<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Cerita sex porno ngentot mesum perek ayam kampus &#187; tante</title>
	<atom:link href="http://www.ceritasex.cn/tag/tante/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.ceritasex.cn</link>
	<description>Kumpulan cerita sex, foto bugil, dan film porno</description>
	<lastBuildDate>Wed, 08 Feb 2012 13:12:08 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
		<item>
		<title>Gairah Tante Vivi Bagian 1</title>
		<link>http://www.ceritasex.cn/gairah-tante-vivi-bagian-1/</link>
		<comments>http://www.ceritasex.cn/gairah-tante-vivi-bagian-1/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 18 Dec 2011 08:47:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cerita Sex</dc:creator>
				<category><![CDATA[Paruh baya]]></category>
		<category><![CDATA[Seks Umum]]></category>
		<category><![CDATA[selingkuh]]></category>
		<category><![CDATA[Tante Girang]]></category>
		<category><![CDATA[erotis]]></category>
		<category><![CDATA[gairah]]></category>
		<category><![CDATA[ml]]></category>
		<category><![CDATA[ngentot]]></category>
		<category><![CDATA[tante]]></category>
		<category><![CDATA[vivi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ceritasex.cn/?p=3243</guid>
		<description><![CDATA[Tante Vivi menyuruhku datang malam ini ke rumahnya. Sebenarnya agak malas juga dan khawatir, bagaimanapun saya lebih senang mengajak Selva, pacarku untuk menemani, ini membuatku ragu-ragu untuk berangkat.9.15 malam: Aku masih ragu-ragu&#8230;, berangkat&#8230;, tidak&#8230;, berangkat&#8230;, tidak.9.25 malam: Akhirnya Tante Vivi tanpa kuduga benar-benar menelepon, kebetulan aku sendiri yang menerima.&#8221;Lho&#8230;, Ar&#8230;, kok kamu belum berangkat, bisa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Tante Vivi menyuruhku datang malam ini ke rumahnya. Sebenarnya agak malas juga dan khawatir, bagaimanapun saya lebih senang mengajak Selva, pacarku untuk menemani, ini membuatku ragu-ragu untuk berangkat.9.15 malam: Aku masih ragu-ragu&#8230;, berangkat&#8230;, tidak&#8230;, berangkat&#8230;, tidak.9.25 malam: Akhirnya Tante Vivi tanpa kuduga benar-benar menelepon, kebetulan aku sendiri yang menerima.&#8221;Lho&#8230;, Ar&#8230;, kok kamu belum berangkat, bisa dateng tidak Ar?..&#8221;, tanyanya kendengaran agak kecewa.&#8221;Mm&#8230;, gimana ya Tante&#8230;, agak gerimis nih di sini&#8230;&#8221;, sahutku beralasan.&#8221;Masa iya Ar&#8230;, yaah&#8230;, kalo gitu Tante jemput aja yaa&#8230;&#8221;, balasnya seolah tak mau kalah. Aku jadi blingsatan dibuatnya.&#8221;Waah&#8230;, tidak usah deh Tante&#8230;, okelah saya ke sana sekarang Tante&#8230;, mm Selva saya ajak ya Tante&#8230;&#8221;, sahutku kemudian. Aku pikir ke sana malm-malam mau tidak mau akhirnya pasti harus nginap. Kalau ada Selva kan aku tidak begitu risih, masa aku bawa Selva pulang malam-malam. Tapi&#8230;&#8221;iih&#8230;, jangan Ar&#8230;, Selva jangan diajak&#8230;, mm pokoknya ke sini aja dulu Ar&#8230;, yaa&#8230;, Tante tunggu&#8230;, Klik&#8221;.</p>
<p style="text-align: justify;">Sekali lagi seolah disengaja Tante Vivi langsung memutuskan hubungan. Sialan pikirku, dia mengerjaiku, ngapain malam-malam ke sana kaya tidak ada waktu siang atau pagi kek. Aku jadi kesal, ngapain Selva kemarin cerita kalau aku banyak ngerti masalah Komputer. Wuueek&#8230;, kaya pakar wae&#8230;, sekarang baru kena getahnya. Akhirnya dengan perasaan malas, malam itu benar-benar agak gerimis, badanku sampai kedinginan terkena rintik air gerimis malam yang dingin.Sekitar pukul 10.00 malam: Aku sampai juga di tempat Tante Vivi, suasana di komplek perumahan itu sudah sepi sekali, aku membuka pintu pagar yang sengaja belum dikunci dan kumasukkan sepeda motor ke dalam.Belum sempat aku mengetuk pintu, ternyata Tante Vivi rupanya sudah mengetahui kedatanganku. Mungkin ia mendengar deru suara motorku ketika datang tadi.&#8221;aahh&#8230;, akhirnya dateng juga kamu Ar&#8230;&#8221;, katanya ramah dari balik pintu depan.&#8221;Iya&#8230;, Tante&#8230;&#8221;, sahutku berusaha ramah, bagaimanapun aku masih setengah kesal, sudah datang malam-malam kehujanan lagi.&#8221;Agak gerimis ya Ar&#8230;&#8221;, tanyanya seolah tak mau tau.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Hsii&#8230;&#8221;, Tanpa sadar aku terbersin.&#8221;Eehh&#8230;, kamu Flu Ar&#8230;&#8221;, tanyanya kemudian.Aku mengusap wajah dan hidungku yang setengah lembab terkena air gerimis. Tante Vivi menarik tanganku masuk ke dalam dan menutup pintu. &#8220;Klik&#8230;&#8221;, sekaligus menguncinya. Aku tak begitu memperhatikannya karena aku sendiri kuatir dengan kondisiku yang terasa agak meriang. Kuusap berulang kali wajahku yang dingin. Lalu tiba-tiba kurasakan sebuah telapak tangan yang hangat dan lembut membantu ikut mengusap pipi kananku. &#8220;Pipimu dingin sekali Ar&#8230;, kamu pasti masuk angin yaa&#8230;, Tante bikinin susu jahe anget yaa&#8230;&#8221;, sahutnya lembut. Aku menoleh dan astaga wajahnya itu begitu dekat sekali dengan mukaku. &#8220;Duh&#8230;, cantiknya&#8221;. Kulitnya yang putih mulus dan halus, matanya yang hitam bulat sedikit sipit dengan bentuk alisnya yang hitam memanjang tanpa celak, hidungnya yang kecil bangir, dan bentuk bibirnya yang menawan tanpa lipstik. Terlihat sedikit tebal dan begitu ranum. Sexy sekali bibirnya. Tante Vivi tersenyum kecil melihatku setengah melongo.<br />
<span id="more-3243"></span><br />
&#8220;Kamu duduk dulu Ar&#8230;, Tante ke belakang dulu&#8230;&#8221;, sahutnya pelan. Tanpa menunggu jawabanku, ia membalikkan tubuh dan bergegas berjalan melintasi ruang tengah menuju ke belakang. Tubuhnya yang tingginya mungkin sekitar 160 cm kelihatan begitu seksi ramping dan padat. Sempat kulihat langkah kakinya yang berjalan sangat elok, saat itu kuingat jelas ia memakai celana Jeans putih ketat serta memakai baju kemeja halus berwarna merah muda dan dibiarkan berada di luar celana. Baju yang dikenakannya seperti umumnya baju kemeja sekarang yang relatif panjang, membuat celana jeans yang dikenakannya tertutup sampai ke atas paha. Namun karena sifatnya yang lemas, membuat bajunya itu seolah menempel ketat pada bentuk tubuhnya yang memang sangat seksi dan montok. Pinggulnya yang bulat padat bergoyang indah kekiri dan kanan. Begitu gemulai bagai penari Jaipong. Kuhempaskan pantatku dengan perasaan lelah di atas sofa empuk ruang tamunya. Aku memandang ke sekeliling ruangan tamunya yang cukup mewah. Lukisan besar pemandangan alam bergaya naturalis tergantung di atas tembok persis di belakang tempat dudukku.</p>
<p style="text-align: justify;">Selebihnya berupa lukisan-lukisan naturalis sederhana yang berbingkai kecil dan sedang tentang suasana kehidupan pulau Bali. Aku tak begitu tertarik dengan lukisan, sehingga aku tak sampai mengamati lama-lama. Sepuluh menit kemudian, Tante Vivi muncul dengan segelas besar susu jahe yang masih kelihatan panas, karena asapnya masih terlihat mengepul. Dengan wajah cerah dan senyum manis bibirnya yang menggemaskan, mau tak mau aku jadi ikutan senang.&#8221;Waah&#8230;, asiik nih kelihatannya&#8230;, wangi lagi baunya&#8230;, mm..&#8221;, kataku spontan.&#8221;Pelan-pelan Ar&#8230;, masih panas&#8230;&#8221;, sahutnya pendek, sambil memberikan minuman jahe itu kepadaku. Lalu tanpa risih ia duduk di sebelahku. Aku jadi deg-degan juga.&#8221;Gimana kuliah Selva Ar&#8230;, kapan nih rencana mau majunya&#8230;&#8221;, tanya Tante Vivi kemudian.&#8221;Entah Tante&#8230;, setahu saya sih bulan depan ini dia harus menyelesaikan seluruh asistensi skripsinya. Soal maju ujian skripsi saya kurang tau Tante..&#8221;, sahutku polos. &#8220;iih.., kamu ini gimana sih Ar&#8230;, pacarnya sendiri kok tidak tahu, asyiik pacaran aja yaa rupanya&#8230;&#8221;, ujar Tante Vivi setengah bercanda.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;aah&#8230;, Tau aja Tante&#8230;, tidak salah&#8230;&#8221;, sahutku sambil ketawa nyaring.&#8221;Kamu menyukai dia Ar&#8230;&#8221;, tanya Tante Vivi kemudian, seolah setengah malas menanggapi candaku.&#8221; Waah&#8230;, Tante ini gimana sih&#8230;, ya jelas dong Tante&#8230;, lagipula sekarang kami sudah sangat serius menjalin hubungan ini&#8230;, saya mencintainya Tante&#8230;&#8221;, sahutku sedikit serius.Tante Vivi tersenyum kepadaku, giginya yang putih bersih terawat kelihatan indah, serasi dengan bentuk bibirnya yang tak terlalu lebar.&#8221;Tidak Ar&#8230;, Tante khan cuman nanya&#8230;, soalnya Tante lihat Selva sayang sekali sama kamu&#8230;&#8221;, ujarnya kemudian.&#8221;Jangan kuatir deh Tante&#8230;&#8221;, sahutku pelan sambil mulutku mulai menyeruput wedang susu jahe bikinannya itu. Terasa sedikit pedas di bibir namun hangat manis di lidah dan kerongkonganku.&#8221;Komputernya di taruh mana Tante&#8230;&#8221;, tanyaku tanpa memandangnya sambil terus seteguk demi seteguk menghabiskan minumanku.&#8221;Tuh&#8230;, di kamar kerja Tante&#8230;&#8221;,sahutnya pendek. Sejenak aku meletakkan minuman dan memandang Tante Vivi yang berada di sebelahku.&#8221;Lalu tunggu apalagi nih&#8230;&#8221;, ujarku setengah bercanda.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Apanya&#8230;?&#8221;, tanya Tante Vivi seakan tak mengerti. Pandangan matanya kelihatan sedikit bingung.&#8221;Lhoh&#8230;, katanya pengen diker&#8230;, eeh diajarin&#8230;&#8221;, lanjutku. Hampir aja aku kelepasan ngomong ngeres, jantungku sampai kaget sendiri dag-dig-dug tidak karuan. Untung tidak kebablasan ngomomg.&#8221;ooh&#8230;, iya.., aduuh Tante sampai kaget&#8230;, Yuk ke kamar Ar&#8230;&#8221;, sahutnya sambil mencolek lenganku. Kami berdiri dan berjalan beriringan ke tempat yang ia maksud. Kami melintasi ruangan tengah yang lebih lapang dan mewah. Kulihat sebuah meja pendek tempat dudukan pesawat Televisi ukuran besar mungkin sekitar 51 inchi lengkap dengan satu set sound systemnya sekaligus berada di sebelah kiri ruang itu. Sedangkan kami menuju ke sebuah ruangan di sebelah kanan yang pintunya sudah setengah terbuka. Tante Vivi menyilahkanku masuk duluan. &#8220;Masuk Ar&#8230;, sorry ruangannya agak berantakan&#8230;&#8221;, ujarnya sambil memberi jalan. Aku masuk dulu kedalam ruangan diikuti Tante Vivi. Ruangan atau kamar itu cukup besar berukuran 5 x 7 meter dan pada umumnya tampak rapi walau masih ada sedikit acak-cakan karena di atas lantai persis di depan tempatku berdiri yang terhampar sebuah karpet berukuran sedang tampak berserakan beberapa majalah wanita yang halamannya masih terbuka disana-sini.</p>
<p style="text-align: justify;">Di depannya ada sebuah meja kerja yang cukup besar, dan di atas meja terdapat beberapa buah buku kecil dan agenda kerja, selain itu terlihat 2 kardus besar dan beberapa kardus kecil yang aku sudah hapal bentuk dan cirinya, apalagi pada kardus besar yang berbentuk kotak itu terdapat tulisan besar GoldStar Monitor. Ketika aku menengok ke sebelah kiri, waah&#8230;, ternyata di situ terdapat sebuah ranjang berukuran sedang. Kasurnya jelas Spring Bed yang terlihat dari ukurannya yang tebal, tertutup dengan sprei berwarna merah jambu. Bantalnya bertumpuk rapi di sisi kiri dan kanan tempat tidur. Di sebelah kiri tempat tidur terdapat sebuah meja kecil dan seperangkat mini stereo. &#8220;Waduuh&#8230;, ini tempat kerja apa kamar Tante&#8230;?&#8221;, tanyaku heran dan kagum. Bagiku ruangan selapang ini terlalu besar untuk kamar tidur. Kamarku sendiri yang berukuran 3&#215;4 meter aja menurutku sudah gede, apalagi sebesar ini.&#8221;Dua-duanya Ar&#8230;, ya kamar kerja ya&#8230;, tempat tidur&#8230;, mm&#8230;, Tante khan cuman sendirian di rumah ini Ar&#8230;&#8221;, sahut Tante Vivi yang berada di sebelah kananku.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Sendirian&#8230;, maksud Tante?&#8221;, tanyaku kepadanya tak mengerti.&#8221;Lhoh&#8230;, apa Selva tidak pernah bilang sama kamu&#8230;, Tante khan&#8230;, sudah bercerai Ar&#8230;&#8221;, sahutnya kemudian. Kedengaran sekali kalimat terakhir yang diucapkannya sedikit terpatah-patah. Astaga&#8230;, seruku dalam hati. Pantas, seolah baru menyadari. Selama ini aku tak pernah ingat apalagi menanyakan tentang suami Tante Vivi ini. Jadi selama ini Tante Vivi itu seorang Janda. Ya ampuun&#8230;, kenapa aku tak menyadari sejak semula. Semenjak pertama kali aku datang ke sini bersama Selva, memang aku tak melihat orang lain lagi selain Inem pembantunya. Waktu itu kupikir suaminya sedang bekerja. Pantas ketika aku datang tadi hanya Tante Vivi sendirian yang menyambutku. Jadii&#8230;, hatiku jadi setengah grogi juga. Aku jadi teringat tentang beberapa kisah nyata di majalah yang pernah kubaca tentang kehidupan seorang janda muda, terutama sekali mengenai soal seks. Pada umumnya katanya mereka sangat mudah dirayu dan tak jarang juga pintar merayu. Jangan-jangan&#8230;, pikirku mulai ngeres lagi.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;ooh&#8230;, maaf Tante saya baru tahu sekarang&#8230;&#8221;, ujarku lirih sejenak kemudian. Tante Vivi tersenyum kecil.&#8221; Udahlah Ar&#8230;, itu masa lalu&#8230;, tidak usah diungkit lagi&#8230;&#8221;, ujarnya setengah menghindar. Terlihat ada setetes air menggenang di pelupuk kedua matanya yang indah. Sedetik kemudian ia sengaja memalingkan mukanya dari tatapanku, mungkin ia tak ingin terlihat sedih di depanku. Kemudian ia berjalan ke depan dan setengah berjongkok memunguti semua majalah yang masih berserakan di atas karpet, spontan aku segera menyusul hendak membantunya.&#8221;Sini Ari bantu Tante&#8230;&#8221;, kataku pendek. Tanpa menoleh ke arahnya aku langsung nimbrung mengumpulkan majalah yang masih tersisa.&#8221;iih sudah Ar&#8230;, tidak usah&#8230;, kok kamu ikutan repot&#8230;&#8221;,sahutnya. Kali ini wajahnya kulihat sudah cerah kembali. Bibirnya yang ranum setengah terbuka menyunggingkan sebuah senyuman manis. Manis sekali. Aku sempat terpana selama 2 detik. &#8221; Tante tidak menikah lagi&#8230;?&#8221;, tanyaku padanya tanpa sadar. Sedikit kaget juga aku dengan pertanyaanku, jangan-janga ia marah atau sedih kembali.</p>
<p style="text-align: justify;">Namun ternyata tidak, sambil tetap tersenyum ia balik bertanya.&#8221;Siapa yang mau sama aku Ar&#8230;?&#8221;"aah&#8230;, Ari kira banyak Tante&#8230;&#8221;"Siapaa&#8230;?&#8221;"Ari juga mau Tante&#8230;&#8221;, kataku cuek, karena maksudku memang bercanda. Ia mendelik lalu sambil setengah ketawa tangannya mencubit lenganku sekaligus mendorongku ke samping.&#8221;Hik&#8230;, hik&#8230;, kamu ini ada-ada aja Ar&#8230;, jangan nyindir gitu dong Ar, memangnya gampang cari laki-laki jaman sekarang&#8230;&#8221;, ujarnya. Lalu kulihat ia terduduk diam seribu bahasa. Aku jadi heran sekaligus geli melihatnya melamun sambil memegangi majalah.&#8221;Kenapa Tante&#8230; &#8220;, tanyaku padanya. Tante Vivi sedikit kaget mendengar pertanyaanku. Namun sambil tersenyum kecut ia hanya menjawab pendek.&#8221;Sudahlah Ar&#8230;, jangan bicara masalah itu&#8230;&#8221;. Akupun tak mengubernya walau sebenarnya masih penasaran apa yang sebenarnya terjadi dulu dengan perceraiannya.Singkat cerita, malam itu aku hanya menghabiskan waktu sekitar 20 menit untuk merakit komputer barunya. Untung saja Tante Vivi membeli komputer jenis Build Up sehingga aku tak perlu untuk memeriksa 2 kali, cuman periksa tegangan input, tinggal sambung kabel ke monitor dan CPU, pasang external modem, pasang speaker aktifnya ke output soundcard, sambung ke stavolt&#8230;, sudah beres.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Sudah beres Tante&#8230;, mm&#8230;, mau sambung ke internet&#8230;?&#8221;, tanyaku puas. Agak keringetan juga rasanya mukaku, walau cuman sekedar sambung sana-sini.&#8221;aah masa&#8230;?, secepat itu Ar&#8230;?&#8221;, tanya Tante Vivi yang sejak tadi juga tak pernah beranjak dari sebelah kananku, asyik melihatku bekerja.&#8221;Lha&#8230;, iya&#8230;, gampang khan&#8230;&#8221;, sahutku pendek. Kupandangi wajah cantiknya yang setengah melongo seolah tak yakin.&#8221;Makanya dicoba dulu dong Tante&#8230;, biar tidak nanya-nanya lagi&#8230;, mana nih stop kontaknya&#8221;, tanyaku kemudian.&#8221;iih&#8230;, hik&#8230;, hik&#8230;, gitu aja sewot&#8230;, jahat kamu Ar&#8230;, hik&#8230;, hik&#8230;, ehem&#8230;, itu ada di belakang meja sebelah bawah Ar&#8230;&#8221;, jawabnya sambil setengah tertawa kecil.Aku melongok ke bawah meja&#8230;, astaga di bawah situ berarti mestinya aku harus merangkak di situ&#8230;, sejenak aku melongo.&#8221;Kenapa Ar&#8230;?&#8221;"Ooh tidak Papa Tante..&#8221;. Akhirnya mau tak mau akhirnya aku harus merangkak masuk ke bawah meja kerjanya yang cukup besar itu sambil tangan kananku menarik kabel power CPU-nya ke bawah. Pengap juga di bawah situ karena memang agak remang, maklum penerangan di kamar ini hanya cuma menggunakan sebuah lampu bohlam sekitar 100 Watt, sinarnya kurang kuat di bawah sini.</p>
<p style="text-align: justify;">Sedang lampu meja kerja terpaksa dimatikan untuk stroom komputer. Setelah terpasang ke stop kontak, sambil setengah merangkak mundur aku langsung membalikkan tubuh dan astaga&#8230;, aku terhenyak kaget karena melihat Tante Vivi ikut juga melongok membungkuk ke bawah meja, tanpa disengaja kedua mataku menyaksikan pemandangan vulgar yang luar biasa indah. Woow, Tante Vivi dengan posisi tubuh seperti itu membuat baju kemejanya yang sedikit gombrong dan karena jenis kainnya yang sangat lemas membuatnya jadi melorot ke bawah pas dibagian dada, apalagi kancing kemejanya yang sedikit rendah, membuat kedua bulatan payudaranya yang sangat besar dan berwarna putih terlihat menggantung bak buah semangka, diantara keremangan aku masih dapat melihat dengan sangat jelas betapa indah kedua bongkah susunya yang kelihatan begitu sangat montok dan kencang. Samar kulihat kedua puting mungilnya yang berwarna merah kecoklatan. &#8220;Yaa aammpuunn&#8230;&#8221;, bisikku lirih tanpa sadar, &#8220;Ia tidak pake Behaa&#8230;&#8221; Tante Vivi semula tak menyadari apa yang terjadi dan apa yang sedang kupelototi, 5 detik saja&#8230;, bagiku itu sudah cukup lama.</p>
<p style="text-align: justify;">Tante Vivi seolah baru menyadari ia menjerit lirih.&#8221;iih&#8230;&#8221;, serunya lirih. Masih dalam posisi membungkuk, tangan kanannya reflek menarik bajunya sampai ke atas leher, setengah pucat ia memandangku lalu berdiri dan mundur 1 langkah. Sudah telanjur, percuma kalau malu, akhirnya dengan cuek aku merangkak ke luar dan berdiri di hadapannya, sambil senyam-senyum seolah tidak salah, akhirnya aku minta maaf juga kepadanya. &#8220;Maaf Tante&#8230;, sa&#8230;, Ari tidak sengaja&#8230;&#8221;, ujarku cuek. Tante Vivi masih dengan sedikit pucat, akhirnya hanya bisa tersenyum kecil. Wajahnya kelihatan memerah.&#8221;Sudahlah&#8230;, Ar&#8230;&#8221;, sahutnya pendek. Dalam hati aku berbisik, lumayan dapat tontonan susu gede gratiss.</p>
