<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Cerita sex porno ngentot mesum perek ayam kampus &#187; perkosa</title>
	<atom:link href="http://www.ceritasex.cn/tag/perkosa/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.ceritasex.cn</link>
	<description>Kumpulan cerita sex, foto bugil, dan film porno</description>
	<lastBuildDate>Wed, 08 Feb 2012 13:12:08 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
		<item>
		<title>Kekasihku Diperkosa Polisi</title>
		<link>http://www.ceritasex.cn/kekasihku-diperkosa-polisi-2/</link>
		<comments>http://www.ceritasex.cn/kekasihku-diperkosa-polisi-2/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 12 Jan 2012 13:24:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cerita Sex</dc:creator>
				<category><![CDATA[anal seks]]></category>
		<category><![CDATA[Daun Muda]]></category>
		<category><![CDATA[Gangbang Rame Rame]]></category>
		<category><![CDATA[Pemerkosaan]]></category>
		<category><![CDATA[anus]]></category>
		<category><![CDATA[budak seks]]></category>
		<category><![CDATA[isep kontol]]></category>
		<category><![CDATA[ngentot]]></category>
		<category><![CDATA[orgasme]]></category>
		<category><![CDATA[perkosa]]></category>
		<category><![CDATA[seks]]></category>
		<category><![CDATA[vira]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ceritasex.cn/?p=3287</guid>
		<description><![CDATA[Saya pertama kenal Vira ketika melihatnya menjadi model cover di sebuah majalah di Jakarta, kemudian ia juga menjadi bintang sinetron Abad 21. Vira berumur 17 tahun, cantik, kulitnya putih mulus, ramah dan yang paling menarik perhatian orang-orang adalah buah dadanya yang bundar dan padat berisi. Semua orang yang menatap Vira pandangannya akan langsung tertarik ke [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Saya pertama kenal Vira ketika melihatnya menjadi model cover di sebuah majalah di Jakarta, kemudian ia juga menjadi bintang sinetron Abad 21. Vira berumur 17 tahun, cantik, kulitnya putih mulus, ramah dan yang paling menarik perhatian orang-orang adalah buah dadanya yang bundar dan padat berisi. Semua orang yang menatap Vira pandangannya akan langsung tertarik ke arah buah dadanya yang membusung. Tidak terlalu besar memang, tapi sangat proporsional engan tubuh dan wajah Vira. Saya berkenalan dengannya, pertama melalui surat kemudian bertemu, sesekali menelepon dirinya. Lama-kelamaan kita semakin sering bertemu dan percakapan yang ada semakin menjurus ke hal-hal yang pribadi. Akhirnya saya memberanikan diri untuk mengajaknya keluar makan malam. Suatu hari saya memberanikan diri untuk mengajaknya dan ternyata Vira senang sekali mendengar ajakan saya, dan langsung setuju. Saya gelisah sekali menunggu pada saat menjemput Vira di rumahnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah pulang kerja dan berganti pakaian saya menjemput Vira, untuk kemudian makan malam di sebuah restoran. Di sana kami bercakap-cakap panjang lebar, setelah itu dilanjutkan sebuah diskotik untuk sedikit menggoyangkan tubuh dan minum. Di tengah-tengah percakapan di diskotik, Vira mengajak saya untuk kembali ke rumahnya dan melanjutkan sisa malam itu di rumahnya. Bagaimana saya bisa menolak tawaran itu?</p>
<p style="text-align: justify;">Sepanjang perjalanan pulang Vira berkata bahwa ia belum pernah mengalami hari yang menyenangkan seperti yang baru ia alami malam itu, dan ia juga berkata, di rumah nanti giliran dirinya yang akan membuat diri saya tidak akan melupakan malam ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Saya begitu bergairah dan berhasrat untuk lekas-lekas sampai ke rumah Vira, ketika tanpa sadar saya mengendarai mobil melebihi batas maksimal kecepatan di jalan. Tiba-tiba saya tersadar ketika di sebelah kanan sudah ada mobil Polantas yang berusaha menghentikan mobil saya. Saya meminggirkan mobil di tempat parkir sebuah toko dan menunggu Polantas tadi mendekati mobil kami. Ia bertanya hendak ke mana kami sampai-sampai kami membawa mobil itu melebihi batas kecepatan. Rupanya alasan saya tidak masuk akal sehingga Polantas tadi meminta STNK dan SIM saya.<br />
<span id="more-3287"></span><br />
Setelah melihat surat-surat itu Polantas itu menjengukkan kepalanya ke dalam mobil kami dan lama sekali mengamati Vira yang duduk terdiam. &#8220;Anda harus meninggalkan mobil Anda di sini dan ikut saya ke kantor&#8221;, perintah Polantas tadi. Akhirnya sepuluh menit kemudian kami sampai ke sebuah kantor polisi yang terpencil di pinggir kota.</p>
<p style="text-align: justify;">Waktu itu sudah lewat pukul 11 malam, dan dalam kantor polisi itu tidak terdapat siapa pun kecuali seorang Sersan yang bertugas jaga dan Polantas yang membawa kami. Ketika kami masuk, Sersan itu memandangi tubuh Vira dari bawah hingga ke atas, kelihatan sekali ia menyukai Vira. Kami dimasukkan ke dalam sel terpisah, saling berseberangan.</p>
<p style="text-align: justify;">Sepuluh menit kemudian, Polantas yang berumur sekitar 40-an dan berbadan gemuk dan Sersan yang tinggi besar berbadan hitam, dan umurnya kira-kira 45 tahun kembali ke ruang tahanan. Polantas tadi berkata, &#8220;Kalian seharusnya jangan mengemudi sampai melebihi batas kecepatan yang ada. Tapi kita semua bener-benar kagum, soalnya dari semua yang kami tangkap baru kali ini kita dapat orang yang cantik seperti kamu.&#8221; Sersan tadi menimpali, &#8220;Betul sekali, dia bener-bener kualitas nomer satu!&#8221; Saya sangat takut mendengar nada bicara mereka, begitu juga Vira yang terus-menerus ditatap oleh mereka berdua.</p>
<p style="text-align: justify;">Mereka lalu membuka sel Vira dan masuk ke dalam. &#8220;Sekarang denger gadis manis, kalau kamu berkelakuan baik, kita akan lepasin kamu dan pacar kamu itu. Mengerti!&#8221; Sersan tadi langsung memegangi kedua tangan Vira sementara Polantas menarik kaos yang dikenakan Vira ke atas. Dalam sekejap seluruh pakaian Vira berhasil dilucuti tanpa perlawanan berarti dari Vira yang terus dipegangi oleh Sersan. &#8220;Wow, lihat dadanya.&#8221; Vira terus meronta-ronta tanpa hasil, sementara Sersan yang tampaknya sudah bosan dengan perlawanan Vira, melemparkan tubuh Vira hingga jatuh telentang ke atas ranjang besi yang ada di sel Vira. Dan dengan cepat diambilnya borgol dan diborgolnya tangan Vira ke rangka di atas kepala Vira.</p>
<p style="text-align: justify;">Kemudian mereka dengan leluasa menggerayangi tubuh Vira. Mereka meremas-remas dan menarik buah dada Vira, kemudian memilin-milin puting susunya sehingga sekarang buah dada Vira mengeras dan puting susunya mengacung ke atas. Kadang mereka mengigit puting susu Vira, sedangkan Vira hanya bisa meronta dan menjerit tak berdaya.</p>
<p style="text-align: justify;">Saya berdiri di dalam sel di seberang Vira tak berdaya untuk menolong Vira yang sedang dikerubuti oleh dua orang itu. Kedua polisi itu lalu melepaskan pakaian mereka dan terlihat jelas kedua batang kemaluan mereka sudah keras dan tegang dan siap untuk memperkosa Vira. Polantas mempunyai batang kemaluan paling tidak sekitar 25 senti, dan Sersan mempunyai batang kemaluan yang lebih besar dan panjang. Vira menjerit-jerit minta agar mereka berhenti, tapi kedua polisi itu tetap mendekatinya.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Lebih baik kamu tutup mulut kamu atau kita berdua bisa bikin ini lebih menyakitkan daripada yang kamu kira.&#8221; kata Polantas.&#8221;Sekarang mendingan kamu siap-siap buat muasin kita dengan badan kamu yang bagus itu!&#8221;"Dia pasti sempit sekali&#8221;, kata Sersan sambil memasukan jari-jarinya ke lubang kemaluan Vira.Ia menggerakkan jarinya keluar masuk, membuat Vira menggelinjang kesakitan dan berusaha melepaskan diri.&#8221;Betul kan, masih sempit sekali.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Kemudian Polantas tadi naik ke atas ranjang di antara kedua kaki Vira. Kemudian mereka membuka kaki Vira lebar-lebar dan Polantas memasukkan batang kemaluannya ke dalam lubang senggama Vira. Vira mengeluarkan jeritan yang keras sekali, ketika perlahan batang kemaluan Polantas membuka bibir kemaluan, dan masuk senti demi senti tanpa berhenti. Kadang ia menarik sedikit batang kemaluannya untuk kemudian didorongnya lebih dalam lagi ke lubang kemaluan Vira.</p>
<p style="text-align: justify;">Sementara itu, Sersan naik dan mendekati wajah Vira, mengelus-elus wajah Vira dengan batang kemaluannya. Mulai dari dahi, pipi kemudian turun ke bibir. Vira menggeleng-gelengkan kepalanya agar tidak bersentuhan dengan batang kemaluan Sersan yang hitam.&#8221;Ayo dong manis, buka mulut kamu&#8221;, kata Sersan sambil meletakkan batang kemaluannya di bibir Vira.&#8221;Kamu belum pernah ngerasain punya polisi kan?&#8221; Vira tak bergeming.&#8221;Buka!&#8221; bentak Sersan.&#8221;Buka mulut kamu, brengsek!&#8221; Perlahan mulut Vira terbuka sedikit, dan Sersan langsung memasukkan batang kemaluannya ke dalam mulut Vira.</p>
<p style="text-align: justify;">Mulut Vira terbuka hingga sekitar 6 senti agar semua batang kemaluan Sersan bisa masuk ke dalam mulutnya. Batang kemaluan Sersan mulai bergerak keluar masuk di mulut Vira, saya melihat tidak semua batang kemaluan Sersan dapat masuk ke mulut Vira, batang kemaluan Sersan terlalu panjang dan besar untuk bisa masuk seluruhnya dalam mulut Vira. Ketika Sersan menarik batang kemaluannya terlihat ada cairan yang keluar dari batang kemaluannya. Julurin lidah kamu!&#8221; Vira membuka mulutnya dan mengeluarkan lidahnya. Sersan kemudian memegang batang kemaluannya dan mengusapkan kepala batang kemaluannya ke lidah Vira, membuat cairan kental yang keluar tadi menempel ke lidah Vira.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;San, dia nggak mungkin bisa masukin punya Sersan ke mulutnya, biar saya coba. Gantian!&#8221; Mereka kemudian bertukar tempat, Sersan sekarang ada di antara kaki Vira dan Polantas berjongkok di dekat wajah Vira. Sersan mulai mendorong batang kemaluannya masuk ke liang senggama Vira. Terlihat sekali dengan susah payah batang kemaluan Sersan yang besar itu membuka bibir kemaluan Vira yang masih sempit. Polantas, mengacungkan batang kemaluannya ke mulut Vira. &#8220;Kamu mungkin nggak bisa masukin punya Sersan ke mulut kamu, tapi kamu musti ngerasain punya saya ini, seluruhnya.&#8221; Dengan kasar ia mendorong batang kemaluannya masuk ke mulut Vira, sampai akhirnya batang kemaluan itu masuk seluruhnya hingga sekarang testis Polantas berada di wajah Vira. Ia kemudian menarik batang kemaluannya sebentar untuk kemudian didorongnya kembali masuk ke tenggorokan Vira. Setelah lima kali, keluar masuk, Polantas sudah tidak bisa lagi menahan orgasmenya.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Saya keluuarrhh. Aaahhh!&#8221; Ia tidak menarik batang kemaluannya keluar dari mulut Vira, batang kemaluannya tampak bergetar berejakulasi di tenggorokan Vira, menyemprotkan sperma masuk ke tenggorokannya. Saya mendengar Vira berusaha menjerit, ketika sperma Sersan mengalir masuk ke perutnya. Terlihat sekali Sersan yang sedang mencapai puncak kenikmatan tidak menyadari Vira meronta-ronta berusaha mencari udara.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Iyya&#8230; yaah! Telleeen semuaa! Aaahhh&#8230; aahhh&#8230; nikhmaattt!&#8221;Ketika selesai ia menarik keluar batang kemaluannya dan Vira langsung megap-megap menghirup udara, dan terbatuk-batuk mengeluarkan sperma yang lengket dan berwarna putih. Vira berusaha meludahkan sperma yang masih ada di mulutnya. Polantas tertawa melihat Vira terbatuk-batuk, &#8220;Kenapa? Nggak suka rasanya? Tenang aja, besok pagi, kamu pasti sudah terbiasa sama itu!&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Sementara Sersan yang masih mengerjai kemaluan Vira sekarang malah memegang pinggul Vira dan membalik tubuh Vira. Vira dengan tubuh berkeringat dan sperma yang menempel di wajahnya tersadar apa yang akan dilakukan Sersan pada dirinya, ketika dirasanya batang kemaluan Sersan mulai menempel di lubang anusnya.&#8221;Jangan Pak, jangan! Ampun Pak, ampun, jangan&#8230;&#8221;"Aaahkk! Jangaaan!&#8221;Vira menjerit-jerit ketika kepala batang kemaluan Sersan berhasil memaksa masuk ke liang anusnya. Wajah Vira pucat merasakan sakit yang amat sangat ketika batang kemaluan Sersan mendorong masuk ke liang anusnya yang kecil. Sersan mendengus-dengus berusaha memasukkan batang kemaluannya ke dalam anus Vira. Perlahan, senti demi senti batang kemaluan itu tenggelam masuk ke anus Vira. Vira terus menjerit-jerit minta ampun ketika perlahan batang kemaluan Sersan masuk seluruhnya ke anusnya. Akhirnya ketika seluruh batang kemaluan Sersan masuk, Vira hanya bisa merintih dan mengerang kesakitan merasakan benda besar yang sekarang masuk ke dalam anusnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Sersan beristirahat sejenak, sebelum mulai bergerak keluar masuk. Kembali Vira menjerit-jerit. Sersan terus bergerak tanpa belas kasihan. Batang kemaluannya bergerak keluar masuk dengan cepat, membuat testisnya menampar-nampar pantat Vira. Sersan tidak peduli mendengar Vira berteriak kesakitan dan menjerit minta ampun ketika sodomi itu berlangsung. Saya melihat berulang kali batang kemaluan Sersan keluar masuk anus Vira tanpa henti. Akhirnya Sersan mencapai orgasme ia menarik batang kemaluannya dan sperma menyemprot keluar menyembur ke punggung Vira, kemudian menyembur ke pantat Vira dan mengalir turun ke pahanya, dan terakhir Sersan kembali memasukkan batang kemaluannya ke anus Vira lagi dan menyemprotkan sisa-sisa spermanya ke dalam anus Vira. Sersan kemudian melepaskan pegangannya dari pinggul Vira dan berdua dengan Polantas mereka keluar dari sel dan menguncinya. Saya masih dapat mendengar Sersan berkata pada Polantas, &#8220;Pantat paling hebat yang pernah ada. Dia bener-bener sempit!&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Dini hari, ketika Vira kelelahan menangis dan merintih, mereka berdua dengan langkah sempoyongan dan dengan botol bir di tangan masuk kembali ke dalam sel Vira. Mereka menendang tubuh Vira agar terbangun dan mereka mulai memperkosanya lagi. Sekarang Polantas menyodomi Vira sementara Sersan berbaring di bawah Vira dan memasukkan batang kemaluannya ke dalam kemaluan Vira. Kemudian mereka berganti posisi. Mereka juga menyiksa Vira dengan memasukkan botol bir ke dalam liang kemaluan dan anusnya sementara batang kemaluan mereka dimasukkan ke mulut Vira. Mereka terus berganti posisi dan Vira terus menerus menjerit dan menjerit hingga akhirnya ia kelelahan dan tak sadarkan diri. Melihat itu polisi-polisi tersebut hanya tertawa terbahak-bahak meninggalkan tubuh Vira yang memar-memar dan belepotan sperma dan bir.</p>
<p style="text-align: justify;">Keesokan paginya, Sersan masuk dan membuka sel kami.&#8221;Kalian boleh pergi.&#8221;Saya membantu Vira mengenakan pakaiannya. Tubuhnya lemah lunglai berbau bir dan sperma-sperma kering masih menempel di tubuhnya. Kami pergi dari kantor polisi itu dan akhirnya sampai ke rumah Vira. Kemudian saya membersihkan tubuh Vira dan menidurkannya. Ketika saya tinggal, saya mendengar ia merintih, &#8220;Jangan Pak, ampun Pak, sakit&#8230; ampuunn&#8230; sakiiit&#8230;&#8221;.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>TAMAT</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ceritasex.cn/kekasihku-diperkosa-polisi-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Akibat Merokok Di WC Sekolah</title>
		<link>http://www.ceritasex.cn/akibat-merokok-di-wc-sekolah/</link>
		<comments>http://www.ceritasex.cn/akibat-merokok-di-wc-sekolah/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 06 Dec 2011 23:12:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cerita Sex</dc:creator>
				<category><![CDATA[anal seks]]></category>
		<category><![CDATA[Daun Muda]]></category>
		<category><![CDATA[Gangbang Rame Rame]]></category>
		<category><![CDATA[Orgy]]></category>
		<category><![CDATA[Paruh baya]]></category>
		<category><![CDATA[Pemerkosaan]]></category>
		<category><![CDATA[Seks Umum]]></category>
		<category><![CDATA[alice]]></category>
		<category><![CDATA[anus]]></category>
		<category><![CDATA[double penetration]]></category>
		<category><![CDATA[erlina]]></category>
		<category><![CDATA[gangbang]]></category>
		<category><![CDATA[ngentot]]></category>
		<category><![CDATA[perkosa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ceritasex.cn/?p=3189</guid>
		<description><![CDATA[Namaku Erlina atau biasa dipanggil Lina. Umurku 17 tahun dan masih sekolah di sebuah SMA swasta di Jakarta. Bukannya narsis, tapi banyak yang bilang wajahku cantik sehingga tak heran jika banyak cowok yang mengejarku. Selain wajahku yang manis aku juga memiliki kulit yang putih mulus. Tapi yang lebih kubanggakan adalah dadaku yang berukuran 34B yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Namaku Erlina atau biasa dipanggil Lina. Umurku 17 tahun dan masih sekolah di sebuah SMA swasta di Jakarta. Bukannya narsis, tapi banyak yang bilang wajahku cantik sehingga tak heran jika banyak cowok yang mengejarku. Selain wajahku yang manis aku juga memiliki kulit yang putih mulus. Tapi yang lebih kubanggakan adalah dadaku yang berukuran 34B yang untuk ukuran anak seusiaku, ukurannya cukup besar dengan puting berwarna merah kecoklatan, karena sering kupelintir-pelintir. Cerita ini bermula ketika aku ketahuan sedang merokok di WC sekolah. Ya…aku memang pecandu berat rokok. Sehari bisa habis sebungkus. Kalau sudah pingin ngerokok aku sering curi-curi di WC sekolah. Seperti siang itu, setelah pulang sekolah aku langsung ke toilet wanita dan mengeluarkan rokok dari tasku. Sambil menunggu sopirku yang memang sering datang telat, aku mulai menyalakan sebatang rokok. Suasana sekolah sudah sepi karena siswa dan guru-guru sudah pada pulang, makanya aku berani.</p>
<p style="text-align: justify;">Lagi asik-asiknya merokok aku dikagetkan oleh dua orang yang membuka pintu kamar mandi. Ternyata mereka adalah penjaga sekolahku, Pak Togar dan Kiryo. Aku pun ketangkap basah dan tak bisa mengelak. Mereka menuduhku melakukan pelanggaran berat di areal sekolah dan harus dilaporkan. Tentu saja aku tidak menginginkan hal itu terjadi. Bisa dibayangkan jika sampai kejadian ini diketahui kepala sekolah maka aku pasti dipecat dari sekolah ini. Aku tidak mau sampai dipecat sehingga terjadi perdebatan dan tawar-menawar di antara kami. Aku menawarkan sejumlah uang kepada kedua penjaga seklah itu. Kemudian Kiryo sesuatu pada Pak Togar, entah apa yang dibisikkan lalu keduanya mulai cengengesan melihat ke arahku. Pak Togar lalu berkata, “Gini saja, bagaimana kalau kita pakai sebentar body Non buat biaya tutup mulut?” “Huh, dasar…cowok dimana-mana sama aja, selangkangan melulu isi kepalanya!” omelku dalam hati Sorot mata mereka membuatku nervous dan jantungku berdetak lebih cepat, kakiku serasa lemas bak kehilangan pijakan sehingga aku menyandarkan punggungku ke tembok.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah kupikir-pikir, akhirnya aku mengiyakan juga, daripada aku dipecat dari sekolah ini mending kurelakan tubuhku untuk kedua penjaga sekolah ini. Lagian aku sudah tidak perawan lagi dan termasuk gadis yang doyan ngesex. Tapi bercinta dengan kedua orang ini membuatku agak sedikit takut. Bagaimana tidak, Pak Togar berumur 40 tahun dengan tubuh tambun berambut cepak sudah agak beruban dan wajah mirip tukang pukul, sedangkan Kiryo baru berumur 24 tahun, tubuhnya kurus dekil, dengan jenggot kambing yang jarang di dagunya. Selain itu dari segi fisik, keduanya jauh dari ganteng. Tapi tak ada pilihan lain bagiku selain melayani nafsu mereka. Akhirnya aku menganggukan kepala yang disambut dengan tawa dari mereka. “Hehehe…cantik, sexy… wah beruntung banget kita Pak Togar!” kata Kiryo “Iya Kir, anak SMA pula.ha..ha…”sambut Pak Togar tertawa penuh kemenangan Kedua penjaga sekolah itu lalu mendekatiku. Pak Togar langsung melumat bibirku sebelum aku sempat protes dan berkelit, sedangkan si Kiryo meraba-raba dadaku yang kiri dari luar.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku memejamkan mata mencoba meresapinya, Pak Togar makin ganas menciumiku ditambah lagi tangannya ikut meremas-remas payudaraku yang kanan. Aku hanya berdiam diri saja tak memberikan reaksi. Sambil melumat, lidahnya mencari-cari dan berusaha masuk ke dalam mulutku, dan ketika berhasil lidahnya bergerak bebas menjilati lidahku hingga secara tak sengaja lidahkupun meronta-ronta. Sambil memejamkan mata aku mencoba untuk membawa diri mengikuti arus permainan. Dengan kuluman lidah Pak Togar yang agresif, ditambah remasan-remasan telapak tangan mereka pada payudaraku, birahiku pun dengan cepat naik. Memang, aku sudah sangat terbiasa dan sangat terbuai dengan permaian seperti ini hingga dengan mudahnya Pak Togar mulai membangkitkan nafsuku. Bahkan kini aku mulai memberanikan diri menggerakkan tangan memeluk kepala Pak Togar. Sementara di bawah sana kurasakan sebuah tangan kasar meraba pahaku. Aku membuka mata dan melihatnya, di sana Kiryo mulai menyingkap rok SMA ku dan merabai pahaku yang putih mulus.<br />
<span id="more-3189"></span><br />
“Mulus banget pahanya Non…bikin gemes aja..nih…he..he..” sahut Kiryo sambil tangannya makin merayap naik hingga selangkanganku. Pak Togar lalu melepaskan ciumannya dan berkata : ”Gua juga jadi penasaran ini dengan teteknya. Semulus pahanya ga? Hahaha…” Pak Togar lalu beralih dadaku. Seragam SMAku yang agak ketat disingkapnya sehingga terlihatlah buah dadaku yang masih terbungkus BH hitam, itupun juga langsung diturunkan hingga dadaku terekspos di hadapan mereka. “Wow teteknya montok sekali, putih lagi” komentarnya sambil meremas payudara kananku yang pas di tangannya. Seperti yang aku katakan, untuk ukuran anak SMA seusiaku, ukuran dadaku cukup besar dengan puting berwarna merah kecoklatan. Kiryo juga langsung kesengsem dengan payudaraku, dengan gemas dia melumat yang kiri. Mereka kini semakin liar menggerayangiku. Putingku makin mengeras karena terus dipencet-pencet dan dipelintir Pak Togar sambil mencupangi leher jenjangku, dia melakukannya cukup lembut dibandingkan Kiryo yang memperlakukan payudara kiriku dengan kasar, dia menyedot kuat-kuat dan kadang disertai gigitan sehingga aku sering merintih kalau gigitannya keras.</p>
<p style="text-align: justify;">Namun perpaduan antara kasar dan lembut ini justru menimbulkan sensasi yang khas. Melihat aku semakin pasrah, mereka semakin menjadi-jadi. Tak kusadari rokku sudah terangkat sehingga dapat kurasakan angin membelai kulit pahaku, celana dalamku pun tersingkap dengan jelas. Kiryo menyusupkan tangannya ke balik celana dalamku dan mulai mengobok-obok di dalam sana. Tangan Pak Togar yang lainnya merayap turun mengelusi belakang pahaku hingga mencengkram pantatku. Nafasku makin memburu, aku hanya memejamkan mata dan mengeluarkan desahan-desahan menggoda. Vaginaku terasa semakin becek karena gesekan-gesekan dari jari Kiryo, bahkan suatu ketika aku sempat tersentak pelan ketika dua jarinya menemukan lalu mencubit pelan daging kecil yang tak lain adalah klitorisku. “Ohhhhh…..Bang…….auw!!” desahku. Tubuhku serasa lemas tak berdaya, pasrah membiarkan mereka menjarah tubuhku. Reaksiku ini membuat mereka semakin bergairah. Kiryo meraih tangan kiriku dan menuntunnya ke penisnya yang entah kapan dia keluarkan.</p>
<p style="text-align: justify;">Ukurannya lumayan jadi juga, walaupun perawakannya kurus dan dekil, penisnya yang sudah tegang cukup besar sehingga membuatku terhenyak. “Waw…keras juga, gede lagi” kataku dalam hati saat menggenggam penisnya yang memang panjang itu. Aku mulai mengocoknya perlahan sesuai yang diperintahkannya, terasa benar benda itu makin membengkak saja dalam genggamanku. Tak lama kemudian, Kiryo menarik tangannya keluar dari celana dalamku, jari-jarinya basah oleh cairan kewanitaanku yang langsung dijilatinya seperti menjilat madu. Kemudian aku disuruh berdiri menghadap tembok dan menunggingkan pantatku pada mereka, kusandarkan kedua tanganku di tembok untuk menyangga tubuhku. “Asyik nih, siang ini kita bisa ngentot cewek cantik” celoteh Kiryo sambil meremasi bongkahan pantatku yang membulat indah itu. “Iya…dari dulu saya sudah naksir berat sama si Non Erlina ini, soalnya udah kece, suka pake baju seksi pula. Ga nyangka akhirnya ada kesempatan kaya gini…hehe” timpal pak Togar. Dia langsung membuka baju dan celananya hingga telanjang.</p>
<p style="text-align: justify;">Masih sambil dengan berpegangan di tembok, kugerakkan mataku memperhatikan burungnya yang baru dikeluarkan dari sangkarnya. Wow…aku membelalakkan mata tak berkedip, soalnya ukurannya bisa dibilang menakjubkan, panjang sih tidak beda jauh dari Kiryo tapi yang ini lebih berurat dan lebar, dengan ujungnya yang disunat hingga menyerupai cendawan. Jantungku jadi tambah berdegup membayangkan akan ditusuk olehnya. Sumpah deh…penisnya ini mengalahkan semua teman-teman kencanku. Jauh lebih menggairahkan dibanding milik teman-teman SMU-ku yang pernah ML denganku. Bahkan mengalahkan penis Tarjo pembantuku sendiri. (sebagai informasi aku pernah ML dengan pembantuku yang bernama Tarjo. Di lain kesempatan, akan kuceritakan pengalamanku itu). Aku berhenti menatap takjub saat Kiryo mulai menurunkan celana dalamku. Disuruhnya aku mengangkat kaki kiri agar bisa meloloskan celana dalam. Akhirnya pantatku yang sudah telanjang menungging dengan celana dalamku masih menggantung di kaki kanan. Posisiku yang sedikit menungging mengakibatkan vaginaku terpampang di hadapan mereka.</p>
<p style="text-align: justify;">Mata mereka seperti mau copot melihat kewanitaanku yang sudah tidak tertutup apa-apa lagi dari balik rok abu-abuku yang terangkat hingga pinggang. Kiryo mendekap tubuhku dari belakang dalam posisi berdiri. Dengan lembut dia membelai permukaan vaginaku yang ditumbuhi bulu-bulu halus itu. Sementara tangan yang satunya mulai naik ke payudaraku, darahku makin bergolak ketika telapak tangannya yang kasar itu meremas-remas dadaku. “Sshh.. Bang” desahku dengan agak gemetar ketika jarinya menekan bagian tengah kemaluanku. “Tenang Non…saya gak bakal kasar kok, dijamin enak ngentot sama si ganteng Kiryo!” kata Kiryo memuji diri tanpa tahu kondiri dirinya, ia juga terus merayu sambil mengelusi bagian pangkal pahaku dengan jarinya. Aksi Kiryo berhenti ketika Pak Togar meletakkan sebuah kursi panjang di tengah toilet. Kursi panjang itu biasa digunakan untuk duduk jika sedang ngantri mau ke toliet. Pak Togar lalu memberi isyarat agar Kiryo menelentangkan tubuhku di atas kursi itu. Sekarang aku terbaring telentang di atas kursi itu dengan Kiryo berada di antara kedua pahaku.</p>
<p style="text-align: justify;">Dia membentangkan pahaku lebar-lebar membuatku malu dan menutupkan tanganku di vaginaku. Dengan gemas dia membentangkan tanganku lagi. Pak Togar lalu mendekat dan berkata : ”Non Erlina, dari dulu saya pengen suatu saat nanti agar kontol saya bisa ngerasian bibir Non. Eh, akhirnya kesampaian juga. He.he..” katanya sambil tertawa, “sekarang ayo buka mulutnya Non!” perintah Pak Togar setengah menghardik. Hal itu membuatku takut. Akupun pelan-pelan meraih benda itu, ya ampun tanganku yang mungil tak muat menggenggamnya, sungguh fantastis ukurannya. “Ayo non, emutin kontol Pak Togar tuh, pasti yahud rasanya kalo diemut sama Non!” kata Kiryo menimpali. aku tak punya pilhan lain. Kubimbing penis dalam genggamanku ke mulutku yang mungil dan merah, uuhh.. susah sekali memasukkannya karena ukurannya. Sekilas tercium bau keringat dari penisnya sehingga aku harus menahan nafas juga terasa asin waktu lidahku menyentuh kepalanya, namun aku terus memasukkan lebih dalam ke mulutku lalu mulai memaju-mundurkan kepalaku. Selain menyepong tanganku turut aktif mengocok ataupun memijati buah pelirnya.</p>
<p style="text-align: justify;">“Uaahh.. uueennakk banget, Non Lina udah pengalaman yah?” ceracau Pak Togar menikmati seponganku, sementara tangannya yang bercokol di payudaraku sedang asyik memelintir dan memencet putingku. Di bawah sana, kurasakan Kiryo mulai menjilati pahaku yang putih mulus, jilatannya perlahan-lahan mulai menjalar menuju ke tengah. Aku hanya dapat bergetar saat kurasakan lidahnya yang tebal dan kasar itu menyusup ke pangkal pahaku lalu menyentuh bibir vaginaku. Bukan hanya bibir vaginaku yang dijilatinya, tapi lidahnya juga masuk ke liang vaginaku, rasanya wuiihh..gak karuan, geli-geli enak seperti mau pipis. Tangannya yang terus mengelus paha dan pantatku mempercepat naiknya libidoku. Aku makin bersemangat mengoral penis Pak Togar saking nikmatnya yg kurasakan. “Wah, makin gatel nih Non Lina. Awas…kontol saya jangan sampai digigit ya. ohhhh…ohh….” kata Pak Togar. Sambil mengoral penis Pak Togar aku menjambak rambut si Kiryo yang sedang menyeruput vaginaku. Aku benar-benar sudah terbuai dalam kenikmatan birahi.</p>
<p style="text-align: justify;">Sebentar lagi aku akan mencapai puncak kenikmatan. Tidak sampai lima menit, tubuhku mengejang, rasa nikmat itu menjalar dari vagina ke seluruh tubuhku. Sensasi itu berlangsung terus sampai kurasakan cairanku tidak keluar lagi, barulah Kiryo melepaskan kepalanya dari situ, nampak mulutnya basah oleh cairan cintaku Badanku lemas, dan kulepaskan mulutku dari penis Pak Togar. Pak Togar nampaknya mengerti dengan kondisiku sehingga dia tidak memaksaku mengoral penisnya lagi. “Emang enak ya cairan pejunya cewek SMA” sahut Kiryo kepada Pak Togar. “Tunggu sampai lu rasain sepongannya deh Kir…pokoknya maknyus deh! Non Lina udah pengalaman yah?” kata Pak Togar. “Benar tuh Pak…anak-anak SMA sekarang kan doyan ngentot. Hehehehe…” Aku hanya mengatur nafasku sambil memejamkan mata mendengar olok-olok mereka. Belum beres aku mengatur nafasku yang memburu, aku mulai merasakan ada jari yang merenggangkan vaginaku, kemudian disusul dengan sebuah benda keras yang menyeruak masuk. Benda itu adalah penis Kiryo, ia sepertinya buru-buru sekali ingin menikmati vaginaku.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku membelalakkan mata menahan nyeri ketika penisnya menerobos vaginaku. Penis besar itu kesulitan menjebol vaginaku yang masih sempit itu. Kepala penisnya yang besar itu menggesek klitoris di liang senggamaku hingga aku merintih antara sakit dan nikmat. Ia terus berusaha menekankan miliknya ke dalam milikku yang memang sudah sangat basah. Aku memejamkan mata, meringis, dan merintih menahan rasa perih akibat gesekan benda itu pada milikku. Pelahan-lahan benda itu meluncur masuk ke dalam milikku. Dan ketika dengan kasar dia tiba-tiba menekankan miliknya seluruhnya amblas ke dalam diriku. aku tak kuasa menahan diri untuk tidak memekik. “ahh……….bang…….stop…….ahhhhhhh…….sakittttttt…pelan dikithh!!” aku melolong panjang menahan rasa perih akibat gesekan benda itu pada milikku yang masih sempit, sampai mataku berair. Perasaan perih bercampur nikmat tersebut membuat badanku mengejang beberapa detik. “Oohh.. Non Lina sayang…peret banget.. memekmu.. enaknya!” ceracaunya di tengah aktivitasnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Kiryo menyetubuhiku dalam posisi doggie di atas lantai toilet, alat kelamin kami yang bertumbukan menimbulkan bunyi plok-plok-plok. Aku sungguh larut dalam kenikmatan ini dan tak bisa menahan desahanku. Penisnya menggesek dinding-dinding vaginaku, semakin cepat dan semakin dalam, saking keenakannya dia tak sadar penisnya ditekan hingga masuk semua. Ini membuatku merasa sakit bukan main dan aku menyuruhnya berhenti sebentar, namun Kiryo yang sudah kalap ini tidak mendengarkanku, malahan dia menggerakkan pinggulnya lebih cepat. Aku dibuatnya serasa terbang ke awang-awang, rasa perih dan nikmat bercampur baur dalam desahan dan gelinjang tubuh kami. Pak Togar tidak menyia-nyiakan mulutku yang mengap-mengap dan terbuka lebar. Ia berlutut di hadapanku dan dijejalinya penisnya ke mulutku sehingga teriakanku tersumbat. Kiryo makin brutal menyodok-nyodok vaginaku. Sambil menyodok, kepalanya merayap ke payudaraku dan tangannya sesekali menampar bongkahan pantatku karena gemas.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku menggelinjang tak karuan waktu puting kananku digigitnya dengan bernafsu, kocokan dan kulumanku pada penis Pak Togar pun makin bersemangat. Rupanya teknik oral seksku telah membuat Pak Togar ketagihan, dia jadi begitu bernafsu memperkosa mulutku dengan memaju-mundurkan pinggulnya seolah sedang bersetubuh. Kepalaku pun dipeganginya dengan erat seolah tidak rela melepaskannya. Bahkan sesekali dia menjambak rambutku ketika aku menggigit pelan batangnya. Penisnya yang besar itu menyesaki mulutku yang mungil itu pun ada sisanya karena tidak tertampung semua. Hal itu membuat aku susah bernafas. Akhirnya aku hanya bisa pasrah saja disenggamai dari dua arah oleh mereka, sodokan dari salah satunya menyebabkan penis yang lain makin menghujam ke tubuhku. Aku mencoba mengikuti ritme genjotan mereka hingga pelan-pelan akupun mulai terbiasa, serasa terbang melayang-layang aku dibuatnya hingga akhirnya tubuhku menggelinjang. Aku mau menjerit tapi mulutku tersumbat oleh penis Pak Togar. Bersamaan dengan itu pula genjotan Kiryo terasa makin bertenaga.</p>
<p style="text-align: justify;">“Non…neng saya keluar nih !” erangnya panjang sambil meringis. Hal yang sama pula dirasakan olehku, aku tidak sanggup lagi menahan gelombang orgasme yang menerpaku demikian dahsyat. Kami mencapai orgasme bersamaan, aku dapat merasakan spermanya yang menyembur deras di dalamku, dari selangkanganku meleleh cairan hasil persenggamaan kami. Aku melepaskan penis Pak Togar dari mulutku dan mengambil udara segar. Tubuh telanjangku terbaring lemas di kursi panjang itu. Lelah sekali persetubuhan liar barusan. Kurasakan punggungku sakit karena bergesekan dengan kursi panjang itu. “Hehe…liat nih Pak Togar, akhirnya saya bisa juga numpahin peju ke memek bidadari sekolah kita” kata Kiryo membentangkan bibir vaginaku dengan jarinya, seolah ingin memamerkan cairan spermanya dengan bangga. “Ngehek juga kau Kir, kenapa pula jadi kau yang duluan ngetotin dia. Kan harusnya saya sebagai yang lebih tua darimu”. kata Pak Togar sewot. “Aduh maaf Pak. Habis saya gak tahan tadi. Soalnya Non Lina ini udah dari dulu pengen saya entotin.</p>
<p style="text-align: justify;">He..he… Kalo saya ngocok pasti selalu ngebayangin dia. Jadi mengertilah Bang. He,,he,,” kata Kiryo sambil cengengesan. Pak Togar lalu mendekatiku. “Non Lina, bisa ga Bapak tusuk sekarang? udah ga tahan daritadi belum rasain memeknya Non, boleh kan?” kata Pak Togar sambil mengangkat tubuhku. Aku tahu itu hanya basa-basi, sebab jika aku menolak sekalipun dia pasti akan tetap melakukannya. Maka, walau masih lemas banget, tapi kuanggukan kepala mengiyakannya. “Tapi pelan-pelan ya…masih cape nih” kataku sambil menatap ngeri ke penis supernya yang sudah menegang maksimal. Dia nampaknya senang, karena sebentar lagi akan merasakan kenikmatan gadis muda. Diangkatnya tubuhku lalu digiring ke arah wastafel lalu aku disuruh berbalik dan tanganku bertumpu pada wastafel. Sekarang aku dapat melihat diriku melalui cermin di hadapanku dan dari belakang kulihat dia sedang mengagumi tubuhku dan mengelus-ngelusnya. “Bener-bener body yang top!” pujinya sambil meremas bongkahan pantatku dengan gemas dan menepuknya.</p>
<p style="text-align: justify;">Saat tangannya mengelus kemaluanku tanpa sadar aku malah merenggangkan kakiku sehingga dia makin leluasa merambahi daerah terlarang itu. Lewat cermin kulihat dia mulai mempersiapkan penisnya dengan menggosok-gosokkan pada bibir vagina dan anusku. Kemudian dia menyelipkan penisnya di antara selangkanganku lewat belakang. Tanpa buang waktu lagi, Pak Togar mendorong penisnya pada vaginaku. Walaupun sudah becek oleh lendirku, aku masih merasa nyeri karena penisnya yang tebal tidak sebanding ukurannya dengan liang senggamaku. Aku merintih kesakitan merasakan penis itu melesak hingga amblas seluruhnya. Dia langsung menyodok-nyodokkan penisnya dengan kecepatan yang semakin lama semakin tinggi. “Benar juga katamu Kir…sempit banget…enak…ohh” sahut Pak Togar. Dia pasti tak habis pikir bisa menikmati gadis SMA sepertiku. Kedua bandot ini memnag sangat beruntuk bisa menikmati tubuhku dengan gratis. Tapi setelah kupikir-pikir toh aku juga menikmatinya. Permainan mereka telah berhasil menggali sisi terliar dalam diriku. Tak dapat kusangkal bahwa aku sangat menikmati persetubuhan ini.</p>
<p style="text-align: justify;">“OH…pak terus….entot aku!!” desahku tanpa malu-malu lagi. Cermin di depanku memantulkan bayangan wajahku yang sedang horny, mulutku mengap-mengap mengeluarkan merintih terlebih ketika tangan kasar itu meremas-remas kedua payudaraku sambil sesekali dipermainkannya putingku yang sudah mengeras. “Suka ga Non Lina bapak ginikan?” tanyanya sambil terus menggenjot dan mempermainkan payudaraku. Nampaknya dia senang melihatku tersiksa seperti ini. ”Aahh.. iya…suka…” desahku tak tertahankan. Pak Togar menimpali jawabanku dengan berkata pada Kiryo : “Lu denger Kir? Katanya dia suka. Hahaha….” “Hajar aja terus memeknya Pak. Udah gatal dia itu….hahahahahah..” kata Kiryo. Kiryo menontonku sedang bersetubuh dengan Pak Togar sambil duduk merokok di bangku panjang. Pak Togar makin bersemangat saja menyetubuhiku. Tusukan-tusukan penisnya seolah merobek tubuhku, hingga 15 menit kemudian tubuhku bagaikan kesetrum dan mengucurlah cairan dari vaginaku dengan deras sampai membasahi pahaku. Aku merintih panjang sampai tubuhku melemas kembali, kepalaku jatuh tertunduk, nafasku masih kacau setelah mencapai orgasme.</p>
<p style="text-align: justify;">Tadinya kukira dia juga akan segera memuntahkan spermanya, ternyata aku salah, penisnya masih begitu keras dan dia masih kuat menggenjotku tanpa mempedulikan kondisiku yang mulai kepayahan. Rambut panjangku dijambaknya sehingga kepalaku terangkat, kembali kulihat adeganku melalui cermin dimana tubuhku yang telah mandi keringat tergoncang-goncang, nampak pula payudara terayun kesana-kemari. Sudah seperempat jam berlalu, selama itulah aku digenjotnya namun belum terlihat tanda-tanda akan orgasme, justru nafsuku mulai bangkit lagi. Variasi gerakannya sangat lihai sampai membuatku berkelejotan, juga staminanya itu sungguh diluar dugaan. Mendadak dia menarik lepas penisnya, aku sudah siap menerima semprotan spermanya, namun…ooohh..tidak! penis itu masih mengacung dengan gagahnya. Dia lalu duduk di kursi panjang tadi, “Sini Non, kita main pangku-pangkuan!” suruhnya seraya menepuk paha. Aku menurut saja dan tanpa diminta lagi aku naik ke pangkuannya, tanpa malu-malu lagi aku melingkarkan tangaku di pundaknya.</p>
