<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Cerita sex porno ngentot mesum perek ayam kampus &#187; sma</title>
	<atom:link href="http://www.ceritasex.cn/tag/sma/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.ceritasex.cn</link>
	<description>Kumpulan cerita sex, foto bugil, dan film porno</description>
	<lastBuildDate>Wed, 08 Feb 2012 13:12:08 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
		<item>
		<title>Siswi SMA yang Nakal</title>
		<link>http://www.ceritasex.cn/siswi-sma-yang-nakal/</link>
		<comments>http://www.ceritasex.cn/siswi-sma-yang-nakal/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 07 Nov 2011 07:47:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cerita Sex</dc:creator>
				<category><![CDATA[Daun Muda]]></category>
		<category><![CDATA[Seks Umum]]></category>
		<category><![CDATA[ngentot]]></category>
		<category><![CDATA[sbg]]></category>
		<category><![CDATA[sma]]></category>
		<category><![CDATA[woman on top]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ceritasex.cn/?p=3166</guid>
		<description><![CDATA[Namaku adalah Andi (bukan nama yang sebenarnya), dan aku kuliah di salah satu universitas swasta di Bandung. Aku berasal dari luar daerah dan aku tinggal di kost. Aku pun termasuk orang yang berada, serta sangat menjalankan keagamaan yang kuat. Apalagi untuk mencoba narkoba atau segala macam, tidak deh. Kejadian ini bermula pada waktu kira-kira 4 [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Namaku adalah Andi (bukan nama yang sebenarnya), dan aku kuliah di salah satu universitas swasta di Bandung. Aku berasal dari luar daerah dan aku tinggal di kost. Aku pun termasuk orang yang berada, serta sangat menjalankan keagamaan yang kuat. Apalagi untuk mencoba narkoba atau segala macam, tidak deh.</p>
<p style="text-align: justify;">Kejadian ini bermula pada waktu kira-kira 4 bulan yang lalu. Tepatnya hari itu hari Selasa kira-kira jam 14:12, aku sendiri bingung hari itu beda sekali, karena hari itu terlihat mendung tapi tidak hujan-hujan. Teman satu kostan-ku mengatakan kepadaku bahwa nanti temanya anak SMU akan datang ke kost ini, kebetulan temanku itu anak sekolahan juga dan hanya dia yang anak SMU di kost tersebut.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah lama menunggu akhirnya orang yang ditunggu datang juga, kemudian temanku langsung mengajaknya ke tempat kamarku yang berada di lantai atas. Akhirnya aku dikenali sama perempuan tersebut, sebut saja namanya Ria. Lama-lama kami ngobrol akhirnya baru aku sadari bahwa hari menjelang sore. Kami bertiga bersama dengan temanku nonton TV yang ada di kamarku. Lama-lama kemudian temanku pamitan mau pergi ke tempat temannya, katanya sih ada tugas.</p>
<p style="text-align: justify;">Akhirnya singkat cerita kami berdua di tinggal berdua dengan Ria. Aku memang tergolong cowok yang keren, Tinggi 175 cm, dengan berat badan 62 kg, rambut gelombang tampang yang benar-benar cute, kata teman-teman sih. Ria hanya menatapku tanpa berkedip, akhirnya dia memberanikan diri untuk menggelitikku dan aku tidak tahu darimana dia mengetahui kelemahanku yang sangat vital itu kontan saja aku langsung kaget dan balik membalas serangan Ria yang terus menerus menggelitikiku. Lama kami bercanda-canda dan sambil tertawa, dan kemudian diam sejenak seperti ada yang lewat kami saling berpandang, kemudian tanpa kusadari Ria mencium bibirku dan aku hanya diam kaget bercampur bingung.</p>
<p style="text-align: justify;">Akhirnya dilepaskannya lagi ciumannya yang ada di bibirku, aku pun heran kenapa sih nih anak? pikirku dalam hati. Ria pun kembali tidur-tiduran di kasur dan sambil menatapku dengan mata yang uih&#8230; entah aku tidak tahu mata itu seolah-olah ingin menerkamku. Akhirnya dia melumat kembali bibirku dan kali ini kubalas lumatan bibirnya dengan hisapan-hisapan kecil di bibir bawah dan atasnya. Lama kami berciuman dan terus tanpa kusadari pintu kamar belum tertutup, Ria pun memintaku agar menutup pintu kamarku, entah angin apa aku hanya nurut saja tanpa banyak protes untuk membantah kata-katanya.<br />
<span id="more-3166"></span><br />
Setelah aku menutup pintu kamar kost-ku Ria langsung memelukku dari belakang dan mencumbuku habis-habisan. Kemudian kurebahkan Ria di kasur dan kami saling berciuman mesra, aku memberanikan diri untuk menyentuh buah dadanya Ria yang kira-kira berukuran berapa ya&#8230;? 34 kali, aku tidak tahu jelas tapi sepertinya begitu deh, karena baru kali ini aku menuruni BH cewek. Dia mengenakan tengtop dan memakai sweater kecil berwarna hitam. Aku menurunkan tengtop-nya tanpa membuka kutangnya. Kulihat buah dada tersebut&#8230; uih sepertinya empuk benar, biasanya aku paling-paling lihat di BF dan sekarang itu benar-benar terjadi di depan mataku saat ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Tanpa pikir panjang, kusedot saja buah dada Ria yang kanan dan yang kirinya aku pelintir-pelintir seperti mencari gelombang radio. Ria hanya mendesah, &#8220;Aaahhh&#8230; aaahhh&#8230; uuhhh&#8230;&#8221;Aku tidak menghiraukan gelagat Ria yang sepertinya benar-benar sedang bernafsu tinggi. Kemudian aku pun kepingin membuka tali BH tengtop-nya. Kusuruh Ria untuk jongkok dan kemudian baru aku melihat ke belakang Ria, untuk mencari resliting kutangnya. Akhirnya ketemu juga dan gundukan payudara tersebut lebih mencuat lagi karena Ria yang baru duduk di bangku SMU kelas 2 dengan paras yang aduhai sehingga pergumulan ini bisa terjadi. Dengan rakusnya kembali kulumat dada Ria yang tampak kembali mengeras, perlahan-lahan ciumanku pun turun ke bawah ke perut Ria dan aku melihat celana hitam Ria yang belum terbuka dan dia hanya telanjang dada.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku memberanikan diri untuk menurunkan celana panjang Ria, dan Ria pun membantu dengan mengangkat kedua pinggulnya. Ria pun tertawa dan berkata, &#8220;Hayo tidak bisa dibuka, soalnya Ria mempunyai celana pendek yang berwarna hitam satu lagi&#8230;&#8221; ejek Ria sambil tersenyum girang.Aku pun dengan cueknya menurunkanya kembali celana tersebut, dan kali ini barulah kelihatan celana dalam yang berwarna cream dan dipinggir-pinggirnya seperti ada motif bunga-bunga, aku pun menurunkanya kembali celana dalam milik Ria dan tampaklah kali ini Ria dalam keadaan bugil tanpa mengenakan apapun. Barulah aku melihat pemandangan yang benar-benar terjadi karena selama ini aku hanya berani berilusi dan nonton tidak pernah berbuat yang sebenarnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku pandangi dengan seksama kemaluan Ria dengan seksama yang sudah ditumbuhi bebuluan yang kira-kira panjangnya hanya 2 cm tapi sedikit, ingin rasanya mencium dan mengetahui aroma kemaluan Ria. Aku pun mencoba mencium perut Ria dan pusarnya perlahan tapi pasti, ketika hampir mengenai sasaran kemaluannya Ria pun menghindari dan mengatakan, &#8220;Jangan dicium memeknya akh.. geliii&#8230;&#8221; Ria mengatakan sambil menutup rapat kedua selangkangannya.</p>
<p style="text-align: justify;">Yah, mau bagaimana lagi, langsung saja kutindih Ria, kucium-cium sambil tangan kiriku memegang kemaluan Ria dan berusaha memasukkanya ke dalam selangkangan Ria. Eh, Ria berontak iiihhh&#8230; ge.. li..&#8221; ujar Ria. Tahu-tahu Ria endorong badanku dan terbaliklah keadaan sekarang, aku yang tadinya berada di atas kini berubah dan berganti aku yang berada di bawah, kuat sekali dorongan perempuan yang berbobot kira-kira 45 kg dengan tinggi 160 cm ini, pikirku dalam hati. &#8220;Eh&#8230; buka dong bajunya! masak sih Ria doang yang bugil Andinya tidak&#8230;?&#8221; ujar Ria sambil mencopotkanbaju kaos yang kukenakan dan aku lagi-lagi hanya diam dan menuruti apa yang Ria inginkan.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah membuka baju kaosku, tangan kanan Ria masuk ke dalam celana pendekku dan bibirnya sambil melumat bibirku. Gila pikirku dalam hati, nih cewek kayaknya sdah berpengalaman dan dia lebih berpengalaman dariku. Perlahan-lahan Ria mulai menurunkan celana pendekku dan muncullah kemaluanku yang besarnya minta ampun (kira-kira 22 cm). Dan Ria berdecak kagum dengan kejantananku, tanpa basa-basi Ria memegangnya dan membimbingnya untuk masuk ke dalam liang senggama miliknya Ria, langsung saja kutepis dan tidak jadi barang tersebut masuk ke lubang kemaluan Ria. &#8220;Eh, jangan dong kalau buat yang satu ini, soalnya gue belum pernah ngelakuinnya&#8230;&#8221; ujarku polos. &#8220;Ngapain kita udah bugil gini kalau kita tidak ngapa-ngapain, mendingan tadi kita tidak usah buka pakaian segala,&#8221; ujar Ria dengan nada tinggi.</p>
<p style="text-align: justify;">Akhirnya aku diam dan aku hanya menempelkan kemaluanku di permukaan kemaluan Ria tanpa memasukkanya. &#8220;Begini aja ya&#8230;?&#8221; ujarku dengan nada polos. Ria hanya mengangguk dan begitu terasanya kemaluanku bergesek di bibir kemaluan Ria tanpa dimasukkan ke dalam lubang vaginanya milik Ria, aku hanya memegang kedua buah pantat Ria yang montok dan secara sembunyi-sembunyiaku menyentuh bibir kemaluan Ria, lama kami hanya bergesekan dan tanpa kusadari akhirnya kemaluanku masuk di dalam kemaluan Ria dan Ria terus-terusan menggoyang pantatnya naik-turun. Aku kaget dan bercampur dengan ketakutan yang luar bisa, karena keperawanan dalam hal ML yang aku jaga selama ini akhirnya hilang gara-gara anak SMU. Padahal sebelum-sebelumnya sudah ada yang mau menawari juga dan dia masih perawan lebih cantik lagi aku tolak dan sekarang hanya dengan anak SMU perjakaku hilang.</p>
<p style="text-align: justify;">Lama aku berpikir dan sedangkan Ria hanya naik-turun menggoyangkan pentatnya semenjak aku melamun tadi, mungkin dia tersenyum puas melihat apa yang baru dia lakukan terhadapku. Yach, kepalang tanggung sudah masuk, lagi nasi sudah jadi bubur akhirnya kugenjot juga pantatku naik-turun secara berlawanan dengan yang dilakukan Ria, dan bunyilah suara yang memecahkan keheningan, &#8220;Cplok.. cplok&#8230; cplok&#8230;&#8221; Ria mendesah kenikmatan karena kocokanku yang kuat dilubang vaginanya. Lama kami berada di posisi tersebut, yaitu aku di bawah dan dia di atas.akhirnya aku mencoba mendesak Ria agar dia mau mengganti posisi, tapi dorongan tangannya yang kuat membatalkan niatku, tapi masa sih aku kalah sama cewek, pikirku. Kudorong ia dengan sekuat tenagaku dan akhirnya kami berada di posisi duduk dan kemaluanku tetap berdiri kokoh tanpa dilepas. Ria tanpa diperintah menggerakkan sendiri pantatnya, dan memang enak yah gituan, pikirku dalam hati. Tapi sayang tidak perawan.</p>
<p style="text-align: justify;">Akhirnya kudorong lagi Ria agar dia tiduran telentang dan aku ingin sekali melihat kemaluanku yang besar membelah selangkangan kemaluan Ria, makanya aku sambil memegang batang kemaluanku menempelkannya di lubang kemaluan Ria dan &#8220;Bless&#8230;&#8221; amblaslah semuanya. Kutekan dengan semangat &#8220;45&#8243; tentunya karena nasi sudah hancur. Kepalang tanggung biarlah kuterima dosa ini, pikirku. Dengan ganasnya dan cepat kuhentakkan kemaluanku keras-keras di lubang kemaluan Ria dan kembali bunyi itu menerawang di ruangan tersebut karena ternyata lubang kemaluan Ria telah banjir dengan air pelumasnya disana, aku tidak tahu pasti apakah itu spermanya Ria, apakah hanya pelumasnya saja? dan Ria berkata, &#8220;Loe.. udah keluar ya&#8230;?&#8221; ujarnya. &#8220;Sembarangan gue belom keluar dari tadi..?&#8221; ujarku dengan nada ketus. Karena kupikir dia mengejekku karena mentang-mentang aku baru pertama kali beginian seenaknya saja dia menyangka aku keluar duluan. Akhirnya lama aku mencumbui Ria dan aku ingin segera mencapai puncaknya.</p>
<p style="text-align: justify;">Dengan cepat kukeluarkan kemaluanku dari lubang kemaluannya dan kukeluarkan spermaku yang ada diperutnya Ria, karena aku takut kalau aku keluarkan di dalam vaginanya aku pikir dia akan hamil, kan berabe. Aku baru sekali gituan sama orang yang yang tidak perawan malah disuruh tanggung jawab lagi. Gimana kuliahku! Ria tersenyum dengan puas atas kemenangannya menggodaku untuk berbuat tidak senonoh terhadapnya. Huu, dasar nasib, dan semenjak saat itu aku sudah mulai menghilangkan kebiasaaan burukku yaitu onani, dan aku tidak mau lagi mengulang perbuatan tersebut karena sebenarnya aku hanya mau menyerahkannya untuk istriku seorang. Aku baru berusia 21 tahun saat ini.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ceritasex.cn/siswi-sma-yang-nakal/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>2 Gadis SMA Berjilbab</title>
		<link>http://www.ceritasex.cn/2-gadis-sma-berjilbab/</link>
		<comments>http://www.ceritasex.cn/2-gadis-sma-berjilbab/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 01 Jun 2011 01:50:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cerita Sex</dc:creator>
				<category><![CDATA[Daun Muda]]></category>
		<category><![CDATA[Om Senang]]></category>
		<category><![CDATA[Orgy]]></category>
		<category><![CDATA[Seks Umum]]></category>
		<category><![CDATA[abg]]></category>
		<category><![CDATA[gadis]]></category>
		<category><![CDATA[jilbab]]></category>
		<category><![CDATA[kontol]]></category>
		<category><![CDATA[memek]]></category>
		<category><![CDATA[ngentot]]></category>
		<category><![CDATA[sma]]></category>
		<category><![CDATA[vagina]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ceritasex.cn/?p=2383</guid>
		<description><![CDATA[Ini ceritaku entah berapa bulan lalu ketika sore aku aku sedang menghabiskan waktu selepas bekerja disebuah mall dijakarta. Penat bekerja seharian dan jalanan yang sangat macet membuatku untuk rilex sebentar kesebuah pusat perbelanjaan sekedar untuk minum kopi. Akupun memesan sebuah kopi dan duduk disebuah sudut restoran. Sambil minum aku menikmati pemandangan mall yang sungguh berbeda [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Ini ceritaku entah berapa bulan lalu ketika sore aku aku sedang menghabiskan waktu selepas bekerja disebuah mall dijakarta. Penat bekerja seharian dan jalanan yang sangat macet membuatku untuk rilex sebentar kesebuah pusat perbelanjaan sekedar untuk minum kopi. Akupun memesan sebuah kopi dan duduk disebuah sudut restoran. Sambil minum aku menikmati pemandangan mall yang sungguh berbeda dari kantorku. Sangat nyaman rasanya, tapi pandanganku beralih sekitar 2 meja di depanku, duduk dua orang siswi SMU lengkap dengan baju seragamnya. Mereka tertawa-tawa ceria. Setelah kuperhatikan lebih seksama lagi, ternyata mereka sungguh manis, dan astaga ternyata mereka kembar. sekilas aku tak bisa membedakan antara 2 gadis remaja itu. Dua-duanya berwajah cantik, putih, dan mulus. Sungguh wajah yang enak dpandang. Selain itu keduanya juga punya tubuh mungil, dengan dada yang tidak begitu besar namun montok dan menantang yang mereka coba sembunyikan dibalik seragam SMU lengan panjang yang agak longgar dengan jilbab tipis yang tidak terlalu panjang namun cukup menutup buah dada mereka, lengkap dengan rok panjang abu2nya.</p>
<p style="text-align: justify;">Uhhh sungguh gadis2 berjilbab yang mungil dan sangat menggemaskan.entah kenapa aku tak bisa melepaskan pandanganku dari wajah dan payudara kedua gadis berjilbab tersebut tanpa kusangka salah satu gadis itu melihatku., tampaknya dia tau kalau daritadi aku sedang menikmati tubuhnya, lalu dia tersenyum padaku. Ah kesempatan pikirku, lalu kudekati saja meja mereka. “Selamat siang nih adik-adik, lagi pada ngapain nih ??” tanyaku. “Siang juga om..” jawab mereka bersamaan sambil tersenyum. “Lagi iseng-iseng aja om, abis dari sekolah” jawab yang satu. “Om boleh duduk disini ga ?” tanyaku dengan sopan. “boleh donk om, silakan” jawab yang satu lagi. “Om boleh kenalan kan ??” tanyaku. “Hihi…iya boleh donk om…” jawabnya “Aku gina, yang ini saudaraku gita” jawabnya sambil ternsenyum. Setelah kuperhatikan kedua gadis berjilbab ini mengenakan aksesoris yang lumayan mahal dari bros untuk peniti jilbab mereka, sampai cincin, gelang, jam tangan bahkan handpone seri terbaru. Wah keliatannya mereka betul2 anak2 dari kalangan atas.</p>
