<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Cerita sex porno ngentot mesum perek ayam kampus &#187; seks</title>
	<atom:link href="http://www.ceritasex.cn/tag/seks/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.ceritasex.cn</link>
	<description>Kumpulan cerita sex, foto bugil, dan film porno</description>
	<lastBuildDate>Wed, 04 Aug 2010 10:59:17 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0.1</generator>
		<item>
		<title>Inah, Pembantu Kakak Iparku</title>
		<link>http://www.ceritasex.cn/inah-pembantu-kakak-iparku/</link>
		<comments>http://www.ceritasex.cn/inah-pembantu-kakak-iparku/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 13 Jul 2010 07:35:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cerita Sex</dc:creator>
				<category><![CDATA[Gangbang Rame Rame]]></category>
		<category><![CDATA[Paruh baya]]></category>
		<category><![CDATA[Seks Umum]]></category>
		<category><![CDATA[Tante Girang]]></category>
		<category><![CDATA[kisah nyata]]></category>
		<category><![CDATA[birahi]]></category>
		<category><![CDATA[Hasrat]]></category>
		<category><![CDATA[inah]]></category>
		<category><![CDATA[kontol]]></category>
		<category><![CDATA[memek]]></category>
		<category><![CDATA[ngentot]]></category>
		<category><![CDATA[orgasme]]></category>
		<category><![CDATA[pembantu]]></category>
		<category><![CDATA[seks]]></category>
		<category><![CDATA[senam seks]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ceritasex.cn/?p=1481</guid>
		<description><![CDATA[Para pembaca mungkin masih ingat mengenai kisahku dengan kakak ipar yang dulu membenciku, namun secara tak terduga akhirnya kami saling berbagi kenikmatan yang ternyata sebelumnya sudah sama-sama kami angankan. Hubungan kami berlanjut hingga beberapa lama. Kalau timbul hasratku (kontolku sudah ngaceng) maka aku mengirim SMS kepadanya agar diupayakan waktu untuk bertemu dan berbagi kenikmatan, demikian [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Para pembaca mungkin masih ingat mengenai kisahku dengan kakak ipar yang dulu membenciku, namun secara tak terduga akhirnya kami saling berbagi kenikmatan yang ternyata sebelumnya sudah sama-sama kami angankan. Hubungan kami berlanjut hingga beberapa lama. Kalau timbul hasratku (kontolku sudah ngaceng) maka aku mengirim SMS kepadanya agar diupayakan waktu untuk bertemu dan berbagi kenikmatan, demikian pula sebaliknya, kalau memek dia sudah sangat ingin ditembus oleh kontolku maka dialah yang mengirim SMS kepadaku; dan pada kenyataannya dialah yang lebih sering meminta aku agar memuaskan hasrat ngewenya yang masih menggebu-gebu. Dan sejak itu dia makin rajin melakukan senam seks untuk lebih menambah kenikmatan ngewe yang biasa kami lakukan. Oh ya, perlu pembaca ketahui bahwa kadang-kadang kami melakukan persetubuhan di rumahku dan kadang-kadang di rumahnya, tergantung situasi dan kondisi&#8211;kebetulan jarak antara rumahku dengan rumahnya cukup jauh&#8211;, atau di tempat-tempat lain yang kami rasa memungkinkan.</p>
<p style="text-align: justify;">Pada suatu hari aku pergi ke rumahnya karena sebelumnya aku menerima SMS agar aku datang ke rumahnya pada hari itu karena memeknya sudah sangat ingin diewe oleh kontolku. Akupun dengan senang hati menyetujuinya karena kontolku pun sudah ingin dimasukkan ke dalam lubang memek sementara istriku semakin dingin saja. Seperti biasa aku melakukan olah raga dahulu agar badanku fit karena akan menghadapi pertempuran sengit; kontolku aku elus-elus karena dia merupakan unjung tombak yang siap menembus dan melobangi musuh, tapi musuh yang nikmaaaaaat.</p>
<p style="text-align: justify;">Sesampai di rumah kakak iparku tersebut aku langsung masuk karena biasanya kalau sudah janjian seperti itu pintunya tidak pernah dikunci, malah kadang-kadang aku langsung masuk ke dalam kamarnya dan di sana ia sudah menunggu dengan tak sabar maka kalau begitu kami pun langsung melakukan pertempuran, pergumulan, dan per-ewe-an. Namun kali itu suasana sepi, kakak iparku tidak terlihat, di dalam kamarnya pun tidak ada. Aku cari di dapur tidak ada, kamar mandi pun kosong. Aku merasa agak kesal padahal nafsuku sudah menggelora dan kontolku sudah ngaceng dan berdenyut-denyut, haruskah kontolku kutenangkan kembali? Namun bagaimanakah caranya?</p>
<p style="text-align: justify;">Naaah ……! Naaah……! Aku pun memanggil si Inah (Inah adalah pembantu rumah tangga kakakku yang sudah lama bekerja di sana, umurnya kira-kira 26 tahun, tapi sudah 4 tahun menjadi janda). Ya Maaas ….. ! Si Inah menjawab sambil menghampiriku. Sejenak aku terkesima, aku merasa pangling. Tidak seperti biasanya, kali ini si Inah berdandan dengan rapi dan seksi. Ia mengenakan celana panjang yang ketat sehingga segitiga memeknya tercetak dengan jelas, di bagian atasnya ia memakai kaos tanpa lengan dengan bagian dada yang terbuka sehingga terlihat pangkal teteknya yang putih mulus sangat menggairahkan dan ketiaknya dengan sedikit bulunya yang tersembul sehingga menyebabkan kontolku yang tadi sudah mulai lemas menjadi ngaceng kembali. Badannya harum oleh parfum. Aku baru sadar bahwa ternyata si Inah itu cantik dan seksi, tubuhnya bahenol, tidak kalah dengan gadis-gadis kota, hanya saja selama ini ia tidak pernah berdandan karena sibuk dengan pekerjaan di rumah.</p>
<p style="text-align: justify;">“Ibu ke mana Nah?” tanyaku. “Ke kampung Mas bersama Bapak, tadi pagi ada telepon dari kampung yang menyuruh Ibu dan Bapak ke kampung, katanya sih ada urusan penting”, kata si Inah. “Kapan pulangnya?” tanyaku selanjutnya. “Katanya sih nanti sore”, jawab si Inah. “Ada pesan dari Ibu? tanyaku; si Inah menjawab ragu-ragu “Ada Mas, anu ……. anu ……..” “Anu anu apa Nah, kalau ngomong yang jelas dong!” kataku; “Anu Mas, kata Ibu mentimunnya diberikan saja kepada saya”, kata si Inah. “Mentimun, mentimun apa?” tanyaku heran. Si Inah semakin kelihatan gugup “anu mas mentimun yang dibawa oleh Mas”. Aku semakin bingung “Mentimun apa? Aku tidak pernah membawa mentimun”, kataku. “Anu Mas …….. mentimun Mas …… yang biasa dikulum oleh Ibu dan dimasukkan ke memeknya” kata si Inah. Aku merasa kaget, ternyata yang selama ini kulakukan dengan diam-diam dengan kakak iparku telah diketahui oleh si Inah. Aku kebingungan, apa yang harus kulakukan? Si Inah berkata lagi, “Ya tidak apa-apa Mas kalau Mas keberatan mah, tapi perbuatan Mas yang suka mengewe Ibu akan saya ceriterakan kepada Bapak”.</p>
<p style="text-align: justify;">Mendengar permintaan serta ancamannya, ditambah lagi sebenarnya dari tadi aku sangat terangsang melihat kemolekan tubuh si Inah maka segera kuraih tubuh Inah ke pangkuanku (aku sedang duduk di kursi), aku cium bibirnya sambil tanganku bergerilya masuk ke dalam kausnya untuk menggarap teteknya. Si Inah mengerang dan merintih, ngngngnghhhhhh ……. ssssshhhhhh ….., kemudian ciumanku turun ke lehernya yang jenjang sementara tanganku berusaha melepaskan kaos yang membungkus tubuhnya. Ciumanku terus turun ke buah dadanya yang sudah tidak ditutupi oleh apa-apa, dan ternyata dia tidak memakai BH, aku hisap dan aku permainkan pentilnya dengan lidahku. Diperlakukan demikian si Inah menggelinjang-gelinjang keenakan sambil mulutnya tidak henti-hentinya mengeluarkan erangan dan jeritan lirih, aaaaaahhhhh …….. sssssssss …….. Mas nikmaaaaaat, terus Maaaaaaas ……… hisap terusssss …… Maassss.<br />
<span id="more-1481"></span><br />
Mulut si Inah terus meracau …… Maaaasssss ……. teruuusssss ……. Aku tidak tahaaaaannnnn …….. garap memekku Maassssss …….. aku ingin segera merasakan kontolmu Maaaassss…….. Tanganku segera kuluncurkan ke bawah untuk membuka ritsleting celananya, namun karena sambil duduk maka aku mengalami kesulitan. Maka kugendong si Inah menuju kamar tidur yang biasa aku pergunakan untuk ngewe dengan kakak iparku. Dia kubaringkan di tempat tidur dengan kakinya menjuntai ke bawah sehingga memeknya semakin tercetak menonjol pada celana ketatnya. Segera kulucuti celana panjangnya dan ternyata dia tidak memakai cd, sehingga terlihat jelas kemaluannya yang berwarna hitam kemerah-merahan dengan ditumbuhi bulu yang tipis, begitu sensual, begitu menantang. Melihat hal itu aku segera mendaratkan bibirku di pusat kenikmatan wanita tersebut, menjilati itilnya dan memasukkan lidahku ke dalam lubang kenikmatannya. Diperlakukan demikian si Inah menggelinjang dengan hebat sambil mulutnya tidak henti-hentinya mengeluarkan erangan serta rintihan yang menandakan bahwa dia merasakan kenikmatan yang sangat, aaaaahhhh ……… Maaaassssss ……….. sssssshhhhhhsssshhhhh …….. nikmaaaatttt …….. sssssudddddaaaahhh …….. Massssssss ………. Cepet masukkan kontolmu Massssss ………… aku sudah tidaakkkkkk sabar ingin merasakan kontolmu Masssssssss…….. Terasa olehku ada cairan hangat yang keluar dari lubang memeknya, aku hisap cairan tersebut sssrrrrrp ……&#8230; Tubuh si Inah pun mengejang sambil berteriak histeris kontooooooooollllllllllllll …….. kontooooooooooolllllll. Kakinya yang menggelantung di pundakku menggelepar-gelepar. Tangannya menggapai-gapai mencari kontolku yang sudah sangat tegang. Aku menghentikan hisapanku pada memeknya dan sekarang bibirku menjelajah naik, mulai dari perutnya, pusarnya, kemudian ke arah teteknya. Kuhisap serta kupermainkan pentilnya dengan lidahku. Seiring dengan itu sodorkan kontolku agar bisa dipegang oleh tangannya, dan ia segera meremas-remas kontolku dengan gemas sambil berteriak histeris, kontooooooll ……… aku ingin segera merasakan diewe olehmu kontooooooollll ……..</p>
<p style="text-align: justify;">Melihat hal itu aku segera mengarahkan kontolku ke lubang memeknya. Pada mulanya aku agak kesulitan memasukkan kontolku ke dalam memeknya karena memeknya sempit, maklum sudah empat tahun ia menjanda dan tidak pernah mengeluarkan anak. Bahkan perkawinannya pun hanya bertahan beberapa minggu sehingga bisa kuperkirakan bahwa memeknya itu baru beberapa kali ditembus oleh ******. Namun karena memeknya sudah sangat basah akhirnya kontolku berhasil juga menembus memeknya. Kumajumundurkan dulu kontolku setengahnya sampai terasa lancar jalan masuknya; kemudian sekaligus kuhunjamkan semua kontolku sehingga batangnya tertelan semua oleh memek si Inah. Si Inah menjerit histeris merasakan sensasi yang sudah sangat lama tidak ia rasakan, aaaaaaaaaaaawwwwwwwww ………., disertai dengan desahan yang menggairahkan dan keluarnya perkataan-perkataan jorok dalam bahasa daerah sebagai ungkapan terlampiaskannya nafsunya, ssssshhhhhhhhh ……… ssssshhhhhhh ………. aduuuuuuhhhhhh …….. kontooooooollllll ……… ewwwwweeeeeeeeee…….. aaaahhhhhhhh ……….. sing jerooooooooooooo ……… belekooooooooook ……..</p>
<p style="text-align: justify;">Mendengar teriakan-teriakan histerisnya aku semakin bernafsu, maka kupercepat genjotanku, sementara kulihat si Ina matanya merem melek, sambil tangannya mencengkeram erat punggungku, dan mulutnya terus mengeluarkan desahan serta rintihan yang sangat merangsang, ssssssshhhhhhhhh ………… ssssshhhhhhh ………….. ssssshhhhhhh ………… eeeemmmmmmhhhhhhh ……….. Kemudian aku berguling sambil memeluk tubuh si Inah dan kontolku tidak lepas dari memeknya, sehingga sekarang tubuh si Inah berada di atas tubuhku. Sengaja aku melakukan itu untuk memberi kesempatan kepada si Inah agar dia bisa lebih aktif menentukan irama permainan. Benar saja begitu ia berada di atas tubuhku segera ia menaikturunkan tubuhnya sehingga terasa benar bahwa kontolku semakin dalam menghunjam ke dalam memeknya. Aku pun tidak tinggal diam kunaikturunkan pula pantatku seiring dengan naikturunnya pantat si Inah sambil mulutku tetap menghisap teteknya. Ketika pantat si Inah dinaikkan maka pantatku aku kebawahkan, dan ketika pantat si Inah diturunkan aku sodokkan kontolku sekeras-kerasnya. Kami saling menekan, si Inah menekan ke bawah sedangkan aku menekan ke atas. Ketika terjadi sodokan itulah terjadi sensasi yang hebat. Aku dan si Inah sama-sama mengerang dan mendesah, Naaaahhhhhhh ……… memekmu nikmaaaaattttt, aku merasa melayang di awaaaannnn…, Maaaaaasssss …… kontolmu juga nikmaaaaaatttt, heunceutku tidak akan melepaskan kontolmu hingga aku merasa puasssssssss …….. betul, ayo Mas pantatnya di-geol-kan berlawanan arah dengan geolan pantatku. Aku pun melakukan permintannya, dan ternyata ruaaarrrrrr biasa.</p>
<p style="text-align: justify;">Ketika sedang seru-serunya kami bertempur terdengar deringan bunyi telepon di ruang tengah. Aku menyuruh si Inah mengangkat telepon kalau-kalau penting, namun si Inah tidak mau melepaskan kontolku, ia mau mengangkat telepon tersebut dengan syarat agar aku tetap menancapkan kontolku di memeknya, sementara itu suara telepon terus berdering. “Naaaaahhhh ….. angkat teleponnya doooong kalau-kalau ada yang penting”, kataku. “Boleeeehhhh …… Maaasssss asalkan kontolmu tidak lepas dari memekku, kalau tidak lebih baik telepon itu tidak kuangkaaaaat”. “Baiklah Nah sekarang kita main belakang supaya kamu lebih leluasa nanti mengangkat teleponnya”. Maka kucabut kontolku dan si Inah sudah mengerti bahwa ia harus menungging. Ketika kumasukkan kontolku dari belakang lagi-lagi si Inah memekik tertahan, aaahhhhh……… ssssshhhhhh.</p>
<p style="text-align: justify;">Kami pun berjalan ke ruang tengah sambil tidak melepaskan ****** dari memek si Inah. Si Inah berjalan di depanku sambil kupeluk, kuremas buah dadanya dan kupermainkan pentilnya, bibirku menciumi tengkuk serta bagian belakang telinganya. Kontolku kuusahakan agar tidak lepas dari memeknya walaupun sambil tetap berjalan. Sesampai di tempat telepon si Inah pun mengangkat telepon sambil membungkukkan badannya, maka kontolku yang hampir terlepas dari memeknya masuk kembali sambil kutekan mundur maju sehingga si Inah mendesah-desah seperti orang yang sedang makan sambal pedas, sssssshhhhhh ……… sssssssshhhhhh …….. aaaaahhhhhhh. Ternyata yang menelpon tersebut adalah kakak iparku dari kampung yang memberitahukan bahwa ia tidak bisa pulang hari itu karena urusannya belum selesai jadi harus menginap. “Nah, mengapa kamu lama sekali mengangkat teleponnya”, kata kakak iparku. “Anu, sedang di dapur Buuuuu, sssshhh”, si Inah menjawab sambil mendesah ditahan. Mendengar desahan si Inah kakak iparku bertanya, “Mengapa kamu Nah mendesah begitu, sedang makan sambal ya?” “Iya Bu, sssshhhhhh …… ini saya makan sambal sssshhhhh dengan mentimun ssshhhhhhh ….. nikmat sekali bu, aaaawwwwwww”. “Ah kamu ada-ada saja sampai menjerit segala, silahkan nikmati mentimunmu sepuas-puasnya, aku tidak pulang hari ini karena masih ada keperluan, mungkin besok sore baru pulang, hati-hati yan di rumah, selamat menikmati mentimun” kata kakak iparku, dikiranya si Inah sedang memakan mentimun sungguhan, padahal yang dimakan adalah mentimun hitam yang pangkalnya berbulu, dan yang memakannya pun bukan mulut atas tapi mulut bawah alias heunceueueueueuetttt ………….. Si Inah menjawab, “Iya Buuu, aaaaahhhh …… sssshhhhhhh ……. Terima kasih Bu atas mentimunnya”, aaaaawwww….. Maaaas ………. Terusssss keluarmasukkan kontolnya ……… hhmmmmmhhhhhsssssshhh.</p>
<p style="text-align: justify;">Kami pun melanjutkan permainan nikmat itu di ruang tengah, rasanya lebih leluasa karena ruangannya lebih luas. Kami berguling-guling, walaupun agak sakit di badan dan di dengkul tapi rasa sakit itu terkalahkan oleh rasa nikmat. Tubuh kami sudah basah kuyup dengan keringat, sampai akhirnya kami menyudahi permainan ini dengan pekikan histeris secara bersamaan, sssssshhhhh …… aaaaaawwwwwww ……….. aduuuuuuuuuuuh……. Maaaasssss aku keluaaaaaar. Nafas kami tersengal-sengal, air maniku muncrat di dalam memek si Inah, si Inah memelukku erat-erat, tubuhnya ambruk ke atas tubuhku. Kami terus saling berpelukan sampai tertidur, sementara kontolku masih menancap di memeknya seolah-olah tidak mau lepas.</p>
<p style="text-align: justify;">Karena kakak iparku tidak pulang maka aku memutuskan untuk bermalam menemani si Inah sambil terus menerus mengulangi persetubuhan kami dengan mencoba berbagai posisi seperti yang terdapat di dalam vcd porno yang kami tonton berdua, sementara tubuh kami sengaja dibiarkan telanjang sehingga kapan pun aku mau dan kontolku ngaceng tinggal aku masukkan ke dalam memek si Inah di mana pun atau sedang apa pun dia, di dapur, di tengah rumah, di kamar mandi, bahkan ketika ia mengepel lantai sambil nungging pun aku tidak ragu-ragu untuk menikam memeknya dengan kontolku dari belakang. Celakanya diperlakukan bagaimanapun si Inah tidak pernah menolak, bahkan sesekali justru dialah yang mengambil inisiatif. Seperti pernah terjadi ketika aku sedang tidur lelap karena kecapaian aku merasa ada sesuatu yang nikmat dan geli di kontolku; ketika kubuka mataku ternyata si Inah sedang mengulum kontolku dan ketika kontolku sudah ngaceng ia memasukkan kontolku itu ke memeknya sambil pantatnya tidak berhenti melakukan goyang-Inul. Mulutnya tidak henti-hentinya mengerang eeeemmmmmhhhh ……. Emmmmhhhhh. Aku pura-pura tidur, sampai ketika merasa sudah tidak tahan aku bangun dan mengimbangi goyang-Inulnya dengan sodokan ala Tyson dipadukan dengan goyangan ala Ricky Martin.</p>
<p style="text-align: justify;">Malam harinya ketika sedang menggenjot memek si Inah, entah untuk yang keberapa kalinya, aku menerima SMS dari kakak iparku yang intinya meminta maaf bahwa tidak menepati janji karena secara mendadak harus pergi ke kampung. Ia menulis: “Dik, aku minta maaf karena tidak dapat menyediakan memekku untuk kontolmu yang perkasa, nanti kalau sudah pulang kita rapelkan saja ya, jaga kontolmu baik-baik untuk pertarungan nanti, salam dari memekku untuk kontolmu!”. Dia tidak tahu bahwa saat itu kontolku sedang menancap di dalam memek pembantunya yang secara jujur kuakui bahwa memeknya lebih enak karena lebih sempit sehingga jepitannya lebih kuat dan empotannya lebih menghisap.</p>
<p style="text-align: justify;">Dari obrolan si Inah aku mengetahui bahwa sebenarnya si Inah sudah lama mengetahui perselingkuhanku dengan majikannya. Ceriteranya begini: pada suatu hari, ketika ia sedang menyapu lantai di depan kamar kakak iparku ia mendengar suara kakak iparku itu menjerit tertahan dan mengerang-erang sambil merintih-rintih. Secara kebetulan pintu kamar tersebut sedikit terbuka, sehingga ia bisa mengintip ke dalam. Di dalam kamar ia melihat tubuh majikannya sedang menggelepar-gelepar di bawah tubuhku sambil merintih-rintih. Yang paling membuatnya berdesir adalah ketika ia melihat kontolku dengan lincahnya sedang memompa memek majikannya sambil mengeluarkan suara berdecak-decak seperti kaki yang berjalan di tanah yang becek. Tubuh si Inah pun bergetar, dan secara refleks tangannya yang satu mempermainkan itilnya sementara tangan yang satu lagi mempermainkan puting susunya. Sejak saat itu bila ada aku si Inah selalu berusaha mengintip ke dalam kamar melalui lubang kunci, dan seringkali ia melihat variasi permainan kami termasuk kegemaran kakak iparku mengulum kontolku sebelum memasukkannya ke dalam memeknya, atau aku menjilati itilnya sebelum kutembus dengan kontolku. Sejak saat itu pulalah si Inah, menurut pengakuannya, selalu membayangkan bagaimana nikmatnya bila memeknya ditembus oleh kontolku. Tidak jarang ia menghayal sambil melakukan onani dengan memasukkan mentimun ke dalam memeknya, tapi mentimun tetaplah mentimun; dingin, kulitnya keras, dan tidak hidup. Oleh karena itulah ia selalu berusaha mencari jalan agar dapat ngewe denganku.</p>
<p style="text-align: justify;">Keesokan harinya ketika aku mau pulang kulihat si Inah sedang masak di dapur dengan posisi menungging. Kulihat dia memakai rok pendek tanpa tidak memakai cd sehingga terlihat ujung memeknya yang merah mereka dengan dihiasi bulu yang pendek. Melihat pemandangan tersebut tanpa dapat ditawar-tawar lagi kontolku ngaceng. Aku pun melepas celanaku dan dengan mengendap-endap menghampiri si Inah dari belakang, dan karena sedang asyik mengiris bumbu si Inah tidak menyadari kalau aku menghampirinya. Seketika aku peluk dia dan kontolku aku gesek-gesekkan ke memeknya. Si Inah terpekik kaget campur senang, tangannya segera memegang kontolku yang memang belum kumasukkan ke dalam memeknya. Dia tidak sadar bahwa tangannya tersebut baru saja dipergunakan untuk memegang cabe yang diiris, kontan saja kontolku merasa panas. “Aduuuuuh, gimana sih Nah, kontolku panas niiih”, kataku. Si Inah merasa kaget, “Ooooh maaf Mas, saya tidak sadar, untuk meredamnya segera saja masukkan kontolmu ke dalam memekku supaya menjadi agak dingin, kuhisap nanti dengan memekku”. Memang itu yang ingin aku lakukan, maka segera saja kumasukkan kontolku yang sedang kepanasan ke dalam memek si Inah. Pada saat itulah aku merasakan pengalaman yang baru, kontolku merasakan suatu perasaan yang sangat fantastis, rasa panas yang menyelimuti kontolku menambah nikmatnya ngewe. Si Inah mendesah, ssssshhhhhh …… Maaaasss, kok rasanya sangat enaaaaakkk ya? Iya Naaaah, memekmu terasa lebih enaaaak dari biasanya ….. aaaaaaahhhhh……. Ssssssshhhhhh, Naaaahhh ……. Hisapan memekmu juga terasa lebih kuat, empot-empotan. Iyaaa Maaaassss ****** Mas juga terasa lebih hangaaaaatttttt……. Enaaaaaaakkkkkk ……. Sssshhhhhh. Sambil terus menggenjot kontolku tidak lupa tanganku mendarat pada tetek si Inah menambah sensasi kenikmatan yang tiada tara, sampai akhirnya kami mengakhiri permainan ini setelah mencapai orgasme secara berasama-sama. Sebagaimana biasanya si Inah pun berteriak histeris, aaaawwwww………. Kontoooool …. Sssshhh.</p>
<p style="text-align: justify;">Hubunganku dengan kakak iparku masih terus berlanjut karena ia menginginkan hal itu, namun bagi diriku sekarang lebih bervariasi karena ditambah dengan sekaligus mengewe pembantunya. Bila aku dan kakak iparku janjian di rumahnya maka si Inah dan aku selalu berusaha untuk mencari jalan agar dapat memasukkan kontolku ke dalam memeknya walaupun waktunya agak tergesa-gesa; mungkin ketika kakak iparku sedang mandi, atau sedang melayani tamu, atau sedang keluar sebentar; pokoknya kalau ada kesempatan walaupun sebentar kontolku harus menancap di memek si Inah. Namun sekarang aku mempunyai cara agar dapat menancapkan kontolku lebih lama ke dalam memek si Inah, yaitu aku datang ke rumah kakak iparku lebih pagi, ketika kakak iparku sedang senam. Tapi aku tetap tidak mau menggangu pekerjaan si Inah, sehingga kami mengewe sambil si Inah bekerja, misalnya masak di dapur, mencuci, dlsb. terutama pekerjaan-pekerjaan yang dilakukan sambil menungging dan aku memasukkan kontolku lewat belakang, yang penting kami merasa puas.</p>
<p style="text-align: justify;">Oh Inah …., oh kakak iparku ….., aku selalu merindukan memek kalian berdua. Kini aku masih berangan-angan bagaimana caranya agar aku dapat ngewe bertiga bersama-sama. Secara fisik dan secara teknik aku yakin bahwa aku mampu memuaskan keduanya secara bersamaan dan berkali-kali, namun entah bagaimana caranya?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ceritasex.cn/inah-pembantu-kakak-iparku/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pernikahan Yang Ternoda</title>
		<link>http://www.ceritasex.cn/pernikahan-yang-ternoda/</link>
		<comments>http://www.ceritasex.cn/pernikahan-yang-ternoda/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 25 Jun 2010 18:43:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cerita Sex</dc:creator>
				<category><![CDATA[Paruh baya]]></category>
		<category><![CDATA[Pemerkosaan]]></category>
		<category><![CDATA[anal seks]]></category>
		<category><![CDATA[anal]]></category>
		<category><![CDATA[anus]]></category>
		<category><![CDATA[enak]]></category>
		<category><![CDATA[ngentot]]></category>
		<category><![CDATA[perkosa]]></category>
		<category><![CDATA[seks]]></category>
		<category><![CDATA[ternoda]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ceritasex.cn/?p=1462</guid>
