<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Cerita sex porno ngentot mesum perek ayam kampus &#187; susi</title>
	<atom:link href="http://www.ceritasex.cn/tag/susi/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.ceritasex.cn</link>
	<description>Kumpulan cerita sex, foto bugil, dan film porno</description>
	<lastBuildDate>Wed, 08 Feb 2012 13:12:08 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
		<item>
		<title>Susi Sales Asuransi Plus Plus</title>
		<link>http://www.ceritasex.cn/susi-sales-asuransi-plus-plus/</link>
		<comments>http://www.ceritasex.cn/susi-sales-asuransi-plus-plus/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 18 Dec 2011 08:42:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cerita Sex</dc:creator>
				<category><![CDATA[Daun Muda]]></category>
		<category><![CDATA[Foto Mesum]]></category>
		<category><![CDATA[Toket gede]]></category>
		<category><![CDATA[bugil]]></category>
		<category><![CDATA[hot]]></category>
		<category><![CDATA[mms]]></category>
		<category><![CDATA[porno]]></category>
		<category><![CDATA[sales]]></category>
		<category><![CDATA[susi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ceritasex.cn/?p=3232</guid>
		<description><![CDATA[Kalau kepengen menikmati tubuh susi harus beli asuransi dulu ya&#8230;. makanya jadi cowok jangan kere.. he he he..]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Kalau kepengen menikmati tubuh susi harus beli asuransi dulu ya&#8230;. makanya jadi cowok jangan kere.. he he he..</p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2011/12/susi-sales-asuransi-1.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-3233" title="susi-sales-asuransi-1" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2011/12/susi-sales-asuransi-1-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a></p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2011/12/susi-sales-asuransi-2.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-3234" title="susi-sales-asuransi-2" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2011/12/susi-sales-asuransi-2-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a></p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2011/12/susi-sales-asuransi-3.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-3235" title="susi-sales-asuransi-3" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2011/12/susi-sales-asuransi-3-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a></p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2011/12/susi-sales-asuransi-4.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-3236" title="susi-sales-asuransi-4" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2011/12/susi-sales-asuransi-4-225x300.jpg" alt="" width="225" height="300" /></a></p>
<p><span id="more-3232"></span></p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2011/12/susi-sales-asuransi-5.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-3237" title="susi-sales-asuransi-5" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2011/12/susi-sales-asuransi-5-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a></p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2011/12/susi-sales-asuransi-6.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-3238" title="susi-sales-asuransi-6" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2011/12/susi-sales-asuransi-6-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a></p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2011/12/susi-sales-asuransi-7.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-3239" title="susi-sales-asuransi-7" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2011/12/susi-sales-asuransi-7-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a></p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2011/12/susi-sales-asuransi-8.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-3240" title="susi-sales-asuransi-8" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2011/12/susi-sales-asuransi-8-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ceritasex.cn/susi-sales-asuransi-plus-plus/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mbak Susi Oh Mbak Susi</title>
		<link>http://www.ceritasex.cn/mbak-susi-oh-mbak-susi/</link>
		<comments>http://www.ceritasex.cn/mbak-susi-oh-mbak-susi/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 21 Mar 2010 15:56:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cerita Sex</dc:creator>
				<category><![CDATA[Paruh baya]]></category>
		<category><![CDATA[Seks Umum]]></category>
		<category><![CDATA[anak kost]]></category>
		<category><![CDATA[ngentot]]></category>
		<category><![CDATA[seks]]></category>
		<category><![CDATA[susi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ceritasex.cn/?p=1321</guid>
		<description><![CDATA[Seperti sebagian besar teman senasib, saat menjadi mahasiswa saya menjadi anak kos dengan segala suka dan dukanya. Mengenang masa-masa sekitar lima belas tahun lalu itu saya sering tertawa geli. Misalnya, karena jatah kiriman dari kampung terlambat, padahal perut keroncongan tak bisa diajak kompromi, saya terpaksa mencuri nasi lengkap dengan lauknya milik keluarga tempat saya kos. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Seperti sebagian besar teman senasib, saat menjadi mahasiswa saya menjadi anak kos dengan segala suka dan dukanya. Mengenang masa-masa sekitar lima belas tahun lalu itu saya sering tertawa geli. Misalnya, karena jatah kiriman dari kampung terlambat, padahal perut keroncongan tak bisa diajak kompromi, saya terpaksa mencuri nasi lengkap dengan lauknya milik keluarga tempat saya kos. Masih banyak lagi kisah-kisah konyol yang saya alami. Namun sebenarnya ada satu kisah yang saya simpan rapat-rapat, karena bagi saya merupakan rahasia pribadi. Kisah rahasia yang sangat menyenangkan. Keluarga tempat kos saya memiliki anak tunggal perempuan yang sudah menikah dan tinggal di rumah orang tuanya. Mbak Sus, demikian kami anak-anak kos memanggil, berumur sekitar 35 tahun. Tidak begitu cantik tetapi memiliki tubuh bagus dan bersih. Menurut ibu kos, anaknya itu pernah melahirkan tetapi kemudian bayinya meninggal dunia. Jadi tak mengherankan kalau bentuk badannya masih menggiurkan. Kami berlima anak-anak kos yang tinggal di rumah bagian samping sering iseng-iseng memperbincangkan Mbak Sus. Perempuan yang kalau di rumah tak pernah memakai bra itu menjadi sasaran ngobrol miring.</p>
