<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Cerita sex porno ngentot mesum perek ayam kampus &#187; tukar pasangan</title>
	<atom:link href="http://www.ceritasex.cn/tag/tukar-pasangan/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.ceritasex.cn</link>
	<description>Kumpulan cerita sex, foto bugil, dan film porno</description>
	<lastBuildDate>Fri, 10 Feb 2012 08:52:36 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
		<item>
		<title>Ohh.. Dua Penis Pasti Lebih Enak</title>
		<link>http://www.ceritasex.cn/ohh-dua-penis-pasti-lebih-enak/</link>
		<comments>http://www.ceritasex.cn/ohh-dua-penis-pasti-lebih-enak/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 11 Sep 2011 11:16:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cerita Sex</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ekshibionis]]></category>
		<category><![CDATA[Gangbang Rame Rame]]></category>
		<category><![CDATA[Om Senang]]></category>
		<category><![CDATA[Orgy]]></category>
		<category><![CDATA[Seks Umum]]></category>
		<category><![CDATA[Tante Girang]]></category>
		<category><![CDATA[bercinta]]></category>
		<category><![CDATA[double penetrartion]]></category>
		<category><![CDATA[fantasi seks]]></category>
		<category><![CDATA[gangbang]]></category>
		<category><![CDATA[kontol]]></category>
		<category><![CDATA[ml]]></category>
		<category><![CDATA[ngentot]]></category>
		<category><![CDATA[orgasme]]></category>
		<category><![CDATA[sex fantasy]]></category>
		<category><![CDATA[tukar pasangan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ceritasex.cn/?p=2843</guid>
		<description><![CDATA[Kami adalah pasangan suami istri yang selalu mempunyai daya khayal seks, suamiku 36 tahun sedang aku 31 tahun, aku akan menceritakan sedikit pengalaman ku&#8230;. Malam jum&#8217;at minggu lalu ketika aku bersetubuh dengan suamiku dan pas lagi enak enaknya persetubuhan kami, suamiku sempet nyinggung mengenai 3some, awalnya aku cuek aja karena lagi menikmati kocokan penis suamiku, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Kami adalah pasangan suami istri yang selalu mempunyai daya khayal seks, suamiku 36 tahun sedang aku 31 tahun, aku akan menceritakan sedikit pengalaman ku&#8230;.</p>
<p style="text-align: justify;">Malam jum&#8217;at minggu lalu ketika aku bersetubuh dengan suamiku dan pas lagi enak enaknya persetubuhan kami, suamiku sempet nyinggung mengenai 3some, awalnya aku cuek aja karena lagi menikmati kocokan penis suamiku, trus aku bilang aja&#8230;.1 aja dah enak&#8230;pa Akhhhmmmm .. Aku hampir mendekati puncak orgasme, coba dua penis pasti lebih enak..ma kata suamiku. Ahhh akkhh iya pa.. Mama mau pake dua penis ahhh&#8230;. Mama sampe paaa, aku mencapai orgasme.</p>
<p style="text-align: justify;">besok malamnya suamiku stel VCD bokep yg ada 3some nya, aku ikut nonton&#8230;. Kami sama sama bugil dan memang itu kebiasaan kami kalau lagi nonton film blue Film di tv tersebut menceritakan seorang cewe asia yang sedang bersetubuh dengan dua orang bule Cewe asia yang rata rata bertubuh mungil, sedang di entot oleh dua bule yang penis kedua bule itu super gede, aku terangsang sampe gak habis fikir, kok cewe asia yang semungil itu demikian menikmati kontol2 gede kedua bule tersebut, apa gak koyak memeknya Cewe itu mencoba mengulum penis bule itu, tp mulutnya hanya mampu menampung kepala nya aja, bayangkan sebesar apa penis bule itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Sedangkan bule yang satu lagi sedang mengocok si cewe dengan kontolnya dengan gaya nungging dari belakang, cewe asia itu menjerit histeri keenakan memek nya di jejali penis besar dan panjang, terlihat memek cewe asia itu gak sanggup menampung semua batang penis si bule tadi Aku semakin terangsang melihat film itu, sang cewe tidak henti hentinya mendesah keenakan, entah sudah berapa kali klimaks</p>
<p style="text-align: justify;">Kulihat penis suamiku juga sangat tegang, tapi ukuran nya sangat jauh berbeda dengan penis bule yang di tv, perbandingan nya mungkin cuma setengah aja</p>
<p style="text-align: justify;">Aku membayangkan kalo saja penis suamiku sebesar penis bule yang di TV, betapa nikmat rasanya, memek akan penuh gak ada ruang longgar yang tersisa, khayalanku meninggi nafsu ku sudah tidak terkendali lagi, dengan jari tangan sambil menggesek memek ku sendiri yang sudah basah aku juga terbawa suasana erotis, kutambah 2 jari lagi 3 jari kumasukkan sekaligus kedalam memek ku, ku kocok semakin cepat dan semakin dalam, jari2 ku sudah basah becek sekali suara kocokan jari ku terdengar jelas dan sahut menyahut dengan suara desahan cewe asia di tv yang sedang di entot bule.</p>
<p style="text-align: justify;">aku sudah meninggi dan mendekati orgasme dengan tangan ku sendiri, ku lihat suamiku dia hanya senyum saja melihat aku akan meledak mendekati puncak orgasme dan akhh&#8230; pertahanan ku jebol, aku klimaks akhhh ohhhgg nikmat sekali&#8230;</p>
<p style="text-align: justify;">Aku orgasme membayangkan memek ku di jejali penis bule yang besar dan panjang di tv.</p>
<p style="text-align: justify;">Waktu itu aku dan suamiku serius banget nonton nya dan tiba2 aku ngomong, enak kali yah pake dua penis cewek nya bisa puas banget, Apalagi penis nya yang segede dan sepanjang itu ya pa&#8230; nah gimana mama mau coba kata suamiku, papa punya kenalan orang nya bersih koq kata suamiku. emang papa tau dari mana, kalau teman papa itu penis nya gede dan panjang pa&#8230; Waktu itu pas di toilet mall jayakarta mulia ketemu di WC, sama sama pipis, pas papa lihat ke samping orang itu juga lagi pipis Trus papa ngintip yaaa Bukan, papa cuma gak sengaja terlihat kontolnya aja kok, trus ngobrol ngobrol dengan orang itu, ternyata propesinya tukang pijat, tapi masih muda kok ma.. umurnya paling juga 25 tahun, gimana ma Emangnya waktu papa lihat kontolnya segede apa sih pa, segede penis bule yang di TV itu ya pa.. selidik ku penasaran.<br />
<span id="more-2843"></span><br />
Waktu itu kan belum tegang kontolnya ma, tapi udah sebesar penis punya papa Hahh jd kalau tegang sebesar apa paa.. memek mama mana tahan kena penis sebesar itu Ya mana papa tau sebesar apa kontolnya, tapi nampak nya kepala penis nya model besar, dan kelihatan urat urat nya menonjol besar besar aku semakin penasaran dan mencoba memancing suamiku lebih jauh Kata orang kepala penis model besar, cepat bikin cewe pasangan nya orgasme ya pa Kata siapa tuh ma&#8230;</p>
<p style="text-align: justify;">Tuti Teman mama, kepala penis suaminya macam jamur katanya, terus kata istrinya kalau pas kontolnya ditarik keluar, macam tersedot vaginanya, beberapa kali kocokan aja tuti langsung terkapar orgasme, bentar aja udah capai klimaks pa&#8230; Mungkin juga ma, soalnya macam klep pompa kali ma.. Pasti nikmat kali ya pa, kalau memek mama ini di isi sama penis kepala jamur, ihhh sampe merinding mama bayangin penis kepala jamur pa&#8230;. Nah kepingin ya rasaian penis gede&#8230; Akhh papa&#8230; Mama Ee ehhh mama cuma pengen rasain aja pa.. Mama Pengen memek mama terasa sesak, di jejali penis besar, sekali kali boleh dong pa&#8230; Kan bosan pake penis yang ini terus Sambil ku remas penis suamiku</p>
<p style="text-align: justify;">Kebiasaan ku sering menggoda suamiku sewaktu ada cewe yang susu nya gede atau pantat nya bohai, pasti aku akan menggoda imajinasi suamiku untuk mencoba gimana rasanya penis dengan suamiku</p>
<p style="text-align: justify;">Dan suamiku selalu menimpali dengan tak kalah serunya, dan ini menjadi imajinasi bagi kami berdua, dan biasanya sewaktu diranjang aku selalu memancing suamiku untuk ber imajinasi sedang penis dengan cewe yang kita temui tadi,</p>
<p style="text-align: justify;">Pernah suatu ketika waktu itu hari minggu, aku dan suamiku jalan ke mall di depan kami sedang jalan seorang wanita dengan pakaian yang cukup minim, dan cewe itu terlihat cukup seksi, pantatnya yang semok dengan bulatan pantat yang menantang dan payudara yang besar menantang ukuran, cewe itu terlihat tidak memakai bra sehingga puting nya samar2 tercetak, iseng iseng aku menggoda suamiku</p>
<p style="text-align: justify;">Pa.. Lihat cewe di depan itu body nya hot banget. Iya ma&#8230; Pantat nya padat kali, padat berisi Pa&#8230; Papa geser ke samping dikit, lihat tuh pentilnya nampak dari samping baju nya, kebetulan cewe itu pake baju yang super minim Hah iya ma.. Dapat rejeki nomplok ma.. Pentilnya susu nya warna merah, susu nya besar masih padat lagi ma.. pentilnya sebesar mama punya juga tapi agak bulat panjang, mungkin sering di isap kali ya ma&#8230; Coba kalo papa penis sama cewe itu, pantat nya gede goyangan nya di ranjang pasti kayak kuda betina liar, bisa patah penis papa kalo di goyang dia  Ku remas celana suamiku, dan kontolnya sudah tegang Malam nya di rumah, kami penis aku minta suamiku berimajinasi sedang penis dengan cewe yang td siang ketemu di mall, dan aku memulai memancing imajinasi suamiku&#8230;</p>
<p style="text-align: justify;">Pa.. Cewe tadi siang itu susu nya gede kali ya pa.. suamiku mempercepat sodokan kontolnya Iya ma&#8230; Pantat nya besar, goyangan nya pasti ngebor Ohh memek nya legit kali ya maa.. Pa&#8230; anggap aja mama ini cewe yang tadi Jangan panggil mama, panggil aja jeng.. Iya jeng&#8230; Memek nya sempit jeng.. Desah suamiku, sambil mengocok memek ku.. Mas&#8230; Lebih cepat mas kocokan nya&#8230; Jeng&#8230; Susu nya besar kali jeng Crop srup.. Crop srup.. Sambil suamiku menghisap payudaraku dengan ganas nya. Akhhh trus mas.. Akhhh.. Ogh oghhh Isap yang kuat mas&#8230; Aku mau sampe masssss&#8230;&#8230; Ayo mas.. Genjot terus&#8230; Akhgg..akghhh..ohh Akkku sampe masssss&#8230;. Oghhh ogh&#8230;. Aku sangat bernafsu malam itu, imajinasi ku melihat suamiku penis dengan cewe lain, membuat aku terangsang dan terbang tinggi, perasaan cemburu dan nafsu menjadi satu dengan sensasi yang begitu indah sekali oh, sulit dituliskan kondisinya pada saat itu</p>
<p style="text-align: justify;">Malam itu aku mengalami 3 kali orgasme dan semua nya orgasme yang aku dapat benar benar orgasme sepenuhnya, aku sampe lemas tulang2 ku terasa copot semua, nikmat sekali&#8230; Dan suamiku juga kelihatan bernafsu sekali dalam permainan kami malam itu</p>
<p style="text-align: justify;">Kembali lagi.. Seminggu setelah itu. nah senin kemarin suamiku telpon orang nya (sebut aja namanya Alex) dan akhirnya kita janjian makan siang hari tu, ketemu di salah satu resto di Setiabudi, ternyata yg namanya Alex charming badan atletis dan ganteng orangnya dan berwajah turunan arab</p>
<p style="text-align: justify;">Akhirnya pulang kerja kita check in di hotel daerah Mampang, pas dah di hotel Suamiku nanya Gimana ma, sudah lihat orangnya kan, cocok kan ma&#8230; papa telpon orangnya ya, kata suamiku suamiku call si Alex, sekitar 1/2 jam dia dateng. ngobrol2 kecil dulu dan akhirnya Alex yg mulai,begini percakapannya:</p>
<p style="text-align: justify;">Alex: Mba, yuk kita mulai pijitnya<br />
aku: aku buka baju ga?<br />
Alex: Iya, tapi kalau mbak risi pake baju mandi aja dulu</p>
<p style="text-align: justify;">Trus aku masuk kamar mandi dan keluar pake baju mandi hotel tanpa underwear BH dan CD sengaja ku lepas. Ga lama Alex ke kamar mandi juga pake kaos n celana boxer. aku mulai rebahan terkurap dan Alex mulai mijit ringan telapak kaki ku dan terus sampe betis dan lipatan pahaku, aliran listrik mulai menyerang nafsu ku, Suamiku, sms ke aku</p>
<p style="text-align: justify;">Suamiku: gimana ma? enak ga?<br />
aku: hhmmmm&#8230;.. Enak pa pijatannya pas</p>
<p style="text-align: justify;">trus Alex minta ijin ke aku untuk naikin baju mandinya sebatas pantat, dan aku mengiyakan dan pijatan berlanjut ke paha sampai pantat dan Alex mulai bermain di bongkahan pantat ku dan sesekali terasa jempol Alex menguak belahan pantat ku dan tangan2 nya menyentuh bibir vagina ku, aku melebarkan paha ku sedikit dan terlihat face suamiku memerah yg artinya dia terangsang juga tuh liat aku dipijet2 gitu, sementara aku juga cukup terangsang, sentuhan tangan alex yang sekali kali menyenuh bibir vaginaku, membuat aku mulai liar dan lepas kontrol, desahan secara perlahan mulai teratur keluar dari mulut ku Pijatan berlangsung ke pinggul,punggung dan leher..disini baju mandi sudah terbuka dan ketika Alex melakukan pijatan di punggung dia minta ijin untuk naik ke pantat ku dan aku menggangguk. Sesekali pijatan Alex menyentuh pinggir tete ku, dan kembali suamiku sms</p>
<p style="text-align: justify;">Suamiku: gmn ma&#8230;.<br />
aku: enak pa&#8230;. Mama mulai basah<br />
Suamiku : mama terangsang ya..<br />
Aku : iya pa..pa mama udah terangsang, vagina mama udah basah pa&#8230;<br />
Suamiku : iya papa juga nampak, memek mama udah mulai ada cairan yang basah dan meleleh keluar<br />
Aku : memek mama gatal kali pa&#8230;</p>
<p style="text-align: justify;">kamudian Alex turun, memijat tangan ku, sembari duduk di sebelah ku dan memijat tangan ku terasa dengan sengaja Alex mengarahkan tangan ku ke penis nya dan tangan ku dibuat diam di atas penis nya dan belum ada reaksi dari aku padahal terlihat di balik boxer Alex ada sesuatu yg menonjol besar, aku coba menekan pelan terasa penis alex sudah mengeras Trus suamiku mendatangi aku dan bisikin ke telinga ku</p>
<p style="text-align: justify;">Suamiku: ma, coba dipegang deh kontolnya jgn didiemin aja<br />
aku: hhmmmmmm&#8230;&#8230; Ya pa&#8230;</p>
<p style="text-align: justify;">ga lama tangan ku aktif mengusap2 penis Alex dari luar celana, dan aku baru yakin, memang benar benar besar dan panjang penis alex, seperti yang diceritakan oleh suami ku, aku semakin terangsang dan membuatku makin penasaran karena hanya dapat memegang penis nya terhalang oleh celana yang dipakainya</p>
<p style="text-align: justify;">terus Alex meminta ku terlentang krn mau mijat bagian paha depan. Disini Alex mulai melumuri tangan nya dg baby lotion dan memulai pijatan dari paha atas ke arah selangkanganku dan jari2 Alex sedikit bermain di vagina ku, aku semakin terangsang, dan bagai tersengat listrik ribuan volt Badan ku panas dingin rasanya Bagaimanapun baru kali ini aku telanjang polos di depan lelaki lain, selain suamiku dan badan ku di jamah oleh tangan lain Alex melanjutkan pijatan ke arah perut dan dada&#8230;disini tangan2 Alex mulai bermain dengan tete ku di remas2 lembut dan di pilin2 puting ku, possi Alex berada diatas ku, pijatan teratur dari tete, ke perut ke selangkangan , vaginaku dan membuat ku makin terangsang dan akhirnya pijatan konsentrasi di vagina ku&#8230; jari tengah Alex mulai menguak liang vagina ku dan bermain dg klitoris ku&#8230;</p>
<p style="text-align: justify;">aku pun makin melebarkan paha ku dan sedikit mengelinjang. Alex mulai menciumi dan menjilati paha ku lalu menciumi vagina ku dan lambat namun pasti lidah Alex bermain dengan klitors ku, melihat kondisi ini penis Alex dan suamiku makin membengkak, dan Alex makin aktif melumat vagina ku sampai aku mendesah keras&#8230;dan akhirnya suamiku samperin aku dan aku melumat bibir nya dan aku meraih penis suamiku, aku remas dan aku kocok2&#8230;.</p>
<p style="text-align: justify;">akhirnya Alex buka celana dan masang pengaman&#8230;. Terpana aku dibuat nya sungguh luar biasa penis alex, kuhentikan kocokan penis suamiku, aku benar benar terpana kagum melihat penis yang begitu indahnya, bentuk penis nya yang benar benar gagah mengacung tegang dengan keras, memek ku semakin gatal ingin segera di masukin penis nya</p>
<p style="text-align: justify;">Alex mendekati aku, kontolnya mengacung dan segera aku melebarkan pahaku, vagina ku sudah gatal tidak karuan ingin sesegera mungkin di obok2 penis alex. Dengan penis seperti ini, mungkin hanya sepuluh sodokan aku akan mencapai klimaks ohhh&#8230; aku sudah gak tahan lagi membayangkan sensasi yang akan kuterima dengan mengangkat pantat ku, Alex mengarahkan penis nya yg ukurannya jauh lebih besar dari penis suamiku ke vaginaku&#8230;. Aku menanti dengan perasaan tak karuan, ingin segera dimasukkan penis itu Pelan namun pasti penis itu mulai memasuki liang vaginaku, aku ingin merasakan centi demi centi penis itu menerobos memek ku, akhh rasanya nikmat luar biasa</p>
<p style="text-align: justify;">saat itu aku sempet menghentikan aktifitas ku ke suamiku&#8230;. Aku menikmati seretnya vagina ku di sesaki penis jamur nya, Alex mendiamkan penis nya di vagina ku&#8230;.dan menciumi tete ku sedangkan suamiku menyodorkan penis nya ke mulut ku&#8230; Alex pun mulai menusuk2 vagina ku dg irama pelan, alex membiarkan kocokan nya secara perlahan, karena dia tau pasti memek ku belum terbiasa dengan batang kontolnya yang besar dan panjang. Benar benar profesional permainan alex dan cukup berpengalaman dalam melayani wanita, hanya dalam beberapa sekali kocokan aku mencapai klimaks yang pertama,</p>
<p style="text-align: justify;">akkkhhhh pa&#8230; Mama sampeeeee paaaaa Auwwww ohhh nikmat sekali paa&#8230;. Puas kan aku alex, penis mu benar2 luar biasa ahhhkkkkkk&#8230;.. penis alex besar paa&#8230; Panjangg&#8230; Penuh paaa memek mama&#8230;. Setelah mencapai orgasme yang pertama, Kocokan penis alex makin lama makin cepat dan menghujamkan dengan keras sampai mentok&#8230;aku sempet tersentak dan mendesah kencang. tiba2 suamiku minta rubah posisi, suamiku terlentang, dan aku nungging dan melumat penis suamiku, sementara Alex memulai posisi dogy style (favorit ku) dengan posisi ini aku membuka lebar2 pahaku dan Alex mengujamkan dengan keras dan cepat ke vagina ku sambil meremas kedua tete ku, aku pun semakin menjadi&#8230;desahan dan erangan ku tdk tertahankan&#8230;.</p>
<p style="text-align: justify;">sungguh sensasi yg luar biasa. Ga lama aku mengejang kembali dan medesah kuat&#8230;.dan teriak akuuuuu dapeettttttt&#8230;&#8230;paaaaaaa&#8230;&#8230;ga lama Alex pun mempercepat sodokan nya&#8230;.dan aku dibuatnya berguncang&#8230;..dan ga lama Alex mendesah keras&#8230;.aaahhhhhhhhgggggggggg&#8230;&#8230;.diapun ejakulasi. Gila aku orgasme kembali, begitu cepatnya Karena suamiku belum ngecrottt, akhirnya hubby gantian nyodok vagina ku&#8230;..dan ga lama hubby crooottttt di dalem. aku tergeletak lemes dan puas,aku Alex dan suamiku terbaring puas sambil aku coba memainkan penis Alex dan ga lama kemudian penis alex bangun&#8230;akupun menghisap dan memainkan penis alex dimulutku.</p>
<p style="text-align: justify;">Karena vagina ku sudah berdenyut2 lagi aku minta Alex memasukkan penis nya ke vaginaku, kalo ini aku diatas&#8230;..hhhhhmmmmmmmmmmmmm sungguh luar biasa sangat nikmat dan akupun bergoyang mengikuti hawa nafsuku, suamiku hanya menyaksikan saja. Aku semakin liar di atas, bagai kuda binal, terasa penis alex begitu sesak di vagina ku, nikmat sekali rasanya sampai mentok vaginaku di dalam, begitu penis itu di tarik keluar rasanya seperti tersedot. Sensasi gesekan kepala penis jamur, di liang wanita ku begitu hebatnya</p>
<p style="text-align: justify;">Gerakan kami semakin lama semakin meningkat cepat dan bertambah liar. Gerakanku sudah tidak beraturan karena yang penting bagiku tusukan itu mencapai bagian-bagian peka di dalam relung kewanitaanku. Dia tahu persis apa yang kuinginkan. Ia bisa mengarahkan batangnya dengan tepat ke sasaran. Aku bagaikan berada di awang-awang merasakan kenikmatan yang luar biasa ini. Batang penis alex menjejal penuh seluruh isi liangku, tak ada sedikitpun ruang yang tersisa hingga gesekan batang itu sangat terasa di seluruh dinding vaginaku.</p>
<p style="text-align: justify;">“Aduuhh.. auuffhh.., nngghh..!!!”, aku merintih, melenguh dan mengerang merasakan semua kenikmatan ini. Kembali aku mengakui keperkasaan dan kelihaian alex di atas ranjang. Ia begitu hebat, jantan dan entah apalagi sebutan yang pantas kuberikan padanya. suamiku tidak ada apa-apanya dibandingkan pemuda ini. Yang pasti aku merasakan kepuasan tak terhingga bercinta dengannya</p>
<p style="text-align: justify;">Alex bergerak semakin cepat. Kontolnya bertubi-tubi menusuk daerah-daerah sensitive. Aku meregang tak kuasa menahan desiran-desiran yang mulai berdatangan seperti gelombang mendobrak pertahananku. Sementara alex dengan gagahnya masih mengayunkan pinggulnya naik turun, ke kiri dan ke kanan. Eranganku semakin keras terdengar seiring dengan gelombang dahsyat yang semakin mendekati puncaknya.</p>
<p style="text-align: justify;">Melihat reaksiku, alex mempercepat gerakannya. Batang kontolnya yang besar dan panjang itu keluar masuk dengan cepatnya seakan tak memperdulikan liangku yang sempit itu akan terkoyak akibatnya</p>
<p style="text-align: justify;">Aku mencoba meraih tubuh alex untuk mendekapnya. Dan disaat-saat kritis, aku berhasil memeluknya dengan erat. Kurengkuh seluruh tubuhnya sehingga menindih tubuhku dengan erat. Kurasakan tonjolan otot-ototnya yang masih keras dan pejal di sekujur tubuhku. Kubenamkan wajahku di samping bahunya. Pinggul kuangkat tinggi-tinggi sementara kedua tanganku menggapai buah pantatnya dan menarik kuat-kuat.</p>
<p style="text-align: justify;">Kurasakan semburan demi semburan memancar kencang dari dalam diriku. Aku meregang seperti ayam yang baru dipotong. Tubuhku mengejang-ngejang di atas puncak kenikmatan yang kualami</p>
<p style="text-align: justify;">“Yaaaah.., ooooohhhhhhh.., Yaaaahhhhh..eeee…eeennnaaaakkkkkkkk…!!!”</p>
<p style="text-align: justify;">Hanya itu yang bisa keluar dari mulutku saking dahsyatnya kenikmatan yang kualami bersamanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Kurasakan ciumannya di bibirku berhasil membangkitkan kembali gairahku. Aku masih penasaran dengannya. Sampai saat ini alex belum juga mencapai puncaknya. Aku seperti mempunyai utang yang belum terbayar. Kali ini aku bertekad keras untuk membuatnya mengalami kenikmatan seperti apa yang telah ia berikan kepadaku.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku tak sadar kenapa diriku jadi begitu antusias untuk melakukannya dengan sepenuh hati.</p>
<p style="text-align: justify;">Timbulnya pikiran ini membuatku semakin bergairah. Apalagi sejak tadi alex terus-terusan menggerakan kontolnya di dalam memekku. Tiba-tiba saja aku jadi beringas. Kudorong tubuh alex hingga terlentang. Aku langsung menindihnya dan menicumi wajah, bibir dan sekujur tubuhnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Kembali kuselomoti batang kontolnya yang tegak bagai tiang pancang beton itu. Lidahku menjilat-jilat, mulutku mengemut-emut. Tanganku mengocok-ngocok batangnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Kulirik kewajah alex kelihatannya menyukai perubahanku ini. Belum sempat ia akan mengucapkan sesuatu, aku langsung berjongkok dengan kedua kaki bertumpu pada lutut dan masing-masing berada di samping kiri dan kanan tubuh alex. Selangkanganku berada persis di atas batangnya.</p>
<p style="text-align: justify;">“Akh sayang!” pekik alex tertahan ketika batangnya kubimbing memasuki liang memekku. Tubuhku turun perlahan-lahan, menelan habis seluruh batangnya. Selanjutnya aku bergerak seperti sedang menunggang kuda. Tubuhku melonjak-lonjak seperti kuda binal yang sedang birahi.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku tak ubahnya seperti wanita haus seks Tetapi aku tak perduli. Aku terus berpacu. Pinggulku bergerak turun naik, sambil sekali-sekali meliuk seperti ular. Gerakan pinggulku persis seperti penyanyi dangdut dengan gaya ngebor, ngecor, patah-patah, bergetar dan entah gaya apalagi. Pokoknya malam itu aku mengeluarkan semua jurus yang kumiliki</p>
<p style="text-align: justify;">“Ooohh… oohhhh… oooouugghh.., luar biasa…..!!!” jerit alex merasakan hebatnya permainanku.</p>
<p style="text-align: justify;">Pinggulku mengaduk-aduk lincah, mengulek liar tanpa henti. Tangan alex mencengkeram kedua buah dadaku, diremas dan dipilin-pilin</p>
<p style="text-align: justify;">Ia lalu bangkit setengah duduk. Wajahnya dibenamkan ke atas dadaku. Menjilat-jilat seluruh permukaan dadaku menciumi putting susuku. Menghisapnya kuat-kuat sambil meremas-remas menyedot air susuku sebanyak-banyaknya.</p>
<p style="text-align: justify;">Kami berdua saling berlomba memberi kepuasan. Kami tidak lagi merasakan dinginnya udara meski kamarku menggunakan AC. Tubuh kami bersimbah peluh, membuat tubuh kami jadi lengket satu sama lain. Aku berkutat mengaduk-aduk pinggulku.<br />
Alex menggoyangkan pantatnya. Kurasakan tusukan kontolnya semakin cepat seiring dengan liukan pinggulku yang tak kalah cepatnya. Permain kami semakin meningkat dahsyat.</p>
<p style="text-align: justify;">Sprei sudah tak karuan bentuknya, selimut dan bantal serta guling terlempar berserakan di lantai akibat pergulatan kami yang bertambah liar dan tak terkendali. Kurasakan alex mulai memperlihatkan tanda-tanda.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku semakin bersemangat memacu pinggulku untuk bergoyang. Mungkin goyangan pinggulku akan membuat iri para penyanyi dangdut saat ini. Tak selang beberapa detik kemudian, aku pun merasakan desakan yang sama. Aku tak ingin terkalahkan kali ini.<br />
Kuingin ia pun merasakannya. Tekadku semakin kuat. Aku terus memacu sambil menjerit-jerit histeris. Aku sudah tak perduli suaraku akan terdengar kemana-mana. Kali ini aku harus menang! Upayaku ternyata tidak percuma.</p>
<p style="text-align: justify;">Kurasakan tubuh alex mulai mengejang-ngejang. Ia mengerang panjang. Menggeram seperti harimau terluka. Aku pun merintih persis kuda betina binal yang sedang birahi.</p>
<p style="text-align: justify;">“Eerrgghh.. ooooo….ooooooo…..oooooouugghhhhhh..!!!!” Aku berteriak panjang.</p>
<p style="text-align: justify;">Tubuhnya menghentak-hentak liar. Tubuhku terbawa goncangannya. Aku memeluknya erat-erat agar jangan sampai terpental oleh goncangannya. Mendadak aku merasakan semburan dahsyat menyirami seluruh relung vaginaku. ( Kali ini tidak pakai pengaman ) Semprotannya begitu kuat dan banyak membanjiri liangku. Akupun rasanya tidak kuat lagi menahan desakan dalam diriku. Sambil mendesakan pinggulku kuat-kuat, aku berteriak panjang saat mencapai puncak kenikmatan berbarengan</p>
<p style="text-align: justify;">Tubuh kami bergulingan di atas ranjang sambil berpelukan erat. Saking dahsyatnya, tubuh kami terjatuh dari ranjang. Untunglah ranjang itu tidak terlalu tinggi dan permukaan lantainya tertutup permadani tebal yang empuk sehingga kami tidak sampai terkilir atau terluka.</p>
<p style="text-align: justify;">“Oooooogggghhhhhhh.. yaahh..,nik….nikkkk nikmaatthh…. yaaahhhh..!!!!” jeritku tak tertahankan.</p>
<p style="text-align: justify;">Tulang-tulangku serasa lolos dari persendiannya. Tubuhku lunglai, lemas tak bertenaga terkuras habis dalam pergulatan yang ternyata memakan waktu lebih dari 2 jam!</p>
<p style="text-align: justify;">Gila! Jeritku dalam hati. Belum pernah rasanya aku bercinta sampai sedemikian lamanya. Aku hanya bisa memeluknya menikmati sisa-sisa kepuasan. AKhirnya Alex ke kamar mandi bersih2 dan bersiap2 pulang. Saat alex di kamar mandi, suamiku bertanya</p>
<p style="text-align: justify;">Suami: gmn ma? enak ga&#8230;.<br />
aku: iya pa, makasih ya&#8230;..<br />
Suami: buat apa?<br />
aku: buat sensasinya dan kenikmatannya&#8230;<br />
Alex dah rapi dan pamit ama aku n suamiku, sebelum pulang aku mencium bibir Alex dan bilang<br />
aku: thanks ya Lex, aku sangat menikmatinya<br />
Alex: sama2 mba&#8230;next time klo mau lagi call aja<br />
aku: tergantung si papa tuh<br />
Suamiku: boleh aja&#8230;..</p>
<p style="text-align: justify;">Akirnya aku n suamiku mandi bareng dan ml lagi dikamar mandi&#8230;.trus check out, pulang deh.Pas diperjalanan pulang, suamiku ngomong<br />
Suamik u: mama bener puas yah?<br />
aku: iya pa&#8230;sangat puas, emang lain kali boleh pa?<br />
Suami ku:boleh&#8230;mama mau sama dia berdua juga boleh koq, asal papa tau mama sama dia<br />
aku: makasih pa&#8230;.aku sayang papa&#8230;<br />
Suamiku: aku juga sayang mama</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ceritasex.cn/ohh-dua-penis-pasti-lebih-enak/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pengalaman ORGY Pertama</title>
		<link>http://www.ceritasex.cn/pengalaman-orgy-pertama/</link>
		<comments>http://www.ceritasex.cn/pengalaman-orgy-pertama/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 24 Mar 2011 23:15:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cerita Sex</dc:creator>
				<category><![CDATA[Gangbang Rame Rame]]></category>
		<category><![CDATA[Orgy]]></category>
		<category><![CDATA[Seks Umum]]></category>
		<category><![CDATA[ida]]></category>
		<category><![CDATA[memek]]></category>
		<category><![CDATA[ngentot]]></category>
		<category><![CDATA[orgy]]></category>
		<category><![CDATA[pesta seks]]></category>
		<category><![CDATA[santi]]></category>
		<category><![CDATA[tukar pasangan]]></category>
		<category><![CDATA[wulan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ceritasex.cn/?p=2109</guid>
		<description><![CDATA[Kisah ini aku alami kurang lebih 9 tahun yang lalu. Saat itu aku berusia 22 tahun. Namaku Very dan saat itu aku masih kuliah di salah satu Perguruan Tinggi terkenal di Bandung. Orang bilang tampangku lumayan, mirip-mirip dengan presenter top Om Farhan. Apalagi aku diberi fasilitas yang berlebih oleh orang tuaku. Aku tinggal bersama nenekku [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Kisah ini aku alami kurang lebih 9 tahun yang lalu. Saat itu aku berusia 22 tahun. Namaku Very dan saat itu aku masih kuliah di salah satu Perguruan Tinggi terkenal di Bandung. Orang bilang tampangku lumayan, mirip-mirip dengan presenter top Om Farhan. Apalagi aku diberi fasilitas yang berlebih oleh orang tuaku. Aku tinggal bersama nenekku karena kedua orang tuaku di mutasi keluar pulau jawa. Jauh dari orang tua membuat aku tenggelam dalam pergaulan bebas. Tiba-tiba Ida menarik tanganku ke sofa di ruang tengah. Nampaknya dia juga terangsang melihat pemandangan di kamar itu. Dengan bernafsu Ida melumat bibirku sementara tangannya meremas-remas penisku. Aku tidak mau ketinggalan, kuremas-remas kedua buah pantat Ida. Ida kemudian menunduk di depanku, dengan cepat dibukanya resleting celanaku sehingga penisku yang sudah menegang menyembul ke luar dari celanaku. Dengan sigap Ida langsung mengulum batang penisku, sementara tangannya menyusup ke dalam bajuku dan mengusap-usap puting susuku.</p>
<p style="text-align: justify;">Waktu itu aku sedang sering jalan bareng dengan Ida. Orangnya putih cantik, tubuhnya tinggi langsing dengan potongan rambut pendek seperti cowok. Payudaranya tidak besar tetapi pinggul dan pantatnya menungging ke belakang sehingga bila Ida memakai celana jeans ketat akan terlihat sangat seksi Ida usianya saat itu sekitar 19 tahun dan baru saja lulus SMA. Aku sudah beberapa kali em-el dengannya, tetapi pengalaman yang terakhir aku alami dengannya sangat berkesan bagiku, aku terlibat pesta orgy dengannya.</p>
<p style="text-align: justify;">Ceritanya pada suatu hari aku pergi dengan Ida dan adiknya, Santi, ke rumah salah seorang saudaranya. Santi secara fisik berbeda dengan Ida, Santi lebih pendek tetapi tubuhnya putih montok. Kami berkunjung ke rumah Wulan. Di sana ternyata sudah ada Tomy, pacar Wulan. Keadaan rumah wulan sangat sepi karena keluarganya sedang menghadiri undangan di luar kota. Kami berlima kemudian terlibat obrolan seru sambil diselingi minum minuman keras Jack Daniel yang sudah dicampur dengan buah vita.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku juga mengeluarkan 3 linting ganja yang kami hisap bersama bergantian. Tidak berapa lama kami mulai mabuk. Wulan dan Tomy permisi ke loteng atas karena akan menonton TV di lantai dua. Aku, Ida dan Santi melanjutkan perbincangan. Saat asik menikmati minuman keras samar-samar kami mendengar suara erangan dari kamar atas. Kami bertiga saling berpandangan. Ida tersenyum geli dan kemudian mengajak aku dan Santi untuk mengintip ke atas. Santi menolak untuk ikut ke atas, akhirnya aku dan Ida dengan berjingkat-jingkat menaiki tangga ke atas untuk melihat apa yang sedang Wulan dan Tomy lakukan. Di ruang tengah atas ternyata keadaan sepi. TV masih menyala tetapi Wulan dan Tomy tidak tampak di sana. Aku dan Ida kemudian mendekati satu-satunya kamar yang ada di lantai atas. Semakin dekat semakin terdengar suara-suara yang &#8220;mencurigakan&#8221;. Dengan perlahan Ida menyingkap tirai hordeng kamar atas, maka tampaklah pemandangan yang luar biasa bagiku. Tomy dan Wulan dalam keadaan bugil tampak sedang bersetubuh.<br />
<span id="more-2109"></span><br />
Tomy tampak sedang menindih tubuh Wulan. Posisi mereka membelakangi jendela kamar sehingga kami dapat melihat jelas penis Tomy yang keluar masuk lubang memek Wulan. Baru kali ini aku melihat orang lain bersetubuh di depanku sehingga aku mengalami sensasi yang luar biasa. Tiba-tiba Ida menarik tanganku ke sofa di ruang tengah. Nampaknya dia juga terangsang melihat pemandangan di kamar itu. Dengan bernafsu Ida melumat bibirku sementara tangannya meremas-remas penisku. Aku tidak mau ketinggalan, kuremas-remas kedua buah pantat Ida. Ida kemudian menunduk di depanku, dengan cepat dibukanya resleting celanaku sehingga penisku yang sudah menegang menyembul ke luar dari celanaku. Dengan sigap Ida langsung mengulum batang penisku, sementara tangannya menyusup ke dalam bajuku dan mengusap-usap puting susuku. Birahiku benar-benar terbakar. Tanganku memegangi kepala Ida dan mendorongnya maju mundur sementara lidah Ida terasa mengelus-elus kepala penisku. Tak berapa lama Ida berdiri dan melepaskan celananya.</p>
<p style="text-align: justify;">Maka tampaklah memeknya yang menggelembung ditumbuhi oleh bulu-bulu halus . Ida kemudian naik ke atas sofa dan menungging di hadapanku, tampaknya ia sudah tidak tahan dan ingin aku segera menyetubuhinya. Aku tidak mau terburu-buru. Ku singkapkan buah pantatnya maka tampaklah belahan memeknya yang merah menganga di depanku. Aku kemudian menjilati memeknya. Ku hisap bibir memek dan itilnya. Sesekali kujilati lubang pantatnya dan ku gigit kedua buah pantatnya. Tak lama kemudian aku berdiri di belakangnya. Perlahan-lahan ku masukan batang penisku ke lubang memeknya. Memeknya yang basah membuat penisku dengan mudah masuk ke dalamnya. Ida mengerang, wajahnya di tutupkan ke bantal sofa. Aku mulai menggenjot pantatku maju mundur, suara pahaku yang beradu dengan pantatnya membuatku semakin bernafsu. Tak berapa lama Ida mengangkat kepalanya , pantatnya didorong ke belakang sehingga batang penisku hampir masuk semua ke lubang memeknya. &#8220;Ah, Ver, aku mau keluar nih, ah..&#8221;, erangnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku semakin cepat menggenjot pantatku. Aku pun sudah tak tahan lagi karena bibir memek Ida erat sekali mencengkram batang penisku. Tiba-tiba Ida menjerit kecil, ia mengalami orgasme, aku semakin kuat mengocok penisku di lubang memeknya. Tak berapa lama akupun mengalami ejakulasi. Ku tekan penisku dalam-dalam ke lubang memeknya. Spermaku muncrat di dalam memeknya. Aku kemudian pergi ke kamar mandi untuk membersihkan penisku. Ida tampak duduk di sofa membersihkan lubang memeknya dari spermaku dengan tisu. Agak lama aku di kamar mandi karena dengkulku masih lemas karena persetubuhan tadi. Selesai membersihkan penisku, aku kembali ke ruang TV. Sesampainya di sana aku disuguhi pemandangan yang luar biasa. Ida tampak duduk di sofa, Wulan berjongkok di selangkangan Ida melakukan oral sex. Tomy berdiri di atas sofa sementara Ida tampak mengulum batang penisnya. Birahiku naik kembali, aku hampiri mereka dan kembali kubuka celana jeansku. Ku elus-elus pantat Wulan yang besar.</p>
<p style="text-align: justify;">Ku masukan jari tengahku ke lubang memek Wulan. Memek Wulan masih basah, mungkin karena sperma Tomy belum kering di lubang memeknya. Aku mengocok-ngocok jariku dengan cepat di lubang memek Wulan. Aku tidak tahan, segera saja ku masukan penisku ke lubang memek Wulan dan ku genjot pantatku maju mundur. Wulan semakin rakus menjilati memek Ida sementara Ida asik mengulum penis Tomy sambil tangannya meremas-remas buah zakar Tomy. Tangan Tomy tampak menggerayangi ke dua payudara Ida. Tiba-tiba aku mendengar suara langkah menaiki tangga. Rupanya Santi menyusul kami ke atas. Melihat pemandangan yang ada di depan matanya Santi tampak tertegun. Tapi kemudian perlahan Santi menghampiri kami. Santi berdiri di sampingku. Aku tidak menyia-nyiakan kesempatan. Kutarik tubuhnya dan kulumat bibirnya sementara penisku terus keluar masuk lubang memek Wulan. Aku singkapkan baju dan BH Santi ke atas, maka menyembulah kedua susu Santi yang putih bulat. Dengan rakus ku hisap kedua susu Santi bergantian kiri kanan.</p>
<p style="text-align: justify;">Puting susunya terasa mengeras di dalam mulutku. Tomy kemudian menghampiri Santi dari belakang. Tangannya membuka resleting celana Santi dan memelorotkannya ke bawah. Di tariknya Santi ke atas Sofa di samping Ida. Santi menungging di atas sofa, mulutnya menghisap payudara Ida, sementara ku lihat Tomy memasukan penisnya ke lubang Memek Santi. Pemandangan yang luar biasa indah, Santi sang adik menjilati payudara Ida, kakaknya, sementara Tomy asik mengerjai lubang memek Santi dari belakang. Karena aku dan Tomy sudah ejakulasi sebelumnya, kami mampu bertahan cukup lama. Selang 15 Menit Wulan mengerang, dia mengalami orgasme. cairan memeknya membasahi batang penisku. Wulan kemudian tersungkur ke lantai karena kelelahan. Tomy kemudian mencabut penisnya dari lubang memek Santi. Tomy berjongkok di selangkangan Ida. Perlahan dimasukannya batang penisnya ke lubang memek Ida. Aku tidak tinggal diam. Ku hampiri Santi dan kusetubuhi dia dari belakang. Tanganku mencengkram buah pantat Santi sementara penisku mengocok-ngocok lubang memeknya.</p>
<p style="text-align: justify;">Lubang memek Santi masih sempit. Mungkin karena pengalaman sex-nya belum sebanyak kakak dan saudaranya. Berselang 30 menit, Tomy mengerang, tampaknya dia sudah mau &#8220;sampai&#8221;. Tomy mencabut penisnya dari lubang memek Ida, disemprotkannya cairan spermanya ke dada Ida. Sperma Tomy tampak membasahi payudara Ida. Tomy kemudian menyorongkan penisnya ke mulut Santi. Santi kemudian menjilati dan menyedot sisa-sisa sperma Tomy dari kepala penisnya. Santi juga sudah mau sampai, di sedotnya dengan keras batang penis Tomy sementara pantatnya terasa mengejang tanda Santi sudah orgasme. Tomy ambruk kelelahan ke lantai menyusul Wulan. Akupun sudah mau sampai. Ku tekan kuat-kuat batang penisku ke lubang memek Santi. Aku mengerang nikmat ketika spermaku muncrat membasahi dinding-dinding lubang memek Santi. Akhirnya kami berlima ambruk ke lantai karena kelelahan. Kami baru bangun ketika hari menjelang malam dan kami pun harus pulang karena keluarga Wulan akan segera sampai ke rumah. Itulah pengalamanku yang tak akan aku lupakan. Pengalaman Orgy yang pertama dan terakhir bagiku. Ida dan Santi saat ini sudah menikah dan memiliki anak. Wulan menikah dengan Tomy tapi tak lama kemudian mereka bercerai. Aku tidak pernah berjumpa lagi dengan mereka. Hanya kenangan tentang mereka saja yang akan menemani hari-hariku ke depan.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ceritasex.cn/pengalaman-orgy-pertama/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Klub Tukar Istri Bagian 4 (Empat)</title>