		<description><![CDATA[Di dalam ruangan itu terlihat sunyi beberapa dari mereka tidak sanggup melihat dua orang suami istri terbujur kaku, sedangkan di sampingnya terdapat anak yang masih berusia 11 tahun yang sedang menangisi ke dua orang tuanya, karena merasa kasihan aku meminta izin suamiku untuk menemuinya, setelah mendapat izin aku lalu menghampiri anak tersebut berharap dapat menenangkan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Di dalam ruangan itu terlihat sunyi beberapa dari mereka tidak sanggup melihat dua orang suami istri terbujur kaku, sedangkan di sampingnya terdapat anak yang masih berusia 11 tahun yang sedang menangisi ke dua orang tuanya, karena merasa kasihan aku meminta izin suamiku untuk menemuinya, setelah mendapat izin aku lalu menghampiri anak tersebut berharap dapat menenangkan hati anak tersebut, “Al..” panggilku pelan sambil duduk di sampingnya, “sudah jangan nagis lagi, biarkan kedua orang tuamu beristirahat”</p>
<p style="text-align: justify;">Anak itu tetap menangis, beberapa detik dia memandangku dan tidak lama kemudian dia langsung memelukku dengan air mata yang bergelinang, “tante, hiks…hiks… Aldi ga mau sendirian, Aldi mau mama, papa…” dengan penuh rasa kasih sayang aku mengelus punggungnya berharap dapat meringankan bebannya, “tante… bangunin mama,”katanya sambil memukul pundakku, aku semakin tak kuasa mendengar tangisnya, sehingga air matakupun ikut jatuh, “Aldi, jangan sedih lagi ya? Hhmm… kan masih ada tante sama om,” aku melihat ke belakang ke arah suamiku sambil memberikan kode, suami ku mengangguk bertanda dia setuju dengan usulku, “mulai sekarang Aldi boleh tinggal bersama tante dan om, gi mana?” tawarku sambil memeluk erat kepalahnya,</p>
<p style="text-align: justify;">Sebelum lebih jauh mohon izinkan aku untuk memperkenalkan diri, namaku Lisa usia 25 tahun aku menikah di usia muda karena kedua orang tuaku yang menginginkannya, kehidupan keluargaku sangaatlah baik, baik itu dari segi ekonomi maupun dari segi hubungan intim, tetapi seperti pepata yang mengatakan tidak ada gading yang tak retak, begitu juga dengan hidupku walaupun aku memiliki suami yang sangat mencintaiku tetapi selama 4 tahun kami menikah kami belum juga dikaruniai seorang anak sehingga kehidupan keluarga kami terasa ada yang kurang, tetapi untungnya aku memiki seorang suami yang tidak perna mengeluh karena tidak bisanya aku memberikan anak untuknya untuk membalas budi baik kakakku, aku dan suamiku memutuskan untuk merawat anaknya Aldi karena kami pikir apa salah menganggap Aldi sebagai anak sendiri dari pada aku dan suamiku harus mengangkat anak dari orang lain,</p>
<p style="text-align: justify;">Sudah satu minggu Aldi tinggal bersama kami, perlahan ia mulai terbiasa dengan kehidupannya yang baru, aku dan suamiku juga meresa sangat senang sekali karena semenjak kehadirannya kehidupan kami menjadi lebih berwarna, suamiku semakin bersemangat saat bekerja dan sedangkan aku kini memiliki kesibukan baru yaitu merawat Aldi, “Bi…. tolong ambilin tasnya Aldi dong di kamar saya,” kataku memanggil bi Mar</p>
<p style="text-align: justify;">Hari ini adalah hari pertama Aldi bersekolah sehingga aku sangat bersemangat sekali, setelah semuanya sudah beres aku meminta pak Rojak untuk mengantarkan Aldi ke sekolahnya yang baru, beberapa saat Aldi terseyum ke arahku sebelum dia berangkat ke sekolah. Seperti pada umumnya ibu rumah tangga, aku berencana menyiapkan makanan yang special untuk Aldi sehingga aku memutuskan untuk memasak sesuatu di dapur, tetapi saat aku melangkah ke dapur tiba-tiba kakiku terasa kaku saat melihat kehadiran pak Isa yang sedang melakukan hubungan intim dengan mba Ani, mereka yang tidak menyadari kehadiranku masih asyik dengan permainan mereka, “Hmm… APA-APAAN INI?” bentakku ke pada mereka, mendengar suaraku mereka terlihat tanpak kaget melihat ke hadiranku, “kalian benar-benar tidak bermoral, memalukan sekali!”</p>
<p style="text-align: justify;">Mereka tanpak terdiam sambil merapikan kembali pakaian mereka masing-masing, beberapa saat aku melihat penis pak Isa yang terlihat masih sangat tegang, sebenarnya aku sangat terkejut melihat ukuran penis pak Isa yang besar dan berurat, berbeda sekali dengan suamiku, “maafin kami Bu,” kini Ani membuka mulutnya, sedangkan pak Isa masih terdiam, “Maaf… kamu benar-benar wanita murahan, kamu tahu kan pak Isa itu sudah punya istri kenapa kamu masih juga menggoda pak Isa, kamu itu cantik kenapa tidak mencari yang sebaya denganmu?” emosiku semakin memuncak saat mengingat bi Mar istri dari pak Isa, “saya tidak menyangka ternyata anda yang sangat saya hormati ternyata tidak lebih dari binatang, betapa teganya anda menghianati istri anda sendiri,” beberapa kali aku menggelengkan kepalahku, sambil menunjuk ke arahnya,</p>
<p style="text-align: justify;">“maaf Bu ini semua salah saya, jangan salahkan Ani” kata pak Mar yang membela Ani, “mulai sekarang kalian saya PECAT, dan jangan perna menyentuh ataupun menginjak rumah ini, KELUAR KALIAN SEMUA!!” bentakku<br />
<span id="more-1462"></span><br />
Mendengar perkataanku Ani terlihat pucat tidak menyangkah kalau kelakuan bisa membuatnya kehilangan pekerjaan, sedangkan pak Isa terlihat tenang-tenang saja malahan pak Isa tanpak terseyum sinis, “he..he… Ibu yakin dengan keputusan Ibu,” pak Isa tertawa mendengar perkataanku, perlahan pak Isa mendekatiku, “jangan perna main-main dengan saya Bu,” ancamnya dengan sangat sigap pak Isa menangkap kedua tanganku, “apa-apaan ini lepaskan saya, atau saya akan berteriak,” aku mencoba mengancam balik mereka yang sedang mencoba mengikat kedua tanganku,“teriak saja Bu, tidak akan ada orang yang mendengar,” timpal Ani sambil membantu pak Isa mengikat kedua tanganku, Apa yang di katakan Ani ada benarnya juga, tetapi walaupun begitu aku tidak mau menyerah begitu saja dengan susah paya aku berusaha melepaskan diri tapi sayangnya tenagaku kalah besar dari mereka berdua, tanpa bisa berbuat apa-apa aku hanya dapat mengikuti mereka saat membawaku ke dalam kamar pak Isa. Sesampai di kamar aku di tidurkan di atas kasur yang tipis, sedangkan Ani mengambil sebuah Hp dan ternyata Hp itu di gunakan untuk merekamku, sehingga kehawatiranku semakin menjadi-jadi.</p>
<p style="text-align: justify;">“kalian biadab, tidak tau terimakasih anjing kalian!” air mataku tidak dapat kubendung lagi saat jari-jemari pak Isa mulai merabahi pahaku yang putih,</p>
<p style="text-align: justify;">“ja-jangan, mau apa kalian lepaskan saya ku mohon jangan ganggu saya,” kataku di sela-sela isak tangis, “siapa suruh ikut campur urusan saya, he…he… maaf bu ternyata hari ini adalah hari keberuntungan saya, dan hari yang sil bagi Ibu,” semakin lama aku merasa tangannya semakin dalam memasuki dasterku,</p>
<p style="text-align: justify;">“tidak di sangkah impian saya akhirnya terkabul juga,”” sambungnya sambil meremasi paha bagian dalamku, “makanya Bu jangan suka ikut campur urusan orang,” kini giliran Ani yang menceramahiku, “ya, saya ngaku salah tolong lepasin saya,” kini aku hanya dapat memohon agar mereka sedikit iba melihatku, tetapi sayangnya apa yang kuharapkan tidak terjadi, pak Isa tanpa semakin buas memainkan diriku</p>
<p style="text-align: justify;">Aku hanya dapat melihat pasrah saat dasterku terlepas dari tubuhku, kedua payudaraku yang memang sudah tidak tertutupi apa-apa lagi dapat dia nikmati, jari-jarinya yang kasar mulai memainkan selangkanganku, “sslluupss…sslluuppss… hhmm…. ayo Bu puaskan saya?” pinta pak Isa, sambil mengulum payudaraku beberapa kali lidahnya menyapu putting susuku yang mulai mengeras,</p>
<p style="text-align: justify;">“ko’ memiawnya basah bu, he…he…” memang harus diakui, tubuhku tidak dapat membohonginya walaupun bibirku berkata tidak, “wa…wa… Ibukan sudah punya suami ko’ masih juga menggoda laki orang lain, ga malu ya Bu,” Ani melotottiku seolah-olah ingin membalas perkataanku tadi, “dasar wanita munafik, sekarang Ibu tau kan kenapa saya menyukai pak Isa,”bentak Ani kepadaku, sehingga membuat hatiku terasa amat sakit mendengarnya, “aahhkk… pak, hhmm…. pak sudah jangan di terusin…” kataku dengan kaki yang tidak dapat diam saat jarinya menyelusup kedalam vaginaku yang sudah banjir, perlahan kurasakan jari telunjuknya menyelusuri belahan vaginaku,</p>
<p style="text-align: justify;">“oo… enak ya? he…he…” pa Isa tertawa melihatku yang sudah semakin terangsang, leherku terasa basah saat lidah pak Isa menjilati leherku yang jenjang, Dengan sangat kasarnya pak Isa menarik celana dalamku, sehingga vaginaku yang tidak di tumbuhi rambut sehelaipun terlihat olehnya, aku memang sangat rajin mencukur rambut vaginaku agar terlihat lebih bersi dan seksi.</p>
<p style="text-align: justify;">Ani berjongkok di sela-sela kakiku, kamera Hp di arahkan persis di depan vaginaku yang kini sudah tidak ditutupi oleh sehelai kain, tanpa memikirkan perasaanku pak Isa membuka bibir vaginaku sehingga bagian dalam vaginaku dapat di rekam jelas oleh Ani, beberapa kali jari telunjuk pak Isa menggesek clitorisku, “ohk pak plisss.. jangan…? saya malu…” aku merasa sangat malu sekali di perlakukan seperti itu, baru kali ini aku bertelanjang di depan orang lain bukan suamiku sendiri, Ha…ha… malu kenapa Bu? anjing aja tidak malu ga pake baju masa ibu malu si…” katanya yang semakin merendahkan derajatku, setelah puas mempertontonkan vaginaku di depan kamera, pak Isa bertukar posisi dengan Ani untuk memegangi kakiku sedangkan pak Isa berjongkok tepat di bawa vaginaku,</p>
<p style="text-align: justify;">Dengan sangat lembut pak Isa menciumi pahaku kiri dan kanan secara bergantian, semakin lama jilatannya semakin ke atas menyentuh pinggiran vaginaku, “aahkk… sudah pak, rasanya sangat geli hhmm…” aku berusaha sekuat tenaga mengatupkan kedua kakiku tetapi usahaku sia-sia saja, dengan sangat rakus pak Isa menjilati vaginaku yang berwarna pink, sedangkan Ani tanpa puas melihat ke adaanku yang tak berdaya, “nikmatin aja Bu, he..he.. saya dulu sama seperti ibu selalu menolak tapi ujung-ujungnya malah ketagihan” kata Ani tanpa melepaskan pegangannya terhadap kakiku,</p>
<p style="text-align: justify;">Semakin lama aku semakin tidak tahan, tiba-tiba aku merasa tubuhku seperti di aliri listrik dengan tegangan yang tinggi, kalau seandainya Ani tidak memegang kakiku dengan sangat erat mungkin saat ini wajah pak Isa sudah menerima tendanganku, mataku terbelalak saat orgasme melandah tubuhku dengan sangat hebat, cairan vaginaku meleleh keluar dari dalam vaginaku, sehingga tubuhku terasa lemas, “ha…ha… bagaimana Bu, mau yang lebih enak….” pak Isa tertawa puas, aku hanya dapat menggelengkan kepalaku karena aku sudah tidak mampu lagi untuk mengeluarkan suara dari mulutku, perlahan pak Isa berdiri sambil memposisikan penisnya tepat di depan vaginaku, “aahkk… sakit…” aku memikik saat kepala penisnya menerobos liang vaginaku, “uuhk… hhmm… pelan-pelan pak…” pintaku sambil menarik napas menahan rasa sakit yang amat sangat di vaginaku karena ukuran penis pak Isa jauh lebih besar dari penis suamiku,</p>
<p style="text-align: justify;">“tahan Bu, bentar lagi juga enak ko’ “ kata Ani yang kini melepaskan ikatan di tanganku, setelah ikatanku terlepas Ani kembali merekam adegan panas yang kulakukan,</p>
<p style="text-align: justify;">Dengan sangat cepat pak Isa menyodok vaginaku sehingga terdengar suara “plokkss….ploskkss…” saat penisnya mentok ke dalam vaginaku yang mungil, “aahhkk… aahhkk… aaahh… oooo…”semakin cepat sodokannya suaraku semakin lantang terdengar, “oh yeeaa… enak Bu, hhmm… ternyata memiaw Ibu masih sempit sekali walaupun sudah perna menikah,” katanya memujiku, tetapi mendengar pujiannya aku tidak merasa bangga melainkan aku meresa jijik terhadap diriku sendiri, Aku merasa vaginaku seperti di masuki benda yang sangat besar yang mencoba mengorek isi dalam vaginaku, rasanya memang sangat sakit sekali tetapi di sisi lain aku merasa sangat menikamati perkosaan rehadap diriku, selama ini aku belum perna merasakan hal seperti ini dari suamiku sendiri, “ayo sayang, bilang kalau tongkol saya enak…” dengan sangat kasar pak Isa meremasi kedua payudaraku,</p>
<p style="text-align: justify;">“ti-tidak…. ahk… hhmm…” aku di buat merem melek olehnya, “ha..ha.. kamu mau jujur atau tidak, kalau tidak hhmm… saya akan adukan semua ini kepada suamimu, ha…ha…” katanya mengancamku dengan tawa yang sangat menjijikan, “ja-jangan pak,” aku memohon ke padanya, karena takut dengan ancamannya akhirnya aku menyerah juga “iya, aahhkk… aku suka…” kataku dengan suara yang hampir tidak terdengar, “APA… SAYA TIDAAK MENDENGAR?” pak Isa berteriak dengan sangat kencang sehingga gendang telingaku terasa mau pecah mendengar teriakannya, “IYA PAK, ENAK SEKALI SAYA SUKA SAMA tongkol BAPAK….aahhk…uuhhkk!!” dengan sekuat tenaga aku berusaha tegar dan berharap semuanya cepat berlalu, Setelah berapa menit kemudian tubuhku kembali merasa tersengat oleh aliran listrik saat aku kembali mengalami orgasme yang ke dua kalinya,</p>
<p style="text-align: justify;">Dengan sangat kasarnya pak Isa menarik tubuhku sehingga aku berposisi menungging, pantatku yang bulat dan padat menghadap dirinya, “hhmm… indah sekali pantatmu sayang” katanya sambil meremasi bongkahan pantatku, “pak, saya mohon cepat lakukan,” “ha..ha.. kenapa Bu, sudah ga tahan” berkali-kali pantatku menerima pukulan darinya, sebenarnya aku tidak menyangka dengan kata-kataku tadi bisa membuatku semakin renda di mata mereka, sebenarnya aku hanya bermaksud agar semua permainan ini segera berakhir tapi sayangnya pak Isa tidak menginginkan itu,</p>
<p style="text-align: justify;">“tenang Bu, santai saja dulu?” Pak Isa sangat pintar memainkan tubuhku, dengan sangat lembut jari kasarnya menyelusuri belahan pantatku dari atas hingga ke bawah belahan vagianaku, gerakan itu di lakukan berkali-kali sehingga pantatku semakin terlihat membusung ke belakang, “ohhkk… pak, hhhmm….” ku pejamkan mataku saat jarinya mulai menerobos lubang anusku, dengan gerakan yang sangat lembut jarinya keluar masuk dari dalam anusku, “ahhkk….ooo… ssstt…uuuuu… pak” ternyata rintihanku membuat pak Isa semakin mempercepat gerakan jarinya,pak Isa dengan rakusnya kembali menjilati vaginaku dari belakang sedangkan jari-jarinya masih aktif mengocok anusku. Pada saat aku sangat terangsang tiba-tiba kami mendengar suara ketukan yang kuyakini itu adalah pak Rojak yang baru pulang dari mengantar Aldi, “Pak Rojak tolongin saya…” kataku berharap ia bisa membantuku untuk lepas dari pelecehan yang ku alami, dengan santainya Ani membukakan pintu tanpa rasa takut kalau pak Rojak mengadukan kejadian ini ke pada suamiku, pak Rojak tanpak kaget saat melihat keadaanku yang sedang di gagahi oleh pak Isa,</p>
<p style="text-align: justify;">“pak, tolong ku mohon,” kataku memelas, “Wa…wa…. apa-apaan ini, “ beberapa kali pak Rojak menggelengkan kepalahnya dengan mata yang tak henti-hentinya memandangi tubuh mulusku, “Udah pak, jangan sok mau jadi pahlawan kalau bapak mau embat aja, dia sudah menjadi budaknya saya,” pak Isa mulai membujuk pak Rojak dan aku hanya bisa berharap pak Rojak tidak memperdulikan tawaran pak Isa, “kenapa bengong? sini ikutan!” ajaknya lagi “jangan pak saya mohon tolongin saya,” aku mengiba ke pada pak Rojak, tetapi pak Isa tidak mau kalah kedua jarinya membuka bibir vaginaku, “bapak liat ni, memiawnya sudah basa banget… wanita ini munafik” pak Rojak terdiam seperti ada yang sedang di piirkannya,</p>
<p style="text-align: justify;">“memiawnya masih sempit lo, apa lagi anusnya kayaknya masih perawan,” bujuk pak Isa berharap pak Rojak mau bergabung dengannya untuk menikmati tubuhku, Akhirnya pak Rojak tidak tahan melihat vaginaku yang becek terpampang di depannya, “hhmm… oke lah tapi boolnya buat saya ya, ” tubuhku semakin terasa lemas, kini aku sudah tidak tau harus meminta tolong ke pada siapa lagi, perlahan pak Rojak mendekatiku, “sekarang Ibu dudukin tongkol saya, cepat…” perintah pa Isa sambil tidur telentang dengan penis yang mengancung ke atas, dengan sangat pelan aku menuduki penis pak Isa, “eennnggkk…. “ aku menggigit bibir bawahku saat kepala penis pak Isa kembali menembus vaginaku, perlahan penis itu amblas ke dalam vaginaku, dengan sangat erat pak Isa memeluk pinggangku agar tidak dapat bergerak, Setelah melepas semua pakaian yang ada di tubuhnya, pak Rojak mendekatiku dengan penis berada di depan anusku beberapa kali pak rojak menamparkan penisnya ke pantatku,</p>
<p style="text-align: justify;">“pak sakit… aahhkk… aahkk… ja-jangan pak saya belum pernah” aku berusaha melepaskan diri saat pak Rojak mulai berusaha memasuki anusku, sempat beberapa kali ia gagal meembus anusku yang memang masih perawan, “ha…ha… ayo dong Pak, masak kalah sama cewek si…” kata pak Isa mmemanas-manasi pak Rojak agar segera membobol anusku, pak rojak yang mendengar perkataan pak Isa menjadi lebih beringas dari sebelumnya, “AAAAAA….” aku berteriak sekencang-kencangnya saat penis pa Rojak berhasil menerobos anusku, tanpa memberikan aku nafas ia menekan penisnya semakin dalam, “aahkk…. oohhkk… pak, hhmm…” aku merintih ke sakitan saat pak Rojak mulai memaju mundurkan penisnya di dalam anusku, “gi mana pak? Enak kan?” tanya pak Isa yang kini ikutan memaju mundurkan penisnya di dalam vaginaku, “eehhkknngg… mantab pak, enak banget he….he… hhmm….” semakin lama kedua pria tersebut semakin mempercepat tempo permainan kami, Sudah beberapa menit berlalu kedua orang pria ini belum juga menunjukan kalau mereka ingin ejakulasi, sedangkan diriku sedah beberapa kali mengalami orgasme yang hebat sehingga tubuhku terasa terguncang oleh orgasmeku sendiri.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah beberapa menit aku mengalami orgasme tiba-tiba pak Isa menunjukan bahwa dia juga ingin mencapai klimaks. Dengan sekuat tenaga pak Isa semakin menenggelamkan penisnya ke dalam vaginaku dalam hitungan beberapa detik kurasakan cairan hangat membasahi rahimku, “aahkk… enak…. hhmm…” gumamnya saat menyemburkan sperma terakhirnya, setelah puas menodaiku pak Isa melepas penisnya di dalam vaginaku begitu juga dengan pak Rojak yang melepaskan penisnya di dalam anusku, “buka mulutmu cepetan,” perintah pak Rojak sambil menarik wajahku agar menghadap ke arah penisnya yang terlihat berdeyut-deyut, aku sangat kaget sekali saat pak Rojak memuntahkan spermanya ke arah wajahku, sehingga wajahku ternodai oleh sperma pak Rojak, Kini aku benar-benar sudah tidak memiliki tenaga sedikitpun, untuk mengangkat tubuhku saja terasa sangat berat sekali, sedangkan mereka tanpa puas memandangku yang sedang berpose mengangkang di depan mereka karena kedua kakiku kembali dipegangi Ani, sperma yang tadi di muntahkan pak Isa terasa mengalir keluar dari dalam vaginaku,</p>
<p style="text-align: justify;">Aku duduk di atas sofa sambil melihat anak angkatku Aldi yang sedang di temani suamiku belajar, wajah mereka terlihat sangat cerah sekali bertanda bahwa mereka sangat bahagia, entah kenapa tiba-tiba di pikiranku terlintas kembali apa yang terjadi tadi pagi yang menimpa diriku, semakin aku berusaha melupakannya rasanya ingatan itu semakin menghantuiku, aku tidak bisa membayangkan kalau sampai suamiku mengetahui kalau aku di perkosa oleh ketiga pembantuku sendiri, “hhmm… gi mana Aldi sudah negerti belom” kataku sambil mengucek rambutnya yang sedang sibuk menghitung soal yang di berikan suamiku, “ya sudah kalau begitu mama bikinin minuman dulu ya, buat kalian,” kataku yang di sambut dengan teriakan mereka berdua, Baru satu langkah aku keluar dari kamar tiba-tiba pergelangan tanganku terasa sakit saat pak Rojak menarik tanganku, “bapak apaan sih!?” bentakku dengan suara yang sangat pelan, “ssstt… jangan berisik…” kata pak Rojak dengan jari telunjuk di bibirnya, “nanti suami dan anak mu dengar, hhmm… bapak cuman mau ini Bu,” katanya lagi sambil mencubit payudaraku, dengan sigap aku mundur ke belakang,</p>
<p style="text-align: justify;">“jangan main-main pak,” beberapa kali aku memandang pintu kamarku yang tidak tertutup rapat, tetapi pak Rojak tidak kehabisan akal dia balik mengancamku dengan mengatakan akan membongkar semua rahasiaku ke pada suamiku, sehingga nyaliku menjadi ciut, “oke, hhmm… kalau begitu bapak ikut saya” kataku dengan suara yang bergetar, karena sudah tidak tahu lagi harus melakukan apa, dia terseyum puas melihatku tak berdaya dengan permintaanya, “maaf Bu, saya inginnya di sini bukan di tempat lain,” katanya dengan suara yang cukup jelas, setelah berkata seperti itu pak Rojak langsung memelukku dengan erat sehingga aku sulit bernafas, “hhmm… bauh tubuh ibu benar-benar menggoda saya,” perlahanku rasakan lidahnya menjulur ke leherku “pak ku mohon, jangan di sini” pintaku ke padanya, Pak Rojak yang mengerti kekhawatiranku langsung membalik tubuhku menghadap daun pintu kamarku yang sedikit terbuka,</p>
<p style="text-align: justify;">“Ibu bisa bayangkan kalau sampai orang yang sedang di dalam kamar Ibu mengetahui apa yang sedang Ibu lakukan,” ancamnya sambil menarik rambutku sehingga aku harus menutup mulutku dengan telapak tanganku agar suara terikanku tidak terdengar oleh suami dan anakku, “Pak ku mohon jangan di sini,” aku hanya bisa menurut saja saat pak Rojak menyuruhku untuk menungging dengan tangan yang menyentuh lantai, sedangkan wajahku menghadap ke celah pintu kamarku yang terbuka, “tahan ya Bu,” katanya sambil menyingkap dasterku, sehingga celana dalamku yang berwarna hitam terpampang di depan matanya, dengan sangat kasar pak Rojak meremas kedua buah pantatku yang padat sehingga aku tak tahan untuk tidak mendesah, “aahkk.. pak hhmm.. ja-jangan di sini pak,” pak Rojak diam saja tidak mendengar kata-kataku melainkan pak Rojak semakin membuatku terangsang dengan mengelus belahan vaginaku dari belakang, “kalau kamu tidak mau ketahuan jangan bicara,” bentak pak Rojak sambil memukul pantatku “ta-tapi pak, oohhkk… aku ga kuat,” kataku dengan suara yang sangat pelan, “ku mohon pak mengertilah,”</p>
<p style="text-align: justify;">Pak Rojak seolah-olah tidak mau tahu, kini dengan rakusnya pak Rojak menjilati vaginaku yang masih tertutup celana dalamku, sehingga aku merasa celana dalamku tampak semakin basah oleh air liurnya. Setelah puas menciumi vaginaku pak Rojak memintaku untuk membuka celana dalamku sendiri masih dengan posisi menungging. Sangat sulit bagiku untuk melepaskan celana dalamku dengan posisi menungging belum lagi aku harus bekonsentrasi agar suaraku tidak keluar dengan keras walaupun pada akhirnya aku berhasil menurunkan celana dalamku sampai ke lutut, “hhuuu… mantab….” katanya sambil merabahi vaginaku dari belakang, “kamu mau tahukan gimana rasanya ngent*t di depan suamimu sendiri,” katanya lagi sambil menunjuk ke arah suamiku yang sedang mengajari anaku Aldi, “pak, ja-jangan…” aku sangat takut sekali kalau suamiku melihat ke arahku, tiba-tiba aku di kejutkan dengan jari telunjuk pak Rojak yang langsung memasuki vaginaku sehingga aku terpekik cukup keras, “sayang… ada apa?” kata suamiku dari dalam, saat mendengar suaraku.</p>
<p style="text-align: justify;">“aahkk… tidak pa, cuman hhmm.. tadi ada tikus lewat,” jawabku asal-asalan agar suamiku tidak curiga ke padaku, tetapi untungnya suamiku tidak melihat ke arahku, dalam ke adaan terjepit seperti ini pak Rojak masih asyik mempermainkan vaginaku dari belakang, “ada tikus??” katanya lagi seolah-olah tidak percaya, “apa perlu papa yang usir,” mendengar tawarannya nafasku teras berhenti tetapi untungnya aku masih banyak akal, “aahhgg… ga usah hhmm.. pa…” kataku terputus-putus menahan rasa nikmat yang di berikan pak Rojak kepadaku, untungnya suamiku tidak curiga dengan suaraku, “asyikan Bu, ngobrol dengan suami sambil di mainin memiawnya,” aku memandangnya dengan wajah yang memerah karena nafsuku sudah di puncak, “ko’ diam cepat ajak suami Ibu ngobrol,” mendengar perkataanya aku langsung melotot ke arahnya, “Ibu mau kalau suami Ibu tau apa yang sekarang Ibu lakuin,” mendengar ancamannya aku kembali terdiam, Dengan sangat terpaksa aku kembali mengajak suamiku mengobrol, walaupun di dalam hati aku merasa was-was takut kalau suamiku menyadari suaraku yang berubah menjadi desahan,</p>