<p style="text-align: justify;">“Kalian saudara kembar kan ?? berapa nih usianya ??” tanyaku penasaran. “Iya om…kita sekarang 16 tahun sebentar lagi 17 tahun” “Oooh…udah gede-gede ya” kataku sambil melirik payudara gina, uh penisku perlahan lahan mengeras, membayangkan bisa meremas2 empat buah payudara dibalik jilbab gadis gadis ini. “ya iyalah om, kan udah sma” jawab gita yang tak sadar apa sebenarnya yang aku maksud. “kalian nggak pulang, udah sore begini masak gadis2 cantik seperti kalian masi blum pulang” “om bisa aja ah, masi mau minum2 dulu om bentar lagi juga pulang” jawab gina sambil ngobrol kuperhatikan kedua gadis ini, walaupun kembar namun aku mulai bisa membedakan antara gina dengan gita. Gina yang berusia lebih tua beberapa menit dari gita ini memiliki buah dada yang sedikit lebih besar dari adiknya.selebihnya tak ada perbedaan. “ ah seandainya bisa kutelanjangi kedua gadis berjilbab ini, apa mungkin rasa jepitan vagina 2 orang saudara kembar berbeda yah” kataku dalam hati yang sudah penuh nafsu. “Kalian udah punya pacar belum ??” tanyaku.</p>
<p style="text-align: justify;">“gina udah tuh om, nama pacarnya andi, hihi…” “Iiih….apaan sih git, dia tuh cuma temen deket aja juga…” katanya malu kulihat ada yang aneh dengan kedua remaja berjilbab ini. Mengapa sepertinya sangat mudah akrab dengan orang yang belum dikenal seperti aku. Aku mulai berpikir sepertinya dua gadis ini bisa kupakai malam ini. Akupun mulai mengeluarkan jurus mautku. “Kalian udah pernah pacaran kan ?” “Iya udah Om…tapi ya gitu deh namanya juga anak sma.” jawab gita “Umm tapi maaf nih yah, kalian udah pernah begitu belum ??” tanyaku sambil tersenyum nakal. Gina sedikit kaget “begitu gimana om??” “umm begini.. kayak ciuman pelukan, dan main2 itu sama pacar kalian belum” Sejenak mereka kaget dengan pertanyaanku lalu gita balas menjawab “Iiiih…om apaan sih…kok nanyanya begituan” “Ya kan om mau tau ??” Mereka terdiam sejenak kemudian saling berbisik. “Emang bener om mau tau ???” tanya gina menggoda. “ya iya dong dik gina yang cantik” kataku sambil mengedipkan mata sepertinya mereka sadar maksud gerak gerikku, lalu dengan tersenyum nakal gita menjawab.<br />
<span id="more-2383"></span><br />
“om, kalau mau kita bisa jalan2 sama om tapi kaloo&#8230;” gita berhenti berbicara lalu mengambil handponnya dan mengetik lalu memberikan handponnya padaku. Astaga pikirku, inilah saatnya. Saat yang dari tadi kunantikan. Gita ternyata meminta sejumlah uang dan persyaratan. Kesempatan ini tak boleh kulewatkan. Akupun tersenyum lebar dan jantungku semakin berdegup kencang. Tiba2 aku tersadar suatu hal “eh maaf yah gina, gita, kalo kalian mau nemenin om kok kenapa kalian memakai jilbab” “oh ini, ini kan ketentuan wajib disekolah harus pakai jilbab om” jawab gina oh aku baru menyadari segala sesuatunya, kenapa menjelang malam hari kerja kedua gadis berjibab ini masi dipusat perbelanjaaan, kenapa mereka memakai barang2 mahal, kenapa mereka mudah sekali untuk diajak ngobrol sampai ke hal2 yang nakal. “ok kalo gitu yuk kita pergi, om ke atm dulu ngambil uang saku untuk gadis2nya om” kataku sambil mengedipkan mata yang dijawab dengan sedikit tawa dan tatapan nakal. Sekitar jam 6 sore, aku bersama kedua gadis berjilbab ini keluar dari mall dan menuju sebuah atm dibasement mall tersebut. Ternyata basement tersebut agak sepi, hanya berisi mobil2 dan beberapa supir, tukang parkir dan satpam yang sempat memandangku iri, karena aku yang asyik bercanda dengan kedua gadis berjiblab ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Atm tersebut ternyata cukup tertutup, dengan ruangan yang cukup besar. Akupun mulai mengakses mesin tersebut sambil berbincang2 dengan kedua gadis berjilbab ini. Sambil memencet tombol2 aku lirik keadaan diluar, tampaknya posisiku cukup tertutup dan tak ada orang yang melihat, ah aku yang sudah tak tahan dari tadi mulai melancarkan aksiku. Kedua gadis berjilbab ini berdiri dikanan kiriku, sambil menunggu mesin atm bekerja, aku tarik kedua tanganku kebelakang lalu meremas2 kedua buah pantat gina dan gita yang kenyal itu. “ iihh om nakal, masi dibasement juga” jawab gita dan sebuah cubitan kecil dipinggangku oleh gina. “Iya deh iya deh om nggak nakal” jawabku sambil menarik tanganku dari pantat kedua gadis ini, lalu kurangkul pinggang kedua gadis berjilbab ini dan menarik mereka kearah tubuhku, uhhhh payudara payudara dibalik jilbab kedua gadis berjilbab ini sungguh sama kenyal dan nikmatnya. “ihhh si om ini nakal banget sih” kata mereka dengan senyum manja. Lalu tanganku mulai meraba naik kepunggungnya lalu bergeser masuk keketiak mereka menyelusup kebelakang jilbab mengikuti alur bh mereka dan menggenggam payudara payudara gadis gadis ini yang tidak bersentuhan dengan dadaku.” iiiiihh si ooomm daritadi bandel banget sihhh” kata gina sambil kedua gadis ini mencoba melepaskan diri dari genggaman tanganku pada buah dada mereka.</p>
<p style="text-align: justify;">“duh gina gita, jangan begitu dong, ini uangnya” kataku ketika tiba2 mesin atm tersebut mengeluarkan uang beberapa juta rupiah” akupun mengambil uang tersebut lalu memperlihatkan uang tersebut kepada mereka, tampaknya kali ini mereka luluh dan mata mereka tampak berbinar2 melihat uang yang cukup banyak tersebut dan mulai tersenyum genit. Akupun dengan nakalnya menyampirkan jilbab gina dan gita kepundaknya lalu membuka 3 buah kancing paling, dan kulihat yang daritadi membuat penisku sangat keras, empat buah payudara gadis smu yang sangat menggemaskan terbungkus bra yang sangat sexy dengan jilbab yang menutupi kepala mereka, akupun menyelipkan beberapa lembar ratusan ribu rupiah kedalam bra mereka sambil merasakan kenyalnya payudara mereka lalu aku lanjutkan dengan meremas2 payudara montok kedua gadis ini. “uhhhh, dada gina lebih besar sedikit tapi sama nikmatnya dan sama cantiknya dengan gita, om udah bener bener nggak kuat nih, ini uangnya dp dulu yah nanti kalo udah selese nemenin om semua uang ini boleh kalian miliki” kataku dengan penuh nafsu.</p>
<p style="text-align: justify;">Gita dan ginapun hanya tersenyum genit sambil keenakan menikmati remasan demi remasan dan plintiran pada payudara dan putting mereka. Tanpa disadari ada orang mengetuk pintu atm. Kami bertigapun kaget bukan kepalang, aku baru menyadari ada orang antri menunggu dari tadi. Akupun segera menarik kedua tanganku dari payudara mereka, gita dan ginapun kaget luar biasa dan langsung mengancingkan kembali baju mereka dan menjulurkan jilbab mereka untuk menutupi buah dada montoknya. “ih om si, untung nggak dibuka pintunya kan malu om” kata gita “iya deh maaf, tapi om udah nggak kuat nih, kita cari tempat yuk nanti disambung lagi deh ditempat om” kataku “ih si om, kita cantik sih jadi om nggak kuat deh” kata gina dan disambut tawa mereka cekikian. “yaudah, yuk, eh ayo gandeng tangan om dong” bisikku manja kekeduanya kamipun keluar dari kotak atm yang sudah ditunggu 3 orang yang mengantri dari tadi.mereka tampak kesal namun agak kaget ketika melihat seorang lelaki digandeng dua orang gadis smu kembar yang masih segar dan berjilbab.</p>
<p style="text-align: justify;">Ah biarin ajah, emang gua pikirin, akupun menarik kedua daun muda yang sungguh menggemaskan ini kesudut lapangan parkir tempat mobilku berada yang jauh dari tempat tunggu supir dan satpam. Sambil berjalan kedua lengan atasku merasakan lembutnya bagian luar buah dada gina dan gita yang terus bersenggolan dengan tanganku yang mereka rangkul. Aduh sungguh nikmat rasanya, batang penisku semakin tak kuat ingin segera menikmati kedua gadis kembar ini. Gedung parkir di mall ini hanya setengah mobil kebawah yang tertutupi tembok, selebihnya hanya ditutupi oleh kawat2 besi sehingga walaupun gelap namun samar2 bisa terlihat dari luar gedung parkir. Ide gilapun muncul dikepalaku aku akan menikmati kedua gadis berjilbab ini ditempat terbuka sebelum nanti kutelanjangi, kumandikan dan kusabuni setiap inci tubuh mereka dirumahku nanti. Setelah sampai disudut tempat mobilku diparkir akupun mendorong perlahan kedua gadis berjilbab ini hingga bersandar ditembok dengan kedua tanganku menekan sebuah payudara gina dan gita. “gina, gita, kita main disini dulu yuk, kan gelap nggak ada orang, om udah nggak tahan nih, nanti uang jajannya om tambah deh, tapi nanti malem main kerumah om dulu kita main2 lagi, besok pagi baru om anter kesekolah, gimana?”</p>
<p style="text-align: justify;">gita dan gina hanya berpandangan lalu salah satunya mengangguk, “boleh om tapi ati2 yah kalo ada orang, kan malu om diliatin orang” akupun tersenyum dan tanpa basa basi langsung kusampirkan jilbab gina dan gita, langsung kubuka kancing2 bajunya dan kubuka seragam sekolah mereka, dan langsung kulepas bra mereka, kulemparkan bra mereka kejok belakang mobilku lalu kupakaikan kembali baju seragam mereka tanpa kukancingi lagi, sungguh indah tubuh saudara kembar ini. Dengan jilbab putih yang masih mereka kenakan dan payudara yang putih dan empat buah putting berwarna coklat yang kecil sungguh indah sekali, akupun tak mampu menahan nafsuku, segera kumainkan empat buah payudara gadis kembar ini bergantian, dari remasan, plintiran pada puting2 payudara mereka hingga hisapan hisapan dan gigitan2 kecil membuat mereka menggelinjang mendesah menikmati permainanku. Lalu kuhentikan permainanku, kuperintahkan kedua gadis ini untuk mengangkat kedua roknya perlahan. Pelan2 kulihat kaki mungil mereka yang dibungkus sepatu dan kaus kaki menutup betis mereka, lutut, dan aww, paha paha yang putih dan mulus lalu kemaluan yang masih tertutup celana dalam putih yang tipis. Aku sungguh tak kuat, langsung kutarik turun celana dalam mereka dan kupandangi vagina gina dan gita yang kecil karena umur mereka yang masih 16 tahun. Kuambil celana dalam mereka dan kulemparkan ke jok belakang mobil. Lalu kututup pintu mobilku.</p>
<p style="text-align: justify;">“ lho om kok kita nggak dimobil om ajah, kan takut ada yang ngeliat om” kata gita khawatir dengan keadaanya yang berjilbab namun baju seragam yang terbuka yang memperlihatkan dua buah payudaranya yang menggantung sambil mengangkat rok sampai pinggang yang memperlihatkan vaginanya. “Nggak papa gina, nanti kamu tau, jauh lebih nikmat rasanya kalo ditempat begini lho” kataku sambil menarik kedua gadis itu dan kusuruh duduk dikap depan mobilku yang posisinya didinding lapangan parkir, yang hanya tertutup jeruji2 besi dan tampak dari luar samar2. “iii om malu” jawab gita sambil duduk dan menutup rok dan bajunya sambil melipat tangan didadanya. Tampak didepanku dua orang gadis kembar berjilbab yang siap kunikmati beberapa saat lagi, disebuah gedung parkir, dan gilanya lagi walaupun agak gelap tapi pasti secara samar2 terlihat dari jalan raya diluar gedung. Tanpa memperdulikan ucapan gita akupun menarik kepala kedua gadis berjilbab ini dan mencium bibir merkea bersamaan, ah nikmat rasanya saat mencium mereka bersamaan.</p>
<p style="text-align: justify;">Tampaknya mereka menyukainya, lalu tanpa basa basi kuangkat rok sekolah gina dan kujilat2 vaginanya, juga tangan kananku masuk kedalam rok diantara kaki gita dan mengelitik vagina dan klitorisnya sambil aku memuaskan kakaknya. Kedua gadis berjilbab ini hanya bisa menggelinjang dan mendesah pelan, perlahan nafsu mulai merasuki keduanya yang tampaknya sudah tak malu lagi dan mulai meremas remas payudara mereka sendiri. Kurasakan cairan mulai membasahi vagina kedua saudara kembar ini. Akupun semakin tak tahan, langsung kubuka celanaku dan mengeluarkan penisku dan kumasukkan kedalam vagina gina sambil terus mengaduk2 vagina gita dengan 3 buah jariku. Ahh penisku serasa dipijit2 didalam vaginanya. Walaupun sempit tapi ketika mulai kusodok pelan2 serasa tak ada yang menghalangi, ternyata gina sudah tidak perawan lagi, begitujuga dengan gita yang sedari tadi pasrah penuh kenikmatan dengan tiga buah jariku divaginanya. Akupun dengan cepat memajumundurkan penisku didalam vagina gina bergantian dengan gita. Wajah mereka yang terbungkus jilbab sungguh tampak menggemaskan membuatku semakin bernafsu meremas2 payudara2 mereka.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku memerintahkan kedua saudara ini untuk menunduk dan bertumpu pada terali2 besi gedung parkir. Kuangkat rok panjang mereka dan kulipat dan kuselipkan dipinggang mereka, sehingga dengan bebasnya aku bisa melihat pantat, vagina dan bagian kaki gadis gadis ini.Mungkin karnea kedua gadis kembar ini belum orgasme mereka tampak mau melakukan apa saja asalkan terus kuaduk2 vagina mereka. Mereka tak malu walaupun samar2 terlihat dari jalan raya didepan gedung parkir ini. Akupun semakin bernafsu dengan menyodokkan penisku kedalam vagina gita dan gina bergantian dari belakang sambil kutarik jilbab mereka yang membuat mereka mendongak keatas sambil menikmati hentakan demi hentakan penisku dilubang vagina mereka secara bergantian. Tak lama kemudian gina merintih2 “om oomm remes payudaraku yang keras, terus masukin penisnya cepetan sedikit aku udah nggak tahan mau keluar” akupun yang memang penuh nafsu segera menuruti permintaan gina, kucengkram kedua payudaranya dari belakang, dan kupercepat hentakan penisku jauh lebih dalam kelubang vaginanya.yang membuat gina semakin menjerit2 kecil menikmatinya.</p>
<p style="text-align: justify;">Tiba2 dari jauh kulihat seseorang haltebus yang mengarah kegedung parkir diseberang jalan tampaknya melihat adegan yang kulakukan, dan gina walaupuan daritadi merem melek menikmati permainanku menyadari ada seseorang yang ikut menikmati tubuhnya dari jauh. “om ada orang tuh dihalte ngeliatin kita, tapi aku udah nggak kuat om dikit lagi mau keluaarr. Ah biarin ajaaaahhh&#8230;” jawabnya yang tampak semakin bernafsu karena dilihat orang tersebut. Akupun semakin bernafsu mempertontonkan adegan mesra ini keorang tersebut yang semakin membuatku terpacu.tiba2 “ahhhh ahhhh ahhh” gina merintih dan kurasakan vaginanya mengeluarkan cairan yang sangat banyak dan akhirnya gina terdiam lemas walaupun aku tetap memacu penisku kevaginanya. Akupun menghentikan aksiku. “duh om udah nggak kuat, om lanjutin sama gita aja yah..” katanya dengan tersenyum penuh kepuasan. “Iyah nggak papa sayang,tapi kamu disini aja ya temenin om main dengan adikmu ini” kataku sambil menjulurkan rok gina sehingga menutupi bagian bawah tubuhnya lalu kubalikkan tubuhnya kucium mesra, dan kupandangi adiknya.</p>
<p style="text-align: justify;">“ihh omm kan udah sama kak gina tadi, aku dicuekin, daritadi udah nggak tahan om” katanya dengan cemberut nakal. Ternyata walaupun payudara gita sedikit lebih kecil dari kakaknya, namun hasrat sexnya jauh melebihi kakaknya. “gita juga mau om, ayo cepet tu orang dihalte depan lagi ngeliatin, gita udah nggak tahann ayo omm cepettt” kata gita memelas. Wah ternyata adiknya jauh lebih agresif dan maniak dari kakaknya. Akupun langsung menancapkan penisku kevagina gita dari belakang yang sudah memasang posisi menunduk dengan menumpukan tangannya pada jeruji besi didinding gedung parkir ini.sambil kugenjot vaginanya, kuremas2 payudara kiri gita dari belakang dengan tangan kiriku sementara tangan kananku kugunakan untuk memeluk gina sambil mencium bibirnya dan meraba2 payudaranya.tak disangka gita ternyata begitu exebisionis, dalam genjotanku dia melambaikan tangan dan tersenyum genit kepada lelaki yang menatap aksi kita dari tadi.akupun tak peduli terus saja kupermainkan vaginanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Tapi lama kelamaan aku bosan dengan posisi ini, kubalikkan tubuh gita, dan kugendong lalu kududukkan ditepi kap depan mobil jeepku dan kusandarkan gina berdiri disampingnya, akupun melanjutkan aksiku menancapkan penisku kevagina gita sambil mencium dan menjilat jilat putting payudaranya bergantian dengan mencium bibir gina kakaknya, sambil tangan kiriku meremas2 payudara gina.ohhh sungguh berlipat2 rasanya menikmati tubuh dua orang gadis kembar yang masih mengenakan jilbab putih namun 4 buah payudara mereka terbuka bebas dan sedang kujamah, sedangkan vagina gita sedang kunikmati dengan penisku dan vagina gina sesekali kuremas2 dari balik rok yang kuangkat keatas. Tak lama kemudian, gitapun mencapai titik puncaknya,dia menggelinjang dan mendongak keatas sambil memeluk kepalaku diantara dua buah payudaranya dengan erat dan tiba2 tiga kali kurasakan semprotan cairan didalam vagina gita bersamaan dengan semprotan spermaku didalamnya.. “aahahhchhhhh ommmm aku ahhhhh” jeritnya&#8230; ginapun hanya tersenyum melihat ulah adiknya yang sedang dalam titik puncaknya.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah beberapa saat kurapihkan pakaian kedua gadis kembar ini, kurapihkan rok mereka, lalu kukancingkan kembali baju mereka, kujulurkan lagi jilbab mereka menutupi payudara dan vagina yang kini tak mengenakan bh dan celana dalam. “Yuk kita belanja, kita nonton juga yuk, nanti kita lanjut lagi dirumah om yah” kataku genit. Gina dan gita hanya tersipu malu. Lalu kedua gadis kembar ini kurangkul dan kuajak kedalam mall sambil dengan nakalnya kuraba payudara mereka yang kali ini dengan mudah kuplintir dari luar pakaian mereka putting yang menonjol dibalik bajunya, namun sengaja ditutupi jilbab mereka agar tak ketahuan, namun buah dada buah dada yang tak disanggah itu tampak lebih menggoda bergoyang goyang dibalik pakaian mereka walaupun sudah ditutupi jilbab, gesekan demi gesekan dan remasan tanganku dipayudara mereka sungguh nikmat, walaupun batang kemaluanku sudah lemas, tapi aku masih ingin menikmati tubuh gadis kembar berjilbab ini. Kamipun masuk kedalam mall dan mulai jaga image, gina dan gita jalan disampingku dengan biasa2 saja agar tak terlalu menarik perhatian.. kamipun menuju bioskop dilantai atas dan membeli tiket film, tapi sebelum masuk ke bioskop, gita mengajak kakaknya ketoilet untuk membersihkan sisa2 cairan vagina dan spermaku yang masih membasahi vaginanya</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ceritasex.cn/2-gadis-sma-berjilbab/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Gaya Pacaran ABG Jaman Sekarang..</title>