<p style="text-align: justify;">Akupun dengan senang hati menuntun penisnya memasuki milikku, dalam posisi seperti ini aku dapat lebih aktif bergoyang. Setelah menurunkan tubuhku hingga penisnya amblas ke dalam vaginaku, aku pun mulai bergoyang di pangkuannya. Pak Togar pun membalas gerakkanku dengan menyentak-nyentak pinggulnya berlawanan denganku sehingga tusukannya makin dalam. Kedua tangannya menggerayangi tubuhku terutama payudara dan punggung. “Ohhh.oohhhhh……ohhhh.” hanya itu yang keluar dari mulutku. Aku menggoyangkan tubuhku dengan gencar dengan gerakan naik-turun, sesekali aku melakukan gerakan meliuk sehingga Pak Togar mengerang karena penisnya terasa diplintir. Wajahnya dibenamkan pada belahan dadaku, putting kiriku disedot dan dikulumnya dengan rakus. Kunaik-turunkan tubuhku dengan gencar sampai dia melenguh-lenguh keenakan. “Uuugghh…oohh…memek SMA enak banget, nngghhh…memek anak..sma..!!”. Kiryo menonton adegan kami sambil mengelus-elus penisnya, dia ingin memancing adik kecilnya untuk `bangun`. “Ayo…goyang Non…oohh!” Pak Togar sepertinya ketagihan dengan goyanganku.</p>
<p style="text-align: justify;">Tangannya tetap meremas-remas dadaku, bahkan sesekali mulutnya menggigit payudaraku. Kontan aku menjerit-jerit makin kuat. Jeritanku membuat Pak Togar makin bernafsu begitu juga Kiryo, dia tidak tahan hanya menonton saja. Dia mendekat dan berdiri di sebelahku, penisnya mengacung di depan mukaku. Dia mengelus-eluskan benda itu pada pipiku yang halus. “Emut non…ayo buka mulutnya!” sambil mengarahkan batangnya ke mulutku yang mendesah-desah. Dengan setengah memaksa dia menjejalinya ke mulutku. Aku yang tak punya pilihan lain langsung memasukkan penis itu ke mulutku. Kusambut batangnya dengan kuluman dan jilatanku, aku merasakan aroma sperma pada benda itu, lidahku terus menjelajah ke kepala penisnya dimana masih tersisa sedikit cairan itu, ntah kenapa aku tidak merasa jijik. Malah kupakai ujung lidahku untuk menyeruput cairan yang tertinggal di lubang kencingnya. Hal itu membuat Kiryo blingsatan sambil meremas-remas rambutku. Aku melakukannya sambil terus bergoyang di pangkuan Pak Togar. ”ah uh ah….hhhhh………”suara-suara itu membahana di kamar mandi itu. Untung suasana sekolah sudah sepi kalau tidak bisa berabe.</p>
<p style="text-align: justify;">Dengan tetap bergoyang, aku juga mengisap-ngisap penis Kiryo makin keras hingga membuat batangnya menegang maksimal. Tangannya merayap ke bawah menggerayangi payudaraku. Dia sangat pandai meremas-remas titik sensitifku, sehingga aku dibuatnya melayang-layang. Gelombang orgasme sudah di ambang batas, aku merasa sudah mau sampai, namun Pak Togar menyuruhku bertahan sebentar agar bisa keluar bersama. Sampai akhirnya dia meremas pantatku erat-erat dan memberitahuku akan segera keluar, perasaan yang kutahan-tahan itu pun kucurahkan juga. “Aaaahhhhh….hhhhhhhh!!!!” desahan panjang keluar dari mulutku, kepalaku mendongak ke atas menatap langit-langit kamar mandi sehingga penis Kiryo yang sudah menegang maksimal lepas dari bibirku. Aku dan Pak Togar orgasme bersamaan dan dia menumpahkannya di dalam rahimku. Vaginaku serasa banjir oleh cairannya yang hangat dan kental itu, sperma yang tidak tertampung meleleh keluar di daerah selangakanganku. Aku ambruk ke depan, ke dalam pelukan Pak Togar.</p>
<p style="text-align: justify;">Dia peluk tubuhku sambil penisnya tetap dalam vaginaku, kami berdua basah kuyup keringat yang mengucur. Aku merasakan kehangatan dalam dekapan pria itu. Tanpa memperdulikan tubuhku yang lemas Kiryo langsung mengangkat tubuhku dari Pak Togar. Dia lalu membuatku menungging diatas lantai dengan tangan bertumpu pada kursi panjang itu. “Mau ngapain lagi sih Bang?” tanyaku. “udah dulu dong, Lina dah cape nih” keluhku yang tidak dipedulikannya. Dia menepuk-nepuk pantatku yang montok. Dia kemudian meludahi bagian duburku beberapa kali. lalu digosok-gosokkan dengan jarinya ke daerah itu. Aku memejamkan mata dan berharap semoga dia tidak menyerang anusku, karena aku sudah membayangkan ngerinya kalau batangnya itu membobol pantatku yang masih perawan. Aku belum pernah anal seks sebelumnya dan tidak punya keinginan untuk melakukannya karena membayangkannya juga sudah sakit. Sunguh aku lemas jika membayangkan rasa sakit jika penisnya menusuk-nusuk anusku seperti menusuk-nusuk vaginaku. Belum habis aku berfikir aku dikejutkan oleh sebuah benda lonjong di bibir lubang anusku.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku pun kontan menarik pantatku. Tapi Kiryo malah menarikku. Aku terkejut dan mencoba berontak “Jangan bang…jangan di situ…. Sakit!” ibaku. “Tahan Non, masih baru emang sakit, tapi ntar pasti enak kok” katanya dengan tenang. Aku masih meronta-ronta tapi Pak Togar memegangi tubuhku. Nampaknya dia memberi kesempatan bagi Kiryo menikmati anusku. Dia perlahan-lahan mendorong penisnya masuk ke anusku. Anusku pun kontan mengerut. Dia masih terus berusaha melicinkan jalan penisnya. Setelah beberapa saat menarik dan mendorong akhirnya ia berhasil memperawani anusku. Aku memeluk tubuh Pak Togar karena saking perihnya baru pertama kali ditusuk bagian sana. Dia diamkan sebentar penisnya disana untuk beradaptasi sekalian menikmati jepitannya. Kesempatan ini juga kupakai untuk membiasakan diri dan mengambil nafas. “Auhhh….sakit…” Aku menjerit keras saat dia mulai menghujamkan penisnya. Secara bertahap sodokannya bertambah kencang dan kasar sehingga tubuhku pun ikut terhentak-hentak. Aku tidak bisa melukiskan rasa sakit yang aku rasakan.</p>
<p style="text-align: justify;">Tanpa menghiraukannku dia tetap mengengot duburku. Untuk merangsangku, Pak Togar meraih kedua payudaraku yang bergoyang dan diremas-remasnya dengan lembut. Tapi remasannya kalah dibandingkan rasa sakit yang kuterima. “pak..u..da..ah….Erlina..sa..kit” jeritku panjang. Keringat dan air mataku bercucuran. Jeritanku itu bukannya membuatnya kasihan malahan membuatnya makin bernafsu. Dengan keras dia sodok-sodokan penisnya dan pantatku yang mulus itu diremas-remas dengan brutal. Suara rintihanku saling beradu dengan lenguhan. Lambat laun mulai kuraskan nikmat sedikit. Tapi walaupun begitu air mataku tetap bercucuran akibat sensasi nikmat di tengah-tengah rasa perih dan ngilu. Rasa sakit itu kurasakan terutama pada dubur, aku mengaduh setiap kali dia mengirim hentakan dan remasan keras, namun aku juga tidak rela dia menyudahinya. Terkadang aku harus menggigit bibir untuk meredam jeritanku. “aduh, sempit banget nih pantat.” desahnya sambil terus menggenjotku. “Udah bangsat. Hentikan. Sak…..it…..” kata-kata kasar keluar dari mulutku, tapi dia bahkan tidak peduli.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku terus memaki dan memakinya agar berhenti. Untuk meredam suaraku Pak Togar lalu mamasukkan penisnya ke mulutku dan memaksaku mengemutnya. Dia bahkan mulai kasar dengan menjambak rambutku. Aku tak punya pilihan lain selain mengoralnya. Hitung-hitung pengalih rasa sakit vaginaku. Kusedot dengan keras penis hitam itu. Kubuat pemiliknya medesah-desah. Walau masih lengket-lengket bekas persenggamaan barusan, kupakai lidahku menyapu batangnya. Aku dapat melihat ekspresi kenikmatan pada wajahnya akibat teknik oralku. Tiba-tiba Kiryo melingkarkan kedua lengannya ke ketiakku dan menarik bahuku. Kedua lenganku sekarang terkunci oleh lengan Kiryo dan terentang ke samping, membuatku terpaksa melepaskan kulumannya pada penis Pak Togar. Dalam posisi seperti itu Kiryo kemudian menarik tubuhnya sehingga kami berdua terlentang di lantai kamar mandi itu dengan posisi tubuhku ada di atasnya. Melihat hal itu, Pak Togar ikut maju, dipentangkannya kedua belah pahaku dan ditekuknya ke arah samping sehingga mengangkang seperti kodok, membuat vaginaku terkuak lebar.</p>
<p style="text-align: justify;">“Oohhh… janganh.. ahhh…hentikan……….”Aku berteriak takut saat menyadari apa yang akan dilakukan oleh Pak Togar. Pelan-pelan Pak Togar mula mendekatkan penisnya ke vaginaku. Aku berontak menyadari bahwa akan ada 2 penis besar dironggaku. Pasti sangat sakit pikirku. Tapi aku tak bisa berbuat banyak karena Kiryo memegangi tubuhku hingga aku tak bisa bergerak. “AAHHHHHKKK…am…pun………….nnnnn……..” aku menjerit saat penis Pak Togar menembus liang vaginaku. Sekarang dua batang penis besar memasuki tubuhku dari depan dan belakang. Aku meronta-ronta hebat saat secara bergantian Kiryo dan Pak Togar menggenjot tubuhnya. Tubuh ku mengeliat-liat di dalam himpitan kedua penjaga sekolah buruk rupa itu. Dan sambil menggenjot vaginaku, Pak Togar juga sibuk menciumi dan melumat bibirku. Aku merasa tersiksa dihimpit kedua penjaga sekolah brutal ini, tapi sebenarnya Aku juga merasakan sebuah sensasi hebat yang bergolak dari dalam tubuhku, bagaikan api besar yang membara dan meledak-ledak, membuatku akhirnya tenggelam dalam permainan seks bertiga itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Apalagi ternyata Kiryo dan Pak Togar sangat lihai dalam urusan seks, membuat sensasi dalam tubuhAku meledak. “aahhh… ahhhh… mau nyampe…….. oohhh… udaaaahhh… oohhh… udaaahhh…”Aku merintih-rintih merasakan orgasmenya setiap saat bisa meledak. Tapi kelihaian Kiryo dan Pak Togar dalam bersenggama membuat mereka bisa menahan orgasmeku. Mereka tidak ingin Aku selesai dengan mudah. Setiap kali Aku akan meledakkan orgasmenya, setiap kali pula mereka menghentikannya dengan bermacam cara, seperti dengan menghentikan genjotan penisnya, atau menjambak rambutku sampai kesakitan dan melupakan dorongan orgasmenya. Aku benar-benar dibuat takluk oleh kedua penjaga sekolah itu. Kurasakan wajahku panas merasakan sensasi orgasmenya berulang kali berhasil digagalkan. Entah berapa lama tubuhku berada di dalam himpitan dan genjotan kedua penjaga sekolah itu.Aku sendiri sampai terlalu payah untuk merintih, tubuhnya sekarang hanya tergetar dan menggeliat setiap kali hendak orgasme. “Gimana rasanya dikeroyok kaya gini Non Erlina? Ngomong dong..” kata Pak Togar sambil terus menggenjot vaginaku.</p>
<p style="text-align: justify;">“Eeegghh… ennaaakkk… Oohhhh… Nikmathh… Ahhhhh…..” jawabku sambil membiarkan kedua puting payudaraku dijilat dan digigit kecil oleh Pak Togar. “Apa Non mau lain kali ngentot bareng kita lagi?” tanya Kiryo dari belakang. “Ehhkkhh…. iyaahhh… mauuhhh… oohhh…” aku menjawab asal saja. Mendengar hal itu Kiryo makin bersemangat menggenjotkan penisnya di anusku. Hal itu berlangsung sekitar 15 menit lamanya sampai aku merasakan tubuhku seperti mau meledak, yang dapat kulakukan hanya menjerit panjang dan memeluk Pak Togar erat-erat sampai kukuku mencakar punggungnya. Selama beberapa detik tubuhku menegang sampai akhirnya melemas kembali dalam dekapan mereka. Namun mereka masih saja memompaku tanpa peduli padaku yang sudah lemas ini. Erangan yang keluar dari mulutku pun terdengar makin tak bertenaga. Tiba-tiba pelukan mereka terasa makin erat sampai membuatku sulit bernafas, serangan mereka juga makin dahsyat, putingku disedot kuat-kuat oleh Pak Togar, dan Kiryo menjambak rambutku. Aku lalu merasakan cairan hangat menyembur di dalam vagina dan anusku.</p>
<p style="text-align: justify;">Mereka berdua pun terkulai lemas diantara tubuhku dengan penis masih tertancap. Tanpa disadari, ada seseorang di luar sana yang telah mengetahui perbuatan mesum kami di toilet ini. Tiba-tiba saja pintu terbuka dan orang itu masuk “Hei, apa-apaan kalian? Ini sekolah, bukan tempat untuk main gila!” bentaknya Tentu saja kami pun terkejut dan melihat ke arah Ms. Alice, guru Bahasa Inggris yang berasal dari Amerika itu, berdiri berkacak pinggang dengan muka yang marah. Perlu diketahui bahwa sekolahku adalah sekolah internasional jadi tidak heran ada beberapa guru native yang mengajar di sini. Ms. Alice adalah seorang wanita berumur 24 tahun, berambut merah pendek dengan tubuh terbilang jangkung kalau dibandingkan tinggi badan wanita Asia pada umumnya. Ia sudah dua tahun di Indonesia sehingga sudah cukup lancar berbahasa Indonesia. Aku yang masih kaget buru-buru metutupi dadaku yang telanjang dengan kedua lengan. Mata Ms. Alice terpaku melihat melihat batang kemaluan kedua pria itu yang setengah ereksi itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Melihat reaksi Ms. Alice yang terdiam dan matanya mengarah pada kemaluan pria itu, Pak Togar timbul nyalinya untuk maju mendekati Ms. Alice, matanya menatap mata hijau wanita bule itu dengan tajam. Aneh, Ms. Alice yang tadinya tampak galak tiba-tiba terdiam dan melangkah mundur setengah langkah. Tanpa aba-aba, Pak Togar menarik lengan Ms. Alice dan dengan cepat mendekap tubuhnya. “No…tidak…mmmhhh!” sebelum Ms. Alice menyelesaikan kata-katanya bibirnya sudah lebih dulu dilumat dengan ganas oleh Pak Togar. Ms. Alice berusaha melepaskan diri dengan mendorong tubuh penjaga sekolah itu, tetapi tenaganya tentu kalah dibanding pria itu. Pak Togar menyibak rok Ms. Alice hingga terlihat pahanya yang jenjang dan putih mulus, tangan kasar itu langsung menggerayangi kemaluan Ms. Alice dari luar celana dalamnya. Mereka bergumul beberapa saat hingga akhirnya dorongan tangan Ms. Alice mulai berubah menjadi pelukan dan elusan liar, ia mulai membalas cumbuan Pak Togar dan bermain lidah dengannya.bertarung dan tangan Ms. Alice meraih penis Pak Togar.</p>
<p style="text-align: justify;">Ciuman mereka terpisah beberapa saat untuk mengambil nafas. “Puasin saya Pak…yah setubuhi saya dengan your big cock!” pinta Ms. Alice dengan suara lirih, kelihatannya ia sudah terangsang berat. Pak Togar menurunkan celana dalam Ms. Alice lalu melepas bajunya dengan kasar. Ms. Alice agak kaget tetapi diam saja. Batang kemaluannya yang dari tadi dielus-elusnya itu kini digesek-gesekkan oleh Pak Togar di selangkangannya. Ms. Alice menyandarkan punggungnya ke tembok dan mulai mengerang keenakan. Aku pun kembali merasakan seseorang meremas-remas buah dadaku dari belakang, ternyata Kiryo yang nafsunya bangkit lagi siap untuk memulai babak berikutnya. Aku pun melingkarkan tangan memeluk lehernya, kutengokkan wajah ke samping dan ia menyambut bibirku, kami kembali berciuman. Penisnya yang sudah bangkit lagi bergesekan dengan belahan pantatku. Kulihat di sudut sana, Ms. Alice pun mulai mengerang dan mendesah, tangannya membuka kait branya sendiri lalu menurunkan cupnya sehingga payudaranya pun terkuak. Pak Togar langsung memainkan buah dada wanita bule itu dan mereka pun berciuman dengan panas.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah beberapa saat saling merangsang, Pak Togar membawa Ms. Alice ke bangku panjang dan membaringkannya telentang di atasnya. Kemudian mulailah ia memasukkan batang kemaluannya yang sudah siap tempur itu ke dalam liang kemaluan Ms. Alice. Sodokan-sodokan pertama dimulainya dengan pelan-cepat pelan-cepat dengan ritme yang secara random. Ms. Alice mendesah dan menggumam dalam bahasa Inggris menerima sodokan-sodokan penis pria itu. Sementara tubuhku juga telah kembali bersatu dengan Kiryo, sambil mendekapku dari belakang ia memasukkan penisnya ke vaginaku, tubuhku dibungkukan ke depan membentuk sudut 90 derajat dan ia memegangi kedua pergelangan tanganku. Ia pun memulai genjotannya terhadap vaginaku. Dalam posisi begini kedua payudaraku nampak jelas sekali berayun-ayun mengundang selera. “Uuugghhh…asoy nih, memek bule, sedappphh!” ceracau Pak Togar sambil terus menggenjot vagina Ms. Alice dengan berpegangan pada kedua pergelangan kaki wanita itu. Ms. Alice terlihat pasrah, tubuhnya yang sudah telanjang bulat tersentak sentak di atas kursi panjang itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku melihat jelas vagina Ms. Alice yang bulunya juga kemerahan itu diterobos penis pak Togar yang besar dan berurat. Desahan pelan yang seksi dari guru Bahasa Inggrisku itu membuatku panas dingin menyaksikannya. Ms. Alice sama sekali tak terlihat diperkosa, bahkan dengan penuh penyerahan ia menyambut setiap tusukan pak Togar dengan sedikit mengangkat pinggulnya, nampaknya ia sudah lama tidak menikmati kenikmatan seks sehingga sekarang demikian larut di dalamnya. Sepuluh menitan kemudian mereka berganti posisi, kini Pak Togar telentang di bangku panjang dan sebelum ia sempat meminta, Ms. Alice sudah lebih dulu meraih penis besarnya dan menjilatinya dengan bernafsu. Wajah Ms. Alice nampak liar ketika menjilati penis itu sambil mengocoknya persis seperti artis-artis porno di film-film produksi Vivid dan Private, berbeda sekali dengan kesehariannya ketika mengajar di kelas yang anggun dan keibuan. Sedangkan aku kini sedang disetubuhi Kiryo dengan punggung bersandar ke tembok dan kedua kakiku diangkat olehnya, ternyata kurus-kurus begini kuat juga dia menopang tubuhku.</p>
<p style="text-align: justify;">Penisnya menghujam-hujam vaginaku, terkadang bibir kami bertemu dan saling bermain lidah. Aku sudah benar-benar mandi keringat karena sudah bergulat sejak tadi, tapi herannya kedua orang ini sepertinya belum puas juga mengerjaiku apalagi sekarang ditambah Ms. Alice. “Aahh..ahhh…kuat banget sih Bang, mau sampe kapan nih?” desahku di tengah pergumulan kami “Hehehe…mumpung dapet rejeki Non, kapan lagi bisa gini, makannya kudu dipuas-puasin sekarang…huuhhh….uuhh!” jawabnya tanpa menghentikan genjotan “Enngghh…Bang…” aku melenguh keenakan ketika tiba tiba penisnya menyodok dalam-dalam. Cairan cintaku yang sudah kembali meleleh melumasi vaginaku membuat sodokan itu terasa begitu nikmat. Apalagi urat urat yang menggerinjal itu berdenyut denyut, membuat aku kehilangan kontrol dan mulai menggerakkan pinggulku menyambut tiap genjotannya. “Enak kan Non?” tanya Kiryo dengan senyum mengejek. “Iyah Bang… enakkhh.. ooohh” jawabku yang sedang dimabuk birahi. Dalam diriku sekarang ini hanyalah mengejar orgasmeku, tak kuperdulikan celotehan Kiryo yang mengejekku dengan cara menirukan desahan, erangan dan lenguhanku.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku menggerakkan mata ke arah bangku panjang, ternyata mereka sedang bergaya 69. Pak Togar sedang asyik-asyiknya menjilat dan mencucuki vagina Ms. Alice yang di atas tubuhnya, ia membenamkan wajahnya pada vagina berbulu kemerahan itu seolah mau melahapnya. Ms. Alice dengan badan menggeliat-geliat menahan nikmat juga tidak kalah agresif mengoral penis penjaga sekolah itu sehingga pria itu melenguh nikmat dan berkelejotan. Setelah itu Ms. Alice melanjutkannya dengan naik ke penis Pak Togar, setelah menempelkan kepala penis itu pada bibir vaginanya, Ms. Alice menurunkan tubuhnya dan blesss…penis Pak Togar pun terbenam dalam vaginanya. Ia mulai menaik turunkan tubuhnya hingga vaginanya terpompa oleh penis itu. Pak Togar dibuatnya kelabakan dan mengerang ngerang dengan goyangan tubuhnya yang ganas. Kiryo sudah hampir selesai denganku, ia sudah mau keluar. Sebelum ngecrot ia menurunkan tubuhku dan menyuruhku berlutut. Di depan wajahku ia kocok penisnya dan crottt…croott…spermanya muncrat diiringi erangannya. Wajahku pun basah karena cipratan cairan putih kental itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku membuka mulut menyambut cipratan sperma itu, setelah semprotannya melemah, kuraih benda itu dan langsung kumasukkan mulut dan kuemuti dengan nikmatnya penisnya yang mulai lembek bercampur sperma dan cairan kewanitaanku itu. Kiryo akhirnya terduduk lemas di lantai, aku yang belum mencapai orgasme menghampiri Pak Togar yang sedang sibuk dengan Ms. Alice di atas bangku. Kunaiki wajah Pak Togar dengan posisi berhadapan dengan Ms. Alice, sehingga lubang kemaluan dan pantatku tepat mengarah ke wajah pria itu. Tanpa kuminta aku sudah merasakan lidahnya menjilati liang kemaluanku yang basah itu dan memainkan klitorisku. Pada waktu yang sama, aku mulai menciumi Ms. Alice dan memainkan buah dadanya, begitu pula dengan Ms. Alice yang membalas ciumanku dengan ganas dan juga meremas payudaraku. Ia menjilati cipratan sperma yang membasahi wajahku itu hingga bersih. “You…naughty girl…sshh…I’ll punish you for this!” katanya sambil mendesah di dekat wajahku. Aku hanya tersenyum nakal memandangnya lalu kupagut bibirnya dan kamipun berpelukan sesama wanita dan beradu lidah.</p>
<p style="text-align: justify;">Lima menit kemudian bibirku merayap turun ke lehernya terus dengan tujuan payudaranya. Putingnya yang coklat itu pun akhirnya kutangkap dengan mulutku dan kuemut-emut. “Uuuhh…I’m coming…yeesss…aaahh…aahh!” Ms. Alice mendesah panjang beberapa saat kemudian diiringi dengan tubuhnya yang mengejang. Ia semakin cepat menaik-turunkan tubuhnya di atas penis Pak Togar hingga akhirnya kulihat tubuhnya semakin berkelejotan, ia mencengkram erat kedua lenganku menyongsong orgasme hingga melemas dalam dekapanku. “Weleh…weleh hari ini hoki banget udah dapet cewek SMA dapet gurunya lagi…mana bule pula!” sahut Kiryo berjalan menghampiri kami, “yuk sini Miss, gua pengen ngerasain memek bule nih!” Ia menarik tubuh Ms. Alice yang masih lemas pasca orgasme. Karena masih belum pulih tenaganya Ms. Alice pun tersungkur di lantai. Melihat itu, Kiryo duduk di lantai dan menaikkan tubuh guru bahasa Inggrisku itu ke pangkuannya dalam posisi berhadapan. Ia mengarahkan penisnya yang sudah keras lagi ke vagina Ms. Alice yang dengan pasrah mengikuti saja arahannya.</p>
<p style="text-align: justify;">“Aaaahh!!” terdengar desahan lirih dari mulut wanita berambut merah itu saat ia menurunkan tubuhnya hingga vaginanya tertancap di penis Kiryo Tanpa menunggu lebih lama lagi, Kiryo mulai menyentak-nyentakkan pinggulnya ke atas membuat Ms. Alice mendesah nikmat sambil berpelukan pada tubuh kurusnya. Penjaga sekolah bertubuh kurus itu membenamkan wajahnya pada dada Ms. Alice dan dengan bernafsu ia melumat payudaranya yang berukuran lumayan besar itu secara bergantian. “Non Lina, bapak tusuk lagi yah!” pinta Pak Togar di bawah selangkanganku, sepertinya ia sudah cukup puas melumat kewanitaanku, terlihat dari mulutnya yang sudah belepotan cairanku. Aku mengangguk saja mengiyakannya, lalu ia menyuruhku berposisi doggie di lantai. Setelah bertumpu dengan kedua lutut dan telapak tanganku, aku merasakan kepala penisnya kembali melesak masuk ke vaginaku. “Uuuhhh!” desahku lirih dengan wajah terangkat. Ia memompa tubuhku dengan penuh nafsu. Tangannya meraba dan meremas-remas payudaraku yang bergelayutan. Sambil terus memompa, tangan satunya meraih payudara Ms. Alice yang sedang bersetubuh dengan Kiryo di sebelahnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Tangannya yang menggerayangi payudaraku makin ganas sambil sesekali memilin-milin puting susuku. Tubuhku tersentak-sentak karena pompaan Pak Togar, kutengokkan kepalaku ke samping belakang melihat Ms. Alice sedang menaik turunkan tubuhnya di atas penis Kiryo sementara payudaranya dikenyot pria kurus itu dan payudara satunya diremas-remas Pak Togar. Ms. Alice sepertinya sudah pulih tenaga dan birahinya, terlihat dari goyangnya yang liar itu. “Ooohhh…uuhh…Lina…Lina!!” ia memanggilku di tengah desahannya “Yes Miss?” jawabku “Please…aahhh…remember…remember to keep this little secret, ok…hhhmmhh!” katanya dengan lirih. “Sure…ahhhh…I do!” jawabku menyanggupi Kami terus berpesta seks di toilet selama hingga setengah jam ke depan, aku terpaksa minta berhenti karena sudah mencapai batas staminaku sedangkan mereka masih tampak bersemangat. Untungnya ada Ms. Alice sehingga mereka mengijinkanku pulang lebih dulu. Setelah aku berpakaian Kiryo sedang menyetubuhi Ms. Alice dalam gaya doggie sementara Pak Togar di depannya menyetubuhi mulut guruku itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku berpamitan pada mereka dan keluar menutup pintu membiarkan mereka yang di dalam meneruskan kegiatan mereka berasyik masyuk. Sungguh tubuhku terasa lemas sekali, berjalan pun terasa nyeri pada vagina dan pantatku, terutama anusku yang kurasakan sakit dan sekarang terasa terbuka longgar. Demikian sekilas petualangaku dengan kedua penjaga sekolahku yang kelak terulang lagi dan lagi pada hari-hari berikutnya. Aku semakin tak dapat melepaskan diri dari kenikmatan yang mereka berikan dan menjadi budak seks mereka sampai aku lulus SMA. Aku senang karena mereka mewarnai kehidupan seks masa SMA-ku dengan variasi seks yang belum berbeda dari yang lain. Sejak saat itu jika ada kesempatan aku selalu bercinta dengan mereka. Tak jarang aku mengundang mereka ke rumahku jika keadaan sepi. Di rumah kami menikmati kepuasan mulai dari kamar tidurku, ruang tamu sampai kamar mandi. Bahkan beberapa kali aku mengajak mereka untuk pesta seks dengan teman-teman SMAku yang cantik-cantik, ya…sahabat-sahabat dekatku yang kebetulan sama-sama petualang seks. Ms. Alice, guru Bahasa Inggrisku itu, bukanlah satu-satunya orang lain yang terlibat dalam kehidupan seksku yang liar, guru les pianoku yang gadis alim itu pun juga tak terkecuali, lalu ada juga adik sepupuku dan seorang guru muda cantik di sekolahku yang ikut terseret dalam kehidupan gilaku ini. Pak Togar sesekali mengajak kenalannya yang lain untuk ikut menikmati tubuhku dan juga teman-temanku. Biasanya yang diajak adalah lelaki yang paruh baya namun staminanya bagus. Aku hanya berpesan agar mereka tidak ember membocorkan semua ini, I love my sex life!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ceritasex.cn/akibat-merokok-di-wc-sekolah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Perkosaan Yang Fantastis</title>
		<link>http://www.ceritasex.cn/perkosaan-yang-fantastis/</link>
		<comments>http://www.ceritasex.cn/perkosaan-yang-fantastis/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 16 Nov 2011 19:51:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cerita Sex</dc:creator>
				<category><![CDATA[Paruh baya]]></category>
		<category><![CDATA[Pemerkosaan]]></category>
		<category><![CDATA[Seks Umum]]></category>
		<category><![CDATA[kontol]]></category>
		<category><![CDATA[memek]]></category>
		<category><![CDATA[ngentot]]></category>
		<category><![CDATA[orgasme]]></category>
		<category><![CDATA[perkosa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ceritasex.cn/?p=3175</guid>
		<description><![CDATA[Suatu saat suamiku harus meneruskan S2-nya ke luar negeri untuk tugas perusahaan. Aku mengantar kepergian suamiku sampai di bandara. Demikian sejak itu, aku harus membiasakan hidupnya dengan jadwal tugas suamiku, suatu hari menjelang sore hari, setelah menyediakan makan malam di atas meja, yang pada saat ini harus disiapkan sendiri, sebab pembantuku sedang pulang kampung, karena [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Suatu saat suamiku harus meneruskan S2-nya ke luar negeri untuk tugas perusahaan. Aku mengantar kepergian suamiku sampai di bandara. Demikian sejak itu, aku harus membiasakan hidupnya dengan jadwal tugas suamiku, suatu hari menjelang sore hari, setelah menyediakan makan malam di atas meja, yang pada saat ini harus disiapkan sendiri, sebab pembantuku sedang pulang kampung, karena mendadak ada keluarga dekatnya di kampung yang sakit berat. John teman suamiku orang Italy pada waktu mereka sekolah di Inggris bersama, sedang mendapat tugas di Indonesia sementara ini tinggal dirumah. Telah hampir satu bulan John tinggal bersama kami, istrinya tetap berada di Italy. Seperti biasanya setelah selesai makan bersama, aku kembali kekamar dan karena udara diluar terasa panas aku ingin mengambil shower lalu aku mengambil handuk dan masuk ke kamar mandi untuk berpancur. Letak kamar mandi nyambung dengan kamar tidurnya. Setelah selesai mandi, aku mengeringkan tubuhku dan dengan hanya membungkus tubuhku dengan handuk mandi, aku membuka pintu kamar mandi dan masuk ke dalam kamar tidurku.</p>
<p style="text-align: justify;">Disudut seberang kamar tidur yang tidak tertutup pintunya terlihat John sedang santai dikamarnya, rupanya dia telah selesai makan dan masuk ke kamarnya untuk nonton tv memang dia lebih senang di dalam kamar yang lantainya dilapisi karpet tebal dan udaranya dingin oleh AC. Dengan masih dililit handuk, aku duduk di depan meja rias untuk mengeringkan dan bersisir rambut. Pada saat itu John kulihat dari cerminku mendadak bangkit dari tempat duduknya dan berjalan mondar mandir di dalam ruangan kamarnya, terlihat malam ini John agak gelisah, tidak seperti biasa yang selalu menutup pintu kamarnya, malam ini dia mondar mandir dan sekali-sekali matanya yang biru kecoklatan melihat ke arahku yang sedang duduk menyisir rambutku. Melihat John seperti itu, aku bangkit berdiri dan berjalan menuju pintu untuk menutup pintu kamarku, aku sempat melihat John tersenyum padaku sambil berkata, &#8220;Hai Ratna kau cantik sekali malam ini..!&#8221; Tiba tiba John langsung berdiri melintas kamarnya, tanpa aba-aba salah satu kakinya menahan pintu kamarku lalu tangannya yang kekar mencoba menggapai pinggangku.</p>
<p style="text-align: justify;">Tercium olehku bau alkohol dari mulutnya rupanya John baru saja minum whisky, &#8220;..John sadar.. aku Ratna istri temanmu..!&#8221; John bisa bicara Indonesia, aku mencoba berbalik dan karena eratnya pegangannya di pinggangku, aku terhuyung-huyung dan aku jatuh telentang di lantai yang dilapisi karpet tebal. Kedua kakiku terpentang lebar, sehingga handuk yang tadinya menutupi bagian bawahku tersingkap, yang mengakibatkan bagian bawahku terbuka polos terlihat bagian pahaku yang putih mulus masih agak basah karena belum sempat kering dengan betul. Rupanya minuman keras sangat mempengaruhi pikiran John yang sudah begitu lama tidak kencan dengan wanita, John dengan cepat berjalan ke arahku yang sedang telentang di lantai dan sekarang jongkok diantara kedua kakiku yang terbuka lebar itu. Dengan cepat kepalanya telah berada diantara pangkal pahaku dan tiba-tiba terasa lidahnya yang kasar dan basah itu mulai menjilati pahaku, hal ini menimbulkan perasaan yang sangat geli. Aku mencoba menarik badannya ke atas untuk menghindari serbuannya pada pahaku, akan tetapi tangannya begitu kekar tubuhnya terlihat besar dan atletis menahan tubuhku.<br />
<span id="more-3175"></span><br />
John menunjukan matanya yang jalang, yang membuat aku ketakutan sehingga badanku terdiam dengan kaku. Kedua matanya melotot dengan buas melihat ke arah selangkanganku, kepalanya berada diantara kedua pahaku. Jilatannya makin naik ke atas dan tiba-tiba badanku menjadi kejang ketika bibir John itu terasa menyentuh pinggir dari belahan bibir kemaluanku dari bawah terus naik ke atas dan akhirnya badanku terasa meriang ketika lidah John yang besar basah dan kasar itu menyentuh klitorisku dan menggesek dengan suatu jilatan yang panjang, yang membuat aku terasa terbang melayang-layang bagaikan layang-layang putus ditiup angin.&#8221;Aduuuhh!&#8221; tak terasa keluar keluhan panjang dari mulutku. Tubuhku terus bergetar-getar seperti orang kena setrum dan mataku terbeliak melihat kearah lidah John yang bolak balik menyapu belahan bibir kemaluanku dan dengan tanpa kusadari kedua pahaku makin kubuka lebar, memberikan peluang yang makin besar pada lidah John bermain-main pada belahan kemaluanku. Dengan tak dapat ditahan lagi.</p>
<p style="text-align: justify;">Cairan pelumas mulai membanjiri keluar dari dalam kemaluanku dan dari cairan ini makin membuat John makin giat memainkan lidahnya terus menyapu dari bawah ke atas, mulai dari permukaan lubang anusku naik terus menyapu belahan bibir vaginaku sampai pada puncaknya yaitu pada klitorisku. Ohhh&#8230; dengan cepat vaginaku menjadi basah kuyup oleh cairan nafsu yang keluar terus menerus dari dalam vaginaku. Sejenak aku seakan-akan lupa diri, terbawa oleh nafsu birahi yang melanda.akan tetapi pada saat berikut aku baru sadar akan situasi yang menimpaku.&#8221;Aduuuhh benar-benar gila ini, aku terbuai oleh nafsu karena sentuhan seorang laki laki asing.. aaahh.. tidak.. tidak bisa ini terjadi!&#8221;, dengan cepat aku menarik tubuhku dan mencoba bergulir membalik badan untuk bisa meloloskan diri dari John. Dengan membalik badan, sekarang aku merangkak dengan kedua tangan dan lutut dan rupanya ini suatu gerakan yang salah yang berakibat sangat sangat fatal bagiku karena dengan tiba-tiba terasa sesuatu tenaga yang besar menahan pinggangku dan ketika masih dalam keadaan merangkak itu aku menoleh kepalaku ke belakang.</p>
<p style="text-align: justify;">Terlihat John dengan kedua tangannya merangkul pinggangku dan kepalanya mendekap punggungku tangannya mencoba menarik handuk yang hanya tinggal separoh melilit badanku, badannya yang berat itu menekan tubuhku. Aku mencoba merangkak maju dan berpegang pada tepi tempat tidur untuk mencoba berdiri, akan tetapi tiba-tiba John menekan badannya yang beratnya hampir 80 Kg itu sehingga posisiku yang sudah setengah berlutut, karena beratnya badan John, akhirnya aku tersungkur ke tempat tidur dengan posisi berlutut di pinggir tempat tidur dan separuh badan tertelungkup di atas tempat tidur, di mana badan John menidih badanku. Kedua kaki John berlutut sambil bertumpu di lantai diantara kedua pahaku yang agak terkangkang dan karena posisi badanku yang tertelungkup itu, akhirnya handuk yang setengah melilit dan menutupi badanku lepas, sehingga seluruh tubuhku terbuka dengan lebar. Terdengar John mendesah melihat pinggangku yang ramping serta bongkahan pantatku yang bulat menonjol &#8220;..Oh..Ratna tak kusangka kau begitu sexy..!&#8221; Tubuh John makin dirapatkan ketubuhku, sehingga terasa pantatku tergesek oleh kedua pahanya yang besar dan berbulu.</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam usaha merenggangkan kedua kakiku, tangan John bergerak-gerak diselangkanganku dan tanpa dapat dihindari bagian bawah vaginaku tergesek-gesek oleh jari jarinya yang besar besar itu. &#8220;Ouch..!..stop John..!&#8221; Aku mencoba menyadarinya, kedua tanganku tidak dapat digerakkan karena terhimpit diantara badanku sendiri .Tiba-tiba aku merasakan ada suatu benda kenyal, bulat panas terhimpit pada belahan pantatku dan tiba-tiba aku menyadari akan bahaya yang akan menimpaku, John rupanya sudah mulai beraksi dengan menggesek-gesekan batang kemaluannya pada belahan kenyal pantatku. &#8220;Auooohh.. John.. stop! pleasee..aach..!&#8221; dengan panik aku mencoba menyuruhnya berhenti melakukan aksinya, akan tetapi seruan itu tidak dipedulikan oleh John malahan sekarang terasa gerakan-gerakan menusuk nusuk benda tersebut pada pantatku mula-mula perlahan dan semakin lama semakin gencar saja. Aku menoleh ke kanan, ke arah kaca besar lemari yang persis berada di samping kanan tempat tidur, terlihat batang kemaluan orang asing tersebut telah tegang dan ya ampun..besar sekali..! dan terlihat batang kemaluannya yang merah berurat bagai sosis besar dengan ujungnya berbentuk agak bulat sedang menggesek gesek bagian pantatku. Rupanya Orang asing ini sudah sangat terangsang dan sekarang dia sedang berusaha memperkosaku. Aku benar-benar menjadi panik, bagaimana tidak.. aku akan disetubuhi oleh teman suamiku yang kelihatan sedang kesetanan oleh nafsu birahinya.</p>
<p style="text-align: justify;">Tanpa kusadari sodokan-sodokan batang kemaluan John semakin gencar saja, sehingga aku yang melihat melalui cermin gerakan pantat bule yang bahenol pahanya yang kekar tersebut , benar-benar terpesona karena gerakan tekanan-tekanan ke depan pantatnya benar-benar sangat cepat dan gencar, terasa sekarang serangan-serangan kepala batang kemaluannya tersebut mulai menimbulkan perasaan geli pada belahan pantatku dan kadang-kadang ujung batang kemaluannya menyentuh dengan cepat lubang anusku, menimbulkan perasaan geli yang amat sangat. Terlihat kedua kakinya melangkah ke depan, sehingga sekarang kedua pahanya yang berbulu memepeti kedua pahaku dan gerakan tekanan dan cocolan-cocolan kepala batang kemaluannya mulai terarah menyentuh bibir kemaluanku, aku menjadi bertambah panik, disamping perasaan yang mulai terasa tidak menentu, karena sodokan-sodokan kepala batang kemaluan John menimbulkan perasaan geli dan mulai membangkitkan nafsu birahiku yang sama sekali aku tidak kehendaki.</p>
<p style="text-align: justify;">Akhirnya dengan suatu gerakan dan tekanan yang cepat, John mendorong pantatnya ke depan dengan kuat, sehingga batang kemaluannya yang telah terjepit diantara bibir kemaluanku yang memang telah basah kuyup dan licin itu, akhirnya terdorong masuk dengan kuat dan terbenam separoh kedalam vaginaku, diikuti dengan jeritan panjang kepedihan yang keluar dari mulutku. &#8220;Aaduhh..!&#8221; kepalaku tertengadah ke atas dengan mata yang melotot serta mulut yang terbuka megap-megap kehabisan udara serta kedua tangan mencengkeram dengan kuat pada kasur. Akan tetapi John, tanpa memberikan kesempatan padaku untuk berpikir dan menyadari keadaan yang sedang terjadi, dengan cepat mulai memompa batang kemaluannya dengan gerakan-gerakan yang buas, tanpa mengenal kasihan pada istri temannya yang baru pertama kali ini menerima batang kemaluan yang sedemikian besarnya dalam vaginaku.</p>
<p style="text-align: justify;">Batang kemaluannya yang baru masuk sebagian itu dengan cepat keluar masuk mengaduk-aduk lubang kemaluanku tanpa mempedulikan betapa besar batang kemaluannya dibandingkan dengan daya tampung vaginaku. Walaupun hanya sebagian dari batang kemaluan bule itu yang masuk dari setiap gerakan menyebabkan keseluruhan bibir vaginaku mengembang dan mencengkeram batangnya dan klitorisku yang sudah keluar semuanya dan mengeras ikut tertekan masuk ke dalam, di mana klitorisku terjepit dan tergesek dengan batang kemaluannya yang besar dan berurat itu,&#8221;Ooohh..aku keenakan.. ini tak mungkin terjadi!&#8221; pikirku setengah sadar. &#8220;Aku mulai menikmati disetubuhi oleh teman suamiku, bule lagi? gila!&#8221; sementara perkosaan itu terus berlangsung, desiran darahku terasa mengalir semakin cepat, pikiran warasku perlahan-lahan menghilang kalah oleh permainan kenikmatan yang sedang diberikan oleh keperkasaan batang kemaluannya yang sedang &#8216;menghajar&#8217; liang kenikmatankuku.</p>
<p style="text-align: justify;">Perasaanku seakan-akan terasa melayang-layang di awan-awan dan dari bagian vaginaku terasa mengalir suatu perasaan mengelitik yang menjalar ke seluruh bagian tubuh, membuat perasaan nikmat yang terasa sangat fantastis, membuat mataku terbeliak dan terputar-putar akibat pengaruh batang kemaluan John yang besar begitu tajam dan begitu dahsyat mengaduk-aduk seluruh bagian yang sensitif didalam vaginaku tanpa ada yang tersisa satu milipun. Keseluruhan syaraf syaraf yang bisa menimbulkan kenikmatan dari dinding dalam vaginaku tak lolos dari sentuhan, tekanan, gesekan dan sodokan kepala dan batang kemaluan John yang benar-benar besar itu, rasanya paling kurang tiga kali besarnya tapi seratus kali lebih nikmat dari batang kemaluan suamiku dan cara gerakan pantat bule perkasa ini bergerak memompakan batang kemaluannya keluar masuk ke dalam vaginaku, benar-benar fantastis sangat cepat, membuatku tak sempat mengambil nafas ataupun menyadari apa yang terjadi, hanya rasa nikmat yang menyelubungi seluruh perasaanku, membuat secara total aku tidak dapat mengendalikan diri lagi.</p>