<p style="text-align: justify;">“Kamu tahu nggak, kenapa Mbak Sus sampai sekarang nggak hamil-hamil?” tanya Robin yang kuliah di teknik sipil suatu saat. “Aku tahu. Suaminya letoi. Nggak bisa ngacung” jawab Krus, anak teknik mesin dengan tangkas. “Apanya yang nggak bisa ngacung?” tanya saya pura-pura tidak tahu. “Bego! Ya penisnya dong”, kata Krus. “Kok tahu kalau dia susah ngacung?” saya mengejar lagi. “Lihat saja. Gayanya klemar-klemer kaya perempuan. Tahu nggak? Mbak Sus sering membentak-bentak suaminya?” tutur Krus. “Kalian saja yang nggak tanggap. Dia sebenarnya kan mengundang salah satu, dua, atau tiga di antara kita, mungkin malah semua, untuk membantu”, kata Robin. “Membantu? Apa maksudmu?” tanyaku tak paham ucapannya. Robin tertawa sebelum berkata, “Ya membantu dia agar segera hamil. Dia mengundang secara tidak langsung. Lihat saja, dia sering memamerkan payudaranya kepada kita dengan mengenakan kaus ketat. Kemudian setiap usai mandi dengan hanya melilitkan handuk di badannya lalu-lalang di depan kita” “Ah kamu saja yang GR. Mungkin Mbak Sus nggak bermaksud begitu”, sergah Heri yang sejak tadi diam.</p>
<p style="text-align: justify;">“Nggak percaya ya? Ayo siapa yang berani masuk kamarnya saat suaminya dinas malam, aku jamin dia tak akan menolak. Pasti” Diam-diam ucapan Robin itu mengganggu pikiranku. Benarkah apa yang dia katakan tentang Mbak Sus? Benarkah perempuan itu sengaja mengundang birahi kami agar ada yang masuk perangkapnya? Selama setahun kos diam-diam aku memang suka menikmati pemandangan yang tanpa tersadari sering membuat penisku tegak berdiri. Terutama payudaranya yang seperti sengaja dipamerkan dengan lebih banyak berkaus sehingga putingnya yang kehitam-hitaman tampak menonjol. Selain payudaranya yang kuperkirakan berukuran 36, pinggulnya yang besar sering membuatku terangsang. Ah betapa menyenangkan dan menggairahkan kalau saja aku bisa memasukkan penisku ke selangkangannya sambil meremas-remas payudaranya. Setelah perbincangan iseng itu aku menjadi lebih memperhatikan gerak-gerik Mbak Sus. Bahkan aku kini sengaja lebih sering mengobrol dengan dia. Kulihat perempuan itu tenang-tenang saja meski mengetahui aku sering mencuri pandang ke arah dadanya sambil menelan air liur.<br />
<span id="more-1321"></span><br />
Suatu waktu ketika berjalan berpapasan tanganku tanpa sengaja menyentuh pinggulnya. “Wah.. maaf, Mbak. Nggak sengaja..” kataku sambil tersipu malu. “Sengaja juga nggak apa-apa kok dik”, jawabnya sambil mengerlingkan matanya. Dari situ aku mulai menyimpulkan apa yang dikatakan Robin mendekati kebenaran. Mbak Sus memang berusaha memancing, mungkin tak puas dengan kehidupan seksualnya bersama suaminya. Makin lama aku bertambah berani. Beberapa kali aku sengaja menyenggol pinggulnya. Eh dia cuma tersenyum-senyum. Aksi nakal pun kutingkatkan. Bukan menyenggol lagi tetapi meremas. Sialan, reaksinya sama saja. Tak salah kalau aku mulai berangan-angan suatu saat ingin menyetubuhi dia. Peluang itu sebenarnya cukup banyak. Seminggu tiga kali suaminya dinas malam. Dia sendiri telah memberikan tanda-tanda welcome. Cuma aku masih takut. Siapa tahu dia punya kelainan, yakni suka memamerkan perangkat tubuhnya yang indah tanpa ada niat lain. Namun birahiku rasanya tak tertahankan lagi. Setiap malam yang ada dalam bayanganku adalah menyusup diam-diam ke kamarnya, menciumi dan menjilati seluruh tubuhnya, meremas payudara dan pinggulnya, kemudian melesakkan penis ke vaginanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Suatu hari ketika rumah sepi. Empat temanku masuk kuliah atau punya kegiatan keluar, bapak dan ibu kosku menghadiri pesta pernikahan kerabatnya di luar kota, sedangkan suami Mbak Sus ke kantor. Aku mengobrol dengan dia di ruang tamu sambil menonton televisi. Semula perbincangan hanya soal-soal umum dan biasa. Entah mendapat dorongan dari mana kemudian aku mulai ngomong agak menyerempet-nyerempet. “Saya sebenarnya sangat mengagumi Mbak Sus lo”, kataku. “Kamu ini ada-ada saja. Memangnya aku ini bintang sinetron atau model.” “Sungguh kok. Tahu nggak apa yang kukagumi pada Mbak?” “Coba apa..” “Itu..” “Mana?” Tanpa ragu-ragu lagi aku menyentuhkan telunjukku ke payudaranya yang seperti biasa hanya dibungkus kaus. “Ah.. kamu ini.” Reaksinya makin membuatku berani. Aku mendekat. Mencium pipinya dari belakang kursi tempat duduknya. Mbak Sus diam. Lalu ganti kucium lehernya yang putih. Dia menggelinjang kegelian, tetapi tak berusaha menolak. Wah, kesempatan nih. Kini sambil menciumi lehernya tanganku bergerilya di bagian dadanya. Dia berusaha menepis tanganku yang ngawur, tetapi aku tak mau kalah. Remasanku terus kulanjutkan.</p>
<p style="text-align: justify;">“Dik.. malu ah dilihat orang”, katanya pelan. Tepisannya melemah. “Kalau begitu kita ke kamar?” “Kamu ini nakal”, ujarnya tanpa berusaha lagi menghentikan serbuan tangan dan bibirku. “Mbak..” “Hmm..” “Bolehkah mm.., bolehkah kalau saya..” “Apa hh..” “Bolehkah saya memegang susu Mbak yang gede itu?” “Hmm..” Dia mendesah ketika kujilat telinganya. Tanpa menunggu jawabannya tanganku segera menelusup ke balik kausnya. Merasakan betapa empuknya daging yang membukit itu. Kuremas dua payudaranya dari belakang dengan kedua tanganku. Desahannya makin kuat. Lalu kepalanya disandarkan ke dadaku. Aduh mak, berarti dia oke. Tanganku makin bersemangat. Kini kedua putingnya ganti kupermainkan. “Dik, tutup pintunya dulu dong”, bisiknya dengan suara agak bergetar, mungkin menahan birahinya yang juga mulai naik. Tanpa disuruh dua kali secepat kilat aku segera menutup pintu depan. Tentu agar keadaan aman dan terkendali. Setelah itu aku kembali ke Mbak Sus. Kini aku jongkok di depannya. Menyibak rok bawahnya dan merenggangkan kedua kakinya. Wuih, betapa mulus kedua pahanya. Pangkalnya tampak menggunduk dibungkus celana dalam warna krem. Sambil menciumi pahanya tanganku menelusup di pangkal pahanya, meremas-remas vagina dan klitorisnya yang juga besar. Lidahku makin naik ke atas. Mbak Sus menggelinjang kegelian sambil mendesah halus. Akhirnya jilatanku sampai di pangkal pahanya.</p>
<p style="text-align: justify;">“Mau apa kau sshh.. sshh”, tanyanya lirih sambil memegangi kapalaku erat-erat. “Mbak belum pernah dioral ya?” “Apa itu?” “Vagina Mbak akan kujilati.” “Lo itu kan tempat kotor..” “Siapa bilang?” “Ooo.. oh.. oh ..”, desis Mbak Sus keenakan ketika lidahku mulai bermain-main di gundukan vaginanya. Tampak dia keenakan meski masih dibatasi celana dalam. Serangan pun kutingkatkan. Celananya kepelorotkan. Sekarang perangkat rahasia miliknya berada di depan mataku. Kemerahan dengan klitoris yang besar sesuai dengan dugaanku. Di sekelilingnya ditumbuhi rambut tak begitu lebat. Lidahku kemudian bermain di bibir vaginanya. Pelan-pelan mulai masuk ke dalam dengan gerakan-gerakan melingkar yang membuat Mbak Sus kian keenakan, sampai harus mengangkat-angkat pinggulnya. “Aahh.. Kau pintar sekali. Belajar dari mana hh..” “mm film biru dan bacaan porno kan banyak mm..” jawabku. Tiba-tiba, tok.. tok.. tok. Pintu depan ada yang mengetuk. Wah berabe nih. Aksi liarku pun terhenti mendadak. “Sst ada tamu Mbak”, bisikku. “Cepat kau sembunyi ke dalam”, kata Mbak Sus sambil membenahi pakaiannya yang agak berantakan.