<p style="text-align: justify;">Bersambung&#8230;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ceritasex.cn/gairah-tante-vivi-bagian-1/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Istri-Istri Pamanku Bagian 5</title>
		<link>http://www.ceritasex.cn/istri-istri-pamanku-bagian-5/</link>
		<comments>http://www.ceritasex.cn/istri-istri-pamanku-bagian-5/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 18 Dec 2011 08:17:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cerita Sex</dc:creator>
				<category><![CDATA[Paruh baya]]></category>
		<category><![CDATA[Sedarah]]></category>
		<category><![CDATA[selingkuh]]></category>
		<category><![CDATA[bercinta]]></category>
		<category><![CDATA[bibi]]></category>
		<category><![CDATA[birahi]]></category>
		<category><![CDATA[cuki]]></category>
		<category><![CDATA[istri]]></category>
		<category><![CDATA[memek]]></category>
		<category><![CDATA[ngentot]]></category>
		<category><![CDATA[seks]]></category>
		<category><![CDATA[tante]]></category>
		<category><![CDATA[vagina]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ceritasex.cn/?p=3226</guid>
		<description><![CDATA[Aku merasakan kecanggungan Bi Laha ketika menggenggam penisku. Seakan-akan tengah menimbang-nimbang &#8220;Mau diapakan benda ini?&#8221; &#8220;Dikocok dong Bi&#8230;&#8221; bisikku memohon. Seketika itu juga tangan Bi Laha mulai bergerak-gerak di dalam celana dalamku. &#8220;Iya bi.. iyaahh.. lebih cepat bi.. lebih cepaat.&#8221; Tampaknya untuk soal kocok mengocok, Bi Laha lumayan berpengalaman. Ia juga tahu tempat sensitif pria [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Aku merasakan kecanggungan Bi Laha ketika menggenggam penisku. Seakan-akan tengah menimbang-nimbang &#8220;Mau diapakan benda ini?&#8221; &#8220;Dikocok dong Bi&#8230;&#8221; bisikku memohon. Seketika itu juga tangan Bi Laha mulai bergerak-gerak di dalam celana dalamku. &#8220;Iya bi.. iyaahh.. lebih cepat bi.. lebih cepaat.&#8221; Tampaknya untuk soal kocok mengocok, Bi Laha lumayan berpengalaman. Ia juga tahu tempat sensitif pria di urat sebelah bawah kepala penis. Seraya mengocok naik-turun, jempolnya mempermainkan urat itu membuat mataku terbeliak dan pinggulku berputar-putar. &#8220;Enak bi.. aahh.. ennnaak..&#8221; Lalu tanganku melepaskan remasan di pantatnya, dan kusentakkan tali celana dalam nilonnya. Maka terlepaslah penutup terakhir tubuh sintal isteri Mang Iyus itu. Dengan sigap kuletakkan jari tengahku di belahan vagina Bi Laha. Kusibakkan hutan lebat keriting itu, lalu jariku mencari-cari tonjolan kecil di bagian atas vaginanya.&#8221;aahh&#8230; sss&#8230; aahh.. agak keatas Fi.. agak keatas.. iyaah.. Yang ituuu.. yang ituuu.. ouuuh&#8230;&#8221; Kembali tangan kanan Bi Laha memeluk leherku, sementara tangan kirinya semakin cepat mengocok penisku.</p>
<p style="text-align: justify;">(&#8220;Oh Rafii, kocokanmu begitu nikmat di klitorisku. Auhh, dasar anak nakal! Sempat-sempatnya kau sentil daging itu. Ooohh.. bagaimana kocokanku sayang? Enak? Kalau mendengar erangan dan goyangan pinggulmu, aku yakin kamu menyukainya. Dan lagi, tanganku sudah terasa basah oleh cairan bening yang keluar dari lubang penismu. Ah, kenapa tiba-tiba aku jadi amat menginginkan cairan manimu?&#8221;)</p>
<p style="text-align: justify;">Putaran pinggul Bi Laha semakin liar mengikuti kocokanku pada klitorisnya. Erangan dan desahannya sudah menjadi teriakan-teriakan kecil. Ia sudah tak peduli kalau orang lain akan mendengar. Dengan satu tangan yang masih bebas, kulepaskan celana dalam CK-ku sehingga Bi Laha semakin bebas mengocok penisku. &#8220;Fi&#8230; kita berdua telanjang bulat Fi.. kita berdua, bibi dan keponakan, telanjang bulat di ruang tamu..&#8221; Desahnya sambil memejamkan mata dan tersenyum manja. Lalu kuhentikan kocokanku, dan kuletakkan ujung jari tengah dan telunjuk di pintu vaginanya. Pelan-pelan kudesakkan kedua jariku ke dalam liang yang sudah teramat basah itu.&#8221;Eeehh&#8230;&#8221; Isteri pamanku itu mengerang lalu menggigit pundakku dengan gemas, kerika kuputar-putar jemariku seraya mendesakkannya lebih kedalam. Lalu mendadak kuhentikan gerak jemariku itu dan berkata,&#8221;Bi.. bibi yakin mau melakukan ini?&#8221;"Ohh ke.. kenapa kamu tanya itu yang..? sss&#8230;&#8221; tanyanya dengan pandangan sayu seraya mendesis dan menyorong-nyorongkan selangkangannya dengan harapan jemariku melesak semakin dalam.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Emm, ingat omongan bibi sebelum ini? Bibi bilang ini kesalahan terbesar?&#8221;"Kamu tahu maksud bibi mengatakan itu?&#8221; Aku menggeleng. Perlahan, senyum nakal mengembang di bibir perempuan itu. &#8220;Adalah kesalahan besar kalau bibi menolak penismu yang&#8230; aahh&#8230;&#8221; Kutusukkan kedua jariku sehingga melesak masuk ke dalam vagina basah itu sehingga pemiliknya menjerit walau belum habis berkata-kata. Mata Bi Laha membelalak, mulutnya menganga seakan sedang mengalami keterkejutan yang amat sangat. Rasakan! Senyumku dalam hati. Inilah upah berpura-pura. Bi Laha, Bi laha. Aku tahu bibi menginginkan ini sejak perjumpaan pertama. Aku tahu penolakan-penolakanmu itu tak sepenuh hati. (&#8220;Ouuuhh.. ini gilaa.. Ini gilaa..! vaginaku ditusuk oleh jari-jari lelaki! Suatu perbuatan yang selama ini cuma ada di perbincangan ibu-ibu arisan. Itupun diucapkan dengan nada heran bercampur tak percaya. Namun sekarang aku mengalaminya! Dan aku tak merasa heran. Malah merasa biasa. Yang ada cuma kegelian dan kegatalan yang semakin terasa berputar-putar di vaginaku. Ohh, apakah aku akan orgasme? Secepat itukah? Hmh, kalau saja suamiku tahu apa yang kualami hari ini. Ia akan sadar bahwa apa yang diberikannya selama 15 tahun itu tak ada apa-apanya!&#8221;)<br />
<span id="more-3226"></span><br />
Pelan-pelan kugerakkan jemariku keluar masuk vagina Bi Laha. Gerakan itu semakin lama semakin cepat. Dan ruangan itu kembali dipenuhi oleh jeritan-jeritan Bi Laha yang semakin menggila bercampur dengan kecipak vaginanya yang sudah banjir tak keruan. Sambil terus menusuk-nusukkan jemariku di selangkangannya, pelan-pelan kubaringkan tubuh isteri pamanku itu di atas sofa. Bi Laha merebahkan tubuhnya seraya membuka selangkangannya. Tusukan dan putaran jemari di vagina perempuan itu semakin kupercepat. Pinggulnya kini bergerak naik turun seakan tengah mengimbangi tusukan-tusukan penis lelaki. Aku mencium pangkal lengan mulusnya yang membentang ke atas mencengkram pegangan sofa. Lalu bibirku menelusuri lengan itu ke arah ketiaknya. Sambil mengecup dan sesekali menggigit, bibirku akhirnya sampai pada ketiaknya yang disuburi oleh rambut lebat. Harum ketiaknya membuat penisku semakin berdenyut di tengah kocokan tangan Bi Laha. Lalu bibirku mengecup dan menarik-narik rambut ketiaknya dengan buas, &#8220;Haahh.. haahh.. Fiii.. geliii&#8230;&#8221; Perempuan itu mendadak menjerit liar. Ah, rupanya ketiak merupakan salah satu &#8216;titik lemah&#8217; yang dapat memicu keliaran dan kebinalan birahinya.</p>
<p style="text-align: justify;">Kriiing&#8230; telepon sialan! Kalau itu pamanku, ia benar-benar laki-laki yang menyebalkan! Makiku dalam hati.</p>
<p style="text-align: justify;">Bi Laha menggeser pinggulnya berusaha meraih gagang telepon. Pinggulnya terus bergerak-gerak mengisyaratkanku untuk terus mengocok dan menusuk vaginanya dengan jariku.&#8221;Haloo.. Haloo..&#8221; Bi Laha sama sekali tak berusaha menyembunyikan nafasnya yang tersengal-sengal. Gila, nekat sekali dia. &#8220;Haloo&#8230;&#8221; Ia mulai meninggikan suaranya. Setelah beberapa saat tak mendengar jawaban, Bi Laha menggeletakkan begitu saja gagang telepon di atas sofa. &#8220;Siapa itu bi? Mang Iyus?&#8221;"Tauk, nggak ada suaranya..&#8221; katanya seraya memeluk leherku dan mencium bibirku dengan kekangenan yang luar biasa.&#8221;Fiii..&#8221; Desahnya manja, &#8220;Bibi mau.., masukin penismu sekarang dong&#8230; please&#8230;&#8221; Wah hebat. Bibiku ini sudah menggunakan terminologi Inggris! Please, katanya.&#8221;Sabar sebentar ya bii..&#8221; ujarku tersenyum sambil mengeluarkan jemariku dari vaginanya. Lalu menggeser tubuh sintal Bi Laha sehingga terduduk bersandar di sofa. Kakinya menggelosor ke lantai dengan sedikit mengangkang.&#8221;Mau diapain yang&#8230;?&#8221;"Sshh.. nikmatin saja bi..&#8221; Aku mulai menciumi dan menyedot kedua buah dada montoknya. Lalu pelan-pelan bibirku mulai menyusuri perutnya yang semulus marmer itu ke arah selangkangan. Menyadari arah bibirku, perempuan itu mengepitkan kedua pahanya dan menahan kepalaku.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Fi.. jangan Fi&#8230; jangan ke situ.. bibi Risih..&#8221;"Hmm.. kenapa risih bi..? Kan penis dan tangan saya sudah pernah masuk ke vagina bibi?&#8221;"Dasar bandel.., bibi risih.. soalnya kalau kamu cium disitu.. kamu akan lihat semuanya.. bibi.. bibi malu..&#8221; {{Jantung Nuke nyaris terlompat dari dadanya mendengar percakapan yang baru saja didengarnya. Ia masih memegang gagang telepon di rumahnya. Baru saja ia memberanikan diri untuk menelepon isteri tua suaminya untuk menjelaskan keadaan yang sebenarnya. Sebagai isteri muda, ia merasa tak nikmat menjadi penyebab pertengkaran suaminya dengan perempuan itu. Namun, entah mengapa, ketika isteri pertama suaminya itu menjawab teleponnya dengan nafas tersengal, Nuke merasa keberaniannya hilang. Ia juga merasa ada sesuatu yang luar biasa tengah terjadi pada perempuan itu. Dan Rafi, keponakan suaminya yang sedang berlibur itu, ternyata sudah pernah menyetubuhi Laha. Juga, anak muda itu pernah memasukkan jarinya ke dalam anu-nya Laha! Oh, haruskah ia menceritakan ini pada suaminya? Pantaskah ia menguping perbuatan mereka? Pelan-pelan, Nuke kembali mendekatkan gagang telepon itu ke telinganya.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Ngga apa-apa bi.. ngga usah malu.. vagina perempuan kan sama dimana-mana?&#8221; Terdengar suara lelaki itu berusaha menenangkan Laha. Oh, akankah keponakan suaminya itu berhasil mencium anu bibinya sendiri? Tanpa sadar, Nuke menggigit bibir dengan perasaan tegang.&#8221;Fii! Please.. ganti kata-kata penis dan vagina itu! Bibi risih mendengarnya..&#8221; Terdengar lelaki itu tertawa. &#8220;Oke.. gimana kalau penis dan vagina? Sound better?&#8221; Lalu terdengar suara orang berciuman. Nuke menelan ludah, dan menyilangkan kedua pahanya. Lama tak terdengar suara apa-apa. Oh, apa yang sedang mereka lakukan? Tiba-tiba Nuke terperanjat oleh jeritan Laha.&#8221;Fiii.. jangaann.. pleaasee.. bibi maluuu..&#8221; Terdengar suaranya seperti orang hendak menangis. &#8220;aa Fii, jangan dipaksa dong&#8230; oh.. ooohh.. oohh&#8230;&#8221; Lalu yang ada di telinga Nuke adalah rintihan dan erangan Laha penuh kenikmatan. Gila pemuda itu. Kelihatannya ia berhasil mencium dan menjilat anu-nya Laha. Oh, seperti apakah rasanya? Pasti luar biasa, karena suara perempuan itu tak melawan lagi dan cuma melolong-lolong keenakan.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Ooohh.. Fiii.. nikmat bangeeet&#8230; Yah.. yah.. iyaahh&#8230; sedot daging yang atas sayang.. yah itu.. itu.. aahh.. sedot terus Fiii&#8230; sedot terruuusss&#8230;&#8221; Nuke mulai menggesek-gesekkan kedua pahanya. Ada perasaan geli dan gatal mengalir ke selangkangannya. Tiba-tiba ia terperanjat ketika mendengar suara Mang Iyus tepat di belakangnya.&#8221;Gimana Nuk? Sudah bicara dengan Laha?&#8221; Nuke menutupi bulatan tempat bicara pada gagang telepon, takut suara suaminya terdengar oleh pasangan yang tengah asyik masyuk di ujung sana.&#8221;mm belum, teleponnya masih bicara&#8221;, katanya berbohong. Tampak suaminya menghela nafas. Nuke merasa kasihan melihat wajah suaminya itu. Lelaki malang, ia tak tahu isteri pertamanya kini tengah asyik bergumul dengan keponakannya sendiri.&#8221;Kalau begitu, ayo kita antar ibu ke dokter.&#8221;"Emm, Kang Iyus saja deh yang nganter. Nuke mau coba telepon teh Laha dulu, nggak enak rasanya.&#8221; Suaminya hanya mengangkat bahu dan berlalu. Setelah mobil suaminya melesat keluar, Nuke buru-buru mengganti kebayanya dengan daster, tanpa beha, tanpa celana dalam. Lalu dengan segera meletakkan gagang telepon itu kembali di telinganya.}}</p>
<p style="text-align: justify;">Bi Laha mengangkat kedua paha dan menyandarkannya di pundakku. Lidahku dengan rakus menjilat daging merah yang terletak di antara dua bibir vaginanya. Kedua bibir itu sudah terbuka lebar dikuak oleh kedua tanganku. Rasa asin dilidahku makin merangsang birahiku. Sesekali aku memasukkan lidahku ke dalam lubang vagina itu dikombinasikan dengan sedotan-sedotanku pada vagina Bi Laha. Perempuan itu menghentakkan pinggulnya sambil menjilati bibirnya sendiri. Tangannya menekan kepalaku dengan keras di selangkangannya. {{Erangan dan rintihan Laha, membuat selangkangan Nuke semakin dipenuhi oleh rasa geli dan gatal. Brengsek. Kenapa aku jadi penasaran dengan permainan mereka? Bagaimana akhirnya? Hmm seperti apakah lelaki bernama Rafi itu?&#8221;Ohh Fii.. lidah kamu seperti penis.. nikmat banget keluar-masuk seperti itu.. bibi rasanya sudah nggak tahan.. tolong masukin penis raksasamu sekarang dong Fiii.. please&#8230;&#8221; Penis raksasa? Gila juga isteri tua suamiku itu, kata Nuke dalam hati. Kok dia nggak malu minta-minta dimasukin seperti itu ya? Sial, aku malah jadi penasaran. Seperti apa sih si Rafi itu? Dan, mm, sebesar apa sih penisnya?</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Fii.. ayo dong.. bibi hampir keluar nihh.. hentikan sedotanmu sayang.. ayoo..&#8221; Huh, nafsu perempuan itu ternyata besar juga. Pantas dia tak tahan oleh godaan keponakannya sendiri. Apalagi anu-suaminya sedang ada masalah. Oh, tak terasa sudah hampir 6 bulan saat terakhir aku merasakan sentuhan Kang Iyus. Tiba-tiba perempuan itu merasa iri pada Laha. Bagaimanapun, isteri tua suaminya itu berani mengambil keputusan! Nuke mengakui. Tiba-tiba terdengar suara gemerisik di sambungan telepon itu. &#8220;Aduh, telepon sialan, ngganggu saja!&#8221; Terdengar makian Laha begitu jelas di telepon. Oh, rupanya perempuan itu kini terbaring dan kepalanya menindih gagang telepon yang masih tergeletak di sofa. Nuke berharap cemas semoga telepon itu tidak diputus. Lalu terdengar suara kecupan dan erangan. Oh mereka mulai lagi berciuman dengan bernafsu. Syukur mereka tetap tak peduli dengan teleponnya. Aku bisa membayangkan seorang pemuda tengah merayap di atas tubuh Laha, lalu perempuan itu membuka lebar-lebar pahanya, lalu lelaki itu menempelkan penisnya di pintu vagina isteri tua suamiku itu, lalu mendorong pelan-pelan pinggulnya.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8221; Yah Fii.. Yah&#8230; pelan-pelan Fii.. ouhh besarnyaa..&#8221; Laha mulai merintih-rintih. Nuke menggesek-gesekkan pahanya. Berkali-kali ia menelan ludah. Jantungnya berdegup cepat. Oh, lelaki itu mulai memasukkan penisnya ke dalam vagina Laha! Tangan isteri muda itu menyelip ke dalam selangkangannya. Ada kelembaban yang hangat terasa di sana.&#8221;Uhh.. Fii stop dulu sayang.. ssakiiit&#8230; hh.. hh.. hh..&#8221; Nuke sempat bergidik mendengar rintihan Laha. Seberapa besar punya-mu Rafi? Oh, kenapa aku jadi tak sabar ingin bertemu dengan pemuda itu? Nuke, jangan gila! Kau kan tidak berharap pemuda itu melakukan apa yang diperbuatnya pada Laha kepadamu? Nuke tidak tahu jawabnya. Andaikan ia tahu pun ia tak mau menjawabnya. Suara nafas Laha jelas sekali di telepon. Kentara sekali ia tengah menenangkan dirinya menahan sakit dan nikmat karena dimasuki penis keponakannya yang besar itu.&#8221;Yang.. bibi sudah siap.. ayo.. masukkan semuanya.. yahh.. iyyaahh..&#8221; Oh, gila, gila.. penis besar itu pasti sudah masuk semua! Oh, terbayang nikmatnya. Terbayang rasa kesemutan dan pegal itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Nuke teringat kala pertama kali suaminya merenggut keperawanannya. sss.. Ohh.. Isteri muda itu mulai menekan-nekan vaginanya dari luar daster. Lalu mulailah terdengar suara kecupan, suara erangan pasangan kasmaran itu yang seirama dengan bunyi sofa berderit-derit. &#8221; Ahh.. terus Fi.. teruuus.. lebih cepat.. Lebih cepaat..&#8221; Jerit Laha. Dan suara derit pun terdengar lebih cepat. Oh, bisa kubayangkan pinggul lelaki itu naik-turun dengan cepat. Juga bisa kubayangkan suara vagina Laha berkecipak dihunjam dengan keras oleh benda besar milik keponakan suamiku itu. &#8220;Yahh.. sedot yang keras Fi.. sedot yang keraas.. gigit puting bibi sayang.. gigit puting bibiii.&#8221; Oh, tiba-tiba Nuke mengeluh, bisakah aku seberuntung perempuan itu?}} Leherku terasa hampir patah dipeluk oleh Bi Laha. Ia memintaku untuk menyedot buah dadanya sekuatku, menjilat putingnya secepatku, dan memompakan pinggulku sekerasnya. Tak kalah dengan tangannya, kedua kakinya merangkul erat pinggangku. Hentakan pinggulku membuat buah dada isteri pamanku itu berguncang-guncang keras.</p>
<p style="text-align: justify;">Mulutnya yang seksi terus menganga menghamburkan jeritan-jeritan birahi. Kaki indahnya yang masih mengenakan sepatu hak tinggi hitam itu, kini terangkat di udara seakan menyambut tusukan-tusukan penisku. Keringat sudah membasahi seluruh tubuh membuat kulit kami terlihat mengkilat dan licin bila digesekkan satu sama lain. Otot tubuh Bi Laha tiba-tiba menegang. Oh, apakah ia akan mencapai puncaknya? Padahal aku belum apa-apa. Aku masih ingin lebih lama menikmati pergumulan ini.{{Nafas Nuke mulai memburu. Jantungnya berpacu dengan gesekan tangan di selangkangannya. aah, permainan panas Laha dengan anak muda itu benar-benar membuat vaginaku becek gila-gilaan. Beruntung rumah ini kosong, pikir perempuan berusia 20 tahun itu seraya menyingsingkan dasternya sehingga vagina polos tak berbulu itu langsung menyentuh bantalan kursi. Sejak remaja ia telah mencukur habis bulu kemaluannya. Terasa lebih bersih, demikian alasannya. Lalu dengan cepat ditempelkannya jari tengah pada tonjolan daging di ujung atas bibir vaginanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Kini, jantung Nuke berpacu dengan kocokan jari di klitorisnya. Ia mendesah, mendesis, seraya memegang gagang telepon itu dengan kuping dan pundaknya. Tangannya yang satu tengah membuka kancing dasternya dan menyelinap cepat mencari buah dada berukuran 34 itu. Ohh, nikmatnya sentuhan-sentuhan di buah dada, puting dan vaginaku. Pasti lebih nikmat lagi kalau tangan keponakan suamiku itu yang melakukannya. Ahh, sss, pemuda brengsek. Kenapa kau tidak menginap disini?&#8221;Fii.. kamu.. hh.. sudah mau keluar&#8230; hh.. sayang..?&#8221; Suara Laha terdengar serak dan terputus-putus. Nuke mempercepat putaran dan pelintiran di klitorisnya. Mulutnya menganga, rintihannya mulai terdengar keras. Tiba-tiba ia merasa seakan-akan vaginanya dipenuhi oleh penis keponakan suaminya itu, yang memompa dengan keras. aahh. &#8220;Belum Fii..? Kamu belum mau keluar? Ooohh bibi sudah nggak tahan sayang.. bibi mau keluar.. nggak apa-apa ya bibi duluan..&#8221; Nuke mempercepat putarannya. Tangan satunya kini memilin dan menarik-narik putingnya dengan keras. Ia seakan bisa merasakan pompaan penis pemuda itu pada vagina Laha semakin cepat dan semakin cepat.. dinding vaginanya mulai berdenyut cepat, nafasnya semakin cepat.</p>
