan tiba-tiba tubuhnya menyentak dengan mendadak sambil berteriak &#8220;ah&#8230;cece&#8230;.aaahhhsss&#8230;ceeeeee&#8221;! Tangannya mencengkeram bahu Faizal dengan kuat dan kepalanya mendongak keatas. Tubuhnya bergetar dan Faizal terus menggenjotnya dengan kasar sampai Linda menyelesaikan kenikmatan orgasm-nya! &#8220;sss.s&#8230;cece&#8230;sss&#8230;&#8230;.ahhhhhhhhhh&#8221;!</p>
<p style="text-align: justify;">Linda lalu terkulai lemas, nafasnya tersengal-sengal. Faizal nampaknya masih belum puas. Dia kembali dengan ganas mengkocok penisnya yang besar itu sampai Linda mengerang sedikit kesakitan. Semakin lama genjotannya semakin cepat dan &#8220;Ah&#8230;mbak&#8230;enaknya mbak.shhhhhh&#8230;aaaaaaaaaaaaaaah!&#8221;, teriak faizal keenakan. Oh! Dia menyemprotkan spermanya didalam! wah kurang ajar ini anak!!!! Dia berkelojotan sebentar diatas tubuh Linda lalu rebah kesamping.</p>
<p style="text-align: justify;">Suasana menjadi hening. Hanya isak tangis ringan terdengar. Silvy dan Linda berpelukan dalam kondisi bugil. Faizal, yang hanya memakai celana dalam, asikmenonton TV sambil merokok. Bercak merah keperawanan Linda jelas tercecer di sprei kamar hotel ini. Sperma Faizal terkadang meleleh keluar dari vagina Linda. Aq termenung. Hm&#8230;What is happening here? Mengapa kok bisa sampai sejauh ini?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ceritasex.cn/karyawanku-yang-beruntung/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Perawan Lima Puluh Ribu</title>
		<link>http://www.ceritasex.cn/perawan-lima-puluh-ribu/</link>
		<comments>http://www.ceritasex.cn/perawan-lima-puluh-ribu/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 03 Jan 2010 09:56:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cerita Sex</dc:creator>
				<category><![CDATA[Daun Muda]]></category>
		<category><![CDATA[Pemerkosaan]]></category>
		<category><![CDATA[Seks Umum]]></category>
		<category><![CDATA[abg]]></category>
		<category><![CDATA[budak seks]]></category>
		<category><![CDATA[ml]]></category>
		<category><![CDATA[nafsu]]></category>
		<category><![CDATA[ngentot]]></category>
		<category><![CDATA[perawan]]></category>
		<category><![CDATA[perkosa]]></category>
		<category><![CDATA[sinta]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ceritasex.cn/?p=1180</guid>
		<description><![CDATA[Sinta adalah tetangga sebelahku yang sudah duduk dikelas dua SMA. Usianya 17 tahun tahun dengan wajah oval rambut sebahu kulit putih mulus dengan badan yang begitu langsing namun payudaranya lumayan proporsional, sekitar 34B. Wajahnya cantik dan manis, bahkan kalau tersenyum bagai bidadari.banyak pemuda dikampungku yang ingin mendekatinya, karena dia termasuk salah satu kembang di kampung [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Sinta adalah tetangga sebelahku yang sudah duduk dikelas dua SMA. Usianya 17 tahun tahun dengan wajah oval rambut sebahu kulit putih mulus dengan badan yang begitu langsing namun payudaranya lumayan proporsional, sekitar 34B. Wajahnya cantik dan manis, bahkan kalau tersenyum bagai bidadari.banyak pemuda dikampungku yang ingin mendekatinya, karena dia termasuk salah satu kembang di kampung bahkan di sekolahannya.Sinta adalah seorang gadis pendiam dan jarang sekali bergaul dengan teman sebayanya.Sebenarnya aku sudah mengenal Sinta sejak dia masih duduk di kelas 3 SMP. Waktu itu aku masih