		<link>http://www.ceritasex.cn/klub-tukar-istri-bagian-4-empat/</link>
		<comments>http://www.ceritasex.cn/klub-tukar-istri-bagian-4-empat/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 06 Nov 2010 22:42:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cerita Sex</dc:creator>
				<category><![CDATA[Orgy]]></category>
		<category><![CDATA[Paruh baya]]></category>
		<category><![CDATA[Seks Umum]]></category>
		<category><![CDATA[selingkuh]]></category>
		<category><![CDATA[birahi]]></category>
		<category><![CDATA[istri]]></category>
		<category><![CDATA[ngentot]]></category>
		<category><![CDATA[penis]]></category>
		<category><![CDATA[seks]]></category>
		<category><![CDATA[tukar pasangan]]></category>
		<category><![CDATA[vagina]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ceritasex.cn/?p=1650</guid>
		<description><![CDATA[Fendi &#8211; Senin pukul 12.47 Yosua dan Fendi memasuki ruangan fotokopi di kantornya yang tidak ada orang. Karyawan-karyaman lain sedang mengambil jam makan siang mereka namun Yosua ingin menunjukkan hal lain yang lebih mengenyangkan. &#8220;Eh istri gw kok bisa udah cukuran ya? Pas ama lo dia udah cukuran belum?&#8221; &#8220;Lebih tepatnya pas ama gw dia [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Fendi &#8211; Senin pukul 12.47</p>
<p style="text-align: justify;">Yosua dan Fendi memasuki ruangan fotokopi di kantornya yang tidak ada orang. Karyawan-karyaman lain sedang mengambil jam makan siang mereka namun Yosua ingin menunjukkan hal lain yang lebih mengenyangkan.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Eh istri gw kok bisa udah cukuran ya? Pas ama lo dia udah cukuran belum?&#8221;<br />
&#8220;Lebih tepatnya pas ama gw dia cukurannya.&#8221;<br />
&#8220;Sumpah?&#8221;<br />
&#8220;Nih liad aja videonya.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Yosua menyerahkan sebuah cd dan memutarnya di laptop Fendi yang sedari tadi ia bawa. Fendi tertakjub-takjub melihat adegan langsung istrinya yang sedang bersenggama dengan sahabatnya. Bagaimana istrinya bergelinjang saat penis Yosua memasuki lubang kewanitaannya. Bagaimana ia terlihat begitu nakal meminta Yosua mencukur bulu jembutnya. Bagaimana ia begitu nafsu menjilati penis Yosua. Pemandangan ini membuatnya begitu bernafsu, ia tidak dapat lagi menahan jendolan besar di dalam celana dalamnya.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Asik kan bro?&#8221;<br />
&#8220;Enak enggak istri gw?&#8221;<br />
&#8220;Enggak pernah enggak enak.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Mereka berdua tertawa dan melakukan tos seakan-akan keduanya bangga telah melakukan sesuatu. Mereka melanjutkan menonton rekaman adegan senggama Mona dan Yosua saat seseorang memasuki ruangan itu.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Loh? Ada orang?&#8221;<br />
Fendi menutup layar laptopnya terkejut dan bersama-sama membalikkan badannya kikuk bersama Yosua. Mario, boss dari mereka sedang berdiri sambil membawa sebuah tumpukkan kertas. Ia terlihat bingung melihat ekspressi kaget mereka berdua yang tidak bisa berbicara apa-apa. Keringat dingin mulai menetes di kedua dahi laki-laki tersebut. Mario mendekat dan bisa mendengar suara erangan-erangan nakal dari dua insan yang berasal dari video itu.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Nonton bokep ya kalian?&#8221;<br />
&#8220;Emmmmh itu pak&#8230;.emmmmh anu&#8230;&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Tanpa minta ijin, Mario membuka laptop itu dan terkejut melihat pelaku kegiatan &#8220;bokep&#8221; itu. Ia mengenali Mona dari acara gathering kantornya 6 bulan yang lalu, dan ia tahu pasti Mona bukanlah istri dari Yosua. Ia menengok ke arah Fendi dan Yosua yang sama-sama menundukkan kepalanya menghadap ke lantai.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Kamu tahu akan ini Fendi?&#8221;<br />
&#8220;Emhhh&#8230;sebenernya pak&#8230;.&#8221;<br />
&#8220;Sebenernya?&#8221;<br />
&#8220;Emmmhhh&#8230;.kami sudah&#8230;emmmhhh&#8230;.memberikan ijin untuk&#8230;.anu&#8230;untuk&#8230;.&#8221;<br />
&#8220;Untuk saling bertukar pasangan?&#8221;<br />
&#8220;Iya, emmmmh..untuk itu&#8230;.&#8221;<br />
&#8220;Istri kalian tahu?&#8221;<br />
&#8220;Tidak pak&#8230;&#8230;kami tidak..emmmh..memberitahukan mereka&#8230;.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Mario mengangguk-angguk dan mematikan video itu.<br />
&#8220;Orang-orang sudah mulai kembali ke sini dan akan heboh jika semua orang tahu.&#8221;<br />
Fendi dan Yosua hanya bisa mengangguk.<br />
&#8220;Bisa kalian tutup pintu ruangan ini?&#8221;<br />
Yosua berjalan dan menutup pintu ruangan kecil itu. Mario menarik sebuah bangku dan mempersilahkan mereka duduk.<br />
&#8220;Aku tidak menyangka kalian tidak memberitahukan &#8220;hobi&#8221; kalian sebelumnya ke saya.&#8221;<br />
Yosua dan Fendi sama-sama terkejut.<br />
&#8220;Maksud&#8230;.maksud bapak?&#8221;<br />
&#8220;Perusahaan ini perusahaan besar. Lebih dari dua ratus karyawan. Apa kalian kira sedikit jumlah laki-laki paruh baya yang membutuhkan hiburan baru?&#8221;<br />
Yosua dan Fendi tidak bisa berkata apa-apa.<br />
&#8220;Yang lebih mengejutkan lagi, kalian melakukannya benar-benar seperti prosedur kami. Tidak memberitahu pasangan yang dimaksud sama sekali.&#8221;<br />
Yosua dan Fendi sama-sama mengangguk.<br />
&#8220;Meski begitu, ada satu ada dua orang istri yang sudah mengetahui kegiatan ini. Namun tentunya mereka merahasiakannya dengan baik, sekaligus dengan senang hati ikut berpartisipasi.&#8221;<br />
<span id="more-1650"></span><br />
&#8220;Emmmhhhh&#8230;.anu pak&#8230;jadi maksud bapak di perusahaan ini banyak juga yang&#8230;emmmh..tukar istri?&#8221;<br />
&#8220;Lumayan, selain saya ada pak Yusuf di bagian personalia, pak Robert di bagian akuntan, pak Sunaryo di bagian marketing, pak Santoso di bagian komputerisasi, dan..hmmmm pak Hassan si vice president.&#8221;<br />
Yosua dan Fendi tidak dapat menutupi keterkejutan mereka.<br />
&#8220;Sudah berapa lama kalian melakukan ini?&#8221;<br />
&#8220;Hmmmm, mungkin belum sampai seminggu pak.&#8221;<br />
&#8220;Benar, kita baru mulai melakukan ini rabu lalu.&#8221;<br />
&#8220;Bagus sekali, berarti kalian masih baru ya.&#8221;<br />
Yosua dan Fendi sama-sama mengangguk.<br />
&#8220;Kita akan melakukan gathering di ruang rapat pada hari rabu ini. Kalian akan saya panggil untuk rapat pada hari rabu siang, dan tentunya, kita akan rapat bukan?&#8221;<br />
Mario tersenyum lebar. Yosua dan Fendi membalas senyumannya dengan kikuk.<br />
&#8220;Ya sudah, kalian jangan sering-sering cuti kalau tidak mau, terpaksa, saya pecat. Lanjtukan pekerjaan kalian!&#8221;<br />
Yosua dan Fendi menunduk hormat dan berjala keluar dari ruangan fotokopi itu dengan terburu-buru.</p>
<p style="text-align: justify;">Yosua &#8211; Rabu pukul 14.37</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Kau sudah menerima panggilannya fen?&#8221;<br />
&#8220;Sudah, kau?&#8221;<br />
&#8220;Yup, ruang rapat kan?&#8221;<br />
Mereka berdua mulai berdiri dan berjalan menuju ruang rapat yang dimaksud.<br />
&#8220;Apakah kau memikirkan ini dua hari kebelakang?&#8221;<br />
&#8220;Selalu. Bahkan meskipu hampir dua hari ini gw berhubungan mulu sama Mona, entah kenapa pikiran gw selalu ke pertemuan ini.&#8221;<br />
&#8220;Dua hari ini berturut-turut? Semangat amat lo?&#8221;<br />
&#8220;Iya dong, sekali di dapur. Sumpah waktu itu Mona tauk-tauk ngajakin gw abis makan malem.&#8221;<br />
&#8220;Terus?&#8221;<br />
&#8220;Iya, rupanya tuh seharian dia pakai semacam vibrator kecil di dalam memeknya. Pas gw buka celana dalemnya, dia tuh udah basah banget.&#8221;<br />
&#8220;Anjrit, asik banget.&#8221;<br />
&#8220;Penis gw masuknya aja udah gampang banget. Gak nyampe sepuluh menit, kita berdua sama-sama nyampe.&#8221;<br />
&#8220;Yang kedua?&#8221;<br />
&#8220;Kalau ini lebih gila lagi, dia ngajakin gw di balkon pas malem-malem.&#8221;<br />
&#8220;Di balkon?&#8221;<br />
&#8220;Iya, entah nonton apa aja dia akhir-akhir ini.&#8221;<br />
&#8220;Gak masuk angin lo?&#8221;<br />
&#8220;Kagak dong, udah minum tolak angin.&#8221;<br />
&#8220;Terus gimana begituannya?&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Maknyuss! Gw maenin dia sekarang di anusnya. Rapet parah! Dia bilang dia belum pernah tapi entah kenapa gw rasa dia bo&#8217;ong.&#8221;<br />
&#8220;Gak mungkin gitu doang kan?&#8221;<br />
&#8220;Enggak lah. Dia gw doggy style selama beberapa menit, terus berubah posisi sampai dia meluk gw sambil gw duduk di bawah.&#8221;<br />
&#8220;Emmmh, enak banget lo kayaknya.&#8221;<br />
&#8220;Belom lagi memeknya yang lezat banget. Beneran deh Yos, entah kenapa libido gw naek drastis seminggu ini. Gw berasa anak kuliahan lagi!&#8221;<br />
&#8220;Sama bro! Gw juga.&#8221;<br />
&#8220;Lah lo gimana ama istri lo? Bukannya lagi dapet?&#8221;<br />
&#8220;Kan berdarahnya di meki, gw maennya ya di bool.&#8221;<br />
&#8220;Asik deh, gimana rasa anus istri lo.&#8221;<br />
&#8220;Mantap bro! Dari woman on top ampe misionaris semua gw coba. Dia bahkan minta belajar deepthroat dama minta di face-fuck.&#8221;<br />
&#8220;Face-fuck?&#8221;<br />
&#8220;Iya, jadi dia mau ngulum penis gw selama gw maenin pinggul gw maju ke depan dan ke belakang kayak kalau lagi vaginal seks.&#8221;<br />
&#8220;Rasanya gimana?&#8221;<br />
&#8220;Sumpah mati asik sob!&#8221;<br />
&#8220;Lain kali gw harus coba, semoga aja pinggang gw enggak ngilu duluan.&#8221;<br />
&#8220;Bicara begini jadi tegang punya gw.&#8221;<br />
&#8220;Sama, eh kita udah nyampe.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Yosua dan Fendi berdiri di depan sebuah pintu ruang rapat dan membukanya. Di dalamnya lima orang laki-laki berusia 40 &#8211; 50an sedang duduk sambil bersenda gurau.<br />
&#8220;Nah ini dia anggota baru kita!&#8221; Mario menyambut mereka sambil tersenyum lebar.<br />
&#8220;Yosua dan Fendi kan? Saya rasa kalian saya sudah kenal saya.&#8221;<br />
&#8220;Tentu pak Hassan.&#8221; Fendi dan Yosua menunduk hormat.<br />
&#8220;Ah tidak usah terlalu formal. Silahkan duduk dan tolong tutup pintunya.&#8221;<br />
Mereka duduk di sebelah Santoso dan Sunaryo yang langsung menyambut mereka hangat.<br />
&#8220;Wah Fendi! Tidak kusangka kau juga suka main beginian.&#8221;<br />
&#8220;Iya pak Santoso, sudah jenuh-jenuhnya.&#8221;<br />
&#8220;Aku juga begitu tiga tahun lalu, untung aku bertemu dengan Mario dan Hassan. Tiga gelas bir kemudian, terbentukalh klub ini.&#8221;<br />
&#8220;Benar! Klub tukar istri!&#8221; Robert menyahut dari seberang meja dan tertawa lebar.<br />
&#8220;Kau sudah berapa lama melakukan ini Yos?&#8221; Sunaryo bertanya.<br />
&#8220;Baru seminggu pak.&#8221;<br />
&#8220;Wah baru sekali! Bagaimana kau mengetahui mereka Mario?&#8221;<br />
&#8220;Mereka lagi nonton hasilnya saat aku masuk di ruang fotokopi.&#8221;<br />
&#8220;Kau rekam semua itu? Asik kali!&#8221;<br />
&#8220;Be..begitulah pak&#8230;hehe&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Langsung saja ke acara kita. Baik setelah minggu lalu kita melakuka rotasi kita dengan amat sempurna. Bagaimana rasanya Rosita ,Santoso?&#8221; Mario berdiri dari kursinya.<br />
Santoso hanya bisa mengacungkan jempol.<br />
&#8220;Dan saya rasa semua juga puas kan?&#8221;<br />
Semua kecuali Fendi dan Yosua mengangguk.<br />
&#8220;Saya sudah memasukkan nama Mona, istri Fendi, dan Sinta, istri Yosua ke dalam kotak kocokkan kita.&#8221;<br />
&#8220;Kotak kocokkan?&#8221;<br />
&#8220;Kamu tahu kan prosedur arisan Yos?&#8221;<br />
&#8220;Oh seperti arisan&#8230;&#8221;<br />
Fendi mendekati Yosua dan berbisik di telinganya.<br />
&#8220;Jadi inget arisan istri lo&#8221;<br />
&#8220;Sssst!&#8221;<br />
Fendi tertawa mendengar reaksi Yosua.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Dari semua istri, hanya istri saya, Rosita dan istri Hassan, Nuraini yang mengetahui &#8216;permainan&#8217; kita. Oleh karena itu, siapapun yang mendapatkan kedua nama itu bisa melakukannya tanpa &#8216;taktik&#8217; tertentu.&#8221;<br />
&#8220;Benar sekali. Untuk istri Robert, Linda. Istri Sunaryo, Asih dan istri Santoso, Mela, kita harus memakai sebuah trik khusus.&#8221;<br />
&#8220;Lebih tepatnya obat khusus.&#8221;<br />
Hassan mengeluarkan sebuah kotak obat dari bawah mejanya.<br />
&#8220;Obat?&#8221;<br />
&#8220;Iya, obat peningkat nafsu seksual yang Hassan temukan di arab. Dengan obat ini, istri-istri yang tidak tahu menahu itu akan menjadi horny seketika. Ingat, seketika dan bersedia melakukan hubungan itu. Tetapi setelah ia tertidur dan kelelahan, ia tidak akan mengingat hal yang terjadi. Semua bagaikan mimpi basah bagi mereka.&#8221;<br />
&#8220;Tapi pak, apakah tidak ada efek sampingnya?&#8221; Fendi bertanya ragu.<br />
&#8220;Meskipun kita bisa merayu mereka dengan cara tradisional, apakah tidak akan ribet jika satu istri nanti memiliki enam selingkuhan?&#8221;<br />
Fendi hanya bisa diam.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Tenang saja Fen. Kita memakai dosis yang tepat dan hanya dipakai satu kali dalam satu minggu. Istrimu tidak akan mendapatkan efek samping apa-apa. Obat ini sudah dipakai ratusan tahun di arab sana dan belum ada yang meninggal.&#8221;<br />
&#8220;Benar sob, istri aku saja tidak apa-apa.&#8221; Sunaryo meyakinkan mereka berdua.<br />
&#8220;Kau tidak akan menyesal Fen, aku pun tidak.&#8221; Robert tersenyum nakal.<br />
&#8220;Percayalah sama kita.&#8221; Santoso berusaha meyakinkan mereka berdua.<br />
&#8220;Baiklah kurasa tidak ada salahnya.&#8221;<br />
&#8220;Emhhh&#8230;tapi&#8230;istri saya sedang dapat.&#8221; Yosua tiba-tiba berbicara.<br />
&#8220;Kalau begitu Sunaryo bisa dipastikan mendapat jatah istrimu hari ini. Ia tidak keberatan melihat&#8230;hmmm&#8230;..sedikit darah&#8221;<br />
Sunaryo mengangguk-angguk dan berbisik kepada Yosua.<br />
&#8220;Jadi tambah anget.&#8221;<br />
Yosua hanya bisa merinding membayangkannya.<br />
&#8220;Baiklah kita mulai. Nama pertama dimulai dari pendatang baru kita. Fendi mendapatkan&#8230;.&#8221; Mario menahan perkataannya dan mengocok kotak kardus itu dan mengeluarkan sebuah gulungan kertas saat ditekan ke atas meja.</p>
<p style="text-align: justify;">Fendi &#8211; Rabu pukul 18.50</p>
<p style="text-align: justify;">Fendi memarkirkan mobilnya di depan pagar berwarna hitam dan berjalan menuju rumah milik Robert. Sebuah rumah besar dengan tiga lantai dan perkarangan yang luas. Anak-anaknya sudah berkuliah di berbagai perusahaan swasta dan rumah itu sekarang hanya ditinggali oleh Robert dan istrinya Linda. Ia mengetuk pintu rumah itu dan dalam beberapa menit Linda sudah berjalan keluar. Linda adalah perempuan yang sangat cantik. Rambutnya yang ikal dan dicat warna merah jatuh dengan sangat indah di bahunya. Kulitnya yang putih pucat ditambah wajah orientalnya yang eksotis membuat Fendi semakin tidak sabar mencobainya. Payudaranya yang cukup besar juga tertata rapi di balik bajunya.<br />
&#8220;Siapa ya?&#8221;<br />
&#8220;Saya Fendi bu. Dari perusahaan bapak.&#8221;<br />
&#8220;Oh iya pak Fendi, apa kabar pak? Bapak belum pulang.&#8221;<br />
&#8220;Iya bu, jadi bapak menyuruh saya menunggu di rumahnya selama ia menyelesaikan beberapa urusan kantor.&#8221;<br />
&#8220;Oh begitu, ya sudah silahkan masuk.&#8221;<br />
Rumah milik Robert bisa dibilang sangat besar. Ruang tamunya terkesan megah dengan dua buah sofa panjang dan foto keluarganya yang teramat besar menjadi latar belakang.<br />
&#8220;Silahkan duduk mas, mau makan dulu?&#8221;<br />
&#8220;Tidak usah bu, saya sudah makan.&#8221;<br />
&#8220;Ya sudah minum saja gimana? Sirup?&#8221;<br />
&#8220;Boleh bu.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Linda berjalan ke dapurnya dan menyiapkan dua buah gelas sirup. Fendi diam-diam mengeluarkan obatnya dan meletakkannya di tangan kirinya. Linda datang dan meletakkan dua buah gelas, satu untuk Fendi dan satu untuknya. Pada saat itu juga, Fendi yang berpura-pura memainkan handphonenya dengan tangan kanan, menelepon rumah Robert. Linda berpaling dan berjalan untuk mengangkat telepon itu. Dalam sepersekian detik itu, Fendi memasukkan obat berbentuk seperti tablet itu ke dalam gelas milik Linda. Berhasil.<br />
&#8220;Halo? Halo? Siapa sih?&#8221;<br />
Linda meletakkan teleponnya kesal.<br />
&#8220;Maaf ya mas, telepon nyasar kayaknya.&#8221;<br />
&#8220;Enggak apa-apa kok bu.&#8221;<br />
Linda meminum sirupnya dan Fendi hanya bisa tersenyum lebar dambil melakukan gerakan yang sama.<br />
Mereka mulai mengobrol masalah perusahaan tempat Fendi berkerja dan pendidikan anak masing-masing. Lama kelamaan obat itu mulai berfungsi dan Fendi menyadari Linda yang tatapan matanya mulai sayu dan tersenyum nakal kepadanya. Fendi berani bersumpah Linda menekan-nekan selangkangannya saat ia menjelaskan mengenai anaknya yang baru mau naik kelas satu SMA.<br />
&#8220;Ehhhmmm ibu baik-baik saja?&#8221;<br />
&#8220;Aku baik-baik saja kok mas Fendi, emmmh cuma aja&#8230;&#8221;<br />
&#8220;Cuma aja?&#8221;<br />
&#8220;Aku boleh curhat enggak sama mas?&#8221;<br />
Fendi menelan ludahnya. &#8220;Mmmmh, boleh bu.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Linda berdiri dari kursinya dan duduk di sebelah Fendi.<br />
&#8220;Iya mas, aku akhir-akhir ini kesepian deh.&#8221;<br />
&#8220;Kesepian?&#8221;<br />
&#8220;Iya, suami aku pergi ke kantor dari pagi sampai malam, sedangkan pembantu pulang hari. Aku jadinya sering merasa, emmmh, sepi gitu mas.&#8221;<br />
Tangan Linda mulai merangkak naik dari lutut Fendi menuju selangkangannya.<br />
&#8220;Emmh, mbak memangnya mau saya temenin?&#8221; Fendi tidak membuang-buang waktu.<br />
&#8220;Boleh mas? Beneran nih? Mmmmh?&#8221;<br />
Linda mendekatkan kepalanya dan mencium Fendi. Fendi tidak membuang-buang kesempatan dan melumat habis mulut Linda. Lidahnya bermain-main berpautan dengan lidah Linda yang bernafas semakin menggebu-gebu.<br />
&#8220;Ooooh Mas&#8230;mmmmhhh&#8221;<br />
&#8220;Ahhhh mbak Linda&#8230;mmmmmhhh&#8221;<br />
Linda berjongkok dan membuka celana kerja Fendi. Ia langsung menarik turun celana dalamnya, mengekspos penis Fendi yang sudah berdiri tegang dan mengacung bahagia.<br />
&#8220;Emmmh punya mas gede sekali. Aku suka deh.&#8221;<br />
&#8220;Suka lihatnya Linda? Kalau aromanya?&#8221;<br />
Linda mendekat dan mengendus-ngendus zakar penis Fendi sambil tangannya mengenggam batang laki-lakinya.<br />
&#8220;Emmmmh, aku suka sekali mas..&#8221;<br />
&#8220;Ahhhh&#8230;.oooh&#8230;mmmmh&#8230;kalau&#8230;mmmh&#8230;.rasan ya?&#8221;<br />
Linda tersenyum nakal dan menggerakan kepalanya naik. Ia menjilat kepala penis Fendi yang disunat ketat dan mengulumnya dengan kedua bibirnya. Lidahnya menari-nari di lubang pipisnya, mengirimkan sensasi geli penuh kenikmatan ke seluruh penjuru tubuh Fendi. Fendi mendesah nikmat dan ia mulai membuka kemejanya. Tangan Linda bergerak naik turun mulai mengocok penis Fendi tanpa melepas jilatannya. Perlahan ia melepas genggamannya dan melingkari pangkal penisnya degan jari jempol dan telunjuknya. Ia menekan lingkarannya ke bawah dan kepalanya mulai menelan habis semua penis Fendi.<br />
&#8220;Ahhhh mbak&#8230;emmmhhh&#8230;.enak banget!! oooohhh&#8230;&#8221;<br />
Linda mempercepat permainan kepalanya dan Fendi semaki kenikmatan dan mengerjap-ngerjapkan matanya akibat sensasi yang ia rasakan.<br />
&#8220;Puuuahhhh&#8230;mmmmh&#8230;aku suka sekali sama penis mas&#8230;.&#8221;<br />
Linda mulai membuka bajunya dan memamerkan payudaranya yang tidak dilapisi bra sama sekali. Payudara besar itu membuat Fendi begitu bernafsu dan ingin memainkannya. Namun Linda menahannya dan memaksanya untuk tetap duduk.<br />
&#8220;Tunggu dulu mas, aku belum selesai loh.&#8221;<br />
&#8220;Mau ngapain lagi Linda sayang.&#8221;<br />
&#8220;Tunggu aja, hihi.&#8221;<br />
Linda bergerak maju dan menjepit penis Fendi dengan kedua payudaranya. Fendi merasakan sensasi lembut payudara Linda di kontolnya dan ia menggelinjang keenakan. Linda mengapit penis Fendi dengan payudaranya dan memainkannya naik dan turun dengan bantuan tekanan dari kedua tanganyya. Fendi yang sedang mengangkang hanya bisa mendesah keenakan sambil mengigiti bibir bawahnya.<br />
&#8220;Enak kan mas? Hmmm?&#8221;<br />
&#8220;Oooooh enak banget Lin&#8230;emmmh&#8230;mantap!&#8221;<br />
Linda melanjutkan kulumannya di kepala penis Fendi yang menjembul di antara payudaranya. Fendi bisa merasakan puncaknya hampir tiba dan tubuhnya berkontraksi kencang.<br />
&#8220;Ahhhh mbak Linda&#8230;ahhh..aku mau&#8230;emmmh&#8230;sampai!!&#8230;.Ahhhhh!&#8221;<br />
Linda melepaskan kulumannya dan memainkan payudaranya naik dan turun semakin nafsu. CROOOT CROOOT CROOOOT<br />
Peju Fendi bermuncratan di payudara Linda yang masih mengapit penis Fendi.<br />
&#8220;Ahhh mas Fendi nakal yah, mmmmhhh&#8221;<br />
Linda menjilat peju itu dari payudaranya dan melirik nakal menuju Fendi. Fendi hanya bisa tersenyum puas dan lemas, duduk bahagia di bawah foto keluarga Robert dan Linda.</p>
<p style="text-align: justify;">Fendi &#8211; Rabu pukul 19:13</p>
<p>&#8220;OOOOOH! MAS! MAS! TERUS MAS! EMMMH!&#8221;<br />
Linda berteriak penuh nafsu sambil menunggangi penis Fendi dalam posisi woman on top. Fendi yang sudah mulai kelelahan, harus menuruti libido wanita berusia lima tahun lebih tua itu. Karena menurut petunjuk Hassan, si wanita harus tertidur dahulu baru ia akan melupakan segala hal yang sudah terjadi. Mau tidak mau, meskipun sebenarnya mengasyikkan, ia harus terus mengentoti Linda sampai wanita itu kelelahan. Meskipun ini sudah ronde yang keempat.<br />
&#8220;Emmmh, ahhhhh, mas&#8230;.emmmmhh&#8230;enak mas? hmmmmm?&#8221;<br />
Linda bertanya penuh nafsu sambil menggigit bibiw bawahnya. Memeknya meremas penis Fendi dengan amat sangat kencang. Fendi masih tertakjub merasakan betapa sempitnya wanita yang lebih tua itu. Payudaranya yang mulai turun bergoyang-goyang seksi penuh nafsu. Putingnya yang sedari tadi mengacung dicubit-cubit gemas oleh Fendi.<br />
&#8220;Kamu seksi banget&#8230;emmmh&#8230;mbak&#8230;.emmmmh&#8221;<br />
&#8220;aahhhhh&#8230;mas&#8230;.cepet mas&#8230;.emmmmh&#8230;..&#8221;<br />
Linda mencium bibir Fendi secara tiba-tiba, mengejutkannya yang sedang sibuk memainkan payudaranya. Namun meskipun mendadak, Fnedi melayani lumatan bibir Linda dengan tidak kalah bersemangat dan memainkan lidahnya sebaik mungkin untuk memuaskan permainan lidah Linda yang teramat liar.</p>
<p>&#8220;Mas&#8230;.enak bengt mas&#8230;emmmmhhh&#8230;.&#8221;<br />
&#8220;Beneran mbak? Hmmmm? Seenak itu kah? hmmmm&#8221; Fendi bertanya nakal sambil memainkan pinggulnya semakin kencang.<br />
&#8220;He eh&#8230;emmmmh&#8230;mas ganteng lagi&#8230;ahhhhh&#8221;<br />
&#8220;Oh ya mbak? Emmmmh?&#8221;<br />
&#8220;AHHHH! AHHHH! EMMMMH! OOOOHHH&#8221;<br />
Linda menggelinjang hebat dan mencapai orgasmenya yang keenam. Tubuhnya bergetar dan berkontraksi. Ia mengeluarkan suara teriakan penuh nafsu panjang. &#8220;AHHHHH MAS&#8230;MAS&#8230;AHHHHH AKU SAMPAI&#8230;AHHHH..&#8221;<br />
&#8220;Aku juga&#8230;emmmh..mbak&#8230;ooooh..OOOOH!&#8221;<br />
CROOOT CROOOOT CROOOOT<br />
Linda terbaring lemas dan bernafas tersengal-sengal. Fendi menyeka keringat di dahinya dan memperhatikan jam di tangannya. Ia memikirkan istrinya yang sekarang sedang digilir oleh Santoso dan entah sudah selesai atau belum kegiatan &#8220;ekskul&#8221; mereka. Ia menengok dan melihat Linda yang sudah mulai mendengkur lemas. Wajahnya tersenyum puas.</p>
<p>Fendi menarik perlahan penisnya yang sudah mulai melemas dan memperhatika pejunya yang terus mengalir keluar dari lubang memek Linda. Ia membersihkan kontolnya dengan sprei kasurnya dan mulai memakai kembali pakaiannya yang berserakan di sepanjang rumah. Celana dalam di kasur, celana kerja di lorong dan kemeja di ruang tamu. Sebelum pergi, ia menutup pintu gerbang rumah Linda dan Robert. Dengan mobil sedannya, ia memulai perjalanannya pulang menuju rumahnya.</p>
<p>Yosua &#8211; Rabu pukul 19:48</p>
<p>Yosua membuka gerbangnya yang terkunci dan berjalan masuk. Ia memperhatikan keadaan rumahnya yang sepi. Anaknya, Marsha pulang malam hampir setiap hari. Ia biasanya bermain di rumah sahabatnya dan pulang pukul sembilan malam setiap harinya. Ia tidak melihat ada mobil lain di jalanan luar dan sepatu milik Hassan di depan pintu rumahnya. Ia masih bisa merasakan sensasi memeknya Asih yang begitu rapat dan legit. Meskipun tidak bisa dibandingkan dengan memeknya Mona yang benar-benar megambil hatinya, setidaknya memiliki memek lain untuk dimainkan merupakan hadiah tersendiri di sela-sela pekerjaan kantornya yang amat monoton.<br />
&#8220;Honey, aku pulang!&#8221;<br />
Sinta berjalan keluar dari kamarnya. Ia berpakaian seadanya dan rambutnya sedikit berantakan. Yang paling membuat Yosua terkejut adalah tatapan kosong yang Sinta berikan dan gerak gerik tubuhnya yang seperti kebingungan.<br />
&#8220;Sinta? Kamu kenapa?&#8221; Yosua menyadari bahwa ini adalah efek samping dari obat yang Hassan berikan.<br />
&#8220;Enggak sayang, aku cuma bingung. Aku lupa ngapain aja dari sore tadi.&#8221;<br />
Yosua berpura-pura khawatir meskipun tahu apa yang sebenarnya terjadi.<br />
&#8220;Kamu kenapa sayang? Kayak orang ling-lung begitu.&#8221;<br />
&#8220;Aku lupa abis jam 6, aku ngapain aja. Abis nonton gosip investigasi itu, aku&#8230;aku&#8230;&#8221;<br />
&#8220;Ya udah kamu sekarang duduk aja dulu. Aku udah makan ya sayang.&#8221;<br />
&#8220;Oh iya, kamu kenapa pulang jam segini?&#8221;<br />
&#8220;Tadi diajak dinner sama pak&#8230;emmmm..pak Hassan sebentar.&#8221;<br />
&#8220;Pak Hassan? Pak Hassan&#8230;..&#8221;<br />
Yosua terdiam menunggu reaksi dari Sinta. &#8220;Oh Pak Hassan, yang kemarin ketemu di gathering kantor kamu kan?&#8221;<br />
Yosua bernafas lega. &#8220;Iya yang itu.&#8221;<br />
&#8220;Oh ya udah, aku udah masak lo say. Beneran gak mau makan lagi?&#8221;<br />
&#8220;Enggak ah aku udah kenyang.&#8221;<br />
Sinta hanya mengangguk lemas dan berjalan masuk ke kamar. Yosua tersenyum puas melihat obatnya yang bekerja sesuai dengan harapannya.</p>
<p>Fendi &#8211; Kamis pukul 10:35</p>
<p>&#8220;Gimana kemarin? Asih enak enggak?&#8221;<br />
&#8220;Lumayan, enakkan istri lo sih sob.&#8221;<br />
&#8220;Tenang nanti bakal dapet gilirannya lo!&#8221;<br />
Mereka berdua tertawa sambil membaca sebuah majalah laki-laki dewasa.<br />
&#8220;Eh gila nih toketnya, kenceng banget!&#8221;<br />
&#8220;Ya iyalah, dibandinging istri-istri kita.&#8221;<br />
&#8220;Enak aja! Sinta masih oke ya!&#8221;<br />
&#8220;Oke sih oke, tapi dibandingin sama Alia?&#8221;<br />
&#8220;Oh iya Alia! Lo belom cerita waktu itu gimana abis lo &#8216;anterin&#8217; pulang.&#8221;<br />
Fendi kemudian menceritakan sesi vaginal dan analnya bersama Alia yang tidak bisa ia lupakan. Sejak hari itu, Alia semakin centil dan manis setiap kali bertemu Fendi. Meskipun mereka sepakat untuk tidak berhubungan dengan sms sama sekali karena masing-masing orang sudah memiliki pasangan.<br />
&#8220;Aduh pengen banget gw yang masih muda begitu.&#8221;<br />
&#8220;Mau? Kenapa enggak siang ini aja?&#8221;<br />
&#8220;Lo serius?&#8221;<br />
Fendi hanya tertawa dan berbisik ke arah Fendi.<br />
&#8220;Ketemuan di ruang fotokopi nanti pas jam makan siang.&#8221;<br />
Yosua tersenyum puas dan mengancungkan jempolnya. Teburu-buru, ia memasukkan majalah itu ke dalam meja kantornya saat seseorang berjalan melintas.</p>
<p>Yosua &#8211; Kamis pukul 12:24</p>
<p>Yosua menunggu dengan tidak sabar. Penisnya sudah mengeras sejak sepuluh menit yang lalu. Tidak henti-hentinya ia mengelus-ngelus selangkangannya sendiri akibat terlalu horny. Suasana kantor di dekat ruang fotokopi memang selalu sepi. Apalagi saat jam makan siang, pantry di kantor mereka terletak sangat jauh dari lokasinya sekarang. Fendi kemudian masuk sambil diikuti oleh Alia yang sudah tersenyum-senyum centil.<br />
&#8220;Ini dia sob!&#8221;<br />
Alia masuk dan langsung tersenyum centil kepada Yosua. Ia tidak membuang-buang waktu dan mulai membuka blusnya. Fendi menutup pintu ruangan itu dan melepaskan celana kerjanya. Yosua mengikuti gerakan Fendi dan memamerkan penisnya yang sudah mengacung tinggi ke langit.<br />
&#8220;Ih , Pak Yosua udah enggak sabar ya?&#8221;<br />
&#8220;Iya dong Alia, habis kamu cantik banget.&#8221;<br />
&#8220;Ah bapak ini.&#8221;<br />
Yosua mencium Alia sambil membantunya melepaskan behanya. Ia langsung menyergap payudara Alia yang besar dan lembut, kencang dan menantang. Ia meremas-remasnya penuh nafsu dan Alia mendesah penuh gairah. Fendi mulai menggesek-gesekkan penisnya ke pantat Alia yang masih ditutupi rok dan menciumi lehernya. Alia semakin bergairah akibat sensasi yang ia dapatkan dari dua laki-laki berusia matang dan sudah beristri itu. Matanya sekarang sudah merem melek memeknya sekarang sudah amat sangat basah. Ia sudah sama sekali tidak memikirkan tunangannya yang menunggunya dengan setia di kampung.</p>
<p>&#8220;Emmmmh, tetek kamu enak banget Al..emmmmhh&#8221; Yosua sekarang sudah mengemut pentilnya yang berwarna pink manis dengan tangan kanannya memainkan puting yang lain. Fendi berhasil menurunkan roknya ke bawah dan Alia sekarang sudah benar-benar bertelanjang bulat. &#8220;Ahhhh pak&#8230;emmmmhhh&#8230;&#8221;<br />
Fendi sekarang berjongkok dan menjilati lubang anus dan memeknya secara bersamaan. Tangannya sudah mulai mengelus-ngelus memeknya sambil lidahnya menekan-nekan lubanb boolnya. Alia mengangkat satu kakinya dan mesin fotokopi, memberikan &#8216;akses&#8217; yang lebih terbuka kepada Fendi. Alia mendesah penuh nafsu saat Fendi menyelipkan dua jarinya ke dalam memek Alia yang sudah basah dan menekan-nekannya cepat. Nafasnya semakin tidak beraturan dan tubuhnya mulai menggelinjang-menggelinjang hebat. Yosua mulai mengocok-ngocok penisnya sendiri penuh nafsu tanpa melepaskan gigitannya pada puting Alia yang mulai mengeras.</p>
<p>&#8220;Aku masukkin ya sekarang Alia&#8230;&#8221;<br />
&#8220;Emmmmmh&#8230;silahkan pak Fendi&#8230;Ooooohhhh&#8230;&#8221;<br />
Fendi menekan kepala penisnya ke lubang anus Alia yang masih sangat rapat. Alia memekik kesakitan saat Fendi berhasil memasukkan kepala penisnya. Yosua mencium bibirnya untuk menenangkan suara Alia sambil mempersiapkan penisnya memasuki lobang memek Alia. &#8220;Aku masukkin juga ya Alia&#8230;&#8221;<br />
&#8220;Emmmmh&#8230;dua sekaligus? ahhhh&#8230;emmmmmhhhh&#8230;&#8221;<br />
&#8220;He eh, kamu mau kan?&#8221; Tanpa menunggu jawaban dari Alia, ia menekan masuk kontolnya ke dalam memek Alia dan tubuhnya menggelinjang hebat. Fendi kemudian menahan kaki kanannya yang sudah terangkat ke atas mesin fotokopi dengan lengannya, kemudian mengangkat kaki kirinya dengan lengannya yang lain. Alia kini terangkat dari daratan dengan dua buah penis bosnya sebagai penyangga.<br />
&#8220;AHHHH&#8230;OOOOOOHHH&#8230;.AHHHHH&#8221;<br />
Yosua bisa merasakan penisnya yang bergesekkan dengan penis Fendi meskipun terhalangi daging dan otot-otot yang lain. Ia tersenyum memandangi sahabatnya yang membantu Alia bertahan di udara dengan menahan pinggangnya. Mereka mulai memompa secara bergantian. Fendi masuk saat Yosua menarik keluar dan Yosua masuk saat Fendi menarik keluar. Ritme mereka begitu terkendali, Alia merasakn sensasi seksual yang teramat besar dan memabukkan. Matanya berputar ke belakang penuh nafsu dan ia hanya bisa mengerang-ngerang nakal.<br />
&#8220;AHHHH&#8230;AHHHHH&#8230;AHHHHH&#8230;PAK! EMMMMH&#8230;.Dua penis kalian&#8230;emmmmhh&#8230;enak&#8230;emmmhh&#8230;.banget!&#8230;AHHH ..AHHHH&#8221;<br />
&#8220;Memek kamu rapet banget&#8230;Al&#8230;emmmmh&#8230;ahhh&#8230;&#8221;<br />
&#8220;Anus kamu..emmmmh&#8230;juga!&#8230;AHHHHHH&#8221;<br />
Tubuh Alia menggelinjang hebat dan berkontraksi akibat orgasmenya yang akan datang sebentar lagi. Ia mengigit bibir bawahnya oenu nafsu dan berharap posisi ini bisa bertahan selamanya.</p>
<p>Pada momen yang sama, Yosua dan Fendi juga hampir sampai. Mereka berdua pun menyodok masuk penis mereka secara bersamaan dan mengeluarkan semua peju mereka di dalam.<br />
CROOOT CROOOT CROOOOT CROOOOOT<br />
Alia melenguh hebat dan mencapai orgasmenya. Ia tersengal-sengal dan mencium Yosua mesra. Ia bisa merasakan peju hangat mereka mengalir dalam perutnya. Ia begitu bahagia dan terpuaskan. Yosua melihat Fendi yang tersenyum puas dan mengacungkan jempolnya. Yosua hanya mengangguk nakal dan melepaskan ciuman Alia.<br />
&#8220;Kamu siap ganti posisi sayang?&#8221;<br />
Alia terlihat kebingungan.<br />
&#8220;Iya sekarang aku mau anal kamu.&#8221;<br />
&#8220;Dan aku mau memek kamu.&#8221;<br />
Alia terkejut. &#8220;APA?!&#8221;</p>
<p>Fendi &#8211; Selasa pukul 14:45</p>
<p>Setelah threesome mereka yang memuaskan di ruang fotokopi minggu lalu, Alia mengambil cuti karena kelelahan dan masuk kembali senin kemarin. Sikap centilnya belum berubah bahkan kemarin, ia memberikan Fendi sebuah blowjob di toilet kantor karena begitu nafsu. Di rumah pun Mona semakin menjadi-jadi dalam meminta jatah. Ia berhubungan hampir setiap malam dan Fendi terasa sangat bahagia. Hidupnya tidak pernah semenyenangkan ini. Ia tidak menyangka perjanjiannya dengan Yosua bisa membawa begitu banyak berkah, kesenangan, dan kepuasan dalam usianya yang bisa dibilang tidak muda lagi. Ia menjadi lebih semangat bekerja, begitu pula dengan Yosua yang menjadi lebih berkharisma akibat kehidupan seksualnya yang kembali &#8216;panas&#8217;. Hari itu, tiba-tiba mereka mendapatkan panggilan untuk rapat kembali. Mungkin pergiliran berikutnya.</p>
<p>Ruang rapat itu menjadi sangat berisik saat setiap suami menceritakan pengalamannya berhubungan seksual degan istri rekan kantornya yang lain. Hassan bercerita bagaimana Sinta begitu ahli dalam memainkan lidah dan pinggulnya. Betapa montok pantat dan payudaranya untuk wanita yang menginjak kepala empat dan betapa harum dan menggiurkan memek istrinya itu. Santoso tidak mau kalah seru dan menceritakan Fendi betapa rapatnay memek istrinya. Ia menceritakan bagaimana mereka begitu nafsu melakukan hubungan seksual selama empat ronde di kebun, dapur bahkan ruang tamu mereka.</p>
<p>Tiba-tiba Mario berdiri dan menepukkan tangannya dua kali. Semuanya terdiam dan menunggu pengumuman dari Mario.<br />
&#8220;Baiklah, ini sudah waktu yang tepat untuk mengadakan gathering.&#8221;<br />
&#8220;Gathering?&#8221;<br />
&#8220;Iya Fen, Gathering! Selama tiga bulan sekali, kami melakukan pertukaran massal di villa Hassan di puncak.&#8221;<br />
&#8220;Tapi kami orang baru disini?&#8221;<br />
&#8220;Tapi gathering terakhir kami adalah tiga bulan yang lalu! Itu adalah peraturannya.&#8221;<br />
&#8220;Lalu siapa yang akan dapat istri siapa?&#8221;<br />
&#8220;Itu sih, lihat nanti saja.&#8221; Robert, Hassan, Mario, Sunaryo dan Santoso tersenyum lebar.<br />
&#8220;Kalian belum pernah ikut sex party?&#8221;<br />
Yosua dan Fendi menggeleng.<br />
&#8220;Gang-bang?&#8221;<br />
Mereka kembali menggeleng<br />
&#8220;Orgy?&#8221;</p>
<p>&#8220;Itu semua kan sama! Kita belum pernah berhubungan seks yang bukan one-on-one!&#8221;<br />
&#8220;Masa? Lalu kemarin siapa yang berisik di ruang fotokopi?&#8221;<br />
Sunaryo tiba-tiba menyeletuk. Fendi dan Yosua terkejut mendengar perkataannya.<br />
&#8220;Ta&#8230;ta&#8230;tapi&#8230;ba&#8230;bagaimana kau tahu?&#8221;<br />
&#8220;Tenang saja kawan, Alia itu memang hot kok. Aku mengerti, hehehe.&#8221;<br />
&#8220;Alia? Resepsionis bob seksi itu? Kalian beruntung sekali!&#8221;<br />
Yosua dan Fendi hanya bisa tertawa terpaksa mendengar pernyataan Robert.<br />
&#8220;Jadi, kita berangkat hari apa bos?&#8221; Santoso tiba-tiba bertanya.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Sabtu pagi ini saya akan melaporkan kepergian kalian sebagai &#8216;urusan kantor&#8217;. Kita akan konvoy mulai di kantor ini jam 7 pagi. Jangan ada yang telat ya, dan&#8230;saya rasa kalian tidak perlu membawa baju banyak-banyak.&#8221; Mario tersenyum lebar dan diikuti oleh semua laki-laki di ruangan itu. Yosua dan Fendi saling berpandangan dan kebingungan. Apakah mereka siap untuk sex-party pertama mereka?</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>BERSAMBUNG &#8230;</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ceritasex.cn/klub-tukar-istri-bagian-4-empat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Klub Tukar Istri Bagian 1 (satu)</title>
		<link>http://www.ceritasex.cn/klub-tukar-istri-bagian-1-satu/</link>
		<comments>http://www.ceritasex.cn/klub-tukar-istri-bagian-1-satu/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 04 Nov 2010 08:58:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cerita Sex</dc:creator>
				<category><![CDATA[Orgy]]></category>
		<category><![CDATA[Paruh baya]]></category>
		<category><![CDATA[Seks Umum]]></category>
		<category><![CDATA[selingkuh]]></category>
		<category><![CDATA[istri]]></category>
		<category><![CDATA[memek]]></category>
		<category><![CDATA[mona]]></category>
		<category><![CDATA[ngentot istri orang]]></category>
		<category><![CDATA[orgy]]></category>
		<category><![CDATA[seks]]></category>
		<category><![CDATA[sinta]]></category>
		<category><![CDATA[tukar istri]]></category>
		<category><![CDATA[tukar pasangan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ceritasex.cn/?p=1608</guid>
		<description><![CDATA[Namanya Fendi, berusia 40 tahun dan bekerja di sebuah perusahaan swasta. Ia sudah menikah dengan istrinya, Mona, selama lima belas tahun. Kehidupan seks mereka sudah sangat membosankan dan bisa dibilang terasa sangat hambar. Mereka melakukan seks sekali dalam seminggu, itupun kalau ia tidak kelelahan sepulang kantor. Mona juga tidak menyukai posisi yang macam-macam dan hanya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Namanya Fendi, berusia 40 tahun dan bekerja di sebuah perusahaan swasta. Ia sudah menikah dengan istrinya, Mona, selama lima belas tahun. Kehidupan seks mereka sudah sangat membosankan dan bisa dibilang terasa sangat hambar. Mereka melakukan seks sekali dalam seminggu, itupun kalau ia tidak kelelahan sepulang kantor. Mona juga tidak menyukai posisi yang macam-macam dan hanya mau melakukan posisi misionaris. Mona sekarang berusia 39 tahun, meskipun begitu ia masih tetap cantik dan elok. Entah apa yang bisa membuat kehidupan seksual mereka begitu membosankan. Padahal dulu sebelum menikah, mereka selalu melakukannya setiap hari seusai kuliah dan pada weekend.</p>
<p style="text-align: justify;">Pekerjaannya di kantorpun selalu mandeg dan tidak ada hal yang baru. Bekerja di dalam sebuah kubikel yang sempit, ia selalu merasa lelah setiap kali mendapatkan tugas dan assignment yang itu-itu saja. Beruntung ia bersahabat dengan Yosua, rekan sekantornya yang kini berusia dua tahun lebih tua. Pada suatu hari, mereka yang sedang makan siang menemukan persamaan dalam kehidupan seksualitas mereka.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Fen, gw boleh curhat gak sama lo?&#8221;<br />