<p style="text-align: justify;">aku mulai menyadari akan hebatnya kenikmatan yang sedang menyelubungi seluruh sudut-sudut yang paling dalam di relung tubuhku akibat sodokan-sodokan batang kemaluan bule dalam rongga vaginaku yang menjepit erat, &#8220;Aaahh.. !&#8221; tiba-tiba aku merasakan sesuatu yang besar, benar-benar besar sedang mulai memaksa masuk ke dalam vaginaku, memaksa bibir vaginaku membuka sebesar-besarnya, rasanya sampai sebatas kemampuan yang bisa kutolerir. Aku menoleh ke arah cermin untuk melihat apa yang sedang memaksa masuk ke dalam vaginaku itu dan.., &#8220;Aaaduuuhh.. gila.. benar-benar fantastis besarnya penis bule ini&#8221; keluhku, terlihat bagian pangkal belakang batang kemaluan John sepanjang kurang lebih 5 cm membengkak, membentuk seperti bonggol, dan dari bagian tersebut sedang mulai dipaksakan masuk, menekan bibir-bibir kemaluanku dan secara perlahan-lahan menerobos masuk ke dalam lubang vaginaku . &#8220;&#8216;Ooohh.. aaampun.. jangan John.. aku akan mati kalau engkau memaksakan benda itu masuk ke dalamku!&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">aku memelas tak berdaya seakan-akan John akan mengerti, akan tetapi sia-sia saja, dengan mata melotot aku melihat benda tersebut mulai menghilang ke dalam kemaluanku, &#8220;Rat.. nanti kalau sudah masuk semuanya dan licin kau akan merasakan kenikmatan yang kamu belum pernah rasakan sebelumnya..!&#8221; John mencoba menenangkanku, kepalaku tertengadah ke atas dan mataku terbalik ke belakang sehingga bagian putihnya saja yang kelihatan, dan sekujur badanku mengejang, bongkahan tersebut terus menerobos masuk ke dalam lubang vaginaku, sampai akhirnya seluruh lubang kenikmatanku dipenuhi oleh kepala, batang kemaluan dan bongkahan pada pangkal batang kemaluan bule tersebut. Oh.. benar-benar terasa sesak dan penuh rongga vaginaku dijelali oleh keseluruhan batang kemaluan bule tsb. Dalam keadaan itu John terus melanjutkan menekan-nekan pantatnya dengan cepat, membuat badanku ikut bergerak-gerak karena belakang batang kemaluannya telah terganjal di dalam lubang kemaluanku akibat bongkahan pada pangkal batang kemaluannya yang besar itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Pantat John tersebut terus bergerak-gerak dengan liarnya, sambil bibirnya menciumi pundakku yang sudah tidak ditutupi handuk, terengah-engah dan mendengus-dengus, hal ini mengakibatkan batang kemaluannya dan bongkahan tersebut mengesek-gesek pada dinding-dinding vaginaku yang sudah sangat sangat kencang dan sensitif mencengkeram, yang menimbulkan perasaan geli dan nikmat yang amat sangat..sehingga kepalaku tergeleng-geleng ke kiri dan ke kanan dengan tak terkendali dan dengan histeris pantatku kutekan ke belakang merespon perasaan nikmat yang diberikan oleh John, yang tak pernah kualami selama ini.&#8221;Ooohh.. tidak..&#8221; pikirku, &#8220;Aku tak pantas mengalami ini.. aku bukan seorang maniak seks! Aku selama ini tidak pernah nyeleweng dengan siapa pun.. ta.taapii.. sekarang.. ooohh seorang bule? aduuuhh! Tapiii.. ooohh.. enaaaknya.. aghh.. akuuu.. tak dapat menahan ini.. agghh.. aku tak menyadari betapa.. nikmaaatnya penis besar dari seorang bule yang perkasa..! aaaaqhh..!&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Akhirnya aku tidak dapat mengendalikan diriku, rasa bersalah kalah oleh kenikmatan yang sedang melanda seluruh tubuhku dari perasaan yang begitu nikmat yang diberikan John padaku, dengan tak sadar lagi aku mendesah mengerang dan mengguman, &#8220;Ooohh..John you&#8217;re cock is so biiig.. so gooood..! enaaakk.. aaaggh! teruuusss.. puasin aku.. Fuuuck meee Jooohn..&#8221; Aku benar-benar sekarang telah berubah menjadi seekor kuda liar, aku betinanya sedang ia kuda jantannya. Perkosaan sudah tidak ada lagi dibenakku, pada saat ini yang yang kuinginkan adalah disetubuhi oleh John senikmat mungkin dan selama mungkin, dan akhirnya aku mengalami orgasme yang pertama yang benar-benar dahsyat, suatu kenikmatan yang tak pernah kualami dengan suamiku selama ini.&#8221;Ooohh.. yaa Ooohh.. puasin lagi aku John Ooohh.. setubuhi aku dengan batang kemaluanmu yang begitu besar dan perkasa!..aaaagghhh&#8230;!&#8221; terasa cairan hangat terus keluar dari dalam tubuhku, membasahi rongga-rongga di dalam lubang kemaluanku. &#8220;Aaagghhh.. ooohh.. benar-benar nikmaaaaat..!&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">keluhku tak percaya, terasa badanku melayang-layang, suatu kenikmatan yang tak terlukiskan. &#8220;Aaagghhh!&#8221; gerakanku yang liar pada saat mengalami orgasme itu agaknya membuat John merasa nikmat juga, disebabkan otot-otot kemaluanku berdenyut-denyut dengan kuat mengempot batang kemaluannya, mungkin pikirnya ini adalah kuda betina terhebat yang pernah dinikmatinya, hangat.. sempit dan sangat liar, batang kemaluan John yang besar itu mulai membengkak, sementara gerakan-gerakan tekanannya makin cepat saja, kelihatan John akan mengalami orgasme, gerakan-gerakan yang liar dari batang penisnya yang besar itu menimbulkan perasaan ngilu dan nikmat pada bagian dalam vaginaku, membuatku kehilangan kontrol dan menimbulkan perasaan gila dalam diriku, pantatku kugerak-gerakkan ke kiri dan ke kanan dengan liar mengimbangi gerakan sodokan John yang makin cepat saja.&#8221;Ooohh.. aaaduuh.. aaaghh! Joooohn..aku mau keluuuuaaar laaaggiii..!!&#8221; lenguhan panjang keluar dari mulutku mengimbangi orgasme kedua yang melandaku. Badanku meliuk-liuk dan bergetar dengan hebat kedua kakiku kurapatkan erat erat , kepalaku tertengadah ke atas dengan mulut terbuka dan kedua tanganku mencengkeram kasur dengan kuat sedangkan kedua otot-otot paha mengejang dengan hebat dan kedua mataku terbeliak dengan bagian putihnya yang kelihatan sementara otot-otot dalam kemaluanku terus berdenyut-denyut dan hal ini juga menimbulkan perasaan nikmat yang luar biasa pada John karena batang kemaluannya terasa dikempot kempot oleh lobang vaginaku yang mengakibatkan dia juga mengalami orgasme dan terasa cairan hangat dan kental yang keluar dari batang kejantanannya, rasanya lebih hangat dan lebih kental dan banyak dari punya suamiku, air mani John serasa dipompakan, tak henti-hentinya ke dalam lobang vaginaku, rasanya langsung ke dalam rahimku banyak sekali.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku dapat merasakan semburan-semburan cairan kental hangat yang kuat, tak putus-putusnya dari air maninya .memompakan benihnya ke dalam kandunganku terus menerus hampir selama 1 menit, mengosongkan air maninya yang tersimpan cukup lama, karena selama ini dia tidak pernah bersetubuh dengan istrinya yang berada jauh dinegaranya. John terus menekan batang kemaluannya sehingga clitorisku ikut tertekan dan hal ini makin memberikan perasaan nikmat yang hebat, yang tak kusangka, tubuhku bergetar lagi merasakan rangsangan dahsyat sampai akhirnya aku mengalami orgasme yang ketiga. Akhirnya aku tertidur dengan nyenyaknya karena letih. Keesokan harinya aku terbangun dengan tubuh yang masih terasa lemas dan terasa tulang-tulangku seakan-akan lepas dari sendi-sendinya, sambil melirik ke arah John yang sedang tertidur lelap kupandangi tubuhnya yang telanjang kekar besar terlihat bulu bulu halus kecoklat coklatan menghias dadanya yang bidang lalu bulu bulu tersebut turun kebawah semakin lebat dan memutari sebuah benda yang tadi malam &#8216;menghajar&#8217; vaginaku, benda itu masih tertidur tetapi ukurannya bukan main seperti penis suamiku yang sudah tegang maximum. Tiba tiba darahku berdesir, vaginaku terasa berdenyut, &#8220;..Oh.. apa yang terjadi pada diriku..?&#8221;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ceritasex.cn/perkosaan-yang-fantastis/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Diperkosa Ayah Mertua</title>
		<link>http://www.ceritasex.cn/diperkosa-ayah-mertua-2/</link>
		<comments>http://www.ceritasex.cn/diperkosa-ayah-mertua-2/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 07 Nov 2011 07:54:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cerita Sex</dc:creator>
				<category><![CDATA[Paruh baya]]></category>
		<category><![CDATA[Pemerkosaan]]></category>
		<category><![CDATA[Sedarah]]></category>
		<category><![CDATA[Seks Umum]]></category>
		<category><![CDATA[selingkuh]]></category>
		<category><![CDATA[enak]]></category>
		<category><![CDATA[kontol]]></category>
		<category><![CDATA[memek]]></category>
		<category><![CDATA[ngentot]]></category>
		<category><![CDATA[nikmat]]></category>
		<category><![CDATA[peacur]]></category>
		<category><![CDATA[perkosa]]></category>
		<category><![CDATA[seks]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ceritasex.cn/?p=3168</guid>
		<description><![CDATA[Namaku Novianti. Usiaku telah menginjak kepala tiga. Sudah menikah setahun lebih dan baru mempunyai seorang bayi laki-laki. Suamiku berusia hanya lebih tua satu tahun dariku. Kehidupan kami dapat dikatakan sangat bahagia. Memang kami berdua kawin dalam umur agak terlambat sudah diatas 30 tahun. Selewat 40 hari dari melahirkan, suamiku masih takut untuk berhubungan seks. Mungkin [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Namaku Novianti. Usiaku telah menginjak kepala tiga. Sudah menikah setahun lebih dan baru mempunyai seorang bayi laki-laki. Suamiku berusia hanya lebih tua satu tahun dariku. Kehidupan kami dapat dikatakan sangat bahagia. Memang kami berdua kawin dalam umur agak terlambat sudah diatas 30 tahun. Selewat 40 hari dari melahirkan, suamiku masih takut untuk berhubungan seks. Mungkin dia masih teringat pada waktu aku menjerit-jerit pada saat melahirkan, memang dia juga turut masuk ke ruang persalinan mendampingi saya waktu melahirkan. Di samping itu aku memang juga sibuk benar dengan si kecil, baik siang maupun malam hari. Si kecil sering bangun malam-malam, nangis dan aku harus menyusuinya sampai dia tidur kembali. Sementara suamiku semakin sibuk saja di kantor, maklum dia bekerja di sebuah kantor Bank Pemerintah di bagian Teknologi, jadi pulangnya sering terlambat. Keadaan ini berlangsung dari hari ke hari, hingga suatu saat terjadi hal baru yang mewarnai kehidupan kami, khususnya kehidupan pribadiku sendiri. Ketika itu kami mendapat kabar bahwa ayah mertuaku yang berada di Amerika bermaksud datang ke tempat kami.</p>
<p style="text-align: justify;">Memang selama ini kedua mertuaku tinggal di Amerika bersama dengan anak perempuan mereka yang menikah dengan orang sana. Dia datang kali ini ke Indonesia sendiri untuk menyelesaikan sesuatu urusan. Ibu mertua nggak bisa ikut karena katanya kakinya sakit. Ketika sampai waktu kedatangannya, kami menjemput di airport, suamiku langsung mencari-cari ayahnya. Suamiku langsung berteriak gembira ketika menemukan sosok seorang pria yang tengah duduk sendiri di ruang tunggu. Orang itu langsung berdiri dan menghampiri kami. Ia lalu berpelukan dengan suamiku. Saling melepas rindu. Aku memperhatikan mereka. Ayah mertuaku masih nampak muda diumurnya menjelang akhir 50-an, meski kulihat ada beberapa helai uban di rambutnya. Tubuhnya yang tinggi besar, dengan kulit gelap masih tegap dan berotot. Kelihatannya ia tidak pernah meninggalkan kebiasaannya berolah raga sejak dulu. Beliau berasal dari belahan Indonesia Timur dan sebelum pensiun ayah mertua adalah seorang perwira angkatan darat. &#8220;Hei nak Novi. Apa khabar&#8230;!&#8221;, sapa ayah mertua padaku ketika selesai berpelukan dengan suamiku.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Ayah, apa kabar? Sehat-sehat saja kan? Bagaimana keadaan Ibu di Amerika..?&#8221; balasku. &#8220;Oh&#8230;Ibu baik-baik saja. Beliau nggak bisa ikut, karena kakinya agak sakit, mungkin keseleo&#8230;.&#8221; &#8220;Ayo kita ke rumah&#8221;, kata suamiku kemudian. Sejak adanya ayah di rumah, ada perubahan yang cukup berarti dalam kehidupan kami. Sekarang suasana di rumah lebih hangat, penuh canda dan gelak tawa. Ayah mertuaku orangnya memang pandai membawa diri, pandai mengambil hati orang. Dengan adanya ayah mertua, suamiku jadi lebih betah di rumah. Ngobrol bersama, jalan-jalan bersama. Akan tetapi pada hari-hari tertentu, tetap saja pekerjaan kantornya menyita waktunya sampai malam, sehingga dia baru sampai kerumah di atas jam 10 malam. Hal ini biasanya pada hari-hari Senin setiap minggu. Sampai terjadilah peristiwa ini pada hari Senin ketiga sejak kedatangan ayah mertua dari Amerika. Sore itu aku habis senam seperti biasanya. Memang sejak sebulan setelah melahirkan, aku mulai giat lagi bersenam kembali, karena memang sebelum hamil aku termasuk salah seorang yang amat giat melakukan senam dan itu biasanya kulakukan pada sore hari.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah merasa cukup kuat lagi, sekarang aku mulai bersenam lagi, disamping untuk melemaskan tubuh, juga kuharapkan tubuhku bisa cepat kembali ke bentuk semula yang langsing, karena memang postur tubuhku termasuk tinggi kurus akan tetapi padat. Setelah mandi aku langsung makan dan kemudian meneteki si kecil di kamar. Mungkin karena badan terasa penat dan pegal sehabis senam, aku jadi mengantuk dan setelah si kecil kenyang dan tidur, aku menidurkan si kecil di box tempat tidurnya. Kemudian aku berbaring di tempat tidur. Saking sudah sangat mengantuk, tanpa terasa aku langsung tertidur. Bahkan aku pun lupa mengunci pintu kamar. Setengah bermimpi, aku merasakan tubuhku begitu nyaman. Rasa penat dan pegal-pegal tadi seperti berangsur hilang&#8230; Bahkan aku merasakan tubuhku bereaksi aneh. Rasa nyaman sedikit demi sedikit berubah menjadi sesuatu yang membuatku melayang-layang. Aku seperti dibuai oleh hembusan angin semilir yang menerpa bagian-bagian peka di tubuhku. Tanpa sadar aku menggeliat merasakan semua ini sambil melenguh perlahan.<br />
<span id="more-3168"></span><br />
Dalam tidurku, aku bermimpi suamiku sedang membelai-belai tubuhku dan kerena memang telah cukup lama kami tidak berhubungan badan, sejak kandunganku berumur 8 bulan, yang berarti sudah hampir 3 bulan lamanya, maka terasa suamiku sangat agresif menjelajahi bagian-bagian sensitif dari sudut tubuhku. Tiba-tiba aku sadar dari tidurku&#8230; tapi kayaknya mimpiku masih terus berlanjut. Malah belaian, sentuhan serta remasan suamiku ke tubuhku makin terasa nyata. Kemudian aku mengira ini perbuatan suamiku yang telah kembali dari kantor. Ketika aku membuka mataku, terlihat cahaya terang masih memancar masuk dari lobang angin dikamarku, yang berarti hari masih sore. Lagian ini kan hari Senin, seharusnya dia baru pulang agak malam, jadi siapa ini yang sedang mencumbuku&#8230; Aku segera terbangun dan membuka mataku lebar-lebar. Hampir saja aku menjerit sekuat tenaga begitu melihat orang yang sedang menggeluti tubuhku. Ternyata&#8230; dia adalah mertuaku sendiri. Melihat aku terbangun, mertuaku sambil tersenyum, terus saja melanjutkan kegiatannya menciumi betisku.</p>
<p style="text-align: justify;">Sementara dasterku sudah terangkat tinggi-tinggi hingga memperlihatkan seluruh pahaku yang putih mulus. &#8220;Yah&#8230;!! Stop&#8230;.jangan&#8230;. Yaaahhhh&#8230;!!?&#8221; jeritku dengan suara tertahan karena takut terdengar oleh Si Inah pembantuku. &#8220;Nov, maafkan Bapak&#8230;. Kamu jangan marah seperti itu dong, sayang&#8230;.!!&#8221; Ia malah berkata seperti itu, bukannya malu didamprat olehku. &#8220;Ayah nggak boleh begitu, cepat keluar, saya mohon&#8230;.!!&#8221;, pintaku menghiba, karena kulihat tatapan mata mertuaku demikian liar sambil tangannya tak berhenti menggerayang ke sekujur tubuhku. Aku mencoba menggeliat bangun dan buru-buru menurunkan daster untuk menutupi pahaku dan beringsut-ingsut menjauhinya dan mepet ke ujung ranjang. Akan tetapi mertuaku makin mendesak maju menghampiriku dan duduk persis di sampingku. Tubuhnya mepet kepadaku. Aku semakin ketakutan. &#8220;Nov&#8230; Kamu nggak kasihan melihat Bapak seperti ini? Ayolah, Bapak kan sudah lama merindukan untuk bisa menikmati badan Novi yang langsing padat ini&#8230;.!!!!&#8221;, desaknya. &#8220;Jangan berbicara begitu.</p>
<p style="text-align: justify;">Ingat Yah&#8230; aku kan menantumu&#8230;. istri Toni anakmu?&#8221;, jawabku mencoba menyadarinya. &#8220;Jangan menyebut-nyebut si Toni saat ini, Bapak tahu Toni belum lagi menggauli nak Novi, sejak nak Novi habis melahirkan&#8230; Benar-benar keterlaluan tu anak&#8230;.!!, lanjutnya. Rupanya entah dengan cara bagaimana dia bisa memancing hubungan kita suami istri dari Toni. Ooooh&#8230;. benar-benar bodoh si Toni, batinku, nggak tahu kelakuan Bapaknya. Mertuaku sambil terus mendesakku berkata bahwa ia telah berhubungan dengan banyak wanita lain selain ibu mertua dan dia tak pernah mendapatkan wanita yang mempunyai tubuh yang semenarik seperti tubuhku ini. Aku setengah tak percaya mendengar omongannya. Ia hanya mencoba merayuku dengan rayuan murahan dan menganggap aku akan merasa tersanjung. Aku mencoba menghindar&#8230; tapi sudah tidak ada lagi ruang gerak bagiku di sudut tempat tidur. Ketika kutatap wajahnya, aku melihat mimik mukanya yang nampaknya makin hitam karena telah dipenuhi nafsu birahi. Aku mulai berpikir bagaimana caranya untuk menurunkan hasrat birahi mertuaku yang kelihatan sudah menggebu-gebu.</p>
<p style="text-align: justify;">Melihat caranya, aku sadar mertuaku akan berbuat apa pun agar maksudnya kesampaian. Kemudian terlintas dalam pikiranku untuk mengocok kemaluannya saja, sehingga nafsunya bisa tersalurkan tanpa harus memperkosa aku. Akhirnya dengan hati-hati kutawarkan hal itu kepadanya. &#8220;Yahh&#8230; biar Novi mengocok Ayah saja ya&#8230; karena Novi nggak mau ayah menyetubuhi Novi&#8230; Gimana&#8230;?&#8221; Mertuaku diam dan tampak berpikir sejenak. Raut mukanya kelihatan sedikit kecewa namun bercampur sedikit lega karena aku masih mau bernegosiasi. &#8220;Baiklah..&#8221;, kata mertuaku seakan tidak punya pilihan lain karena aku ngotot tak akan memberikan apa yang dimintanya. Mungkin inilah kesalahanku. Aku terlalu yakin bahwa jalan keluar ini akan meredam keganasannya. Kupikir biasanya lelaki kalau sudah tersalurkan pasti akan surut nafsunya untuk kemudian tertidur. Aku lalu menarik celana pendeknya. Ugh! Sialan, ternyata dia sudah tidak memakai celana dalam lagi. Begitu celananya kutarik, batangnya langsung melonjak berdiri seperti ada pernya. Aku sangat kaget dan terkesima melihat batang kemaluan mertuaku itu&#8230;.</p>
<p style="text-align: justify;">Oooohhhh&#8230;&#8230; benar-benar panjang dan besar. Jauh lebih besar daripada punya Toni suamiku. Mana hitam lagi, dengan kepalanya yang mengkilap bulat besar sangat tegang berdiri dengan gagah perkasa, padahal usianya sudah tidak muda lagi. Tanganku bergerak canggung. Bagaimananpun baru kali ini aku memegang kontol orang selain milik suamiku, mana sangat besar lagi sehingga hampir tak bisa muat dalam tanganku. Perlahan-lahan tanganku menggenggam batangnya. Kudengar lenguhan nikmat keluar dari mulutnya seraya menyebut namaku. &#8220;Ooooohhh&#8230;..sssshhhh&#8230;..Noviii&#8230;eee..eeenaaak. .. betulll..!!!&#8221; Aku mendongak melirik kepadanya. Nampak wajah mertuaku meringis menahan remasan lembut tanganku pada batangnya. Aku mulai bergerak turun naik menyusuri batangnya yang besar panjang dan teramat keras itu. Sekali-sekali ujung telunjukku mengusap moncongnya yang sudah licin oleh cairan yang meleleh dari liangnya. Kudengar mertuaku kembali melenguh merasakan ngilu akibat usapanku. Aku tahu dia sudah sangat bernafsu sekali dan mungkin dalam beberapa kali kocokan ia akan menyemburkan air maninya.</p>
<p style="text-align: justify;">Sebentar lagi tentu akan segera selesai sudah, pikirku mulai tenang. Dua menit, tiga&#8230; sampai lima menit berikutnya mertuaku masih bertahan meski kocokanku sudah semakin cepat. Kurasakan tangan mertuaku menggerayangi ke arah dadaku. Aku kembali mengingatkan agar jangan berbuat macam-macam. &#8220;Nggak apa-apa &#8230;..biar cepet keluar..&#8221;, kata mertuaku memberi alasan. Aku tidak mengiyakan dan juga tidak menepisnya karena kupikir ada benarnya juga. Biar cepat selesai, kataku dalam hati. Mertuaku tersenyum melihatku tidak melarangnya lagi. Ia dengan lembut dan hati-hati mulai meremas-remas kedua payudara di balik dasterku. Aku memang tidak mengenakan kutang kerena habis menyusui si kecil tadi. Jadi remasan tangan mertua langsung terasa karena kain daster itu sangat tipis. Sebagai wanita normal, aku merasakan kenikmatan juga atas remasan ini. Apalagi tanganku masih menggenggam batangnya dengan erat, setidaknya aku mulai terpengaruh oleh keadaan ini. Meski dalam hati aku sudah bertekad untuk menahan diri dan melakukan semua ini demi kebaikan diriku juga.</p>
<p style="text-align: justify;">Karena tentunya setelah ini selesai dia tidak akan berbuat lebih jauh lagi padaku. &#8220;Novi sayang.., buka ya? Sedikit aja..&#8221;, pinta mertuaku kemudian. &#8220;Jangan Yah. Tadi kan sudah janji nggak akan macam-macam..&#8221;, ujarku mengingatkan. &#8220;Sedikit aja. Ya?&#8221; desaknya lagi seraya menggeser tali daster dari pundakku sehingga bagian atas tubuhku terbuka. Aku jadi gamang dan serba salah. Sementara bagian dada hingga ke pinggang sudah telanjang. Nafas mertuaku semakin memburu kencang melihatku setengah telanjang. &#8220;Oh.., Novii kamu benar-benar cantik sekali&#8230;.!!!&#8221;, pujinya sambil memilin-milin dengan hati-hati puting susuku, yang mulai basah dengan air susu. Aku terperangah. Situasi sudah mulai mengarah pada hal yang tidak kuinginkan. Aku harus bertindak cepat. Tanpa pikir panjang, langsung kumasukkan batang kemaluan mertuaku ke dalam mulutku dan mengulumnya sebisa mungkin agar ia cepat-cepat selesai dan tidak berlanjut lebih jauh lagi. Aku sudah tidak mempedulikan perbuatan mertuaku pada tubuhku. Aku biarkan tangannya dengan leluasa menggerayang ke sekujur tubuhku, bahkan ketika kurasakan tangannya mulai mengelus-elus bagian kemaluanku pun aku tak berusaha mencegahnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku lebih berkonsentrasi untuk segera menyelesaikan semua ini secepatnya. Jilatan dan kulumanku pada batang kontolnya semakin mengganas sampai-sampai mertuaku terengah-engah merasakan kelihaian permainan mulutku. Aku tambah bersemangat dan semakin yakin dengan kemampuanku untuk membuatnya segera selesai. Keyakinanku ini ternyata berakibat fatal bagiku. Sudah hampir setengah jam, aku belum melihat tanda-tanda apapun dari mertuaku. Aku jadi penasaran, sekaligus merasa tertantang. Suamiku pun yang sudah terbiasa denganku, bila sudah kukeluarkan kemampuan seperti ini pasti takkan bertahan lama. Tapi kenapa dengan mertuaku ini? Apa ia memakai obat kuat? Saking penasarannya, aku jadi kurang memperhatikan perbuatan mertuaku padaku. Entah sejak kapan daster tidurku sudah terlepas dari tubuhku. Aku baru sadar ketika mertuaku berusaha menarik celana dalamku dan itu pun terlambat! Begitu menengok ke bawah, celana itu baru saja terlepas dari ujung kakiku. Aku sudah telanjang bulat! Ya ampun, kenapa kubiarkan semua ini terjadi.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku menyesal kenapa memulainya. Ternyata kejadiannya tidak seperti yang kurencanakan. Aku terlalu sombong dengan keyakinanku. Kini semuanya sudah terlambat. Berantakan semuanya! Pekikku dalam hati penuh penyesalan. Situasi semakin tak terkendali. Lagi-lagi aku kecolongan. Mertuaku dengan lihainya dan tanpa kusadari sudah membalikkan tubuhku hingga berlawanan dengan posisi tubuhnya. Kepalaku berada di bawahnya sementara kepalanya berada di bawahku. Kami sudah berada dalam posisi enam sembilan! Tak lama kemudian kurasakan sentuhan lembut di seputar selangkanganku. Tubuhku langsung bereaksi dan tanpa sadar aku menjerit lirih. Suka tidak suka, mau tidak mau, kurasakan kenikmatan cumbuan mertuaku di sekitar itu. Akh luar biasa! Aku menjerit dalam hati sambil menyesali diri. Aku marah pada diriku sendiri, terutama pada tubuhku sendiri yang sudah tidak mau mengikuti perintah pikiran sehatku. Tubuhku meliuk-liuk mengikuti irama permainan lidah mertuaku. Kedua pahaku mengempit kepalanya seolah ingin membenamkan wajah itu ke dalam selangkanganku.</p>
<p style="text-align: justify;">Kuakui ia memang pandai membuat birahiku memuncak. Kini aku sudah lupa dengan siasat semula. Aku sudah terbawa arus. Aku malah ingin mengimbangi permainannya. Mulutku bermain dengan lincah. Batangnya kukempit dengan buah dadaku yang membusung penuh dan kenyal. Maklum, masih menyusui. Sementara kontol itu bergerak di antara buah dadaku, mulutku tak pernah lepas mengulumnya. Tanpa kusadari kami saling mencumbu bagian vital masing-masing selama lima belas menit. Aku semakin yakin kalau mertuaku memakai obat kuat. Ia sama sekali belum memperlihatkan tanda-tanda akan keluar, sementara aku sudah mulai merasakan desiran-desiran kuat bergerak cepat ke arah pusat kewanitaanku. Jilatan dan hisapan mulut mertuaku benar-benar membuatku tak berdaya. Aku semakin tak terkendali. Pinggulku meliuk-liuk liar. Tubuhku mengejang, seluruh aliran darah serasa terhenti dan aku tak kuasa untuk menahan desakan kuat gelombang lahar panas yang mengalir begitu cepat. &#8220;Oooohhhhh&#8230;&#8230;.aaaa&#8230;.aaaaa&#8230;&#8230;aaauugghhhhhhh hh..!!!!!&#8221; aku menjerit lirih begitu aliran itu mendobrak pertahananku.</p>
<p style="text-align: justify;">Kurasakan cairan kewanitaanku menyembur tak tertahankan. Tubuhku menggelepar seperti ikan terlempar ke darat merasakan kenikmatan ini. Aku terkulai lemas sementara batang kontol mertuaku masih berada dalam genggamanku dan masih mengacung dengan gagahnya, bahkan terasa makin kencang saja. Aku mengeluh karena tak punya pilihan lain. Sudah kepalang basah. Aku sudah tidak mempunyai cukup tenaga lagi untuk mempertahankan kehormatanku, aku hanya tergolek lemah tak berdaya saat mertuaku mulai menindih tubuhku. Dengan lembut ia mengusap wajahku dan berkata betapa cantiknya aku sekarang ini. &#8220;Noviii&#8230;..kau sungguh cantik. Tubuhmu indah dan langsing tapi padat berisi.., mmpphh..!!!&#8221;, katanya sambil menciumi bibirku, mencoba membuka bibirku dengan lidahnya. Aku seakan terpesona oleh pujiannya. Cumbu rayunya begitu menggairahkanku. Aku diperlakukan bagai sebuah porselen yang mudah pecah. Begitu lembut dan hati-hati. Hatiku entah mengapa semakin melambung tinggi mendengar semua kekagumannya terhadap tubuhku. Wajahku yang cantik, tubuhku yang indah dan berisi.</p>
<p style="text-align: justify;">Payudaraku yang membusung penuh dan menggantung indah di dada. Permukaan agak menggembung, pinggul yang membulat padat berisi menyambung dengan buah pantatku yang `bahenol’. Diwajah mertuaku kulihat memperlihatkan ekspresi kekaguman yang tak terhingga saat matanya menatap nanar ke arah lembah bukit di sekitar selangkanganku yang baru numbuh bulu-bulu hitam pendek, dengan warna kultiku yang putih mulus. Kurasakan tangannya mengelus paha bagian dalam. Aku mendesis dan tanpa sadar membuka kedua kakiku yang tadinya merapat. Mertuaku menempatkan diri di antara kedua kakiku yang terbuka lebar. Kurasakan kepala kontolnya yang besar ditempelkan pada bibir kemaluanku. Digesek-gesek, mulai dari atas sampai ke bawah. Naik turun. Aku merasa ngilu bercampur geli dan nikmat. Cairan yang masih tersisa di sekitar itu membuat gesekannya semakin lancar karena licin. Aku terengah-engah merasakannya. Kelihatannya ia sengaja melakukan itu. Apalagi saat moncong kontolnya itu menggesek-gesek kelentitku yang sudah menegang. Mertuaku menatap tajam melihat reaksiku.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku balas menatap seolah memintanya untuk segera memasuki diriku secepatnya. Ia tahu persis apa yang kurasakan saat itu. Namun kelihatannya ia ingin melihatku menderita oleh siksaan nafsuku sendiri. Kuakui memang aku sudah tak tahan untuk segera menikmati batang kontolnya dalam memekku. Aku ingin segera membuatnya `KO’. Terus terang aku sangat penasaran dengan keperkasaannya. Kuingin buktikan bahwa aku bisa membuatnya cepat-cepat mencapai puncak kenikmatan. &#8220;Yah..?&#8221; panggilku menghiba. &#8220;Apa sayang&#8230;&#8221;, jawabnya seraya tersenyum melihatku tersiksa. &#8220;Cepetan..yaaahhhhh&#8230;&#8230;.!!!&#8221; &#8220;Sabar sayang. Kamu ingin Bapak berbuat apa&#8230;&#8230;.?&#8221; tanyanya pura-pura tak mengerti. Aku tak menjawab. Tentu saja aku malu mengatakannya secara terbuka apa keinginanku saat itu. Namun mertuaku sepertinya ingin mendengarnya langsung dari bibirku. Ia sengaja mengulur-ulur dengan hanya menggesek-gesekan kontolnya. Sementara aku benar-benar sudah tak tahan lagi mengekang birahiku. &#8220;Novii&#8230;.iiii&#8230; iiiingiiinnnn aaa&#8230;aaayahhhh&#8230;.se&#8230;.se.. seeegeeeraaaa ma&#8230; masukin..!!!&#8221;, kataku terbata-bata dengan terpaksa.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku sebenarnya sangat malu mengatakan ini. Aku yang tadi begitu ngotot tidak akan memberikan tubuhku padanya, kini malah meminta-minta. Perempuan macam apa aku ini!? &#8220;Apanya yang dimasukin&#8230;&#8230;.!!&#8221;, tanyanya lagi seperti mengejek. &#8220;Aaaaaaggggkkkkkhhhhh&#8230;..ya&#8230;yaaaahhhh. Ja&#8230;..ja&#8230;.Jaaangan siksa Noviiii..!!!&#8221; &#8220;Bapak tidak bermaksud menyiksa kamu sayang&#8230;&#8230;!!&#8221; &#8220;Oooooohhhhhh.., Yaaaahhhh&#8230; Noviii ingin dimasukin kontol ayah ke dalam memek Novi&#8230;&#8230; uugghhhh..!!!&#8221; Aku kali ini sudah tak malu-malu lagi mengatakannya dengan vulgar saking tak tahannya menanggung gelombang birahi yang menggebu-gebu. Aku merasa seperti wanita jalang yang haus seks. Aku hampir tak percaya mendengar ucapan itu keluar dari bibirku sendiri. Tapi apa mau dikata, memang aku sangat menginginkannya segera. &#8220;Baiklah sayang. Tapi pelan-pelan ya&#8221;, kata mertuaku dengan penuh kemenangan telah berhasil menaklukan diriku. &#8220;Uugghh..&#8221;, aku melenguh merasakan desakan batang kontolnya yang besar itu. Aku menunggu cukup lama gerakan kontol mertuaku memasuki diriku.</p>
<p style="text-align: justify;">Serasa tak sampai-sampai. Selain besar, kontol mertuaku sangat panjang juga. Aku sampai menahan nafas saat batangnya terasa mentok di dalam. Rasanya sampai ke ulu hati. Aku baru bernafas lega ketika seluruh batangnya amblas di dalam. Mertuaku mulai menggerakkan pinggulnya perlahan-lahan. Satu, dua dan tiga tusukan mulai berjalan lancar. Semakin membanjirnya cairan dalam liang memekku membuat kontol mertuaku keluar masuk dengan lancarnya. Aku mengimbangi dengan gerakan pinggulku. Meliuk perlahan. Naik turun mengikuti irama tusukannya. Gerakan kami semakin lama semakin meningkat cepat dan bertambah liar. Gerakanku sudah tidak beraturan karena yang penting bagiku tusukan itu mencapai bagian-bagian peka di dalam relung kewanitaanku. Dia tahu persis apa yang kuinginkan. Ia bisa mengarahkan batangnya dengan tepat ke sasaran. Aku bagaikan berada di awang-awang merasakan kenikmatan yang luar biasa ini. Batang mertuaku menjejal penuh seluruh isi liangku, tak ada sedikitpun ruang yang tersisa hingga gesekan batang itu sangat terasa di seluruh dinding vaginaku.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Aduuhh.. auuffhh.., nngghh..!!!&#8221;, aku merintih, melenguh dan mengerang merasakan semua kenikmatan ini. Kembali aku mengakui keperkasaan dan kelihaian mertuaku di atas ranjang. Ia begitu hebat, jantan dan entah apalagi sebutan yang pantas kuberikan padanya. Toni suamiku tidak ada apa-apanya dibandingkan ayahnya yang bejat ini. Yang pasti aku merasakan kepuasan tak terhingga bercinta dengannya meski kusadari perbuatan ini sangat terlarang dan akan mengakibatkan permasalahan besar nantinya. Tetapi saat itu aku sudah tak perduli dan takkan menyesali kenikmatan yang kualami. Mertuaku bergerak semakin cepat. Kontolnya bertubi-tubi menusuk daerah-daerah sensitive. Aku meregang tak kuasa menahan desiran-desiran yang mulai berdatangan seperti gelombang mendobrak pertahananku. Sementara mertuaku dengan gagahnya masih mengayunkan pinggulnya naik turun, ke kiri dan ke kanan. Eranganku semakin keras terdengar seiring dengan gelombang dahsyat yang semakin mendekati puncaknya. Melihat reaksiku, mertuaku mempercepat gerakannya. Batang kontolnya yang besar dan panjang itu keluar masuk dengan cepatnya seakan tak memperdulikan liangku yang sempit itu akan terkoyak akibatnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Kulihat tubuh mertuaku sudah basah bermandikan keringat. Aku pun demikian. Tubuhku yang berkeringat nampak mengkilat terkena sinar lampu kamar. Aku mencoba meraih tubuh mertuaku untuk mendekapnya. Dan disaat-saat kritis, aku berhasil memeluknya dengan erat. Kurengkuh seluruh tubuhnya sehingga menindih tubuhku dengan erat. Kurasakan tonjolan otot-ototnya yang masih keras dan pejal di sekujur tubuhku. Kubenamkan wajahku di samping bahunya. Pinggul kuangkat tinggi-tinggi sementara kedua tanganku menggapai buah pantatnya dan menarik kuat-kuat. Kurasakan semburan demi semburan memancar kencang dari dalam diriku. Aku meregang seperti ayam yang baru dipotong. Tubuhku mengejang-ngejang di atas puncak kenikmatan yang kualami untuk kedua kalinya saat itu. &#8220;Yaaaah.., ooooohhhhhhh.., Yaaaahhhhh..eeee&#8230;eeennnaaaakkkkkkkk&#8230;!!!&#8221; Hanya itu yang bisa keluar dari mulutku saking dahsyatnya kenikmatan yang kualami bersamanya. &#8220;Sayang nikmatilah semua ini. Bapak ingin kamu dapat merasakan kepuasan yang sesungguhnya belum pernah kamu alami&#8230;.&#8221;, bisik ayah dengan mesranya.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Bapak sayang padamu, Bapak cinta padamu&#8230;. Bapak ingin melampiaskan kerinduan yang menyesak selama ini..&#8221;, lanjutnya tak henti-henti membisikan untaian kata-kata indah yang terdengar begitu romantis. Aku mendengarnya dengan perasaan tak menentu. Kenapa ini datangnya dari lelaki yang bukan semestinya kusayangi. Mengapa kenikmatan ini kualami bersama mertuaku sendiri, bukan dari anaknya yang menjadi suamiku&#8230;????. Tanpa terasa air mata menitik jatuh ke pipi. Mertuaku terkejut melihat ini. Ia nampak begitu khawatir melihatku menangis. &#8220;Novi sayang, kenapa menangis?&#8221; bisiknya buru-buru. &#8220;Maafkan Bapak kalau telah membuatmu menderita..&#8221;, lanjutnya seraya memeluk dan mengelus-elus rambutku dengan penuh kasih sayang. Aku semakin sedih merasakan ini. Tetapi ini bukan hanya salahnya. Aku pun berandil besar dalam kesalahan ini. Aku tidak bisa menyalahkannya saja. Aku harus jujur dan adil menyikapinya. &#8220;Bapak tidak salah. Novi yang salah..&#8221;, kataku kemudian. &#8220;Tidak sayang. Bapak yang salah&#8230;&#8221;, katanya besikeras. &#8220;Kita, Yah. Kita sama-sama salah&#8221;, kataku sekaligus memintanya untuk tidak memperdebatkan masalah ini lagi.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Terima kasih sayang&#8221;, kata mertuaku seraya menciumi wajah dan bibirku. Kurasakan ciumannya di bibirku berhasil membangkitkan kembali gairahku. Aku masih penasaran dengannya. Sampai saat ini mertuaku belum juga mencapai puncaknya. Aku seperti mempunyai utang yang belum terbayar. Kali ini aku bertekad keras untuk membuatnya mengalami kenikmatan seperti apa yang telah ia berikan kepadaku. Aku tak sadar kenapa diriku jadi begitu antusias untuk melakukannya dengan sepenuh hati. Biarlah terjadi seperti ini, toh mertuaku tidak akan selamanya berada di sini. Ia harus pulang ke Amerika. Aku berjanji pada diriku sendiri, ini merupakan yang terakhir kalinya. Timbulnya pikiran ini membuatku semakin bergairah. Apalagi sejak tadi mertuaku terus-terusan menggerakan kontolnya di dalam memekku. Tiba-tiba saja aku jadi beringas. Kudorong tubuh mertuaku hingga terlentang. Aku langsung menindihnya dan menicumi wajah, bibir dan sekujur tubuhnya. Kembali kuselomoti batang kontolnya yang tegak bagai tiang pancang beton itu. Lidahku menjilat-jilat, mulutku mengemut-emut. Tanganku mengocok-ngocok batangnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Kulirik kewajah mertuaku kelihatannya menyukai perubahanku ini. Belum sempat ia akan mengucapkan sesuatu, aku langsung berjongkok dengan kedua kaki bertumpu pada lutut dan masing-masing berada di samping kiri dan kanan tubuh mertuaku. Selangkanganku berada persis di atas batangnya. &#8220;Akh sayang!&#8221; pekik mertuaku tertahan ketika batangnya kubimbing memasuki liang memekku. Tubuhku turun perlahan-lahan, menelan habis seluruh batangnya. Selanjutnya aku bergerak seperti sedang menunggang kuda. Tubuhku melonjak-lonjak seperti kuda binal yang sedang birahi. Aku tak ubahnya seperti pelacur yang sedang memberikan kepuasan kepada hidung belang. Tetapi aku tak perduli. Aku terus berpacu. Pinggulku bergerak turun naik, sambil sekali-sekali meliuk seperti ular. Gerakan pinggulku persis seperti penyanyi dangdut dengan gaya ngebor, ngecor, patah-patah, bergetar dan entah gaya apalagi. Pokoknya malam itu aku mengeluarkan semua jurus yang kumiliki dan khusus kupersembahkan kepada ayah mertuaku sendiri! &#8220;Ooohh&#8230; oohhhh&#8230; oooouugghh.. Noviiiii.., luar biasa&#8230;..!!!&#8221; jerit mertuaku merasakan hebatnya permainanku.</p>