ingat betul dan payudaranya belum kelihatan tumbuh. Kedua orang tua Sinta telah porak poranda dan dia diasuh oleh neneknya. Agaknya ini salah satu faktor yang membuat dia memiliki satu kebiasaan buruk yaitu suka mencuri. Satu kebiasaan yang sangat disayangkan untuk cewek yang secantik dan semanis dia, mungkin himpitan ekonomi yang membuatnya menjadi begitu, karena aku tahu betul keadaan ekonomi neneknya tidaklah begitu cukup dengan rumah yang sangat sederhana itu. Sinta sering main ke tempatku bahkan sering sekali masuk ke kamarku untuk bermaun dengan adik sepupuku yang juga cewek yang masih duduk di bangku SD. Mungkin dia sedikit malas bergaul dengan teman sebayanya juga karena rasa minder dengan keadaan dirinya.</p>
<p style="text-align: justify;">Dahulu sewaktu masih SMP seringkali Sinta bermain dikamarku dengan adik sepupuku dan tak jarang pula dia sampai tertidur disana.Kebiasaannya memakai celana pendek dan sering tertidur dikasurku pada siang hari waktu dia masih SMP dulu dengan paha mulusnya yang terlihat jelas cukup membuat otakku berpikiran ngeres, apalagi ketika ia bermain dikamarku pada saat aku menonton televisi tanpa dia sadari sering terlihat CD-nya cukup membuyarkan konsenstrasiku menonton televisi. Sampai sampai aku sering beronani mengandaikan jika aku suatu saat dapat memperkosa atau menikmati dirinya, namun semua itu hanya aku bawa dalam mimpi.</p>
<p style="text-align: justify;">Akhir-akhir ini aku sangat heran dengan seringnya uangku yang aku taruh dalam dompet selalu berkurang alias hilang. Pada awalnya hanya lima rbuan, namun lambat laun jadi terus meningkat menjadi dua puluh ribuan bahkan lima puluh ribuan. Rupanya dugaanku tidak jauh meleset bahwa Sintalah penyebabnya. Aku sudah cukup faham sekali dengan kebiasaan buruknya melaui cerita cerita tetangga tentang dia. Siapa lagi kalau bukan Sinta? dia masih sering masuk ke kamarku dan bermain dengan adik sepupuku disana. dia juga yang sering menghabiskan minuman soft drink di kulkas kamarku yang sudah terbuka tutup botolnya. Tiba tiba ide setan melintas dibenakku.<br />
<span id="more-1180"></span><br />
Aku sengaja membeli sebuah obat perangsang dan aku taruh dalam botol fanta yang telah aku siapakan. siang itu sepulang sekolah seperti biasa Sinta berpura pura mencari adikku, padahal seharusnya dia sudah tahu kalau setiap hari Sabtu dan minggu adikku tidak pernah dirumah alias pergi kerumah neneknya bersama ayah dan ibuku, dan aku tahu apa sebenarnya maksud Sinta masuk kekamarku. Pasti dia akan berlagak menonton televisi sampai aku tertidur siang dan dia akan memulai aksinya mengambil uang dari dompetku pada saat aku tertidur. Namun aku telah menyiapkan semuanya dan dompet kutaruh dalam celana yang aku gantung ditempat yang terlihat.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8221; Siang mas, Anto&#8230;&#8221; sapa Sinta &#8221; Nita mana&#8230;?&#8221; , &#8220;Loh ini kan hari Sabtu masa lupa seh..?&#8221; jawabku.<br />
&#8220;Oh iya ya Sinta lupa mas, berarti sendirian saja donk sekarang..?&#8221; tanyanya sembari membuka kulkas kamarku. Aku hanya mengangguk berpura pura cuek menonton televisi<br />
&#8221; Mas ini buat sinta aja ya fantanya yang masih banyak Nita haus capek pulang dari sekolah nih..kan udah dibuka&#8230;.&#8221;<br />
Sekali lagi aku mengangguk berlagak cuek, namun dalam hatiku aku bersorak kegirangan Kena loh..!!!</p>