&#8220;Boleh? Emang kenapa Yos?&#8221;<br />
&#8220;Istri gw nih. Entah kenapa sekarang-sekarang ini gw lagi hambar banget sama dia.&#8221;<br />
&#8220;Maksud lo?&#8221;<br />
&#8220;Iya, gw cinta banget sama dia. Namun setelah menikah belasan tahun, gw ngerasa hambar aja gitu&#8230;&#8221;<br />
&#8220;Hambar dalam?&#8221;<br />
&#8220;Dalam hubungan seks kami&#8230;&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Fendi tersentak mendengar pernyataan ini. Ia tidak menyangka bahwa krisis yang ia alami juga bisa dialami oleh sahabat dan koleganya tersebut.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Gw udah susah banget bergairah kalau sama dia. Rasanya tuh, biasa banget.&#8221;<br />
&#8220;Lo udah pernah tanya ke Sinta?&#8221;<br />
Ia hanya menggeleng lemas. &#8220;Gw udah tanya, kenapa dia ogah-ogahan kalau gw ajak, tapi dia gak pernah ngasih jawaban yang jelas.&#8221;<br />
Mereka berdua terdiam.<br />
&#8220;Sabar ya bro, gw juga ngalamin hal yang sama kok.&#8221;<br />
&#8220;Lo dan Mona? Beneran?&#8221;<br />
&#8220;Iya, gw juga rasanya udah hambar banget setiap kali ML sama dia. Udah gak ada &#8216;spark&#8217; lagi kayak pas kuliah dulu.&#8221;<br />
&#8220;Iya ya, kok bisa begitu. Gw jad bingung.&#8221;<br />
&#8220;Lo udah berapa lama ngalamin ini?&#8221;<br />
&#8220;Dari anak gw naek kelas 4 sd.&#8221;<br />
&#8220;Udah lama dong?&#8221;<br />
&#8220;Lumayan.&#8221;<br />
&#8220;Lo pernah coba coba&#8230;ehmmmm&#8221;<br />
&#8220;Maen ama pelacur?&#8221; Jonathan menjawab dengan sedikit ketus.<br />
Fendi hanya mengangguk takut. Ia tidak ingin menyinggung perasaan sahabatnya yang sedang galau.<br />
&#8220;Sori, gw gak maksud buat lo marah.&#8221;<br />
&#8220;No problem kok. Gw juga pernah berpikiran gitu.&#8221;<br />
&#8220;Tapi?&#8221;<br />
&#8220;Gw gak berani ambil resikonya, takut penyakitan gw.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Tiba-tiba sebuah benak bulus terlesat di pikiran Fendi. Ia pernah menonton sebuah film bokep mengenai pertukaran pasangan yang menggairahkan pasangan yang sebenarnya. Membayangkan tubuh molek dan perawakan Sinta yang cantik membuat kemaluannya berdiri tegang.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Gw punya rencana nih.&#8221;<br />
&#8220;Rencana apa?&#8221;<br />
&#8220;Lo belom ambil jatah cuti lo kan?&#8221;<br />
&#8220;Belom?&#8221;<br />
&#8220;Nah jadi suatu hari kita cuti bareng, kita pura-pura pergi kerja tapi gw maen ke rumah lo dn lo maen ke rumah gw.&#8221;<br />
&#8220;Terus? Buat apa gw maen ke rumah lo?&#8221;<br />
&#8220;Masa lo belom pernah sih ngebayangin begituan ama istri gw?&#8221;<br />
&#8220;AH GILA LO!&#8221;<br />
&#8220;Eh dengerin dulu. Gw udah ngasih ijin nih buat lo, sekarang tinggal lo aja. Rela gak?&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Jonathan terdiam mendengarkan rencana yang dibuat oleh Fendi. Perlahan ia membayangkan istrinya berenggama dengan laki-laki lain. Iapun terkejut betapa angan-angan itu membuatnya terangsang.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Kalau gw rela gimana?&#8221;<br />
&#8220;Ya udah kalau gitu, kita ambil cuti besok dan lo maen kerumah gw jam sembilan-an abis nganterin anak lo sekolah. Istri gw biasanya udah selesai beres-beres jam segitu.&#8221;<br />
&#8220;Oke, lo juga jam segituan ke rumah gw. Besok jangan lupa cerita-cerita di kantor pas ja makan siang ya.&#8221;<br />
&#8220;Sip. Dan jangan sampai istri kita tahu&#8221;<br />
Mereka berjabat tangan dan tersenyum lebar.</p>
<p style="text-align: justify;">Fendi &#8211; Kamis pukul 08.50</p>
<p style="text-align: justify;">Fendi menunggu di dalam mobilnya yang diparkirkan tidak begitu jauh dari kediaman Jonathan. Ia sudah memikirkan masak-masak rencana ini dari kemarin siang. Ia berusaha menutupi rasa semangatnya dari sang istri agar tidak dicurigai macam-macam. Membayangkan istrinya Mona, dicabuli oleh sahabatnya sendiri membawa sensasi gila yang menggairahkannya amat sangat. Dan kini ia akan bersenggama dengan istri sahabatnya, Sinta yang tidak kalah cantik dari Mona. Sungguh tindakan gila!<br />
<span id="more-1608"></span><br />
Fendi pun akhirnya turun dari mobil dan berjalan menuju pintu gerbang rumah Yosua dan Sinta yang dicat hitam tinggi. Ia membunyikan bellnya dan menunggu Sinta keluar. Perlahan ia mendengar suara langkah Sinta, diselingi dengan nafasnya yang tersengal-sengal.<br />
&#8220;Aduh mas Fendi.Tumben datang jam segini.&#8221;<br />
Sinta memakai celemek yang diikat ketat di belakang, memamerkan buah dadanya yang ranum dan terbentuk indah. Di balik Celemek itu Fendi bisa melihat tank top yang ia pakai, berwarna orange ketat dan memikat. Ia juga memakai celana pendek berwarna hitam terlihat dari sisi kanan dan kiri pahanya yang kencang dan mulus.<br />
&#8220;Ayo masuk silahkan.&#8221;<br />
&#8220;Terima kasih mbak Sinta.&#8221;<br />
&#8220;Mau ngapain mas ke sini? Mas Yosua sudah pergi dari tadi.&#8221;<br />
&#8220;Iya, katanya mas Yosua ketinggalan berkas di ruang kerjanya, tetapi ia sedang ada rapat penting jadinya syaa yang disuruh mengambil.&#8221;<br />
&#8220;Oh ya sudah silahkan masuk mas.&#8221;<br />
Fendi berjalan masuk mendahului Sinta yang sibuk mengunci gerbang rumahnya. Ia berjalan masuk melalui pintu belakang yang bertemu langsung dengan dapur dan bergerak cepat menuju ruang kerja Yosua. Ia berpura-pura mengambil satu dua buah berkas dan kembali menuju ruang dapur dimana Sinta sedang sibuk memasak.<br />
&#8220;Masak apa toh mbak?&#8221;<br />
&#8220;Ayam goreng mas. Mas Yosua lagi demen sama makanan ini.&#8221;<br />
&#8220;Wah rajinnya masak. Gimana mas Yosua enggak seneng.&#8221;<br />
&#8220;Ah mas bisa aja, mbak Mona kan juga gak kalah jago masak.&#8221;<br />
Sinta kembali sibuk mengurusi ayamnya. Fendi memandnginya dari belakang. Ia memperhatikan rambut panjang Ainta yang terjulur indah ke ounggungnya. Ia bisa melihat branya yang berwarna hitam dengan jelas sekarang. Ia meletakkan berkas itu diatas kulkas dan bergerak mendekati Sinta.<br />
&#8220;Mbak Sinta kalau lagi keringetan tambah seksi ya.&#8221;<br />
&#8220;Ah mas ngomong apa sih? Ah, MAS!&#8221;<br />
Fendi menyergap Sinta dari belakang dan memeluk punggungnya. Sinta berusaha melawan sekuat tenaga namun Fendi memeluknya erat.<br />
&#8220;Ah mas! Lepasin aku mas! Ahh Ahh&#8221;<br />
&#8220;Mbak Sinta seksi banget. Aku enggak kuat loh mbak.&#8221;<br />
Tangan kanannya bergerak naik dan memainkan payudaranya yang tersembunyi di balik celemek dan tank top. Tangan kirinya tidak mau kalah sibuk dan bergerak turun ke bawah, menekan-nekan memeknya yang masih diselimuti celana pendek dan celana dalam.<br />
&#8220;Mas, Jangan mas! mas kan sahabatnya mas Yosua, Ohhh Mas! Auuw&#8221;<br />
&#8220;Beneran jangan nih mbak? Kok mbak jadi basah begini sih?&#8221;<br />
&#8220;Ahh mas&#8230;ahhh&#8230;&#8221;<br />
Fendi membuka celemek Sinta dengan cepat dan membukanya bersamaan dengan tank topnya. Ia memainkan tetek Sinta yang masih diselimuti bra dan memeknya dengan semakin ganas.<br />
&#8220;Mas&#8230;Ouuuwh&#8230;mas&#8230;&#8221;<br />
&#8220;Mbak udah jarang dapet jatah kan mbak? AKu tahu, mbak sudah lama pengen dibeginikan.&#8221; Tangan kiri Fendi sudah mulai membuka kansing celana pendek Sinta dan menyelipkan tangannya di dalam celana dalam Sinta. Ia bisa merasakan jembutnya yang sudah basah akibat memeknya yang terangsang hebat. Fendi meremas payudara Sinta yang kini sudah terekspos akibat bra yang sudah Fendi lepas. Putingnya yang pink mencuat ke depan karena terangsang hebat. Fendi memelintirnya berkali-kali dengan jepitan telunjuk dan jari tengahnya. Sinta hanya bisa mengerang-erang lemas. Fendi menciumi leher dan telinga Sinta sambil sibuk menggosok-gosokkan celana kerja berisi kontolnya yang sudah sangat keras ke tengah pantat Sinta.</p>
<p style="text-align: justify;">Fendi semakin bergairah memainkan payudara dan memek Sinta yang sudah bear-benar basah. Mereka dua mengerang-ngerang nikmat sambil melenguh-lenguh keenakkan.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Mas&#8230;ahhhh&#8230;jangan disini mas&#8230;&#8221;<br />
&#8220;Akhirnya..mmmh&#8230;mbak nyerah juga&#8230;&#8221;<br />
&#8220;Ah&#8230;mas&#8230;&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Fendi memutar tubuh Sinta secara paksa dan menekannya ke meja dapur. Piring berisi daging ayam fillet itupun terlempar ganas ke lantai akibat perbuatan bejat kedua manusia itu. Sinta melumat bibir Fendi dengan begitu beringas bagaikan anak kecil yang belum dikasih makan. Lidahnya berputar-putar di dalam mulut Fendi, menelusuri setiap inci bagian dalam mulut suami orang itu. Fendi tidak mau kalah dan ikut memainkan lidahnya. Ia memijat-mijat lidah istri nakal itu. Tangannya meremas pantat Sinta yang sudah basah akan keringat. Fendi mengangkat pantat Sinta dan menaikkannya ke atas meja dapur. Ia pun berjongkok dan mengendus-ngendus area selangkangan Sinta. Aroma cairan memeknya yang membasahi celana dalam hitam yang ia pakai membuat pikiran Fendi melayang tinggi.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Kamu wangi banget loh Sinta, Mas Fendi seneng banget.&#8221;<br />
&#8220;Ahh mas&#8230;ahh&#8230;&#8221; Sinta mengejang-ngejang nikmat sambil memainkan payudaranya sendiri. &#8220;Diisap dong mas&#8230;ahhh&#8230;jangan diciumin mulu&#8230;ahhh&#8230;&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Fendi menarik celana dalam Sinta dan menemukan harta karun yang ia cari dari pagi tadi. Memek Sinta bentuknya sangat indah, dengan bulu lebat yang semakin meningkatkan hasrat. Fendipun melahap habis memek Sinta dan memainkan lubang kenikmatannya dengan lidahnya. Ia menekan-nekan masuk lidahnya smbil mencicipi kenikmatan duniawi yang amat memabukkan itu. Tangan kanannya tidak mau kalah dan memainkan klitoris Sinta.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Ahhh mas&#8230;ahhhhh enak banget mas&#8230;oooh&#8230;emmmmh&#8221; Sinta semakin ganas meraung-raung dn bergelinjang kesenangan. Fendi melanjutkan kegiatannya memainkan memek Sinta sambil perlahan-lahan membuka baju kantornya yang sudah lepek akan keringat. Ia melemparkan kemeja kerja dn dasinya ke lantai dan berdiri mendadak, menghentikan kegiatannya memainkan vagina Sinta.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Mas kenapa berhenti mas?&#8221;<br />
&#8220;Kamu cantik banget Sin, gak kalah sama Mona.&#8221;<br />
&#8220;Ahh&#8230;masss..emmmh&#8221; Sinta melumat bibir Fendi sambil turun dari meja dapurnya. Ia meraba-raba punggung Fendi yang atletis dan menghirup aroma tubuhnya yng membuatnya sangat terangsang. Perlahan ia melepaskan ciumannya dan mulai membuka celana bahan yang Fendi pakai. Selepasnya kncing itu terlepas, Sinta menarik celana dalam putih Fendi ke bawah dan terkagum-kagum melihat perkakas Fendi yang sudah mengacung tinggi ke langit.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Waw&#8230;mas besar banget&#8230;Emmmh&#8221;<br />
&#8220;Ahhh Sinta&#8230;euuummh&#8230;kuluman kamu enak banget&#8230;ooouuuwh&#8230;&#8221;<br />
Sinta mengulum penis Fendi bagaikan anak kecil yang sibuk mengulumi lolipop. Ia melahap habis penis sepanjang 17 centimeter itu ke dalam mulutnya. Aroma jantan khas laki-laki yang berbeda dengan yang dimiliki Yosua membuatnya sangat horny. Sinta tidak pernah tiduri atau bahkan menyepong penis laki-laki lain selain batang milik Yosua sejak mereka menikah dan itu sudah tujuh belas tahun yang lalu. Tangan kirinyapun sibuk mengurusi memeknya yang sudah basah sambil menghisap penis Fendi.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Rasanya enak banget mas..&#8221;<br />
&#8220;Kamu mau yang lebih enak?&#8221;<br />
&#8220;Eummmh&#8230;..sebentar mas&#8230;ini enak banget&#8230;eummmh&#8221;<br />
&#8220;Aku gak mau buru-buru keluar Sinta..&#8221;<br />
&#8220;Tapi nanti mas Yosua marah loh mas kalau dokumennya gak dikirim..&#8221;<br />
&#8220;Bilang aja macet..&#8221;<br />
Fendi melepaskan celana kerjanya yang tersangkut di kedua kakinya dan menggendong tubuh Sinta bagaikan pasangan suami istri yang baru menikah. Mereka berdua melanjutkan ciuman mereka sambil bertelanjang ria tanpa mengenakan pakaian sehelai pun. Fendi melemparkan Sinta ke atas kasur yang biasa Sinta tiduri bersama Yosua dan menutup pintu kamar mereka.</p>
<p style="text-align: justify;">Yosua &#8211; Kamis pukul 09.30</p>
<p style="text-align: justify;">Mona mengerang keenakkan. Ia berkali-kali harus berteriak sambil menutupi wajahnya ke atas bantal akibat sensai yang begitu besar yang ia rasakan. Dengan posisi doggy style,payudaranya yang berukuran lumayan besar bergoyang-goyang seiram dengan gerakan pinggul Yosua yang bergerak maju dan mundur.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;AHHHH, Yosua&#8230;ahhhh&#8230;eumhhhhhh&#8230;.enak&#8230;.b&#8230;.ang&#8230;et &#8230;euuumh..kon&#8230;tolmu&#8230;ahhh&#8230;&#8221;<br />
&#8220;Memekmu juga enak banget Mon&#8230;eummmh&#8230;sempit!&#8221;<br />
Yosua menggoyangkan pinggulnya semakin kencang. Tubuhnya tiba-tiba mengejang-ngejang dan berkontraksi.<br />
&#8220;Ah&#8230;aku&#8230;mau&#8230;.keluar&#8230;.eummmh..&#8221;<br />
&#8220;Jangan di dalem mas&#8230;.ahhh&#8230;&#8221; Mona menarik keluar ****** Yosua dengan paksa dan memasukkannya ke dalam mulutnya dengan begitu cepat. Ia mengulumnya sekuat tenaga dan Yosuapun tidak dapat menahannya lagi.<br />
&#8220;Argggh..aku&#8230;emmh..keluar&#8230;.ahhh&#8230;oooh&#8221;<br />
CROT&#8230;CROT&#8230;CROT&#8230;<br />
Mona menelan semua peju putih yang Yosua keluarkan.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Enak banget mas..&#8221;<br />
Ia terhempas lemas ke atas kasur dan Yosuapun merebah di sampingnya.<br />
&#8220;Kamu enak banget Mon, Sinta kalah deh&#8230;&#8221;<br />
&#8220;Penis mas juga enak banget&#8230;rasanya beda ama mas Fendi..&#8221;<br />
Yosua yang masih semangat akan sensasi baru dalam hidupnya belum berniat untuk mengakhiri petualangan seksualnya sekarang. Ia mengangkat tangannya dan meremas-remas payudara Mona.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Payudara kamu lembut sekali&#8230;&#8221;<br />
&#8220;Ah&#8230;mas&#8230;.aku masih lemes mas&#8230;.&#8221;<br />
&#8220;Kalau cuma kuisep gak apa-apa dong&#8221;<br />
Yosua memutar tubuhnya dan menghisap puting di payudara kanan Mona. Ia menghisapnya keras sambil sekali-sekali mengigit putingnya yang mencoklat dan memancung karena horny. Tangan kirinya ia gunakan untuk memainkan puting yang lain dengan tidak kalah bernafsu.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Ahhh..terus mas&#8230;netek ama aku mas&#8230;.euuumh&#8230;.&#8221;<br />
Mona pun melenguh keenakkan, tanpa sadar bahwa sang suami tercinta juga mengalami kenikmatan yang sama dengan wanita lain.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>BERSAMBUNG&#8230;</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ceritasex.cn/klub-tukar-istri-bagian-1-satu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kupergoki Istriku Selingkuh, Aku Entot Istri Orang Yang Menyelingkuhi Istriku</title>
		<link>http://www.ceritasex.cn/kupergoki-istriku-selingkuh-aku-entot-istri-orang-yang-menyelingkuhi-istriku/</link>
		<comments>http://www.ceritasex.cn/kupergoki-istriku-selingkuh-aku-entot-istri-orang-yang-menyelingkuhi-istriku/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 04 Apr 2010 20:15:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cerita Sex</dc:creator>
				<category><![CDATA[kisah nyata]]></category>
		<category><![CDATA[Paruh baya]]></category>
		<category><![CDATA[Pemerkosaan]]></category>
		<category><![CDATA[Seks Umum]]></category>
		<category><![CDATA[selingkuh]]></category>
		<category><![CDATA[istri]]></category>
		<category><![CDATA[kontol]]></category>
		<category><![CDATA[milf]]></category>
		<category><![CDATA[ngentot]]></category>
		<category><![CDATA[tukar pasangan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ceritasex.cn/?p=1349</guid>
		<description><![CDATA[Sesampainya di rumah setelah terbang sana terbang sini di beberapa kota masih di Pulau Jawa maupun di Pulau Kalimantan dan Sulawesi selama 7 minggu ini untuk urusan bisnis kayu dan hasil-hasil bumi lainnya, tubuhku mulai dilanda letih dan penat luar biasa. Namun secara psikologis justru sebaliknya, aku mulai dapat merasakan suasana rileks dan tentram. Merasa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Sesampainya di rumah setelah terbang sana terbang sini di beberapa kota masih di Pulau Jawa maupun di Pulau Kalimantan dan Sulawesi selama 7 minggu ini untuk urusan bisnis kayu dan hasil-hasil bumi lainnya, tubuhku mulai dilanda letih dan penat luar biasa. Namun secara psikologis justru sebaliknya, aku mulai dapat merasakan suasana rileks dan tentram. Merasa at home dan ingin selekasnya menemui mantan kekasihku, sang isteri tercinta. Hal ini cukup membantu keseimbangan diriku sehingga tidak membuatku dilanda senewen. Karena penerbangan yang kuambil adalah sore jam 6 dari Surabaya, maka masih sore pula sekitar jam 7.30 aku sudah mendarat dan lalu setengah jam kemudian dengan menggunakan jasa taksi aku sudah menginjakkan kaki di halaman rumahku di bilangan Slipi. Lalu lintas tidak macet karena ini hari Minggu. Dari luar ruang tamu nampak terang disinari lampu, berarti isteriku ada di rumah. Di rumah kami tinggal 4 orang saja. Aku yang berusia 38, isteriku 31, pembantu laki-laki 52, dan pembantu wanita 44. Oh ya, setelah 9 tahun menikah kami belum dikarunia anak.</p>
<p style="text-align: justify;">Jadi semakin menjadi-jadilah diriku menghabiskan waktu mengurus bisnis karena belum ada urusan lain yang memerlukan perhatianku. Syukurlah selama ini bisnisku lancar-lancar saja demikian pula perkawinan kami. Ketika hendak kupencet bel kuurungkan siapa tahu pintu tidak dikunci. Tadi gerbang depan dibukakan oleh pembantu wanitaku karena kebetulan dia pas lagi mau keluar untuk membuang sampah. Setelahnya dia kembali ke kamarnya yang terletak di samping kiri bangunan utama. Pembantu-pembantuku kubuatkan kamar di luar. Ukuran rumahku cukup besar dengan masih ditambah tanah yang lumayan luas yang kubuat menjadi taman hampir mengelilingi bangunan rumah kecuali sisi kiri karena kepotong kamar-kamar pembantu dan jalan samping. Dari gerbang depan ke pintu kira-kira mencapai 25 meter. Benar, pintu tidak dikunci dan aku masuk dengan senyap demi membikin isteriku kaget. Aku suka sekali dengan permainan kaget-kagetan begini. Biasanya isteriku suka terpekik lalu menghambur ke pelukanku dan dibarengi dengan ciuman bertubi-tubi. Itulah santapan rohaniku.</p>
<p style="text-align: justify;">Dan itu sering terjadi karena aku sering bepergian dalam waktu lama pula, rekorku pernah sampai 3 bulan baru pulang. Pada awal perkawinan kami tidaklah demikian, namun 5 tahun belakangan ini yah begitulah. Dampaknya adalah kehidupan seks kami mulai menurun drastis frekuensinya maupun kualitasnya. Kali ini aku menangkap suasana lain. Memang biasanya sebelum pulang aku memberitahukan isteriku bahwa dalam 2 sampai 5 hari bakal pulang. Sengaja kali ini aku tidak memberitahu agar lebih dahsyat pekikan-pekikan kangen isteriku itu. Di ruang tamu TV menyala agak keras. Lalu aku menuju dapur mengendap-endap siapa tahu isteriku di sana dan sekalian mau mengambil air putih. Tidak ada. Ah mungkin lagi tidur barangkali di kamar pikirku. Kuletakkan tas koperku di atas meja makan lalu aku mengambil sebotol air dingin di kulkas. Kuletakkan pantatku di atas kursi sambil minum. Kuambil sebatang rokok lalu kunyalakan. Ada sekitar 5 menit kunikmati asap-asap racun itu sebelum akhirnya kuputuskan untuk naik ke lantai 2 di mana kamar tidur kami berada.</p>
<p style="text-align: justify;">Pelan-pelan kunaiki tangga. Pelan sekali kubuka pintu, namun hanya seukuran setengah kepala. Aku ingin mengintip kegiatan isteriku di kamar spesial kami. Apakah lagi lelap dengan pose yang aduhai. Ataukah lagi mematut diri di cermin. Ataukah lagi.. Upss!! Berdebar jantungku. Dalam keremangan lampu kamar (kamar lampuku bisa disetel tingkat keterangannya sedemikian rupa) kulihat ada 2 manusia. Jelas salah satu sosoknya adalah isteriku, mana mungkin aku pangling. Dia lagi mengangkangi seseorang. Posisi kepalanya nampak seperti di sekitar kemaluan lawannya. Perasaanku mulai dilanda kekacauan. Sulit kudefinisikan. Marah. Kaget. Bingung. Bahkan penasaran. Apa yang sedang berlangsung di depan mataku ini? Kepala isteriku nampak naik turun dengan teratur dengan ditingkahi suara-suara lenguhan tertahan seorang pria yang menjemput kenikmatan seksual. Mungkin saking asiknya mereka berolah asmara terkuaknya pintu tidak mereka sadari. Tiba-tiba perasaan aneh menjalari diriku. Darahku berdesir pelan dan makin kencang. Rasa penasaranku sudah mulai dicampur aduki dengan gairah kelelakianku yang membangkit.</p>
<p style="text-align: justify;">Ini lebih dahsyat ketimbang menonton film-film bokep terpanas sekalipun. Kesadaran diriku juga lenyap entah kemana bahwa yang di depan mataku adalah isteriku dengan pria yang pasti bukan diriku. Sekarang aku lebih ingin menyaksikan adegan ini sampai tuntas. Kontolku mulai mengejang. Posisi mereka mulai berbalik. Isteriku mengambil posisi di bawah sementara lawannya ganti di atasnya. Persis sama seperti tadi hanya saja sekarang kelihatannya memek isteriku yang dijadikan sasaran. Aku semakin ngaceng. “Ohh.. Sshh…” suara desisan isteriku berulang-ulang. Telaten sekali si pria (aku sudah menangkap sosok lawannya dengan jelas adalah pria) sehingga isteriku mulai bergerak meliuk-liuk dan menengadahkan kepalanya berkali-kali. “Uuhh.. Eehhss.. Teruss jilatthh.. Pak Minnh.. Ahh.. Uffh..”. Plong rasa dadaku demi akhirnya menemukan identitas sang pelaku pria. Mr. Karmin pembantu priaku yang tua itu. Wah.. Wah.. Pantesan tadi aku agak mengenali sosoknya. Belum sempat aku banyak berpikir kesadaranku disedot kembali oleh suara-suara kesetanan isteriku dari hasil kerja persetubuhan itu.<br />
<span id="more-1349"></span><br />
“Yyaahh.. Teruss.. Teruss.. Aahh.. Tusukk.. Tuussuukkhin liidaahhmu Pak.. Yaahh beegittu.. Oohh..” Semakin binal kepala isteriku tergolek sana sini. Nampaknya dia sudah berada di awang-awang kenikmatan. Aku juga semakin dilanda gairah sehingga tanpa sadar tanganku mulai meremas-remas burungku sendiri. “Ahh…” Ah isteriku akhirnya jebol juga. Aku tahu itu. Tapi nampaknya Pak Karmin masih meneruskan aktivitasnya. Sebentar kemudian kaki isteriku diangkatnya ke kedua bahunya yang bidang dan kekar itu (meskipun sudah tua tapi tubuh pembantuku masih gagah akibat pekerjaannya yang secara fisik membutuhkan kekuatan). Dimainkan jari-jarinya di liang memek isteriku. Lenguhan-lenguhan isteriku kembali terdengar. Semakin kencang kocokan jari Pak Karmin pada memek isteriku. Dengan menggelinjang mengangkat-ngangkat paha isteriku kembali dibuat mabuk kepayang. Akhirnya kulihat batang kemaluan Mr. Karmin sudah diarahkan ke lobang kemaluan isteriku. Busseett gede juga nih punya si tua bangka. Semakin menggelegak gairahku ketika membayangkan bagaimana memek isteriku akan dihujami oleh benda sebesar itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Bless. Masuk. Gleg ludahku tertelan. “Oohh.. Eyaahh.. Eenaakk.. Paakk..”. Pelan-pelan dipompanya memek isteriku dengan godam si Mr. Karmin. Mulai menggila kembali goyangan pantat isteriku melayani rangsekan-rangsekan si batang besar itu. “Geennjoott.. Yaahh.. Genjoott.. Oohh.. Ennakk Banngeett.. Oohh..” Aku menyaksikkan tubuh isteriku terhentak-hentak naik turun akibat sodokan-sodokan yang bertenaga itu. Tangan Mr. Karmin tak tinggal diam menyenggamai buah dada isteriku yang telah menjulang tegak. Wuuhh gila, dahsyat sekali pemandangan yang kusaksikan ini. Setelah hampir 10 menit diangkatlah tubuh isteriku dan dibalikkannya menjadi posisi menungging. Gaya anjing rupanya dikenal juga oleh Si Tua ini. Kembali liang memek isteriku dihunjam dari arah belakang. Konsistensi gerakan anjing yang maju mundur itu beserta lenguhan-lenguhan isteriku semakin mengobarkan hasratku. “Ahh.. Aahh.. Ssooddooghh.. Kuaatt.. Kuat.. Paakkhh, oohh.. Giillaa..” Pompaan Mr. Karmin semakin lama dibuat semakin bertenaga dan semakin cepat.</p>
<p style="text-align: justify;">“Oo hh.. Yaa.. Beggiittuu.. Teruss.. Paakkhh..” Kupikir bakalan selesai eh ternyata isteriku sekarang disuruh berdiri, Mr. Karmin menyetubuhinya sambil berdiri. Tanpa sadar aku menoleh ke lantai bawah ternyata si Pembantu Wanita memergokiku sedang mengintip. Karena jengah atau bagaimana Mrs. Karmin merona mukanya lalu menyingkir ke belakang dengan tergesa. Pembantuku adalah suami isteri. “Yaahh.. Terruuss.. Mauuhh.. Keelluaarr.. Nihh Paakkh..” “Aku sebentar laggii.. Juuggaa.. Ibbuu..” “Baarrenng.. Yaahh.. Paakkh.. Ohh.. Ohh.. Yaahh.. Uuddaahh” Sambil mengejang-ngejang keduanya melepas energi terakhir dan terbesar yang disertai ledakan kenikmatan luar biasa. Mr. Karmin akhirnya jebol juga pertahanannya. Begitu adegan selesai aku dengan perlahan sekali menutup pintunya. Kuturuni perlahan tangga menuju dapur kembali. Celanaku masih padat mnggembung tak terkira. Aku senewen ingin menuntaskan hasratku. Ketika sampai dapur kulihat Mrs. Karmin sedang duduk termangu. Kami saling menatap dalam keadaan bingung dan resah. Kudekati dia ketika mulai terisak-isak meneteskan air mata, ingin kutenangkan hatinya.</p>
<p style="text-align: justify;">Mungkin kejadian tadi telah berulang kali berlangsung selama aku tidak di rumah. “Sudah sering kejadianya Mbok?” tanyaku. Dia mengangguk. “Maafkan isteriku yah” Entah kenapa tiba-tiba mata kami bertatapan kembali. Selama ini dia tidak berani menatapku. Kali ini mungkin dia sedang kesepian dan masygul hatinya. “Ayo ke kamarmu Mbok.” Hasratku masih tinggi dan harus dituntaskan. Kami saat ini sedang masuk dalam situasi kejiwaan yang membutuhkan pertolongan satu sama lain. Plus gairah buatku. Ketika sampai kamarnya yang agak sempit itu, kusuruh dia duduk di ranjang. Kupegang tangannya dan kuelus. Sosok wanita ini sebenarnya tidak terlalu buruk. Kulit terang meskipun tidak semulus isteriku tapi lumayan bersih. Tinggi sedang dan hebatnya perut tidak terlalu melambung. Tetek cukup besar setelah kusadari saat ini. Dia selalu memakai kebaya dan kain. Kepalanya ditimpakan di dadaku. Meskipun dia lebih tua dari aku namun dalam kondisi begini dia memerlukan kekuatan dari dada laki-laki. Kubiarkan meskipun dibarengi aroma bumbu dapur. Tapi tidak terlalu menyengat. Rambutnya otomatis megenai hidungku. Bau minyak rambut Pomade menyergap hidungku. Kucium-kucium dan kuendus-kuendus. Kujalari menuju ke telinga. Diam saja. Ke lehernya. Malah terdengar ketawa kegelian. Mulai kuusap lengannya. Semakin erat dia mendesakkan tubuhnya ke diriku. Sambil mengusap lengan kanannya naik turun sengaja kurenggangkan jariku sehingga menyentuh tipis teteknya. Terus kuulang sampai akhirnya kepalanya mulai bergoyang. Lalu kuelus langsung teteknya. Gemas aku. Dia mulai mendesah. Kuremas-remas lembut. Mulai melenguh. Kubaringkan. Menurut saja. Kubuka bagian dada dari kebayanya. Memang besar miliknya. Kuning agak pucat warnanya. Kuhisap-hisap. Menegak-negak kepalanya.</p>
<p style="text-align: justify;">“Ehhmm.. Eehhf..” Kusingkap kainnya dan kuelus pahanya. “Ehh.. Ehhshs..” Kuselusupkan tanganku jauh menuju pangkal pahanya. Kuusap-usap gundukannya. “Ehhss.. Ehhss.. Oohh…” tergolek kanan kiri kepalanya. Kutindih dia dengan mengangkangkan kakinya. Mulai kuselusuri dari tetek sampai leher kanan kiri dengan lidahku. “Oohh.. Paakk.. Oohh..” Kurenggut bibirnya yang tebal dengan bibirku. Kumasukkan lidahku menjangkau lidahnya. Pada mulanya pasif. Lalu dia mulai mengerti dan kami saling beradu lidah dan ludah. Berkecipak suara kuluman kami. Kutekan-tekan bagian bawah diriku sehingga tonjolan burungku menggesek wilayah memeknya. Mengerinjal pantatnya. “Esshh.. Ehhss.. Oohh…” desahnya berulang-ulang. Kami berdiri untuk melepas baju masing-masing setelah kubisikkan keinginanku. Kuamati dari ujung rambut sampai kaki. Keteknya dibiarkan berbulu, ah sensasional sekali. Baru kali ini kulihat wanita membiarkan keteknya berbulu. Isteriku licin sekali. Jembut mememknya lebat sekali dan cenderung tidak rapi. Luar biasa. Karena hasratku yang sudah tinggi sejak tadi langsung kugumul Dia dan menjatuhkannya di ranjang.</p>
<p style="text-align: justify;">Kujilati kembali mulai dari kening, leher, pipi, tetek, ketek (di sini aku berlama-lama karena penasaran sekali dengan rasa bulunya), perut dan memeknya. Kumainkan lidahku memutari labia mayoranya. “Oohh.. Paakk.. Ohh..” Dipegangi kepalaku dan ditekan-tekannya sesuai keinginannya. Kumasuki klitorisnya dengan lidahku. Aku tidak jijik kali ini. Hasratku yang menggila telah mengalahkan kebiasaanku selama ini. “Esshh.. Ahhss.. Esshh.. Oohh.. Mmass..” Dia memanggilku Mas berarti kesadarannya mulai kaca balau. Kuremas pantatnya sebelum akhirnya kujebloskan kontolku ke memeknya yang telah banjir bandang itu. Kupompa maju mundur tanpa tergesa. Yang penting bertenaga dan merangsek ke dalam. Menggeliat-geliat kayak cacing kepanasan si Mrs. Karmin ini. Semakin dikangkangkan pahanya. Kupegang ujung telapak kakinya sambil aku terus menyodokinya. “Yaahh.. Teruss.. Yangg dalaam .. Masshh.. Ohh.. Ennaakk banngeetts.. Shh.” Kubaringkin miring lalu kulipat kaki kanannya ke depan dan kuhujami memeknya dari belakang. Kami bersetubuh dalam posisi berbaring miring (kebayangkan?). Kuubah posisi menjadi dog-style. Namun dia telungkup sehingga tingkat penetrasinya lebih maksimal. Benturan-benturan dengan pantatnya yang bulat membuatku gemas. Kugenjot sedalam-dalamnya memeknya yang rimbun itu.</p>
<p style="text-align: justify;">“Yaahhss.. Ehhssh.. Oohhs…” begitu terus erangnya sambil membeliak-beliak. Akhirnya setelah 23 menit kami menegang bersama dan mencurahkan cairan masing-masing berleleran di dalam memeknya. Cairan miliknya sampai tumpah ruang merembes keluar memeknya, punyaku juga demikian saking tidak tertampungya semprotan maniku. Kubiarkan kontolku masih terbenam sambil aku tetap menindihnya. Aku jilatin lagi leher dan pipinya sampai kontolku sudah lemas tak berdaya. Tanganku masih aktif bergerilya mengusapi buah kembarnya yang masih mengencang. Kujilat-jilat dan kuhisap-hisap. Keringat kami campur aduk membanjiri spreinya yang sudah agak kusam itu. Sejak saat itu bila aku pulang dari bepergian maka aku mengunjungi Mrs. Karmin terlebih dahulu untuk bersetubuh di kamarnya baru masuk rumah setelah maniku terhambur ke memeknya yang mudah basah itu. Malah boleh dikata sudah tidak pernah lagi menggauli isteriku sendiri. Suatu kali Mr. Karmin memergokinya ketika mau ambil rokok, namun aku cuek saja kepalang lagi hot, tapi dia mafhum saja. Toh ibaratnya kami seperti tukar pasangan. Pernah terbersit di kepalaku untuk melakukan sex party berempat. Tapi gagasan itu belum terlaksana, karena aku masih merasa risih kalau rame-rame begitu.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ceritasex.cn/kupergoki-istriku-selingkuh-aku-entot-istri-orang-yang-menyelingkuhi-istriku/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Istri Sakinah</title>
		<link>http://www.ceritasex.cn/istri-sakinah/</link>
		<comments>http://www.ceritasex.cn/istri-sakinah/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 24 Jan 2010 13:08:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cerita Sex</dc:creator>
				<category><![CDATA[kisah nyata]]></category>
		<category><![CDATA[Paruh baya]]></category>
		<category><![CDATA[Seks Umum]]></category>
		<category><![CDATA[selingkuh]]></category>
		<category><![CDATA[Tante Girang]]></category>
		<category><![CDATA[enak]]></category>
		<category><![CDATA[istri]]></category>
		<category><![CDATA[liza]]></category>
		<category><![CDATA[lonte]]></category>
		<category><![CDATA[ngentot.istri]]></category>
		<category><![CDATA[pepek]]></category>
		<category><![CDATA[swinger]]></category>
		<category><![CDATA[tukar pasangan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ceritasex.cn/?p=1230</guid>
		<description><![CDATA[Liburan sekolah yang lalu kami membuat acara di puncak, disamping untuk mempererat persahabatan juga sekaligus memberikan refreshing pada anak anak setelah ujian sekolah. Kami bertetangga 6 keluarga berangkat bersama sama dengan 8 mobil dan menginap di villa yang besar dengan 3 paviliun dan 8 kamar tidur. Hari Sabtu kami berangkat bersama sama, jalanan arah Puncak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Liburan sekolah yang lalu kami membuat acara di puncak, disamping untuk mempererat persahabatan juga sekaligus memberikan refreshing pada anak anak setelah ujian sekolah. Kami bertetangga 6 keluarga berangkat bersama sama dengan 8 mobil dan menginap di villa yang besar dengan 3 paviliun dan 8 kamar tidur. Hari Sabtu kami berangkat bersama sama, jalanan arah Puncak sudah macet sejak keluar dari pintu toll, setelah berjuang dengan kemacetan 5 jam sampailah kami di Villa yang kami sewa tersebut, untunglah tidak terlalu jauh sehingga tidak perlu tersiksa lebih lama dijepit kemacetan. Masing masing keluarga menempati kamar masing masing dan sisanya dipakai anak anak atau siapa saja yang ingin tidur disitu. Disamping 6 keluarga, ada juga yang mengajak adik, paman maupun keluarga lainnya, jadi diluar anak anak ada 19 orang dewasa atau remaja. Para Bapak mempersiapkan acara barbeque untuk nanti malam sementara ibu-ibu mempersiapkan makanan baik yang sudah kita bawa dalam keadaan matang maupun yang harus dimasak terlebih dahulu, sementara anak anak bermain di halaman dan kolam renang.</p>
<p style="text-align: justify;">Kami bertetangga sudah saling mengenal dengan baik sehingga tidak ada perasaan apa apa ketika kami melakukan liburan bersama dan ini bukanlah yang pertama kali tapi sudah beberapa kali. Bahkan ketika kami semua bermain di kolam pada sore harinya, tak ada yang aneh, semua berjalan seperti biasa, saling engejek, saling menggoda, saling bersenda gurau, meski terkadang gurauannya mpet ke arah sensitif. Maklum kami semua masih se-usia antara 30 ? 35 tahun, yang paling kami yakin tidak lebih dari 40 tahun, yaitu Mas Surya, tapi penampilan dan postur tubuhnya terlihat sama dengan kami semua. Malamnya kami mengadakan barbeque sambil bermain catur, gaple, atau permainan apapun untuk melepas ketegangan dan bersantai sambil ngobrol mengenai segala hal. Jarum jam sudah menunjukkan pukul 12 tengah malam, sementara bapak-bapak lainnya asik bermain gaple, kami berempat berdiskusi dibawah indahnya bulan dan bintang malam. Tanpa kusadari paviliun sudah sepi, rupanya anak anak maupun ibu ibu sudah pada tidur, mungkin kelelahan.</p>
<p style="text-align: justify;">Hanya istriku Lily, Kiki dan seorang pembantu yang sedang di dapur, membuat kopi untuk kami yang begadang, setelah kopi dan the terhidang mereka menghilang masuk ke kamar. Satu persatu mereka menghilang masuk kamar, tingal 6 orang yang masih tahan begadang, untuk melepaskan penat aku jalan jalan di sekitar Villa sambil memandang kerlap kerlip lampu di bawah, sungguh indah di malam maupun siang hari, pantesan banyak orang ingin punya villa di daerah puncak. Aku menuju Paviliun C tempat kamar kami yang letaknya di ujung, agak jauh dari bangunan induk, kami satu paviliun dengan keluarga Mas Surya, dengan menahan dingin kututup rapat sweaterku, sendirian berjalan dikeremangan lampu taman. Paviliun C terlihat gelap, ?Rupanya mereka sudah tidur?, pikirku. Sebelum masuk paviliun aku mengitari bangunan itu, duduk di ayunan di pojok taman bermain yang gelap dan disinari sinar rembulan, kuhisap asap rokokku dalam dalam dan kuhembuskan sekuat kuatnya, dalam hati mengagumi arsitektur bangunan yang artistik. Tiba tiba aku dikejutkan oleh suara langkah di belakangku, ternyata istriku belum tidur dan menyusulku duduk di sampingku.</p>
<p style="text-align: justify;">Kursi besi itu terasa dingin, istriku merapatkan tubuhnya padaku, sambil memandangi hiasan di langit yang indah, kupeluk rapat untuk memberikan kehangatan padanya. Tanpa kata kata kami saling berpelukan dalam keremangan malam tanpa cahaya lampu, tanpa bicara kami akhirnya berciuman, begitu bergairah di keheningan malam, tangan istriku sudah mengusap selangkanganku dan kubalas dengan belaian lembut di dadanya, sweater nya terasa tebal mengganggu remasanku, apalagi bra-nya yang rapat menutup buah dadanya. Kuselipkan tanganku di balik sweater, terasa hangat tubuhnya, kuraba dan kuremas buah dadanya, tanpa permisi dengan sekali sentil terlepaslah bra yang menyangga buah dadanya. Kami masih saling melumat bibir, tangannya dengan trampil membuka resliting celanaku dan mengeluarkan kejantananku, langsung mengocoknya. Kubalas dengan remasan buah dadanya penuh gairah. ?Jangan disini, ntar dilihat orang orang? bisikku ?Nggak, terlalu gelap untuk dilihat dari sana? balas istriku sambil melepaskan ciumannya dan berlutut di bawahku.</p>
<p style="text-align: justify;">Dinginnya malam sudah tidak kami hiraukan, kejantananku sudah berada dalam jilatan dan kulumannya, aku tidak berani mendesah, takut terdengar mereka yang masih begadang. ?Udah lama aku tidak melakukannya di luar? bisiknya disela sela kulumannya. Aku tidak bisa melihat bagaimana kejantananku keluar masuk mulut istriku tersayang. Tak lama kemudian dia berdiri dan menarikku ke meja besi di depan kami, dia menarik turun celana jeans-nya hingga lutut lalu telentang di atas meja itu, aku yakin dia merasa dingin di atas meja itu tapi tak dihiraukannya. Kuangkat kakinya dan kujilati vaginanya, dia menggeliat tanpa berani bersuara, ditariknya kepalaku sebagai pertanda untuk segera mulai. Kunaikkan kakinya di pundakku dan kusapukan penisku ke vaginanya yang sudah basah, perlahan kudorong masuk penis tegangku hingga semua tertanam ke dalam. Dalam keremangan malam kulihat istriku menggigit bibirnya, dia menikmati kocokanku tanpa suara, aku tahu itu siksaan baginya bercinta tanpa desahan. Kocokanku makin cepat, dia meremas remas buah dadanya, terkadang menggigit sendiri jari tangannya untuk menahan desahannya. Aku masih mengenakan pakaian, hanya penisku yang keluar dari lubang celanaku. Kami berganti posisi, dia berdiri dan telungkup di meja sementara aku mengocoknya dari belakang, dinginnya malam tak mampu menghentikan kami, perlahan dingin berganti dengan panasnya gairah kami. Kupegang pinggulnya dan kusodokkan penisku dengan keras, kembali dia menggigit bibir bawahnya menahan nikmat. Kami berpindah kembali ke ayunan, dia nungging dan kami bercinta dogie style, baru kali ini kami bercinta sambil ber-ayun, setiap kali kusodokkan penisku dengan keras, kursi itu berayun dan kembali, begitu seterusnya hingga istriku tak perlu melakukan gerakan maju mundur. Hampir setengah jam kami bercinta di dinginnya malam udara puncak, tak ada desah dan jerit kenikmatan, hanya keringat kami yang mulai menetes. Tiba tiba kudengar suara orang bercakap mendekati kami, spontan kami menghentikan permainan dan membetulkan letak pakaian kami.<br />
<span id="more-1230"></span><br />