<p style="text-align: justify;">Bersambung&#8230;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ceritasex.cn/istri-istri-pamanku-bagian-5/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jaga Rental</title>
		<link>http://www.ceritasex.cn/jaga-rental/</link>
		<comments>http://www.ceritasex.cn/jaga-rental/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 13 Dec 2011 22:50:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cerita Sex</dc:creator>
				<category><![CDATA[Gangbang Rame Rame]]></category>
		<category><![CDATA[kisah nyata]]></category>
		<category><![CDATA[Paruh baya]]></category>
		<category><![CDATA[Pemerkosaan]]></category>
		<category><![CDATA[Tante Girang]]></category>
		<category><![CDATA[blowjob]]></category>
		<category><![CDATA[juliet]]></category>
		<category><![CDATA[mini]]></category>
		<category><![CDATA[ml]]></category>
		<category><![CDATA[ngentot]]></category>
		<category><![CDATA[setan]]></category>
		<category><![CDATA[tante]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ceritasex.cn/?p=3217</guid>
		<description><![CDATA[Cerita ini diawali pada saat saya sedang menjaga rental VCD punya teman. Saat itu saya bertiga, saya dan 2 orang cewek teman saya. Jam menunjukkan pukul 23:50 WIB. Karena setengah jam lagi akan tutup, maka 2 teman saya pamit pulang. Saya tidak ikut pulang karena tempat itu sekaligus juga rumah saya. Beberapa menit setelah teman [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Cerita ini diawali pada saat saya sedang menjaga rental VCD punya teman. Saat itu saya bertiga, saya dan 2 orang cewek teman saya. Jam menunjukkan pukul 23:50 WIB. Karena setengah jam lagi akan tutup, maka 2 teman saya pamit pulang. Saya tidak ikut pulang karena tempat itu sekaligus juga rumah saya. Beberapa menit setelah teman saya ulang, ada mobil berhenti di depan rental. Samar-samar saya melihat di dalam mobil ada 2 orang cewek.&#8221;Mungkin dia mau pinjam kali ya&#8230;&#8221; pikir saya saat itu.Setelah itu pintu mobil terbuka, dan terlihatlah kaki putih mulus nan indah. Ketika kaki itu mendarat di tanah, cewek itu menurunkan roknya yang panjang (lho kok bisa sih..?). Terus tadi ketika dia mau turun dari mobil, kakinya yang putih itu kelihatan. Saya curiga, pasti ada yang tidak beres nich. Tapi masa bodoh ah&#8230; (emang gue pikirin). Pintu yang satunya terbuka, dan munculah cewek satu lagi, dia menggunakan celana dan kaos kentat, sehingga payudaranya yang lumayan besar kelihatan putingnya yang panjang. 2 cewek yang kira-kira sudah berstatus tante-tante ini mulai memasuki rental. Mereka lihat sana lihat sini, kelihatannya mereka bingung memilih.</p>
<p style="text-align: justify;">Ketika sedang memilih itulah awal dari kisah seru ini, tante yang pakai celana kentat itu sedang melihat CD yang letaknya agak ke tengah, jadi dia harus menungging kalau mau lihat CD tersebut. Ketika dia menungging, ohhh&#8230; begitu indah lekuk tubuhnya, dan itu ohhh.., itu belahan kemaluannya tergambar di celana kentatnya. Ahhh&#8230; mana tahan&#8230; batang kejantananku langsung saja tegang.. tegang.. dan tegang&#8230; Karena saya lagi asyik memperhatikan tante yang bercelana kentat, saya tidak tahu kalau tante yang satunya mengawasi saya. Tiba-tiba saya terkejut karena ada suara CD jatuh di sebelah kanan saya. Langsung saja saya menoleh ke kanan.. dan ahh&#8230; mimpi kali ya&#8230; Saya seperti tidak berada dalam alam sadar. Tante yang memakai rok tadi, ketika mengambil CD yang jatuh itu, roknya tersingkap ke atas, dan oh.. belahan pantatnya yang putih mulus dan tentu saja kemaluannya yang gemuk itu kelihatan masih ok. Vagina itu kelihatan jelas, karena bulu kemaluannya sepertinya sudah dicukur habis. Ohhhh&#8230; mana tahan&#8230; benar-benar malam yang berkesan bagiku.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Mas, lagi lihat apa sih, kok matanya sampai melotot gitu..?&#8221;Tiba-tiba ada suara yang mengagetkan ketika saya lihat dari arah depan, dan ternyata tante yang bercelana kentat itu sudah berada di depan saya. Oh begitu cantik dan harum sekali, body-nya yang &#8216;uhui&#8217; itu membuat saya menjadi termenung lagi.&#8221;Ihhh.. Mas ini nakal deh, ditanya kok malah melototin gue&#8230; naksir ya..?&#8221; katanya.Saya tersadar lagi dan seakan tidak percaya dia berkata seperti itu.&#8221;Saya harus memanggil apa nich, Ibu, Tante, Mbak atau Nona-Nona..?&#8221; kataku.&#8221;Ehhh&#8230; darimana Mas tahu kalau saya sudah menikah..?&#8221; katanya lagi. Sebelum menjawab, saya penasaran ingin melihat ke tante yang tadi. Saya melirik sedikit ke kanan, ehh.. dia sudah tidak ada. Gila, cepat benar tu cewek menghilangnya.&#8221;Ehhh.. begini&#8230; saya tahu, karena di jari manis Ibu.. eee.. Tante.. eee.. Mbak.., ada cincinnya.&#8221; kataku lagi.&#8221;Mas pintar juga ya, Mas boleh panggil Tante atau Mbak&#8230;&#8221; katanya sambil tersenyum.Ehmm&#8230; tambah cantik saja nih tante genit.&#8221;Eee&#8230; Tante mau pinjam film apa..? Kok keliatannya dari tadi bingung milihnya&#8230; biar nanti saya yang nyariin, mungkin ketemu.&#8221; kataku berlagak sok pahlawan.<br />
<span id="more-3217"></span><br />
&#8220;Mas namanya siapa sih, kalau boleh tante tahu&#8230;? katanya.&#8221;Sony tante..&#8221; kata saya.&#8221;Aduh.. kalau gitu Mas sudah dong kenal dengan Tante..&#8221; katanya.&#8221;Masak sih Tante, rasanya kita baru aja ketemu deh&#8230; ya nggak Tante..&#8221; kataku penasaran.&#8221;Sony udah lama kenal dengan Tante, tiap pagi kalau pas Tante lagi mandi, Sony selalu ngintip Tante dari dalam bak cucian. Pas Tante lagi beol, Tante jadi malu.. terpaksa Tante tutup anu Tante pakai tangan biar nggak dilihat sama Sony. Terus pas Tante lagi bersihin anu Tante. Ya khan..? Sony ngaku aja deh..!&#8221; katanya manja.&#8221;Sony ngintip Tante mandi dari bak cucian..? Mana cukup badan Sony yang besar gini ngumpet di bak cucian..? Ahh Tante becanda ya..?&#8221; kata saya bingung.&#8221;Nggak kok Son, Tante memang becanda&#8230; yang Tante maksud itu sebetulnya celana dalam suami Tante yang merk-nya SONY&#8230; sorry ya&#8230;&#8221; katanya.&#8221;Nggak pa-pa, tapi boleh nggak Sony ngintip Tante mandi lagi..?&#8221; kata saya menggoda.&#8221;Ahhh.. Sony kamu nakal ya..! Emangya kamu nggak pernah ngintip cewek kamu pas mandi ya..?&#8221; katanya.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Sony belum punya pacar Tante, masih single man gicu..?&#8221; kata saya.&#8221;Jadi kamu bebas dong kencan dengan siapa aja&#8230;&#8221; katanya.&#8221;Ya.. ya.. ya..&#8221; kata saya girang.&#8221;Oh ya. Tante, nama Tante siapa sih..? Dan teman Tante yang satu lagi tadi..?&#8221; kata saya.&#8221;Juliet, dan teman Tante tadi&#8230; mana dia ya..? Min.. Min.. kesini deh..!&#8221; teriaknya.Terus tante yang tadi membuat saya kelabakan mendatangi kami. Dan &#8216;uhui&#8217;, dia juga cantik lho, wow.. wajahnya sungguh manis, mirip boneka padahal dia sudah menikah.&#8221;Min.. kenalin ini Sony.. Son ini Mini teman Tante. Cantik ya..?&#8221; katanya.&#8221;Sony..&#8221; kata saya sambil melihat wajahnya yang manis.&#8221;Mini.. Son, kamu ganteng juga ya.. ya nggak Yul..?&#8221; katanya sambil menyubit tangan Tante Juliet.&#8221;Ya lho Son, kamu ganteng sekali lho..!&#8221; katanya.&#8221;Akh.. Tante ini ada-ada saja.. Oh ya, Tante jadi nggak pinjam CD-nya..?&#8221; kataku.&#8221;Ha.. pinjam CD..? Akhh.., kamu nakal deh..! Tante khan udah pakai CD sendiri.&#8221; kata Tante Mini.&#8221;Akhh.. Tante becanda lagi.. tapi tadi Sony lihat Tante Mini tidak pakai CD.&#8221; kata saya.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Eee.. kamu nakal ya.. kamu ngintip ya.. kamu jahat deh..!&#8221; katanya.&#8221;Sorry deh Tante.. Sony nggak sengaja tadi lihat punya Tante..&#8221; kata saya meminta maaf. &#8220;Udah ah.., kalian berdua becanda aja.. Son, Tante mau pinjam film &#8216;ehek-ehek&#8217;, ada nggak..?&#8221; katanya.&#8221;Eee&#8230; tapi kuncinya dibawa temen saya, Tante. Jadi nggak bisa masuk ke kamar XXX..&#8221; kata saya mencoba menjelaskan.&#8221;Apa sih kamar XXX itu, Son..?&#8221; tanya Tante Mini.&#8221;Eee.. Kamar penyimpanan VCD BF Tante&#8230; takut kalau ada penggeledahan..&#8221; kata saya.&#8221;Emangnya kamu nggak bawa kunci serepnya Son..?&#8221; tanya Tante Juliet.&#8221;Eee.. itu bukan sembarang kunci Tante. Begini Tante.., Sony akan jelaskan. Pintu kamar itu terbuat dari baja bikinan orang Amerika, Tante. Jadi meskipun di rudal pakai bom apapun, pintu itu tidak akan bisa jebol, terus di depan pintu itu ada eee.. Aduh nggak enak nih..&#8221; kata saya agak ragu untuk menjelaskan.&#8221;Kamu nggak usah ragu-ragu deh..!&#8221; kata Tante Juliet. &#8220;Eee.. di depan pintu itu bukan lubang kunci, tapi disitu ada benda berbentuk anu cowok, tapi terbuat dari bahan yang elastis.</p>
<p style="text-align: justify;">Kalau kita mau masuk, maka terlebih dahulu teman cewek Sony harus main dulu ama itu &#8216;mainan&#8217;, terus pas temen Sony udah klimaks, cairannya khan nyemprot ke dalam alat itu&#8230; Nah, disitu cairan itu akan diperiksa, bila cocok dengan contoh sample di dalam, maka pintu itu akan terbuka. Jadi bukan sembarang orang bisa masuk ke kamar itu, meskipun dia itu cewek kayak Tante berdua&#8230;&#8221; kata saya.&#8221;Wow, canggih juga&#8230; terus gimana dong..? Tante udah nggak tahan nih..!&#8221; kata Tante Mini sambil menggaruk anunya.Aduh gila benqr nih cewek, saya ingin mengetest Tante Mini, apakah dia seliar tingkah lakunya. Tapi&#8230; mimpi kali ya..? &#8220;Son, bisa nggak Tante berdua minta tolong..? Kamu bisa khan muasin nafsu Tante yang sedang kesepian ini, ya khan Sayang..?&#8221; kata Tante Mini manja.&#8221;Aduh, gimana ya Tante, nanti kalau pacar dan sephia Sony tahu gimana dong jadinya..?&#8221; kata saya ragu tetapi girang.&#8221;Sony sayang, hanya semalam aja kok ya.. Mau ya..? Masak sih kamu nolak tubuh sesintal ini..?&#8221; kata Tante Juliet sambil berbalik arah, terus menungging, terus menggoyang pantatnya naik-turun.</p>
<p style="text-align: justify;">Melihat pemandangan indah itu, batang kejantanan saya menjadi naik 100%.&#8221;Iya lho Son, masa sih kamu nolak kami&#8230; dan kamu nggak usah kuatir deh.. masalah uang kami akan ngasih berapapun yang kamu mau&#8230; Ya sayang ya..? Puasin Tante ya..?&#8221; kata Tante Mini sambil mendekat ke arah saya.Terus dia berbalik arah juga, dan setelah itu dia mengangkat roknya ke atas, dan ohhh.. mana tahan.. vaginanya yang merah delima itu kelihatannya sudah setengah basah dan terlihat merekah ohhh.. &#8220;Iya deh Tante, tapi Sony tutup rental dulu ya..?&#8221; kata saya sambil terus berdiri dari kursi.Tetapi alangkah terkejutnya saya, batang kejantanan saya telah merobek resleting celana saya. Saya ingat tadi saya tidak memakai celana dalam, jadi sekarang batang kemaluan saya menyumbul dari celana saya.&#8221;Aduh.. Sony sayang.. batangmu besar lho.. aduh Tante nggak bisa ngebayangin deh gimana rasanya nanti kontol kamu masuk ke memek Tante yang masih sempit ini&#8230; aduh nikmat kali ya..?&#8221; kata Tante Mini sambil memegang dan mengelus batang kejantanan saya.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Wow.. Son, punya kamu besar ya.. Tante kayaknya udah nggak tahan pingin ngerasain punya kamu&#8230; hiii&#8230; lucu ya kepalanya mirip helm NAZI.. Memek Tante bisa robek nih..!&#8221; kata Tante Juliet sambil ikut mengelus batang kemaluan saya. &#8220;Sabar dong Tante, Sony mau nutup rental dulu. Tante masuk aja ke ruangan sebelah ya..! Nanti Sony nyusul..!&#8221; kata saya.&#8221;Jangan lama-lama ya Sayang.. Tante udah nggak tahan nih..!&#8221; kata Tante Mini.Lalu, saya bergegas menutup rental, setelah itu saya masuk ke ruangan dimana kedua tante itu berada.&#8221;Oh ya.. Tante-Tante mau minum apa..?&#8221; kata saya.&#8221;Softdrink yang dingin ya Son..&#8221; kata Tante Juliet.Sementara Tante Mini sepertinya agak kurang sabar, dia terus mengobok-obok vaginanya. Lalu saya mengambilkan 3 coke dari dalam kulkas, dan kusodorkan pada kedua tante itu. Setelah mereguk coke sekaleng, Tante Mini yang dari tadi tidak sabar, langsung saja pindah ke pangkuan saya dan mulai menciumi bibir saya tanpa basa-basi. Kubalas ciuman Tante Mini, sementara tangan saya mengelus-elus punggungnya, dan terus menuju pinggulnya yang memang wuih itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Sementara Tante Juliet hanya menonton adegan kami berdua. Tangan Tante Mini tidak kalah gesitnya mulai membuka pakaianku dan terus meraba-raba dada serta puting saya sambil bibirnya yang sensual itu terus melumat bibir saya. Saya juga terus segera membuka baju Tante Mini dan BH-nya, maka terlihatlah dua buah gunung Himalaya dengan putingnya yang mancung. Mula-mula kuciumi dan kulumat serta kumainkan putingnya yang sudah super menegang itu.&#8221;Akkhh.. Sshh&#8230; Sony sayang&#8230; kamu pintar sekali.. ohhhh.. yesss.. terus.. Son.. ohhh..&#8221; katanya sambil tangannya meremas rambut saya.Setelah itu saya mulai merayap ke selangkangannya, kugosok-gosok klitorisnya dengan tangan kiri saya dan saya masukkan 2 jari tangan kanan saya ke vaginanya. Uhhh&#8230; benar-benar sempit.&#8221;Ohhh&#8230; yess&#8230; Son&#8230; terusss&#8230; sshh&#8230; yess.. Fuck me with your hands.. ohh&#8230;&#8221; desah Tante Mini. Sementara itu, saya melihat Tante Juliet mulai membuka pakaiannya satu persatu. Saya memperhatikannya meskipun saya sedang asyik dengan pekerjaan saya. Tante Juliet yang sudah telanjang itu mulai mendekati kami dan ikut meraba batang kejantanan saya.</p>
<p style="text-align: justify;">Lalu tangan kanan saya pindah ke payudara Tante Juliet yang lebih mancung dari temannya ini. Kugesek-gesekkan dengan perlahan, dan kupuntir ke kiri dan ke kanan.&#8221;Ohhh&#8230; terus Son, ohhh&#8230; yesss..!&#8221; kata Tante Juliet.Tante Juliet terus memainkan batang kejantanan saya dengan memijat-mijat, lalu kepalanya mulai didekatkan ke batang kejantanan saya, dan &#8220;Sruppp..&#8221; masuklah batang kejantanan saya ke mulut yang sensual itu. Dihisap, dikocok, dihisap, dikocok, dihisap, wuihh&#8230; sedap&#8230; ahh. Sementara itu Tante Mini yang sudah tidak tahan, langsung mendesah, &#8220;Ssshhh&#8230; aahh&#8230; Sonn.. ohhh.. yesss..!&#8221; sambil tangannya meremas rambut saya dengan kerasnya. Sepertinya dia akan keluar, otot dindingnya mengencang dan, &#8220;Ahhh&#8230; yess&#8230; aahh&#8230;&#8221; desahnya sambil tangannya mendorong dan menarik kepala Tante Juliet agar batang kejantanan saya dapat lebih masuk ke mulut Tante Juliet.Rupanya Tante Mini telah klimaks, kemudian jari kiri saya terus kukocok-kocok dalam vaginanya secara cepat (350 km/jam).&#8221;Ahh.. hhmm&#8230; sshhh&#8230; yesss..!&#8221; dia menegang dan mulai menghentikan gerakannya secara perlahan.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Ohhh.. yesss&#8230; Sony sayang kamu pintar sekali&#8230; ohhhh&#8230; yesss..!&#8221; katanya sambil mengelus kepala saya.Lalu saya merubah posisi. Sekarang saya berbaring di bawah, saya merebahkan tubuh saya yang mulai penuh keringat. Lalu Tante Mini mulai menaiki tubuh saya, dan tangannya meraih batang kejantanan saya untuk diarahkan ke vaginanya yang sudah mulai agak kering. Digosok-gosok sebentar batang kejantanan saya ke vaginanya yang sudah merekah itu. Lalu dengan perlahan dia menurunkan pantatnya.&#8221;Ohh.. Son&#8230; nikmat sekali kontolmu&#8230; ohhh..!&#8221; desahnya sambil terus menaik-turunkan pantatnya yang bulat itu, sehingga mulai melahap batang saya dalam vaginanya.&#8221;Ohhh&#8230; yesss.. Tante&#8230; terus..!&#8221; saya mulai terangsang karena jepitan vaginanya.Sementara itu, Tante Juliet mulai mendekati saya terus mengangkangi kakinya tepat di atas wajah saya dan mulai menurunkan pantatnya.&#8221;Ayo.. Son&#8230; jilatin punya Tante..!&#8221; katanya sambil terus menurunkan dan menggoyangkan pantat dan liang senggamanya ke arah wajah saya. Karena lebatnya bulu kemaluannya itu, saya hampir bersin dibuatnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Lalu saya jilati dengan perlahan klitorisnya hingga dinding lubang vaginanya mulai meneteskan cairannya.&#8221;Sss.. hhhmm&#8230; aakkkhh&#8230; yesss&#8230; terus Son..!&#8221; desahnya.Sementara itu Tante Mini terus naik turun hingga terdengar decak antara saya dan dia.Beberapa saat kemudian, &#8220;Ohhh&#8230; Son, Tante mau keluar.. ohhh&#8230; yesss..!&#8221; desahnya.Karena saya sedang sibuk, jadi saya tidak dapat bicara apa-apa.Dan, &#8220;Crett&#8230; crottt.. critt..!&#8221; muncratlah cairan Tante Mini.&#8221;Ohhh.. yesss&#8230; Son kamu sungguh hebat sayang..!&#8221; katanya sambil mencabut batang kejantanan saya dari liang senggamanya dan terus menjilati batang kejantanan saya yang basah itu. Lalu saya suruh Tante Juliet untuk merebahkan badannya di bawah, dan dia terus melebarkan kakinya yang putih mulus dan indah itu. Karena sekarang tante agak mengangkang lebih lebar, jadi vaginanya yang merah kehitaman itu terlihat. Saya lalu mengarahkan batang kejantanan saya ke vagina Tante Juliet, dan perlahan saya dorong hingga masuk seluruhnya.&#8221;Akhhh&#8230; yesss&#8230; fuck me darling..! Ohhh..!&#8221; desahnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Sementara Tante Mini tertidur, saya terus menggoyang tubuh saya maju-mundur, dan hebatnya Tante Juliet juga ikut menggoyang pinggulnya mengikuti irama. Batang kejantanan saya terasa dipelintir, tetapi makin asyik saja. Kutambah &#8216;gigi&#8217;, hingga gerakanku menjadi lebih dasyat. Dengan kecepatan penuh, saya menggoyang terus hingga terdengar kecipak-kecipak. Karena seranganku, Tante Juliet jadi meram melek matanya menikmati keluar masuknya batang penis saya dalam liang senggamanya. &#8220;Akhh&#8230; Sonnn&#8230; yesss..!&#8221; desahnya sambil jarinya mencengkeram tangan saya dan kukunya menancap ke kulit saya.Tubuhnya mengejang sesaat, lalu melemas tetapi saya masih asyik menikmati vaginanya dengan terus memasukkan penis saya ke dalam vaginanya yang banjir. &#8220;Akhh&#8230; yesss&#8230; Tante keluarrr.. Sonnn..!&#8221; sambil menancapkan dalam-dalam vaginanya ke batang kejantanan saya.Saya yang merasa belum keluar terus saja menggenjot gerakan saya. Dan tidak lama kemudian, saya akhirnya keluar juga. Saya mencabut batang kejantanan saya dari vaginanya Tante Juliet dan merebahkan tubuh di sampingnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Tangan Tante Mini dan Juliet secara bergantian membelai batang kejantanan saya. &#8220;Sony sayang, terima kasih ya.. kamu telah membuat kami melayang ke langit ketujuh..&#8221; kata Tante Juliet sambil terus membelai batang kejantanan saya.Lalu kami bertiga terkulai lemas dengan posisi saya di tengah, dan kedua cewek cantik itu di samping saya. Lalu saya tertidur hingga pagi. Ketika saya bangun, saya masih dalam keadaan telanjang. Tetapi anehnya kedua tante itu sudah tidak ada. Mata saya tertuju pada setumpuk uang di samping saya. Pasti dari tante-tante itu. Setelah itu, saya masukkan beberapa uang itu ke kas rental, dan sisanya masuk ke kantong saya. Lalu saya mandi, membersihkan bekas-bekas tadi malam. Dan setelah itu saya membuka rental dan saya lihat di depan, koran sudah datang. Saya ambil koran dan melihat halaman depannya.&#8221;Copot.. eee.. copot.. jantungku&#8230;&#8221; dalam hati saya bergumam.Serasa tidak percaya, disitu tertulis &#8220;MOBIL MENABRAK POHON ASEM, 2 CEWEK TEWAS&#8221;. Dan disitu disebutkan bahwa nama kedua cewek itu Juliet dan Mini.</p>
