<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Cerita sex porno ngentot mesum perek ayam kampus &#187; Tante Girang</title>
	<atom:link href="http://www.ceritasex.cn/tag/tante-girang/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.ceritasex.cn</link>
	<description>Kumpulan cerita sex, foto bugil, dan film porno</description>
	<lastBuildDate>Wed, 08 Feb 2012 13:12:08 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
		<item>
		<title>Nikmatnya Tante Stella</title>
		<link>http://www.ceritasex.cn/nikmatnya-tante-stella/</link>
		<comments>http://www.ceritasex.cn/nikmatnya-tante-stella/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 23 Jul 2011 02:47:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cerita Sex</dc:creator>
				<category><![CDATA[kisah nyata]]></category>
		<category><![CDATA[Seks Umum]]></category>
		<category><![CDATA[Tante Girang]]></category>
		<category><![CDATA[gigolo]]></category>
		<category><![CDATA[mandi]]></category>
		<category><![CDATA[nafsu]]></category>
		<category><![CDATA[ngentot]]></category>
		<category><![CDATA[orgasme]]></category>
		<category><![CDATA[tante]]></category>
		<category><![CDATA[tante stella]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ceritasex.cn/?p=2646</guid>
		<description><![CDATA[Cerita ini adalah kisah nyata, berlangsung ketika saya kuliah di suatu kota ternama di Jawa tengah sekitar tahun 1992. Sebagai mahasiswa pendatang, saya hidup sederhana, karena memang kiriman dari orangtua yang bekerja sebagai tentara terkadang kurang untuk memenuhi kebutuhan saya. Menurut teman-teman, saya termasuk pria simpatik, dengan kemampuan berpikir cemerlang, biasanya saya dipanggil Rudy. Kurang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Cerita ini adalah kisah nyata, berlangsung ketika saya kuliah di suatu kota ternama di Jawa tengah sekitar tahun 1992. Sebagai mahasiswa pendatang, saya hidup sederhana, karena memang kiriman dari orangtua yang bekerja sebagai tentara terkadang kurang untuk memenuhi kebutuhan saya. Menurut teman-teman, saya termasuk pria simpatik, dengan kemampuan berpikir cemerlang, biasanya saya dipanggil Rudy.</p>
<p style="text-align: justify;">Kurang dari 6 bulan saya belajar di kota ini, cukup banyak tawaran dari beberapa teman untuk memberikan les privat matematika dan IPA bagi adik-adik mereka yang masih duduk di sekolah lanjutan. Keberuntungan datang bertubi-tubi, bahkan tawaran datang dari bunga kampus kami, sebut saja Indah untuk memberikan les privat bagi adiknya yang masih duduk di kelas 2 SLTP swasta ternama di kota dimana saya kuliah.</p>
<p style="text-align: justify;">Keluarga Indah adalah keluarga yang sangat harmonis, ayahnya bekerja sebagai kepala kantor perwakilan (Kakanwil) salah satu departemen, berumur kurang lebih 46 tahun, sementara itu ibunya, biasa saya panggil Tante Stella, adalah ibu rumah tangga yang sangat memperhatikan keluarganya. Konon kabarnya Tante Stella adalah mantan ratu kecantikan di kota kelahirannya, dan hal ini amat saya percayai karena kecantikan dan bentuk tubuhnya yang masih sangat menarik diusianya yang ke 36 ini. Adik Indah murid saya bernama Noni, amat manja pada orangtuanya, karena Tante Stella selalu membiasakan memenuhi segala permintaannya.</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam satu minggu, saya harus memberikan perlajaran tambahan 3 kali buat Nona, walaupun sudah saya tawarkan bahwa waktu pertemuan tersebut dapat dikurangi, karena sebenarnya Nona cukup cerdas, hanya sedikit malas belajar. Tetapi Tante Stella malah menyarankan untuk memberikan pelajaran lebih dari yang sudah disepakati dari awalnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Setiap saya selesai mengajar, Tante Stella selalu menunggu saya untuk membicarakan perkembangan anaknya, tekadang ekor matanya saya tangkap menyelidik bentuk badan saya yang agak bidang menurutnya. Melewati satu bulan saya mengajar Noni, hubungan saya dengan Tante Stella semakin akrab.</p>
<p style="text-align: justify;">Suatu ketika, kira-kira bulan ketiga saya mengajar Noni, saya datang seperti biasanya jam 16:00 sore. Saya mendapati rumah Bapak Gatot sepi tidak seperti biasanya, hanya tukang kebun yang ada. Karena sudah menjadi kewajiban, saya berinisiatif menunggu Noni, minimal selama waktu saya mengajar. Kurang lebih 45 menit menunggu, Tante Stella datang dengan wajah cerah sambil mengatakan bahwa Noni sedang menghadiri pesta ulang tahun salah seorang temannya, sehingga hari itu saya tidak perlu mengajar. Tetapi Tante Stella tetap minta saya menunggu, karena ada sesuatu yang harus dibicarakan dengan saya.</p>
<p style="text-align: justify;">Ketika Tante Stella memanggil untuk masuk ke dalam rumahnya, alangkah kagetnya saya, ternyata Tante Stella telah memakai baju yang sangat seksi. Yah, memang badannya cukup seksi, karena walaupun sudah mulai berumur, Tante Stella masih sempat menjaga tubuhnya dengan melakukan senam “BL” seminggu 3 kali. Tubuhnya yang ideal menurut saya mempunyai tinggi sekitar 168 cm, dan berat sekitar 48 kg, ditambah ukuran payudaranya kira-kira 36B.</p>
<p style="text-align: justify;">Mula-mula saya tidak menaruh curiga sama sekali, pembicaraan hanya berkisar masalah perkembangan pendidikan Noni. Tetapi lama kelamaan sejalan dengan cairnya situasi, Tante Stella mulai bercerita tentang kesepiannya di atas ranjang. Terus terang saya mulai bingung mengimbangi pembicaraan ini, saya hanya terdiam, sambil berhayal entah kamana.<br />
“Rud, kamu lugu sekali yah..?” tanya Tante Stella.<br />
“Agh.. Tante bisa aja deh, emang biar nggak lugu harus gimana..?” jawab saya.<br />
“Yah.. lebih dewasa Dong..!” tegasnya.<br />
Lalu, tiba-tiba tangan Tante Stella sudah memegang tangan saya duluan, dan tentu saja saya kaget setengah mati.</p>
<p style="text-align: justify;">“Rud.. mau kan tolongin Tante..?” tanya si Tante dengan manja.<br />
“Loh.. tolongin apalagi nih Tante..?” jawab saya.<br />
“Tolong puaskan Tante, Tante kesepian nih..!” jawab si Tante.<br />
Astaga, betapa kagetnya saya mendengar kalimat itu keluar dari mulut Tante Stella yang memiliki rambut sebahu. Saya benar-benar tidak membayangkan kalau ibu bunga kampus saya, bahkan ibu murid saya sendiri yang meminta seperti itu. Memang tidak pernah ada keinginan untuk “bercinta” dengan Tante Stella ini, karena selama ini saya menganggap dia sebagai seorang ibu yang baik dan bertanggung jawab.<br />
“Wah.. saya harus memuaskan Tante dengan apa dong..?” tanya saya sambil bercanda.<br />
“Yah.. kamu pikir sendirilah, kan kamu sudah dewasa kan..?” jawabnya.<br />
<span id="more-2646"></span><br />
Lalu akhirnya saya terbawa nafsu setan juga, dan mulai memberanikan diri untuk memeluknya dan kami mulai berciuman di ruang keluarganya. Dimulai dengan mencium bibirnya yang tipis, dan tanganku mulai meremas-remas payudaranya yang masih montok itu. Tante Stella juga tidak mau kalah, dia langsung meremas-remas alat kelaminku dengan keras. Mungkin karena selama ini tidak ada pria yang dapat memuaskan nafsu seksnya yang ternyata sangat besar ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Akhirnya setelah hampir selama setengah jam kami berdua bercumbu, Tante Stella menarik saya ke kamar tidurnya. Sesampainya di kamar tidurnya, dia langsung melucuti semua baju saya, pertama-tama dia melepas kemeja saya sambil menciumi dada saya. Bukan main nafsunya si Tante, pikirku. Dan akhirnya, sampailah pada bagian celana. Betapa nafsunya dia ingin melepaskan celana Levi’s saya. Dan akhirnya dia dapat melihat betapa tegangnya batang kemaluan saya.</p>
<p style="text-align: justify;">“Wah.. Rud, gede juga nih punya kamu..” kata si Tante sambil bercanda.<br />
“Masa sih Tante..? Perasaan biasa-biasa saja deh..!” jawab saya.<br />
Dalam keadaan saya berdiri dan Tante Stella yang sudah jongkok di depan saya, dia langsung menurunkan celana dalam saya dan dengan cepatnya dia memasukkan batang kemaluan saya ke dalam mulutnya. Aghh, nikmat sekali rasanya. Karena baru pertama kali ini saya merasakan oral seks. Setelah dia puas melakukan oral dengan kemaluan saya, kemudian saya mulai memberanikan diri untuk bereaksi.</p>
<p style="text-align: justify;">Sekarang gantian saya yang ingin memuaskan si Tante. Saya membuka bajunya dan kemudian saya melepaskan celana panjangnya. Setelah melihat keadaan si Tante dalam keadaan tanpa baju itu, tiba-tiba libido seks saya menjadi semakin besar. Saya langsung menciumi payudaranya sambil meremas-remas, sementara itu Tante Stella terlihat senangnya bukan main. Lalu saya membuka BH hitamnya, dan mulailah saya menggigit-gigit putingnya yang sudah mengeras.<br />
“Oghh.. saya merindukan suasana seperti ini Rud..!” desahnya.<br />
“Tante, saya belum pernah gituan loh, tolong ajarin saya yah..?” kata saya.</p>
<p style="text-align: justify;">Karena saya sudah bernafsu sekali, akhirnya saya mendorong Tante jatuh ke ranjangnya. Dan kemudian saya membuka celana dalamnya yang berwarna hitam. Terlihat jelas klitoris-nya sudah memerah dan liang kemaluannya sudah basah sekali di antara bulu-bulu halusnya. Lalu saya mulai menjilat-jilat kemaluan si Tante dengan pelan-pelan.<br />
“Ogh.. Rud, pintar sekali yah kamu merangsang Tante..” dengan suara yang mendesah.<br />
Tidak terasa, tahu-tahu rambutku dijambaknya dan tiba-tiba tubuh Tante mengejang dan saya merasakan ada cairan yang membanjiri kemaluannya, wah.. ternyata dia orgasme! Memang berbau aneh sih, karena berhubung sudah dilanda nafsu, bau seperti apa pun tentunya sudah tidak menjadi masalah.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah itu kami merubah posisi menjadi 69, posisi ini baru pertama kalinya saya rasakan, dan nikmatnya benar-benar luar biasa. Mulut Tante menjilati kemaluan saya yang sudah mulai basah dan begitupun mulut saya yang menjilat-jilat liang kemaluannya. Setelah kami puas melakukan oral seks, akhirnya Tante Stella sekarang meminta saya untuk memasukkan batang kemaluan saya ke dalam lubang kemaluannya.<br />
“Rud.. ayoo Dong, sekarang masukin yah, Tante sudah tidak tahan nih..!” pinta si Tante.<br />
“Wah.. saya takut kalo Tante hamil gimana..?” tanya saya.<br />
“Nggak usah takut deh, Tante minum obat kok, pokoknya kamu tenang-tenang aja deh..!” sambil berusaha meyakinkan saya.</p>
<p style="text-align: justify;">Benar-benar nafsu setan sudah mempengaruhi saya, dan akhirnya saya nekad memasukkan kemaluan saya ke dalam lubang kemaluannya. Oghh, nikmatnya.. Setelah akhirnya masuk, saya melakukan gerakan maju-mundur dengan pelan.<br />
“Ahh.. dorong terus Dong Rud..!” pinta si Tante dengan suara yang sudah mendesah sekali.<br />
Mendengar desahannya, saya menjadi semakin nafsu, dan saya mulai mendorong dengan kencang dan cepat. Sementara itu tangan saya asyik meremas-remas payudaranya, sampai tiba-tiba tubuh Tante Stella mengejang kembali. Astaga, ternyata dia orgasme yang kedua kalinya.</p>
<p style="text-align: justify;">Dan kemudian kami berganti posisi, saya di bawah dan dia di atas saya. Posisi ini adalah idaman saya kalau sedang bersenggama. Dan ternyata posisi pilihan saya ini memang tidak salah, benar-benar saya merasakan kenikmatan yang luar biasa dengan posisi ini. Sambil merasakan gerakan naik-turunnya pinggul si Tante, tangan saya tetap sibuk meremas payudaranya lagi.<br />
“Oh.. oh.. nikmat sekali Rudy..!” teriak si Tante.<br />
“Tante.. saya kayaknya sudah mau keluar nih..!” kata saya.<br />
“Sabar yah Rud.. tunggu sebentar lagi, Tante juga udah mau keluar lagi nih..!” jawab si Tante.</p>
<p style="text-align: justify;">Akhirnya saya tidak kuat menahan lagi, dan keluarlah cairan mani saya di dalam liang kemaluan si Tante, begitu juga dengan si Tante.<br />
“Arghh..!” teriak Tante Stella.<br />
Tante Stella kemudian mencakar pundak saya, sementara saya memeluk badannya dengan erat sekali. Sungguh luar biasa rasanya, otot-otot kemaluannya benar-benar meremas batang kemaluan saya.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah itu kami berdua letih, tanpa disadari kami telah sejam bersenggama, saya akhirnya bangun. Saya memakai baju saya kembali dan menuju ke ruang keluarga. Ketika melihat Tante Stella dalam keadaan telanjang menuju ke dapur, mungkin dia sudah biasa seperti itu, entah kenapa, tiba-tiba sekarang giliran saya yang nafsu melihat pinggulnya dari belakang. Tanpa bekata-kata, saya langsung memeluk Tante Stella dari belakang, dan mulai lagi meremas-remas payudaranya dan pantatnya yang montok serta menciumi lehernya. Tante pun membalasnya dengan penuh nafsu juga. Tante langsung menciumi bibir saya, dan memeluk saya dengan erat.</p>
<p style="text-align: justify;">“Ih.. kamu ternyata nafsuan juga yah anaknya..?” kataya sambil tertawa kecil.<br />
“Agh.. Tante bisa aja deh..!” jawab saya sambil menciumi bibirnya kembali.<br />
Karena sudah terlalu nafsu, saya mengajaknya untuk sekali lagi bersenggama, dan si Tante setuju-setuju saja. Tanpa ada perintah dari Tante Stella, kali ini saya langsung membuka celana dan baju saya kembali, sehingga kami dalam keadaan telanjang kembali di ruang keluarga. Karena keadaan tempat kurang nyaman, maka kami hanya melakukannya dengan gaya dogie style.</p>
<p style="text-align: justify;">“Um.. dorong lebih keras lagi dong Rud..!” desahnya.<br />
Semakin nafsu saja saya mendengar desahannya yang menurut saya sangat seksi. Maka semakin keras juga sodokan saya kepada si Tante, sementara itu tangan saya menjamah semua bagian tubuhnya yang dapat saya jangkau.<br />
“Rud.. mandi yuk..!” pintanya.<br />
“Boleh deh Tante, berdua yah tapinya, terus Tante mandiin saya yah..?” jawab saya.</p>
<p style="text-align: justify;">Akhirnya kami berdua yang telanjang menuju ke kamar mandi. Di kamar mandi saya duduk di atas closed, dan kemudian saya menarik Tante Stella untuk menciumi kemaluannya yang mulai basah kembali. Dan Tante mulai terangsang kembali.<br />
“Hm.. nikmat sekali jilatanmu Rud.. agghh..!” desahnya.<br />
“Rud.. kamu sering-sering ke sini Rud..!” katanya dengan nafas memburu.<br />
Setelah puas menjilatinya, saya angkat Tante Stella agar duduk di atas saya, dan batang kemaluan saya kembali dibimbingnya masuk ke dalam lubang kemaluannya. Kali ini rasa nikmatnya lebih banyak terasa. Goyangan si Tante yang naik-turun yang makin lama makin cepat membuat saya akhirnya “KO” kembali. Saya mengeluarkan air mani ke dalam lubang kemaluannya. Tante Stella kemudian menjilati kemaluan saya yang sudah berlumuran dengan air mani, dihisapnya semua sampai bersih. Setelah itu kami mandi bersama.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah selesai mandi, saya pamit pulang karena baru tersadar bahwa perbuatan saya amat berbahaya bila diketahui oleh Bapak Gatot, Indah teman sekampus saya, apalagi Noni murid saya itu. Sampai sekarang kami masih sering bertemu dan melakukan persetubuhan, tetapi tidak pernah lagi di rumah, Tante memesan kamar hotel berbintang dan kami bertemu di sana.</p>
<p style="text-align: justify;">Selepas pengalaman itu, saya menjadi lebih berani pada wanita, dan menikmati persetubuhan dengan beberapa wanita setengah baya yang kesepian dan butuh pertolongan tanpa dibayar.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ceritasex.cn/nikmatnya-tante-stella/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Saat Suaminya Keluar Kota, Aku Dipaksa Jadi Pemuas Nafsu Tante</title>
		<link>http://www.ceritasex.cn/saat-suaminya-keluar-kota-aku-dipaksa-jadi-pemuas-nafsu-tante/</link>
		<comments>http://www.ceritasex.cn/saat-suaminya-keluar-kota-aku-dipaksa-jadi-pemuas-nafsu-tante/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 19 Dec 2010 20:33:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cerita Sex</dc:creator>
				<category><![CDATA[Foto Mesum]]></category>
		<category><![CDATA[Paruh baya]]></category>
		<category><![CDATA[selingkuh]]></category>
		<category><![CDATA[Tante Girang]]></category>
		<category><![CDATA[Toket gede]]></category>