<p style="text-align: justify;">Pinggulku mengaduk-aduk lincah, mengulek liar tanpa henti. Tangan mertuaku mencengkeram kedua buah dadaku, diremas dan dipilin-pilin, sehingga air susuku keluar jatuh membasahi dadanya. Ia lalu bangkit setengah duduk. Wajahnya dibenamkan ke atas dadaku. Menjilat-jilat seluruh permukaan dadaku yang berlumuran air susuku dan akhirnya menciumi putting susuku. Menghisapnya kuat-kuat sambil meremas-remas menyedot air susuku sebanyak-banyaknya. Kami berdua saling berlomba memberi kepuasan. Kami tidak lagi merasakan dinginnya udara meski kamarku menggunakan AC. Tubuh kami bersimbah peluh, membuat tubuh kami jadi lengket satu sama lain. Aku berkutat mengaduk-aduk pinggulku. Mertuaku menggoyangkan pantatnya. Kurasakan tusukan kontolnya semakin cepat seiring dengan liukan pinggulku yang tak kalah cepatnya. Permain kami semakin meningkat dahsyat. Sprei ranjangku sudah tak karuan bentuknya, selimut dan bantal serta guling terlempar berserakan di lantai akibat pergulatan kami yang bertambah liar dan tak terkendali. Kurasakan mertuaku mulai memperlihatkan tanda-tanda.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku semakin bersemangat memacu pinggulku untuk bergoyang. Mungkin goyangan pinggulku akan membuat iri para penyanyi dangdut saat ini. Tak selang beberapa detik kemudian, aku pun merasakan desakan yang sama. Aku tak ingin terkalahkan kali ini. Kuingin ia pun merasakannya. Tekadku semakin kuat. Aku terus memacu sambil menjerit-jerit histeris. Aku sudah tak perduli suaraku akan terdengar kemana-mana. Kali ini aku harus menang! Upayaku ternyata tidak percuma. Kurasakan tubuh mertuaku mulai mengejang-ngejang. Ia mengerang panjang. Menggeram seperti harimau terluka. Aku pun merintih persis kuda betina binal yang sedang birahi. &#8220;Eerrgghh.. ooooo&#8230;.ooooooo&#8230;..oooooouugghhhhhh..!!!!&#8221; mertuaku berteriak panjang. Tubuhnya menghentak-hentak liar. Tubuhku terbawa goncangannya. Aku memeluknya erat-erat agar jangan sampai terpental oleh goncangannya. Mendadak aku merasakan semburan dahsyat menyirami seluruh relung vaginaku. Semprotannya begitu kuat dan banyak membanjiri liangku. Akupun rasanya tidak kuat lagi menahan desakan dalam diriku.</p>
<p style="text-align: justify;">Sambil mendesakan pinggulku kuat-kuat, aku berteriak panjang saat mencapai puncak kenikmatan berbarengan dengan ayah mertuaku. Tubuh kami bergulingan di atas ranjang sambil berpelukan erat. Saking dahsyatnya, tubuh kami terjatuh dari ranjang. Untunglah ranjang itu tidak terlalu tinggi dan permukaan lantainya tertutup permadani tebal yang empuk sehingga kami tidak sampai terkilir atau terluka. &#8220;Oooooogggghhhhhhh.. yaahh..,nik&#8230;.nikkkk nikmaatthh&#8230;. yaaahhhh..!!!!&#8221; jeritku tak tertahankan. Tulang-tulangku serasa lolos dari persendiannya. Tubuhku lunglai, lemas tak bertenaga terkuras habis dalam pergulatan yang ternyata memakan waktu lebih dari 2 jam! Gila! Jeritku dalam hati. Belum pernah rasanya aku bercinta sampai sedemikian lamanya. Aku hanya bisa memeluknya menikmati sisa-sisa kepuasan. Perasaanku tiba-tiba terusik. Sepertinya aku mendengar sesuatu dari luar pintu kamar, kayaknya si Inah&#8230;. Karena mendengar suara ribut-ribut dari kamar, rupanya ia datang untuk mengintip&#8230;. tapi aku sudah terlalu lelah untuk memperhatikannya dan akhirnya tertidur dalam pelukan mertuaku, melupakan semua konsekuensi dari peristiwa di sore ini di kemudian hari&#8230;..</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ceritasex.cn/diperkosa-ayah-mertua-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Diperkosa ternyata Nikmat</title>
		<link>http://www.ceritasex.cn/diperkosa-ternyata-nikmat/</link>
		<comments>http://www.ceritasex.cn/diperkosa-ternyata-nikmat/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 04 Nov 2011 19:26:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cerita Sex</dc:creator>
				<category><![CDATA[Paruh baya]]></category>
		<category><![CDATA[Pemerkosaan]]></category>
		<category><![CDATA[Seks Umum]]></category>
		<category><![CDATA[selingkuh]]></category>
		<category><![CDATA[Tante Girang]]></category>
		<category><![CDATA[binal]]></category>
		<category><![CDATA[hot]]></category>
		<category><![CDATA[istri]]></category>
		<category><![CDATA[memek]]></category>
		<category><![CDATA[ngentot]]></category>
		<category><![CDATA[perkosa]]></category>
		<category><![CDATA[seks]]></category>
		<category><![CDATA[winnie]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ceritasex.cn/?p=3159</guid>
		<description><![CDATA[Namaku Winie, umurku sudah 35 tahun dengan dua orang anak yang sudah beranjak dewasa. Waktu menikah umurku masih 19 tahun dan sekarang anakku yang paling tua sudah berumur 15 tahun sedang yang bungsu berumur 13 tahun. Kedua anakku disekolahkan di luar negeri semua sehingga di rumah hanya aku dan suami serta dua orang pembantu yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Namaku Winie, umurku sudah 35 tahun dengan dua orang anak yang sudah beranjak dewasa. Waktu menikah umurku masih 19 tahun dan sekarang anakku yang paling tua sudah berumur 15 tahun sedang yang bungsu berumur 13 tahun. Kedua anakku disekolahkan di luar negeri semua sehingga di rumah hanya aku dan suami serta dua orang pembantu yang hanya bekerja untuk membersihkan perabot rumah serta kebun, sementara menjelang senja mereka pulang.</p>
<p style="text-align: justify;">Suamiku sebagai seorang usahawan memiliki beberapa usaha di dalam dan luar negri. Kesibukannya membuat suamiku selalu jarang berada di rumah. Bila suamiku berada di rumah hanya untuk istirahat dan tidur sedang pagi-pagi sekali dia sudah kembali leyap dalam pandangan mataku. Hari-hariku sebelum anakku yang bungsu menyusul kakaknya yang sudah lebih dulu menuntut ilmu di luar negeri terasa menyenangkan karena ada saja yang dapat kukerjakan, entah itu untuk mengantarkannya ke sekolah ataupun membantunya dalam pelajaran. Namun semenjak tiga bulan setelah anakku berada di luar negeri hari-hariku terasa sepi dan membosankan. Terlebih lagi bila suamiku sedang pergi dengan urusan bisnisnya yang berada di luar negeri, bisa meninggalkan aku sampai 2 mingguan lamanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku tidak pernah ikut campur urusan bisnisnya itu sehingga hari-hariku kuisi dengan jalan-jalan ke mall ataupun pergi ke salon dan terkadang melakukan senam. Sampai suatu hari kesepianku berubah total karena supirku. Suatu hari setibanya di rumah dari tempatku senam supirku tanpa kuduga memperkosaku.</p>
<p style="text-align: justify;">Seperti biasanya begitu aku tiba di dalam rumah, aku langsung membuka pintu mobil dan langsung masuk ke dalam rumah dan melangkahkan kakiku menaiki anak tangga yang melingkar menuju lantai dua dimana kamar utama berada. Begitu kubuka pintu kamar, aku langsung melemparkan tasku ke bangku yang ada di dekat pintu masuk dan aku langsung melepas pakaian senamku yang berwarna hitam hingga tinggal BH dan celana dalam saja yang masih melekat pada tubuhku. Saat aku berjalan hendak memasuki ruang kamar mandi aku melewati tempat rias kaca milikku. Sesaat aku melihat tubuhku ke cermin dan melihat tubuhku sendiri, kulihat betisku yang masih kencang dan berbentuk mirip perut padi, lalu mataku mulai beralih melihat pinggulku yang besar seperti bentuk gitar dengan pinggang yang kecil kemudian aku menyampingkan tubuhku hingga pantatku terlihat masih menonjol dengan kencangnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Kemudian kuperhatikan bagian atas tubuhku, buah dadaku yang masih diselimuti BH terlihat jelas lipatan bagian tengah, terlihat cukup padat berisi serta, “Ouh.. ngapain kamu di sini!” sedikit terkejut ketika aku sedang asyik-asyiknya memandangi kemolekan tubuhku sendiri tiba-tiba saja kulihat dari cermin ada kepalanya supirku yang rupanya sedang berdiri di bibir pintu kamarku yang tadi lupa kututup.</p>
<p style="text-align: justify;">“Jangan ngeliatin.. sana cepet keluar!” bentakku dengan marah sambil menutupi bagian tubuhku yang terbuka.<br />
Tetapi supirku bukannya mematuhi perintahku malah kakinya melangkah maju satu demi satu masuk kedalam kamar tidurku.<br />
“Aris.. Saya sudah bilang cepat keluar!” bentakku lagi dengan mata melotot.<br />
“silakan ibu teriak sekuatnya, hujan di luar akan melenyapkan suara ibu!” ucapnya dengan matanya menatap tajam padaku.<br />
Sepintas kulihat celah jendela yang berada di sampingku dan ternyata memang hujan sedang turun dengan lebat, memang ruang kamar tidurku cukup rapat jendela-jendelanya hingga hujan turun pun takkan terdengar hanya saja di luar sana kulihat dedaunan dan ranting pohon bergoyang tertiup angin kesana kemari.<br />
<span id="more-3159"></span><br />
Detik demi detik tubuh supirku semakin dekat dan terus melangkah menghampiriku. Terasa jantungku semakin berdetak kencang dan tubuhku semakin menggigil karenanya. Aku pun mulai mundur teratur selangkah demi selangkah, aku tidak tahu harus berbuat apa saat itu sampai akhirnya kakiku terpojok oleh bibir ranjang tidurku.<br />
“Mas.. jangan!” kataku dengan suara gemetar.<br />
“Hua.. ha.. ha.. ha..!” suara tawa supirku saat melihatku mulai kepepet.<br />
“Jangan..!” jeritku, begitu supirku yang sudah berjarak satu meteran dariku menerjang tubuhku hingga tubuhku langsung terpental jatuh di atas ranjang dan dalam beberapa detik kemudian tubuh supirku langsung menyusul jatuh menindih tubuhku yang telentang.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku terus berusaha meronta saat supirku mulai menggerayangi tubuhku dalam himpitannya. Perlawananku yang terus-menerus dengan menggunakan kedua tangan dan kedua kakiku untuk menendang-nendangnya terus membuat supirku juga kewalahan hingga sulit untuk berusaha menciumi aku sampai aku berhasil lepas dari himpitan tubuhnya yang besar dan kekar itu. Begitu aku mendapat kesempatan untuk mundur dan menjauh dengan membalikkan tubuhku dan berusaha merangkak namun aku masih kalah cepat dengannya, supirku berhasil menangkap celana dalamku sambil menariknya hingga tubuhku pun jatuh terseret ke pinggir ranjang kembali dan celana dalam putihku tertarik hingga bongkahan pantatku terbuka. Namun aku terus berusaha kembali merangkak ke tengah ranjang untuk menjauhinya. Lagi-lagi aku kalah cepat dengan supirku, dia berhasil menangkap tubuhku kembali namun belum sempat aku bangkit dan berusaha merangkak lagi, tiba-tiba saja pinggulku terasa kejatuhan benda berat hingga tidak dapat bergerak lagi.</p>
<p style="text-align: justify;">“Aris.. Jangan.. jangan.. mas..” kataku berulang-ulang sambil terisak nangis.<br />
Rupanya supirku sudah kesurupan dan lupa siapa yang sedang ditindihnya. Setelah melihat tubuhku yang sudah mulai kecapaian dan kehabisan tenaga lalu supirku dengan sigapnya menggenggam lengan kananku dan menelikungnya kebelakan tubuhku begitu pula lengan kiriku yang kemudian dia mengikat kedua tanganku kuat-kuat, entah dengan apa dia mengikatnya. Setelah itu tubuhnya yang masih berada di atas tubuhku berputar menghadap kakiku. Kurasakan betis kananku digenggamnya kuat-kuat lalu ditariknya hingga menekuk. Lalu kurasakan pergelangan kaki kananku dililitnya dengan tali. Setelah itu kaki kiriku yang mendapat giliran diikatkannya bersama dengan kaki kananku.</p>
<p style="text-align: justify;">“Saya ingin mencicipi ibu..” bisiknya dekat telingaku.<br />
“Sejak pertama kali saya melamar jadi supir ibu, saya sudah menginginkan mendapatkan kesempatan seperti sekarang ini.” katanya lagi dengan suara nafas yang sudah memburu.<br />
“Tapi saya majikan kamu Ris..” kataku mencoba mengingatkan.<br />
“Memang betul bu.. tapi itu waktu jam kerja, sekarang sudah pukul 7 malam berarti saya sudah bebas tugas..” balasnya sambil melepas ikatan tali BH yang kukenakan.<br />
“Hhh mm uuhh,” desah nafasnya memenuhi telingaku.<br />
“Tapi malam ini Bu Winie harus mau melayani saya,” katanya sambil terus mendengus-denguskan hidungnya di seputar telingaku hingga tubuhku merinding dan geli.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah supirku melepas pakaiannya sendiri lalu tubuhku dibaliknya hingga telentang. Aku dapat melihat tubuh polosnya itu. Tidak lama kemudian supirku menarik kakiku sampai pahaku melekat pada perutku lalu mengikatkan tali lagi pada perutku. Tubuhku kemudian digendongnya dan dibawanya ke pojok bagian kepala ranjang lalu dipangkunya di atas kedua kaki yang diselonjorkan, mirip anak perempuan yang tubuhnya sedang dipeluk ayahnya. Tangan kirinya menahan pundakku sehingga kepalaku bersandar pada dadanya yang bidang dan terlihat otot dadanya berbentuk dan kencang sedangkan tangan kanannya meremasi kulit pinggul, pahaku dan pantatku yang kencang dan putih bersih itu.</p>
<p style="text-align: justify;">“Aris.. jangan Ris.. jangan!” ucapku berulang-ulang dengan nada terbata-bata mencoba mengingatkan pikirannya.<br />
Namun Aris, supirku tidak memperdulikan perkataanku sebaliknya dengan senyum penuh nafsu terus saja meraba-raba pahaku.<br />
“Ouh.. zzt.. Euh..” desisku panjang dengan tubuh menegang menahan geli serta seperti terkena setrum saat kurasakan tangannya melintasi belahan kedua pahaku.<br />
Apalagi telapak dan jemari tangannya berhenti tepat di tengah-tengah lipatan pahaku.<br />
“Mass.. Eee” rintihku lebih panjang lagi dengan bergetar sambil memejapkan mata ketika kurasakan jemarinya mulai mengusap-usap belahan bibir vaginaku. Tangan Mas Aris terus menyentuh dan bergerak dari bawah ke atas lalu kembali turun lagi dan kembali ke atas lagi dengan perlahan sampai beberapa kali. Lalu mulai sedikit menekan hingga ujung telunjuknya tenggelam dalam lipatan bibir vaginaku yang mulai terasa berdenyut-denyut, gatal dan geli.</p>
<p style="text-align: justify;">Tangannya yang terus meraba dan menggelitik-gelitik bagian dalam bibir vaginaku membuat birahiku jadi naik dengan cepatnya, apalagi sudah cukup lama tubuhku tidak pernah mendapatkan kehangatan lagi dari suamiku yang selalu sibuk dan sibuk. Entah siapa yang memulai duluan saat pikiranku sedang melayang kurasakan bibirku sudah beradu dengan bibirnya saling berpagut mesra, menjilat, mengecup, menghisap liur yang keluar dari dalam mulut masing-masing.</p>
<p style="text-align: justify;">“Ouh.. Winie.. wajahmu cukup merangsang sekali Winie..!” ucapnya dengan nafasnya yang semakin memburu itu.<br />
Setelah berkata begitu tubuhku ditarik hingga buah dadaku yang menantang itu tepat pada mukanya dan kemudian, “Ouh.. mas..” rintihku panjang dengan kepala menengadah kebelakan menahan geli bercampur nikmat yang tiada henti setelah mulutnya dengan langsung memagut buah dadaku yang ranum itu. Kurasakan mulutnya menyedot, memagut, bahkan menggigit-gigit kecil punting susuku sambil sekali-kali menarik-narik dengan giginya.</p>
<p style="text-align: justify;">Entah mengapa perasaanku saat itu seperti takut, ngeri bahkan sebal bercampur aduk di dalam hati, namun ada perasaan nikmat yang luar biasa sekali seakan-akan ada sesuatu yang pernah lama hilang kini kembali datang merasuki tubuhku yang sedang dalam keadaan tidak berdaya dan pasrah. “Bruk..” tiba-tiba tangan Mas Aris melepaskan tubuhku yang sedang asyik-asyiknya aku menikmati sedalam-dalamnya tubuhku yang sedang melambung dan melayang-layang itu hingga tubuhku terjatuh di atas ranjang tidurku. Tidak berapa lama kemudian kurasakan bagian bibir vaginaku dilumat dengan buas seperti orang yang kelaparan. Mendapat serangan seperti itu tubuhku langsung menggelinjang-gelinjang dan rintihan serta erangan suaraku semakin meninggi menahan geli bercampur nikmat sampai-sampai kepalaku bergerak menggeleng ke kanan dan ke kiri berulang-ulang. Cukup lama mulutnya mencumbu dan melumati bibir vaginaku terlebih-lebih pada bagian atas lubang vaginaku yang paling sensitif itu.</p>
<p style="text-align: justify;">“Aris.. sudah.. sudah.. ouh.. ampun Aar.. riss..” rintihku panjang dengan tubuh yang mengejang-ngejang menahan geli yang menggelitik bercampur nikmat yang luar biasa rasanya saat itu. Lalu kurasakan tangannya pun mulai rebutan dengan bibirnya. Kurasakan jarinya dicelup ke dalam lorong kecil kemaluanku dan mengorek-ngorek isi dalamnya.<br />
“Ouh.. Ris..” desisku menikmati alur permainannya yang terus terang belum pernah kudapatkan bahkan dengan suamiku sendiri.<br />
“Sabar Win.., saya suka sekali dengan lendirmu sayang!” suara supirku yang setengah bergumam sambil terus menjilat dan menghisap-hisap tanpa hentinya sampai beberapa menit lagi lamanya.<br />
Setelah puas mulutnya bermain dan berkenalan dengan bibir kemaluanku yang montok itu si Aris lalu mendekati wajahku sambil meremas-remas buah dadaku yang ranum dan kenyal itu.</p>
<p style="text-align: justify;">“Bu Winie.., saya entot sekarang ya.. sayang..” bisiknya lebih pelan lagi dengan nafas yang sudah mendesah-desah. “Eee..” pekikku begitu kurasakan di belahan pangkal pahaku ada benda yang cukup keras dan besar mendesak-desak setengah memaksa masuk belahan bibir vaginaku.<br />
“Tenang sayang.. tenang.. dikit lagi.. dikit lagi..”<br />
“Aah.. sak.. kiit..!” jeritku keras-keras menahan ngilu yang amat sangat sampai-sampai terasa duburku berdenyut-denyut menahan ngilunya. Akhirnya batang penis supirku tenggelam hingga dalam dibalut oleh lorong kemaluanku dan terhimpit oleh bibir vaginaku.</p>
<p style="text-align: justify;">Beberapa saat lamanya, supirku dengan sengaja, penisnya hanya didiamkan saja tidak bergerak lalu beberapa saat lagi mulai terasa di dalam liang vaginaku penisnya ditarik keluar perlahan-lahan dan setelah itu didorong masuk lagi, juga dengan perlahan-lahan sekali seakan-akan ingin menikmati gesekan-gesekan pada dinding-dinding lorong yang rapat dan terasa bergerenjal-gerenjal itu. Makin lama gerakannya semakin cepat dan cepat sehingga tubuhku semakin berguncang dengan hebatnya sampai, “Ouhh..”<br />
Tiba-tiba suara supirku dan suaraku sama-sama beradu nyaring sekali dan panjang lengkingannya dengan diikuti tubuhku yang kaku dan langsung lemas bagaikan tanpa tulang rasanya. Begitu pula dengan tubuh supirku yang langsung terhempas kesamping tubuhku.</p>
<p style="text-align: justify;">“Sialan kamu Ris!” ucapku memecah kesunyian dengan nada geram.<br />
Setelah beberapa lama aku melepas lelah dan nafasku sudah mulai tenang dan teratur kembali.<br />
“Kamu gila Ris, kamu telah memperkosa istri majikanmu sendiri, tau!” ucapku lagi sambil memandang tubuhnya yang masih terkulai di samping sisiku.<br />
“Bagaimana kalau aku hamil nanti?” ucapku lagi dengan nada kesal.<br />
“Tenang Bu Winie.., saya masih punya pil anti hamil, Bu Winie.” ucapnya dengan tenang.<br />
“Iya.. tapi kan udah telat!” balasku dengan sinis dan ketus.<br />
“Tenang bu.. tenang.. setiap pagi ibu kan selalu minum air putih dan selama dua hari sebelumnya saya selalu mencampurkan dengan obatnya jadi Bu Winie enggak usah khawatir bakalan hamil bu,” ucapnya malah lebih tenang lagi.<br />
“Ouh.. jadi kamu sudah merencanakannya, sialan kamu Ris..” ucapku dengan terkejut, ternyata diam-diam supirku sudah lama merencanakannya.<br />
“Bagaimana Bu Winie..?”<br />
“Bagaimana apanya? Sekarang kamu lepasin saya Ris..” kataku masih dengan nada kesal dan gemas.<br />
“Maksudnya, tadi waktu di Entotin enak kan?” tanyanya lagi sambil membelai rambutku.<br />
Wajahku langsung merah padam mendengar apa yang baru saja diucapkan oleh supirku, namun dalam hati kecilku tidak dapat kupungkiri walaupun tadi dia sudah memperkosa dan menjatuhkan derajatku sebagai majikannya, namun aku sendiri turut menikmatinya bahkan aku sendiri merasakan organsime dua kali.</p>
<p style="text-align: justify;">“Kok ngak dijawab sich!” tanya supirku lagi.<br />
“Iya..iya, tapi sekarang lepasin talinya dong Aris!” kataku dengan menggerutu karena tanganku sudah pegal dan kaku.<br />
“Nanti saja yach! Sekarang kita mandi dulu!” ucapnya sambil langsung menggendong tubuhku dan membawa ke kamar mandi yang berada di samping tempat ranjangku. Tubuhku yang masih lemah lunglai dengan kedua tangan dan kakiku yang masih terikat itu diletakkan di atas lantai keramik berwarna krem muda yang dingin tepat di bawah pancuran shower yang tergantung di dinding. Setelah itu supirku menyalakan lampu kamar mandiku dan menyalakan kran air hingga tubuhku basah oleh guyuran air dingin yang turun dari atas pancuran shower itu. Melihat tubuhku yang sudah basah dan terlihat mengkilat oleh pantulan lampu kamar mandi lalu Aris supirku berjongkok dekatku dan kemudian duduk di sampingku hingga tubuhnya pun turut basah oleh air yang turun dari atas.</p>
<p style="text-align: justify;">Mata supirku yang memandangiku seperti terlihat lain dari biasanya, dia mulai mengusap rambutku yang basah ke belakang dengan penuh sayang seperti sedang menyayang seorang anak kecil. Lalu diambilnya sabun Lux cair yang ada di dalam botol dan menumpahkan pada tubuhku lalu dia mulai menggosok-gosok tubuhku dengan telapak tangannya. Pinggulku, perutku lalu naik ke atas lagi ke buah dadaku kiri dan kemudian ke buah dadaku yang kanan. Tangannya yang terasa kasar itu terus menggosok dan menggosok sambil bergerak berputar seperti sedang memoles mobil dengan cairan kits. Sesekali dia meremas dengan lembut buah dada dan punting susuku hingga aku merasa geli dibuatnya, lalu naik lagi di atas buah dadaku, pundakku, leherku lalu ke bahuku, kemudian turun lagi ke lenganku.<br />
“Ah.. mas..” pekikku ketika tangannya kembali turun dan turun lagi hingga telapak tangannya menutup bibir vaginaku.<br />
Kurasakan telapak tangannya menggosok-gosok bibir vaginaku naik turun dan kemudian membelah bibir vaginaku dengan jemari tangannya yang lincah dan cekatan dan kembali menggosok-gosokkannya hingga sabun Lux cair itu menjadi semakin berbusa.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah memandikan tubuhku lalu dia pun membasuh tubuhnya sendiri sambil membiarkan tubuhku tetap bersandar di bawah pancuran shower. Usai membersihkan badan, supirku lalu menggendongku keluar kamar mandi dan menghempaskan tubuhku yang masih basah itu ke atas kasur tanpa melap tubuhku terlebih dahulu.<br />
“Saya akan bawakan makanan ke sini yach!” ucapnya sambil supirku melilit handuk yang biasa kupakai kepinggangnya lalu ngeloyor ke luar kamarku tanpa sempat untuk aku berbicara. Sudah tiga tahun lebih aku tidak pernah merasakan kehangatan yang demikian memuncak, karena keegoisan suamiku yang selalu sibuk dengan pekerjaan. Memang dalam hal keuangan aku tidak pernah kekurangan. Apapun yang aku mau pasti kudapatkan, namun untuk urusan kewajiban suami terhadap istrinya sudah lama tidak kudapatkan lagi.</p>
<p style="text-align: justify;">Entah mengapa perasaanku saat ini seperti ada rasa sedang, gembira atau.. entah apalah namanya. Yang pasti hatiku yang selama ini terasa berat dan bosan hilang begitu saja walaupun dalam hati kecilku juga merasa malu, benci, sebal dan kesal. Supirku cukup lama meninggalkan diriku sendirian, namun waktu kembali rupanya dia membawakan masakan nasi goreng dengan telor yang masih hangat serta segelas minuman kesukaanku. Lalu tubuhku disandarkan pada teralis ranjang.<br />
“Biar saya yang suapin Bu Winie yach!” ucapnya sambil menyodorkan sesendok nasi goreng yang dibuatnya.<br />
“Kamu yang masak Ris!” tanyaku ingin tahu.<br />
“Iya, lalu siapa lagi yang masak kalau bukan saya, kan di rumah cuma tinggal kita berdua, si Wati kan udah saya suruh pulang duluan sebelum hujan tadi turun!” kata supirku.<br />
“Ayo dicicipi!” katanya lagi.</p>
<p style="text-align: justify;">Mulanya aku ragu untuk mencicipi nasi goreng buatannya, namun perutku yang memang sudah terasa lapar, akhirnya kumakan juga sesendok demi sesendok. Tidak kusangka nasi goreng buatannya cukup lumanyan juga rupanya. Tanpa terasa nasi goreng di piring dapat kuhabisi juga.<br />
“Bolehkan saya memanggil Bu Winie dengan sebutan mbak?” tanyanya sambil membasuh mulutku dengan tissue.<br />
“Boleh saja, memang kenapa?” tanyaku.<br />
“Engga apa-apa, biar enak aja kedengaran di kupingnya.”</p>
<p style="text-align: justify;">Kalau saya boleh manggil Mbak Winie, berarti Bu Winie eh.. salah maksudnya Mbak Winie, panggil saya Bang aja yach!” celetuknya meminta.<br />
“Terserah kamu saja ” kataku.<br />
“Sudah nggak capai lagi kan Mbak Winie!” sahut supirku.<br />
“Memang kenapa!?” tanyaku.<br />
“Masih kuatkan?” tanyanya lagi dengan senyum binal sambil mulai meraba-raba tubuhku kembali.<br />
Aku tidak memberi jawaban lagi, hanya menunduk malu, tadi saja aku diperkosanya malah membuatku puas disetubuhinya apalagi untuk babak yang kedua kataku dalam hati. Sejujurnya aku tidak rela tubuhku diperkosanya namun aku tidak mampu untuk menolak permintaannya yang membuat tubuhku dapat melayang-layang di udara seperti dulu saat aku pertama kali menikah dengan suamiku.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ceritasex.cn/diperkosa-ternyata-nikmat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>The Fallen Princess 5: Sang Eksekutor</title>
		<link>http://www.ceritasex.cn/the-fallen-princess-5-sang-eksekutor/</link>
		<comments>http://www.ceritasex.cn/the-fallen-princess-5-sang-eksekutor/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 04 Jul 2011 23:43:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cerita Sex</dc:creator>
				<category><![CDATA[Daun Muda]]></category>
		<category><![CDATA[Lesbi]]></category>
		<category><![CDATA[Pemerkosaan]]></category>
		<category><![CDATA[Seks Umum]]></category>
		<category><![CDATA[anita]]></category>
		<category><![CDATA[cantik]]></category>
		<category><![CDATA[cuki]]></category>
		<category><![CDATA[kontol]]></category>
		<category><![CDATA[lesbi]]></category>
		<category><![CDATA[Mang Sapto]]></category>
		<category><![CDATA[ml]]></category>
		<category><![CDATA[ngentot]]></category>
		<category><![CDATA[orgasme]]></category>
		<category><![CDATA[perkosa]]></category>
		<category><![CDATA[putri]]></category>
		<category><![CDATA[seks]]></category>
		<category><![CDATA[sex]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ceritasex.cn/?p=2561</guid>
		<description><![CDATA[“Mang…beneran Mang gak inget siapa yang bawa Putri waktu itu?”. “bener non…waktu itu Mang Sapto lagi ada di dapur…”. “lho? terus gimana caranya Putri di bawa ke kamar?”, kata Putri sambil terus memainkan jemarinya di sekitar penis Sapto yang sudah loyo itu. “kalo soal pintu depan…emang Mang Sapto lupa kunci…’n kalo soal kamar non…mungkin orang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2011/07/putri.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-2562" title="putri" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2011/07/putri-225x300.jpg" alt="" width="225" height="300" /></a></p>
<p style="text-align: justify;">“Mang…beneran Mang gak inget siapa yang bawa Putri waktu itu?”. “bener non…waktu itu Mang Sapto lagi ada di dapur…”. “lho? terus gimana caranya Putri di bawa ke kamar?”, kata Putri sambil terus memainkan jemarinya di sekitar penis Sapto yang sudah loyo itu. “kalo soal pintu depan…emang Mang Sapto lupa kunci…’n kalo soal kamar non…mungkin orang itu nemu kunci kamar non di tas non…”. “mm…bener juga…ya kali ya Mang…”. Putri semakin penasaran dan ingin tahu siapa yang menolongnya. Putri memeluk Sapto lebih erat seolah-olah gadis cantik itu tidak ingin Sapto lepas dari pelukannya. Sapto pun merangkul Putri lebih erat. Sapto sangat suka jika Putri sudah memeluknya karena tubuh Putri begitu hangat dan wangi. Seperti biasa, mereka berdua melewati masa-masa intim setelah bersenggama dengan saling berpelukan dan diam menikmati kesunyian malam. Dan kadang mereka berciuman dengan sangat mesra dan penuh rasa kasih sayang sebelum akhirnya mereka berdua tidur. Sudah 2 minggu setelah Putri masuk sekolah lagi. Dan selama itu pula, Putri tetap mencari-cari jawaban atas pertanyaannya itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Tapi, tak tahu harus mulai darimana, Putri akhirnya menyerah. “non Putri…Mang Sapto sebentar lagi mau pergi…”. “emang Mang Sapto mau pergi ke mana?”. “mau perpanjang KTP abis itu mau ke rumah saudara Mang…”. “lama nggak?”. “ya mungkin sore ato malem baru pulang…”. “yah lama banget…kalo gitu Putri ikut aja…yah? yah?”, kata Putri memegang tangan Sapto. “aduh non…Mang sih emang pengen ngajak non Putri…tapi ntar sodara Mang ngomongin kalo non Putri ikut…”. “yah…Mang Sapto jahad ah…”, Putri manyun. Sapto mengangkat dagu Putri. “jangan marah dong non…”. Sapto mengelus-elus pipi Putri. “iya Mang…Putri nggak marah kok…Mang Sapto mau pergi jam berapa?”. “sekarang non…”. “o ya udah…bentar…Putri ambilin bajunya…”. Putri membuka lemarinya yang kini tak hanya ada bajunya saja yang ada di sana, tapi juga pakaian Sapto. “nih Mang…”. “makasih non…”. Sapto mengenakan pakaian yang diberikan Putri. Putri pun merapihkan pakaian Sapto. Sapto iseng, dia menarik lubang leher baju Putri ke depan sehingga dia bisa mengintip payudara Putri.</p>
<p style="text-align: justify;">“Mang Sapto ngintip-ngintip nih…”, ujar Putri manja sambil terus mengancingkan baju Sapto seolah tak terjadi apa-apa. “hehe…”. “nah…udah Mang…udah rapih..”. “makasih ya non…”. Putri dan Sapto keluar kamar. “pulangnya jangan lama-lama ya Mang…awas kalo ngayap…”, ancam Putri, sudah seperti istri beneran Sapto saja. “iya non…tenang aja…abis selesai di rumah sodara…Mang Sapto langsung pulang..”. Tentu saja, buat apa Sapto ngelayap kalau di rumah sudah ada gadis cantik yang setia menunggunya. “yaudah Mang…ati-ati ya Mang…”. “iya non…”. Sebelum membuka pintu depan, mereka berdua berciuman lagi, penuh kehangatan dan mesra, lama sekali. Keduanya sama-sama tidak mau melepas ciumannya. Padahal hanya beberapa jam saja mereka akan berpisah, tapi ciuman yang mereka lakukan seperti pasangan yang akan berpisah bertahun-tahun. Akhirnya mereka berdua saling menjauhkan bibir mereka masing-masing. “udah ya non…Mang pergi dulu…ati-ati di rumah…kunci pintunya…”. “iya..iya…Mang juga jangan lupa pesen Putri tadi ya…”. “tenang aja non…daahh..”. “daahhh…”. Putri tetap berdiri di ambang pintu sampai Sapto belok dan tak terlihat lagi. Putri menutup dan mengunci pintu. Dia bingung mau apa, Putri akhirnya duduk di sofa saja sambil menonton tv. Dan tanpa sadar Putri tertidur karena kurang tidur tadi malam.</p>
<p style="text-align: justify;">Putri terbangun sendiri, segar sekali rasanya setelah ngulet beberapa kali. Jam menunjukkan pukul 10 pagi, sperma Sapto bekas tadi malam yang ada di beberapa bagian tubuh Putri kini sudah benar-benar mengering dan menjadi kerak membuat Putri jadi agak tidak nyaman dengan tubuhnya sendiri. Putri mandi membersihkan tubuhnya yang belum di bersihkan sejak ‘dipinjam’ Sapto tadi malam. Biasanya hari Sabtu dan Minggu pada jam segini, Putri belum bisa mandi karena masih ‘sibuk’ di ranjang bersama Sapto. “ting tong…ting tong…”. “siapa pagi-pagi gini?”, tanya Putri sambil bergegas mengenakan baju rumahnya dan segera berlari ke pintu depan. “iya..iya…”. “ha..hai…Putri…”. Putri terbengong tak percaya siapa yang ada di depannya sekarang. “ka..kak..Anita?”. “gue mau ngomong sesuatu ke lo, Put…lo mau gak dengerin gue?”. Putri jadi bingung harus bilang apa, salah satu dari daftar orang yang dibencinya kini ada di depannya. “Put?”. “eh…iya..kak..ayo masuk…”. Putri belum membuat rencana balas dendamnya, tapi 1 dari 3 orang yang dibencinya sudah ada di depannya.<br />
<span id="more-2561"></span><br />
“sebentar..kak..”. Rasa benci yang besar tak membuat Putri jadi tidak santun. Sebagai tuan rumah, dia tetap membuatkan minuman untuk Anita. “kak Anita..mau ngomong apa?”. Putri jadi agak canggung, padahal dulu dia dan Anita lumayan dekat dibanding ke Renata dan Nadya. Anita langsung jongkok di depan Putri dan menangis di paha Putri. “maafin gue Put…maafin gue Put…gara-gara gue, Rena, ‘n Nadya…lo udah gak perawan lagi…”. “….”. “pasti lo susah payah jaga keperawanan lo…maaf banget…gue ngerti kalo lo nggak mau maafin gue…”. Tiba-tiba rasa benci Putri jadi hilang. “iya kak…gak apa-apa…”, jawab Putri tenang. Anita menatap Putri, tak percaya jawaban yang keluar dari mulut Putri. Putri membuat Anita duduk di sebelahnya lagi. “lo..maafin gue, Put?”. “mm…sebenernya gue gak bisa maafin juga..tapi…semuanya gak bisa balik lagi…”. “gue bener-bener minta maaap banget ama lo…gue gak bisa ngentiin Nadya ‘n Rena ngancurin cewek polos kayak lo…”. “iya kak iya…semua udah lewat..”. “makasih banget Put…gue ngomong gini karena gue takut lo mau bunuh diri lagi..kayak waktu itu…”.</p>
<p style="text-align: justify;">“bunuh diri?? jangan-jangan…”. “iya, Put…gue yang nolong lo…”. “nggak mungkin?”. “bener, Put..gue yang nolong lo…”. “gak mungkin !!”, Putri masih menolak kalau orang yang selama ini ia cari-cari adalah orang dalam daftar balas dendamnya. “suer, Put…gue nolong lo karena gue takut merasa bersalah banget kalo lo ampe bunuh diri…”. “…”. “lo masih gak percaya? nih…”. Tiba-tiba Anita langsung memagut bibir Putri dan memperagakan saat dia memberi nafas buatan ke Putri waktu itu. “gimana, Put?”. “mm…”. Anita berpikir Putri belum percaya jadi dia memagut bibir Putri lagi. Tapi, kali ini, Anita dan Putri sama-sama memejamkan matanya. Putri merasa memang benar Anita yang menolongnya karena rasanya sama seperti waktu itu. Tapi, ada perasaan aneh yang muncul tiba-tiba. Anita merasa bibir Putri sangat lembut, Anita pun tergoda memagut bibir Putri lebih. Dan tanpa sadar, Putri membalas Anita. Mereka berdua pun jadi saling melumat bibir. Kadang Anita yang mengulum bibir Putri, dan kadang sebaliknya. Lidah mereka pun juga sudah saling belit-membelit.</p>
<p style="text-align: justify;">Begitu nikmat ciuman mereka. Putri sadar, tak seharusnya ia menyukai ciuman Anita, tapi Anita sangat ahli mencumbu Putri. Anita menuruni leher Putri. “ehhh…”. Anita mencumbui bahkan menjilati leher Putri. Putri melirih pelan, menikmati rangsangan dari Anita. “nggak…”. Putri mendorong Anita. Wajah Anita memerah, ditolak Putri. Anita sendiri juga tidak tahu kenapa tiba-tiba muncul nafsu saat mencium Putri tadi. “maaf, Put…”, keadaan pun jadi canggung lagi. Mereka berdua diam dan memandang ke arah lain. “lo percaya Put sekarang?”, Anita memecah keheningan. “mm…”. “o ya waktu itu…gue pakein cardigan ke lo…warna item ‘n celana jeans…”. “cardigan?”. Putri mulai percaya karena dia ingat cardigan itu. “coba lo cek…”. “bentar, kak…”. Putri kembali dengan membawa cardigan hitam yang dimaksud. “yang ini?”. “coba lo liat…ada inisial AI di label kerah…”. “jadi…ini emang cardigan kak Anita…kenapa? kenapa kak Anita nolong Putri? kenapa kak Anita gak biarin Putri mati aja?”. Air mata keluar dari sela-sela mata Putri. Anita memegang kedua bahu Putri.</p>
<p style="text-align: justify;">“maaf Put…gue gak bisa ngebiarin lo…soalnya lo sama ama gue…terjebak Renata ‘n Nadya…”. “maksud kak Anita?”. “iya…lo ngingetin gue dulu…nasib gue juga kayak lo sebenernya…tapi gue gak mau nyerah ‘n mau balas dendam ke mereka…”. “jadi…kak Anita gak suka sama kak Rena ‘n kak Nadya?”. “iya…gue benci banget ama mereka…”. “terus kenapa kak Anita masih jadi anak buah mereka?”. “gue nunggu waktu yang tepat…tapi sampe sekarang..gue gak pernah dapet kesempatan…’n malah ada lo..korban baru mereka…maafin gue…gak bisa nolong lo..”. “gak apa-apa kak…kayaknya emang udah takdir Putri…”. Putri hampir menangis lagi. “tenang Put…mulai sekarang…gue bakal ngelindungin lo dari 2 cewek sialan itu…”. Anita merangkul Putri untuk membuatnya merasa nyaman. Putri menyandarkan kepalanya ke pundak Anita. Anita membelai rambut Putri. Lalu mereka berhadap-hadapan, saling bertatapan. Putri menutup matanya dan mendekatkan bibirnya ke bibir Anita. Ciuman hangat itu terjadi lagi, tapi keduanya menyadari sepenuhnya ciuman kali ini. Dan keduanya juga sama-sama menginginkannya.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah berciuman lumayan lama, bibir mereka pun terlepas. Mereka berdua saling bertatapan lagi. “Putri…lo emang bener-bener cantik…”. “makasih kak…”. Anita menciumi leher Putri lagi. “hmmhhh…”, lirih Putri mendongakkan kepalanya memberi keleluasaan bagi Anita. Tangan Anita menyingkap kaos Putri secara perlahan. Putri tak menunjukkan penolakan, Anita kini beralih ke dada Putri. Anita kaget karena mengetahui Putri tidak memakai bh saat dia meremas payudara Putri perlahan. Dengan bantuan Putri, Anita melepas kaos Putri. Payudara Putri yang bulat dan putih mulus itu menjadi sasaran ciuman Anita. Anita gemas sekali dengan kedua buah payudara Putri yang begitu bulat dan kenyal itu. Ciuman dan jilatan mendarat di sekujur kedua buah payudara Putri. “kaakhh…”, lirih Putri saat Anita mulai menjilati dan mengemuti kedua putingnya. Tangan Anita menyelinap ke dalam celana Putri. Anita menyelipkan jari tengahnya ke belahan vagina Putri dan menggosok-gosoknya secara perlahan untuk membangkitkan gairah Putri sambil menciumi leher Putri lagi. Tubuh Putri terasa semakin panas, begitu juga dengan udara di sekitarnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Semakin Putri merasa ‘panas’, secara alami tubuhnya seperti mengeluarkan aroma wangi yang menenangkan bagaikan aroma terapi. Itu terjadi tanpa Putri sadari, tapi Putri tahu hal itu karena Sapto bilang kepada Putri. Setelah meraba-raba sebentar, akhirnya Anita menemukan lembah kenikmatan Putri. Tubuh Putri bergetar dan kedua pahanya sedikit menutup merasakan sensasi jari tengah Anita yang mulai memasuki vaginanya. Mulut Putri terbuka sedikit, desahan lembut keluar dari mulut mungil Putri dan perlahan dia melebarkan kedua pahanya, mulai terbiasa dan merasa nyaman dengan keberadaan jari tengah Anita yang terus bergerak keluar masuk liang vaginanya. Anita menjilati telinga kiri Putri, membuat Putri menurunkan kepalanya ke kiri menutupi kupingnya karena rasanya geli. Tak salah kalau Sapto sering menyebut Putri ‘si pancingan hawa nafsu’ karena wajah imutnya, kulitnya yang putih mulus, dan tubuhnya yang mungil nan sexy itu tidak hanya bisa memancing nafsu para pria, tapi juga wanita seperti Anita sekarang. Apalagi, Putri sangat mudah terangsang karena tubuhnya yang memang sensitif terhadap sentuhan.</p>
<p style="text-align: justify;">Untungnya, setelah kehilangan kesuciannya, Putri bisa menjaga dirinya dan berhati-hati dengan tubuhnya sendiri karena dia tahu kalau dia sangat ‘sensitif’. Sejak dinodai Arman, si bandar narkoba, Putri tidak pernah membiarkan ada laki-laki yang menyentuhnya selain kedua punggung tangannya atau pundaknya. Telapak tangan Putri pun bisa membuat Putri jadi ‘aneh’ sehingga Putri tak membolehkan satu pun temannya yang pria menyentuhnya. Tak ada pria yang bisa menyentuh Putri, tak ada satu pun kecuali Sapto. Sebenarnya Sapto juga tidak terlalu ‘menguasai’ Putri, Sapto membolehkan Putri untuk pacaran atau setidaknya punya teman dekat pria karena Sapto tahu Putri masih remaja yang sedang gemar-gemarnya pacaran lagipula secara tidak resmi, Putri itu adalah adik ipar Sapto meski Sapto belum menikah dengan Reisha secara resmi dan meski Sapto bisa bebas meniduri Putri. Tapi, Putri tidak mau pacaran, baginya Sapto itu kakak ipar, ayah, dan sekaligus pacarnya. Sapto memang benar-benar beruntung, awalnya dia hanya penasaran ingin mencicipi tubuh Putri, tapi kini sama seperti kakaknya, Putri sudah bertekuk lutut dan tidak mau lepas dari Sapto.</p>