<p style="text-align: justify;">Ohhh.. Ya Tuhan.., jadi tadi malam saya bercinta dengan hantu. Saya hampir saja muntah gara-gara berita itu. Lalu saya bergegas mengambil uang dari kedua tante itu dari kantong baju saya. Ohhh.., syukurlah uangnya masih tetap ada. Benar-benar peristiwa yang tidak masuk akal.</p>
<p style="text-align: justify;">TAMAT</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ceritasex.cn/jaga-rental/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mama dan Tante Rina</title>
		<link>http://www.ceritasex.cn/mama-dan-tante-rina/</link>
		<comments>http://www.ceritasex.cn/mama-dan-tante-rina/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 06 Nov 2011 13:57:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cerita Sex</dc:creator>
				<category><![CDATA[kisah nyata]]></category>
		<category><![CDATA[Sedarah]]></category>
		<category><![CDATA[Seks Umum]]></category>
		<category><![CDATA[binatang]]></category>
		<category><![CDATA[incest]]></category>
		<category><![CDATA[kontol]]></category>
		<category><![CDATA[liar]]></category>
		<category><![CDATA[mama]]></category>
		<category><![CDATA[nafsu binal]]></category>
		<category><![CDATA[ngentot]]></category>
		<category><![CDATA[tante]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ceritasex.cn/?p=3164</guid>
		<description><![CDATA[Namaku Roy, 32 tahun. Saat ini aku tinggal di Bandung. Banyak yang bilang aku ganteng. Kisah yang akan aku tulis ini adalah kisah nyata dari pengalaman sex aku dengan mama dan tante aku. Cerita ini dimulai ketika aku berusia 20 tahun. Saat itu tante Rina datang dan menginap selama beberapa hari di rumah karena suaminya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Namaku Roy, 32 tahun. Saat ini aku tinggal di Bandung. Banyak yang bilang aku ganteng. Kisah yang akan aku tulis ini adalah kisah nyata dari pengalaman sex aku dengan mama dan tante aku.</p>
<p style="text-align: justify;">Cerita ini dimulai ketika aku berusia 20 tahun. Saat itu tante Rina datang dan menginap selama beberapa hari di rumah karena suaminya sedang pergi keluar kota. Dia merasa sepi dan takut tinggal di rumahnya sendirian. Tante Rina berusia 32 tahun. Penampilannya biasa saja. Tinggi badan 160 cm. Ramping. Tapi aku suka bodynya. Buah dada 36B, dan pantatnya besar bulat. Aku suka lihat tante Rina kalau sudah memakai celana panjang ketat sehingga pantatnya sangat membentuk, merangsang. Tante Rina adalah adik kandung Papa aku.</p>
<p style="text-align: justify;">Waktu itu hari aku tidak masuk kuliah. Aku diam di rumah bersama mama dan tante Rina. Pagi itu, jam 10, kulihat mama baru selesai mandi. Mama keluar dari kamar mandi memakai handuk menutupi dada dan setengah pahanya yang putih mulus. Mama berusia 38 tahun. Sangat cantik.</p>
<p style="text-align: justify;">Saat itu entah secara tidak sengaja aku melihat mama membetulkan lilitan handuknya sebelum masuk kamar. Terlihat buah dada mama walau tidak terlalu besar tapi masih bagus bentuknya. Yang terutama jadi perhatian aku adalah memek mama yang dihiasi bulu hitam tidak terlalu lebat berbentuk segitiga rapi. Mungkin karena mama rajin merawatnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Mama sepertinya tidak sadar kalau aku sedang memperhatikannya. Mama langsung masuk kamar. Hati berdebar dan terbayang terus pemandangan tubuh mama tadi. Aku dekati pintu, lalu aku intip dari lubang kunci. Terlihat mama sedang membuka lilitan handuknya lalu mengeringkan rambutnya dengan handuk tersebut. Terlihat tubuh mama sangat menggairahkan. Terutama memek mama yang aku fokuskan. Secara otomatis tangan aku meraba kontol dari luar celana, lalu meremasnya pelan-pelan sambil menikmati keindahan tubuh merangsang mama. Karena sudah tak tahan lagi, aku segera ke kamar mandi dan onani sambil membayangkan menyetubuhi mama. Sampai akhirnya.. Crot! Crot! Crot! Aku orgasme.</p>
<p style="text-align: justify;">Sore harinya, waktu aku sedang tiduran sambil membaca majalah, tiba-tiba terdengar suara mama memanggil aku.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Roy..!&#8221; panggil mama.<br />
&#8220;Ya, Ma&#8230;&#8221; sahut aku sambil bergegas ke kamar mama.<br />
&#8220;Ada apa, Ma?&#8221; tanya aku.<br />
&#8220;Pijitin badan mama, Roy. Pegal rasanya&#8230;&#8221; kata mama sambil tengkurap.<br />
&#8220;Iya, Ma&#8230;&#8221; jawab aku.<br />
<span id="more-3164"></span><br />
Waktu itu mama memakai daster. Aku mulai memijit kaki mama dari betis. Terus sampai naik ke paha. Mama tetap diam merasakan pijitan aku. Karena daster mama agak mengganggu pijitan, maka aku bertanya pada mama, &#8220;Ma, dasternya naikin ya? mengganggu nih&#8230;&#8221; tanya aku.<br />
&#8220;Emang kamu mau mijitan apa aja, Roy?&#8221; tanya mama.<br />
&#8220;Seluruh badan mama,&#8221; jawab aku.<br />
&#8220;Ya sudah, mama buka baju saja,&#8221; kata mama sambil bangkit, lalu melepas dasternya tanpa ragu.<br />
&#8220;Ayo lanjutkan, Roy!&#8221; kata mama sambil kembali tengkurap. Darah aku berdesir melihat mama setengah telanjang di depan mata.<br />
&#8220;Mama tidak malu buka baju depan Roy?&#8221; tanya aku.<br />
&#8220;Malu kenapa? Kan anak kandung mama.. Biasa sajalah,&#8221; jawab mama sambil memejamkan mata.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku berdebar. Tanganku mulai memijit paha mama. Sebetulnya bukan meimijit, istilah yang tepat adalah mengusap agak keras. Aku nikmati usapan tangan aku di paha mama sambil mata terus memandangi pantat mama yang memakai celana dalam merah. Setelah selesai &#8220;memijit&#8221; paha, karena masih ragu, aku tidak memijit pantat mama, tapi langsung naik memijit pinggang mama.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Kok dilewat sih, Roy?&#8221; protes mama sambil menggoyangkan pantatnya.<br />
&#8220;Mm.. Roy takut mama marah&#8230;&#8221; jawab aku.<br />
&#8220;Marah kenapa? Kamu kan emang mama pinta mijitin.. Ayo teruskan!&#8221; pinta mama.</p>
<p style="text-align: justify;">Karena sudah mendapat angin, aku mulai meraba dan agak meremas pantat mama dari luar celana dalamnya. Nyaman rasanya memijit dan meremas pantat mama yang bulat dan padat. kontol aku sudah mulai mengeras. Mama tetap terpejam menikmati pijitan aku. Karena birahi aku sudah naik, aku sengaja memasukkan tangan aku ke celana dalam mama dan terus meremasnya. Mama tetap diam. Aku makin berani.</p>
<p style="text-align: justify;">Jari tengah aku mulai menyusuri belahan pantat mama sampai ke belahan memek mama. Jari aku diam disana. Aku takut mama marah. Tapi mama tetap diam sambil memejamkan mata. Aku mulai menggerakan jari tengah aku di belahan memek mama. Mama tetap diam. Terasa memek mama mulai basah. Dan aku tahu kalau mama agak menggoyang-goyangkan pantatnya, mungkin mama merasa enak menikmati jari aku di belahan memeknya. Itu perkiraan aku.</p>
<p style="text-align: justify;">Karena sudah basah, aku nekad masukkan jari aku ke lubang memek mama. Mama tetap memejamkan mata, tapi pantatnya mulai bergoyang agak cepat.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Roy, kamu ngapain?&#8221; tanya mama sambil membalikkan badannya. Aku kaget dan takut mama marah.<br />
&#8220;Maaf, Ma&#8230;&#8221; kataku tertunduk tidak berani memandang mata mama.<br />
&#8220;Roy tidak tahan menahan nafsu&#8230;&#8221; kataku lagi.<br />
&#8220;Nafsu apa?&#8221; kata mama dengan nada lembut.<br />
&#8220;Sini berbaring dekat mama,&#8221; kata mama sambil menggeserkan badannya. Aku diam tidak mengerti.<br />
&#8220;Sini berbaring Roy,&#8221; ujar mama lagi.<br />
&#8220;Tutup dulu pintu kamar,&#8221; kata mama.<br />
&#8220;Ya, Ma&#8230;&#8221; kataku sambil berdiri dan segera menutup pintu. Kemudian aku berbaring di samping mama.</p>
<p style="text-align: justify;">Mama menatapku sambil membelai rambut aku.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Kenapa bernafsu dengan mama, Roy,&#8221; tanya mama lembut.<br />
&#8220;Mama marahkah?&#8221; tanya aku.<br />
&#8220;Mama tidak marah, Roy.. Jawablah jujur,&#8221; ujar mama.<br />
&#8220;Melihat tubuh mama, Roy tidak tahu kenapa jadi pengen, Ma&#8230;&#8221; kataku. Mama tersenyum.<br />
&#8220;Berarti anak mama sudah mulai dewasa,&#8221; kata mama.<br />
&#8220;Kamu benar-benar mau sayang?&#8221; tanya mama.<br />
&#8220;Maksud mama?&#8221; tanya aku.<br />
&#8220;Dua jam lagi Papa kamu pulang&#8230;&#8221; hanya itu yang keluar dari mulut mama sambil tangannya meraba kontol aku dari luar celana.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku kaget sekaligus senang. Mama mencium bibir aku, dan akupun segera membalasnya. Kami berciuman mesra sambil tangan kami saling meraba dan meremas.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Buka pakaian kamu, Roy,&#8221; kata mama. Aku menurut, dan segera melepas baju dan celana.</p>
<p style="text-align: justify;">Mama juga melepas BH dan celana dalamnya. Mama duduk di tepi tempat tidur, sedangkan aku tetap berdiri.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;kontol kamu besar, Roy&#8230;&#8221; kata mama sambil meraih kontol aku dan meremas serta mengocoknya. Enak rasanya.<br />
&#8220;Kamu udah pernah maen dengan perempuan tidak, sayang?&#8221; tanya mama.<br />
Sambil menikmati enaknya dikocok kontol aku menjawab, &#8220;Belum pernah, Ma.. Mmhh..&#8221;. Mama tersenyum, entah apa artinya.</p>
<p style="text-align: justify;">Lalu mama menarik pantat aku hingga kontol aku hampir mengenai wajahnya. Lalu mama mulai menjilati kontol aku mulai dari batang sampai ke kepalanya. Rasanya sangat nikmat. Lebih nikmat lagi ketika mama memasukkan kontolku ke mulutnya. Hisapan dan permainan lidah mama sangat pandai. Tanganku dengan keras memegang dan meremas rambut mama dengan keras karena merasakan kenikmatan yang amat sangat. Tiba-tiba mama menghentikan hisapannya, tapi tangannya tetap mengocok kontolku perlahan.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Enak sayang?&#8221; tanya mama sambil menengadah menatapku.<br />
&#8220;Iya, Ma.. Enak sekali,&#8221; jawabku dengan suara tertahan.<br />
&#8220;Sini sayang. kontolmu udah besar dan tegang. Sekarang cepat masukkan&#8230;&#8221; ujar mama sambil menarik tanganku.</p>
<p style="text-align: justify;">Mama lalu telentang di tempat tidur sambil membuka lebar pahanya. Tanpa ragu aku naiki tubuh mama. Aku arahkan kontolku ke lubang memeknya. Tangan mama membimbing kontolku ke lubang memeknya.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Ayo, Roy.. Masukkan&#8230;&#8221; ujar mama sambil terus memandang wajahku.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku tekan kontolku. Lalu terasa kepala kontolku memasuki lubang yang basah, licin dan hangat. Lalu batang kontolku terasa memasuki sesuatu yang menjepit, yang entah bagaimana aku menjelaskan rasa nikmatnya.. Secara perlahan aku keluarmasukkan kontolku di memek mama. Aku cium bibir mama. Mamapun membalas ciuman aku sambil menggoyangkan pinggulnya mengimbangi goyangan aku.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Enak, Roy?&#8221; tanya mama.<br />
&#8220;Sangat enak, Ma&#8230;&#8221; jawabku sambil terus menyetubuhi mama. Setelah beberapa menit, aku hentikan gerakan kontol aku.<br />
&#8220;Kenapa mama mau melakukan ini dengan Roy?&#8221; tanyaku. Sambil tersenyum, mata mama kelihatan berkaca-kaca.<br />
&#8220;Karena mama sayang kamu, Roy&#8230;&#8221; jawab mama.<br />
&#8220;Sangat sayang&#8230;&#8221; lanjutnya.<br />
&#8220;Lagipula saat ini mama memang sedang ingin bersetubuh&#8230;&#8221; lanjutnya lagi.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku terdiam. Tak berapa lama aku kembali menggerakan kontol aku menyetubuhi mama.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Roy juga sangat sayang mama&#8230;&#8221; ujarku.<br />
&#8220;Ohh.. Roy.. Enakk.. Mmhh&#8230;&#8221; desah mama ketika aku menyetubuhinya makin keras.<br />
&#8220;Mama mau keluar&#8230;&#8221; desah mama lagi.</p>
<p style="text-align: justify;">Tak lama kurasakan tubuh mama mengejang lalu memeluk aku erat-erat. Goyangan pinggul mama makin keras. Lalu..</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Ohh.. Enak sayangg&#8230;&#8221; desah mama lagi ketika dia mencapai orgasme.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku terus menggenjot kontolku. Lama-lama kurasakan ada dorongan kuat yang akan keluar dari kontol aku. Rasanya sangat kuat. Aku makin keras menggenjot tubuh mama..</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Ma, Roy gak tahann&#8230;&#8221; ujarku sambil memeluk tubuh mama lalu menekan kontolku lebih dalam ke memek mama.<br />
&#8220;Keluarin sayang&#8230;&#8221; ujar mama sambil meremas-remas pantatku.<br />
&#8220;Keluarin di dalam aja sayang biar enak&#8230;&#8221; bisik mama mesra.</p>
<p style="text-align: justify;">Akhirnya, crott.. Crott.. Crott.. Air maniku keluar di dalam memek mama.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Mmhh&#8230;&#8221; desahku. Lalu tubuh kami tergolek lemas berdampingan.<br />
&#8220;Terima kasih ya, Ma&#8230;&#8221; ujar aku sambil mencium bibir mama.<br />
&#8220;Lekas berpakaian, Papa kamu sebentar lagi pulang!&#8221; kata mama.</p>
<p style="text-align: justify;">Lalu kamipun segera berpakaian. Setengah jam kemudian Papa pulang. Mama dan aku bersikap seperti biasa dan terlihat normal.</p>
<p style="text-align: justify;">Malam harinya, sekitar jam 11 malam, ketika mama dan Papa sudah tidur, aku dan tante Rina masih nonton TV. Tante Rina memakai kimono. Sesekali aku lihat paha mulusnya ketika kimononya tersingkap. Tapi tidak ada perasaan apa-apa. Karena sudah biasa melihat seperti itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Tiba-tiba tante Rina bertanya sesuatu yang mengejutkan aku,&#8221;ngapain kamu tadi sore lama-lama berduaan ama mama kamu di kamar?&#8221; tanya tante Rina.<br />
&#8220;Hayo, ngapain..?&#8221; tanya tante Rina lagi sambil tersenyum.<br />
&#8220;Tidak ada apa-apa. Aku mijitin mama, kok&#8230;&#8221; jawabku.<br />
&#8220;Kok lama amat. Sampe lebih dari satu jam,&#8221; tanyanya lagi.<br />
&#8220;Curigaan amat sih, tante?&#8221; kataku sambil tersenyum.<br />
&#8220;Tante hanya merasa aneh saja waktu tante denger ada suara-suara yang gimanaa gitu&#8230;&#8221; ujar tante Rina sambil tersenyum.<br />
&#8220;Kayak suara yang lagi enak&#8230;&#8221; ujar tante Rina lagi.<br />
&#8220;Udah ah.. Kok ngomongnya ngaco ah&#8230;&#8221; ujarku sambil bangkit.<br />
&#8220;Maaf dong, Roy. Tante becanda kok&#8230;&#8221; ujar tante Rina.<br />
&#8220;Kamu mau kemana?&#8221; tanya tante Rina.<br />
&#8220;Mau tidur,&#8221; jawabku pendek.<br />
&#8220;Temenein tante dong, Roy,&#8221; pinta tante.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku kembali duduk dikursi di samping tante Rina.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Ada apa sih tante?&#8221; tanyaku.<br />
&#8220;Tidak ada apa-apa kok. Hanya butuh temen ngobrol saja,&#8221; jawab tante Rina.<br />
&#8220;Kamu sudah punya pacar, Roy?&#8221; tanya tante Rina.<br />
&#8220;Belum tante. Kenapa?&#8221; aku balik bertanya.<br />
&#8220;Kamu tuh ganteng, tinggi. Tapi kenapa belum punya pacar?&#8221; tanya tante lagi.<br />
&#8220;Banyak sih yang ngajak jalan, tapi aku tidak mau,&#8221; jawabku.<br />
&#8220;Apa kamu pernah kissing dengan perempuan, Roy?&#8221; tanya tante Rina pelan sambil wajahnya didekatkan ke wajahku.</p>
<p style="text-align: justify;">Bibir kami hampir bersentuhan. Aku tak menjawab.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Ni tante lagi horny kayaknya&#8230;&#8221; pikir aku.</p>
<p style="text-align: justify;">Tanpa banyak kata, aku cium bibir tante Rina. Tante Rinapun langsung membalas ciumanku dengan hebat. Permainan lidah dan sedotan bibir kami main mainkan.. Sementara tanganku segera masuk ke balik kimono tante Rina. Lalu masuk lagi ke dalam BH-nya. Lalu ku remas-remas buah dadanya dengan mesra sambil ujung jari aku memainkan puting susunya.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Mmhh..&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Suara tante Rina mendesah tertahan karena kami masih tetap berciuman. Tangan tante Rinapun tidak diam. Tangannya meremas kontolku dari luar celana kolorku. kontolku langsung tegang.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Roy, pindah ke kamar tante, yuk?&#8221; pinta tante Rina.<br />
&#8220;Iya tante&#8230;&#8221; jawabku. Lalu kami segera naik ke loteng ke kamar tante Rina.</p>
<p style="text-align: justify;">Setiba di kamar, tante Rina dengan tak sabar segera melepas kimono dan BH serta CD-nya. Akupun segera melepas semua pakaian di tubuh aku.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Ayo Roy, tante sudah gak tahan&#8230;&#8221; ujar tante Rina sambil senyum, lalu merebahkan badannya di kasur.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku segera menindih tubuh telanjang tante Rina. Aku cium bibirnya, pindah ke pipi, leher, lalu turun ke buah dadanya. Aku jilat dan hisap puting susu tante Rina sambil meremas buah dada yang satu lagi.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Ohh.. Mmhh.. Royy.. Kamu pinter amat sih.. Mmhh&#8230;&#8221; desah tante Rina sambil tangannya memegang kepala aku.</p>