Untunglah mereka tidak melihat ke arah taman hingga tak mengetahui keberadaan kami di taman. Masih dalam keadaan penuh nafsu dan gairah, kami putuskan untuk melanjutkan di kamar, paviliun itu masih gelap. Kubuka kamar kami, ternyata tempat tidur kami sudah dipenuhi anak anak yang tidur berangkulan di balik selimut karena kedinginan. Istriku kemudian membuka kamar sebelahnya yang tidak terkunci, kamar keluarga Mas Surya, ternyata Mas Surya dan istrinya, Eliz sudah tidur juga, berangkulan di balik selimutnya. Di kejauhan kulihat beberapa orang masih begadang di depan bangunan induk, dengan agak jengkel istriku duduk di sofa ruang tamu, aku tahu aku harus menghiburnya atau menuntaskan birahinya. Kubuka celanaku dan menyodorkan penisku yang masih basah cairan vaginanya ke mulutnya, dia langsung menyambut dengan kuluman penuh nafsu. Tak lama kemudian kami kembali bergumulan penuh nafsu, celanaku sudah terlepas begitu juga celananya, kami bercinta dengan mengenakan sweater. Sedikit kesadaranku timbul, kukunci pintu depan dan belakang, begitu juga kamar anak anak aku kunci dari luar. Kubiarkan kamar Mas Surya, toh mereka sudah tidur lelap.</p>
<p style="text-align: justify;">Permainan kami berlanjut, kami bercinta di sofa maupun di karpet ruang tamu, tanpa kami sadari satu persatu pakaian kami terlepas dari tubuh kami, telanjang kami bercinta dengan nafsu yang menggelora, sesekali istriku berani mendesah ketika kukocok vaginanya dengan keras, seakan lupa bahwa ada Mas Surya dan istrinya di kamar itu. Duapuluh menit sudah berlalu, aku duduk di sofa sementara istriku duduk dipangkuanku turun naik dan bergoyang pinggul, mengocok dengan liarnya, kukulum dan kusedot serta kupermainkan putingnya dengan lidahku, dia menggelinjang nikmat, diremasnya rambutku. Goyangannya makin menggairahkan, seakan meremas penisku yang tertanam di vaginanya. Aku tak tahan lebih lama lagi menahan gairahnya, kemudian menyemprotlah spermaku di vaginanya, belum habis denyutan penisku menyemprotkan sperma ketika kurasakan remasan kuat dari dinding vagina istriku, dia mengikutiku mencapai puncak kenikmatan beberapa detik kemudian, kami saling berdenyut dan saling berpelukan penuh nikmat. Akhirnya kamipun terkulai telanjang di sofa ruang tamu, napas kami bersatu dalam birahi yang indah. Sebelum kami tertidur di sofa, kami kenakan kembali pakaian kami dan tertidur di sofa ruang tamu. Keesokan paginya semua berjalan seperti biasa, sebagaian besar berangkat ke daerah Agrowisata bersama anak anak, sementara aku dan istriku tinggal di villa dan mas Surya pergi men-servis mobil yang sempat ngadat saat macet. Karena tidurku kurang nyenyak, setelah mandi dan bersih bersih maka aku lanjutkan tidur di kamarku yang semalam dipakai anak anak. Jam dinding berbunyi 10 kali pertanda pukul 10 pagi, belum lelap tidurku sayup sayup kudengar pembicaraan istriku dengan seorang wanita yang tidak aku tahu pasti siapa dia. ?Mbak Lily, aku mau tanya, pribadi nih, boleh enggak ??</p>
<p style="text-align: justify;">kata wanita itu yang ternyata mbak Eliz. ?Ada apa sih mbak, kok kelihatan serius amat ?? tanya istriku ?Jangan marah ya, janji ya,?anu mbak?..aduh gimana nih susah ngomongnya? Mbak Eliz terdengar canggung. ?Emangnya ada apa sih ?? ?Anu mbak emmm&#8230;. semalam permainan mbak begitu menggairahkan dan liar, aku dan Mas Sur jadi menikmatinya sampai habis, setelah itu kami melakukannya di kamar meski tidak selama dan seheboh permainan mbak? ?Hah ? kok mbak Eliz?..?jawab istriku, ada nada kaget disuaranya. ?Iya mbak, maaf ya mbak, ketika aku dengar ada suara agak berisik aku terbangun, dan lebih kaget lagi ketika kulihat Mbak Lily dan Mas Hendra sedang begituan? ?Seberapa lama mbak lihat ?? tanya istriku penasaran ?Sejak mbak Lily mengulum Mas Hendra? jawabnya, berarti itu baru permulaan, cukup lama dia melihat permainan kami ?Lalu, aku melihat bagaimana Mas Hendra menjilati mbak, sepertinya mbak begitu menikmati gitu, aku jadi pingin deh digituin, tapi Mas Sur nggak pernah mau melakukannya? mbak Eliz melanjutkan. ?Emang mbak melihat kami bersama dengan Mas Surya ?? Tanya istriku penasaran ?Ketika aku sedang melihat kalian di lantai, saat itulah Mas Sur bangun dan kami melihat kalian berdua sambil dia memelukku, terus terang aku salut sama suami mbak, bisa bermain lama begitu dan banyak posisi, dan ?.. dan?.. dan?.. jangan marah ya mbak, aku ?aku ?. melihat punya Mas Hendra begitu besar, meski dalam keremangan aku bisa melihatnya, sampai sampai saat aku bermain dengan Mas Sur kubayangkan punya Mas Hendra yang besar itu, entah bagaimana rasanya barang sebesar itu, tak terbayang deh, enak kali mbak ya sampai mbak menggeliat kelojotan kayak gitu, jangan marah ya mbak aku kan cuma mengatakan perasaanku apa adanya? ada nada kagum dan ragu ragu dari suara mbak Eliz. Aku tak tahu bagaimana mbak Eliz bisa bercerita begitu polos dan terus terang tanpa basa basi seperti itu. ?Emang punya Mas Sur nggak gede ?? pancing istriku ?</p>
<p style="text-align: justify;">Entahlah mbak, tapi punya Mas Hendra kelihatan begitu besar dan ah nggak tau lah mbak? ?Mbak Eliz pingin merasakannya ?? pancing istriku penuh selidik, aku yakin dia sudah mulai keluar isengnya. ?Jangan marah mbak, aku Cuma berkhayal saja kok, lagian aku kan nggak mungkin selingkuh dengan suami teman sendiri, ntar aku dikira apa? mbak Eliz terdengar canggung. ?Bagaimana kalo kuijinkan? benar sudah keluar gairah liarnya ?Maksud mbak ?? Eliz terdengar kaget ?Ya kamu ngerasain yang kamu bayangkan, dari pada cuma dibayangkan dan membuatku berpikir yang negatif, lebih baik di wujudkan saja, iya kan? istriku sudah mulai nakal ?Mbak ijinin aku sama suami mbak ? ah mbak pasti bergurau nih,ah udahlah mbak, anggap pembicaraan ini nggak ada, sekedar iseng? Mbak Eliz mulai gugup. ?Mbak, tolong jawab dengan jujur, aku serius nih, mbak Eliz mau apa enggak ?? Mereka terdiam, hanya pancuran air cucian piring yang kudengar, tiba tiba kudengar suara gelas jatuh berantakan, rupanya ada yang nervous. ?Mbak beneran nih ? Mas Hendra sendiri gimana ?? tanyanya kaget dan penasaran ?Udahlah, masalah itu serahkan padaku, jawab dulu kamu mau apa enggak ? Mereka terdiam lagi. ?Entahlah mbak, aku jadi malu nih? dia ragu ragu. ?kalau Mas Hendra mau dan mbak nggak keberatan, &#8230;.ya&#8230;.aku sih&#8230;. emmm&#8230; malu ah? ?Ya jelas mau dong, dikasih enak kok nggak mau? tegas istriku ?Sekarang mbak mau apa enggak ? soal suami mbak biar aku yang atasi, serahkan saja padaku, trust me, kalo emang oke ntar aku bilang ke mas Hendra? lanjut istriku meyakinkan mbak Eliz, entah apa yang ada dibenaknya. Tak kudengar pembicaraan lebih lanjut, sepertinya mbak Eliz masih ragu atau malu untuk meng-iyakan tawaran istriku. ?Tapi jangan bilang bilang mas Sur ya mbak? kata mbak Eliz berarti setuju tanpa meng-iyakan. ?Gila apa, emang kita mau cari perkara? suara istriku meninggi ?Temanin ya mbak? ?Ini orang, udah diijinin masih minta ditemenin lagi, kayak perawan aja? kata istriku sewot ?Bukan gitu mbak, aku kan canggung kalo langsung ke kamar mas Hendra, ntar dikira ngajak selingkuh lagi, padahal kan seijin mbak?</p>
<p style="text-align: justify;">Ya udah deh, kalo gitu kita keroyok aja mas Hendra rame rame, kita main bertiga aja, buruan ntar suamimu keburu datang dari servis mobil? jawab istriku. Mendengar pembicaraan mereka kejantananku perlahan menegang, apalagi ketika membayangkan mbak Eliz yang cantik dan mulus. Wanita keturunan Aceh itu umurnya 1 ? 2 tahun lebih muda dari istriku, tingginya sedikit dibawah istriku, mungkin 160, tapi body-nya sungguh menggetarkan birahi laki laki yang melihatnya, apalagi dadanya yang terlihat menonjol menantang, perkiraanku pasti tidak lebih kecil dari 36B, kulitnya yang putih mulus bak pualam, sungguh beruntung aku kalau memang ini terjadi, ingin rasanya aku segera menikmati tubuh sexy-nya. Tak lama kemudian kudengar langkah menuju ke kamar, aku pura pura tidur pulas ketika mereka masuk kamar dan mendekati tempat tidur, ranjang bergoyang ketika mereka naik. Kudengar mereka berbisik bisik sebentar, tanpa bicara lagi tiba tiba istriku langsung menciumku, pura pura kaget kubalas kuluman bibir istriku. Sambil mencium susu dia meremas remas kejantananku yang menegang dibalik celana pendek, kuremas buah dadanya dibalik sweater-nya, kejantananku makin menegang, aku masih menunggu sentuhan tangan lembut mbak Eliz, kulepas sweater-nya hingga tampak bra ungu yang tak lama kemudian tanggal dari tubuhnya. Sekilas kulirik mbak Eliz hanya berdiri mematung melihat kami berciuman. Tak lama kemudian kami sudah sama sama telanjang bulat berpelukan dan berciuman didepan mbak Eliz yang masih berdiri di ujung ranjang. Aku khawatir mbak Eliz berubah pikiran, maka kuhentikan ciumanku dan menghampirinya, dia mundur selangkah menjauhiku, tampak keragu raguan di sikapnya, untunglah istriku membantunya, didekatinya mbak Eliz diraihnya tangannya dan dituntun ke arah kejantananku yang menegang. Ragu ragu dia egangnya tapi istriku berhasil memaksanya untuk meremas kejantananku, dia dangku dengan sorot mata kagum, aku suka dengan cara pandangnya yang penuh gairah itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Ketika mbak Eliz mulai meremas dan mengocok, kutarik tubuhnya dalam pelukanku yang telanjang, bisa kurasakan buah dadanya yang mengganjal di dadaku. Istriku ikutan memelukku, kini dua wanita cantik dalam pelukanku, satu telanjang dan satunya masih berpakaian. Tanpa membuang kesempatan lebih lama, kucium pipi mbak Eliz yang mulus itu dan terus bergeser ke bibir manisnya, mulanya agak canggung dia melayani ciuman bibirku tapi kemudian dibalasnya ciumanku dengan tak kalah gairahnya, dilumatnya bibirku seakan tak mau melepaskan lagi. Tanganku mulai menyusuri dadanya, kuremas dengan lembut buah dadanya, seperti dugaanku, begitu montok dan kenyal, membuatku makin gemas untuk meremas remas. Remasan dan kocokan empat tangan di kejantananku makin liar, seliar ciuman dan remasanku pada buah dada mbak Eliz. Kulepas kaosnya, terlihatlah buah dada montoknya yang masih terbungkus bra merah berenda, sungguh sexy dan terlihat begitu padat, aku menelan ludah melihat kemontokan tubuh nan sexy itu, segera kudaratkan ciumanku ke leher mbak Eliz, dia menggelinjang dan mulai mendesis pelan, remasanku makin leluasa menggerayangi kedua bukit yang menantang, kuselipkan tanganku di sela bra-nya, begitu didapati putingnya segera kupermainkan dengan nakal, gelinjang mbak Eliz makin menjadi, desisnya makin jelas terdengar. Istriku yang dari tadi memelukku dari belakang bergeser ke belakang mbak Eliz, ternyata dia melepas bra merah itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Tadaaaaaaaaa? kata istriku setelah menarik bra mbak Eliz. Aku kembali terpesona melihat buah dadanya yang polos padat menggantung di dadanya, belum hilang kagumku, istriku ternyata sudah melorotkan celana pendek sekaligus celana dalamnya, untuk kesekian kalinya aku melongo melihat ke-sexy-an tubuh telanjang tetanggaku ini, rambut pubicnya yang tertata rapi membentuk segitiga, begitu indah. Tangan mbak Eliz dari tadi tak pernah lepas dari kejantananku, bibir dan lidahku kembali menyusuri leher jenjangnya dan lidahku langsung menuju ke puncak bukit yang kemerahan, dengan liar kupermainkan putting yang kecil menantang, kukulum dan kusedot putingnya sambil mempermainkan dengan lidahku, geliat dan desis mbak Eliz bertambah berani, rambutnya yang panjang tergerai bebas saat dia menengadah dan mendesah. Puas melumat kedua bukit mulusnya, ciumanku turun ke perut dan berhenti di kangannya. Lidahku menyusuri kedua paha hingga lututnya, sengaja aku tak menyentuh daerah vaginanya, ingin kupermainkan dia lebih lama lagi, ingin kulihat dia menggeliat seperti cacing kepanasan. Dugaanku benar, dia kelocotan dilanda birahi, berulang kali tanganku dituntun ke daerah vaginanya, tapi aku tak mau melanjutkan. ?Pleeeeeeeaaassssse??pleaaaaaaassssse? desahnya yang membuat aku tak tega mempermainkan lebih lama lagi. Kutuntun dia ke arah ranjang dan kutelentangkan, kini tubuh telanjang dan sexy mbak Eliz telentang penuh pasrah, aku menikmati saat saat seperti ini. Kutindih tubuh montok itu, kami kembali berciuman sebentar sebelum akhirnya aku jongkok di antara kedua kakinya.</p>
<p style="text-align: justify;">“Ini yang kamu mau bukan ?” kata istriku yang dari tadi telanjang berdiri menonton suaminya sedang mencumbu mbak Eliz, istri tetangga. Lidahku menyusuri pahanya yang mulus, lalu berhenti di selangkangannya. Aku mulai menjilati bibir vaginanya, dia menggeliat dan menjerit tertahan ketika lidahku menyentuh klitorisnya, tangannya digigitnya untuk menahan jeritannya. Istriku yang duduk di sampingnya tersenyum melihatnya, lidahku menari nari di vaginanya, sesekali kusedot liang vaginanya, tak jarang cairan vaginanya tertelan mulutku. Mbak Eliz menggeliat tanpa kontrol, pahanya menjepit kepalaku, tapi tak kuhiraukan. Dua jari tanganku sudah mengocok liang vaginanya sembari lidahku menyapu klitorisnya, dia menjerit penuh nikmat. “Aaaaauuuuuggghhhh… .. yessss…yessss… . trussss” jeritnya lepas sambil meremas remas rambutku, seakan lupa bahwa dia sedang menikmati suami orang. “Aaagghhh…sssshhhhhh… sssshhhh…yesss… yesss…. yaaa…aku keluaaaaaaaar” jeritnya tertahan, ternyata dia sudah orgasme hanya dengan jilatan lidah. Aku tak mempedulikannya, terus kujilati dan kukocokkan jari tanganku.</p>
<p style="text-align: justify;">“Aaaaghhh…. ssssssudah….. ssssssudah….. pleeeeeeaaaase” dia memohonku menghentikan jilatanku, tapi aku tak mau berhenti begitu saja. “Mas, udah mas, kasih dia istirahat dulu” celetuk istriku. Dengan berat hati aku beranjak dari selangkangan mbak Eliz, telentang diantara kedua wanita itu, istriku segera bergeser ke selangkanganku, diremasnya kejantananku dan langsung dikulumnya, tak lama kemudian kejantananku sudah meluncur keluar masuk mulutnya. Kakiku diangkatnya dan dia menjilati kantong bola hingga ke lubang anusku, aku mendesis sambil meraba dan meremas remas buah dada mbak Eliz yang masih telentang di sampingku. Mbak Eliz memiringkan tubuhnya, kini dia dipelukanku, kepalanya disandarkan di bahu ketika istriku sedang menjilati penisku. Mbak Eliz mulai kembali menciumi wajahku, terus beralih ke leher dan dadaku, dikulumnya putingku, aku menggeliat nikmat mendapat perlakuan kedua wanita cantik ini secara bersamaan. “Mbak, aku duluan ya” pintanya pada istriku ketika ciumannya sudah sampai di perut. “You are my guest, terserah, asal mau berbagi ini” jawab istriku sambil menyodorkan penisku ke muka mbak Eliz. Dia meraih penisku dan engocoknya dengan tangannya, sepertinya dia agak ragu untuk mengulum penisku. “Terlalu besar mbak, nggak muat nih” katanya kemudian “Coba aja dulu, ntar akan masuk sendiri” jawab istriku masih asik menjilati pangkal paha dan kantong bolaku. Mbak Eliz mulai menjilati kepala penisku, lidahnya berputar putar di ujung penis, lalu turun ke batangnya hingga pangkalnya, terus naik lagi ke ujung, kepala kedua wanita itu berimpit di selangkanganku. Wonderful, dua wanita cantik bermain dengan kejantananku, I’m flying to heaven. Jari tanganku mengocok vagina mbak Eliz yang basah, dia menjilat sambil mendesis. “Ya gitu terus masukin, pelan pelan saja” istriku seakan mengajari mbak Eliz, dan kepala penisku sudah berada di mulutnya. Kulihat dia kesulitan untuk memasukkan batangnya, istriku segera mengambil alih, diraihnya penisku dan langsung dimasukkan ke mulutnya dengan lahapnya, dia mengocok penuh gairah, lalu dikembalikan lagi ke mbak Eliz, seperti anak kecil yang mengembalikan permainan yang dipinjamnya. Mbak Eliz berusaha untuk memasukkan sebanyak mungkin penisku ke rongga mulutnya, hanya setengah yang bisa dia kulum, istriku menjilati batang penis yang tidak tertampung, penisku mulai meluncur keluar masuk mulut mbak Eliz, kocokan jariku di vaginanya makin cepat, desahnya tertahan penisku. Mbak Eliz ber anjak menaiki tubuhku, sepertinya dia ingin segera merasakan penisku di vaginanya, tapi istriku mencegahnya. “Jangan posisi ini dulu, pelan pelan saja, santai saja” kata istriku meminta Eliz telentang di sampingku.</p>
<p style="text-align: justify;">Segera kunaiki dan kutindih tubuhnya, kucium dan kujilati leher mulusnya, istriku dengan setia menuntun kejantananku ke vagina mbak Eliz, perlahan lahan kudorong masuk menguak liang sempit di selangkangannya. “Aaaaagghhhhh… .. pe…lan……. pe…lan…. mas, sakiiiiiiiit, besar bangeeeet” desahnya seperti seorang perawan yang baru bercinta. “Santai saja mbak, nggak usah tegang, mas jangan kasar dong” kata istriku yang selalu bertindak sebagai sutradara dan pengatur laku. Kudorong penisku memasuki liang sempit itu sebentar lalu kutarik lagi perlahan lahan, kudorong lagi dan kutarik lagi, makin lama makin dalam penisku melesak kedalam liang vaginanya, hingga akhirnya semua penisku masuk dalam vaginanya, kudiamkan sejenak dan kunikmati expresi di wajahnya yang bersemu merah. Mbak Eliz menggigit bibirnya, entah sakit entah nikmat, padahal liang vaginanya sudah basah, tangannya mencengkeram pantatku dengan kencangnya. Dia menahan tubuhku ketika aku mulai gerakan menarik, kudiamkan lagi sambil menciumi lehernya, buah dadanya masih terasa mengganjal di dadaku.</p>
<p style="text-align: justify;">“Gila gede banget, penuh rasanya mas, tak kusangka bisa sepenuh ini” bisiknya ditelingaku. Istriku mulai mengelus kantong bola-ku, membuatku menggelinjang di tas tubuh mbak Eliz, dia memelukku lebih erat lagi. Perlahan aku mulai menarik dan mendorong penisku, makin lama makin cepat hingga akhirnya aku bisa mengocok mbak Eliz dengan gerakan normal, desahan nikmat keluar dari mulut manisnya membuatku makin bernafsu menggoyangkan pantatku. Dia ikutan menggoyangkan pantatnya mengimbangiku, rupanya sudah bisa menyesuaikan diri. Aku berlutut sambil mengocoknya, kuamati wajah mbak Eliz yang sedang dilanda birahi, wajah cantiknya makin cantik ketika dia mendesah, membuatku semakin bernafsu. “Egh.. egh.. egh…. enak mas, trus massssss…yessss… fuck me..yess” desahnya lepas seirama kocokanku. Buah dada montok mbak Eliz berguncang guncang, diremasnya sendiri kedua bukitnya itu sambil dia mempermainkan putingnya. Istriku meletakkan kedua kaki mbak Eliz ke pundakku, membuat penisku makin melesak ke dalam. “Ouhh…yaa.. makasih mbak,…trus masss” desahnya makin merasakan kenikmatannya, makin cepat kocokanku makin liar dia mendesah.</p>
<p style="text-align: justify;">“Gimana ? enak mbak ?” goda istriku sambil mengelus elus rambutnya. “Ufff&#8230; bu.. bukan enak lagii&#8230;. tooooop deh” jawabnya di sela sela desahan sambil meremas remas buah dadanya sendiri. “Enak mana sama suami mbak ?” tanyaku keceplosan, tak seharusnya aku membandingkan seperti ini. “Tau ahh” “Enak mana ?” desakku sambil menyodoknya keras “Aaaauugghhhh. .. ssss&#8230; en.. nak&#8230; i&#8230;. nniii” jawaban atau desahannya, tentu saja dia akan menjawab begitu, mana mungkin dia menjawab lain kalau sedang menikmati yang ini. “Aaagghhh…shit… shit…yessss” teriaknya sambil mencengkeram erat lenganku, dan bersamaan dengan itu kurasakan remasan otot vaginanya pada penisku, dia mencapai orgasme lagi, tak lebih sepuluh menit aku mengocoknya.  Kuhentikan gerakanku sejenak untuk merasakan denyutan vagina mbak Eliz yang cukup kuat. Wajahnya makin cantik lagi dikala orgasme, semu kemerahan terlihat jelas di raut mukanya yang putih, sungguh berbeda dengan keseharian biasanya. Tubuh mbak Eliz langsung melemas seiring dengan habisnya denyutan itu, aku ingin mengocoknya lagi tapi istriku sudah menarik lenganku meminta giliran. Aku telentang di samping tubuh mbak Eliz yang masih ngos-ngosan, istriku langsung mengatur posisinya di atasku dan melesaklah penisku ke vaginanya, vagina kedua di pagi itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Jujur saja kurasakan vagina mbak Eliz lebih nikmat dibandingkan istriku, tapi gerakan dan goyangan istriku jauh lebih erotik dari mbak Eliz, dia langsung naik turun dan bergoyang pinggul di atasku, aku dan istriku sama sama mendesah nikmat. Kuraih dan kuremas buah dadanya yang menggantung indah, lebih kecil dari punya mbak Eliz, tapi sama sama padat dan kenyal. Kupeluk tubuh istriku sambil mengocoknya dari bawah, dia mendesah dekat telingaku, kami saling berdekapan erat. Mbak Eliz sepertinya tak tahan melihat permainan kami, dia lalu mencium pipiku di sisi lain, kuraih tubuhnya, kuremas buah dadanya lalu kupeluk, sungguh nikmat memeluk dua wanita yang cantik dan sexy, sambil tetap mengocoknya. Istriku kembali duduk di atas penisku sambil bergoyang pinggul. “Mbak di atas sana gih” perintah istriku sambil menjulurkan lidah memberi kode untuk dijilati vaginanya. Mereka saling berpandangan lalu tersenyum, mbak eliz segera membuka kakinya tepat di atas mukaku, segera kusambut dengan lidahku. Kedua wanita ini saling mendesah di atasku, mereka saling berhadapan dan berpegangan tangan, ada kepuasan tersendiri bisa memberikan kenikmatan pada dua wanita cantik secara bersamaan, meski aku tidak bisa melihat expresi wajah keduanya, pandangan dan mukaku tertutup pantat mbak Eliz. Tiba tiba mereka turun secara bersamaan, aku kecewa, tetapi segera kekecewaanku berganti dengan kenikmatan lagi, ternyata berganti posisi, istriku di atas kepalaku sedangkan mbak Eliz pada penisku. Goyangan mbak Eliz tidak seliar istriku, tapi tetap saja nikmat, kembali mereka mendesah bersama sama. “Dari belakang mbak” usul istriku tak lama kemudian “Doggie ??” Tanya mbak Eliz yang masih turun naik di atas penisku. Tanpa menjawab istriku langsung turun dan nungging di sebelahku, diikuti dengan mbak Eliz nungging di sebelahnya, kini aku harus memilih diantara dua vagina yang menantang. Kuamati mereka sejenak, baru sekarang kusadari kalau pantat mbak Eliz begitu sintal dan padat, indah dipandang, apalagi kalau digoyang. Tanpa piker panjang, aku berdiri di belakang mbak Eliz.</p>
<p style="text-align: justify;">kusapukan sebentar lalu kudorong perlahan masuk hingga semua penisku tertanam ke vaginanya. agghhhh… . pelaaaaan” desahnya ketika penisku menguak liang vaginanya. Istriku mandangku sambil tersenyum, tapi tak kupedulikan, aku sedang konsentrasi menikmati mbak Eliz. Penisku mulai meluncur keluar masuk vaginanya, kupegang pantatnya yang padat berisi, kutarik dan kudorong seirama kocokanku, mbak Eliz mendesah lebih liar. Buah dadanya ber-ayun ayun dengan bebasnya, kuraih dan kuremas dengan gemas penuh nafsu, kupermainkan putingnya, membuat dia makin mendesah dan mulai berani menggoyangkan pantat mengimbangiku, kenikmatanku bertambah apalagi ketika istriku memelukku dari belakang dan mengelus dadaku sambil menciumi tengkuk dan punggungku. Kocokanku pada mbak Eliz makin cepat dan liar, ketika istriku nungging di sebelahnya meminta giliran, agak berat aku melepas mbak Eliz yang sedang dalam birahi tinggi, tapi aku tak bisa mengabaikan istriku. Kugeser tubuhku di belakang istriku, dengan sekali dorong melesaklah penisku ke vaginanya, langsung kukocok dengan cepat dan keras, aku tahu kesukaannya, makin liar makin suka dia. “Mbak keluarnya di aku saja ya” pinta mbak Eliz yang disambut senyuman oleh istriku di sela desahannya. “Boleh asal setelah itu dibersihkan dengan mulut” jawab istriku nakal sambil mendesah nikmat “Dengan mulut mbak ??” tanyanya heran “Iyyaaaa, mau nggak ???” jawab istriku dengan nada tinggi, aku yang mendengarnya jadi tambah bernafsu, kuhentakkan makin keras penisku ke vaginanya.</p>
<p style="text-align: justify;">“Mmmmm…iya deh” jawab mbak Eliz sambil mengangkat dua jarinya lalu bergeser ke belakangku dan memeluk seperti yang dilakukan istriku tadi. “Janji”. Belum sempat mbak Eliz memberi jawaban, terdengar deru mobil melintas di depan pavilliun, Mas Surya telah dating. Sebelum kami sempat berpikir harus berbuat apa, istriku sudah mengambil inisiatif. “Kalian lanjutkan saja, Mas Surya biar aku yang tangani, believe me” katanya langsung menarik keluar penisku dan turun dari ranjang, dikenakannya kaos dan celana pendeknya tanpa mengenakan pakaian dalam, entah sengaja atau terburu buru aku tak tahu. “Ingat janjimu mbak” teriaknya sesaat sebelum pintu kamar tertutup. Sepeninggal dia aku dan mbak Eliz saling berpandangan seperti tak tahu harus berbuat apa. Masih tetap telanjang, kami mengintip ke jendela dari balik tirai, melihat keadaan, kulihat istriku berbicara dengan Mas Surya yang baru keluar dari mobil, digandengnya Mas Surya menuju kolam renang, tanpa berganti pakaian renang istriku langsung mencebur ke kolam, Mas Surya melepas pakaiannya, dengan memakai celana dalam dia mengikuti istriku masuk ke kolam, aku yakin Mas Surya akan segera tahu kalau istriku tidak memakai bra begitu kaosnya basah, putingnya pasti membayang di balik kaos basah itu, aku tidak tahu dengan pikiran Mbak Eliz. Membayangkan mereka berdua gairahku kembali naik, aku bergeser ke belakang mbak Eliz yang masih asik mengintip mereka. Kupeluk dan kuremas buah dadanya dari belakang, dia tidak memberi respon. Kubuka kakinya, dia menurut saja, ku usap usapkan penisku ke pantatnya lalu kusapukan penisku ke vaginanya, dia menoleh ke arahku dan kubalas dengan senyuman. Tubuhnya menegang ketika penisku meluncur masuk ke liang vaginanya, dia mendesah tapi matanya tetap tertuju pada istriku dan suaminya di kolam sana, aku tak peduli apa yang ada di benaknya. Kukocok dia dengan cepat, tangannya meremas tirai jendela, kami bercinta dengan berdiri, sambil memegang pantat dan meremas buah dadanya kukocok makin cepat, dia mendesah lepas, seakan melupakan mereka yang ada di kolam.</p>
<p style="text-align: justify;">“Aduh mas, enak mas, terussss” desahnya lagi, tangannya tertumpu pada bingkai jendela, aku menyukai pandangan pantatnya yang mulus, sintal, padat berisi, apalagi saat bergoyang ketika kukocok, begitu indah dan menggairahkan. Khawatir kami lepas kontrol dan tirainya tertarik, kami pindah ke sofa, sayup sayup kudengar tawa dan canda dari kolam. Mbak Eliz duduk di sofa, aku berlutut di antara kedua kakinya yang terbuka, kupeluk dan kuciumi bibir dan lehernya, dia memegang penisku, mengocoknya sejenak lalu menyapukan ke vaginanya, masih saling melumat bibir, penisku kembali memenuhi rongga vagina mbak Eliz, dia melepaskan lumatannya ketika semuanya sudah berada dalam vaginanya, dipandanginya mataku dengan sorot penuh gairah. “Cumbui aku sesuka Mas Hendra, fuck me as you like, puaskan aku mas” bisiknya, ada nada marah pada suaranya, mungkin dia cemburu dengan yang di kolam, tapi aku tak peduli, yang penting aku bisa menikmati tubuh sexy mbak Eliz sebanyak yang aku bisa. Kami saling memeluk dan mengocok, berbagai posisi kami lakukan dari meja, karpet lantai hingga kembali ke ranjang dengan segala posisi yang ada di imajinasi kami, entah sudah berapa kali dia mengalami orgasme, tapi selalu berulang dan berulang lagi.</p>
<p style="text-align: justify;">Rasanya tak pernah habis kureguk kenikmatan dari mbak Eliz. Suara canda dari kolam sudah tak terdengar lagi, kami terlalu asik mengarungi lautan kenikmatan hingga tak perhatikan sejak kapan terhenti. Tubuhku untuk kesekian kalinya di atas tubuh mbak Eliz, mengocok dan menggoyang dengan penuh gairah dan nafsu, kakinya dikaitkan di atas pinggangku, kami saling mereguk kenikmatan, hingga sampailah aku ke puncak kenikmatan sexual, tubuhku menegang. “Keluarin di dalam Mas” bisiknya, dan sedetik kemudian menyemprotlah spermaku di rahim istri tetanggaku yang cantik ini. “Aaaaaaauuuuuggghhhh” dia menjerit spontan ketika semprotan pertama menghantam dinding rahim dan vaginanya, tubuhnya ikut menegang dan sebelum denyutanku habis vaginanya ikutan berdenyut lemah, kami orgasme hampir bersamaan, saling memeluk erat, napas kami menderu seiring deru birahi kami. Aku langsung lunglai di atas tubuh dan pelukan mbak Eliz, kurasakan detak jantungnya yang berpacu cepat. Kami berpelukan dan saling mendekap tanpa kata, seakan menikmati saat saat nikmat yang baru saja kami gapai. “Udah dulu ya saying, ntar suamimu tahu” kataku memecahkan keheningan, kuberanikan memanggil kata saying, mengingat saat nikmat yang baru saja kami lalui. “Thanks mas, ini the best sex I have ever had” katanya masih di pelukanku. “Mas Hendra bukan satu satunya selain suamiku, aku memang beberapa kali selingkuh sama teman, tolong pegang rahasia ini ya Mas, tapi inilah yang terbaik dan punya Mas Hendra adalah yang terbesar yang pernah aku tahu selama ini, paling asik deh” katanya pelan tapi mengagetkanku. Sungguh beruntung laki laki yang telah menikmati tubuh sexy dan wajah cantik ini. “Mas Surya tahu ?” tanyaku sambil menutupi kekagetanku.</p>
<p style="text-align: justify;">“Entahlah Mas, mungkin juga sudah tahu tapi dia belum memergoki secara langsung sih, mau Tanya juga nggak berani dia karena aku juga tahu dia sering selingkuh, bahkan sekali tertangkap basah” Mbak Eliz terdiam sejenak. “Kehidupan keluarga kami sih nggak ada masalah, selama masalah itu tidak dibawa ke rumah, dan kita juga nggak pernah mengungkit ungkit masalah itu, it just fun, selama ini kami happy-happy saja kok, nothing wrong with my family. Aku berkata sejujurnya bahwa inilah yang terbaik yang pernah aku alami, aku jadi pingin lagi lain waktu, terserah Mas Hendra apa dengan mbak Lily atau Cuma kita berdua, aku sih oke oke saja, yang penting kita bisa menjaga keluarga kita masing masing” lanjutnya, dia menciumku, lalu turun dan berpakaian. Kami lalu ke ruang tamu, kubuka tirai kamar pertanda kami sudah selesai, kolam renang terlihat sepi, dia membuatkan aku kopi lalu nonton TV bareng sambil menunggu kedatangan istriku dan suaminya yang entah sekarang dimana atau lagi ngapain. Sesekali kami berciuman dan kucuri remasan buah dadanya. “Kamu belum memenuhi janjimu”, kataku asal. “Yang mana ?” “Sebelum istriku keluar” “Emang dia pernah melakukannya ? “Bukan pernah lagi tapi setiap kali kami selesai bercinta” jawabku, melihat keadaan masih aman, kutarik mbak Eliz ke dapur, aku bersandar di dinding dan kulorotkan celanaku hingga lutut dan kuminta dia jongkok. Agak ragu sebentar tapi akhirnya dia menurut, kembali bibir dan lidahnya menyusuri kejantananku, tak lama kemudian penisku sudah keluar masuk bibir mungilnya, makin lama makin menegang dan membesar. Kupegang rambutnya dan kukocokkan penisku di mulutnya. “Eeeegghhh…eeehhhmmm, gila, tak muat mulutku Mas” Penisku makin cepat keluar masuk mulutnya, tak lebih dari tiga menit kemudian kusemprotkan spermaku ke mulutnya, tak banyak memang, tapi aku sudah bisa merasakan orgasme di mulutnya. Dia berusaha menarik keluar, tapi kutahan kepalanya, dan tertelanlah spermaku itu, dia seperti mau muntah tapi tak kupedulikan, takkan kulepas sebelum aku yakin dia sudah menelannya, kuusap usapkan penisku yang sudah lemas itu ke mukanya, dia menikmatinya.</p>
<p style="text-align: justify;">Kami kembali ke ruang tamu menunggu kedatangan mereka, sepuluh menit kemudian muncullah Mas Surya dari balik pintu, sendirian dan masih mengenakan celana dalamnya yang sud ah agak kering, berarti cukup lama dia keluar dari kolam renang, dia terlihat agak terkejut melihat kami berdua di ruangan itu. “Eh, kirain kalian ikut Tea Walk” sapanya agak kaku langsung masuk ke kamarnya. Aku dan mbak Eliz saling berpandangan, dia kemudian menyusul suaminya ke kamar meninggalkan aku sendirian di ruang tamu. Cukup lama aku sendirian menunggu istriku sebelum akhirnya dia dating menenteng pakaiannya, hanya berbalut handuk dan rambutnya basah, padahal dia sudah lama keluar dari kolam. Dia tersenyum dan langsung masuk kamar, kususul dan kutarik handuknya hingga terlepas, ternyata dia tidak mengenakan apa apa dibaliknya, kupeluk dan kudorong dia ke ranjang yang baru saja aku pakai bercinta dengan mbak Eliz. Sambil berpelukan dia mulai bercerita apa yang telah terjadi. Ternyata dia membohongi Mas Surya bahwa kami ikut Tea Walk dan di kolam renang tak hentinya Mas Sur memandangi tubuhnya, sering tertangkap basah matanya memandang nakal ke arah buah dadanya yang memang menonjol di balik kaos basahnya, bahkan tak jarang Mas Surya berusaha menggodanya tapi istriku pura pura tak tahu. Mungkin karena merasa usahanya tidak mendapat respon, maka dia i ngin segera ke Pavilliun, entah mau ngapain. Saat Mas Surya bilas di kamar mandi sebelah kolam, istriku menerobos masuk, langsung memeluk dan menciumnya, tentu saja Mas Surya kaget tapi segera membalas dengan penuh nafsu. Ketika istriku memegang kejantanannya yang sudah menegang di balik celana dalamnya yang masih basah, dia terkejut karena tidak sebesar yang dibayangkan, agak kecewa juga dia, apalagi ibandingkan punyaku, tapi ketika dikeluarkannnya ternyata bentuknya yang lurus ke depan, berbeda dengan penisku, dia langsung bergairah, karena bentuk seperti itulah kesukaannya. Istriku langsung jongkok di depan Mas Surya, menjilati sebentar kepala dan batang kemaluannya, lalu mengulumnya, penis kecil Mas Surya masuk semua ke mulutnya hingga hidungnya bisa menyentuh rambut pubic-nya.</p>
<p style="text-align: justify;">Mas Surya mendesis dan meremas rambut basah istriku sambil mengocokkan penisnya di mulutnya. Mata Mas Surya menatap tajam penuh kagum ketika istriku melepas pakaian basahnya, sama sama telanjang kembali mereka berpelukan dan berciuman, tangan Mas Surya tiada hentinya meremas buah dada istriku, begitu juga mulutnya seakan tak mau melepaskan putingnya. Mulanya dia menolak ketika istriku minta jilatan di vaginanya, tapi istriku tak peduli, dia memaksa posisi 69 sehingga ketika dia mengulum penis Mas Surya, vaginanya tepat di atas mukanya. Diawali dengan kocokan jari di vagina, tatapi akhirnya lidah Mas Surya mampir juga di vaginanya, bahkan menari nari pada klitoris istriku. Mendapat jilatan di gina, kuluman dan kocokan istriku makin menjadi, membuat Mas Surya sering kali entikan jilatannya untuk merasakan nikmatnya kuluman istriku pada penisnya. Akhirnya mereka bercinta di kamar mandi, dengan hanya beralaskan handuk, istriku engocok Mas Surya yang telentang di bawahnya, tangannya tak pernah bosan menjelajahi kedua bukitnya. Ada rasa aneh ketika penis Mas Surya memasuki liang vagina istriku, tidak biasanya dia merasakan penis yang kecil seperti itu, tapi lama kelamaan dia bisa menikmati juga gerakan liar dari penis itu di vaginanya, ada kenikmatan berbeda antara ukuran besar dan kecil. Mereka kemudian berganti posisi, gantian istriku telentang, Mas Surya menindih dan mengocoknya, seperti kata istrinya, permainan suaminya tidak terlalu banyak improvisasi, justru istriku yang banyak mengambil inisiatif, kedua kakinya di tumpangkan ke bahu Mas Surya, penisnya lebih dalam masuk ke vagina istriku, tidak lebih dari 7 kocokan kemudian, Mas Surya menyemprotkan spermanya dalam vagina istriku, tanpa permisi lagi, seenaknya saja dia menyemburkan cairannya di dalam, denyutannya cukup kuat untuk membuat istriku menjerit kaget bercampur nikmat, lalu tubuh Mas Surya melemas terkulai di atas tubuh istriku, agak kecewa juga dia karena belum mencapai orgasme tapi Mas Surya sudah selesai terlebih dahulu, dan sialnya lagi dia tidak berhasil membangkitkan kembali gairah Mas Surya, tubuhnya semakin berat menindih badannya,</p>
<p style="text-align: justify;">apalagi di atas lantai yang keras. “Kamu memang hebat, pintar dan liar” bisik Mas Surya ketika istriku mendorong tubuhnya turun. “Baru segitu aja sudah memuji, kamu akan kaget bagaimana istrimu mendapatkan kenikmatan dari suamiku di sana” teriak batin istriku, tapi dia menutupi dengan senyuman. “Ingin aku mengulangi lagi di tempat dan suasana yang lebih nyaman, entah kapan, kalau kamu nggak keberatan” lanjut Mas Surya ketika mereka mengenakan kembali pakaiannya. “Boleh asal Mas dengan syarat dan aturan main yang kutetapkan, ntar aku kasih tahu bila saatnya tiba, kalau bisa ketika di puncak ini” jawab istriku nakal. Akhirnya mereka berdua keluar kamar mandi, istriku melihat tirai sudah terbuka pertanda kami sudah selesai dan keadaan aman, tugas sudah diselesaikan dengan baik. Ketika menuju Pavilliun, istriku teringat k alau celana dalamnya tertinggal di kamar mandi, segera dia kembali, langsung saja dia masuk. Ternyata si Bobby salah satu adik tetanggaku yang baru tamat kuliah berada di dalam, mereka berdua sama sama kaget, apalagi terlihat Bobby memegang celana dalam istriku sambil meremas selangkangannya. “Ada apa Bob ?” Tanya istriku menutupi kekagetannya “Aku tahu yang mbak lakukan sama Mas Surya barusan, aku sudah intip sejak Mbak mengikutinya masuk sini, jadi aku tahu semuanya” kata Bobby dengan pandangan nakal “Lalu ?” Tanya istriku menyelidik “Apa Mas Hendra atau mbak Eliz tahu ? bagaimana kalau mereka mengetahuinya ?” ada nada ancaman. “Jangan bilang mereka ya Bob, please” kata istriku pura pura terkejut dan takut untuk mengetahui apa maunya “Aku akan tutup mulut kalau ada imbalannya” Bobby berkata dengan angkernya “OK, berapa yang kamu mau asal keep this secret” tantang istriku “Aku nggak butuh duit dari mbak meski aku tidak punya duit, aku Cuma minta hal yang sama dengan Mas Surya” jawab Bobby, tentu saja mengagetkan istriku. “Bobby !!!, apa maksudmu” Tanya istriku pura pura bodoh “Ya apa yang mbak lakukan sama Mas Sur, aku minta yang sama, tapi aku nggak maksa kok, terserah mbak Lily saja” jawab Bobby enteng menggoda.</p>
<p style="text-align: justify;">Bobby sebenarnya tampan, hitam manis dan badannya atletis karena dia punya hobby aerobik, sebenarnya bisa saja istriku melayani kemauan Bobby, toh beberapa gigolo yang kami booking banyak yang usianya tak beda dari dia, bahkan lebih muda, masih kuliah lagi, tapi istriku tak mau merusak hubungan dengan kakaknya, ada rasa segan. Istriku terdiam mempertimbangkan, sebenarnya bukan takut dia cerita ke aku atau mbak Eliz, tapi lebih banyak pada etika berteman dan bertetangga. “Mbak gak rugi deh, aku masih perjaka kok, belum pernah melakukan yang gituan, paling juga onani” bujuk Bobby “Bobby, kalau kamu benar masih perjaka, mbak malah nggak mau melayani, sebaiknya kamu berikan pada orang yang kamu cintai, istrimu kelak, tapi mbak akan memberi imbalan tutup mulutmu dengan cara mbak sendiri dan mbak jamin kamu pasti menyukainya, tapi yang pasti bukan yang satu itu, asal kamu melupakan semua yang pernah terjadi di sini, baik antara aku dan Mas Surya maupun aku sama kamu, tidak pernah terjadi apa apa disini, oke ?” istriku yang nakal mencoba bernegosiasi sambil mendekati Bobby.</p>