<p style="text-align: justify;">“kaaakkhhh !!!”, erang Putri mengejang mendapat orgasmenya. Anita sengaja ‘menggaruk’ liang vagina Putri agar orgasmenya benar-benar maksimal. Tubuh Putri mengedut-edut menuntaskan gelombang orgasmenya yang tersisa. Mereka berdua sama-sama diam. Anita merangkul Putri, tangannya tetap bersemayam di dalam celana Putri. “maaf ya Put…gue ngelakuin tadi…dari dulu gue suka sama lo….”, bisik Anita lembut…”. “hmm…”. Putri merasa seperti sedang berada di pelukan kakaknya, nyaman dan hangat sehingga dia betah bersandar di bahu Anita. “kak Anita suka ama Putri?”. “iya Put…”. “kenapa?”. “lo cantik Put…”. “jadi…kak Anita..?”, Putri bangun dan menatap Anita. “oh bukan Put…gue tau yang lo pikirin…gue bukan lesbi..”. “jadi maksudnya?”. “gue normal…gue masih suka sama cowok…tapi pas liat lo…gue langsung suka sama lo…”. “….”. Putri masih bingung dengan jawaban Anita. Tiba-tiba hp Putri berbunyi. “bentar ya kak…”. Putri pun menjauh dari Anita. “ya halo Mang?”. “halo non…lagi apa?”. “lagi ngobrol aja ama temen…Mang Sapto lagi ada dimana? kok belum pulang sih? Mang Sapto ngayap ya?”.</p>
<p style="text-align: justify;">“nggak..nggak..non…nggak…gini non…Mang Sapto diajak jenguk paman Mang Sapto yang lagi sakit…jadi Mang Sapto gak bisa pulang sekarang…”. “ah..Mang Sapto jahad ah..”, protes Putri dengan nada manja. “ya abisnya gimana dong non?”. “yaudah gak apa-apa…tapi besok Mang Sapto mesti pulang ya…”. “iya non pasti…Mang Sapto gak bakal tega biarin non Putri tidur sendirian lebih dari 1 hari…hehe…”. “janji ya? awas lho…kalo besok gak pulang..Putri kunciin pintunya biar Mang Sapto gak bisa masuk…”. “aduh..jangan non…iya non iya…Mang Sapto janji deh…”. “yaudah…Mang Sapto ati-ati ya…”. “oke non…non Putri tidurnya jangan malem-malem ya…”. “iya…Mang Sapto juga…daah…mmuuaahh…”. “mmuuah…daah…”. Putri kembali duduk di samping Anita. “kak Anita…”. “iya…Put…kenapa?”. “kak Anita malem ini ada acara gak?”. “mm…kayaknya nggak ada Put…kenapa?”. “kak Anita mau nggak nginep di sini? Putri nggak berani sendirian?”. “emang pembantu lo ke mana?”. “lagi jenguk saudaranya…kak Anita mau ya nginep di sini?”. “o yauda deh…oke…gue nginep di sini…”.</p>
<p style="text-align: justify;">“makasih banget kak…”. Mereka pun menghabiskan waktu dengan mengobrol bagai tak pernah terjadi apa-apa. Segala rahasia saling mereka beberkan. Putri pintar, tanpa Anita sadari, Putri merekam segala omongan Anita, untuk jaga-jaga kalau Anita cuma pura-pura dan ini semua hanya tipuan dari Renata, Anita, dan Nadya (disingkat bisa jadi RAN ya? hihi). Anita beberkan semua rahasianya sendiri mulai dari kebenciannya terhadap Renata dan Nadya sampai masalah pribadinya. “tapi Put…gue gak bawa baju nih…”. “pake punya Putri aja…kan badan Putri ama kak Anita sama..”. “oh iya ya…”. “kak Anita udah makan?”. “belum…kita makan di luar yuk…”. “baru Putri pengen ajakkin…ayo kak…”. “yaudah..sana lo…ganti baju…”. “oke..bentar ya kak..”. Putri menaruh hasil rekamannya tadi di tempat yang menurutnya paling aman di dalam kamarnya. Setelah merasa aman, barulah Putri mengganti pakaiannya. Mereka berdua pergi makan di luar sambil refreshing. Mereka pulang sekitar jam 9 malam. “egghh…gila capek…”, kata Putri ngulet di atas kasurnya. “Put…ntar gue tidur di mana nih?”.</p>
<p style="text-align: justify;">“bareng Putri aja ya kak?”, pinta Putri dengan wajah imutnya. “gak apa-apa emang?”. “ya gak apa-apa…kan kakak ama Putri sama-sama cewek…lagian emang kak Anita mau ngapain Putri sih?”, goda Putri. “oh iya..ya…”, jawab Anita bingung, Putri sudah berubah 180 derajat. “yaudah Put…gue minjem baju lo ya…”. “iya kak…pilih aja yang ada di lemari…”. “oke…tapi gue mandi dulu ah…”. Anita pun pergi ke kamar mandi. Tak lama kemudian, Anita keluar dari kamar mandi hanya dengan handuk yang melilit tubuhnya. “Put…sabun mandi lo enak banget wanginya…gue make tadi…”. “iya kak…pake aja…”. Setelah mendapatkan baju Putri yang sesuai dengan seleranya, tanpa ragu-ragu Anita meloloskan handuk dari tubuhnya. Putri memandangi tubuh Anita bagian belakang. Terlihat jelas kalau Anita sangat merawat tubuhnya. Kulitnya yang putih meski tak seputih kulit Putri terlihat berkemilauan dan berkesan halus walaupun belum disentuh. Apalagi kedua bongkahan pantat Anita yang kelihatan enak untuk ditabuh (emangnya gendang..hihi). Sebenarnya Anita memang sengaja mempertontonkan tubuhnya ke Putri, maklum namanya cewek, Anita ingin Putri tahu kalau tidak hanya dia yang bertubuh bagus.</p>
<p style="text-align: justify;">Anita sengaja memutar tubuhnya. Putri mengagumi tubuh Anita. Payudaranya bulat dan tak ada cacat sama sekali. Dan rambut kemaluannya begitu rapih tercukur, seperti bentuk segitiga di atas bibir vaginanya. Anita pun memakai pakaian dan segera bergabung dengan Putri. Curhat dan senda gurau mereka bagi di atas tempat tidur sambil berselimutan bagai teman yang sangat akrab. Padahal, tadinya Putri dendam kesumat ke Anita, tapi entah, rasa itu lenyap tak bersisa seperti terbawa arus sungai. “Put…maapin gue ya..”, kata Anita mengelus pipi Putri. “iya kak…”, nada Putri pelan. Anita pun mencium Putri lagi. Mereka berdua bercumbu dengan mesra lagi, kedua gadis cantik itu berciuman dan pelukan mereka semakin erat satu sama lain. Seperti tak ada hari esok bagi mereka, keduanya saling melumat bibir dan saling membelit lidah dengan nafsu yang menggebu-gebu. Padahal jenis kelamin mereka sama, tapi kenapa mereka begitu bernafsu. Meski gadis normal, Anita begitu semangat melumat bibir Putri karena bibir Putri yang lembut serta wajah cantik nan imut Putri yang memang dikagumi Anita dari dulu.</p>
<p style="text-align: justify;">Sedangkan Putri, begitu bergairah karena Anita benar-benar lihai mencumbunya. Tangan Anita merayap menuruni punggung Putri dan mengenggam kedua bongkahan pantat Putri yang langsung diremas-remas Anita. Putri langsung sadar dan tidak ingin celananya ‘dirogoh’ duluan seperti tadi, Putri pun langsung menuju langkah berikutnya. Putri menciumi leher Anita untuk melemahkan Anita. Tapi, ciuman, jilatan, dan cupangan di leher sepertinya tidak berpengaruh ke Anita. Putri langsung berpindah ke telinga Anita. Tubuh dan Anita sedikit bergetar ketika Putri mulai menjilati telinga Anita. Putri langsung fokus menjilati kedua telinga Anita. Anita menggeliat-geliat sambil mendesahkan nama Putri dengan manja karena rasanya 51% geli dan 49% nikmat. Tangan Anita pun sudah berhenti, tapi tetap menggenggam pantat Putri yang bulat itu karena Putri memang tidak pernah atau lebih tepatnya tidak diperbolehkan memakai cd dan bh oleh Sapto baik mau tidur ataupun aktivitas sehari-hari. Putri mendorong Anita sehingga dari tidur menyamping, kini Anita tidur terlentang, Putri langsung menaiki tubuh Anita. Putri begitu agresif menciumi wajah, kuping, dan leher Anita. Sangat agresif, seperti bukan Putri saja. Sisi liar Putri keluar. Beda sekali dengan sehari-harinya. Mungkin karena biasanya dia yang berada di bawah dan di dominasi Sapto jadi ketika ada kesempatan seperti ini Putri langsung membebaskan sisi agresifnya. Dengan bantuan Anita, Putri melepaskan kaosnya yang baru saja menempel di tubuh Anita. Dengan gemasnya, Putri mencubiti kedua buah payudara Anita. Anita dan Putri malah tertawa kecil. Lalu Putri menarik, mencubit, dan memilin kedua puting Anita. Setelah asyik memainkan kedua puting Anita, Putri melayangkan ciuman demi ciuman ke sekujur payudara Anita.</p>
<p style="text-align: justify;">“mmmm….teeruss Puuthh…”, Anita membelai-belai rambut Putri yang mulai mengemuti kedua putingnya. “aw..uuhh..uhh…”, lirih Anita. Putri menggigiti kedua puting Anita dengan gemasnya. Putri menuruni tubuh Anita dan kini dia menjilati pusar Anita. Lalu Putri menarik celana Anita ke bawah dengan mudah karena bagian pinggang celananya terbuat dari karet. Padahal baru saja Anita memakai pakaian, kini dia sudah telanjang lagi. Putri mengusap-usap dan menekan-nekan klitoris Anita dengan ibu jarinya sebelum akhirnya Putri ciumi klitoris Anita berkali-kali membuat tubuh Anita sedikit kejang-kejang. Putri julurkan lidahnya dan ditempelkan ke lubang pantat Anita lalu ditarik lidahnya ke atas sampai klitoris Anita ikut terjilat. “eemmmhhh !!”, erang Anita setiap kali Putri menyapu belahan bibir vaginanya berulang kali. Putri terlihat tidak kegok ‘berhadapan’ dengan daerah pribadi Anita. Bagaimana tidak, selama pelatihan waktu itu, kakaknya selalu menghidangkan ‘hidangan spesial’nya ke Putri karena Reisha tidak hanya mengajari Putri bagaimana caranya memuaskan pria, tapi juga memuaskan wanita.</p>
<p style="text-align: justify;">Putri melebarkan bibir vagina Anita, Putri selipkan jari telunjuknya masuk ke dalam vagina Anita. Setelah puas mengorek “Puuuuthhh !!!”, tubuh Anita menegang, kedua kakinya otomatis merapat membuat kepala Putri terjepit di antara paha Anita. Putri dengan tenang menyeruput cairan vagina Anita. “uuummhhh…yeesshh..Puuth..”, lirih Anita. Putri menggunakan lidahnya untuk mengais-ngais sisa cairan yang mungkin masih ada di liang vagina Anita. Setelah yakin tak ada lagi cairan vagina Anita untuknya, Putri mengangkat kepalanya dan tersenyum ke Anita. Anita membalas senyum Putri. Putri bangun dan tidur di samping Anita yang belum menutup ‘warung’nya. Anita mengatur nafasnya yang belum beraturan. Sementara Putri asik memainkan puting Anita dengan jari-jarinya. Tiba-tiba Anita langsung bangun, mendorong Putri dan langsung naik ke atas Putri yang kini tidur terlentang. Anita mencumbui Putri, bibir Putri diserbu habis-habisan oleh Anita. Dicium, dijilat, dan diemuti Anita. Begitu puas, Anita mencupangi leher Putri dengan ganas. Putri terkekeh-kekeh kegelian dicupangi Anita.</p>
<p style="text-align: justify;">Sepertinya Anita ingin ‘balas dendam’ atas yang tadi. Anita menyingkap kaos Putri ke atas dan langsung menikmati kedua buah kembar Putri lagi. Anita membuat celah di antara kedua buah payudara Putri basah karena air liurnya. Anita menurunkan celana Putri dan langsung ‘menyantap’ vagina Putri. “ooohhh !! heemmhhh !! nngghhh !!!”, ‘nyanyian’ yang keluar dari mulut Putri semakin membakar nafsu Anita untuk membuat Putri orgasme. Matanya terpejam, tubuhnya menggelinjang, desahan-desahan keluar dari mulut mungilnya, Putri mengulum bibirnya sendiri merasakan kenikmatan di bagian bawah tubuhnya. Anita begitu lihai menggunakan jari telunjuk dan lidahnya bergantian untuk mengorek-ngorek vagina Putri. Putri menekan kepala Anita ke selangkangannya. Tak lama kemudian, Putri melenguh panjang dan tubuhnya sedikit melengkung ke atas, tak tahan lagi menerima serbuan lidah Anita di ‘lembah’nya. “srrppphh…”. Bunyi Anita yang sedang menyeruput cairan Putri sangat kencang. Meskipun ‘lelehan’ vagina Putri sudah habis, Anita tetap mengobok-obok vagina Putri.</p>
<p style="text-align: justify;">Putri tidak keberatan Anita tetap berada di selangkangannya karena begitu nikmat terasa. Dan akhirnya, Putri pun kembali merasakan puncak kenikmatannya untuk yang kedua kali. Anita meluruskan kedua kaki Putri lalu mulai menelanjangi Putri. Kini, 2 gadis cantik itu sama-sama tak berbusana. Begitu putih dan mulus kulit mereka berdua, tak ada lecet sedikit pun di tubuh mereka. Pemandangan yang sangat erotis saat Anita mulai merangkak menaiki tubuh Putri dengan perlahan. Anita menindih tubuh Putri dan mencium bibir Putri. Kedua payudara gadis cantik saling menempel erat. Kedua puting Anita menindih puting Putri. Lalu Anita melepaskan bibirnya dan menggerakkan tubuhnya maju mundur sehingga kedua puting 2 gadis cantik itu saling bergesekkan. “mmmhhh…”, lirih Putri menikmati sensasi putingnya yang bergesekkan dengan puting Anita. Bagai mendapat mainan baru, Anita mengeksplorasi setiap bagian dari tubuh Putri. Bukan salah Anita jika dia begitu betah mengeksplorasi tubuh Putri karena wajah Putri yang cantik nan imut serta tubuhnya yang putih, sexy, dan mungil itu tentu akan membuat siapa saja ‘gemas’ melihatnya apalagi sudah telanjang seperti sekarang. Meski malam ini vaginanya tidak ‘ditusuk’, sama saja seperti malam-malam sebelumnya bersama Sapto, Putri merasa sangat kelelahan karena Anita rajin sekali membuatnya orgasme terus menerus. Sekitar jam 23.23, Anita dan Putri sudah sama-sama kelelahan. Mereka berdua pun tidur dengan saling berpelukan untuk saling menghangatkan karena mereka berdua terlalu lelah untuk memakai pakaian mereka lagi. Keesokan paginya, Putri bangun lebih dulu daripada Anita karena dia sudah terbiasa bangun pagi setelah melayani Sapto semalaman untuk menyiapkan sarapan. Tangan Anita masih memeluk tubuh Putri.</p>
<p style="text-align: justify;">Putri mengangkat tangan Anita perlahan sambil bangun dari tempat tidur. Putri memungut dan mengenakan pakaiannya kembali lalu menuju dapur. Dia menyiapkan sarapan. Saat sedang memasak telur, tiba-tiba ada yang memeluknya dari belakang. “halo non…”, kata Sapto sambil menciumi tengkuk leher Putri. “eh…Mang..udah pulang…”, Putri langsung tahu kalau orang yang memeluknya adalah Sapto karena cuma Sapto yang berani langsung memeluknya seperti ini. Putri mulai ‘terganggu’ dengan ciuman bertubi-tubi dari Sapto di tengkuk lehernya. “non…tau aja Mang Sapto mau pulang jam segini…dibikinin sarapan..hehe”, Sapto berhenti menciumi tengkuk leher Putri dan menaruh dagunya di pundak kanan Putri sambil tetap melingkarkan tangannya di pinggang Putri dari belakang seperti suami yang sedang menemani istrinya memasak di dapur. “yee…ini bukan buat Mang Sapto…”, ledek Putri. “lho? terus buat siapa? buat non sendiri?”. “iya…ama buat temen Putri…”. “temen non? mana?”. “masih tidur di kamar Putri, Mang…”. “jadi non…tidur bareng ama temen non itu?”, tanya Sapto mulai cemburu.</p>
<p style="text-align: justify;">“iya Mang…emang kenapa?”, pancing Putri. “…”. “hihi…Mang cemburu ya? tenang aja Mang…temen Putri cewek kok…”. “oh…kirain cowok…”. “iya Mang…si Anita yang waktu itu Putri ceritain…”. “Anita? salah satu dari genk cewek yang udah ngerjain non?”. “iya Mang…Anita yang itu…”. “kok non Putri ngebolehin dia nginep?”. “iya abisnya Mang kan gak pulang…Putri kan paling takut di rumah sendirian…dan kebetulan dia dateng..”. “tapi bukannya non benci banget ama dia?”, tangan Sapto pun menampung kedua buah payudara Putri. “iya…tadinya Putri udah mau ngusir dia..tapi Mang…ternyata dia yang nolongin Putri waktu itu…”. “oh si Anita itu yang nolongin non Putri…wah…berarti Mang mesti ngucapin terima kasih ke dia juga…”. “emang kenapa Mang?”. “ya kalau non Putri gak ditolongin…Mang Sapto gak bisa kayak sekarang…hehe…”. “dasar…mendingan bantuin Putri nyiapin sarapan buat kita…”. “oke non…”. “Mang..ntar kalau ada dia…Mang jangan deketin Putri ya…soalnya dia taunya Mang Sapto itu pembantu Putri…”. “yah non…Mang Sapto kan sengaja pulang secepet mungkin soalnya udah kangen…”.</p>
<p style="text-align: justify;">“ya abisnya gimana donk…selama dia belum pulang doang Mang…”. “yah…yaudah deh…”, Sapto menghela nafas, nafsunya menyetubuhi Putri terpaksa harus di-pending dulu. “tenang aja Mang…ntar sore Putri suruh pulang…”. “oke non..”. “tapi maap lagi nih Mang…Mang Sapto gak bisa sarapan bareng ama Putri”. “o yaudah…gak apa-apa non…Mang Sapto makan di kamar Mang Sapto aja…”. “tar kalo udahan…Putri ke kamar Mang Sapto deh…”. “oke…Mang Sapto tunggu ya non…”. Sapto pun membawa sarapannya ke kamarnya. Tak lama kemudian, Anita datang dengan muka yang sudah segar. “ayo kak Anita sarapan…”. “oke Put…oh iya..manggil gue Nita aja…gak usah pake kak…”. “iya ka…eh…Nit..”. “nah gitu…”. Mereka berdua pun sarapan dengan lahap karena mereka lapar sekali. “gue aja Put..”. “gak apa-apa…lo kan tamu…eh maap…”. “gak apa-apa Put..pake gue lo aja biar lebih akrab…tapi beneran gak apa-apa lo yang cuci piring, Put?”. “iya…gak apa-apa…”. “nggak…gue mau bantuin…”. “yaudah…”. “Put…gue mau mandi ya…”, kata Anita setelah selesai mencuci piring. “oke…”. Putri pun langsung berjalan menuju kamar Sapto.</p>
<p style="text-align: justify;">“tok…tok…”. “ya masuk…”. “udah di makan belom Mang?”. “udah non..tinggal dikit lagi…”. “sini…”. Putri duduk di samping Sapto dan mengambil piring Sapto. Putri menyuapi Sapto dengan penuh kelembutan. Benar-benar seperti pasangan suami istri yang sedang mesra-mesranya. Sapto dan Putri terlihat begitu serasi meski keduanya berbeda jauh satu sama lain. Putri, seorang gadis cantik dan kaya. Sedangkan Sapto hanyalah pembantu yang tidak tampan. Tapi, sejak peristiwa Sapto menangkap basah Putri sedang masturbasi, kini keduanya tidak bisa terpisahkan. Hubungan fisik yang mereka lakukan setiap hari menambah kemesraan mereka. “enak gak Mang?”. “enak non…non yang bikin sih..jadi enak..hehe..”. “alah..Mang Sapto bisa aja…”. Sapto merapat ke Putri, dia merangkul Putri dan mengarahkan wajah Putri ke arahnya. “hhmm…cccpphhh…ccpphh…”. Mereka berdua bercumbu. Tangan Sapto pun langsung menggerayangi payudara kiri Putri. Diremas-remasnya payudara Putri yang sangat empuk itu dengan lembut. Sapto tidak bisa lagi menahan hasratnya untuk menikmati tubuh Putri. Dan Putri pun tidak kuasa menahan rangsangan dari Sapto.</p>
<p style="text-align: justify;">Tubuhnya sudah terlalu terbiasa menerima rangsangan dari Sapto sehingga dia tidak bisa menolak Sapto yang mulai menjamahnya. Lidah mereka sudah saling mengait dan saling membelit. Tangan Sapto menyusup ke dalam kaos Putri. Sapto putar ke kanan kiri kedua puting Putri bergantian seperti sedang mencari frekuensi radio lalu dia memelintir dan memilin-milin kedua puting Putri menambah sensasi nikmat yang dirasakan Putri. Puas ‘men-setting’ payudara Putri, tangan Sapto pun merayap turun dan kini menyusup masuk ke dalam celana tidur Putri. Sapto mengelus-elus daerah pribadi Putri itu. Meski namanya daerah pribadi, tapi kini daerah Putri yang itu sudah tidak pribadi lagi karena Sapto sudah mempunyai izin 24 jam dari sang pemiliknya. Sapto pun melepaskan bibir Putri, Putri memeluk Sapto dengan erat sambil merasakan kenikmatan yang sedang melanda selangkangannya. “mmhhh…Maangg…terusshh !!”, desah Putri pelan. Mendengar desahan Putri, Sapto pun semakin semangat mengobel-ngobel vagina Putri. Dekapan Putri semakin kencang dan lenguhan panjang keluar dari mulutnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Sapto mengeluarkan tangannya yang basah dari celana Putri. Sapto menarik kaos Putri ke atas dan Putri pun meluruskan kedua tangannya ke atas. Sapto pun langsung menyusu ke Putri. Sapto mengenyoti kedua puting Putri bergantian dengan sangat kuat. Puas menyusu, Sapto jongkok di hadapan Putri setelah membuka bajunya sendiri. Sapto menarik celana Putri, sudah tak sabar ingin melihat ‘tempat’ favoritnya. “eits…”, Putri meledek Sapto dengan merapatkan kedua pahanya seolah tak mengizinkan Sapto. Sapto tersenyum melihat tingkah Putri karena gemas. Sapto menciumi kedua lutut Putri, kedua tangannya merayap maju ke paha Putri. Sapto mengelus-elus pangkal paha Putri. “ayo dong non…buka..”, rayu Sapto. “iya Mang iya…”. Putri pun melebarkan kedua pahanya, membuka ‘toko’nya untuk pelanggan setianya, Sapto. Semerbak harum langsung tercium oleh Sapto. Sapto hapal betul dengan aroma ini, hanya satu yang wanginya seperti. Tentu saja, sumbernya dari daerah kewanitaan gadis cantik yang mengangkang lebar di depannya. Sapto diam sejenak mengagumi keindahan kelamin Putri. Begitu terawat, dan bentuk serta warnanya yang agak kemerah-merahan begitu menggunggah selera. Sapto pun mendekatkan hidungnya ke vagina Putri.</p>
<p style="text-align: justify;">“non..tumben…biasanya punya non..wangi banget…kok sekarang gak terlalu wangi?”. “ya kan Putri belum mandi…jadi Mang Sapto gak mau nih…”, ledek Putri pura-pura menutupi vaginanya dengan tangannya. “eh jangan non…siapa bilang Mang Sapto gak mau..hehe…”, ujar Sapto menyingkirkan tangan Putri dan langsung menyerbu selangkangan Putri. Putri hanya bisa mendesah dan melirih keenakan. Lidah Sapto bergerak begitu tepat memberikan kenikmatan untuk Putri karena Sapto sudah hapal betul seluk beluk liang vagina Putri dan di bagian mana harus dijilatnya sehingga tak butuh lama bagi Putri mencapai puncak kenikmatannya. Meski tak seharum seperti biasanya, Sapto tetap betah berlama-lama berada di selangkangan Putri. Putri pun sampai 3x orgasme karena Sapto terus menerus ‘menyerbu’ vaginanya. “OOUUHH !!! MAANNGGHHH !!!”, lenguh Putri lagi mendapatkan orgasmenya untuk yang keempat kali. Setelah ‘menguras’ vagina Putri sebanyak 4 kali, Sapto pun akhirnya berhenti. Tapi, kepala Sapto tetap berada di antara kedua paha Putri, tak mau pergi dari sana. “hehe..maap ya non…Mang Sapto kangen banget ama non soalnya..”, kata Sapto sambil mengelus-elus paha Putri yang sangat halus.</p>
<p style="text-align: justify;">“iya Mang…gak apa-apa…”, jawab Putri pelan. Sapto tersenyum mendengar jawaban Putri, dia bangun dan membuka celananya sendiri, kini dia hanya tinggal memakai kolor saja. Sapto duduk di sebelah Putri. “non…gantian dong…hehe…”. “iya Mang…”. Kini, Putri sudah berdiri di depan Sapto. Sapto menarik pinggang Putri dan menciumi perut Putri yang rata itu. “kenapa, Mang? kok perut Putri diciumin?”, tanya Putri tersenyum sambil mengelus-elus kepala Sapto. “nggak non…Mang Sapto pengen nanya…kalo misalnya non Reisha ngebolehin Mang Sapto bikin non Putri hamil..non Putri mau gak sih?”. “mau Mang…mau banget malah..hehe..”. “ah yang bener non ?!”. “iya Mang…beneran…”. “makasi ya non…”. Sapto meremas-remas pantat Putri dan membenamkan wajahnya ke perut Putri. “ayo non..”. Putri pun langsung jongkok di depan Sapto. Sapto membuka kedua pahanya lebar-lebar. “ih…pasti punya Mang Sapto bau nih…”, canda Putri sambil mengelus-elus tonjolan yang timbul di celana Sapto. “iya non..dari kemaren Mang Sapto kan gak ganti kolor…”. “iiih…Mang Sapto jorok…”. “hehe…makanya non…bersihin punya Mang Sapto ya…hehe…”.</p>
<p style="text-align: justify;">“Putri siap melayani Anda…hihi…”. Kedua tangan Putri menyusup melalui kedua sisi lubang dari celana Sapto. Putri pun akhirnya menemukan ‘kunci’ Sapto. “aduh…tangan non Putri makin halus aja ya..”. “hehe…bisa aja Mang Sapto…”. Putri meremas-remas dan memijit-mijit penis Sapto dengan lembut dan penuh perasaan. Sapto tersenyum ke arah Putri. Putri semakin telaten ‘memelihara’ burungnya. Tahu cara memijit penis dengan benar. Putri mengeluarkan kedua tangannya dan mengendus-endus kedua tangannya. “tuh kan…punya Mang Sapto bau ih…”. “bau sih bau…tapi non Putri suka kan?”, ledek Sapto. “ih..Mang Sapto…”. Putri memukul pelan tonjolan celana Sapto. “aww…sakit non…”. “hehe…maap..maap…”. Putri menciumi tonjolan Sapto. “gimana, Mang? udah gak sakit kan?”. “iya non…hehe…”. Putri menarik celana kolor Sapto. Kini, dua-duanya sama telanjang bulat. Putri memandangi penis Sapto yang sudah mengacung ke arahnya. Penis yang selama ini sudah sangat sering mengait vaginanya. Di mata Putri, penis Sapto sudah terlihat bagai ‘kunci’. Kunci untuk daerah kewanitaannya.</p>
<p style="text-align: justify;">Putri mendekatkan wajahnya ke selangkangan Sapto. Putri menjilati kedua pangkal paha Sapto serta daerah ‘berambut’ Sapto. Lidah Putri bergerak menyibak bulu kemaluan Sapto sampai daerah itu benar-benar basah kuyup oleh air liur Putri. Putri lebarkan lagi kedua paha Sapto sehingga dia semakin jelas melihat kantung buah zakar Sapto yang menggantung. Putri menciumi kantung zakar yang keriput itu dengan mesra sambil mengocok batang penis Sapto. Tidak ada rasa jijik bagi Putri, sudah biasa baginya berhadapan dengan ‘tongkat’ ini karena setiap harinya Sapto selalu menyuguhkan batangnya ke Putri. “aduh non…enak non…hehe..terus non…”. Lidah Putri bergerak menyapu setiap inci dari pangkal paha dan kantung buah zakar Sapto. Putri memberi kecupan-kecupan mesra di sekujur batang penis Sapto mulai dari pucuk sampai ke pangkal penis Sapto seolah-olah Putri ingin menunjukkan kalau dia begitu ‘menyayangi’ batang yang sedang ada di hadapannya, batang yang sudah membuat Putri bertekuk lutut sampai Putri jadi merasa ada yang kurang jika sehari saja tak bertemu dengan Sapto dan ‘peliharaan’nya.</p>
<p style="text-align: justify;">“rrr…mhh…”, Sapto bergetar saat Putri ‘mengulik’ lubang kencingnya. “duh non…udaah non…”, Sapto sampai minta ampun karena Putri terus ‘mengulik’ lubang kencingnya. “kenapa, Mang ? bukannya enak ?”. “iya non…tapi kalo terus-terusan…ngilu juga…”. “maap ya Mang…Putri gak tau…”. Untuk menebus kesalahannya, Putri mulai mengemuti ‘topi’ merah muda Sapto. “mm…”. Tubuh Sapto menggelinjang keenakan. Putri membuka mulut mungilnya lebar-lebar. Dia memajukan kepalanya sendiri sampai bibir atasnya menyentuh rambut kemaluan Sapto dan langsung menutup rapat-rapat mulutnya untuk mengunci posisi penis Sapto yang ada di dalam mulutnya. Putri mendongak ke atas dan tersenyum. Sapto membalas sambil membelai rambutnya. Sapto tertawa kecil dalam hati melihat Putri seperti ikan yang tersangkut di ‘kail’. Putri memulai tugasnya dengan begitu bersemangat. Kepalanya maju mundur dengan cepat untuk memberi kocokan yang sesuai dengan selera Sapto di penisnya. Dan kadang Putri dengan gemasnya menggelitik lubang kencing Sapto lagi. Tangan kanan Putri begitu aktif meremas-remas zakar Sapto dengan lembut.</p>
<p style="text-align: justify;">Sapto mengangkat tangan kiri Putri ke atas dan dikulumnya jari-jari Putri satu per satu serta menjilati telapak dan punggung tangan Putri. Sapto memang sangat mengagumi keindahan tubuh Putri, meski kini setiap hari dia bisa merengkuh kenikmatan dari tubuh Putri dengan mudah, tapi Sapto tidak pernah ada rasa bosan bahkan dia semakin tergila-gila melihat tubuh Putri yang begitu putih, mulus, dan halus. Saking tergila-gilanya, Sapto pun sering mengulumi jari-jari kaki Putri meski Putri baru saja seharian memakai sepatu setelah pulang sekolah. Awalnya, Putri tidak enak juga Sapto mengulumi dan menjilati kedua kakinya, tapi lama kelamaan Putri mulai terbiasa dan senang mengetahui kalau Sapto tidak hanya memuja bagian tertentu saja dari tubuhnya melainkan seluruh tubuhnya. Tentu, banyak lelaki yang ingin menjadi Sapto saat ini. Duduk santai dan hanya tinggal membuka pahanya dan membiarkan seorang gadis cantik yang bekerja ‘membersihkan’ selangkangannya. Putri terlihat begitu menikmati ‘sosis’ berurat milik Sapto dengan sepenuh hati. “mmhh…nonhh….”. Zakar Sapto telah memproduksi ‘tinta putih’ dan menyalurkannya menuju ke lubang keluarnya. Putri pun bisa merasakan penis Sapto yang mulai berdenyut-denyut di dalam mulutnya. Putri pun semakin aktif menghisap dan mengulum kuat-kuat.</p>
<p style="text-align: justify;">“eeeehhh…UUUHHH NONNNHH !!!”, erang Sapto tak bisa menahan lagi keinginan ‘ular’nya untuk muntah padahal dia masih ingin berlama-lama merasakan nikmatnya permainan lidah Putri. Putri dengan sigap menampung semua sperma Sapto dan sedikit meremas zakar Sapto untuk ‘menguras’ penis Sapto. Putri masih asik mengemuti kepala penis Sapto. “Putri ! Putri !”. “waduh..Anita udahan mandinya…”, Putri panik mencari baju dan celananya. “ini bajunya non…”. Putri langsung memakai baju dan celananya dan bergegas keluar kamar Sapto. “eh disini lo Put…”. Putri berpura-pura keluar dari kamar mandi dekat dapur. “udahan mandinya, Nit?”. “udah…”. Putri berbicara agak jauh dari Anita sambil sedikit menutup mulutnya. Putri tahu mulutnya pasti masih kental dengan aroma sperma dan takut tercium Anita. “Put..gue balik ya…”. “oh..lo mau balik? yaudah…”. “ati-ati ya Nit…”. “iya, Put…”. Putri berdiri di ambang pintu rumahnya. “non…lanjutin yang tadi yuk…”, kata Sapto berbisik di telinga Putri dari belakang. “ayo…siapa takut…”. Semenjak kejadian itu, Anita dan Putri semakin hari semakin akrab.</p>
<p style="text-align: justify;">Tapi, mereka berdua sepakat jika di sekolah, mereka biasa-biasa saja. Anita sering main dan menginap di rumah Putri. Sapto merasa terganggu karena tak bisa berduaan bersama Putri dengan bebas, akhirnya Putri pun melarang Anita main ke rumahnya kecuali hari Minggu. “Nit…lo beneran mao jadi anak buah gue ‘n bales dendam ke Nadya ‘n Renata?”. “iya, Put…”. “oke kalo gitu lo besok ke sekolah gak pake cd ‘n bh..”. “tapi, Put…”. Anita merasa cemas juga, dulu Renata dan Nadya tidak menyuruhnya ke sekolah tanpa cd dan bh karena waktu itu Renata dan Nadya baru kelas 2 sehingga mereka belum terlalu kejam seperti sekarang. “gak ada tapi-tapian..lo mesti nurutin gue…”. Keesokan harinya, Anita menuruti perintah Putri. Anita tak pernah merasa sangat ‘terbuka’ seperti ini. Daerah pribadinya dengan dunia luar hanya dipisahkan oleh rok abu-abunya yang mini itu. Anita selalu merasa ada yang memperhatikan selangkangannya dan semua orang mengetahui kalau dia tidak memakai celana dalam. Anita jadi mengerti perasaan Putri sewaktu pertama kali di suruh begini.</p>
<p style="text-align: justify;">Dag dig dug sekaligus merasa sangat terekspos yang Anita rasakan, tapi Anita juga merasakan perasaan menggelitik seperti terangsang jika berpikir siapa saja, dimana saja, dan kapan saja seseorang bisa tahu dia tidak memakai celana dalam dan bisa menyusupkan tangan ke dalam roknya dan memainkan ‘surga kecil’nya. Anita sering menggeleng-gelengkan kepalanya untuk menghilangkan fantasinya itu karena vaginanya terasa lembap dan ada sedikit cairan terasa meleleh keluar dari sela-sela bibir vaginanya. “Nit…gue tunggu di gerbang ya…”. Seperti mendapat perintah dari bos, Anita yang tadi di dalam wc bergegas keluar menuju gerbang. Saat Anita keluar dari kamar mandi dan berbelok ternyata ada 2 cowok sehingga tabrakan pun tak dapat dihindari. Anita jatuh ke belakang. “aduuhh…”. “ma..maa…”. 2 cowok itu terbelalak melihat pemandangan yang ada di depan mereka. Anita jatuh ke belakang dan kakinya terbuka lebar sehingga roknya terangkat ke atas dan memperlihatkan isinya yang indah. Anita langsung sadar dan bangun. Dia langsung berlari ke gerbang dengan muka memerah sementara dua cowok itu masih terbengong tak percaya dengan apa yang baru saja mereka saksikan. Putri hanya tersenyum saja melihat Anita yang malu dan langsung masuk ke dalam mobil.</p>
<p style="text-align: justify;">“gimana? enak jadi gue?”. “mm…”. Putri duduk di sebelah Anita dan menyingkap rok Anita. “wah..lo horny ya Nit..gak pake cd ke sekolah?”, ejek Putri. “…”. “ok Nit..mulai sekarang lo ke sekolah kayak gini terus…”. “mmhh…”. Putri mulai mengelus-elus vagina Anita dengan lembut. “mulai sekarang…gue bos lo..lo harus nurutin gue…”. “ii..yaa..hh…”. “V lo punya gue…mau gue apain aja..terserah gue..ok?”. “oo..keehh Puut..”. Tiba-tiba pintu mobil terbuka, dan Anita merasa belaian lain. Beda dengan tangan Putri yang halus, kali ini tangan satu lagi agak kasar. Anita melihat ke arah kanan. Pandangan matanya tajam menatap Sapto seolah tak rela Sapto ikut membelai vaginanya. Tapi, Anita tidak bisa menghentikannya karena belaian Sapto begitu tepat mengenai daerah-daerah yang paling nikmat di selangkangannya sementara Putri sudah berhenti. “oh ya Nit…bukan cuma gue yang punya V lo…tapi Mang Sapto juga…terserah dia mau ngapain…”. “mm..hh…”, Anita mengangguk pelan. “hhhnnn !!!”, lenguh Anita setelah beberapa menit Sapto memainkan vaginanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Usai membuat Anita orgasme, Sapto duduk di kursi pengemudi dan mengemudikan mobil. Putri pun senang, Anita kini menjadi bonekanya. Putri sering memanggil Anita ke wc hanya untuk memainkan vaginanya. Anehnya, Anita malah senang dikuasai Putri dan melakukan semua perintah Putri dengan senang hati. Karena Putri sudah yakin, Putri tidak memberikan hukuman apa-apa lagi ke Anita, status mereka kini malah seperti adik kakak. Putri pun membuka rahasianya ke Anita soal hubungannya dengan Sapto. Dan tentu saja Sapto yang beruntung, Anita malah tertarik ingin bergabung ke percintaan Putri dengan Sapto. “gimana, Put? udah kamu lakuin rencana kakak?”. “udah kak…berhasil..sekarang si Anita udah jadi anak buah Putri…malah katanya dia pengen bantuin bales dendam ke Renata ‘n Nadya, kak..”. “wah bagus itu…kamu bisa manfaatin Anita…jadiin dia boneka kamu…buat ngerjain Nadya ‘n Renata…”. “mm..bener juga..”. “ok…target kita selanjutnya Nadya…begini….”. Putri mendengarkan semua perkataan Reisha lewat telpon dengan seksama. “gimana? jelas, Put?”. “oh gitu ya, kak..jadi Putri harus punya rekaman video buat jaminan…”.</p>
<p style="text-align: justify;">“iya..biar kamu aman..”. “ok, kak…”. “Mang Sapto mana?”. “nih…lagi tiduran di paha Putri…”. “halo non Reisha…”. “Mang Sapto…lagi tidur di pahanya Putri ya?”. “iya non…malah non Putri gak pake celana..padahal Mang Sapto suruh pake celana…”. “boong…Putri gak dibolehin pake celana ama Mang Sapto…”, teriak Putri. Mereka bertiga bercengkrama lewat telpon. Sambil terus berbicara dengan Reisha, Sapto memiringkan tubuhnya sehingga wajahnya menghadap ke perut Putri. Putri menonton tv dengan biasa seperti tidak ada apa-apa karena dia sudah terbiasa dengan ‘kehadiran’ Sapto di selangkangannya. “bos..film kedua udah selesai..”, Anita berbicara lewat telpon. “bagus…sekarang lo ke rumah gue…”. “ok bos…”. Dalam waktu singkat, Anita sampai di rumah Putri. Kini, Nadya sudah berada di genggaman Putri. Putri dan Anita mengerjai Nadya terus sampai akhirnya Nadya melaporkan Anita ke polisi. “tenang saja nona Nadya…kami akan tahan Anita ini..”. “makasih, Pak…MAMPUS LO, NIT !!”. Begitu mobil Nadya sudah menjauh dari kantor polisi itu, borgol yang membelenggu kedua tangan Anita dilepaskan. “makasih ya, Pak Bambang…”.</p>
<p style="text-align: justify;">“iya neng Anita…untung aja si Nadya itu lapornya ke sini…”. “iya…Anita juga gak nyangka kalo si Nadya itu berani lapor polisi…liat aja nanti…”. “nah neng Anita…mana nih ucapan terima kasihnya?”, bisik Untung memeluk Anita dari belakang dan mengelus-elus paha Anita. “iya..Pak Untung..tenang aja…ada kok ucapan terima kasihnya…”, balas Anita manja. “bapak juga dapet kan?”, tanya Bambang mendekati Anita yang sedang dipeluk Untung. “iya…”. Untung mengangkat rok Anita ke atas, Bambang jongkok dan memperhatikan vagina Anita yang sangat bersih dan harum. “ini ya ucapan terima kasihnya?”, tanya Bambang mengelus belahan bibir vagina Anita. “iya..Anita cuma punya ini…”. Bambang dan Untung pun bekerja sama menelanjangi Anita, mereka sudah tak sabar ingin menerima ‘balas budi’ Anita. “oh iya Pak…Pak Alex, Jody, Udin, ‘n Pak Jamal dibebasin juga kan?”. “kenapa, neng? kok dibebasin juga? neng Anita kan gak kenal banget ama mereka?”, jawab Bambang sambil melepaskan kaos kaki Anita, satu-satunya yang masih menempel di tubuh Anita. “ya tapi…kasihan kan…”.</p>
<p style="text-align: justify;">“yaudah neng…tenang aja…ntar mereka dibebasin kok…”. Untung sudah meremas-remas kedua buah payudara Anita, sepertinya dia sudah tidak sabar ingin mendengar lenguhan, rintihan, dan desahan manja keluar dari mulut Anita. “nah ini baru neng Anita yang kita kenal…hehe…”, komentar Bambang setelah berdiri dan memandangi Anita yang sudah telanjang, tak ada satu pun yang menempel di tubuhnya kecuali kalungnya. Mereka berdua langsung ‘menggiring’ Anita ke kamar yang biasa digunakan untuk istirahat sebentar di kantor polisi itu. Kedua polisi itu pun bisa menikmati ‘hadiah’ mereka tanpa diundi lagi. “halo, Nit…”. “haa..ha..loo…”. “gimana, Nit…lo udah bebas kan?”. “i..iyaa..”. “bagus deh…gue takut aja lo kenapa-kenapa…”. “mmhhh…”. “lo kenapa sih?”. “i…iniii…Paakk..Bambanghh..eemmhhh…”. Putri langsung mengerti. “oh…yaudah deh…ntar gue telpon lagi…tuuut..”. “gimana si neng Anita, non?”. “udah bebas…kayaknya sekarang lagi ngelayanin Pak Bambang…”. “oh..”. Setelah menaruh hpnya di meja samping tempat tidur, Putri kembali menyenderkan kepalanya ke bahu kanan Sapto karena tadi mereka berdua sedang asik menonton tv.</p>
<p style="text-align: justify;">“awas aja Nadya…ntar kita kerjain ya Mang…”. “iya non…tunggu tanggal mainnya..”, balas Sapto sambil menarik selimut untuk menutupi tubuh mereka berdua sampai pinggang. Sambil terus menonton, tangan Sapto menyelinap ke dalam selimut lalu menuntun tangan kiri Putri ke ‘tongkat’ penakluk wanita miliknya, ‘tongkat’ yang telah merubah nasib Sapto dari pembantu biasa menjadi seperti raja dengan 3 permaisuri cantik yang rela kapan saja melayaninya di atas ranjang karena telah membuat Reisha, Putri, dan kini Anita bertekuk lutut kepadanya. Tanpa basa-basi, Putri mulai memijat, mengocok, dan mengelus-elus benda tumpul kebanggaan Sapto itu. Setelah menuntun tangan Putri, Sapto menaruh tangan kanannya di paha kiri Putri. “eh..tangannya ngapain?”, ujar Putri sambil tetap serius menonton tv seperti tidak terjadi apa-apa padahal tangan Sapto semakin aktif ‘bergerilya’ di daerah selangkangannya. “hehe…iseng non…”. “mmhh..”, desah Putri pelan. Konsentrasinya mulai terganggu. Putri langsung bangun dan mereka berdua saling bertatapan. Tangan Putri dan Sapto masih berada di alat kelamin satu sama lain. Vagina Putri terasa panas dan lembab kembali. Dan penis Sapto sudah kembali keras dan kekar, mengacung tegak. Artinya, ‘roket’ Sapto sudah siap mendarat lagi di ‘pangkalan’nya yaitu liang vagina Putri. Sapto memberi isyarat dengan mengangguk. Putri mengulum bibir bawahnya dan mengangguk seperti malu-malu mengakui kalau dia sudah siap untuk ronde kedua. Malam itu, meski mereka terpisah jarak dan tempat yang jauh, kedua gadis cantik itu, Putri dan Anita, sama-sama sedang ‘sibuk’. Putri sibuk bercinta dengan penuh gairah bersama Sapto, sedangkan Anita sibuk melayani Bambang dan Untung sebagai ucapan terima kasihnya. 2 minggu telah berlalu, hubungan Anita, Putri, dan Sapto semakin dekat akibat ‘kontak fisik’ yang sering mereka lakukan.</p>
<p style="text-align: justify;">“Anita?!”, Nadya kaget melihat Anita berada di ujung meja makan. “anjrit Nad !! demen juga lo dikeroyok?? hahaha…”, teman-temannya menertawakan Nadya. Nadya malu setengah mati, wajahnya merah seperti tomat. Nadya langsung berlari keluar dan berlari menuju ke parkiran. “Putri?!”. Putri berdiri menyender ke mobil Nadya sambil tersenyum. “udah gue bilang kan Nad…kalo lo macem-macem bakal gue sebar tuh filem lo…”. Nadya menengok ke belakang, Anita yang berbicara sambil berjalan ke arahnya. “enak Nad? gue permaluin lo di depan temen-temen lo?”. “gue sama Anita udah bikin vcd bokep lo…’n video bokep lo bakal kesebar…dan yang pasti ortu lo yang bakal dapet pertama…”. “pleaassee Put…jangan Put..tolong Put…gue gak bakal macem-macem lagi…”, pinta Nadya sambil menangis dan memeluk kaki Putri. “oke…sekarang buka baju lo !!”, teriak Anita sedangkan Putri hanya diam saja. Dengan pasrah, Nadya melepas gaunnya sendiri dan pakaian dalamnya. Nadya merasakan dinginnya malam dengan tubuhnya yang sudah tak tertutup apa-apa lagi. “mana kunci mobil lo?”. “sekarang lo masuk mobil…”. “duduk di tengah !!”, tambah Anita. “tunggu…”.</p>