<p style="text-align: justify;">Lalu lidahku turun lagi ke perut, lalu ketika mulai turun ke selangkangan, tante Rina segera melebarkan kakinya mengangkang. memek tante Rina bersih tidak berbau. Bulunya hanya sedikit sehing nampak jelas belahan memeknya yang bagus. Aku segera jilati memek tante Rina terutama bagian kelentitnya.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Ohh.. Sayang.. Enakkhh.. Mmhh.. Terus sayang&#8230;&#8221; desah tante Rina sambil badannya mengejang menahan nikmat.</p>
<p style="text-align: justify;">Tak berapa lama tiba-tiba tante Rina mengepitkan kedua pahanya menjepit kepalaku. Tangannya menekan kepalaku ke memeknya.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Oh, Roy.. Tante keluar.. Nikmat sekali.. Ohh&#8230;&#8221; desah tante Rina.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku bangkit, mengusap mulut aku yang basah oleh air memek tante Rina, lalu aku tindih badannya dan kucium bibirnya. Tante Rina langsung membalas ciumanku dengan mesra.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Isep dong kontol Roy, tante&#8230;&#8221; pintaku.</p>
<p style="text-align: justify;">Tante Rina mengangguk sambil tersenyum. Lalu aku kangkangi wajah tante Rina dan ku sodorkan kontolku ke mulutnya. Tante Rina langsung menghisap dan menjilati kontolku dan mengocok dengan tangannya sambil memejamkan matanya. Sangat enak rasanya. Cara menghisap dan menjilat kontolnya lebih pintar dari mama.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Udah tante, Roy udah pengen setubuhi tante&#8230;&#8221; kataku.</p>
<p style="text-align: justify;">Tante Rina melepaskan genggamannya, lalu aku arahkan kontol aku ke memeknya.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Ayo, Roy.. Tante sudah tidak tahan&#8230;&#8221; bisik tante Rina.</p>
<p style="text-align: justify;">Lalu, bless.. sleb.. sleb.. sleb.. kontolku keluar masuk memek tante Rina.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Roy kamu pinter menyenangkan perempuan. Kamu pandai memberikan kenikmatan&#8230;&#8221; kata tante ditengah-tengah persetubuhan kami.<br />
&#8220;Ah, biasa saja, tante&#8230;&#8221; ujarku sambil tersenyum lalu ku kecup bibirnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Selang beberapa lama, tiba-tiba tante Rina mempercepat gerakannya. Kedua tangannya erat mendekap tubuhku.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Roy, terus setubuhi tante.. Mmhh.. Ohh.. Tante mau keluar.. Ohh.. Ohh. Ohh&#8230;&#8221; desahnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Tak lama tubuhnya mengejang. Pahanya erat menjepit pinggulku. Sementara akau terus memompa kontolku di memeknya.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Tente udah keluar, sayang&#8230;&#8221; bisik tante Rina.<br />
&#8220;Kamu hebat.. Kuat&#8230;&#8221; ujar tante Rina.<br />
&#8220;Terus setubuhi tante, Roy.. Puaskan diri kamu&#8230;&#8221; ujarnya lagi.</p>
<p style="text-align: justify;">Tak lama akupun mulai merasakan kalo aku akan segera orgasme. Kupertcepat gerakanku.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Roy mau keluar, Tante&#8230;&#8221; kataku.<br />
&#8220;Jangan keluarkan di dalam, sayang&#8230;&#8221; pinta tante Rina.<br />
&#8220;Cabut dulu&#8230;&#8221; ujar tante Rina.<br />
&#8220;Sini tante isepin&#8230;&#8221; katanya lagi.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku cabut kontolku dari memeknya, lalu aku arahkan ke mulutnya. Tante Rina lalu menghisap kontolku sambil mengocoknya. Tak lama, crott.. crott.. crott.. crott.. Air maniku keluar di dalam mulut tante Rina banyak sekali. Aku tekan kontolku lebih dalam ke dalam mulut tante Rina. Tante Rina dengan tenang menelan air maniku sambil terus mengocok kontolku. Lalu dia menjilati kontolku untuk membersihkan sisa air mani di kontolku. Sangat nikmat rasanya besetubuh dengan tante Rina.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku segera berpakaian. Tante Rina juga segera mengenakan kimononya tanpa BH dan CD.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Kamu hebat, Roy.. Kamu bisa memuaskan tante,&#8221; ujar tante Rina.<br />
&#8220;Kalo tante butuh kamu lagi, kamu mau kan?&#8221; tanya tante sambil memeluk aku.<br />
&#8220;Kapan saja tante mau, Roy pasti kasih,&#8221; kataku sambil mengecup bibirnya.<br />
&#8220;Terima kasih, sayang,&#8221; ujar tante Rina.<br />
&#8220;Roy kembali ke kamar ya, tante? Mau tidur,&#8221; kataku.<br />
&#8220;Iya, sana tidur,&#8221; katanya sambil meremas kontolku mesra. Kukecup bibirnya sekali lagi, lalu aku segera keluar.</p>
<p style="text-align: justify;">Besoknya, setelah Papa pergi ke kantor, mama duduk di sampingku waktu aku makan.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Roy, semalam kamu ngapain di kamar tante Rina sampe subuh?&#8221; tanya mama mengejutkanku.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku terdiam tak bisa berkata apa-apa. Aku sangat takut dimarahi mama. Mama tersenyum. Sambil mencium pipiku, mama berkata,&#8221;Jangan sampai yang lain tahu ya, Roy. Mama akan jaga rahasia kalian. Kamu suka tante kamu itu ya?&#8221; tanya mama. Plong rasanya perasaanku mendengarnya.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Iya, Ma.. Roy suka tante Rina,&#8221; jawabku.<br />
&#8220;Baiklah, mama akan pura-pura tidak tahu tentang kalian&#8230;&#8221; ujar mama.<br />
&#8220;Kalian hati-hatilah&#8230;&#8221; ujar mama lagi.<br />
&#8220;Kenapa mama tidak marah,&#8221; tanya aku.<br />
&#8220;Karena mama pikir kamu sudah dewasa. Bebas melakukan apapun asal mau tanggung jawab,&#8221; ujar mama.<br />
&#8220;Terima kasih ya, Ma&#8230;&#8221; kataku.<br />
&#8220;Roy sayang mama,&#8221; kataku lagi.<br />
&#8220;Roy, tante dan Papa kamu sedang keluar.. Mau bantu mama gak?&#8221; tanya mama.<br />
&#8220;Bantu apa, Ma?&#8221; aku balik tanya.<br />
&#8220;Mama ingin&#8230;&#8221; ujar mama sambil mengusap kontolku.<br />
&#8220;Roy akan lakukan apapun buat mama&#8230;&#8221; kataku. Mama tersenyum.<br />
&#8220;Mama tunggu di kamar ya?&#8221; kata mama. Aku mengangguk..</p>
<p style="text-align: justify;">Sejak saat itu hingga saat ini aku menikah dan punya 2 anak, aku tetap bersetubuh dengan tante Rina kalau ada kesempatan. Walau sudah agak berumur tapi kecantikan dan kemolekan tubuhnya masih tetap menarik. Baik itu di rumah tante Rina kalau tidak ada Om, di rumah aku sendiri, ataupun di hotel.</p>
<p style="text-align: justify;">Sedangkan dengan mama, aku sudah mulai jarang menyetubuhinya atas permintaan mama sendiri dengan alasan tertentu tentunya. Dalam satu bulan hanya 2 kali. Itulah pengalaman kisah nyata aku. Aku tuliskan dengan sebenarnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Namaku Roy, 32 tahun. Saat ini aku tinggal di Bandung. Banyak yang bilang aku ganteng. Kisah yang akan aku tulis ini adalah kisah nyata dari pengalaman sex aku dengan mama dan tante aku.</p>
<p style="text-align: justify;">Cerita ini dimulai ketika aku berusia 20 tahun. Saat itu tante Rina datang dan menginap selama beberapa hari di rumah karena suaminya sedang pergi keluar kota. Dia merasa sepi dan takut tinggal di rumahnya sendirian. Tante Rina berusia 32 tahun. Penampilannya biasa saja. Tinggi badan 160 cm. Ramping. Tapi aku suka bodynya. Buah dada 36B, dan pantatnya besar bulat. Aku suka lihat tante Rina kalau sudah memakai celana panjang ketat sehingga pantatnya sangat membentuk, merangsang. Tante Rina adalah adik kandung Papa aku.</p>
<p style="text-align: justify;">Waktu itu hari aku tidak masuk kuliah. Aku diam di rumah bersama mama dan tante Rina. Pagi itu, jam 10, kulihat mama baru selesai mandi. Mama keluar dari kamar mandi memakai handuk menutupi dada dan setengah pahanya yang putih mulus. Mama berusia 38 tahun. Sangat cantik.</p>
<p style="text-align: justify;">Saat itu entah secara tidak sengaja aku melihat mama membetulkan lilitan handuknya sebelum masuk kamar. Terlihat buah dada mama walau tidak terlalu besar tapi masih bagus bentuknya. Yang terutama jadi perhatian aku adalah memek mama yang dihiasi bulu hitam tidak terlalu lebat berbentuk segitiga rapi. Mungkin karena mama rajin merawatnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Mama sepertinya tidak sadar kalau aku sedang memperhatikannya. Mama langsung masuk kamar. Hati berdebar dan terbayang terus pemandangan tubuh mama tadi. Aku dekati pintu, lalu aku intip dari lubang kunci. Terlihat mama sedang membuka lilitan handuknya lalu mengeringkan rambutnya dengan handuk tersebut. Terlihat tubuh mama sangat menggairahkan. Terutama memek mama yang aku fokuskan. Secara otomatis tangan aku meraba kontol dari luar celana, lalu meremasnya pelan-pelan sambil menikmati keindahan tubuh merangsang mama. Karena sudah tak tahan lagi, aku segera ke kamar mandi dan onani sambil membayangkan menyetubuhi mama. Sampai akhirnya.. Crot! Crot! Crot! Aku orgasme.</p>
<p style="text-align: justify;">Sore harinya, waktu aku sedang tiduran sambil membaca majalah, tiba-tiba terdengar suara mama memanggil aku.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Roy..!&#8221; panggil mama.<br />
&#8220;Ya, Ma&#8230;&#8221; sahut aku sambil bergegas ke kamar mama.<br />
&#8220;Ada apa, Ma?&#8221; tanya aku.<br />
&#8220;Pijitin badan mama, Roy. Pegal rasanya&#8230;&#8221; kata mama sambil tengkurap.<br />
&#8220;Iya, Ma&#8230;&#8221; jawab aku.</p>
<p style="text-align: justify;">Waktu itu mama memakai daster. Aku mulai memijit kaki mama dari betis. Terus sampai naik ke paha. Mama tetap diam merasakan pijitan aku. Karena daster mama agak mengganggu pijitan, maka aku bertanya pada mama, &#8220;Ma, dasternya naikin ya? mengganggu nih&#8230;&#8221; tanya aku.<br />
&#8220;Emang kamu mau mijitan apa aja, Roy?&#8221; tanya mama.<br />
&#8220;Seluruh badan mama,&#8221; jawab aku.<br />
&#8220;Ya sudah, mama buka baju saja,&#8221; kata mama sambil bangkit, lalu melepas dasternya tanpa ragu.<br />
&#8220;Ayo lanjutkan, Roy!&#8221; kata mama sambil kembali tengkurap. Darah aku berdesir melihat mama setengah telanjang di depan mata.<br />
&#8220;Mama tidak malu buka baju depan Roy?&#8221; tanya aku.<br />
&#8220;Malu kenapa? Kan anak kandung mama.. Biasa sajalah,&#8221; jawab mama sambil memejamkan mata.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku berdebar. Tanganku mulai memijit paha mama. Sebetulnya bukan meimijit, istilah yang tepat adalah mengusap agak keras. Aku nikmati usapan tangan aku di paha mama sambil mata terus memandangi pantat mama yang memakai celana dalam merah. Setelah selesai &#8220;memijit&#8221; paha, karena masih ragu, aku tidak memijit pantat mama, tapi langsung naik memijit pinggang mama.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Kok dilewat sih, Roy?&#8221; protes mama sambil menggoyangkan pantatnya.<br />
&#8220;Mm.. Roy takut mama marah&#8230;&#8221; jawab aku.<br />
&#8220;Marah kenapa? Kamu kan emang mama pinta mijitin.. Ayo teruskan!&#8221; pinta mama.</p>
<p style="text-align: justify;">Karena sudah mendapat angin, aku mulai meraba dan agak meremas pantat mama dari luar celana dalamnya. Nyaman rasanya memijit dan meremas pantat mama yang bulat dan padat. kontol aku sudah mulai mengeras. Mama tetap terpejam menikmati pijitan aku. Karena birahi aku sudah naik, aku sengaja memasukkan tangan aku ke celana dalam mama dan terus meremasnya. Mama tetap diam. Aku makin berani.</p>
<p style="text-align: justify;">Jari tengah aku mulai menyusuri belahan pantat mama sampai ke belahan memek mama. Jari aku diam disana. Aku takut mama marah. Tapi mama tetap diam sambil memejamkan mata. Aku mulai menggerakan jari tengah aku di belahan memek mama. Mama tetap diam. Terasa memek mama mulai basah. Dan aku tahu kalau mama agak menggoyang-goyangkan pantatnya, mungkin mama merasa enak menikmati jari aku di belahan memeknya. Itu perkiraan aku.</p>
<p style="text-align: justify;">Karena sudah basah, aku nekad masukkan jari aku ke lubang memek mama. Mama tetap memejamkan mata, tapi pantatnya mulai bergoyang agak cepat.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Roy, kamu ngapain?&#8221; tanya mama sambil membalikkan badannya. Aku kaget dan takut mama marah.<br />
&#8220;Maaf, Ma&#8230;&#8221; kataku tertunduk tidak berani memandang mata mama.<br />
&#8220;Roy tidak tahan menahan nafsu&#8230;&#8221; kataku lagi.<br />
&#8220;Nafsu apa?&#8221; kata mama dengan nada lembut.<br />
&#8220;Sini berbaring dekat mama,&#8221; kata mama sambil menggeserkan badannya. Aku diam tidak mengerti.<br />
&#8220;Sini berbaring Roy,&#8221; ujar mama lagi.<br />
&#8220;Tutup dulu pintu kamar,&#8221; kata mama.<br />
&#8220;Ya, Ma&#8230;&#8221; kataku sambil berdiri dan segera menutup pintu. Kemudian aku berbaring di samping mama.</p>
<p style="text-align: justify;">Mama menatapku sambil membelai rambut aku.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Kenapa bernafsu dengan mama, Roy,&#8221; tanya mama lembut.<br />
&#8220;Mama marahkah?&#8221; tanya aku.<br />
&#8220;Mama tidak marah, Roy.. Jawablah jujur,&#8221; ujar mama.<br />
&#8220;Melihat tubuh mama, Roy tidak tahu kenapa jadi pengen, Ma&#8230;&#8221; kataku. Mama tersenyum.<br />
&#8220;Berarti anak mama sudah mulai dewasa,&#8221; kata mama.<br />
&#8220;Kamu benar-benar mau sayang?&#8221; tanya mama.<br />
&#8220;Maksud mama?&#8221; tanya aku.<br />
&#8220;Dua jam lagi Papa kamu pulang&#8230;&#8221; hanya itu yang keluar dari mulut mama sambil tangannya meraba kontol aku dari luar celana.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku kaget sekaligus senang. Mama mencium bibir aku, dan akupun segera membalasnya. Kami berciuman mesra sambil tangan kami saling meraba dan meremas.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Buka pakaian kamu, Roy,&#8221; kata mama. Aku menurut, dan segera melepas baju dan celana.</p>
<p style="text-align: justify;">Mama juga melepas BH dan celana dalamnya. Mama duduk di tepi tempat tidur, sedangkan aku tetap berdiri.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;kontol kamu besar, Roy&#8230;&#8221; kata mama sambil meraih kontol aku dan meremas serta mengocoknya. Enak rasanya.<br />
&#8220;Kamu udah pernah maen dengan perempuan tidak, sayang?&#8221; tanya mama.<br />
Sambil menikmati enaknya dikocok kontol aku menjawab, &#8220;Belum pernah, Ma.. Mmhh..&#8221;. Mama tersenyum, entah apa artinya.</p>
<p style="text-align: justify;">Lalu mama menarik pantat aku hingga kontol aku hampir mengenai wajahnya. Lalu mama mulai menjilati kontol aku mulai dari batang sampai ke kepalanya. Rasanya sangat nikmat. Lebih nikmat lagi ketika mama memasukkan kontolku ke mulutnya. Hisapan dan permainan lidah mama sangat pandai. Tanganku dengan keras memegang dan meremas rambut mama dengan keras karena merasakan kenikmatan yang amat sangat. Tiba-tiba mama menghentikan hisapannya, tapi tangannya tetap mengocok kontolku perlahan.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Enak sayang?&#8221; tanya mama sambil menengadah menatapku.<br />
&#8220;Iya, Ma.. Enak sekali,&#8221; jawabku dengan suara tertahan.<br />
&#8220;Sini sayang. kontolmu udah besar dan tegang. Sekarang cepat masukkan&#8230;&#8221; ujar mama sambil menarik tanganku.</p>
<p style="text-align: justify;">Mama lalu telentang di tempat tidur sambil membuka lebar pahanya. Tanpa ragu aku naiki tubuh mama. Aku arahkan kontolku ke lubang memeknya. Tangan mama membimbing kontolku ke lubang memeknya.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Ayo, Roy.. Masukkan&#8230;&#8221; ujar mama sambil terus memandang wajahku.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku tekan kontolku. Lalu terasa kepala kontolku memasuki lubang yang basah, licin dan hangat. Lalu batang kontolku terasa memasuki sesuatu yang menjepit, yang entah bagaimana aku menjelaskan rasa nikmatnya.. Secara perlahan aku keluarmasukkan kontolku di memek mama. Aku cium bibir mama. Mamapun membalas ciuman aku sambil menggoyangkan pinggulnya mengimbangi goyangan aku.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Enak, Roy?&#8221; tanya mama.<br />
&#8220;Sangat enak, Ma&#8230;&#8221; jawabku sambil terus menyetubuhi mama. Setelah beberapa menit, aku hentikan gerakan kontol aku.<br />
&#8220;Kenapa mama mau melakukan ini dengan Roy?&#8221; tanyaku. Sambil tersenyum, mata mama kelihatan berkaca-kaca.<br />
&#8220;Karena mama sayang kamu, Roy&#8230;&#8221; jawab mama.<br />
&#8220;Sangat sayang&#8230;&#8221; lanjutnya.<br />
&#8220;Lagipula saat ini mama memang sedang ingin bersetubuh&#8230;&#8221; lanjutnya lagi.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku terdiam. Tak berapa lama aku kembali menggerakan kontol aku menyetubuhi mama.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Roy juga sangat sayang mama&#8230;&#8221; ujarku.<br />
&#8220;Ohh.. Roy.. Enakk.. Mmhh&#8230;&#8221; desah mama ketika aku menyetubuhinya makin keras.<br />
&#8220;Mama mau keluar&#8230;&#8221; desah mama lagi.</p>
<p style="text-align: justify;">Tak lama kurasakan tubuh mama mengejang lalu memeluk aku erat-erat. Goyangan pinggul mama makin keras. Lalu..</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Ohh.. Enak sayangg&#8230;&#8221; desah mama lagi ketika dia mencapai orgasme.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku terus menggenjot kontolku. Lama-lama kurasakan ada dorongan kuat yang akan keluar dari kontol aku. Rasanya sangat kuat. Aku makin keras menggenjot tubuh mama..</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Ma, Roy gak tahann&#8230;&#8221; ujarku sambil memeluk tubuh mama lalu menekan kontolku lebih dalam ke memek mama.<br />
&#8220;Keluarin sayang&#8230;&#8221; ujar mama sambil meremas-remas pantatku.<br />
&#8220;Keluarin di dalam aja sayang biar enak&#8230;&#8221; bisik mama mesra.</p>
<p style="text-align: justify;">Akhirnya, crott.. Crott.. Crott.. Air maniku keluar di dalam memek mama.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Mmhh&#8230;&#8221; desahku. Lalu tubuh kami tergolek lemas berdampingan.<br />
&#8220;Terima kasih ya, Ma&#8230;&#8221; ujar aku sambil mencium bibir mama.<br />
&#8220;Lekas berpakaian, Papa kamu sebentar lagi pulang!&#8221; kata mama.</p>
<p style="text-align: justify;">Lalu kamipun segera berpakaian. Setengah jam kemudian Papa pulang. Mama dan aku bersikap seperti biasa dan terlihat normal.</p>
<p style="text-align: justify;">Malam harinya, sekitar jam 11 malam, ketika mama dan Papa sudah tidur, aku dan tante Rina masih nonton TV. Tante Rina memakai kimono. Sesekali aku lihat paha mulusnya ketika kimononya tersingkap. Tapi tidak ada perasaan apa-apa. Karena sudah biasa melihat seperti itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Tiba-tiba tante Rina bertanya sesuatu yang mengejutkan aku,&#8221;ngapain kamu tadi sore lama-lama berduaan ama mama kamu di kamar?&#8221; tanya tante Rina.<br />