<p style="text-align: justify;">Sejurus kemudian aku berpura pura ketiduran seperti biasanya. Selang lima belas menit aku melihat mukanya yang manis dan putih mulai memerah seperti kepanasan, nah ini pasti pertanda dari obat itu yang mulai bekerja. Dan benar saja dugaanku, karena tidak tahan tahan dia segera berkasi merogoh dompetku selang setengah jam kemudian.</p>
<p style="text-align: justify;">Perlahan dia mulai bergerak menuju ke celana yang aku gantungkan dan kubiarkan dulu dia mengambil dompetku. Begitu dia memegang dompetku aku segera terbangun dan membentak dia.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Ooooo&#8230;..jadi kamu ya yang selama ini mengambil uangku hah..????!!!&#8221; bentakku.<br />
Sinta menggeragap, dia tidak menyangka sama sekali rupanya. Wajahnya yang putih dan sudah sedikit kemerahan itu tampak pucat keringatan, SSs..ah betapa cantik dan manisnya wajah itu seperti tampak lebih menggairahkan, dan aku semakin berani karena jebakan ini sebenarnya sudah kupersiapkan dengan matang sebelumnya.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Ehh..anu..mas..anu kok &#8230;sebenernya Sinta&#8230;..&#8221;<br />
&#8220;Sudah jangan banyak alasan!!! dasar kamu ya, kamu tau gak selama ini klo aku selama ini sudah sangat jengkel dengan seringnya uangku yang selalu hilang!! rupanya kamu ya malingnya, ck ck dasar&#8230;!!!&#8221;<br />
Sinta terdiam dan semakin takut ketika aku menatap tajam kewajahnya, dia hanya tertunduk gemetaran.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;aku tidak mau lagi ada maling dirumah ini, sekarang juga aku akan lapor ke pak Rt dan polisi, biar tahu rasa ya kamu dasar maling..!!!&#8221;bentakku dengan ekspresi kuseram seramkan</p>
<p style="text-align: justify;">Sinta langsung memeluk kakiku dan mulai menagis</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;jangan mas.. jangan lapor mas &#8230;. kasihan Sinta mas &#8230;kasihan nenek malu nanti..&#8221;<br />
Aku pura pura pura terdiam dan Sinta masih menangis tertahan memeluk kakiku<br />
&#8221; tolong Sinta mas&#8230; Sinta memang salah.. Sinta ngaku mas&#8230; tapi tolong jangan lapor ke polisi..tolong mas..maafin Sinta&#8230;&#8221; Sinta terus memohon.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Untuk apa kamu mengambil uangku hah..?!&#8221; tanyaku &#8221; Maafin Sinta mas Sinta butuh seragam baru dan buku pelajaran, dan nenek tidak punya uang mas..&#8221; tangisnya sambil memeluk kakiku &#8221; maafin Sinta mas ,&#8230;Sinta janji tidak lagi&#8217;</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;enak saja kamu meminta maaf begitu saja, sudah berapa uangku hilang terus .. ada kalau empat ratus ribu enak saja kamu begiutu saja meminta maaf&#8230;!!&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Sinta hanya terdiam sambil menangis.Tidak beranjak dari kakiku. Aku segera menutup pintu kamarku.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;baiklah aku maafin tapi ada satu syarat yang mesti kamu lakukan..&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Sinta hanya memandangku sejenak penuh harapan. lalu perlahan aku angkat kedua tangannya dan aku dudukkan dia di tepi ranjangku. Aku usap air matanya,dan dia sedikit terkejut dengan sikapku.<br />
&#8220;jadi mas Anto mau maafin Sinta&#8230;?&#8221; aku tersenyum dan menjawab. &#8220;tentu saja Sin, asal mas boleh mencium kamu&#8230;boleh tidak..?&#8221; tanyaku dengan ekspresi lembut.</p>