		<category><![CDATA[blowjob]]></category>
		<category><![CDATA[budak nafsu]]></category>
		<category><![CDATA[budak seks]]></category>
		<category><![CDATA[isep kontol]]></category>
		<category><![CDATA[istri muda]]></category>
		<category><![CDATA[ngentot]]></category>
		<category><![CDATA[tante]]></category>
		<category><![CDATA[toket gede]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ceritasex.cn/?p=1760</guid>
		<description><![CDATA[Dipaksa tapi enak kan? alesan aja tuh yang bikin judul, buktinya merem melek  juga keenakan ngentot sama tante hehehe&#8230; dasar tante ini nafsu banget toketnya gede lagi&#8230; jadi pengen nenen]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Dipaksa tapi enak kan? alesan aja tuh yang bikin judul, buktinya merem melek  juga keenakan ngentot sama tante hehehe&#8230; dasar tante ini nafsu banget toketnya gede lagi&#8230; jadi pengen nenen <img src='http://www.ceritasex.cn/wp-includes/images/smilies/icon_razz.gif' alt=':P' class='wp-smiley' /> </p>
<p style="text-align: justify;"><img class="aligncenter size-medium wp-image-1761" title="tante-ngentot" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2010/12/tante-ngentot-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></p>
<p style="text-align: justify;"><img class="aligncenter size-medium wp-image-1762" title="tante-ngentot-2" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2010/12/tante-ngentot-2-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></p>
<p style="text-align: justify;"><img class="aligncenter size-medium wp-image-1763" title="tante-ngentot-3" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2010/12/tante-ngentot-3-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></p>
<p style="text-align: justify;"><img class="aligncenter size-medium wp-image-1764" title="tante-ngentot-4" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2010/12/tante-ngentot-4-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></p>
<p style="text-align: justify;"><img class="aligncenter size-medium wp-image-1765" title="tante-ngentot-5" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2010/12/tante-ngentot-5-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></p>
<p style="text-align: justify;"><img class="aligncenter size-medium wp-image-1766" title="tante-ngentot-6" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2010/12/tante-ngentot-6-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></p>
<p style="text-align: justify;"><img class="aligncenter size-medium wp-image-1767" title="tante-ngentot-7" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2010/12/tante-ngentot-7-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></p>
<p style="text-align: justify;"><img class="aligncenter size-medium wp-image-1768" title="tante-ngentot-8" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2010/12/tante-ngentot-8-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ceritasex.cn/saat-suaminya-keluar-kota-aku-dipaksa-jadi-pemuas-nafsu-tante/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tante Numpang Mejeng Ya&#8230;!!</title>
		<link>http://www.ceritasex.cn/tante-numpang-mejeng-ya/</link>
		<comments>http://www.ceritasex.cn/tante-numpang-mejeng-ya/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 03 Oct 2010 22:10:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cerita Sex</dc:creator>
				<category><![CDATA[Foto Mesum]]></category>
		<category><![CDATA[Paruh baya]]></category>
		<category><![CDATA[Tante Girang]]></category>
		<category><![CDATA[memek]]></category>
		<category><![CDATA[susu]]></category>
		<category><![CDATA[tante]]></category>
		<category><![CDATA[toket]]></category>
		<category><![CDATA[toket gede]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ceritasex.cn/?p=1519</guid>
		<description><![CDATA[Permisi&#8230; tante mau numpang mejeng pamer toket ma memek ya!]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Permisi&#8230; tante mau numpang mejeng pamer toket ma memek ya! <img src='http://www.ceritasex.cn/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> </p>
<p><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2010/10/tante-girang-1.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-1521" title="tante-girang-1" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2010/10/tante-girang-1-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a></p>
<p><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2010/10/tante-girang-2.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-1523" title="tante-girang-2" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2010/10/tante-girang-2-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a></p>
<p><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2010/10/tante-girang-3.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-1524" title="tante-girang-3" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2010/10/tante-girang-3-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a></p>
<p><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2010/10/tante-girang-4.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-1525" title="tante-girang-4" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2010/10/tante-girang-4-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a></p>
<p><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2010/10/tante-girang-5.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-1526" title="tante-girang-5" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2010/10/tante-girang-5-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a></p>
<p><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2010/10/tante-girang-6.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-1527" title="tante-girang-6" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2010/10/tante-girang-6-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ceritasex.cn/tante-numpang-mejeng-ya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tante Mey-Mey Toketnya Mancung</title>
		<link>http://www.ceritasex.cn/tante-mey-mey-toketnya-mancung/</link>
		<comments>http://www.ceritasex.cn/tante-mey-mey-toketnya-mancung/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 27 Apr 2010 17:14:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cerita Sex</dc:creator>
				<category><![CDATA[Foto Mesum]]></category>
		<category><![CDATA[Paruh baya]]></category>
		<category><![CDATA[Tante Girang]]></category>
		<category><![CDATA[cina]]></category>
		<category><![CDATA[cuki]]></category>
		<category><![CDATA[mey mey]]></category>
		<category><![CDATA[ngentot]]></category>
		<category><![CDATA[susu]]></category>
		<category><![CDATA[tante]]></category>
		<category><![CDATA[toket]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ceritasex.cn/?p=1364</guid>
		<description><![CDATA[Mantap nih tante mey-mey toketnya keren abis hahahaha jangan di pakai bahan coli bro! enakan di entot aja langsung hihihi&#8230;.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Mantap nih tante mey-mey toketnya keren abis hahahaha <img src='http://www.ceritasex.cn/wp-includes/images/smilies/icon_razz.gif' alt=':P' class='wp-smiley' />  jangan di pakai bahan coli bro! enakan di entot aja langsung hihihi&#8230;.</p>
<p><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2010/04/mey-mey-1.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-1365" title="mey-mey-1" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2010/04/mey-mey-1-229x300.jpg" alt="" width="229" height="300" /></a></p>
<p><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2010/04/mey-mey-2.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-1366" title="mey-mey-2" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2010/04/mey-mey-2-300x220.jpg" alt="" width="300" height="220" /></a></p>
<p><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2010/04/mey-mey-3.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-1367" title="mey-mey-3" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2010/04/mey-mey-3-300x220.jpg" alt="" width="300" height="220" /></a></p>
<p><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2010/04/mey-mey-4.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-1368" title="mey-mey-4" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2010/04/mey-mey-4-300x220.jpg" alt="" width="300" height="220" /></a></p>
<p><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2010/04/mey-mey-5.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-1369" title="mey-mey-5" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2010/04/mey-mey-5-300x220.jpg" alt="" width="300" height="220" /></a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ceritasex.cn/tante-mey-mey-toketnya-mancung/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Dewi Maniak Seks &#8211; Pesta Ulang Tahun Anaknya Bagian 2</title>
		<link>http://www.ceritasex.cn/dewi-maniak-seks-pesta-ulang-tahun-anaknya-bagian-2/</link>
		<comments>http://www.ceritasex.cn/dewi-maniak-seks-pesta-ulang-tahun-anaknya-bagian-2/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 26 Nov 2009 02:17:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cerita Sex</dc:creator>
				<category><![CDATA[anal seks]]></category>
		<category><![CDATA[Paruh baya]]></category>
		<category><![CDATA[Seks Umum]]></category>
		<category><![CDATA[Tante Girang]]></category>
		<category><![CDATA[anal]]></category>
		<category><![CDATA[anus seks]]></category>
		<category><![CDATA[cuki]]></category>
		<category><![CDATA[dewi]]></category>
		<category><![CDATA[lonte]]></category>
		<category><![CDATA[maniak seks]]></category>
		<category><![CDATA[ml]]></category>
		<category><![CDATA[ngentot]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ceritasex.cn/?p=1068</guid>
		<description><![CDATA[Parmin mencabut batang kemaluannya dari jepitan lubang pantat Hani, sementara Gito mulai memompa kontolnya keluar masuk vagina Hani dengan perlahan-lahan, Hani yang sedang merasakan sisa-sisa kenikmatan itu melenguh dibuatnya. “Oooohhhh….,”Hani melenguh. Sambil memompa Gito menciumi Hani dengan penuh nafsu, dilumatnya bibir Hani, lidahnya menyelusup masuk kedalam mulut Hani mencari-cari lidah Hani, kedua lidah mereka menari [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Parmin mencabut batang kemaluannya dari jepitan lubang pantat Hani, sementara Gito mulai memompa kontolnya keluar masuk vagina Hani dengan perlahan-lahan, Hani yang sedang merasakan sisa-sisa kenikmatan itu melenguh dibuatnya.</p>
<p style="text-align: justify;">“Oooohhhh….,”Hani melenguh.</p>
<p style="text-align: justify;">Sambil memompa Gito menciumi Hani dengan penuh nafsu, dilumatnya bibir Hani, lidahnya menyelusup masuk kedalam mulut Hani mencari-cari lidah Hani, kedua lidah mereka menari dirongga mulut Hani, saling bertautan, Gito mulai menaikkan ritme sodokan-sodokan kontolnya di lubang vagina Hani.</p>
<p style="text-align: justify;">Sementara itu Parmin beranjak kearah Nita, yang saat itu sedang menikmati sisa-sisa kenikmatannya, Parmin lalu menyuruh Nanang untuk mulai mengentot Nita sambil duduk dengan posisi WOT, Parmin membantu Nanang dengan menggendong tubuh Nita dan mengangkangkannya diatas tubuh Nanang, sementara Nanang mengarahkan kepala kontolnya kelubang vagina Nita, diselipkannya kepala kontolnya divagina Nita, ssleeppp…kepala kontolnya terjepit oleh lubang vagina Nita, Nita melenguh saat merasakan kepala kontol Nanang mulai menerobos lubang vaginanya, dengan perlahan-lahan Parmin mulai menurunkan pantat Nita, bbleesss….bleessss…bbleesss….kontol Nanang perlahan-lahan menerobos masuk kedalam lubang memek Nita, dan bbbleeesss…..dengan sekali hentak Parmin menekan pantat Nita kebawah, kontol Nanangpun terbenam seluruhnya didalam lubang nikmat Nita, Nita melenguh keras saat Parmin menghentakkan pantatnya itu.</p>
<p style="text-align: justify;">“Uughhh….kontolmu besar dan panjang…kurasa ujung kepala kontolmu menyentuh dinding rahimku…Aaaarrgghh…,”lenguh Nita.</p>
<p style="text-align: justify;">Parmin lalu mendorong punggung Nita, sehingga tubuh Nita tengkurap diatas tubuh Nanang, lalu ia mulai menyelipkan kontolnya kedalam lubang pantat Nita, Nita menjerit saat merasakan kepala kontol Parmin mulai menyeruak lubang pantatnya, Nita merasakan sakit dilubang pantatnya, tapi ia tidak bisa meronta karena saat itu Nanang sedang memeluknya dengan erat, dengan terpaksa Nita hanya dapat menerima perlakuan Parmin di lubang pantatnya, sambil menahan sakit ia menggigit pundak Nanang, Nanang mendiamkan gigitan Nita karena saat itu ia sedang merasakan kenikmatan yang belum pernah ia alami sebelumnya, kontolnya sedang terjepit dengan erat oleh memek Nita, ditambah dengan aksi Parmin yang sedang meneroboskan kontolnya dilubang pantat Nita sehingga membuat lubang vagina Nita semakin sempit dirasakan oleh Nanang.</p>
<p style="text-align: justify;">“Terus, Min, dorong terus, gila memeknya jadi tambah sempit, berkedut-kedut terus lagi, kontol gw kaya dipijat-pijat,”teriak Nanang yang sedang keenakan merasakan jepitan memek Nita.</p>
<p style="text-align: justify;">“Heeh, ini pantatnya juga sempit, masih perawan, hehehe…empot ayam juga, tenang Bu, nanti juga enak, tanya aja ama bu Hani tuch, ya nggak bu Han,”kata Parmin terkekeh-kekeh.<br />
<span id="more-1068"></span><br />
“Heeh…beetul…Nit, tar juga enak..Ooohhh terus Git, sodok lebih dalam lagi, iyaaahh…,”jawab Hani membetulkan sambil menikmati sodokan-sodokan kontol Gito.
</p>
<p style="text-align: justify;">“Tuch, apa saya bilang Bu,”Parmin berkata lagi, sambil terus menekankan kontolnya lagi, bbleess ….blleess…bbleeesss…perlahan tapi pasti kontol Parmin mulai menyeruak masuk lebih dalam dilubang pantat Nita.</p>
<p style="text-align: justify;">“Hhhmmm….hhhmmmm…,”Nita hanya bisa bergumam merasakan kesakitan saat kontol Parmin menerobos makin dalam dilubang pantatnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Dan….Bbbleeesss….dengan sekali sentakan kuat Parmin mendorong kontolnya, Nita menjerit akibat sentakan Parmin itu,</p>
<p style="text-align: justify;">“Arrgghhhh….sakiiittt….ccabut..kontolmu itu…Uughhh,”jerit Nita.</p>
<p style="text-align: justify;">Parmin yang sedang menikmati jepitan erat lubang pantat Nita di batang kemaluannya itu tidak mau mendengarkan permintaan Nita, tapi dengan kedua tangannya memegangi pinggang Nita Parmin mulai dengan perlahan-lahan memaju mundurkan tubuh Nita, sehingga kontolnya dan kontol Nanang mulai keluar masuk dengan sendirinya dilubang-lubang Nita.</p>
<p style="text-align: justify;">“Min , uenak tenan, nich…ngentot cara begini, betul-betul mantab…kayanya memeknya tambah sempit aja..oooohh…, sedapp…nikmat….,”kata Nanang saat ia mulai merasakan kontolnya keluar masuk memek Nita dengan seretnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Sssrtttt….bbleess…..sssrtttt….bbleess….sssrrrtt….b bblleess…sssrrttt..bbleeess….. kedua kontol mereka keluar masuk perlahan-lahan di kedua lubang Nita.</p>
<p style="text-align: justify;">Lama kelamaan rasa sakit yang dirasakan oleh Nita berangsur menghilang berganti dengan rasa nikmat, Nita sekarang mulai bisa merasakan enaknya pergeseran kedua kontol itu didalam lubang memek dan pantatnya, ia merasakan kedua lubangnya penuh sesak oleh kontol-kontol besar Parmin dan Nanang, sensasi nikmat yang ia rasakan sekarang belum ia alami sebelumnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Sementara itu Udin mulai memposisikan tubuh Dewi untuk menungging, Dewi menuruti kemauan Udin yang ingin kontol* dia dari belakang, pantatnya ia angkat sementara dada dan wajahnya menempel keatas karpet, dengan tidak sabar lagi Udin mulai menyelipkan kepala kontolnya dilubang memek Dewi, setelah dirasakan kepala kontolnya tepat dilubang senggama Dewi, dengan sekali sentakan kuat Udin mendorong maju kontolnya menerobos vagina Dewi.<br />
Bleeessssss……Batang kemaluan Udin menyeruak masuk kedalam vagina Dewi.