<p style="text-align: justify;">Dia masih terdiam ketika istriku memeluk dan mencium kedua pipinya, terasa jantungnya yang berdetak kencang, apalagi ketika istriku mendekapnya erat, buah dadanya menempel rapat di dada Bobby. Dia diam saja dan membalas ketika bibir Bobby melumat bibirnya, tangan istriku segera menjelajah di selangkangan Bobby ketika Bobby mulai menjamah buah dadanya. “Aku belum pernah melakukan ini” katanya terbata bata, tangannya agak gemetaran ketika meremas buah dada istriku. Istriku bersandar di dinding, dia nurut saja ketika Bobby melepas kaosnya, bahkan dia mulai mendesis ketika Bobby meremas dan mengulum kedua buah dada dan putingnya. Terasa kaku dan kasar remasan dan kuluman Bobby, tapi istriku menikmati permainan perjaka ini, dibiarkannya Bobby menikmati seluruh tubuhnya, bibirnya, lidahnya, elusannya, tak sejengkalpun tubuh istriku luput dari jamahannya, kecuali bagian selangkangan yang masih tertutup celana pendek. Berulang kali Bobby berusaha melepasnya tapi istriku selalu menolak, dan terus mencoba lagi hingga akhirnya istriku menyerah. “OK, kamu boleh melakukannya tapi tetap tidak yang satu itu” tegas istriku, dan tak lama kemudian istriku kembali telanjang di kamar itu, di depan orang yang berbeda, konyolnya lagi kini dia telanjang di depan orang yang masih berpakaian lengkap dan bersepatu cats. Rupanya Bobby Cuma mengelus dan menciumi paha dan pantat istriku, dia tidak melakukan jilatan di vagina maupun sentuhan di klitoris seperti perkiraan istriku semula. Bobby paling suka menciumi pipi, leher dan melumat bibir istriku, juga meremas dan mengulum kedua buah dadanya. Sambil saling melumat bibir, istriku membuka resliting celana Bobby dan mengeluarkan kejantanannya, terkaget dia mendapati kenyataan bahwa penis Bobby cukup besar, mungkin sama dengan punyaku, dia jongkok di depan Bobby dan mengocok dengan tangannya. “It’s show time” kata istriku, lalu dia mulai menjilati sekujur penis Bobby, jilatan nakalnya menjelajah ke seluruh bagian kejantanannya, membuat Bobby mendesis desis dan meremas rambut istriku.</p>
<p style="text-align: justify;">“Oooooooohhhhh… . sssssssshhhhhh” desisan keluar dari mulutnya ketika istriku memasukkan penis itu ke mulutnya, penis yang besar itu makin tegang dan membesar dalam genggaman dan kocokan mulut istriku. Kalau tidak mengingat siapa Bobby dan hubungan baik dengan kakaknya, ingin rasanya memasukkan penisnya ke vagina, untuk melampiaskan birahi yang tidak elesaikan dengan Mas Surya tadi. Sambil mengocok dengan mulut, tanpa setahu Bobby istriku mempermainkan jarinya di klitoris, dia memerlukan sesuatu di vaginanya, ingin rasanya mengajak ber-69 supaya sama sama nikmat. Belum lima menit istriku mengocoknya, tiba tiba Bobby teriak dan langsung menyemprotkan spermanya di mulut istriku, segera ditariknya keluar penisnya hingga beberapa semprotan sperma mengenai muka dan rambutnya, dimasukkannya kembali penis Bobby ke mulutnya, beberapa tetesan masih keluar mengisi mulut istriku, banyak juga sperma yang disemprotkan Bobby, maklum baru pertama kali melakukan seperti ini. Istriku bukannya mengeluarkan penis dari mulutnya ketika semprotannya habis, tapi justru mempermainkan dengan lidahnya, kontan saja Bobby teriak kegelian dan mencabut dengan paksa penisnya dari mulut istriku. “Gimana ? puas nggak ?” goda istriku sambil mengusap sisa sperma yang ada di bibirnya. “Gila, 100% mbak” jawab Bobby dengan nada puas “Udah keluar sana, mbak mau mandi bersihin spermamu yang ada di tubuh mbak ini, lagian ntar mereka tahu” kata istriku sambil berdiri dan menyalakan shower. “Aku di sini aja mbak, sambil lihat mbak mandi” kata Bobby “Ah nggak nggak nggak bisa, ini diluar perjanjian” jawab istriku ketus, sebenarnya dia khawatir kalau Bobby bisa segera recovery dan minta kelanjutannya, kan bisa berabe, maklum masih darah muda, disamping itu dia juga takut terhanyut emosi dan nafsu birahi dengan melayani permintaan Bobby untuk bercinta. Akhirnya Bobby keluar dan istriku melanjutkan mandi, itulah sebabnya ketika dia dating dengan menenteng pakaian, rambutnya basah dan hanya berbalut handuk. Mendengar ceritanya barusan, kuceritakan juga pengakuan dari Mbak Eliz tentang keluarga yang saling selingkuh.</p>
<p style="text-align: justify;">kulihat pandangan isriku berbinar, entah apa yang ada dalam pikirannya. Nafsuku naik kembali ingin aku menuntaskan birahi istriku yang tak terselesaikan, tapi dia menolak. “Jangan sekarang Pa, ntar aja, aku ingin ngerjain Mas Surya, kita bertiga, Papa setuju kan” pinta istriku, tak ada alasan bagiku untuk menolak karena dia sudah membantuku dengan mbak Eliz. “Sekarang kita harus pikirkan bagaimana menyingkirkan mbak Eliz sementara, Papa ada ide nggak ?” kata istriku. “Aku bisa aja mengajak mbak Eliz jalan jalan keluar, tapi kalau kamu minta kita bertiga ya kita harus pikirkan lagi alasannya” jawabku “Kita pikir nanti deh, sekarang kita keluar cari makan, sekarang sudah hampir jam 1 saatnya makan, siapa tahu kita dapat ide” usul istriku setelah kami saling terdiam berpikir beberapa lama. Setelah berpakaian sewajarnya kami keluar kamar, ternyata Mas Surya dan istrinya sudah berada di teras depan Pavilliun, kami saling menyapa seolah tidak pernah terjadi apa apa diantara kami, semuanya berjalan normal separti biasa, tak ada rasa canggung ataupun segan, padahal diantara kami sudah saling menikmati pasangan masing masing.</p>
<p style="text-align: justify;">Bedanya, kini seringkali mbak Eliz memandangku dengan sorot mata yang penuh gairah, dan kubalas dengan senyum penuh arti, tentu hal ini hanya kami berdua yang tahu. Mungkin juga hal yang sama dilakukan Mas Sur dan istriku. Kami berempat ke Bangunan utama yang letaknya di depan melintas kolam renang, berbaur dan ngobrol dengan penjaga dan mereka yang tidak ikut Tea Walk, ternyata 3 orang tidak ikut termasuk Bobby. Anak anak dan lainnya belum pada dating, mungkin mereka langsung makan siang. “Pa, sepertinya susah menyingkirkan mbak Eliz, nggak ada alasan yang kuat, agaimana kalau kita ajak aja mereka bersamaan, kita berempat” usul istriku ketika kami berdua di dapur. “Aku sih oke saja, toh kita sudah sering melakukannya, tapi gimana ngajaknya ?” tanyaku “Serahkan padaku, panggil mbak Eliz kemari” jawab istriku meyakinkan, kutinggalkan istriku yang sedang membuat bandrek untuk kami semua, aku bergabung kembali dengan mereka di teras, dan mbak Eliz segera ke dapur setelah kuberi tahu. Kulihat mereka berbicara serius sambil berbisik, terkadang tertawa renyah, entah apa yang dibicarakan, aku yakin istriku sedang me-lobby mbak Eliz dan percaya cara lobby istriku yang seringkali membawa hasil. Tak lama kemudian kuhampiri mereka, ingin tahu hasilnya. “Mulanya dia keberatan kalau suaminya ikutan, apalagi dengan aku, tapi setelah kubujuk akhirnya dia mau, asal aku yang memberitahu ke Mas Surya. Pa tahu nggak, ternyata dia pernah melakukannya dengan dua laki laki……” Percakapan kami terhenti ketika salah seorang pembantu mendekat. “Aku yakin Mas Surya akan menyetujui rencana ini, dia bukan halangan yang berarti” lanjutnya setelah pembantu itu pergi. Kami bergabung kembali sambil membawa beberapa cangkir Bandrek, kulihat mbak Eliz duduk di samping suaminya dengan pandangan penuh Tanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Kami terlalu asyik ngobrol sehingga istriku sepertinya agak kesulitan mencari kesempatan membicarakan rencananya dengan Mas Surya. “Mas Surya, bisa Bantu aku sebentar” pinta istriku lalu meninggalkan kami menuju Pavilliun, Mas Surya mengikutinya, kulihat mbak Eliz memandangku dan kubalas dengan senyuman dan anggukan. Entah yang lainnya curiga atau enggak, kenapa istriku minta bantuan Mas Surya dan bukan aku, suaminya. “Mungkin istriku perlu bantuan lagi” kataku seraya beranjak meninggalkan ruangan. “Aku ikut Mas” kata mbak Eliz mengikutiku. “Aku nggak yakin apakah Mas Surya mau menyetujui rencana istri Mas, aku juga masih ragu apakah bisa melihat kenyataan suamiku sedang mencumbu istri Mas” kata Eliz ketika kami melintas dekat kolam renang. “Aku yakin kamu pasti bisa, terbukti kamu makin bergairah ketika melihat suamimu sedang bermain dengan istriku di kolam renang tadi pagi” jawabku meyakinkannya. Pavilliun C seperti sebelumnya terlihat sepi, tirai kamar tertutup repat, kami curiga, kuberi tanda pada mbak Eliz untuk masuk dengan cara mengendap endap, sayup sayup kudengar desahan istriku dari kamar Mas Surya yang sedikit terbuka.</p>
<p style="text-align: justify;">Berdua kami mendekati dan mengintip apa yang sedang terjadi, kami melihat Mas  Surya sedang berlutut di depan istriku yang duduk di tepi ranjang, keduanya tidak mengenakan celana lagi, istriku sedang menggeliat menerima jilatan dari suami mbak Eliz, tangannya meremas remas rambut Mas Surya, aku yakin istriku sudah memberikan kuluman penis padanya. Kurasakan mbak Eliz menggenggam tanganku erat, entah dia cemburu atau makin bergairah. “dia tak pernah melakukannya padaku” bisik mbak Eliz, kuberi tanda supaya tidak bersuara. Sambil menjilati vaginanya, tangan Mas Surya menjelajah ke daerah dada istriku yang ternyata sudah tidak mengenakan bra, desah istriku terdengar tertahan. Kuelus pundak mbak Eliz, untuk menenangkan gejolak emosinya, melihat suaminya memberi istriku apa yang belum pernah diberikan padanya. Dia membalas dengan elusan dan remasan di selangkanganku, kejantananku makin menegang. Mbak Eliz menarikku ke samping, aku bersandar di dinding, dia langsung melorotkan celana pendekku dan berlutut di antara kedua kakiku, dipegang dan dikocoknya sebentar kejantananku yang sudah menegang lalu dijilatinya dengan penuh nafsu, tak lama kemudian kejantananku sudah keluar masuk mulut mbak Eliz.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku tidak berani mendesah, sementara di dalam kamar desahan istriku masih terdengar penuh gairah meskipun lirih. Kukocok mulut mbak Eliz, dia jauh lebih bergairah mengulumku dibandingkan sebelumnya, mungkin karena cemburu atau dendam, makin cepat aku mengocoknya. Aku tak berani terlalu bernafsu, perhatianku sesekali tertuju keluar, takut kalau ada yang lewat pasti bisa melihat kami karena tirai ruang tamu belum sempat kami tutup. Desahan istriku sudah berubah, aku hapal betul desahan itu, pasti Mas Surya sudah melesakkan penisnya ke vagina istriku. Sungguh berani mereka melakukannya tanpa melihat situasi, sungguh nekat tanpa perhitungan, pikirku. Kuminta mbak Eliz untuk pindah ke dapur, tapi dia tak mau, sepertinya ada rasa cemburu dan menikmati mendengar istriku mendesah bersama suaminya, ternyata aku mengalami hal yang sama, makin mendesah istriku makin aku bernafsu mengocokmulutnya. Ingin rasanya kulesakkan segera penisku ke vagina mbak Eliz, tapi keadaan tidak memungkinkan, mbak Eliz tetap menolak ketika kuberi isyarat untuk pindah ke kamarku, dia masih menikmati desahan istriku yang kini sudah bergantian dengan desahan suaminya dari dalam kamar, jilatan dan kulumannya tak henti dari penisku. Mbak Eliz melepaskan penisku, dia merangkak mengintip ke dalam kamar, begitu juga aku. Dugaanku benar, kami lihat Mas Surya sedang menindih tubuh istriku sambil menciumi lehernya, pantatnya turun naik mengocok vaginanya, sementara kaki istriku menjepit pinggang Mas Surya, mereka saling memeluk erat mengunci. Mbak Eliz diam saja ketika kusingkapkan rok-nya, begitu asyik dia melihat suaminya sedang bersetubuh dengan istriku, aku tertegun sejenak melihat celana dalamnya hijau tua yang menutupi pantatnya, lebih tepat menghiasi pantatnya karena hanya seutas tali, celana dalam model String, sungguh sexy pantatnya yang mulus dan padat berhias itu. Tak perlu membukanya, hanya menyisihkan tali itu sudah cukup bagi penisku untuk mencapai vaginanya. Kuciumi dan kujilat pantatnya, dari lubang anus hingga ke vaginanya, dia menungging makin tinggi pantatnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Mbak Eliz diam saja ketika kusapukan kepala penis ke vaginanya yang sudah basah, perlahan sekali aku mendorong masuk penisku, takut kalau mbak Eliz menjerit, tapi tak luput juga dia menjerit kecil ketika penisku tertanam semua dan menyentuh dinding dalam vaginanya. Untungnya jeritan kecil itu tertutup desah mereka hingga belum menyadari keberadaan kami di luar kamar. Pelan pelan mulai kukocok mbak Eliz dari belakang, dogie style, aku bisa merasakan dia kurang enjoy karena harus bercinta tanpa desahan sedikitpun, tapi tetap menolak untuk berpindah ke kamar. Disamping itu aku harus tetap waspada dengan keadaan di luar, sebenarnya ini terlalu ceroboh, tak pernah aku melakukan seceroboh ini, tapi setelah beberapa menit berlalu, aku mulai menikmati ketegangan ini, baik ketegangan dari dalam kamar maupun dari luar. Seringkali mbak Eliz menengok ke dalam kamar ketika kukocok, terutama ketika desahan istriku meninggi, aku tak tahu posisi apa di dalam. Tiba tiba terdengar jerit orgasme dari Mas Surya, cepat juga padahal belum 10 menit mereka bercinta, mungkin karena terburu buru.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku tak tahu harus berbuat apa, ingin menyelesaikan tapi takut mereka segera keluar, akirnya kucabut penisku dari mbak Eliz, dia tidak protes berarti setuju untuk menghentikannya. Kami merapikan pakaian dan duduk di ruang tamu menunggu mereka keluar. Tak lama kemudian Mas Surya dan istriku keluar kamar, tampak expresi terkejut dari Mas Surya tapi istriku hanya senyum senyum saja mengetahui keberadaan kami. “Eh.. Mas Hendra, udah lama ?” terlihat kegugupan pada pertanyaannya. “Cukup lama untuk mengetahui Mas dan mbak Lily di kamar” jawab istrinya ketus tanpa memandang ke arah suaminya, aku yakin cuma pura pura saja untuk memperkuat posisinya. “Kami hanya……” “Berdua dengan mbak Lily dan memuaskannya” potong istrinya tetap dengan nada tinggi. Mas Surya diam saja, memandang ke arahku seakan meminta bantuan, karena tidak tahu hasil pembicaraanku dengannya sebelumnya maka aku tak berani komentar dan kualihkan pandanganku keluar, istriku juga diam dan duduk di sebelahku melihat perlakuan mbak Eliz pada suaminya, kami semua terdiam.</p>
<p style="text-align: justify;">Mbak Eliz berdiri, menggandeng tanganku dan istriku, kami bertiga masuk kamar yang tadi dipakai Mas Surya dan istriku, pintu sengaja tidak ditutup, tanpa mempedulikan suaminya lagi dia memeluk dan menciumku. Mbak Eliz langsung jongkok di depanku dan mengeluarkan kejantananku, dijilati dan dikulum seperti yang dia lakukan tadi, kutarik istriku ke pelukanku dan kami berciuman sementara penisku sudah meluncur nikmat di mulut mbak Eliz. Cukup demonstratif dia mengulumku di depan suaminya, sambil memeluk dan berciuman dengan istriku, kupegang rambut mbak Eliz dan mengocoknya. Mbak Eliz mendorongku hingga telentang di ranjang, setelah melepas rok dan celana dalam mininya, segera membuat posisi 69 di atasku, seolah dia juga ingin memberikan apa yang belum pernah diberikan pada suaminya, kusambut vaginanya dengan jilatan lidah penuh gairah, dan dia mulai mendesah lepas penuh kenikmatan. Istriku lalu ikutan mbak Eliz mengulum penisku secara bergantian, dua lidah wanita cantik bekerja di daerah kejantananku, membuatku mendesis desis nikmat.</p>
<p style="text-align: justify;">Mas Surya berdiri di depan pintu melihat istriku dan istrinya menjilati kejantananku yang jauh lebih besar dari punya-nya. Dia tidak berani masuk, mungkin ada perasaan bersalah. Desah kenikmatan dan gairah mbak Eliz sungguh jauh lebih menggairahkan dibanding tadi, seolah dia ingin memamerkan kenikmatannya pada suaminya, bahwa dia bisa mendapatkan kenikmatan yang lebih dari orang lain, suami dari wanita yang tadi disetubuhinya. Mbak Eliz turun dari tubuhku, dikocoknya penisku yang masih dalam kuluman istriku, dia memandang suaminya sejenak lalu naik ke atasku, kembali dia menoleh ke suaminya sebelum menyapukan penisku ke vaginanya dan desahan keras keluar dari mulutnya tanpa tertahan ketika penisku masuk ke vaginanya. “AAAAauuuugggghhhhhh… ssssssshhhhh… yessss…enak Massssss”, desahnya sambil bergoyang pinggul dan turun naik di atasku sambil melepas kaos dan bra-nya. Kuraih dan kuremas buah dadanya yang bergoyang goyang. Aku tak berani melihat ke arah Mas Surya, ada rasa kasihan dan perasaan bersalah mempermainkan dia seperti ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Istriku beralih ke kepalaku, aku menolak ketika dia mau engangkangiku karena masih ada sisa sperma Mas Surya di vaginanya. Kutarik tubuh mbak Eliz dalam pelukanku dan kudekap erat tubuh telanjangnya di depan suaminya, dia mengimbangi dengan menggoyangkan pantatnya ketika aku mulai mengocoknya dari bawah, desahan demi desahan nikmat keluar dari mulutnya, kami saling melumat bibir, istriku mengelus kantong bolaku membuat aku makin bergairah mengocok. Kami berganti posisi, dogie style menghadap ke Mas Surya sesuai permintaan istrinya, istriku memelukku dari belakang, ternyata dia sudah ikutan telanjang, bauh dadanya di gesek gesekkan ke punggungku sementara tangannya memegang penisku, yang sedang keluar masuk vagina mbak Eliz. Sungguh nikmat dan ada sensasi yang tak terlukiskan bercinta dengan wanita di depan suaminya yang tak berdaya. Aku mengocok dan menjamah seluruh badan mbak Eliz, tapi masih tetap tak berani memandang ke arah mas Surya, pandanganku justru aku fokuskan ke tubuh mulus mbak Eliz. “Ouuuuhhhh…yesss… yaaa…fuck me harder…yessss… trus mas…ya…enak masss” desahnya demonstratif dan kuturuti dengan kocokan yang makin cepat dan keras, terkadang kuhentakkan penisku ke vaginanya membuat dia menjerit dalam kenikmatan yang tinggi. Tak lama kemudian kurasakan tubuh mbak Eliz menegang, dia lalu menjerit keras bersamaan denyutan dan remasan vaginanya pada penisku. Mbak Eliz mencapai orgasme yang tertunda dari tadi, kudiamkan sejenak menikmati remasan vaginanya lalu kuteruskan lagi, dia menggeliat, kutarik rambutnya kebelakang hingga kepalanya terdongak dan kukocok dengan keras. Aku tak mau menghentikan meskipun dia sudah orgasme, puncak kenikmatan sudah di depan mata, desahan mbak Eliz tak kuhiraukan lagi, kocokanku makin cepat dan tidak beraturan, hingga akhirnya menyemprotlah spermaku di vaginanya. Aku dan mbak Eliz teriak hampir bersamaan, semburan spermaku membuat mbak Eliz menggelinjang nikmat menerimanya, dia menoleh ke arahku dengan senyuman puas, lalu dicabutnya penisku dari vaginanya. Tangannya meraih penisku, dipegangnya dan menoleh ke arah suaminya lalu dimasukkan ke mulutnya, dia mengulum penisku yang masih banyak spermanya, dikulum dan dijilatinya seperti membersihkan sperma dari penisku, aku kembali mendesis tak menyangka mendapatkan kenikmatan ini. Kuraih buah dada mbak Eliz dan kuremas remas saat dia menjilati dan mengulum. Kami sama sama telentang dalam kelelahan yan g nikmat. Istriku yang masih telanjang turun dari ranjang dan mendekati Mas Surya. “sekarang giliran kita” katanya sembari meremas remas di selangkangannya yang disambut dengan remasan di dada. “jangan di sini, kurang aman, kita keluar saja, cari hotel yang lebih enak” usulku sembari turun dari ranjang mengambil pakaian, kulemparkan kaos dan rok mbak Eliz tanpa pakaian dalam. Dia mengenakannya kembali sambil tersenyum ketika mengetahui tidak ada bra dan celana dalam di situ. Pasangan Surya-Eliz sudah masuk perangkap kami. Berempat kami meninggalkan Villa, tentu saja tak ada yang curiga akan kepergian<br />
kami berempat, tak lama kemudian Carnival kami sudah berada dalam antrian kemacetan jalanan di puncak.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku dan mbak Eliz di depan sementara Mas Surya dengan istriku duduk di jok paling di belakang karena jok tengah memang di lepas, membuat ruangan menjadi lebih lapang, kaca film yang gelap ditambah tirai tertutup rapat sungguh cocok dengan keadaan kami yang sama sama dibakar birahi, dari kaca spion dalam bisa kulihat Mas Surya berciuman dengan istriku, tangannya meremas remas kedua buah dadanya. Melihat suaminya berciuman di belakang, mbak Eliz menggapai penisku dan meremasnya, jalanan macet tidak memerlukan konsentrasi penuh, aku bisa menikmati remasan mbak Eliz sambil memandang istriku dan Mas Surya di belakang. Remasan Mas Sur berganti dengan kuluman di putting istriku, dia mulai mendesah menikmati kuluman suami mbak Eliz, tangannya meraih penis dan meremasnya. Kubelokkan Carnival menuju salah satu warung sate, kudengar suara protes dari belakang ketika mengetahui mobil sudah parkir di depan warung itu, kami keluar saling bergandengan, tentu orang tidak menyangka kalau yang digandeng itu bukan pasangan resminya, sama sama mesra, buah dada mbak Eliz yang montok tanpa bra terlihat jelas bagiku, entah orang lain. Selama makan mbak Eliz memperlakukanku layaknya suaminya begitu juga istriku terhadap mas Surya, Mas Surya sepertinya sudah menikmati permainan ini. Sungguh sulit mendapatkan hotel atau villa yang masih kosong saat liburan seperti ini, dari hotel, cottage maupun orang sekitar yang biasa menyewakan villa, semuanya penuh, fully occupied. Setelah melewati Puncak Pass akhirnya kami mendapatkan kamar yang masih kosong, dengan terpaksa kami ambil kamar yang suite dengan 3 kamar yang harganya minta ampun mahalnya, apalagi hanya untuk dipakai dalam waktu yang tidak lama, sekedar pelampiasan nafsu liar kami, tapi uang bukanlah masalah kalau hati lagi senang, kami hanya ingin segera mencapai tempat dan melampiaskan hasrat masing masing. Kutinggalkan Mas Surya dan istriku yang sedang menyelesaikan administrasinya, aku langsung menggandeng mbak Eliz menuju kamar mengikuti Room Boy. Kami duduk di sofa menunggu kedatangan mereka, mbak Eliz duduk di pangkuanku lalu merosot bersimpuh di depanku sambil melepas celana pendekku, dia meraih kejantananku dan mengusap usapkan di wajah sambil menciuminya dengan gemas. “Ini penis kok segede ini, enak deh, sungguh beruntung mbak Lily tiap hari bisa merasakannya” komentarnya sambil mulai menjilati kepala penisku. “Kamu juga beruntung telah merasakannya” jawabku Dia tidak menjawab karena mulutnya sudah penuh terisi penisku, meski hanya setengahnya yang bisa dia kulum, tapi dia berusaha dengan mempermainkan lidahnya di dalam rongga mulutnya. Mbak Eliz sedang asyik mengocokku ketika suaminya datang menggandeng istriku. “Wah sudah mulai duluan nih, udah nggak tahan ya” goda istriku. Tanpa menunggu jawaban kami, istriku menghampiriku, kami berciuman, Mas Surya memeluknya dari belakang, menyelipkan tangannya ke dalam kaos istriku dan meremas remas kedua buah dadanya sambil mencium tengkuknya membuat istriku menggeliat. Mbak Eliz hanya tersenyum sambil tetap mengulum penisku melihatnya, Mas Surya melepas kaos istriku, buah dadanya yang padat menantang langsung kukulum, tak kupedulikan tangan Mas Surya yang sedang meremasnya. Istriku menggeliat dan mendesah mendapat kuluman dan ciuman di tengkuk. Dia duduk di sampingku dan Mas Surya duduk di antara kedua kakinya, bersebelahan dengan istrinya. Kedua suami istri itu memainkan mulut dan lidahnya di daerah kenikmatan kami dengan cara yang berbeda, istriku melumat bibirku, sambil menikmati permainan lidah Mas Surya yang sedang lincah bergerak liar di vaginanya, kepala Mas Surya seolah tertancap di selangkangan istriku, begitu juga mbak Eliz yang kepalanya terjepit di antara kakiku..</p>
<p style="text-align: justify;">Tak lama Mas Surya dalam jepitan selangkangan istriku, dia lalu berlutut, melepas pakaian dan menyapukan penisnya ke vagina Lily, dengan sekali dorong masuklah penisnya mengisi liang kenikmatannya dan langsung mengocok cepat, membuat istriku mulai mendesah. Melihat suaminya sudah duluan menikmati istriku, mbak Eliz berdiri melepas semua pakaiannya hingga telanjang, lalu ke pangkuanku, menyodorkan kedua buah dadanya ke mukaku yang langsung kusambut dengan kuluman penuh gairah, perlahan dia menurunkan tubuhnya, perlahan pula penisku memenuhi vaginanya. Kupeluk tubuh telanjangnya yang sexy ketika semua penisku tertanam ke dalam, dia membalas pelukanku dengan rapat sambil menggoyangkan pantatnya. “Ouh yaaa…yaaaa…enak masssss” desahnya bersautan dengan desahan istriku yang sedang menerima kocokan Mas Surya. Aku diam menerima kocokan mbak Eliz sambil mengulum kedua bukit montoknya, satu tangan meremas mbak Eliz sedang tangan lainnya meremas buah dada istriku, sama sama kenyal dan padat meski punya mbak Eliz lebih besar dan montok.</p>
<p style="text-align: justify;">Mereka berganti posisi meniru kami, kedua wanita bergoyang di pangkuan pasangan masing masing, desah dan jeritannya seolah berpacu dalam birahi, kukulum dan kusedot putting mbak Eliz, dia menggelinjang dengan jeritan nikmat tanpa menghentikan goyangannya, terkadang kedua wanita saling berpandangan dan tersenyum nikmat, tangannya saling berpegangan. Mas Surya membenamkan kepalanya di antara kedua bukit di depannya, istriku meremas rambutnya. Istriku memandang mbak Eliz lalu mengangguk memberi isyarat, tiba tiba secara bersamaan mereka berdiri, kami tidak sempat protes, ternyata mereka bertukar tempat kembali ke suaminya masing masing. Sementara istriku harus menyesuaikan kembali dengan ukuran penisku pelan pelan melesakkan ke vaginanya, Mbak Eliz langsung melesakkan penis suaminya ke vaginanya dan bergoyang dengan liarnya. Istriku memelukku setelah berhasil memasukkan semua penisku ke vaginanya. “Gila, sepertinya jauh lebih besar dari biasanya, terasa pennnnnnnuh” bisiknya sambil mendesah “Lebih enak kan, dia gimana ?” balasku berbisik “Punya Papa lebih besar tapi dia lebih keras dan tegang lurus, sama sama enak sih” Kuraih dan kuremas buah dada mbak Eliz yang bergoyang goyang di depan muka suaminya, kupermainkan putingnya membuat dia menggeliat dan mendesah sambil pantatnya turun naik di pangkuan sang suami. Kubiarkan istriku turun naik di pangkuanku sambil memandangi wajah mbak Eliz yang makin cantik menggairahkan terbakar nafsu. “Aku mau ngerjain mbak Eliz, biar dia merasakan two in one dengan suaminya” bisikku pada istriku tak lama kemudian, dia memandangku dan turun dari pangkuan. Aku berdiri di belakang mbak Eliz, sepertinya dia belum menyadari kehadiranku, kupeluk dari belakang, kudekap erat dan kuremas buah dadanya sambil menciumi tengkuknya, dia menggelinjang hebat, apalagi bersamaan dengan kuluman suaminya pada putingnya, desahannya berubah menjadi jeritan liar nan nikmat menggairahkan. “Aaaaaagggghhh… sssssshhhh… ehhhhhmmmmm” sambil menggoyang goyangkan kepalanya, rambut indahnya tergerai menutupi wajahnya yang kemudian disibakkan suaminya. Aku berdiri di atas sofa, posisi penisku sejajar kepala mbak Eliz, kusodorkan penisku yang tegang ke mulutnya, dia meraih dan mengocoknya.</p>
<p style="text-align: justify;">kulihat mbak Eliz memandang ke arah suaminya sebelum akhirnya memasukkan penisku ke mulutnya, tanpa mengentikan goyangan pinggulnya. Penisku segera keluar masuk mulut mbak Eliz, tepat di muka suaminya yang sedang meremas remas kedua buah dadanya, kini mbak Eliz mendapat dua penis di atas dan dibawah. Istriku hanya berdiri tersenyum melihat kami bertiga dan memandangku saat merasakan nikmatnya kuluman mbak Eliz. Kupegang rambut indah mbak Eliz yang tergerai di mukanya dan kukocokkan penisku ke mulutnya membuat dia tidak bisa bebas bergerak kecuali hanya bergoyang pinggul. Aku sudah tak mempedulikan lagi inya, yang hanya menonton bagaimana penisku mengisi mulut istrinya tercinta. Hanya beberapa menit kami mengeroyok mbak Eliz, ternyata sensasinya terlalu tinggi baginya, tak lama kemudian kurasakan cengkramannya pada penisku mengeras , gerakannya tidak beraturan dan, “Ooooouuugghhhh… yesssss…yaaaa… yaaaaaaa. .. oh Massssss” jeritnya orgasme, dia menggeliat di pangkuan suaminya sambil tetap mencengkeram penisku. Tubuh mbak Eliz melunglai memeluk suaminya, aku turun dan kucium pipinya yang masih bersandar di bahu sang suami, napasnya masih menderu, sempat kudengar dia berucap “terima kasih Mas”, entah ditujukan ke aku atau suaminya. “Giliranku” kata Lily, aku duduk di samping Mas Surya yang masih memangku istrinya. Lily berlutut di selangkanganku dan memasukkan penisku ke mulutnya, mbak Eliz turun dari suaminya, menggenggam dan mengocok penisnya yang masih tegang dan basah karena vaginanya, dikulumnya penis itu seakan membersihkan dari cairannya. Istriku sambil mengulumku meraih penis Mas Surya yang masih dalam kuluman istrinya, lalu mengocoknya setelah ditinggalkan mbak Eliz ke kamar mandi. Mas Surya beralih ke belakang istriku, mengatur posisinya bersiap untuk doggie. Tak lama kemudian istriku sudah menerima kocokannya dari belakang, dengan liarnya menghentakkan tubuhnya ke tubuh istriku yang masih bergairah mengulumku, sesekali kulumannya terlepas karena sodokan keras Mas Surya. Desahannya tertahan penisku yang ada di mulutnya, gerakan Mas Surya makin ganas, ditariknya rambut istriku dan menyodoknya dengan keras, tubuh istriku terdongak karena sodokannya, tapi dia tidak pedulikan, sodokan kerasnya tidak melemah, semakin istriku menggeliat nikmat membuatnya semakin bersemangat.</p>
<p style="text-align: justify;">Sambil mengocok, tangannya tak pernah lepas dari tubuh istriku, dielusnya punggung dan pantatnya lalu diremasnya kedua buah dadanya yang menggantung bebas. Dengan cepat istriku sudah bisa menyesuaikan dengan gaya permainan liar Mas Surya, kembali dia mengulum penisku, kupegang dan kuelus rambutnya, sesekali kutekan ke arah penis supaya masuk ke mulutnya sebanyak mungkin, meski dia tidak pernah bisa memasukkan semuanya. Kami berganti posisi, istriku duduk di pangkuanku, tapi sebelum dia memasukkan penisku ke vaginanya, Mas Surya sudah mendahului menyapukan kepala penisnya, dan melesak kembali ke vaginanya. Istriku menoleh ke Mas Surya, dia hanya membalas dengan senyuman, kini Mas Surya mengocok istriku yang duduk di pangkuanku. Dia mendesis di pelukanku menerima kembali kocokan Mas Surya. “Mbak suaminya nakal nih, merebut jatah suamiku” teriak istriku sambil mendesah ketika melihat mbak Eliz keluar kamar mandi. Mbak Eliz terlihat makin cantik dengan rambutnya yang tergerai basah dan hanya berbalut handuk, buah dadanya makin kelihatan montok berisi tertutup handuk putih. “Biarin aja, itulah balasan kalau kalian menggoda istri orang, tetangga lagi, bikin mereka kapok mas” jawab mbak Eliz mencium suaminya lalu duduk di sampingku. Tak kuperhatikan buah dada istriku yang berayun-ayun di mukaku, kutarik tubuh mbak Eliz mendekat, kulempar handuk penutup tubuhnya, aroma wangi tercium dari tubuh segarnya ketika kucium leher dan bibirnya, kami saling mengulum sambil aku memangku istriku yang menerima kocokan Mas Surya. “Pindah ke kamar yuk, disini kurang bebas” usul mbak Eliz Tanpa menunggu jawaban, kudorong istriku turun dari pangkuanku lalu kutuntun mbak Eliz menuju kamar, sekilas masih kulihat Mas Surya meneruskan kocokannya terhadap istriku, dia menyetubuhi istriku dari belakang sama sama berdiri, berpelukan dan berciuman. Sesampai di kamar, kurebahkan tubuh telanjang mbak Eliz dan langsung kutindih, kususuri tubuhnya yang segar sehabis mandi, terasa lebih menggairahkan, aku paling menyukai membenamkan mukaku di antara kedua bukit di dadanya yang montok. Tak lama kemudian istriku dan Mas Surya masuk kamar, ketika kami sedang ber-69 dengan mbak Eliz di atas, mereka langsung mengambil posisi doggie. Istriku mengatur posisi tubuhnya hingga kepalanya di antara kakiku dan bisa mengulumku bergantian dengan mbak Eliz ketika suaminya mengocoknya dari belakang, aku tak bisa melihat dengan jelas, tapi bisa merasakan ketika dua mulut dan dua lidah sedang berada di kejantananku baik secara bersamaan maupun bergantian, terasa kenikmatan yang berlebihan.</p>
<p style="text-align: justify;">Ranjang serasa bergoyang ketika kudengar jeritan nikmat istriku akibat hentakan kuat dari Mas Surya, kulihat dari celah paha mbak Eliz, Mas Surya menjambak rambut istriku hingga dia terdongak ke belakang dan menyodoknya dengan keras, buah dada istriku berayun-ayun tak beraturan karena sodokan itu. “Mas, gantian dong” pinta mbak Eliz pada suaminya, tanpa menunggu jawaban dia langsung turun dan nungging di samping istriku. Mas Surya melepaskan istriku dan bergeser di belakang istrinya, langsung penisnya melesak ke vagina mbak Eliz dengan kecepatan tinggi seperti yang dia lakukan pada istriku, kontan mbak Eliz menjerit seperti terkaget menerima perlakuan suaminya yang kasar itu, tapi tak ada tanda protes, justru kulihat expresi kenikmatan di wajahnya yang cantik. Kuraih buah dadanya yang montok berayun ayun dan kuremas sambil kupermainkan putingnya, membuat mbak Eliz makin histeris dalam desahannya. Istriku yang ditinggal Mas Surya, beralih ke atasku, mengatur posisinya sebelum akhirnya melesakkan penisku ke liang vaginanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Jeritan nikmat keluar dari mulutnya saat penisku menerobos masuk. Setelah terdiam sesaat, mulailah goyangan pinggulnya di atasku, penisku terasa di remas remas, gerakan istriku semakin liar, kunikmati sambil meremas remas buah dada mbak Eliz yang sedang mendapat kocokan dari suaminya. Melihat istriku bergoyang liar dan menggairahkan, Mas Surya rupanya tergoda juga untuk kembali menikmati istriku yang memang lebih liar dibandingkan istrinya, ditinggalkannya istrinya yang sedang mendesah nikmat, tak dipedulikannya suara protes dan kecewa dari mbak Eliz. Dia berdiri di samping Lily yang sedang terbakar kenikmatan, menyodorkan penisnya yang masih basah dari mbak Eliz ke mulutnya, istriku segera meraih penis itu dan langsung mengulumnya sambil tetap bergoyang pinggul dan turun naik di atasku. Penis mas Surya yang tidak terlalu besar segera masuk semua ke mulutnya tanpa hambatan, dia tidak mengalami kesulitan meng-handle dua penis secara bersamaan. Kedua penis mengocoknya di atas dan dibawah secara bersamaan, mbak Eliz yang cemberut segera kutarik dalam dekapanku, dia merebahkan kepalanya di dadaku sambil memandangi penis suaminya meluncur di mulut istriku.</p>
<p style="text-align: justify;">Mbak Eliz berlutut di sisi istriku, kedua wanita itu bergantian mengulum dan menjilati penis Mas Surya dengan rakusnya. Kami berimprovisasi dengan berbagai gaya dan posisi di semua tempat di kamar itu, sepertinya sudah menjadi kodrat bahwa aku lebih sering menikmati mbak Elis dan mas surya lebih menyukai istriku. Tak ada aturan, yang capek boleh berhenti yang masih kuat silahkan melanjutkan, permainan selalu bervariasi, kadang MMF, FFM atau MMFF. Anehnya, Mas Surya yang tadi cepat orgasme, dengan berame rame seperti ini justru bisa bertahan lebih lama, bahkan istriku sempat dibuat kewalahan. Kami saling mereguk dan memberi kenikmatan yang seolah tak pernah habis dinikmati. Selama di kamar tak seutas benang menutupi tubuh kami, bahkan ketika Room Boy mengantar makan malam, hanya Mas Surya yang berbalut handuk yang menerimanya, karena aku lagi sibuk mereguk kenikmatan dengan istriku dan istrinya. Setelah memberi tahu teman teman di Villa bahwa mungkin kami pulang pagi karena terjebak kemacetan di Cianjur, malam itu kami habiskan dengan pesta penuh nafsu seakan there is no tomorrow. Kami bebas melakukan dengan siapa saja, dimana saja, posisi apa saja, its wild sex, meski cuma kami berempat. Yang paling mengesankan adalah bercinta bertukar pasangan di keremangan malam yang dingin di udara terbuka, karena tempat kami memang jauh di pojok yang jarang dilewati orang.</p>
<p style="text-align: justify;">Dinginnya angin malam tak mampu mengusir gairah nafsu kami yang memang sedang memuncak. Keesokan harinya kami kembali ke Villa pukul 11 pagi, beberapa pertanyaan muncul mengiringi kedatangan kami, karena memang hp kami matikan untuk menghindari gangguan. Tak ada yang curiga dengan apa yang telah kami lakukan semalam, bahkan beberapa ibu ibu kasihan melihat kami yang kelihatan kurang tidur dan capek, mereka mengira kita kecapekan karena terjebak macet sehingga menginap di Cianjur, padahal itu jauh dari realita, justru kami kurang tidur dan capek karena nikmat. Akhirnya kami kembali membaur dengan tetangga lainnya, terhadap Mas Surya dan mbak Eliz kami bersikap sewajarnya seperti tidak terjadi apa apa, begitu juga mereka, tidak ada perubahan sikap kami pada mereka, paling tidak didepan banyak orang. Sesekali aku masih bisa mencuri cium ataupun pelukan ataupun rabaan dari Mbak Eliz saat berdua, istriku hanya tersenyum saja melihat tingkah lakuku itu. Kami masih berkeinginan untuk melakukannya lagi di lain waktu dan kesempatan, tak perlu menunggu liburan atau di puncak. Kalau ada peminat yang serius bisa kirim email, tak tunggu&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ceritasex.cn/istri-sakinah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Angan-Angan Seorang Suami dan Akibatnya</title>
		<link>http://www.ceritasex.cn/angan-angan-seorang-suami-dan-akibatnya/</link>
		<comments>http://www.ceritasex.cn/angan-angan-seorang-suami-dan-akibatnya/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 01 Aug 2009 13:21:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cerita Sex</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ekshibionis]]></category>
		<category><![CDATA[kisah nyata]]></category>
		<category><![CDATA[Paruh baya]]></category>
		<category><![CDATA[Seks Umum]]></category>
		<category><![CDATA[selingkuh]]></category>
		<category><![CDATA[angan-angan]]></category>
		<category><![CDATA[berbagi tubuh istri]]></category>
		<category><![CDATA[edo]]></category>
		<category><![CDATA[lina]]></category>
		<category><![CDATA[mia]]></category>
		<category><![CDATA[ngentot]]></category>
		<category><![CDATA[pikiran mesum]]></category>
		<category><![CDATA[teman ngentot istri]]></category>
		<category><![CDATA[tukar pasangan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ceritasex.cn/?p=766</guid>
		<description><![CDATA[Namaku Mia, karyawati sebuah bank swasta terkenal, yang semenjak beberapa lama aku mengalami frigiditas dalam persetubuhan, terutama sejak melahirkan anak pertamaku. Atas anjuran suamiku, aku dibawa suamiku ke dukun yang bernama Ki Alugoro yang bermukim di desa kecil di luar Jakarta untuk menyembuhkan frigiditasku. Sejak itu, setelah sembuh, gairahku untuk bersetubuh malah jadi menggebu-gebu, mungkin [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Namaku Mia, karyawati sebuah bank swasta terkenal, yang semenjak beberapa lama aku mengalami frigiditas dalam persetubuhan, terutama sejak melahirkan anak pertamaku. Atas anjuran suamiku, aku dibawa suamiku ke dukun yang bernama Ki Alugoro yang bermukim di desa kecil di luar Jakarta untuk menyembuhkan frigiditasku.</p>
<p style="text-align: justify;">Sejak itu, setelah sembuh, gairahku untuk bersetubuh malah jadi menggebu-gebu, mungkin karena dalam rangka penyembuhan tersebut aku harus mau menuruti semua persyaratan yang diajukan oleh Ki Alugoro, antara lain diurut dengan semacam obat dalam keadaan telanjang bulat dan disetubuhi olehnya (waktu itu disetujui dan malah disaksikan oleh suamiku).</p>
<p style="text-align: justify;">Akupun setuju asal aku dapat sembuh dari frigiditasku. Dan mungkin karena ****** Ki Alugoro memang benar-benar besar, lagi pula dia pandai sekali mencumbu den membangkitkan gairahku, ditambah dengan ramuan-ramuan yang diberikan olehnya, maka sekarang aku benar-benar sembuh dari frigiditasku, dan menjadi wanita dengan gairah seks yang lumayan tinggi. Hanya saja, karena ukuran ****** suamiku jauh lebih kecil dari ****** Ki Alugoro, maka dengan sendirinya suamiku tidak pernah bisa memuaskanku dalam bersetubuh.</p>
<p style="text-align: justify;">Apakah aku harus datang lagi ke tempat Ki Alugoro dengan pura-pura belum sembuh? (padahal supaya aku disetubuhi lagi olehnya). Mula-mula terbersit pikiran untuk berbuat begitu, tapi setelah kupikir-pikir lagi kok gengsi juga ya? Masak seorang istri baik-baik datang ke laki-laki lain supaya disetubuhi walaupun kalau mengingat ****** Ki Alugoro yang luar biasa besar itu aku sering tidak bisa tidur dan gairahku untuk bersetubuh memuncak habis.<br />
<span id="more-766"></span><br />
Sering-sering aku harus memuaskan diri dengan dildo yang kubeli tempo hari di depan suamiku sehabis kami bersetubuh karena suamiku tidak bisa memuaskan diriku. Malah sering suamiku sendiri yang merojok-rojokkan dildo itu ke dalam tempikku.