<p style="text-align: justify;">Nadya pasrah saja menuruti semua perintah Anita dan Putri dan duduk di kursi tengah mobilnya sendiri tanpa busana. Lalu secara serempak, 4 pintu mobil Nadya terbuka. 4 lelaki masuk dan duduk. Nadya kaget saat melihat wajah keempat pria itu. Alex, Jody, Udin, dan Jamal. “halo neng Nadya…”. Nadya refleks merapatkan pahanya dan menutupi payudara serta vaginanya dengan kedua tangannya. “kenapa sih neng Nadya pake ngelaporin kita ke polisi segala? bukannya neng demen maen ama kita? HAHAHA !!”, ledek Jody yang duduk di jok depan. “tau neng…awas kita bales…nanti kita sodomi terus ampe neng Nadya gak bisa jalan…”. “SETUJU !!”, teriak Alex dan Jamal yang duduk di samping kanan dan kiri Nadya. Mereka berdua menarik dan memasukkan tangan Nadya ke celana mereka masing-masing. Alex dan Jamal menahan tangan Nadya agar tetap di dalam celana mereka sementara mereka melebarkan kedua kaki Nadya. Jody menengok ke belakang dan mengulurkan tangannya ke selangkangan Nadya. Nadya hanya bisa pasrah saja, vaginanya menjadi ‘tempat kobokan’ Alex, Jody, dan Jamal.</p>
<p style="text-align: justify;">“nah Pak Alex..Pak Jody..Pak Jamal sama Pak Udin…boleh bawa Nadya kemana aja selama 2 minggu…”. “kemana aja neng?”, tanya Jody. “iya kemana aja…terserah..jadi bapak-bapak bisa bales dendam ke cewek belagu ini…”. “gimana kalo 4 minggu aja neng…biar satu orang satu minggu jatahnya..hehe…”. “yaudah terserah aja…asal jangan ampe ada lecet di badannya dia…’n dia harus minum ini terus…”. “apaan nih neng?”. “obat anti hamil…biar bapak-bapak bisa keluar di dalem rahimnya dia…”. “yah…tapi kan seru kalo ampe neng Nadya hamil gara-gara kita berempat…”. “perintahnya Putri begitu…”. “oh..oke deh…”. Mobil Nadya pun menjauh dari parkiran itu. Putri dan Anita masuk ke dalam mobil Putri. Sapto langsung mengendarai mobil menjauh. Tak lama jalan, Anita dan Putri duduk semakin mendekat. Dekat, dekat, dan akhirnya mereka berciuman. Tangan Anita pun langsung menggerayangi tubuh Putri. Tidak Anita, tidak Sapto, keduanya sama-sama mudah terpancing nafsu jika berada di dekat Putri. Keduanya saling melucuti pakaian satu sama lain. Begitu Anita melepas celana Putri, Sapto yang sudah terganggu konsentrasinya sedari tadi langsung mengendus-endus aroma yang muncul.</p>
<p style="text-align: justify;">Sapto dan batang kejantanannya sudah hafal aroma ini, apalagi penis Sapto seperti langsung bereaksi dan bangun dari tidurnya. “aduh…curang nih…masa Mang Sapto nyetir…non Putri sama neng Anita asik di belakang…”. “tenang aja Mang…sampe rumah…kita keroyok deh..”. “wah asik…hehe…”.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>BERSAMBUNG &#8230;</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ceritasex.cn/the-fallen-princess-5-sang-eksekutor/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Anggie The Series: Pelecehan pun Berlanjut</title>
		<link>http://www.ceritasex.cn/anggie-the-series-pelecehan-pun-berlanjut/</link>
		<comments>http://www.ceritasex.cn/anggie-the-series-pelecehan-pun-berlanjut/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 09 Jun 2011 02:01:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cerita Sex</dc:creator>
				<category><![CDATA[Amoy]]></category>
		<category><![CDATA[Daun Muda]]></category>
		<category><![CDATA[Ekshibionis]]></category>
		<category><![CDATA[Pemerkosaan]]></category>
		<category><![CDATA[selingkuh]]></category>
		<category><![CDATA[anggie]]></category>
		<category><![CDATA[bondage]]></category>
		<category><![CDATA[budak seks]]></category>
		<category><![CDATA[istri]]></category>
		<category><![CDATA[ngentot]]></category>
		<category><![CDATA[perkosa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ceritasex.cn/?p=2432</guid>
		<description><![CDATA[ANGGIE&#8230; Semenjak kejadian pertama, ketika mas Hari dan mas Mantri memperkosa saya, sudah beberapa kali mereka mengulangnya. Setiap kali melakukan mereka selalu mengerjai saya dengan cara cara yang belum pernah terpikirkan oleh saya sebelumnya. Dan yang paling aneh mereka seolah tahu jadwal tugas luar mas Aries suami ku. Mereka selalu merekam setiap mereka menyetubuhi diriku. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2011/06/anggie-pelecehan-berlanjut.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-2433" title="anggie-pelecehan-berlanjut" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2011/06/anggie-pelecehan-berlanjut-230x300.jpg" alt="" width="230" height="300" /></a></p>
<p style="text-align: justify;">ANGGIE&#8230;</p>
<p style="text-align: justify;">Semenjak kejadian pertama, ketika mas Hari dan mas Mantri memperkosa saya, sudah beberapa kali mereka mengulangnya. Setiap kali melakukan mereka selalu mengerjai saya dengan cara cara yang belum pernah terpikirkan oleh saya sebelumnya. Dan yang paling aneh mereka seolah tahu jadwal tugas luar mas Aries suami ku. Mereka selalu merekam setiap mereka menyetubuhi diriku. Diriku sebenarnya merasa sangat terhina atas perlakuan mereka tapi yang aneh saya juga selalu menikmatinya. Mereka selalu menggunakan hasil rekaman kamera itu untuk mengancam saya. Mas Aries suamiku tidak pernah mengetahui bahwa istrinya sekarang telah menjadi budak seks para cleaning service itu, malah dia masih suka mengundang mereka datang ke apartement kami. Namun sebuah kejadian telah membuat saya sangat ketakutan. Hari itu mas Aries sedang tugas ke kota Busan, dan baru kembali 3 hari lagi. Seperti sudah saya duga sebelumnya, sore sore sekali setelah jam kerja kedua orang itu menelpon.</p>
<p style="text-align: justify;">”Anggie..” sekarang mas Mantri memanggil nama saya dengan nama saja tanpa embel embel mbak seperti sebelumnya. “Kami mau datang kesana, tolong kamu bersiap pakai mantel kamu.. jangan pakai apa apa lagi, kita jalan jalan….” segera aku hendak memprotes, tapi…”Jangan bantah kalau tidak mau rekaman kamu saya putarkan didepan suami kamu, dan setelah itu kami sebar di internet” mulut ku segera terkunci aku pun melepas pakaian ku, mengenakan mantel ku dan duduk di ruang tamu menuggu kedatangan mereka dengan perasaan yang campur aduk… terhina, malu, tapi juga ada gejolak rasa aneh yang menggelora. Tidak berapa lama bel pintu apartement saya berbunyi. Saya membukakan pintunya, ” wah kamu cantik sekali …dasar cewe’ nggak punya urat malu hahahahaha…” sambil berkata gitu tangan mas Mantri merogoh ke pantat saya yang tidak mengenakan apa apa dibalik mantel. Saya benar2 terhina..</p>
<p style="text-align: justify;">Kemudian mereka mengajak saya pergi, di sepanjang jalan orang banyak menatap saya sebab mantel yang saya gunakan sedikt pendek dengan bagian bawah yang mengembang. sehingga terkadang jika sebuah kendaraan yang melintas dekat saya atau ada angin nakal maka mantel itu akan mengembang dan memperlihatkan bagian bawah saya yang telanjang. Beberapa kali hal itu terjadi saya selalu berusaha menutupi dengan menekan mantel saya dengan tangan, tapi mas Mantri tidak membiarkanya, dia selalu sigap menangkap tangan saya. Ternyata mereka membawa saya kesebuah kawasan yang bisa dianggap cukup rawan di kota itu. Kami memasuki sebuah tempat yang ternyata adalah tempat yang melayani pembuatan tatto dan tindik. Kemudian mas Hari yang berwajah seperti Tukul tapi tidak lucu itu terlihat berbicara dengan bahasa Korea dengan pemilik tempat itu, walau cuma cleaning service mas Hari memang sudah jauh lebih lama tinggal di Korea dibanding saya selain tempatnya bekerja memaksanya harus bisa bahasa Korea. Terlihat beberapa kali pemilik tempat itu milirik kearah saya kemudian terkekeh.<br />
<span id="more-2432"></span><br />
Ternyata mereka menghendaki saya di tindik. Kontan saya menolak “bagaimana mungkin….gimana kalau mas Aries tahu…” kata saya.”kalau gitu kita tindik di tempat yang tidak bisa dilihat dia..” “kamu harus mau kalau nggak saya putar cd kamu, apa kamu mau..” mas Hari berkata, suaranya sangat menyeramkan saya menjadi ketakutan..saya terdiam dan menagis..tapi tiba tiba parrrr…. pipi saya ditamparnya dengan keras sehingga saya jatuh kelantai..”jangan macam macam kamu ya….” ” ayo bangunnn…” sambil bicara tangannya masuk ke dalam mantel saya dan meraih puting saya dan membetotnya dengan keras…sehingga saya terpaksa bangun karena sakitnya…”sudah Anggie turuti saja apa maunya Hari..daripada kamu lebih tersiksa.. lagi pula di tindik kan nggak terlalu kelihatan bekasnya kalau sudah sembuh..” demikian kata mas Mantri seolah membujuk….walau dia suka mempermalukan saya tapi saya lebih takut terhadap mas Hari yang selalu bertindak kejam.</p>
<p style="text-align: justify;">“saya tahu suami kamu selalu kuno dalam berhubungan seks…, dia pasti mematikan lampu kalau sedang berhubungan dengan kamu jadi pasti nggak bakal tau deh” katanya lagi. baru saja dia terdiam mas Hari kembali menarik putingku dengan kerasnya. “ughhhh sakit masssssss” dia menyeret saya ke meja praktek orang Korea itu. Akhirnya disebabkan  takut terhadap mas Hari dan bujukan mas Mantri yang saya pikir ada benarnya saya pasrah. Ternyata mas Hari meminta orang Korea itu menindik saya di kedua puting  saya dan di kelentit saya.. Saya langsung terlonjak kaget .. dan hendak meronta tapi lagi lagi saya di tampar dengan keras. Akhirnya saya benar benar pasrah kemudian mereka menyuruh saya melepaskan mantel saya…. Orang korea itu tertawa keras melihat keadaan saya, sekarang saya sudah tidak memiliki lagi bulu dikemaluan saya semenjak mereka mencukurnya, mas Aries pernah bertanya kenapa saya mencukur jembut saya,  saya hanya berkata bahwa saya ingin tampil lebih bersih.</p>
<p style="text-align: justify;">Kemudian orang Korea itu menarik dan memilin milin puting saya sehingga saya terangsang dan puting saya mulai mengacung dan tiba tiba cess”aughttt sakitttt…”  saya menjerit..puting kiri saya sudah di tembus dan dengan sigap dia memasangkan anting anting berbentuk cincin di puting kiri saya. dan seperti tidak mau menggu lama dia mulai bekerja di puting kanan saya, dan seperti tadi “augguuuuuht sakitt” puting saya pun sekarang memiliki anting. Tapi kemudian dia mulai turun ke vagina saya, dia memilin itil saya, lalu.. “ahhhhhhh sakitttt” kali ini rasa sakitnya jauh melebihi yang tadi, saya sampai berkunang kunang. dan… kali ini bukan anting2 yang dia pasangkan tetapi sebuah gembok kecil. begitu kecil menyerupai gembok yang biasa kita pasang di buku diary kita agar tidak bisa di buka. Walau kecil gembok itu memiliki kunci yang kemudian oleh tukang tindik tadi di berikan ke mas Hari. yang dengan sangat gembira menerimanya. Setelah itu dia memerintahkan saya mengenakan mantel saya dan mengajak saya pulang kembali ke Apartement.</p>
<p style="text-align: justify;">Tapi sebelum saya mengenakan mantel tiba tiba mas Mantri yang dari setadi mengabadikan adegan tadi dengan kamera tiba tiba memberikan dua buah lonceng kecil yang terikat di sebuah rantai tipis seperti yang digunakan kucing peliharaan ke mas Hari. Kemudian mas Hari memasangkannya di gembok yang terdapat di itil saya.Baru kemudian dia mengijinkan saya mengenakan mantel dan mengajak saya pulang. Dengan itil yang masih sakit dan tergantung sebuah gembok, saya merasa berjalan dengan sedikit aneh. Sedikit mengankang dan sedikit menunging dan celakanya ketika saya melangkah dengan mantel yang tidak terlalu rapat terdengar bunyi klinting klinting dari bagian bawah saya. Ternyata penderitaan saya tidak hanya sampai disitu. Kami tidak langsung pulang tapi mampir dahulu kesebuah restoran cepat saji ala barat di pusat kota. Restoran itu selalu ramai oleh anak anak muda Korea yang seperti juga anak muda di Indonesia sangat menyukai makanan ala barat. Sesampai  di restoran bukannya ke counter langsung mas Hari dan mas Mantri malah duduk di kursi, mereka menyuruh saya yang memesan makanan.</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam keadaan Restoran yang sedang ramai hal itu membuat saya sangat takut kalau sampai ada yang tahu keadaan saya. Saya berusah berjalan senormal mungkin tetapi tetap saja terdengar bunyi klinting klinting dari bagian bawah saya, belum lagi pakaian saya yang sangat aneh mantel pendek dengan bagian bawah yang mengembang. Dalam keadaan normal mantel itu padanannya adalah sebuah celana panjang. Kali ini saya tidak mengenakan apa apa lagi dibaliknya, sehingga cukup meng ekspos bagian pangkal paha dan dada saya. Sejumlah orang terlihat keheranan memandang diri saya dengan pakain seperti itu mengingat saat ini adalah akhir musim gugur yang cukup dingin. Lebih heran lagi mereka mendengar suara klinting klinting yang cukup nyaring terdengar dari bagian bawah saya. Tetapi kemudian saya melihat sejumlah anak muda pria tertawa terkekeh sambil memandang saya, saya rasa dia sudah tahu keadaan saya sekarang…. saya malu.. Setelah memesan makanan saya kembali kemeja dimana mas Mantri dan mas Hari duduk Saya memberikan makanan pesanan mereka.</p>
<p style="text-align: justify;">Mas Hari memesan burger dan soft drink sedang mas Mantri seperti ukuran tubuhnya yang gempal walau tidak gendut memesan 4 buah hot dog dan segelas soft drink. Tapi ternyata hanya dua buah yang dia makan, dua buah lagi dia hanya makan rotinya sedang sosisnya dia cuci di gelas soft drink. Kemudian dia pindah duduk dengan mengambil posisi disebelah kiri saya. Dan tiba tiba dia merengkuh saya, lalu tangannya menyusup kebagian bawah mantel saya, belum cukup keterkejutan saya dia ternyata mencoba menyusupkan sosis tadi kedalam vagina saya. Saya mencoba berontak tapi dia berbisik”silahkan bergerak yang mencurigakan, biar orang orang disini tahu…” saya pun terdiam sambil mengigit bibir bawah saya menahan tangis. Dan pelan pelan dia menyusupkan sosis tadi kedalam vagina saya setelah sebelumnya dia mengesek gesekan jarinya ke klentit saya yang ada gemboknya, sehingga vagina saya mulai basah. dan bless masuk hampir seluruhnya sosis itu. Tapi kemudian dia menarik kembali dan mengocok ngocoknya sehingga saya hampir tidak bisa bernafas karena horny yang luar biasa, saya takut ada orang yang tahu keadaan saya…</p>
<p style="text-align: justify;">Tapi kemudian dia berhenti, untuk kemudian yang membuat mata saya terbelalak dia mengambil sebuah sosis lagi, dan kembali mecoba memasukan sosis itu kedalam vagina saya yang sebelumnya sudah berisi sosis yang lain.Saya mencoba mengelak tetapi dia memberi isyarat yang sedikit mengancam. Akhirnya saya pasrahkan dua buah sosis sekali gus masuk kedalam vagina saya hingga hanya tersisa sedikit bagian atasnya. Saya hampir merasa mata saya saat ini sedang merem melek karena sensasi aneh yang saya rasakan. Setelah semua masuk mas Mantri mencium kening saya seolah saya kekasih kesayangannya. “ayo kita pulang …” ajaknya kepada mas Hari dan saya. mendengar itu saya sedikit lega, sebelum saya bangkit tangan saya kebawah ke arah vagina saya untuk mencabut sosis tadi, tetapi mas Mantri mencegah.”biar saja disitu saya mau makan nanti dirumah..” “tolong di simpan dulu ya….” bicaranya kalem sekali  dan sambil bicara dia kembali mencium pipi saya dan mengelus elus rambut saya, membuat saya merinding  membayangkan bagaimana cara saya berjalan nanti.</p>
<p style="text-align: justify;">Kami pun berjalan keluar restoran itu, jalan saya menjadi lebih susah dari ketika datang tadi, saya tidak bisa berjalan normal, sebab saya harus berusaha menjepit  kedua sosis tadi agar tidak jatuh. Tapi celakanya makin dijepit makin saya merasa terangsang hebat karena kedua sosis itu seolah bergelinjang didalam vagina ku. Hal itu semakin menyebabkan vaginaku bertambah basah, yang berarti semakin sulit menahan kedua sosis itu agar tidak jatuh..Apa jadinya kalau sosis itu jatuh di tempat ramai… Saya berusaha berjalan normal tapi sulit, yang ada saya semakin lambat berjalannya, hal itu tampaknya membuat mas Mantri kesenangan, dia terkekeh. selama perjalanan dia merangkul saya di pinggang seperti seorang kekasih. Mas Hari hanya berdiam sambil terus memainkan kameranya, saya lebih suka dia seperti itu, wajahnya seperti Tukul Arwana tetapi saya sangat takut terhadap dirinya. Kami pulang menggunakan Bus, dan saya harus menunggu bus di sebuah halte. vaginaku semakin becek saya semakin sulit menahan agar sosis itu tidak keluar.</p>
<p style="text-align: justify;">Saya merasa mata saya semakin sayu karena rangsangan hebat yang saya rasakan. Beberapa kali saya menoleh ke arah mas Mantri secara bersamaan dia juga menoleh kearah saya , dan dia tersenyum penuh arti setelah melihat wajah saya.. Ketika tiba di halte bus tujuan kami baru saja lewat sehingga kami haru menunggu sekitar 10  menit lagi untuk jadwal berikutnya. Di halte itu sudah duduk dua orang  pria korea tua yang saya taksir berumur sekitar 60 tahunan tampaknya mereka seprti dua orang pensiunan yang bersahabat. masih ada dua tempat duduk lagi disitu, tapi mas Mantri tidak mengizin kan saya duduk malah dia sendiri dan mas Hari yang duduk. Saya harus berdiri sambil menahan sosis agar tidak jatuh. Saya merasa salah satu sosis sudah mulai keluar separuhnya saya begitu takut sehingga “mas Mantri gantian doong saya ghhh mau duduk…” saya sedikit melenguh karena semakin merasa terangsang. “jangan kamu berdiri saja, saya capai nih kalau mau minta sama Hari saja” mendengar itu saya memandang ke mas Hari, tapi mas Hari memang tidak berbicara apa apa tapi matanya mendelik menakutkan, saya faham dia juga tidak mau bangun, saya takut sama dia. Akhirnya saya berusaha keras agar sosis itu tidak jatuh tetapi semakin menahannya semakin sulit disatu sisi saya semakin terangsang yang membuat vagina saya semakin becek, disisi lain sosis itu terasa semakin licin dan sudah mulai keluar melebihi separuhnya. Saya hanya berharap Bus segera datang agar saya bisa duduk di bus dan membenarkan kembali letak sosis itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Tetapi harapan tinggal harapan perlahan namun pasti sosis itu meluncur dan… akhirnya poppp.. sosis itu jatuh, karena saya terus berusaha menjepitnya sampai detik detik terakhir sosis itu bukan hanya sekedar jatuh tapi seakan meloncat keluar. Pria korea itu melihat kejadiannya dan sedikit terkejut, namun kemudian gantian saya yang terkejut ketika kemudian dia berjongkok dan memungut  sosis itu, saya yakin dia melirik kearah bawah mantel ku dan dapat dengan mudah melihat kearah vaginaku yang tidak tertutup apa apa..”milikmu… sebaiknya hati hati menjaganya..” katanya dalam bahasa Korea, saya begitu gugup sehingga malah membuat satu sosis lagi terlupakan dan… poopp, sosis itu keluar lagi seperti di tembakan. Kedua pria Korea itu tertawa kerasa sekali sampai terbahak.. saya benar benar sangat malu, kawannya ganti menunduk dan memberikan sosis itu kepada saya dan berkata dalam bahasa korea” sosis kami jauh lebih nikmat dan tidak perlu harus dua untuk memenuhi milikmu, cukup kami bergantian” kata kata itu disambut tawa keras mereka berdua, saya begitu malu hingga sarasa mau melayang pingsan, saya melirik ternyata mas Mantri juga tertawa terbahak.</p>
<p style="text-align: justify;">Akhirnya bus itu tiba, didalam bus saya duduk diapit mas Mantri dan mas Hari, tangan mas Mantri kembali memasukan sosis yang terjatuh tadi kedalam vaginaku sambil berpesan “kali ini tolong disimpan yang benar jangan sampai jatuh lagi malu dong” aku hanya dapat tertunduk..selama mencoba memasukan sosis  tadi, sosis tidak langsung di masukan tapi dikocok kocok lebih dahulu sehinga tanpa saya sadari saya melenguh nikmat dan tenyata lenguhan ku keras sekali sehingga terdengar oleh beberapa penumpang, seorang penumpang, wanita tua, bangkit dari duduknya dan bersiap turun di halte berikutnya dan bekata ketus dan keras dalam bahasa korea, “dasar pelacur tidak bermoral, tidak cukupkah hanya melacur di negaranya, kenapa dewa mendatangkan penyakit kenegara ini” mendengar itu tanpa terasa saya menangis, tapi mas Hari memberikan sapu tangannya kepada saya dan berkata, “tidak perlu menagis kalau yang dikatakan seseorang tentang kita memang sebuah kenyataan” mungkin dia mencoba menenangkan saya, tapi itu membuat tangisan saya makin tidak terbendung, saya malu….</p>
<p style="text-align: justify;">Tiba di apartement mereka menyuruh saya melepaskan mantel dan bertelanjang bulat, mas Hari memberi perintah agar saya beridiri di depannya, dia memandangi tubuh saya, dia memandangi hasil tindikan tadi. Kemudian dia melepas bel tadi, dan memindahkannya dari gembok di itil ke anting di puting. setelah itu dia mengambil segulung benang sulam dari lemari perkakas ku, dan memotong dua helai benang sepanjang kurang lebih tiga meter sehelai diikatkan ke anting di puting  sebelah kiri, sehelai yang lainnya di anting puting sebelah kanan. Kemudian dia menyuruh ku merangkak, “sekarang merangkak keliling, kamu harus tahu kemana saya mau kamu berbelok” saya tidak mengerti tapi saya menurutinya, saya mulai merangkak Tetapi belum saya mulai merangkak tiba tiba dia berkata”sebentar masaih ada yang kurang..” dia mengambil sebuah pisang, sebesar pisang ambon dan tanpa melepas kulitnya dia memasukannya ke vaginaku, lalu sebuah ketimun jepang yang hijau tua dan sedikit berbintil ke dalam anus ku.”sekarang mulai…” aku merangkak dan perasaan aneh mengalir ketika kedua buah tadi seolah bergoyang didalam tubuh ku…”ughh mas nggak tahannnn “kataku, tapi dia malah mencambuku dengan ikat pinggannya “diam nggak ada kuda yang bicara” saya kaget ternyata kami sedang bermain kuda kudaan, kemudian saya merasakan benang di puiting kananku ditarik dengan keras sehingga putingku terbetot kearah belakang,”rupanya ini maksud dia bahwa saya harus tahu kearah mana saya harus berbelok sesuai keinginannya” saya pun berbelok kekanan dia terlihat puas, 15 menit berikutnya saya merangkak berputar putar didalam ruangan tapi lama lama saya semakin tidak tahan rangsangan pisang dan ketimun semakin hebat. sehingga akhirnya tubuhku bergetar dan saya mencapai klimaks. Mas Hari terlihat senang dia menghampiri saya menjambak rabutku dan langsung mencabut pisang tadi dan menggantikannya dengan kemaluannya sendiri yang besar. bahkan lebih besar dari pisang tadi.</p>
<p style="text-align: justify;">Mas Hari mulai memompa pingulnya dengan cepat sambil tangannya meremas payudaraku. Bel yang tadi dipasang di putingku berbunyi klinting klinting dengan kerasnya menambah gairah mas Hari. sementara itu mas Mantri tidak henti2nya merekam adegan itu. aku benar benar nikmat…sampai sampai aku merasa setengah diawang awang, dengan mas Aries jujur aku belum pernah merasa seperti ini. tapi tiba tiba, Tarrrr wajahku ditampar oleh mas Hari, aku terkejut, sambil menampar tadi dia sama sekali tidak mengurangi enjotannya, tarrrr… kembali wajah ku ditamparnya”sekarang baru enak ya.. pelacurrr” katanya dan, tarrrr …kembali dia menampar ku..Aku mulai menangis….dia kembali meremas dadaku tapi kali ini dengan sangat kasar dan keras sehingga aku kesakitan sekali. Tangisku mulai meledak, dan tampaknya dia malah sangat suka. sehingga dia mendekati klimaks ketika tiba tiba dia mencabut penisnya dan bergerak dengan cepat kearah mulut ku dan dengan paksa memasukan penisnya kemulutku hingga dalam dan serrr dia mncapai klimaks didalam mulut ku..</p>
<p style="text-align: justify;">Aku sampai tersengal karena banyaknya seperma yang masuk … setelah itu mendorong diriku dengan keras sehingga aku terguling. Dia mengambil segelas Soju (sake korea..) dan menonton diriku yang masih menangis sambil minum soju itu, tiba tiba dia menyiram diri ku dengan soju itu dan mendorong keras diriku dengan kakinya sambil bangkit. Badan saya langsung menggil melihat dia mendekat lagi ke saya, “minum ini cepat” katanya sambil mencekoki saya dengan soju kemulut saya.Cara mencekokinya yang kasar dan daya tampung mulut saya yang tidak sebanyak itu membut saya tersedak dan batuk batuk hingga sebagian keluar lagi lewat lubang hidung saya. Mas Hari melihat itu langsung menampar kembali. saya terjatuh dan menangis. Kemudian mas Hari menyuruh saya duduk diatas lutut saya kemudian mulai mengikat tangan saya kebelakang pergelangan tangan kanan bertemu siku kiri begitu sebaliknya, kemudian rambut  saya diikatkan ke tangan saya. Hal itu membuat wajah saya menjadi menengadah ke atas.</p>
<p style="text-align: justify;">Kemudian dia mengambil beberapa karet gelang dan mengikatkannya di masing masing payudaraku, rasanya sangat sakit sekali aku kembali menangis payudaraku saat ini sudah berbentuk seperti balon karena diikat dengan karet sangat keras warnanya pun mulai berubah. Dengan membentak dia menyuruh kaki ku mengangkang, masih dalam keadan berlutut. Tiba tiba saya merasakan sesuatu menyusup kedalam vagina saya, ternyata itu adalah sebuah dildo vibrator yang rupanya sudah dibawanya. Kemudian dia mulai mengocok ngocok dildo tadi kedalam vagina saya tanpa menyalakan vibratornya. “aughttt enggghttt” saya sampai melenguh keenakan. kemudian mas Hari memasukan Vibrator itu dalam dalam sehingga saya merasa telah mentok di vagina saya kemudian di menyalakan vibrator tadi yang mulah berputar putar, bergoyang dan bergetar sekali gus. Dalam keadaan terikat dan tidak dapat melihat ke bawah sensasi yang di timbulkan vibrator itu menjadi semakain menggila didalam diri saya.”ughtttt hmmmm ….” saya benar benar tidak kuat hingga tubuh ku bergetar nikmat.</p>
<p style="text-align: justify;">“eh enak nggak”kata mas Hari.ketika saya terlambat menjawab dia menarik anting di puting saya keras keras sehingga saya kesakitan “uuenakkk masss…sshh” itu sebuah kenyataan, tapi aku merasa terhina apa lagi mendengar mas Mantri tertawa keras dibalik kameranya mendengar itu. Akhirnya tubuhku tiba tiba mengejang hebat dan “engghhh saya keluarrr..” tanpa sadar saya berbicara karena mencapai klimaks dalam posisi yang tidak biasa… tetapi mas Hari tidak langsung mencabut vibrator itu,  tetapi dia mulai beronani didepan wajah ku dan setelah beberapa menit crottt crottt dia mencapai klimaks di wajah ku. sedang vibratornya masih terus bergerak didalam vagina ku membuat tubuh ku mencapai multy orgasme. dan akhirnya terbanting ke belakang akibat lonjakan kenikmatan yang aku rasakan. Mas Mantri yang dari tadi terus mengambil adegan tadi, mulai menyerakan kameranya ke mas Hari. Dia mencabut vibrator itu, melepas ikatan tangan dan rambutku, lalu membuka kaki ku dan memasukan penis besarnya kedalam vagina ku dan langsung memompa diriku.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku kembali ‘on’. Dan mulai bergoyang mengikuti irama goyangnya, namun karena dari tadi saya sudah mencapai klimaks berkali kali maka hanya beberapa saat saya sudah kembali mencapai orgasme. Mas Mantri yang belum keluar melihat saya sudah mencapai klimaks dia terkekeh, kemudian memaksa saya berbalik sehingga saya menungging. Kemudian dia kembali memasukan penis nya ke vagina saya dan kembali memompa kannya. tapi yang  mengejutkan dia memasukan vibrator tadi kedalam anus saya. Rasanya sakit sekali, saya benar benar kaget. Akhirnya diapun mencapai klimaks setelah cukup lama. Sepanjang hari itu kedua orang itu terus menerus bergantian mengerjai saya. Selama satu minggu mas Aries bertugas mereka juga terus menerus mengerjai saya. Akhirnya ketika saatnya mas Aries akan pulang, setelah satu mingu bertugas, luka tindikan di puting dan itil saya sudah sembuh, sehingga saya sudah dapat melepas kedua anting di puting saya, sepintas tidak akan terlihat lubang tindikan diputing saya, sehingga saya yakin mas Aries tidak akan tahu. Namun saya tidak dapat melepas gembok di itil saya. Saya menelpon mas Hari meminta kuncinya namun dengan enteng dia menjawab “saya lupa ditaruh dimana.”, “nanti saja kalau sudah ketemu saya bawain kekamu..” saya benar2 shock”mas Hari bagaimana kalau mas Aries tahu…” “itu urusan kamu, kalau kamu tidak mau dia tahu, ya di jaga dong”</p>
<p style="text-align: justify;">Akhirnya saya hanya bisa pasrah sambi dalam hati ketar ketir, selama itu setelah mas Aries pulang, ketika dia mengajak bermesraan saya selalu mengelak saya takut ujungnya dia minta jatah. Kalau sampai itu terjadi bisa berbahaya kalau dia menemukan gembok di itil istrinya. Dan saya hanya bisa berharap mas Aries segera bertugas di luar kota lagi.., maaf kan saya mas Aries…… Dua orang begundal itu pun tidak pernah berhenti di situ, mereka selalu menemukan cara mempermalukan dan menyiksa saya, di lain kesempatan mereka pernah membawa saya kepada seorang pria Korea yang juga memilki  hobby yang sama dengan mereka dan bahkan memilki sejumlah mainan yang aneh aneh. Tetapi saya akan menceritakannya lain waktu saja ya…</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ceritasex.cn/anggie-the-series-pelecehan-pun-berlanjut/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Anggie The Series: Diperkosa 2 Cleaning Service</title>
		<link>http://www.ceritasex.cn/anggie-the-series-diperkosa-2-cleaning-service/</link>
		<comments>http://www.ceritasex.cn/anggie-the-series-diperkosa-2-cleaning-service/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 04 Jun 2011 19:11:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cerita Sex</dc:creator>
				<category><![CDATA[Amoy]]></category>
		<category><![CDATA[Gangbang Rame Rame]]></category>
		<category><![CDATA[kisah nyata]]></category>
		<category><![CDATA[Paruh baya]]></category>
		<category><![CDATA[Pemerkosaan]]></category>
		<category><![CDATA[Seks Umum]]></category>
		<category><![CDATA[anggie]]></category>
		<category><![CDATA[blow job]]></category>
		<category><![CDATA[isep kontol]]></category>
		<category><![CDATA[istri]]></category>
		<category><![CDATA[lonte]]></category>
		<category><![CDATA[ngentot]]></category>
		<category><![CDATA[perkosa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ceritasex.cn/?p=2415</guid>
		<description><![CDATA[ANGGIE Umur saya saat ini 23 tahun saya sudah 2 tahun menikah dengan suami saya mas Aries, saat ini mas aries berumur 34 tahun, kami umur kami memang terpaut cukup jauh.. pernikahan kami adalah pernikahan yang diatur. hmmm maksudnya dijodohkan.. tapi bukan berarti saya tidak sayang terhadap mas Aries..dia orang yang sangat humoris.. kehidupan sex [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2011/06/anggie1.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-2416" title="anggie" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2011/06/anggie1-300x216.jpg" alt="" width="300" height="216" /></a><br />
ANGGIE</p>
<p style="text-align: justify;">Umur saya saat ini 23 tahun saya sudah 2 tahun menikah dengan suami saya mas Aries, saat ini mas aries berumur 34 tahun, kami umur kami memang terpaut cukup jauh.. pernikahan kami adalah pernikahan yang diatur. hmmm maksudnya dijodohkan.. tapi bukan berarti saya tidak sayang terhadap mas Aries..dia orang yang sangat humoris.. kehidupan sex kami juga lumayan bagus walau menurut saya dia sangat konservatif satu2nya kebiasaan yang rada tidak konservatif adalah dia senang merekam adegan kami saat bercinta denagn menggunakan handycam walau saya sering protes seba yang terlihat utuh hanya saya sedang dia hanya terlihat dari leher ke atas (curang). Untuk sekedar gambaran saya sering membanggakan kulit saya yang sangat putih saya mengunakan bra ber ukuran 34C Tinggi saya 155cm dan berat 44kg. Buah dada saya lumayan membulat dengan puting berwarna kemerahan dan cukup panjang menonjol sebesar ruas pertama kelingking saya, bentuk pantat saya padat namun tidak terlalu besar, saya tidak pernah merasa memiliki wajah yang terlalu cantik walau banyak teman yang mengatakan saya pantas jadi model.</p>
<p style="text-align: justify;">Ada teman saya yang sinis mengatakan kenapa saya dijodohkan dengannya, sebab dia nggak laku hinggak berumur 32 tahun belum menikah sehingga harus dijodohkan dengan saya yang jauh lebih muda. Suatu pernyataan yang sama sekali tidak benar, kalau mas Aries mau pasti banyak yang mau menikah dengannya selain pendidikannya lumayan tinggi, kaya, dia lumayan ganteng dan orangnya baik serta humoris, tapi dia terlalu sibuk dengan sekoah nya lalu dilanjutkan dengan kariernya. Dua tahun lalu pernikahan kami dipercepat karena mas Aries harus bertugas di Korea dengan kontrak kerja selama 5 tahun. Jadilah kami menikah kemudian berangkat ke Korea. Di Korea kami tingal di sebuah kota Industri dan mas Aries adalah satu2nya tenaga ahli yang berasal dari Indonesia. Namun kami tinggal di sebuah apartement di semacam komplek milik perusahaan. Mas Aries sendiri sebagai tenaga ahli sering sekali pergi ke luar kota tempat kami tinggal selama beberapa hari. Selain Apartement terdapat juga beberapa bangunan untuk mess bagi karyawan dengan grade yang lebih rendah.</p>
<p style="text-align: justify;">Dan kebetulan banyak terdapat TKI yang bekerja disana umumnya mereka bekerja sebagai cleaning service atau buruh pabrik di perusahaan itu (nasib anak bangsa hihihi). Mungkin kalau kita tinggal di Indonesia kita kurang perhatian dengan tetangga yang status kelasnya jauh dari kita, tetapi sebagai sesama perantau di negri asing mas Aries sering sangat bersikap ramah ke para cleaning service dan buruh itu dengan mengundang mereka main ke apartement kami yang walaupun sempit namun tetap jauh lebih besar dari mess mereka. Yang paling sering datang adalah dua orang cleaning service bernama mas Mantri dan mas Hari mas Mantri tubuhnya gempal tidak gendut namun lumayan gemuk kulitnya hitam tampangnya nakal. sedang mas Hari hmmm nggak beda jauh sama Tukul yang lagi populer di Indonesia, tapi orangnya sangat pendiam. Mas mantri menurut penilaian saya sangat menyebalkan sebab sering menatap saya seolah2 serigala yang menatap seekor anak kelinci saya suka bilang ke mas aries tapi kata dia biar aja mungkin karena kamu cantik dan istri mas Mantri ditinggal di Indonesia.<br />
<span id="more-2415"></span><br />
Tetapi tetap saja saya suka risih dan tidak suka dengan tatapan liar matanya. Hari itu kembali mas Aries di tugaskan untuk melakukan kunjungan rutin selama seminggu keluar kota meninggalkan saya sendirian di Apartement. Sebenarnya ini sangat menyiksa saya. Bahasa korea saya sangat jelek dan tidak seperti di Indonesia yang masyarakatnya sok tau, di Korea jika seseorang tidak benar2 fasih berbahasa Inggris maka dia tidak mau berbahasa inggris (menyebalkan….). Selain itu saya tidak tahu harus kemana kalau tidak bersama mas Aries. Apalagi hari itu hari sabtu dimana biasanya penghuni komplek itu rata2 pergi berakhir pekan entah hanya ngobrol2 di pusat tongkrongan di pusat kota atau ketempat hiburan lain. Akhirnya seperti setiap kali mas Aries pergi selama beberapa hari, saya hanya bisa berdiam diri di Apartement. Namun hari itu setelah bosan menonton TV tiba2 terbersit di otak saya keinginan untuk menonton adegan persetubuhan kami kembali yang telah di rekam oleh mas Aries. Setelah saya mengambil dari tempatnya biasa disimpan (kami biasanya hanya menonton sekali setelah itu disimpan begitu saja).</p>
<p style="text-align: justify;">Saya siap menyalakan CD nya…. tapi tiba2 ada rasa keinginan kuat untuk menonton CD  itu dalam keadaan … tanpa busana.. telanjang. Kemudian setengah berlari karena diliputi perasaan yang aneh yang mengairahkan saya berlari ke kamar untuk melepaskan semua pakain saya. Dan kemudian dalam keadaan bugil saya berjalan kembali keruang tamu yang merangkap ruang keluarga dengan masih diliputi gairah yang aneh kemudian sebelum saya menyalakn CD nya saya menyingkirkan semua benda yang dapat saya gunakan menutupi ketelanjangan saya mulai dari taplak meja, bantalan kursi hingga majalah hanya menyisakan satu buah bantal…entah kenapa itu saya lakukan. Akhirnya saya mulai menonton CD adegan cinta kami, disitu mas aries tidak terlihat wajahnya namun saya terlihat jelas seluruhnya mungkin karena mas Aries melakukan adegan itu sambil memegang kameranya. Saya begitu terangsang hingga tangan saya tanpa sadar mulai memelintir2 puting saya dan mempermainkan itil saya. Rasanya begitu nikmat eaouuuh… cairan vagina saya mulai banjir… Tiba2 bel apartement saya berbunyi…</p>
<p style="text-align: justify;">Saya begitu terkejut… saya segera bangkit dan mengintip dari lubang pintu., saya lihat mas Mantri dan mas Hari didepan pintu. pikir saya mau apa sih mereka bukannya mereka tahu kalau mas haris hari ini keluar kota. Saat itu tubuh saya dalam keadaan bugil dan cairan vagina yang mengalir sedikit di sela sela paha. Saya berusaha diam agar mereka pergi karena mengira saya tidak ada di tempat. Tapi mereka tidak pergi2 bahkan terus menerus menekan bel sehingga ribut sekali didalam apartement bahkan mereka mulai mengetuk2 pintu. Akhirnya saya membuka pintu sedikit dengan harapan mereka tidak melihat ketelanjangan saya. Saya menjulurkan kepala saya dan menyembnyikan tubuh saya dibalik pintu, “Pagi mba Aggie” sapa mereka…”Pagi mas Mantri, mas Hari ada perlu apa ya pagi2, Mas Ariesnya sedang keluar kota…” jawab saya dengan harapan mereka segera pergi. “Kami tahu kok mba.. kami mau ketemu mba Anggie saja buat ngobrol2″ jawab mas Mantri sambil memandang aneh dan berusaha melihat kedalam, saya merasa risih dengan pandangan matanya apa lagi kali ini saya dalam keadaan bugil saya takut dia tahu.</p>
<p style="text-align: justify;">”Jangan sekarang ya mas Mantri saya sedang nggak bisa” jawab saya dengan harapan mereka segera pergi. “wah nggak ah mba, saya tahu mba kesepian kalau lagi ditinggal mas Aries” jawabnya lagi”kita cuma mau temenin ngobrol sambil bersenang2 sedikit”,  ‘bersenang2′ dalam hati ku apa maksudnya… “lain waktu aja deh mas saya lagi nggak sempat” jawab saya ketus mulai jengkel..sayapun hendak menutup pintu, tapi alangkah kagetnya saya ketika mendapati pintu diganjal oleh kaki mas Mantri “masa mba tega ngebiarin kita kedinginan diluar sini” kebetulan saat itu adalah akhir musim gugur. Saya berusaha mendorong pintu itu sekuat tenaga sehingga tanpa sadar posisi berdiri saya bergeser sehingga ketelanjangan saya langsung terlihat oleh mereka. “Wuihhh liat rii, mba Anggie bugil… ” katanya setengah berteriak menyebabkan saya terkejut dan kehilangan kontrol atas pintu. Mas Mantri kemudian menerobos masuk diikuti mas Hari yang langsung segera menutup kembali pintu di belakangnya sementara saya terhuyung kebelakang dengan berusaha menutupi dada dan vagina saya,</p>
<p style="text-align: justify;">“rii liat jembutnya lebat banget..wah mba Anggie ngapain bugil2an kaya gini mau menyambut kita ya….wah ri liat dia lagi nonton bokep..” katanya merepet, saat itu saya baru sadar saya  tidak mematikan CD adegan cinta kami. “mas Mantri…mas Hari apa2an ini cepat keluar kalau tidk saya akan berteriak” kata saya tapi dengan cepat mas Mantri menangkap saya dan mendorong saya sehingga saya terjengkang ke belakang, kemudian diameraih pinggul saya dan merengkuh saya dari belakang dalam posisi duduk dan dengan nakalnya tangan kirinya dia meremas buah dada saya dan tangan kananya meraba vagina saya,” ri….memeknya sudah  basah nih…” yang diajak ngomong tidak banyak bicara hanya tersenyum kemudian mengalihkan pandangannya ke alah televisi yang sedang menayangan CD pribadi ku…”mba pantas ya jadi bintang bokep” katanya… “handycamnya ditaruh dimana mba… di kamar ya”katanya lagi sambil ngeloyor kekamar tidurku..sementara  saya terus berontak… tapi posisinya malah bertambah sulit mengingat ukuran badan mas Mantri …</p>