</p>
<p style="text-align: justify;">“Aaaggghhh…pelaann..Din, robek punyaku nanti…kontolmu besar sekali..,”jerit Dewi saat lubang vaginanya diterobos dengan kuat oleh kontol Udin.</p>
<p style="text-align: justify;">“heeh..tenang bu, gak akan robek, tapi yang ada nanti merem-melek sama batangku ini,”jawab Udin.</p>
<p style="text-align: justify;">Udin merasakan jepitan kuat dibatang kontolnya, dan ia merasakan dinding vagina Dewi berkedut-kedut, seolah-olah meremas-remas batang kontolnya, Udin merasakan nikmatnya memek Dewi itu, yang belum pernah dirasakan olehnya tatkala ia menyetubuhi istrinya yang sudah punya 3 anak.</p>
<p style="text-align: justify;">Tak lama berselang Udin mulai memaju-mundurkan kontolnya didalam lubang vagina Dewi sssrttt….blesss…srrrttt…blesss…sssrtttt…bleess….</p>
<p style="text-align: justify;">“Oohh…enak Din, terus…tekan yang dalam..yach…yang kuat..oohh…enak kontolmu Din…,”desah Dewi, yang merasakan nikmatnya sodokan kontol Udin divaginanya.</p>
<p style="text-align: justify;">“Teruss….oohh…lebih cepat..yach…hhhmmm..aaghhh…nikmat…,”kembali Dewi mendesah.</p>
<p style="text-align: justify;">“Uughhh…yach..tekan yang kuat…aaahhh…enak…nikmat…kontolmu,”rintih Hani yang sedang menikmati enjotan Gito.</p>
<p style="text-align: justify;">“Terus..Git, lebih cepat…oohhh…puaskan aku…yachh…aaaghhh…nikmat sekali,”kembali Hani merintih keenakan.</p>
<p style="text-align: justify;">“Uugghh…hhmmmm…sslllrrppp…memek ibu sempit sekali…hhmmm…sslrrrppp,”gumam Gito sambil mulutnya asyik menghisap-hisap payudara Hani bergantian kiri &amp; kanan.</p>
<p style="text-align: justify;">Sementara itu Nita juga sedang merasakan kenikmatan yang luar biasa, dari mulutnya tidak hentinya terdengar erangan-erangan keenakan,</p>
<p style="text-align: justify;">“Ooohhh…enak..sekali…terus enjot kontol kalian…yang dalam tekannya…yaahhh..begitu…lebih cepat…naahh…nikmat sekali…terus…terus…,”erang Nita keenakan dienjot oleh Nanang dan Parmin.</p>
<p style="text-align: justify;">Kedua payudara Nita juga tidak luput dari aksi Nanang, remasan-remasan tangan Nanang dikedua payudara Nita dan ditingkahi dengan hisapan-hisapan serta jilatan-jilatan pada kedua putingnya membuat Nita semakin mengerang kenikmatan.</p>
<p style="text-align: justify;">“Ooohhh…Nang, hisap…terus…hisap…tetekku…yach…yang kuat..oohh..geli enak..,”Nita mengerang lagi.</p>
<p style="text-align: justify;">“hhhmmm… ssslrrppp… hhmmm… ssslllrppp…memek ibu… juga… enak… sekali… sempit… ssllrrppp … hhhmmm,”desah Nanang.</p>
<p style="text-align: justify;">“Ooohh…enak…ooohh…nikmat…,”Parmin merintih keenakan, sambil terus menggenjot kontolnya keluar masuk dalam lubang pantat Nita.</p>
<p style="text-align: justify;">Rintihan, erangan, dan desahan terdengar tanpa henti dari mulut mereka, keringat mereka sudah membanjiri tubuh mereka dan bercampur aduk, bunyi suara ceplakan saat tubuh mereka beradu menambah ramai suasana persetubuhan mereka.</p>
<p style="text-align: justify;">Cairan pelicin semakin banyak keluar dari kemaluan mereka, mempermudah keluar masuk batang kemaluan para lelaki didalam lubang-lubang para wanita, gerakan keluar masuk batang kemaluan para lelaki semakin bertambah cepat, akibatnya membuat para wanita semakin mengerang keenakan.</p>
<p style="text-align: justify;">Mendapat sodokan-sodokan yang bertubi-tubi dari batang kemaluan para lelaki itu membuat para wanita itu mulai goyah, tubuh mereka mulai mengejang dan mengejut-ngejut, puncak kenikmatan para wanita sudah diambang pintu, sementara para lelaki mengalami hal yang sama, puncak kenikmatan mereka hampir mereka rengkuh juga, gerakan para lelaki itu sudah mulai tidak beraturan.</p>
<p style="text-align: justify;">“Ooohh…aaku tidak tahan lagi… aku mau keluar..aahhh..nikmat…enak…,”Hani, Nita dan Dewi mengerang bersamaan, puncak kenikmatan untuk yang kedua kalinya akan mereka raih.</p>
<p style="text-align: justify;">“Oooohhh…aku keluar…Oohh…tekan yang dalaammm….yang kuaat…,’kembali Hani, Nita dan Dewi mengerang bersamaan dan, sssrrrr….ssrrr….sssrr….sssrrr….vagina mereka menyemburkan lahar kenikmatan mereka membasahi batang kemaluan lelaki yang sedang berada dalam lubang mereka.</p>
<p style="text-align: justify;">“Uughhh…hhmmm…aku keluar jugaa….aaagghh…enaaakk..uughh,”Ke empat lelaki itu mengerang secara bersamaan dan menekan dalam-dalam kontol mereka kedalam lubang para wanita itu, dan cccrreeeett….creeettt…ccreeett….ccreeett….kontol mereka memuntahkan lahar kenikmatan didalam lubang para wanita itu hampir berbarengan dengan semburan lahar kenikmatan dari vagina para wanita itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Tubuh mereka semua terlihat mengejut-ngejut seirama dengan muntahnya lahar kenikmatan mereka, nafas mereka terdengar memburu, pancaran puas terbias di wajah mereka. Selang tak lama setelah tetes terakhir lahar kenikmatan mereka menetes dari kemaluan masing-masing, mereka semua akhirnya tergolek kelelahan diatas karpet.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ceritasex.cn/dewi-maniak-seks-pesta-ulang-tahun-anaknya-bagian-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tetanggaku Nakal Bagian 1</title>
		<link>http://www.ceritasex.cn/tetanggaku-nakal-bagian-1/</link>
		<comments>http://www.ceritasex.cn/tetanggaku-nakal-bagian-1/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 30 Sep 2009 06:53:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cerita Sex</dc:creator>
				<category><![CDATA[Paruh baya]]></category>
		<category><![CDATA[Sedarah]]></category>
		<category><![CDATA[selingkuh]]></category>
		<category><![CDATA[Tante Girang]]></category>
		<category><![CDATA[anal]]></category>
		<category><![CDATA[brondong manis]]></category>
		<category><![CDATA[cuki]]></category>
		<category><![CDATA[kontol]]></category>
		<category><![CDATA[laso]]></category>
		<category><![CDATA[memek]]></category>
		<category><![CDATA[ml]]></category>
		<category><![CDATA[ngentot]]></category>
		<category><![CDATA[peret]]></category>
		<category><![CDATA[seks]]></category>
		<category><![CDATA[susu]]></category>
		<category><![CDATA[tante]]></category>
		<category><![CDATA[tante juliet]]></category>
		<category><![CDATA[toket]]></category>
		<category><![CDATA[vagina]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ceritasex.cn/?p=878</guid>
		<description><![CDATA[Suatu ketika rumahnya sedang kosong cuma tinggal Tante Juliet bertiga dengan anak asuhnya yang masih berumur 3 tahun dan pembantunya. Tante Juliet meneleponku untuk meminta tolong membetulkan kran kamar mandinya. Tentu saja kupenuhi karena aku baginya sudah dianggap seperti keluarga di rumahnya dengan sendirinya cepat saja kupenuhi permintaan itu. Aku datang dengan segera tapi kran [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Suatu ketika rumahnya sedang kosong cuma tinggal Tante Juliet bertiga dengan anak asuhnya yang masih berumur 3 tahun dan pembantunya. Tante Juliet meneleponku untuk meminta tolong membetulkan kran kamar mandinya. Tentu saja kupenuhi karena aku baginya sudah dianggap seperti keluarga di rumahnya dengan sendirinya cepat saja kupenuhi permintaan itu. Aku datang dengan segera tapi kran rusak ternyata hanya alasan saja melainkan diminta untuk menemani sambil membantu memijiti kakinya yang katanya sedang kram. Di ruang tengah Tante waktu itu duduk di sofa panjang sedang menonton acara telenovela di televisi.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Abis kalo nggak pake alesan betulin keran nanti nggak enak didengar keluargamu. Sini dong Son, Sony bisa bantuin mijetin kaki Tante, nggak? kaki Tante agak keram sedikit..&#8221; begitu katanya menyambutku dan langsung meminta bantuanku.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku mengangguk dan mendekat berlutut di depannya akan mulai memijit sebelah kakinya di bagian bawah tapi rupanya bukan di situ. &#8220;Oo bukan di situ Son.. Di sini, di selangkangan ini. Nggak apa ya Tante begini, nggak usah kikuk, Sony kan udah kayak anak Tante sendiri. &#8221; katanya sambil menyingkap roknya ke atas menunjukkan daerah yang harus kupijit yaitu di selangkangan pahanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Tidak tanggung-tanggung, rok itu disingkap sampai di atas celana dalamnya sehingga mau tak mau terpandang juga gundukan vaginanya menerawang dari balik kain tipis celana dalamnya itu. Tentu saja, biarpun sudah dipesan lebih dulu agar aku tidak usah kikuk-kikuk, tidak urung mukaku langsung berubah merah malu dengan pemandangan yang seronok ini. Tante seperti tidak mengerti apa yang kurasakan, dia menyuruh aku mendekat masuk di tengah selangkangannya dan mengambil kedua tanganku, meletakan di masing-masing paha atasnya persis di tepi gundukan bukit vaginanya. Dia minta bagian yang katanya sering pegal itu kutekan pelan-pelan dan waktu kumulai agak bergetaran juga tanganku mengerjainya sementara Tante Juliet memejamkan matanya pura-pura menikmati pijitanku. Padahal sungguh, aku sama sekali tidak tahu bahwa aku sedang diperangkap olehnya.<br />
<span id="more-878"></span><br />
&#8220;Iya di situ sering pegel Son, tapi ntar dulu.. Kurang pas yang itu, Tante naikin kaki dulu.. Ya.. &#8220;katanya. Berikutnya dengan alasan kurang puas Tante menaikan kedua telapaknya ke atas tepi sofa di mana dia sekarang minta aku memijit lebih ke dalam lagi sehingga boleh dibilang aku hanya memijit-mijit otot seputar kemaluannya saja. Pikiranku mulai terganggu karena bagaimanapun meremas-remas tepi bukit yang sedang terkangkang menganga ini mau tidak mau membuat nafasku memburu juga. Maklum, meskipun masih remaja tapi aku sudah kenal tidur dengan perempuan sehingga jelas mengenal rasa yang bisa diberikan bukit menggembung di depanku. Apalagi dalam pemandangan yang merangsang seperti ini. Nah, di tengah-tengah kecamuk lamunan seperti ini Tante semakin jauh menggodaku.
</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Ngomong-ngomong Sony udah pernah maen ama cewek, belum?&#8221; katanya agak genit. &#8220;Ngg.. Maen cewek maksud Tante pacaran?&#8221; kataku balik bertanya pura-pura tidak mengerti. &#8220;Maksudnya tidur sama cewek, ngerasain ininya,&#8221; katanya sambil menunjuk vaginanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Ditanya begini wajahku merah lagi, jadi gugup aku menjawab, &#8220;Ngmm.. Belum pernah Tan..&#8221; jawabku berbohong. Mungkin aku salah menjawab begini karena kesempatan ini justru dipakai tante makin menggodaku.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Ah masak sih, coba Tante pegang dulu..&#8221; begitu selesai bicara dia sudah menarikku lebih dekat lagi dengan menjulurkan kedua tangannya, satu dipakai untuk menggantol di leherku menahan tubuhnya tegak dari sandaran sofa, satu lagi dipakai untuk meraba jendulan penisku.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Tante pengen tau kalo bangunnya cepet berarti betul belum pernah..&#8221; lanjutnya lagi. Entah artinya yang sengaja dibolak-balik atau memang ini bagian dari kelihaiannya membujukku, namanya aku masih berdarah muda biarpun sudah terbiasa menghadapi perempuan tapi dirangsang dalam suasana begini tentu saja cepat batangku naik mengeras. Kalau sudah sampai di sini sudah lebih gampang lagi buat dia.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Wihh, memang cepet bener bangunnya.. Tapi coba Son, Tante kok jadi penasaran kayaknya ada yang aneh punyamu..&#8221; katanya tanpa menunggu persetujuanku dia sudah langsung bekerja membuka celanaku membebaskan penisku. Aku sulit menolak karena kupikir dia betul-betul sekedar penasaran ingin melihat keluarbiasaan penisku. Memang, waktu batangku terbuka bebas matanya setengah heran setengah kagum melihat ukuran penisku.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Buukan maen Sonyy.. Keras banget punyamu..&#8221; katanya memuji kagum tapi justru melihat yang begini makin memburu niatnya ingin cepat menjeratku.&#8221;Tapi masak sih yang begini belum pernah dipake ke cewek. Kalo gitu sini Tante kenalin rasa sedikit, deket lagi biar bisa Tante tempelin di sini..&#8221; lanjutnya, lagi-lagi tanpa menunggu komentarku dia memegang batangku dan menarikku lebih merapat kepadanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Apa yang dimaksudkannya adalah dengan sebelah tangan bekerja cepat sekedar menyingkap sebelah kaki celana dalamnya membebaskan vaginanya, lalu sebelah lagi membawa penisku menempelkan kepala batangku di mulut lubang vaginanya. Di situ digosok-gosokannya ujung penisku di celah liangnya beberapa saat dulu baru kemudian menguji perasaanku.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Gimana, enak nggak digosok-gosokin gini?&#8221; katanya tambah super genit. Tentu, jangan bilang lagi kalau sudah begini aku yang sudah tegang dengan sinar mata redup sudah sulit untuk melepaskan diri, berat rasanya menolak kesempatan seperti ini. Aku cuma mengiyakan dengan mengangguk dan Tante Juliet meningkat lebih jauh lagi.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Kalo gitu Sony yang nyoba sendiri biar bisa tahu gimana rasanya, tapi tunggu Tante buka aja sekalian supaya nggak ngalangin..&#8221; lanjutnya dengan cepat melepas celana dalamnya untuk kemudian kembali lagi pada posisi mengangkangnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Menggosok-gosokan sendiri ujung kepala penisku di mulut lubang vaginanya yang menganga tambah membuatku semakin tegang dalam nafsu, tapi untuk menyesapkan masuk ke dalam aku masih tidak berani sebelum mendapat ijinnya. Padahal itu justru yang diinginkan tante hanya saja mengira aku benar-benar masih hijau dia masih memakai siasat halus untuk menyeretku masuk.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Ahh.. Kedaleman gosokinnya..&#8221; katanya menjerit geli memaksudkan aku agak terlalu menusuk. Padahal rasanya aku masih mengikuti sesuai anjurannya, tapi ini memang akal dia untuk masuk di siasat berikut, &#8220;Tapi gini, supaya nggak keset sini Tante basahin dulu punyamu. &#8221; katanya mengajak aku bangun berdiri.</p>
<p style="text-align: justify;">Kali ini apa yang dimaksudkannya adalah dia langsung mengambil penisku dan mulai menjilati seputar batangku, sambil sesekali mengulum kepalanya. Kalau sudah sampai di sini rasanya aku bisa menebak ke mana kelanjutannya. Dan memang, ketika dirasanya batangku sudah cukup basah licin dia pun menarik lagi tubuhku berlutut dan kembali memasang vaginanya siap untuk kumasuki. Dalam keadaan seperti itu aku betul-betul sudah buntu pikiranku, terlupa bahwa dia adalah istri dari Mas Fadli-kakak angkatku. Rangsangan nafsu sudah menuntut kelelakianku untuk tersalurkan lewat dia.</p>