<p style="text-align: justify;">“paaa… ma-mau minum apa?” tanyaku yang kini sedang diperkosa oleh pak Rojak, tanpa kusadari pak Rojak sudah memposisikan penisnya di depan ibir vaginaku sehingga beberapa kali aku terpanjat saat pak rojak menghantamkan penisnya dengan sangat keras ke dalam vaginaku, “terserah mama saja… papa sama Aldi ikut aja,” “iya ma, apa aja asalkan enak,” sambung Aldi, Waktu demi waktu telah berlalu sehingga sampai akhirnya sikapku berubah menjadi sedikit liar dan mulai menyukai cara pak Rojak memperkosaku walaupun pada awalnya hatiku terasa miris sekali di perlakukan seperti ini, “aahk…. pak hhmm.. enak,” aku melenggu panjang saat orgasme melandahku, kini perkosaan yang ku alami berganti dengan perselingkuhanku dengan pembantuku, “ohhk… memiaw istri majikan ternyata enak sekali, ahhkk…” katanya yang terus-terusan menggoyang penisnya di dalam vaginaku, “pak… aahhkk… eehkk… aku, hhmm… ingin keluarrr, uuhhkk…” kali ini suaraku terdengar sangat manja Beberapa menit kemudian kami mengerang bersamaan saat kenikmatan melanda kami berdua, setelah merasa puas aku dan pak Rojak kembali merapikan pakaian kami masing-masing, sebelum pak Rojak pergi meninggalkanku sempat terlihat seyumannya yang tersungging di bibirnya. Setelah membuatkan minuman aku kembali ke kamarku menemui anak dan suamiku, mereka terlihat tanpak senang sekali melihatku hadir dengan membawa minuman dan makanan kecil,</p>
<p style="text-align: justify;">“ini di minum dulu, nanti baru di lanjutin lagi,” kataku sambil meletakan cangkir dan piring di atas meja kecil yang di gunakan Aldi untuk belajar, “makasi mama…” kata Aldi yang langsung saja menyambar minuman yang baru ku bikin, entah kenapa setiap kali melihat Aldi hatiku terasa menjadi damai, dan semua masalah seperti terlupakan, Aku merasa sedikit aneh, saat suamiku memandangku dengan tatapan mencurigakan sehingga aku memberanikan diri untuk bertanya ke padanya, “ada pa, ko memandang mama seperti itu” kataku sambil mengupas jeruk untuk Aldi yang sedang menulis, suamiku mendekatkan mulutnya ke telingaku, “hhmm.. sayang ko’ kamu bau hhmm… gitulah…” mendengar pertanyaannya jantungku terasa berhenti, “bau, bau apa pa?” tanyaku untuk memastikan apa maksud dari pertanyaan suamiku, “kamu tadi ko’ lama ma,” kami terdiam beberapa saat, “mama abis dari kamar mandi ya, hhmmm… papa jadi curiga ni,” katanya sambil tertawa memandangku, mendengar perkataanya aku menjadi sedikit lega, “Iya ni pa, abis kangen si…” kataku manja sambil mencubit penis suamiku, Setelah yakin Aldi tertidur pulas, suamiku mengjakku untuk melayaninya semalaman suntuk. Tubuhku memang terasa lelah karena seharian harus mengalami orgasme, tetapi di sisi lain aku sangat senang karena suamiku tidak mencurigai aku karena bau tubuhku seperti bau orang yang habis bercinta.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ceritasex.cn/pernikahan-yang-ternoda/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Video Seks Cut Tari dan Ariel</title>
		<link>http://www.ceritasex.cn/video-seks-cut-tari-dan-ariel/</link>
		<comments>http://www.ceritasex.cn/video-seks-cut-tari-dan-ariel/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 09 Jun 2010 10:28:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cerita Sex</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bokep Download]]></category>
		<category><![CDATA[Bokep Online]]></category>
		<category><![CDATA[Seks Umum]]></category>
		<category><![CDATA[selingkuh]]></category>
		<category><![CDATA[ah uh]]></category>
		<category><![CDATA[ariel]]></category>
		<category><![CDATA[cut tari]]></category>
		<category><![CDATA[gosip]]></category>
		<category><![CDATA[hot]]></category>
		<category><![CDATA[ngentot]]></category>
		<category><![CDATA[oh yes]]></category>
		<category><![CDATA[seks]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ceritasex.cn/?p=1416</guid>
		<description><![CDATA[Waduh kayaknya Ariel lagi naik daun menjadi &#8220;Ariel PeterPorn&#8221; lagi-lagi ada orang iseng yang bikin gosip. Masabodo mau asli mau nggak yang penting dapat tontonan gratisssssssss&#8230;&#8230;. Hehehehe&#8230;.. selamat menikmati video-nya yach,&#8230;&#8230; klik disini untuk download!]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Waduh kayaknya Ariel lagi naik daun menjadi &#8220;<em><strong>Ariel PeterPorn</strong></em>&#8221; lagi-lagi ada orang iseng yang bikin gosip. Masabodo mau asli mau nggak yang penting dapat tontonan gratisssssssss&#8230;&#8230;.</p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2010/06/video-seks-ariel-cut-tari-1.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-1417" title="video-seks-ariel-cut-tari-1" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2010/06/video-seks-ariel-cut-tari-1-300x245.jpg" alt="" width="300" height="245" /></a></p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2010/06/video-seks-ariel-cut-tari-2.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-1418" title="video-seks-ariel-cut-tari-2" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2010/06/video-seks-ariel-cut-tari-2-300x245.jpg" alt="" width="300" height="245" /></a></p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2010/06/video-seks-ariel-cut-tari-3.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-1419" title="video-seks-ariel-cut-tari-3" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2010/06/video-seks-ariel-cut-tari-3-300x245.jpg" alt="" width="300" height="245" /></a></p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2010/06/video-seks-ariel-cut-tari-4.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-1420" title="video-seks-ariel-cut-tari-4" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2010/06/video-seks-ariel-cut-tari-4-300x245.jpg" alt="" width="300" height="245" /></a></p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2010/06/video-seks-ariel-cut-tari-5.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-1421" title="video-seks-ariel-cut-tari-5" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2010/06/video-seks-ariel-cut-tari-5-300x245.jpg" alt="" width="300" height="245" /></a></p>
<p style="text-align: justify;">Hehehehe&#8230;.. selamat menikmati video-nya yach,&#8230;&#8230; <a href="http://www.ceritasex.cn/member-vip/video-seks-ariel_cut_tari.mp4">klik disini untuk download</a>!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ceritasex.cn/video-seks-cut-tari-dan-ariel/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
<enclosure url="http://www.ceritasex.cn/member-vip/video-seks-ariel_cut_tari.mp4" length="53395733" type="video/mp4" />
		</item>
		<item>
		<title>Video Seks Luna Maya dan Ariel</title>
		<link>http://www.ceritasex.cn/video-seks-luna-maya-dan-ariel/</link>
		<comments>http://www.ceritasex.cn/video-seks-luna-maya-dan-ariel/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 04 Jun 2010 18:05:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cerita Sex</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bokep 3gp]]></category>
		<category><![CDATA[Bokep Download]]></category>
		<category><![CDATA[Bokep Online]]></category>
		<category><![CDATA[Foto Mesum]]></category>
		<category><![CDATA[ariel]]></category>
		<category><![CDATA[blowjob]]></category>
		<category><![CDATA[luna maya]]></category>
		<category><![CDATA[ngentot]]></category>
		<category><![CDATA[seks]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ceritasex.cn/?p=1406</guid>
		<description><![CDATA[Waduh nggak tau deh ini benar apa nggak tapi kalau di lihat  sepintas ceweknya memang mirip banget sama artis indonesia luna maya,  kalau cowoknya sih nggak jelas ini ariel apa siapa mukanya nggak kelihatan&#8230; masabodo ah, mau palsu mau asli pokoknya nikmatin aja bro videonya hehehe&#8230; Download videonya klik disini! oh ya jangan di sebarkan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Waduh nggak tau deh ini benar apa nggak tapi kalau di lihat  sepintas ceweknya memang mirip banget sama artis indonesia luna maya,  kalau cowoknya sih nggak jelas ini ariel apa siapa mukanya nggak kelihatan&#8230; masabodo ah, mau palsu mau asli pokoknya nikmatin aja bro videonya hehehe&#8230;</p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2010/06/ariel-luna-maya.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-1407" title="ariel-luna-maya" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2010/06/ariel-luna-maya-300x206.jpg" alt="" width="300" height="206" /></a></p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2010/06/video-seks-luna-maya-ariel-1.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-1408" title="video-seks-luna-maya-ariel-1" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2010/06/video-seks-luna-maya-ariel-1-300x250.jpg" alt="" width="300" height="250" /></a></p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2010/06/video-seks-luna-maya-ariel-2.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-1409" title="video-seks-luna-maya-ariel-2" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2010/06/video-seks-luna-maya-ariel-2-300x253.jpg" alt="" width="300" height="253" /></a></p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2010/06/video-seks-luna-maya-ariel-3.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-1410" title="video-seks-luna-maya-ariel-3" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2010/06/video-seks-luna-maya-ariel-3-300x247.jpg" alt="" width="300" height="247" /></a></p>
<p style="text-align: justify;">Download videonya <a href="http://www.ceritasex.cn/member-vip/video-seks-luna-maya-ariel.mp4" target="_blank">klik disini</a>! oh ya jangan di sebarkan ya kasihan lho &#8230; gue sebenarnya ngefans sama dua orang ini&#8230; iya kalau asli gak apa-apa deh disebarkan kalau palsu jangan di sebarkan ya bikin malu aja <img src='http://www.ceritasex.cn/wp-includes/images/smilies/icon_razz.gif' alt=':P' class='wp-smiley' /> </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ceritasex.cn/video-seks-luna-maya-dan-ariel/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
<enclosure url="http://www.ceritasex.cn/member-vip/video-seks-luna-maya-ariel.mp4" length="7304908" type="video/mp4" />
		</item>
		<item>
		<title>Berbagi Nikmat Dengan Sahabat</title>
		<link>http://www.ceritasex.cn/berbagi-nikmat-dengan-sahabat/</link>
		<comments>http://www.ceritasex.cn/berbagi-nikmat-dengan-sahabat/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 17 May 2010 12:41:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cerita Sex</dc:creator>
				<category><![CDATA[Daun Muda]]></category>
		<category><![CDATA[Ekshibionis]]></category>
		<category><![CDATA[Gangbang Rame Rame]]></category>
		<category><![CDATA[Seks Umum]]></category>
		<category><![CDATA[selingkuh]]></category>
		<category><![CDATA[1 cowok 2 cewek]]></category>
		<category><![CDATA[abg]]></category>
		<category><![CDATA[cuki]]></category>
		<category><![CDATA[kost]]></category>
		<category><![CDATA[main bertiga]]></category>
		<category><![CDATA[ngentot]]></category>
		<category><![CDATA[ngintip]]></category>
		<category><![CDATA[reisha]]></category>
		<category><![CDATA[rico]]></category>
		<category><![CDATA[seks]]></category>
		<category><![CDATA[selvi]]></category>
		<category><![CDATA[threesome]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ceritasex.cn/?p=1387</guid>
		<description><![CDATA[Gadis cantik itu bernama Reisha. Ia berumur 19 tahun dan baru saja menginjak semester 3 di salah satu perguruan tinggi yang cukup bonafit di kota tersebut. Saat ini Reisha memang sedang dilanda birahi karena memang sebentar lagi dirinya akan mendekati masa menstruasi. Masa-masa seperti ini bagi seorang gadis seperti Reisha memang menjadi saat dimana libido [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Gadis cantik itu bernama Reisha. Ia berumur 19 tahun dan baru saja menginjak semester 3 di salah satu perguruan tinggi yang cukup bonafit di kota tersebut. Saat ini Reisha memang sedang dilanda birahi karena memang sebentar lagi dirinya akan mendekati masa menstruasi. Masa-masa seperti ini bagi seorang gadis seperti Reisha memang menjadi saat dimana libido sedang tinggi-tingginya. Sebagai seorang jomblo, tentunya Reisha tidak memiliki pasangan yang bisa ia ajak menyalurkan hasrat birahinya. Maka dari itu masturbasi pun menjadi satu-satunya cara yang paling efektif sebagai penyaluran birahinya saat ini. Kedua mata Reisha nampak terpejam mencoba untuk menghayati rabaan demi rabaan yang ia lakukan sendiri pada tubuhnya. Sesekali desahan kecil terdengar dari mulut gadis cantik tersebut, ketika rabaannya menyentuh puting dan klitorisnya sendiri. Namun ketika semua usahanya ini hampir memperoleh” hasil”, tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu di depan pintu kamar kos Reisha. “Tok… tok… tok…!”.</p>
<p style="text-align: justify;">“Sial!”, runtuk Reisha di dalam hati. “Kenapa mesti di saat seperti ini ada tamu yang datang ke kosannya, benar-benar sial!”, runtuk gadis itu lagi. “Tok… tok… tok…! Sha…!!”, suara ketokan di pintu kenbali terdengar, kini ditambah dengan suara teriakan seorang gadis. “Sebentar…!”, teriak Reisha. Dengan segera gadis cantik tersebut mengancingkan kembali kaitan branya dan mengenakan celana dalamnya. “Ya, sebentar!”, teriak Reisha lagi sambil merapikan posisi celana pendek dan kaosnya. Setelah merapikan pakaian dan sedikit mengusap-usap wajahnya di depan cermin yang terlihat sedikit memerah akibat menahan nafsu, gadis itu pun kemudian membuka pintu. “Haii… lama amat sih bukanya?”, di depan pintu berdiri seorang gadis yang tak kalah cantik jika dibandingkan dengan Reisha. Gadis itu seumuran dengan Reisha dan merupakan temen satu kampusnya. Gadis itu bernama Shelvi. “Eh iya, sorry tadi lagi di kamar mandi sih”, Reisha mencoba menutupi aktifitas yang tadi ia lakukan di dalam kamar. Ternyata Shelvi tidak sendiri. Di belakangnya berdiri seorang laki-laki berperawakan tinggi dan berwajah tampan.</p>
<p style="text-align: justify;">Rambut laki-laki itu tercukur rapi. Dari penampilannya terlihat ia cukup perlente. Mungkin ia adalah pacar Shelvi, pikir Reisha dalam hati. “O iya, ini Rico cowok gue”, Shelvi memperkenalkan laki-laki yang berada di belakangnya tersebut. “Rico”, laki-laki itu kemudian menyodorkan tangan kanannya. Reisha pun membalasnya, “Reisha”. Kedua tangan mereka pun saling berjabatan tangan. “Kok tumben nih? Ada apa Vi?”, tanya Reisha kepada sahabatnya. “Gue mau ngomong bentar ama lu dong”. Reisha mengerutkan keningnya. “Ric, lu tunggu di sini aja dulu ya”, Shelvi berucap ke arah laki-laki tersebut. Laki-laki itu pun hanya mengangguk. Lalu Shelvi menarik tangan Reisha untuk masuk ke dalam kamar kosnya. Di dalam mereka duduk di atas ranjang. “Ada apa sih Vi?”, Reisha kembali mengulangi pertanyaannya. Shelvi menetakkan jari telunjuknya di depan bibirnya, menandakan agar Reisha menurunkan volume suaranya. Ia pun kemudian berbisik, “Gini Sha, gue mau pinjem kamar lu bentar dong”. “Ah? Buat apa?”, bisik Reisha penuh kecurigaan.</p>
<p style="text-align: justify;">“Gue mau gituan ama cowok gue”, Shelvi berkata sambil memberikan isyarat tangan dengan memasukkan ibu jarinya diantara jari telunjuk dan jari tengahnya. Reisha benar-benar tersentak melihat isyarat tangan sahabatnya tersebut. Tanda tersebut sering ia lihat setiap kali Shelvi ingin menyamarkan kata “making love”. Bukan tanda itu yang mengejutkan Reisha, karena ia tahu benar kalau memang sahabatnya ini sudah sering melakukan perbuatan terlarang tersebut dengan pacar-pacarnya. Yang membuatnya terkejut adalah kenapa ia memilih kamar kosnya ini untuk berbuat mesum. “Gila lu ya? Nggak boleh!”, bentak Reisha sambil tetap berbisik. “Please Sha, gue udah nggak tahan nih, memiaw gue udah basah banget”. “Ngapain lu nggak cari hotel aja?”. “Nggak sempet, ntar lagi cowok gue musti ke bandara, ini juga sama sekali nggak direncanain kok tiba-tiba dateng gitu aja waktu dia grepein gue di bioskop”.sebenarnya Reisha ingin mengatakan tidak, namun melihat ekspresi wajah Shelvi yang begitu memelas ia pun menjadi bingung harus memberi jawaban apa.</p>
<p style="text-align: justify;">“Please Sha, cowok gue cuma sehari ini aja bisa transit di sini, ntar malem dia musti keluar kota lagi jadi waktu gue ama dia cuma bentar banget nih”. “Kalau ntar ada yang liat gimana? Kan gue malu juga tiba-tiba di kamar kos gue ada cowoknya?”, tempat kos Reisha ini memang hanya menerima penghuni kos wanita, sehingga aturan tentang menerima tamu laki-laki memang diatur sedikit ketat. “Sepi gini kok? Lagian gue nggak bakal lama kok, sueeer!!!”, Shelvi mengacungkan jari tengah dan jadi telunjuknya bersamaan. Reisha tambah bingung mendengar kata-kata sahabatnya ini. “Lu tu bener-bener gila tau nggak?”, ucap Reisha masih tetap berbisik. “Please Sha, please…”. Reisha kembali mengerutkan keningnya. “Please Sha”, kembali Shelvi memelas. “I… iya deh”, ucap Reisha ragu. Ia sendiri tidak tahu kenapa kata-kata persetujuan tersebut bisa keluar dari mulutnya. “Thanks Sha, lu emang temen gue yang paling baik”. Shelvi langsung memonyongkan bibirnya hendak mencium sahabatnya ini, namun dengan segera Reisha menghentikan perbuatannya tersebut. “Horny sih horny, tapi lu jangan sosor gue kayak gitu dong!”.</p>
<p style="text-align: justify;">“Hehehe… sorry abis kalo lagi horny gue emang suka lupa diri sih”. “Trus gue musti kemana dong?”, Reisha kembali bingung. Tentu saja ia harus bingung, karena jika kamarnya sedang “dipakai” oleh sahabatnya ini tentunya ia tidak bisa berada di tempat yang sama juga bersama mereka. “Lu kemana kek, makan kek, nonton kek, nih gue kasi lu ongkos deh”. Shelvi mengeluarkan beberapa lembar uang lima puluh ribuan dari dompetnya. Gadis cantik ini memang tergolong cukup beruntung untuk bidang keuangan. Memiliki orang tua seorang pengusaha sukses tentunya membuat isi dompetnya hampir tidak pernah kosong, bahkan kalau tidak boleh dibilang berlebih. Reisha nampak mengerutkan dahinya. Melihat sahabatnya belum juga beranjak dari tempatnya, langsung saja Shelvi mengajukan protes, “Udah ah lu pikirin sambil jalan aja! Dah kebelet nih!”.“Eh… iya… iya…”, Reisha langsung beranjak dari atas ranjang, disusul kemudian oleh Shelvi.Mereka berdua kemudian melangkah menuju pintu. “Ya udah kalo gitu gue keluar bentar ya Vi”, Reisha melambaikan tangan ke arah sahabatnya.<br />
<span id="more-1387"></span><br />
“OK, ati-ati ya Sha”, Shelvi melempar sebuah senyum penuh makna, yang mana hanya mereka berdua yang mengerti. Sebelum beranjak, Reisha melempar senyum kecil juga Laki-laki itu pun kemudian membalas dengan senyuman kecil pula. Lalu Reisha berjalan menuju tempat parkir dimana semua sepeda motor para penghuni kos terparkir. Setelah tiba di samping sepeda motornya, sekilas gadis cantik itu menengok kembali ke arah kamar kosnya. Tidak terlihat lagi Shelvi dan cowoknya disana. Bahkan kini pintu kamar kosnya sudah tertutup rapat. Shelvi memang pernah bercerita tentang cowok barunya, namun ia belum bertemu dengan pacar baru sahabatnya tersebut secara langsung. Apakah cowok ini yang dimaksud oleh sahabatnya tersebut? Ia sama sekali tidak tahu. Hampir beberapa menit Reisha berdiri disamping sepeda motornya. Mengetahui kalau saat ini mungkin sahabatnya sedang bercinta di dalam kamar kosnya, justru membuat gairah di dalam dirinya yang tadi sempat muncul kini kembali bergejolak. Tak terasa vaginanya kembali berdenyut-denyut dan payudaranya terasa mengeras seperti yang ia alami beberapa menit yang lalu ketika melakukan masturbasi. Tiba-tiba di saat itu pula di dalam otak gadis cantik itu terbersit sebuah ide gila untuk mengintip kegiatan sahabatnya tersebut di dalam kamar. Tidak etis memang mengintip sahabat sendiri yang sedang bercinta, namun gejolak nafsu Reisha yang sudah tidak bisa tertahan lagi menghilangkan semua pikiran waras di dalam otaknya.“Sha, lu nggak boleh ngelakuin itu, itu sama aja lu mempermalukan sahabat lu sendiri!”, suara kata hati malaikat di dalam diri Reisha berteriak-teriak di telinga kanannya.</p>
<p style="text-align: justify;">“Halah… liat dikit emang kenapa? Itu juga kan kamar lu Sha? Siapa suruh ngentot di kamar orang!”, di saat yang sama suara kata hati iblis di dalam dirinya pun juga tidak mau kalah terdengar menggema di telinga kirinya. “Tetep nggak boleh Sha, lu harus menghargai privasi orang dong!”. “Tai kucing tuh privasi! Sedeng asyik ngentot gitu paling juga mereka nggak bakal sadar lu intipin Sha!”. “Nggak boleh!”. “Boleh!”. Nggak bisa!”. “Bisa!”. Suara hati malaikat dan iblis kini terus menggema di dalam kepada Reisha, seakan-akan mencoba memberikan “nasehat” jalan terbaik yang harus ia lakukan saat ini. “Udah… udah… udah… pada bisa diem nggak sih?”, Reisha menggeleng-gelengkan kepalanya sambil berteriak di dalam batinnya. Kepalanya terasa mau pecah mendengar kata hatinya sendiri yang terus berteriak-teriak di dalam kepalanya secara bergantian. Reisha menarik nafasnya panjang dan berdiam diri sesaat. Akhirnya gadis cantik itu pun memilih untuk mengendap-endap menuju kamar kosnya sendiri. Saat ini sisi iblis Reisha pastilah sedang tertawa lantang penuh kemenangan.</p>
<p style="text-align: justify;">Jika saja ada yang melihat Reisha sedang berjalan mengendap-endap menuju kamar kosnya sendiri seperti saat ini, tentu akan menimbulkan tanda tanya dan kecurigaan. Bersyukur sore ini tempat kos Reisha nampak begitu sepi, karena memang diakhir pekan rata-rata penghuni kos kembali ke rumah mereka masing-masing untuk bersua dengan keluarga. Sedangkan untuk penghuni kos yang tidak kembali ke rumah seperti Reisha kini sebagian besar sedang melaksanakan aktifitas mereka masing-masing di luar kosan. Reisha sendiri masih berada di kosannya karena kebetulan siang tadi ia harus mengambil kuliah tambahan sehingga akhirnya memilih tetap tinggal di kosan. Di depan jendela kamarnya, Reisha mencoba mencari celah yang terbuka diantara tirai yang tertutup. Memang ada sedikit celah yang tersisa, namun tidak cukup lebar untuk bisa melihat apa yang terjadi di dalam. Beberapa kali dari dalam kamar terdengar tawa cekikikan kecil dan suara desahan manja. Suara tawa itu pastilah suara Shelvi bersama pacarnya. Reisha masih terus berusha mendongak-dongakkan kepalanya di depan jendela, sampai tiba-tiba…</p>
<p style="text-align: justify;">“Duaar!!!”, tirai penutup jendela tersebut tersibak dan muncullah wajah Shelvi dari balik jendela. Wajah Reisha langsung terlihat merah padam karena ketahuan mengintip. Belum hilang rasa terkejut Reisha, dengan santainya Shelvi menutup kembali tirai tersebut dan kemudian gadis cantik itu keluar dari kamar dengan tubuh hanya berbalut handuk hijau milik Reisha. “Daripada lu ngintipin gue, mending lu gabung aja”. Reisha begitu tersentak mendengar kata-kata sahabatnya tersebut. Saat ini ia merasa seperti tersambar petir puluhan ribu volt. “Vi, nggak! Jangan!”, Reisha berusaha bertahan ketika Shelvi menarik tangan kanannya untuk mengajaknya masuk ke dalam kamar. “Udah… hayo!”. “Nggak Vi!”. “Hayo dong…!”, Shelvi terus memaksa. Setelah cukup lama saling menarik tangan masing-masing akhirnya Reisha pun tidak kuat lagi melawan tarikan sahabatnya itu. Ia pun tertarik masuk ke dalam kamar. “Aaakkhh…!”, begitu masuk ke dalam kamar Reisha langsung berteriak dan menutup matanya dengan kedua telapak tangannya. Bagaimana tidak berteriak.</p>
<p style="text-align: justify;">Di atas ranjangnya kini terlihat seorang laki-laki sedang terduduk santai dengan hanya mengenakan kaos tanpa tambahan apapun lagi sebagai penutup bagian bawah tubuhnya. Di bagian selangkangan laki-laki tersebut mengacung tegak sebuah batang yang berukuran sangat besar. “Halah, gaya lu tu kayak baru pertama kali aja ngeliat tongkol hehe…”, Shelvi dengan santainya berkata seronok kepada sahabatnya tersebut setelah menutup pintu kamar. Wajah Reisha semakin memerah mendengar kata-kata Shelvi tersebut. Memang benar apa yang dikatakan sahabatnya ini, karena penis bukanlah hal asing bagi mereka berdua. Namun dalam hal ini jelas berbeda. Laki-laki yang kini terbaring di ranjangnya jelas-jelas baru saat ini ia jumpai untuk pertama kalinya. Tentu akan sangat aneh apabila tiba-tiba saja di saat itu juga ia harus melihat penis laki-laki yang baru saja ia kenal tersebut. Shelvi dengan santainya berjalan mendekati ranjang kemudian naik ke atasnya. Ia lalu mencium bibir laki-laki tersebut sambil memeluknya. “Ric, Reisha mau gabung bareng kita nih, boleh ya?”.</p>