<p style="text-align: justify;">Sekarang saya berada di pelukannya dan mulut mas Mantri mengulum pentil saya yang besar….. walau saya terus berontak tapi hal ini membuat saya sangat terangsang… tapi saya tetap berontakk … Mungkin karena kesal mas Mantri tiba2 memukul perut ku tepat di ulu hati…saya langsung sesak napas..”kalau mba Angie nggak berhenti berontak saya bisa lebih keras…. sekarang mau menikmati apa menderita”katanya, tapi saya tidak bisa menjawab saya sesak napas mata saya berkunang2 saya mulai menangis.. tubuh saya lemas…”bagus …”katanya dan dia pun mulai kembali mengulum dan mempermainkan pentil saya…”mba pentilnya gede juga ya…” lalu setelah dirasa saya tidak banyak berontak dia mulai turun dan mempermainkan vagina saya…. pertama di bukanya lebar2 lalu diselipkanya lidahnya diantara liang vagina lalu seperti lidah ular lidahnya bergetar cepat menjilat2 itil saya… itu benar2 sensasi yang aneh…belum pernah saya merasakan itu sebelumnya… bahkan mas Aries belum pernah mengoral diriku seperti itu….rasanya…sulit aku lukiskaaan auuggghhhh…ohhhhhh</p>
<p style="text-align: justify;">Saya mulai melenguh keenakan dan tampaknya mas Mantri tahu… dan tanpa saya sadar dari tadi mas hari yang pendiam sedang merekam kejadian itu menggunakan handycam mas aries…seolah tersadar saya kembali berontak… ada rasa malu di dalam diri saya… kenapa bisa2nya saya terangsang di oral pria bukan suami saya…dan disaksikan serta direkam pula oleh orang lain…saya kembali meronta.. tapi tiba2 tarrrrrr… mas Mantri menampar keras di pipiku hingga terasa seolah2 ada bekas telapak tangan dipipiku…. kemudian dia menjepit puting ku memelintir kemudian ditariknya keras keras sehingga sedikit membengkok kebawah rasanya benar2 sangat sakit..hingga hampir tak tertahankan dan cukup manjur kembali menghentikan perlawananku… “terus ngelawan pentil kamu copot…” katanya, kudengar mas hari tertawa terkekeh2 (terdengar suaranya sedikit menyeramkan pantas dia jarang ngomong) sambil terus merekam adegan itu…”sekarang mau anteng nggak…?” mendengar itu saya langsung terdiam tapi ternyata dia tidak puas “mau anteng tidaaaakkk” teriaknya sambil memelintir dan menarik puting ku keras keras.</p>
<p style="text-align: justify;">Sakit sekaliii sayapun terpaksa menganggukkan kepala ku… akhirnya dia mulai kembali memainkan itil ku dengan jari sementara mulutnya mengenyot kedua puting susu ku bergantian… ehhhhhhh aghhhhhhh massss Mantriiiiiii jangaaannnnnnnn kata ku setengah meracau kenikmatan…. kulihat mas Mantri tau aku terangsang hebat sedang mas hari kembali terkekeh…. sambil terus merekam adegan itu…akhirnya dengan rasa yang sangat malu…oeuuuuuhhhhhh masssss mantriiiiiiiii sayaaaaaaaaaa hehhh keluarrrr tanpa sadar kata2 itu terucap dari mulut saya……..memalukaaan …tapi itu kenyataaan Mereka pun tertawa2…. kulihat mas Mantri membuka celana dan bajunya daaan astaga penisnya besar sekali rasa2nya hampir sepanjang 20 cm dan diameternya itu lohhh jauh dari milik mas aries… yang menakutkan adalah urat2nya yang terlihat menonjol.. ‘penis besar mengacung keatas’ benar2 pemandangan yang luar biasa menaksjubkan tanpa sadar mataku terus memandang kesitu…”hehehe suka ya sini duduk jangan ngeliat dari jauh terus” katanya sambil menarik saya duduk dan menyodorkan penisnya kemulut ku…</p>
<p style="text-align: justify;">“ayo dikenyot awas kegigit saya hajar kamu” saya begitu ketakutan belum pernah mas aries minta di oral seperti ini …. dulu saya sering melihat di filim BF tapi tidak menyangka harus melakukannya sendiri, terhadap pria yang bukan suami sendiri lagi.. melihat saya ragu2 mas Mnatri tiba2 menjambak rambut saya dan memaksa memsukan penis besarnya kemulut saya…. sehingga saya terpaksa mengulumnya… suatu gairah aneh muncul didalam diri saya ketika melakukannya …. mata saya melirik  saya lihat mas hari tetap mengabadikan dengan serius adegan itu… seolah2 saya merasa diberi semangat oleh suporter… sehingga saya benar2 mengulum dan mngemut penis itu sekuat kemampuan saya dengan HOT…… eahhhhh terus anggie terus pelacurrrrr…. mendengar kata terakhir saya terkejut dan hampir berhenti…. tapi mas Mantri kembali menjambak rambut saya kuat2 dan menekan penisnya jauh ke dalam mulut saya …hingga akhirnya saya terpaksa meneruskan…. dan tidak berapa lama tiba2 tubuhnya mengejang dan kepala saya ditariknya kuat2 sehingga penis itu masuk lebih dalam dannn dia memuntahkan maninya didalam mulut saya….</p>
<p style="text-align: justify;">rasa mual membayangkannya menyebabkan saya hampir memuntahkannya tapi seolah2 dia mengetahui niat saya.”berani muntahin saya hajar kamu… sekarang kumur2 dulu lalu telannn….cepat” saya dengan sedikit mual akhirnya saya mengumur2 mani itu di mulut saya mas Mantri menyuruh mas Hari mendekatkan kameranya…”tahan dulu jangan di telan…coba buka mulut kamu saya mau liat” katanya saya melakukannya dan air mani itu mengalir sedikit keluar dari mulut ku…”cepat kumur2 lagi…” aku pun mengumur2 dan”…oke cukup sekarang telan…”sekali lagi gairah aneh muncul apalagi kamera tetap merekam dari jarak sangat dekat…kemudian mas Mantri menyuruh saya berbalik dalam posisi merangkak….tiba2 dia memasukan penis besarnya kedalam vagina saya saya begitu terkejut dengan sensasinya…penis itu begitu padat dan keras…terasa sangat penuh ehhhh benar2 serasa dilangit…. dia mulai mengoyangkan pantatnya dengan cepat sehingga sayapun ikut bergoyang2 tapi tanpa sadar sebenarnya saya telah menyambut dengan antusias….setiap sodokannya ini terbukti beberapa kali mas Mantri sengaja berhenti bergoyang…. dan.. saya terlambat berhenti bergoyang…. sehinga setiap ini terjadi mereka berdua tertawa keras..”sudah mulai menikmati ya …hahahah dasar pelacur murahan…” awalnya saya benar2 merasa terpukul mendengar itu tetapi saya kembali dilingkupi perasaan aneh…saya jadi lebih kencang bergoyang menyongsong kenikmatan ….. dan tanpa terasa mas Mantri sudah berdiam….berhenti beroyang …hanya saya yang bergoyang maju mundur penuh gairah….(memalukan..). Mereka tertawa2 mas hari mendekatkan kamera kewajah saya yang saya tahu pasti sedang terlihat sangat horny, terlihat dari reaksi mas hari..</p>
<p style="text-align: justify;">Tiba2 mas Mantri menahan gerakan pinggul saya… saya seolah kesetanan masih berusaha bergoyang…”sabaarrr tahan dulu lonteee…saya mau pakai cara lain aja…” lalu dia mencabut penisnya… plok… suaranya terdengar keras karena vagina ku sudah basah oleh cairan vaginakusendiri… Dengan napas tersengal2 aku memperhatikan dia bangkit dan kemudian duduk dengan santainya di sofa milik ku… “kesini …” dia mamangil aku sambil memberi isyarat agar aku menghapirinya dalam kadaan merangkak setelah dekat dengan telunjuknya dia memberi isyarat kepada ku untuk berputar dan kemudian mengarahkan pantat ku yang sedikit menungging kearah penisnya dannn sleppp kemabali penisnya masuk ke vaginaku..badan ku bergetar hebat ketika kepala jamur itu menghunjam dengan cepat ke dalam vagina ku…eughhhh…. aku melenguh…hampir2….aku histeris karena nikmatnya… stelah itu sambil dengan santainya dia duduk..”sekarang goyangkan pinggul mukaya tadi …lontee,,,” katanya sambil menampar keras2 pantat ku….aku demikian terkejut tapi tanpa disuruh dua kali aku segera bergoyang…maju mundur…</p>
<p style="text-align: justify;">sedangkan dia tetap duduk dengan santainya…sambil terus berulang2 menampar pantat ku cetarrrr..cetar…”hari gue gemes banget sama ini pantat…putih banget kalah pantat cewe’ korea…” yang diajak bicara tetap diam sambil mengambil gambar adegan itu… “aughhhhhhh…mas Mantri jangaaaaan siiiiiigghhhhksaaaa sayaaaa” aku merasa tersiksa karena rangsangan yang hebat dan gairah aneh yang mengebu2 sedang dia dengan santainya duduk membiarkan saya yang bekerja maju mundur…”hahahahaha….terus pelacurrrr” “dasar cewe gatellll…… ayooo kalo mau klimaks harus kamu sendiri yang raih….ughhtttttttt uenaaaakkk dasar lonteeee” enath setan apa akupun makin cepat memacu gerakan ku sampai tiba2 aku merasa tubuhku bergetar hebat…belum pernah aku merasakan ini dengan mas Aries… dann”aughhhhhh mas Mantri saya keluaaaarrrrrr” dan saya pun jatuh tersungkur denga pantat menungging dan penis mas Mantri masi menancap dalam….”kurang ajar siapa yang suruh klimaks duluaaan…”kemudian dia membalik diri ku hingga terlentang kemudian kedua kaki ku diangkat keatas hingga lututku menyntuh payudara ku….</p>
<p style="text-align: justify;">Dan vaginaku terpampang lebar2 aku sudah lemas karena klimaks….dia kemudian menacapkan kembali penisnya di vagina ku…”uuuggghhhhhhh mass…..” sekali lagi rasa nikmat luar biasa menjalar ditubuh ku membuat aku seperti mengambang di langit… mungkin saat itu wajahku begitu horny sebab mas hari kemali mendekatkan handycamnya ke wajahku….pingulku terangkat tersentak2 oleh goyangan mas mantri…beberapa menit kemudian…”mmmmaaasss akuhhhh keluaaarrrrrrr” dan sekali lagi ribuan volt listrik seolah menjalar memberikan nikmat tiada tara….melihat wajah ku tampaknya mas Mantri juga tidak tahan..wajahnya tiba2 menegang kemudian dengan cepat dia mencabut penisnya dan kemudian tiba2 crot…crot…crottt dia menembakannya ke wajah dan tubuhku……..semua pejunyaaa..ahhhhh suatu sensasi aneh yang luar biasa sekali gus aku merasa murahan…… “kamu bener2 enak ….katanya sambil meraih tubuh ku ..memangku diriku seperti memangku anak kecil……dengan diriku miring menghadap kesamping..tangan kirinya melingkar kepinggangku…tangan kanannya mengelus2 pipiku…kemudian dia memaksa tangan kananku melingkar memeluk lehernya yang besar…aku hanya tertunduk lemass…mas hari masih mengambil gambarku…”pagi ini sampai sini dulu ya lonte…”aku pun mengangguk lemah…”sekarang jangan kamu bersihkan dirimu tunggu telpon dari saya katanya kemudian dia membaringakn diriku di sofa… dia sendiri bangkit….kemudian dia memakai pakaiannya, kemudian kembali menghampiri saya”..tunggu disini jangan kenakan pakaianmu…jangan bersihkan tubuh mu…”..aku mengangguk lemah sensasi aneh…meremang didalam diriku….kemudian dia beranjak mendekati televisi yang dari tadi masih menayangkan adegan cintaku dengan mas Aries…</p>
<p style="text-align: justify;">kemudian dia mematikan CDnya dan mengeluarkan nya kemudian mengantungi di saku jaketnya…..”hari bawa handycamnya….” sambil meberi isyarat kepada hari untuk pergi meninggalkan rumahku,…diriku…yang telanjang dengan tubuh dan wajah dipenuhi seperma…aku hanya bisa termenung tidak percaya….”aku mencapai orgasme yang tidak pernah aku rasakan sebelumnya….” “aku mencapainya dengan sedikit dipaksa….hmm sedikit…ya sedikit…mulanya memang dipaksa…””aku wanita murahan….”membayangkan kejadian tadi dan fakta aku seperti wanita murahan aku hampir kembali orgasme………..</p>
<p style="text-align: justify;">==================================================================</p>
<p style="text-align: justify;">Terlalu lelah … dan terlalu banyak berpikir ….aku akhirnya tertidur….tetap dalam keadaan bugil…dengan tubuh penuh seperma yang sudah mengering….sampai tiba2 aku mendengar auara telpon berdering. Dengan berat aku melangkah…mengangkat telpon…”halo lonte…” saya langsung mengenali suara itu ..mas Mantri…”eh…lonte kamu cepet kesini ke mess saya ya….kan nggak jauh2 amat dari apartement kamu…” aku hanya diam menebak2 apa maunya. “tapi udara lagi dingin nih….” saat ini memang akhir dari musim gugur… “kamu pakai mantel kamu yang tadi saya liat digantung di belakang pintu ya….” nadanya solah2 khawatir aku bakal sakit kalau  tidak pakai mantel itu.”…oh ya…jangan pakai apa2 lagi selain mantel itu ya…”..aku seperti disambar petir…”apa maksud mas mantri…saya harus berjalan kemess mas Mantri cuma pakai mantel tanpa pakai apa2 lagi didalamnya…?” “..tidak saya tidak mau….bagaimana kalau ada yag lihat…” tiba2 dengan nada sedikit lebih keras “terserah kamu tapi saat ini si Hari lagi browsing di internet dia bilang mau meng upload film kamu sama Aries dan saya ke situs www.*********.cn“, itu adalah sebuah situs yang sangat saya kenal sebab saya pertama kali mengenal situs berbahasa indonesia yang menunjukan banyak foto2 gadis indonesia di forum itu.. ”biar orang2 di Indonesia pada lihat aksi kamu…” sontak saya berteriak..”jangannn…mas tolong jangan saya takut…” sulit melanjutkan saya takut terhadap apa…”kalau gitu turuti saya ….pakai mantelmu jangan dikancing…cukup di ikat tali pinggangnya…” “…dan dandan yang cantik….” saya terdiam….”bagaimana lonte…” “…baik mas….” sebelum selesai saya berbicara “…pangil saya tuan….ingat tuan…” “baik tuan….”seperti kerbau dicocok hidungnya saya mengikuti kata2nya”</p>
<p style="text-align: justify;">Saya membulatkan tekat… saya berdandan yang cantik…kemudian tanpa membasuh bekas sperma tadi pagi saya mengenakan mantel, lalu berjalan keluar. Mess tempat tinggal mas Mantri.. dan mas Hari berjarak sekitar 2,5 kilo meter. Saya berjalan menuju kesana dengan perasaan was was, sebab mantel itu panjangnya tidak sampai lutut, dan bagian bawahnya sedikit mengembang walau di bagian pinggang aku sudah eratkan ikatannya. beberapa orang berpapasan dengan saya mungkin berpikir atau mengira saya mengenakan rok supermini didalam cuaca dingin seperti inidengan hanya dilapisi sebuah mantel… padahal tidak ada apa2 yang dilapisi mantel selain tubuh bugil ku.. Jarak 2,5 Kilo  terasa sangat jauh.. Sampai akhirnya aku tiba didepan mess. Disana ketika sampai didepan pintu mess aku disambut oleh seorang security berkebangsaan India tau pakistan atau srilanka yang menanyakan tujuan ku, aku menjawab hendak ke mess mas Mantri… aku perhatikan mata security itu terus memandang kearah paha ku… yang terekspose…tapi kemudian dia memberi tahukan nomor kamar mas Mantri.</p>
<p style="text-align: justify;">dan yang kurang ajar tiba2 dia menepuk pantat ku… yang telanjang kemudian terkekeh…seolah aku seorang wanita panggilan murahan…aku hanya bisa menahan tagis ku sambil terus berjalan ke kamar mas Mantri… sesampai didepan kamar ke tekan bel kamar berulang2 dengan harapan lekas dibuka. Saya malu jika nanti ada orang lain lagi yang melihat ku… Pintu terbuka sedikit terlihat masih dikait dengan rantai kecil sebagai pengaman sehingga hanya terlihat sedikit wajah mas Mantri “hai lonte si Hari mau Upload tuh filmnya…” “…Jangannnn…” kataku aku benar2 takut dia melaksanakannya…”..kamu bisa cegah dia kalau kamu kedalam…” “kalau gitu saya mau masuk…”kata saya setengah memaksa hampir menangis…”boleh tapi….kamar ini nggak boleh ada lonte masuk…” “‘…tuan izinkan saya masuk….” setengah terisak saya memohon takut mas Hari keburu meng upload film ku..”..baiklah saya juga belum selesai bicara tadi…”katanya lagi “..disini lonte dilarang masuk kamar kecuali masuk dalam keadaan bugil..waktu masuk seluruh pakaiannya harus sudah dilepas diluar….”kata2 itu diucapkan dengan sangat kalem tapi membuat hati ku berdegup kencang…aku harus melepas pakaian ku diluar…</p>
<p style="text-align: justify;">dilorong mess … yang terdapat banyak atau setidaknya sembilan kamar lagi…bagaimana kalau ada yang melihat..”jangan tuan saya tidak mau …” mendengar itu tanpa banyak bicara pintu pun mulai  di tutup oleh mas Mantri…”mas jangan tutp pintunya izinkan saya masuk…” aku menahan pintu jangan sampai tertutup “…lepas dulu mantel kamu…. lagi pula tidak lamakan kamu lepas lalu aku bukakan pintunya …hanya beberapa detik…” aku berpikir …dan akhirnya aku mengalah…”baik mas aku  lepas disini…” aku pun melepas pakaian ku…telanjang di lorong sebuah mess khusus pria….”cepat berikan mantelmu sini..” katanya akupun memberikanya..kemudian pintu tertutup….biasanya kalau mau membuka rantai pintu memang pintunya harus ditutup dahulu ..rantai di lepas kemudian baru pintu dapat dibuka seluruhnya….tapi kali ini tidak stelah beberapa detik aku mendrngar mas Mantri dan mas Hari tertawa terkekeh seolah sedag berhasil menipu seseorang dan saya sadar sayalah sedang mereka tipu…. saya berdiri dalam keadaan bugil..berdandan antik namun tubuh penuh dengan bekas sperma…di tengah lorong mess khusus pria…</p>
<p style="text-align: justify;">tiba2 aku menjadi panik dan mulai menggedor2 pintu…. tapi beberapa menit sama sekai tidak ada reaksi kecuali suara tawa yang semakin keras…. karena suara ku dan suara gedoran ku ternyata mulai menarik perhatian penghuni mess seseorang terlihat menintip dibalik pintu di kamar sebelah, lalu aku lihat seseorang juga keluar..dan menhapiri diriku…tampaknya dia orang indonesia juga dia bertanya “ada apa ….apa kamu belum dibayar…?” saya langsung syok mendengarnya… sayapun mulai menangis….”mas adi…nggak ada apa2 kok tadi cewe ini minta bayaran dimuka… tapi ternyata pelayanannya asal2an terus mau kabur lagi ya udah saya ambil aja pakaiannya…” terdengar suara mas Mantri dari belakang… “wah mba ini nggak bisa gitu dong….kembalikan uangnya atau kasih service yang bagus ke pelanggan” kata orang itu lagi saya merasa sangat terhina mendengar itu “hei…lonte…gimana..mau service bener2 nggak…?” aku pun mengangguk dengan tangan berusaha menutupi dada dan vagina ku…”kalo gitu nggak usah ditutup tutupi pakai tangan aset kamu itu” katanya ….aku pun melepaskan tangan ku…kemudian mas Mantri sambil tersenyum penuh arti mempersilahkan aku masuk kekamar masih aku dengar orang tadi bertanya “mas Mantri berapa kok bagus barangnya….” “murahhhhh nanti abis gue kamu boleh pake dehhh all in loh…”jawab mas mantri. Saya hanya bisa tambah menunduk…bersukur akhirnya bisa masuk ke dalam sehingga tidak lebih malu lagi…</p>
<p style="text-align: justify;">“lonte….haus nggak loe….” tanyanya, aku lihat mas hari sedang memegang handycam yang di shoot kearah diriku…” nih minum” katanya sambil menyodori penisnya, sayapun langsung menyambut dengan mulut terbuka….”kayanya musti kamu emut2 dulu deh hahaha” saya pun kembali mengoral penis mas Mantri…. tapi tiba2 saya lihat mas hari yang dari tadi memegang kamera tiba2 mendekat ditangannya membawa sesuatu saya kaget melihatnya dia membawa penjepit jemuran terbuat plastik… dan tanpa banyak ba bi bu…di langsung jepit puting susu saya… saya yangsedang meng oral mas Mantri kontan membeliak “eughhhhh sakittttt…” belum berhenti saya melenguh tiba2 sebuah lagi dijepitkan ke puting yang satunya….”….wauuuuuggghhhh suakittttt…eghht” saya baru mau mengerakan tangan saya untuk meraih penjepit tadi tapi tangan saya ditangkap dan dipegang dengan erat oleh mas Hari kemudian dengan sigap dia mengikat tangan saya…pergelangan tangan saya diikat dengan pangkal siku kiri sedang pergelangan kiri dengan pangkal siku kanan.. penis yang tadi saya oral sudah terlepas..</p>
<p style="text-align: justify;">tapi saya liat mas Mantri tidak memaksakan untuk mengulum lagi… dia beringsut kemudian mengambil kamera yang sudah di tinggal oleh Hari…. saat ini saya duduk dengan lutut saya dengan posisi tangan terlipat ke belakang. hari lalu menciumi pipi lalu mengemut daun telinga saya sambil tangannya mengelus2 bongkahan pantat saya diperlakukan seperti itu saya hanya merasa merinding….. mas Hari wajahnya sangat mirip dengan Tukul yang populer di tanah air…. tapi yang ini terlihat dingin dan pendiam…tiba tiba”aughttt sakit masssss” aku berteriak kencang sebab Hari mengigit telinga saya…kemudian tiba2 diamendorong saya kedepan sehingga saya jatuh dengan kepala kelantai ….. saat ini  posisi saya menungging dengan bagian depan saya bertumpu pada pipi kanan saya… dengan kakinya kemudian dia menendang2 kaki saya memberi isyarat agar saya melebarkan kaki…karena posisi saya itu sedikit sulit saya lakukan sehingga saya jadi sedikit lambat…tampaknya dia tidak sabar dan langsung melepas ikat pinggang kulitnya dan ctarrrrrr…langsung digunakan menyabet pantat putih saya….”aghhhhhh sakittttt masss….”saya berteriak sekilas saya lihat wajah mas mantri dibalik kamera menegang… tapi mas Hari tetap dingin ….dengan jarinya kemudian dia menusuk2 lubang vagina saya…kemudian mencubit2 bibir vagina saya… dan tiba2″augggghhhhhh massss sakittttt” hampir saya pingsan ketika mas hari kembali mengunakan penjepit jemuran untuk menjepit bibir vagina saya…dikanan dan dikiri…dan kembali saya terkejut ketika sebuah lagi dia jepitkan di itil saya…dan kali ini karena itu bgian yang paling sensitif sakitnya jadi sangat tidak tertahan …sayapun berteriak sekuatnyaaa…”Auuuuuughhhhtttttttt massssssa saskiiiiitsssss” mata saya berkunang2 …dan mulai menagis…hampir saya pingsan…”sudah massss sakittttt….saya sudah tidak kuaaa…hepppp” belum selesai saya berteriak mulut saya telah disumpalnya…dan tampaknya disumpal denga celana dalam bekas milik mas hari…..</p>
<p style="text-align: justify;">Kemudian dia mengitari saya dan memencet hidung saya…dengan mulut tersumpal dan hidung saya di pencet sedemikian rupa hampir2 saya pingsan karena tidak dapat bernapas… tapi kemudian dia melepas jepitan tangannya di hidung saya…lalu membalikan tubuh saya sehingga tubuh saya terlentang dengan tangan terikat di punggung buah dada saya nampak mengacung keatas…seperti dua bongkah gunung yang indah dengan penjepit jemuran dimasing2 puncaknya…warnanya tidak lagi merah tetapi mulai keunguan…kemudian mas hari mulai mengambil tali dan dengan sedemikian rupa mengikat kaki saya masing2 sehingga betis dan paha saya menyatu.dan tidak bisa di luruskan dan dibelakang lutut kedua kaki diselipakan sebuah batangan kayuyang diatur posisinya sehingga kaki saya mengangkang lebar….dan terlipat kebelakang …rasanya sakitt luar biasa…kemudian dengan tiba2 cletik…. dia mencabut penjepit di buah dada sebelah kiri begitu tiba2 sehingga menyakitkan…. setelah itu dengan cepat dipasangnya kembali seolah2 sedang mengetes kekuatan penjepit itu….</p>
<p style="text-align: justify;">dan itu dilakukan ke semua penjepit yang terpasang sehingga saya merasa sangat kesakitan… setelah semua selesai di tiba2 bangkit dan seperti mencari2 sesuatu di lemari es… dan kembali dengan sebuah ketimun jepang yang besar… dan digesek2annya ke lubang vagina saya…ketimun itu terasa dingin…dan tanpa peringatan tiba2 sleppp “aughttttttt….” ketimun itu dimasukannya dengan paksa ke vagina saya sampai masuk 3/4 nya… kemudian dia mengalihkan pandangannya kelubang yang lain…lubang anus ku…segera aku menggeleng2 tapi dia malah tersnyum penuharti…diambilnya seuntai manik2 sebesar kelereng berjumlah 15 butir didalam untaiannya dan kemudian dengan paksa dia menekan masuk satu persatu setiap manik2 itu hingga tinggal 3 untai lagi… kemudian dia duduk memandangi diriku….semua adegan diambil gambarnya oleh mas mantri… kemudiann cetarrrrrr tiba2 mas hari kembali menyabet kan sabuknya ke tubuh ku yang putih sehingga membekas merah..dia kemudian mulai meraba2 tubuhku dan meciumiku sedemikan rupa…sehingga entah bagaimana gairah aneh tadi kembali terjadi…</p>
<p style="text-align: justify;">Kemudian dia mengocok2 ketimun yang ad di vaginaku tadi… sehinggaaa”eghhhhhh eghhhhh …” hanya itu yang keluar dari mulut ku karena tersumpal celana dalam mas Hari.tiba2 tubuhku mengejang karena orgasme….sungguh perasaan yang aneh telah mendera diriku…dalam keadaan sakit dan lemas aku melihat mas hari sedang mengocok2 penisnya sendiri didekat ku dan crot crot…. rupanya dia terangsang hebat melihat keadaan diriku… semua air maninya ditumpahkan ke wajah dan tubuh ku… setelah itu dia pun melepaskan semuanya penjepit dan ikatannya…Saya hanya bisa terbaring lemah…aku lihat kini kamera sudah berpindah tangan lagi… Mas Mantri yang bertubuh gempal…besar… mengendong tubuh lemah saya ke atas tempat tidur..mulai menciumi diriku..memacu gairah diriku… dia mulai memainkan itilku dengan lidahnya….yang masih terasa sakit akibat perlakuan mas Hari….tapi “ughhhhhh nihkkmaaaahhhttt mas euanaaakkkk…ueghhhhhh” saya mulai mengelepar2 ketika lidah mas Mantri mulai menari nari di itil ku sambil kedua tangannya sesekali memilin milin puting ku…</p>
<p style="text-align: justify;">kemudian di sergapnya mulut dengan ciuman yang dasyat… lidahnya mempermainkan lidah ku memaksa lidah kuturus menari2 huahhh enak sekaliiii.. kemudian dia mulai melepas pakaiannya sendiri … terlihat penisnya yang besar  mengacung ke atas membuat hati ku bergetar… ”lonte kamu suka ini…”sukaaa tuannn sukaa”hampir diluar sadar aku meracau kata2 yang sangat memalukan itu…. baik kamu harus memohon “tolong tuannnn….saya sudah tidak tahan..””tolong apa….”  “yang jelas…..” “tolong masukan batang tuan ke memek saya tuannnn tolonggg” ” baik saya akan menolong mu lonte”dan sleppp “eughhhhhh….”dia memasukan penisnya ke vaginaku kembali gairah aneh menguasai diriku….seolah liang vagina ku terasa sangat penuhhh dan padat denganh benda besar yang kerass dan kenyal…. “ohhhh… ”dia pun mulai memompa dengan cepatnya sehingga aku merasa itil dan bibir vagina ku ikut keluar masuk karena padatnya penis mas Mantri… menimbulkan sensasi luar biasa… kembali aku melihat mas Hari merekam dengan kamera di tangannya….. Setelah beberapa menit aku tidak tahan lagi hingga tubuh ku terguncang2 hebat</p>
<p style="text-align: justify;">dan “ohhhhhh tuaaannnn saya kelauarrrrrrrr”  namun nampaknya mas Mantri belum mencapai klimaks dia tiba2 memangku tubuh saya dan dalam keadaan sambil di pangku berhadapan dengannya mulutnya bermain di buah dada saya dan terus memompa saya naik turun…”ahhhhhh tuaaaannnnnnn” saya benar sudah tidak tahaaaan dan kembali mengalami klimaks namun mas Mantri masih belum juga orgasme….. dia kemudian membalik tubuh saya dan…. dia menemukan 15  butir manik2 yang menancap dipantat saya dan lupa dicabut oleh mas Hari…. kemudian kembali dia menembus vagina saya dari belakang sambil tangannya pelan2 menarik manik2  keluar dari liang anus saya… sehingga menyebabkan saya segera mencapai klimakss beikutnya “eghhhhhhttttt ” saya lihat hari tersenyum penuh arti dibalik kameranya…. tidak lama kemudian tiba2 dengan kasar mas Mantri mencabut penis besarnya dari vagina ku dan membalik diriku sehingga terlentang. Dan crot crot…crottt mani menyembur ke tubuh dan wajah ku lalu dia memaksa diriku membersihkan penis miliknya dengan menggunakan mulut ku….</p>
<p style="text-align: justify;">Kemudian masih dalam keadaan tubuh dan wajah penuh mani tiba2 mas mantri mengambil alat cukur kumis miliknya.. dan dia mulai mencukur bulu jembut ku ..awalnya aku meronta aku takut kalau mas aries sampai bertanya ada apa sampai aku mencukur botak jembut ku….tapi kemudian saya pasrah dicukur sampai habis… Lalu mereka memberikan mantelku “pakai..kita jalan jalan…”kata mas Hari….terus terang setiap mendengar dia bicara bulu kuduk ku langsung merinding wajahnya yang kaya Tukul tidak membuat  dia menjadi sama lucunya… kemudian dengan diapit ke dua orang itu aku berjalan keluar menuju ke tengah kota… banyak orang yag nampak memperhatikan diriku aku merasa terutama disebabkan oleh mantel ku yang tidak terlalu panjang dan bawahnya lebar tidak dapat  menyembunyikan aku tidak memakai apa2 lagi didalamnya…. dan bau tubuh ku…benar2 bau air mani laki2… walau aku sudah merias kembali wajah ku wajah ’puas’  didiriku benar masih terlihat jelas… Perjalanan masih panjang…. Nantikan Seri cerita saya berikutnya&#8230;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ceritasex.cn/anggie-the-series-diperkosa-2-cleaning-service/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kuperkosa Tanteku</title>
		<link>http://www.ceritasex.cn/kuperkosa-tanteku/</link>
		<comments>http://www.ceritasex.cn/kuperkosa-tanteku/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 02 Jun 2011 06:01:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cerita Sex</dc:creator>
				<category><![CDATA[Paruh baya]]></category>
		<category><![CDATA[Pemerkosaan]]></category>
		<category><![CDATA[Seks Umum]]></category>
		<category><![CDATA[selingkuh]]></category>
		<category><![CDATA[ml]]></category>
		<category><![CDATA[ngentot]]></category>
		<category><![CDATA[ngeseks]]></category>
		<category><![CDATA[perkosa]]></category>
		<category><![CDATA[tante]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ceritasex.cn/?p=2391</guid>
		<description><![CDATA[Saya Dito&#8230;..umur 23 tahun baru lulus dari salah satu universitas ternama di Malang. Dan saya berasal dari keluarga baik-baik. Kejadian ini dimulai ketika saya menginap di rumah om saya di daerah sidoarjo. Om saya telah menikah dan memiliki 2 anak lelaki yang lucu umur 3 dan 5 tahun, serta memiliki istri yang cukup cantik (menurut [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Saya Dito&#8230;..umur 23 tahun baru lulus dari salah satu universitas ternama di Malang. Dan saya berasal dari keluarga baik-baik. Kejadian ini dimulai ketika saya menginap di rumah om saya di daerah sidoarjo. Om saya telah menikah dan memiliki 2 anak lelaki yang lucu umur 3 dan 5 tahun, serta memiliki istri yang cukup cantik (menurut saya) umurnya sekitar 27 tahun. saya sendiri tinggal disurabaya kurang lebih jarak tempat tinggalku dengan tante adalah 19 Km&#8230; Awal kejadiannya adalah pada hari sabtu malam saya mendengar pertengkaran di rumah tersebut, yang tidak lain adalah om saya dengan tante saya. Ternyata penyakit &#8216;gatel&#8217; om saya kambuh lagi yaitu sering pergi ke diskotik bersama temannya. Hal tersebut sangat menyakitkan tante saya, karena di sana om saya akan mabuk-mabukan dan terkadang pulangnya bisa pada hari Minggu malam. Entahlah apa yang dilakukan di sana bersama teman-temannya. Dan pada saat itu hanya aku bertiga saja di rumah: saya, Om Pram dan Tante Sis.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Brak..&#8221; suara gelas pecah menghantam pintu, cukup membuat saya kaget, dan om saya dengan marah-marah berjalan keluar kamar. Dari dalam kamar terdengar tante saya berteriak, &#8220;Nggak usah pulang sekalian, cepet ceraikan aku.&#8221; Dalam hatiku berkata, &#8220;Wah ribut lagi.&#8221; Om Pram langsung berjalan keluar rumah, menstarter mobil Tarunanya dan pergi entah ke mana. Di dalam kamar, aku mendengar Tante Sis menangis. Aku mau masuk ke dalam tapi takut kena damprat olehnya (kesalahan Om Pram dilimpahkan kepadaku). Tapi aku jadi penasaran juga. Takut nanti terjadi apa-apa terhadap Tante Sis. Maksudku akibat kecewa sama Om Pram dia langsung bunuh diri. Pelan-pelan kubuka pintu kamarnya. Dan kulihat dia menangis menunduk di depan meja rias. Aku berinisiatif masuk pelan-pelan sambil menghindari pecahan gelas yang tadi sempat dilemparkan oleh Tante Sis. Kuhampiri dia dan dengan pelan. Aku bertanya, &#8220;Kenapa Tan? Om kambuh lagi?&#8221; Dia tidak menjawab, hanya diam saja dan sesekali terdengar isak tangisnya. Cukup lama aku berdiri di belakangnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Pada waktu itu aku hanya memandangnya dari belakang, dan kulihat ternyata Tante Sis mengenakan baju tidur yang cukup menggiurkan. Pada saat itu aku belum berpikiran macam-macam. Aku hanya berkesimpulan mungkin Tante Sis mengajak Om Pram, berdua saja di rumah, karena anak-anak mereka sedang pergi menginap di rumah adik Tante Sis. Dan mungkin juga Tante Sis mengajak Om bercinta (karena baju yang dikenakan cukup menggiurkan, daster tipis, dengan warna pink dan panjang sekitar 15 cm di atas lutut). Tetapi Om Pram tidak mau, dia lebih mementingkan teman-temannya dari pada Tante Sis. Tiba-tiba Tante Sis berkata, &#8220;To, Om kamu kayaknya udah nggak sayang lagi sama Tante. Sekarang dia pergi bersama teman-temannya ke Surabaya, ninggalin Tante sendirian di rumah, apa Tante udah nggak cakep lagi.&#8221; Ketika Tante Sis berkata demikian dia berbalik menatapku. Aku setengah kaget, ketika mataku tidak sengaja menatap buah dadanya (kira-kira berukuran 34). Di situ terlihat puting susunya yang tercetak dari daster yang dikenakannya.<br />
<span id="more-2391"></span><br />
Aku lumayan kaget juga menyaksikan tubuh tanteku itu. Aku terdiam sebentar dan aku ingat tadi Tante Sis menanyakan sesuatu, aku langsung mendekatinya (dengan harapan dapat melihat payudaranya lebih dekat lagi). &#8220;Tante masih cantik kok, dan Om kan pergi sama temannya. Jadi nggak usah khawatir Tan!&#8221; &#8220;Iya tapi temennya itu brengsek semua, mereka pasti mabuk-mabukan lagi dan main perempuan di sana.&#8221; Aku jadi bingung menjawabnya. Secara refleks kupegang tangannya dan berkata, &#8220;Tenang aja Tan, Om nggak bakal macem-macem kok.&#8221; (tapi pikiranku sudah mulai macam-macam). &#8220;Tapi Tante denger dia punya pacar di surabaya, malahan Tante kemarin pergoki dia telponan ama cewek, kalo nggak salah namanya Sella.&#8221; &#8220;Masak Om tega sih ninggalin Tante demi cewek yang baru kenal, mungkin itu temennya kali Tan, dan lagian Tante masih tetap cantik kok.&#8221; Tanpa Tante Sis sadari tangan kananku sudah di atas paha Tante Sis karena tangan kiriku masih memegang tangannya.</p>
<p style="text-align: justify;">Perlahan-lahan pahanya kuusap secara halus, hal ini kulakukan karena aku berkesimpulan bahwa tanteku sudah lama tidak disentuh secara lembut oleh lelaki. Tiba-tiba tanganku yang memegang pahanya ditepis oleh Tante Sis, dan berdiri dari duduknya, &#8220;To, saya tantemu saya harap kamu jangan kurang ajar sama Tante, sekarang Tante harap kamu keluar dari kamar tante sekarang juga!&#8221; Dengan nada marah Tante Sis mengusirku. Cukup kaget juga aku mendengar itu, dan dengan perasaan malu aku berdiri dan meminta maaf, kepada Tante Sis karena kekurangajaranku. Aku berjalan pelan untuk keluar dari kamar tanteku. Sambil berjalan aku berpikir, aku benar-benar terangsang dan tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan ini. Sejak aku putus dengan pacarku, terus terang kebutuhan biologisku kusalurkan lewat tanganku. Setelah sampai di depan pintu aku menoleh kepada Tante Sis lagi. Dia hanya berdiri menatapku, dengan nafas tersenggal-senggal (mungkin marah bercampur sedih menjadi satu).</p>
<p style="text-align: justify;">Aku membalikkan badan lagi dan di pikiranku aku harus mendapatkannya malam ini juga. Dengan masa bodoh aku menutup pintu kamar dari dalam dan menguncinya, lalu langsung berbalik menatap tanteku. Tante Sis cukup kaget melihat apa yang aku perbuat. Otakku sudah dipenuhi oleh nafsu binatang. &#8220;Mau apa kamu To?&#8221; tanyanya dengan gugup bercampur kaget. &#8220;Tante mungkin sekarang Om sedang bersenang-senang bersama pacar barunya, lebih baik kita juga bersenang-senang di sini, saya akan memuaskan Tante&#8221;. Dengan nafsu kutarik tubuh tanteku ke ranjang, dia meronta-ronta, tetapi karena postur tubuhku lebih besar (tinggiku 182 cm dan beratku 75 kg, sedangkan Tante Sis memiliki tinggi tubuh sekitar 165 cm dan berat kurang lebih 50 kg) aku dapat mendorongnya ke ranjang, lalu menindihnya. &#8220;Lepasin Tante, Dito,&#8221; suara keluar dari mulutnya tapi aku sudah tidak peduli dengan rontaannya. Dasternya kusingkap ke atas. Ternyata Tante Sis tidak mengenakan celana dalam sehingga terpampang gundukan bukit kemaluannya yang menggiurkan, dan dengan kasar kutarik dasternya bagian atas hingga payudaranya terpampang di depanku.</p>
<p style="text-align: justify;">Dengan bernafsu aku langsung menghisap putingnya, tubuh tanteku masih meronta-ronta, dengan tidak sabar aku langsung merobek dasternya dan dengan nafsu kujilati seluruh tubuhnya terutama payudaranya, cukup harum tubuh tanteku. Akibat rontaannya aku mengalami kesulitan untuk membuka pakaianku, tapi pelan-pelan aku dapat membuka baju dan celanaku. Sambil membuka baju dan celanaku itu, dengan bergantian tanganku mengusap bukit kemaluannya yang menurutku mulai basah (mungkin Tante Sis sudah mulai terangsang walaupun masih berkurang tetapi frekuensinya agak menurun sedikit). kemaluanku telah berdiri tegak dan kokoh nafsu telah menyelimuti semua kesadaranku bahwa yang kugeluti ini adalah isteri pamanku sendiri&#8230;.yaitu tanteku&#8230;. Dengan tidak sabar aku langsung berusaha membenamkan kejantananku ke liang TANTEKU&#8230;&#8230;&#8230;.. , Aku agak kesulitan menemukan celah kewanitaan tanteku,kadang kemaluanku meleset keatas dan bahkan kadang meleset kearah lubang anus tanteku .</p>
<p style="text-align: justify;">Ini disebabkan tanteku bergerak kesana kemari berusaha menghindar dan menghalangi kemaluanku yang sudah siap tempur ini&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230; &#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;.. &#8220;To, jangan To, aku Tantemu tolong lepasin To, ampun, Tante minta ampun&#8221;. Aku sudah tidak peduli lagi Rengekannya. &#8230;&#8230;.usahaku kepalang tanggung dan harus berhasil&#8230;&#8230;karena gagalpun mungkin akibatnya akan sama bahkan mungkin lebih fatal akibatnya&#8230;&#8230;. Ketika lubang senggamanya kurasa sudah pas dengan dibantu cairan yang keluar dari liang kewanitaannya aku langsung menghujamkan senjataku. &#8220;Auuhh, sakit To, aduh.. Tante minta ampun.. tolong To jangan lakukan &#8230;..lepasin Tante To..&#8221; Ketika mendengar rintihannya, aku jadi kasihan, tetapi senjataku sudah di dalam, &#8220;Maaf Tante, saya sudah tidak tahan dan punyaku sudah terlanjur masuk nih&#8230;..,&#8221; bisikku ke telinganya. Tante Sis hanya diam saja. Dan tidak berkata apa-apa. Dengan pelan dan pasti aku mulai memompa kemaluanku naik turun, &#8230;&#8230;..tanteku menggelinjang hebat&#8230;..seakan akan masih ada sedikit pemberontakan dalam dirinya&#8230;.</p>
<p style="text-align: justify;">ssshhhhhhhhh&#8230;.tanteku hanya mendesis lirih sambil menolehkan kepalanya kekiri dan kekanan tak mau menatap wajahku&#8230;&#8230;.kemudian Dia hanya diam pasrah dan kulihat air matanya berlinang keluar. Kucium keningnya dan bibirnya, sambil membisikkan, &#8220;Tante, Tante masih cantik dan tetap mengairahkan kok, saya sayang Tante, bila Om sudah tidak sayang lagi, biar Dito yang menyayangi Tante.&#8221; Tante Sis hanya diam saja, dan kurasakan pinggulnya pun ikut bergoyang seirama dengan goyanganku. kemaluanku kudorong perlahan &#8230;seakan ingin menikmati kenyamanan ini dengan waktu yang lama&#8230;&#8230;.. cllkk&#8230;.clllkkkk.cclkkkk bunyi badanku beradu dengan badan tanteku&#8230;&#8230;.seirama keluar masuknya kemaluanku kedalam liang senggamanya yangbetul betul enak&#8230;&#8230; Kira-kira 10 menit aku merasakan liang kewanitaan tanteku semakin basah dan kakinya menyilang di atas pinggulku dan menekan kuat-kuat mungkin tanteku sedang orgasme&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;.. &#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230; &#8230;.. kudiamkan sejenak &#8230;..kubiarkan tanteku menikmati orgasmenya&#8230;&#8230;&#8230;</p>