<p style="text-align: justify;">Sehingga sekalipun Tante Juliet tidak lagi menyuruh dengan kata-katanya, aku sudah tahu apa yang akan kulakukan. Ujung penis mulai kusesapkan di lubang vaginanya segera kuikuti dengan gerakan membor untuk menusuk lebih dalam. Tante sendiri meskipun mimik mukanya agak tegang, dia ikut membantu dengan jari-jari tangannya lebih menguakkan bibir vaginanya menjadi semakin menganga, untuk lebih memudahkan usaha masuk batangku. Tapi baru saja terjepit setengah, tiba-tiba Jul anak asuhnya datang mengganggu konsentrasi teristimewa bagi Tante Juliet. Si kecil yang belum mengerti apa-apa ini naik ke sofa langsung menunggangi perut Tante seolah-olah ingin ikut bergabung dengan kami.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Nanti dulu Dek, Mama lagi dicuntik Mas Sony.. Adek maen dulu sana, ya?&#8221; agak kerepotan Tante membujuk SonJul untuk menyingkir dan kembali bermain, sementara aku sendiri tetap sibuk membor dan menggesek keluar masuk penisku untuk menanam sisa batang yang masih belum masuk. Di atas dia repot meredam kelincahan SonJul, sedang di bawah dia juga repot menyambut batangku. Sesekali merintih memintaku jangan terlalu kuat menyodokkan penisku.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Aashh.. Sonn.. Pelan Son.. Memek mama sakit.. Jangan dicuntik keras-kerass..&#8221; erangnya. Untung berhasil Tante Juliet membujuk SonJul tepat pada saat seluruh batangku habis terbenam. Lega wajahnya ketika SonJul sudah mau turun kembali bermain.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Naa, sekarang Mama Adek mau maen sama Mas Sony dulu, ya? Ayo Mas Son.. Pindah ke bawah dulu, Mama Adek juga pengen ikutan ngerasain enaknya.. &#8221; Tanpa melepas kemaluan masing-masing kami pun berpindah ke karpet, Tante Juliet yang di bagian bawah. Di situ begitu posisi terasa pas kami segera menikmati asyik gelut kedua kemaluan denganku memompa dan Tante Juliet mengocok vaginanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Nikmat sanggama mulai meresap dan meskipun di tengah-tengah asyik itu SonJul juga sering datang mengganggu, tapi kami sudah tidak peduli karena masing-masing sedang berpacu menuju puncak kepuasan. Dan ini ternyata bisa tercapai secara bersamaan. Agak terganggu dengan adanya SonJul lagipula suasana kurang begitu bebas, tapi toh cukup memuaskan akhir permainan itu bagi kami berdua. Kelanjutan hubungan kami memang sulit mencari kesempatan yang lowong seperti itu lagi. Setelah yang pertama ini masih sempat dua kali kami melakukan hubungan badan tapi kemudian terputus.</p>
<p style="text-align: justify;">Ada satu keasyikan tersendiri yang kurasakan jika sedang bercinta dengan Tante Juliet yang bertubuh montok ini. Enak rasanya bergelut dengan daging tebalnya, seperti menari-nari di atas kasur empuk berbantalkan susunya yang juga montok dan besar itu. Rasanya dalam sejarah percintaanku dengan para wanita yang kesemuanya cantik-cantik lagi berlekak-lekuk padat menggiurkan, maka cuma dengan dia satu-satunya yang berbeda. Tapi, inilah yang kusebut asyik tadi. Aku sama sekali tidak merasa menyesal dan justru selalu merindukan untuk mengulang kenangan bersama dia, hanya saja kesempatan sudah sulit sekali untuk didapat.</p>
<p style="text-align: justify;">Kesempatan kali keempat kudapat tiga tahun setelah itu yaitu ketika aku diminta mengantar Tante Juliet untuk menghadiri upacara perkawinan seorang keluarga mereka di Las Vegas. Waktu itu rencananya aku hanya mengantar saja dan setelah acara selesai akan pulang langsung ke LA ke tempat kuliahku, tapi rupanya Tante Juliet berubah pikiran ingin pulang menumpang lagi denganku. Mau tak mau aku pun berputar melewati Washington, DC untuk mengantarkan Tante Juliet ke rumahnya dulu sebelum ke LA. Tante memang rupanya tidak ingin berlama-lama dalam kunjungannya, itu sebabnya SonJul tidak diajak serta dan ditinggal bersama pembantu serta suaminya di rumah.</p>
<p style="text-align: justify;">Begitu, dalam perjalanan yang cuma kami berdua di mobil kami pun ngobrol dengan akrab, dengan Tante Juliet yang lebih banyak bertanya-tanya tentang keadaanku sementara aku sendiri sibuk mengemudi. Sampai kemudian menyinggung tentang kegiatan seksku, Tante Juliet memang bisa menduga bahwa aku tentu sudah banyak pengalaman galang-gulung dengan perempuan.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Ngomong-ngomong soal kita dulu kalo sekarang Sony udah kenal banyak cewek cakep pasti kamu nyesel kenapa bikin gitu sama Tante waktu hari itu, ya nggak Son?&#8221; &#8220;Nyesel sih enggak Tan, gimanapun kan Tante yang pertama kali ngenalin rasa sama Sony. Apalagi Sony juga punya kenangan manis dari Tante..&#8221; jawabku menyinggung hubungan intimku waktu itu dengannya.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Tapi itu kan duluu.. Sekarang dibanding-bandingin sama kenalan-kenalanmu yang lebih muda pasti kamu mikir-mikir lagi, kok mau-maunya aku sama Tante model gitu. Itupun waktu dulu, sekarang apalagi.. Tambah nggak nafsu liatnya, ya nggak?&#8221; Aku langsung menoleh dengan tidak enak hati. &#8220;Jangan bilang gitu Tan, Sony nggak pernah nyesel soal yang dulu. Malah kalo masih boleh dikasih sih sekarang pun Sony juga masih mau kok.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Jangan menghibur, ngeliat apanya sama Tante kok berani bilang gitu?&#8221; &#8220;Lho kenyataan dong.. Tante emang sekarang gemukan tapi manisnya nggak kurang. Malah tambah ngerangsang deh..&#8221; jawabku memuji apa adanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Karena memang, sekalipun dia sekarang terlihat lebih gemuk dibanding dulu tapi wajahnya masih tetap terlihat manis. &#8220;Ngerangsang apanya Son?&#8221; tanyanya penasaran. &#8220;Ya ngerangsang pengen dikasih kayak dulu lagi. Soalnya tambah montok kan tambah enak rasanya.&#8221; jawabku dengan membuktikan langsung meraba-raba buah dadanya yang besar itu, Tante Juliet langsung menggelinjang kegelian.<br />
&#8220;Aaa.. Kamu emang pinter ngerayu, bikin orang jadi ngira beneran aja.&#8221; katanya mencandaiku.
</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Lho Sony serius kok, kalo masih kepengen ngulang sama Tante. Makanya tadi Sony nanya, kalo emang masih boleh dikasih sekarang juga Sony belokin nyari hotel, nih?&#8221; Lagi-lagi dia tertawa geli mendengar candaku. &#8220;Yang bilang nggak boleh siapa. Tapi dikasiHPun kamu pasti nggak selera lagi, kan percuma.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Ya udah, kalo nggak percaya.. Tapi ngomong-ngomong sebentar lagi udah gelap, Sony lupa kalo lampu mobil kemaren mati sebelah belum sempat diganti. Gimana kalo kita nyari hotel aja Tan, besok baru terusin lagi.&#8221; kataku mengajukan usul karena kebetulan memang lampu mobilku padam sebelah. Sebetulnya ada cadangan tapi ini kupakai alasan untuk mengajaknya menginap. &#8220;Duh kamu kok sembrono sih Son.. Ayo cari penginepan aja kalo gitu, dipaksa nerusin nanti malah bahaya di jalan..&#8221;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ceritasex.cn/tetanggaku-nakal-bagian-1/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Yuli Namaku</title>
		<link>http://www.ceritasex.cn/yuli-namaku/</link>
		<comments>http://www.ceritasex.cn/yuli-namaku/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 30 Sep 2009 06:14:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cerita Sex</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sedarah]]></category>
		<category><![CDATA[Seks Umum]]></category>
		<category><![CDATA[Tante Girang]]></category>
		<category><![CDATA[bugil]]></category>
		<category><![CDATA[cuki]]></category>
		<category><![CDATA[ml]]></category>
		<category><![CDATA[ngentot]]></category>
		<category><![CDATA[perek]]></category>
		<category><![CDATA[seks]]></category>
		<category><![CDATA[tante enak]]></category>
		<category><![CDATA[tante yuli]]></category>
		<category><![CDATA[yuli]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ceritasex.cn/?p=856</guid>
		<description><![CDATA[Yuli, 29 tahun, adalah seorang ibu rumah tangga dengan 2 orang anak 3 dan 5 tahun. Suaminya, Herman, 36 tahun, adalah karyawan dari salah satu perusahaan swasta besar di Bandung. Perawakan Yuli sebetulnya biasa saja seperti kebanyakan. Yang membuatnya menarik adalah bentuk tubuhnya yang sangat terawat. Buah dadanya tidak terlalu besar, tapi enak untuk dipandang, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Yuli, 29 tahun, adalah seorang ibu rumah tangga dengan 2 orang anak 3 dan 5 tahun. Suaminya, Herman, 36 tahun, adalah karyawan dari salah satu perusahaan swasta besar di Bandung. Perawakan Yuli sebetulnya biasa saja seperti kebanyakan. Yang membuatnya menarik adalah bentuk tubuhnya yang sangat terawat. Buah dadanya tidak terlalu besar, tapi enak untuk dipandang, sesuai dengan pinggangnya yang ramping dan pinggulnya yang bulat.</p>
<p style="text-align: justify;">Kehidupan rumah tangga mereka sangat harmonis. Dengan 2 anak yang sedang lucu-lucunya, ditambah dengan posisi Herman yang cukup tinggi di perusahaannya, membuat mereka menjadi keluarga yang cukup di hormati di lingkungan kompleks mereka tinggal. Yuli pada dasarnya adalah istri yang sangat setia kepada suaminya. Tidak pernah ada niat berkhianat terhadap Herman dalam hati Yuli karena dia sangat mencintai suaminya. Tapi ada satu peristiwa yang menjadi awal berubahnya cara berpikir Yuli tentang cinta..</p>
<p style="text-align: justify;">Suatu siang, Yuli sedang mengasuh anaknya di depan rumah. Dikarenakan kedua anaknya waktu itu berlari jauh dari rumah, maka Yuli langsung mengejar mereka. Tapi tanpa disengaja, kakinya menginjak sesuatu sampai akhirnya Yuli terjatuh. Lututnya memar, agak mengeluarkan darah. Yuli langsung berjongkok dan meringis menahan sakit. Pada waktu itu, Darmawan, anak tetangga depan rumah Yuli kebetulan lewat mau pulang ke rumahnya. Ketika melihat Yuli sedang jongkok sambil meringis memegang lututnya, Darmawan langsung lari ke arah Yuli.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Kenapa tante?&#8221; tanya Darmawan.<br />
&#8220;Aduh, lutut saya luka karena jatuh, Wan&#8230;&#8221; ujar Yuli sambil meringis.<br />
&#8220;Bantu saya berdiri, Wan&#8230;&#8221; kata Yuli.<br />
&#8220;Iya tante,&#8221; kata Darmawan sambil memegang tangan Yuli dan dibimbingnya bediri.<br />
&#8220;Wan, tolong bawa anak-anak saya kemari.. Anterin ke rumah saya, ya&#8230;&#8221; kata Yuli.<br />
&#8220;Iya tante,&#8221; kata Darmawan sambil segera menghampiri anak-anak Yuli.</p>
<p style="text-align: justify;">Sementara Yuli segera pulang ke rumahnya sambil tertatih-tatih. Waktu Darmawan mengantarkan anak-anak Yuli ke rumahnya, Yuli sedang duduk di kursi depan sambil memegangi lututnya.<br />
<span id="more-856"></span><br />
&#8220;Ada obat merah tidak, tante?&#8221; tanya Darmawan.<br />
&#8220;Ada di dalam, Wan,&#8221; kata Yuli.<br />
&#8220;Kita ke dalam saja&#8230;&#8221; kata Yuli lagi sambil bangkit dan tertatih-tatih masuk ke dalam rumah.
</p>
<p style="text-align: justify;">Darmawan dan anak-anaknya mengikuti dari belakang.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Ma, Donny ngantuk,&#8221; kata anaknya kepada Yuli.<br />
&#8220;Tunggu sebentar ya, Wan. Saya mau antar mereka dulu ke kamar. Sudah waktunya anak-anak tidur siang,&#8221; kata Yuli sambil bangkit dan tertatih-tatih mengantar anak-anaknya ke kamar tidur.
</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah mengantar mereka tidur, Yuli kembali ke tengah rumah.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Mana obat merahnya, tante?&#8221; tanya Darmawan.<br />
&#8220;Di atas sana, Wan&#8230;&#8221; kata Yuli sambil menunjuk kotak obat.
</p>
<p style="text-align: justify;">Darmawan segera bangkit dan menuju kotak obat untuk mengambil obat merah dan kapas. Tak lama Darmawan segera kembali dan mulai mengobati lutut Yuli.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Maaf ya, tante.. Saya lancang,&#8221; kata Darmawan.<br />
&#8220;Tidak apa-apa kok, Wan. Tante senang ada yang menolong,&#8221; kata Yuli sambil tersenyum.
</p>
<p style="text-align: justify;">Darmawan mulai memegang lutut Yuli dan mulai memberikan obat merah pada lukanya.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Aduh, perih&#8230;&#8221; kata Yuli sambil agak menggerakkan lututnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Secara bersamaan rok Yuli agak tersingkap sehingga sebagian paha mulusnya nampak di depan mata Darmawan. Darmawan terkesiap melihatnya. Tapi Darmawan pura-pura tak melihatnya. Tapi tetap saja paha mulus yuli menggoda mata Darmawan untuk melirik walau kadang-kadang. Hati Darmawan agak berdebar.. Biasanya dia hanya bisa melihat dari kejauhan saja lekuk-lekuk tubuh Yuli. Atau kadang-kadang hanya kebetulan saja melihat Yuli memakai celana pendek.</p>
<p style="text-align: justify;">Darmawan biasanya hanya bisa membayangkan saja tubuh Yuli sambil onani. Tapi kini, di depan mata sendiri, paha mulus Yuli sangat jelas terlihat. Yuli sepertinya sadar kalau mata Darmawan sesekali melirik ke arah pahanya. Segera Yuli merapikan duduknya dan juga menutup pahanya. Darmawanpun sepertinya terkesima dengan sikap Yuli tersebut. Darmawan menjadi malu sendiri..</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Sudah saya berikan obat merah, tante&#8230;&#8221; kata Darmawan.<br />
&#8220;Iya, terima kasih,&#8221; kata Yuli sambil tersenyum.<br />
&#8220;Sekarang sudah mulai tidak terasa sakit lagi,&#8221; ujar Yuli lagi sambil tetap tersenyum.
</p>
<p style="text-align: justify;">Darmawan, 16 tahun, adalah anak tetangga depan rumah Yuli. Masih duduk di bangku SMP kelas 3. Seperti kebanyakan anak laki-laki tanggung lainnya, Darmawan adalah sosok anak laki-laki yang sudah mulai mengalami masa puber.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Kenapa kamu nunduk terus, Wan?&#8221; tanya Yuli.<br />
&#8220;Tidak apa-apa, tante&#8230;&#8221; ujar Darmawan sambil sekilas menatap mata Yuli lalu menunduk lagi sambil tersenyum malu.<br />
&#8220;Ayo, ada apa?&#8221; tanya Yuli lagi sambil tersenyum.<br />
&#8220;Anu, tante.. Maaf, mungkin tadi sempat marah karena tadi saya sempat melihat secara tidak sengaja&#8230;&#8221; kata Darmawan sambil tetap menunduk.<br />
&#8220;Lihat apa?&#8221; tanya Yuli pura-pura tidak mengerti.<br />
&#8220;Lihat.. Mm.. Lihat ini tante,&#8221; kata Darmawan sambil tangannya mengusap-ngusap pahanya sendiri. Yuli tersenyum mendengarnya.<br />
&#8220;Tidak apa-apa kok, Wan,&#8221; kata Yuli.<br />
&#8220;Kan hanya melihat.. Bukan memegang,&#8221; kata Yuli lagi sambil tetap tersenyum.<br />
&#8220;Lagian, saya tidak keberatan kok kamu melihat paha tante tadi,&#8221; kata Yuli lagi sambil tetap tersenyum.<br />
&#8220;Kamu kan tadi sedang menolong saya memberikan obat,&#8221; kata Yuli.<br />
&#8220;Benar tante tidak marah?&#8221; tanya Darmawan sambil menatap Yuli.
</p>
<p style="text-align: justify;">Yuli menggelengkan kepalanya sambil tetap tersenyum. Darmawanpun jadi ikut tersenyum.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Tante sangat cantik kalau tersenyum,&#8221; kata Darmawan mulai berani.<br />
&#8220;Ihh, kamu tuh masih kecil sudah pintar merayu&#8230;&#8221; kata Yuli.<br />
&#8220;Saya berkata jujur loh, tante,&#8221; kata Darmawan lagi.<br />
&#8220;Kamu sudah makan, Wan?&#8221; tanya Yuli.<br />
&#8220;Belum tante. Saya pulang dari rumah teman tadi belum makan,&#8221; kata Darmawan.<br />
&#8220;Makan disini saja, ya.. Temani saya makan siang,&#8221; ajak Yuli.<br />
&#8220;Baik tante, terima kasih,&#8221; kata Darmawan.