<p style="text-align: justify;">Laki-laki itu hanya tersenyum kecil, “Boleh kok”. Shelvi membalas dengan senyuman pula. Dikecupnya sekali lagi bibir pacarnya tersebut, kemudian beranjak turun dari ranjang dan kembali mendekati Reisha. Reisha sendiri masih terlihat berdiri mematung dengan ekspresi penuh kehampaan. “”Ayo dong!”, kembali Shelvi menyeret tangan Reisha mendekat menuju ranjang. “Nggak Vi, gue nggak mau”. “Halah, jangan malu-malu gitu ah! Norak tau…”. “Nggak Vi, bener gue nggak bisa”, Reisha terus berusaha bertahan. Shelvi pun akhirnya hanya melengos dan melepaskan tangan Reisha setelah tidak mampu memaksa kembali sahabatnya tersebut untuk mendekati ranjang.“Ya udah, kalo gitu lu disini aja”. Shelvi kembali berjalan menuju ranjang. Sebelum naik ke atas ranjang ia melepaskan handuk yang melilit tubuhnya. Terlihatlah kini tubuh sintal itu hanya terbalut celana dalam putih beraksen garis-garis pink. Rupanya sebelum memergoki Reisha tadi, mereka berdua sudah sempat melepaskan beberapa lembar pakaian yang mereka kenakan. Pakaian-pakaian tersebut kini ada yang tergeletak di atas ranjang ataupun di lantai kamar.</p>
<p style="text-align: justify;">Gadis cantik itu lalu merangkak naik ke atas ranjang dan kembali memeluk tubuh pacarnya. “Lanjut yuk!”. Mereka berdua pun berciuman panas sambil beradu lidah. Tangan Rico pun dengan cekatan meremas-remas payudara montok Shelvi. Keduanya begitu menikmati percumbuan mereka seolah-olah di dalam kamar hanya ada mereka berdua, tanpa memperdulikan kehadiran Reisha di sana. Tak hanya meremas, kini puting payudara kanan Shelvi sudah berada sepenuhnya di dalam kuluman Rico. Shelvi pun akhirnya terpaksa remas-remas sendiri payudara kirinya karena tangan Rico saat ini sibuk mengobok-obok selangkangannya yang masih tertutupi celana dalam. Selangkangan yang sebelumnya telah basah itu pun kini nampak semakin basah. “Aaahh… oooh…”, Shelvi sengaja mendesah sesensual mungkin sambil menatap ke arah Reisha yang masih berdiri di dekat pintu. “Ooohh… aaah…”, kini Shelvi memasang ekspresi wajah penuh kenikmatan seolah-olah menikmati betul kuluman di payudaranya dan permainan tangan Rico di selangkangannya. Shelvi tersenyum kecil ketika melihat Reisha yang sudah mulai nampak berdiri gelisah sambil menggesek-gesekkan kedua pahanya.</p>
<p style="text-align: justify;">“Ntar Ric, gue mau ngelepas CD dulu nih”. Rico pun menghentikan remasan tangannya, namun tidak kuluman mulutnya. “Udah dong, berhenti bentar aja”, Shelvi berusaha melepaskan kuluman Rico di payudaranya yang sudah terlihat dipenuhi beberapa bercak-bercak merah. Rico pun menurut, namun bukan berarti payudara montok itu bisa terbebas begitu saja. Di saat Shelvi berusaha melorotkan celana dalam yang dikenakannya, remasan tangan kanan Rico masih tetap bertengger di gundukan daging kenyal tersebut. “Udah!”, ucap Shelvi setelah meletakkan kain mungil penutup selangkannya tersebut di sampingnya. Gadis cantik itu pun kini yang ganti angresif memeluk tubuh Rico dan mencium bibir laki-laki tersebut dengan ganas. Tak hanya itu kini jari-jari mungil Shelvi juga secara bersamaan dengan telaten mengocok-ocok batang penis Rico yang telah menegang. Shelvi memang sengaja mengatur posisi tubuhnya agar menghadap ke arah Reisha. Sambil berciuman dan bermain lidah, Shelvi tetap intens sesekali melirik ke arah sahabatnya tersebut.</p>
<p style="text-align: justify;">Kini Reisha sudah tidak mampu lagi menutupi gairah birahi yang menyerangnya akibat melihat live show yang terjadi di hadapannya. Tangan Reisha mulai bergerak merabai dadanya sendiri, sambil tetap menggesek-gesekkan kedua pahanya. Senyum Shelvi pun semakin lebar karena berhasil memancing gairah Reisha. “Ric, lu ML ama Reisha dulu ya, ntar baru ama gue”, bisik Shelvi di telinga pacarnya. “Dia kan tadi udah nggak mau Vi?”, sahut Rico ditengah remasan tangannya di payudara pacarnya tersebut. “Udah, ntar gue yang ngatur deh”. “Emang lu nggak cemburu Vi, gue ML ama temen lu?”. “Nggaklah, kan gue yang nyuruh, lagian itung-itung sekalian gue ngasi bonus ke lu juga ke Reisha”. “OK deh, asal lu nggak apa-apa aja”. Shelvi pun membuka kaos Rico sehingga kini mereka berdua pun telah benar-benar dalam keadaan telanjang. Kemudian setelah mencium bibir pacarnya tersebut, Shelvi pun beranjak turun dari ranjang dan kembali menghampiri Reisha. Rico sendiri terlihat mengambil posisi terbaring santai di atas ranjang sambil menatap langit-langit kamar.</p>
<p style="text-align: justify;">“Sha, ayo dong kita bareng yuk”. “Nggak Vi”, kembali Reisha menolak. “Ayo dong, gue tau lu sekarang udah horny kan?”, desak Shelvi lagi. “Gue malu Vi”. “Napa musti malu? Kan ada gue disini?”. “Iya sih…”. “Sha, gue tau lu udah lama banget nggak ML sejak lu putus ama cowok lu, gue cuma mau bantu lu nyalurin birahi lu”. “Tapi itu kan cowok lu Vi?”. “Halah, lu nggak enak ama gue? Kan gue yang nyuruh lu? Cowok gue juga asyik-asyik aja kok, lagian kucing mana sih yang nolak kalo di kasi ikan? Hehe”.Apa yang dikatakan Shelvi tadi memang benar adanya. Sudah hampir setahun ia tidak lagi bisa merasakan hangatnya persetubuhan. Apalagi kini mendekati tanggal-tanggal krusial menjelang menstruasi, dimana gairah dan hormon kewanitaannya mulai memuncak tak terkendali. Ingin sekali rasanya ia melepaskan semua beban birahi di dalam dirinya ini dengan bercinta bersama seorang laki-laki. Tapi kalau dia harus menyalurkannya dengan cara bersetubuh bersama pacar sahabat baiknya sendiri, hal ini tentu sesuatu yang benar-benar di luar akal sehat.</p>
<p style="text-align: justify;">Namun di sisi lain, bukankah justru sahabat baiknya inilah yang memintanya untuk melakukan persetubuhan? Jadi siapakah sebenarnya yang gila dalam hal ini? “Ayo Sha…”, Shelvi menarik tangan Reisha dan kali ini gadis cantik itu nampak tidak melakukan perlawanan lagi. Ketika kedua gadis itu berdiri di pinggir ranjang, Rico hanya tersenyum kecil ke arah Reisha. Di dalam hati kecilnya, laki-laki tersebut cukup mengagumi kecantikan dan keindahan tubuh Reisha. Dalam hal ini tentu ia sangat mensyukuri karena bisa memacari Shelvi yang memiliki fantasi sensual yang liar, sehingga sebentar lagi mungkin ia akan segera bisa menikmati tubuh sahabat pacarnya ini tanpa perlu melakukan perselingkuhan di belakang pacarnya. “Ric, lu rangsang dikit Reisha gih!”. Rico pun berdiri dan mendekati Reisha. Tubuh Reisha terlihat bergetar ketika seorang laki-laki dalam keadaan telanjang bulat kini berlahan mendekatinya. Reisha sempat melirik nakal ke arah batang penis Rico. Batang tegang itu terlihat sangat besar untuk membuatnya bergidik dan membuat selangkangannya terasa senut-senut.</p>
<p style="text-align: justify;">Ia tidak bisa membayangkan rasa sakit yang akan menyerangnya jika batang besar itu harus masuk ke dalam dirinya. “Vi…”, Reisha memegang tangan sahabatnya, ketika Rico semakin mendekat. “Udah, anggep aja Rico itu cowok lu”. “Tapi Vi…”, belum sempat Reisha melanjutkan kata-katanya Rico sudah keburu memeluk tubuhnya dan mencium bibirnya. Reisha pun gelagapan dibuatnya, walaupun ia sama sekali tidak menolak bibir Rico yang kini terus menyerang bibirnya. Awalnya Reisha terlihat kikuk, namun beberapa saat kemudian ia pun mulai membalas pagutan bibir Rico. Apalagi ketika kemudian gadis cantik itu merasakan sentuhan lembur Shelvi di pundaknya, Reisha pun tidak malu lagi membalas permainan lidah Rico di mulutnya. Reisha yang memang sejak semula telah terbakar nafsu birahi membuat Rico tidak perlu terlalu bekerja keras untuk membangkitkan sisi liar gadis cantik tersebut. Shelvi sendiri kini masih berdiri di belakang Reisha sambil meremas-remas payudara sahabatnya tersebut dari balik kaos. Kemudian dengan cekatan kedua tangan gadis tersebut masuk ke dalam kaos Reisha.</p>
<p style="text-align: justify;">Berlahan jari-jari Shelvi bergerak membuka kaitan bra berwarna putih tanpa renda yang dikenakan sahabatnya. Kini remasan tangan Shelvi pun dapat langsung merasakan kelembutan dan kekenyalan payudara Reisha. Diserang dari dua arah seperti ini membuat Reisha kian melambung. “Aaah… oooh…!”, cuma lenguhan dan desahan yang keluar dari mulut gadis cantik tersebut, ditengah lumatan bibir Rico. Saking terbelenggunya oleh nafsu membuat Reisha sama sekali tidak melawan ketika Rico menggiringnya berbaring di ranjang. Bahkan saking terbuainya oleh cumbuan pacar sahabatnya tersebut, Reisha sama sekali tidak menyadari kalau kini tubuh atasnya saat ini sudah sama sekali tidak tertutup apapun. Shelvi melemparkan kaos berikut dengan bra milik Reisha sehingga kedua potong pakaian tersebut kini tergeletak di lantai. Hal ini membuat Rico menjadi leluasa mengulum dan menghisap kedua payudara milik Reisha. Payudara gadis cantik itu memang tidaklah terlalu besar, tidak sebesar milik Shelvi, namun ukurannya pas untuk tubuhnya yang berukuran cukup mungil.</p>
<p style="text-align: justify;">Ketika kedua payudara Reisha kini sepenuhnya berada di dalam “kekuasaan” Rico, maka bibir lembut gadis cantik itu pun kini berganti menjadi milik Shelvi. Kedua gadis cantik tersebut terlihat begitu eksotis ketika saling mengulum, menjilat dan bertukar air liur. Mereka berdua sesungguhnya bukanlah lesbian, namun desakan birahi yang kini menguasai kedua gadis tersebut membuat mereka lupa kalau mereka sesungguhnya adalah makhluk sejenis.Ketika kedua gadis itu terlihat asyik saling kulum dan saling jilat, di bawah sana ciuman Rico sudah merambat turun sampai ke perut Reisha yang rata. Sambil tetap mencium pusar Reisha, kedua tangan laki-laki tersebut terlihat memegang ujung celana pendek gadis cantik tersebut. Sesaat kemudian celana pendek itu telah melorot turun dan akhirnya terlepas. Rico kemudian menciumi kedua paha mulus Reisha dan akhirnya ciuman tersebut bermuara di celana dalam putih gadis tersebut yang sudah terasa basah. Kain mungil tipis menerawang itulah yang kini hanya menjadi pembatas antara lidah Rico dengan vagina Reisha.</p>
<p style="text-align: justify;">“Hhhmm… hhmm…!”, hanya itu yang keluar dari mulut Reisha yang kini sedang dicumbui oleh Shelvi. Gadis cantik itu harus beberapa kali menggerakkan pantatnya menahan geli akibat permainan lidah Rico yang beberapa kali menyentuh klitorisnya. Ini berarti celana dalam Reisha sudah berhasil dienyahkan oleh laki-laki tersebut. Reisha benar-benar merasakan kenikmatan yang luar biasa. Bibir dan payudaranya terus menerus dipermainkan oleh Shelvi, sementara di saat yang bersamaan vagina dan klitorisnya jura terus dipermainkan oleh Rico. Terasa sekali kalau di bawah sana sudah semakin basah dan becek, sedangkan payudara dan putingnya sendiri terasa demikian menegang. Permukaan kasar lidah Rico begitu nikmat dirasakan Reisha ketika menari-menari bebas diantara bulu-bulu tipis basah yang ada disana. Saat ini gadis cantik itu sudah benar-benar melayang akibat gelora nafsu birahinya sendiri. Melihat Reisha yang sudah siap tempur, Rico lalu menghentikan jilatannya. Laki-laki itu beranjak dari posisinya samping mengocok-ngocok batang penisnya sendiri yang sudah semakin menegang.</p>
<p style="text-align: justify;">Laki-laki itu merasa batang penisnya belum cukup tegang untuk memberikan kenikmatan kepada dua orang gadis yang bersamanya saat ini. Ia pun menyuruh Shelvi menghentika ciuman bibirnya dan lalu mengarahkan batang penisnya ke dalam mulut Reisha yang masih terbaring pasrah. Kini batang penis tersebut udah terkocok keluar masuk ke dalam mulut mungil Reisha. Reisha nampak cukup gelagapan menerima kocokan penis besar Rico di dalam mulutnya. Ujung penis laki-laki tersebut terasa beberapa kali menyentuh kerongkongannya. Karena takut tersedak, gadis cantik itu pun memilih untuk mengganti posisinya menjadi terduduk. Posisi ketiga insan yang sedang dimabuk birahi itu pun berganti. Kini Rico duduk di ujung ranjang, dimana batang penisnya nampak sedang dijilati oleh dua orang gadis cantik. Rico saat ini benar-benar merasa seperti seorang raja yang sedang dilayani dengan penuh cinta oleh selir-selirnya. Ketika batang penis itu amblas ke dalam mulut Reisha, Shelvi pun kemudian mencium bibir Rico sambil merabai dada bidang pacarnya tersebut.</p>
<p style="text-align: justify;">Cukup lama keduanya saling lumat, sebelum ciuman Shelvi mulai turun ke leher dan dada Rico. Lalu Shelvi pun menyorongkan payudara kanannya ke mulut Rico untuk dilumatnya. Rico pun dengan senang hati melumat dan menjilati payudara montok milik pacarnya tersebut. Memang payudara Shelvi lebih besar ukurannya dibandingkan milik Reisha, namun kedua payudara gadis cantik tersebut sama-sama memiliki daya tarik mereka sendiri. “Aaah…!”, Shelvi mendesah pelan ketika Rico sedikit menggigit puting payudaranya, setelah pacarnya tersebut kembali membuat beberapa cupangan dipemukaan daging montok tersebut.Kini terlihat kedua gadis itu telah berganti posisi. Kini Shelvi yang nampak mengulum batang penis Rico sedangkan Reisha bergantian mencumbu bibir dan dada Rico. Laki-laki tersebut benar-benar tidak percaya kalau Reisha ternyata begitu liar ketika terbakar birahi. Jika dilihat sekilas tadi, dari segi penampilan luar semula Rico melihat Reisha seperti seorang gadis lugu dan polos. Sama sekali tidak terlintas di benaknya tadi kalau gadis cantik, sahabat pacarnya ini pernah memiliki pengalaman bercinta sebelumnya. Namun kini Rico begitu terbuai dengan permainan Reisha yang tak kalah menggairahkan dengan permainan cinta pacarnya, Shelvi.</p>
<p style="text-align: justify;">“Ooohh…ooohh…”, Rico hanya bisa mendesah penuh kenikmatan mendapatkan pelayanan dari kedua gadis cantik tersebut. “Ric, mulai masukin ya? Udah tegang banget nih”, Shelvi menghentikan kuluman dan kemudian memelas ke pacarnya untuk mulai melakukan penetrasi.“OK deh, siapa duluan nih?”. “Reisha aja deh”. Reisha sama sekali tidak berkomentar mendengar percakapan pasangan kekasih tersebut. Yang dia tahu saat ini dirinya memang sangat ingin segera disetubuhi, entah duluan atau belakangan sama sekali tidak masalah baginya.Rico pun menuruti kata-kata pacarnya. Laki-laki itu pun membaringkan tubuh Reisha di ranjang dan kemudian membuka kedua paha gadis tersebut lebar-lebar. Sejenak Rico menelan ludah. Di hadapannya kini terpampang indah sebuah vagina gadis muda yang begitu mempesona. Entah berapa penis yang pernah memasuki lubang kenikmatan tersebut, Rico sama sekali tidak ambil pusing. Yang jelas sebentar lagi batang penisnya akan bisa menikmati vagina ranum milik sahabat pacarnya tersebut. Wajah Reisha terlihat memerah karena malu melihat tatapan nanar Rico ke arah vaginanya.Tak sabaran merasakan nikmatnya vagina Reisha, dengan segera Rico menghujamkan batang penisnya ke dalam lubang kenikmatan tersebut.</p>
<p style="text-align: justify;">“Aaaahhh…!!”, baik Rico maupun Reisha memiawik penuh kenikmatan. Rico merasakan sensasi kenikmatan yang dasyat ketika memasukkan batang penisnya ke dalam vagina Reisha. Memasukkan penis ke dalam vagina seorang gadis yang belum pernah kita setubuhi sebelumnya memang selalu membawa sensasi tersendiri. Begitu pula dengan Reisha, yang memang sudah sekian lama tidak dapat lagi merasakan hujaman penis di dalam vaginanya. Lesakan penis Rico terasa seperti siraman air ditengah kegersangan hidupnya selama ini. Rico pun tak membuang-membuang waktu untuk secepatnya menghujam-hujamkan batang penisnya. Batang penis Rico mengocok vagina Reisha dengan kencang, sedangkan Reisaha sendiri terlihat begitu menikmati kocokan tersebut. Shelvi yang harus menunggu giliran untuk disetubuhi, terlihat mencium bibir Reisha yang kini terguncang-guncang hebat. Shelvi juga meraba-raba payudara Reisha yang nampak terguncang tak kalah hebat. “Gimana Sha? Enak?”, bisik Shelvi nakal di telinga sahabatnya. “Aaaa enak Vi”, ucap Reisha gemetar. “Nikmat kan tongkol cowok gue? Hehe”.</p>
<p style="text-align: justify;">“Vi lu nunging gih, giliran lu yang gue entot sekarang”. Shelvi pun menurut. Ia lalu mengambil posisi nunging di samping Reisha yang terbaring terlentang. Rico lalu mencabut batang penisnya dari dalam vagina Reisha dan ganti memasukkannya ke dalam vagina pacarnya. “Aaakkhh…!”, Shelvi melenguh kencang. Gadis itu memejamkan matanya sambil meremas erat sprei. Batang penis Rico yang langsung menghujam kencang ke dalam vaginanya cukup memberikan rasa sakit yang luar biasa. Tapi di satu sisi sensasi yang ditimbulkan antara campuran rasa sakit dan kenikmatan justru semakin membangkitkan birahinya. Lubang kenikmatan yang semula sempat mengering, kini mulai basah kembali dialiri cairan cinta. Ditengah genjotan Rico, Shelvi menggigit bibirnya. Gadis itu begitu merindukan genjotan penis besar pacarnya ini. Hampir dua minggu lamanya mereka harus berpisah karena Rico harus tugas ke luar daerah. Kali ini pun mereka hanya bisa bertemu sehari sebelum malam nanti Rico harus berangkat kembali ke tempat tugasnya. Ketika Shelvi mendapat giliran disetubuhi, Reisha giliran merabai tubuh Shelvi.</p>
<p style="text-align: justify;">Payudara, paha, pinggang dan bagian-bagian tubuh sensitif lainnya secara bergiliran menerima rabaan dan sentuhan Reisha. Bahkan tidak hanya menyentuh, Reisha juga menciumi dan menjilati sekujur tubuh Shelvi, guna membantu sahabatnya ini menikmati persetubuhan yang kini ia lakukan bersama pacarnya. “Giliran lu lagi Sha”, ucap Rico ditengah genjotannya di vagina Shelvi. Seperti layaknya Shelvi tadi, Reisha pun begitu saja menuruti kata-kata Rico. Apakah ini bertanda kalau kedua gadis cantik tersebut telah sepenuhnya ditaklukkan oleh Rico dengan kocokan penis besar dan panjangnya? Mungkin saja, karena kedua gadis cantik itu terlihat bak budak seks yang sedang melayani majikannya. Kini Reisha pun menungging di samping Shelvi, seakan-akan menyerahkan sepenuhnya vaginanya untuk pacar sahabatnya tersebut. Rico meremas-remas pantat sekal Reisha sebelum melepaskan penisnya dari dalam vagina Shelvi. “Aaakhh…”, kini penis Rico kembali menghujam-hujam kencang ke dalam vagina Reisha. Shelvi pun kembali mencium bibir Rico sambil merabai lembut tubuh pacarnya tersebut.</p>
<p style="text-align: justify;">Rico pun harus membagi konsentrasi antara menggenjoti vagina Reisha dengan permainan lidah Shelvi di dalam mulutnya. Keduanya memberikan sensasi kenikmatan tersendiri bagi Rico. Gaya doggie ini tidak berlangsung lama karena Shelvi menyuruh Reisha untuk mengambil posisi woman on top. Kini Rico berbaring di atas ranjang, dimana Reisha berada di atas tubuhnya dan menggoyang-goyangkan pinggulnya. Hal ini membuat batang penis Rico yang menancap di dalam vagina Reisha terasa terjepit dengan kencang. Posisi seperti ini memudahkan Shelvi untuk bergantian mengulum bibir Rico maupun Reisha. Tak hanya bibir mereka, Shelvi juga bergantian menjilati dada keduanya. Sambil bergoyang kini Reisha pun harus membagi konsentrasi antara kuluman bibir Shelvi dan remasan tangan Rico di kedua payudaranya. “Hhhmm… hhmmm… hhhmmm…”, desahan tertahan keluar dari kedua mulut gadis cantik tersebut yang kini terlihat masih berciuman panas. Sedangkan Rico ditengah dera rasa nikmat akibat jepitan vagina Reisha, terlihat begitu kagum melihat pemandangan dua gadis cantik yang kini sedang bercumbu ria di hadapannya.</p>
<p style="text-align: justify;">Sungguh fenomena yang sangat eksotis dan indah. Ketika tiba giliran kembali untuk berganti posisi, Shelvi pun agaknya memilih untuk menggunakan gaya woman on top juga. Begitu batang penis tersebut terlepas dari vagina Reisha, Shelvi langsung memasukkannya ke dalam mulutnya. Cairan cinta Reisha begitu terasa di lidahnya ketika Shelvi mengulum dan mengocok batang penis Rico dengan mulutnya. Sedangkan Reisha hanya meremas-remas pantat sekal Shelvi. Kemudian Shelvi mengambil posisi mengangkang diatas tubuh pacarnya. Sejenak gadis manis itu mengatur posisi penis Rico, agar pas ketika terhujam nanti. Setelah merasa pas Shelvi pun menurunkan tubuhnya dan batang penis itu pun menghujam kencang masuk ke dalam duburnya. Shelvi memang tidak mengarahkan batang penis Rico ke dalam vaginanya, namun ke dalam duburnya. Rupanya gadis cantik itu ingin memberikan pelayanan anal seks untuk pacarnya. “Oooohh…!!!”, Rico berteriak merasakan penisnya melesak masuk ke dalam pantat pacarnya tersebut. “Aaaahh… aaahh…”, Shelvi dan Rico sama-sama mendesah, berteriak dan melenguh secara bergantian.</p>
<p style="text-align: justify;">Mereka seakan-akan lupa kalau mereka kini sedang bercinta di kosan Reisha, dimana kemungkinan ada penghuni kos yang akan mendengar teriakan mereka. Reisha sendiri kini nampak meraba-raba vagina dan klitoris Shelvi. Sejenak ia membasahkan tangan kanannya dengan liur kemudian kembali melanjutkan aktifitasnya mengobok-obok vagina Shelvi. Vagina Shelvi memang saat ini sedang menganggur karena yang sedang sibuk menerima genjotan penis Rico adalah duburnya. Sedangkan Rico yang terlihat begitu menikmati aksi Shelvi yang terlihat turun naik di atas tubuhnya, kini sibuk pula memainkan vagina Reisha yang juga menganggur dengan jari-jarinya. Beberapa kali jari-jari tangan Rico menghujam-hujam masuk ke dalam lubang vagina Reisha, sehingga membuat pemiliknya juga mendesah-desah penuh kenikmatan. Menerima genjotan penis di duburnya serta permainan jari-jari Reisha di vagina dan klitorisnya, membuat Shelvi terlihat segera akan mencapai klimaks. Dan benar saja tak lama kemudian Shelvi melenguh kencang, menandakan pencapaian puncak permainan. “Aaaakkhh…!!!”, lenguh Shelvi sambil mendongakkan kepala dan memejamkan matanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Shelvi pun mencabut batang penis Rico dari dalam vaginanya dan sejenak berbaring di ranjang menikmati sensasi kenikmatan yang baru saja menderanya. Kesempatan ini digunakan Rico untuk kembali menghujamkan batang penisnya ke dalam vagina Reisha. Laki-laki itu pun membaringkan Reisha di ranjang dan dengan segera mengocok kembali lubang kenikmatan milik gadis cantik tersebut. Kini Rico nampak semakin kesetanan mengocok vagina Reisha, karena ia ingin betul-betul menikmati saat-saat dimana ia bisa menyetubuhi sahabat pacarnya ini mumpung dirinya masih memiliki kesempatan. Vagina Reisha seolah-olah menjadi selingan yang begitu indah, diantara persetubuhan yang biasa ia lakukan bersama Shelvi, pacarnya. “Aaaahh…. Ahhh…”. “Oooohh… ooohh…”. “Sha… memiaw lu nikmat banget!”, rancau Rico. “tongkol lu juga enak Ric”, balas Reisha. Shelvi yang saat ini sudah pulih dari deraan birahinya dan nampak memeluk serta merabai tubuh Rico, cukup merasa cemburu mendengar kata-kata pacarnya tadi. Namun Shelvi segera mengusir jauh-jauh perasaan tersebut, karena baik pacar maupun sahabatnya ini kini sedang dilanda birahi menjelang klimaks sehingga wajar kalau mereka mengeluarkan kata-kata yang seronok.</p>
<p style="text-align: justify;">“Ric… gue keluar… aaakkhh…!!!”. Tubuh Reisha nampak mengejang. Ini adalah klimaks pertamanya sejak putus dengan pacar lamanya beberapa bulan yang lalu. Klimaks yang sangat dinanti-nantinya. Klimaks yang terasa jauh lebih nikmat daripada saat ia mencapai klimaks karena melakukan masturbasi. Rico pun mencabut batang penisnya dan membiarkan Reisha terbaring di ranjang menikmati momen puncaknya. Rico yang kini berdiri di atas ranjang lalu memandang sayu ke arah Shelvi yang sebelumnya telah mencapai klimaks terlebih dahulu. Shelvi pun mengerti makna tatapan pacarnya tersebut. Ia pun kemudian bersimpuh dihadapan Rico dan mulai memasukkan batang penis Rico ke dalam mulutnya. Shelvi pun dengan telaten mengocok-ngocok penis Rico dengan mulut dan jari-jari lentiknya. Rico yang sebelumnya memang sudah hampir sampai di ujung klimaks, benar-benar menikmati kuluman pacarnya tersebut. “Vi, gue keluar nih!”. Shelvi pun melepaskan kulumannya dan hanya melakukan kocokan tangan pada batang penis Rico. Kocokan tangan Shelvi nampak semakin kencang ketika Rico mulai memejamkan matanya.</p>