<p style="text-align: justify;">Kubenamkan lebih dalam kemaluanku ,sambil memeluk erat tubuhnya iapun membalasnya erat&#8230;..kurasakan tubuh tanteku bergetar&#8230;. kenikmatan yang dahsyat telah didapatkannya&#8230;&#8230;. kubalik badan tanteku dan sekarang dia dalam posisi diatas&#8230;&#8230;kemaluanku masih terbenam dalam kewanitaan tanteku&#8230;&#8230;tapi dia hanya diam saja sambil merebahkan tubuhnya diatas tubuhku,&#8230;.lalu kuangkat pinggul tanteku perlahan&#8230;..dan menurunkannya lagi&#8230;.kuangkat lagi&#8230;&#8230;dan kuturunkan lagi&#8230;&#8230;.kemaluanku yang berdiri tegak menyodok deras keatas &#8230;kelubang nikmatnya&#8230;&#8230; akhirnya tanpa kubantu &#8230;.tanteku menggoyangkan sendiri pantatnya naik turun&#8230;.. oooooooccchhhhhhhh&#8230;&#8230;.aku yang blingsatan kenikmatan&#8230; rupanya tanteku mahir dengan goyangannya diposisi atas&#8230;. kenikmatan maximum kudapatkan dalam posisi ini&#8230;. rupanya tanteku mengetahui keadaan ini &#8230;ia tambah menggoyang goyangkan pantatnya meliuk liuk persis pantat Anisa bahar penyanyi dangdut dengan goyang patah patahnya&#8230;&#8230;. oooooochhhhhh,&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;sshh h&#8230;&#8230;kali ini aku yang mirip orang kepedasan</p>
<p style="text-align: justify;">aku mengangkat kepalaku&#8230;kuhisap puting susu tanteku&#8230;.. ia mengerang&#8230;&#8230;..goyangannya tambah dipercepat&#8230;. dan 5 menit berjalan &#8230;&#8230;.tanteku bergetar lagi&#8230;&#8230;ia telah mendapatkan orgasmenya yang kedua&#8230;&#8230; pundakku dicengkeramnya erat&#8230;&#8230; ssshhhhhhh&#8230;&#8230;&#8230;bibir bawahnya digigit&#8230;sambil kepalanya menengadah keatas&#8230;.. &#8220;to&#8230;.bangsat kamu&#8230;&#8230;.tante kok bisa jadi gini&#8230;..ssssshhhh &#8230;.tante udah 2 kali kluarrrrrrrr&#8230;&#8221;&#8230;.. aku hanya tersenyum&#8230;.. &#8220;tulangku rasa lepas semua to&#8230;.&#8221; aku kembali tersenyum&#8230; &#8220;tante gak pernah klimaks lebih dari 1 x kalo dengan ommu..&#8221; kubalik kembali badan tanteku dengan posisi konvensional.. kugenjot dengan deras kewanitaannya&#8230;.. oooohhh oohhh&#8230;.ssshhhhh tanteku kembali menggeliat pinggulnya mulai bergoyang pula mengimbangi genjotanku&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;.. aku pun sudah kepengen nyampe&#8230;&#8230;. dan tidak lama kemudian akupun mengeluarkan spermaku di dalam liang senggamanya. ssshhhhhh&#8230;&#8230;aaachhhhhhh&#8230;. &#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;. spermaku tumpah dengan derasnya kedalam liang senggama tanteku&#8230;&#8230;..</p>
<p style="text-align: justify;">mata tanteku sayu menatapku klimaks&#8230;&#8230;&#8230; permainan panjang yang sangat melelahkan&#8230;&#8230;yang diawali dengan pemaksaan dan perkosaaan yang ahirnya berkesudahan dengan kenikmatan puncak yang sama sama diraih&#8230;&#8230;. kulihat terpancar kepuasaan yang amat sangat diwajah tanteku&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;.. &#8220;kamu harus menjaga rahasia ini to&#8230;..&#8221; aku hanya mengangguk&#8230;. dan sekarang tanteku tak perduli lagi kalau om ku mau pulang atau tidak&#8230;&#8230;. karena kalau om ku keluar malam maka tanteku akan menghubungiku via HP untuk segera kerumahnya&#8230;..</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ceritasex.cn/kuperkosa-tanteku/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kegilaan Agnes: The Best Over 24 Hours</title>
		<link>http://www.ceritasex.cn/kegilaan-agnes-the-best-over-24-hours/</link>
		<comments>http://www.ceritasex.cn/kegilaan-agnes-the-best-over-24-hours/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 06 Apr 2011 06:14:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cerita Sex</dc:creator>
				<category><![CDATA[anal seks]]></category>
		<category><![CDATA[Daun Muda]]></category>
		<category><![CDATA[Ekshibionis]]></category>
		<category><![CDATA[Orgy]]></category>
		<category><![CDATA[Pemerkosaan]]></category>
		<category><![CDATA[Seks Umum]]></category>
		<category><![CDATA[Toket gede]]></category>
		<category><![CDATA[agnes]]></category>
		<category><![CDATA[anal]]></category>
		<category><![CDATA[isep kontol]]></category>
		<category><![CDATA[kontol]]></category>
		<category><![CDATA[lesbi]]></category>
		<category><![CDATA[marni]]></category>
		<category><![CDATA[memek]]></category>
		<category><![CDATA[ngentot]]></category>
		<category><![CDATA[perkosa]]></category>
		<category><![CDATA[vagina]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ceritasex.cn/?p=2165</guid>
		<description><![CDATA[Agnes antara sadar dan tidak ketika ia merasa ada sesosok tubuh masuk ke balik selimut yang menutupi tubuh bugilnya, lalu kehangatan tubuh yang juga telanjang terasa melingkupi gadis yang merasa nyaan oleh kehangatan yang datang tiba-tiba ini. Tangan sosok itu memeluk tubuh nya dengan erat dari belakang, hingga Agnes bisa merasakan tonjolan dua bukit payudara [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Agnes antara sadar dan tidak ketika ia merasa ada sesosok tubuh masuk ke balik selimut yang menutupi tubuh bugilnya, lalu kehangatan tubuh yang juga telanjang terasa melingkupi gadis yang merasa nyaan oleh kehangatan yang datang tiba-tiba ini. Tangan sosok itu memeluk tubuh nya dengan erat dari belakang, hingga Agnes bisa merasakan tonjolan dua bukit payudara yang menghimpit punggungnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Tunggu&#8230;Payudara?</p>
<p style="text-align: justify;">Tangan Agnes bergerak ke paha sang pemeluk dan&#8230;&#8217; Damn, ini pinggul perempuan&#8217; desah Agnes dalam hatinya, samil mencoba mengenali suara desah sosok dibelakangnya yang kini terangsang oleh jemari Agnes yang telah berpindah ke selangkangannya.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8216;Mmmmm&#8230; kamu nakal, Marni&#8230;&#8217; desah Agnes sambil menikmati ciuman lembut di tengkuknya dan remasan halus di payudaranya. &#8216;Non, ko&#8217; bisa tau?&#8217; tanya sosok itu sambil merayapi perut rata Agnes, dan meremasi pinggulnya yang membuat gadis itu mendesah lirih. &#8216;Aku kenal aromamu, Marni, lagi pula body sexy ini siapa lagi yang punya,&#8217; desah gadis itu, ketika merasakan jemari Marni bermain di labianya.</p>
<p style="text-align: justify;">Agnes kemudian membalikkan tubuhnya untuk kemudian memeluk Marni. Marni adalah salah satu pekerja di rumah Agnes, umur gadis itu sendiri sudah dua puluh tahun, namun ia selalu santun. Agnes menyenangi Marni karena selain kebaikan hatinya, Marni juga selalu merawat tubuhnya hingga sebenarnya tubuhnya tak kalah sexy dengan sang nona yang kini, tersenyum nakal padanya dan melumat bibirnya dengan lembut.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8216;Kamu jail, Mar&#8230; kenapa kamu bangunin aku begini?&#8217; desah Agnes di sela pagutan bibirnya. &#8216;Aku kangen non, aku pengen ngerasain tubuh sexy non&#8230;.&#8217; lirih Mari sambil mengusap lembut punggung Agnes yang menggeletar karena terangsang. &#8216;Kamu juga sexy, Mar&#8230;I like your bodz&#8230;.&#8217; kata Agnes sambil mremas buah pantat Marni, merapatkan pinggul dan tubuhnya, hingga kii payudara keduanya berimpitan, dan puting mereka makin mengeras akibat bergesekan.<br />
<span id="more-2165"></span><br />
Nafas keduanya mulai memburu, gerakan tangan keduanya juga makin liar, jelajah ke duanya makin luas, Agnes menurunkan kepalanya dan dengan gemas melumat payudara Marni yang kian mengeras dan mengacung menantang, punggung gadis itu melengkung hingga payudaranya makin maju dan makin dinikmati oleh Agnes yang dengan gemas, meremas bulatan bokong Marni. Lidah dan ciuman Agnes menuruni belahan dada Marni, bermain di perut yang rata, lalu dengan lembut menggigiti pinggul Marni juga di lipatan pahanya sehingga membuat gadis itu melejang-lejang kenikmatan.</p>
<p style="text-align: justify;">Jilatan Agnes turun ke paha dalam Marni, yang kini megapit kepala Agnes dengan pahanya, ia menahan rangsangan hebat yang dirasakannya, desahan gadis itu menggila. Namun dengan lembut, Agnes meregangkan paha Marni dan kembali meneruskan permainan lidahnya di paha mulus pembantunya itu, turun ke betis lalu tanpa merasa sungkan, mengisap ibu jari kaki Marni yang notabene adalah pembantunya.</p>
<p style="text-align: justify;">Marni menggeletar hebat, Agnes bisa melihat basahnya vagina gadis itu bahkan sebelum ia melakukan apapun di vagina itu. Dengan lembut Agnes membalikkan tubuh Marni, lalu mengangkat pinggul gadis itu, hingga vagina dan anusnya nampak mencuat dengan indahnya kemudian dengan lembut namun pasti Agnes menggigiti lipatan bokong Marni yang mendesah tertahan menerima rangsangan dahsyat itu, cupangan segera menghiasi lipatan pahanya namun Marni tak perduli, jemarinya memainkan clitorisnya sendiri sementara sebelah lengan lagi meremasi payudaranya.</p>
<p style="text-align: justify;">Marni kembali orgasme ketika akhirnya bibir dan lidah Agnes bermain di vaginanya dengan ahlinya, lidah sang bintang merayapi labia dan menusuk-nusuk vaginanya. Orgasme gadis itu makin menjadi ketika dengan rakusnya, Agnes menjilati lubang anusnya tanpa jijik, bahkan lidahnya ditekan masuk ke dalam rongga anus Marni yang makin kelojotan tanpa daya.</p>
<p style="text-align: justify;">Agnes tersenyum melihat Marni menggeletar kenikmatan oleh permainannya, ia sendiri sama sekali belumon namun orgasme bukan hal yang terutama untuk dirinya. Kepuasan yang diperoleh lawan mainnya itu yang terutama, maka kini dengan tenang, ia menarik selimut menutupi tubuh bugil mereka berdua dan kini, Agnes yang memeluk Marni dengan mesra dari belakang.</p>
<p style="text-align: justify;">Agnes melihat jam<br />
01.00, kemudian ia terlelap.</p>
<p style="text-align: justify;">03.00<br />
Kecupan mesra di bir Agnes mengiringi Marni yang beringsut ke luar kamar sang nona, untuk bersiap melakukan pekerjaannya. Agnes menggeliat malas lalu memutuskan untuk bangun, tak ada gunanya memaksakan diri untuk tidur. Kemudian tanpa jengah gadis itu berjalan santai dalam kamarnya tanpa sehelai benangpun menutupinya sambil mendengarkan musik melalui iPodnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Sebuah pelukan ganas mengagetkannya, ia mencoba teriak namun sebuah tangan kekar menahan jeritannya. &#8216;Nnnnnooooon&#8230;. maaf&#8230;. saya Ujjjaaaaang.&#8217; bisik sang penyerang dengan gagapnya. &#8216;Ttttoooollllooong ja..jangan jerit non&#8230;tttooollloooong&#8217; desak tukang kebunnya lagi.Agnes mengangguk meyakinkan Ujang, adrenalin gadis itu sudah naik tanpa disadari sang tukang kebun, perbuatannya membuat Agnes on.</p>
<p style="text-align: justify;">Tukang kebun itu perlahan melepaskan bekapan tangannya dan begitu yakin bahwa nona majikannya tak akan teriak, tangannya segera meremas tubuh sang nona dengan kasar dan liar.&#8217;Ssssssaaaayyyya ngga ku kuat pengen ngentot, non. Sa saya liat non ewean sama Mmmmarni&#8230;. Sa saya ngga tahan, saya mau nge..ngeheeee.&#8217;</p>
<p style="text-align: justify;">Agnes tertawa kecil karena kepolosan tukang kebunnya yang baru berusia tujuh belas tahun itu. Agnes membiarkan saja ujang mencupangi leher jenjangnya, bahunya. Agnes menerima saja remasan kasar sang pemuda di payudaranya. Lalu dengan sedikit kasar Ujang merebahkan Agnes di lantai marmer kamarnya, lalu mulutnya dengan rakus menjilati vagina Agnes yang kini mendesis keenakan.</p>
<p style="text-align: justify;">Gadis itu membantu pergerakan lidah Ujang dengan memainkan clitorisnya sendiri dan meremasi kedua payudaranya yang juga sedang dimainkan Ujang.</p>
<p style="text-align: justify;">Kemudian dengan bernafsunya, Ujang menaikkan betis Agnes ke bahunya dan dengan sekali hentak menghujam vagina Agnes dengan penisnya. Tubuh Agnes melengkung menerima sodokan itu, desahan kepuasan keluar dari mulut sang gadis yang kini terhentak-hentak seiring sodokan kasar sang tukang kebun.</p>
<p style="text-align: justify;">Lalu Ujang membalikkan tubuh Agnes hingga menungging lalu dengan kasar menghujam vagina Agnes yang mendesah kenikmatan karena merasakan sodokan yang makin dalam di vaginanya. Tangan Ujang sendiri bergerilia di sekujur tubuh sang artis idola yang makin meracau tak jelas. Pemuda itu sendiri tak bisa bertahan lama lagi karena jepitan vagina sang nona seakan meremas penisnya yang pada akhirnya&#8230;</p>
<p style="text-align: justify;">Untunglah kamar Agnes termasuk kedap suara hingga lolongan kedua insan yang mencapai orgasme itu tak sampai membangunkan penghui rumah yang lain. Ujang terduduk kelelahan di lantai yang kini basah oleh keringat dan tetesan cairan cinta mereka berdua, wajahnya menunjukkan kepuasan yang amat sangat. Namun ternyata sang nona masih mempunyai hadiah kecil bagi Ujang yang mampu membuatnya orgasme. Tanpa ragu, Agnes menghisap penis Ujang yang masih setengah loyo, membersihkan sperma yang meleleh di sana.</p>
<p style="text-align: justify;">Ujang mendesah kenikmatan, penisnya yang kini kembali tegang dideepthroath olah sang majikan tanpa ragu. Bahkan tak ada penolakan dari sang gadis ketika dengan kasarnya Ujang menekan kepala gadis itu hingga hidung imutnya tertanam di bulu selangkangannya dengan sukses. Kepuasan itu begitu hebat dirasakan Ujang ketika dengan sukses Spermanya menyerbu tenggorokan sang gadis yang dengan rakus menghisap habis sperma yang kini meluncur dengan mulusnya ke dalam perut sang gadis. Agnes tersenyum geli ketka melihat Ujang berjlan tertatih ke luar kamarnya sambil memegagi kedua lututnya yang nampak goyah.</p>
<p style="text-align: justify;">Matanya tertumbuk pada jam di dinding kamarnya, 04.00.</p>
<p style="text-align: justify;">Tanpa repot membersihkan sperma yang melekat ditubuhnya, Agnes membuka laci pakaiannya, mengambil sebuah hotpants putih dan langsung memakainya, hingga lelahan sperma di vaginanya dengan sukses membasahi bagian selangkangan sang gadis dan membuat belahan vagina merekah sang gadis membayang jelas.</p>
<p style="text-align: justify;">Sebuah sportsbra senada menutupi bungkahan payudaranya yang sekal itu dan sebuah hooded sweater dengan belahan samping yang memanjang hingga ke pinggang ikut menambah kesexyan sang gadis yang kini dengan tambahan angkle socks dan sneakers segera keluar dari rumah mewah itu dan mulai berlari kecil untuk memulai jogging paginya.</p>
<p style="text-align: justify;">Jalanan kompleksnya masih sepi, gadis itu berlari dengan santai, butiran keringat mulai membasahi tubuhnya yang berkilat sexy tertimpa temaram lampu jalan. Agnes berhenti di sebuah pohon besar untuk menarik nafas, ketika gadis itu mendengar langkah kaki menghampirinya. Ternyata tiga orang satpam komplex yang baru saja berkeliling. Mata mereka jalang melihat Agnes yang berpakaian sangat sexy.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8216;Eh pecun!&#8217; gertak salah seorang dari mereka, &#8216;Ngapain lu jual diri di sini! Sekarang mendingan lu ikut kita ke kantor biar diangkut ke dinas sosial&#8217; Agnes tersenyum binal dan malah berkata, &#8216;Apa bapak-bapak ngga sayang, nyerahin saya ke dinas sosial, dan ngebiarin petugas di sana nikmatin tubuh saya?&#8217; Lalu dengan santai Agnes membuka retsluiting sweaternya, dan membiarkan mata satpam komplex itu menatap perut sixpacknya yang dialiri keringat. &#8216;Gu&#8230;gua masih punya iman&#8217; kata salah seorang satpam dengan tergagap, Agnes tersenyum dan mendekati orang itu, dan ketika tangannya menyentuh penis sang satpam dari balik celana dinasnya&#8230;</p>
<p style="text-align: justify;">&#8216;Perek lu..&#8217; Jerit sang satpam tak lagi bisa menahan nafsunya. Dengan brutal ia membanting Agnes ke tanah, membuka paksa hotpantsnya, lalu dengan tergesa menurunkan celananya dan dengan ganas mengangkangan paha Agnes lalu menghujamkan penisnya dengan kasar. &#8216;Pecun lu&#8230;lonte&#8230;gua ento lu&#8230;ngghhheeheeee!&#8217; racau satpam itu sambil membombardir vagina Agnes, dua satpam lagi tak ingin ketinggalan, dua penis yang sudah ereksi sempurna segera saja berebutan menampari pipi Agnes, yang langsung mengoral kedua penis itu bergantian.</p>
<p style="text-align: justify;">Lalu satpam yang menggenjot Agnes membalikkan posisi mereka hingga kini Agnes berada di atas sang satpam. Sports branya disingkap ke atas, dan segera saja payudara sekalnya menjadi bulan-bulanan satpam itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Agnes merasa ada benda tupul yang disodok masuk ke anusnya, Ia menoleh genit dan memberi pandangan binal pada satu satpam yang dengan bernafsunya menyodomi Agnes. Dan kini ke tiga lubang gadis itu penuh dengan penis yang seakan berlomba ingin menghukum sang pelacur yang justru sangat menikmati kebrutalan mereka.</p>
<p style="text-align: justify;">Satpam di vaginanya meledak terlebih dahulu, geletar kepuasannya sangat terasa oleh Agnes yang juga turut orgasme. Satpam itu lalu memberi ruang pada temannya yang mencabut penis dari mulut Agnes untuk kemudian mengaduk vagina sang gadis dengan kasar dan secara sembaragan mengisi rahim gadis itu dengan sperma.</p>
<p style="text-align: justify;">Satpam terakhir mencabut penisnya, ia tersenyum dan mempertontonkan pada Agnes penisnya yang dihiasi bercak kuning kecoklatan hadiah dari anus sang gadis, lalu dengan santai menghujamkan penis itu ke vagina Agnes yang justru orgasme karena pelecehan itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Keempatnya duduk kelelahan menikmati hasil pergumulan mereka, lalu Agnes berujar santai, &#8216;Kalau sekarang bapak mau nyerahin saya silahkan, saya sih ngga apa-apa. Tapi bapak bakal kehilangan kesempatan buat ngentotin saya kapanpun bapak melihat saya dan pingin ngentot&#8230;&#8217; Ketiga satpam itu saling berpandangan, pikiran mereka kalut. Namun demi melihat Agnes yang dengan santai duduk mengangkangkan kakinya dan memperlihatkan vagina yang mulus tanpa bulu dan merekah mengundang&#8230;<br />
&#8216;Mulai sekarang, lu lonte kita-kita&#8230; Kapan aja kita ketemu lu, dan pengen ngentot, lu harus ngelayanin kita&#8230;&#8217;seru satu satpam sambil mendesah ketika Agnes mendeepthroath lagi penisnya dengan rakus.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8216;Kagak peduli lu lagi mens&#8230; atau lagi ngga pingin&#8230; lu harus layanin kita..&#8217; kata temannya sambil asyim menyodomi Agnes &#8216;Dan kita bakal hamilin lu biar beranak dari satpam&#8230;&#8217; geram satpam satunya lagi sambil dengan kasar menyodoki vagina Agnes&#8230;.</p>
<p style="text-align: justify;">Agnes melihat jam tangannya. 05.45&#8230;.</p>
<p style="text-align: justify;">Agnes terkikik geli melihat sepeda motor yang dikendarai ketiga satpam itu berjalan oleng bahkan nyaris jatuh, dan senyum nakal mengembang mengingat keinginan satpam itu untuk menghamilinya. Tak ada yang tau rahasia Agnes kalau dirinya sudah melakukan tubektomi, hingga dirinya aman menerima donor sperma tanpa khawatir hamil.</p>
<p style="text-align: justify;">Gadis itu kembali berlari santai melanjutkan joggingnya, ketika ia melihat seorang penjual bubur ayam sedang melintas. Perut lapar sang gadis mengingatkan dia kalau ia belum sarapan, maka dengan segera ia memakan dengan lahap bubur ayam itu, namun&#8230; &#8216;Aduh pak&#8230; saya lupa bawa uang&#8230;&#8217; &#8216;Waaah, neng jangan gitu dong&#8230; saya belum dapet penglaris. Masa udah diutangin lagi&#8217;, keluh pedagang bubur itu sambil memandang kesal pada Agnes</p>
<p style="text-align: justify;">&#8216;Gini aja bang, rumah saya di jalan xxx, no xx. Nanti abang dateng aja ke sana dan minta pembayarannya&#8230;&#8217; &#8216;Sembarangan aja si neng, udang ngga bisa bayar, nyuruh lagi&#8230;&#8217;ketus penjual bubur yang matanya kini bernafsu melihat kemulusan sang gadis, lalu lanjutnya,&#8217;Lagian gimana kalau neng bohong&#8230; saya ngga mau rugi dua kali dong&#8230;&#8217; &#8216;Yaaah, bang&#8230; terus gimana dong?&#8217; desah Agnes manja&#8230;</p>
<p style="text-align: justify;">Jakun penjual bubur itu bergerak tak terkendali ketika ia melihat Agnes sedikit membungkukkan badannya hingga bungkahan payudaranya yang tertutup sports bra terxpose.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8216;Atau&#8230;. saya bayar pake ini aja, ya?&#8217; kata Agnes genit sambil menurunkan celana pangsi tukang bubur yang kini tak bisa berkata-kata, terlebih ketika dengan ssantainya Agnes menjilati penis yang sudah sangat tegang itu bagai menjilati ice cream, menjilati buah zakar yang berbulu itu dengan nikmatnya, lalu mengulum penis itu sambil memberi hanj job pada tukang bubur yang blingsatan.</p>
<p style="text-align: justify;">Dan ketika hidung sang gadis bertumbukan dengan selangkangannya, tukang bubur itu tak tahan untuk tidak menekan kepala Agnes sambil menyemburkan sperma yang begitu banyak hingga Agnes tersedak dan sperma itu keluar bagai ingus dari hidungnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Dengan santai Agnes menjilati sperma yang terbuang itu, lalu berbisik lirid di telinga tukang bubur yang sekarang terduduk kelelahan, &#8216;baaaaaang, lunas, ya?&#8217; Kepala tukang bubur itu mengangguk-angguk lemah, sambil menarik nafas. Agnes tersenyum dan berlalu dari tempat itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Di rumahnya, Agnes berpapasan dengan Marni yang wajahnya tersipu malu dan Ujang yang menatap kemolekan majikannya dengan bernafsu, namun tak bisa berbuat apa-apa karena seluruh penghuni rumah mulai bangun. Agnes menyiapkan jacuzzynya, dan ketika rasa hangatnya dirasa cukup, gadis itu sgera membenamkan dirinya dalam kehangatan air. Bayangan persetubuhannya membuat Agnes on lagi, tangannya dengan lembut mengusap clitorisnya sambil sebelah lengan meremas payudaranya. Lenguhan panjang menandakan klimaks yang sangat hebat dari sang gadis&#8230;.</p>
<p style="text-align: justify;">08.00<br />
Hari ini Agnes terbebas dari semua rutinitas latihan vocal dan tarinya hingga dengan santai ia memacu sepeda motornya mengarungi jalanan. Di sebuah pertigaan mendadak seorang polisi menghentikan sepeda motornya. &#8216;Pagi mBak, bisa lihat surat-surat kendaraannya&#8230;&#8217; Polisi dengan perut buncit dan kumis baplang itu nampak tidak konsentrasi memeriksa surat-surat karena kemeja tanpa lengan Agnes dan celana jeans super mininya menggoda sang polisi. &#8216;Eeehm&#8230; mBa sudah melanggar aturan lalulintas,&#8217; kata polisi itu mencari alasan &#8216;mBak akan saya tilang, ayo ikut saya ke pos&#8230;&#8217; katanya lagi&#8230;</p>
<p style="text-align: justify;">Dengan ringan Agnes mengikuti langkah kaki sang polisi dan mereka masuk ke sebuah pos yang agak tersembunyi di mana ada tiga orang polisi lagi dengan tampang sangar menanti. &#8216;Waaah&#8230; siapa nih?&#8217; tanya seorang polisi &#8216;Biasa, pelanggar lalin.&#8217; kata polisi yang membawa Agnes, &#8216;Jangan-jangan maling motor nih&#8230;&#8217;</p>
<p style="text-align: justify;">Polisi tadi menatap Agnes dengan sinis dan berkata, &#8216;Kayanya kamu memang maling&#8230;&#8217; Agnes menatap mereka dengan santai lalu berkata, &#8216;Saya bukan maling, pak&#8230; lagian, di mana saya bisa nyembunyiin barang curian?&#8217; kata Agnes sambil berdiri dan merentangkan tangannya. Para polisi itu mendadak mendapati selangkangan celana mereka makin sempit, lalu dengan suara dibuat berwibawa, polisi tadi berkata. &#8216;Kami baru percaya kalau kamu sudah digeledah&#8217; Agnes menatap binal, dan mendesah cabul, &#8216;silahkan pak&#8230; geledah aku&#8230;&#8217;</p>
<p style="text-align: justify;">Salah satu polisi memberi perintah, &#8216;Sekarang kamu buka baju kamu&#8230;&#8217;, dengan sensual Agnes menarik kausnya ke atas dan membiarkan mata para polisi melotot melihat payudaranya yang menantang bebas, dan upperbody dengan definisi otot yang jelas. Dengan parau sebuah perintah kembali keluar, &#8216;sekarang celana mu&#8230;&#8217;, dengan gaya menggoda, Agnes membuka kancing celananya, menurunkan ritsluiting, lalu dengan ringan membalikkan tubuhnya membelakangi para polisi yang menadang takjub punggung sang gadis yang lalu membukkukkan badanya sambil melolosi celananya.</p>
<p style="text-align: justify;">Agnes bisa mendengar dengusan liar para polisi yang melihat keindahan bokongnya yang tak berbalut celana dalam, vaginanya yang rapat dan lubang anusnya menyihir keempat polisi itu yang bagai zombi bangkit dan mulai menggerayangi tubuh Agnes. Mulai dari ujung rambut sampai ujung kakinya, tak ada satu tempatpun yang terlewat dari &#8216;pemeriksaan&#8217; itu dan jejak remasan kemerahan menghiasi paha, pinggul, pantat dan payudaranya.</p>
<p style="text-align: justify;">Lalu seorang polisi duduk di meja yang ada di pos itu dan berkata, &#8216;Kita mau tes kadar alkohol kamu, sekarang lakukan breathalizer!&#8217; sambil mengacungkan penisnya yang sudah tegang itu. Mata Agnes berbinar melihat penis dihadapannya, dan tanpa ragu melahapnya dengan rakus dan melakukan breathalizer, sementara sepasang tangan kekar membuka belahan pantatnya dan sebuah suara berat berkata, &#8216;sekarang internal checking!&#8217;</p>
<p style="text-align: justify;">Agnes melenguh keenakan ketika penis itu menyodok lubang anusnya, tubuhnya bergetar menahan kenikmatan itu sementara mulutnya makin liar melakukan deepthroath hingga&#8230;. Dengan sensual Agnes menjilat sisi bibirnya yang belepotan sperma, lalu suara desahan bersahutan di pos itu ketika dengan brutal polisi di anusnya bergerak untuk kemudian memuntahkan muatannya&#8230;</p>
<p style="text-align: justify;">Dua polisi yang tersisa menghimpit Agnes dari depan dan belakang bagaikan sandwich, lalu polisi yang di depan Agnes mengangkat kedua kaki Agnes&#8230; Erangan keras membahana dari mulut ketiga insan itu, bahkan Agnes sampai mendapatkan orgasme ketika vaginanya dihujam dua penis secara bersamaan. Kenikmatan yang dirasakan Agnes begitu besar, hingga dengan la ia membalas perlakuan kasar dua polisi itu dengan meliukkan tubuhnya dengan sensual, membiarkan tubuhnya dicupangi&#8230;</p>
<p style="text-align: justify;">Jam 10.00</p>
<p style="text-align: justify;">Akhirnya pemeriksaan itu selesai&#8230; Tuduhan pencurian tak terbukti, namun Agnes diminta melakukan wajib seminggu tiga kali selama satu bulan di pos itu. Agnes menyetujuinya dengan wajah berbinar, lalu dengan santainya melanjutkan berkendara meninggalkan para polisi yang kini merasakan linu setelah sperma mereka diperas habis oleh sang gadis&#8230;</p>
<p style="text-align: justify;">Dan kini sepeda motor itu kembali meluncur bebas membelah Jakarta, hingga pada sau titik, Agnes merasa panggilan alam membuatnya mencari tempat pembuangan. Sebuah WC umum seakan sudah menanti Agnes untuk tergopoh-gopoh segera masuk dan menuntaskan hajatnya. Gadis itu tidak menyadari kalau WC itu merupakan tempat mangkal preman, pengamen dan gepeng. Agnes tak menyadari ketika ketergopohannya menarik perhatian para begundal itu, yang kini menanti dengan sabar hingga terdengar suara cebokan dan suara toilet disiram.</p>
<p style="text-align: justify;">Agnes terkejut ketika pintu WCnya dibuka paksa, celana jeansnya masih tersangkut di lututnya. Seorang preman bertampang saram dan mabuk masuk ke dalam toilet itu, lalu dengan membuka celananya dan mulai kencing. Mata Agnes terpaku pada penis itu, ia lupa kalau kini vagina dan pantatnya terkespose bebas. &#8216;Eh perek, ngapain lu liat kontol gua?&#8217; bentak preman tadi menyadarkan Agnes, dan tanpa basa-basi preman tadi menjambak rambut Agnes, memaksanya berlutut di lantai WC yang bau itu lalu dengan sadisnya menjepit hidung Agnes hingga gais itu membuka mulut mencari nafas. &#8216;Nah sekarang lu bersihin kontol gua.. gua males cebok&#8217; kata preman tadi dengan santai sambil tangannya menekan kepala Agnes hingga wajah gadis itu tertanam di selangkangannya.</p>
<p style="text-align: justify;">Agnes merasakan ada beberapa penis lagi di sekelilingnya, dan dengan bernafsu Agnes mengocoki semua penis itu sambil meresapi penis sang prman yang dengan kasar memperkosa mulutnya. Kemudian setelah sperma sang preman masuk dalam perut Agnes, gadis itu ditunggingkan dengan wajah tepat berada di depan lubang toilet.</p>
<p style="text-align: justify;">Desah gadis itu memenuhi toilet yang sempit itu ketika penis demi penis menghujam vagina dan anusnya. Ia bisa merasakan beragai ukuran penis, panjang, pendek, gemuk, besar, super. Selain itu beragam tekstur juga bisa dirasakan gadis itu. berurat, polos, kepala jamur, bersisik, berkutil. Bahkan mulutnya juga penis-penis yang berdaki dan berjamur untuk dipuaskan.</p>
<p style="text-align: justify;">Agnes mendapatkan multiple orgasme dalam session ini, dan penjaga WC yang juga menikmati Agnes di ketiga lubangnya merasa senang karena pendapatan toiletnya bertambah luar biasa hari itu. Ada sekitar lima puluh orang yang mendadak ingin &#8216;buang air&#8217; di dalam &#8216;lubang toilet&#8217; yang kini sedang di sandwich dalam posisi berdiri.</p>
<p style="text-align: justify;">Pukul 14.00</p>
<p style="text-align: justify;">Agnes berjalan sedikit sempoyongan setelah tambahan duapuluh lima penis lagi mengisi tiga lubang kenikmatanya. Selruh tubuh dan pkaiannya basah oleh keringat, sperma, dan air seni. Sedikit tertatih ia melangkah melewati geletakan penikmatnya yang terkapar kelelahan. Senyum genit tersungging di bibirnya sebelum kembali sepeda motornya, membuka bagasi motor, an dengan santai mengganti pakaiannya dengan baju ganti di depan penikmatnya yang melotot liar tanpa sanggup berdiri lagi.</p>
<p style="text-align: justify;">Kemudian dirinya meluncur ke sebuah mall, ia masuk ke sebuah counter pakaian dan memilih beberapa pakaian. &#8216;mBak&#8230;&#8217;tegur Agnes pada seorang penjaga toko yang nampak memancarkan ketertarikan pada Agnes &#8216;Saya mau nyobain baju&#8230; bisa temanin saya?&#8217; Pelayan toko itu tersenyum binal dan membimbing Agnes ke changing booth, yang berada tepat di tengah counter, mereka berdua masuk ke dalam dan menutup tirai itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Dengan mesra pelayan toko itu mengangkat kaus Agnes, dan meloloskannya. Desahan Agnes ketika jemari sang pelayan toko memelorotkan celananya cukup mengundang keheranan para pelanggan yang lalu dengan sopan digiring pelayan lainnya untuk memberikan privasi pada Agnes yang kini sedang menjilati clitoris pelayan tokohingga lenguhan yang ditahan mengiringi semburan cairan cinta sang pelayan di mulut Agnes yang bagai kehausan menghisap habis cairan itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Lalu dengan kelembutan sama sang pelayan toko mengoral vagina Agnes, sambil jari tegahnya menghujam anus sang gadis. Hentakan kepalan tangan yang menghantam vagina Agnes seiring kocokan jari tengah di anus itu mampu membuat Agnes orgasme panjang&#8230;</p>
<p style="text-align: justify;">Pukul 15.30</p>
<p style="text-align: justify;">Agnes keluar dari changing booth itu dengan wajah puas dan pakaian baru, ia cuek saja melewati barisan pelanggan yang merasa jengkel dan heran dengan kelakuan gadis itu yang kini sedang tersenyum nakal pada para pelayan toko yang nampak kegiragan karena di tangan mereka terdapat kartu nama Agnes, dan dibelakangnya terdapat undangan untuk orgy lezbie party bersama Agnes.</p>
<p style="text-align: justify;">Agnes tersadar dari lamunanya ketika dirinya berada dalam section under renovation di mall itu, Ia melihat dua orang pekerja yang sedang melongo melihat tubuh sexy agnes yang terbalut night dress dengan belahan punggung sampai ke pinggulnya dan dengan high heel sexy yang membalut kaki jenjangnya. Senyum binal tersungging di bibir Agnes yang masuk ke dalam counter gelap itu dan menyapa pekerja itu. &#8216;Abang kerjanya rapi, hebat banget&#8230;&#8217; desah Agnes sambil bergerak sensual di antara kedua pekerja yang mendadak menjadi sangat kikuk. &#8216;Aku mau kasih abang hadiah&#8217; kata Agnes lagi sambil mencium lebut bibir keduanya, yag dengan semangat empat lima, melakukan french kiss dengan gadis yang menjanjikan mereka hadiah.</p>
<p style="text-align: justify;">Liur ketiganya menyatu, Ages tak perduli dengan liur yang berleleran, tangan yang menggerayangi pinngul, pantat, payudaranya, serta bermain di vaginanya. Agnes menggigil keenakan ketika kedua pekerja itu mengoral vagina dan anusnya bersamaan dan orgasmenya memberikan tanda pada pekerja itu untuk mengambil hadiah mereka.</p>
<p style="text-align: justify;">Dengan senang hati Agnes menduduki penis besar pekerja itu dan dengan binal membuka belahan pantatnya yang segera diisi oleh penis. Agnes mendesah-desah hebat seiring rotasi kedua pekerja itu di seluruh lubang tubuhnya. Mereka juga membimbing Agnes menciptakan gaya baru dalm bercinta yang membuat ketiganya orgasme, orgasme dan orgasme.</p>
<p style="text-align: justify;">Pukul 17.00<br />
Mandor pekerja itu habis-habisan memarahi kedua pekerja yang disangkanya bermalas-malasan dalam bekerja karena menemukan mereka tertidur kelelahan di dalam counter itu, sementara Agnes dengan santainya melenggang ke luar mall. Memanggil taxi dan membiarkan motornya begitu saja di mall.</p>
<p style="text-align: justify;">Pukul 18.30<br />
Agnes tiba di sebuah cafe remang-remang di kawasan kumuh Jakarta. &#8216;Ah Agnes&#8230; kamu dateng juga&#8217; ujar seorang pria buncit sambil meremas pantat Agnes, &#8216;Aku sangka kau udah ngga mau lagi ke sini&#8230;..&#8217; &#8216;Tenang aja babah, aku masih senang main ke sini, lumayan buat hiburan&#8230;&#8217; kata Agnes sambil menyelipkan jemari lentiknya ke balik celan sang pria yang langsung menggiring Agnes ke ruang kerjanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Foreplay itu berlangsung singkat karena babah pemilik cafe lebih memilih segera menghujam penis pendeknya ke vagina Agnes dan dalam hitungan menit menumpahkan spermanya ke dalam rahim Agnes yang nampak jauh, sangat jauh dari puas. Namun dengan bakat akting alaminya Agnes menampakkan wajah penh kepasan pada sang babah yang nampak seperti pria perkasa.</p>
<p style="text-align: justify;">Lalu Agnes bersiap di panggung, melakukan check sound sebelum berdandan merapihkan maskara dan lipstiknya yang luntur ketika membersihkan penis imut sang babah.</p>
<p style="text-align: justify;">Agnes memandang para pemain musik dan berkata..&#8217;Masih ada waktu&#8230; mau ngentot?&#8217;</p>
<p style="text-align: justify;">Pukul 22.00<br />
Para pemusik dengan tenaga baru setelah bertempur dengan Agnes yang namak terpuaskan oleh orgasme yang diperolehnya, mulai menghibur pengunjung cafe dengan lagu-lagu beat cepatnya dan dengan lirik yang mengundang birahi.</p>
<p style="text-align: justify;">Para pengunjung yang terutama golongan menengah ke bawah sangat terpukau dengan likan binal Agnes di atas panggung yang tanpa malu melakukan striptease.</p>
<p style="text-align: justify;">Tubuh bugil gadis itu mengunjungi kursi tiap tamu sambil menggoda mereka hingga para pengunjung itu tak tahan untuk mulai mengelusi penis mereka.<br />
Ketika Agnes kembali ke atas panggung gadis itu melakukan hal yang extreme, mulai dari memainkan clitorisnya sendiri, menggesekkan vaginanya ke mike stand, hingga meliukkan tubuhnya hingga.</p>
<p style="text-align: justify;">Para pengunjung tak bisa bertahan lebih lama lagi, mereka segera berebutan naik ke panggung, berebutan merayahi tubuh Agnes, membasahi tubuhnya dengan liur dan minuman keras, lalu tanpa tau siapa yang mengomando, pesta gangbang terjadi di atas panggung itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Microphone itu diganti oleh penis yang bergantian merasakan kelembutan tenggorokan sang idola, rahimnya tak lagi mamu menampung sperma yang ditumpahkan dari puluhan penis yang merangsek masuk ke dalam vaginanya, bahakan ada yang sampai masuk ke rahimnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Anusnya juga menjadi pelabuhan penis yang seakan berlomba membuka lubang anus yang imut itu. Namun Agnes tak khawatir karena ramuan khususnya akan mengembalikan kondisi vagina dan anusnya kembali seperti perawan.</p>
<p style="text-align: justify;">Babah pemilik cafe sangat senang, jutaan rupiah bertebaran di panggung, menutupi tubuh Agnes yang tertutup sperma. Pesta sex itu baru saja berakhir dengan geraman pengunjung yang tak ingin pesta itu berakhir, namun bahkan untuk berdiri mereka harus dipapah&#8230;.</p>
<p style="text-align: justify;">Pukul 02.00, waktu cafe bubar&#8230;</p>
<p style="text-align: justify;">&#8216;Nez&#8230; benar kamu ngga mau bayaranmu?&#8217; tanya babah yang keheranan karena Agnes menolak sepeserpun hasil keringatnya. &#8216;Aku dapat kepuasan lahir batin, bah&#8230; itu yang penting. Trus asal Nez masih boleh main ke sini, Nez udah sangat senang&#8230;&#8217; &#8216;Pintu cafe ini terbuka buat kamu sayang&#8230;.&#8217;desah babah karena Agnes kembali menghisap spermanya sampai lemas&#8230;</p>
<p style="text-align: justify;">Pukul 03.00</p>
<p style="text-align: justify;">Marni membukakan pintu ketika Agnes pulang, gadis itu membimbing majikannya yang nampak mabuk itu ke kamar, membuka pakaian sang majikan sambil menahan nafsu untuk bercinta lagi. Ia akan membiarkan majikannya beristirahat.<br />
Tangan Agnes menahan Marni&#8230;<br />
&#8216;Maaaar&#8217; desah Agnes manja&#8230;&#8217;temani aku tidur, yaaaaaa&#8217;<br />
Marni tersenyum nakal, ia lalu membuka pakaiannya, masuk ke balik selimut dan&#8230;<br />
&#8216;Kamu juga jang&#8230; ngga usah nyumput, sini gabung sama kita-kita..&#8217; panggil Agnes sambil tersenyum melihat Ujang garuk-garuk kepala karena malu, lalu dengan segera membuka pakaiannya sendiri hingga bugil&#8230;</p>
<p style="text-align: justify;">Agnes merasa nyaman karena tubuhnya dipeluk dari depan dan belakang oleh dua orang yang kini bersamaan menberikan kehangatan bagi tubuhnya&#8230;<br />
It was a great day adventure&#8230;.</p>
<p style="text-align: justify;">Damn real good&#8230;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ceritasex.cn/kegilaan-agnes-the-best-over-24-hours/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