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku segera masuk ke dalam kamar Mbak Sus. Untung kaca jendela depan yang lebar-lebar rayban semua, sehingga dari luar tak melihat ke dalam. Sampai di kamar berbau harum itu aku duduk di tepi ranjang. Penisku tegak mendesak celana pendekku yang kukenakan. Sialan, baru asyik ada yang mengganggu. Kudengar suara pintu dibuka. Mbak Sus bicara beberapa patah kata dengan seorang tamu bersuara laki-laki. Tidak sampai dua menit Mbak Sus menyusul masuk kamar setelah menutup pintu depan. “Siapa Mbak?” “Tukang koran menagih rekening.” “Wah mengganggu saja itu orang. Baru nikmat-nikmat..” “Sudahlah”, katanya sambil mendekati aku. Tanpa sungkan-sungkan Mbak Sus mencium bibirku. Lalu tangannya menyentuh celanaku yang menonjol akibat penisku yang ereksi maksimal, meremas-remasnya beberapa saat. Betapa lembut ciumannya, meski masih polos. Aku segera menjulurkan lidahku, memainkan di rongga mulutnya. Lidahnya kubelit sampai dia seperti hendak tersedak. Semula Mbak Sus seperti akan memberontak dan melepaskan diri, tapi tak kubiarkan. Mulutku seperti melekat di mulutnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Lama-lama dia akhirnya dia bisa menikmati dan mulai menirukan gaya permainan ciuman yang secara tak sadar baru saja kuajarkan. “Uh kamu pengalaman sekali ya. Sama siapa? Pacarmu?” tanyanya di antara kecipak ciuman yang membara dan mulai liar. Aku tak menjawab. Tanganku mulai mempermainkan kedua payudaranya yang tampak menggairahkan itu. Biar tak merepotkan, kausnya kulepas. Kini dia telanjang dada. Tak puas, segera kupelorotkan rok bawahnya. Nah kini dia telanjang bulat. Betapa bagus tubuhnya. Padat, kencang, dan putih mulus. “Nggak adil. Kamu juga harus telanjang.” Mbak Sus pun melucuti kaus, celana pendek, dan terakhir celana dalamku. Penisku yang tegak penuh segera diremas-remasnya. Tanpa dikomando kami rebah ke ranjang, berguling-guling, saling menindih. “Mbak mau saya oral lagi?” tanyaku. Mbak Sus hanya tersenyum. Aku menunduk ke selangkangannya mencari-cari pangkal kenikmatan miliknya. Tanpa ampun lagi mulut dan lidahku menyerang daerah itu dengan liar. Mbak Sus mulai mengeluarkan jeritan-jeritan tertahan menahan nikmat. Kelihatan dia menemukan pengalaman baru yang membius gairahnya. Hampir lima menit kami menikmati permainan itu. Selanjutnya aku merangkak naik. Menyorongkan penisku ke mulutnya.</p>
<p style="text-align: justify;">“Gantian dong, Mbak” “Apa muat segede itu..” Tanpa menunggu jawabannya segera kumasukkan penisku ke mulutnya yang mungil. Semula agak kesulitan, tetapi lama-lama dia bisa menyesuaikan diri sehingga tak lama penisku masuk rongga mulutnya. Melihat Mbak Sus agak tersiksa oleh gaya permainan baru itu, aku pun segera mencabut penisku. Pikirku, nanti lama-lama pasti bisa. “Sorry ya Mbak” “Ah kau ini mainnya aneh-aneh.” “Justru di situ nikmatnya, Mbak. Selama ini Mbak sama suami main seksnya gimana?” tanyaku sambil menciumi payudaranya. “Ah malu. Kami main konvensional saja kok.” “Langsung tusuk begitu maksudnya..” “Nakal kau ini”, katanya sambil tangannya mengelus-elus penisku yang masih tetap tegak berdiri. “Suami Mbak mainnya lama nggak?” “Ah..” dia tersipu-sipu. Mungkin malu untuk mengungkapkan. “Pasti Mbak tak pernah puas ya?” Mbak Sus tak menjawab. Dia malah menciumi bibirku dengan penuh gairah. Tanganku pun ganti-berganti memainkan kedua payudaranya yang kenyal atau selangkangannya yang mulai berair. Aku tahu, perempuan itu sudah kepengin disetubuhi. Namun aku sengaja membiarkan dia menjadi penasaran sendiri.</p>
<p style="text-align: justify;">Tetapi lama-lama aku tak tahan juga. Penisku pun sudah ingin segera menggenjot vaginanya. Pelan-pelan aku mengarahkan barangku yang kaku dan keras itu ke arah selangkangannya. Ketika mulai menembus vaginanya, kurasakan tubuh Mbak Sus agak gemetar. “Ohh..” desahnya ketika sedikit demi sedikit batang penisku masuk vaginanya. Setelah seluruh barangku masuk, aku segera bergoyang naik turun di atas tubuhnya. Aku makin terangsang oleh jeritan-jeritan kecil, lenguhan, dan kedua payudaranya yang ikut bergoyang-goyang. Tiga menit setelah kugenjot Mbak Sus menjepitkan kedua kakinya ke pinggangku. Pinggulnya dinaikkan. Tampaknya dia akan orgasme. Genjotan penisku kutingkatkan. “Ooo.. ahh.. hmm.. sshh..” desahnya dengan tubuh menggelinjang menahan kenikmatan puncak yang diperolehnya. Kubiarkan dia menikmati orgasmenya beberapa saat. Kuciumi pipi, dahi, dan seluruh wajahnya yang berkeringat. “Enak Mbak?” tanyaku. “Emmhh..” “Puas Mbak?” “Ahh..” desahnya. “Sekarang Mbak berbalik. Menungging.” Aku mengatur badannya dan Mbak Sus menurut. Dia kini bertumpu pada siku dan kakinya.</p>
<p style="text-align: justify;">“Gaya apa lagi ini?” tanyanya. “Ini gaya ANJING. Senggama lewat belakang. Pasti Mbak belum pernah.” Setelah siap aku pun mulai menggenjot dan menggoyang dari belakang. Mbak Sus kembali menjerit dan mendesah merasakan kenikmatan tiada tara yang mungkin selama ini belum pernah dia dapatkan dari suaminya. Setelah dia orgasme sampai dua kali, kami istirahat. “Capek?” tanyaku. “Kamu ini aneh-aneh saja. Sampai mau remuk tulang-tulangku.” “Tapi kan nikmat Mbak”, jawabku sambil kembali meremas payudaranya yang menggemaskan. “Kita lanjutkan nanti malam saja ya.” “Ya deh kalau capek. Tapi tolong sekali lagi, aku pengin masuk agar spermaku keluar. Nih sudah nggak tahan lagi penisku. Sekarang Mbak yang di atas”, kataku sambil mengatur posisinya. Aku terletang dan dia menduduki pinggangku. Tangannya kubimbing agar memegang penisku masuk ke selangkangannya. Setelah masuk tubuhnya kunaikturunkan seirama genjotanku dari bawah. Mbak Sus tersentak-sentak mengikuti irama goyanganku yang makin lama kian cepat. Payudaranya yang ikut bergoyang-goyang menambah gairah nafsuku. Apalagi ditingkah lenguhan dan jeritannya menjelang sampai puncak. Ketika dia mencapai orgasme aku belum apa-apa. Posisinya segera kuubah ke gaya konvensional. Mbak Sus kurebahkan dan aku menembaknya dari atas. Mendekati klimaks aku meningkatkan frekuensi dan kecepatan genjotan penisku.</p>
<p style="text-align: justify;">“Oh Mbak.. aku mau keluar nih ahh..” Tak lama kemudian spermaku muncrat di dalam vaginanya. Mbak Sus kemudian menyusul mencapai klimaks. Kami berpelukan erat. Kurasakan vaginanya begitu hangat menjepit penisku. Lima menit lebih kami dalam posisi relaksasi seperti itu. “Vaginamu masik nikmat Mbak”, bisikku sambil mencium bibir mungilnya. “Penismu juga nikmat, Dik.” “Nanti kita main dengan macam-macam gaya lagi.” “Ah Mbak memang kalah pintar dibanding kamu.” Kami berpelukan, berciuman, dan saling meremas lagi. Seperti tak puas-puas merasakan kenikmatan beruntun yang baru saja kami rasakan. “Mbak kalau pengin bilang aja ya.” “Kamu juga. Kalau ingin ya langsung masuk ke kamar Mbak. Tetapi sst.. kalau pas aman lo.” “Mbak mau nggak main ramai-ramai?” “Maksudmu gimana?” “Ya misalnya aku mengajak salah satu teman dan kita main bertiga. Dua lawan satu. Soalnya Mbak tak cukup kalau cuma dilayani satu cowok.” “Ah kamu ini ada-ada saja. Malu ah..” “Tapi mau mencoba kan?” Mbak Sus tidak menjawab. Dia malah kemudian menciumi dan menggumuli aku habis-habisan. Ya aku terangsang lagi jadinya. Ya penisku tegak lagi. Ya akhirnya aku mesti menggenjot dan menembaknya sampai dia orgasme beberapa kali. Ah Mbak Sus, Mbak Sus.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ceritasex.cn/mbak-susi-oh-mbak-susi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mencoba kenjatanan prajurit</title>