		<link>http://www.ceritasex.cn/gaya-pacaran-abg-jaman-sekarang/</link>
		<comments>http://www.ceritasex.cn/gaya-pacaran-abg-jaman-sekarang/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 30 May 2011 23:18:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cerita Sex</dc:creator>
				<category><![CDATA[Daun Muda]]></category>
		<category><![CDATA[Foto Mesum]]></category>
		<category><![CDATA[abg]]></category>
		<category><![CDATA[anak sekolah]]></category>
		<category><![CDATA[bugil]]></category>
		<category><![CDATA[pacaran]]></category>
		<category><![CDATA[sma]]></category>
		<category><![CDATA[telanjang]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ceritasex.cn/?p=2366</guid>
		<description><![CDATA[nikmati ajalah lumayan ngaceng dikit&#8230;]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>nikmati ajalah lumayan ngaceng dikit&#8230;</p>
<p><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2011/05/abg-indo-pacaran-1.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-2367" title="abg-indo-pacaran-1" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2011/05/abg-indo-pacaran-1-225x300.jpg" alt="" width="225" height="300" /></a></p>
<p><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2011/05/abg-indo-pacaran-2.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-2368" title="abg-indo-pacaran-2" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2011/05/abg-indo-pacaran-2-225x300.jpg" alt="" width="225" height="300" /></a></p>
<p><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2011/05/abg-indo-pacaran-3.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-2369" title="abg-indo-pacaran-3" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2011/05/abg-indo-pacaran-3-225x300.jpg" alt="" width="225" height="300" /></a></p>
<p><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2011/05/abg-indo-pacaran-4.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-2370" title="abg-indo-pacaran-4" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2011/05/abg-indo-pacaran-4-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ceritasex.cn/gaya-pacaran-abg-jaman-sekarang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Amoy Cina SMA Minta di Entot!</title>
		<link>http://www.ceritasex.cn/amoy-cina-sma-minta-di-entot/</link>
		<comments>http://www.ceritasex.cn/amoy-cina-sma-minta-di-entot/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 23 May 2011 07:08:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cerita Sex</dc:creator>
				<category><![CDATA[Amoy]]></category>
		<category><![CDATA[Daun Muda]]></category>
		<category><![CDATA[Foto Mesum]]></category>
		<category><![CDATA[abg]]></category>
		<category><![CDATA[amoy]]></category>
		<category><![CDATA[cina]]></category>
		<category><![CDATA[dogie]]></category>
		<category><![CDATA[minta ngentot]]></category>
		<category><![CDATA[ngentot yuk]]></category>
		<category><![CDATA[nungging]]></category>
		<category><![CDATA[sma]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ceritasex.cn/?p=2331</guid>
		<description><![CDATA[Amoy udah di posisi yang pas nih, silahkan disodok &#8230;.. croottttt!]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Amoy udah di posisi yang pas nih, silahkan disodok &#8230;.. croottttt!</p>
<p><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2011/05/amoy-minta-ngentot-1.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-2332" title="amoy-minta-ngentot-1" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2011/05/amoy-minta-ngentot-1-205x300.jpg" alt="" width="205" height="300" /></a></p>
<p><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2011/05/amoy-minta-ngentot-2.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-2333" title="amoy-minta-ngentot-2" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2011/05/amoy-minta-ngentot-2-300x188.jpg" alt="" width="300" height="188" /></a></p>
<p><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2011/05/amoy-minta-ngentot-3.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-2334" title="amoy-minta-ngentot-3" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2011/05/amoy-minta-ngentot-3-205x300.jpg" alt="" width="205" height="300" /></a></p>
<p><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2011/05/amoy-minta-ngentot-4.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-2335" title="amoy-minta-ngentot-4" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2011/05/amoy-minta-ngentot-4-205x300.jpg" alt="" width="205" height="300" /></a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ceritasex.cn/amoy-cina-sma-minta-di-entot/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>ABG Bisyar SMU Bali</title>
		<link>http://www.ceritasex.cn/abg-bisyar-smu-bali/</link>
		<comments>http://www.ceritasex.cn/abg-bisyar-smu-bali/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 13 Feb 2011 22:08:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cerita Sex</dc:creator>
				<category><![CDATA[Daun Muda]]></category>
		<category><![CDATA[Foto Mesum]]></category>
		<category><![CDATA[Seks Umum]]></category>
		<category><![CDATA[abg]]></category>
		<category><![CDATA[bali]]></category>
		<category><![CDATA[bisyar]]></category>
		<category><![CDATA[ngentot]]></category>
		<category><![CDATA[sma]]></category>
		<category><![CDATA[smu]]></category>
		<category><![CDATA[toge]]></category>
		<category><![CDATA[toket]]></category>
		<category><![CDATA[toket gede]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ceritasex.cn/?p=1946</guid>
		<description><![CDATA[Ngentot terus&#8230; enak enak enak nih ada oleh-oleh dari pulau dewata Bali ABG bisyar!]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ngentot terus&#8230; enak enak enak <img src='http://www.ceritasex.cn/wp-includes/images/smilies/icon_razz.gif' alt=':P' class='wp-smiley' />  nih ada oleh-oleh dari pulau dewata Bali ABG bisyar!</p>
<p><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2011/02/abg-smu-bali-1.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-1947" title="abg-smu-bali-1" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2011/02/abg-smu-bali-1-282x300.jpg" alt="" width="282" height="300" /></a></p>
<p><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2011/02/abg-smu-bali-2.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-1948" title="abg-smu-bali-2" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2011/02/abg-smu-bali-2-300x224.jpg" alt="" width="300" height="224" /></a></p>
<p><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2011/02/abg-smu-bali-3.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-1949" title="abg-smu-bali-3" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2011/02/abg-smu-bali-3-300x224.jpg" alt="" width="300" height="224" /></a></p>
<p><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2011/02/abg-smu-bali-4.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-1950" title="abg-smu-bali-4" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2011/02/abg-smu-bali-4-300x224.jpg" alt="" width="300" height="224" /></a></p>
<p><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2011/02/abg-smu-bali-5.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-1951" title="abg-smu-bali-5" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2011/02/abg-smu-bali-5-300x224.jpg" alt="" width="300" height="224" /></a><br />
<span id="more-1946"></span><br />
<a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2011/02/abg-smu-bali-6.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-1952" title="abg-smu-bali-6" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2011/02/abg-smu-bali-6-300x224.jpg" alt="" width="300" height="224" /></a></p>
<p><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2011/02/abg-smu-bali-7.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-1953" title="abg-smu-bali-7" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2011/02/abg-smu-bali-7-300x224.jpg" alt="" width="300" height="224" /></a></p>
<p><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2011/02/abg-smu-bali-8.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-1954" title="abg-smu-bali-8" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2011/02/abg-smu-bali-8-300x224.jpg" alt="" width="300" height="224" /></a></p>
<p><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2011/02/abg-smu-bali-9.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-1955" title="abg-smu-bali-9" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2011/02/abg-smu-bali-9-300x224.jpg" alt="" width="300" height="224" /></a></p>
<p><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2011/02/abg-smu-bali-10.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-1956" title="abg-smu-bali-10" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2011/02/abg-smu-bali-10-300x224.jpg" alt="" width="300" height="224" /></a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ceritasex.cn/abg-bisyar-smu-bali/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Larasati, Pertama Kali Aku Selingkuh</title>
		<link>http://www.ceritasex.cn/larasati-pertama-kali-aku-selingkuh/</link>
		<comments>http://www.ceritasex.cn/larasati-pertama-kali-aku-selingkuh/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 12 Jan 2011 10:40:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cerita Sex</dc:creator>
				<category><![CDATA[Daun Muda]]></category>
		<category><![CDATA[Om Senang]]></category>
		<category><![CDATA[Paruh baya]]></category>
		<category><![CDATA[Sedarah]]></category>
		<category><![CDATA[selingkuh]]></category>
		<category><![CDATA[abg]]></category>
		<category><![CDATA[larasati]]></category>
		<category><![CDATA[ngentot]]></category>
		<category><![CDATA[penis]]></category>
		<category><![CDATA[perawan]]></category>
		<category><![CDATA[sma]]></category>
		<category><![CDATA[vagina]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ceritasex.cn/?p=1813</guid>
		<description><![CDATA[Sebenarnya umurku sudah tidak bisa dibilang muda lagi, bahkan bisa dibilang sudah kakek-kakek karena saat ini umurku sudah 58 tahun. Namun demikian banyak orang mengira umurku masih di bawah 40 tahun. Orang-orang di kantorku mengatakan kalau secara fisik aku memang hebat. Otot masih kencang dan wajah hampir tidak ada keriput. Demikian juga isteriku, masih seksi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Sebenarnya umurku sudah tidak bisa dibilang muda lagi, bahkan bisa dibilang sudah kakek-kakek karena saat ini umurku sudah 58 tahun. Namun demikian banyak orang mengira umurku masih di bawah 40 tahun. Orang-orang di kantorku mengatakan kalau secara fisik aku memang hebat. Otot masih kencang dan wajah hampir tidak ada keriput. Demikian juga isteriku, masih seksi dan kenyal, kulitnya juga masih kencang. Yang menunjukkan berapa umurku sebenarnya adalah rambutku yang sudah hampir tidak ada hitamnya lagi. Atas saran isteriku, rambutku aku cat hitam sehingga lengkap sudah penampilanku bagai lelaki yang masih berumur 30-an. Mungkin ini khasiat kami rajin berolah raga. Di samping itu kami selalu menyertakan sayuran atau buah sebanyak mungkin dalam menu makan kami, di samping sumber-sumber protein utama.</p>
<p style="text-align: justify;">Kehidupan seksualku juga masih normal, walaupun isteriku yang tiga tahun lebih muda dariku sudah menopause, tapi seminggu tiga-empat kali kami melakukan hubungan sex. Memang harus memakai lubricant gel agar isteriku tidak kesakitan ketika ML karena lendir vaginanya sudah tidak produktif lagi. Tapi semua terasa indah dan bisa kami menikmati. Akupun tak pernah selingkuh. Bagiku isteriku adalah segala-galanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Secara ekonomi hidupku sukses besar. Beberapa perusahaan sudah aku miliki dan semuanya telah berkembang dengan baik. Dalam kehidupan berkeluarga pun aku cukup bahagia. Aku punya isteri masih cantik dan seksi dan dua orang anak laki-laki yang gagah, ganteng, dan cerdas yang kuberi nama Arga Putra Pratama dan Bagas Putra Sentosa. Mereka sudah dewasa dan sedang menyelesaikan program S3 di Royal Melbourne Institute of Technology (RMIT). Di samping anak-anak kandungku, aku juga membiayai dan menghidupi sejumlah anak asuh. Mereka kebanyakan berasal dari anak-anak jalanan, anak yatim, dan anak yatim piatu, di samping ada pula yang berasal dari keluarga lengkap tetapi kurang mampu.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku menerapkan syarat yang ketat bagi anak-anak asuhku. Syarat pertama adalah mereka wajib mengikuti pertemuan anak asuh di rumahku sebulan sekali. Syarat kedua, mereka tidak boleh menjadi anak jalanan, terutama bagi mereka yang berasal dari anak jalanan. Bagi yang tidak punya rumah, termasuk anak jalanan dan yatim piatu, mereka wajib tinggal di rumah asuh yang aku bangun untuk menampung mereka. Setelah mereka lulus sekolah atau perguruan tinggi, jika mau, mereka aku beri pekerjaan di salah satu perusahaanku. Akupun mempersilahkan mereka jika mereka mau mencari pekerjaan sendiri atau membuka usaha sendiri.</p>
<p style="text-align: justify;">Isteriku sendiri yang secara langsung menangani rumah asuh itu. Metode yang diterapkan dalam pengelolaan rumah asuh berdasarkan kebutuhan anak, bukan berdasarkan keinginan kami, selaku penyedia dana dan pengelola rumah asuh. Tak heran anak asuh yang ada di rumah asuh sangat akrab dengan isteriku.</p>
<p style="text-align: justify;">Pertemuan dengan anak-anak asuhku, selain bermanfaat untuk memantau aktivitas mereka, juga bermanfaat untuk mengobati kerinduanku dengan anak-anak kandungku yang tidak lagi pulang di awal bulan seperti waktu SMA dulu, tapi mereka pulang sesuka hati mereka. Memang di era informasi sekarang, komunikasi bisa dilakukan lewat email, chatting dan telepon tetapi terasa tidak puas jika hanya bertemu anak-anakku lewat layar monitor.<br />
<span id="more-1813"></span><br />
Hasil pertemuan itu, aku juga bisa akrab dengan mereka. Hubungan kami lebih sebagai keluarga atau orang tua dengan anak-anaknya daripada pemberi dan penerima dana. Aku dan isteriku biasa bercanda dengan mereka dan mereka tidak lagi sungkan untuk sekedar ngobrol dengan kami. Tak jarang mereka datang di luar jadwal pertemuan untuk sekedar bertemu atau bersalaman dan mencium tangan kami sambil berkata, “Apa kabar Ayah dan Ibunda?” atau “Ayah dan Ibunda sehat kan?” Kalimat-kalimat yang mereka ucapkan cukup sederhana, tetapi dalam artinya bagi kami. Bukan karena merasa dihormati, tetapi kami merasa seolah menemukan kembali anak-anak kami yang seolah hilang dalam kedewasaan mereka.</p>
<p style="text-align: justify;">Suatu hari isteriku diajak teman-temannya jalan-jalan ke Australia. Tentu saja isteriku antusias menanggapi ajakan mereka, karena sekalian menengok Arga dan Bagas anak-anak kami. Dan benar saja (walaupun kalau minta ijin pasti aku berikan) tanpa minta persetujuanku mereka berangkat ke Australia. Setengah delapan pagi mereka pamit. Aku tertawa mengiring kepergian mereka di pintu rumahku.</p>