<p style="text-align: justify;">“Aaaahh…!!!”. “Crroooot… crooot… crooot…”, beberapa kali cairan sperma muncrat dari ujung penis Rico. Cairan putih kental itu pun ditampung oleh Shelvi di dalam mulutnya. Setelah semprotan terakhir keluar, mulut Shelvi sudah dipenuhi oleh cairan sperma pacarnya. Gadis cantik itu pun kemudian menelan cairan tersebut sampai tetes terakhir. Lalu dengan telaten Shelvi kembali mengulum batang penis pacarnya tersebut. Ia pun menjilati sisa-sisa sperma yang masih menempel pada ujung kepala batang kokoh yang kini mulai mengendur tersebut dan menelannya. “Thanks ya Vi”, Rico ikut bersimpuh dan mendaratkan ciuman mesra bibir Shelvi. Shelvi pun hanya tersenyum kecil. “Gimana enak? Hehe…”, goda Shelvi. “Enak banget!”, ucap Rico mantap. Kemudian Rico menatap ke arah Reisha yang masih tergolek telanjang di atas ranjang. Ia hanya tersenyum melihat tubuh indah gadis cantik yang baru saja ia nikmati kehangatannya tersebut. Kembali rasa cemburu mengalir di dalam hati Shelvi melihat tatapan nanar pacarnya terhadap tubuh sahabatnya. Dengan segera ia mengambil selimut dan menutup tubuh telanjang Reisha. Seolah mengerti maksud yang tersirat dari tindakan pacarnya, Rico pun kemudian mengajak Shelvi turun dari ranjang. Ia lalu memeluk mesra tubuh telanjang pacarnya tersebut dan kemudian mencium bibirnya mesra. Keduanya pun cukup lama saling mengulum bibir masing-masing.</p>
<p style="text-align: justify;">“Kita langsung cabut yuk”. “Musti sekarang ya?”. “Iya nih, klo nggak ntar terlambat lagi”. “Hhhm… masih kangen!”, ucap Shelvi manja. “Kan cuma 3 hari lagi, abis itu gue nggak perlu keluar kota deh, OK?”. “OK deh”. “Cium lagi dong”. Keduanya kembali berciuman mesra. Setelah itu Rico pun mengenakan kembali pakaiannya sedangkan Shelvi sendiri hanya membalutkan handuk milik Reisha guna menutupi ketelanjangan tubuhnya. “Lo lu kok nggak pake pakaian? Kan gue harus nganter lu pulang dulu”, ucap Rico heran. Shelvi menggeleng. “Nggak usah deh, biar ntar gue pulang dianter Reisha aja, kasihan ntar lu telat lagi kalo pake nganterin gue dulu”. Sekilas Shelvi melirik ke arah Reisha yang masih terbaring di ranjang. Entah Reisha saat ini tertidur akibat kelelahan atau pura-pura tidur karena tak ingin menganggu dirinya bersama Rico. Shelvi sama sekali tidak tahu. “Ya udah kalo gitu, gue langsung cabut ya”. “OK deh, ati-ati di jalan ya”. “Ntar begitu landing gue telpon lu deh”. “OK!”. Lalu Shelvi mengantar Rico sampai di depan pintu. Di luar suasana sudah terlihat gelap, tidak seperti saat mereka berdua datang tadi. Rupanya mereka bertiga cukup lama bermain cinta di dalam kamar. Mereka kembali berciuman sampai akhirnya Shelvi melambaikan tangannya melepas kepergian Rico. Shelvi lalu menutup pintu kamar kos tersebut. Gadis cantik itu lalu beranjak menuju ranjang dan duduk di pinggirnya.</p>
<p style="text-align: justify;">“Sha, lu tidur?”, Shelvi menyibak rambut Reisha yang menutupi wajahnya. Reisha hanya menggeleng dari balik selimut. “Kok dari tadi lu diem aja sih?”. “Gue malu Vi”. “Halah, kayaknya tadi kita udah ngebahas masalah ini deh”. “Iya, tapi tetep aja gue malu”. “Ya udah gini aja deh, kalo ntar lu udah punya cowok lagi, lu bagi juga ama gue jadi kita impas, gimana? Hehe”. “Dasar! Gila lu ya!”. Keduanya pun tertawa cekikikan. “Udah ah, pake baju gih, trus anterin gue cari makan, gue laper banget nih!”. Lalu kedua gadis cantik itu pun membersihkan diri dan mengenakan pakaian mereka kembali. Entah apa yang sebenarnya melintas di otak Shelvi ketika mengajak Reisha melakukan threesome dengan pacarnya, namun yang jelas semua pihak yang terlibat kini merasa bahagia.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ceritasex.cn/berbagi-nikmat-dengan-sahabat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mirna Sang Penjual Jamu Gendong</title>
		<link>http://www.ceritasex.cn/mirna-sang-penjual-jamu-gendong/</link>
		<comments>http://www.ceritasex.cn/mirna-sang-penjual-jamu-gendong/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 17 May 2010 12:31:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cerita Sex</dc:creator>
				<category><![CDATA[Paruh baya]]></category>
		<category><![CDATA[Seks Umum]]></category>
		<category><![CDATA[fantasi seks]]></category>
		<category><![CDATA[mirna]]></category>
		<category><![CDATA[ngentot]]></category>
		<category><![CDATA[penjual jamu]]></category>
		<category><![CDATA[seks]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ceritasex.cn/?p=1385</guid>
		<description><![CDATA[Pagi sekali ayam jantan milik tetangga rumah itu berkoar. Padahal mataku masih menginginkan untuk terpejam. Namun, berisik koar ayam jantan itu membuatku terbangun. Hah!!! Gerutuku sambil membuka mata dan beranjak ke kamar mandi untuk sekedar membuang air seni yang sudah terasa berat di selangkanganku. Tiba-tiba telingaku yang tajam menangkap suara desahan yang tertahan. Halus dan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Pagi sekali ayam jantan milik tetangga rumah itu berkoar. Padahal mataku masih menginginkan untuk terpejam. Namun, berisik koar ayam jantan itu membuatku terbangun. Hah!!! Gerutuku sambil membuka mata dan beranjak ke kamar mandi untuk sekedar membuang air seni yang sudah terasa berat di selangkanganku.</p>
<p style="text-align: justify;">Tiba-tiba telingaku yang tajam menangkap suara desahan yang tertahan. Halus dan pelan. Rumah kontrakan yang hanya tersekat oleh dinding papan ini memang menguntungkan bagi orang kecil sepertiku yang hidup megap-megap ditengah kota Jakarta. Mengontrak rumahpun mencari yang mumer. Alias murah meriah seperti kebiasaanku ketika ingin mencari panti pijat.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku beringsut mencari celah dinding papan yang berlubang. Disebelah petak kontrakanku tinggal seorang penjual jamu gendong beserta adiknya. Namanya Mirna dan adik laki-lakinya Bejo. Bejo kerja serabutan. Terkadang jadi kuli bangunan, terkadang jualan di pasar. Terkadang malah manyun dipinggir empang mancing lele.</p>
<p style="text-align: justify;">Ups! pas sekali aku bisa menemukan celah di antara dinding penyekat yang terbuat papan ini. Mataku terbelalak menyaksikan dari celah ini si Mirna sedang meremas payudaranya dan memainkan jarinya diklitorisnya. Memutar dan menekan. Jakunku mulai naik turun. Dan burungku pun mulai menegak. Tidak kusangka dan kuduga selama ini ternyata Mirna punya tubuh yang seindah itu. Selama ini aku tidak begitu memperhatikannya. Karena setiap aku melihatnya tubunya selalu dibalut dengan kain kebaya dan baju atasan. Paling banter aku sekali melihatnya pake daster dan itupun ditambah dengan celana panjang sehingga kulitnya yang putih itu hanya terlihat dilengannya saja. Kali ini aku benar-benar melihatnya utuh. Tubuh telanjangnya tergolek di tempat tidur. Payudaranya pun terlihat dengan puting susunya yang memerah.</p>
<p style="text-align: justify;">Yup! aku baru ingat kalau Bejo adiknya menginap ditempat kawannya di kampung sebelah. Dan, aku juga baru tahu kalau rupanya minah suka bermartubasi di waktu subuh dimana aku jarang bahkan susah bangun di waktu subuh. Tapi, kali ini aku beruntung sekali terbangun di waktu subuh karena menemukan hal unik dan baru kebiasaan tetangga sebelah petak rumah kontrakan.</p>
<p style="text-align: justify;">Peristiwa di waktu subuh itu aku ingat selalu. Meski hanya sekali. Karena selanjutnya aku susah sekali buat bangun di waktu subuh. Dan, ketika bangun itupun terkadang sudah melewati ritual Minah dan ketika adiknya Bejo, dirumah mana bisa dia berbuat seperti itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Bodoh! Kata setan dalam hati. Kenapa aku tidak berusaha mendekatinya? Tapi dengan cara apa? Bodoh! sekali lagi setan dalam hati memaki. Kenapa tidak kau pura-pura minum jamu jualannya? Yup! aku baru menemukan ide. Selama ini aku tidak pernah mencicipi jamunya!!!</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Mbak Mirna!&#8221; panggilku pelan dari pintu belakang.<br />
&#8220;Iya. siapa?&#8221; jawab suara mirna di balik pintu<br />
&#8220;Aku. Tetangga sebelah&#8221;<br />
&#8220;Oh, mas Andri. Sebentar.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Tak lama pintu belakang rumah kontrakan terbuka. Didepanku Mirna hanya mengenakan daster tanpa lengan warna biru muda. Cuma, kali ini dia tidak pakai celana leging yang biasa dia pakai.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Ada apa, mas?<br />
&#8220;Hmmm mau beli jamu pegel linu&#8221;<br />
&#8220;Tumben, mas?<br />
&#8220;Iya. biasanya sih beli di gang depan cuma lagi males jalan,mbak.&#8221;<br />
&#8220;Oh, ya udah masuk yuuuk&#8221;.<br />
<span id="more-1385"></span><br />
Berjingkat aku masuk mengikuti ajakan Mirna. Daster birunya yang transparan itu membuatku ingin segere menyergapnya. Namun aku coba menenangkan bathin yang bergejolak. Salah-salah mirna malah teriak kalau dia langsung aku sergap! Bisa runyam urusannya. Digebukin aku orang sekampung!</p>
<p style="text-align: justify;">Mirna mulai meramu jamu yang kupesan. Aku mulai memperhatikannya. Wajah mirna memerah ketika dia tahu aku memperhatikannya. Pangkal lengannya yang terangkat ketika memeras jeruk nipis digelas menampakan buah bulu keteknya yang halus dan sedikit buah dadanya.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Ini mas jamunya&#8221;<br />
&#8220;Eh, iya&#8221; sedikit aku pura-pura merasa jengah. Kenakalanku mulai kumainkan dengan mencoba menggenggam tangannya ketika dia mengulurkan gelas yang berisi jamu.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Hah&#8230;enak sekali. Gak nyangka jamu buatan mbak Mirna mantab.&#8221;<br />
&#8220;Ah, mas Andri.<br />
&#8220;Serius. baru tahu aku,mbak. tahu gini kan beli terus aja mbak Mirna.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Sekian lama aku bertetangga denga Mirna baru kali ini aku mengobrol dengannya. Ketika niat jahat muncul di kepalaku karena peristiwa subuh itu. He..he..he&#8230;</p>
<p style="text-align: justify;">Rupanya dia seorang janda yang ditinggal kabur suaminya ke kota. Ketika disusul ternyata suaminya sudah punya istri baru. Cerita yang klasik. Asyik aku mengobrol dengan mbak Mirna tentang pengalaman hidupnya. Kadang diringi tawa dan cubitan tangannya saat dia merasa malu dan tersipu karena aku goda. Tak sengaja daster yang dikenakan mbak Mirna sedikit terangkat. Aku melihat paha mulus itu dengan nafsu yang tertahan.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Mbak, aku tahu loh apa yang mbak pernah lakukan di subuh-subuh itu&#8221; bisiku ditelinganya.<br />
&#8220;Hah? pekinya pelan kaget. Mulutnya ternganga. Wajahnya memerah malu.</p>
<p style="text-align: justify;">Mulut yang menganga itu membuatku hilang kesadaran. Secepat itu aku mendaratkan bibirku di bibirnya. Mbak mirna kaget setengah mati. Dia berusaha menutup bibirnya dan menghindar. Namun, tanganku mendekap pinggulnya agar tidak bisa menjauh dariku.</p>
<p style="text-align: justify;">Tanganku mulai mengelus pahanya yang mulus itu. Bibirku berusaha menjamah bibirnya yang bergerak kekanan dan kekiri menghindar.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Ukh..&#8221; pekiknya sembari menggelengkan kepalanya. Aku tak hilang akal. Aku remas payu daranya yang menggunung dan menempel di tubuhku. Mungkin karena keenakan sedikit membuka katupan bibirnya. Tidak aku sia-siakan. Aku mengulum bibirnya sembari tanganku meremas payudaranya dan sesekali memelintir puting susunya. Mirna mulai mengerang.</p>
<p style="text-align: justify;">Jariku menelusup diantara celana dalamnya yang masih terpakai. Aku usap pelan. Bulu-bulu halus kemaluannya semakin menambah gemas rasakku. Aku usap sampai ke klitorisnya dan jariku yang lain masuk kedalam liang kemaluannya. Basah. Mirna makin mendesah.</p>
<p style="text-align: justify;">Tapi, aku lupa bahwa pintu belakang rumah belum tertutup. Gawat kalau ketahuan tetangga. Aku pun menghentikan perburuanku dan beranjak menutup pintu.</p>
<p style="text-align: justify;">Sekembalinya menutup pintu aku lihat tubuh indah Mirna sudah tergolek ditempat tidurnya. Matanya terpejam. Aku memburu bibir mirna dan berusaha membuka dasternya. Mirna tak kalah beringas dan membuka celanaku.</p>
<p style="text-align: justify;">Bibirnya lembut mengulum kemaluanku. Rupanya jago juga dia memainkan lidahnya. Buah kemaluanku dijilatinya hingga aku mengejang tak karuan.</p>
<p style="text-align: justify;">Tiba giliranku untuk memainkan lidahku di kemaluannya. Mirna mulai meremas rambutku ketika lidah dan bibirku melumat habis lubang kemaluannya. Tanganku tak lupa meremas payudaranya. Klitorisnya aku tekan dengan lidahku dan aku hisap kuat hingga Mirna merasa kejang dan semakin keras menjambak rambutku.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Auw..&#8221; Mirna terpekekik pelan. Dua rambutku tercabut dari kulit kepalaku saking keenakannya. Mata Mirna terpejam. Kembali aku mengulum bibirnya. Kemaluanku perlahan aku arahkan ke lubang kemaluannya. Matanya makin terpejam ketika batang kemaluanku masuk seluruhnya ke dalam kemaluannya.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Kamu suka sayang?&#8221; ucapku mulai menggunakan kata sayang.<br />
&#8220;Iyaaaa, masssss.&#8221;<br />
Aku gerakkan pantatku maju mundur menenggelamkan kemaluanku. Lembab dan hangat. Terasa sekali di kulit kemaluanku. Mirna hanya sedikit bergerak ketika aku sesekali menahan kemaluanku kemudian menghunjamnya kencang kedalam kemaluannya.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Okh&#8230;&#8221; pekiknya halus saat aku semikin kencang menghunjamkan kemaluanku.<br />
&#8220;Massss&#8230;.&#8221;<br />
&#8220;Iya,sayang&#8230;&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Aku angkat sebelah kakinya ke bahuku. Mirna berusaha menggapai ujung kain tempat tidurnya. Tangannya mencengkeram kuat seiring semakin membesarnya kepala kemaluanku. Dan&#8230;</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Ooooookkkhhh&#8230;&#8221;<br />
&#8220;Mirna&#8230;.!!!&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Berbarengan aku dan mirna mengerang. Akupun erat memeluk tubuhnya. Nafasku terngengah-engah ditelinganya.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>BERSAMBUNG&#8230;&#8230;..</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ceritasex.cn/mirna-sang-penjual-jamu-gendong/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Nikmatnya Istri Anak Buahku</title>
		<link>http://www.ceritasex.cn/nikmatnya-istri-anak-buahku-2/</link>
		<comments>http://www.ceritasex.cn/nikmatnya-istri-anak-buahku-2/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 27 Apr 2010 17:24:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cerita Sex</dc:creator>
				<category><![CDATA[Paruh baya]]></category>
		<category><![CDATA[Seks Umum]]></category>
		<category><![CDATA[selingkuh]]></category>
		<category><![CDATA[binal]]></category>
		<category><![CDATA[istri]]></category>
		<category><![CDATA[ngentot]]></category>
		<category><![CDATA[seks]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ceritasex.cn/?p=1371</guid>
		<description><![CDATA[Ceritanya dimulai sewaktu saya ditugaskan sebagai staff di pabrik pengolahan minyak sawit di salah satu perkebunan di Sulawesi. Namaku Alex, umurku 27 tahun, belum menikah. Sebagai seorang staff yang baru pindah ke daerah perkebunan, dimana masyarakat yg tinggal sangat berjauhan kecuali karyawan dan staff perkebunan yg sengaja dibuat dalam satu perumahan, mutlak sebagai pendukung utama [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Ceritanya dimulai sewaktu saya ditugaskan sebagai staff di pabrik pengolahan minyak sawit di salah satu perkebunan di Sulawesi. Namaku Alex, umurku 27 tahun, belum menikah. Sebagai seorang staff yang baru pindah ke daerah perkebunan, dimana masyarakat yg tinggal sangat berjauhan kecuali karyawan dan staff perkebunan yg sengaja dibuat dalam satu perumahan, mutlak sebagai pendukung utama opersional yang sewaktu-waktu bisa dipanggil dalam waktu 24 jam.</p>
<p style="text-align: justify;">Walaupun sebagai staff, karena sebelumnya perumahan sudah diisi oleh sebagian karyawan yg sudah duluan menempati, saya menempati rumah kopel kayu (dua rumah dempet menjadi satu bangunan) ketiga dari ujung dan agak kecil yg sebenarnya fasilitas untuk karyawan biasa. Manager pabrik sendiri menganjurkan agar memindahkan karyawan yg sudah menempati fasilitas rumah (rumah single beton) yang sebenarnya diperuntukkan bagi staff bujangan maupun keluarga, tapi untuk mengambil hati para karyawan yang mana nantinya juga akan menjadi bawahan saya.</p>
<p style="text-align: justify;">Akhirnya sayapun minta agar diijinkan menempati rumah kopel ketiga dari pinggir menghadap ke timur berhadapan dengan rumah yang menghadap ke barat dibatasi oleh jalan besar belum diaspal tapi sudah dikerasin.</p>
<p style="text-align: justify;">Rumah tetangga sebelah kiri yang agak berjarak tanah kosong selebar satu rumah ditempati oleh karyawan laki-laki yang sudah berkeluarga teapi istrinya masih tinggal di rumah orangtuanya , jauh dari lokasi perkebunan. Biasanya dia pulang sekali sebulan untuk mengantarkan gaji bulanan untuk nafkah anak istrinya.</p>
<p style="text-align: justify;">Rumah sebelah kanan yang merupakan pasangan rumah kopelku ditempati oleh karyawan laki-laki berumur 35 tahun, namanya bersama Nardi bersama istrinya yang berumur 33 tahun, namanya Hartini. Hartini walaupun bukan termasuk wanita kota, tapi sangat modis dan mengikuti kemajuan jaman disesuaikan dengan kondisi ekonomi. Yang paling membuat saya sangat kagum adalah bentuk payudara yang sangat padat berisi dan body yang cenderung montok.</p>
<p style="text-align: justify;">Dengan kondisi rumah kopel kayu seperti itu biasanya sepelan apapun pembicaran ataupun gerakan dalam rumah akan terasa di rumah sebelah. Dan saat itu kebetulan Nardi masuk dalam shift-1 dibawah pimpinan saya.</p>
<p style="text-align: justify;">Karena saya masih bujangan dan memang bukan tipe yang rajin ngurus rumah, untuk makan biasanya saya makan di warung yang berada di luar lingkungan perumahan berjarak sekitar 500 meter dari perumahan pabrik dan 50 meter dari pabrik. Untuk cuci pakaian, aku usahakan cuci sendiri walaupun hanya satu kali seminggu. Seringkali kalau udah malam atau hujan, terpaksa aku tidak makan nasi, hanya mengandalkan mi instant yang direbus seadanya. Karena mungkin kasihan, pada suatu sore sepulang kerja shift-1 pagi, kami bertiga, aku, Nardi dan Hartini ngobrol di teras, dan saat itu Nardi yang menjadi bawahanku itu menyarankan agar makan di rumahnya saja setiap hari dengan membayar secukupnya kepada istrinya.</p>
<p style="text-align: justify;">Akhirnya terjadi kesepakatan untuk makan setiap hari sekalian cuci pakaian ditanggung jawabi oleh Hartini. Karena setiap hari berdekatan dan makan bersama semakin lama hubungan kamipun semakin akrab dan tidak sungkan lagi ngobrol berdua tanpa suaminya.</p>
<p style="text-align: justify;">Awal kejadian pada suatu sore sepulang kerja sekitar jam 16.00, dan Nardi masih lembur di pabrik untuk mencari tambahan aku dan Hartini duduk ngobrol di teras. Saat itu aku menanyakan kenapa mereka yang sudah menikah 9 tahun belum punya anak. Dia dengan malu-malu bercerita bahwa mereka sudah sangat menginginkan anak dan sampai saat ini Hartini sudah periksa ke dokter dan dinyatakan tidak ada masalah, dan suaminya sendiri katanya tidak mau periksa karena merasa tidak ada kelainan dalam hal fisik, dan kebutuhan batin istrinya sanggup terpenuhi.<br />
<span id="more-1371"></span><br />
Dari situ, semakin lama pembicaraan kami semakin bebas sampai saya bercerita bahwa aku pernah mempunyai bekas pacar yang fisiknya agak montok seperti Hartini, dan iseng-iseng aku mengatakan bahwa biasanya wanita yang cenderung montok mempunyai payudara yang lembek dan turun dan rambut vagina sedikit dan jarang-jarang. Hartini membantah bahwa tidak semuanya begitu, dan dia sendiri mengatakan bentuk kepunyaan dia sangat bertolak belakang dengan yang saya katakan. Karena saya penasaran saya katakana bahwa Hartini pasti bohong, tapi dia menyangkal, akhirnya dengan jantung berdebar keras takut kalau Hartini marah saya minta tolong apabila bersedia ingin melihatnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Tapi mungkin demi menjaga agar dia tidak dianggap murahan, dia menolak keras, lama kelamaan saya memohon dengan muka pura-pura dibuat kasihan ditambah alasan bahwa sudah kangen banget sama pacar yang saat itu berada di Jakarta yang biasanya sekali seminggu bertemu, akhirnya dia mengatakan dengan pipi merah bahwa saya boleh melihat dia tapi dari jauh dan tidak boleh menyentuhnya. Saya tentu saja dengan cepat menyetujuinya. Dengan gerak malas-malasan atau dibuat pura-pura berat hati, dia berjalan menuju kamar belakang yang berdampingan dengan kamar depan dan tak lupa menutup jendela belakang yang berhadapan dengan lahan perkebunan masyarakat untuk menjaga apabila secara kebetulan ada orang yang bekerja di lahan tersebut. Kemudian dia berdiri sambil tersenyum malu-malu kepada saya yang tak mau melepasakan pemandangan indah tersebut dari jendela depan yang sengaja saya atur posisi saya masih di teras tetapi kepala saya melongok ke dalam rumah seakan-akan kalau orang melihat dari halaman ataupun lewat dari jalanan kami sedang berbicara dengan orang yang berada di dalam rumah. Jarak antara posisi duduk saya (diperbatasan teras rumah saya dengan rumah dia) hanya berjarak sekitar empat meter saja ke posisi dia berdiri di kamar belakang.</p>
<p style="text-align: justify;">Dengan lagak seorang model dia bergerak pelan-pelan membuka kaos birunya sambil jalan ke kiri dan kanan secara perlahan sampai ke balik pintu kamar sampai mata saya kadang tidak mampu melihat pemandangan yang mengasyikkan, tetapi setiap mau ke arah balik pintu saya perlahan teriak “Tin, jangan sampai kesitu dong, aku nggak bisa lihat nih.”. Sepertinya Hartini memang sengaja membuat saya penasaran. Kaos yang ditarik ke atas lalu dijepit oleh ketiaknya dan kelihatan BH berwarna merah menyala seakan-akan tidak mampu menutupi semua payudara montok putih yang menyembul keluar dari bagian atas BH nya seakan-akan protes mengapa dia dijepit terlalu keras.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah didiamkan sekitar 30 detik, sambil tersenyum mengedipkan mata sebelah kepada saya, dia pun mulai membuka kancing depan BH dan membiarkan cup BH nya menjuntai kebawah. (Akhirnya saya ketahui bahwa Hartini mempnyai ukuran 36 dan cupnya saya kurang tau, yang jelas satu telapak tangan saya masih belum bisa menutupi sebelah payudaranya dan dia mempunyai BH yang tidak mempunyai kancing di belakang).</p>
<p style="text-align: justify;">Mata saya seakan-akan mau keluar melihat pemandangan tersebut, sedangkan dia sendiri seakan-akan bangga menatap bagaimana saya sangat terpesona dengan payudaranya dengan puting sebesar puntung rokok Sampoerna Mild dan berwarna coklat kemerahan . Dalam 30 detik seakan-akan saya tidak bernafas tidak mau melepaskan pandangan saya sampai akhirnya dia berseru pelan “Udah ya, ntar lagi suamiku pulang” Saya tidak dapat berkata apapun saat itu dan sesudah merapikan pakaiannya, Hartini kembali ke teras seakan-akan tidak terjadi apa-apa kecuali berdiam diri dan duduk diteras rumahnya sedangkan saya sudah pindah duduknya kembali ke teras rumah saya. Setelah beberapa lama, perlahan berkata, “Jangan bilangin sama siapa-siapa ya?” kelihatannya Hartini sangat ketakutan apabila diketahui orang lain.</p>