</p>
<p style="text-align: justify;">Untunglah, entah karena mengerti penderitaanku atau tidak, ternyata suamiku mempunyai angan-angan untuk melakukan persetubuhan three in one atau melihat aku disetubuhi oleh laki-laki lain, terutama setelah dia melihat aku disetubuhi Ki Alugoro tempo hari. Pantesan sejak itu, sebelum bercinta, dia selalu mengawalinya dengan angan-angannya. Angan-angan yang paling merangsang bagi suamiku, adalah membayangkan aku bersetubuh dengan laki-laki lain dengan kehadiran suamiku, seperti dengan Ki Alugoro tempo hari. Setelah beberapa lama dia menceritakan angan-angannya tersebut, suatu hari dia bertanya bahwa apakah aku mau merealisasikan angan-angan tersebut. Pada awalnya aku pura-pura mengira dia cuma bercanda. Namun dia semakin mendesakku untuk melakukan itu, aku bertanya apakah dia serius. Dia jawab, &#8221;Ya aku serius!&#8221; Kemudian dia berkata, bahwa motivasi utamanya adalah untuk membuatku bahagia dan mencapai kepuasan setinggi-tingginya. Karena dengan melihat wajahku ketika mencapai orgasme dengan Ki Alugoro tempo hari, selain sangat merangsang juga memberikan kepuasan tersendiri bagi dirinya (rupanya, waktu melihat tempikku dianceli ****** gede Ki Alugoro, diam-diam dia mengocok-ngocok ******nya sendiri sampai orgasme.)</p>
<p style="text-align: justify;">Tentu saja hal itu sebetulnya sangat aku harapkan. Inilah yang namanya dildo dicinta, ******pun tiba. Secara terus terang, seperti aku tuturkan diatas, aku tidak pernah merasa puas dengan ****** suamiku yang kecil, terutama setelah tempikku dianceli oleh ****** Ki Alugoro yang luar biasa itu. Wah, rasanya sampai tidak bisa aku katakan.</p>
<p style="text-align: justify;">Kuakui selama ini aku juga sering mengalami gejolak birahi yang tiba-tiba muncul, apalagi di pagi hari apabila malamnya kami melakukan persetubuhan karena suamiku tidak dapat melakukannya secara sempurna dan aku tidak sampai orgasme.</p>
<p style="text-align: justify;">Rupanya angan-angan seksual suamiku tersebut bukan hanya merupakan sekadar angan-angan saja akan tetapi dia sangat bersikeras untuk dapat mewujudkannya menjadi suatu kenyataan dan suamiku terus membujukku agar aku mau membantunya dalam melaksanakan angan-angannya (padahal sebenarnya aku sudah sangat mengharapkan, kapan rencana itu diwujudkan?). Tetapi untuk meyakinkan keseriusannya aku pura-pura terpaksa mengalah dan berjanji akan membantunya sepanjang aku dapat melakukannya dan kutanyakan apakah dia tidak cemburu melihat istrinya ditelanjangi dan tempiknya dianceli dengan ****** orang lain? Dia bilang sama sekali tidak.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8221;Karena aku hanya ingin melihat kau bahagia dan terpuaskan dalam persetubuhan&#8221; jawabnya mantab waktu itu.<br />
&#8221;Tentu saja aku akan mencarikan kau temanku yang mempunyai ****** besar dan keras. Setidak tidaknya sama dengan ****** Ki Alugoro tempo hari&#8221; janjinya lebih lanjut.
</p>
<p style="text-align: justify;">Sejak itu dia rajin menawarkan nama-nama temannya untuk mensetubuhiku.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8221;Terserah kaulah, kan kau yang punya rencana aku disetubuhi temanmu&#8221; jawabku waktu itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Akhirnya di suatu hari suamiku berbisik padaku, &#8221;Aku telah mengundang Edo untuk menginap di sini malam ini&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Hatiku berdebar keras mendengar kata-kata suamiku itu, karena Edo teman suamiku itu adalah salah seorang idola di sekolahku dulu dan dia adalah cowok yang menjadi rebutan cewek-cewek dan sangat kudambakan jadi pacarku semasa SMA. Suamikupun kenal baik dengan dia karena kami memang berasal dari satu kota kabupaten yang tidak seberapa besar. Terus terang kuakui bahwa penampilan Edo sangat oke. Bentuk tubuhnya pun lebih tinggi, lebih kekar dan lebih atletis dari tubuh suamiku karena dia dulu jago basket dan olah raga yudo. Walaupun Edo adalah cowok yang kudambakan semasa SMA dulu, tetapi kami belum pernah berpacaran karena dia memang agak acuh terhadap cewek dan disamping itu, banyak sainganku cewek-cewek yang mengejar-ngejar dia. Apalagi waktu itu sudah menjelang EBTANAS, dan setelah itu dia sibuk dengan persiapan masuk universitas. Waktu itu aku kelas 1, sedang dia kelas 3 SMA.</p>
<p style="text-align: justify;">Ketika Edo datang, aku sedang mematut-matut diri dan memilih gaun yang seksi dengan belahan dada yang cukup rendah agar aku terlihat menarik. Dari cermin rias di kamar tidurku, kuamati gaun yang kukenakan terlihat sangat ketat melekat pada tubuhku sehingga lekukan-lekukan tubuhku terlihat dengan jelas. Susuku kelihatan sangat menonjol membentuk dua buah bukit daging yang indah. Tubuhku memang ramping dan berisi. Susuku yang subur juga kelihatan sangat kenyal. Demikian pula pantatku yang cenderung nonggeng itu menonjol seakan menantang laki-laki yang melihatnya. Dengan perutku yang masih cukup rata dengan kulitku yang puber (putih bersih) membuat tubuhku menjadi sangat sempurna. Apalagi wajahku memang tergolong cantik. Dan terus terang, dari dulu aku memang bangga dengan tubuh dan wajahku. Tiba-tiba aku baru tersadar, pantas saja suamiku mempunyai angan-angan untuk melihat aku disetubuhi oleh laki laki-lain. Ingin membandingkan dengan film BF yang sering kami lihat mungkin.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah mematut-matut diri, aku keluar untuk menyediakan makan malam. Setelah makan malam, Edo dan suamiku duduk mengobrol di teras belakang rumah dengan santai sambil menghabiskan beberapa kaleng bir yang dicampur dengan sedikit minuman keras pemberian teman suamiku yang baru pulang dari luar negeri. Tidak berapa lama aku pun ikut duduk minum bersama mereka. Malam itu hanya kami berdua ditambah Edo saja di rumah. Pembantuku yang biasa menginap, tadi siang telah kuberikan istirahat untuk pulang ke rumahnya selama beberapa hari, sedang anakku satu-satunya tadi siang dijemput mertuaku untuk menginap di rumahnya.<br />
Ketika hari telah makin malam dan udara mulai terasa dingin, tiba-tiba suamiku berbisik kepadaku, &#8221;Aku telah bicara dengan Edo mengenai rencana kita. Dia setuju malam ini menginap di sini.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8221;Tapi walaupun demikian kalau kamu kurang cocok dengan pilihanku ini, kamu tidak usah takut berterus terang padaku!&#8221; bisik suamiku selanjutnya.<br />
&#8221;Tapi kujamin ******nya memang gede, aku beberapa kali melihatnya waktu kencing di kantor. Tapi soal kekerasannya, kamu sendiri yang dapat membuktikannya nanti&#8221; lanjutnya lagi.
</p>
<p style="text-align: justify;">Mendengar bisikan suamiku itu, diam-diam hatiku gemetar sambil bersorak gembira, tetapi aku pura-pura diam saja, tidak menunjukkan sikap yang menolak atau menerima. Dalam hati aku mau lihat bagaimana reaksinya nanti bila aku benar-benar bersetubuh dengan laki-laki lain. Apakah dia nanti tidak akan cemburu melihat istrinya disetubuhi lelaki lain secara sadar dan seluruh bagian tubuh istrinya yang sangat rahasia dilihat dan dinikmati oleh laki-laki lain yang sudah amat dia kenal (kalau dengan Ki Alugoro kan dalam rangka penyembuhan?).</p>
<p style="text-align: justify;">Tidak berapa lama kemudian aku masuk ke kamar dan berganti pakaian memakai baju tidur tipis tanpa BH, sehingga susuku, terutama pentil susuku yang besar itu terlihat membayang di balik baju tidur.</p>
<p style="text-align: justify;">Ketika aku keluar kamar, baik suamiku maupun Edo kelihatan terpana untuk beberapa saat.</p>
<p style="text-align: justify;">Akan tetapi mereka segera bersikap biasa kembali dan suamiku langsung berkata, &#8221;Ayo..!&#8221; katanya dengan senyum penuh arti kepada kami berdua dan kamipun segera masuk ke kamar tidur.</p>
<p style="text-align: justify;">Di kamar tidur suamiku mengambil inisiatif lebih dulu dengan mulai menyentuh dan melingkarkan tangan di dadaku dan menyentuh susuku dari luar baju tidur.</p>
<p style="text-align: justify;">Melihat itu, Edo mulai mengelus-elus pahaku yang terbuka, karena baju tidurku tersingkap ke atas. Dengan berpura-pura tenang aku segera merebahkan diri tengkurap di atas tempat tidur. Sebenarnya nafsuku sudah mulai naik karena tubuhku dijamah oleh seorang laki-laki yang tidak lain adalah idolaku waktu di SMA dulu, apalagi aku dalam keadaan hanya memakai sehelai baju tidur tipis tanpa BH. Akan tetapi kupikir aku harus berpura-pura tetap tenang untuk melihat inisiatif dan aktivitas Edo dalam memancing gairah birahiku. Aku ingin tahu sampai seberapa kemahirannya.</p>
<p style="text-align: justify;">Beberapa saat kemudian kurasakan bibir Edo mulai menyusur bagian yang sensitif bagiku yaitu bagian leher dan belakang telinga. Merasakan gesekan-gesekan itu aku berpikir bahwa inilah saat untuk merealisasikan angan-angan suamiku. Seperti mengerti keinginanku, Edo mulai mengambil alih permainan selanjutnya. Aku langsung ditelentangkan di pinggir ranjang, kemudian tangannya yang kiri mulai memegang sambil memijit-mijit susuku yang sebelah kanan, sedangkan tangannya yang kanan mengelus-elus dan memijit-mijit bibir tempikku yang masih dibalut celana dalam, sambil mulutnya melumat bibirku dengan gemas. Tangan Edo yang berada di susuku mulai memelintir dengan halus ujung pentilku yang besar dan mulai mengeras.</p>
<p style="text-align: justify;">Masih dalam posisi terlentang, kurasakan jemari Edo. terus meremas-remas susuku dan memilin-milin pentilnya. Saat itu sebenarnya nafsuku belum begitu meninggi, tetapi rupanya Edo termasuk jagoan juga karena terbukti dalam waktu mungkin kurang dari 5 menit aku mulai mengeluarkan suara mendesis yang tak bisa kutahan. Kulihat dia tersenyum dan menghentikan aktivitasnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Kini Edo mulai membuka baju tidurku dan beberapa saat kemudian aku merasakan tarikan lembut di pahaku. Lalu aku merasakan hembusan lembut hawa dingin AC di tempikku yang berarti celana dalamku telah dilepas oleh Edo. Kini Edo telah menelanjangi diriku sampai aku benar-benar dalam keadaan telanjang bulat tanpa ada sehelai benangpun yang menutupi tubuhku.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku hanya bisa pasrah saja merasakan gejolak birahi dalam diriku ketika tubuhku ditelanjangi laki-laki idolaku dihadapan suamiku sendiri.</p>
<p style="text-align: justify;">Kulirik Edo penuh nafsu menatap tubuhku yang telah telanjang bulat sepuas-puasnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku benar-benar tidak dapat melukiskan betapa perasaanku saat itu. Aku ditelanjangi oleh laki-laki idolaku dan yang sebenarnya aku harapkan kehadirannya.</p>
<p style="text-align: justify;">Belum pernah aku bertelanjang bulat di hadapan laki-laki lain, kecuali dengan Ki Alugoro dalam keadaan setengah sadar dalam rangka penyembuhan tempo hari, apalagi dalam situasi seperti sekarang ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku merasa sudah tidak ada lagi rahasia tubuhku yang tidak diketahui Edo.</p>
<p style="text-align: justify;">Maka, secara reflek dalam keadaan terangsang, aku mengusap-usap ****** Edo yang telah tegang dari luar celananya. Ini kelihatan karena bagian bawah celana Edo mulai menggembung besar. Aku mengira-ngira seberapa besar ****** Edo ini. Kemudian aku mengarahkan tanganku ke arah retsluiting celananya yang telah terbuka dan menyusupkan tanganku memegang ****** Edo yang ternyata memang telah ngaceng itu. Aku langsung tercekat ketika terpegang ****** Edo yang seperti kata suamiku ternyata memang besar.</p>
<p style="text-align: justify;">Kulirik suamiku sedang membuka retsluiting celananya dan mulai mengelus-elus ******nya sendiri. Dia kelihatan benar-benar sangat menikmati adegan ini. Tanpa berkedip dia menyaksikan tubuh istrinya digauli dan digerayangi oleh laki-laki lain.<br />
Sebagai seorang wanita dengan nafsu birahi yang lumayan tinggi, keadaan ini mau tidak mau akhirnya membuatku terbenam juga dalam suatu arus birahi yang hebat. Jilatan-jilatan Edo pada bagian tubuhku yang sensitif membuatku bergelinjang dengan dahsyat menahan arus birahi yang mulai menjalari diriku dan tempikku.
</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah beberapa saat aku memegang sambil mengelus-elus ****** Edo, tiba-tiba Edo berdiri dan membuka celana beserta celana dalamnya sehingga ******nya tiba-tiba melonjak keluar, seakan-akan baru bebas dari kungkungan dan sekarang aku bisa melihatnya dengan jelas. Setelah membuka seluruh pakaiannya, kini Edo benar-benar bertelanjang bulat.</p>
<p style="text-align: justify;">Sehingga aku dapat melihat dengan jelas ukuran ****** Edo dalam keadaan ngaceng, yang ternyata memang jauh lebih besar dan lebih panjang dari ukuran ****** suamiku. Bentuknya pun agak berlainan. ****** Edo ini mencuat lurus ke depan agak mendongak ke atas, sedang ****** suamiku jauh lebih kecil, agak tunduk ke bawah dan miring ke kiri. Aku betul-betul terpana melihat ****** Edo yang sangat besar dan panjang itu. ****** yang sebesar itu memang belum pernah aku lihat (waktu dengan Ki Alugoro aku tidak sempat memperhatikan seberapa besar ******nya, karena aku agak malu-malu dan setengah sadar). Batang ******nya kurang lebih berdiameter 5 cm dikelilingi oleh urat-urat yang melingkar dan pada ujung kepalanya yang sangat besar, panjangnya mungkin kurang lebih 18 cm, pada bagian pangkalnya ditumbuhi dengan rambut-rambut keriting yang lebat. Kulitnya kelihatan tebal, lalu ada urat besar disekeliling batangnya dan terlihat seperti kabel-kabel di dalam kulitnya. Kepala batangnya tampak kenyal, penuh, dan mengkilat.</p>
<p style="text-align: justify;">Kemudian dia menyodorkan ******nya tersebut ke hadapan wajahku.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku melirik ke arah suamiku, yang ternyata tambah asyik menikmati adegan ini sambil tersenyum puas dan mengelus-elus ******nya, karena melihat aku kelihatan bernafsu menghadapi ****** yang sebesar itu. Aku sebenarnya sudah amat terangsang, tetapi untuk menunjukkan pada Edo, aku agak tidak enak hati.</p>
<p style="text-align: justify;">Tapi entah kenapa, tanpa kusadari tiba-tiba aku telah duduk di tepi ranjang sambil menggenggam ****** itu yang terasa hangat dalam telapak tanganku. Kugenggam erat-erat, terasa ada kedutan terutama di bagian uratnya. Lingkaran genggamanku hampir penuh menggapai lingkaran batang ******nya. Aku tidak pernah membayangkan bahwa aku akan pernah memegang ****** sebesar ini, dari seorang laki-laki lain secara sadar dan penuh nafsu dihadapan suamiku.</p>
<p style="text-align: justify;">Kembali aku melirik kepada suamiku. Kulihat dia semakin bertambah asyik menikmati adegan ini, malah kali ini bukan hanya mengelus-elus, tetapi malah sambil mengocok ******nya sendiri, yaitu adegan istrinya yang penuh nafsu birahi sedang digauli oleh laki-laki lain, yang juga merupakan idolaku dulu.</p>
<p style="text-align: justify;">Tiba-tiba muncul nafsu hebat terhadap idolaku itu, sehingga dengan demonstratif kudekatkan mulutku ke ****** Edo, kujilati seluruh permukaannya dengan lidahku kemudian kukulum dan kuhisap-hisap dengan nafsu birahi yang membara. Aku merasa sudah kepalang basah maka aku akan nikmati ****** itu dengan sepuas-puasnya sebagaimana kehendak suamiku.</p>
<p style="text-align: justify;">Kuluman dan hisapanku itu membuat ****** Edo yang memang telah berukuran besar itu menjadi bertambah besar, bertambah keras dan kepala ******nya jadi tambah mengkilat merah keungu-unguan.. Dalam keadaan sangat bernafsu, ****** Edo yang sedang mengaceng keras dalam mulutku itu mengeluarkan semacam aroma yang khas yang aku namakan aroma lelaki.</p>
<p style="text-align: justify;">Aroma itu menyebabkan gairah birahiku semakin memuncak dan lubang tempikku mulai terasa berdenyut-denyut hebat hingga secara tidak sadar membuatku bertambah gemas dan semakin menjadi-jadi menghisap ****** itu seperti hisapan sebuah vacuum cleaner.<br />
Kuluman dan hisapanku yang amat bernafsu itu rupanya membuat Edo tidak tahan lagi. Tiba-tiba dia mendorong tubuhku sehingga telentang di atas tempat tidur.
</p>
<p style="text-align: justify;">Aku pun kini semakin nekat dan semakin bernafsu untuk melayaninya. Aku segera membuka kedua belah pahaku lebar-lebar.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8221;Do&#8230;&#8221; kataku pelan dan aku bahkan tidak tahu memanggilnya untuk apa.</p>
<p style="text-align: justify;">Sambil berlutut mendekatkan tubuhnya diantara pahaku, Edo berbisik, &#8221;Ssttt&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;!&#8221; bisiknya sambil kedua tangannya membuka pahaku sehingga selangkanganku terkuak. Itu berarti bahwa sebentar lagi ******nya akan bercumbu dengan tempikku. Benar saja, aku merasakan ujung ******nya yang hangat menempel tepat di permukaan tempikku. Tidak langsung dimasukkan di lubangnya, tetapi hanya digesek-gesekkan di seluruh permukaan bibirnya, ini membuat tempikku tambah berdenyut-denyut dan terasa sangat nikmat. Dan makin lama aku makin merasakan rasa nikmat yang benar-benar bergerak cepat di sekujur tubuhku dimulai dari titik gesekan di tempikku itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Beberapa saat Edo melakukan itu, cukup untuk membuat tanganku meraih pinggangnya dan pahaku terangkat menjepit pinggulnya. Aku benar-benar menanti puncak permainan ini. Edo menghentikan aktivitasnya itu dan menempelkan kepala ******nya tepat di antara bibir tempikku dan terasa bagiku tepat di ambang lubang tempikku. Aku benar-benar menanti tusukannya.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8221;Oocchh.. Ddoo, please..&#8221; pintaku memelas.</p>
<p style="text-align: justify;">Sebagai wanita di puncak birahi, aku betul-betul merasa tidak sabar dalam kondisi seperti itu. Sesaat aku lupa kalau aku sudah bersuami, yang aku lihat cuma Edo dan ******nya yang besar dan panjang. Ada rasa deg-deg plas, ada pula rasa ingin cepat merasakan bagaimana rasanya dicoblos ****** yang lebih besar dan lebih panjang.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8221;Ooouugghhh&#8230;&#8230;&#8221; batinku yang merasa tak sabar benar untuk menunggunya.</p>
<p style="text-align: justify;">Tiba-tiba aku merasakan sepasang jemari membuka bibir-bibir tempikku. Dan lebih dahsyat lagi aku merasakan ujung ****** Edo mulai mendesak di tengah-tengah lubang tempikku..</p>
<p style="text-align: justify;">Aku mulai gemetar hebat, karena tidak mengira akan senikmat ini aku akan merasakan kenikmatan bersetubuh. Apalagi dengan orang yang menjadi idolaku, yang sangat kukagumi sejak dulu.</p>
<p style="text-align: justify;">Perlahan-lahan Edo mulai memasukkan ******nya ke dalam tempikku.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku berusaha membantu dengan membuka bibir tempikku lebar-lebar. Kelihatannya sangat sulit ****** sebesar itu masuk ke dalam lubang tempikku yang kecil.</p>
<p style="text-align: justify;">Tangan Edo yang satu memegang pinggulku sambil menariknya ke atas, sehingga pantatku agak terangkat dari tempat tidur, sedangkan tangannya yang satu memegang batang ******nya yang diarahkan masuk ke dalam lubang tempikku.</p>
<p style="text-align: justify;">Pada saat Edo mulai menekan ******nya, aku mulai mendesis-desis, &#8221;Sssshhhhh&#8230;&#8230; Eddooo&#8230;&#8230; ppelan-ppelan Ddooo&#8230; ssshhhh&#8230;&#8230; desisku gemetar. Edo lalu menghentikan aktivitasnya sebentar untuk memberiku kesempatan untuk mengambil nafas, kemudian Edo melanjutkan kembali usahanya untuk memasukkan ******nya. Setelah itu ****** Edo mulai terasa mendesak masuk dengan mantap. Sedikit demi sedikit aku merasakan terisinya ruangan dalam lubang tempikku. Seluruh tubuhku benar-benar merinding ketika merasakan kepala ******nya mulai terasa menusuk mantap di dalam lubang tempikku, diikuti oleh gesekan dari urat-urat batang ****** itu setelahnya. Aku hanya mengangkang merasakan desakan pinggul Edo sambil membuka pahaku lebih lebar lagi.</p>
<p style="text-align: justify;">Kini aku mulai merasakan tempikku terasa penuh terisi dan semakin penuh seiring dengan semakin dalamnya ****** itu masuk ke dalam lubang tempikku.</p>
<p style="text-align: justify;">Sedikit suara lenguhan kudengarkan dari Edo ketika hampir seluruh ******nya itu amblas masuk.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku sendiri tidak mengira ****** sebesar dan sepanjang tadi bisa masuk kedalam lubang tempikku yang kecil. Walaupun belum seluruh ****** Edo masuk ke dalam tempikku, rasanya seperti ada yang mengganjal dan untuk menggerakkan kaki saja rasanya agak aneh. Tetapi sedikit demi sedikit aku mulai bisa menyesuaikan diri dan menikmati rasa yang nyaman dan nikmat.</p>
<p style="text-align: justify;">Ketika hampir seluruh batang ****** Edo telah amblas masuk ke dalam lubang tempikku, tanpa sengaja aku terkejang sehingga berakibat bagian dinding dalam tempikku seperti meremas batang ****** Edo. Aku agak terlonjak sejenak ketika merasakan ****** Edo seperti berkerojot di dalam lubang tempikku akibat remasan tersebut. Aku terlonjak bukan karena ****** itu merupakan ****** dari seorang laki-laki lain yang pertama yang kurasakan memasuki tubuhku selain ****** suamiku dan Ki Alugoro, akan tetapi karena aku merasakan ****** Edo memang terasa lebih istimewa dibandingkan ****** suamiku maupun ****** Ki Alugoro, baik dalam ukuran maupun ketegangannya.</p>
<p style="text-align: justify;">Selama hidupku memang aku belum pernah melakukan persetubuhan dengan laki-laki lain selain dengan suamiku dan Ki Alugoro dan keadaan ini memberikan pengalaman baru bagiku. Aku tidak menyangka ukuran ****** seorang laki-laki berpengaruh besar sekali terhadap kenikmatan bersetubuh seorang wanita.</p>
<p style="text-align: justify;">Oleh karena itu secara refleks aku mengangkat kedua belah pahaku tinggi-tinggi dan menjepit pinggang Edo erat-erat untuk selanjutnya aku mulai mengoyang-goyangkan pinggulku mengikuti alunan gerakan tubuh Edo. Saat itu kakiku masih menjuntai di lantai karpet kamar. Tanganku memegangi lengannya yang mencengkeram pinggulku. Aku menariknya kembali ketika Edo menarik ******nya dari tempikku. Tapi dan belum sampai tiga perempat ******nya berada di luar tempikku, tiba-tiba dia menghujamkannya lagi dengan kuat.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku nyaris menjerit menahan lonjakan rasa nikmat yang disiramkan kepadaku secara tiba-tiba itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Begitulah beberapa kali Edo melakukan hujaman-hujaman ke dalam lubang tempikku tersebut. Setiap kali hujaman seperti menyiramkan rasa nikmat yang amat sangat ke tubuhku. Aku begitu terangsang dan semakin terangsang seiring dengan semakin seringnya permukaan dinding lubang tempikku menerima gesekan-gesekan dari urat-urat ****** Edo yang seperti kabel-kabel yang menjalar-jalar itu. Biasanya suamiku kalau bersetubuh semakin lama semakin cepat gerakannya, tetapi Edo melakukan gerakan yang konstan seperti mengikuti alunan irama musik evergreen yang sengaja aku setel sebelumnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Tapi anehnya, justru aku semakin bisa merasakan setiap milimeter permukaan kulit ******nya dengan rytme seperti itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Tahap ini sepertinya sebuah tahap untuk melakukan start menuju ke sebuah ledakan yang hebat, aku merasakan tempikku baik bagian luar maupun dalam berdenyut-denyut hebat seiring dengan semakin membengkaknya rasa nikmat di area selangkanganku. Tubuh kami sebentar menyatu kemudian sebentar lagi merenggang diiringi desah nafas kami yang semakin lama semakin cepat.</p>
<p style="text-align: justify;">Sementara itu aku pun kembali melirik ke arah suamiku. Kulihat suamiku agak ternganga menyaksikan bagaimana diriku disetubuhi oleh Edo.</p>
<p style="text-align: justify;">Melihat penampilan suamiku itu, timbul kembali rasa puas di hatiku, maka secara lebih demonstratif lagi kulayani permainan Edo sehebat-hebatnya secara aktif bagaikan adegan dalam sebuah BF. Keadaan ini tiba-tiba menimbulkan suatu kepuasan lain dalam diriku. Bukan saja disebabkan oleh kenikmatan persetubuhan yang sedang kualami bersama Edo, akan tetapi aku juga memperoleh suatu kepuasan lain karena aku telah dapat melaksanakan angan-angan suamiku. Suamiku menghendaki aku bersetubuh dengan laki-laki lain dan malam ini akan kulaksanakan sepuas-puasnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Tiba tiba Edo semakin mempercepat hunjaman-hunjaman ******nya ke dalam lubang tempikku.</p>
<p style="text-align: justify;">Tentu saja ini membuat aku semakin bernafsu sampai-sampai mataku terbeliak-beliak dan mulutku agak terbuka sambil kedua tanganku merangkul pinggulnya kuat-kuat. Aku tadinya tak menyangka sedikitpun kalau ****** Edo yang begitu besar mulai bisa dengan lancar menerobos lubang tempikku yang sempit dan sepertinya belum siap menerima hunjaman ****** dengan ukuran sedemikian besar itu. Terasa bibir tempikku sampai terkuak-kuak lebar dan seakan-akan tidak muat untuk menelan besar dan panjangnya ****** Edo. .</p>
<p style="text-align: justify;">&#8221;Ooukkhhss.. sshhh.. Ddoo ..! Terrruusshh.. terrusshh.. Ddoo&#8230; mmmmhhhh&#8230;!&#8221; rintihku merasakan kenikmatan yang semakin lama semakin hebat ditempikku. .<br />
&#8221;Hhhmmh.. tempikmu.. niikmaat.. sekalii.. Mmiiaaa.. uukkhh.. uukkhh..&#8221; Edo mulai mengeluarkan kata-kata vulgar yang malah menambah nafsu birahiku mendengarnya.
</p>
<p style="text-align: justify;">Gejolak birahi Edo ternyata makin menguasai tubuhnya dan tanpa canggung lagi ia terus menghunjam hunjamkan ******nya mencari dan menggali kenikmatan yang ia ingin berikan kepadaku. Untuk tambah memuaskanku dan dirinya juga, batang ****** Edo terus menyusupi lubang tempikku sehingga akhirnya betul-betul amblas semuanya.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8221;Aarrggccchhhhhh&#8230;!!&#8221; aku melenguh panjang, kurasakan badanku merinding hebat, wajahku panas dan mungkin berwarna merah merona.</p>
<p style="text-align: justify;">Mataku memandang Edo dengan pandangan sayu penuh arti meminta sesuatu, yaitu meminta diberi rasa nikmat yang sebesar-besarnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Edo kelihatan betul-betul terpana melihat wajahku yang diliputi ekspresi sensasional itu. Kemudian Edo tambah aktif lagi bergoyang menarik ulur batang ******nya yang besar itu, sehingga dinding tempikku yang sudah dilumuri cairan kawin itu terasa tambah banjir dan licin.</p>
<p style="text-align: justify;">Wajahku semakin lepas mengekspresikan rasa sensasi yang luar biasa yang tidak pernah aku perkirakan sebegitu nikmatnya. Saking begitu nikmatnya perasaan maupun tempikku disetubuhi oleh Edo, tanpa kusadari aku mulai berceloteh di luar sadarku, &#8221;Ohhss.. sshhh.. enaakk.. sseekalii&#8230; kkontolmu Ddoo&#8230;!! Oougghh.. terusshh&#8230;. teerruusshh..!!! Aku mendesah, merintih dan mengerang sepuas-puasnya. Aku sudah lupa diri bahwa yang menyetubuhiku bukanlah suamiku sendiri. Yang ada di benakku hanyalah letupan birahi yang harus dituntaskan.</p>
<p style="text-align: justify;">Dengan penuh nafsu kami saling berpelukan sambil berciuman. Nafas kami saling memburu kencang, lidah kami saling mengait dan saling menyedot, saling bergumul.</p>
<p style="text-align: justify;">Edo mengambil inisiatif dengan menggenjot pantatnya yang tampak naik turun semakin cepat diantara selangkanganku yang semakin terbuka lebar, akupun mengangkat kedua kakiku tinggi-tinggi sambil kutekuk dan kusampirkan ke pundaknya, pantatku kuangkat untuk lebih memudahkan batang ****** Edo masuk seluruhnya dan menggesek syaraf-syaraf kenikmatan di rongga tempikku, akibatnya Edopun semakin mudah menyodokkan ******nya yang panjang, besar dan keras itu keluar masuk sampai ke pangkal ******nya hingga mengeluarkan suara berdecak-decak crot&#8230; crot&#8230; seperti suara bebek menyosor lumpur seiring dengan keluar masuknya ****** itu di dalam tempikku</p>
<p style="text-align: justify;">Edo melihat ke arah selangkanganku, tempikku mencengkeram ******nya erat sekali, ia tersenyum puas bisa menaklukkan tempikku, yang semakin basah membanjir penuh dengan lendir pelumas putih kental sehingga membasahi bulu-bulu jembutku yang tidak terlalu lebat maupun bulu-bulu jembutnya itu dan sekaligus juga batang ******nya yang semakin tambah mengeras.</p>
<p style="text-align: justify;">Edo mendengus-dengus bagai harimau terluka, genjotannya makin ganas saja. Mata Edo terlihat lapar menatap susuku yang putih montok dikelilingi bulatan coklat muda di tengahnya dan pentilku yang besar dan sudah begitu mengeras karena birahiku yang sudah demikian memuncak, maka tanpa menyia-nyiakan kesempatan Edo langsung menyedot pentil susuku yang begitu menantang itu.<br />
Tubuhku menggelinjang hebat. Dan susukupun makin kubusungkan bahkan dadaku kugerakkan ke kiri dan ke kanan supaya kedua pentil susuku yang makin gatal itu mendapatkan giliran dari serbuan mulutnya.
</p>
<p style="text-align: justify;">Desahan penuh birahi langsung terlontar tak tertahankan begitu lidah Edo yang basah dan agak kasar itu menggesek pentil susuku yang peka.</p>
<p style="text-align: justify;">Edo begitu bergairah menjilati dan menghisap susu dan pentilku di sela-sela desah dan rintihanku yang sedang menikmati gelombang rangsangan demi rangsangan yang semakin lama semakin menggelora ini.<br />
&#8221;Oouugghhss.. oouugghhss.. sshhhh&#8230; tteerruss Ddooo&#8230;&#8221; aku makin meracau tidak karuan, pikiranku sudah tidak jernih lagi, terombang ambing di dalam pusaran kenikmatan, terseret di dalam pergumulan persetubuhan dengan Edo, tubuh telanjangku serasa seenteng kapas melambung tinggi sekali.
</p>
<p style="text-align: justify;">Aku merasakan kenikmatan bagai air bah mengalir ke seluruh tubuhku mulai dari ujung kaki sampai ke ubun-ubun terutama sekali di sekitar tempikku.</p>
<p style="text-align: justify;">Tubuhku akhirnya mengejang sambil memeluk tubuh Edo erat sekali sambil menjerit-jerit kecil tanpa sadar.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8221;Aaaaccchhh&#8230;&#8230; Dddooo&#8230; mmmmmhhhhhh&#8230; konnttolmmmuuu&#8230; aakkkuu&#8230;&#8230; kkeeelluuaaarrrr&#8230;&#8230;&#8221; jeritku keenakan.</p>
<p style="text-align: justify;">Badan telanjangku terasa berputar-putar merasakan semburan kenikmatan yang dahsyat diterjang gelombang orgasme.</p>
<p style="text-align: justify;">****** Edo masih terus menggenjot lubang tempikku, dan aku hanya pasrah dipelukannya mengharapkan gelombang kenikmatan selanjutnya. Lebih dari sejam Edo menyetubuhiku tanpa henti, aku makin lama makin terseret di dalam kenikmatan pergumulan persetubuhan yang belum pernah kurasakan.</p>
<p style="text-align: justify;">Tubuhku akhirnya melemas setelah aku menyemburkan lagi cairan kawinku untuk kesekian kalinya bersamaan dengan Edo yang juga rupanya sudah tidak tahan lagi dan&#8230;&#8230;</p>
<p style="text-align: justify;">&#8221;Aaacchhh&#8230;.. oooccchhh&#8230; Mmiiaaa&#8230; teemmpiikkmmuuu&#8230;&#8230; nniikkkmaattttt&#8230; sseekkalliiii&#8230; adduuhhh&#8230;&#8230; aaakkuu.. kkekkeeeluaarrr&#8230;&#8221; erangnya sambil menyemburkan pejunya di dalam tempikku</p>
<p style="text-align: justify;">Kemudian untuk beberapa saat Edo masih membiarkan ******nya menancap di dalam tempikku.</p>
<p style="text-align: justify;">Akupun tidak mencoba untuk melepas ****** itu dari tempikku.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah agak beberapa lama, Edo mengeluarkan ******nya yang ternyata masih berdiri dengan tegar walaupun sudah orgasme di lubang tempikku. Walaupun ******nya masih sangat tegar berdiri dengan kerasnya, Edo menghentikan persetubuhan ini karena dia meminta suamiku menggantikannya untuk menyetubuhiku. Kini ganti dia yang akan menonton diriku disetubuhi oleh suamiku sendiri yang ternyata entah sejak kapan dia sudah bertelanjang bulat.</p>
<p style="text-align: justify;">Suamiku dengan segera menggantikan Edo dan mulai menyetubuhi diriku dengan hebat. Kurasakan nafsu birahi suamiku sedemikian menyala-nyala sehingga sambil berteriak-teriak kecil dia menghunjamkan ******nya yang kecil itu ke dalam lubang tempikku.<br />
Akan tetapi apakah karena aku masih terpengaruh oleh pengalaman yang barusan kudapatkan bersama Edo, maka ketika suamiku menghunjamkan ******nya ke dalam lubang tempikku, kurasakan ****** suamiku itu kini terasa hambar. Kurasakan otot-otot lubang tempikku tidak lagi sedemikian tegangnya menjepit ****** suamiku sebagaimana ketika ****** Edo yang berukuran besar dan panjang itu menerobos sampai ke dasar lubang tempikku. ****** suamiku kurasakan tidak sepenuhnya masuk ke dalam lubang tempikku dan terasa lebih lembek bahkan dapat kukatakan tidak begitu terasa lagi dalam lubang tempikku yang barusan diterobos oleh ****** yang begitu besar dan panjang.
</p>
<p style="text-align: justify;">Mungkin disebabkan pengaruh minuman alkohol yang terlalu banyak, atau mungkin juga suamiku telah berada dalam keadaan yang sedemikian rupa sangat tegangnya, sehingga hanya dalam beberapa kali saja dia menghunjamkan ******nya ke dalam lubang tempikku dan dalam waktu kurang dari satu menit, suamiku telah mencapai puncak ejakulasi dengan hebat. Malahan karena ****** suamiku tidak berada dalam lubang tempikku secara sempurna, dia telah menyemprotkan separuh pejunya agak di luar lubang tempikku dengan berkali-kali dan sangat banyak sekali sehingga seluruh permukaan tempik sampai ke sela paha dan jembutku basah kuyup dengan peju suamiku.</p>
<p style="text-align: justify;">Selanjutnya suamiku langsung terjerembab tidak bertenaga lagi terhempas kelelahan di sampingku. Sementara itu, karena aku pasif saja waktu disetubuhi suamiku, dan membayangkan ****** Edo yang luar biasa itu, maka aku sama sekali tidak kelelahan, malah nafsuku kembali memuncak. Bagaikan seekor kuda betina binal aku jadi bergelinjangan tidak karuan karena aku ingin mengalami puncak orgasme lagi dengan disetubuhi oleh Edo. Tapi yang disampingku kini suamiku, yang telah lemas dan tak berdaya sama sekali.</p>
<p style="text-align: justify;">Oleh karena itu dengan perasaan kecewa berat aku segera bangkit dari tempat tidur dalam keadaan tubuh yang masih bertelanjang bulat hendak menuju kamar mandi yang memang berada di dalam kamar tidur untuk membersihkan cairan-cairan bekas persenggamaan yang melumuri selangkangan dan tubuhku.</p>
<p style="text-align: justify;">Namun untunglah, seperti mengerti perasaanku, tiba-tiba Edo yang masih dalam keadaan bertelanjang bulat dan ngaceng ******nya itu memelukku dari belakang sambil memagut serta menciumi leherku secara bertubi-tubi. Selanjutnya dia membungkukkan tubuhku ke pinggir ranjang. Aku kini berada dalam posisi menungging. Dalam posisi yang sedemikian Edo menusukkan ******nya ke dalam tempikku dari belakang dengan garangnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Karena posisiku menungging, aku jadi lebih leluasa menggoyang-goyangkan pantatku, yang tentu saja tempikku juga ikut bergoyang ke kiri dan ke kanan.</p>
<p style="text-align: justify;">Hal ini membuat Edo semakin bernafsu menghujam-hujamkan ******nya ke dalam tempikku sehingga dengan cepat tubuhku kembali seperti melayang-layang merasakan kenikmatan yang tiada tara ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Tak berapa lama tubuhku mengejang dan&#8230;</p>
<p style="text-align: justify;">&#8221;Dddooo&#8230;&#8230; oooccchhhh&#8230; aacchhh&#8230; Ddooo&#8230; akk&#8230; aakkuu&#8230; mmaaauu&#8230; kkkeelluuuaaaarrrrrr&#8230;&#8230;&#8221; rintihku sambil mencengkeram pinggir ranjang, aku telah mencapai puncak persetubuhan terlebih dahulu.</p>
<p style="text-align: justify;">Begitu aku sedang mengalami puncak orgasme, Edo menarik ******nya dari lubang tempikku, sehingga seluruh tubuhku terasa menjadi tidak karuan, kurasakan lubang tempikku berdenyut agak aneh dalam suatu denyutan yang sangat sukar sekali kulukiskan dan belum pernah kualami.</p>
<p style="text-align: justify;">Namun walaupun sudah orgasme, aku masih berkeinginan sekali untuk melanjutkan persetubuhan ini. Dalam keadaan yang sedemikian tiba-tiba Edo yang masih bertelanjang bulat sebagaimana juga diriku, menarikku dan mengajakku tidur bersamanya di kamar tamu di sebelah kamarku.</p>
<p style="text-align: justify;">Bagaikan kerbau dicocok hidung, aku mengikuti Edo ke kamar sebelah. Kami berbaring di ranjang sambil berdekapan dalam keadaan tubuh masing-masing masih bertelanjang bulat bagaikan sepasang pengantin baru yang sedang berbulan madu.</p>
<p style="text-align: justify;">Kemudian Edo melepaskan pelukannya dan menelentangkan diriku lalu dengan bernafsu menciumi susuku dan menyedot-nyedot pentilnya yang mancung itu sehingga aku kembali merasakan suatu rangsangan birahi yang hebat. Tidak lama kemudian tubuh kami kami pun udah bersatu kembali dalam suatu permainan persetubuhan yang dahsyat.</p>
<p style="text-align: justify;">Kali ini rupanya Edo ingin mengajakku bersetubuh dengan cara yang lain. Mula-mula Edo membalikkan tubuhku sehingga posisiku kini berada di atas tubuhnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Selanjutnya dengan spontan kuraih ****** Edo dan memandunya ke arah lubang tempikku. Kemudian kutekan tubuhku agak kuat ke tubuh Edo dan mulai mengayunkan tubuhku turun-naik di atas tubuhnya. Mula-mula secara perlahan-lahan akan tetapi lama-kelamaan semakin cepat dan kuat sambil berdesah-desah kecil, &#8221;Occhhh&#8230; oocchhh&#8230; acchhh&#8230; sssshhhh&#8230;&#8221; desahku dibuai kenikmatan.</p>
<p style="text-align: justify;">Sementara itu Edo dengan tenang telentang menikmati seluruh permainanku sampai tiba-tiba kurasakan suatu ketegangan yang amat dahsyat dan dia mulai mengerang-erang kecil, &#8221;Oocchhh&#8230; oocchhh&#8230; Mmiiaaaa&#8230; ttteeemmpppiikkmuuu&#8230; mmmhhhhh&#8230;&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Akupun semakin cepat menggerakkan tubuhku turun-naik di atas tubuh Edo dan nafasku pun semakin memburu berpacu dengan hebat menggali seluruh kenikmatan tubuh laki-laki yang berada di bawahku.</p>
<p style="text-align: justify;">Tidak berapa lama kemudian aku menjadi terpekik kecil melepaskan puncak ejakulasi dengan hebat.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8221;Ooooccchhhhh&#8230;&#8230; mmmmhhhhhh&#8230; ooocccchhhh&#8230;&#8230; mmmmhhhhhh&#8230;&#8230;&#8221; pekikku keenakan dan tubuhkupun langsung terkulai menelungkup di atas tubuh Edo.</p>
<p style="text-align: justify;">Tapi ternyata Edo belum sampai pada puncaknya. Maka tiba-tiba dia bangkit dengan suatu gerakan yang cepat. Kemudian dengan sigap dia menelentangkan tubuhku di atas tempat tidur dan mengangkat tinggi-tinggi kedua belah pahaku ke atas sehingga lubang tempikku yang telah basah kuyup oleh lendir kawin tersebut menjadi terlihat jelas menganga dengan lebar. Selanjutnya Edo mengacungkan ******nya yang masih berdiri dengan tegang itu ke arah lubang tempikku dan menghunjamkan kembali ******nya tersebut ke lubang tempikku dengan garang.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku menjadi terhentak bergelinjang kembali ketika ****** Edo mulai menerobos dengan buasnya ke dalam tubuhku dan membuat gerakan mundur-maju dalam lubang tempikku. Aku pun kini semakin hebat menggoyang-goyangkan pinggulku mengikuti alunan gerakan turun-naiknya ****** Edo yang semakin lama semakin cepat merojok-rojokkan ****** besarnya ke lubang tempikku.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku merasakan betapa lubang tempikku menjadi tidak terkendali berusaha menghisap dan melahap ****** Edo yang teramat besar dan panjang itu sedalam-dalamnya serta melumat seluruh otot-ototnya yang kekar dengan rakusnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Selama pertarungan itu beberapa kali aku terpekik agak keras karena ****** Edo yang tegar dan perkasa itu menggesek bagian paling dalam tempikku (mungkin titik itu yang dinamakan G-Spot atau titik gairah seksual tertinggi wanita)</p>
<p style="text-align: justify;">Akhirnya, bersamaan dengan orgasmeku yang entah ke berapa kali aku tak ingat lagi, kulihat Edo tiba juga pada puncaknya.<br />
&#8221;Mmmiiiaaaa&#8230; ooocchhh&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230; ooocccchhhhhh&#8230; Mmmiiiiaaaaaaaa&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230; ttteeemmmppikkkmmmuuu&#8230; ooccchhhsss&#8230; aakkkuu&#8230; kkkellluuaaarrrrrr&#8230;&#8230;&#8221; rintihnya dengan mimik wajah yang sangat luar biasa dia menyebut-nyebut namaku sambil mengeluarkan kata-kata vulgarnya lagi dan melepaskan puncak ejakulasinya secara bertubi-tubi menyemprotkan seluruh pejunya di dalam tempikku dalam waktu yang amat panjang.
</p>
<p style="text-align: justify;">Sementara itu ******nya tetap dibenamkannya sedalam-dalamnya di lubang tempikku sehingga seluruh pejunya terhisap dalam tempikku sampai titik penghabisan.</p>
<p style="text-align: justify;">Selanjutnya kami terhempas kelelahan ke tempat tidur dengan tubuh yang tetap menyatu. Selama kami tergolek, ****** Edo masih tetap terbenam dalam tempikku, dan aku pun memang tetap berusaha menjepitnya erat-erat karena tidak ingin segera kehilangan benda tersebut dari dalam tubuhku.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah beberapa lama kami tergolek melepaskan lelah, Edo mulai bangkit dan menciumi wajahku dengan lembut yang segera kusambut dengan mengangakan mulutku sehingga kini kami terlibat dalam suatu adegan cium yang mesra penuh dengan perasaan.<br />
Sementara itu tangannya dengan halus membelai-belai rambutku sebagaimana seorang suami yang sedang mencurahkan cinta kasihnya kepada istrinya.