</p>
<p style="text-align: justify;">Mereka menikmati makan siang di meja makan bulat kecil. Ketika sedang menikmati makan, tanpa sengaja kaki Darmawan menyentuk kaki Yuli. Darmawan kaget, lalu segera menarik kakinya.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Maaf tante, saya tidak sengaja,&#8221; kata Darmawan.<br />
&#8220;Tidak apa-apa kok, Wan&#8230;&#8221; kata Yuli sambil matanya nenatap Darmawan dengan pandangan yang berbeda.
</p>
<p style="text-align: justify;">Ketika kaki Darmawan menyentuh kakinya, seperti terasa ada sesuatu yang berdesir dari kaki yang tersentuh sampai ke hati. Yuli merasakan sesuatu yang lain akan kejadian tak sengaja itu.. Tiba-tiba Yuli merasakan ada sesuatu keinginan tertentu muncul yang membuat perasaannya tidak menentu. Sentuhan kaki Darmawan terasa begitu hangat dan membangkitkan suatu perasaan aneh..</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Kamu sudah punya pacar, Wan?&#8221; tanya Yuli sambil menatap Darmawan.<br />
&#8220;Belum tante,&#8221; kata Darmawan sambil tersenyum.<br />
&#8220;Lagian saya tidak tahu caranya mendapatkan perempuan,&#8221; ujar Darmawan lagi sambil tetap tersenyum. Yulipun ikut tersenyum.<br />
&#8220;Pernah tidak kamu punya keinginan tertentu terhadap perempuan?&#8221; tanya Yuli lagi.<br />
&#8220;Keinginan apa tante?&#8221; tanya Darmawan. Yuli tersenyum.<br />
&#8220;Kita habiskan dulu makannya. Nanti kita bicara&#8230;&#8221; kata Yuli.
</p>
<p style="text-align: justify;">Selesai makan, mereka duduk-duduk di ruang tengah.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Kamu ada sesuatu yang harus diselesaikan di rumah tidak saat ini?&#8221; tanya Yuli.<br />
&#8220;Tidak ada, tante,&#8221; kata Darmawan.<br />
&#8220;Tadi tante mau tanya apa?&#8221; kata Darmawan penasaran.<br />
&#8220;Begini, apakah kamu suka kepada wanita tertentu? Maksud saya suka kepada tubuh wanita?&#8221; tanya Yuli.<br />
&#8220;Kita bicara jujur saja, ya.. Saya tidak akan bicara pada siapa-siapa kok,&#8221; kata Yuli lagi.<br />
&#8220;Kamu juga mau kan jaga rahasia pembicaraan kita?&#8221; kata Yuli lagi.<br />
&#8220;Iya, tante,&#8221; kata Darmawan.<br />
&#8220;Kalau begitu jawablah pertanyaan tante tadi&#8230;&#8221; kata Yuli sambil tersenyum.<br />
&#8220;Ya, saya suka melihat perempuan yang tubuhnya bagus. Saya juga suka tante karena tante cantik dan tubuhnya bagus,&#8221; kata Darmawan tanpa ragu.<br />
&#8220;Maksudnya tubuh bagus apa,&#8221; tanya Yuli lagi. Darmawan agak ragu untuk menjawab.<br />
&#8220;Ayolah&#8230;&#8221; kata Yuli sambil memegang tangan Darmawan. Tangan Darmawan bergetar.. Yuli tersenyum.<br />
&#8220;Mm.. Saya pernah.. Pernah lihat majalah Playboy, juga.. Juga.. Juga saya pernah lihat VCD porno.. Mm.. Mm.. Saya lihat banyak perempuan tubuhnya bagus&#8230;&#8221; kata Darmawan dengan nafas tersendat.<br />
&#8220;Oh, ya? Di VCD itu kamu lihat apa saja,&#8221; kata Yuli pura-pura tidak tahu, sambil terus menggenggam tangan Darmawan yang terus gemetar.<br />
&#8220;Mm.. Lihat orang sedang begituan&#8230;&#8221; kata Darmawan.<br />
&#8220;Begituan apa?&#8221; tanya Yuli lagi.<br />
&#8220;Ya, lihat orang sedang bersetubuh&#8230;&#8221; kata Darmawan.
</p>
<p style="text-align: justify;">Yuli kembali tersenyum, tapi dengan nafas yang agak memburu menahan sesuatu di dadanya.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Kamu suka tidak film begitu?&#8221; tanya Yuli.<br />
&#8220;Iya suka, tante?&#8221; kata Darmawan sambil menunduk.<br />
&#8220;Mau coba seperti di film, tidak?&#8221; kata Yuli.
</p>
<p style="text-align: justify;">Darmawan diam sambil tetap menunduk. Tangannya makin gemetar. Yuli mendekatkan tubuhnya ke tubuh Darmawan. Wajahnya di dekatkan ke wajah Darmawan.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Mau tidak?&#8221; tanya Yuli setengah berbisik.</p>
<p style="text-align: justify;">Darmawan tetap diam dan gemetar. Wajahnya agak tertunduk. Yuli membelai pipi anak tanggung tersebut. Lalu diciumnya pipi Darmawan. Darmawan tetap diam dan makin gemetar. Yuli terus menciumi wajah Darmawan, lalu akhirnya dilumatnya bibir Darmawan.. Lama-lama Darmawanpun mulai terangsang nafsunya. Dengan pasti dibalasnya ciuman Yuli.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Masukkan tangan kamu ke sini&#8230;&#8221; kata Yuli dengan nafas memburu sambil memegang tangan Darmawan dan mengarahkannya ke dalam baju Yuli.<br />
&#8220;Masukkan tangan kamu ke dalam BH saya, Wan.. Pegang buah dada saya,&#8221; kata Yuli sambil tangannya meremas ****** Darmawan dari luar celana.
</p>
<p style="text-align: justify;">Sementara tangan Darmawan sudah masuk ke dalam BH Yuli dan mulai meremas-remas buah dada Yuli.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Mmhh.. Terus sayang&#8230;&#8221; kata Yuli.<br />
&#8220;Tangan saya pegal, tante&#8230;&#8221; kata Darmawan polos.<br />
&#8220;Uhh.. Kita pindah ke kamar, yuk&#8230;&#8221; ajak Yuli sambil menarik tangan Darmawan. Sesampainya di dalam kamar..<br />
&#8220;Buka pakaian kamu, Wan&#8230;&#8221; ujar Yulipun melepas seluruh pakaiannya sendiri.<br />
&#8220;Iya, tante&#8230;&#8221; kata Darmawan.
</p>
<p style="text-align: justify;">Yuli setelah melepas seluruh pakaiannya, segera naik dan telentang di tempat tidur. Darmawan terkesima melihat tubuh telanjang Yuli. Seumur-umur Darmawan, baru kali ini dia melihat tubuh telanjang wanita di depan mata. Apalagi wanita tersebut adalah wanita yang sering di bayangkannya bila onani. ****** Darmawan langsung tegang dan tegak..</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Naik sini, Wan&#8230;&#8221; kata Yuli.<br />
&#8220;Iya, tante&#8230;&#8221; kata Darmawan.<br />
&#8220;Sini naik ke atas tubuh saya&#8230;&#8221; kata Yuli sambil mengangkangkan pahanya.
</p>
<p style="text-align: justify;">Darmawan segera menaiki tubuh telanjang Yuli. Yuli langsung melumat bibir Darmawan dan Darmawanpun langsung membalasnyanya dengan hebat. Sementara satu tangan Darmawan meremas buah dada Yuli yang tidak terlalu besar. Sementara ****** Darmawan sesekali mengenai belahan memek Yuli.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Ohh.. Mmhh.. Terus remas.. Terus&#8230;&#8221; desah Yuli sambil memegang tangan Darmawan yang sedang meremas buah dadanya, dan tangan mereka bersamaan meremas buah dadanya.<br />
&#8220;Ohh.. Sshh&#8230;&#8221; kata Yuli. Darmawanpun dengan bernafsu terus meremas dan menciumi serta menjilati buah dada Yuli.<br />
&#8220;Wan, jilati memek ya, sayang&#8230;&#8221; pinta Yuli.<br />
&#8220;Tapi saya tidak tahu caranya, tante,&#8221; kata Darmawan polos.
</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Sekarang dekatkan saja wajah kamu ke memek, lalu kamu jilati belahannya&#8230;&#8221; kata Yuli setengah memaksa dengan menekan kepala Darmawan ke arah memeknya.</p>
<p style="text-align: justify;">Darmawan langsung menuruti permintaan Yuli. Dijilatinya belahan memek Yuli sampai tubuh Yuli mengejang menahan nikmat.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Ohh.. Mm.. Ohh.. Terus jilat, sayang&#8230;&#8221; desah Yuli sambil meremas kepala Darmawan.<br />
&#8220;Wan, kamu jilati bagian atas sini&#8230;&#8221; kata Yuli sambil jarinya mengelus kelentitnya.
</p>
<p style="text-align: justify;">Lalu lidah Darmawan menjilati habis kelentit Yuli.. Yuli kembali menggelepar merasakan nikmat yang teramat sangat.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Teruss.. Sshh.. Ohh&#8230;&#8221; desah Yuli sambil badannya semakin mengejang.</p>
<p style="text-align: justify;">Pahanya rapat menjepit kepala Darmawan. Sementara tangannya semakin menekan kepala Darmawan ke memeknya. Tak lama..</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Ohh&#8230;&#8221; desah Yuli panjang. Yuli orgasme.<br />
&#8220;Sudah, Wan.. Naik sini,&#8221; kata Yuli.
</p>
<p style="text-align: justify;">Darmawan lalu menaiki tubuh Yuli. Yuli lalu mengelap mulut Darmawan yang basah oleh cairan memeknya. Yuli tersenyum, lalu mengecup bibir Darmawan.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Mau tidak ****** kamu saya hisap,&#8221; kata Yuli.<br />
&#8220;Mau tante,&#8221; kata Darmawan bersemangat.<br />
&#8220;Bangkitlah.. Sinikan ****** kamu,&#8221; kata Yuli sambil tangannya meraih ****** Darmawan yang tegang dan tegak.
</p>
<p style="text-align: justify;">Darmawan lalu mengangkangi wajah Yuli. Yuli segera mengulum ****** Darmawan. Tidak hanya itu, ****** Darmawan lalu dijilat, dihisap, lalu dikocoknya silih berganti. Darmawan tubuhnya mengejang menahan rasa nikmat yang teramat sangat. Tangannya berpegangan pada pinggiran ranjang.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Ohh.. Tantee.. Enaakk&#8230;&#8221; jerit kecil Darmawan sambil memompa kontolnya di mulut Yuli.<br />
&#8220;Masukkin ke memek, sayang&#8230;&#8221; kata Yuli setelah dia beberapa lama menghisap ****** Darmawan.
</p>
<p style="text-align: justify;">Darmawan lalu mengangkangi Yuli. Sementara tangan Yuli memegang dan membimbing ****** Darmawan ke lubang memeknya.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Ayo tekan sedikit, sayang&#8230;&#8221; kata Yuli.</p>
<p style="text-align: justify;">Darmawan berusaha menekan kontolnya ke lubang memek Yuli sampai akhirnya.. Bless.. Bless.. Bless.. ****** Darmawan berhasil masuk dan mulai memompa memek Yuli. Darmawan merasakan suatu kenikmatan yang tiada tara pada batang kontolnya.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Bagaimana rasanya, Wan?&#8221; tanya Yuli sambil tersenyum dan menggoyang pantatnya.<br />
&#8220;Ohh.. Sangat enakk, tanttee&#8230;&#8221; kata Darmawan tersendat sambil memompa kontolnya keluar masuk memek Yuli.
</p>
<p style="text-align: justify;">Yuli tersenyum.. Setelah beberapa lama memompa kontolnya, tiba-tiba tubuh Darmawan mengejang. Gerakannya makin cepat. Yuli karena sudah mengerti langsung meremas pantat Darmawan dan menekankannya ke memeknya. Tak lama.. Crott.. Croott.. Croott.. Croott..</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Ohh.. Hohh&#8230;&#8221; desah Darmawan. Tubuhnya lemas dan lunglai di atas tubuh Yuli.<br />
&#8220;Udah keluar? Bagaimana rasanya?&#8221; tanya tante Yuli sambil memeluk Darmawan.<br />
&#8220;Sangat enak, tante&#8230;&#8221; kata Darmawan.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ceritasex.cn/yuli-namaku/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hasrat Terpendam</title>
		<link>http://www.ceritasex.cn/hasrat-terpendam/</link>
		<comments>http://www.ceritasex.cn/hasrat-terpendam/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 07 Aug 2009 06:13:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cerita Sex</dc:creator>
				<category><![CDATA[Paruh baya]]></category>
		<category><![CDATA[Sedarah]]></category>
		<category><![CDATA[selingkuh]]></category>
		<category><![CDATA[Tante Girang]]></category>
		<category><![CDATA[anal]]></category>
		<category><![CDATA[cuki]]></category>
		<category><![CDATA[gairah]]></category>
		<category><![CDATA[gatel]]></category>
		<category><![CDATA[Hasrat]]></category>
		<category><![CDATA[istri]]></category>
		<category><![CDATA[ngentot]]></category>
		<category><![CDATA[tante]]></category>
		<category><![CDATA[Tidak Puas]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ceritasex.cn/?p=831</guid>
		<description><![CDATA[Bukan salahku kalau aku masih menggebu-gebu dalam berhubungan seks. Sayangnya suamiku sudah uzur, kami beda umur hampir 15 tahun, sehingga dia tidak lagi dapat memberi kepuasan sex kepadaku. Dan bukan salahku pula kemudian aku mencari pelampiasan pada pria-pria muda di luar, untuk memenuhi hasrat seks-ku yang kian menggebu di usia 35 ini. Dengan TB 170cm [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Bukan salahku kalau aku masih menggebu-gebu dalam berhubungan seks. Sayangnya suamiku sudah uzur, kami beda umur hampir 15 tahun, sehingga dia tidak lagi dapat memberi kepuasan sex kepadaku. Dan bukan salahku pula kemudian aku mencari pelampiasan pada pria-pria muda di luar, untuk memenuhi hasrat seks-ku yang kian menggebu di usia 35 ini. Dengan TB 170cm BB 58kg Bra 38C aku merasa sangat seksi dan sintal dengan payudara yang membusung besar ke depan dengan pantat njedol ke belakang apalagi perut ramping dan pinggul besar membulat, menambahkan tubuhnya yang bongsor ini semakin bahenol dan montok. Namun sepandai-pandainya aku berselingkuh akhirnya ketahuan juga. Suamiku marah bukan kepalang memergoki aku berpelukan dengan seorang pria muda sambil telanjang bulat di sebuah motel.</p>
<p style="text-align: justify;">Dan ultimatum pun keluar dari suamiku. Aku dilarang olehnya beraktivitas diluar rumah tanpa pengawalan. Entah itu dengan suamiku ataupun anakku. Tak sedikitpun aku lepas dari pengawasan mereka bertiga. Secara bergantian mengawasiku. Aditya anak kakak sulungku yang baru masuk kuliah dapat giliran mengawasi di pagi hari karena dia masuk siang. Siangnya giliran Leni anakku sendiri yang duduk di kelas dua SMA, untuk mengawasiku. Dan malamnya suamiku kena giliran. Tentu saja aktivitas seks-ku pun terganggu total. Hasratku sering tak terlampiaskan, akibatnya aku sering uring-uringan. Memang sih aku bisa masturbasi, tapi kurang nikmat. Dua minggu berlalu aku masih bisa menahan diri.</p>
<p style="text-align: justify;">Sebulan berlalu aku sudah stres berat. Bahkan frekuensi masturbasiku terus bertambah, sampai pernah sehari 10 kali kulakukan. Tapi tetap saja tak pernah mencapai kepuasan yang total. Aku masih butuh kocokan penis keras laki-laki. Seperti pada pagi hari Senin, saat bangun pagi jam 8 rumah sudah sepi. Suamiku dan Leni sudah pergi, dan tinggal Aditya yang ada di bawah. Aku masih belum bangkit dari tempat tidurku, masih malas-malasan untuk bangun. Tiba-tiba aku tersentak karena merasa darahku mengalir dengan cepat. Ini memang kebiasaanku saat bangun pagi, nafsu seks-ku muncul. Sebisanya kutahan-tahan, tapi selangkanganku sudah basah kuyup.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku pun segera melorotkan CD-ku lalu BH didadaku sehingga susu montok besar mancung itu leluasa muntah keluar dan langsung aku menyusupkan dua jari tangan kananku ke lubang vaginaku. vaginaku yang merekah kemerahan ditumbuhi rambut kemaluan yang hitam sangat lebat mulai dari bawah pusar sampai pada vaginaku yang seret ini membentuk segitiga hitam agak keriting. Aku mendesis pelan saat kedua jari itu masuk, terus kukeluar-masukkan dengan pelan tapi pasti. Aku masih asyik bermasturbasi, tanpa menyadari ada sesosok tubuh yang sedang memperhatikan kelakuanku dari pintu kamar yang terbuka lebar. Dan saat mukaku menghadap ke pintu aku terkejut melihat Aditya, anak kakak sulungku, sedang memperhatikanku bermasturbasi.<br />