<p style="text-align: justify;">Sinta menangis sesenggukan dan tertunduk, aku ambilkan air putih yang sudah kupersiapkan untuknya dan sebenarnya air itu juga sudah kucampuri dengan obat perangsang juga. &#8221; Ini, minumlah Sin biar kamu sedikit lebih tenang&#8230;&#8221; Sinta menurut.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;ayo habiskan ya sayang&#8230;&#8221; dan Sinta tidak berani menolaknya.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Sekarang mas cium kamu kamu ya&#8230;?&#8221; Sinta hanya terdiam&#8230;MERDEKA !!! sorakku dalam hati. penisku mulai berdiri ketika aku mulai menciumi bibirnya yang tipis dan merah alami itu. Sinta tidak membalas ciumanku, dia hanya terpejam, hanya saja aku lihat mukanya kini lebih memerah.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku sudah tak tahan lagi&#8230;tubuhnya yang seksi dan kecil itu segera aku banting saja ke kasurku, dan Sinta tentu saja terkejut. &#8221; Mas Anto apa apaan ini&#8230;? Sinta tidak mau mas &#8230;..tolong jangan mas&#8230;.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Ooo jadi kamu mau aku melaporkan saja begitu..??&#8221; Sinta terlihat kebingungan. tanpa membuang waktu aku segera menindihnya dan meremas buah dadanya yang mulai tumbuh dan padat. &#8220;mas&#8230;jangan&#8230;&#8221; rintih Sinta tapi dia tidak berani melakukan perlawanan, dan aku semakin kesetanan, dengan paksa aku segera membuka kaos ketat Sinta dan terlihat buah dada yang terutup Bh hitamnya. Ah ternyata diluar dugaanku&#8230; buah dada itu terlihat jauh lebih putih dan padat dan lebih indah dari bentuk yang selama ini aku bayangkan. Sinta seperti tersadar dan dia langsung menyilangkan kedua tangannya didada. &#8220;mas&#8230;.jangan mas Anto tolong mas&#8230;&#8221; aku tidak perduli ketika kedua tangannya tersilang didada aku segera melorotkan celana kolor pendeknya sekaligus denga CD-nya, Sinta terkejut dengan pergerakanku yang cepat dan kembali dia kebingungan.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Ssshh&#8230;sin..lebih baik kamu diam saja ya sayang, jangan bikin aku marah lagi ya..?&#8221;<br />
Rayuku sembari mencium bawah telinganya . Kurasakan air mata Sinta mengaliri pipiku namun aku semakin tak perduli, tangan Sinta aku silangkan dari dadanya pelan pelan namun dia sedikit menolak, PLAK!!! aku menapar pipinya &#8221; sudah kubilang jangan melawan..!!&#8217;&#8221; Sinta semakin pucat.Kuangkat pelan pelan lagi tangannya dari dadanya yang masih terutup BH itu, kali ini dia tidak berani melawan lagi, aku segera melepas Bh Sinta dan mulai mengulum kedua kedua putingnya yang kemerahan dan masih nampak kecil itu. Kali ini Sinta memejamkan matanya, walaupun tidak berani melawan lagi dia berusaha membanting tubuhnya kekiri dan kekanan, entah karena menahan rangsanganku yang mungkin pertama untuknya atau mungkin karena rasa geli yang tak tertahan karena kumainkan lidahku menyelusuri buah dada dan putingnya. kali ini dia menatap nanar padaku entah apa yang ada dipikirannya entah takut , marah jadi satu dalam hatinya namun aku sudah tidak perduli. persetan dengan semua itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku segera melepas seluruh pakaianku dan Sinta hanya pasrah memandangiku diatas tubuhnya ketika aku melepas baju. Mungkin dia sudah terangsang juga pikirku. tanpa membuang waktu lagi segera kubuka kedua paha kecil mulusnya, namun Sinta agak menolak dan tangannya menutupi vaginanya. Dia menggeleng perlahan sambil melelehkan air matanya dan memohon sekali lagi padaku&#8230;</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Mas Anto&#8230; sudah cukup ya menciumnya&#8230; sinta takut mas&#8230;&#8221;<br />