		<link>http://www.ceritasex.cn/mencoba-kenjatanan-prajurit/</link>
		<comments>http://www.ceritasex.cn/mencoba-kenjatanan-prajurit/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 01 Aug 2009 12:15:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cerita Sex</dc:creator>
				<category><![CDATA[Daun Muda]]></category>
		<category><![CDATA[Ekshibionis]]></category>
		<category><![CDATA[Gangbang Rame Rame]]></category>
		<category><![CDATA[Seks Umum]]></category>
		<category><![CDATA[anal]]></category>
		<category><![CDATA[anal seks]]></category>
		<category><![CDATA[binal]]></category>
		<category><![CDATA[dewi]]></category>
		<category><![CDATA[hisap]]></category>
		<category><![CDATA[kentot]]></category>
		<category><![CDATA[liar]]></category>
		<category><![CDATA[memek]]></category>
		<category><![CDATA[ngentot]]></category>
		<category><![CDATA[orgy]]></category>
		<category><![CDATA[prajurit]]></category>
		<category><![CDATA[seks liar]]></category>
		<category><![CDATA[seks party]]></category>
		<category><![CDATA[seks rame rame]]></category>
		<category><![CDATA[susi]]></category>
		<category><![CDATA[toket]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ceritasex.cn/?p=740</guid>
		<description><![CDATA[Pada suatu sore saat aku dengan Dewi temanku dalam perjalanan di jalan bebas hambatan, waktu itu hujan cukup deras sehingga jalanan kurang nampak jelas dari kaca mobil kami. Dewi yang memegang setir pada waktu itu sebenarnya juga mengendarai dengan hati-hati, tapi karena sedang apes mobil yang kami naiki itu keluar jalur dan mobilnya terperosok ke [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Pada suatu sore saat aku dengan Dewi temanku dalam perjalanan di jalan bebas hambatan, waktu itu hujan cukup deras sehingga jalanan kurang nampak jelas dari kaca mobil kami. Dewi yang memegang setir pada waktu itu sebenarnya juga mengendarai dengan hati-hati, tapi karena sedang apes mobil yang kami naiki itu keluar jalur dan mobilnya terperosok ke dalam parit. Untung Dewi tidak ngebut sehingga kami berdua selamat dan tidak mengalami lecet sedikit pun. Karena mobilnya terperosok ke dalam parit, maka kami tidak bisa langsung membawa mobil ke jalur yang semestinya lagi.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Waduh.. Sus! Nggak bisa keluar nih bannya, mana HP-ku habis batterainya, wah! Gimana nih?&#8221; Dewi panik dan sepertinya kehabisan akal.<br />
&#8220;HP-ku juga nih, mana hujan lagi, sepi kendaraan lagi, kalau gini sich! Meski ada orang yang memperkosa kita nggak pa-pa deh! Asal kita diantar pulang saja&#8221;, aku ngomong sekenanya.<br />
&#8220;Gila kau Sus, tapi benar juga asal jangan kasar-kasar kali ya, hehehe..!&#8221;<br />
&#8220;Loh! Semakin kasar semakin nikmat lagi, hahaha..!&#8221; kami tertawa seakan-akan kami sudah terlepas dari masalah.<br />
&#8220;Sus, kalau kita di dalam mobil saja, kita akan di sini sampai mampus&#8221;, gerutu Dewi.<br />
&#8220;Habis gimana lagi, di luar kan hujan gitu.&#8221;<br />
&#8220;Yah kamu, nggak takut diperkosa, masak takut sama hujan, ya sudah aku saja yang keluar, kucoba dorong mobil ini keluar dari lubang&#8221;, Dewi nekat dengan semangat empat lima dia keluar dan mulai mendorong moncong depan mobil sialan ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku melihat Dewi berusaha dengan keras dan mengerahkan seluruh tenaganya, tapi mobil sialan ini tidak bergerak sedikit pun.<br />
&#8220;Sus! Hidupin mesinnya!&#8221; Dewi teriak-teriak, kuhidupkan mesin lalu giginya kuganti gigi mundur, ternyata mobil hanya bergeming sedikit saja. Lalu aku ikut keluar dan juga mencoba mendorong sama-sama dan ternyata tidak membawa perubahan yang berarti.<br />
&#8220;Ya.. nggak bisa juga Wik&#8221;, keluhku.<br />
&#8220;Iyah, tapi bodimu cukup bagus basah-basah gini Sus..&#8221;<br />
&#8220;Kamu itu mabok ya? Tapi bodimu juga terlihat bagus&#8221;, lalu kami tertawa-tawa.<br />
<span id="more-740"></span><br />
&#8220;Hei..! Sus itu ada mobil, kita cegat yuk&#8221;, sambil Dewi menunjuk ke arah mobil truk yang semakin mendekat, dan kemudian kami bergegas berlari sampai ke tengah jalan dan melambai-lambaikan kedua tangan kami. Dan kami berhasil, truk itu ternyata adalah truknya tentara.<br />
&#8220;Kenapa kalian? Kenapa dengan mobilnya?&#8221; Teriak supir truk, dan kami menghampirinya, &#8220;Itu Pak mobil kami masuk parit, jadi mobil kami tidak bisa jalan lagi nih Pak!&#8221; kujawab dengan nada yang mesra.<br />
&#8220;O iya! Hei! Anak-anak bantu nyonya-nyonya ini ayo cepat.&#8221; Kemudian turun empat orang dari belakang truk itu.<br />
&#8220;Mari Nyonya, anda yang pegang kemudi&#8221;, kata salah satunya dengan tegas kepadaku, lalu kujawab, &#8220;Loh, kok Nyonya sih, kan aku masih muda dan single lagi&#8221;, sambil kugoda dia, huh badannya tegap, tampangnya nggak jelek-jelek amat, tapi yang penting kan bodinya kekar.</p>
<p style="text-align: justify;">Kucoba menghidupkan mesin lagi beberapa kali tapi tak mau hidup-hidup, waduh kenapa ya?, dan kulihat ternyata bensinnya sudah habis.<br />
&#8220;Waduh Mas bensinnya habis, ada cadangan ngak mas-mas ini&#8221;, teriakku.<br />
&#8220;Waduh maaf Nona kami tak punya..&#8221;<br />
&#8220;Yah sudah, kalau gitu kami ikut kalian saja&#8221;, setelah kami mengambil tas, kami langsung naik truk mereka.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah masuk, dengan santainya aku melepas bajuku yang basah di hadapan keempat prajurit yang tidak jelas pangkatnya itu, kulihat mereka menatap kami tanpa berkedip sedikit pun, lalu kudekati salah satu dari mereka setelah pakaianku terlepas semua. &#8220;Kenapa? suka dengan bodiku hmm..&#8221; godaku. Kulihat jakunnya naik turun dan matanya tak henti-hentinya melihat payudaraku yang boleh dibilang montok dan seksi cukup mengoda pokoknya. Lalu kupegang tangannya, kudekatkan ke bongkahan payudaraku, &#8220;Gruungg!&#8221; suara itu tiba-tiba merusak suasana hening, &#8220;Hei! Jangan berangkat dulu&#8221;, mereka berempat bergegas mendekati jendela sopir, entah apa yang mereka bicarakan.<br />
&#8220;Sus, kamu sudah gila ya?&#8221; tegur Dewi yang terlihat agak malu-malu tapi mau.<br />
&#8220;Sudahlah, lagian kita kan kedinginan butuh penghangat dong&#8221;, sambil kucubit susu kirinya dan Dewi pun tersenyum dan mulai melepas bajunya.