<p style="text-align: justify;">“Dasar nenek-nenek centil…” gumamku saat dengan manja isteriku pamitan. Dia hanya tersenyum mendengarnya. Sambil tetap tersenyum dia melambaikan tangannya dari balik jendela mobil yang akan membawa ke Bandara Ahmad Yani.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah mereka berangkat kesepian menyergapku. Kulampiaskan rasa sepi dengan berlatih fitness di gym pribadiku yang ada di lantai dua. Setelah warming up dengan cukup, aku memacu treadmill dengan kecepatan agak tinggi sambil mendengarkan musik lewat ipod. Setengah jam aku berpacu di atas treadmill. Keringat yang mengucur deras akibat pacuan treadmill membuat aku gerah. Rupanya aku masih memakai kemeja yang aku pakai waktu mengiring kepergian isteriku. Tanpa berhenti berlari di atas treadmill aku lepas bajuku dan kulempar ke sudut ruang gym lalu kulanjutkan memacu treadmill dengan penuh semangat.</p>
<p style="text-align: justify;">Tiba-tiba dari pantulan cermin di depanku nampak pintu gym pribadiku terbuka dan muncullah seorang gadis dengan seragam putih abu-abu yang sangat kukenal. Dia adalah Laras, anak asuhku yang paling aku banggakan. Selain cantik dia juga cerdas dan cekatan. Rencananya setelah lulus SMA nanti, Laras akan kubiayai untuk kuliah di RMIT agar bisa aku tempatkan di salah satu perusahaanku sebagai manajer setelah lulus kelak. Terlalu sayang kalau anak cerdas dan cekatan seperti Laras tidak mendapatkan pendidikan yang terbaik. Namun aku tak pernah memberi tahu rencana ini kepada siapapun kecuali isteri dan anak-anakku.</p>
<p style="text-align: justify;">“Ayah…” sapanya manja sambil mendekat. “Bunda pergi ya..?”<br />
“Yups” sahutku sambil terus memacu treadmill. “Darimana kamu tahu?”<br />
“Mbak Ayu yang kasi tahu, Yah” kata Laras sambil duduk di shoulder press machine. Ayu adalah pembantuku.<br />
“Baru jam sembilan lebih sedikit kok sudah pulang? Bolos ya..?” kataku sambil senyum<br />
“Tidak ada kata membolos dalam kamus anak Ayah” kata Laras sambil tertawa. “Laras habis uji coba ujian nasional, Ayah. Hari ini hari terakhir uji cobanya, jadi setelah uji coba selesai, Laras langsung kemari.” Kata Laras menjelaskan. “Sayang Laras tidak ketemu Ibunda…” katanya dengan wajahnya berubah jadi sedih.<br />
“Ada perlu sama Ibunda?” tanyaku ketika melihat wajahnya yang sedih<br />
“Kangen sama Ayah dan Ibunda. Dua minggu Laras tidak kemari rasanya lama sekali”</p>
<p style="text-align: justify;">Bangga dan bahagia merembes dalam hatiku ketika mendengar Laras merasa kangen pada kami. Aku tatap mata Laras sambil tersenyum. Laras memang yatim piatu. Orang tuanya bercerai waktu dia masih bayi, dan ibunya meninggal ketika dia baru berumur dua tahun. Saat itulah aku lewat dan melihat orang bergerombol di trotoar sebuah taman kota. Ada dua mobil polisi dan sebuah ambulan. Aku suruh sopir untuk berhenti dan melihat apa yang terjadi. Ternyata ada seorang tunawisma tewas dengan anak masih berumur dua tahun. Segera aku turun dari mobil dan menghampiri perwira polisi yang sedang memberi komando kepada anak buahnya. Ternyata dia mengenal aku sebagai bapak asuh dari anak-anak jalanan. Ketika aku bilang agar anak kecil itu di antar ke rumah asuh-ku , mereka langsung setuju. Sejak saat itu anak tadi aku beri nama Larasati karena tidak ada catatan tentang nama dia yang sebenarnya. Kini, empat belas tahun kemudian, anak itu sudah tumbuh menjadi gadis remaja yang cantik dan ada di depanku. Seandainya aku punya anak perempuan…</p>
<p style="text-align: justify;">“Ayah melamun?” Tanya Laras mengejutkanku<br />
“Ah tidak” kataku sambil senyum “Kamu sudah besar sekarang”<br />
“Kelihatannya Ayah sedih..?” katanya sambil mendekat.<br />
“Enggak… Ayah enggak apa-apa” kataku meyakinkan Laras. “Oh ya! Suruh Ayu menyiapkan makan siang sementara Ayah mandi. Banyak keringat.. lengket nih..” kataku sambil turun dari treadmill.</p>
<p style="text-align: justify;">Laras menghampiri aku dengan membuka tangannya lebar-lebar ingin memeluk.<br />
“Hei… Ayah masih berkeringat… bau lagi!” kataku sambil berusaha menahan pelukan Laras. “Nanti saja peluknya setelah ayah mandi hehehe…”<br />
“Ahhh.. Ayah…” kata Laras sambil merengek. “masa obat kangennya nunggu ayah mandi sih..”</p>
<p style="text-align: justify;">Akhirnya kudekap Laras dengan penuh kasih sayang. Kasih sayang seorang lelaki tua yang merindukan anak perempuannya. Kuangkat wajah Laras dan kucium ubun-ubun dan keningnya. Pelukan Laras makin erat. Kubelai rambut Laras yang dipotong pendek.</p>
<p style="text-align: justify;">“Ih… dada Ayah asin…” kata Laras tiba-tiba sambil tertawa<br />
“Kamu sih… ngotot minta peluk, Ayah sudah bilang, masih berkeringat…” jawabku sambil menjatuhkan kepalan tangan kananku pelan ke atas ubun-ubunnya. “Udah Ayah mandi dulu, setelah mandi kita makan di luar aja…”<br />
“Ayah bau.. asin dan asem jadi satu” kata Laras sambil tertawa ketika berlari menuruni tangga.<br />
“Hahaha… Salah sendiri minta dipeluk” sahutku setengah berteriak. Aku segera mengambil baju yang tadi aku lempar dan turun menuju kamar mandi yang ada di dalam kamarku di lantai satu. Semburan shower benar-benar menyegarkan tubuhku. Selesai mandi aku keluar dengan handuk melilit tubuhku. Ternyata Laras ada di dalam kamarku.<br />
“Hey… ayo keluar dulu. Ayah mau ganti pakaian” kataku.</p>
<p style="text-align: justify;">Laras berdiri sambil tersenyum. Tangannya mengembang dan setengah berlari menubruk aku.</p>
<p style="text-align: justify;">“Aku masih kangen.. aku pengen dipeluk Ayah lagi..” kata Laras sambil memeluk ku. Sekali lagi kubelai rambut Laras yang sedang mengelus-elus dadaku kiriku sambil menyandarkan kepalanya di bahu kananku.<br />
“Berapa sih umur ayah?” katanya sambil menatap dada dan six packs di perutku.<br />
“Emang kenapa dengan umur Ayah?”<br />
“Pengen tahu aja.. Kok badannya masih bagus dan kecang. Juga nggak ada di kerutan wajah Ayah…” suara Laras seperti kagum.<br />
“Tumben nanya-nanya umur… Coba kamu tebak aja”<br />
“Empat puluh sekian”<br />
“Ah.. anak Ayah kok jadi o’on sekarang..” kataku sambil tertawa. “Masa orang berumur empat puluhan sudah punya anak berumur 32 tahun. Emangnya ayah nikah umur berapa?”<br />
“Masa Ayah umurnya lebih dari 50 tahun sih…” jawab Laras. “tuh.. badannya aja masih kenceng dan berotot gini..” kata laras sambil berusaha mencubit dadaku, tapi gagal karena ototnya terlalu penuh dan padat kencang untuk dicubit.<br />
“Nyubitnya aja susah…” katanya lagi.<br />
“Ayah sudah 58 tahun, Laras… Ini semua karena Ayah rajin berolah raga dan selalu makan sayuran dan buah” jawabku.</p>
<p style="text-align: justify;">Kurasakan tangan Laras mengelus-elus punggungku. Sementara tangan satunya mempererat pelukannya. Wajahnya menempel ketat di dadaku. Mulutnya tersenyum damai sambil matanya terpejam. Laras mengelus punggungku dengan ujung kukunya dengan lembut. Ujung kukunya terasa meraba, bukan mengelus dari pangkal leher turun sepanjang tulang belakangku dan berhenti di bagian bawah pinggangku karena terhalang handuk, tapi gerakan ujung kuku Laras tidak berhenti tetapi bermain-main melingkar pinggangku. Gerakan kuku Laras membuat kelaki-lakianku bangkit. Aku angkat wajah Laras. Aku cium lagi ubun-ubun dan keningnya. Laras masih terpejam, tapi bibirnya tidak lagi tersenyum melainkan setengah terbuka.</p>
<p style="text-align: justify;">“Ayaahhh…” Laras melenguh. Tiba-tiba dia menjilat dadaku dan menggigit putingku sambil memainkan lidahnya.<br />
Sesaat aku sadar. Laras adalah anak asuhku dan sudah aku anggap anak sendiri.</p>
<p style="text-align: justify;">“Sudah Laras… Ayah mau pakai pakaian dulu, terus kita makan di resto..” kataku sambil berusaha melepaskan diri dari pelukan Laras. Bagaimanapun juga aku harus menghentikan rangsangan yang sudah hampir menghancurkan akal sehatku. Bukannya melepaskan, Laras malah makin mempererat pelukannya. Bibirnya dan lidahnya terus bermain di dadaku. Tak lagi aku mampu mencegah, penisku langsung ereksi.<br />
“Apakah aku nggak boleh merasakan kasih sayang Ayah?” sahut Laras sambil terus mengigit-gigit dadaku. Lidahnya menjilat-jilat. Aku sudah tak lagi mampu membendung nafsuku. Kuangkat wajah Laras, Kucium keningnya, lalu mata kiri dan kanannya.<br />
“Ahhh.. Ayah… Laras sayang Ayah… Ahhh” Laras mendesah dengan dengusan nafas yang tersengal.</p>
<p style="text-align: justify;">Matanya terbuka sedikit, tapi hanya putih bola matanya yang nampak. Bibirnya yang merekah basah mengkilat mengundangku untuk mengulum dan menghisapnya. Tanpa sadar aku mengecup bibir Laras dan melumatnya dengan lebut. Laras membalas dengan menghisap bibirku. Lidahnya menjulur masuk ke dalam mulutku. Menyapu seluruh relung rongga mulutku dan menggosok-gosok gusiku. Aku hisap lidah Laras sambil aku kaitkan lidahku pada lidahnya. Agak lama kami bermain-main dengan lidah. Kami saling hisap, saling gosok rongga mulut, dan saling mengaitkan lidah. Tanganku meremas pelan payudara Laras dari luar baju seragam. Bra yang dikenakan cukup tipis membuat aku bisa merasakan kenyal dan lembutnya payudara Laras.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku benar-benar dikuasai nafsu sekarang. Kulepas bibirku dari bibirnya, lalu aku susuri lehernya yang jenjang dengan bibir dan lidahku. Kugunakan kedua bibirku untuk menggigit leher Laras. Kemudian kucium dan kuhisap telinga Laras. Aku korek telinganya dengan lidahku sambil sekali-sekali menjilat dan menghisap bagian belakang telinganya. Akibat tindakanku itu Laras menggelinjang. Nafasnya terengah-engah. Mulutnya berkali-kali mengerang melampiaskan nafsunya yang makin meledak.</p>
<p style="text-align: justify;">“Ayaaahhh… sayangi Laras… Yaaahhh…” Laras mendesah.<br />
“Ayyaahh ssaayyang Larasss… sshhh” jawabku sambil terus mencium dan menghisap lehenr dan telinganya.</p>
<p style="text-align: justify;">Tangannya mengapai penisku dari luar handuk lalu meremasnya. Laras kemudian menyibakkan handuk yang aku pakai dan merogoh penisku yang sudah sangat tegang. Handuk yang melilit di pinggangku dilepaskannya. Sejenak dia diam sambil menatap penisku.</p>
<p style="text-align: justify;">“Kenapa sayang..” tanyaku saat Laras berdiam diri.<br />
“Enggak apa-apa… Cuma heran… kok penis Ayah segede ini ternyata…” jawab Laras sambil meraih penisku dan meremas-remas.</p>
<p style="text-align: justify;">Cairan kenal bening sedikit mengalir keluar dari penisku. Laras menggunakan cairan itu untuk mengusap kepala penisku dengan jempolnya yang mungil dan halus. Jempol itu diputar-putar di kepala penisku yang licin karena cairan yang keluar dari ujung penisku. Nikmat sekali rasanya.</p>
<p style="text-align: justify;">“Laraasss.. hhh…” aku mendesah karena nikmat.</p>
<p style="text-align: justify;">Segera aku buka kancing baju seragamnya. Tampak bra ukuran 34-B warna kulit membungkus payudara Laras yang bulat dan kencang. Bra itu terlalu tipis sehingga mencetak bentu payudara Laras dan putingnya. Aku kecup dan jilat pangkal payudaranya, kemudian aku gigit dengan bibirku sambil menghisapnya. Dengan tak sabar segera aku buka baju seragam Laras, lalu aku raih kait bra yang ada di punggung Laras untuk melepasnya. Laras telanjang dada sekarang. Payudaranya bulat indah dengan puting yang mengeras berwarna cokelat muda kemerahan. Kurendahkan tubuhku agar dapat kukecup puting Laras. Laras memeluku sambil mendesis-desis.</p>
<p style="text-align: justify;">Dengan penuh kelembutan aku nikmati sepenuhnya payudara Laras. Dengan cara menghisap, menjilat, dan mengulumnya. Lidahku menelusuri tiap sentimeter payudaranya yang kenyal. Puting yang mengeras aku hisap dan aku pilin dengan lidahku. Erangan demi erangan keluar dari mulut Laras. Erangan yang menggairahkan naluri birahiku.</p>
<p style="text-align: justify;">“Ahhh.. sshhh… Ayaaahh… nikmaatt…terussss…. Aaahhh…” Laras mendesis-desis.</p>
<p style="text-align: justify;">Tangan kanannya menekan kepalaku sementara tangan kirinya meremas dadaku dan memilin putingku. Berganti-ganti payudara kanan dan kirinya aku jilat, aku sedot dan aku gigit pelan-pelan. Setelah puas menghisap payudara Laras, aku arahkan lidahku ke perut Laras. Lidahku menari dengan penuh perasaan di permukaan perut Laras. Agar tak menghalangi aksiku, segera kuraih kancing rok seragam Laras dan membukanya. Aku tarik resletingnya ke bawah. Rok yang dipakai Laras pun melorot dan lepas. Kini Laras hanya memakai celana dalam berwarna kulit senada dengan branya. Lidahku berpindah menari di pusarnya. Perlahan lidahku bergerak ke bawah. Di antara pusar dan karet celana dalamnya aku jilat dan aku sedot dengan bibirku.</p>
<p style="text-align: justify;">Kemudian sambil jongkok, kulihat celana dalam Laras basah di bagian vaginanya. Segera aku gigit perlahan-lahan vagina Laras dari luar celana dalamnya sambil kuletakkan kedua tanganku di pantatnya untuk meremas-remas pantat yang masih kencang dan padat.</p>
<p style="text-align: justify;">“Aahhh Ayaahh…” desah Laras sambil menekan kepalaku ke vaginanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Pinggulnya bergerak maju mundur perlahan. Sambil meremas pantatnya, aku selipkan jariku ke dalam celana dalamnya. Aku usapkan jari-jariku di belahan pantat Laras. Laras menggelinjang lagi sehingga vaginanya menabrak mukaku dengan agak keras karena kepalaku juga ditarik ke arah vaginanya. Segera aku pelorotkan celana dalam Laras ke bawah hingga terlepas. Vagina Laras benar-benar menawan. Vaginanya tebal dan penuh dengan selakang putih bersih di kanan kirinyanya. Bulu-bulu halus yang tumbuh di sekitar vagina masih belum sempurna menambah daya tarik vagina yang baru matang. Ada cairan yang merembes keluar. Rupanya Laras benar-benar telah terangsang. Aku usap bibir vagina luarnya dengan jempol kananku. Cairan vaginanya membuat jempolku dengan licin mengusap vagina Laras. Permainaku aku lanjutkan ke klitoris Laras. Mula-mula aku usap klitoris Laras dengan jempolku, kemudian sambil menekan klitorisnya, jempolku bergerak memutar mengitari klitorisnya. Setelah itu dengan jari dan jempol aku pijit klitoris Laras lalu aku urut dari atas ke bawah.</p>
<p style="text-align: justify;">“Ayahhh.. aku sayang Ayah…” Laras mengerang sambil menggelinjang.<br />
“Iya.. Ayah juga sayang Laras…”</p>
<p style="text-align: justify;">Kupuaskan mataku untuk melihat vagina gadis yang baru mekar ini sambil terus memainkan jempol dan jariku di bibir vagina dan klitorisnya. Dengan jari-jari dan jempol tangan kiriku, kusibak kedua bibir vagina Laras. Tampak bagian dalam vagina laras berwarna merah muda yang terus mengeluarkan cairan sedikit demi sedikit. Jempol kananku kupercepat mengusap mengitari klitoris Laras. Tiba-tiba Laras menjambak rambutku dan menariknya mendekatkan wajahku ke vaginanya. Segera aku hisap vagina Laras. Lidahku perlahan menjilat-jilat vagina dan klitoris Laras seperti kucing mandi.</p>
<p style="text-align: justify;">“Ayah.. uh… nikmat….”</p>
<p style="text-align: justify;">Kujawab lenguhan Laras dengan memainkan lidahku di lubang vaginanya. Lalu dengan cepat aku sedot klitoris Laras sambil memasukkan lidahku ke dalam lubang vaginanya. Kugunakan lidahku untuk menusuk dan mengorek lubang vaginanya. Laras menggerakkan pinggulnya mengikuti gerakan lidah dan mulutku yang melumat vaginanya. Kusedot vaginanya sambil memutar lidahku di klitoris Laras. Jambakan pada rambutku makin kencang. Kepalaku dihentak-hentakkan ke arah vaginanya. Tak kubiarkan gadis yang masih segar ini untuk berlama-lama tersiksa menanti orgasme. Kutusukkan lidahku ke dalam vaginanya sambil kugetarkan dengan cepat. Lalu dan tubuh Laras menggelinjang hebat, dia berdiri sambil meliuk-liuk seolah pohon cemara yang tertiup puting beliung. Kemudian Tubuhnya mengejang kemudian dia melolong keras dan panjang.</p>
<p style="text-align: justify;">“Ayyyaaahh…. Ah…uh…. Aku mau pipis…” teriak Laras sebagai cara menikmati orgasmenya.<br />
“Keluarkan saja sayang… supaya Laras merasakan kenikmatannya” kataku memberi instruksi di sela jikatanku di klitorinya yang makin cepat.<br />
“Tapi Ayah…. Auw..aahhh…” Laras kembali teriak dan mengerang. “nikmat banget… Laras puas… puas Yah…”</p>