&#8220;Sinta kan sudah mengijinkan mas Anto menciumi Sinta..&#8221; rajuknya</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Diam kamu&#8230;atau mau kamu aku pukul&#8230;?&#8221; kataku sambil mengepalkan tanganku diwajahnya. Sinta terdiam&#8230;</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Sekarang aku mau mencium inimu&#8230;buka&#8230;!!&#8221; bentakku.</p>
<p style="text-align: justify;">Sinta kebingungan dan tanpa menunggu persetujuannya aku langsung menyibakkan kedua paha kecil miliknya. Luar biasa&#8230;!!!! pekikku dalam hati, bulunya masih jarang sekali, bahkan bentuknya pun lebih kecil dari yang kuduga atau kubayangkan sebelumnya. dan aku segera menjilati bibir vaginanya yang wangi sembari kedua tanganku sesekali memainkan buah dadanya. tatapan Sinta kini terlihat kosong membuat aku semakin liar saja. Vagina Sinta terus aku jilati sehingga terasa mulai asin pertanda bahwa vaginanya mulai basah oleh cairan kewanitaannya, dan jilatanku sekarang kuarahkan bagian klitorisnya. Aku sengaja membuatnya tersiksa dengan rangsangan kenikmatanku, kali ini Sinta tampaknya mulai menyerah. sesekali lidah nakalku mencoba menjulur ke dalam liang senggamanya namun tertahan oleh sesuatu sehinga tidak dapat masuk lagi, Ah Sinta betapa beruntungnya aku&#8230;ternyata kamu memang masih perawan..!!!</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;SSsshh..oouwh..mas jangan mas&#8230;. Sinta &#8230;.awh &#8230;aduuh mas&#8230;Sinta&#8230;&#8221; katanya terbata bata. kali ini dia terpejam seperti terbius rangsanganku. Gerakan badannya mulai terlihat seperti penari erotis yang sedang memamerkan keindahan tubuhnya, sepertinya dia sudah mulai melupakan semuanya tadi dan hanyut dalam permainan asmara.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Mas Anto&#8230;aaaahh..mas Sinta&#8230;&#8221; dia terus melenggokkan tubuhnya ..bahkan semakin berani, mungkin ini juga termasuk dalam obat perngasang yang aku berikan ke dia.. Tiba tiba dan tanpa disangka Sinta menjambak rambutku dan menekan kepalaku sehingga wajahku terbenam diselangkangannya, tubuhnya tergetar hebat dan dia melenguh panjang&#8230; rupanya dia telah mengalami orgasmenya yang pertama.</p>
<p style="text-align: justify;">tanpa membuang waktu lagi aku segera mengarahkan penisku kedalam liang senggamanya. penisku termasuk besar, jadi pada awal mulanya aku sedikt ragu apakah bisa masuk atau tidak ya kira kira..? namun aku segera ingat kata kata joni temanku bahwa sebesar apaun penis lelaki pasti masih dapat masuk ke dalam liang senggama wanita, jadi aku yang sudah tidak tahan lagi untuk segera membobol keperawanan Sinta yang sudah lama aku impikan semakin nekat.</p>
<p style="text-align: justify;">Penisku tegak dan keras mengarah ke liang senggama Sinta, dan tampaknya gadis itu sudah pasrah. Aku sempat melihat dengan jelas cairan kewanitaannya sampai mengalir dibawah vaginanya yang mungil pertanda dia sudah terangsang hebat. Cairan itu mengalir antara anus dan vaginanya. Aku mengusap cairan itu dengan penisku agar lebih licin dalam melesakkannya nanti.</p>