&#8220;Hayo, ngapain..?&#8221; tanya tante Rina lagi sambil tersenyum.<br />
&#8220;Tidak ada apa-apa. Aku mijitin mama, kok&#8230;&#8221; jawabku.<br />
&#8220;Kok lama amat. Sampe lebih dari satu jam,&#8221; tanyanya lagi.<br />
&#8220;Curigaan amat sih, tante?&#8221; kataku sambil tersenyum.<br />
&#8220;Tante hanya merasa aneh saja waktu tante denger ada suara-suara yang gimanaa gitu&#8230;&#8221; ujar tante Rina sambil tersenyum.<br />
&#8220;Kayak suara yang lagi enak&#8230;&#8221; ujar tante Rina lagi.<br />
&#8220;Udah ah.. Kok ngomongnya ngaco ah&#8230;&#8221; ujarku sambil bangkit.<br />
&#8220;Maaf dong, Roy. Tante becanda kok&#8230;&#8221; ujar tante Rina.<br />
&#8220;Kamu mau kemana?&#8221; tanya tante Rina.<br />
&#8220;Mau tidur,&#8221; jawabku pendek.<br />
&#8220;Temenein tante dong, Roy,&#8221; pinta tante.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku kembali duduk dikursi di samping tante Rina.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Ada apa sih tante?&#8221; tanyaku.<br />
&#8220;Tidak ada apa-apa kok. Hanya butuh temen ngobrol saja,&#8221; jawab tante Rina.<br />
&#8220;Kamu sudah punya pacar, Roy?&#8221; tanya tante Rina.<br />
&#8220;Belum tante. Kenapa?&#8221; aku balik bertanya.<br />
&#8220;Kamu tuh ganteng, tinggi. Tapi kenapa belum punya pacar?&#8221; tanya tante lagi.<br />
&#8220;Banyak sih yang ngajak jalan, tapi aku tidak mau,&#8221; jawabku.<br />
&#8220;Apa kamu pernah kissing dengan perempuan, Roy?&#8221; tanya tante Rina pelan sambil wajahnya didekatkan ke wajahku.</p>
<p style="text-align: justify;">Bibir kami hampir bersentuhan. Aku tak menjawab.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Ni tante lagi horny kayaknya&#8230;&#8221; pikir aku.</p>
<p style="text-align: justify;">Tanpa banyak kata, aku cium bibir tante Rina. Tante Rinapun langsung membalas ciumanku dengan hebat. Permainan lidah dan sedotan bibir kami main mainkan.. Sementara tanganku segera masuk ke balik kimono tante Rina. Lalu masuk lagi ke dalam BH-nya. Lalu ku remas-remas buah dadanya dengan mesra sambil ujung jari aku memainkan puting susunya.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Mmhh..&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Suara tante Rina mendesah tertahan karena kami masih tetap berciuman. Tangan tante Rinapun tidak diam. Tangannya meremas kontolku dari luar celana kolorku. kontolku langsung tegang.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Roy, pindah ke kamar tante, yuk?&#8221; pinta tante Rina.<br />
&#8220;Iya tante&#8230;&#8221; jawabku. Lalu kami segera naik ke loteng ke kamar tante Rina.</p>
<p style="text-align: justify;">Setiba di kamar, tante Rina dengan tak sabar segera melepas kimono dan BH serta CD-nya. Akupun segera melepas semua pakaian di tubuh aku.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Ayo Roy, tante sudah gak tahan&#8230;&#8221; ujar tante Rina sambil senyum, lalu merebahkan badannya di kasur.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku segera menindih tubuh telanjang tante Rina. Aku cium bibirnya, pindah ke pipi, leher, lalu turun ke buah dadanya. Aku jilat dan hisap puting susu tante Rina sambil meremas buah dada yang satu lagi.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Ohh.. Mmhh.. Royy.. Kamu pinter amat sih.. Mmhh&#8230;&#8221; desah tante Rina sambil tangannya memegang kepala aku.</p>
<p style="text-align: justify;">Lalu lidahku turun lagi ke perut, lalu ketika mulai turun ke selangkangan, tante Rina segera melebarkan kakinya mengangkang. memek tante Rina bersih tidak berbau. Bulunya hanya sedikit sehing nampak jelas belahan memeknya yang bagus. Aku segera jilati memek tante Rina terutama bagian kelentitnya.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Ohh.. Sayang.. Enakkhh.. Mmhh.. Terus sayang&#8230;&#8221; desah tante Rina sambil badannya mengejang menahan nikmat.</p>
<p style="text-align: justify;">Tak berapa lama tiba-tiba tante Rina mengepitkan kedua pahanya menjepit kepalaku. Tangannya menekan kepalaku ke memeknya.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Oh, Roy.. Tante keluar.. Nikmat sekali.. Ohh&#8230;&#8221; desah tante Rina.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku bangkit, mengusap mulut aku yang basah oleh air memek tante Rina, lalu aku tindih badannya dan kucium bibirnya. Tante Rina langsung membalas ciumanku dengan mesra.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Isep dong kontol Roy, tante&#8230;&#8221; pintaku.</p>
<p style="text-align: justify;">Tante Rina mengangguk sambil tersenyum. Lalu aku kangkangi wajah tante Rina dan ku sodorkan kontolku ke mulutnya. Tante Rina langsung menghisap dan menjilati kontolku dan mengocok dengan tangannya sambil memejamkan matanya. Sangat enak rasanya. Cara menghisap dan menjilat kontolnya lebih pintar dari mama.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Udah tante, Roy udah pengen setubuhi tante&#8230;&#8221; kataku.</p>
<p style="text-align: justify;">Tante Rina melepaskan genggamannya, lalu aku arahkan kontol aku ke memeknya.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Ayo, Roy.. Tante sudah tidak tahan&#8230;&#8221; bisik tante Rina.</p>
<p style="text-align: justify;">Lalu, bless.. sleb.. sleb.. sleb.. kontolku keluar masuk memek tante Rina.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Roy kamu pinter menyenangkan perempuan. Kamu pandai memberikan kenikmatan&#8230;&#8221; kata tante ditengah-tengah persetubuhan kami.<br />
&#8220;Ah, biasa saja, tante&#8230;&#8221; ujarku sambil tersenyum lalu ku kecup bibirnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Selang beberapa lama, tiba-tiba tante Rina mempercepat gerakannya. Kedua tangannya erat mendekap tubuhku.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Roy, terus setubuhi tante.. Mmhh.. Ohh.. Tante mau keluar.. Ohh.. Ohh. Ohh&#8230;&#8221; desahnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Tak lama tubuhnya mengejang. Pahanya erat menjepit pinggulku. Sementara akau terus memompa kontolku di memeknya.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Tente udah keluar, sayang&#8230;&#8221; bisik tante Rina.<br />
&#8220;Kamu hebat.. Kuat&#8230;&#8221; ujar tante Rina.<br />
&#8220;Terus setubuhi tante, Roy.. Puaskan diri kamu&#8230;&#8221; ujarnya lagi.</p>
<p style="text-align: justify;">Tak lama akupun mulai merasakan kalo aku akan segera orgasme. Kupertcepat gerakanku.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Roy mau keluar, Tante&#8230;&#8221; kataku.<br />
&#8220;Jangan keluarkan di dalam, sayang&#8230;&#8221; pinta tante Rina.<br />
&#8220;Cabut dulu&#8230;&#8221; ujar tante Rina.<br />
&#8220;Sini tante isepin&#8230;&#8221; katanya lagi.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku cabut kontolku dari memeknya, lalu aku arahkan ke mulutnya. Tante Rina lalu menghisap kontolku sambil mengocoknya. Tak lama, crott.. crott.. crott.. crott.. Air maniku keluar di dalam mulut tante Rina banyak sekali. Aku tekan kontolku lebih dalam ke dalam mulut tante Rina. Tante Rina dengan tenang menelan air maniku sambil terus mengocok kontolku. Lalu dia menjilati kontolku untuk membersihkan sisa air mani di kontolku. Sangat nikmat rasanya besetubuh dengan tante Rina.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku segera berpakaian. Tante Rina juga segera mengenakan kimononya tanpa BH dan CD.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Kamu hebat, Roy.. Kamu bisa memuaskan tante,&#8221; ujar tante Rina.<br />
&#8220;Kalo tante butuh kamu lagi, kamu mau kan?&#8221; tanya tante sambil memeluk aku.<br />
&#8220;Kapan saja tante mau, Roy pasti kasih,&#8221; kataku sambil mengecup bibirnya.<br />
&#8220;Terima kasih, sayang,&#8221; ujar tante Rina.<br />
&#8220;Roy kembali ke kamar ya, tante? Mau tidur,&#8221; kataku.<br />
&#8220;Iya, sana tidur,&#8221; katanya sambil meremas kontolku mesra. Kukecup bibirnya sekali lagi, lalu aku segera keluar.</p>
<p style="text-align: justify;">Besoknya, setelah Papa pergi ke kantor, mama duduk di sampingku waktu aku makan.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Roy, semalam kamu ngapain di kamar tante Rina sampe subuh?&#8221; tanya mama mengejutkanku.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku terdiam tak bisa berkata apa-apa. Aku sangat takut dimarahi mama. Mama tersenyum. Sambil mencium pipiku, mama berkata,&#8221;Jangan sampai yang lain tahu ya, Roy. Mama akan jaga rahasia kalian. Kamu suka tante kamu itu ya?&#8221; tanya mama. Plong rasanya perasaanku mendengarnya.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Iya, Ma.. Roy suka tante Rina,&#8221; jawabku.<br />
&#8220;Baiklah, mama akan pura-pura tidak tahu tentang kalian&#8230;&#8221; ujar mama.<br />
&#8220;Kalian hati-hatilah&#8230;&#8221; ujar mama lagi.<br />
&#8220;Kenapa mama tidak marah,&#8221; tanya aku.<br />
&#8220;Karena mama pikir kamu sudah dewasa. Bebas melakukan apapun asal mau tanggung jawab,&#8221; ujar mama.<br />
&#8220;Terima kasih ya, Ma&#8230;&#8221; kataku.<br />
&#8220;Roy sayang mama,&#8221; kataku lagi.<br />
&#8220;Roy, tante dan Papa kamu sedang keluar.. Mau bantu mama gak?&#8221; tanya mama.<br />
&#8220;Bantu apa, Ma?&#8221; aku balik tanya.<br />
&#8220;Mama ingin&#8230;&#8221; ujar mama sambil mengusap kontolku.<br />
&#8220;Roy akan lakukan apapun buat mama&#8230;&#8221; kataku. Mama tersenyum.<br />
&#8220;Mama tunggu di kamar ya?&#8221; kata mama. Aku mengangguk..</p>
<p style="text-align: justify;">Sejak saat itu hingga saat ini aku menikah dan punya 2 anak, aku tetap bersetubuh dengan tante Rina kalau ada kesempatan. Walau sudah agak berumur tapi kecantikan dan kemolekan tubuhnya masih tetap menarik. Baik itu di rumah tante Rina kalau tidak ada Om, di rumah aku sendiri, ataupun di hotel.</p>
<p style="text-align: justify;">Sedangkan dengan mama, aku sudah mulai jarang menyetubuhinya atas permintaan mama sendiri dengan alasan tertentu tentunya. Dalam satu bulan hanya 2 kali. Itulah pengalaman kisah nyata aku. Aku tuliskan dengan sebenarnya.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ceritasex.cn/mama-dan-tante-rina/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tante Binal, Sedot Kontol, Ngentot</title>
		<link>http://www.ceritasex.cn/tante-binal-sedot-kontol-ngentot/</link>
		<comments>http://www.ceritasex.cn/tante-binal-sedot-kontol-ngentot/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 09 Oct 2011 21:48:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cerita Sex</dc:creator>
				<category><![CDATA[Foto Mesum]]></category>
		<category><![CDATA[Paruh baya]]></category>
		<category><![CDATA[Tante Girang]]></category>
		<category><![CDATA[Toket gede]]></category>
		<category><![CDATA[blowjob]]></category>
		<category><![CDATA[cuki]]></category>
		<category><![CDATA[isep kontol]]></category>
		<category><![CDATA[kontol]]></category>
		<category><![CDATA[memek]]></category>
		<category><![CDATA[muncrat]]></category>
		<category><![CDATA[ngentot]]></category>
		<category><![CDATA[pepek]]></category>
		<category><![CDATA[sepong]]></category>
		<category><![CDATA[sperma]]></category>
		<category><![CDATA[tante]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ceritasex.cn/?p=2918</guid>
		<description><![CDATA[Duh tante ini&#8230; dah berumur gak mau kalah juga dari ABG, katanya sih bodynya masih kencang.. hmm gak juga sih gak kencang banget tee tapi justru napsuin soalnya nafsu seksnya tinggi banget. Kalau di sedot kontol kayak gini sih semua cowok juga bakal gemetar kakinya teee, kasihan nanti kontolnya muncrat hahaha&#8230; oh ya ni fotonya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Duh tante ini&#8230; dah berumur gak mau kalah juga dari ABG, katanya sih bodynya masih kencang.. hmm gak juga sih gak kencang banget tee tapi justru napsuin soalnya nafsu seksnya tinggi banget. Kalau di sedot kontol kayak gini sih semua cowok juga bakal gemetar kakinya teee, kasihan nanti kontolnya muncrat hahaha&#8230; oh ya ni fotonya sudah ku kecilkan dikit kasihan yang punya inet lemot bisa nangis buka fotonya tante&#8230; Selamat menikmati <img src='http://www.ceritasex.cn/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> </p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2011/10/tante-binal-1.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-2919" title="tante-binal-1" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2011/10/tante-binal-1-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a></p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2011/10/tante-binal-2.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-2920" title="tante-binal-2" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2011/10/tante-binal-2-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a></p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2011/10/tante-binal-3.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-2921" title="tante-binal-3" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2011/10/tante-binal-3-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a></p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2011/10/tante-binal-4.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-2922" title="tante-binal-4" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2011/10/tante-binal-4-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a></p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2011/10/tante-binal-5.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-2923" title="tante-binal-5" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2011/10/tante-binal-5-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a></p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2011/10/tante-binal-6.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-2924" title="tante-binal-6" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2011/10/tante-binal-6-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a></p>
<p><span id="more-2918"></span></p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2011/10/tante-binal-7.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-2925" title="tante-binal-7" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2011/10/tante-binal-7-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a></p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2011/10/tante-binal-8.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-2926" title="tante-binal-8" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2011/10/tante-binal-8-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a></p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2011/10/tante-binal-9.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-2927" title="tante-binal-9" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2011/10/tante-binal-9-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a></p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2011/10/tante-binal-10.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-2928" title="tante-binal-10" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2011/10/tante-binal-10-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a></p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2011/10/tante-binal-11.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-2929" title="tante-binal-11" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2011/10/tante-binal-11-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a></p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2011/10/tante-binal-12.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-2930" title="tante-binal-12" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2011/10/tante-binal-12-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a></p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2011/10/tante-binal-13.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-2931" title="tante-binal-13" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2011/10/tante-binal-13-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a></p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2011/10/tante-binal-14.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-2932" title="tante-binal-14" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2011/10/tante-binal-14-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a></p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2011/10/tante-binal-15.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-2933" title="tante-binal-15" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2011/10/tante-binal-15-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ceritasex.cn/tante-binal-sedot-kontol-ngentot/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tante Sarah Bandung</title>
		<link>http://www.ceritasex.cn/tante-sarah-bandung/</link>
		<comments>http://www.ceritasex.cn/tante-sarah-bandung/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 12 Aug 2011 23:23:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cerita Sex</dc:creator>
				<category><![CDATA[Foto Mesum]]></category>
		<category><![CDATA[Sedarah]]></category>
		<category><![CDATA[Tante Girang]]></category>
		<category><![CDATA[bandung]]></category>
		<category><![CDATA[hubungan sedarah]]></category>
		<category><![CDATA[incest]]></category>
		<category><![CDATA[softcore]]></category>
		<category><![CDATA[tante]]></category>
		<category><![CDATA[tante sarah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ceritasex.cn/?p=2787</guid>