</p>
<p style="text-align: justify;">Mesin truk tak lama kemudian mati lagi dan keempat prajurit itu dengan cepat melucuti bajunya masing-masing. &#8220;Nona jangan salahkan kami, karena kami sudah empat bulan tidak pernah menyentuh wanita, mungkin nanti agak kasar&#8221;, kata salah seorang prajurit yang hanya tinggal celana dalamnya saja yang menempel di tubuhnya. Kemudian dia mendekap tubuhku lalu langsung melumat halus bibirku, ternyata dia mahir memainkan lidahnya, nafasku habis rasanya, dan sekilas kulihat prajurit yang lain menggelar terpal dalam tuk yang cukup luas itu dan kulihat Dewi sudah mulai dikerjai seorang prajurit yang mulai membelai, mencium dan mengulum dada montok milik Dewi.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah beberapa saat berciuman, prajurit yang berhadapan denganku mulai mencium leher di bawah telingaku sambil mendesah-desah merasakan kenikmatan, setelah itu dia merambat mengerjai susu sebelah kiriku dengan liar dan ganas. Ssst! Sunguh nikmat sekali. Dengan tiba-tiba badanku ditarik lalu dibaringkan ke atas terpal kasar di lantai truk itu. Sekilas kulihat supir tadi juga mulai naik, kemudian dengan tergesa-gesa melepas pakaiannya sampai polos, lalu mendekatiku dan menuju selangkanganku, kemudian dia menjilati liang kewanitaanku, langsung aku mendesis dan mengeram, dengan tiba-tiba prajurit yang tadi membaringkanku langsung menghimpit kepalaku dengan selangkangannya, kemudian dengan cepat kulepas celana dalamnya. Setelah keluar batang kemaluannya kemudian langsung kulahap batang kemaluan yang lumayan besar itu. Kukulum-kulum dan kusedot kuat-kuat hingga prajurit itu mengeram-ngeram sambil menekan-nekan kepalaku sampai aku sesak nafas. Sesekali aku mendengus dan mendesis akibat ulah supir truk yang mejilat dan menggigit lembut klitorisku, sampai tubuhku mengejang lalu tak lama kemudian sepertinya tumpah semua cairan dalam liang kewanitaanku.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku tetap sibuk dengan batang kemaluan yang ada dalam mulutku lalu kurasakan payudaraku ada yang meremas dan sesekali dikulum-kulum. Sungguh kewalahan aku melayani mereka. Dengan tiba-tiba aku mendengar erangan Dewi tepat di sebelah kiri kupingku, ternyata dia sedang dalam keadaan tengkurap di antara kedua prajurit. &#8220;Gilaa Suss.. ughh.. sst!&#8221; Dewi mulutnya ngomel-ngomel nggak karuan sambil merem-melek tak berdaya. Gila, Dewi dikerjai depan belakang. Lalu prajurit-prajurit yang mengerjaiku berusaha membimbingku untuk nungging, setelah nungging di atas salah seorang dari mereka dan setelah batang kemaluan prajurit di bawahku tepat di antara bibir kewanitaanku, pantatku ditarik dengan keras-keras hingga masuk semua betang kemaluan prajurit itu dengan lancar karena liang kewanitaanku sudah licin.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah beberapa kali genjotan prajurit yang lain berusaha memasukkan batang kemaluannya ke dalam anusku. &#8220;Ssst.. aah.. aah!&#8221; Gila sakit banget, baru kali ini anusku digarap orang. &#8220;Aaakkh..!&#8221; aku menjerit sekuat tenaga begitu batang kemaluan prajurit yang besar itu masuk ke dalam anusku. Selang beberapa saat, terasa juga nikmatnya gesekan dari dua lubangku yang sebelumnya tidak terbayang, meski rasa sakit masih menyertai. Kemudian tubuhku mengejang dan sampailah aku pada klimaks kedua, tapi kuperhatikan kedua prajurit itu masih sibuk menggenjotku. Pelir besar tiba-tiba berada di wajahku, kemudian peler itu didorongnya ke mulutku yang kemudian kukulum dan kusedot, di sela-sela desisan dan eranganku. &#8220;Ayo Nona sedot yang kuat!&#8221; kata prajurit itu sambil menekan-nekan kepalaku. &#8220;Uuugh.. aakh.. esst!&#8221; suara geraman dan desisan silih berganti saling sahut menyahut dalam truk itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Saat kulihat di sebelah, Dewi terkapar dan lemas, sesekali dia mengeram karena prajurit itu masih getol menyetubuhi Dewi. Gila rasanya aku mau keluar untuk ketiga kalinya sebentar lagi, beberapa saat kemudian kurasakan kedua prajurit yang menyetubuhiku depan belakang mengeram serta merangkul kuat-kuat tubuhku dan kemudian kurasakan liang kewanitaan dan duburku tersembur cairan yang hangat hampir bersamaan, aku pun mencapai klimaks yang ketiga.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah aku mencapai klimaks, aku semakin bersemangat mengulum dan menyedot batang kemaluan di hadapanku sampai pada akhirnya cairan hangat itu menyembur memenuhi rongga tenggorokanku. Lalu prajurit itu melepaskanku dan bergerak menjauhiku. Dan kulihat Dewi pun mulai di tinggal sendirian, kemudian kelima prajurit itu mendekat. &#8220;Ayo sini kita gantian, aku pingin rasain juga dia&#8221;, kata salah satu dari mereka sambil tertawa-tawa, waduh habis aku.</p>
<p style="text-align: justify;">Dua prajurit yang menyetubuhi Dewi mendekat, lalu satu dari mereka menggendongku dan kemudian setelah pelernya tepat di tengah-tengah liang kewanitaanku, aku sedikit diturunkan dan amblas sudah batang kemaluannya tertelan liang kewanitaanku tanpa halangan. Aku disetubuhinya sambil berdiri, sambil tangannya tak henti-hentinya naik turun dengan posisi aku merangkul erat tubuhnya, kemudian dari belakang duburku disodok peler dari belakang, aku menjerit dan mengeram kesakitan, buah dadaku digerayanginya dengan brutal.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah beberapa saat aku dikerjain berdiri, aku diturunkan kemudian aku disuruh mengangkangi seorang prajurit, dan setelah pas masuklah kembali peler besar itu dalam liang kewanitaanku, dan yang lain menyusul menimpaku dari belakang, dan bukannya masuk ke duburku melainkan juga masuk ke dalam liang kewanitaanku, gila ini prajurit, dengan kasar dan brutal akhirnya masuk juga pelernya meski hanya setengahnya, tapi sakitnya bukan main aku menjerit-jerit minta ampun tapi tidak di gubrisnya. Karena mungkin tidak memuaskan dia, maka peler yang masuk hanya setengah itu dicabutnya kemudian dengan serta-merta menyodokkan ke duburku dengan keras, lalu mengosoknya dengan brutal, tak lama kemudian dia mencapai klimaks, setelah beberapa saat lalu batang kemaluannya dicabutnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Sekarang aku berkonsentrasi pada satu orang saja, aku merubah posisiku dengan posisi nangkring di atas selangkangannya, kemudian