<span id="more-831"></span><br />
Tapi anehnya aku tidak kelihatan marah sama sekali, tangan kanan masih terus memainkan kemaluanku, dan aku malah mendesah keras sambil mengeluarkan lidahku. Dan Aditya tampak tenang-tenang saja melihat kelakuanku. Aku jadi salah tingkah, tapi merasakan liang vagina yang makin basah saja, aku turun dari tempat tidur dan berjalan ke arah Aditya. Tubuh bongsorku yang sintal berjalan dengan buah dada menari-nari ke kanan ke kiri mengikuti langkahku, dengan sesekali kebelai bulu kemaluan vaginaku menambah rangsangan pada Aditya kemenakanku itu. Anak kakak sulungku itu masih tenang-tenang saja, padahal saat turun dari tempat tidur aku sudah melepas pakaian dan kini telanjang bulat. Aku yang sudah terbuai oleh nafsu seks tak mempedulikan statusku lagi sebagai tantenya.<br />
Saat kami berhadapan tangan kanan langsung meraba selangkangan anak itu.</p>
<p style="text-align: justify;">“Bercintalah dengan Tante, Aditya!” pintaku sambil mengelus-elus selangkangannya yang sudah tegang. Aditya tersenyum,<br />
“Tante tahu, sejak Aditya tinggal disini 6 bulan lalu, Aditya sudah sering membayangkan bagaimana nikmatnya kalo Aditya bercinta dengan Tante..”<br />
Aku terperangah mendengar omongannya.<br />
“Dan sering kalo Tante tidur, Aditya telanjangin bagian bawah Tante serta menjilatin kemaluan Tante.”<br />
Aku tak percaya mendengar perkataan kopanakanku ini.<br />
“Dan kini dengan senang hati Aditya akan ‘kerjai’ Tante sampai Tante puas!”.<br />
Aditya langsung memegang daguku dan mencium bibirku dan melumatnya dengan penuh nafsu. Lidahnya menyelusuri rongga mulutku dengan ganas. Sementara kedua tangannya bergerilya ke mana-mana, tangan kiri meremas-remas payudaraku dengan lembut sementara tangan kanannya mengelus permukaan kemaluanku. Aku langsung pasrah diperlakukan sedemikian rupa, hanya sanggup mendesahdan menjerit kecil.<br />
Puas berciuman, Aditya melanjutkan sasarannya ke kedua payudaraku. Kedua puting susuku yang besar coklat kehitaman, dihisap anak itu dengan lembut. Kedua permukaan payudaraku dijilati sampaimengkilat, dan aku sedikit menjerit kecil saat putingku digigitnya pelan namun mesra. Aduh, tak henti-hentinya aku mendesah akibat perlakuan Aditya. Ciuman Aditya berlanjut ke perut, dan diapun berjongkok sementara aku tetap berdiri. Aku tahu apa yang akan Aditya lakukan dan ini adalah bagian di mana aku sering orgasme. Yah, aku paling tak tahan kalau kemaluanku di oral seks.<br />
Aditya tersenyum sebentar ke arahku, sebelum mulutnya mencium permukaan lubang vaginaku yang rimbun tertutup bulu kemaluan yang sangat lebat. Lidahnya pun menari-nari di liang vagina, membuatku melonjak bagai tersetrum. Kedua tanganku terus memegangi kepalanya yang tenggelam di selangkanganku, saat lidahnya menjilati klitorisku dengan lembut. Dan benar saja, tak lama kemudian tubuhku mengejang dengan hebatnya dan desahanku semakin keras terdengar. Aditya tak peduli, anak itu terus menjilati kemaluanku yang memuncratkan cairan-cairan kental saat aku berorgasme tadi.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku yang kelelahan langsung menuju tempat tidur dan tidur telentang. Aditya tersenyum lagi. Dia kini melucuti pakaiannya sendiri dan siap untuk menyetubuhi Tantenya dengan penisnya yang telah tegang.<br />
“Aaahh besar banget penismu, keras berotot panjang lagi, tante suka penis yang begini “<br />
sahutku takjub keheranan dan gembira karena sebentar lagi vaginaku akan dikocok penis yang gede dan panjang, kira-kira ukurannya panjang 20 cm diameter 4 cm coba bayangin hebat kan. Aditya bersiap memasukkan penisnya ke lubang vaginaku, dan aku menahannya,<br />
“Tunggu sayang, biar Tante kulum penismu itu sebentar.”<br />
Aditya menurut, di sodorkannya penis yang besar dan keras itu ke arah mulutku yang langsung mengulumnya dengan penuh semangat. Penis itu kini kumasukkan seluruhnya ke dalam mulutku sementara dia membelai rambutku dengan rasa sayang. Batangnya yang keras kujilati hingga mengkilap.<br />
“Sekarang kau boleh kocok dan genjot vagina Tante, Adit..” kataku setelah puas mengulum penisnya.<br />
Diapun mengangguk, penisnya segera dibimbing menuju lubang vagina yang kemerahan merekah siap menerima tusukan penis besar nikmat itu. Vaginaku yang basah kuyup memudahkan penis Aditya untuk masuk ke dalam dengan mulus.<br />
“Ahh.. Adit!” aku mendesah saat penis Aditya amblas dalam kemaluanku.<br />
Aditya lalu langsung menggenjot tubuhnya dengan cepat, lalu berubah lambat tapi pasti. Diperlakukan begitu kepalaku berputar-putar saking nikmatnya. Apalagi Aditya seringkali membiarkan kepala penisnya menggesek-gesek permukaan kemaluanku sehingga aku kegelian.<br />
Berbagai macam posisi diperagakan oleh Aditya, mulai dari gaya ****** sampai tradisional membuatku orgasme berkali-kali. Tapi dia belum juga ejakulasi membuatku penasaran dan bangga. Ini baru anak yang perkasa. Dan baru saat aku berada di atas tubuhnya, Aditya mulai kewalahan. Goyangan pinggulku langsung memacunya untuk mencapai puncak kenikmatan. Dan saat Aditya memeluk dengan erat, saat itu pula air mani membasahi kemaluanku dengan derasnya, membuatku kembali orgasme untuk yang kesekian kalinya.
</p>
<p style="text-align: justify;">Selangkanganku kini sudah banjir tidak karuan bercampur aduk antara mani Aditya dengan cairanku sendiri. Aditya masih memelukku dan mencium bibirku dengan lembut. Dan kami terus bermain cinta sampai siang dan baru berhenti saat Leni pulang dari sekolah. Sejak saat itu aku tak lagi stress karena sudah mendapat pelampiasan dari keponakanku. Setiap saat aku selalu dapat memuaskan nafsuku yang begitu besar. Dan tidak seorang pun mengetahui kecuali kami berdua.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ceritasex.cn/hasrat-terpendam/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pantat Montok Tante Vera</title>
		<link>http://www.ceritasex.cn/pantat-montok-tante-vera/</link>
		<comments>http://www.ceritasex.cn/pantat-montok-tante-vera/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 19 Jul 2009 14:17:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cerita Sex</dc:creator>
				<category><![CDATA[Foto Mesum]]></category>
		<category><![CDATA[Tante Girang]]></category>
		<category><![CDATA[bikin nafsu]]></category>
		<category><![CDATA[ngentot]]></category>
		<category><![CDATA[pantat]]></category>
		<category><![CDATA[pantat montok]]></category>
		<category><![CDATA[tante]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ceritasex.cn/?p=693</guid>
		<description><![CDATA[Hayoooooo&#8230;. siapa yang berani nolak kalo di kasi pantat montok seperti punya tante vera gini hmmm&#8230; pasti deh semua cowok gak ada yang nolak kecuali yang impoten saja he he he. Saya sendiri juga mau tuh kalo di kasi pasti lobang anusnya sempit banget dan nikmat buat di entot.. aaaaaaaaaahhhhhhh&#8230;&#8230;&#8230;. tante vera emang pinter bikin [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Hayoooooo&#8230;. siapa yang berani nolak kalo di kasi pantat montok seperti punya tante vera gini hmmm&#8230; pasti deh semua cowok gak ada yang nolak kecuali yang impoten saja he he he. Saya sendiri juga mau tuh kalo di kasi pasti lobang anusnya sempit banget dan nikmat buat di entot.. aaaaaaaaaahhhhhhh&#8230;&#8230;&#8230;. tante vera emang pinter bikin orang nafsu!</p>
<p><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2009/07/pantat-tante-vera-montok-1.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-690" title="pantat-tante-vera-montok-1" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2009/07/pantat-tante-vera-montok-1-300x219.jpg" alt="pantat-tante-vera-montok-1" width="300" height="219" /></a></p>
<p><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2009/07/pantat-tante-vera-montok-2.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-691" title="pantat-tante-vera-montok-2" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2009/07/pantat-tante-vera-montok-2-300x225.jpg" alt="pantat-tante-vera-montok-2" width="300" height="225" /></a></p>
<p><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2009/07/pantat-tante-vera-montok-3.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-692" title="pantat-tante-vera-montok-3" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2009/07/pantat-tante-vera-montok-3-300x225.jpg" alt="pantat-tante-vera-montok-3" width="300" height="225" /></a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ceritasex.cn/pantat-montok-tante-vera/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>9</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Dijebak Tapi Enak Bagian 1</title>
		<link>http://www.ceritasex.cn/dijebak-tapi-enak-bagian-1/</link>
		<comments>http://www.ceritasex.cn/dijebak-tapi-enak-bagian-1/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 19 Jul 2009 13:35:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cerita Sex</dc:creator>
				<category><![CDATA[Paruh baya]]></category>
		<category><![CDATA[Pemerkosaan]]></category>
		<category><![CDATA[Seks Umum]]></category>
		<category><![CDATA[selingkuh]]></category>
		<category><![CDATA[anal]]></category>
		<category><![CDATA[birahi]]></category>
		<category><![CDATA[brondong]]></category>
		<category><![CDATA[cuki]]></category>
		<category><![CDATA[esek esek]]></category>
		<category><![CDATA[gangbang]]></category>
		<category><![CDATA[istri muda]]></category>
		<category><![CDATA[kontol]]></category>
		<category><![CDATA[memek]]></category>
		<category><![CDATA[milf]]></category>
		<category><![CDATA[nafsu]]></category>
		<category><![CDATA[ngentot]]></category>
		<category><![CDATA[perkosa]]></category>
		<category><![CDATA[pesta sex]]></category>
		<category><![CDATA[seks]]></category>
		<category><![CDATA[swinger]]></category>
		<category><![CDATA[tante]]></category>
		<category><![CDATA[Tante Girang]]></category>
		<category><![CDATA[tasha]]></category>
		<category><![CDATA[vagina]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ceritasex.cn/?p=680</guid>
		<description><![CDATA[Sebut saja namaku Tasha. Agustus kemarin baru saja aku merayakan ulang tahunku yang ke 36. Sebuah perayaan ulang tahun yang sangat berkesan buatku, karenanya aku tidak tahan untuk tidak meceritakannya di situs ini. Situs ini kukenal secara tidak sengaja ketika pada suatu ketika aku online di sebuah warnet, ternyata begitu layar Internet Explorer terbuka langsung [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Sebut saja namaku Tasha. Agustus kemarin baru saja aku merayakan ulang tahunku yang ke 36. Sebuah perayaan ulang tahun yang sangat berkesan buatku, karenanya aku tidak tahan untuk tidak meceritakannya di situs ini. Situs ini kukenal secara tidak sengaja ketika pada suatu ketika aku online di sebuah warnet, ternyata begitu layar Internet Explorer terbuka langsung masuk ke situs ini. Terus terang cerita-cerita di situs ini sangat menggugah hasratku, meskipun aku tahu ada beberapa cerita yang jelas-jelas hanya karangan belaka. Namun aku merasa agak ‘minder’ untuk menceritakan pengalamanku yang begitu-begitu saja, sampai akhirnya aku mengalami hal yang sangat berkesan di ulang tahunku kemarin.</p>
<p style="text-align: justify;">Sebagai ibu rumah tangga dengan suami yang luar biasa sibuk, aku sering merasa jenuh di rumah. Pergaulanku pun tidak terlalu luas. Aku bukan tipe wanita yang senang kumpul-kumpul, ke kafe, hura-hura dan sebagainya. Hiburanku paling hanya TV, telepon dan komputer. Aku sering chating untuk menghilangkan kejenuhanku. Dari chat itulah aku mulai mengenal yang namanya perselingkuhan. Kepulangan suamiku yang hanya empat-lima hari dalam sebulan jelas membuatku sepi akan kasih sayang. Dan tentunya sepi pelayanan. Tapi mungkin aku juga terpengaruh oleh teman-teman chatku. Sebelum kenal chating, aku tidak begitu perduli dengan kesepianku. Namun setelah banyak bergaul di chat, aku mulai merasa bahwa selama ini hasrat birahiku tak pernah terpenuhi.</p>
<p style="text-align: justify;">Ronny adalah pria pertama yang berselingkuh denganku. Usianya lima tahun lebih muda dariku dan sudah menikah. Tubuhnya cukup ideal dan aku puas setiap berkencan dengannya. Namun kami tidak bisa sering-sering karena istri Ronny bukan tipe wanita yang bisa dibohongi. Setelah Ronny aku pun semakin membuka diri dengan menggunakan nick chat yang bikin penasaran. Beberapa pria mulai sering mengisi kekosongan birahiku. Ada Ferry, manager sebuah perusahaan kontraktor berusia 30 tahun yang lihai memancing birahiku. Lalu ada Dhani yang seumuran denganku yang tidak pernah puas dengan pelayanan istrinya. Dan masih ada beberapa lagi.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku mulai mengenal daun muda ketika berkenalan dengan Chris, mahasiswa salah satu PTS di Jakarta yang usianya lebih muda 15 tahun dariku. Waktu itu aku agak segan berkenalan dengannya karena usianya yang terpaut jauh sekali denganku. Namun Chris memberiku pengalaman lain. Suatu ketika dia datang ke rumahku saat rumahku sedang sepi. Dan dengan gairah mudanya yang menggelegak, Chris memberikan sensasi tersendiri padaku. Apalagi dengan ‘Mr. Happy’ miliknya yang king size. That was great.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku pun jadi tertarik dengan daun-daun muda yang bertebaran di chat room. Sampai akhirnya aku mengoleksi sekitar 20 daun muda dengan usia antara 17-25 tahun yang keep contact denganku. Memang baru 4 orang dari mereka yang sempat berkencan denganku, namun yang lainnya tetap aku kontak via telepon. Hingga akhirnya menjelang ulang tahunku Agustus kemarin aku punya rencana yang belum pernah aku lakukan sebelumnya. Aku mengontak 8 daun muda yang kupilih untuk merayakan ulang tahun bersamaku. Pilihan pertama jatuh pada Felix, siswa kelas 3 di salah satu SMU yang cukup terkenal di Jakarta Selatan.<br />
<span id="more-680"></span><br />
“Halo tante..”, sapanya ceria ketika aku menghubungi HP-nya.<br />
“Ya sayang, Sabtu ini ada acara nggak?”, tanyaku tanpa basa-basi.<br />
“Ya biasa tante, paginya sekolah dulu”, jawabnya sedikit manja.<br />
“Tapi sorenya free kan, tante ada acara nih..”, tanpa kesulitan Felix menyanggupi undanganku.