</p>
<p style="text-align: justify;">Suasana romantis ini akhirnya membuat gairah kami muncul kembali.</p>
<p style="text-align: justify;">Kulihat ****** Edo mulai kembali menegang tegak sehingga secara serta merta Edo segera menguakkan kedua belah pahaku membukanya lebar-lebar untuk kemudian mulai memasukkan ******nya ke dalam tempikku kembali. Berlainan dengan suasana permulaan yang kualami tadi, dimana kami melakukan persetubuhan dalam suatu pertarungan yang dahsyat dan liar. Kali ini kami bersetubuh dalam suatu gerakan yang santai dalam suasana yang romantis dan penuh perasaan. Kami menikmati sepenuhnya sentuhan-sentuhan tubuh telanjang masing-masing dalam suasana kelembutan yang mesra bagaikan sepasang suami istri yang sedang melakukan kewajibannya.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku pun dengan penuh perasaan dan dengan segala kepasrahan melayani Edo sebagaimana aku melayani suamiku selama ini. Keadaan ini berlangsung sangat lama sekali dan kubisikkan padanya bahwa ada bagian tertentu di dalam tempikku yang kalau tersentuh ******nya, dapat menghasilkan rasa nikmat yang amat sangat.</p>
<p style="text-align: justify;">Edopun kelihatannya mengerti dan berusaha menyentuh bagian itu dengan ******nya. Keadaan ini berakhir dengan tibanya kembali puncak persenggamaan kami secara bersamaan. Inilah yang belum pernah kualami, bahkan kuimpikanpun belum pernah. Mengalami orgasme secara bersama-sama dengan pasangan bersetubuh!</p>
<p style="text-align: justify;">Rasanya tak bisa kulukiskan dengan kata kata. Kami kini benar-benar kelelahan dan langsung tergolek di tempat tidur untuk kemudian terlelap dengan nyenyak dalam suatu kepuasan yang dalam.</p>
<p style="text-align: justify;">Semenjak pengalaman kami malam itu, aku selalu terbayang-bayang kehebatan Edo. Tetapi entah kenapa suamiku malah tidak pernah membicarakan lagi soal angan-angan seksualnya dan tidak pernah menyinggung lagi soal itu. Padahal aku malah ingin mengulanginya lagi. Karena apa yang kurasakan bersama suamiku sama sekali tidak sehebat sebagaimana yang kualami bersama Edo. Kuakui malam itu Edo memang hebat. Walaupun telah beberapa waktu berlalu namun bayangan kejadian malam itu tidak pernah berlalu dalam benakku. Malam itu aku telah merasakan suatu kepuasan persetubuhan yang luar biasa hebatnya yang belum pernah aku alami selama ini. Bahkan dengan Ki Alugoropun tidak sehebat ini, karena dengan Edo aku merasakan orgasme berkali-kali, sedang dengan Ki Alugoro cuma sekali. Dan walaupun telah beberapa kali menyetubuhiku, Edo masih tetap saja kelihatan bugar. ******nya pun masih tetap ngaceng dan berfungsi dengan baik melakukan tugasnya keluar-masuk lubang tempikku dengan tegar hingga membuatku menjadi agak kewalahan. Aku telah terkapar lunglai dengan tidak putus-putusnya mengerang kecil karena terus-menerus mengalami puncak orgasme dengan berkali-kali namun ****** Edo masih tetap ngaceng bertahan. Inilah yang membuatku terkagum-kagum. Terus terang kuakui bahwa selama melakukan persetubuhan dengan suamiku, aku tidak pernah mengalami puncak orgasme sama sekali. Apalagi dalam waktu yang berkali-kali dan secara bertubi-tubi seperti malam itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Sehingga, karena desakan birahi yang selalu datang tiap hari, dengan diam-diam aku masih menjalin hubungan dengan Edo tanpa sepengetahuan suamiku. Awalnya di suatu pagi Edo berkunjung ke rumahku pada saat suamiku sudah berangkat ke tempat tugasnya. Secara terus terang saat itu dia minta kepadaku untuk mau disetubuhi.</p>
<p style="text-align: justify;">Mulanya aku pura-pura ragu memenuhi permintaannya itu. Akan tetapi karena aku memang mengharapkan, akhirnya aku menyetujui permintaan tersebut. Apalagi kebetulan anakku juga lagi ke sekolah diantar pembantuku. Sehingga kubiarkan saja dia menyetubuhiku di rumahku sendiri.</p>
<p style="text-align: justify;">Hubungan sembunyi-sembunyi itu rupanya membawa diriku ke dalam suatu alam kenikmatan lain tersendiri. Misalnya ketika kami bersetubuh secara terburu-buru di ruang tamu yang terbuka, kurasakan suatu sensasi kenikmatan yang hebat dan sangat menegangkan. Keadaan ini membawa hubunganku dan Edo semakin berlanjut. Demikianlah sehingga akhirnya aku dan Edo sering melakukan persetubuhan tanpa diketahui oleh suamiku. Pernah kami melakukan persetubuhan yang liar di luar rumah, yaitu di taman dibelakang rumah, sambil menatap awan-awan yang berarak, ternyata menimbulkan sensasi tersendiri dan kenikmatan yang ambooii.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8221;Mestinya pemerintah memperbolehkan rakyatnya melakukan persetubuhan di tempat terbuka, asal tidak terdapat unsur paksaan!&#8221; anganku saat itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku berpikir, kalau melakukan persetubuhan di tempat terbuka dengan disaksikan oleh orang lain, pasti lebih nikmat lagi deh!</p>
<p style="text-align: justify;">Sampai di suatu hari, Edo membisikkan rencananya kepadaku bahwa ia ingin bercinta secara three in one, tetapi bukan satu cewek dua cowok, tetapi satu cowok dua cewek. Maksudnya dia minta aku melibatkan satu orang temen cewekku untuk bersetubuh bersama.</p>
<p style="text-align: justify;">Mula-mula aku agak kaget dibuatnya, tetapi aku pikir-pikir boleh juga ya, hitung-hitung buat menambah pengalaman dalam bersetubuh.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8221;Wuih, pasti lebih seru nih&#8221; pikirku dalam hati sambil membayangkan kenikmatan di tempikku, apalagi sambil melihat juga Edo bersetubuh dengan cewek lain.<br />
&#8221;Eh, tapi.. aku cemburu nggak ya? Tapi biarlah, ini kan suatu sensasi lain yang belum pernah kualami&#8221; pikirku lagi.
</p>
<p style="text-align: justify;">Aku malah menambahkan usul kepada Edo, bagaimana kalau dilakukan di taman belakang rumah, habis asik sih! Lagipula aku memang punya temen (namanya Lina) yang ketika aku ceritain soal pengalamanku dengan Ki Alugoro maupun dengan Edo, keliatannya dia bernafsu banget dan pengin ikut-ikutan menikmati, boleh secara three in one ataupun sendiri sendiri, katanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Soalnya ****** suaminya memang berukuran kecil dan pendek, apalagi suaminya sekarang lagi bertugas ke luar negeri dalam waktu yang lama, sehingga dia selalu kesepian di rumahnya yang besar itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Ketika hal itu aku katakan pada Edo, dia langsung setuju dan menanyakan kapan hal itu akan dilaksanakan?</p>
<p style="text-align: justify;">Tentu saja aku jawab secepatnya. Keesokan harinya, sehabis berbelanja di salah satu mall aku mampir ke rumah Lina dan menceriterakan tentang rencanaku tersebut.</p>
<p style="text-align: justify;">Tentu saja dia sangat setuju dan antusias sekali mendengarnya, tetapi dia mengajukan sebuah syarat, yaitu itu dilakukan di taman di tepi kolam renang di belakang rumahnya.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ceritasex.cn/angan-angan-seorang-suami-dan-akibatnya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Petualangan Isteriku Disebuah Pesta Pantai</title>
		<link>http://www.ceritasex.cn/petualangan-isteriku-disebuah-pesta-pantai/</link>
		<comments>http://www.ceritasex.cn/petualangan-isteriku-disebuah-pesta-pantai/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 19 Jul 2009 14:11:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cerita Sex</dc:creator>
				<category><![CDATA[Seks Umum]]></category>
		<category><![CDATA[selingkuh]]></category>
		<category><![CDATA[Tante Girang]]></category>
		<category><![CDATA[budak nafsu]]></category>
		<category><![CDATA[cewek nakal]]></category>
		<category><![CDATA[gatel]]></category>
		<category><![CDATA[istri muda]]></category>
		<category><![CDATA[istri orang]]></category>
		<category><![CDATA[ml]]></category>
		<category><![CDATA[nafsu]]></category>
		<category><![CDATA[ngentot]]></category>
		<category><![CDATA[pengen di entot]]></category>
		<category><![CDATA[pesta sex]]></category>
		<category><![CDATA[seks rame rame]]></category>
		<category><![CDATA[sex party]]></category>
		<category><![CDATA[swinger]]></category>
		<category><![CDATA[tukar pasangan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ceritasex.cn/?p=688</guid>
		<description><![CDATA[Sekitar satu minggu yang lalu isteriku, Dayu dan aku diundang hadir ke sebuah beach resort bersama dengan rekan-rekan kerjanya. Isteriku bekerja pada bagian marketing di sebuah perusahaan besar yang sangat sukses beberapa tahun belakangan, dan hal tersebut berimbas pada kesejahteraan karyawannya yang semakin naik dan beberapa bonus juga, salah satunya adalah perjalanan ke resort kali [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Sekitar satu minggu yang lalu isteriku, Dayu dan aku diundang hadir ke sebuah beach resort bersama dengan rekan-rekan kerjanya. Isteriku bekerja pada bagian marketing di sebuah perusahaan besar yang sangat sukses beberapa tahun belakangan, dan hal tersebut berimbas pada kesejahteraan karyawannya yang semakin naik dan beberapa bonus juga, salah satunya adalah perjalanan ke resort kali ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku sangat bergairah untuk pergi, meskipun dia merasa khawatir bertemu dengan rekan-rekan kerja isteriku. Kantor Dayu bekerja sangatlah berkultur informal, dan kadang Dayu cerita padaku tentang semua godaan dan cubitan yang berlangsung selama jam kerja. Aku bekerja pada sebuah firma hukum, yang sangat disiplin dan professional, dan bercanda apalagi saling goda merupakan hal yang tak bisa ditolerir dalam perusahaan. Dan hal itu mempengaruhi sikap dan perilakuku dalam keseharian, aku menjadi seorang yang tegas dan formal. Aku tak begitu yakin bisa berbaur dengan rekan kerja Dayu nanti.</p>
<p style="text-align: justify;">Dayu sendiri adalah seorang wanita periang dan mudah bergaul. Berumur 30 tahun, potongan rambut pendek seleher dan berwajah manis. Dia agak sedikit pendek dibawah rata-rata, pahanya ramping yang bermuara pada pinggang dengan pantat yang kencang. Sosok mungilnya berhiaskan sepasang payudara yang lumayan besar dan namun bulat kencang meskipun tanpa memakai penyangga bra. Kami berjumpa dibangku kuliah dan menjadi dekat dalam waktu singkat lalu menikah tak lama setelah kami lulus. Dia tak begitu berpengalaman dalam hal seks, meskipun aku bukanlah lelaki pertama yang berhubungan seks dengannya.</p>
<p style="text-align: justify;">Kala hari perjalanan itu tiba, kami mengenderai mobil menuju resort tersebut. Dalam perjalanan kesana Dayu menceritakan kalau dia telah membeli sebuah bikini baru untuk akhir pekan kali ini.<br />
<span id="more-688"></span><br />
&#8220;Mau pamer tubuh ke orang-orang, ya?&#8221; candaku padanya.<br />
&#8220;Mungkin,&#8221; jawabnya dengan tersenyum.<br />
&#8220;Maksudmu?&#8221; tanyaku penasaran. Dayu yang kutahu tak begitu suka mempertontonkan tubuhnya, aku selalu merasa sulit untuk sekedar memaki pakaian renang yang minim.<br />
&#8220;Nggak ada, bukan apa-apa&#8221; Dayu tertawa menggoda suaminya. &#8220;Sudah pernah kubilang padamu kan kalau dikantor kita senang bercanda dan saling menggoda. Liburan ini pasti tak ada bedanya, hanya tempat dan suasananya yang beda untuk sedikit genit didepan para pria.&#8221;<br />
&#8220;Kamu juga genit di depan teman-teman priamu?&#8221; tanya Wisnu gusar.<br />
&#8220;Bukan cuma aku, sayang. Semua teman wanitaku juga melakukannya kok,&#8221; jawab Dayu menjelaskan. &#8220;Cuma sedikit genit, menggoda dan bercanda. Kamu tahu, kadang saling bercanda mmm… yeah bercanda agak jorok, seks dan juga sedikit tontonan.&#8221;<br />
&#8220;Tunggu, apa?&#8221; suara Wisnu agak meninggi. &#8220;Tontonan? Kamu mempertontonkan tubuhmu ke teman-teman priamu?&#8221;<br />
&#8220;Oh, sayang, ini bukan sungguh-sungguh,&#8221; jawab Dayu. &#8220;Cuma menggoda kok. Hanya sedikit menyingkap baju, kadang sedikit memberi bonus dengan memperlihatkan dada sebentar.&#8221;
</p>
<p style="text-align: justify;">Aku terhenyak, isteriku memperlihatkan payudaranya pada pria lain? Pria lain di kantornya? Ini bukan seperti sosok Dayu yang kukenal selama ini. Hanya seberapa dekat dia dengan teman kerja prianya? Kepalaku dipenuhi oleh pikiran yang berkecamuk tak karuan hingga akhirnya kami tiba di resort.</p>
<p style="text-align: justify;">Segera kuparkir kendaraan kami. Begitu memasuki lobby dengan bawaan kami, sekelompok orang melambai ke arah Dayu untuk mendekat. Mereka adalah beberapa orang dari rekan-rekan kerjanya dan Dayu memperkenalkanku. Alan, Dave, Eddie, Gary adalah nama taman-teman prianya dan yang wanitanya Sasha, Kristin, Melly dan Nina.</p>
<p style="text-align: justify;">Mereka berkata pada Dayu kalau semua orang harus bertemu di kolam renang pribadi dan minum-minum dulu sebelum berikutnya pergi ke pantai. Kami setuju untuk menyusul mereka secepatnya setelah menaruh bawaan dikamar dan berganti pakaian.</p>
<p style="text-align: justify;">Baru saja mereka beranjak, Alan sudah beraksi dengan mencubit pinggul Dayu yang langsung memekik kegelian dan mendorong tubuh Alan menjauh. Aku sangat terkejut mendapati hal tersebut dan hampir saja teriak marah, tapi mereka semua mulai tertawa, termasuk Dayu, jadi aku pikir inilah sebagian dari cara mereka saling menggoda dan bercanda. Aku tak mau dianggap seorang yang kolot dan tak bisa berbaur di lima menit pertama kehadiranku, jadi aku hanya diam saja membiarkan.</p>
<p style="text-align: justify;">Kami menuju ke kamar kami dan mulai berganti pakaian dengan pakaian renang. Dayu masuk ke kamar mandi untuk berganti pakaian dan kemudian keluar dengan sebuah handuk membalut tubuhnya. Aku ingin melihat apa yang dipakainya dibalik handuk tersebut, tapi dia langsung memotongku sebelum mampu berkata sepatah kata &#8220;Ayo, kita turun!&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Kuraih sebuah buku dan berjalan mengikutinya menuju kolam renang. Kantor Dayu pasti sudah menyewa seluruh kolam tersebut, karena ada logo perusahaan pada semua handuk dan pada tulisan selamat datang. Ada sekitar lima puluhan orang di area kola mini. Kebanyakan dari mereka adalah pria, dan yang membuatku kecewa, kebanyakan dari mereka terlihat muda dan menarik. Para wanitanya juga tak ada yang mengecewakan. Kebanyakan mereka hanya berbikini minim memperlihatkan keindahan tubuh muda mereka.</p>
<p style="text-align: justify;">Baru saja aku hendak bertanya dimanakah teman-temannya yang tadi, saat kulihat isteriku sedang membuka handuk penutup tubuhnya. Apa yang terpampang dihadapanku sangat membuatku terpaku, dibalik handuk tersebut dia memakai sebuah bikini warna merah tua dan… sangat minim. Bagian atasnya hanya menutup sebagian depan dari payudaranya, dan tali penahannya yang terkalung dileher jenjangnya terlihat seakan siap untuk dilepas. Sedangkan bagian bawah hampir menyerupai thong, memperlihatkan keindahan paha dan bongkahan pantatnya. Dia terlihat begitu menawan.</p>
<p style="text-align: justify;">Tak heran dia menutupinya dengan handuk saat dikamar tadi, pikirku. Dia tahu kalau aku pasti akan meributkan apa yang dipakainya. Baru saja aku hendak berkomentar namun terpotong oleh sebuah teriakan dari seberang kolam, &#8220;Hey, lihat Dayu!&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Dan langsung disusul oleh riuh rendah suara yang diiringi siulan nakal dari para pria di area kolam tersebut. Dayu hanya tertawa riang lalu melakukan sebuah pose, memperlihatkan perutnya yang rata dan kemulusan pahanya sambil mengoleskan sun-block ke tubuhnya. Dia menoleh ke arahku dan berkata, &#8220;Lihat kan? Hanya menggoda saja!&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Aku hanya mengangguk dan terdiam. Aku harapdia mengatakan sesuatu tentang betapa terbukanya pakaian renang yang dia pakai ini tapi itu bukan sesuatu yang perlu dipermasalahkan, ini tetap hanya sebuah bikini. Jika para pria ingin memandangi tubuh isteriku, apa salahnya dengan itu? Bahkan aku bisa merasa bangga akan hal tersebut.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku rebah di atas bangku malas dan mulai membuka buku yang kubawa sedangkan Dayu berjalan menghampiri teman-temannya. Aku berencana menghabiskan waktu dengan membaca, namun mataku terus melayang ke arah dimana isteriku berada. Setiap kali aku melihat Dayu, dia tengah asik bercanda dengan teman prianya. Akhirnya kuputuskan untuk berhenti membaca, dan hanya memperhatikan setiap tingkah lakunya sambil terus pura-pura membaca bukuku.</p>
<p style="text-align: justify;">Di salah satu sudut kolam tersebut ada bar yang menyuguhkan berbagai macam minuman dan sudah berulang kali aku kesana untuk sebotol bir dingin. Kelihatannya minumannya sudah dipersiapkan dalam jumlah dan ragam yang banyak untuk membuat pesta ini berjalan meriah. Kuamati Dayu sudah berulang kali pergi ke sana untuk segelas margaritas dan entah sudah berapa banyak orang yang pergi mengambilkan minuman untuknya. Namun yang jelas dia semakin bertambah mabuk seiring berjalannya waktu. Ditambah lagi para pria yang mendorongnya dan juga para wanita lainnya untuk minum lebih banyak lagi. Pada suatu kesempatan Dave menantang Dayu untuk berlomba menghabiskan minuman dalam gelas mereka, yang tentu saja dimenangkan Dave dengan mudah, melihat kondisi Dayu sudah lebih dari sekedar mabuk.</p>
<p style="text-align: justify;">Baru saja aku mulai kembali membaca, Dayu datang menghampiri. Dia baru saja keluar dari dalam kolam dan tubuhnya basah kuyup. Dengan kain penutup tubuh yang dia kenakan menempel erat disetiap lekuk tubuhnya, membuat dia semakin terlihat menggoda.<br />
&#8220;Hai, sayang,&#8221; sapanya. &#8220;Sudah lebih santai?&#8221;<br />
&#8220;Yeah,&#8221; jawab Wisnu. &#8220;Kamu sendiri, bisa bersenang-senang?&#8221;<br />
&#8220;Oh, ya,&#8221; dia tersenyum manja. &#8220;Aku sudah agak mabuk.&#8221;
</p>
<p style="text-align: justify;">Itu terlihat jelas, tapi aku tak mau lebih mendesaknya. Dayu mengeringkan tubuhnya dengan handuknya, lalu melangkah kembali ke teman-temannya.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku kembali pada bacaanku, hingga tiba-tiba saja kudengar suara jeritan. Dengan cepat aku menoleh ke arah suara tersebut, tepat disaat kulihat Melly yang tengah menutupi payudara telanjangnya dengan tangannya. Salah satu dari pria tersebut menarik lepas penutup dadanya dan sekarang tengah berlari dipinggiran kolam dengan menenteng penutup dada tersebut. Melly mengejarnya, dengan lengan menyilang menutupi dadanya hingga si pria berhenti lalu menangkap tubuh Melly dan menariknya bersamanya menceburkan diri ke dalam kolam.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku dengar sebuah suara jeritan lagi dan salah seorang wanita yang tak kukenal sekarang juga tak berpenutup dada. Alih-alih menutupi payudaranya, kali ini si wanita hanya membiarkan saja pria yang menarik lepas penutup dadanya itu berlari menjauh dan dia terus mengobrol dengan temannya seakan tak terjadi apapun.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku memandang sekeliling untuk mencari Dayu. Dia sedang sedang mengobrol dengan seorang pria di kolam yang dangkal. Kuperhatikan Alan sedang berenang ke arahnya dari belakang dan muncul tepat dibelakangnya lalu menyentakkan tali penahan penutup dadanya di leher. Penutup dada Dayu tertarik erat menekan daging bulat kenyal tersebut dan tiba-tiba saja payudaranya terayun meloncat lepas dari penutupnya. Dia memekik dan tubuhnya berbalik ke belakang untuk memukul Alan. Alan mengangkat penutup dada tersebut tinggi ke atas, Dayu hanya tertawa keras lalu melompat mencoba merebutnya. Nampak payudaranya terayun seiring tiap lompatannya, puting merah mudanya terlihat jelas mencuat keras membuat seluruh pria dikolam tersebut bersorak riuh.</p>
<p style="text-align: justify;">Dave bergerak ke belakang Dayu lalu menangkap pinggangnya dan mengangkatnya tinggi tinggi agar bisa meraih penutup dada yang dipegangi Alan. Dayu rebut penutup dada tersebut dari tangan Alan lalu mengibaskannya pada Alan dengan tertawa genit. Dayu mulai memakai kembali penutup dadanya, namun masih kalah cepat dengan tangan Alan yang menjulur ke arahnya untuk meremas payudara telanjangnya yang sebelah kiri. Kembali Dayu memekik dan menepis tangan Alan untuk menjauh.</p>
<p style="text-align: justify;">Rupanya para wanita tak membiarkan begitu saja dengan perbuatan para pria terhadap penutup dada mereka. Beberapa menit setelah Dave membantu Dayu tadi, nampak Melly berjalan mengendap dibelakang Dave yang sekarang berdiri di depan Bar lalu menarik turun celana renang yang dipakai Dave. Sebuah batang penis yang besar menyembul keluar dan seluruh wanita menjerit riuh tak terkecuali Dayu. Dave hanya tertawa keras dan mulai mengejar Melly yang berlari mengitari tepian kolam. Dengan konyol Dave berlari mengejr dan mengibas-ngibaskan batang penisnya ke arah Melly yang berlari, menjerit dan tertawa.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah beberapa menit kemudian, Dayu keluar dari kolam renang dan berjalan ke arahku. Sebelum dia mampu mengucap sepatah kata, aku sudah memberondongnya dengan pertanyaan tentang apa yang sedang terjadi disana.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Oh, sayang, bukan apa-apa. Mereka hanya bersenang-senang, itu saja,&#8221; jawab Dayu.<br />
&#8220;Aku rasa melihatmu telanjang dada dan juga menyentuh dadamu bukan sekedar bercanda atapun senang-senang!&#8221; kataku ketus.<br />
&#8220;Sayang, jangan terlalu kolot begitu. Lagipula aku sudah memakai penutup dadaku lagi. Lihat para pria itu, mereka melepas beberapa penutup dada teman wanitaku yang lainnya lagi dan sebagian dari para merka, mereka tak ambil pusing untuk memakainya lagi.&#8221;
</p>
<p style="text-align: justify;">Dia berhasil memojokkanku. Beberapa teman wanitanya sekarang sudah mondar-mandir dengan telanjang dada, terkadang salah seorang pria akan mendekat untuk sekedar menyentuh atau meremas payudara mereka.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Lagipula,&#8221; Dayu membungkuk dan tiba-tiba memelankan suaranya, &#8220;Bukankah ini membuatmu terangsang melihat para pria melirikku? Mengintip dadaku dan menyentuhnya sedikit?&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Aku jadi terdiam karena memang itu kenyataannya. Aku merasakan rangsangan setelah melihat para pria tersebut menggoda isterinku, namun aku juga merasakan cemburu yang sangat besar.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Semua hanya coba bersenang-senang dan tak ada yang dirugikan,&#8221; sambung Dayu lagi. &#8220;Coba pikirkan saja betapa nakalnya isterimu ini, membiarkan para pria melihat dadanya dan menyentuhnya.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Aku menganggukkan kepala pelan dan dia tersenyum lebar lalu melangkah pergi. Aku merasa harus mengucapkan sesuatu, namun moment tersebut telah musnah. Lagipula, jika para pria berlaku seperti itu pada semua wanita di sini, tak ada alasan bagiku untuk merasa marah. Aku coba lagi untuk konsentrasi pada buku yang kubawa, namun tak berapa lama rasa kantuk melanda. Aku ambil kacamatku lalu dengan cepat terlelap.</p>
<p style="text-align: justify;">Saat aku terbangun, suasana menjadi sangat riuh di dalam kolam. Kebanyakan para wanita yang berada disana sudah tak memakai penutup dada lagi, termasuk Kristin yang tengah berjalan lewat di depan tempatku berada. Kristin berbadan lebih tinggi dibandingkan Dayu, tapi payudaranya lebih kecil. Dadanya terekspos bebas, dan penutup dadanya terlihat menggantung dilehernya, mungkin hasil usil beberapa pria yang melepaskan pengaitnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku masih merasa ngantuk namun sudah terjaga, dan dengan kaca mata yang menutupi mataku terlihat aku masih tertidur. Aku sapukan pandangan ke seantero area kolam untuk mencari istriku dan kusaksikan suasana sudah semakin memanas, beberapa pasang pria wanita bahkan terlihat saling bercumbu di dalam kolam renang tanpa mempedulikan sekeliling lagi.</p>
<p style="text-align: justify;">Akhirnya kutemukan keberadaan Dayu, yang sedang duduk dipinggir kolam dengan kakinya masuk ke dalam air. Alan menemaninya di dalam kolam, lengannya bertumpu di atas paha Dayu. Keduanya terlihat asik ngobrol dengan wajah yang hampir bersentuhan. Ekspresi wajah Dayu terlihat jengah, sedangkan Alan terlihat sedang merajuk tentang sesuatu. Sebentar-sebentar terdengar suara tawa renyah pecah dari mulut Dayu, terdengar jelas kalau dia masih dalam kondisi mabuk.</p>
<p style="text-align: justify;">Beberapa menit berselang, terlihat Dayu mengangkat lengannya dan mengangkat salah satu tali penahan penutup dadanya dibahunya kemudian pelan-pelan dia turunkan dari bahunya. Alan mengucapkan sesuatu yang kembali membuat tawa isteriku pecah. Kemuadian dia memegang tangan Dayu dan menariknya masuk ke dalam air diantara kedua pahanya. Brengsek, umpatku dalam hati. Apa Alan sudah membuat isteriku menyentuh batang penisnya?</p>
<p style="text-align: justify;">Dayu memekik terkejut pada awalnya lalu kembali dia tertawa. Dia tetap membiarkan tangannya berada di dalam air, lalu mulailah terlihat dia menggerakkan tangannya. Kembali Alan mengucapkan sesuatu dan Dayu tertawa lagi, lalu dia angkat tangannya dari dalam air dan menurunkan tali penahan penutup dadanya yang satu lagi dari bahunya. Dia memandang sekilas kearahku, dan aku terdiam tak berani bergerak. Aku pasti telah membuatnya yakin kalau aku masih tertidur lelap karena kemudian dia menoleh kembali pada Alan.</p>
<p style="text-align: justify;">Penutup dadanya sekarang hanya bergantung ditahan hanya oleh daging bulat payudaranya saja. Alan sekarang memandanginya tanpa sungkan-sungkan lagi dan mengobrol dengan penuh semangat. Aku tak tahu apa yang tengah dia ucapkan, tapi melihat isteriku yang terlihat melakukan setiap apapun yang Alan pinta, itu pasti sebuah paduan sempurna dari sebuah humor dan rayuan. Beberapa saat berikutnya kembali tangan Dayu masuk ke dalam air. Kali ini dia terlihat menahan nafas. Apapun yang dia pegang di dalam air tersebut, itu membuatnya terkesan. Alan tertawa dan membisikkan sesuatu yang membuat tawa Dayu lebih pecah dengan kerasnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Kembali Dayu mengangkat tangannya dari dalam air kemudian meremas kedua lengannya rapat-rapat. Belahan daging payudaranya terangkat sedikit, cukup untuk membuat penutup dadanya sedikit lebih turun lagi, membuat putingnya sekarang terekspos di hadapan mata Alan. Putingnya yang merekah terlihat sangat keras dan mencuat menggiurkan dari bulat kenyalnya payudaranya yang indah.</p>
<p style="text-align: justify;">Menyaksikan hal itu membuatku sangat terkejut sekaligus merasa api birahiku berkobar hebat, batang penisku langsung tebangun dan ereksi penuh. Aku tak bisa percayai kalau isteriku telah mengekspos dirinya dihadapan seorang pria seperti itu, dan aku tak bisa percaya kalau diriku sendiri merasa terangsang karena melihat kejadian tersebut. Apa yang salah dengan diriku?</p>
<p style="text-align: justify;">Alan sangat menikmati waktunya mengamati keindahan payudara Dayu untuk bebeapa waktu, kemudian dia membungkuk mendekat ke arah Dayu dan membisikkan sesuatu di telinganya. Dayu tertawa genit dan kembali tangannya bergerak masuk ke air. Keduanya diam tak berbicara untuk beberapa saat sedangkan tangan Dayu bergerak naik turun di dalam air. Terlihat nyata kalau Dayu tengah mengocok batang penis Alan. Beberapa detik kemudian Dayu menoleh ke arahku dengan ragu-ragu. Aku yakin jika dia melihatku bergerak, maka dia akan langsung menghentikan apapun yang tengah dia lakukan itu, tapi aku tetap diam tak bergerak. Aku merasa seberapa besar rasa cemburu dalam dadaku, maka sebesar itu pula keinginanku untuk melihat apa yang akan terjadi berikutnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah memastikan kalau aku masih tetap tertidur, Dayu turun dari tepian kolam lalu masuk ke dalam air. Sekarang dia berdiri berhadapan dengan Alan, penutup dadanya menempel diperutnya. Kedua tangannya kembali masuk ke dalam air lalu keduanya nampak sedikit menggeliat untuk beberapa saat. Aku hanya mampu menebak apa yang tengah mereka lakukan hingga celana renang Alan tiba-tiba saja muncul dari dalam air disamping tubuhnya. Dayu telah melepaskannya!</p>
<p style="text-align: justify;">Keduanya tertawa berbarengan, lalu kembali Dayu memasukkan tangannya kedalam air. Nafas Alan mulai terlihat berat dan tatapan matanya terpaku pada payudara indah milik isteriku. Dayu hanya tertawa genit atas tatapan mata Alan pada payudaranya tersebut dan bahkan beberapa kali nampak dia sedikit menggoyangkan dadanya untuk memberikan sedikit tontonan pada Alan.</p>
<p style="text-align: justify;">Dayu mulai menggerakkan tangannya naik turun dengan cepat dan semakin bertambah cepat, sementara itu Atatapan mata Alan tak pernah lepas dari payudara isteriku. Tiba-tiba Alan memejamkan matanya rapat-rapat dan menggigit bibir bawahnya. Dayu melihat ke bawah dan menatap air seakan terhipnotis saat Alan mulai menggelinjang. Setelah beberapa saat dia berhenti menggelinjang dan membuaka matanya kembali. Lalu Alan membisikkan sesuatu padanya yang membuat Dayu menjerit dengan nada genit marah dan mendorong Alan menjauh. Alan tertawa dan menggenggam celana renangnya, sedangkan Dayu memakai penutup dadanya kembali.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku sudah tak yakin lagi apakah yang mampu membuatku terkejut lagi, menyaksikan isteriku memasturbasi pria lain didepan mataku ataukah kenyataan bahwa tak ada seorangpun yang memperhatikannya. Melihat sekeliling, kusaksikan begitu banyak orang yang saling mencumbu, dan aku rasa mereka berdua merasa sangat yakin kalau tak ada seseorangpun yang memperhatikan apa yang mereka perbuat. Aku bertanya kalau diriku masih seorang pria lugu dan kolot lagi sekarang, benarkah begitu? Benakku menjawab, masih, namun batang penisku yang ereksi berkata tidak.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah setengah jam berikutnya, Kristin berdiri, masih bertelanjang dada mengumumkan bahwa saatnya untuk pergi ke pantai telah tiba. Perusahaan telah menyewa beberapa van untuk mengangkut semua orang disana dan tidak memperbolehkan memakai mobil sendiri.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku pura-pura baru bangun dari tidurku saat Dayu berjalan mendekatiku. Dia masih agak mabuk, jika tak mau dikatakan mabuk dan kuputuskan untuk melihat apakah dia akan mengungkapkan semuanya. &#8220;Ada yang terjadi lagi saat aku tertidur?&#8221;<br />
&#8220;Tak begitu banyak, sayang,&#8221; jawabnya.<br />
&#8220;Ada lagi yang mencuri lepas penutup dada?&#8221; desakku.<br />
&#8220;Kenapa?&#8221; tanya istriku dengan nada menggoda. &#8220;Apa kamu ingin dengar tentang itu?&#8221;<br />
&#8220;Mungkin,&#8221; jawabku, meskipun dengan cara penyampaiannya itu membuatku terdengar sangat ingin mendengarnya.<br />
&#8220;Well, tak ada lagi yang mencuri lepas penutup dada, tapi Alan masih ingin melihat payudaraku dan dia terus merajuk. Jadi kupikir dia juga sudah melihatnya, aku memberinya sedikit bonus lagi.&#8221;<br />
&#8220;Oh,&#8221; jawabku.<br />
&#8220;Jadi kuturunkan sedikit penutup dadaku dan membiarkan dia melihatnya. Tapi hanya itu saja. Tak apa-apa kan sayang? Kamu tak marah padaku karena sudah memperlihatkan payudaraku sebentar pada teman priaku?&#8221; jawabnya dengan nada merajuk.<br />
&#8220;Aku rasa begitu&#8230;&#8221; jawabku datar. Aku sedang membayangkan dia memasturbasi Alan.
</p>
<p style="text-align: justify;">Kami mengemasi handuk kami dan kemudian berjalan mengikuti yang lain menuju ke area parkir. Kami masuk ke dalam van yang semua orang di dalamnya tak kukenal lalu mulailah kami berangkat menuju ke pantai. Jalanan yang dilalui sangat jelek dan membuat van yang kami tumpangi terlonjak-lonjak, namun aku tak begitu merasakannya karena aku tengah fokus pada usaha untuk mengingat apa yang kusaksikan pada Dayu dan Alan tadi.</p>
<p style="text-align: justify;">Saat tiba di pantai, kuperhatikan kalau perusahaan juga sudah mengeset sebuah erena untuk permainan bola voli lengkap dengan net-nya dan segera saja Kristin dan Nana sudah berinisiatif untuk memuali sebuah pertandingan. Kuputuskan untuk rebah diatas pasir saja dan melihat, berusaha untuk menata perasaan dan melegakan himpitan dalam dada, sedangkan Dayu langsung bergabung dalam permainan. Kedua team terbagi dalam kelompok wanita dan pria. Sebenarnya pertandingan tersebut menyenangkan untuk disaksikan karena para pemainnya ternyata lumayan mahir dan juga karena para wanita terlihat begitu menawan saat melompat dalam balutan bikini minim mereka. Seiring jalannya pertandingan, suasana semakin bertambah panas, kata-kata jorokdan ejekan penuh sendau gurau terus bersahutan.</p>
<p style="text-align: justify;">Sekarang tibalah saatnya bagi isteriku untuk serve. &#8220;Siap-siap guys, kali ini kalian ak akan bisa mengemblikan!&#8221; teriaknya.<br />
&#8220;Kamu mau bertaruh untuk penutup dadamu?&#8221; teriak Eddie membalas.</p>
<p style="text-align: justify;">Langsung terdengar riuh rendah suara menyambut dari para penontonnya. Dayu terdiam beberapa saat, mimik wajahnya menggambarkan ekspresi yang sangat seksi kemudian belas menyahut, &#8220;Kalau kamu tak bisa mengembalikannya, kamu harus melepas celanamu!&#8221;<br />
&#8220;Ok, tapi itu tak akan terjadi sayang!&#8221; balas Eddie.
</p>
<p style="text-align: justify;">Dayu merespon dengan melempar bola ditangannya tinggi-tinggi dan mengirimkan sebuah serve yang sangat kuat. Aku tak yakin berapa banyak rekan kerjanya yang tahu, kalau dia saat kuliah dulu termasuk andalan dalam team bola voli. Bola tersebut mengarah sangat sesuai dengan yang dia inginkan, mendarat dengan tajam diantara dua pemain yang paling payah.</p>
<p style="text-align: justify;">Para wanita bersorak menyambutnya sedangkan para pria terlihat menepuk kepalnya sambil mengerang kesal. Eddie bersiul dan menghadap ke arah Dayu, kemudian mencengkeram celananya kemudian menurunkannya. Batang penisnya tak sepanjang milik Dave namun jauh lebih besar. Benar-benar cukup besar untuk mengundang siulan dan teriakan dari para wanita. Dayu menatapnya dengan senyum birahi tergambar pada wajahnya. Belum pernah diamenatap bang penisku dengan ekspresi seperti itu sebelumnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Dayu bersiap untuk serve berikutnya dan berteriak pada seorang pria yang tak kukenal, &#8220;Hey, Don! Mau bertaruh yang sama juga?&#8221;<br />
Doni melihat ke arah Eddie, lalu beralih ke dada isteriku dan kemudian menjawab, &#8220;Tentu saja!&#8221;
</p>
<p style="text-align: justify;">Dayu memberikan sebuah serve penuh tenaga lagi, namun kali ini para pria sudah lebih siap menyambutnya. Salah seorang pria melompat menyambut datangnya bola, bola tersebut melayang cukup tinggi bagi Dave untuk menyambutnya dengan smash yang keras. Para wanita terlihat terkejut dengan serangan tersebut, dan begitu bola mendarat mulus diatas pasir, para pria berteriak menyambutnya, &#8220;Lepas! Lepas!&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Dayu menutup wajahnya dengan kedua telapak tanganna, dia tertawa malu, lalu tangannya bergerak kebelakang tubuhnya untuk melepaskan penutup dadanya. Dia menahannya didada untuk beberpa saatdan kemudian melepas kain penutup dada tersebut ke samping. Payudara bulat indahnya yang dihiasi putting merah mencuat terpampang jelas tanpa penghalang lagi. Para pria mulai bersiut dan berteriak menyambutnya, sedangkan Dayu tampak memerah wajahnya dan tertawa.</p>
<p style="text-align: justify;">Dayu memainkan sisa pertandingan dengan bertelanjang dada, membuat semua orang mendapatkan sebuah tontonan indah. Setiap kali dia berlari atau melompat untuk mengembalikan bola, payudaranya akan memantul dengan seksi. Kuperhatikan semua selangkangan para pria terlihat menonjol karena ereksinya melihat semua gerakan isteriku, khususunya Eddie.</p>
<p style="text-align: justify;">Tak lama kemudian game tersebut berakhir dengan kemenangan dipihak team isteriku. Dayu dia berjalan memungut penutup dadanya, tapi tak memakainya kembali. Lalu dia berjalan menghampiri Eddie, yang baru saja mengambil celananya. Kuamati dia agak merentangkan punggungnya ke belakang, membuat payudaranya lebih menonjol kedepan. Mereka mulai mengobrolkan sesuatu, dan kuperhatikan pandangan isteriku lebih sering tertuju pada batang penis besarnya Eddie dan mata Eddie seakan juga tak mau lepas dari dada isteriku.</p>
<p style="text-align: justify;">Eddie mengucapkan sesuatu, lalu mendorongkan batang penisnya kearah isteriku. Dayu tertawa genit dan menggelengkan kepalanya, tapi pandangannya tak beralih dari batang penis tersebut. Eddie tetap pada posisinya, tak bergerak dan setelah beberapa lama tangan isteriku menggapai ke depan dan menggenggam batang penis milik Eddie. Dia memeganginya sejenak, kemudian dia sedikit menggoyangkannya dan dia tertawa senang.</p>
<p style="text-align: justify;">Eddie juga tertawa, kemudian tangannya terjulur kedepan dan menarik bagian depan dari kain penutup selangkangan yang dipakai Dayu. Dia membungkuk kedepan untuk mengintip vagina isteriku, sedangkan Dayu menjerit malu namun tak berusaha menghentikannya.</p>
<p style="text-align: justify;">Tiba-tiba saja Eddie menyentakkannya turun hingga ke pergelangan kaki isteriku. Dayu menjerit, membuat semua orang menoleh ke arahnya dan menyaksikan vaginanya yang dihiasi rambut tercukur rapi terekspos penuh. Tubuh indah isteriku telah telanjang seutuhnya sekarang, dan ekspresi malunya semakin membuatnya terlihat sangat cantik.</p>
<p style="text-align: justify;">Dengan cepat Dayu menaikkan penutup tubuh bawahnya dengan diiringi sorakan para pria, namun dia tak memakai kembali penutup dadanya. Matahari sudah mulai beranjak ke peraduannya sekarang, lalu Kristin meminta semua orang untuk kembali ke resort, semuanya diminta untuk berkumpul kembali di hot tub jam 10 nanti.</p>
<p style="text-align: justify;">Kami mulai berkemas dan berjalan menuju mobil, kami berjalan dengan santai dan saat kami tiba ke tempat parkir, yang tersisa hanya sebuah mini-van kecil dan orang yang masih ada berjumlah delapan orang. Iseriku adalah satu-satunya wanita dikelompuk ini dan pria yang kukenal dalam grup ini hanyalah Gary dan Dave. Garry naik ke kursi pengemudi dan menyuruh kita semua untuk segera masuk ke dalam mobil.</p>
<p style="text-align: justify;">Barusaja aku hendak menyuruh isteriku agar duduk di kursi belakang, namun Dave yang berada dikursi depan berkata, &#8220;Hey, Dayu, duduk disini saja, kupangku! Biar semuanya cukup.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Dayu sama sekali tak melirikku untuk meminta persetujuan. &#8220;Oke,&#8221; dia tertawa manja, &#8220;Tapi jangan macam-macam!&#8221; Kemudian dia naik ke pangkuan Dave, dengan masih hanya memakai penutup tubuh bawahnya saja. Para pria yang lainnya dengan cepat saling berebut naikke kursi tengah, membuatku terpaksa duduk jauh dibelakang.</p>
<p style="text-align: justify;">Semua orang kecuali aku dan Gary sudah dalam keadaan lumayan mabuk. Aku duduk dibelakang, disamping seorang pria yang keadaannya sudah mabuk berat, dan berbicara tentang sepak bola dengan suara yang sangat keras. Semua orang nampak asik dengan topik yang diangkat pria ini, jadi ada empat orang pria yang mabuk saling teriak satu sama lainnya dalam mini-van ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku tak begitu ingin ikut masuk dalam pembicaraan mereka, karena aku ingin konsentrasi mengawasi isteriku yang berada di depan. Aku tak mau Dave mengambil kesempatan dlam situasi ini. Sudut pandangnku sangat kurang menguntungkan dan aku harus membungkuk ke depan untuk dapat melihat apa yang terjadi dikursi depan.</p>
<p style="text-align: justify;">Pada awalnya kulihat isteriku nampak bersandar ke tubuh Dave di belakangnya, yang berusaha memasang sabuk pengaman ke tubuh mereka berdua. Itu membuatnya harus meraih kedepan dan tangannya menyentuh payudara Dayu karenanya. Dave melakukannya lebih lama dari yang seharusnya, tapi Dayu hanya membiarkannya saja.</p>
<p style="text-align: justify;">Kami mulai memasuki jalanan yang jelek, membuat mini-van ini melompat-lompat dan yang berada didalamnya terguncang. Ditengah guncangan yang terjadi itu kuamati tangan Dave yang semula berada di dada Dayu bergeser ke pahanya. Keduanya asik mengobrol dan tertawa-tawa, tapi karena keberadaanku di belakang dan ditambah pula suar berisik para pria mabuk ini yang membicarakan sepak bola dengan sura yang keras membuatku dapat mendengar apa yang tengah dibcarakan Dayu dengan Dave.</p>
<p style="text-align: justify;">Satu dari pria mabuk ini menoleh padaku dan bertanya tentang team sepak boal favoritku. Aku berusaha untuk tetapa fokus pada kejadian di kursi depan, tapi aku tak ingin menarik perhatian para pria mabuk ini. Jadi kujawab pertanyaaan pria tersebut dan mulai masuk dalam perbicangan tentang sepak bola ini. Jalanan yang kami lalui bertambah semakin parah, dan aku harus susah payah menjaga posisiku agar tetap stabil dan pada perbincangan tersebut.</p>
<p style="text-align: justify;">Saat akhirnya aku bisa melirik ke arah depan lagi, keperhatikan Dayu dan Dave sudah tak memakai sabuk pengaman lagi. Tak ada yang kelihatan aneh. Tangan Dave masih berada dipinggang isteriku, meskipun sekarang posisi duduk Dayu agak lebih naik di pangkuan Dave dan terguncang naik turun. Kupikir guncangan tersebut disebabkan oleh buruknya kondisi jalan, namun saat mobil berhenti dilampu merah, kuperhatikan tubuh Dayu tetap bergerak naik turun. Aku tak bisa melihat ekspresi keduanya dan tiba-tiba saja sebuah prasangka buruk menyergap otakku, mungkin saat ini Dave sedang menyetubuhinya. Kecurigaanku semakin besar saat kuamati mereka berdua sama sekali diam tak saling bicara.</p>
<p style="text-align: justify;">Disisa perjalanan aku membungkuk ke depan dan mengamati tubuh isteriku terayun naik turun, menerka-nerka tentang kemungkinan kemungkin yang terjadi dikursi depan. Setelah sekitar dua puluh menitan, mobil berbelok arah dan sudah tampak resort di depan.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku yang paling terakhir keluar dari dalam mobil dan aku bergegas menyusul Dayu yang sudah berjalan didepan bersama Dave dan Gary. Saat akhirnya aku berhasil menyusulnya, kuperhatikan kalau wajahnya tampak memerah dan dia sedikit berkeringat.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Hey,&#8221; kataku, saat semua pria sudah berjalan menjauh didepan. &#8220;Apa yang sudah terjadi dikursi depan tadi?&#8221;<br />
&#8220;Apa? Apa yang sudah kamu lihat?&#8221; tanyanya, terdengar terkejut namun juga bersemangat.<br />
&#8220;Aku tak bisa melihat, tapi kuperhatikan kalau Dave terlihat sangat menikmati keadaannya,&#8221; jawabku mencoba berkilah.<br />
&#8220;Jangan marah, sayang, kami hanya bercanda saja,&#8221; dia mulai menjelaskan. &#8220;Dave terus mengeluh tentang celananya yang sangat sesak, jadi aku menyuruhnya untuk menurunkannya sedikit kalau dia mau. Sebenarnya aku cuma bercanda dan bermaksud menggodanya saja. Aku tak bermaksud agar dia benar-benar melakukannya, tapi dia sungguh-sungguh melakukannya. Andai saja kamu melihat betapa batang penisnya sungguh sangat besar &#8221; terangnya dengan suara pelan namun punuh gairah<br />
&#8220;Sayang, batang penisnya itu sungguh besar. Aku menggeseknya dengan pantatku beberapa saat. Lalu dia sepertinya menarik penutup tubuh bawahku kesamping dan kepala penisnya menyelinap masuk ke dalam bibir vaginaku begitu saja. Aku rasa itu tak sengaja. Dan kamu tahu kondisi jalannya yang sangat parah kan? Tubuhku jadi terangkat naik turun dan itu membuat batang penisnya semakin masuk bertambah dalam, hingga akhirnya… kamu mungkin tak percaya sayang, batang penisnya jadi masuk semuanya! Tapi baru sebentar saja aku merasakan vaginaku terisi penuh, mobilnya menghantam gundukan yang besar dan batang penisnya jadi tercabut keluar begitu saja, lalu kubetulkan lagi penutup tubuh bawahku dan selesai, itu saja.&#8221;
</p>
<p style="text-align: justify;">Ekspresi wajahnya jadi bergairah dan menghiba disaat yang bersamaan. &#8220;Tak apa-apa kan sayang? Bukan masalah besar kan? Ini benar-benar kecelakaan dan lagipula dia tak sampai keluar.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Aku sama sekali tak mampu bicara. Isteriku telah berterus terang dengan sangat gamblang kalau dia baru saja menyetubuhi seorang pria. Tapi apa yang bisa kuperbuat? Aku tak mungkin membuat keributan besar di resort ini, di hadapan semua orang.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Yah&#8230; kalau dia tak sampai keluar, kurasa itu tak maslah,&#8221; akhirnya jawabku lirih.<br />
&#8220;Kamu sungguh suami yang sangat pengertian sayang!&#8221; teriaknya senang sambil memelukku. &#8220;Ayo, kita cari sesuatu untuk makan malam!&#8221;
</p>
<p style="text-align: justify;">Dinner berlalu tanpa ada kejadian berarti. Kami makan sandwich di kamar hotel. Aku lebih diam sekarang, berharap Dayu akan meminta maaf atau mngucapkan sesuatu tapi dia sepertinya terlihat menghindar terus.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku berbaring di atas ranjang, bermaksud untuk mengistirahatkan mataku sebentar, tapi aku pasti telah jatuh tertidur. Saat aku bangun, jam sudah menunjukkan pukul 10:30, dan Dayu sudah tak berada di dalam kamar. Aku bergegas turun menuju emperan belakang hotel.</p>
<p style="text-align: justify;">Orang-orang sudah ramai di sekitar hot tub, minum dan tertawa. Dayu memang sudah berada disana, dia pasti sudah pergi dulu saat aku tertidur tadi. Beberap wanita sudah tak memakai penutup dada lagi, dan telah banyak yang saling bercumbu dengan terang-terangan. Susana ini seperti layaknya pesta saat kuliah dulu, bukan sebuah pesta kantor.</p>
<p style="text-align: justify;">Dayu berjalan menghampiriku, dia sudah dalam keadaan mabuk dan langsung memberiku sebuah pelukan hangat.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Sayang, tak apa-apa kan kalau aku lepaskan semua penutup tubuhku?&#8221; tanyanya.<br />
&#8220;Apa?&#8221; aku sangat terkejut. &#8220;Semuanya?&#8221;<br />
&#8220;Ayolah sayang, bukan masalah besar kan?,&#8221; jawabnya. &#8220;Semua orang sudah melihat payudaraku, dan beberapa orang juga sudah melihatku telanjang saat Eddie menurunkan penutup tubuh bawahku. Orang lain juga sudah telanjang, kita semua disini memang datang kesini untuk bersenang-senang dan merasa nyaman.&#8221;
</p>
<p style="text-align: justify;">Dayu tak menunggu responku, dia hanya berbalik dan berjalan menuju hot-tub dan mulai melepas pentup dadanya. Saat para pria mulai bersiul padanya, dia menurunkan penutup tubuh bagian bawahnya, memperlihatkan pantatnya yang bulat dan kencang. Para pria yang berada dihadapannya mendapatkan pemandangan menawan dari vaginanya, dan semua orang menatap ke arahnya saat dengan perlahan dia mulai turun dan masuk ke dalam hot tub.</p>
<p style="text-align: justify;">Dayu menyusup diantara wanita lain yang juga bertelanjang dada dan kemudian duduk, menurunkan tubuhnya hingga hanya bahunya yang nampak menyembul dari atas permukaan air. Setidaknya dia membiarkan air menutupi tubuhnya, pikirku.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku berjalan menuju ke bar di dekat situ dan minum beberapa botol bir dingin lalu berbincang dengan para pria yang berada di sana. Perhatianku tertuju pada sekelompok orang di sebuah sudut didekatku dan kulihat Melly berada dalam kelompok tersebut. Dia bertelanjang dada, payudaranya yang kecil namun terlihat kencang tersebut nampak indah dihiasi putting yang lebih besar dari milik isteriku dan mencuat keras. Terlihat dia sangat semangat bicara dan itu membuat semua pria disekelilingnya tertawa. Tiba-tiba saja dia menurunkan bagian depan dari penutup tubuh bawahnya dan memperlihatkan vaginanya yang tercukur bersih. Para lelaki tersebut riuh menyambutnya dan mata mereka melahap dengan rakus pemandangan indah dan gratis dihadapan mereka.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku fokuskan perhatianku untuk berusaha mendengar apa yang mereka perbincangkan. &#8220;Rasanya sungguh hebat!&#8221; kudengar Melly berkata sambil menaikkan lagi penutup tubuh bawahnya. &#8220;Sekali kamu di wax, kamu tak akan bisa berhenti lagi! Suruh kekasih kalian untuk mencobanya.&#8221;<br />
&#8220;Yeah, kalau kamu bilang begitu,&#8221; salah seorang pria berkata. &#8220;Maksudku, itu memang terlihat bagus. Aku akan bilang kekasihku tentang ini.&#8221;<br />
&#8220;Mungkin dia akan lebih merasa yakin kalau kamu melakukannya lagi,&#8221; canda salah seorang pria. Pria yang lainnya tertawa dengan riuh menimpalinya.