<p style="text-align: justify;">“Jelas dong, masak gua bilangin sama orang, kan gua juga menanggung resiko” Sesaat kemudian dari jauh sudah kelihatan bahwa Nardi sudah pulang bersama teman-temannya yang ikut lembur. Kami pun berusaha berbicara normal tidak perlahan lagi tetapi membicarakan yang lain. Setelah menaiki tangga, Nardi langsung menyerahkan tas bekalnya kepada Hartini dan Hartini langsung membawa masuk sambil memberesi tempat bekal suaminya. Saya dan Nardi ngobrol sebagaimana layaknya bertetangga walaupun dia tetap menaruh hormat karena bagaimanapun kalau di pabrik dia menjadi bawahan saya.</p>
<p style="text-align: justify;">Malamnya saya terus memikirkan persitiwa tadi sore, kenapa dia bersedia menunjukkan sesuatu yang harusnya hanya boleh dilihat oleh suaminya, padahal dia mengatakan dalam hal kepuasan batin dia mengakuinya. Dalam hati saya berniat untuk lebih jauh., lagi mengingat bahwa Hartini tidak marah. Besoknya kira-kira dalam situasi yang sama sepulang kerja kami ngobrol kembali, dan saya beranikan untuk memancing lagi.</p>
<p style="text-align: justify;">“Kemarin memang benar ya, punya kamu memang bagus sekali bukan karena BH”. Dia tersenyum manis sedikit malu mungkin merasa bangga dengan pujian yang keluar dari mulut saya. “Tapi saya nggak yakin bahwa rambut bawah kamu bukan seperti yang saya lihat punya bekas pacarku dulu” Dengan masih tertawa kecil dia memperbaiki rambutnya dengan kedua tangannya. “Kan kemarin aku bilang apa, sekarang minta itu, sekarang ini, besok minta yang lain lagi dong Awas lho nanti ketahuan pacarmu yang sekarang di Jakarta, tau rasa deh.” “Nggak mungkin dia tahu, kecuali kamu yang bilangin”</p>
<p style="text-align: justify;">Walaupun saya menjawab mengatakan tidak perlu khawatir, tapi dalam hati saya bertanya kenapa justru pacar saya yang dia khawatirin bukannya diri sendiri atau suaminya. Berkat bujukan dan rayuan seorang laki-laki walaupun bukan seorang ahli, dia berkata perlahan “Tapi ingat ya, hanya sebentar dan sekali ini saja ya. Aku takut nanti ketahuan sama suamiku, bisa dibunuh aku nanti. Sekalian awasi orang lain mana tau ada yang mau kesini” Saya hanya mengangguk cepat, tak sabar melihat pemandangan yang akan saya lihat. Perlahan Hartini berjalan menuju kamar belakang sambil saya menikmati pantatnya seperti pantat bebek sedang berjalan. Pemandangan dari belakang membuat penis saya sudah mulai naik dan saya langsung membereskan posisi kontol saya agar tidak sakit. Sesampai di kamar dia pun sepertinya agak gugup mengintip sekeliling luar rumah dari celah papan. Sebentar kemudian dia menaikkan rok katun berwarna hitam setinggi lutut sampai celana dalam merahnya kelihatan. Mata saya seakan tidak mau berkedip takut melewatkan pertunjukan gratis tersebut. Dia menatap saya dengan mata gugup, sepertinya ingin pertunjukan tersebut.</p>
<p style="text-align: justify;">“Lex, udah lihat kan” teriaknya perlahan seperti berbisik. “Kan belum dibuka, tadi udah janji boleh lihat dari jauh. Kalau nggak aku aja deh yang buka ke situ ya” sahutku dengan perlahan sambil mata mengawasi sekeliling, tapi saya yakin masih kedengaran kepada dia. “Jangan …jangan kesini, disitu aja.”dia menjawab sepertinya ketakutan. Saya pun menganggukkan kepala. Kemudian dia melepaskan lagi rok yang sebelumnya diangkat sampai jatuh seperti posisi biasa, dan kedua tangannya masuk dari bawahnya menurunkan celana dalamnya sampai lepas, dengan sebelah tangan masih memegangi celana dalam kemudian Hartini mengangkat roknya kembali ke atas. Ya ampun…… Vaginanya sepertinya tertutupi oleh pegunungan hitam. Dia menatap saya dan mengangguk dengan ekspresi meminta persetujuan agar selesai. Saya sendiri berusaha agar lebih lama lagi menonton, tapi 15 detik kemudian dia langsung membungkuk dan memakai kembali celana dalamnya. Kemudian dia membuka pintu kamar belakang untuk menghilangkan kecurigaan suaminya apabila pulang nantinya dan langsung menuju dapur untuk memberesi makan malam kami nantinya dan tidak bertemu lagi sampai kami makan malam.</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam hati saya mulai yakin bahwa saya tidak bertepuk sebelah tangan. Selama ini apabila saya merasa sudah horny, sayang melampiaskan dengan onani di kamar sambil tiduran ataupun di kamar mandi. Semenjak kejadian tersebut saya mulai berani memeluk, mencium maupun meraba sekalian menciumi buah dadanya sewaktu giliran Hartini mau mengantarkan pakaian bersih dan menyusun di lemari pakaianku yang saya tempatkan di kamar tidurku. Biasanya sewaktu dia mau ngantar pakaian di depan pintu kamar biasanya dia sudah kasih kode jari di mulut, memberi info tidak aman. Apabila aman dia cuma senyum kecil, saya mengartikan isyarat aman. Disaat seperti itulah biasanya saya bisa menikmati bibir maupun teteknya. Kadang saking gemasnya saya tak sadar mengisap puting buah dadanya sampai dia kesakitan dan berbisik “Lex…. Jangan keras-keras. Emang nggak sakit.” Biasanya saya langsung minta maaf dan mengelus-elus buah dadanya dengan mesra. Ada kalanya Hartini tidak mau dicium karena sedang pake pewarna bibir, katanya nanti kalau dicium bisa hilang, suaminya bisa curiga, Sampai sampai sewaktu memberikan uang makan dan cuci pakaianku pun selalu saya menaruhnya sendiri di tengah buah dadanya baru saya tutup sendiri BH nya dan diakhiri dengan senyum dan cium.</p>
<p style="text-align: justify;">Puncak perselingkuhan kami adalah saat saya mau masuk shift sore, masuk jam empat sore dan biasanya pulang jam 12 malam, kalau buah sawit sedang panen raya dan menumpuk biasanya diteruskan sampai pagi. Setiap shift sore biasanya saya akan pulang sekitar jam 7 atau 8 malam untuk malam, sementara bisa bergantian dengan asistenku, biasanya jatah satu jam. Dan suami Hartini yaitu Nardi biasanya karena tidak punya kendaraan, malas pulang dan sudah membawa bekal dari rumah sore harinya. Sore itu sekitar jam 2 siang saya sudah mandi dan bersiap-siap mau berangkat, karena sebagai kepala shift harus koordinasi dulu dengan kepala shift pagi, dan saya masih memakai handuk bertelanjang dada di kamar, Hartini datang ke kamar sambil menaruh jari diatas bibir, pertanda tidak aman. Saya berbisik, “Emang dimana suamimu” “Itu masih lagi tidur di kamar” jawabnya perlahan. Hartini pun berjalan menuju lemari pakaianku sambil tangan kirinya mencubit puting tetekku. Saya merasa geli, dan mau membalas mencubit teteknya. Dia mengelak sambil berbisik,</p>
<p style="text-align: justify;">“Jangan sekarang, ntar malam aja, waktu pulang makan” “Dimana” “Ntar ke kamar saja langsung, pintu belakang tidak kukunci, hanya ditutupkan saja” “Tapi nanti jangan pake apa-apa ya.“ godaku pelan sambil main mata. Saya diam memikirkan kata-katanya, Sambil berjalan ke teras saya masih sempatkan meraba pantatnya sampai dia menepiskannya. Saya kaget memikirkan ada apa Hartini malah mengundang saya malam-malam ke kamarnya. Sampai di pabrik saya tidak konsentrasi dalam mengawasi karyawan melakukan tugas masing-masing dan masih memikirkan apa maunya Hartini. Saya sengaja agak lebih lama pulang makan malamnya sekitar jam 8.30 malam, dan suasana perumahan sudah agak sepi karena gerimis dari sore. Saya langsung menempat motor dinas ke belakang rumah agar tidak menyolok dari luar. Saya masuk rumah dan menyalakan lampu sebentar kemudian dari celah papan, saya mengintip rumah sebelah dan kelihatan rumah sangat gelap, karena biasanya pada saat tidur memang kebiasaan lampu dimatikan. Pandangan orang dari luar kalau lampu sudah dimatikan biasanya enggan bertamu paling tidak kalau tidak benar-benar penting sekali.</p>
<p style="text-align: justify;">“Tin…..udah tidur ya, kesini dong?” teriakku pelan, sampai dua kali saya berteriak pelan, Hartinipun mendekat dibatasi oleh papan pembatas berbisik “Pintu belakang tidak dikunci, Alex aja yang kesini” Sayapun berjalan menuju kebelakang rumah sambil mematikan lampu ruang tengah, sehingga dari luar kelihatan saya sudah pergi kembali ke pabrik. Karena sangat gelap saya membiasakan mata dulu, baru mengawasi sekeliling. Mengingat kaos kerja yang saya pakai berwarna putih, saya membuka dan menyangkutkan di pintu belakang sebelah dalam. Lalu berjingkat-jingkat perlahan saya menuju pintu belakang rumah Hartini. Dengan sangat hati-hati saya mendorong pintu, takut mengeluarkan suara dan berjalan pelan sekali sambil menahan nafas, takut getaran kaki saya di lantai papan kedengaran sama orang lain. Memasuki kamar depan, Hartini kelihatan tidur dengan memakai kain sarung sebatas dada dan kaos you can see berwarna pink yang bisa saya lihat dari cahaya lampu jalan di depan rumah masuk dari celah papan kayu. Hartini berpura-pura memejamkan mata.</p>
<p style="text-align: justify;">Saya langsung jongkok di sampingnya dan meraba bua dadanya tanpa membuka kain sarungnya. Dia melirik sambil tangannya mencubit pipi saya. Saya teruskan dengan mencium bibirnya. Tak lama kemudian dia pun membalas dan tangan saya mulai menurunkan kain sarungnya dan manaikkan kaos sampai buah dadanya kelihatan penuh. Saat itu Hartini tidak memakai BH lagi seperti godaan saya siang harinya. Agak lama kami berciuman sambil tangan kananku meremas-remas kedua buah dadanya. Saya merasa sudah sangat bernafsu begitu juga penglihatan saya kepada Hartini. “Tin, mau nggak kita masukin, ntar aku buang di luar deh.” bisikku “Lex, jangan dibuang di luar” jawabnya pelan sambil memelukku lebih keras sambil mencium pipi kiriku . “Ntar kalau hamil gimana dong, bisa bahaya kita” sahutku. Tanganku masih terus memutar-mutar puting kirinya. Tangan kiriku memangku lehernya sambil menahan berat tubuhku, karena saat itu saya masih jongkok. “Biar aja. Aku kan punya suami. Kalau aku hamil kan wajar” “Tapi kalau nantinya anaknya lahir mirip aku gimana dong, suamimu bisa curiga loh”</p>
<p style="text-align: justify;">Dia menatap saya memelas, seperti meminta pertolongan, saya merasa kasihan melihat wajahnya. “Tolongin aku ya Lex, pokoknya dikeluarin didalam aja. Saya tanggung kamu tidak akan apa-apa. Aku pengen hamil Lex. Aku ingin buktikan kepada keluarga suamiku bahwa aku tidak mandul.” Sepertinya dia memohon. Saya ingat bahwa Hartini pernah cerita bahwa beberapa keluarga suaminya diam-diam sudah menganjurkan agar suaminya mencari istri lagi kalau ingin punya anak. “Kamu sudah yakin” Saya ingin menegaskan lagi bahwa dia memang meninginkannya. “Iya Lex, tolongin aku ya” bisiknya langsung mencium bibirku. Saya pun membalas ciumannya setelah yakin dia memang sangat menginginkannya. Sambil tetap berciuman tanganku mulai menarik turun kain sarungnya sampai lepas melewati kaki. Saya melepaskan bibirku turun ke puting buah dadanya sambil tangan kananku meraba pangkal paha. Sepertinya celana dalam Hartini sudah agak basah. Hartini mendesah pelan sambil tangannya masih memeluk kepalaku, sekali-kali berusaha menekan kearah teteknya yang sedang saya putar-putar pakai lidah, sambil tanganku menarik celana dalamnya turun lepas dari kakinya dibantu dengan gerak pantat Hartini yang terangkat. Mataku sekali-sekali melirik ke arah vagina yang ditumbuhi rambut-rambut keriting yang lebat dan tanganku meraba-raba menyisihkan bulu-bulu jembut yang tumbuh dengan suburnyaitu agar tanganku bisa masuk ke lubang vaginanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Refleks tangan kiri Hartini menangkap tangan kananku dan menariknya ke atas tanpa melepaskannya lagi. Saat itu mulutku mulai turun ke arah perut, tetapi sesampai pusar Hartini menolak dan menahan kepalaku agar jangan sampai ke memeknya. Saya berusaha pelan-pelan menarik kepalaku sampai mulutku hampir mencium vaginanya. Tiba-tiba Hartini bangun duduk. Saya kaget dan takut dia marah. Sambil menatapku dia melingkarkan tangannya ke leherku, berbisik. “Jangan cium, bau. Aku nggak mau dicium itu.” “Nggak bau kok Tin, malah harum. Sebentar aja ya” jawabku merayu sambil cium lehernya. Hartini menggelinjing dan sambil mendesah pelan “Pokoknya jangan ya Lex, kamu masukin aja punya kamu” Tangannya meraba ke arah kontolku, yang sudah menegang tapi tidak maksimum karena kurang konsentrasi, setiap saat harus mengawasi suara di sekeliling rumah. Saat itu saya malah masih memakai celana kerja telanjang dada. Hartini berusaha membuka gesper, tapi agak kesulitan. Saya bangun dan membuka sendiri sampai benar-benar telanjang. Lalu saya tunjukkan kontolku kepada Hartini, dia membuang muka.</p>
<p style="text-align: justify;">Saya memegang kepalanya bermaksud agar dia mau mengoral kontolku, tapi dia bertahan tidak mau. Akhirnya kami kembali berbaring di tempat tidur menetralkan suasana sambil kembali memulai cumbuan. Akhirnya saya dan Hartini sepertinya sudah kembali sama-sama terangsang, dan saya putuskan mengangkat kaki kananku merenggangkan kedua kakinya. Sedikit demi sedikit kakinya mulai ngangkang sampai kedua kakiku bisa masuk, siap untuk memasuki lubang surga. Tapi Hartini memelukku dengan erat sampai mulutnya menyumpal mulutku dan membisiki, “Kita di lantai aja ya. Jangan disini. Soalnya tempat tidurnya berisik nanti” Tanpa menjawab saya langsung bangun turun dari tempat tidur dan Hartini ikut bangun sambil bawa sebuah bantal dan berbaring merenggangkan kakinya di lantai. Saya yang sudah nggak sabaran langsung mengambil posisi. Tak lupa kaos pinknya saya buka sampai lepas melewati kepala. Tangan kanan saya memegang kontolku mengarahkan ke vagina yang sudah banyak mengeluarkan cairan birahi. Sesaat sesudah menyentuh bibir vaginanya, kami berdua saling memandang, seakan-akan meminta persetujuan, dan mulutku mencium mulut Hartini dan langsung dibalas sambil memeluk erat.</p>
<p style="text-align: justify;">“Tin, gua masukin ya. Nggak nyesal kan?” bisikku kembali memastikan. Hartini tidak menjawab, hanya menganggukkan kepala pelan, tapi terasa bahwa dia sudah merespon, pelan-pelan saya masukin kontolku yang berukuran diameter 4 cm dan panjang 12 cm. Saya menahan nafas begitupun Hartini menikmati saat indah tersebut. Walaupun vagina Hartini sudah mengeluarkan banyak cairan lendir, sepertinya masih bisa kurasakan betapa saat memasuki memeknya terasa nikmat sampai sesudah masuk semua, saya diamkan sambil memandang muka Hartini yang memejamkan matanya. Sesaat kemudian dia membuka matanya dan langsung buang muka merapatkan pelukannya sambil mencium leherku. Dengan bertumpukan kedua siku di lantai saya mulai menaik-turunkan pantatku, sampai kedengaran bunyi suara dari lubang vagina Hartini seperti suara tepukan tangan di air. “Plok…plok….plok……” Beberapa lama saya menggenjot kontolku, tiba-tiba kedua kaki Hartini menjepit keras kedua kakiku sampai saya kesusahan mengangkat pantatku, sampai saat pantatku kuangkat terasa berat karena pantat Hartini juga ikut terangkat dan kurasakan leherku digigit. Saya berpikir mungkin dia sudah orgasme, tapi kurasakan juga ada yang mendesak dari kontolku.</p>
<p style="text-align: justify;">“Kamu udah keluar duluan ya” tanyaku karena jepitan kakinya terasa semakin lama semakin lemah sampai kini telapak kakinya sudah menapaki lantai kayu lagi seperti semula. Dia tidak menjawab hanya mencaricari mulutku dengan mulutnya dan melumat lidahku. “Aku udah mau keluar nih, keluarin diluar aja ya?” bisikku sesaat setelah bisa melepaskan lidahku dari mulutnya, memastikan karena saya masih takut resikonya di kemudian hari. “Tolongin aku Lex..aku ingin sekali hamil.” Suaranya seperti mau nangis meminta. Tapi tangan kanannya sudah ditaruh diatas pantatku sepertinya menjaga agar nantinya saya tidak melepaskan kontolku dari vaginanya. “Ya udah, tapi kamu harus jaga rahasia ini baik-baik ya?” jawabku “Iya…iya…nggak usah khawatir, tapi janji jangan dibuang diluar ya” bisiknya. Saya nggak jawab lagi tapi mulai menggenjot memeknya lagi yang sepertinya semakin kurang menjepit karena sudah orgasme seraya mulutku mengulum lidahnya. Beberapa saat kemudian aku membisiki telinganya, “Aku udah mau keluar” sambil genjotanku semakin cepat dan tangan kanannya menekan pantatku semakin keras ditambah kedua kakinya menekan belakang pahaku dari atas sambil tangan kirinya memeluk leherku dengan ketat, sampai akhirnya “Ouchhhhhh……” mulutku mengulum mulut Hartini seakan mau menghabiskan saat itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Dan terasa ada yang keluar dari kontolku membasahi memek Hartini. “Crooot….crooot…croooooot…” Sampai rasanya tidak ada lagi yang dikeluarkan baru saya menghentikan genjotanku dan diam bertumpukan kedua siku tangan dan kontolku sengaja saya tumpukan ke vagina Hartini. Saya terdiam tidak bergerak, sambil memandangi mukanya yang terpejam. Kukecup bibirnya dan berbisik. “Tin, aku balik ya, kelamaan ntar orang lain bisa curiga” “Makasih ya Lex, makan malamnya sudah aku taruh di rumahmu tadi sebelum kamu datang.” jawabnya pelan. Tetapi ketika saya mau melepaskan kontolku dari vaginanya, dia meraih leherku dan sesaat mencium bibirku dengan mesra. Ketika sudah dilepaskan aku langsung bangkit berdiri dan mencari celanaku yang saya lupa taruh dimana. Hartini masih tiduran dan merapatkan kakinya memandang saya dan mengarahkan telunjuknya ke tempat tidur, tapi yang saya lihat malah celana dalamnya, dan mengambil dengan tangan kiri untuk diserahkan kepada Hartini , tapi dia malah menarik tangan kananku dan tangan kanannya menyambut celana dalamnya seraya menyuruhku pelan agar jongkok Saya mengikuti saja tanpa tahu kemauannya.</p>
<p style="text-align: justify;">Hartini melap kontolku yang masih basah dengan pejuku yang bercampur dengan cairannya sendiri dengan celana dalam putihnya, saya tersenyum dan meremas susunya dengan tangan kiri. Kemudian telunjuknya menunjukkan dimana tadi celana saya lepaskan. Sesaat sesudah saya memakai celana, saya jongkok untuk mencium dia dan pamit sekalian berterima kasih atas bonus cuci pakaian dapat cuci penis, dia tersenyum sambil mencubit pelan pipi kiriku. Begitulah sampai sekitar 6 bulan kemudian kami sering melakukan hubungan suami istri setiap ada kesempatan, walaupun tidak setiap bersetubuh Hartini mendapat orgasme karena kadang saya merayu dengan alasan biar lebih cepat hamil walaupun dia sedang tidak menginginkannya atau takut ketahuan orang lain yang penting birahiku terpuaskan. Enam bulan kemudian saya menikah dan istriku menjadi seorang ibu rumah tangga yang tinggal bertetangga dengan Hartini, dan anehnya empat bulan sesudah menikah istri saya hamil. Saya merasa kasihan kepada Hartini, walaupun kami berhubungan sekitar enam bulan seperti suami istri belum hamil-hamil juga bahkan sampai saya mutasi ke Jakarta kembali. Dia hanya sedih menatap kepergian kami sewaktu mau meninggalkan perumahan tanpa kata-kata perpisahan..</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ceritasex.cn/nikmatnya-istri-anak-buahku-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tantangan Mesum Wulan</title>
		<link>http://www.ceritasex.cn/tantangan-mesum-wulan/</link>
		<comments>http://www.ceritasex.cn/tantangan-mesum-wulan/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 01 Apr 2010 22:14:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cerita Sex</dc:creator>
				<category><![CDATA[Daun Muda]]></category>
		<category><![CDATA[Seks Umum]]></category>
		<category><![CDATA[cewek kantoran]]></category>
		<category><![CDATA[kantor]]></category>
		<category><![CDATA[mesum]]></category>
		<category><![CDATA[ngentot]]></category>
		<category><![CDATA[orgasme]]></category>
		<category><![CDATA[seks]]></category>
		<category><![CDATA[wulan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ceritasex.cn/?p=1332</guid>
		<description><![CDATA[Pak Rudy adalah kepala bagian keuangan di tempat aku bekerja. Ia sering datang ke ruanganku untuk menanyakan masalah keaungan dan pembukuan kantor, karena kebetulan aku yang mengurus semuanya. Dia adalah seorang pria berusia sekitar 40 tahunan dan mempunyai wajah yg tampan dan badan yg cukup bagus. Menurut orang orang walaupun dia sudah beristri tapi masih [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Pak Rudy adalah kepala bagian keuangan di tempat aku bekerja. Ia sering datang ke ruanganku untuk menanyakan masalah keaungan dan pembukuan kantor, karena kebetulan aku yang mengurus semuanya. Dia adalah seorang pria berusia sekitar 40 tahunan dan mempunyai wajah yg tampan dan badan yg cukup bagus. Menurut orang orang walaupun dia sudah beristri tapi masih suka menggoda teman wanita sekantor. Hal ini terbukti ketika dia masuk kedalam ruanganku seringkali matanya menatap kebagian dadaku, karena aku memang sesekali memakai pakaian yang agak ketat. Buat aku sendiri tidak ada masalah, aku malah senang kalau tubuhku dikagumi laki-laki, terkadang aku sengaja datang keruangannya untuk menanyakan sesuatu sambil berpura pura menjatuh kan sesuatu. Biasanya matanya melihat kebelahan dadaku sewaktu aku berusaha mengambil sesuatu yang aku jatuhkan tadi. Aku yakin di anya pasti menikmati keadaaan tadi karena kebetulan aku memang mempunyai dada yang cukup indah.</p>
<p style="text-align: justify;">Pada suatu hari aku sedang di ruanganku sendirian sambil membaca salah satu situs porno. Semakin lama aku membacanya tanpa aku sadari aku semakin horni jadinya. Aku kebetulan memakai baju yang belahan dadanya agak terbuka dan longgar. Tak sengaja aku menyenggol gelas minumanku. Lantai dan sebagian rok yang aku pakai menjadi basah. Terpaksa aku mebersihkan lantai yang basah tadi. Tanpa diduga pak Rudi masuk keruanganku. Biasanya dia memang tidak mengetuk pintu ruangan sebelum masuk keruanganku. Dia melihat aku sedang sibuk membersihkan lantai dengan tissue. Aku tidak menyadari kalau waktu membersihkan lantai itu tentunya sambil menunduk, bagian dadaku kelihatan dari belahan bajuku yg agak terbuka dan lebar. Pak Rudi terus menatap ke belahan dadaku tanpa aku sadari. Sepersekian detik kemudian aku baru menyadarinya. Sambil berusaha melupakan kejadian tadi aku berusaha membuka pembicaraan.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Silakan duduk dulu ya Pak, sambil nunggu saya bersihkan lantainya&#8221; senyumku dengan ramah sambil mempersilakannya duduk &#8220;Ada apa Wulan kok sampai basah begitu?&#8221; tanya Pak Rudi. &#8220;Aduh pak, aku nggak sengaja nyenggol gelas minumanku, tumpah dan basah semua deh jadinya&#8221; sahutku. &#8220;Sini deh Bapak bantuin bersihkan lantainya, sambil dia terus berusaha membantu aku yg sedang sibuk membersihkan lantai. Tanpa sengaja kami berhadap hadapan, dan aku juga sengaja semakin menunduk untuk membersihkan lantai, karena aku tahu pak Rudi sedang menatap dadaku. &#8220;Waaahhh..kalo sering sering membantu kamu bersihin lantai mataku bisa sehat lagi lho Wulan&#8221; (Pak Rudi memang memakai kacamata) &#8220;Emangnya bisa sehat kenapa Pak&#8221; sahutku. &#8221; Itu lho&#8221;, dia berkata sambil menunjuk kebelahan dadaku yg terlihat tadi. &#8220;Ahh bapak bisa aja&#8221; sahutku. &#8220;Emangnya Bapak belum pernah lihat yang seperti ini apa?&#8221; tanyaku sambil memegang kedua payudaraku dari luar bajuku. Pak Rudi kaget dgn perkataanku.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Ngeliat punya orang sih sering tapi ngeliat punya dik wulan kan belum pernah&#8221; katanya semakin berani. Aku yg kebetulan emang lagi horni dan sepertinya melihat Pak Rudi yang postur tubuhnya cukup atletis itu membuatku nafsuku semakin memuncak. &#8220;Kan tadi Bapak udah liat punya saya&#8221; kataku. &#8220;Tapi kan dari luar aja Dik&#8221; katanya. &#8220;Jadi Bapak pengen liat semuanya? Coba aja kalo Bapak emang berani&#8221; tantangku. Tanpa kuduga pak Rudi langsung memelukku sambil mencium bibirku. Akupun segera menyambut ciumannya sambil memeluk pak Rudi dengan erat. Pak Rudi semakin kuat mencium bibirku. Akupun membalasnya sambil memasukkan lidahku kedalam mulutnya. Pak Rudi membalas lilitan lidahku. Ternyata pak Rudi jago juga dalam hal kissing. Sambil terus menciumiku tangan pak Rudi mulai membelai dadaku. Akupun semakin terangsang dibuatnya. Akupun membalasnya sambil berusaha meremas bagian depan celananya. Pak Rudi terus mencium bibirku sambil perlahan turun keleherku. Aku semakin mengelinjang dibuatnya karema merasa geli.<br />
<span id="more-1332"></span><br />