<p style="text-align: justify;">Dan… serrr…serrr cairan orgasme Laras mengalir dengan deras. Tubuhnya membungkuk ke depan kemudian mendongak seperti akan terjatuh ke belakang. Tubuh Laras makin mengejang. Kembali cairan orgasme Laras mengucur. Tangan kananku berusaha menopang tubuh Laras yang bergerak liar sambil kejang-kejang. Sedotanku di vaginanya makin intens, menyedot habis cairan orgasmenya sambil menjilat-jilatinya.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah beberapa saat, perlahan aku berdiri. Tanganku tetap menopang tubuh Laras yang kini terkulai lemas dan lututnya menggigil akibat orgasme yang dia alami. Laras memeluku sambil bergayut dengan terpejam dan menggigit bibirnya bawahnya sendiri. Segera aku menenangkan Laras dengan mencium kedua matanya, pipinya, hidungnya dan kemudian aku hisap bibirnya.</p>
<p style="text-align: justify;">“Ayah….” Laras memanggil sambil matanya tetap terpejam.<br />
“Ya sayang…?”<br />
“Ayah sayang Laras..?”<br />
“Tentu, Ayah sayang Laras” jawabku sambil terus menciumi wajahnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Laras mempererat dekapannya untuk menjaga keseimbangan agar tak jatuh. Agar lebih mudah menopangnya, tubuh Laras aku balik sehingga dia membungkuk membelakangi aku. Sambil tetap bertahan untuk berdiri, aku peluk tubuhnya dari belakang. Aku kecup tengkuknya. Aku cium sekujur punggungnya sementara tangan kananku menopang tubuh Laras sedangkan tangan kiriku bermain-main kecil di vaginanya. Penisku yang masih berdiri dengan gagah aku gesek-gesekkan di belahan pantatnya. Tapi rupanya Laras sudah tak mampu berdiri lagi. Segera aku menggendong Laras sambil mencium bibirnya yang menyunggingkan senyuman. Matanya sayu menatapku mesra. Aku baringkan Laras pelan-pelan di tempat tidur tanpa melepaskan hisapan bibirku di bibirnya. Kemudian aku berbaring miring di samping Laras dengan posisi menghadap ke arahnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Sambil menatap gadis muda yang sedang mekar itu. Aku belai wajahnya. Nafasnya sudah tidak tersengal lagi dan mulai teratur. Sementara itu ketegangan penis mulai turun. Aku peluk Laras. Wajahnya aku benamkan di dadaku. Komunikasi tanpa kata-kata ini membuat Laras tersenyum. Tangannya menggapai meraih wajahku lalu menariknya ke arah wajahnya kemudian Laras melumat bibirku. Aku mencoba pasif dengan membalas sekedarnya. Laras menjilat dan menghisap seluruh permukaan wajahku. Lidahnya lincah menari-nari membuat aku tak tahan bersikap pasif. Aku pagut bibir Laras dan menghisapnya kuat-kuat. Laras bangkit menindihku. Kubiarkan aksinya yang liar menjilat sekujur tubuhku. Tangannya meremas penisku dan mengocoknya. Kemudian ujung penisku dijilat dan dikulum sambil disedot. Mula-mula dengan halus dan pelan. Aku benar-benar melayang dibuatnya. Rasa nikmat menjalar dari ujung penis sampai ke sekujur sumsum tulangku.</p>
<p style="text-align: justify;">Penisku perlahan-lahan kembali tegang. Tak tahan dengan perlakuan Laras atas penisku, aku bangkit dan kubalik tubuh Laras sehingga dia ada di bawah kembali. Laras meronta dan protes.</p>
<p style="text-align: justify;">“Ayah kok gitu sih… Biarkan Laras di atas dong… Laras ingin Ayah menikmati aja permainan Laras” katanya sambil berontak.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku ingin sedikit menggoda Laras, oleh karena itu aku tak memberi kesempatan kepada dia untuk berada di atas. Segera aku kulum puting Laras dan mengisapnya sambil memutar-mutar lidahku. Kembali Laras menggelinjang dan tak mampu berontak dan protes lagi.</p>
<p style="text-align: justify;">“Ayah nakal&#8230;” kata Laras sambil melingkarkan tangannya di leherku.</p>
<p style="text-align: justify;">Kepalaku ditekan ke bawah sampai-sampai kepalaku terbenam dalam lembah di antara payudara Laras. Kemudian tangannya mengapai penisku yang sudah sangat tegang. Kubiarkan Laras meremas dan mengocok penisku sambil mengisap payudaranya. Aku ingin menikmati aksi tangannya terhadap penisku. Sekali lagi cairan yang keluar dari ujung penis digunakan Laras untuk mengelus kepala penisku dengan jempolnya. Sambil mengelus kepala penisku Laras mengocok batang penisku.</p>
<p style="text-align: justify;">Mula-mula Laras menggocok maju mundur dengan lembut, lama kelamaan kocokannya diputar ke kiri dan ke kanan dengan cepat seperti orang mengulek sambel. Akan tetapi karena posisi Laras di bawah, dia tidak leluasa dan aku merasa kurang nikmat. Laras minta sekali lagi agar aku yang berada di bawah. Aku jawab permintaan Laras dengan menjepit tubuhnya dengan kakiku dan memeluknya erat-erat. Kemudian aku berguling menjatuhkan diri ke samping kiri sambil mengangkat tubuhnya sehingga dia ada di posisi atas. Rupanya Laras tidak siap ketika aku berguling.</p>
<p style="text-align: justify;">“Auw… Hihihi…” Laras memekik lalu tertawa. “Ayah bener-bener nakal… Masa Laras dibikin kaget sih…”<br />
“Kan Laras tadi yang minta di atas…” sahutku sambil meremas payudaranya dan memelintir putingnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Laras menghentikan jawabanku dengan mengulum mulutku. Lidahnya mencari-cari lidahku. Setelah bertemu lidahku dikait-kait dengan lidahnya. Aku hanya memberi reaksi seperlunya. Aku biarkan Laras bermain-main dengan mulut dan lidahku, Sementara vaginanya digesek-gesekkan ke penisku. Penisku yang sejak tadi tegang dan keras berkali-kali menyodok klitorisnya. Laras bergerak maju mundur sambil mendesis-desis. Karena gesekan vagina dan klitoris Laras, penisku terasa hangat dan basah oleh cairan yang keluar dari vagina Laras.</p>
<p style="text-align: justify;">Ciuman Laras berhenti, bibir dan lidahnya menyusuri wajahku, mencium telingaku dan leherku. Gerakan lidahnya lincah sekali berpindah menyusuri kulit dadaku. Bibirnya mengecup dan menghisap-hisap putingku, sambil terus menggesekkan vagina dan klitorisnya di penisku. Kini Laras duduk sambil terus bergerak maju mundur sambil menekan penisku dengan vagina dan klitorisnya. Gerakan Laras makin cepat. Dia nampak merasakan nikmatnya gesekan vagina dan klitorisnya dengan penisku. Matanya terpejam sementara bibirnya mendesis dan mengerang. Kubantu Laras memenuhi kenikmatan yang diperolehnya dengan meremas-remas payudaranya serta memutar-mutar putingnya.</p>
<p style="text-align: justify;">“Aahh.. Ayah… Nikmat sekali…” kata Laras sambil mempercepat gerakkannya.</p>
<p style="text-align: justify;">Tubuhnya melengkung bungkuk ke depan, lengannya bertumpu pada dadaku. Mukanya menunduk dengan mata terpejam. Bibir bawahnya digigit sendiri. Sesekali Laras mendongak ke belakang, lalu membungkuk lagi. Kugunakan tangan kananku untuk meremas payudara Laras dan memilin putingnya, tangan kiriku meremas-remas pantat Laras. Sesekali aku oleskan jariku ke bagian luar anusnya setelah aku basahi dengan ludahku, dan setiap jariku mengoles anusnya, Laras memekik. Gerakan Laras makin cepat dan liar. Rupanya dia segera akan mendapatkan orgasme lagi.</p>
<p style="text-align: justify;">“Ayah… ah…ah..uh.. Laras mau pipis lagi…”</p>
<p style="text-align: justify;">Kembali tubuh laras mengejang beberapa saat, cairan vaginanya keluar dengan deras kembali. Pantatnya menekan ke bawah menjepit penisku dengan kedua bibir vaginanya. Klitorisnya terasa berdenyut-denyut kenyal. Laras yang lemas tak berdaya menjatuhkan diri di dadaku kemudian memeluku lalu dengan gemas diciumnya leher dan dadaku. Aku diamkan Laras untuk beristirahat. Sambil membelai dan menciumi kening dan matanya. Bagaimanapun juga dua kali orgasme tentu membuatnya lelah. Perlahan-lahan Laras membuka matanya dan tersenyum.</p>
<p style="text-align: justify;">“Ayah… Ayah hebat…” kata Laras dibarengi senyum. “aku bisa keluar dua kali tanpa bersetubuh”</p>
<p style="text-align: justify;">Sepertinya Laras merasakan penisku kini kembali tegang dan terasa mengganjal tertindih tubuhnya, walau tadi sempat menurun kekerasannya tapi belum sampai benar-benar lembek,. Aku peluk Laras sambil mengelus punggungnya. Beberapa saat kemudian Laras mencium lagi leherku sambil disedot dan dijilat. Penisku yang mengganjal vaginanya kembali tergesek-gesek karena Laras mulai menggoyangkan pinggulnya. Gerakannya mula-mula pelan dan tidak teratur, lama kelamaan gerakanya kurasakan memutar ke kiri, kemudian ke kanan. Hal ini membuat penisku terasa nikmat.</p>
<p style="text-align: justify;">“Ah… Laras…” aku mendesah. Aku tidak bisa melanjutkan perkataanku karena Laras segera mencium bibirku dan melumatnya.<br />
“Ayah nggak boleh boleh nakal lagi… Ayah harus nurut sama Laras. Laras nggak boleh dibalik di bawah lagi..” kata Laras sambil terus menggoyangkan pinggulnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku hanya menggangguk sambil mendesah menikmati gerakan dan gesekan vagina Laras di penisku. Laras kembali duduk sambil terus menggesekkan vaginanya di penisku. Kemudia, tanpa dikomando Laras mundur ke belakang kemudian bersimpuh di antara kedua lututku dan meraih penisku, lalu dikocoknya sambil kembali mengelus kepala penisku yang basah karena cairan orgasmenya sendiri dengan jempolnya. Tiba-tiba Laras sudah mengulum penisku. Lidahnya berusaha menari di dalam rongga mulutnya yang penuh dengan penisku. Usaha Laras untuk memuaskanku dengan oral cukup keras. Dia berusaha memasukkan semua penisku ke dalam mulutnya yang tentu saja tak akan bisa. baru separo saja penisku sudah memenuhi rongga mulutnya. Berkali-kali Laras hampir tersedak karena penisku menyodok tenggorokannya dan masuk ke dalam kerongkongannya. Aku merasakan kenikmatan yang luar biasa ketika penisku masuk dalam kerongkongannya. Serasa dijepit dan dikocok benda lunak yang kenyal.</p>
<p style="text-align: justify;">Walaupun aku merasakan kenikmatan yang luar biasa dengan cara Laras meng-oral penisku aku merasa kasihan juga melihat dia berkali-kali hampir tersedak, aku raih lengan Laras dan aku tarik tubuhnya. Laras menggelengkan kepalanya sebagai tanda menolak dan ingin bertahan dengan posisinya.</p>
<p style="text-align: justify;">“Aku juga pengen cium vagina Laras..” kataku, tapi Laras tetap bergeming, asyik dengan penisku.</p>
<p style="text-align: justify;">Lama-kelamaan pertahananku hampir jebol. Kocokan mulut dan kerongkongan Laras membuat penisku berdenyut-denyut. Segera aku duduk dan meraih badan Laras.</p>
<p style="text-align: justify;">“Laras… Ayah udah ga kuat…” Kataku sambil meraih kedua lengan Laras. Penisku yang terlepas dari mulutnya tampak keras dan ujungnya berwarna kemerah-merahan.<br />
“Ayah belum ejakulasi. Aku mau…“ protes Laras tak berlanjut karma aku aku lumat bibirnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Segera aku posisikan Laras di bawah lagi dan dengan lembut aku cium dan aku hisap payudaranya. Kemudian aku tindih Laras sambil terus mengulum dan memainkan putingnya. Laras mendesis, dan aku bergerak menyusuri tubuhnya dengan lidahku. Saat sampai di vaginanya, dengan rakus aku hisap cairan yang merembes keluar. Lidahku kembali memainkan klitorisnya lalu memasuki liang vaginanya secara berganti-ganti. Laras menjerit kecil. Kepalaku dijepit dengan kedua pahanya sambil ditekan dengan kedua tangannya. Laras kembali terangsang hebat. Aku ingin memasukkan penisku ke dalam vaginanya</p>
<p style="text-align: justify;">Aku segera bangkit dan kembali menindih tubuh Laras. Penisku yang sudah sangat tegang berada di bibir vaginanya. Perlahan aku gesekkan kepala penisku di klitorisnya. Laras mendesis sambil memejamkan mata. Dengan perlahan gesekan penisku bergeser ke bawah dan ujungnya masuk ke dalam vagina Laras. Laras menggigit bibirnya sambil meringis. Aku tarik kembali penisku dan pelan-pelan kembali aku masukkan. Walaupun liang vagina Laras sudah sangat basah, ternyata sulit juga penisku melakukan penetrasi. Vagina Laras masih sempit, atau kemungkinan besar masih perawan. Tusukan penisku kuhentikan. Laras membuka matanya dan tersenyum.</p>
<p style="text-align: justify;">“Ayah… Pelan-pelan masukinnya ya…” kata Laras sambil mengelus dan meremas dadaku.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku jawab permintaan Laras dengan mendorong penisku sedikit lagi. Laras menahan nafas sambil berjengit. Sekarang sudah seperempat bagian yang masuk ke dalam vagina Laras. Aku cium dan aku kulum puting Laras. Laras membuka matanya. Kembali aku lihat senyuman Laras.</p>
<p style="text-align: justify;">“Masukin lagi Yah… Tapi pelan-pelan ya…”<br />
“Ya sayang… Ayah akan pelan-pelan masukinnya. Sakit ya..?” tanyaku sambil mendorong kembali penisku. Kini sudah separo yang masuk.<br />
“Enggak sakit…” kata Laras sambil menggelengkan kepalanya. “Laras ingin Ayah masukin semuanya ke dalam… Auw…sshhh” Laras kembali memekik kecil ketika penisku aku tarik keluar perlahan dan aku masukkan lagi.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku tahu Laras kesakitan ketika penisku maju memasuki vaginanya lebih dalam lagi. Air matanya meleleh, tapi hebatnya, dia masih menyunggingkan senyuman. Aku kocok penisku pelan-pelan yang baru masuk setengahnya.</p>
<p style="text-align: justify;">“Ayo&#8230; masukin lagi Yah… biar tuntas…” Laras kembali memintaku untuk memasukkan penisku lebih dalam.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku kasihan melihat dia meringis kesakitan ketika penisku keluar masuk, walaupun baru setengah bagian. Aku luruskan tangan kananku agar bisa menopang tubuhku dengan posisi setengah tegak. Dengan demikian satu tanganku bisa leluasa mengelus vaginanya. Aku pijit-pijit dengan lembut klitoris Laras, kemudian jempolku aku putar-putar di klitorisnya. Laras melingkarkan kedua kakinya dipinggangku, dan tanpa aku duga, dia angkat pinggulnya dengan keras dan cepat sambil menekan pantatku dengan kedua telapak kakinya sehingga penisku masuk semuanya.</p>
<p style="text-align: justify;">“Aaww…” Laras menjerit kesakitan sendiri akibat tindakannya itu. Wajahnya memerah menahan sakit.<br />
“”Laras… Sakit ya…?” kataku sambil mencium bibirnya untuk menenangkan. “Ayah akan pelan-pelan supaya sakitnya hilang dan berganti dengan nikmat.”</p>
<p style="text-align: justify;">Laras berusaha tersenyum walapun masih terlihat ekspresi kesakitannya. Aku diam sejenak agar vagina Laras menyesuaikan diri dengan penisku. Kemudian perlahan aku angkat penisku sampai keluar tiga per empatnya, lalu aku dorong masuk lagi. Laras masih menahan nyeri, terlihat dia menggigit bibir sambil meringis. Air matanya merembes keluar lagi. Aku tarik lagi penisku, lalu aku masukkan lagi berulang-ulang dengan pelan. Laras membuka matanya menatapku. Kuberi Laras senyuman yang dia balas dengan rangkulan mesra dan mencium bibirku. Gerakan penisku makin mantap keluar masuk vaginanya walaupun dengan kecepatan tidak sampai maksimal. Laras mulai menggoyangkan pinggulnya dan mendesah.</p>
<p style="text-align: justify;">“Ayah… terus…”<br />
“Nggak sakit kan sayang…” bisikku di telinga Laras sambil menjilatinya.</p>
<p style="text-align: justify;">Laras tersenyum menatapku, kemudian diraihnya kepalaku lalu bibirku dilumat dan disedot. Lidahnya menari di dalam rongga mulutku. setelah yakin Laras tidak kesakitan lagi, aku percepat gerakan penisku sedangkan Laras juga makin mantap memutar pinggulnya. Kakinya tetap melingkar di pinggangku, sementara telapak kakinya yang ada di atas pantatku menghentak-hentakkan pinggulku hingga makin dalam tusukkan penisku di vaginanya. Laras terlihat sangat menikmati persetubuhan ini. Berkali-kali dia mendesah dan mengerang karena nikmat. Matanya kadang menatapku sambil tersenyum lalu terpejam menikmati tusukkan penisku di vaginanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku juga sangat menikmati goyangan pantat Laras. Vaginanya terasa sempit dan licin, sehingga menambah rasa nikmat yang muncul di batang penisku. Vagina Laras seperti mempunyai jari yang meremas penisku. Remasan vagina Laras makin nikmat ketika dia memutar pinggulnya. Penisku serasa disedot dan dipijit vagina Laras. Kaki Laras makin erat menjepit pinggangku dari sisi kanan dan kiri, sementara telapak kakinya makin kencang menghentakkan pantatku.</p>