<p style="text-align: justify;">Penisku sudah ada dibibir vagina sinta, gadis itu masih terdiam pasrah, hanya saja setiap kali ketika aku mencoba menekan penisku dia selalu sedikit mundur kebelakang sambil meringis menahan sakit.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Tenanglah sayang&#8230; tidak sakit kok&#8230;.Sssst&#8230;sebentaaar saja ya sayang&#8230;?!!&#8221; bujukku. Aku masih mencoba sabar karena aku tahu dia masih perawan, dan Sinta hanya mngangguk pelan.<br />
Sinta sudah tidak begitu mundur lagi sekarang seperti tadi sehingga aku agak susah mengejarnya. dia mencoba pasrah, namun setiap kali aku mencoba menekan pasti selalu meleset kebawah. Sampai aku jadi bingung, mana yang benar cara memerawani? waktu basah atau kering? kalau basah kenapa licin dan selalu meleset begini..?</p>
<p style="text-align: justify;">setelah sekitar sepuluh menit aku mencoba sambil tanganku terus memepermainkan klitorisnya usahaku mulai membuahkan hasil. Kepala penisku mulai merasakan sebuah lobang yang terasa kecil, aku tidak menyia-nyiakan kesempatan itu terus kutekan penisku dan aku merasakan lobang itu mulai kumasuki perlahan lahan.</p>
<p style="text-align: justify;">Drrt&#8230;Drrrt&#8230;sedikit demi sedikit penisku merangsek vagina perawan milik Sinta yang sempit, oouwh sungguh sensasi yang luar biasa diujung kepala penisku. Dinding vagina yang rapat sekali dan hangat itu mulai bisa kurasakan sedikit demi sedikit menjalari penisku. satu senti&#8230; demi satu senti menjalari penisku..kehangatan dan sensasi itu Aaaah rasanya sulit untuk dilukiskan&#8230;..</p>
<p style="text-align: justify;">Sinta mulai kembali berlinang air mata, rupanya dia sadar kalau mahkotanya telah kurenggut darinya, namun dia sudah tidak bisa berbuat apa apalagi selain mungkin menahan rasa sakit karena persetubuhan pertamanya ini. Aku mengangkat tubuh Sinta dalam posisi kupangku namun berhadapan, tangannya melingkari leherku wajahnya tergolek di bahuku. tubuh kecilnya semakin membuatku ingin segera mengocokkan penisku dalam liang vaginanya yang sempit ini namun karena masih masuk separuh penisku aku masih harus berusaha bersabar. Dalam posisi Sinta diatas pangkuanku secara berhadapan ini aku semakin merasakan jepitan vaginanyadan kali ini tanpa basa basi seperti sebelumnya..kulesakkan dalm dalam penisku dengan cepat.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Aaakhh&#8230;mas &#8230;sakit mas tolong jangan dulu..mas.. aduuuh&#8230;.&#8221; airmata sinta menetes dibahuku. kali ini penisku telah masuk seluruhnya dalam vagina Sinta. terasa hangat dan berdenyut denyut disana, aku benar-benar menikmati sensasi ini. Setelah sekitar satu menit aku mencoba menarik mundur penisku sedikt dan Sinta terjingkat, rupanya rasa perih itu masih ada.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8221; Sekarang coba kamu tahan rasa sakitnya dan coba kamu nikmati ya sayang&#8230;&#8221;<br />