Ciumannya terus turun sambil tangannya berusaha membuka kancing bajuku satu persatu. Setelah kancing bajuku terbuka semuanya, Pak Rudi mencium kemabli bibirku dengan gemas sambil meraih pengait BH ku yang ada dibelakang. Terlepaslah BH ku. Pak Rudi menatap dadaku dengan penuh kekaguman. Dadaku memang cukup indah dengan ukuran 36b. Setelah itu langsung mencium kedua payudaraku dengan lembut. Diciumnya seluruh permukaan dadaku kecuali putingnya, yang sudah berdiri mengacung minta dikulum tapi tidak pernah dikulum, setiap kali ciuman dan jilatan Pak Rudi sudah dekat dengan putingku ciuman dan jilatannya turun lagi kepangkal payudaraku dan terus turun sampai ke perut . Aku semakin nefsu dibuatnya. Akupun mulai tak sabar, langsung kubuka juga Baju pak Rudi sambil melemparkannya kelantai. Pak Rudi pun tidak mau kalah sambil tanggannya berusaha melepas rok ku. Rok ku pun terlepas. Tinggallah aku dengan celana dalam yang tersisa. Akupun segera berusaha melepaskan celana yg dipakai oleh pak Rudi.</p>
<p style="text-align: justify;">Kubuka dengan cepat ruisleting celananya, dan kuturankan. Pak Rudipun tinggal memakai celana dalam. Tangan Pak rudi akhirnya memelorotkan celana dalamku. akupun tak mau kalah. Celana dalamnyanya pun kubuka. Pak Rudi kemudian kembali menciumku kearah payudaraku, dan ketika jilatannyamendekati putingku, tangannya terus bergerak kearah vaginaku. Tangan pak Rudi mulai bermain main didalam vaginaku. Vaginaku ternyata sudah basah. Ketika putingku yg sudah berdiri dikulum oleh pak Rudi, jari jari pak Rudi juga bermain main dikelentitku. Hal itu membuat tubuhku melengkung ke atas. &#8220;Aduuhh&#8230;enak sekali pak&#8221; aku mendesah. &#8220;Hayo pak..jangan mempermainkan saya pak ujarku yg sudah semakin pengen dimasukin. sambil meremas sprei dan kepala Pak Rudi. Tanpa menghiraukan teriakanku Pak Rudi terus mengulum kedua puting dan menjilati kedua payudaraku secara bergantian. Tak lama kemudian kurasakan vaginaku bertambah basah dan tubuhku bergetar keras disertai eranganku yang semakin keras, akhirnya aku mencapai orgasmeku yang pertama.</p>
<p style="text-align: justify;">Tubuhku terasa lemas, tapi tampaknya Pak Rudi belum berhenti mencumbuku. Diangkatnya kedua belah kakiku sehingga kepalanya dengan mudah menuju kevaginku dan lidahnya langsung menjilat dan mengulum vaginaku. Vaginaku terus dikulum dan disedot Pak Rudi. Lidahnya terus menjilat menjilat kelentitku. &#8220;Aduuhhh enak sekali Pak: teriakku mulai tidak karuan. &#8220;sayang.. ahh.. aku nggak kuat lagi sayang.. ahh..&#8221; teriakku tanpa sadar memmanggil Pak Rudi dengan sayang terus sedot yang kuat sayang.. ahh..Jilat terus sayang .. ahh.. t.. ahh sayang.. Aku mau.. ahh.. mau dapet lagi sayang.. ahh.. kamu benar-benar hebat sayang&#8221; teriakku histeris memohon, lalu tubuhku mulai bergetar lagi merasakan orgasmeku yang kedua. Pak Rudi mulai memasukkan jarinya ke vaginaku. Tusukannya semakin lama semakin kuat membuat aku serasa terbang di awang awang. Tanpa aku sadari aku berteriak nikmat sambil menjambak jambak rambut Pak Rudi. Akhirnya aku kembali lemas tak berdaya dengan permainan Pak Rudi yang ternyata memang hebat. Akhirnya Pak Rudi mulai mulai tidak tahan juga.</p>
<p style="text-align: justify;">Ia mulai mengatur posisinya dan menusukkna penisnya kedalam lubang vaginaku. &#8220;Okhh.. tunggu dulu Pak.. jangan.. ahh.. stop sayang.. stop.. biar aku istirahat sebentar&#8221; pintaku ke Pak Rudi. Tapi pak Rudi tidak menghiraukannya. Penisnya semakin cepat ditusukkannya kelobang vaginaku sampai akhirnya amblas semuanya. Ia mulai menggoyang goyangkan penisnya sambil memutar adan mengocok penisnya disalam vaginaku. Tak lama kemudian diangkatnya tubuhku hingga posisiku kini dalam pangkuannya, dan dalam posisiku sedang menaik turunkan pantat dan menggoyangkan pinggulku Pak Rudi kemudian meremas kedua payudaraku dengan kuat. Aku mengerang keenakan. Tak lama kemudian Pak Rudi mulai memutar -mutar pantatnya hingga penisnya lebih menggesek dinding vaginaku. &#8220;Aduuh..sayang.. ahh.. Bapak memang hebat ahh.. kamu.. ahh.. Bapak memang hebat.. ohh.. penis Bapak benar-benar. . ahh.. Bapak jago sekali.. hebaattt.. ahh&#8230;teriakku. Aku sudah mau keluar lagi. mau keluar lagi.. ahh.. Aku nggak kuat lagi Pak&#8230;. ahh&#8221; jeritku histeris dan tubuhku mulai bergetar mendapat orgasme yang ketiga.</p>
<p style="text-align: justify;">kurasakan vaginaku semakin banyak mengeluarkan cairan dan terasa berkedut kedut. Lalu tubuhku direbahkan pak rudi dan penisnya semakin cepat keluar masuk vaginaku. Ia terus menggenjot penisnya didalam vaginaku sambil memutar mutar pinggulnya, tubuhku tambah bergetar dengan kencang, goyangan dan kocokan penisnya juga tambah kencang, lalu tangannya memainkan dikelentitku sambil mulutnya melumat dan menyedot nyedot putingku secara bergantian. Tak lama kemudian kurasakan gerakan Pak Rudi semakin cepat . Akhirnya&#8230;. &#8230; &#8220;Akh.. Wulan aku mau keluar Wulan akhh.. aku keluar Wulan&#8221; teriak Pak Rudi disela-sela kuluman mulutnya diputingku sambil terus mengocok penisnya dengan cepat dan kuat dalam liang vaginaku. &#8220;Ahh.. iya Pak .. ahh.. keluarkan saja.. ahh.. aku juga.. ahh.. sudah nggak kuat lagi.. ahh&#8221; teriakku dan kupeluk tubuk Pak Rudi dengan erat. Lalu meledaklah cairan kenikmatan Pak Rudi didalam vaginaku, sehingga vaginaku bertambah basah lagi. Tubuh kami sama-sama bergetar dengan kencang, keringat kami bersatu dan seluruh ruangan dipenuhi oleh suara erangan dan jeritan kenikmatan yang kami dapatkan pada saat bersamaan.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah tubuhku dan Pak Rudi mulai tenang kembali, dilepaskannya penisnya dari vaginaku yang sudah sangat basah, lalu dibersihkannya vaginaku yang penuh dengan cairan kenikmatan kami berdua dengan sedotan dan jilatan, dijilatnta sampai bersih. Aku memejamkan mataku merasakan kenikmatan yang baru saja kudapatkan. Setelah bersih dipeluknya diriku sambil mengecup pipiku. &#8220;Ahh.. terima kasih Pak.. terima kasih . uhh.. rasanya tubuhku ringan sekali bagaikan kapas yang masih terbang diawang-awang, ahh.. nikmat sekali tadi kurasakan, Bapak memang pintar , baru sekali ini kurasakan orgasme beruntun seperti tadi, sampai lemas&#8221; kataku &#8220;Ah kamu bisa aja Wulan.. aku juga tadi nikmat sekali, kedutan dinding vaginamu membuat penisku merasakan seperti diremas-remas, nikmat sekali&#8221; kata Pak Rudi sambil mengusap keringat didahiku sampil mengecup keningku.. Sejak kejadian itu aku dan Pak Rudi semakin sering melakukannya baik itu di kantor maupun diluar kantor.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ceritasex.cn/tantangan-mesum-wulan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mbak Susi Oh Mbak Susi</title>
		<link>http://www.ceritasex.cn/mbak-susi-oh-mbak-susi/</link>
		<comments>http://www.ceritasex.cn/mbak-susi-oh-mbak-susi/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 21 Mar 2010 15:56:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cerita Sex</dc:creator>
				<category><![CDATA[Paruh baya]]></category>
		<category><![CDATA[Seks Umum]]></category>
		<category><![CDATA[anak kost]]></category>
		<category><![CDATA[ngentot]]></category>
		<category><![CDATA[seks]]></category>
		<category><![CDATA[susi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ceritasex.cn/?p=1321</guid>
		<description><![CDATA[Seperti sebagian besar teman senasib, saat menjadi mahasiswa saya menjadi anak kos dengan segala suka dan dukanya. Mengenang masa-masa sekitar lima belas tahun lalu itu saya sering tertawa geli. Misalnya, karena jatah kiriman dari kampung terlambat, padahal perut keroncongan tak bisa diajak kompromi, saya terpaksa mencuri nasi lengkap dengan lauknya milik keluarga tempat saya kos. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Seperti sebagian besar teman senasib, saat menjadi mahasiswa saya menjadi anak kos dengan segala suka dan dukanya. Mengenang masa-masa sekitar lima belas tahun lalu itu saya sering tertawa geli. Misalnya, karena jatah kiriman dari kampung terlambat, padahal perut keroncongan tak bisa diajak kompromi, saya terpaksa mencuri nasi lengkap dengan lauknya milik keluarga tempat saya kos. Masih banyak lagi kisah-kisah konyol yang saya alami. Namun sebenarnya ada satu kisah yang saya simpan rapat-rapat, karena bagi saya merupakan rahasia pribadi. Kisah rahasia yang sangat menyenangkan. Keluarga tempat kos saya memiliki anak tunggal perempuan yang sudah menikah dan tinggal di rumah orang tuanya. Mbak Sus, demikian kami anak-anak kos memanggil, berumur sekitar 35 tahun. Tidak begitu cantik tetapi memiliki tubuh bagus dan bersih. Menurut ibu kos, anaknya itu pernah melahirkan tetapi kemudian bayinya meninggal dunia. Jadi tak mengherankan kalau bentuk badannya masih menggiurkan. Kami berlima anak-anak kos yang tinggal di rumah bagian samping sering iseng-iseng memperbincangkan Mbak Sus. Perempuan yang kalau di rumah tak pernah memakai bra itu menjadi sasaran ngobrol miring.</p>
<p style="text-align: justify;">“Kamu tahu nggak, kenapa Mbak Sus sampai sekarang nggak hamil-hamil?” tanya Robin yang kuliah di teknik sipil suatu saat. “Aku tahu. Suaminya letoi. Nggak bisa ngacung” jawab Krus, anak teknik mesin dengan tangkas. “Apanya yang nggak bisa ngacung?” tanya saya pura-pura tidak tahu. “Bego! Ya penisnya dong”, kata Krus. “Kok tahu kalau dia susah ngacung?” saya mengejar lagi. “Lihat saja. Gayanya klemar-klemer kaya perempuan. Tahu nggak? Mbak Sus sering membentak-bentak suaminya?” tutur Krus. “Kalian saja yang nggak tanggap. Dia sebenarnya kan mengundang salah satu, dua, atau tiga di antara kita, mungkin malah semua, untuk membantu”, kata Robin. “Membantu? Apa maksudmu?” tanyaku tak paham ucapannya. Robin tertawa sebelum berkata, “Ya membantu dia agar segera hamil. Dia mengundang secara tidak langsung. Lihat saja, dia sering memamerkan payudaranya kepada kita dengan mengenakan kaus ketat. Kemudian setiap usai mandi dengan hanya melilitkan handuk di badannya lalu-lalang di depan kita” “Ah kamu saja yang GR. Mungkin Mbak Sus nggak bermaksud begitu”, sergah Heri yang sejak tadi diam.</p>
<p style="text-align: justify;">“Nggak percaya ya? Ayo siapa yang berani masuk kamarnya saat suaminya dinas malam, aku jamin dia tak akan menolak. Pasti” Diam-diam ucapan Robin itu mengganggu pikiranku. Benarkah apa yang dia katakan tentang Mbak Sus? Benarkah perempuan itu sengaja mengundang birahi kami agar ada yang masuk perangkapnya? Selama setahun kos diam-diam aku memang suka menikmati pemandangan yang tanpa tersadari sering membuat penisku tegak berdiri. Terutama payudaranya yang seperti sengaja dipamerkan dengan lebih banyak berkaus sehingga putingnya yang kehitam-hitaman tampak menonjol. Selain payudaranya yang kuperkirakan berukuran 36, pinggulnya yang besar sering membuatku terangsang. Ah betapa menyenangkan dan menggairahkan kalau saja aku bisa memasukkan penisku ke selangkangannya sambil meremas-remas payudaranya. Setelah perbincangan iseng itu aku menjadi lebih memperhatikan gerak-gerik Mbak Sus. Bahkan aku kini sengaja lebih sering mengobrol dengan dia. Kulihat perempuan itu tenang-tenang saja meski mengetahui aku sering mencuri pandang ke arah dadanya sambil menelan air liur.<br />
<span id="more-1321"></span><br />
Suatu waktu ketika berjalan berpapasan tanganku tanpa sengaja menyentuh pinggulnya. “Wah.. maaf, Mbak. Nggak sengaja..” kataku sambil tersipu malu. “Sengaja juga nggak apa-apa kok dik”, jawabnya sambil mengerlingkan matanya. Dari situ aku mulai menyimpulkan apa yang dikatakan Robin mendekati kebenaran. Mbak Sus memang berusaha memancing, mungkin tak puas dengan kehidupan seksualnya bersama suaminya. Makin lama aku bertambah berani. Beberapa kali aku sengaja menyenggol pinggulnya. Eh dia cuma tersenyum-senyum. Aksi nakal pun kutingkatkan. Bukan menyenggol lagi tetapi meremas. Sialan, reaksinya sama saja. Tak salah kalau aku mulai berangan-angan suatu saat ingin menyetubuhi dia. Peluang itu sebenarnya cukup banyak. Seminggu tiga kali suaminya dinas malam. Dia sendiri telah memberikan tanda-tanda welcome. Cuma aku masih takut. Siapa tahu dia punya kelainan, yakni suka memamerkan perangkat tubuhnya yang indah tanpa ada niat lain. Namun birahiku rasanya tak tertahankan lagi. Setiap malam yang ada dalam bayanganku adalah menyusup diam-diam ke kamarnya, menciumi dan menjilati seluruh tubuhnya, meremas payudara dan pinggulnya, kemudian melesakkan penis ke vaginanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Suatu hari ketika rumah sepi. Empat temanku masuk kuliah atau punya kegiatan keluar, bapak dan ibu kosku menghadiri pesta pernikahan kerabatnya di luar kota, sedangkan suami Mbak Sus ke kantor. Aku mengobrol dengan dia di ruang tamu sambil menonton televisi. Semula perbincangan hanya soal-soal umum dan biasa. Entah mendapat dorongan dari mana kemudian aku mulai ngomong agak menyerempet-nyerempet. “Saya sebenarnya sangat mengagumi Mbak Sus lo”, kataku. “Kamu ini ada-ada saja. Memangnya aku ini bintang sinetron atau model.” “Sungguh kok. Tahu nggak apa yang kukagumi pada Mbak?” “Coba apa..” “Itu..” “Mana?” Tanpa ragu-ragu lagi aku menyentuhkan telunjukku ke payudaranya yang seperti biasa hanya dibungkus kaus. “Ah.. kamu ini.” Reaksinya makin membuatku berani. Aku mendekat. Mencium pipinya dari belakang kursi tempat duduknya. Mbak Sus diam. Lalu ganti kucium lehernya yang putih. Dia menggelinjang kegelian, tetapi tak berusaha menolak. Wah, kesempatan nih. Kini sambil menciumi lehernya tanganku bergerilya di bagian dadanya. Dia berusaha menepis tanganku yang ngawur, tetapi aku tak mau kalah. Remasanku terus kulanjutkan.</p>
<p style="text-align: justify;">“Dik.. malu ah dilihat orang”, katanya pelan. Tepisannya melemah. “Kalau begitu kita ke kamar?” “Kamu ini nakal”, ujarnya tanpa berusaha lagi menghentikan serbuan tangan dan bibirku. “Mbak..” “Hmm..” “Bolehkah mm.., bolehkah kalau saya..” “Apa hh..” “Bolehkah saya memegang susu Mbak yang gede itu?” “Hmm..” Dia mendesah ketika kujilat telinganya. Tanpa menunggu jawabannya tanganku segera menelusup ke balik kausnya. Merasakan betapa empuknya daging yang membukit itu. Kuremas dua payudaranya dari belakang dengan kedua tanganku. Desahannya makin kuat. Lalu kepalanya disandarkan ke dadaku. Aduh mak, berarti dia oke. Tanganku makin bersemangat. Kini kedua putingnya ganti kupermainkan. “Dik, tutup pintunya dulu dong”, bisiknya dengan suara agak bergetar, mungkin menahan birahinya yang juga mulai naik. Tanpa disuruh dua kali secepat kilat aku segera menutup pintu depan. Tentu agar keadaan aman dan terkendali. Setelah itu aku kembali ke Mbak Sus. Kini aku jongkok di depannya. Menyibak rok bawahnya dan merenggangkan kedua kakinya. Wuih, betapa mulus kedua pahanya. Pangkalnya tampak menggunduk dibungkus celana dalam warna krem. Sambil menciumi pahanya tanganku menelusup di pangkal pahanya, meremas-remas vagina dan klitorisnya yang juga besar. Lidahku makin naik ke atas. Mbak Sus menggelinjang kegelian sambil mendesah halus. Akhirnya jilatanku sampai di pangkal pahanya.</p>
<p style="text-align: justify;">“Mau apa kau sshh.. sshh”, tanyanya lirih sambil memegangi kapalaku erat-erat. “Mbak belum pernah dioral ya?” “Apa itu?” “Vagina Mbak akan kujilati.” “Lo itu kan tempat kotor..” “Siapa bilang?” “Ooo.. oh.. oh ..”, desis Mbak Sus keenakan ketika lidahku mulai bermain-main di gundukan vaginanya. Tampak dia keenakan meski masih dibatasi celana dalam. Serangan pun kutingkatkan. Celananya kepelorotkan. Sekarang perangkat rahasia miliknya berada di depan mataku. Kemerahan dengan klitoris yang besar sesuai dengan dugaanku. Di sekelilingnya ditumbuhi rambut tak begitu lebat. Lidahku kemudian bermain di bibir vaginanya. Pelan-pelan mulai masuk ke dalam dengan gerakan-gerakan melingkar yang membuat Mbak Sus kian keenakan, sampai harus mengangkat-angkat pinggulnya. “Aahh.. Kau pintar sekali. Belajar dari mana hh..” “mm film biru dan bacaan porno kan banyak mm..” jawabku. Tiba-tiba, tok.. tok.. tok. Pintu depan ada yang mengetuk. Wah berabe nih. Aksi liarku pun terhenti mendadak. “Sst ada tamu Mbak”, bisikku. “Cepat kau sembunyi ke dalam”, kata Mbak Sus sambil membenahi pakaiannya yang agak berantakan.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku segera masuk ke dalam kamar Mbak Sus. Untung kaca jendela depan yang lebar-lebar rayban semua, sehingga dari luar tak melihat ke dalam. Sampai di kamar berbau harum itu aku duduk di tepi ranjang. Penisku tegak mendesak celana pendekku yang kukenakan. Sialan, baru asyik ada yang mengganggu. Kudengar suara pintu dibuka. Mbak Sus bicara beberapa patah kata dengan seorang tamu bersuara laki-laki. Tidak sampai dua menit Mbak Sus menyusul masuk kamar setelah menutup pintu depan. “Siapa Mbak?” “Tukang koran menagih rekening.” “Wah mengganggu saja itu orang. Baru nikmat-nikmat..” “Sudahlah”, katanya sambil mendekati aku. Tanpa sungkan-sungkan Mbak Sus mencium bibirku. Lalu tangannya menyentuh celanaku yang menonjol akibat penisku yang ereksi maksimal, meremas-remasnya beberapa saat. Betapa lembut ciumannya, meski masih polos. Aku segera menjulurkan lidahku, memainkan di rongga mulutnya. Lidahnya kubelit sampai dia seperti hendak tersedak. Semula Mbak Sus seperti akan memberontak dan melepaskan diri, tapi tak kubiarkan. Mulutku seperti melekat di mulutnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Lama-lama dia akhirnya dia bisa menikmati dan mulai menirukan gaya permainan ciuman yang secara tak sadar baru saja kuajarkan. “Uh kamu pengalaman sekali ya. Sama siapa? Pacarmu?” tanyanya di antara kecipak ciuman yang membara dan mulai liar. Aku tak menjawab. Tanganku mulai mempermainkan kedua payudaranya yang tampak menggairahkan itu. Biar tak merepotkan, kausnya kulepas. Kini dia telanjang dada. Tak puas, segera kupelorotkan rok bawahnya. Nah kini dia telanjang bulat. Betapa bagus tubuhnya. Padat, kencang, dan putih mulus. “Nggak adil. Kamu juga harus telanjang.” Mbak Sus pun melucuti kaus, celana pendek, dan terakhir celana dalamku. Penisku yang tegak penuh segera diremas-remasnya. Tanpa dikomando kami rebah ke ranjang, berguling-guling, saling menindih. “Mbak mau saya oral lagi?” tanyaku. Mbak Sus hanya tersenyum. Aku menunduk ke selangkangannya mencari-cari pangkal kenikmatan miliknya. Tanpa ampun lagi mulut dan lidahku menyerang daerah itu dengan liar. Mbak Sus mulai mengeluarkan jeritan-jeritan tertahan menahan nikmat. Kelihatan dia menemukan pengalaman baru yang membius gairahnya. Hampir lima menit kami menikmati permainan itu. Selanjutnya aku merangkak naik. Menyorongkan penisku ke mulutnya.</p>
<p style="text-align: justify;">“Gantian dong, Mbak” “Apa muat segede itu..” Tanpa menunggu jawabannya segera kumasukkan penisku ke mulutnya yang mungil. Semula agak kesulitan, tetapi lama-lama dia bisa menyesuaikan diri sehingga tak lama penisku masuk rongga mulutnya. Melihat Mbak Sus agak tersiksa oleh gaya permainan baru itu, aku pun segera mencabut penisku. Pikirku, nanti lama-lama pasti bisa. “Sorry ya Mbak” “Ah kau ini mainnya aneh-aneh.” “Justru di situ nikmatnya, Mbak. Selama ini Mbak sama suami main seksnya gimana?” tanyaku sambil menciumi payudaranya. “Ah malu. Kami main konvensional saja kok.” “Langsung tusuk begitu maksudnya..” “Nakal kau ini”, katanya sambil tangannya mengelus-elus penisku yang masih tetap tegak berdiri. “Suami Mbak mainnya lama nggak?” “Ah..” dia tersipu-sipu. Mungkin malu untuk mengungkapkan. “Pasti Mbak tak pernah puas ya?” Mbak Sus tak menjawab. Dia malah menciumi bibirku dengan penuh gairah. Tanganku pun ganti-berganti memainkan kedua payudaranya yang kenyal atau selangkangannya yang mulai berair. Aku tahu, perempuan itu sudah kepengin disetubuhi. Namun aku sengaja membiarkan dia menjadi penasaran sendiri.</p>
<p style="text-align: justify;">Tetapi lama-lama aku tak tahan juga. Penisku pun sudah ingin segera menggenjot vaginanya. Pelan-pelan aku mengarahkan barangku yang kaku dan keras itu ke arah selangkangannya. Ketika mulai menembus vaginanya, kurasakan tubuh Mbak Sus agak gemetar. “Ohh..” desahnya ketika sedikit demi sedikit batang penisku masuk vaginanya. Setelah seluruh barangku masuk, aku segera bergoyang naik turun di atas tubuhnya. Aku makin terangsang oleh jeritan-jeritan kecil, lenguhan, dan kedua payudaranya yang ikut bergoyang-goyang. Tiga menit setelah kugenjot Mbak Sus menjepitkan kedua kakinya ke pinggangku. Pinggulnya dinaikkan. Tampaknya dia akan orgasme. Genjotan penisku kutingkatkan. “Ooo.. ahh.. hmm.. sshh..” desahnya dengan tubuh menggelinjang menahan kenikmatan puncak yang diperolehnya. Kubiarkan dia menikmati orgasmenya beberapa saat. Kuciumi pipi, dahi, dan seluruh wajahnya yang berkeringat. “Enak Mbak?” tanyaku. “Emmhh..” “Puas Mbak?” “Ahh..” desahnya. “Sekarang Mbak berbalik. Menungging.” Aku mengatur badannya dan Mbak Sus menurut. Dia kini bertumpu pada siku dan kakinya.</p>
<p style="text-align: justify;">“Gaya apa lagi ini?” tanyanya. “Ini gaya ANJING. Senggama lewat belakang. Pasti Mbak belum pernah.” Setelah siap aku pun mulai menggenjot dan menggoyang dari belakang. Mbak Sus kembali menjerit dan mendesah merasakan kenikmatan tiada tara yang mungkin selama ini belum pernah dia dapatkan dari suaminya. Setelah dia orgasme sampai dua kali, kami istirahat. “Capek?” tanyaku. “Kamu ini aneh-aneh saja. Sampai mau remuk tulang-tulangku.” “Tapi kan nikmat Mbak”, jawabku sambil kembali meremas payudaranya yang menggemaskan. “Kita lanjutkan nanti malam saja ya.” “Ya deh kalau capek. Tapi tolong sekali lagi, aku pengin masuk agar spermaku keluar. Nih sudah nggak tahan lagi penisku. Sekarang Mbak yang di atas”, kataku sambil mengatur posisinya. Aku terletang dan dia menduduki pinggangku. Tangannya kubimbing agar memegang penisku masuk ke selangkangannya. Setelah masuk tubuhnya kunaikturunkan seirama genjotanku dari bawah. Mbak Sus tersentak-sentak mengikuti irama goyanganku yang makin lama kian cepat. Payudaranya yang ikut bergoyang-goyang menambah gairah nafsuku. Apalagi ditingkah lenguhan dan jeritannya menjelang sampai puncak. Ketika dia mencapai orgasme aku belum apa-apa. Posisinya segera kuubah ke gaya konvensional. Mbak Sus kurebahkan dan aku menembaknya dari atas. Mendekati klimaks aku meningkatkan frekuensi dan kecepatan genjotan penisku.</p>
<p style="text-align: justify;">“Oh Mbak.. aku mau keluar nih ahh..” Tak lama kemudian spermaku muncrat di dalam vaginanya. Mbak Sus kemudian menyusul mencapai klimaks. Kami berpelukan erat. Kurasakan vaginanya begitu hangat menjepit penisku. Lima menit lebih kami dalam posisi relaksasi seperti itu. “Vaginamu masik nikmat Mbak”, bisikku sambil mencium bibir mungilnya. “Penismu juga nikmat, Dik.” “Nanti kita main dengan macam-macam gaya lagi.” “Ah Mbak memang kalah pintar dibanding kamu.” Kami berpelukan, berciuman, dan saling meremas lagi. Seperti tak puas-puas merasakan kenikmatan beruntun yang baru saja kami rasakan. “Mbak kalau pengin bilang aja ya.” “Kamu juga. Kalau ingin ya langsung masuk ke kamar Mbak. Tetapi sst.. kalau pas aman lo.” “Mbak mau nggak main ramai-ramai?” “Maksudmu gimana?” “Ya misalnya aku mengajak salah satu teman dan kita main bertiga. Dua lawan satu. Soalnya Mbak tak cukup kalau cuma dilayani satu cowok.” “Ah kamu ini ada-ada saja. Malu ah..” “Tapi mau mencoba kan?” Mbak Sus tidak menjawab. Dia malah kemudian menciumi dan menggumuli aku habis-habisan. Ya aku terangsang lagi jadinya. Ya penisku tegak lagi. Ya akhirnya aku mesti menggenjot dan menembaknya sampai dia orgasme beberapa kali. Ah Mbak Sus, Mbak Sus.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ceritasex.cn/mbak-susi-oh-mbak-susi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Istriku Menikmati Di Perkosa Maling</title>
		<link>http://www.ceritasex.cn/istriku-menikmati-di-perkosa-maling/</link>
		<comments>http://www.ceritasex.cn/istriku-menikmati-di-perkosa-maling/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 18 Mar 2010 22:49:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cerita Sex</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pemerkosaan]]></category>