<p style="text-align: justify;">Kemudian aku mengambil posisi agak tegak dengan meluruskan tanganku yang bertumpu di springbed. Kembali aku pompa vagina Laras sambil bertumpu dengan jari kakiku seperti orang push up. Akibatnya, tusukkan penisku makin mantap dan makin dalam. Laras berkali-kali menjerit dan mengerang karena keluar masuknya penisku. Tangan Laras berusaha menggapai kepalaku. setelah didapatkan, kepalaku ditarik. Aku menjatuhkan diri perlahan sambil bibirku mengulum putingnya, lalu Laras memelukku dengan erat sambil meraih kepalaku kemudian menciumi wajahku. Bibirnya dengan ganas dan liar melumat dan menyedot bibirku, sementara goyangan pinggul Laras dan hentakan penisku di vaginanya makin cepat, bibir Laras dengan cepat mengulum telingaku hingga aku menggelinjang nikmat. Lidahnya menyusup di dalam daun telingaku dan mengkorek-korek lubang telingaku. Kurasakan vagina Laras sudah sangat basah dan semakin licin sehingga penisku makin mudah keluar masuk di dalamnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Kurasakan kaitan kaki Laras makin erat, hentakan telapak kakinya dipantatku makin keras, tetapi tidak langsung dilepas seperti tadi, melainkan waktu penisku menghujam di vaginanya, Laras menekan pinggulku akan lama dan tentu saja penis agak lama juga berdiam diri di dalam vagina Laras. Yang kurasakan saat penisku berdiam di dalam vagina Laras beberpa detik, terasa vaginanya makin hangat dan makin basah, hingga sampai suatu saat Laras memekik sambil mengangkat pantatnya tinggi-tinggi. Penisku amblas seluruhnya di dalam vagina Laras. Apalagi ditambah tekanan telapak kaki Laras di pinggulku juga makin kencang. Pelukan Laras makin erat. Tiba-tiba kuku tangan kanannya yang tajam mencengkeram pundak kiriku sementara tangan kirinya mengkait erat leherku.</p>
<p style="text-align: justify;">“Ayah… Sshh… Nikmat sekali Ayah… Laras pipis lagi…” teriak Laras di sela-sela orgasme yang ketiga.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku percepat kocokan penisku untuk menyempurnakan orgasme Laras. Mulutku mencari-cari putingnya lalu menghisapnya dengan kuat. Laras melenguh panjang lalu diam lemas tak bergerak.</p>
<p style="text-align: justify;">“Kita istirahat dulu ya, Sayang… Laras capek kan..?” kataku sambil menciumi wajahnya lalu berhenti dengan membiarkan penisku tetap di dalam vagina Laras.<br />
“Nggak mau…” Laras merengek manja.</p>
<p style="text-align: justify;">Di tengah kelelahannya, tangan Laras kembali memelukku dengan kencang. Bibir dan lidahnya menyusuri muka dan leherku, sedangkankan kedua kakinya kembali melingkar pinggangku dengan erat. Rupanya Laras tak ingin aku berhenti mempompakan penisku di vaginanya. Kembali aku ayunkan pantatku untuk memompa vagina Laras.</p>
<p style="text-align: justify;">“Ayah belum apa-apa, kan?” katanya lagi.</p>
<p style="text-align: justify;">Penisku yang belum tercabut dari vaginanya digoyang dan dikocok vagina Laras. Gerakan pinggul Laras tak seganas tadi, lebih lebih lembut dan pelan tapi terasa sangat nikmat. Dengan semangat dan bergairah aku pompakan penisku ke dalam vaginanya, dan kembali Laras mengerang sambil meremas rambutku. Berkali-kali bibirnya mencari bibirku kemudian melumat dan menyedot. Lidahnya mengait lidahku. Kami saling hisap dan saling menggoyangkan pinggul.<br />
Kembali aku mengambil posisi agak tegak dengan meluruskan kedua lenganku. Lalu aku raih kaki Laras satu per satu dan aku angkat ke depan dadaku lalu kurapatkan kedua kakinya kemudian aku tekuk lututnya. Dengan posisi ini, vagina Laras menyempit dan terasa lebih menjepit penisku. demikian pula gesekan penisku di vagina Laras lebih terasa. Laras berkali-kali mengerang dan menjerit.</p>
<p style="text-align: justify;">“Ayah… Laras nikmat sekali… Sshh… Aahhh…” kata Laras di sela desahannya. “Ayah nikmat nggak…?”<br />
“Iyaahh… nikmat sekali sayang…” sahutku.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku memompa vagina Laras dengan cara cepat dan pelan berganti-ganti. Kadang aku mengujamkan dengan keras penisku, kadang aku tarik dengan cepat tapi tidak sampai lepas kemudian aku hujamkan lagi dengan cepat dan keras. Erangan, teriakan dan desahan Laras makin sering dan makin keras terdengar. Hal ini membuat aku makin bergairan menusuk-nusukkan penisku. Apalagi kemudian badan Laras meliuk-liuk ke kakan dank e kiri seperti ular yang mengejar mangsanya. Aku percepat gerakan pinggulku memompa Laras lalu aku pelankan lagi.</p>
<p style="text-align: justify;">“Ssshhh… Ayah nakal…ahhh…”<br />
“Laras suka…?”<br />
“Suka… Nikmat sekali Yah…” sahut Laras. “Aahhh… Ayah juga suka..? Aahhh… Ayah juga nikmat?” tanya Laras kemudian<br />
“iyaaahhh… Ayah suka… ssshhh… Nikmat sekali sayang…”</p>
<p style="text-align: justify;">Aku mencari klitorisnya dengan jari tangan kananku sementara tangan kiriku menahan kedua kakinya agar tetap tertekuk dan rapat di depan dadaku. Kemudian, aku elus klitoris Laras sambil terus mengocok penisku. Reaksi Laras sungguh luar biasa ketika jari dan jempolku mengelus dan memijit klitoris Laras yang tegang dan licin terkena cairan yang terus-menerus merembes keluar dari vaginanya. Erangannya makin keras. Pinggulnya bergoyang makin hebat. Tiba-tiba dengan kuat kedua tangannya mencengkeram tanganku yang mengesek-gesek klitorisnya sampai kuku-kuku tangannya menghujam ke dalam kulit lenganku. Rasa sakit dan perih akibat luka terkena tusukan kuku Laras lak kuhiraukan. Jari dan jempolku teruis mengelus dan meijit klitoris Laras dengan cepat.</p>
<p style="text-align: justify;">Tubuh Laras meliuk-liuk tak karuan, kadang ke kanan dan ke kiri, lalu melengkung ke belakang, lalu membungkuk ke depan, lalu ke belakang lagi, ke depan lagi dan seterusnya. Akhirnya terdengar jeritan Laras yang sangat keras disertai gerakan tubuhnya yang mengejang dengan kuat sambil melengkung ke belakang. Kepalanya mendongkak, pinggulnya bergetar hebat sampai aku dapat merasakan penisku seperti dipijat dan digetarkan, lalu vagina Laras terasa sangat basah dan hangat. Selanjutnya aku melepas kedua kaki Laras yang tertekuk dan rapat di depan dadaku. Kaki Laras kembali membelit pinggangku. Selanjutnya aku peluk Laras sambil menggeser tubuhku sehingga pangkal penisku berada di bagian atas vaginanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Ini aku maksudkan agar pangkal penisku berada di bagian atas vaginanya sehingga klitoris Laras makin merasakan tekanan penisku. Genjotanku makin aku perkuat dan percepat. Jeritan Laras makin menjadi, gerakannya makin liar, sementara vaginanya makin kuat mencengkeram dan menggetarkan penisku. Vaginanya seolah memijat dan menghisap penisku. Penisku serasa diremas kemudian dipilin dengan benda yang sangat kenyal, licin dan hangat. Akibatnya penisku pun berdenyut-denyut. Rasa nikmat yang luar biasa mulai aku rasakan di ujung penisku, lalu perlahan menjalar menuju pangkalnya. Rasa nikmat itu kembali mengalir dari pangkal penisku dan dengan cepat menuju ujungnya.</p>
<p style="text-align: justify;">“Laras… sshhhh… Ayah mau keluarrrr…” Kataku mengeksperesikan kenikmatan yang aku rasakan.</p>
<p style="text-align: justify;">Laras menjawab dengan mengaitkan kakinya kembali ke pinggangku kemudian menariknya sehingga penisku menghujam makin dalam. Aku tekan vagina Laras dengan penisku dalam-dalam kemudian aku peluk Laras sambil kucari bibirnya lalu melumat dan menghisapnya kuat-kuat saat spermaku muncrat di dalam vagina. Laras memekik kecil karena semprotan spermaku mengenai dinding liang vaginanya.</p>
<p style="text-align: justify;">“Oh… Ayah… nikmat sekali…”<br />
“Iya sayang… nikmat sekali….&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Kemudian kami terkulai dengan posisi aku menindih tubuh Laras. Laras masih berusaha menciumi wajahku dan menghisap bibirku. Kubuka mataku dan menatap mata Laras. Kami tersenyum puas lalu kembali Laras mencium bibirku.</p>
<p style="text-align: justify;">“Ayah cabut ya…?” kataku<br />
“Jangan dulu… Laras masih ingin penis Ayah ada di dalam” jawab Laras. Maka aku biarkan sejenak penisku sampai mengendur dan mengecil di dalam vagina Laras. Beberapa saat kemudian aku berguling ke samping kiri Laras.<br />
“Ayah puas…?” Tanya Laras samil memelukku.<br />
“Puas sekali, Sayang…” jawabku.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku balas pekukan Laras dengan meletakkan tangan kiriku sebagai bantal kepala Laras sedangkan tanganku membelai wajahnya. Laras menelusupkan wajahnya di dadaku.</p>
<p style="text-align: justify;">“Laras puas nggak..?” Tanyaku balik.</p>
<p style="text-align: justify;">Laras tidak menjawab. Dia hanya tersenyum sambil memejamkan mata kemudian menggigit putingku. Kami beristirahat sambil tiduran berpelukan. Perlahan kesadaran nalarku pulih. Aku menengok jam weker didital yang ada di atas nakas. Jam 14.36. Berarti sudah hampir sore. Aku lirik Laras yang meringkuk dalam pelukanku, ternyata dia sudah tidur.<br />
Perlahan aku angkat kepala Laras dan aku meletakkan batal di bawah kepalanya, lalu aku bangun menuju kamar mandi. Tiba-tiba aku melihat pintu kamarku sedikit terbuka dan ada seorang di balik pintu. Sepertinya seorang perempuan. Orang itu dengan cepat menghilang dari pintu. Aku kejar orang itu sambil menyarungkan handuk di pinggangku. Sampai di pintu aku tidak melihat siapa-siapa. Yang jelas bukan isteriku, tubuh orang itu lebih pendek dari isteriku.</p>
<p style="text-align: justify;">Ah… Siapa dia? Pembantuku kah? Di rumah ini hanya ada aku dua orang pembantu, seorang tukang kebun, seorang sopir, dua orang satpam dan Laras. Selain Laras, wanita di rumah ini hanya Ayu yang bertugas memasak dan Wiwid yang bertugas membersihkan rumah. Siapa dia? Ayu atau Wiwid? Aku tidak mungkin mengejar wanita itu lebih jauh. Aku segera menutup pintu dan menguncinya. Aku kembali ke tempat tidur.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku berbaring di samping Laras kembali. Aku tatap Laras yang tidur dengan nyenyak. Aku mencoba mengingat peristiwa yang aku alami dari pagi sampai sore ini. Apa yang baru saja aku lakukan? Menyetubuhi Laras, anak asuhku yang paling aku banggakan? Kenapa Laras mau dengan mudah menyerahkan kegadisannya? Mengapa Laras sangat ahli memanjakan nafsuku? Darimana dia belajar hubungan sex? Apa..? Kenapa..? Bagaimana…? Berbagai pertanyaan muncul di kepalaku dan tak satupun dapat aku jawab.</p>
<p style="text-align: justify;">Berbagai pertanyaan yang berkecamuk membuat aku ingat isteriku. Marahkah dia jika tahu? Ah, tentu saja isteriku akan marah jika tahu aku sudah menyetubuhi Laras. Haruskah aku menyesal…? Menyesal setelah menikmati tubuh perawan yang baru tumbuh? Perawan yang mempercayakan hidupnya kepadaku karena aku sudah mengangkat dia sebagai anak asuhku… Sungguh pengecutnya aku kalau sampai hal itu terjadi. Aku tak akan menyesali persetubuhan ini.</p>
<p style="text-align: justify;">“Baiklah Laras… aku akan bertanggung jawab atas perbuatanku&#8230;”</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ceritasex.cn/larasati-pertama-kali-aku-selingkuh/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>ABG SMA Pose HOT Panas</title>
		<link>http://www.ceritasex.cn/abg-sma-pose-hot-panas/</link>
		<comments>http://www.ceritasex.cn/abg-sma-pose-hot-panas/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 31 Oct 2010 22:24:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cerita Sex</dc:creator>
				<category><![CDATA[Daun Muda]]></category>
		<category><![CDATA[Foto Mesum]]></category>
		<category><![CDATA[abg]]></category>
		<category><![CDATA[bugil]]></category>
		<category><![CDATA[hot]]></category>
		<category><![CDATA[imut]]></category>
		<category><![CDATA[pelajar]]></category>
		<category><![CDATA[porno]]></category>
		<category><![CDATA[seksi]]></category>
		<category><![CDATA[sma]]></category>
		<category><![CDATA[telanjang]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ceritasex.cn/?p=1534</guid>
		<description><![CDATA[Sayang nih fotonya kecil coba kalau gede bisa pada nafsu ni semua pembaca hahaha sudah jangan berisik nikmati aja coy&#8230;]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sayang nih fotonya kecil coba kalau gede bisa pada nafsu ni semua pembaca hahaha <img src='http://www.ceritasex.cn/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' />  sudah jangan berisik nikmati aja coy&#8230;</p>
<p><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2010/11/abg-sma-pose-hot-1.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-1535" title="abg-sma-pose-hot-1" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2010/11/abg-sma-pose-hot-1-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a></p>
<p><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2010/11/abg-sma-pose-hot-2.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-1536" title="abg-sma-pose-hot-2" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2010/11/abg-sma-pose-hot-2-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a></p>
<p><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2010/11/abg-sma-pose-hot-3.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-1537" title="abg-sma-pose-hot-3" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2010/11/abg-sma-pose-hot-3-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a><br />
<span id="more-1534"></span><br />
<a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2010/11/abg-sma-pose-hot-4.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-1538" title="abg-sma-pose-hot-4" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2010/11/abg-sma-pose-hot-4-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a></p>
<p><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2010/11/abg-sma-pose-hot-5.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-1539" title="abg-sma-pose-hot-5" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2010/11/abg-sma-pose-hot-5-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a></p>
<p><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2010/11/abg-sma-pose-hot-6.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-1540" title="abg-sma-pose-hot-6" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2010/11/abg-sma-pose-hot-6-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ceritasex.cn/abg-sma-pose-hot-panas/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Gita ABG SMA</title>
		<link>http://www.ceritasex.cn/gita-abg-sma/</link>
		<comments>http://www.ceritasex.cn/gita-abg-sma/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 26 Apr 2010 05:14:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cerita Sex</dc:creator>
				<category><![CDATA[Daun Muda]]></category>
		<category><![CDATA[kisah nyata]]></category>
		<category><![CDATA[Pemerkosaan]]></category>
		<category><![CDATA[Seks Umum]]></category>
		<category><![CDATA[bandung]]></category>
		<category><![CDATA[gita]]></category>
		<category><![CDATA[indra]]></category>
		<category><![CDATA[ngentot]]></category>
		<category><![CDATA[sma]]></category>
		<category><![CDATA[susu]]></category>
		<category><![CDATA[toket]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ceritasex.cn/?p=1362</guid>
		<description><![CDATA[Kisah nyata ini berawal ketika saya duduk dikelas 2 SMA di kota B. Seperti biasa kehidupan remaja pada seumuran itu sangatlah waahhh.. itu menurutku. Saat itu saya tergabung dengan team bola basket sekolah saya, sayapun mempunyai banyak teman baik didalam team ataupun diluar team, mereka pun mengenalku dengan baik. Salah satu dari temanku ini adalah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Kisah nyata ini berawal ketika saya duduk dikelas 2 SMA di kota B. Seperti biasa kehidupan remaja pada seumuran itu sangatlah waahhh.. itu menurutku. Saat itu saya tergabung dengan team bola basket sekolah saya, sayapun mempunyai banyak teman baik didalam team ataupun diluar team, mereka pun mengenalku dengan baik. Salah satu dari temanku ini adalah Indra dimana dia ini orangnya pintar dan kutu buku banget. Saya bergaul dengan dia semacam simbiosis dimana disaat saya tidak mengerti akan sesuatu tentang pelajaran, saya selalu bertanya kepada Indra, begitu juga jika dia bertanya tentang masalah “cewek”, dia selalu bertanya kepada saya. ( padahal saya jawab sekenanya dan dia selalu manggut-manggut seperti burung kakak tua.. hehehe ) Saat itu kita sedang menghadapi ujian pertengahan ( Catur wulan ke 2 ) dan saya sedang giat-giatnya belajar bersama Indra dirumahnya. Eh dia dua bersaudara, kakaknya perempuan bernama Gita dan kuliah di PTN dikotaku, semester pertama. Cantik juga orangnya dengan kulit putih dan tubuh yang proposional banget.</p>