</p>
<p style="text-align: justify;">Melly memutar bola matanya dengan seksi. &#8220;Ini, lihat yang baik,&#8221; katanya lalu menurunkan penutup tubuh bawahnya tersebut hingga ke mata kakinya. Sekarang telanjang bulat, dia tersenyum sambil menggoyanggan pinggulnya yang disambut engan siulan nakal para pria.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku sedang terpesona dengan tubuh kencang milik Melly saat telingaku mendengar seseorang dari arah hot tub berteriak, &#8220;Ini terlalu penuh!&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Hey Dayu, duduk dipangkuanku sini!&#8221; kata Eddie. &#8220;Biar yang lain kebagian tempat!&#8221;<br />
Isteriku tertawa manja. &#8220;Tapi orang-orang akan bisa melihat dadaku!&#8221;<br />
&#8220;Bagus kan!&#8221; balas Dave, diiringi suara tawa orang-orang.<br />
&#8220;Ayolah, lagipula kami sudah pernah melihat semuanya tadi,&#8221; jawab Eddie.
</p>
<p style="text-align: justify;">Dayu tertawa lalu berdiri, mengangkat payudaranya dari dalam air. Dia berjalan melintas dan duduk dipangkuan Eddie, terlihat payudaranya terguncang saat dia duduk.</p>
<p style="text-align: justify;">Eddie merangkulnya dan memegangi kedua daging payudara isteriku dengan telapak tangannya. &#8220;Nah, begini&#8221; katanya, &#8220;sekarang tak seorangpun yang bisa melihat payudara Dayu!&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Semua orang tertawa, termasuk isteriku.</p>
<p style="text-align: justify;">Lalu mereka kembali asik mengobrol lagi, namun perhatianku tetp tertuju pada isteriku dan Eddie. Tangannya tetap tak dia singkirkan dari dada isteriku, dan tak beberapa lama kemudian tangannya mulai bergerak meremas dan membelai. Dayu bersandar ke belakang dan membisikkan sesuatu ke telinga Eddie, dan kemudian tangan Eddie mulai memilin putingnya dengan lembut. Dayu tersenyum lebar dan mengatur posisi tubuhnya hingga Eddie lebih leluasa meremas dan membelai payudaranya.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku baru saja hendak melangkah mendekati isteriku saat Nina berjalan mendekatiku dan mulai bicara. Aku tak mau bersikap kasar, kudengar dengan seksama saat dia yang kondisinya sudah mabuk tersebut muali bicara betapa cantik baiknya isteriku dan bagaimana senangnya dia bisa bekerja bersama Dayu dikantor. Aku terus berusaha melirik kea rah isteriku dan Eddie tapi Nina menghalangi pandanganku. Setelah beberap lama aku menyerah dan mengalihkan seluruh perhatianku pada Nina. Dia terlihat sangat menarik dengan rambut ikalnya yang panjang dan postur tubuh yang menyerupai seorang model. Dia mengenakan pakaian renang one-piece warna hitam yang terlihat tak mampu menampung payudaranya yang begitu besar. Aku merasa nyaman memandanginya, karena keadaannya yang mabuk jadi dia tak akan menyadarinya, atau mungkin juga karena keadaanku yang sudah agak mabuk. Dia terus bicara tentang dirinya.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Kamu mau melihatnya?&#8221; tiba-tiba dia bertanya padaku, menyentakkanku dari lamunan.<br />
&#8220;Mm, melihat… nya?&#8221; jawabku, mencoba menutupi kalau aku tadi tak memperhatikannya<br />
&#8220;Anting pusarku! Kamu mau melihatnya?&#8221; dia mengulangi.<br />
&#8220;Uh, tentu,&#8221; jawabku. Aku tak begitu yakin bagaimana cara dia memperlihatkannya padaku, karena itu berada dibalik pakaiannya, dan pada awalnya dia berusaha menyingkapkan pakaian renangnya untuk memperlihatkan pusarnya padaku. Tapi pakaiannya tersebut sangat ketat. Setelah beberapa saat dia kemudian menyerah, dan yang membuatku terkejut, dia mulai menurunkan tali penahan dari bahunya. Dia turunkan hingga pinggangnya, mengekspos payudaranya yang besar dan perutnya yang kencang.
</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Lihat kan?&#8221; katanya sambil menunjuk anting di pusarnya. &#8220;Aku rasa agak kebesaran ukurannya.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Aku sedang berusaha agar terlihat memperhatikan antingnya, tapi mulutku menjawab dengan terbata-bata dengan mataku yang tak mau lepas dari dadanya.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Aw, kamu sangat manis,&#8221; jawabnya. &#8220;Dayu sangat beruntung memilikimu!&#8221; Kemudian dia melangkah pergi, dengan dadanya masih terekspos, meninggalkanku berpikir ada apa dengan orang-orang ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Tiba-tiba aku kembali teringat akan isteriku dan Eddie, lalu aku menoleh tepat disaat kulihat Dayu sedang mengangkat tubuhnya dari pangkuan Eddie. Keduanya terlihat berat nafasnya dan Eddie tersenyum dengan lebar. Dia bangkit dan mengangkat tubuhnya dari dalam tub dan sekarang kulihat dia telanjang bulat, batang penis besarnya terayun-ayun diselangkangannya. Bayangan tubuh telanjang isteriku diatas pangkuannya segera membuatku merasa resah dan khawatir kalau pria ini sudah menyetubuhi isteriku seperti halnya Dave.</p>
<p style="text-align: justify;">Kulihat ke arah isteriku lagi dan kulihat dia tengah duduk di dalam hot tub dan asik mengobrol dengan salah seorang wanita yang bertelanjang dada. Wanita tersebut menunjuk ke arah Eddie dan Dayu mengangguk, lalu keduanya menjerit genit dan tertawa keras.</p>
<p style="text-align: justify;">Di titik ini aku merasa sudah terlambat untuk berbuat sesuatu, dan hanya berdiri saja disana melihat semua yang tengah terjadi. Aku mulai merasa aneh dan takut kalau aku tak lagi memusingkan ini semua. Tanpa memberitahu isteriku, aku putuskan untuk kembali ke kamar. Aku rasa kalau dia melihatku pergi, dia akan sadar kalau aku sudah marah.</p>
<p style="text-align: justify;">Oh, ternyata aku salah. Aku tak bisa memejamkan mata dan sangat resah. Tiga jam berikutnya Dayu akhirnya masuk ke dalam kamar. Dia masih telanjang bulat dan tangannya memegangi pakaian renangnya. Setelah dia mandi dan kemudian menyusulku naik ke atas ranjang,merebahkan tubuhnya dengan punggungnya menghadap ke arahku.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku berharap dia akan mengucapkan sesuatu, tapi tak terdengar apapun kecuali kesunyian. Setelah beberapa lama, aku merasa takut kalau dia jatuh tertidur akhirnya aku bicara. &#8220;Jadi, apa yang sudah terjadi di hot tub?&#8221; bisikku.</p>
<p style="text-align: justify;">Dia membalikkan tubuh dan memandangi ekspresi wajahku. Tangannya bergerak ke dalam celanaku dan mulai membelai batang penisku saat dia mulai bicara.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Oh, jangan marah sayang, tapi aku memang agak terbawa suasana. Saat aku mulai masuk ke dalam hot tub, Eddie bergurau dengan mengatakan kalau sudah tak ada tempat lagi bagi kita semua dan dia menyuruhku untuk duduk di atas pangkuannya. Jadi aku pindah untuk duduk di atas pangkuannya agar semuanya mendapat tempat. Dia mulai bermain dengan payudaraku dan itu sangat membuatku terangsang. Jadi kubiarkan dia melakukannya lebih lama lagi. Kemudian dia menarikku lebih merapat dan aku jadi tahu kalau dia tak memakai apapun lagi, tapi sebelum aku sempat bereaksi, dia sudah lebih dulu mendorong batang besarnya masuk ke vaginaku!&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Dia mulai mengocoknya keluar masuk dan itu terasa sungguh indah, itulah kenapa kubiarkan saja dia melakukannya. Dan kurasa para pria lainnya juga tahu yang sedang terjadi, karena kemudian semuanya yang berada di hot tub memandangi kami berdua tanpa berkedip. Aku jadi merasa malu dan berpikir untuk menghentikannya, tapi kemudian kurasakan dia menusukkan seluruh batang penisnya ke dalam vaginaku dengan keras dan kurasakan batangnya itu berdenyut. Kamu tidak marah, kan? Aku benar-benar tak merencanakan dia keluar di dalam tapi itu sudah terlambat.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Dia berhenti beberapa saat.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Itu&#8230; bukanlah semua yang terjadi,&#8221; ucapnya agak ragu.<br />
&#8220;Sayang, berapa pria yang memasukkan batang penis mereka ke dalam vaginamu?&#8221; tanyaku, tak berharap dia menjawabnya.<br />
&#8220;Yeah, sebenarnya semuanya, setidaknya sekali saja,&#8221; jawabnya. &#8220;Tapi itu salah satu bagian dari game yang berlangsung!&#8221;<br />
&#8220;SEBUAH GAME?&#8221; tanyaku dengan nada cukup keras, dan kocokan tangannya pada batang penisku semakin bertambah cepat dan keras.
</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Ya, setelah beberapa lama kemudian,&#8221; sambungnya, &#8220;Kami semua sudah benar-benar mabuk. Maksudku sangat, sangat mabuk. Dan berikutnya hanya tinggal Kristin, Melly, Nina dan aku saja yang berada dalam hot tub bersama dengan semua pria. Dan beberapa pria mulai berdebat tentang batang penis siapa yang paling besar. Lalu Melly menyarankan biar para wanita saja yang memutuskan. &#8220;</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Kemudian para pria mulai melepas celana mereka dan membiarkan para wanita melihatnya. Sayang, aku tak tahu apakah aku memang sudah sangat mabuk atau bagaimana, tapi kulihat mereka semua sangat besar! Bahkan yang paling kecilpun terlihat masih agak lebih besar dibanding milikmu ini. &#8220;</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Kami mulai penilaiannya, tapi kemudian Eddie kelepasan bicara kalau dia sudah menyetubuhiku, dan itu jadi tak adil lagi karena aku sudah tahu lebih banyak dibandingkan yang lainnya. Dan Dave juga mengatakan kalau dia juga sudah melakukannya denganku, meskipun tidak sampai keluar. Lalu Gary mengatakan bahwa dia dan Melly juga sudah bersetubuh saat dipantai. Hingga akhirnya Kristin memutuskan agar adilnya, semua pria harus memasukkan tiap batang penis mereka ke dalam vagina tiap wanita, jadi para wanita akan tahu semua bagaimana rasanya. Bukan bersetubuh atau yang lainnya, hanya memasukkannya sebentar. Dengan begitu akan adil bagi penilaian para wanita. Kamu pikir juga begitu kan, sayang?&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam kondisi normal pasti akan kutolak penjelasan logikanya, tapi perbuatan tangannya pada batang penisku sudah berefek, dan aku hanya mampu menelan ludah lalu mengangguk.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Jadi kami semua akhirnya setuju dan para pria mulai mengambil gilirannya. Aku mendapatkan Alan untuk pertama kalinya, dia masukkan batang penisnya ke dalam vaginaku dan mulai mengocoknya keluar masuk beberapa kali, agar aku bisa merasakan dan membuat penilaian. Batang penisnya terasa lebih besar dari ukuran aslinya saat aku berhasil membuatnya orgasme.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Aku tahu itu! Dayu terlalu mabuk untuk mengingat kebohongannya diawal tadi.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Dan berikutnya Eddie lagi dan kemudian Gary. Mereka berdua menusukkan batang penisnya untuk beberapa saat agar aku bisa melakukan penilaian pada batang penis mereka. &#8220;</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Lalu akhirnya giliran Dave. Dia yang paling akhir, dan dia berbisik ditelingaku kalau tak adil jika kami tak menyelesaikan apa yang sudah kami awali di dalam mobil sebelumnya. Kemudian dia mulai memasukkan batang penisnya ke dalam vaginaku. Dialah yang paling besar, itu sudah pasti dan juga paling keras! Dan aku sudah merasa sangat terangsang setelah beberapa pria sebelumnya, dan aku adalah wanita yang terakhir bagi Dave. Jadi aku membiarkan dia menyetubuhiku agak lebih lama dibandingkan yang lainnya. Para wanita lainnya juga melakukan hal yang sama pada pria yang mendapatkan giliran terakhir dengan mereka, jadi aku rasa itu bukan masalah dan masih adil penilaiannya. Kami semua seolah saling berlomba bersetubuh untuk beberapa waktu lamanya hingga akhirnya kurasakan spermanya menyembur hebat dalam vaginaku. &#8220;</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Itu semua yang terjadi, sayang. Bukan masalah besar, kan?&#8221;<br />
&#8220;Bukan,&#8221; nafasku tecekat ditenggorokan saat aku orgasme, lebih hebat dari yang pernah kurasakan seumur hidupku. Aku tiba-tiba merasa menyesalinya, karena itu membuatku terlihat menikamti menyaksikan isteriku sendiri disetubuhi oleh sekelompok pria yang mereka semua dalah rekan kerjanya sendiri. Padahal sesungguhnya aku harus merasa marah karenanya.
</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Aku rasa kamu menyukainya,&#8221; jawabnya lirih. Lalu dia membalikkan tubuhnya dan menarik selimut ke atas. &#8220;Selamat tidur, sayang, I love you&#8221;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ceritasex.cn/petualangan-isteriku-disebuah-pesta-pantai/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sex Party Bertukar Pasangan</title>
		<link>http://www.ceritasex.cn/sex-party-bertukar-pasangan/</link>
		<comments>http://www.ceritasex.cn/sex-party-bertukar-pasangan/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 04 Jun 2009 07:26:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cerita Sex</dc:creator>
				<category><![CDATA[Seks Umum]]></category>
		<category><![CDATA[cuki]]></category>
		<category><![CDATA[kontol]]></category>
		<category><![CDATA[memek]]></category>
		<category><![CDATA[ngentot]]></category>
		<category><![CDATA[orgy]]></category>
		<category><![CDATA[sex party]]></category>
		<category><![CDATA[swinger]]></category>
		<category><![CDATA[tukar pasangan]]></category>
		<category><![CDATA[vagina]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ceritasex.cn/?p=316</guid>
		<description><![CDATA[Pada hari sabtu teman business suami gw namanya Anton ulang tahun yang ke 27, dia tergolong pria muda yang cepat melejit menjalankan usahanya. Mengadakan pesta ulang tahunnya di sebuah diskotik ternama dan terkenal di jakarta, dia mengundang kami dan beberapa teman dekatnya, juga rekan bisnisya. Ada beberapa dari mereka yang kami kenal, ketemu beberapakali, pada [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Pada hari sabtu teman business suami gw namanya Anton ulang tahun yang ke 27, dia tergolong pria muda yang cepat melejit menjalankan usahanya. Mengadakan pesta ulang tahunnya di sebuah diskotik ternama dan terkenal di jakarta, dia mengundang kami dan beberapa teman dekatnya, juga rekan bisnisya. Ada beberapa dari mereka yang kami kenal, ketemu beberapakali, pada saat gw menemani suami sgw kerja. Mereka masih ter golong muda yang paling tua umur 31, seperti Alit 25 tahun tampan tubuh atletik juga di undang.</p>
<p style="text-align: justify;">Hari sabtu gw mempersiakan diri gw agak sexy untuk hangout ntar malam, dengan mengunakan rok mini berwarna merah menyala dan agak transparan dan celana dalam jenis G-string yang matching, kucukur bulu memek gw sampai halus agar tidak kelihatan keluar dari G-string dan memakai minyak wangi agar badan berbau wangi dan exotic gw siap untuk hangout. Begitu suami melihat gw berhenti sejenak dengan expresi terpesona, wah wah gwng lo kelihatan sexy sekali malam ini. Gw senyum sambil mengoda dia dengan bungkuk dan mengoyangkan pantat gw yang sexy kekanan kekiri kaya penari striptise, dan berkata “mau gwng” he3</p>
<p style="text-align: justify;">Dan kita berangkat dan tiba di TKP, dan kamipun segera menuju keruangan yang telah dibooking Anton. Saat kami masuk ruang yang exclusive itu, dengan sofa yang kelihatannya nyaman, dan para tamu sudah datang termasuk Alit yang membawa pasangan dia Wulan berumur 20 tahunan, tubuhnya sangat sexy dengan bentuk payudara yang menonjol ukuranya sekitar 36 B dan muka yang manis dan sangat cantik, Wulan memakai rok mini coklat dengan sepatu hak tinggi coklat. Tapi aneh gw merasah semua laki laki di situ memandang ke gw, dan gw merasa dilihat dari ujung kaki sampai ujung dada, kami di perkenalkan sama Anton kepada teman2 nya, Agus umur 24 thn tampang ABG banget cukup ganteng, Roni umur 30 thn dengan penampilam bersih dan rapi, dan tentu Alit yang sudah gw kenal sebelumnya! dia merangkul dan mencium pipiku, sambil membuatku terkejut tangan kanan dia meraba dan meremas pantatku tanpa sepengetahuan suamiku, itu membuatku malu, terangsang dan pipiku memerah.</p>
<p>Tak lama kemudian cewek masuk dengan pakaian sangat sexy sepatu boot hitam yang tinggi selutut, dada membusung kedepan, dan berjalan dengan PD sekali bernama Putri (menurut gw Putri orangnya sangat liar, cantik dan centil), kata suamiku itu cewek stripper untuk mebuat malam lebih asik. Setelah semua duduk di sofa yang telah tersedia botol miniman dan gelas yang sudah penuh minuman. Alit bediri dan mengambil minuman yg dimeja dan bersulang untuk ulang tahunnya Anton, semua bertepuk tangan dan mengambil minuman, dengan lampu di padamkan sedikit agar remang remang, dan kami semua minum, Anton bilang “Habiskan yaaa” minumannya sangat terasa sekali alkoholnya. Dan setelah kami semua minum habis Alit tertawa sambil berkata “nikmati malam ini karena minuman itu telah dicampur Inek hadiah dari Anton” kami semua berseru mantabssss!!!. Saat itu juga lagu techno membuat suasana menjadi tambah hidup!<span id="more-316"></span>
</p>
<p style="text-align: justify;">Gak lama badanku merasa ringan tangan mulai dingin, dan perasaan enak dan horny mulai terasa emang setiap dikasi inex bawaan gw horney aja. Dan kamipun berdiri sambil berpelukan dan bergoyang dalam irama denyutan music yang ada. Baru terasa dada suami gw bergesekan dengan dada gw, membuatnya putingku berdiri tegak dan seirama dengan dada gw menyeterum ke memek ku mulai terasa basah. Tiba2 suami melepaskan gw untuk mengambil minum di meja. Sendiri gw bergoyang didepan dan serasa semua mata laki2 disitu melihat gw Alit, Agus, Roni, dan Anton, gwpun mulai bergoyang lebih erotis dan memeluk org didekat gw, tanpa sadar Putri sang stripper bergoyang dan merangkul gw, karena gw asik aja, kita berdua bergoyang erotis berdempetan dan tangan Putri berada didada gw yg berdiri on. Gw melihat suamiku lagi asik dengan Wulan meraba raba pantatnya sambil bergoyang diantara selangkangan Wulan dan Wulanpun memegang kepala suami gw didepan dadanya yang montok sambil digoyangkan. Gw pun tak perdulikan gw lagi didunia enak banget.</p>
<p style="text-align: justify;">Tak sadar kalau Anton mendekat dan gabung ama kita berpelukan sambil tangan kanannya berada di dalam rok mini Putri. Dan yang kiri memelukku dari pundak dan tangannya meremas remas dada gw dan gw sangat menikmatinya ! Anton meninggalkan kita dan tanpa gw sadar memberi aba aba ke Putri untuk mulai melepaskan pakaiannya (striptease), Putri mulai bergoyang lebih erotis didepan gw dan mengunakan tubuhku seakan akan gw cowok, dia melekuk lekuk sambil meraba tubuhku dari leher, ke dada, dan ke pantatku berulangkali dia lakukan itu Putri meminta gw untuk membuka kancing rok mini yang dia kenakan, dengan kondisi horny dan fly gw turuti, dan terdengar suara siul2 dari cowok cowok, sampai kancing terahir rok mini Putri kubuka dan sekarang kelihatan jelas BH berwarna hitam dan CD tembus pandang berwarna hitam yang memperlihatkan memeknya yang tanpa bulu sehelaipun. Dengan gaya erotis Putri menjilat, dan memilin dada gw dan putting ku dari luar rokku sambil bergoyang goyang erotis, sedangkan tangannya meraba raba pantat gw sambil menaikan rok miniku sampai terlihat G-stringku seirama denyutan music yang ada, dan sekali kali meraba memek gw dengan jarinya secara lembut dan erotis dari luar CDku (hal itu membuat memek gw on dan basah). Gw merasa sudah didunia nikmat dan gak perduli yang melihat gw. Gw berbalik untuk melihat suasana dan suamiku yang masih dengan Wulan, dia sedang meraba raba dada Wulan dari dalam BHnya dan tangan satunya berada diselangkangan Wulan sedang memainkan memeknya, kulihat suamiku sedang on berat dan horny banget kayaknya.</p>
<p style="text-align: justify;">Kembali gw menikmati goyangan serta rabaan Putri kepada tubuhku. ternyata Putri telah melepaskan BH dan CDnya dan bergoyang telanjang bulat, siulan kembali ku dengar dan membuatku lebih liar dan berani. Putri mulai melepaskan rokku dengan pelan dan lembut dan berhenti pada kancing yang didepan perutku, membuat BHku kelihatan bagi yang mau lihat dada gw, dengan cepat dan lembut Putri telah melepaskan kaitan belakang BHku dan BHku jatuh kelantai memperlihatkan dada gw yang Putri dengan putin yg sedang berdiri menunjukan betapa hornynya gw, dengan gerakan erotisnya Putri bergoyang dengan memainkan dada dan memilin putinku yang telanjang sambil diisep, dan dijilat dengan lembut, dengan tangannya bergerak untuk melepaskan rokku dari pundakku, dengan kenikmatan yang ku rasakan gw tidak memperdulikan rok miniku jatuh ke lantai, membuat gw topless dan bergoyang hanya dengan G-stringku.</p>
<p style="text-align: justify;">Gerakan Putri tambah hot dan erotis melekuk lekuk dan mengerakan pinggangnya seolah olah dia lagi fishing gw, dan tambah ganas Putri mengisep isep dada gw dan tangannya mengelus elus vagina gw sambil jarinya keluar masuk, dia tahu betapa basahnya vagina gw, yang sudah keluar lendir menembus G-stringku. Gw buka mata gw gw melihat Alit berada di belakang Putri dengan tangan yang bergerilia ke dada dan memeknya, dan mencium Putri dengan lidah dijulurkan kemulutnya yg disambut juga dengan lidah Putri didepan mata gw. Gw termenung melihat mereka sampai gw tak sadar kalau Putri melepaskan G-Stringku, yang membuatku telanjang bulat dan bergoyang, gw segera melihat reaksi suamiku yang ternyata dia lagi sibuk sendiri dengan Wulan yang sekarang juga tidak memakai sehelai pakaianpun, dan lagi mengoral suamiku sambil mengocok kontolnya, dan Agus pun menunggu giliranya</p>
<p style="text-align: justify;">Tiba tiba gw terkejut dengan sesuatu yang hangat dan lembut menyentuh memek gw, gw berbalik dan melihat kepala Putri berada diselangkanganku dan menjilatin memek gw sedangkan Alit memelukku dari belakang sambil meremas dada gw. Putri dan Alit mengiring gw ke sofa dan sampai di sofa mereka melanjutkan menjilatin vagina gw dan Alit mengisap dan menjilat dada gw, kenikmatan menerpa tubuhku, tiba tiba gw merasa ada org duduk di sebelah kanan dan kiriku,</p>
<p style="text-align: justify;">Ternyata Anton dan Roni. Roni melihat sambil meraba raba dada gw yg satu lagi, gw malu, terangsang. dikelilingin tiga cowok sambil diisepin vagina gw oleh Putri, gw mendesah keenakan. Posissi Putri digantikan oleh Anton yang sekarang menjilatin vagina ku uhhh….. nikmat banget rasanya! Rangsangan yang hebat gw rasakan dari dada yg diisep 2 cowok dan vagina gw yang basah dan horny dilahap abiz oleh mr Anton. Desahanku membuat para cowok memperlakukan gw lebih liar. Putri ke sebelah Roni dan melepaskan pakaiannya sambil mengoral kontolnya sampai ngeceng, dan berikutnya Alit dan Anton, sampai mereka semua tenlanjang bulat, ku lirik kontolnya Alit begitu tebal dan panjang 17 cm, Anton 19 cm dengan ketebalan yg sama, lalu gw meraba punya Roni karena gw tidak dapat melihatnya, ternyata lebih besar dari semuanya dan tebal sekali sampai jariku tidak dapat melingkari kontolnya, Anton memasukan jarinya kedalam vagina gw sambil clitorisku diisep dan dijilat membuat badanku bergetar dengan maut gw keluaaaaarrr …..ohhhhhh……. ahhhh….. cairan hangatku mengalir keluar dari vagina gw terasa tak henti hentinya mengalir keluar, semua terkena mulut Anton yang melahap dan menjilatin semua cairanku yang keluar. Anton memberi gw waktu untuk menikmati orgasmeku sebelum dia mengarahkan kontolnya ke vagina gw dengan pelan dia masukan kontolnya, sampai kontolnya masuk semua baru dia maju mundurkan kontolnya membuat gw mengikuti irama yang nikmat dia buat.</p>
<p style="text-align: justify;">Anton mendorong pinggangnya kedepan agar kontolnya masuk semua ke vagina gw. Dengan tak sabar Alit berdiri dan mekangkangi muka gw sampai kontolnya didepan mulutku, dan kuraih dengan nafsu dan kumasukan kontolnya kedalam mulutku, kulirik ke kiriku untuk melihat Roni, entah kemana Roni tetapi sudah tidak berada di sampingku lagi, Putri memainkan dada gw dengan tangan dan mulutnya. sambil kontol Alit kuoral dan ku jilat bolanya sampai ujung kontolnya, sambil kontol Anton dalam vagina gw yang membuatku terangsang, seirama dengan jilatan Putri yg lembut di dada gw membuat gw mendesah aaaahhh….aaaahh…aaahh…, dan mebuatku lepas kendali, fuuuu..ckk…meee…fuuuuck…me.. Teeeddy… dengan gw mengerang membuat Anton nafsu dan menyodok vagina gw dengan keras dan badanku mulai bergetar lagi dan Arrrrrggg….. Arrrrrgg… aaahhhh….aaahhhh… kupegang pantat Anton dan kutarik kedalam agar kontolnya masuk lebih dalam lagi ke vagina gw…..oooohh…oooohhhh…Arrrrrgggg…. aaaah…..aaahhh…uuuhhhh… badanku bergetar getar dengan hebat. Melihat gw keluar Anton meyusul gw tahu dari denyutan kontolnya dalam diriku…tak lama Oooooo&#8230;.. Oooohhhh.. akkk…uuu.. keeee…luaaa…rrr. Dia mencabut keluar kontolnya dan ternyata Putri telah menunggu dan Anton masukan kontolnya kedalam mulut Putri untuk menyemprotkan air maninya Aaaaa……hhh….aahhh….ahhh.. ooo… oooohhhh. ..banyaknya air mani yang keluar di mulut Putri sampai keluar kepipinya dan sisanya ditelan habis. Kebanyang olehku kenapa Anton tidak mengeluarkan dimulut gw (padahal gw belum pernah), Tapi minuman dan inek itu mebuat gw berbuat hal yang belum pernah gw inginkan sebelumnya dan sekarang gw sangat menginginkan. Sambil melamunkan tentang air mani Anton, tak sadar kontol Alit yang sedang ku oral dengan nafsu, sedang berdenyut denyut siap menyemburkan air maninya, gw terkejut tiba tiba Aaaa…hhhh….. Ooohhhh….ooohhh… giiiii…lllee… gw keluuuuuuuaarrr…..croooot…..crooot… mulutku dibanjirin air mani Alit, menyembur dengan keras ketongorokanku membuat gw batuk batuk, dan Alit mendorong kontolnya lebih dalam sambil memegang kepalgw sampai habis air maninya didalam kemulutku semua, banyak air maninya sampai sebagian tumpah ke sofa dan dada gw. Lemas lah Alit bersandar disebelahku. Kenikmatan pertamgw merasakan air mani keluar dimulutku membuat gw lupa sesaat akan suamiku, ternyata dia sedang duduk asik telanjang di oral oleh Putri dan kontol Agus dari belakang menyodok memeknya Putri dengan irama yang cepat celaaap…. ceeeeplok… celaaap…. Ceeeplok…. Terdengar suaranya.</p>
<p style="text-align: justify;">Gw mengambil minumku dan menuguk minumanku, lalu gw dengan setengah sempoyongan kekamar mandi untuk membersihkan diri. Selesai gw kembali ke sofa dan minum sedikit lagi mereka santai asik minum2. sambil bergoyang telanjang. Gwpun bergabung dengan mereka di lantai bergoyang. Sambil menikmati denyutan lagu house music, gw masuk ke dunia kenikmatanku sendiri, Dan rasanya pada saat itu ingin memeluk semua orang yang hadir. Gw mengenali wajah-wajah yang ada namun pikiranku kosong. Gw pPutri bergoyang di atas meja, dan gw bergoyang erotis seolah gw stripper yang hot. Dengan menyambut tangan tangan yang meraba raba setiap lekukan tubuhku yang membuatku sangat horny lagi. dengan jari, lidah di vagina gw dan dada gw tubuhku merasa nikmat.<br />
Wulan naik keatas meja dan bergoyang bersamgw, goyangan kami seperti sepasang lesbi yang sedang terangsang. Wulan memasukan jarinya ke vagina gw dan lidahnya menjilatin dada gw dengan erotis sekali, tak lama Putri bergabug diatas meja dan kami bertiga kelihatan wanita lesbi yang hot dan heboh dikelilingi Alit, Roni, Anton, Agus, dan suamiku. Putri mengajak turun ke sofa dan gw terlentang diatas sofa dengan kaki dibuka lebar membuat akses yang mudah bagi Putri melahap vagina gw dan clitorisku, Anton menyuruh Wulan menduduki mukgw dengan gw ahirnya merasakan rasa memek wanita untuk pertama kali.
</p>
<p style="text-align: justify;">Memek Wulan yang basah terasa asin, gurih, sedikit amis tapi tak tahu kenapa gw menikmatinya dan melahap memeknya dengan nafsu. Keahlian Putri menjilain clitorisku membuat gw mendesah. dan memegang kepala Putri dan mendorongnya ke vagina gw yang berdenyut denyut. Lidahnya dimasukan dalam memiawku membuat tubuhku bergetar keenakan tubuhku bergoyang maut merasakan Orgasme dari Putri keluarlah cairanku kemulut Putri yang mungil, dan bersamaan Wulan mendesah Auhhh….. Arrrggggghhhhhh…oooohhhhhhh cairan Wulan keluar dimulutku dan Wulan menekan memeknya kemukgw sampai hampir gw gak bisa bernafas, memaksakan gw menelan semua cairannya yang keluar dari memeknya, dan gw menelan dan mejilat memeknya sampai habis! Gw merasa sangat happy, horny, dan nikmat. Gw melihat para cowok (termasuk suamiku) memandangku sambil berbisik bisik. Kemudian Agus dan Roni menghampiri gw yang sedang terlentang telanjang bulat dapat mereka melgwkan semau mereka dan gw akan menikmatinya. Roni dengan kontolnya yang besar dan panjang berhenti didepan mukgw, Agus menyusul dan juga berhenti depan mukgw dengan kontol yang setengan berdiri. Suamiku meraih kedua tanganku dan menaruhnya dikedua kontol didepanku sambil mengedipkan matanya seolah gw harus melayani mereka. Dalam kondisi horny gw kocok sambil kutarik kontol mereka lebih dekat mulutku, ku oral secara bergantian, hanya kontol Roni lebih gw perhatikan, karena tak sabar gw mau merasakannya dalam vagina gw. Gw melihat suamiku, Wulan, Anton, Alit, dan Putri duduk mengelilingi gw, Agus dan Roni seolah menonton film porno, dan gw akan menyajikan tayangan yang seru bagi mereka. sambil bermain oral satu sama lain, tetapi pandangan mata mereka tertuju kepadgw melayani 2 cowok. Ku jilat bola Roni dan kusedot masuk kemulutku berulangkali hingga Roni mendesah Oooo… oooohh….. Aaaah…, dan kujilat batang kontolnya hingga ujung lobang baru kumasukan kemulutku, panjangnya kontol Roni hanya bisa setengah yang masuk ke mulutku.</p>
<p style="text-align: justify;">kontol Agus kuperlgwkan sama dan diapun mendesah aaaa… Aaaahhh…. u uuuu…. Uuuuhhh.. tepuk tangan dari penoton claap….claapp… Hebat…Hebat.. membuat gw malu dan sangat terangsang secara bersamaan. Dada gw diremas remas dan putinku dipilin pilin oleh mereka berdua, yang memberiku sensai dan nafsu mengkulum kontol mereka. Jari Roni meraba sambil memasukan jarinya kedalam vagina gw yang hangat membuat gw mendesah ooooo…. Uuuuu….. aaaahhhh…., gw baru sadar kenapa lampu dalam terang sekali hanya dimana gw bermain dengan Roni dan Agus, seolah gw di atas panggung teater dan dikelilingi penonton. Mukgw memerah sebentar karena malu, tapi tubuhku yang horny banget mengalahkan maluku. Agus pPutri duduk di dada gw sambil kuoral, dan Roni diselangkaanku memainkan mengisap vagina gw sambil jarinya masuk keluar. desahanku yang keluar dari birahiku dengan tak sadar gw mendesah. Lagi2 tepukan tangan dari penonton bersuara dengan keras. Jilatan Roni membuatku meram melek dalam kenikmatan yang gw salurkan kekontolnya Agus yang sedang kusepong sepong dengan ganas. Gw merasa ujung kontol Roni berada didepan lubang vagina gw siap memasukannya, dengan pelan kepala kontolnya memasuki liang vagina gw, dan terasa amat besar masuk kepala kontolnya terasa sedikit sakit dan penuh vagina gw diisi kontolnya keluar suara dariku saat itu dengan pelan dia masukan semua sampai mentok dalam vagina gw yang merasa sangaaat penuh sekali.</p>
<p style="text-align: justify;">Gw berhenti mengoral kontol Agus dan merasakan kenikmatan kontol Roni yang sedang keluar masuk vagina gw dengan lembut dan pelan. Kenikmatan yang luar biasa kurasakan dalam liang vagina gw, dengan penuh nafsu kupegangang pantatnya Roni dank ku atur tempo keluar masuk kontolnya lebih cepatdesahan dan keliaranku keluar tanpa kusadari, dan tepuk tangan serta kata fish dia Roni ent*tin dia yang kencang dari penonton yang bergairah melihat gw di genjot oleh kontol Roni. Wulan menghampiriku dan gw dibalik dan diminta untuk nungging doggie style dengan Wulan dibawahku menjilat clitorisku yang sangat sensitive, dan Agus duduk di sofa depanku sambil kuoral, Roni kembali masukan kontolnya ke dalam vagina gw dari belakang. Kenikmatan yang belum gw merasakan melanda tubuhku, kenikmatan kontol dimulutku, vagina gw, clitorisku dijilatin sambil kontol yang besar keluar masuk vagina gw keliaranku mengambil alih! masukin Kontolmu yang lebih dalam dengan irama yang cepat membuatku Orgasme yang luar biasa dan tak bisa kutahan lagi bergetar, dan mengejang kejang, tubuhku sampai harus di pegangi Roni sambil dia menyodok dengan keras memasukan semua kontolnya ke dalam vagina gw, dan dia tahu gw sedang orgasme dia berhentikan agar gw dapat menikmatin orgasmeku.</p>
<p style="text-align: justify;">begitu kontol Roni dicabutnya, keluarlah cairanku dengan deras sekali ke mulut Wulan yang sedang menunggu, karena tubuhku bergetar sebagian masuk mulutnya, pipinya, hidungnya. Dan Wulan membersihkan semuanya sampai habis. Desahanku masih tak dapat ku kontrol karena lidah Wulan yang hangat dan lembut menyentuh clitorisku berkali kali … oooo…. Oooo…hhhh.. ooohhhhh… Giiiiilleeeee… aaaaa……aahh. kontol Agus dimulutku kulumat habis, kusedot sedot dengan irama yang cepat keluar masuk mulutku. Sambil gw menikmati orgasmeku, Selesainya Wulan membersihkan vagina gw, Wulan berdiri disampingku menjilat dada gw sambil memijat bola Roni yang sedang kembali mengenjotku vagina gw kembali dengan irama yang sama cepatnya, sambil kontol Agus yang ku kelum dengan biji pelirnya Agus berayun ayun mengenai daguku. Dan suara biji pelir Roni yang menghantam memiawku ceelllakkk….ceeeeplloook… kenikmatan dalam tubuhku yang tiada habisnya membuatku tak tahan lama. Tubuhku mulai menegang sensai kenikmatan melanda tubuhku vagina gw terasa tersetrum, mulutku terasa penuh dengan kontol Agus, dada gw terasa geli nikmat dengan sekali kali gigitan sensai diputinku yang di lgwkan Wulan, bergetarlah tubuhku lagi gw! Tak lama Orgasmeku terulang lagi tapi yang ini lebih lama dan panjang!nafasku tersendat sendat. Ku rasakan Roni menyodok yodok gw dengan irama lebih cepat dan akhirnya crooooot… crooottt.. dia keluarkan air maninya di pinggangku dan meleleh kebawah sampai lubang pantatku terasa hangat. kontol Agus ku kocok kocok dengan irama cepat sambil kubuka mulutku menanti yang air mani keluar dari kontolnya si Agus. melihat mulutku menunggu membuat Agus sangat terangsang! menyembur air mani Agus mengisi mulutku yang menunggu. Sambil dia kocok kocok sendiri kontolnya dia masukan kembali kemulutku dengan berkata &#8230;“masukin semua” &#8230;perintahnya kepada gw, dia masukan dalam sekali kemulutku semuanya sperma kutelan habis, membuatku tersedak sedak. sentakan keras yang disertai semburan cairan hangat gurih di tenggorokan ketika 2-3 menit dia mengosongkan kontolnya di mulutku.</p>
<p style="text-align: justify;">cerita sex party bertukar pasangan mungkin pengaruh miras sama inex atau memang gw menikmati sensasi seks dengan pria lain, membuat rasa spermanya begitu enak sekali ketika kutelan. Lemaslah kita berempat dan gw pun istirahat disofa terlentang. Suamiku membantu mengenakan pakaian gw karena tak terasa sudah jam 4 pagi dan pesta sudah mau berahir. Anton menghampiri dan berkata “ kamu sexy dan hot banget gak salah gw memilih kamu sebagai hadiahku malam ini ” thank U sambil mencium gw dengan mesera dan lidahnya bergelut dengan lidah gw. Lalu dia masukan jarinya kedalam vagina gw untuk terahir kalinya dan memasukan kedalam mulutnya untuk merasakan air maniku sambil tersenyum puas. Dan akhirnya kami semua meningakan ruangan itu kakiku sudah ga mampu lagi melangkah kerana abis digilir semalaman ama teman teman suami gw dan pengalaman indah ini tak akan pernah gw lupakan kerana kenikmatan malam itu sangat perfect banget!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ceritasex.cn/sex-party-bertukar-pasangan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