		<description><![CDATA[Hmmm&#8230; emang gak bisa di tawar-tawar lagi bandung emang paris van java tiada duanya di Indonesia. Ini ada foto mesum tante sarah dan keponakannya&#8230; incest nih kayaknya hubungan sedarah, waduh waduh gawat ini&#8230;]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Hmmm&#8230; emang gak bisa di tawar-tawar lagi bandung emang paris van java tiada duanya di Indonesia. Ini ada foto mesum tante sarah dan keponakannya&#8230; incest nih kayaknya hubungan sedarah, waduh waduh gawat ini&#8230;</p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2011/08/tante-sarah-bandung.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-2789" title="tante-sarah-bandung" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2011/08/tante-sarah-bandung-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a></p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2011/08/tante-sarah-bandung-1.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-2790" title="tante-sarah-bandung-1" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2011/08/tante-sarah-bandung-1-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a></p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2011/08/tante-sarah-bandung-2.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-2791" title="tante-sarah-bandung-2" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2011/08/tante-sarah-bandung-2-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a></p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2011/08/tante-sarah-bandung-3.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-2792" title="tante-sarah-bandung-3" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2011/08/tante-sarah-bandung-3-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a></p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2011/08/tante-sarah-bandung-4.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-2788" title="tante-sarah-bandung-4" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2011/08/tante-sarah-bandung-4-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ceritasex.cn/tante-sarah-bandung/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Suami Tante Lagi Keluar Kota</title>
		<link>http://www.ceritasex.cn/suami-tante-lagi-keluar-kota/</link>
		<comments>http://www.ceritasex.cn/suami-tante-lagi-keluar-kota/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 05 Aug 2011 22:02:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cerita Sex</dc:creator>
				<category><![CDATA[Amoy]]></category>
		<category><![CDATA[Foto Mesum]]></category>
		<category><![CDATA[Paruh baya]]></category>
		<category><![CDATA[Tante Girang]]></category>
		<category><![CDATA[Toket gede]]></category>
		<category><![CDATA[amoy]]></category>
		<category><![CDATA[memek]]></category>
		<category><![CDATA[ngintip]]></category>
		<category><![CDATA[om]]></category>
		<category><![CDATA[pelacur]]></category>
		<category><![CDATA[selingkuh]]></category>
		<category><![CDATA[susu]]></category>
		<category><![CDATA[tante]]></category>
		<category><![CDATA[toket]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ceritasex.cn/?p=2715</guid>
		<description><![CDATA[Stttt&#8230; Suami tante lagi keluar kota nih. Dedek jangan nakal ya nih tante kasi ngintip toket ama memek tante aja. Tapi jangan sampe om tau nanti om  marah-marah soalnya tante emang nakal seperti pelacur ehemm.. tante butuh kehangatan nih kontol kamu gede gak?]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Stttt&#8230; Suami tante lagi keluar kota nih. Dedek jangan nakal ya nih tante kasi ngintip toket ama memek tante aja. Tapi jangan sampe om tau nanti om  marah-marah soalnya tante emang nakal seperti pelacur ehemm.. tante butuh kehangatan nih kontol kamu gede gak?</p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2011/08/memek-tante-1.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-2716" title="memek-tante-1" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2011/08/memek-tante-1-271x300.jpg" alt="" width="271" height="300" /></a></p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2011/08/memek-tante-2.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-2717" title="memek-tante-2" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2011/08/memek-tante-2-225x300.jpg" alt="" width="225" height="300" /></a></p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2011/08/memek-tante-3.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-2718" title="memek-tante-3" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2011/08/memek-tante-3-193x300.jpg" alt="" width="193" height="300" /></a></p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2011/08/memek-tante-4.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-2719" title="memek-tante-4" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2011/08/memek-tante-4-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a></p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2011/08/memek-tante-5.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-2720" title="memek-tante-5" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2011/08/memek-tante-5-225x300.jpg" alt="" width="225" height="300" /></a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ceritasex.cn/suami-tante-lagi-keluar-kota/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Nikmatnya Tante Stella</title>
		<link>http://www.ceritasex.cn/nikmatnya-tante-stella/</link>
		<comments>http://www.ceritasex.cn/nikmatnya-tante-stella/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 23 Jul 2011 02:47:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cerita Sex</dc:creator>
				<category><![CDATA[kisah nyata]]></category>
		<category><![CDATA[Seks Umum]]></category>
		<category><![CDATA[Tante Girang]]></category>
		<category><![CDATA[gigolo]]></category>
		<category><![CDATA[mandi]]></category>
		<category><![CDATA[nafsu]]></category>
		<category><![CDATA[ngentot]]></category>
		<category><![CDATA[orgasme]]></category>
		<category><![CDATA[tante]]></category>
		<category><![CDATA[tante stella]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ceritasex.cn/?p=2646</guid>
		<description><![CDATA[Cerita ini adalah kisah nyata, berlangsung ketika saya kuliah di suatu kota ternama di Jawa tengah sekitar tahun 1992. Sebagai mahasiswa pendatang, saya hidup sederhana, karena memang kiriman dari orangtua yang bekerja sebagai tentara terkadang kurang untuk memenuhi kebutuhan saya. Menurut teman-teman, saya termasuk pria simpatik, dengan kemampuan berpikir cemerlang, biasanya saya dipanggil Rudy. Kurang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Cerita ini adalah kisah nyata, berlangsung ketika saya kuliah di suatu kota ternama di Jawa tengah sekitar tahun 1992. Sebagai mahasiswa pendatang, saya hidup sederhana, karena memang kiriman dari orangtua yang bekerja sebagai tentara terkadang kurang untuk memenuhi kebutuhan saya. Menurut teman-teman, saya termasuk pria simpatik, dengan kemampuan berpikir cemerlang, biasanya saya dipanggil Rudy.</p>
<p style="text-align: justify;">Kurang dari 6 bulan saya belajar di kota ini, cukup banyak tawaran dari beberapa teman untuk memberikan les privat matematika dan IPA bagi adik-adik mereka yang masih duduk di sekolah lanjutan. Keberuntungan datang bertubi-tubi, bahkan tawaran datang dari bunga kampus kami, sebut saja Indah untuk memberikan les privat bagi adiknya yang masih duduk di kelas 2 SLTP swasta ternama di kota dimana saya kuliah.</p>
<p style="text-align: justify;">Keluarga Indah adalah keluarga yang sangat harmonis, ayahnya bekerja sebagai kepala kantor perwakilan (Kakanwil) salah satu departemen, berumur kurang lebih 46 tahun, sementara itu ibunya, biasa saya panggil Tante Stella, adalah ibu rumah tangga yang sangat memperhatikan keluarganya. Konon kabarnya Tante Stella adalah mantan ratu kecantikan di kota kelahirannya, dan hal ini amat saya percayai karena kecantikan dan bentuk tubuhnya yang masih sangat menarik diusianya yang ke 36 ini. Adik Indah murid saya bernama Noni, amat manja pada orangtuanya, karena Tante Stella selalu membiasakan memenuhi segala permintaannya.</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam satu minggu, saya harus memberikan perlajaran tambahan 3 kali buat Nona, walaupun sudah saya tawarkan bahwa waktu pertemuan tersebut dapat dikurangi, karena sebenarnya Nona cukup cerdas, hanya sedikit malas belajar. Tetapi Tante Stella malah menyarankan untuk memberikan pelajaran lebih dari yang sudah disepakati dari awalnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Setiap saya selesai mengajar, Tante Stella selalu menunggu saya untuk membicarakan perkembangan anaknya, tekadang ekor matanya saya tangkap menyelidik bentuk badan saya yang agak bidang menurutnya. Melewati satu bulan saya mengajar Noni, hubungan saya dengan Tante Stella semakin akrab.</p>
<p style="text-align: justify;">Suatu ketika, kira-kira bulan ketiga saya mengajar Noni, saya datang seperti biasanya jam 16:00 sore. Saya mendapati rumah Bapak Gatot sepi tidak seperti biasanya, hanya tukang kebun yang ada. Karena sudah menjadi kewajiban, saya berinisiatif menunggu Noni, minimal selama waktu saya mengajar. Kurang lebih 45 menit menunggu, Tante Stella datang dengan wajah cerah sambil mengatakan bahwa Noni sedang menghadiri pesta ulang tahun salah seorang temannya, sehingga hari itu saya tidak perlu mengajar. Tetapi Tante Stella tetap minta saya menunggu, karena ada sesuatu yang harus dibicarakan dengan saya.</p>
<p style="text-align: justify;">Ketika Tante Stella memanggil untuk masuk ke dalam rumahnya, alangkah kagetnya saya, ternyata Tante Stella telah memakai baju yang sangat seksi. Yah, memang badannya cukup seksi, karena walaupun sudah mulai berumur, Tante Stella masih sempat menjaga tubuhnya dengan melakukan senam “BL” seminggu 3 kali. Tubuhnya yang ideal menurut saya mempunyai tinggi sekitar 168 cm, dan berat sekitar 48 kg, ditambah ukuran payudaranya kira-kira 36B.</p>
<p style="text-align: justify;">Mula-mula saya tidak menaruh curiga sama sekali, pembicaraan hanya berkisar masalah perkembangan pendidikan Noni. Tetapi lama kelamaan sejalan dengan cairnya situasi, Tante Stella mulai bercerita tentang kesepiannya di atas ranjang. Terus terang saya mulai bingung mengimbangi pembicaraan ini, saya hanya terdiam, sambil berhayal entah kamana.<br />
“Rud, kamu lugu sekali yah..?” tanya Tante Stella.<br />
“Agh.. Tante bisa aja deh, emang biar nggak lugu harus gimana..?” jawab saya.<br />
“Yah.. lebih dewasa Dong..!” tegasnya.<br />
Lalu, tiba-tiba tangan Tante Stella sudah memegang tangan saya duluan, dan tentu saja saya kaget setengah mati.</p>
<p style="text-align: justify;">“Rud.. mau kan tolongin Tante..?” tanya si Tante dengan manja.<br />
“Loh.. tolongin apalagi nih Tante..?” jawab saya.<br />
“Tolong puaskan Tante, Tante kesepian nih..!” jawab si Tante.<br />
Astaga, betapa kagetnya saya mendengar kalimat itu keluar dari mulut Tante Stella yang memiliki rambut sebahu. Saya benar-benar tidak membayangkan kalau ibu bunga kampus saya, bahkan ibu murid saya sendiri yang meminta seperti itu. Memang tidak pernah ada keinginan untuk “bercinta” dengan Tante Stella ini, karena selama ini saya menganggap dia sebagai seorang ibu yang baik dan bertanggung jawab.<br />
“Wah.. saya harus memuaskan Tante dengan apa dong..?” tanya saya sambil bercanda.<br />
“Yah.. kamu pikir sendirilah, kan kamu sudah dewasa kan..?” jawabnya.<br />
<span id="more-2646"></span><br />
Lalu akhirnya saya terbawa nafsu setan juga, dan mulai memberanikan diri untuk memeluknya dan kami mulai berciuman di ruang keluarganya. Dimulai dengan mencium bibirnya yang tipis, dan tanganku mulai meremas-remas payudaranya yang masih montok itu. Tante Stella juga tidak mau kalah, dia langsung meremas-remas alat kelaminku dengan keras. Mungkin karena selama ini tidak ada pria yang dapat memuaskan nafsu seksnya yang ternyata sangat besar ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Akhirnya setelah hampir selama setengah jam kami berdua bercumbu, Tante Stella menarik saya ke kamar tidurnya. Sesampainya di kamar tidurnya, dia langsung melucuti semua baju saya, pertama-tama dia melepas kemeja saya sambil menciumi dada saya. Bukan main nafsunya si Tante, pikirku. Dan akhirnya, sampailah pada bagian celana. Betapa nafsunya dia ingin melepaskan celana Levi’s saya. Dan akhirnya dia dapat melihat betapa tegangnya batang kemaluan saya.</p>
<p style="text-align: justify;">“Wah.. Rud, gede juga nih punya kamu..” kata si Tante sambil bercanda.<br />
“Masa sih Tante..? Perasaan biasa-biasa saja deh..!” jawab saya.<br />
Dalam keadaan saya berdiri dan Tante Stella yang sudah jongkok di depan saya, dia langsung menurunkan celana dalam saya dan dengan cepatnya dia memasukkan batang kemaluan saya ke dalam mulutnya. Aghh, nikmat sekali rasanya. Karena baru pertama kali ini saya merasakan oral seks. Setelah dia puas melakukan oral dengan kemaluan saya, kemudian saya mulai memberanikan diri untuk bereaksi.</p>
<p style="text-align: justify;">Sekarang gantian saya yang ingin memuaskan si Tante. Saya membuka bajunya dan kemudian saya melepaskan celana panjangnya. Setelah melihat keadaan si Tante dalam keadaan tanpa baju itu, tiba-tiba libido seks saya menjadi semakin besar. Saya langsung menciumi payudaranya sambil meremas-remas, sementara itu Tante Stella terlihat senangnya bukan main. Lalu saya membuka BH hitamnya, dan mulailah saya menggigit-gigit putingnya yang sudah mengeras.<br />
“Oghh.. saya merindukan suasana seperti ini Rud..!” desahnya.<br />
“Tante, saya belum pernah gituan loh, tolong ajarin saya yah..?” kata saya.</p>
<p style="text-align: justify;">Karena saya sudah bernafsu sekali, akhirnya saya mendorong Tante jatuh ke ranjangnya. Dan kemudian saya membuka celana dalamnya yang berwarna hitam. Terlihat jelas klitoris-nya sudah memerah dan liang kemaluannya sudah basah sekali di antara bulu-bulu halusnya. Lalu saya mulai menjilat-jilat kemaluan si Tante dengan pelan-pelan.<br />
“Ogh.. Rud, pintar sekali yah kamu merangsang Tante..” dengan suara yang mendesah.<br />
Tidak terasa, tahu-tahu rambutku dijambaknya dan tiba-tiba tubuh Tante mengejang dan saya merasakan ada cairan yang membanjiri kemaluannya, wah.. ternyata dia orgasme! Memang berbau aneh sih, karena berhubung sudah dilanda nafsu, bau seperti apa pun tentunya sudah tidak menjadi masalah.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah itu kami merubah posisi menjadi 69, posisi ini baru pertama kalinya saya rasakan, dan nikmatnya benar-benar luar biasa. Mulut Tante menjilati kemaluan saya yang sudah mulai basah dan begitupun mulut saya yang menjilat-jilat liang kemaluannya. Setelah kami puas melakukan oral seks, akhirnya Tante Stella sekarang meminta saya untuk memasukkan batang kemaluan saya ke dalam lubang kemaluannya.<br />
“Rud.. ayoo Dong, sekarang masukin yah, Tante sudah tidak tahan nih..!” pinta si Tante.<br />
“Wah.. saya takut kalo Tante hamil gimana..?” tanya saya.<br />
“Nggak usah takut deh, Tante minum obat kok, pokoknya kamu tenang-tenang aja deh..!” sambil berusaha meyakinkan saya.</p>
<p style="text-align: justify;">Benar-benar nafsu setan sudah mempengaruhi saya, dan akhirnya saya nekad memasukkan kemaluan saya ke dalam lubang kemaluannya. Oghh, nikmatnya.. Setelah akhirnya masuk, saya melakukan gerakan maju-mundur dengan pelan.<br />
“Ahh.. dorong terus Dong Rud..!” pinta si Tante dengan suara yang sudah mendesah sekali.<br />
Mendengar desahannya, saya menjadi semakin nafsu, dan saya mulai mendorong dengan kencang dan cepat. Sementara itu tangan saya asyik meremas-remas payudaranya, sampai tiba-tiba tubuh Tante Stella mengejang kembali. Astaga, ternyata dia orgasme yang kedua kalinya.</p>
<p style="text-align: justify;">Dan kemudian kami berganti posisi, saya di bawah dan dia di atas saya. Posisi ini adalah idaman saya kalau sedang bersenggama. Dan ternyata posisi pilihan saya ini memang tidak salah, benar-benar saya merasakan kenikmatan yang luar biasa dengan posisi ini. Sambil merasakan gerakan naik-turunnya pinggul si Tante, tangan saya tetap sibuk meremas payudaranya lagi.<br />
“Oh.. oh.. nikmat sekali Rudy..!” teriak si Tante.<br />
“Tante.. saya kayaknya sudah mau keluar nih..!” kata saya.<br />
“Sabar yah Rud.. tunggu sebentar lagi, Tante juga udah mau keluar lagi nih..!” jawab si Tante.</p>
<p style="text-align: justify;">Akhirnya saya tidak kuat menahan lagi, dan keluarlah cairan mani saya di dalam liang kemaluan si Tante, begitu juga dengan si Tante.<br />
“Arghh..!” teriak Tante Stella.<br />
Tante Stella kemudian mencakar pundak saya, sementara saya memeluk badannya dengan erat sekali. Sungguh luar biasa rasanya, otot-otot kemaluannya benar-benar meremas batang kemaluan saya.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah itu kami berdua letih, tanpa disadari kami telah sejam bersenggama, saya akhirnya bangun. Saya memakai baju saya kembali dan menuju ke ruang keluarga. Ketika melihat Tante Stella dalam keadaan telanjang menuju ke dapur, mungkin dia sudah biasa seperti itu, entah kenapa, tiba-tiba sekarang giliran saya yang nafsu melihat pinggulnya dari belakang. Tanpa bekata-kata, saya langsung memeluk Tante Stella dari belakang, dan mulai lagi meremas-remas payudaranya dan pantatnya yang montok serta menciumi lehernya. Tante pun membalasnya dengan penuh nafsu juga. Tante langsung menciumi bibir saya, dan memeluk saya dengan erat.</p>
<p style="text-align: justify;">“Ih.. kamu ternyata nafsuan juga yah anaknya..?” kataya sambil tertawa kecil.<br />
“Agh.. Tante bisa aja deh..!” jawab saya sambil menciumi bibirnya kembali.<br />
Karena sudah terlalu nafsu, saya mengajaknya untuk sekali lagi bersenggama, dan si Tante setuju-setuju saja. Tanpa ada perintah dari Tante Stella, kali ini saya langsung membuka celana dan baju saya kembali, sehingga kami dalam keadaan telanjang kembali di ruang keluarga. Karena keadaan tempat kurang nyaman, maka kami hanya melakukannya dengan gaya dogie style.</p>
<p style="text-align: justify;">“Um.. dorong lebih keras lagi dong Rud..!” desahnya.<br />
Semakin nafsu saja saya mendengar desahannya yang menurut saya sangat seksi. Maka semakin keras juga sodokan saya kepada si Tante, sementara itu tangan saya menjamah semua bagian tubuhnya yang dapat saya jangkau.<br />
“Rud.. mandi yuk..!” pintanya.<br />
“Boleh deh Tante, berdua yah tapinya, terus Tante mandiin saya yah..?” jawab saya.</p>
<p style="text-align: justify;">Akhirnya kami berdua yang telanjang menuju ke kamar mandi. Di kamar mandi saya duduk di atas closed, dan kemudian saya menarik Tante Stella untuk menciumi kemaluannya yang mulai basah kembali. Dan Tante mulai terangsang kembali.<br />
“Hm.. nikmat sekali jilatanmu Rud.. agghh..!” desahnya.<br />
“Rud.. kamu sering-sering ke sini Rud..!” katanya dengan nafas memburu.<br />
Setelah puas menjilatinya, saya angkat Tante Stella agar duduk di atas saya, dan batang kemaluan saya kembali dibimbingnya masuk ke dalam lubang kemaluannya. Kali ini rasa nikmatnya lebih banyak terasa. Goyangan si Tante yang naik-turun yang makin lama makin cepat membuat saya akhirnya “KO” kembali. Saya mengeluarkan air mani ke dalam lubang kemaluannya. Tante Stella kemudian menjilati kemaluan saya yang sudah berlumuran dengan air mani, dihisapnya semua sampai bersih. Setelah itu kami mandi bersama.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah selesai mandi, saya pamit pulang karena baru tersadar bahwa perbuatan saya amat berbahaya bila diketahui oleh Bapak Gatot, Indah teman sekampus saya, apalagi Noni murid saya itu. Sampai sekarang kami masih sering bertemu dan melakukan persetubuhan, tetapi tidak pernah lagi di rumah, Tante memesan kamar hotel berbintang dan kami bertemu di sana.</p>