<p style="text-align: justify;">Itu salah satu daya pikat untuk meminta belajar dirumah Indra.. hehehe.. Tapi karena pacarnya juga kuliah dan ikutan beladiri saya jadi ciut juga ( takut cing, badannya gede) Ketika itu suasana rumah Indra sepi hanya kami berdua yang sedang belajar. Kedua orang tuanya sedang kerja dan kakaknya sedang kuliah. Tak terasa sudah hampir 2 jam kita belajar, terdengar bunyi pintu gerbang dibuka orang dan ternyata kakaknya baru pulang dari kuliah. “Nah gitu dong belajar, biar hasil ulangannya pada bagus.” Katanya ketika melihat kita sedang belajar. Dia segera menuju kekamarnya entah tuk ganti baju atau apa. Tak berapa lama Gita keluar dan menuju dapur, saat itu kita sedang belajar diruang keluarga. Setelah itu Gita duduk disofa dengan segelas ice cream dan menyalakan tv diruangan keluarga. Setelah 2 jam belajar, saya dan Indra hanya ngebahas apa yang tadi kita bahas. Eh tiba-tiba Indra nyeletuk, “ Van bagaimana cara membuat cewek tuh tertarik sama kita?” “ pertama elo harus jadi pendengar yang setia Ndra.” Jawabku dan Indra hanya manggut-manggut.</p>
<p style="text-align: justify;">Lalu kita lanjut ngebahas tentang mahluk yang bernama wanita dengan Gita disamping kita, yang saya tahu dia juga mencuri pembicaraan kita. Lalu Indra bertanya “ Eh Van, kenapa pantat cewek tuh sexy banget ya?” Saya pun berpikir mencari jawaban yang tepat. “ Sebenarnya pantat cewek tuh sexy karena tangan kita Ndra.” “Koq bisa begitu Van?” lanjut Indra. Kulirik sebentar kearah Gita dan dia terlihat mulai serius dengan apa yang kita bahas. “ Tuh pantat bisa sexy karena sering diremas sama cowok” Jawabku. “ Enak aja!!” terdengar keras suara bantahan dari samping kita yang berasal Gita. “Emang dari mana lo dapat jawaban itu Van?” tanyanya ketus. ( hehehe.. kepancing juga) “Semua itu tergantung dari cara kita meremas Git, tidak bisa asal-asalan meremas” jawabku. Indra terlihat serius mendengarkan sedangkan Gita semakin penasaran. “ Meremas bagaimana Van?” Tanya Gita. “Ya semua ada tehniknya Git.” Jawabku enteng. Semakin penasaran aja Gita dibuatku ( udah 30% cing.. hihihi..) “Gimana dong Van, ajarin dong?” “ ya gak bisa dong Git, Gita kan bukan pacar saya” jawabku enteng.</p>
<p style="text-align: justify;">Terlihat wajahnya cemberut dengan menyimpan rasa penasaran. “ Van elo bisa ajarin gue kan?” Tanya Indra kepadaku. “Beres Ndra, ntar gue ajarin elo sampe jadi masternya” setelah itu kita tertawa berbarengan dan masih ada yang cemberut karena penasaran yaitu.. Gita! ( menuju 50% cing.. ) Keesokan harinya saya bertandang lagi kerumah Indra dengan alasan yang sama yaitu belajar bersama, tapi ketika sampai dirumahnya yang ada pembantunya dan kakaknya Gita. “Git, kemana Indra?” tanyaku. “ Oh tadi dia disuruh sama papa sebentar tuk ngirim beberapa dokumen ke teman papa Van” “lama gak Git?” tanyaku kembali. “Ya gak tau Van, tapi kata Indra kamu disuruh tunggu aja dulu didalam sambil belajar” jawabnya. “ Ya udah deh kalau begitu” kemudian sayapun melangkah masuk ke ruang keluarga dan segera membuka buku pelajaran bahasa Inggris dan Gita pun duduk disofa sambil menonton acara gosip ditelevisi. Hari itu Gita memakai celana pendek dan baju kaos yang longgar, terlihat lebih sexy dan santai. Pikirankupun bermain, bagaimana caranya untuk bisa.. Akhirnya sayapun mendapatkan ide yang jitu tuk melakukannya.</p>
<p style="text-align: justify;">“Git, tolongin gue dong, ada soal bahasa inggris yang gue tidak mengerti.” Sambil berdiri dan menuju kearah saya dia berkata “Payah nih, masa segitu saja gak bisa?!” Lalu Gita rebahan dikarpet dimana saya belajar. Sambil menerangi apa maksud dari soal itu mata saya sengaja melirik kearah bongkahan pantatnya yang terbungkus celana pendek. Akhirnya Gita mengetahui apa yang saya kerjakan saat itu, “ Eh elo kalo dijelasin harus merhatiin, jangan matanya kemana-mana. Emang kenapa dengan pantat saya?” “Ah gak kenapa-kenapa, Cuma kurang aja?” jawabku memasang pancingan. “Kurang gimana?” tanyanya kembali. “Git maksud dari soal yang ini bagaimana?” tanyaku pura-pura menghindar dari topik utama. Tiba-tiba dia memencet hidung saya dan berkata,”Eh kalau ditanya harus dijawab dong?” Sambil meringis kesakitan saya menjawab,” iya.. iya.. kurang sexy aja Git..” “Kurang sexy bagaimana?”. “Kurang bisa kali pacar Gita meremasnya.” Jawabku enteng. Terlihat dia terdiam sebentar sambil menerawang jauh, dan setelah itu dia berdiri dan menuju kekamarnya sambil berkata, “Biarin!!” ( yuhuuu.. 70% tuhh..)</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah 30 menit lewat, Indra temanku belum tampak juga batang hidungnya dan hanya saya sendiri yang berada diruang keluarga. Tiba-tiba pintu kamar Gita terbuka dan dia keluar dengan busana yang ketat sehingga, jujur deh.. sexy banget. Gita tersenyum kepadaku dan berkata “ Gimana Van, apa masih kurang sexy?” Ternyata Gita didalam kamar selama itu hanya untuk memikirkan untuk tampil sexy dihadapanku. Saya jawab aja,” Memang sexy, tapi pantatnya masih kurang deh.” (padahal boong tuhh..) Gita terlihat cemberut dan segera menuju kamarnya lagi. Kena deh, hehehe… Tidak sampai lima menit, kepala Gita menyembul didaun pintu kamarnya sambil melirik kesana kemari, entah maksudnya apa. Gita memanggil saya untuk mendekat. Setelah mendekat dia berkata,”Van tolongin gue yah, tapi hal ini jangan sampai ketahuan siapa-siapa.” “Bantuan apa nih?” tanyaku belaga bego. Tangankupun ditariknya kedalam kamarnya dan segera dia kunci. “Van, gue pengen pantat saya terlihat sexy dan kemarin katanya elo tahu caranya.” “Wah kan Gita bukan pacar saya.” Jawabku sekenanya.</p>
<p style="text-align: justify;">“Udah deh Van, gue mau koq kalau pantat gue elo bikin sexy.” Sayapun pura-pura serius berpikir dan itu membuat dia kembali bertanya, “Emang kenapa Van?” “Ya kalau mau begitu, elo harus buka baju dan hanya pakai dalaman saja dan tengkurap tidurnya” jawabku. Sejenak dia berpikir dan tiba-tiba dia melepaskan seluruh pakaiannya sehingga yang melekat hanya bra dan cdnya. Gita menuju tempat tidurnya dan tidur terlentang dan melambaikan tangan kearahku. Sayapun menuju ketempat tidurnya dan segera menuju tubuh Gita yang tidur tengkurap. Sejenak wajah Gita berpaling kearahku, dengan rona merah dipipinya dia berkata, “ Van, jangan bilang siapa-siapa yah?” “Okey Git, elo bisa pegang mulut gue.” Entah dari mana asalnya terdengar kata “yoi man” dan ketika kulirik kearah selangkanganku terlihat kepala Mr.P-ku mengintip tersenyum dibalik celana jeansku. Hehehe.. Crooottt… Saya sudah berada disamping tubuhnya dan memang sexy banget tubuhnya Gita. “Git, gue mulai ya, tapi ingat elo gak boleh bergerak-gerak kalau elo terasa geli atau apa saja.” Gita hanya terpejam dan menganggukan kepala mengiyakan.<br />
<span id="more-1362"></span><br />
Tanganku mulai menempel ke dua bongkahan pantatnya, terasa sekali badannya bergetar. Sebenarnya saya tidak tahu caranya tetapi saya ingat sekali disaat pantatku dipijat sama tukang urut 1 tahun yang lalu ketika pada saat itu saya mengalami kecelakaan motor sehingga terasa sakit di pinggang dan pantatku. Saya praktekan saja cara memijitnya tetapi yang sekarang ini lebih lembut dan hot.. hehehe.. Kedua jempolku kutempatkan diarah dalam pantatnya dan bergerak menjauh dan memutar, gerakan ini saya lakukan berulang kali. Kadang saya remas lembut pantatnya dan semakin lama semakin jempolku berani masuk lebih dalam kedalam lipatan pangkal pahanya. “Etss..” kata tersebut keluar dari bibir mungilnya Gita dan terlihat badannya mulai bergetar. Kulakukan berulang-ulang sehingga tampak jelas getar badannya dan deru nafasnya yang semakin memburu. Posisiku sekarang menduduki kedua pahanya dengan kedua tanganku masih dengan kerjaannya, kulirik kearah selangkangannya yang terbungkus cdnya itu, basah sekali dan terlihat jelas cairan cintanya melekat pada kain cdnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Semakin berani jari jempolku bermain bersentuhan bibir memeknya dari luar cdnya. Kadang saya tarik garis lurus mengikuti bibir memeknya, “Achh Van..” Sekitar 20 menit saya bermain dengan pantatnya dan selama itulah perubahan Gita terlihat jelas semakin bergetar. Seketika itu juga saya berhenti beraksi dan berdiam diri, ini membuat Gita merasa heran. Dengan nafas yang masih memburu dia berkata, “ Sudah selesai Van?” “Belum sih Git, tapi..” jawabku. “Tapi apa Van?” “Supaya maksimal hasilnya harus dibuka cdnya.” Jawabku serius. Tanpa banyak omong Gita mengambil selimut dan membuka cdnya dari dalam selimut dan segera ridur terlentang kembali. Terlihat sekali pandangannya mulai sayu dan ini menambah daya tarik tersendiri bagi kaum wanita. Segera saya kembali ke pekerjaan saya yang tertunda. Satu tangan saya menyusup kedalam selimut tuk mulai memijat dan yang satunya lagi berusaha melepas celana jeans yang saya kenakan tanpa sepengetahuan Gita. (susah benar cing, lupa belajar dulu sebelum melakukan aksi.. ) Akhirnya dengan susah payah celana jeans ku terlepas tanpa sepengetahuan Gita, dan sayapun hanya mengenakan cd.</p>
<p style="text-align: justify;">Kedua tanganku pun mulai memijat kembali dengan gerakan-gerakan yang sama sebelumnya. Jariku mulai berani mengelus selangkangannya berkali-kali dan ini membuat Gita semakin bergetar hebat. “Ehmm.. etss..” kata-kata ini semakin sering kudengar dari mulut Gita. Tidak ada protes yang keluar dari mulut Gita dan itu membuatku semakin berani bertindak. Akhirnya salah satu jariku mulai berani menempel tepat ditengah-tengah belahan memeknya dan bergerak lembut sambil menekan-nekan. Pantatnya Gita mulai terangkat ketika jariku menekan lembut kearah memeknya. “Ohhh Vovan, apa yang elo lakuin?” “Eit jangan bergerak Git, ntar malah hasilnya gak maksimal.” Jawabku datar sambil menahan nafsu yang semakin meninggi. (Terlihat jelas Mr.P ku yang keluar dari cdku dan terus berdenyut-denyut..huha..huha) Semakin Gita tahan untuk tidak bergerak semakin jelas terlihat getar tubuhnya. Cairannya cintanya semakin banyak keluar dan terlihat menempel dijariku. Pelan-pelan tapi pasti selimut yang dia kenakan saya buka, dan terlihat sangat indah pantatnya yang tanpa benang sehelaipun.</p>
<p style="text-align: justify;">Jariku mulai meremas kembali pantatnya dan pelan-pelan membuka lipatan diselangkangannya. Tampak bibir kemaluan yang merekah merah mengkilat karena basah oleh cairan. Jari telunjukku bergerak dari atas menuju bagian bawah bibir memeknya dan sesekali menekan lembut daging yang menonjol keluar diujung sana. “Hemm.. achh..” semakin keras suara yang keluar dari mulut Gita. Sedikit demi sedikit jari telunjukku menerobos masuk kecelah bibir memeknya, terasa hangat dan licin sekali permukaannya, dan satu tanganku berusaha mengeluarkan kontolku yang sudah menegang keras dari sisi cdku. Akhirnya dengan bebas mengacung gagah kontolku berdiri dan segera kudekatkan menuju belahan pantatnya. Jariku terus kugerakkan naik turun dan terus menekan-nekan dengan lembut. “Aduh.. Van.. terus.. ohhh..” semakin kencang gerakanku, semakin tinggi pantatnya diangkat. Pada saat pantatnya mencapai ketinggian maksimal segera kusisipkan kontolku dibawah sela-sela pantatnya. Seketika kutarik jariku dari lubang memeknya dan seketika itu juga pantatnya turun dan “bleb!”. “Achhh…” jerit Gita ketika merasakan benda hangat yang menyumpal lubang memeknya.</p>
<p style="text-align: justify;">Gita terdiam beberapa saat begitu juga dengan saya yang takut jangan-jangan kakak temanku ini akan marah besar karena tahu apa yang sedang saya kerjakan. Setelah agak lama, gita mulai menggoyangkan pantatnya dan menurutku dia setuju saja sehingga saya mulai mengambil ancang-ancang tuk memasukannya lebih dalam. Tapi perkiraanku meleset karena dengan tiba-tiba dia memegang batang kotolku dan segera membalikkan badan, “Hayoo!!” teriaknya. “Waaaaa….” Jeritku kaget sekali dan membuat wajahku pucat saat itu. Pikiranku mulai kabur karena sudah tahu apa yang akan terjadi, pasti kena marah besar oleh kakak temanku ini dan yang paling buruk masuk penjara deh. Tiba-tiba lirikan mata Gita berubah total dari yang sayu menjdi ganas dan liar, seketika itu juga kontolku langsung dihisap oleh mulut mungilnya.( ketangkapkan? Dimasukin penjara deh, penjara yang sempit,lembab dan hangat.. hehehe…). “ Koq mengecil Van?” tanyanya. “Dikagetin sih, jadinya begini deh.” Jawabku protes. Gita tertawa kecil dan dengan kerling matanya yang menggoda, “Iya deh saya gedein lagi.” Gita pun dengan giat menghisap-hisap kontolku.</p>
<p style="text-align: justify;">ketika lemas Gita bisa memasukan setengahnya kedalam mulutnya dan lama kelamaan kontolku mulai menunjukan keperkasaannya sehingga hanya kepalanya saja yang sanggup Gita kulum, itu juga terlihat susah dengan bibirnya yang mungil. “Git, emang gak apa-apa, kalau..” tanyaku. “Ahh, udah tanggung nih dan sayang..” jawabnya. “Sayang kenapa?” tanyaku lagi. “Sayang ini-ni, besar banget, sayang tuk dianggurin” jawabnya nakal sambil menunjuk kearah kontolku. “Emang besar Git?” “Besar banget Van, pacarku saja tidak sebesar ini, padahal badannya gede banget.” “Ya jangan dilihat dari ukuran badan dong Git, boleh dia seorang karateka dan kalau saya sih gak punya ilmu beladiri apa-apa, tapi nih si kontol karateka sejati Git.” Jawabku seenaknya sambil tersenyum. “Kamu nih ya Van, eh apa bisa masuk nih kedalam ini?” sambil menunjuk kearah memeknya. “pasti bisalah… achhhh!” tiba-tiba Gita menghisap kuat kepala kontolku tanpa memberikan aba-aba. Badanku didorongnya sampai terlentang dan dia menyerangku dengan sangat ganas, dan saya hanya bisa mengaduh….. Enak!.</p>
<p style="text-align: justify;">Selama 15 menit Gita mengoralku, jilatannya sangat mahir dari pangkal kontolku sampai kepalanya, kontolku dimasukan kemulutnya, dihisap dan ditarik-tarik sampai terlepas dengan paksa dari mulutnya. Rasanya ngilu dan nikmat sekali, kadang dipukulkan kontolku di kedua pipinya sehingga terlihat lucu sekali. Rasanya tidak adil kalau hanya saya saja yang merasakan nikmat, sehingga saya meminta berganti posisi menjadi 69 dan Gita pun setuju dengan usul saya. Babak 69 besar (hehehe) berlangsung dengan seru sekali, setiap dia menghisap tarik kontolku, saya imbangi dengan menekan dalam-dalam klitorisnya dengan lidahku. “Ehmmm..” hanya suara itu yang terdengar dari mulut Gita. Setelah 10 menit berlalu, gerakan lidahku mulai menggila, lubang memeknya saya tusuk dengan lidahku sedalam-dalamnya dan tidak lupa mengaduk-ngaduk isinya. Cairan cinta Gita semakin banyak keluar, sehingga menambah becek lubang memeknya. Selanjutnya lidahku bergerak berputar pelan di klitorisnya, semakin lama semakin kencang dan tekanannya pun semakin kuat, pantat Gita meliuk-liuk menahan rangsangan dan saya berusaha menahan pantatnya supaya tidak lepas sasaran yang sedang saya kerjakan. Nafas Gita mulai memburu dan gerakannya tidak terkontrol lagi, terlihat dari hisapan mulutnya dikontolku sudah tidak beraturan yang menandakan sebentar lagi Gita akan mencapai orgasmenya yang pertama. “Aduuhhh Van, ahhh.. enakss.. terus sayang.. yang kencang” Dibarengi dengan menyedot sambil memilin klitorisnya dengan lidah dan bibirku, Gita mencapai orgasmenya dengan sangat hebat sekali. Badannya bergetar hebat dan pantatnya menekan wajahku, terasa cairan cintanya membanjiri mulutku “Akhhhh Vovan… gw sampe.. akhhh..aduuhh..” pantatnya berusaha menjauh tapi saya pegang dengan kuat dan semakin saya hisap dan pilin klitorisnya. “ aduuuhh.. Van.. akhh..oohhh..” dan “ hemp..” ternyata gita langsung membalas denganmeasukan kontolku dimulutnya dan langsung dihisap kuat-kuat kepala kontolku.</p>
<p style="text-align: justify;">”Wuuiiii….” hanya ada kata-kata itu yang ada di otakku, terasa ngilu dan nikmat sekali dan akhirnya saya lepaskan juga memeknya dari mulutku dan tak lama Gita juga melepaskan hisapannya pada kontolku. Ketika kulihat kontolku, sangat besar sekali dan dengan kepala yang besar mengkilap dan berwarna merah. “Wah Git, kepala kontolku jadi besar banget, kamu sedotnya terlalu kuat sih..” kataku memprotes dengan apa yang telah Gita lakukan. “Kamu juga sih pake acara sedotin terus punyaku, padahal Gitakan udah sampe..” jawabnya tidak mau kalah. “Tapi yang tadi enak sekali Van, sungguh baru kali ini Gita ngerasain..” lanjutnya lagi. “Ya udah sekarang Gita istirahat saja dulu sebentar, nanti kita main yang lebih seru” kataku, karena melihat penampilannya yang pada saat itu sudah kepayahan setelah mengalami orgasmenya yang pertama. Saya segera berdiri dan ingin kekamar mandi sebentar tapi dengan tiba-tiba kontolku ditariknya,”Eit gak ada acara istirahat-istirahatan Van, Gita masih penasaran nih, dan bentar lagi Indra pulang lho.” Katanya dan benar juga.</p>