</p>
<p style="text-align: justify;">Selanjutnya Arga, mahasiswa salah satu PTS di Depok. Tanpa kesulitan pula Arga menyanggupi undanganku. Kemudian Frans, salah seorang instruktur di pusat kebugaran milik seorang binaragawan ternama di negeri ini. Frans juga menyanggupi. Aku senyum-senyum sendiri membayangkan tubuh Frans yang tegap berotot dan ukuran Mr. Happynya yang.. wow! Aku pernah sekali berkencan dengannya dan aku takjub dengan Mr. Happy miliknya yang panjangnya 3 kali Nokia 8850 milikku. Selanjutnya Dodi, siswa SMU di salah satu sekolah swasta yang cukup elit di bilangan Jakarta Selatan. Lalu Stanley, mahasiswa PTS ternama di daerah Grogol dengan sepupunya Jonathan yang juga kuliah di tempat yang sama. Lantas Rhino, gitaris di salah satu kafe di daerah Selatan. Dan terakhir tentu saja Chris, daun muda pertamaku.</p>
<p style="text-align: justify;">Hari yang kunantikan pun tiba, tepatnya sehari sebelum ulang tahunku. Pagi-pagi sekali aku menitipkan Juliet, anakku yang duduk di bangku SMP, ke rumah kakakku. Aku beralasan ada reuni SMA weekend ini. Setelah itu aku mampir ke salah satu bakery di bilangan Hayam Wuruk untuk mengambil kue ulang tahun pesananku. Kemudian aku langsung check in di suite room salah satu hotel berbintang di daerah Thamrin. Di kamar aku segera re-check daun-daun mudaku untuk memastikan kehadiran mereka. Semua beres, mereka akan hadir sekitar jam 5 sore.</p>
<p style="text-align: justify;">Sekarang baru jam 11 siang. Cukup lama juga sampai jam 5 sore nanti. Sambil tiduran di ranjang aku membayangkan apa yang akan terjadi nanti. Kok malah jadi horny. Aku mondar-mandir di kamar tak karuan. Untuk mengusir kejenuhan aku turun ke bawah, sekalian mencicipi makan siang di restoran hotel tersebut. Di salah satu meja, aku melihat 5 orang wanita seusiaku dan 1 orang pria yang wajahnya masih cute sekali. Mungkin masih kuliah atau sekolah. Mereka makan sambil ngobrol dan tertawa-tawa. Sama sekali tak menyadari kehadiranku, sampai akhirnya salah seorang dari wanita-wanita itu beradu pandang denganku. Dia memberitahu yang lain, dan si cute melambai ke arahku. Aku tersenyum dan membalas lambaiannya.</p>
<p style="text-align: justify;">Selesai makan, aku mendapat selembar memo dari salah seorang pelayan. Aku membaca isi pesannya, “DANIEL, 0856885&#8212; PLZ CALL ME”. Aku tersenyum. Sampai di kamar, aku menghubungi nomor tersebut.<br />
“Halo..” terdengar ribut sekali di ujung sana.<br />
“Halo, Daniel?” tanyaku.<br />
“Ya, siapa nih?” tanya si pemilik suara itu lagi.<br />
“Aku dapet memo dari kamu..”<br />
“Ohh.. iya, nama kamu siapa?” kami berkenalan, dan ternyata Daniel adalah si cute yang aku lihat di resto bersama 5 wanita tadi. Dan aku surprise sekali setelah mengetahui bahwa Daniel juga sedang merayakan ulang tahunnya hari ini. Dia juga surprise setelah kubilang bahwa aku juga akan merayakan ulang tahun di sini. Kemudian Daniel mengundangku untuk merayakan ulang tahun di kamar yang disewanya di bawah. Kebetulan! Sambil mengisi waktu nggak ada salahnya pemanasan dulu.
</p>
<p style="text-align: justify;">Family room yang disewa Daniel penuh dengan balon aneka warna. Kelima wanita yang kulihat tadi ada di situ. Salah satunya adalah adik maminya Daniel, dan yang lain teman-temannya. Rupanya Daniel ‘dipelihara’ sebagai gigolo oleh kelima wanita tersebut. Candra, adik maminya Daniel adalah wanita pertama yang mengenalkan anak itu ke dalam dunia seks. Lalu ada Shinta dan Melly, teman kerja Candra, serta Yuni dan Liana, teman aerobik Candra. Dan hari itu mereka berlima sepakat untuk merayakan ulang tahun Daniel di kamar tersebut sejak tadi malam. Tepat jam 12 tadi malam Daniel menirima suapan kue ulang tahun dari mulut wanita-wanita itu secara bergantian, dan jam 5 pagi tadi mereka baru selesai melepas birahi bersama.</p>
<p style="text-align: justify;">Acara kali ini semacam games, dimana Daniel dalam keadaan telanjang bulat diikat dengan mata tertutup atas ranjang dengan penis yang tegak. Kemudian secara acak kelima wanita itu memasukkan penis Daniel ke dalam vagina mereka, dan saat itu Daniel harus menebak, siapa yang sedang menindihnya. Kalau benar, Daniel diperbolehkan melepaskan ikatannya dan melepas birahinya dengan wanita yang tertebak. Tapi kalau salah, wanita tersebut akan menyodorkan vaginanya ke mulut Daniel, dan anak itu harus memuaskannya dengan lidahnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Mr. Bond<br />
View Public Profile<br />
Send a private message to Mr. Bond<br />
Find More Posts by Mr. Bond<br />
Add Mr. Bond to Your Contacts</p>
<p style="text-align: justify;">18-07-2006, 04:15 PM    #2<br />
Mr. Bond<br />
[DS] Enthusiast</p>
<p style="text-align: justify;">Join Date: Jul 2006<br />
Posts: 144<br />
Thanks: 0<br />
Thanked 12 in 9 Posts
</p>
<p style="text-align: justify;">&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8211;</p>
<p style="text-align: justify;">Aku menyaksikan permainan yang seru itu di salah satu kursi di situ. Ramai sekali mereka bermain. Kadang aku senyum-senyum ketika Daniel salah menebak. Anak itu lihai sekali melakukan oral sex, sudah 3 wanita yang klimaks akibat permainan lidahnya. Aku menikmati permainan itu, yang ujung-ujungnya mereka kembali berpesta sex berenam. Candra mengajakku bergabung. Sebetulnya aku agak keberatan, karena aku belum pernah melakukan hubungan seks dengan melibatkan wanita lain. Namun aku ngiler juga melihat tubuh Daniel yang cukup oke itu, apalagi dengan penisnya yang wow!</p>
<p style="text-align: justify;">Lumayan juga buat pemanasan. Aku sempat dua kali klimaks di pesta mereka. Yang pertama dengan Daniel, dan yang kedua..ehm, saat oral sex dengan Liana. Jujur saja, awalnya aku agak jengah ketika merasakan kulit tubuhku bersentuhan dengan kulit wanita-wanita itu, apalagi saat menyentuh bagian-bagian sensitif. Namun gairah birahi yang menyala-nyala dapat membuatku melupakan semua rasa risau tersebut. Akhirnya aku sangat menikmati juga bermain dengan wanita-wanita itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Sayangnya menjelang jam 5 aku harus selesai lebih awal, kerena sebentar lagi orang-orang yang akan merayakan ulang tahunku akan datang. Padahal aku baru saja menikmati permainan mereka. Aku pun pamit, namun sebelum kembali ke kamar aku mengundang mereka ke kamarku untuk bergabung dengan pesta ulang tahunku nanti malam. Mereka setuju, terutama kelima wanita tersebut karena mendengar ada 8 daun muda yang kuundang untuk memuaskan hasratku.<br />
Masih kurang lima menit, aku menunggu sendirian di kamar yang luas tersebut. Frans yang pertama kali datang. Pria bertubuh tegap itu langsung mencium bibirku sambil mengucap happy birthday. Dengan gaya jantannya Frans bermaksud menggendong tubuhku seperti biasa, namun aku menahannya.</p>
<p style="text-align: justify;">“Ntar Frans, tunggu yang lain..”, kataku.<br />
Wajah Frans terlihat bingung.<br />
Aku pun menjelaskan rencana ulang tahunku kepadanya. Pria itu tertawa terbahak-bahak.<br />
“Gila.. tante maniak banget ya, emang kuat?”, goda Frans.<br />
Aku tersenyum. Tak lama kemudian Chris datang. Anak itu terkejut mendapati ada pria lain di kamar itu. Aku pun kembali menjelaskan rencanaku kepadanya. Chris sampai geleng-geleng. Lalu Felix dan Dodi datang secara bersamaan dengan raut wajah keduanya yang sama-sama bingung. Chris dan Frans tertawa-tawa melihat kebingungan mereka. Kemudian Stanley dan Jonathan juga datang bersamaan, namun mereka tidak terlalu kaget karena aku sering bermain bertiga dengan mereka. Lalu Arga, dan terakhir Rhino.
</p>
<p style="text-align: justify;">Lengkaplah sudah. Aku mengajak mereka ke sauna untuk mandi bersama. Aku melihat beberapa dari mereka agak risih. Mungkin mereka tidak terbiasa berada dalam satu ruangan dengan sesama pria dalam keadaan telanjang. Hanya Stanley, Jonathan, Frans dan Chris yang bisa menguasai keadaan. Yang lain masih terlihat agak nervous. Selesai bersauna, aku mengeluarkan anggur yang kubawa dari rumah tadi. Anggur itu sudah kucampur dengan obat perangsang dan obat kuat konsentrasi tinggi. Aku jamin siapa pun yang meminumnya mudah sekali terangsang dan dapat bertahan lama. Aku memberikan mereka satu persatu. Kemudian kita ngobrol-ngobrol di atas ranjang sambil minum. Oya, semenjak dari sauna tadi, tak satu pun tubuh kami yang ditutupi pakaian. Kami sudah bertelanjang bulat.</p>
<p style="text-align: justify;">Kami terus ngobrol-ngobrol sambil aku menunggu reaksi obat tersebut. Sekitar setengah jam kemudian mereka mulai menunjukkan gejala-gejala terangsang. Beberapa bahkan penisnya mulai mengeras. Aku mencoba membakar gairah mereka dengan menjamahi tubuhku sendiri. Sambil minum kuusap-usapkan tanganku ke seluruh tubuh, kumainkan payudaraku, dan kuusapi permukaan vaginaku. Aku tertawa dalam hati. Dari tingkah laku dan ekspresinya, jelas sekali kalau birahi mereka sudah naik ke kepala. Namun tak ada yang berani memulai, sampai Chris yang duduk di dekat kakiku memberanikan diri menyentuhku. Frans ikut-ikutan menjamah tubuhku, disambung Felix, dan akhirnya semua bergumul menyentuhku. Ah great! The party has just begun.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku asyik berciuman dengan Frans dengan panuh nafsu, sementara Arga dan Dodi menjilati kedua payudaraku. Tangan kiriku asyik mengocok penis Felix sedangkan yang kanan dengan lincah memuaskan Chris. Lidah Jonathan menari lincah di perutku, memberikan sensasi kenikmatan tersendiri. Sementara Stanley dan Rhino melengkapi kenikmatan dengan menjelajahi daerah di bawah perut dengan lidah dan jari-jari mereka. Ahh.. baru kali ini aku merasakan gejolak yang luar biasa. Setiap jengkal tubuhku rasanya dimanja dengan sentuhan mereka. Kami pun bertukar-tukar posisi.<br />
Hampir dua jam kami melakukan fore-play tersebut. Chris yang pertama berhasrat menembus lubang vaginaku. Sambil bersandar di dada Frans yang bidang, sementara Stanley dan Felix asyik mencumbui tubuhku yang terawat, aku menerima kenikmatan yang diberikan Chris. Ahh.. anak itu hebat sekali memainkan temponya. Penisnya yang memang berukuran besar terasa memenuhi vaginaku. Setelah Chris, gantian Jonathan yang menghujamkan penisnya yang bertindik mutiara itu ke dalam vaginaku.</p>
<p style="text-align: justify;">“Ahh.. ahh.. terus Jo.. aaahhh..”, aku mulai mendesah merasakan bola mutiara itu memijit-mijit dinding vaginaku.<br />
Uhh.. nikmat sekali. Daun mudaku yang satu ini memang kreatif sekali mendandani penisnya. Suatu kali saat aku berkencan dengannya, Jonathan memasang sepuluh anting-anting kecil yang terbuat dari silikon di sekeliling leher penisnya. Hasilnya..wow, aku mengalami multi orgasme hingga 17 kali berturut-turut. Saat itu hampir aku kehabisan nafas.</p>
<p style="text-align: justify;">Seperti biasa saat aku main dengan Jonathan, Stanley kumat gilanya. Penis Jonathan yang berdiameter 5 cm itu sudah hampir memenuhi vaginaku, Stanley menambahnya dengan menghujamkan penisnya yang berukuran kurang lebih sama dengan Jonathan ke dalam vaginaku. Akkhhh.. nikmatnya! Aku sampai menggigit tangan Felix yang sedang memelukku.<br />
“Ahh.. ahh.. ooohhh..”, birahiku semakin memuncak. Saat itu Rhino langsung menyumpal mulutku dengan penisnya yang belum disunat itu. Mmm.. nikmat sekali.<br />
Aku mengulum dan memainkan ujung penis Rhino yang kenyal. I like this.. aku menggigitinya seperti permen karet. Anak itu mengerang keasyikan. Aku merasa birahiku semakin memuncak. Dan..ahhh, aku pun mencapai orgasmeku. Jonathan dan Stanley mencabut penis mereka pelan-pelan. Kemudian gantian Stanley yang memasukkan penisnya yang basah itu ke dalam mulutku.</p>
<p style="text-align: justify;">Di bawah, Frans kembali bergumul dengan vaginaku. Lidahnya lincah menari-nari membangkitkan kembali gairahku hingga birahiku kembali naik. Lantas dituntaskannya dengan penis supernya tersebut. Ahhh.. nikmatnya. Kami terus berpesta, bergumul dan berganti-ganti posisi. Tanpa terasa malam hampir mencapai pukul 12. Artinya sebentar lagi hari ulang tahunku akan tiba. Saat itu segenap kepuasan telah menyelimuti kami dari pesta sejak sore tadi. Tubuh-tubuh macho itu tergeletak melepas ketegangannya di tengah-tengah tubuhku, sambil kami bercumbu-cumbu kecil.<br />
Akhirnya alarm handphoneku yang sengaja kupasang, berbunyi. Now it&#8217;s the time!
</p>
<p style="text-align: justify;">Tepat jam 12 aku mengeluarkan kue ulang tahun yang kubeli tadi siang dari dalam lemari es. Kuletakkan di atas meja. Kedelapan daun mudaku berdiri mengelilingi meja tersebut. Acara potong kue pun dimulai. Potongan pertama kuletakkan di atas cawan, kemudian kuberikan pada Chris yang berdiri di sebelahku. Kusuapkan sepotong ke mulutnya dengan mulutku. Kemudian potongan kedua kuberikan pada Frans dengan cara yang sama. Lalu berturut-turut Stanley, Jonathan, Arga, Dodi, Rhino dan terakhir Felix.</p>
<p style="text-align: justify;">Kami pun berpesta dengan kue itu dan tentunya beberapa botol anggur yang telah kuberi obat perangsang tadi. Selesai makan, atas ide Frans aku diminta berbaring di atas meja, kemudian tubuhku dibaluri sisa krim dari kue dan sedikit disirami anggur. Kemudian dengan buas, kedelapan daun mudaku melumat tubuhku dengan lidah mereka. Ahh.. nikmat sekali rasanya. Aku merasa seperti ratu yang dimanja gundik-gundiknya.</p>
<p style="text-align: justify;">Mr. Bond<br />
View Public Profile<br />
Send a private message to Mr. Bond<br />
Find More Posts by Mr. Bond<br />
Add Mr. Bond to Your Contacts</p>
<p style="text-align: justify;">18-07-2006, 04:17 PM    #3<br />
Mr. Bond<br />
[DS] Enthusiast</p>
<p style="text-align: justify;">Join Date: Jul 2006<br />
Posts: 144<br />
Thanks: 0<br />
Thanked 12 in 9 Posts
</p>
<p style="text-align: justify;">&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8211;</p>
<p style="text-align: justify;">Mereka tak hanya menjilati, tapi juga mencumbui seluruh permukaan kulitku. Sshh.. oohhh.. Felix memang pintar sekali menjelajahi payudaraku. Anak itu berduet dengan Arga melumat payudara dan puting susuku. Frans, Rhino dan Chris asyik berebutan mengeroyok vagina dan pantatku. Uhhh.. rasanya vaginaku ingin meleleh dibuatnya.<br />
Sudah 8 kali aku orgasme dengan permainan ini, namun mereka terus asyik melumat tubuhku tanpa henti. Gila, obat perangsang pemberian salah seorang temanku itu memang top banget.</p>
<p style="text-align: justify;">“Sshhh.. ooohhh..”, untuk yang ke-9 kalinya aku mencapai orgasme.<br />
Karena tak tahan aku pun bangkit. Tubuhku sudah basah oleh air liur mereka. Aku melirik ke jam di handphoneku. 00:57. Sebentar lagi Daniel dan tante-tantenya akan kemari.<br />
“Sebentar ya sayang..”, aku menyingkir sedikit dari daun-daun mudaku untuk mengirim SMS ke Daniel.<br />
Tak lama kemudian anak itu membalas. Yup, confirm! Mereka sedang di lift dan sebentar lagi akan tiba.<br />
“Ok sayang.. kalian semua betul-betul hebat. Tante senang sekali merayakan pesta ulang tahun seperti ini. Nah.. sebagai imbalan, tante punya surprise buat kalian semua..”, cetusku sambil senyum-senyum.<br />
Kedelapan pria itu saling berpandangan dengan bingung.<br />
“Wah, surprise apalagi nih tante?”, tanya Chris.<br />
Aku mengecup bibir anak itu.<br />
“Liat aja bentar lagi”, jawabku.<br />
Baru saja aku meyelesaikan kalimatku, pintu kamar berbunyi. Aku segera memakai kimono dan menghampiri pintu.<br />
“Happy birthday Tasha..”<br />
Daniel dan tante-tantenya berteriak ribut mengejutkan semua pria yang ada di dalam kamarku. Aku mempersilakan masuk dan mengenalkan mereka. Melihat kedelapan daun mudaku yang tanpa busana, kelima wanita itu langsung menanggalkan pakaian mereka tanpa basa-basi.<br />
“Oke semua, this is the real party.. Enjoy it!”, seruku pada mereka.<br />
Bagai pasukan yang dikomando, mereka langsung mencari pasangan dan memilih tempat masing-masing untuk melepas birahinya. Aku menghampiri Daniel yang masih berpakaian lengkap.<br />
“Sayang.. sekarang saatnya kita berduaan. Biar saja mereka berpesta, tante ingin menikmati tubuh kamu sendirian.. mmm.. mmm..”, desahku seraya mencium bibir Daniel.