aku mulai naik turun dan sedikit goyang kanan kiri, hingga tak lama kemudian pertahanannya terlihat sedikit goyang, begitu pula aku sepertinya aku akan mencapai klimaks keempat kalinya. Setelah beberapa saat kurasakan liang kewanitaanku di sembur cairan hangat dan kemudian aku pun mencapai klimaks yang keempat kalinya, kami pun saling menggeram, lalu aku menggulirkan tubuhku di samping prajurit yang terlihat lemas. Kulihat Dewi masih di kerjai tiga orang prajurit, Dewi meringis-ringis sambil terus dijejali batang kemaluan prajurit yang besar itu. Karena aku merasa kasihan dengan Dewi dengan sedikit sempoyongan kuhampiri mereka kemudian kutarik salah satu dari mereka yang sedang getol-getolnya ngerjai dubur Dewi lalu kukangkangi dia, setelah tepat posisi pelernya diantara bibir kewanitaanku, kududuki dan langsung masuk seluruh batang kemaluan prajurit itu. Kugoyang-goyang dengan gencar hingga prajurit itu kewalahan menghadapi seranganku, membuatnya tak kuasa menahan lahar spermanya, menyemburlah spermanya dalam liang kewanitaanku. Karena aku belum mencapai klimaks lagi kepalang tanggung sehinga aku tetap menggoyang pinggulku sampai aku mencapai klimaks.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah selesai prajurit-prajurit itu mengerjaiku dan Dewi mereka terlihat lelah. Aku menghampiri Dewi, kulihat wajahnya sudah lelah, &#8220;Gimana Wik?&#8221; bisikku. &#8220;Wah! habis aku, sampai aku klimaks lima kali Sus&#8221;, Dewi menjawab pertanyaanku dengan sisa-sisa tenaganya. Setelah itu kami minta diantar ke rumah kontrakanku dan kemudian aku menghubungi jasa mobil derek kemudian kami istirahat setelah kami mandi bersama.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ceritasex.cn/mencoba-kenjatanan-prajurit/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Keperjakaan ku di ambil Tante Susi</title>
		<link>http://www.ceritasex.cn/keperjakaan-ku-di-ambil-tante-susi/</link>
		<comments>http://www.ceritasex.cn/keperjakaan-ku-di-ambil-tante-susi/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 28 Apr 2009 22:40:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cerita Sex</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sedarah]]></category>
		<category><![CDATA[ngentot]]></category>
		<category><![CDATA[susi]]></category>
		<category><![CDATA[tante]]></category>
		<category><![CDATA[tante susi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ceritasex.cn/?p=112</guid>
		<description><![CDATA[Cerita ini berawal ketika gw masih dudk di bangku SMA nama gw Ari (Samaran Sob&#8230;.),singkat nya dulu nyokap gw sering senam di deket rumah,dan setelah habis latihan senam pasti rumah gw di penuhin ibu-ibu yang pada habis senam. Diantara sekian banyak nya teman senam nyokap gw,ada satu ibu-ibu yang menarik perhatian gw,selain cantik umur nya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Cerita ini berawal ketika gw masih dudk di bangku SMA nama gw Ari (Samaran Sob&#8230;.),singkat nya dulu nyokap gw sering senam di deket rumah,dan setelah habis latihan senam pasti rumah gw di penuhin ibu-ibu yang pada habis senam. Diantara sekian banyak nya teman senam nyokap gw,ada satu ibu-ibu yang menarik perhatian gw,selain cantik umur nya jauh dibawah nyokap gw,kalo ngga salahmasih sekitar 32 thn,dan untuk anak seumuran gw waktu itu udah sangat tua banget alias dah tante-tante. Nama teman nyokap gw ini Susi (Samaran juga sob&#8230;.),tante Susi ini sebenar nya kalo di lihat penampilan nya biasa saja,ngga suka berpakaian seksi kecuali pakaian senam nya saja. Gw juga ngga tau kenapa,mungkin karena kecantikan nya atau tubuh nya sehingga tante Susi ini sering jadi objek onani gw. Lalu pada suatu hari disaat rumah gw lagi sepi-sepi nya,tante Susi datang kerumah gw “Spada&#8230;.!!” trus gw jawab “Iya&#8230;.!! Eh..tante Susi..ada apa Tan..??” tanya gw “Mama kamu mana Ri&#8230;?? Kok tadi pagi ngga ikut senam bareng?? Kamu ngga sekolah ya&#8230;??” trus gw jawab “Lho emang nya tante ngga tau ya&#8230;kan mama lagi ke Bandung sekeluarga ada acara pernikahan sepupu nya mama..kalo Ari emang lagi libur tan,kan abis ujian Ebtanas..” lalu tante Susi menjawab “Mmm..pantes aja tadi pagi ngga keliatan..” dan kemudian gw sedikit berbasa basi “Mampir dulu tan&#8230;??” trus tante Susi menjawab “Iya deh&#8230;numpang sebentar ya Ri&#8230;.!!” gw jawab “Iya tan..silah kan aja,mau minum apa tan..??” “Udah ngga usah repot-repot..tante cuma bentar kok..” lalu gw tinggalin tante Susi sendiri dan mengambil kan air putih,soal nya gw pada waktu itu gw sama sekali ngga tau gimana caranya bikin Teh atau Kopi,jadi kalo ada tamu datang gw langsung aja kasih Air putih hehehe&#8230;.. Trus pas gw bawain air langsung tante Susi bilang “Aduh&#8230;Ri,tante jadi ngerepotin kamu nih” trus gw jawab “Cuma air putih aja nih tan..Ari ngga tau cara nya bikin minuman yang lain hehe&#8230;!” kata gw sedikit ramah tamah,trus ngga lama kemudian gw liat tante dengan agak sedikit berbeda dandanan nya,ngga seperti biasa nya,tiap hari selalu pakai rok panjang dan kemeja lengan pendek,tapi kali ini Tante Susi pakai rok panjang tapi bengan belahan yang hapir terlihat bongkahan pantat nya,dan baju nya agak sedikit transparan,sehingga terlihat sekilas BH nya. Lalu Tante Susi membuyarkan lamunan gw “Ri..jadi kamu hari ini sendirian dong di rumah..??” “Iya nih..sepi ngga ada siapa-siapa tan&#8230;” trus tante susi memulai perbincangan dengan gw “Sama dong kaya tante,tante juga lagi sepi di rumah,suami tante lagi belayar selama 3 bulan..tapi kira-kira mama kamu pulang kapan??” lalu gw jawab “Lusa tan&#8230;itu pun juga kalo ngga sekalian arisan mingguan keluarga..” trus akhir nya gw langsung tinggalin tante Susi dan pergi nonton tv,sebetul nya sih takut ketahuan tante Susi kalo ular Anaconda gw dah berontak terus waktu gw liat belahan rok panjang nya tante Susi tadi.</p>