		<category><![CDATA[kisah nyata]]></category>
		<category><![CDATA[binal]]></category>
		<category><![CDATA[birahi]]></category>
		<category><![CDATA[istri]]></category>
		<category><![CDATA[maling]]></category>
		<category><![CDATA[ngentot]]></category>
		<category><![CDATA[perkosa]]></category>
		<category><![CDATA[seks]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ceritasex.cn/?p=1305</guid>
		<description><![CDATA[Tiba-tiba sebuah suara keras membangunkan kami di tengah malam. Nita istriku memeluk lenganku saking ketakutannya. Suara itu datang dari arah dapur. Sepertinya kaca yang jatuh berantakan. Naluriku mengatakan ada hal yang tak beres ada di dalam rumah ini. Aku bangun dan menyalakan lampu. Istriku berusaha menahan aku. Dengan hati-hati aku bangun dan membuka pintu dan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Tiba-tiba sebuah suara keras membangunkan kami di tengah malam. Nita istriku memeluk lenganku saking ketakutannya. Suara itu datang dari arah dapur. Sepertinya kaca yang jatuh berantakan. Naluriku mengatakan ada hal yang tak beres ada di dalam rumah ini. Aku bangun dan menyalakan lampu. Istriku berusaha menahan aku. Dengan hati-hati aku bangun dan membuka pintu dan melangkah ke dapur.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku kaget dengan ketakutan yang amat saat muncul sosok asing di bawah jendela dapurku. Nampak di lantai kaca jendela pecah berserakan. Pasti dia ini maling yang hendak mencuri di rumah kami. Sama-sama kaget dengan gesitnya pencuri ini berdiri dan melangkah pendek menyambar pisau dapur kami yang tidak jauh dari tempatnya. Orang ini lebih gede dari aku. Dengan rambut dan jambangnya yang nggak bercukur nampak begitu sangar. Dengan pakaiannya yang T. Shirt gelap dan celana jean bolong-bolong dia menyeringai mengancam aku dengan pisau dapur itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku memang lelaki yang nggak pernah tahu bagaimana berkelahi. Melihat ulah maling ini langsung nyaliku putus. Dengan gemetar yang sangat aku berlari kembali ke kamar tidurku dan menutup pintunya. Namun kalah cepat dengan maling itu. Aku berusaha keras menekan untuk mengunci sebaliknya maling itu terus mendorong dengan kuatnya. Istriku histeris berteriak-teriak ketakutan,</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Ada apa Maass.. Toloonngg.. Tolongg..&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Namun teriakan itu pasti sia-sia. Rumah kami adalah rumah baru di perumahan yang belum banyak penghuninya. Tetangga terdekat kami adalah Pak RT yang jaraknya sekitar 30 rumah kosong, yang belum berpenghuni, dari rumah kami. Sementara di arah yang berbeda adalah bentangan kali dan sawah yang luas berpetak-petak. Sejak pernikahan kami 2 tahun yang lalu, inilah rumah kredit kami yang baru kami tinggali selama 2 bulan ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Upaya tarik dan dorong pintu itu dengan pasti dimenangkan oleh si maling. Aku terdepak jatuh ke lantai dan maling itu dengan leluasa memasuki kamar tidur kami. Dia mengacung-acungkan pisau dapur ke isteriku agar tidak berteriak-teriak sambil mengancam hendak memotong leherku. Istriku seketika &#8216;klakep&#8217; sepi. Sambil menodongkan pisau ke leherku dengan kasar aku diraihnya dengan menarik bajuku keluar dari kamar. Matanya nampak menyapu ruangan keluarga dan menarikku mendekat ke lemari perabot. Pasti di nyari-nyari benda berharga yang kami simpan.</p>
<p style="text-align: justify;">Dia menemukan lakban di tumpukkan macam-macam peralatan. Dengan setengah membanting dia mendorong aku agar duduk di lantai. Dia me-lakban tangan dan kakiku kemudian mulutku hingga aku benar-benar bungkem. Dalam keadaan tak berkutik aku ditariknya kembali ke kamar tidurku. Istriku kembali berteriak sambil menangis histeris. Namun itu hanya sesaat.</p>
<p style="text-align: justify;">Maling ini sungguh berpengalaman dan berdarah dingin. Dia hanya bilang, &#8220;Diam nyonya cantiikk.. Jangan membuat aku kalap lhoo..&#8221; kembali istriku &#8216;klakep&#8217; dan sepi.</p>
<p style="text-align: justify;">Nampak maling itu menyapukan pandangannya ke kamar tidurku. Dia melihati jendela, lemari, tempat tidur, rak kset dan pesawat radio di kamarku. Dia sepertinya berpikir. Semuanya kusaksikan dalam kelumpuhan dan kebisuanku karena lakban yang mengikat kaki tanganku dan membungkam rapat mulutku.</p>
<p style="text-align: justify;">Tiba-tiba maling itu mendekati Nita istriku yang gemetar menggulung tubuhnya di pojok ranjang karena shock dan histeris dengan peristiwa yang sedang terjadi. Dengan lakbannya dia langsung bekap mulutnya dan direbahkannya tubuhnya di ranjang. Aku tak kuasa apa-apa hanya mampu tergolek dan berkedip-kedip di lantai. Aku melihat bagaimana sorot mata ketakutan pada wajah Nita istriku itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Ternyata maling itu merentangkan tangan istriku dan mengikatnya terpisah di kanan kiri kisi-kisi ranjang kayu kami. Demikian pula pada kakinya. Dia rentangkan dan ikat pada kaki-kaki ranjang. Dan akhirnya yang terjadi adalah aku yang tergolek lumpuh di lantai sementara Nita istriku telentang dan terikat di ranjang pengantin kami.</p>
<p style="text-align: justify;">Perasaanku sungguh tidak enak. Aku khawatir maling ini berbuat diluar batas. Melihat sosoknya, nampak dia ini orang kasar. Tubuhnya nampak tegar dengan otot-ototnya yang membayang dari T. Shirt dekilnya. Aku taksir tingginya ada sekitar 180 cm. Aku melihati matanya yang melotot sambil menghardik, &#8220;Diam nyonya cantiikk..&#8221; saat melihat istriku yang memang nampak sangat seksi dengan pakaian tidurnya yang serba mini karena udara panas di kamar kami yang sempit ini.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Aku mau makan dulu ya sayaang.. Jangan macam-macam&#8221;. Dia nyelonong keluar menuju dapur. Dasar maling nggak bermodal. Dia ngancam pakai pisauku, ngikat pakai lakbanku sekarang makan makananku.</p>
<p style="text-align: justify;">Nampak istriku berontak melepaskan diri dengan sia-sia. Sesekali nampak matanya cemas dan ketakutan memandang aku. Aku menggeleng-gelengkan kepalaku dengan maksud melarangnya bergerak banyak. Hemat tenaga.<span id="more-1305"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Sesudah makan maling itu gelatakan membukai berbagai lemari dan laci-laci di rumah. Dia nggak akan dapatkan apa-apa karena memang kami nggak punya apa-apa. Aku bayangkan betapa wajahnya akan kecewa karena kecele. Kudengar suara gerutu. Nampaknya dia marah.</p>
<p style="text-align: justify;">Dengan menendang pintu dia kembali masuk kamar tidur kami. Membuka lemari pakaian dan mengaduk-adukkannya. Dilempar-lemparkannya isi lemari hingga lantai penuh berserakan. Dia buka kotak perhiasan istriku. Dibuang-buangnya perhiasan imitasi istriku.</p>
<p style="text-align: justify;">Karena tak mendapatkan apa yang dicari maling mengalihkan sasaran kekecewaan. Dia pandangi istriku yang telentang dalam ikatan di ranjang. Dia mendekat sambil menghardik,</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Mana uang, manaa..? Dasar miskin yaa..? Kamu umpetin dimana..?&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Tangannya yang mengkilat berotot bergerak meraih baju tidur istriku kemudian menariknya dengan keras hingga robek dan putus kancing-kancingnya. Dan yang kemudian nampak terpampang adalah bukit kembar yang begitu indah. Payudara Nita yang sangat ranum dan padat yang memang selalu tanpa BH setiap waktu tidur. Nampak sekali wajah maling itu terkesima.</p>
<p style="text-align: justify;">Kini aku benar-benar sangat takut. Segala kemungkinan bisa terjadi. Aku saksikan adanya perubahan raut mukanya. Sesudah tidak mendapatkan uang atau benda berharga dia jadi penasaran. Dia merasa berhak mendapat pengganti yang setimpal. Maling itu lebih mendekat lagi ke Nita dan dengan terus memandangi susunya yang sangat sensual itu. Pelan-pelan dia duduk di tepian ranjang.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Dimana kamu simpan uangmu nyonya cantiikk..?&#8221; sambil tangan turun menyentuh tubuh Nita yang sama sekali tak bisa menolak karena kaki dan tangannya terikat lakban itu. Dan tangan itu mulai mengelusi dekat susunya.</p>
<p style="text-align: justify;">Ampuunn.. Kulihat bagaimana mata Nita demikian paniknya. Dia merem memejamkan matanya sambil memperdengarkan suara dari hidungnya, &#8220;Hheehh.. Hheehh.. Heehh..&#8221;. Istriku mengeluarkan air mata dan menangis, menggeleng-geleng kepalanya sambil mengeluarkan dengus dari hidungnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Dan sentuhan maling itu tidak berhenti di tempat. Air mata istriku merangsang dia semakin brutal. Tangan-tangannya dengan tanpa ragu mengelus-elus dan kemudian meremas-remas susu Nita serta bagian tubuh sensitive lainnya. Hal ini benar-benar membuat darahku menggelegak marah. Aku harus berbuat sesuatu yang bisa menghentikan semua ini apapun risikonya. Yang kemudian bisa kulakukan adalah menggerakkan kakiku yang terikat, menekuk dan kemudian menendangkan ke tepian ranjangku. Maling itu terkaget namun sama sekali tidak bergeming.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Hey, brengsek. Mau ngapain kamu. Jangan macam-macam. Jangan ganggu istrimu yang sedang menikmati pijitanku,&#8221; dia menghardik aku. Dan aku memang langsung putus asa. Aku tak mungkin berbuat apa-apa lagi. Kini hanya batinku yang meratapi kejadian ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Dan yang terjadi berikutnya adalah sesuatu yang benar-benar mengerikan. Maling itu menarik robek seluruh busana tidur istriku. Dia benar-benar membuat Nita telanjang kecuali celana dalamnya. Lantas dia rebah merapatkan tubuhnya disampingnya. Istriku nampak bak rusa rubuh dalam terkaman serigala. Dan kini pemangsanya mendekat untuk mencabik-cabik untuk menikmati tubuhnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Dari matanya mengalir air mata dukanya. Dia tak mampu berpuat apa-apa lagi. Dalam setengah telanjangnya aku kian menyadari betapa cantiknya Nita istriku ini. Dia tunjukkan betapa bagian-bagian tubuhnya menampilkan sensualitas yang pasti menyilaukan setiap lelaki yang memandangnya. Rambutnya yang mawut terurai, pertemuan lengan dan bahu melahirkan lembah ketiak yang bisa menggoyahkan iman para lelaki.</p>
<p style="text-align: justify;">Susunya yang membusung ranum dengan pentilnya yang merah ungu sebesar ujung jari kelingking sangat menantang nafsu birahi laki-laki manapun yang berkesempatan melihatnya. Perut dengan pinggulnya yang.. Uuhh.. Begitu dahsyat mempesona syahwat. Aku sendiri terheran bagaimana aku bisa menyunting dewi secantik ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Dan kini maling brutal itu menenggelamkan mukanya ke dadanya. Dia menciumi dan menyusu pada susu Nita seperti bayi raksasa. Dia mengenyoti pentil istriku yang nampaknya berusaha berontak dengan menggeliat-geliatkan tubuhnya yang dipastikan sia-sia. Dengan semakin beringas nafsu nyolongnya kini berubah menjadi nafsu binatang yang dipenuhi birahi.</p>
<p style="text-align: justify;">Dengan gampang dia menjelajahkan moncongnya ke sekujur tubuh Nita. Dia merangsek menjilat-jilat dan menciumi ketiak istriku yang sangat sensual itu. Inilah pesta besarnya. Dia mungkin tak pernah membayangkan akan mencicipi nikmat tidur dengan perempuan secantik Nita istriku ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Menjarah dengan kenyotan, jilatan dan ciumannya maling ini merangsek ke tepian pinggul Nita dan kemudian naik ke perutnya. Dengan berdengus-dengus dan nafasnya yang memburu dia menjilati pusar Nita sambil tangannya gerayangan ke segala arah meremas dan nampak terkadang sedikit mencakar menyalurkan gelegak nafsu birahinya.</p>
<p style="text-align: justify;">Perlawanan istriku sudah sangat melemah. Yang terdengar hanyalah gumam dengus mulut tersumpal sambil menggeleng-gelengkan kepalanya sebagai ungkapan penolakannya. Mungkin ketakutan serta kelelahannya membuat stamina-nya &#8216;down&#8217; dan lumpuh. Sementara sang maling terus melumati perut dan menjilat-jilat bagian-bagian sensual tubuhnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Kebringasan serta kebrutalan hasrat syahwat maling ini semakin meroket ke puncak. Jelas ia akan memperkosa istriku di depan aku suaminya. Dia bangun dari ranjang dan dengan cepat melepasi T. Shirt serta celana dekilnya. Dia menelanjangi dirinya. Aku terkesima. Maling itu memiliki postur tubuh yang sangat atletis dan menawan menurut ukuran tampilan tubuh lelaki. Dengan warna kulitnya yang coklat kehitaman berkilat karena keringatnya nampak dadanya, otot lengannya perutnya begitu kencang seperti pelaku binaraga. Tungkai kakinya, paha dan betisnya sungguh serasi banget.</p>
<p style="text-align: justify;">Yang membuat aku terperangah adalah kemaluannya. kontol maling itu begitu mempesona. Muncul dari rimbun jembutnya, kontol itu tegak ngaceng dengan bonggol kepalanya yang juga berkilatan karena kerasnya tekanan darah syahwatnya yang mendesakinya. Besar dan panjangnya di atas rata-rata kemaluan orang Asia dan nampak sangat serasi dalam warna hitaman pada awalnya kemudian sedikit belang kecoklatan pada leher dan ujungnya. Lubang kencingnya muncul dari belahan bonggol yang mekar menantang.</p>
<p style="text-align: justify;">Kesan kekumuhan awal yang kutemui dari rambut dan jambang yang tak bercukur serta pakaiannya yang dekil langsung musnah begitu lelaki maling ini bertelanjang. Dia nampak sangat jantan macam jagoan.</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam ketakutan dan panik istriku Nita melihat saat maling itu bangun dan dengan cepat melepasi pakaiannya. Begitu lelaki maling itu benar-benar telanjang aku melihat perubahan pada wajah dan mata istriku. Wajah dan pandangannya nampak terpana. Yang belumnya layu dan kuyu kini beringas dengan mata yang membelalak. Mungkin karena ketakutannya yang semakin jadi atau karena adanya &#8216;surprise&#8217; yang tampil dari sosok lelaki telanjang yang kini ada bersamanya diranjangnya. Anehnya pandangannya itu tak dilepaskannya hingga ekor matanya mengikuti kemanapun lelaki maling itu bergerak.</p>
<p style="text-align: justify;">Walaupun aku tak berani menyimpulkan secara pasti, menurut pendapatku wajah macam itu adalah wajah yang diterpa hasrat birahi. Adakah birahi Nita bangkit dan berhasrat pada lelaki maling yang dengan brutal telah mengikat dan menelanjangi tubuhnya di depan suaminya itu. Ataukah &#8216;surprise&#8217; yang disuguhkan lelaki itu telah membalik 180 derajat dari takut, marah dan benci menjadi dorongan syahwat yang dahsyat yang melanda seluruh sanubarinya ? Ahh.. Aku dirasuki cemburu buta. Aku sering mendengar perempuan yang jatuh cinta dengan penculiknya.</p>
<p style="text-align: justify;">Lelaki maling turun dari ranjang dan merangkak di depan arah kaki Nita yang terikat. Dia meraih kaki Nita yang terikat dan mulai dengan menjilatinya. Lidahnya menyapu ujung-ujung jari kaki istriku kemudian mengulumnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku menyaksikan kaki Nita yang seakan disengat listrik ribuan watt. Kaget meronta dan meregang-regang. Aku tidak pasti. Apakah itu gerak kaki untuk berontak atau menahan kegelian syahwati. Sementara lelaki maling itu terus menyerang dengan jilatan-jilatannya di telapaknya. Demikian dia melakukan pada kedua tungkai kaki istriku untuk mengawali lumatan dan jilatan selanjutnya menuju puncak nikmat syahwatnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Dengan caranya maling itu memang sengaja menjatuhkan martabatku sebagai suami Nita.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Mas, istrimu enak banget loh. Boleh aku entot ya? Boleh.. Ha ha. Aku entot istrimu yaa..&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Dan aku disini yang tergolek macam batang pisang tak berdaya hanya mampu menerawang dan menelan ludah.</p>
<p style="text-align: justify;">Namun ada yang mulai merambati dan merasuk ke dalam sanubariku. Aku ingin tahu, macam apa wajah Nita saat kontol maling itu nanti menembusi kemaluannya. Dan keinginan tahuku itu ternyata mulai merangsang syahwat birahiku. Dalam tergolek sambil mata tak lepas memandangi ulah lelaki maling telanjang yang melata bak kadal komodo di atas tubuh pasrah istriku yang jelita, kontolku jadi menegang. Aku ngaceng.</p>
<p style="text-align: justify;">Kusaksikan betapa maling itu merangsek ke selangkangan istriku. Dia menciumi dan menyedoti paha Nita serta meninggalkan merah cupang di setiap rambahannya. Namun yang membuat jantungku berdegup kencang adalah geliat-geliat tubuh istriku yang terikat serta desah dari mulutnya yang terbungkam. Aku sama sekali tidak melihatnya sebagai perlawanan seorang yang sedang disakiti dan dirampas kehormatannya. Istriku nampak begitu hanyut menikmati ulah maling itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku memastikan bahwa Nita telah tenggelam dalam hasrat seksualnya. Dia menggeliat-geliat dan menggoyang-goyangkan tubuhnya teristimewa pinggul serta pantatnya. Nita dilanda kegatalan birahi yang sangat dahsyat dan kini nuraninya terus menjemput dan merindui kenyotan bibir si maling itu. Dalam pada itu aku berusaha tetap berpikir positip. Bahwa sangat berat menolak godaan syahwat sebagaimana yang sedang dialaminya. Secara pelan dan pasti kontolku sendiri semakin keras dan tegak menyaksikan yang harus aku saksikan itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Dan klimaks dari pergulatan &#8216;perkosaan&#8217; itu terjadi. Lelaki maling itu menenggelamkan bibirnya ke bibir nonok Nita yang tampak ditutupi oleh bulu-bulu jembut yang tumbuh dengan sangat rimbunnya. Dia menyedot dan mengenyoti itil istriku dan menyeruakkan lidahnya menembusi gerbang kemaluannya. Tak terelakkan..</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam kucuran keringat yang terperas dari tubuhnya Nita menjerit dalam gumam desahnya. Pantatnya semakin diangkatnya tinggi-tinggi. Dia nampak hendak meraih orgasmenya. Bukan main. Biasanya sangat sulit bagi Nita menemukan orgasme. Kali ini belum juga maling itu melakukan penetrasi dia telah dekat pada puncak kepuasan syahwatnya. Ah.. Lihat ituu.. Benar.. Nita meraih orgasmenya.. Nittaa..</p>
<p style="text-align: justify;">Dia mengangkat tinggi pantatnya dan tetap diangkatnya hingga beberapa saat sambil terkejat-kejat. Nampak walaupun tangannya terikat jari-jarinya mengepal seakan hendak meremas sesuatu. Dan kaki-kakinya yang meregang mengungkapkan betapa nikmat syahwat sedang melandanya. Itulah yang bisa ditampilkan olehnya dikarenakan tangan serta kakinya masih terikat ke ranjang.</p>
<p style="text-align: justify;">Dan sang maling tanggap. Sebelum keburu Nita kelelahan dia naik menindih tubuh istriku dan menuntun kontolnya ke lubang nonoknya. Beberapa kali dia mengocok kecil sebelum akhirnya kemaluan yang lumayan gede dan panjang itu tembus dan amblas ditelan nonok istriku.</p>
<p style="text-align: justify;">Maling itu langsung mengayun-ayunkan kontolnya ke lubang nikmat yang sepertinya disemangati oleh istriku dengan menggoyang dan mengangkat-angkat pantat dan pinggulnya agar kontol itu bisa menyentuhi gerbang rahimnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku sendiri demikian terbakar birahi menyaksikan peristiwa itu. Khususnya bagaimana wajah istriku dengan rambutnya yang berkeringat mawut jatuh ke dahi dan alisnya. kontolku sangat tertahan oleh celana sempitku. Aku tak mampu melakukan apa-apa untuk melepaskan dorongan syahwatku.</p>
<p style="text-align: justify;">Genjotan maling itu semakin cepat dan sering. Aku pastikan bahwa maling itu sedang dirambati nikmat birahinya. kontolnya yang semakin tegar kaku nampak licin berkilat karena cairan birahi Nita yang melumurinya nampak seperti piston diesel keluar masuk menembusi nonok istriku. Aku bayangkan betapa nikmat melanda istriku. Dengan kondisinya yang tetap terikat di ranjang, pantatnya nampak naik turun atau mengegos menimpali pompan kontol lelaki maling itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Sebentar lagi spermanya akan muncrat mengisi rongga kemaluan istriku. Dan nampaknya istrikupun akan mendapatkan orgasmenya kembali. Orgasme beruntun. Bukan main. Selama menikah aku bisa hitung berapa kali dia berkejat-kejat menjemput orgasmenya. Namun bersama maling ini tidak sampai 1 jam dia hendak menjemput orgasmenya yang kedua.</p>
<p style="text-align: justify;">Saat-saat puncak orgasme serta ejakulasinya semakin dekat, lelaki itu mendekatkan wajahnya ke wajah Nita dan tangannya meraih kemudian melepas lakban di mulut istriku. Namun dia tak memberinya kesempatan untuk teriak. Mulutnya langsung menyumpal mulut istriku. Aku saksikan mereka saling berpagut. Dan itu bukan pagutan paksa. Istriku nampak menimpali lumatan bibir maling itu. Mereka tenggelam dalam nikmatnya persetubuhan. Dan ahh.. ahh.. aahh..</p>
<p style="text-align: justify;">Maling itu melepas cepat pagutannya dan sedikit bangkit. Dia menyambar pisau dapur yang masih ada di dekatnya. Dengan masing-masing sekali sabetan kedua ikatan tangan Nita terbebas. Dan pisau itu langsung dilemparkannya ke lantai. Tangan maling itu cepat memeluki tubuh istriku serta bibirnya memagutinya. Dan tanpa ayal dan ragu begitu terbebas tangan istriku langsung memeluki tubuh lelaki maling ini. Kini aku menyaksikan persetubuhan yang nyaris sempurna. Lelaki maling bersama Nita istriku langsung tenggelam mendekati puncak syahwatnya. Hingga&#8230;</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Aarrcchh.. Cantikk.. Aku keluaarr.. Hhoohh.. Ampun enaknyaa..&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Istriku juga mendesis hebat, tak ada omongan namun jelas, dia kembali meraih orgasmenya. Dengan tangannya yang bebas dia bisa melampiaskan gelegak birahinya. Tangannya mencakar punggung maling itu dan menancapkan kukunya. Nampak bilur sejajar memanjang di kanan kiri punggungnya merembes kemerahan. Punggung maling itu sempat terluka dan berdarah.</p>
<p style="text-align: justify;">Masih beberapa saat mereka dalam satu pelukan sebelum pada akhirnya lelaki maling itu bangkit dan menarik kontolnya dari kemaluan istriku. Aku langsung menyaksikan pejunya yang kental melimpah tumpah dan meleleh dari lubang nonok Nita yang tampak berwarna sangat merah karena terangsangnya. Sesaat mata maling itu melihati tubuh istriku yang nampak lunglai. Dia lantas bergerak efektif.</p>
<p style="text-align: justify;">Maling itu turun dari ranjang, memakai celana dan T. Shirt-nya. Dia mencopot selembar sarung bantal. Dia mengeluarkan dari kantongnya HP-ku dan HP istriku, jam tangan, perhiasan dan segepok uang simpananku, mungkin hanya sekitar 500-an ribu rupiah. Dia masukkan hasil curiannya ke sarung bantal itu. Tak sampai 2 menit sejak turun ranjang dia langsung keluar dan kabur meninggalkan aku yang masih terikat tak berdaya di lantai dan Nita yang telanjang sesudah disetubuhinya. Dia telah mencuri barang-barangku dan menikmati tubuh dan kemaluan istriku.</p>
<p style="text-align: justify;">Nita nampak bengong sambil melihati aku,</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Maaf, maass.. Aku harus memuaskan nafsu syahwatnya agar dia tidak menyakiti Mas..&#8221; Nita sudah siap dengan alibinya. Aku hanya diam. Nikmat seksual memang bisa mengubah banyak hal.</p>
<p style="text-align: justify;">Hingga kini, sesudah 8 tahun menikah hingga mempunyai 2 anak aib itu tak pernah diketahui orang. Kami sepakat menyimpannya dalam-dalam.</p>
<p style="text-align: justify;">Sesekali kulihat istriku bengong. Aku memakluminya. Setidaknya memang postur tubuhku serta kaliber kemaluanku tak mungkin mengimbangi milik lelaki maling itu.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ceritasex.cn/istriku-menikmati-di-perkosa-maling/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