</p>
<p style="text-align: justify;">Pria macho itu langsung menggendong tubuhku dan membawaku ke bathroom. Daniel mendudukkanku di atas meja wastafel, dan kami pun melanjutkan ciuman kami. Tanganku lincah melucuti kemeja yang membungkus tubuh Daniel. Anak itu juga melepas kimono yang kupakai. My God! Untuk kesekian kali aku mengagumi tubuh kekar Daniel yang putih itu. Aku mendekap tubuhnya hingga dadanya menempel ketat di payudaraku. Ssshh.. hangat sekali. Daniel menciumi leher dan bahuku habis-habisan. Gairahku kembali naik.</p>
<p style="text-align: justify;">Dengan lembut Daniel mendorong tubuhku hingga setengah berbaring di atas wastafel tersebut. Kemudian dengan liar anak itu menjelajahi tubuhku dengan lidahnya. Ahhh.. dia pintar sekali mencumbui puting susuku. Sementara sebelah tangannya mengusap-usap permukaan kemaluanku. Kedua tanganku sampai meremas rambut Daniel untuk menahan kenikmatanku. Daniel membasahi jari-jarinya dengan lidahnya, kemudian dimasukannya jari tengahnya yang kekar itu ke dalam lubang vaginaku.</p>
<p style="text-align: justify;">“Sshhh.. ooohhh..”, aku mendesah merasakan kenikmatan itu.<br />
Daniel melirik ke wajahku yang sedang berekspresi seperti orang ketagihan. Bibir, lidah dan giginya tak henti-henti mencumbui puting susuku. Daniel memang lihai sekali memainkan tempo. Tak sampai lima belas menit, jari-jari Daniel berhasil membuatku klimaks. Aku memeluk dan mencium anak itu.
</p>
<p style="text-align: justify;">Kemudian gantian aku yang turun ke bawah untuk menikmati penisnya yang aduhai itu. Gila, masih lemesnya aja segini, gimana udah tegang nanti. Penis Daniel yang tidak disunat itu terlihat lucu dengan daging lebih di ujungnya. Dengan lincah aku menjilati sekeliling penis anak itu. Daniel meremas rambutku dengan penuh nafsu. Lidahku mulai menjelajahi batang penisnya yang besar itu. Uhhh.. gila besar sekali. Sampai pegel lidahku menjilatinya. Sesekali Daniel menggesek-gesekkan batang penisnya itu ke mulutku dengan geMas. Aku semakin liar saja melumatnya. Pelan-pelan aku mulai melahap penis Daniel. Mmm.. mmm.. enak sekali. Aku mengulum ujung penis Daniel yang kenyal, dan menarik-nariknya seperti permen karet. Anak itu sempat bergidik menahan nikmat. Sambil mengulum ujungnya, kedua tanganku memainkan batang penisnya yang sudah basah oleh air liurku itu. Lidahku semakin lincah dan liar.</p>
<p style="text-align: justify;">Akhirnya penis Daniel mencapai ukuran klimaksnya. Dan.. wow betul-betul fantastis. Aku mengukurnya dengan jariku. Gila, nyaris dua jengkal tanganku. Kayaknya tadi waktu party bareng tante-tantenya nggak segede ini. Makan apa sih ni anak. Penis Daniel sudah keras, kepalanya sudah menyembul dari balik kulitnya dan urat-urat yang perkasa mulai menghiasi sekeliling batang penisnya. Daniel mengusap-usapkan penisnya ke sekujur wajahku. Ahhh.. nikmat sekali. Sebentar lagi aku akan merasakan kejantanannya.</p>
<p style="text-align: justify;">Sambil berpegangan di wastafel, aku siap dengan posisi nungging. Perlahan-lahan Daniel menyelipkan batang penis jumbonya itu ke dalam liang vaginaku. Aahhh.. aku merasa seperti seorang perawan yang baru menikmati malam pertama. Penis Daniel terasa sulit menembus vaginaku. Pelan-pelan Daniel menusukkan semakin dalam, dan.. akhirnya penis Daniel amblas ke dalam vaginaku. Uhhh.. rasanya ketat sekali di dalam.</p>
<p style="text-align: justify;">“Shh.. tante.. lubangnya sempit banget sih.. enak banget nih..ahhh..”, Daniel mendesah di telingaku.<br />
Pelan-pelan Daniel mulai memaju-mundurkan penisnya. Ohh..ohhh..ooohhh.. nikmat sekali. Sementara kedua tangannya yang kekar meremas payudaraku.<br />
“Aahhh.. ahh.. Daniel.. aahhh.. enak sekali sayang.. aahhh..”, Aku merasakan tubuhku akan meledak menahan rasa nikmat yang luar biasa.<br />
Baru kali ini aku merasa seperti ini. Dan tak lama kemudian aku pun mencapai klimaks. Ahhh.. Daniel mencabut batang penisnya dari vaginaku. Gila, anak itu masih cool aja. Masih dalam posisi berdiri, aku memeluk tubuh kekarnya, sambil menciumi dadanya yang bidang.<br />
“Gila, kamu hebat sayang.. mmmhhh..”, desahku seraya melumat bibirnya.<br />
Daniel lalu menggendong tubuhku dan dia mulai melumat payudara dan puting susuku. Ahhh.. asyik sekali.<br />
“Tante.. aku mau sambil berdiri ya..”, desahnya.<br />
Aku mengangguk. Tanpa kesulitan Daniel kembali meyelipkan batang penisnya yang masih keras ke dalam vaginaku yang sudah becek. Oohhh.. kami bermain dengan posisi berdiri. Berat badanku membuat penis Daniel menancap semakin dalam. Nikmat sekali rasanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Entah berapa kali aku dan Daniel saling melepas nafsu di kamar mandi itu. Tubuhku sampai lemas karena terlalu sering orgasme. Daniel yang masih stay cool duduk di atas toilet, sementara aku duduk di pangkuannya sambil merebahkan tubuhku di dadanya yang bidang.<br />
“Hhh.. kamu gila sayang, hebat banget sih..”, cetusku sambil mencubit hidung Daniel.<br />
Anak itu tersenyum sambil mengusap rambutku.<br />
“Tante juga hebat.. gila tadi tante party sama cowo-cowo itu ya?”, tanya Daniel sedikit takjub.<br />
Aku mengangguk manja. Anak itu sampai geleng-geleng.<br />
“Kamu juga sering kan party bareng tante-tantemu itu? Hayo ngaku..”, celetukku dengan nada bercanda.</p>
<p style="text-align: justify;">Daniel tertawa. Sambil melepas lelah aku berbagi cerita dengan Daniel. Aku sampai geleng-geleng mendengar ceritanya. Di usianya yang masih semuda itu ternyata pengalaman seksualnya jauh lebih banyak daripadaku. Dengan segala kelebihan fisik yang dimilikinya, anak itu seringkali menyelesaikan persoalan dengan rayuan dan pesona bercintanya. Mulai dari teman sekelasnya yang rela membuatkan PR-nya dan Daniel membayarnya dengan memberi kenikmatan birahi pada si cewe itu. Kemudian tantenya yang kepergok berselingkuh di salah satu restoran, juga merelakan tubuhnya dipuaskan Daniel sebagai imbalan tutup mulut. Bahkan sampai wali kelasnya yang menurutnya memang cantik itu, rela membubuhkan nilai 9 di raport Daniel dengan imbalan pelayanan birahi yang memuaskan dari anak itu.<br />
“Tante, kita keluar yuk, kayaknya pada berisik banget deh..”, ajak Daniel tiba-tiba.<br />
Aku mengangguk setuju. Sejak tadi memang di luar kamar mandi tersebut berisik sekali. Suara lenguhan, desahan sampai jeritan manja sayup-sayup terdengar saat aku berpacu nafsu dengan Daniel di kamar mandi tadi.</p>
<p style="text-align: justify;">Betapa terkejutnya aku ketika keluar dari kamar mandi melihat pemandangan yang selama ini hanya dapat aku nikmati lewat blue film. Para daun mudaku tersebar di berbagai sudut asyik berbagi kenikmatan dengan tante-tantenya Daniel.<br />
Jonathan dan Stanley yang selalu kompak asyik memuaskan Shinta di salah satu sofa. Arga, Rhino dan Dodi juga sibuk menggumuli Melly, yang paling cantik dan seksi di antara wanita-wanita itu. Sementara Candra bagai seorang ratu tergolek di atas ranjang, sementara Chris dan Felix dengan buas menggeluti tubuhnya yang memang mulus. Si macho-ku Frans rupanya yang jadi favorit sampai Yuni dan Liana berebut menikmati Mr. King-nya. Aku geleng-geleng melihatnya seraya memeluk tubuh Daniel yang ada di sebelahku. Inikah yang namanya orgy? Betul-betul gila. Aku tak menyangka kalau pesta ulang tahunku menjadi sefantastis ini.
</p>
<p style="text-align: justify;">Aku dan Daniel pun bergabung dengan mereka. Entah berapa jam lamanya aku larut dalam pesta gila itu. Kami berganti-ganti pasangan seenaknya. Entah sudah berapa kali kami orgasme. Namun khasiat obat perangsang yang kubawa itu memang luar biasa. Stamina kami seperti tak ada habis-habisnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Pesta gila itu akhirnya terhenti oleh Candra yang punya ide untuk bikin games. Wanita itu ingin membuat game seperti yang dilakukannya pada Daniel sore tadi sebagai hadiah ulang tahunku. Tentu saja aku setuju. Dengan posisi nungging, aku berlutut di atas ranjang. Kepalaku rebah di atas bantal, mataku tertutup, sementara kedua tanganku diikat. Kedua pahaku kubuka lebar-lebar. Permainan pun dimulai. Pria-pria yang ada di situ secara acak akan memasukkan batang penisnya ke dalam vaginaku. Jika aku bisa menebak siapa yang sedang beraksi, aku boleh melepas ikatanku dan melapas hasratku dengan pria tersebut. Namun jika aku salah menebak, aku harus mengulum penis pria tersebut sampai dia orgasme.</p>
<p style="text-align: justify;">Suasanya sunyi senyap. Penis pertama mulai menyusup perlahan ke dalam lubang vaginaku. Aku berharap penisnya Jonathan, karena mudah sekali mengenalinya. Perlahan penis itu terus masuk ke dalam liang vaginaku. Ups.. tidak ada aksesoris apa-apa. Berarti bukan Jonathan. Siapa ya? Aku jadi penasaran. Penis itu sudah amblas seluruhnya kedalam vaginaku. Ughh.. nikmatnya. Tapi siapa ya? Aku melakukan kegel untuk memancing desahan pria itu. Sial, nggak bersuara. Yang ada malah suara Shinta, Melly, Candra, Yuni dan Liana yang berah-uh-ah-uh mengacaukanku. Ah.. aku betul-betul bingung.</p>
<p style="text-align: justify;">“Stanley?” tebakku.<br />
Wanita-wanita itu cekikikan. Sang pria sama sekali tak bersuara. Tiba-tiba tubuh pria tersebut menunduk hingga aku bisa merasakan dengusan nafasnya. Dibukanya tutup mataku.<br />
“Aww.. Chris!”, teriakku.
</p>
<p style="text-align: justify;">Gimana aku nggak bisa ngenalin sih. Dasar. Mereka semua tertawa. Sebagai konsekuensi, aku harus mengulum penisnya sampai anak itu orgasme. Permainan terus berlanjut. Berkali-kali aku gagal. Mungkin ada sekitar 7 kali aku tidak bisa menebak. Padahal kadang salah seorang dari mereka beraksi lebih dari satu kali. Tapi aku tetap tidak mengenali. Sialnya Jonathan malah melepas aksesoris yang menjadi ciri khasnya. Huh.. Tapi aku senang. Bukan Tasha namaku kalau tidak mengenali penis si macho, Frans. Aku langsung menjerit keasyikan begitu tahu tebakanku tepat. Dengan cool Frans melepaskan ikatanku dan kami melepas birahi dengan ditonton oleh yang lain. Setelah orgasme, permainan dilanjutkan.</p>
<p style="text-align: justify;">Berikutnya ketebak lagi. Gimana nggak, siapa lagi yang penisnya bisa membuatku merasa seperti perawan. Ughhh.. nikmat sekali saat penis super besar itu amblas di dalam vaginaku. Aku yang memang sudah bisa menebak mencoba mengulur waktu sebentar. Nikmat sekali penis ini. Aku melakukan kegel berkali-kali, hingga tiba-tiba penis itu memuntahkan spermanya yang kental di dalam vaginaku. Si pemilik penis mengerang menahan nikmat. Aku bisa mendengar suara gumaman heran orang-orang yang ada di situ.</p>
<p style="text-align: justify;">“Gotcha Daniel!”, seruku sambil tersenyum penuh kemenangan.<br />
Yang lain berteriak heboh. Daniel pun langsung membuka tutup mata dan tali yang mengikatku.<br />
“Tante curang ih..”, rajuknya manja.<br />
Aku tertawa dan memeluk tubuh anak itu. Kami pun bercumbu sambil disaksikan yang lain. Tak butuh waktu lama untuk mengembalikan birahi Daniel setelah aku ‘mencuri’ spermanya tadi. Dengan gayanya yang buas, Daniel membuat kami orgasme bersama.</p>
<p style="text-align: justify;">Permainan itu berlangsung sampai menjelang pagi. Setelah semua selesai, Daniel dan tante-tantenya pamit untuk kembali ke kamarnya. Sementara aku juga mau istirahat. Kami pun tertidur pulas sekali. Lewat jam dua belas kami baru bangun. Satu persatu daun mudaku pamit pulang, hingga akhirnya aku sendirian di kamar yang besar itu.<br />
Sambil berdiri di pintu, aku menyaksikan pemandangan kamar yang berantakan. Botol-botol minuman berserakan di mana-mana, begitu juga krim-krim bekas kue. Posisi kursi, meja dan sofa sudah nggak jelas, ranjang apalagi sudah mawut-mawutan. Tapi aku merasa puas sekali. Betul-betul pesta ulang tahun yang berkesan. Dan yang lebih berkesan lagi aku dapat daun muda baru, Daniel.
</p>
<p style="text-align: justify;">Sejak kejadian itu, aku menjadi akrab dengan Daniel dan juga tante-tantenya. Aku jadi bersahabat karib dengan Candra. Dan dari mereka juga aku mulai mengenal kehidupan malam. Petualangan sex-ku pun makin beragam. Aku mulai sering ikut acara-acara gila yang diadakan Candra dan teman-temannya.</p>
<p style="text-align: justify;">Februari kemarin, aku bercerai dengan suamiku. Toh aku pikir ada atau nggak ada suami sama saja. Dia jarang sekali di rumah. Hak asuh Juliet pun kuserahkan dengan ikhlas pada suamiku. Dan kini aku semakin bebas tanpa adanya suami dan anak. Aku bisa keluar rumah sesukaku dan ikut acara-acara gilanya Candra. Bahkan tak jarang aku menjadi tuan rumah untuk acara-acara tersebut, karena rumah peninggalan suamiku ini memang besar sekali. Aku pun juga bebas mengundang daun-daun mudaku ke rumah untuk memuaskanku kapan saja aku mau.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ceritasex.cn/dijebak-tapi-enak-bagian-1/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