<p><span id="more-112"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Lalu tante Susi berkata sama gw “Ri..tante numpang tiduran bentar ya&#8230;badan tante masih pegel-pegel sejak senam tadi..” trus gw jawab “Oh..silah kan tan..Ari nonton tv disini&#8230;”. Setelah hampir setengah jam,gw berniat mau ambil makan karena dah saat nya gw makan siang,tapi tanpa di sengaja gw liat tante Susi tidur,dan tau apa yang terjadi,rok panjang tante Susi tersingkap,otomatis gw liat bongkahan pantat nya plus celana dalam berbahan sutra bewarna merah. Pada saat itu,tiba-tiba jantung berdegup kenceng dan badan gw agak gemeter sedikit,pikira gw agak kacau antara mo gw liat lebih deket atau jangan. Lalu gw ambil inisiatif kalo gw harus bisa liat lebih dekat lagi. Dengan perasaan agak takut,gw tiarap seperti seekor kadal mendekati mangsa nya,pelan-pelan gw merayap,sampai pada akhir nya wajah gw berdekatan dengan pantat nya,dan gw bisa melihat jelas pantat nya dalam hati gw berkata Oohh&#8230;tante Susi pantat mu indah bangettttt&#8230;&#8230;.!! Lalu dengan perasaan agak was-was gw coba beraniin diri gw untuk mencium aroma pantat nya Srrruuupppp&#8230;&#8230;..bener-bener harum banget pantat nya,wanginya khas selangkangan wanita banget&#8230;</p>
<p style="text-align: justify;">Trus gw coba untuk lebih berani lagi,gw mau mencoba menggesekan anaconda gw ke pantat nya yang masih tertutup celana dalam nya,agak takut sih,takut nanti tante Susi bangun dan melihat gw lagi dalam keadaan anaconda gw terbuka dan menggesekan pantat nya,awal nya gw pelan-pelan banget hingga akhir nya gw merasa nikmat banget walaupun cuma gw gesekin anaconda gw. Lalu tanpa gw sadari anaconda gw seperti ada yang menggenggam,dan gw langsung terkejut,ternyata tangan tante Susi yang mencengkram Anaconda gw,dan di saat itu juga gw langsung duduk dan berusaha secepat mungkin menutup anaconda gw,dan tante Susi langsung duduk di hadapan gw sambil bicara “Dah berapa lama kamu meleceh kan tante..?? dan gw pun menjawab “Sudah cukup lama tante&#8230;” sambil gw tundukin wajah gw karena malu dan takut di marahin tante Susi,tapi aneh nya tante Susi ngga marah sama sekali,malah dia tersenyum dan bilang “Tante maklumin kalo anak seumur kamu itu lagi tinggi libido nya,tapi kamu harus bisa tahan nafsu kamu,masa kamu mau permainkan orang tua kaya tante ini,apalagi tante ini teman ibu kamu&#8230;” trus gw jawab “Iya tan..Ari minta maaf tan..” lalu setelah panjang lebar tante Susi memberi nasehat,tanpa gw duga tante menghampiri gw dan berkata “Sudah sejak kapan kamu mulai tertarik sama tante,sebetul nya tante juga merasakan keras nya kelamin kamu kok,tapi tante udah ngga tahan mau pegang punya kamu&#8230;” Mendengar perkataan yang keluar dari mulut tante Susi,kontan gw kaget,apa lagi tante Susi tanpa basa-basi n permisi langsung mengusap daerah selangkangan gw,mau ngga mau anaconda gw yang tadi nya loyo jadi bangun dan berontak lagi. “Terus terang sih..kalo kamu dari kemarin mau cicipin tubuh tante sih..tante ngga keberatan,kebetulan tante udah lama ngga berhubungan sama suami tante..” Dalam hati gw berpikir gila juga nih tante,tampang nya aja yang kalem,ngga tau nya di balik kelembutan wajah nya ada kebinalan yang luar biasa,dan gw yang masih di selimuti kebingungan langsung kaget karena tante Susi langsung mengulum bibir gw sluuup&#8230;srrruuupp&#8230;.muach&#8230;.sluuup&#8230;!! “Ari&#8230;kamu jangan tegang kaya gitu dong..yang rileks aja,jadi bibir kamu ngga kaku&#8230;” trus gw bilang “I..i..iya tan&#8230;” lalu tante Susi tersenyum dan menutup matap nya sambil mendekat kan wajah nya ke wajah gw. Pada saat itu entah dari mana tiba-tiba gw jadi jago ciuman,padahal gw kalo sama cewe gw belum pernah ciuman (Pada saat itu gw sudah punya cewe). Lalu tangan tante mengambil kedua tangan gw dan mengarah kan tangan kanan gw ke buah dadanya yang masih terbungkus oleh bra hitam berbentuk seperti bra bikini dengan tali di leher,dantangan kiri gw diarahkan ke bongkahan pantat nya yang mungil yang sejak dari tadi ingin gw remas pantat nya itu,ternyata dugaan gw benar,pantatnya bener-bener menggemas kan dan dengan sengaja gw remas pantat tante Susi sehingga tante Susi melepas kan ciuman dari bibir gw dan teriak “Aaaaoooouuuhhhh&#8230;&#8230;nakal ya kamu Ari&#8230;!! Mendingan kamu lampiaskan kegemesan kamu sama tubuh tante yang lain aja&#8230;” lalu “Iya maaf tante,abis nya pantat tante gemesin sih&#8230;.”</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah itu tante berdiri dan hendak membuka baju nya,tapi gw tahan “Biar Ari aja yang buka tan&#8230;” Tante Susi hanya tersenyum saja,dan gw melepas kan kancing baju tante Susi satu persatu sehingga gw melihat gundukan bundar yang menantang dengan punting susu nya yang sudah mengeras di BH nya,pada saat itu gw ngga tau berapa ukuran payudara tante Susi,tapi yang pasti pada saat gw meremas-remas payudara nya terasa agak sedikit kenyal-kenyal keras dan mencubit pelan punting nya,sehingga tante Susi hanya mendesah “Terus Ri&#8230;remas susu tante&#8230;emmmhhhhhh&#8230;&#8230;ee..eeennnakkk bangetttt&#8230;.mpppphhhhhh&#8230;..” Karena gw dah ngga tahan lagi ingin liat payudara tante Susi,langsung aja gw buka ikatan bra nya yang ada di leher nya itu Breeettttt&#8230;&#8230;terpampang sudah payudara yang menggiurkan di depan muka gw,terus terang masih teringat jelas sampai sekarang kalo payudara tante Susi bener-bener ciamik banget,bundar,putih dan sedikit besar dengan punting yang kecil dan berwarna coklat muda. Dan kalo gw ingat-ingat,semua cewe yang pernah gw eksekusi kalah indah nya di banding payudara nya tante Susi,dan langsung tanpa basa-basi gw sedot payudara nya sambil gw mainin punting nya “Ooouuucchhh&#8230;..Ri&#8230;..terus sayang&#8230;&#8230;.hisaaaappp yang kuat saayyaaaangggggg&#8230;..mppphhhhhh&#8230;..” Dan tangan tante menekan kepala gw lebih dalem lagi di dada nya dan yang satu nya langsung merayap mencari anaconda gw lalu “Wow&#8230;Ari&#8230;punya kamu udah keras banget ya&#8230;.” dengan wajah heran nya,dia langsung menurunkan celana pendek gw yang tanpa sempak sehingga anaconda gw seakan-akan ingin meloncat dari sangkar nya “Yaaa&#8230;..ampun Ari&#8230;.punya kamu sebesar ini..??? Anak muda jaman sekarang makan nya apaan sih..?? Ck..ck..ck..Punya suami tante aja ngga sebesar ini..” Emang sih untuk ukuran anak seumuran gw waktu itu,kelamin gw agak besar,wajar aja klo punya gw rada big size,gw ini masih keturunan belanda dari bokap gw,otomatis anaconda gw made in netherland donk&#8230;hehehe&#8230;.</p>