<p style="text-align: justify;">Tubuhku kembali didorong ketempat tidur dan seketika itu juga Gita menaiki badanku dan mengarahkan memeknya diatas kontolku. Ditekanya perlahan-lahan memeknya, dan walau susah akhirnya masuk juga walau hanya sebatas kepala kontolku saja. “Ackhh Van besar banget.. hemmm” kulihat Gita mendiamkan sesaat lalu mulai bergerak menekan kembali. Badannya bergetar setiap Gita berusaha untuk menekan lebih dalam dan setelah berulang-ulang menekan dan akhirnya masuk juga setengah dari batang kontolku. “ Ohhh Van.. penuh banget rasanya.. Enaks sekali.. ohh..” mulutnya mulai meracau dan bola mata meninggi. Sayapun merasakan yang sama, terasa sekali kepala kontolku seperti diremas-remas sesuatu yang lembut dan hangat. Gerakan naik turun Gita lakukan tetapi hanya setengah saja dari batang kontolku yang memasuki lubang memeknya. Sepertinya Gita ragu dan takut untuk masukin seluruh kontolku ke memeknya. Walaupun hanya setengahnya saja yang masuk sudah dapat membuat Gita mendesis nikmat dan meremas-remas susunya yang 34B sendiri tanpa sadar, tapi saya sendiri sepertinya merasa tanggung karena tidak seluruh kontolku terbenam di memeknya.</p>
<p style="text-align: justify;">Akhirnya saya dapat cara bagaimana bisa memasukan kontolku sampai mentok kedalam memeknya yang sempit ini. “Git, tolong ambilin kain itu dong, untuk ngelap” kataku menunjukan kearah belakang Gita, dan segera Gita menoleh kebelakang “Mana?” “Yang itu Git, dibelakang elo.” Kataku kembali. “Mana sih?” jawabnya. “Eh sudah ada nih.” Kataku berbohong, dan ketika kepala Gita kembali keposisi asal seketika itu juga saya tarik turun pantatnya dengan keras sehingga kontolku masuk semua kedalam lubang memeknya, terasa mentok mencapai pintu rahimnya. “Vovan!!.. Ackhhh..!!” segera saya tarik tubuh Gita dan mengulum rapat bibirnya supaya jeritnya tidak sampai terdengar oleh pembantunya. Terasa sekali kontolku dijepit dan diremas-remas nikmat oleh memeknya. Sekitar 1 menit lamanya kita tidak bergerak dan hanya bibirku saja yang mengulum bibirnya, mata Gita terpejam dan bibirnya diam tidak membalas seranganku. Setelah 1 menit kugerakan pantatku perlahan-lahan dengan lembut dan terasa jari-jari Gita mencengkeram kuat lenganku, lama-lama kunaikan tempo gerakanku dan bibir Gita yang pertamanya diam kini mulai mulai rakus melumat bibirku.</p>
<p style="text-align: justify;">Tangannya meremas –remas rambutku, “ haaahhh..hahhh..hemmm..hahhh” terdengar suara Gita diantara bibir kita yang berciuman. Kuremas lembut susunya dan tidak ketinggalan memilin putingnya yang sudah sangat keras mencuat. Deru nafasnya semakin jelas terlihat dan pinggulnya mulai berani bergerak memutar-mutar lembut diatas selangkanganku. Setelah 15 menit, gerakan Gita semakin menggila. Yang pertama hanya berani memutarkan pinggul tapi sekarang sudah berani menghempaskan pantatnya diatas selangkanganku dengan keras. ”Akhhh.. sayang.. ohhh.. enaks..akhh..” Susunya tergantung indah sekali dan bergerak mengikuti irama badan Gita yang sedang memompa, dan langsung saya remas-remas sehingga Gita semakin bergetar bergelinjang menahan nikmat yang teramat sangat.setelah 5 menit kemudian kutahan pantatnya sedikit dan segera kuhujamkan kontolku kedalam memeknya dengan tempo yang semakin meningkat. “plak! Plak! Plak!” terdengar bunyi dari beradunya kelamin kita berdua.”Akhhh..teruss sayang… yang keras.. akhh..” Badan Gita mulai meliuk-liuk dan satu tangannya meremas susu dan satunya lagi meremas-remas rambutnya sendiri, sungguh pemandangan yang erotis sekali saat itu.”Lagi sayang.. yang kencang.. akhhh.. iya gitu..ohhh.” Semakin kencang dan liar gerakan kontolku menghujam memeknya dari bawah dan akhirnya “Akhhh… Van.. gw sampe.. lagi.. Akhhhh.. aduuhhh..” Dengan tiba-tiba Gita menghujam dalam memeknya dikontolku, paha dan pantatnya menghentak-hentak, badannya bergetar hebat sekali dan garis matanya hanya terlihat putih. Tangannya menekan kuat perutku saat itu dan tanganku meremas-remas susunya membantu orgasmenya supaya lebih sempurna.selama 1 menit lebih Gita bergetar merasakan gelombang orgasmenya yang kedua dan akhirnya jatuh berguling disampingku dengan nafas yang masih memburu. Matanya terpejam dan badan penuh peluh tetapi bibirnya tersenyum manis yang menandakan dia puas sekali.kupeluk tubuhnya sambil mengecup lembut bibirnya dan dibalasnya dengan sangat lembut.</p>
<p style="text-align: justify;">Lalu matanya terbuka dan menatap sayu kepadaku.(kasihan juga, Gita terlihat letih sekali, saya sampai tidak tega meminta jatah saya yang belum tercapai) Gita bangkit dan duduk disampingku sambil mengatur nafas, dan tiba-tiba “Elo tuh ya, memang gila!!” rambutku langsung diacak-acaknya, bibirku langsung diserangnya dengan ganas, lidahnya menerobos masuk mencari-cari didalam rongga mulutku. Kaget juga saya dibuatnya, Gita yang tapi terlihat sangat letih tapi sekarang berubah ganas dan liar kembali dalam waktu yang sangat singkat. “Elo memang gila Van!! Gue sampe habis begini, sampe habis memek gue.” Katanya. Saya hanya bisa tersenyum mendengarnya. “Sekarang giliran elo Van, hajar memek gue dari belakang Van.” Pintanya. Gita mengambil posisi menungging dan terlihat jelas memeknya yang menggembung dan berwarna merah. Belahan memeknya terlihat jelas dan saya langsung segera menjilatnya dari belakang. Terasa sekali cairan cintanya dilidahku, “Ohhh Van, langsung saja… “ pintanya. Segera kuarahkan kontolku yang masih gagah perkasa ke bibir memeknya dan pada saat itu nafsuku sudah diubun-ubun ingin segera terlunasi.</p>
<p style="text-align: justify;">Perlahan-lahan kumasukan setengah batang kontolku dan kugerakkan maju mundur dengan lembut. “sshhhh…Van.” Suara erotis Gita mulai terdengar dan berulang-ulang. Setelah 5 menit gerakanku berubah total menjadi ganas dan liar, kontolku kutarik tinggal kepalanya saja yang didalam dan dengan tiba-tiba kuhentak keras sedalam-dalamnya. “ Ackhhhh… “ jerit Gita dengan kepala mandongak keatas. Kupegang pinggul Gita dengan kuat dan kupompa dia dengan keras. Suara kecipak air tedengar jelas dari lubang memeknya. “Ohhh.. sayang.. enaks.. yang dalam..say..ahhh.”jerit Gita. Semakin lama tempo pompaanku semakin meningggi dan itu membuat pantat Gita semakin meninggi seperti orang yang sedang berjinjit dan tidak lupa tanganku meremas susunya dari belakang. Terasa sekali susunya mengeras dengan puting yang sudah mencuat. Gita mengimbangi dengan goyangan pinggulnya yang erotis sekali, terkadang kepalanya mendongak keatas dan kemudian jatuh kembali dengan mata yang terpejam. Mulutnya meracau tidak karuan, kadang mendesis kadang menjerit.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah 10 menit berlangsung, badanku mulai bergetar hebat. “Git, gue bentar lagi nih.. ohhh” kataku. “Bareng Van, gue juga bentar lagi.. ackhhh.. didalam saja Van..” Pinggul Gita bergerak memutar tidak beraturan, terasa sekali memeknya memilin-milin kontolku, hangat dan nikmat. Tiba-tinba Gita menjerit. “Aduhh.. aduuhh.. Van.. aackhhhh.. gue.. sampeee.. aaacckhhhhh..” badannya bergetar hebat dan terlihat Gita akan jatuh terjerembab dikasur, segera saja tanganku masuk kedalam memegang perutnya dan terus memompa memeknya dari belakang. Tak ketinggalan jari-jariku yang diperutnya menuju kearah memeknya dan langsung mengosok-gosok klitorisnya yang sudah sangat basah itu. “Ohhh jangan Van… Aduuuhhhh.. akhhh..” “Akhhh Git… gue keluar.. Akhhh..” segera kujatuhkan badan kita ke kasur dan berputar sehingga Gita diatas saya dengan kontol yang masih menancap di lubang memeknya dan croot..croott..croot.. spermaku keluar di dalam memeknya dengan lima hentakan kuat. Jariku masih terus mengesek-gesekan klitorisnya dan, “Aduuuhhh… Van..gue.. sampe.. lagi.. akhh..” jerit Gita.</p>
<p style="text-align: justify;">Jariku masih menempel dan sekarang menekan kuat.”Akkhhh Vovannn.. stoop..aduuuhhhhhh…aaackkhhh..” jerit Gita panjang sekali. Kontolku terasa sekali diperas dari dalam dan terasa ada sesuatu yang menyiram hangat berulang-ulang, ternyata Gita mendapat multi orgasme yang sangat hebat. Badannya bergetar hebat, tangannya meremas-remas seprai tempat tidurnya dengan kuat dan perut, pantat dan pahanya tidak berhenti menghentak-hentak kuat diatas badanku. Setelah sekitar 3 menit nafas Gita mulai teratur dan kupeluk dia dari belakang. Kukecup leher belakangnya dan Gita bergelinjang geli. Lalu Gita bergeser kesamping saya, dia tersenyum dengan muka yang kelihatan pucat dan ada air mata di pipinya. (tidak tahu apa arti air mata itu cing) “Tinggi banget Van, ketinggian, badan gue sampe kerasa remuk begini..” katanya pelan.”Tapi nikmat sekali, belum pernah gue seperti ini.” Matanya memandang sayu. Dengan senyum saya membelai rambutnya,”Maafin gue ya Git.”kataku. “gak apa-apa Van, tapi..” “Tapi kenapa?” tanyaku curiga.(wah, bisa kacau neh cing klo ada perabotan dalamnya yang rusak) “Tapi elo harus tanggung akibatnya Van.”jawabnya.</p>
<p style="text-align: justify;">“Waduh gue harus gimana nih?” tanyaku dengan wajah pucat dan pasrah. “Elo harus mau kalau gue minta beginian lagi, habis nikmat banget Van, harus ya Van?!” perintahnya. Ampuuuuuunnnnnnn!!!!! Croottttt. Setelah itu kami bersihkan diri bersama-sama dikamar mandi Gita, dan tidak berapa lama Indra datang dan katanya tadi dia harus nungguin dokumen dirumah teman orang tuanya. Kejadian selanjutnya seperti biasa kita belajar bersama dan tidak ada yang luar biasa. Sore hari saya pamit pulang dan ketemu Gita yang lagi siram bunga diluar. “Git gue pulang dulu ya?” kataku. “Iya Van, hati-hati ya?” jawabnya. Indra mengantarku sampai pintu gerbang dan sekali lagi,”Eh. Git..” teriakku. “Ada apa?” Tanya Gita. “Tuh pantatnya dah kelihatan sexy sekarang!” teriakku. “Dasar tukang tipu!!” teriak gita dengan muka memerah dan kerlingan mata, sedangkan Indra tertawa berlagak sok tahu. Hehehe… Sejak itu saya sering jalan sama Gita kakak temanku Indra, tanpa sepengetahuan pacarnya Gita. Kita sering main dirumahnya dan memang sepi keadaannya, kadang-kadang di hotel yang cukup dengan kantong mahasiswa katanya, hehehe.. Kejadian ini berlangsung selama 4 tahun sampai Gita pindah ke kota J ikut orang tuanya. Sekarang Gita sudah punya suami dan anak satu, tapi suaminya bukan pacarnya dulu yang waktu kuliah itu. Tahun 2008 awal ini saya sempat bertemu dengan Gita dan gilanya dia masih saja minta untuk bercinta dengan saya. Kami lakukan di hotel di kota B tempat dia tinggal, dari pagi sampai sore karena dia ijin ke suaminya jalan-jalan dan arisan dengan ibu-ibu dikomplek perumahan dia, dan ternyata dia makin hot saja diranjang dengan jeritan nakal dan goyangan erotisnya. Thanks Gita…..</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ceritasex.cn/gita-abg-sma/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ngentot ABG SMA Enak Sekali Tanpa Bulu Memek</title>
		<link>http://www.ceritasex.cn/ngentot-abg-sma-enak-sekali-tanpa-bulu-memek/</link>
		<comments>http://www.ceritasex.cn/ngentot-abg-sma-enak-sekali-tanpa-bulu-memek/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 18 Mar 2010 22:46:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cerita Sex</dc:creator>
				<category><![CDATA[Daun Muda]]></category>
		<category><![CDATA[Foto Mesum]]></category>
		<category><![CDATA[abg]]></category>
		<category><![CDATA[memek]]></category>
		<category><![CDATA[ngentot]]></category>
		<category><![CDATA[sma]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ceritasex.cn/?p=1296</guid>
		<description><![CDATA[Memek abg memang rapat dan bersih nggak ada bulunya hehehe enak buat di entot sama om-om.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Memek abg memang rapat dan bersih nggak ada bulunya hehehe enak buat di entot sama om-om.</p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2010/03/ngentot-abg-1.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-1297" title="ngentot-abg-1" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2010/03/ngentot-abg-1-300x224.jpg" alt="" width="300" height="224" /></a></p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2010/03/ngentot-abg-2.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-1298" title="ngentot-abg-2" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2010/03/ngentot-abg-2-300x227.jpg" alt="" width="300" height="227" /></a></p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2010/03/ngentot-abg-3.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-1299" title="ngentot-abg-3" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2010/03/ngentot-abg-3-300x228.jpg" alt="" width="300" height="228" /></a></p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2010/03/ngentot-abg-4.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-1300" title="ngentot-abg-4" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2010/03/ngentot-abg-4-300x224.jpg" alt="" width="300" height="224" /></a></p>
<p><span id="more-1296"></span></p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2010/03/ngentot-abg-5.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-1301" title="ngentot-abg-5" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2010/03/ngentot-abg-5-300x227.jpg" alt="" width="300" height="227" /></a></p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2010/03/ngentot-abg-6.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-1302" title="ngentot-abg-6" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2010/03/ngentot-abg-6-300x227.jpg" alt="" width="300" height="227" /></a></p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2010/03/ngentot-abg-7.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-1303" title="ngentot-abg-7" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2010/03/ngentot-abg-7-300x217.jpg" alt="" width="300" height="217" /></a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ceritasex.cn/ngentot-abg-sma-enak-sekali-tanpa-bulu-memek/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>ABG SMA HOT</title>
		<link>http://www.ceritasex.cn/abg-sma-hot/</link>
		<comments>http://www.ceritasex.cn/abg-sma-hot/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 27 Dec 2009 11:18:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cerita Sex</dc:creator>
				<category><![CDATA[Daun Muda]]></category>
		<category><![CDATA[Foto Mesum]]></category>
		<category><![CDATA[abg]]></category>
		<category><![CDATA[anus]]></category>
		<category><![CDATA[bugil]]></category>
		<category><![CDATA[hot]]></category>
		<category><![CDATA[memek]]></category>
		<category><![CDATA[sma]]></category>
		<category><![CDATA[telanjang]]></category>
		<category><![CDATA[toket]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ceritasex.cn/?p=1136</guid>
		<description><![CDATA[HOT BANGET!]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>HOT BANGET!</p>
<p><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2009/12/abg-sma-hot.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-1137" title="abg-sma-hot" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2009/12/abg-sma-hot-300x212.jpg" alt="" width="300" height="212" /></a></p>
<p><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2009/12/abg-sma-hot-1.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-1138" title="abg-sma-hot-1" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2009/12/abg-sma-hot-1-300x212.jpg" alt="" width="300" height="212" /></a></p>
<p><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2009/12/abg-sma-hot-2.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-1140" title="abg-sma-hot-2" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2009/12/abg-sma-hot-2-300x211.jpg" alt="" width="300" height="211" /></a></p>
<p><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2009/12/abg-sma-hot-3.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-1139" title="abg-sma-hot-3" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2009/12/abg-sma-hot-3-300x214.jpg" alt="" width="300" height="214" /></a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ceritasex.cn/abg-sma-hot/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