<p style="text-align: justify;">Selepas pengalaman itu, saya menjadi lebih berani pada wanita, dan menikmati persetubuhan dengan beberapa wanita setengah baya yang kesepian dan butuh pertolongan tanpa dibayar.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ceritasex.cn/nikmatnya-tante-stella/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kuperkosa Tanteku</title>
		<link>http://www.ceritasex.cn/kuperkosa-tanteku/</link>
		<comments>http://www.ceritasex.cn/kuperkosa-tanteku/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 02 Jun 2011 06:01:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cerita Sex</dc:creator>
				<category><![CDATA[Paruh baya]]></category>
		<category><![CDATA[Pemerkosaan]]></category>
		<category><![CDATA[Seks Umum]]></category>
		<category><![CDATA[selingkuh]]></category>
		<category><![CDATA[ml]]></category>
		<category><![CDATA[ngentot]]></category>
		<category><![CDATA[ngeseks]]></category>
		<category><![CDATA[perkosa]]></category>
		<category><![CDATA[tante]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ceritasex.cn/?p=2391</guid>
		<description><![CDATA[Saya Dito&#8230;..umur 23 tahun baru lulus dari salah satu universitas ternama di Malang. Dan saya berasal dari keluarga baik-baik. Kejadian ini dimulai ketika saya menginap di rumah om saya di daerah sidoarjo. Om saya telah menikah dan memiliki 2 anak lelaki yang lucu umur 3 dan 5 tahun, serta memiliki istri yang cukup cantik (menurut [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Saya Dito&#8230;..umur 23 tahun baru lulus dari salah satu universitas ternama di Malang. Dan saya berasal dari keluarga baik-baik. Kejadian ini dimulai ketika saya menginap di rumah om saya di daerah sidoarjo. Om saya telah menikah dan memiliki 2 anak lelaki yang lucu umur 3 dan 5 tahun, serta memiliki istri yang cukup cantik (menurut saya) umurnya sekitar 27 tahun. saya sendiri tinggal disurabaya kurang lebih jarak tempat tinggalku dengan tante adalah 19 Km&#8230; Awal kejadiannya adalah pada hari sabtu malam saya mendengar pertengkaran di rumah tersebut, yang tidak lain adalah om saya dengan tante saya. Ternyata penyakit &#8216;gatel&#8217; om saya kambuh lagi yaitu sering pergi ke diskotik bersama temannya. Hal tersebut sangat menyakitkan tante saya, karena di sana om saya akan mabuk-mabukan dan terkadang pulangnya bisa pada hari Minggu malam. Entahlah apa yang dilakukan di sana bersama teman-temannya. Dan pada saat itu hanya aku bertiga saja di rumah: saya, Om Pram dan Tante Sis.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Brak..&#8221; suara gelas pecah menghantam pintu, cukup membuat saya kaget, dan om saya dengan marah-marah berjalan keluar kamar. Dari dalam kamar terdengar tante saya berteriak, &#8220;Nggak usah pulang sekalian, cepet ceraikan aku.&#8221; Dalam hatiku berkata, &#8220;Wah ribut lagi.&#8221; Om Pram langsung berjalan keluar rumah, menstarter mobil Tarunanya dan pergi entah ke mana. Di dalam kamar, aku mendengar Tante Sis menangis. Aku mau masuk ke dalam tapi takut kena damprat olehnya (kesalahan Om Pram dilimpahkan kepadaku). Tapi aku jadi penasaran juga. Takut nanti terjadi apa-apa terhadap Tante Sis. Maksudku akibat kecewa sama Om Pram dia langsung bunuh diri. Pelan-pelan kubuka pintu kamarnya. Dan kulihat dia menangis menunduk di depan meja rias. Aku berinisiatif masuk pelan-pelan sambil menghindari pecahan gelas yang tadi sempat dilemparkan oleh Tante Sis. Kuhampiri dia dan dengan pelan. Aku bertanya, &#8220;Kenapa Tan? Om kambuh lagi?&#8221; Dia tidak menjawab, hanya diam saja dan sesekali terdengar isak tangisnya. Cukup lama aku berdiri di belakangnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Pada waktu itu aku hanya memandangnya dari belakang, dan kulihat ternyata Tante Sis mengenakan baju tidur yang cukup menggiurkan. Pada saat itu aku belum berpikiran macam-macam. Aku hanya berkesimpulan mungkin Tante Sis mengajak Om Pram, berdua saja di rumah, karena anak-anak mereka sedang pergi menginap di rumah adik Tante Sis. Dan mungkin juga Tante Sis mengajak Om bercinta (karena baju yang dikenakan cukup menggiurkan, daster tipis, dengan warna pink dan panjang sekitar 15 cm di atas lutut). Tetapi Om Pram tidak mau, dia lebih mementingkan teman-temannya dari pada Tante Sis. Tiba-tiba Tante Sis berkata, &#8220;To, Om kamu kayaknya udah nggak sayang lagi sama Tante. Sekarang dia pergi bersama teman-temannya ke Surabaya, ninggalin Tante sendirian di rumah, apa Tante udah nggak cakep lagi.&#8221; Ketika Tante Sis berkata demikian dia berbalik menatapku. Aku setengah kaget, ketika mataku tidak sengaja menatap buah dadanya (kira-kira berukuran 34). Di situ terlihat puting susunya yang tercetak dari daster yang dikenakannya.<br />
<span id="more-2391"></span><br />
Aku lumayan kaget juga menyaksikan tubuh tanteku itu. Aku terdiam sebentar dan aku ingat tadi Tante Sis menanyakan sesuatu, aku langsung mendekatinya (dengan harapan dapat melihat payudaranya lebih dekat lagi). &#8220;Tante masih cantik kok, dan Om kan pergi sama temannya. Jadi nggak usah khawatir Tan!&#8221; &#8220;Iya tapi temennya itu brengsek semua, mereka pasti mabuk-mabukan lagi dan main perempuan di sana.&#8221; Aku jadi bingung menjawabnya. Secara refleks kupegang tangannya dan berkata, &#8220;Tenang aja Tan, Om nggak bakal macem-macem kok.&#8221; (tapi pikiranku sudah mulai macam-macam). &#8220;Tapi Tante denger dia punya pacar di surabaya, malahan Tante kemarin pergoki dia telponan ama cewek, kalo nggak salah namanya Sella.&#8221; &#8220;Masak Om tega sih ninggalin Tante demi cewek yang baru kenal, mungkin itu temennya kali Tan, dan lagian Tante masih tetap cantik kok.&#8221; Tanpa Tante Sis sadari tangan kananku sudah di atas paha Tante Sis karena tangan kiriku masih memegang tangannya.</p>
<p style="text-align: justify;">Perlahan-lahan pahanya kuusap secara halus, hal ini kulakukan karena aku berkesimpulan bahwa tanteku sudah lama tidak disentuh secara lembut oleh lelaki. Tiba-tiba tanganku yang memegang pahanya ditepis oleh Tante Sis, dan berdiri dari duduknya, &#8220;To, saya tantemu saya harap kamu jangan kurang ajar sama Tante, sekarang Tante harap kamu keluar dari kamar tante sekarang juga!&#8221; Dengan nada marah Tante Sis mengusirku. Cukup kaget juga aku mendengar itu, dan dengan perasaan malu aku berdiri dan meminta maaf, kepada Tante Sis karena kekurangajaranku. Aku berjalan pelan untuk keluar dari kamar tanteku. Sambil berjalan aku berpikir, aku benar-benar terangsang dan tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan ini. Sejak aku putus dengan pacarku, terus terang kebutuhan biologisku kusalurkan lewat tanganku. Setelah sampai di depan pintu aku menoleh kepada Tante Sis lagi. Dia hanya berdiri menatapku, dengan nafas tersenggal-senggal (mungkin marah bercampur sedih menjadi satu).</p>
<p style="text-align: justify;">Aku membalikkan badan lagi dan di pikiranku aku harus mendapatkannya malam ini juga. Dengan masa bodoh aku menutup pintu kamar dari dalam dan menguncinya, lalu langsung berbalik menatap tanteku. Tante Sis cukup kaget melihat apa yang aku perbuat. Otakku sudah dipenuhi oleh nafsu binatang. &#8220;Mau apa kamu To?&#8221; tanyanya dengan gugup bercampur kaget. &#8220;Tante mungkin sekarang Om sedang bersenang-senang bersama pacar barunya, lebih baik kita juga bersenang-senang di sini, saya akan memuaskan Tante&#8221;. Dengan nafsu kutarik tubuh tanteku ke ranjang, dia meronta-ronta, tetapi karena postur tubuhku lebih besar (tinggiku 182 cm dan beratku 75 kg, sedangkan Tante Sis memiliki tinggi tubuh sekitar 165 cm dan berat kurang lebih 50 kg) aku dapat mendorongnya ke ranjang, lalu menindihnya. &#8220;Lepasin Tante, Dito,&#8221; suara keluar dari mulutnya tapi aku sudah tidak peduli dengan rontaannya. Dasternya kusingkap ke atas. Ternyata Tante Sis tidak mengenakan celana dalam sehingga terpampang gundukan bukit kemaluannya yang menggiurkan, dan dengan kasar kutarik dasternya bagian atas hingga payudaranya terpampang di depanku.</p>
<p style="text-align: justify;">Dengan bernafsu aku langsung menghisap putingnya, tubuh tanteku masih meronta-ronta, dengan tidak sabar aku langsung merobek dasternya dan dengan nafsu kujilati seluruh tubuhnya terutama payudaranya, cukup harum tubuh tanteku. Akibat rontaannya aku mengalami kesulitan untuk membuka pakaianku, tapi pelan-pelan aku dapat membuka baju dan celanaku. Sambil membuka baju dan celanaku itu, dengan bergantian tanganku mengusap bukit kemaluannya yang menurutku mulai basah (mungkin Tante Sis sudah mulai terangsang walaupun masih berkurang tetapi frekuensinya agak menurun sedikit). kemaluanku telah berdiri tegak dan kokoh nafsu telah menyelimuti semua kesadaranku bahwa yang kugeluti ini adalah isteri pamanku sendiri&#8230;.yaitu tanteku&#8230;. Dengan tidak sabar aku langsung berusaha membenamkan kejantananku ke liang TANTEKU&#8230;&#8230;&#8230;.. , Aku agak kesulitan menemukan celah kewanitaan tanteku,kadang kemaluanku meleset keatas dan bahkan kadang meleset kearah lubang anus tanteku .</p>
<p style="text-align: justify;">Ini disebabkan tanteku bergerak kesana kemari berusaha menghindar dan menghalangi kemaluanku yang sudah siap tempur ini&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230; &#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;.. &#8220;To, jangan To, aku Tantemu tolong lepasin To, ampun, Tante minta ampun&#8221;. Aku sudah tidak peduli lagi Rengekannya. &#8230;&#8230;.usahaku kepalang tanggung dan harus berhasil&#8230;&#8230;karena gagalpun mungkin akibatnya akan sama bahkan mungkin lebih fatal akibatnya&#8230;&#8230;. Ketika lubang senggamanya kurasa sudah pas dengan dibantu cairan yang keluar dari liang kewanitaannya aku langsung menghujamkan senjataku. &#8220;Auuhh, sakit To, aduh.. Tante minta ampun.. tolong To jangan lakukan &#8230;..lepasin Tante To..&#8221; Ketika mendengar rintihannya, aku jadi kasihan, tetapi senjataku sudah di dalam, &#8220;Maaf Tante, saya sudah tidak tahan dan punyaku sudah terlanjur masuk nih&#8230;..,&#8221; bisikku ke telinganya. Tante Sis hanya diam saja. Dan tidak berkata apa-apa. Dengan pelan dan pasti aku mulai memompa kemaluanku naik turun, &#8230;&#8230;..tanteku menggelinjang hebat&#8230;..seakan akan masih ada sedikit pemberontakan dalam dirinya&#8230;.</p>
<p style="text-align: justify;">ssshhhhhhhhh&#8230;.tanteku hanya mendesis lirih sambil menolehkan kepalanya kekiri dan kekanan tak mau menatap wajahku&#8230;&#8230;.kemudian Dia hanya diam pasrah dan kulihat air matanya berlinang keluar. Kucium keningnya dan bibirnya, sambil membisikkan, &#8220;Tante, Tante masih cantik dan tetap mengairahkan kok, saya sayang Tante, bila Om sudah tidak sayang lagi, biar Dito yang menyayangi Tante.&#8221; Tante Sis hanya diam saja, dan kurasakan pinggulnya pun ikut bergoyang seirama dengan goyanganku. kemaluanku kudorong perlahan &#8230;seakan ingin menikmati kenyamanan ini dengan waktu yang lama&#8230;&#8230;.. cllkk&#8230;.clllkkkk.cclkkkk bunyi badanku beradu dengan badan tanteku&#8230;&#8230;.seirama keluar masuknya kemaluanku kedalam liang senggamanya yangbetul betul enak&#8230;&#8230; Kira-kira 10 menit aku merasakan liang kewanitaan tanteku semakin basah dan kakinya menyilang di atas pinggulku dan menekan kuat-kuat mungkin tanteku sedang orgasme&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;.. &#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230; &#8230;.. kudiamkan sejenak &#8230;..kubiarkan tanteku menikmati orgasmenya&#8230;&#8230;&#8230;</p>
<p style="text-align: justify;">Kubenamkan lebih dalam kemaluanku ,sambil memeluk erat tubuhnya iapun membalasnya erat&#8230;..kurasakan tubuh tanteku bergetar&#8230;. kenikmatan yang dahsyat telah didapatkannya&#8230;&#8230;. kubalik badan tanteku dan sekarang dia dalam posisi diatas&#8230;&#8230;kemaluanku masih terbenam dalam kewanitaan tanteku&#8230;&#8230;tapi dia hanya diam saja sambil merebahkan tubuhnya diatas tubuhku,&#8230;.lalu kuangkat pinggul tanteku perlahan&#8230;..dan menurunkannya lagi&#8230;.kuangkat lagi&#8230;&#8230;dan kuturunkan lagi&#8230;&#8230;.kemaluanku yang berdiri tegak menyodok deras keatas &#8230;kelubang nikmatnya&#8230;&#8230; akhirnya tanpa kubantu &#8230;.tanteku menggoyangkan sendiri pantatnya naik turun&#8230;.. oooooooccchhhhhhhh&#8230;&#8230;.aku yang blingsatan kenikmatan&#8230; rupanya tanteku mahir dengan goyangannya diposisi atas&#8230;. kenikmatan maximum kudapatkan dalam posisi ini&#8230;. rupanya tanteku mengetahui keadaan ini &#8230;ia tambah menggoyang goyangkan pantatnya meliuk liuk persis pantat Anisa bahar penyanyi dangdut dengan goyang patah patahnya&#8230;&#8230;. oooooochhhhhh,&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;sshh h&#8230;&#8230;kali ini aku yang mirip orang kepedasan</p>
<p style="text-align: justify;">aku mengangkat kepalaku&#8230;kuhisap puting susu tanteku&#8230;.. ia mengerang&#8230;&#8230;..goyangannya tambah dipercepat&#8230;. dan 5 menit berjalan &#8230;&#8230;.tanteku bergetar lagi&#8230;&#8230;ia telah mendapatkan orgasmenya yang kedua&#8230;&#8230; pundakku dicengkeramnya erat&#8230;&#8230; ssshhhhhhh&#8230;&#8230;&#8230;bibir bawahnya digigit&#8230;sambil kepalanya menengadah keatas&#8230;.. &#8220;to&#8230;.bangsat kamu&#8230;&#8230;.tante kok bisa jadi gini&#8230;..ssssshhhh &#8230;.tante udah 2 kali kluarrrrrrrr&#8230;&#8221;&#8230;.. aku hanya tersenyum&#8230;.. &#8220;tulangku rasa lepas semua to&#8230;.&#8221; aku kembali tersenyum&#8230; &#8220;tante gak pernah klimaks lebih dari 1 x kalo dengan ommu..&#8221; kubalik kembali badan tanteku dengan posisi konvensional.. kugenjot dengan deras kewanitaannya&#8230;.. oooohhh oohhh&#8230;.ssshhhhh tanteku kembali menggeliat pinggulnya mulai bergoyang pula mengimbangi genjotanku&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;.. aku pun sudah kepengen nyampe&#8230;&#8230;. dan tidak lama kemudian akupun mengeluarkan spermaku di dalam liang senggamanya. ssshhhhhh&#8230;&#8230;aaachhhhhhh&#8230;. &#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;. spermaku tumpah dengan derasnya kedalam liang senggama tanteku&#8230;&#8230;..</p>
<p style="text-align: justify;">mata tanteku sayu menatapku klimaks&#8230;&#8230;&#8230; permainan panjang yang sangat melelahkan&#8230;&#8230;yang diawali dengan pemaksaan dan perkosaaan yang ahirnya berkesudahan dengan kenikmatan puncak yang sama sama diraih&#8230;&#8230;. kulihat terpancar kepuasaan yang amat sangat diwajah tanteku&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;.. &#8220;kamu harus menjaga rahasia ini to&#8230;..&#8221; aku hanya mengangguk&#8230;. dan sekarang tanteku tak perduli lagi kalau om ku mau pulang atau tidak&#8230;&#8230;. karena kalau om ku keluar malam maka tanteku akan menghubungiku via HP untuk segera kerumahnya&#8230;..</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ceritasex.cn/kuperkosa-tanteku/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tante Yeni Yang Bikin Horny</title>
		<link>http://www.ceritasex.cn/tante-yeni-yang-bikin-horny/</link>
		<comments>http://www.ceritasex.cn/tante-yeni-yang-bikin-horny/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 01 Jun 2011 01:43:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cerita Sex</dc:creator>
				<category><![CDATA[Amoy]]></category>
		<category><![CDATA[Foto Mesum]]></category>
		<category><![CDATA[Tante Girang]]></category>
		<category><![CDATA[bugil]]></category>
		<category><![CDATA[seksi]]></category>
		<category><![CDATA[tante]]></category>
		<category><![CDATA[tante yeni]]></category>
		<category><![CDATA[telanjang]]></category>
		<category><![CDATA[toket]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ceritasex.cn/?p=2374</guid>
		<description><![CDATA[aduh tante yeni ini bikin kontol ngaceng aja deh&#8230; ah uh ngentot yuk tante&#8230;]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">aduh tante yeni ini bikin kontol ngaceng aja deh&#8230; ah uh ngentot yuk tante&#8230;</p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2011/06/tante-yeni-seksi-bikin-horny-1.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-2375" title="tante-yeni-seksi-bikin-horny-1" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2011/06/tante-yeni-seksi-bikin-horny-1-225x300.jpg" alt="" width="225" height="300" /></a></p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2011/06/tante-yeni-seksi-bikin-horny-2.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-2376" title="tante-yeni-seksi-bikin-horny-2" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2011/06/tante-yeni-seksi-bikin-horny-2-225x300.jpg" alt="" width="225" height="300" /></a> <a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2011/06/tante-yeni-seksi-bikin-horny-3.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-2377" title="tante-yeni-seksi-bikin-horny-3" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2011/06/tante-yeni-seksi-bikin-horny-3-225x300.jpg" alt="" width="225" height="300" /></a></p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2011/06/tante-yeni-seksi-bikin-horny-4.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-2378" title="tante-yeni-seksi-bikin-horny-4" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2011/06/tante-yeni-seksi-bikin-horny-4-225x300.jpg" alt="" width="225" height="300" /></a></p>
<p><span id="more-2374"></span></p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2011/06/tante-yeni-seksi-bikin-horny-5.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-2379" title="tante-yeni-seksi-bikin-horny-5" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2011/06/tante-yeni-seksi-bikin-horny-5-225x300.jpg" alt="" width="225" height="300" /></a></p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2011/06/tante-yeni-seksi-bikin-horny-6.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-2380" title="tante-yeni-seksi-bikin-horny-6" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2011/06/tante-yeni-seksi-bikin-horny-6-225x300.jpg" alt="" width="225" height="300" /></a> <a href="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2011/06/tante-yeni-seksi-bikin-horny-7.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-2381" title="tante-yeni-seksi-bikin-horny-7" src="http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2011/06/tante-yeni-seksi-bikin-horny-7-225x300.jpg" alt="" width="225" height="300" /></a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ceritasex.cn/tante-yeni-yang-bikin-horny/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