Bisikku ditelinganya, Sinta hanya terdiam pasrah. Setiap kali aku memajukan dan memundurkan penisku perlahan setelah beberapa saat Sinta masih terjingkat jingkat menahan sakitnya tapi justru malah vaginanya menjadi menjepit batang penisku setiap dia terjingkat tanpa dia sadari, ah rasanya sungguh luar biasaaaa&#8230;&#8230;&#8230;</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah melihat ekspresinya yang mulai agak terbiasa aku semakin berani mempercepat gerakan penisku divaginanya dalam posisi duduk berhadapan ini. dan setelah sekitar 20 menit penisku mengacak acak liang vaginanya yang pertama ditembus ini tanpa aku duga Sinta kembali mengalami orgasmenya, gadis ini memeluk tubuhku erat erat sambil meracau tidak keruan. Wajah putih manis oval dengan rambut lurus sebahu dengan hidung mancung bibir tipis dan dagu lancip itu terlihat semakin cantik ketika mengalami orgasme, dan benar benar sangat cantik seperti yang sudah sudah aku lihat ini jauh lebih cantik bahkan bagai bidadari yang sedang kasmaran namun dimabuk asmara.</p>
<p style="text-align: justify;">ekpresi wajah sinta benar benar membuat penisku tidak mau diajak kompromi. selang beberapa saat kemudian aku meyusul Sinta dengan orgasme pertamaku di vagina Sinta yang beberapa saat lalu masih perawan. Croot croot&#8230;serr&#8230;. begitu banyak sperma yang aku keluarkan di liang vagina Sinta, dan aku langsung roboh kebelakang sehinggga tubuh Sinta juga ikut menindihku. Jika ada istilah dunia begitu gemerlap mungkin seperti itulah perasaanku saat itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Sinta langsung terguling lemas disisiku, dan selang beberapa menit gadis itu langsung tertidur pulas. Aku mencoba bangun untuk melihatnya dari agak jauh, darah keperawanan Sinta begitu banyak di sprei putihku masih belum mengering. bahkan sampai di pantat Sinta pun juga ikut terlihat merah terkena darah keperawanannya. Aku memeriksa penisku, ada sedikit selaput dara Sinta yang masih tertinggal dipangkal penisku rupanya, bahkan dipantatku pun juga terkena darah kesuciannya yang telah kurenggut</p>
<p style="text-align: justify;">Aku tersenyum puas melihatnya, aahhh&#8230;gadis cantik nan seksi yang selama ini memenuhi obsesi onaniku telah menjadi kenyataan. impianku telah menjadi kenyataan dengan uang lima puluh ribuan pancinganku. Segera aku mengambil kamera digitalku dan kufoto Sinta cantik seksi yang malang yang sedang tertidur telanjang dari beberapa pose, dan foto ini aku gunakan sebagai ancaman kalau dia berani melaporkan perbuatanku &#8230; akan aku sebar luaskan foto foto ini ke teman sekolah dan kampung. Biar sama sama hancur jika dia ingin mengancurkanku.</p>
<p style="text-align: justify;">Tetapi akhirnya Sinta justru malah ketagihan dan menjadi budak seksku. karena aku juga ikut membantu kebutuhan sekolah dan kuliahnya.tapi justru jujur saja belakangan aku mulai ragu apakah Sinta adalah budak seksku atau justru malah aku yang menjadi budak seksnya, karena semakin hari permainan binal Sinta denganku semakin liar, sampai terkadang aku harus mengkonsumsi obat kuat kuat untuk melayaninya&#8230;..Aah..sungguh pengalaman yang mengagumkan. hubungan kami berlangsung sampai sekitar 3 tahun. Sekarang Sinta telah telah lulus kuliah dan bekerja dliuar kota, dan semua telah menjadi hanyalah sebuah kisah kenangan manis,<br />
karena kabar terakhir yang aku dengar Sinta akan dinikahi oleh bosnya sendiri. Selamat menempuh hidup baru Sinta, selamat tidur kekasih gelapku&#8230;&#8230;&#8230;.. terima kasih atas segala kenangan indah tubuh seksimu dan wajahmu yang memang cantik&#8230;&#8230;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ceritasex.cn/perawan-lima-puluh-ribu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