<p style="text-align: justify;">Saat tante Susi melihat anaconda gw,dia langsung membelai barang wasiat gw wuiiiihhhhh&#8230;..bener-bener halus banget saat dia sentuh anaconda gw dengan kelembutan tangan nya,dan tiba-tiba bibir tante mendekat ke anaconda gw wuuuiiiiiihh&#8230;&#8230;dahsyat banget rasa nya bener-bener lembut setiap gesekan bibir nya di kelamin gw,hingga gw udah ngga tahan dan crooottzz&#8230;crooottzz&#8230;crooottzz&#8230; gw ngga tau dah berapa banyak sperma yang gw keluarin di dalam mulut nya “Ih&#8230;Ari..kok ngga bilang-bilang kalo kamu mau keluar&#8230;jadi ketelen semua nya nih&#8230;” lalu “Maaf tan..Ari udah ngga tahan banget” trus “Dasar ABG,baru kaya gini aja udah keluar,tapi&#8230;kok punya kamu ngga loyo yah&#8230;??” Dan tanpa di komando lagi,gw dorong tubuh tante dan langsung gw cium dari leher hingga payudara nya sambil tangan gw sibuk menurunkan celana dalam nya tanpa membuka rok nya. Dari situ gw coba mengusap-usap M***k nya hingga basah dan licin,lalu tante Susi menarik anaconda gw dan menuntun ke sarang nya “Ri&#8230;tante udah ngga tahan,kita langsung aja ya&#8230;??” lalu gw menganggukan kepala gw tanda gw setuju. Setelah anaconda di arahkan ke M***K nya,awal nya agak berasa sedikit sakit,seperti di jepit sesuatu yang agak lunak tapi agak hangat,dan tante Susi pun meringis sambil menggigit bibir bawah nya mmppphhh&#8230;&#8230;aahhhh&#8230;&#8230;hhhssssss&#8230;&#8230;!!! Danakhir nya anaconda gw masuk seluruhnya kedalam lubang persembunyiannya,dengan pelan-pelan gw maju mundurkan pinggul gw,kedua kaki tante melingkar di pinggang gw “Ri&#8230;dooorrroonngggg&#8230;.yang kuat laaaagiiiiii&#8230;&#8230;mmpppphhhhhh&#8230;..hhssssss&#8230;..!! ” “Iya tan&#8230;” lalu tiba-tiba tante Susi berkata “Jangan panggil aku tante,panggil aku Susi yaa..sayang&#8230;??” lalu gw jawab “Iya tan&#8230;eh..Susi..” tante Susi pun tersenyum dengan mata sayu karena merasa nikmat setiap gesekan yang gw beri sampai pada akhir nya tanpa terasa sudah 10 menit gw bermain tante Susi memeluk tubuh gw dengan erat sambil mengejang dan mencakar kedua pantat gw,saat itu gw merasa ada cairan hangat yang membasahi anaconda gw dan setiap jengkal batang gw serasa ada yang memijit-mijit dengan lembut,dengan lemah nya tante Susi berkata “Ooouuuuuhhhhhh&#8230;.Ri&#8230;a..a..aakuu&#8230;.dah keeeluarrr&#8230;..” Langsung pada saat itu tante Susi lemah tak berdaya dengan mengeluarkan banyak cairan diantara M***k nya</p>
<p style="text-align: justify;">Disaat tante Susi terbaring lemah,gw agak sedikit kecewa jg,tapi rupanya tante Susi menyadari hal ini “Dasar kuda jantan&#8230;masih belum keluar kamu&#8230;??” “Belum Sus&#8230;” Tante Susi melihat anaconda gw yang masih menancap keras di kelamin nya,sambil mencabut batang gw,tante Susi berdiri dan pergi ke dapur mengambil air dingin dari lemari es “Bentar lagi kamu akan aku buat ngga bisa melupakan pengalaman ini” kata nya,lalu kemudian dia menghampiri gw lagi,masih dalam posisi berdiri dia menyodor kan pantat nya “Sekarang kamu tusuk aku dari belakang yaa&#8230;??” terus “Hah&#8230;gimana caranya Sus&#8230;?? Itu tempatt&#8230;&#8230;” belum sempat gw lanjutin tante Susi langsung menjawab “Ihh&#8230;siapa juga yang mau di tempat itu,aku juga ngga mau&#8230;sakit tau&#8230;.!!” Bener-bener polos dan lugu gw saat itu,lalu gw hampiri tante Susi dari belakang,sambil membuka rok panjang nya tante Susi mengarah kan anaconda gw ke M***K nya dan&#8230;.sangat luarrrr&#8230;.biasaaa&#8230;&#8230;gw merasakan kenikmatan yang susah gw ungkapkan,lalu gw maju mundurkan pinggul gw dengan keras hingga terdengar kplok&#8230;.kplok&#8230;.kplok&#8230;.kplok&#8230;.!! “Aaauuhhh&#8230;..lebih dalem lagii&#8230;Riii&#8230;.!!” Dengan sekuat tenaga gw hentakan setiap tusukan yang gw buat,sambil gw pegang payudara nya dan gw cium tengkuk nya “Sus&#8230;kelamin kamu enak bangettt&#8230;hangat serasa di pijit-pijit punya ku&#8230;” Ngga terasa hampir setengah jam gw bermain dalam posisi berdiri hingga akhir nya tante Susi seperti mau orgasme untuk yang kedua kali nya dan gw pun juga merasakan ingin keluar juga “Ri..aku udahhh&#8230;.ngga taaahaannn lagiiii&#8230;..mauu..keelluarrr&#8230;.” “Sama Sus&#8230;a..aakuu&#8230;jugaaa&#8230;.” lalu tante Susi bilang “Kita keluaarr..barengg ajaaa&#8230;.kamu keluarin di dalam ajaaa&#8230;.” Tadi gw berpikir kalo gw buang di dalam nanti tante Susi bisa hamil,tapi karena pikiran bersih danpikiran setan gw lebih kuatan pikiran setan,akhir nya gw dan tante Susi sama-sama melepaskan klimaks nya secara berbarengan “Oouuhhhhh&#8230;Sus&#8230;aku mauuu&#8230;keeeeeluarrrrrrr&#8230;&#8230;” “Aku juga sayaaanngggggggg&#8230;..” crooottzz&#8230;crooottzz&#8230;crooottzz&#8230;!! Walaupun ngga sebanyak yang pertama,tapi gw merasa sekujur tulang persendian gw seperti hilang sum-sum nya,hingga kita berdua berlutut dan sama-sama tergeletak di lantai. Sedangkan anaconda gw di biarkan didalam hingga mengecil sendiri namun disaat itu ada cairan cinta gw keluar dari kelamin tante Susi. Dan disaat itu wajah gw bukan terlihat merdeka,tapi terlihat seperti muka bersalah “Kamu kenapa sayang&#8230;??” Kata tante Susi berbisik “Mmm&#8230;tadi kan Ari masukin sperma Ari ke dalam,apa kamu ngga takut Sus&#8230;??” Tanya gw yang udah seperti sepasang suami istri “Haha&#8230;..haha&#8230;.” Tante Susi tertawa “Kok malah ketawa sih&#8230;.???” Kata gw yang jengkel liat sikap nya “Jadi dari tadi kamu pikirin itu yaaa&#8230;??? Tenang aja aku dah di spiral,jadi kamu tenang aja,ngga usah takut kalo aku hamil..” Mendengar penjelasan tante Susi,lega perasaan gw jadi nya.</p>
<p style="text-align: justify;">Dan akhir nya ngga terasa langit dah terlihat sore,kita pun masih bercanda seperti orang yang baru pertama kali pacaran “Ri&#8230;maafin aku ya&#8230;yang telah mengambil keperjakaan kamu..! Kamu menyesal dengan kejadian ini??” Lalu dengan senyum kecil gw berkata “Ari ngga merasa nyesel kok,malah Ari berterima kasih karena Susi udah memberi pengalaman yang ngga akan terlupakan buat Ari&#8230;” Dan setelah itu kita masih terus berhubungan,tapi tidak dirumah melainkan di hotel,itu pun di saat habis gw pulang sekolah atau hari libur,dan akhir nya kita berpisah karena suami nya harus pindah tugas di daerah Bali,hingga sekarang gw ngga tau gimana kabar nya,karena pada jaman gw Hp belum ada,sedangkan pager gw masih belum mampu beli. Gw pun dan keluarga telah berpindah-pindah tempat walaupun masih di kota yang sama.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ceritasex.cn/keperjakaan-ku-di-ambil-tante-susi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

